Darah Pendekar 6

Eps 6 Darah Pendekar - Kho Ping Hoo

Baca online Darah Pendekar - Kho Ping Hoo

Cersil Darah Pendekar - Kho Ping Hoo.

Golok itu adalah golok pusaka yang tadinya merupakan pusaka Istana Kaisar, bernama Toat-beng-to (Golok Pencabut Nyawa).

Sebenarnya, kalau dibandingkan dengan ilmu golok yang dimainkan tuan rumah dengan Ilmu Pedang Hun-kin-kiam-sut, maka ilmu golok itu masih kalah hebat.

Sekiranya Tung-hai-tiauw hanya mengandalkan ilmu goloknya menghadapi lamsiauw-ong, agaknya dia akan kalah.

Akan tetapi, kekalahannya dalam hal mainkan senjata itu tertutup oleh keuntungannya karena dia memakai baju emas yang membuatnya kebal itu.

Beberapa kali ketika ujung pedang menyambar kearah dadanya, dengan berani dia menerima tusukan itu dengan baju emasnya dan membarengi dengan bacokan golok sehingga lamsiauw-ong menjadi sibuk bukan main karena tusukannya meleset dan dirinya bahkan terancam bacokan maut!

disamping baju emas yang membuatnya kebal itu, juga Tung-hai-tiauw masih memiliki cengkeraman kukunya dari tangan kiri dan cengkeraman ini amat berbahaya, tidak kalah dari serangan goloknya.

Karena bantuan baju emas dan cengkeraman kuku inilah maka Tung-hai-tiauw mulai dapat mendesak lawannya!

Kembali pedang itu meluncur kearah leher dengan tusukan yang halus dan cepat sekali sampai mengejutkan hati Tung-hai-tiauw.

Kalau tusukan itu mengenai jalan darah dilehernya, tidak usah dalam-dalam tusukan itu, tentu dia akan roboh dan tak mungkin dapat bangkit kembali.

Maka cepat dia menangkis dengan goloknya sambil mengerahkan tenaga.

Pedang tertangkis, terpental dan dengan cepatnya pedang yang tertangkis itu meluncur kebawah, membacok kearah urat dipundak.

Untuk kesekian kalinya, lamsiauw-ong yang bergerak menurut ilmu pedangnya, lupa bahwa lawannya memakai baju emas yang membuatnya kebal, maka pedangnya membacok pundak lawan.

Tung-hai-tiauw membiarkan saja pundaknya diserang bacokan dan sebagai balasan, goloknya menyambar kearah paha kanan lawan dan tangan kirinya mencengkeram kearah pusar!

Sungguh luar biasa dahsyat dan berbahayanya serangan balasan Tung-hai-tiauw ini!

Pada detik terakhir yang amat menegangkan dan berbahaya bagi nyawanya ini, terdengar lamsiauw-ong mengeluarkan suara melengking, pedangnya berkelebat dan tubuhnya dilemparkan kebelakang.

"Bretttt!!"

Terdengar suara nyaring dan lamsiauw-ong berjungkir balik dan dapat berdiri dengan terhuyung, mukanya pucat sekali karena bajunya bagian pusar telah koyak-koyak.

Nyaris perutnya yang koyak oleh cengkeraman tadi dan pedangnya mampu menyerempet punggung tangan kiri lawan, menimbulkan luka sedikit dan berdarah sedikit.

Mengertilah lamsiauw-ong bahwa pihak tuan rumah telah bersikap murah hati terhadap dirinya, karena kalau Tung-hai-tiauw tadi menghendaki, tentu kini dia telah roboh dengan isi perut berantakan!

Maka diapun tahu diri, maklum bahwa sampai saat itu tingkat kepandaiannya masih kalah sedikit.

Diapun menjura dan berkata dengan suara mengandung kekecewaan besar.

"Hai-ong, aku mengaku kalah!"

Tung-hai-tiauw merasa girang bukan main telah dapat mengalahkan lawan yang paling berbahaya ini. Dia tersenyum lebar dan balas menjura.

"Ah, Siauw-ong telah bersikap merendahkan diri dan sengaja telah mengalah terhadapku. Terimakasih, Siauw-ong. Nyaris tanganku buntung oleh pedangmu yang amat lihai!"

Raja Muda Selatan itu kembali ketempat duduknya dengan lesu dan tepuk sorak para hadirin yang menyambut kemenangan Rajawali Lautan itu baginya seperti ejekan terhadap dirinya sehingga mukanya menjadi kemerahan.

Setelah Petani Lautan dan Raja Muda Selatan kalah, tidak ada lagi kepala bajak yang berani maju mencoba kepandaiannya terhadap Rajawali Lautan, oleh karena itu, jelas bahwa kedudukan Hai-ong (Raja Lautan) masih dimiliki Tung-hai-tiauw untuk jangka waktu tiga tahun lagi.

Kursi singgasana yang tadinya ditutupi kain putih kini dibuka dan dengan resmi, dibawah tepuk tangan para hadirin, Tung-hai-tiauw duduk diatas kursi singgasana itu dengan sikap gagah dan gembira.

Semua orang lalu mengangkat cawan memberi selamat kepada Raja Lautan.

Sin-go Mo Kai Ci dan Sanhek-houw yang; datang sebagai tamu yang tidak mempunyai hubungan dengan pemilihan Raja Lautan, juga sebagai rekan-rekan dari Tung-hai-tiauw karena mereka bertiga pernah dikenal didunia kang-ouw sebagai Sam-ok (Si Tiga Jahat), juga bangkit dari kursi mereka, menghampiri Tung-hai-tiauw sambil mengangkat cawan arak mereka.

"Hai-ong, kami berdua dalam kesempatan ini mengucapkan selamat atas kemenanganmu!"

Kata Sanhek-houw dan dia mengangkat cawan araknya, diikuti oleh Si Buaya Sakti.

Karena dua orang ini merupakan tokoh-tokoh besar didunia hitam, Tung-hai-tiauw menerima ucapan selamat itu sambil tertawa gembira dan bangga, mengucapkan terimakasih sambil mengangkat cawan dan sekali tenggak habislah arak dalam cawannya.

Sebelum kedua orang rekannya itu kembali ketempat duduk mereka, Tung-hai-tiauw berkata kepada mereka.

"Dua sahabat baik yang jauh-jauh datang tentu membawa keperluan penting. Nah, setelah kini upacara pemilihan Raja lautan yang baru telah selesai, harap kalian suka. menceritakan keperluan penting itu."

Dua orang itu lalu menarik bangku dan duduk didepan Rajawali Lautan itu, dan Si Buaya Sakti dengan suaranya yang tinggi lalu berkata.

"Sesung-guhnya kami berdua diutus oleh keturunan dari junjungan golongan kita, yaitu yang mulia Raja Kelelawar, untuk menemuimu dan menanyakan apakah engkau sudah menerima surat undangan beliau beberapa bulan yang lalu?"

Tung-hai-tiauw mengerutkan alisnya dan memandang tajam kepada kedua orang tamunya.

Kalau bukan dua orang ini yang datang bercerita, tentu dia tidak akan mau percaya.

Dua orang ini adalah Raja-Raja kaum sesat golongan darat dan sungai, mana mungkin dapat menjadi utusan kalau yang mengutusnya itu bukan orang yang benar-benar hebat sekali kepandaiannya?

Mereka itu memiliki kedudukan dan kepandaian yang setingkat dengan dirinya, dan kini mereka datang sebagai utusan, agaknya untuk menegurnya karena dia telah mengabaikan surat undangan yang diterimanya secara aneh itu.

"Memang benar, aku telah menerimanya. Akan tetapi aku harus hati-hati. Siapa tahu ada orang yang memalsukan nama junjungan kita itu dan mengaku-aku saja. Kita sendiri kan belum pernah bertemu dengan tokoh yang disebut Raja Kelelawar itu. Kita cuma mendengar saja dari dongeng nenek moyang kita. Mana kita bisa tahu apakah yang muncul ini tulen ataukah palsu?"

San-hek-houw mengerutkah alisnya dan pandang matanya mengandung kemarahan.

Dia sudah takluk benar kepada Raja Kelelawar dan dia sudah yakin bahwa Raja iblis itu memang benar amat sakti dan memiliki kesaktian-kesaktian seperti yang terdapat dalam dongeng tentang Raja Kelelawar.

Kini sebagai orang kepercayaan Raja Kelelawar, dia mendengar bahwa keaselian junjungannya itu diragukan orang, maka hatinya menjadi panas.

Akan tetapi dia bukan orang bodoh dan dia tahu bahwa dia sebagai seorang tamu disarang bajak, mempunyai kedudukan yang amat lemah dan berbahaya.

Oleh karena itu, diapun menelan saja perasaan dongkolnya dan memberi isyarat dengan pandang matanya kepada Buaya Sakti agar mereka cepat-cepat pergi dari tempat itu.

Si Buaya Sakti maklum akan kemarahan kawannya, maka diapun berkata dengan suara datar.

"Kami berdua hanya utusan saja, dan jawaban Hai-ong tentu akan kami sampaikan seperti apa adanya kepada Raja Kelelawar yang mengutus kami. Nah, sekarang kami berdua terpaksa mohon diri untuk kembali ketempat kami masing-masing."

"Ah, kenapa tergesa-gesa?"

Tung-hai-tiauw berkata, merasa tidak enak juga karena tidak ingin dianggap kurang ramah apa lagi mengusir dua orang tamunya ini.

Diapun tahu bahwa didarat, dua orang ini jauh lebih terkenal dari pada dirinya dan juga kedudukan mereka berdua ini lebih kuat.

Dengan dua orang seperti ini, yang telah dirangkaikan dengan dia sebagai Si Tiga Jahat, lebih aman kalau bersahabat, bukan bermusuhan.

"Apakah kalian tidak ingin melihat perlumbaan perahu-perahu kita malam nanti? Dan yang lebih menarik lagi, apakah kalian tidak ingin melihat upacara penyerahan korban perawan jelita di Pusaran Maut?"

"Tidak, terimakasih."

Kini Harimau Gunung, yang menjawab.

"Kami harus cepat-cepat pulang untuk membuat laporan kepada Raja Kelelawar."

Rajawali Lautan Timur bukan tidak berkesan mendengar tentang Raja Kelelawar itu.

Kalau dua orang rekannya ini sudah begitu tunduk, tentu tokoh yang mengaku sebagai Raja Kelelawar ini benar-benar hebat kepandaiannya.

Akan tetapi, dia sendiri baru saja menangkan kedudukan Raja Lautan, mana mungkin dia memperlihatkan kelemahan dan rasa jerihnya terhadap tokoh yang baru muncul dan yang belum dikenal serta diketahui sampai dimana kelihaiannya itu?

Pula, dia berada ditempat sendiri, didaerah bajak, dimana hadir orang-orang lihai yang akan membantunya dan membela kawan sendiri seperti Petani Lautan, Raja Muda Selatan dan semua anak-buah yang demikian banyaknya.

Takut apa?

Maka diapun tersenyum mengejek mendengar ucapan Harimau gunung tadi.

"Hemm, baiklah. Aku tidak akan menahan lagi. Akan tetapi, kita bertiga yang sudah lama menjadi rekan-rekan, yang nama kita dikaitkan orang sebagai Sam-ok, sungguh sayang kita kini berbeda pendapat dalam hal kekuasaan dan kedaulatan kita. Sampaikan saja salam kami kepada orang yang mengaku keturunan Raja Kelelawar itu. Katakan bahwa kami, orang-orang lautan, ingin hidup bebas tanpa, harus diperintah orang dari golongan lain."

Ucapan ini merupakan tantangan halus yang ditujukan kepada Raja Kelelawar!

Dua orang tokoh sesat itu marah dan mendongkol sekali.

Kalau saja mereka tidak berada diwilayah bajak, tentu mereka akan menyerang Rajawali Lautan.

Akan tetapi mereka tahu diri, maka mereka tidak menjawab dan hanya mengangguk.

Tung-hai-tiauw juga tidak mau banyak cakap lagi, lalu dia sendiri mengantar dua orang tamu ini keluar dan melihat sampai keduanya benar-benar telah pergi meninggalkan pulau itu.

Setelah dua orang yang dianggapnya saingan berbahaya itu pergi, Tung-hai-tiauw yang kini untuk ketiga kalinya kembali telah menduduki singgasana Raja Lautan dan berhak menjadi majikan dari pulau dengan Istananya itu, lalu mengajak dua orang tangan kanannya, yaitu Petani Lautan dan juga Raja Muda Selatan untuk melihat perlumbaan perahu.

Dengan diiringkan oleh para pengawal, para dayang dan juga isteri dari Rajawali Lautan, mereka semua lalu pergi kepanggung yang didirikan ditepi telaga, dengan wajah gembira nonton perlumbaan yang baru akan dimulai setelah Raja Lautan itu hadir dipanggung.

Senja telah mendatang, matahari telah condong jauh ke barat.

Perlumbaan yang hendak diadakan sekarang adalah perlumbaan terakhir yang merupakan puncak pertunjukan karena kini yang akan berlumba hanya tiga buah sampan saja.

Akan tetapi, para penumpangnya adalah thouwbak-thouwbak (mandor-mandor bajak) yang merupakan pembantu-pembantu utama para Raja bajak yang telah memiliki kepandaian tinggi.

Tentu saja keadaan menjadi menegangkan dan panas, karena tiga perahu yang akan berlumba itu seakan-akan mewakili golongan masing-masing, yaitu golongan anak-buah tuan rumah yang menjadi Raja Lautan, golongan anak-buah Petani Lautan dan anak-buah Raja Muda Selatan.

Setelah tiga buah perahu yang ditumpangi masing-masing oleh tiga orang itu siap, dimulailah perlumbaan dan terjadilah perlumbaan seperti yang sudah terjadi kemarin.

Akan tetapi sekarang lebih ramai lagi karena para penghuni perahu itu adalah orang-orang yang lihai, bukan hanya lihai ilmu silatnya akan tetapi juga lihai dalam mengemudikan dan melayarkan perahu mereka.

Dan seperti juga kemarin, perlumbaan ini lebih berupa, perkelahian diatas perahu atau usaha untuk saling menenggelamkan perahu lawan dari pada perlumbaan adu cepat.

Setiap kali ada sebuah perahu yang agaknya meluncur paling cepat, yang dua lalu menggunting dari kanan kiri dan menyerang perahu itu dengan dayung-dayung panjang mereka, bukan hanya berusaha menghantam badan perahu atau merusak layar atau merobohkan tiang layar, akan tetapi bahkan tidak segan-segan untuk saling hantam!

Mereka sungguh ahli mengemudikan perahu.

Perahu-perahu itu sampai miring, saling, serobot dan saling tabrak, akan tetapi dengan cekatan mereka mampu menghindar dan balas menyerang untuk menggenjot perahu lawan dari samping dalam usaha mereka menggulingkan lawan.

Perlumbaan atau perkelahian antara tiga perahu itu terjadi dalam suasana panas, apa lagi karena tepuk sorak para pendukung masing-masing tak pernah berhenti memberi semangat kepada jagoan masing-masing.

Beberapa kali ada perahu yang tertabrak dan terguling.

Akan tetapi dengan cekatan para penumpangnya sudah berhasil membalikkan perahu mereka dan mendayung lagi.

Ada yang kepalanya benjol-benjol terkena hantaman dayung.

Akhirnya, dengan kepala benjol-benjol dan perahu dalam keadaan tidak utuh lagi, perahu anak-buah Raja Muda Selatan keluar sebagai pemenang setelah lebih dulu berhasil mencapai garis yang ditentukan.

Mereka menerima sambutan sorak-sorai dan juga menerima hadiah-hadiah dari Raja Lautan.

Sementara itu, matahari telah terbenam dan sebagai gantinya, bulan yang amat besar dan merah muncul dari permukaan laut sebelah timur.

Setelah perlumbaan selesai, kini disusul pesta air!

Raja Lautan dan keluarganya, juga para kepala bajak seperti Petani Lautan dan Raja Muda Selatan, naik perahu yang dihias meriah dengan lampu-lampu gantung yang berwarna-warni, dan berpesta-pora diatas telaga.

Terdengar bunyi musik mengiringi nyanyian wanita-wanita penghibur dan semua orang mulai bermabok-mabokan.

Acara terakhir malam itu adalah penyembahan korban untuk Dewa Laut yang akan dilakukan di Pusaran Maut.

Seorang perawan jelita akan dikorbankan, seperti yang terjadi setiap tiga tahun sekali!

Tiupan rumah kerang raksasa menjadi tanda bahwa upacara itu akan segera dilaksanakan.

Perahu-perahu dipersiapkan dan semua perahu yang berpesta-pora lalu minggir.

Perahu Rajawali lautan dan perahu-perahu para pimpinan bajak telah siap mengikuti upacara itu.

Sebuah perahu yang dihias secara khas nampak diturunkan keair dari pantai.

Lalu dari pantai nampak sebuah gerobak dorong yang didorong orang keatas perahu.

Diatas gerobak dorong ini nampak seorang gadis yang duduk bersandar tiang dalam keadaan terbelenggu kaki tangannya.

Gadis itu dalam keadaan sadar dan dengan sepasang matanya yang mengeluarkan sinar berapi-api, gadis itu memandang kekanan kiri.

Jelas bahwa ia berada dalam keadaan terancam, akan tetapi hebatnya, sedikitpun ia tidak kelihatan takut.

Kedua lengannya terbelenggu kebelakang tubuhnya, diikat oleh belenggu besi pada tiang, dan kedua pergelangan kakinya juga dibelenggu dengan belenggu besi yang dipasang dipapan gerobak.

Dara itu bukan lain adalah Ho Pek Lian!

Seperti telah kita ketahui, dara itu memasuki pulau dengan berani dalam usahanya mencari Bu Seng Kun, A-hai, dan juga Bu Bwee Hong, disamping juga berusaha untuk mencari ayahnya yang pernah didengar suaranya didalam sebuah perahu.

Akan tetapi, karena terkejut melihat patung yang tiba-tiba hidup, ia ketahuan dan akhirnya dikeroyok dan tertawan.

Sungguh malang baginya, pada waktu itu Raja Lautan membutuhkan seorang dara jelita yang pantas untuk menjadi korban yang akan dipersembahkan kepada Dewa Laut, dan iapun terpilih!

Bahkan Tung-hai-tiauw merasa bangga dapat mempersembahkan seorang dara yang bukan hanya cantik jelita melainkan juga gagah perkasa.

Dia percaya bahwa Dewa lautan akan merasa girang sekali dengan persembahan istimewa ini dan tentu akan memberi berkah kepada semua bajak sehingga dimasa mendatang akan berhasil baik dalam pekerjaan mereka membajak!

Perahu kecil terhias yang membawa Pek Lian itu pun meluncur perlahan, diiringkan oleh perahu-perahu Rajawali Lautan, Petani Lautan, Raja Muda Selatan dan para kepala bajak lainnya.

Iring-iringan perahu itu amat banyak, seperti armada saja akan tetapi suasananya tetap gembira, apa lagi karena bulan purnama yang bundar besar kemerahan itu nampak cemerlang tidak terhalang awan seolah-olah sang bulan ikut merestui kesibukan mereka yang akan mempersembahkan korban sedemikian mulusnya kepada Dewa Laut!

Bulan purnama yang kemerahan itu nampak besar dan perlahan-lahan naik menjauhi permukaan laut.

Malam yang amat indah.

Lautpun tenang sekali, seolah-olah tidak ada keriputnya sedikitpun juga.

Langit bersih sekali sehingga nampak bintang-bintang dengan cahayanya yang pudar karena dikalahkan oleh sinar bulan.

Akan tetapi, kini para anak-buah bajak mulai tenang dan suara kegaduhan merekapun mereda, bahkan lalu menghilang.

Mereka maklum bahwa perjalanan sekali ini bukan lagi kelanjutan dari pesta-pora, melainkan perjalanan yang keramat dan penting, juga berbahaya!

Mereka akan melakukan upacara persembahan korban seorang perawan suci, kebiasaan tradisionil nenek moyang mereka.

Yang membuat mereka merasa ngeri adalah karena persembahan korban itu dilakukan didaerah yang teramat berbahaya dan yang amat mereka takuti, yaitu daerah pusaran maut, tempat yang mereka anggap sebagai pintu gerbang menuju keneraka.

Oleh karena itu, makin dekat dengan tempat mengerikan itu, makin teganglah hati mereka dan makin sunyilah keadaan diatas perahu-perahu yang beriringan itu.

Pek Lian yang duduk terbelenggu diatas gerobak dorong yang berada diatas perahu itu, memandang semua kegiatan ini.

Ia tahu bahwa ia menghadapi bahaya maut walaupun ia belum mengerti bahaya maut macam apa yang dihadapinya.

Ia tertawan dan dalam keadaan tertotok, ia telah ditelanjangi dan dimandikan oleh para dayang, dimandikan dengan air yang diberi wangi-wangian seperti seorang calon mempelai saja.

Kemudian, pakaian yang baru dari sutera dikenakan pada tubuhnya.

Sampai ia dibelenggu diatas gerobak dan didorong menuju keperahu itu, ia masih belum mengerti apa yang akan dilakukan orang terhadap dirinya.

Namun, ia bersikap tenang walaupun hati dan pikirannya tak pernah berhenti berusaha mencari kesempatan untuk dapat meloloskan diri.

Ia sudah terbebas dari totokan dan sudah beberapa kali ia mengerahkan tenaga mencoba kekuatan belenggu kaki tangannya.

Maka satu-satunya harapan hanyalah pada saat orang membebaskannya dari belenggu itu, baru ia akan bergerak mengamuk mati-matian.

Kalau perlu, ia akan meloncat kedalam lautan dari pada mati ditangan iblis-iblis berwajah manusia ini.

Satu-satunya hal yang membuatnya berduka hanyalah bahwa ia belum berhasil menemukan ayahnya dan yang amat aneh terasa olehnya adalah betapa dalam keadaan menghadapi bahaya maut seperti itu, yang terbayang olehnya hanya wajah ayahnya dan wajah A-hai!

Dimanakah pemuda itu sekarang?

Masih hidupkah?

Apakah masih ingat kepadanya?

pertanyaan-pertanyaan ini tanpa disengaja menyelinap dalam hatinya dan membuatnya heran sendiri.

Kini semua orang mulai dapat mendengar suara itu.

Suara yang selalu mendatangkan rasa ngeri dihati setiap orang bajak laut.

Suara gemuruh bagaikan guntur.

Wajah para bajak laut menjadi pucat.

Itulah suara Pusaran Maut!

Dan sungguh luar biasa sekali, berbareng dengan terdengarnya suara gemuruh itu, seperti secara mendadak sekali, nampak awan tebal hitam bergulung-gulung datang dan menutupi bulan purnama.

Keadaan yang tadinya terang-benderang itu tiba-tiba menjadi gelap-gulita dan lampu-lampu perahu kini baru nampak terang berkelip-kelip.

Semua orang memandang kearah bulan yang menyelinap kebalik awan hitam itu dengan hati cemas.

Suara gemuruh semakin keras terdengar, membuat semua orang menjadi gelisah.

Tiba-tiba sekali sehingga membingungkan semua orang, terdengarlah suara mengiang yang merupakan lengking tinggi, seperti suara nyamuk didekat telinga.

Mengiang tajam sekali, membuat semua orang menjadi semakin ngeri.

Semua orartg yang memandang keatas mengharapkan agar awan yang menutup bulan cepat berlalu.

Mereka tidak ingin datang kedaerah Pusaran Maut dalam cuaca yang gelap-gulita seperti itu.

Terlalu berbahaya!

Akhirnya, awan tebal itu sedikit demi sedikit meninggalkan bulan purnama.

Para pengawal yang menjaga Pek Lian bernapas lega.

Calon korban masih terikat ditempatnya seperti tadi.

Akan tetapi, tiba-tiba juru mudi perahu calon korban itu mengeluarkan teriakan tertahan, disusul kata-katanya yang gagap.

"Heiii! Lihatlah! Lihatlah bulan itu! Ada manusia didalamnya!!"

Semua orang, diatas perahu-perahu itu memang sudah melihatnya dan semua mata terbelalak.

Memang benar ucapan juru mudi perahu calon korban itu!

disana, diatas leher burung Rajawali sebagai penghias ujung perahu Rajawali lautan, nampak seorang laki-laki berpakaian hitam-hitam dan bermantel hitam pula, berdiri membelakangi bulan purnama, maka dia kelihatan seolah-olah berada didalam bulan yang besar itu!

Karena pakaiannya serba hitam dan bulan itu sendiri kuning keemasan, maka nampak kontras dan indah seperti lukisan saja.

Pek Lian sendiri juga sudah melihat bayangan itu dan jantungnya berdebar tegang ketika ia mengenal bahwa orang itu serupa benar dengan orang yang pernah dijumpainya diatas pulau nelayan.

Raja Kelelawar!

Semua orang masih memandang dengan mata terbelalak dan mulut ternganga, wajah pucat.

Mereka tidak tahu bagaimana orang itu tahu-tahu dapat berada diburitan perahu!

Dan melihat keadaan orang itu, semua orang yang sudah mendengar desas-desus tentang si Raja iblis Raja Kelelawar, menjadi ketakutan.

Kini terdengar suara melengking nyaring.

Banyak anak-buah bajak yang menggunakan kedua tangan untuk menutupi kedua telinga mereka karena suara lengkingan itu seperti akan memecahkan kendangan telinga mereka.

Tiba-tiba tubuh orang berpakaian serba hitam itu melayang dengan kecepatan seperti burung terbang saja menuju kearah perahu dimana Pek Lian terbelenggu.

Mantel hitam itu berkibar dibelakangnya seperti sayap yang lebar dan tahu-tahu dia sudah berada diatas dek perahu dekat gerobak dimana Pek Lian terikat.

Kedua tangannya bergerak-gerak dan terdengarlah besi belenggu itu patah-patah dan dalam sekejap mata saja Pek Lian telah bebas!

Akan tetapi, Pek Lian masih belum mampu bergerak.

Tubuhnya masih kaku-kaku karena terlalu lama dibelenggu.

Para pengawal tadinya tertegun seperti orang-orang terpesona oleh permainan sulap yang mengherankan saja.

Akan tetapi, mereka segera sadar bahwa tawanan telah dibebaskan orang, maka empat orang pengawal dengan senjata ditangan menerjang dan menyerang pria tinggi kurus berjubah hitam itu.

Bit-bo-ong atau Raja Kelelawar, orang yang mukanya kaku seperti topeng itu, seperti tidak memperdulikan datangnya empat buah senjata tajam yang menyerangnya.

Dia hanya mendengus, tangan kirinya bergerak cepat dan terdengar empat kali suara pekik mengerikan dan empat orang pengawal itu roboh terpelanting dengan kepala berlubang tertembus jari-jari tangan yang runcing bagaikan pedang.

Tentu saja para pengawal lain yang berada diatas perahu itu menjadi ngeri dan jerih.

Bunyi terompet tanda bahaya segera ditiupkan orang dan perahu-perahu yang lain berdatangan mengepung perahu calon korban.

"Hemmmm!"

Raja Kelelawar mendengus, tangan kirinya bergerak kearah Pek Lian dan gadis ini mengeluh karena ia telah tertotok dan dilain saat tubuhnya sudah diangkat dan dipanggul diatas pundak iblis itu.

Gilanya, agaknya sesuai dengan watak iblisnya yang biadab, tangan kanan iblis itu mengelus-elus pinggul dara yang membusung itu, sedikitpun tidak merasa takut atau malu biarpun ditonton oleh begitu banyaknya musuh yang mengepungnya!

Kasihan Pek Lian yang hanya dapat mematikan rasa malunya karena ia sama sekali tidak berdaya biarpun ia merasa betapa pinggulnya dielus-elus dan beberapa kali dicubit!

Terdengar aba-aba dari Rajawali Lautan dan ratusan anak panah menyambar kearah Raja Kelelawar.

Agaknya tak mungkin orang dapat menghindarkan diri dari sambaran ratusan anak panah itu kecuali kalau dapat memutar senjata menang kis atau kalau mengelakpun harus meloncat keluar perahu.

Akan tetapi, iblis itu sama sekali tidak mengelak, juga tidak menggunakan senjata untuk menangkis, melainkan menggerakkan tangannya dan jubah lebarnya bergerak melingkari dan menyelimuti seluruh tubuhnya dan tubuh Pek Lian yang dipanggulnya.

Anak panah yang ratusan banyaknya itu begitu menyentuh jubahnya, berjatuhan disekeliling badannya sampai bertumpuk-tumpuk.

Tidak ada sebatangpun yang mampu menembus jubah itu.

Anak panah yang ratusan banyaknya itu berserakan disekeliling kakinya.

melihat kesaktian ini, para anak-buah perahu calon korban cepat-cepat meninggalkan perahu, pindah keperahu lain karena merasa takut dan ngeri terhadap iblis itu.

Para thauwbak dengan suara gagap dan kaki gemetaran mencoba untuk mengumpulkan kembali anak-buah masing-masing yang dilanda ketakutan.

Melihat munculnya orang yang sama sekali tidak pernah mereka sangka-sangka itu, apa lagi karena tadi Raja Lautan memang membicarakan, iblis ini dengan kedua orang pembantunya, maka Tung-hai-tiauw, Petani Lautan dan Raja Muda Selatan serentak berloncatan dari perahu masing-masing menuju keperahu calon korban dimana iblis itu masih berdiri sambil memanggul tubuh Pek Lian, dengan sikap yang amat tenang.

Tiga Raja bajak itu tiba diperahu calon korban hampir berbareng, dari tiga jurusan.

Melihat ini, tiba-tiba Raja Kelelawar mengeluarkan suara melengking nyaring dan begitu dia menggerakkan jubahnya yang dikembangkan dengan kekuatan dahsyat, tumpukan anak panah disekelilingnya itu terbang berhamburan kembali ketempat masing-masing!

Kembali terdengar jerit-jerit mengerikan dan belasan orang anak-buah bajak roboh dengan tubuh tertembus anak panah!

Ada pula yang sempat menyelamatkan diri dibalik perisai mereka.

Tiga orang Raja bajak itu sendiri cepat mengibaskan tangan mereka dan runtuhlah anak panah yang meluncur kearah mereka.

Kini Tung-hai-tiauw, Petani Lautan, dan Raja Muda Selatan sudah berdiri berhadapan dengan iblis itu.

Mereka bertiga tentu saja sudah mendengar dongeng penuturan nenek moyang mereka tentang Raja Kelelawar dan kini, berhadapan dengan orang yang mengaku keturunan Raja Kelelawar, mereka memandang tajam penuh selidik.

Terutama sekali Tung-hai-tiauw yang baru saja tadi menolak untuk menakluk kepada iblis ini karena bagaimanapun juga, dia masih belum dapat menerima begitu saja munculnya seseorang yang mengaku sebagai keturunan Raja di Raja penjahat yang hanya hidup sebagai dongeng itu.

Apa lagi kalau dia, seorang Raja Lautan, harus takluk begitu saja!

Bagaimanapun juga, hati tiga orang Raja bajak ini gentar juga.

Orang yang berdiri dengan tegak didepan mereka itu memang mempunyai ciri-ciri seperti Raja Kelelawar dalam dongeng yang mereka dengar dari orang-orang tua dan guru-guru mereka.

Orangnya tinggi kurus dengan pakaian serba hitam, mantel atau jubah hitam pula dan mukanya tersembunyi dalam gelap karena membelakangi bulan, muka yang nampak kaku seperti topeng.

Dipinggangnya sebelah kiri terselip dua buah pisau panjang yang gagangnya indah bertabur batu pennata.

Tiga orang Raja bajak itu tertarik dan juga merasa tergetar hatinya, Menurut dongeng yang pernah mereka dengar, Raja iblis ini memiliki ilmu-ilmu yang sakti dan tidak lumrah.

Kabarnya memiliki ginkang atau ilmu meringankan tubuh yang tidak ada bandingnya yang disebut Bu-Eng Hwee-teng (Loncat Lari Tanpa Bayangan), ilmu silat sakti Kim-liong Sin-kun (Naga Emas) dan tenaga sinkang yang dinamakan Pat-hong Sin-ciang (Tangan Sakti Delapan Dewa).

Akan tetapi, mereka bertiga memberanikan diri dan mengandalkan ilmu kepandaian mereka sendiri yang tidak boleh dipandang rendah.

Maka, merekapun bersikap menantang dan bersiap untuk melayani iblis itu.

Raja Kelelawar melangkah maju dan dengan suaranya yang tajam dan tinggi dia bertanya.

"Siapakah diantara kalian yang berjuluk Rajawali Lautan Timur?"

Tung-hai-tiauw juga maju selangkah dengan berani, kemudian menjawab dengan suara nyaring, lebih nyaring dari biasanya untuk menambah semangatnya sendiri.

"Akulah Tung-hai-tiauw yang juga menjadi Hai-ong! Siapakah engkau?"

Iblis itu mendengus.

"Huh, mengapa engkau tidak mau datang memenuhi perintahku menghadiri pertemuan dikuil atas bukit itu? Kenapa pula engkau tidak menerima kedua orang utusanku siang tadi secara baik? Benarkah engkau tidak mau bersatu dibawah benderaku, seperti yang terjadi pada jaman nenek moyang kita dahulu? Apakah engkau masih meragukan aku? Nah, kalau begitu, majulah, akan kuperlihatkan bahwa aku adalah keturunan Raja Kelelawar yang sejati!"

Sambil berkata demikian, dengan lengan kiri masih memanggul tubuh Pek Lian diatas pundaknya, tangan kanan bertolak pinggang, Raja iblis itu melangkah maju dengan sikap menantang sekali!

Tung-hai-tiauw adalah seorang tokoh yang memiliki kepandaian tinggi.

Apa lagi dia merasa sebagai Raja Lautan, tentu saja dia tidak mau memperlihatkan kelemahannya.

Ditantang seperti itu, tentu saja dia tidak sudi untuk undur selangkah.

"Bagus! Hendak kulihat macam apa adanya orang yang berani menggunakan nama Raja Kelelawar untuk mengacau"

Tung-hai-tiauw sudah menggunakan ilmu andalannya, yaitu Tiauw-jiauwkang (Ilmu Kuku Rajawali) yang begitu dipergunakan, kuku-kuku jarinya menjadi kaku dan keras seperti baja.

Akan tetapi, cakaran-cakaran kedua tangannya itu disambut oleh tangan kanan Bit-bo-ong seenaknya saja dan setiap kali cakar yang kuat itu bertemu dengan tangan Raja Kelelawar, Tung-hai-tiauw merasa betapa tangannya panas dan tergetar hebat!

Padahal, lawannya itu menyambut serangan-serangannya hanya dengan sebelah tangan saja karena tangan kirinya masih memanggul tubuh Pek Lian dipundaknya!

Tung-hai-tiauw merasa penasaran sekali dan dia sudah mengeluarkan senjatanya yang ampuh, yaitu kipas besi dan segera menubruk kedepan, tangan kirinya tetap mencengkeram kearah kepala lawan sedangkan kipas besinya sudah menotok kearah pusar.

Kembali Raja Kelelawar memperlihatkan kelihaiannya.

Dengan mudah saja dia menangkis cengkeraman pada kepalanya sedangkan totokan kipas besi itu diterimanya dengan badan yang terlindung jubah pusakanya.

"Trakkk!"

Tubuh Tung-hai-tiauw terpental kebelakang karena ketika kipas besinya menotok, senjatanya itu membalik dengan amat kerasnya.

Dia menjadi semakin penasaran dan dicabutlah golok pusaka Toat-beng-to hadiah dari Petani Lautan.

Kini golok dan kipasnya berkelebatan cepat menyerang Bit-bo-ong tanpa memperdulikan kalau-kalau senjatanya itu akan mengenai tubuh nona yang dipanggul oleh Raja iblis itu.

namun, tiba-tiba saja tubuh Raja Kelelawar itu lenyap dari pandang matanya dan dari samping, tangan kanan iblis itu sudah mencengkeram kearah pelipisnya!

Demikian cepat gerakan iblis itu sehingga Tung-hai-tiauw tidak mampu mengikuti gerakannya dengan pandang mata!

Namun, Raja Lautan inipun lihai dan dari angin pukulan yang menyambar dia tahu dimana lawan yang pandai "menghilang"

Itu, dan diapun membacokkan golok nya menangkis untuk membuntungi lengan lawan.

Kembali Bit-bo-ong mengelak dan dengan mengandalkan kelincahan gerakan tubuhnya yang seolah-olah pandai menghilang atau beterbangan amat cepatnya itu, dia dapat mempermainkan Tung-hai-tiauw!

Raja Lautan itu merasa terkejut bukan main.

Lawannya itu memanggul tubuh dara itu, dan hanya mempergunakan sebelah tangan saja, tangan kosong pula, namun sanggup menghadapi golok dan kipas besinya.

Maklumlah dia bahwa memang benar lawan ini sakti bukan main, maka diapun lalu memberi isyarat kepada dua orang pembantunya.

Memang sejak tadi Petani Lautan dan Raja Muda Selatan sudah merasa penasaran.

Mereka berduapun merasa tidak rela kalau sampai kedaulatan mereka diatas lautan digeser dan dikuasai oleh seorang asing yang berada didaratan.

Maka, begitu melihat isyarat Raja Lautan, mereka berdua lalu terjun kedalam perkelahian itu dan mempergunakan senjata mereka.

"Plakkk!"

Tiba-tiba sebuah tamparan tangan kanan Raja Kelelawar mengenai punggung Raja Lautan.

Tamparan itu memang bertemu dengan baju emas yang melindungi tubuh Tung-hai-tiauw sehingga tidak sampai terluka.

Akan tetapi hawa tamparan itu sedemikian kuatnya sehingga dia merasa seolah-olah isi dadanya rontok semua!

untung bahwa pada saat itu, kedua orang pembantu utamanya sudah menerjang.

Petani Lautan mempergunakan senjata cangkul bergagang panjang sedangkan Raja Muda Selatan mempergunakan pedang pemutus urat yang berbahaya itu.

Bit-bo-ong mengeluarkan suara mendengus keras dari hidungnya.

Harus diakuinya bahwa setelah tiga orang Raja bajak ini mengeroyoknya, dia tidak mungkin dapat melayani mereka seenaknya seperti itu.

Betapapun lihainya, harus diakuinya bahwa tiga orang itupun memiliki tingkat kepandaian yang cukup tinggi.

Maka diapun lalu menggerakkan tangan kanannya dan tahu-tahu dia sudah mencabut keluar sebatang pisau panjang yang gagangnya indah bertaburan batu permata itu.

Karena tangan kirinya masih merangkul Pek Lian yang dipanggulnya, maka dia hanya dapat mempergunakan sebatang pisau panjang saja.

namun, ini juga sudah cukup karena dengan ilmunya meringankan tubuh yang luar biasa, ditambah pula lindungan yang kuat dari jubah hitamnya, tiga orang lawannya itu tidak mampu berbuat banyak.

Senjata mereka hanya dapat mengenai jubah hitam dan selalu senjata mereka terpental tanpa dapat melukai lawan, sedangkan gerakan iblis itu memang amat cepat, sukar diikuti dengan pandang mata.

Betapapun juga, karena mereka bertiga itu dapat bekerja-sama dan saling bantu, bagi Raja iblis itupun tidak mudah untuk dapat merobohkan seorang diantara mereka.

Kalau saja iblis itu tidak memanggul tubuh Pek Lian, kiranya tiga orang jagoan laut itu tidak akan mampu bertahan sedemikian lamanya.

Pertempuran satu melawan tiga ini sungguh amat seru dan mati-matian.

Sebetulnya, kalau saja Raja Kelelawar menghendaki, biarpun dia memanggul tubuh Pek Lian, dengan ilmunya yang mujijat, agaknya dia masih mampu merobohkan dan membunuh para lawannya dengan serangan-serangan maut.

Akan tetapi, dia tidak menghendaki demikian.

Dia membutuhkan bantuan Rajaraja bajak ini untuk memperluas kekuasaannya, maka dia harus mampu menaklukkan mereka, bukan membunuh mereka.

Tenaga mereka akan sangat berguna baginya kelak.

Karena inilah maka pertempuran itu berjalan seru dan sampai lewat ratusan jurus belum ada yang kelihatan menang atau kalah.

Perkelahian tingkat tinggi ini amat menegangkan hati para anak-buah bajak, juga para Raja bajak kecil yang tidak berani maju karena merasa betapa tingkat kepandaian mereka masih belum cukup untuk membantu Raja mereka.

Mereka demikian tegang dan tertarik, hampir tak pernah berkedip menyaksikan pertempuran diatas perahu calon korban itu sehingga mereka tidak sadar bahwa perahu-perahu itu bersama-sama terbawa arus yang halus mendekati daerah Pusaran Maut!

Baru setelah sebagian dari mereka terkena percikan air laut yang halus seperti kabut, mereka sadar!

Tadi, suara gemuruh itu seolah-olah tertelan oleh suara mengaungnya senjata-senjata yang digerakkan oleh tangan-tangan yang memiliki tenaga sakti amat kuat itu.

Kini, tahu-tahu mereka sadar bahwa perahu-perahu mereka telah berada didaerah Pusaran Maut.

Semburan air akibat berpu-singnya air di Pusaran maut itu telah mengenai mereka, padahal pusaran itu masih jauh sekali.

Setelah mereka sadar, kini suara gemuruh itu menggeratak dan tiba-tiba saja seperti menulikan telinga.

Mulailah mereka menjadi panik dan berteriak-teriak, apa lagi setelah perahu-perahu mereka itu mulai terasa oleng terbawa arus dan gelombang yang amat kuat menyeret perahu-perahu itu kesatu jurusan.

Tadi mereka tidak merasakan bahwa perahu-perahu mereka terseret karena perkelahian tingkat tinggi itu memang hebat bukan main.

Demikian cepatnya gerakan Raja Kelelawar menghindarkan diri dari kepungan tiga orang lawannya sehingga perkelahian itu dilakukan sambil berloncatan diantara perahu-perahu, tiang-tiang layar, atap dan bergantungan pada tali-tali layar.

Memang menakjubkan sekali menyaksikan kehebatan ginkang dari Raja Kelelawar yang seolah-olah memang hendak mendemonstrasikan kepandaiannya sambil memanggul tubuh dara yang masih lemas tertotok itu.

Setelah kini mereka sadar, mereka semua terkejut bukan main dan mereka menjadi ketakutan karena mereka maklum akan ancaman bahaya maut yang amat mengerikan.

Bagaikan orang-orang yang baru sadar dari mimpi buruk, semua orang tidak lagi memperdulikan pertempuran yang masih berlangsung mati-matian itu dan mereka semua berusaha untuk mendayung perahu masing-masing menjauhi atau keluar dari daerah berbahaya itu.

Akan tetapi, arus air begitu kuatnya menarik perahu-perahu itu kearah satu jurusan dan kini terasa hembusan angin yang amat kuat disertai alunan gelombang yang makin meninggi.

Perahu-perahu itu menjadi cerai-berai.

Semua perahu seperti tersedot kearah suara gemuruh sehingga suasana menjadi semakin kacau dan semua orang menjadi panik ketakutan.

Kabut tebal menggelapkan cuaca.

Semua orang berteriak-teriak ketakutan.

Perahu-perahu mereka tak dapat mereka kuasai lagi, tersedot aras yang amat kuat dan melaju melingkari kabut tebal itu.

Mereka telah berada dalam kekuasaan cengkeraman Pusaran Maut!

perahu-perahu berputaran semakin cepat dan semakin ketengah.

Kabut air makin tebal, orang-orang berteriak dan tiba-tiba terdengar suara gemeratak seperti benda kayu patah-patah disusul jeritan-jeritan mengerikan.

Pusaran Maut telah mendapatkan korban pertama dengan pecahnya sebuah perahu dan menghanyutkan semua penumpangnya, tersedot oleh air yang berpusing itu entah kemana.

Para bajak yang berada diatas perahu-perahu yang agak besar dan yang belum benar-benar tercengkeraman sedotan air berpusing itu berusaha mati-matian untuk menjauhi tempat berbahaya itu.

Akan tetapi perahu mereka itu rasanya seperti ada yang menahan dari belakang dengan kekuatan yang mengerikan, seperti ada tangan tak nampak yang memegangi buritan mereka.

Saking panik dan ketakutan, ada bajak yang meloncat kelaut, ingin berenang menjauhi tempat itu.

Akan tetapi justeru-dengan perbuatan itu, mereka itu seperti benda kecil ringan yang dengan mudahnya terseret kepusat dari Pusaran Maut.

Hanya terdengar teriakan-teriakan mereka yang minta tolong melolong-lolong lalu sunyi, sunyi yang mengerikan.

Korban-korban berikutnya berjatuhan ketika ada tiga buah perahu yang seperti saling diadu oleh tangan raksasa yang tidak nampak, pecah berantakan dan para penumpangnya terlempar disambut air berpusing lalu disedot entah kemana.

Para bajak itu menjadi semakin panik.

Biasanya, dalam upacara persembahan korban kepada Dewa Laut di Pusaran Maut, mereka tidak pernah sampai ketempat sedekat itu dengan air berpusing itu.

Tadi, saking terpesona oleh perkelahian tingkat tinggi diatas perahu, mereka tidak sadar dan tahu-tahu semua perahu telah berada begitu dekat ditempat berbahaya itu.

Perahu dimana tiga orang itu bertanding kini juga sudah berada ditepi pusaran dan diseret berputar-putar tak dapat dikendalikan lagi.

Tentu saja perkelahian itu terhenti secara mendadak.

Tiga orang Raja bajak itu memandang keluar perahu dengan muka pucat dan mata terbelalak, tidak perduli lagi kepada Raja Kelelawar yarig berdiri tegak diatas dek sambil memanggul tubuh Pek Lian.

Anak-buah bajak yang kebetulan berada diperahu itu sibuk berusaha mendayung, namun usaha mereka sia-sia belaka, bahkan ada dayung yang patah ketika melawan arus.

Tiga orang Raja bajak itu adalah ahli-ahli dalam air dan jagoan-jagoan dalam mengemudikan perahu.

Akan tetapi sekali ini mereka berdiri bengong dengan muka pucat seperti kehilangan akal.

Angin menghembus semakin kuat dan ombak mengganas menggiriskan hati.

Awan hitam bergulung-gulung dan tiba-tiba turun hujan badai yang dahsyat.

Tentu saja hujan badai ini tercipta oleh pusaran maut itu karena didaerah itu langit nampak bersih.

Setelah berada dalam keadaan seperti itu, maka setiap orang hanya ingat akan keselamatan diri sendiri saja.

Masing-masing hendak mencari keselamatan sendiri-sendiri.

Rasa takut merupakan perasaan yang paling kuat untuk menyeret manusia menjadi mahluk yang paling pengecut, paling kejam, dan paling tidak berperikemanusiaan!

Kalau ada orang yang melakukan perbuatan kejam, pada hakekatnya dilubuk hatinya terdapat rasa takut yang amat besar.

Kalau ada orang melakukan perbuatan yang pengecut, diapun sedang dicengkeram oleh rasa takut yang amat besar.

Rasa takut menghilangkan kewaspadaan dan ketenangan, membuat orang melakukan tindakan karena dorongan rasa takut itu, yang kadang-kadang merupakan perbuatan yang membuta.

Bermacam-macam bentuknya rasa takut.

Ada yang takut menghadapi kesulitan, takut kehilangan, takut kesepian, takut menderita, takut dijauhkan dari kesenangannya, dan takut akan kematian.

Akan tetapi, semua bentuk rasa takut itu sesungguhnya berdasar sama, yaitu sang pikiran atau si aku yang membayangkan sesuatu yang tidak menyenangkan, yang mungkin akan menimpanya.

Kalau kita dapat terbebas dari rasa takut dan menghadapi segala sesuatu yang menimpa diri kita pada saat itu juga, tanpa membayangkan sesuatu yang belum terjadi, maka kita akan selalu tenang dan waspada dan pada saat-saat bahaya mengancam, kita akan dapat bertindak atau memberi tanggapan yang tepat berdasarkan kewaspadaan dan ketenangan.

Dan untuk dapat terbebas dari rasa takut tentu saja harus meniadakan si aku yang membayang-bayangkan hal-hal yang belum ada itu.

Tiga orang Raja bajak itu cepat mencari perlengkapan untuk menyelamatkan diri.

Mereka memang selalu membawa perlengkapan untuk menolong diri kalau-kalau perahu mereka pecah atau terbalik diserang badai atau apa saja.

Kini mereka telah membawa sebuah jangkar dengan tali yang panjang.

Raja Laut yang lebih dulu mengayun jangkarnya kebelakang, menggaet sebuah papan dari pecahan perahu.

Dengan tepat jangkarnya menggaet papan itu dan diapun meloncat sambil memegangi tali, lalu berenang menuju kearah papan.

Dari situ dia meloncat lagi, jangkarnya menggaet lain benda.

Dengan cara demikan, juga berkat kepandaian renangnya yang mahir, akhirnya dia dapat lolos dari sedotan Pusaran Maut.

Dua orang rekannya juga melakukan hal yang sama.

Untuk melontarkan jangkar keperahu lain tak mungkin karena jarak mereka dengan perahu-perahu lain cukup jauh dan kabut tebal membuat cuaca gelap.

Hanya sedikit sinar bulan yang menembus kabut dan awan buatan Pusaran Maut itu, membuat sekeliling tempat itu nampak air berkilauan seperti cengkeraman-cengkeraman tangan maut yang hidup.

Raja Kelelawar bersikap tenang untuk memperlihatkan kebesarannya.

Akan tetapi sesungguhnya diapun agak bingung menghadapi ancaman maut mengerikan ini.

Dia tahu bahwa sebagai seorang manusia, betapapun saktinya, dia tidak akan mampu melawan kekuatan alam yang demikian dahsyatnya.

Pula, ilmu-ilmunya adalah ilmu didaratan, dan dia sama sekali bukanlah jago air seperti tiga orang Raja bajak itu, walaupun ini tidak berarti bahwa dia tidak pandai berenang.

Untuk dapat melakukan penyelamatan diri seperti tiga orang Raja bajak tadi, dia merasa tidak mampu.

Akan tetapi, tokoh yang satu ini memang luar biasa.

Dia sama sekali tidak menjadi panik sehingga dia tidak kehilangan kewaspadaannya.

Sambil memanggul tubuh Pek Liari, dia melangkah ketepi perahu.

Dia masih mempunyai ilmu yang dapat diandalkan untuk menyelamatkan dirinya, yaitu ilmu ginkangnya yang sudah mendekati kesempurnaan itu.

Setelah mencari-cari dengan pandang matanya seperti hendak menembus kegelapan, akhirnya dia melihat sebuah tiang layar hanyut tak jauh dari perahu.

Cepat dia menurunkan tubuh Pek Lian dari panggulan, mengempit tubuh itu dengan lengan kirinya dan diapun menggerakkan kedua kakinya meloncat keluar dari perahu.

Tubuhnya melayang dengan ringannya dan ketika kedua kakinya hinggap diatas tiang layar yang terapung itu, diapun sudah menggunakan tiang itu sebagai landasan untuk meloncat lagi menjauh dan kini yang hendak dijadikan tumpuan loncatan adalah sesosok mayat orang yang terapung.

Dengan cekatan dia meloncat keatas perut mayat itu dan menggunakannya untuk mengenjot tubuhnya lagi kearah pecahan perahu didekatnya.

Karena pecahan perahu itu cukup besar, dia memperoleh kesempatan untuk berhenti sejenak diatasnya.

Akan tetapi dia tidak boleh terlalu lama disitu karena walaupun dia telah agak menjauhi pusat Pusaran Maut, namun pecahan perahu itupun masih terseret ketengah lagi.

Maka ketika dia melihat sebuah balok besar lewat, diapun meninggalkan pecahan perahu itu dan meloncat kearah balok besar.

Ketika dia tiba diatas balok, dia mendengar suara hiruk-pikuk dan ternyata perahu yang tadi dipakai meloncat telah "Dimakan"

Pusaran air dan hancur berantakan.

Kini dengan perimbangan badan yang luar biasa, dia berdiri diatas balok yang bergoyang-goyang.

Hujan angin membuat penglihatannya kabur dan dia tidak dapat melihat terlalu jauh.

Dia mencari-cari dengan pandang matanya kalau-kalau terdapat perahu untuk dipakai menyelamatkan diri dari tempat mengerikan itu, karena diapun tidak mungkin dapat terlalu lama bertahan diatas balok itu.

Kalau tidak ada tempat lain yang lebih aman, kalau sampai dia tergelincir kedalam air dan terseret ombak, akan celakalah dia!

(Lanjut ke

Jilid 15) Darah Pendekar (Seri ke 01 -Serial Darah Pendekar) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo Bahan Cerita . Sriwidjono

Jilid 15 Tiba-tiba dia mengeluarkan suara tertahan saking girangnya.

Dia tidak tahu betapa Pek Lian sejak tadi menderita ketakutan yang amat hebat.

Dara ini dalam keadaan tertotok dipanggul dan dibawa berkelahi mati-matian, lolos dari lubang jarum diantara sambaran senjata tiga orang Raja bajak yang mengeroyok Raja iblis itu.

Kemudian, sekarang dibawa berloncatan berjuang mempertahankan nyawa diancam kematian mengerikan di Pusaran Maut!

Ingin rasanya Pek Lian menjerit dan menangis, akan tetapi dara ini menguatkan hatinya dan hanya memejamkan mata melihat ombak menggunung yang setiap saat seperti hendak menelannya.

Beberapa kali mukanya disiram air laut dan mulut, hidung dan matanya terasa asin dan pedas sekali.

Ketika Raja iblis itu mengeluarkan suara tertahan dengan girang, Pek Lian membuka matanya dan dara inipun melihat bayangan sebuah perahu yang hanya nampak samar-samar dalam cuaca remang-remang itu.

Perahu itu masih agak jauh, dan Raja Kelelawar memperhitungkan bahwa untuk mencapai perahu itu dia membutuhkan tiga atau empat kali loncatan lagi.

Balok tempat dia berdiri sudah mulai berputaran kencang.

Raja Iblis itu memandang kesekeliling dan tiba-tiba didekat balok yang dipijaknya itu tersembul dua sosok mayat.

Otaknya bekerja cepat sekali.

Tangan kanannya mencengkeram rambut kepala dua mayat itu dan menariknya keatas.

Karena ditambah beban dua sosok mayat itu, balok yang dipijaknya tenggelam, akan tetapi Raja iblis itu telah mempergunakan balok itu untuk mengenjot tubuhnya meloncat kearah perahu didepan sambil melemparkan sebuah diantara dua mayat yang dicengkeramnya.

Mayat itu menimpa permukaan air dan kedua kaki Raja Kelelawar menyusul cepat, hinggap diatas punggung mayat itu dan diapun melontarkan mayat kedua kedepan, meloncat lagi dan dia sudah hinggap lagi diatas mayat kedua.

Kini dia sudah makin mendekati perahu itu, tinggal dua kali loncatan lagi.

Akan tetapi tidak ada benda yang mengapung dekat, sedangkan tentu saja dia tidak mungkin dapat berdiri terlalu lama diatas mayat itu yang merupakan benda yang tidak tahan terapung.

Sekarangpun mayat itu telah mulai turun dari permukaan air dan kedua kakinya sudah terendam!

Sekali ini, Raja Kelelawar benar-benar merasa ngeri.

Tidak ada jalan lain lagi, pikirnya cepat.

Sebelum dia terendam terlalu dalam sehingga sukar untuk meloncat, dia sudah mengenjot tubuhnya lagi menggunakan mayat itu sebagai landasan, dan tubuhnya melayang kedepan.

Karena tidak ada apa-apa yang dapat dijadikan tempat mendarat, kini dia melemparkan tubuh Pek Lian keatas air setelah terlebih dahulu menotoknya sehingga jalan darah dara itu pulih kembali.

"Byuuurrr!!"

Tubuh Pek Lian jatuh keair dan tiba-tiba kaki Raja Kelelawar telah menginjak punggungnya.

Nona itu gelagapan dan meronta, akan tetapi tiba-tiba tubuhnya tertekan kuat dan diapun tenggelam.

Kiranya tubuhnya dipakai landasan meloncat oleh Raja Kelelawar yang kini meloncat kearah perahu yang telah dekat.

Akan tetapi oleh karena ketika dipakai landasan meloncat, tubuh Pek Lian tenggelam dan meronta, maka loncatan Raja Kelelawar itu tidak dapat mencapai sasaran dan tubuhnya melayang turun masih kurang tiga meter dari perahu itu!

Kalau orang lain yang meloncat seperti itu, tak dapat dicegah lagi tentu tubuhnya akan terjatuh kedalam air.

Akan tetapi Raja Kelelawar bukanlah manusia biasa, melainkan orang yang telah memiliki tingkat kepandaian yang amat hebat.

Maka ketika tubuhnya melayang turun, dia lalu mengeluarkan sabuknya, melolos sabuk itu dan dihantamkannya sabuk itu keatas permukaan air laut.

Terdengar bunyi ledakan keras seperti cambuk yang dipukulkan dan ketika ujung sabuk itu mengenai permukaan air, terjadilah gelombang besar dan tubuhnya sendiri dapat berjungkir balik keatas sampai mendekati perahu, kurang satu setengah meter lagi!

Kini sabuknya kembali bergerak menyambar pinggiran perahu dan sekali dia membetot, tubuhnya meluncur kearah perahu.

Dengan gerakan yang istimewa, akhirnya Raja Kelelawar itu berhasil mendarat diatas dek perahu itu.

Hatinya lega bukan main.

Akan tetapi ketika dia menoleh kearah air dimana tadi dia melemparkan tubuh Pek Lian, ternyata nona itu sudah tidak nampak lagi.

Akan tetapi Raja iblis ini tidak memperdulikannya lagi.

Dia lalu mendayung perahunya dan menyelamatkan dirinya dengan membawa perahu itu menempuh ombak dan badai, menjauhi Pusaran Maut.

Badai dan ombak makin menggila dan agaknya keadaan ini malah dapat menyelamatkan sebagian dari para anak-buah bajak.

Perahu-perahu itu ada yang ditiup badai dan dibawa ombak menjauhi Pusaran Maut, walaupun banyak pula perahu yang diseret tenggelam berikut para pemumpangnya.

Tiga orang Raja bajak itu dapat menyelamatkan diri mereka dan dengan lesu mereka semua berkumpul dipulau Raja Laut, menghitung anak-buah masing-masing dan ternyata sepertiga bagian dari anak-buah mereka lenyap menjadi korban pusaran Maut.

Sekali ini, bukan seorang perawan suci yang mereka persembahkan kepada Dewa laut, melainkan anak-buah mereka sendiri yang puluhan orang jumlahnya.

Diam-diam mereka menyalahkan peristiwa tiru.

kepada Raja Kelelawar, akan tetapi disamping itu merekapun harus mengakui bahwa Raja Kelelawar itu sungguh luar biasa sekali ilmunya dan memang pantas menamakan diri sebagai keturunan Raja iblis itu.

Biarpun dia masih terpilih sebagai Raja Lautan, namun sekali ini pengangkatannya sebagai Raja diawali peristiwa yang amat tidak menyenangkan, membuat Tung-hai-tiauw berhati-hati dan cepat menyusun kekuatan anak-buahnya lagi dengan mengambil anggauta-anggauta baru.

Pek Lian mengeluh ketika punggungnya diinjak oleh kala Raja Kelelawar.

Kekuatan yang mendorongnya membuat tubuhnya tenggelam.

Ia gelagapan, meronta dan akhirnya dapat muncul kembali dipermukaan air laut.

Untung bahwa ia sudah keluar dari arus berputar yang dibawa oleh Pusaran Maut.

Sekuat tenaga ia berenang menjauhi walaupun seluruh tubuh, terutama punggungnya, terasa nyeri-nyeri.

Akkhirnya ia berhasil meraih sebuah papan yang cukup lebar dan yang lewat didekatnya.

Agaknya papan itu adalah bekas pintu kamar perahu.

Ia lalu naik dan merebahkan diri diatas papan itu, lalu dibiarkannya ombak membawa papan itu kemana saja.

Ia sudah kehabisan tenaga dan ia memasrahkan dirinya kepada kekuasaan yang menggerakkan air laut luas itu.

Dan iapun terlelap, setengah pingsan, tak tahu apa-apa lagi.

Fajar telah menyingsing.

Matahari yang lembut sinarnya, kemerahan dan bulat besar, muncul dari permukaan air laut sebelah timur.

Sudah tidak ada bekasnya lagi hujan badai semalam.

Langit nampak bersih cerah, dengan awan-awan putih kebiruan menghias di!sana-sini, nampak begitu tenang tenteram penuh damai yang mengamankan hati.

Tiada angin menggerakkan awan-awan tipis itu.

Burung camar beterbangan diudara.

Sepagi itu mereka belum sibuk mencari ikan, agaknya masih bermalas-malasan membiarkan dirinya melayang dan meluncur berkeliling diudara.

Sayap mereka hanya bergerak sekali-kali saja, dan hanya dikembangkan untuk menjaga keseimbangan tubuh ketika meluncur dilangit yang kosong.

Ekornya kadang-kadang bergerak bersama kepala, agaknya untuk mengemudikan penerbangan mereka yang seenaknya itu.

Kadang-kadang mereka mengangkat kepala agak tinggi dan mengeluarkan teriakan, mungkin memanggil pacarnya atau temannya.

Namun gerakan tubuh yang meluncur berkeliling itu, teriakan sekali-kali yang parau itu, sama sekali tidak mengganggu keheningan yang terasa menyelimuti dunia disaat itu.

Mereka bahkan menjadi sebagian dari kesunyian dan keheningan itu, dan tanpa mereka keheningan itu takkan lengkap agaknya.

Matahari pagi menciptakan sebuah lorong emas dipermukaan air laut yang tenang, sebuah lorong emas memanjang yang kadang-kadang dilintasi bayangan ikan yang tersembul dari permukaan air, nampak siripnya lalu menyelam kembali meninggalkan lingkaran-lingkaran dipermukaan air.

Makin lama, lorong keemasan itu berobah semakin terang dan akhirnya terganti menjadi lorong perak yang mulai menyilaukan mata.

Pada saat itu orang sudah tidak lagi berani memandang kearah matahari yang telah berobah menjadi bola perak yang bernyalanyala.

Pek Lian mengeluh, membuka matanya dan sejenak ia bingung.

Akan tetapi, begitu terasa betapa punggung dan pundaknya nyeri, dan mengenal papan dimana ia rebah, ia segera teringat akan keadaannya dan iapun memaksa tubuhnya untuk bangkit duduk.

Laut tenang sekali sehingga papan yang ditumpanginya itu hampir tidak bergerak.

Ia memandang kesekeliling.

Air dan air biru yang mulai berkilau tertimpa cahaya perak matahari.

Ketika menoleh kearah timur, matanya menjadi silau dan cepat-cepat ia membuang muka.

Ia tidak tahu sampai dimana papan itu membawanya, dan disekitarnya yang nampak hanya air laut saja.

Perutnya terasa perih dan lapar bukan main.

Ketika ia melihat sebatang dayung didekatnya, ia merasa girang bukan main dan cepat mengambilnya.

Ia tidak ingat lagi kapan ia menemukan dayung ini, mungkiri semalam ketika ia naik kepapan ini, ia tidak tahu lagi.

Yang penting, dayung ini akan dapat membawanya kedarat!

Ia harus cepat-cepat menemukan daratan kalau ia ingin hidup karena tidak mungkin ia dapat bertahan lama diatas papan ini tanpa makan dan minum, sedangkan tubuhnya masih lelah dan nyeri semua rasanya.

Ia tahu bahwa ia berada dilaut timur, maka ia tidak ragu lagi bahwa daratan tentu berada dibarat, arah sebaliknya dari matahari.

Maka iapun mulai mendayung kearah yang sebaliknya dari matahari terbit, ke barat.

Punggung dan pundaknya terasa nyeri ketika mendayung, namun ia memaksa diri dan mendayung dengan gerakan tetap, tidak berani terlalu mengerahkan tenaga karena hal ini akan cepat menghabiskan tenaganya.

Karena air laut amat tenang, maka papannya dapat meluncur dengan kelajuan yang cukup membesarkan hati.

Akan tetapi kebesaran hatinya mulai mengecil dan harapannya makin menipis setelah matahari naik tinggi dan sinarnya menimpa ubun-ubun kepalanya, kedua lengannya sudah pegal-pegal senerti hendak patah-patah rasanya, punggung dan pundaknya kiut-miut rasanya, namun belum juga nampak adanya daratan atau pulau.

Perutnya sudah terasa lapar sekali dan tubuhnya lemas.

Tenggorokannya kering.

Tubuh terasa setengah lumpuh dan matanya mulai berkunang-kunang.

Pek Lian mengeluh dan menghentikan gerakan tangannya yang mendayung.

Ia memejamkan kedua matanya, merasa bahwa kematian agaknya tak lama lagi tentu datang menjemputnya.

Dari jauh ia seperti melihat wajah ayah dan ibunya.

Mereka datang hendak menjemputnya!

Ayahnya nampak berpakaian serba putih, jenggotnya yang panjang dan putih itu berkibar tertiup angin dan ibunya yang telah tiada itu nampak masih muda dan cantik sekali.

Mereka berdua itu mengulurkan tangan kepadanya dan iapun tidak ingat apa-apa lagi!

Samar-samar dilihatnya lagi ayahnya yang berpakaian putih, bersama ibunya yang juga berpakaian serba putih.

Mereka itu lewat atau lebih tepat melayang agak jauh dari tempat ia rebah.

Mereka meninggalkannya.

"Ayaaahhh! Ibu!"

Pek Lian mengeluh dan memanggil lalu tersadar.

Ia membuka matanya.

Bayangan ayah-bundanya sudah tidak nampak lagi.

Dan ia mendapatkan dirinya berada didalam sebuah kamar kecil, rebah diatas sebuah dipan.

Ia terbawa oleng kekanan kiri dan telinganya dapat mendengar suara hempasan air memukul dinding kamar.

Ia berada dalam sebuah bilik perahu!

Ketika menoleh kekiri, ia melihat seorang gadis berpakaian serba putih duduk diatas sebuah kursi kayu, memejamkan kedua matanya, agaknya tertidur atau beristirahat.

Ketika Pek Lian meneliti dirinya, ternyata pundak kirinya telah dibalut dan terasa olehnya betapa punggung dan pundaknya hangat dengan obat lumur, juga ada tercium bau obat olehnya.

Sekalipun tubuhnya masih penat-penat, akan tetapi punggung dan pundaknya sudah tidak terasa nyeri lagi ketika digerakkan.

Ia memandang kesekeliling memeriksa keadaan dalam bilik itu.

Diatas meja kecil terdapat bermacam-macam gelas obat, agaknya obat-obat untuknya.

Akan tetapi tiba-tiba hidungnya mencium bau yang aneh.

Ia menjadi waspada dan ketika ia mengenal bau harum dupa yang biasa dipakai orang untuk menyembahyangi orang mati, alisnya berkerut.

Kurang ajar!

Agaknya orang-orang dalam perahu ini menganggap bahwa ia sudah mati!

Akan tetapi, pada saat itu timbul gagasan yang membuat dara ini hampir tertawa cekikikan.

Kalau ia dianggap sudah mati, biarlah ia akan membuat mereka semua itu ketakutan!

Tentu mereka itu akan ngeri melihat ia hidup kembali!

Ia melirik kearah gadis yang terkantuk-kantuk diatas kursi dan tersenyum.

Orang pertama yang akan melihat "mayat hidup"

Adalah gadis ini. Ia membayangkan betapa gadis itu akan terkejut dan ketakutan setengah mati, terkencing-kencing! "Ehem! Ehem!!"

Ia terbatuk-batuk sambil duduk menghadapi gadis itu.

Benar saja.

Gadis itu terbangun dari tidurnya.

Akan tetapi bukan gadis itu yang terkejut ketakutan melihat mayat hidup, melainkan Pek Lian sendiri yang kecelik karena gadis itu sama sekali tidak kelihatan takut, bahkan girang.

Gadis itu lalu meloncat mendekati dan berusaha mencegahnya untuk duduk terlalu lama.

"Aihh nona sudah siuman kembali? Dan eh, harap nona jangan banyak bergerak dulu, harap suka rebah saja"

Akan tetapi Pek Lian tidak mau rebah kembali. Sambil memandang tajam iapun bertanya.

"Dimana aku berada? Dan siapakah engkau?"

Sebelum gadis itu menjawab, pintu bilik perahu itu terbuka dan muncullah seorang gadis cantik jelita yang berperawakan langsing.

Juga gadis ini berpakaian serba putih, terbuat dari pada sutera halus.

Wajah yang cantik itu tersenyum ramah kepada Pek Lian.

"Enci Lian berada diperahu kami. Lupakah enci kepadaku? Kami adalah kaum Tai-bong-pai dan enci pernah membantuku ketika aku sedang diobati oleh keluarga keturunan Tabib Sakti beberapa bulan yang lalu."

"Ahli... engkau adik Kwa Siok Eng?"

Pek Lian berkata lirih, kini teringat kepada gadis remaja yang cantik itu, yang dahulu menderita sakit lumpuh dan diusung dalam keranjang pada tengah malam oleh anak-buah Tai-bong-pai, diantar oleh nyonya Kwa tokoh Tai-bong-pai, ibu dari gadis ini.

"Enci Pek Lian, aku sangat berterimakasih kepadamu atas budimu yang besar itu."

Siok Eng menjura dengan hormat, kemudian mendekati pembaringan dan dengan halus ia membujuk agar Pek Lian suka rebah kembali karena gadis itu sedang berada dalam pengobatan.

"Lukamu yang berada disebelah dalam cukup gawat, enci, maka engkau perlu beristirahat dan mengalami pengobatan yang teliti."

"Terimakasih, adik Eng. Kalau tidak bertemu dengan perahumu eh, bagaimana engkau dapat menolongku dan dengan siapa saja engkau berlayar ini? Dan hendak kemana?"

Siok Eng tersenyum dan nampak deretan gigi yang putih dan rata seperti rangkaian mutiara.

Diam-diam Pek Lian harus mengakui bahwa dara ini juga amat cantik jelita!

Hanya sayangnya, wajah yang rautnya manis ini nampak kepucatan seperti wajah orang-orang Tai-bong-pai pada umumnya.

Siok Eng merasa geli mendengar hujan pertanyaan itu.

"Enci Lian, aku sedang pergi hendak mencari Ban-kwi-to "

"Ban-kwi-to?"

Pek Lian bergidik, teringat bahwa Ban-kwi-to (Pulau Selaksa Setan) adalah tempat tinggal orang-orang yang amat lii hai dan kejam seperti Bouw Mo-ko dan Hoan Mo-li, kakek nenek cabul tak tahu malu yang ganas dan amat jahat itu.

Siok Eng mengangguk.

"Dengan ditemani tiga belas orang dayang dan ahli-ahli perahu, aku berlayar mencari Ban-kwi-to dan kebetulan sekali aku melihat engkau rebah pingsan diatas papan itu. Aih, betapa besar rasa terimakasihku kepada Dewa Lautan yang telah mempertemukan kita sehingga aku berkesempatan untuk membalas segala budi kebaikanmu dahulu, enci Lian."

Ia berhenti sebentar dan menatap wajah Pek Lian, lalu melanjutkan dengan pertanyaan.

"Akan tetapi, sungguh tak ada habisnya aku berheran bagaimana engkau tahu-tahu berada ditengah lautan, diatas sebuah papan pintu, dalam keadaan terluka dan kehabisan tenaga, enci Lian?"

Pek Lian menarik napas panjang.

"Ah, agak panjang ceritanya, adik Eng. Aku tertawan oleh anak-buah Raja Lautan, hendak dijadikan korban Pusaran Maut agaknya."

"Ah, bukan main! Engkau terpilih menjadi korban Dewa Laut di Pusaran Maut? Tentu mereka itu kembali mengadakan pemilihan Raja lautan yang diadakan tiga tahun sekali, bukan? Dan bagaimana engkau dapat lolos dari bahaya maut seperti itu?"

"Terjadi keributan dengan munculnya Raja kelelawar"

"Ihhh...!"

Siok Eng membelalakkan matanya yang bening.

"Benarkah Raja iblis itu muncul disana? dipulau Raja Lautan?"

"Tidak, tahu-tahu dia muncul diantara perahu-perahu, hendak menundukkan tiga Raja bajak laut. Terjadi perkelahian hebat dan perahu-perahu itu tanpa mereka sadari telah terseret oleh Pusaran Maut. Semua orang nyaris tewas dan aku sendiri akhirnya dapat menyelamatkan diri dan menumpang pada papan itu"

Pek Lian tidak mau menceritakan semua pengalamannya yang mengerikan, juga memalukan.

Mana mungkin ia menceritakan betapa ia ditawan Raja Kelelawar, dipanggul dan pinggulnya dielus-elus dan dicubit, kemudian betapa ia dijadikan batu loncatan oleh Raja iblis itu yang hendak menyelamatkan diri?

Siok Eng menarik napas panjang.

"Ah, ternyata para dewa masih melindungimu, enci Lian! Lolos dari tangan mereka sungguh merupakan keajaiban, dan lolos dari Pusaran Maut juga merupakan suatu kemujijatan."

"Dan dalam keadaan hampir mati bertemu denganmu merupakan berkah yang luar biasa besarnya, adik Eng. Sebenarnya, orang seperti engkau ini mau apa pergi ke pulau Selaksa Setan yang menjadi sarang manusia-manusia iblis yang amat kejam itu?"

Siok Eng tersenyum.

"Biarkan aku memeriksa lagi luka-lukamu, enci, nanti kuceritakan semuanya kepadamu."

Dara itu lalu membuka balut pundak Pek Lian, memeriksa dan memijat sana-sini dengan jari-jari yang ahli. engkau sekarang sudah sembuh sama sekali dari penyakitmu dahulu itu, bukan?"

Dara yang usianya baru kurang lebih tujuh belas tahun itu mengangguk.

"Ya, aku sudah sembuh berkat pertolongan Lo-cianpwe Kam Song Ki"

"Apa? kau maksudkan kakek murid ketiga dari Raja Tabib, yang amat hebat ilmu ginkangnya itu?"

Pek Lian berseru dan terbayanglah wajah yang tampan dari Kwee Tiong Li, ketua lembah pemimpin para patriot itu.

Biarpun dia menyebut nama kakek itu, namun sesungguhnya yang terbayang olehnya adalah pemuda itu yang pergi bersama si kakek.

"Dimanakah adanya kakek itu sekarang?"

Siok Eng menggeleng kepalanya.

"Entahlah, setelah dia mengobati aku, bersama muridnya dia lalu pergi meninggalkan tempat kami, entah kemana. Apakah enci mengenal mereka?"

Pek Lian mengangguk tanpa menjawab.

Wajah yang tertimpa sinar lampu itu nampak demikian cantiknya dan karena lampu itu terbungkus kertas warna merah sehingga sinarnya kemerahan maka kepucatan wajahnya tertutup oleh sinar itu.

Dilain fihak, Siok Eng yang dipandang seperti itu oleh Pek Lian, menjadi agak heran dan malu-malu.

Ia melanjutkan pengobatannya, memberi obat lumur kepundak dan punggung Pek Lian sambil bercerita.

"Engkau tadi bertanya mengapa aku pergi mencari Pulau Selaksa Setan? Sesungguhnya aku mencari tempat tinggal orang-orang beracun dari pulau itu adalah untuk mencari Hek-kui-hwa (Bunga Mawar Hitam atau Bunga Setan Hitam) yang berdaun putih. Menurut ayahku, bunga itu hanya tumbuh disana dan bunga itulah yang dapat menjadi obat untuk membantuku menyempurnakan latihan ilmu keturunan Tai-bong-pai. Dengan bantuan racun bunga itu, yang dalam hal umum mengandung racun yang mematikan dan tidak ada obat penawarnya, maka aku akan dapat menyalurkan sinkang untuk membuka jalan darah yang paling rumit dan gawat, yaitu Kim-nauw-hiat diubun-ubun kepala. Tanpa dapat menembus jalan darah itu, ilmu keturunan kami tidak akan dapat dikuasai dengan sempurna. Akan tetapi memang banyak bahayanya menyempurnakan ilmu itu sehingga ayah telah melarangku. Akan tetapi aku nekat karena ingin sekali mewarisi ilmu itu dan akibatnya engkau telah tahu sendiri. Aku menjadi lumpuh dan hampir saia mati. Melihat kenekatanku. setelah aku sembuh, ayah membuka rahasia ini, yaitu bahwa kalau aku bisa memperoleh Hek-kui-hwa dari Pulau Ban-kwi-to, maka aku akan dapat berhasil mewarisi ilmu itu. Sampai kini, hanya ayah seorang saja yang telah menguasai ilmu keturunan itu dengan sempurna."

Pek Lian mendengarkan dengan hati penuh kagum.

Semuda itu, Siok Eng telah mempelajari ilmu yang sedemikian hebatnya dan semangat dara ini demikian besar sehingga berani menempuh bahaya dengan mencari pulau yang ditakuti oleh semua tokon kang-ouw itu.

Mereka melakukan pelayaran sampai seminggu lamanya.

Karena diobati dengan tekun dan dibantu pengerahan tenaga sinkang dari Siok Eng, maka kesehatan Pek Lian pulih kembali.

Setiap kali melihat cara Siok Eng melakukan siulian, Pek Lian merasa heran sekali.

Nona dari Tai-bong-pai itu kalau melakukan samadhi, selalu dikelilingi berpuluh dupa wangi yang membara sehingga asap hio itu menyelimuti seluruh tubuhnya.

Akhirnya ia tidak dapat menahan diri dan bertanya tentang hal ini kepada Siok Eng.

"Biasanya orang bersamadhi sebaiknya memilih tempat dimana hawa udaranya bersih dan tenang, akan tetapi mengapa justeru engkau menggunakan begitu banyak dupa yang asapnya dapat menyesakkan pemapasan?"

Siok Eng tersenyum mendengar ucapan itu.

"Enci yang baik, hio-hio yang kubakar ini adalah dupa khusus buatan kami kaum Tai-bong-pai. Setiap batang hio mengandung sari obat penguat urat-urat dan jalan darah. Siapa saja dari kami yang mulai mempelajari sinkang perguruan Tai-bong-pai akan menggunakan dupa-dupa itu sebagai landasan atau dasar dari ilmu kami yaitu Tenaga Sakti Asap Hio yang membuat badan dan keringat kami berbau harum seperti hio."

Diam-diam Pek Lian bergidik.

Keringat yang berbau harum seperti hio mengingatkan orang akan iblis dan siluman.

Hanya iblis dan siluman sajalah agaknya yang keringatnya berbau hio.

Akan tetapi tentu saja ia tidak menyatakan isi hati itu melalui mulut.

"Sudah lamakah engkau melatih ilmu rahasia khusus Tai-bong-pai?"

"Tentu saja sejak aku masih kecil. Akan tetapi ilmu-ilmu yang sukar hanya dapat dipelajari setelah dewasa."

Pek Lian mengangguk-angguk dan memandang kagum.

"Hemm, engkau tentu sekarang telah menjadi lihai bukan main."

Siok Eng menggeleng kepala dan berkata merendah.

"Masih belum, enci Lian. Aku masih harus dapat menembus pintu Kim-nauw-niat diubun-ubun itu, baru ada kemungkinan aku berhasil baik."

Seorang dayang kepercayaan yang sejak tadi mendengarkan percakapan itu dan melihat betapa nonanya selalu merendah, menjadi tidak sabar.

"Nona kami memang pandai merendah! Sebenarnya nona kami adalah nomor tiga tingkat kepandaiannya didalam perguruan kami. Nomor satu tentu saja adalah pangcu (ketua), kemudian nomor dua adalah siauwya (tuan muda) yaitu kakak dari nona kami, dan nomor tiga adalah nona Kwa Siok Eng. Toa-hujin saja kalah oleh nona!"

Mendengar ini, Siok Eng hanya mendengus dan menyuruh dayangnya berhenti bicara sedangkan Pek Lian mendengar dengan hati penuh kagum.

Ia pernah melihat betapa ibu nona ini memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa lihainya.

Jadi, kalau Siok Eng sudah dapat melampaui ibunya, maka sukar dibayangkan betapa hebatnya ilmu kepandaian nona remaja ini!

Padahal, Siok Eng kelihatan begitu lemah lembut dan halus.

Malam itu gelap.

Bulan tua belum lama muncul dilangit timur, hanya memberi cahaya yang remang-remang.

Akan tetapi banyak bintang bermunculan diangkasa.

Setiap kali angkasa tiada bidan atau yang ada hanya bulan sepotong yang remang-remang, pasti bintang-bintang bermunculan.

Dua orang gadis itu berada diatas geladak perahu dan melihat-lihat bintang yang memang nampak cemerlang indah seperti ratna mutu manikam yang menghias langit-langit beludru hitam kebiruan yang lembut dan maha luas.

"Dimanakah adanya Pulau Selaksa Setan itu, Eng-moi? Apakah masih jauh dari sini?"

Tanya Pek Lian.

Ia sendiri merasa heran mengapa ia kini betah tinggal disebuah perahu.

Pelayaran ini terasa indah dan menyenangkan baginya, mungkin hal ini karena baru saja ia mengalami pelayaran yang penuh bahaya dan sama sekali tidak menyenangkan hatinya.

Kini ia merasa begitu aman tenteram dan penuh damai diperahu milik Tai-bong-pai itu.

Apa lagi disitu terdapat Siok Eng yang amat ramah dan halus budi.

"Entahlah, enci Lian. Kami sendiri belum pernah melihatnya. Akan tetapi aku telah mempelajari keadaan pulau itu dari keterangan yang dapat kukumpulkan. Menurut penyelidikanku itu, Pulau Selaksa Setan tidak nampak dari jauh karena selalu diliputi kabut tebal sehingga sukarlah ditemukan dan orang luar tidak dapat melihat keada-annya. Mungkin sekali kabut itu tercipta dari hawa beracun yang memenuhi pulau itu. Kabarnya, semua benda, binatang, tumbuh-tumbuhan dan apa saja yang berada disana mengandung racun. Juga kabarnya, menurut para nelayan yang pernah melihatnya, pulau itu dapat berpindah-pindah, mengikuti arus air laut."

"Ih, kenapa bisa begitu?"

Pek Lian bertanya heran mendengar ada pulau yang bisa pindah-pindah.

"Itulah sebabnya maka pulau itu dinamakan Pulau Selaksa Setan,"

Kata Siok Eng sambil tersenyum.

"Bukan hanya karena beracun, melainkan juga karena dapat berpindah-pindah seolah-olah ada setan-setan yang mendorong pulau itu pindah tempat."

"Tapi... tapi, mana mungkin dongeng tahyul seperti itu dapat terjadi sungguh-sungguh?"

"Aku sendiri tidak percaya ada setan mendorong-dorong pulau, enci Lian. Akan tetapi, andaikata benar terjadi pulau itu pindah-pindah tempat, ada kemungkinannya. Mungkin saja tanah dari pulau itu dibagian bawahnya tidak menjadi satu dengan dasar laut, hanya menempel saja. Dengan demikian, apabila ada terjadi arus yang kuat, bukan tak boleh jadi pulau itu tergeser dari tempatnya. Bukankah kemungkinan itu besar dan masuk akal, enci Lian?"

Pek Lian memandang kagum.

"Adik Eng, engkau sungguh membuat hatiku kagum. Engkau pandai dan cerdik, lihai ilmu silatmu dan cantik jelita lagi. Alangkah bahagianya pemuda yang dapat menyuntingmu kelak. Dan aku yakin sebentar lagi ilmumu akan melebihi ayahmu."

"Aihh, cici pandai benar memuji orang! Siapa pula sudi mengawini gadis yang pernah lumpuh sepertiku ini?"

Siok Eng berkata dengan muka kemerahan.

Akan tetapi disudut hatinya ia bergembira sekali.

Terbayang dimatanya wajah seorang pemuda yang jangkung dan tampan sekali, pemuda yang pernah menyelamatkannya, bahkan yang hampir saja mengorbankan nyawanya sendiri demi penyakit lumpuh yang dideritanya.

Pemuda itu mengobati dirinya yang waktu itu dalam keadaan telanjang bulat.

Seorang pemuda yang tampan, gagah perkasa, dan berbudi.

Bu Seng Kun!

Hatinya ingin sekali bertemu dengan pemuda itu, untuk menyatakan rasa terimakasihnya.

Akan tetapi, apabila ia teringat bahwa ia pernah bertelanjang didepan pemuda itu, ia merasa malu sekali dan sukar untuk membayangkan bagaimana ia akan dapat berhadapan muka dengan pemuda itu.

"Heii, itu disana ada ikan besar terapung! Tukang dayung! Tangkaplah ikan itu, kita adakan pesta besar malam ini!"

Tiba-tiba terdengar seruan seorang dayang yang menudingkan telunjuknya kesebelah kanan perahu mereka.

Sibuklah anak-buah perahu itu menangkap ikan yang besarnya seperti manusia dewasa itu.

Ikan meronta-ronta dalam jala.

Dua orang gadis itu cepat mendekati dan memeriksa ikan yang dari jauh nampak kebiruan itu.

Dan memang benar.

Ikan itu segala-galanya berwarna biru.

Sisiknya, matanya, dagingnya dan segalanya.

"Awas, lepaskan dia! Ikan itu beracun!"

Kata Siok Eng dan mereka lalu, melepaskan kembali ikan itu yang segera menyelam kedalam air.

"Ah, kita sudah dekat dengan daerah Ban-kwi-to! Agaknya tidak sia-sia jerih payah kita berlayar sekian lamanya. Ikan itu menurut keterangan adalah satu diantara penghuni perairan disekitar pulau. Kulihat tadi dia terluka dibagian kepalanya, maka tersesat kesini."

Siok Eng lalu memanggil seorang pembantunya yang ahli dalam memeriksa arus gelombang.

Kakek setengah tua yang juga menjadi kepala bagian pendayung itu mengadakan pemeriksaan dengan teliti.

Dia lalu menunjukkan arah arus air yang menuju kekiri.

Sementara itu, bulan tua sudah naik semakin tinggi.

Perahu mereka terus dilajukan kearah kiri dan semua orang bersikap tegang namun waspada karena nona mereka sudah mengatakan bahwa mereka telah berada dekat dengan tempat yang mereka cari.

"Nona, lihatlah! Air laut ini warnanya kemerahan seperti darah!"

Kata seorang dayang.

"Dan baunya busuk sekali!"

Kata Pek Lian yang juga berada ditepi geladak perahu bersama Siok Eng.

Siok Eng juga meneliti kearah air dan cuping hidungnya yang tipis itu berkembang-kempis.

Tiba-tiba ia berkata, suaranya mengandung ketegangan dan kegembiraan.

"Hati-hati, agaknya daerah ini sudah termasuk perairan Ban-kwi-to. Air laut disini sudah beracun. Tutup hidung kalian dengan saputangan, udaranya juga mengan dung racun. Nanti kuberi obat penawar."

Setelah nona itu mengeluarkan obat penawar berupa pel-pel putih kecil yang dibagi-bagikan kepada anak-buahnya, juga Pek Lian disuruh menelan sebutir, mereka tidak perlu lagi melindungi pernapasan dengan saputangan.

Akan tetapi karena bau air laut amat busuk, para dayang itu berbangkis-bangkis dan ada yang mau muntah.

Pek Lian bergidik ngeri.

Sukar untuk dapat membayangkan bagaimana ada manusia dapat hidup ditempat seperti ini.

Dan iapun semakin kagum kepada Siok Eng.

Ia tahu bahwa kaum Tai-bong-pai adalah ahli-ahli racun, akan tetapi melihat seorang dara remaja seperti Siok Eng bersikap sedemikian tenangnya menghadapi tempat yang amat berbahaya itu, ia merasa kagum sekali.

hatinya terasa besar dan gembira untuk menghadapi petualangan bersama seorang kawan seperti puteri ketua Tai-bong-pai ini.

Makin dalam mereka memasuki daerah itu, makin keras bau busuk dari air laut merah.

Akan tetapi tiba-tiba saja mereka telah melewati air berbau busuk itu, akan tetapi sebagai gantinya, airnya kini berobah kehijauan dan baunya juga amat kecut, seperti bau keringat yang sudah lama.

"Ihh, seperti bau keringatmu, A-cin!' seorang dayang berolok kepada temannya.

"Sialan! Keringatku tidak bau seperti ini, A-cui. Keringat seperti ini hanya patut dimiliki oleh laki-laki!"

"Hi-hik, ketahuan sekarang! Si A-cin agaknya sudah hafal akan bau keringat laki-laki!"

Seorang dayang lain menggoda.

"Tentu keringat pacarnya seperti ini baunya. Wahhhh...!"

"Lancang mulut! Kalau keringat pacarku seperti ini baunya, dalam waktu sehari saja mana aku kuat?"

Kata pula A-cin dan semua dayang tertawa.

Pek Lian ikut tersenyum.

Para dayang itu agaknya, sebagai orang-orang Tai-bong-pai, juga memiliki nyali yang besar sehingga ditempat seperti itu masih sempat berkelakar.

Memang bau air laut amat kecut, mirip bau keringat.

"Hei, kalian tenanglah!"

Tiba-tiba Siok Eng berkata.

"Dan simpan kelakar kalian itu. Ketahuilah, kita sudah dekat! Ayah pernah bercerita bahwa air laut yang merah berbau busuk itu merupakan perbatasan, dan kalau sudah tiba didaerah air laut kehijauan yang berbau masam, itu tandanya bahwa pulau itu akan kelihatan. Kita perhatikan saja, menurut ayah air laut akan berobah lagi kebiruan dan bau kecut itu akan terganti bau wangi dan pulau itu tentu akan kelihatan didepan kita."

Semua orang termasuk Pek Lian, kini dengan serius memperhatikan keadaan sekeliling.

Dan memang benar seperti yang dikatakan oleh Siok Eng tadi, air laut makin lama makin berobah warna menjadi kebiruan dan bau yang masam tadi mulai berobah dengan bau yang wangi, wangi yang aneh seperti sari seribu bunga bercampur bau manis.

Dan perlahan-lahan, diantara kabut yang masih remang-remang, nampaklah garis-garis daratan pulau.

Tentu saja semua orang memandang dengan hati penuh ketegangan karena mereka semua tahu bahwa sebentar lagi mereka akan tiba ditempat yang penuh bahaya.

Pulau Selaksa Setan terkenal sebagai pulau terlarang bagi orang luar dan kabarnya, siapapun juga tidak berani masuk karena siapa yang masuk tentu tidak akan dapat keluar kembali dalam keadaan hidup-hidup!

Anak-buah Tai-bong-pai memang pemberani, apa lagi mereka itu mengiringkan nona mereka yang mereka percaya penuh sebagai orang yang memiliki kepandaian luar biasa tingginya.

Memang Siok Eng amat mengagumkan.

Biarpun usianya baru tujuh belas tahun, masih remaja, namun sikapnya sudah dewasa.

Ia bersikap tenang dan berwibawa sebagai seorang yang bertingkat tinggi.

Dengan hati-hati ia membagi-bagikan pel pencegah keracunan kepada semua orang, termasuk Pek Lian.

Ada pel anti hawa beracun, pel anti tanaman beracun, berikut minyak pelumurnya untuk mengobati luka-luka yang terkena racun.

Iapun memimpin pendaratan perahu mereka, memilih tempat yang agak menonjol kedepan yang ditumbuhi pohon-pohon rindang sehingga ketika mereka mendarat, mereka terlindung oleh pohon-pohon itu.

Waktu itu, tengah malam telah lewat.

Bulan tua itu tidak mampu menembusi daun-daun pohon yang rimbun sehingga tempat itu nampak gelap, sunyi dan menakutkan.

Didalam kesunyian itu seperti terasa oleh mereka adanya ancaman maut yang mengintai dari tempat-tempat gelap.

Diam-diam Pek Lian sendiri bergidik.

Ia adalah seorang gadis gemblengan yang semenjak ayahnya ditawan telah mengalami banyak hal-hal yang mengerikan dan membuat hatinya mengeras dan tabah.

Akan tetapi, berada dipulau aneh ini, yang namanya saja Pulau Selaksa Setan dan penghuninya adalah iblis-iblis macam kakek dan nenek bergerobak itu, mau tidak mau hatinya gentar juga.

Namun ia melihat betapa Siok Eng masih kelihatan tenang-tenang saja.

Dengan tenang dan penuh wibawa Siok Eng berkata kepada para anak-buahnya.

"Kalian semua tidak boleh turun dari perahu. Siap dan waspadalah karena tempat ini benar-benar berbahaya. Sama sekali tidak boleh memegang benda-benda atau mahluk hidup ditempat ini karena semua itu mengandung racun yang ganas. Air itu, rumput itu semua mengandung racun. Kalian sudah memakai obat penawar, akan tetapi, kalau kalian memegang apa lagi memakannya, belum tentu obat penawar itu akan dapat melindungi kalian. Makan dan minum saja dari perbekalan sendiri. Tunggu disini sampai tiga hari. Kalau sampai tiga hari tiga malam aku belum kembali, kalian pulanglah dan beri laporan kepada ayah. Nah, aku pergi. Hayo, Lian-ci!"

Kecut juga rasa hati Pek Lian ketika ia digandeng oleh Siok Eng meninggalkan perahu dimana semua anak-buah Tai-bong-pai menanti itu.

biarpun pada waktu lain atau dalam keadaan umum, berada bersama orang-orang Tai-bong-pai yang berbau dupa dan pucat-pucat itu sudah merupakan hal yang menyeramkan, namun kalau dibandingkan dengan memasuki pulau setan itu, sungguh jauh lebih senang tinggal bersama mereka!

Akan tetapi, melihat ketabahan Siok Eng, Pek Lian lalu menekan perasaannya.

Masa ia harus kalah berani dibandingkan dengan dara remaja ini?

"Mari, adik Eng, dan berhati-hatilah,"

Katanya dengan sikap dewasa.

"Kau pergunakan ini, enci. Lumurilah semua muka leher dan kedua tanganmu agar kulit-kulitmu terlindung dari serangan racun,"

Kata Siok Eng sambil menyerahkan sebuah poci kecil dimana tersimpan minyak membeku yang berwarna kuning dan berbau harum.

Pek Lian lalu memakai minyak itu, dioleskan pada seluruh muka, telinga, leher dan kedua tangannya, pendeknya semua bagian tubuh yang tidak terlindung pakaian.

Siok Eng agaknya sudah sejak tadi memakainya dan dara ini membantu Pek Lian sampai pemakaian obat penawar itu rata benar.

Kemudian merekapun melanjutkan perjalanan dimalam remang-remang itu.

Biarpun mereka berdua sama-sama belum pernah datang ke pulau ini, namun karena Siok Eng sudah banyak mencari keterangan dan mempelajari keadaan pulau ini, maka dara remaja inilah yang memimpin perjalanan.

Mereka menyelinap dan menyusup diantara pohon-pohon menuju ketengah pulau.

Tak lama kemudian Siok Eng menunjuk kedepan karena sejak tadi mereka tidak mau mengeluarkan suara dan hanya memakai gerak tangan untuk saling memberi tahu.

Pek Lian juga sudah melihat adanya lampu-lampu dikejauhan.

Mereka berdua mulai merasa tegang.

Itulah sarang penghuni Ban-kwi-to yang amat terkenal itu.

Dengan amat hati-hati keduanya menyelinap diantara pohon-pohon, hanya melanjutkan gerakan setelah meneliti lebih dulu dan merasa yakin bahwa tidak ada manusia lain disekitar tempat itu.

Tiba-tiba Siok Eng mengangkat tangan menyuruh kawannya berhenti.

Mereka berdua bersembunyi dibalik sebatang pohon besar, pohon terakhir karena ternyata mereka tiba ditempat yang terbuka, tanah kosong yang tidak ditumbuhi pohon, bahkan tidak ditumbuhi rumput.

Yang ada pada tanah kosong itu hanyalah kerikil dan batu-batuan berserakan, seperti dasar sebatang sungai yang sudah tidak ada airnya dan kering.

Ditimpa sinar bulan tua dan bintang-bintang, batu-batu di.

tempat itu berwarna kehijauan, padahal tidak terdapat lumut atau rumput disitu.

Dan seolah-olah ada uap tipis kehijauan yang melayang dari tempat itu.

"Awas, Lian-ci. Inilah daerah dari cengyakang atau Si Kelabang Hijau itu, orang yang kelima dari Ban-kwi-to, dimana terdapat tujuh orang tokohnya. Batu-batuan didepan itu adalah tempat dimana dia memelihara kelabang-kelabangnya,"

Bisik Siok Eng kepada Pek Lian yang mau tidak mau bergidik ngeri membayangkan kelabang-kelabang beracun. Baru kelabangnya saja ia sudah merasa jijik dan ngeri, apa lagi kalau yang beracun.

"Lalu bagaimana kita harus melalui tempat ini? Lihat, diseberang sudah nampak genteng-genteng rumah mereka,"

Bisiknya kembali sambil memandang kearah batu-batuan itu dengan alis berkerut.

"Enci Lian, lihat baik-baik. kau lihat batu-batu disebelah kanan itu? Lihat batu-batu besar yang bagian atasnya lebih mengkilap terkena sinar bulan dan yang menonjol diantara batu-batu lain? Batu-batu itu tentu biasa diinjak orang. hayo kita lewat disana, tidak perlu kuatir akan jebakan."

Pek Lian menelan ludah dan mengangguk, tidak berani menjawab karena khawatir kalau-kalau suaranya akan membayangkan rasa ngerinya.

Siok Eng menekan tangannya lalu dara remaja itu melangkah dengan hati-hati, mengerahkan ginkangnya dan Pek Lian mengikuti dibelakangnya, mempergunakan jejak kaki kawannya sehingga ia tidak akan menginjak tempat lain yang mungkin mengandung jebakan.

Dengan ringan Siok Eng lalu meloncat dari batu kebatu, memilih batu-batu yang puncaknya mengkilap, terus dibayangi oleh Pek Lian.

Ditengah-tengah tempat itu, Pek Lian melihat sinar-sinar hijau merayap diantara batu-batu dan ia bergidik.

Tentu itulah kelabang-kelabang yang dimaksudkan oleh Siok Eng!

Kalau sampai terpeleset dan jatuh lalu dikeroyok kelabang beracun!

Hihh!

Sungguh menyeramkan bayangan itu dan Pek Lian cepat-cepat mengum-pulkan kekuatan batinnya untuk melawan rasa takutnya.

Akhirnya Pek Lian mendaratkan kakinya diseberang dengan hati lega.

Mereka telah berhasil melewati daerah kelabang itu.

Melihat sebuah kebun sayur dimana terdapat tanaman sayur kobis yang cukup subur dan sama sekali tidak memperlihatkan tanda-tanda bahaya adanya racun, Pek Lian menghampirinya.

Akan tetapi Siok Eng memegang lengannya.

"Sstt, hati-hati, enci Lian. Lihat semut-semut itu!"

Pek Lian terkejut dan menahan langkahnya. Ia melihat betapa kobis-kobis yang kelihatan segar itu penuh dengan semut-semut merah.

"Semut-semut apakah itu?"

Tanyanya gagap.

"Semut-semut ini beracun. Binatang-binatang ini dipelihara untuk memberi makan kepada kelabang-kelabang tadi. Dan kebun ini bukan kebun kobis seperti yang biasa kita makan, akan tetapi sejenis tumbuh-tumbuhan yang mengandung inti racun hijau!"

Pek Lian memandang dengan mata terbelalak kepada kobis-kobis itu dan meleletkan lidahnya.

Kini, kobis-kobis yang tadinya nampak menggiurkan dan segar itu seolah-olah berobah menjadi pemandangan yang menyeramkan, seolah-olah tadi ia melihat wajah bidadari yang tiba-tiba saja berubah menjadi wajah iblis.

Siok Eng menunjuk kekiri.

"Rumpun-rumpun bambu itulah yang merupakan daerah aman dan bebas dari racun, begitu menurut keterangan ayah yang pernah satu kali datang kesini. Nah, kita mengambil jalan melalui kebun bambu hijau itu."

Mereka berdua dengan hati-hati menyelinap diantara rumpun bambu menuju kesebuah bangunan yang berada ditengah-tengah rumpun bambu itu.

Mereka menyelinap kesamping bangunan dan melihat adanya pintu yang terbuka.

Dari pintu itu keluar bau bacin yang menyerang hidung mereka dan membuat mereka hampir muntah-muntah.

Siok Eng mengeluarkan dua helai saputangan merah dan menyerahkan sebuah kepada kawannya untuk menutupi hidung.

Ketika Pek Lian menggunakan saputangan merah itu didepan hidungnya, tercium olehnya bau harum yang keras dan segera bau bacin itupun lenyap atau kalah oleh bau harum.

Dengan isyarat tangannya, Siok Eng mengajak kawannya masuk karena dari luar nampak jelas betapa pondok yang pintunya terbuka itu kosong tidak ada orangnya.

Mereka melihat sebuah panci yang penuh dengan air kehijau-hijauan mendidih diatas tungku api dan uap air mendidih inilah yang menyebarkan bau bacin tadi.

Didalam almari tak jauh dari situ nampak banyak sekali botol-botol besar kecil.

Dan didalam sebuah keranjang sampah disudut nampak bangkai-bangkai kelabang seonggok, kelabang-kelabang besar yang warnanya sudah menjadi keputih-putihan dan mudah saja diduga bahwa tentu sari kelabang-kelabang itu sudah menjadi air kehijauan yang dibuat mendidih diatas tungku api itu.

Diatas sebuah meja besar terdapat sebuah guci yang terukir indah.

Iseng-iseng Pek Lian membuka tutupnya dan hampir saja ia menjerit karena jijik.

Didalam guci itu terdapat kelabang-kelabang yang besar, nampak berkilauan kulitnya tertimpa sinar lampu gantung.

Uap yang keluar dari dalam guci itu menyambar hidungnya, membuat Pek Lian hampir tak dapat bernapas.

"Cepat telan pel ini, kelabang-kelabang itu amat berbisa!"

Kata Siak Eng yang melihat keadaan Pek Lian.

Gadis ini menurut dan cepat menelan sebutir pel kecil dan dadanya terasa lega kembali.

Ia bergidik.

Sungguh berbahaya sekali.

Baru hawa atau uapnya saja sudah demikian berbahaya, apa lagi sengatannya!

Siok Eng mengajak mereka keluar dengan cepat dari tempat itu.

Dengan berindap keduanya menuju kegedung induk.

Tempat itu kelihatan sepi sekali seolah-olah tidak ada penghuninya sama sekali.

Namun mereka berdua tidak pernah mengurangi kewaspadaan.

Tak mungkin disitu tidak ada orang, karena buktinya terdapat lampu-lampu yang tentu dinyalakan dan dipasang orang.

Mungkin para penghuninya sedang tidur.

"Heh-heh-heh-heh!"

Pek Lian terperanjat seperti disengat kelabang hijau.

Suara ketawa kecil itu keluar dari sebuah kamar dibangunan sebelah kiri.

Dua orang dara itu cepat menyelinap keluar dan menyusup kebalik rumpun barnjbu dengan hati berdebar tegang.

kiranya suara ketawa itu keluar dari sebuah jendela yang kini terbuka lebar.

Sinar terang dari lampu didalam kamar itu menyinari halaman.

Siok Eng menyentuh tangan kawannya dan mengajaknya berindap mendekati jendela, bersembunyi diantara daun-daun bambu yang tumbuh diluar jendela, mengintai kedalam dengan hati-hati sekali.

Mereka melihat ada dua orang pria duduk saling berhadapan, menghadapi meja sambil bercakap-cakap.

Pria yang berkepala gundul dan tubuhnya gemuk pendek berperut gendut duduk menghadap kearah jendela sedangkan orang yang diajaknya bicara adalah seorang pria yang agaknya masih muda.

Kamar itu cukup indah dengan lampu gantung yang mewah dan kain-kain sutera bergan-tungan.

Si gendut pendek itu tersenyum lebar, nampaknya amat ramah kepada tamunya, pemuda itu.

Siok Eng mendekatkan bibirnya ketelinga kanan Pek Lian, lalu berbisik lirih sekali sehingga Pek Lian yang telinganya demikian dekat dengan mulutnyapun harus mengerahkan ketajaman pendengarannya untuk dapat menangkap apa yang dikatakan temannya.

"Kalau tidak salah si gundul itu adalah cengyakang Si Kelabang Hijau. Awas kalau berhadapan dengan dia. Orang itu licik dan kejam bukan main, suka menyiksa musuhnya sambil berkelakar. Anehnya, apa yang dilakukannya lewat tengah malam mengobrol dengan tamunya?"

Diam-diam Pek Lian terkejut mendengar bahwa si gendut itu adalah Si Kelabang Hijau yang disohorkan sebagai tokoh Ban-kwi-to.

Mereka berdua menahan napas dan mengintai.

Makin dilihat, makin heranlah hati mereka karena sikap si gendut itu sungguh teramat manis, bahkan terasa oleh mereka betapa sikap itu berlebihan manisnya, mendekati rayuan!

"Kongcu, ditempat ini engkau tidak perlu khawatir.

Tidak akan ada seorangpun setan yang berani mengganggumu selama aku berada didekatmu.

Dan apapun yang engkau kehendaki, tentu akan dapat kuadakan.

Maka senangkanlah hatimu tinggal disini, kongcu"

"Terimakasih, Lo-cianpwe. Aku hanya ingin meluaskan pengalaman dan menambah pengetahuanku saja,"

Jawab pemuda itu dan dari suaranya, dua orang gadis itu dapat menduga bahwa pemuda ini bukan orang sembarangan dan juga bukan orang kasar, bahkan kata-katanya teratur dan halus seperti ucapan seorang terpelajar.

Maka, tentu saja mereka berdua menjadi semakin tertarik dan heran.

Atas bujukan si gendut, mereka berdua itu lalu makan-minum dengan gembira dan dua orang dara itu menjadi bingung melihat betapa kakek gendut itu makin lama makin gila omongannya.

"Kongcu, selama ini banyak sudah kutemui pemuda-pemuda yang gagah dan tampan, akan tetapi baru sekarang aku bertemu dengan seorang ganteng seperti engkau. ha-ha-ha, betapa senang hatiku dapat berkenalan denganmu!"

Sambil berkata demikian, kakek itu mengajak si pemuda untuk minum lagi arak wangi dari cawan mereka.

"Aku sudah cukup banyak minum arak, Lo-cianpwe,"

Pemuda itu agaknya segan juga untuk menolak.

"Ha-ha-ha, makin banyak minum, makin kemerahan pipimu, kongcu. ha-ha, sungguh segar dan tampan sekali engkau!"

Kakek gendut itu mengulur tangannya, mula-mula tangan itu memegang tangan si pemuda untuk dibelainya, akan tetapi tangan itu terus merayap keatas, mengelus dagu! "Ah, jangan begitulah, Lo-cianpwe,"

Pemuda itu nampak bingung seperti kehilangan akal menghadapi tingkah kakek yang makin genit itu.

Pek Lian dan Siok Eng saling pandang dengan mata terbelalak dan wajah mereka berobah merah karena jengah dan malu.

Namun merekapun ingin sekali tahu karena mereka tidak mengerti mengapa ada seorang kakek begitu genit merayu dan membelai seorang pemuda!

Akan tetapi, kakek gendut itu agaknya sudah terlalu banyak minum arak dan sudah setengah mabok karena penolakan pemuda itu bahkan membuat dia merayu semakin panas!

"Kongcu, aku sungguh kagum dan tergila-gila kepadamu.

Aku akan menurunkan semua ilmuku kepadamu, akan tetapi, jangan kecewakan hatiku, kau harus menjadi kekasihku!"

Wajah dua orang dara itu menjadi semakin merah, akan tetapi hati merekapun diliputi keheranan besar mendengar seorang kakek hendak menjadikan seorang pemuda kekasihnya!

Apakah kakek itu sudah gila ataukah memang pulau itu menjadi tempat orang-orang yang miring otaknya?

Dua orang dara itu tidak tahu bahwa memang kakek cengyakang atau Si Kelabang Hijau ini memiliki sifat yang lain dari pada pria-pria biasa.

Dia tidak suka atau tidak tertarik oleh kecantikan wanita, akan tetapi sejak muda dia suka bercinta dengan pria!

Jasmaninya adalah pria, akan tetapi watak dan sifatnya cenderung kepada sifat dan watak wanita.

Memang banyak terdapat orang-orang seperti Si Kelabang Hijau ini.

Alam telah memberi keadaan yang bertentangan antara badan dan batin mereka dan mereka ini adalah orang-orang yang patut dikasihani.

Mereka suka bergaul dan berdekatan, bahkan bermesraan dan bermain cinta dengan pria dan hal ini sama sekali tidak mereka sengaja, dan bukan timbul dari watak yang buruk atau cabul.

Sama sekali tidak, karena memang demikianlah keadaan batin mereka.

Mereka kagum melihat sifat jantan, mereka akan merasa bahagia kalau dikasihi oleh seorang pria yang jantan.

Mereka tidak suka berdekatan dengan wanita sebagai kekasih, kecuali hanya sebagai teman, bahkan ada yang merasa muak kalau memikirkan bahwa mereka harus berkasih sayang dengan seorang wanita.

Keadaan seperti ini dapat terjadi karena kesalahan keadaan jasmaniah yang mempengaruhi batin, akan tetapi juga mungkin diperkuat oleh keadaan lingkungan hidupnya diwaktu kecil sehingga batin yang mempengaruhi jasmani.

Memang, antara badan dan batin selalu terjadi isi-mengisi, saling mempengaruhi.

Karena sifatnya inilah maka Si Kelabang Hijau itu sering kali meninggalkan Pulau Selaksa Setan dan merantau sampai jauh keseluruh pelosok dunia, dan sering mendekati pria-pria yang tampan dan gagah.

Karena watak ini pula maka tokoh sesat ini pernah menjadi sahabat dari Yap Kim, putera kandung dari ketua Thian-kiam-pang yaitu Yap Cu Kiat, murid dari mendiang Sin-kun butek yang sakti.

Kalau saja Pek Lian dan Siok Eng sudah tahu akan sifat dan watak seorang laki-laki seperti cengyakang, tentu mereka akan segera pergi dan tidak sudi untuk nonton terus.

Akan tetapi karena mereka belum tahu dan tidak mengerti, maka keinginan tahu membuat mereka bertahan untuk menyaksikan adegan yang mereka anggap aneh dan luar biasa itu.

Mereka melihat betapa kakek itu membujuk-bujuk dan berusaha untuk memegang tangan si pemuda yang berulang kali mengelak dengan menarik tangannya dan dengan halus minta agar kakek itu jangan melanjutkan sikapnya yang ganjil.

Tiba-tiba dua orang dara itu terkejut melihat berkelebatnya bayangan dua orang yang dengan cepat sekali melayang masuk dari pintu dan tahu-tahu disitu telah berdiri dua orang wanita yang nampaknya masih muda, tidak lebih dari tiga puluh tahun usianya dan wajah mereka serupa benar.

Sepasang wanita kembar, hal ini mudah dilihat dari dandanan pakaian, gelung rambut, perhiasan dan wajah mereka yang serupa benar.

Pakaian mereka itu ketat membayangkan dada, perut dan paha yang menonjol.

Mereka berdiri dengan kaki agak terpentang, tangan kiri bertolak pinggang, dan sikap mereka genit bukan main.

Mereka berdiri seperti pohon cemara tertiup angin saja, pinggul mereka agak bergoyang-goyang, mulut mereka yang digincu merah tebal itu tersenyum merekah, alis mereka bergerak-gerak diangkat-angkat, dan mata mereka itu melirik-lirik genit kearah si pemuda yang kebetulan berdiri membelakangi jendela dan menghadap kearah dua orang wanita itu.

Dua orang dara yang berada diluar jendela itu memandang penuh perhatian, agak terkejut melihat munculnya dua orang wanita yang demikian cepat gerakannya tanpa mengeluarkan sedikitpun suara itu.

Biarpun dua orang wanita itu masuk kekamar tanpa menimbulkan suara, namun kakek gendut yang tadinya berdiri dalam usahanya merayu si pemuda, kini tiba-tiba duduk kembali dan tanpa menoleh diapun berkata.

"Suci berdua kenapa malam-malam begini berkunjung kedaerahku? Apakah kalau ada keperluan tidak bisa datang disiang hari?"

Dari nada suaranya, jelas bahwa dia merasa marah dan terganggu, dan biarpun mulutnya tersenyum, akan tetapi wajahnya masam.

Mendengar ucapan si gendut itu, Siok Eng menempelkan bibirnya didekat telinga kawannya dan berbisik.

"Mereka itu orang ketiga dan keempat dari iblis-iblis Ban-kwi-to. Mereka kembar dan pandai beralih rupa. Kelakuan mereka sangat tersohor buruknya, segala hal yang kotor-kotor mereka lakukan!"

Suara bisikan Siok Eng mengandung rasa jijik.

Dua orang wanita itu mencibirkan bibir mereka mendengar pertanyaan cengyakang tadi dengan sikap yang penuh kegenitan dan ejekan, lalu seorang diantara mereka berkata, suaranya nyaring dan genit.

"Huh! Kami kesini cuma ingin melihat apakah engkau sudah kembali kerumah. Lupakah engkau bahwa esok pagi adalah hari perayaan wafatnya guru kita yang kesepuluh? Toa-suheng mengharapkan agar semua orang dari Ban-kwi-to hadir ditempat toa-suheng."

Sambil berkata demikian, wanita itu dan saudara kembarnya tiada hentinya menatap kearah wajah pemuda yang duduk berhadapan dengan cengyakang itu lirak-lirik dan senyum simpul penuh daya pikat.

"Aku sudah kembali sejak kemarin!"

Kakek gendut itu mendengus dengan suara tak senang.

"Aku telah datang, sekarang kalian pergilah. Kita bisa berkelahi kalau kalian tidak mau segera pergi dan jangan ganggu aku!"

Pek Lian yang mengintai dan mendengarkan diluar jendela, merasa heran bukan main.

Bagaimana mungkin hari wafat seorang guru malah dirayakan, bukan berkabung malah berpesta?

Dan bukankah mereka itu saudara-saudara seperguruan, segolongan pula, sebagai saudara-saudara yang sama-sama menjadi penghuni Ban-kwi-to, akan tetapi kenapa sikap mereka satu sama lain begitu tidak bersahabat dan bahkan seperti bermusuhan saja?

Pek Lian lupa bahwa mereka itu adalah golongan hitam, kaum sesat, bahkan tokoh-tokoh besarnya yang sudah tidak lagi mengindahkan segala macam aturan dan sopan-santun dan mengeluarkan semua isi hati melalui mulut tanpa disaring lagi.

Merekapun sudah tidak sudi lagi untuk bermanis muka.

Apa lagi hanya terhadap saudara seperguruan, bahkan terhadap guru sendiripun mereka sudah tidak mau lagi bersopan-santun atau menggunakan tata cara manusia beradab.

Mereka tidak perduli terhadap orang-orang lain.

Golongan mereka hanya mengenal pamrih seenaknya untuk diri sendiri.

Yang ada hanya kepentingan diri pribadi, lahir batin.

Dan menghadapi orang lain, yang ada hanya dua perasaan, yaitu berani atau takut.

Kalau mereka berani, nah, segala hal bisa saja mereka lakukan, sampai yang paling kurang ajar, yang paling kejam, sadis dan tidak tahu aturan sekalipun.

Akan tetapi kalau mereka merasa kalah dan takut, mereka tidak malu-malu untuk melakukan segala macam kecurangan atau melarikan diri.

Dan untuk kepentingan pribadi, segala cara dihalalkan, menipu, membokong, bahkan membunuh kawan sendiri sekalipun.

Pendeknya, mereka hidup tanpa adanya suatu ketertiban apapun, tiada bedanya dengan kehidupan binatang-binatang liar didalam hutan dan hukum satu-satunya bagi mereka hanyalah hukum rimba raya, yaitu siapa kuat dia menang dan siapa menang dia benar dan harus dipatuhi dan ditaati.

Seperti yang telah diterangkan oleh Siok Eng kepada Pek Lian, kakek gundul gendut itu memang benar berjuluk cengyakang atau Thian-te Tok-ong dan merupakan tokoh kelima dari Ban-kwi-to.

Terdapat tujuh orang tokoh Ban-kwi-to yang merupakan saudara-saudara seperguruan, juga merupakan saudara segolongan yang tinggal dike pulauan setan itu.

Orang pertama terkenal dengan julukan Tikus Beracun Bumi, yang kedua berjuluk Tiat-siang-kwi (Setan Gajah Besi), Orang ketiga dan keempat adalah dua orang wanita kembar yang masing-masing bernama Jeng-bin Samni (Nyonya ke Tiga Bermuka Seribu), dan Jeng-bin sunio (Nyonya ke Empat Bermuka seribu).

Mereka ini dikenal dengan julukan Jeng-bin (Muka Seribu) karena kepandaian mereka beralih rupa, walaupun mereka masih memiliki banyak macam keahlian lagi.

cengyakang atau Thian-te-Tok-ong adalah tokoh yang kelima.

Tokoh keenam dan ketujuh adalah suami-isteri Imkan Siang-mo, yaitu Bouw Mo-ko dan Hoan Mo-li, kakek dan nenek yang selalu menggunakan gerobak itu.

Mendengar ucapan adik seperguruan mereka yang kasar dan menantang itu, Jeng-bin Siang-kwi, yaitu sebutan bagi mereka berdua, hanya senyum-senyum saja dan tidak kelihatan marah.

Tentu saja senyum itu bukan ditujukan kepada cengyakang, melainkan kepada pemuda itu yang kelihatan duduk dengan gelisah.

"Hi-hi-hik, pantas saja engkau tidak mau muncul-muncul biarpun sudah kembali kemari... kiranya engkau telah memperoleh seorang korban baru yang ganteng!"

Kata Jeng-bin sunio.

"Pergi kalian!"

Tiba-tiba si gundul gendut itu mencelat dari kursinya.

Gerakannya demikian cepatnya, tidak sesuai dengan tubuhnya yang gendut pendek, dan tahu-tahu dia sudah meloncat sambil membalikkan tubuhnya, langsung saja menyerang kedua orang wanita itu dengan pukulan yang mengandung angin dahsyat.

Akan tetapi, dua orang wanita itu mengeluarkan suara ketawa mengejek dan segera mengelak, menangkis dan balas menyerang dengan tak kalah cepat dan hebatnya.

Angin pukulan menyambar-nyambar dan dua orang gadis yang mengintai diluar jendela itu mencium bau amis, tanda bahwa pukulan-pukulan tiga orang yang saling hantam itu mengandung hawa beracun yang jahat sekali.

Siok Eng menarik tangan Pek Lian, diajak pergi menjauhi tempat itu.

Setelah jauh, dara ini menarik napas panjang.

"Betapa ganas dan kejinya mereka itu. Mari kita segera mencari Hek-kui-hwa itu, enci Lian. Tak perlu kita mencampuri mereka yang berengsek itu."

"Ke mana kita mencari, adik Eng?"

Aku harus mencarinya.

Bunga itu hanya dapat tumbuh ditempat terbuka, tidak boleh terlindung oleh benda atau tumbuh-tumbuhan lainnya, harus sepenuhnya menerima sinar matahari dan bulan, dan terpisah dari tanam-tanaman lain.

Bunga mawar hitam atau setan hitam itu bentuknya seperti mawar biasa, hanya tidak berbau sama sekali, warnanya hitam legam dan daunnya putih."

"Mari kubantu engkau mencarinya, Eng-moi,"

Kata Pek Lian dan mereka segera mulai mencari-cari dipulau itu.

Akan tetapi mereka tidak berhasil, apa lagi menemukan bunga itu, bahkan tidak menemukan daerah terbuka seperti yang dimaksudkan oleh Siok Eng tadi.

"Sungguh heran, kenapa pulau ini demikian kecil? Dan bangunannya juga hanya ada sebuah itu. Dimana para penghuninya yang lain?"

Pek Lian berkata dengan hati kecewa karena kegagalan mereka menemukan, bunga yang dicari sahabatnya itu.

Enci Lian, Ban-kwi-to bukan terdiri dari sebuah pulau saja, melainkan terdiri dari lima buah pulau yang berpencar akan tetapi juga saling berdekatan.

Tiap pulau dihuni oleh seorang tokoh, kecuali si kembar itu dan sepasang suami-isteri yang masing-masing keduanya mendiami sebuah pulau.

kau lihatlah diseberang sana itu."

"Ah, engkau benar! Itu adalah sebuah pulau yang lain. Akan tetapi, bagaimana kita dapat menyeberang kesana? Apakah kita harus mengambil perahu kita? Tentu bunga itu berada dipulau yang lain, tidak mungkin disini."

"Agaknya benar, enci. Akan tetapi karena kita tidak tahu persis dimana tumbuhnya bunga itu, terpaksa kita harus mencarinya disemua pulau. Hanya, kita harus berhati-hati sekali. Sungguh aneh, bagaimana dua orang wanita kembar tadi dapat datang kesini? Tidak nampak adanya perahu mereka."

Tiba-tiba mereka mfelihat bayangan berkelebat keluar dari rumah cengyakang dan mereka berdua cepat menyelinap bersembunyi.

Tak lama kemudian, nampaklah dua orang wanita kembar itu berjalan lewat lalu berhenti tak jauh dari tempat persembunyian mereka.

"Bangsat gundul keparat jahanam!"

Terdengar seorang diantara mereka memaki-maki sambil mengacungkan tinju kearah rumah cengyakang.

"Anjing banci disambar geledek kamu!"

Orang kedua memaki pula dan keduanya lalu memaki-maki dengan kata-kata yang jorok dan cabul.

A-gaknya mereka itu merasa mendongkol dan penasaran, yang hendak mereka lampiaskan dengan caci maki dan sumpah-serapah mereka terhadap kakek gundul gendut itu.

"Sialan! Bocah gundul itu telah mencapai titik kesempurnaan dalam menyerap Ilmu Racun kelabang Hijau yang lihai itu,"

Kata Jeng-bin Sam-nio dengan suara penasaran.

"Benar, sungguh jahanam! Tak kusangka dalam pengembaraannya dia dapat meningkatkan ilmunya sampai ketitik mendekati kesempurnaan. Lihat ini! Kantongku racun bunglon merah menjadi tawar terkena ilmunya ludah inti racun kelabang hijau. Sialan! Untung aku selalu dapat menghindari semburan ludahnya!"

"Ludahnya yang bacin itu sungguh berbahaya,"

Kata orang kedua.

"Sayang kita tidak membawa alat-alat rias kita. Hemm, ingin aku tahu, mana yang lebih hebat, ludah bacinnya ataukah bedak-bedak harum kita!"

"Biarlah lain kali kita coba lagi. Hatiku penasaran kalau sampai kalah oleh adik seperguruan kita."

"Eh, ngomong-ngomong, pemuda tadi tampan benar, ya? Dan kelihatan jantan. Sayang, sudah lebih dulu disekap oleh si gundul gila itu '!"

"Aih, sudahlah! Kita sendiri kan sudah mempunyai simpanan yang tidak mengecewakan,"

Kata. yang lain sambil tersenyum genit sekali.

"Tidak rugi kita main kucing-kucingan dengan perahu Si Harimau Gunung."

"Sayang mereka belum mau tunduk..."

"Akhirnya akan tunduk juga, dan ingat, yang sukar ditundukkan itu sekali tunduk, waahhh hebat deh!"

Mereka berdua cekikikan seperti kuntianak dan dua orang gadis yang mendengarkan dalam tempat persembunyian mereka menjadi muak.

Pek Lian dan Siok Eng melihat betapa kedua orang wanita kembar itu memasuki sebuah rumpun bambu kuning.

Sampai lama mereka tidak muncul kembali dan keadaan begitu sunyi senyap.

Dua orang dara itu menjadi curiga lalu dengan hati-hati merekapun memasuki rumpun bambu itu.

Ternyata ditengah-tengah rumpun bambu itu terdapat sebuah lubang besar yang masuk kedalam tanah.

Ketika mereka memeriksa, ternyata lubang itu adalah terowongan didalam tanah yang agaknya lewat dibawah laut!

Dua orang dara yang gagah perkasa itu dengan hati-hati sekali mengikuti terowongan itu.

Jalannya gelap dan menurun sekali, akan tetapi mereka berdua adalah dua orang dara gemblengan yang berilmu tinggi, maka mereka tidak merasa takut.

Mereka merasa yakin bahwa dua orang wanita kembar itu tentu mengambil jalan ini dan mereka dapat menduga bahwa tentu inilah jalan yang menghubungkan satu dengan lain pulau.

Pantas saja dua orang wanita kembar tadi tidak menggunakan perahu.

Kiranya mereka datang ke pulau daerah Si Kelabang Hijau melalui sebuah terowongan bawah laut.

Ketika dua orang dara itu muncul dipulau yang lain, kiranya mereka itu tiba disebuah ruangan kecil disudut taman, merupakan pondok kecil yang mungil.

Cepat mereka meloncat keluar dan bersembunyi, meneliti keadaan sekeliling.

Bulan tua telah condong ke barat, akan tetapi bintang-bintang dilangit masih nampak terang.

Tentu telah jauh lewat tengah malam.

Dan agaknya semua orang yang berada dipulau ini sudah tidur.

Tidak terdengar suara orang, tidak nampak seorangpun penjaga.

Agaknya para penghuni ke pulauan ini sudah begitu percaya akan keadaan tempat tinggal mereka yang penuh dengan racun sehingga orang luar yang berani memasuki daerah mereka tentu akan mati sendiri terkena racun.

Dengan adanya racun-racun yang terkandung dalam tumbuh-tumbuhan, dalam gigitan binatang-binatang kecil, bahkan dalam udara, maka tidak diperlukan lagi penjaga.

Orang luar tentu akan tewas kalau memasuki daerah ke pulauan Ban-kwi-to ini.

Ketika dengan hati-hati Siok Eng dan Pek Lian mulai mencari-cari bunga Hek-kui-hwa, mereka mendapat kenyataan bahwa keadaan pulau ini jauh sekali bedanya dengan pulau milik Si kelabang Hijau yang baru saja mereka tinggalkan.

Pulau kecil milik wanita kembar ini penuh dengan taman bunga-bunga yang indah, keadaannya terawat dan bersih apik, tidak seperti keadaan pulau milik Si Kelabang Hijau yang penuh pohon belukar dan awut-awutan.

Akan tetapi, biarpun disitu terdapat banyak sekali bunga beraneka macam dan warna, dua orang dara itu tidak berhasil menemukan bunga mawar hitam berdaun putih.

"Sungguh heran! Sedemikian banyaknya bunga-bunga disini, akan tetapi bunga yang kau cari itu tidak ada! Adik Eng, tidak kelirukah keterangan yang kau dapat mengenai Hek-kui-hwa itu?"

Pek Lian berkata dengan nada suara meragu.

"Tidak, enci Lian. Memang, menurut keterangan ayah, bunga itu langka sekali dan ayahpun tidak dapat memastikan apakah bunga itu ditanam dipulau-pulau ini. Hanya satu hal adalah pasti, yaitu bunga Hek-kui-hwa itu berada dalam kekuasaan Tujuh Iblis dari Pulau Selaksa Setan ini. Entah dimana mereka sembunyikan. Aku harus menemukannya. Heii, awas, enci Lian! jangan kau sentuh bunga-bunga itu. Biarpun kelihatannya begitu bersih dan indah, akan tetapi bunga itu beracun. Bunga-bunga ini memang ditanam untuk memelihara dan mendapatkan racun-racunnya.

"Ssttt, itu ada perahu datang. Cepat sembunyi!"

Mereka menyelinap lagi kebalik semak-semak beberapa rumpun alang-alang yang ditanam sebagai penghias dan pagar taman.

Tiba-tiba bumi disekitar tempat itu tergetar ketika seorang raksasa melangkahkan kakinya.

Berdentam-dentam bunyinya, seolah-olah bumi ditimpa oleh benda yang amat berat setiap kali raksasa itu membanting kakinya.

Anehnya, dia agaknya sengaja membanting kakinya ketika melangkah memasuki taman!

Rambutnya gimbal dan kotor, matanya lebar dan membelalak.

Jubah dan pakaiannya terbuat dari kain kotak-kotak yang dibelit-belitkan ditubuhnya.

Bagian dadanya terbuka dan nampak betapa dada itu penuh bulu tebal.

Mulutnya lebar dan seperti nampak ada taring diantara giginya yang besar-besar.

Raksasa ini sungguh tinggi besar, tingginya tidak kurang dari dua meter, bahkan lebih.

Ada suara seperti ngorok ketika dia melangkah memasuki taman.

Ketika raksasa itu tiba didekat tempat dua orang dara itu bersembunyi, tiba-tiba saja dia menghentikan langkahnya.

Dua orang dara itu mencium bau amis yang menusuk hidung, membuat mereka hampir saja muntah-muntah.

Dan raksasa itupun mengembang-kempisikan hidungnya.

mulutnya menyeringai buas, matanya yang besar itu melotot dan mengamat-amati sekelilingnya, dan air liurnya menetes-netes dari ujung bibirnya.

"Heh-heh.. bau daging segar! Daging lunak! Hemm, alangkah sedapnya!"

Matanya jelalatan kekanan kiri, mencari-cari.

Tentu saja dua orang dara itu seketika mandi keringat dingin!

Mereka bukan penakut, bahkan Siok Eng telah mewarisi ilmu kepandaian yang hebat.

Akan tetapi bagaimanapun juga, mereka itu hanyalah dua orang gadis remaja dan keadaan manusia raksasa itu memang sungguh amat menyeramkan.

Apa lagi dalam perjalanan mereka dengan perahu, Siok Eng sudah pernah menceritakan kepada Pek Lian bahwa orang kedua dari Tujuh Iblis ini, yang berjuluk Tiat-siang-kwi (Setan Gajah Besi) kabarnya suka makan daging manusia.

Biarpun seluruh urat syaraf mereka sudah menegang dan bersiap siaga, akan tetapi ketika raksasa itu melangkah mendekati tempat mereka bersembunyi, mereka merasa tubuh mereka panas dingin!

Akan tetapi pada saat itu terdengar suara ketawa cekikikan yang nyaring dari arah gedung ditengah pulau.

Suara cekikikan yang penuh kegenitan, terkekeh-kekeh dibuat-buat.

Mendengar suara itu, si raksasa berhenti melangkah dan menoleh kearah gedung.

Agaknya suara itu mengingatkan dia akan maksud kedatangannya ke pulau itu.

Mendadak dia lari tunggang-langgang menuju kearah gedung.

Tanah yang diinjaknya ketika dia berlari itu tergetar seperti gempa bumi dan dua orang dara itu bernapas lega.

"Mari kita pergi!"

Siok Eng menarik tangan Pek Lian.

Sekali ini, Pek Lian yang biasanya berwibawa dan memimpin karena ia adalah seorang patriot di lembah, menurut saja karena ia maklum betapa berbahayanya tempat itu dan bahwa Siok Eng lebih tahu dari pada ia sendiri mengenai ke pulauan setan itu.

Siok Eng mengajak Pek Lian menggunakan perahu milik Tiat-siang-kwi itu.

Ia ingin mencari bunga Hek-kui-hoa dipulau ketiga setelah gagal mencari dikedua pulau pertama.

Mereka mendayung perahu itu dengan cepat.

Didepan nampak dua buah pulau kecil berdampingan.

Dari jauh, kedua pulau itu nampak gersang tidak ditumbuhi pohon sama sekali.

Ketika mereka mendekat, maka mereka melihat bahwa pulau yang satu terdiri dari batu-batu dan pasir melulu.

Menurut pengetahuan Siok Eng, pulau ini adalah tempat tinggal si raksasa, orang kedua dari tujuh iblis.

Kabarnya, entah berapa ratus orang yang menjadi korban iblis raksasa ini ditempat itu, tulang-tulangnya berserakan dan terpendam dalam batu-batu dan pasir.

Adapun pulau yang kedua terdiri dari rawa-rawa dan ditengah rawa nampak sebuah gubuk besar yang berdiri diatas tiang-tiang dari kayu yang tahan air.

Itulah tempat tinggal suami isteri Imkan Siang-mo (Sepasang Iblis Neraka ), yaitu kakek dan nenek yang selalu bergerobak dan tak tahu malu itu.

"Eng-moi, pulau yang mana harus kita darati lebih dulu?"

Tanya Pek Lian, melihat betapa kawannya itu hanya membawa perahu mereka berputar-putar tak menentu.

"Kita terus saja, enci Lian. Pulau-pulau ini adalah tempat tinggal Tiat-siang-kui dan Sepasang Iblis Neraka, yaitu orang kedua, keenam dan ketujuh dari Tujuh Iblis. Melihat keadaan kedua pulau ini, juga melihat macamnya raksasa itu, tak mungkin dia yang menanam atau menyimpan Hek-kui-hwa. Juga suami-isteri itu jarang berada dirumah, selalu mengembara dan pulaunya terdiri dari rawa-rawa pula, kiranya tidak mungkin berada disana itu."

"Lalu bagaimana? kemana kita harus mencari?"

"Enci Lian, ke pulauan mereka hanya ada lima buah. Yang empat telah kita ketahui dan agaknya bunga itu tidak berada disitu. Tinggal sebuah pulau lagi yang menjadi tempat tinggal tokoh pertama dari mereka, yaitu tetok-ci (Tikus Beracun Bumi). kesanalah kita menuju."

Pek Lian menutup mulut menahan ketawanya.

"Sudah banyak kita melihat orang aneh. Ingin aku melihat bagaimana macamnya yang berjuluk Tikus Beracun itu. Apakah mukanya seperti tikus?"

Siok Eng tersenyum geli.

"Mungkin saja. Aku sendiri belum pernah melihatnya. Akan tetapi ayah bilang bahwa dia mempunyai koleksi banyak macam tikus yang aneh-aneh dan buas. Tikus-tikus itu dibuat beracun dan mereka ditempatkan diterowongan-terowongan yang banyak terdapat dipulau tempat tinggalnya."

Pek Lian bergidik. Diantara binatang-binatang kecil, tikus merupakan binatang yang menjijikkan baginya. Apa lagi kalau jumlahnya banyak, dan beracun lagi.

"Mudah-mudahan aku tidak harus berhadapan dengan tikus-tikus lebih baik aku melawan tetok-ci itu sendiri,"

Katanya.

"Lebih baik kalau bisa jangan, enci. Kepandaian iblis itu paling lihai dan diapun kabarnya paling kejam diantara Tujuh Iblis."

"Aku sungguh merasa heran, adik Eng. Engkau sudah tahu betapa lihainya Tuiuh Iblis dan betapa besarnya bahayanya mengunjungi Ban-kwi-to, akan tetapi mengapa engkau lakukan juga petualangan ini? Apakah engkau tidak takut sedikitpun juga?"

Siok Eng tersenyum dan wajahnya yang pucat itu nampak manis sekali kalau tersenyum.

"Enci, engkau tidak tahu. Kami orang-orang Tai-bong-pai mengutamakan kegagahan. Aku sendiri lebih menghargai kegagahan dari pada nyawa, maka untuk mematangkan ilmuku, biar harus menempuh bahaya yang mengancam nyawa sekalipun, akan kujalani tanpa rasa takut sedikitpun."

Dan kini sepasang mata yang bening itu mengeluarkan sinar yang dingin dan menyeramkan sehingga Pek Lian tidak mau bertanya lagi.

Ia teringat akan cerita-cerita yang pernah didengarnya bahwa Tai-bong-pai adalah golongan yang termasuk sesat dan hitam.

Heran ia membayangkan bahwa seorang gadis yang begini ramah dan lemah lembut, begini cantik jelita, adalah puteri dari ketua Tai-bong-pai!

Padahal, nama Tai-bong-pai didunia persilatan tidak kalah seram dan menakutkannya dibandingkan dengan nama Pulau Selaksa Setan ini!

Teringat ini, Pek Lian bergidik dan baru ia teringat bahwa dara yang menjadi kawan akrabnya ini sebenarnya datang dari dunia yang sama sekali berlainan dengan dunianya sendiri.

Ia teringat bahwa Tai-bong-pai adalah golongan yang ahli dalam hal racun, mungkin tidak kalah keji dan berbahayanya dibandingkan dengan Tujuh Iblis penghuni ke pulauan ini.

Akhirnya mereka melihat pulau terakhir, sebuah pulau yang bulat dan berbentuk sebuah bukit kecil.

Pulau ini banyak ditumbuhi pohon-pohon seperti pohon cemara yang kecil dan tinggi.

Pada waktu itu, fajar telah menyingsing.

Langit timur seperti terbakar, kemerahan oleh sinar matahari yang telah mendahului sang Raja siang.

Udara sejuk dan angkasa cerah.

Indah dan nyaman, sungguh berlawanan dengan bahaya yang mengancam dipulau itu yang nampaknya begitu hening dan menyenangkan.

Mereka mendarat dengan hati-hati, memilih celah-celah dimana terdapat semak-semak belukar.

Baru saja mereka menarik perahu kepinggir dan melangkahkan kaki, hampir saja Pek Lian menjerit ketika tiba-tiba muncul seekor tikus berbulu hitam yang besarnya seperti kucing bunting.

Tikus ini muncul didekat kakinya, hampir terinjak.

hebatnya, tikus itu tidak melarikan diri, bahkan berhenti dan melotot kearah Pek Lian, dan bibirnya ditarik keatas, menyeringai memperlihatkan giginya seperti seekor harimau kalau marah.

Sikapnya seakan-akan hendak menyerang, dan bulu dibagian lehernya tegak, sedikitpun dia tidak kelihatan takut menghadapi manusia!

"Ssttt!

Hushhhhttt!"

Pek Lian mencoba mengusirnya dengan desisan suara.

Akan tetapi tikus itu bukannya takut malah meruncingkan moncongnya dan mengeluarkan bunyi menguik tajam, kepalanya diangkat dan lagaknya siap untuk menyerang.

"Sudahlah, enci, lebih baik jangan kita usik dia. Mari kita pergi kedalam pulau,"

Kata Siok Eng yang merasa ngeri juga melihat ada tikus sebesar itu yang berani melawan manusia.

"Hei, awas, Eng-moi! Lihat dibelakangmu dan itu juga disebelah kananmu. Awas!"

Tiba-tiba Pek Lian berseru dan Siok Eng hampir meloncat saking kagetnya.

Ternyata kini bermunculan tikus-tikus hitam yang besar-besar, seperti mengepung mereka dan tikus-tikus itu nampak menyeringai dan mengeluarkan bunyi, siap tempur!

Beberapa ekor lagi nampak datang dengan sikap mengancam.

"Wah, wah... hiiih, jijik aku. Mari kita cepat pergi, enci Lian!"

Kata Siok Eng yang sudah menyambar tangan Pek Lian dan kedua orang nona itu sudah berloncatan pergi menjauhi tikus-tikus yang melotot marah itu.

Dengan bulu tengkuk meremang keduanya sudah berlari cepat mengelilingi pulau.

Mereka mencari-cari bunga mawar hitam diantara semua tanaman yang tumbuh dipulau dan mereka sengaja menjauhi bangunan-bangunan rumah yang nampak berdiri ditengah-tengah pulau.

Akan tetapi sekian jauhnya mereka belum juga berhasil menemukan apa yang mereka cari dan akhirnya mereka tiba dipantai yang landai dan penuh pasir.

Dan tiba-tiba mereka menyelinap dan bersembunyi dibalik batu karang.

Mereka melihat banyak perahu besar kecil berlabuh ditempat itu.

Bermacam-macam perahu yang agaknya datang dari tempat asing yang jauh.

"Aihh, banyak benar tamu yang datang berkunjung ke pulau ini, enci,"

Kata Siok Eng dengan suara mengandung keheranan.

"Lihat perahu-perahu itu, ada yang berbendera asing pula. Yang kiri itu kelihatannya seperti bendera orang-orang Mongol."

Pek Lian mengangguk.

"Tak salah lagi, itu memang bendera Mongol. Dan yang dikanan itu, perahu bercat kuning itu. Bukankah orang-orangnya memakai pakaian seragam perajurit pemerintah? Hemm, apakah tempat ini diserbu pasukan pemerintah?"

"Ah, kurasa tidak, enci. Lihat saja perahu Mongol itu. Disana juga terdapat pasukan asing dan mereka nampak bersahabat dengan pasukan pemerintah. Hemm, ada apa pula ini? Padahal, antara pasukan pemerintah dan para Raja kecil Mongol selalu terjadi permusuhan. Mengapa kini kedua pihak nampak rukun dan bersama-sama berada disini? Tidak nampak tanda-tanda pertempuran dan mereka itu agaknya datang kesini dengan baik-baik"

Pek Lian sebagai puteri Menteri dan juga pemimpin pasukan patriot, sedikit banyak tahu akan hal itu, maka iapun berkata dengan alis berkerut.

"Sungguh membingungkan. Kedua pasukan itu nampak bersahabat, padahal diperbatasan utara antara kedua pasukan selalu terjadi pertempuran. Tentu ada hal-hal yang aneh dan tidak beres disini."

Karena matahari mulai bersinar dan ditempat itu terdapat demikian banyaknya orang, dua orang dara itu lalu bersembunyi diantara pohon-pohon yang tumbuh disepanjang pantai itu.

Ketika melihat sebatang pohon besar yang daunnya lebat, keduanya lalu naik keatas bersembunyi didalam pohon itu, diantara daun-daun yang lebat.

Karena mereka telah memakai olesan obat anti racun, maka mereka tidak takut menghadapi serangan binatang-binatang kecil.

Dari tempat persembunyian ini mereka memandang kearah pantai dimana terdapat perahu-perahu dan para perajurit itu.

Tiba-tiba jantung Pek Lian berdebar tegang ketika ia melihat sebuah perahu besar yang baru saia meninggalkan pulau itu.

Perahu besar itu berbendera asing dan ia mengenalnya sebagai perahu dimana ia dan Bwee Hong pernah berkelahi melawan para penumpang perahu, dan dimana ia pernah mendengar suara ayahnya.

Akan tetapi perahu itu agaknya baru saja meninggalkan pulau sehingga hati Pek Lian menjadi kecewa sekali.

Ingin ia dapat menyelidiki keadaan perahu itu, untuk melihat apakah benar ayahnya berada diperahu besar itu.

Di tempat persembunyian ini, mereka berdua merasa aman, danat melepaskan lelah sambil mengatur rencana selanjutnya dalam usaha mereka mencari Hek-kui-hwa.

Tiba-tiba terdengar suara banyak orang.

Mereka cepat menoleh dan dari arah tengah pulau nampak belasan orang berbondong-bondong menuju kepantai.

Pakaian mereka itu aneh-aneh dan dari sikap mereka mudah diduga bahwa mereka adalah orang-orang dari dunia persilatan.

Diantara mereka terdapat orang-orang yang dari pakaiannya mudah diduga bersuku Bangsa Mancu dan Mongol.

Semua orang membawa senjata dan sikap mereka gembira sekali ketika mereka menuju keperahu-perahu itu.

Dibelakang mereka nampak belasan orang pula yang agaknya merupakan rombongan tuan rumah, sikap mereka seperti mengantar tamu itu menuju keperahu-perahu mereka.

Mereka berjalan beriringan sambil tertawa-tawa gembira.

(Lanjut ke

Jilid 16) Darah Pendekar (Seri ke 01 -Serial Darah Pendekar) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo Bahan Cerita . Sriwidjono

Jilid 16 Dengan penuh perhatian dua orang gadis itu memandang kearah mereka.

Kini matahari telah membuat mereka dapat meneliti wajah orang-orang itu dengan jelas.

Yang berjalan paling depan didalam rombongan tuan rumah adalah seorang laki-laki pendek kecil yang pakaiannya mewah sekali.

Orang ini mempunyai sepasang mata yang kecil dan dalam, akan tetapi mata itu berkilat-kilat penuh kecerdikan dan kelicikan.

Dari gerak-gerik dan pandang matanya saja mudah diduga bahwa orang ini tentu lihai sekali.

Rombongan tuan rumah itu mengantar para tamunya sampai mereka semua naik keperahu masing-masing dan perahu-perahu itu berlayar meninggalkan pulau.

Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati Siok Eng dan Pek Lian ketika melihat rombongan tuan rumah itu kini menuju kearah pohon tempat mereka bersembunyi.

Biarpun pohon itu besar dan daunnya lebat, akan tetapi kalau orang-orang itu berada dibawah pohon, tentu mereka berdua akan ketahuan.

"Adik Eng, lihat, ada lubang besar dibatang pohon ini!"

Tiba-tiba Pek Lian berkata sambil menuding kebawah.

Memang benar.

Pohon itu memiliki batang yang amat besar, sebesar pelukan tiga empat orang dewasa dan kini setelah Pek Lian menyingkap daun-daun yang rimbun, nampak ada lubang besar tepat ditengah-tengah batang pohon itu.

"Bagus, kita bersembunyi saja didalamnya!"

Kata Siok Eng yang mendahului Pek Lian memasuki lubang itu.

Pek Lian mengikuti dan ternyata lubang itu memang cukup besar untuk mereka masuki berdua.

Akan tetapi, ternyata lubang itu terus menembus kebawah, merupakan terowongan gelap yang terus kedalam tanah!

Kiranya, itu merupakan sebuah jalan rahasia pula!

Tentu saja keduanya yang takut ketahuan itu menjadi heran dan girang, lalu melanjutkan perjalanan mereka melalui terowongan.

Dibawah tanah, mereka dapat berjalan sambil merunduk, akan tetapi cuacanya menjadi semakin gelap sehingga mereka harus meraba-raba keatas dan kedepan agar kepala mereka tidak terbentur dan kaki mereka tidak terjeblos.

Karena makin lama lorong terowongan itu menjadi semakin dalam dan gelap, Pek Lian merasa khawatir juga.

"Eng-moi, apakah tidak sebaiknya kita kembali saja? Guha ini gelap menyeramkan dan kita tidak mengenalnya sama sekali, tidak tahu kemana terowongan ini menuju. Bagaimana kalau terowongan ini runtuh dan jalannya terputus? Kita tentu akan terkubur hidup-hidup disini, kita akan megap-megap kehabisan napas, seperti tikus-tikus tertimbun... aiiihhhh!"

Pek Lian menjerit saking ngerinya ketika tiba-tiba saja kakinya menginjak seekor tikus besar yang menggigit betisnya!

Untung bahwa betisnya telah diolesi obat penawar dan juga dilindungi kaos kaki dan ia tadi mengerahkan sinkang sehingga tidak sampai terluka.

Sekali ia menggerakkan kaki menginjak, terdengar bunyi...

"Cieeettt prakkk...!"

Dan tikus itu mati dengan kepala dan tubuh pecah, isi tubuhnya dan darahnya muncrat kemana-mana. Tercium bau wangi bercampur amis yang memuakkan.

"Ihhh! Adik Eng, sungguh menjijikkan..."

Pek Lian berseru.

"Aku... aku menginjak tikus dan kuinjak ia sampai lumat!"

"Hihhh... mengerikan...!"

Siok Eng juga bergidik jijik, akan tetapi ia segera menguatkan batinnya.

"Akan tetapi terowongan ini agaknya sudah biasa dimasuki orang. Coba raba, tanahnya begini bersih dan kering dan terowongan ini agaknya menuju ketengah pula. Siapa tahu ini merupakan jalan rahasia yang akan membawa kita ketempat Si Tikus Beracun?"

"Tapi... tapi... tikus-tikusnya"

Pek Lian bergidik. Ia masih merasa ngeri membayangkan tikus-tikus besar yang pernah menghadang mereka dan membayangkan tikus yang diinjaknya pecah tadi.

"Adik Eng, aku bukan takut mati, akan tetapi... siapa tahu terowongan ini penuh dengan tikus beribu-ribu banyaknya? Hiihh, kalau harus berhadapan dengan ribuan tikus, sebelum apa-apa aku mungkin sudah akan mati lemas karena jijik...!"

"Baiklah, enci Lian, mari kita kembali saja. Eh, awas, ada orang datang!"

Siok Eng berkata lirih dan menarik tangan kawannya, diajak bersembunyi mepet didinding terowongan, lalu mundur kebagian yang berbelok.

Tak lama kemudian, laki-laki pendek kecil yang tadi mereka lihat diluar, lewat diterowongan itu.

Untung bahwa tempat itu gelap sehingga laki-laki itu tidak melihat dua orang gadis yang mepet didinding.

Tangan kanan laki-laki ini memegang sebatang cambuk.

Setelah melewati tempat persembunyian dua orang dara itu sampai beberapa langkah, tiba-tiba dia berhenti dan hidungnya mendengus-dengus.

"Hemm, ada bau asing ditempat ini! Apa yang dibawa anak-anak itu kesini?"

Terdengar dia menggerutu.

Tentu saja hati kedua orang dara itu berdebar tegang.

Apakah jejak mereka telah diketahui?

Bukan main tajamnya daya cium manusia ini.

apakah dia ini yang berjuluk tetok-ci, orang pertama dari Ban-kwi-to?

Akan tetapi menurut keterangan yang diperoleh Siok Eng, Tikus Beracun itu sudah berusia enam puluh tahun lebih, sedangkan orang pendek kecil ini usianya paling banyak tiga puluh lima tahun.

Pada saat orang itu dengan penuh keraguan hendak berbalik dan dua orang dara itu sudah siap siaga menghadapi segala kemungkinan, tiba-tiba terdengar suara riuh mencicit dari depan sana.

Demikian gaduh dan riuh suara itu, suara dari mungkin ratusan ekor tikus yang bercuitan, sehingga orang pendek kecil itu tidak jadi kembali.

"Kurang ajar! Ada apakah dengan anak-anak setan itu?"

Gerutunya dengan suara geram.

Dia meloncat kedepan dan tubuhnya meluncur dengan cepatnya.

Dua orang gadis itu memandang kedepan dan tiba-tiba nampak cahaya terang didepan, seolah-olah ada pintu yang dibuka.

Mereka berdua menjadi tertarik dan karena tidak ada jalan lain untuk keluar dari tempat itu, merekapun tidak jadi kembali, khawatir bertemu dengan orang-orang yang baru masuk, dan merekapun lalu berindap-indap melangkah maju dengan hati-hati.

Kini terowongan menjadi tidak segelap tadi, remang-re-mang dan mereka dapat melihat kedepan.

"Ah, didepan itu terang benar, agaknya kita menuju kelubang keluar, Eng-moi,"

Kata Pek Lian dengan suara berbisik gembira.

Ia merogoh saku hendak mengambil saputangan untuk menghapus keringatnya, akan tetapi ternyata kantongnya kosong.

Agaknya saputangannya itu terjatuh ketika ia menginjak tikus tadi.

Mereka berjalan terus kedepan, kearah sinar terang.

Akan tetapi ternyata mereka kecelik.

Sinar terang itu sama sekali bukan datang dari lubang keluar, melainkan dari sebuah lampu minyak yang besar sekali, yang berdiri diatas meja batu.

Ditempat ini, terowongan menjadi besar dan membentuk sebuah ruangan yang luas penuh dengan batu-batu besar berserakan.

Dan diruangan luas ini, terdapat pintu-pintu terowongan lain yang semuanya berjumlah delapan buah termasuk, terowongan dari mana mereka datang.

Tentu saja dua orang dara itu menjadi bingung sekali.

Tidak nampak laki-laki kecil pendek tadi, dan mereka berdua tidak tahu kemana mereka harus pergi, mulut terowongan mana yang harus mereka ambil untuk dapat keluar dari tempat itu.

"Wah, enci Lian, sungguh aku menyesal sekali telah membawamu kesini. Agaknya kita akan benar-benar terkubur hidup-hidup disini,"

"Jangan sesalkan hal itu, adik Eng. Kalau bukan engkau yang menolong, bukankah aku juga sudah mati ditelan lautan? Sekarang kita belum mati, tidak boleh putus asa, walaupun aku aku seperti mendapat firasat bahwa kita telah memasuki tempat yang sangat mengerikan."

Bayangan tikus yang diinjaknya tadi masih membuat nona ini bergidik ngeri dan jijik.

"Bagus, enci. Engkau telah membangkitkan semangatku kembali. Kita memang tidak boleh putus asa dan kita hadapi bersama segala bahaya yang mungkin menimpa kita. Akan tetapi karena kita kehilangan jejak orang tadi, mari kita cari sendiri saja jalan keluar secara untung-untungan."

"Lalu mulut terowongan mana yang harus kita pilih, Eng-moi?"

"Aku yakin bahwa satu diantara mulut-mulut terowongan itu tentu menuju ke Istana tetok-ci. Karena kita baru saja keluar dari mulut terowongan yang dikanan, maka untuk menuju ketengah pulau tentu harus mengambil jalan yang bertentangan, yaitu yang berada dilari. Akan tetapi, disebelah kiri terdapat tiga buah mulut terowongan yang harus kita pilih salah satunya. Enci Lian, berkali-kali engkau lolos dari cengkeraman maut, itu tandanya bahwa nasibmu masih baik. Oleh karena itu, biar aku membonceng nasib baikmu itu dan engkaulah yang memilih satu diantara tiga pintu terowongan itu."

Pek Lian tersenyum...

"Mudah-mudahan saja nasibku akan selalu mujur dan tidak salah memilih terowongan ini. Bagaimanapun juga, andaikata salah pilih, kita masih dapat kembali kesini dan memilih yang lain lagi, bukan? Nah, mari kita memasuki lubang yang ditengah itu."

Ternyata lubang ini tidaklah selebar yang mereka lalui tadi.

Juga amat sukar dilaku karena didalamnya banyak sekali batu-batu karang yang tajam dan runcing bertonjolan dikanan kiri atas dan bawah.

Mereka harus berhati-hati, kadang-kadang meloncat dan harus selalu waspada karena kalau tidak hati-hati, kepala mereka dapat tertumbuk batu diatas.

Apa lagi lubang itu tidak begitu terang, hanya remang-remang.

Tiba-tiba terdengar suara ledakan cambuk disebelah depan.

Tentu saja dua orang gadis yang sejak tadi sudah merasa tegang dan amat berhati-hati itu, menjadi terkejut dan mereka berhenti melangkah, saling berpegang tangan dan memandang tajam kedepan.

"Enci Lian, itu dia! Kiranya masuk juga keterowongan ini,"

Bisik Siok Eng.

Mereka bergerak dengan hati-hati menuju kedepan.

Dari depan ada angin bertiup lembut dan mereka menutupi hidung.

Angin itu membawa bau yang menyengat hidung karena amis dan busuk.

Tibalah mereka disebuah ruangan yang luas dan pada dinding-dinding ruangan itu terdapat beberapa buah lampu minyak yang terang.

Ketika dengan hati-hati mereka mengintai keruangan itu, mereka bergidik dengan hati ngeri.

Diatas lantai, ditengah-tengah ruangan itu nampak bangkai ratusan ekor tikus berserakan dan bertumpuk-tumpuk!

Dan diantara bangkai-bangkai itu berdiri seorang laki-laki memegang cambuk yang digerak-gerakkan kekanan kiri seperti orang mengancam.

Itulah laki-laki pendek kecil tadi.

Pek Lian dan Siok Eng mengintai dari tempat sembunyi mereka dengan hati ngeri.

Kini nampak jelas oleh mereka bahwa bangkai-bangkai tikus itu terdiri dari dua macam tikus yang besar-besar, yang berbulu kemerahan dan kehitaman.

Dan kini nampaklah oleh mereka bahwa disebelah kiri nampak tikus berbulu merah, ratusan banyaknya, dengan sikap ganas dan siap menyerang.

Sedangkan disebelah kanan orang pendek itupun bergerombol ratusan ekor tikus hitam yang berbintik-bintik putih, semua juga menyeringai buas seperti tikus-tikus merah.

Mudah diduga bahwa dua macam gerombolan tikus ini telah mengadakan perang, terbukti adanya bangkai-bangkai dua macam tikus ditempat itu.

Dua gerombolan tikus yang masih hidup itu, nampak buas dan marah, siap untuk saling serang akan tetapi mereka itu kelihatan tunduk dan takut kepada si kecil pendek yang berdiri dengan cambuk ditangan, diantara mereka.

Agaknya si pendek inilah yang tadi menghentikan perang antar tikus ini.

"Bedebah busuk! Keparat jahanam! Tikus-tikus tengik yang tak tahu aturan! Kenapa kamu saling serang dan saling bunuh? Kurang ajar! berani ya kalian menyerang tanpa diperintah? Uhh, percuma saja kamu dipelihara dan diberi makan."

"Tar-tar-tarrrr!!"

Cambuknya meledak-ledak dan tikus-tikus kedua pihak itu undur ketakutan.

"Binatang-binatang busuk, dimana pengasuh-pengasuh kalian? Ang-lojin! Hek-lojin dimana kalian? Kenapa bocah-bocah peliharaamnu kalian biarkan saling bunuh?"

Gema suaranya yang mengandung tenaga khikang itu menerobos keseluruh lorong-lorong bawah tanah itu, kemudian lenyap dan suasana menjadi amat sepi.

Dan didalami kesunyian ini tiba-tiba terdengar suara rintihan dari lubang terowongan sebelah kanan.

Diruangan itu terdapat empat buah lubang terowongan.

Pulau kecil yang menjadi tempat tinggal atau sarang tetok-ci atau Tikus Tanah Beracun ini memang merupakan tempat yang paling berbahaya.

Dibawah tanah pulau ini penuh dengan jalur-jalur lalu lintas bawah tanah, terowongan-terowongan yang mempunyai banyak cabang dan ranting, penuh rahasia dan dipasangi alat-alat rahasia pula, bahkan disitu terdapat tikus-tikus beracun peliharaan tetok-ci.

Maka, dapat dibayangkan betapa berbahayanya keadaan dipulau ini.

Dari atas memang nampak sebagai sebuah pulau yang indah dan menyenang-kan, namun dibawah pulau tersembunyi jebakan-jebakan dan binatang-binatang peliharaan yang kalau dikerahkan akan merupakan pasukan yang menyeramkan dan berbahaya.

Apa lagi kalau sampai ada musuh yang terjebak kedalam terowongan ini!

Mendengar suara rintihan dari terowongan sebelah kanan ini, si pendek kecil berkelebat kekanan dan lenyap kedalam terowongan itu.

Dan begitu orang itu pergi, tikus-tikus kedua pihak yang sejak tadi memang sudah siap tempur itu sudah saling berlompatan menyerang lawan dengan ganasnya.

Terdengar suara hiruk-pikuk menggiriskan dan darah tikus berhamburan, udara menjadi amat busuk dan amis.

Apa lagi ketika muncul seekor tikus hitam berbintik putih yang sangat besar, dua kali besarnya dari pada teman-temannya.

Tikus ini menyerang dengan buas dan biarpun dikeroyok oleh lima ekor tikus merah, dia masih dapat mengungguli mereka.

Darah makin banyak berhamburan dan bau amis membuat dua orang gadis yang menonton semua ini dari tempat persembunyian mereka itu hampir muntah.

"Enci Lian, mari kita pergi"

Suara Siok Eng agak menggigil karena ia merasa ngeri.

"Kalau sampai kita yang dikeroyok ribuan atau laksaan tikus hi-hih, aku bisa jatuh pingsan karena jijik."

Akan tetapi pada saat itu kembali terdengar bunyi cambuk meledak-ledak dan sungguh luar biasa sekali, tikus-tikus yang tadinya saling terkam, saling gigit dan saling bantai itu mendadak saja berhenti dan mereka mundur ketempat masing-masing, bersatu dengan kawan-kawannya.

Tikus-tikus yang mati menambah banyak bangkai yang berserakan, sedangkan tikus-tikus yang terluka parah dengan susah payah beringsut-ingsut dan tersaruk-saruk mencoba untuk berkumpul kedalam barisan teman-temannya.

Si pendek kecil itu datang lagi dan tangan kirinya menarik lengan seorang kakek yang berkulit hitam legam mengkilat.

Kakek itu nampak ketakutan dan tubuhnya agak gemetar.

Dia berjalan setengah diseret dan kelihatan lemah dan terhuyung seperti orang sakit.

"Tar-tarrr!"

Cambuk itu meledak diudara.

"Jahanam-jahanam gila! Apa yang telah terjadi? Apakah dunia telah kiamat dan neraka muncul ditempat ini? Agaknya setan-setan berkeliaran dan memasuki tubuh kalian semua! Heh, Hek-lojin. Hayo katakan, apa yang telah terjadi disini? kenapa engkau sampai menderita luka dalam akibat pukulan? Dan dimana adanya Ang-lojin?"

Kakek berkulit hitam itu lalu menjatuhkan dirinya berlutut dan kelihatan semakin ketakutan!

Dengan suara lirih dan gemetar, kakek yang usianya sudah enam puluh tahun lebih itupun mulai bercerita.

Dia dan Ang-lojin merupakan dua diantara delapan orang penjinak atau pawang tikus-tikus liar yang menjadi kaki tangan tetok-ci.

Tentu saja keduanya, bersama enam orang lainnya, adalah sahabat-sahabat dan rekan-rekan yang mempunyai daerah-daerah sendiri didalam dunia bawah tanah itu, mengepalai gerombolan tikus masing-masing.

Akan tetapi, ketika rombongan perahu asing itu datang bertamu, muncul seorang perempuan yang menjadi pelayan disebuah diantara perahu-perahu itu.

Ketika perempuan itu turun ke pulau untuk mencari air, Hek-lojin melihatnya, tertarik dan merayunya.

Perempuan itu, seorang perempuan peranakan Mongol, mau menyambut dan melayani rayuannya.

Akan tetapi celakanya, perempuan itu adalah seorang perempuan yang tidak puas dengan hanya seorang pria saja dan iapun melayani rayuan Ang-lojin.

Tentu saja hal ini mengakibatkan cemburu dan persaingan.

"Demikianlah, siauwya (tuan muda), kami berkelahi dan tentu saja kami berdua juga mengerahkan binatang-binatang peliharaan kamii untuk saling menyerang. Kami berdua sama-sama terluka "

"Keparat tolol! Hanya untuk urusan perempuan saja saling gasak dengan rekan sendiri? jahanam! Hayo. katakan, dimana sekarang Ang-lojin?"

Orang cebol yang galak itu membentak-ben-tak.

"Dia dia bersama perempuan itu digudang makanan"

"Bangsat!"

Si cebol itu memaki-maki dengan segala macam makian kotor dan tubuhnya sudah berkelebat pergi lagi.

Tak lama kemudian, setelah menemukan Ang-lojin yang sedang dirawat karena luka-lukanya oleh seorang perempuan Mongol, dia menyeret kedua orang itu kembali ketempat dimana Hek-lojin masih berlutut dengan takut-takut.

Setelah tiba disitu, dengan kasar si cebol itu mendorong Ang-lojin dan perempuan itu sehingga merekapun jatuh bersimpuh dan berlutut.

Pek Lian dan Siok Eng mengintai dengan jantung berdebar.

Ang-lojin bermuka merah dan memang dia itu beberapa tahun lebih muda dan kelihatan ganteng apabila dibandingkan dengan Hek-lojin yang berkulit hitam legam!

Pantaslah kalau perempuan itu lebih condong hatinya kepada si muka merah ini.

Dan wanita itu sendiri sebenarnya bukan seorang wanita cantik.

Usianya tentu sedikitnya tiga puluh lima tahun, bermuka kasar seperti orang-orang Mongol dan juga tubuhnya besar seperti pria.

Akan tetapi dari pandang mata dan senyum mulutnya nampak jelas bahwa ia adalah seorang wanita yang "panas"

Dan besar nafsu berahinya.

"Hek-lojin dan Ang-lojin, bagaimana sekarang? Kalau kalian sudah menyadari kesalahan, minta maaf kepadaku dan saling memaafkan, melupakan semua permusuhan, baru aku akan memberi ampun. Kalau tidak, aku sendiri yang akan menghukum kalian!"

Bentak si cebol yang sudah nampak marah sekali. Hek-lojin dan Ang-lojin yang masih berlutut itu lalu berkata, hampir berbareng.

"Harap siauwya sudi memaafkan saya."

"Bagus, sekarang kalian berjabat tangan dan saling melupakan semua kesalahan masing-masing."

Dua orang kakek itu saling pandang, kemudian mereka mengulurkan tangan dan saling berpegangan dan pada saat itu juga habislah semua permusuhan dan dendam diantara mereka karena mereka sadar bahwa permusuhan antara mereka hanya akan mencelakakan diri mereka sendiri.

Tiba-tiba si cebol tertawa.

Dua orang dara yang menonton semua itu, mengkirik.

Si cebol ini sungguh mengerikan.

Baru saja maki-maki dan marah-marah, tiba-tiba dapat tertawa segembira itu.

Dan tiba-tiba si cebol sudah menubruk kedepan dan menangkap perempuan itu.

Tentu saja perempuan itu menjerit kaget, akan tetapi si cebol sudah membenamkan mukanya pada leher perempuan itu!

Terdengar jerit melengking mengerikan.

Pek Lian dan Siok Eng memandang dengan muka pucat.

Mereka mengira bahwa si cebol itu melakukan hal yang kurang ajar dan cabul, mencium leher perempuan itu.

Akan tetapi ketika mereka melihat darah bercucuran, tahulah mereka bahwa si cebol bukannya mencium, melainkan menggigit putus urat darah dileher perempuan itu!

Hampir saja Pek Lian meloncat kedepan, akan tetapi Siok Eng sudah memegang lengannya dan mencegahnya.

Kini sambil tertawa, si cebol melepaskan gigitannya dan perempuan itu kelihatan terbelalak dan terhuyung, lehernya mengucurkan darah seperti pancuran karena urat darah dilehernya putus.

Si cebol menggerakkan cambuknya, terdengar suara meledak dan tubuh perempuan itu terlempar kedaerah gerombolan tikus.

Dan terjadilah pemandangan yang amat mengerikan hati dua orang dara itu.

Tikus-tikus yang tadinya saling serang itu kini beramai-ramai menyerang tubuh perempuan yang sudah terluka lehernya itu.

Hanya sebentar saja perempuan itu meronta-ronta dan menjerit-jerit.

Suaranya hilang dan tubuhnya berhenti meronta, mengejang sedikit lalu terdiam, dan dalam waktu singkat saja semua daging tubuhnya habis, tinggal tulang-tulangnya saja!

Dan dua orang kakek itu hanya memandang dingin saja kepada bekas kekasih mereka yang terbunuh dalam keadaan yang demikian mengerikan.

Pek Lian hampir pingsan.

Ia memejamkan matanya dan dipeluk oleh Siok Eng.

Agaknya, dara yang lebih muda ini lebih tabah menghadapi penyiksaan yang demikian sadis tadi.

Hal ini tidak aneh karena gadis itu adalah seorang puteri Tai-bong-pai, perkumpulan yang oleh dunia kang-ouw dianggap sebagai perkumpulan iblis juga.

Kini si cebol duduk diatas batu karang bundar ditengah-tengah ruangan itu.

Tidak ada bangkai tikus lagi disitu karena semua telah habis "Disikat"

Tikus-tikus yang liar tadi.

Agaknya mereka telah menerima perintah atau ijin dari pamong atau pawang masing-masing dan mereka bukan hanya makan daging perempuan Mongol itu, melainkan juga bangkai-bangkai tikus yang berserakan itu mereka ganyang beramai-ramai.

Kemudian tikus-tikus itupun pergi dan ruangan itu kembali bersih, bahkan darah yang tadinya berceceran dimana-mana telah bersih dijilati tikus-tikus itu.

Yang ada hanya tinggal tulang-tulang besar tubuh perempuan itu yang tidak dapat dihabiskan atau ditelan oleh tikus-tikus itu.

Si cebol meraih keatas dimana tergantung sebuah genta besar, lalu memukulnya.

Terdengar suara nyaring yang bergemuruh dan gemanya membalik dari semua penjuru.

Tak lama kemudian, panggilan ini telah mendapat sambutan dan terdengar suitan-suitan dari lorong-lorong itu.

Dan muncullah enam orang lain yang rata-rata memiliki tampang yang menyeramkan.

Bersama Ang-lojin dan Hek-lojin, mereka berdiri mengelilingi batu dimana si cebol yang mereka sebut siauwya itu duduk.

Si cebol memandang kepada mereka semua, seorang demi seorang, dengan pandang mata tajam penuh wibawa.

"Dengarlah kalian semua! Ayah amat sibuk dan tidak ingin diganggu, maka kalian harus tidak menimbulkan keributan. Hari ini ayah menerima banyak tamu. Akan tetapi ketahuilah, Selain kawan-kawan ayah dari dunia kang-ouw dan liok-lim yang berkunjung untuk bersahabat dan minta sesuatu dari ayah, ada pula seorang jago silat bekas musuh ayah yang datang untuk suatu keperluan yang belum kita ketahui. Karena itu, ayah menyuruhku menghubungi kalian agar kalian bersiap-siap dan berhati-hati. Semua peliharaan harus dipersiapkan agar sewaktu-waktu dibutuhkan, dapat segera dipergunakan. Periksa alat rahasia yang menghubungkan tempat ini dengan Istana. Dan ingat baik-baik. Musuh yang datang sekarang ini bukanlah sembarang orang, akan tetapi dia adalah keturunan seorang datuk dari utara. Bukan mustahil kalau ayah sendiri tidak akan mampu menundukkan. Maka kita harus bersiap-siap, kalau terpaksa dia akan kujebak kedalam terowongan."

Setelah selesai menyampaikan berita penting itu, yang disambut oleh delapan orang pembantu yang mengangguk-angguk, si cebol yang ternyata adalah putera dari tetok-ci itu meloncat kearah meja batu dimana terdapat sebuah lampu minyak.

Meja itu didorongnya kesamping sampai miring.

Tiba-tiba diatas langit-langit ruangan itu terbuka sebuah lubang kecil dan secepat kilat si cebol sudah meloncat dan menerobos keluar keatas.

Tak lama kemudian meja itu tegak kembali seperti semula dan lubang diatas itupun tertutup kembali oleh sebongkah batu karang besar.

Si cebol itu adalah putera tetok-ci dan dia memakai julukan Siauw-thian-ci (Tikus Langit Kecil)!

Agaknya, dalam hal julukan, dia tidak mau kalah oleh ayahnya yang berjuluk Tikus Beracun Bumi.

Dia berjuluk Tikus Langit!

Hanya ditambah Kecil karena tentu saja dia tidak berani melampaui ayahnya.

Dan semua anak-buah Tikus Beracun menyebut siauwya (tuan muda).

Setelah Siauw-thian-ci pergi, delapan orang itupun meninggalkan ruangan itu, kembali ketempat tugas masing-masing.

Sampai lama Pek Lian dan Siok Eng belum berani bergerak, sampai mereka merasa yakin benar bahwa tidak ada lagi orang yang kembali ketempat itu.

"Kemana sekarang, Eng-moi? Menerobos lewat lubang langit-langit seperti dia tadi?"

"Itu sangat berbahaya, enci Lian. Siapa tahu dia masih berada diatas, sedangkan untuk kembali kita tidak mengenal alat rahasianya dari atas. Apa lagi kalau disanapun masih terdapat pintu-pintu rahasia seperti ini."

"Habis bagaimana? Tinggal disini kita menjadi seperti tikus-tikus itu, tidak dapat keluar."

"Mari kita kesana saja."

Siok Eng menunjuk kearah lubang terowongan yang paling lebar.

Mereka berjalan dengan hati-hati sekali dan bersikap waspada.

Tiba-tiba keduanya menghentikan langkah dan mepet didinding terowongan.

Seorang diantara delapan anak-buah yang tadi berkumpul sedang berjalan membawa sebuah keranjang yang nampaknya berat.

Orang itu bermuka putih pucat dan dia membelok kekiri lalu menuruni anak tangga.

Didasar tangga itu terdapat sebuah ruangan berpintu baja.

Dua orang dara perkasa itu mengikutinya dan mengintai ketika orang itu berdiri didepan pintu baja.

Si muka putih mencabut setangkai obor yang terpasang diatas pintu baja dan pintu itupun terbuka secara otomatis.

Ketika pintu terbuka, hampir saja dua orang dara itu mengeluarkan teriakan kaget dan jijik.

Dibalik pintu baja itu terdapat sebuah guha yang luas dan disitu berkumpul tikus berbulu putih yang mungkin ribuan ekor banyaknya!

Orang bermuka putih itu melontarkan isi keranjang besar kedalam.

Tikus-tikus putih berebutan sambil mengeluarkan suara bercicit riuh rendah.

Sebentar saja isi keranjang itupun habis dan agaknya tidak mencukupi.

Tikus-tikus yang tidak mendapat bagian kelihatan menjadi buas dan marah.

Mereka menyerbu kearah pintu.

Melihat ini, Pek Lian menangkap lengan Siok Eng dan mencengkeramnya dengan hati penuh kengerian.

Kalau bukan puteri ketua Tai-bong-pai yang dicengkeramnya, tentu lengan itu akan terluka!

Akan tetapi, dengan tenang saja si muka putih itu mencabut keluar sebuah tabung bambu besar lalu mengeluarkan isi tabung yang berupa bubuk putih.

Tercium bau yang keras ketika bubuk putih itu digenggamnya dan aneh sekali, tikus-tikus yang tadinya buas menyerbu kedepan itu, seketika undur kembali ketakutan dan kembali ketempat masing-masing.

Si muka putih menyeringai gembira.

"Nah, begitu baru anak-anak baik namanya. Nanti aku akan kembali membawa makanan lebih banyak lagi."

Kakek itu lalu menutupkan kembali pintu baja dengan mengembalikan obor ditempat semula, lalu diapun pergilah dari situ.

Ketika orang itu lewat, dua orang dara cepat bersembunyi didalam lubang-lubang dan celah-celah batu.

ketika orang itu datang dekat, dia lalu memandang kekanan kiri, cuping hidungnya kembang kempis.

Akan tetapi dia lalu menciumi tangannya yang tadi menggenggam obat bubuk dan dia menggeleng kepala lalu lewat pergi.

"Aih, orang-orang disini mempunyai penciuman yang peka sekali, enci. Untung dia tidak menemukan kita. Mari kita ikuti dia!"

Dengan hati-hati dua orang dara itu membayangi si muka putih.

Ketika tiba dipersimpangan jalan terowongan, muncul berturut-turut tujuh orang anak-buah yang lain dan mereka semua juga memegang tabung bambu besar berisi obat bubuk putih yang merupakan obat yang ditakuti tikus itu.

Mereka mengumpulkan tabung-tabung itu dan dua orang diantara mereka lalu membawa tabung-tabung itu kesebuah ruangan besar setelah melalui jalan berbelak-belok.

Agaknya dua orang ini bertugas untuk mengumpulkan dan menyimpan tabung-tabung itu, karena isinya merupakan barang yang amat penting bagi mereka dan tidak boleh sampai terjatuh ketangan musuh.

Bubuk putih itu merupakan senjata ampuh untuk mengusir tikus-tikus liar.

Ada dua buah pintu diruangan itu, dan mereka berdua itu lalu membuka pintu hijau, menyimpan tabung itu kedalam sebuah kamar dibalik pintu hijau.

Kemudian merekapun pergi melalui jalan terowongan disebelah kiri, meninggalkan dua orang nona yang membayangi mereka.

Setelah dua orang kakek itu pergi, Siok Eng berbisik.

"Kita perlu sekali dengan bubuk putih itu. Kita harus mengambil yang cukup untuk dipergunakan kalau perlu."

Pek Lian mengangguk dan mereka lalu berindap-indap menghampiri pintu hijau, membuka daun pintu yang tidak dipasangi alat rahasia.

Siok Eng yang sebagai puteri ketua Tai-bong-pai amat ahli tentang racun, mengambil bubuk putih, membungkusnya dengan saputangan dan Pek Lian melakukan hal yang sama.

Kemudian mereka berunding sambil bisik-bisik.

"Sekarang lihat baik-baik pintu merah itu, enci Lian. Diatasnya ada tulisan yang melarang orang masuk. Kurasa itu menandakan bahwa didalam kamar dibalik pintu merah itu tentu ada rahasianya yang penting. Kita masuk kesitu!"

"Tapi bagaimana kalau didalamnya menanti jebakan-jebakan atau orang-orang yang sudah siap? Bukankah itu berarti kita seperti ular-ular mencari penggebuk?"

"Kita harus berani menghadapi resiko itu. kurasa tulisan itu ditujukan kepada para anak-buah dan ini berarti bahwa hanya orang-orang penting seperti ketuanya sendiri saja yang boleh masuk. Dan mustahil kalau jalan untuk sang ketua dipasangi jebakan. Mari, ikuti aku."

Mereka berdua mendorong pintu merah yang terbuka dengan mudah. Keduanya tertegun. Dibalik pintu itu terdapat sebuah kamar yang indah dan didekat dindingnya terdapat sebuah tempat tidur yang besar.

"Ehh!"

Pek Lian menahan seruannya dan menghampiri meja, lalu mengambil benda yang ternyata adalah sebuah cincin. Cincin ayahnya! Cincin stempel tanda kebesaran Menteri Ho! "Cincin apakah itu, enci?"

"Cincin ayahku! Ah, benar! Tentu ayah terbawa oleh perahu yang sekarang berlabuh disini! Ayahku berada disini!"

Pek Lian merasa gembira sekali dan matanya berkilat-kilat. Ia menyimpan cincin itu disaku bajunya sebelah dalam.

"Hemm, obat ini penting sekali,"

Kata Siok Eng dan iapun mengambil sebuah botol dari dalam lemari kecil didekat tempat tidur.

Ia mengenal obat cair berwarna kuning itu, apa lagi diluar botol ada tulisannya kecil yang menyatakan bahwa itulah obat penawar segala macam racun!

"Aku sudah membawa obat penawar, akan tetapi siapa tahu obat ini ada gunanya,"

Katanya sambil menyimpan botol kecil itu. Mereka memeriksa kamar indah itu. Tiba-tiba Pek Lian melihat sekilat cahaya dibalik lemari.

"Eng-moi, lihat. Ada sinar dari belakang lemari. Ini berarti bahwa dibelakang lemari itu tentu ada ruangan lain. Mari kita geser!"

Mereka bekerja-sama menggeser lemari itu dan setelah tergeser mereka melihat adanya sebuah lorong yang menuju keatas.

Akan tetapi lorong ini kemudian terpecah menjadi dua.

Mereka lalu memilih yang kiri.

Dengan hati-hati mereka melangkah, takut kalau-kalau ada jebakan rahasia didepan.

Lorong itu berakhir dengan sebuah pintu dan ketika mereka membuka dan mengintai, mereka melihat bahwa diluar daun pintu itu terdapat sebuah taman yang indah, dengan kolam renang ditengah-tengah dan pada saat itu terdapat belasan orang wanita cantik yang sedang mandi sambil bersendau-gurau.

Kedua orang dara itu dapat menduga bahwa tempat ini tentu merupakan tempat tinggal para isteri atau selir pemilik pulau.

Mereka tidak berani memasuki taman, menutupkan kembali daun pintu itu dan kembali sampai dilorong bercabang, lalu kini mengambil lorong yang kanan.

Dan tidak lama mereka tiba diakhir lorong ini yang merupakan sebuah halaman terkurung pagar besi dan ditengah halaman itu tumbuh sebuah pohon bunga yang luar biasa.

Daun-daunnya putih dan bunganya hitam mengkilat!

Itulah bunga yang dicari-cari oleh Siok Eng!

Melihat bunga ini, Siok Eng melompat kegirangan, hampir ia bersorak dan seperti seorang anak kecil mendapatkan sebuah mainan yang sudah lama diinginkannya, ia menghampiri pohon bunga itu.

"Hati-hati, enci, kau jangan memegang bunga ini,"

Katanya dan ia sendiri lalu mengeluarkan sebuah botol berisi cairan berwarna kuning, kemudian menggunakan cairan itu untuk melumuri semua bagian kedua lengannya dan jari-jari tangannya.

Setelah itu, barulah ia memetik beberapa kuntum bunga hitam dan disimpannya baik-baik kedalam guci kecil yang sudah ada airnya.

"Aih, benar kata ayahku dan tidak sia-sialah perjalananku yang jauh dan berbahaya ini,"

Kata Siok Eng sambil tersenyum manis.

"Dan engkau juga berjasa atas hasil yang kuperoleh ini, enci. Terimakasih!"

"Adik Eng, bukan engkau yang harus berterimakasih, melainkan aku. Sekarang, bagaimana kita akan dapat keluar dari lubang tikus ini? Ingat, selama kita belum dapat meninggalkan pulau ini, belum berarti bahwa kita berhasil."

"Engkau benar, cici. Lebih baik kita mengambil jalan lewat taman itu. Andaikata kita ketahuan, lebih baik kita melayani musuh ditempat terbuka dari pada didalam terowongan ini. Kalau mereka menutup saja pintu rahasia terowongan ini, berarti kita akan terkubur hidup-hidup dan menjadi santapan tikus-tikus menjijikkan itu!"

Membayangkan ini, Pek Lian sendiri bergidik.

"Marilah, Eng-moi!'"

Diingatkan tentang tikus-tikus itu, kedua orang dara ini lalu bersicepat menuju kedaun pintu yang berada diakhir terowongan kiri.

Mereka membuka daun pintu dan ternyata para wanita cantik tadi sudah selesai mandi dan tidak ada orangnya dan disitu mereka melihat banyak pakaian wanita yang indah-indah.

Kiranya itu adalah sebuah kamar pakaian yang serba lengkap.

"Adik Eng, aku mempunyai gagasan baik. bagaimana kalau kita menyamar saja sebagai seorang diantara wanita-wanita itu? Dengan demikian, setidaknya memudahkan kita untuk mencari jalan keluar."

"Bagus, enci Lian. Gagasanmu itu baik sekali!"

Kata Siok Eng sambil tertawa girang.

Keduanya lalu memilih pakaian yang cocok untuk ukuran tubuh mereka dan sambil cekikikan seperti dua orang anak nakal, mereka lalu berdandan.

Dan karena keduanya memang cantik jelita, tentu saja setelah berdandan, mereka nampak makin menarik sehingga keduanya saling memuji.

"Wah, adik Eng, kalau melihat engkau, agaknya wanita-wanita itu takkan terpakai lagi oleh majikan pulau! Engkau cantik seperti bidadari!"

"Aih, tidak menang dibandingkan denganmu, enci. Pakaian itu pantas benar kau pakai!"

Akan tetapi, tiba-tiba mereka waspada dan saling pandang ketika ada langkah kaki menuju kekamar itu. Pek Lian berkedip, lalu ia membuka pintu dan dengan suara berwibawa menegur.

"Siapa berani menganggu kami?"

Kiranya yang datang adalah seorang penjaga dan dibentak demikian, dia kelihatan ketakutan dan cepat menjatuhkan dirinya berlutut.

"Maaf, saya tidak tahu bahwa ji-wi (kalian berdua) berada disini. Saya diperintahkan oleh tocu (majikan pulau) untuk minta kepada dua orang hujin dari puri ini sebagai wakil para hujin lain untuk menerima tamu."

Pek Lian mengerutkan alisnya.

Sebagai seorang pemimpin ia memiliki kecerdikan dan ia sudah dapat menduga apa yang terjadi, maka iapun mengambil sikap angkuh dan bertanya dengan lagak seorang nyonya besar bertanya kepada pelayannya.

"Masa hanya kami berdua? Siapakah tamu-tamunya?"

"Bukan hanya ji-wi hujin (kedua nyonya) yang diharapkan hadir. Setiap puri diwakili oleh dua orang, jadi dari empat puri berjumlah delapan orang. Adapun yang menjadi tamu-tamunya banyak sekali. Ada orang-orang Mongol, ada orang-orang kang-ouw, dan ada seorang datuk dari utara bersama murid-muridnya. Delapan orang hujin dari empat puri diminta mengatur dan mengepalai para pelayan untuk menghormat para tamu."

Karena penjaga itu bicara sambil berlutut maka dua orang dara itu sempat untuk saling pandang dan Siok Eng memberi tanda setuju dengan mengangguk sedikit kepada temannya.

Mereka tidak mempunyai pilihan lain.

Menolak berarti membuka rahasia.

Mereka akan menerima saja dan nanti akan dicari jalan terbaik kalau sudah tiba saatnya yang gawat.

Apa lagi mendengar nama julukan datuk utara itu, membuat hati Pek Lian tertarik.

"Apakah kau maksudkan datuk utara itu adalah Yap-lojin ketua Thian-kiam-pang?"

Tanyanya.

Pertanyaan yang tepat ini tidak mengherankan hati si penjaga.

Sebagai isteri atau selir majikannya, tidak aneh kalau wanita cantik ini tahu akan nama tokoh-tokoh dunia persilatan.

Maka diapun mengangguk.

"Benar dugaan hujin yang mulia."

Tentu saja Pek Lian menjadi girang bukan main.

Bagaimanapun juga, Yap-lojin adalah seorang pendekar besar dan hal ini dapat diartikan bahwa mereka berdua mempunyai seorang kawan dalam sarang iblis ini.

Apa lagi kalau Yap Kiong Lee, murid utama atau putera angkat Yap-lojin berada disitu.

Pemuda perkasa itu sudah pasti tidak akan membiarkan ia dan Siok Eng celaka dan bantuannya sangat boleh diharapkan dan diandalkan.

besarlah hati Pek Lian mendengar bahwa Yap-lojin dan murid-muridnya, para pendekar Thian-kiam-pang itu, berada pula dipulau iblis ini.

Dua orang dara itu lalu mengikuti si pengawal dan akhirnya terkumpul delapan orang "nyonya"

Bersama mereka.

Tentu saja para selir itu memandang kepada mereka dengan heran karena tidak mengenal mereka.

Akan tetapi, karena mereka menghadapi tugas penting dan mereka sudah terbiasa dengan adanya muka-muka baru dikalangan mereka, yaitu selir-selir baru yang diambil oleh Tikus Beracun, merekapun tidak banyak bertanya, hanya memandang dengan alis berkerut seperti pandang mata seorang wanita terhadap madu baru yang dianggap saingan.

Dengan iringan pengawal, mereka lalu menuju kependapa dimana telah berkumpul para tamu.

Karena pakaian mereka serupa, maka kehadiran dua orang dara diantara para selir ini tidak terlalu menyolok dan sekelebatan mereka itu tidak ada bedanya dengan yang lain.

Di ruangan pendapa itu terdapat lebih dari lima puluh orang tamu.

Dengan bantuan pelayan-pelayan yang juga cantik-cantik akan tetapi pakaian mereka lebih sederhana, delapan orang selir ini lalu melayani para tamu, menyuguhkan hidangan-hidangan dan minuman-minuman.

Pek Lian mencari-cari dengan pandang matanya dan akhirnya ia menemukan orang yang dicarinya.

Mereka duduk dideretan depan.

Seorang kakek yang usianya sudah tujuh puluhan tahun, berpakaian putih-putih dengan jenggot putih panjang, sikapnya gagah.

Disebelahnya duduk seorang pemuda perkasa berusia tiga puluh tahun lebih, juga mengenakan pakaian serba putih dengan pedang dipunggung.

Disebelah kiri kakek itu duduk seorang gadis yang luar biasa cantik jelitanya, berpakaian hitam dari sutera sehingga kulit leher dan tangannya nampak semakin putih mulus.

Hampir semua mata para tamu pria, baik tua maupun muda, tiada hentinya mengerling kearah gadis yang luar biasa cantiknya ini.

Melihat tiga orang ini, Pek Lian hampir berteriak kegirangan.

Tidak saja ia mengenal Yap-lojin dan Yap Kiong Lee, akan tetapi juga ia mengenal gadis berpakaian sutera hitam itu karena gadis itu bukan lain adalah Bu Bwee Hong atau lebih tepat lagi bermarga Chu, karena gadis ini adalah anak kandung dari Pangeran Chu Sin!

disamping rasa girang yang luar biasa melihat bekas teman seperjalanan ini ternyata masih hidup, juga timbul rasa herannya bagaimana gadis yang terbawa hanyut oleh gelombang lautan dan terpisah darinya itu tahu-tahu berada disitu bersama Yap-lojin ketua Thian-kiam-pang dan murid pertamanya.

Juga Siok Eng merasa girang bukan main ketika ia mengenal Bwee Hong, puteri dari keluarga Bu yang telah menolongnya, bahkan telah menyelamatkan nyawanya dengan pengorbanan nyawa suami-isteri Bu dan terbukanya putera mereka, kakak dari Bwee Hong.

Akan tetapi, tiga orang itu sama sekali tidak mengenal Pek Lian dan Siok Eng yang tidak mudah dibedakan dari selir-selir tuan rumah yang lain.

Baru setelah Pek Lian melayani meja mereka dan sengaja menginjak kaki Bwee Hong, nona cantik jelita ini mengangkat muka memandang dan sinar mata mereka bertemu.

Pek Lian berkedip dan memberi isyarat kepada Bwee Hong agar tidak mengeluarkan suara.

Bwee Hong terkejut dan girang bukan main ketika mengenal Pek Lian, akan tetapi melihat isyarat itu, ia tidak berani berkata sesuatu, hanya memandang bengong.

Apa lagi ketika Bwee Hong mengenal pula Siok Eng sebagai gadis Tai-bong-pai yang pernah diobati oleh ayah-bundanya, ia terheran-heran dan juga amat girang.

"Enci, kalian bertiga harus menelan pel ini untuk menjaga diri terhadap racun,"

Bisik Siok Eng sambil memberikan tiga butir pel kepada Bwee Hong, akan tetapi gadis cantik jelita itu tersenyum.

"Jangan khawatir, adik yang baik. Kami telah minum obat penawar racun,"

Jawabnya dengan bisikan lirih.

Siok Eng mengangguk dan iapun merasa tenang karena ia percaya bahwa nona cantik ini adalah puteri seorang datuk yang menjadi keturunan Sin-yok-ong, Si Raja Tabib Sakti.

Tentu saja dara ini seorang ahli pengobatan yang tidak takut akan segala macam racun!

Adapun Yap-lojin dan putera angkatnya yang belum begitu akrab dengan Pek Liari, tidak mengenal nona ini.

Baru setelah Bwee Hong berbisik-bisik kepada ketua Thian-kiam-pang itu, Yap-lojin mengerutkan alisnya.

Dia teringat kepada gadis yang menjadi tawanan isterinya, Siang Houw Nio-nio.

Akan tetapi dia diam saja, hanya merasa heran apa lagi yang dikerjakan oleh gadis pemberani itu ditempat seperti ini.

Pek Lian dan Siok Eng juga tidak sempat bicara dengan Bwee Hong karena pada saat itu muncul tuan runyah, yaitu Tikus Beracun Bumi!

Para tamu bangkit dani tempat duduk mereka untuk menghormati tuan rumah yang terkenal sebagai datuk pertama dari Tujuh Iblis Ban-kwi-to!

karena para tamu bangkit berdiri, Siok Eng dan Pek Lian merasa aman, mereka tertutup oleh para tamu sehingga tuan rumah yang bertubuh pendek kecil itu tidak dapat melihat mereka.

Te-tok-ci atau Tikus Beracun Bumi itu ternyata memliliki tubuh yang sama sekali tidak serem seperti namanya.

Kakek ini usianya sekitar enam puluh lima tahun, tubuhnya pendek kecil nampak lemah, mengenakan pakaian mewah seperti seorang bangsawan saja.

Mukanya kecil sempit dan panjang kemuka, memang dari samping wajahnya memiliki bentuk seperti muka tikus.

Disebelah kanannya berjalan laki-laki berusia tiga puluh tahun lebih yang juga bertubuh kecil pendek.

Itulah Siauw-thian-ci, putera tunggal Tikus Beracun Bumi, yaitu pria kecil pendek kejam, yang pernah dilihat oleh Pek Lian dan Siok Eng didalam terowongan bawah tanah itu.

Setelah tiba ditempat duduk yang dipersiapkan untuknya, yaitu diantara kursi para tamu kehor-matan, tuan rumah yang pendek ini lalu berdiri diatas tangga, menjura keempat penjuru dan suaranya lantang ditujukan kepada semua tamu yang bangkit berdiri ketika dia datang.

"Cu-wi sekalian, selamat datang dan silahkan duduk! Semua dipersilahkan untuk menikmati hidangan yang kami suguhkan!"

Setelah berkata demikian dia bersama Siauw-thian-ci duduk menghadapi meja yang penuh hidangan, kemudian tanpa banyak cakap lagi ayah dan anak ini lalu makan-minum dengan lahapnya, sama sekali tidak memperdulikan kanan kiri lagi!

Dan lucunya, biarpun diatas semua meja tamu telah tersedia hidangan yang nampaknya lezat dan mewah, namun tidak ada seorangpun yang berani menyentuhnya, apa lagi makan!

Hal inipun tidak mengherankan, karena siapakah yang akan berani menyentuh hidangan yang disuguhkan oleh datuk sesat ahli racun yang paling kejam dan berbahaya didunia ini?

Selain itu, agaknya para tamu yang sebagian besar terdiri dari tokoh-tokoh sesat itu memang sudah tahu akan adegan yang sudah diatur ini dan agaknya sikap tuan rumah itu memang ditujukan kepada para tamu yang bukan segolongan dengan mereka, terutama sekali ditujukan kepada ketua Thian-kiam-pang.

Maka, para tokoh sesat yang hadir hanya tersenyum-senyum saja menonton pertunjukan yang mereka anggap sebagai lelu-con yang menarik.

Mereka tersenyum-senyum geli dan gembira melihat aksi tetok-ci dan Siauw-thian-ci.

Akan tetapi, bagi manusia sopan pada umumnya, aksi ayah dan anak itu sungguh memuakkan, menjijikkan dan juga memanaskan perut!

Mana ada pihak tuan rumah makan-minum seenak perutnya sendiri tanpa memperdulikan para tamu, bahkan mereka makan-minum dengan lahap, berdahak dan kadang-kadang meludahkan tulang-tulang ikan kekanan kiri.

Setengah jam lamanya para tamu disuguhi tontonan ini dan seperti orang baru tahu bahwa para tamu tidak ada yang makan hidangan diatas meja depan mereka, terdengar tetok-ci tertawa dan bicara dengan puteranya.

"Ha-ha-ha, dunia penuh penakut dan pengecut, anakku yang gagah! Lihat, tidak ada yang berani menyentuh hidangan diatas meja. hehehe, siapa yang makan-minum hidangan itu dan tidak mampus mendadak, aku sungguh kagum padanya dan akan kuangkat saudara!"

Ucapan ini sungguh merupakan ejekan menghina yang sepatutnya hanya diucapkan orang gila.

Seorang tamu yang usianya baru tiga puluh tahun lebih dan berwatak berangasan, dari golongan sesat yang agaknya belum paham akan sikap tuan rumah dan.

Dia merasa tersinggung, bangkit dari tempat duduknya.

Dia tidak berani menentang tuan rumah, akan tetapi merasa tidak senang dengan sikap itu dan diapun melangkah pergi hendak meninggalkan ruangan itu.

Akan tetapi, beberapa orang pengawal, anak-buah Si Tikus Beracun, sudah menghadangnya dengan tombak melintang.

"Sicu hendak pergi kemana? Sebelum tocu selesai makan-minum, tidak ada yang boleh pergi kecuali seijin tocu!"

"Apa?"

Laki-laki bermuka hitam itu melotot.

"Aku Tiat-pi Hek-kwi (Setan Hitam Lengan besi), datang dan pergi tidak pernah diatur orang lain. Aturan gila mana ini?"

Dia hendak memaksa pergi dan ketika tiga orang pengawal itu tetap menghadang, dia menggunakan kedua lengannya untuk mendorong dan tiga orang pengawal itupun terjengkang.

Ternyata Setan Hitam Lengan Besi ini memang memiliki sepasang lengan yang kuat sekali.

Si Tikus Beracun yang sedang asik makan minum itu menoleh dan sepasang matanya yang kecil itu menyipit, akan tetapi mengeluarkan sinar berkilat.

Marahlah dia melihat ada orang berani bersikap menentangnya.

"Cuhh!"

Dia meludah keatas lantai yang sudah, kotor dengan ludah dan tulang-tulang ikan itu.

"Bunuh orang itu!"

Teriaknya bengis.

Tiga orang kepala pengawal berloncatan datang dan mereka memegang alat semprotan dari bambu.

Begitu mereka menggerakkan alat itu, ada benda cair yang amat lembut dan beruap menyambar kearah Si Setan Hitam dari tiga jurusan.

Tentu saja orang itu berusaha mengelak dan mtelawan, namun begitu uap mengenai tubuhnya, dia menjerit kesakitan.

Kulit tubuhnya dan pakaian yang terkena uap itu hancur dan melepuh, seperti terbakar dan orang itupun tak dapat menahan lagi rasa nyerinya.

Dia terguling dan berkelojotan diatas lantai, sekarat dan tewas seketika!

Semua tamu memandang dengan muka pucat dan mereka bergidik.

Akan tetapi, Yap-lojin ketua Thian-kiam-pang yang melihat ini menjadi marah sekali.

Mukanya berobah merah dan diapun bangkit berdiri, diikuti oleh Yap Kiong Lee dan Chu Bwee Hong.

Bagaimanapun juga, sebagai seorang tamu Yap-lojin tidak sudi mencampuri urusan orang, apa lagi urusan antara Setan Hitam dan tuan rumah yang keduanya adalah orang-orang golongan sesat.

Dengan sikap hormat namun gagah.

Yap-lojin menjura kearah Tikus Beracun dan suaranya terdengar lantang.

"Te-tok-ci, aku datang kesini untuk berjumpa dengan seorang diantara penghuni Ban-kwi-to, yaitu Thian-te Tok-ong atau yang juga dikenal sebagai cengyakang. Aku ingin bertanya kepadanya tentang puteraku!"

Yang ditanyakan Yap-lojin adalah tokoh kelima dari Tujuh Iblis Ban-kwi-to.

yaitu si gendut pendek yang berjuluk Thian-te Tok-ong (Raja Racun Bumi Langit) atau juga terkenal dengan sebutan cengyakang (Kelabang Hijau) karena dia suka mengumpulkan kelabang beracun.

Seperti telah diceritakan dibagian depan, tokoh sesat ini nampak gulang-gulung dengan Yap Kim, putera kandung Yap Cu Kiat atau Yap-lojin itu yang kini lenyap dan sedang dicari oleh ayahnya dan suhengnya.

Tentu saja Tikus Beracun sudah tahu akan hal ini dan memang sejak tadi semua adegan yang disuguhkan disitu hanya untuk memancing keturunan datuk utara ini.

Sekarang, melihat tamu yang dianggap musuh besar ini sudah bangkit dan mengeluarkan suara, pihak tuan rumah menemukan alasan untuk turun tangan, seperti yang telah dilakukannya terhadap Setan Hitam tadi.

Pada saat itu, mulut Si Tikus Beracun penuh makanan.

Dia mengangkat muka memandang kearah Yap-lojin, lalu dia memuntahkan makanan itu keatas lantai dan menudingkan telunjuknya kearah kakek itu sambil membentak.

"Bunuh juga orang itu!!"

Tiga orang kepala pengawal itu sudah mengu-rung Yap-lojin dan dua orang muda itu, kemudian tanpa menanti perintah kedua kalinya lagi, tiga orang yang memang mempunyai hobby membunuh orang itu menyemprotkan alat semprot mereka yang mengandung racun amat jahat itu.

Akan tetapi, karena tadi mereka sudah menjaga diri dengan minum obat penolak racun yang diberikan oleh Bwee Hong, mereka tidak takut terhadap racun itu, dan untuk menjaga pakaian mereka, tiga orang ini lalu menggerakkan kedua tangan dikibaskan kedepan.

Bahkan Yap Kiong Lee sudah mengerahkan tenaga Thian-hui Khong-ciang yang luar biasa, itu, yang menjadi ilmu keturunan dari datuk utara Sin-kun butek.

Akibatnya luar biasa hebatnya karena tiga orang itu terjengkang dan tidak dapat bangkit kembali, napas mereka empas-empis dan muka mereka pucat, tubuh terasa lumpuh kehilangan tenaga!

Gegerlah ruangan itu ketika para anak-buah Tikus Beracun maju mengeroyok.

Bahkan Tikus beracun sudah berteriak-teriak minta bantuan para tamu.

Para tamu yang sebagian besar adalah tokoh-tokoh kaum sesat itu dan menjadi sekutu Tujuh Iblis Ban-kwi-to tentu saja berpihak kepada Tikus Beracun dan terjadilah pengeroyokan atas diri tiga orang itu.

Namun, mereka bukanlah orang-orang sembarangan!

Nona Chu Bwee Hong adalah keturunan dari datuk selatan Sin-yok-ong yang memiliki ilmu silat luar biasa tingginya.

Yap-lojin adalah ketua Thian-kiam-pang yang merupakan keturunan datuk utara Sin-kun butek yang amat lihai, sedangkan Yap Kiong Lee, murid utama atau putera angkatnya, telah sedemikian maju dalam ilmunya sehingga tidak jauh selisihnya dengan ilmu kakek itu sendiri!

Inilah sebabnya yang membuat para orang sesat itu seperti air bah membentur batu karang yang kokoh kuat.

Bwee Hong mengandalkan ginkangnya yang istimewa.

Tubuhnya berkelebatan seperti terbang saja diantara pengeroyokan banyak orang.

Tidak ada sebuahpun senjata mampu menyentuhnya dan ia membagi-bagi pukulan dan tendangan secepat kilat.

Dengan ginkang keturunan datuk selatan Sin-yok-ong yang luar biasa, yaitu yang dinamakan Pek-in Ginkang (Ilmu Meringankan Tubuh Awan Putih), tubuhnya berkelebatan seperti kilat dan Ilmu Silat Kim-hong-kun (Silat Burung Hong Emas) membingungkan para pengeroyoknya.

Yap-lojin bersikap tenang-tenang saja menghadapi semua pengeroyokan.

Kakek ini hanya menggerak-gerakkan kedua lengannya dan ujung jubahnya yang lebar itu mendatangkan angin keras, membuat para pengeroyoknya terpelanting atau terdorong mundur.

Akan tetapi, sepak terjang Yap Kiong Lee lebih hebat lagi.

Pemuda ini mengamuk dan kedua tangannya bergetar menimbulkan suara gemuruh seperti angin ribut.

Itulah Hong-i Sin-kun (Ilmu Silat Sakti Angin Badai) yang hebat, disertai penggunaan tenaga sakti Thian-hui Khong-ciang yang mengeluarkan suara ledakan seperti petir dan menghancurkan benda-benda disekitarnya.

Semua orang terkejut ketakutan dan menjauhkan diri, tidak kuat menahan pukulan-pukulan sakti ketiga orang itu.

Semua orang menjadi kagum sekali, bahkan si kakek Yap-lojin juga diam-diam amat kagum terhadap murid ini.

"Kiong Lee, engkau cari adikmu, biar kuhadapi tikus-tikus ini!"

Kata Yap-lojin yang menduga bahwa tentu puteranya, Yap Kim, disembunyikan dipulau itu.

"Baik, suhu!"

Kata Kiong Lee yang sudah mulai membuka jalan dengan menghambur-hamburkan pukulan saktinya kekiri untuk keluar dari kepungan. Akan tetapi tiba-tiba Pek Lian berteriak.

"Lo-cianpwe, puteramu tidak berada disini. Mari ikut dengan kami!"

Karena teriakan ini, Kiong Lee meragu dan tidak jadi keluar dari kepungan, dan sebaliknya, Pek Lian dan Siok Eng ketahuan dan dikeroyok pula.

Karena ingin mencari kawan, Pek Lian dan Siok Eng mengamuk dan mendekati Yap-loiin bertiga sehingga kini mereka berlima mengamuk dan merobohkan banyak pengeroyok yang berani menyerang terlalu dekat.

Melihat kehebatan lima orang musuh ini, Tikus Beracun dan puteranya menjadi marah.

Mereka sibuk berteriak-teriak memberi komando kepada para pengawal.

"Semprotkan darah maut!"

"Taburkan bubuk pencabut nyawa!"

"Bakar dupa setan sebanyaknya!"

"Serang dengan jarum kalajengking!"

Para pengawal sibuk melaksanakan perintah-perintah ini, namun karena lima orang itu semua telah melumuri tubuh dengan obat anti racun, juga sudah menelan obat mujijat dari Raja Obat Sakti atau juga terkenal dengan julukan Tabib Sakti, sedangkan Pek Lian dan Siok Eng telah dilindungi obat anti racun dari Tai-bong-pai, maka semua racun yang mengerikan itu tidak dapat melukai mereka.

Apa lagi dengan ilmu silat mereka yang amat hebat itu, semua senjata dan racun dapat ditolak dan yang celaka bahkan para tamu yang ikut mengeroyok.

Yang terkena racun-racun itu berjatuhan dan berkelojotan sekarat dan tewas seketika dalam keadaan amat mengerikan.

Melihat kehebatan lawan, Tikus Beracun dan puteranya lalu tiba-tiba menghilang.

Mereka hendak mempersiapkan diri untuk menjebak musuh-musuh yang amat tangguh itu agar terperosok kedalam terowongan rahasia mereka karena mereka maklum bahwa menghadapi mereka takkan mungkin menang kalau hanya mengandalkan ilmu silat dan pengeroyokan.

Melihat mundurnya tuan rumah, para tamu yang memang sudah gentar menghadapi lima orang pendekar itu, juga banyak yang mulai menjauhkan diri sehingga pengepungan tidak begitu ketat lagi.

Sementara itu, Pek Lian yang mencurigai kepergian Si Tikus Beracun dan puteranya, dengan cerdik sudah dapat menduga apa yang akan dilakukan oleh tuan rumah yang licik dan amat curang itu.

Tuan rumah telah menghilang, para pengawal juga mundur sehingga mereka berlima ditinggalkan diruangan depan itu.

"Yap-Lo-cianpwe, harap hati-hati terhadap jebakan rahasia. Jangan sembarangan menginjak lantai yang mencurigakan ahhhh!!"

Ia yang memperingatkan, akan tetapi ia sendiri bersama Siok Eng yang berdiri disebelahnya yang lebih dulu menjadi korban ketika lantai yang mereka pijak dan yang tadinya kokoh kuat itu tiba-tiba saja bergerak dan mereka berduapun terjeblos kebawah tanpa dapat mereka hindarkan lagi.

"Adik Lian, awas!!"

Bwee Hong berteriak dan gadis yang memiliki ginkang luar biasa hebatnya ini sudah melesat kedepan, maksudnya Untuk menolong Pek Lian dan Siok Eng, akan tetapi akibatnya ia sendiripun ikut terjeblos bersama dua orang dara itu!

Melihat betapa tiga orang dara itu telah terjeblos dan lenyap kebawah, sedangkan lantai itu telah menutup kembali, Yap-lojin menyambar tangan muridnya dan berkata.

"Mari kita keluar!"

Mereka berdua meloncat dengan cepatnya, melayang untuk keluar dari pintu.

Akan tetapi tiba-tiba dari luar menyambar puluhan batang anak panah beracun kearah mereka!

Karena maklum bahwa anak panah itu berbahaya sekali, keduanya terpaksa menangkis dan meruntuhkan senjata-senjata rahasia itu dengan pukulan sakti, akan tetapi terpaksa pula mereka menurunkan kaki menginjak ambang pintu dan merekapun terjeblos kebawah karena lantai berikut pintunya juga terjeblos dalam jebakan rahasia itu!

Guru dan murid ini mengerahkan sinkang dan mereka berhasil berjungkir balik, membuat poksai (salto) keatas sehingga tubuh mereka yang sudah terjeblos kebawah itu mencelat keatas lagi.

Akan tetapi, kembali puluhan anak panah menyambar.

Tentu saja mereka terpaksa menangkis dan tubuh mereka jatuh lagi kebawah dan lantai itupun telah tertutup kembali ketika tubuh mereka meluncur kedalam lubang yang amat gelap.

"Kerahkan ginkang!!"

Yap-lojin masih sempat memperingatkan muridnya karena dia khawatir kalau-kalau dibawah terdapat senjata-senjata runcing menyambut tubuh mereka.

Hanya dengan pengerahan ginkang yang hebat saja mereka dapat menghindarkan maut kalau terjadi hal seperti itu dan paling banyak hanya akan mengalami sedikit luka-luka pada kaki mereka, Tentu saja Yap Kiong Lee yang sudah banyak pengalaman didunia kang-ouw itupun telah tahu akan hal ini sehingga tubuh guru dan murid itu melayang turun dengan ringan.

Akan tetapi, mereka merasa lega dan juga heran karena kedua kaki mereka hinggap diatas tanah kering biasa, tidak ada senjata yang menerima tubuh mereka.

Mereka telah tiba didalam sebuah terowongan, lorong dibawah tanah dan ada sinar menerangi terowongan itu dari depan dan belakang.

Sebelum mereka mengambil keputusan kemana mereka akan mencari jalan keluar, tiba-tiba terdengar bunyi ledakan cambuk, disusul suara gemuruh dan mencicit.

Suara tikus!

Dan kini nampaklah tikus-tikus itu.

Tikus-tikus itu berwarna coklat dengan kepala dan ekor berwarna putih.

Kalau hanya seekor dua ekor, tentu binatang-binatang itu merupakan tikus-tikus yang menarik, mungkin bagus untuk dipelihara.

Akan tetapi, yang muncul ini bukan seekor dua ekor melainkan ratusan dan tikus-tikus itu luar biasa besarnya, bukan seperti tikus biasa.

Juga mereka itu nampak ganas dan liar, sambil mencicit mereka menyerbu maju, ratusan banyaknya, hampir memenuhi terowongan itu!

Melihat ini, guru dan murid cepat membalikkan tubuh dan melarikan diri dari tempat itu, menjauh.

Mereka mengikuti terowongan yang berbelak-belok itu dan akhirnya berhadapan dengan seorang kakek berwajah putih menyeramkan yang berdiri didepan sebuah pintu baja.

Kakek ini menyeringai dan tangannya bergerak mencabut obor yang tertancap diatas pintu.

Tiba-tiba pintu terbuka dan ratusan, bahkan ribuan tikus putih menerobos keluar dan dengan bunyi bercicitan menyerbu kearah guru dan murid itu!

Yap-lojin adalah ketua Thian-kiam-pang yang sudah sering kali menghadapi penjahat-penjahat kejam dan sudah sering menghadapi maut pula.

Dan Yap Kiong Lee juga seorang pendekar yang berpengalaman.

Namun belum pernah mereka menghadapi penyerbuan ribuan ekor tikus yang kelihatan buas itu, maka mereka berdua terbelalak memandang dan merasa betapa bulu tengkuk mereka meremang bergidik.

Mereka meloncat kebelakang dan membalikkan tubuh hendak menjauh kan diri, akan tetapi dari arah belakang, barisan tikus coklat yang tadi mengejar sudah datang, kini digiring oleh seorang kakek yang berambut coklat penuh uban sambil tertawa-tawa.

Karena berada dijalan terowongan dan sudah terjepit dari depan dan belakang oleh dua barisan tikus, terpaksa Yap-lojin dan Yap Kiong Lee berdiri tegak beradu punggung saling membelakangi, memasang kudakuda dan siap untuk membela diri menghadapi ribuan ekor tikus itu.

Diam-diam mereka mengerahkan tenaga sakti Thian-hui Khong-ciang dan begitu tikus-tikus itu sudah menyerbu dekat, kedua orang guru dan murid ini lalu menggerakkan kedua tangan menyerang dan memukul kedepan.

Terdengar suara gemuruh angin pukulan dahsyat menyambar kedepan dan bagaikan petir menyambar pukulan-pukulan sakti itu mengenai tikus-tikus dan batu-batu dinding.

Tikus-tikus itu terpental dan darah berhamburan, debu mengepul tebal.

"Hati-hati, Kiong Lee. Jangan sampai terowongan runtuh terkena pukulanmu!"

Teriak Yap-lojin memperingatkan muridnya.

Dia tahu bahwa muridnya itu marah dan pukulannya mengandung tenaga dahsyat.

Kalau sampai terowongan itu runtuh karena pukulan muridnya, berarti mereka akan terkubur hidup-hidup.

Diam-diam guru ini amat kagum dan sayang kepada muridnya atau anak angkatnya itu.

Memang Kiong Lee memiliki bakat yang luar biasa sehingga dalam usia semuda itu telah mewarisi ilmu-ilmu sakti dari perguruannya, bahkan hampir mencapai tingkat yang sama dengannya.

Puluhan ekor tikus tewas dan hancur terbanting kepada dinding terowongan, dan bau yang amat amis dan busuk memenuhi udara, memusingkan kepala guru dan murid itu.

"Suhu, tikus-tikus ini beracun!"

Teriak Kiong Lee.

"Tentu saja! Lindungi hidung dengan saputangan."

Mereka lalu mengeluarkan saputangan dan mengikatkan saputangan itu didepan hidung.

Akan tetapi, tikus-tikus itu sungguh nekat dan liar sekali.

Biarpun guru dan murid itu sekali pukul membunuh puluhan ekor, namun yang datang semakin banyak.

Mati sepuluh datang seratus!

Dan ribuan ekor masih berjubel-jubel dibelakang seperti berebut untuk dapat mengeroyok dua orang manusia yang menjadi musuh mereka itu, atau juga merupakan calon-calon mangsa mereka.

Bau amis membuat mata mereka berkunang.

Biarpun mereka sudah melindungi hidung dengan saputangan, tetap saja hawa beracun tikus-tikus itu membuat mereka pengap dan sukar bernapas.

Memang, dengan pukulan-pukulan Thian-hui Khong-ciang, tikus-tikus itu tidak ada yang mampu mendekat, akan tetapi sampai kapan mereka akan mampu bertahan?

Tikus-tikus itu tak terhitung banyaknya, dan agaknya bukan liar atau buas lagi, melainkan sudah gila dan agaknya sebelum habis sama sekali tidak akan mau mengaku kalah atau mundur.

Dan tidak mungkin guru dan murid itu akan sanggup bertahan demikian lamanya sampai tikus-tikus itu habis.

"Suhu, kita menyerbu satu jurusan saja membuka jalan darah!"

Tiba-tiba Kiong Lee berkata, dan gurunya menjadi kagum dan girang.

Memang benar pendapat muridnya.

Kalau mereka beradu punggung, masing-masing menghadapi satu barisan tikus, berarti mereka terjepit dan harus melayani barisan itu sampai habis, yang agaknya tidak mungkin.

Akan tetapi kalau mereka menyerbu satu jurusan saja, dengan kerja sama mereka, agaknya mereka masih memiliki harapan untuk dapat melepaskan diri dari himpitan maut ini.

"Baik, aku membantumu!"

Yap-lojin berseru dan diapun membalik setelah lebih dulu mengirim pukulan dahsyat yang membuat tikus-tikus didepannya itu terlempar jauh kebelakang dan menjadi kacau.

Mempergunakan kesempatan ini, dia membalik dan membantu muridnya.

Dengan pukulan mereka berdua, tentu saja akibatnya lebih hebat lagi.

Gabungan pukulan mereka membuat tikus-tikus coklat itu seperti sekumpulan daun kering ditiup angin badai.

Ratusan ekor tikus terlempar saling bertubrukan dan bertumpuk-tumpuk.

Guru dan murid itu melakukan pukulan bertubi-tubi, lalu meloncat dan menggunakan tumpukan bangkai tikus untuk menjadi batu loncatan, terus melarikan diri setelah melompati barisan tikus coklat itu.

Kakek penggiring tikus itupun tidak berani turun tangan menyerang, bahkan mepet didinding karena merasa gentar melihat kelihaian guru dan murid itu.

Akan tetapi, diapun cepat membunyikan cambuknya berdetak-detak dan tikus-tikus coklat itu.

Diikuti oleh tikus-tikus putih, melakukan pengejaran sambil mengeluarkan bunyi bercicitan riuh-rendah.

Udara diterowongan itu penuh dengan hawa beracun dari tikus-tikus itu.

Yap-lojin dan Kiong Lee merasa betapa kepala mereka pening sekali, akan tetapi mereka harus berlari terus kalau tidak ingin celaka.

Tiba-tiba mereka mendengar suara Pek Lian sayup-sayup memanggil-manggil.

Mereka berdua mempercepat lari mereka kedepan dan nampaklah oleh mereka tiga orang dara itu berdempetan, berdiri ketakutan disebuah ruangan luas, dikepung oleh ribuan tikus yang bermacam-macam bentuk moncongnya dan bermacam-macam pula warna bulunya.

Ada yang hitam, ada yang kemerahan atau bintik-bintik.

Tikus-tikus itu sungguh amat luar biasa banyaknya, sampai bertumpuk-tumpuk.

Dan dari jarak jauh, nampak beberapa orang kakek memegang cambuk yang dengan berbagai gaya dan cara memerintahkan barisan masing-masing menyerang tiga orang dara itu.

Namun, sungguh aneh.

Tikus-tikus itu agaknya tidak berani menyerang, hanya memandang, mencicit dan memperlihatkan taring dengan buasnya tanpa berani maju menyerang.

Tentu saja dikerumuni ribuan ekor tikus yang memperlihatkan sikap buas mengancam itu, tiga orang dara menjadi ketakutan dan jijik sekali.

Agaknya merekapun sudah bosan melawan tikus-tikus yang tiada habis-habisnya itu, lelah dan muak karena hawa beracun yang berbau busuk, apek dan amis.

"Yap-Lo-cianpwe tolonglah kami!"

Pek Lian berseru ketika melihat Yap-lojin dan Yap Kiong Lee berlarian datang.

Akan tetapi ia tidak tahu bahwa untuk menolong diri sendiri saja guru dan murid itu sudah kerepotan sekali.

Kini tikus-tikus yang berada diruangan itu, begitu melihat munculnya Yap-lojin dan Kiong Lee, sudah membalikkan tubuh dan disertai suara mencicit riuh-rendah mereka semua menyerbu kearah Yap-lojin dan muridnya.

Tentu saja guru dan murid ini menyongsong mereka dengan pukulan sakti Thian-hui Khong-ciang.

Kembali darah berhamburan ketika tikus-tikus itu dilanda pukulan sakti.

Akan tetapi binatang-binatang itu agaknya sudah sejak tadi menahan kemarahan mereka ketika mereka secara aneh tidak berani menyerang tiga orang dara itu.

Seperti sekawanan tikus kelaparan melihat daging empuk tiga orang dara yang tinggal mengganyang saja namun ada sesuatu yang melarang mereka atau membuat mereka tidak berani menyerang.

Kini, mereka menumpahkan semua kemarahan dan kerakusan mereka kepada dua orang pendatang baru ini.

Bagaikan air bah mereka itu menerjang datang.

Tikus-tikus ini terdiri dari bermacam-macam jenis, menyerang menjadi satu, ribuan banyaknya, disertai bau busuk menyengat hidung.

Kembali guru dan murid itu mengamuk, mengirim pukulan berantai bertubi-tubi, namun tikus-tikus itu makin banyak juga yang datang menyerbu.

Bau racun bercampur bau darah dan bau kotoran mereka sungguh membuat udara disitu penuh racun.

Yap-lojin adalah seorang yang sakti, juga muridnya amat gagah perkasa, dan tiga orang dara itiipun bukan orang sembarangan.

Disamping ini, mereka semua sudah menelan pel anti racun yang amat mujarab.

Namun, menghadapi bau yang teramat busuk ini, mereka tidak dapat bertahan lagi dan isi perut mereka meronta, lalu mereka itu muntah-muntah!

Pek Lian yang memang sudah mempunyai perasaan jijik terhadap tikus, dan diantara mereka berlima itu dara inilah yang terhitung paling lemah, tidak kuat dan muntah-muntah lalu jatuh terduduk.

Kepalanya pening bukan main.

Untung tidak ada tikus yang berani menyerangnya, karena kalau terjadi hal demikian, tentu ia dan dua orang kawannya tidak akan dapat melawan dan tentu mereka akan dikeroyok dan diganyang sampai habis oleh tikus-tikus itu.

Mengerikan!

Syukur bahwa tidak ada seekorpun yang berani menyerang padahal begitu Yap-lojin dan muridnya muncul, semua tikus berobah ganas dan menyerang dengan buas dan berani.

Mengapa demikian?

Dalam kepeningannya, sambil duduk bersandar dinding terowongan itu Pek Lian merenung.

Apakah karena mereka bertiga itu wanita maka tikus-tikus ini tidak berani menyerang?

Ah, mustahil!

Bukankah ketika pertama kali ia bertemu tikus-tikus itu bersama Siok Eng, iapun dikejar-kejar?

Kenapa sekarang ah, kenapa ia lupa?

Bukankah ia dan Siok Eng membawa bubuk putih yang mereka bungkus dengan saputangan itu?

Bukankah bubuk putih itu merupakan racun anti tikus?

Benar!

Itulah sebabnya dan agaknya Siok Eng yang demikian gagahnya akan tetapi demikian takutnya terhadap tikus sampai lupa pula akan hal itu saking jijiknya menghadapi ribuan ekor tikus.

Kesadaran akan hal ini membangkitkan semangat Pek Lian dan iapun membuka matanya.

Dilihatnya kedua temannya sudah terduduk dengan lemas pula, dikanan kirinya.

Ketika ia melihat kedepan, ternyata guru dan murid yang lihai itu masih mengamuk, akan tetapi mereka berdua sudah kepayahan, terhuyung-huyung dan mepet kedinding terowongan.

Tenaga pukulan mereka tidaklah sedahsyat semula.

Agaknya mereka mulai kehabisan tenaga atau keracunan oleh bau yang amat busuk itu.

Pakaian guru dan murid itu yang terbuat dari sutera putih, yang semula indah dan bersih, kini sudah koyak-koyak dan berlepotan darah.

Didepan kedua orang ini bertumpuk bangkai tikus dan daging-daging tikus yang hancur berserakan.

Baunya amat menjijikkan dan penglihatan itu sungguh amat mengerikan.

Tikus-tikus itu masih terus menyerbu, tiada habis-habisnya dan jauh dibelakang mereka nampak kakek-kakek yang menjadi pawang-pawang mereka itu memegang cambuk, mendorong anak-buah mereka sambil tertawa-tawa mengejek.

Tikus-tikus itu mundur setiap kali dua orang guru dan murid memukul, akan tetapi apabila mereka berdua diam, mereka menyerbu.

Ada beberapa ekor telah bergantung dipakaian guru dan murid itu, mati akan tetapi mereka masih mengait pada celana.

Mengerikan!

Dengan tubuh lemah Pek Lian lalu mengeluarkan bungkusan bubuk putih itu sambil berbisik kepada Siok Eng.

"Eng-moi kita lupa tidak mempergunakan bubuk anti tikus kita "

Siok Eng membuka matanya. Karena sinkangnya jauh lebih kuat dibandingkan dengan Pek Lian, maka iapun cepat dapat menguasai dirinya.

"Aih, benar, enci!"

Dan iapun cepat mengeluarkan saputangan yang membungkus obat putih itu.

Dengan penuh harapan mereka lalu mengambil sejumput bubuk putih dan menyebarkannya kearah tikus-tikus yang mengurung guru dan murid itu.

Dan begitu bubuk putih itu disebarkan, tikus-tikus yang berada didekat bubuk putih itu mencicit ketakutan dan cepat pergi menjauh.

Hal ini menggembirakan hati dua orang dara itu yang cepat berjalan sambil menyebarkan bubuk putih, membuka jalan kearah Yap-lojin dan muridnya.

Bwee Hong juga sudah bangkit berdiri dan memandang dengan girang.

Ia tahu apa artinya bubuk putih itu.

"Lo-cianpwe, marilah mendekat kesini!"

Kata Pek Lian.

Yap-lojin dan Kiong Lee juga merasa girang sekali.

Melihat jalan terbuka, mereka berdua lalu berloncatan mendekat dan bersatu dengan tiga orang gadis itu didalam ruangan, sedangkan tikus-tikus itu mengurung agak jauh, tidak berani mendekat lagi dan mereka itu gelisah karena disatu pihak, para pawang mereka membujuk mereka untuk maju, akan tetapi bubuk putih itu membuat mereka ketakutan dan memaksa mereka untuk mundur menjauh.

Pek Lian berangkulan dengan Bwee Hong.

baru sekarang mereka, dalam keadaan sama-sama lemas, mendapat kesempatan untuk berdekatan.

"Enci Hong, akhirnya kita dapat berkumpul dan sama-sama menempuh segala bahaya lagi!"

Kata Pek Lian sambil mencium pipi yang kemerahan dan halus itu dengan hidungnya.

Bwee Hong membalas ciuman itu dan kedua pipinya menjadi semakin merah karena Pek Lian bersikap sedemikian terbuka, padahal disitu ada Yap-lojin dan terutama sekali Yap Kiong Lee.

"Ah, adik Lian. Sungguh aku berterimakasih kepada Thian yang telah mempertemukan kita kembali, dan sekali ini engkau kembali telah menolongku dengan bubuk putihmu yang mujijat itu!"

"Hi-hik, bubuk ini adalah milik mereka,"

Katanya sambil memandang kearah para pawang.

"Untung adik Eng yang memperingatkan sehingga kami berdua membawanya dengan saputangan."

"Kita harus cepat-cepat keluar dari sini sebelum hawa beracun ini membuat kita semua pingsan,"

Yap-lojin berkata.

"Hawa beracun ini lebih berbahaya dari pada tikus-tikus itu sendiri."

"Ke mana kita harus pergi? Lorong-lorong disini penuh rahasia dan tikus-tikus itu"

Kiong Lee mengeluh.

Sementara itu, para pawang sudah memberi perintah kepada tikus-tikus itu dengan bermacam gerakan, suara dan ledakan cambuk.

Dan tiba-tiba terdengar suara berdesis-desis dan beberapa macam tikus jenis tertentu mengeluarkan semburan yang mengeluarkan bau yang luar biasa kerasnya, membuat ruangan itu penuh dengan hawa beracun!

Lima orang itu merasakan ini dan kepeningan menyerang mereka, membuat mereka terhuyung-huyung.

"Mari kita pergi"

Yap-lojin memimpin kelompok itu meninggalkan ruangan setelah dia menerima saputangan berisi obat bubuk putih dari Pek Lian, sedangkan Kiong Lee juga menerima saputangan berisi bubuk putih itu dari Siok Eng lalu dia berjalan dibelakang.

Dengan senjata bubuk putih ini, mereka dapat keluar dari tempat itu.

Akan tetapi keadaan mereka sudah payah, terutama sekali Pek Lian yang paling lemah sinkangnya.

Kepalanya terasa pening dan ia terpaksa dipapah oleh Bwee Hong dan Siok Eng yang lebih kuat sinkang mereka.

Mereka semua merasa khawatir sekali.

Biarpun untuk sementara waktu, berkat khasiat bubuk putih, mereka terhindar dari maut karena tikus-tikus itu takut menyerang mereka, namun keadaan mereka begini lemah dan kalau sampai tuan rumah, Si Tikus Beracun, turun tangan, bagaimana mereka akan mampu bertahan?

Pada saat yang amat gawat itu, Siok Eng teringat akan botol berisi cairan kuning yang diambilnya dari dalam kamar merah, botol yang ada tulisannya bahwa cairan kuning itu adalah obat penawar segala macam racun!

Ia tadi sedang kebingungan, karena biarpun Tai-bong-pai merupakan perkumpulan para ahli racun, namun diantara obat-obat penawar racun yang dibawanya sebagai bekal tidak terdapat obat untuk melawan hawa beracun seperti yang dikeluarkan oleh tikus-tikus itu.

Kini ia teringat akan obat dalam botol yang diperolehnya dikamar Tikus Beracun, maka dikeluarkanlah obat itu.

Setelah diperiksanya, sebagai seorang ahli ia tahu bahwa obat itu dapat dipergunakan dengan cara meminumnya, atau menciumnya atau mengoleskannya.

Memang benar obat penawar segala macam racun.

Iapun mencobanya dan menciumnya dan seketika peningnya lenyap ketika ia mencium bau yang agak harum itu.

"Ah, inilah obat penawarnya. Harap kalian mencium dan menyedotnya secara bergilir,"

Katanya.

Empat orang yang lain itu menjadi girang dan cepat menyedot dari botol cairan kuning itu dan memang mujarab bukan main.

Mereka sembuh dan merasa tubuh mereka segar kembali.

Akan tetapi, tiba-tiba Pek Lian jatuh terkulai.

"Celaka"

Keluhnya "obat bius"

Dan dara inipun sudah jatuh pingsan!

Siok Eng dan Bwee Hong terkejut, apa lagi ketika mereka berduapun tiba-tiba merasa lemas seperti dilolosi semua urat dalam tubuh.

Mereka mencoba mempertahankan diri, namun terhuyung dan akhirnya jatuh pingsan pula!

Terdengar suara pecut meledak-ledak dan delapan orang pawang tikus telah mengurung dan menyerang dengan cambuk-cambuk mereka.

Yap-lojin dan Yap Kiong Lee juga merasa betapa kelemahan menyelubungi diri mereka, namun dengan pengerahan sinkang dan kemauan membaja, mereka berdua masih dapat melakukan perlawanan dan dengan pukulan-pukulan sakti, mereka berdua masih dapat menahan delapan orang itu sehingga mereka tidak berani terlalu mendekat, hanya mengandalkan cambuk-cambuk panjang mereka untuk menyerang dari jarak jauh.

Akan tetapi, betapapun mereka mengerahkan tenaga mengamuk, dari dalam ada suatu daya melumpuhkan membuat guru dan murid itu menjadi bulan-bulanan patukan dan gigitan ujung cambuk delapan orang anak-buah Tikus Beracun itu.

Ketika Kiong Lee terhuyung kekiri, dia disambut oleh pukulan beracun pawang tikus putih, sebuah pukulan keras yang menyambut dadanya.

"Bukkk!!"

Kiong Lee mengeluh dan terpental, kemudian terbanting kedinding ruangan itu dan jatuh terkapar dekat tubuh tiga orang dara yang sudah pingsan terlebih dulu.

Pemuda ini tidak bergerak lagi.

Tentu saja Yap-lojin merasa terkejut dan khawatir bukan main.

Dia tidak tahu apakah muridnya tewas atau hanya pingsan oleh pukulan yang keras tadi.

Dia mengamuk dan mengerahkan sinkangnya, namun tenaganya semakin lemah dan diapun terhuyung-huyung.

"Ha-ha-ha-ha! Kiranya hanya sekian sajakah kelihaian Yap-lojin yang terkenal sebagai keturunan datuk utara Sin-kun butek itu? Ha-ha-ha, tidak berapa hebat! Baru kau tahu sekarang betapa lihainya para jago dari Ban-kwi-to, ha-ha!"

Ini adalah suara Tikus Beracun dan dia sudah berdiri disitu bersama puteranya si Tikus Langit Kecil yang berdiri dengan sikap angkuh.

Yap-lojin berhenti memandang dan kepalanya terasa semakin pening.

Matanya menjadi kabur dan musuh-musuhnya hanya kelihatan samar-samar saja.

Akan tetapi, kakek yang gagah perkasa ini tidak mau menyerah begitu saja, sedikitpun dia tidak menjadi gentar.

Nyawa empat orang muda yang sudah roboh entah pingsan entah tewas itu, kalau masih ada, terletak dalam tangannya.

Kalau dia jatuh, mereka semua tidak akan tertolong lagi.

Dia sendiri sudah lemah bahkan untuk berdiri tegakpun sudah sukar, namun dia tidak memperlihatkan kelemahannya.

"Hemm, kalian majulah semua!"

Bentaknya.

"Tar-tar-tar-tarr!"

Delapan orang pawang itu tetap tidak berani mendekatinya karena dari kedua tangannya keluar hawa pukulan yang masih ampuh.

"Minggirlah kalian!"

Tiba-tiba Siauw-thian-ci membentak.

"Biar kuhadapi tua bangka ini!"

Sikap Siauw-thian-ci angkuh dan sombong karena memang matanya yang kecil sipit akan tetapi tajam itu sudah dapat melihat bahwa kakek itu sudah kehilangan tenaga saktinya dan gerakannya sudah kacau dan lemah.

Kalau tidak melihat demikian, mana dia berani omong besar?

Tadi dia sudah menyaksikan sendiri kehebatan ketua Thian-kiam-pang ini.

Bahkan ayahnya sendiri tidak mampu melawan dan mengalahkannya.

Melihat kelemahan kakek itu, Siauw-thian-ci dengan sikap sombongnya, untuk pamer kepada anak-buahnya, melepaskan cambuknya dan maju menyerang Yap-lojin dengan tangan kosong!

Melihat ini, biarpun dia sudah lemah dan terancam, Yap-lojin tidak mau mencabut pedangnya.

Kalau tadi dia tidak mencabut pedang ketika dikeroyok delapan, adalah karena untuk menghadapi cambuk-cambuk lemas itu lebih baik menggunakan kedua tangan, sekarang dia tidak mungkin dapat menggunakan pedang melihat betapa penyerangnya hanya bertangan kosong saja.

Siauw-thian-ci menubruk kedepan dan mengirim pukulan kilat kearah dada Yap-lojin.

kakek ini mengenal pukulan berat, maka diapun cepat menangkis karena untuk mengelak, dia sudah kurang gesit dan pandang matanya sudah kabur.

"Dukk!"

Benturan kedua lengan yang keras itu membuat tubuh Yap-lojin terhuyung dan sebelum dia mampu menguasai dirinya, Siauwthian-ci sudah menerjang lagi dengan tendangannya yang mengenai pinggang lawan.

"Dess!"

Tubuh kakek itu terpelanting.

Akan tetapi, kakek yang gagah perkasa ini masih bangkit kembali, hanya untuk menerima pukulan yang mengenai lehernya, membuat dia jatuh lagi dan terkapar pingsan.

Siauw-thian-ci menyeringai puas dan bangga, lalu memandang kepada ayahnya, sikapnya menanti perintah.

Si Tikus Beracun memandangi tubuh lima orang yang sudah tak bergerak diatas lantai itu, lalu dia berkata.

"Hemm, mereka ini orang-orang berbahaya. Bunuh saja mereka sekarang, tidak usah terlalu lama dibiarkan hidup, hanya akan merongrong kita saja!"

"Akan tetapi, tiga orang dara itu muda-muda, cantik dan mulus, ayah, apa lagi yang berpakaian hitam itu. Sayang kalau dibunuh begitu saja,"

Kata Siauw-thian-ci, sikapnya ragu-ragu. Tikus Beracun menyeringai dan mengusap kumisnya yang hanya beberapa lembar, kumis tikus.

"Heh-heh, benar juga! Tapi yang berpakaian hitam itu untuk aku. kau ambil saja yang dua itu."

Lalu dia memandang kepada Yap-lojin dan muridnya.

"Akan tetapi cepat bunuh dua orang itu, baru kita bersenang-senang dengan tiga orang dara itu."

Siauw-thian-ci menyeringai, terkekeh girang dan dia menghampiri tiga orang dara yang sudah terkapar tak bergerak itu.

Tangannya digerakkan kedepan, kearah dada Pek Lian, entah apa yang hendak diperbuatnya.

Sebelum jari-jari tangan yang kurang ajar itu berhasil menyentuh baju, tiba-tiba terdengar keluhan dan ternyata Kiong Lee siuman!

Pemuda ini mengeluh dan bangkit duduk, kepalanya digoyang-goyang seperti mengusir kepeningan, matanya dibu-ka.

Tentu saja tetok-ci dan Siauw-thian-ci menjadi terkejut dan khawatir sekali.

"Anakku, bunuh saja dulu bocah itu!"

Teriak tetok-ci.

Tanpa menanti perintah kedua kalinya, Siauw-thian-ci mengerahkan tenaga pada tangan kanannya, lalu dia menerjang kedepan, menghantam dengan pengerahan tenaga sepenuhnya kearah kepala Kiong Lee yang masih duduk dan masih nanar itu.

Kiong Lee terkejut dan cepat mengangkat lengan menangkis.

"Desss!"

Benturan tenaga dahsyat itu mengakibatkan, tubuh Siauw-thian-ci terlempar kebelakang sedangkan tubuh Kiong Lee yang baru saja siuman itupun terguling-guling.

Akan tetapi pemuda ini cepat meloncat bangun dalam keadaan sadar sepenuhnya, sebaliknya Siauw-thian-ci memandang dengan muka pucat.

Kiong Lee menoleh kearah gurunya dan tiga orang dara itu.

Melihat mereka menggeletak pingsan, diapun marah bukan main dan dicabutnyalah sepasang pedang dari punggungnya.

Nampak sinar berkilat disusul dua gulungan sinar pedang menyambar-nyambar!

(Lanjut ke

Jilid 17) Darah Pendekar (Seri ke 01 -Serial Darah Pendekar) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo Bahan Cerita . Sriwidjono

Jilid 17 Siauw-Thian-Ci dan tetok-ci kaget setengah mati.

Cepat-cepat mereka meloncat kesana-sini untuk menghindarkan cengkeraman maut melalui sinar pedang itu dan merekapun sudah mencabut senjata masing-masing.

tetok-ci mengeluarkan sebatang golok.

Biarpun kelihatannya sebatang golok biasa saja, akan tetapi sesungguhnya golok ini istimewa sekali.

Bukan hanya terbuat dari logam mulia yang amat kuat, akan tetapi juga diperlengkapi dengan alat-alat rahasia sehingga golok ini dapat digerakkan dengan per menjadi memanjang atau memendek sesuka hati pemegangnya, dan gagangnya dapat menyemburkan jarum-jarum beracun.

Selain itu, juga gagang golok itu diikat dengan tali yang membuat golok itu dapat dilempar seperti golok terbang dan dapat kembali kepada pemiliknya ketika tadinya ditarik.

Sebuah senjata istimewa yang berbahaya sekali!

Sedangkan Siauw-thian-ci lebih suka mempergunakan senjata kepercayaannya, yaitu cambuk panjang yang mengandung rambut-rambut baja halus dan mengandung racun pula.

"Cringgg!"

Sedikit bulu cambuk rontok ketika bertemu pedang.

"Tranggg!!"

Telapak tangan tetok-ci tergetar hebat.

Ayah dan anak itupun terkejut dan maklum bahwa pemuda pakaian putih itu sungguh merupakan seorang tokoh Thian-kiam-pang yang amat lihai.

Sepasang pedang itu kini menyambar-nyambar, membentuk dua gulungan sinar yang panjang dan menyilaukan, seperti sepasang naga bermain diangkasa, menyemburkan maut!

Biarpun dikeroyok dua oleh tokoh pertama tujuh Iblis Ban-kwi-to dibantu puteranya yang juga amat lihai, namun Kiong Lee sama sekali tidak terdesak.

Bahkan gulungan sinar pedangnya merupakan bahaya besar bagi kedua orang pengeroyoknya, terutama sekali Siauw-thian-ci yang berkali-kali terpaksa harus berlindung menyela-matkan diri dibelakang ayahnya.

Beberapa kali jarum-jarum rahasia dari golok itu menyambar, namun hal itu sia-sia belaka karena semua jarum runtuh oleh sinar pedang yang seolah-olah telah membentuk benteng sinar yang kokoh kuat.

Juga beberapa kali golok itu melayang, terbang menyambar kearah lawan seperti benda hidup, akan tetapi hampir saja pedang ditangan Kiong Lee berhasil memukul jatuh golok itu sehingga pemiliknya menjadi gentar untuk melemparkannya lagi.

Sementara itu, tiga orang dara dan Yap-lojin mulai bergerak dan mengeluh.

Melihat ini, tentu saja tetok-ci menjadi khawatir sekali.

Dia mengeluarkan seruan panjang dan bersama puteranya dia menghilang dibalik dinding yang ada rahasianya.

Juga delapan orang pawang tikus telah menghilang.

Baca Juga: Jodoh Si Mata Keranjang 1

Baca Juga: Mutiara Hitam 6

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger