Eps 4 Darah Pendekar - Kho Ping Hoo
Baca online Darah Pendekar - Kho Ping Hoo
Cersil Darah Pendekar - Kho Ping Hoo.
"Kiranya mata kami seperti buta tidak mengenal Gunung Thai-san menjulang didepan mata! Sahabat yang sakti, saya Sin-kun butek mohon petunjuk!"
Kakek sasterawan itu telah mengalahkan dua orang datuk, akan tetapi dia kelihatan masih tenang saja, seolah-olah dia mengalahkan mereka tadi tanpa pengerahan tenaga sama sekali.
Sikapnya masih biasa, tenang dan merendah.
"Sin-kun butek, julukanmu saja menandakan bahwa ilmu silatmu adalah ilmu pilihan. Belum tentu aku akan dapat mengalahkanmu, akan tetapi aku ingin engkau mengalahkan dan menundukkan keangkuhanmu sendiri. Nah, majulah!"
Sin-kun butek menerjang dengan ilmu silat andalannya, yaitu Ilmu Silat Angin Puyuh dengan tenaga sakti Thian-hui-gong-ciang (Tangan Kosong Halilintar).
Hebat bukan main datuk ini memang dan tingkatnya hanya kalah sedikit saja dibandingkan dengan Bu-Eng Sin-yok-ong.
Gerakan kaki tangannya amat cepat sehingga tubuhnya lenyap berobah bentuknya menjadi bayangan yang berkelebatan dan gerakan ini mendatangkan angin yang berputar-putar membuat semua pohon bergoyang-goyang disekeliling tempat itu.
Dan yang hebat sekali adalah kedua tangan yang melancarkan pukulan Thian-hui-gong-ciang itu.
Kadang-kadang terdengar ledakan dan nampak asap mengepul ketika kedua tangan itu memukul dan saling bersentuhan, seolah-olah kedua tangan itu mengandung aliran listrik atau aliran kilat yang dapat menghanguskan tubuh lawan yang terkena pukulannya.
Namun, kakek sasterawan itu bersikap tenang saja dan seperti juga tadi, kini diapun memberi petunjuk kepada Sin-kun butek tentang kelemahan-kelemahan dari ilmu silatnya, mengeritik dengan petunjuk dan bukti-bukti sehingga kalau dia mau, tentu dia akan dapat merobohkan Sin-kun butek dengan ilmunya yang dipakai untuk menghadapi ilmu datuk utara itu.
Sebelum lewat lima puluh jurus, Sin-kun butek yang selalu ditunjuk kelemahan-kelemahan ilmunya, merasa takluk dan diapun meloncat kebelakang dan mengaku kalah!
Kini tinggallah Bu-Eng Sin-yok-ong seorang.
Datuk ini berbeda dari yang lain.
Dia sudah mencapai tingkat tinggi dalam ilmu silat, ilmu pengobatan dan ilmu kebatinan sehingga dia tidak bersikap kasar dan tidak pula penasaran.
Kini diapun tahu bahwa dia berhadapan dengan seorang maha sakti yang sengaja menyembunyikan diri dan diam-diam dia merasa malu bahwa dia menerima sebutan datuk, padahal ada orang yang lebih lihai tidak dikenal sama sekali!
Betapapun juga, setelah tiga orang sahabatnya diberi petunjuk, kalau dia tidak maju, berarti dia akan membikin malu tiga orang sahabatnya itu.
Disamping itu, sebagai seorang ahli silat tinggi, diapun suka sekali akan ilmu silat dan tiada salahnya kalau kini setelah mendapat kesempatan bertemu orang sesakti ini, diapun mencoba-coba ilmunya.
"Seorang Lo-cianpwe tinggal disini tanpa nama, sungguh membuat kami merasa malu kepada diri sendiri. Harap sahabat yang mulia sudi memberi petunjuk kepadaku,"
Katanya sambil mengibaskan lengan bajunya yang lebar. Kakek sasterawan itu tersenyum pahit.
"Siancai... nama besar Bu-Eng Sin-yok-ong bukan sembarangan. Aku jauh lebih kagum akan ilmu pengobatanmu dari pada ilmu silat. Ilmu pengobatanmu itulah ilmu yang amat berguna dan baik, tidak seperti ilmu silat yang selalu disalah-gunakan untuk menindas kaum lemah. Marilah, Yok-ong, mari kita main-main sebentar, siapa tahu ada gunanya bagi kita berdua."
"Maafkan kelancanganku!"
Sin-yok-ong berseru dan setelah memberi hormat diapun langsung mengeluarkan ilmu simpanannya yang merupakan gabungan dari Ilmu Silat Kim-hong-kun (Silat Burung Hong Emas) digerakkan dengan ginkang Pek-in (Awan Putih) dan dengan tenaga sakti Pai-hud-ciang (Tangan Sakti Penyembah Buddha).
Sukar diceritakan betapa hebatnya gerakan kakek yang berjuluk Bu-Eng (Tanpa Bayangan) ini.
Ginkangnya memang hebat luar biasa sehingga tubuhnya kadang-kadang lenyap menghilang, dan ilmu silatnya juga amat indah dan halus, menyambar-nyambar dari atas dan bawah sedangkan tenaganya adalah tenaga sinkang yang sudah mencapai tingkat tertinggi, begitu halus dan mengandung getaran yang hampir tidak terasa, akan tetapi tenaga getaran ini mampu menghancurkan batu karang dari jarak jauh!
"Siancai bukan main hebatnya!"
Kata kakek sasterawan itu sambil menandingi lawannya.
Dan biarpun agak lama, akhirnya dia dapat juga menemukan beberapa kekurangan dan kelemahan dalam ilmu silat Bu-Eng Sin-yok-ong sehingga kalau dia menghendaki, dalam waktu kurang dari seratus jurus dia tentu akan dapat mengalahkan Raja Tabib Sakti itu!
Akhirnya, kakek sakti inipun meloncat kebelakang, terlongong sejenak kemudian menjura sambil berkata dengan hati penuh rasa kagum.
"Kami sungguh tak tahu diri..., dan benarlah bahwa kami amat angkuh dan terlalu membanggakan diri sendiri. Mulai sekarang, aku tabib tua yang bodoh tidak berani lagi menjual lagak didunia luar!"
Setelah berkata demikian, Sin-yok-ong lalu pergi dari situ, diikuti oleh tiga orang datuk lainnya.
Dan memang benar, sejak saat itu, empat orang datuk itu tidak pernah lagi muncul, lebih banyak mengasingkan diri dan diam-diam memperdalam ilmu masing-masing.
Demikianlah cerita yang amat menarik, yang diceritakan oleh Yap-lojin ketua Thian-kiam-pang kepada para pendengarnya, yaitu nenek Siang Houw Nio-nio, Ouwyang Kwan Ek, Yap Kiong Lee, Pek In, Ang In, dan juga Ho Pek Lian.
Semua orang mendengarkan dengan penuh perhatian dan hati tertarik sekali.
Siang Houw Nio-nio yang juga menjadi murid dari Sin-kun butek, belum pernah mendengar cerita ini dari suhunya, bahkan Ouwyang Kwan Ek, murid kedua dari Si Raja Tabib Saktipun tidak pernah diceritakan oleh gurunya.
Agaknya, empat orang datuk itu sungguh merasa terpukul dan tidak pernah bercerita kepada mereka, kecuali Sin-kun butek yang menceritakannya kepada muridnya yang tersayang, yaitu Yap Cu Kiat atau Yap-lojin, sambil menyerahkan gambar-gambar itu.
Yap-lojin melanjutkan ceritanya.
"Lihat, gambar-gambar ini adalah petunjuk-petunjuk dari sasterawan tua itu. Disini diperlihatkan betapa dengan mudahnya beliau memunahkan setiap ilmu khas dari empat orang datuk. Empat gambar ini memperlihatkan jelas, dan dilukis oleh mendiang suhu sebagai peringatan dan juga untuk memperdalam ilmunya dengan meneliti kelemahan-kelemahan seperti yang ditunjukkan oleh sasterawan itu. Dan memang, semenjak kekalahan yang mutlak itu, empat orang datuk tekun memperbaiki ilmu masing-masing dan karena mereka sudah tidak tekebur lagi, mereka dapat menciptakan ilmu yang jauh lebih baik dan matang."
Kakek berjubah naga mengangguk-angguk.
"Sejak dahulu aku menduga bahwa ada rahasia sesuatu yang membuat suhu selalu marah kalau ada muridnya yang tekebur. Mungkin saja rahasia itu diceritakannya kepada twa-suheng Bu Cian yang sayang agaknya juga menyimpan rahasia itu sampai matinya."
Yap-lojin berkata.
"Berdasarkan cerita itu maka aku percaya bahwa biarpun kita orang-orang tua tidak mampu menghadapi Raja Kelelawar yang amat hebat itu, nanti pasti akan muncul seseorang yang akan mampu menundukkannya."
"Mudah-mudahan begitulah,"
Kata isterinya.
"Menurut pengamatanku, biarpun si pendek Pek-lui-kong Tok Ciak cucu murid Kim-mo Sai-ong itupun agaknya masih jauh untuk dapat menandingi Raja Kelelawar."
Setelah menceritakan rahasia itu dan memperlihatkan gambar-gambar, kakek Yap mengajak mereka semua untuk keluar lagi dari terowongan dibawah tanah.
Dalam perjalanan ini.
Yap Kiong Lee merasa penasaran bukan main mendengar dongeng gurunya itu.
Selama ini, gurunya tidak pernah bercerita tentang rahasia itu.
Dia merasa penasaran karena selama ini, dia merasa bahwa ilmu rahasia perguruan mereka yang hanya diturunkan kepadanya oleh gurunya dianggap sebagai tidak ada cacat celanya.
Mereka tiba diluar terowongan, ditepi telaga yang kini sunyi melengang dan menyeramkan itu karena semua bangunannya telah runtuh.
"Suhu, setelah peristiwa itu, lalu apa saja yang dikerjakan oleh kakek guru dan para Lo-cianpwe yang lain?"
Kiong Lee tidak dapat menahan diri dan mengajukan pertanyaan itu kepada suhunya. Yap-lojin menoleh dan tersenyum melihat keinginan tahu murid kesayangannya ini.
"Kakek gurumu lalu menyepi didalam kamar rahasia itu dan berusaha menyempurnakan ilmunya. Gambar-gambar tadi adalah peninggalan beliau. Selama bertahun-tahun empat orang datuk mengasingkan diri, tidak pernah keluar, dan masing-masing menyempurnakan ilmu-ilmu mereka. Dan pada waktu itu, hanya Kim-mo Sai-ong saja yang telah menerima murid."
"Apakah para Lo-cianpwe itu tidak lagi berkunjung ketelaga Hoa-san, setelah mereka memperbaiki ilmu masing-masing untuk mencari sasterawan itu?"
Kiong Lee mendesak.
"Baru sepuluh tahun kemudian, setelah kakek gurumu merasa bahwa ilmunya sudah maju, beliau berkunjung kesana. Akan tetapi sasterawan tua dan anaknya itu sudah tidak lagi berada disana. Kakek gurumu lalu berkelana mencarinya, akan tetapi usahanya gagal, tidak pernah ketemu. Akhirnya suhu menjadi bosan, pulang kesini dan menerima murid, yaitu aku dan subomu ini,"
Katanya sambil melirik kepada isterinya, yaitu nenek Siang Houw Nio-nio. Ouwyang Kwan Ek menarik napas panjang.
"Sekarang aku tahu mengapa guruku, menurut cerita twa-suheng, pernah pula mengasingkan diri untuk menyempurnakan ilmu. belasan tahun Kemudian baru suhu keluar dan merantau dan barulah beliau menerima murid-muridnya."
Kiong Lee merasa penasaran.
"Jadi kalau begitu, agaknya sampai para Lo-cianpwe itu meninggal dunia, mereka tidak pernah dapat menemukan sasterawan tua yang maha sakti itu, suhu?"
Yap-lojin mengangguk.
"Agaknya begitulah. Dan selama mereka berempat itu mengembara untuk mencari si sasterawan, mereka telah membuat nama besar sehingga tersohor diseluruh dunia persilatan. Mereka berempat dipuja-puja sebagai tokoh sakti yang tak terkalahkan, tokoh-tokoh yang memiliki ilmu silat sempurna. Tak ada yang mengetahui bahwa empat datuk yang mereka puja-puja itu didalam hatinya masih merasa gentar terhadap seseorang."
"Ahh, siapakah gerangan sasterawan itu dan dimana beliau sekarang, atau keturunannya?"
Tiba-tiba Ho Pek Lian tidak dapat menahan hatinya untuk bertanya.
Sebetulnya hatinya yang bersuara dan tanpa disadarinya mulutnya ikut pula bicara.
Akan tetapi tidak ada yang merasa heran karena pertanyaan itu memang berkecamuk didalam hati mereka semua.
"Sebetulnya dari perguruan-perguruan kita sendiri saja, kalau ilmu dari perguruan kita terpusat dan terkumpul, tidak terpecah-pecah antara para murid, kiranya kita masih mampu menghadapi dan mengatasi Raja Kelelawar!"
Kata kakek berjubah naga Ouwyang Kwan Ek dengan suara menyesal.
Mendengar ini, diam-diam Pek Lian memandang tajam kepada kakek ini.
Bukankah kakek ini telah mengirim murid-murid dan anak-buahnya untuk merampas kitab-kitab pusaka perguruannya sendiri dan bahkan telah dengan kejam membasmi semua keluarga Bu?
Hemm, pikirnya dengan penasaran.
Kalau caramu mengumpulkan ilmu perguruan sendiri secara demikian kejam, membunuh saudara seperguruan sendiri, maka engkau tidaklah lebih baik dari pada Si Raja Kelelawar!
Akan tetapi, tentu saja ia tidak berani mengeluarkan bisikan hatinya ini.
Tiba-tiba semua orang menoleh kearah bayangan empat orang yang berlari mendatangi tempat itu.
Setelah dekat, mereka itu ternyata adalah murid-murid Thian-kiam-pang, yaitu para sute dari Yap Kiong Lee yang diperintahkan oleh pemuda ini untuk mencari jejak penculik yang melarikan Yap Kim.
Tentu saja mereka berempat terkejut bukan main melihat betapa bangunan perguruan mereka sudah rusak binasa habis terbakar, dan mereka tak dapat menahan tangis mereka ketika mendengar malapetaka yang menimpa perguruan mereka dan tewasnya dua orang suheng dan para anak-buah Thian-kiam-pang.
"Sudah, jangan menangis seperti anak-anak cengeng!"
Akhirnya Siang Houw Nio-nio membentak mereka.
"Lekas ceritakan bagaimana dengan hasil penyelidikan kalian!"
Empat orang murid itu sambil berlutut lalu bercerita.
Mereka dapat menemukan jejak orang yang melarikan Yap Kian dan ternyata bahwa yang melarikan itu memang seorang gemuk pendek yang kemungkinan besar adalah cengyakang (Si Kelabang Hijau), seorang tokoh dari Ban-kwi-to.
"Kim-sute dibawa dengan perahu yang berlayar diSungai Huang-ho. Kami tidak berani melakukan pengejaran karena selain kami tidak mempunyai perahu, juga kami ingin cepat melapor kepada suhu, subo dan suheng."
"Celaka! Kalau Kim-ji berada ditangan kawanan iblis dari Ban-kwi-to, tentu akan celaka! Semua ini adalah kesalahanmu, orang tua yang tidak becus mengurus anak sendiri! Engkau membiarkan anak tunggalmu sendiri untuk bergaul dengan segala macam iblis dari Ban-kwi-to. Huh, dimana pertanggungan jawabmu? Bagaimana caramu mendidik anak?"
Yap-lojin yang dimaki-maki didepan orang banyak, terutama didepan Ouwyang Kwan Ek yang menjadi tamunya, memandang dengan muka merah, dan mata mengeluarkan sinar marah.
Kakek inipun pada hakekatnya mempunyai watak yang keras, tidak kalah kerasnya dengan watak isterinya.
"Hemm, kalau orang tuanya retak, mana mungkin anaknya dapat memperoleh pendidikan yang baik? Keretakan orang tuanya sudah merupakan contoh, yang amat buruk, yang dapat menghancurkan perasaan anak. Dan kalau seorang isteri meninggalkan suami dan anaknya sehingga kehidupan suami dan anak itu menjadi hancur, si anak tidak memperoleh pendidikan yang baik, salah siapakah itu?"
Diserang oleh ucapan begini, nenek Siang Houw Nio-nio menjadi marah bukan main. Mukanya berobah merah sekali dan matanya berkilat-kilat. Ia membanting kakinya keatas tanah dan membentak marah.
"Yap Cu Kiat!"
Telunjuk kanannya menuding kearah hidung suaminya itu yang biasanya disebutnya suheng.
"Enak saja engkau bicara! Sudah berulang kali aku membujuk, menyembahnyembahmu, agar keluarga kita pindah ke Kotaraja. Aku adalah keluarga Kaisar, dan sudah sepatutnya kalau aku menyumbangkan tenagaku pada saat terakhir hidupku untuk kerajaan keluargaku! Akan tetapi, engkau berkeras kepala dan tidak sudi, bahkan engkau berkukuh untuk tidak membolehkan Kim-ji kubawa ke Istana! Dan engkau mendidiknya sendiri, sekarang apa jadinya?"
"Wah, kau kira kalau kau bawa dia menjadi orang Istana dia akan menjadi lebih baik, ya? Paling-paling dia akan menjadi seorang pemuda bangsawan yang sombong, angkuh dan manja!"
"Jelas tidak serusak sekarang ini!"
"Siapa bilang rusak? Harus diselidiki dulu mengapa dia sampai berdekatan dengan orang Ban-kwi-to dan mengapa pula dia sampai diculik."
Kakek itu mencoba untuk menahan kemarahannya.
"Jangan sembarangan menuduh yang bukan-bukan!"' "Tidak perduli! Pokoknya, kalau engkau tidak bisa mencarinya dan menemukannya, membawanya kembali kepada aku ibunya dalam keadaan utuh, aku bersumpah akan mengadu nyawa denganmu! Melihat keadaan yang meruncing antara suheng dan sumoi yang telah menjadi suami-isteri akan tetapi kemudian saling berpisah karena masing-masing mempertahankan pendirian sendiri itu, Ouwyang Kwan Ek yang menjadi tamu merasa tidak enak sekali. Dia lalu maju dan menjura kepada dua orang itu.
"Lojin! Nio-nio! Harap maafkan aku, bukan maksudku mencampuri, akan tetapi sebagai sahabat, kiranya aku berkewajiban untuk mengingatkan kalian bahwa dalam keadaan seperti ini, cekcok saja tidak akan dapat mengembalikan putera kalian. Aku akan suka membantu mencarinya."
Suami dan isteri yang sudah tua itu saling pandang dengan sinar mata berkilat, kemudian mereka lalu membuang muka dengan muka masih merah.
Memang mereka saling berpisah karena masing-masing mempertahankan pendirian dengan hati keras.
Siang Houw Nio-nio ingin untuk menyumbangkan tenaganya kepada kerajaan, dan iapun sudah minta kepada suaminya untuk membantunya dan hidup di Kotaraja, untuk mengangkat derajat putera tunggal dan putera angkat mereka, yaitu Kiong Lee yang sudah mereka anggap sebagai anak sendiri.
Akan tetapi, Yap Cu Kiat merasa tidak suka akan sepak terjang Kaisar dan diapun berkeras tidak mau sehingga timbullah percekcokkan antara mereka yang mengakibatkan Siang Houw Nio-nio meninggalkan suami dan puteranya, dan pergi sendirian ke Kotaraja dimana ia lalu menjadi pengawal pribadi dari Kaisar.
Pendidikan anak merupakan kewajiban mutlak dan utama bagi orang tua, disamping tentu saja memelihara dan membesarkannya...
Dan pendidik an yang tepat adalah pencurahan kasih sayang yang murni, bukan sekedar pendidikan melalui nasihat-nasihat dari mulut.
Seorang anak membutuhkan pencurahan cinta kasih dari ayah-bundanya.
getaran cinta kasih akan terasa oleh anak itu dan orang tua yang benar-benar mencinta anaknya, sudah pasti akan selalu mendidik diri sendiri terlebih dahulu agar si anak dapat melihat dan mengerti, tanpa dibujuk melalui mulut.
Apa artinya orang tua melarang anaknya agar jangan berjudi kalau si orang tua sendiri tukang judi?
Apa artinya orang tua melarang anaknya agar jangan memaki kalau si orang tua sendiri tukang maki?
Kerukunan ayah dan ibu merupakan pendidikan yang paling baik bagi anak mereka.
Sebaliknya percekcokan antara ayah dan ibu merupakan racun-racun dan benih-benih buruk pertama yang merusak watak si anak.
Pujian-pujian tidak akan menjadikan anak baik, karena hal itu bahkan akan membuat si anak menjadi seorang yang selalu haus akan pujian dan kebaikannya itupun hanya palsu karena dilakukan hanya untuk memancing agar memperoleh pujian belaka.
Memanjakannya secara berlebihan akan membuat si anak menjadi seorang yang lemah tergantung kepada orang tua, tidak berani dan lemah menghadapi halangan dan kesukaran hidup.
Akan tetapi, mendidik dengan kekerasan akan membuat si anak berwatak keras, juga dapat membuatnya menjadi rendah diri.
Anak yang menurut kepada orang tuanya karena pendidikan keras, hanya menurut karena takut saja, akan tetapi didalam hatinya dia memberontak dan kalau sekali waktu dia merasa kuat, dia akan memberontak secara berterang, bahkan mungkin akan sengaja memberontak untuk membalas dendam yang sudah lama disimpan didalam hatinya.
Ucapan Ouwyang Kwan Ek menyadarkan suami-isteri itu bahwa mereka telah dikuasai perasaan sehingga melupakan nasib putera mereka yang berada ditangan orang Ban-kwi-to dan masih belum diketahui bagaimana keadaannya itu.
Akan tetapi, Siang Houw Nio nio masih bersungut-sungut ketika berkata.
"Pendeknya engkau harus cepat mencari dan menemukan kembali anakku!"
Ucapan ini ditujukan kepada suaminya.
"Baliklah, sumoi baiklah, aku akan turun gunung mencarinya,"
Jawab Yap-lojin dengan suara duka.
Siang Houw Nio-nio lalu mendengus, membalikkan tubuhnya dan memberi isyarat kepada dua orang muridnya untuk pergi bersamanya, kemudian, hanya dengan anggukan kecil pada Ouwyang Kwan Ek, iapun lalu pergi meninggalkan tempat itu.
Pek In dan Ang In berlutut kepada Yap-lojin untuk berpamit.
Kakek itu menggerakkan tangan kanan menyuruh mereka bangkit.
"Pergilah dan jaga baik-baik subo kalian."
Dua orang gadis itu mengangguk dan menahan air mata mereka.
Mereka masih diliputi kedukaan melihat apa yang menimpa Thian-kiam-pang dan Pek In mengerling kearah Yap Kiong Lee dengan pandang mata sayu.
Kemudian merekapun pergi sambil mengajak Pek Lian.
Setelah isterinya dan tiga orang gadis itu pergi, Yap-lojin menghela napas panjang.
"Sungguh aku tidak mengerti, apa maksudnya orang Ban-kwi-to menculik puteraku. Aku harus menyusul ke pulau itu Sekarang juga."
"Memang sebaiknya begitu, suhu, dan aku akan menemani suhu untuk mendapatkan kembali Kim-sute,"
Kata Kiong Lee.
Pemuda ini memang diangkat anak oleh keluarga Yap, bahkan dia sendiripun memakai she Yap, akan tetapi terhadap ayah dan ibu angkatnya itu, dia selalu menyebut mereka suhu dan subo, seperti murid-murid yang lain.
Dan agaknya Yap-lojin dan isterinya itupun tidak menaruh keberatan, apa lagi setelah mereka sendiri juga mempunyai anak, yaitu Yap Kim.
"Jangan khawatir, lojin, biar akupun akan membantumu menghadapi orang-orang Ban-kwi-to,"
Tiba-tiba Ouwyang Kwan Ek juga berkata.
"Ah, mana aku berani merepotkanmu, sahabat Ouwyang?"
"Aku kebetulan berada disini ketika tempatmu diserbu orang dan aku mendengar akan musibah yang menimpa keluargamu. Hal ini berarti aku berjodoh untuk terlibat dalam urusanmu. Selain itu, akupun ingin sekali melihat sampai dimana kehebatan nama besar Pulau Selaksa Setan itu."
Yap Cu Kiat tidak dapat menolak lagi dan diapun lalu memerintahkan empat orang muridnya untuk mencari tenaga bantuan dan membangun kembali sedapatnya rumah mereka yang terbakar itu.
Kemudian, bersama Ouwyang Kwan Ek dan Kiong Lee, diapun meninggalkan sarang Thian-kiam-pang yang telah rusak terbakar itu.
* * * "Seharusnya kita membantu Yap-Lo-cianpwe untuk menyusul dan mencari puteranya itu kesarang Ban-kwi-to!"
Ucapan Pek Lian ini mengejutkan Pek In dan Ang In.
Dua orang ini sendiri tidak akan berani mengeluarkan ucapan itu didepan subo mereka, apa lagi ucapan itu dikeluarkan dengan nada suara kaku dan mencela!
Benar saja kekhawatiran dua orang gadis ini.
Tiba-tiba kereta dihentikan dan kepala nenek itu keluar dari tirai jendela kereta, sepasang matanya mencorong menatap wajah Pek Lian yang juga menghentikan kudanya didekat kereta.
"Mengapa kau berkata demikian?"
Bentak nenek itu, matanya agak terpejam dan mulutnya cemberut.
"Melihat orang lain tertimpa bencana, sudah sepatutnya kalau kita turun tangan membantu. kalau tidak demikian, apa perlunya kita belajar ilmu sejak kecil? Apa lagi kalau yang tertimpa malapetaka itu masih keluarga sendiri, sudah menjadi kewajiban kita untuk membantu. Pula, harus diingat bahwa Ban-kwi-to kabarnya merupakan tempat yang berbahaya, dihuni oleh tokoh-tokoh sesat yang lihai, maka sudah selayaknyalah kalau kita ikut membantu Yap-Lo-cianpwe menghadapi mereka."
Pek Lian melihat betapa dua orang gadis murid-murid Siang Houw Nio-nio itu berkedip-kedip memberi isyarat kepadanya agar ia menghentikan ucapannya, akan tetapi ia tidak perduli Orang-orang lain boleh takut setengah mati kepada nenek bangsawan ini, akan tetapi ia tidak!
Ia menganggap bahwa nenek ini terlalu angkuh, terlalu tinggi hati dan kejam sehingga mendengar putera kandungnya diculik orang dan terluka parah, agaknya bersikap tidak perduli saja.
Hal ini sudah membuat hati Pek Lian memberontak dan marah.
"Bocah lancang mulut! Berani engkau mencampuri urusan kami?"
Akan tetapi, dengan pandang mata yang berani dan jujur Pek Lian menghadapi nenek itu.
"Biarpun saya menjadi tawanan dan orang yang dicurigai, akan tetapi selama ini Lo-cianpwe dan terutama kedua orang cici bersikap baik kepada saya sehingga saya sama sekali tidak merasa menjadi tawanan. Sebaliknya, saya merasa sebagai sahabat atau tamu yang diperlakukan dengan baik. Setelah mengalami suka-duka, bahkan sudah sama-sama menghadapi lawan tangguh, bagaimana mungkin saya bersikap tidak perduli dengan malapetaka yang menimpa keluarga Lo-cianpwe? Sedapat mungkin, saya tentu akan menyumbangkan tenaga saya yang tidak seberapa ini untuk membantu."
Sejenak dua orang wanita itu saling berpandangan. Akhirnya nenek itu menarik kembali kepalanya kedalam kereta dan terdengar ia menarik napas panjang, lalu terdengar suaranya.
"Hemm, engkaupun seorang yang keras hati dan keras kepala. Akan tetapi engkau memiliki keberanian dan kejujuran."
Dan tiba-tiba kereta itupun bergerak lagi. Pek In menyentuh lengan Pek Lian.
"Adik Lian, engkau sungguh membuat kami menahan napas. Kami tidak mengira engkau masih dapat hidup setelah berani bersikap seperti itu."
Pek Lian tersenyum.
"Kenapa, enci Pek? Aku merasa benar, dan matipun bukan apa-apa kalau berada dalam kebenaran."
Biarpun ia dapat mengerti akan kata-kata ini, namun didalam hatinya Pek In harus mengakui bahwa ia tidak mempunyai keberanian yang sedemikian besarnya seperti gadis ini.
Kereta nenek itu berhenti didepan pintu gerbang Kotaraja.
Para penjaga pintu gerbang berbaris rapi dikanan kiri, dengan tombak ditangan kanan dan perisai ditangan kiri.
Pakaian seragam mereka mengkilap tertimpa sinar matahari dan mata tombak mereka juga berkilauan karena setiap hari digosok.
Seorang komandan jaga yang pakaiannya lebih mentereng lagi, nampak berlutut dengan kaki kiri ditengah jalan dan inilah yang membuat nenek itu menghentikan kereta.
Sambil membawa tongkatnya nenek Siang Houw Nio-nio turun dari atas keretanya.
Pek In dan Ang In juga meloncat turun dari atas kuda mereka dan menyerahkan kendali kuda kepada Pek Lian.
Dua orang gadis ini cepat mendampingi subo mereka memasuki pintu gerbang.
Para penjaga bersikap hormat melihat nenek ini.
Siang Houw Nio-nio sendiri melangkah dengan tenang, tangan larinya membawa tongkat kepala naga dan dua orang muridnya berjalan dikanan kirinya.
Komandan jaga yang setengah berlutut itu memberi hormat.
"Hamba menerima perintah dari Istana untuk melapor kepada paduka tuan puteri."
"Perintah apa yang datang dari Istana? Lekas laporkan kepadaku,"
Jawab Siang Houw Nio-nio. Komandan itu adalah perwira penjaga yang bertugas diluar Istana, dan hal ini dikenalnya dari pakaian seragamnya.
"Sribaginda Kaisar menanyakan apakah paduka sudah tiba kembali. Dan baru saja beliau mengutus Hek-tai-ciangkun untuk menyusul paduka ke Istana Wakil Perdana Menteri Kang."
Nenek itu mengerutkan dahinya dan mengangkat tangan kanan kedepan.
"Baiklah, kau pergi dan laporkan kedalam Istana bahwa aku akan segera menghadap Sribaginda."
Komandan jaga itu memberi hormat, lalu bangkit dan dengan sigapnya meninggalkan pintu gerbang untuk membuat laporan ke Istana.
Derap kaki kuda terdengar lantang dan gagah.
Siang Houw Nio-nio diikuti oleh dua orang muridnya kembali kekereta.
"Pek-ji dan Ang-ji, kita terus saja ke Istana. Ajak sekalian nona itu dan beri pinjam pakaianmu. Agaknya ada perkembangan baru di Istana. Mari!"
Pek Lian diberi pinjam pakaian dan mereka bertiga lalu berganti pakaian sebagai dayang atau pelayan puteri bangsawan itu.
Nenek itu sendiripun berganti pakaian, karena biarpun ia masih bibi dari Kaisar sendiri, Kalau menghadap Kaisar, ia tidak dapat meninggalkan peraturan-peraturan yang sudah ditentukan.
Setelah selesai berdandan, mereka berempat lalu menuju ke Istana.
Ho Pek Lian merasa girang sekali dan jantungnya berdebar keras.
Ia merasa girang karena tahu bahwa nenek bangsawan itu agaknya sudah mulai menaruh kepercayaan kepadanya, bahkan merasa suka seperti juga kedua orang muridnya itu.
Kalau tidak demikian tak mungkin ia diajak, masuk ke Istana sebagai dayang sang puteri tua.
Tidak akan sukar bagi nenek itu untuk menyerahkannya kepada pasukan untuk dijebloskan kedalam tahanan!
Suasana menegangkan yang membayangkan bahwa ada apa-apa di Istana nampak dari pintu gerbang Istana yang paling depan.
Penjagaan amat ketat dan ada belasan orang perajurit jaga disitu, padahal biasanya hanya ada enam orang saja.
Dan dibalai perajurit yang luas itu, nampak banyak sekali pengawal-pengawal resmi para Menteri sedang duduk beristirahat.
Hal ini menandakan bahwa para Menteri sedang berada di Istana, menghadap Sribaginda Kaisar.
Siang Houw Nio-nio tahu akan hal ini dan diam-diam iapun menduga-duga apa gerangan yang terjadi maka Kaisar mengumpulkan semua Menteri negara.
Setelah tiba diserambi Istana, nampak bahwa penjagaan dilakukan oleh para pengawal yang disebut pasukan pengawal Gin-i-wi (Pengawal pakaian Perak).
Mereka itu rata-rata bersikap gagah, bertubuh kuat dan pakaian mereka yang berlapis perak itu nampak gemerlapan.
Komandan mereka juga berpakaian serba mengkilap berlapis perak, dan nampaknya keren berwibawa sekali.
Ketika dia melihat datangnya Siang Houw Nio-nio yang diikuti oleh tiga orang dayang cantik, segera maju memberi hormat.
"Paduka tuan puteri telah dinanti-nanti oleh yang mulia Sribaginda Kaisar. Silahkan!"
Komandan itu dengan sikap hormat lalu mengantar nenek bangsawan dan tiga orang dayangnya itu sampai kepintu induk.
Disini, tugasnya diambil alih oleh komandan pasukan Kim-i-wi (Pengawal Pakaian Emas).
Pasukan Kim-i-wi nampak tidak kalah gagahnya dibandingkan pasukan Gin-i-wi, bahkan pakaiannya yang berlapis emas itu amat megah dan mewah.
Pasukan Kim-i-wi ini bertugas menjaga dibagian dalam Istana, sedangkan pasukan Gin-i-wi bertugas dibagian luar Istana.
Akan tetapi keduanya adalah pasukan-pasukan pengawal Istana yang terkenal dan mereka dipimpin oleh komandan masing-masing yang merupakan pembantu-pembantu dari Pek-lui-kong Tong Ciak, itu jagoan terkenal yang bertubuh pendek dari Istana!
Di dekat pinta gerbang induk ini, terdapat bangunan samping dimana nampak beberapa belas orang-orang yang sikapnya aneh-aneh dan membayangkan kepandaian tinggi.
Mereka ini adalah pengawal-pengawal pribadi para Menteri yang tentu saja hanya diperbolehkan mengawal sampai disitu dan tidak diperkenankan ikut masuk menghadap Kaisar.
Disekitar tempat itu nampak pengawal-pengawal Kim-i-wi berjalan hilir-mudik dengan tombak ditangan, sedangkan dibagian luar pintu gerbang nampak pengawal-pengawal Gin-i-wi yang juga berjaga-jaga.
Nampak angker dan gagah.
Juga nampak pengawal-pengawal dari kedua pasukan ini berjaga-jaga digardu-gardu ronda, diatas dinding dan dimenara-menara.
Mereka semua sjap siaga dengan ketat.
Siang Houw Nio-nio dengan sikap tenang dan agung, diiringkan oleh tiga orang gadis dan didahului oleh komandan pasukan Kim-i-wi sebagai penunjuk jalan atau penjemput, berjalan disepanjang ruangan-ruangan yang amat luas itu.
Ho Pek Lian berjalan dibelakangnya bersama Pek In den Ang In.
Pek Lian adalah puteri seorang bekas Menteri.
Gedung ayahnya sendiri sangat indah dan gadis ini sejak kecil sudah terbiasa dengan kemewahan dan keindahan.
Akan tetapi baru pertama kali ini ia memperoleh kesempatan memasuki Istana dan melihat segala kemewahan yang terham-par didepannya, ia merasa dirinya kecil dan merasa seperti seorang miskin yang baru pertama kali melihat kekayaan berlimpah.
Ia merasa seolah-olah keindahan yang luas itu amat besar, seperti hendak menelan dirinya.
Setelah mereka tiba didepan sebuah pintu besar yang berkilauan dan dilapis emas, komandan Kim-i-wi itu berhenti.
Agaknya kedatangan mereka sudah nampak dari dalam karena tirai sutera merah yang menutupi pintu itu terbuka dan muncullah dua orang yang nampak gagah perkasa.
Yang seorang bertubuh tinggi tegap, mukanya brewok dan dia memakai pakaian panglima yang berlapis perak.
Orang kedua bertubuh tinggi kurus dan dia ini memakai pakaian panglima yang berlapis emas.
Melihat mereka, komandan Kim-i-wi segera memberi hormat, lalu membalikkan tubuh meninggalkan tempat itu.
Agaknya tugasnya mengawal Siang Houw Nio-nio telah selesai dan kini kedua orang panglima itulah yang menggantikannya, menyambut kedatangan nenek bangsawan itu.
Dua orang panglima itu memberi hormat lalu mempersalahkan nenek bangsawan itu melanjutkan perjalanan melalui pintu emas.
Ang In yang berjalan disamping Pek Lian, berbisik didekat telinga nona ini.
"Mereka itu berilmu tinggi, memiliki tenaga berlawanan. Kim-i-ciangkun (Panglima Baju Emas) itu memiliki pukulan telapak tangan panas yang dapat membakar pakaian lawan dan Gin-i-ciangkun (Panglima Baju Perak) itu memiliki pukulan tangan dingin yang membuat darah lawan membeku."
Pek Lian memandang kedepan dan mengangguk. Ia tidak merasa heran mendengar ini karena ia sudah sering mendengar bahwa di Istana Kaisar terkumpul jagoan-jagoan yang amat lihai.
"Akan tetapi semua itu tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan atasan mereka, yaitu Tong-tai-ciangkun yang berjuluk Pek-lui-kong,"
Bisik Pek In.
Pek Lian merasa betapa jantungnya berdebar kencang dan kedua kakinya agak gemetar.
Kiranya dua orang panglima, ini adalah tangan kanan si pendek itu.
Bagaimana kalau si pendek itu berada disitu pula dan mengenalnya?
Akan tetapi Pek Lian meneliti pakaiannya dan hatinya lega.
Tidak mungkin si cebol yang lihai itu akan mengenalnya.
Mereka baru saling berjumpa satu kali saja, yaitu ketika ia menghadang bersama empat orang suhunya untuk membebaskan ayahnya.
Ketika itu, ia berpakaian sebagai seorang gadis kang-ouw, tidak seperti pakaian puteri atau dayang Istana seperti sekarang ini.
Pula, kalau ia datang sebagai dayang nenek bangsawan yang menjadi bibi Kaisar ini, siapa yang berani mencurigai dan mengganggunya?
Memang kedudukan Siang Houw Nio-nio di Istana amat tinggi.
Orang lain, betapapun tinggi kedudukannya, tidak boleh menghadap Kaisar membawa pengawal atau pengikut.
Akan tetapi nenek ini masuk diiringkan tiga orang dayangnya dan tidak ada orang berani menentangnya.
Bagaikan bayangan saja, Pek Lian mengikuti gerak-gerik dua orang gadis itu dan ketika mereka semua memasuki ruangan pertemuan dimana duduk Kaisar dihadap oleh para Menterinya, Pek Lian juga ikut pula menjatuhkan diri berlutut dibelakang Ang In.
Ketika ia mengerling, jantungnya berdebar tegang melihat ada dua orang berdiri dibelakang Kaisar.
Dua orang itu bukan lain adalah Pek-lui-kong Tong Ciak si cebol yang lihai itu dan yang kedua adalah Jenderal Beng Tian yang tidak kalah lihainya!
Tentu saja Pek Lian diam-diam mengeluarkan keringat dingin ketika melihat "singa dan harimau,"
Dua jagoan pengawal Kaisar yang amat terkenal itu.
Pernah ia bertemu, bahkan bentrok dengan mereka berdua!
Kini, mereka berdua itu berdiri dibelakang Kaisar, berdampingan dan mata mereka itu menyapu ruangan dengan sinar mata yang mencorong tajam dan menyeramkan.
Pek Lian cepat-cepat menundukkan mukanya dan ini tidak menarik perhatian karena memang sikap para dayang harus begitu, takut-takut dan malu-malu!
Penyamaran ini menguntungkan Pek Lian karena selain ia diperbolehkan selalu menyembunyikan muka tanpa dicurigai, juga siapakah yang akan memperhatikan seorang dayang?
Dua orang lihai itupun tentu tidak akan memandang sebelah mata kepada seorang dayang!
dikanan kiri, berderet-deret duduk para Menteri menghadapi meja masing-masing.
Nenek Siang Houw Nio-nio yang memasuki ruangan itu, dengan sikap angkuh dan kesadaran bahwa kedudukannya lebih tinggi dari pada para Menteri itu, mengangguk kekanan kiri membalas penghormatan para Menteri yang hadir.
Wanita tua ini sadar akan harga dirinya.
Ia adalah pengawal pribadi, juga kepercayaan, juga bibi sendiri dari Kaisar!
kemudian, dengan sikap tenang nenek itu berlutut menghormati Kaisar yang masih keponakannya sendiri itu.
"Selamat datang, bibi!"
Kata Kaisar dengan ramah dan dengan tangannya mempersilahkan nenek itu untuk bangkit dan mengambil tempat duduk dikursi yang telah disediakan untuknya.
Biarpun para dayang pengikut nenek ini diperbolehkan ikut masuk, akan tetapi tentu saja mereka tidak boleh mengganggu persidangan dan Pek In lalu mengajak adiknya dan Pek Lian untuk berkumpul dipinggir, bersama dengan para dayang Istana, dimana mereka duduk berkelompok dan tidak berani mengeluarkan suara, seperti sekelompok bunga ditaman yang ringkih dan takut terlanda angin.
Setelah Siang Houw Nio-nio tiba, maka persidangan dilanjutkan dan nenek itu kini mengerti bahwa Sribaginda memang mengadakan sidang darurat, memanggil semua Menteri untuk membicarakan keadaan yang membuat Sribaginda Kaisar merasa khawatir.
Kaisar Cin Si Hong-te mengerti bahwa beberapa tindakannya telah menimbulkan heboh dan kegemparan diseluruh negeri.
Kaisar merasa marah sekali.
Menurut hematnya, semua tindakan yang dilakukannya adalah benar dan tepat, dan demi kebaikan pemerintahnya.
Pembakaran kitab-kitab Guru Besar Khong Cu dianggap amat tepat karena pelajaran dalam kitab-kitab itu dianggap menghasut rakyat untuk tidak tunduk dan setia kepada Rajanya.
Banyak isi pelajaran yang dianggap memburuk-burukkan Kaisar, merendahkan Kaisar merendahkan martabat Kaisar sebagai Wakil atau Utusan Tuhan!
Dan tindakan ini ditentang oleh para sasterawan lemah itu, bahkan beberapa orang Menteri ikut menentangnya.
Tentu saja mereka yang menentang itu harus dibasmi habis!
Kalau tidak demikian, kewibawaan Kaisar akan merosot, demikian pendapat orang-orang kepercayaan Kaisar seperti kepala thaikam Chao Kao dan Perdana Menteri Li Su, yang dibenarkan oleh Kaisar.
Selain itu, juga pembangunan tembok besar diutara banyak ditentang oleh Menteri dan orang-orang yang menamakan dirinya pendekar.
Katanya usaha itu menyiksa rakyat!
Padahal, pembangunan itu adalah untuk keselamatan negara, untuk keselamatan rakyat pula, untuk membendung datangnya orang-orang dari utara yang akan menyerbu keselatan.
Soal pembangunan tembok besar inipun menimbulkan geger dan pemberontakan.
Untuk melihat reaksi yang sesungguhnya dari rakyat jelata, Kaisar sudah mengutus dua orang jagoan Istana itu, Pek-lui-kong Tong Ciak dan Jenderal Beng Tian, sekalian untuk menumpas pihak pemberontak yang menentang kekuasaan pemerintah.
Ketika kedua orang utusan itu tiba kembali dan membuat laporan mereka, Kaisar menjadi terkejut, marah dan segera mengumpulkan para Menteri untuk diajak bermusyawarah.
Menurut pelaporan dua orang jagoan itu, rakyat memang sedang bergolak dan nampak tanda-tanda bahwa rakyat akan bergerak menentang pemerintah, dipanaskan oleh gerakan para pendekar.
Pelopor utama adalah seorang jago pedang yang terkenal bernama Liu Pang yang oleh rakyat jelata diangkat menjadi semacam Bengcu (pemimpin rakyat) dan yang bermarkas di puncak Awan Biru diPegunungan Fu-niu-san.
Selain Liu Pang ini, juga masih ada seorang lagi keturunan Jenderal Chu yang pernah menjadi musuh besar Kaisar ketika masih menjadi Raja Chin, yaitu yang bernama Chu Siang Yu yang bermarkas disepanjang Lembah Yang-ce.
Anak-buah Chu Siang Yu telah banyak dihancurkan oleh dua orang jagoan Istana ini disepanjang Sungai Yang-ce, akan tetapi itu hanya merupakan sebagian saja dari pada kekuatan para pemberontak yang masih berkeliaran.
Menurut penyelidikan dua orang jagoan Istana itu, Liu-twako, demikian sebutan umum untuk Liu Pang, memiliki pengaruh yang amat besar dikalangan rakyat dan para pendekar.
Anak-buahnya banyak sekali.
Juga dia memiliki hubungan yang amat luas didunia kang-ouw.
Bukan ini saja yang dilaporkan oleh dua orang jagoan itu.
Juga mereka melaporkan bahwa kaum sesat didunia hitam juga bergolak dan mulai berani muncul ditempat ramai.
Para pendekar yang sedang mencurahkan perhatian untuk menentang pemerintah agaknya tidak mempunyai waktu untuk menentang kaum sesat seperti yang biasa mereka lakukan.
Oleh karena ini, pemerintah seakan-akan dirongrong oleh kedua pihak.
Selain itu, juga akhir-akhir ini muncul keanehan-keanehan yang membuat panik para pejabat tinggi.
Diatas Istana-Istana mereka kadang-kadang nampak bayangan dua orang yang berkeliaran dan yang berilmu amat tinggi.
Para pengawal tidak ada yang mampu mengejar mereka sehingga mereka itu tidak diketahui benar bagaimana macamnya.
Bahkan dua bayangan orang itu pernah muncul diatas Istana Kaisar!
Peristiwa ini terjadi ketika dua orang jagoan itu sedang melaksanakan perintah Kaisar sehingga tidak berada di Istana.
Juga Siang Houw Nio-nio tidak berada di Istana karena diutus membujuk Wakil Perdana Menteri Kang yang ikut-ikut menentang pemerintah dan hendak mengundurkan diri itu.
Demikianlah, para Menteri, juga Siang Houw Nio-nio, mendengarkan penuturan ini dengan hati ikut gelisah melihat perkembangan keadaan yang tidak menguntungkan itu.
Bagaimanapun juga, tentu saja Kaisar dan juga mereka tidak ingin melihat rakyat memberontak.
"Semua ini adalah kesalahan para Menteri yang tidak setia!"
Tiba-tiba terdengar Perdana Menteri Li Su berkata setelah memberi hormat kepada Kaisar.
"Para Menteri dan pejabat yang menentang kebijaksanaan Sribaginda, itulah yang menyebarkan hasutan kepada rakyat, memberi contoh ketidak--setiaan yang besar. Dosa mereka itu amat hebat dan mereka sepatutnya dihukum berat beserta seluruh keluarga mereka. Kalau tidak demikian, kalau pemerintah hanya menghukum orangnya saja, tentu sanak keluarganya akan mendendam dan menghasut rakyat untuk memberontak!"
Ucapan Perdana Menteri Li Su ini memancing datangnya pendapat-pendapat yang berbeda antara para Menteri dan pejabat tinggi yang hadir sehingga keadaan menjadi ramai dengan suara mereka, seperti sarang tawon yang diganggu.
Melihat ini Kaisar mengerutkan alisnya dan memberi isyarat kepada Pek-lui-kong Tong Ciak.
Si cebol ini mengangkat kedua tangan keatas dan terdengar suaranya yang bergema dan melengking nyaring, mengandung getaran kuat karena dikeluarkan dengan dorongan tenaga khikang.
"Cu-wi harap tenang dan dengarkan amanat Sribaginda!"
Mendengar suara yang amat berpengaruh ini, suasana menjadi sunyi sekali dan semua orang memandang kearah Kaisar, walaupun mereka segera menundukkan muka kembali karena menentang wajah Kaisar lama-lama merupakan dosa besar!
Kaisar menarik napas panjang.
Dalam keadaan seperti itu, terasa benar olehnya betapa para pembantunya itu hanya merupakan sekelompok orang-orang tolol yang pandainya hanya menjilat-jilat saja.
Maka diapun lalu memandang kepada Siang Houw Nio-nio dan berkata.
"Bibi yang baik, bagaimanakah hasil pertemuan bibi dengan Menteri Kang? Maukah dia kembali dan memangku jabatannya sebagai wakil Perdana Menteri?"
Pertanyaan ini menimbulkan ketegangan dan semua mata memandang kepada nenek itu.
Memang harus mereka akui bahwa diantara semua Menteri, maka Wakil Perdana Menteri Kang adalah orang yang paling berani bertindak tegas, bahkan paling berani menentang kebijaksanaan Kaisar.
Menteri Kang adalah seorang yang memiliki wibawa besar sekali, dan juga amat bijaksana dan cerdik pandai.
Setelah Menteri itu meletakkan jabatannya, keadaan menjadi semakin kacau dan banyak pejabat tinggi seperti kehilangan pegangan.
Andaikata Menteri itu masih ada, tentu dia akan dapat bertindak dengan tegas dan cepat menghadapi pergolakan yang sedang terjadi.
Semua orang tahu bahwa seperti juga Menteri Kebudayaan Ho, maka wakil Perdana Menteri itupun seorang yang amat disegani, bahkan dihormat dan dikagumi oleh para pendekar didunia kang-ouw.
Dengan suara tenang dan sikap hormat, nenek Siang Houw Nio-nio lalu menceritakan hasil pertemuannya dengan Menteri Kang.
Diceritakannya betapa bekas wakil Perdana Menteri itu mau menjabat lagi kedudukannya sebagai wakil Perdana Menteri asal dipenuhi syarat yang dimintanya, yaitu dibebaskannya bekas Menteri Ho dan juga para Menteri yang ditahan atau dihentikan agar diampuni, dibebaskan dan dipekerjakan kembali.
"Menurut pendapat bekas Wakil Perdana Menteri Kang, penangkapan dan pemecatan para Menteri yang setia itulah yang menyebabkan terjadinya pergolakan dan ketidak--puasan dikalangan rakyat. Oleh karena itu, dia sanggup bekerja lagi kalau syarat itu dipenuhi."
Demikianlah Siang Houw Nio-nio mengakhiri pelaporannya.
"Kalau tidak, maka dia menyerahkan jiwa raganya kepada paduka Sribaginda."
Pelaporan nenek ini mengejutkan semua orang dan menimbulkan perdebatan sengit diantara mereka yang hadir.
Ada yang setuju agar Kaisar memenuhi tuntutan atau syarat itu, akan tetapi ada pula yang tidak setuju.
"Bagaimana pendapatmu, Perdana Menteri Li Su?"
Akhirnya Kaisar mengangkat tangan memberi isyarat agar semua orang diam dan dia bertanya kepada Perdana Menterinya.
Selama ini, Perdana Menterinya itulah yang menjadi penasihat utamanya, yaitu dikalangan para Menterinya, sebagai orang yang amat dipercayanya.
Didalam Istana, sebagai penasihat pribadi, terdapat Chao Kao kepala thaikam yang amat dipercayanya.
Diantara kedua orang pembesar ini memang terdapat suatu persekongkolan untuk mempertahankan kedudukan, kekuasaan dan kepentingan-kepentingan pribadi mereka.
"Hamba sangat khawatir kalau syarat yang diajukan oleh Menteri Kang itu dipenuhi, Sribaginda. Pertama, Menteri Kang telah mengajukan permintaan berhenti sendiri, berarti dia telah kehilangan kesetiaan. Oleh karena itu, pengangkatannya kembali dengan memenuhi syarat yang dimintanya, akan membuat dia merasa dimanja dan dipakai dan hal ini pasti akan menimbulkan watak angkuh, sombong dan selanjutnya segala buah pikiran dan keinginannya tentu harus dipenuhi. kedua, membebaskan para Menteri dan pejabat yang berkhianat dan berani menentang kebijaksanaan paduka, apa lagi memakai mereka kembali sebagai pejabat, sama saja dengan mengumpulkan pengkhianat-pengkhianat yang kelak akan membahayakan kedudukan paduka. Dan ketiga, Menteri Ho adalah orang yang paling besar dosanya, yang terang-terangan menentang kebijaksanaan paduka dan menghasut orang-orang kang-ouw untuk memberontak. Pergaulannya dengan orang-orang kang-ouw amat luas, maka kalau dia dibebaskan, tentu akan menambali berani kepada para pemberontak."
"Akan tetapi, justeru Menteri Ho itulah yang menjadi tuntutan utama dari Menteri Kang, karena Menteri kebudayaan itu adalah sahabat baiknya, juga merupakan penasihat utamanya,"
Nenek Siang Houw Nio-nio memotong.
Mendengar ini, Kaisar lalu mempersilahkan para Menteri dan ponggawa yang hadir untuk mengajukan pendapat-pendapat mereka masing-masing.
Dan terjadilah perdebatan sengit, Tentu saja banyak Menteri dan pejabat yang diam-diam telah menjadi kaki tangan Perdana Menteri Li Su dan mereka ini dengan sendirinya mendukung pendapat Perdana Menteri itu.
Akan tetapi ada beberapa orang Menteri yang menjadi sahabat bekas wakil Perdana Menteri, mencoba untuk mendebat mereka.
Perdebatan itu dibiarkan saja oleh Kaisar yang mendengarkan dengan penuh perhatian, mendengarkan setiap pejabat yang mempertahankan kebenaran pendapatnya sendiri.
Tentu saja, disamping Kaisar yang mendengarkan dengan penuh perhatian itu, terdapat seorang lain yang juga mendengarkan dengan penuh perhatian, bahkan dengan jantung berdebar tegang dan badan terasa panas dingin.
Orang ini bukan lain adalah Ho Pek Lian!
Siapa orangnya yang tidak akan menjadi tegang hatinya kalau mendengarkan betapa ayahnya dijadikan pokok pembicaraan, bahkan persidangan itu seolah-olah merupakan pengadilan terhadap nasib ayahnya?
Mati hidup ayahnya tergantung dalam keputusan persidangan itu dan ia menghadiri dan menyaksikannya tanpa ada seorangpun diantara mereka yang tahu bahwa anak tunggal dari Menteri Ho berada disitu!
Siang Houw Nio-nio mengerutkan alisnya mendengar dalih-dalih yang dikemukakan oleh kelompok pendukung Perdana Menteri Li Su.
Nenek ini memang sudah mempunyai perasaan tidak suka terhadap Perdana Menteri itu yang ia tahu adalah seorang yang pandai sekali mengambil hati Kaisar, dan pandai pula merebut kepercayaan Kaisar, menjilat-jilat dan bermuka-muka.
Akan tetapi ia sendiri tidak mau berpihak dalam urusan ini.
Melihat betapa Kaisar nampak bingung mendengar pendapat-pendapat para Menterinya yang seolah-olah terpecah menjadi dua itu, nenek Siang Houw Nio-nio lalu mengemukakan pendapatnya dengan suara lantang.
"Cu-wi telah memperbincangkan keadaan sekarang, maka sekarang tinggal melakukan pilihan antara dua kemungkinan. Pertama, menuruti permintaan Wakil Perdana Menteri Kang dan dialah orangnya yang akan sanggup untuk menyelesaikan segala pergolakan dan keruwetan yang mengancam negara ini dengan jalan damai. Atau, cuwi menolak pemintaannya dan kita semua menghadapi pemberontakan-pemberontakan dunia kang-ouw dan juga menghadapi pengacauan kaum sesat. harap cuwi suka mempertimbangkan baik-baik. Memilih yang pertama berarti keadaan akan tetap tenang dan damai baik dikalangan pemerintah maupun dikalangan rakyat, atau memilih yang kedua dan berarti akan terjadi kerusuhan dan pembunuhan dimana-mana. Harap cuwi ingat! Orang-orang kang-ouw itu dengan ilmu mereka yang tinggi sanggup berkeliaran diwuwungan rumah-rumah, baik rumah rakyat, rumah cuwi sendiri maupun di Istana-Istana."
Tentu saja peringatan ini membuat semua orang merasa ngeri. Akan tetapi Perdana Menteri Li Su sudah memandang kepada nenek itu dengan sinar mata penuh selidik dan penasaran.
"Apakah Nio-nio hendak berpihak kepada para Menteri jahat yang tidak setia dan berani membangkang terhadap Sribaginda itu? Dosa mereka terlalu besar. Mereka sepatutnya dihukum mati bersama seluruh keluarga mereka untuk menjadi contoh bagi rakyat agar tidak ada yang berani menentang kekuasaan Sribaginda, bukannya diangkat kembali yang akan membuat mereka menjadi kepala besar!"
"Harap paduka tidak menuduh yang bukan-bukan. Saya sama sekali tidak mau memihak siapapun juga dalam soal ketidak-cocokan pendapat antara kalian! Akan tetapi, betapa bodohnya untuk bertengkar antara rekan sendiri selagi negara berada dalam bahaya pergolakan dan pemberontakan. Dalam keadaan seperti ini, seorang pejabat yang setia akan memikirkan keselamatan negara, sama sekali tidak akan memperdulikan perasaan-perasaan pribadi. Saya bicara bukan karena berpihak, melainkan mengingat akan keselamatan negara!"
Mendengar semua perdebatan itu, Kaisar Cm Si Hong-te menjadi semakin bingung.
Memang pendapat yang saling bertentangan itu ada benarnya.
Dan para Menteri yang menunjang pendapat Perdana Menteri Li Su adalah Menteri-Menteri yang pandai menyenangkan hatinya, selalu setia dan taat, tidak pernah membantah atau menentang kebijaksanaannya, bahkan mendukung semua kebijaksanaan yang diambilnya sepenuhnya.
Mereka itu selalu berusaha untuk menyenangkan diri, sedangkan para Menteri yang bertentangan dan yang mendukung pihak Menteri Kang adalah mereka yang suka cerewet, banyak membantah dan banyak menentang kebijaksanaannya, membuat dia kadang-kadang merasa penasaran dan marah.
Tentu saja didalam hatinya dia condong membenarkan perdana Mentei Li Su dan para Menteri pendukungnya.
Akan tetapi, Kaisar juga bukan seorang bodoh yang tidak dapat melihat keadaan.
Keadaan negara benar-benar terancam.
Kalau api pemberontakan yang baru mulai bernyala ini tidak segera dipadamkan, maka keadaan akan benar-benar berbahaya dan api pemberontakan itu akan dapat membakar seluruh negeri.
Dan agaknya, satu-satunya jalan untuk mencegah api itu berkobar, adalah kembalinya wakil Perdana Menteri Kang.
Akan tetapi, dia tahu bahwa kembalinya Menteri yang keras hati ini tidak menyenangkan hati Perdana Menteri Li dan teman-temannya.
Lalu bagaimana baiknya?
Akhirnya, dengan pandang mata penuh harap Kaisar itu menoleh kearah Siang Houw Nio-nio dan bertanya.
"Bibi yang baik, bagaimanakah menurut pendapatmu?"
"Harap paduka mengampuni hamba kalau hamba katakan bahwa hak itu sepenuhnya terserah kepada kebijaksanaan paduka sendiri. Bagi hamba, yang terpenting adalah keselamatan Sribaginda dan kerajaan, hal-hal lainnya hamba tidak perduli. Bagi hamba, siapa saja yang membahayakan keselamatan Sribaginda maupun tahta paduka, baik itu datang dari orang-orang yang memberontak maupun dari orang-orang kita sendiri yang tidak becus mengatur negara sehingga membikin bahaya kedudukan paduka, akan hamba sikat dan basmi sampai habis!"
Suara nenek itu berapi-api penuh semangat ketika ia mengucapkan kata-kata ini dan Perdana Menteri Li Su bersama teman-temannya mengerutkan alis karena mereka merasa seolah-olah sebagian dari pada ancaman nenek itu ditujukan kepada mereka.
Sribaginda Kaisar mengangguk-angguk mendengar ini.
Kemudian dia menoleh kearah dua orang jagoannya yang berdiri dibelakangnya, dan berkata kepada jenderal tinggi besar yang gagah perkasa itu.
"Jenderal Beng Tian, bagaimana pendapatmu?"
Jenderal itu terkejut, tidak menyangka bahwa pendapatnya ditanya oleh junjungannya.
Biarpun dia merupakan seorang yang amat dipercaya oleh Kaisar, akan tetapi dia hanyalah petugas pelaksana, melaksanakan semua perintah Kaisar dan tidak pernah mencampuri urusan politik, walaupun disudut hatinya dia merasa kagum dan suka sekali kepada Menteri Kebudayaan Ho Ki Liong dan juga Wakil Perdana Menteri Kang.
"Hamba? Pendirian hamba tiada bedanya dengan pendirian yang mulia Siang Houw Nio-nio tadi. Hamba bukanlah seorang ahli pikir yang pandai. Yang hamba ketahui hanyalah perang dan berkelahi dengan setia untuk menjunjung paduka dan negara yang akan hamba bela sampai titik darah terakhir. Siapapun yang berani merongrong kekuasaan paduka dan kerajaan akan hamba musnahkan!"
Kembali Kaisar mengangguk-angguk dan kini dia memandang kepada si cebol Pek-lui-kong Tong Ciak.
"Dan bagaimana dengan pendapatmu?"
Tong Ciak menjatuhkan diri berlutut.
"Hamba adalah seorang pengawal Istana yang bertanggung jawab atas keselamatan Sribaginda dan keluarga, oleh karena itu, segalanya terserah kepada keputusan paduka. Hanya satu hal yang hamba ketahui, yaitu menyerahkan nyawa bagi keselamatan paduka Sribaginda dan sekeluarga kerajaan. Persoalan lain-lainnya hamba tidak bisa memikirkannya."
Pada hakekatnya, pendapat tiga orang pelindungnya itu sama saja.
Kaisar menjadi semakin bingung.
Pikirannya bercabang dua dan dia merasa sulit untuk dapat mengambil keputusan, memilih mana yang tepat, baik dan menguntungkan.
Tiba-tiba seorang kakek berpakaian seperti pendeta yang sejak tadi diam saja dan duduk dengan antengnya disebelah kanan Kaisar, bangkit berdiri dari tempat duduknya, menghampiri kearah Kaisar dan mengebut-ngebutkan ujung lengan bajunya sebagai tanda penghormatan lalu menjura dengan dalam.
Semua orang memandang dan ingin tahu apa yang akan dikatakan oleh pendeta ini.
Kakek ini adalah Bu Hong Sengin, berusia hampir tujuh puluh tahun, berwajah lembut.
Bu Hong Sengin adalah seorang tosu (pendeta Agama To) yang menjadi kepala paderi dari kuil agung yang berada didalam lingkungan Istana.
Kuil Thian-to-tang itu adalah kuil bagi Kaisar dan para bangsawan, dan mereka yang menjadi tosu dalam kuil itu adalah para bangsawan kerajaan sendiri.
Bu Hong Sengin sendiripun seorang bangsawan karena dia masih terhitung paman dari Kaisar sendiri.
Pada waktu itu, banyak sekali bangsawan-bangsawan yang setelah tua lalu menjadi paderi dengan maksud untuk menyucikan diri atau untuk mempersiapkan diri menghadapi kematian agar jiwanya bersih!
Betapa palsunya kita manusia ini!
Kita selalu ingin senang, ingin enak sendiri.
Sewaktu muda, kita mengumbar nafsu angkara sesuka hati, tanpa memperdulikan apakah tindakan-tindakan kita itu merugikan orang lain ataukah tidak.
Hidup kita dipenuhi dengan tindakan-tindakan yang merugikan orang lain dan bergelimang dengan dosa.
setelah kita menjelang tua, barulah kita ingin merobah jalan hidup, bukan karena penyesalan dan karena kesadaran bahwa jalan hidup kita yang lalu itu kotor dan tidak benar, melainkan terdorong rasa takut akan akibat perbuatan-perbuatan itu, takut kalau-kalau setelah mati kita akan tersiksa dan terhukum, akan tidak kebagian tempat yang baik dan menyenangkan.
Betapa palsunya ini.
Diwaktu muda mengejar kesenangan sampai lupa diri, diwaktu tua masih saja mengejar kesenangan yang diharapkannya akan didapatkan di "sana"
Kelak.
Apa bedanya ini?
Yang terpenting sekali adalah sekarang ini!
Saat ini!
Setiap saat kita harus sadar dan mawas diri.
Perbuatan tidak dapat dinilai dan dibanding-bandingkan.
Manusia hidup berhak untuk mengecap dan menikmati kesenangan hidup.
Bukan berarti kita harus sejak muda hidup sebagai pertapa dan pantang akan segala kesenangan, menjauhi segala kesenangan!
Sama sekali tidak, karena inipun pada hakekatnya hanyalah mengejar kesenangan yang lain lagi, yang kita namakan kebahagiaan batin dan sebagainya.
Akan tetapi, yang penting kita harus selalu mengamati semua gerak-gerik badan dan batin kita penuh kewaspadaan.
Hanya perbuatan yang didasari cinta kasih sajalah yang murni dan tidak dapat dinilai baik atau buruk.
Dan perbuatan yang didasari cinta kasih sudah pasti tidak akan merugikan orang lain baik lahir maupun batinnya.
Karena cinta kasih itu berarti bebas dari kebencian, iri hati, cemburu, pementingan diri pribadi.
Baik hanya sebuah kata sebutan, hanya sebuah pendapat.
Maka kalau kita INGIN baik, berarti kita ingin disebut baik, dan dibalik "Keadaan baik"
Ini tentu mengandung pamrih untuk mendapatkan sesuatu, pahala anugerah maupun imbalan jasa dari "Kebaikan"
Itu sendiri. Dan jelas ini bukan baik lagi namanya, melainkan kemunafikan, kepu-ra-puraan karena "Kebaikan"
Itu hanya dilakukan secara palsu, untuk memperoleh pamrih yang tersembunyi dibaliknya.
Karena itu, bagi orang yang memiliki cinta kasih dalam hatinya, dalam setiap perbuatannya yang disinari cinta kasih, tidak ada istilah baik atau buruk.
Dia tidak akan menilai, tidak akan tahu apakah yang dilakukannya itu baik atau buruk, dan penilaian orang lain tidak akan mempengaruhinya.
Cinta kasih itu indah, cinta kasih itu sederhana, seperti indah dan sederhananya bunga mawar yang harum semerbak, seperti indah dan sederhananya sinar matahari pagi.
kesederhanaan bukanlah hidup bercawat di puncak bukit memamerkan "Kesederhanaannya"
Kepada setiap orang yang datang untuk memujanya.
Kesederhanaan berarti kewajaran tanpa pamrih, tanpa kepalsuan, tidak dibuat-buat, hanya didasari cinta kasih.
Setelah memberi hormat, Bu Hong Sengin lalu menanti teguran atau pertanyaan Sribaginda.
melihat kakek ini bangkit berdiri, agaknya Kaisar itu baru sadar bahwa kepala kuil Istana ini selain menjadi pamannya, juga menjadi seorang diantara para penasihat Kaisar.
Maka diapun cepat berkata setelah menerima penghormatan itu.
"Ahh..., hampir aku melupakan kehadiran orang-orang tuaku yang dapat menasihatiku. Paman yang mulia, bagaimanakah menurut pendapatmu?"
Pendeta itu dengan tenangnya menjura lagi, kemudian terdengar suaranya yang lembut.
Semua orang mendengarkan dengan penuh perhatian sehingga suasana diruangan itu sunyi sekali dan suara yang lembut dan tenang itu terdengar satu-satu.
"Bagi seorang yang mencinta kedamaian seperti hamba, cara yang terbaik haruslah mengingat akan keselamatan semua pihak. Baik keselamatan paduka dan kerajaan, keselamatan para pejabat, keselamatan rakyat dan lain-lain. Kita harus menghindarkan segala pertentangan yang mengakibatkan pertumpahan darah. Hamba kira, jalan satu-satunya untuk itu hanya memanggil kembali Wakil Perdana Menteri Kang yang telah kita ketahui pengaruhnya terhadap rakyat, agar dia memangku kembali jabatannya agar suasana keruh dapat dijernihkan kembali. Mengenai para Menteri yang dijadikan syarat kembalinya Wakil Perdana Menteri Kang, dapat dipertimbangkan dan dimusyawarahkan kembali tanpa meninggalkan kepentingan yang menyangkut persoalan itu dari segala pihak. Misalnya, pengampunan dan penempatan kembali para Menteri itu dapat dilakukan dengan syarat-syarat berat tertentu yang akan mengikat mereka."
Mendengar ucapan yang dikeluarkan dengan kata-kata yang lugu, suara yang lembut dan jelas itu, wajah Sribaginda Kaisar nampak berseri.
Kaisar Cin Si Hong-te bangkit dari tempat duduknya dan menggerakkan tangannya menunjuk kepada jenderal Beng Tian, tangan kirinya memegangi kalung mutiara dan matanya bersinar-sinar.
"Bagus! Benar sekali itu! Begitulah keputusanku. Jenderal Beng Tian, sekarang juga kau pergilah dan panggil Menteri Kang kesini! Semua syaratnya akan kupenuhi. Bawalah surat perintah dariku!"
Kaisar menengok kearah sudut dimana seorang petugas yang berpakaian sebagai sasterawan telah menuliskan surat perintah itu dengan cekatan.
Setelah membubuhi cap sebagai tanda kekuasaan Kaisar, surat itu diberikan kepada Jenderal Beng Tian dan Kaisar berkata.
"Selain Menteri Kang, juga perintahkan agar para Menteri yang ditahan agar semua menghadap kesini!"
Para pejabat tinggi yang mendukung Menteri Kang tentu saja menjadi gembira sekali dan hati mereka merasa lega.
Tentu saja Perdana Menteri Li Su dan kaki tangannya mengerutkan alis dan merasa penasaran, tidak puas walaupun mereka tidak berani membantah keputusan yang diambil oleh Kaisar.
Mereka juga merasa khawatir karena mereka tahu bahwa para Menteri itu, dibawah pimpinan Wakil Perdana Menteri Kang, akan selalu menentang dan memusuhi mereka.
Ho Pek Lian merupakan orang yang paling gembira mendengar keputusan Kaisar itu.
Hampir saja ia lupa diri dan bersorak kegirangan.
Untung ia masih ingat akan keadaan dan ia hanya menundukkan muka menyembunyikan senyum diwajahnya yang mendadak menjadi berseri-seri itu.
Setelah Jenderal Beng Tian berangkat, persidangan dibubarkan.
Para Menteri siap untuk mengundurkan diri.
Sebelum Kaisar meninggalkan ruangan, Siang Houw Nio-nio yang bertugas mengawal Kaisar sampai kebagian dalam Istana, berkata kepada dua orang muridnya.
"Ajaklah kawanmu pulang dulu. Nanti aku menyusul setelah selesai tugasku disini."
Setelah Kaisar meninggalkan ruangan itu, barulah para Menteri bubaran dan mereka itu tentu saja berkelompok, memilih kelompok masing-masing dan ramailah mereka membicarakan keputusan menghebohkan yang baru saja diambil oleh Kaisar.
Rakyat dimanapun juga didunia ini mengharapkan kemakmuran dalam hidup.
Makmur dalam arti kata lahir batin.
Makmur lahiriah adalah murahnya sandang pangan sehingga nilai tenaga manusia dihargai dan cucuran keringat dari pekerja mendatangkan hasil yang lebih dari cukup untuk keperluan hidup yang pokok.
Makmur batiniah adalah hidup dalam suasana aman tenteram bebas tanpa adanya penindasan dari yang kuat terhadap yang lemah, dari yang berkuasa terhadap rakyat jelata, merasa terjamin keselamatan dan kebebasan dirinya lahir batin.
Dan kemakmuran seperti itu tidak mungkin terlaksana kalau pemerintahnya tidak baik.
Pemerintah yang baik adalah pemerintah yang dikemudikan oleh alat pemerintah yang cakap dan sehat lahir batin.
Karena alat pemerintah merupakan kelompok bertingkat, maka sudah barang tentu tingkat yang tertinggi haruslah benar dan bersih.
Dalam sebuah kerajaan, kalau sang Raja tidak bersih dan korup, mana mungkin mengharapkan para pejabat dan pembantunya bersih?
Sebaliknya kalau sang Raja benar-benar bersih dan sehat, tentu dia akan mampu untuk menegur, memecat atau menghukum para pembantunya yang menyeleweng dan korup, lalu memilih pembantu-pembantu puncak yang jujur dan bersih agar para pembantu puncak ini dapat pula membersihkan bawahan-bawahannya.
Karena, kalau bukan atasannya sendiri, siapa lagi diantara rakyat yang berani menentang kekuasaan orang yang sedang diberi kursi kekuasaan?
Rakyat tidak akan berani menentang lurahnya yang korup.
Yang dapat menentangnya hanyalah atasan sang lurah itu, yaitu camat atau bupati misalnya.
Dan sang bupatipun kalau menyeleweng hanya dapat ditentang oleh atasannya pula.
Jadi jelaslah bahwa sang atasan yang duduk paling tinggi dan memegang Kekuasaan paling besar yang harus lebih dulu bersih, dalam hal sebuah kerajaan adalah sang Raja sendiri.
Sayanglah bahwa kebanyakan Raja bersikap keras menekan justeru terhadap rakyatnya, bukan terhadap para pembantunya.
Para pembantu itu hanya menurut atasan.
Kalau atasannya korup, maka para pembantunya juga mendukung kekorupan itu atau penyelewengan itu.
Kalau atasannya jujur dan bersih, para pembantunya akhirnya terpaksa akan mendukung kejujuran dan kebersihan itu.
Ini sudah menjadi watak manusia pada umumnya yang ingin bermuka-muka kepada atasan.
Raja juga seorang manusia.
Dan manusia itu lemah terhadap kesenangan.
Oleh karena itu, banyak Raja yang jatuh hanya karena mengejar kesenangan sehingga melupakan kewajibannya yang besar, yaitu mengatur pemerintahan yang bersih agar kemakmuran mungkin dapat dinikmati oleh rakyat jelata.
Rakyat jelata yang selalu diam itu amatlah awas.
Kalau ada Raja yang bertindak bijaksana dan membersihkan para pembantunya dari penyelewengan, maka sudah dapat dipastikan bahwa rakyat pada umumnya akan setuju sepenuhnya.
Yang dimaksudkan dengan rakyat disini adalah rakyat jelata yang tidak ada sangkut-pautnya dengan segala perbuatan korupsi.
Tentu saja tindakan Raja yang membersihkan para pembantunya dari tindakan korupsi itu akan ditentang oleh mereka yang sudah biasa melakukan perbuatan itu, sudah biasa menyalahgunakan kedudukannya untuk memeras dan memperoleh hasil-hasil yang tidak wajar dari rakyat.
Akan tetapi mereka ini tidak masuk hitungan rakyat, bahkan menjadi penjegal kemakmuran rakyat!
Tak dapat disangkal bahwa ada sebagian rakyat yang sengaja mempergunakan uang untuk menyogok para pejabat.
Hal ini dilakukan bukan karena paksaan pejabat itu lagi, melainkan karena si penyogok itu mempunyai pamrih lain, yaitu dengan jalan menyogok dia akan memperoleh kesempatan dan wewenang yang akan mendatangkan hasil yang lebih besar lagi.
Penyogokannya itu sama dengan memberi umpan untuk mendapatkan ikan.
Akan tetapi, hal ini hanya merupakan akibat atau lanjutan dari pada penyelewengan si pejabat.
Karena kalau Raja sudah berhasil membersihkan seluruh pembantunya dari pada watak menyeleweng, maka para pejabat yang sudah bersih itu sendiri yang akan menindak dan menghukum orang-orang yang membujuk dan hendak menyogoknya dengan uang.
Dengan demikian, maka segalanyapun akan beres dan bersih.
Atasan ditindak oleh atasannya, atasan menindak bawahan dan bawahan yang menjadi petugas dan pelaksana menindak rakyat yang hendak menyeret mereka kedalam penyelewengan.
Tentu saja hal ini tidaklah semudah dibicarakan.
Untuk dapat berhasil membutuhkan suasana dan keadaan yang dapat menimbulkan gairah dan semangat untuk kebersihan itu.
Dan rakyat sudah pasti akan mendukung sekuat tenaga.
Rakyat selalu mengidamkan kemakmuran dan kesejahteraan.
Sayang bahwa Kaisar Cin Si Hong-te masih terombang-ambing oleh pengejaran kesenangannya diri sendiri.
Bahkan keputusan yang dikeluarkannya itu pun bukan didasari kesadaran hatinya, melainkan didasari perhitungan untung rugi bagi dirinya, bagi kerajaan, bukan bagi rakyat jelata.
Dia lupa bahwa Raja dan pemerintah diadakan untuk rakyat jelata!
Tanpa rakyat, apa artinya negara?
Apa artinya Kaisar?
*** Ho Pek Lian ikut bersama Pek In dan Ang In keluar dari Istana Kaisar melalui pintu samping yang menembus melalui sebuah taman yang luas dimana terdapat banyak jembatan-jembatan yang bercat dan terukir indah menyeberangi sungai-sungai buatan kecil yang penuh dengan ikan-ikan emas dan bunga teratai.
Kembali Pek Lian merasa kagum bukan main karena selama hidupnya belum pernah ia melihat taman bunga seluas dan seindah ini.
Kiranya tempat tinggal Siang Houw Nio-nio juga berada dikompleks Istana, tidak begitu jauh dari bangunan induk yang menjadi tempat tinggal Kaisar.
Sebagai seorang pengawal pribadi, tentu saja ia harus selalu dekat dengan Kaisar sehingga dalam sekejap saja dapat dipanggil kalau Kaisar memerlukannya.
Bahkan ada rahasia antara kamar Kaisar dan kamar Siang Houw Nio-nio, rahasia yang hanya diketahui oleh mereka berdua.
Kalau Kaisar menarik tali tertentu, sebuah kelenengan kecil akan bergenta dikamar nenek itu.
Genta kecil ini tentu saja dihubungkan dengan tali halus yang dipasang secara rahasia, melalui taman bunga.
Ketika Pek In dan Ang In tiba dipintu gedung yang cukup indah itu, mereka disambut oleh para pelayan wanita yang bukan hanya berwajah cantik-cantik akan tetapi juga dari gerak-gerik mereka dapat diketahui bahwa mereka itu rata-rata memiliki ilmu silat yang tinggi!
"Heii!
Nona Pek dan nona Ang sudah kembali!"
Kata mereka dengan nada suara gembira.
Kedua orang nona itu tersenyum lalu memperkenalkan Pek Lian kepada mereka.
Para pelayan itu yang berpakaian sebagai dayang-dayang menyambut Pek Lian dengan ramah.
Kemudian Pek Lian diajak melihat-lihat gedung kecil mungil yang indah itu.
Disitu terdapat ruangan berlatih silat yang cukup luas, ada tempat samadhi, tempat dimana disimpan abu leluhur yang menjadi semacam tempat sembahyang, ada ruangan tamu yang indah, mangan duduk, ruangan makan dan sebagainya.
Gedung itu sungguh indah sekali, jauh lebih megah dan indah dibandingkan dengan gedung tempat tinggal keluarga ayannya sebagai Menteri kebudayaan.
Mungkin kemenangan satu-satunya digedung keluarga Ho adalah tergantungnya lukisan-lukisan dan tulisan-tulisan bagus yang dihadiahkan oleh para sasterawan dan seniman kepada Menteri Ho.
"Apakah subomu tinggal disini?"
Tanya Pek Lian kepada mereka. Pek In menggeleng kepalanya.
"Tidak. Hampir setiap malam subo tidur didalam Istana, tidak jauh dari kamar Sribaginda. subo mempunyai sebuah kamar indah pula disana. Hanya kadang-kadang saja subo kesini. Gedung ini adalah bekas tempat tinggal kakak sepupunya yang meninggalkan Istana dan tidak menempatinya lagi. Lalu gedung ini oleh Sribaginda Kaisar dihadiahkan kepada subo ketika subo meninggalkan suhu dan mengabdikan diri kedalam Istana. Karena subo sendiri bertugas menjaga keselamatan Sribaginda, maka gedung ini lalu oleh subo diserahkan kepada kami berdua untuk menempatinya bersama dayang-dayang kami."
Pek In menunjuk kepada para dayang yang sedang sibuk bekerja dengan wajah berseri.
Pek Lian memandang kepada mereka dan maklum bahwa mereka itu adalah anggauta-anggauta kelompok wanita bertusuk konde kemala yang lihai-lihai.
Ia menghela napas panjang.
"Dayang-dayangmu itu sungguh lihai-lihai sekali."
Ia teringat betapa ia pernah jatuh ketangan mereka, bahkan menjadi tawanan mereka. Pek In dan Ang In tersenyum, lalu Ang In yang menjawab.
"Hal itu tidak mengherankan karena mereka itu langsung menerima pelajaran dari subo, tidak ada bedanya dengan kami berdua. Hanya saja, kami berdua adalah murid-murid utama, tentu saja mempelajari ilmu yang lebih tinggi dari pada mereka."
Ruangan sembahyang, dimana abu leluhur disimpan, merupakan bagian terakhir dari gedung itu yang mereka masuki.
Ketika mereka masuk, Pek In mengerutkan alisnya.
Sepasang matanya yang bening itu memandang kesana-sini dengan sinar mata menyelidik.
Pandang mata tajam dari nona ini dapat melihat adanya bekas-bekas abu dan ada beberapa batang hio yang tinggal gagangnya saja menancap ditempat dupa, batang hio yang masih baru, berbeda dengan yang sudah lama.
Dari ini saja Pek In dapat menduga bahwa baru beberapa hari yang lalu ada orang membakar hio ditempat itu.
Segera dipanggilnya pelayan.
Dengan cepat, tiga orang pelayan sudah berdatangan keruangan itu.
"Siapakah yang datang untuk bersembahyang disini beberapa hari yang lalu?"
Tanya Pek In.
Akan tetapi, sungguh mengherankan hati Pek In dan Ang In ketika mendengar bahwa tidak ada seorangpun diantara para pelayan yang tahu.
menurut mereka, ruangan itu selalu tertutup pintunya dan jarang sekali dimasuki mereka, kecuali kalau mau membersihkan.
Itupun dilakukan paling cepat dua minggu sekali.
Selama ini, tidak ada pelayan yang masuk kesitu, sedangkan kedua orang nona itu bersama subo mereka juga selama beberapa hari.
pergi keluar kota.
Kalau ada orang luar memasuki ruangan itu, sudah pasti para pelayan itu akan melihatnya.
Mereka semua adalah anggauta-anggauta pasukan wanita bertusuk konde kemala, rata-rata memiliki kepandaian tinggi sehingga rasanya mustahil kalau ada orang masuk tanpa mereka ketahui.
(Lanjut ke
Jilid 10) Darah Pendekar (Seri ke 01 -Serial Darah Pendekar) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo Bahan Cerita . Sriwidjono
Jilid 10 Melihat ketegangan menyelimuti wajah mereka itu, Ho Pek Lian lalu tersenyum dari berkelakar.
"Wah, jangan-jangan yang datang adalah orang-orang yang dikabarkan berkeliaran di Istana-Istana diwaktu malam itu! Siapa tahu mereka itu mendengar akan kecantikan kalian berdua, lalu datang kesini akan tetapi karena kalian tidak ada, mereka lalu iseng-iseng membakar hio!"
"Ih, genit kau!"
Ang In berseru dan mencubit lengan Pek Lian yang mengelak sambil tertawa.
Wajah Pek In dan Ang In berobah merah oleh kelakar itu.
Sebelum dua orang gadis itu dapat membalas, tiba-tiba terdengar suara orang-orang diserambi depan.
Kiranya nenek Siang Houw Nio-nio datang bersama seorang tamu.
"Wah, subo datang membawa tamu,"
Kata Pek In.
Mereka lalu meninggalkan ruang sembahyang itu, menutupkan daun pintunya lalu menuju keruangan depan.
Terdengar suara Siang Houw Nio-nio bercakap-cakap dengan tamunya.
Pek Lian merasa jantungnya berdebar tegang ketika mengenal suara tamu itu.
Ternyata ada dua orang tamu yang bukan lain adalah Jenderal Beng Tian dan si cebol Tong Ciak!
Juga dua orang gadis itu menahan langkah, tidak berani mengganggu ketika mereka mengenal suara dua orang jagoan Istana yang sakti itu.
"Kapankah Beng-goanswe berangkat ketempat Menteri Kang?"
Terdengar suara nenek itu bertanya.
"Aku telah berjanji kepadanya untuk memberi kabar tentang keputusan Kaisar dan dua hari telah lewat. Tentu dia sangat menanti-nanti kedatanganku."
"Saya menanti kembalinya Hek-ciangkun yang saya suruh menyusul paduka ketempat Menteri Kang, karena saya ingin memberi tugas baru kepada Hek-ciangkun agar pergi menjemput dan membawa kembali Menteri Ho ke Kotaraja."
"Bagaimana dengan para Menteri yang lainnya?"
Tanya Siang Houw Nio-nio.
"Saya telah memerintahkan Liok-ciangkun untuk menghubungi kepala penjara agar membebaskan para Menteri yang ditahan, dan menyuruh mencari para Menteri yang telah dipecat, mengundang mereka ke Kotaraja."
Si cebol Pek-lui-kong Tong Ciak yang sejak tadi diam saja menarik napas panjang dan berkata, suaranya penuh kekecewaan.
"Aah, banyak tenaga telah dibuang secara sia-sia belaka."
Jenderal Beng Tian menjawab ramah.
"Memang, akan tetapi siapa mengira keadaan akan menjadi berobah begini macam? Tong-ciangkun telah ikut memeras keringat membantuku ketika mengawal Menteri Ho sampai jauh sehingga tugas Tong-ciangkun sendiri yang menjadi pengawal di Istana hampir kebobolan! Untung bahwa dua orang maling yang aneh itu tidak membuat kerusakan apa-apa di Istana. Kalau kita tahu bahwa akhirnya Sribaginda akan mengampuni dan memanggil kembali para Menteri itu, tentu aku tidak sampai memohon kepada Sribaginda agar Tong-ciangkun membantu dalam tugas-tugasku itu."
"Ah, Beng-goanswe terlalu sungkan. Kita sebagai rekan sudah selayaknya saling membantu. Pula, kita tidak bisa tahu apa yang akan terjadi. Akupun menyadari betapa beratnya tugas Beng-goanswe harus mengawal Menteri Ho yang terkenal dan dicinta oleh para pendekar itu secara rahasia, pada hal pada waktu itu juga Beng-goanswe bertugas menumpas para pemberontak di lembah Yang-ce. Sesungguhnya, saya harus merasa malu karena kebodohanku dalam mengatur siasat sehingga banyak anak-buah goanswe yang tewas ketika kawan-kawan Menteri Ho melakukan penghadangan ketika itu. Memang... aku cuma bisa berkelahi saja, sama sekali tidak mengerti akan siasat-siasat perang seperti Beng-goanswe."
"Tidak mengapalah. Yang penting Menteri Ho dapat diselamatkan, dan itupun berkat bantuan ciangkun dan kami sudah amat berterimakasih."
Pek-lui-kong Tong Ciak menarik napas panjang.
Dia teringat akan peristiwa penghadangan kereta yang ditumpangi Menteri Ho sebagai tawanan itu.
Betapa dia hampir saja gagal mempertahankan tawanan itu.
Tak disangkanya akan muncul si pemuda kusir kereta yang memiliki kesaktian luar biasa itu.
Untung pemuda itu berotak miring sehingga perkelahian tidak dilanjutkan.
Kalau sampai dilanjutkan, mungkin saja tawanan sudah dirampas oleh para pemberontak.
Pemuda itu lihai bukan main.
Dia sendiri, yang sudah mampu menyempurnakan ilmunya sehingga mencapai tingkat terakhir, yaitu tingkat tingkat tiga belas terpaksa ketika beradu tenaga, terdorong mundur!
Biarpun belum dapat ditentukan siapa yang akan kalah atau menang kalau perkelahian diteruskan, akan tetapi kalau dia harus sibuk menghadapi pemuda lihai itu, bukankah tawanan itu akan mudah dilarikan orang?
Pasukannya sudah terdesak ketika itu.
"Pembersihan yang kita lakukan di lembah Yang-ce itu memang dapat dikata berhasil. Akan tetapi, mereka itu hanya sebagian kecil saja dari pada gerombolan yang memberontak, yang kabarnya semakin besar dan kuat saja karena bantuan rakyat. Dan lebih mengkhawatirkan lagi adalah adanya berita bahwa kaum sesat dari dunia hitam telah bangkit dan dipimpin oleh keturunan si Raja kaum hitam setengah abad yang lalu. Orang itu juga menamakan dirinya seperti leluhurnya yaitu Raja Kelelawar! Hal ini sungguh mendatangkan kegelisahan. Mereka itu lebih kejam dan lebih ganas dibandingkan dengan para pemberontak. Para pemberontak itu hanya menentang pemerintah, akan tetapi kaum sesat itu tidak memakai peraturan lagi, mengganas dan melakukan kejahatan tanpa pandang bulu, merusak kehidupan rakyat. Dan mereka itu memiliki kepandaian yang tinggi. Hemm, ingin aku dapat bertemu dan berhadapan dengan iblis itu!"
Jenderal Beng Tian mengepal tinjunya.
"Akupun sudah mendengar tentang itu,"
Sambung Pek-lui-kong Tong Ciak.
"Aku mendengar bahwa dia memang sakti seperti iblis sendiri. Jangan-jangan dialah yang mengunjungi wuwungan Istana beberapa malam yang lalu. Kim-i-ciangkun yang mengejar bayangan kedua orang itu melaporkan bahwa mereka memiliki gerakan cepat seperti setan, berloncatan dan berlarian diatas wuwungan kompleks Istana dengan amat ringannya dan sukar disusul. Siapa lagi yang mampu meninggalkan pasukan pengawal yang rata-rata memiliki kepandaian yang cukup tinggi itu dengan mudah, kecuali iblis itu sendiri?"
"Hemm, benar kiranya dugaanmu itu, Tong-ciangkun. Diantara kita bertiga ini, akulah yang pernah merasakan kelihaiannya."
"Ehh...?"
Seru Jenderal Beng.
"Ahh...?"
Si pendek Tong Ciak juga berseru kaget dan heran.
"Sesungguhnyalah, baru kemarin aku bertemu dan bertanding melawan iblis itu. Dan terus-terang saja kuakui bahwa aku bukan tandingannya. Padahal waktu itu aku sudah dibantu oleh murid pertama dari suamiku. Kami berdua terdesak dan nyaris tewas!"
Tentu saja dua orang jagoan Istana itu tertegun.
Hampir mereka tidak dapat menerima kebenaran cerita itu kalau tidak mendengar sendiri dari mulut Siang Houw Nio-nio.
Mereka tahu benar siapa adanya wamta tua yang berada didepan mereka ini.
Pengawal pribadi Kaisar!
Mereka tahu betapa lihainya nenek ini dan merekapun sudah mendengar siapa pula suami nenek ini.
Suhengnya sendiri, ketua Partai Pedang Langit, keturunan Sin-kun butek, datuk besar utara jaman abad lampau.
Mereka sudah pernah samar-samar mendengar tentang apa yang telah terjadi antara suami-isteri sakti itu.
Oleh karena itu, mereka merasa sungkan dan sungguhpun mereka merasa heran sekali mendengar bahwa iblis Raja Kelelawar itu menyerang si nenek yang dibantu oleh murid utama suaminya, mereka tidak berani mendesak atau bertanya lebih lanjut.
Didalam hati, kedua orang jagoan ini berdebar penuh ketegangan.
Nenek ini memiliki ilmu kepandaian yang hebat, tidak banyak selisihnya dengan mereka sendiri, dapat dikatakan setingkat.
Biarpun demikian, melawan iblis itu, padahal sudah dibantu oleh murid utama suaminya, masih kalah dan nyaris tewas!
Padahal, merekapun pernah melihat kelihaian murid utama itu, ialah Yap Kiong Lee.
Murid utama ini boleh dibilang telah mewarisi ilmu-ilmu kesaktian gurunya sehingga dapat dibilang hampir selihai gurunya.
Pemuda itu sering datang ke Kotaraja dan semua orang gagah di Kotaraja mengenalnya.
"Hemm, jelas bahwa tentu iblis itu yang muncul di Kotaraja!"
Pek-lui-kong berkata sambil mengepal tinju.
"Aku harus berhati-hati."
"Memang kita harus berhati-hati,"
Kata Siang Houw Nio-nio.
"Akan tetapi aku mendengar dari pelaporan para dayang dari Pek-ji dan Ang-ji yang diutus oleh murid-muridku itu menyelidiki ketempat pertemuan kaum sesat, bahwa si iblis itu bersama dengan pembantunya akan mencari Tung-hai-tiauw (Rajawali Lautan Timur) yang pada waktu itu tidak muncul. Jadi, mungkin dia hanya lewat saja disini."
Si cebol mengangguk.
"Menurut pengamatan paduka, benarkah iblis itu keturunan Si Raja Kelelawar beberapa puluh tahun yang lalu seperti tersebut dalam dongeng-dongeng itu?"
"Kurasa benar demikian, karena ilmu silat yang dimainkannya itu tentulah Kim-liong Sin-kun seperti yang pernah kudengar, dan ilmu ginkangnya itu tentulah Bu-Eng Hwee-teng yang membuat aku mati kutu. Kurasa, untuk masa kini, tidak ada lagi orang yang mampu menandinginya."
Nenek itu memandang kepada Pek-lui-kong dengan sinar mata tajam penuh selidik.
Menurut penuturan Ouwyang Kwan Ek dalam percakapannya dengan suaminya, si cebol ini telah mencapai tingkat tertinggi dalam perguruan Soa-hu-pai.
Ingin sekali ia tahu, bagaimana jika si cebol ini menandingi Raja Kelelawar.
Mana yang lebih lihai antara ilmu si iblis itu, iyalah Pat-hong Sin-ciang atau Kim-liong Sin-kun dibandingkan dengan Ilmu Silat Teratai Soa-hu-lian dan Ilmu Pukulan Pusaran Pasir Maut?
Pek-lui-kong Tong Ciak tersenyum dingin.
"Hemm, sekali-kali aku ingin sekali berkenalan dengan ilmu-ilmunya. Tentu saja hal itu akan sukar terkabul karena aku terikat oleh tugas didalam Istana. Akan tetapi, ingin sekali aku mencoba ilmuku, apakah mungkin dapat untuk dipakai menghadapinya? Kurasa, yang paling sukar dilawan adalah Bu-Eng Hwee-teng itu karena kalau benar dia telah mewarisi ilmu itu dengan sempurna, kiranya didunia ini sukar dicari orang yang akan mampu menandingi kecepatannya. Kecuali apabila Lo-cianpwe Sin-yok-ong hidup kembali. Akan tetapi, dengan kecepatan gerak tangan Ilmu Silat Teratai Soa-hu-lian, kurasa iblis itu tidak akan mudah untuk menundukkanku."
Si cebol ini mengakhiri kata-katanya dengan kalimat yang penuh dengan kepercayaan akan kehebatan ilmunya sendiri.
Ucapan itu bukan sekedar kesombongan kosong belaka.
Semenjak dia berhasil mencapai tingkat tertinggi dengan ilmu keturunannya, belum pernah ada lawan yang mampu mengalahkan dia.
Apa lagi jika dia mengeluarkan Ilmu Silat Soa-hu-lian karena kedua lengannya dapat bergerak dengan luar biasa cepatnya sehingga nampak seperti ribuan tangkai bunga teratai mencuat diantara daun-daun teratai ditelaga pasir.
Karena ilmunya ini, selain julukan Pek-lui-kong (Malaikat Halilintar), diapun kadang-kadang dijuluki Si Lengan Seribu.
Jenderal Beng Tian menarik napas panjang.
Diapun amat tertarik.
"Tentang Ilmu Bu-Eng Hwee-teng itu, kurasa Tong-ciangkun salah duga kalau mengira tidak ada orang yang akan mampu menandinginya. Ketika aku mengejar-ngejar ketua lembah, aku bertemu dengan seorang kakek yang memiliki ginkang yang luar biasa hebatnya. Kakek itu dengan menggendong seorang gadis masih mampu menggandeng tangan si ketua lembah dan melarikan diri bebas dari kepungan beribu orang perajurit pilihan. Padahal disana masih ada aku sendiri dan dua orang pengawalku. Bayangkan saja betapa hebat ginkangnya."
"Memang banyak terdapat orang-orang tak terkenal yang sakti,"
Kata Siang Houw Nio-nio.
"Para anak-buah Ang-ji yang beruntung dapat menyaksikan pertemuan rahasia kaum sesat itu mengatakan bahwa seorang kakek telah berhasil menundukkan kesombongan iblis itu dalam ilmu ginkang yang luar biasa. Kakek itu memperkenalkan diri sebagai murid bungsu Sin-yok-ong (Raja Tabib Sakti)."
"Ohhh! Jadi Lo-cianpwe Sim-yok"ong masih mempunyai murid?"
Kata Jenderal Beng Tian.
"Kalau begitu, kakek yang kuhadapi itu tentulah dia juga orangnya!"
"Mungkin demikianlah adanya. Tentang murid-murid Sin-yok-ong, aku masih mengenal seorang muridnya yang lain, yaitu suheng dari murid bungsu itu. Dia adalah ketua perguruan Liong-i-pang (Jubah Naga)."
"Kakek berjubah naga?"
Pek-lui-kong berseru kaget.
"Ah, tidak kusangka! Pantas saja ilmu silatnya sedemikian hebat. Wah, kalau demikian halnya, si iblis Raja Kelelawar tentu akan banyak menemui kesulitan dalam pemunculannya ini. Murid-murid Sin-yok-ong... hemm, Beng-goanswe, benarkah bahwa ketua orang-orang lembah itu diselamatkan oleh kakek murid bungsu dari Sin-yok-ong?"
"Memang dia diselamatkan seorang kakek, akan tetapi aku tidak yakin apakah benar kakek itu sama dengan kakek yang telah muncul dalam pertemuan rahasia para kaum sesat atau bukan, aku tidak tahu benar apakah dia itu murid Sin-yok-ong ataukah orang lain,"
Jawab jenderal itu.
"Heii! Aku ingat sekarang!"
Tiba-tiba Siang Houw Nio-nio berseru keras.
"Aku membawa seorang gadis yang pernah bersama-sama dengan ketua lembah itu. Aku malah membawanya kesini dari perlawatanku ketempat Menteri Kang tempo hari. Mungkin ia tahu dimana adanya kawannya itu. Heh, kamu pelayan yang diluar. Cepat panggil Pek-ji dan Ang-ji kesini, suruh mereka membawa tamunya!"
Mendengar perintah ini, Ho Pek Lian yang mendengarkan diruangan samping tentu saja menjadi terkejut sekali.
Jantungnya berdebar tegang.
Ia akan dihadapkan dengan dua orang jagoan Istana yang pernah dilawannya itu?
Mereka tentu akan mengenalnya kalau begitu.
Akan tetapi ah, mengapa ia mesti takut?
Bukankah ayahnya sekarang telah bebas, bukan menjadi pemberontak lagi, bukan menjadi buronan pemerintah atau orang hukuman lagi?
Akan tetapi kalau ia dituduh sebagai komplotan orang-orang lembah itu.
Ah, perduli amat!
Bagaimanapun juga, ia bukanlah komplotan mereka.
Ia termasuk anggauta kelompok yang dipimpin oleh Liu Pang, sedangkan orang-orang lembah pimpinan Kwee Tiong Li itu adalah kelompok yang berada dibawah perlindungan Bengcu Chu Siang Yu.
Ketika dayang itu datang, dengan sikap tenang saja Pek Lian bersama Pek In dan Ang In pergi menghadap memenuhi panggilan Siang Houw Nio-nio.
Jenderal Beng Tian memandang tajam kearah gadis itu, kemudian diapun berseru dengan suara keras.
"Ah, benar! Inilah gadis itu! Aku pernah berhadapan dengan ia ini sampai dua kali. Pertama ketika ia muncul secara tiba-tiba dari balik gerobak tokoh Ban-kwi-to dan membantu ketua lembah yang menyamar sebagai perajuritku. kedua ketika ia diselamatkan oleh kakek sakti itu! Benar begitu bukan, nona?"
Ho Pek Lian maklum bahwa ia tidak mungkin dapat mengelak dan menyangkal lagi, maka iapun dengan sikap tenang sekali mengangguk.
"Benar, akulah gadis itu. Akan tetapi sekali lagi kujelaskan kepada siapa saja bahwa aku bukanlah teman orang-orang lembah itu. Aku baru mengenal dia pada saat dia menyamar sebagai perajurit itu. Pada saat itu aku tidak tega melihat dia dikeroyok banyak perajurit."
Pek Lian bersikap tenang dan sedikitpun ia tidak kelihatan takut.
Sementara itu, Pek-lui-kong Tong Ciak juga memandang nona itu dengan penuh perhatian.
Dia merasa seperti pernah bertemu dengan gadis ini, akan tetapi dia lupa lagi entah kapan dan dimana.
"Akan tetapi nona selalu bersama dengan pemuda pemimpin lembah itu, maka tentu saja kami menyangka bahwa nona adalah anggauta mereka pula. Sekarang kami ingin bertanya kepadamu, nona, dimanakah kawanmu pemimpin lembah itu? Namanya Kwee Tiong Li, bukan? Dan dia itu termasuk kelompok manakah?"
"Tai-ciangkun salah sangka kalau mengira aku selalu bersama dengan dia. Sejak aku diselamatkan oleh kakek sakti, aku lalu memisahkan diri. Aku tidak tahu kemana kakek dan pemuda itu pergi. Memang benar namanya Kwee Tiong Li, akan tetapi aku tidak tahu dia termasuk kelompok mana."
"Ah, nona. Sebagai seorang tua biasa tentu saja aku bisa percaya omonganmu. Akan tetapi sebagai perajurit, aku terpaksa tidak dapat menerimanya begitu saja tanpa penyelidikan. Kami harus menahanmu untuk menyelidiki kebenaran kata-katamu. Tuan puteri, bolehkah aku membawa gadis ini sebentar saja? Kami ingin menyelidikinya!"
Siang Houw Nio-nio mengangguk dan menoleh kepada Pek Lian.
"Akan tetapi kuminta dengan sangat kepada Beng-goanswe untuk memperlakukan gadis ini baik-baik. Aku suka kepadanya, ia tabah dan gagah, dan aku percaya bahwa ia memberi keterangan yang sebenarnya."
"Baik,"
Jawab jenderal itu, lalu dia memberi perintah kepada bawahannya.
"Bawa gadis ini kekantorku!"
Perwira itu bersama beberapa orang perajurit melangkah masuk.
Pek In dan Ang In memandang bingung, merasa serba salah.
Dengan mata gelisah dan bersedih mereka itu memandang kepada Pek Lian dan kepada subo mereka berganti-ganti, tak tahu harus berbuat bagaimana.
Akan tetapi, Pek Lian yang memiliki kekerasan hati itu tentu saja tidak mau ditangkap secara mudah begitu saja.
Selama ini ia juga menjadi tawanan Siang Houw Nio-nio dengan dua orang muridnya, akan tetapi ia lebih diperlakukan sebagai sahabat atau tamu dari pada sebagai tawanan.
Selain itu, juga ia merasa bahwa ia kini adalah puteri seorang Menteri yang telah bebas dari hukuman pula.
Mana mungkin ia membiarkan dirinya ditangkap oleh perwira muda dan delapan orang perajuritnya itu.
Maka, ketika perwira itu hendak menangkap lengannya, iapun melangkah mundur dan mengelak.
"Nona, menyerahlah untuk kami tangkap. Jangan sampai kami mempergunakan kekerasan,"
Kata perwira muda itu yang merasa malu karena sambaran tangannya tadi dengan mudah dapat dielakkan oleh nona yang hendak ditangkapnya. Pek Lian memandang dengan senyum dingin.
"Hemm, hendak kulihat apakah akan mudah begitu saja kalian menangkap aku yang tidak berdosa!"
Perwira muda itu menjadi merah mukanya dan diapun memberi aba-aba kepada delapan orang perajuritnya.
"Ringkus gadis ini!"
Delapan orang perajurit itu lalu mengurung dan serentak maju untuk menangkap kedua lengan Pek Lian.
Akan tetapi, dengan langkah-langkah teratur Pek Lian mengelak sambil menggerakkan kedua tangannya.
Terdengar suara "plak, plak!"
Beberapa kali dan tiga orang perajurit terhuyung kebelakang!
Melihat ini, lima orang perajurit yang lain menjadi penasaran dan marah.
Tak mereka sangka bahwa gadis itu akan melawan.
Merekapun serentak menubruk kedepan.
Akan tetapi kembali mereka hanya menubruk tempat kosong saja dan tangan Pek Lian sudah menampar dua orang perajurit lagi yang terhuyung dan terpelanting dengan muka biru terkena tamparan.
Kini perwira muda itu menjadi marah dan dia sendiripun maju, dibantu oleh delapan orang, perajuritnya.
Akan tetapi, Pek Lian sudah mengambil keputusan untuk melawan.
Ia tidak akan membiarkan orang menangkapnya dengan mudah tanpa perlawanan.
Biarlah ia tertawan karena kalah, bukan karena takut.
Maka terjadikah perkelahian, antara sembilan orang pengeroyok itu dengan Pek Lian.
Pek In dan Ang In yang melihat perkelahian ini, tersenyum-senyum melihat betapa Pek Lian membuat sembilan orang itu kocar-kacir.
Dan karena yang hadir adalah ahli-ahli silat, merekapun tertarik.
Bahkan Jenderal Beng Tian setengah membiarkan perkelahian itu terjadi dan diapun kagum melihat sepak terjang gadis itu.
"Bukan main..."
Pikirnya.
"Boleh juga gadis muda ini."
Diam-diam dia memperhatikan gerakan-gerakan Pek Lian dan dia merasa heran.
Dasar gerakan gadis itu menunjukkan bahwa ia telah mempelajari ilmu silat yang baik dan bersih.
Akan tetapi mengapa begitu campur aduk, seolah-olah gadis itu telah menggabungkan beberapa macam ilmu silat dari aliran-aliran yang berbeda dalam gerakan silatnya.
Kadang-kadang gerakan silatnya bergaya harimau tutul, kadang-kadang seperti gaya ular dan ginkangnya juga amat baik, membuat tubuhnya dapat bergerak ringan sekali.
Jelaslah bahwa gadis ini bukan orang sembarangan dan telah menerima pendidikan ilmu silat dari guru-guru yang baik.
Sembilan orang perajurit itu benar-benar dibuat kewalahan oleh Pek Lian.
Nona ini bukan hanya menghindarkan diri untuk ditangkap dengan cara mengelak atau menangkis, akan tetapi juga membagi-bagi pukulan dan tamparan, Walaupun nona itu tidak pernah mempergunakan pukulan maut yang dimaksudkan untuk membunuh lawan.
Hal inipun diketahui dengan baik oleh para ahli silat yang melihat perkelahian ini dan diam-diam mereka merasa kagum juga kepada nona muda ini yang agaknya masih mampu mengendalikan perasaannya.
Jenderal Beng Tian merasa sungkan untuk turun tangan sendiri terhadap seorang gadis muda seperti Pek Lian.
Akan tetapi diapun maklum bahwa gadis ini tidak boleh dipandang ringan dan kalau dia hanya menyuruh perwira-perwira saja agaknya akan sukar untuk menangkapnya.
Oleh karena itu, melihat sembilan orang itu kembali jatuh bangun, dia lalu membentak dan menyuruh mereka mundur sambil memberi isyarat kepada dua orang pengawal pribadinya yang sejak tadi berjaga-jaga didekat pintu.
Dua orang pengawal pribadi dari Jenderal Beng Tian ini adalah sute-sutenya sendiri, maka biarpun tingkat kepandaian mereka tidak setinggi sang jenderal, namun mereka merupakan dua orang tangguh yang berilmu tinggi.
Dua orang pengawal ini maklum bahwa atasan atau juga suheng mereka itu sungkan turun tangan terhadap nona muda itu, maka merekapun mengangguk dan keduanya lalu maju menggantikan perwira muda dan delapan orang perajuritnya yang sudah keluar dari situ dengan muka matang biru.
Seorang diantara mereka lalu menyelonong kedepan dan tangannya menyambar, mencengkeram kearah pundak Pek Lian.
Ada angin bersuit ketika tangan ini meluncur kedepan.
Pek Lian sudah maklum akan kelihaian dua orang ini, maka iapun sudah siap-siap dan cepat mengerahkan tenaganya menangkis tangan yang mencengkeram itu.
"Plakkk!"
Sambil menangkis, Pek-Lian menggunakan tangan kanan untuk memukul kearah dada dan ia terkejut bukan main melihat betapa lawannya sama sekali tidak mengelak atau menangkis melainkan menerima pukulan itu begitu saja dengan dadanya.
"Bukk!"
Kepalan tangan Pek Lian itu mendarat didada dengan empuk saja.
Ia merasa seperti memukul benda lunak yang kenyal seperti karet.
Pek Lian terkejut dan maklumlah ia bahwa lawannya ini memiliki kekebalan yang amat kuat.
Maka iapun cepat mencabut pedangnya.
Biarpun ia menjadi tawanan Siang Houw Nio-nio dan dua orang muridnya, akan tetapi ia telah dipercaya setelah ia bersama dengan mereka ikut melawan musuh dan iapun diperbolehkan membawa pedang dipinggangnya.
Kini Pek Lian yang maklum bahwa kalau hanya dengan kedua tangan kosong tak mungkin ia mampu menghadapi dua orang pengawal Jenderal Beng Tian, telah mencabut pedangnya.
Dengan ilmu pedang yang dipelajarinya dari gurunya yang baru dan lihai, yaitu Liu Pang atau lebih terkenal dengan sebutan Liu-twako, Bengcu yang amat disegani itu, Pek Lian mulai memainkan pedangnya menghadapi pengawal pribadi Jenderal Beng Tian yang hendak menangkapnya.
Pedangnya bergerak indah dan kuat, membentuk gulungan sinar yang menyilaukan mata dan mengeluarkan suara berdengung-dengung.
Akan tetapi, pengawal yang masih sute sendiri dari Beng-goanswe itu tetap menghadapinya dengan kedua tangan kosong.
Pengawal yang tangguh inipun maklum akan kelihaian pedang si nona muda, maka diapun mengeluarkan ilmu andalannya, yaitu ilmu pukulan yang amat hebat dari perguruan mereka.
Pukulan ini bernama Khong-khi-ciang (Pukulan Tangan U-dara Hampa) yang amat hebat.
Dari jarak jauh saja pukulan ini mampu melukai lawan karena mengandung getaran seperti petir menyambar.
Juga, pukulan ini mengeluarkan suara berdentam dan meledak-ledak.
Dengan kedua lengan yang ampuh ini, yang dipenuhi getaran tenaga sinkang yang amat kuat, pengawal itu berani menghadapi pedang Pek Lian, bahkan berani menangkis pedang dengan lengan telanjang!
Ilmu pedang Pek Lian adalah ilmu pedang pilihan yang merupakan ilmu silat tinggi.
Akan tetapi, gadis ini belum begitu lama menjadi murid Liu-taihiap atau Liu Pang, maka ilmu pedangnya selain kurang matang, juga tenaga sinkangnya belum dapat mengimbangi sifat ilmu pedang yang hebat itu.
Oleh karena itulah, kini menghadapi seorang lawan yang memiliki ilmu silat tinggi, setelah lewat tiga puluh jurus, ia mulai terdesak.
Pada hal, pengawal kedua belum juga maju membantu temannya.
Sementara itu, Pek-lui-kong Tong Ciak yang sejak tadi menonton perkelahian itu selalu memperhatikan gerakan-gerakan Pek Lian dan mengingat-ingat dimana dia pemah melihat gadis ini.
Setelah memperhatikan ilmu pedang dari gadis itu, barulah dia teringat.
"Tahan!"
Teriaknya dan diapun meloncat kedalam arena pertempuran.
Melihat majunya si cebol, Pek Lian terkejut dan mengira bahwa si cebol botak itu hendak menangkapnya, maka iapun sudah membalikkan tubuhnya kekiri, meninggalkan pengawal lihai itu dan menggunakan pedangnya untuk menyerang Pek-lui-kong Tong Ciak.
"Hyaaatttt...!!"
Pek Lian menerjang dan mengangkat pedangnya tinggi diatas kepala lalu membacok kearah kepala botak si cebol.
"Hemm...!"
Pek-lui-kong berseru, kedua tangannya bergerak dan pandang mata Pek Lian menjadi silau karena kedua tangan itu seolah-olah berobah menjadi banyak sekali dan tahu-tahu pergelangan tangan kanannya kena ditotok dan dalam sekejap mata saja pedangnya telah berpindah tangan!.
"Aku sekarang mengenal gadis ini!"
Kata Pek-lui-kong sambil meloncat mundur kemudian melempar pedang rampasan itu keatas lantai.
"Tidak salah lagi! Nona, bukankah engkau gadis yang menghadang iring-iringan kereta tawanan disebelah utara kota Kong-goan, didusun hankung-ce itu? Heran, hampir saja engkau dan kawan-kawanmu berhasil menculik Menteri Ho ketika pemuda gila kusir kereta itu mengamuk. Hampir separuh perajurit-perajuritku terbunuh. Bukankah engkau gadis yang memimpin penghadangan itu?"
Pek Lian merasa serba salah untuk menjawab pertanyaan ini dan sementara itu, Jenderal Beng Tian dan Siang Houw Nio-nio, juga Pek In dan Ang In, terkejut bukan main mendengar ucapan panglima cebol yang tidak berpakaian sebagai panglima itu.
"Aiih?"
Jenderal Beng berteriak hampir berbareng dengan nenek itu. Kemudian jenderal itu melanjutkan.
"Kalau begitu gadis ini harus ditawan untuk mempertanggung-jawabkan perbuatannya melawan negara! Pengawal, cepat ringkus gadis ini!"
Pengawal yang seorang lagi bergerak cepat menubruk kedepan hendak menangkap pundak Pek Lian yang sudah tidak memegang pedang.
Akan tetapi, tiba-tiba Pek-lui-kong Tong Ciak menggerakkan tangannya menangkis cengkeraman tangan pengawal yang tangguh itu.
"Ehh...!!"
Pengawal itu terkejut dan meloncat kebelakang.
Semua orang memandang dengan mata terbelalak.
Apakah Pek-lui-kong telah menjadi gila?
Apakah panglima pengawal aneh ini mau berkhianat?
Jenderal Beng Tian mengerutkan alisnya dan dengan penuh rasa penasaran dia memandang kepada rekannya sambil melangkah maju, juga bersiap siaga.
Siang Houw Nio-nio juga melangkah maju, siap membantu jenderal itu menghadapi si cebol yang lihai.
"Tong-ciangkun, apakah maksud ciangkun mencegah pengawalku menangkap gadis ini?"
Tanya Jenderal Beng Tian dengan sikap hati-hati, tidak berani sembarangan bergerak sebelum mengerti benar duduknya perkara.
Melihat sikap jenderal itu dan juga Siang Houw Nio-nio yang mengerutkan alis dan bersiap untuk melawannya, barulah Pek-lui-kong sadar akan keadaannya dan mengerti bahwa tindakannya tadi menimbulkan kecurigaan.
Maka cepat-cepat dia menjura dengan hormat kepada jenderal itu dan berkata lantang.
"Beng-goanswe, saya kira engkau tidak ingin menentang keputusan Sribaginda Kaisar yang baru saja dikeluarkan itu, bukan?"
Dengan sikap masih penasaran, tanpa mengurangi kewaspadaannya, jenderal itu mengerutkan alisnya dan balas bertanya.
"Apakah maksud ucapan Tong-ciangkun itu?"
Dengan sikap tenang dan ada kegembiraan terpancar dari pandang matanya, kegembiraan dari orang yang mengetahui suatu rahasia yang tidak diketahui oleh orang lain, panglima cebol itu kembali kekursinya dan duduk.
"Beng-goanswe, untuk memulihkan keadaan negara yang dilanda kekeruhan, yang diakibatkan karena rasa tidak puas dari rakyat atas dipecat dan dihukumnya beberapa orang Menteri, Sribaginda telah memutuskan untuk memanggil kembali Wakil Perdana Menteri Kang dan membebaskan Menteri Kebudayaan Ho dan Menteri-Menteri lainnya, agar memangku kembali jabatan mereka, dengan tujuan agar rakyat menjadi tenang kembali. bukankah demikian keputusan Sribaginda?"
"Benar! Akan tetapi apa hubungannya hal itu dengan pemberontak kecil ini?"
Tanya Beng-goanswe sambil menuding kearah Pek Lian.
"Harap goanswe suka bersabar. Ketahuilah, gadis ini adalah puteri tunggal dari Menteri Ho Ki Liong! Nah, kalau sekarang kita menangkapnya dan memasukkannya kedalam penjara, apa yang akan terjadi jika ayahnya mendengar akan hal itu? Tentu dia akan marah dan menolak untuk kembali ke Istana. Padahal, Menteri Ho adalah sahabat baik Menteri Kang, bahkan pembebasan Menteri Ho merupakan syarat utama dari Menteri Kang. Hal ini tentu akan menimbulkan akibat luas dan kalau sampai bertentangan dengan keputusan Sribaginda Kaisar, lalu siapakah yang akan menanggung akibatnya? Siapa yang berani mempertanggung-jawabkan?"
Tentu saja semua orang tertegun mendengar penjelasan Pek-lui-kong Tong Ciak itu.
Semua mata kini ditujukan memandang kepada Pek Lian dari kaki sampai kepala.
Tentu saja mereka tidak pernah mengira bahwa gadis ini ternyata adalah seorang puteri bangsawan, puteri tunggal dari Menteri Ho yang amat terkenal itu.
Jenderal Beng Tian sendiri menjadi lemas mendengar penjelasan itu.
Dengan sinar mata tajam dia memandang gadis itu lalu bertanya.
"Benarkah bahwa nona adalah puteri Menteri Ho?"
Dengan sikap angkuh Pek Lian berkata.
"Memang benar! Memangnya kenapa kalau begitu? Mengapa tidak diteruskan pengeroyokan atas diriku?"
"Nah, lihat saja sikapnya!"
Pek-lui-kong berkata lagi.
"Dan harap goanswe ketahui bahwa nona ini adalah murid dari jago pedang yang terkenal dengan sebutan Liu-taihiap atau Liu-twako, Bengcu yang terkenal memimpin para pendekar yang merasa tidak puas atas perlakuan pemerintah terhadap para Menteri itu."
Jenderal Beng Tian menjadi semakin kaget. Dia terbelalak memandang.
"Benarkah itu?"
"Dahulu aku pernah bertanding melawan jago pedang she Liu itu sebelum aku mengabdi di Istana, dan aku mengenal gaya permainan pedangnya,"
Kata Pek-lui-kong tegas.
"Akan tetapi mengapa la selalu bersama-sama orang-orang lembah?"
Jenderal itu bertanya dengan nada suara sangsi dan curiga.
"Apakah anehnya hal itu? Bukankah kedua pihak itu sama-sama memusuhi pemerintah? Nona ini merasa sakit hati karena ayahnya akan dihukum mati. Orang-orang lembah itupun sakit hati karena mereka dikejar-kejar dan dibasmi oleh pasukan pemerintah. Kalau keduanya bertemu, tentu saja akan terjalin persahabatan sebagai kawan senasib sependeritaan, bukan?"
Jenderal Beng Tian mengangguk-angguk dan menarik napas panjang.
"Ah, betapa bodohnya aku sekali ini! Nona Ho, maafkanlah kekasaran para pembantuku tadi,"
Katanya kepada Pek Lian dan diapun kembali ke kursinya.
Pada saat itu, seorang perajurit datang melapor bahwa Hek-ciangkun yang diutus oleh jenderal itu ketempat tinggal Wakil Perdana Menteri Kang telah tiba kembali.
Mendengar ini, Jenderal Beng Tian lalu berkata.
"Suruh tunggu sebentar!"
Kemudian dia menjura kepada Siang Houw Nio-nio dan Panglima Tong Ciak.
"Harap maafkan karena saya terpaksa menunaikan tugas."
Siang Houw Nio-nio lalu mengantar dua orang tamunya pergi, karena Panglima Tong Ciak juga minta diri.
Pertemuan itupun bubar dan kedua orang gadis itu setelah kini tahu bahwa Pek Lian adalah puteri Menteri Ho yang terkenal itu, segera merangkulnya.
"Ah, kiranya engkau adalah puteri Menteri Ho yang hebat itu. Ah, pantas saja sikapmu demikian angkuh!"
Kata Pek In dengan kagum.
"Sungguh nakal sekali! Kenapa tidak dari dulu kau katakan tentang dirimu?"
Ang In juga berkata gemas sambil mencubit sayang.
"Bagaimana aku berani mengaku?"
Pek Lian berkata sambil tertawa.
"Kalau dahulu aku mengaku, tentu enci berdua sudah menyerangku dan bagaimana aku akan dapat selamat? Tadipun kalau tidak ada Tong-ciangkun, bukankah aku sudah dijebloskan kedalam sel tahanan?"
Siang Houw Nio-nio memang tidak pernah memperdulikan urusan politik, akan tetapi sebagai seorang yang menjunjung tinggi kegagahan, diam-diam iapun merasa simpati kepada Menteri Ho yang berani itu, dan merasa suka kepada Pek Lian juga karena keberanian gadis ini.
Sekarang, mendapat kenyataan bahwa gadis ini adalah puteri Menteri itu, iapun merasa semakin suka.
"Sementara engkau menanti kedatangan ayah-mu ke Istana, engkau boleh tinggal bersama Pek In dan Ang In disini,"
Kata nenek itu dengan sikap ramah.
Pek Lian cepat memberi hormat kepada nenek itu, penghormatan yang sungguh-sungguh, sebagai puteri seorang Menteri kepada seorang yang berkedudukan tinggi seperti bibi Kaisar itu.
Akan tetapi karena ia lebih kagum dan tertarik kepada nenek ini sebagai seorang wanita sakti, maka ia tetap menyebut Lo-cianpwe sebagai penghormatan seorang ahli silat muda terhadap seorang tokoh besar yang jauh lebih tinggi tingkat ilmunya.
"Saya menghaturkan terimakasih atas semua kebaikan Lo-cianpwe dan harap sudi memaafkan segala kesalahan saya yang sudah-sudah terhadap Lo-cianpwe."
Melihat sikap dan mendengar ucapan ini, Pek In dan Ang In merasa kagum dan baru nampaklah sikap sesungguhnya dari seorang puteri bangsawan.
yang tahu akan sopan-santun.
Bahkan nenek itu sendiripun tersenyum, sesuatu yang jarang nampak pada wajahnya yang dingin.
Mereka berempat lalu duduk diruangan itu dan dalam kesernpatan ini, Pek In melaporkan kepada subonya tentang keanehan yang terjadi diruangan penyimpanan abu leluhur.
"Terdapat tanda-tanda adanya orang yang memasuki ruangan itu, bahkan telah bersembahyang, subo. Akan tetapi, tidak ada seorangpun diantara anak buah teecu yang melihatnya."
Demikian Pek In menutup laporannya.
Gurunya mengerutkan alis dan memandang heran.
Ia tidak perlu memeriksa sendiri keruangan itu karena ia percaya penuh akan ketelitian muridnya ini "Mengingat akan cerita tentang munculnya dua bayangan orang yang amat lihai digedung para bangsawan bahkan juga di Istana, jangan-jangan yang memasuki ruangan sembahyang inipun mereka itu, subo,"
Kata Ang In dan diam-diam gadis yang gagah perkasa ini melirik kekanan kiri dengan hati mengandung rasa jerih juga.
Siapa tahu bayangan setan itu pada saat itu masih berada disitu!
"Akan tetapi, apa perlunya mereka berkeliaran disini dan memasuki ruangan sembahyang tempat penyimpanan abu leluhur?"
Nenek itu bertanya sangsi, akan tetapi ia teringat akan dugaan Pek-lui-kong akan kemungkinan bahwa seorang diantara dua bayangan itu adalah Si Raja Kelelawar sendiri.
Kalau benar yang datang ke Istana ini adalah Si Raja Kelelawar, lalu apa maksudnya?
Apakah iblis yang mengerikan itu masih terhitung keluarga Istana dan dia datang untuk bersembahyang didepan abu leluhurnya sendiri?
Siang Houw Nio-nio mengerutkan alisnya dan dengan termenung iapun lalu memasuki kamarnya sendiri.
Dua orang muridnya yang melihat sikap subonya, maklum bahwa subonya sedang berpikir keras, maka merekapun tidak berani banyak bertanya, melainkan mengiringkan subonya.
Siang Houw Nio-nio duduk termenung didalam kamarnya, diatas kursinya.
Pek In dan Ang In, diikuti oleh Pek Lian, duduk diluar kamar menanti dan menduga-duga apa yang dipikirkan oleh nenek itu.
Nenek itu melayangkan lamunannya.
Gedung mungil ini dahulunya menjadi tempat tinggal keluarga pamannya yang menjabat sebagai kepala rumah tangga Istana.
Pamannya itu hanya mempunyai seorang putera yang kini menjadi kepala kuil Istana, yaitu Bu Hong Sengin yang masih terhitung saudara sepupunya sendiri.
Ketika masih muda, Bu Hong Sengin yang pangeran itu oleh ayahnya disuruh mempelajari ilmu silat tinggi dari seorang kepala kuil Agama tokauw.
Tentu saja pamannya itu mengharapkan agar putera tunggalnya itu kelak dapat menjadi seorang panglima atau perwira tinggi.
Akan tetapi, tempat perguruan dimana pangeran itu belajar tidak hanya mengajarkan ilmu silat tinggi, melainkan juga keagamaan.
Dan dia memang telah mewarisi ilmu silat tinggi, akan tetapi disamping itu juga mewarisi ilmu keagamaan yang mendalam.
Bahkan agaknya, pemuda itu lebih condong mendalami agama dari pada ilmu silatnya sehingga setelah tamat belajar silat, dia tidak mau pulang kerumah orang tuanya, bahkan lalu masuk menjadi pendeta Agama To dengan julukan Bu Hong Tojin.
Kemudian, sebagai seorang tosu dia lebih senang mengembara dikalangan rakyat untuk menyebarkan Agama tokauw.
Tentu saja hal ini amat mengecewakan hati pamannya.
Watak pamannya itu keras dan perbuatan puteranya itu dianggap merendahkan martabat dan nama keluarga.
Maka dengan jalan kekerasan pamannya lalu mengurus pasukan mencari puteranya itu.
Sampai bertahun-tahun usaha itu dilakukan dan akhirnya dengan bantuan para pembesar dan pasukan, puteranya dapat dibawa kembali ke Istana.
Akan tetapi, Bu Hong Tojin juga memiliki watak yang sama kerasnya dengan ayahnya.
Dia berkeras tidak mau menjadi perajurit.
Perbantahan terjadi dan akhirnya, pamannya yang keras hati itu menjebloskan puteranya kedalam penjara.
Akan tetapi, Bu Hong Tojin tetap berkeras kepala.
Hal ini amat mengesalkan hati pamannya sehingga dia "makan hati"
Dan jatuh sakit sampai akhirnya meninggal dunia.
Hal ini amat mendukakan hati Bu Hong Tojin.
Akan tetapi bagaimanapun juga, dia tidak suka akan kekerasan, tidak mau menjadi perajurit.
Dia tidak meninggalkan Istana, akan tetapi dia bahkan memasuki Istana dan menjadi pendeta disitu.
Akhirnya, Kaisar mengangkatnya menjadi kepala kuil dan juga menjadi penasihat.
Dan gedung Istana mungil ini, karena tidak ada yang menempati lagi, oleh Kaisar lalu dihadiahkan kepadanya.
Ketika lamunannya melayang-layang sampai sejauh itu, Siang Houw Nio-nio lalu teringat akan kakak sepupunya itu.
"Hemm, tentu saja dia, siapa lagi? Tentu Bu Hong Sengin yang datang bersembahyang disini, menyembahyangi arwah mendiang paman. Tentu saja dengan kepandaiannya yang tinggi, dia dapat datang tanpa terlihat oleh para dayang. Sebaiknya kutanyakan sendiri kepadanya."
Wanita itupun lalu bangkit dari tempat duduknya dan melangkah keluar kamar, wajahnya tidak sekeruh tadi.
"Pek-ji dan Ang-ji, aku mau kembali ke Istana,"
Katanya kepada dua orang muridnya itu.
Tanpa menanti jawaban, nenek itu melangkah cepat meninggalkan mereka yang tentu saja hanya dapat mengangguk dan tidak berani bertanya.
Malam yang kelam.
Hujan rintik-rintik membuat hawa dingin sekali.
Suasana dikompleks Istana amat sunyi menyeramkan.
Bukan hanya karena kelamnya malam gelap-gulita, melainkan terutama sekali dengan adanya cerita tentang tamu yang misterius maka suasana menjadi nampak sunyi dan menyeramkan.
Para petugas jaga merasakan ini dan mereka memperketat penjagaan, bersikap waspada.
Namun, makin tegang hati mereka, makin menyeramkanlah suasananya.
Lewatnya seekor kucing diatas genteng saja sudah cukup untuk membuat jantung berdetak seolah akan pecah dan membuat darah tersirap meninggalkan muka.
lampu-lampu teng yang dipasang oleh para hamba Istana tidak mampu memberi penerangan yang cukup, bahkan kabut tipis yang diciptakan oleh hujan rintik-rintik itu membuat lampu-lampu itu nampak seperti cahaya-cahaya yang aneh menyeramkan.
Tiga orang gadis itu bukanlah orang-orang yang lemah.
Sama sekali bukan.
Pek In dan Ang In adalah murid-murid kesayangan Siang Houw Nio-nio dan mereka telah memiliki tingkat ilmu silat yang tinggi, lebih tinggi dari kepandaian Ho Pek Lian.
Dan Pek Lian sendiri, biarpun belum selihai dua orang gadis itu, namun sudah merupakan seorang gadis yang hebat ilmu silatnya, dan jarang ada orang yang akan mampu menandinginya.
Mereka bertiga ini sudah jelas sekali bukan orang-orang penakut, bahkan tidak pernah merasa takut menghadapi lawan yang bagaimanapun juga.
Akan tetapi, pada malam hari ini, ada rasa ngeri dan takut menyelinap dalam hati masing-masing dan mereka mencoba untuk menyembuyikannya dengan melalui obrolan yang asyik didalam ruangan duduk itu.
Rasa takut bukan datang dari luar, melainkan dari dalam batin kita.
sendiri.
Rasa takut timbul dari permainan pikiran sendiri yang membayangkan hal-hal yang mengerikan.
Kalau kita menghadapi segala sesuatu tanpa bayangan pikiran akan hal-hal yang belum ada ini, maka rasa takut tidak akan muncul.
Umpamanya, kita duduk seorang diri didalam kamar dalam suasana yang sunyi.
Pikiran kita teringat akan cerita orang tentang adanya setan dalam kamar, tentang hal-hal yang mengerikan lain, maka pikiran itu lalu membayangkan hal-hal yang tidak ada.
Dalam keadaan seperti itu, suara seekor tikus melanggar sesuatu saja sudah cukup untuk menimbulkan bayangan dalam pikiran tentang munculnya setan yang menakutkan.
Timbullah rasa takut dan rasa takut ini membuat orang tidak waspada sehingga ada bayangan sedikit saja lalu bisa kelihatan seperti setan oleh mata kita yang sudah terselubung rasa takut.
Kewaspadaan yang menyeluruh, perhatian yang menyeluruh terhadap apapun yang terjadi didepan kita, akan meniadakan rasa takut itu.
Tiga orang gadis itu, dalam keadaan diliputi rasa ngeri dan takut akan kemungkinan munculnya hal-hal yang tidak mereka inginkan, terutama sekali munculnya dua bayangan yang dihebohkan itu, dan juga adanya bekas-bekas orang bersembahyang didalam ruangan penyimpanan abu leluhur, mencoba untuk melarikan diri dari rasa takut dengan jalan mengobrol.
Mereka saling menceritakan pengalaman dan riwayat masing-masing dan dalam kesempatan itu, mereka merasa menjadi semaian akrab satu sama lain.
"Aih, ternyata engkau mempunyai banyak guru yang sudah amat terkenal didunia kang-ouw. Mula-mula Huang-ho suhiap, empat orang pendekar Huang-ho yang terkenal itu menjadi guru-gurumu, kemudian engkau digembleng pula oleh Liu-taihiap yang terkenal itu. Pantas saja engkau lihai sekali, adik Lian,"
Kata Ang In memuji.
"Ah, jangan terlalu memuji, enci Ang. Biarpun aku mempunyai lima orang guru, akan tetapi dibandingkan dengan engkau atau enci Pek yang hanya mempunyai seorang guru saja, aku masih belum ada setengahmu! Aku masih harus banyak belajar dari kalian!"
"Hemm, sesungguhnya tidak demikian, adik Lian. Ilmu silatmu sudah cukup hebat, hanya agaknya engkau masih kurang dalam latihan. Ilmu-ilmu-mu itu belum dapat kau kuasai dengan matang. Kalau sudah matang, tentu aku bukan lawanmu karena engkau mempunyai ilmu yang lebih lengkap dan banyak ragamnya. Kalau engkau bisa merangkai semua itu, tentu engkau benar-benar akan tangguh sekali,"
Bantah pula Ang In.
Selagi Pek Lian hendak membantah untuk merendahkan diri, tiba-tiba Pek In memandang kepada mereka dengan mata terbelalak dan nona ini menaruh telunjuk didepan mulut sambil mendesis lirih.
"Ssshhhhh!"
Ang In dan Pek Lian melihat perobahan muka yang menjadi tegang itu, dan mereka berdua menjadi waspada.
Melihat betapa cuping hidung Pek In berkembang-kempis, merekapun menggerakkan cuping hidung mencium cium dan barulah mereka dapat menangkap bau yang agak harum itu.
Dan mereka merasa betapa bulu tengkuk mereka meremang, leher terasa dingin karena serem.
Itu adalah bau asap dupa hio!
mereka bertiga saling pandang.
Mereka lalu bangkit dan atas isyarat Pek In, ketiganya lalu berganti pakaian ringkas.
Dengan hati tegang mereka mengadakan persiapan, kemudian dengan hati-hati sekali, mengerahkan ginkang agar jangan sampai langkah kaki mereka bersuara, dipimpin oleh Pek In, ketiganya lalu keluar dari situ dan menuju kebelakang, kearah datangnya bau asap hio itu yang datang dari arah belakang, dari ruangan sembahyang tempat penyimpanan abu leluhur!
Mereka bergerak sigap dan seluruh urat syaraf meneka menegang.
Jantung mereka berdebar penuh ketegangrn ketika, mereka berindap-indap menuju keruangan sembahyang itu.
Makin dekat dengan ruangan itu, bau dupa semakin keras menusuk hidung.
Betapa beraninya orang itu, pikir mereka.
Membakar hio dirumah orang sedemikian menyoloknya, seolah-olah tidak memperdulikan penghuni rumah dan tidak takut dipergoki.
Akan tetapi, bulu tengkuk mereka meremang kalau mereka teringat akan kata-kata Pek-lui-kong siang tadi.
Jika benar dugaan si cebol itu yang mengatakan bahwa orang yang berkeliaran dikomplek Istana pada beberapa hari yang lalu adalah Si Raja Kelelawar, maka mungkin sekali orang yang membakar hio dalam mangan itu adalah si Iblis itu sendiri!
Jika hal ini benar, maka amatlah berbahaya untuk didekati.
Iblis itu kabarnya memiliki kepandaian yang amat hebat dan apa yang mereka saksikan ketika iblis itu berkelahi dengan Siang Houw Nio-nio sudah cukup membuat mereka jerih.
mereka maklum bahwa kalau yang membakar hio adalah Raja Kelelawar, maka mereka bertiga bukanlah tandingan iblis itu dan menyerbu masuk sama saja dengan membunuh diri atau mati konyol.
Oleh karena itu setelah tiba diluar ruangan yang pintunya tertutup itu, mereka berhenti dan saling pandang dengan ragu-ragu.
"Kita pukul saja tanda bahaya?"
Bisik Ang In kepada kakaknya. Pek In menggeleng kepalanya.
"Jangan dulu,"
Bisiknya kembali.
"Kita masih belum yakin. Kalau benar musuh, memang baik sekali memukul tanda bahaya. Bagaimana kalau bukan? Bagaimana kalau dia sudah pergi? Berarti menggegerkan Istana dengan sia-sia dan tentu Kim-i-ciangkun akan marah-marah kepada kita. Kita tunggu sebentar."
Tiba-tiba mereka bertiga terkejut dan cepat menyelinap dan bersembunyi dibalik tiang besar sambil mengintai kedepan.
Daun pintu ruangan sembahyang itu terbuka perlahan dari dalam!
keadaan menjadi semakin menyeramkan.
Mereka bertiga memasang mata, memandang tanpa berkedip.
Daun pintu terbuka perlahan-lahan dan diantara keremangan sinar lilin, mereka melihat dua sosok tubuh yang tinggi kurus, mengenakan pakaian ringkas serba hitam.
Wajah mereka itu ditutupi kain hitam dari kepala sampai keleher dan hanya sepasang mata mereka saja yang nampak bersinar-sinar seperti bintang kecil.
Dari bentuk tubuh mereka, tiga orang gadis yang mengintai itu dapat menduga bahwa seorang diantaranya tentulah wanita.
Ho Pek Lian memandang dengan penuh perhatian dari tempat persembunyiannya.
Yang pria mungkin si iblis Raja Kelelawar, pikirnya.
Badannya juga jangkung kurus, pakaiannya hitam-hitam, sepasang matanya mencorong.
Dan wanita itu, matanya begitu jeli, bukankah itu Si Maling Cantik?
Akan tetapi kalau memang benar mereka itu adalah Raja Kelelawar dan Maling Cantik, mengapa mereka harus memakai kedok kain?
Dua orang yang berada didalam ruangan sembahyang itu setelah membuka daun pintu perlahan-lahan, dengan mata mereka yang mencorong itu memandang keluar ruangan, kekanan kiri, kemudian agaknya mereka hendak melanjutkan kesibukan mereka didalam kamar itu, dan siap untuk meninggalkan ruangan yang sudah mereka buka pintunya.
Sementara itu, Pek In berbisik kepada dua orang kawannya.
"Ang-moi, cepat kau pukul tanda bahaya sedangkan aku dan Lian-moi akan menyerbu mereka dan menghadang mereka agar tidak melarikan diri. Siap? Hayo, Lian-moi!"
Mereka bertiga berpencar sambil menyelinap ketempat gelap.
Ang In cepat menuju kesudut dimana tergantung kentungan alat untuk dipukul kalau ada bahaya, sedangkan Pek In dan Pek Lian sudah berindap menghampiri jendela ruangan yang berada didepan kamar sembahyang itu.
Mereka berdua menanti dan begitu terdengar suara kentungan dipukul bertalu-talu dengan gencarnya, merekapun menerjang kedepan!
Mendengar suara kentungan tanda bahaya ini dua orang yang berada didalam kamar sembahyang terkejut dan menengok.
Padi saat itu, Pek Lian sudah meloncat masuk sambil membentak nyaring.
"Maling, maling hina jangan lari!"
Hampir berbareng, Pek In juga muncul dan menyerbu dari pintu yang terbuka. Akan tetapi hanya sejenak saja dua orang aneh itu kelihatan terkejut.
"Mari...!"
Terdengar yang pria menggumam dan keduanya melesat dengan amat ceratnya kearah pintu.
Pek In memapaki dengan pukulannya, akan tetapi dengan mudahnya dua orang itu menghindar dengan gerakan tubuh yang amat cepat, dan sekali meloncat mereka telah dapat melewati Pek In dan terus melesat keluar dari dalam ruangan itu melalui pntu.
Pek Lian sendiri tidak sempat menyerang.
Dua orang itu meloncat naik keatas tembok dan ketika mereka mengayun tangan, semua lampu teng disekitar tempat itu padam dan keadaan menjadi gelap sekali.
"Kejar!"
Pek In berseru dan bersama Pek Lian ia mengejar.
Akan tetapi karena diluar amat gelap, mereka hampir kehilangan bayangan dua orang itu.
Akan tetapi, pukulan tanda bahaya yang dibunyikan oleh Ang In itu mengakibatkan datangnya banyak sekali pengawal dan penjaga.
Derap kaki mereka terdengar dari semua penjuru, dan hal ini agaknya membuat dua orang itu menjadi bingung juga.
Sebaliknya, Pek In dan Pek Lian merasa lega dan terus mengejar kedepan dan melihat dua orang itu sedang berdiri bingung diserambi depan taman bunga.
Dua orang gadis ini segera menyerang dan menggunakan pedang mereka.
Pek In menyerang maling pria dan Pek Lian menerjang maling wanita.
Akan tetapi dua orang itu sungguh lihai bukan main.
Hanya dengan gerakan langkah kaki dan kadang-kadang mengibaskan tangan, mereka mampu menghadapi serangan pedang itu dan jelaslah bahwa Pek In maupun Pek Lian bukan tandingan mereka.
Ketika mereka membalas dengan serangan tamparan tangan dan tendangan kaki, Pek In dan Pek Lian terdesak mundur.
untung bagi mereka bahwa pada saat itu, Ang In datang bersama para pengawal yang segera terjun dan mengeroyok.
Melihat ini, dua orang maling itu berloncatan jauh dan melarikan diri.
Tak lama kemudian keduanya sudah berada diatas genteng-genteng wuwungan kompleks Istana dan melarikan diri, dikejar oleh tiga orang gadis itu bersama para perwira pengawal yang memiliki kepandaian cukup tinggi untuk dapat mengejar sambil berlompatan diatas wuwungan rumah.
Karena datangnya banyak pengejar dari semua jurusan, dua orang yang gerakannya cepat seperti iblis itu kadang-kadang harus melawan pengeroyokan para pengejar, melarikan diri lagi, dikeroyok lagi dan terjadilah kejar-kejaran yang amat ramai dikompleks Istana, dibawah cucuran hujan rintik-rintik.
Banyaknya pengawal yang menghadang disana-sini membuat dua orang maling itu kebingungan.
Mereka berputaran diseluruh kompleks dan agaknya malah kehilangan jalan.
Memang jalan keluar telah dijaga ketat oleh para pengawal sehingga dua orang mal'ng itu hanya mampu berlari-larian disekitar bangunan-bangunan kompleks Istana yang luas itu dan tanpa mereka sadari mereka beberapa kali kembali ketempat semula.
Dari tingkah mereka ini saja mudah diketahui bahwa dua orang maling itu masih belum mengenal benar keadaan dikompleks Istana.
Pada saat itu muncullah Kim-i-ciangkun, komandan dari pasukan Kim-i-wi.
Melihat bahwa para anak-buahnya yang membantu tiga orang nona itu mengeroyok dua orang berpakaian hitam dan berkedok kain, Kim-i-ciangkun menjadi marah.
Dengan suara gerengan seperti seekor harimau marah dia menerjang kedepan, begitu maju dia telah mengeluarkan ilmunya yang ganas, yaitu Hwi-ciang (Tapak Tangan Api) memukul kearah maling yang bertubuh ramping.
Iblis betina yang berkedok ini agaknya memandang rendah kepada lawan, dengan mengandalkan kecepatan tubuhnya dan kekuatan tangannya iapun menangkis.
"Desss! Aihhh!"
Jeritan suara wanita membuka rahasianya sehingga semua orang tahu bahwa maling kedua bertabuh ramping ini benar-benar seorang wanita.
Wanita itu meloncat kebelakang dan matanya terbelalak memandang kearah lengan baju kirinya yang terbakar hangus!
Untung bahwa ia telah memiliki tenaga sinkang yang amat kuat sehingga pukulan ampuh itu tidak melukai kulitnya dan gerakannya yang cepat meloncat kebelakang tadi telah menyelamatkannya.
Diam-diam Kim-i-ciangkun juga terkejut, tidak mengira bahwa wanita itu benar-benar mampu menangkis pukulan saktinya, maka diapun menyerang terus.
Akan tetapi wanita itupun agaknya marah karena lengan bajunya hangus.
Ia menangkis, mengelak dan balas meyerang.
Kecepatan gerakannya membuat Kim-i-ciangkun kewalahan dan sebuah tendangan kilat mengenai pahanya, membuat Kim-i-ciangkun terpelanting.
Akan tetapi para pengawal menerjang dan mengeroyok.
Melihat betapa banyaknya pihak pengeroyok, maling pria berseru kepada temannya.
"Lari...!"
Dan merekapun lari lagi, dikejar oleh banyak sekali pengawal.
Bahkan kini nampak pula pengawal Gin-i-wi yang berpakaian perak datang membantu dari luar.
Karena dikepung makin rapat, kedua orang maling itu semakin bingung.
kemanapun mereka lari, tentu ada pasukan yang menghadang.
Akhirnya, tanpa disengaja mereka lari sampai kekuil agung Istana.
Melihat bangunan kuil ini, dua orang itu lari kesana.
Akan tetapi setibanya didepan kuil yang megah itu, kembali mereka telah dikepung rapat oleh para pengawal yang sudah ada pula yang berjaga ditempat itu.
Segera terjadi pengeroyokan lagi.
Biarpun ada beberapa orang pengawal dan pengeroyok yang roboh terluka, namun dua orang itu dikepung terus sampai tiga orang gadis lihai dan juga Kim-i-ciangkun datang pula ditempat itu.
"Sungguh aneh, kenapa iblis itu tidak segesit dahulu?"
Kata Pek Lian kepada dua orang temannya.
"Bukankah dahulu gerakannya luar biasa cepatnya seperti pandai menghilang saja? Biarpun sekarang gerakannya juga cepat bukan main akan tetapi rasanya tidak sehebat dahulu"
"Mungkin karena dia harus melindungi teman perempuannya itulah,"
Jawab Pek In yang segera mengajak dua orang temannya untuk membantu para pengeroyok karena memang dua orang iblis itu luar biasa sekali.
Pengeroyoknya amat banyak, dipimpin oleh Kirn-i-ciangkun yang tangguh.
Semua pengawal adalah perajurit-perajurit pilihan karena untuk dapat diterima menjadi anggauta pasukan pengawal istimewa ini orang harus melalui ujian berat.
Maka mereka itu rata-rata memiliki ilmu silat yang cukup tangguh.
Biarpun demikian, agaknya mereka itu menghadapi kesulitan untuk dapat merobohkan atau menangkap dua orang iblis itu.
Bahkan banyak sudah anggauta pengawal yang roboh terluka oleh pengamukan mereka berdua.
Hebatnya, dua orang maling itu tidak pernah menggunakan pedang mereka yang tergantung dipunggung.
Ini saja menunjukkan bahwa selain mereka tidak ingin membunuh para pengeroyok, juga menjadi tanda bahwa mereka adalah orang-orang yang sudah memiliki ilmu silat tinggi sehingga merasa tidak perlu lagi dibantu oleh senjata dalam menghadapi lawan.
Selagi para pengawal itu dengan ramainya melakukan pengeroyokan, tiba-tiba terdengar bentakan melengking nyaring dan muncullah Pek-lui-kong Tong Ciak!
Melihat munculnya tokoh ini, tentu saja para pengawal bersorak girang.
Kalau jagoan ini yang turun tangan, tentu dua orang maling itu akan dapat ditangkap atau dirobohkan.
Juga Kim-i-ciangkun merasa girang sekali melihat munculnya atasan ini.
Sebaliknya, Pek Lian dan dua orang tokoh wanita bertusuk konde kemala itu mundur dan hanya menonton karena mereka sudah mulai meragukan bahwa orang berkedok itu adalah Si Raja Kelelawar.
Pula, kalau yang maju adalah orang seperti Pek-lui-kong, tentu amat tidak enak bagi jagoan itu kalau dibantu.
Biasanya, seorang tokoh besar yang sudah menjadi jagoan, tidak sudi dan merasa malu untuk melakukan pengeroyokan.
Pengeroyokan itu terjadi diserambi depan, dibawah pagoda kuil yang bertingkat enam.
Melihat betapa para anak-buahnya ternyata tidak mampu menundukkan dua orang maling itu, Pek-lui-kong Tong Ciak menjadi marah.
Sambil membentak dia lalu menerjang kedepan dan menggerakkan tangan kanannya menampar.
Melihat ini, wanita dalam kedok itu menangkis dan seperti tadi, perbuatannya ini sungguh ceroboh.
Ia tidak tahu dengan siapa ia berhadapan dan dengan ceroboh ia berani mengadu tenaga begitu saja!
Padahal, pukulan Pek-lui-kong Tong Ciak ini sama sekali tidak dapat disamakan dengan pukulan api dari Kim-i-ciangkun tadi.
"Dessss... ahhhh!!"
Tubuh wanita itu terlempar keudara!
Demikian hebatnya tenaga yang terkandung dalam pukulan Pek-lui-kong sehingga ketika wanita itu menangkis mengadu tenaga, tubuhnya terlampar keras.
Tubuh itu meluncur kearah pagoda dan terjadilah hal yang mengagumkan sekali.
Kiranya wanita itu juga memiliki sinkang yang amat hebat sehingga biarpun tubuhnya mencelat keatas, namun agaknya ia tidak terluka.
Malah dengan ginkang yang luar biasa indahnya, ia berjungkir balik dan dapat dengan tenangnya turun dan hinggap dilantai dari tingkat kedua pagoda itu!
Semua orang memandang kagum.
Ketika tubuhnya terlempar keatas tadi, temannya terkejut dan dengan ringannya tubuhnya juga melayang keatas menyusul kawannya.
Melihat ini, Kim-i-ciangkun yang sudah mempersiapkan pasukan panah segera memberi isyarat dan meluncurlah belasan batang anak panah kearah tubuh maling yang melayang keatas itu.
Akan tetapi, kembali terjadi hal yang amat mengagumkan ketika iblis atau maling itu berjungkir balik dan dengan mudahnya menggerakkan kaki tangan memukul dan menendang runtuh semua anak panah yang meluncur kearah tubuhnya.
Semua ini dilakukan selagi tubuhnya berada ditengah udara.
Kemudian tubuh itu meluncur turun kelantai tingkat dua, didekat temannya.
Melihat ini, Pek-lui-kong mengeluarkan dengus mengejek dan diapun bersama Kim-i-ciangkun meloncat keatas loteng tingkat dua.
para perajurit pengawal berlari-larian melalui tangga.
Merekapun hanya ingin menambah semangat saja karena setelah si cebol sendiri yang maju, mereka tidak berani mengganggu dengan pengeroyokan mereka.
Hanya pasukan anak panah saja yang masih siap diluar dan dibawah menara, memandang keatas dimana dua orang iblis itu kini bertanding dengan amat serunya melawan Pek-lui-kong dan Kim-i-ciangkun.
Pek Lian, Pek In dan Ang In menonton dibawah.
Mereka merasa terheran-heran melihat betapa iblis yang mereka sangka Si Raja Kelelawar itu ternyata nampak terdesak oleh Pek-lui-kong setelah mereka berkelahi belasan jurus lamanya.
Sebaliknya, maling wanita itu bertempur dengan seru dan nampaknya seimbang dengan Kim-i-ciangkun.
Pek-lui-kong dan Kim-i-ciangkun bernapsu sekali untuk mengalahkan dua maling itu, maka merekapun sudah mengerahkan seluruh tenaga dan kemampuan, mendesak dua orang lawan yang hanya melakukan perlawanan dengan sikap ragu-ragu itu.
Karena terdesak dan tersudut, akhirnya iblis itu kembali menjejakkan kakinya dan tubuhnya sudah melayang keatas, kearah loteng tingkat tiga.
Memang tidak ada lain jalan baginya.
Ketika dia sudah tersudut kepinggir loteng, hanya ada dua pilihan, yaitu meloncat kebawah lagi atau meloncat keatas.
Dibawah sudah menanti ratusan pengawal yang siap dengan anak panah dan yang sudah mengepung pagoda kuil itu.
Maka diapun meloncat keatas dan melihat ini, temannya si maling wamta juga mempergunakan ginkangnya yang hebat untuk menyusul dengan loncatan keatas.
Melihat betapa dua orang lawannya berloncatan keatas, tentu saja Pek-lui-kong yang sudah merasa "menang angin"
Itu tidak mau melepaskannya dan diapun meloncat keatas, mengejar, diikuti oleh Kim-i-ciangkun yang berbesar hati karena adanya Pek-lui-kong disampingnya.
Kini terjadi kejar-kejaran dan juga perkelahian sengit ditingkat tiga.
Agaknya dua orang maling itu hendak mengandalkan ginkang mereka karena mereka hanya sebentar saja menghadapi lawan lalu cepat berloncatan lagi ketingkat yang lebih tinggi.
Dua orang jagoan Istana itu terus mengejar dan terjadilah perkelahian seru diatas loteng keempat.
Semua orang yang menonton dibawah dapat mengikuti semua kejar-kejaran dan perkelahian itu dengan jelas.
Para anggauta pasukan bersorak-sorak menjagoi komandan mereka.
Kini Pek Lian dan dua orang temannya dapat melihat bahwa Pek-lui-kong benar-benar dapat mendesak si iblis pria dengan pukulan-pukulan saktinya!
Iblis itu nampak kewalahan sekali.
Akan tetapi, sebaliknya, Kim-i-ciangkun juga nampak terdesak oleh iblis wanita itu.
Terutama sekali karena dia kalah cepat dalam bergerak, dan kalah panjang napasnya membuat panglima ini terdesak dan napasnya mulai terengah-engah.
Melihat ini, para perajurit yang dibawah dan tidak dapat membantu itu lalu melepas anak panah keatas.
Mereka tahu bahwa dengan pakaian pengawalnya, komandan mereka tidak akan terlukai oleh anak panah.
Kembali terjadi keheranan dalam hati Pek Lian.
Ia tahu bahwa iblis Si Raja Kelelawar memiliki jubah yang dapat menahan segala macarn senjata tajam.
Akan tetapi iblis ini agaknya tidak berani mengandalkan jubahnya, atau dia tidak memakai jubah pusakanya itu.
Iblis itu dan teman wanita nya harus mengelak kesana-sini dan menjadi kewalahan ketika dihujani anak panah dari bawah, maka mereka berdua lalu meloncat lagi ketingkat lima.
Disini anak panah tidak lagi dapat mencapai mereka karena terhalang langkan melintang ditepinya.
Pek-lui-kong dan Kim-i-ciangkun terus mengejar.
Terjadilah perkelahian yang lebih hebat ditingkat lima.
Agaknya si maling wanita itu menjadi marah karena terdesak dam tersudut.
Ia mengeluarkan teriakan melengking dan tubuhnya melesat dengan luar biasa cepatnya menyambut Kim-i-ciangkun yaag sudah mengejar ketingkat lima.
Komandan itu maklum bahwa lawannya melakukan serangan yang berbahaya, maka diapun cepat mengerahkan tenaga untuk menangkis.
Akan tetapi, agaknya dia kurang cepat dan tahu-tahu sebuah pukulan telah mengenai pundak kirinya.
"Dess!"
Kim-i-ciangkun mengeluh dan terpelanting, roboh dan ketika dia hendak bangkit lagi, dia menyeringai karena pundaknya terasa nyeri sampai kedada, bahkan lengan kirinya tidak dapat digerakkan, amat nyeri rasanya kalau digerakkan!
Tentu saja dia menjadi terkejut dan maklum bahwa dia tidak mungkin dapat maju untuk bertanding lagi.
Sementara itu, melihat pembantunya roboh, Pek-lui-kong menjadi marah dan sepak terjangnya menjadi semakin hebat.
Dia kini dikeroyok dua oleh lawannya.
Akan tetapi, dia tidak merasa gentar, bahkan kini mengeluarkan ilmunya yang amat diandalkan, yaitu tenaga pukulan Pusaran pasir Maut.
Begitu dia melancarkan pukulan ini, angin puyuh bertiup dan hawa dingin terasa melanda tubuh kedua orang lawannya!
Seketika butiran-butiran keringat dan air hujan yang membasahi tubuh kedua lawan itu menjadi beku!
Keduanya menggigil kedinginan dan menjadi gelagapan.
Cepat mereka mengerahkan sinkang untuk memunahkan pengaruh luar biasa dari pukulan Pusaran Pasir Maut itu.
Si cebol mengeluarkan suara ketawa menyeramkan.
"Hayo, keluarkan ilmu-ilmu andalanmu yang terkenal itu!"
Bentaknya kepada iblis yang tinggi dan yang disangkanya Raja Kelelawar itu.
"Sudah kutunggu sejak tadi. Kenapa tidak kau keluarkan ilmu-ilmumu? Orang bilang, ginkangmu tidak ada keduanya didunia ini, tidak tahunya Cuma sebegitu saja!"
Kembali si cebol tertawa mengejek. Kemudian dia memasang kuda-kuda dengan tubuh yang sudah cebol itu direndahkan, kedua tangannya bergerak cepat sekali diselatar tubuhnya, makin lama makin cepat.
"Hayo, majulah!"
Bentaknya dan kini dua lengannya sudah sukar diikuti pandang mata, biar oleh seorang ahli silat tinggi sekalipun.
Seolah-olah kedua lengan itu kini nampak menjadi ratusan atau ribuan banyaknya, membentuk bayang bayang dan sukar dilihat dengan nyata yang manakah lengan aselinya dan dimana adanya kedua lengan itu disatu saat.
Itulah ilmu sakti yang luar biasa, Ilmu Silat Soa-hu-lian (Teratai Danau Pasir)!
Iblis itu nampak terkejut, sepasang matanya terbelalak, nampak jerih dan putus asa.
"Koko, awas!"
Maling wanita memperingatkan dengan suara halus.
Mereka berdua cepat bersatu untuk menghadapi si cebol yang benar-benar amat menggiriskan ilmunya.
Biarpun dikeroyok dua, namun tetap saja dia mampu mendesak lawan.
Kedua tangan yang berobah menjadi banyak sekali saking cepat gerakannya itu, mengeluarkan angin berputar menyambar-nyambar dan membawa hawa dingin.
Butir-butiran air hujan yang jatuh disekitar tempat itu, terkena sambaran angin dingin ini menjadi beku dan berjatuhan mengeluarkan bunyi seperti batu!
Ho Pek Lian, Pek In dan Ang In juga sudah tiba ditingkat kelima itu.
Mereka berloncatan dan kini menonton pertandingan hebat itu dari jarak yang agak jauh.
Biarpun demikian, mereka masih merasa betapa hawa dingin melanda tubuh mereka, terdorong oleh angin pukulan si cebol, membuat mereka menggigil.
Sepasang iblis itu telah terdesak hebat.
Mereka tidak dapat lari lagi.
Terpaksa melawan dari pada mati konyol.
Akan tetapi, gerakan si cebol benar-benar membuat mereka bingung.
Ketika Pek-lui-kong mengeluarkan bentakan nyaring dan kedua tangannya bergerak cepat, sepasang maling itu menangkis dan akibatnya hebat sekali.
Kedok yang dipakai oleh maling pria itu terenggut lepas, sedangkan maling wanita yang terkena sambaran tangan pada pundaknya itu, menjerit dan tubuhnya terlempar jauh keatas, ketingkat paling atas!
Pada saat itu, dari tingkat paling atas terdengar suara halus menegur.
"Siapa berkelahi dibawah?"
Dan muncullah seorang kakek pendeta keserambi tingkat teratas itu.
Ketika dia melihat sesosok tubuh terlempar dari bawah, cepat dia mengulurkan tangan dan menangkap dengan mencengkeram punggung baju tubuh itu.
Dan ketika dia melihat bahwa wanita yang berpakaian hitam itu terluka parah, dia lalu merebahkannya diatas lantai.
Pada saat itu berkelebat bayangan hitam dan ternyata maling pria tadi, yang terhindar dari pukulan akan tetapi kedoknya copot itu, telah meloncat dan menyusul maling wanita yang terpukul dan terlempar keatas.
Tak lama kemudian, si cebol juga sudah meloncat keatas dan melihat betapa lawannya berjongkok menghampiri dan memeriksa tubuh kawannya yang terluka, Pek-lui-kong sudah melangkah maju untuk melakukan pukulan maut pula.
Pada saat itu, terdengarlah teriakan Ho Pek Lian.
"Tahan!! Dia bukan Raja Kelelawar!!"
"Ehhh??"
Tentu saja Pek-lui-kong menjadi terkejut, juga, kecewa karena tadinya dia sudah merasa girang dan bangga bahwa dia mampu menandingi bahkan mendesak dan nyaris merobohkan iblis yang dikenal dengan nama si Raja Kelelawar itu!
Akan tetapi, kini puteri Menteri Ho itu mengatakan bahwa orang itu bukanlah si Raja Kelelawar!
Tentu saja dia terkejut dan kecewa.
Dia menengok dan melihat bahwa Ho Pek Lian, Pek In dan Ang In juga sudah tiba ditempat itu.
Sementara itu, iblis yang sedang berjongkok memeriksa kawannya yang terluka, terkejut melihat si cebol telah mengejarnya, maka diapun meloncat dan siap menghadapi serbuan lawan yang amat tangguh itu.
Pada saat itu, ada suara gemuruh angin pukulan melanda dirinya, dari samping.
Karena dia tadi memperhatikan kearah si cebol, dia tidak tahu bahwa disampingnya ada seorang lawan lain, maka kini diapun cepat mengangkat tangannya menangkis.
"Bresss!"
Maling itu terdorong kebelakang oleh tenaga yang amat hebat.
Celaka, pikirnya.
Ada seorang lagi yang memiliki ilmu sedemikian hebatnya.
Kesempatan untuk meloloskan diri bersama kawannya sungguh menjadi semakin tipis lagi.
Cepat dia mengangkat muka memandang dan ternyata orang yang melepaskan pukulan sakti yang amat hebat itu adalah seorang nenek!
Memang, sesungguhnya penyerang itu adalah Siang Houw Nio-nio yang juga baru keluar dari ruangan dalam ditingkat tertinggi, bersama dengan kakek pendeta itu.
Nenek ini memang sedang berada disitu, dan melihat ada orang berpakaian hitam yang dikejar oleh si cebol, iapun sudah dapat menduga bahwa tentu dua orang berpakaian hitam itulah yang dikabarkan menjadi pengacau yang sering muncul dikompleks Istana, maka iapun segera mengirim pukulan tadi.
"Adikku sabar dulu jangan sembarangan turun tangan!"
Pendeta tua yang bukan lain adalah Bu Hong Sengin itu berkata halus.
Pendeta itu sedang memeriksa maling wanita yang terluka.
Ketika Pek Lian tadi melihat maling pria yang terenggut kedoknya, segera ia dapat mengenal pria muda yang tampan itu.
Maka iapun cepat mengejar keatas dan kini ia menghampiri maling pria yang ternyata merupakan seorang pemuda tampan yang jangkung, usianya dua puluh tahun lebih.
"Bu-taihiap...!"
Serunya.
Pemuda itu memang Bu Seng Kun, yang dikenal oleh Pek Lian sebagai putera Bu Kek Siang keturunan murid Sin-yok-ong si Tabib Sakti itu.
Seperti telah diceritakan dibagian depan dari kisah ini, setelah Bu Kek Siang tewas, barulah Bu Seng Kun dan adiknya, Bu Bwee Hong, mengetahui dari surat peninggalan kakek itu bahwa mereka sesungguhnya bukan putera dan puteri Bu Kek Siang, melainkan cucu keponakan pendekar itu.
Ayah kandung mereka adalah seorang pangeran yang bernama Pangeran Chu Sin yang ditawan oleh pasukan pemerintah, sedangkan ibu mereka yang She Bu, keponakan dari Bu Kek Siang, telah tewas.
Jadi, mereka itu adalah Chu Seng Kun dan Chu Bwee Hong dan mereka berdua meninggalkan tempat tinggal mereka untuk pergi mencari ayah mereka yang lenyap setelah ditawan oleh pasukan pemerintah!
Melihat Pek Lian, pemuda itu segera mengenalnya.
"Ah, kiranya Ho-siocia berada disini?"
Dia memberi hormat dan menoleh kearah maling wanita yang rebah terluka.
"Dan dia adalah adikku."
Lalu dengan sedih dia mendekati adiknya, mengeluarkan sebutir pel dan berkata.
"Kau cepat telan pel ini."
Dibukanya topeng adiknya dan dimasukkannya pel itu kemulut adiknya.
Semua orang terkejut dan kagum.
Kiranya yang bersembunyi dibalik kedok hitam itu adalah wajah yang luar biasa cantiknya!
"Enci Hong!"
Pek Lian cepat berlutut dan memegang tangan dara cantik yang sudah dikenalnya dengan baik itu.
Gadis yang terluka itu setelah menelan pel dari kakaknya, dapat bernapas agak longgar dan iapun tersenyum melihat Pek Lian.
"Anak nakal, engkau disini dan ikut mengeroyok kami pula?"
Katanya dan senyumnya membuat semua orang seolah-olah melihat bulan bersinar penuh, demikian manis dan cemerlangnya wajah itu.
"Ah, enci, mana aku tahu bahwa butaihiap dan engkau? Kenapa... ah, kenapa?"
Tanya Pek Lian yang tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena pada saat itu, Siang Houw Nio-nio sudah bertanya kepadanya.
"Nona Ho, siapakah sesungguhnya mereka ini?"
"Lo-cianpwe, mereka ini adalah kakak-beradik she Bu, yaitu Bu Seng Kun dan Bu Bwee Hong. Mereka ini adalah keturunan dan ahli waris dari Sin-yok-ong, putera dan puteri dari mendiang pendekar besar Bu Kek Siang cucu murid Sin-yok-ong Lo-cianpwe"
"Hemm! "
Tiba-tiba pendeta Bu Hong Sengin berseru dan diapun memberi isyarat kepada nenek Siang Houw Nio-nio, lalu berkata.
"Mari kita semua bicara didalam. Ternyata dua orang muda ini adalah orang-orang sendiri. Dan nona ini perlu istirahat dari lukanya"
Yang ikut masuk adalah selain kakek pendeta itu sendiri, Siang Houw Nio-nio dan dua orang muridnya, Pek Lian, kakak-beradik she Bu itu, dan Pek-lui-kong Tong Giak.
Kim-i-ciangkun lalu keluar dan memerintahkan semua pasukan untuk mengundurkan diri dan merawat mereka yang menderita luka dalam perkelahian tadi.
Suasana menjadi hening dan tenang kembali setelah tadi terjadi keributan yang menggegerkan itu.
Biarpun pukulan dari si cebol itu amat hebat, namun berkat sinkangnya yang kuat, Bwee Hong tidak sampai terancam maut.
Apa lagi ia telah menelan pel mujijat dari kakaknya, bahkan Pek-lui-kong sendiripun lalu memberi obat luka yang khusus untuk melawan bekas pukulannya kepada gadis itu.
Maka nona itu dapat ikut bercakap-cakap, walaupun ia harus duduk dengan punggung diganjal bantal dan kaki dilonjorkan, dijaga oleh kakaknya, dan oleh Pek Lian.
"Nah, sekarang ceritakanlah semua,"
Kata pendeta tua itu dengan suara halus.
"Kalau kalian benar putera dan puteri dari pendekar Bu Kek Siang, lalu mengapa kalian datang kesini seperti dua orang maling? Ceritakan sejujurnya, karena hanya itulah yang akan menerangkan duduknya perkara dan akan dapat membebaskan kalian dari kecurigaan dan hukuman."
Kakak-beradik itu saling pandang, kemudian Bu Seng Kun bercerita dengan singkat namun jelas.
"Kami berdua mengunjungi kompleks Istana seperti dua orang pencuri, sesungguhnya bukan dengan iktikad buruk. Kami sedang melakukan penyelidikan untuk mencari seseorang yang dahulu pernah tinggal dikompleks Istana. Kami tidak tahu apakah dia masih hidup, akan tetapi kami tahu bahwa dia pernah menjadi seorang bangsawan disini. Akhirnya, setelah mencari selama beberapa hari, kami menemukan Istananya dan kami mengunjunginya, tentu saja dengan diam-diam karena tak mungkin kami dapat berkunjung dengan terang-terangan..."
Siang Houw Nio-nio yang sejak tadi memandang tajam penuh perhatian, merasa berhak untuk bertanya karena yang dikunjungi kedua orang muda ini adalah rumahnya yang diberikan kepada dua orang muridnya.
"Siapakah bangsawan yang kalian cari itu?"
"Dia seorang pangeran, namanya Chu Sin"
Kalau nenek Siang Houw Nio-nio dan kakek Bu Hong Sengin terkejut, maka mereka tidak memperlihatkan perasaan ini pada wajah mereka yang tetap tenang saja itu.
Bahkan, nenek Siang Houw Nio-nio lalu bertanya cepat.
"Lalu mengapa kalian mendatangi gedung itu, memasuki ruangan penyimpan abu leluhur dan bersembahyang disana?"
"Kami hendak bersembahyang kepada arwah leluhur dari Pangeran Chu Sin"
Pek Lian, Pek in, Ang In dan juga Pek-lui-kong Tong Ciak mendengarkan dengan heran karena mereka tidak tahu siapa yang dimaksudkan dengan Pangeran Chu Sin itu.
Akan tetapi, kini kakek Bu Hong Sengin bertanya, dan suaranya agak gemetar.
"Mengapa kalian menyembahyangi leluhur Pangeran Chu Sin?"
Kembali kakak-beradik itu saling pandang, lalu Seng Kun menarik napas panjang. Tidak ada jalan lain untuk menyatakan bahwa mereka tidak bermaksud buruk, yaitu hanya dengan membuka rahasia mereka.
"Beliau adalah ayah kandung kami, maka leluhur beliau berarti leluhur kami pula..."
Sebelum nenek Siang Houw Nio-nio yang terkejut sekali itu sempat bicara dan hanya memandang kepada kakak sepupunya dengan melongo, kakek pendeta itu sudah bertanya lagi.
"Bagaimana baru sekarang kalian datang mencari ayah kandung kalian disini?"
"Kami mendengar akan rahasia tentang ayah kandung kami itu baru saja setelah ayah... eh, setelah paman kakek kami Bu Kek Siang meninggal, melalui surat wasiat peninggalannya. Kakek Bu suami-isteri meninggal dunia dan begitu kami tahu akan riwayat ayah kandung kami, lalu kami datang ke kompleks Istana untuk mencarinya."
Pendeta itu menarik napas panjang dan memandang kepada dua orang muda itu berganti-ganti, kemudian dia menunduk dan sungguh mengherankan hati semua orang yang hadir kecuali Siang Houw Nio-nio ketika nampak beberapa butir air mata turun dari sepasang mata itu.
"Seng Kun, Bwee Kong, akulah orangnya yang memberi nama-nama kepada kalian itu karena akulah Pangeran Chu Sin yang kalian cari-cari."
Seng Kun terperanjat dan memandang kepada kakek itu dengan mata terbelalak, akan tetapi ia didahului oleh adiknya yang sudah menjerit.
"Ayah!!"
Dan gadis itu sudah turun dari kursi tempat ia bersandar dan menjatuhkan diri berlutut didepan kaki Bu Hong Sengin.
Juga Seng Kun cepat menjatuhkan diri berlutut.
Suasana menjadi sunyi dan mengharukan sekali, yang terdengar hanya isak tangis Bwee Hong.
Sambil duduk, kakek itu lalu meraih pundak.
Suasana menjadi semakin mengharukan.
Akan tetapi, agaknya kakek itu telah dapat menguasai hatinya dengan mudah.
"Seng Kun, Bwee Hong, kalian adalah anak-anak kandungku. Duduklah dan tenangkan hatimu, biar aku menceritakan semua riwayat kita agar mereka yang menyaksikan pertemuan antara kita ini dapat mengerti duduknya perkara. Kurasa hanya bibi kalian Siang Houw Nio-nio sajalah yang tahu akan rahasiaku ini." (Lanjut ke
Jilid 11) Darah Pendekar (Seri ke 01 -Serial Darah Pendekar) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo Bahan Cerita . Sriwidjono
Jilid 11 Sambil menyusut air mata karena girang dan terharu, dua orang muda itu lalu duduk kembali dan tentu saja kini pandang mata mereka terhadap kakek pendeta itu berobah sebagai pandangan anak terhadap ayahnya.
Bu Hong Sengin lalu bercerita secara singkat.
Diwaktu mudanya, dia belajar ilmu silat dan juga ilmu Agama To.
Ayahnya, seorang pangeran tua, menghendaki agar dia menjadi seorang panglima.
Akan tetapi, biarpun telah mempelajari ilmu-ilmu silat tinggi dan membuatnya lihai sekali, Pangeran Chu Sin lebih suka memperdalam Agama To dan lebih suka berkelana diantara rakyat.
Apa lagi karena pangeran ini memiliki pandangan yang berbeda dengan keluarga Istana.
Dia melihat penindasan yang dilakukan oleh Istana terhadap rakyat.
Dia melihat kemewahan yang berlimpah-limpah dikalangan Istana dan melihat kesengsaraan yang memilukan dikalangan rakyat.
Hal inilah yang membuat dia enggan untuk menyumbangkkan tenaganya membantu Istana.
Ayahnya marah sekali dan dia dianggap sebagai pemberontak atau penentang keluarga Istana.
Kemudian ayahnya minta bantuan pasukan dan para pembesar untuk mencarinya.
Akan tetapi, Pangeran Chu Sin yang sudah bertekad tidak mau pulang itu melarikan diri dan merantau sampai jauh dan sampai bertahun-tahun.
Bahkan didalam pelariannya ini dia bertemu dengan seorang gadis kang-ouw dengan siapa dia saling jatuh cinta.
Kemudian dia menikah dengan gadis she Bu itu, lalu suami-isteri ini mengasingkan diri kegunung, hidup tenteram dan bahagia sampai terlahirlah Seng Kun dan Bwee Hong.
Akan tetapi, pada suatu hari, para penyelidik dari Istana dapat menemukan jejaknya dan tempat tinggal mereka diserbu.
Biarpun Pangeran Chu Sin dan isterinya mengamuk dan melawan, namun jumlah pasukan amat banyak dan setelah melihat isterinya tewas dalam pengamukan itu, Pangeran Chu Sin menjadi lemas dan menyerah dengan syarat bahwa kedua orang anaknya tidak diganggu.
"Demikianlah, anak-anakku dan kalian yang menjadi saksi pertemuan ini,"
Kakek itu menutup ceritanya.
"Ketika itu, Seng Kun baru berusia tiga tahun dan Bwee Hong berusia satu tahun. Aku menyerahkan diri dan ditangkap. Kedua orang anak ini benar tidak diganggu dan dipelihara oleh paman Bu Kek Siang, yaitu paman dari isteriku. Aku dibawa ke Istana dan karena aku tetap tidak mau memegang pangkat untuk membantu pemerintah, aku dipenjarakan dan ayahku sampai meninggal karena sakit dan menyesal. Bertahun-tahun aku berada didalam penjara dimana aku memperdalam ilmu silat dan ilmu agama. Akhirnya, aku dibebaskan dan menjadi pendeta dikuil ini, bahkan kemudian diangkat menjadi kepala kuil dan penasihat Kaisar seperti sekarang."
Tentu saja peristiwa geger mengejar maling itu berakhir dalam suasana gembira karena pertemuan antara ayah dan kedua orang anaknya itu.
Yang tahu akan rahasia itu hanyalah Siang Houw Nio-nio seorang, karena memang Bu Hong Sengin selama ini merahasiakan nama mudanya.
Orang-orang yang tidak mengenalnya diwaktu kecil tentu tidak ada yang tahu bahwa diwaktu mudanya, ketua kuil itu bernama Pangeran Chu Sin.
Siang Houw Nio-nio tentu saja tahu akan hal ini karena kakek itu adalah saudara sepupunya yang dikenalnya sejak kecil, bahkan iapun tahu akan petualangan kakek itu diwaktu mudanya.
Hanya saja, nenek inipun sama sekali tidak tahu bahwa kakak misannya itu, yang menjadi tosu yang dihormati, ternyata diwaktu mudanya ketika bertualang telah menikah, bahkan mempunyai dua orang anak!
Tentu, saja peristiwa yang menggembirakan itu disambut oleh Siang Houw Nio-nio dan Pek-lui-kong Tong Ciak yang segera menghaturkan selamat kepada Bu Hong Sengin.
Dan dua orang muda-mudi yang berbahagia itupun diterima dengan senang hati oleh Siang Houw Nio-nio, Pek In dan Ang In untuk tinggal di Istana itu, Karena mereka berdua itulah yang sesungguhnya berhak atas rumah nenek moyang mereka itu.
Dengan hati rela Siang Houw Nio-nio dan kedua orang muridnya menyerahkan kembali gedung Istana mungil itu kembali kepada yang berhak dan kakak-beradik she Chu itu tinggal di Istana itu sebagai tuan dan nona rumah!
Akan tetapi karena Seng Kun dan Bwee Hong sejak kecil dididik dengan keras, mereka menjadi orang-orang sederhana yang tidak menjadi angkuh dengan perobahan dalam kehidupan mereka itu.
Mereka sendiri yang membujuk agar Pek In dan Ang In bersama para dayang untuk terus tinggal di Istana itu, para dayang itu tetap bekerja disitu dan kedua orang murid Siang Houw Nio-nio itu tinggal disitu sebagai sahabat-sahabat baik, Bahkan dapat dibilang masih merupakan kerabat mereka karena bukankah nenek Siang Houw Nio-nio itu adalah bibi mereka sendiri?
Dan mereka semua segera dapat menjadi akrab, karena memang didalam batin orang-orang muda ini terdapat watak pendekar yang gagah perkasa sehingga mereka itu sudah memiliki persamaan dalam selera.
Chu Seng Kun dan Chu Bwee Hong telah dibawa menghadap Kaisar oleh ayah mereka.
Kaisar sendiri menjadi tertegun dan heran, akan tetapi juga merasa gembira bahwa Bu Hong Sengin ternyata mempunyai dua orang anak yang demikian cakap dan gagahnya.
Atas persetujuan Kaisar pula maka Seng Kun dan Bwee Hong secara sah menjadi ahli waris Istana nenek moyang mereka, dan Kaisar lalu memberikan sebuah Istana lain untuk Siang Houw Nio-nio dan murid-muridnya.
Beberapa hari kemudian, Chu Bwee Hong yang menjadi nona rumah itu menerima kunjungan Pek In dan Ang In, sedangkan Pek Lian memang untuk sementara menjadi tamunya yang amat disayangnya.
Empat orang gadis yang cantik-cantik ini duduk diserambi depan.
Dari tempat mereka duduk bercakap-cakap nampak bunga-bunga yang sedang mekar.
Musim semi sudah tua, akan tetapi bunga-bunga ditaman itu malah mekar semua sehingga suasana menjadi amat indah dan segarnya dipagi hari itu.
Mereka berempat bercakap-cakap sambil menghadapi hidangan teh hangat dan kueh-kueh.
Chu Bwee Hong nampak cantik jelita bukan main.
Apa lagi dalam pandang mata kaum pria, sedangkan Pek Lian, Pek In dan Ang In sendiri diam-diam kagum bukan main.
Wajahnya demikian cemerlang, dengan garis-garis yang hampir sempurna, kulit mukanya halus licin dan seolah-olah mengeluarkan kehangatan dan kesegaran yang mempesona.
Rambutnya hitam gemuk, dengan anak-anak rambut yang berjuntai dari dahi, bahkan sinom yang tumbuh didepan telinga itu melengkung kebawah seperti lukisan seniman yang pandai.
Alisnya hitam kecil melengkung seperti dilukis, padahal dara ini tidak pernah mempergu-nakan alat penghitam alis.
Sepasang matanya begitu bening dan tajam, kini sinarnya mengandung kebahagiaan dan kegembiraan, tentu karena pertemuannya dengan ayah kandungnya.
Ia sudah sembuh sama sekali dari akibat pukulan Pek-lui-kong dan nampak segar dari sepasang bibirnya yang merah membasah, merekah seperti sekuntum bunga mawar diselimuti embun pagi itu.
Juga kedua pipinya, yang menonjol dibawah mata, kemerahan seperti buah tomat masak.
Hidungnya kecil mancung, cupingnya dapat bergerak lembut dan lucu menambah kemanisan wajahnya.
Memang, Bwee Hong adalah seorang dara yang cantik jelita dan manis.
Pek Lian dan kedua orang murid Siang Houw Nio-nio itupun merupakan dara-dara yang cantik, terutama sekali Pek Lian yang memiliki kecantikan yang khas, dengan mukanya yang agak lonjong, dagu meruncing halus, hidung mancung dan mata yang lebar dan tajam, kecantikan yang mengandung kegagahan, keberanian dan penuh dengan gairah dan semangat hidup.
Akan tetapi, kecantikan Bwee Hong memang luar biasa sekali sehingga nampak menonjol diantara mereka.
Empat orang gadis itu bercakap-cakap dengan gembira sekali, terbawa oleh suasana segar dipagi hari itu.
"Aku dan Kun-koko sudah lebih dari sepuluh hari berkeliaran didaerah Istana ini,"
Terdengar Bwee Hong bercerita mengenang kembali semua pengalamannya yang menyeramkan.
"Kami berusaha mencari ayah yang belum pernah kami kenal, hanya bermodalkan pesan terakhir mendiang kakek Bu Kek Siang itu."
"Engkau sungguh beruntung, enci Hong,"
Kata Pek Lian.
"Kalian mengunjungi tempat yang amat berbahaya dan terjaga kuat, menyelidiki sampai berhasil menemukan rumah keluarga nenek moyang ayahmu tanpa menemukan kesukaran."
Bwee Hong tersenyum manis dan mengangguk.
"Memang kami beruntung sekali. Ketika kami berdua tiba disini, jagoan-jagoan Istana kebetulan sekali sedang bertugas keluar. Andaikata pada waktu itu di Istana terdapat Beng-goanswe, atau Tong-ciangkun, atau bibi Siang Houw Nio-nio, sudah pasti kami berdua akan tertangkap basah. Betapapun juga, beberapa hari yang lalu kami pernah kepergok oleh Kim-i-ciangkun sehingga terjadi geger. Untung kami masih dapat meloloskan diri.
"Bagaimanapun juga, kami merasa amat kagum akan kepandaian nona Chu,"
Kata Pek In memuji.
"Kim-i-ciangkun yang amat lihai dengan pukulan apinya itu masih dapat nona kalahkan, sungguh sukar dapat dipercaya kalau tidak menyaksikannya sendiri. Nona yang begini muda dan cantik jelita dan lembut, mampu mengalahkan seorang jagoan tangguh seperti dia. Bukan main!"
"Apa lagi kakakmu itu, nona. Masih semuda itu sudah mampu melayani jagoan Istana nomor satu seperti Tong-ciangkun sampai begitu lama. Sungguh luar biasa sekali, agaknya tidak kalah kalau dibandingkan dengan Yap-suheng kami."
"Tapi suheng kalian itu siapakah?"
Tanya Bwee Hong.
Ia sudah pernah mencela sebutan kedua orang murid bibinya ini kepadanya yang bersikap hormat dan menyebut nona, akan tetapi kedua orang gadis itu tetap menyebutnya nona.
Bagai manapun juga, Bwee Hong adalah puteri pangeran dan keponakan Siang Houw Nio-nio, maka tentu saja sudah layak kalau dihormati.
Mendengar pertanyaan ini, Ang In tertawa.
biarpun ia dan cicinya selalu bersikap hormat, akan tetapi keakraban mereka terhadap Bwee Hong membuat mereka seperti sahabat-sahabat biasa saja.
"Hi-hi-hik, kalau nona hendak mengetahui, tanya saja kepada Pek-cici. Ia pacarnya...!"
"Hushh! Siapa bilang?"
Pek In berseru dengan kedua pipi berobah merah sekali.
Tangannya menyambar kedepan untuk mencubit lengan adiknya, akan tetapi ribut-ribut disertai kekeh tawa ini terhenti seketika ketika mereka melihat munculnya Seng Kun dari halaman depan.
Bwee Hong segera bangkit dan menyongsong kakaknya.
"Koko, ada berita apakah? Kenapa sepagi ini engkau sudah dipanggil menghadap kedalam?"
Akan tetapi sebelum menjawab pertanyaan adiknya, dengan sikap sopan Seng Kun lebih dulu memberi hormat dan menyapa tiga orang gadis itu yang juga cepat membalas salamnya.
Kemudian mereka semua duduk menghadapi meja dan Seng Kun lalu bercerita.
"Malam tadi Hek-ciangkun, utusan Beng-goanswe pulang. Seperti diketahui, dia diutus untuk menjemput ayah nona Ho dari penjara. Juga Beng-goanswe sudah pulang dari tempat Wakil Perdana Menteri Kang. Menteri Kang menunda keberangkatannya ke Kotaraja memenuhi panggilan Sribaginda karena... karena Hek-ciangkun telah gagal untuk membawa Menteri Ho ke Kotaraja."
"Eh...!! Kenapa? Apa yang telah terjadi?"
Pek Lian berseru kaget, mukanya berobah agak pucat. Melihat ini, Seng Kun segera menghibur.
"Harap nona tidak menjadi gelisah. Karena ayahmu pasti tidak kurang suatu apa."
"Akan tetapi... apa yang terjadi dengan ayah-ku?"
"Menteri Ho telah diculik orang sebelum Hek-ciangkun tiba untuk menjemputnya. Para penjaga tidak ada yang mengetahuinya. Jeruji-jeruji baja pintu penjara itu melengkung semua sehingga tawanan dapat lolos. Memang luar biasa sekali. Hanya orang yang memiliki kekuatan luar biasa saja yang akan mampu membuat jeruji-jeruji baja yang amat tebal itu melengkung semua tanpa ada seorangpun penjaga yang mendengarnya."
"Ahh, ayahku...!!"
Pek Lian mengeluh.
"Akan tetapi, mengapa engkau dipanggil oleh Sribaginda, koko?"
Tanya lagi Bwee Hong kepada kakaknya.
"Sribaginda menjadi sangat marah. Beliau ingin mengutus seseorang yang akan dapat menemukan kembali Menteri Ho dan mengantarkannya ke Kotaraja dalam keadaan selamat. Utusan itu haruslah seorang yang belum dikenal baik oleh golongan sesat maupun oleh golongan yang menentang kembalinya para Menteri di Istana, karena kalau tugas merampas kembali Menteri Ho ini diketahui pihak lawan, sebelum beliau dapat diselamatkan, mungkin keselamatannya akan terancam. Sribaginda tidak berani mengutus Tong-ciangkun, Beng-goanswe maupun bibi Siang Houw Nio-nio yang sudah banyak dikenal. Pula, Istana perlu dijaga karena keadaan yang seperti sekarang ini sungguh mengkhawatirkan. Kemudian Sribaginda memilih aku atas petunjuk Tong-ciangkun. Hal itupun disetujui oleh ayah dan oleh bibi. Nah, disinilah aku, siap untuk berangkat melaksanakan tugas itu."
"Aku juga akan pergi untuk mencari ayah!"
Ho Pek Lian yang wajahnya pucat itu berseru, didalam suaranya terkandung kedukaan dan kegelisahan.
Baru saja ia terbebas dari kedukaan ketika Sribaginda memutuskan untuk membebaskan ayahnya dan sekarang, kembali ayahnya dilanda malapetaka, diculik orang tanpa diketahui siapa penculiknya dan apa maksudnya menculik orang tua itu.
"Aku juga ikut!"
Kata Bwee Hong penuh semangat.
"Kapan kita berangkat, koko?"
"Hari ini juga, nanti kalau matahari telah terbenam. Akan tetapi sebaiknya kalau kalian tidak usah ikut."
"Aku harus pergi mencari ayah!"
Pek Lian berseru.
"Kalau engkau tidak mau mengajakku, aku akan pergi mencari sendiri!"
"Dan akupun akan menemani adik Lian kalau engkau tidak mau mengajakku, koko!"
Sambung Bwee Hong.
Seng Kun tahu akan kekerasan hati adiknya dan diapun sudah mengenal watak Pek Lian, maka dia menarik napas panjang dan mau tidak mau meluluskan juga permintaan mereka.
Dia bisa melarang adiknya, akan tetapi tidak mungkin dapat melarang Ho Pek Lian yang hendak mencari ayahnya.
Dan diapun tidak enak hati kalau harus melakukan perjalanan berdua saja dengan Pek Lian.
Setelah bercakap-cakap beberapa lamanya, Pek In dan Ang In minta diri.
Mereka khawatir kalau-kalau guru mereka mencari mereka dan mereka mengucapkan selamat jalan kepada mereka bertiga.
"Selamat jalan, nona Ho,"
Kata Pek In.
"Hati-hatilah dijalan karena sekarang ini didunia banyak berkeliaran orang-orang jahat yang amat sakti."
"Semoga engkau bisa cepat mendapatkan kembali ayahmu dalam keadaan sehat dan selamat, nona Ho,"
Kata pula Ang In.
Pek Lian mengucapkan terimakasih dan iapun segera bersiap-siap bersama Bwee Hong.
Menurut petunjuk dan saran Seng Kun, mereka bertiga melakukan perjalanan sambil menyamar sebagai petani-petani.
Pemuda ini berpendapat bahwa akan lebih mudah dan aman, menjauhkan gangguan-gangguan kalau tidak melakukan perjalanan sebagai nona-nona cantik yang berpakaian mewah.
Muka mereka dilapisi bedak yang agak kehitaman, rambut mereka dibikin kusut dan diatas telinga diberi warna keputih-putihan sehingga kedua orang dara jelita ini berobah menjadi wanita-wanita petani setengah tua yang sederhana.
Seng Kun sendiri juga menyamar sebagai seorang petani, lengkap dengan caping dan jenggot palsu.
Setelah matahari terbenam, berangkatlah tiga orang keluarga "petani"
Itu meninggalkan Kotaraja.
Mereka bertiga sengaja menguji penyamaran mereka dengan melewati para penjaga, akan tetapi ternyata tidak ada seorangpun yang mengenal atau mencurigai mereka.
Mereka keluar dari pintu gerbang Kotaraja dan berhenti ditempat yang sepi.
"Kemana kita akan menuju untuk memulai dengan tugas mencari ayah ini? Kita buta sama sekali dan tidak tahu dengan siapa kita berhadapan, kemana kita harus mencari,"
Pek Lian berkata dengan sikap bingung.
"Benar kita sama sekali tidak tahu siapa penculiknya. Apakah para penculik itu termasuk orang-orang yang menyukai Menteri Ho ataukah justeru mereka itu yang memusuhinya? Kalau yang menculik itu para pendekar yang ingin menyelamatkan Menteri Ho dari hukuman, ahh... tugas kita menjadi ringan sekali dan keselamatan Menteri Ho tidak perlu dikhawatirkan. Akan tetapi bagaimana kalau sebaliknya?"
Bwee Hong juga mengemukakan pendapatnya.
"Biarlah kita menggantungkan diri kepada nasib dan kewaspadaan kita. Mari kita menuju kedusun didepan sana, siapa tahu disuatu tempat kita akan bertemu dengan petunjuk,"
Jawab Seng Kun dan mereka lalu menuju kedusun yang sudah nampak dari situ.
Sebuah dusun yang tidak begitu jauh dari Kotaraja.
Senja telah tiba ketika mereka memasuki dusun itu dan mereka lalu memasuki sebuah kedai teh yang berada ditepi dusun.
Seng Kun mengajak dua orang gadis itu singgah karena dia tertarik sekali melihat betapa warung itu penuh dengan tamu.
Padahal biasanya, kedai teh yang menjual makanan tentu hanya dikunjungi orang diwaktu pagi atau siang saja.
Seolah-olah ada terjadi sesuatu disitu dan hal inilah yang menarik perhatiannya.
Karena dibagian dalam telah penuh, mereka bertiga duduk dimeja yang terdapat dihalaman kedai.
Kemunculan tiga orang ini tidak menarik perhatian karena mereka dianggap tiga orang dari keluarga petani biasa saja dan banyak pula disitu terdapat petani-petani sederhana.
Dihalaman depan itupun telah duduk beberapa orang tamu yang bercakap-cakap.
Ketika pelayan datang mengantar teh dan bak-pao yang mereka pesan, secara sambil lalu Seng Kun berkata.
"Wah, tamunya banyak sekali, berarti banyak rezeki!"
Pelayan itu menaruh teh dan makanan diatas meja dan tertawa senang.
"Memang benar, dan kedatangan kalian bertigapun merupakan rezeki kalian. Ketahuilah bahwa setelah diumumkan oleh pemerintah bahwa Menteri Ho dan para Menteri lainnya diampuni, juga Menteri Kang kabarnya hendak bertugas kembali, kami merasa seperti kejatuhan bulan saking girangnya. Majikan kami telah mengatakan kepada para langganan bahwa pada hari ini kami mengundang semua orang untuk mengadakan pesta untuk bersyukur atas kurnia Kaisar terhadap Menteri Ho dan Menteri Kang yang kami cinta dan hormati. Jadi, kalian bertigapun kami anggap sebagai tamu dan... ha-ha, tentu saja mendapatkan minuman dan makanan gratis!"
Pelayan itu meninggalkan mereka sambil tertawa gembira, dan menghampiri meja lain.
Suasana disitu memang seperti orang dalam pesta.
Seng Kun dan Bwee Hong saling pandang dan Pek Lian menundukkan mukanya untuk menyembunyikan kedua matanya yang menjadi merah dan basah.
Dengan kekuatan batinnya ia dapat membendung tangisnya.
Setelah diusapnya air matanya dengan ujung baju tanpa ada yang melihatnya kecuali dua orang kawan yang duduk didepannya, iapun mengangkat muka.
"Kenapa kau menangis?"
Bwce Hong berbisik.
"Ayahmu demikian disuka dan dipuja orang! Lihat itu didalam, hampir segala lapisan masyarakat begitu gembira menyambut berita dibebaskannya ayahmu."
"Benar, nona. Semestinya nona gembira dan berbahagia mempunyai seorang ayah yang demikian disuka orang,"
Kata Seng Kun menyambung ucapan adiknya. Pek Lian menghela napas panjang dan balas berbisik.
"Semestinya demikian, akan tetapi mereka itu tidak tahu kalau orang yang mereka rayakan kebebasannya itu kini sama sekali tidak bebas lagi, bahkan tidak diketahui hidup matinya."
Diingatkan akan hal ini, kakak-beradik itupun menjadi prihatin dan diam saja.
Suasana didalam kedai itu benar-benar gembira dan terdengarlah orang-orang didalam ruangan itu bersorak-sorak dan berteriak.
"Hidup Menteri Ho! Hidup Menteri Ho!"
Seorang laki-laki yang berjenggot tebal naik keatas sebuah kursi sambil mengisyaratkan dengan kedua tangan keatas agar semua orang suka memperhatikannya.
Keadaan menjadi hening dan laki-laki itupun berkata dengan suara yang lantang.
"Saudara-saudara, marilah kita bergembira merayakan kebebasan para tokoh pembela rakyat dari kecurangan musuh-musuh rakyat. Menteri Ho mendapat pengampunan Kaisar dan Wakil Perdana Menteri Kang kembali akan memimpin kita. Negeri akan menjadi tenteram dan damai seperti semula, dan kita akan hidup tenang dan terbebas dari pada penindasan!"
Semua orang bersorak-sorak. Bwee Hong mengerutkan alisnya dan berkata kepada kakaknya dan Pek Lian.
"Orang itu sungguh lancang dan berani. Tempat ini dekat sekali dengan Kotaraja. Kalau kaki tangan para Menteri korup yang memusuhi Menteri Ho dan menentang keputusan Kaisar mendengar, bukankah akan terjadi keributan dan mungkin orang itu takkan diampuni?"
Akan tetapi ketika Bwee Hong memandang kepada Pek Lian, ia terkejut dan berbisik.
"Adik Lian, ada apakah? Engkau melihat siapa?"
"Ssttt... hati-hatilah kalian disini terdapat pengunjung lain, seorang anak-buah dari Raja Kelelawar..."
"Ehh? dimana?"
Tanya kakak-beradik itu dengan kekagetan yang ditekan.
"Sstt... lihat disudut halaman sebelah kanan,"
Kata Pek Lian tanpa memandang kearah orang yang ditunjuknya.
Kakak-beradik itupun memandang secara sepintas lalu saja dan mereka melihat adanya seorang laki-laki yang usianya kurang lebih tiga puluh lima tahun, berwajah ganteng dengan pakaian yang indah mewah.
Pria itu tersenyum-senyum, wajahnya selalu berseri dan berlagak, tangannya memegang sebatang huncwe (pipa tembakau) dari emas yang kadang-kadang diisapnya.
Seng Kun dan Bwee Hong tidak mengenal pria itu, akan tetapi tentu saja Pek Lian mengenalnya karena orang itu bukan lain adalah Jai-hwa Toat-beng-kwi, satu diantara tokoh sesat yang dahulu pernah menghadiri pertemuan rahasia pemunculan Raja Kelelawar.
Itulah penjahat cabul yang lihai sekali, dan yang menjadi anak-buah Sanhek-houw si Harimau Gunung, pembantu utama Raja Kelelawar.
Sebagai anak-buah Sanhek-houw, tentu saja penjahat cabul ini juga menjadi kaki tangan Raja Kelelawar.
Mendengar bahwa pria itu adalah anak-buah Raja Kelelawar, tentu saja Seng Kun menjadi curiga.
Dia tidak mempunyai pegangan untuk mengikuti jejak penculik Menteri Ho, maka setiap petunjuk penting baginya.
Dan kalau ada anak-buah Raja Kelelawar disitu, belum tentu penjahat ini tidak akan dapat memberi petunjuk.
Peristiwa-peristiwa kejahatan harus diselidiki diantara penjahat, pikirnya.
Oleh karena itu, Seng Kun diam-diam memperhatikan pria tampan pesolek itu.
Ketika melihat laki-laki itu bangkit berdiri dan pergi, diapun segera mengajak dua orang gadis itu untuk membayanginya.
"Akan tetapi itu berbahaya sekali,"
Bisik Pek Lian.
"Dia amat lihai, dan siapa tahu dia akan menemui kawan-kawan si Raja Kelelawar yang lain?"
"Justeru itu kebetulan sekali. Siapa tahu para penjahat itu menculik ayahmu, nona? Dan setidaknya, mungkin mereka itu tahu siapa penculik yang kita cari."
Mendengar jawaban Seng Kun ini, Pek Lian terpaksa lalu mengikutinya karena iapun ingin sekali dapat cepat menemukan ayahnya.
Akan tetapi setelah tiba ditempat sunyi, si penjahat cabul itu mengerahkan ginkang dan berlari cepat sekali.
Seng Kun dan Bwee Hong juga berlari cepat mengejar sehingga terpaksa Pek Lian yang tingkat ginkangnya paling rendah itu harus mengerahkan seluruh tenaganya sampai ia terengah-engah.
Baiknya orang yang dibayangi itu tidak mengambil jalan hutan karena cuaca sudah mulai gelap.
Penjahat itu mengambil jalan melalui semak-semak dan padang ilalang sehingga mereka bertiga dapat membayanginya dari jauh dengan mudah tanpa bahaya kehilangan dia.
Setelah tiba dijalan besar lagi, penjahat itu menuju kesebuah rumah yang berdiri terpencil ditempat sunyi, ditepi jalan yang membelah padang ilalang itu.
Ternyata bahwa rumah itu adalah sebuah kedai minuman yang biasa, dipakai untuk tempat peristirahatan dan persinggahan para pedagang yang akan memasuki Kotaraja.
Di setiap sudut kedai itu dipasangi lampu besar sehingga keadaan disekitarnya menjadi terang.
Kedai itu nampak sunyi dan ketika orang yang dibayanginya itu menuju kekedai minuman itu, Seng Kun dan dua orang gadis Itu berhenti dan mengintai dari tempat gelap, tidak jauh dari kedai.
Mereka melihat bahwa dikedai Itu hanya terdapat dua orang tamu wanita muda yang wajahnya mirip satu sama lain.
Mereka itu segera dihampiri oleh penjahat cabul dan bercakap-cakap lirih.
Melihat sikap mereka, agaknya mereka sedang menantikan datangnya orang lain.
"Harap kalian suka bersembunyi dulu disini. Aku akan mengambil jalan memutar dan pergi kewarung itu sebagai tamu yang kemalaman dan ingin minum untuk mencoba mendengarkan percakapan mereka dan kita melihat perkembangannya nanti,"
Kata Seng Kun kepada dua orang gadis itu.
"Baik, akan tetapi engkau berhati-hatilah, koko,"
Kata adiknya.
Ketika Seng Kun tiba dikedai itu dari arah lain, dia disambut oleh pelayan dan tanpa menarik perhatian dan sambil lalu dia lalu duduk dimeja yang tidak berjauhan dengan meja penjahat cabul bersama dua orang wanita itu.
Akan tetapi, mereka sudah berhenti berbicara, atau agaknya mereka memang tidak ingin percakapan mereka terdengar orang lain, maka mereka menghentikan percakapan dan memperhatikan petani setengah tua yang baru datang itu.
Ketika melihat bahwa petani itu hanya seorang petani sederhana yang kehausan, mereka kelihatan lega.
Dan pada saat itu, Seng Kun melihat munculnya sebuah gerobak yang ditarik oleh seekor kuda dan dikusiri seorang pemuda.
"Heii, A-piang! Kenapa arakmu sangat terlambat?"
Pemilik warung yang setengah tua dan agak gemuk itu keluar dari kedainya dan menghampiri gerobak yang berhenti dipekarangan kedai.
"Sudah dua hari persediaan arakku yang baik habis. Tamu-tamuku sudah mengomel!"
Pemilik kedai itu menegur, kemudian dia melihat pemuda yang turun dari tempat kusir dan tertegun.
"Eh, siapa engkau?"
"Lo-pek, A-piang berhalangan datang karena dia jatuh sakit, itulah sebabnya pengiriman arak menjadi terlambat dan sekarang aku yang disuruh menggantikannya mengantarkan pesananmu."
Pemuda itu bertubuh tinggi tegap dan dengan kaku, agaknya merupakan pekerjaan yang tidak biasa baginya, dia mulai menurunkan guci-guci arak dari gerobaknya.
Pemilik kedai sejenak termangu, akan tetapi lalu mengangguk-angguk dan mulai menghitung guci-guci arak yang diturunkan itu, membuka tutup beberapa buah guci, mencium bau arak yang terhembus keluar dan mengangguk-angguk puas.
Siapapun kusirnya, bukan hal yang penting baginya.
Yang penting, araknya bagus!
Seng Kun yang duduk tak jauh dari meja penjahat cabul, mendengarkan akan tetapi mengambil sikap tidak perduli dan mengeluh memijati kedua kakinya seperti orang yang kelelahan setelah melakukan perjalanan jauh.
Sementara itu, ketegangan hebat terjadi dalam diri Pek Lian.
Matanya terbelalak dan jantungnya berdebar-debar keras, darahnya berdenyut kencang.
Bwee Hong sendiri sampai terkejut ketika merasa betapa lengannya dicengkeram orang.
"Eh, eh, kau kenapa?"
Bisiknya kepada Pek Lian.
"Enci Hong... aku mengenal pemuda kusir pedati itu!"
Suara Pek Lian terdengar tergetar.
"Ehemm..., begitukah?"
Matanya yang bening itu melirik kearah kawannya dan mulutnya yang indah itu tersenyum penuh arti.
"Dia memang seorang pemuda yang ganteng dan gagah, pantas kalau menjadi kenalan baikmu."
Seketika muka Pek Lian menjadi merah sekali.
"Ih, kau jahat, enci Hong! Siapa bilang dia tampan dan gagah? Aku kan cuma bilang kalau aku mengenal dia. Perkara dia ganteng atau bopeng, siapa perduli?"
"Wah-wah, kenapa jadi marah-marah? Aku juga cuma bergurau! Maafkan, ya?"
Bwee Hong yang berada dekat sekali dengan. Pek Lian itu mendekatkan mukanya dan mencium pipi temannya.
"Siapa sih dia? Putera seorang pedagang arak?"
Tanya Bwee Hong, suaranya kini sungguh-sungguh.
"Entahlah, aku sendiri tidak tahu benar siapa dia itu. Dia sangat baik, akan tetapi wataknya sangat aneh. Mungkin... mungkin dia itu berpenyakit gila!"
"Lhoh...?!"
Dara cantik itu tertegun.
"Benar, enci, aku tidak bergurau. Sudah tiga kali aku bertemu dengan dia dan selalu dia menolong dan menyelamatkan aku. Pertama ketika kami serombongan menghadang iring-iringan kereta yang membawa ayahku. Pemuda itu yang menjadi kusir keretanya. kedua ketika kami dikejar oleh Beng-goanswe, pemuda itu menjadi pelayan dikuil. Dan sekarang... dia menjadi penjual arak."
Pek Lian memandang dan jantungnya berdebar aneh.
Rasanya, ingin ia keluar dan berlari menghampiri pemuda itu.
Tadipun, hampir ia berteriak memanggil nama A-hai!
Rasa girang yang aneh dan luar biasa menyelinap didalam hatinya ketika ia melihat A-hai.
Padahal, selama ini, jarang ia teringat kepada pemuda itu.
"Hemm, kalau begitu dia mencurigakan,"
Kata Bwee Hong yang kini juga memandang penuh perhatian melihat pemuda itu menurun-nurunkan guci arak.
"Engkau belum mendengar semua, enci. kau lihat langkahnya itu? Seperti seorang biasa yang sama sekali tidak mengenal ilmu silat, bukan? Nah, itulah keadaannya kalau dia sedang waras, seorang pemuda biasa yang baik hati dan lemah, yaitu tidak tahu ilmu silat walaupun dia boleh jadi memiliki tenaga dasar yang amat kuat. Akan tetapi jangan ditanya kalau dia menjadi kumat! Dia seperti menjadi gila, menangis dan marah-marah, akan tetapi juga seketika dia menjadi seorang yang sakti. Bahkan Tong-ciangkun sendiri, jagoan nomor satu di Istana itu, terpaksa mundur ketika beradu tangan dengan dia."
"Wah! Benarkah itu? Kalau begitu, betapa lihainya dia!"
Nona cantik itu terkejut sekali dan kini pandang matanya terhadap pemuda kusir itu berobah, menjadi kagum dan juga penuh keheranan.
Kalau bukan Pek Lian yang bicara, tentu ia akan mentertawakan.
Dari gerak-geriknya ketika menurunkan guci-guci arak itu, jelas terlihat bahwa pemuda kusir itu tidak pandai ilmu silat dan agaknya tidak tahu bagaimana mempergunakan tenaga dalam.
Buktinya dia menurunkan guci-gu-ci arak itu mengandalkan tenaga otot saja.
Ia sendiri bersama dengan kakaknya yang lihai pernah berhadapan mengeroyok si cebol Tong-ciangkun.
Dan akhirnya mereka berdua harus mengakui kelihaian si cebol itu.
Dan sekarang ia mendengar bahwa pemuda kusir itu mampu membuat si cebol terdorong mundur?
Betapa mustahilnya hal ini.
Kini dengan tajam sepasang mata yang indah bening itu memandang kearah wajah si pemuda kusir.
Mata seorang ahli silat dan ahli pengobatan, menilai dan memeriksa.
Kini ia melihat bahwa perawakan pemuda itu memang tepat apabila menjadi seorang ahli silat yang tangguh.
Tapi gerakan-gerakan pemuda itu sungguh tidak meyakinkan.
"Enci, engkau adalah keturunan Sin-yok-ong dan gurumu adalah seorang ahli pengobatan yang paling hebat didunia. Tahukah engkau penyakit apa yang membuat orang kadang-kadang mengamuk dan kadang-kadang waras, kemudian lupa diri sama sekali seperti pemuda itu? Bisakah engkau atau kakakmu mengobati dan menyembuhkan pemuda itu?"
"Entahlah, tidak mudah dikatakan begitu saja. Harus lebih dulu memeriksanya dengan teliti. Akan tetapi, kalau penyakit gila itu akibat rusaknya syaraf-syarafnya, atau karena guncangan jiwanya, memang tidak mudah menyembuhkannya."
Jawaban ini meragukan dan mengecewakan hati Pek Lian.
Betapa akan bahagia rasa hatinya kalau ia dapat melihat A-hai disembuhkan sama sekali dari penyakit lupa diri dan gila itu.
Biarpun dia tidak akan pernah bisa menjadi sakti kembali karena sudah tidak dapat kumat gilanya, namun pemuda itu tidak akan menderita seperti itu.
keadaan lalu menjadi sunyi, Pek Lian tenggelam kedalam lamunannya membayangkan nasib A-hai, sedangkan Bwee Hong masih terkesan akan cerita tentang pemuda aneh itu.
Mereka berdua memandang kearah kedai itu.
A-hai, pemuda itu, setelah selesai menurunkan semua guci arak, agaknya menanti pembayaran dan untuk itu dia melepaskan lelahnya sambil duduk didekat lampu minyak yang tergantung diatas.
Pemilik warung itu sedang membereskan barang-barang dagangannya yang baru diterimanya itu, dibantu pelayan mengangkut guci-guci arak itu kedalam kedai, langsung kegudang yang berada dibagian belakang.
Mata pemuda itu menyapu kearah warung, meneliti setiap wajah untuk melihat kalau-kalau ada yang dikenalnya.
Tiba-tiba kesunyian malam itu dipecahkan oleh suara derap kaki kuda yang datang kearah kedai itu.
Semua orang menoleh kearah datangnya suara derap kaki kuda.
Dibawah remangnya sinar bintang-bintang dilangit, nampak serombongan penunggang kuda yang menuju kekedai itu.
Yang terdepan adalah dua orang laki-laki gemuk pendek berjenggot lebat yang mukanya hampir mirip satu sama lain.
Dipinggang mereka tergantung sepasang golok pendek.
Dibelakang mereka terdapat sepuluh orang yang agaknya adalah anak-buahnya, semua bersenjata dan lagak mereka kasar dan bengis, jelas membayangkan bahwa mereka bukanlah golongan orang baik-baik melainkan lebih pantas kalau digolongkan orang-orang yang biasa mengandalkan kekuasaan melakukan kekerasan dan kekejaman untuk memaksakan kehendak mereka.
Dari tempat persembunyiannya, Pek Lian dan Bwee Hong yang merupakan dua orang dara perkasa dan sudah banyak mengenal orang-orang dari dunia hitam, maklum bahwa rombongan ini tentu merupakan gerombolan kaum sesat yang jahat.
Maka merekapun bersikap waspada karena agaknya ditempat itu datang banyak gerombolan jahat.
"Ha-ha-ha, kalian memang gesit, agaknya telah tiba lebih dulu dari pada kami!"
Dua orang laki-laki gemuk pendek itu berteriak dari punggung kuda ketika mereka melihat Jai-hwa Toat-beng-kwi si Penjahat Cabul dan dua orang wanita itu.
"Mana kawan-kawan yang lain, apakah belum ada yang datang?"
Dua belas orang itu berloncatan turun dari atas kuda mereka dan dua orang gendut itu segera menghampiri Jai-hwa Toat-beng-kwi yang menjawab pertanyaan mereka tadi.
"Baru kami yang datang. Duduklah dulu sambil menanti kedatangan teman-teman yang lain."
Dua orang pemimpin rombongan itu memandang kekanan kiri dan ketika mereka melihat Bu Seng Kun yang menyamar sebagai seorang petani setengah tua, seorang diantara mereka menggerakkan kepala dengan dagu menunjuk kearah petani itu sambil bertanya kepada Si Cabul.
"Temanmukah dia?"
Si Cabul melirik kearah Seng Kun lalu menggeleng kepala dengan sikap tak acuh. Tadi ketika petani itu masuk, dia telah melakukan penyelidikan dan keadaan petani itu tidak mencurigakan.
"Bukan, dia hanya tamu biasa yang kelaparan dan kehausan."
Mereka lalu bercakap-cakap dengan suara berbisik-bisik, kadang-kadang kalau mereka hanya bersendau-gurau, suara mereka keras dan mereka tertawa-tawa sehingga Seng Kun yang berada dimeja lain, juga dua orang dara pendekar yang mengintai, mengerti bahwa bisikan-bisikan itu adalah percakapan penting yang menyangkut urusan mereka pada waktu itu.
Malam itu nampak semakin menegangkan karena tiga orang pendekar itu seperti merasakan adanya suatu ancaman, sesuatu yang akan meledak dan yang akan terjadi.
Tidak percuma saja para penjahat berkumpul ditempat itu pada malam hari itu.
Pasti ada apa-apanya dan agaknya urusan itu tentu penting sekali.
Apa lagi ketika mereka melihat datangnya orang yang semakin banyak.
Seluruhnya terdiri dari orang-orang yang bersikap galak, bertampang serem dan bertingkah kasar.
Dari sikap mereka, diantaranya banyak yang saling mengenal dan pertemuan itu mendatangkan kegembiraan diantara mereka.
Seng Kun dapat menduga bahwa memang pertemuan itu sudah direncanakan dan golongan hitam itu tentu datang berkumpul atas panggilan atau perintah pimpinan mereka untuk merencanakan sesuatu yang penting.
Maka diapun merasa beruntung sekali dapat secara kebetulan hadir disitu.
Sayangnya, diantara mereka itu tidak ada seorangpun yang membocorkan rahasia urusan atau rencana mereka itu.
Warung itu menjadi penuh dan orang-orang baru masih saja berdatangan.
Melihat keadaan ini, pemilik warung itu merasa khawatir juga.
Seorang bermuka hitam brewok yang matanya lebar dan bengis, berteriak.
"Heii, tukang warung! dimana kami harus duduk? Engkau bisa menyediakan bangku untuk petani busuk, apakah tidak dapat melayani, kami dengan baik?"
Mata yang lebar itu melotot kearah Seng Kun yang menyamai sebagai petani setengah tua dan yang duduk dengan tenangnya itu.
Pemilik warung melihat gelagat tidak baik.
Karena dia melihat bahwa petani itu telah selesai makan-minum, maka bergegas dia menghampiri Seng Kun dan berkata dengan suara lunak dan membujuk.
"Harap saudara suka meninggalkan meja ini agar dapat dipakai oleh orang lain. Lihat saja sendiri, tamu begini banyak dan tempat menjadi kurang. Tentu saudara tidak ingin menyusahkan aku, bukan?"
Sejak tadi, Seng Kun tentu saja sudah merasa tidak suka kepada mereka itu.
Akan tetapi dia datang bukan untuk mencari keributan atau memancing perkelahian, melainkan untuk melakukan penyelidikan.
Dia sedang melaksanakan tugas yang amat penting, jauh lebih penting dari pada urusan yang menyangkut perasaan pribadi.
Maka, biarpun dia merasa tidak senang dan penasaran sekali karena dia diusir dengan halus, namun dia mengangguk dan sambil mengerutkan alis menahan rasa jengkel diapun bangkit berdiri.
Dirogohnya saku bajunya untuk, membayar harga makanan dan minuman, akan tetapi pemilik warung yang merasa bahwa dia telah mengusir tamu, cepat menggerakkan tangan menolak.
"Tak usah bayar..., engkau sudah baik sekali mau meninggalkan tempat ini"
Kalau menurut perasaannya, tentu saja Seng Kun menjadi semakin penasaran dan tentu dia akan memaksa dan membayar harga makanan dan minuman.
Bukan wataknya untuk merugikan lain orang.
Akan tetapi dia teringat bahwa kalau dia melakukan hal ini, maka tentu akan menimbulkan kecurigaan.
Harga diri tidak pantas dipegang terlalu tinggi oleh seorang petani sederhana.
Maka diapun tersenyum dan memaksakan diri untuk mengucapkan terimakasih, lalu pergilah dia keluar.
Dengan sikap sambil lalu dan tidak acuh, juga santai seperti seorang petani yang kecapaian, Seng Kun yang keluar dari rumah makan itu lalu duduk diatas bangku butut yang berada diluar warung.
Diemper itu telah duduk pemuda kusir gerobak yang tadi datang mengirim arak.
Pemuda itu memandangnya dan mereka saling pandang.
Seng Kun maklum bahwa pemuda ini bukan seorang diantara para gerombolan itu, maka diapun tersenyum dan mengangguk.
Pemuda itu, seperti telah dikenal oleh Pek Lian dari tempat persembunyiannya, memang benar adalah A-hai, pemuda aneh yang pernah dijumpai gadis itu beberapa kali.
Biarpun A-hai sedang menderita penyakit yang aneh, namun perasaannya masih peka dan diapun agaknya dapat merasakan bahwa petani setengah tua yang duduk tak jauh darinya itu adalah seorang baik-baik, tidak seperti para tamu yang berdatangan disitu, yang kelihatan bengis-bengis dan jahat-jahat.
Maka diapun balas mengangguk dan tersenyum kepada petani yang dianggapnya ramah itu.
"Banyak sekali tamu malam ini,"
Kata Seng Kun sambil lalu, menoleh kedalam dimana para tamu memenuhi semua meja dan mereka itu bercakap-cakap dan bersendau-gurau secara kasar sekali.
"Ya,"
A-hai mengangguk.
"Amat banyak dan ramai."
Mendengar jawaban singkat dengan suara tenang ini, Seng Kun memandang dan memperhatikan.
Pemuda ini sungguh tampan, pikirnya, dan memiliki bentuk tubuh yang begitu kokoh membayangkan tenaga besar.
Seorang pemuda yang bertulang baik sekali dan diapun menjadi tertarik.
"Saudara juga tamu?"
Tanyanya. A-hai menggeleng kepala.
"Bukan, saya pembawa arak untuk warung ini. Itu gerobakku."
Dia menunjuk kearah gerobak dan Seng Kun memandang guci-guci arak yang berjajar dihalaman warung, tak jauh dari tempat mereka berdua duduk.
Kini agaknya sudah tidak ada lagi tamu baru yang datang, akan tetapi warung itu telah penuh sesak, bahkan banyak diantara mereka yang tidak kebagian bangku sehingga mereka hanya bercakap-cakap dan minum arak sambil berdiri saja.
Mereka mulai kelihatan tidak sabar, agaknya ada orang yang mereka nanti-nantikan dan yang belum juga muncul.
Beberapa orang yang tidak kebagian tempat duduk, menjadi tidak sabar dan merekapun keluar dari warung itu, berjalan-jalan hilir-mudik dipelataran warung sambil mengomel.
Mereka semua membawa cawan penuh arak yang mereka minum sambil menanti diluar.
Dua orang laki-laki kasar yang pakaiannya kumal dan berbau busuk karena tak pernah diganti dan dicuci, berkali-kali terendam keringat, mendekati Seng Kun dan A-hai yang sedang duduk mengobrol diemper warung.
"Sudah terlalu lama kalian duduk disini, sekarang giliran kami. Hayo berikan bangku-bangku itu kepada kamil"
Bentak seorang diantara mereka.
Seng Kun maklum bahwa melayani orang-orang seperti ini sama artinya dengan membuat keributan, maka diapun bangkit berdiri, akan tetapi A-hai kelihatan tak senang hati dan mengerutkan alisnya, memandang dengan mata terbelalak dan marah.
"Pergi kau! Mau apa melotot?"
Bentak orang kedua dan diapun sudah memegang lengan A-hai dan menarik pemuda itu dari atas bangkunya.
A-hai terhuyung dan hendak marah, akan tetapi tangannya sudah dipegang oleh Seng Kun yang menariknya dengan halus menjauhi bangku-bangku itu.
"Ah, terlalu lama duduk juga melelahkan pinggang, mari kita jalan-jalan saja,"
Kata Seng Kun dan A-hai yang sudah mengepal tinju itu dapat disabarkan. Mereka berjalan menjauhi orang-orang itu dan berdiri dibawah pohon disudut halaman.
"Mereka itu semua bukan orang baik-baik!"
Kata A-hai.
"Ssstt, perlu apa mencari keributan dengan mereka?"
Seng Kun berbisik.
"Hanya akan merugikan diri sendiri saja."
"Orang-orang macam itu tentu hanya akan menimbulkan kekacauan, hanya, akan melakukan kejahatan saja."
"Saudara yang baik, apalah engkau mengenal mereka? Siapakah mereka itu dan mengapa malam ini mereka berkumpul ditempat ini?"
A-hai memandang kepada petani itu sejenak, lalu menggeleng kepalanya.
"Aku sama sekali tidak tahu, malah tadinya aku mengira engkau yang tahu dan mengenal mereka."
Seng Kun menggeleng kepala.
"Eh, kenapa engkau menyangka bahwa aku mengenal mereka?"
Tanyanya.
"Entahlah, karena engkau kelihatan begitu cerdik."
Seng Kun mengerutkan alisnya.
Pemuda ini, yang kelihatan bodoh dan jujur, ternyata memiliki pandang mata yang tajam sehingga agaknya seperti sudah menduga bahwa dia bukanlah seorang petani biasa!
Begitu burukkah penyamaranku, pikir Seng Kun dengan hati khawatir juga.
Apakah orang lain juga akan menduga seperti pemuda ini?
kalau begitu, gagallah penyamarannya ini.
"Heii...! Jangan ambil arakku...!!"
Tiba-tiba A-hai melompat dan berlari kedepan.
Seng Kun terkejut memandang dan melihat seorang di antara para tamu itu mengambil sebuah guci arak, membuka tutupnya dan menuangkan arak dari guci itu kedalam cawannya yang telah kosong.
A-hai berlari mendekat dan hendak merampas guci araknya, akan tetapi penjahat itu tertawa dan menggerakkan kaki menendang.
Sebuah tendangan yang sembarangan saja, bukan tendangan seorang ahli silat tinggi, akan tetapi akibatnya, tubuh A-hai terjengkang setelah terdengar suara berdebuk karena perutnya tertendang.
"Ha-ha-ha! Lihat tikus ini berguling-gulingan!!"
Penjahat itu tertawa bergelak, disusul suara ketawa teman-temannya yang sudah berdatangan.
"Hayo siapa yang ingin tambah arak?"
Enam orang lain yang berada diluar warung itu berdatangan dan mereka mengulurkan cawan-cawan kosong mereka untuk diisi oleh orang yang memegang guci arak.
"Itu arakku! Jangan kalian mencuri sembarangan saja!"
A-hai sudah bangkit lagi dan menyerbu, hendak merampas guci.
Akan tetapi, beberapa buah kepalan menyambutnya dan orang-orang itu kini menjadi marah karena dimaki mencuri.
A-hai lalu dihajar dan dijadikan bulan-bulanan pukulan dan tendangan kaki mereka.
Terdengar suara berdebukan dan A-hai jatuh bangun menjadi korban pukulan-pukulan keras.
Biarpun dia sedang menyamar dan tidak berniat untuk memancing keributan, akan tetapi melihat pemuda yang amat disukanya karena dianggap jujur dan polos, juga bertulang bersih itu, Seng Kun tidak dapat menahan diri lagi.
"Heii, jangan pukuli orang yang tidak berdosa!"
Bentaknya dan sekali bergerak, tubuhnya sudah melayang ketempat dimana A-hai dihajar dan begitu dia menggerakkan kaki tangannya, tujuh orang pengeroyok itu terlempar kekanan kiri dan mereka mengaduh-aduh.
Seng Kun lalu menarik bangun A-hai yang memandang kepadanya dengan wajah berseri, walaupun pipinya bengkak dan matanya menghitam.
"Haa, sudah kuduga, engkau seorang yang lihai, paman petani!"
Serunya.
Akan tetapi, teriakan-teriakan itu memancing munculnya para penjahat dari dalam warung dan melihat keributan itu, mereka segera serentak menyerbu dan mengeroyok Seng Kun dan A-hai.
Seng Kun tentu saja menyambut mereka dan para pengeroyok segera menjadi kaget mendapat kenyataan betapa petani setengah tua itu benar-benar amat lihai.
Akan tetapi, pemuda tukang gerobak itu tidak merupakan lawan berat sehingga kini mereka mengeroyok Seng Kun sedangkan empat orang pertama masih menghajar A-hai yang melawan sedapatnya sambil memaki-maki.
"Kalian manusia-manusia jahat! Kalian iblis-iblis berwajah manusia!"
Pemuda ini hanya bergerak sembarangan saja, sama sekali tidak menurut gerakan ilmu silat dan karena empat orang pengeroyoknya adalah orang-orang kasar yang sudah biasa berkelahi dan juga semua memiliki ilmu silat, maka A-hai menjadi bulan-bulanan pukulan.
Akan tetapi pemuda ini memiliki tubuh yang kuat sehingga biarpun sudah dipukuli jatuh bangun, dia tetap terus bangkit dan melawan lagi.
Melihat pemuda itu dihajar dan dipukuli, Seng Kun yang dikeroyok oleh banyak orang itu membantu dan mencoba untuk melindunginya.
Karena ini, maka dia sendiri menerima beberapa kali pukulan yang cukup keras.
Ketika, melihat terjadinya keributan itu, dari tempat sembunyinya, Pek Lian dan Bwee Hong tentu saja menjadi terkejut.
Bwee Hong yang melihat kakaknya dikeroyok banyak sekali orang jahat, segera meloncat maju, sedangkan Pek Lian yang melihat A-hai dipukuli orang, juga tidak mungkin dapat berdiam diri dan gadis itupun sudah melompat keluar dari tempat persembunyiannya.
Dua orang gadis ini lalu menyerbu dan mengamuk.
Para penjahat itu terkejut sekali melihat munculnya dua orang wanita petani yang demikian lihainya.
Mereka pun sadar bahwa petani setengah tua dan dua orang wanita petani ini tentulah pihak musuh yang datang melakukan penyelidikan, maka merekapun kini mengurung dan menyerang mati-matian mempergunakan senjata mereka.
Jumlah pengeroyok ada tiga puluh orang lebih dan mereka semua rata-rata memiliki ilmu silat yang tinggi dan pengalaman berkelahi yang matang, apa lagi mereka itu adalah penjahat-penjahat yang kejam dan sudah biasa membunuh orang.
Melihat kehebatan petani setengah tua itu, Jai-hwa Toat-beng-kwi, penjahat cabul berusia tiga puluh lima tahun yang berwajah ganteng dan berpakaian mewah pesolek itu lalu meloncat kedepan, begitu menerjang, dia sudah menggunakan huncwe emasnya untuk menotok kearah leher Seng Kun.
Melihat meluncurnya sinar emas dibawah sinar lampu yang kini dibantu obor itu.
Seng Kun maklum bahwa penyerangnya tidak boleh disamakan dengan para pengeroyok lainnya.
Diapun cepat melangkah mundur sambil mengelak dan menggerakkan lengan kanan untuk menangkis huncwe emas itu.
Akan tetapi, Si Cabul sudah menarik kembali huncwenya dan dengan gerakan cepat sudah menggerakkan senjata istimewa itu yang meluncur kearah muka Seng Kun, didahului oleh percikan api tembakau dari hunewe yang menyambar kearah mata.
Inilah keistimewaan huncwe itu!
Seng Kun maklum akan bahayanya serangan kilat itu, maka diapun lalu meniup kedepan untuk menghalau percikan api tembakau, lalu membuang diri kebelakang, menyelinap kebawah dan dengan gerakan indah namun kuat, tangannya sudah menusuk perut lawan dengan jari-jari tangan terbuka.
"Wuiiuuttt!"
Tusukan tangan yang kuatnya melebihi golok itu dapat dihindarkan pula oleh Jai-hwa Toat-beng-kwi yang diam-diam juga merasa kaget.
Kiranya petani ini benar-benar bukan lawan ringan!
Diapun mempercepat gerakan huncwenya dan kini mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan semua ilmunya untuk menghadapi petani yang lihai itu, dibantu pula oleh beberapa orang penjahat yang memiliki kepandaian cukup tinggi.
Sementara itu, dua orang wanita yang pertama kali datang kewarung itu bersama Si Cabul yang amat mirip satu sama lain, sudah mencabut pedang dan menyambut Bwee Hong karena mereka melihat betapa wanita petani ini gerakannya amat sigap dan cepat.
Bwee Hong tahu pula bahwa dua orang wanita ini cukup lihai, maka iapun sudah mencabut pedang yang disembunyikan dibalik baju, menyambut dan menyerang mereka dengan sengit.
Terjadi pula pertandingan seru diantara mereka dan dua orang wanita itu juga dibantu oleh beberapa orang penjahat yang mempergunakan senjata mereka untuk mengurung Bwee Hong.
Pek Lian meloncat dan hendak menolong A-hai yang masih menjadi bulan-bulan pukulan dan tendangan empat orang jahat itu, akan tetapi iapun disambut oleh banyak orang yang mengurung dan mengeroyoknya.
Pek Lian membentak marah, mencabut pula pedangnya dan mengamuklah gadis ini.
Daerah yang sunyi itu kini menjadi medan perkelahian yang amat seru.
Akan tetapi, kepandaian tiga orang pendekar muda ini agaknya terlalu kuat bagi para penjahat itu.
Terutama sekali kakak-beradik bangsawan she Chu itu, biarpun dipihak kaum sesat terdapat Si Cabul dan dua orang wanita berpedang, namun tetap saja mereka itu kewalahan menghadapi pengamukan Seng Kun dan Bwee Hong.
Bagaimanapun juga, dua orang muda ini adalah keturunan dari datuk sakti Sin-yok-ong dan mereka memiliki gerakan yang amat cepat.
Juga Ho Pek Lian merupakan seorang dara yang-gagah perkasa.
Ia memiliki dasar ilmu silat tinggi yang baik, dan selama beberapa bulan ini ia telah digembleng oleh pengalaman-pengalaman hebat, bertemu dengan orang-orang sakti dan semua pengalaman ini membuatnya menjadi masak dan ilmunya juga menjadi semakin mantap.
Pedangnya membentuk gulungan sinar yang membuat para pengeroyoknya kewalahan.
Tiba-tiba terdengar suara mengaum seperti auman singa dan disambut oleh dua kali auman harimau.
Suara ini menggetarkan suasana yang hiruk-pikuk oleh perkelahian ditempat itu.
semua orang tertegun dan Pek Lian segera mengerti bahwa bahaya besar muncul karena ia tahu siapa orangnya yang datang.
Mungkin orang inilah yang dinanti-nanti oleh para penjahat itu.
Sanhek-houw Si Harimau Gunung telah muncul!
Juga Bwee Hong dan Seng Kun cepat meloncat kebelakang dan memandang.
Seorang kakek tinggi besar yang mengenakan jubah kulit harimau berdiri dengan gagahnya, dan dibelakangnya nampak dua ekor harimau kumbang.
Ketika tiba ditempat itu tadi, Sanhek-houw sudah tahu bahwa petani yang berkelahi melawan Si Cabul bersama beberapa orang temannya itulah yang paling lihai diantara mereka yang dikeroyok oleh anak-buahnya, Maka diapun tanpa banyak cakap lagi lalu menerjang kedepan dan menyerang Seng Kun.
Tangannya diulur kedepan dengan jari-jari tangan terbuka membentuk cakar harimau dan Seng Kun cepat meloncat kebelakang untuk menghindarkan cakaran-cakaran yang amat kuat itu.
Itulah Umu Silat Houw-jiauw-kun (Ilmu Cakar Harimau) akan tetapi yang berbeda dengan ilmu silat harimau lainnya.
Gerakan orang ini amat kuat dan ganas!
Dengan hati-hati Seng Kun lalu balas menyerang dan segera terjadi perkelahian yang amat seru diantara mereka.
Melihat bahwa lawan yang tangguh itu kini telah dihadapi oleh Sanhek-houw yang merupakan tokoh yang lebih tinggi tingkatnya dari padanya, Si Cabul lalu tersenyum-senyum menghampiri Bwee Hong.
"Ih, wanita petani kotor ternyata pandai juga berkelahi. Sayang kau sudah agak tua, kalau masih muda tentu akan menjadi penghibur yang menarik!"
Sambil berkata demikian, Si Cabul sudah mencolek kearah dada Bwee Hong.
"Plakk!"
Bwee Hong menangkis dengan pengerahan tenaga dan akibatnya, Si Cabul itu terdorong kebelakang.
Jai-hwa Toat-beng-kwi menjadi marah dan diapun menyerang dengan huncwenya, dibantu pula oleh dua orang wanita berpedang.
Kini Bwee Hong menghadapi lawan yang jauh lebih lihai dari pada tadi.
maka iapun memutar pedangnya dan melawan dengan mati-matian.
Akan tetapi, pada saat Seng Kun mengerahkan semua kepandaiannya untuk dapat mengalahkan Sanhek-houw yang sudah dibantu pula oleh beberapa orang anak-buahnya, tiba-tiba saja terdengar suara tinggi seperti suara wanita, akan tetapi suara itu mengandung getaran khikang yang kuat.
"Ha-ha-ha, apakah Harimau Gunung sudah kehilangan sebagian giginya maka menghadapi seorang petani saja sudah kewalahan?"
Dari dalam kegelapan malam, muncullah seorang laki-laki yang usianya kurang lebih empat puluh tahun, tubuhnya gendut pendek, perutnya besar seperti perut kerbau bunting, dan tangan kanannya memanggul sebuah senjata yang kelihatannya sederhana saja, yaitu sebatang toya besar seperti alu yang terbuat dari pada baja putih.
Akan tetapi, melihat munculnya orang ini, Pek Liari terkejut sekali karena ia mengenal orang ini sebagai Sin-go Mo Kai Ci.
Julukannya Sin-go (Buaya Sakti), Raja dari segala bajak sungai dan menjadi rekan dari Harimau Gunung.
Inilah dua diantara Sam-ok {Tiga Jahat) yang menjadi pembantu-pembantu utama Si Raja Kelelawar!
"Buaya hina, dari pada banyak mulut, tidakkah lebih baik cepat membantuku menundukkan musuh ini?
Dia bukan petani biasa, tentu mata-mata pihak musuh!"
Kata Sanhek-houw sambil mencoba untuk mendesak lawan.
Namun, Seng Kun yang juga sejak tadi munculnya Harimau Gunung ini sudah mainkan sebatang pedang, menahan serangannya dengan baik dan membalas dengan serangan kilat yang nyaris merobek ujung jubah harimaunya.
Buaya Sakti tertawa bergelak dan begitu tubuhnya yang bundar itu bergerak, toya putihnya sudah diputar dan diapun terjun kedalam perkelahian itu membantu rekannya.
Melawan Harimau gunung saja sudah merupakan hal yang cukup berat bagi Seng Kun.
Kini ditambah munculnya Sin-go Mo Kai Ci yang memiliki tingkat yang seimbang dengan rekannya, maka tentu saja Seng Kun menjadi repot sekali.
Apa lagi karena corak permainan silat dan gaya permainan senjata pendatang baru ini jauh berbeda, membuat mereka berdua itu merupakan kombinasi yang sulit untuk dilawan.
Biarpun Seng Kun melawan mati-matian, namun akhirnya sebuah hantaman toya dari Buaya Sakti itu mengenai punggungnya dengan amat kerasnya.
Untung bahwa Seng Kun memiliki tenaga sinkang yang amat kuat, maka hantaman itu tidak sampai mematahkan tulang punggungnya, hanya membuatnya terpelanting saja.
Akan tetapi, banyak orang menubruk dan meringkusnya sehingga Seng Kun tidak mampu berkutik lagi.
Dia telah tertawan!
Melihat ini, Bwee Hong menjadi marah.
Akan tetapi Pek Lian yang melihat betapa sia-sia kaku mereka melawan dan akhirnya mereka berduapun tentu akan roboh tewas atau tertawan, cepat mendekati Bwee Hong.
"Enci Hong, mari kita lari!"
"Tapi... tapi... kunko"
"Kita bicarakan nanti. Lekas, ikut aku!"
Dan Pek Lian lalu menarik tangannya.
Bwee Hong adalah seorang gadis yang cukup cerdas.
Biarpun ia merasa khawatir sekali akan nasib kakaknya, akan tetapi iapun tahu apa yang dimaksudkan oleh Pek Lian.
Kalau mereka berdua selamat, setidaknya mereka akan mampu untuk memikirkan usaha agar dapat menyelamatkan Seng Kun.
Sebaliknya, kalau mereka berdua nekat dan melawan, lalu merekapun tertawan, habislah sudah semua harapan untuk dapat lolos!
Dua orang wanita itu meloncat dan melarikan diri dalam gelap.
"Kejar!"
Teriak Harimau Gunung dan Buaya Sakti dengan penasaran, dan merekapun ikut lari mengejar.
Akan tetapi, dua orang gadis itu memang dapat bergerak cepat sekali, dan pula, kegelapan malam menolong mereka sehingga akhirnya para pengejar itu terpaksa kembali kewarung dengan tangan hampa.
Setelah melihat tidak ada pihak musuh yang mengejar, kedua orang dara itu berhenti dan Bwee Hong segera mencela Pek Lian.
"Adik Lian, bagaimanakah engkau ini? Kakakku tertawan dan engkau malah memaksaku melarikan diri! Memang aku tahu bahwa kita tidak dapat selamat dan tidak dapat menolongnya, akan tetapi, melarikan diri selagi kakakku tertawan, sungguh membuat aku merasa berduka dan malu. Apa yang akan dipikir oleh kakakku?"
"Kakakmu tentu akan membenarkan tindakan kita ini, enci. Pihak musuh begitu banyak dan diantaranya banyak terdapat orang lihai. Sedangkan kakakmu saja tertawan, apa lagi kita. Belum lagi kalau sampai pimpinan mereka datang, yaitu Si Raja Kelelawar. Sungguh habislah kita! Sekarang kita berdua masih selamat. Apa kau kira akupun akan diam saja melihat kakakmu dan A-hai ditawan orang? Kita dapat membayangi mereka dan melihat keadaan selanjutnya. Kalau memang bahaya mengancam mereka, kita boleh turun tangan dan mengadu nyawa!"
Bwee Hong yang kebingungan karena memikirkan kakaknya itu hanya mengangguk dengan lesu dan selanjutnya ia akan menurut saja kepada sahabatnya ini.
Biarpun tingkat kepandaian silatnya masih lebih lihai dari pada Pek Lian, namun harus diakuinya bahwa ia kalah wibawa, dan juga kalah pengalaman.
Hal ini adalah karena Pek Lian telah mewakili gurunya untuk memimpin para pendekar.
Pandangannya lebih luas dan ia tidak bertindak menurutkan perasaan belaka, melainkan bertindak dengan perhitungan sebagai layaknya seorang yang berjiwa pemimpin.
Sementara itu, Sanhek-houw dan Sin-go Mo Kai Ci yang memimpin pertemuan itu, nampak tergesa-gesa membagi-bagi tugas kepada para anak-buahnya, kemudian terdengar dia berkata.
"Munculnya gangguan ini merobah acara. Kita harus cepat pergi meninggalkan tempat ini. Tidak aman setelah diketahui orang lain."
Pertemuan itupun bubaran dan dua orang yang ditawan itu, A-hai dan Seng Kun, dibawa pergi sebagai tawanan oleh dua orang tokoh sesat itu, ditotok dan dibelenggu kemudian dilempar didalam pedati milik A-hai yang tadi dipergunakan untuk mengangkat arak.
Melihat betapa dua orang itu dibawa pergi oleh Si Harimau Gunung dan Si Buaya Sakti, Pek Lian dan Bwee Hong lalu membayangi gerobak itu.
Mereka berdua tidak berani sembarangan turun tangan karena maklum bahwa keselamatan A-hai dan Seng Kun terancam jika mereka dengan sembrono melakukan penyergapan.
Apa lagi karena dua orang tokoh sesat itu masih dikawal oleh para pembantunya yang lihai.
Sampai beberapa hari lamanya dua orang gadis itu membayangi kereta atau gerobak dua orang tokoh sesat yang menawan A-hai dan Seng Kun.
Mereka melihat betapa kedua orang tawanan itu diperlakukan dengan cukup baik, masih dibelenggu akan tetapi setiap kali rombongan berhenti untuk makan, keduanya mendapatkan hidangan secukupnya.
Hal ini melegakan hati Bwee Hong dan Pek Lian yang mendapat kenyataan bahwa agaknya para penjahat tidak berniat membunuh dua orang tawanan itu.
Dan memang sesungguhnya demikianlah.
setelah berhasil menawan A-hai dan Seng Kun, Si Harimau Gunung dan Si Buaya Sakti memperhatikan Seng Kun dan melarang anak-buah mereka untuk membunuh atau melukainya.
Juga A-hai yang telah dibela oleh petani itu mendapatkan perlakuan yang cukup baik walaupun kedua orang tawanan itu selalu dibelenggu.
Hal ini adalah karena Harimau Gunung merasa curiga melihat kelihaian petani itu dan menduga bahwa petani itu tentulah seorang tokoh pembantu yang cukup tinggi kedudukannya dari Si Petani Laut, seorang diantara Raja-Raja lautan.
Ciri khas dari para tokoh bajak lautan ini adalah pakaian mereka yang seperti pakaian petani, walaupun pekerjaan mereka adalah perampok-perampok dilautan alias bajak-bajak laut!
Kabarnya, Si Petani Laut berasal dari keluarga petani, maka setelah menjadi seorang diantara jagoan-jagoan atau bahkan Raja-Raja kecil yang menguasai lautan timur, dia tetap berpakaian petani bahkan mengharuskan para pembantunya berpakaian seperti petani!
Baca Juga: Pendekar Super Sakti 5
Baca Juga: Dara Baju Merah 6