Ceritasilat Novel Online

Darah Pendekar 7

Eps 7 Darah Pendekar - Kho Ping Hoo

Baca online Darah Pendekar - Kho Ping Hoo

Cersil Darah Pendekar - Kho Ping Hoo.

Kiong Lee cepat menolong gurunya dan tiga orang dara itu.

Dengan totokan, dia mempercepat kesadaran mereka.

Dan mereka berlima terheran-heran karena kini, setelah siuman, tenaga mereka bukan hanya pulih kembali, bahkan merasa betapa tubuh mereka segar sekali, seperti orang yang baru habis makan kenyang atau mandi air sejuk!

Itulah khasiat dari cairan kuning yang mereka sedot tadi!

Cairan kuning itu membersihkan, bukan hanya membersihkan hawa beracun, akan tetapi juga membersihkan darah dan rongga dada dan perut secara luar biasa sekali.

Akan tetapi, saking kerasnya obat ini, pemakainya memang biasanya tertidur atau pingsan lebih dulu, seperti yang dialami oleh mereka.

Untung bahwa Kiong Lee yang pingsan terlebih dahulu sehingga dia lebih dahulu pula siuman dan dapat menyelamatkan mereka berlima yang terancam bahaya maut.

Setelah ditinggalkan oleh Tikus Beracun dan anak-buahnya, lima orang itu mulai mencari jalan keluar.

Akan tetapi, mereka berputar-putar menurutkan lorong bawah tanah dan tidak pernah berhasil menemukan jalan keluar dari terowongan itu.

Tiba-tiba Kiong Lee membungkuk dan mengambil sesuatu dari atas lantai lorong.

"Aih, itu saputanganku!"

Tiba-tiba Pek Lian berkata sambil menerima saputangan itu dari Kiong Lee.

"Benar, saputanganku yang terjatuh tanpa kuketahui. Ah, aku ingat sekarang. Tak jauh dari sini terdapat pintu rahasia keluar. Kita jalan lurus saja dari sini, jangan berbelok-belok. Saputangan ini terjatuh ketika untuk pertama kalinya aku dan adik Siok Eng memasuki terowongan ini. Aku terlonjak kaget ketika menginjak seekor tikus. Ingatkah engkau, adik Eng?"

Siok Eng mengangguk dan merasa girang karena iapun ingat bahwa tak jauh dari situ terdapat jalan keluar.

Mereka lalu maju terus, kini Pek Lian didepan sebagai penunjuk jalan.

Ingatan nona ini kuat sekali sehingga tak lama kemudian mereka tiba dijalan buntu, tertutup oleh sebuah pintu baja.

Pek Lian mengamati pintu itu dan berseru girang.

"Nah, inilah pintu rahasia itu! dibalik pintu ini terdapat jalan keluar. Akan tetapi, aku tidak tahu rahasia cara membukanya. Tentu ada alatnya. Mari kita sama-sama mencari alat rahasia untuk membukanya."

"Biar kudobrak saja dengan kekerasan,"

Kata Kiong Lee. Gurunya mencegahnya.

"Jangan. Pintu rahasia tidak boleh dibuka dengan kekerasan, karena kalau hal itu dilakukan tentu akan mendatangkan bahaya lain. Mari kita cari alat rahasia pembukanya itu."

Akan tetapi, sampai pusing dan bosan mereka mencari, tidak juga mereka dapat menemukan alat rahasia pembuka pintu itu. Akhirnya mereka menjadi bosan dan putus asa.

"Kita cari jalan keluar lain saja!"

Kata Bwee Hong.

"Nanti dulu "

Pek Lian berseru dan ia teringat akan tempat lampu minyak diatas pintu baja dimana tikus-tikus itu ditempatkan.

Ia lalu meloncat keatas, tangannya bergantung kepada celah-celah diatas pintu dan meraba-raba.

Benar saja, diatas daun pintu terdapat sebuah lubang dan disitu terdapat pula sebuah lampu minyak.

Ia mencoba untuk mencabut lampu itu, akan tetapi tidak bergoyang sedikitpun.

Lalu diputar-putarnya dan tiba-tiba terdengar suara berkerotokan dan daun pintu itupun terbuka!

Semua orang bersorak kegirangan.

"Engkau memang hebat, enci Lian!"

Siok Eng memujinya ketika Pek Lian melompat turun.

"Sudahlah, mari kita lari kepantai!"

Kata Pek Lian.

Mereka berlima cepat berlari-larian menuju pantai, Pek Lian dan Siok Eng menjadi penunjuk jalan karena kedua orang dara ini hendak mencari perahu-kecil mereka, yaitu milik Tiat-siang-kwi, tokoh kedua dari Tujuh Iblis Ban-kwi-to, perahu yang mereka larikan itu.

Begitu mereka menemukan perahu, mereka berlima segera naik keperahu kecil itu dan mendayungnya meninggalkan pulau.

Pada saat itu, mereka melihat orang berbondong-bondong lari kepantai.

Mereka telah ketahuan oleh Tikus Beracun dan anak-buahnya, akan tetapi perahu mereka telah menjauh dan mereka telah aman dari gangguan iblis-iblis jahat itu.

"Ah, ternyata telah sehari penuh kita terkurung didalam terowongan bawah tanah itu,"

Kata Yap-lojin.

"Untung ada nona Ho Pek Lian, kalau tidak ah, agaknya aku orang tua ini sekarang hanya tinggal nama saja. Aku dan muridku ini sungguh berhutang budi dan nyawa kepada nona Ho."

"Aih, Yap-Lo-cianpwe, bagaimana dapat bersikap sungkan begitu? diantara kita ini mana bisa dikatakan melepas dan berhutang budi? Aku bahkan berterimakasih sekali dapat bertemu kembali dengan enci Bwee Hong. Bagaimanakah enci Bwee Hong dapat muncul secara demikian tiba-tiba bersama Lo-cianpwe dipulau iblis itu? Aih, enci Hong, aku sudah putus harapan dan mengira engkau telah benar-benar lenyap ditelan lautan ganas,"

Kata Pek Lian.

"Sama saja dengan kekhawatiranku, adik Lian. Kusangka engkaupun sudah lenyap ketika aku tercebur kedalam lautan itu."

"Ah, aku kebetulan sekali bertemu dengan perahu adik Siok Eng dan ialah yang menolongku. kemudian ia mengajakku ke pulau Ban-kwi-to itu karena ia hendak mencari setangkai bunga obat yang hanya terdapat disana. Dan engkau sendiri bagaimana, enci Hong?"

"Akupun terapung-apung dan kebetulan bertemu dengan perahu Yap-Lo-cianpwe sehingga beliau dan Yap-taihiap yang menyelamatkan aku. Karena mereka berdua sedang menuju ke pulau Ban-kwi-to untuk mencari putera Yap-Lo-cianpwe, maka akupun ikut dengan mereka. Sama sekali tidak pernah kuduga bahwa ditempat pesta yang berbahaya itu aku akan bertemu dengan engkau dan adik Siok Eng yang menyamar sebagai selir-selir cantik!"

Tiga orang gadis itu lalu bercakap-cakap dengan gembira setelah pertemuan yang sama sekali tak tersangka-sangka itu, pertemuan yang mendatangkan kegembiraan karena melihat kenyataan bahwa teman yang disayangnya itu ternyata masih dalam keadaan selamat.

Apa lagi setelah apa yang mereka alami diterowongan itu dan kemudian mereka bersama berhasil menyelamatkan diri dari ancaman bahaya maut.

"Nona Ho,"

Akhirnya Yap-lojin berkata.

"Kalau nona mengetahui dimana adanya puteraku, harap segera memberi tahu karena aku ingin sekali tahu dimana dia berada."

"Dia berada tak jauh dari sini, Lo-cianpwe. Dipulau kediaman Thian-te Tok-ong"

"Hemm, Si Kelabang Hijau tokoh kelima dari Tujuh Iblis itu?"

"Benar, Lo-cianpwe. Lihat, air laut disini berwarna kekuning-kuningan dan berbau busuk."

"Memang begitu,"

Kata Siok Eng yang banyak tahu tentang Ban-kwi-to karena sebelum berangkat ia telah mempelajarinya dari ayahnya.

"Air laut disini terkena pengaruh racun membusuk dari bangkai-bangkai dan tulang-tulang yang dibuang oleh Tiat-siang-kwi tokoh kedua dari Tujuh Iblis. Tempat ini sudah termasuk wilayahnya. Nah, itu pulau yang nampak gersang didepan, disanalah raksasa itu tinggal."

"Hemm, tempat mengerikan,"

Kata Kiong Lee.

"Tidak nampak pohon sama sekali. Hanya batu dan pasir melulu. Tempat berbahaya!"

"Lebih baik kita berputar dan menghindari tempat ini. Bukan main busuk baunya."

Perahu didayung terus meninggalkan pulau gersang itu dan bau busuk itupun makin menghilang dan kini air laut berobah warnanya menjadi agak kebiruan bercampur warna ungu, dan bau yang tadinya busuk seperti bangkai itu kini berobah menjadi amis sekali, makin lama makin memuakkan!

Semua orang memencet hidung karena bau itu membuat orang ingin muntah.

"Daerah ini termasuk wilayah orang terakhir dari Tujuh Iblis Ban-kwi-to, yaitu suami-isteri Imkan Siang-mo. Pulau kediaman mereka penuh dengan lumut dan rawa-rawa, banyak terdapat binatang air dan binatang melata yang beracun sekali. Lihat, itu pulaunya sudah tampak dari sini,"

Kata pula Kwa Siok Eng puteri ketua Tai-bong-pai itu.

Karena ingin tahu, Yap-lojin mengajak mereka untuk mendayung perahu itu mendekati pulau, apa lagi karena arus disitu kuat sekali.

Tiba-tiba mereka mendengar suara mendengung-dengung dari atas pulau dan nampaklah sekelompok lebah terbang lewat dan tercium bau wangi arak.

"Ahh... lebah arak putih!"

Seru Yap-lojin dan wajahnya berobah karena dia tahu betapa jahat dan berbahayanya lebah-lebah itu.

"Kurang ajar!"

Tiba-tiba Kiong Lee memaki dan memalingkan mukanya agar tidak melihat apa yang terjadi diatas pasir dipantai yang berdekatan.

Akan tetapi, tanpa disengaja, seruannya itu bahkan membuat tiga orang dara memandang kearah pantai.

Mata mereka terbelalak, muka mereka berobah merah sekali dan cepat-cepat merekapun membuang muka.

Apakah yang mereka lihat disana?

Dua orang manusia berlainan kelamin, seorang pria dan seorang wanita, sudah kakek dan nenek, akan tetapi gaya dan lagaknya membuat orang-orang muda merasa malu.

Mereka berdua itu sedang bersenda-gurau bermain cinta diatas pasir dalam keadaan telanjang bulat!

Dua orang itu bukan lain adalah Imkan Siang-mo, yaitu Bouw Mo-ko dan Hoan Mo-li, suami-isteri yang jahat seperti iblis dan yang tidak tahu malu itu, orang keenam dan ketujuh dari Tujuh Iblis Ban-kwi-to.

Ketika mereka melihat ada perahu lewat, keduanya cepat mengenakan pakaian, lalu mereka memaki-maki, mencak-mencak dan mencari perahu mereka untuk melakukan pengejaran.

Akan tetapi, Yap-lojin dan rombongannya sudah cepat meninggalkan pulau cabul itu!

Atas petunjuk Siok Eng, perahu itu kini memasuki daerah yang berbau semerbak harumi dan air laut kini berobah warnanya, menjadi kemerahan!

Siok Eng memperhatikan sekeliling lalu berkata.

"Kita telah memasuki daerah kekuasaan Jeng-bin Siang-kwi (Sepasang Iblis Bermuka Seribu), dua orang wanita kembar yang menjadi tokoh ketiga dan keempat dari iblis-iblis itu. Mereka adalah sepasang wanita cantik yang ganas dan kejam bukan main. Kesukaannya adalah mengumpulkan pemuda-pemuda tampan."

"Heii! Perahu kita oleng!"

Teriak Pek Lian.

Air laut nampak bergelombang dan perahu mereka oleng kekanan kiri.

Tiba-tiba mereka merasa perahu mereka tertumbuk sesuatu dan tergetar hebat seperti dihantam oleh sesuatu dari bawah.

Dan disekeliling perahu itu mendadak muncul moncong-moncong binatang yang bergigi tajam macam moncong buaya.

"Wah, perahu kita bocor!"

Teriak Kiong Lee "Cepat dayung perahu ke pulau!"

Teriak pula Yap-lojin dan dia menggunakan dayung, dibantu muridnya, menghantam kearah moncong-moncong buaya laut yang tersembul disekitar perahu.

Akan tetapi, air mulai memasuki perahu dan untunglah bahwa tiga orang dara yang mendayung perahu itu memiliki tenaga sinkang yang kuat sehingga perahu sudah hampir mencapai pantai ketika air semakin memenuhinya.

Merekapun berloncatan kepantai.

Perahu tenggelam!

Sejenak mereka berlima berdiri bengong memandang kearah perahu mereka yang tenggelam dan perahu itu bergerak kesana-sini seperti diserang oleh binatang-binatang buas itu didalam air.

Tak lama kemudian, nampak pecahan-pecahan perahu mereka terapung dipermukaan air.

Yap-lojin menghela napas panjang sedangkan gadis-gadis itu bergidik.

"Untung kita sudah dekat dengan pulau ini, kalau ditengah-tengah lautan bisa berbahaya. Sekarang kita harus berusaha mendapatkan perahu lain."

Dengan hati-hati mereka berlima menyusuri pantai.

Pulau itu merupakan pulau yang indah dan subur, penuh dengan pohon-pohon yang hijau dan rimbun daunnya.

Juga banyak pohon-pohon bunga tumbuh disana-sini, bentuk dan warnanya bermacam-macam, selain indah dipandang, juga sedap dicium karena baunya harum semerbak.

"Kita harus hati-hati. Biarpun bunga-bunga itu kelihatan indah dan berbau harum, akan tetapi semua itu beracun!"

Kata Siok Eng memperingatkan.

Bwee Hong dan Pek Lian memandang kagum dan menjulurkan lidah.

Tiba-tiba Yap-lojin memberi isyarat dan mereka semua cepat menyelinap dan bersembunyi dibalik pohon-pohon, mengintai kedepan.

Dari jauh nampak dua orang wanita kembar sedang berjalan mendatangi tempat itu, bergandeng tangan dengan dua orang pemuda.

Kedua orang pemuda itu kelihatan lesu dan loyo, mandah saja digandeng dan diajak berjalan kemanapun.

Ketika mereka sudah tiba agak dekat, Bwee Hong memegang tangan Pek Lian.

Nona inipun sudah mengenal kedua orang pemuda itu.

Yang seorang adalah kakak Bwee Hong, yaitu Chu Seng Kun, sedangkan pemuda yang kedua adalah A-hai, pemuda sinting yang aneh itu!

"Kakakku!"

Bwee Hong berbisik, lirih akan tetapi terdengar oleh empat orang kawannya.

"Ssttt!"

Kwa Siok Eng memberi isyarat.

"Hati-hati, lebih baik kita membayangi mereka. Kelihatannya kakakmu itu keracunan, mungkin terbius atau keracunan hebat karena racun perampas ingatan."

"Hemm, itukah kakakmu yang kau cari-cari itu?"

Tanya Yap-lojin kepada Bwee Hong.

Yang ditanya mengangguk sambil mengepal tinju, agaknya dapat menahan kesabarannya lagi dan ingin menerjang sepasang iblis kembar yang cantik Mereka membayangi dari jauh.

Senja telah mulai gelap dan cuaca gelap ini memudahkan mereka membayangi empat orang yang berjalan sambil bergandeng tangan didepan itu.

Sepasang iblis kembar itu membawa dua orang pemuda tawanannya itu kedalam sebuah gedung, langsung memasuki ruangan belakang.

Dua orang pelayan wanita sibuk mengeluarkan hidangan diatas meja dan mereka berempat lalu berpesta-pora, makan-minum Sepasang iblis itu dengan sikap manja dan genit beberapa kali menyuguhkan arak kepada sepasang pemuda tampan, atau menyuapkan makanan dengan sumpit mereka, dan kadang-kadang mencumbu mereka.

Melihat ini, kembali tiga orang dara itu menjadi merah mukanya, akan tetapi sekali ini Bwee Hong hampir tidak kuat bertahan dan ingin menyerbu saja.

"Enci Hong, harap bersabar. Kita harus berhati-hati. Ilmu silat kedua orang iblis itu sih tidak perlu dikhawatirkan, akan tetapi mereka itu licik sekali dan ilmu mereka tentang racun amat hebat. Apa gunanya kita turun tangan menolong kakakmu kalau kemudian ternyata bahwa kakakmu keracunan hebat dan sukar ditolong nyawanya? Kedua orang pemuda itu jelas dalam keadaan tidak wajar. Tentu ada sebabnya,"

Bisik Siok Eng. Pek Lian mengangguk-angguk.

"Enci Hong. apa yang diucapkan Eng-moi itu memang benar. kau lihat saja A-hai itu. Dia adalah seorang yang wajar dan tidak mampu pura-pura, kini diapun kelihatan tidak wajar dan seperti kehilangan akal. Aku yakin bahwa mereka berdua itu dalam keadaan terbius atau terampas akal mereka oleh racun yang digunakan oleh dua iblis itu. Kita menanti saat yang baik."

Akan tetapi kini dua orang wanita kembar itu sudah bangkit dan menggandeng kedua orang pemuda memasuki sebuah kamar besar dan lima orang yang mengintai itu tidak dapat mengintai lagi.

Sebelum mereka tahu apa yang harus mereka lakukan, tiba-tiba terdengar suara parau dari jauh.

"Siang-sumoi! dimana kalian?"

Kemudian, terdengar langkah-langkah yang membuat lantai tergetar.

Muncullah seorang raksasa yang memasuki ruangan itu dan langsung masuk kedalam kamar besar dimana dua orang iblis cantik dan dua orang mangsanya tadi masuk.

"Kiong Lee, lihatlah apa yang terjadi didalam, Biar kami menanti disini dan baru turun tangan kalau kau beri isyarat. Hati-hati, jangan sembarangan bertindak."

"Baik, suhu!"

Dan tubuh pemuda itu sudah mencelat keatas, menerobos daun-daun pohon dan hinggap diatas wuwungan rumah.

Gerakannya gesit seperti terbang saja sehingga Bwee Hong yang telah memiliki ginkang paling hebat itupun memandang kagum.

Apa lagi Pek Lian yang paling rendah tingkat kepandaiannya, memandang terbelalak.

Siok Eng juga kagum memuji.

"Bukan main!"

"Dia memang anak yang baik dan patut dibanggakan,"

Kata sang guru sambil tersenyum.

Yap-lojin sengaja mengutus murid atau putera angkatnya itu untuk melakukan pengintaian sendiri saja.

Kalau mereka berlima semua mengintai diatas wuwungan, tentu mudah diketahui lawan, dan selain itu, yang terpenting baginya adalah agar tiga orang dara itu tidak usah melihat apa yang terjadi didalam kamar itu, yang diduganya tentulah adegan cabul yang tidak layak ditonton gadis-gadis seperti mereka.

Kiong Lee mengintai kedalam.

Dari sebuah lubang digenteng dia melihat Seng Kun, kakak Bwee Hong itu, rebah diatas sebuah kursi panjang sambil minum arak.

Pemuda lain yang bertubuh tinggi tegap berwajah tampan gagah, yang oleh Pek Lian disebut bernama A-hai, nampak tertelungkup diatas meja, agaknya sudah mabok dan tertidur.

Di atas tempat tidur rebah dua orang wanita kembar itu, dengan pakaian hampir telanjang.

mereka itu cekikikan, entah apa yang mereka bicarakan dan tertawakan.

"Siang-sumoi, dimana kalian?"

Seruan lantang dari Tiat-siang-kwi, ji-suheng mereka itu membuat mereka cepat bangkit dari tempat tidur.

Akan tetapi sebelum mereka sempat membetulkan pakaian dalam yang awut-awutan itu, si raksasa sudah muncul dari luar memasuki kamar besar itu.

"Ha-ha-ha, Siang-sumoi, kalian sungguh tidak manis kepadaku! Berkali-kali kalian menghindarkan diri, menjauhi aku dan tidak mau melayaniku seperti biasa, padahal dahulu kalian suka saling berebut untuk melayaniku. Hemm, sejak kalian merampas dua orang bocah itu dari tangan Sanhek-houw dan Sin-go Mo Kai Ci, kalian seperti sudah lupa diri. Ini namanya mendapatkan kekasih baru melupakan yang lama. Jangan begitu, Siang-sumoi, sekali ini kalian harus melayani aku, untuk mengobati rinduku kepada kalian yang sudah bertumpuk-tumpuk!"

Raksasa itu lalu melangkah maju mendekat.

Kini dua orang wanita itu sudah berdiri berdampingan menghadapi si raksasa.

Mereka memang cantik dan bertubuh denok menggairahkan dan nampaknya usia mereka antara tiga puluh sampai tiga puluh lima tahun.

"Ji-suheng, pergilah dan jangan ganggu kami. Kami sedang lelah"

Kata seorang diantara mereka.

"Biar lain hari saja kami melayanimu, ji-su-heng!"

Kata yang kedua.

"Ha-ha-ha, kalian lelah karena susah payah membujuk dua orang muda yang keras kepala itu, ya? ha-ha, kenapa susah-susah membujuk rayu orang-orang yang tidak mau. sebaliknya menolak orang yang mau dan bergairah besar seperti aku? Sudahlah, Siang-sumoi, kita panggang saja daging kedua orang muda ini. Dagingnya kalau dipanggang tentu lezat dan akan kuajarkan kalian makan daging manusia yang selain lezat juga dapat mendatangkan kekuatan. Dan mari kalian layani aku, mari kita main-main sepuasnya seperti dahulu!"

Raksasa itu mengulur tangan hendak merangkul mereka. Akan tetapi dua orang wanita itu mengelak dan kelihatan marah.

"Ji-suheng, ingat bahwa engkau berada ditempat kami. Pergilah dan jangan ganggu kami. Ataukah kami harus menggunakan kekerasan?"

"Ha-ha-ha, apakah kalian juga ingin aku menggunakan kekerasan untuk bermain-main dengan kalian?"

Raksasa itu menubruk kedepan,.

akan tetapi kedua orang wanita itu bukan hanya mengelak, bahkan kini menyerang dari kanan kiri dengan hebatnya!

Terjadilah perkelahian mati-matian dalam kamar itu!

Walaupun mereka itu masih merupakan sekutu bahkan saudara-saudara seperguruan, namun karena mereka adalah datuk-datuk kaum sesat yang batinnya dipenuhi oleh nafsu pementingan diri sendiri, mereka saling serang dengan sungguh-sungguh dan mati-matian.

Mereka tidak saling mempergunakan racun karena maklum bahwa hal itu tidak berguna mengingat bahwa mereka bertiga itu sudah kebal racun, maka mereka berkelahi dengan mempergunakan ilmu silat saja.

Dan dalam hal ilmu silat dan tenaga, sepasang wanita kembar itu harus mengakui keunggulan si raksasa.

Tiat-siang-kwi (Setan Gajah Besi) tertawa-tawa ketika dia mulai dapat melukai dua orang sumoinya dengan pukulan-pukulan, tendangan dan kadang-kadang cengkeraman tangannya.

Dia merasa gembira bukan main dapat menghajar dua orang wanita itu.

Tubuh yang hanya tertutup pakaian dalam yang banyak memperlihatkan kulit tubuh yang mulus itu menjadi bulan-bulan pukulan, tamparan dan tendangan, nampak lecet-lecet dan matang biru babak-belur.

Bahkan darah mulai meleleh dari mulut dan hidung mereka.

Hal ini membuat si raksasa semakin bernafsu dan gembira.

Tentu saja Tiat-siang-kwi tidak pernah mencinta dua orang wanita itu dalam arti yang sesungguhnya, baik mencinta sebagai pria terhadap wanita maupun mencinta sebagai saudara terhadap adik-adik seperguruannya.

Yang ada hanya nafsu dan kalau dia kadang-kadang bermain cinta dengan mereka, sepenuhnya yang menjadi pendorong hanyalah nafsu berahi yang memperalat orang lain demi pemuasan diri.

Kini, nafsu berahinya agaknya telah berobah menjadi nafsu kekejaman dan kesadisan melihat tubuh yang mulus itu mulai babak belur dan berdarah.

Chu Seng Kun yang tadinya rebah diatas kursi sambil minum arak, memandang dengan sikap tenang dan tidak acuh, akan tetapi A-hai yang tadinya tertelungkup diatas meja dan seperti tidur nyenyak, kini sudah bangkit berdiri, mukanya menjadi pucat melihat penyiksaan sadis yang dilakukan oleh si raksasa itu terhadap dua orang wanita yang kini hanya dapat melawan dengan lemah saja.

mulut A-hai komat-kamit dan terdengar dia mengeluh panjang pendek.

"Ahhh... jangan berkelahi... jangan mem bunuh, ahhh jangan menggunakan kekerasan untuk menyiksa orang lain"

Ketika dia melihat darah bercucuran dari hidung dan mulut sepasang iblis kembar yang cantik itu, A-hai menutupi mukanya dengan kedua tangan dan dengan terhuyung-huyung seperti orang mabok diapun sempoyongan menuju kearah pintu keluar.

"Ha-ha-ha!"

Si raksasa terbahak dan dengan dua kali jotosan, tubuh dua orang wanita itu terpelanting roboh dengan napas senin-kemis.

Melihat betapa dua orang lawannya sudah tidak mampu melawan lagi, dan melihat A-hai menuju kepintu, Tiat-siang-kwi membentak.

"Heh, kelinci tolol, kau hendak lari kemana? Engkau kasihan dan sayang kepada mereka, ya? Pantas mereka tidak mau lagi dengan aku. Huh, lihat saja nanti kalau sudah kuganyang dagingmu dan kuminum darahmu!"

Melihat raksasa itu mengejar kepintu, kearah A-hai yang hendak pergi meninggalkan kamar itu, Kiong Lee sudah bersiap-siap.

Dia tidak mungkin membiarkan raksasa itu membunuh pemuda yang kelihatan lemah itu.

Akan tetapi, tiba-tiba terdengar siulan keras.

Itulah siulan gurunya yang memanggilnya!

Dia cepat menoleh dan memandang kebawah.

Kiranya didalam gelap itu telah terjadi pertempuran.

Si Tikus Beracun dan Imkan Siang-mo, suami-isteri cabul itu, telah datang membawa anak-buah mereka.

Melihat ini, Kiong Lee menjadi bingung, mana yang harus dibantunya lebih dulu.

Terdengar suara gaduh didalam kamar.

Dia memandang dan dia mengerutkan alisnya.

Ternyata dia telah terlambat.

Pemuda itu telah dihajar, terkena pukulan keras dari kepalan tangan yang besar dan kuat dari Tiat-siang-kwi sehingga pemuda itu terlempar menabrak meja, lalu jatuh tunggang-langgang dengan darah mengucur dari luka didahinya.

Pemuda itu bangkit duduk, nampak nanar dan tangannya meraba kearah dahi yang terbuka.

Kembali terdengar siulan gurunya.

Kiong Lee semakin bingung.

Dia melihat betapa Tiat-siangkwi sudah mencabut senjatanya, yaitu golok gergaji yang besar mengerikan.

Agaknya raksasa itu benar-benar hendak membantai dan menguliti pemuda itu.

Pada saat itu, A-hai mengusap lukanya dan ketika dia melihat tangannya penuh darah, juga mukanya menjadi berlepotan darah, terjadi perobahan hebat pada dirinya.

Matanya terbelalak, mencorong ganas, dan lidahnya terjulur menjilati darah yang berlepotan ditelapak tangannya sambil menggumam lirih.

"Darah darah!"

Melihat ini, Kiong Lee terbelalak dan merasa kasihan sekali.

Dia mengira bahwa tentu pukulan si raksasa tadi telah mengakibatkan luka didalam kepala pemuda itu sehingga dia mendadak menjadi gila!

Dan Tiat-siang-kwi sendiripun melihat ini dan si raksasa tertawa lalu menyimpan kembali goloknya.

"Ha-ha-ha, akan kubeset kulitmu dengan kuku jari tanganku saja, ha-ha-ha!"

Katanya dan tiba-tiba kata-katanya terhenti dan matanya terbelalak ketika dia melihat secara luar biasa sekali pemuda yang menjilati darah dari telapak tangannya itu mendadak terbang!

Ya, gerakan pemuda itu hanya tepat disebut "terbang"

Karena tidak nampak dia membuat gerakan meloncat dan tahu tahu tubuhnya sudah meluncur keatas, kedepan dan menyerangnya.

Kiong Lee sendiri terbelalak melihat ini, sungguh penglihatan yang ajaib dan membuat dia merasa seperti dalam mimpi.

Sementara itu, Chu Seng Kun yang sedang minum arak itu masih enak-enak saja minum araknya dalam keadaan tidak sadar, terbuai dalam kemabokan mendalam.

"Haaaiiiittt!"

Tiat-siang-kwi menangkis, bahkan menyambut serangan itu dengan hantaman tangannya yang terbuka seperti cakar naga.

"Blaarrrrr!"

Dua tenaga raksasa bertemu dan seluruh ruangan sampai keatas genteng tergetar hebat.

Akibatnya...

tubuh raksasa sebesar gajah itu terlempar melayang menghantam dinding sehingga dinding kamar itu jebol dan tubuhnya yang besar itu terbanting keluar!

"Adouuhh, ehhh, ohhh...!"

Si raksasa merangkak bangun, memandang dengan muka pucat dan mata terbelalak melalui lubang besar didinding kepada pemuda itu, kemudian membalikkan tubuh dan lari tunggang-langgang!

A-hai, yang sudah berobah menjadi buas itu segera mengejar melalui lubang didinding.

Kiong Lee mengucek-ngucek kedua matanya, lalu berkejap-kejap, masih belum dapat percaya akan penglihatannya sendiri.

Raksasa itu demikian lihai dan kuat sehingga dua orang sumoinya juga tidak kuat melawannya.

Akan tetapi apa yang telah terjadi sehingga sekali hantam saja A-hai telah membuat tubuhnya terlempar keras membobolkan dinding dan membuat raksasa itu lari ketakutan?

Siulan gurunya untuk ketiga kalinya membuat dia sadar.

Dia cepat meloncat turun.

Kiranya gurunya dan juga tiga orang dara perkasa itu berada dalam keadaan berbahaya!

Gurunya dikeroyok oleh Tikus Beracun dan puteranya, sedangkan tiga orang dara itu berkelahi melawan kakek dan nenek cabul.

Tentu saja mereka berempat akan dapat mengalahkan lawan-lawan itu dengan mudah dalam keadaan biasa.

Akan tetapi, mereka berempat itu kewalahan, bukan oleh lawan melainkan oleh ribuan ekor lebah putih yang beterbangan diatas kepala mereka dan menyerang mereka dengan ganas membuat empat orang pendekar itu benar-benar kewalahan.

Bukan hanya bahaya penyengatan mereka yang beracun itu yang mengkhawatirkan, melainkan juga suara mereka yang berdengung seperti gemuruh air terjun itu membuat Yap-lojin dan kawan-kawannya panik.

Bahkan ketika Kiong Lee menyerbu, pemuda itupun segera dikeroyok oleh ribuan ekor lebah putih.

"Lari kebawah pohon itu!"

Tiba-tiba Yap-lojin berteriak dan empat orang muda itu mengerti maksudnya.

Kalau mereka berada dibawah pohon yang rindang daunnya itu, tentu lebah-lebah ini akan kurang leluasa beterbangan diatas kepala mereka, atau setidaknya tentu jumlah mereka berkurang karena sempitnya ruangan diatas kepala mereka.

Maka mereka lalu memutar sebelah tangan diatas kepala sedangkan tangan lain dipergunakan untuk menghadapi serangan musuh, dan merekapun akhirnya berhasil menyusup kebawah pohon walaupun Tikus Beracun, puteranya dan sepasang suami-isteri iblis itu mencoba untuk menghalangi mereka.

Akan tetapi, hanya sebentar saja mereka merasa lega karena benar-benar ribuan lebah itu tidak begitu leluasa menyerang mereka, karena tiba-tiba Pek Lian menjerit-jerit dan diikuti oleh dua orang gadis lainnya ketika kaki mereka dirambati semut-semut merah yang buas sekali!

Semut merah beracun yang buas.

Repotlah mereka sekarang harus melawan musuh yang cukup berbahaya sambil menghalau lebah-lebah dan menepuk mati semut-semut yang merayap kemana-mana!

"Lari kedalam rumah!"

Kembali Yap-lojin memberi komando dan merekapun berlari-larian memasuki ruangan dimana A-hai dan Seng Kun berada.

Biarpun mereka masih dikeroyok oleh empat orang iblis yang dibantu lebah-lebah mereka, namun kini mereka tidak sesibuk tadi.

Lebih dari tiga perempat bagian dari pasukan lebah itu kebingungan, tertahan diantara daun-daun pohon tadi.

Sedangkan yang masih mengeroyok mereka didalam rumah juga tidak dapat bergerak leluasa.

Melihat betapa kawan-kawannya tidak kerepotan lagi, Bwee Hong segera lari menghampiri Seng Kun.

"Koko!"

Katanya sambil merangkul pemuda itu.

Akan tetapi Seng Kun hanya memandang kepadanya dengan sinar mata bingung karena kakak ini tidak mengenal adiknya lagi.

Bwee Hong cepat memeriksa denyut nadi tangan kakaknya dan setelah melakukan pemeriksaan, iapun mengerti bahwa kakaknya berada didalam pengaruh obat bius perampas ingatan yang amat kuat.

Pada saat itu, tiba-tiba nampak berkelebatnya orang kedalam ruangan itu.

Ternyata dia adalah si raksasa yang melarikan diri dikejar oleh A-hai.

"Dess!"

Tubuh raksasa itu tunggang-langgang mengacaukan pertempuran yang sedang berlangsung.

"Aduh... aduhh tobat! Aku menyerah!"

Teriaknya dengan suara parau dan mulutnya muntahkan darah segar.

Akan tetapi, agaknya A-hai sudah seperti kesetanan.

Dia mengeluarkan suara gerengan buas, tubuhnya melayang keatas dan jari-jari tangannya terbuka, mencengkeram kearah kepala raksasa itu.

Melihat ini, Kiong Lee terkejut.

Bagaimanapun juga, dia tidak ingin melihat pemuda aneh itu menjadi seorang pembunuh keji, membunuh lawan yang sudah mengaku kalah dan bertobat.

Dia menyayangi pemuda luar biasa itu, maka untuk mencegah agar A-hai jangan menjadi pembunuh keji, diapun cepat menggerakkan tubuhnya dan menggunakan tangannya memukul kearah lengan A-hai yang terulur hendak mencengkeram kepala Tiat-siang-kwi itu.

"Dukkk!"

Dua lengan bertemu, keduanya terisi tenaga sinkang yang luar biasa kuatnya. Akibatnya, pukulan A-hai itu menyeleweng dan menghantam lantai dibawah, dekat kaki Tiat-siang-kwi.

"Blarrrr...!"

Debu mengepul tinggi dan lantai itu berlubang besar.

Semua orang terkejut dan memandang kagum.

Kiong Lee sendiri terkejut bukan main ketika lengannya bertemu dengan lengan pemuda itu dan dia sudah meloncat kebelakang sejauh tiga meter.

Kini dia berdiri tegak dan memandang dengan mata bernyala.

Hatinya terbakar juga.

Sebagai seorang pemuda perkasa, dia telah menemukan tandingan.

Kini kedua orang muda itu berdiri saling pandang, sama-sama tegap dan gagah.

Akan tetapi sepasang mata A-hai tidaklah sebuas tadi, agak meredup, agaknya ada sesuatu yang meringankan kegilaannya yang kambuh itu.

Melihat ini, Pek Lian meninggalkan sepasang suami-isteri tua yang masih bertanding melawan Siok Eng dan iapun cepat menghampiri dua orang pemuda yang saling berhadapan dalam jarak tiga meter seperti dua ekor ayam jantan yang hendak berlaga itu.

"Saudara Yap, dia... tidak sadar akan apa yang dilakukannya. Jangan layani dia!"

Setelah berkata demikian, Pek Lian menghampiri A-hai.

"A-hai, lupakah engkau kepadaku?"

A-hai memandang kepada Pek Lian, alisnya berkerut dan dia menggeleng kepalanya, akan tetapi walaupun dia tidak mengenal gadis ini, agaknya ada sesuatu yang membuat hatinya lunak dan pandang matanya tidak seganas tadi.

Pada saat itu, tanpa diketahui orang lain, Tiat-siang-kwi yang nyaris melayang nyawanya kalau tidak ditolong oleh Kiong Lee, tiba-tiba melompat dan menubruk Bwee Hong yang sedang memeriksa keadaan kakaknya.

Semua orang terkejut dan Pek Lian menjerit.

Akan tetapi terlambat karena Bwee Hong yang tidak mengira akan diserang itu, tahu-tahu telah dicengkeram bahu dan tangan kirinya.

Ia dibikin tidak berdaya dengan pukulan jari tangan pada tengkuknya, dan kini kuku-kuku jari yang runcing melengkung itu menusuk daging balut dan lengannya yang lembut.

Darah mengalir keluar.

Sambil tertawa si raksasa itu menyeret Bwee Hong, dengan kasar dan buas, menjauhi Seng Kun yang masih memandang dengan linglung.

Sambil tertawa-tawa ganas, raksasa itu lalu mencengkeram kaki Bwee Hong, diangkatnya dara itu dan iapun mengamuk, memutar-mutar tubuh Bwee Hong untuk mencari dan membuka jalan keluar dan membantu kawan-kawannya.

Tentu saja Yap-lojin dan teman-temannya menjadi khawatir dan cepat mundur, tidak berani menyerang karena takut kalau-kalau serangan mereka mengenai tubuh Bwee Hong yang diputar-putar itu.

Mereka memandang gelisah, tidak tahu bagaimana harus menghadapi lawan yang amat curang itu.

Akan tetapi, tiba-tiba terdengar suara geraman buas seperti keluar dari mulut seekor binatang liar.

Sepasang mata A-hai yang tadinya sudah meredup, berobah ganas lagi.

Sepasang mata itu kini memandang kearah si raksasa dengan pandang mata buas, seperti mata harimau yang penuh nafsu membunuh.

Tubuhnya perlahan-lahan bergerak, berputar kearah raksasa yang tertawa terbahak-bahak kegirangan melihat musuh-musuhnya yang tangguh itu menyingkir semua.

Tiba-tiba, kedua lengannya mengeluarkan uap putih dan begitu tangan kirinya digerakkan kedepan seperti menusuk kearah kaki Tiat-siang-kwi, raksasa itu berteriak kesakitan dan kakinya terkulai, lututnya tertekuk.

Dia hanya merasa seolah-olah pahanya dihantam palu godam yang tidak nampak.

Dia mencoba bangkit, akan tetapi jatuh berlutut lagi.

A-hai kembali menggerakkan tangan kanannya, kini membuat gerakan membacok kearah pundak.

Kembali raksasa itu berteriak kesakitan dan lengan kanannya terkulai.

Tentu saja Bwee Hong terlepas jatuh kelantai dan Siok Eng cepat menyambarnya dan memulihkan jalan darahnya yang tadi tertotok.

Sementara itu, Yap-lojin yang sejak tadi mengikuti semua gerakan A-hai, ternganga dan tanpa disadarinya dia menggeleng-geleng kepala dan berkata.

"Thai-kek Sin-ciang!"

Kiong Lee terkejut.

Yang disebut gurunya itu adalah ilmu pukulan yang kabarnya hanya dimiliki dewa saja, yang hanya terdapat dalam dongeng.

Akan tetapi, melihat apa yang dilakukan oleh A-hai tadi, dia percaya bahwa ilmu pukulan jarak jauh itu sungguh amat luar biasa.

Sikap A-hai sungguh luar biasa sekali.

Setelah si raksasa roboh, kebuasannyapun lenyap dan kini dia termangu-mangu memandang kepada Bwee Hong yang juga sudah bangkit berdiri dan memandang kepadanya setelah terbebas dari totokan.

Dan tiba-tiba saja, A-hai menangis!

Air matanya bercucuran dan dia memandang kepada Bwee Hong melalui air matanya, kemudian diapun berlari kedepan, menubruk kedua kaki itu dan menangis.

"Ibu... ibu...!"

A-hai meratap sambil merangkul kedua kaki Bwee Hong.

Sejenak suasana menjadi hening, akan tetapi melihat robohnya adiknya yang kedua, tetok-ci lalu mengeluarkan aba-aba lagi dan semua anak-buahnya bergerak lagi mengeroyok.

Pertempuran pecah lagi dan kini pihak tuan rumah ditambah dengan dua orang wanita kembar yang agaknya sudah pulih kesehatannya dan sudah berpakaian.

Yap-lojin memimpin kawan-kawannya untuk melakukan perlawanan.

Hanya A-hai dan Bwee Hong yang tidak memperdulikan itu semua.

A-hai masih merangkul kedua kaki dara itu sambil menangis.

Sejenak Bwee Hong menjadi bengong termangu-mangu.

Akan tetapi, melihat penolongnya yang memiliki kesaktian luar biasa itu kini berlutut didepannya sambil memeluk kedua kakinya dan menangis, Bwee Hong membiarkannya saja.

Sedikit banyak ia sudah mendengar dari Pek Lian tentang pemuda aneh ini yang agaknya mengalami guncangan jiwa yang amat hebat.

Melihat keadaan pemuda ini, timbul rasa iba yang amat mendalam dihati Bwee Hong.

Tak terasa lagi kedua tangannya menyentuh dan membelai rambut kepala A-hai yang awut-awutan itu dan dengan suara halus ia membujuk.

"Jangan menangis!"

Akan tetapi ia sendiri tidak dapat menahan menetesnya beberapa butir air mata dari sepasang matanya karena terharu dan kasihan.

Mendengar suara halus ini, A-hai mengangkat mukanya.

Air mata gadis itu mengalir turun dan menetes dari wajahnya yang menunduk, jatuh mengenai dahi A-hai, mengalir turun bercampur dengan air mata pemuda itu.

Tiba-tiba tubuh A-hai bergetar.

Agaknya ada suatu pergolakan jiwa terjadi dibawah sadarnya dan tiba-tiba saja tangisnya meledak, terisak-isak tak terkendalikan lagi.

Hati Bwee Hong semakin terharu.

Ia merasa betapa pemuda itu merangkul kakinya sambil menangis sesenggukan, membasahi sepatunya dengan air mata yang hangat.

"Sudahlah harap jangan menangis"

Bujuknya akan tetapi ia sendiripun menangis.

Menghadapi peristiwa ini, semua orang menjadi bengong.

Akan tetapi pada saat itu terdengar suara berdengung nyaring, bergemuruh datang dari luar.

Itulah suara pasukan lebah, pikir Pek Lian dengan hati ngeri.

"Yap-Lo-cianpwe, kita harus cepat pergi dan sini!"

Katanya.

"Benar,"

Kata Yap-lojin setelah tadi dia sendiri termangu menyaksikan hal-hal yang luar biasa itu.

"Kiong Lee, engkau mengendong Chu Seng Kun!"

Kiong Lee juga melihat datangnya ancaman bahaya.

Agaknya pihak lawan yang tadi mengundurkan diri karena merasa kalah kuat, kini telah menyusun kembali kekuatannya dan hendak datang menyerbu.

Maka diapun cepat menggendong Chu Seng Kun yang selain kehilangan ingatannya, juga kelihatan amat lemah.

A-hai kini tidak kelihatan lemah lagi walaupun dia juga seperti kebingungan dan bahkan tidak mengenal Pek Lian.

Akan tetapi, begitu Bwee Hong mengulurkan tangan dan berkata.

"A-hai, mari kita pergi dari sini."

Diapun bangkit dan kelihatan girang, seperti seorang anak kecil yang diajak pesiar oleh ibunya.

"Mari ikut aku!"

Pek Lian berkata cepat dan segera ia membawa rombongan itu melalui terowongan dibawah laut yang menuju ke pulau Si Kelabang Hijau, tokoh kelima dari para penghuni Ban-kwi-to itu.

Selagi mereka berlari-lari memasuki terowongan, terdengar suara tetok-ci dan anak-buahnya mengejar dari belakang.

Akan tetapi, agaknya para pengejar itu juga tidak terlalu berani sehingga pengejaran mereka itu dilakukan dari jarak jauh saja sehingga memudahkan Yap-lojin dan rombongannya untuk melarikan diri.

Setelah mereka keluar dari mulut terowongan dan tiba dipulau tempat kediaman Kelabang hijau, Yap-lojin dibantu Kiong Lee lalu menggu-nakan tenaga sinkang mereka menggempur batu karang dimulut terowongan sehingga batu-batu itu terbongkar dan terowongan itu.

tertutup!

"Inikah pulau dimana puteraku berada?"

Tanya Yap-lojin.

"Benar, Lo-cianpwe. Inilah tempat tinggal Thian-te Tok-ong atau cengyakang Si Kelabang hijau tokoh kelima dari Tujuh Iblis itu,"

Jawab Pek Lian.

Mereka lalu memasuki bangunan yang berada ditengah pulau.

Akan tetapi, ternyata rumah itu kosong dan biarpun mereka telah mencari keseluruh pulau itu, namun mereka tidak dapat menemukan bayangan Si Kelabang Hijau maupun bayangan Yap Kim.

Tentu saja Yap-lojin dan kawan-kawannya menjadi kecewa sekali.

"Tentu iblis itu telah tahu akan kedatangan kita maka dia sudah lebih dahulu melarikan diri mengajak putera Lo-cianpwe,"

Kata Pek Lian. Pada saat itu, terdengar bunyi terompet kapal ditiup nyaring. Mendengar ini, Kwa Siok Eng terbelalak.

"Ah, itu suara kapalku berada dalam bahaya. Dayang-dayangku memanggil agar aku segera kembali keperahu kami."

Rombongan itu lalu berlari-lari kearah dimana perahu besar Tai-bong-pai itu disembunyikan.

Seperti kita ketahui, ketika Siok Eng dan Pek Lian meninggalkan perahu, para dayang atau anak-buah Tai-bong-pai itu oleh Siok Eng diperintahkan untuk menunggu dan bersembunyi disitu sampai ia kembali.

Ketika rombongan ini sedang berlari menuju kepantai dimana perahu itu disembunyikan, dijalan mereka bertemu dengan seorang anak-buah Tai-bong-pai yang terhuyung-huyung dan mukanya kehijauan.

"Siocia perahu kita dirampas seorang gendut dan seorang pemuda"

Dan dayang itu terguling dan terkulai, tewas.

"Si Kelabang Hijau!"

Siok Eng berseru marah melihat tewasnya anak-buahnya dengan muka kehijauan itu.

Ia tahu bahwa itulah akibat pukulan yang mengandung racun kelabang hijau yang amat ganas.

Mereka lalu mempercepat lari mereka kearah pantai dan benar saja, diatas perahu besar itu nampak belasan orang anggauta Tai-bong-pai kewalahan menandingi seorang kakek gemuk pendek dan berkepala gundul yang lihai sekali.

"Iblis keparat, berani engkau mengacau orang-orang Tai-bong-pai?"

Siok Eng membentak marah dan ia mendahului yang lain, menerjang keatas perahu dan langsung menyerang kakek gundul pendek itu.

"Plak-plak-plakk!"

Tiga kali tamparan Siok Eng dapat ditangkis oleh Si Kelabang Hijau akan tetapi kakek itu repot juga menghadapi kecepatan gerakan dara Tai-bong-pai ini.

"Wah-wah-wah, galaknya!"

Dia berteriak-teriak dan berloncatan kebelakang.

"Yap-kongcu, bantulah!"

Tiba-tiba berkelebat bayangan orang dari dalam bilik perahu dan seorang pemuda menerjang Siok Eng untuk membantu kakek gendut pendek itu.

Akan tetapi dari samping, Kiong Lee sudah meloncat dan menangkap tangan pemuda itu sambil berseru.

"Sute!!"

Pemuda tampan itu menoleh dan terkejut bukan main melihat Kiong Lee.

"Eh, toa-suheng!"

Teriaknya girang.

"Sute, lihat siapa yang datang!"

Kiong Lee menunjuk kekiri dan ketika Yap Kim menoleh, dia makin terkejut dan girang.

"Ayah!"

Teriaknya sambil menghampiri ayahnya dan menjatuhkan dirinya berlutut didepan kakek itu.

Yap-lojin mengelus jenggotnya, dan alisnya berkerut.

Hatinya lega melihat puteranya dalam keadaan sehat dan selamat, akan tetapi perasaannya tidak sedap melihat puteranya itu bersahabat dengan iblis macam Kelabang Hijau, bahkan tadi dilihatnya puteranya hendak membantu kakek iblis itu menghadapi Siok Eng.

"Hemmm, bagus sekali! Engkau bergaul dengan segala macam iblis dan sekarang engkau malah hendak membantu iblis Kelabang Hijau ini melawan kami? Boleh, majulah dan lawanlah aku!"

Bentak Yap-lojin dengan muka merah karena marah.

"Tapi tapi Tok-ong itu baik sekali, ayah!"

Yap Kim berkata dengan muka pucat mendengar ucapan ayahnya yang mengandung kemarahan itu.

"Hemm , dia baik? Orang yang mengatakan bahwa Tujuh Iblis penghuni Ban-kwi-to baik hanyalah orang jahat, dan dia adalah tokoh kelima dari Tujuh Iblis itu!"

"Tapi... tahukah ayah... ketika aku terluka oleh Raja Kelelawar dan hampir mati, kalau tidak ada Tok-ong yang menolongku, tentu sekarang aku hanya tinggal nama saja. Aku berhutang nyawa padanya, ayah, dan kulihat selama ini dia bukan orang jahat. Perahu ini milik orang-orang Tai-bong-pai, bukankah perkumpulan itu termasuk perkumpulan kaum sesat, ayah? Kenapa ayah dan suheng malah berpihak kepada orang-orang Tai-bong-pai?'"

Yap-lojin adalah seorang gagah perkasa yang berwatak adil.

Mendengar ucapan puteranya itu, dia termangu-mangu.

Memang benar ucapan puteranya yang terakhir itu.

Tai-bong-pai terkenal sebagai perkumpulan hitam yang sesat, akan tetapi karena Siok Eng, puteri ketua Tai-bong-pai baik, diapun menganggapnya baik.

Agaknya demikian pula dengan puteranya, yaitu menganggap baik kepada Thian-te Tok-ong karena Tok-ong bersikap baik, bahkan telah menyelamatkan nyawanya.

Sesungguhnya, baik atau buruk hanyalah pendapat yang berdasarkan penilaian dan penilaian tentu saja amat pribadi, tergantung keakuan masing-masing.

Dia menoleh dan melihat betapa Kelabang Hijau terdesak hebat karena sekarang Kiong Lee membantu Siok Eng.

"Kiong Lee, bebaskan dia!"

Katanya.

Mendengar bentakan ini, Kiong Lee melompat mundur, dan Siok Eng juga menghentikan penyerangannya dan memandang dengan ragu.

Sementara itu, Thian-te Tok-ong meloncat turun dari perahu menghadapi Yap-lojin sambil tertawa-tawa.

"Ha-ha-ha-ha. Yap-lojin tidak suka kepadaku, hal itu tidaklah aneh! Akupun tidak suka kepadamu, dan tidak suka kepada para pendekar karena mereka itu adalah orang-orang sombong sok suci! Kami memang golongan jahat, akan tetapi setidaknya kami tidaklah berpura-pura suci. Tangan kami memang kotor dan kami mengakuinya, tidak menutupinya dengan sarung tangan bersih! ha-ha-ha, terus-terang saja, aku suka kepada Yap-kongcu karena dia tidaklah pura-pura suci seperti para pendekar."

"Thian-te Tok-ong, Tujuh Iblis Ban-kwi-to sudah terkenal dengan kejahatannya. Orang yang suka bermain dengan racun seperti engkau, mana bisa dibilang baik?"

"Bagus! Bagus! Memang sejak kecil aku sudah diajar bermain dengan segala macam binatang beracun. Dan binatang-binatang beracun itu lebih baik dari pada manusia. Setidaknya, mereka itu mempergunakan racun mereka untuk membela diri dan mereka tidak pura-pura. Sebaliknya, sikap gagah dan baik, sikap manis dari manusia menyembunyikan racun yang lebih jahat dari pada binatang beracun."

Siok Eng termangu mendengar ucapan itu, ucapan yang sering kali didengarnya diantara para tokoh Tai-bong-pai sendiri!

Ucapan yang mengandung kepahitan hati orang-orang yang dianggap jahat dan kotor, dipandang dengan sinar mata menghina oleh para tokoh kang-ouw yang menganggap diri mereka pendekar-pendekar budiman dan baik.

Ia sendiri tidak setuju dengan tindakan-tindakan kasar dan bengis dari orang-orang Tai-bong-pai, namun kadang-kadang terasa pula olehnya betapa kau mnya itu dikesampingkan dan bahkan kadang-kadang dihimpit dan disudutkan oleh orang-orang yang menganggap diri mereka "baik."

Sementara itu, Yap-lojin merasa penasaran mendengar kata-kata tokoh sesat itu yang jelas menyerang pihak pendekar.

"Tok-ong, apakah engkau hendak mengatakan bahwa kaum sesat lebih benar dari pada para pendekar? Kalian adalah orang-orang yang suka melakukan kejahatan, mengandalkan kekerasan dan bertindak sewenang-wenang, sedangkan kami para pendekar mempergu-nakan kepandaian untuk menentang kejahatan dan membela pihak lemah yang tertindas. Bukankah sudah jelas adanya garis pemisah antara kita?"

"Ha-ha-ha, Yap-lojin, apa yang berbeda? Kalau kami mempergunakan kekerasan dan membunuh, kalian para pendekar juga menggunakan kekerasan dan membunuh. Apa bedanya? Dan garis antara baik dan buruk, dimana letaknya? Pula, apakah engkau hendak melupakan bahwa tanpa adanya kami, kalian tidak akan ada? Tanpa adanya Im takkan ada Yang, tanpa adanya buruk takkan ada baik, tanpa adanya kanan takkan ada kiri! Kekayaan dapat dinikmati hanya karena adanya kemiskinan! Kesehatan dapat dinikmati karena adanya penyakit, dan apa artinya ahli pengobatan tanpa adanya racun-racun dan penyakit-penyakit? ha-ha-ha, dipikir lebih mendalam, kalian para pendekar yang suka sok suci ini sepatutnya berterima kasih kepada kami, karena sesungguhnya kamilah yang mengangkat nama kalian sehingga dipuji-puji sebagai pendekar!"

Yap-lojin termangu bingung.

Orang ini memiliki kepandaian bicara yang luar biasa, pikirnya.

Pantas puteranya mudah terpikat.

Dia menoleh kepada kawan-kawannya yang juga termangu bingung mendengar ucapan-ucapan yang langsung menyentuh hati mereka itu.

Hanya A-hai seoranglah yang tidak acuh, juga Chu Seng Kun yang masih "linglung."

Apa yang diucapkan oleh Thian-te Tok-ong atau cengyakang Si Kelabang Hijau secara ugal-ugalan itu memang sesungguhnya mengandung kenyataan-kenyataan yang patut untuk kita pikirkan.

Didunia ini kehidupan manusia sudah terbelenggu dengan kuatnya oleh dua hal yang selalu bertentangan.

Baik-buruk, senang-susah, kaya-miskin, pintar-bodoh, sorga-neraka dan selanjutnya.

Keduanya merupakan lingkaran setan yang saling kait-mengait mempermainkan batin manusia sehingga setiap saat terjadilah konflik dalam batin antara yang satu dengan yang lain.

Diantara semua dualisme itu yang terbesar mengguncang dunia dan manusia adalah perang dan damai.

Karena adanya perang orang rindu akan perdamaian, lalu menggunakan segala cara, kalau perlu dengan cara berperang pula, untuk mencapai kedamaian!

Padahal, kalau tidak ada perang, tidak seorangpun membutuhkan damai!

Jadi, bukan damai yang perlu dikejar-kejar, melainkan perang yang perlu dihentikan atau dibuang jauh-jauh.

Demikian pula dengan golongan yang baik dan yang jahat.

Kaum pendekar yang "baik"

Ini menentang kaum yang dianggap jahat, kalau perlu dengan jalan kekerasan, bahkan membunuh.

Akan tetapi, mungkinkah kejahatan dapat dibunuh atau dibasmi?

Orangnya tentu dapat dibunuh atau disiksa, akan tetapi kejahatan itu letaknya bukan diluar atau ditubuh, melainkan didalam batin!

Jadi, yang diobati haruslah batinnya kalau kita ingin melihat kejahatan lenyap.

Kejahatan seperti penyakit, harus kita usahakan agar penyakitnya itu lenyap.

Bagaimanapun juga, setelah kita terseret kedalam kebudayaan seperti sekarang ini, dimana kita terbelenggu oleh dualisme-dualisme yang saling berlawanan, kita dapat melihat bahwa segala hal-hal negatip ini bukannya tidak ada manfaatnya!

Karena adanya kebodohan maka timbul gairah untuk belajar.

Karena ada kemiskinan maka timbul perjuangan untuk memperoleh kemajuan dalam materi.

Karena ada ancaman neraka maka timbul usaha untuk memperoleh sorga, dan sebagainya.

Dan apakah artinya kekayaan kalau tidak ada kemiskinan?

Kalau kita semua manusia diseluruh dunia ini kaya, siapakah yang akan dapat menikmati kekayaan lagi?

Kalau tidak ada kebodohan, apa lagi artinya menjadi orang pintar?

Bahkan setelah kita memasuki lingkaran setan dalam kebudayaan kita sekarang ini, jangankan orang-orang macam Tujuh Iblis itu, bahkan Setan sendiripun bukan tidak ada manfaatnya!

Adanya Setan menjadi pendorong bagi manusia untuk berpaling dan mencari Tuhan!

Andaikata tidak ada Setan, andaikata tidak ada dosa, mungkinkah manusia mencari TUHAN lagi?

Untuk apa?

Karena ucapan Si Kelabang Hijau itu mendatangkan kebingungan, maka Yap-lojin lalu berseru kepada puteranya.

"Kim-ji, katakan saja, engkau hendak ikut ayahmu pulang ataukah engkau akan tinggal bersama dia selamanya? Jawab!"

Yap Kim kebingungan.

Selama dia berkelana bersama Kelabang Hijau, dia merasakan kehidupan yang lain.

Dia merasa bebas dan tidak ada ikatan apapun, tidak ada penghalang-penghalang berupa peraturan-peraturan dan pantangan-pantangan, hidup bebas seperti burung diudara, melakukan apa saja yang dibisikkan oleh hatinya, bicara apa saja yang dikehendaki hatinya.

Akan tetapi, sejak kecil dia digembleng oleh ayahnya untuk menjadi pendekar dan dia tahu bahwa jawabannya ini akan merupakan keputusan.

Dan bagaimanapun senangnya hidup seperti ketika dia berkelana dengan kelabang Hijau, tidak mungkin dia dapat melepaskan ayahnya begitu saja.

"Aku ikut bersama ayah,"

Jawabnya lirih.

"Kalau begitu, mari kita pergi dari neraka ini!"

Kata Yap-lojin.

"Silahkan naik keperahu kami, Lo-cianpwe,"

Kata Siok Eng dan semua orang naik kedalam perahu besar itu.

Dayung digerakkan, layar dipasang dan perahu itu meninggalkan pantai pulau diiringi suara ketawa bergelak-gelak oleh Kelabang Hijau yang berdiri dipantai dengan kedua kaki terpentang lebar dan kedua tangan dipinggang.

Tak seorangpun diatas perahu itu melihat betapa kedua mata kakek pendek gendut itu menjadi basah ketika dia melihat Yap Kim ikut terbawa pergi oleh perahu itu.

Perahu itu melaju dengan cepatnya.

Layar terkembang penuh didorong angin.

Semua orang merasa lega hatinya.

Ho Pek Lian bergidik, merasa ngeri hatinya.

"Ih, aku tidak mau lagi pergi ke pulau-pulau itu. Benar-benar mengerikan sekali! Heii, kenapa gatal amat?"

Iapun menggaruk punggung tangannya dan melihat bercak-bercak putih. Teriakannya disusul oleh teriakan Siok Eng dan Bwee Hong.

"Celaka, ini racun lebah putih itu!"

Seru Siok Eng.

"Saya... saya kedinginan"

Kata seorang anggauta Tai-bong-pai kepada Siok Eng.

"Saya juga, nona"

Kata yang kedua dan disusul oleh yang ketiga. Muka mereka pucat kehijauan dan tubuh mereka menggigil.

"Hemm, itu tentu pukulan Si Kelabang Hijau, pukulan beracun kelabang hijau!"

Kata pula Siok Eng.

"Hemm, kakiku juga terasa panas dan gatal gatal!"

Kiong Lee juga berkata dan ketika dia menyingkap celananya, kakinya nampak ada totol-totol merah.

"Gigitan semut merah!"

Seru Siok Eng.

"Racunnya juga jahat sekali!"

Semua orang kebingungan, akan tetapi Yap-lo-jin tetap tenang dan tiba-tiba dia bertanya kepada Pek Lian dan Siok Eng.

"Bukankah kalian masih mempunyai obat penawar racun cairan kuning dari Ban-kwi-to itu?"

"Aihh, benar! Kenapa kita lupakan obat itu, adik Eng?"

Teriak Pek Lian yang memegang lengan Siok Eng.

Puteri ketua Tai-bong-pai inipun menjadi girang dan cepat mengeluarkan sisa obat cairan kuning yang diambilnya dari kamar tetok-ci itu.

Semua orang yang keracunan diberi obat ini dan sungguh amat luar biasa sekali!

Agaknya memang obat itu khusus dibuat oleh tetok-ci untuk melawan segala macam racun yang ada di Ban-kwi-to, karena begitu memakai obat ini, semua orang sembuh.

Bahkan Chu Seng Kun dan A-hai juga sembuh dari kehilangan ingatan mereka, walaupun tubuh mereka, terutama Seng Kun, masih terasa lemah!

Begitu keduanya diberi minum obat ini, kedua orang pemuda ini segera tertidur pulas setengah pingsan, demikian pula yang lain-lain karena kerasnya obat itu bekerja.

Orang terakhir yang siuman dari pingsannya adalah A-hai dan Seng Kun Akan tetapi karena A-hai memang sudah lebih dulu linglung, maka ketika sadar diapun masih tetap lupa segala, kecuali Pek Lian dan Bwee Hong!

Begitu melihat Pek Lian, dia tersenyum dan cepat bangkit berdiri, memandang dengan wajah berseri.

"Engkau nona Pek Lian!"

Katanya girang. Pek Lian juga memandang dengan tersenyum manis.

"A-hai, engkau sudah sembuh!"

Akan tetapi A-hai memandang kesekeliling dan ketika dia melihat Bwee Hong, terdengar seruan heran dan kaget dikerongkongannya dan diapun melangkah maju menghampiri gadis ini, memandang bengong lalu berkata bingung.

"Nona... nona?"

Bwee Hong tersenyum, mengangguk.

"Namaku Chu Bwee Hong."

"Chu Bwee Hong, Chu Bwee Hong"

A-hai berulang-ulang menyebut nama itu lirih-lirih seperti seorang anak kecil sedang menghafal tiga buah huruf baru.

Semua orang memandang kepadanya dengan hati kasihan sekali, akan tetapi, sungguh Pek Lian merasa heran kepada diri sendiri mengapa sikap A-hai itu mendatangkan rasa tidak enak dihatinya!

Ia merasa seolah-olah tidak diperdulikan lagi oleh A-hai dan pemuda itu kini duduk dekat Bwee Hong seperti seekor anjing yang tidak mau jauh dari majikannya!

Ia merasa iri ataukah cemburu?

Ia sendiri tidak tahu, akan tetapi yang jelas, ia merasa betapa hatinya tidak sedap.

Seng Kun sadar paling akhir karena dialah yang paling banyak terkena racun dari Ke pulauan Ban-kwi-to.

Begitu sadar dia bangkit duduk dan terheran-heran melihat semua orang berkumpul didalam perahu, merubungnya.

Akan tetapi, wajahnya berseri gembira ketika dia melihat adiknya.

"Hong-moi!"

"Koko!"

Dara yang cantik jelita itu membiarkan dirinya dirangkul oleh kakaknya.

"Nona Ho! Dan engkau saudara A-hai! Syukurlah kalian juga selamat!"

Kata Seng Kun. Akan tetapi dia melihat Yap-lojin, Kiong-Lee dan juga Siok Eng. Alisnya berkerut memandang Yap-lojin dan Kiong Lee yang tak dikenalnya.

"Koko, ini adalah Yap-Lo-cianpwe, ketua Thian-kiam-pang dan ini adalah saudara Yap Kiong Lee, putera beliau. Mereka berdua telah menyelamatkan aku dari ancaman bahaya tenggelam dilautan."

"Ah, sungguh besar budi ji-wi yang telah menyelamatkan nyawa adikku,"

Kata Seng Kun yang cepat-cepat menjura dengan hormat. Tentu saja Yap-lojin dan muridnya cepat membalas penghormatan itu. Pada saat itu, terdengar suara halus.

"In-kong, kami menghaturkan selamat dan hormat."

Seng Kun memandang dan dia melihat seorang gadis cantik bersama semua anak-buah perahu yang terdiri dari wanita-wanita cantik, berlutut didepannya!

Seng Kun mengerutkan alisnya dan dia tidak ingat lagi kepada gadis cantik itu.

"Koko, ia adalah Kwa Siok Eng, puteri dari ketua Tai-bong-pai yang pernah kita obati dahulu itu."

"Ahhh!"

Seng Kun teringat dan kedua mukanya menjadi merah.

Dia bukan hanya merasa jengah teringat kepada dara yang hampir mati, yang diobati olehnya dan oleh ayah-bundanya yang ternyata kemudian hanyalah paman kakeknya suami-isteri, dan pengobatan itulah yang mengakibatkan matinya dua orang tua itu.

Dia merasa jengah mengingat betapa gadis ini dahulu telanjang bulat didepan matanya ketika diobati, akan tetapi disamping rasa malu-malu ini, juga dia teringat akan kematian paman kakek dan isterinya itu, yang sudah dianggapnya sebagai orang tua sendiri.

"In-kong (tuan penolong), perkenankanlah saya menghaturkan terimakasih atas pertolongan inkong dahulu, yang inkong lakukan dengan pengorbanan yang teramat besar."

Seng Kun menggerakkan tangan menolak.

"Sudahlah, nona, harap jangan memakai banyak peraturan dan sungkan-sungkan. Kita berada diantara teman sendiri dan sudah seharusnyalah kalau selagi hidup kita saling bantu-membantu."

Sikap yang sederhana dan halus dari pemuda ini mendatangkan rasa kagum dalam hati Yap-lojin dan muridnya, apa lagi mengingat bahwa pemuda inilah ahli waris utama dari ilmu-ilmu sakti yang dimiliki oleh mendiang Raja Tabib Sakti!

Kalau semua orang ikut terharu menyaksikan adegan ini, adalah A-hai yang bersikap tidak perduli, bahkan seperti orang bingung dia hanya duduk memandang wajah Bwee Hong yang cantik jelita itu, membuat Bwee Hong kadang-kadang tersipu malu, akan tetapi membuat hati Pek Lian merasa semakin tidak enak saja.

Malam itu lewat tanpa peristiwa yang berarti.

Perahu mereka melaju, cepat sekali menuju ke barat, kearah daratan besar.

Karena lautan cukup tenang dan angin kuat, perahu mereka dapat melaju dengan amat cepatnya.

Setelah berlayar sehari lagi, menjelang senja mereka sudah dapat melihat daratan besar, merupakan garis hitam dibarat.

Tentu saja hati mereka merasa gembira setelah lama mereka merantau dilautan ganas dan diantara pulau-pulau yang mengerikan.

Hanya dua orang yang nampak tidak gembira, yaitu Yap Kim dan Pek Lian.

Agaknya pemuda putera tunggal ketua Thian-kiam-pang itu merasa kehilangan kebebas-annya setelah dia kembali ke "Dunia sopan"

Dimana dia terikat oleh peraturan-peraturan, tidak seperti ketika dia berada didunianya Si Kelabang Hijau yang serba bebas.

Sedangkan Pek Lian merasa gelisah memikirkan ayahnya yang juga belum dapat ditemukan, walaupun ia telah berkumpul kembali dengan Seng Kun dan Bwee Hong.

"Heiiii! Perahu besar didepan!"

Tiba-tiba terdengar teriakan wanita penjaga diatas.

Semua orang keluar dari bilik dan memandang kedepan.

Benar saja, remang-remang nampak sebuah perahu besar didepan, bahkan kini perahu besar itu mulai menyalakan lampu lampunya yang cuku banyak.

"Eh, itu perahu Mongol yang dipimpin orang-orang bermuka merah dan berambut putih itu!"

Tiba-tiba Pek Lian berseru.

"Benar sekali, adik Lian!"

Seru Bwee Hong.

"Dimana engkau mendengar suara ayahmu itu, nona Ho?"

Tanya Seng Kun dengan hati tertarik. Dia sudah mendengar dari Pek Lian dan Bwee Hong tentang pengalaman mereka ketika berpisah darinya.

"Kalau begitu, kita harus menolong Menteri Ho!"

Kata Yap-lojin yang juga berjiwa gagah dan sudah lama kagum kepada Menteri itu.

Sejak dahulu dia memang tidak suka kepada keluarga Kaisar, dan inilah sebabnya mengapa dia sampai cekcok dengan isterinya karena isterinya, bibi dari Kaisar, mengajaknya menghambakan diri kepada Kaisar.

Sejak dahulu Yap-lojin berpihak kepada para pendekar dan orang gagah yang menentang kelaliman, maka kini mendengar bahwa mungkin Menteri Ho yang dikaguminya itu tertawan musuh dan berada diperahu besar didepan, timbul semangatnya untuk menolong Menteri itu.

"Kita kejar perahu didepan!"

Katanya penuh semangat dan sikapnya ini tentu saja menggirangkan hati Seng Kun, Bwee Hong, dan Pek Lian yang memang bertugas untuk menyelamatkan Menteri Ho.

Layar cadangan dipasang dan perahu melaju cepat menyusul perahu besar didepan.

"Ayah, aku mendengar bahwa orang-orang dari utara itu bukan orang Mongol asli dan mereka adalah ahli-ahli dilautan. Kulihat perahu besar itu tentu kuat sekali dan banyak anak-buahnya. Perahu kecil kita dengan tenaga kita yang sedikit ini mana dapat menang? Pula, perlu apa kita mencampuri urusan orang lain dan menanam permusuhan dengan mereka?"

Yap Kim berkata. Mendengar ucapan putera kandungnya ini, sepasang mata Yap-lojin melotot.

"Apakah engkau tidak tahu siapa adanya Menteri Ho itu? Dia adalah seorang patriot besar, seorang Menteri yang setia dan bersih, jujur, berani menentang kelaliman Kaisar dan pembela rakyat jelata. Dan kau bilang mencampuri urusan orang lain kalau kita kini hendak menyelamatkannya dari tangan musuh-musuhnya yang menawannya? Sungguh ucapan yang tolol sekali. Tolol!"

Yap Kini menarik napas panjang.

"Maaf, ayah. Bukan maksudku untuk bersikap pengecut dan tentu aku akan membantu ayah dengan taruhan nyawa. Hanya kupikir, bodoh sekali dan sama sekali bukan gagah kalau nekat menyerbu lawan yang jauh lebih kuat. Dan agaknya didunia ini terlalu banyak terjadi permusuhan karena pencampur-tanganan pihak ketiga."

Sang ayah tidak membantah lagi walaupun amat marah karena ketika itu, perahu mereka telah berdekatan dengan perahu besar didepan yang agaknya juga memperlambat pelayaran dan menanti mereka.

Dan tiba-tiba saja, para perajurit diatas perahu besar itu bersorak-sorak dan menghujankan anak panah kearah perahu para pendekar!

Bukan anak panah biasa, melainkan anak panah yang membawa api!

Jarak mereka sudah terlam-pau dekat untuk serangan anak panah, akan tetapi masih terlampau jauh untuk meloncat dan menyerbu, maka para pendekar sibuk menangkis anak panah yang datang seperti hujan itu.

Melihat A-hai sama sekali tidak mampu mengelak atau menangkis, Bwee Hong sudah memutar pedangnya melindungi pemuda ini yang kelihatan ketakutan dan bingung.

Para anak-buah perahu sibuk memadamkan kebakaran-kebakaran yang diakibatkan anak panah api itu, dan karena kesibukan ini, maka beberapa orang diantara mereka roboh terkena anak panah.

Keadaan menjadi kalut, apa lagi ketika kebakaran makin menghebat dan layar sudah termakan api, juga tiang layar dan perahu itupun mulai terbakar!

Sukar meloncat keperahu musuh yang memang sengaja menjauh itu, maka tiada pilihan lain, para pendekar itu berloncatan keair yang gelap!

Pek Lian gelagapan.

Didalam hatin ya ia mengeluh.

Kenapa ia harus terlempar keair lautan lagi?

Apakah sudah menjadi nasibnya untuk mati dilautan?

Ia menggerakkan kaki tangannya berusaha berenang kearah perahu besar dimana diduga ayahnya berada.

Ia ingin naik keperahu besar itu dan mengamuk, kalau perlu mati demi membela ayahnya.

Akan tetapi, perahu besar itu setelah melihat perahu kecil terbakar, lalu cepat menjauhkan diri dan terdengar sorak-sorai para perajurit itu yang merasa memperoleh kemenangan besar.

Pek Lian tidak mampu mengejar perahu itu dan ia hampir kehabisan tenaga dipermainkan gelombang.

Tiba-tiba terdengar seruan.

"Adik Lian, kesinilah!"

Remang-remang dilihatnya Bwee Hong dan dua orang lain diatas atap perahu mereka.

Atap ini masih utuh, akan tetapi perahunya entah lenyap kemana, juga entah kemana perginya orang-orang lain.

Pek Lian mengerahkan sisa tenaganya dan akhirnya terengah-engah ia berhasil mencapai atap perahu itu dan dibantu oleh Bwee Hong dan dua orang itu yang ternyata adalah Seng Kun dan A-hai, iapun naik dan terkapar diatas papan dalam keadaan setengah pingsan.

"Nona Pek Lian! Nona Pek Lian!!"

Suara itu terdengar sayup-sayup, seperti panggilan orang dari jauh, dan ia mengenal benar suara itu, karena selama ini, suara itu hampir selalu terngiang didalam telinganya.

Suara A-hai!

Pek Lian merasa seolah-olah ia terbawa oleh air, hanyut diatas perahu kecil, makin jauh meninggalkan A-hai yang juga berada diatas perahu lain dengan seorang dara jelita yang bukan lain adalah Bwee Hong!

Dan A-hai memanggil-manggilnya.

Ah, betapa ingin hatinya menjawab panggilan itu, dan betapa inginnya untuk dekat dengan pemuda yang sejak semula telah menimbulkan rasa iba dan suka bercampur kagum didalam hatinya.

Akan tetapi, kini A-hai bersama dengan Bwee Hong dalam sebuah perahu dan ia tahu betapa akrab hubungan antara mereka.

Ia tidak ingin menjadi penghalang, tidak ingin menyaingi Bwee Hong!

Maka iapun tidak menjawab dan membiarkan perahunya hanyut makin jauh meninggalkan A-hai.

Hatinya seperti ditusuk rasanya dan tak tertahankan lagi, iapun menangis terisak-isak!

Padahal, tidak mudah bagi pendekar wanita ini untuk menangis!

"Nona Pek Lian!"

Kembali terdengar seruan A-hai, sekali ini suaranya terdengar amat dekat.

"Adik Lian, engkau kenapakah?"

Tiba-tiba terdengar suara Bwee Hong, juga dekat sekali.

Pek Lian membuka kedua matanya dan melihat betapa A-hai dan Bwee Hong berlutut didekatnya, mengguncang-guncang tubuhnya yang basah kuyup dan kedinginan itu.

Ia masih terpengaruh mimpi tadi, mengira bahwa mereka berdua berhasil mengejarnya dan kini berada diatas perahunya dan berusaha menghiburnya.

Keramahan mereka bahkan menambah perih pada luka dihatinya, maka iapun menggerakkan kedua lengannya menolak dengan halus dan berkata dengan nada suara sedih.

"Biarkan aku-sendiri... ah, biarkan aku sendiri dalam kemalanganku... huhuhuuhhh"

Dan iapun terisak menangis karena ia segera teringat akan ayahnya dan merasa betapa sengsara hidupnya.

Seng Kun memberi isyarat kepada adiknya dan A-hai untuk membiarkan dara itu menangis.

pemuda ini dapat menduga apa yang menyebabkan Pek Lian berduka, tentu karena teringat akan ayahnya, pikirnya.

Tentu saja dia tidak dapat menduga lebih mendalam dari pada itu.

Setelah tangis Pek Lian agak mereda, diapun menghibur.

"Nona Ho, harap engkau dapat menenangkan hatimu. Bagaimanapun juga, aku tidak akan berhenti berusaha untuk menemukan kembali ayahmu. Hal itu merupakan tugasku, perintah dari Sribaginda Kaisar sendiri."

Pek Lian sadar akan kelemahannya. Iapun bangkit duduk, menyusut air matanya, memandang dengan sinar mata bersyukur kepada Chu Seng Kun dan menarik napas panjang.

"Harap kalian maafkan kelemahanku tadi,"

Katanya kepada Bwee Hong, sedangkan A-hai diam saja, memandang bingung karena dia tidak mengerti urusan.

Perahu istimewa mereka itu dipermainkan gelombang samudera dan karena mereka berempat tidak berdaya, merekapun hanya dapat menyerahkan nasib mereka kepada lautan luas.

Mereka mencari-cari, namun tidak pernah dapat melihat tanda-tanda tentang teman-teman mpreka yang lain.

Tidak ada bayangan seorangpun diantara teman-teman uriereka.

Padahal mereka begitu banyak.

Kwa Siok Eng dengan anak-buahnya, Yap-lojin, Yap Kiong Lee dan Yap Kim.

Apakah mereka semua itu telah menjadi korban dan ditelan lautan?

"Mudah-mudahan saja mereka dapat tertolong, seperti juga kita,"

Kata Seng Kun menghibur hati Pek Lian dan Bwee Hong yang merasa gelisah dan berduka kalau membayangkan malapetaka menimpa teman-teman mereka itu.

Akan tetapi, pada keesokan harinya, begitu matahari terbit, mereka bergembira sekali melihat daratan begitu dekatnya!

Daratan besar!

Perahu mereka yang dipermainkan gelombang itu ternyata telah dihanyutkan oleh gelombang menuju pantai.

Seperti pulih kembali tenaga mereka dan dengan wajah cerah mereka mendayung perahu yang sesungguhnya bukan perahu melainkan atap perahu itu, mendekat tepi.

Mereka hanya menggunakan tangan saja untuk mendayung, akan tetapi karena mereka adalah pendekar-pendekar yang memiliki kekuatan hebat, mereka berhasil juga mendayung perahu atap itu sampai kandas kepasir.

Mereka berlompatan dan dengan pakaian basah kuyup mereka tiba didaratan.

Chu Seng Kun dan A-hai masih lemah walaupun mereka sudah sembuh.

Agaknya, pemuda sinting itu pada dasarnya memiliki tubuh luar biasa yang jauh lebih kuat dibandingkan dengan Seng Kun, karena tubuhnya tidaklah selemas Seng Kun yang benar-benar harus banyak istirahat untuk memulihkan kembali tenaganya.

Mereka berempat duduk ditepi pantai ketika tiba-tiba hidung mereka mencium bau harum dupa!

Cuping hidung mereka kembang-kempis dan mereka menoleh kekanan kiri.

Pantai lautan itu sunyi dan tidak nampak adanya manusia lain, namun jelas bahwa yang tercium oleh miereka itu adalah bau dupa harum.

Pek Lian dan Bwee Hong saling pandang dan berbareng mereka berbisik.

"Dupa harum kaum Tai-bong-pai!"

"Adik Siok Eng selamat!"

Kata Pek Lian girang karena mengira bahwa tentu dara puteri ketua Tai-bong-pai itu yang mengeluarkan bau dupa harum seperti ini.

Akan tetapi, mereka berempat memandang dengan curiga dan khawatir ketika muncul belasan orang laki-laki kasar yang dipimpin oleh seorang pria berusia kurang lebih tiga puluh tahun yang berperawakan kurus.

Orang ini juga kelihatan kasar dan menyeramkan.

Pakaiannya serba putih, rambutnya awut-awutan dan kaku, mukanya seperti muka mayat saja, pucat dan jarang bergerak.

Wajah itu sebetulnya tampan, akan tetapi karena pucat dan tak bergerak seperti mayat, maka menyeramkan sekali.

Begitu tiba disitu, belasan orang itu segera mengurung dan bau hio semakin keras.

Empat orang itu bangkit berdiri dan Pek Lian cepat menjura kearah pemuda yang seperti mayat itu.

"Kami adalah sahabat-sahabat dari adik Kwa Siok Eng. Dimanakah dia? Apakah ia selamat?"

Akan tetapi, pertanyaan ini agaknya membuat belasan orang itu marah-marah.

Mereka mengepal tinju dan memandang dengan sikap mengancam.

Pek Lian tidak tahu bahwa pertanyaan keselamatan merupakan pantangan bagi para anggauta Tai-bong-pai!

Mereka itu menganggap diri mereka sebagai keluarga kuburan, sebagai orang-orang yang telah mati, maka pertanyaan tentang keselamatan itu seperti ejekan atau penghinaan saja bagi mereka!

Pemuda pucat itupun marah-marah dan tanpa banyak cakap dia sudah mengeluarkan tongkatnya dan menyerang Pek Lian.

"Eh, eh gila!"

Pek Lian cepat mengelak, akan tetapi sambaran tongkat itu lihai bukan main seolah-olah tongkat itu bernyawa dan terus mengikuti kemana ia mengelak, sampai Pek Lian terpaksa bergulingan menyelamatkan diri.

"Manusia jahat!"

Bwee Hong membentak sambil menotok dari belakang kearah punggung pemuda miuka pucat itu.

Akan tetapi, biarpun totokan yang dilakukan oleh Bwee Hong itu bukan sembarang totokan melainkan ilmu keturunan dari Si Tabib Sakti, ternyata pemuda itu mampu mengelak dengan cekatan!

Diam-diam Bwee Hong terkejut juga, dan maklumlah dara perkasa ini bahwa ia berhadapan dengan seorang lawan yang amat tangguh.

Pek Lian dapat bernapas lega karena serangan bertubi-tubi tadi tidak dilanjutkan dan kini pemuda mengerikan itu telah ditandingi oleh Bwee Hong yang jauh lebih lihai dari padanya.

Akan tetapi ia sendiripun tidak dapat tinggal enak-enakan karena belasan orang sudah mengeroyoknya dengan sengit.

Kiranya para anggauta Tai-bong-pai itu membencinya karena pertanyaan keselamatan tadi!

Tentu saja Pek Lian melawan mati-matian dan untung baginya bahwa tingkat kepandaian para anggauta Tai-bong-pai ini tidaklah sehebat pemuda muka pucat itu.

Biarpun demikian, repot jugalah ia karena dikeroyok oleh belasan orang kasar dan ia sendiri bertangan kosong.

Pedangnya telah hilang ketika ia terlempar kelautan.

Keadaan Bwee Hong sama buruknya dengan Pek Lian.

Ternyata pemuda kurus pucat itu lihai bukan main!

Dan makin kagetlah hati Bwee Hong ketika melihat betapa pemuda itu mengeluarkan ilmu-ilmu yang mujijat dari Tai-bong-pai, ilmu-ilmu yang pernah didengarnya.

Begitu sebuah pukulan menyerempet lengannya, ia melihat lengan bajunya menjadi merah dan ternyata darah telah keluar dari lubang pori-pori kulit lengannya!

Tahulah ia bahwa itu adalah ilmu mengerikan dari Tai-bong-pai yang disebut Pukulan Penghisap Darah!

Dan tenaga pemuda kurus itu sungguh membuatnya pening, karena tenaga sinkang yang amat kuat itu mengeluarkan bau asap hio wangi!

Selain Tenaga Sakti Asap Hio ini, yang membuat keringat pemuda itu berbau dupa, juga ilmu silatnya aneh dan mengerikan.

Tentu itulah yang dina-makan Ilmu Silat Mayat Hidup karena kadang-kadang gerakan pemuda itu kaku seperti mayat hidup.

Hanya dengan kelebihan ginkang (ilmu meringankan tubuh) sajalah maka sampai sekian lamanya Bwee Hong masih mampu mempertahankan diri dan tidak sampai terkena pukulan-pukulan ampuh itu.

Entah mana yang lebih berbahaya, sinar tongkat yang menyambar-nyambar itu ataukah cengke-raman tangan kiri itu.

"Jangan berkelahi... ah, jangan berkelahi...!"

A-hai berteriak-teriak kebingungan, mengangkat kedua tangan keatas dan lari kesana kesini.

Dengan matanya yang bersinar tajam, Seng Kun dapat melihat bahwa adik kandungnya terancam bahaya besar.

Pukulan-pukulan orang kurus pucat itu sungguh amat ampuh dan dia tahu bahwa sekali terkena pukulan itu, tentu adiknya akan terluka parah dan mungkin akan keracunan.

Dia sendiri masih amat lemah, tenaganya belum pulih benar, akan tetapi tentu saja tak mungkin dia mendiamkan adiknya terancam bahaya tanpa membantu.

Melihat betapa adiknya ini hanya dapat mengelak kekanan kiri mengandalkan kegesitannya, Seng Kun lalu meloncat kedepan dan membantu adiknya, mengirim pukulan yang merupakan tamparan tangan kanan kearah leher pemuda kurus pucat itu.

Hebat tamparan ini dan si muka pucat terkejut, lalu diapun menggunakan lengan kiri menangkis sambil mengerahkan tenaga.

"Wuuuuttt! Plakkk!!"

Pertemuan dua tenaga sinkang yang kuat itu amat hebat dan seandainya keadaan Seng Kun sehat-sehat seperti biasa, belum, tentu dia kalah kuat.

Akan tetapi, dia masih belum pulih benar kesehatan dan kekuatannya, maka pertemuan tenaga itu tidak dapat tertahan oleh tubuhnya yang masih lemah.

Dia terdorong kebelakang dan terpelanting keatas tanah, sedangkan si muka pucat itu hanya terhuyung mundur.

(Lanjut ke

Jilid 18) Darah Pendekar (Seri ke 01 -Serial Darah Pendekar) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo Bahan Cerita . Sriwidjono

Jilid 18

"Koko!"

Bwee Hong menubruk kakaknya yang terengah-engah bangkit duduk itu, dan A-hai juga mendekatinya.

Juga Pek Lian yang masih menghadapi pengeroyokan belasan orang anggauta Tai-bong-pai itu menengok.

Perbuatan ini mencelakakan dirinya karena tahu-tahu belasan orang telah menubruknya dan betapapun ia meronta, tetap saja ia tertangkap, dan kaki tangannya dibelenggu sampai dara ini tidak mampu bergerak lagi.

Sementara itu, si kurus pucat sudah menyerang lagi, tongkatnya bergerak seperti kitiran cepatnya dan menyerang ketubuh Bwee Hong.

A-hai menghadang didepan, bertolak pinggang sambil berkata.

"Eh, eh, mengapa kalian menyerang orang-orang tak berdosa?"

Melihat sikap A-hai yang begitu polos, agaknya si kurus pucat itu menjadi tertegun dan malu.

"Kami harus menawan kalian dan baru akan kami bebaskan setelah urusan kami ditempat ini selesai,"

Katanya, seperti mayat bicara.

"Kalau cuma begitu, kenapa tidak bicara dari tadi? Tanpa kekerasanpun, kami tidak akan melawan. Silahkan kalau mau menawan kami!"

Mendengar ini, diam-diam Pek Lian, Bwee Hong dan Seng Kun tercengang.

Pemuda ini sungguh penuh keanehan, kadang-kadang sikapnya begitu matang, tenang dan menguasai keadaan.

Dan memang sikapnya itu membuat si pemuda kurus pucat menjadi serba salah.

"Baiklah, kalau begitu kalian ikut bersama kami Asal tidak melawan kamipun tidak akan menggunakan kekerasan,"

Katanya dan dengan isyarat tangan ia memerintahkan anak-buahnya membebaskan Pek Lian dari belenggu.

Lalu mereka berempat digiring oleh belasan orang itu kesebuah bukit yang letaknya tak jauh dari pantai itu.

Siapakah pemuda kurus pucat yang amat lihai itu?

Dia memang bukan orang sembarangan.

namanya Kwa Sun Tek dan dia adalah putera dari ketua Tai-bong-pai.

Kwa Siok Eng adalah adik kandungnya!

Pemuda kurus ini telah mewarisi ilmu-ilmu Tai-bong-pai dari ayahnya, maka tentu saja dia lihai sekali, lebih lihai dari pada adiknya dan semuda itu dia telah dijuluki Song-bun-kwi (Setan Berkabung) yang sesuai dengan pakaiannya yang serba putih.

Empat orang muda itu dibawa masuk kedalam sebuah kuil kosong yang berada di puncak bukit.

Mereka dimasukkan kedalam sebuah kamar dan dijaga ketat oleh belasan orang anak-buah Song-bun-kwi Kwa Sun Tek.

Dan ditempat itu terdapat puluhan orang anak-buahnya yang lain.

Mereka kelihatan seperti sedang menunggu kedatangan tamu.

Mengapa putera ketua Tai-bong-pai berada ditempat itu dan siapakah yang dinantikannya?

Dan biarpun Pek Lian telah menyebut nama Kwa Siok Eng, adik kandungnya, mengapa pemuda kurus pucat itu seakan-akan tidak memperdulikan nama adiknya?

Song-bun-kwi Kwa Sun Tek tak dapat dibandingkan dengan adiknya.

Dan diapun telah menyeleweng dari pada peraturan dan kebiasaan Tai-bong-pai.

Tai-bong-pai semenjak dahulu memang tersohor sebagai perkumpulan rahasia yang penuh misteri, penuh dengan keanehan, akan tetapi biarpun perkumpulan ini dapat digolongkan sebagai perkumpulan hitam atau sesat, namun Tai-bong-pai memiliki keangkuhan dan tidak pernah mau melibatkan diri dalam urusan orang-orang lain.

Namun Kwa Sun Tek tak dapat mempertahankan tradisi nenek moyangnya.

Dia tidak sama seperti nenek moyangnya yang selalu mempertahankan keangkuhan sebagai pimpinan suatu golongan tersendiri yang tidak tunduk kepada siapapun dan tidak bersekutu dengan siapapun, mielainkan mengandalkan kekuatan sendiri malang-melintang didunia kang-ouw.

Kwa Sun Tek termasuk seorang muda yang ambisius dan diam-diam dia mengadakan persekutuan dengan golongan-golongan yang hendak mengadakan pemberontakan terhadap kerajaan!

Dia mengharapkan kalau sampai pemberontakan itu berhasil, dia akan memperoleh kedudukan.

Kemuliaan dalam kedudukan tinggi inilah yang diidamkannya, karena yang lain-lain, seperti kekayaan, kepandaian dan nama besar sudah dimilikinya sebagai putera ketua Tai-bong-pai.

Setiap orang manusia didunia ini tentu pernah mengalami dorongan hasrat untuk mengejar dan memperoleh kemuliaan hidup ini.

Hampir semua orang dicengkeram hasrat ini, keinginan untuk memperoleh kemuliaan hidup yang dianggapnya sebagai sumber dari pada kesenangan!

Dan kemuliaan hidup ini mereka lihat bersembunyi didalam beberapa hal.

Dalam kedudukan dan kehormatan.

Dalam harta benda.

Dalam kekuasaan.

Inilah sebabnya mengapa kita semua seakan-akan berebut dan berlomba untuk memperolehnya, kalau perlu dengan cara apapun juga, dengan jegal-jegalan, dengan pukul-pukulan, dan saling gasak, saling bermusuhan dan saling bunuh.

Kita selalu mementingkan tujuan sehingga muncullah cara-cara yang sesat.

Kita seolah-olah menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan.

Padahal, yang penting adalah cara itulah.

Hidup adalah cara itulah.

Hidup adalah langkah-langkah pelaksanaan, yang tercakup dalam "cara"

Itu.

Kalau caranya kotor, sudah barang tentu tujuan yang dicapainyapun kotor juga!

Namun, kita sudah membutakan mata, tidak lagi memperhatikan atau menghargai cara ini, melainkan menujukan mata kita kepada tujuannya.

Karena itulah, maka cara untuk mencapai tujuan itu, yang menjadi langkah-langkah dalam hidup kita, penuh dengan kepalsuan seperti sekarang ini, tidak wajar lagi karena setiap langkah hidup, setiap kelakuan dan perbuatan kita, hanya merupakan jembatan untuk dapat membawa kita kearah tujuan yang kita kejar-kejar.

Demikian pula dengan Song-bun-kwi Kwa Sun Tek.

Dia mempunyai ambisi besar, mempunyai cita-cita yang menjadi tujuannya, yaitu hidup sebagai seorang penguasa, dan untuk mencapai tujuan ini, cara apapun akan dipergunakannya.

Dan dia melihat kesempatan dan harapan untuk dapat mencapai cita-citanya itu melalui persekutuan dengan pihak pemberontak yang menentang dan hendak menggulingkan Kaisar.

Pada waktu itu, para pemberontak memang tengah menyusun kekuatan.

Seperti telah kita ketahui, pemerintah mengerahkan pasukan-pasukan kuat yang dipimpin oleh Jenderal Beng Tian yang dibantu pula oleh Pek-lui-kong Tong Ciak, dan berkat kepandaian dua orang tokoh Istana ini, pasukan-pasukan para pemberontak disekitar lembah Yang-ce telah diobrak-abrik dan dihancurkan.

Banyak yang tewas dan sisanya melarikan diri cerai berai.

Pasukan-pasukan pemberontak itu adalah sebagian besar pasukan yang dipimpin oleh Chu Siang Yu, yaitu pemimpin para pemberontak yang lihai, keturunan Jenderal Chu yang amat terkenal sepanjang sejarah.

Setelah pasukannya dihancurkan oleh pemerintah, Chu Siang Yu bukan mundur, sebaliknya hal ini malah mengobarkan semangat nya untuk membalas dendam.

Cita-citanya setinggi langit, yaitu untuk merebut kekuasaan Kaisar!

Dan untuk mencapai cita-cita ini, dia mengorbankan semua harta bendanya dan kepandaiannya, mengumpulkan orang-orang gagah, dihimpun dan dibujuk, dibakar semangat mereka sampai akhirnya dia memiliki banyak pengikut yang setia.

Kini Chu Siang Yu mengadakan persekutuan rahasia dengan fihak mana saja yang dapat menguntungkan gerakannya.

Dia merasa sakit hati karena daerahnya, yaitu Lembah Yang-ce yang subur itu direbut pemerintah.

Mulailah dia memimpin anak-buahnya yang jumlahnya cukup banyak sampai melebihi selaksa orang itu untuk bergerak menggempur dari timur.

Desa demi desa, sampai kota demi kota direbutnya.

Gerakan itu baru berhenti ketika bala tentara kerajaan datang menyambut dan menggempurnya.

Pasukan pemberontak yang dipimpin Chu Siang Yu menjadi kewalahan dan terpaksa mundur, lalu pemimpin pemberontak ini mengadakan persekutuan dengan para pembesar diwilayah timur.

Sampai gubernur daerah pantai timur ditempel dan dipengaruhinya.

Disamping ini, juga dia tidak segan-segan untuk bersekutu dengan orang-orang asing dari utara, peranakan Mongol yang memiliki pasukan yang cukup kuat.

Pendeknya, untuk mencapai cita-citanya, yaitu menggulingkan kekuasaan Kaisar, cara apapun akan ditempuhnya.

Maka, bersekutu dengan orang asingpun bukan merupakan sesuatu yang diharamkan.

Kemudian, diapun mengajak orang-orang Tai-bong-pai bersekutu setelah melihat betapa pemuda Tai-bong-pai, Kwa Sun Tek, kelihatan berambisi besar.

Pasukan Tai-bong-pai memang tidak dapat dikata besar untuk dipergu-nakan dalam perang.

Akan tetapi sama sekali tidak kecil artinya mengingat bahwa pasukan itu adalah orang-orang yang ahli dalam mempergunakan racun sehingga mereka itu dapat meniadi pasukan istimewa.

Juga pemuda itu lihai sekali ilmu silatnya, dapat menjadi pembantu yang amat menguntungkan Demikianlah, pada hari itu, didalam kuil diatas bukit dekat pantai itu akan diadakan pertemuan rahasia antara pemberontak pimpinan Chu Siang Yu yang diwakili oleh Kwa Sun Tek yang sudah mendapat kepercayaan dari pimpinan itu, lalu pasukan Mongol yang dipimpin sendiri oleh kepala mereka, seorang bertubuh raksasa yang bertenaga besar sekali, dan utusan gubernur dan para pejabat daerah.

Gerakan Chu Siang Yu ini diam-diam diikuti oleh para pendekar, yaitu para pendekar penentang Kaisar karena kelalimannya, para pendekar yang bergabung dalam pasukan yang dipimpin oleh Liu Pang.

Diantara para kelompok atau gerombolan pemberontak yang timbul disana-sini pada jaman itu, yang patut disebut hanyalah pasukan pimpinan Chu Siang Yu dan para pendekar pimpinan Liu Pang.

Pasukan Chu Siang Yu memang lebih besar jumlahnya, Namun pasukan Liu Pang yang tidak berapa besar itu terdiri dari para pendekar yang rata-rata memiliki kepandaian silat yang cukup tinggi.

Apa lagi, karena Liu Pang berasal dari keluarga tani sederhana dan diantara para pendekarpun dia disebut dengan sebutan sederhana, yaitu Liu-twako, maka dia memperoleh dukungan dari rakyat jelata, terutama kaum tani.

Sebaliknya, Chu Siang Yu adalah keturunan ningrat dan untuk membangkitkan semangat para pengikutnya, dia menjanjikan pangkat-pangkat dan kemuliaan.

Berbeda dengan Liu Pang yang didukung oleh orang-orang yang ingin "berbakti"

Kepada nusa dan bangsa, ingin menjadi pahlawan dan patriot. Memang banyaklah "cara"

Untuk menggerakkan manusia menuju kepada cita-cita.

Dalam hal peperangan, caranya hanyalah kekerasan, kekejaman, saling bunuh dan memperebutkan kemenangan.

Jadi, kemenangan itulah tujuannya.

Akan tetapi tentu saja bukan tujuan terakhir karena kemenangan itu hanyalah merupakan "jembatan"

Saja untuk mencapai yang diidam-idamkan, yaitu kedudukan, kehormatan, kemuliaan, harta benda.

Para pimpinan yang berambisi pandai sekali membangkitkan semangat rakyat dengan berbagai cara.

Ada yang membangkitkannya melalui kepahlawanan, patriot atau pejuang, rela berkorban nyawa!

Ada pula yang membangkitkan semangat melalui janji-janji muluk, kedudukan, kehormatan, kemuliaan atau harta benda.

Apapun tujuannya, kalau caranya adalah saling bunuh dengan kejam, sudah dapat dipastikan bahwa tujuannya itupun hanya merupakan pementingan diri sendiri, pemuas kehausan nafsu sendiri belaka, mencari sesuatu yang dianggap akan mendatangkan kesenangan hidup, seperti kedudukan, kemuliaan, kehormatan dan harta benda!

Gerakan Chu Siang Yu yang membalas dendam kepada pemerintah ini, mula-mula memang didiamkan saja oleh Liu Pang.

Pada waktu itu, memang kelaliman Kaisar membuat rakyat menderita.

rakyat ditindas, dipaksa bekerja membuat Tembok Besar, kaum sasterawan dikejar-kejar dan dibunuh, Menteri-Menteri yang setia dan jujur dipecat dan dihukum, hukum rimba berlaku dimana-mana.

Karena itu, rakyat membenci Kaisar dan pemerintahnya.

Dan karena ini pula, maka melihat gerakan Chu Siang Yu, Liu Pang dan pasukannya mendiamkannya saja, menganggap bahwa memang sudah sepatutnya kalau Kaisar ditentang.

Akan tetapi, setelah mendengar bahwa Chu Siang Yu bersekongkol dengan pasukan asing, Liu Pang menjadi marah sekali dan mencap Chu Siang Yu sebagai seorang pengkhianat yang hendak menjual negara kepada orang asing.

Maka bergeraklah Liu Pang, memimpin pasukan para pendekar, membantu tentara kerajaan dan menggempur pasukan asing yang bersekongkol dengan pasukan pemberontak Chu Siang Yu.

Karena pasukan Liu Pang merupakan pasukan istimewa yang menggiriskan, rata-rata memiliki ilmu silat tinggi, maka pasukan pemerintah berhasil merebut kembali dusun dan kota yang jatuh ketangan bala tentara pemberontak Chu Siang Yu.

Marahlah pimpinan pemberontak she Chu itu dan mulai saat itu, dia menganggap Liu Pang sebagai saingan dan juga musuh.

Dan biarpun permusuhan diantara mereka tidak atau belum terjadi secara terbuka, namun didalam hati masing-imasing mereka itu telah menganggap masing-masing sebagai musuh dan saingan berbahaya.

Akan tetapi, bantuan dari Liu Pang dan kawan-kawannya inipun tidak dapat diterima begitu saja oleh pihak pemerintah.

Para pendekar itu terkenal sebagai orang-orang yang mendukung para sasterawan dan Menteri yang diperlakukan dengan semena-mena oleh Kaisar, dan mereka itupun dianggap sebagai pemberontak.

Mereka selalu dicurigai dan hubungan antara mereka tidak akrab sama sekali.

Padahal, ketika Chu Siang Yu memberontak dibantu oleh pasukan asing itu, Liu Pang benar-benar berniat membantu pemerintah.

Apa lagi ketika mendengar keputusan Kaisar yang mengampuni para Menteri yang telah dipecat, hal ini menimbulkan suka dihati para pendekar.

Chu Siang Yu maklum akan sikap pemerintah yang mencurigai Liu Pang, maka dimanapun juga, dia menyuruh anak-buahnya untuk menyebar fitnah dan berita-berita bohong untuk memanaskan suasana dan untuk mengadu domba antara pasukan para pendekar dengan pasukan pemerintah!

Demikianlah keadaan pemerintah yang dirongrong oleh para pemberontak pada waktu itu dan si kurus Kwa Sun Tek bersama anak-buahnya tengah menanti datangnya para tamu penting pada hari itu.

Matahari naik semakin tinggi dan hari nampak cerah.

Terdengar derap kaki kuda naik kebukit itu menuju kekuil.

Mereka adalah tiga orang berpakaian perwira kerajaan yang dikawal oleh sepuluh orang pasukan berkuda.

Mereka ternyata adalah pasukan pengawal gubernur daerah pantai timur dan mereka datang sebagai utusan sang gubernur yang bersekongkol dengan pemberontak Chu Siang Yu.

Kwa Sun Tek menyambut mereka dan setelah melihat pakaian yang gemerlapan dan bendera pengenal itu dengan seksama, dia merasa heran sekali.

Setelah menyambut dengan ucapan selamat datang, dia bertanya.

"Maaf, sam-wi ciangkun (tiga perwira), apakah tidak berbahaya dan tidak akan menimbulkan kecurigaan dan perhatian orang dengan pakaian seragam sam-wi seperti ini?"

Perwira yang berkumis tebal tertawa.

"Ah, sama sekali tidak. Bahkan kami kira lebih aman begini. Orang-orang tentu mengira bahwa kami sedang menjalankan tugas atau sedang meronda. Dan pertemuan ini adalah pertemuan penting, kami tidak ingin menjatuhkan martabat kami!"

Kwa Tek Sun mengangguk-angguk dengan alis dikerutkan karena diam-diam dia merasa bahwa orang-orang pemerintah ini sungguh berpemandangan sempit dan bodoh.

Akan tetapi tentu saja dia tidak berani banyak mencela lagi dan mempersilahkan tamu-tamu itu duduk disebelah dalam, dimana terdapat sebuah ruangan dan disitu telah tersedia bangku-bangku untuk menerima para tamu.

Karena pertemuan itu adalah pertemuan rahasia, maka tempat pertemuanpun seadanya dan tidak ada yang mengeluh karena hal ini.

Beberapa orang anggauta Tai-bong-pai datang menghadap Kwa Sun Tek, melaporkan bahwa ada sebuah perahu besar berlabuh.

Tak lama kemudian, nampak seorang raksasa tua berjenggot putih melangkah lebar menuju kekuil, diiringkan pasukan asing yang bersenjata lengkap.

Itulah kepala suku yang memimpin pasukan asing peranakan Mongol itu.

Setelah utusan ketiga golongan itu datang, pertemuan segera diadakan.

Yang mengadakan percakapan dalam rapat rahasia itu adalah Kwa Sun Tek, tiga orang perwira, dan Malisang, yaitu kepala suku peranakan Mongol yang tinggi besar itu.

Anak-buah Tai-bong-pai, pasukan pengawal gubernur, dan juga anak-buah Malisang berjaga diluar dan disekitar kuil.

"Chu-Bengcu (pemimpin rakyat Chu) menghendaki agar gerakan di timur dimulai dari pantai ini,"

Antara lain Kwa Sun Tek menyampaikan perintah Chu Siang Yu.

"Di bagian barat, gerakan pasukan Chu-Bengcu telah berhasil merebut beberapa kota dan dusun."

"Memulai gerakan mudah saja, akan tetapi kita harus melakukan penyelidikan dengan seksama akan kekuatan penjagaan disetiap daerah,"

Kata si raksasa peranakan Mongol yang bernama Malisang itu.

"Tentu saja dan tentang hal itu, kami percaya sam-wi ciangkun ini tentu lebih paham,"

Kata Kwa Sun.

Tek.

Sebelumnya, mereka semua memang sudah sepakat untuk membagi gerakan mereka menjadi dua bagian.

Bagian barat digerakkan oleh pasukan yang dipimpin oleh Chu Siang Yu sendiri, sedangkan bagian timur dilakukan oleh gabungan sekutu mereka, yaitu pasukan peranakan Mongol dan pasukan gubernur dan para pejabat tinggi.

Adapun pasukan Tai-bong-pai yang hanya berjumlah kecil hanya bertugas membantu sana-sini untuk tugas-tugas praktis.

Perwira berkumis tebal mengangguk-angguk.

"Hal itu sudah kami selidiki. Panglima kerajaan yang ditempatkan didaerah timur ini adalah Lai-goanswe (Jenderal Lai), bawahan Jenderal Beng Tian yang dipercaya. Dia seorang ahli perang yang pandai, juga memiliki pasukan yang terdidik dan terlatih baik. Harus diakui bahwa bukan merupakan pekerjaan ringan untuk menandingi pasukan yang dipimpin oleh Jenderal Lai itu."

Kwa Tek Sun berkata.

"Chu-Bengcu juga sudah tahu akan hal itu dan karenanya beliau mengutus kami dari Tai-bong-pai untuk mencari jalan baik membantu gerakan saudara sekalian. Kami sudah mendengar berita bahwa sebagian pasukan pendekar pimpinan Liu Pang juga berada didaerah ini. Kami akan berusaha agar terjadi bentrokan antara pasukan Liu Pang dan pasukan Jenderal Lai. Kalau mereka itu bentrok sendiri, maka tugas kita untuk membuka dan memulai gerakan diti-mur ini akan menjadi lancar dan mudah."

Semua orang mengangguk tanda setuju. Lalu seorang diantara tiga perwira itu berkata.

"Akan tetapi, bagaimana hal itu dapat dilakukan? Bukankah Kaisar telah mengampuni para Menteri, bahkan akan mengembalikan kedudukan mereka dan semua itu dilakukan Kaisar untuk memberi hati kepada Liu Pang dan anak-buahnya?"

"Memang benar demikian,"

Jawab Kwa Sun Tek yang sebagai pembantu terpercaya dari Chu Siang Yu, agaknya mengenal baik keadaan negara pada waktu itu.

"Karena itulah, maka Liu Pang bersikap lembut kepada Kaisar dan bahkan melakukan gerakan membantu pasukan kerajaan menentang kita. Bahkan Liu Pang agaknya telah sadar bahwa yang meniup-niupkan kebencian antara pasukannya dan pasukan pemerintah adalah pihak kita, maka dia bersikap hati-hati. Kami telah mendengar kabar bahwa dia telah mengutus wakilnya kedaerah ini untuk menghubungi Lai-goanswe dan untuk menyampaikan iktikad baiknya membantu pemerintah menghadapi pemberontakan. Selain itu, juga kabarnya dia hendak menanyakan mengapa janji Kaisar untuk mengembalikan para Menteri ketempat kedudukan masing-masing, sampai sekarang belum juga terlaksana."

Kini Malisang, raksasa Mongol yang sejak tadi hanya mendengarkan dengan penuh perhatian, mengangguk-angguk maklum.

"Ah, jadi kalau begitu, Chu-Bengcu yang memerintahkan agar Menteri Ho dibawa kedaerah ini, sebenarnya ada hubungannya dengan persoalan ini?"

"Benar demikian!"

Kata Kwa Sun Tek.

"Menteri Ho dapat kita pergunakan sebagai alat untuk memecah belah diantara pihak perajurit kerajaan dan pihak anak-buah Liu Pang. Dengan demikian maka usaha Liu Pang untuk berdekatan dengan pihak pemerintah akan gagal dan itu merupakan keuntungan yang tak ternilai harganya bagi kita"

"Eh, bagaimana caranya?"

Tanya perwira berkumis tebal.

Biarpun diruangan itu hanya ada mereka berlima dan kuil itu dijaga oleh banyak sekali anak-buah mereka, namun sebelum menjawab orang she Kwa yang kurus itu menengok kekanan kiri lebih dulu, kemudian berbisik.

"Mendekatlah kesini dan dengarkan baik-baik rencana yang telah diatur oleh Chu-Bengcu"

Mereka lalu berbisik-bisik dengan kepala saling berdekatan.

Empat orang muda itu, Chu Seng Kun, A-hai, Ho Pek Lian, dan Chu Bwee Hong, masih berada didalam kamar kuil dimana mereka ditahan dan kamar itu dijaga ketat oleh orang-orang Tai-bong-pai.

Seng Kun hanya duduk bersila dan berusaha untuk memulihkan kesehatannya.

Dia baru saja mengalami keracunan ketika bersama A-hai dia menjadi tawanan Jeng-bin Siang-kwi, dua orang wanita iblis dari Ban-kwi-to itu.

Dan belum juga kesehatannya pulih, dia harus mengalami hal-hal yang berat, bahkan terlempar kelautan, dan baru saja dia terkena pukulan ampuh dan kuat dari Kwa Sun Tek.

Memang tubuhnya sudah tidak keracun-an, akan tetapi masih lemah dan tenaganya belum pulih benar.

Agaknya A-hai memang memiliki tubuh yang luar biasa sekali maka pengaruh racun-racun itu tidak begitu hebat terasa olehnya dan tubuhnya tidak kelihatan lemah.

Pek Lian, seperti juga Bwee Hong dan A-hai, duduk diatas lantai kamar itu dan termenung.

Dara ini diam-diam merasa gelisah sekali memikirkan ayahnya.

Ia sama sekali tidak pernah mengira bahwa pada saat itu justeru nama ayahnya disebut-sebut dan menjadi bahan percakapan antara orang-orang yang sedang mengadakan rapat diruangan dalam kuil itu.

Sebagai murid dari Liu Pang, dan sebagai pemimpin dari pasukan pendekar, tentu saja Ho Pek Lian juga tahu akan keadaan negara pada waktu itu.

Ia tahu pula akan gerakan Chu Siang Yu yang menentang Kaisar dengan ambisi untuk merampas kedudukan.

Gadis yang banyak berkecimpung dalam pergolakan negara itu dapat mengumpulkan data-data bahwa pada waktu itu, negara sedang kacau-balau dan terjadi perpecahan-perpecahan dan pemberontakan-pemberontakan akibat dari kelaliman Kaisar.

Kaisar yang agaknya menurutkan bisikan beracun para pembantunya yang palsu, telah melakukan banyak hal yang membangkitkan kemarahan rakyat.

Bukan hanya menindas rakyat dengan pekerjaan berat yang memakan banyak korban jiwa seperti pembangunan Tembok Besar, juga Kaisar telah membakar kitab-kitab kaum sasterawan, bahkan mengejar dan membunuh banyak sasterawan dan pendekar.

Hal ini tentu saja menimbulkan kemarahan dikalangan rakyat dan menimbulkan pemberontakan-pemberontakan Pek Lian mjaklum bahwa golongan gurunya adalah kaum pendekar yang menentang kelaliman Kaisar untuk membela rakyat dan mereka tidak berambisi mengejar kedudukan.

Kalau Kaisar dapat merobah sikapnya dan rakyat tidak menderita, tentu gerakan Liu Pang ini akan berhenti pula.

Golongan kedua adalah golongan pemberontak yang tadinya bermarkas di lembah Yang-ce, yaitu pemberontak yang dipimpin oleh Chu Siang Yu, pemberontakan yang berpamrih merampas kedudukan.

Tentu saja selain golongan pendekar yang dipimpinnya bersama suhunya itu dan golongan pemberontak pimpinan Chu Siang Yu, juga ada golongan pemerintah sendiri yang menentang pemberontakan, yaitu bala tentara pemerintah yang memiliki banyak jenderal-jenderal yang tangguh terutama jenderal Beng Tian.

Kemudian, gadis inipun melihat munculnya golongan baru yaitu golongan kaum sesat yang agaknya akan dihimpun dan dibangun oleh seorang tokoh sesat yang menyeramkan, yaitu Bit-bo-ong Si Raja Kelelawar!

Sementara itu Bwee Hong juga duduk bersila mengumpulkan hawa murni karena bagaimanapun juga, setelah mengalami segala hal yang mengerikan di kepulauan Selaksa Setan itu dan telah beberapa kali keracunan, walaupun racun telah lenyap dari tubuhnya, namun ia perlu beristirahat dan memulihkan kekuatannya.

A-hai sendiri juga duduk dilantai, dan pemuda ini dengan bengong memandang kepada Bwee Hong penuh kagum, dan kadang-kadang dia menoleh dan memandang kepada Pek Lian, alisnya berkerut seperti orang hendak mengingat-ingat namun lupa segalanya.

Tiba-tiba pintu kamar itu terbuka dan muncullah pemuda kurus yang menawan mereka tadi.

Kiranya rapat itu telah bubar dan para tamu telah pergi.

Kwa Sun Tek menghampiri empat orang muda itu dan menjura dengan sikap hormat.

"Harap maafkan kami bahwa terpaksa kami menahan kalian berempat disini karena kami mempunyai urusan yang sangat penting. Tak seorangpun boleh melihat atau mendengar urusan kami itu. Akan tetapi setelah sekarang urusan selesai, kalian boleh meninggalkan tempat ini."

Pek Lian dan kawan-kawannya tentu saja merasa mendongkol sekali.

Apa lagi mengingat bahwa mereka ini adalah orang-orang Tai-bong-pai, anak-buah Kwa Siok Eng yang mereka kenal dengan baik.

Akan tetapi, mereka tidak sudi berurusan dengan orang-orang kasar ini dan didalam hati saja mereka itu berjanji akan melaporkan sikap orang-orang Tai-bong-pai ini kepada Kwa Siok Eng kelak kalau mereka berkesempatan bertemu dengan dara puteri ketua Tai-bong-pai itu.

Tanpa bicara dan tanpa pamit mereka berempat lalu pergi meninggalkan kuil, menuruni bukit dan menuju kepantai kembali.

"Heiii! Perahu besar disana itu! Bukankah itu perahu yang telah kita kenal?"

Tiba-tiba Pek Lian menuding kearah lautan dimana nampak sebuah perahu besar yang baru saja berangkat berlayar.

"Benar! Dan perahu itu baru saja berangkat dari sini!"

Kata Bwee Hong.

"Hemm, ini ada sebatang anak panah dipantai Serupa benar dengan anak panah yang dipergunakan untuk menyerang perahu kita,"

Kata Seng Kun.

"Hemm, si kurus itu ternyata mengadakan persekutuan dengan pasukan asing. Pantas orang lain tidak boleh melihat atau mendengar pertemuan mereka disini. Sungguh mencurigakan sekali. Kita harus melaporkan hal ini kepada Jenderal Beng Tian!"

Tiba-tiba terdengar suara ketawa.

Empat orang muda itu terkejut dan ketika mereka yang tadinya memandang kearah perahu dilautan itu membalikkan tubuh, ternyata disitu telah berdiri si kurus bersama puluhan orang anak-buah Tai-bong-pai!

Si kurus Kwa Sun Tek telah mendengar ucapan Seng Kun tadi dan kini dia tersenyum mengejek dan berkata.

"Tepat dugaanku bahwa kalian tentu bukan orang-orang semibarangan. Tepat pula siasatku pura-pura melepaskan kalian tadi. Kiranya kalian adalah orang-orang yang menentang kami. Hemm, dari golongan manakah kalian? Anak-buah Liu-twako? Ataukah petugas kerajaan?"

Pek Lian mewakili teman-temannya menjawab cepat.

"Kami hanyalah pendekar-pendekar yang menentang kejahatan! Dan ketahuilah bahwa adik Kwa Siok Eng adalah sahabat baik kami!"

"Hemm, adikku Siok Eng memang suka bergaul dengan golongan-golongan yang menjadi musuh kami. Anak itu masih saja tolol dan tidak pernah menjadi dewasa. Kalian adalah para pendekar? Kalau begitu berarti menjadi kaki tangan Liu Pang! Dan kalian, hendak melaporkan kepada Jenderal Beng Tian? Kalau begitu juga menjadi mata-mata pemerintah. Kami terpaksa menangkap kalian lagi!"

Empat orang itu terkejut dan heran. Ternyata si kurus ini adalah kakak dari Kwa Siok Eng, akan tetapi agaknya kakak-beradik ini memiliki watak yang amat berbeda, seperti bumi dan langit.

"Engkau iblis jahat!"

Pek Lian membentak marah dan ia sudah menerjang maju menyerang Kwa Sun Tek dengan pukulan kedua tangannya bertubi-tubi.

Akan tetapi, pemuda kurus itu tertawa mengejek dan dengan mudah mengelak, bahkan balasan tangannya yang mencengkeram kearah muka Pek Lian mengejutkan dara ini dan membuatnya terpaksa meloncat mundur dengan gugup.

Seng Kun yang masih lemah itu juga tidak dapat membiarkan mereka ditangkap begitu saja dan diapun bersama adiknya sudah melakukan perlawanan, dikeroyok oleh Kwa Sun Tek dan puluhan orang anak-buahnya.

"Jangan berkelahi lagi..., ah, kenapa kita harus selalu berkelahi menggunakan kekerasan?"

A-hai berteriak-teriak marah melihat betapa orang-orang itu suka sekali berkelahi.

Akan tetapi, tentu saja tidak ada yang memperdulikannya, bahkan dia sudah ditubruk dari belakang oleh dua orang lalu dibelenggu kaki tangannya.

Terjadilah perkelahian yang berat sebelah.

Pek Lian, Bwee Hong dan Seng Kun melawan mati-matian.

Biarpun Seng Kun sendiri yang paling lihai diantara mereka masih lemah namun karena mereka adalah keturunan orang-orang yang lihai, tidak mudah bagi Kwa Sun Tek untuk menangkap mereka tanpa membunuh.

Maka dia lalu menggu-nakan asap harum yang mengandung obat bius dan barulah tiga orang lawan itu menjadi pening dan terhuyung-huyung, permainan mereka menjadi kacau dan dengan mudah mereka lalu ditubruk dan diringkus, kemiudian dibelenggu seperti juga A-hai.

"Jangan bunuh mereka sekarang. Ikat mereka pada pohon-pohon. Kita mengadakan upacara hio nanti malam!"

Terdengar Kwa Sun Tek berkata dengan suara gembira dan para anak-buahnya juga menyambut perintah itu dengan gembira.

A-hai, Seng Kun, Pek Lian dan Bwee Hong lalu diseret kedekat pohon-pohon dikaki bukit, kemudian diikat pada batang pohon-pohon itu.

Seng Kun diikat pada sebatang pohon bersama adiknya, Bwee Hong, saling membelakangi, terhalang batang pohon.

Pek Lian diikat pada sebatang pohon yang lebih kecil, tak jauh dari situ, demikian pula A-hai diikat pada sebatang pohon.

Mereka hanya dapat saling pandang, tidak tahu apa yang akan terjadi atas diri mereka.

Mereka tidak tahu apa artinya "upacara hio"

Yang dikatakan oleh pemuda kurus itu dan tidak berani menduga-duga.

"Koko"

Terdengar bisikan suara Bwee Hong yang ditujukan kepada kakaknya dibalik batang pohon.

"Ya?"

Kakaknya menjawab.

Orang-orang Tai-bong-pai berjaga-jaga agak jauh dari situ dan mereka itu agaknya sibuk dengan sesuatu bahkan ada yang dari jauh datang menggotong peti mati!

Karena itu, kakak-beradik ini memperoleh kesempatan untuk bercakap-cakap.

"Koko, apakah tidak ada jalan keluar?"

Suara Bwee Hong agak gemetar Ia bukan seorang gadis penakut, akan tetapi melihat orang-orang Tai-bong-pai yang mengerikan itu menggotong peti mati, ia menjadi serem dan takut juga.

"Hong-moi, tenagaku belum pulih. Apakah engkau tidak dapat menggunakan sinkang untuk mematahkan ikatanmu dan menolongku?"

Seng Kun balas bertanya.

"Belenggu ini tidak berapa kuat, kalau engkau menggunakan tenaga Pai-hud-ciang"

"Iblis keparat itu tadi menotokku dan pengaruh totokannya masih terasa, membuat aku tidak dapat mengerahkan sinkang sekuatnya,"

Jawab Bwee Hong lirih dan jengkel.

"Hemmm, mungkin ikatan ini terlalu kuat bagi nona Ho, akan tetapi kalau saja A-hai sadar akan kekuatannya, kalau saja dia kumat, tentu sekali renggut akan bebaslah dia dan dengan kepandaiannya yang hebat, dia akan dapat menyelamatkan kita semua, tapi"

"Tapi dia dalam keadaan sadar dan lupa akan segala ilmunya itu, koko. Lalu bagaimana? apakah kita harus menghadapi semua ancaman ini tanpa berdaya sedikitpun?"

"Tenanglah, adikku. Aku sudah sembuh, hanya tenagaku yang belum pulih. Tunggu, aku akan mengumpulkan hawa mumi sebanyaknya dan mudah-mudahan saja usahaku tidak terlambat. Kalau tenagaku sudah pulih, aku dapat membebaskan kalian semua dan kurasa aku akan dapat pula menandingi ilmu sesat dari si kurus itu."

Bwee Hong lalu berdiam diri, memberi kesempatan kepada kakaknya untuk memulihkan tenaganya dan ia sendiripun lalu menghimpun hawa murni untuk memulihkan tenaga sinkangnya yang tidak dapat dikerahkan dengan baik akibat totokan yang dilakukan oleh Kwa Sun Tek terhadap dirinya.

Malam tiba.

Gelap sekali.

Tempat itu hanya diterangi sebuah api unggun yang dibuat oleh orang-orang Tai-bong-pai.

Cahaya api yang merah menerangi tempat itu, akan tetapi hanya remang-remang saja.

Tidak ada angin bertiup, suasana amat sunyi menyeramkan.

Didekat api unggun berjajar empat buah peti mati dan diatas tanah dipasangi hio-hio membara yang mengeluarkan asap putih dan bau harum tapi menyeramkan.

Asap hio yang membubung tinggi itu kadang-kadang tegak lurus karena tidak banyak angin bersilir malam itu.

Seng Kun yang sedang tekun sekali menghimpun hawa murni untuk memulihkan tenaga sinkangnya, menjadi terganggu sekali oleh bau asap hio itu.

Akan tetapi dia berkeras untuk mengusir gangguan ini dan melanjutkan usahanya.

Memang agak sukar baginya karena kedudukan tubuhnya.

Kalau dia melakukannya dengan bersila, tentu hasilnya akan lebih cepat.

Akan tetapi, dia berdiri dan kedua lengannya terangkat keatas karena terikat pada tali yang digantungkan pada cabang pohon itu.

Bau asap hio itu sungguh keras menusuk hidung.

Beberapa kali A-hai sampai terbangkis.

Ada dua puluh lima orang Tai-bong-pai duduk bersila mengelilingi api unggun itu dan Kwa Sun Tek sendiri duduk bersila didekat api.

Upacara hio itu agaknya dimulai!

Apakah sesungguhnya upacara hio ini?

Suatu kebiasaan dari Tai-bong-pai yang amat mengerikan!

Semacam upacara menghukum musuh dari Tai-bong-pai yang merupakan upacara tradisionil.

Tadinya dimaksudkan untuk menghormati arwah orang-orang mati dengan memberi korban.

Biasanya, dalam sembahyang menghormat arwah orang mati, korban berupa ayam, bebek, babi dan bermacam masakan yang seolah-olah merupakan sebuah pesta yang dihidangkan kepada arwah si mati yang diundang.

Akan tetapi, dalam upacara hio itu, yang dikorbankan adalah orang-orang hidup, yaitu musuh-musuh yang tertawan, sebagai hukuman mati bagi musuh dan sebagai hidangan bagi arwah orang mati.

Hebatnya, yang bertugas membunuh musuh adalah mayat-mayat yang sengaja dihidupkan untuk keperluan ini!

Dan bukan sembarangan orang yang akan mampu memimpin upacara ini.

Dia harus memiliki tenaga Sakti Asap Hio dan juga mahir dengan Pukulan Mayat Hidup, ilmu yang paling tinggi dari Tai-bong-pai dan pada waktu itu, hanya tiga orang saja yang menguasainya, yaitu ketua Tai-bong-pai Kwa Eng Ki, isterinya, dan Kwa Sun Tek inilah.

Kwa Siok Eng sendiri ketika melatih diri dengan ilmu-ilmu ini, karena salah latihan, sampai menderita lumpuh.

Tenaga sakti ini, digabungkan dengan ilmu hitam, dapat dipergunakan untuk memanggil roh dan memerintahkan roh memasuki mayat, membuat mayat hidup kembali untuk sementara, untuk membunuh musuh yang dijatuhi hukuman.

Suasana semakin sunyi.

Empat orang muda yang menjadi tawanan itu memandang dengan mata terbelalak dan muka pucat.

Mereka belum tahu apa yang akan terjadi atas diri mereka, namiun mereka dapat merasakan adanya suasana yang mengerikan dan ada getaran-getaran aneh yang membuat Pek Lian kadang-kadang menggigil.

Tidak terdengar sesuatu kecuali lirih-lirih suara Kwa Sun Tek membaca mantera, mulutnya berkemak-kemik ketika dia bersila sambil mengheningkan cipta didekat api unggun.

Tiba-tiba terjadi keanehan.

Masih tidak ada angin bertiup sama sekali, akan tetapi kini api unggun yang bernyalanyala itu bergoyang-goyang dan asap hio-hio itupun tidak tegak lurus lagi, melainkan menari-nari seperti ada yang meniupnya, atau seolah-olah ada angin menyambal karena kehadiran sesuatu yang baru datang tapi tidak nampak oleh mata.

Melihat ini, para anggauta Tai-bong-pai itu yang duduk bersila, lalu menelungkup dengan kedua lengan diatas tanah, didepan kepala, seolah-olah memberi penghormatan kepada "yang baru datang."

Sementara itu, Kwa Sun Tek masih terus bersila memejamkan kedua mata dan bibirnya berkemak-kemik semakin cepat.

Hampir saja Pek Lian menjerit ketika kebetulan ia memandang kearah peti-peti mati itu, ia melihat empat sosok mayat dalam peti mati itu kini bangkit duduk dari dalam peti mati, kemudian dengan gerakan kaki empat sosok mayat itu keluar peti dan turun diatas tanah lalu menari-nari kaku dekat api unggun!

Sungguh merupakan pemandangan yang amat mengerikan sekali.

Mayat-mayat itu melangkah kaku, dengan kedua lengan seperti kejang, pakaian compang-camping dan mengeluarkan bau busuk!

Ada yang sudah mulai membusuk.

Air kekuningan yang berbau busuk menetes-netes dari tubuh mereka, bahkan ada yang sudah mengeluarkan belatung!

Suasana menyeramkan menyelubungi tempat itu.

Tiba-tiba Kwa Sun Tek membuka matanya, memandang kearah empat sosok mayat hidup dan tersenyum puas.

Lalu dia melayangkan pandang matanya kearah empat orang tawanan, dan menyeringai girang melihat keadaan mereka yang dicekam ketakutan.

Dengan perlahan dia lalu menudingkan telunjuk larinya kearah Seng Kun, orang yang dia ketahui memiliki ilmu kepandaian paling tinggi akan tetapi berada dalam keadaan sakit, lalu dia berseru.

"Bunuh orang itu!"

Empat sosok mayat itu memutar tubuh memandang kearah si kurus, kemudian perlahan-lahan memutar tubuh kearah yang ditunjuk dan ketika mereka melihat Seng Kun dan agaknya mengerti makna perintah itu, bersicepat mereka berempat itu seperti berlumba dengan langkah-langkah kaku menghampiri Seng Kun.

Ketika mereka lewat didekat Pek Lian, tak tertahankan lagi Pek Lian muntah-muntah karena bau busuk itu sungguh membuatnya merasa muak dan jijik.

Melihat ini, Seng Kun sudah siap siaga.

Dia sudah merasa betapa sebagian dari tenaganya pulih kembali.

Akan tetapi pada saat itu, sebelum dia bergerak, nampak bayangan berkelebat dan bayangan putih itu ternyata adalah seorang dara cantik yang muncul dari kegelapan malam.

"Koko, jangan!"

Teriak gadis berpakaian putih itu dan ia ini bukan lain adalah Kwa Siok Eng.

Tanpa membuang waktu lagi Siok Eng lalu duduk bersimpuh didekat kakaknya, mulutnya berkemak-kemik, Sungguh aneh.

Empat sosok mayat itu tiba-tiba berhenti melangkah, bahkan tiba-tiba mereka itu roboh.

Kemudian, nampak asap hio dan api kembali bergerak-gerak seperti tadi ketika Kwa Sun Tek memanggil arwah-arwah, agaknya kini arwah-arwah itu pergi meninggalkan tempat itu.

Suasana yang menyeramkan dan aneh itupun lenyap bersama dengan datangnya kemarahan yang membuat muka Kwa Sun Tek yang biasanya pucat itu menjadi kemerahan.

Akan tetapi Siok Eng tidak perduli.

Melihat bahwa bahaya mengerikan telah lewat, ia lalu berlari kedepan dan menjatuhkan diri berlutut didepan kaki Seng Kun.

Dengan pandang mata mesra dan lembut, dara itu terdongak memandang wajah penolongnya.

"In-kong, harap sudi memaafkan kesalahan kakakku yang ceroboh dan jahat itu."

Seng Kun memandang wajah cantik itu dan tersenyum halus.

"Tidak mengapa, nona Kwa, agaknya ini hanya kesalah-pahaman belaka"

Kwa Sun Tek sudah bangkit berdiri.

Senjata pacul penggali kuburan itu menggigil ditangan kanannya dan mukanya kembali menjadi pucat seperti muka mayat, matanya mengeluarkan sinar berkilat saking marahnya.

"Siok Eng! Berani kau!"

Bentaknya dan dia sudah melompat kedepan, mengepal tinju.

Dara itupun meloncat berdiri dan pada saat itu, Kwa Sun Tek sudah menerjangnya.

Siok Eng menangkis dan dua tenaga sakti bertemu.

Akan tetapi, baru saja Siok Eng memperoleh bunga hitam berdaun putih, dan ia belum sempat menyempurnakan ilmunya, maka ketika kedua lengan bertemu, iapun terjengkang dan bergulingan diatas tanah.

"Bocah lancang, berani engkau membela musuhku? Engkau layak dihajar!"

Bentak Kwa Sun Tek yang agaknya sudah marah sekali. Pemuda kurus itu sudah menerjang maju lagi, mengirim hantaman kearah Siok Eng yang baru saja bangun dengan pakaian kotor terkena debu.

"Desss!!"

Tubuh Kwa Sun Tek terpental ke belakang dan dia memandang dengan mata terbelalak.

Kiranya yang menangkis pukulannya atau yang menyambut dorongan tangannya dengan dorongan lain dari depan itu bukan lain adalah pemuda jangkung tampan yang tadinya masih terbelenggu.

Seng Kun telah dapat melepaskan belenggunya dan membantu Siok Eng menangkis pukulan itu dengan pengerahan tenaga sinkang.

Tenaga sakti Pai-hud-ciang ternyata berhasil memukul mundur tenaga sakti Asap Hio!

Dan pada saat itu, Pek Lian, Bwee Hong dan A-hai juga sudah terbebas dari belenggu dan berdiri dengan sikap menantang.

Kiranya sebelum menangkis pukulan, Seng Kun juga berhasil membebaskan totokan yang mempengaruhi tubuh adiknya sehingga dengan sinkangnya Bwee Hong mampu mematahkan ikatan kaki tangannya kemudian gadis ini membebaskan Pek Lian dan A-hai.

Melihat semua tawanannya sudah terlepas dan melihat betapa kini tenaga pemuda jangkung itu hebat sekali, Kwa Sun Tek menjadi gentar juga.

Akan tetapi, Kwa Sun Tek mengandalkan anak-buahnya.

"Serbu dan bunuh mereka!"

Bentaknya kepada anak-buahnya. Akan tetapi Siok Eng juga melangkah kedepan menghadapi anak-buah Tai-bong-pai.

"Siapa berani maju melawan aku?"

Tentu saja melihat puteri ketua mereka, semua anak-buah atau anggauta Tai-bong-pai menjadi ketakutan dan tidak ada yang berani maju atau bergerak!

Mereka takut dan taat kepada Kwa Sun Tek sebagai putera ketua mereka, akan tetapi merekapun takut kalau harus melawan puteri ketua mereka sendiri.

"Siok Eng!"

Kwa Sun Tek membentak marah.

"Engkau hendak berkhianat dan menghadapi Tai-bong-pai sebagai lawan? Tahu engkau apa hukumannya sebagai seorang pengkhianat? Engkau akan dikorbankan kepada arwah-arwah kalau kulaporkan kepada ayah dan ibu tentang sikapmu membela musuh Tai-bong-pai ini!"

"Hemm, engkaulah yang akan menjalani hukuman itu kalau kulaporkan kepada ayah-ibu!"

Siok Eng juga membentak.

"Mereka ini bukan musuh-musuh Tai-bong-pai, sebaliknya malah. Taihiap ini adalah penolongku. Dia telah menyelamatkan aku dengan mengorbankan nyawa ayah-bundanya. Kalau engkau membunuhnya, berarti engkau memberontak dan berkhianat kepada ibu. Lihat baik-baik, apa yang dimilikinya ini?"

Siok Eng lalu menarik tali kalung yang tergantung dileher Seng Kun dan kini nampaklah benda yang berada diujung kalung, yang tadinya tersembunyi dibalik baju.

Sebuah bendera logam dari Tai-bong-pai!

Melihat benda itu, Kwa Sun Tek terkejut sekali.

Itulah bendera pusaka yang biasanya hanya dipegang dan dimiliki ayah-bundanya saja.

Kalau pemuda ini memilikinya, berarti bahwa dia telah dianggap sebagai orang yang sederajat dengan ketua Tai-bong-pai dan selalu harus dilindungi oleh Tai-bong-pai!

Hatinya merasa penasaran dan kecewa sekali, akan tetapi didepan adiknya, dia tidak berani menentang.

Kalau dia menentang dan sampai terdengar oleh ayah-bundanya, tentu dia tidak akan mampu meloloskan diri.

Maka, dengan wajah bersungut-sungut dia lalu menjura kepada Seng Kun dan berkata.

"Maafkan kami, karena tidak tahu telah berani mengganggu. Tai-bong-pai akan selalu melindungi pemegang bendera pusaka."

"Ah, tidak mengapa. Sebagai kakak nona Siok Eng, bolehkah kami mengenal namamu?"

Akan tetapi pertanyaan Seng Kun ini tidak dijawab karena Kwa Sun Tek telah menjura lagi dan pergi dari tempat itu setelah memberi isyarat kepada para anak-buahnya yang segera membawa mayat-mayat dan peti-peti itu pergi pula meninggalkan tempat itu entah kemana.

Setelah mereka pergi, Pek Lian memegang tangan Siok Eng.

"Adik yang baik, sungguh mengerikan sekali ilmu-ilmu dari Tai-bong-pai itu. Dan melihat keadaanmu, sungguh hampir aku tidak percaya bahwa engkau adalah puteri ketua Tai-bong-pai dan adik dari si kurus yang lihai tadi"

Siok Eng menarik napas panjang.

"Aku memang menjadi anak bandel dan suka melawan dalam keluarga kami, karena aku tidak menyetujui banyak hal dalam Tai-bong-pai. Karena itulah maka ayah tidak menurunkan ilmu-ilmu yang tertinggi sehingga terpaksa aku belajar sendiri sampai tersesat dan hampir mati karena salah latihan. Setelah demikian, barulah ayah-bundaku menolong membimbing. Kakakku itu sebenarnya tidak jahat, menurut ukuran Tai-bong-pai dan dia taat sekali terhadap perkumpulan kami. Memang kadang-kadang perkumpulan kami keras dalam menghukum musuh-musuh yang merugikan kami. Tapi, ibu sebenarnya bukan wanita kejam ah, sudahlah. Semua orang tahu bahwa Tai-bong-pai adalah sebuah perkumpulan sesat dan aku adalah puteri dari ketuanya."

Dara itupun menarik napas panjang lagi dan kelihatan berduka. Melihat ini, Pek Lian menyimpangkan percakapan dan berkata.

"Eh, bagaimana engkau dapat menyelamatkan diri dari lautan itu, adik Eng?"

Mereka lalu saling menceritakan pengalaman mereka semenjak mereka saling berpisah karena perahu Tai-bong-pai itu pecah terbakar. Ternyata Siok Eng dan anak-buahnya berhasil menyelamatkan diri.

"Banyak anak-buahku yang tewas tenggelam. Setelah kami berhasil mendarat, aku perintahkan mereka pulang memberi laporan kepada ayah tentang segala hal, dan aku sendiri lalu mencari kesepanjang pantai kalau-kalau ada diantara kalian yang selamat. Untung aku dapat mencium bau hio itu dari jauh, kalau tidak"

Mereka bercakap-cakap sambil melanjutkan perjalanan menuju kesebuah kota terdekat.

Kota itu adalah kota Yen-kin yang berada paling dekat dengan pantai didaerah itu.

Mereka berlima memasuki sebuah restoran dan memesan hidangan.

Biarpun malam telah agak larut, banyak juga tamu yang makan disitu.

Semenjak mereka memasuki kota Yen-kin, sudah terasa suasana panas karena perang rakyat sudah berkelompok dan terpisah-pisah, terasa ada ketegangan dan permusuhan.

Agaknya bentrokan dan kerusuhan dapat saja terjadi sewaktu-waktu dikota itu.

Banyak toko menutup pintunya dan yang buka memberi harga tinggi kepada barang-barang dagangan mereka.

Rakyat sudah bersiap dan mengumpulkan barang-barang untuk sewaktu-waktu dibawa pergi mengungsi.

Padahal, perang baru terjadi didaerah barat dan utara, belum melanda daerah itu.

Namun, suasana panas sudah terasa, bahkan percakapan-percakapan didalam restoran, diantara para tamu yang sedang makan, juga berkisar sekitar pemberontakan-pemberontakan itu.

"Pemberontak-pemberontak itu telah merebut sebuah kota lagi!"

Seorang laki-laki berpakaian pedagang bercerita kepada temannya sambil menghadapi hidangan.

Lima orang muda itu saling pandang, akan tetapi tentu saja A-hai tidak begitu memperhatikan suasana ini.

Seng Kun bertukar pandang dengan adiknya.

"Hemm, orang she Chu keturunan jenderal itu agaknya kini memberontak secara terbuka,"

Bisiknya.

"Ihh, koko, jangan memburukkan shenya. Ingat, kitapun sekarang she Chu juga!"

Cela Bwee Hong. Kakaknya menghela napas panjang.

"Sayang bahwa kenyataannya demikian. Mudah-mudahan antara kita dan dia, si pemberontak itu, tidak ada hubungan darah kekeluargaan."

"Sayang bahwa Kaisar banyak melakukan tindakan-tindakan yang mengecewakan hati rakyat. Kalau rakyat merasa tidak senang kepada Kaisar, hal ini akan membuat mereka mudah terpancing oleh kaum pemberontak dan keadaan sungguh amat berbahaya,"

Kata pula Bwee Hong. Pek Lian yang mengikuti percakapan mereka, mengangguk.

"Memang benar-Dan agaknya para pemberontak maklum akan hal ini dan memanfaatkannya."

Tiba-tiba Seng Kun memandang kepada Siok Eng dan bertanya lirih.

"Maaf, nona. Apakah Tai-bong-pai juga melibatkan diri dalami kekeruhan negara ini?"

Dengan keras Siok Eng menggeleng kepala.

"Setahuku tidak, inkong. Tai-bong-pai adalah perkumpulan bebas yang tidak mau melibatkan diri dengan urusan diluar Tai-bong-pai."

"Tapi kakakmu"

Setelah meragu sejenak, Seng Kun melanjutkan, berpikir bahwa terhadap dara ini yang sudah dikenal wataknya, lebih baik dia berterus-terang karena dara ini tentu berpihak kepadanya atau kepada yang benar.

"Dengar, nona. Perahu besar pasukan asing yang menyerang perahumu itu, ternyata berlabuh disini dan agaknya para pemimpinnya mengadakan pertemuan rahasia dengan kakakmu. Aku merasa curiga sekali bahwa ada persekutuan rahasia antara kakakmu dengan orang-orang Mongol itu."

Siok Eng mjengerutkan alisnya.

"Ah, kakakku Kwa Sun Tek itu memang sejak dahulu berwatak keras dan aneh, suka memakai jalan kekerasan dan mencari menang sendiri. Entah apa lagi yang hendak dilakukannya sekarang. Biar, aku akan memberitahukan ayah agar diselidikinya dan kalau perlu dicegah perbuatannya yang akan menyeret Tai-bong-pai kepada kehancuran."

Setelah makan sambil bercakap-cakap lirih, mereka lalu mencari penginapan.

Tiga orang dara itu tidur sekamar, dan dua orang pemuda itu tidur dilain kamar.

Seng Kun mengatakan bahwa dia perlu untuk beristirahat dan menghimpun hawa murni untuk memulihkan seluruh tenaganya yang sudah pulih sebagian besar akan tetapi belum sepenuhnya itu.

Tiga orang dara itu masih belum tidur dan mereka masih bercakap-caikap.

Tiba-tiba Siok Eng memberi isyarat agar mereka diam.

Dara puteri ketua Tai-bong-pai ini memang paling tinggi ilmunya dibandingkan dengan kawan-kawannya.

Diperhatikannya suara diluar pintu dan ia mendengar langkah-langkah orang, langkah-langkah dari orang-orang yang berkepandaian!

Kini Pek Lian dan Bwee Hong juga mendengarnya.

Ada beberapa orang lewat didepan kamar mereka.

"Kita harus berhasil menyelamatkannya!"

Kalimat ini terdengar oleh tiga orang gadis itu dan tentu saja mereka menjadi tertarik, terutama sekali Pek Lian dan Bwee Hong yang keduanya sedang melakukan tugas rahasia, yaitu mencari ayah Pek Lian.

Karena besarnya hasrat hatinya menyelamatkan ayahnya, maka mendengar kalimat itu, Pek Lian menjadi curiga dan tanpa kata-kata ia memberi isyarat kepada kawan-kawannya, kemudian iapun keluar dari dalam kamar melalui jendela.

Dua orang temannya mengikuti dan bagaikan tiga ekor burung saja, mereka berloncatan naik keatas wuwungan rumah dan melakukan pengintaian.

Mereka melihat empat orang laki-laki yang dari langkah kakinya dapat diketahui berilmu silat tinggi.

Empat orang ini keluar dari rumah penginapan, dan setelah berjalan keluar kota, merekapun melanjutkan perjalanan dengan ilmju berlari cepat.

Tentu saja tiga orang gadis itu tertarik dan membayangi mereka.

Tak lama kemudian, ditempat yang sunyi empat orang itu berhenti dan disitu telah berkumpul belasan orang pula.

Ketika seorang diantara mereka bicara, Pek Lian menjadi girang dan juga terkejut bukan main.

"Para penyelidik kita mendengar berita bahwa Menteri Ho akan menjalani hukuman mati, dilakukan oleh perajurit-perajurit pemerintah, diluar kota Yen-tai, pada besok malam. Kita harus cepat bergerak. Yang penting, kita harus cepat memberi tahu kepada Sin-kauw Song-taihiap. Dia berada disini."

Mendengar ucapan ini, tentu saja Pek Lian girang sekali. Ia berbisik kepada dua orang kawannya.

"Mereka ini tentu teman Sin-kauw Song Tek Kwan, seorang diantara Huang-ho suhiap, yaitu seorang diantara guru-guruku. Mereka akan berusaha membebaskan ayah. Aku akan mengikuti mereka, aku ingin bertemu dengan guruku."

"Tapi, bagaimana dengan A-hai dan kakakku yang sedang mengobati dirinya dirumah penginapan itu?"

Tanya Bwee Hong.

"Kalian pulanglah, biar aku sendiri yang pergi,"

Jawab Pek Lian.

"Aih, mana bisa begitu?"

Bantah Bwee Hong.

"Aku harus menggantikan tugas kakakku."

"Biarlah aku yang kembali kepenginapan dan besok akan kuceritakan kepada inkong tentang kepergian kalian ini,"

Kata Siok Eng.

Dua orang kawannya setuju dan puteri ketua Tai-bong-pai itupun segera meninggalkan tempat itu, kembali kerumah penginapan.

Sementara itu, Pek Lian dan Bwee Hong segera mengikuti dan membayangi rombongan orang gagah yang berangkat meninggalkan tempat pertemuan diluar kota itu.

Mereka memasuki hutan, mendaki bukit dan turun disebuah lembah yang sunyi.

Dan mereka itu tiba ditepi sebuah hutan kecil dimana terdapat sebuah pondok bambu sederhana.

"Song-taihiap! Kami datang dari Lembah Yang-ce!"

Seorang diantara mereka berkata kearah pintu pondok yang tertutup.

Kiranya itu merupakan kata-kata sandi untuk saling mengenal diantara para pendekar patriot.

Daun pintu terbuka dan seorang laki-laki yang usianya menjelang lima puluh tahun, mukanya kecil hidungnya pesek dan muka itu kelihatan seperti muka monyet, keluar sambil membawa lampu gantung.

Melihat kakek ini, Pek Lian merasa terharu sekali dan iapun meloncat keluar dari tempat sembunyinya sambil berseru memanggil.

"Song-suhu!"

Semua orang terkejut dan Sin-kauw Song Tek Kwan, orang keempat dari Huang-ho suhiap, juga terkejut dan mengangkat obornya tinggi-tinggi sambil membalikkan tubuh memandang Pek Lian.

Seketika wajahnya berseri gembira ketika dia mengenal wajah muridnya yang tercinta itu.

"Nona Ho Pek Lian!"

Teriaknya sambil melangkah maju menghampiri.

"Suhu!"

Hubungan antara Pek Lian dan keempat orang suhunya memang akrab sekali, seperti kepada paman sendiri saja.

Maka kinipun, dalam keadaan terharu, Pek Lian tidak melakukan banyak peraturan, melainkan lari menghampiri dan memegang tangan gurunya itu, matanya basah dan air mata menitik turun keatas pipinya.

"Song suhu ah, Tan-suhu dan Liem-suhu"

Ia tidak dapat melanjutkan, lehernya seperti tercekik rasanya teringat akan kematian dua orang gurunya ketika mereka dikeroyok oleh pasukan pemerintah.

Sin-kauw (Monyet Sakti) Song Tek Kwan mengangguk-angguk.

"Aku sudah tahu, aku sudah mendengar akan hal itu. Mereka berdua tewas sebagai pendekar sejati, dan darah mereka hanya menambah mengalirnya darah pendekar dibumi kita, semoga menjadi pupuk bagi tanah air. Sudahlah, seorang wanita perkasa seperti engkau ini tidak patut kalau meruntuhkan air mata, nona Ho. siapakah kawanmu itu?"

Tanya Sin-kauw Song Tek Kwan sambil menunjuk kepada Bwee Hong yang juga muncul mengikuti Pek Lian.

"Ia adalah enci Chu Bwee Hong "

"She Chu?"

Sin-kauw Song Tek Kwan memotong, memandang kaget.

"Jangan khawatir, suhu. Biarpun enci Hong ini she Chu, akan tetapi tidak ada hubungannya sedikitpun juga antara ia dan Chu Siang Yu. Dan ia ini adalah pewaris dari Bu-Eng Sin-yok-ong."

"Ahhh!"

Si Monyet Sakti berseru takjub dan cepat menjura sebagai penghormatan terhadap gadis yang diperkenalkan sebagai keturunan Raja Tabib Sakti Tanpa Bayangan itu.

Bwee Hong cepat membalas penghormatan itu dan Sin-kauw lalu memperkenalkan dua orang gadis itu kepada teman-temannya.

Semua pendekar memandang Pek Lian dengan hormat karena semua pernah mendengar nama murid Liu-twako yang telah diangkat menjadi pemimpin para pendekar, bahkan yang ayahnya amat terkenal karena ayahnya adalah Menteri Ho yang sedang dijadikan bahan percakapan itu.

Mereka lalu memasuki pondok untuk bercakap-cakap didalam pondok.

Berada diantara para pendekar ini Pek Lian merasa betah seperti dirumah sendiri, juga Bwee Hong merasa suka akan sikap para pendekar yang gagah itu.

"Kebetulan sekali engkau datang, nona Ho. kami memang sedang merencanakan untuk menyelamatkan Menteri Ho, ayahmu. Kami mendengar berita bahwa Menteri Ho akan dihukum mati oleh pasukan pemerintah diluar kota Yen-tai. Maka kami berkumpul disini dan mempersiapkan kawan-kawan untuk menyergap dan menyelamatkan ayahmu besok malam, sebelum pelaksanaan hukuman itu terjadi."

Mereka lalu mengatur siasat dan membagi tugas.

Para pendekar itu mendapatkan tugas untuk menghubungi dan mengajak para pendekar yang berada diluar kota, dan pada besok sore sudah harus berkumpul disemua pintu gerbang kota Yen-tai.

Setelah mengadakan perundingan sampai jauh malam, mereka semua beristirahat dan dua orang gadis itupun beristirahat didalam pondok bambu, mendapatkan kamar untuk dipakai mereka berdua sedangkan para pendekar pria beristirahat diruangan luar.

Pada keesokan harinya, mereka berpencar, ada yang pergi mencari para pendekar, dan ada pula yang langsung menuju kekota Yen-tai yang letaknya kurang lebih dua puluh li dari situ.

Pek Lian dan Bwee Hong bersama Sin-kauw Song Tek Kwan menuju kepintu gerbang kota Yen-tai sebelah barat, dimana mereka menanti kawan-kawan dan menanti datangnya malam sambil mengintai kearah pintu gerbang untuk melihat setiap orang yang keluar masuk.

Mereka mengenal banyak pendekar yang berdatangan, akan tetapi mereka itu hanya saling pandang dan pura-pura tidak saling mengenal, namun kesemuanya bersiap-siap tak jauh dari pintu gerbang.

Demikian pula dengan para pendekar yang telah mengadakan persiapan dipintu-pintu gerbang lain dan diantara pintu-pintu gerbang ini terdapat kontak melalui kurir-kurir yang pergi datang tiada hentinya.

Malam tiba dan apa yang mereka tunggu-tunggupun terjadilah.

Sebuah kereta yang jendela dan pintunya tertutup rapat keluar dari pintu gerbang barat, diiringkan oleh pasukan pengawal yang kuat.

Melihat ini, Sin-kauw, Pek Lian dan Bwee Hong bergegas membayangi dan para pendekar yang berjaga dipintu-pintu gerbang lainnya segera diberi kabar dan merekapun cepat melakukan pengejaran dan ikut membayangi.

Jumlah para pendekar ini lebih dari seratus orang!

Sesuai dengan rencana para pendekar, ketika kereta tiba disebuah dataran luas, para pendekar menghadang dan mengepungnya.

Lebih dari seratus orang pendekar mengepung dan menyerbu.

Pasukan pengawal yang jumlahnya hanya dua puluh lima orang itu melawan.

Akan tetapi tentu saja mereka kewalahan walaupun mereka merupakan pasukan pengawal pilihan karena para penyerbu itu selain berjumlah lebih besar, juga rata-rata memiliki ilmu silat yang kuat.

Para perajurit pengawal itu mundur sambil melawan sedapat mungkin, akan tetapi banyak diantara mereka yang roboh.

Kereta itupun ikut dibawa mundur sampai kelembah yang tak berapa jauh dari dataran itu.

Ketika para pengawal itu sudah terdesak hebat dan sebagian besar diantara mereka sudah roboh, tiba-tiba saja pintu kereta terbuka dan dari dalam kereta itu muncul seorang laki-laki kurus yang memiliki gerakan gesit sekali.

Dan begitu dia meloncat keluar dan menerjang para pengeroyok, empat orang anggauta pasukan pendekar terlempar kesana-sini, dan pada saat itu tercium bau dupa harum yang keras.

Pek Lian dan Bwee Hong terkejut sekali ketika mengenal pemuda kurus yang bukan lain adalah Kwa Sun Tek, kakak dari Siok Eng, putera ketua Tai-bong-pai yang amat lihai itu.

Melihat kelihaian pihak lawan ini, Sin-kauw Song Tek segera menubruk dengan sebuah loncatan cepat.

Kedua tangannya terulur hendak mencengkeram muka dan dada lawan.

"Haiiiiittt!"

Bentaknya dengan serangan kilat sambil melompat itu.

"Huhh!"

Pemuda kurus yang kini mengenakan jubah biru itu mendengus dan kedua lengannya menangkis dari atas kebawah.

"Desss!"

Tubuh Sin-kauw Song Tek terpelanting clan dia tentu akan roboh terbanting kalau saja dia tidak memiliki kegesitan dan cepat dia menggulingkan tubuh keatas tanah.

Melihat betapa kakek itu sama sekali tidak dapat menandingi Kwa Sun Tek jagoan muda Tai-bong-pai yang lihai itu, Pek Lian dan Bwee Hong segera menerjang maju dan menyerangnya.

Dua orang dara perkasa ini masih dibantu oleh beberapa orang pendekar.

Tentu saja Kwa Sun Tek merasa kewalahan dan maklum bahwa dia dikeroyok oleh orang-orang lihai, terutama dara cantik jelita Chu Bwce Hong yang memiliki ginkang istimewa itu.

Maka sambil berteriak panjang Kwa Sun Tek meloncat kebelakang, lalu naik kembali kedalam kereta yang dilarikan cepat turun kelembah.

"Kejar! Rampas kereta itu!"

Teriak Sin-kauw Song Tek Kwan menganjurkan kawan-kawannya dan mereka semua melakukan pengejaran sampai kelembah.

Kereta itu berhenti ditengah lembah dan begitu semua pendekar masuk lembah itu, tiba-tiba terdengar terompet disusul sorak-sorai gemuruh.

Muncullah ratusan orang perajurit yang tadinya bersembunyi dibalik semak-semak belukar dan tempat itu telah terkepung ketat!

"Celaka!

Kita terjebak.

Mundur lari!"

Sin-kauw Song Tek Kwan berteriak lantang.

Namun terlambat.

Tidak ada jalan keluar lagi, Pasukan yang besar jumlahnya itu sudah mengepung dan menyerbu dari segala jurusan.

Para pendekar itu tentu saja melawan mati-matian dan terjadilah perang kecil di lembah itu, perang yang dahsyat dan mengerikan, kejam dan tidak mengenal ampun.

Akan tetapi, biarpun para pendekar melawan mati-matian dan nekat, pertempuran itu lebih menyerupai pembantaian karena jumlah para pendekar itu kalah jauh.

Sin-kauw Song Tek Kwan sendiripun akhirnya roboh dan para pendekar itu satu demi satu roboh terluka atau tewas.

Melihat ini, bukan main marahnya hati Pek Lian dan dara ini mengamuk bagaikan seekor naga dan agaknya ia akan melawan terus sampai mati kalau saja tangannya tidak disambar oleh Bwee Hong dan diajak pergi dari situ.

"Mari kita pergi, adik Lian!"

Teriak Bwee Hong sambil menarik dara itu dan membawanya loncat menjauh. Pek Lian hendak membantah akan tetapi Bwee Hong menyeretnya dan berkata.

"Tidak perlu bunuh diri, lain waktu kita masih dapat membuat perhitungan!"

Akhirnya, dengan amukan mereka, dua orang dara itu berhasil lolos dari kepungan dan melarikan diri.

Akan tetapi, diantara seratus lebih orang pendekar yang menjadi anak-buah Liu-Bengcu itu, tidak ada yang dapat lolos.

Semua dibantai, sebagian besar tewas dan sebagian pula dengan sengaja hanya dibuntungi lengan mereka dan dibiarkan hidup untuk menyaksikan hukuman mati yang dilaksanakan ditempat itu juga terhadap seorang kakek berusia lima puluh tahun lebih yang bersikap tenang dan agung.

Kakek ini mengenakan pakaian pembesar yang sudah rompang-ramping, tubuhnya kurus, jenggot dan rambutnya panjang riap-riapan, akan tetapi pandang matanya masih tajam dan lembut.

Para pendekar yang roboh terluka dan belum tewas, dengan terkejut mengenal Menteri Ho yang dibawa ketempat itu oleh rombongan perajurit.

Kemudian, para pendekar yang terluka itu hanya dapat mengucurkan air mata ketika mereka melihat betapa Menteri tua yang mereka kagumi dan hormati itu dihukum mati dengan tusukan pedang pada lambungnya!

Tubuh tua kurus itu terkulai dan tewas mandi darahnya sendiri, menggeletak begitu saja diatas tanah yang sudah ternoda darah pertempuran tadi.

Menteri yang setia dan jujur ini tewas dalam keadaan menyedihkan, tanpa upacara, bahkan pelaksanaan hukuman itupun nampaknya liar, disaksikan oleh para pendekar yang sudah luka-luka!

Ketika kakek bangsawan ini tewas, para perajurit bersorak dan jenazah bekas Menteri itu lalu dikubur ditempat itu juga secara sederhana, hanya dilemparkan kedalam lubang dan ditimbuni tanah dan batu.

Setelah itu, pasukan pemerintah meninggalkan tempat itu, membiarkan bekas lawan yang terluka begitu saja tanpa membunuh mereka dan ini memang merupakan perintah yang harus mereka laksanakan sebagai siasat atasan mereka.

Para pendekar yang dibiarkan hidup dalam keadaan terluka dan buntung kaki atau tangannya itu, menjadi saksi dari pada pelaksanaan hukuman mati terhadap diri Menteri Ho dan tentu saja para pendekar yang dibiarkan hidup ini akan menjadi corong dan terompet mereka untuk mengabarkan kepada rakyat jelata bahwa pasukan pemerintah membantai para pendekar dan menghukum mati Menteri Ho.

Siasat inilah yang dijalankan oleh Kwa Sun Tek dan sekutunya sebagai rencana yang diatur oleh pemberontak Chu Siang Yu dalam usahanya mengadu domba antara pemerintah dan para pendekar dibawah bimbingan Liu-Bengcu.

Kwa Sun Tek memasuki kota Yen-tai bersama sekutunya dengan gembira sekali.

Mengingat akan jasa-jasanya, maka Kwa Sun Tek lalu dijamu oleh para perwira yang menjadi utusan gubernur wilayah timur yang bersekutu dengan pemberontak Chu Siang Yu, Dan hadir pula disitu sekutu mereka yang lain, yaitu raksasa peranakan Mongol yang bernama Malisang itu.

Apa yang telah terjadi siang tadi, pembantaian para pendekar dan dilaksana-kannya hukuman mati terhadap Menteri Ho didepan para pendekar yang terluka tapi belum tewas, adalah pelaksanaan dari pada siasat yang dibisikkan oleh Kwa Sun Tek pada rekan-rekan sekutunya ketika diadakan pertemuaan diantara mereka itu.

Ternyata siasat itu berjalan dengan baik sekali.

Sekali pukul mereka memperoleh dua keuntungan besar.

Pertama dapat menghancurkan sebagian dari pada kekuatan para pasukan pendekar yang dipimpin oleh Liu Pang, dan kedua menanam persangkaan rakyat dan terutama para pendekar bahwa Menteri Ho dihukum mati oleh Kaisar yang berarti Kaisar mengingkari janji.

Hal ini pasti akan menimbulkan dendam dan tentu para pendekar akan menentang Kaisar sehingga keduanya akan terpecah.

Hal ini amat menguntungkan bagi usaha pemberontakan Chu Siang Yu.

Dan memang kenyataannyapun demikianlah.

Para pendekar yang terluka dan buntung kaki atau tangannya itu, dengan susah payah dapat melarikan diri dari lembah dalam keadaan luka parah, dan tentu saja mereka tidak tinggal diam dan menceritakan semua peris-tiwa itu kepada siapa saja.

Dengan demikian, sebentar saja menjadilah berita dikalangan rakyat bahwa Menteri Ho telah dihukum mati oleh Kaisar, dan bahwa pasukan pendekar dibawah pimpinan Liu-Bengcu telah dibantai habis-habisan oleh para perajurit pasukan pemerintah.

Pek Lian dan Bwee Hong yang berhasil meloloskan diri itu juga mendengar akan pelaksanaan hukuman mati dari Menteri Ho dan dibasminya semua pendekar.

Mereka belum jauh meninggalkan tempat itu dan mereka bertemu dengan seorang pendekar yang buntung lengannya dan dari pendekar inilah mereka mendengar berita itu.

Tentu saja Pek Lian menjadi berduka dan terkejut sekali.

Ia menangis sepanjang perjalanan ketika ia dibujuk untuk kembali ke Yen-kin, dimana menunggu Seng Kun, A-hai dan Siok Eng.

Ketika Siok Eng dan Seng Kun mendengar berita buruk itu, mereka ikut merasa berduka dan penasaran sekali.

A-hai yang ikut mendengarkan hanya mengerutkan alisnya, bukan karena berita itu, melainkan karena terharu dan kasihan melihat Pek Lian menangis demikian sedihnya.

"Sudahlah, enci Lian,"

Kata Siok Eng dengan tenang. Dara ini hidup diantara kaum sesat dan sudah banyak mengalami hal-hal mengerikan, maka jaranglah ada hal yang dapat membuat darahnya yang dingin menjadi terharu.

"Kematian bukan apa-apa bagi seorang gagah."

Pek Lian menyusut air matanya dan memandang kepada gadis Tai-bong-pai itu.

"Aku tidak menangisi kematian ayah, melainkan menangis karena menyesal mengapa aku sebagai anaknya tidak mampu menyelamatkan ayah didepan hidungku sendiri."

Tiba-tiba Siok Eng kelihatan marah dan mengepal tinjunya.

"Hemm, kakakku yang keparat itu! Siapa kira dia melanggar pantangan Tai-bong-pai dan membiarkan dirinya menjadi kaki tangan pemerintah! Aku akan melaporkan hal ini kepada ayah dan dia pasti akan menerima hukumannya!"

Bwee Hong mengerutkan alisnya.

"Aku merasa heran sekali mengapa Sribaginda Kaisar melanggar janji sendiri dan menjatuhkan hukuman mati juga kepada Menteri Ho."

Seng Kun sejak tadi termenung saja tidak mengeluarkan kata-kata, akan tetapi diam-diam diapun merasa heran seperti adiknya.

Akan tetapi dia tetap tidak dapat percaya bahwa pelaksanaan hukuman terhadap Menteri Ho itu adalah atas perintah Kaisar.

Bukankah Kaisar telah mengutus dia untuk mencari dan menyelamatkan Menteri Ho yang diculik orang?

Tidak mungkin kalau Kaisar memberi perintah lain untuk menghukum mati Menteri itu.

Tentu ada hal-hal yang tidak beres dalam urusan ini.

Apa lagi melihat munculnya Kwa Sun Tek, pemuda Tai-bong-pai itu yang kemarinnya telah mengadakan pertemuan didekat pantai dengan pasukan kapal asing.

Diam-diam dia merasa curiga sekali dan ingin menyelidiki apa yang sesungguhnya terjadi dibalik peristiwa hukuman aneh itu.

"Aku harus melihat kuburan ayah dan bersembahyang disana. Harus!!"

Tangis Pek Lian.

"Akan tetapi, hal itu tentu sangat berbahaya, enci!"

Cela Siok Eng.

"Siapa tahu pasukan mengadakan penjagaan dan pengintaian dan akan turun tangan terhadap siapa saja yang berani datang bersembahyang."

"Aku tidak perduli! Kalau ada yang menggangguku, aku akan mengamuk dan biarlah aku mati dikuburan ayahku!"

Kembali gadis itu menangis. Teman-temannya segera menghiburnya.

"Baik, malam nanti kita bersama pergi kekuburan. Aku pun ingin sekali tahu apa yang sebetulnya telah terjadi,"

Kata Seng Kun.

"Kesehatanku telah pulih, tenagaku telah kembali, aku akan dapat membantumu sekarang, nona."

Mereka menanti sampai siang terganti senja.

"Kuharap saudara A-hai tinggal saja dilosmen ini, menanti kami pulang,"

Seng Kun berkata kepada pemuda sinting itu. A-hai menggeleng kepala keras-keras.

"Aku tidak suka ditinggal, aku mau ikut! Nona Bwee Hong..., Pek Lian... biarkan aku ikut!"

Memang aneh pemuda sinting ini. Dia lupa segala, akan tetapi nama Pek Lian dan Bwee Hong dia tidak pernah lupa! "Tapi kita melakukan perjalanan yang berbahaya sekali!"

Siok Eng mencegah karena khawatir kalau-kalau terjadi sesuatu dan pemuda sinting ini tidak dapat menjaga diri, kecuali kalau sedang kumat.

Akan tetapi siapa tahu kapan kumatnya?

"Biarpun berbahaya aku tidak takut.

Biarlah kalian berempat tidak usah memikirkan aku, tidak perlu menjagaku.

Apapun yang terjadi kepada diriku, aku tanggung sendiri dan tidak akan menyalahkan kalian."

Tentu saja empat orang pendekar itu tidak dapat membantah lagi.

Bagaimanapun juga, mereka semua maklum bahwa kalau pemuda ini sedang kambuh, tidak ada seorangpun diantara mereka yang akan mampu menandingi kelihaiannya.

A-hai gembira sekali ketika diperbolehkan dan malam itu berangkatlah mereka meninggalkan losmen dengan cepat menuju kelembah bukit dimana terjadi pertempuran pada siang hari tadi.

Baru saja mereka keluar dari pintu gerbang kota, serombongan orang yang berpakaian ringkas dan bersikap gesit mendahului mereka.

Orang-orang itu lalu menoleh dan menghentikan langkah mereka, seorang diantara mereka menyapa lirih.

"Kalian dari gunung mana?"

Tentu saja Seng Kun dan teman-temannya termangu-mangu mendengar pertanyaan ini.

mereka tahu bahwa pertanyaan itu merupakan semacam kata sandi untuk mengenal lawan atau kawan, akan tetapi karena mereka sama sekali tidak tahu arti kata sandi itu, merekapun hanya memandang bengong.

Akan tetapi A-hai segera menjawab dengan nada suara lucu, tanda bahwa pemuda ini sedang bergembira dan dalam keadaan sehat.

"Maaf, kami bukan dari gunung!"

Serombongan orang itu memandang dengan penuh kecurigaan, akan tetapi karena cuaca hanya remang-remang, mereka tidak dapat melihat banyak.

Seng Kun dan teman-temannya juga tidak banyak cakap dan melanjutkan perjalanan dengan cepat.

Ditengah perjalanan A-hai mengomel.

"Heran sekali, kenapa tiba-tiba bertanya apakah kita datang dari gunung? Eh, nona-nona, apakah orang macam aku ini kelihatan kampungan dan seperti orang gunung?"

A-hai menunjuk hidungnya sendiri. Melihat sikap ini, tiga orang dara itu tertawa dan sejenak Pek Lian dapat melupakan kesedihannya.

"Engkau sepantasnya datang dari alam rahasia, A-hai!"

Kata Siok Eng menggoda.

Ketika mereka tiba dikaki bukit, ditepi hutan kecil nampak beberapa orang laki-laki berdiri ditepi jalan.

Ketika mereka lewat, orang-orang itu menyapa mereka dengan pertanyaan yang sama.

"Kalian dari gunung mana?"

Kembali rombongan Seng Kun tak dapat menjawab dan melihat betapa rombongan yang mereka sapa itu tidak dapat menjawab, merekapun cepat pergi. A-hai menggaruk-garuk kepalanya.

"Duhai betapa banyaknya orang gila didunia ini!"

Kembali kawan-kawannya tersenyum melihat sikap A-hai ini. Dia sendiri kalau sedang kumat kaya orang gila tanpa disadarinya sendiri, kini mengatakan orang lain gila.

"Agaknya ada sesuatu yang tidak wajar. Kita harus berhati-hati,"

Kata Seng Kun kepada tiga orang dara itu yang sudah mengerti dan merekapun menduga bahwa tentu telah terjadi sesuatu yang gawat.

Dapat dibayangkan betapa kaget rasa hati mereka ketika mereka tiba diluar lembah, tiba-tiba saja mereka telah dikepung oleh puluhan orang yang bersenjata lengkap dan diantara mereka terdapat orang-orang yang tadi menegur dan menyapa mereka.

Tentu saja Seng Kun dan tiga orang dara itu menjadi marah dan tanpa banyak cakap lagi mereka berempat lalu menerjang kedepan dan mengamuk.

Biarpun para pengeroyok itu berjumlah puluhan orang, akan tetapi ternyata mereka itu merasa kewalahan menandingi amukan empat orang pendekar muda yang lihai itu.

Hanya A-hai yang tidak ikut berkelahi.

Pemuda ini hanya berdiri bingung dan berulang-ulang menegur dan mencela, menyuruh mereka jangan berkelahi.

Tentu saja pemuda ini akan celaka dan terluka kalau saja Bwee Hong dan Pek Lian tidak selalu melindunginya.

Dua orang dara ini mengamuk tidak jauh dari tempat A-hai berdiri dan setiap kali ada pengeroyok berani mendekati dan menyerang A-hai, tentu mereka robohkan dengan tamparan atau tendangan.

"Tahan, jangan berkelahi!"

Tiba-tiba terdengar seruan orang yang penuh wibawa dan semua pengeroyok menahan senjata dan mundur.

Seorang laki-laki yang gagah perkasa, sikapnya tenang namun berwibawa, berpakaian sederhana seperti petani, mukanya agak kurus dan tubuhnya jangkung, muncul menghadapi lima orang muda itu.

Ketika melihat laki-laki gagah perkasa yang usianya antara tiga puluh lima sampai empat puluh tahun ini, Pek Lian berteriak girang.

"Suhu!!"

"Nona Ho, tak kusangka akan dapat bertemu denganmu disini!"

Kata laki-laki gagah itu yang bukan lain adalah Liu Pang atau lebih terkenal dengan sebutan Liu-twako atau Liu-Bengcu.

"Mari kita menjauhi tempat ini dan bicara ditempat aman."

Tanpa membantah Pek Lian lalu mengajak kawan-kawannya pergi bersama mereka, menghilang didalam kegelapan sebuah hutan tak jauh dari lembah.

Kiranya ditengah hutan ini telah didirikan sebuah pondok darurat dan Liu Pang mengajak lima orang muda itu masuk kedalam pondok dimana dinyalakan sebuah lampu gantung.

Pek Lian memperkenalkan gurunya kepada teman-temannya.

"Inilah guruku."

Seng Kun, Bwee Hong, dan Siok Eng, juga A-hai memberi hormat kepada laki-laki gagah perkasa itu dan A-hai berkata lantang.

"Pantas saja nona Pek Lian gagah perkasa, kiranya gurunya juga seorang yang amat gagah!"

Mendengar ini, Liu Pang hanya tersenyum. Pemuda itu kelihatan begitu gagah, akan tetapi kejujurannya itu berbau ketololan! "Sudah lama kami mendengar nama besar Liu-Bengcu!"

Kata Seng Kun.

"Nona Ho, siapakah teman-temanmu ini? semuda ini sudah memiliki kepandaian demikian hebatnya sehingga para pendekar kewalahan dibuatnya."

Pendekar yang kini menjadi pimpinan rakyat itu memang selalu menyebut nona Ho kepada muridnya, hal ini tentu saja karena Pek Lian adalah puteri seorang Menteri yang berkedudukan tinggi.

"Suhu, twako dan enci ini adalah Chu Seng Kun dan Chu Bwee Hong, keduanya adalah keturunan dan ahli waris dari Bu-Eng Sin-yok-ong! Dan adik ini adalah Kwa Siok Eng, puteri ketua Tai-bong-pai! Sedangkan twako ini adalah... eh, namanya dikenal sebagai A-hai saja. Dia sendiri lupa akan asal-usulnya, akan tetapi kalau dia sedang kesetanan, tidak ada seorangpun didunia ini yang akan dapat melawannya!"

"Wah, wah, jangan begitu Pek Lian. Apakah aku kadang-kadang kemasukan setan?"

A-hai memprotes, menimbulkan senyum mereka.

"Siancai, tak kusangka akan dapat bertemu dengan orang-orang muda yang ternyata adalah keturunan tokoh-tokoh besar yang amat hebat! Sungguh merupakan kegembiraan besar sekali. sayang kami sedang dalam keadaan prihatin sehingga tidak dapat menyambut sepatutnya kepada cuwi (anda sekalian). Nona Ho, bagaimana engkau dapat muncul disini bersama sahabat-sahabatmu ini?"

Ditanya demikian, tak tertahankan lagi Pek Lian menangis.

"Suhu, ayah"

Ia tidak dapat melanjutkan kata-katanya. (Lanjut ke

Jilid 19) Darah Pendekar (Seri ke 01 -Serial Darah Pendekar) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo Bahan Cerita . Sriwidjono

Jilid 19 Liu-Bengcu menarik napas panjang.

"Aku sudah tahu akan hal itu, juga kehancuran teman-teman yang seratus lebih banyaknya, bahkan ada puluhan lain teman kita yang kini masih tertawan di Yen-tai. Karena itulah maka aku datang kesini bersama kawan-kawan dan kami telah mengatur siasat. Ketika tadi rombonganmu lewat, kawan-kawan mengira bahwa kalian dari pihak musuh atau pihak lain yang akan mengacaukan rencana kami, maka mereka menyergap kalian."

"Aku ingin menyembahyangi kuburan ayah, suhu"

Kembali pendekar besar itu menarik napas panjang.

"Aku mengerti bagaimana perihnya hatimu, nona. Akan tetapi ayahmu tewas sebagai seorang pahlawan sejati. Kami bahkan mempunyai rencana yang lebih besar dari pada sekedar menyembahyanginya. Kami bermaksud mengambil jenazah ayahmu agar dapat kita makamkan sebagaimana layaknya."

"Ah, terimakasih, suhu!"

Pek Lian berkata pe nuh semangat dan kegembiraan.

"Bagaimana rencana itu? Aku akan membantu, kalau perlu berkorban nyawa menghadapi para pembunuh ayah itu!"

"Jangan terburu nafsu, muridku. Didalam urusan ini terdapat hal-hal yang penuh rahasia. Pada mulanya aku sendiripun penasaran sekali mengapa Sribaginda Kaisar yang sudah mengampuni para Menteri bahkan berjanji akan mendudukkan mereka kembali kekursi mereka semula, tiba-tiba saja memerintahkan pasukan kerajaan untuk melaksanakan hukuman mati terhadap ayah-mu secara liar. Akan tetapi sekarang aku mengerti dan kiranya semua ini terjadi karena ada pihak ketiga yang hendak memberontak terhadap Kaisar dan juga hendak menghancurkan kita dan merusak nama baik kita."

Liu Pang lalu menceritakan dengan singkat.

Dia telah menyelidiki dirumah kepala daerah di Yen-tai dan melihat betapa pembesar itu bersama para perwira telah mengadakan perjamuan untuk menghormati orang-orang Mongol dan beberapa orang lain yang telah membantu terlaksananya siasat mereka itu.

Liu Pang tidak menyebut nama Kwa Sun Tek, akan tetapi Siok Eng mendengarkan dengan jantung berdebar dan muka merah.

Dari percakapan dalam pesta itu, Liu Pang yang melakukan pengintaian itu baru mengerti bahwa pembunuhan terhadap Menteri Ho dan penyergapan yang merupakan perangkap terhadap anak-buahnya adalah siasat yang direncanakan dari perseku-tuan pemberontak itu.

"Mereka sudah tahu pula akan gerakan rombonganku yang tiba disekitar kota,"

Sambung pemimpin para pendekar itu.

"Dan mereka telah merencanakan siasat baru untuk menghancurkan rombonganku dengan jalan menyebar berita bahwa kuburan Menteri Ho akan dibongkar pada besok malam. Mereka berpendapat bahwa kita tentu akan mengambilnya lebih dulu sebelum malam datang dan mereka telah mempersiapkan pasukan untuk menjebak dan menyergap kita."

Seng Kun mengangguk-angguk. Tepat seperti yang diduganya. Tentu ada pihak ketiga yang mengacau.

"Maaf, Liu-Bengcu, kalau boleh saya tahu. Siapakah pihak ketiga itu? Siapakah yang menggerakkan persekutuan ini? Apakah pembesar setempat sini yang hendak memberontak?"

Liu Pang menghela napas panjang.

"Memang belum terdapat buktinya, akan tetapi melihat cara mempergunakan siasat yang amat cerdik itu, aku mempunyai dugaan bahwa yang berada dibalik semua ini tentulah otak dari Chu Siang Yu."

"Bengcu yang bergerak dibarat itu?'"

Tanya Seng Kun. Liu Pang mengangguk.

"Aku pernah membantunya dan tahu akan kecerdikannya."

"Suhu, lalu apa yang harus kita lakukan selanjutnya?"

Pek Lian bertanya.

"Pertamatama, malam ini juga kita harus dapat mengambil jenazah ayahmu! Kita bergerak kilat sehingga mereka tidak menduga-duga. mereka tentu mengira bahwa belum ada yang akan bergerak, baru besok setelah berita itu disiarkan. Mereka tidak mengira bahwa aku telah mendengar siasat mereka, maka kita harus mendahuluinya malam ini juga."

"Baik, kami akan membantu, suhu!"

Kata Pek Lian mewakili teman-temannya yang tentu saja merasa setuju.

Malam telah larut ketika mereka menuju kelembah.

Dimulut lembah terdapat pasukan perajurit pemerintah berjaga-jaga ditempat gelap.

Tentu saja Liu Pang dan para pendekar muda itu tahu akan hal ini dan dengan mudah mereka dapat menyelinap masuk tanpa diketahui oleh para perajurit penjaga itu.

Dengan jalan memutar, melewati tebing, Liu Pang dan lima orang muda itu menuruni lembah dan ketika mereka tiba ditempat yang sunyi dan menyeramkan itu, tempat pertempuran, mereka menjadi bingung.

Ditempat itu, ditempat bekas pertempuran, nampak gundukan makam yang banyak!

puluhan banyaknya!

Mereka tidak tahu, makam yang mana yang terisi jenazah Menteri Ho.

Kiranya para korban telah ditanam secara kasar dan semua gundukan tanah itu sama tanpa ada tandanya sama sekali.

"Ah, bagaimana kita dapat menemukan makam ayah kalau begini?"

Keluh Pek Lian.

"Hemm, sungguh gila mereka itu. Tak mungkin kita harus membongkar semua makam ini untuk menemukan jenazah ayahmu,"

Kata Liu-Bengcu.

Tiba-tiba terdengar suara bisikan dan mereka semua, kecuali A-hai, terkejut bukan main karena mereka semua maklum apa artinya bisikan yang seolah-olah dibisikkan didekat telinga mereka itu.

Itu adalah pengiriman suara dari jarak jauh atau apa yang disebut Coan-im Jip-bit dan pengirimnya tentu telah memiliki khikang yang amat kuat sehingga suara dari jauh itu terdengar demikian jelas didekat telinga masing-masing.

"Kalau kalian ingin mencari makam Menteri Ho, disinilah tempatnya."

Liu Pang diikuti oleh lima orang muda itu lalu menghampiri kearah datangnya suara itu, walaupun bagi orang yang kurang tajam pendengarannya suara itu tidak mempunyai arah melainkan terdengar didekat telinga.

Dan didalam keremangan malam mereka melihat bayangan dua orang berdiri didekat sebuah gundukan tanah kuburan, dibawah sebatang pohon yang tidak berdaun dimakan musim rontok.

Karena tubuh mereka terselimut oleh bayangan pohon, maka kedua orang itu hanya kelihatan seperti dua tonggak hitam saja.

Maklum bahwa dia berhadapan dengan orang pandai, Liu Pang bersama lima orang muda itu melangkah maju menghampiri dengan hati-hati sekali.

Setelah dekat barulah dia dapat melihat bahwa dua orang itu adalah seorang kakek yang sangat tua dan seorang muda yang gagah.

Dia sama sekali tidak mengenal dua orang itu, akan tetapi Pek Lian segera berseru heran.

"Ah, kiranya Kwee-kokcu (ketua lembah Kwee) dan Lo-cianpwe"

Pek Lian meragu karena ia belum yakin benar siapa adanya kakek ini walaupun ia sudah mendengar tentang murid-murid Sin-yok-ong.

Seng Kun dan Bwee Hong belum pernah bertemu dengan murid ketiga dari Sin-yok-ong ini, yang masih terhitung adik seperguruan kakek guru mereka, akan tetapi mereka sudah banyak mendengar tentang tokoh ini dari mendiang Bu Kek Siang dan pernah pula mendengar penuturan Pek Lian tentang pertemuan dara itu dengan kakek yang ginkangnya luar biasa itu.

Maka Seng Kun sudah dapat menduga siapa adanya kakek ini, apa lagi ketika mendengar bahwa pemuda gagah itu adalah kokcu dari Lembah Yang-ce seperti yang pernah diceritakan oleh Pek Lian.

"Kam-susiok-couw, teecu Chu Seng Kun dan Chu Bwee Hong menghaturkan hormat,"

Kata Seng Kun sambil menjura dengan sikap hormat. Kakek yang memegang tongkat itu menatap tajam kepada Seng Kun dan Bwee Hong, lalu mengerutkan alisnya.

"Kalian... kalian she Chu? Menyebutku susiok-couw? Ah, kalian inikah yang dahulu diambil anak oleh Bu Kek Siang?"

Dua orang muda itu lalu menjatuhkan diri berlutut.

Akan tetapi kakek itu menggerakkan tongkatnya kedepan dan seperti ada tenaga sakti yang mengangkat mereka, kedua orang muda itu terpaksa bangkit berdiri lagi dan menjura.

"Tidak perlu banyak peraturan dalam keadaan seperti ini,"

Kata kakek itu yang segera menghadapi Liu Pang.

"Aku gembira dapat bertemu dengan Liu-Bengcu yang gagah perkasa."

Liu Pang cepat menjura dengan hormat.

"Maafkan bahwa saya tidak mengenal nama dan julukan Lo-cianpwe, akan tetapi saya berterimakasih atas petunjuk Lo-cianpwe. Inikah makam jenazah Menteri Ho?"

"Benar dan kalau kalian hendak membongkar, cepat-cepatlah. Para penjaga itu telah kami bikin pulas sampai pagi sehingga sementara ini kalian tidak akan ada yang mengganggu."

Maka mulailah mereka menggali lubang kuburan baru itu.

A-hai tanpa diminta juga membantu dan ternyata tenaganya besar ketika dia menggali tanah dan batu itu.

Juga Seng Kun bekerja keras, dibantu pula oleh Kwee Tiong Li, ketua Lembah Yang-ce atau murid dari pemberontak Chu Siang Yu yang kini menjadi murid dari kakek sakti Kain Song Ki itu.

Akhirnya, jenazah itu dapat dikeluarkan dari timbunan tanah dan batu, dan ternyata jenazah itu masih utuh walaupun pakaiannya masih compang-camping.

Darah dari lambungnya telah mengering dan kakek bangsawan itu kelihatan seperti orang tidur saja.

"Ayaaaahhh!!"

Pek Lian tidak dapat menahan kesedihan hatinya dan ia lalu menjatuhkan diri berlutut didekat mayat ayahnya sambil menangis.

Semua orang memandang dengan terharu ketika melihat gadis yang perkasa itu bersimpuh dan mengguguk.

Seorang gadis yang malang.

Keluarganya menjadi korban keadaan dan pergolakan.

Tanpa mengenal lelah, gadis ini telah menempuh segala macam bahaya dan kesukaran untuk mencari dan menyelamatkan ayahnya.

Kini, ia hanya menemukan ayahnya yang sudah menjadi mayat dalam keadaan yang demikian menyedihkan.

Kakek Kam Song Ki yang juga masuk kedalam lubang itu dan berdiri dibelakang Pek Lian dengan tongkat ditangan kiri, melangkah maju dan menyentuh pundak gadis yang sedang menangis sesenggukan itu.

"Cukup, nona. Tidak baik yang sudah mati ditangisi, tidak ada gunanya dan hanya mengeruhkan suasana dan pikiran saja."

Sentuhan dipundak itu mengandung getaran hangat dan sekaligus membersihkan pikiran Pek Lian dan membangkitkan semangatnya. Ia menoleh dan tangisnya terhenti.

"Terimakasih, Lo-cianpwe,"

Katanya sambil bangkit berdiri.

Ketika ia bangkit berdiri itulah ia berhadapan dan bertemu pandang mata dengan Kwee Tiong Li, pemuda yang juga berlutut didekat kepala jenazah itu, memegang tongkat dan mengerutkan alisnya.

Dan pertemuan pandang mata itu mengingatkan Pek Lian siapa adanya pemuda ini.

Murid kesayangan Chu Siang Yu!

Dan menurut perhitungan gurunya, semua kejadian itu diatur oleh Chu Siang Yu si pemberontak.

Berarti, kematian Tayahnya adalah akibat perbuatan Chu Siang Yu dan pemuda ini adalah murid kesayangannya.

Siapa tahu, murid inilah yang menjadi pelaksana rencana gurunya.

"Engkau harus mempertanggung-jawabkan kejahatan gurumu!"

Bentaknya dan tiba-tiba gadis itu menyambar pedang yang tadi diletakkan diatas tanah dan dengan pedang itu diserangnya Kwee Tiong Li yang menjadi terkejut sekali.

"Trang-trang-tranggg!!"

Tiga kali Tiong Li mengangkat tongkat untuk menangkis serangan pedang itu dan dia sengaja tidak mengerahkan tenaga agar pedang ditangan gadis yang sedang kalap itu tidak sampai terlepas.

Sementara itu, yang lain-lain sudah cepat turun tangan melerai.

"Nona Ho, dalam keadaan seperti ini, tidak baik sembarangan saja menuduh orang,"

Kata Liu Pang. Pemimpin inipun melihat bahwa sikap pemuda dan kakek itu tidak seperti musuh, maka diapun berhati-hati dan tidak mau menyangka orang tanpa melihat buktinya lebih dahulu.

"Nona, aku tidak tahu-menahu dan tidak mencampuri urusan ini!"

Kata Tiong Li dengan wajah berduka.

"Nona, semenjak kita saling berpisah, Tiong Li selalu bersamaku. Dia tidak mempunyai hubungan lagi dengan segala macam pemberontakan,"

Kakek Kam Song Ki juga menerangkan. Pek Lian sadar akan kelancangannya, maka dengan muka merah ia memandang kepada Tiong Li sambil berkata.

"Maafkan pikiranku sedang kacau "

Tiong Li tersenyum kasihan.

"Tidak mengapa nona. Aku mengerti."

Liu Pang lalu mengeluarkan segulung kain lebar dan jenazah itu dibungkus, kemudian mereka pergi meninggalkan lembah itu. Setelah tiba diluar lembah, kakek Kam Song Ki berkata.

"Kami berdua harus pergi dari sini. Selamat tinggal!"

Dan sekali berkelebat, kedua orang itupun lenyap dari depan mereka. Melihat ini, Liu Pang menggeleng-geleng kepalanya dengan penuh kagum.

"Di jaman ini masih ada orang dengan ginkang seperti itu, sungguh sukar untuk dipercaya kalau tidak melihatnya sendiri."

"Suhu, kakek itu adalah murid ketiga dari mendiang Sin-yok-ong Lo-cianpwe,"

Kata Pek Lian.

Liu Pang mengangguk-angguk dan menjadi semakin kagum, juga diam-diam dia merasa heran mengapa kini bermunculan keturunan dari para datuk sakti dijaman dahulu.

Apakah ini menjadi pertanda akan terjadinya perobahan besar didunia?

Pemimpin ini sama sekali pada saat itu tidak pernah mengira bahwa dialah orangnya yang akan mendatangkan perobahan besar itu seperti terbukti dalam sejarah bahwa Liu Pang inilah yang kelak akan menjadi Kaisar yang berkuasa penuh!

Jenazah Menteri Ho dipanggul oleh Liu Pang sendiri dan fajar telah menyingsing ketika rombongan itu tiba kembali didalam hutan, dimana para pendekar berkumpul.

Jenazah itu dengan upacara sederhana namun penuh hormat, menerima penghormatan para pendekar itu, kemudian diperabukan.

Setelah upacara penyempurnaan jenazah Menteri Ho selesai, pada pagi hari itu juga Liu Pang mengadakan musyawarah dengan para pimpinan pendekar, dihadiri pula oleh Pek Lian, Bwee Hong, Siok Eng, Seng Kun, dan A-hai.

Sebelum musyawarah dimulai, Liu Pang yang sudah mendengar keterangan muridnya tentang kawan-kawan muridnya itu berkata.

"Saudara sekalian hendaknya maklum bahwa Chu-taihiap ini dan adiknya, adalah dua orang utusan pribadi Sribaginda Kaisar..."

"Ahhh!!"

Beberapa orang pendekar kaget dan memandang dengan mata terbelalak. Liu Pang mengangkat tangan menyuruh mereka tenang.

"Harap kalian tenang. Mereka ini adalah putera dan puteri dari Bu Hong Sengin kepala kuil Istana Thian-to-tang yang berpihak kepada para Menteri yang baik. Dan mereka ini diutus oleh Kaisar untuk menyelamatkan Menteri Ho. Jadi, pekerjaan mereka ini sama sekali tidak bertentangan dengan perjuangan kita."

Mendengar ini, para pendekar itu mengangguk-angguk dan tidak menjadi gelisah lagi.

"Dan nona Kwa Siok Eng ini adalah puteri dari ketua Tai-bong-pai"

Kembali para pendekar menjadi terkejut dan gelisah.

"Pemuda kurus yang bernama Kwa Sun Tek itupun putera ketua Tai-bong-pai dan dia membantu persekutuan pemberontak!"

"Kwa Sun tek adalah kakak kandungku, akan tetapi dia menyeleweng dari peraturan Tai-bong-pai yang tidak membolehkan semua anggautanya melibatkan diri dengan urusan orang lain, apa lagi urusan pemberontakan. Jadi, kalau dia bersalah, harap kalian jangan melibatkan Tai-bong-pai yang tidak tahu apa-apa, itu adalah kesalahan pribadinya."

Keterangan nona itu cukup jelas dan dapat diterima karena orang-orang muda itu adalah sahabat-sahabat dari nona Ho Pek Lian, maka merekapun dapat mempercaya keterangan gadis Tai-bong-pai itu.

"Dan saudara A-hai ini adalah seorang sahabat yang sudah banyak membantuku."

Pek Lian melanjutkan keterangan gurunya karena tidak ada seorangpun diantara mereka yang tahu betul siapa sebenarnya pemuda aneh ini.

Bahkan orangnya sendiripun tidak tahu asal-usulnya sendiri.

Musyawarah lalu dimulai.

"Jelaslah bahwa gubernur wilayah ini telah bersekongkol dengan pasukan asing yang dipimpin oleh orang Mongol. Mereka itu akan menjebak kita di lembah malam ini dan mengharapkan kita akan datang merampas jenazah. Kita telah berhasil mendahului mereka dan makam itu telah kita tutup kembali sedangkan para penjaga itu dalam keadaan pulas akibat ban-tuan kakek sakti sehingga mereka tidak tahu bahwa jenazah telah kita rampas. Adanya pasukan asing itu sungguh amat berbahaya bagi negara kita, maka kewajiban kita adalah untuk menghancurkan pasukan asing itu. Dan kalau bala tentara kerajaan yang berada dibawah kekuasaan para pembesar setempat membantu pasukan asing, berarti mereka itu, adalah pengkhianat-pengkhianat yang harus kita hancurkan pula."

Dengan panjang lebar Liu Pang lalu memberi gambaran keadaan diwaktu itu. Bahwa ada kekuatan lain yang memberontak terhadap Kaisar, yang bersekongkol dengan pasukan asing.

"Kita bukan membela Kaisar pribadi, melainkan membela negara agar tidak dicengkeram oleh para pemberontak yang mementingkan diri pribadi untuk merampas kedudukan, juga harus menghancurkan pasukan asing agar jangan menduduki tanah air kita. Kalau perlu, kita rampas dusun dan kota yang berada dibawah kekuasaan bala tentara pemerintah yang memberontak dan bersekongkol dengan pasukan asing."

Demikian antara lain dia berkata.

Mereka lalu mengatur siasat.

Jumlah anak-buah Liu Pang yang telah berkumpul disekitar tempat itu tidak kurang dari tiga ratus orang.

karena dia tahu bahwa kekuatan pasukan penjaga kota Yen-tai dan pasukan asing akan dikerahkan untuk menjebak mereka di lembah itu sehingga kota Yen-tai akan ditinggalkan kosong atau tidak terjaga kuat, dia mengambil keputusan untuk menyerbu dan menduduki kota Yen-tai!

"Kita pecah kekuatan kita menjadi dua.

Muridku, nona Ho ini memimpin para sahabatnya yang berilmu tinggi dibantu oleh belasan orang yang memiliki kepandaian tinggi, pergi kelembah malam ini, pura-pura hendak mengambil jenazah.

Hal ini akan menarik seluruh perhatian dan pemusatan kekuatan musuh kelembah.

Sementara itu, sisa seluruh kekuatan kita akan kupimpin sendiri menyerbu kota Yen-tai, mendudukinya dan membebaskan ratusan teman-teman kita yang tertawan."

Sehari itu, para pendekar ini mengatur siasat dan membagi-bagi pekerjaan.

Ada pula yang bertugas memancing perhatian musuh dengan menyelidiki keadaan lembah sehingga menimbulkan kesan bahwa malam nanti para pendekar hendak mendahului pasukan pemerintah membongkar makam!

Sementara itu, diam-diam beberapa orang anggauta rombongan yang berkepandaian tinggi melakukan penyelidikan kekota Yen-tai dan melihat gerak-gerik dan gerakan pasukan dikota itu.

Memang tepat dugaan Liu Pang seperti yang telah dipaparkan kepada teman-temannya.

Setelah menyebar berita desas-desus bahwa malam itu pasukan hendak membongkar makam Menteri Ho, dan setelah melihat adanya orang-orang yang melakukan penyelidikan kemakam, maka pasukan pemerintah dibantu oleh pasukan asing dipusatkan kesekeliling lembah.

Lembah itu seperti mereka kepung untuk menanti datangnya rombongan pendekar untuk menjebak dan membinasakan mereka seperti yang telah dilakukan kemarin.

Dan karena pemusatan kekuatan kelembah itu, maka kota Yen-tai hanya dijaga oleh pasukan kecil saja.

Setelah rencana diatur matang berangkatlah Pek Lian bersama Seng Kun, Bwee Hong, Siok Eng dan tidak ketinggalan pula A-hai, disertai pula oleh beberapa orang pendekar sehingga jumlah mereka ada lima belas orang menuju kelembah.

Mereka itu sengaja mengambil jalan menyusup-nyusup seperti orang-orang yang sungguh-sungguh hendak melakukan pekerjaan rahasia, memasuki lembah.

Tentu saja gerakan mereka itu diketahui oleh pasukan yang sudah berjaga-jaga dan para pemimpin pasukan sudah menggosok-gosok tangan dengan gembira dan puas, merasa betapa siasat mereka berhasil baik dan para pendekar telah berdatangan kelembah.

Mereka itu percaya bahwa yang datang tentu banyak pendekar, tentu dengan jalan menyusup-nyusup dari berbagai jurusan.

Para pemimpin pasukan itu menanti sampai tidak nampak lagi adanya musuh yang menyusup memasuki lembah.

Cuaca mulai remang-remang karena senja telah mendatang ketika lembah yang sunyi itu tiba-tiba menjadi gempar oleh suara terompet sebagai tanda bagi pasukan-pasukan itu untuk menyerbu kedalam lembah.

Dan mereka itu dihadapkan pada suatu kenyataan yang membingungkan!

Ternyata yang berada didalam lembah itu hanya ada lima belas orang saja, diantaranya malah tiga orang gadis cantik.

Dan empat belas orang diantara mereka, karena yang seorang biarpun nampak gagah perkasa hanya tinggal diam saja, sudah menyambut pasukan dengan senjata pedang ditangan, lalu empat belas orang pendekar itu menerjang dan mengamuk.

Dan biarpun yang terjadi kemudian adalah sebuah pertempuran yang terlalu berat sebelah, empat belas orang melawan beratus-ratus perajurit pemerintah yang dibantu oleh perajurit-perajurit asing, namun para perajurit itu benar-benar merasa kecelik karena ternyata bahwa empat belas orang ini lihai bukan main dan dalam waktu singkat saja sudah ada puluhan orang perajurit yang roboh!

Melihat ini, para pimpinan pasukan cepat merobah siasat dan tak lama Kemudian, yang maju mengeroyok hanyalah perajurit-perajurit yang pandai ilmu silat dibantu oleh perwira-perwira yang lihai.

Juga mereka ini mempergunakan senjata panjang seperti tombak dan toya agar tidak usah terlalu berdekatan dengan para pendekar yang lihai itu.

Setelah diadakan siasat seperti ini, ditambah pula dengan bantuan para perajurit yang luar biasa banyaknya, mulailah para pendekar itu terdesak dan terhimpit!

Pek Lian melihat keadaan yang tidak menguntungkan.

Memang, mereka telah berhasil merobohkan banyak lawan, akan tetapi pihaknya mulai terdesak dan ada dua orang pendekar yang sudah menderita luka cukup parah sehingga mereka itu mulai lemah.

Tugas pasukan kecil ini memang hanya untuk memancing dan mengalihkan perha-tian, agar musuh memusatkan kekuatan di lembah ini sementara Liu Pang dan pasukannya menyerbu kota.

Akan tetapi untuk menyuruh teman-temannya mundur, Pek Lian khawatir kalau-kalau hal itu akan menggagalkan usaha gurunya.

Ia harus dapat bertahan selama mungkin dan baru setelah melihat tanda rahasia gurunya, yaitu sorak-sorai dan panah api ke udara ia boleh meninggalkan tempat itu.

Akan tetapi, keadaan pasukannya yang kecil mulai terhimpit dan hanya ia sendiri, Siok Eng, Seng Kun dan Bwee Hong sajalah yang masih kelihatan segar.

Namun, berapa lama mereka akan dapat bertahan menghadapi lawan yang begini banyaknya?

Tiba-tiba Pek Lian teringat kepada A-hai.

Pemuda ini masih berdiri dengan mata terbelalak dan muka pucat menyaksikan pertempuran.

Ia tahu bahwa pemuda itu amat membenci perkelahian dan merasa ngeri kalau melihat darah.

Darah!

Itulah yang akan membuat A-hai kumat dan kalau pemuda itu kumat dan ia dapat mempergunakan kedahsyatan kepandaian A-hai, tentu ia dan kawan-kawannya akan dapat tertolong dan perta-hanan itu dapat dilakukan cukup lama sehingga gurunya mendapatkan kesempatan cukup banyak untuk melakukan penyerbuan kekota Yen-tai.

Pada saat itu, sebatang tombak menyambar dan menusuk kearah lambungnya dari kanan.

Pek Lian membiarkan saja tombak itu lewat, hanya miringkan sedikit tubuhnya dan begitu nampak bayangan tombak lewat, cepat ia menangkap batang tombak dengan tangan kirinya, lalu membetot dengan pengerahan sinkang dan berbareng tubuhnya membalik kekanan, pedangnya menyambar dan terdengarlah pekik mengerikan ketika lawan yang memegang tombak itu roboh dan darah muncrat dari dadanya.

Pek Lian melangkah maju dan sengaja membiarkan tangan kirinya terkena percikan darah yang cukup banyak.

Setelah itu, sekali loncat ia telah mendekati A-hai yang memandang dengan mata terbelalak.

"A-hai... bantulah aku!"

Kata Pek Lian sambil menangkap lengan kanan pemuda itu dengan tangan kirinya yang bernoda darah.

"Ah, aku... aku tidak berani, Pek Lian... aku tidak suka berkelahi"

Jawab A-hai menggelengkan kepalanya.

"Lihat, lenganmu berlepotan darah, A-hai!"

Tiba-tiba Pek Lian menepuk lengan itu dengan keras dan begitu A-hai melihat kearah lengannya, seketika wajahnya menjadi pucat, matanya terbelalak, dan tubuhnya gemetaran.

"Darah...! Darah...! Ahhh, ibuuuu... Darah... Darah...!!"

Makin keras tubuh itu gemetar dan kini dengan hati ngeri Pek Lian mendengar suara berkerotokan diseluruh tubuh pemuda itu!

Pada saat itu, dua orang musuh sudah mener-jang Pek Lian dari kanan kiri, menggunakan golok mereka.

Kedua orang ini adalah perwira-perwira musuh yang cukup lihai.

Pek Lian yang sudah melihat betapa terjadi perobahan pada diri A-hai, cepat mengelak sambil menarik lengan A-hai ke arah dua orang penyerang itu dan berkata.

"A-hai, tolonglah aku!"

"Bresss...!"

Tubuh A-hai bertemu dengan terjangan kedua orang itu dan sebatang golok menghantam pundaknya, akan tetapi golok itu mental dengan keras seperti bertemu baja.

"Aku menolongmu, Pek Lian, aku menolongmu!"

A-hai berkata diantara tangisnya dan sekali kedua tangannya merenggut, dia sudah menjambak rambut dua orang perwira itu dan mengadu kepala mereka.

"Prakkk...!"

Pecahlah dua kepala perwira itu dan A-hai melontarkannya kedepan, lalu diapun mengamuk!

Siapa saja yang dekat dengan dia, tentu terkena sambaran angin pukulannya yang cukup membuat orang terlempar, terbanting dan semaput!

Semua senjata yang mengenai dirinya, mental seperti mengenai baja sehingga tentu saja keadaan menjadi geger!

Akan tetapi celakanya, A-hai tidak memandang bulu.

Ketika dia kebetulan dekat dengan Seng Kun, diapun menghantam dan Seng Kun yang sudah tahu akan kehebatan pemuda ini, cepat menggulingkan tubuhnya karena untuk mengelak sudah tidak keburu lagi.

Diapun terguling-guling dan meloncat bangun dengan muka pucat, maklum betapa berbahayanya pukulan A-hai tadi.

Pek Lian cepat mendekati Bwee Hong.

"Enci, mari kita bujuk dia agar membantu kita dan jangan menjauh dari kita!"

Wajah Bwee Hong berobah merah dan mengangguk, lalu menerobos diantara hujan senjata itu mendekati A-hai.

"A-hai, bantulah aku!"

Pek Lian berseru.

"Pek Lian, aku membantumu!"

A-hai berkata seperti orang mimpi dan diapun menubruk kearah seorang Mongol tinggi besar yane mengeroyok Pek Lian.

Orang Mongol itu bertubuh raksasa dan nampak kuat sekali, maka melihat A-hai menubruknya, dia menyeringai lebar dan kedua lengannya yang panjang dan besar itu segera diulur dan menangkap.

Tangan kanan dengan jari-jari panjang besar itu mencengkeram pundak dan tangan kiri mencengkeram bahu, kemudian raksasa Mongol yang menjadi ahli gulat itu mengerahkan tenaga hendak mengangkat tubuh lawannya yang jauh lebih kecil darinya itu untuk kemudian dibanting.

Akan tetapi, tubuh kecil itu tidak bergoyang sedikitpun juga, jangankan terangkat!

Si Mongol mendengus-dengus mengerahkan kekuatannya, dari mulutnya terdengar suara ah-ah-uh-uh dan mukanya menjadi merah, otot-ototnya menggembung seperti orang sakit perut tak dapat buang air besar dengan lancar.

Tadinya A-hai yang sedang kumat itu agaknya bingung dan heran mengapa orang ini memeluk-meluknya, seperti tidak mengajak berkelahi, Kemudian agaknya dia merasa bosan dan sekali kedua tangannya menangkap pinggang yang besar itu dan membentak, tubuh raksasa itu terangkat keatas, kemudian dibanting.

"Brukkk...!!"

Tubuh besar itu terbanting keras dan berkelojotan, mengeluarkan suara tidak karuan dan orang itupun sekarat karena tulang punggungnya patah ketika terbanting tadi.

"A-hai, bantulah aku...!"

Bwee Hong mencoba untuk berteriak setelah dianjurkan oleh Pek Lian. Dara inipun sedang menandingi pengeroyokan empat orang lawan.

"Bwee Hong, aku membantumu!"

Teriak A-hai dan sekali meloncat, diapun sudah menggerakkan kedua tangan mendorong dan dua orang pengeroyok Bwee Hong terjengkang dan muntah darah, tewas tanpa tersentuh tangan pemuda itu sedikitpun juga!

Ternyata A-hai dalam keadaan kumat itu masih teringat kepada Pek Lian dan Bwee Hong.

Pek Lian berteriak kepada Siok Eng dan Seng Kun untuk mencoba pula.

Akan tetapi ketika dua orang ini minta bantuan A-hai, pemuda sinting itu sama sekali tidak menjawab, bahkan dengan bingung dia menyerang Siok Eng dengan dorongan tangan kirinya.

Angin pukulan dahsyat menyambar kearah gadis itu.

"Ilihhhh...!"

Siok Eng berseru kaget dan karena melihat tidak ada kesempatan menghindar lagi, puteri ketua Tai-bong-pai inipun lalu menggunakan kedua tangannya menolak dan biarpun belum sempurna, tenaga sakti Asap Hio melindunginya dan dari kedua tangannya meluncur uap putih.

Bagaimanapun juga, tetap saja ketika dua tenaga sakti bertemu, tubuh dara ini terguling dan untung ia cepat menggulingkan tubuhnya kekiri dan meloncat bangun dengan muka pucat.

Karena maklum bahwa A-hai hanya mengenal ia dan Bwee Hong, Pek Lian lalu mengeluarkan saputangan kuning dan merobek-robeknya, membagi-bagikan robekan kain kuning itu kepada semua anggauta rombongannya yang masih sibuk menghadapi pengeroyokan banyak musuh dan menyuruh mereka memasang kain kuning itu pada rambut masing-masing.

"A-hai, jangan menyerang teman yang memakai kain kuning dirambutnya!"

Demikian Pek Lian dan Bwee Hong berseru kepada A-hai.

"Baik!!"

Jawab A-hai dan kini pemuda itu mengangguk sambil melihat kearah rambut setiap orang yang digempurnya.

Gegerlah keadaan ditempat itu dan terpaksa para pimpinan dua pasukan itu mengerahkan orang-orangnya yang terpandai karena para pendekar itu, terutama pemuda tinggi tegap yang mengamuk secara menggiriskan itu, merupakan lawan yang amat lihai dan tangguh.

Setelah A-hai mengamuk, rombongan itu tidak begitu terdesak lagi.

Bahkan pasukan itu kocar-kacir dan sebagian besar dari mereka menjadi gentar sekali dan menjauhkan diri.

Sementara itu, dikota Yen-tai juga terjadi hal yang amat hebat.

Liu Pang dengan pasukannya yang terdiri dari para pendekar dan berjumlah sekitar tigaratus orang menyerbu gedung kepala daerah.

Serangan ini terjadi amat tiba-tiba karena para pendekar itu telah menyelundup dengan diam-diam kedalam kota.

Tentu saja kota menjadi geger.

Pasukan pengawal dan penjaga melakukan perlawanan, dipimpin sendiri oleh pembesar yang menjadi kepala daerah Yen-tai.

Namun, para pendekar yang dipimpin oleh Liu Pang itu ternyata jauh lebih kuat dan kepala daerah itu terpaksa melarikan diri dikawal oleh pasukan pengawalnya, menuju kekota gubemuran.

Liu Pang membebaskan para tawanan sehingga kini jumlah mereka mendekati limaratus orang dan mereka segera menduduki kota, melakukan penjagaan dipintu-pintu gerbang dan rakyat menyambut mereka dengan gembira.

Mereka ini memperoleh simpati dari rakyat oleh karena sikap para anak-buah pasukan Liu Pang ini memang gagah perkasa dan sopan.

Mereka adalah pendekar-pendekar dan terdiri dari rakyat jelata pula, maka tentu saja mereka tidak mau mengganggu rakyat.

Liu-Pang lalu memerintahkan anak-buahnya untuk melepas panah-panah berapi sebagai tanda keberhasilan mereka kepada Pek Lian dan kawan-kawannya yang bertugas di lembah.

Melihat panah-panah berapi itu meluncur diudara arah kota Yen-tai, dibarengi sorak-sorai para pendekar dan rakyat, Pek Lian gembira bukan main.

"Suhu berhasil! Mereka telah menduduki kota Yen-tai!!"

Sebaliknya, pasukan yang mengeroyok mereka terkejut sekali.

Para pimpinan mereka lalu memerintahkan mereka untuk meninggalkan lembah.

Apa lagi, para pendekar yang berada di lembah itu hanya lima belas orang saja, tidak cukup berharga untuk dibasmi, kalaupun mereka mampu melaku-kannya karena para pendekar itu benar-benar lihai bukan main.

Amukan mereka itu telah merobohkan puluhan orang perajurit.

A-hai tetap mengamuk biarpun para perajurit telah mengundurkan diri.

Para pendekar melihat dengan penuh takjub.

Bahkan Seng Kun sendiri memandang dengan mata terbelalak.

Pemuda itu memang hebat bukan main.

Kini pemuda itu bersilat secara aneh, gerakannya mantap, kedua kakinya bergeser-geser kedepan, bukan melangkah dan kedua tangannya memukul-mukul kedepan dengan telapak tangan terbuka.

"Set-set-settt!"

Kedua kaki itu bergeser kedepan dan ketika kedua tangan itu memukul-mukul dengan dorongan kuat, nampak hawa yang seperti sinar putih keluar dari kedua telapak tangan dan tiap kali kedua telapak tangan itu bergesekan, terdengar suara meledak dan nampak seperti ada bunga api berpijar!

Tangan kanan itu meluncur kekanan, kearah bayangan hitam yang mungkin dianggap musuh oleh A-hai.

"Braaaakkkk...!"

Dan robohlah sebatang pohon besar. A-hai memukul kekiri sambil membalikkan tubuh, menghantam kearah bayangan hitam, lain.

"Blaarrrr!"

Sebongkah batu karang besar pecah berantakan dan terguling! "Bukan main...! Itu... agaknya Thai-lek Pek-kong-ciang!"

Kata Seng Kun dengan takjub.

Dia pernah mendengar cerita dari Bu Kek Siang tentang ilmu pukulan mujijat itu akan tetapi belum pernah menyaksikannya.

Dan kalau sekarang pemuda sinting itu mampu melakukan ilmu pukulan mujijat itu sedemikian baiknya, maka asal-usul pemuda itu sungguh menjadi semakin menarik dan penuh rahasia.

Pek Lian yang maklum bahwa kalau dibiarkan berlarut-larut, keadaan A-hai bisa berbahaya, lalu menggandeng tangan Bwee Hong dan mendekati pemuda itu.

Keduanya membujuk.

"A-hai, lihatlah kami... jangan mengamuk lagi, jangan berkelahi lagi, sudah tidak ada musuh yang harus dilawan!"

A-hai menghentikan permainan silatnya, memandang kosong kepada dua orang dara itu dan nampak bingung.

"Jangan berkelahi... jangan membunuh... ahhh... Pek Lian... Bwee Hong, jangan berkelahi..."

Dan diapun menjatuhkan diri berlutut dan tubuhnya menjadi lemas.

Mereka lalu kembali kekota Yen-tai dan disambut oleh Liu Pang sendiri yang memuji mereka sebagai orang-orang yang telah berhasil menunaikan tugas penting.

"Kita harus terus melakukan pengejaran dan menyerbu kota Yen-kin, menangkap gubernur yang bersekutu dengan pasukan asing itu,"

Katanya dan merekapun bersiap-siap.

kemenangan Liu Pang dan pasukannya ini disambut gembira oleh rakyat dan banyaklah rakyat disekitar daerah itu yang berdatangan dan masuk menjadi anggauta suka rela!

Bahkan banyak pula bekas-bekas perajurit pasukan pemerintah yang menyeberang dan membantu gerakan Liu Pang yang hendak melakukan pembersihan terhadap para pengkhianat dan pasukan asing.

Pada kesokan harinya, Liu Pang memimpin pasukannya yang menjadi semakin besar jumlahnya itu menuju keYen-kin.

Chu Seng Kun dan Chu Bwee Hong ikut membantu karena kakak-beradik ini maklum bahwa gerakan Liu Pang itu adalah untuk membantu pemerintah menghancurkan para pengkhianat yang hendak memberontak dan yang bersekutu dengan pasukan asing.

Di sepanjang perjalanan menuju keYen-kin, berbondong-bondong rakyat dan perajurit kerajaan yang menyeberang menyambut dan masuk pula menjadi sukarelawan untuk mengusir pasukan asing dan menghajar pasukan pemerintah yang hendak memberontak dan berkhianat.

Apa lagi karena semua orang mendengar bahwa Liu Pang adalah seorang pemimpin rakyat yang sejati, yang datang dari kalangan rakyat petani.

Demikian banyaknya rakyat mendukung sehingga jumlah pasukan itu setelah tiba di Yen-kin sudah mencapai hampir sepuluh ribu orang!

Ternyata Gubernur Ci yang berkuasa dipropinsi bagian timur (sekarang Shan-tung) itu telah menerima pelaporan kepala daerah Yen-tai dan sudah bersiap-siap dengan pasukannya, dibantu pula oleh pasukan asing yang dipimpin oleh Malisang, raksasa peranakan Mongol itu.

Juga ada pula pasukan yang menjadi anak-buah pemberontak Chu Siang Yu, yang dibantu oleh Kwa Sun Tek tokoh Tai-bong-pai bersama anak-buahnya, yaitu anggauta-anggauta Tai-bong-pai yang dibawa menyeleweng oleh Kwa Sun Tek, bersekutu dengan para pemberontak untuk mencari kedudukan.

Gubernur Ci merasa yakin akan dapat menghancurkan pasukan pimpinan Liu Pang yang dianggap sebagai penghalang cita-citanya itu karena dia menerima laporan bahwa pasukan yang menyerbu Yen-tai itu hanya berjumlah tigaratus orang lebih.

Padahal, pasukan keamanan didaerahnya yang dikumpulkan itu berjumlah limaribu orang, belum lagi ratusan orang pasukan asing dan pasukan pemberontak Chu Siang Yu.

Jumlah pasukannya tidak kurang dari enam ribu orang.

Mana mungkin musuh yang hanya tiga ratus orang lebih itu akan mampu menandingi enam ribu orang?

Dia sama sekali tidak pernah mimpi bahwa dalam waktu singkat, rakyat dan para perajurit yang menyeberang berbondong-bondong menjadi sukarelawan dan kini pasukan Liu Pang berjumlah selaksa orang!

Dapat dibayangkan betapa kagetnya Gubernur Ci dan para sekutunya ketika mendengar bahwa Liu Pang datang dengan pasukan yang mendekati selaksa orang jumlahnya!

Terjadilah perang yang dahsyat diluar kota Yen-kin.

Perang yang memakan waktu setengah hari lebih.

Akan tetapi karena Liu Pang dibantu oleh orang-orang gagah, walaupun sekali ini A-hai tidak ikut berperang, dan juga karena jumlah pasukan Liu Pang jauh lebih banyak, akhirnya pasukan gubernur itu lari cerai-berai dan banyak yang tewas.

Gubernur dan sekutunya terpaksa melarikan diri keutara dan kota Yen-kin diduduki oleh Liu Pang.

Karena maklum bahwa didepan terdapat bala tentara kerajaan yang kuat dan pula dia harus membiarkan pasukannya beristirahat, Liu Pang tidak melakukan pengejaran dan mengatur kota Yen-kin yang didudukinya itu, mengatur penjagaan dan menyebar para penyelidik untuk menyelidiki keadaan musuh yang melarikan diri kearah kota Cinan.

Gubernur Ci adalah seorang yang cerdik, apalagi dia adalah sekutu pemberontak Chu Siang Yu yang telah memberi rencana siasat kepadanya.

begitu melarikan diri dari Yen-kiri, gubernur ini bersama pasukan pengawalnya dan pasukan-pasukan lain yang melarikan diri, langsung menuju keCinan dan mendatangi Lai-goanswe yang menjadi panglima yang berkuasa atas benteng dan bala tentara kerajaan didaerah timur.

Gubernur itu lalu memberi laporan dan tentu saja dia memutarbalikkan kenyataan.

Dia melaporkan bahwa pemberontak Liu Pang melakukan gerakan tiba-tiba di timur, menduduki kota Yen-tai dan Yen-kin, dan kini mengumpulkan barisan pemberontak yang jumlahnya selaksa orang dan hendak bergerak ke barat.

Mendengar laporan ini, Lai-goanswe (Jenderal Lai), terkejut sekali.

Tentu saja dia sudah mendengar nama besar Liu Pang sebagai pemimpin rakyat, sebagai Bengcu yang mengepalai para pendekar dan yang ikut memprotes tindakan-tindakan Kaisar terhadap ditangkapnya para Menteri.

Dan dia juga maklum bahwa Liu Pang adalah seorang pendekar yang berilmu tinggi, seorang pendekar dan jagoan pedang yang disuka oleh para pendekar kang-ouw.

Baru pemberontakan-pemberontakan yang dilakukan oleh Chu Siang Yu dan yang bergerak didaerah barat saja sudah amat memu-singkan, apalagi kalau Liu Pang kini memberontak pula.

Lai-goanswe adalah seorang jenderal berusia empat puluh lima tahun yang pandai dan juga gagah perkasa, merupakan pembantu utama dari Jenderal Beng Tian dan seorang perajurit sejati yang tidak melibatkan diri dengan politik, dan hatinya bulat menjunjung tugasnya, yaitu membela negara dan mentaati perintah atasan.

Begitu mendengar tentang pemberontakan Liu Pang, Lai-goanswe cepat mempersiapkan pasukannya yang selaksa orang jumlahnya.

Dan diapun mempergunakan sisa pasukan dari Gubernur Ci untuk memperkuat pasukannya.

Akan tetapi tentu saja ketika menghadap Jenderal Lai, Gubernur Ci sama sekali tidak bercerita tentang persekutuannya dengan Chu Siang Yu, apa lagi dengan bantuan pasukan asing!

Dan jenderal itupun tidak tahu sama sekali bahwa dia telah ditipu dan diadu dom-ba dengan Liu Pang oleh Gubernur Ci.

Tentu saja Liu Parig terkejut bukan main melihat pasukan besar Jenderal Lai datang dan menyambutnya dengan serangan.

Dia sama sekali tidak bermaksud melawan pasukan pemerintah.

Semua yang dilakukan hanyalah membasmi pasukan asing dan menentang para pejabat yang bersekutu dengan orang-orang asing.

Akan tetapi, sudah tidak ada waktu lagi.

Baginya untuk menjernihkan kesalah-pahaman ini.

Pasukan Jenderal Lai sudah datang menyerbu.

Bahkan diam-diam Liu Pang menjadi penasaran sekali dan mengira bahwa memang Kaisar berhati palsu dan bercabang, disatu pihak pura-pura membetulkan kesalahannya dan hendak mengangkat kembali para Menteri jujur, dilain pihak menggunakan tangan besi menentang para pendekar patriot Maka Liu Pang lalu melawan dan mengerahkan pasukannya.

Pertempuran yang amat dahsyat dan seru terjadilah diluar kota Cinan.

Setelah kedua pihak kehilangan banyak perajurit, pasukan kerajaan terdesak sehingga terpaksa mundur dan melakukan pertahanan didalam kota yang dikepung oleh pasukan Liu Pang.

Diluar kehendaknya sendiri, Liu Pang mulai hari itu secara resmi dianggap sebagai pemberontak oleh kerajaan.

Bentrokan langsung dengan pasukan pemerintah ini membuat Chu Seng Kun dan Chu Bwee Hong merasa kikuk dan bingung.

Tidak mungkin mereka dapat membantu Liu Pang dan pasukannya untuk menentang pemerintah sendiri!

Ayah mereka, Pangeran Chu Sin yang kini telah menjadi kepala kuil Istana yang berjuluk Bu Hong Sengin, adalah seorang anggauta keluarga Istana yang penting.

Seng Kun sendiri menerima tugas dari Kaisar untuk mencari Menteri Ho, berarti diapun seorang utusan dan petugas Kaisar bagaimana mungkin dia berada didalam pasukan para pendekar yang kini telah digempur pasukan pemerintah sebagai pemberontak?

Seng Kun tidak dapat menyalahkan Liu Pang dan dia dapat memaklumi bahwa sesung-guhnya bukanlah kehendak Liu Pang dan pasukannya untuk memberontak.

"Liu-Bengcu, harap maafkan kami berdua. Dalam kedudukan saya sebagai utusan Kaisar yang berarti bahwa saya adalah seorang petugas kera-jaan, keadaan sekarang ini tentu tidak memungkinkan saya untuk terus berkumpul dengan pasukan Bengcu lebih lama lagi. Kami berdua akan kembali ke Kotaraja dan membuat laporan tentang apa yang terjadi atas diri Menteri Ho."

Liu Pang menarik napas panjang dan nampaknya menyesal sekali.

"Sungguh kami sendiri tidak pernah mengira bahwa akibatnya akan menjadi begini. Akan tetapi, sungguh kebetulan sekali kalau ji-wi hendak menghadap Sribaginda Kaisar. Selama beberapa hari ini, semenjak terjadi pertempuran secara terbuka dengan pasukan pemerintah, saya memikirkan dan mencari jalan bagaimana caranya agar kesalah-pahaman antara kami dengan Kaisar tidak sampai berlarut-larut. Ji-wi telah beberapa lama mengikuti gerakan kami dari dekat, bahkan membantu kami menghadapi pasukan asing. Maka kami percaya bahwa ji-wi tentu akan dapat melaporkan secara sejujurnya kepada Sribaginda Kaisar apa yang sebenarnya telah terjadi dan bagaimana sesungguhnya kedudukan kami."

"Tentu saja, Liu-Bengcu. Kami berdua kakak-beradik tentu akan berusaha menjernihkan suasana yang tidak enak ini!"

Kata Chu Seng Kun dengan suara pasti. Melihat kedua orang kakak-beradik itu berpamit, tiba-tiba A-hai yang sejak tadi memandang kepada Bwee Hong lalu berkata.

"Akupun akan pergi. Kalau kalian boleh, aku akan ikut pergi. Aku sungguh tidak betah berada disini. Aku membenci pertempuran, membenci bunuh-membunuh yang kejam itu!"

Chu Seng Kun dan Chu Bwee Hong tentu saja tidak dapat menolak permintaan pemuda sinting itu.

Apa lagi karena pemuda itu dengan mati-matian telah menyelamatkan Bwee Hong ketika dara itu berada dalam tangan Tiat-siang-kwi, tokoh kedua dari Ban-kwi-to.

Disamping itu, kakak-beradik yang menjadi ahli waris Bu-Eng Sinyok ong ini memang merasa tertarik akan keadaan A-hai dan kalau mungkin mereka ingin mencoba kepandaian mereka dalam hal pengobatan untuk memeriksa dan menyembuhkan pemuda aneh itu.

"Tentu saja engkau boleh ikut bersama kami, saudara A-hai,"

Jawab Seng Kun dengan ramah.

"Kebetulan sekali sayapun mempunyai keinginan yang sama, Liu-Bengcu,"

Tiba-tiba Kwa Siok Eng berkata.

"Saya harus segera pulang dan melaporkan semua pengalaman saya kepada ayah dan ibu, terutama sekali, tentang penyelewengan kakakku dan juga tentang hasil perjalanan saya. Karena itu, sayapun berpamit untuk mengundurkan diri."

Liu Pang menarik napas panjang. Kemudian dia menengadah dan seolah-olah berkata kepada diri sendiri.

"Betapa gembira berusia muda bebas dari segala ikatan, bebas lepas seperti burung diudara, kemanapun hendak pergi tidak ada yang melarang, tidak ada ikatan yang membelenggu kaki tangan. Akan tetapi, ahhh... setelah terbelenggu oleh ikatan yang demikian kuat ini, yang telah menjadi tugas yang mendarah daging, mana mungkin aku mengikuti jejak orang-orang muda yang bebas lepas?"

Biarpun tidak secara berterang, namun pemimpin para pendekar itu mengeluhi nasib sendiri dan agaknya iri hati melihat orang-orang, muda itu.

Seng Kun melihat bahwa sebenarnya keadaan dirinya tidaklah jauh bedanya dengan pemimpin ini karena bukanlah dia sendiri juga terikat oleh tugas yang diberikan oleh Kaisar kepadanya?

Mendengar keluhan gurunya itu, Pek Lian yang wataknya polos dan tidak suka menyembunyikan perasaannya itu berkata.

"Akan tetapi, suhu. Apa artinya hidup ini kalau tidak ada tugas-tugas yang mengikat kita? Bukankah kegembiraan terasa apabila kita berhasil melaksanakan tugas kita? Hidup akan kosong tanpa ikatan, dan untuk ikatan itu kita berjuang dalam hidup!"

Gurunya tersenyum dan menggeleng kepala.

"Nona Ho, engkau masih terlalu muda untuk dapat mengerti tentang ikatan-ikatan dalam kehidupan."

"Maaf, suhu. Akan tetapi saya kira suhupun masih muda, atau belum terlalu tua untuk menganggap saya masih terlalu muda!"

Bantah nona itu.

Liu Pang tersenyum lebar dan wajahnya berseri.

Begitu dia tersenyum lebar, nampaklah bahwa tokoh ini memang belum tua benar.

Usianya memang baru tiga puluh enam tahun, akan tetapi perjuangan dengan segala kepahitannya menggemblengnya lahir batin sehingga dia nampak jauh lebih tua dari pada usianya.

"Muridku, tua muda atau matang mentahnya seseorang tidak selalu ditentukan oleh usianya. Akan tetapi memang apa yang kau katakan tadi ada benarnya. Didalam setiap ikatan memang terdapat kesenangan, kalau tidak begitu, tidak nanti ia mengikat! Akan tetapi yang kita lupakan adalah bahwa setiap kesenangan selalu dibayangi oleh saudara kembarnya, yakni kesusahan. Dan celakanya, antara dua saudara kembar ini, Duka lebih banyak muncul dalam batin manusia dibandingkan dengan Suka!"

"Maaf, Liu-Bengcu. Saya pernah mendengar wejangan ayah bahwa Suka-Duka itu sesungguhnya tidak ada. Dalam setiap benda, setiap peristiwa, tidak terdapat suka atau duka itu. Mereka ini baru muncul apabila pikiran kita membuat ban-dingan-bandingan dan penilaian."

Liu-Bengcu mengangguk-angguk.

"Ayah ji-wi adalah Bu Hong Sengin dan saya pernah mendengar bahwa ayah ji-wi itu selain memiliki kepandaian silat yang tinggi, juga amat bijaksana. Tidak keliru sama sekali wejangan beliau itu. memang suka atau duka timbul karena pikiran kita sendiri yang menilai berdasarkan untung rugi bagi diri pribadi. Yang menguntungkan menimbulkan suka dan yang merugikan menimbulkan duka. Kita semua terseret oleh dualitas ini."

"Akan tetapi, Lo-cianpwe,"

Kata Siok Eng yang juga tertarik mendengar percakapan itu.

"Bukankah itu sudah menjadi watak manusia pada umumnya? Kita semua menghendaki untung dan senang, siapakah manusianya menghendaki rugi dan susah?"

Liu Pang mengangguk-angguk.

"Pernyataan yang amat jujur dan aku memang mendengar bahwa Tai-bong-pai mengutamakan kejujuran dan kepolosan walaupun kadang-kadang diikuti oleh tindakan yang nampaknya sadis dan kejam. memang, umum menganggapnya demikian. Akan tetapi, apakah umum harus selalu benar? Umum condong untuk ikut-ikutan, untuk mengekor dan agaknya tidak memperdulikan lagi tentang benar atau salah. Kita melihat bahwa kita terbelenggu, namun kita tidak berani membebaskan diri dari pada belenggu ini. Aihh, betapa lemahnya kita manusia ini!"

Kembali pemimpin ini menarik napas panjang. Hening sejenak dan percakapan yang menyim-pang kesoal kehidupan yang ruwet itupun macet. Menggunakan kesempatan ini, Siok Eng berkata.

"Saya pamit sekarang, Lo-cianpwe dan banyak terimakasih atas kebaikan semua kawan kepadaku sewaktu kita berkumpul."

Dara itu bangkit dan pada saat itu. Seng Kun juga ikut bangkit dan menjura.

"Nona Kwa... aku ingin bicara sedikit"

Puteri Tai-bong-pai itu memandang dengan sinar mata berseri dan ia memandang wajah pemuda tampan dan gagah itu dengan lembut.

"Silahkan, inkong."

"Pada waktu ini, keadaan negara sedang dalam suasana kacau dan dimana-mana terjadi pertentangan sehingga tidak aman. Biarpun nona memiliki kepandaian tinggi, akan tetapi sebagai seorang wanita muda, melakukan perjalanan sendirian saja tentu akan memancing datangnya banyak sekali halangan dan bahaya. Hatiku merasa tidak enak dan khawatir sekali membayangkan engkau melakukan perjalanan seorang diri."

Sejak pemuda itu bicara, sepasang mata Siok Eng yang indah tajam itu menatap tanpa pernah berkejap dan mata itu kini berseri, sepasang pipinya berobah agak kemerahan dan jantungnya berdegup kencang.

Hatinya merasa senang sekali melihat kenyataan bahwa pemuda yang diam-diam dipujanya didalam hati semenjak ia merasa berhutang nyawa dan budi itu begitu memperhatikan keselamatan dan keadaannya.

"Sungguh inkong amat baik hati dan aku berterimakasih sekali atas perhatianmu. Akan tetapi, aku dapat menjaga diri dalam perjalanan, maka harap inkong tidak merasa khawatir"

"Aku mengerti, nona... tapi bolehkah aku mengajukan suatu permintaan kepadamu?"

Mendengar pertanyaan ini, hati Siok Eng merasa tergerak dan terharu.

Sejak kecil ia hidup diantara lingkungan orang-orang sesat yang hampir tidak mempunyai kepekaan atau kehalusan perasaan lagi.

Akan tetapi sejak ia diobati dirumah keluarga Bu, terjadilah perobahan didalam batinnya.

"Aihh, inkong, mengapa bertanya begitu? Harap inkong tidak ragu-ragu untuk mengatakan apa yang menjadi keinginan hatimu. inkong tentu mengerti betapa besar rasa terimakasih kami sekeluarga terhadap inkong sekeluarga. buLo-cianpwe suami-isteri telah tewas karena aku. Sekarang, mengapa inkong masih sungkan kepadaku? Nah, katakan saja, apapun permintaanmu, akan kulaksanakan. Biar nyawaku sekalipun akan kuserahkan kalau inkong minta!"

Semua orang yang mendengar ucapan yang dikeluarkan dengan suara bening, lembut dan penuh getaran perasaan itu, menjadi tertegun dan juga terharu.

Mereka ini telah tahu bahwa gadis remaja itu adalah puteri ketua Tai-bong-pai, sebuah perkumpulan yang terkenal sebagai perkumpulan iblis yang dianggap sesat oleh dunia kang-ouw.

Akan tetapi, gadis ini yang menjadi satu diantara tokoh-tokoh utama Tai-bong-pai ternyata dapat bersikap demikian lembut, mengenal budi dan amat perasa!

"Karena hatiku akan selalu merasa khawatir kalau engkau melakukan perjalanan seorang diri dalam suasana yang sedang kemelut ini, maka aku minta sukalah engkau melakukan perjalanan bersama kami lebih dulu ke Kotaraja.

Kalau urusan kami sudah selesai di Kotaraja, aku akan mengantarkanmu pulang sampai ketempat tinggalmu, nona.

Tentu saja kalau engkau tidak menaruh keberatan."

Keberatan?

Hampir saja Siok Eng bersorak dan menari saking girangnya.

Kalau ada suatu hal yang amat diinginkan didunia ini pada saat itu adalah berdekatan dengan Chu Seng Kun, melakukan perjalanan dengan pemuda ini dan kalau boleh jangan lagi sampai saling berpisah lagi.

"Terimakasih, inkong. Tentu saja saya merasa terhormat dan suka sekali untuk dapat melakukan perjalanan bersama dengan inkong dan teman-teman lainnya."

Maka berangkatlah empat orang muda itu, Seng Kun, Bwee Hong, A-hai dan Siok Eng, meninggalkan bala tentara yang dipimpin oleh Liu Pang dan yang sedang menghadapi ancaman penyerbuan pasukan pemerintah itu.

Mereka menunggang empat ekor kuda pemberian Liu Pang dan membalapkan tunggangan mereka itu menuju ke Kotaraja.

Yang merasa paling sedih oleh kepergian empat orang muda itu adalah Pek Lian.

Baru saja ia kematian ayahnya dan kini ia ditinggalkan kawan-kawan baiknya dengan siapa ia telah mengalami banyak hal-hal yang mengesankan.

Bersama-sama lolos dari cengkeraman maut dan terutama sekali yang membuat hatinya terasa amat tidak enak adalah karena ia harus berpisah dari A-hai dalam keadaan seperti itu!

Ia melihat betapa pemuda sinting itu amat akrab dengan Bwee Hong dan kalau dahulu A-hai kelihatan amat jinak kepadanya, bahkan tidak pernah melupakan namanya, kini pemuda itu kelihatan begitu jinak dari dekat dengan Bwee Hong.

Bahkan pemuda itu ikut pula bersama Bwee Hong dan kakaknya pergi ke Kotaraja.

Setelah empat orang muda itu berangkat, Pek Lian lari memasuki kamarnya dan iapun menjatuhkan diri diatas pembaringan kamarnya dan menahan tangisnya.

Hanya air matanya yang membasahi pipi.

Ia merasa begitu kesepian, merasa ditinggalkan dan nelangsa.

Terutama sekali yang membuat hatinya amat menderita adalah bayangan A-hai yang kelihatan begitu mesra terhadap Bwee Hong.

Ia tahu bahwa sikap Bwee Hong yang manis dan baik terhadap A-hai adalah karena gadis itu berterimakasih dan terharu melihat betapa A-hai membela dan menyelamatkannya sehingga gadis itu merasa berhutang budi dan bersama kakaknya bermaksud untuk mencoba mengobati dan menyembuhkan A-hai.

Akan tetapi, ia dapat menduga pula bahwa A-hai yang hanya mengandalkan perasaan dan nalurinya, agaknya jatuh cinta kepada gadis cantik jelita itu.

Mengapa aku harus merasa tidak senang karena mereka begitu akrab?

Mengapa aku seperti geli-sah kalau-kalau mereka saling mencinta?

Mengapa begini?

Pek Lian tidak mau, bahkan tidak berani mengaku dalam hatinya sendiri bahwa ia telah jatuh cinta kepada A-hai, pemuda sinting itu!

Akan tetapi, perasaannya yang tidak enak ketika melihat A-hai pergi bersama Bwee Hong, adalah perasaan cemburu!

Sementara itu, pertempuran berhenti ketika bala tentara pemerintah yang dipimpin oleh Jenderal Lai itu menarik pasukannya mundur kedalam kota Cinan.

Liu Pang mempergunakan kesempatan ini untuk menyusun kembali sisa pasukannya dan berunding dengan para pembantunya.

Tentu saja Pek Lian hadir pula dalam perundingan ini dan Liu Pang lalu mengatur siasat, merencanakan ge rakan mereka selanjutnya.

Kebetulan sekali, pasukan kecil yang dipimpin oleh Hek-coa Ouw Kui Lam juga sudah tiba dan pasukan ini menggabungkan diri dengan pasukan induk.

Seperti kita ketahui, Hek-coa Ouw Kui Lam ini adalah seorang diantara empat Huang-ho suhiap, yaitu guru-guru dari Pek Lian.

Diamtara Empat Pendekar Huang-ho itu, hanya tinggal dia sendiri yang masih hidup.

Tiga lainnya, yaitu Kim-suipoa Tan Sun, Pek-bin-houw Liem Tat dan Sin-kauw Song Tek Kwan telah gugur semua.

Hek-coa Ouw Kui Lam juga ikut duduk dalam perundingan itu.

"Pemerintah agaknya telah benar-benar menganggap kita sebagai musuh,"

Antara lain Liu Pang mengemukakan pendapatnya.

"Karena itu, kitapun harus memperkuat diri, dan kurasa sebaiknya kalau kita menuju ke barat dan menyatukan diri dengan kawan-kawan yang berpencaran menjadi pasukan-pasukan yang berpisah-pisah. Sambil melakukan perjalanan mengumpulkan teman-teman dan memperkuat barisan, kita melakukan pembersihan disepanjang jalan. Kita gempur pasukan-pasukan asing yang membantu penguasa-penguasa daerah yang memberontak, dan kita basmi pula para pembesar yang bersekongkol dengan pasukan-pasukan asing, pengkhianat-pengkhianat penjual negara dan bangsa itu!"

Demikianlah, Liu Pang memimpin pasukannya dan mulailah dia melakukan "long march"

Yang panjang dan bersejarah itu.

Disepanjang perjalanan, pasukannya makin bertambah karena rakyat jelata bersimpati dengan perjuangannya.

Dan karena Liu Pang juga lahir dari keluarga petani dan sudah terbiasa hidup diantara petani, maka dia pandai bergaul dengan anak-buahnya dan dikenal sebagai seorang pemimpin yang gagah perkasa juga menyenangkan hati semua anak-buahnya.

Bukan hanya rakyat jelata, kaum tani yang bergabung dengan pasukannya, keluarga dari mereka yang tewas karena kerja paksa yang diperintahkan Kaisar melalui kaki tangannya, akan tetapi juga banyak perajurit-perajurit yang lari menyeberang karena mereka tidak suka diharuskan bekerja-sama dengan pasukan asing oleh para komandan mereka.

Liu Pang tidak pernah mengampuni pembesar-pembesar yang bersekongkol dengan pasukan asing.

Setiap dusun dan kota dimana terdapat pasukan asingnya tentu digempur dan tempat-tempat itu didu-duki, akan tetapi kota yang pembesamya masih setia kepada pemerintah, dilewati saja dan tidak diganggu.

Akhirnya pasukan itu berhenti di lembah Sungai Huang-ho, tak jauh dari kota besar Lok-yang yang merupakan kota kedua besarnya setelah Tiangan yang menjadi ibu kota atau Kotaraja dimana Kaisar tinggal.

Liu Pang membentuk benteng pertahanan di lembah ini dan mengajak kawan-kawannya untuk berunding lagi.

Biarpun dia seorang pemimpin dengan kekuasaan penuh dan semua anggauta pasukan itu taat kepadanya, namun Liu Pang selalu mengajak para pimpinan atau pembantunya untuk bermusyawarah setiap kali menghadapi hal-hal penting, tidak mengambil keputusan sendiri begitu saja.

Inilah merupakan satu diantara kebijaksanaan Liu Pang yang jarang dimiliki oleh para penguasa.

Biasanya, kalau orang sudah duduk dikursi tertinggi, lalu menjadi lupa akan pendapat orang-orang lain dan menganggap bahwa pendapatnya sendirilah yang paling benar.

"Chu Siang Yu telah bergerak maju dan pasukannya telah merebut beberapa kota besar didaerah barat dan utara. Agaknya bala tentara pemerintah tidak berdaya menahan arus serangannya. Hal ini terjadi karena didalam tubuh pemerintah sendiri terjadi kekacauan dan membuat kekuatan menjadi terpecah-belah. Suasana seperti ini membuat daerah-daerah menjadi tidak puas dan banyak daerah mengambil sikap memberontak dan ingin memisahkan diri dari pusat. Adalah menjadi tugas kita sebagai pendekar-pendekar dan patriot-patriot untuk berjuang agar keadaan seperti ini jangan sampai berlarut-larut dan kita harus menyelamatkan negara dan bangsa agar tinggal. utuh dan kuat."

"Benar sekali ucapan itu!"

Tiba-tiba Hek-coa Ouw Kui Lam yang tinggi besar dan bermuka hitam itu berseru dengan suara yang lantang.

"Biarlah para pembesar Istana menganggap kita pemberontak, biarlah Kaisar salah kira dan mencap kita pemberontak, perduli amat! Keadaan negara dan bangsa terancam bahaya perpecahan, dan terancam penjajahan pasukan-pasukan asing. Kita harus bergerak, tak mungkin tinggal diam saja. Kita basmi pasukan-pasukan asing yang berkeliaran disini. Kita hajar daerah-daerah yang memberontak dan kita persatukan lagi negara ini agar kuat seperti dahulu lagi!"

Mendengar kata-kata yang penuh semangat ini, yang lain-lain bertepuk tangan dan menyatakan persetujuan mereka.

Baca Juga: Kisah Si Pedang Kilat 2

Baca Juga: Sepasang Pedang Iblis 10

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert