Eps 6 Pendekar Bodoh - Kho Ping Hoo
Baca online Pendekar Bodoh - Kho Ping Hoo
Cersil Pendekar Bodoh - Kho Ping Hoo.
Demikian pun Hek Moko biarpun manusia ini telah terkenal sebagai iblis yang jahat dan kejam, akan tetapi kini setelah bertemu kembali dengan puteranya, ia memperlakukan Kwee An dengan baik sekali hingga diam-diam Kwee An menjadi terharu dan timbul rasa kasihan di dalam hatinya terhadap iblis tua ini.
Kwee An memang telah kehilangan ayahnya dan dulu ia telah lama meninggalkan ayahnya, yaitu ketika merantau mempelajari ilmu, maka kini biarpun maklum akan kejahatan dan kekejaman Hek Moko, namun mendapat perlakuan yang demikian penuh perhatian dan baik, serta menerima latihan-latihan silat dengan penuh keikhlasan, timbul juga rasa sayang dalam hatinya terhadap Iblis Hitam ini!
Atas paksaan Hek Moko, Kwee An menyebut ayah kepada iblis pendek yang luar biasa ini, sedangkan Hek Moko menyebutnya Siauw-moi atau Setan Kecil.
Kwee An belajar dengan tekun dan rajin dan biarpun ia merasa girang menerim latihan ilmu silat yang amat tinggi dan lihai dari ayah angkatnya ini, namun diam-diam ia bergidik menyaksikan betapa ilmu silat yang dipelajarinya ini benar-benar keji dan ganas!
Akan tetapi baru satu bulan saja mendapat kemajuan pesat sekali, oleh karena memang ia telah mempunyai dasar ilmu silat tinggi hingga tambahan pelajaran ini, mudah saja diterima olehnya dan tentu saja Moko menjadi girang sekali.
Ketika merasa bahwa ilmu silat yang diajarkan sudah cukup, Hek Moko lalu berkata.
"Siauw-mo anakku, sekarang kau takkan kalah menghadapi Hai Kong!"
Kwee An menghaturkan terima kasih dengan sepenuh hatinya.
"Ayah, sekarang juga anakmu mau pergi mencari Kong untuk membalas dendam karena kekalahan yang lalu!"
"Bagus, bagus! Tidak ada orang di dunia ini yang boleh menghina anakku! Aku akan pergi bersamamu dan menghajar hwesio gundul itu!"
Kwee An terkejut, karena ia ingin mencari Cin Hai, bagaimana ia bisa nembawa serta ayah angkatnya ini? Ia lalu mencari akal dan berkata.
"Ayah, apakah Ayah mau membikin aku menjadi malu? Kalau Ayah ikut, Hai Kong akan menganggap bahwa aku takut kepadanya dan sengaja mengajak kau orang tua! Untuk menghadapi Hai Kong saja, aku yang telah menerima kepandaianmu, sudah cukup. Untuk apa Ayah harus mencapaikan diri dan mengotori tangan untuk menghukum dia. Dan pula, bagaimana dengan hewan ternak di sini kalau Ayah ikut pergi?"
Hek Moko terdiam dan tak dapat menjawab, ia memikir bahwa anaknya ini benar juga dan pantas alasan-alasannya, maka ia lalu mengurungkan maksudya hendak ikut.
"Baiklah, kau pergi dan hajarlah hwesio itu. Aku menunggumu di sini! Tetapi kau harus lekas kembali, dan jangan meninggalkan Ayahmu lama-lama, Siauw-mo. Ingat, aku sudah tua sekali dan mungkin hidupku di dunia ini takkan lama lagi!"
Ucapan ini menusuk perasaan Kwee An dan menyentuh sanubarinya. Ia lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Iblis Hitam itu dan berkata.
"Ayah, aku takkan melupakan kau selama hidupku!"
Setelah berkata demikian, Kwee An lalu meninggalkan tempat itu.
Ia segera menuju ke tempat di mana dulu dia dan Cin Hai bertemu dengan Pangeran Vayami, akan tetapi di situ telah sunyi dan tidak terlihat sedikit pun bekas-bekas adanya Cin Hai.
Kwee An berdiri termenung di tepi sungai dengan hati bingung dan sedih.
Tiba-tiba terdengar gerakan perlahan di belakangnya dan ia tahu bahwa itu adalah Hek Moko yang datang!
Benar saja, suara Hek Moko segera terdengar dan Iblis Hitam itu telah berada di belakangnya.
Kwee An segera menengok dan melihat bahwa ayah angkatnya itu telah datang beserta Pek Moko yang kelihatan menyeramkan sekali oleh karena wajahnya yang buruk itu kini nampak muram dan marah, sedangkan rambutnya telah putih semua yang membuat ia nampak tua sekali!
Iblis putih ini memandang kepada Kwee An dengan tajam dan ia mengangguk-angguk sambil berkata.
"Anak pungutmu ini terlalu cakap, Suheng, tapi ia cukup baik menjadi anakmu!"
Hek Moko tertawa senang dan berkata kepada Kwee An.
"Anakku, ini adalah Susiokmu yang bernama Pek Moko. Kau cukup menyebutnya Pek-susiok saja!"
Kwee An berpura-pura belum pernah melihat Pek Moko dan ia lalu berlutut memberi hormat.
"Pek-susiok, terimalah hormat teecu."
Pek Moko mengeluarkan suara jengekan dari hidungnya.
"Jangan terlalu menghormat, Siauw-mo, aku tidak biasa dihormati orang seperti ini!"
Kwee An terkejut, akan tetapi Hek Moko hanya tertawa senang.
"Siauw-mo, kau takkan dapat mencari Hai Kong oleh karena hwesio itu telah pergi mencari Pulau Emas! Bahkan aku dan Susiokmu ini pun hendak pergi ke sana pula. Hayo kau ikut kami dan tentu di sana kau akan dapat bertemu dengan Hai Kong Hosiang!"
Kwee An menjadi girang, akan tetapi sebetulnya ia tidak senang harus pergi bersama sepasang iblis ini.
"Bagaimana Ayah bisa tahu bahwa dia pergi ke Pulau Emas dan dimanakah letak pulau itu?"
Tanyanya.
Hek Moko lalu menceritakan pengalaman Pek Moko.
Ternyata bahwa ketika mencari anak perempuannya, yaitu Pek Bin Moli, Pek Moko dapat menemukan anak perempuannya itu dalam keadaan mati!
Ong Hu Lin, mantunya yang menjadi suami Pek Bin Moli dalam keadaan terpaksa itu, setelah dibawa pergi oleh isterinya yang gila, di tengah jalan lalu mencari akal dan akhirnya pada suatu malam, ketika isterinya yang berotak miring itu sedang tidur pulas, ia dengan kejam telah membunuh isterinya ini!
Ketika Pek Moko mendengar tentang hal ini, lalu mencari Ong Hu Lin dan setelah bertemu, ia menyiksa dan membunuh Ong Hu Lin dengan penuh kemarahan hingga tubuh Ong Hu Lin dihancurkan sampai tidak karuan macamnya lagi!
Peristiwa ini membuat Pek Moko berduka sekali hingga seluruh rambutnya memutih dan wajahnya menjadi kejam dan muram selalu.
Kemudian dengan kebetulan Iblis Putih ini mendengar tentang adanya Pulau Emas yang kini sedang dicari-cari dan agaknya dijadikan rebutan antara orang-orang Turki, suku bangsa Mongol, dan oleh Pemerintah Kaisar sendiri!
Ia segera mencari kakak seperguruannya, yaitu Hek Moko dan setelah ia menceritakan semua ini, Hek Moko lalu mengajak menyusul Kwee An yang baru saja pergi dari situ untuk diajak bersama-sama pergi mencari Pulau Emas.
Kwee An yang mendengar semua cerita ini, lalu berpikir pula bahwa besar kemungkinan Hai Kong Hosiang juga pergi mencari pulau itu dan apabila Hai Kong pergi ke sana, maka jika Cin Hai masih hidup, tentu pemuda itu mengejar juga ke sana!
Oleh karena ini, tanpa ragu-ragu pula ia lalu menyatakan kesediaannya untuk ikut dengan Hek Moko ini.
Berbeda dengan rombongan Nelayan Cengeng, Hek Pek Moko menuju ke laut melalui jalan darat dan mengikuti sepanjang tepi sungai.
Cin Hai yang tertolong oleh Bu Pun Su dan telah sembuh dari pengaruh madu merah yang mujijat dan setelah pikirannya pulih kembali seperti biasa dan dapat mengingat semua kejadian telah lalu, merasa berduka sekali oleh karena tidak tahu bagaimana keadaan Kwee An dan Lin Lin.
Terutama sekali ia merasa gelisah dan bingung jika teringat akan nasib Lin Lin yang tertawan oleh perwira Boan Sip!
Ingin sekali ia segera bertemu dengan Boan Sip untuk membuat perhitungan dan menumpahkan rasa dendam dan marahnya, akan tetapi ke mana harus mencari orang she Boan itu?
Ang I Niocu maklum akan kesedihan Cin Hai ini, akan tetapi ia sendiri pun tidak berdaya dan hanya mengucapkan kata-kata hiburan di sepaniang perjalanan.
Untuk menghibur hati pemuda yang gelisah ini, Ang I Niocu lalu bertanya dan minta ia mengutarakan tentang pertempuran dengan Hai Kong Hosiang.
"Hwesio itu benar-benar telah mendapat kemajuan dalam ilmu silatnya,"
Kata Cin Hai.
"Sukar sekali bagiku untuk merobohkannya, walaupun aku dapat mengimbangi semua serangannya. Ia agaknya sudah kenal baik serangan-seranganku yang berdasarkan Liong-san-kun-hwat dan Ngo-lian-hwat, hingga dapat berjaga diri dengan baik. Juga dalam ilmu kepandaian lweekang, hwesio itu kini amat kuat dan jauh lebih kuat daripada dulu."
Ang I Niocu mendengarkan dengan penuh perhatian ketika Cin Hai menuturkan jalannya pertempuran. Kemudian Gadis Baju Merah yang telah banyak mengalami pertempuran-pertempuran ini, lalu berkata.
"Hai-ji, cabutlah pedangmu dan mari coba kuuji sampai di mana kepandaianmu!"
Cin Hai terkejut, akan tetapi ketika ia melihat sinar mata Ang I Niocu, ia maklum bahwa Dara Baju Merah ini hendak memberi petunjuk-petunjuk kepadanya, maka tanpa ragu-ragu lagi ia lalu mencabut pedangnya Liong-coan-kiam, sedangkan Ang I Niocu juga sudah mencabut keluar pedangnya.
"Awas serangan!"
Kata Ang I Niocu yang lalu menyerang dengan pedangnya.
Sebagaimana biasa, sekali pandang saja secara otomatis Cin Hai dapat mengenal dasar gerakan serangan ini, maka dengan mudah ia pun lalu mengelak dan balas menyerang.
Ang I Niocu terus menyerang dan mengeluarkan ilmu pedangnya yang paling lihai, yakni Sian-li Kiam-sut yang mempunyai gerakan indah dan daya serang luar biasa dahsyatnya.
Akan tetapi Cin Hai dengan amat mudahnya mengetak dan menangkis serangan ini dengan tepat dan sempurna.
"Kaubalaslah menyerang, jangan menahan diri saja,"
Teriak Ang I Niocu sambil mengirim tusukan.
Cin Hai lalu balas menyerang dan oleh karena ia tidak mengenal lain ilmu pedang maka ia pun lalu menyerang dengan Sian-li Kiam-sut yang ditirunya dari Ang I Niocu.
Tentu saja serangan ini amat mudah dikenal dan diketahui perubahan atau perkembangannya oleh Ang I-Niocu hingga gadis ini mudah saja mengelak atau menangkis.
"Jangan menyerang dengan Sian-li Kiam-sut, tidak ada gunanya! Pakailah ilmu pedang lain!"
Ang I Niocu berseru lagi sambil terus menyerang lagi.
Cin Hai tahu kekeliruannya oleh karena menghadapi gadis yang menjadi ahli Silat Bidadari itu, sungguh tolol kalau mempergunakan ilmu pedangnya dan kini memainkan Ilmu Pedang Liong-san Kiam-hwat yang dipelajarinya dari Kanglam Sam-lojin.
Ia sekarang telah memiliki ilmu ginkang dan lweekang yang sangat tinggi oleh karena menerima latihan dari Bu Pun Su secara istimewa yakni mempelajari dasar-dasarnya hingga boleh dibilang Cin Hai telah memiliki kepandaian pokok yang mutlak.
Akan tetapi oleh karena pengetahuannya tentang ilmu silat hanya dangkal saja, yaitu terbatas pada ilmu silat dari Liong-san-pai dan ilmu silat yang ia pelajari dari An I Niocu, maka daya tempurnya amat lemah.
Memang kalau menghadapi orang yang belum matang betul dalam hal ilmu silat tinggi, dengan mudah saja Cin Hai akan dapat mengalahkannya, akan tetapi apabila menghadapi tokoh persilatan yang tinggi dan matang ilmu pedangnya, pemuda ini hanya dapat bertahan saja dengan luar biasa uletnya, akan tetapi juga sukar untuk melancarkan serangan-serangan lain kecuali kedua macam ilmu silat yang telah dipelajarinya itu, hingga menghadapi tokoh-tokoh tinggi seperti Hek Pek Moko atau Hai Kong Hosiang, juga menghadapi Ang I Niocu pemuda ini menjadi pihak yang selalu didesak dan diserang, sungguhpun harus diakui bahwa semua serangan itu dapat ditangkis atau dielakkannya dengan amat mudah oleh karena ia telah tahu betul akan perkembangan selanjutnya dari tiap serangan!
Ang I Niocu menghabiskan seluruh kepandaiannya untuk digunakan menyerang anak muda itu, akan tetapi tak sedikit pun ia dapat mempengaruhi atau mengacaukan Cin Hai yang istimewa.
Diam-diam gadis ini merasa kagum sekali oleh karena boleh dibilang di dunia ini tidak ada keduanya bila dicari orang yang dapat mempertahankan diri sedemikian baiknya terhadap serangan-serangannya yang dilakukan sampai semua jurus Sianli Kiam-sut habis dimainkan tanpa nampak terdesak sedikit pun!
Akan tetapi biarpun serangan-serangan Cin Hai luar biasa dahsyatnya, namun baginya serangan-serangan itu kurang berbahaya, dan kelihaiannya hanya terdorong oleh tenaga lweekang dan gerakan yang hebat dari anak muda itu dan sama sekali bukan karena ilmu pedangnya yang hebat.
"Benar seperti yang kuduga!"
Ang I Niocu berseru sambil melompat mundur. Cin Hai menahan pedangnya.
"Memang benar, Susiok-couw hanya memberi pokok-pokok dasar ilmu silat kepadamu, tanpa memberi pelajaran penting untuk melakukan penyerangan. Mengapa engkau dulu tidak mau minta supaya orang tua yang aneh itu menurunkan satu atau dua macam ilmu silat agar dapat kaugunakan untuk menyerang lawan?"
Dengan tersenyum Cin Hai berkata.
"Niocu, apakah kau masih belum kenal adat Suhu yang kukoai (aneh)? Kalau dia sendiri tidak menghendaki, biarpun diminta sampai menangis pun takkan ia berikan!"
Ang I Niocu memang sungguh-sungguh sayang kepada Cin Hai, maka pada saat itu gadis ini memutar-mutar otaknya demi kebaikan anak muda itu.
Ia tahu bahwa dengan kepandaiannya yang sekarang ini, Cin Hai tak usah merasa takut terhadap seorang lawan yang mana pun juga, akan tetapi, tanpa memiliki daya serang yang lihai, bagaimana ia akan dapat menjatuhkan musuh-musuhnya?
Apalagi sekarang masih ada seorang musuh yang amat tangguh, yaitu Hai Kong Hosiang yahg agaknya dibantu oleh pendeta tua renta yang gagu dan lihai sekali itu.
Kalau pemuda ini tidak memiliki ilmu serangan yang dahsyat, banyak kemungkinan mendapat celaka dari tangan Hai Kong Hosiang.
Cin Hai yang melihat betapa Ang I Niocu termenung, lalu meninggalkan gadis itu untuk mengumpulkan kayu kering.
Mereka telah tiba dalam sebuah hutan dan hari telah mulai gelap, sedangkan di tempat itu banyak nyamuk dan hawa dingin.
Tiba-tiba Ang I Niocu melompat ke atas dan berkata dengan girang.
"Benar, benar! Kau harus melakukan itu,"
Katanya kepada Cin Hai hingga pemuda ini tentu saja menjadi terheran-heran oleh karena tidak mengerti apakah yang dimaksudkan oleh gadis itu yang nampak demikian gembira.
"Hai-ji, kau harus menciptakan ilmu pedang sendiri!"
Katanya kepada Cin Hai. Cin Hai terkejut dan mukanya menjadi merah.
"Ah, Niocu, kau ini ada-ada saja! Aku yang bodoh dan tolol ini mana bisa menciptakan ilmu pedang? Jangan mentertawakan aku, Niocu!"
"Anak bodoh! Merendahkan diri di depan orang lain memang baik, akan tetapi memandang rendah kesanggupan sendiri hanya dilakukan oleh orang-orang malas dan kurang semangat. Kau dapat melihat dasar-dasar segala ilmu silat, maka kalau kau memang mau, mengapa kau tidak bisa menggabungkan semua ilmu silat itu menjadi satu dan menciptakan sendiri gerakan-gerakan serangan yang kauanggap tepat dan lihai?"
Cin Hai memandang dengan sinar mata bodoh oleh karena memang belum mengerti.
"Niocu, tolong kauberi tahu kepadaku, bagaimana caranya!"
Ang I Niocu lalu memberi penjelasan dengan sabar dan telaten.
"Hai-ji, terus terang saja kuberitahukan kepadamu bahwa Sianli Utauw atau Tarian Bidadari itu pun aku sendiri yang menciptakan. Maka kalau kau memang tekun, kau pun pasti akan dapat mencipta ilmu pedang yang tidak ada keduanya di dunia ini. Caranya begini. Kauperhatikan dan ingat semua ilmu silat yang telah kaulihat dan lalu kaupilih gerakan-gerakan serangan musuh yang dilancarkan kepadamu. Mana yang kauanggap lihai dan baik, boleh kaupilih. Kemudian gerakan-gerakan ini lalu kaurangkai menjadi semacam ilmu pedang yang lihai. Tentu saja kau harus merubahnya sedikit agar tidak sama dengan aselinya lagi, dan bahkan harus diperbaiki mana yang kurang tepat. Hanya kau dan Susiok-couw yang mempunyai kemampuan seperti ini."
Mendengar ucapan Ang I Niocu, diam-diam Cin Hai lalu tertarik hatinya.
Mengapa tidak ia coba?
Memang tidak enak kalau selalu mempertahankan serangan orang, dan pula memang memang memalukan kalau menghadapi seorang lawan lalu menyerang lawan itu dengan ilmu silat yang ditirunya dari lawan itu sendiri.
Alangkah senangnya kalau ia memiliki ilmu pedang sendiri yang dapat dibanggakan.
Cin Hai lalu duduk termenung dan ia lalu bersamadhi mengumpulkan seluruh perhatian dan perasaannya.
Ia bayangkan semua ilmu-ilmu silat yang telah dilihatnya.
Oleh karena ia telah mempunyai dasar batin yang kuat dan pikirannya telah jernih oleh latihan-latihan napas dan samadhi, maka sebentar saja di dalam otaknya terlintas semua gerakan ilmu silat yang pernah dilihatnya.
Di antara semua ilmu silat, gerakan-gerakan Hek Pek Moko yang paling dahsyat dan kejam, sedangkan ilmu silat dan gerakan-gerakan Ang I Niocu yang ia anggap paling indah dan baik.
Ia lalu mengumpulkan ingatannya dan mencatat di dalam hati gerakan-gerakan yang dianggapnya paling lihai, kemudian dengan mata masih meram dan membayangkan gerakan-gerakan itu, tubuhnya lalu berdiri dan bergerak-gerak menurut gambaran gerakan yang masih tampak di dalam matanya yang meram itu.
Ang I Niocu mengikuti gerakan pemuda ini dengan heran dan kagum.
Ia melihat betapa Cin Hai memainkan ilmu-ilmu silat yang aneh-aneh dan bermacam-macam, bahkan di situ ia lihat pula Cin Hai memainkan Sianli Utauw, dan juga Liong-san Kun-hwat.
Ia tahu bahwa pemuda itu sedang memilih-milih, maka ia tidak mau mengganggu, hanya mencari tambahan kayu kering dan menjaga agar api unggun itu tidak padam.
Setengah malam lebih Cin Hai tiada hentinya bergerak ke sana ke mari sambil memejamkan mata.
Ia tidak merasa bahwa ia telah bersilat selama itu, sedangkan Ang I Niocu masih tetap duduk di dekat api dengan setia.
Ia sedikitpun tidak mau mengganggu Cin Hai dan hanya mernandang pemuda yang disayanginya itu dengan penuh harapan.
Setelah lewat tengah malam tiba-tiba Cin Hai menghentikan gerakan-gerakannya dan mukanya menjadi agak pucat.
Ia memandang kepada Ang I Niocu dan berkata.
"Niocu, terima kasih atas petunjuk dan nasihatmu tadi. Agaknya aku telah mendapatkan semacam ilmu silat ciptaanku sendiri."
Ang I Niocu girang sekali dan berkata.
"Coba kau sempurnakan ilmu itu dengan pedang, Hai-ji!"
Cin Hai lalu mencabut pedangnya dan berkata lagi.
"Ketika aku bersilat dan mengumpulkan tipu-tipu gerakan semua cabang persilatan yang pernah kulihat, tiba-tiba aku melihat bahwa memang selama ini aku terlalu lemah dan tidak mempunyai pikiran untuk membalas menyerang lawan. Aku tidak ingat bahwa tak perlu aku kerahkan seluruh perhatian untuk pertahanan, karena sebetulnya aku telah memiliki daya tahan yang otomatis dan tak perlu menggunakan seluruh perhatian lagi. Oleh karena kesalahan itu, maka dulu aku tidak melihat lowongan-lowongan dan kesempatan-kesempatan yang sebenarnya dapat kumasuki untuk merobohkan lawan."
Setelah berkata demikian, ia menghampiri serumpun bambu dan tetumbuhan lain yang tumbuh dengan suburnya di dekat situ.
Tetumbuhan itu penuh dengan daun-daun hingga batang-batangnya yang kecil hampir tak tampak dari luar dan oleh karena angin malam pada saat itu bertiup kencang, maka semua daun-daun itu yang berbentuk runcing bagaikan ratusan senjata menyerang ke depan dan melindungi batang-batang mereka yang kecil.
Cin Hai lalu membayangkan bahwa ratusan daun itu adalah senjata-senjata musuh yang melindungi tubuh musuh, dan bahwa ia harus berusaha menyerang tubuh-tubuh musuh yang kini dilindungi oleh ratusan pisau yang bergerak-gerak itu.
Ia lalu menggerakkan Liong-coan-kiam di tangan kanannya dan mulai bersilat dengan gerakan aneh.
Gerakannya mula-mula lambat dan mengintai rumpun itu, akan tetapi makin lama makin cepat.
Ia berusaha untuk melukai tubuh-tubuh yang bersembunyi di balik ratusan senjata itu tanpa mengadu pedangnya dengan senjata itu!
Hal ini tentu saja sukar bukan main oleh karena ratusan daun itu bergerak-gerak cepat dan tidak menentu karena tertiup angin hingga tubuh-tubuh atau batang-batang itu hanya nampak sekelebat dan sekilat saja!
Akan tetapi, Cin Hai berlaku cepat dan hati-hati dan tiap kali daun-daun itu bergerak dan sebatang pohon kecil nampak, biarpun hanya sekilas, namun dengan pedangnya telah memasuki lowongan itu dan tepat ujung pedangnya menusuk batang itu tanpa mematahkannya!
Gerakan-gerakan pedangnya ini luar biasa sekali hingga Ang I Niocu yang masih duduk di dekat api, ketika melihat ini menjadi kagum sekali.
Ia merasa begitu bergembira, hingga diam-diam ia pun menggerakkan kedua tangan dan bersilat meniru-niru dan mengimbangi gerakan pedang Cin Hai!
Ia melihat betapa gerakan-gerakan anak muda itu masih nampak kaku, maka sambil menggerakkan kedua tangannya, ia berkali-kali menyerukan bahwa tangan kiri pemuda itu harus begini dan sikap tubuhnya harus begitu!
Pendeknya, Cin Hai pada saat itu sedang menciptakan semacam ilmu pedang bersama-sama Ang I Niocu.
Cin Hai mencipta ilmu pedangnya, sedangkan Gadis Baju Merah itu memperbaiki gerak gayanya!
Setelah Cin Hai selesai bersilat, Ang I Niocu lalu menghampiri rumpun bambu dan ketika ia membuka daun-daun yang menutupnya, ternyata batang-batang yang puluhan jumlahnya itu semua telah berlubang bekas tusukan ujung pedang Ci Hai!
Ang I Niocu bersorak girang dan menari-nari bagaikan anak kecil!
Cin Hai juga merasa girang sekali dan ia tidak menolak ketika Ang I Niocu mengajak ia sekali lagi bertanding dan ia harus mempergunakan ilmu pedangnya yang baru saja diciptakannya itu!
Dan hasilnya benar-benar hebat!
Tiap jurus apabila Cin Hai menyerang selalu serangannya ini membingungkan Ang I Niocu dan kalau saja pemuda itu menyerang dengan sungguh-sungguh, dalam sepuluh jurus saja Pendekar Wanita Baju Merah ini pasti akan roboh!
Ternyata bahwa Cin Hai telah menciptakan sebuah ilmu pedang yang benarbenar luar biasa, oleh karena ilmu pedangnya ini didasarkan atas kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan ilmu silat lain yang telah dilihatnya.
Ia menggunakan kesempatan untuk mengisi lowongan-lowongan dan menyerbu bagian-bagian yang lemah dari gerakan-gerakan aneh, bahkan kadang-kadang kedudukan kaki atau tangannya berbalik dan merupakah kebalikan daripada gerakan ilmu silat biasa!
Ang I Niocu merasa girang sekali dan minta Cin Hai bersilat pedang lagi seorang diri.
Pada gerakan yang kaku, gadis yang memang ahli tari dan memiliki gerak gaya indah ini lalu memperbaiki tanpa merusak gerakan aseli.
Sampai fajar menyingsing, kedua orang ini tiada hentinya melatih, atau lebih tepat lagi Cin Hai melatih diri dan Ang I Niocu membantunya dengan nasihat-nasihat mengenai keindahan gerakannya.
Semalam suntuk mereka tidak beristirahat.
Pada keesokan harinya mereka hanya beristirahat sebentar kemudian Cin Hai kembali melatih diri dengan ilmu silat pedangnya yang baru itu.
Ang I Niocu melihat dari samping memberi petunjuk di bagian yang masih kaku gerakannya.
Walaupun ilmu pedang ini dapat dilihat dan ditiru oleh Ang I Niocu, akan tetapi oleh karena untuk mempergunakan ilmu pedang ini harus sebelumnya dimiliki kepandaian dan pengertian pokok tentang segala gerakan ilmu silat sebagaimana yang telah dimiliki Cin Hai, maka ilmu pedang ini tidak akan ada gunanya bagi Ang I Niocu.
Pendeknya, tanpa pengetahuan dasar yang diajarkan oleh Pun Su, orang lain tidak mungkin mempergunakan ilmu ini dalam menghadapi lawan!
Demikianlah, setelah berlatih terus-menerus selama tiga hari tiga malam, akhirnya ilmu pedang ini dapat dimainkan dengan baik sekali oleh Cin Hai hingga Ang I Niocu menjadi puas dan girang.
Ketika ia mencoba untuk melawan ilmu pedang ini dengan ilmu pedangnya, maka dalam tiga jurus saja pedangnya telah dapat dirampas oleh Cin Hai.
"Aduh Hai-ji! Ilmu pedangmu ini benar-benar luar biasa dan jangankan Hai Kong Hosiang biarpun Hek Pek Moko sendiri tentu akan roboh di tanganmu! Kionghi, kionghi! (Selamat)."
Tiba-tiba terdengar suara orang berkata dengan suara nyaring.
"Ya, kionghi, kionghi! Akan tetapi hati-hatilah kau, Cin Hai agar ilmu jahat ini tidak merusak hatimu menjadi jahat dan kejam pula!"
Cin Hai dan Ang I Niocu terkejut sekali dan tahu-tahu Bu Pun Su telah berdiri di dekat mereka!
"Cin Hai, ilmu pedang tadi memang baik sekali dan tidak kusangka bahwa kau yang bodoh ini dapat mencipta ilmu pedang seperti itu!
Akan tetapi oleh karena kau melatih dengan melukai batang-batang bambu dengan ujung pedangmu, maka apabila menghadapi lawan, kau baru akan dapat merobohkan dia dengan tusukan yang melukainya pula!
Ini jahat sekali, muridku!"
Cin Hai merasa bingung dan terkejut sekali oleh karena memang betul seperti yang dikatakan oleh gurunya ini.
Tadi ia berhasil merampas pedang Ang Niocu oleh karena gadis pendekar itu terlalu terdesak oleh ilmu pedangnya hingga memungkinkan ia menyambar dan merampas pedang gadis itu, sedangkan kalau bertempur dengan lawan yang melawan mati-matian, maka untuk merobohkannya ia harus mempergunakan pedangnya yang mengirim serangan-serangan maut itu!
"Mohon ampun, Suhu, dan sudi memberi petunjuk-petunjuk kepada teecu,"
Katanya. Bu Pun Su tersenyum dan tiba-tiba dengan suara sungguh-sungguh ia berkata.
"Coba cabutlah pedangmu itu dan seranglah aku!"
Cin Hai tidak ragu-ragu untuk melakukan hal ini oleh karena ia mempunyai kepercayaan penuh akan kesaktian suhunya, maka setelah memberi hormat sekali lagi, ia lalu mencabut Liong-coan-kiam dan menyerangnya dengan hebat.
Pedangnya berkelebat merupakan sinar yang melenggang-lenggok dan ia telah mempergunakan jurus ke lima yang dianggapnya cukup berbahaya.
Ia maklum bahwa suhunya memiliki mata tajam sekali dan telah hafal sekali akan segala gerakan pundak yang mendahului semua gerakan pukulan tangan dan juga telah tahu akan pergerakan lutut yang mendahului semua gerakan kaki, maka ia lalu mengeluarkan serangan jurus ke lima ini.
Memang dalam menciptakan ilmu pedangnya, Cin Hai juga memikirkan kemungkinan apabila menghadapi seorang yang telah mempunyai kepandaian melihat gerakan orang seperti yang sudah dipelajarinya dari Bu Pun Su, maka dalam beberapa gerakan ia sengaja membuat ilmu serangan yang dilakukan dengan gerakan-gerakan terbalik!
Menurut gerakan ilmu silat biasa, jika pundaknya bergerak itu tentu menjadi tanda bahwa pedang di tangan kanannya akan ditusukkan ke depan, akan tetapi belum juga pedangnya menusuk, secepat kilat gerakan itu telah dibalik dan menjadi sabetan pada kedua kaki lawan dan sebelum sabetan ini diteruskan, telah dibalikkan pula dan menjadi sebuah serangan memutar ke arah leher!
"Ganas sekali!"
Bu Pun Su berseru sambil meloncat ke belakang oleh karena guru yang lihai ini benar-benar tercengang dan terkejut melihat kehebatan serangan muridnya.
"Hayo kauserang terus dan keluarkan semua ilmu pedangmu yang liar ini!"
Katanya dan Cin Hai tak berani membantah dan segera maju menyerang terus.
Akan tetapi, ilmu meringankan tubuh dari Bu Pun Su sudah sampai di tingkat tertinggi hingga boleh dibilang tubuhnya seperti sehelai bulu yang dapat bergerak pergi tiap kali angin pedang menyambar hingga biarpun pedang Cin Hai hampir menyerempet pakaian kakek itu, namun tetap pedang itu tak dapat melukainya!
Namun benar-benar kali ini Bu Pun Su menghadapi semacam ilmu pedang yang luar biasa dan hanya dengan mengerahkan seluruh ginkangnya saja maka ia dapat mengelak bagaikan seekor burung beterbangan di antara sambaran pedang!
Ang I Niocu memandang demonstrasi yang dilakukan oleh guru dan murid ini dengan mata terbelalak saking kagum dan herannya.
Selama hidupnya belum pernah ia melihat kelihaian seperti ini dan hatinya diam-diam girang sekali memikirkan bahwa Cin Hai kini telah menjadi seorang jago pedang tingkat tinggi!
Ilmu pedang Cin Hai semuanya ada tiga puluh sembilan dan setelah dimainkan semua, akhirnya pemuda ini meloncat ke belakang sambil berkata dengan napas terengah-engah.
"Sudahlah, Suhu, teecu tak kuat lagi!"
Ia lalu berlutut dengan muka merah karena hatinya kecewa betapa dengan mudahnya kakek itu dapat mengelak serangannya.
Ia anggap ilmu pedangnya ini tiada gunanya sama sekali dan bahwa ia telah menyia-nyiakan waktu tiga hari tiga malam!
"Ha, ha ha."
Bu Pun Su tertawa terkekeh-kekeh karena kakek ini maklum dan dapat membaca isi hati Cin Hai dari muka pemuda itu.
"Jangan kau kecewa, Cin Hai. Ketahuilah, ilmu pedang yang baru saja kau mainkan ini kehebatannya jauh melebihi dugaanku semula!"
"Mohon Suhu jangan mentertawakan kebodohan teecu,"
Kata Cin Hai.
"Siapa mentertawakan kau? Anak bodoh, dengan ilmu pedangmu ini, kau boleh menjelajah di seluruh negeri dan mengharapkan kemenangan dari setiap pertempuran! Akan tetapi, jangan kira bahwa aku merasa senang atau bangga melihat ilmu pedangmu ini! Kaukira aku tidak percaya atau tidak suka kepadamu maka aku tak pernah menurunkan ilmu kepandaian menyerang kepadamu? Ketahuilah, dan kau juga Im Giok, aku memang sengaja tidak mengajarkan ilmu serangan kepadamu, oleh karena apakah baiknya menyerang orang? Akan tetapi, memang segala apa sudah ditentukan oleh takdir hingga kau yang tidak mempelajari ilmu menyerang, ternyata kini menghadapi banyak musuh yang lihai. Dan jangan kauanggap bahwa ilmu pedangmu ini saja akan cukup kuat untuk menghadapi Si Rangka Hidup Kam Ki Sianjin, supek dari Hai Kong Hosiang itu! Ah, kau terlalu mengunggulkan diri kalau kau mempunyai pikiran demikian! Di dunia ini banyak sekali terdapat orang-orang pandai dan mungkin kalau sewaktu-waktu kau akan menemui musuh yang lebih lihai lagi! Sekarang kau telah berhasil menciptakan semacam ilmu menyerang, maka biarlah agar jangan kepalang tanggung, kau pelajari juga Ilmu Pek-in-hoat-sut (Ilmu Sihir Awan Putih) dan Ilmu Silat Tangan Kosong Kong-ciak-sin-na."
Bukan main girang rasa hati Cin Hai dan segera mengangguk-anggukkan kepala menghaturkan terima kasih.
"Juga kau yang telah banyak membuat jasa boleh mempelajari ilmu ini, Im Giok."
Ang I Niocu lalu berlutut dan mengucapkan terima kasih pula.
Demikianlah, selama dua pekan, Bu Pun Su memberi pelajaran dua macam ilmu silat itu kepada Cin Hai dan Ang I Niocu yang dipelajari dengan penuh perhatian oleh kedua pendekar muda itu.
Pek-in-hoat-sut adalah ilmu sihir yang sebetulnya hanya sebutannya saja ilmu sihir, oleh karena ilmu ini gerakan ilmu silat yang sepenuhnya digerakkan oleh tenaga khikang hingga dari kedua kepalan tangan yang memainkannya keluar uap putih bagaikan awan yang dapat menolak setiap hawa serangan yang bagaimana jahat pun dari lawan!
Uap ini terjadi dari keringat yang berubah menjadi uap sebagai akibat dari dorongan tenaga khikang yang panas dan disalurkan ke arah kedua lengan dalam setiap serangan.
Biarpun lawan menggunakan ilmu hitam atau pukulan keji seperti Ang-see-ciang (Tangan Pasir Merah) dan lain-lain, apabila bertemu dengan orang yang mempergunakan Pek-in-hoat-sut ini akan mati kutunya, tenaga serangan mereka yang buyar dengan sendirinya.
Oleh karena tenaga hebat inilah maka ilmu ini disebut ilmu sihir!
Ilmu ke dua adalah Ilmu Silat Tangan Kosong Kong-ciak-sin-na atau Ilmu Silat Tangan Kosong Burung Merak.
Gerakan-gerakan ilmu silat ini selain memukul, juga menggunakan jari-jari tangan untuk mencengkeram dan merampas senjata musuh hingga tepat sekali dipergunakan dengan tangan kosong apabila menghadapi lawan yang bersenjata.
Setelah kedua orang itu mempelajari dua macam ilmu silat itu dengan sempurna, Bu Pun Su lalu berkata.
"Cin Hai dan Im Giok! Biarpun kalian tidak bertanya, akan tetapi aku maklum bahwa kalian ingin sekali mendengarkan tentang nasib Lin Lin."
Cin Hai mendengarkan dengan wajah tiba-tiba berubah pucat, sedang Ang I Niocu juga mendengarkan dengan hati berdebar khawatir.
"Kalian jangan khawatir, menurut dugaanku Lin Lin telah selamat dan kalau tidak keliru ia sedang melakukan perjalanan dengan kawan-kawan baik. Sekarang ada hal yang lebih penting lagi. Orang-orang Turki dan orang-orang Mongol sedang berlomba untuk merebut sebuah pulau di laut timur dan apabila pulau ini sampai terjatuh ke dalam tangan mereka, maka bahaya besar mengancam seluruh negeri! Aku menyaksikan dengan mata sendiri, betapa ratusan orang-orang Turki dan Mongol dengan diam-diam dipimpin oleh orang-orang berilmu dari kedua bangsa itu dan secara bersembunyi mereka menyerbu ke daerah timur untuk berlomba menemukan pulau itu. Oleh karena ini, kalian berdua segera berangkatlah ke laut timur melalui sungai yang mengalir di sebelah utara ini, oleh karena hanya di sana saja, maka kalian akan dapat bertemu dengan Lin Lin, bahkan mungkin dapat bertemu dengan musuh besarmu yang bernama Hai Kong Hosiang itu. Nah, sekarang aku hendak pergi!"
Cin Hai dan Ang I Niocu maklum akan sikap aneh dari orang tua ini yang bicaranya selalu mengandung rahasia.
Mereka maklum pula bahwa mereka secara membuta mereka harus menurut petunjuk ini, oleh karena petunjuk ini pasti betul dan biarpun tidak jelas, namun kalau tidak nyata takkan dikeluarkan dari mulut kakek luar biasa itu.
Tanpa menunda lagi, Cin Hai dan Ang I Niocu berlari cepat ke utara dan tak lama kemudian mereka bertemu dengan sungai yang melintang dan mengalir ke arah timur itu.
Di situ tidak terlihat perahu dan keadaannya sunyi sekali, maka keduanya lalu mempergunakan ilmu lari cepat dan mengikuti aliran sungai menuju ke timur.
Akan tetapi, jalan di tepi sungai itu sukar sekali, penuh rawa dan hutan-hutan berbahaya, juga amat sukar dilalui.
Setelah mereka berlari selama dua hari, akhirnya mereka melihat sebuah dusun kecil dan mereka menjadi girang ketika melihat beberapa buah perahu diikat di pinggir sungai.
Segera Cin Hai mencari pemilik perahu untuk disewa atau dibelinya.
Dua orang menghampiri mereka dan bertanya.
"Jiwi membutuhkan perahu?"
"Betul,"
Kata Cin Hai dengan girang.
"Kami berdua hendak menyewa atau membeli sebuah perahu."
"Membeli?"
Kedua orang itu saling pandang "Ah, Kongcu. Di sini tidak ada yang mau menjual perahunya. Pernah kau mendengar ada orang menjual isterinya?"
"Apa katamu?"
Cin Hai bertanya heran, dan tak senang, oleh karena menyangka bahwa nelayan itu hendak mempermainkannya.
"Kongcu hendak membeli perahu, sedangkan sebuah perahu adalah sama dengan seorang isteri bagi seorang nelayan. Siapakah yang mau menjual perahu atau isterinya? Tidak, Kongcu, kalau kalian berdua hendak menyewa, boleh kalian pakai perahuku ini. Biarpun kecil, tetapi kuat dan laju!"
Cin Hai tersenyum geli.
"Boleh, aku hendak menyewa perahumu ini."
"Jiwi hendak ke manakah?"
Tanya nelayan yang seorang lagi. Ang i Niocu tidak senang melihat ada orang lain ikut bicara, bahkan bertanya tentang maksud kepergian mereka.
"Apa perlunya kau ikut campur dan bertanya ke mana kami hendak pergi?"
Tanyanya tak senang. Orang itu berkata sambil mengangkat dadanya.
"Aku berhak penuh untuk ikut campur, oleh karena perahu ini adalah milik kami berdua!"
Cin Hai tertawa.
"Aha, kalau begitu isterimu ini mempunyai dua orang suami?"
Kedua orang nelayan itu tertawa.
"Kongcu, kami adalah orang-orang miskin, dan dua orang memiliki sebuah perahu saja."
"Kami berdua hendak menuju ke laut dan hendak mencari sebuah pulau."
Kedua orang itu nampak terkejut sekali.
"Apa? Hendak mencari pulau? Apakah Pulau Emas?"
Cin Hai dan Ang I Niocu tercengang, akan tetapi mereka memang hendak menyelidiki pulau yang belum pernah meraka ketahui ini sedangkan Bu Pun Su juga tidak memberi penjelasan, maka Cin Hai lalu tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Ya, kami mencari Pulau Emas!"
Tiba-tiba seorang di antara kedua nelayan itu menjadi pucat dan berkata kepada kawannya.
"Twako, marilah kita pergi dan jangan melayani mereka ini. Agaknya mereka ini pun sudah kegilaan emas dan mungkin akan timbul malapetaka lagi apabila kita membawa mereka seperti hal kita tempo hari itu!"
Cin Hai menjadi tertarik, dan Ang I Niocu segera membentak.
"Apakah yang terjadi? Apa ada orang lain yang juga mencari Pulau Emas itu?"
Kedua nelayan itu saling pandang dan keduanya lalu berdiri hendak meninggalkan tempat itu, sama sekali tidak berani menjawab.
Ang I Niocu lalu meloncat dan sekali tangannya bergerak, maka pedang yang tajam telah dicabutnya dari pedang itu kini menempel di leher seorang nelayan.
"Ke mana engkau hendak pergi? Jangan main-main, sebelum kalian menceritakan hal itu kepada kami, jangan harap akan dapat pergi dengan kepala menempel di lehermu!"
Nelayan itu menghela napas.
"Apa kataku, Twako? Benar-benar Pulau Emas itu pulau berhantu dan setan-setan saja yang berani mengunjungi pulau itu! Toanio, harap kau berlaku murah dan jangan begini galak. Kami hanya nelayan-nelayan biasa saja dan kalau Toanio menghendaki, baiklah kami tuturkan pengalaman kami. Beberapa hari yang lalu, kami kedatangan seorang asing yang sangat murah hati dan royal dengan hadiah-hadiahnya. Ia minta kami suka mendayung perahunya yang besar, oleh karena ia berkata bahwa ia tidak kenal daerah sini. Ia hendak pergi ke laut dan mencari Pulau Emas seperti kalian pula. Akan tetapi, pada suatu malam, perahu orang asing bangsa Turki ini kedatangan seorang perwira yang galak dan gagah, sedangkan perwira ini ketika datangnya saja sudah sangat aneh dan menakutkan yaitu ia mengempit tubuh seorang gadis muda yang cantik jelita!"
Berdebarlah hati Cin Hai dan Ang I Niocu. Bukankah gadis yang dimaksudkan ini Lin Lin adanya? Akan tetapi Cin Hai lalu mendesak.
"Teruskan, teruskan ceritamu!"
"Setelah perwira galak ini naik ke dalam perahu kami, maka kami berdua lalu mendapat perintah untuk mendayung perahu dan sepanjang yang kami dengar, perwira itu tadinya hendak membunuh gadis yang ditawannya, akan tetapi maksudnya dihalangi oleh orang asing itu, dan agaknya Si Perwira takut dan tunduk kepadanya. Gadis itu lalu ditahan di dalam kamar perahu dan tidak diganggu. Akan tetapi, memang setan berkeliaran di atas sungai ini! Tiba-tiba perahu yang kami dayung itu bertumbuk dengan sebuah perahu lain yang biarpun kecil, akan tetapi maju dengan kuat hingga perahu kami terhalang. Dan yang lebih hebat lagi, ketika kami menegur nelayan tua yang berada di perahu kecil itu, ia menjadi marah dan sekali pukulkan dayungnya yang besar, perahu yang kami dayung menjadi pecah dan bocor hingga tenggelam!"
"Nelayan Cengeng!"
Tak terasa lagi Cin Hai berseru. Nelayan yang bercerita itu menjadi kaget karena menyangka bahwa dialah yang dimaki cengeng tetapi sebelum ia sempat bertanya, Cin Hai sudah mendesaknya lagi.
"Teruskanlah, teruskanlah!"
"Penumpang-penumpang kami orang Turki yang aneh dan perwira yang galak itu menjadi marah dan melompat ke darat, sedangkan gadis cantik yang ditawan itu pun tak tersangka-sangka lihai juga dan dapat melompat ke darat! Kami berdua tak dapat melompat sejauh itu maka kami lalu menceburkan diri ke dalam air dan berenang ke tepi. Ternyata di tepi itu terjadi pertempuran hebat! Orang Turki bertempur melawan nelayan tua yang memegang dayung dan yang telah memecahkan perahu kami, sedangkan Si Perwira dikeroyok oleh gadis tawanannya dan seorang pemuda tampan kawan nelayan tua itu."
"Ma Hoa!"
Kata Ang I Niocu dan kembali nelayan itu memandang heran karena tidak tahu maksud Dara Baju Merah yang berseru karena amat tertarik mendengar penuturan ini.
"Dan bagaimana hasil pertempuran itu?"
Cin Hai mendesak dengan tak sabar, karena ia telah merasa pasti bahwa yang mengeroyok perwira itu tentu Lin Lin dan Ma Hoa dan yang bertempur melawan orang Turki tentu Si Nelayan Cengeng.
"Kesudahannya mengerikan sekali..."
Nelayan yang pandai bercerita itu sengaja berhenti sebentar untuk membikin pendengar-pendengarnya makin bernafsu dan ceritanya makin menarik.
"perwira yang galak dan gagah itu tewas. Kepalanya remuk dipukul oleh dayung yang dipegang gadis tawanannya, sedangkan dadanya bolong-bolong tertembus pedang Si Pemuda tampan!"
Baik Cin Hai maupun Ang I Niocu menghela napas lega.
"Mampuslah si keparat!"
Seru Cin Hai dengan gembira, kemudian ia menegaskan.
"Bukankah perwira itu masih muda, kira-kira tiga puluh tahun, dan bibirnya tebal?"
Nelayan itu memandangnya heran.
"Betul sekali, apakah Kongcu kenal padanya?"
Akan tetapi Cin Hai tidak menjawab pertanyaan ini, hanya bertanya lagi.
"Dan bagaimana hasil pertempuran orang Turki melawan nelayan tua itu?"
"Mereka bertempur secara luar biasa sekali hingga kami berdua tidak dapat melihat siapa menang siapa kalah. Tiba-tiba mereka berhenti bertempur dan agaknya lalu mengikat persahabatan. Si Nelayan Tua itu benar-benar setan air! Ia menyelam ke dalam air dan berhasil mencari dan mengambil perahu yang telah tenggelam itu. Bukan main! Selama hidupku belum pernah aku melihat orang dapat melakukan hal semacam itu. Tentu ia iblis air sungai itu!"
"Hush! Jangan membuka mulut sembarangan saja. Sekali lagi kau memaki dia, kutampar mulutmu!"
Kata Cin Hai sambil mendelikkan matanya hingga nelayan itu terkejut dan takut.
"Teruskan ceritamu, bagaimana selanjutnya dengan mereka itu?"
"Selanjutnya? Tidak ada apa-apa lagi. Mereka berempat setelah memperbaiki perahu lalu berangkat pergi dan kami ditinggalkan dengan perahu kecil ini dan hadiah uang!"
"Jadi perahu kecil ini adalah perahu kepunyaan nelayan tua itu?"
Tanya Cin Hai dengan girang. Kedua nelayan itu menjadi pucat karena mereka telah kelepasan omong.
"Kalau begitu kami hendak memakai perahu ini,"
Kata Ang I Niocu yang merogoh keluar dua potong uang perak dari sakunya.
"Nih, kalian ambil seorang satu! Perahu ini kami ambil!"
Melihat bahwa perahu itu hanya diganti dengan dua potong uang perak, kedua nelayan itu menjadi bingung.
"Eh, Siocia, eh... Toanio, nanti dulu, perahu... perahu kami ini harganya lebih dari lima potong uang perak!"
Ang I Niocu mengangkat tangan mengancam.
"Perahu ini bukan perahu kalian! Memberi dua potong perak sudah terlalu banyak untukmu dan itu pun bukan untuk membeli perahu ini, akan tetapi sebagai upah kalian bercerita tadi!"
Cin Hai dan Ang I Niocu lalu melompat ke dalam perahu dan mendayung perahu itu ke tengah sungai.
Kedua nelayan itu tidak berani berbuat sesuatu, hanya melihat perahu itu pergi makin jauh dengan hati memaki-maki kalang kabut, akan tetapi mulut tidak berani bersuara!
Dua hari kemudian ketika perahu melalui sebuah hutan, Ang I Niocu melihat pohon-pohon buah lenci di dekat pantai.
Melihat buah yang bergantungan dan sudah masak itu, timbul seleranya dan ia mengusulkan untuk berhenti dan beristirahat sebentar sambil mencari dan makan buah.
Cin Hai setuju, oleh karena ia pun merasa ingin makan buah yang segar nampaknya itu.
Mereka lalu mendayung perahu ke pinggir dan menarik perahu kecil itu ke darat.
Kemudian, oleh karena melihat tempat itu sunyi dan indah sekali, timbul kegembiraan mereka dan keduanya lalu melompat ke atas cabang pohon dan memilih buah sesuka hati mereka.
Akan tetapi tiba-tiba Cin Hai berseru kaget dan cepat melompat turun dan ketika Ang I Niocu memandang ke arah perahu mereka, ia pun terkejut sekali.
Seorang tosu (pendeta penganut Agama Tao) sedang menarik perahu mereka ke arah air, dan agaknya ia hendak mempergunakan kesempatan itu untuk mencuri perahu mereka!
Ang I Niocu menjadi marah sekali dan ia pun cepat melompat turun dari atas pohon.
Ketika Cin Hai dan Ang I Niocu berlari ke arah perahu mereka, tiba-tiba dari balik batang pohon besar melompat keluar seorang hwesio (pendeta penganut Agama Buddha) yang bertubuh pendek tapi gemuk sekali.
Hwesio ini kelihatan lucu sekali, mukanya seperti muka anak kecil yang gemuk, dan jika dilihat, ia persis seperti boneka besar atau Jilaihud yang berwajah baik dan peramah.
Mukanya yang bulat itu selalu tersenyum ramah, tubuhnya bagian atas yang serba bulat dan gemuk hanya menutup kedua pundak dan lengannya saja, sedangkan tubuh atas bagian depan terbuka sama sekali!
Dadanya yang bergajih dan pusarnya yang besar kelihatan menambah kelucuannya.
Ia menghadang Cin Hai dan Ang I Niocu sambil tertawa dan berkata.
"Ai, ai, kalian sepasang burung dara yang bahagia! Mengapa melayang turun dari pohon dan berlari-lari. Bukankah lebih senang bermain-main di atas pohon?"
Bukan main marahnya Cin Hai mendengar ini, sedangkan Ang I Niocu dengan muka merah lalu membentak.
"Bangsat gundul kurang ajar! Tutup mulutmu dan minggirlah!"
Akan tetapi hwesio tadi memandang heran dan tertawa lagi.
"Eh, eh, mengapa marah-marah? Apakah aku mengganggu kalian?"
"Hwesio gemuk, jangan kau menghadang di depan kami!"
Kata Cin Hai yang lebih sabar.
"Kami akan mengejar pencuri perahu itu!"
Si Hwesio tertawa terus dan berkata.
"Pencuri perahu? Kau maksudkan tosu itu? Ah, dia adalah saudaraku! Kami hanya ingin pinjam sebentar perahumu itu!"
"Bagus, hwesio maling!"
Kata Ang I Niocu yang segera melompat maju dan mengayun kepalan tangan menghantam dada hwesio yang gemuk itu.
Akan tetapi Ang I Niocu terkejut sekali karena tidak menyangka bahwa hwesio segemuk ini dapat bergerak gesit sekali ketika ia mengelak dari pukulan Ang I Niocu.
"Waduh, ganas... ganas...!"
Seru hwesio gendut itu yang masih saja tertawa-tawa sungguhpun Ang I Niocu menyerang bertubi-tubi dengan pukulan cepat hingga ia harus mengelak ke sana ke mari dengan repot sekali.
Sementara itu, tosu yang hendak mencuri perahu tadi, ketika melihat betapa saudaranya diserang oleh Ang I Niocu dan terdesak sekali, segera menarik kembali perahu itu ke darat dan berlari-lari ke arah tempat pertempuran.
"Jangan kau memukul Adikku!"
Teriaknya dan segera menyerang Ang I Niocu.
Melihat serangan ini hebat juga datangnya, Cin Hai lalu maju menangkis dan keduanya lalu bertempur ramai!
Keadaan tosu ini sama sekali berbeda dengan hwesio itu.
Kalau hwesio itu gemuk dan pendek bermuka ramah dan mulutnya selalu tersenyum, adalah Si Tosu ini mukanya seperti orang mewek dan menangis, matanya yang sipit itu seakan-akan memandang dengan sedih hingga membikin sedih pula kepada orang yang melihatnya.
Ang I Niocu biarpun sedang marah, akan tetapi melihat betapa hwesio itu biarpun terdesak sekali masih saja tertawa-tawa dengan muka sama sekali tidak memperlihatkan ketakutan, menjadi tidak tega hati untuk melukainya, dan hanya mendesak dengan ilmu silat yang baru dipelajarinya dari Bu Pun Su, yaitu ilmu Silat Kong-ciak-sin-na hingga hwesio itu tak dapat membalas menyerang dan dipermainkan oleh Ang I Niocu bagaikan seekor kucing.
Ang I Niocu memang sengaja menggunakan hwesio itu sebagai ujian bagi ilmu silatnya yang baru dan ia merasa girang sekali mendapat kenyataan bahwa ilmu silat yang dipelajarinya dari Bu Pun Su ini memang betul-betul luar biasa.
Sebaliknya dengan mudah Cin Hai pun dapat mendesak Si Tosu.
Kemudian, sebelah kakinya berhasil menggaet kaki tosu itu yang segera jatuh terguling-guling dan mengeluh kesakitan.
"Nah, biar kau kapok mendapat hajaran sedikit!"
Kata Cin Hai.
"Dan agar lain kali tidak berani mencoba untuk mencuri perahu lain orang."
Si Tosu itu dengan muka seperti orang menangis menoleh ke arah hwesio yang masih diserang kalang-kabut oleh Ang I Niocu. Ia mengeluh lagi dan berseru.
"Ceng Tek, sudahlah baik kita menyerah. Mereka ini bukan makanan kita!"
Mendengar kata-kata ini, hwesio gemuk itu lalu melompat mundur dan berkata sambil tertawa.
"Sudahlah Nona, pinceng mengaku kalah!"
Ang I Niocu menjadi geli hatinya dan ia pun tidak tega untuk menyerbu terus.
"Kalian dua orang tua ini siapakah dan mengapa hendak mencuri perahu kami?"
Tanyanya. Kedua pendeta itu saling pandang dan sambil menjura, tosu itu berkata.
"Kami dua kakak beradik adalah pendeta-pendeta perantau. Adikku ini bernama Ceng Tek Hwesio dan pinto sendiri bernama Ceng To Tosu. Tadinya kami kira bahwa kalian berdua adalah sepasang orang muda yang hendak berpelesir di sini, maka kami berani mengganggu dan hendak meminjam perahu kalian. Tidak tahunya, melihat pakaian dan kepandaian Nona ini, kami tidak akan heran apabila kau mengaku wanita yang berjuluk Ang I Niocu!"
Ang I Niocu tersenyum.
"Memang dugaanmu tepat sekali, Totiang. Aku adalah Ang I Niocu dan saudaraku ini adalah Pendekar Bodoh!"
Kedua mata Ceng To Tosu yang sipit itu dipentang lebar.
"Apa? Dengan kepandaiannya seperti itu, ia masih disebut Pendekar Bodoh? Ah, kalau yang bodoh saja kepandaiannya setinggi ini, apalagi yang pintar?"
Biarpun tosu ini mengucapkan kata-kata yang mengandung kelakar, namun tetap saja mukanya mewek seperti mau menangis!
Dan hwesio pendek gemuk itu tetap tersenyum dengan muka sesenang-senangnya!
Cin Hai tertarik sekali melihat dua saudara yang aneh ini, maka ia lalu bertanya.
"Harap kau dua orang suci suka berkata terus terang saja. Sebetulnya mau meminjam perahu kami hendak pergi ke manakah?"
Kini hwesio gemuk itu yang menjawab dan ucapannya penuh kejujuran.
"Kami hendak pergi ke laut dan mencari sebuah pulau."
"Pulau Emas?"
Cin Hai cepat menyambung dan kedua pendeta itu tercengang.
"Kau... sudah tahu?"
"Tentu saja! Kami hendak pergi ke sana!"
"Aha! Sungguh kebetulan sekali. Sudahkah kalian dua anak muda tahu di mana letaknya Kim-san-to (Pulau Gunung Emas)?"
Terus terang saja Cin Hai menyatakan belum tahu. Kedua pendeta itu lalu saling pandang dan akhirnya Si Tosu berkata.
"Baiklah, sekarang diatur begini saja. Perahu ini cukup lebar untuk ditumpangi empat orang. Kami berdua membonceng kalian dan sekalian menjadi penunjuk jalan. Kalian mempunyai perahu akan tetapi tidak kenal jalan, sedangkan kami berdua yang kenal jalan tidak mempunyai perahu! Bukankah kita dapat saling menolong?"
Cin Hai dan Ang I Niocu kini saling berpandangan dan akhirnya Cin Hai mengangguk dan berkata.
"Kata-katamu ini pantas juga. Biarlah kita sama-sama mencari pulau itu dan kalian berdua menjadi petunjuk jalan!"
"Akan tetapi perahu kita kecil dan hwesio gemuk ini tentu berat sekali! Asal saja kau tidak banyak bergerak hingga jangan-jangan perahu kita akan terguling dan tenggelam!"
Kata Ang I Niocu sambil tertawa sehingga mereka berempat sama-sama tertawa gembira.
Cin Hai dan Ang I Niocu merasa suka kepada dua orang aneh itu dan mereka dapat menduga bahwa kedua orang ini tentulah orang-orang kang-ouw yang berwatak baik.
Beberapa hari kemudian, keempat orang dalam perahu kecil itu telah sampai di samudera dan mulai dengan usaha mereka mencari Pulau Kim-san-tho.
Atas petunjuk kedua pendeta itu, perahu didayung ke kiri dan melalui pantai yang curam dan batu-batu karang yang tinggi.
Ketika perahu mereka bergerak perlahan di tepi batu karang yang tinggi dan hitam, tiba-tiba dari atas menyambar turun bayangan yang cepat sekali gerakannya!
Bayangan ini menyambar ke arah dada dan perut Ceng Tek Hwesio yang telanjang.
Kaget sekali empat orang di dalam perahu itu ketika melihat bahwa yang menyambar adalah seekor burung rajawali yang besar dan buas sekali!
Agaknya burung ini tertarik oleh kegemukan dada dan perut Ceng Tek Hwesio yang bergajih dan montok itu, hingga ia menyambar turun hendak mencengkeram daging gemuk itu!
Ceng Tek Hwesio kaget dan hendak berkelit, akan tetapi berat badannya membuat perahu berguncang!
"Hai, jangan bergerak!"
Ang I Niocu mencegah dan gadis ini dengan cepat lalu menendang ke arah burung yang menyambar turun itu dan alangkah kagetnya ketika burung itu dengan cepat dapat mengelak tendangannya dan melayang ke atas lagi!
Cin Hai yang berdiri di kepala perahu dan memandang tajam, juga ia merasa kagum melihat ketangkasan dan kecepatan burung yang besar itu.
Sedangkan hwesio pendek gemuk itu, melihat bahwa dirinya diserang oleh burung rajawali, hanya tersenyum-senyum dan tertawa ha-ha-hi-hi saja, dan biarpun hatinya berdebar ngeri, akan tetapi mukanya tetap tersenyum.
Sebaliknya, muka Ceng To Tosu makin nampak sedih dan mewek bagaikan benar-benar hendak menangis tersedu-sedu oleh karena ia merasa kuatir dan juga marah kepada burung pemakan manusia itu.
Kini burung rajawali menyambar turun dari atas dengan cepatnya.
Ang I Niocu yang merasa mendongkol melihat tendangannya tadi dapat dikelit oleh burung besar itu, berkata kepada kawan-kawannya.
"Jangan bergerak dan biarkan aku bikin mampus burung celaka itu!"
Ketika burung itu mengulur cakarnya dan kembali hendak menyerang hwesio gendut itu, Ang I Niocu cepat menghantam dengan tangan kanannya sekerasnya!
Kembali ia tertegun oleh karena burung itu dapat miringkan tubuh dan mengibas dengan sayapnya seakan-akan menangkis pukulan Ang I Niocu!
Akan tetapi pukulan itu bukanlah pukulan biasa dan dilakukan dengan tenaga lweekang hingga biarpun burung itu menangkis dengan sayap, namun tubuh burung itu terlempar jauh dan oleh karena sakitnya, tiba-tiba sambil memekik keras burung yang terlempar ke atas itu mengeluarkan kotoran yang jatuh menimpa berhamburan ke arah perahu bagaikan hujan.
Kebetulan sekali kotoran itu jatuh tepat ke arah Ceng To Tosu dan Ceng Tek Hosiang hingga muka dan baju kedua pendeta itu menjadi kotor kena kotoran burung itu.
Ang I Niocu makin gemas dan marah karena burung itu agaknya tidak terluka dan hanya terpental dan kaget saja.
Juga burung itu kini terbang berputaran di atas perahu sambil mengeluarkan suara nyaring.
Ang I Niocu mencabut keluar pedangnya dan dengan muka merah karena gemas ia berkata.
"Burung keparat, turunlah kalau kau berani!"
Seakan-akan mengerti dan dapat mendengar tantangan gadis itu, burung rajawali yang berbulu kuning emas dan berparuh merah itu memekik panjang dan kembali menyerang turun dan kini bukan menyerang kepada hwesio gendut, akan tetapi langsung menyerang Ang I Niocu, oleh karena agaknya ia marah sekali kepada Dara Baju Merah yang telah dua kali menyerangnya itu.
Burung ini adalah semacam Kim-tiauw atau Rajawali Emas yang jarang terdapat dan yang disebut raja segala burung.
Ketika ia menyerang Ang I Niocu, gerak tubuhnya cepat dan tak terduga oleh karena ia bukan menyerang langsung dari atas, akan tetapi turun sambil bergerak-gerak ke kanan kiri dengan cepatnya.
Ang I Niocu bukanlah sembarangan gadis yang takut akan segala macam burung.
Dengan seruan keras, sebelum burung itu menyambar, Ang I Niocu sudah mendahului melompat ke atas sambil menyambar dengan pedangnya.
Burung Kim-tiauw itu kembali secara aneh dapat mengelak dan mumbul lagi ke atas, kemudian berkali-kali ia menyerang turun.
Terjadilah pertempuran yang hebat dan indah dipandang antara Ang I Niocu di atas perahu dan burung rajawali yang menyambar-nyambar dari atas.
Beberapa kali pedang Ang I Niocu yang hampir dapat memenggal leher burung itu, tiba-tiba dapat disampok dengan sayap atau cakar dengan kuku burung itu, hingga Ang I Niocu menjadi makin marah dan penasaran saja.
Biarpun Ang I Niocu belum berhasil membunuh Kim-tiauw, akan tetapi banyak bulu burung itu telah rontok ketika sayapnya menyampok pedang, sedangkan burung itu sama sekali tidak mendapat kesempatan menyerang gadis perkasa itu.
Sebenarnya kalau ia berada di atas tanah keras, tentu Ang I Niocu sudah berhasil membunuh Kim-tiauw itu, akan tetapi ia berada di atas perahu yang bergerak-gerak hingga membuat gerakannya tidak leluasa sekali.
Setelah berkali-kali gagal serangannya, bahkan hampir saja pedang tajam menembus dadanya dan memenggal leher, akhirnya Kim-tiauw itu agaknya mengakui kelihaian Ang I Niocu dan sambil mengibaskan sayapnya yang lebar dan kuat dan mengeluarkan bunyi seperti orang mengeluh panjang, ia lalu terbang pergi dengar cepat sekali hingga sebentar saja tubuhnya hanya merupakan titik kuning emas di langit biru.
Ang I Niocu menyimpan kembali pedangnya dan duduk dengan muka merengut, hatinya tidak puas sekali karena kegagalannya membunuh burung besar itu, akan tetapi Ceng To Tosu lalu ber kata sambil menghela napas panjang.
"Baiknya kau tidak membunuhnya Lihiap."
"Eh, mengapa, kau berkata baik sedangkan hatiku kecewa sekali karena tidak berhasil membunuhnya?"
Kata Ang I Niocu sambil memandang heran.
Burung itu adalah burung Kim-sin-tiauw atau Rajawali Sakti Berbulu Emas, dan burung itu di daerah ini terkenal burung pembawa rezeki dan kebahagiaan.
Kita telah bertemu dengan dia dan memusuhi kita, hal ini tidak baik sekali, apalagi kalau kau tadi sampai salah tangan dan membunuhnya!"
Diam-diam Cin Hai terkejut sekali mendengar ini, akan tetapi Ang I Niocu berkata.
"Burung jahat itu mana bisa membawa kebahagiaan?"
Biarpun Cin Hai tidak setuju mendengar ucapan gadis ini akan tetapi oleh karena ia telah maklum bahwa gadis ini tidak takut apa pun juga, ia diam saja dan tidak menyatakan kekuatirannya, hanya berkata memuji.
"Kim-sin-tiauw itu lihai sekali dan gerakannya tangkas dan cepat."
"Kalau di darat ada harimau menjadi raja dan di laut ada naga, maka di udara Kim-sin-tiauw boleh dibilang menjadi raja udara!"
Kata Ceng Tek Hwesio yang masih tersenyum-senyum seakan-akan kejadian tadi adalah hal yang menyenangkan hatinya! "Dan raja udara itu hampir saja berpesta pora menikmati kelezatan dagingmu yang gemuk!"
Kata Cin Hai dan semua orang tertawa geli, kecuali Ceng To Tosu yang agaknya selama hidup tak pernah tertawa, dan ia hanya mengutarakan kegelian hatinya dengan mewek makin menyedihkan!
Kita tinggalkan dulu perahu kecil yang dinaiki empat orang yang sedang mencari Pulau Emas itu, pulau yang aneh dan mengandung rahasia dan yang pada waktu itu menjadikan sebab terjadinya hal-hal yang hebat oleh karena tiga bangsa sedang berusaha merampasnya!
Kerajaan Turki di waktu itu yang telah mendengar tentang adanya Pulau Emas di laut timur Negara Tiongkok telah mengirim dan menyebar para penyelidiknya, di antaranya Yousuf yang cerdik dan yang menjadi orang pertama mendapatkan pulau itu.
Di samping menyebar mata-mata, Kerajaan Turki lalu mengirim sejumlah besar tentaranya untuk menyerbu ke daerah ini.
Mereka tidak berani melalui daratan Tiongkok, oleh karena maklum bahwa apabila mereka melalui daratan pedalaman Tiongkok, mereka akan menghadapi rintangan-rintangan besar yang memungkinkan gagalnya usaha mereka, oleh karena Tiongkok selain mempunyai daerah luas yang berbahaya, juga memiliki banyak orang pandai yang tentu akan melawan tentara Turki yang menjelajah negaranya.
Oleh karena ini, barisan Turki itu mengambil jalan memutar dari utara, bergerak ke timur melalui sepanjang perbatasan Negara Tiongkok dan masuk di daerah Mongol dan mereka ini pun tidak tinggal diam dan melawan barisan asing yang tanahnya.
Akan tetapi oleh karena pada waktu itu bangsa Mongol masih belum kuat dan hidupnya berkelompok-kelompok ini dapat dihalau oleh barisan Turki yang kuat.
Barisan Turki ini dipimpin oleh orang-orang pandai, bahkan di dalam barisan terdapat seorang pemimpin aneh yang merupakan seorang pendeta bertubuh besar sekali bagaikan seorang raksasa akan tetapi agak pendek.
Pendeta ini berkepala botak, berjenggot hitam dan kaku bagaikan kawat dan yang menyongot ke sana ke mari tidak terawat.
Tubuhnya yang gemuk besar itu mengenakan pakaian yang aneh pula, oleh karena pakaian ini terbuat dari banyak macam kain kembang yang ditambal-tambal.
Dilihat dari keadaan pakaiannya, pendeta ini lebih pantas disebut seorang pengemis jembel!
Pendeta ini lihai dan sakti sekali dan ia menjadi jago nomor satu di seluruh Kerajaan Turki.
Namanya di Turki terkenal sebagai Balutin, sedangkan pendeta yang telah seringkali merantau di pedalaman Tiongkok ini disebut dalam bahasa Tiongkok sebagai Pouw Lojin.
Oleh karena sering masuk di daerah Tiongkok, maka Balutin pandai bicara dalam bahasa Tionghoa.
Dengan adanya pendeta ini, maka ekspedisi Turki ini tidak mengalami banyak rintangan, oleh karena setiap penghalang yang kuat selalu hancur apabila berhadapan dengan Balutin yang lihai.
Selain ilmu silatnya yang tinggi, Balutin juga mahir dalam ilmu sihir, dan lweekang serta khikangnya sudah mencapai tingkat tinggi sekali.
Oleh karena adanya gerakan tentara Turki inilah yang membuat bangsa Mongol gelisah sekali.
Mereka ini merasa pun akhirnya dapat juga mencari tahu akan rahasia Kerajaan Turki dan dapat mengetahui bahwa bangsa Turki ini hendak mencari sebuah Pulau Emas di Laut Tiongkok.
Maka, bangsa Mongol lalu menguasakan kepada Pangeran Vayami yang cerdik dan untuk menghubungi Kaisar Tiongkok.
Ini pulalah sebabnya maka Hai Kong Hosiang diutus oleh kaisar untuk mengundang Pangeran Vayami datang ke istana kaisar.
Setelah Vayami bertemu dengan kaisar secara cerdik sekali Vayami lalu menghasut dan memberi tahu bahwa tentara Turki bermaksud mengurung ibu kota Tiongkok dan merampas sebuah pulau di Laut Tiongkok yang mengandung banyak emas!
Secara cerdik sekali Pangeran Vayami menghasut dan hendak mengadudombakan tentara Turki dan tentara Tiongkok, sedangkan diam-diam pangeran yang cerdik dan licin ini telah mempersiapkan kaki tangannya untuk secara mendadak menyerbu pulau itu.
Ia mengambil siasat "Membiarkan Dua Ekor Anjing Berebut Tulang"
Dan kemudian diam-diam membawa tulang itu berlari sementara kedua anjing itu masih bergumul!
Akan tetapi, Kaisar Tiongkok pun bukan seorang bodoh, dan seandainya ia sendiri bodoh, namun para penasehatnya adalah orang-orang cendekiawan yang berpemandangan luas.
Oleh karena ini biarpun kaisar telah masuk dalam perangkapnya dan mengirimkan barisan besar yang dikepalai oleh Beng Kong Hosiang dan beberapa orang perwira tertinggi kepandaiannya bahkan kepala bayangkari, seorang perwira kekasih kaisar yang amat tinggi kepandaiannya dan bernama Lui Siok In, mendapat tugas khusus untuk memimpin barisan itu bersama-sama Beng Kong Hosiang dan lain-lain perwira, bergerak menuju ke pantai laut di sebelah utara dekat tapal batas Tiongkok, di mana menurut keterangan Pangeran Vayami tentara Turki itu berkumpul.
Sementara itu, kaisar memerintahkan Hai Kong Hosiang untuk tetap menemani Pangeran Vayami dengan alasan melindungi keselamatan tamu agung itu dalam perjalanannya kembali ke negerinya, sedangkan sebetulnya kaisar ini bukan hendak menjaga keselamatan orang, akan tetapi bahkan ingin mengawasi dan mengikuti gerak-geriknya, dan membatasi usaha-usaha kecurangan yang mungkin hendak dilakukan oleh Pangeran Vayami yang cerdik.
Oleh karena ini, Hai Kong Hosiang mendapat tugas istimewa dan hwesio ini pun lalu mengajak supeknya, yaitu Kiam Ki Sianjin yang telah pikun dan gagu, akan tetapi masih lihai sekali itu.
Pangeran Vayami lalu keluar dari istana bersama Hai Kong Hosiang dan Kiam Ki Sianjin, dan pangeran ini langsung menuju ke utara pula dan memberi tahukan kepada Hai Kong Hosiang tentang adanya Pulau Emas itu.
Hai Kong Hosiang walaupun seorang pendeta, namun hatinya tertarik dan ingin sekali mendapatkan gunung emas itu, maka ia pun lalu menyetujui ajakan Pangeran Vayami untuk menyaksikan pulau itu dari dekat dan kalau mungkin mendarat di pulau itu.
Hal ini menurut Hai Kong Hosiang tidak ada salahnya, oleh karena tugasnya yang didapat dari kaisar hanya mengawasi dan menjaga agar pangeran ini jangan melakukan sesuatu yang akan merugikan, pendeknya kaisar mencurigai Pangeran Vayami dan Hai Kong Hosiang bertugas mengawasinya.
Ketika tentara Turki yang dipimpin dan dilindungi oleh Balutin itu tiba di tepi pantai laut, mereka berhenti dan memasang kemah.
Sementara itu, bagian perlengkapan lalu sibuk membuat perahu-perahu untuk keperluan menyeberang.
Biarpun mereka telah lebih dulu menyediakan segala keperluan untuk membuat perahu-perahu ini, akan tetapi oleh karena jumlah tentara yang hendak diseberangkan ini tidak kurang dari seribu orang, maka pembuatan perahu itu makan waktu berhari-hari.
Dan pada waktu mereka sedang sibuk membuat persiapan menyeberang, datanglah tentara Kerajaan Tiongkok yang dipimpin oleh Lui Siok In, Beng Kong Hosiang dan perwira-perwira lain!
Tentara Tiogkok lebih banyak jumlahnya dan karena mereka datang di waktu hari telah menjadi gelap, maka tentara Tiongkok di bawah pimpinan Lui Siok In yang pandai, lalu diam-diam mengurung perkemahan tentara Turki.
Kemudian, serentak tentara Tiongkok, yang sudah mengurung ini memasang obor hingga keadaan menjadi terang sekali bagaikan siang hari!
Tentu saja, ketika tiba-tiba melihat ribuan obor menyala mengelilingi tempat mereka, tentara Turki menjadi panik.
Akan tetapi, Balutin dengan senyumnya yang selalu menghias mukanya yang bulat dan gemuk, berhasil menyuruh anak buahnya berlaku tenang.
Mereka diperintahkan untuk memasang dan memegang obor pula, kemudian ia lalu berdiri di depan barisannya menanti kedatangan musuh.
Lui Siok In dengan tindakan gagah, pedang di pinggang dan sayap garuda menghias topinya, tanda bahwa ia adalah seorang perwira Sayap Garuda tingkat tertinggi, diikuti oleh perwira-perwira lain dan Beng Kong Hosiang, maju menghampiri Balutin dan berkata dengan suara lantang.
"Hai, tentara Turki! Kalian telah melanggar wilayah kami dan karena sekarang kamu telah dikurung dan tak berdaya, maka lebih baik kamu menyerah saja agar menjadi orang-orang tawanan yang akan kami perlakukan dengan baik-baik!"
Di bawah penerangan obor di sekeliling mereka yang dipegang oleh tentara kedua belah fihak, Balutin kelihatan seperti seorang raksasa pendek.
Pendeta Turki ini lalu melangkah maju dan sambil tertawa ia menuding ke arah Lui Siok In dan berkata.
"Hai, Perwira muda! Siapakah yang menjadi pemimpin besar barisanmu ini? Suruhlah dia sendiri maju, dan jangan majukan segala perwira hijau untuk bicara dengan aku!"
Mendengar dirinya disebut "perwira hijau"
Oleh pengemis jembel yang gemuk sekali ini, tentu saja Lui Siok In menjadi marah.
"Bangsat jembel, siapakah kamu?"
Balutin tertawa bergelak sambil memegangi perutnya.
"Kau mau tahu aku siapa? Akulah pemimpin besar barisan Turki! Akulah Balutin atau boleh juga kausebut Pouw Lojin! Anak muda, panggillah keluar pemimpin besarmu agar dapat bicara dengan aku!"
Lui Siok In terkejut mendengar bahwa yang berdiri di depannya seperti seorang pengemis jembel ini adalah Balutin sendiri, tokoh yang amat terkenal semenjak tentara Turki menyerbu melalui Mongol.
Nama Balutin ini pernah disebut-sebut oleh kaisar sendiri ketika memberi perintah kepadanya untuk memimpin barisan, oleh karena kaisar pun telah mendengar dari Pangeran Vayami yang sangat memuji-muji Balutin sebagai orang gagah dan pemimpin besar.
Lui Siok In tidak sudi memperlihatkan kelemahan dan kejerihannya, maka sambil tertawa ia berkata.
"Aha, tidak tahunya pemimpin besar tentara Turki yang bernama Balutin dan yang disohorkan sangat gagah perkasa itu hanyalah seorang pengemis jembel yang terlantar. Ha-ha-ha! Ketahuilah, Jembel gemuk, akulah pemimpin barisar ini dan namaku Lui Siok In. Lebih baik kau menyerah saja agar kau dapat diberi makan enak dan tak usah mampus di ujung senjata!"
Balutin memandang heran dan hampir tak percaya bahwa panglima besar tentara Tiongkok hanyalah seorang perwira muda ini. Ia lalu berkata menghina.
"Agaknya Tiongkok sudah kehabisan orang gagah, maka terpaksa memajukan kau sebagai panglima. Mari, hendak kulihat sampai di mana kepandaianmu!' Sambil berkata demikian, Balutin menengok ke arah pohon yang tumbuh di dekat situ. Daun-daun pohon itu bergantungan di atasnya dan ia lalu menggerakkan kedua tangannya menampar ke arah daun-daun pohon itu. Angin besar keluar dari kedua lengannya yang dipenuhi tenaga khikang itu dan beberapa helai dauh pohon itu lalu rontok dan melayang ke bawah! Balutin masih menggerak-gerakkan kedua tangannya dan daun-daun pohon yang melayang ke bawah itu bergerak-gerak di udara dan tak dapat melayang turun, seakan-akan tertahan oleh tiupan dari bawah dan kini bermain-main di udara bagaikan hidup! Lui Siok In terkejut sekali dan ia mengerti bahwa Balutin sedang mempergunakan kepandaian khikang yang disebut Mempermainkan Daun Rontok! Ia maklum bahwa daun-daun ini biarpun ringan, akan tetapi dapat digerakkan dengan tenaga khikang dan dapat dipakai menyerang lawan bagaikan senjata-senjata hasia hebat! Di Tiongkok juga terdapat ilmu ini yang dipelajari sambil menggunakan tenaga khikang dan angin gerakan tangan dapat diarahkan kepada daun-daun itu hingga daun-daun itu dapat digerakkan ke mana saja menurut kehendak orang. Benar saja sebagaimana dugaan Lui Siok In. Tiba-tiba Balutin lalu membuat gerakan dengan kedua telapak tangannya dan daun-daun itu dari atas lalu menyambar turun hendak menyerang tubuh Lui Siok In. Perwira muda ini bukan orang sembarangan dan ia juga memiliki kepandaian tinggi. Kalau ia tidak lihai, mana ia bisa diterima menjadi kepala pengawal pribadi kaisar. Ia lalu berseru keras dan membuat gerakan dengan jari-jari tangannya pula yang ditelentangkan. Dari kedua telapak tangannya ini keluarlah tenaga khikang yang hebat pula dan aneh. Daun-daun yang tadinya dari atas melayang naik kembali dan terapung-apung di tengah udara. Pertempuran hebat dan adu tenaga khikang ini berlangsung lama dan menegangkan hingga semua tentara yang memegang obor dan menyaksikan pertandingan hebat ini menahan napas. Kedua panglima itu berhadapan dengan mata saling pandang dan kedua tangan bergerak-gerak dan diulur ke depan seakan-akan dua orang pengemis sedang minta sedekah, sedangkan daun-daun itu melayang-layang di tengah udara, sebentar menyambar turun, sebentar melayang naik kembali. Akan tetapi, akhirnya ternyata bahwa Lui Siok In kalah tinggi kepandaiannya dan tenaga khikangnya masih kalah setingkat oleh Balutin yang lihai itu. Beberapa kali kedua orang itu berseru mengerahkan tenaga, dan perlahan tapi tentu, kedua tangan Lui Siok In mulai gemetar, sedangkan pada mukanya yang pucat itu mengucur peluh membasahi jidat dan pipinya. Daun-daun yang bergerak-gerak di udara itu mulai mendesak turun dan makin mendekati kepala Lui Sok In. Perwira she Lui itu maklum bahwa apabila adu khikang ini diteruskan, keadaannya akan berbahaya sekali. Maka secepat kilat ia lalu membuat gerakan Ikan Gabus Melompat Tinggi, menjatuhkan diri ke belakang sambil membuat gerakan berjungkir balik, lalu cepat menjatuhkan diri pula sambil bergulingan di atas tanah. Ia memang harus menggunakan gerakan ini, karena kalau tidak ia akan terpukul oleh tenaga khikang yang telah menekan dan mendesaknya. Dengan cara bergulingan itu ia memulihkan aliran darahnya kembali dan membebaskan ia daripada serangan daun-daun itu yang lalu meluncur dan jatuh ke atas tanah. Balutin tertawa bekakakan sambil bertolak pinggang.
"Ha-ha-ha! Hanya begitu saja kepandaianmu, Perwira muda! Dan kau berani bersombong hendak menawan aku? Ha-ha-ha!"
"Balutin jembel busuk, jangan sombong!"
Teriak Lui Siok In dengan marah sekali dan ia lalu mencabut pedang dan menyerang Balutin dengan hebat.
Balutin hanya tertawa dan ia memberi tanda ke belakang sambil mengelak ke samping.
Seorang pembantunya segera melompat dan melemparkan sebatang tongkat yang panjang dan besar kepada Balutin.
Setelah Balutin menerima senjatanya ini ternyata oleh Sui Siok In bahwa senjata itu adalah sebatang tongkat yang nampaknya berat sekali dan entah terbuat dari apa, karena kekuning-kuningan dan berkilau bagaikan emas.
Maka keduanya lalu bertanding hebat sekali dan para tentara yang tadinya bersorak-sorak saja menyaksikan pertandingan ini, lalu bergerak maju makin mendekat!
Perwira-perwira kedua belah fihak telah melompat maju dan pertandingan semakin seru hingga akhirnya kedua barisan maju saling gempur menimbulkan suara hiruk-pikuk!
Ujung pedang, golok dan lain-lain senjata berkelebat dan berkilauan di bawah sinar obor dan terdengarlah pekik jerit kemenangan tercampur keluh kesakitan.
Darah mengucur keluar bersama peluh dan membasahi tanah yang terpaksa harus menerima segala kengerian yang dilakukan oleh manusia-manusia tu!
Balutin benar-benar tangguh sekali.
Baru bertempur beberapa puluh jurus saja maklumlah Lui Siok In bahwa ia takkan dapat mengalahkan pendeta gemuk ini, maka ia lalu berteriak memberi perintah hingga beberapa orang perwira maju mengeroyok.
Juga Beng Kong Hosiang tidak ketinggalan mengeroyok Balutin.
Kepandaian Beng Kong Hosiang setingkat dengan kepandaian Lui-ciangkun, maka tentu saja ketika ia pun ikut menyerbu dengan perwira-perwira lain, Balutin mulai terdesak.
Akan tetapi, dua orang perwira Turki maju dengan ilmu silat mereka yang aneh dan cepat hingga kembali pihak Balutin dan kawan-kawannya yang mendesak hebat!
Beng Kong Hosiang yang melihat betapa pihaknya terdesak hebat, menjadi marah sekali.
Ia lalu memutar-mutar senjatanya yang istimewa, yaitu pacul yang bergagang bengkok itu dan menyerang Balutin dengan sepenuh tenaga.
Memang semenjak tadi, yang diperhatikan oleh Balutin hanya Beng Kong Hosiang yang menyerangnya dengan ganas, maka ia cepat menangkis dan kedua orang ini bertempur seru sekali.
Pada suatu saat, ketika Beng Kong Hosiang menyerampang kaki Balutin dengan paculnya, Balutin lalu menangkis sekuat tenaganya hingga terdengar bunyi keras sekali dan gagang pacul Beng Kong Hosiang telah patah!
Akan tetapi, tongkat di tangan Balutin juga terlepas dari pegangan.
Demikian hebat dan keras benturan tenaga itu!
Melihat betapa senjatanya telah patah, Beng Kong Hosiang berseru keras dan ia menyambitkan sisa senjatanya ke arah Balutin yang mengelak cepat.
Gagang pacul yang disambitkan itu meluncur cepat bagaikan sebatang anak panah terlepas dari busurnya dan dengan jitu menancap di dada seorang Turki yang bertempur di belakang Balutin!
Beng Kong Hosiang masih marah dan bagaikan seekor banteng terluka, ia lalu menubruk maju ke arah Balutin dengan Eng-jiauw-kang atau Cengkeraman Kuku Garuda!
Tangan kirinya mencengkeram ke arah dada dan tangan kanannya ke arah leher lawan!
Serangan ini hebat sekali dan Balutin berseru keras, menundukkan kepala untuk menghindari serangan leher dan serangan tangan pada dadanya ia tangkis dengan tangan kiri.
Akan tetapi, gerakan Beng Kong Hosiang cepat dan ganas sekali hingga ketika lengan kiri Balutin menangkis, maka tangan kirinya itu berhasil mencengkeram lengan tangan Balutin yang menangkis!
Balutin berseru kesakitan dan tangan kanannya lalu memukul ke dada lawan.
"Buk!"
Terdengar suara keras ketika pukulan tangan ini dengan jitu menghantam dada Beng Kong Hosiang.
Pukulan ini keras sekali datangnya hingga dari mulut Beng Kong Hosiang keluar darah segar dan tubuh hwesio itu terpental ke belakang dalam keadaan tidak bernyawa lagi!
Akan tetapi, cengkeraman tangannya pada lengan kiri Balutin masih belum terlepas hingga tubuh Balutin terbawa maju.
Balutin cepat sekali menggunakan jarinya mengetuk sambungan siku lawannya yang telah mati itu.
Urat lengan Beng Kong Hosiang yang telah kaku itu ketika kena totokan ini menjadi mengendur dan pegangan atau cengkeramannya terlepas hingga tubuhnya lalu menggelinding ke bawah.
Balutin memandang ke arah lengan kirinya yang telah menjadi matang biru karena cengkeraman lawan tadi!
Ia menggeleng-geleng kepala dan kagum akan ketangguhan Beng Kong Hosiang.
Luka di lengan kirinya tidak berbahaya, maka ia lalu mengambil senjatanya lagi dan mengamuk hebat.
Banyak perwira roboh di bawah pukulan tongkatnya.
Sementara itu, tentara Tiongkok yang kurang terlatih oleh karena kaisar dan para perwira hanya ingat bersenang-senang saja selama ini, tidak kuat pula menghadapi tentara musuh.
Apalagi mereka baru habis melakukan perjalanan hingga keadaan mereka masih lelah sekali, sedangkan pihak musuh sudah berhari-hari beristirahat di situ, maka biarpun jumlah mereka lebih besar, namun korban yang jatuh di pihak mereka juga lebih banyak.
Melihat kerugian yang diderita oleh pihaknya dan melihat kelihaian Balutin, Lui Siok In lalu memberi perintah mundur, sedangkan ia sendiri pun lalu melompat mundur.
Tentara Tiongkok menarik diri dan mundur.
Beberapa orang perwira segera diutus untuk mencari bala bantuan!
Tentara Turki tidak mau mengejar oleh karena mereka mempunyai tugas yang lebih penting, yaitu menyelesaikan pembuatan perahu untuk dipakai menyeberang dan mengurus korban yang roboh di pihak mereka.
Mereka hanya berjaga jaga saja kalau-kalau pihak musuh menyerbu lagi.
Akan tetapi, oleh karena bala bantuan yang diharapkan masih jauh dan belum tentu akan dapat segera datang maka pihak Turki mendapat kesempatan untuk menyelesaikan pembuatan perahu dan mereka lalu beramai-ramai menurunkan perahu-perahu itu ke air dan mulai berlayar!
Beberapa orang kawan Yousuf yang dulu bersama-sama pergi mendapatkan Pulau Emas itu, menjadi penunjuk jalan.
Ketika bala bantuan yang diharapkan datang jauh letaknya dari tempat itu pihak tentara kerajaan pun lalu mempergunakan perahu-perahu untuk mengejar hingga terjadi pengejaran ramai di atas laut.
Akan tetapi perahu-perahu Tiongkok ini terlambat dua hari hingga tertinggal jauh.
Dengan mempergunakan sebuah perahu besar dan mewah, Pangeran Vayami, pangeran bangsa Mongol yang menjadi pemimpin Agama Sakia Buddha itu berlayar ditemani oleh Hai Kong Hosiang dan Kiam Ki Sianjin.
Di atas perahu besar ini telah disediakan dua buah perahu-perahu kecil untuk keperluan khusus dan perahu ini berlayar cepat ke tengah samodra.
Ketika terjadi pertempuran di malam hari, Pangeran Vayami dan Hai Kong Hosiang melihat dari atas perahu mereka.
Akan tetapi mereka hanya melihat obor menerangi seluruh tepi dan mendengar suara teriakan mereka yang berperang.
Diam-diam Pangeran Vayami bersorak girang di dalam hatinya oleh karena tipu dayanya berhasil baik.
Ia telah memberi perintah kepada anak buahnya, yaitu pendeta-pendeta Sakia Buddha untuk dengan diam-diam menuju ke Pulau Emas yang diperebutkan itu.
Tipu daya Pangeran Vayami amat jahat dan licin.
Ia memerintahkan para pengikutnya itu untuk mengangkut harta benda berupa emas yang berada di pulau itu, setelah berhasil mencari dan mengangkutnya ke perahu, para pendeta itu diharuskan membakar sebuah telaga yang mengandung minyak bakar agar pulau itu terbakar habis!
Sebetulnya, ketika mendengar akan adanya Pulau Emas itu, Pangeran Vayami pernah pergi menyelidiki dan ia mendapat kenyataan bahwa pada malam hari, pulau itu mengeluarkan cahaya berkilauan dan terang sekali seakan-akan gunung di pulau itu seluruhnya terbuat dari pada emas yang bersinar gemilang, Akan tetapi, ketika ia mendarat di pulau itu, ia tidak bisa mendapatkan di mana adanya emas yang bercahaya di waktu malam itu, bahkan yang didapatkannya hanya sebuah telaga kecil yang airnya berkilauan dan berwarna kehitam-hitaman.
Untuk penyelidikan, ia mengambil sebotol air dan ketika pada malam harinya ia membuat penerangan, hampir saja tangannya terbakar.
Tangan yang masih basah terkena benda cair itu tercium api, lalu bernyala hebat!
Ia tidak tahu bahwa pulau itu mengandung minyak tanah dan hanya menduga benda cair di telaga itu adalah air mujijat yang mudah terbakar.
Ia lalu menyulut air di dalam botol itu yang berkobar dan terbakar dengan mudah sekali.
Oleh karena inilah, ia menggunakan tipu daya untuk membakar telaga itu apabila emas sudah terdapat oleh kaki tangannya, agar semua orang yang berada di pulau itu dan hendak mencari emas, termakan habis oleh api yang membakar pulau dan anak buahnya dapat melarikan emas itu dengan aman!
Tentu saja ia tidak memberitahukan kepada Hai Kong Hosiang dan Kiam Ki Sianjin tentang tipu dayanya ini, oleh karena ia pun maklum bahwa kedua orang tua luar biasa ini mendapat tugas untuk menjaga dirinya, dan ia dapat menduga pula bahwa kaisar telah mencurigainya!
Pangeran Vayami sengaja memutar-mutar perahunya dan tidak mau membawa Hai Kong Hosiang menuju ke pulau itu untuk memberi kesempatan kepada anak buahnya.
Demikianlah, perahunya hanya berputaran melalui pulau-pulau yang banyak sekali itu, dan ketika rombongan perahu Turki menyeberang ke lautan, Pangeran Vayami merasa kuatir sekali.
Anak buahnya belum kelihatan kembali dan sekarang perahu-perahu Turki telah menyeberang ke pulau itu!
Ia menjadi gelisah sekali, terutama ketika melihat betapa rombongan perahu tentara kerajaan mengejar pula.
Celaka, pikirnya, pulau itu tentu akan penuh dengan tentara kedua pihak dan mungkin sekali akan terjadi perang hebat di pulau itu.
Bagaimana anak buahnya akan dapat bekerja baik?
Ia ingin sekali pergi ke pulau itu untuk memimpin sendiri pekerjaan anak buahnya, akan tetapi ia tidak berdaya oleh karena selalu ditemani oleh Hai Kong Hosiang dan Kiam Ki Sianjin.
Tiba-tiba Pangeran Vayami yang cerdik ini mendapatkan akal baik.
Ketika itu, Hai Kong Hosiang juga berdiri di kepala perahu dan melihat betapa perahu-perahu Turki telah mendahului berlayar dan kemudian dikejar oleh perahu-perahu tentara kerajaan, dan hwesio ini memandang dengan kuatir.
Ia dapat menduga bahwa peperangan semalam tentu dimenangkan oleh pihak musuh, kalau tidak demikian tentu musuh tak akan dapat menyeberang!
"Hai Kong Bengyu,"
Kata Pangeran Vayami.
"Apakah kau dapat menduga apa yang menjadikan kegelisahan hatiku?"
Hai Kong Hosiang sebenarnya dapat menduga bahwa Pangeran Mongol ini tentu menjadi gelisah dan kuatir melihat pergerakan barisan Turki itu, akan tetapi ia pura-pura tidak tahu dan menggelengkan kepala.
"Hai Kong Bengyu, tidakkah kau melihat betapa barisan Turki sudah mempergunakan perahu-perahu dan menyeberang ke pulau-pulau? Ini berarti bahwa barisan kerajaanmu telah kalah perang! Dan apakah kau tega melihat hal itu terjadi begitu saja? Kurasa di pihak barisan Turki terdapat orang-orang pandai maka memang sebaiknya kau dan supekmu tinggal saja di sini."
Pangeran Vayami di samping mencela juga menyinggung-nyinggung hati pendeta itu, akan tetapi Hai Kong Hosiang diam saja, seakan-akan tidak mengerti akan maksud sindiran Pangeran Vayami.
"Untung sekali kau berada di sini, Hai Kong Bengyu, kalau kau ikut menyerbu tentu kau berada dalam bahaya. Aku mendengar bahwa panglima Turki yang bernama Balutin atau Pouw Lojin, amat sakti dan lihai hingga kurasa tidak ada orang Han (Tionghoa) yang mampu mengalahkannya!"
Hai Kong Hosiang tak dapat menahan sabarnya lagi dan ia memandang kepada Vayami dengan mata mendelik.
Akan tetapi Vayami tidak mempedulikannya bahkan berlaku seakan-akan tidak melihat kemarahan Hai Kong Hosiang, dan ia menambah omongannya seperti berikut.
"Celaka sekali. Aku mendengar bahwa suhengmu yang bernama Beng Kong Hosiang juga ikut dalam barisan kerajaan! Jangan-jangan Suhengmu terkena celaka, oleh karena aku merasa ragu-ragu apakah dia sanggup menghadapi Balutin yang sakti itu?"
"Vayami! Kau sungguh-sungguh memandang rendah kekuatan kami! Kaukira aku takut kepada segala macam orang seperti Balutin itu? Baik! Aku dan Suhuku akan menyusul dan menghancurkan mereka itu, anjing-anjing bangsa asing yang kurang ajar!"
Dalam makian ini, otomatis Vayami terkena dimaki juga, karena bukankah ia pun di hadapan Hai Kong Hosiang merupakan orang asing pula?
Hai Kong Hosiang lalu memberitahu kepada supeknya yang gagu itu, dan Kiam Ki Sianjin mengangguk-angguk menyatakan setuju untuk menggempur barisan Turki.
Hai Kong Hosiang lalu menurunkan sebuah daripada perahu kecil yang berada di situ, kemudian ia menghampiri Vayami dan berkata.
"Pangeran Vayami, aku dan Supek akan pergi dulu, dan kau..."
Setelah berkata demikian, secepat kilat Hai Kong Hosiang mengulurkan tangan menotok, Vayami terkejut sekali, akan tetapi terlambat, oleh karena jari tangan Hai Kong Hosiang telah menotok jalan darahnya dengan tepat hingga pangeran itu roboh terduduk dengan tubuh lemas dan tak mampu bergerak lagi.
"Maaf, Pangeran Vayami. Aku terpaksa melakukan ini untuk menjaga agar kau tidak bisa sembarangan bergerak."
Hai Kong Hosiang lalu tertawa bergelak-gelak dengan girangnya dan Vayami terpaksa tak dapat berdaya sesuatu dan hanya memandang keberangkatan dua orang itu dengan hati gemas dan mendongkol sekali.
Sambil tertawa-tawa puas melihat hasil kecerdikannya, Hai Kong Hosiang dan Kam Ki Sianjin mendayung perahu kecilnya menuju ke arah pulau di mana kedua barisan itu menuju.
Di atas pulau itu telah terjadi pertempuran hebat lagi antara barisan kerajaan yang telah mendapat bala bantuan.
Akan tetapi, kembali Balutin mengamuk dan puluhan perajurit kerajaan tewas dalam tangannya.
Banyak perwira mengeroyoknya, akan tetapi tak seorang pun yang dapat menandingi kelihaian pendeta gemuk ini.
Ketika tiba di tempat pertempuran, Hai Kong Hosiang mendengar tentang kematian suhengnya di tangan Balutin, maka bukan kepalang marahnya.
Sambil mencabut keluar tongkat ularnya, ia melompat dan menerjang Balutin sambil berteriak.
"Balutin bangsat besar! Akulah lawanmu!"
Ia lalu menyerang dengan hebat sekali.
Balutin terkejut melihat sepak terjang pendeta ini dan melawan dengan hati-hati.
Mereka berdua ternyata merupakan tandingan yang setimpal dan seimbang, baik dalam kepandaian maupun dalam kehebatan tenaga mereka.
Tak seorang perwira dari kedua pihak berani maju mendekat oleh karena beberapa orang perwira yang mencoba untuk membantu kawan, ternyata baru beberapa gebrakan saja telah roboh dan tewas oleh amukan kedua orang yang sedang bertempur sengit ini.
Keduanya mengeluarkan seluruh kepandaian dan tenaganya.
Adapun Kiam Ki Sianjin yang sudah tua itu memandang dan menonton dari pinggir saja, akan tetapi dengan penuh perhatian dan siap menolong apabila Hai Kong Hosiang berada dalam bahaya.
Perahu besar Vayami yang ditinggal seorang diri terapung-apung di atas laut, terdampar ombak dan kebetulan sekali mendekati pulau itu.
Tiba-tiba kelihatan perahu kecil yang cepat sekali majunya dan perahu ini bukan lain adalah perahu yang ditumpangi oleh Cin Hai, Ang I Niocu, Ceng Tek Hwesio dan Ceng To Tosu.
Melihat perahu besar yang terombang-ambing seakan-akan tidak ada orangnya yang mengemudikannnya itu, Cin Hai dan Ang I Niocu lalu melompat ke atas perahu itu dan meninggalkan tosu dan hwesio itu di dalam perahu kecil.
Alangkah terkejutnya mereka ketika melihat Vayami duduk tak bergerak bagaikan patung batu.
Juga Vayami terkejut sekali melihat kedua orang ini, akan tetapi ia hanya dapat duduk tanpa mengeluarkan suara apa-apa.
Cin Hai maklum bahwa pangeran ini berada di bawah pengaruh totokan, maka ia lalu mengulurkan tangan memulihkan totokan yang mempengaruhi tubuh Pangeran Vayami.
Pangeran Vayami lalu berdiri menjura dengan hormat sekali kepada Cin Hai dan Ang I Niocu.
"Terima kasih, Taihiap. Sukur engkau datang menolong, kalau tidak entah bagaimana dengan nasibku yang buruk ini."
Sambil berkata demikian, ia mengerling kepada Ang I Niocu dengan bibir tersenyum, akan tetapi hatinya berdebar khawatir dan takut!
Cin Hai dan Ang I Niocu merasa sebal dan benci melihat pangeran ini, akan tetapi mereka berdua tertarik untuk mengetahui apakah yang sedang dilakukan oleh pangeran aneh dan licin ini di atas perahu di dekat Pulau Emas itu.
"Bagaimana kau bisa berada di sini seorang diri dan berada dalam keadaan tertotok orang? Siapakah yang melakukan itu dan apa pula maksudmu berada di sini?"
Tanya Cin Hai tanpa memakai banyak peradatan lagi. Pangeran Vayami menghela napas da ia mengebut-ngebutkan pakaiannya yang indah model bangsawan Han itu.
"Dasar Hai Kong Hosiang yang jahat dan berhati palsu!"
Cin Hai girang sekali mendengar nama itu disebut-sebut.
"Eh, apakah bangsat Hai Kong Hosiang berada di sini? Katakanlah di mana dia!"
Vayami menghela napas dan memutar otaknya yang licin dan cerdik.
Ia maklum bahwa di antara Hai Kong dan anak muda ini tentu terdapat permusuhan besar sekali hingga pemuda ini selalu berusaha membunuhnya, dan ia teringat pula bahwa dulu Cin Hai di perahunya pernah memberitahu bahwa Hai Kong Hosiang adalah musuh besarnya.
Maka ia lalu mengarang sebuah alasan untuk mengadu domba lagi demi keuntungannya sendiri.
"Sebagaimana kauketahui Hai Kong Hosiang membawaku untuk menemui kaisar, akan tetapi hwesio itu mendengar bahwa aku mengetahui tentang Pulau Emas di laut ini, lalu timbul hati jahatnya dan bersama Supeknya yang gila dan gagu itu, ia memaksa aku mengantarkan mereka berdua ke sini! Akan tetapi setelah sampai di sini dan mengetahui tempat itu dia lalu menotokku dan mencuri perahu kecilku dan bersama dengan Supeknya ia lalu menuju ke sana!"
Mendengar tentang Pulau Emas ini tiba-tiba Ang I Niocu dan Cin Hai teringat kepada si tosu dan si hwesio yang tak kelihatan lagi, dan ketika mereka memandang ternyata perahu kecil itu telah bergerak maju dan telah jauh meninggalkan tempat itu!
"Hai...!!"
Ang I Niocu berteriak marah "Kembalilah kalian!!"
Akan tetapi dari jauh kedua pendeta hanya melambaikan tangan saja, si hwesio tetap tertawa dan si tosu tetap mewek!
Ang I Niocu marah sekali dan hendak menggunakan perahu kecil yang berada di perahu besar Vayami itu untuk mengejar, akan tetapi Vayami mengangkat kedua tanganya dan berkata mencegah.
"Lihiap janganlah mengejar, mereka akan pergi ke Kim-san-to, biarlah mereka ikut dibakar hidup-hidup!"
Ang I Niocu dan Cin Hai terkejut dan memandang kepada pangeran yang tersenyum-senyum girang itu dengan heran. Pada waktu itu, hari telah gelap dan angin bertiup kencang.
"Pangeran Vayami, apa maksudmu dengan ucapan tadi?"
Tanya Cin Hai dan Ang I Niocu tidak jadi mengejar kedua pendeta itu oleh karena ia pun tidak mempunyai urusan dengan mereka.
Tadi ia hendak mengejar hanya karena marah saja dan kini kedua pendeta itu telah lenyap dan tak tampak lagi pula.
Vayami tersenyum dan berkata.
"Sebelum aku menceritakan kepada kalian, lebih dahulu bantulah aku memasang layar ini karena aku hendak memperlihatkan sebuah pemandangan indah kepada kalian!"
Cin Hai lalu membantunya memasang layar dan sebentar perahu besar itu bergerak laju ke kanan.
Ternyata Vayami yang juga pandai mengemudikan perahu, memutarkan perahunya mengelilingi Pulau Kim-san-to dan berada di belakang pulau setelah melakukan pelayaran lebih dari dua jam.
"Nah, kalian lihat itu!"
Kata Pangeran Vayami menunjuk ke pulau.
Ang I Niocu dan Cin Hai cepat memandang dan mereka berdua menjadi tercengang sekali melihat pemandangan yang mereka lihat di depan mereka.
Di atas Pulau Kim-san-to itu kelihatan sebuah bukit yang menjulang tinggi dan berujung runcing.
Kini di dalam gelap senja, bukit itu nampak bercahaya dan seakan-akan mengeluarkan sinar yang berkilauan!
Puncak bukit itu nampak nyata berwarna putih kuning kemerah-merahan bagaikan emas murni, dan di bawah bukit membentang pohon-pohon yang gelap dan hitam.
Ang I Niocu berdiri di pinggir perahu dengan penuh takjub hingga gadis itu untuk beberapa lama berdiri tak bergerak bagaikan patung!
Sementara itu Cin Hai yang dapat menekan perasaan heran dan kagetnya, segera minta keterangan dari Vayami!
"Ketahuilah, Taihiap, inilah Bukit Emas yang dicari-cari oleh mereka semua!
Tentu kau juga telah melihat bahwa tentara-tentara Turki dan tentara kerajaan telah saling gempur dan sekarang ini pun saling bertempur mati-matian di atas pulau itu untuk memperebutkan Bukit Emas itu, semua orang yang berjumlah ribuan itu, mereka berebut mati-matian untuk memiliki Bukit Emas.
Akan tetapi mereka tidak tahu bahwa mereka telah berada di tepi neraka, Ha, ha!
Juga Hai Kong yang jahat itu sebentar lagi takkan dapat menyombongkan kepandaiannya karena ia pun akan mati terpanggang api, di pulau itu, ha, ha, ha!"
Mendengar keterangan ini, Cin Hai merasa heran sekali dan ia lalu membentak.
"Pangeran Vayami! Kaujelaskanlah semua ini kepadaku! Apakah maksudmu?"
Setelah berusaha sekerasnya untuk menekan kegirangan dan kegelian hatinya yang hendak tertawa saja, Vayami lalu berkata lagi.
"Dengarlah, Taihiap dan kau juga, Lihiap. Kami orang-orang Mongol tidaklah segoblok orang-orang Turki atau orang-orang dari kaisarmu itu. Aku tidak sudi harus bersusah payah mengerahkan barisan tentara untuk memperebutkan pulau ini. Sebentar lagi, pulau ini akan menjadi lautan api dan semua emas akan berada di tanganku. Ya, semua emas akan berada di tangan Pangeran Vayami!"
Cin Hai makin heran dan ia memandang Pangeran Pemuka Agama Sakya Buddha yang muda dan tampan ini.
Ia melihat bahwa pakaiannya pemberian kaisar sebagai hadiah dan tanda perhahabatan, akan tetapi tetap saja mukanya masih jelas bahwa ia adalah seorang Mongol.
Cin Hai sama sekali tidak pernah menyangka bahwa Pangeran Vayami yang cerdik ini sengaja membawa perahunya ke tempat itu oleh karena memang ia telah berjanji kepada anak buahnya untuk menanti dengan perahu besar di tempat itu untuk menerima mereka setelah selesai mengerjakan tugas mereka.
Pangeran Vayami memang mempunyai pikiran yang cerdik sekali.
Ia maklum bahwa Hai Kong Hosiang dan Kiam Ki Sianli lihai sekali, maka setelah melihat munculnya Cin Hai dan Ang I Niocu, ia berniat menarik kedua orang ini untuk menjadi pembela-pembelanya dan untuk menghadapkan kedua orang gagah ini kepada Hai Kong Hosiang apabila hwesio itu muncul untuk mengganggunya.
Oleh karena ia menganggap bahwa kedua orang muda gagah ini tidak mempunyai hubungan sesuatu dengan Turki maupun dengan tentara kerajaan, maka tanpa ragu-ragu lagi ia lalu melanjutkan ceriteranya dengan suara yang jelas menyatakan kebanggaan akan kecerdikannya.
"Orang-orang Turki dan barisan kerajaan kaisar sedang memperebutkan harta di pulau itu, dan oleh karena mereka sedang bertempur mati-matian, mereka sama sekali tidak mempunyai kesempatan untuk mencari emas itu yang belum dapat diketahui pasti di mana tempatnya. Dan diam-diam aku telah menyuruh anak buahku yang tiga puluh enam orang banyaknya untuk mencarinya semenjak tiga hari sebelum tentara-tentara kedua pihak itu tiba dan telah memerintahkan apabila mereka telah dapat mengangkut harta itu, mereka segera harus membakar sebuah danau di pulau itu yang airnya dapat terbakar seperti minyak domba! Bahkan aku memerintahkan agar seluruh hutan di situ dibakar semua sampai habis, baru mereka mengangkat kaki dan mengangkut semua emas itu ke sini!"
Cin Hai dan Ang I Niocu bergidik memikirkan kekejian orang ini, dan Cin Hai yang teringat kepada Lin Lin tiba-tiba menjadi pucat wajahnya dan saling pandang dengan Ang I Niocu.
Juga Ang I Niocu teringat bahwa Lin Lin diduga pergi ke pulau itu, maka cepat bertanya.
"Bilakah kiranya perintahmu yang kejam itu dilakukan?"
Vayami memandang dengan muka berseri.
"Malam ini, tepat tengah malam, jadi tak lama lagi!"
Katanya sambil memandang ke arah pulau dan diam-diam pangeran ini juga merasa kuatir sekali oleh karena orang-orangnya yang ditunggu-tunggu belum kelihatan muncul seorang pun.
Ang I Niocu dan Cin Hai merasa makin terkejut.
"Vayami, tahukah kau di mana adanya seorang Turki Yang bernama Yousuf?"
Tanya Cin Hai yang teringat bahwa Lin Lin, Ma Hoa, dan Nelayan Cengeng berlayar dengan orang Turki ini dan nama ini ia dengar dari dua orang nelayan yang menceritakan pengalaman mereka dulu.
Vayami berubah air mukanya mendengar nama ini.
Ia pernah bertemu dengan Yousuf dan tahu akan kelihaian orang Turki ini yang sebenarnya menjadi penemu pertama dari Kim-san-to.
"Kau mencari setan itu? Ha, ha, ha! Tentu dia juga berada di pulau itu. Ya, setan yang bernama Yousuf itu pun berada di atas pulau dan sebentar lagi ia pun akan musnah!"
"Dan kawan-kawannya yang berlayar bersama dia?"
Tanya pula Cin Hai dengan suara gemetar.
"Kawan-kawannya?"
Kata Vayami yang menyangka bahwa kawan-kawannya yang dimaksudkan oleh Cin Hai ini tentulah orang-orang Turki lainnya.
"Ha, ha, ha! Semua kawan-kawan Yousuf juga akan terpanggang mampus di pulau itu."
"Bangsat besar!"
Tiba-tiba Cin Hai memaki dan ketika tangannya menampar, pipi Vayami kena ditampar hingga giginya rontok dan tubuhnya terguling ke atas papan perahu.
Pangeran ini mengeluh dan merintih-rintih sambil memegang-megang pipinya yang menjadi matang biru dan memandang kepada Cin Hai dengan heran.
"Niocu, jaga bangsat ini! Aku hendak menyusul Lin Lin!"
"Jangan Hai-ji! Pulau itu sebentar lagi akan terbakar dan siapa tahu, danau berminyak itu bisa meledak'!' kata Ang I Niocu dengan wajah pucat.
"Lin Lin berada di sana, bahaya besar apakah yang dapat mencegah aku pergi menolongnya?"
Tanya Cin Hai dengan napas memburu dan ia lalu pergi ke perahu kecil dan hendak melemparnya ke air untuk dipakai menyusul ke Pulau Kim-san-to.
Akan tetapi, pada saat itu, ia melihat bahwa perahu itu telah dikelilingi oleh banyak perahu-perahu kecil dan tiba-tiba dari perahu-perahu kecil itu berlompatan naik tubuh orang-orang tinggi besar yang berjubah merah.
Ternyata orang-orang ini adalah anak buah Pangeran Vayami, pendeta-pendeta Sakia Buddha yang berilmu tinggi dan yang kini berlompatan ke atas perahu besar dengan senjata di tangan.
Jumlah mereka banyak sekali hingga terpaksa Cin Hai melompat mundur ke dekat Ang I Niocu bersiap sedia menghadapi keroyokan.
Pangeran Vayami ketika melihat bahwa tiba-tiba anak buahnya muncul, menjadi girang sekali dan ia lalu timbul pikiran jahat.
Memang hatinya amat tertarik oleh kecantikan Ang I Niocu dan kalau saja kepandaiannya lebih tinggi dari Gadis Baju Merah yang cantik jelita itu, tentu ia telah memaksa Ang I Niocu untuk menjadi isterinya.
Kini melihat datangnya semua anak buahnya yang ia percaya akan dapat menundukkan kedua anak muda itu dengan keroyokan, lalu ia memerintah.
"Tangkap pemuda itu dan lempar dia ke laut! Tapi jangan ganggu gadis itu dan tawan dia."
Bagaikan serombongan anjing pemburu yang terlatih dan mendengar perintah tuannya, tiga puluh enam orang pendeta Sakia Buddha itu lalu menyerbu dengan mengeluarkan seruan-seruan menyeramkan.
Cin Hai dan Ang I Niocu mencabut pedang masing-masing dan melakukan perlawanan dengan gagah.
Semua pendeta itu adalah orang-orang pilihan yang sengaja dibawa oleh Vayami untuk melakukan tugas pekerjaan penting, maka mereka ini rata-rata memiliki kepandaian yang tidak rendah, bahkan ilmu silat mereka yang bercorak ragam itu membuat Ang I Niocu dan Cin Hai menjadi bingung juga.
Akan tetapi, kedua orang muda ini memiliki ilmu kepandaian sempurna terutama Cin Hai, maka baru beberapa jurus mereka bertempur, dua orang pengeroyok telah dapat dirobohkan.
Sungguhpun demikian, kesetiaan anak buah Pangeran Vayami terhadap pangeran itu besar sekali.
Mereka tidak mundur bahkan makin mendesak maju.
Jangankan baru menghadapi dua orang anak muda yang lihai, biarpun harus menyerbu ke lautan api, mereka takkan segan-segan untuk mentaatinya asal keluar dari mulut Pangeran Vayami, oleh karena mereka menaruh kepercayaan penuh bahwa kesetiaan mereka ini akan diganjar hadiah Sorga ke tujuh oleh pemimpin agama itu.
Cin Hai dan Ang I Niocu menjadi serba salah.
Untuk membinasakan semua pengeroyok ini bukanlah hal terlalu sukar bagi mereka berdua, akan tetapi mereka tidak tega untuk membunuh sekian banyak orang yang hanya menjalankan perintah.
Dan keduanya masih merasa gelisah memikirkan nasib Lin Lin yang berada di pulau itu!
Pada saat itu, terdengar bentakan-bentakan hebat dan tahu-tahu tiga bayangan orang melompat ke atas perahu dan mengamuk dengan hebat disertai suara tertawa menyeramkan!
Ketika Cin Hai memandang, ternyata bahwa yang naik adalah Hek Mo-ko, Pek Mo-ko, dan Kwee An!
Ia merasa girang sekali akan tetapi berbareng juga terkejut dan heran oleh karena bagaimana pemuda itu dapat datang bersama kedua iblis ini?
Ketika melihat Pek Hek Mo-ko dan Kwee An mengamuk dan membabat semua pendeta Sakia Buddha, Cin Hai lalu melompat ke pinggir perahu dengan maksud hendak menyusul Lin Lin.
Akan tetapi, ketika ia memandang, ia menjadi terkejut sekali oleh karena di dalam kekalutan itu, Ang I Niocu telah mendahuluinya dan telah melempar perahu kecil yang tadi berada di atas perahu dan mendayungnya sekuat tenaga menuju ke pulau yang bukitnya bersinar-sinar itu!
"Niocu, tunggu!"
Teriak Cin Hai, akan tetapi Ang I Niocu melambaikan tangan kepadanya sambil menjawab.
"Jangan, Hai-ji. Biarlah aku saja yang menyusul, jangan kita berdua terancam bahaya bersama. Kautunggulah saja, aku akan membawa Lin Lin kepadamu!"
Setelah berkata demikian Ang I Niocu mendayung makin cepat!
Cin Hai bingung sekali dan ia melihat ke bawah oleh karena teringat bahwa semua pendeta Sakia Buddha tadi datang dengan perahu-perahu kecil.
Akan tetapi alangkah kagetnya ketika ia mendapat kenyataan bahwa kini tak sebuah pun perahu kecil nampak di situ, dan perahu-perahu ini telah dipukul hancur dan tenggelam oleh Hek Pek Mo-ko dan Kwee An ketika ketiganya datang dan melompat ke atas!
Dalam kebingungannya, dan karena keadaan di situ makin gelap hingga sukar mencari perahu kecil yang dapat membawanya ke Pulau Kim-san-to, Cin Hai lalu berlaku nekad dan mengayun dirinya ke laut!
Ia mengambil keputusan bendak berenang ke arah pulau yang tak seberapa jauh itu!
Ia tidak rela kalau sampai Ang I Niocu berkorban seorang diri dalam usaha menolong Lin Lin, sedangkan dia sendiri harus enak-enak menunggu!
Sementara itu, dalam kegembiraan mereka mengamuk dan membasmi para pendeta Sakia Buddha itu, Hek Mo-ko dan Pek Mo-ko tidak mempedulikan lagi hal-hal lain dan sama sekali tidak melihat Cin Hai dan Ang I Niocu.
Sedangkan Kwee An yang melihat mereka, tidak mengerti maksud mereka itu dan ia pun sedang dikeroyok oleh banyak lawan hingga tak mendapat kesempatan bertanya lagi.
Amukan Hek Mo-ko dan Pek Mo-ko hebat sekali, bagaikan sepasang naga yang haus darah.
Terutama sekali Pek Mo-ko yang masih menderita sedih karena kematian puterinya, kini mengamuk dan merupakan seorang iblis tulen!
Baik Hek Mo-ko maupun Pek Mo-ko tidak mempunyai alasan untuk memusuhi pendeta-pendeta baju merah ini dan mereka bertempur hanya atas permintaan Kwee An yang melihat Cin Hai dan Ang I Niocu dikeroyok!
Kedua iblis ini memang suka sekali bertempur, dan asal mereka bisa bertempur dan membunuh banyak orang, tidak peduli lagi apa alasannya, mereka sudah cukup merasa senang dan puas!
Inilah sifat aneh yang membuat kedua orang ini disebut Iblis Putih dan Iblis Hitam!
Sedangkan Kwee An yang juga tidak mengerti sebab-sebab pertempuran, hanya bertindak untuk menolong kedua orang kawannya itu.
Kini melihat kedua orang itu lari ke laut, ia menjadi menyesal akan tetapi tidak berdaya untuk mencegah kedua iblis itu mengamuk dan melakukan pembunuhan besar-besaran.
Tak lama kemudian, habislah ketiga puluh enam orang pendeta Sakia Buddha ini berikut Pangeran Vayami terbunuh mati semua oleh Hek Mo-ko dan Pek Mo-ko!
Sambil tertawa bergelak-gelak kedua iblis ini lalu menendangi mayat-mayat itu ke dalam laut.
Pangeran Vayami yang bernasib malang itu sampai tidak mengetahui bagaimana hasil dari perintahnya kepada anak buahnya untuk mencari emas itu!
Kalau ia tahu bahwa anak buahnya tidak mendapatkan emas sepotong pun, jika ia masih hidup pun tentu ia akan jatuh binasa karena kecewa dan menyesal!
Anak buahnya ternyata tak berhasil mendapatkan sedikitpun emas di pulau itu, biarpun sudah berhari-hari mereka mencari-cari, karena di pulau itu tidak terdapat emas sepotong kecil pun!
Akan tetapi, mereka mentaati perintah Pangeran Vayami dan ketika melihat peperangan hebat yang terjadi antara barisan Turki melawan barisan dari kaisar, mereka lalu membakar minyak yang memenuhi danau kecil di atas bukit itu!
Danau itu mulai terbakar dan bernyala-nyala hebat, akan tetapi hal ini masih belum diketahui oleh kedua fihak yang mabok perang!
Cin Hai mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk berenang secepat mungkin, akan tetapi di dalam air ia tidak seleluasa seperti di darat di mana ia boleh mempergunakan ginkangnya untuk bergerak cepat.
Tidak saja kepandaian renangnya memang kurang sempurna, akan tetapi air laut itu berombak dan ia tidak kuat melawan ombak air hingga tubuhnya hanya maju perlahan saja dan sebentar juga perahu yang dinaiki Ang I Niocu telah jauh meninggalkannya.
Keadaan di atas permukaan laut itu lebih gelap lagi dan penunjuk jalan satu-satunya bagi Cin Hai ialah cahaya terang yang memancar keluar dari Bukit Kim-san-to itu.
Ia masih bergulat dengan ombak laut ketika Ang I Niocu sudah lama mendarat dan gadis ini tanpa mempedulikan mereka yang berperang mati-matian, lalu berlari naik ke atas bukit untuk mencari Lin Lin.
Ketika ia naik makin tinggi, sungguh luar biasa, karena cahaya terang itu makin menghilang dan keadaan di atas bukit sunyi sekali!
Bahkan di atas bukit itu tidak terlihat pohon sama sekali Ang i Niocu berseru keras memanggil.
"Lin Lin..."
Suaranya yang dikerahkan dengan tenaga khikang ini terdengar bergema keras sekali, bahkan terdengar lapat-lapat oleh Cin Hai yang masih berenang di laut! "Niocu...!"
Cin Hai berseru memanggil karena ia mengenal suara Ang I Niocu.
Hatinya bingung dan cemas sekali.
Akan tetapi, biarpun ia mengerahkan khikangnya, di dalam air itu suaranya tak terdengar jelas dan menjadi kacau oleh bunyi riak ombak yang menggelora.
"Lin Lin...!"
Terdengar lagi teriakan Ang I Niocu dan suara ini membangunkan semangat Cin Hai yang lalu mengerahkan tenaganya sehingga ia dapat maju lebih cepat.
Ang I Niocu berlari terus ke atas sambil memanggil nama Lin Lin.
Ia sudah berjanji kepada Cin Hai untuk menemukan gadis kekasih pemuda itu, maka ia bertekad takkan kembali sebelum mendapatkan Lin Lin.
Ketika Ang I Niocu tiba di sebuah puncak yang tinggi, tiba-tiba ia memandang ke bawah dan kedua matanya terbelalak dan ia menggunakan kedua tangan untuk menutupi matanya oleh karena tiba-tiba matanya menjadi silau.
Di bawah, tak jauh dari situ ia melihat pemandangan yang dahsyat dan menggetarkan sanubarinya.
Di bawah puncak itu ia melihat api besar sekali berkobar-kobar dan bernyala-nyala seakan-akan neraka sendiri terbuka di hadapan kakinya!
Inilah danau penuh minyak tanah yang dibakar oleh kaki tangan Pangeran Vayami!
Dengan hati penuh kengerian dan cemas, Ang I Niocu berteriak lagi.
"Lin Lin...! Lin Lin...! Di mana kau...??"
Akan tetapi suara teriakannya yang keras ini seakan-akan hanya menambah besar berkobarnya api yang membakar seluruh danau itu!
Ang I Niocu dengan mata terbelalak memandang ke arah api dan tiba-tiba ia melihat seakan-akan bayangan Pangeran Vayami berdiri di tengah-tengah api sambil tersenyum-senyum dan melambai-lambaikan tangan kepadanya!
Ang I Niocu menggigil dengan penuh kengerian dan mukanya penuh keringat.
Ia menggosok-gosok kedua matanya akan tetapi bayangan Pangeran Vayami makin jelas saja.
Sambil berseru ngeri dan takut, Ang I Niocu berlari ke sana ke mari sambil memekik-mekik memanggil nama Lin Lin.
"Lin Lin...! Lin Lin...! Keluarlah, Lin Lin. Hai-ji menunggu kau...!"
Akan tetapi, sampai serak suaranya memanggil-manggil dengan kerasnya sambil berlari-lari menubruk sana menubruk sini, namun yang dipanggilnya tidak juga menjawab atau muncul.
Nyala api di danau yang membesar dan membubung tinggi itu nampak juga oleh Hai Kong Hosiang dan Kiam Ki Sianjin.
Maka Hai Kong Hosiang segera menyerang makin keras kepada Balutin sambil berteriak minta supeknya membantu.
Kiam Ki Sianjin lalu melompat maju dan menyerang Balutin dengan kebutan ujung lengan bajunya yang lebar.
Balutin terkejut sekali oleh karena merasa betapa angin sambaran ujung baju itu keras dan luar biasa!
Ia mencoba berkelit, akan tetapi serangan susulan dari Kiam Ki Sianjin membuatnya terhuyung-huyung ke belakang dan pada saat itu tongkat ular Hai Kong Hosiang tepat menusuk jalan darah lehernya.
Sambil mengeluarkan teriakan keras, Balutin roboh dan tewas!
Kiam Ki Sianjin lalu mengempit tubuh Hai Kong Hosiang dan dengan lari cepat bagaikan terbang, kakek gagu ini meninggalkan tempat pertempuran menuju ke pantai dan keduanya lalu melarikan diri di atas sebuah perahu!
Cin Hai juga melihat membubungnya api yang menjilat-jilat langit dan seakan-akan membakar awan-awan di atas itu.
Ia makin bingung dan gelisah, lalu berteriak-teriak sambil berenang cepat-cepat.
"Niocu...! Lin Lin...!"
Akan tetapi lagi-lagi suaranya tenggelam ditelan suara ombak menderu.
Pada saat itu, terdengar ledakan yang kerasnya sampai menggetarkan tubuh Cin Hai yang berenang di air!
Pemuda ini melihat betapa api yang berkobar di atas bukit itu tiba-tiba saja pecah dan pulau itu dalam sekejap mata menjadi terang oleh karena telah terbakar menjadi lautan api!
Tepat sebagaimana ramalan Pangeran Vayami, pulau itu berubah menjadi neraka!
Cin Hai membelalakkan matanya dan pada saat setelah suara menggelegar itu lenyap, ia masih mendengar suara Ang I Niocu lapat-lapat..
"Lin Lin... Lin Lin... Hai-ji...!"
Cin Hai merasa seakan-akan jantungnya berhenti berdetik dan tenggorokannya seakan-akan tercekik sesuatu!
Tiba-tiba, sebagai akibat daripada letusan dahsyat itu, ombak besar datang menggulung dirinya dan tubuhnya terlempar ke atas, lalu diterima lagi oleh ombak dan dibawa hanyut jauh kembali ke tempat semula!
Cin Hai mencoba berseru lagi.
"Niocu... Lin Lin...!"
Akan tetapi suaranya tak dapat keluar dari kerongkongannya dan ia merasa betapa tubuhnya menjadi lemas dan tidak kuat berenang pula!
Perlahan-lahan tubuhnya tenggelam, akan tetapi tiba-tiba ia mendengar suara bisikan.
"Hai-ji... kuatkanlah hatimu... Lin Lin menanti-nantimu..."
Cin Hai terkejut.
Inilah suara Ang I Niocu!
Cepat ia mengerahkan tenaga dan dapat timbul lagi ke permukaan air.
Ia memandang ke sana ke mari mencari-cari, akan tetapi yang nampak hanya ombak dengan kepala ombak keputih-putihan menyambar lagi dan ia terombang-ambing menjadi permainan ombak.
Kembali tubuhnya menjadi lemas dan ketika ia telah merasa putus asa tiba-tiba ia melihat bayangan wajah Ang I Niocu di dalam air dan bibir bayangan gadis itu bergerak-gerak dalam bisikan.
"Hai-ji... kuatkanlah hatimu... kuatkanlah, aku mencari Lin Lin untukmu..."
Dengan tenaga terakhir Cin Hai berenang lagi dan tiba-tiba tangannya menyentuh benda keras yang ternyata adalah sebuah perahu kecil yang terbalik.
Ia segera mengangkat perahu itu dan membalikkannya, dan itu adalah perahunya yang siang tadi ia naiki bersama Ang I Niocu dan yang telah dilarikan oleh Si Hwesio dan Si Tosu, Ceng Tek Hwesio dan Ceng To Tosu!
Agaknya perahu itu terpukul ombak dan terguling, dan entah bagaimana nasib kedua pendeta itu!
Dengan sekuat tenaga Cin Hai mengangkat tubuhnya ke dalam perahu dan akhirnya jatuh pingsan di dalam perahu kecil yang masih terombang-ambing oleh ombak besar itu.
Ternyata bahwa oleh karena pulau itu mengandung minyak yang terbakar dan meletus, maka minyak yang telah menjadi api itu membakar seluruh pulau, bahkan kini minyak yang bernyala-nyala terbawa oleh air sampai di mana-mana hingga seakan-akan laut itu telah terbakar!
Daya tekan letusan hebat itu telah menimbulkan gelombang hebat yang susul menyusul dengan dahsyatnya.
Seluruh benda, berjiwa maupun tidak, yang berada di atas pulau itu binasa dan terbakar habis.
Jangankan mahluk tak bersayap yang tak dapat melarikan diri, sedangkan burung-burung yang berada di pohon pun tak dapat menghindarkan diri dari bencana dan sebelum mereka terbang cukup tinggi, telah terpukul oleh letusan itu dan runtuh ke atas tanah untuk menjadi korban api yang mengamuk hebat.
Perahu kecil yang ditumpangi Cin Hai terdampar ombak dan kembali ke pantai daratan Tiongkok.
Ketika Cin Hai siuman dari pingsannya, ia merasa kepalanya masih pening.
Pemuda itu bangkit perlahan dan ternyata ia telah berada di dalam perahu kecil itu semalam penuh oleh karena waktu itu telah menjelang pagi!
Karena melihat bahwa dekat dengan pantai, maka Cin Hai lalu melompat turun ke air yang dangkal dan berlari cepat ke pantai.
Tiba-tiba ia mendengar suara luar biasa, teriakan yang dibarengi suara senjata beradu!
Ia cepat berlari menuju ke arah suara itu dan menjadi kaget berbareng girang melihat bahwa di sebelah kiri, dekat pantai di mana air laut masih bergelombang memukul batu-batu karang, di situ terdapat dua orang yang sedang bertempur hebat!
Ketika ia telah datang dekat, maka yang bertempur itu adalah Hek Mo-ko melawan Pek Mo-ko.
Inilah yang membuat ia kaget dan heran, sedangkan yang membuat hatinya memukul girang adalah ketika ia melihat bahwa di dekat tempat pertempuran itu, empat orang sedang berdiri sebagai penonton, yaitu bukan lain Kwee An, Biauw Suthai, Pek I Toanio dan Si Nelayan Cengeng!
Melihat hadirnya Si Nelayan Cengeng di situlah yang membuat hati Cin Hai berdebar girang sekali, karena bukanlah Lin Lin bersama-sama dengan nelayan tua itu?
Akan tetapi hatinya kecut dan cemas kembali, karena ia tidak melihat Lin Lin dan Ma Hoa berada di situ!
Cin Hai lalu berlari keras menghampiri mereka dan tanpa mempedulikan orang lain maupun yang sedang bertempur, ia lalu menghampiri Kong Hwat Tojin Si Nelayan Cengeng dan terus menjatuhkan diri berlutut sambil bertanya dengan suara tak sabar.
"Locianpwe, di mana adanya Lin Lin?"
Kedatangan pemuda ini sama sekali di luar dugaan Nelayan Cengeng dan yang lain-lain, maka mereka berempat lalu mengurung pemuda ini, hanya Pek Mo-ko dan Hek Mo-ko yang tidak ambil peduli dan terus bertempur dengan hebat dan mati-matian!
"Locianpwe, bagaimana dengan Lin Lin?"
Tanya pula Cin Hai dengan muka pucat dan tubuh menggigil karena terdorong oleh gelora hatinya yang penuh kecemasan.
"Ah, Cin Hai... engkau selamatkah...?"
Tanya Si Nelayan Cengeng dengan terharu sekali, kemudian melihat keadaan pemuda itu yang amat mengkhawatirkan ia segera menyambung.
"Lin Lin dan Ma Moa selamat, mereka berdua pergi dengan Yousuf!"
Mendengar betapa Lin Lin selamat, Cin Hai tiba-tiba menangis tersedu-sedu, menggunakan kedua tangan menutupi mukanya dan setelah menjerit perlahan.
"Lin Lin... ah, Niocu...!"
Lalu pemuda itu jatuh pingsan lagi!
Semua orang sibuk sekali, terutama Kwee An yang terus memeluk tubuh kawannya itu dan memijat-mijat belakang kepala Cin Hai hingga tak lama kemudian pemuda ini sadar kembali dalam pelukan Kwee An.
Melihat Kwee An, Cin Hai lalu membalas memeluk dan pemuda ini menangis lagi.
Seribu satu macam hal yang telah berada di ujung lidah mereka hendak diceritakan dan ditanyakan kepada Cin Hai, akan tetapi kini mereka terganggu oleh pertempuran hebat di dekat mereka.
Bahkan Cin Hai tak sempat menceritakan pengalamannya, dan sambil memandang ke arah dua iblis yang sedang bertempur itu, ia tak tahan pula untuk tidak menyatakan keheranannya dan bertanya kepada Kwee An.
"Mengapa mereka saling hantam sendiri?"
Dengan muka sedih Kwee An berkata kepadanya tanpa menjawab pertanyaan itu.
"Cin Hai, hanya kau yang bisa menolong. Pergunakanlah kepandaianmu dan cegahlah mereka saling membunuh."
Cin Hai tidak mengerti akan maksud Kwee An oleh karena ia tidak tahu hubungan Kwee An dengan Hek Mo-ko, akan tetapi oleh karena ia percaya penuh kepada Kwee An, ia lalu bangkit berdiri dan mengumpulkan seluruh tenaganya yang telah lemas.
Akan tetapi ia terlambat.
Pada saat itu, Hek Mo-ko dan Pek Mo-ko yang bertempur sambil mempergunakan pedang mereka yang luar biasa, telah mempergunakan serangan-serangan nekad dan pada suatu saat, keduanya menjerit ngeri dan terhuyung-huyung ke belakang.
Pek Mo-ko terus roboh binasa dengan dada terluka oleh pedang Hek Mo-ko, sedangkan Iblis Hitam ini sendiri telah terkena pukulan tangan kiri Pek Mo-ko yang tepat menghantam dadanya hingga Pek Mo-ko mendapat luka dalam yang hebat dan jantungnya terguncang.
Setelah melihat Pek Mo-ko roboh tak bernyawa, Hek Mo-ko yang masih dapat bergerak, lalu merangkak menghampiri adik seperguruannya ini dan setelah tertawa bergelak-gelak ia lalu memeluk mayat Pek Mo-ko sambil menangis sedih sekali.
Kemudian ia muntahkan darah dari mulutnya dan roboh pingsan di dekat mayat Pek Mo-ko.
Mengapa kedua iblis yang biasanya sehidup semati dan saling membela ini tiba-tiba bisa bertempur mati-matian dan saling membunuh di pantai itu, ditonton oleh Kwee An, Biauw Suthai, Pek I Toanio dan Si Nelayan Cengeng?
Baiklah kita melihat keadaan di situ sebelum Cin Hai terdampar ke pantai.
Setelah Kwee An dan kedua iblis itu mengamuk dan membasmi Pangeran Vayami dan seluruh anak buahnya, mereka bertiga lalu mengajukan perahu itu ke arah Pulau Kim-san-to.
Akan tetapi di pulau itu, mereka melihat api berkobar hebat hingga menjadi takut dan memutar arah perahu.
Tiba-tiba terjadi letusan hebat itu dan perahu mereka yang besar menjadi permainan gelombang air laut dan terbawa ke pantai daratan Tiongkok kembali.
Dengan pucat dan ketakutan ketiganya lalu melompat ke darat sambil memandang ke arah Pulau Emas yang menjadi neraka itu.
Mereka bergidik, bahkan Hek Pek Mo-ko dua iblis yang berhati kejam dan tak kenal takut, kini setelah melihat pemandangan mengerikan itu, menjadi pucat dan merasa ngeri juga.
Terutama sekali Kwee An, oleh karena pemuda ini teringat akan Cin Hai dan Ang I Niocu yang telah disaksikan dengan kedua mata sendiri bahwa kedua orang itu tadi menuju ke Pulau Emas.
Bagaimanakah nasib mereka?
Kwee An tak terasa pula mengalir air mata oleh karena ia tidak ragu-ragu lagi bahwa jiwa kedua orang itu pasti sukar ditolong dalam keadaan seperti itu.
Siapakah orangnya yang kuasa menolong mereka yang berada di dekat neraka dan lautan api itu?
Menjelang fajar, tiba-tiba sesosok bayangan orang melompat dari air ke dekat mereka dan ternyata bahwa bayangan orang ini adalah Si Nelayan Cengeng!
Tepat pada saat itu, dari jurusan darat datang berlari dua orang yang gerakannya cepat sekali dan ketika telah dekat, dua orang itu bukan lain ialah Biauw Suthai dan Pek I Toanio!
Kwee An yang mengenal ketiga orang yang baru muncul pada waktu yang sama ini segera berlari menghampiri berteriak memanggil.
Akan tetapi, Pek Mo-ko yang masih haus darah dan agaknya masih belum puas dengan pembunuhan-pembunuhan hebat yang ia lakukan dengan Hek Mo-ko di atas perahu Pangeran Vayami, telah mendahului Kwee An dan tanpa bertanya apa-apa lagi ia lalu menyerang Si Nelayan Cengeng yang berada terdekat.
Kaget sekali Nelayan Cengeng ketika melihat dirinya diserang hebat oleh seorang tinggi besar yang berjubah putih!
Akan tetapi Nelayan Cengeng bukanlah orang lemah maka dengan mudah ia lalu berkelit dan balas menyerang sambil berseru.
"Eh, iblis dari mana datang-datang menyerang orang? Apakah tiba-tiba kau kemasukan setan Pulau Kim-san-to?"
Akan tetapi, ketika melihat bahwa kakek yang muncul dari dalam air itu dengan mudah dapat mengelak seranganpya, Pek Mo-ko menjadi marah sekali dan menyerang lebih hebat lagi.
"Pek-susiok, jangan menyerang dia! Dia adalah Kong Hwat Lojin Si Nelayan Cengeng!"
Akan tetapi, Pek Mo-ko tidak mau pedulikan teriakan Kwee An bahkan menyerang makin hebat lagi.
Sementara itu, Biauw Suthai yang mendengar nama kedua orang yang sedang bertempur itu disebut oleh Kwee An, tak ragu-ragu lagi untuk memilih hak.
Ia telah lama mendengar nama Nelayan Cengeng sebagai seorang tokoh persilatan golongan pendekar berbudi, sedangkan nama Pek Mo-ko telah terkenal bagai iblis jahat yang kejam, maka ketika melihat bahwa lambat laun Si Nelayan Cengeng terdesak hebat, Biauw Suthai lalu melompat maju sambil mencabut keluar hudtimnya dan berseru.
"Pek Mo-ko, jangan kau mengganggu orang di depanku!"
Pek Mo-ko tertawa ketika melihat tokouw ini, oleh karena ia dapat mengenal wanita pendeta yang bermata satu dan beroman buruk ini.
"Biauw Suthai, kebetulan sekali aku sedang gembira! Mari kau maju sekalian untuk menerima binasa!"
Sambil berkata begini Pek Mo-ko lalu mencabut keluar pedangnya yang luar biasa itu dan menyerang dengan penuh semangat, Biauw Suthai menangkis dan Si Nelayan Cengeng yang mendengar nama Biauw Suthai, lalu berkata.
"Suthai, jangan kuatir, aku membantumu membasmi iblis ini,"
Lalu kakek nelayan yang gagah ini maju pula dengan tangan kosong melawan pedang Pek Mo-ko.
Ia mengeluarkan pukulan-pukulan keras dan lihai dan biarpun bertangan kosong, namun kakek yang lihai ini tidak kurang berbahayanya.
Dikeroyok dua Pek Mo-ko menjadi sibuk juga dan terdesak.
Pengeroyoknya bukanlah orang-orang biasa dan adalah tokoh-tokoh tingkat tinggi, maka tidak heran apabila Pek Mo-ko kehilangan kegarangannya menghadapi mereka ini.
Akan tetapi, tiba-tiba berkelebat bayangan hitam dan tahu-tahu Hek Mo-ko telah menyerbu ke tengah pertempuran, membantu Pek Mo-ko.
Ilmu silat kedua iblis ini memang merupakan kepandaian pasangan dan apabila kedua iblis ini telah maju berbareng, maka kelihaian mereka menjadi berlipat-ganda.
Sebentar saja Biauw Suthai dan Nelayan Cengeng terdesak hebat oleh kedua pedang Hek Mo-ko dan Pek Mo-ko yang luar biasa.
Pek I Toanio ketika melihat gurunya berada dalam bahaya, tidak mau tinggal dan maju membantu.
Namun apa artinya bantuan Pek I Toanio yang tingkatnya masih kalah jauh?
Tetap saja sepasang iblis itu mendesak hebat sambil tertawa-tawa.
Kwee An menjadi sibuk sekali.
Berkali-kali ia berteriak mencegah Hek Pek Mo-ko, akan tetapi suaranya tidak dihiraukan oleh kedua iblis yang sedang bergembira itu, seperti biasa kalau mereka berkelahi dan dapat mendesak serta mempermainkan lawan!
Kwee An tak dapat membiarkan kedua iblis itu membunuh tiga orang ini, maka terpaksa ia lalu mencabut pedang dan menyerbu membantu Biauw Suthai dan kawan-kawannya.
Pertempuran makin hebat, akan tetapi ketika Hek Mo-ko melihat "anaknya"
Maju membantu lawan, menjadi ragu-ragu dan tiba-tiba ia berteriak.
"Tahan dan mundur semua!"
Suaranya menggeledek dan berpengaruh sekali hingga semua orang menahan senjata masing-masing.
"Siauw-mo (Setan Cilik), mengapa kau membantu musuh?"
Tanya Hek Mo-ko sambil memandang Kwee An dengan heran tapi suaranya penuh nada mencinta.
"Maaf, Ayah. Mereka ini adalah kawan-kawan baikku, bahkan Kong Hwat Locianpwe ini masih dapat disebut guruku sendiri. Tidak boleh Ayah dan Pek-susiok membinasakan mereka!"
Kata Kwee An dengan gagah sambil menentang pandangan mata ayah angkatnya. Hek Mo-ko menghela napas dan berkata perlahan.
"Kalau begitu biarlah aku tidak menyerang mereka lagi."
Akan tetapi Pek Mo-ko tiba-tiba menjadi beringas dan marah sekali. Ia menuding dengan pedangnya ke arah Kwee An dan membentak.
"Anjing tak kenal budi! Beginikah kau membalas kami? Bagaimana juga, hari ini aku harus mencium bau darah orang-orang ini!"
Setelah berkata demikian, Pek Mo-ko maju menyerang lagi dengan hebat, akan tetapi pedang Kwee An menangkis pedangnya dan anak muda ini berseru, '"Pek-susiok!
Kebaikan mereka lebih dari pada kekejamanmu!
Kalau kau tetap berkeras, terpaksa aku memberanikan diri melawanmu!"
Pek Mo-ko makin marah.
"Bagus sekali! Aku akan membunuh kau lebih dahulu!"
Ia lalu mengirim serangan hebat dan ketika Kwee An menangkis, pemuda ini terkejut oleh karena tenaga Pek Mo-ko benar-benar hebat sehingga tangkisan itu membuat ia terhuyung-huyung belakang.
Pek Mo-ko memburu dan mengirim serangan hebat hingga terpaksa Kwee An membuang diri ke belakang sambil bergulingan di atas tanah, untuk menghindarkan diri dari serangan maut.
"Ha-ha-ha! Bangsat rendah, kau hendak lari ke mana!"
Teriak Pek Mo-ko sambil memburu untuk memberi tusukan terakhir, tetapi pada saat itu Hek Mo-ko melompat maju dan menangkis pedang Pek Mo-ko sehingga terdengar suara keras dan kedua pedang itu mengeluarkan api!
Baru kali ini selama mereka hidup, pedang mereka ini saling beradu.
Pek Mo-ko memandang kepada Hek Mo-ko dengan mata terbelalak dan muka berubah merah, tanda bahwa ia merasa penasaran dan marah sekali, juga heran.
"Suheng, kau... kau... hendak melawan aku?"
Tanyanya gagap. Hek Mo-ko memandang tajam.
"Sute, kau tidak boleh turunkan tangan kepada anakku!"
"Apa? Dia bukan anakmu, dia adalah kawan musuh-musuh kita!"
Bentak Pek Mo-ko sambil menubruk lagi ke arah Kwee An yang telah bersiap sedia dan menangkis.
"Pek-sute! Jangan kauserang anakku!"
Teriak Hek Mo-ko dengan marah.
"Suheng, tinggal kaupilih. Kau membela aku atau membela binatang ini!"
Jawab Pek Mo-ko dengan melolotkan mata.
"Pikir saja sendiri olehmu! Anak dan Sute, mana lebih berat?"
Tiba-tiba Pek Mo-ko tertawa bergelak.
"Anak? Ha-ha, kau mabok, Suheng! Kau tidak punya anak! Ha-ha, kau tidak punya anak lagi! Anakmu telah mampus, seperti anakku!"
Mengertilah semua orang kini bahwa sebenarnya Pek Mo-ko yang kematian puterinya itu, merasa iri hati melihat Hek Mo-ko mengambil Kwee An sebagai anak angkat!
Biauw Suthai, Pek I Toanio, dan Si Nelayan Cengeng memandang perdebatan ini dengan penuh perhatian dan tak terasa pula mereka berdiri saling mendekati, merupakan kelompok yang menonton pertentangan antara kedua iblis itu.
Hek Mo-ko menjadi marah sekali mendengar ucapan adiknya itu, maka ia lalu menggerak-gerakkan pedang di tangannya dan berkata tegas.
"Siapa peduli ocehanmu? Pendeknya, kalau kau mengganggu Siauw Mo, kau harus dapat mengalahkan pedangku ini dulu!"
"Kau sudah bosan hidup!"
Pek Mo-ko membentak dan menyerang dengan hebat.
Hek Mo-ko juga menggereng marah dan menangkis lalu balas menyerang.
Demikianlah, kedua saudara yang tadinya sehidup semati itu lalu bertempur mati-matian sehingga mereka tidak menghiraukan kedatangan Cin Hai dan bahkan kemudian Pek Mo-ko mati di ujung pedang Hek Mo-ko, sedangkan Iblis Hitam ini terkena pukulan hebat dari Pek Mo-ko hingga menderita luka dalam yang berbahaya dan roboh pingsan.
Melihat keadaan Hek Mo-ko itu, hati Kwee An yang merasa sayang karena berhutang budi, menjadi terharu sekali.
Pemuda ini menubruk tubuh Hek Mo-ko dan mengangkat kepala iblis itu di pangkuannya sambil mengeluh.
"Ayah..."
Tentu saja Cin Hai dan lain-lain merasa heran sekali dan saling pandang dengan tak mengerti melihat kelakuan Kwee An itu!
Kwee An segera memeriksa keadaan Hek Mo-ko, lalu pemuda ini menengok kepada Biauw Suthai yang pandai hal pengobatan sambil berkata.
"Suthai, tolonglah kauobati dia ini!"
Biarpun hatinya ragu-ragu untuk memeriksa dan menolong Iblis Hitam yang terkenal jahat dan kejam itu, Biauw Suthai tidak menolak permintaan Kwee An.
Ia lalu menghampiri dan memeriksa dada yang terpukul, akan tetapi ia lalu menggeleng-geleng kepalanya dan berkata.
"Tak ada gunanya lagi. Jantungnya telah kena pukul dan terluka. Tidak ada obatnya bagi pukulan ini."
Ia lalu mengurut dan menotok dada Hek Mo-ko untuk mengurangi rasa sakit yang diderita oleh Iblis Hitam itu.
Tak lama kemudian Hek Mo-ko membuka matanya ketika melihat bahwa ia berada dalam pelukan Kwee An, ia tersenyum dan dari kedua matanya mengalir air mata!
"Bagus...
bagus...
kau betul-betul anakku yang kusayang, Siauw Mo!
Aku...
aku puas dapat mati dalam pelukan anakku..."
Agaknya Hek Mo-ko telah menggunakan tenaganya yang terakhir untuk mengucapkan kata-kata ini, karena lehernya lalu tiba-tiba menjadi lemas dan ia menghembuskan napas terakhir.
Kwee An menahan isak tangis yang mendorong perasaannya dari dada.
Kemudian dengan sedih dan tak banyak mengeluarkan kata-kata ia lalu menggali lubang, dan dibantu oleh Cin Hai dan Si Nelayan Cengeng, mereka lalu mengubur kedua jenazah sepasang iblis yang telah menggemparkan kalangan kang-ouw untuk puluhan tahun lamanya itu.
Setelah penguburan kedua jenazah itu selesai barulah semua orang berkumpul untuk menuturkan riwayat dan perjalanan masing-masing.
Sebelum menuturkan pengalamannya, Cin Hai menengok ke arah Pulau Kim-san-to dengan pandangan sayu dan melihat betapa pulau itu masih tetap berkobar bagaikan api neraka mengamuk.
Lalu dengan suara terputus-putus dan keharuan besar mempengaruhi lidahnya ia menceritakan riwayatnya, semenjak berpisah dari Kwee An dalam pertempuran melawan Hai Kong Hosiang dulu sampai tertolong oleh Ang I Niocu dan bersama Ceng Tek Hwesio dan Ceng To Tosu mencari Pulau Emas.
Ketika ia menceritakan tentang pertempuran Ang I Niocu dengan seekor burung Kim-tiauw, ia menghela napas dan berkata.
"Memang betul ramalan pendeta itu bahwa pertempuran dengan burung Rajawali Emas itu mendatangkan bencana besar. Niocu yang bertempur melawan burung itu sekarang tidak ketahuan nasibnya di pulau yang berubah menjadi neraka, sedangkan kedua pendeta yang tertimpa kotoran burung itu pun agaknnya terkena bencana pula. Buktinya perahu mereka kudapatkan terbalik di lautan sedangkan mereka tidak kelihatan lagi!"
Semua orang merasa terharu dan kasihan sekali kepada Ang I Niocu yang telah mencegah Cin Hai mendekati pulau untuk mencari Lin Lin, bahkan yang menggantikan pemuda itu menuju ke pulau yang berbahaya, padahal telah mendengar dari Pangeran Vayami bahwa pulau itu hendak dibakar dan diledakkan!
Dara Baju Merah yang luar biasa itu ternyata telah mengorbankan diri guna menolong dan membela Cin Hai dan Lin Lin.
Sungguh perbuatan yang mulia sekali.
Apalagi bagi Cin Hai yang mengetahui apa yang terkandung dalam hati sanubari Dara Baju Merah itu terhadap dirinya.
Setelah Cin Hai selesai menuturkan pengalamannya yang mengerikan, lalu tiba giliran Kwee An untuk menuturkan perjalanannya.
Ia menceritakan betapa setelah ia terlempar ke dalam sungai dirinya terbawa hanyut dan diserang oleh ratusan ekor buaya yang ganas dan kemudian jiwanya tertolong oleh Hek Mo-ko.
Kemudian ia diambil anak oleh Iblis Hitam itu dan diberi pelajaran silat, dan bersama Hek Pek Mo-ko lalu pergi mencari Pulau Emas dan berhasil membantu Cin Hai dan Ang I Niocu yang dikeroyok di perahu Pangeran Vayami.
Ia menuturkan betapa kedua iblis itu telah membasmi seluruh anak buah Pangeran Vayami dan membinasakan pangeran itu sendiri dan betapa perahunya terdampar oleh gelombang besar ke pantai.
Setelah ia menuturkan semua pengalamannya, maka mengertilah semua orang mengapa Kwee An yang telah diaku anak dan diberi nama Siauw Mo atau Iblis Kecil oleh Pek Mo-ko itu demikian sayang kepada lblis Hitam ini.
Dan hal ini pun dianggap wajar oleh semua pendengarnya, oleh karena memang demikianlah seharusnya sifat seorang ksatria yang biarpun kejam dan jahat, namun masih diliputi hati sayang dan cinta suci terhadap seorang anak pungut.
Biauw Suthai dan Pek I Toanio yang mendapat giliran menuturkan pengalaman mereka, tidak dapat bercerita banyak.
Mereka ini oleh karena mengkhawatiran keadaan Ang I Niocu dan Lin Lin yang diam-diam pergi meninggalkan rumah tanpa memberi tahu, lalu menyusul.
Akan tetapi, biarpun telah merantau berapa lama, mereka tak berhasil mendapatkan jejak kedua orang gadis itu.
Akhirnya mereka bertemu dengan orang-orang dusun di utara yang bicara tentang penyerbuan tentara Turki ke timur hingga hal yang aneh ini menarik hati Biauw Suthai dan ia mengajak muridnya untuk menyusul ke timur dan melihat apakah sebenarnya yang dikerjakan oleh barisan asing itu.
Akhirnya mereka dapat menyusul ke pantai ini dan melihat Si Nelayan Cengeng bertempur melawan Pek Mo-ko dan membantu kakek nelayan yang gagah ini.
Setelah tiba giliran Si Nelayan Cengeng untuk menuturkan riwayatnya yang didengar dengan penuh perhatian oleh Cin Hai, Kwee An, Biauw Suthai dan muridnya, Kong Hwat Lojin menghela napas berulang-ulang, kemudian ia mulai ceritanya yang panjang.
Sebagaimana telah diketahui di bagian depan, setelah Nelayan Cengeng memperlihatkan kemahirannya di dalam air dan berhasil mengambil perahu Yousuf yang tenggelam dari dasar sungai, dia dan Yousuf dengan bantuan Ma Hoa dan Lin Lin lalu memperbaiki perahu itu dan kemudian berangkat berlayar menuju ke laut.
Di sepanjang pelayaran mereka, Yousuf dapat menggembirakan hati Nelayan Cengeng, Lin Lin dan Ma Hoa dengan macam-macam cerita yang didongengkannya.
Ternyata bahwa orang Turki ini telah mempunyai banyak sekali pengalaman hidup dan sudah banyak melakukan perantauan-perantauan ke luar negeri.
Ia bercerita tentang orang-orang yang tinggi besar seperti raksasa, berambut merah dan bermata biru, hingga Lin Lin dan Ma Hoa menjadi ngeri dan takut.
"Apakah mereka itu suka makan orang?"
Tanya Ma Hoa sambil menggeser duduknya mendekati Lin Lin oleh karena ketika itu telah malam dan kegelapan malam membuat ia membayangkan hal-hal yang mengerikan ketika mendengar cerita Yousuf tentang orang-orang aneh itu.
Mendengar pertanyaan ini, Yousuf tertawa geli.
"Aah, tidak, mereka itu juga manusia seperti kita. Bahkan, mereka itu memiliki ilmu kepandaian tinggi dan dapat membuat barang-barang yang aneh dan indah. Hanya saja, mereka itu bersikap kasar dan tidak tahu adat. Mereka tinggal di Barat."
"Apakah yang disebut Dunia Barat?"
Tanya Lin Lin.
Pada waktu itu Tiongkok telah kenal dengan India yang di sebut Dunia Barat, bahkan Agama Buddha datangnya juga dari India.
Mendengar bahwa raksasa-raksasa berambut merah dan bermata biru itu berada di Barat, maka Lin Lin mengajukan pertanyaan itu.
"Bukan, mereka bahkan tinggal lebih jauh lagi dari Dunia Barat. Orang-orang di Dunia Barat memang tinggi besar akan tetapi kulit dan warna rambut mereka sama dengan kita. Mungkin banyak yang lebih hitam kulitnya kalau dibandingkan dengan kalian orang-orang Han. Akan tetapi adat istiadat mereka itu tak berbeda jauh dengan kita sendiri."
Kemudian Yousuf menceritakan pula pengalaman-pengalamannya ketika ia merantau jauh ke utara hingga ia menyebut-nyebut tentang bukit-bukit es yang dinginnya membuat ludah yang dikeluarkan dari mulut menjadi beku sebelum tiba di atas tanah!
Pendeknya, banyak hal-hal aneh yang terjadi di luar Tiongkok yang bagi ketiga orang pendengarnya, jangan kata menyaksikan, bahkan mendengar pun belum pernah, diceritakan oleh Yousuf hingga ketiga orang itu menjadi tertarik dan senang sekali.
Juga perasaan mereka terhadap Yousuf yang peramah dan pandai membawa diri itu menjadi makin berkesan baik.
Setelah bergaul selama beberapa hari di atas perahu, kedua gadis itu harus mengakui bahwa Yousuf adalah seorang laki-laki yang sopan santun, pandai berkelakar dengan sopan, dan mempunyai pribadi tinggi.
Bahkan Nelayan Cengeng terpaksa harus melempar syakwasangka yang tadinya timbul di hatinya ketika bertemu dengan orang Turki ini.
"Dulu kau berkata tentang Pulau Kim-san-to, maukah kau menceritakan tentang pulau itu? Kita sedang menuju sana, maka ada baiknya bagi kami bertiga untuk mengetahui serba cukup tentang hal-ihwal pulau itu,"
Kata Nelayan Cengeng, dan Lin Lin serta Ma Hoa pun mendesak sambil mendengarkan.
Setelah bergaul dengan ketiga oraang Han ini, Yousuf juga mendapat kesan baik sekali dan ia mengagumi sepenuh hatinya sifat-sifat mereka yang gagah berani.
Ia kini percaya bahwa di Tiongkok memang banyak sekali pendekar-pendekar atau orang-orang gagah yang pekerjaannya hanya menolong sesama manusia dan menjadi pelopor-pelopor serta penegak-penegak keadilan.
Terhadap Nelayan Cengeng ia merasa kagum sekali dan memandang penuh hormat seperti seorang saudara tua, sedangkan terhadap Ma Hoa don Lin Lin, ia merasa sayang dan suka.
Hatinya yang tadinya tertarik seperti tertariknya hati laki-laki terhadap seorang wanita, lambat laun berubah menjadi kasih sayang seorang tua terhadap anaknya atau seorang kakak terhadap adiknya.
Hal ini timbul dari kesadarannya yang tinggi yang tidak mengizinkan hatinya untuk memaksa seorang gadis mencintainya, dan biarpun ia mencinta gadis itu dengan sungguh-sungguh, melihat sikap Lin Lin terhadapnya yang polos dan jujur bagaikan sikap seorang adik sendiri, maka nafsu-nafsu berahi yang tadinya mengotori kasih sayangnya terhadap gadis itu, menjadi luntur dan banyak mengurang.
Ketika mendengar permintaan mereka untuk menceritakan perihal Pulau Kim-san-to, Yousuf merasa ragu-ragu.
Akan tetapi, kemudian ia berkata.
"Cerita ini sekaligus membongkar rahasiaku dan keadaan diriku. Apakah hal ini takkan menimbulkan kekecewaan kalian dan tidak akan membuat kalian membenciku? Sungguh tidak enak kalau kita yang melakukan pelayaran seperahu dan setujuan ini akan mempunyai perasaan tak suka, dan benci satu kepada yang lain!"
Nelayan Cengeng tertawa.
"Saudara Yo Se Fei! Kau sungguh-sungguh terlalu sungkan-sungkan! Kalau sekiranya hal ini tak dapat kauceritakan kepada kami, janganlah kauceritakan! Kami juga tidak begitu nekat untuk memaksamu, bukankah begitu, anak-anak?"
Akan tetapi Nelayan Cengeng tertegun ketika Ma Hoa dan Lin Lin dengan suara berbareng dan tegas berkata.
"Ah, Yo-sianseng (Tuan Yo) harus menceritakan tentang pulau itu kepada kita!"
Bahkan Lin Lin lalu berkata lagi.
"Apakah Yo-sianseng kurang percaya kepada kami hingga masih menyimpan segala rahasia?"
Kalau Nelayan Cengeng tercengang, Yousuf tertawa terbahak-bahak dan ia lalu berkata.
"Ha-ha, Kong Hwat Lojin yang masih mempunyai sikap sungkan-sungkan, bukan aku dan bukan pula kedua nona ini! Baiklah, aku akan menceritakan pengalamanku!"
Kemudian setelah minum air teh yang dibuat oleh Lin Lin dan dihidangkan oleh Ma Hoa, orang Turki itu bercerita.
"Beberapa tahun yang lalu, aku dan dua orang kawanku berlayar di laut ini. Pada suatu malam, ketika kami melalui banyak pulau di pantai laut ini, tiba-tiba kami dikejutkan oleh pemandangan yang dahsyat dan aneh dan yang sebentar lagi kalian juga akan dapat menyaksikannya. Sebuah pulau di depan kami yakni pulau yang disebut Pulau Gunung Emas, nampak bercahaya mengeluarkan sinar kuning emas yang menakjubkan. Kami bertiga merasa takut sekali karena pemandangan itu sungguh aneh sekali. Kami lalu berhenti berlayar dan malam itu kami tidak tidur, terus berdiri di perahu mengagumi keindahan pulau itu dari jauh. Pada keesokan harinya, kami mendayung perahu mendekati pulau itu kami mendarat. Akan tetapi, apa yang menyambut kami? Sungguh di luar dugaan! Ketika kami mendarat di pulau itu, tiba-tiba dari belakang sebatang pohon, keluarlah seekor harimau besar yang mempunyai sebuah tanduk di tengah-tengah kepalanya! Harimau itu lari menerjang, kami terpaksa melawannya. Harus diketahui bahwa kedua kawanku itupun memiliki kepandaian yang hanya berada sedikit di bawah kepandaianku, akan tetapi kami bertiga masih tak dapat mengalahkan harimau itu! Dan dalam saat yang berbahaya itu tiba-tiba dari atas menyambar turun seekor burung rajawali berbulu kuning emas ke arah kami dan menyerang dengan tidak kalah hebatnya! Kami menjadi sibuk dan terdesak hebat, bahkan seorang kawan kami telah kena cakar harimau itu dan dipukul dengan sayap oleh Kim-tiauw hingga keadaan kami makin berbahaya! Akan tetapi, ketika kami telah berada di tepi jurang maut, tiba-tiba datanglah penolong yang tidak kalah anehnya. Penolong ini adalah seekor burung merak yang besar sekali dan bulunya hijau bercampur kuning keemasan yang indah sekali. Merak ini menyambar turun sambil mengeluarkan suara nyaring dan aneh! Begitu melihat merak ajaib ini, Rajawali Emas dan Harimau Bertanduk itu lalu mengeluarkan keluhan panjang dan berlari pergi seolah-olah dalam ketakutan hebat!"
"Merak ajaib itu lalu turun dan sambil mengembangkan semua sayap dan ekornya yang indah, ia berjalan hilir mudik seakan-akan membanggakan keunggulan dan kecantikannya. Aku merasa sangat tertarik dan timbul keinginanku hendak menangkap dan memelihara Sin-kong-ciak (Merak Sakti) itu, akan tetapi tiba-tiba ia mengibaskan sayap kirinya dan aku jatuh terpelanting! Angin kibasan sayapnya ini mempunyai tenaga yang luar biasa besarnya hingga aku mengerti mengapa Harimau Bertanduk dan Rajawali Emas itu takut menghadapinya. Ternyata merak itu bukanlah binatang sembarangan dan mempunyai kesaktian luar biasa!"
Nelayan Cengeng menjadi kagum sekali mendengar cerita tentang merak ajaib ini, maka ia lalu berkata.
"Aku pernah mendengar tentang burung merak yang datang dari negeri sebelah selatan Tiongkok, dan kabarnya merak di negeri itupun amat cantik dan kuat, akan tetapi belum pernah aku mendengar tentang burung merak sehebat seperti yang kauceritakan itu."
Juga Lin Lin dan Ma Hoa merasa kagum sekali, dan Lin Lin segera mendesak agar Yousuf suka melanjutkan penuturannya!
"Terpaksa kami berdua membawa kawan kami yang terluka dan melarikan diri ke atas perahu.
Kami tidak berani mendarat oleh karena pulau itu ternyata mempunyai penghuni yang aneh-aneh dan lihai.
Kami hanya mendayung perahu mengitari pulau itu dan sungguh aneh.
Selain tiga ekor binatang aneh itu, kami tidak melihat apa-apa lagi.
Kami lalu mendarat dari bagian lain untuk menyelidiki dan ternyata di puncak bukit terdapat sebuah telaga yang air berwarna indah, kadang-kadang hijau, ada merahnya, lalu kuning, bagaikan warna pelangi di udara, akan tetap pada dasarnya berwarna kehitam-hitaman.
Kami mempunyai keyakinan bahwa pulau itu tentu menyimpan harta yang luar biasa, maka kami lalu berputar sambil memeriksa.
Untung sekali kami tidak pergi terlalu jauh dari pantai, oleh karena selagi kami berjalan, tiba-tiba dari atas terdengar suara yang menakutkan dan betul saja, burung Rajawali Emas yang kami takuti itu telah menyambar dari atas dan menyerang kami!
Kami berdua lalu memutar-mutar pedang di atas kepala untuk melindungi kepala kami dari terkaman burung hantu itu sambil berlari ke perahu kami.
Dan dengan penuh ketakutan, kami lalu pergi dari pulau itu, dan kawan kami yang terluka itu terpaksa kami lempar ke laut oleh karena ia meninggal dunia karena lukanya.
Demikianlah kami kembali ke negeri kami dan Raja kami yang mendengar tentang penuturanku, lalu memerintahkan barisan besar untuk menyelidiki keadaan pulau itu.
Dan harap kalian jangan kaget, aku adalah seorang yang ditugaskan untuk memimpin rombongan penyelidik atau mata-mata Pemerintah Turki."
Ketika melihat betapa ketiga orang Han itu tidak terpengaruh oleh pengakuannya, ia lalu melanjutkan.
"Dan aku pergi sekarang ini pun oleh karena perintah Rajaku untuk membuka jalan sebagai perintis menuju ke pulau itu."
Sambil berkata begini, ia memandang tajam kepada Nelayan Cengeng untuk melihat perubahan muka pendengarnya, akan tetapi Nelayan Cengeng agaknya tidak tertarik sama sekali, bahkan lalu berkata.
"Aku ingin sekali melihat binatang-binatang aneh itu."
Juga Lin Lin dan Ma Hoa berkata.
"Alangkah senangnya kalau dapat membawa pulang burung merak sakti itu."
Maka gembiralah hati Yousuf melihat keadaan ketiga orang itu yang sama sekali tidak mau atau ambil peduli tentang segala urusan negeri.
Saking girang dan lega hatinya, Yousuf lalu bernyanyi sebuah lagu Turki yang didengar oleh kawan-kawannya dengan penuh perhatian, kagum dan geli, oleh karena biarpun mereka harus mengakui bahwa Yousuf memiliki suara yang empuk dan merdu, namun lagu yang dinyanyikannya terasa asing bagi telinga mereka hingga terdengar sumbang dan lucu.
Pada saat Yousuf selesai bernyanyi, hari telah menjadi gelap dan mereka telah tiba di dekat Pulau Kim-san-to.
Tiba-tiba Yousuf menunjuk ke depan dan berkata.
"Nah, kalian lihatlah baik-baik, bukanlah Kim-san-to benar-benar pulau yang menakjubkan?"
Nelayan Cengeng, Lin Lin dan Ma Hoa menengok dan ketiganya menahan napas dengan mata terbelalak ketika melihat pemandangan ajaib yang terbentang di depan mata mereka.
Mereka telah melihat Kim-san-to di waktu malam, melihat bukit yang mencorong dan berkilauan seakan-akan bukit itu terbuat daripada emas murni.
"Mungkinkah ini?"
Nelayan Cengeng menggerakkan bibirnya.
"Apakah aku sedang mimpi?"
Bisik Lin Lin sambil mengucek-ngucek kedua matanya seakan-akan tak percaya kepada matanya sendiri. Ma Hoa juga terpesona hingga gadis ini berdiri diam bagaikan patung batu.
"Hebat bukan? Aku sendiri ketika melihat untuk pertama kalinya, telah berlutut dan menyebut nama Dewata, karena menyangka bahwa aku telah melihat Surga diturunkan di atas tempat ini. Tempat seperti itu, pantasnya menjadi kediaman para Dewata, bukan?"
Terdengar Yousuf berkata hingga ketiga orang itu tersadar dan menghela napas.
"Benar-benar hebat, Saudara Yousuf. Terus terang saja, tadinya aku masih ragu-ragu dan timbul persangkaanku bahwa kau membohong atau melebih-lebihkan ceritamu, akan tetapi melihat pemandangan ini aku menjadi percaya penuh kepadamu, juga tentang penghuni pulau yang aneh-aneh itu,"
Kata Nelayan Cengeng.
"Mari kita ke sana sekarang juga!"
Kata Ma Hoa dengan gembira, dan Lin Lin juga mendesak supaya mereka segera pergi ke pulau indah dan ajaib itu. Akan tetapi Yousuf menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata.
"Jangan pergi sekarang aku belum tahu benar, apakah selain ketiga binatang sakti itu tidak ada lain makhluk berbahaya di pulau itu. Mendarat malam-malam adalah hal yang sembrono dan berbahaya sekali. Lebih baik kita menanti di perahu sampai besok pagi, barulah kita mendarat dengan hati-hati."
Nelayan Cengeng yang dapat memaklumi hal ini dan dapat berpikir lebih luas menyetujui ucapan ini hingga terpaksa Lin Lin dan Ma Hoa yang sudah tidak sabar menanti itu menekan perasaan mereka dan semalam suntuk mereka tidak mau tidur, hanya duduk di atas perahu sambil menikmati pemandangan indah itu dan mengaguminya.
Melihat pemandangan indah sekali itu, Lin Lin dan Ma Hoa yang duduk berdua saja, lalu teringat kepada kekasih masing-masing.
Dan tiba-tiba wajah mereka menjadi berduka.
Ma Hoa tahu akan perubahan pada muka Lin Lin dan ia bertanya perlahan.
"Lin Lin mengapa tiba-tiba kau menghela napas dan seperti orang berduka?"
Lin Lin tiba-tiba menjadi merah mukanya dan dengan perlahan sambil memegang tangan Ma Hoa, ia bertanya.
"Enci Hoa, apakah kau tidak teringat pada kakakku Kwee An?"
Ma Hoa memegang tangan Lin Lin erat-erat sambil bermerah muka, lalu berkata.
"Jadi itukah yang mengganggu pikiranmu? Kita harus meneguhkan hati dan bersabar, Adikku. Aku yakin bahwa Saudara Cin Hai dan... dia akan selamat oleh karena mereka berdua memiliki kepandaian yang tinggi."
Lin Lin maklum bahwa keadaan hati dan pikiran Ma Hoa pada saat itu sama dengan keadaan hati dan pikirannya maka ia tidak mau bicara tentang hal kedua pemuda itu terlebih lanjut.
Dalam berdiam, mereka seakan-akan mendengar bisikan jantung mereka masing-masing yang membuat mereka merasa saling tertarik lebih dekat lagi.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi setelah matahari naik ke puncak bukit, Yousuf baru berani mendarat di pulau yang aneh itu.
Dilihat pada siang hari, pulau itu merupakan sebuah pulau kecil yang berbukit satu dan yang kelihatan biasa saja seperti pulau-pulau lainnya.
Mereka berempat lalu mendarat dan bersiap sedia dengan senjata mereka kalau-kalau ada binatang luar biasa yang datang menyerang.
Akan tetapi aneh sekali, dan terutama Yousuf merasa heran karena tak seekor binatang pun yang dulu dilihatnya kelihatan muncul.
"Apakah selama beberapa tahun ini mereka telah mati?"
Katanya pada diri sendiri akan tetapi diucapkan dengan mulut.
"Mungkin juga, karena benda atau mahluk apakah di dunia ini yang tidak akan menyerah terhadap kematian?"
Kata Nelayan Cengeng yang membawa dayungnya yang besar dan berat dipanggul di pundak.
Mereka lalu menjelajah di pulau itu dan ternyata bahwa selain burung-burung kecil yang berkicau di atas pohon pulau itu nampaknya tidak ada mahluk yang berbahaya.
Mereka lalu mengunjungi danau yang dulu diceritakan oleh Yousuf dan bersama-sama mengagumi danau yang berwarna macam-macam itu.
"Ada sesuatu yang mengerikan di bawah danau ini agaknya,"
Kata Nelayan Cengeng hingga Lin Lin dan Ma Hoa lalu saling mendekat dan saling berpegang tagan oleh karena kedua gadis ini pun merasa betapa danau ini berbeda dengan danau biasa, seakan-akan di dasarnya yang hitam dan mengerikan!
Yousuf lalu mengajak mereka memeriksa terus keadaan pulau itu dengan pengharapan untuk mendapatkan harta atau emas yang disangkanya berada di pulau itu akan tetapi mereka tidak mendapatkan sesuatu yang berharga.
Matahari telah naik tinggi ketika mereka tiba di sebuah puncak lain yang ditumbuhi banyak bunga-bunga indah.
Tiba-tiba Lin Lin berseru.
"Ada gua di sini!"
Ketika semua orang menghampiri, benar saja, tertutup oleh rumput alang-alang yang tinggi terdapat pintu gua yang cukup besar dan tinggi.
Gua itu tadinya gelap oleh karena terhalang oleh alang-alang, akan tetapi segera setelah Yousuf menggunakan pedangnya untuk membabat alang-alang itu, di dalam gua menjadi terang oleh karena kebetulan sekali gua menghadap ke barat dan matahari yang sudah condong ke barat itu menyinarkan cahayanya ke dalam gua.
Dengan didahului Yousuf dan Nelayan Cengeng, keempat orang itu memasuki gua dengan perlahan dan hati-hati, dan tak lupa mereka menyiapkan senjata di tangan masing-masing menghadapi bahaya yang mungkin timbul.
Gua itu ternyata memang cukup luas, akan tetapi dalamnya hanya kira-kira tiga tombak saja dan di dalamnya kosong tidak menampakkan sesuatu yang aneh.
Tiba-tiba Lin Lin menjerit perlahan dan melompat seakan-akan diserang oleh sesuatu yang mengerikan dari bawah tanah!
Semua orang terkejut dan bertanya.
"Ada apakah?"
Lin Lin dengan tangan menggigil menunjuk ke bawah dan ternyata bahwa kaki gadis itu tadi telah tersangkut oleh sebuah tulang tangan orang yang menonjol keluar dari tanah yang tertutup pasir itu!
Tangan ini hanya kelihatan lima jarinya saja, sedangkan tulang rangka selebihnya terpendam di bawah pasir!
Tentu saja melihat lima buah jari tangan yang sudah menjadi rangka itu di tempat yang mengerikan menimbulkan hati takut dan ngeri.
"Tentu ada apa-apanya di bawah ini,"
Berkata lagi Nelayan Cengeng dan ia segera mulai menggali pasir yang menimbun tangan rangka itu.
Setelah digali, maka tampaklah rangka manusia yang lengkap terpendam di pasir dan disebelah rangka itu terdapat sebatang pedang yang telah habis dimakan karat dan pedang itu hanya tinggal sisanya sepanjang paling banyak satu kaki saja lagi.
Sisa ini pun telah merupakan besi berkarat dan gagangnya sudah tinggal sepotong kayu lapuk.
Sambil memegang pedang bobrok itu dan mengamat-amatinya dengan penuh perhatian, Nelayan Cengeng berkata sambil menghela napas.
"Ah, kalau saja pedang bobrok ini dapat bicara, tentu ia akan menceritakan riwayat orang ini yang tentu indah menarik sekali. Apalagi tubuh manusia sedangkan pedang yang aku percaya tadinya adalah sebatang pedang pusaka yang ampuh, kini hanya tinggal sisanya yang sudah tidak berharga lagi saja!"
Sambil berkata demikian, Nelayan Cengeng lalu menaruh kembali pedang yang tinggal sepotong dan karatan itu di dekat rangka itu.
"Kita harus tanam kembali rangka ini dengan pasir,"
Katanya penuh kekecewaan karena tidak mendapatkan sesuatu di situ.
"Nanti dulu, Locianpwe!"
Tiba-tiba Lin Lin berkata.
"Agaknya tidak percuma tangan rangka ini tadi menowel kakiku dan karena di sini tidak terdapat sesuatu, biarlah kusimpan sisa pedang ini sebagai kenang-kenangan kunjunganku ke pulau ini."
Nelayan Cengeng tertawa.
"Kau ini memang aneh! Untuk apakah sisa pedang bobrok itu?"
Akan tetapi semua orang tidak melarang ketika Lin Lin dengan hati-hati mengambil pedang bobrok itu dan membungkusnya dengan baik-baik di dalam saputangannya, lalu menyelipkannya di ikat pinggang.
Setelah mengubur kembali rangka itu dengan baik-baik, mereka lalu mengambil keputusan untuk bermalam di gua ini yang merupakan tempat baik sekali untuk berlindung dari serangan angin atau binatang buas yang mungkin menyerang di waktu malam.
Berhari-hari keempat orang itu tinggal di Pulau Kim-san-to dan setiap hari Yousuf keluar melakukan pemeriksaan dan mencari-cari harta yang disangkanya berada di pulau itu.
Akan tetapi usahanya selalu gagal dan sia-sia, karena yang didapatnya di pulau itu hanyalah batu-batu karang yang tidak berharga.
Sedangkan Nelayan Cengeng dan kedua orang gadis itu yang tidak sangat bernafsu untuk mencari harta terpendam, jarang ikut dan hanya berjalan-jalan menikmati pemandangan di pulau itu.
Pada hari ke tiga, tiba-tiba terdengar jeritan Yousuf dari dekat.
Ketiga orang kawannya menjadi kaget sekali dan cepat memburu ke arah suara jeritannya.
Mereka kaget melihat Yousuf sedang mencekik seekor ular yang besarnya hanya selengan tangan orang, akan tetapi wajah orang Turki itu telah menjadi pucat sekali.
Lin Lin memburu dengan pedang di tangan dan sekali bacok saja tubuh ular itu telah terpotong menjadi dua.
Yousuf melepaskan leher ular yang sedang dicekiknya itu ke atas tanah, akan tetapi semua orang terkejut sekali melihat bahwa bagian yang seharusnya menjadi ekor ular itu, ternyata merupakan kepala pula dan yang telah menggigit pundak Yousuf dan kini masih menempel di situ.
Ternyata bahwa ular itu adalah seekor ular kepala dua.
Ketika Yousuf sedang memeriksa dan mencari-cari sambil menyingkap rumput alang-alang, tiba-tiba ular tadi menyambar dan hendak menggigitnya, Yousuf tidak keburu berkelit, maka cepat mengulur tangan menangkap leher ular yang menyambarnya itu dan terus menggunakan kekuatannya mencekik leher ular yang tak dapat melepaskan diri lagi.
Akan tetapi, tiba-tiba Yousuf merasa pundaknya sakit sekali dan alangkah kaget dan herannya ketika melihat bahwa ekor ular itu dapat menggigit pundaknya.
Dia tidak menyangka bahwa ekor ular itupun merupakan kepala kedua sehingga ia tidak sempat mengelak dan kena tergigit pundaknya.
Yousuf merasa tubuhnya menjadi panas dan pundaknya sakit sekali, maka tanpa terasa pula ia menjerit hingga kawan-kawannya datang menolong.
Setelah melepaskan kepala ular yang dicekiknya, Yousuf lalu roboh pingsan dengan muka merah sekali.
Ketika Nelayan Cengeng meraba jidatnya, ternyata tubuh orang Turki itu panas sekali.
Kong Hwat Lojin lalu mencabut kepala ular yang masih menggigit pundak walaupun telah mati dan melemparkannya jauh-jauh, kemudian ia memondong tubuh Yousuf ke dalam gua tempat mereka bermalam.
Lin Lin yang biarpun sedikit pernah mempelajari ilmu pengobatan dari gurunya yaitu Biauw Suthai lalu memeriksa luka di pundak Yousuf.
Ia terkejut sekali melihat betapa pundak itu telah menjadi matang biru dan maklum bahwa ular yang menggigit Yousuf itu adalah ular beracun yang berbahaya sekali.
Selagi mereka bertiga kebingungan tiba-tiba di luar gua terdengar suara aneh.
Mereka memburu keluar dan melihat seekor burung merak yang berbulu biru bercampur kuning keemas-emasan hingga dari jauh nampak seperti hijau.
Merak ini indah sekali dan juga besarnya melebihi merak biasa.
Mereka terkejut karena teringat akan cerita Yousuf tentang merak sakti yang amat lihai.
Nelayan Cengeng dan Ma Hoa telah siap dengan senjata mereka untuk menyerbu, akan tetapi tiba-tiba Lin Lin berseru.
"Jangan ganggu dia! Lihat, dia membawa buah Pek-kim-ko (Buah Emas Putih). Buah inilah yang kubutuhkan pada saat ini untuk menolong jiwa Yo sian seng."
Merak itu seakan-akan mengerti bicara Lin Lin, karena ia berhenti dan berdiri di depan Lin Lin sambil memandang ke arah gadis itu dengan kedua matanya yang merah dan indah.
Lin Lin lalu melangkah maju tanpa kelihatan jerih sedikit pun, karena dalam hatinya ia menganggap tak mungkin seekor burung yang begini indahnya dapat mempunyai watak jahat.
Setelah dekat Lin Lin tidak berani mengambil buah itu dari mulut merak karena menganggap hal itu kurang patut dan tidak menghargai burung itu, maka ia lalu mengulurkan tangan kanan seperti orang minta-minta.
Dan benar saja, merak ajaib itu lalu mengulurkan lehernya ke depan dan menjatuhkan buah yang berwarna putih itu ke dalam telapak tangan Lin Lin.
Lin Lin menerima buah itu dan ketika melihat bahwa itu benar-benar buah Pek-kim-ko seperti yang ia duga, ia menjadi girang sekali dan tak terasa pula ia mengangguk kepada burung merak itu dan berkata.
"Sin-kong-ciak-ko (Saudara Merak Sakti), terima kasih banyak!"
Lalu gadis ini berlari masuk ke dalam gua diikuti oleh Nelayan Cengeng dan Ma Hoa yang memandang terheran-heran.
Lin Lin segera menghampiri Yousuf yang masih rebah di pembaringan tanpa dapat berkutik lagi dan mukanya makin menjadi merah serta tubuhnya penas sekali bagaikan dibakar.
Tanpa banyak membuang waktu dan banyak bicara lagi, Lin Lin lalu mencabut pedangnya dan menggunakan ujung pedang itu untuk digoreskan ke pundak Yousuf yang telah dibuka bajunya, yaitu di bagian yang bengkak dan matang biru, bekas gigitan ular tadi.
Kulit pundak dan daging di situ terbuka dengan mudah oleh ujung pedang yang tajam dan runcing itu, kemudian setelah menyimpan pedangnya, Lin Lin lalu memasukkan buah Pek-kim-ko itu ke mulutnya terus dikunyah dan dimakan.
Rasa buah itu pahit sekali dan di dalamnya mengandung getah yang melekat di seluruh lidah, gigi, dan kulit dalam mulut.
Lin Lin lalu menempelkan bibirnya yang merah dan berbentuk indah itu ke arah luka bekas goresan pedang di pundak Yousuf lalu dihisapnya!
Setelah menghisap, ia lalu meludahkan darah hitam yang dapat disedot dari luka itu.
Berkali-kali ia menghisap dan meludah sambil kadang-kadang berhenti untuk mengurut jalan darah di sekitar pundak yang tergigit ular itu.
Akhirnya, habislah bisa ular yang meracuni darah Yousuf dan lenyaplah warna merah di mukanya dan warna matang biru di pundaknya, sedangkan panasnya juga otomatis menurun.
Ternyata bahwa khasiat buah Emas Putih itu ialah untuk menjaga mulut dan tenggorokan Lin Lin, agar jangan sampai terpengaruh bisa yang jahat itu.
Tanpa buah Pek-kim-ko, Lin Lin takkan berani melakukan penghisapan bisa dengan mulutnya itu, karena hal ini berbahaya sekali, dan dapat menewaskannya.
Setelah jiwa Yousuf tertolong dari ancaman bisa ular, Lin Lin lalu keluar dari gua untuk mencari air dan mencuci mulutnya sampai bersih.
Nelayan Cengeng dan Ma Hoa saling pandang dan rasa haru yang mendalam terasa oleh hati kedua orang ini melihat ketinggian budi Lin Lin.
Mereka memuji kemuliaan hati gadis itu.
Ketika Lin Lin sedang mencuci mulut dan tangannya di sebuah sumber air kecil di puncak gunung itu, tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara geraman hebat di belakangnya dan ketika ia menoleh, terlihat olehnya seekor harimau yang besar sekali!
Yang aneh adalah bahwa di tengah-tengah jidat harimau itu tumbuh sebuah tanduk yang melengkung ke atas bagaikan tanduk seekor badak.
Lin Lin cepat berdiri dan melompat ke tempat yang lebih lega dan rata, karena maklum bahwa binatang ini tentulah harimau jahat dan lihai yang pernah diceritakan oleh Yousuf di atas perahu dulu.
Memang benar bahwa harimau inilah yang dulu menyerang Yousuf dan kawan-kawannya dan binatang ini lihai dan kuat.
Akan tetapi melihat Lin Lin, harimau ini agaknya ragu-ragu untuk menyerang, hanya memandang dan menggeram beberapa kali, lalu mengaum kecil seakan-akan menyatakan keraguannya apakah ia harus menyerang gadis ini atau tidak.
Tiba-tiba terdengar suara pukulan sayap dari atas dan Lin Lin merasa datangnya angin menyambar kepalanya dari atas.
Cepat gadis ini mengelak dengan tepat oleh karena tanpa peringatan lagi, dari atas telah manyambar turun seekor Rajawali Emas yang besar!
Kalau Lin Lin tadi tidak mengelak dengan tepat, tentu kepalanya telah kena dipatuk oleh burung yang gelak itu!
Lin Lin makin terkejut oleh karena ia telah mendengar akan kelihaian burung ini dan kini setelah dua macam binatang lihai ini barada di depannya, apakah yang dapat ia lakukan?
Sedangkan Yousuf yang begitu gagah dan dibantu oleh dua orang kawannya pun masih tak kuat melawan dua ekor binatang ini, apalagi dia berada seorang diri dan tidak memegang senjata pula?
Namun gadis ini memang mempunyai hati yang tabah dan pada mukanya tidak terlihat rasa takut sedikit pun.
Bahkan ketika itu ia memandang kepada harimau dan rajawali sakti itu dengan pandangan mata kagum dan senang.
Rajawali itu setelah menyambar turun, lalu berdiri di dekat harimau bertanduk dan ternyata bahwa tubuh rajawali itu jauh lebih tinggi daripada tubuh harimau itu!
Kedua ekor binatang ini memandang kepada Lin Lin dan agaknya mereka keduanya merasa ragu-ragu melihat seorang manusia cantik yang tidak mengambil sikap bermusuhan dengan mereka, bahkan tidak mengeluarkan senjata untuk melukai mereka.
Tiba-tiba terdengar bunyi nyaring dari atas dan ketika Lin Lin memandang, ternyata merak yang luar biasa tadi telah melayang turun dan berdiri di atas tanah di depan kedua binatang itu.
Harimau bertanduk lalu menggoyang-goyangkan ekornya dan menundukkan kepala sedangkan Rajawali Emas itu lalu mengebut-ngebutkan sepasang sayapnya sambil bertunduk pula, seakan-akan keduanya memberi hormat kepada merak ini.
Merak Sakti itu mengangkat dadanya dengan bangga lalu memutar menghadapi Lin Lin dan gadis ini girang sekali oleh karena ternyata bahwa merak ini berdiri hanya dengan sebelah kakinya dan kakinya sebelah lagi mencengkeram serumpun daun Coa-tok-te, yaitu semacam daun yang merupakan obat khusus untuk menyembuhkan luka akibat gigitan ular beracun.
Lin Lin dengan girang melangkah maju dan sambil tersenyum manis gadis itu berkata.
"Ah, Saudara Merak Sakti. Sungguh kau benar-benar baik hati dan pandai."
Sambil berkata demikian Lin Lin mengeluarkan tangan menerima rumput atau daun-daun penjang itu dari kaki merak.
Kemudian dengan mesra Lin Lin mengelus-elus bulu merak yang indah sekali dan halus serta bersih itu.
Merak itu menggunakan lehernya yang panjang untuk dibelai-belaikan kepada lengan tangan gadis yang mengelus-elusnya itu, seakan-akan ia merasa gembira sekali.
Sikapnya seperti seekor binatang peliharaan yang amat jinak.
Sedangkan harimau bertanduk dan Rajawali Emas itu pun melangkah maju perlahan-lahan dengan mata mengeluarkan pandangan mengiri.
Lin Lin tertawa dan dengan tabahnya ia pun lalu menghampiri kedua binatang buas itu dan mengelus-elus punggung mereka.
Si Harimau bertanduk menggoyang-goyangkan ekornya dan mengeluarkan keluhan perlahan seperti seekor kucing yang merasa senang dan manja, sedangkan Rajawali Emas itupun lalu mengembangkan sayapnya dan merendahkan diri sambil membuka paruhnya seperti seekor burung murai yang dibelai oleh pemiliknya dengan kasih sayang.
Tiba-tiba harimau itu mencium-cium ke arah pinggang Lin Lin dan tiba-tiba ia menggeram keras sehingga gadis itu terkejut, juga Rajawali Emas dan Merak Sakti nampak kaget.
Lin Lin teringat akan pedang karatan yang berada di pinggangnya dan otomatis ia mencabut pedang itu, dan aneh.
Ketika melihat pedang karatan itu, ketiga binatang itu lalu mengeluarkan keluhan panjang dan sedih dan ketiganya lalu mendekam di hadapan Lin Lin seakan-akan berlutut.
Lin Lin adalah seorang gadis yang cerdik dan dapat mengerjakan otaknya cepat sekali.
Ia dapat menduga tepat bahwa ketiga binatang sakti ini tentulah murid-murid atau binatang-binatang peliharaan orang sakti yang telah meninggal dunia di dalam gua dan kini ketiga ekor binatang ini mengenal pedang pusaka orang sakti itu!
Maka Lin Lin lalu berlutut pula dan mengangkat pedang itu tinggi-tinggi, seakan-akan hendak memperlihatkan kepada ketiga binatang itu bahwa dia juga menjunjung tinggi dan menghormat pemilik pedang itu.
Kemudian ia berdiri dan memasukkan pedang bobrok itu ke dalam ikat pinggang lagi.
Kini ketiga binatang nampak girang sekali dan mereka menjadi begitu jinak seperti tiga ekor anjing yang amat menurut.
Pada saat itu terdengar seruan heran dan ketika Lin Lin memandang, ternyata bahwa Nelayan Cengeng dan Ma Hoa telah berdiri mengintai dari balik pohon dengan mata terbelalak heran.
Lin Lin tersenyum lalu berkata kepada binatang itu dengan suara keras tapi halus.
"Sin-kong-ciak (Merak Sakti), Sin-Kim-tiauw (Rajawali Emas Sakti), dan kau It-kak-houw (Harimau Tanduk Satu). Lihatlah baik-baik kepada dua orang itu. Mereka adalah sahabat-sahabat baikku dan janganlah kalian mengganggunya. Juga kawan yang sedang terluka oleh ular berbisa itu adalah kawan baikku!"
Baca Juga: Suling Emas Dan Naga Siluman 9
Baca Juga: Si Tangan Sakti 3