Ceritasilat Novel Online

Darah Pendekar 5

Eps 5 Darah Pendekar - Kho Ping Hoo

Baca online Darah Pendekar - Kho Ping Hoo

Cersil Darah Pendekar - Kho Ping Hoo.

Dan karena Si Petani Laut juga termasuk tangan kanan atau juga sekutu dari Tung-hai-tiauw (Rajawali Lautan Timur), maka Si Harimau Gunung menduga bahwa petani yang tertawan itu adalah seorang utusan dari kelompok bajak laut.

Seperti kita ketahui, Sam-ok atau Si Tiga Jahat adalah Tung-hai-tiauw Si Rajawali Lautan Timur, Sin-go Mo Kai Ci Si Buaya Sakti, dan Sanhek-houw Si Harimau Gunung.

Merekalah yang disebut Raja-Raja diwilayah dan daerah masing-masing, yaitu Raja lautan, Raja sungai-sungai dan Raja daratan.

Dua diantara mereka, yaitu Si Buaya Sakti dan Si Harimau Gunung telah menakluk terhadap Raja Kelelawar.

Kemudian Raja Kelelawar yang merupakan datuk tertinggi diantara kaum sesat itu mengutus dua orang pembantunya ini untuk menghubungi Si Rajawali Laut.

Demikianlah, karena menduga bahwa Seng Kun adalah tokoh sesat lautan yang menjadi anak-buah Si Rajawali Laut, maka Harimau Gunung dan Buaya Sakti tidak mau bertindak lancang.

Bahkan mereka menganggap bahwa Seng Kun dapat menjadi semacam sandera agar mereka dapat dengan mudah menghubungi rekan yang kadang-kadang menjadi saingan dan musuh itu.

Harimau Gunung dan Buaya Sakti sendiripun tadinya sering kali bentrok dan bersaing.

Hanya kini setelah muncul Raja Kelelawar, Mereka menjadi akur dan tidak berani bentrok, karena sama-sama menjadi pembantu dari atasan mereka yang baru, yang amat mereka takuti, yaitu Raja Kelelawar.

Ketika rombongan itu tiba ditepi lautan disebelah timur Kotaraja, menghadapi Teluk pohai yang luas, rombongan yang mengawal kedua orang Raja penjahat itu segera menyediakan sebuah perahu layar besar.

Kemudian, dikawal oleh belasan orang saja.

Si Harimau Gunung dan Si Buaya Sakti membawa dua orang tawanan naik perahu yang berlayar kearah timur laut.

Ketika itu, hari masih amat pagi akan tetapi matahari telah meninggalkan permukaan laut dan membakar seluruh permukaan air dengan cahayanya yang masih belum terlalu panas, masih keemasan.

Perahu layar besar yang membawa dua orang tawanan itu membentuk sebuah bayangan memanjang diatas permukaan air yang merah tembaga.

Angin laut pagi itu lembut saja, namun cukup membuat perahu itu melaju karena layar terkembang yang lebar itu menangkap banyak angin yang mendorong perahu.

Sunyi sekali, karena perahu-perahu nelayan yang terapung disana-sini sedang tenang, menanti datangnya rombongan ikan yang biasanya muncul setelah sinar matahari menjadi keperakan.

Para nelayan duduk didalam perahu masing-masing, memandang kearah perahu besar yang lewat melaju, tidak merasa curiga atau heran karena memang sering terdapat perahu-perahu besar lalu-lalang diperairan itu, baik perahu-perahu pedagang maupun perahu-perahu pelancong.

Merekapun tidak khawatir kalau-kalau ada perahu bajak laut, karena mereka semua berada dalam "perlindungan"

Raja-Raja bajak laut dengan cara membayar "pajak penghasilan"

Setelah mereka pulang membawa hasil penangkapan ikan mereka nanti.

Didarat telah menanti kaki tangan para Raja bajak yang akan menentukan besar kecilnya pajak itu disesuaikan dengan hasil pekerjaan mereka semalam, atau sehari.

Dengan pembayaran pajak seperti itu, keselamatan mereka terjamin dan mereka dapat bekerja dengan tenang.

Pungutan liar semacam ini terdapat dimanapun juga dan dijaman apapun juga.

Pungutan liar ini tercipta oleh kesempatan mengeduk keuntungan yang banyak dimiliki oleh mereka yang mempunyai banyak kekuasaan, oleh mereka yang mempunyai wewenang.

Dengan kekuasaan atau wewenang yang ada pada mereka, maka terbukalah kesempatan untuk memeras.

Kekuasaan atau wewenang itu bisa saja timbul dari kedudukan atau dari kekuatan.

Kedudukan dan kekuatan itu dijadikan modal untuk memeras atau mencari keuntungan dengan jalan memeras.

Para nelayan itu tanpa mereka sadari telah diperas.

Mereka merasa "Dilindungi"

Oleh para bajak, dan untuk itu mereka mau menyerahkan sebagian dari pada hasil keringat mereka.

Dilindungi dari siapa?

Tentu saja dari gangguan, dan biasanya, yang mengganggu adalah para bajak itu sendiri.

Berarti, kalau tidak mau menyogok, akan diganggu!

Perbuatan para bajak laut ini tiada bedanya dengan perbuatan para pejabat yang juga akan "mengganggu"

Dengan menggunakan kekuasaan dan wewenang mereka apabila mereka tidak disogok.

Pungutan liar memang akibat disalah-gunakannya wewenang dan kekuasaan.

Akan tetapi, sumber pokoknya terletak dalam batin seseorang itu sendiri.

Kedudukan tinggi sebagai pejabat tidak mempunyai kecondongan kc arah perbuatan baik atau buruk tertentu.

Kedudukan itu diperlukan untuk mengatur orang banyak, dan untuk pekerjaan ini dia telah menerima upah.

Jadi sepenuhnya tergantung kepada seseorang itu sendiri, mau dijadikan apakah kedudukannya itu!

Dapat saja dijadikan modal untuk memeras, akan tetapi dapat pula dijadikan alat untuk menertibkan dan mengatur, yang pertama adalah untuk kesenangan diri sendiri sedangkan yang kedua adalah untuk kesenangan orang-orang lain, atau setidaknya untuk memenuhi tugas yang telah dibebankan keatas pundaknya dengan imbalan upah yang semestinya.

Demikian pula dengan kekuatan yang ada pada diri seseorang, dapat saja kekuatan itu dipakai untuk menindas demi memenuhi kesenangan diri pribadi, dapat juga dipakai untuk melindungi orang-orang lain dari pada ancaman kejahatan yang mengandalkan kekuatan.

Jadi, sumber pokok dari perbuatan pungutan liar itu, seperti dari penyelewengan-penyelewengan hidup yang lain, terletak dalam batin masing-masing.

Tanpa adanya kesadaran batin, segala usaha untuk memberantasnya hanya akan berhasil untuk sementara saja.

Dengan kekerasan, mungkin saja perbuatan sesat dapat dihentikan, akan tetapi penghentian ini hanya lahiriah, hanya bersifat sementara karena borok didalam batin itu masih belum sembuh.

Kalau penjagaannya kurang ketat, maka borok itu akan kambuh lagi dan perbuatan sesat itu akan tendang, mungkin lebih hebat dari pada yang sudah.

Sebaliknya, kalau batinnya sudah sembuh dari pada bibit penyakit itu, tanpa pengekangan sekalipun, perbuatan sesat itu takkan muncul.

Ketika Pek Lian dan Bwee Hong melihat persiapan para penjahat itu, Pek Lian segera dapat menduga bahwa dua orang tawanan itu akan dibawa pergi berlayar.

Maka dengan cepat iapun mencari perahu yang disewanya dari seorang nelayan.

ketika perahu besar itu mengembangkan layar, Pek Lian dan Bwee Hong juga sudah mendayung perahu dan tak lama kemudian perahu kecil mereka pun berlayar mengikuti perahu besar.

Dengan adanya banyak perahu nelayan disekitar tempat itu, maka tentu saja perbuatan dua orang wanita ini tidak menarik perhatian, juga tidak dicurigai oleh para penjahat itu.

Dua orang gadis itu telah menanggalkan penyamaran mereka begitu perahu kecil mereka bergerak.

Kini tidak perlu lagi menyamar karena mereka bukan sedang melakukan tugas menyelidik dan membantu Seng Kun, melainkan sedang menghadapi para penjahat secara langsung.

Tidak perlu lagi mereka menyamar.

Perahu kecil mereka meluncur cepat ketika mereka memasang layar.

Untung bagi mereka bahwa Pek Lian tidak asing dengan pelayaran dan Bwee Hong ternyata juga merupakan seorang gadis yang dapat belajar dengan cepat.

Kekuatan dalam mereka berkat latihan membuat mereka dapat bertahan terhadap guncangan dan goyangan perahu mereka ketika dipermainkan oleh air laut yang mulai bergelombang.

Bersama meningginya matahari, gelombangpun semakin membesar.

Hal inilah yang membuat mereka tertinggal oleh perahu besar didepan.

Perahu besar itu tidak begitu payah melawan gelombang seperti perahu kecil dua orang dara perkasa ini.

Menjelang tengah hari, mereka berdua kehilangan perahu besar didepan!

Tentu saja mereka menjadi bingung dan biarpun mereka berusaha untuk mengejar, namun gelombang laut yang besar itu membuat perahu mereka terombang-ambing.

"Ah, celaka perahu itu telah meninggalkan kita! Aih, bagaimana ini, adik Lian! Bagaimana dengan Kun-koko!"

Bwee Hong meratap dan hampir saja ia menangis.

Bwee Hong sama sekali bukan seorang gadis lemah.

Bahkan dalam hal ilmu silat, ia masih lebih lihai dari pada Pek Lian.

Akan tetapi, ia amat sayang kepada kakaknya.

Kini kakaknyalah satu-satunya keluarga terdekat didunia ini baginya.

Ayah kandungnya, yang baru saja dijumpainya, telah merupakan orang yang jauh dari batinnya.

Bukan hanya karena sejak kecil terpisah, melainkan juga karena ayahnya itu telah menjadi seorang pendeta di Istana dan sudah tidak mau tahu akan urusan keluarga lagi.

Keluarga Bu yang mengasuh ia dan kakaknya sejak kecil, sudah tewas.

Didunia ini ia hanya mempunyai seorang saja, yaitu Seng Kun dan sekarang kakaknya itu dilarikan penjahat.

"Tenangkan hatimu, enci Hong. Dalain keadaan seperti sekarang ini, yang penting sekali bagi kita adalah ketenangan. Kita tidak boleh panik dan putus asa. Arah perahu mereka menuju kearah timur laut dan lihatlah, bukankah didepan sana itu terdapat gugusan pulau-pulau yang nampak lapat-lapat dari sini? Tentu kesanalah mereka menuju dan perahu mereka lenyap karena pandangan kita terhalang oleh gelombang. Kita menuju kearah itu, pasti kita akan bertemu lagi dengan mereka."

Melihat sikap Pek Lian yang tangkas dan pandang mata yang penuh semangat itu, Bwee Hong terhibur dan merasa malu.

Dirangkulnya temannya itu dan sejenak ia memejamkan mata sambil bersandar pada pundak sahabatnya yang memiliki watak amat kuat itu.

Sahabatnya inipun menderita.

Ayahnya juga dilarikan penjahat, akan tetapi Pek Lian masih mampu menghibur dan membesarkan hatinya!

"Maafkan aku, Lian-moi.

Aku telah bersikap cengeng seperti anak kecil.

Mari, kita lanjutkan pelayaran kita.

Ombak-ombak ganas ini harus kita lawan dan atasi!"

Didalam suara dara cantik jelita ini terkandung ketabahan dan ketekadan besar sehingga Pek Lian tersenyum.

"Bagus! Mari kita bekerja keras!"

Demikianlah, kedua orang gadis itu bersitegang dengan gelombang lautan, memperebutkan perahu dan nyawa mereka.

Ombak-ombak besar itu seolah-olah merupakan jangkauan tangan maut yang hendak menelan dan menghempaskan perahu, sedangkan mereka berdua dengan kedua tangan yang berjari kecil mungil halus itu mengerahkan tenaga untuk menahan perahu mereka agar jangan tenggelam!

Terjadilah proses pertarungan dan perjuangan hidup yang mungkin sudah setua lautan itu sendiri atau setua sejarah manusia, antara manusia dan alam!

Antara ancaman mati dan mempertahankan hidup!

Proses yang sampai kini masih melanda kehidupan manusia, dan karenanya amat mengharukan.

Bukankah kita inipun setiap saat dikelilingi jangkauan tangan-tangan maut?

melalui penyakit, melalui kecelakaan, melalui bencana alam?

Betapa mati dan hidup ini seling-menyeling, merupakan perpaduan yang serasi, yang menguasai diri kita?

Kalau kita tidak membuka mata mempelajari apa sesungguhnya kehidupan ini, apakah kita lalu hanya hidup untuk menghindarkan diri dari pada jangkauan maut belaka dan akhirnya kita akan tercengkeram juga dan tunduk dibawah kekuasaan maut sebelum kita tahu apa sesungguhnya kehidupan ini?

Apakah hidup ini hanya perjuangan, kesengsaraan, kekecewaan, duka nestapa, permusuhan, segala pahit getir dengan hanya sedikit manis sekali-kali, kemudian habislah semua itu dan mati?

Setelah terhindar dari rasa khawatir, baik kekhawatiran akan nasib kakaknya maupun rasa takut akan gelombang yang mengancam nyawanya, mulailah terasa oleh Bwee Hong kegairahan dan kegembiraan dalam menghadapi gelombang lautan yang mendahsyat itu.

Kegembiraan yang jarang terasa olehnya, mungkin hanya terasa oleh mereka yang tahu apa artinya berdekatan dengan maut, apa artinya dapat menyelinap diantara jari-jari tangan maut yang mengancam.

Saking besarnya rasa gembira ini, Bwee Hong yang membantu Pek Lian mengemudikan perahu, menjerit-jerit, suaranya ditelan angin dan gemuruh gelombang air yang saling timpa.

"Hayo, majulah! Datanglah gelombang! ha-ha, hayo serbulah, aku tidak takut padamu! Huiiii-huuu!"

Perahu itu melambung tinggi lalu meluncur turun dengan kecepatan yang membuat jantung terasa copot tertinggal diudara!

Namun Bwee Hong menjerit dan tertawa, sehingga Pek Lian ikut pula terseret kegembiraan itu dan kedua orang dara perkasa itupun menjerit-jerit dan tertawa-tawa, dan gelombang lautan itu berobah menjadi sahabat-sahabat yang mengajak mereka bersendau-gurau!

Setengah hari lamanya dua orang dara pendekar itu berjuang melawan amukan air laut dan tiga kali hampir saja perahu mereka terbalik.

Pakaian mereka sudah basah kuyup, basah oleh air bercampur keringat mereka.

Wajah mereka yang cantik itu nampak berseri, berkilau dengan cahaya kehidupan dan kesegaran, kemerahan dan sepasang mata mereka bersinar-sinar, muka mereka yang berkulit halus itu kemerahan dan agak coklat terbakar matahari.

Setelah setengah hari lamanya bergurau, agaknya air laut menjadi jemu dan bosan juga dan gelombangpun tidak seganas tadi.

Napas lautan yang tadinya terengah-engah itu kini menjadi tenang dan hanya tinggal sisanya saja.

Tiba-tiba Pek Lian menunjuk kearah depan.

"Lihat, itu mereka!"

Diantara-puncak-puncak gunung ombak dikejauhan, nampak mula-mula ujung tiang perahu layar besar dengan benderanya, kemudian nampak layarnya dan mereka berdua hampir bersorak girang mengenal bahwa memang itulah perahu yang mereka bayangi, perahu yang membawa A-hai dan Seng Kun sebagai tawanan.

Karena kini gelombang tidak terlalu mengganas lagi, badai tidak mengamuk seperti tadi dan angin bertiup tenang dan kuat, mereka lalu memasang layar besar dan perahu kecil itu melaju, seperti anak kecil berlari-larian diatas rumput-rumput ketika mereka menerjang puncak-puncak gelombang, mengejar kedepan.

Matahari telah condong jauh ke barat dan cuaca sudah mulai berkurang terangnya, sinar perak telah berganti sinar lembayung yang lemah dan redup, seolah-olah matahari telah mulai mengantuk dan siap untuk beristirahat dibalik permukaan laut, seperti hendak tenggelam didalam lautan yang amat luas itu.

Dan seperti juga diwaktu munculnya pagi tadi, ketika menghilang, matahari juga bergerak amat cepatnya, tenggelam sedikit demi sedikit sampai akhirnya yang tinggal hanya sinar redup kemerahan, memancar dari balik permukaan kaki langit diatas lautan, bola mataharinya sendiri telah tenggelam dibalik ujung laut.

Dua orang gadis itu tidak merasa khawatir lagi.

Biarpun kegelapan malam akan melenyapkan perahu didepan dari pandang mata mereka, akan tetapi mereka percaya bahwa perahu besar itu akan memasang lampu, atau setidaknya mereka berdua sudah melihat bayangan gugusan pulau-pulau didepan.

Mereka merasa yakin bahwa kesanalah perahu didepan itu menuju.

Tiba-tiba, didalam keremangan senja, nampak cahaya lampu bermunculan disebelah kanan dan kiri.

Perahu-perahu ini membawa penerangan yang cukup terang, menerangi air laut disekitarnya.

"Eh, eh, dari mana munculnya perahu-perahu ini dan siapakah mereka?"

Pek Lian bertanya dengan heran dan juga hatinya terasa tidak enak.

Kini bermunculan perahu-perahu dari kanan kiri dan melihat lampu-lampu mereka, mudah menghitung jumlahnya.

Ada delapan buah perahu yang muncul, semua memakai penerangan dan dari perahu kecilnya, Pek Lian dan Bwee Hong dapat melihat bahwa diatas setiap perahu terdapat anak-buah sebanyak sepuluh orang.

Dan mereka itu bersenjata lengkap.

Delapan buah perahu itu meluncur searah dengan perahu yang ditumpangi A-hai dan Seng Kun, seolah-olah mengawal perahu penjahat itu.

Dan mereka itu mungkin tidak melihat perahu kecil Pek Lian yang tidak memakai lampu.

Kurang lebih satu jam lamanya perahu-perahu itu berlayar menuju kearah timur laut.

Tiba-tiba terdengar suara peluit ditiup berulang-ulang saling sahutan dan kedua orang dara itu melihat betapa semua perahu itu berpencar kekanan kiri dengan teratur, membentuk barisan seperti hendak menggunting dan lampu-lampu penerangan merekapun kadang-kadang padam kadang-kadang nampak, itupun hanya merupakan penerangan lampu hijau redup-redup.

Karena seolah-olah ditinggalkan oleh barisan perahu itu, perahu kecil Pek Lian dan Bwee Hong kini meluncur kedepan dengan cepatnya sendirian saja menempuh kegelapan malam.

Keadaan amat mengerikan, seolah-olah setiap saat mereka akan ditelan oleh sesuatu yang telah mengancam sejak tadi.

Namun, dua orang gadis itu telah memperoleh kembali ketabahan mereka dengan jalan bersendau-gurau dan bercakap-cakap, seolah-olah mereka sedang menikmati sebuah pelayaran yang amat romantis dan menggembirakan.

Langit amat indah.

Langit diwaktu malam hanya nampak indah kalau gelap seperti itu.

Bintang-bintang nampak jelas menghias angkasa menghitam.

Seperti hamparan beludru hitam yang ditaburi ratna mutu manikam yang berkilauan.

(Lanjut ke

Jilid 12) Darah Pendekar (Seri ke 01 -Serial Darah Pendekar) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo Bahan Cerita . Sriwidjono

Jilid 12 Entah berapa lamanya mereka berdua mengemudikan perahu layar mereka yang meluncur pesat kedepan sambil menikmati keindahan angkasa dan mendengarkan dendang air yang tersayat oleh moncong perahu mereka, ketika tiba-tiba keduanya terkejut melihat sinar terang lampu dari sebuah perahu besar yang meluncur berlawanan arah dengan perahu mereka.

"Cepat, belokkan perahu!"

Teriak Pek Lian kepada Bwee Hong yang kebetulan sedang menggantikan tugas mengemudikan perahu.

Bwee Hong sudah terlatih beberapa jam lamanya, sudah gapah, akan tetapi karena terkejut dan panik, iapun bingung dan perahunya membelok terlampau keras.

Hampir saja perahu itu terbalik ketika layarnya menjadi kacau.

"Dukkkkk!!"

Tiba-tiba mereka merasakan guncangan keras dan ternyata perahu mereka telah menumbuk sebuah perahu lain.

Kiranya dikanan kiri perahu besar yang terang itu terdapat pula dua buah perahu kecil yang agaknya mengawal perahu besar.

Terdengar teriakan dan maki-makian dalam bahasa asing.

Perahu besar itupun berhenti dan ramailah suara orang-orang dengan bahasa asing diatas perahu besar.

Ketika Pek Lian dan Bwee Hong dapat menenangkan hati mereka yang terguncang karena perahu mereka hampir terbalik, dengan marah mereka lalu memandang keatas, kearah perahu besar dan melihat munculnya beberapa orang diatas perahu itu, menjenguk kebawah kearah mereka.

Sebuah lampu sorot ditujukan kepada mereka dan perahu kecil mereka kini bermandikan cahaya sehingga mata kedua orang dara itu menjadi silau karenanya.

Orang-orang yang menjenguk kebawah itu berteriak-teriak dalam bahasa asing, agaknya marah-marah dan ada pula yang tertawa-tawa, kemudian dua buah perahu kecil dikanan kiri perahu besar mewah itu didayung maju dengan cepat dan beberapa batang dayung panjang mendorong-dorong perahu dua orang dara itu, sehingga perahu itu terguncang-guncang kekanan kiri.

"Eh, kalian ini mau apa?"

Bentak Pek Lian.

Akan tetapi orang-orang asing yang rata-rata bertubuh pendek itu hanya menjawab sambil tertawa-tawa dan melanjutkan usaha mereka mendorong-dorong perahu dua orang dara itu, agaknya bermaksud untuk menggulingkan perahu.

Sementara itu, orang-orang yang berada diatas perahu besar itu tertawa-tawa dan menggerakkan tangan, nampaknya memberi anjuran kepada para pembantu mereka yang berada didalam dua buah perahu kecil dibawah.

Biarpun tidak mengerti bahasa mereka, Pek Lian dan Bwee Hong maklum bahwa orang-orang ini berusaha untuk menggulingkan perahu mereka, maka tentu saja mereka menjadi marah.

"Jahanam, kalian hendak menggulingkan perahu kami?"

Bentak Pek Lian marah. Akan tetapi, orang-orang diatas perahu besar itu tertawa-tawa dan menuding-nuding kearah dua orang gadis yang marah-marah itu.

"Adik Lian, mari kita hajar mereka!"

Kata Bwee Hong dan sekali tangannya bergerak, ia sudah menangkap sebatang dayung yang mendorong pinggir perahu dan sekali renggut, dayung itu dapat dirampasnya dan pemegang dayung berteriak ketika tubuhnya terlarik dan akhirnya dia terjungkal keluar perahu kedalam air laut!

"Jangan disini!

Mari kita naik keperahu besar itu saja dan menghajar pimpinan mereka!"

Kata Pek Lian yang maklum bahwa kalau mereka berdua melawan didalam perahu kecil mereka, keselamatan mereka malah terancam.

Kalau sampai perahu mereka itu digulingkan, tentu mereka akan celaka.

Bwee Hong mengerti apa yang dimaksudkan oleh kawannya, maka iapun mengangguk dan tiba-tiba mereka berdua, menggunakan kepanikan para pengganggu yang melihat seorang kawan mereka tercebur kedalam lautan tadi, untuk mengenjot tubuh dan meloncat keatas perahu besar yang mewah itu.

Ketika mereka yang berada diatas perahu besar melihat berkelebatnya dua bayangan mereka melayang keatas perahu besar, mereka tercengang dan terkejut sekali.

Tak mereka sangka bahwa dua orang penghuni perahu nelayan yang mereka permainkan itu ternyata memiliki kepandaian sehebat itu.

Mereka mengeluarkan seruan kaget, apa lagi ketika melihat dua orang dara cantik telah berada diatas perahu besar mereka.

Sejenak mereka semua melongo.

Baru sekarang mereka dapat melihat jelas betapa cantik jelitanya dua orang penghuni perahu yang bertumbukan dengan perahu mereka tadi!

Tadinya mereka mengira bahwa perahu kecil itu hanya ditumpangi dua orang nelayan dan mereka hendak menghukum dan mempermainkan mereka yang berani menghadang ditengah perjalanan.

Siapa kira, penghuninya adalah dua orang dara yang demikian cantik manisnya!

Maka timbullah niat buruk didalam hati mereka untuk mempermainkan dua orang dara cantik jelita ini.

"Aha, kiranya kalian adalah dua orang dewi lautan cantik jelita yang sengaja datang untuk menghibur kami? ha-ha-ha!"

Kata seorang diantara mereka sambil menepuk-nepuk perutnya yang gendut.

Orang ini dapat bicara dalam Bahasa Han dan dimengerti oleh dua orang gadis itu, walaupun suaranya terdengar kaku dan asing.

Pek Lian segera dapat menduga bahwa ia berhadapan dengan orang-orang Jepang.

Pernah ia melihat tamu-tamu Bangsa Jepang di Istana ayahnya ketika ayahnya masih menjadi Menteri kebudayaan.

Menurut penuturan ayahnya, Bangsa Jepang adalah orang-orang pelarian dari Tiongkok dan masih seketurunan, Bahkan berkebudayaan sama, dengan bentuk tulisan huruf yang sama pula, merupakan sekelompok suku bangsa yang telah memisahkan diri dari daratan Tiongkok dan tinggal diKe pulauan Jepang disebelah timur laut.

Bangsa Jepang ini, menurut ayahnya, merupakan bangsa yang cerdik, pandai, rajin dan orang harus berhati-hati menghadapi mereka karena mereka itu dapat menjadi lawan yang amat berbahaya.

Dua orang laki-laki pendek, si perut gendut itu dan seorang yang mukanya seperti kanak-kanak akan tetapi sepasang matanya mengandung penuh nafsu berahi, kini melangkah maju dan kedua lengan mereka yang pendek-pendek dan nampaknya ceko itu dikembangkan seolah-olah mereka hendak menangkap dua ekor ayam, ditonton oleh teman-teman mereka yang sudah berkumpul disitu dan mereka semua tertawa riuh dan gembira.

"Nona manis, mari kesini... mari kupeluk cium..."

Kata si gendut yang agaknya merupakan satu-satunya orang diantara mereka yang dapat berbahasa Han, sedangkan teman-temannya hanya tertawa-tawa dan berkata-kata dalam Bahasa Jepang yang tidak dimengerti oleh kedua orang nona itu.

Setelah berkata demikian si perut gendut itu menubruk kearah Pek Lian.

Gerakannya cepat dan nampaknya si perut gendut ini kuat sekali.

Temannya, yang bermuka anak-anak itupun sudah mengeluarkan teriakan nyaring sambil menubruk kepada Bwee Hong.

Akan tetapi Pek Lian dan Bwee Hong sudah siap siaga.

Pek Lian menyambut tubrukan itu dengan elakan kekiri, kemudian pada saat tubuh si perut gendut itu terdorong kedepan karena menubruk tempat kosong, kakinya sudah melayang dan menyambar kearah perut lawan.

"Ngekkk! Aughhh... auhhh...!"

Si perut gendut itu membungkuk-bungkuk sambil mendekap perut gendutnya dengan kedua tangan, meringis-ringis karena dia merasa perutnya mulas seketika, Begitu mulasnya sampai dia terhuyung-huyung lari ke kakus dan terdengar suara memberebet dari tubuh belakangnya!

Si muka kanak-kanak yang menubruk Bwee Hong mengalami nasib lebih buruk lagi dibandingkan dengan si perut gendut yang menjadi mulas perutnya sehingga isinya menuntut keluar itu.

Bwee Hong menyambut tubrukan lawannya dengan marah.

Ia memiliki ginkang yang luar biasa hebatnya, dan si muka kanak-kanak itu tadinya sudah merasa yakin bahwa kedua lengannya akan dapat memeluk nona yang cantik jelita itu.

Akan tetapi, pada detik terakhir, tahu-tahu tubuh nona itu hilang begitu saja dan sebelum dia dapat melihat dimana adanya nona itu, tiba-tiba kaki nona itu menyambar dari samping dan menyambar dadanya.

"Desss...!"

Tendangan itu keras sekali.

Tubuhnya yang pendek itu terjengkang dan si muka kanak-kanak itu roboh dan pingsan, mukanya seperti seorang anak kecil sedang tidur dengan nyenyak dan tenteramnya!

Tentu saja peristiwa ini membuat semua orang terkejut dan sekaligus juga sadar bahwa dua orang dara yang hendak mereka permainkan itu ternyata adalah dua orang wanita yang memiliki kepandaian lihai!

Mereka bukan hanya terkejut, akan tetapi juga merasa penasaran sekali melihat dua orang teman mereka dirobohkan, dan dengan muka berubah merah cemberut, lenyap semua kegembiraan tadi, Belasan orang anak-buah perahu layar itu mengurung Pek Lian dan Bwee Hong!

Tentu saja dua orang dara perkasa itupun siap-siap untuk menghadapi pengeroyokan.

Orang-orang yang sebagian bertubuh katai itu mengurung makin ketat.

Akan tetapi pada saat itu terdengar bentakan dalam Bahasa Jepang.

Bentakan itu halus, akan tetapi mengandung wibawa yang sedemikian hebatnya terhadap orang-orang itu karena mereka semua terkejut seperti diserang ular dan mereka semua serentak mundur, lalu berdiri tegak dan memandang dengan penuh ketaatan dan kehormatan kepada seorang laki-laki yang berpakaian indah bersikap agung, yang baru muncul dari dalam bilik perahu besar itu diiringkan oleh empat orang yang pakaiannya warna-warni dan menyolok sekali.

Empat orang ini bertubuh pendek gempal dan nampaknya kokoh kuat, dipinggang mereka tergantung pedang panjang melengkung yang ujungnya terseret diatas lantai perahu!

Perahu layar besar mewah itu adalah milik laki-laki berusia tiga puluh lima tahun yang baru muncul ini.

Dia seorang Pangeran Jepang yang melakukan pelayaran menuju kedaratan Tiongkok untuk mengunjungi Kaisar dengan membawa banyak barang-barang berharga yang akan dihadiahkan kepada Kaisar.

Empat orang pengawalnya adalah jagoan-jagoan samurai.

Ketika sang pangeran ini mendengar suara ribut-ribut diluar dan setelah dia keluar melihat dua orang dara cantik dikurung oleh anak-buah perahu, dia menjadi tertarik sekali dan menyuruh para anak-buahnya mundur.

Dia sendiri memandang kepada dua orang nona cantik itu, maklum bahwa mereka tentulah dua orang dara berbangsa Han dan melihat sikap mereka, tentulah dua orang nona ini merupakan dua orang wanita petualang yang memiliki ilmu kepandaian silat.

Sudah banyak sang pangeran ini mendengar tentang ahli-ahli silat diTiongkok, dan tentang pendekar-pendekar wanita.

Hatinya tertarik sekali, terutama kepada Pek Lian yang dianggapnya memiliki sifat kegagahan yang amat mengagumkan hatinya disamping kecantikannya.

Maka, kalau dia dapat menawan dua orang dara ini, tentu akan menjadi suatu kebanggaan baginya kalau pulang kelak, sebagai hasil perjalanan jauh ini yang paling menyenangkan dan mengesankan hatinya.

Diantara para selirnya, tidak terdapat seorang pendekar wanita dan betapa akan bangga hatinya memiliki selir yang selain cantik juga berkepandaian silat tinggi seperti dua orang dara ini.

Maka, dengan senyumnya yang khas, senyum seorang Pangeran Jepang yang hanya merupakan gerakan bibir terbuka saja, seperti topeng tersenyum, pangeran itu melangkah maju menghadapi Pek Lian dan Bwee Hong, lalu mengangguk dengan sikap ramah.

sebelum meninggalkan negerinya untuk menghadap Kaisar Tiongkok, tentu saja pangeran ini lebih dulu telah mempelajari bahasa dari negara yang hendak dikunjunginya, dan kini dia berkata dengan suara dan sikap halus, kata-katanya teratur rapi seperti kata-kata seorang yang menguasai bahasa asing melalui pelajaran, bukan karena praktek.

"Harap nona berdua sudi memaafkan kekasaran orang-orang kami. Akan tetapi mereka itu menentang nona berdua karena perahu nona menumbuk perahu kami."

"Hemm, dalam hal ini perahu siapa yang menumbuk perahu siapa? Agar tidak menuduh yang bukan-bukan dan sembarangan saja!"

Bantah Pek Lian sambil memandang kepada laki-laki itu dengan penuh perhatian.

Juga Bwee Hong memandang dengan heran.

Laki-laki itu berusia kurang lebih tiga puluh lima tahun, pakaiannya dari sutera halus dengan potongan aneh-aneh.

Wajah orang itu dapat dikatakan tampan dan berwibawa, dengan jenggot yang dicukur dengan bentuk aneh pula.

Rambutnya digelung keatas dengan hiasan beberapa batang tusuk konde kemala, akan tetapi dahi yang teramat luas itu jelas merupakan dahi buatan, yaitu sebagian besar dari rambut diatas dahi itu dicukur sehingga dahi kelihatan tinggi dan luas!

Diam-diam dua orang dara itu merasa geli dan juga heran.

Laki-laki ini termasuk tinggi diantara teman-temannya, setinggi Pek Lian, sedangkan yang lain-lain itu jauh lebih pendek.

Pangeran itu menarik napas panjang.

"Kami sudah menerima laporan dan ternyata bahwa perahu nona tidak memakai lampu. Jadi, tabrakan ini jelas sekali terjadi karena kelalaian nona."

Pek Lian tidak dapat membantah.

Bagaimanapun juga, ucapan itu memang benar, perahunya tidak mempunyai lampu penerangan sehingga kalau orang-orang ini menabrak perahunya, mereka tidak dapat terlalu disalahkan.

"Memang perahuku tidak mempunyai penerangan. Lalu, setelah terjadi tabrakan, apakah sudah sepatutnya kalau anak-buahmu hendak menggulingkan perahuku? Aturan mana itu?"

Kata Pek Lian marah.

"Itupun hanya akibat dari pada tabrakan perahu, nona. Dan nona sudah merasa betapa kesalahan berada dipihak nona karena tidak adanya lampu penerangan. Kemudian nona malah naik kesini dan merobohkan dua orang kami."

Pek Lian menjadi marah. Dia menegakkan kepalanya dan memandang tajam.

"Habis, kalian mau apa?"

Pangeran itu tersenyum dan seperti tadi, Pek Lian merasa seolah-olah ia melihat sebuah boneka tersenyum dan diam-diam ia bergidik ngeri.

"Nona, aku adalah Pangeran Akiyama, dan aku dapat melihat bahwa nona berdua tentulah sebangsa pendekar wanita. Karena kamipun merupakan orang-orang yang menghargai kegagahan, maka marilah kita selesaikan urusan ini dengan jalan yang gagah."

Lian mengerutkan alisnya.

"Maksudmu?"

Diam-diam ia dan Bwee Hong terkejut karena tidak mengira bahwa mereka berhadapan dengan seorang pangeran Bangsa Jepang.

"Kita mengadu ilmu silat, kalau nona berdua dapat mengalahkan kami, aku berjanji akan membebaskan nona dan akan menghabiskan urusan tabrakan perahu tadi."

"Kalau kami kalah?"

Pek kian mendesak. Pangeran itu tersenyum.

"Terpaksa nona berdua harus menjadi tamuku. Aku ingin berkenalan lebih erat dengan nona berdua yang menarik hatiku."

"Bagus!"

Teriak Pek Lian marah.

"Sudah kuduga tentu ada pamrih busuk dibalik semua ini. Majulah!"

Ia menantang sambil mencabut pedangnya.

Bwee Hong juga mencabut pedangnya dan dua orang dara itu siap menghadapi segala kemungkinan.

Pangeran itu tersenyum dan menoleh kepada empat orang pengawalnya, mengangguk dan berkata dalam bahasanya sendiri.

"Tangkap mereka ini!"

Seorang jagoan samurai yang pakaiannya warna-warni, totol-totol dan mewah sekali melompat maju kedepan menghadapi Pek Lian.

Jagoan ini juga memiliki dahi yang amat lebar, bahkan seluruh permukaan kepalanya bagian atas telah dibotaki licin sehingga dahinya seolah-olah sedemikian lebarnya sampai dibagian belakang kepalanya.

Sisa rambut bagian bawah digelung kecil dan dihias tusuk konde.

Muka jagoan ini seperti monyet, akan tetapi harus diakui bahwa gerakannya sigap dan tubuhnya yang pendek itu nampak kuat bukan main.

Bajunya rangkap empat, kedua lengannya dari pergelangan tangan sampai dekat siku dibelit-belit kain keemasan, pinggangnya juga dibelit-belit kain totol-totol merah dan sebatang pedang samurai terselip disitu.

Kakinya memakai sandal yang banyak talinya.

Jagoan ini berdiri didepan Pek Lian dan dengan sikap kaku membungkuk seperti pisau lipat, kemudian dia mengeluarkan seman keras dari dalam perut, Kedua tangan bergerak dan tahu-tahu nampak sinar berkilat dan sebatang samurai telah dicabutnya dengan kedua tangan dan dipegangnya seperti orang memanggul cangkul.

Pedang ini gagangnya dua kali lebih panjang dari pada pedang biasa dan jagoan itupun memegang pedang dengan kedua tangan.

Kembali jagoan Jepang ini berteriak nyaring dan tiba-tiba dia sudah melakukan penyerangan.

Tubuhnya bergerak dan pedang samurai yang dipegang dengan kedua tangan itu menyambar dari kanan kekiri mengarah tubuh Pek Lian.

Dara ini cepat meloncat kebelakang sambil menangkis dengan pedangnya.

Ia mengerahkan tenaga sinkang karena ia ingin menguji sampai dimana besarnya tenaga lawan.

Karena tangkisannya itu, tak dapat dihindarkan lagi.

pedangnya bertemu dengan pedang samurai yang dibabatkan dari kanan kekiri itu.

"Trakkkk!"

Pek Lian mengeluarkan seruan kaget dan meloncat kebelakang menghindarkan babatan kedua kearah kakinya.

Dara ini meloncat kepapan lantai perahu yang lebih tinggi, memandang kepada pedang yang tinggal gagangnya dan sepotong kecil saja ditangannya, matanya terbelalak.

Tak disangkanya bahwa pedang samurai lawan itu sedemikian tajam dan kuatnya sehingga sekali beradu saja pedangnya telah patah!

Akan tetapi ia melihat bahwa biarpun pedang samurai lawan itu amat ampuh, tajam dan kuat, gerakan lawan ini tidaklah terlalu gesit.

Maka iapun membuang pedangnya dan berseru kepada Bwee Hong.

"Hati-hati, enci, jangan mengadu senjata!"

Iapun lalu menerjang maju melawan jagoan yang masih mempergunakan samurainya untuk membacok dan membabat itu.

Pek Lian mempergunakan kelincahannya dan memang ia jauh lebih lincah dari pada lawannya sehingga biarpun kini ia bertangan kosong, namun menghadapi samurai itu ia tidak terdesak.

Tubuhnya berkelebat kesana-sini mengelak dari sambaran sinar pedang samurai, dan iapun membalas dengan tidak kalah hebatnya, menggunakan pukulan dan tendangan kaki.

"Buk!"

Sebuah tendangan kaki kiri Pek Lian mengenai perut lawan dan jagoan ini terpental kebelakang sambil mengeluh dan memaki.

Akan tetapi ternyata dia memiliki kekebalan juga karena tendangan itu tidak merobohkannya, lalu dia maju lagi sambil memutar-mutar pedang samurainya dengan ganas sehingga terpaksa Pek Lian harus menggunakan kelincahan tubuhnya untuk berloncatan dan mengelak kesana-sini.

Sementara itu, Bwee Hong juga sudah diserang oleh seorang jagoan samurai lain.

Akan tetapi, karena Bwee Hong sudah melihat betapa samurai-samurai itu amat tajam dan kuatnya, dan mendengar peringatan Pek Lian, ia sama sekali tidak mau mengadu pedangnya, melainkan menggunakan kecepatan gerakannya untuk menghindarkan setiap bacokan lawan lalu membalas dengan cepat.

Karena Bwee Hong memang memiliki ginkang yang amat hebat, maka dalam beberapa kali gebrakan saja, lawannya telah terdesak hebat dan terpaksa jagoan ketiga lalu mengeroyoknya!

Namun Bwee Hong tidak merasa jerih dan dara ini mengamuk terus, mengandalkan ginkangnya dan juga kecepatan gerakan pedangnya.

Diam-diam sang pangeran mengikuti jalannya pertandingan itu dengan kagum.

Melihat betapa seorang diantara jagoannya dalam belasan jurus saja terkena tendangan kaki Pek Lian, dia terkejut sekali.

Apa lagi melihat betapa dara yang kedua itu bahkan memiliki kecepatan gerakan yang melebihi dara pertama sehingga pengeroyokan dua orang jagoannya tidak membuat terdesak, diam-diam dia menjadi kaget, kagum dan juga girang Betapa akan bangga hatinya kalau dia dapat berhasil menundukkan dua orang dara perkasa ini dan mengangkat mereka menjadi selir-selirnya!

Selain sebagai selir yang patut dibanggakan, juga dapat menjadi pengawal pribadinya dalam arti yang paling mesra dan mendalam.

Pangeran Akiyama lalu memberi isyarat kepada jagoannya nomor empat, lalu memerintahkan jagoan yang melawan Pek Lian untuk membantu dua orang temannya yang sudah mengeroyok Bwee Hong.

Kemudian dia sendiri, dengan tangan kosong, dibantu oleh jagoan barunya yang juga bertangan kosong, menerjang dan mengeroyok Pek Lian.

Dan Pek Lian terkejut!

Kiranya Pangeran Jepang inipun pandai ilmu silat tangan kosong, dengan pukulan-pukulan tangan miring yang cukup kuat, sedangkan pembantunya, jagoan samurai itu pandai ilmu semacam Ilmu Kim-na-jiauw, yaitu ilmu menggunakan jari-jari tangan untuk mencengkeram dan menangkap!

Dikeroyok dua oleh dua, orang ahli yang memiliki ilmu yang berbeda ini, Pek Lian menjadi sibuk juga.

Setelah melawan sampai belasan jurus, tahu-tahu pergelangan tangan kirinya sudah dicengkeram dan ditangkap oleh jagoan pembantu pangeran itu!

Untung sekali Pek Lian bersikap waspada dan bergerak cepat.

Sebelum sang pangeran yang juga lihai itu sempat memperburuk keadaannya, kakinya sudah melayang kearah bawah pusar jagoan itu dan tangan kirinya menusuk dengan jari telunjuk kearah mata!

Diserang dengan hebat seperti ini, jagoan samurai itu terkejut dan cepat membuang tubuh kebelakang dan tiba-tiba saja pundak kanannya tertotok oleh jari tangan Pek Lian.

Seketika lengan kanannya seperti lumpuh dan cengkeramannya terlepas.

Pada saat itu, Pangeran Akiyama telah menerjang lagi, akan tetapi Pek Lian sudah terbebas dari cengkeraman sehingga ia mampu bergerak mengelak dan balas menyerang.

Si jagoan samurai hanya lumpuh sebentar saja.

Dia sudah pulih kembali dan membantu sang pangeran, mengeroyok Pek Lian dengan lebih ganas.

Sekali ini Pek Lian benar-benar merasa kewalahan.

Tingkat kepandaian pangeran itu sendiri sudah berimbang dengan tingkatnya, kini pangeran itu dibantu oleh jagoan samurai itu, tentu saja ia menjadi kewalahan.

Keadaan Bwee Hong tidak lebih baik dari pada temannya.

Pengeroyokan tiga orang Samurai yang kesemuanya bersenjatakan pedang samurai yang amat berbahaya, tajam dan kuat itu sungguh membuat ia kewalahan.

Kalau melawan satu demi satu, atau katakanlah dikeroyok dua, ia masih sanggup untuk menang.

Akan tetapi yang mengeroyoknya ada tiga orang!

Perlahan-lahan dara inipun terdesak dan main mundur, mandi keringat seperti juga keadaan Pek Lian.

Bagaimanapun juga, seperti juga Pek Lian, Bwee Hong pantang menyerah dan mengamuk terus sambil mengandalkan kecepatan gerakan tubuhnya.

Melihat keadaan ini, hati sang pangeran menjadi khawatir.

Dia tidak menghendaki dua orang gadis itu terluka, apa lagi terbunuh.

Dia ingin menundukkan dan menangkap mereka hidup-hidup.

Akan tetapi mereka berdua itu sedemikian lihai nya sehingga tentu sukar untuk mengalahkan mereka tanpa merobohkannya.

Diapun lalu memberi aba-aba dalam bahasanya dan kini belasan orang anak-buahnya datang membawa jala yang lebar.

Mereka mengurung Bwee Hong dan tiba-tiba, dengan cepat sekali jala atau jaring itu mereka lemparkan dan karena ia sendiri terancam tiga batang samurai, Bwee Hong tidak mampu menghindar lagi dan tahu-tahu jaring itu telah menimpa tubuhnya!

Tentu saja dara ini terkejut dan cepat menggunakan pedangnya untuk membabat tali jaring yang meringkusnya.

Akan tetapi, tiba-tiba pedangnya bertemu dengan benda keras.

"Krakkkk!"

Dan pedang itu, seperti pedang Pek Lian tadi, telah patah-patah bertemu dengan dua batang samurai yang menangkisnya dari luar jaring!

Dan kini tiga orang jagoan itu menyimpan samurai mereka dan menubruk, meringkus Bwee Hong yang meronta-ronta didalam jaring seperti seekor ikan yang terjala.

Karena tiga orang jagoan itu memang bertenaga besar dan Bwee Hong tak dapat banyak bergerak dalam jaring, akhirnya dara ini telah dibelenggu didalam jaring dan tidak mampu berkutik lagi.

Melihat ini, Pek Lian marah bukan main.

"Pangeran busuk, lepaskan sahabatku!"

Bentaknya dan iapun menyerang dengan dahsyat, memukul kearah kepala Pangeran Jepang itu dengan pengerahan tenaga.

Pangeran itu melihat pukulan berbahaya, maka diapun cepat merendahkan dirinya dan mengangkat kedua lengan menangkis.

Pembantunya, jagoan yang mengeroyok Pek Lian, melihat kesempatan baik.

Ketika lengan Pek Lian bertemu dengan lengan pangeran, diapun mendorong dari samping kearah lambung gadis itu!

"Dukk!"

Pangeran Akiyama terguling ketika beradu lengan dengan Pek Lian, akan tetapi gadis ini sendiri terkena dorongan jagoan samurai itu dan terlempar kekanan.

Malang baginya, disebelah kanannya adalah tepi perahu itu dan tanpa dapat dicegah lagi, tubuhnya terlempar keluar.

"Byuuurrrr!"

Tubuh gadis itu menimpa air.

Pek Lian maklum bahwa kalau ia tertawan juga, habislah harapannya untuk menolong Bwee Hong dan juga dua orang pemuda yang tertawan, maka iapun cepat menyelam.

Ketika para anak-buah pangeran itu menggunakan lampu untuk mencari kebawah, mereka tidak dapat menemukan gadis itu yang sudah bersembunyi dibalik perahu besar, dibagian yang gelap.

Akan tetapi pada saat itu, nampak sinar terang dan ternyata perahu besar mewah milik Pangeran Jepang ini telah dikepung oleh delapan buah perahu yang malam tadi pernah dilihat oleh Pek Lian.

Dari permukaan air dibalik perahu besar dimana ia bersembunyi, Pek Lian dapat melihat betapa tiga orang yang bergerak sigap sekali memimpin anak-buahnya dari delapan buah perahu itu menyerbu keperahu asing.

Terjadi pertempuran hebat, akan tetapi betapapun lihainya sang pangeran dari Jepang itu bersama para jagoan samurai dan anak-buahnya, namun pihaknya kalah banyak dan para bajak itu dipimpin oleh tiga orang yang tingkat kepandaian silatnya tidak kalah dibandingkan dengan para samurai.

Maka akhirnya sang pangeran yang melihat bahwa melanjutkan perlawanan tiada guna, lalu menyerukan aba-aba kepada anak-buahnya untuk menyerah!

Banyak diantara mereka yang tewas dan sisanya dijadikan tawanan.

Para bajak bersorak-sorai penuh kegembiraan ketika mendapat kenyataan bahwa perahu yang mereka bajak itu adalah perahu seorang pangeran dan didalam perahu terdapat banyak sekali barang-barang berharga yang sedianya hendak dihadiahkan kepada Kaisar!

Benar-benar merupakan hasil besar, mereka telah menangkap seekor kakap yang besar dan gemuk!

"Harap kalian orang-orang gagah suka dengar baik-baik!"

Tiba-tiba Pangeran Jepang itu berteriak sambil mengangkat kedua tangannya keatas.

"Aku adalah Pangeran Akiyama, seorang bangsawan tinggi dari Jepang yang hendak menghadap Kaisar di Kotaraja Sian-yang! Aku adalah sahabat Kaisar, maka harap kalian jangan mengganggu kami dan suka membebaskan kami kembali. Untuk itu, kami tidak akan lupa dan akan memberi hadiah yang besar!"

Akan tetapi, tiga orang yang memimpin pembajakan itu tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha, pangeran badut! Biar Kaisar sendiri yang berada didalam perahu, tetap saja akan kami bajak!"

Para bajak laut itu bersorak-sorak dan tertawa-tawa dan Sang pangeran Jepang terpaksa membungkam dan tidak berani bicara lagi, maklum bahwa dia terjatuh ketangan para bajak laut yang tidak mau mengakui kedaulatan siapapun kecuali kepala mereka.

Dia hanya mengharapkan bahwa kepala bajak akan mau menerima tebusan dan tidak akan membunuhnya.

Semua anak-buahnya ditawan, dan Bwee Hong juga termasuk menjadi tawanan.

Bwee Hong tidak merasa takut akan nasib dirinya sendiri, akan tetapi ia merasa khawatir sekali ketika melihat Pek Lian tercebur kedalam lautan tadi.

Ingin ia menangisi nasib kawannya itu dan kini setelah ia ditinggalkan Pek Lian, mungkin ditinggal mati, ia merasa betapa harapannya untuk dapat menolong kakaknya menjadi semakin menipis.

Akan tetapi, berada ditangan lawan sebagai tawanan, ia pantang menangis!

Ketika pertempuran antara para bajak dan anak-buah Pangeran Jepang terjadi, Pek Lian masih bersembunyi dipermukaan air.

Dia hanya melihat para bajak berlompatan keatas perahu mewah setelah menempelkan perahu-perahu mereka kepada perahu korban, dan perahu mewah itu terguncang-guncang selagi mereka bertempur.

untung baginya, ada sebuah perahu sekoci kecil terlepas dari perahu mewah dalam keributan itu dan iapun cepat berenang dan berhasil memegang perahu itu.

Sementara itu, pertempuran sudah berhenti dan perahu mewah itu lalu ditarik oleh perahu-perahu bajak laut yang meninggalkan tempat itu jauh lewat tengah malam.

Pek Lian menggunakan dayung, sekuat tenaga ia mendayung dan melawan ombak untuk mengikuti kearah perginya perahu-perahu itu.

Hari telah hampir pagi dan cuaca mulai remang-remang ketika perahu-perahu para bajak itu tiba disekelompok pulau-pulau kecil yang bertebaran ditengah lautan.

Perahu besar mewah yang dibajak itu, yang membawa tawanan, diseret kesebuah pulau terbesar yang berada ditengah kelompok pulau-pulau.

Diatas beberapa pulau kecil nampak beberapa orang menyambut iring-iringan perahu itu dengan teriakan dan sorak-sorai gembira.

Mereka itu tahu bahwa kawan-kawan mereka telah berhasil membajak sebuah perahu mewah yang kaya.

Tidak seperti pulau-pulau kecil disekelilingnya yang berpantai pasir dan landai, pantai dari pulau dimana perahu bajakan itu diseret merupakan tebing karang yang tinggi.

Ditepi tebing yang curam itulah para bajak menghentikan perahu-perahu mereka.

Sebuah pintu baja terbuka dan perahu-perahu itu memasuki pintu ini kedalam pulau.

Pintu rahasia dan agaknya perahu luar tidak akan mungkin dapat masuk karena pintu karang itu menutup jalan masuk.

Ho Pek Lian memutar perahu sekocinya dan akhirnya ia mendapatkan sebuah tempat pendaratan yang tersembunyi dan tidak begitu terjal.

Ia menarik sekoci kecil itu kedarat, menyembunyikannya dalam guha batu karang, dan ia sendiri lalu mendaki tebing dengan hati-hati karena iapun maklum bahwa ia telah memasuki tempat berbahaya, sebuah pulau yang dihuni oleh gerombolan bajak laut yang ganas.

Sementara itu, Bwee Hong yang masih berada didalam jaring dan diikat dari luar, tidak dapat bergerak.

Selama terjadi pertempuran diatas perahu, ia hanya dapat rebah sambil menonton saja dan ketika iapun terbawa sebagai tawanan bersama Pangeran Akiyama dan anak-buahnya, iapun hanya diam saja.

Apa gunanya kalau ia berteriak memberi tahu bahwa ia biikan anak-buah pangeran itu?

Yang menang itu jelas adalah gerombolan bajak laut yang tentu lebih ganas dan kejam dari pada gerombolan anak-buah pangeran itu.

Ia merasa betapa baru saja terlepas dari mulut serigala ia kini terjatuh kemulut buaya!

Semua tawanan dibawa kedalam sebuah bangunan besar yang dibangun seperti benteng dipulau itu.

Mula-mula Sang Pangeran Jepang itu yang dihadapkan kepada pimpinan bajak.

Diatas sebuah kursi besar, diruangan yang luas, duduklah pemimpin bajak itu yang memandang kepada semua tawanan yang dikumpulkan disitu dengan wajah dingin.

Dia adalah seorang laki-laki yang usianya kurang lebih lima puluh tahun, pakaiannya mewah, lebih pantas menjadi seorang bangsawan atau seorang hartawan besar dari pada seorang kepala bajak.

Wajahnya juga tidak membayangkan kekejaman atau kekerasan seperti wajah para anggauta bajak, walaupun wajah itu berkulit tebal kehitaman dan segala sesuatunya pada kepala bajak ini nampak tebal dan bulat!

Wajahnya gemuk bulat, dengan mata yang lebar dan biji mata besar.

Hidungnya juga besar dan bulat, bibirnya tebal.

Akan tetapi wajah ini bukan wajah yang buruk atau menakutkan, melainkan membayangkan kemakmuran duniawi, sering nampak pada wajah orang-orang kaya atau bangsawan tinggi yang selalu hidup dalam kemewahan dan kesenangan.

Tubuhnya gemuk dan perutnya gendut.

Begitu si gemuk ini tadi muncul kedalam ruangan, semua anggautanya memberi hormat dengan menekuk sebelah lutut.

Baru setelah ia duduk diatas kursi besar itu, semua bajak berdiri lagi, dan ada pula yang duduk.

Ketika Sang Pangeran Jepang dihadapkan, pangeran ini mengambil sikap angkuh.

"Engkaukah pemilik perahu itu?"

Tanya si kepala bajak dengan suara tenang. Pangeran Akiyama lalu menggunakan kesempatan ini untuk memperkenalkan diri.

"Aku adalah Pangeran Akiyama, seorang bangsawan tinggi di Jepang dan masih kerabat dari Kaisar. Aku sedang melakukan perjalanan menuju kedaratan besar untuk menghadap Kaisar Cin Si Hong-te. karena tidak tahu, kami telah melanggar wilayah tuan, maka harap suka memberi maaf dan untuk itu kami sanggup untuk mengganti kerugian."

Kepala bajak yang perutnya gendut itu tersenyum, akan tetapi senyumnya penuh ejekan.

"Kaum pedagang kaya raya dan bangsawan yang tinggi kedudukannya merupakan korban yang paling kami sukai. Pangeran, tanpa kau usulkan, karena engkau telah terjatuh ketangan kami, engkau baru akan kami bebaskan kalau keluargamu dapat menebus dengan sejumlah emas yang akan kami tetapkan kemudian. Masukkan dia kekamar tahanan dan perlakukan dengan baik!"

Empat orang anak-buah bajak lalu menarik pangeran itu keluar dari ruangan.

Pangeran Akiyama bersikap tenang seperti layaknya seorang pangeran.

Bagaimanapun juga, keluarganya takkan membiarkan dia terancam oleh para bajak dan tentu uang tebusan akan dikirim.

Setelah pangeran itu dibawa pergi, kepala bajak itu memandang kepada sisa anak-buah sang pangeran, lalu berkata kepada para pembantunya.

"Suruh mereka ini bekerja keras, kalau ada yang melarikan diri, bunuh saja!"

Para tawanan itu lalu digusur pergi, dan diantara mereka itu terdapat Bwee Hong yang masih terikat dan terbungkus jaring.

"Tahan dulu, biarkan tawanan wanita ini tinggal disini! Aku mau memeriksanya!"

Kata si kepala bajak.

Anak-buahnya yang tadi sudah menyeret wanita dalam jaring itu nampak kecewa.

Biarpun berada dalam jaring, Bwee Hong masih dapat dilihat dengan mudah dan anak-buah bajak itu sudah merasa girang memperoleh seorang tawanan yang demikian muda dan cantiknya.

Akan tetapi kini dia diperintahkan untuk meninggalkan tawanan ini maka tentu saja dia kecewa.

Kini yang berada didalam ruangan itu tinggallah si kepala bajak dan tiga orang pembantunya, yaitu bajak laut lihai yang tadi memimpin penyerangan terhadap perahu asing itu.

"Siapakah engkau?"

Tanya kepala bajak itu sambil memandang kepada wanita tawanan itu yang rebah miring diatas lantai.

Bwee Hong yang merasa amat terhina itu tidak mau menjawab sama sekali.

Ia sudah tertawan dari tangan orang Jepang itu ketangan bajak laut, dibelenggu dan terbungkus jaring, merasa seperti seekor harimau tertangkap, diseret dan dilempar begitu saja diatas lantai.

Ingin ia menangis karena sakit hati, maka kini ia menimpakan kemarahan hatinya kepada kepala bajak ini.

Ia sudah tertangkap, biar akan dibunuh sekalipun ia tidak akan sudi memperlihatkan sikap lunak atau tunduk!

Melihat wanita itu diam saja, si kepala bajak mengerutkan alisnya.

Dalam keadaan terbungkus jaring dan terikat seperti itu, tentu saja Bwee Hong tidak kelihatan terlalu cantik, bahkan sebagian dari mukanya tertutup rambutnya yang terlepas dari sanggul dan riap-riapan, dan bagian yang tidak tertutup itupun masih tidak dapat nampak jelas karena tertutup benang-benang jaring.

"Kenapa engkau terbungkus jaring dan dibelenggu seperti seekor binatang buas?"

Kembali si kepala bajak laut bertanya. Bwee Hong makin mendongkol dan tidak mau menjawab. Menjawab sama saja dengan menceritakan kekalahannya.

"Apakah engkau tuli? Ataukah gagu barangkali?"

Kepala bajak itu mulai ragu-ragu.

Semua tawanan tadi, biarpun tidak kelihatan ketakutan, setidaknya mentaatinya dan tidak memperlihatkan sikap melawan, sadar bahwa mereka sudah kalah dan tertawan.

Agaknya tidak mungkin kalau wanita ini berani menentangnya dan sengaja tidak mau menjawab.

"Atau barangkali engkau tidak mengerti bahasa kami?"

Lalu tiba-tiba kepala bajak itu mengajukan pertanyaan lagi dalam Bahasa Jepang!

Mendengar ini, diam-diam hati Bwee Hong merasa geli, akan tetapi kemarahannya tidak mereda dan tiba-tiba iapun menjawab dengan suara lantang.

"Aku sudah tertawan, kalau mau bunuh, laksanakanlah. Siapa takut mati? Tak perlu banyak cerewet lagi!"

Kepala bajak itu nampak terkejut sekali mendengar ucapan ini.

Sungguh merupakan jawaban yang sama sekali tidak diduganya.

Dan suara wanita ini sungguh merdu, nyaring dan penuh semangat, tidak mungkin suara seorang wanita biasa saja!

"Eh, siapakah sesungguhnya engkau?

Bukankah engkau juga anak-buah Pangeran Jepang itu kepala bajak itu mendesak dengan penuh keinginan tahu.

"Bukan!"

Jawab Bwee Hong.

"Perahuku bertabrakan dengan perahunya, aku dikeroyok dan tertangkap."

"Ah, begitukah?"

Kepala bajak itu berseru heran dan kagum. Tahulah dia kini bahwa wanita itu adalah seorang wanita gagah, kalau tidak demikian, tak mungkin sampai dikeroyok.

"Lepaskan!"

Katanya kepada tiga orang pembantunya.

Tiga orang pimpinan bajak itu lalu menggunakan golok untuk membikin putus tali yang mengikat kaki tangan dan tubuh Bwee Hong.

Begitu terlepas dari ikatan, Bwee Hong meronta dan jaring itupun jebol dan iapun meloncat keluar, berdiri tegak dengan gagahnya didepan kepala bajak itu.

"Ahhh!"

Kepala bajak yang perutnya gendut itu kini memandang dengan melongo, juga tiga orang pembantunya itu memandang kagum.

Kiranya tawanan wanita itu adalah seorang dara yang luar biasa cantik jelitanya!

Biarpun pakaiannya kusut dan rambutnya awut-awutan, mukanya kotor, namun jelas nampak betapa cantiknya gadis ini.

Seketika jantung kepala bajak itu berdebar-debar dan diapun sudah jatuh hati kepada gadis itu.

Dia sudah mempunyai seorang isteri dan beberapa orang selir, akan tetapi begitu melihat Bwee Hong, mau rasanya dia membuang semua isteri dan selirnya itu dan menggantikan tempat mereka dengan gadis ini!

"Aihh, nona yang cantik dan gagah perkasa.

siapakah engkau?

Siapa namamu?"

Melihat perobahan sikap itu, senyum lebar yang disertai pandang mata penuh gairah, hati Bwee Hong sudah menjadi penasaran dan mendongkol.

Ia menduga bahwa tentu si gendut inilah yang pernah dibicarakan oleh Pek Lian, yaitu kepala atau Raja penjahat yang menguasai lautan dan memimpin para bajak yang berjuluk Tung-hai-tiauw Si Rajawali Lautan Timur, seorang diantara Sam-ok yang sedang dicari-cari oleh dua orang rekannya, yaitu Si Harimau Gunung dan Si Buaya Sakti, atas perintah Raja Kelelawar!

Ia tidak ingin berkenalan atau memperkenalkan diri kepada segala macam Raja penjahat!

"Namaku tidak ada sangkut-pautnya dengan kalian!"

Jawabnya kaku.

Kepala penjahat itu tidak menjadi marah melihat sikap ini.

Malah sikap itu nampak semakin menarik dan gagah baginya!

Setiap pendapat itu selalu diwarnai oleh perasaan suka atau tidak suka, karenanya, pendapat itu selalu palsu adanya dan tidak dapat dijadikan ukuran untuk menilai keadaan sesungguhnya dari sesuatu.

"Nona, bagaimanapun juga, aku telah menyelamatkan nona dari pada malapetaka hebat. Kalau tidak ada aku yang menolongmu, bukankah engkau akan celaka sebagai tawanan pangeran asing itu?"

Katanya membujuk.

"Kalian menyerbu perahu pangeran itu untuk membajak, sama sekali bukan untuk menolongku,"

Bantah Bwee Hong. Makin lama, kepala bajak itu menjadi semakin tertarik dan terpesona oleh kecantikan gadis ini.

"Kalau begitu, berilah kesempatan kepadaku untuk dapat menolongmu, nona. Agar aku dapat membuktikan bahwa aku sungguh ingin menolongmu dan mempunyai niat baik terhadap dirimu"

"Kalau engkau beriktikad baik, berilah aku sebuah perahu kecil agar aku dapat pergi mencari temanku yang terpisah dariku karena pengeroyokan orang-orang Jepang itu!"

"Ah, ada lagi seorang temanmu? Apakah diapun tertawan? Seorang pemuda ataukah sudah tua?"

"Sahabatku itu juga seorang gadis, ia terjatuh dari perahu"

Bwee Hong mulai mau bercerita karena ia mengharapkan orang-orang ini akan dapat membantunya mencari dan menyelamatkan Pek Lian.

Selain itu ia percaya bahwa kakaknya tentu sudah menjadi tawanan pula ditempat ini dan siapa tahu ia akan dapat membujuk agar kepala bajak ini mau membebaskan kakaknya pula.

"Nona, Lautan pohai ini begini luas dan engkau yang tidak berpengalaman, bagaimana dapat mencari seorang teman yang hilang hanya dengan menggunakan sebuah perahu kecil? Jadilah tamuku yang terhormat dan aku akan membantumu mencarikan sahabatmu itu. Akan kukerahkan semua anak-buahku. Engkau tentu lelah sekali, biarlah engkau mengaso dulu. Mari, nona, mari kuantar nona kekamar tamu dan nona akan menikmati kehidupan ditempat ini."

Kepala bajak itu lalu membawa sendiri Bwee Hong menuju keruangan sebelah dalam dan disitu, beberapa orang pelayan wanita menyambutnya.

Bwee Hong diberi sebuah kamar yang indah.

Karena mengharapkan bantuan untuk menemukan kembali Pek Lian, juga karena mengharapkan akan dapat membebaskan kakaknya yang ia kira tentu berada ditempat ini pula sebagai tawanan, Bwee Hong tidak menolak, walaupun ia tidak pernah kehilangan kewaspadaannya dan tidak mau bersikap manis kepada tuan rumah yang pandang matanya mengandung gairah itu.

Bagaimanapun juga, nona ini terkesan juga oleh sikap tuan rumah.

Sama sekali tidak seperti sikap kepala bajak.

Begitu halus dan sopan, dan ternyata disebelah dalam Istana itu, keadaannya seperti dalam Istana Raja-Raja saja.

Juga para pelayan wanita terlatih baik dan bersikap amat halus!

Para anak-buah bajak selama sehari semalam berpesta-pora merayakan hasil yang amat besar dimalam hari itu.

Para tawanan, yaitu anak-buah pangeran, dijebloskan dalam tempat tawanan yang berada dibawah tanah.

Hanya Pangeran Akiyama seorang yang dimasukkan dalam kamar tahanan lain dan diperlakukan dengan sikap baik.

Anak-buah pangeran ini menjadi orang tahanan dan dipekerjakan secara berpencar untuk pembangunan dipulau itu.

Ho Pek Lian telah berhasil naik ketebing dan dengan berindap-indap ia menyelinap melalui bukit-bukit karang dan akhirnya ia berhasil memasuki bangunan megah seperti Istana itu.

Ia melihat betapa tempat itu terjaga ketat seolah-olah tempat itu merupakan benteng dengan banyak bala tentaranya.

Dan Istana itu, yang terletak ditengah-tengah kompleks bangunan benteng, sungguh megah.

Aneh melihat sebuah Istana dibangun ditengah-tengah pulau kosong ini, diantara pulau-pulau kecil yang terpencil ditengah lautan.

Untung bagi Pek Lian bahwa para anak-buah bajak sedang merayakan pesta kemenangan dengan hasil baik itu.

Para penjaga ikut pula berpesta dan biarpun mereka masih tetap dalam tempat penjagaan masing-masing, namun mereka juga kebagian arak dan daging sehingga tentu saja penjagaan mereka menjadi kurang teliti dan lengah.

Kesempatan inilah yang dipergunakan oleh Pek Lian, dengan mengandalkan gerakannya yang gesit dan ginkangnya yang tinggi, untuk menyusup masuk kedalam Istana itu melalui pintu belakang didekat taman bunga batu karang.

Hanya ada beberapa pohon bunga kecil yang hidup didalam pot-pot bunga, dengan tanah yang diambil dari daratan besar, sedangkan hiasan lain merupakan batu-batu karang yang dibentuk dengan nyeni, dicat dan diatur sedemikian rupa sehingga tempat itu merupakan sebuah taman yang aneh tapi indah.

Bukan main girangnya hati Pek Lian ketika dalam usahanya menyelidik dan mencari Bwee Hong dalam Istana yang luas ini, ia tersesat masuk kedalam dapur!

Memang perutnya sudah terasa lapar bukan main.

Kalau menurut perasaan hatinya, ingin ia menyerbu dan merampas makanan dengan kekerasan.

Akan tetapi Pek Lian bukanlah seorang gadis sebodoh itu.

Tidak, ia adalah seorang dara muda yang sudah banyak digembleng oleh keadaan, yang membuatnya menjadi cerdas, tenang dan juga berpemandangan luas.

Ia melihat tiga orang tukang masak sedang sibuk didapur itu dan beberapa orang pelayan hilir-mudik mengangkuti masakan-masakan.

Beberapa kali Pek Lian menelan ludah ketika bau masakan yang sedap memasuki hidungnya, membuat perutnya berkeruyuk seperti ayam jago sedang berlagak.

Ia sampai terkejut sendiri dan menekan perut dengan tangan, khawatir kalau-kalau suara perutnya itu akan terdengar orang dan membuatnya ketahuan.

Ia hanya menanti kesempatan baik untuk dapat mencuri makanan.

Tiga orang koki itu sibuk masak dan kini, setelah para pelayan yang mengangkuti masakan-masakan itu pergi, mereka bercakap-cakap.

"Huh, kalau sedang begini, kitalah yang repot!"

Kata seorang diantara mereka yang matanya juling, agaknya karena bertahun-tahun bekerja didapur dan matanya terlalu sering terserang asap.

"Setiap orang-orang merayakan pesta dan bersenang-senang, kita sendiri yang repot disini setengah mati. Terlambat sedikit akan didamprat!"

Dengan gerakan tangan yang sudah terlatih baik sehingga tidak perlu lagi menggunakan mata melihat, dia mencacah daging, agaknya hendak membuat bakso.

"Aih, A-pek, engkau ini mengomel saja!"

Kata koki kedua sambil melemparkan sepotong daging panggang yang banyak gajihnya kedalam mulutnya, lalu mengunyahnya sampai ada minyak gajih yang menetes dari ujung bibir.

Melihat ini, kembali Pek Lian menelan ludah dan memandang dengan mata benci kepada koki yang perutnya amat gendut ini.

Mungkin karena terlalu banyak makan, pikir Pek Lian iri.

"Sekali ini bukan hanya karena pesta. Untuk anak-buah itu, cukup masakan seadanya, asal sudah ada panggang daging dan arak bagi mereka sudah cukup. Akan tetapi apakah engkau tidak tahu bahwa ongya mempunyai dua orang tawanan istimewa?"

Ucapan ini membuat Pek Lian melupakan laparnya dan mendengarkan penuh perhatian.

Koki ketiga yang tubuhnya jangkung dan kurus seperti orang kurang makan, keadaan yang amat janggal mengingat akan pekerjaannya sebagai tukang masak, segera berkata.

"Tawanan pangeran itu?"

"Yang pertama adalah pangeran itu. Biarpun dia menjadi tawanan, akan tetapi dari keluarganya diharapkan uang tebusan yang besar, maka dia harus dijamu dan diperlakukan sebagai seorang tamu terhormat dan berharga,"

Jawab si gendut dengan mulut masih bergerak-gerak mengunyah daging.

"Tapi yang paling istimewa adalah tamu kedua."

"Kau maksudkan gadis yang cantik dan gagah itu?"

Kata si juling.

"Kabarnya ia cantik sekali. Semua pelayan mengatakan bahwa belum pernah mereka melihat seorang gadis secantik tawanan itu, Aihhh, aku jadi ingin sekali menengoknya!"

Si juling itu tersenyum-senyum dan sikapnya menjadi genit, tanda bahwa kalau temannya yang gendut itu lebih suka makan enak, dia sendiri agaknya lebih memperhatikan wanita cantik.

"Hushh! Apa kau sudah bosan hidup? kau tahu apa?"

Cela si gendut yang agaknya selain doyan makan enak juga paling tahu akan keadaan dalam Istana itu.

"Ongya agaknya jatuh cinta kepada gadis ini dan karena itulah kita sekarang harus masak semua bahan simpanan seperti mengadakan pesta besar. Semua ini untuk disuguhkan kepada gadis itu! Masak pauwhi, sarang burung, daging capit kepiting, sup kaki biruang, hemmm... hebat deh!"

Tukang masak gendut ini mengusap air liurnya ketika menyebutkan nama masakan-masakan mewah ini dan diam-diam Pek Lian juga menelan ludahnya.

Tentu Bwee Hong yang mereka bicarakan, pikirnya.

Wah, Bwee Hong agaknya menjadi tamu terhormat dan disuguhi makanan lezat-lezat sedangkan ia sendiri harus bersembunyi-sembunyi setengah kelaparan!

Tiga orang koki itu kini sibuk memasak sayuran yang tadi disebutkan oleh si gendut dan Pek Lian semakin menderita karena bau masakan itu sungguh luar biasa sedapnya, apa lagi bagi seorang yang sedang kelaparan seperti dirinya.

Ia tahu bahwa kalau masakan-masakan itu sudah selesai dan siap, tentu para koki itu akan menarik tali yang agaknya menjadi penyambung tanda rahasia bagi para pelayan bahwa masakan telah siap dan para pelayan itu akan datang mengangkut masakan-masakan tadi.

Maka Pek Lian pun siap-siap.

Ketika masakan-masakan itu sudah selesai dan dipindahkan dari tempat masak kedalam mangkok-mang-kok besar, tiba-tiba Pek Lian menggerakkan tangannya.

Terdengarlah suara gedombrangan bising sekali dilain ruangan dapur itu, dimana disimpan mangkok piring dan panci-panci.

mendengar ini, para koki itu terkejut.

"Wah, wah, jangan-jangan ada kucing lagi masuk kesana!"

Kata si gendut yang segera berlari ketempat itu disusul oleh dua orang temannya.

Pek Lian cepat meloncat keluar dan dengan cekatan sekali ia bekerja.

Tak lama kemudian ia sudah kembali ketempat persembunyiannya, membawa sebuah mangkok besar terisi nasi dengan lauk-pauknya, yaitu pauwhi, sarang burung, capit kepiting, dan sup cakar biruang.

Lezat!

Ia makan dengan lahapnya, dengan tangan saja karena dalam keadaan tergesa-gesa itu ia lupa menyambar sumpit.

Hatinya girang dan geli ketika mendengar tiga orang itu kembali kedalam dapur sambil mengomel, akan tetapi agaknya mereka tidak tahu bahwa masakan-masakan itu telah berkurang.

Ketika akhirnya pelayan-pelayan datang mengangkut masakan-masakan, Pek Lian sudah selesai mengisi perutnya dan iapun menyelinap dan membayangi para pelayan yang membawanya ketempat dimana sahabatnya ditahan!

dilain saat, Pek Lian telah bersembunyi diatas genteng kamar Bwee Hong dan mengintai kedalam.

Dilihatnya Bwee Hong duduk menghadapi meja, dilayani oleh dua orang pelayan wanita dan benar saja, sahabatnya yang cantik itu diperlakukan sebagai seorang tamu kehormatan.

Akan tetapi Bwee Hong tidak kelihatan gembira, bahkan sebaliknya, sahabatnya yang cantik itu kelihatan pucat dan agak kurus dan menghadapi hidangan lezat itu dengan wajah gelisah dan duka.

Karena agaknya kurang bernafsu, maka tidak lama Bwee Hong makan, lalu ia menyuruh para pelayan membersihkan meja.

Tak lama kemudian, gadis itu nampak duduk termenung ditemani oleh dua orang pelayan yang agaknya juga bertugas untuk menjaga dan mengamatinya.

Selagi Pek Lian berniat untuk meloncat masuk, tiba-tiba terdengar suara orang dan Pek Lian melihat seorang laki-laki setengah tua yang pakaiannya mewah dan perutnya gendut, yang memasuki kamar Bwee Hong itu diikuti oleh empat orang dayang muda-muda dan cantik-cantik.

Melihat masuknya kepala bajak ini, Bwee Hong bangkit dari tempat duduknya dan memandang dengan sinar mata bertanya-tanya dan alis berkerut.

Sudah sehari semalam ia ditahan disitu sebagai tamu terhormat dan ia masih menanti berita tentang Pek Lian, dan mencari kesempatan untuk bertanya tentang kakaknya.

"Bagaimana kabarnya dengan usaha mencari sahabatku itu?"

Bwee Hong segera menyambutnya dengan pertanyaan ini.

Kepala bajak yang gendut itu lalu memberi isyarat kepada para dayang dan pelayan yang segera meninggalkan kamar itu dan menutupkan daun pintunya dari luar, kemudian mereka duduk diluar bersama dengan tiga orang pembantu utama kepala bajak itu yang agaknya memang mengawal dan menanti diluar.

Dari atas genteng Pek Lian dapat melihat bahwa selain tiga orang itu, terdapat pula belasan orang penjaga yang agaknya siap membantu kalau sampai pimpinan mereka membutuhkan tenaga mereka.

Keadaan ini membuat Pek Lian menjadi waspada dan tidak berani turun tangan secara lancang.

Iapun mengintai kedalam kamar dan memperhatikan pertemuan antara sahabatnya dan kepala bajak itu.

"Belum berhasil, nona. Kalau sahabatmu itu tidak mendapatkan perahu untuk menyelamatkan diri, setelah tercebur kedalam lautan, mana mungkin ia dapat diharapkan tinggal hidup? didaerah itu terdapat banyak ikan hiunya yang ganas. Jadi, hanya ada dua kemungkinan. Pertama, ia menemukan perahu dan berhasil menyelamatkan diri, atau kedua, yaaahh... nyawanya sukar tertolong"

"Ahhh...!"

Bwee Hong mengeluh sambil menutupi mula dengan kedua tangannya. Hening sejenak, kemudian kepala bajak laut itu berkata, suaranya halus seperti juga sikapnya.

"Nona, engkau telah menjadi tamuku, dan aku akan tetap mencari sampai anak-buahku tahu dimana adanya sahabatmu itu. Akan tetapi sampai sekarang aku belum mengenal namamu"

Agaknya Bwee Hong.

merasa tidak enak juga kalau tidak memperkenalkan nama, karena memang sesungguhnya sikap kepala bajak ini amat baik selama ia menjadi tamu, bahkan baru sekarang kepala bajak ini datang menjenguknya.

"Namaku Chu Bwee Hong..."

"Nona Chu, sungguh aku merasa berbahagia sekali mendapatkan kesempatan bertemu dan berkenalan denganmu. Aku ingin sekali mendengar sendiri bagaimana jawabanmu terhadap usul yang kuajukan pagi tadi. Engkau tentu telah mendengarnya dari pelayan dan utusanku, bukan?"

Sepasang mata yang jernih dan indah itu tiba-tiba mengeluarkan sinar berkilat dan Bwee Hong bangkit berdiri dengan sikap marah.

"Aku sudah mendengarnya dan justeru karena itulah aku akan menjawab dan menegurmu! Sudah kukatakan kemarin bahwa anak buahmu menyerang perahu Pangeran Jepang itu untuk membajak, bukan untuk menolongku! Kemudian, engkau memperlakukan aku dengan baik, sudah kuduga bahwa tentu ada pamrih sesuatu yang busuk. Ternyata benar, engkau hendak membujuk aku menjadi isterimu! Hemm, dengarlah. Aku tidak sudi menerimanya dan kalau sampai besok engkau tidak berhasil mendengar tentang sahabatku, aku akan pergi dari sini!"

Kepala bajak itu menarik napas panjang.

"Aku dapat mengerti penolakanmu, nona. Engkau seorang dara yang cantik jelita dan berkepandaian tinggi. Akan tetapi, engkau belum tahu siapa adanya aku. Kalau engkau menjadi isteriku, nona Chu, berarti engkau akan mendapatkan kemuliaan, kedudukan tinggi dan juga menjadi kaya."

Bwee Hong teringat akan kakaknya dan ia mengangkat mukanya memandang, lalu bertanya dengan suara ketus.

"Siapakah engkau?"

"Nona Chu, dengarlah. Aku adalah Raja dilautan sebelah selatan, aku hanya dikenal dengan sebutan lamsiauw-ong (Raja Muda Selatan).

"Ehh...?"

Bwee Hong memotongnya dengan kaget dan juga dengan wajah mengandung kekecewaan.

"Jadi engkau bukan Tung-hai-tiauw?"

Kepala bajak itu mengerutkan alisnya dan menggeleng kepala.

Hatinya kecewa pula karena nona yang dicintanya ini ternyata mengira dia orang lain, orang yang selama ini memang menjadi saingannya!

"Bukan!

Tung-hai-tiauw itu adalah seorang diantara kami, diantara tiga Raja bajak dilautan ini, dan dia kebetulan pada saat ini sedang menduduki kursi pimpinan."

Pek Lian yang ikut mendengarkan percakapan itu, juga sama kecewanya dengan Bwee Hong.

Kalau orang ini bukan Si Rajawali Lautan Timur, berarti bahwa dua orang diantara Sam-ok itu tidak datang ketempat ini, dan dengan demikian mereka telah kehilangan jejak dari A-hai dan Seng Kun yang dibawa oleh kedua orang Raja penjahat itu.

Orang ini telah memiliki kedudukan tinggi dan kuat, kalau orang ini masih merupakan pembantu saja dari Rajawali Lautan, maka dapat dibayangkan betapa hebatnya Raja penjahat itu sendiri.

Bwee Hong tidak tahu banyak tentang dunia penjahat dan ia hanya tahu sedikit-sedikit karena mendengar cerita Pek Lian.

Ia sudah mendengar dari sahabatnya itu bahwa Sam-ok adalah tiga Raja penjahat yang kini menjadi pembantu-pembantu dari Raja Kelelawar yang dianggap sebagai datuknya kaum sesat.

Akan tetapi mengapa kini kepala bajak ini mengatakan bahwa Rajawali Lautan kini menduduki kursi pimpinan?

Biarpun hatinya kecewa karena merasa seperti kehilangan jejak kakaknya, akan tetapi keinginan tahu membuatnya bertanya.

"Apa maksudmu mengatakan bahwa dia menduduki kursi pimpinan?"

"Duduklah, nona dan agaknya engkau belum mengenal kami. Baiklah, engkau perlu mengenal keadaanku lebih baik. Lautan disebelah timur ini dikuasai oleh kami bertiga dan kami masing-masing mempunyai anak-buah sendiri. Kami bertiga adalah Tung-hai-tiauw yang menguasai wilayah timur, yang kedua adalah Si Petani Lautan yang menguasai wilayah utara, sedangkan ketiga adalah aku sendiri yang menguasai wilayah selatan. Kami masing-masing tidak saling melanggar wilayah dan melakukan operasi dibatas wilayah masing-masing. Tempat kami menyerang perahu Jepang itu adalah batas wilayah kami."

"Jadi kalian bertiga adalah saingan-saingan yang saling bermusuhan?"

Tanya Bwee Hong yang tertarik juga hatinya. Kepala bajak ini biarpun seorang penjahat, namun sikapnya bukan seperti penjahat yang kasar.

"Pada mulanya kami memang saling bermusuhan sehingga terjatuh banyak korban diantara kami sendiri. Lalu kami bermufakat untuk bersatu dan yang paling lihai diantara kami berhak menduduki kursi pimpinan, menempati gedung Istana lautan yang kami bangun bersama. Nah, ternyata Rajawali Lautan yang berturut-turut menang dalam pemilihan dan menjadi Raja lautan. Setiap tiga tahun sekali kami mengadakan pertemuan dan mengadu ilmu. Tiga tahun telah lewat sejak pemilihan yang lalu dan didalam bulan ini juga, kurang beberapa hari lagi, kami akan mengadakan lagi pertemuan. Tiga hari lagi dan aku yakin akan dapat mengalahkan Si Rajawali Lautan karena selama ini aku telah berlatih dengan tekun. Tentu saja aku harus dapat pula mengalahkan Petani Lautan yang memperdalam ilmunya yang hebat, yaitu ilmunya Ban-seng-kun (Silat Selaksa Bintang) yang hebat. Dan engkau... kalau engkau menerima pinanganku, nona, engkau akan menjadi ratu lautan!"

Baik Bwee Hong maupun Pek Lian yang ikut mendengarkan, menjadi ngeri.

Macam apakah Ilmu Silat Selaksa Bintang itu?

Sampai dimana kehebatannya?

Dan si gendut ini agaknya memiliki Ilmu yang tidak kalah tingginya, karena buktinya dia merasa yakin akan dapat menangkan Petani Lautan dan juga Rajawali Lautan!

Betapa banyaknya terdapat orang-orang lihai didalam dunia kaum sesat.

"Engkau akan merasa ngeri kalau menyaksikan Ilmu Silat Selaksa Bintang itu, nona. Petani Lautan itu tidak pernah memakai baju karena tubuh atasnya selalu penuh dengan keringat yang keluar bagaikan sumbernya yang tidak pernah kering. Dia selalu membawa tempat air kemanapun dia pergi untuk minum setiap saat. Minumnya banyak sekali, melebihi kuda karena keringatnya luar biasa banyaknya. Didalam pertempuran, keringatnya itu memercik-mercik keluar dan kalau tertimpa sinar matahari atau lampu, dapat menimbulkan sinar berwarna-warni dan berkelap-kelip seperti selaksa bintang dilangit. Itulah sebabnya maka ilmunya dinamakan, Selaksa Bintang dan gerakannya demikian cepatnya seperti bintang beralih. Siapapun yang bertanding melawannya akan menjadi basah kuyup tersiram keringat-keringat itu, apa lagi kalau keringat itu menyerang kearah muka lawan, akan membuat mata menjadi silau dan gerakan Petani Lautan yang cepat itu akan sukar dapat diikuti lagi."

Bwee Hong mendengarkan cerita itu dengan alis berkerut dan diam-diam ia kurang begitu percaya akan cerita ini.

Ilmu sesat macam itu tidak perlu ditakuti, pikirnya.

Yang hebat hanya luarnya saja, akan tetapi pada hakekatnya, tidak mengandung inti yang kuat dan dalam.

Akan tetapi, Pek Lian yang sudah sering menyaksikan betapa ganas dan jahatnya ilmu orang-orang dari dunia hitam, mendengarkan dengan hati ngeri dan jijik.

Betapa menjijikkan kalau harus bertanding melawan Petani Lautan itu.

Keringat orang itu akan menyiram seluruh tubuhnya, mukanya dan...

ihh, betapa keras dan busuk baunya dan menjijikkan!

Pek Lian bergidik.

"Akan tetapi, sehebat itu, dia masih kalah oleh Rajawali Lautan?"

Bwee Hong bertanya, bukan hanya ingin tahu, akan tetapi juga untuk mengikat tuan ramah itu dalam membicarakan urusan lain agar urusan "pinangan"

Itu tidak diulang lagi.

"Nona Chu, agaknya engkau belum tahu siapa Rajawali Lautan itu. Dia amat lihai, dia malah orang pertama dari Sam-ok, Si Tiga Jahat didaratan besar. Bukan saja ilmu silatnya yang amat tinggi, akan tetapi sepuluh buah jarinya mempunyai kuku yang kuat seperti baja, dan juga dia memakai baju emas yang membuatnya kebal terhadap segala macam senjata."

"Hemm, jadi dia kebal?"

"Benar, dan kekebalan serta kuku-kuku jari tangannya itulah yang berbahaya."

"Kalau begitu, bagaimana engkau akan dapat menang menghadapinya?"

Si gendut itu menarik napas panjang.

"Entahlah, akan tetapi pokoknya, aku harus menang dan aku telah memperdalam ilmu pedangku yang kuberi nama Hun-kin-kiam (Pedang Pemutus Urat), mudah-mudahan aku akan dapat mengalahkan mereka berdua."

"Mudah-mudahan."

"Dan engkau menjadi ratu"

"Sudahlah, jangan bicara soal itu. Aku tidak dapat menjadi isterimu."

"Kenapa tidak dapat? Kurang apakah aku ini?"

"Pokoknya aku tidak mau, aku belum mau menikah."

"Engkau harus!"

Bwee Hong meloncat berdiri dan menegakkan kepalanya.

"Eh? Siapa yang mengharuskan? Aku tidak mau dan hendak kulihat engkau akan dapat berbuat apa terhadap diriku!"

Bwee Hong menantang berani.

Agaknya tidak ada jalan lain baginya kecuali menggunakan kekerasan.

Kakaknya tidak berada disini dan agaknya sukar mengharapkan bantuan Pek Lian, maka jalan satu-satunya hanya menantang dan menggunakan kekerasan.

Menang dan bebas, atau kalau kalah biarlah ia mati disitu dari pada harus menjadi isteri si perut gendut ini.

lamsiauw-ong juga melompat dari tempat duduknya.

Mukanya yang bulat itu menjadi merah, matanya yang lebar itu melotot semakin lebar dan kepalanya yang bundar itu mengangguk-angguk.

"Bagus, akupun ingin sekali melihat sampai dimana kelihaianmu agar dapat kupertimbangkan apakah engkau memang patut menjadi ratuku."

Si gendut ini menepuk tangan dua kali dan tiga orang pembantunya yang lihai itupun bermunculan dari pintu, berdiri dengan sikap hormat.

"Nona Chu ingin memperlihatkan kepandaiannya. Coba kalian menangkapnya dan kalau berhasil, ikat kaki tangannya...!"

Tanpa bertanya lagi, tiga orang pembantu setia ini maklum dan dapat menduga bahwa tentu nona ini menolak kehendak Raja mereka, maka setelah memberi hormat kepada lamsiauw-ong, mereka lalu menghampiri Bwee Hong dan mengurungnya dengan kedudukan segi tiga.

Bwee Hong berdiri tegak dan siap untuk menghadapi pengeroyokan mereka.

Bahkan ia tidak mau membuang waktu lagi karena maklum bahwa perkelahian yang akan dihadapi ini baginya bukan sekedar menguji kepandaian, melainkan perjuangan untuk mencapai kemenangan dan untuk meloloskan diri!

Begitu tiga orang lawan itu datang dekat, ia sudah mengeluarkan teriakan melengking nyaring dan tubuhnya sudah bergerak cepat sekali mengirim serangan kepada orang yang didepannya, sedangkan kakinya mencuat dalam tendangan kilat kearah lawan disebelah kanan.

Dua orang lawan itu terkejut bukan main.

Hampir mereka tidak melihat gerakan nona itu dan tahu-tahu orang yang berada dikanan itu telah kena tendangan pada pahanya!

Dan orang yang berada didepannya itu hanya menggulingkan tubuh saja dapat terhindar.

Dan Bwee Hong lalu mengamuk!

Tiga orang itu berusaha untuk mengurungnya rapat, akan tetapi mereka itu bahkan menjadi bulan-bulanan pukulan dan tendangan Bwee Hong yang membuat mereka jatuh bangun!

melihat ini, Lain-siauw-ong memandang dengan wajah berseri-seri dan tiada hentinya memuji.

"Bagus! Bagus! Ginkang yang sempurna! hebat! Pantas menjadi ratuku, lebih dari pada pantas!"

Dia bertepuk tangan tiga kali dan muncullah lima orang pembantu lain yang dia perintahkan untuk membantu tiga orang pertama dan mengeroyok Bwee Hong.

"Keparat, curang tak tahu malu!"

Bwee Hong memaki dan Pek Lian yang berada diatas juga merasa marah sekali menyaksikan kecurangan si gendut yang main keroyok itu.

Akan tetapi ia tidak menurutkan hati, tidak mau turun tangan membantu sebelum melihat kesempatan baik agar ia dan sahabatnya itu dapat lolos dari pulau yang dihuni oleh para bajak itu.

Andaikata ia turun membantu dan mereka menang sekalipun, masih amat sukar untuk dapat lolos dari pulau itu karena para penjahat itu tentu akan merintangi dan menghadapi mereka dilaut, sama saja dengan membunuh diri atau menyerahkan diri!

Tidak, ia harus menanti saat baik.

Hanya kalau terpaksa saja, kalau melihat Bwee Hong menghadapi ancaman maut, baru ia akan turun tangan dengan nekat, kalau perlu mati bersama dengan sahabatnya itu.

Biarpun dikeroyok delapan, namun Bwee Hong tetap mengamuk dan semua pengeroyoknya telah merasakan pukulan atau tendangannya.

Semua perabot dan isi kamar menjadi porak-poranda ketika para pengeroyok itu terlempar kesana-sini.

Akan tetapi, tiba-tiba lamsiauw-ong sendiri maju dan begitu dia menyerang, Bwee Hong terkejut sekali.

Ternyata Raja penjahat ini benar-benar amat lihai!

Bahkan melawan satu sama satu saja ia belum tentu dapat mengalahkan si gendut ini!

Maka ia menjadi penasaran dan marah sekali.

Memiliki kepandaian yang tinggi, namun si gendut ini masih mengerahkan anak-buahnya untuk mengeroyok!

Akan tetapi Pek Lian mengerti mengapa si gendut itu tadi tidak maju sendiri dan menyuruh orang-orangnya untuk mengeroyok.

Tentu selain ingin menguji sampai dimana kelihaian Bwee Hong, juga si gendut ini ingin menangkap Bwee Hong tanpa melukainya, maka dia menggunakan tenaga banyak orang.

Dan memang dugaannya ini tepat.

Setelah dikeroyok sembilan orang, maka akhirnya lamsiauw-ong berhasil menotok pundak kiri Bwee Hong.

Separuh tubuh dara itu menjadi lumpuh dan ketika si gendut memeluk dan meringkusnya, iapun tidak dapat berkutik dan dilain saat dara itu telah dibelenggu kaki tangannya!

Pek Lian sudah mengepal tinju.

Ia tentu akan nekat kalau melihat Bwee Hong hendak diperkosa, akan tetapi ternyata si gendut iba, biarpun kepala bajak, bukanlah seorang yang kasar.

Dia sama sekali tidak memperkosa, bahkan menciumpun tidak!

Agaknya, didepan delapan orang anak-buahnya, si gendut ini menahan diri dan karena itulah maka dia dihormati sekali oleh para anak-buahnya.

setidaknya, biarpun dia kepala bajak, namun julukannya adalah Raja Muda Selatan!

Setelah tubuh Bwee Hong direbahkan diatas pembaringan, kedua kaki dibelenggu, kedua lengan diikat dibelakang tubuh dan mulutnya juga diikat saputangan agar jangan mengeluarkan teriakan atau makian, si gendut menyuruh semua anak-buahnya keluar lagi.

Mereka keluar, ada yang terpincang-pincang, ada yang mengaduh memegangi perut, ada yang kepalanya benjol-benjol dan ada yang sebelah matanya menghitam.

Kini tinggallah si gendut berdua dengan Bwee Hong dan kembali Pek Lian siap untuk menolong sahabatnya.

Akan tetapi, lamsiauw-ong hanya mendekati pembaringan sambil berkata.

"Nona Chu, salahmu sendirilah sehingga terpaksa aku membelenggumu. Akan tetapi, engkau masih kuberi waktu untuk berpikir selama tiga hari ini. Setelah selesai menghadiri pertemuan antara pimpinan lautan, baru aku akan memaksa engkau mengambil keputusan, yaitu menjadi isteriku secara suka rela ataukah secara paksaan!"

Setelah berkata demikian, lamsiauw-ong meninggalkan kamar itu.

Tak lama sesudah si gendut ini pergi, barulah Pek Lian cepat melayang turun kedalam kamar itu.

Tadi, ketika mencari-cari didalam Istana, ia menemukan gudang senjata dan ia telah memilih sebatang pedang untuk dibawa berlindung diri.

Melihat melayangnya sesosok tubuh kedalam kamarnya, Bwee Hong cepat memandang dan dapat dibayangkan betapa girangnya melihat bahwa yang melayang turun itu adalah Pek Lian yang tadinya dikhawatirkan telah terkubur diperut ikan hiu!

Kalau saja mulutnya tidak diikat dengan kain, tentu ia sudah berteriak saking girangnya.

"Ssttt!"

Pek Lian menaruh telunjuk kanan didepan mulut memberi isyarat kepada sahabatnya itu agar tidak bersuara.

Kemudian dengan cekatan ia meloncat kedekat pembaringan, mencabut pedang curiannya dan membebaskan Bwee Hong dari belenggu.

Setelah bebas dari belenggu, Bwee Hong merangkul sahabatnya itu.

Sejenak mereka berangkulan tanpa ada sepatahpun kata keluar dari mulut mereka.

Kata-kata tidak berarti lagi untuk menyatakan kebahagiaan hati mereka masing-masing pada saat itu, bahkan kata-kata dapat berbahaya karena dapat terdengar para penjaga diluar pintu.

"Mari kita pergi, melalui atas saja,"

Bisik Pek Lian.

Bwee Hong mengangguk dan dara ini telah mendapatkan kembali semangatnya setelah melihat sahabatnya ini.

Seperti biasa, biarpun kepandaiannya masih kalah dibandingkan dengan Bwee Hong, namun Pek Lian mengambil sikap memimpin.

Ia sudah mendahului meloncat keatas dan dengan selamat mereka berdua lolos dari kamar itu tanpa menimbulkan suara berisik dan keduanya dilain saat telah berdiri diatas genteng dan memandang kekanan kiri.

"Kita kemana, adik Lian?"

Tanya Bwee Hong. Karena tidak melihat seorangpun penjaga. Pek Lian berbisik memberitahukan rencananya.

"Kita harus dapat cepat meninggalkan pulau ini sebelum ketahuan. Kita naik perahu dan mencari Istana Laut dimana tinggal Si Rajawali Lautan!"

"Kau tahu juga?"

"Aku tadi ikut mendengarkan cerita lamsiauw-ong. Tapi kita harus mempunyai seorang petunjuk jalan. Kita tawan seorang anggauta bajak dan memaksanya membawa kita kesana. Nah, mari ikuti aku, enci, dan berhati-hatilah. Sekali ketahuan dan kita dikepung, akan sukar sekali meloloskan diri."

Dengan Pek Lian menjadi petunjuk jalan didepan karena Pek Lian sudah mulai mengenal tempat itu, mereka menuju kebelakang gedung besar itu, ditempat sunyi dari mana Pek Lian tadi datang dan bersembunyi.

Mereka berdua mendekam dibalik pohon dalam taman batu karang, pohon buatan dari batu karang pula dan menanti.

Tak lama kemudian rombongan penjaga meronda lewat dan kedua orang gadis itu membiarkan mereka lewat tanpa mengganggu.

Setelah keadaan sunyi kembali dan aman, barulah Pek Lian mengajak Bwee Hong melanjutkan perjalanan.

Dengan berindap-indap dan hati-hati, mereka menyelinap dan menyusup, menuju kepantai.

Untung bagi mereka bahwa pantai itu gelap dan malam hanya diterangi bintang saja.

Dipantai itu terdapat banyak perahu dan terdapat pula beberapa orang anggauta bajak yang hilir-mudik, dan ada pula yang bertugas menjaga pantai.

"Enci, kita harus dapat menangkap seorang"

"Lian-moi, sekarang giliranku. Engkau sudah terlalu banyak bekerja, dan aku hanya menyusahkan saja. Sekarang biarkan aku yang turun tangan menangkap seorang bajak."

Pek Lian mengangguk. Sudah tentu saja ia percaya akan kemampuan Bwee Hong dan kalau ia menolak permintaan itu, mungkin saja Bwee Hong akan tersinggung dan merasa tidak percaya.

"Baiklah, enci Hong, asal engkau berhati-hati saja. Aku menanti disini,"

Bisiknya kembali.

Bwee Hong mengangguk dan tak lama kemudian dara itu berkelebat lenyap.

Diam-diam Pek Lian merasa kagum sekali.

Ia sudah tahu bahwa Bwee Hong terutama sekali amat unggul dalam ilmu ginkangnya.

Ia sendiri kalah jauh dibandingkan dengan Bwee Hong walaupun ia sendiri telah menerima gemblengan dari Huang-ho suhiap (Empat Pendekar Huang-ho) bahkan kemudian diperdalam oleh bimbingan Liu-twako atau Liu-taihiap.

Akan tetapi kalau diingat bahwa Bwee Hong mewarisi ilmu keturunan dari mendiang Sin-yok-ong, maka kehebatan ginkangnya itu memang tidaklah mengherankan.

Betapapun juga, Pek Lian merasa tidak enak kalau membiarkan sahabatnya itu bekerja tanpa perlindungannya, maka diam-diam iapun membayangi.

Ia melihat Bwee Hong telah berada diujung pantai, agaknya mendekati dua orang penjaga yang terpencil.

Dara itu mengambil dua potong batu karang sebesar kepalan tangan, kemudian mengayun tangannya kekanan kiri.

Terdengarlah dua suara berisik berturut-turut dikanan kiri tempat itu.

"Eh, apa itu?"

Terdengar dua orang penjaga bertanya kaget dan merekapun lalu bangkit berdiri dan berpencar kekanan kiri, hendak memeriksa apa gerangan yang menimbulkan bunyi berisik tadi.

Setelah jarak antara mereka cukup jauh, tiba-tiba Bwee Hong meloncat kedepan dan sebelum orang itu sempat berteriak, ia sudah merobohkannya dengan pukulan pada tengkuknya, menggunakan tangan miring.

Orang itu roboh pingsan lalu dara cantik dan perkasa itu menyeretnya pergi ketempat semula ia meninggalkan Pek Lian.

Akan tetapi, Bwee Hong merasa kaget ketika ia tidak mendapatkan lagi Pek Lian ditempat itu.

Ia melemparkan tubuh orang yang pingsan itu keatas tanah dan ia sendiri lalu berdiri dan memandang kesana-sini, mencari-cari Pek Lian.

Tak lama kemudian, muncullah Pek Lian dan dara ini tersenyum, menyerahkan sebatang pedang kepada Bwee Hong.

"Ih, engkau membuatku gelisah, adik Lian. kemana saja engkau pergi dan dari mana kau mendapatkan pedang ini?"

Sambil berbisik Pek Lian menceritakan bahwa ketika melihat Bwee Hong merobohkan seorang diantara dua penjaga, ia berpendapat bahwa kalau penjaga kedua tidak dirobohkan pula, tentu penjaga itu akan kehilangan kawannya dan menjadi curiga.

"Karena itu, aku merobohkannya, dan kini dia tersembunyi dalam keadaan tertotok dan kaki tangannya terikat, mulutnyapun kusumbat. Selain itu, juga pedangnya ini tentu berguna bagimu. Aku sendiri sudah mengambil pedang dari gudang senjata. Mari kita kerjakan tawanan itu, enci!"

Bwee Hong menerima pedang dan semakin kagum.

Sungguh seorang dara muda yang cerdas sekali, pikirnya.

Ia sendiri sama sekali tidak memikirkan kemungkinan-kemungkinan itu dan kalau tidak bersama Pek Lian, mungkin perbuatannya menawan seorang bajak ini akan cepat ketahuan dan hal ini tentu akan membahayakan sekali.

Maka iapun menyerahkan segala sesuatu selanjutnya kepada Pek Lian, juga ketika "mengerjakan"

Tawanan itu. Dengan beberapa kali tepukan, Pek Lian menyadarkan tawanan itu, akan tetapi begitu orang itu membuka mata, ujung pedang ditangan Pek Lian telah menempel dilehernya.

"Engkau tentu belum ingin mati, bukan?"

Bisiknya dengan suara penuh ancaman. Orang itu terkejut sekali, apa lagi ketika merasa betapa lehernya sakit tertusuk benda tajam.

"Belum, ampunkan aku "

Bisiknya.

"Baik, kamipun tidak ingin membunuhmu. kami hanya ingin engkau membantu kami melarikan diri dari sini. Kalau sampai kami berhasil lolos dengan selamat, engkau akan kami ampuni dan tidak kami bunuh. Mengerti?"

Bajak itu mengangguk dan matanya terbelalak ketakutan.

"Ampun... aku mempunyai anak isteri, ampunkan aku dan aku akan berusaha membantu ji-wi lihiap (nona pendekar berdua)."

"Bagus! Nah, sekarang kita harus dapat menggunakan sebuah perahu untuk melarikan diri. Hayo bawa kami mendapatkan sebuah perahu yang baik. Awas, jangan sampai ketahuan kawan-kawanmu, karena kalau ketahuan, terpaksa aku akan membunuhmu lebih dulu sebelum kami mengamuk dan membasmi mereka semua!"

"Baik, saya tidak berani menipumu, nona, saya masih ingin hidup."

"Kalau begitu, mari kita kesana,"

Pek Lian menunjuk kekiri, ketempat yang nampaknya sunyi untuk mencari perahu disana.

"Tidak, disana berbahaya."

"Mengapa?"

Pek Lian menghardik.

"Di sana sunyi tidak nampak penjaga dan kulihat ada beberapa buah perahu disana."

Ia merasa curiga.

"Jangan salah duga, nona. Disana ada penjaga-penjaga tersembunyi, memang disengaja karena semua pelarian tentu akan mencari perahu disana. Tidak, mari kita mencari kesana."

Orang itupun menunjuk kekanan, arah sebaliknya dari yang dikehendaki Pek Lian.

Sebelah kanan itu nampak ramai oleh hilir-mudiknya para anggauta bajak.

Tentu saja dia dan Bwee Hong meragu.

Melihat keraguan mereka, bajak yang sudah tertawan itu berkata.

"Tentu ji-wi mengetahui bahwa sekali saya menipu, ji-wi akan membunuh saya. Marilah, saya tidak menipu, saya masih sayang nyawa."

Pek Lian dan Bwee Hong menurut, akan tetapi mereka tidak pernah melepaskan pedang yang selalu siap untuk menyerang bajak ini kalau-kalau dia mengkhianati mereka.

Akan tetapi, setelah melalui jalan berliku-liku, akhirnya bajak itu dapat menemukan sebuah perahu dan tidak ada seorangpun penjaga disitu.

Cepat dia melepaskan tali perahu dan mereka bertiga lalu naik kedalam perahu dan mereka bertiga bekerja-sama mendayung perahu itu meninggalkan pantai.

Karena langit mulai penuh dengan awan hitam, dan cahaya bintang-bintang dilangit yang sudah muram itu kini menjadi semakin gelap, maka hal ini amat menguntungkan mereka yang sedang berusaha untuk melarikan diri.

Akan tetapi, tiba-tiba bajak itu mengeluarkan seruan kaget dan nampak panik.

Sungguh tidak kebetulan sekali, dari depan datang meluncur empat buah perahu bajak yang baru saja pulang!

Tentu saja hal ini sama sekali tidak disangka-sangkanya.

"Celaka, kita ketahuan!"

Katanya dan diapun mendayung perahu itu dengan sepenuh tenaga.

Dan memang benar.

Dari perahu-perahu itu terdengar bentakan-bentakan dan perahu-perahu itupun lalu memutar haluan dan melakukan pengejaran!

Melihat ulah si bajak yang mati-matian mendayung perahu itu, Pek Lian dan Bwee Hong maklum bahwa bajak itu tidak mengkhianati mereka dan memang pertemuan dengan perahu-perahu bajak itu merupakan hal yang tidak disangka-sangka dan diluar perhitungan, maka mereka berduapun lalu membantu bajak itu mendayung perahu menambah lajunya perahu yang hanya terdorong oleh sedikit angin pada layar terkembang yang hanya kecil itu.

Akan tetapi, begitu mendapat bantuan dua orang dara perkasa itu, perahu kecil melaju lebih cepat dan empat buah perahu bajak yang lebih besar dengan layar yang lebih lebar itu tertinggal.

Mereka berteriak-teriak dan kini merekapun mengerahkan anak-buah bajak untuk mendayung sehingga kembali jarak diantara mereka tidak begitu jauh.

Kalau pengejaran itu terjadi didarat, tentu Pek Lian dan Bwee Hong takkan merasa gentar.

Mereka berdua dapat melarikan diri lebih cepat, dan kalau perlu harus bertanding sekalipun, mereka tidak takut menghadapi pengeroyokan dua puluh lebih bajak-bajak ini.

Akan tetapi, mereka berada diatas perahu-perahu ditengah lautan, daerah yang asing bagi mereka dan kalau sampai mereka dapat disusul, tentu keadaan mereka berbahaya sekali.

Para bajak itu tentu saja lebih mahir menjalankan perahu dan lebih mahir pula berkelahi dalam air kalau sampai perahu itu digulingkan.

Maka Pek Lian dan Bwee Hong lalu mati-matian mengerahkan tenaga untuk mendayung perahu kecil itu.

"Cepatan! Cepatan lagi! Ah, untung ji-wi sungguh hebat dapat mendayung begini kuat... ah, kita dapat meninggalkan mereka!"

Bajak itu terengah-engah memuji karena memang dia kagum sekali terhadap dua orang gadis ini. (Lanjut ke

Jilid 13) Darah Pendekar (Seri ke 01 -Serial Darah Pendekar) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo Bahan Cerita . Sriwidjono

Jilid 13 Sementara itu, langit makin gelap karena berkumpulnya awan-awan mendung dan tiba-tiba perahu mereka terguncang keras dan terayun tinggi, mengejutkan Pek Lian dan Bwee Hong.

"Apa yang terjadi?"

Tanyanya kepada bajaik itu.

"Alih, sungguh nasib kita yang buruk. Agaknya sebentar lagi badai akan mengamuk dan ini tidak kalah bahayanya dari pada pengejaran mereka itu! Cepat bantu saya menurunkan layar, nona. Cepat sebelum badai melanda kita!"

Karena maklum akan kemahiran bajak itu menangani perahu, Pek Lian dan Bwee Hong cepat membantunya dengan membuta dan memang benar sekali, air laut bergelombang hebat dan angin menderu kencang.

Kalau layar masih terpasang, entah apa akan jadinya dengan perahu kecil itu!

Mereka bertiga kini mengemudikan perahu dan berusaha menguasainya dengan kekuatan dayung mereka, agar perahu itu tetap berada diatas puncak ombak-ombak yang mengalun ganas.

Empat buah perahu bajak yang melakukan pengejaran tadipun tahu akan bahaya dan mereka sudah sejak tadi putar haluan meninggalkan perahu kecil yang ditelan badai itu.

Semalam suntuk tiga orang dalam perahu kecil itu berjuang melawan badai lautan yang mengga-nas.

Demikian hebatnya hempasan badai sehingga tiang layarpun patah!

Kalau saja tidak ada Bwee Hong yang cepat menangkis tiang itu dengan lengannya yang kecil dan berkulit halus, tentu tiang itu akan menimpa kepala bajak itu.

"Krekkk!"

Tiang sebesar paha itu patah ketika bertemu dengan lengan Bwee Hong sehingga bajak laut itu menjadi semakin kagum.

Mereka terus mempertahankan perahu mereka agar tidak sampai terbalik sampai mereka hampir kehabisan tenaga dan napas.

Mereka tidak tahu lagi dimana mereka berada.

Sekeliling mereka hanya ada air mengganas, bahkan diantara mereka nampak puncak-puncak ombak dengan lidah-lidah yang terjulur dari sana-sini seolah-olah hendak menelan mereka.

Mereka tentu telah terseret jauh sekali.

Untung bagi mereka, pada keesokan harinya, bersama dengan munculnya matahari diufuk timur, badai mereda dan air laut menjadi tenang kembali.

Mereka bertiga, dibawah pimpinan si anggauta bajak yang lebih paham akan perahu, mulai beru-saha memperbaiki perahu sedapat mungkin.

Untung bahwa mereka berjuang dengan gigih sehingga dayung dayung tetap berada ditangan mereka, bahkan gulungan layar dan tiang yang patah tidak sampai lenyap terbawa air.

"Memang bulan ini merupakan permulaan musim banyak topan dan badai. Tidak saya kira bahwa malam ini mulainya. Perahu-perahu tadi adalah perahu terakhir yang berani berlayar ketengah laut. Dalam keadaan seperti ini, tidak ada nelayan yang berani berlayar mencari ikan terlalu jauh, bahkan kamipun lebih banyak berdiam dipulau, menanti lewatnya musim badai."

Dua orang dara perkasa itu tidak menanggapi omongan ini, diam-diam mereka bersyukur bahwa mereka dapat lobos dari lubang jarum, bolos dari ancaman maut yang mengerikan ditelan badai.

Dan bagaimanapun juga, anggauta bajak ini sudah berjasa, karena tanpa adanya orang ini, mereka berdua belum tentu akan mampu mempertahankan perahu kecil itu.

Pek Lian agak paham tentang perahu dan lautan, sedangkan Bwee Hong baru saja belajar mengenal air dan perahu setelah pergi bersamanya.

Mereka berdua kini sibuk membersihkan pakaian mereka yang basah dan kotor.

Melihat betapa dua orang nona itu tidak menanggapi ucapannya, bajak itupun berdiam diri dan melanjutkan pekerjaannya memperbaiki perahunya yang rusak diamuk badai.

Dua orang gadis itu saling pandang.

Bajak laut ini bagaimanapun juga menarik hati mereka.

Seorang laki-laki yang usianya kurang lebih empat puluh tahun, agak kurus dan kulit mukanya kehitaman karena terlalu banyak dibakar matahari.

Yang menarik adalah sikapnya yang sama sekali berbeda dengan penjahat pada umumnya.

Tidak kurang ajar pandang matanya, tidak kasar bicaranya dan tidak ugal-ugalan sikapnya.

"Paman, sudah berapa lamakah engkau menjadi bajak laut?"

Akhirnya Pek Lian bertanya setelah selesai membereskan pakaian dan rambutnya. Orang itu mengangkat mukanya memandang, agaknya terkejut mendengar dirinya disebut paman.

"Sudah lama juga, nona. Belasan tahun sudah."

"Mengapa engkau menjadi bajak laut? Dan engkau tidak seperti bajak laut yang kasar itu."

"Nona, tidak semua anak-buah lamsiauw-ongya berasal dari penjahat. lamsiauw-ongya sendiri bukan berasal dari penjahat, bahkan masih ada darah bangsawan dalam tubuhnya. Kami menganggap pembajakan dilaut ini sebagai pekerjaan, bukan sebagai kejahatan. Kami tidak pernah mengganggu para nelayan, baik dilautan maupun dipantai."

"Huh, membajak masih dikatakan bukan kejahatan? Lalu apa saja yang dinamakan kejahatan kalau merampok barang orang dengan kekerasan tidak dianggap kejahatan?"

Bwee Hong berkata dengan suara mengejek. Bajak itu menarik napas panjang.

"Entahlah, nona, saya sendiripun tidak dapat menjawab pertanyaan itu. Akan tetapi, sebelum saya menjadi anggauta bajak dan mengabdi kepada Siauw-ong-ya, saya pernah hidup sebagai anak keluarga petani. Saya melihat kejahatan-kejahatan yang lebih ganas dan kejam dilakukan oleh para tuan tanah dan para pejabat terhadap keluarga petani miskin yang tidak mempunyai tanah, yang hanya mengandalkan tenaga dan cucuran keringat mereka untuk dapat makan setiap hari. Membajak memang merampas milik orang lain, akan tetapi setidaknya kami memberi kesempatan yang sama kepada pemilik barang untuk mempertahankan barang-barangnya. Akan tetpi, para tuan tanah dan pejabat didusun-dusun itu seperti lintah yang menghisap darah para keluarga petani, sedikitpun tidak memberi kesempatan kepada para petani untuk dapat memperjuangkan hak dan nasibnya. Saya melihat mereka itu jauh lebih kejam dan jahat dari pada bajak!"

Anggauta bajak itu berhenti sebentar dan dua orang dara itu termenung karena merekapun pernah mendengar tentang kesewenang-wenangan mereka yang mengandalkan kekayaan atau kekuasaan mereka.

"Kemudian, dari dusun saya pernah pindah kekota dan hidup sebagai buruh kasar. Dan disanapun saya menyaksikan kekejaman-kekejaman yang luar biasa, dilakukan oleh semua orang kepada orang lain dalam memperebutkan uang dan kekuasaan. ji-wi lihiap, harap maafkan saya. Akan tetapi sesungguhnya, katakanlah bahwa pembajakan merupakan kejahatan, namun kejahatan yang sifatnya terbuka, tidak seperti kejahatan orang-orang itu yang melakukan kejahatan secara gelap dan terselubungi bahkan kadang-kadang kejahatan mereka dilindungi oleh hukum."

Dua orang dara itu kembali saling pandang.

Mereka mendengar akan kekejaman-kekejaman para pembesar bahkan kekejaman yang dilakukan Kaisar.

Bukankah semua itupun merupakan kejahatan, bahkan amat besar, jauh lebih besar dari pada kejahatan para bajak laut ini yang hanya mempergunakan kesempatan dan mengandalkan tenaga mereka untuk merampas barang orang, dan kadang-kadang kalau pihak pemilik barang lebih kuat, mereka akan mati konyol?

Kata-kata bajak yang sederhana itu sama sekali bukan merupakan pembelaan diri seorang penjahat, Bukan untuk membenarkan perbuatannya, melainkan timbul karena kepahitan melihat kenyataan yang terjadi didalam dunia ramai yang sopan.

Dan kepahitan-kepahitan macam ini sering kali mendorong orang untuk menjadi penjahat secara berterang!

Pek Lian teringat akan para pendekar yang berkumpul digunung-gunung dan lembah-lembah sungai.

Bukankah mereka itu melakukan gerakan menentang pemerintah karena kepahitan itu, dan bukankah merekapun dicap sebagai pemberontak-pemberontak, yaitu golongan yang dianggap paling rendah dan paling berdosa, lebih rendah dari pada perampok atau bajak?

Dan bukankah kalau perlu para pendekar yang memberontak itupun akan melakukan perampokan-perampokan dan pembajakan-pembajakan untuk menentang pemerintah?

Sampai disini jalan pikirannya, Pek Lian menjadi bingung.

"Dimanakah kita sekarang, paman?"

Tanyanya dan suaranya kini lebih ramah, tidak seperti suara orang terhadap musuh yang ditawan, melainkan suara orang terhadap teman seperjalanan, bahkan teman senasib.

Setelah mengalami ancaman badai seperti yang telah terjadi semalam, orang-orang yang bersama-sama mengalaminya terdorong untuk menjadi lebih erat dan akrab.

Mendengar pertanyaan itu, si bajak laut agaknya baru sadar dan diapun memandang kekanan kiri sambil berkata.

"Aih, kita sudah terseret jauh ketimur oleh badai semalam, nona. Dan kita harus berhati-hati daerah ini agaknya telah dekat dengan"

Bajak laut itu berhenti bicara dan mukanya berobah pucat sekali ketika tiba-tiba terdengar suara bising yang gemeresak disertai suara melengking dan mengiang seperti suara suling yang ditiup secara aneh sekali, makin lama makin nyaring.

Sikip bajak laut itu menjadi semakin aneh.

Tubuhnya menggigil dan matanya beringas, memandang kekanan kiri dengan sikap yang amat ketakutan.

Melihat ini, tentu saja dua orang dara itu menjadi terkejut dan khawatir juga.

"Paman, ada apakah?"

Pek Lian bertanya.

"Nona cepat cepat belokkan arah pe rahu! Itulah yang kumaksudkan yang kutakuti suara itu"

"Ah, daerah ini termasuk daerah Siluman Lautan! Itu adalah suara pintu masuk sarang mereka. Pusaran Maut! Dalam jarak selemparan batu, tidak ada benda atau mahluk yang mampu terlepas dari daya sedotnya. Mari kita menghindar cepat, nona!"

Tentu saja Pek Lian tidaklah setakut orang itu.

Bukan hanya karena ia lebih tabah dan sudah terlalu sering menghadapi ancaman bahaya dengan mata terbuka, akan tetapi juga karena ia belum mengenal tempat ini dan karenanya ia tidak begitu percaya akan keterangan orang itu.

Akan tetapi tiba-tiba ia dan Bwee Hong melihat dikejauhan ada kabut tebal membubung tinggi berbentuk tiang layar yang luar biasa besarnya dan mengeluarkan suara gemuruh.

Dua orang dara itu menjadi terkejut dan gentar juga, mulai percaya akan keterangan bajak laut itu.

Jangan-jangan keterangan itu tidak bohong!

Mereka lalu cepat-cepat membantu untuk memutar haluan perahu mereka.

Bajak laut itu berhasil memperbaiki perahu dan memasang tiang layar darurat, lalu mereka memasang layar sedapatnya.

Layar itu tertiup angin dan perahupun meluncur menjauhi tempat yang berbahaya itu sampai akhirnya kabut itu tidak nampak lagi dan suara gemuruhpun tidak lagi terdengar oleh mereka.

Perahu mereka meluncur kearah utara ketika mereka menghindarkan diri dari kabut mengerikan tadi dan tiba-tiba dari jauh nampak sebuah perahu besar yang berlayar menuju keselatan.

Karena perahu itu masih terlampau jauh untuk dapat dilihat dari atas geladak, bajak laut itu lalu memanjat tiang layar dan melindungi kedua mata dari sinar matahari untuk mempelajari keadaan perahu dari jauh itu.

"Itu perahu asing dan membawa banyak perajurit asing!"

Akhirnya dia berkata kepada dua orang pendekar wanita yang berada diatas geladak.

"Ah, apakah mereka itu pasukan Jepang, jagoan-jagoan samurai?"

Tanya Pek Lian yang teringat akan pengalamannya bertemu dengan perahu Jepang.

"Bukan, nona. Kalau tidak salah mereka itu tentulah orang-orang dari daerah utara, jauh diluar tembok besar. Lebih baik kita menghindar saja, jangan sampai bertemu dengan mereka yang sebentar lagi tentu akan berpapasan dengan perahu kita."

Akan tetapi, agaknya para penumpang perahu besar itu sudah melihat mereka dan memang benar, perahu dari depan itu memotong jalan!

Dan kini nampak ada beberapa orang yang berada dipuncak tiang layar mengamati perahu kecil yang ditumpangi Pek Lian dan Bwee Hong.

Tidak ada kesempatan untuk menghindar lagi dan jelaslah bagi dua orang nona itu bahwa perahu besar dari depan itu memang sengaja memotong jalan perahu kecil mereka!

Dan bajak laut itu sibuk untuk berusaha menghindarkan perahunya ditabrak perahu besar itu.

Pek Lian dan Bwee Hong sudah siap dengan pedang ditangan, berdiri digeladak perahu kecil dan memandang marah.

Tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan dari perahu besar dan muncullah beberapa orang yang segera meluncurkan anak panah kearah perahu kecil.

"Keparat! Mereka menyerang dengan anak panah!"

Teriak Pek Lian dan bersama Bwee Hong ia segera memutar pedang untuk meruntuhkan semua anak panah yang menyambar.

Akan tetapi, sungguh kasihan sekali nasib bajak laut itu.

Sebatang anak panah menembus dadanya.

Dia berteriak keras dan tubuhnya terjungkal keluar dari perahu, tercebur kedalam lautan.

"Manusia-manusia jahanam!"

Bwee Hong juga memaki marah.

Kini perahu kecil itu sudah dekat sekali dan nampak orang-orang tinggi besar yang menuding-nuding kearah mereka, wajah mereka menyeringai dan pandang mata mereka kurang ajar.

Terdengar pula teriakan-teriakan mereka untuk menawan dua orang nona cantik itu hidup-hidup!

Bahkan dua orang diantara mereka dengan tidak sabar telah meloncat turun keperahu kecil.

Tubuh mereka yang besar dan loncatan mereka yang kasar membuat perahu kecil hampir terguling, akan tetapi dua batang pedang berkelebat dan tubuh kedua orang kasar itu sudah terguling kedalam lautan dengan mandi darah.

Pek Lian dan Bwee Hong sudah menjadi marah sekali karena mereka tadi diserang anak panah yang mengakibatkan bajak laut itu tewas.

Karena mereka maklum bahwa perahu kecil mereka bukan merupakan tempat yang tepat untuk berkelahi, Pek Lian berseru.

"Enci Hong, kita naik dan serbu!"

Dua orang dara perkasa itu lalu meloncat keatas perahu besar dan kembali, seperti pernah mereka lakukan diperahu orang-orang Jepang, mereka mengamuk.

Mereka segera dikeroyok oleh belasan orang perajurit asing yang merasa terkejut karena sama sekali tidak mengira bahwa dua orang wanita penumpang perahu kecil itu selain cantik jelita, juga memiliki kepandaian sedemikian hebatnya.

Dan kini Pek Lian dan Bwee Hong sudah marah sekali.

Pedang mereka berkelebatan dahsyat dan diantara para pengeroyok sudah ada enam orang yang roboh terluka oleh sambaran pedang mereka.

Tiba-tiba terdengar bentakan halus dan muncullah dua orang laki-laki yang berpakaian preman, tidak seperti para pengeroyok yang berpakaian seragam.

Dua orang ini mempunyai rambut, jenggot dan kumis yang lebat namun berwarna agak keputih-putihan, dan muka mereka merah kekanak-kanakan.

Tubuh mereka tinggi besar akan tetapi mata mereka kecil.

Begitu kedua orang ini membentak, semua pengeroyok mundur dengan sikap hormat dan kini dua orang laki-laki tinggi besar itulah yang menerjang dan menghadapi Pek Lian dan Bwee Hong.

Mereka berdua tidak bersen-jata, akan tetapi dua pasang tangan telanjang itu berani menangkis pedang dan setiap kali tangan mereka bertemu dengan pedang, terdengar suara nyaring dan pedang ditangan kedua orang dara itu terpental seolah-olah bertemu dengan benda-benda keras yang amat kuat!

Tentu saja Pek Lian dan Bwee Hong terkejut dan mereka mengeluarkan semua kepandaian dan mengerahkan semua tenaga mereka.

Dan agaknya mereka berdua itu hanya lebih unggul dalam hal kecepatan saja, akan tetapi kalah tenaga dan semua kecepatan mereka tertumbuk kepada kekebalan dua orang tinggi besar ini!

Bwee Hong dan Pek Lian terdesak hebat dan mereka terpisah.

Pek Lian didesak sampai terpaksa menggunakan kecepatan gerakannya lari kesana-sini dan 'mengelak dari pukulan-pukulan yang amat kuat dari lawannya.

Ia berloncatan dan masuk kelorong-lorong bilik perahu besar itu, terus dikejar dan didesak oleh lawannya.

Ketika gadis ini meloncat lagi untuk menghindar dan hampir menabrak pintu sebuah bilik, tiba-tiba terdengar suara seorang laki-laki menegur dari dalam bilik itu.

"Hei, siapa ribut-ribut diluar itu? Pergi dan jangan ganggu aku! Aku tidak sudi dibujuk lagi!"

Lalu terdengar suara seperti pukulan dan suara orang itu tidak terdengar lagi.

Pek Lian tertegun dan matanya terbelalak, mukanya pucat sekali dan pada saat itu, pukulan lawannya menyambar.

Untung bahwa ia masih sempat membuang diri kebelakang sehingga ia terhuyung dan hampir jatuh, akan tetapi selamat dari pukulan dahsyat yang datang pada saat ia tertegun dan terkejut itu.

Jantungnya masih berdebar kencang, bukan karena ia hampir saja terkena hantaman lawan, melainkan karena suara itu!

Suara itu adalah suara ayahnya!

Tidak salah lagi!

Ia mengenal benar suara ayahnya!

Akan tetapi mana mungkin?

Ayahnya diperahu orang asing ini?

"Wuuuttt...

krakkkk!"

Pedangnya menyambar kearah lawan dan ketika lawan mengelak, ia melanjutkan pedang itu menyambar pintu sehingga pintu bilik itu roboh.

Akan tetapi didalam bilik dari mana tadi terdengar suara ayahnya, tidak nampak seorangpun.

Ia melihat pintu belakang dalam bilik itu telah terbuka lebar.

Karena perhatiannya terpecah, tentu saja Pek Lian menjadi semakin terdesak.

Kembali lawan yang amat tangguh itu menerjang dengan tendangan kakinya yang besar, kuat dan berat.

Pek Lian meloncat kebelakang dan hampir terjatuh oleh tambang yang melintang dibelakangnya.

Ketika ia berdiri lagi, ternyata ia telah berada ditepi perahu!

"Lian-moi, hati-hati!"

Terdengar suara Bwee Hong.

Nona yang memiliki ilmu lebih lihai dari pada Pek Lian inipun terdesak, akan tetapi dengan kecepatan gerakan tubuhnya, Bwee Hong dapat berloncatan dan seperti mempermainkan lawan yang terlalu lamban untuk dapat mengikuti gerak-geriknya.

Betapapun juga, Bwee Hong juga maklum bahwa ia tidak akan mampu mengalahkan raksasa berambut putih itu, maka ketika ia melihat Pek Lian terdesak hebat, ia cepat melompat dekat dan pada saat lawan mereka menerjang lagi, melihat mereka telah tersudut ditepi perahu, Bwee Hong berteriak nyaring dan mendorong tubuh Pek Lian keluar dari dalam perahu itu!

Setelah Pek Lian terjatuh kedalam air diluar perahu, Bwee Hong sendiripun lalu meloncat keluar.

Tubuh mereka diterima oleh air bergelombang dan sebentar saja terseret jauh dari perahu.

Seorang ahli renang sekalipun takkan banyak dapat berdaya kalau melawan gelombang lautan, apa lagi dua orang dara itu yang kepandaian renangnya hanya amat terbatas.

Mereka berusaha untuk melawan gelombang dan untuk tidak sampai berjauhan, akan tetapi ombak menyeret mereka dan membuat mereka saling terpisah sampai jauh dan akhirnya Pek Lian tidak dapat melihat temannya itu lagi.

Karena merasa khawatir, juga lelah dan tidak melihat harapan untuk dapat menyelamatkan diri dari ancaman lautan luas itu, akhirnya Pek Lian tidak sadarkan diri.

Tubuhnya hanyut dan dipermainkan air, dilemparkan tinggi-tinggi lalu dihempaskan kembali, ditelan dan dimuntahkan kembali!

Telah banyak sekali terbukti dengan peristiwa-peristiwa yang aneh dan luar biasa yang mengantar manusia kepada kematiannya atau sebaliknya yang menghindarkan manusia dari pada ancaman maut yang nampaknya sudah tak mungkin dapat dielakkan lagi.

Banyak sekali orang yang tewas dalam keadaan yang tidak tersangka-sangka sama sekali, bahkan dalam keadaan jasmani yang nampaknya segar-bugar dan sehat, banyak pula yang mati secara mendadak oleh kejadian-kejadian yang aneh dalam kecelakaan-kecelakaan maupun bencana-bencana alam.

Akan tetapi sebaliknya, banyak pula orang yang terancam bahaya maut, yang nampaknya sudah tidak mungkin dapat dielakkan lagi, secara aneh pula terhindar dari kematian.

Orang yang menderita sakit yang sudah terlalu parah, dapat saja sembuh secara aneh dan kebetulan, atau orang yang sudah dianggap tidak ada harapan lagi untuk ditolong kemudian ternyata dapat terhindar dari maut hanya karena hal-hal yang "Kebetulan"

Dan sederhana.

Semua ini merupakan sesuatu yang mujijat, yang aneh dan yang diliputi rahasia yang sudah terlalu sering diselidiki orang dan hendak ditembusnya.

Segala hal yang belum dimengerti selalu menimbulkan berbagai pendapat, rekaan, dan dipandang sebagai hal yang mujijat dan aneh.

Padahal, segala sesuatu yang terjadi didalam alam ini adalah WAJAR, dan setiap peristiwa itu tentu ada yang menyebabkannya.

Hidup dan mati merupakan rangkaian yang tak terpisahkan, merupakan suatu pertumbuhan yang wajar.

Kerusakan jasmani karena usia tua yang berakhir dengan kematian adalah lumrah dan dapat dimengerti dengan adanya kemajuan dalam ilmu tentang itu.

Akan tetapi, karena manusia selalu dikuasai oleh pikiran yang menciptakan "Aku,"

Maka si aku inilah yang mencari-cari kemana dia akan pergi setelah jasmaninya berhenti hidup, setelah tubuhnya mati. Dan bayangan bahwa "Aku"

Akan hilang begitu saja membuatnya merasa ngeri dan takut.

Kalau memang sudah tiba saatnya sang maut datang menjemputnya, walaupun kita bersembunyi didalam lubang semut, tetap saja nyawa kita akan direnggut.

Sebaliknya kalau memang belum tiba saatnya mati, ada saja yang menjadi penolong diri.

Karena ketidak-pengertian tentang rahasia saat kematian, kita lalu dengan mudah saja memakai istilah nasib dan takdir!

Padahal, setiap peristiwa, juga kematian, tentu terjadi karena suatu sebab tertentu.

Dan sebab-sebab itu terkumpul karena ulah kita sendiri.

Oleh karena itu, dari pada mencari-cari akal untuk mengungkapkan rahasia yang tidak mungkin dipecahkan selama kita masih hidup ini, lebih bermanfaat kalau kita selagi hidup menjaga diri, mengurangi hal-hal yang dapat menjadi bertambah banyaknya sebab-sebab yang dapat mengakibatkan kematian.

Menurut perhitungan dan pendapat umum, orang yang dihanyutkan ombak ditengah lautan seperti yang dialami oleh Pek Lian, tentu dianggap sudah tidak ada harapan lagi untuk selamat.

namun, ternyata Pek Lian belum mati!

Ketika dara perkasa ini siuman dan membuka matanya, ia mendapatkan dirinya sudah berada diatas perahu.

seorang nelayan tua dengan caping lebar, nampak sedang mendayung perahunya perlahan-lahan.

Pek Lian masih rebah akan tetapi matanya sudah bergerak-gerak memandang kesana-sini, alisnya berkerut ketika ia mengumpulkan ingatannya.

"Ah, untung nona kuat sekali sehingga laut tidak mampu mengalahkamnu,"

Kakek nelayan itu berkata mengangguk-angguk, kagum melihat betapa wanita muda yang ditemukannya hanyut oleh ombak dalam keadaan pingsan itu ternyata hanya menelan sedikit saja air dan kini bahkan sudah siuman kembali.

Kini Pek Lian sudah teringat sepenuhnya dan tiba-tiba ia bangkit duduk dan memandang kekanan kiri, mencari-cari.

"Lopek telah menyela-matkan aku dari lautan?"

Nelayan tua itu mengangguk.

"Nona hanyut dalam keadaan pingsan. Tadinya dari jauh kusangka seekor ikan mati. Ketika melihat pakaianmu, aku cepat mendekat dan untung saja engkau tidak dihanyutkan menjauh dan dapat kuraih dan kutarik kedalam perahu."

"Ah, terimakasih atas budi pertolonganmu, lopek. Akan tetapi apakah lopek tidak melihat sahabatku?"

"Sahabatmu? Siapakah yang nona maksudkan?"

"Sahabatku, seorang gadis juga. Kami berdua terjatuh dari atas perahu! Apakah lopek tidak melihatnya?"

Nelayan tua itu menggeleng kepalanya dan mukanya membayangkan rasa duka.

"Hanyut oleh gelombang seperti itu, nona, sukarlah bagi seorang manusia untuk dapat menyelamatkan diri. Nona memiliki tubuh dan semangat yang kuat dan kebetulan sekali bertemu denganku, akan tetapi sahabatmu itu ah, agaknya sukar untuk dapat diharapkan"

Pek Lian menutupi mukanya dengan kedua tangan.

Matikah Bwee Hong?

Ia merasa berduka sekali.

Mencoba untuk menolong A-hai dan Seng Kun juga belum berhasil, kini malah kehilangan Bwee Hong!

Betapa buruk nasib gadis cantik jelita itu.

Tak terasa lagi, dari celah-celah jari tangannya nampak air mata menetes-netes.

Pek Lian adalah seorang dara yang sudah banyak digembleng oleh kekerasan hidup dan sudah mengalami banyak hal yang menyedihkan, akan tetapi mengingat dan membayangkan betapa Bwee Hong tewas dicabik-cabik ikan hiu, ia tidak dapat menahan tangisnya lagi.

Nelayan tua itu merasa kasihan.

"Nona. mari kau ikut bersamaku kedaratan un. tuk memulihkan kesehatanmu. Siapa tahu, secara aneh pula sahabatmu itu juga dapat diselamatkan. Kekuasaan Thian berada dimanapun juga, nona, dan lautan inipun hanya sebagian kecil saja dari pada kekuasaan Thian. Kalau Thian menghendaki, mungkin saja sahabatmu itu masih hidup dan selamat."

Ucapan seorang yang percaya penuh akan kekuasaan Tuhan, ucapan sederhana namun dapat menyegarkan perasaan Pek Lian, dapat menumbuhkan tunas harapan dihatinya, dan sekaligus menyadarkannya bahwa berduka saja tidak ada gunanya sama sekali, bahkan hanya akan melemahkan dirinya lahir batin.

Padahal, tugasnya masih banyak, masih bertumpuk.

Bukan hanya mencoba untuk menolong Seng Kun dan A-hai, akan tetapi juga terutama sekali mencari ayahnya!

Dan iapun teringat akan suara didalam perahu asing itu.

Suara ayahnya!

Maka iapun mengangguk dan menurut saja ketika diajak kembali kedaratan oleh si nelayan tua.

Yang dimaksudkan daratan oleh nelayan tua itu ternyata bukanlah daratan besar, melainkan sebuah pulau kecil yang dihuni oleh belasan orang keluarga saja, keluarga nelayan.

Akan tetapi, ditempat sunyi sederhana dan miskin ini nampak pula kenyataan hidup bahwa kemiskinan lahiriah kadang-kadang menonjolkan kekayaan batiniah, sebaliknya kekayaan lahiriah kadang-kadang mendatangkan kemiskinan batiniah.

Hal ini dapat dibuktikan dengan melihat sikap dan cara hidup orang-orang kota besar dan orang-orang didusun-dusun terpencil.

Orang-orang kota sudah terbiasa hidup mewah, hidup bersaing dan memperebutkan kekayaan, bersaing dan bermusuhan, iri hati dan ketamakan, membuat mereka hidup menyendiri dan tidak mengacuhkan orang lain.

Sebaliknya, kehidupan didusun-dusun terpencil, dimana orang-orang-hidup sederhana membuat mereka juga berbatin sederhana, Tidak dijejali oleh banyak keinginan sehingga rasa persaudaraan dan kegotong-royongan menjadi tebal, lebih akrab dalam membagi suka dan duka diantara sesama manusia.

Pek Lian merasakan benar hal ini ketika para nelayan miskin dipulau itu menyambutnya dengan gembira, dan ikut merasa bersyukur mendengar betapa gadis yang telah hanyut dipermainkan gelombang lautan ini masih dapat tertolong dan selamat.

Dalam keadaan sederhana dan seadanya itu mereka lalu menyambut Pek Lian dengan perjamuan yang meriah, walaupun hidangan yang diberikan kepada gadis itu amatlah sederhana, terdiri dari masakan-masakan ikan laut belaka.

Para penghuni pulau itu bukan hanya gembira karena kedatangan seorang nona tamu, melainkan terutama sekali melihat kembalinya kakek nelayan yang dianggap sebagai orang tertua dipulau itu dan disuka oleh semua anggauta keluarga nelayan.

Pada waktu itu, para nelayan tidak ada yang berani keluar mencari ikan karena mereka tahu bahwa banyak bajak laut berkeliaran berhubung dengan pesta besar yang diadakan tiap tiga tahun sekali oleh apa yang mereka kenal sebagai Istana Laut.

Akan tetapi, kakek nelayan itu berlayar seorang diri dan sudah tiga hari belum pulang, membuat mereka merasa khawatir sekali dan untuk menyusul dan mencari, mereka tidak berani.

Kini, kakek itu pulang dalam keadaan selamat, bahkan telah menyelamatkan seorang gadis cantik yang hanyut dalam gelombang lautan.

Pek Lian mendengarkan mereka bercakap-cakap dan diam-diam ia mengambil keputusan untuk mengunjungi Istana Laut itu.

Ia tidak dapat mencari keterangan tentang nasib Bwee Hong, akan tetapi kedukaan ini tidak menghentikan niatnya untuk mencoba menolong A-hai dan Seng Kun yang ia duga tentu oleh kedua orang Sam-ok dibawa ke Istana Laut dimana tinggal Rajawali Lautan sebagai pucuk pimpinan para bajak.

Karena maklum bahwa gadis itu baru saja lolos dari cengkeraman maut dan tubuhnya masih lemah, para nelayan tidak terlalu lama membiarkannya bergadang dan nona itu memperoleh sebuah kamar dalam rumah sederhana kakek nelayan.

Ia dipersilahkan tidur.

Akan tetapi, Pek Lian tidak dapat tidur pulas.

Ia rebah dipembaringannya dengan gelisah, pikirannya kacau karena ia teringat kepada ayahnya yang tak diketahui dimana adanya dan yang amat membingungkan hatinya adalah ketika ia teringat suara ayahnya diatas perahu asing itu.

Selain teringat ayahnya, juga teringat kepada A-hai dan Seng Kun yang juga menjadi tawanan penjahat, dan Bwee Hong yang membuatnya amat berduka karena menduga bahwa sahabatnya itu tentu telah tewas, tenggelam atau dimakan ikan.

Hatinya yang gelisah dan berduka membuat Pek Lian tidak dapat memejamkan matanya, makin keras ia berusaha untuk tidur, makin sulitlah.

Akhirnya iapun bangkit dari pembaringan, turun dan keluar dari dalam kamar yang sederhana itu, terus keluar dari pondok kecil menuju kepantai laut yang mengelilingi pulau kecil itu.

Bulan muda yang muncul menerangi pulau dan mendatangkan cahaya remang-remang yang indah.

Ketika ia sedang asyik berjalan-jalan diatas pasir yang lunak basah, tiba-tiba ia terkejut melihat seorang manusia berpakaian serba hitam duduk bersila diatas gundukan pasir.

Sinar bulan yang tidak dihalangi awan itu membuat jubah yang juga hitam warnanya itu mengkilat seperti dilapisi perak.

Seketika Pek Lian merasa kedua kakinya seperti lumpuh, jantungnya berdebar kencang dan semangatnya terbang.

Orang itu adalah Si Raja Kelelawar!

Ingin ia melarikan diri, akan tetapi kedua kakinya mogok.

Apa lagi ketika orang itu menoleh, memandang kepadanya sambil menyeringai, matanya yang bulat tajam dan mengeluarkan sinar yang dingin dan aneh sekali itu seolah-olah mempunyai kekuatan untuk mencengkeram hatinya.

Hampir saja Pek Lian jatuh pingsan saking ngeri dan takutnya.

Belum pernah ia merasa takut dan ngeri seperti pada saat itu.

Sebetulnya, dara perkasa ini tidak takut mati.

Akan tetapi, tokoh yang menjadi Raja di Raja sekalian kaum sesat ini sungguh membuat ia merasa ngeri.

"Ke sinilah engkau, heh budak kecil!"

Terdengar suara orang berpakaian hitam itu, suaranya berdesah seperti desir angin laut, dingin dan menerbangkan butiran pasir lembut.

Hati Pek Lian menjadi semakin gentar.

Kekerasan hatinya bermaksud untuk membangkang, namun sungguh aneh.

Diluar kehendaknya, kedua kakinya bergerak dan iapun mendekat, menghampiri iblis itu.

Ia tidak tahu bahwa ini juga merupakan satu diantara Ilmu kesaktian si iblis, yaitu didalam pandang mata dan suaranya terkandung kekuatan khikang yang dapat mempengaruhi semangat orang lain.

"Cepat!!"

Bentakan ini seperti mempunyai daya tarik yang amat kuat sehingga Pek Lian merasa seperti ditarik kedepan atau didorong dari bela-kang, membuat ia meloncat kedepan menghampiri orang itu, dan berdiri berhadapan dengan orang itu, mukanya agak pucat dan jantungnya berdebar penuh rasa ngeri dan takut.

"Kenapa takut? Saat ini aku sedang tidak mempunyai minat terhadap wanita. Aku hanya ingin bertanya kepadamu. Kenapa engkau sampai ditempat ini dan dimana teman-temanmu itu? kemana perginya kakek tua murid Tabib Sakti yang menolongmu itu? Hayo jawab sejujurnya! Kalau tidak kau jawab, akan kutelanjangi kau disini dan kukubur hidup-hidup dipasir ini!"

Pek Lian mengerahkan tenaga batinnya untuk menenangkan perasaan hatinya, namun iblis itu memiliki wibawa yang sedemikian kuatnya sehingga ia tetap saja merasa betapa tubuhnya gemetar dicekam rasa ngeri dan takut.

Ia tahu bahwa iblis ini dapat melakukan hal-hal yang tidak lumrah dan yang kejam karena pembawaannya yang tidak seperti manusia biasa, seperti pembawaan yang dimiliki oleh orang gila.

Ketika ia menjawab, suaranya juga tergagap-gagap dan Pek Lian dapat mendengar sendiri betapa suaranya gemetar ketakutan.

"Saya... aku... aku ingin mencari kawan-kawanku. Mereka dibawa oleh Si Buaya Sakti dan Harimau Gunung ketempat Si Rajawali Lautan. Tentang kakek yang membantuku dahulu itu... aku tidak tahu kemana perginya. Dia bersama ketua muda Lembah Yang-ce itu telah pergi berpisah dengan kami..."

"Hemm, sungguh berani engkau, pergi sendirian ketempat Rajawali Lautan Timur! Tapi aku senang melihat seorang gadis muda yang berani sepertimu ini. Tidak percuma ayahmu mempunyai anak seperti engkau. Eh, bagaimana dengan ayahmu? Bukankah engkau sedang mencarinya? Sudah dapat kau temukan?"

Pek Lian tertegun.

Sungguh iblis yang luar biasa, yang agaknya mengetahui segala-galanya!

Hatinya menjadi semakin gelisah.

Jangan-jangan ayahnya terjatuh ketangan iblis ini?

Begitu membayangkan bahwa ayahnya terjatuh ketangan iblis ini, sungguh aneh, semua rasa takut lenyap dari hatinya dan ia mulai dapat memandang iblis itu dengan berani, dan tubuhnya tidak lagi gemetar.

Demi ayahnya, ia sanggup menghadapi dan menentang apapun juga, kalau perlu iblis inipun akan ditentangnya mati-matian.

Ia sudah mengepal tinjunya.

Akan tetapi iblis itu seakan-akan dapat membaca pikirannya.

"Jangan mengira yang bukan-bukan. Tidak ada persoalan antara ayahmu dan aku. Aku belum pernah bertemu dengan dia, hanya baru mendengar namanya saja. Nah, pergilah! Pakailah perahuku untuk melanjutkan usahamu, aku sendiri akan berjalan kaki saja!"

Iblis itu lalu bangkit dari duduknya.

Badannya jangkung besar dan begitu kedua kakinya bergerak, tubuhnya berkelebat seperti terbang saja.

Tubuh itu meluncur kearah laut tanpa menengok lagi.

Pek Lian memandang dengan bengong dan matanya terbelalak ketika ia melihat betapa iblis itu terus berlari kearah laut dan ketika telah mencapai air laut, iblis itu masih terus berlari-lari diatas air laut, menempuh gelombang!

dibawah kedua sepatunya terdapat sepotong bambu kurang lebih semeter panjangnya.

Kini iblis itu mengembangkan kedua lengannya dan jubah panjangnya menjadi seperti layar terkembang, menggembung dan tubuhnya didorong oleh angin, meluncur secepat perahu membalap menuju ketengah lautan!

Pek Lian baru menarik napas panjang setelah bayangan hitam itu lenyap.

Ia menggosok mata dengan ujung lengan bajunya, merasa seperti bangun dari mimpi buruk.

Matanya dikejap-kejap-kan, akan tetapi bayangan hitam itu telah lenyap.

Sunyi sekali disitu.

Hanya nampak sebuah perahu kecil tergolek diatas pasir, tidak jauh dari situ dan ini menjadi bukti bahwa ia tidak mimpi, bahwa memang benar ia telah bertemu dengan Raja Kelelawar dan bahwa iblis itu telah meninggalkan perahunya, bahkan memberikan kepadanya.

Pek Lian menghampiri perahu itu dan memeriksanya.

Sebuah perahu kecil yang baik sekali, buatannya kuat dan bentuknya memungkinkan perahu itu dapat meluncur cepat.

Juga perahu kecil ini diperlengkapi dengan dayung, layar dan juga jangkar.

Hatinya menjadi girang sekali.

Ia tidak tahu mengapa sikap Raja Kelelawar terhadap dirinya menjadi begitu baik, bukan saja tidak mengganggunya, bahkan meninggalkan dan memberikan sebuah perahu yang baik kepadanya dan menganjurkannya untuk mencari ayahnya.

Dan ia akan mencari ayahnya besok!

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali ia meninggalkan pulau para nelayan itu setelah mengu-capkan banyak terimakasih kepada nelayan tua yang telah menyelamatkannya.

Ia menolak ketika para nelayan yang hidup sederhana dan berwatak jujur itu hendak mengantarnya.

Ia bertekad untuk mencari sendiri ayahnya.

Setelah perahunya meninggalkan pulau itu, ia memasang layar dan mengenangkan semua yang telah dialaminya.

Ia masih bingung mengenangkan suara ayahnya yang didengarnya didalam perahu para perajurit asing.

Benarkah ayahnya berada didalam perahu itu?

Kalau benar demikian, tentu amat sukar ba ginya untuk menyelamatkan ayahnya.

Raksasa-raksasa berambut putih yang berada diatas perahu itu sungguh lihai bukan main.

Selain itu, iapun tidak tahu kemana ia akan dapat menyusul perahu besar yang disangkanya membawa ayahnya itu.

Juga ia merasa curiga kepada Si Raja Kelelawar.

Iblis ini menyebut-nyebut ayahnya.

Apakah hubungannya?

Jangan-jangan iblis yang luar biasa lihainya dan mungkin saja melakukan segala macam perbuatan yang aneh-aneh itu benar-benar telah menguasai ayahnya atau setidaknya tahu dimana ayalmya berada.

Wah, kalau benar demikian dan ia harus berhadapan dengan iblis itu, makin kecil kemungkinannya untuk dapat menyelamatkan ayahnya.

Mengingat akan semua kesukaran ini, Pek Lian termenung dan semangatnya menurun.

Hampir ia menangis karena ia tidak tahu kemana ia harus pergi, kemana ia harus mencari dan disekelilingnya hanya nampak air kebiruan yang demikian luasnya.

Akan tetapi dara pendekar ini mengepal tinjunya dan mengeraskan hatinya.

Tidak, ia tidak boleh menangis!

Ia tidak boleh patah semangat!

Ia harus berbakti kepada ayahnya.

Sampai mati sekalipun ia tak boleh undur selangkah, harus melanjutkan usahanya mencari dan menyelamatkan ayahnya.

Akan tetapi, karena ia tidak tahu kemana harus menuju, perahu layarnya itu meluncur kedepan, kearah matahari terbit tanpa tujuan tertentu.

kadang-kadang ia membelok keutara dan mencari-cari, namun sehari penuh ia tidak pernah melihat adanya perahu besar yang diperkirakan membawa ayahnya sebagai tawanan itu.

Yang dijumpainya hanya perahu-perahu nelayan, itu pun jarang sekali.

Akhirnya, matahari condong ke barat dan malam menjelang tiba.

Untung bagi Pek Lian malam itu bulan purnama.

Ia tidak perlu menyalakan lampu perahunya.

Lebih aman tidak menggunakan lampu agar tidak mudah nampak oleh perahu lain.

Tiba-tiba ia melihat titik-titik terang dikejauhan.

Hampir ia bersorak.

Biarpun titik-titik terang itu sama sekali tidak menjamin bahwa ia akan menemukan apa yang dicarinya, akan tetapi setidaknya ada harapan dan perahunya mempunyai tujuan.

Iapun mengemudikan perahunya yang didorong angin itu menuju kecahaya api didepan itu.

Lampu itu kelihatan dekat saja, akan tetapi setelah ditempuh, ternyata bukan main jauhnya.

Sampai hampir setengah malam, baru ia dapat mendekat dan kini nampak bahwa banyak sekali lampu bernyala memenuhi sebuah pulau kecil.

Akan tetapi ketika perahu makin mendekat, ribuan lampu itu makin berkurang, lenyap dan yang nampak hanya tinggal sebuah lampu yang tinggi dan terang, yang terdapat ditengah-tengah pulau.

Tadinya Pek Lian merasa heran.

Akan tetapi setelah perahunya dekat dengan pulau itu, mengertilah ia mengapa lampu-lampu itu lenyap.

Kiranya pulau itu tepinya tidak landai, melainkan merupakan tebing yang curam seperti dinding tembok yang amat tinggi.

Tentu saja ketika perahunya masih jauh dari pulau itu, ia dapat melihat semua lampu yang berada diatas pulau, akan tetapi setelah dekat, lampu-lampu itu terhalang oleh tebing yang tinggi, kecuali sebuah lampu besar yang agaknya berada ditempat paling tinggi ditengah pulau itu.

Melihat pulau yang tebingnya tinggi itu, Pek Lian menjadi bingung.

Bagaimana mungkin mendarat dan memasuki pulau?

Tebing itu amat curam, sedikitnya ada lima puluh meter tingginya.

Hanya burung bersayap sajalah yang kiranya akan dapat mendarat ke pulau itu.

Pek Lian mengelilingi pulau dengan perahunya, menggulung layar dan mendayung dengan perlahan, mencari-cari jalan masuk atau tempat mendarat yang tepat, atau hendak melihat dimana para penghuni pulau mendaratkan perahu mereka.

Terdengar suara orang-orang bersorak-sorai dipulau itu, terdengar dari atas dalangnya suara sorakan.

Agaknya para penghuni pulau itu sedang berpesta-pora atau bersuka ria.

Ketika perahu Pek Lian tiba dibagian timur pulau dan dara ini sedang mencari-cari tempat pendaratan, tiba-tiba ia melihat berkelap-kelipnya banyak lampu yang datang dari arah laut menuju ke pulau itu.

Ia cepat mendayung perahunya, bersembunyi dibalik batu karang menonjol dan mengintai.

Beberapa buah perahu datang mendekati pulau.

Karena tidak mengenal tempat apa adanya pulau ini dan siapa pula orang-orang dalam perahu itu, Pek Lian merasa lebih aman kalau menyembunyikan diri lebih dulu.

Kiranya perahu-perahu itupun dihias dengan meriah, digantungi lampu teng warna-warni, suasana pesta nampak diperahu-perahu itu.

Pek Lian mengintai dengan penuh perhatian dan karena perahu-perahu itu mempunyai banyak lampu yang cukup terang, maka dia dapat melihat kesibukan-kesibukan disitu.

Diatas perahu paling depan nampak berdiri seorang laki-laki bertubuh kurus dengan kumis tikus, pakaiannya mewah seperti seorang pembesar kerajaan saja.

Terdengar orang meniup terompet tanduk dan perahu-perahu itu merapat ketebing.

Ketika Pek Lian memandang kearah tempat itu, nampaklah olehnya sebuah lubang besar ditebing itu, persis diatas permukaan laut, seperti mulut raksasa.

Didalam lubang itu berserakan batu-batu besar kecil dan disela-selanya mengalir air bening kelaut.

Itu adalah sebuah muara sungai bawah tanah yang menembus ketebing itu dan ternyata muara inilah yang agaknya menjadi pintu menuju ke pulau!

Satu-satunya pintu yang aneh sekali.

Para penghuni perahu berlompatan memasuki lubang.

Diam-diam Pek Lian mendayung perahunya sambil bersembunyi dibalik batu karang dan kini ia memandang penuh perhatian.

Setelah dekat, baru ia melihat bahwa dimulut lubang terowongan itu terdapat ukiran huruf-huruf ditebing yang licin mengkilap.

Jantung gadis itu berdebar tegang ketika ia membaca tulisan huruf-huruf besar itu.

Hai Ong Kong Hu (Istana Raja Lautan)!

Kiranya disinilah tempat tinggal Si Rajawali Lautan Timur, datuk atau Raja para bajak itu!

Akan tetapi mengapa tidak ada penjagaan sama sekali?

Apakah semua sedang berpesta-pora dipulau itu seperti yang dapat didengarnya dari luar pulau?

Pek Lian menanti sampai semua orang dalam perahu-perahu itu memasuki lubang dan mereka meninggalkan perahu-perahu mereka yang melepas jangkar didekat tebing.

Perahu-perahu itu bergoyang-goyang akan tetapi tidak sampai membentur tebing, tertahan oleh tali-tali kuat yang dihubungkan dengan jangkar yang dilepas didasar laut.

Setelah merasa yakin bahwa tidak ada lagi orang yang akan dapat melihatnya, Pek Lian lalu menambatkan perahunya pada batu karang dipinggir tebing yang terlindung, kemudian berindap-indap dia berloncatan dari batu karang lain menghampiri lubang.

Dengan hati-hati iapun memasuki terowongan itu.

Dengan penuh kewaspadaan, ia berloncatan keatas batu-batu dan ternyata terowongan itu berbelok-belok mendaki.

Ia terus mengikuti terowongan itu dan akhirnya sampailah ia kemulut terowongan diatas pulau.

Terowongan itu tiba ditepi sebuah telaga kecil dan agaknya terowongan itu merupakan jalan air untuk pembu-angan air dari telaga.

Dengan berindap-indap, Pek Lian mengintai keluar dari lubang yang merupakan mulut terowoagan itu.

Ia melihat bahwa dimulut terowongan itu terdapat sepuluh lebih penjaga.

Akan tetapi, seperti semua orang yang berada dipulau itu, para penjaga inipun asyik bersorak-sorak dan menonton perlumbaan yang diadakan diatas telaga, menjagoi sampan yang dikemudikan oleh kawan-kawan mereka.

Ternyata diatas telaga itu diadakan perlumbaan perahu sampan yang luar biasa ramainya.

Semua orang menonton, ditepi telaga penuh orang dan yang berada dibelakang mencari tempat yang agak tinggi untuk dapat menyaksikan perlumbaan perahu itu.

Para penjaga ini yang berada dimulut terowongan, mendapatkan tempat yang tinggi sehingga mereka dapat menyaksikan perlumbaan itu dengan jelas, walaupun dari tempat yang agak jauh.

Agaknya seluruh penghuni pulau itu dan juga semua penjaga dan para tamu, berkumpul ditepi telaga itu.

Karena keadaan yang berjejal-jejal ini, laki-laki dan wanita, walaupun jauh lebih banyak prianya ketimbang wanitanya, maka kehadiran Pek Lian tidak begitu menarik perhatian.

Apa lagi waktu itu masih malam dan mulut terowongan itu masih gelap, demikian pula tempat dimana semua orang menonton itu.

Hanya ditepi telaga terdapat penerangan yang beraneka warna, dan juga pada sampan-sampan yang melakukan perlumbaan itu terdapat lampu-lampu yang mengenakan kap dengan warna dan tulisan tertentu sehingga mereka itu dapat dikenal dari jauh oleh teman-teman mereka yang menjagoi mereka.

Pertempuran adu kepandaian antara tiga orang Raja lautan yang diadakan tiap tiga tahun sekali, selalu diawali dengan tontonan yang amat menarik ini, yaitu lumba perahu.

Perlumbaan ini diikuti oleh semua perkumpulan bajak laut yang tergabung dibawah bendera tokoh yang dianggap sebagai Raja Lautan dan yang berhak mendiami Istana Raja Lautan selama tiga tahun.

Pada saat itu, yang menjadi Raja Lautan adalah Rajawali Lautan Timur.

Perkumpulan-perkumpulan ini adalah anak-buah Lain-siauw-ong si Raja Muda Selatan, kemudian Petani Lautan, dan beberapa perkumpulan kecil lainnya.

Akan tetapi tentu saja hanya para anak-buah tiga perkumpulan dibawah tiga orang datuk itu saja yang termasuk golongan kuat, yaitu anak-buah Rajawali Lautan Timur, Raja Muda selatan, dan Petani Lautan.

Tiga orang ini sejak bertahun-tahun telah menjadi saingan-saingan yang paling keras, sedangkan para pimpinan perkumpulan-perkumpulan kecil lainnya boleh dibilang tidak masuk hitungan.

Mereka yang kecil ini boleh dibilang hanya bertugas meramaikan pesta pertemuan itu saja, walaupun mereka juga berhak untuk mengikuti perlumbaan, bahkan mencoba kepandaian mereka untuk dapat terpilih sebagai Raja Lautan yang baru!

Perahu-perahu yang ikut dalam perlumbaan itu adalah sampan-sampan kecil yang bentuknya runcing, ditumpangi tiga orang.

Selain ada lampu warna-warni, juga setiap perahu dihias dan dicat, diberi bendera dari perkumpulan masing-masing yang berkibar dikepala perahu.

Namanya saja perlumbaan dan perahu-perahu itu menang berlumba cepat mencapai garis yang telah ditentukan dimana dipasang tambang dengan pita berkem-bang.

Siapa yang lebih dulu melewati tambang inilah yang dianggap juara.

Namanya saja perlumbaan adu cepat, akan tetapi karena yang melakukan perlumbaan adalah para bajak perompak, maka perlombaan itupun bersifat keras, sesuai dengan watak mereka masing-masing.

Perlumbaan itu tanpa memakai peraturan, pendeknya siapa mencapai dan melewati tambang sebagai garis terakhir, dialah yang menang.

Tidak ada larangan apapun dalam perlumbaan ini.

Karena tidak ada aturan ini, dan tidak ada larangan sama sekali, maka merekapun berusaha untuk mencapai kemenangan dengan segala macam cara mereka sendiri.

Terjadilah pukul-memukul dan usaha menenggelamkan perahu lawan!

Saling sodok, saling kemplang dengan dayung.

Pendeknya, mereka itu saling menghalangi lawan agar jangan sampai mencapai garis finish dan tentu saja usaha ini dilakukan dengan kekerasan, maka terjadilah perkelahian sengit diantara mereka sebelum ada yang berhasil mencapai garis kemenangan.

Hanya ada batasnya dan hal ini sudah diumumkan sebelumnya, yaitu bahwa mereka, sesuai pula dengan kedudukan mereka sebagai bajak-bajak laut, mereka tidak diperbolehkan menggunakan alat senjata lain kecuali dayung dan mereka juga tidak boleh meninggalkan perahu masing-masing.

Tentu saja pertempuran yang kacau-balau dan acak-acakan itu amat ramainya.

Banyak sudah diantara para anggauta bajak yang terlempar keluar dari perahunya, tercebur kedalam air telaga dengan kepala benjol atau bocor terkena hantaman dayung lawan.

Akan tetapi mereka adalah orang-orang kasar yang sudah biasa dengan kekerasan sehingga mereka tidak menjadi marah, bahkan tertawa-tawa dalam suasana pesta dan mereka itu rata-rata adalah perenang-perenang yang pandai maka masing-masing dapat menyelamatkan dirinya sendiri.

Ada pula perahu yang sempat digulingkan lawan, dan tentu saja tiga orang penumpangnya.

Terguling semua dan tercebur kedalam air, berenang kesana-sini berusaha membalikkan perahu sendiri atau kalau tidak berhasil, merekapun lalu menggulingkan perahu lawan mana yang terdekat.

Suasana menjadi ramai, hiruk-pikuk dan lucu.

Para penonton bersorak-sorai gembira.

Akan tetapi kegembiraan yang kasar, dan tidak jarang terjadi perkelahian sendiri diantara penonton, Bukan perkelahian antara musuh melainkan perkelahian sesama rekan, menggunakan tangan kosong dan sudah puas kalau lawan terpelanting, tidak ada yang bermaksud membunuh rekan.

Taruhanpun terjadilah dan para petaruh ini yang bersorak-sorak kalau melihat perahu yang mereka jagoi itu dapat maju melampaui lainnya.

Pek Lian menengok kesana-sini, mencari-cari dengan penuh perhatian.

Ia tidak melihat adanya orang-orang berperahu yang dilihatnya berloncatan memasuki terowongan mendahuluinya tadi.

Dan iapun tidak dapat menduga dimana adanya Bu Seng Kun atau juga A-hai kalau memang mereka berdua itu dibawa ketempat ini oleh para penawan mereka.

Pek Lian sendiri sampai menjadi bingung memikirkan nasibnya.

Mula-mula ia bersama Bu Seng Kun dan Bu Bwee Hong mencari ayahnya.

Ayahnya belum bisa didapatkan, Bu Seng Kun dan juga A-hai malah lenyap ditawan orang.

Dan akhirnya, mencari ayahnya dan dua orang pemuda itu belum berhasil, ia sudah harus berpisah lagi dengan Bwee Hong yang tidak diketahui bagaimana nasibnya itu.

Perlumbaan perahu itu terbagi menjadi dua golongan.

Golongan pertama adalah para anggauta bajak tingkat rendah yang tadi telah diperlihatkan kenekatan masing-masing.

Adapun golongan kedua yang diperlumbakan adalah golongan thouwbak (kepala regu) dari perkumpulan masing-masing yang akan diadakan kemudian.

Sementara itu, kebut-kebutan sambil berkelahi kacau-balau itu masih terus berlangsung dengan ramai dan sengitnya ditengah telaga.

Pek Lian bersembunyi dibelakang setumpuk jerami kering sambil melihat suasana disekeliling tempat itu.

Ia sadar sepenuhnya bahwa ia telah memasuki sarang srigala buas dimana terdapat banyak sekali orang yang memiliki kepandaian tinggi.

Juga ia tahu bahwa orang-orang ditempat, ini berwatak seperti binatang, kejam dan buas.

kalau sampai ia tertangkap, tentu ia akan mengalami nasib yang amat mengerikan.

Akan tetapi ia telah berada disitu, tidak mungkin lagi ia mengundurkan diri karena kini ia melihat betapa mulut terowongan dari mana ia tadi lewat, telah mulai dijaga dan diperhatikan kembali.

Perlumbaan masih terjadi dengan amat ramainya.

Sampan dari anak-buah Si Raja Muda Selatan agaknya seperti memimpin perlumbaan, dikejar oleh sampan pihak tuan rumah, yaitu anak-buah Rajawali Lautan Timur.

Sedangkan kelompok perkumpulan lain mengejar sambil gebug-gebugan.

Dua buah perahu, yang lampunya merah dan hijau, saling tabrak dan perahu merah terguling!

Tiga orang penumpangnya terpelanting, disoraki lawan.

Akan tetapi, tiga orang itu berhasil memegang ujung perahu lawan yang berlampu hijau dan mendorongnya terbalik pula.

Tentu saja tiga orang penumpangnya juga terpelanting dan tercebur.

Dan enam orang itu kini saling pukul menggunakan dayung, berkelahi diair.

Hiruk-pikuk suaranya!

Agaknya, perlumbaan ini belum tentu dapat selesai sampai fajar nanti.

Perahu-perahu yang sudah maju selalu terhalang oleh lawan sehingga segi lumbanya sendiri hanya sedikit sekali, akan tetapi perkelahi-annya yang banyak.

Para penonton makin keranjingan.

Makin banyak darah muncrat, makin banyak orang celaka, makin banyak perahu terguling, makin penuh gairah para penonton, makin gembira hati mereka karena dalam keadaan seperti itu mereka ingin melihat orang menderita sehebat-hebatnya.

Memang demikianlah watak orang.

Suka sekali melihat orang lain menderita, bahkan merasa lucu kalau melihat orang lain menderita dan kesakitan.

Sebaliknya, melihat orang menikmati kesenangan, timbullah iri hati.

Manusia pada umumnya memiliki watak welas asih (belas kasihan), penuh pertimbangan, suka akan keadilan, menentang kelaliman.

Akan tetapi disamping watak-watak yang baik ini, terdapat pula watak yang sadis, yang senang melihat penderitaan orang lain dan merasa iri hati kalau melihat orang lain bersuka ria.

Sifat-sifat yang bertentangan ini disebabkan oleh konflik batin yang ditimbulkan oleh pikiran yang menciptakan si aku yang selalu ingin senang dan selalu mencari dan mengejar kesenangan, atau keadaan lain yang lebih menyenangkan dari pada keadaan sekarang yang telah dirasakan dan dimilikinya.

Watak seseorang dibentuk oleh kebiasaan-kebiasaan.

Dan kebiasaan lahir dari ketidak-waspadaan.

Kebiasaan membuat seseorang menjadi seperti robot, yang bergerak karena kebiasaan itu sendiri, dan kebiasaan dihidupkan oleh keinginan untuk senang.

Kebiasaan ini dapat dihentikan seketika dengan kewaspadaan.

Waspada memandang kenyataan, mengerti dan sadar akan kekeliruan sendiri dan kewaspadaan ini, kesadaran ini berarti tindakan seketika pula, yang menghentikan kebiasaan itu.

Tanpa ini, maka pengertian itu palsu adanya, bukan kewaspadaan, melainkan permainan si aku yang enggan melepaskan kesenangan sehingga dalam melihat kesalahan atau kekeliruan sendiri, si aku lalu mencari seribu satu macam alasan untuk membela diri dan mempertahankan kebiasaan itu!

Semua ini dapat kita lihat dengan jelas apabila kita mau membuka mata dan mengamati diri sendiri lahir batin.

Ho Pek Lian melihat betapa semua orang seperti tenggelam kedalam tontonan yang makin ramai itu, maka iapun berindap-indap meninggalkan tepi telaga menuju kerumah-rumah yang bertebaran disekitar telaga kecil itu.

Ia memasuki sebuah rumah dengan hati-hati dan tepat seperti yang diduganya, rumah itu kosong karena semua penghuninya beramai-ramai nonton perlombaan perahu.

Pek Lian merasa betapa jantungnya berdebar-debar tegang.

Ia merasa seperti seorang pencuri memasuki rumah orang yang kosong dan merasa khawatir kalau-kalau penghuni rumah itu akan masuk sewaktu-waktu dan memergokinya didalam rumah itu.

Dimasukinya sebuah kamar dan dengan girang akhirnya ia menemukan pakaian wanita yang cocok untuknya, pakaian sederhana dan kasar dari keluarga bajak.

Setelah merasa bahwa dengan dandanan itu ia tidak akan berbeda banyak dengan para wanita yang berada ditepi telaga, ia lalu keluar.

Rambutnya sudah diubah gelungnya meniru gelung cara dusun dari para wanita yang berada diantara para penonton.

mulailah ia mencampurkan dirinya dengan para penonton lainnya dan memang tidak ada orang yang tertarik untuk memperhatikannya setelah ia memakai pakaian seperti para wanita lain ditempat itu.

Pek Lian memperhatikan dan mencari-cari dengan pandang matanya, namun ia tetap tidak melihat para penumpang perahu-perahu yang mendahuluinya memasuki terowongan yang menuju ke pulau itu.

Tiba-tiba ia menyelinap diantara banyak orang untuk menyembunyikan diri ketika ia melihat munculnya tiga orang yang telah dikenalnya.

Mereka itu adalah para pembantu Raja Muda Selatan yang pernah mengeroyok Bwee Hong ketika Bwee Hong dicoba oleh Raja bajak itu.

Mereka bertiga itu nampak sedang berjalan bersama dua orang bermuka hitam dan bopeng, meninggalkan tepi telaga dan menuju kesebuah gedung ditengah pulau.

Melihat tiga orang ini, Pek Lian segera membayangi mereka.

Gadis ini tadi sudah melihat bahwa anak-buah Si Raja Muda Selatan hadir pula dalam keramaian itu, dan karena itulah ia sangat berhati-hati menyembunyikan diri karena ia teringat akan minat Raja Muda Selatan terhadap Bwee Hong, yaitu ingin mengambilnya sebagai isteri, baik dengan halus maupun kasar.

Lima orang yang dibayangi Pek Lian memasuki gedung itu dan mereka disambut oleh empat orang lain yang wajahnya membayangkan kekerasan dan sikap mereka kasar-kasar, akan tetapi pakaian mereka bukan seperti bajak laut, melainkan seperti para petani.

Melihat ini, Pek Lian dapat menduga bahwa tentu empat orang itu anak-buah Petani Lautan seperti yang pernah didengarnya dari percakapan antara Raja Muda Selatan dengan Bwee Hong.

Melihat sembilan orang itu duduk diruangan depan gedung itu, minum bersama dan ditemani oleh wanita-wanita muda yang genit-genit, Pek Lian menyelinap dan mengintai untuk mendengarkan percakapan mereka.

"Hei, kawan. Persembahan apakah yang akan dihaturkan oleh pimpinan kalian?"

Tanya empat orang anak-buah Petani Lautan itu kepada tiga orang anak-buah Raja Muda Selatan.

"Pimpinan kami akan menghadiahkan beberapa buah benda berharga hasil rampasan kami dari perahu Pangeran Jepang,"

Jawab seorang diantara mereka.

"Dan apa yang akan dipersembahkan pimpinan kalian?"

"Entah, mungkin sebuah golok pusaka yang kami rampas baru-baru ini dari perahu kerajaan."

"Aih, besok akan ramai sekali dan membayang-kannya hatiku menjadi tegang. Pertandingan silat antara para Raja lautan yang hanya dapat kita nikmati setiap tiga tahun sekali,"

Kata orang yang mukanya bopeng, yaitu anak-buah dari tuan rumah, Si Rajawali Lautan.

"Kitapun besok sore akan saling bertemu dalam perlumbaan perahu,"

Sambung temannya yang bermuka hitam.

"Ha-ha-ha! Benar sekali, aku sudah ingin sekali tahu kemajuan apa yang kalian peroleh selama tiga tahun ini!"

Seorang thouwbak dari Raja Muda Selatan berkata gembira.

Suasana menjadi makin gembira ketika mereka itu mengadu tebak jari sambil minum-minum.

Makin banyak mereka minum arak, makin gembira suasananya dan kadang-kadang terdengar jerit-jerit kecil para wanita pelayan kalau tangan orang-orang kasar itu mulai usil.

Pek Lian menyelinap masuk kedalam gedung itu dari pintu samping.

Ternyata gedung inipun kosong dan diruangan dalam ia tidak menemui seorangpun manusia.

Agaknya penghuninya keluar semua dan para wanita yang menemani sembilan orang itu tentu pelayan-pelayan atau memang wanita yang disediakan untuk para tamu.

Ketika ia menuju keruangan belakang, ia mendengar suara orang dari sebuah kamar.

Pek Lian cepat menyelinap bersembunyi.

Suara itu tidak jelas, akan tetapi seperti suara seorang laki-laki dan seorang perempuan.

Karena ia hendak menyelidiki dan mencari kalau-kalau ia dapat menemukan dimana adanya Bu Seng Kun atau A-hai, maka ia lalu berindap menghampiri kamar itu.

Dengan ludah dan jari tangan, ia melubangi kertas jendela dan mengintai kedalam kamar yang hanya diterangi oleh sebatang lilin itu.

Dan apa yang disaksikannya membuat Pek Lian cepat-cepat membuang muka, wajahnya menjadi kemerahan dan cepat-cepat ia pergi meninggalkan tempat itu dengan hati menyumpah-nyumpah!

Kiranya yang berada didalam kamar itu adalah seorang anggauta bajak yang sedang bergumul dengan seorang wanita!

Pek Lian terus menuju kebelakang dan keluar dari gedung itu melalui pintu belakang.

Ia melihat sebidang tanah kosong yang penuh dengan batu-batu karang diantara semak-semak.

Ditengah nampak sebatang sungai kecil yang dangkal penuh dengan batu-batu.

Fajar mulai menyingsing dan Pek Lian mendaki bukit dari mana air sungai kecil itu mengalir.

Pulau itu sepi, tidak nampak ada penjagaan seorangpun.

Agaknya, semua orang telah pergi menonton perhambaan ditepi telaga.

Pek Lian termenung.

Rajawali Lautan bukanlah seorang pemimpin yang baik.

Pulau ini memang merupakan tempat sembunyi yang baik sekali, juga dapat menjadi semacam benteng yang kuat karena pulau ini dikelilingi tebing yang terjal dan tidak akan dapat diserbu lawan.

Jalan masuk satu-satunya hanya melalui terowongan.

Akan tetapi mengapa penjagaannya begini lemah?

Kalau terjadi serbuan musuh, mana mungkin akan dapat melawan dengan baik?

Apa lagi kalau yang menyerang itu orang-orang yang lihai macam Harimau Gunung dan Buaya Sakti.

Berpikir demikian, dara itu teringat akan dua orang dari Sam-ok yang menjadi pembantu-pembantu utama Raja Kelelawar itu.

Heran sekali, kemanakah mereka itu pergi?

Apakah belum sampai dipulau ini?

Rasanya mustahil.

Mereka itu berangkat lebih dulu dari padanya.

Melihat betapa di puncak bukit didepan terdapat sebuah bangunan besar, jantung Pek Lian berdebar tegang.

Bangunan itu seperti Istana saja.

Itukah Istana Raja Laut?

Ah, kalau memang benar dua orang pemuda yang dicarinya itu menjadi tawanan, agaknya di Istana itulah mereka ditahan!

Dan siapa tahu...

ia akan bertemu dengan ayahnya pula di Istana itu.

Hatinya menjadi tegang dan dengan cepat namun hati-hati sekali ia berlari mendaki bukit menuju ke Istana itu.

Makin dekat, makin nampaklah bahwa bangunan itu memang megah dan indah, pantas menjadi sebuah Istana.

Ia menyelinap diantara semak-semak dan mengintai kedepan.

Nampak para penjaga hilir-mudik dihalaman Istana.

Tidak salah, pikirnya.

Tentu inilah yang dinamakan Istana Raja Laut dan karena bangunan ini merupakan tempat tertinggi, maka satu-satunya lampu yang nampak ketika perahunya su dah mendekati pulau malam tadi tentulah lampu dari Istana itu.

Pek Lian maklum bahwa tentu amat berbahaya kalau sampai ketahuan, maka iapun lalu menyelinap kesamping bangunan, menjauhi aliran sungai kecil yang agaknya bermata air dibukit itu.

Ia mengintai dari balik sebatang pohon dan melihat beberapa orang wanita muda yang berpakaian seperti pelayan-pelayan Istana turun dari anak tangga pintu samping Istana membawa keranjang, menuju kearah telaga.

Fajar telah tiba dan sinar matahari pagi mulai mengusir kegelapan malam.

Pek Lian mulai melihat para penonton bubaran.

Dari tempat tinggi itu ia dapat melihat keadaan ditepi telaga dimana perhambaan diadakan.

Celaka, pikirnya.

Semua orang akan pergi ketempat masing-masing dan kalau ia tidak cepat mendapatkan sebuah tempat persembunyian yang baik, tentu akan sukar baginya untuk menghindar dari tangkapan.

Mencoba memasuki Istana sama dengan menyerahkan diri.

Dari tempat tinggi ini ia mencari-cari dengan pandang matanya dan akhirnya ia melihat sebuah bangunan kuno yang tidak terawat berdiri terpencil dilereng bukit, arahnya dibelakang Istana itu.

cepat ia meninggalkan tempat ia mengintai tadi dan berlari-lari menuju kebangunan kuno itu.

Hatinya girang melihat bahwa bangunan kuno itu memang sebuah bangunan yang tidak dipakai orang lagi.

Semacam bengkel atau gudang dimana bertumpuk banyak bangkai perahu, sampan, tiang layar dan semacam itu, berserakan tidak dipakai lagi.

Pek Lian cepat membuka pintu dan menyelinap masuk.

Memang sebuah tempat persembunyian yang baik, kata hatinya girang.

Disitu terdapat alat-alat pertukangan dan balok-balok kayu.

Sebuah bengkel tempat pembikinan perahu.

Terdapat banyak pula patung-patung yang biasanya dipakai menghias kepala perahu-perahu besar, patung dewa-dewa dengan muka yang menyeramkan, sebesar manusia.

Mengerikan juga melihat patung-patung itu sebesar orang dengan posisi berdiri atau duduk, dengan muka yang menyeramkan.

Ada.

patung yang rambutnya terbuat dari rambut manusia aseli.

Patung-patung ini berada disebuah ruangan yang cukup luas dan sambil melangkah perlahan-lahan memeriksa keadaan tempat itu, Pek Lian merasa serem.

Seolah-olah semua patung itu mengawasi setiap gerak-geriknya.

Dan patung-patung itu seperti hidup saja, apa lagi didalam ruangan yang remang-remang seperti itu.

Pek Lian berusaha untuk tidak mengamati patung-patung itu.

Tengkuknya meremang dan hatinya diliputi rasa serem.

Akan tetapi, makin ia berusaha untuk tidak memandang, matanya malah selalu memperhatikan kesekeliling, kearah patung-patung itu.

Berada ditempat itu ia merasa seolah-olah kalau berada seorang diri ditanah kuburan, atau diruangan yang penuh dengan peti-peti mati.

Seolah-olah ada yang bergerak, ada yang hidup, ada setannya!

Kita tidak mungkin dapat melarikan diri dari rasa takut.

Rasa takut bukanlah sesuatu yang terpisah dari kita.

Rasa takut adalah kita sendiri, batin kita sendiri penciptanya.

kemanapun kita lari, kalau memang kita takut, tentu akan tetap takut.

Hiburan yang kita cari hanya akan membuat kita terlupa sebentar saja, akan tetapi rasa takut itu masih ada dalam batin.

Ada bermacam-macam rasa takut, yaitu misalnya takut terhadap setan, takut terkena malapetaka, takut penyakit, bahkan takut mati.

Akan tetapi semua bentuk rasa takut itu pada hakekatnya sama saja.

Semua itu timbul dari pikiran yang membayangkan hal-hal yang belum ada, hal-hal yang dianggapnya amat tidak menyenangkan seperti yang pernah diketahuinya dari orang lain atau dari pengalaman sendiri.

Orang takut kepada setan yang melakukan hal-hal yang menyeramkan, dan orang yang takut kepada setan itu tentu belum bertemu dengan setan, jadi yang ditakutinya itu hanyalah bayangan-bayangan yang dibuatnya sendiri dalam pikirannya.

Orang yang takut mati tentu takut karena membayangkan keadaan yang mengerikan sesudah mati seperti yang pernah didengarnya dari cerita-cerita dongeng, atau takut membayangkan kesepian dan kehilangan segalanya sesudah mati.

Melarikan diri dari rasa takut sia-sia belaka.

Akan tetapi, kalau kita mau menghadapinya, menghadapi rasa takut setiap kali ia muncul, mengamatinya dengan penuh perhatian, maka pengamatan ini sendiri akan membebaskan kita dari cengkeraman rasa takut.

Pengamatan dengan penuh perhatian akan melenyapkan pikiran yang membayang-bayangkan, dan pengamatan ini akan membuat kita mengerti dengan jelas proses terja-dinya rasa takut dalam pikiran kita.

Pek Lian yang sudah merasa ngeri itu hampir saja menjerit ketika ia melirik kekiri dan merasa ada sebuah patung yang bergerak dipojok ruangan itu.

Untung ia masih ingat sehingga tidak berteriak dan menutupi mulutnya dengan tangan kiri.

Ah, mana mungkin ada patung bisa bergerak?

dibantahnya sendiri dugaan tadi.

Akan tetapi tetap saja hatinya merasa gentar dan ia menjauhi tempat patung-patung itu menuju kepintu untuk mengintai keluar, melihat suasana diluar.

"Gedobrakkk! Huh, bedebah! Sialan!"

Tentu saja Pek Lian merasa terkejut sekali seperti disambar halilintar mendengar suara bising yang disusul suara makian itu.

Cepat ia menoleh dan wajahnya menjadi pucat, matanya terbelalak ketika ia melihat sebuah patung benar-benar bergerak menyingkirkan sebuah patung lain yang tadi agaknya roboh menimpanya.

Rasa takut membuat Pek Lian kehilangan kewaspadaan dan iapun mendorong daun pintu dan melompat keluar dari dalam rumah setan itu.

Serombongan orang yang sedang lewat didepan rumah tua itu terkejut melihat munculnya seorang gadis yang ketakutan.

Mula-mula mereka mengira bahwa gadis itu teman sendiri karena Pek Lian memang menyamar dengan pakaian yang diambilnya dari sebuah rumah, akan tetapi ketika mereka melihat wajah Pek Lian, mereka tahu bahwa gadis itu adalah seorang asing.

Karena masih menduga bahwa mungkin ia seorang gadis yang dibawa datang oleh para tamu, maka seorang diantara mereka cepat meloncat kedepan Pek Lian sambil menyeringai.

"Eh, nona manis, engkau datang dari rombongan manakah? Dan apa yang telah terjadi maka engkau keluar dari bengkel lama ini?"

"Ha-ha-ha, agaknya nona manis ini menjumpai kekasihnya disini!"

"Tak salah lagi, tentu semalam suntuk telah bermain cinta sepuasnya"

Beberapa orang laki-laki mengeluarkan kata-kata yang makin lama makin cabul dan tidak pantas, maka Pek Lian tidak dapat menahan kemarah-annya lagi.

"Tutup mulutmu yang busuk!"

Bentaknya dan tangan kirinya menampar.

"Plakk!"

Orang yang mengeluarkan kata-kata cabul itu terkena tamparan pipinya.

Dia mengaduh dan terpelanting roboh, lalu merintih karena muka yang kena dihantam itu membengkak!

Tentu saja para anak-buah pulau itu menjadi marah.

Dua orang teman yang melihat kawannya ditampar, sudah meloncat kedepan dan mereka berdua ini menubruk untuk merangkul dan menangkap gadis yang galak itu.

Akan tetapi, Pek Lian menggerakkan kaki tangannya dan dua orang itupun roboh terpelanting!

Gegerlah para anak-buah pulau itu.

Baru mereka tahu bahwa gadis ini lihai sekali.

Lima orang maju mengeroyok dan yang lain memberi tanda memanggil teman-teman.

Para anak-buah Rajawali Lautan berdatangan dan selain nona itu dikeroyok, juga rumah tua itu dikepung.

"Periksa didalam rumah! Mungkin masih ada kawan-kawannya. Mereka ini tentu mata-mata dari luar!"

Demikian seorang thouwbak pembantu Rajawali Lautan berteriak.

Tiba-tiba terdengar sumpah serapah dari dalam rumah itu dan pintu depan yang baru setengahnya dibuka oleh Pek Lian tadi kini jebol ditendang orang dari dalam.

Lalu muncullah dua orang kakek yang keluar sambil mengomel.

Yang seorang berusia empat puluh lima tahun, bertubuh gemuk pendek dan membawa sebatang toya baja putih, sikapnya angkuh dan memandang rendah mereka yang datang mengepung.

Orang kedua adalah seorang kakek berusia lima puluh tahun berjubah kulit harimau, tubuhnya tinggi besar menakutkan dan tangannya membawa sehelai rantai baja yang ujungnya merupakan tombak berjangkar, dililitkan dilengannya.

Dua orang ini bukan lain adalah dua diantara Sam-ok, yaitu yang pertama adalah Sin-go Mo Kai Ci Si Buaya Sakti, sedangkan yang kedua bukan lain adalah Sanhek-houw Si Harimau Gunung!

Tentu saja Pek Lian segera mengenal dua orang pembantu utama dari Raja Kelelawar ini, dan jantungnya berdebar tegang.

Akan tetapi, para anak buah pulau Istana Raja Lautan itu tidak mengenal mereka dan dua orang Raja penjahat itu telah dikepung dan dikeroyok.

Dianggap sebagai kawan-kawan dari dara perkasa yang juga sudah dikeroyok belasan orang.

Dan dua orang datuk kaum sesat itupun tidak banyak cakap lagi lain mengamuk.

Sanhek-houw dan Sin-go Mo Kai Ci mengamuk.

Senjata mereka diputar dan Para pengeroyok terkejut karena ternyata dua orang ini jauh lebih ganas dan lihai dari pada nona itu.

Sebentar saja, beberapa orang pengeroyok telah roboh dan luka-luka.

Sementara itu, Sanhek-houw mendekati Pek Lian dan memaki.

"Bocah kurang ajar! Engkau membikin kacau rencana orang saja!"

Perkelahian keroyokan itu menjadi semakin seru ketika muncul sembilan orang thouwbak dari tiga kepala bajak itu.

Karena mereka ini termasuk orang-orang yang lihai, maka setelah sembilan orang ini mengeroyok, barulah dua orang diantara Sam-ok itu agak dapat ditahan.

Bagaimanapun juga, sembilan orang thouwbak itu kewalahan, walaupun mereka telah dibantu oleh banyak anak-buah mereka.

Sementara itu, Pek Lian juga repot sekali dikeroyok banyak anggauta bajak, walaupun banyak sudah anggauta bajak yang roboh olehnya.

Agaknya perkelahian keroyokan ini merupakan pertunjukan yang tidak kalah menariknya dari pada perlumbaan semalam.

Banyak yang datang menonton dan kalau ada seorang anggauta bajak yang terpental dengan kepala benjol atau tulang patah, para penonton mentertawainya.

Sementara itu pengeroyokan menjadi semakin ketat.

Tiba-tiba terdengar bentakan-bentakan nyaring dan para penonton bersibak memberi jalan masuk kepada lamsiauw-ong Si Raja Muda Selatan dan Si Petani Laut.

"Kalian mundurlah dan biarkan kami menghajar pengacau-pengacau ini!"

Terdengar Raja Muda Selatan berkata dan sembilan orang thouwbak yang sudah kewalahan itu lalu mundur.

Juga para bajak yang tadinya mengeroyok.

Pek Lian, mengundurkan diri sehingga nona itu dapat mengaso dan menghapus peluh dileher dan dahinya dengan ujung lengan baju.

Raja Muda Selatan yang berpakaian mewah dan bertubuh gendut itu segera mencabut sebatang pedang panjang yang besar, lalu menerjang Si Buaya Sakti tanpa banyak cakap lagi.

Agaknya lamsiauw-ong ini tadi sudah melihat betapa lihainya kakek gemuk pendek ini, maka dia langsung saja menyerang menggunakan pedangnya.

"Trang-trang-tranggg!"

Pedang bertemu bertubi-tubi dengan toya baja putih, membuat telinga yang mendengarnya menjadi sakit dan nampak bunga api berpijar menyilaukan mata.

Ternyata keduanya memiliki tenaga yang berimbang dan terjadilah perkelahian seru antara Raja Muda Selatan dengan Si Buaya Sakti.

Adapun Si Petani Laut yang melihat rekannya sudah saling serang dengan seorang pengacau, lalu menggerakkan senjatanya untuk menyerang Si harimau Gunung.

Senjata dari Petani Laut ini memang istimewa, yaitu sebuah cangkul bergagang panjang.

Caranya menyerang seperti mencangkul tanah, akan tetapi sekali ini bukan tanah yang dicangkulnya, melainkan kepala lawan!

"Trangg...

wuuuut, cringgg!"

Si Harimau Gunung juga cepat menangkis dengan senjata rantainya dan balas menyerang sehingga merekapun terlibat dalam perkelahian yang amat seru.

Kini para penonton menjadi semakin gembira karena pertandingan itu sungguh amat hebat, jauh lebih ramai dari pada tadi karena kedua pihak memiliki kepandaian dan tenaga yang berimbang.

Pek Lian sendiri hanya dapat menonton karena tentu saja ia tidak dapat berpihak manapun.

Mereka yang saling berkelahi itu adalah sama-sama penjahat, hanya bedanya kalau Si Buaya Sakti dan Harimau Gunung adalah Raja-Raja penjahat daratan, maka dua orang lawannya adalah Raja penjahat lautan.

Diam-diam ia merasa heran mengapa mereka itu saling hantam sendiri, akan tetapi ia teringat bahwa kedua orang Raja penjahat daratan itu adalah pembantu-pembantu utama Raja Kelelawar dan bahwa Tung-hai-tiauw si Rajawali Lautan Timur sebagai orang pertama dari Sam-ok masih belum menjadi anak-buah atau pembantu iblis itu.

"Tahan senjata!"

Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.

"Kita adalah orang-orang sendiri!"

Empat orang yang sedang berkelahi itu berhenti dan ternyata yang muncul itu adalah seorang bertubuh tinggi kurus yang berwibawa dan orang ini bukan lain adalah si Rajawali Lautan Timur sendiri, penghuni Istana Raja Lautan karena selama tiga tahun ini dialah yang berhak menjadi Raja lautan setelah mengalahkan semua kepala bajak lainnya.

Empat orang itu segera berloncatan mundur dan perkelahian yang amat seru itupun segera dihentikan.

Tung-hai-tiauw tertawa bergelak dan mengangkat tangan sebagai tanda salam kepada dua orang Raja penjahat daratan itu.

"Ha-ha, selamat datang ditempat kami! Sungguh tidak pernah kami duga bahwa dua orang sahabat lama kami sudi berkunjung kesini. ha-ha, kalau tidak berkelahi berarti tidak kenal, betapa tepatnya kata-kata itu. Saudara-saudaraku Raja Muda Selatan dan Petani Lautan, mereka ini adalah sobat-sobatku yang baik, yaitu Sin-go Mo Kai Ci Si Buaya Sakti dan Sanhek-houw Si Harimau Gunung, dua orang yang amat terkenal didaratan sana!"

Kata-katanya yang terakhir ini untuk saling memperkenalkan empat orang yang tadi saling serang itu.

"Aha! Kiranya ini saudaramu yang berjuluk Raja Muda Selatan yang tersohor itu? Aihh, pantas saja, hampir-hampir aku terjungkal ditangannya kalau aku tidak berhati-hati tadi!"

Kata Si Buaya Sakti memuji.

"Wah, Sin-go Mo-sicu terlalu memuji orang,"

Kata Raja Muda Selatan.

"Sebaliknya, toya baja putihmu benar-benar membuat aku repot tadi!"

"Gila! Aku sendiripun repot sekali menghadapi cangkul panjang itu, kiranya yang memainkannya adalah Petani Lautan! Pantas begitu lihai!"

Kata pula Sanhek-houw memuji.

"Dan nona ini, siapakah ia? Apakah murid dari kalian?"

Rajawali Lautan bertanya sambil memandang kepada Pek Lian, diam-diam kagum karena selain cantik sekali, juga nona ini masih muda akan tetapi telah memiliki kepandaian yang cukup tinggi dan keberanian yang luar biasa.

Juga sikap dara ini bukan seperti wanita-wanita dari golongan sesat, melainkan gagah sekali dan membayangkan keagungan dan ketinggian harga diri.

"Sialan mempunyai murid macam ini!"

Harimau Gunung berseru.

"Bocah perempuan ini dimana-mana hanya membikin kacau saja!'"

Kata pula Si Buaya Sakti "Kami tidak mengerti bagaimana ia bisa tiba-tiba muncul ditempat ini!"

Mendengar ucapan dua orang tamu itu, wajah Rajawali Lautan berseri gembira.

Kiranya nona ini tidak ada sangkut-pautnya dengan dua orang tamu itu.

Tentu seorang mata-mata, akan tetapi mata-mata dari mana?

Dan ia begitu muda dan cantik dan lihai.

"Bagus! Kalau begitu, ia adalah tawanan kami!"

Ia lalu memberi isyarat kepada para pembantunya untuk menangkap Pek Lian.

Empat orang thouwbak maju dan menubruk Pek Lian.

Akan tetapi dara ini sudah siap dan segera menggerakkan kaki dan tangannya melakukan perlawanan mati-matian.

Semua orang kini nonton dara yang hendak ditawan ini dan ternyata empat orang thouwbak yang lihai-lihai itu kewalahan untuk dapat menangkap si nona.

Kalau mereka diperintahkan untuk merobohkan Pek Lian, mungkin lebih mudah bagi mereka.

Akan tetapi perintahnya adalah menangkapnya, jadi mereka tidak berani mempergunakan senjata dan tidak berani menggunakan pukulan maut, hanya berusaha menubruk dan menangkap saja.

Karena itu, mereka berempatlah yang menjadi bulan-bulanan tamparan dan tendangan Pek Lian.

Bahkan seorang diantara mereka terkena hantaman pada dadanya sehingga roboh pingsan dan tidak mampu bangkit kembali!

Melihat keadaan itu, Rajawali Lautan menjadi marah.

Dia mendengus dan menerjang maju, tangannya yang berkuku tajam seperti baja kuatnya itu mencengkeram kearah pundak Pek Lian.

Dara ini mengenal serangan berat, maka iapun cepat mempergunakan kelincahan tubuhnya untuk mengelak sambil mengirim tendangan yang disusul pukulannya kearah perut kepala bajak itu.

"Dukk! Bukkk!"

Baik tendangan maupun pukulannya dengan tepat mengenai sasaran, yaitu dada dan perut orang tinggi kurus itu.

Akan tetapi sama sekali tidak mengguncangkan tubuh Tung-hai-tiauw, bahkan dia mempergunakan kesempatan selagi Pek Lian tertegun melihat serangannya mengenai tubuh yang kebal, cepat tangannya menyambar tengkuk dan menotok.

Seketika Pek Lian merasa tubuhnya lunglai dan iapun tidak dapat melawan lagi ketika para thouwbak menubruk dan meringkusnya, membelenggu kaki tangannya dan membawanya pergi kekamar tahanan!

Rajawali Lautan tertawa, lalu berkata kepada empat orang kawannya.

"Nah, sobat-sobatku, marilah kita pergi keruang tamu untuk bercakap-cakap!"

Mereka lalu pergi menuju ke Istana di puncak bukit.

Dua orang Raja penjahat daratan itu tiada habisnya mengagumi Istana yang megah dan mewah itu.

Sungguh keadaan para bajak lebih baik dibandingkan dengan keadaan para perampok didaratan yang selalu dikejar-kejar oleh pasukan pemerintah.

Di sebuah ruangan yang luas didalam Istana Raja Lautan itu sedang diadakan perjamuan makan-minum istimewa, perayaan pesta untuk meramaikan pertemuan antara pimpinan yang diadakan tiap tiga tahun itu.

Ketika Rajawali Lautan sebagai tuan rumah bersama empat orang tamu dan rekannya memasuki ruangan itu, tempat itu sudah penuh dengan para tamu dan sejak tadi suara musik mengiringi para penari dan penyanyi yang cantik-cantik.

Para tamu bangkit berdiri ketika melihat lima orang gagah itu, terutama sekali untuk menghormat Rajawali Lautan yang dianggap sebagai Raja dan juga tuan rumah.

Dengan sikap ramah dan gagah, Rajawali Lautan memberi isyarat kepada semua tamu untuk duduk kembali dan diapun mempersilahkan Raja Muda Selatan, Si Petani Lautan, Si Buaya Sakti dan Si Harimau Gunung untuk mengambil tempat duduk dikursi-kursi kehormatan, dekat tempat duduknya sendiri sebagai tuan rumah.

Setelah tuan rumah dan para tamu kehormatan hadir, musik dipukul makin meriah, dan para penari memperlihatkan keindahan tarian mereka, diseling oleh para penyanyi.

Guci-guci arak baru dikeluarkan dan suasana menjadi semakin meriah.

"Kursi siapakah itu?"

Tiba-tiba Si Buaya Sakti bertanya kepada tuan rumah.

Juga temannya, Si Harimau Gunung, merasa heran melihat adanya sebuah kursi yang gemerlapan, seperti sebuah singgasana Raja.

Kursi itu kosong dan ditutup kain putih, ditaruh ditengah-tengah dan ditempat yang paling tinggi.

Tuan rumah tertawa dan memberi penjelasan kepada dua orang rekan yang menjadi tamu kehormatan.

"Ah, kalian secara kebetulan saja datang kesini, tidak tahu bahwa kami sedang mengadakan pesta yang paling meriah diantara kami, para pendekar lautan! Ketahuilah, diantara kami, setiap tiga tahun sekali dipilih seorang yang paling tinggi tingkat kepandaiannya dan orang ini diangkat menjadi Raja Lautan, dan dia berhak tinggal dipulau ini, di Istana Raja Lautan sebagai orang yang paling berkuasa diseluruh lautan ini, selama tiga tahun. Dan setelah tiga tahun, diadakan pemilihan untuk mengangkat Raja Lautan yang baru. Untuk tiga tahun terakhir ini, akulah yang beruntung menjadi Raja Lautan. Hari ini aku harus dapat mempertahankan kedudukan itu untuk tiga tahun lagi. Kalau ada yang lebih lihai dari pada aku, dialah yang berhak menjadi Raja Lautan selama tiga tabun mendatang. Kursi itu adalah singgasana Raja kami dan karena hari ini sedang diadakan pemilihan, maka tentu saja kedudukan itu kosong. Hari ini kedudukanku telah berakhir maka akupun tidak duduk disitu. Mengertikah kalian, sekarang?" (Lanjut ke

Jilid 14) Darah Pendekar (Seri ke 01 -Serial Darah Pendekar) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo Bahan Cerita . Sriwidjono

Jilid 14 Dua orang gembong penjahat itu mengangguk-angguk dan saling pandang.

Biarpun mereka bertiga itu terkenal dengan sebutan Sam-ok, yaitu Si Tiga Jahat untuk mengakui kedudukan mereka sebagai pimpinan para bajak lautan, pimpinan para bajak sungai dan pimpinan para perampok, namun mereka itu tidak pernah saling bersahabat Bahkan mereka sering kali bentrok dan bersaing.

Hanya setelah muncul Raja Kelelawar, maka Si Buaya Sakti dan Harimau Gunung terpaksa dapat bekerja-sama dibawah kekuasaan Raja Kelelawar.

Akan tetapi, Rajawali Lautan itu belum menjadi anak-buah atau taklukan Raja Kelelawar, maka sikapnya tentu saja berbeda dan dia merasa masih menjadi yang dipertuan didaerah lautan.

Dua orang gembong daratan itu sama sekali tidak pernah menyangka bahwa mereka yang datang sebagai utusan Raja Kelelawar, tiba pada saat kebetulan disitu diadakan pemilihan Raja lautan baru.

Mereka tidak mengira ada peraturan semacam itu.

Mereka hanya mengetahui bahwa Rajawali Lautan adalah seorang datuk lautan yang telah menjadi Raja sekalian bajak dan menguasai lautan yang amat luas itu.

Mereka berdua maklum bahwa tentu saja urusan itu amat penting bagi para bajak, merupakan peristiwa besar dalam dunia bajak.

Mereka membayangkan dengan hati tegang betapa akan serunya pertandingan memperebutkan kursi Raja Lautan itu nanti.

Mereka tadi sudah merasakan kelihaian Raja Muda Selatan dan Petani Lautan, belum tokoh-tokoh lainnya.

Menghadapi urusan besar ini, keduanya saling memberi isyarat dan bersepakat untuk menunda urusan mereka sebagai utusan Raja Kelelawar.

Mereka ingin melihat pertandingan itu dan melihat siapa yang akan menang dan menjadi Raja Lautan.

Lalu kepada orang yang menjadi Raja Lautan itulah mereka berdua akan berhadapan sebagai utusan Raja Kelelawar sebagai pucuk pimpinan semua golongan didunia sesat.

Kini Rajawali Lautan bangkit berdiri dan memberi isyarat dengan mengangkat tangan kiri keatas.

Seketika suara musik berhenti, para penari berlarian kembali ketempatnya dan semua orang memandang kearah tuan rumah.

Suasana menjadi sunyi dan tidak ada yang berani mengeluarkan suara berisik.

Hal ini bukan karena para tamu itu tahu akan sopan-santun dan aturan.

Sama sekali bukan.

Mereka taat karena mereka itu takut.

Pelanggaran dapat saja mengakibatkan mereka dihukum secara kejam sekali, mungkin dibunuh!

"Saudara saudaraku sekalian yang baik!

seperti tiga tahun yang lalu, hari ini adalah hari berbahagia bagi kita kaum pendekar lautan!

Dan sekali ini, pertemuan antara kita dihadiri pula oleh dua orang tamu terhormat yang sehaluan dengan kita.

Sin-go Mo Kai Ci adalah pimpinan bajak sungai, sedangkan Sanhek-houw adalah pimpinan dari semua perampok, maling dan copet sehingga lengkaplah tiga golongan dari kaum kita yang dianggap oleh sementara orang sebagai golongan hitam.

Biarlah dua orang tamu kita menjadi saksi atas upacara kita dan marilah kita mulai!"

Para tamu mulai bergerak dan suasana menjadi bising karena para tamu saling bicara sendiri.

Ada pula yang sibuk mempersiapkan bingkisan masing-masing.

Sebagian besar diantara mereka telah mengenal siapa adanya Rajawali Lautan yang memiliki ilmu kepandaian amat tinggi, maka jaranglah diantara mereka ada yang berani main-main.

mereka yang merasa bahwa kepandaian mereka jauh dibawah tingkat Rajawali Lautan, hanya menghaturkan bingkisan atau sumbangan secara suka rela tanpa hendak menguji kepandaian Akan tetapi, para kepala perkumpulan bajak, tentu saja diantara mereka ada yang merasa penasaran kalau belum memperlihatkan kepandaian, biarpun mereka tiada harapan untuk dapat mengalahkan Rajawali Lautan, namun setidaknya mereka akan memperlihatkan kepandaian dan agar mereka dianggap sebagai orang yang telah berani mencoba kepandaian Rajawali Lautan!

Ini saja sudah akan mengangkat sedikit derajat mereka dan dapat mereka jadikan bahan cerita yang membanggakan hati.

Seorang bajak laut tunggal yang biasa beroperasi disekitar Lautan Jepang, tampak maju membawa sebuah bingkisan.

Seperti yang telah ditentukan dalam peraturan mereka, yaitu peraturan bagi mereka yang hendak menguji kepandaian Rajawali Lautan yang harus mempertahankan kedudukannya, bingkisan diletakkan diatas senjatanya.

senjata bajak tunggal ini adalah sebatang samurai panjang.

Dia berdiri tegak didepan Rajawali Lautan yang sudah bangkit berdiri dan melangkah maju ditempat lapang pula.

Bajak tunggal itu melonjorkan pedang samurainya didepan dada, dan bingkisan itu berada diujung pedangnya.

Tangan kirinya diangkat keatas kepala, melintang dan terbuka, lalu tangan kiri itu turun kedepan dada sebagai penghormatan, dan terdengar suaranya yang berlogat Jepang karena bajak laut ini memang seorang peranakan Jepang dan lebih banyak merantau diluar daratan.

"Hai-ongya, harap terima bingkisan dariku!"

Pedang samurainya digetarkan dan bingkisan yang terletak diujung pedang itu tiba-tiba mencelat keatas, kearah Rajawali Lautan.

Raja Lautan yang harus mempertahankan kedudukannya ini berdiri dengan sikap tenang, kipas besinya siap ditangannya.

Ketika dia melihat bingkisan itu terbang kearahnya, tangan kirinya yang memegang kipas besi bergerak untuk menangkap bingkisan itu.

Akan tetapi, nampak sinar berkelebat cepat ketika pedang samurai itu menyambar kearah pergelangan tangan kiri yang memegang kipas dengan gerakan mendatar dari kanan kekiri.

Suaranya berdesing karena pedang samurai itu tajam dan gerakan orang itupun amat kuatnya.

Akan tetapi, dengan gerakan pergelangan tangannya, Rajawali Lautan telah membalikkan kipas besinya menangkis dan tangan kanannya diulur kedepan untuk menyambut bingkisan yang melayang kearahnya.

"Trangggg!!"

Pedang samurai yang tertangkis kipas besi itu terpental, akan tetapi bajak tunggal itupun cukup lihai.

Pedang yang terpental itu membuat gerakan lingkaran dan tahu-tahu telah menyambar dari samping kearah leher lawan!

"Bagus!"

Kata Rajawali Lautan yang telah berhasil menangkap bingkisan tadi.

Sambaran pedang lawan dibiarkan lewat diatas kepalanya dengan menundukkan kepala, dan kipas besinya sudah menotok kearah pergelangan tangan lawan yang memegang pedang dan yang menyambar lewat.

Bajak tunggal itu terkejut sekali, cepat menarik kembali pedang dan tangannya, akan tetapi pada saat itu, Rajawali Lautan sudah menggunakan tangan kanan yang memegang bingkisan untuk mendorong kearah dada lawan sambil berkata.

"Terimakasih atas bingkisan yang berharga!"

Dorongan itu mengandung tenaga yang luar biasa kuatnya sehingga biarpun bajak tunggal itu mempertahankan diri, tetap saja dia terdorong kebelakang, terhuyung-huyung dan hampir saja dia terpelanting.

Diapun tahu diri karena kalau tuan ramah tadi menghendaki, dia tentu sudah terluka parah atau bukan tidak mungkin roboh dan tewas.

Memang cara-cara yang dipergunakan oleh kaum bajak ini amat keras.

Para tamu menyerahkan bingkisan, akan tetapi pada saat itu dia dan tuan rumah boleh adu kepandaian dan saling serang, bukan hanya untuk saling mengalahkan dan memperebutkan kedudukan sebagai Raja Lautan untuk waktu tiga tahun, bahkan boleh saja mereka itu mengalahkan lawan dengan membunuhnya!

Raja wali Lautan sendiripun pada sembilan tahun yang lalu telah merobohkan Raja Lautan lama dengan membunuhnya dalam adu ilmu itu!

Dan semenjak itu, belum pernah ada bajak lain yang dapat mengalahkannya.

Akan tetapi, Rajawali Lautan adalah seorang cerdik.

Dia tidak mau membunuh lawan karena dia ingin agar semua tokoh bajak laut tunduk dan takluk kepadanya, bukannya membenci dan mendendam.

Maka diapun jarang sekali menurunkan tangan maut, kecuali tentu saja kalau kedudukannya terancam.

Beberapa orang maju lagi secara bergiliran, akan tetapi tidak ada seorangpun yang mampu menandingi Rajawali Lautan lebih dari sepuluh jurus!

Dan sebagian besar dari pada para tamu yang tadinya ingin mencoba-coba kepandaian, menjadi jerih dan akhirnya mereka itu hanya memasuki rombongan yang memberi bingkisan secara suka rela tanpa bertanding lagi.

Ketika Petani Lautan maju, semua orang memandang dengan hati penuh ketegangan dan disana sini terdengar orang berbisik-bisik.

Sekarang tuan rumah benar-benar berhadapan dengan seorang musuh bebuyutan atau seorang yang memiliki kepandaian setingkat.

Semua bajak laut tahu belaka bahwa didaerah lautan mereka, yang menjadi jagoan hanya tiga orang, yaitu Raja Lautan sekarang yang berjuluk Rajawali Lautan Timur, Si petani Lautan, dan Raja Muda Selatan.

Mereka bertiga inilah yang tiga tahun yang lalu merupakan tokoh-tokoh yang saling memperebutkan kedudukan secara seru dan setingkat.

Memang akhirnya Rajawali Lautan yang menang, akan tetapi kemenangannya tipis sekali.

Sekarang, tiga tahun telah lewat dan semua orang tentu saja tahu betapa dua orang tokoh yang dikalahkan itu telah memperdalam ilmu-ilmu mereka untuk dapat menjatuhkan Rajawali Lautan dan merebut kedudukan Rajawali Lautan dalam kesempatan ini.

Jadi, dua orang itu tentu telah bersiap-siap dengan matang!

Maka, setelah kini akhirnya orang yang mereka tunggu-tunggu muncul, yaitu Si Petani Lautan, semua orang memandang dengan hati tegang dan wajah berseri gembira karena mereka maklum bahwa pertunjukan sekali ini benar-benar amat hebat dan menarik.

"Maaf, Hai-ong. Aku yang bodoh ingin mempersembahkan sebuah pusaka kepadamu!"

Kata Petani Lautan sambil memberi hormat.

Rajawali Lautan tertawa.

Memang sejak tadi dia sudah menanti-nanti datangnya saat ini, dimana Petani Lautan atau Raja Muda Selatan akan menyerahkan bingkisannya yang berarti dia harus mempertahankan kedudukannya terhadap mereka.

Hanya dua orang itulah yang dianggapnya sebagai saingan yang patut untuk dilawan, yang lainnya tidak masuk hitungan.

"Ha-ha-ha, silahkan, saudara Phang, silahkan. Sebenarnya hampir aku tidak berani menerima persembahanmu. Tiga tahun yang lalu saja, hampir aku kehilangan sebelah tanganku ketika mencoba untuk menerima bingkisanmu. Apa lagi sekarang tentu engkau sudah maju pesat sekali, buktinya engkau sudah bisa mengendalikan aliran keringatmu. Dahulu engkau terpaksa harus selalu bertelanjang baju, akan tetapi sekarang engkau sudah dapat memakai baju dan mengendalikan keluarnya keringatmu. Hebat! Aku sebenarnya jerih, akan tetapi aku kepingin mencobanya juga!"

Rajawali Lautan sengaja mengucapkan kata-kata merendah, bukan hanya untuk membuat lawan tenggelam dalam kebanggaannya sehingga mungkin saja menjadi lengah, juga dia harus menjaga segala kemungkinan, sehingga andaikata dia benar-benar kalah, dia tidak sampai terbanting oleh sikap yang congkak sebelum bertanding.

Sebenarnya, bagi orang-orang yang hidup didunia hitam, atau yang disebut kaum sesat, mereka tidak lagi memperdulikan akan sopan-santun, tidak perduli apakah sikap mereka itu merugikan orang lain atau menyinggung orang lain.

Setiap jalan pikiran, setiap ucapan dan perbuatan, selalu hanya demi keun-tungan diri sendiri.

Sikap kaum sesat itu menjadi pelajaran yang teramat baik bagi kita.

Pernahkah kita meneliti dan mengamati sikap hidup kita sendiri sehari-hari?

Bagaimanakah keadaan jalan pikiran atau batin kita, kemudian bagaimana pula keadaan yang nyata dari perbuatan dan juga ucapan kita?

Pernahkah kita berpikir, berkata atau berbuat yang dibaliknya tidak mengandung pamrih untuk enak sendiri, senang sendiri, dan menang sendiri?

Benarkah apa yang terucap oleh mulut kita selalu sejalan dengan bisikan hati kita?

Adakah kesatuan antara batin, ucapan dan perbuatan?

Kita berlumba menonjolkan kebaikan-kebaikan kita, bukankah itu hanya merupakan jembatan saja bagi kita untuk mencapai kesenangan dalam bentuk kepuasan batin, pujian, harapan, pahala dan sebagainya?

Pernahkah kita bertindak atau bicara dengan dasar belas kasihan atau cinta kasih?

Pernahkah?

Kalau tidak pernah, mengapa?

Semua pertanyaan ini kiranya amat perlu bagi kita manusia-manusia yang hidup dan yang dianggap sebagai mahluk berahlak dan berakal budi, bukan?

Sikap Rajawali Lautan Timur yang merendah tadi jelas mengandung pamrih demi keuntungan diri sendiri, bukan rendah hati lagi.

Rendah hati bukan terletak dimulut, melainkan dibatin, dan mulut baru bersih dan benar kalau menyuarakan batin tanpa dipertimbangkan dan disensor oleh pikiran yang selalu berpalsu-palsu.

Si Petani Lautan yang bernama Phang Kui tersenyum.

Senyum orang yang percaya akan kehebatan diri sendiri, yang menyembunyikan rasa bangganya karena pujian lawan tadi, menyembunyikannya dibalik senyuman, yang bukan lain juga merupakan suatu bentuk pamer terselubung.

Dia membuka bajunya sehingga badan yang kurus dengan tulang iga menonjol dan membayang dibalik kulit nampak nyata.

Tidak nampak setetespun keringat keluar dari kulit tubuhnya.

Akan tetapi semua orang yang sudah mengenal kelihaian pria ini, cepat mundur dan menjauh karena mereka tahu betapa berbahayanya benda cair kecut yang keluar dari tubuh tokoh ini.

Phang Kui menarik napas panjang, menghimpun sinkangnya dan brolll!

Peluhnya mulai keluar dari pori-pori kulitnya dan mengucur deras!

Mula-mula nampak butir-butir air seperti mutiara menghias kulit tubuhnya, dan tak lama kemudian butir-butir ini saling bertemu dan mengalir kebawah, berlenggak-lenggok dan membasahi semua kulit tubuhnya.

Dia mengacungkan senjatanya yang istimewa, sebuah cangkul bergagang panjang.

Sebelum bergerak lebih lanjut, Phang Kui menyambar sebuah teko terisi air teh dari atas meja.

Teko besar itu dituangkannya kemulut yang ternganga sampai habis isinya.

Dengan wajah nampak lega dan puas, Si Petani Lautan mengembalikan teko kosong dengan tangan kirinya keatas meja, kemudian mulutnya berkata lirih dan lembut.

"Terimalah persembahanku!"

Kata-kata yang halus itu tiba-tiba disambung dengan bentakan yang amat nyaring dan mengejutkan semua orang.

"Hyaaaatttt!!"

Nampak sinar menyambar dan cangkul bergagang panjang itu telah bergerak seperti kilat cepatnya.

Mata cangkul berkilauan dan gerakannya mengundang datangnya angin, ketika mata cangkul itu terangkat dan bungkusan panjang terlempar dengan amat lajunya kearah muka Rajawali Lautan!

Baru meluncurnya benda sumbangan itu saja sudah merupakan serangan kilat yang berbahaya.

Akan tetapi itu hanya merupakan "pembukaan"

Belaka karena luncuran benda sumbangan itu disusul hampir sama. cepatnya oleh mata cangkul yang membacok atau mencangkul kearah dada lawan! "Hemmmm!"

Rajawali Lautan Timur menggerakkan tubuhnya yang tinggi kurus, meloncat kebelakang dan miringkan kepala, menangkap bungkusan dengan tangan kiri yang memegang kipas besi.

"Trappp...!"

Kipas besi yang tadinya terbuka itu, begitu menerima bungkusan lalu menutup dan menjepit benda sumbangan.

Akan tetapi pada saat itu, cangkul lawan telah datang menyambar kearah dadanya dengan kecepatan yang dahsyat.

Dengan gerakan indah Tung-hai-tiauw atau Rajawali Lautan Timur sudah melemparkan barang sumbangan itu kearah pembantunya yang segera menerimanya dan menumpuk benda itu diatas meja tempat menaruh benda-benda sumbangan, dan sambil melontarkan benda tadi, Si Rajawali Lautan sudah mengelak sambil menangkis dengan gagang kipas besinya.

Akan tetapi karena sebelum menangkis tadi dia melontarkan dulu barang sumbangan, tangkisannya agak terlambat sehingga mata cangkul itu masih menyerempet lambungnya.

"Cringgg... trakk!"

Mata cangkul tertangkis gagang kipas lalu menyerempet lambung, akan tetapi Kim-pouw-san (Jubah Mustika Emas) yang kebal membuat serangan itu meleset dan tidak melukai kulit lambung!

Bahkan karena pengerahan sinkang, mata cangkul itu terpental dan penyerangnya merasa betapa kuatnya lambung yang menerima mata cangkul tadi.

Akan tetapi, Petani Lautan itu lihai bukan main.

Dia sudah mempergunakan langkah ajaibnya dan tahu-tahu tubuhnya sudah menyelinap dan gagang cangkulnya kini menyerang dengan sodokan keras kearah leher lawan!

"Bagus!"

Si Rajawali Lautan memuji dan diapun terkejut, tidak menyangka lawan memiliki gerakan secepat ini.

Karena yang menyerangnya adalah gagang cangkul, maka dia berani menangkis dengan lengan kirinya yang kuat.

"Dukk!"

Lengan kiri yang kuat itu menangkis gagang cangkul.

Pertemuan antara lengan dan gagang cangkul itu tidak terhenti disitu saja karena gagang cangkul itu telah membalik dan kini mata cangkulnya mencangkul kepala dan lengan yang tadinya menangkis itupun tiba-tiba meluncur kedepan, tangan yang berkuku tajam sekuat baja itu sudah membentuk cakar Rajawali dan mencengkeram kedepan, kearah pusar lawan!

Begitu cepatnya kedua orang ini bergerak melanjutkan pertemuan lengan dan gagang cangkul sehingga keduanya terkejut karena tahu-tahu serangan lawan telah tiba sedemikian hebatnya!

Kalau mereka berdua melanjutkan serangan dan membiarkan serangan lawan datang, tentu berarti akan mengadu nyawa dan mungkin keduanya akan tewas atau setidaknya terluka parah.

Melihat ini, diam-diam lamsiauw-ong sudah tersenyum-senyum girang.

Biar mereka berdua itu mampus bersama, pikirnya, dan kursi Raja Lautan akan dapat diperolehnya tanpa banyak membuang tenaga!

Akan tetapi, Tung-hai-tiauw dan Petani lautan adalah dua orang tckoh besar yang telah memiliki kepandaian tinggi, tentu saja mereka tidak mau mati konyol begitu saja.

Dalam ilmu silat ada hal-hal yang selalu dipentingkan oleh kaum persilatan, yaitu pertama, sedapat mungkin mendahului lawan dengan serangan yang tepat, dan kalau hal ini tidak mungkin, maka yang terutama adalah menyelamatkan atau menghindarkan diri lebih dulu dari bahaya yang mengancam pada saat itu.

maka, melihat bahaya yang mengancam hebat, kedu-anya lalu menunda serangan mereka dan lebih dulu mereka berdua melemparkan diri kebelakang.

Ragi Petani Lautan yang memiliki langkah-langkah ajaib, dengan lebih mudah sudah dapat memutar kaki mengatur langkah sehingga tubuhnya menjauh dan sekaligus menghindarkan diri dari cengkeraman lawan akan tetapi juga hantaman mata cangkulnya tidak mencapai kepala lawan.

Si Rajawali Lautan lebih repot dan terpaksa tadi dia melempar diri kebelakang sehingga tubuhnya membuat poksai (salto) sampai tiga kali kebelakang.

Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Petani Lautan.

Dia sudah lebih dulu dapat menguasai posisinya dan melihat betapa lawan masih bersalto untuk mengatur keseimbangan tubuh, dia sudah mendesak dengan cangkulnya, mainkan Ilmu Silat Ban-seng-kun yang dahsyat!

Didesak seperti itu, Rajawali Lautan Timur terpaksa memutar kipasnya dan mengandalkan jubah emasnya untuk mempertahankan diri dan sampai belasan jurus dia tidak sempat membalas serangan lawan yang bertubi-tubi.

Memang hebat sekali permainan cangkul dari Petani Lautan.

Selama tiga tahun ini dia sudah memperdalam gerakan-gerakannya, bahkan memperkuat sinkangnya dengan latihan-latihan.

Selain gerakannya cepat dan kuat, langkah-langkah kedua kakinya aneh sekali dan tubuhnya seperti dapat pindah-pindah posisi diluar perhitungan lawan, Juga kini peluh-peluhnya mulai berpercikan disekitar tubuhnya dan terutama sekali dibagian depan tubuh sehingga butiran-butiran keringat itu menyambar kearah lawan seperti senjata-senjata rahasia.

Memang tentu saja butiran-butiran peluh ini tidak berbahaya, akan tetapi bagaimanapun juga harus diakui bahwa sambaran air-air yang berbau kecut ini cukup membingungkan lawan, apa lagi kalau menyambar kearah muka dan terutama mata.

Tiga tahun yang lalu, dalam pertandingan yang sama, yaitu memperebutkan kedudukan Raja Lautan, Rajawali Lautan Timur menang tipis.

Hanya sesedikit selisih tingkat diantara mereka.

Andaikata tingkat kepandaian Si Rajawali Lautan masih sama dengan tiga tahun yang lalu, sekali ini mungkin dia akan kalah.

Akan tetapi, sebagai seorang Raja lautan, tentu saja selama ini dia tidak tinggal diam.

Dia tahu bahwa mempertahankan lebih sukar dan berat ketimbang merebut karena yang hendak merebut tentu berusaha mati-matian untuk merebut kedudukan itu.

Maka selama tiga tahun ini Si Rajawali Lautan Timur juga telah menggembleng diri dan mencapai kemajuan-kemajuan besar.

Setelah agak terdesak selama belasan jurus, akhirnya Tung-hai-tiauw dapat mengatur kembali posisinya dan dapat menguasai perkelahian itu.

Kipas besinya mengebut runtuh semua butiran keringat yang menyambar kearahnya dan sekaligus menangkis setiap serangan cangkul dan gagangnya.

Kipas besinya itu seolah-olah membentuk benteng baja yang membuat cangkul lawan tidak dapat menembusnya, dan sebagai pembalasan, tangan kanannya membentuk cakar Rajawali dan menyambar-nyambar kedepan.

Kipas telah dipindahkan ketangan kiri, dan kini lengan kanannya berobah keras dan amat kuat, kuku-kuku jari tang"n kanannya tajam dan runcing melengkung.

Betapapun juga, Si Rajawali Lautan Timur hanya dapat melindungi dirinya karena semua cengkeramannya tidak pernah mengenai sasaran.

Agaknya langkah-langkah ajaib dari lawannya amat luar biasa pula.

Membuat tubuh lawannya itu kadang-kadang seperti lenyap dari depannya dan tahu-tahu muncul disebelah kiri, kanan atau bahkan dibelakangnya!

Karena merasa jengkel melihat kelincahan lawan, Rajawali Lautan Timur lalu sengaja memperlambat gerakannya.

Melihat lowongan ini Si Petani Lautan girang sekali dan cangkulnya menyambar dengan dahsyatnya kearah kepala lawan.

"Wuuuuttt!"

Mata cangkul berobah menjadi sinar berkilat ketika menyambar muka Tunghai-tiauw.

Akan tetapi, Rajawali Lautan itu tidak mengelak atau menangkis, bahkan meloncat keatas sehingga mata cangkul menyambar kearah dadanya!

Raja Lautan itu sengaja menerima hantaman cangkul itu dengan dadanya yang tentu saja terlindung oleh jubah emasnya yang membuatnya kebal.

Dan satu-satunya bahaya hanyalah tenaga pukulan itu yang mengandung sinkang amat kuat, maka diapun mengerahkan tenaga sinkang kearah dada untuk melawan tenaga penyerangnya.

"Desss!"

Pada saat mata cangkul menghantam dadanya, pada saat itupun Tung-hai-tiauw menggunakan tangan kiri yang memegang kipas menotok kearah jalan darah didada lawan.

Si Petani Lautan terkejut sekali.

Mata cangkulnya terpental ketika mengenai dada lawan dan melihat totokan gagang kipas, dia cepat mengelak.

Akan tetapi, kini tangan kanan Tung-hai-tiauw yang membentuk cakar telah mencengkeram kearah ubun-ubun kepalanya.

Melihat ini, Si Petani Lautan cepat membalikkan cangkulnya, menangkis dengan gagangnya.

Akan tetapi, Tiing-hai-tiauw melanjutkan serangannya dan ketika gagang cangkul menangkis, dia mencengkeramnya.

"Krekkkk...!"

Gagang cangkul itu hancur lebur dicengkeram oleh cakar Rajawali! Dengan wajah pucat, Si Petani Lautan meloncat dua meter kebelakang sambil menjura.

"Hai-ong, kepandaianmu makin hebat saja dan engkaulah yang pantas menjadi Raja Lautan. Aku mengaku kalah!"

Semua orang yang mengikuti jalannya perkelahian itu memandang terbelalak dan merasa ngeri membayangkan betapa kuatnya cakar Rajawali itu.

Kalau anggauta badan lawan yang kena dicengkeram, tentu akan cabik-cabik dagingnya dan remuk-remuk tulangnya.

Setelah Si Petani Lautan mengaku kalah, terdengar tepuk tangan memuji.

Tepuk tangan itu tiba-tiba terhenti ketika semua orang melihat majunya lamsiauw-ong.

Si Raja Muda Selatan.

Dengan sikapnya yang angkuh, pakaiannya yang mewah seperti seorang bangsawan tulen, tubuhnya yang gendut, dia melangkah kedepan menghampiri tuan rumah.

"Hebat, hebat... kepandaian Si Rajawali Lautan Timur semakin tangguh saja, membuat aku merasa jerih untuk dapat merebut kedudukan. Hai-ong, terimalah persembahanku ini!"

Sambil berkata demikian, tangan kanannya meraba kebalik jubahnya yang lebar panjang dan pada saat itu, seorang pembantunya melontarkan sebuah bungkusan kecil yang kelihatan berat kearahnya.

Nampak kilat menyambar menyilaukan mata dan tahu-tahu Raja Muda Selatan ini telah memegang sebatang pedang didepan dadanya, pedang ditodongkan kedepan dan bungkusan kecil yang berat itu telah berada diujung pedangnya!

"Tunggu sebentar, Siauw-ong!"

Kata Rajawali Lautan Timur dan diapun sudah menghampiri meja tempat ditaruhnya barang-barang bingkisan, menyimpan kipasnya dan mengambil bungkusan panjang pemberian Si Petani Lautan tadi.

Dibukanya bungkusan itu dan ternyata benda itu adalah sebatang golok dengan sarungnya yang amat indah.

Sebuah golok pusaka yang telah dirampas oleh Si Petani Lautan dari perahu kerajaan!

Rajawali Lautan Timur agaknya sudah tahu ketika tadi menerima benda itu dan untuk menghadapi pedang Raja Muda Selatan, tidak cukup kalau hanya mempergunakan kipas besinya.

Dia sudah mendengar bahwa lawan ini telah memperdalam ilmu pedangnya dan menguasai Ilmu Pedang Hun-kin-kiam (Pedang Pemutus Urat) yang amat berbahaya.

Untuk menghadapi ilmu pedang itu, Raja Lautan ini sengaja menciptakan sebagai tandingannya ilmu golok yang hebat.

Dia memang ahli main golok disamping ilmu silat lainnya dan dianggapnya bahwa satu-satunya senjata yang tepat untuk menghadapi pedang lawan hanya ilmu golok.

Dia sendiri memiliki sebatang golok yang baik, akan tetapi karena dia tahu bahwa golok yang dipersembahkan oleh Si Petani Lautan itu adalah golok pusaka yang ampuh, maka diapun segera mengambilnya.

Si Petani Lautan tersenyum.

Memang dia sengaja menyerahkan golok itu karena dia mendengar akan persiapan tuan rumah menghadapi Raja Muda Selatan.

Memang sudah direncanakan demikian.

Kalau dia kalah, biarlah tuan rumah ini tetap menjadi Raja Lautan dan mengalahkan Raja Muda Selatan pula.

Dia tidak rela kalau kedudukan Raja Lautan itu akan terampas oleh lamsiauw-ong, saingan besarnya...

Tung-hai-tiauw kini melangkah kedepan dan berdiri dilantai atas, lebih tinggi dua anak tangga dari pada lamsiauw-ong yang berdiri dibawah.

Raja Lautan ini nampak gagah perkasa dengan pakaian yang mewah pula, gelung rambut diatas kepala itu dihias dengan hiasan rambut seperti yang biasa dipakai oleh para bangsawan, agaknya untuk menandakan bahwa dia adalah Raja Lautan, walaupun Raja kaum bajak!

Tubuhnya yang tinggi itu berdiri tegak, tangan kanan memegang golok pusaka didepan dada, tangan kirinya siap pula membantu, dan matanya memandang tajam kearah lawan.

"Lam-siauw-ong, aku telah siap menghadapi Ilmu Hun-kin-kiam dari pedangmu!"

Katanya dengan sikap tenang.

lamsiauw-ong berdiri tegak dengan kaki kanan didepan.

Suasana amat sunyi dan menegangkan hati.

Orang bertubuh gendut yang mengaku sebagai Raja Muda Selatan ini, sejenak menoleh dan memandang kearah Petani Lautan dengan alis berkerut.

Agaknya diapun dapat "mencium"

Rencana siasat yang dijalankan oleh saingannya itu dengan memberi sumbangan berupa sebuah golok pusaka kepada tuan rumah.

Melihat Si Petani lautan yang sudah kalah itu tersenyum, lamsiauw-ong mengeluarkan suara menggumam dari kerongkongannya, kemudian dia memandang lagi kepada tuan rumah yang sudah siap.

"Hai-ong, terimalah!"

Tiba-tiba dia berseru dan sekali pedangnya tergetar, tiba-tiba bungkusan diujung pedang itu seperti hidup, bergerak-gerak dan akhirnya meloncat kearah tuan rumah!

Menyusul itu, nampak sinar pedang bergulung-gulung dan terdengar suara berdesing-desing disertai angin yang membuat lampu-lampu gantung bergoyang dan api lilin berkelap-kelip.

"Haiiiittt!"

Lamsiauw-ong mengeluarkan suara melengking nyaring dan sinar pedang yang bergulung-gulung itu kini meluncur kearah tuan rumah, mengikuti bungkusan barang sumbangannya tadi.

Tung-hai-tiauw sudah menggerakkan goloknya menyambut bungkusan.

"Trakkk!"

Bungkusan yang berat itu menempel pada golok itu seperti besi dengan sembrani.

Akan tetapi sinar pedang lawan sudah datang menyerang.

Menerima bungkusan sumbangan haruslah dengan hormat dan pantang untuk menjatuhkan bungkusan itu.

Akan tetapi kalau bungkusan yang menempel pada golok itu tidak dilempar, tentu akan sukar baginya menghadapi serangan lawan yang demikian dahsyat!

Maka Tung-hai-tiauw lalu menggetarkan goloknya dan bungkusan itu terbang keatas.

Pada saat itulah sinar pedang datang menyambar dan golok yang diputar itupun berobah menjadi gulungan sinar putih cemerlang.

"Trang-cringgg... tranggg, tranggg!!"

Empat kali beruntun dua senjata itu bertemu.

bunga api berpijar dan keduanya merasa betapa tangan mereka tergetar hebat.

Pada saat itu, bungkusan sumbangan sudah melayang turun kembali, disambut oleh Tung-hai-tiauw dengan tangan kiri sedangkan kakinya meloncat kebelakang untuk menghindarkan diri kalau-kalau lawan kembali menyerang.

Akan tetapi, sinar pedang itu berkelebat panjang mengitari tubuh lamsiauw-ong dan ketika dia berdiri tegak, ternyata ada tiga batang lilin pendek bernyala diatas pedangnya!

Kiranya pedang itu telah menyambar tiga batang lilin yang bernyala diatas meja tak jauh dari situ dan sedemikian hebat gerakan pedang itu sehingga mampu membabat tiga batang lilin yang potongannya melekat pada pedang, sedangkan api ketiga lilin itu tidak padam!

Kecepatan gerak disertai tenaga sinkang yang amat kuat ini membuat semua orang melongo karena gerakan pedang membabat dan membawa potongan lilin itu seperti permainan sulap saja.

Maka terdengarlah tepuk tangan memuji.

lamsiauw-ong memandang dengan mata bersinar mengejek ketika tuan rumah melemparkan bungkusan sumbangan itu kepada seorang pembantunya yang segera menaruhnya dengan sikap hormat keatas meja, diantara tumpukan barang-barang sumbangan lain.

Kemudian, lamsiauw-ong menggerakkan tangan yang memegang pedang dan tiga batang lilin pendek yang bernyala itu menyambar berturut-turut kearah Tung-hai-tiauw.

Laki-laki tinggi kurus ini menggerakkan goloknya dan nampak sinar golok berkelebat menyilaukan mata tiga kali dan tiga batang potongan lilin itu berobah menjadi enam potong dengan apinya masih menyala ketika enam potong itu runtuh keatas lantai dan apinya padam.

Kiranya golok itu dengan kecepatan kilat telah membelah potongan lilin itu menjadi dua dengan belahan ditengah-tengah sehingga sumbunyapun terbelah dua dan masing-masing masih bernyala!

Tentu saja demonstrasi penggunaan golok yang luar biasa hebatnya ini disambut dengan tepuk sorak oleh para tamu.

lamsiauw-ong memandang dengan hati panas dan tanpa banyak cakap lagi dia sudah menerjang kedepan, pedangnya bergerak dengan cepat.

Lawannya menyambut dan mereka sudah saling serang dengan serunya, tubuh mereka lenyap terbungkus gulungan sinar pedang dan golok yang seolah-olah berobah menjadi dua ekor naga yang saling belit dan saling himpit.

Dua orang Raja kaum sesat yang hadir sebagai tamu, yaitu Sin-go Mo Kai Ci dan Sanhek-houw, memperhatikan gerakan mereka berdua yang berkelahi itu dan diam-diam mereka terkejut dan kagum bukan main, maklum bahwa mereka berdua tidak akan mampu menandingi tuan rumah dan saingannya itu.

Apa lagi mengingat bahwa mereka sebagai tokoh-tokoh darat dan sungai kini berada di "Dunia lain,"

Yaitu didaerah kekuasaan bajak-bajak laut sehingga mereka terpencil dan merasa amat asing.

Kalau saja mereka tidak mengingat bahwa mereka berdua adalah utusan Raja Kelelawar dan mengandalkan iblis yang amat lihai itu, tentu mereka berdua akan merasa jerih sekali.

"Cring-trang-tranggg!!"

Untuk kesekian kalinya pedang bertemu dengan golok dan nampaklah bunga api berpijar menyilaukan mata.

kedua orang yang telah mengadu tenaga lewat senjata mereka itu cepat memeriksa senjata masing-masing dan legalah hati mereka melihat bahwa senjata mereka tidak menjadi rusak.

lamsiauw-ong yang tadinya mengandalkan pedangnya dengan Ilmu Pedang Hun-kin-kiam-sut itu, merasa penasaran sekali bahwa lawannya mampu mematahkan semua serangannya dengan ilmu goloknya.

Dia mengeluarkan bentakan nyaring dan menerjang lagi kedepan dengan dahsyat, pedangnya lenyap berobah menjadi gulungan sinar panjang dan menyambar-nyambar dengan ganasnya.

Hun-kin-kiam-sut (Ilmu Pedang Pemutus Urat) adalah ilmu pedang yang dilatihnya selama tiga tahun ini, dan merupakan ilmu pedang yang amat dahsyat.

Ujung pedang itu seperti hidup saja, dapat mencari urat-urat halus dan jalan-jalan darah yang mematikan, maka setiap tusukan atau bacokan merupakan serangan maut.

Karena lamsiauw-ong menggerakkan pedangnya dengan pengerahan sinkang, maka selain pedang itu lenyap berobah menjadi sinar bergulung-gulung, juga dari gulungan sinar itu kadang-kadang mencuat sinar menyambar kearah lawan dan setiap kali nampak sinar menyambar ini, terdengar bunyi bercuitan mengerikan.

Akan tetapi, ternyata ilmu golok yang dimainkan oleh Tung-hai-tiauw juga hebat sekali.

selain golok yang dimainkannya merupakan golok pusaka, juga ilmu goloknya amat hebat.

Baca Juga: Pendekar Bodoh 6

Baca Juga: Istana Pulau Es 10

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert