Ceritasilat Novel Online

Darah Pendekar 3

Eps 3 Darah Pendekar - Kho Ping Hoo

Baca online Darah Pendekar - Kho Ping Hoo

Cersil Darah Pendekar - Kho Ping Hoo.

"Saya tidak akan berhenti sebelum pemerintah ini dapat dihancurkan!"

"Siancai... siancai... siancai...!"

Kakek Kam berseru lirih sambil merangkap tangan didepan dada, lalu menarik napas panjang berulang-ulang.

"Kekerasan... kekerasan... Dimana-mana kekerasan. Mungkinkah kekerasan dapat menghasilkan hal-hal yang baik? Mungkinkah tujuan yang baik dapat dicapai melalui jalan kekerasan?"

"Akan tetapi, Lo-cianpwe!"

Bantah Kwee Tiong Li dengan suara keras karena hatinya dibakar semangat dan kebencian.

"Kaisar telah bertindak lalim dan sewenang-wenang. Lihat saja keadaan rakyat yang miskin terhimpit dan lihat keadaan para pembesar yang berlebihan! Pembesar bertindak sewenang-wenang menekan rakyat, pembesar-pembesar melakukan korupsi besar-besaran. Sebaliknya rakyat ditindas, disuruh kerja paksa sampai mati untuk membangun tembok besar. Rakyat dibelenggu dan dibikin tak berdaya, membawa senjata pelindung diri dari ancaman bahaya saja dilarang. Kitab-kitab sastera dibakar sehingga rakyat kehilangan pegangan. Sasterawan-sasterawan dibunuh. Apakah kita harus diam saja, Lo-cianpwe? Kalau bukan kita kaum pendekar yang bergerak membela rakyat, habis siapa lagi? Apakah Kaisar dan kaki tangannya yang korup dan sewenang-wenang itu dibiarkan saja merajalela diatas kepala rakyat yang menderita?"

"Benar sekali!"

Sambung Pek Lian.

"Kalau orang-orang tua bersikap sabar, maka penindasan akan makin membabi-buta! Ayahku bersabar, akan tetapi aku tidak. Kita kaum muda harus serentak bangkit menentang kelaliman, kalau perlu dengan taruhan nyawa!"

"Siancai...!"

Kakek Kam menarik napas panjang dan menggeleng kepala.

"Nanti dulu, anak-anak. Memang baik sekali semangat kalian untuk membela rakyat yang sengsara dan menderita hidupnya. Akan tetapi, tidak baik kalau hanya menurutkan perasaan marah, dendam dan benci saja. Bangsa merupakan keluarga, pemerintah merupakan rumah keluarga itu. Kalau ada sesuatu yang tidak benar pada rumah itu, mari kita perbaiki bagian yang tidak benar itu saja. Bukan lalu meruntuhkan seluruh rumah itu, bukan lalu harus membakar rumah kita sendiri itu! Pemerintah bukan milik Kaisar atau para pembesar saja Mereka bahkan menjadi pelayan dan pelaksana. Pemerintah adalah milik kita bersama. Kalau ada yang tidak benar, mari kita perbaiki bersama, dengan musyawarah. Kita berhak menyadarkan pembesar yang bersalah. Akan tetapi, jalan kekerasan hanya akan menimbulkan perang saudara, sama saja dengan membakar rumah kita sendiri dan kalau terjadi perang, akhirnya rakyat pula yang akan menderita, bukan? Akan jatuh banyak korban, bunuh-membunuh antara bangsa sendiri, betapa-akan menyedihkan sekali kalau hal itu terjadi, seperti yang terjadi malam tadi."

"Tapi, Lo-cianpwe. Tanpa melakukan kekerasan, tanpa menggunakan kekuatan untuk menghantam yang jahat, mana mungkin kita dapat mengenyahkan kejahatan itu sendiri?"

Bantah Tiong Li.

"Kejahatan merajalela, orang-orang jahat bahkan telah mengadakan rapat, dipimpin oleh iblis hitam itu. Apakah kita harus diam saja, Lo-cianpwe? Kalau begitu, apa artinya kita mempelajari ilmu silat sejak kecil? Apa perlunya jiwa kependekaran ditanamkan dalam batin kita?"

Pek Lian juga membantah dan kedua orang muda itu seperti merasakan persatuan yang kokoh untuk menentang pen-dirian kakek yang biarpun sakti akan tetapi mereka anggap memiliki pendirian lemah itu.

Kakek itu tersenyum.

"Seorang pendekar adalah abdi kebenaran dan keadilan. Hal ini memang benar dan memang sudah sepatutnya demikian. Akan tetapi kebenaran dan keadilan tidak mungkin dapat dipertahankan atau didirikan melalui kekerasan. Mungkin saja kita harus mempergunakan ilmu silat untuk melindungi diri dan untuk menundukkan lawan yang juga mempergunakan ilmu itu, akan tetapi ini bukan kekerasan namanya. Pendekar bahkan harus menjadi pembantu pemerintah untuk menahan merajalelanya kejahatan dan melindungi rakyat. Bukan malah menentang pemerintah. Bukankah penjahat-penjahat itu merupakan musuh pemerintah? Kalau kita menentang pemerintah, berarti kita memberi angin kepada para penjahat."

"Tapi kalau pemerintahnya yang lalim dan jahat?"

"Tidak ada pemerintah yang lalim. Yang jahat itu. hanya seorang dua orang pembesar saja. Bukan semua pejabat itu jahat. Buktinya, bukankah Menteri Ho juga seorang pejabat yang amat baik?"

"Juteru karena baik itu maka ayah menjadi celaka!"

Kata Pek Lian penuh penasaran.

"Ayahmu itulah pendekar dan pahlawan sejati, nona! Tanpa kekerasan, namun dia berani menentang kejahatan. Kalau kita melihat ada pembesar jahat, jangan lalu menganggap pemerintahnya yang jahat, melainkan pembesar itulah yang merupakan perorangan. Dan kewajiban kita adalah mengingatkan, agar pemerintah bertindak terhadap pembesar yang korup dan jahat itu."

"Akan tetapi, kalau yang lalim Kaisarnya dan orang-orang yang duduk ditingkat teratas, seperti kepala thaikam Chao Kao si penjilat dan Perdana Menteri Li Su Rajanya segala pembesar korup dan sewenang-wenang, lebih tepat kalau kita memberontak dan menggulingkan pemerintah bejat ini!"

Tiong Li berkata lagi. Kembali kakek itu menggeleng-geleng kepala.

"Melalui perang saudara?"

"Kalau perlu!"

"Mengorbankan ratusan ribu nyawa rakyat yang tak berdosa? Perang selalu diikuti oleh kejahatan-kejahatan seperti perampokan, perkosaan, pembakaran, balas dendam pribadi, kekacauan karena tidak adanya hukum dan penjaga keamanan! Setelah pemerintah dapat digulingkan misalnya dan orang-orang yang memimpin pemberontakan itu duduk diatas kursi empuk dan kemuliaan, lalu mereka ini, para pimpinan pemberontak ini, yang tadinya dengan segala propaganda membujuk para pendekar dengan berbagai slogan indah muluk kosong, menjadi berbalik wataknya dan menjadi tukang korup pula, lalu apa yang hendak kalian lakukan? Memberontak dan menggulingkan pemerintahan baru itu pula? Menimbulkan perang saudara yang baru pula? Membakar pemerintah dan negara yang menjadi rumah bangsa lagi? Celakalah kalau begitu! Apakah kalian mampu menjamin bahwa didalam pemerintahan baru tidak akan timbul tikus-tikusnya?"

Dua orang muda itu saling pandang, ragu-ragu, lalu mengerutkan alisnya merenung bingung, tak mampu menjawab!

Penggambaran kakek itu terlalu mengerikan, namun bukan merupakan hal yang tidak mungkin terjadi!

Bahkan sejarah sudah mencatat berulang kali terjadinya peristiwa seperti itu!

Pemerintah yang dipimpin pembesar-pembesar yang dianggap lalim, ditumbangkan oleh sekelompok orang yang pada waktu itu memang berjiwa pahlawan, mengerahkan rakyat untuk membantu perjuangan mereka menumbangkan kekuasaan lalim.

Kemudian, mereka menang dan menjadi penguasa.

Akan tetapi, setelah menjadi pembesar-pembesar mereka seperti lupa akan suara hati nurani perjuangan, lelap dalam kesenangan, mabok kemuliaan dan berobah menjadi orang-orang yang tidak kalah lalim dan korupnya dibandingkan dengan pembesar-pembesar terdahulu yang mereka tumbangkan.

Muncul pula pahlawan-pahlawan yang mempergunakan kekuatan rakyat menumbangkan pemerintah baru itu, dan demikianlah, susul-menyusul terjadi pemberontakan-pemberontakan dan perang saudara.

Rakyat terus-menerus menjadi korban.

Kalau ada perjuangan, rakyatlah yang dijadikan perisai dan tombak, kalau perjuangan berhasil, hanya sekelompok manusia sajalah yang menikmati hasil kemenangan itu dan melu-pakan rakyat sampai ada kelompok pejuang atau pahlawan lain yang muncul, yang kembali mempergunakan rakyat sebagai mata tombak dan perisai-Betapa menyedihkan keadaan diseluruh dunia ini!

"Anak-anak yang baik,"

Kata pula kakek itu melihat mereka termenung.

"Sebuah pemerintahan terdiri dari ratusan, dan ribuan pejabat. Tak mungkin mengharapkan bahwa seluruh pejabat itu bekerja dengan jujur dan baik. Tentu ada saja yang salah jalan, sesat dan curang. Adalah kewajiban semua orang yang mencintai tanah air dan bangsanya untuk mengamati hal ini dan memprotes keburukan-keburukan seorang pejabat, menuntut agar pejabat itu diganti dengan orang yang lebih jujur. Bukan lalu memberontak dengan kekerasan. Kekerasan ini mencerminkan adanya keinginan untuk mengejar sesuatu dan biasanya, pengejar-pengejar kesenangan akan mabok kesenangan. Kemenangan dalam kekerasan membuat orang mabok akan kemenangan itu dan menjadi lupa diri dan buta, sebaliknya kekalahan dalam kekerasan menimbulkan sakit hati dan dendam."

Dua orang itu saling pandang dan menundukkan muka.

Mereka tidak dapat membantah lagi.

Keterangan kakek itu mengejutkan hati mereka, membuat mereka seolah-olah dipaksa membuka mata melihat kenyataan yang amat kotor dan pahit.

Membuat mereka merasa ngeri.

Mereka sendiri adalah orang-orang muda yang berhati bersih dan jujur.

Sedikitpun mereka tidak memiliki keinginan untuk menang dan berpesta dalam kemenangan itu.

Mereka hanya melihat ketidak-adilan, menjadi penasaran dan hendak membela mereka yang tertindas.

Keterangan-keterangan yang baru saja diucapkan oleh kakek itu membuat Pek Lian dan Tiong Li diam-diam membayangkan keadaan guru masing-masing.

Pemimpin rakyat Liu Pang guru Pek Lian yang terkenal dengan sebutan Liu-toako, pendekar dan pahlawan sejati itu, apakah benar dia memiliki keinginan kotor untuk kesenangan diri pribadi yang tersembunyi dibalik cita-cita perjuangan demi rakyat itu?

Dan Tiong Li juga meragukan apakah gurunya, pendekar dan pejuang Chu Siang Yu, juga memiliki keinginan demi kesenangan pribadi seperti yang digambarkan oleh kakek ini, atau setidaknya kelak kalau menang akan berobah menjadi penindas dan pengejar kemuliaan sendiri saja?

Dia tidak mampu membayangkan dan merasa ngeri.

"Lo-cianpwe, semua keterangan Lo-cianpwe terlalu mengerikan dan terlalu mendalam bagi saya. Sekarang, bagaimana baiknya? Saya mohon nasihat Lo-cianpwe,"

Katanya.

"Aku tetap hendak melihat keadaan ayahku dan selanjutnya... entahlah. Kata-kata Lo-cianpwe sudah memadamkan sebagian besar api dendamku..."

Kata Pek Lian meragu. Kakek Kam tersenyum.

"Anak-anak muda berdarah panas dan bersemangat, memang sudah sepatutnya demikian, asal saja darah panas dan semangat itu disertai kebijaksanaan dan jangan sampai dipergunakan orang-orang demi keuntungan mereka sendiri. Kwee Tiong Li, engkau adalah seorang pemuda yang hebat! Semuda ini sudah memiliki ilmu silat tinggi dan tenaga sinkang yang amat kuat, juga memiliki batin yang bersih penuh dengan semangat kegagahan. Kalau engkau memiliki sedikit ginkang yang baik, kiranya kelak engkau akan menjadi seorang pendekar pilihan. Maukah engkau ikut denganku untuk belajar ginkang dariku? Dan engkau, nona? Engkaupun memiliki bakat yang amat baik, aku ingin mewariskan beberapa ilmuku kepada kalian berdua."

"Terimakasih, Lo-cianpwe. Saya terpaksa tidak dapat menerima kebaikan hati Lo-cianpwe, karena saya harus pergi melihat keadaan ayah, kemudian kembali ke puncak Awan Biru,"

Kata Pek Lian.

Akan tetapi Tiong Li menerima penawaran kakek itu dengan girang.

Pendekar muda ini maklum betapa dengan kepandaiannya yang sekarang, dia tidak dapat berbuat banyak terhadap para kaum sesat yang amat lihai itu, maka kalau kakek sakti ini mau mendidiknya, tentu saja dia merasa gembira sekali.

"Kita tidak boleh terlalu lama berada disini,"

Kata kakek Kam.

"Biarpun jejak kaki kuda sudah kuhapus, akan tetapi mereka tentu akan terus mencari dan tentu akan sampai disini pula."

"Kalau begitu, biarlah saya akan pergi lebih dulu,"

Kata Pek Lian. Ia bangkit berdiri lalu memberi hormat kepada kakek itu.

"Kam-Lo-cianpwe, sekali lagi saya menghaturkan terimakasih atas semua budi kebaikan Lo-cianpwe kepada saya. Kwee-toako, terimakasih dan selamat tinggal."

Kakek itu hanya mengangguk-angguk dan Tiong Li cepat membalas penghormatan gadis itu.

Hatinya merasa terharu sekali.

Karena bertemu dengan dia dan kemudian membelanya, maka gadis itu kehilangan kedua orang gurunya.

"Nona, akulah yang harus berterimakasih. Mudah-mudahan kelak kita akan dapat saling bertemu kembali"

Pek Lian mengangguk, tak kuasa menjawab karena ia khawatir kalau-kalau suaranya akan terdengar parau pada saat hatinya amat berduka itu.

Ia lalu menghampiri kuda rampasannya, lalu meloncat keatas punggung sela kudanya.

Ia menoleh dan mengangguk, akan tetapi sebelum ia membe-dal kudanya, tiba-tiba Tiong Li meloncat mendekat sambil berseru.

"Tahan dulu. nona!"

Pek Lian menahan kendali kudanya dan menoleh. Matanya basah, akan tetapi kini ia dapat menguasai hatinya karena merasa heran.

"Ada apa kah, Kwee-toako?"

Tanyanya.

Tiong Li tidak menjawab, melainkan cepat dia membuang semua tanda-tanda pada kendali dan pelana kuda itu sehingga yang tertinggal hanya sela kasar dan kulit kendali sederhana tanpa hiasan.

Kemudian dia mencari sebatang ranting pohon penuh daun dan mengikatkan ranting ini dengan pelana kuda sehingga ranting itu akan terseret kalau kudanya lari.

Setelah selesai melakukan semua itu yang diikuti oleh pandang mata keheranan Pek Lian, dia berkata.

"Dengan begini, orang tidak akan mengenal kuda tentara kerajaan dan ranting itu akan menghapus jeiak kudamu, nona Ho."

Barulah Pek Lian mengerti dan merasa gembi-ra.

"Terimakasih, toako. Engkau baik sekali. Sampai jumpa! Selamat tinggal, Kam-Lo-cianpwe!"

Dan Pek Lian lalu menjalankan kudanya.

Kuda itu berlari cepat, menyeret ranting yang menghapus jejak Liki kuda, mengeluarkan debu yang mengepul tinggi.

Tiong Li memandang sampai bayangan gadis dan kudanya itu lenyap, baru dia membalikkan tubuhnya menghadap kakek Kam dan menjatuhkan dirinya berlutut.

"Suhu, teecu mohon petunjuk selanjutnya."

Kakek itu tersenyum.

"Bagus, mulai saat ini engkau menjadi muridku. Tiong Li, kalau engkau kelak berjodoh dengan nona itu, sungguh akupun merasa gembira sekali. Ia seorang gadis yang luar biasa!"

Mendengar ini, wajah pemuda yang biasanya tenang itu berobah merah sekali, akan tetapi hatinya terasa perih.

Dia tidak tahu apakah dia mencinta gadis itu, akan tetapi bagaimana mungkin dia dapat membayangkan dirinya berjodoh dengan seorang puteri Menteri kebudayaan?

Dia hanya seorang yatim piatu yang miskin, bahkan rumahpun tidak punya, hidup sebagai seorang pelarian pula.

Ah, terlampau jauhlah khayal itu.

Dia masih seperti berada dalam lamunan ketika gurunya mengajaknya pergi dari situ, meninggalkan kuda rampasan karena kakek itu tidak mau menunggang kuda dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki saja.

Ho Pek Lian melakukan perjalanan seorang diri dengan kudanya.

Tadinya, ketika meninggalkan Tiong Li dan kakek Kam, ia membalapkan kudanya karena ingin cepat-cepat pergi agar mereka tidak melihat kesedihan dan tidak mendengar tangisnya.

Setelah ia pergi jauh, ia membuang ranting dibelakang kudanya dan menjalankan kudanya perlahan-lahan sambil termenung.

Kedukaan menghimpit hatinya, membuat wajahnya pucat kehilangan cahaya, matanya sayu dan kadang-kadang, kalau pikirannya meremas perasaan hatinya dengan kenang-kenangan dan bayangan-bayangan, air matanya meluap keluar dari pelupuk kedua matanya Selama ini ia melakukan perjalanan dengan dua orang gurunya, menemui hal-hal hebat dan semua ini seolah-olah merupakan hiburan, atau setidaknya membuatnya seperti lupa akan keadaan dirinya sendiri, keadaan keluarganya yang berantakan itu.

Akan tetapi sekarang, pada saat ia menunggang kuda seorang diri, melalui pegunungan yang sepi itu, tanpa adanya seorangpun manusia menyertainya, ia merasa amat kehilangan kedua orang gurunya dan perasaan kesepian ini menjalar kedalam hatinya, membuatnya termenung dan berduka.

Dalam keadaan kesepian itu, pikirannya melayang-layang, mengingat-ingat akan keluarga ayahnya yang menjadi tawanan, dan hatinya terasa semakin terhimpit oleh kesepian yang membuat air matanya mengalir keluar, penuh dengan rasa duka dan sengsara.

Semakin diingat, semakin gundah hatinya, makin besar rasa iba diri menyerangnya dan membuat ia beranggapan bahwa didunia ini, hanya ia seoranglah yang paling sengsara hidupnya.

Kedukaan membuat tubuhnya terasa lemas dan Pek Lian lalu menghentikan kudanya, turun dari atas punggung kuda dan membiarkan kudanya makan rumput, sedangkan ia sendiri duduk dibawah pohon, bersandar batang pohon dan menerawang kelangit yang penuh awan putih berarak.

Akan tetapi sekali ini tidak nampak keindahan diangkasa itu bagi Pek Lian.

Bahkan membuat rasa dukanya menjadi semakin menyesak didada.

Ia merasa seperti menjadi segumpal awan putih kecil yang melayang-layang jauh dari kelompok awan lain, terpencil disana, sendirian, kesepian.

Semilirnya angin membuat hatinya perih oleh rasa rindu kepada orang tuanya.

Kenangan akan tewasnya Kim-suipoa Tan Sun dan Pek-bin-houw Liem Tat, dua diantara guru-gurunya yang amat sayang kepadanya seperti orang tua sendiri, membuat air matanya mengalir lagi.

Bencana yang menimpa keluarga ayahnya masih belum dapat diatasi, kedua orang gurunya telah tewas pula.

Usianya baru delapan belas tahun dan ia sudah harus mengalami demikian banyak kepahitan hidup.

Ia bukanlah seorang dara yang cengeng, sama sekali bukan!

Biarpun sejak kecil, sebagai puteri seorang Menteri yang berkedudukan tinggi ia hidup didalam kemuliaan, kehormatan dan kaya raya, namun Pek Lian bukanlah seorang dara yang manja dan cengeng.

Sejak kecil pula ia digembleng oleh guru-gurunya sebagai seorang wanita yang berjiwa pendekar, yang tidak mudah mengeluh menghadapi kesukaran.

Namun, kepahitan yang dihadapinya sekarang ini terlampau hebat, luka dihatinya terlampau parah, membuatnya menangis seorang diri ditempat sunyi itu.

Ia harus bertemu dengan ayahnya sekali lagi sebelum ayahnya dihukum!

didunia ini, ia hanya mempunyai seorang keluarga terdekat, yaitu ayahnya.

Ibunya sudah tiada, dan ia tidak mempunyai saudara kandung.

Ia harus bertemu dengan ayahnya, apapun yang akan terjadi!

Bisikan hati ini menggugah semangat Pek Lian dan iapun bangkit lagi, menaiki punggung kudanya dan melanjutkan perjalanan.

Matahari telah condong ke barat ketika kuda yang ditunggangi Pek Lian menuruni sebuah lereng bukit.

Ia menghentikan kudanya dan memandang kesekeliling, hendak mencari sebuah dusun untuk melewatkan malam ketika tiba-tiba ia melihat munculnya lima orang wanita.

Begitu bertemu, Pek Lian terkejut karena ia mengenal mereka itu sebagai rombongan wanita bertusuk konde batu giok yang pernah ia jumpai ketika ia masih bersama-sama dua orang gurunya.

Lima orang wanita itu muncul dari jalan simpangan dan bertemu dengannya tepat diperempatan jalan kecil itu.

Dan mereka berlima itupun agaknya terkejut melihatnya, dan mengenalnya pula.

Mereka berhenti dan seorang diantara mereka yang bertahi lalat dibawah telinga kiri berkata, suaranya lantang.

"Ah, engkaukah ini? dimana adanya kokcu (ketua lembah) yang muda itu bersama tiga orang sam-lonya? Kenapa engkau hanya sendirian saja?"

Pertanyaan ini lantang dan diajukan dengan nada suara yang meremehkan, tanpa sikap hormat sama sekali seperti sikap orang dewasa yang bertanya kepada anak kecil saja.

Pada saat itu, batin Pek Lian sedang mengalami tekanan dan dalam keadaan seperti itu, tentu saja ia mudah sekali tersinggung.

Hatinya terasa mengkal dan ia sama sekali tidak memperdulikan pertanyaan orang, melainkan dengan gemas ia menarik kendali kudanya, membuat kuda itu terlonjak dan lari.

Dengan dagu terangkat Pek Lian lewat menanggalkan mereka.

"Haii, bocah sombong, tunggu!"

Terdengar bentakan dibelakangnya, disusul berkelebatnya bayangan lima orang itu yang sudah melakukan pengejaran.

"Tar-tar-tarrr!"

Pek Lian terkejut sekali melihat sinar biru menyambar-nyambar didekat kepalanya dan meledak ketika ia mengelak.

Kiranya ia telah diserang oleh seorang diantara mereka dengan sehelai sabuk berwarna biru yang tadi melakukan totokan tiga kali berturut-turut kearah leher dan pundaknya.

"Orang-orang jahat!"

Bentaknya dan terpaksa ia meloncat turun dari atas kudanya sambil mencabut pedangnya.

"Kalian kira aku takut melawan?"

Iapun sudah memutar pedangnya dan menyerang wanita yang tadi menggerakkan sabuk.

Karena dalam keadaan marah dan menganggap bahwa wanita itu tentulah bukan golongan baik-baik dan yang agaknya sengaja hendak memusuhinya, Pek Lian sudah menyerang dengan dahsyat sehingga gerakan pedangnya melahirkan tusukan-tusukan maut kearah wanita itu.

Wanita itu mengelak beberapa kali, nampaknya terkejut juga menyaksikan kehebatan gerakan pedang ditangan Pek Lian.

"Cring! Tarang-tranggg!!"

Bunga api berpijar menyilaukan mata dan kembali wanita itu terkejut ketika memperoleh kenyataan betapa tenaga dara muda itu cukup kuat untuk menandingi tenaganya.

Pek Lian terus menyerang, akan tetapi wanita yang bertahi lalat, yang menjadi pemimpin diantara mereka, segera berteriak dan teman-temannya sudah maju mengepung Pek Lian.

Pek Lian terus memutar pedangnya, melawan mati-matian dan penuh kemarahan.

Akan tetapi tingkat kepandaiannya hanya seimbang dengan seorang diantara mereka, maka setelah mereka berlima maju bersama, tentu saja ia segera terdesak hebat.

Untung baginya bahwa lima orang wanita, bertusuk konde batu giok itu agaknya tidak berniat membunuhnya.

Kalau demikian halnya, tentu ia tidak akan dapat bertahan lama.

Beberapa belas jurus kemudian, lima orang itu mempergunakan sabuk biru yang menyambar-nyambar dan.

akhirnya Pek Lian terpaksa menyerah ketika sabuk-sabuk biru itu telah melibat tubuhnya, membuat ia tidak dapat lagi menggerakkan kaki tangannya.

Ia tertawan dan dibelenggu kedua lengannya kebelakang.

"Manusia-manusia hina, pengecut besar. Beraninya hanya main keroyokan! Kalau mau bunuh lekas bunuh, jangan dikira aku takut mati!"

Teriak Pek Lian marah.

"Pemberontak hina!"

Si tahi lalat itu memaki dan makian ini membuat Pek Lian membungkam.

Siapakah mereka ini, pikirnya, dan apakah mereka ini tahu bahwa ia adalah puteri Menteri Ho yang dianggap pemberontak?

Ia mulai merasa khawatir.

Kalau sampai ia ditangkap sebagai pemberontak, ditawan seperti ayahnya, tentu ayahnya akan marah dan semua usahanya sia-sia belaka.

Ia harus mencari akal dan kesempatan untuk meloloskan diri dari orang-orang ini.

Ia harus mencari ayahnya.

Akan tetapi, gerak-gerik lima orang wanita ini demikian teliti dan teratur, jelas menunjukkan bahwa mereka adalah rombongan orang-orang terlatih, seperti pasukan kecil yang dikemudikan oleh pemimpinnya, yaitu wanita yang bertahi lalat.

Tak pernah mereka itu lengah menjaganya dan ketika malam tiba, mereka berhenti dibagian yang tinggi dan agaknya mereka itu menanti sesuatu.

Pek Lian tidak pernah membuka mulut dan hanya memperhatikan gerak-gerik mereka yang juga tidak banyak mengeluarkan kata-kata itu.

Mereka berlima itu bersikap seperti menantikan orang, sering kali memandang keempat penjuru dari tempat tinggi itu dan saling pandang seperti orang-orang yang mulai merasa gelisah.

Pek Lian menduga-duga siapa gerangan yang mereka nantikan.

Ia teringat bahwa ketika ia bersama kedua orang gurunya dan juga orang-orang Lembah Yang-ce melakukan perjalanan dan berjumpa dengan mereka ini, terdapat delapan orang diantara wanita bertusuk konde batu giok ini.

Akan tetapi sekarang hanya tinggal lima orang.

kemanakah perginya tiga orang lagi?

Apakah mereka ini menanti munculnya tiga orang kawan mereka itu?

Pek Lian diajak makan dan dara ini tidak menolak.

"Kalau engkau tidak melawan, kamipun tidak akan mengganggumu, hanya engkau harus menurut saja sebagai tawanan yang baik,"

Kata si tahi lalat sambil melepaskan belenggu kedua tangan Pek Lian.

Pek Lian hanya mengangguk.

Ia tidak takut, hanya ia tahu bahwa kalau ia bersikap keras, ia tidak berdaya untuk lolos, ia harus mempergunakan kecerdikan dan tidak menuruti hati yang panas.

Setelah makan, mereka berlima itu duduk bersila, seperti orang bersamadhi, membentuk lingkaran dan Pek Lian berada ditengah-tengah.

Pek Lian maklum bahwa lima orang wanita itu beristirahat, namun mereka itupun tidak pernah lengah dan ia seperti dikurung.

Maka iapun mencontoh perbuatan mereka, duduk bersila mengumpulkan tenaga.

Api unggun yang dibuat oleh mereka itu bernyala tak jauh dari mereka, mengusir nyamuk dan dingin.

Hanya satu kali si tahi lalat itu mengeluarkan suara yang mengandung kegelisahan.

"Mengapa sampai sekarang mereka belum juga datang?"

Ucapan ini meyakinkan hati Pek Lian bahwa mereka tentu menanti datangnya tiga orang kawan mereka, dan memang dugaannya ini tepat.

Lima orang wanita yang memiliki ciri khas, yaitu tusuk konde batu giok itu, memang sedang menantikan datangnya tiga orang kawan mereka.

Menjelang tengah malam, suasana.

sunyi bukan main ditempat itu.

Hutan didekat puncak bukit nampak hitam menyeramkan dan suara binatang-binatang hutan kadang-kadang membuat Pek Lian terkejut dan membayangkan yang bukan-bukan.

Biarpun ia masih duduk bersamadhi seperti lima orang yang menawannya, namun diam-diam Pek Lian selalu waspada.

Sedikit saja kesempatan untuk meloloskan diri, sudah pasti tidak akan dilewatkannya.

Akan tetapi, lima orang itu agaknya tidak pernah lengah, karena mereka itu masih tetap menantikan munculnya tiga orang kawan mereka.

Tiba-tiba terdengar bunyi desing disebelah selatan.

Mereka semua terkejut, termasuk Pek Lian dan semua orang menengok kearah selatan.

Nampak oleh mereka meluncurnya anak panah berapi kuning yang meluncur keangkasa.

Anak panah tanda bahaya!

Si tahi lalat sudah meloncat bangun dan berkata.

"Tanda bahaya mereka! Tentu terjadi sesuatu yang gawat! Mari kita bantu mereka. A-bwee, engkau disini menjaga tawanan!"

Wanita yang disebut A-bwee mengangguk dan tanpa diduga oleh Pek Lian, wanita ini sudah meringkus dan membelenggu kedua lengannya.

Pek Lian terkejut dan hendak melawan, namun maksud hati ini diurungkannya, karena apa dayanya menghadapi mereka berlima?

Kedua lengannya diikat dibelakang tubuhnya dan setelah melihat betapa tawanan itu tidak berdaya, empat orang diantara mereka lalu berloncatan pergi sedangkan yang seorang itu duduk menjaga tawanan yang sudah terbelenggu kedua lengannya itu.

Ketika empat orang wanita gagah itu dengan tangkasnya berloncatan kearah anak panah tanda bahaya tadi, tiba-tiba mereka melihat anak panah kedua dan mengertilah mereka bahwa teman-teman mereka terancam bahaya besar.

"Mari cepat!"

Kata yang bertahi lalat dan merekapun mengerahkan seluruh kepandaian mereka berlari cepat menuruni bukit itu dan ketika mereka tiba dilereng, mereka melihat betapa pemimpin mereka sedang berkelahi dengan amat serunya menghadapi seorang nenek yang bertubuh gendut dan lihai bukan main.

Jelaslah bahwa pemimpin mereka itu terdesak hebat.

Tak jauh dari situ nampak seorang kakek kurus kecil sedang berjongkok, nongkrong diatas sebuah pedati.

Dekat pedati itu tergeletak dua orang tubuh wanita, dua diantara tiga kawan kelompok wanita bertusuk konde batu giok itu.

Melihat betapa muka mereka nampak kebiruan, mudah diduga bahwa mereka itu tentu terluka hebat dan keracunan.

Begitu melihat nenek gendut dan kakek kurus ini, empat orang wanita yang baru datang terkejut bukan main.

"Iblis-iblis dari Ban-kwi-to (Pulau Selaksa Iblis)!"

Teriak mereka dan merekapun sudah cepat mencabut pedang untuk membantu pemimpin mereka.

"Awas...!"

Pemimpin mereka berseru sambil memutar pedang melindungi dirinya dari desakan lawan.

"Lindungi hidung dengan saputangan! Tempat ini telah penuh disebari racun oleh iblis-iblis ini!"

Mendengar seruan itu, empat orang wanita bertusuk konde giok segera mengikatkan saputangan melindungi hidung dan mulut mereka, kemudian merekapun maju mengeroyok wanita gendut yang amat lihai itu.

Hebat bukan main wanita gendut itu.

Biarpun tubuhnya gendut, akan tetapi ia dapat bergerak dengan amat gesitnya dan ia menghadapi pengeroyokan lima orang wanita lihai yang berpedang itu dengan kedua tangan kosong saja!

Akan tetapi, yang terancam maut malah lima orang pengeroyoknya karena setiap gerakan wanita gendut ini selalu mengandung bahaya.

Jarum-jarum halus menyambar-nyambar dari jarak dekat kepada mereka sehingga mereka itu harus lebih banyak mempergunakan pedang mereka untuk melindungi tubuh.

Setiap tamparan tangan wanita itupun mengandung hawa beracun yang selain membawa bau amis, juga mengandung hawa yang kadang-kadang amat panas dan kadang-kadang amat dingin.

Untunglah bahwa lima orang wanita itu memang pada dasarnya memiliki ilmu pedang yang tangguh, dan setelah kini mereka maju berlima, nenek gendut itu tidak mudah merobohkan seorang diantara mereka.

"He-he..., ha-ha-ha, rasakan sekarang! kau sekarang dikeroyok banyak orang lihai, sebentar lagi tentu kau akan dicincang pedang mereka menjadi bakso! ha-ha-ha! Mereka akan menggorok lehermu yang buntek, menusuk hidungmu yang pesek dan merobek perutmu yang gendut, lalu kau boleh pelesir keneraka! Dan aku akan bebas, heh-heh! Jadi ini namanya kita sehidup semati, aku yang hidup, kau yang mati dan aku akan kawin lagi, aku akan mencari yang muda, yang cantik, yang... heiiiittt!"

Kakek kecil kurus itu cepat mencelat dan mengelak karena tiba-tiba saja isterinya, si nenek gendut itu telah meninggalkan lima orang pengeroyoknya dan menyerang kearah suaminya dengan terkaman dahsyat.

Melihat suaminya mengelak, nenek itu menyerang lagi dengan hebatnya dan sekarang suaminya menangkisnya.

"Desss!!"

Nenek gendut itu terdorong sampai tiga langkah akan tetapi suaminya terdorong sampai lima langkah.

Ini saja membuktikan bahwa si nenek itu ternyata lebih lihai dari pada suaminya.

Perkelahian antara suami-isteri iblis ini demikian hebatnya, membuat lima orang wanita bertusuk konde giok itu melongo.

Ketika suami-isteri itu mulai mempergunakan racun, si suami menyebar pasir beracun, sedangkan isterinya yang tidak mau kalah itu menyebar jarum-jarum dan asap beracun, lima orang wanita itu cepat menyingkir sambil menyeret dua orang kawan mereka yang terluka.

Sepasang iblis tua itu benar-benar gila.

Agaknya mereka sudah melupakan sama sekali tentang musuh-musuh mereka dan kini mereka itu berkelahi mati-matian.

Si nenek lebih ganas lagi menyerang, baik dengan kaki tangan maupun dengan mulutnya yang memaki-maki, dan akhirnya kakek itu kewalahan lalu melarikan diri terbirit-birit, dikejar oleh isterinya yang makin keras memaki-maki penuh kemarahan.

Melihat kesempatan ini, lima orang wanita bertusuk konde giok itu cepat membawa dua orang teman mereka yang terluka untuk menjauhkan diri dari tempat berbahaya itu.

Yang terpenting bagi mereka adalah mencoba untuk menolong dua orang teman yang terluka.

Cepat mereka membawa dua orang itu kedalam hutan dan setelah merebahkan kedua teman itu diatas rumput, mereka berusaha mengobati dengan pengerahan sinkang dan dengan obat-obat penawar racun yang selalu mereka bawa diantara obat-obat luka luar atau dalam.

Akan tetapi, luka-luka beracun yang diderita oleh dua orang itu sungguh berbeda dengan luka-luka beracun biasa.

Luka gigitan ular berbisa saja masih akan dapat disembuhkan oleh mereka, akan tetapi luka-luka yang diakibatkan serangan tokoh Ban-kwi-to itu sungguh luar biasa sekali dan semua usaha pengobatan mereka sia-sia.

Nyawa kedua orang itu tidak dapat diselamatkan dan akhirnya merekapun tewas tanpa dapat meninggalkan kata-kata pesanan lagi.

Lima orang wanita yang kelihatan gagah perkasa itu, kini menangisi mayat dua orang temannya.

Kemudian pemimpin mereka, yang tadi dengan gagahnya melawan nenek iblis, menghentikan tangis mereka dan dengan wajah muram berduka mereka lalu mengubur jenazah kedua orang teman mereka ditempat itu juga.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali mereka berlima meninggalkan dua gundukan tanah itu dan bergegas kembali ketempat dimana mereka meninggalkan seorang teman mereka menjaga tawanan.

Akan tetapi apa yang mereka dapatkan ketika mereka tiba ditempat itu membuat mereka terkejut bukan main.

Tawanan telah lenyap dan teman mereka yang bernama A-bwee itu telah menggeletak tanpa nyawa, dengan muka kebiruan tanda keracunan pula!

Setelah mereka berlima memeriksanya, ternyata luka keracunan yang diderita mayat ini sama dengan yang diderita oleh kedua orang teman mereka yang tewas.

"Keparat busuk!!"

Pimpinan mereka, wanita berusia empat puluh tahun yang sepasang matanya berkilat-kilat tajam itu, berseru marah sambil menghentak-hentakkan kakinya keatas tanah, wajahnya penuh geram dan kedukaan.

"Sepasang iblis itu sungguh jahat dan kejam! Sayang kita bukan tandingan mereka. Kita harus cepat pulang dan melapor, biarlah siocia yang akan membalaskan sakit hati ini!"

Dengan berduka merekapun mengubur jenazah teman ketiga ini.

Tentu saja mereka merasa berduka dan terpukul sekali.

Mereka terkenal sebagai Delapan Singa Betina yang terkenal, dan sekarang, sungguh tak terduga sama sekali, dalam waktu semalam saja, jumlah delapan itu tinggal lima dan yang tiga tewas dalam keadaan yang amat menyedihkan.

Dan penderitaan ini, korban tiga nyawa ini sungguh merupakan, korban yang sia-sia dan mati konyol, karena mereka bentrok dengan sepasang iblis itu tanpa sebab-sebab tertentu yang kuat, hanya merupakan percekcokan diantara dua kelompok yang berpapasan dijalan!

Setelah selesai mengubur jenazah teman ketiga itu.

Lima orang wanita bertusuk konde batu giok itu lalu cepat meninggalkan tempat itu dengan wajah muram.

Sudah sejak tadi Pek Lian merasa betapa jalan darahnya telah pulih kembali.

Akan tetapi ia tidak berani bergerak, dan pura-pura masih lumpuh tertotok atau setengah pingsan.

Tubuhnya bergoyang-goyang dalam keadaan rebah miring dibagian belakang gerobak yang berjalan lambat-lambat itu, berjalan diatas jalan yang tidak rata sehingga bergoyang-goyang keras.

Hanya sepasang mata dara itu saja yang bergerak melirik kebagian depan gerobak, dimana nampak dua orang suami-isteri gila itu sedang duduk berdampingan dan bercanda, tertawa-tawa, kadang-kadang mereka itu bercumbu dengan kasar, tanpa mengenal malu seolah-olah tidak ada Pek Lian didekat mereka yang dapat melihat semua adegan ini.

Begitulah kalau suami-isteri itu sedang dalam keadaan rukun.

Pek Lian memejamkan kedua matanya.

Wajahnya yang bulat telur itu agak pucat dan kurus.

Memang selama ayahnya ditawan ia mengalami banyak hal-hal yang pahit, ditambah lagi dengan kematian dua orang gurunya, membuat dara ini menderita tekanan batin yang membuatnya kurus dan pucat.

Namun wajah yang kini nampak pucat itu masih tidak kehilangan kecantikannya.

Biarpun rambutnya awut-awutan, kulit mukanya agak kotor dan pakaiannya kusut, dara ini masih nampak gagah dan cantik manis.

Dagunya yang runcing itu membayangkan kekerasan hati dan keberanian yang luar biasa.

Mulutnya tidak pernah membayangkan rasa takut, sedangkan sepasang matanya yang memang agak lebar itu, setelah wajahnya menjadi kurus nampak lebih lebar lagi, sepasang mata tajam yang mengeluarkan sinar berkilat.

Memang pantaslah puteri Menteri Ho ini menjadi pimpinan para pendekar di puncak Awan Biru, membantu suhunya.

Sebutan "nona Ho"

Oleh para pendekar dengan sikap menghormat, tidaklah mengecewakan karena selama ini sepak teriang Ho Pek Lian memang gagah perkasa dan nenuh semangat.

Akan tetapi pada saat itu, Ho Pek Lian atau nona Ho yang dikagumi para patriot itu, berada dalam keadaan yang menyedihkan dan sama sekali tidak berdaya.

Dalam keadaan lumpuh tertotok ia menjadi tawanan sepasang suami-isteri iblis itu, dan ia tahu bahwa kepandaiannya masih jauh untuk dapat menandingi seorang saja diantara mereka, apa lagi kalau harus menghadapi mereka berdua.

Dalam keadaan lumpuh tertotok, ia dilempar begitu saia seperti karung kosong diatas gerobak dan selanjutnya suami-isteri-itu tidak memperdulikannya dan membawanya melalui dusun-dusun yang terpencil menuju keutara.

Biarpun ia tidak takut menghadapi kematian, akan tetapi menghadapi kemungkinan apa yang akan dilakukan oleh sepasang iblis itu kepadanya, membuat Pek Lian merasa ngeri juga.

Ada hal-hal yang lebih mengerikan dari pada kematian.

Siang tadi saja ia telah mengalami hal yang mengerikan, masih meremang bulu tengkuknya kalau ingat.

Si kakek kecil kurus yang seperti tulang bungkus kulit itu mendekatinya.

Kemudian jari-jari tangan yang kecil dan keras dingin itu meraba dan membelai lehernya.

Pek Lian merasa ngeri dan bulu-bulu diseluruh tubuhnya bangkit berdiri.

Ia menutupkan kedua matanya dan menahan bau apek yang keluar dari tubuh kakek itu.

"Heh-heh-heh, halus kulitnya. hemm, lunak halus. Cantik sekali gadis ini!"

Jari-jari tangan itu meraba dan membelai. Pek Lian menahan jeritnya ketika jari-jari tangan itu makin menurun kedadanya. Akan tetapi, tiba-tiba kakek itu menarik tangannya ketika isterinya menghardik.

"Hem, bagus, ya? Dahulu engkau merayu dan mengatakan bahwa didunia ini akulah wanita paling cantik! Dan sekarang, didepan hidungku engkau memuji kecantikan lain orang! Bagus, ya? Engkau menantangku, ya?"

"Uhh, tidak, tidak! Jangan salah sangka, isteriku yang manis. Sampai sekarangpun, engkaulah wanita paling cantik didunia. Gadis ini memang cantik, akan tetapi engkaulah yang paling cantik. Heh-heh!"

"Betulkah itu, kakanda?"

Si isteri merayu manja.

"Heh-heh, siapa bohong padamu?"

Jawab kakek itu dan merekapun lalu bercanda, bergelut didalam gerobak, saling berciuman, saling cubit dan saling cakar sampai gerobak itu bergoyang-goyang dan berguncang keras!

Melihat semua ini, Pek Lian memejamkan matanya akan tetapi tidak mampu menutup telinganya yang terpaksa mendengar semua cumbu rayu mereka yang kasar itu.

Setelah permainan cinta mereka itu mereda, si isteri berkata.

"Awas engkau, ya? Sekali lagi engkau berani menyentuhnya, akan kurobek kulit yang kau sentuh dan akan kupatahkan tanganmu yang menyentuh!"

Tentu saja Pek Lian bergidik ngeri, akan tetapi hatinya merasa lega juga.

Kakek itu sangat takut kepada bininya yang besar cemburu itu dan hal ini telah menolongnya karena ia melihat pandang mata penuh nafsu dari kakek itu kepadanya.

Akan tetapi suami-isteri itu sungguh menyeramkan dan agaknya keduanya memang tidak normal otaknya.

Mereka itu kadang-kadang bermain cinta didepannya saja, dan kadang-kadang bercekcok sampai berkelahi mati-matian.

Pek Lian merasa tersiksa bukan main.

Ia tidak tahu hendak dibawa kemana dan mau diapakan oleh suami-isteri itu.

Belum setengah hari ia berada didalam gerobak tubuhnya sudah terasa gatal-gatal, kulitnya timbul bintik-bintik merah seperti digigiti nyamuk.

Ia tahu bahwa hal itu disebabkan oleh hawa beracun yang memenuhi gerobak itu.

Untung bahwa ia telah memiliki tenaga sinkang yang cukup kuat sehingga ia dapat melawan hawa beracun ini.

Yang amat menyiksanya hanyalah totokan yang membuat kaki tangannya seperti lumpuh itu.

Pek Lian memulihkan tenaganya.

Totokan itu telah mulai kehilangan kekuatannya dan jalan darahnya pulih kembali.

Ia diam saia, pura-pura masih lumpuh.

Sampai lama ia membiarkan darahnya berjalan lancar sampai akhirnya ia merasa betapa tubuhnya telah segar dan sehat kembali.

Pek Lian menanti sampai malam tiba.

Gerobak itu dihentikan oleh dua orang penawannya ditepi jalan dan seperti biasa, suami-isteri itu meninggalkan gerobak untuk mencari bahan makan malam.

Indah kesempatan terbaik, pikir Pek Lian dan setelah melihat mereka pergi, iapun cepat meloncat turun.

Senja telah tiba dan cuaca mulai remang-remang.

Akan tetapi, tiba-tiba dara ini meloncat kembali memasuki gerobak ketika ia mendengar suara kakek nenek itu tertawa-tawa dari jauh.

"Aduh, dingin sekali airnya...!"

Terdengar kakek itu berseru dan tahulah Pek Lian bahwa mereka itu sedang mandi.

Agaknya terdapat sumber air, anak sungai atau telaga didekat tempat itu.

Iapun mengintai dari balik tirai gerobak, melihat apakah keadaannya cukup aman baginya untuk melarikan diri.

Ia harus berhati-hati sekali karena kakek dan nenek itu lihai luar biasa dan kalau sampai larinya ketahuan sebelum ia pergi jauh sekali, besar bahayanya ia akan tertawan kembali.

Tiba-tiba ada angin menyambar yang membuat pintu gerobak itu bergerak dan hampir saja Pek Lian menjerit saking kagetnya ketika mendadak ada tubuh meloncat masuk dan tahu-tahu kakek kurus itu telah berdiri dipintu gerobak dalam keadaan telanjang bulat sama sekali!

Badannya yang kurus itu masih basah kuyup, air masih menetes-netes dari seluruh tubuhnya.

Pek Lian menutupi mulut dengan tangan menahan jeritnya dan cepat membuang muka agar tidak usah melihat tubuh telanjang itu walaupun cuaca mulai remang-remang dan ia tidak dapat melihat jelas.

"Heh-heh-heh, engkau sudah dapat bangun, manis? Bagus, mari temani aku bersenang-senang sebentar!"

Dan kakek itu lalu menubruk dan meraih tubuh Pek Lian.

"Tidak! Jangan...!"

Teriaknya dan ia memapaki tubuh itu dengan pukulan tangannya.

"Plakk!"

Pergelangan tangannya ditangkap dan sebelum tangan kedua bergerak, juga pergelangan tangan kedua ini ditangkap oleh kakek itu yang terkekeh dan ada air liur menetes dari mulutnya ketika dia mencoba untuk mencium muka nona itu.

Pek Lian.

meronta-ronta sekuat tenaga, melawan mati-matian dan tiba-tiba kakinya yang tertindih, tanpa disengaja, menendang sebuah benda didalam gerobak itu.

"Prakk!"

Guci kecil itu pecah dan dari dalam guci itu keluarlah berpuluh-puluh kelabang merah.

Bau amis memenuhi ruangan gerobak itu dan Pek Lian menggigil ketakutan melihat kelabang-kelabang besar merah itu merayap cepat dan ada yang merayap kepakaiannya, bahkan memasuki lubang celana dan bajunya.

Ia berteriak-teriak dan mencoba untuk mengusir binatang-binatang itu.

"Heh-heh-heh, ha-ha-ha!"

Kakek itu merasa girang bukan main dan agaknya dia seperti seorang anak kecil yang menemukan permainan baru.

Sejenak dia lupa akan rangsangan nafsu berahinya dan dia merasa gembira sekali melihat gadis itu tersiksa seperti itu.

Sambil berjongkok didekat Pek Lian, dia terkekeh-kekeh melihat gadis itu menggeliat-geliat kengerian dikeroyok puluhan ekor kelabang itu!

Dan Pek Lian sekali ini baru dapat mengalami apa artinya rasa takut dan jijik.

Dari takutnya ia sampai jatuh pingsan!

Melihat gadis ini pingsan, kakek itu seperti kehilangan kegembiraannya dan teringat lagi akan nafsu berahinya maka diapun mulai meraba-raba hendak menanggalkan pakaian gadis itu.

Akan tetapi, baru dua buah kancing baju dibukanya, tiba-tiba dia menarik kembali tangannya mendengar isterinya berteriak-teriak dari kejauhan.

"Bangsat penipu pembohong! Laki-laki penakut dan pengecut! dimana kau? Akan kurobek mulutmu yang membohongiku. Dimana ada buaya disungai itu? Sampai kehabisan napas aku menyelam dan mencari-cari tanpa hasil. kau pembohong! dimana kau? Jangan lari!"

Mendengar teriakan isterinya ini, kakek itu menjadi ketakutan dan cepat diapun meloncat keluar dari dalam gerobak dan melarikan diri dalam keadaan masih telanjang bulat, meninggalkan Pek Lian yang masih rebah pingsan didalam gerobak.

Nenek itu meloncat masuk kedalam gerobak.

Matanya terbelalak melihat binatang-binatang itu terlepas dan berkeliaran disitu.

"Wah, celaka, siapa berani melepaskan peliharaan kesayanganku, hah?"

Cepat ia mengambil sebuah botol kecil dan menuangkan isinya yang berupa cairan kedalam mangkok.

Bau yang amis busuk memenuhi tempat itu dan sungguh mengherankan sekali, semua kelabang itu cepat-cepat merayap datang dan memasuki mangkok itu.

Nenek itu menangkapi dengan jari-jari tangan yang cekatan sekali dan tak lama kemudian semua kelabang sudah disimpannya kembali kedalam sebuah guci kosong.

Kemudian ia memperhatikan keadaan Pek Lian dan alisnya yang tebal itu berkerut.

Apa lagi ketika ia melihat genangan air didalam gerobak.

Ia lalu meloncat turun dan kembali terdengar suaranya memaki-maki.

"Bangsat cabul tak tahu diri! dimana kau?"

Tak lama kemudian, nenek itu mendapatkan suaminya sedang enak-enak memancing ikan ditepi sungai sambil bersiul-siul, seolah-olah tidak pernah melakukan sesuatu yang salah.

Akan tetapi, agaknya isterinya tidak dapat dikibuli begitu saja dan segera telinga sang suami dijewer dan dia diseret oleh isterinya yang galak itu kembali kepedati, yang segera diberangkatkan oleh nenek yang marah-marah itu.

Dengan terjadinya peristiwa itu, pengawasan si nenek menjadi lebih ketat sehingga kakek itu tidak mempunyai kesempatan sama sekali untuk mencoba-coba mendekati Pek Lian.

Hal ini tentu saja amat menguntungkan Pek Lian, akan tetapi disamping itu, juga ia mengalami penyiksaan lain sebagai akibat dari rasa cemburu dan benci dari nenek iblis.

Karena cemburu, kini sikap nenek iblis itu terhadap Pek Lian menjadi sadis.

Pada hari ketiga, Pek Lian tidak dibelenggu kedua lengannya lagi, melainkan diharuskan duduk dibagian depan, diatas tempat duduk kusir dan kaki kanannya dirantai dengan tiang gerobak.

Ia diharuskan menjadi kusir, mengamati dan mengendalikan kuda penarik gerobak.

Lebih celaka lagi, nenek itu telah menotok urat gagunya sehingga ia tidak mampu mengeluarkan suara, hanya duduk dengan antengnya dibangku kusir sementara itu suami-isteri iblis itu bersenang-senang didalam gerobak.

Pek Lian masih selalu menanti saat baik.

Bagaimanapun juga keadaannya, gadis perkasa ini tidak pernah putus asa.

Selama hayat dikandung badan, ia tidak akan pernah putus harapan.

Pada suatu ketika, ia pasti akan dapat meloloskan diri.

Ia tidak mau mati konyol dengan melakukan perlawanan yang sia-sia belaka terhadap suami-isteri iblis yang amat lihai itu.

Bagaimanapun juga, ia kini terlindung oleh rasa cemburu isteri itu terhadap suaminya.

Bahaya yang terbesar telah tersingkir dan iapun tidak bodoh untuk dapat menduga bahwa suami-isteri itu tidak menghendaki kematiannya, karena kalau demikian halnya, tidak mungkin ia dibiarkan hidup sampai tiga hari lamanya.

Hari itu, sejak pagi telah turun hujan.

Akan tetapi suami-isteri iblis itu membiarkan Pek Lian tetap duduk diluar dan kehujanan sampai pakaiannya basah kuyup.

Juga nenek itu tidak memperbolehkannya menghentikan gerobak untuk berteduh.

Tentu saja keadaan Pek Lian ini membuat orang-orang yang melihatnya menjadi terheran-heran.

Sementara itu, didalam gerobak terjadi pula perdebatan antara suami dan isterinya yang galak itu.

"Eh, isteriku yang manis, yang denok, diluar hujan deras sekali. Apakah akan kau biarkan saja anak ayam itu kehujanan diluar? Ia bisa masuk angin dan sakit"

"Huh! kau perduli apa sih? kau kasihan ya? kau cinta padanya ya?"

"Eh, eh... jangan marah dulu dong! Aku hanya bilang kalau ia sakit dan tidak dapat mengendalikan kuda, kita akan kehilangan seorang kusir yang can... eh, yang cakap."

"Sudah, jangan cerewet! Biarkan saja. Hayo kita bersenang-senang, didalam sini kan hangat, mari kita main adu kelabang!"

"Isteriku yang manis, mengapa tidak dibunuh saja biar lekas beres dan tidak mengganggu?"

"Manusia tolol engkau! Lupakah engkau bahwa kita pernah dipesan oleh Sam-suci? Aku akan diberi hadiah ramuan awet muda yang diciptakannya, apabila kita dapat mencarikan seorang gadis muda cantik keturunan bangsawan yang bertulang bagus dan berdarah murni, juga mempunyai kepandaian tinggi. Nah, inilah gadis itu!"

"Alaaaa, awet muda. Mana bisa orang tetap awet muda kalau usianya sudah tua?"

Kakek itu menggerutu.

Mereka tidak mempersoalkan Pek Lian dan gadis itupun tidak mau memperhatikan mereka.

Ia merasa muak sekali dan ia sudah lama belajar untuk menulikan telinganya, tidak mendengarkan apa yang terjadi di dalam gerobak.

Ketika ia mendengar betapa suami isteri iblis yang tadinya bercanda itu kini tidur mendengkur, diam ia lalu membelokkan gerobak itu menuju kejalan besar.

Hanya inilah yang dapat dilakukannya.

Ia tidak dapat mematahkan rantai yang membelenggu kakinya, maka jalan satu-satunya adalah membelokkan kuda menuju kekota agar kalau ada orang melihat keadaannya, ia akan menarik perhatian orang dan siapa tahu kalau di antara mereka itu terdapat pendekar pendekar yang sakti dan dapat membebaskannya dari cengkeraman suami-isteri iblis itu.

Kini ia sudah tahu mengapa ia ditawan dan tidak dibunuh.

Kiranya iblis betina itu mempunyai niat untuk "menjualnya"

Kepada seorang iblis lain yang disebut Sam-suci oleh iblis betina itu, untuk ditukar ramuan obat awet muda.

Hujan masih deras ketika gerobak itu memasuki pintu gerbang sebuah kota.

Agaknya karena hujan yang mendatangkan hawa dingin, suami-isteri iblis itu masih enak-enak tidur mendengkur, tidak tahu bahwa gerobak mereka telah disesatkan memasuki kota besar, padahal mereka selalu ingin menjauhi tempat ramai selama ini.

Orang-orang yang berteduh ditepi jalan memandang dengan heran kepada gadis yang menjalankan gerobaknya dan membiarkan dirinya ditimpa air hujan sampai rambut dan pakaiannya basah kuyup itu.

Kota yang dimasuki gerobak itu adalah Lok-yang, yang merupakan kota kedua setelah Tiangan yang menjadi Kotaraja.

Tentu saja Pek Lian yang menjadi puteri seorang Menteri, mengenal kota besar ini dan diam-diam ia mengharapkan untuk dapat bertemu dengan orang-orang gagah yang akan dapat membantunya membebaskan diri dari kedua orang iblis itu.

Jantungnya berdebar tegang, akan tetapi ia merasa lega mendengar betapa kedua orang iblis itu masih enak-enak tidur mendengkur.

Mereka itu sungguh seperti bukan manusia lagi, pikir Pek Lian.

Bermain cinta dengan kasar tanpa mengenal malu, bercekcok dan berkelahi, selalu bersaing, bahkan dalam mendengkur saja mereka seperti bersaing keras!

(Lanjut ke

Jilid 07) Darah Pendekar (Seri ke 01 -Serial Darah Pendekar) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo Bahan Cerita . Sriwidjono

Jilid 07 Biarpun waktu itu sudah tengah hari, akan tetapi cuacanya agak dingin dan agak gelap karena sejak pagi hujan.

Kota yang besar, penuh dengan toko-toko, rumah-rumah makan dan juga rumah-rumah penginapan itu nampak sunyi karena yang berani berlalu-lalang hanya mereka yang membawa payung dan yang naik kereta.

Sebagian besar orang berteduh diemper-emper toko dan jalan raya yang cukup lebar itu telah digenangi air.

Ketika gerobak yang dikendarai Pek Lian memasuki pintu gerbang, tak lama kemudian masuk pula sebuah kereta indah yang dihias tanda-tanda kebesaran.

Kereta itu dikawal oleh belasan orang perajurit yang berpakaian serba mewah dan indah gemerlapan.

Disebelah kanan kiri kereta itu nampak dua orang gadis cantik yang berpakaian indah seperti puteri-puteri bangsawan Istana atau pengawal-pengawal wanita Istana yang berkedudukan tinggi.

Dibelakang masing-masing gadis ini terdapat seorang perajurit yang melindungi mereka dari air hujan dengan sebuah payung bergagang panjang.

Perlakuan ini saja membuktikan bahwa dua orang gadis itu bukanlah sembarang pengawal, setidaknya tentu pengawal-pengawal seorang puteri Istana yang dipercaya.

Melihat pedang panjang tergantung dipunggung dua orang gadis itu, makin mudah diduga bahwa mereka itu tentulah pengawal-pengawai Istana yang penting.

Karena kereta indah itu mendahuluinya, Pek Lian dapat memperhatikan kereta didepannya itu.

Ia melihat betapa orang-orang yang berteduh ditepi jalan, membungkuk dengan hormat ketika kereta lewat.

Ini hanya menunjukkan bahwa penumpang kereta itu tentulah seorang pejabat tinggi.

Dan melihat dua orang pengawalnya, mudah diduga bahwa penumpang itu tentulah seorang wanita bangsawan.

Pek Lian menduga-duga.

Siapakah wanita bangsawan tinggi didalam kereta itu?

Pek Lian memandang kepada dua orang pengawal wanita itu dengan penuh perhatian.

Sejak melihatnya tadi, ia merasa seperti telah mengenal atau setidaknya pernah melihat mereka ini, akan tetapi ia lupa lagi entah kapan dan dimana.

Kini ia memandang lagi penuh perhatian dan karena kini ia memandang dari belakang, segera ia tertarik oleh sesuatu pada rambut mereka itu.

Tentu saja!

Tusuk konde batu giok!

Sama benar bentuknya dengan tusuk konde yang dipakai oleh delapan orang wanita berpakaian sutera hitam itu, yang pernah menawannya.

Hanya bedanya, dua orang gadis ini masih muda, cantik dan pakaiannya indah.

Karena ia sendiri tidak tahu harus menujukan gerobaknya kemana, maka kuda yang didiamkannya itu otomatis mengikuti jalannya kereta disebelah depan.

Kereta mewah itu berhenti dipintu gerbang sebuah gedung besar dengan pekarangan yang luas dan indah.

Pek Lian juga menghentikan gerobaknya dibelakang kereta itu sambil memandang dengan penuh perhatian.

Pintu kereta terbuka dan turunlah seorang wanita tua yang berwibawa, berpakaian indah dan bersikap tenang sekali.

Wanita tua ini menengok satu kali kearah gerobak, lalu melangkah kedepan, disambut oleh seorang laki-laki setengah tua yang agaknya menjadi tuan rumah penghuni gedung itu.

Pek Lian melihat nenek ini dan juga pria itu, hatinya berdebar tegang.

Ia mengenal dengan baik siapa adanya mereka, walaupun ia tidak pernah berkenalan dekat dengan mereka.

Pria setengah tua yang kelihatan gagah itu, yang us;anya antara lima puluh lima tahun, adalah Wakil Perdana Menteri Kang yang amat terkenal karena selain wakil Perdana Menteri ini amat cerdik pandai, juga dia terkenal sebagai seorang pembesar atau pejabat yang adil, jujur dan set;a.

Semua pejabat di Kotaraja segan kepadanya, bahkan Kaisar sendiripun menaruh hormat kepada wakil Perdana Menteri ini.

Sedangkan nenek itupun pernah dilihat oleh Pek Lian, bahkan nama nenek ini sudah lama dikenalnya.

Nenek ini dikenal sebagai Siang Houw Nio-nio, bukan nenek sembarangan karena ia adalah bibi dari Kaisar sendiri!

Bahkan, biarpun tidak secara resmi, terdengar desas-desus bahwa nenek inilah yang bertanggung jawab atas keamanan keluarga Kaisar di Istana karena nenek ini memang memiliki ilmu kepandaian yang amat-lihai.

Pek Lian hanya dapat memandang dengan melongo ketika nenek itu disambut dengan penuh kehormatan oleh pihak tuan rumah, kemudian nenek itu diiringkan masuk kedalam gedung, dikawal oleh dua orang gadis cantik yang berjalan gagah dibelakangnya.

Setelah mereka itu lenyap, kedalam gedung, barulah Pek Lian sadar bahwa ia sejak tadi telah duduk bengong diatas gerobak yang dihentikannya dibelakang kereta.

Dan baru ia tahu bahwa para pengawal yang jumlahnya empat belas orang tadi mulai memperhatikan gerobaknya.

Bahkan empat orang segera melangkah lebar menghampirinya.

"Heii, nona! Sejak tadi engkau mengikuti kami, ada urusan apakah?"

Tegur seorang diantara mereka.

Mereka tadi ketika mengawal kereta, melihat gerobak ini, akan tetapi mereka tidak berani membikin ribut karena takut kepada Siang Houw Nio-nio yang mereka kawal, juga karena dua orang nona pengawal pribadi nenek itu diam saja, merekapun tidak berani banyak bertingkah.

Sekarang, setelah nenek penghuni kereta bersama para pengawal pribadinya telah diterima oleh pihak tuan rumah dengan selamat, barulah mereka berani ribut-ribut untuk menyatakan rasa penasaran dan mereka menghampiri gerobak yang masih berhenti tak jauh dari pintu gerbang itu.

"Jangan-jangan ia menyelidiki perjalanan kita!"

Kata seorang diantara mereka sambil mendekat.

"Eh, kenapa kakimu dirantai, nona?"

Tanya orang ketiga dan kini ada enam orang pengawal ramai-ramai mendekat karena tertarik oleh seruan terakhir ini.

Pek Lian tidak dapat banyak mengharapkan orang-orang seperti para pengawal ini.

Ia sudah tahu sampai dimana kepandaian perajurit-perajurit pengawal ini.

Kalau dua orang gadis tadi, barulah boleh diharapkan dapat menolongnya.

Akan tetapi, betapapun juga, ia melihat kesempatan untuk menimbulkan keributan dan menarik perhatian, maka mendengar pertanyaan itu, ia lalu menoleh dan menudingkan jari telunjuknya kedalam gerobak.

Isyarat ini cukup bagi para perajurit pengawal.

Bagaikan pendekar-pendekar atau pahlawan-pahlawan yang hendak menolong seorang gadis manis yang tersiksa, mereka itu lalu mendobrak pintu dengan gedoran-gedoran keras.

"Penjahat-penjahat keji yang berada didalam gerobak! Hayo keluar menerima hukuman!"

Teriak mereka sambil beramai-ramai mendorong pintu gerobak yang terkunci dari dalam itu.

Tiba-tiba terdengar teriakan melengking dari dalam, mengejutkan para perajurit pengawal karena teriakan seperti itu hanya dapat dikeluarkan oleh mulut binatang-binatang buas.

Dan tiba-tiba saja pintu gerobak itu terbuka lebar dari dalam, disusul beri kelebatnya dua bayangan orang dan empat orang perajurit berteriak dan roboh, menggigil kedinginan terkena pukulan beracun!

Tentu saja hal ini amat mengejutkan sepuluh orang perajurit pengawal lainnya dan mereka sudah cepat mencabut senjata lalu mengeroyok kakek dan nenek yang telah merobohkan empat orang kawan mereka itu.

Terjadilah perkelahian yang ramai, dimana sepuluh orang pengawal dihadapi oleh dua orang kakek dan nenek yang amat lihai.

Kakek itu berkelahi sambil terkekeh-kekeh dan seperti biasa, Dia mempermainkan para pengeroyoknya, membuat mereka jatuh bangun hanya dengan menjegal, mendorong dan tidak menjatuhkan pukulan maut karena memang dia ingin puas mempermainkan dulu para pengeroyoknya sebelum membunuh mereka.

Sebaliknya, nenek itu menggerakkan kaki tangannya dengan buas sambil memaki-maki dan dalam waktu singkat, sudah ada dua orang lagi perajurit pengawal yang dirobohkan oleh pukulannya yang mengandung hawa beracun.

Suasana menjadi ribut karena para penjaga gedung itupun sudah berlari-lari mendatangi sambil memegang senjata.

Kembali sudah jatuh dua orang perajurit pengawal sehingga kini sudah ada delapan orang menggeletak keracunan oleh pukulan suami-isteri yang lihai itu.

Keributan ini tentu saja segera diketahui oleh para pengawal-pengawal dalam gedung dan merekapun cepat berlari keluar.

Kini kakek dan nenek itu dikeroyok oleh puluhan orang perajurit pengawal dan penjaga.

Akan tetapi, para perajurit itu sama saja dengan menyerahkan nyawa mencari kematian.

Makin banyak kini yang roboh sehingga mayat mereka malang-melintang memenuhi halaman yang luas itu.

Melihat ini semua, diam-diam Pek Lian bergidik.

Kakek dan nenek itu benar-benar amat keji dan juga amat lihai.

Tiba-tiba terdengar suara melengking nyaring dan nampak berkelebat bayangan merah dan putih meluncur keluar dari dalam gedung.

Pek Lian melihat bahwa yang bergerak cepat sekali itu ternyata adalah dua orang gadis pengawal tadi.

Tahu-tahu mereka telah berada disitu dan mereka sudah mengenal keadaan dengan pandang mata mereka yang tajam dan berpengalaman.

"Pek-cici, tentu mereka inilah yang telah membunuh orang-orang kita! Manusia-manusia iblis dari Ban-kwi-to!"

"Benar, Ang-siauwmoi! kau bantu para pengawal, biar aku bebaskan gadis tawanan itu!"

Kata wanita baju putih, sedangkan wanita yang bajunya merah telah mencabut pedang panjangnya dan dengan gerakan yang amat cepat dan dahsyat, ia sudah menerjang kakek nenek iblis dengan serangan maut.

Pedangnya membuat gulungan sinar dan mengeluarkan suara bercicit, tanda bahwa ilmu pedang gadis baju merah ini amat lihai dan digerakkan oleh tenaga sinkang yang amat kuat.

Sementara itu, gadis baju putih sekali meloncat telah tiba didekat Pek Lian.

Dengan cekatan ia mematahkan rantai kaki Pek Lian dengan pedangnya yang ternyata terbuat dari pada baja yang amat kuat itu, dan melihat keadaan Pek Lian, iapun lalu menotok dan mengurut leher Pek Lian sehingga Pek Lian dapat mengeluarkan suara lagi.

"Terimakasih,"

Kata Pek Lian.

"Tidak perlu, kalau engkau ada kepandaian, lebih baik bantu kami menghadapi sepasang iblis itu!"

Jawab si wanita baju putih yang kini segera meloncat turun dan membantu gadis baju merah dengan putaran pedangnya yang ternyata tidak kalah hebatnya dibandingkan dengan si baju merah.

Dua orang gadis itu memang benar amat lihai.

Terutama sekali ilmu pedang mereka sedemikian hebatnya sehingga sepasang iblis itupun berkali-kali mengeluarkan seruan kaget dan nyaris menjadi korban pedang kalau mereka tidak cepat-cepat menghindarkan diri dengan cekatan sambil membalas dengan mengawut-awut jarum, pasir dan asap beracun.

Para pengawal yang mengeroyok hanya berani menggunakan senjata-senjata panjang seperti tombak untuk menyerang kakek daii nenek itu dari jarak jauh setelah melihat betapa perajurit pengawal yang berani mehyerang terlalu dekat tentu roboh dalam keadaan mengerikan, menjadi korban pukulan beracun.

Melihat betapa sepasang iblis itu terdesak, akan tetapi masih amat sukar bagi dua orang gadis dan para pengawal untuk merobohkannya, Pek Lian yang merasa sakit hati terhadap mereka lalu meloncat turun dari atas gerobak, dan menyambar sebatang pedang yang berserakan dihalaman.

Banyak senjata para pengawal yang sudah roboh itu berserakan ditempat itu dan pedangnya sendiri entah dibuang kemana oleh suami-isteri iblis itu.

Dengan pedang dita-ngan, Pek Lian menyerbu dan ikut mengeroyok.

Tentu saja serangan Pek Lian dengan ilmu pedang yang tidak boleh dipandang ringan ini membuat suami-isteri dari Ban-kwi-to menjadi semakin terdesak.

Bagaimanapun juga, ilmu silat pedang Pek Lian adalah ilmu pedang yang masih aseli dan bersih, mengandung dasar yang kuat.

Dan selama ini ia telah memperoleh banyak pengalaman dalam pertempuran-pertempuran melawan musuh-musuh yang tangguh sehingga ia memperoleh banyak kemajuan pesat.

Maka, pengeroyokannya juga terasa berat oleh suami-isteri iblis itu sehingga mereka semakin terdesak.

Karena khawatir kalau-kalau sampai terluka dan roboh, tiba-tiba nenek itu mengeluarkan sebuah tabung bambu kuning dari saku jubahnya yang kedodoran, dan membuka tutupnya.

Melihat ini, Pek Lian yang selama tiga hari berkum-pul dengan mereka dan sudah tahu akan isi tabung bambu itu, berteriak kaget.

"Awas binatang berbisa!!"

Teriakannya itu ternyata benar karena dari tabung bambu itu keluar beterbangan beratus-ratus lebah yang warnanya putih yang mengamuk dan menyerang para pengeroyok.

Hebatnya, diantara para perajurit yang terkena sengatan lebah itu, seketika roboh berkelojotan, tubuhnya kejang-kejang!

Bukan main hebatnya bisa dari sengatan lebah putih ini.

Yang belum menjadi korban sengatan lebah, segera melarikan diri kedalam gedung, termasuk Pek Lian dan dua orang wanita tokoh tusuk konde batu giok itu, dikejar oleh lebah-lebah yang marah.

Sementara itu, melihat jatuhnya beberapa orang korban sengatan lebahnya, kakek dan nenek itu seperti kumat gilanya.

Mereka tertawa-tawa, bertepuk-tepuk tangan dan bersorak, lalu berjongkok dan menonton orang-orang yang berkelojotan dan kejang-kejang sebagai akibat sengatan lebah, kelihatan gembira bukan main seperti anak-anak kecil menikmati cacing-cacing yang berkelojotan terkena abu panas.

Mereka agaknya seperti telah melupakan keadaan sekeliling mereka, karena asyik dengan permainan baru ini.

Memang nampaknya dua orang ini seperti iblis yang amat kejam.

Akan tetapi, bukankah kesadisan, yaitu rasa gembira melihat orang atau mahluk lain tersiksa ini telah ada pada diri setiap orang manusia sejak kanak-kanak?

Hanya agaknya pada suami-isteri ini kesadisan itu menonjol sekali sehingga kelihatannya luar biasa dan keterlaluan.

Sementara itu, nenek Siang Houw Nio-nio yang berada didalam gedung, sedang bercakap-cakap dengan Wakil Perdana Menteri Kang.

Mereka bicara dengan serius sekali dan wajah keduanya agak muram dan nampak bersemangat.

Agaknya mereka saling berbantah dan kini terdengar suara nenek yang berwibawa itu, yang bicara sambil menatap tajam wajah wakil Perdana Menteri itu, suaranya terdengar lantang dan berpengaruh.

"Menteri Kang! Aku pribadi dapat mengerti akan perasaan hatimu. Aku mengerti, apa yang menjadi sebab sesungguhnya dari permintaanmu untuk pensiun itu. Alasan yang kau ajukan bahwa engkau sudah merasa terlalu tua dan tidak sanggup bekerja lagi adalah alasan yang dicari-cari saja. Aku tahu bahwa sebab yang sesungguhnya adalah karena semua nasihatmu tidak pernah digubris oleh Kaisar, bukankah demikian? didalam batinmu, engkau selalu berselisih pendapat dengan Sribaginda dan hal itu amat mengesalkan hatimu. Bukankah demikian? Apa lagi setelah sahabat eratmu, yaitu Menteri Ho, ditangkap karena dianggap menentang kebijaksanaan pemerintah. Dan karena engkau setia, maka dari pada engkau harus mengalami tekanan batin, lebih baik engkau mengundurkan diri saja. Bukankah demikian, Wakil Perdana Menteri Kang!"

Ucapan nenek itu begitu terus-terang dan ditujukan langsung tanpa pura-pura lagi sehingga bagi Menteri setia itu terasa seolah-olah ada todongan pedang langsung keulu hatinya.

Mendengar ucapan itu, pembesar ini agak pucat mukanya dan sampai lama dia menundukkan mukanya.

Dia maklum bahwa akan percuma saja untuk menyangkal terhadap puteri yang amat cerdas ini.

Akhirnya, setelah menarik napas panjang, diapun berkata, suaranya terdengar berat membayangkan keadaan hatinya yang terhimpit.

"Tuan puteri, hamba mengerti bahwa sebagai bibi dan pelindung Sribaginda Kaisar, paduka memiliki pandangan yang luas, waspada dan bijaksana. Oleh karena itu, tentu paduka juga maklum bahwa hamba sama sekali tidak mempunyai niat yang kurang baik terhadap Sribaginda. Didalam lubuk hati hamba, yang ada hanyalah kesetiaan, sifat yang dijunjung oleh nenek moyang hamba. Selama ini, selagi mendampingi Sribaginda, hamba selalu berbuat baik dan bijaksana agar dapat meraih rasa hormat dan cinta dari rakyat. Kekuatan negara terletak kepada kekuatan Kaisarnya dan kekuatan Kaisar timbul dari kesetiaan rakyat yang mencintanya. Akan tetapi... ah, bagaimana hamba harus mengatakannya?"

"Lanjutkanlah, Menteri Kang. Jangan khawatir, engkau bicara dengan orang yang mempergunakan hati nuraninya, bukan hanya mempergunakan perasaannya."

"Bagaimana hati hamba tidak akan berduka melihat betapa Sribaginda agaknya hanya selalu menuruti keinginan beberapa orang kepercayaan saja. Mengejar kesenangan dan kurang mempertimbangkan usul-usul mereka yang dipercaya sehingga sering kali muncul keputusan dan perintah yang amat berlawanan dengan kehendak rakyat jelata. Hal itu membuat negara kita menjadi tegang dan kacau seperti sekarang ini. Hamba adalah wakil Perdana Menteri, tentu ikut bertanggung jawab atas keadaan negara. Akan tetapi apa yang dapat hamba lakukan kalau semua usul hamba tidak diperhatikan? Kalau semua nasihat hamba dikalahkan oleh bujuk rayu para penjilat? Lebih baik hamba mengundurkan diri saja. Bukan karena ham-ba ingin melarikan diri atau karena kecewa, melainkan karena kehadiran hamba didekat Sribaginda sama sekali tidak ada artinya lagi."

"Aku dapat mengerti perasaan hatimu, akan tetapi jalan pikiranmu yang demikian itu sesungguhnya keliru sama sekali, Menteri yang baik. Kalau engkau mundur, apakah keadaan akan menjadi lebih baik? Tentu akan semakin parah. Aku sendiri tidak berhak mencampuri urusan pemerintahan, akan tetapi aku tahu bahwa kalau engkau mundur, berarti makin berkurang pula Menteri yang berani memberi ingat dan menegur Sribaginda kalau beliau melakukan kesalahan dalam tindakannya. betapapun juga, usia Sribaginda masih terlalu muda sehingga beliau perlu dibimbing dan dinasihati oleh orang-orang yang bijaksana dan berpengalaman seperti engkau. Sayang bahwa aku hanya mahir dalam urusan ilmu silat, sedikitpun aku tidak tahu akan seluk-beluk pemerintahan, maka aku minta dengan sangat kepadamu, Menteri Kang, secara pribadi dan demi persahabatan kita, agar engkau suka mempertahankan kedudukanmu, mendampingi Sribaginda. Biarlah kita bekerja-sama. Aku yang mendampingi dan menjaga keselamatan Sribaginda, sedangkan engkau yang menjaga kebijaksanaannya."

Setelah bicara dengan panjang lebar, nenek itu menghapus sedikit peluh dari dahi dan lehernya.

"Akan tetapi, tuan puteri... paduka tentu mengenal kekerasan hati Sribaginda. Mungkin saja peringatan hamba akan membuat hamba dijebloskan pula kedalam penjara seperti Menteri Ho yang baik dan jujur itu"

"Hemm, kalau begitu engkau merasa takut dan ngeri? Engkau lebih suka melihat keadaan menjadi semakin buruk dari pada kehilangan nyawamu untuk negara? Inikah ucapan Wakil Perdana Menteri Kang yang terkenal setia dan berbudi itu?"

"Bukan begitu, tuan puteri..."

Akan tetapi pembesar ini tidak melanjutkan kata-katanya karena pada saat itu terdengar suara hiruk-pikuk dari para pengawal dan penjaga yang berlarian kedalam gedung, dikejar oleh lebah-lebah berbisa.

Bahkan diruangan depan gedung itu, terdapat beberapa orang pengawal yang jatuh bergelimpangan dan sekarat.

Dua orang gadis bertusuk konde batu giok sudah meloncat kedalam dan dengan singkat menceritakan kepada nenek itu tentang pengamukan suami-isteri dari Ban-kwi-to yang mempergunakan lebah-lebah berbisa untuk merobohkan banyak sekali pengawal.

Mendengar keterangan dua orang pengawal pribadi yang juga menjadi murid-murid kesayangannya itu, Siang Houw Nio-nio menjadi marah sekali.

Dikibaskannya lengan bajunya.

"Pek-ji! Ang-ji! Apakah menghadapi iblis Ban-kwi-to saja kalian tidak mampu mengatasinya dan perlu menggangguku?"

Bentaknya penasaran.

Biasanya, kedua orang muridnya ini sudah dapat mengatasi segala persoalan yang timbul, karena itu ia sudah menaruh kepercayaan besar dan bahkan mengangkat mereka menjadi pengawal-pengawal pribadinya agar ia tidak usah turun tangan sendiri kalau timbul persoalan.

Tentu saja ia merasa penasaran dan marah melihat kedua orang murid yang diandalkannya ini sekarang menjadi kacau hanya oleh amukan dua orang iblis Ban-kwi-to saja.

"Maaf, subo, sebetulnya teecu berdua tidak akan kalah kalau saja mereka itu mempergunakan ilmu silat biasa. Akan tetapi mereka melepaskan lebah yang ratusan ekor banyaknya, lebah berbisa yang mengerikan sehingga sudah banyak perajurit yang roboh dan keracunan. Teecu berdua kewalahan untuk mengusirnya."

Mendengar laporan muridnya yang berbaju putih yang diberi nama panggilan Pek In (Awan Putih) sedangkan yang berbaju merah disebut Ang In (Awan Merah), Siang Houw Nio-nio mengerutkan alisnya.

"Lebah berbisa...? Apakah berwarna putih dan yang kena sengatannya terus kejang-kejang karena panas yang hebat dan berkelojotan, lalu kulit para korban juga menjadi putih?"

"Benar, subo,"

Kata Ang In.

"Hemm, tentu lebah beracun dari pohon-pohon arak diSin-kiang yang amat berbahaya. Dalam waktu tiga jam kalau tidak diberi obat penawarnya, luka sengatan itu akan menjadi busuk dan sukar ditolong lagi. Menteri Kang, apakah engkau mempunyai arak yang tua, keras dan wangi? Cepat keluarkan dan bawa kesini. Suruh semua orang membawa obor, karena hanya dengan api sajalah lebah-lebah itu dapat diusir dan mereka sangat suka kepada arak wangi dan keras. Cepat!"

Wakil Perdana Menteri Kang lalu memberi perintah kepada pengawal pribadinya dan tak lama kemudian nenek bangsawan itu telah menuangkan arak wangi kedalam guci arak yang indah buatannya, kuno dan nyeni.

la membawa keluar guci arak itu dan meletakkannya diruangan depan.

Dan terjadilah keanehan.

Bau arak yang harum itu agaknya menarik lebah-lebah putih itu yang beterbangan dengan cepatnya menuju keguci arak itu dan sebentar saja semua lebah mengerumuni guci dan mengeroyok arak harum itu seperti semut-semut mengerumuni gula.

Setelah semua lebah berkumpul disitu, Siang Houw Nio-nio lalu menyingsingkan lengan bajunya dan dengan kedua tangannya ia meraup lebah-lebah itu dan memasukkannya kedalam sebuah botol besar, kemudian iapun keluar membawa botol terisi lebah-lebah putih itu.

Di halaman depan, suami-isteri iblis itu masih seperti orang gila, berjongkok dan tertawa terpingkal-pingkal melihat para korban yang berkelojotan diatas tanah.

Memang ada lucunya melihat muka yang tertarik-tarik itu dan kaki tangan yang kejang-kejang, akan tetapi bagi orang biasa, tentu rasa ngeri dan kasihan akan mengusir semua bagian yang lucu.

"Heh-heh-heh, lihat hidungnya! Heh-heh, hidungnya jadi bengkok!"

Kata nenek itu sambil terpingkal-pingkal.

"Dan yang sana itu, kakinya menendang-nendang, ha-ha, agaknya dia mimpi belajar ilmu tendangan baru yang sakti, ha-ha-ha!"

Suaminya juga tertawa bergelak melihat tingkah laku seorang korban lain.

"Hemm, kiranya tak salah dugaanku. Imkan Siang-mo yang datang mengacau, sungguh berani mati sekali!"

Nenek bangsawan itu berkata.

Suami-isteri itu terkejut dan cepat melompat berdiri, berdampingan menghadapi nenek itu, memandang heran bahwa ada seorang yang mengenal julukan mereka ditempat ini.

Akan tetapi ketika mereka melihat nenek yang berpakaian indah dan bersikap penuh wibawa itu, mereka berdua saling pandang dan nampak terkejut, lalu dengan sikap canggung keduanya menjura kearah nenek itu.

"Bagaimana toanio dapat mengenal Imkan Siang-mo?"

Tanya nenek itu dengan suara parau. Siang Houw Nio-nio tersenyum.

"Memang baru sekarang aku dengan sial bertemu dengan kalian, akan tetapi siapakah yang tidak pernah mendengar nama kalian sebagai tokoh-tokoh Ban-kwi-to? Kalian mempunyai ciri-ciri badan yang mudah dikenal. Imkan Siang-mo, Sepasang Iblis dari akhirat, juga suami-isteri Bouw Mo-ko dan Hoan Mo-li."

"Engkau mengenal kami, lalu mau apa?"

Tiba-tiba nenek iblis itu menantang. Siang Houw Nio-nio tetap tersenyum dengan tenang.

"Lihat, tidak kenalkah kalian kepada lebah-lebah ini lagi?"

Melihat betapa lebah-lebah putih itu berada didalam botol yang dipegang oleh si nenek sakti, suami-isteri itu menjadi marah sekali.

"Kembalikan lebah-lebahku!"

Bentak Hoan Mo-li, nenek gendut itu sambil menyerang, diturut pula oleh suaminya.

Lebah-lebah itu adalah binatang-binatang peliharaan mereka yang menjadi sahabat-sahabat baik dan bahkan merupakan senjata mereka yang terampuh dalam menghadapi lawan tangguh, dan mereka memperoleh lebah-lebah itu dengan amat sukar, bahkan dengan taruhan nyawa.

Belum lagi waktu yang dipergunakan untuk menjinakkan mereka yang membutuhkan ketelitian, kesabaran dan juga mengandung bahaya.

Oleh karena itu, melihat betapa lebah-lebah itu berada ditangan nenek bangsawan itu, tentu saja mereka menjadi marah dan menyerang dengan dahsyat dan mati-matian.

Akan tetapi, suami-isteri yang mempunyai pukulan-pukulan beracun itu sekarang seolah-olah ketemu gurunya.

Pada hakekatnya, dasar ilmu silat dari tokoh-tokoh Ban-kwi-to ini tidaklah terlalu tinggi.

Yang membuat mereka berbahaya bukanlah kelihaian ilmu silat mereka, melainkan racun-racun yang mereka pergunakan itulah.

Kini, berhadapan dengan Siang Houw Nio-nio yang memiliki tingkat ilmu silat tinggi, mereka itu mati kutu.

Puteri tua yang menjadi bibi dan juga pelindung Kaisar ini ternyata amat lihai.

Ia menghadapi pengeroyokan dua orang itu hanya dengan tangan kanan saja, sedangkan tangan kirinya dipakai untuk memegang botol terisi lebah-lebah putih.

Biarpun demikian, dengan langkah-langkah ajaib, ia selalu dapat menghindarkan diri dan kedua orang suami-isteri iblis itu tidak pernah mampu menyentuhnya.

Sampai tiga puluh jurus lebih suami-isteri itu mendesak tanpa ada gunanya sama sekali.

Tiba-tiba, Siang Houw Nio-nio yang tadi hanya ingin melihat dasar-dasar gerakan mereka dan mengukur tingkat mereka, meloncat kepinggir sambil berseru.

"Berhenti!!"

Seruannya mengandung tenaga khikang yang demikian kuatnya sehingga dua orang lawannya itu, mau atau tidak, otomatis berhenti bergerak dan memandang kepadanya dengan bengong.

"Kita tukar lebah-lebah peliharaan kalian ini dengan obat pemunahnya untuk menyembuhkan para korban. Hayo cepat, kalau tidak, kuhancurkan lebah-lebah ini kemudian kepala kalian juga!"

Ucapan nenek itu penuh wibawa dan sekali ini suami-isteri itu tidak ragu-ragu lagi.

Mereka telah memperoleh bukti bahwa nenek ini tidak hanya mengeluarkan gertak sambal belaka, karena selama tiga puluh jurus lebih tadi mereka berdua memang sama sekali tidak berdaya dan kalau nenek itu benar-benar hendak membunuh mereka, agaknya hal itu bukan tidak mungkin.

"Baik..., baik... ini obat pemunahnya, obat luar dan obat minum. Berikan kembali lebah-lebahku,"

Kata Hoan Moli si nenek gendut.

Penukaran terjadilah dan Siang Houw Nio-nio lalu memerintahkan dua orang muridnya untuk mengobati para korban.

Dan benar saja, setelah diolesi obat luar dan diberi minum obat minumnya, para korban itu berhenti berkelojotan dan tak lama kemudian merekapun sembuh kembali.

Sementara itu, kakek kecil kurus, Bouw Mo-ko, setelah sejak tadi memandang kepada nenek bangsawan itu, lalu berkata.

"Benarkah kami berhadapan dengan yang mulia Siang Houw Nio-nio?"

Mendengar ucapan suaminya itu, Hoan Moli juga kelihatan terkejut. Nenek bangsawan itu mengangguk dan berkata.

"Nah, kalian boleh pergi dari sini dan jangan mencoba untuk membikin kacau dikota ini!"

Bouw Mo-ko yang maklum bahwa tinggal lebih lama ditempat itu tidak menguntungkan mereka, lalu menggandeng tangan isterinya.

"Isteriku, mari kita pergi dari sini!"

"Nanti dulu!"

Hoan Moli mengibaskan tangannya yang digandeng suaminya.

"Siang Houw Nio-nio, perjanjian antara kita hanya mengenai tukar-menukar lebah dan obat penawarnya. Akan tetapi gadis itu adalah tawanan kami, maka kami akan membawanya kembali!"

Nenek bangsawan itu menoleh kepada Pek Lian yang ditudingi oleh nenek iblis itu, lalu ia mengangkat pundaknya.

"Tidak ada hubungannya denganku,"

Katanya. Mendengar ini, Hoan Moli lalu menghampiri Pek Lian.

"Anak manis, mari kau ikut dengan kami!"

"Tidak sudi! Biar mati aku tidak akan mau menyerah!"

Bentak Pek Lian sambil melintangkan pedangnya, pedang yang dipungutnya dari atas tanah dihalaman itu.

"Eh, eh, kau berani melawanku, ya?"

Hoan Moli membentak dan menubruk maju.

Pek Lian mengelak dan balas menyerang.

Akan tetapi, Bouw Mo-ko kini juga sudah maju menubruk dan Pek Lian menjadi repot sekali.

Melawan seorang diantara kedua iblis itu saja ia takkan mampu menang, apa lagi kalau dikeroyok dua.

Akan tetapi pada saat itu, Pek In dan Ang In sudah menerjang maju membantunya.

"Eh, eh, bukankah gadis tawananku ini tidak termasuk perjanjian tukar-menukar lebah?"

Hoan Moli mencela.

"Kalian berjanji dengan subo, bukan dengan kami. Kami tidak terikat perjanjian!"

Jawab Pek In yang terus menggerakkan pedangnya, dibantu oleh Ang In dan Pek Lian.

Kini dua orang suami-isteri iblis itu yang menjadi kewalahan.

Untuk mempergunakan racun, mereka segan dan jerih terhadap Siang Houw Nio-nio, maka akhirnya sambil mengeluarkan seruan-seruan marah dan kecewa, keduanya meloncat keatas gerobak dan melarikan gerobak mereka itu dengan cepat meninggalkan tempat itu, langsung keluar dari pintu gerbang kota besar Lok-yang.

Setelah dua orang iblis itu melarikan diri, Siang Houw Nio-nio memandang kepada Pek Lian dengan sinar mata penuh selidik, kemudian bertanya.

"Nona, siapakah engkau?"

Pek Lian merasa ragu-ragu untuk menjawab.

Ia tahu siapa adanya nenek ini yang masih keluarga dekat Kaisar.

Tentu saja ia tidak berani mengaku bahwa ia adalah puteri Menteri Ho yang kini menjadi musuh dan tawanan pemerintah.

Sebagai bibi Kaisar, tentu saja nenek inipun memusuhi keluarga Ho yang dianggap pemberontak.

Melihat keraguan Pek Lian, gadis baju merah lalu berkata sebagai keterangan kepada subonya.

"Gadis ini tentu merupakan kawan dari orang-orang Lembah Yang-ce yang memberontak. Anak-buah teecu pernah menawannya. Bukankah begitu?"

Tanyanya kepada Pek Lian.

Pek Lian tak dapat menyangkal akan hal ini dan iapun tahu bahwa tentu wanita-wanita bertusuk konde batu giok itu telah melapor kepada pimpinan mereka ini.

Maka iapun menjawab dengan suara mengejek.

"Hemm... kiranya wanita-wanita bertusuk konde batu giok itu adalah anak-buah mu?"

Pek Lian memandang kearah tusuk konde pada rambut nona baju merah itu.

"Anak-buahmu itu sungguh kurang ajar sekali. Aku hanya pernah berjalan bersama-sama ketua lembah itu saja, dan aku lalu ditangkap! Aturan mana itu?"

"Adik yang baik, kau maafkanlah anak-buah kami. Akan tetapi orang-orang lembah itu adalah buronan pemerintah, maka karena engkau mengenal mereka, sudah selayaknya kalau engkau dicurigai,"

Kata Pek In si baju putih.

"Akan tetapi, apa hubungannya dengan wanita-wanita baju sutera hitam bertusuk konde batu giok itu? Ada hak apakah mereka mencurigai orang?"

Pek Lian bertanya penasaran. Gadis baju putih itu tersenyum dan kalau biasanya ia nampak gagah, kini baru terlihat jelas bahwa wajahnya manis sekali kalau tersenyum.

"Adik, tahukah engkau siapa pembesar pemilik gedung ini? Beliau adalah Wakil Perdana Menteri Kang, dan guru kami ini, beliau adalah bibi dari Sribaginda Kaisar. Nah, kini engkau mengerti mengapa anak-buah kami mencurigai orang-orang yang menjadi teman para pemberontak, bukan?"

Tentu saja Pek Lian sama sekali tidak terkejut mendengar siapa adanya pembesar dan nenek bangsawan itu karena memang ia sudah pernah mengenal dan mendengar tentang mereka.

Hanya tadi ia merasa kagum bukan main menyaksikan kelihaian nenek itu ketika menghadapi Imkan Siang-mo, suami-isteri iblis yang lihai itu.

Dan baru sekarang ia tahu bahwa pasukan wanita berpakaian sutera hitam dengan tusuk konde batu giok itu adalah anak-buah murid-murid dari Siang Houw Nio-nio jadi orang-orangnya pemerintah!

Atau setidaknya adalah golongan yang membela Kaisar.

Ia sendiri tidak ingin dikenal sebagai puteri Menteri Ho karena hal ini akan berbahaya sekali baginya.

Maka, ketika melihat Wakil Perdana Menteri Kang keluar dan memandang kepadanya dengan sinar mata tajam, Pek Lian menundukkan mukanya.

Menteri Kang itu mengerutkan alisnya dan merasa seperti pernah mengenal gadis ini.

akan tetapi dia lupa lagi.

Pek Lian merasa betapa jantungnya berdebar tegang.

Bagaimana kalau sampai ia dikenal?

Tidak ragu lagi, ia tentu akan ditangkap sebagai anggauta keluarga pemberontak.

Ia harus berhati-hati dalam memberi jawaban, pikirnya dan ia tidak boleh terlalu banyak bicara.

"Nona, siapakah engkau? Benarkah orang-orang Lembah Yang-ce itu adalah kawan-kawan mu? Ataukah engkau barangkali juga anggauta pemberontak?"

Kembali wanita tua itu bertanya dengan halus, namun sinar matanya seperti hendak menembus jantung Pek Lian.

"Saya adalah seorang perantau dan kebetulan bertemu dijalan dan berkenalan dengan ketua lembah itu. Karena saya pernah ditolongnya, maka kami menjadi sahabat, akan tetapi saya bukan anggauta mereka."

"Dimanakah sekarang sahabatmu, ketua lembah itu?"

Ho Pek Lian memang tidak tahu kemana perginya Kwee Tiong Li yang ikut bersama gurunya yang baru, yaitu kakek Kam Song Ki yang lihai. Maka iapun menggeleng kepalanya dan berkata.

"Saya tidak tahu. Kami saling berpisah tiga hari yang lalu dan saya ditawan oleh pasukan tusuk konde batu giok lalu dirampas oleh sepasang iblis itu."

Wakil Perdana Menteri Kang mempersilahkan nyonya bangsawan itu untuk duduk kembali diruangan tamu melanjutkan percakapan mereka. Siang Houw Nio-nio memberi isyarat kepada dua orang muridnya.

"Bawa ia masuk dan awasi baik-baik."

Pek In dan Ang In lalu memegang kedua tangan Pek Lian dengan halus dan mengajaknya masuk keruang tamu dimana kedua orang gadis itu duduk agak jauh dibelakang nenek yang kini melanjutkan percakapan dengan Menteri Kang.

Dua orang muridnya adalah orang-orang kepercayaan maka diperbolehkan untuk hadir.

Dan nenek ini biarpun seorang bangsawan, akan tetapi sikapnya seperti orang kang-ouw, tidak begitu perduli akan segala peraturan.

Bahkan ia seperti sengaja membiarkan Pek Lian ikut pula mendengar-kan, agaknya memang nenek ini ingin memancing agar Pek Lian dapat memberi keterangan lebih banyak tentang para pemberontak.

Pek Lian duduk diapit-apit dua orang gadis lihai yang biarpun bersikap halus akan tetapi tetap saja merupakan pengawal-pengawal yang takkan membiarkan ia lolos.

Diam-diam Pek Lian memasang telinga mendengarkan percakapan tingkat tinggi itu.

"Menteri Kang, sekali lagi kuharapkan engkau suka memegang lagi jabatanmu dan mengurungkan niatmu untuk mengundurkan diri. Hal ini telah diputuskan oleh para penasihat Istana dalam rapat terakhir dengan Sribaginda Kaisar sendiri. Akulah yang ditugaskan datang kesini untuk menyampaikannya kepadamu."

Wakil Perdana Menteri Kang mengangguk-angguk dan menarik napas panjang.

"Kalau hamba menolak, tentu paduka telah mendapat wewenang dari Sribaginda untuk memenggal kepala hamba sekeluarga, bukan? Begini, tuan puteri. Hamba siap untuk kembali, akan tetapi hamba juga siap untuk membiarkan kepalaku dipenggal sekarang juga oleh paduka."

Nenek itu mengerutkan alisnya dan sinar matanya mencorong menatap wajah pembesar itu.

"Hem, apa maksudmu, Menteri Kang?"

"Hamba siap untuk bertugas kembali, apabila syaratnya dipenuhi. Hamba mohon agar para Menteri jujur dan setia yang dipecat dan dipensiunkan agar diampuni dan ditarik kembali karena tenaga mereka amat dibutuhkan negara, termasuk sahabat hamba Menteri Ho. Menteri Ho hendaknya diampuni dari hukuman mati, keluarganya dibebaskan dan agar dia menduduki lagi jabatannya. Demikianlah, tuan puteri. Kalau permohonan hamba itu tidak dipenuhi, maka lebih baik hamba menerima untuk di..."

"Nanti dulu, Menteri Kang!"

Nenek itu menyela.

"Mana mungkin aku dapat memutuskan hal itu sekarang! Bukan wewenangku. Akan tetapi aku akan berusaha untuk menyampaikan permohonanmu kepada Sribaginda dan akan berusaha agar beliau mengabulkannya. Aku mendengar bahwa Sribaginda telah menghentikan empat orang Menteri, bahkan menjatuhkan hukuman mati kepada seorang diantaranya yang kini sedang hendak menjalankan pelaksanaan hukuman matinya. Menteri itu adalah sahabat karibmu"

Nenek itu menghela napas.

Ia tidak tahu betapa jantung Pek Lian berdebar penuh ketegangan dan keharuan.

Betapa tidak akan tergetar rasa hati gadis ini mendengar orang membicarakan ayahnya.

Akan tetapi ia menguasai hatinya dan hanya menundukkan muka sambil terus mendengarkan dengan penuh perhatian.

"Maaf, tuan puteri. Soalnya bukan semata-mata karena Menteri Ho adalah sahabat karib hamba. Andaikata hamba tidak mengenal dia sekalipun, tetap dia akan hamba bela karena hamba tahu bahwa dia adalah satu diantara para pembantu Sribaginda yang terbaik, paling jujur dan setia sampai ketulang-tulang sumsumnya."

"Tapi dia berani menentang kebijaksanaan Sribaginda!"

Kata nenek itu penasaran.

"Tidak, tuan puteri. Bukan menentang Sribaginda, melainkan mengingatkan beliau bahwa keputusan yang diambil beliau itu kurang tepat dan pada akhirnya hanya akan merugikan negara sendiri. Hanya Menteri-Menteri jujur sajalah yang berani mengeritik, sebagai tanda bahwa dia benar-benar setia, bukan sebangsa pejabat yang pandainya hanya menjilat-jilat, menyenangkan hati Sribaginda karena pamrih untuk mencari kedudukan dan pengaruh, pejabat macam ini sesungguhnya adalah pengkhianat, musuh dalam selimut yang amat berbahaya. Kenapa justeru Menteri yang jujur dan setia yang harus ditangkap dan dihukum?"

"Sudahlah, aku mengerti apa yang kau maksudkan. Aku akan menghadap Sribaginda dan tunggulah selama satu minggu. Aku akan datang lagi, Pek-ji, Ang-ji, mari kita pulang. Bawa nona itu sebagai kawan."

Biarpun nenek itu menyebut "Kawan"

Namun dua orang muridnya tentu saja maklum bahwa guru mereka mencurigai nona ini yang harus dibawa sebagai seorang tawanan.

Pek Lian tidak membantah.

Ia dan dua orang murid Siang Houw Nio-nio itu diberi pinjaman pakaian oleh keluarga Wakil Perdana Menteri Kang untuk mengganti pakaian mereka yang tadi basah ketika mereka berkelahi melawan Imkan Siang-nio.

Setelah berpamit, rombongan puteri tua itu meninggalkan Lakyang untuk kembali ke Kotaraja.

Pengawal yang tadinya berjumlah empat belas orang itu masih utuh biarpun mereka telah menderita luka-luka berat yang kemudian dapat disembuhkan kembali.

Tentu saja mereka masih nampak loyo.

Akan tetapi, sesungguhnya tugas mereka itu lebih banyak sebagai tanda kebesaran saja dari pada benar-benar mengawal puteri tua yang amat lihai dan yang tentu saja sama sekali tidak membutuhkan pengawalan orang-orang seperti mereka.

Pek Lian menung-gang kuda dibelakang kereta, diapit oleh Pek In dan Ang In.

Dua orang gadis ini bersikap manis kepadanya, sama sekali tidak bersikap seperti orang yang menawannya.

Pek Lian mengakui namanya, hanya she Ho itu digantinya dengan she palsu, yaitu she Sie.

*** Hujan telah berhenti sama sekali sehingga para pengawal, juga Pek In, Ang In dan Pek Lian yang berada diluar kereta tidak lagi basah oleh air hujan.

Nenek bangsawan itu sengaja membuka tirai kereta sehingga dari belakang, sambil naik kuda yang disediakan oleh keluarga Menteri Kang, Pek Lian dapat melihat wajah nenek itu yang duduk termenung seperti patung.

Diam-diam, seperti tidak sengaja, Pek Lian memperhatikan wajah itu.

Seorang wanita yang sudah tua, usianya tentu ada enam puluh lima tahun, akan tetapi masih jelas membayang bekas kecantikannya.

Wajah itu masih putih lembut biarpun disana-sini, terutama dikanan kiri mulut dan diantara kedua mata, terdapat keriput.

Alisnya diperindah dengan hiasan hitam seperti sudah lajimnya dilakukan oleh para wanita bangsawan.

Mulut itu dahulu tentu indah dan penuh gairah, masih nampak jelas garis-garis lengkungnya, akan tetapi kini membayangkan sesuatu yang menyeramkan, menimbulkan sifat dingin dan juga keras.

Pek Lian teringat akan cerita ayahnya tentang wanita ini, seorang bibi dalam dari Kaisar dan juga menjadi pelindung Kaisar.

Biasanya wanita ini selalu berada didalam Istana, menjadi semacam pelindung tersembunyi dari Kaisar, disamping adanya pengawal-pengawal pribadi Kaisar yang dipimpin oleh Pek-lui-kong Tong Ciak si pendek cebol tokoh Soa-hu-pai itu.

Karena nenek ini tidak pernah mencampuri urusan pemerintahan, maka perkenalannya dengan Menteri Ho juga hanya sepintas lalu saja, bahkan Pek Lian sendiri hanya baru mendengar namanya saja dan belum pernah berkenalan secara langsung, hanya melihatnya dari jauh.

Tidak demikian dengan wakil Perdana Menteri Kang yang menjadi sahabat baik ayahnya.

Ia pernah bertemu, bahkan berkenalan dengan pembesar ini, walaupun hanya merupakan pertemuan sambil lalu.

Karena itulah maka pembesar itu meragu dan tidak mengenalnya tadi.

Kereta itu dengan tenangnya meluncur keluar dari pintu gerbang benteng sebelah utara.

Para penjaga yang mengenal kereta dengan tanda-tanda pangkatnya ini, cepat berdiri tegak memberi hormat dan kereta itu lewat dengan cepatnya, Pada saat itu, Ang In mendekati jendela kereta dan berkata kepada nenek Siang Houw Nio-nio.

"Subo, didepan terdapat empat orang dari perkumpulan Thian-kiam-pang. Mereka juga keluar dari pintu gerbang dan juga membawa sebuah kereta."

Nenek itu mengerutkan alisnya yang kecil panjang dan hitam karena alis itu buatan dengan alat penghitam.

"Biarkan saja, kenapa ribut-ribut? Jangan perdulikan bocah-bocah ingusan itu. Pura-pura tidak melihat saja!"

Jelas bahwa dalam kata-kata nenek itu terdapat kemarahan atau kemengkalan hati yang tidak senang.

"Tapi... tapi, subo... Disana terdapat Yap-suko! Teecu... teecu..."

Gadis baju merah itu tergagap.

Juga nona Pek In nampak gugup seperti adik seperguruannya.

Melihat semua ini, Pek Lian memandang heran.

Ada apakah?

Ia juga melihat kereta didepan dengan beberapa orang pemuda perkasa yang mirip dengan rombongan pria yang pernah dilihatnya ketika ia masih bersama kedua orang suhunya.

Orang-orang Thian-kiam-pang!

Pria gagah perkasa, berbaju putih-putih membawa pedang pasangan yang panjang, sikap merekapun gagah dan jelas menunjukkan bahwa mereka adalah golongan pendekar-pendekar perkasa.

"Huh, kalau ada bocah itu, kenapa sih? Apakah kalian takut padanya?"

Nenek itu bertanya dan nampaknya semakin penasaran.

"Lihat, apa yang dapat mereka lakukan kalau ada aku disini!"

Ho Pek Lian menjadi semakin heran.

Ada apakah antara nenek dan dua orang muridnya itu dengan orang-orang dari Thian-kiam-pang, sehingga dua orang gadis lihai itu nampak seperti gentar dan kehilangan keberanian mereka?

Apakah orang-orang Thian-kiam-pang itu musuh-musuh mereka dan apakah mereka itu demikan lihainya sehingga dua orang gadis itu kelihatan gentar?

Karena tertarik, Pek Lian agak menjauhkan kudanya dari kereta untuk dapat melihat lebih jelas kearah orang-orang Thian-kiam-pang yang berada didepan itu.

Kereta didepan itu agaknya berjalan lambat-lambat sehingga hampir tersusul oleh kereta yang ditumpangi Siang Houw Nio-nio.

Kini Pek Lian dapat melihat lebih jelas.

Orang-orang dari perkumpulan Pedang Langit itu rata-rata berusia antara tiga puluh lima sampai empat puluh tahun, kelihatan tegap dan gesit, rata-rata bersikap gagah dan membayangkan kepandaian silat yang tinggi.

Setelah kereta yang berada dibelakang itu menyusul dekat, pria-pria gagah perkasa yang rata-rata berpakaian serba putih itu serentak menengok kebelakang dan kesemuanya nampak terkejut sekali dan kikuk, persis seperti sikap Pek In dan Ang In ketika melihat mereka!

Jadi ada semacam rasa tidak enak, segan dan takut antara kedua rombongan itu.

Kini Pek Lian teringat betapa wanita-wanita berpakaian sutera hitam yang memakai tusuk konde batu giok itupun nampaknya kikuk ketika pria-pria gagah itu bertemu dengan pimpinan wanita bertusuk konde batu giok.

Empat orang pria itu meringis, senyum yang masam dan kikuk, dan mereka hampir berbareng menegur kepada dua orang gadis itu.

"Adik Pek! Adik Ang!"

Teguran yang dilakukan dalam keadaan canggung itu membuat dua orang gadis itu kelihatan makin serba salah, keduanya hanya tersenyum masam sambil sedikit mengangguk ketika mendengar sebutan itu.

Padahal, melihat nada suara sebutan itu, mudah diduga bahwa hubungan antara mereka itu sesungguhnya amat dekat.

Kini dua orang gadis itu hanya mengerling tajam dengan sikap takut-takut kearah jendela kereta.

Mereka merasa lebih gugup ketika melihat betapa kereta itu, kereta para pria itu, berhenti dan pemuda yang tadi duduk dibangku kusir kini meloncat turun dan menghampiri mereka!

Pemuda ini nampaknya paling muda diantara mereka berempat, akan tetapi melihat caranya memberi isyarat kepada yang lain untuk berhenti dan yang lain mengangguk taat, dapat diduga pula bahwa kedudukannya adalah yang paling tinggi.

Tentu saja Pek In dan Ang In tahu siapa pemuda ini.

Namanya Yap Kiong Lee dan biarpun usianya termuda diantara yang lain, yaitu baru tiga puluh satu atau dua tahun, akan tetapi dia adalah murid tertua atau paling lama sehingga merupakan toa-suheng dari yang lain dan tingkat ilmu silatnya juga paling tinggi.

Melihat dua orang gadis itu, murid Thian-kiam-pang yang paling lihai ini tersenyum girang dan dengan langkah lebar menghampiri sambil menegur.

"Hei, kiranya Pek-siauwmoi dan Ang-siauwmoi! Apa kabar, adik-adik yang manja? Dari manakah"

Tiba-tiba dia terdiam ketika dua orang gadis itu kelihatan ketakutan dan kebingungan, memandang kearah jendela kereta dibelakang itu.

Cepat dia menghentikan langkahnya dan memandang kearah jendela kereta pula, wajahnya agak berobah dan sikapnya menjadi gugup pula.

Tiba-tiba terdengar suara nenek bangsawan dari dalam kereta, suaranya agak ketus.

"Hayo, Pek-ji dan Ang-ji! Jangan layani bocah-bocah itu!"

Pek In dan Ang In menjadi semakin ketakutan.

"Yap-suheng... aku... aku..."

Pek In tak dapat melanjutkan kata-katanya dan menjalankan kudanya maju menjauhi pemuda itu, disusul oleh Ang In. Yap Kiong Lee juga kelihatan jerih, sambil menjura kearah kereta, diapun berkata.

"Subo...!"

Dan saudara-saudara seperguruannya juga menjura dengan hormatnya.

Akan tetapi, nenek didalam kereta itu sama sekali tidak menjawab dan keretanya lewat dengan cepat mendahului kereta Thian-kiam-pang itu dan Pek Lian juga mengikuti kereta sambil melirik dengan penuh keheranan.

Betapa anehnya semua orang ini, pikirnya.

Jelaslah bahwa mereka itu saling mengenal dengan amat baiknya, apa lagi pemuda she Yap itu sudah jelas memiliki hubungan yang amat akrab dengan dua orang gadis itu.

Akan tetapi mengapa mereka itu bersikap seolah-olah mereka bermusuhan atau merasa takut untuk memperlihatkan keakraban?

Pek Lian melirik kebelakang ketika mereka melalui kereta orang-orang Thian-kiam-pang itu, dan ia melihat kereta itupun bergerak dengan cepatnya, melalui jalan kecil disebelah kiri dan agaknya memang hendak mengambil jalan lain agar tidak sejalan dengan nenek bangsawan.

Sebentar saja kereta mereka itu lenyap, meninggalkan debu mengepul tinggi.

Sementara itu, kereta nenek bangsawan jalan seenaknya seperti yang diperintahkan oleh nenek itu kepada kusirnya.

Ketika kereta Siang Houw Nio-nio memasuki kota kecil disebelah timur Kotaraja, hari telah senja.

Jarak antara kota kecil Binan dengan Kotaraja Tiangan tinggal perjalanan setengah hari saja.

Akan tetapi karena nenek bangsawan itu tidak ingin melakukan perjalanan dimalam hari, ia memerintahkan agar mereka bermalam dikota kecil Binan.

Dan biarpun ia seorang yang berkedudukan tinggi di Istana, namun karena ia tidak termasuk orang pemerintahan dan tidak begitu mengenal para pejabat, iapun tidak mau merepotkan pejabat kota itu dan memerintahkan dua orang muridnya untuk mencari penginapan, tentu saja hotel yang paling baik dan besar dikota itu.

Hotel itu selain besar dan mempunyai banyak kamar, juga menyediakan sebuah rumah makan yang mewah.

Nenek Siang Houw Nio-nio segera memasuki kamar yang disediakan untuknya dan memesan kepada Pek In dan Ang In agar untuk makan malamnya, diantar saja kedalam kamar karena ia enggan keluar.

"Kalian boleh makan diluar dan jalan-jalan, akan tetapi jaga jangan sampai gadis itu lolos,"

Katanya.

Dua orang gadis itu menyanggupi lalu mereka mengajak Pek Lian keluar dan memasuki rumah makan itu.

Sikap keduanya gembira dan terhadap Pek Lian mereka menganggap seperti seorang sahabat sendiri.

"Adik Pek Lian, engkau tahu bahwa demi tugas, kami harus mengawasimu karena engkau dicurigai, akan tetapi percayalah bahwa kami suka kepadamu dan sedikitpun kami tidak mempunyai hati benci atau memusuhimu,"

Demikian mereka pernah berkata sehingga didalam hatinya, Pek Lian juga suka kepada dua orang gadis yang berilmu tinggi ini.

Ketika mereka memasuki rumah makan, tempat itu penuh dengan tamu-tamu yang makan-minum.

Ada sebuah meja kosong disudut dan tiga orang gadis itu duduk menghadapi meja ini, tidak jauh dari meja dimana terdapat empat orang laki-laki yang menarik perhatian mereka.

Dipinggang mereka ini terselip golok.

Padahal, waktu itu sudah ada larangan membawa senjata.

Jelaslah bahwa empat orang ini termasuk jagoan-jagoan dan dua orang diantara mereka mempunyai lengan yang dibalut, tanda bahwa mereka telah mengalami luka.

Sikap mereka kasar-kasar dan diam-diam Pek Lian melirik penuh perhatian karena ia merasa seperti pernah melihat wajah-wajah kasar ini.

Empat orang kasar itu kini menjadi semakin kasar karena mereka telah agak kebanyakan minum arak keras.

Ketika mereka minta tambah arak dan pelayan datang agak terlambat, seorang diantara mereka bangkit berdiri dan menampar pelayan itu.

Pelayan yang sial itu roboh terguling dengan pipi bengkak dan pingsan.

Tentu saja keadaan menjadi gempar.

Banyak diantara para tamu merasa tidak enak dengan adanya peristiwa ini dan mereka sudah bangkit berdiri, bermaksud meninggalkan tempat itu.

Akan tetapi, empat orang kasar itu bangkit berdiri, mencabut golok mereka dan mengacung-acungkannya keatas.

"Jangan ribut! Teruskan kalian makan, siapa berani pergi akan kami bunuh!"

Tentu saja para tamu menjadi semakin ketakutan.

Mereka tidak jadi pergi, akan tetapi tentu saja napsu makan sudah lama terbang meninggalkan hati mereka.

Para pelayan lain dengan ketakutan segera menggotong pelayan sial yang pingsan itu.

"Harap nona suka hati-hati,"

Bisik seorang diantara para pelayan ketika mereka lewat dekat meja tiga orang gadis itu.

Ketika ada beberapa orang petugas keamanan kota memasuki rumah makan, para tamu memandang dengan penuh harapan.

Tentu mereka akan menangkap empat orang yang jelas merupakan penjahat-penjahat kasar itu.

Akan tetapi, empat orang itu sama sekali tidak kelihatan takut, bahkan seorang diantara meieka mengangkat kakinya keatas meja secara menantang sekali.

Dan anehnya, para petugas keamanan itu nampak ragu-ragu!

Hal ini tentu saja amat mengherankan hati Pek Lian.

Kota kecil ini tidak terlalu jauh dari Kotaraja, akan tetapi mengapa para penjahat ini begitu beraninya, seolah-olah menantang petugas keamanan.

Melihat sikap mereka, Ang In hampir tidak dapat menahan hatinya, akan tetapi sucinya berkedip kepadanya dan mencegahnya turun tangan karena Pek In ingin melihat perkembangannya.

Empat orang yang mabok-mabokan itu agaknya tidak memperdulikan kanan kiri dan kesempatan ini dipergunakan oleh Pek Lian untuk menggapai pelayan yang tadi membisikkan peringatan kepada mereka bertiga.

Pelayan itu datang kemeja mereka dan sambil berpura-pura memesan makanan, Pek Lian berbisik dan bertanya kepada pelayan itu tentang empat orang kasar tadi.

Sambil berbisik pula, dengan singkat pelayan itu lalu bercerita.

Kiranya memang sudah kurang lebih sepekan ini kota kecil itu didatangi oleh penjahat-penjahat yang beraksi disekitar Kotaraja, termasuk dikota kecil itu.

Ketika para petugas keamanan turun tangan bertindak, para penjahat melawan dan beberapa orang petugas tewas dalam perkelahian.

Hal ini membuat para komandan marah dan diadakanlah pembersihan terhadap para penjahat.

Akan tetapi, ketika diadakan pembersihan pada siang harinya, maka pada malam harinya, terjadilah pembunuhan-pembunuhan gelap terhadap para komandan yang memimpin pembersihan.

Dan disetiap tempat dimana perwira itu dibunuh, terdapat sebuah bendera kecil berdasar hitam dengan gambar harimau berwarna kuning.

Dipinggang harimau itu melilit sebuah rantai yang kedua ujung nya bermata tombak.

Mendengar penuturan itu, Pek Lian menahan kagetnya.

Bukankah gambar yang dilukiskan itu merupakan tanda dari Sanhek-houw (Harimau Gunung Hitam), Raja kaum perampok dan begal, copet dan maling, yang merupakan seorang diantara Sam-ok (Tiga Jahat)?

"Hemm, mengherankan sekali,"

Kata Ang In.

"Apakah tidak ada pasukan penjaga keamanan dari Kotaraja?"

Tanyanya kemudian.

Pelayan itu sambil berbisik melanjutkan ceritanya.

Agaknya dia termasuk orang yang suka dengan kabar angin, dan suka bercerita pula, agaknya bangga karena dia dapat menceritakan semua itu.

Menurut kabar, oleh penguasa kota telah dilaporkan ke Kotaraja, akan tetapi sampai hari itu belum ada hasilnya.

Para penjahat itu nampaknya semakin berani.

Beberapa kali terjadi perkelahian antara para penjahat dan para penjaga yang dibantu oleh pendekar-pendekar yang kebetulan lewat disitu dan yang membela rakyat dari ancaman para penjahat.

Hampir setiap hari.

terjadi pembunuhan.

Baru, kemarin terjadi pertempuran sengit antara para penjahat dengan beberapa orang pendekar dari kunlun-pai.

Para penjahat melarikan diri sambil membawa teman-teman mereka yang terluka karena lima orang pendekar kunlun-pai itu lihai sekali.

Akan tetapi, kemudian muncul seorang laki-laki tinggi besar yang berjubah kulit harimau.

Laki-laki tinggi besar ini selalu diikuti oleh dua ekor harimau kumbang dan lima orang pendekar kunlun-pai itu tewas semua ditangan Raja penjahat ini!

"Dan mereka itu..."

Kata si pelayan sambil melirik kearah empat orang yang duduk dimeja sambil tertawa-tawa itu.

"Adalah sebagian dari penjahat-penjahat yang melarikan diri karena kalah oleh pendekar-pendekar kunlun-pai"

Mendengar penuturan itu, Pek Lian mengepal tangannya dibawah meja dan tanpa disadarinya lagi iapun berkata gemas.

"Hemm, orang-orang si Raja Kelelawar sudah mulai merajalela!"

Setelah mengeluarkan kata-kata itu dan melihat betapa dua orang gadis itu memandangnya dengan aneh, barulah Pek Lian terkejut sendiri.

"Adik Pek Lian sudah mengenal Raja Kelelawar dan pengikut-pengikutnya?"

Tanya Pek In sambil memandang tajam.

"Ah, tidak..."

Kata Pek Lian yang sudah menyadari bahwa ia tadi terdorong oleh perasaannya dan kelepasan bicara.

"Aku hanya mendengar berita angin saja bahwa kini kaum hitam telah bersatu dan dipimpin oleh seorang Raja penjahat besar yang bernama Raja Kelelawar. Raja ini kabarnya dibantu oleh dua orang pimpinan penjahat yang berjuluk Si Harimau Gunung dan Si Buaya Sakti."

Gadis baju merah mengangguk-angguk.

"Memang berita itu benar. Anak-buah yang kami kirim ketempat pertemuan itu juga melaporkan demikian. Kiranya engkaupun sudah mendengar akan berita menghebohkan itu."

Ang In tidak melanjutkan kata-katanya karena pada saat itu terdengar suara berisik derap kaki kuda diluar restoran.

Pelayan yang datang mengantar hidangan kemeja tiga orang gadis itu, menjadi pucat ketika menaruh mangkok-mangkok diatas meja.

"Celaka... mereka... mereka datang lagi...!"

Dan setelah menaruh masakan-masakan panas diatas meja, pelayan itu bergegas pergi meninggalkan ruangan dan bersembunyi dibagian belakang restoran bersama teman-temannya.

Empat orang kasar itu kini semakin mabok dan semakin ugal-ugalan.

Kata-kata mereka kasar dan juga jorok dan cabul, apa lagi setelah kini mereka melihat adanya tiga orang wanita cantik tidak jauh dari meja mereka.

Kata-kata mereka mulai menyindir dan mengenai tiga orang wanita itu sehingga wajah ketiga orang gadis itu menjadi merah karena marahnya.

"Ha-ha-ha, A-tung, gadis-gadis disini memang berani-berani. Lihat saja, banyaknya gadis yang datang mendekati kita kemanapun kita berada. ha-ha-ha...!"

"Memang rejeki kita sedang besar. Tapi, kita berempat sedangkan yang ada hanya tiga, harus diundi!"

"Aku ingin yang paling muda!"

"Kalau aku yang lebih tua, karena tentu lebih berpengalaman dan lebih menyenangkan."

Ang In sudah meraba gagang pedangnya, akan tetapi lengannya disentuh oleh sucinya yang melarangnya untuk menanggapi orang-orang kasar itu.

Pek In lebih hati-hati dari pada sumoinya, ia selalu ingat bahwa mereka berada dalam tugas dan mereka tidak sepatutnya kalau melibatkan diri dengan urusan pribadi.

Mereka hanya akan bergerak kalau ada perintah dari subo yang juga menjadi majikan mereka.

Kalau mereka menimbulkan keributan karena urusan pribadi, tentu mereka akan menerima teguran dari subo mereka.

Akan tetapi, empat orang kasar itu agaknya tidak tahu gelagat dan mereka itu makin menjadi-jadi kurang ajarnya.

Apa lagi ketika Pek Lian yang merasa marah karena dirinya dibicarakan secara jorok itu, melirik dengan sinar mata berapi.

Seorang diantara mereka, yang berkumis tebal, bangkit dan dengan langkah sempoyongan menghampiri meja tiga orang gadis yang sedang mulai makan itu.

"Ha-ha-ha, nona manis, jangan jual mahal. Mari makan bersama kami"

Dan diapun mengulurkan tangannya hendak meraba dada Pek Lian.

Gadis itu tidak dapat lagi mengendalikan, kemarahan hatinya.

Disambarnya mangkok kuah bakso panas dan sekali ia menggerakkan tangan "byuurrr"

Kuah panas itu menyiram muka yang berkumis tebal itu.

"Aduuhhh... auphh... panas, panas...!"

Dia menjerit-jerit, kulit mukanya terbakar, matanya kemasukan kuah yang banyak mericanya, terasa pedas dan perih.

Tiga orang kawannya terkejut dan marah sekali, meloncat sambil, mencabut golok mereka.

Suasana menjadi panik karena para tamu sudah menjadi ketakutan.

Akan tetapi, sebelum empat orang kasar itu sempat turun tangan, terdengar bentakan yang amat nyaring.

"Tahan! Jangan mengganggu wanita!!"

Kiranya yang membentak dan yang kini telah berdiri disitu adalah Yap Kiong Lee, murid kepala dari ketua Thian-kiam-pang itu.

Tiga orang sutenya dengan sikap tenang berdiri dibelakangnya.

Kiranya derap kaki kuda tadi adalah kuda dan kereta mereka.

Empat orang kasar itu adalah penjahat-penjahat yang terlalu mengandalkan kepandaian sendiri.

Apa lagi sekarang, sepeiti diceritakan oleh pelayan tadi dan diketahui pula oleh tiga orang gadis, mereka sedang berbesar hati karena banyak kawan mereka merajalela disitu, dan mereka merasa dilindungi oleh Raja mereka, Si Harimau Gunung!

Mengandalkan semua ini, tentu saja mereka tidak merasa gentar menghadapi empat orang pria muda ini.

"Keparat jahanam! Berani engkau hendak mencampuri urusan kami?"

Bentak pimpinan gerombolan empat orang penjahat itu yang kepalanya botak kelimis sambil menudingkan goloknya kearah muka Yap Kiong Lee. Pemuda ini tersenyum tenang saja.

"Mengganggu wanita ditempat umum bukanlah urusan pribadi, melainkan urusan umum karena kalian telah mengacaukan orang lain ditempat umum, Sebaliknya kalian berempat pergi saja dari sini dan jangan membuat gaduh."

"Keparat!"

Si botak itu dengan marahnya membacok dengan goloknya kearah leher pemuda she Yap.

Namun, dengan amat mudahnya, pemuda she Yap ini miringkan kepala dan golok itu lewat didekat lehernya tanpa menyentuhnya sedikitpun juga.

Hanya seorang ahli silat tinggi sajalah yang dapat mengelak seperti itu, sedikit saja dan membiarkan senjata lawan lewat dekat.

Karena gerakan yang sedikit inilah yang memungkinkan dia dapat cepat pula melakukan serangan balasan.

Akan tetapi agaknya pemuda itu sabar sekali dan tahu bahwa dia hanya menghadapi orang-orang kasar.

Dia tidak membalas dan pada saat itu, dua orang sutenya sudah maju.

"Toa-suheng, biarkan kami yang maju menghajar bajingan-bajingan kecil ini!"

Dua orang sutenya itu lebih tua beberapa tahun dari pada Kiong Lee, akan tetapi mereka menyebut suheng, bahkan toa-suheng atau kakak seperguruan terbesar karena memang pemuda inilah yang pertama kali menjadi murid ketua Thian-kiam-pang.

Yap Kiong Lee segera mundur dan dua orang sutenya maju.

Empat orang kasar itu tidak perduli dan mereka sudah menerjang dengan golok mereka.

Akan tetapi, dua orang murid Thian-kiam-pang yang maju ini adalah murid-murid kepala, murid-murid pilihan yang sudah mempunyai ilmu kepandaian tinggi.

Dengan kedua tangan kosong saja mereka menghadapi empat orang bergolok itu dan membagi-bagi pukulan dengan enaknya, membuat empat orang kasar itu jatuh bangun dan akhirnya mereka memperlihatkan warna aselinya, yaitu pengecut-pengecut yang beraninya hanya main keroyok, menindas yang lemah dan kalau bertemu tanding yang lebih kuat, mereka itu berlumba melarikan diri!

Yap Kiong Lee melirik kekanan kiri untuk melihat apakah guru dari dua orang gadis yang dikenalnya itu berada disitu.

Setelah merasa yakin bahwa nenek yang ditakutinya itu tidak berada disitu, wajahnya menjadi cerah dan diapun bersama tiga orang sutenya cepat menghampiri meja Pek In dan Ang In.

"Suheng, apa kabar? Subo berada dikamarnya. Marilah!"

Pek In mempersilahkan pemuda itu dan mereka berempat lalu mengambil tempat duduk dan bercakap-cakap dengan amat akrabnya dengan Pek In dan Ang In.

"Sebetulnya, Yap-suheng dari manakah? Kelihatan tergesa-gesa sekali. Dan bagaimana kabarnya dengan Kim-suheng? Kenapa dia tidak kelihatan bersamamu? Biasanya, Kim-suheng yang bandel itu tidak pernah berpisah denganmu,"

Kata Pek In dan ketika ia menyebutkan "Kim-suheng,"

Ia melirik kepada sumoinya, Ang In.

Mendengar pertanyaan Pek In ini, mendadak sikap empat orang gagah itu berobah dan mereka kelihatan berduka dan menundukkan mukanya.

Terutama sekali Yap Kiong Lee, pemuda ini menundukkan muka dan matanya menjadi basah.

Teringatlah pemuda itu akan semua keadaannya yang membuatnya berduka sekali pada saat itu, setelah mendengar pertanyaan Pek In tentang adiknya.

Ya, Yap Kim adalah adiknya.

Dia sendiri adalah seorang anak yatim piatu yang sejak kecil telah diambil murid, kemudian bahkan diangkat anak oleh gurunya sendiri, yaitu seorang pendekar terkenal yang memiliki ilmu kepandaian hebat dan kemudian menjadi ketua Thian-kiam-pang.

Gurunya itu she Yap dan biasanya orang hanya mengenal sebagai Yap-taihiap saja, dan setelah tua dikenal sebagai Yap-lojin yang disegani orang.

Nama lengkapnya adalah Yap Cu Kiat.

Karena suhunya itu tadinya tidak mempunyai keturunan maka diapun diangkat anak oleh Yap Cu Kiat.

Dua tahun kemudian, ketika dia berusia delapan tahun, isteri suhunya melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Yap Kim karena ketika isterinya mengandung, suhunya pernah bermimpi isterinya melahirkan sebuah boneka emas!

Yap Kiong Lee sendiri amat sayang kepada adiknya ini.

Dialah yang menggendongnya, dialah yang mengajaknya bermain-main sejak Yap Kim kecil dan setelah adiknya itu dewasa, mereka menjadi akrab dan rukun sekali, saling menyayang.

Takkan ada orang yang menyangka bahwa mereka itu sesungguhnya hanyalah saudara angkat saja.

Kiong Lee sangat menyayang adiknya itu dan memang Kim-ji, demikian sebutannya, amat dimanjakan oleh semua orang sehingga sejak kecil anak itu menjadi bandel dan nakal bukan main.

Dan kini, diingatkan oleh pertanyaan Pek In, hati Kiong Lee seperti ditusuk karena dia teringat kepada adiknya.

"Ahh... dia... Kim-te terluka parah"

Akhirnya dia dapat mengeluarkan kata-kata yang penuh kegelisahan.

"Terluka parah...??"

Ang In bertanya dan mukanya berobah pucat.

"Apa yang terjadi dengan dia?"

"Dia dilukai oleh Si Raja Kelelawar! Lukanya parah sekali... entah bisa sembuh atau tidak..."

Suara Kiong Lee gemetar penuh kegelisahan.

"Apanya yang terluka? Dan... Dimanakah dia sekarang?"

Kembali nona Ang In bertanya, hampir menangis. Melihat semua ini, Pek Lian dapat menduga bahwa nona Ang yang gagah ini agaknya ada hati terhadap pemuda bernama Yap Kim yang terluka parah itu.

"Sebenarnya, bagaimanakah dia sampai dapat terluka oleh si Raja Kelelawar?"

Nona Pek In memotong karena dengan hati terharu iapun merasa gelisah mendengar cerita itu dan ingin sekali tahu apa yang telah terjadi. Kiong Lee menarik napas panjang dan mengepal tangannya.

"Kalau diingat sungguh membuat hatiku menyesal sekali. Tanpa diketahui oleh suhu, Kim-te mengajakku menonton pertemuan yang diadakan oleh kaum sesat itu. Akan tetapi karena ada larangan dari suhu, maka akupun tidak mau, Tidak kusangka sama sekali bahwa dengan nekat adik Kim pergi sendiri! Mendengar bahwa Kim-te pergi seorang diri, suhu lalu memanggilku dan menyuruhku mencari dan mengajaknya pulang. Aku mengajak beberapa orang suteku untuk menyusul Kim-te, akan tetapi setibanya ditempat pertemuan itu, ternyata sudah terlambat. Orang-orang sudah bubaran dan pertemuan itu telah lewat. Kami berpencar untuk mencari Kim-te. Kalian tentu sudah tahu bahwa biarpun Kim-te sangat berbakat dalam ilmu silat, namun watak nakalnya sukar untuk dirobah. Apa lagi setelah subo pergi meninggalkan suhu, anak itu makin sukar diurus."

Yap Kiong Lee menarik napas panjang, nampak berduka sekali.

"Akan tetapi bukankah dia amat penurut kepadamu, Yap-suheng?"

"Memang dia amat patuh kepadaku karena sejak kecil akulah yang mengasuhnya, melindungi dan mengajarnya ilmu silat yang diberikan oleh suhu dan subo."

"Yap-suheng memang sangat berbudi, aku dan adik Ang juga sejak kecil selalu menyusahkanmu,"

Kata Pek In lirih.

"Hemm, adik Pek, engkau tahu apa? Sejak kecil aku sudah yatim piatu. Suhu memungut dan memeliharaku, bahkan mengangkatku sebagai anak. Setelah aku berusia delapan tahun, baru adik Kim terlahir. Budi suhu dan subo yang dilimpahkan kepadaku, sampai matipun takkan dapat kubalas, maka apa artinya membimbing kalian yang menjadi murid-murid tersayang dari subo?"

"Lalu bagaimana dengan Kim-suheng?"

Tanya Ang In.

"Baiklah, kulanjutkan ceritaku. Dari seorang pengunjung pertemuan itu, kami mendengar bahwa ada seorang pemuda yang berpakaian putih dan bersenjata siang-kiam (pedang pasangan) tampak bersama seorang gemuk pendek berkelahi melawan kelompok orang berjubah naga dilereng bukit sebelah selatan. Kami segera mengejar kesana. Akan tetapi terlambat. Perkelahian telah selesai dan kedua pihak sama-sama terluka dan kedua pihak telah pergi. Yang membuat kami khawatir adalah ketika kami melihat dari bekas-bekas pertempuran bahwa kawan Kim-sute yang pendek itu adalah seorang tokoh pulau terlarang atau Pulau Ban-kwi-to. Kalau benar seperti kata orang yang menyaksikan itu, orang yang gemuk pendek itu tentulah cengyakang (Kelabang Hijau) tokoh penting dari Ban-kwi-to."

"Lalu bagaimana?"

Ang In mendesak, khawatir sekali.

"Kami mengikuti jejaknya. Disebuah dusun kami menemukan Kim-sute terluka parah dirumah seorang petani, dirawat oleh seorang pendekar tua yang tidak mau menyebutkan namanya. Menurut pengakuannya, adik Kim telah berkelahi melawan penjahat-penjahat yang dipimpin oleh Raja bajak, kemudian datanglah Raja Kelelawar dan Kim-sute dilukainya. Untung ada pendekar tua itu yang lewat dan menolongnya."

"Lalu kemana perginya si Kelabang Hijau itu?"

Tanya Pek In.

"Entahlah, Kim-sute sendiripun tidak tahu karena setelah terpukul, dia pingsan."

"Dimana adanya Kim-suheng sekarang?"

Ang In bertanya, wajahnya membayangkan kekhawatiran hebat.

"Di dalam kereta, dijaga oleh Ngo-sute."

"Aku ingin menengok Kim-suheng!"

Ang In cepat bangkit berdiri dan semua orangpun bangkit hendak mengikutinya. Akan tetapi, sebelum mereka meninggalkan meja itu, tiba-tiba terdengar suara halus.

"Hemm... kalian mau kemana?"

Semua orang terkejut karena mengenal suara ini dan ketika mereka membalikkan tubuh, ternyata Siang Houw Nio-nio telah berdiri disitu!

Yap Kiong Lee terkejut dan jerih, cepat-cepat dia dan ketiga orang sutenya menjatuhkan diri berlutut sambil berkata takut-takut.

"Subo...!"

Akan tetapi wanita bangsawan itu tidak mengacuhkan mereka melainkan memandang kepada kedua orang muridnya yang nampak ketakutan, dan wanita tua itu nampak marah.

"Kenapa kalian tetap bergaul dengan murid-murid tua bangka itu? Apakah engkau ingin mengikuti mereka dan memusuhi aku?"

Didalam ucapan ini terkandung kepahitan yang amat mendalam sehingga dua orang gadis itu menjadi bingung dan tidak mampu menjawab. Melihat ini, Yap Kiong Lee mengangkat muka dan berkata.

"Subo... teeculah yang..."

"Diam kau!"

Bentak wanita bangsawan itu dengan suara keras, membuat Pek In menjadi semakin pucat.

Peristiwa ini diam-diam sejak tadi diikuti oleh Ho Pek Lian.

Jiwa pendekarnya bergolak.

Ia melihat ketidak-adilan dan merasa tidak senang dengan sikap nenek bangsawan itu yang dianggapnya terlalu menekan kepada orang-orang muda yang dikaguminya itu.

Tanpa dapat menahan gelora hatinya, Pek Lian sudah melangkah kedepan dan dengan jari telunjuk menuding kepada nenek bangsawan itu, ia berkata marah.

"Haii, apa-apaan ini? Main gertak main kasar! Lihat dulu masalahnya baru marah-marah, itu baru adil namanya!"

"Anak kecil, engkau tahu apa!"

Bentak nenek itu dan tangannya melayang, menampar kearah pipi Pek Lian.

Tentu saja nona ini tidak membiarkan pipinya ditampar dan iapun sudah cepat meloncat kebelakang dan baiknya nenek itu agaknyapun bukan menyerang dengan sungguh-sungguh hanya untuk melampiaskan kemengkalan hatinya saja sehingga tidak melanjutkan serangannya.

Dan pada saat itu, terdengarlah suara ribut-ribut diluar.

Yap Kiong Lee melihat empat orang laki-laki jahat yang tadi dihajar oleh dua orang sutenya, maka diapun cepat meloncat keluar.

Hampir saja dia bertabrakan dengan seorang tinggi besar bermantel kulit harimau yang melangkah masuk.

Laki-laki tinggi besar ini tidak menghindar atau mihggir, akan tetapi malah memasang kuda-kuda dan menggerakkan sikunya kedepan, menyerang kearah tulang rusuk pemuda baju putih itu.

Mereka sudah berada dalam jarak dekat sekali dan serangan itu dilakukan secara tiba-tiba dan tidak terduga-duga, akan tetapi ternyata pemuda she Yap ini amat lihai, tenang dan tidak kehilangan akal.

Dia maklum bahwa kalau dia mengadu tenaga, dia akan kalah posisi dan kalau orang itu bertenaga besar seperti nampaknya, dia akan menderita rugi.

Dan pintu itu terlalu sempit untuk dapat menerobos keluar, apa lagi karena lubang pintu telah dijaga oleh sepasang lengan yang panjang dan kuat dari orang itu, disamping adanya dua ekor harimau hitam yang berdiri dikanan kiri orang itu, dengan rantai leher yang ujungnya dipegang oleh dua orang di.

antara empat penjahat yang tadi mengganggu Pek Lian.

Dalam beberapa detik saja, Yap Kiong Lee telah memperoleh akal yang amat cerdik.

Kakinya yang sedang melangkah tadi dilanjutkan dengan tendangan kearah selangkang si tinggi besar dan dia bersikap seolah-olah dia memang hendak mengadu tenaga.

Melihat ini, orang tinggi besar itu menyeringai dan tubuhnya sedikit membungkuk untuk menangkis tendangan dengan tangan kiri sedangkan tangan kanannya tetap melakukan serangan dengan siku.

Akan tetapi tiba-tiba Kiong Lee menarik kembali kakinya dan mengenjot badan dengan menekankan kaki pada lantai, tangannya menampar siku yang menyerang rusuknya, meminjam tenaga lawan untuk mengayun tubuhnya meluncur keatas diantara kepala lawan dan daun pintu seperti seekor burung lolos dari pintu kurungan yang terbuka sedikit saja.

Kemudian, tubuhnya yang meluncur keluar itu membuat salto yang amat manisnya sehingga dia dapat turun diluar pintu dengan lunak.

Semua orang melongo dan memandang kagum.

Bahkan nenek Siang Houw Nio-nio sendiri merasa kagum dan memuji ketangkasan dan kecerdikan pemuda itu.

"Berani... bagus sekali... anak ini sungguh semakin lihai saja!"

Kalau semua orang memandang kagum sekali, tiga orang gadis itupun bersorak karena gembiranya.

Pek In dan Ang In sampai lupa kepada subonya yang marah-marah.

Mereka terbawa oleh sikap Pek Lian yang bersorak memuji sehingga merekapun ikut pula bersorak.

Baru setelah mereka melihat subo mereka memandang kepada mereka dengan mata melotot, mereka sadar dan tangan yang sedang bertepuk itupun terhenti ditengah jalan.

Sementara itu, orang tinggi besar itu menjadi marah sekali.

Dia adalah orang ketiga dari Sam-ok, yaitu tiga Raja penjahat.

Dia adalah Sanhek-houw atau Si Harimau Gunung yang sebelum munculnya Raja Kelelawar telah merajai semua penjahat didaratan, Rajanya para perampok, maling dan copet.

Kini dia telah menjadi pembantu utama dari Raja Kelelawar disamping dua orang rekannya yang terkenal dengan julukan Sam-ok atau Si Tiga Jahat.

Melihat betapa dalam gebrakan pertama dia tidak mampu menghadang pemuda baju putih itu dan sebaliknya malah memberi kesempatan kepada pemuda itu mendemonstrasikan kepandaiannya sehingga memperoleh pujian, Sam-hek-houw menjadi marah sekali.

Cepat dia membalikkan tubuhnya dan tanpa banyak cakap lagi dia sudah menerjang kedepan dan menyerang Kiong Lee yang baru saja turun keatas tanah.

Serangan Sanhek-houw ini ganas dan dahsyat sekali, tiada bedanya dengan ulah seekor harimau yang sedang kelaparan.

Dua ekor harimau hitam yang menjadi binatang peliharaannya itu mengaum-ngaum melihat majikan mereka berkelahi, seolah-olah memberi semangat.

Tentu saja para tamu restoran menjadi panik ketakutan.

Berdiam direstoran merasa ngeri, mau lari keluar terhadang oleh perkelahian diluar pintu, juga mereka takut kepada dua ekor harimau itu yang rantainya dipegang oleh empat orang penjahat yang kini tertawa-tawa karena mereka merasa yakin bahwa muculnya Raja mereka ini akan dapat membalaskan kekalahan mereka tadi.

Akan tetapi sekali ini mereka kecelik.

Baru sekarang mereka memperoleh kenyataan bahwa Raja mereka itu bukanlah jaminan untuk selalu menang.

Biarpun Si Harimau Gunung menyerang dengan ganas dan dahsyat, namun pemuda baju putih itu dengan sikap tenang sekali dapat menandinginya dan sama sekali tidak pernah terdesak, bahkan membalas dengan serangan-serangan yang tidak kalah ampuhnya.

Mereka ternyata seimbang, baik kecepatan maupun tenaga mereka.

Perkelahian itu amat seru dan menegangkan, terutama sekali bagi mereka yang mempunyai keahlian dalam ilmu silat sehingga dapat mengikutinya.

Yang merasa marah dan penasaran adalah Sanhek-houw sendiri.

Biasanya, selama ini setiap kali dia turun tangan, dan hal ini jarang terjadi karena dia cukup mewakilkan kepada anak-buahnya saja, sudah dapat dipastikan bahwa dia akan berhasil baik.

Akan tetapi ternyata pemuda baju putih ini sedemikian lihainya sehingga semua serangannya gagal dan dia malah harus menjaga diri karena pemuda itu membalas dengan serangan yang amat berbahaya pula.

Karena penasaran, maka Raja penjahat ini lalu mengeluarkan senjatanya yang mengerikan, yaitu rantai yang kedua ujungnya bermata tombak.

Begitu diputar, rantai itu lenyap berobah menjadi gulungan sinar yang menyambar-nyambar.

Melihat ini, Yap Kiong Lee cepat mencabut sepasang pedangnya yang tergantung dipunggung.

Nampak dua sinar putih berkelebatan menghadapi senjata rantai dan kembali terjadi perkelahian yang lebih seru dan juga ternyata dalam adu kepandaian senjata, mereka memiliki tingkat yang seimbang.

(Lanjut ke

Jilid 08) Darah Pendekar (Seri ke 01 -Serial Darah Pendekar) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo Bahan Cerita . Sriwidjono

Jilid 08 Lima puluh jurus telah lewat dan keduanya sudah saling desak samibil mengerahkan tenaga sekuatnya.

"Tring-trang... trakkk...!"

Tanpa dapat dicegah lagi, rantai itu melibat kedua pedang dan senjata-senjata itu saling berbelit dengan amat kuatnya.

Karena tidak ada jalan lain untuk melepaskan senjata yang terlibat itu, keduanya lalu mengerahkan tenaga sinkang.

Mereka membentak nyaring dan saling tarik.

Akibatnya, kedua pedang Kiong Lee terlepas dari pegangan, akan tetapi juga tangan kanan Harimau Gunung itu terpaksa melepaskan senjata rantainya yang kini hanya dipegang oleh tangan kiri.

Inipun tidak lama karena secepat kilat kaki Kiong Lee menendang kearah pergelangan tangan kiri lawan.

Kakek tinggi besar itu berusaha mengelak, akan tetapi tetap saja ujung sepatu menyerempet perge-langan tangan kirinya sehingga tangan inipun terpaksa melepaskan rantainya.

Kini senjata-senjata itu terlepas diatas tanah dan keduanya melanjutkan lagi dengan tangan kosong!

Sanhek-houw mengeluarkan suara auman seperti harimau yang disambut oleh dua ekor harimau peliharaannya, kemudian diapun mengeluarkan ilmu simpanannya, yaitu ilmu silat tangan kosong Houw-jiauw-kang.

(Ilmu Cakar Harimau).

Kedua tangannya membentuk cakar harimau dan gerakannya juga seperti gerakan kaki depan hari-mau kalau mencakar-cakar dengan dahsyatnya.

Hanya cakar harimau yang dibentuk oleh jari-jari tangan manusia ini bahkan jauh lebih berbahaya dari pada cakar harimau aseli karena setiap gerakan mengeluarkan desiran angin tajam.

Kedua kakinya berloncatan persis seperti gerakan harimau kumbang dan selama belasan jurus Kiong Lee nampak terkurung dan terdesak oleh ilmu silat yang berbeda dengan Ilmu Silat Houw-kun (Silat harimau) biasanya ini.

Ilmu Silat Houw-jiauwkang milik Si Harimau Gunung ini benar-benar luar biasa sekali.

Agaknya telah dipelajari dengan sempurna sehingga biarpun jari-jari tangan yang membentuk cakar harimau itu tidak sampai menyentuh lawan, namun sambaran angin pukulannya saja telah mampu mencabik-cabik benda.

Baju pemuda yang putih itu, terutama dibagian lengan baju, robek-robek terlanggar angin pukulan itu, seperti dicakari oleh kuku-kuku tajam.

Tentu saja semua orang terkejut dan memandang khawatir karena pemuda itu nampak terdesak, terutama sekali tiga orang gadis yang selalu berpihak kepada pemuda itu.

Ilmu silat Raja perampok itu sungguh lihai bukan main.

Tiba-tiba Kiong Lee mengeluarkan teriakan yang mengejutkan semua orang dan pemuda ini sudah merobah gerakan silatnya.

Dia menggerak-gerakkan kaki tangannya perlahan-lahan namun mengandung penuh tenaga sehingga setiap kali kakinya dihentakkan, bumi seperti tergetar rasanya.

Telapak tangannya terbuka dan otot-otot lengannya tersembul keluar.

Buku-buku tulangnya seperti saling bergeser mengeluarkan bunyi berkerotokan dan uap putih nampak membayang tipis disetiap permukaan lengannya.

Dan ketika lengan yang bergerak perlahan itu menangkis cakaran Si Harimau Gunung, semua orang menjadi terkejut.

Gerakan itu, yang dilakukan perlahan, tahu-tahu meluncur cepat bukan main seperti kepala ular yang mematuk mangsa yang sudah lama diintainya.

Suara mencicit bagaikan bunyi burung malam terdengar ketika lengan bergerak dan cepatnya membuat semua serangan cakaran Si Harimau gunung itu terhenti setengah jalan karena setiap kali tangan yang berbentuk cakar itu bergerak, baru setengah jalan sudah terpukul kesamping dan sebelum cakar dapat ditarik kembali, tangan pemuda baju putih yang bergerak seperti ular mematuk itu telah menyerang bagian-bagian tubuh yang berbahaya.

Si Harimau Gunung terkejut bukan main dan dalam beberapa gebrakan saja nyaris kepalanya kena dipatuk oleh tangan kiri Yap Kiong Lee.

Cepat dia membuat gerakan seperti harimau mendekam untuk menghindarkan kepalanya.

Akibatnya, sebuah arca singa yang berada tepat dibelakangnya kena hantaman tangan Kiong Lee.

Nampak cap lima jari tangan ditubuh arca batu itu dan kemudian arca itu menjadi retak-retak dan akhirnya hancur berantakan menjadi kepingan-kepingan kecil berserakan.

Tentu saja semua orang melongo dan ada yang menjulurkan lidah saking kagum dan ngerinya, bahkan Si harimau Gunung sendiri terbelalak dan air mukanya berobah.

Hatinya mulai menjadi ragu dan gentar dan timbul pertanyaan dalam hatinya siapa gerangan pemuda yang amat lihai ini sebenarnya?

Cakaran tangannya itu biasanya mampu menghancurkan batu karang yang keras sekalipun, akan tetapi sekarang ternyata hanya dapat membuat kulit lengan pemuda itu lecet-lecet sedikit saja, sementara dia sendiri tidak berani menangkis pukulan pukulan pemuda yang demikian kuat dan ampuhnya.

Ilmu apakah itu?

Nenek Siang Houw Nio-nio juga menggeleng-geleng kepala saking kagumnya.

"Hemm, tua bangka itu kiranya telah menurunkan ilmu rahasia keturunannya kepada murid kesayangannya ini,"

Gumamnya.

Pek In dan Ang In tentu saja menjadi kagum bukan main.

Mereka memang sudah lama mengetahui bahwa suheng mereka itu amat lihai, akan tetapi mereka tidak menyangka sehebat ini.

Diam-diam mereka, dan juga Pek Lian, merasa gembira sekali karena sekarang Harimau Gunung itu mulai terdesak.

Pek In tadi telah mengambil dan menyimpan sepasang pedang milik Kiong Lee yang terlepas, seperti juga seorang diantara penjahat-penjahat itu telah (menyimpan senjata rantai dari Si Harimau Gunung.

Selagi Kiong Lee mendesak Si Harimau gunung, tiba-tiba dia terkejut bukan main mendengar teriakan seorang diantara para sutenya.

"Su-heng! Kim-sute lenyap dan Ngo-suheng yang menjaga kereta tertotok pingsan!"

Mendengar teriakan ini, wajah Yap Kiong Lee menjadi pucat seketika dan diapun meloncat meninggalkan lawannya yang sudah terdesak untuk berlari menghampiri kereta yang ditinggalkan ditepi jalan tak jauh dari rumah makan itu.

Dengan wajah pucat dia memeriksa dan memang benar, sutenya yang luka parah dan tidak mampu bergerak itu lenyap.

Ngo-sutenya pingsan dengan leher berwarna kehijauan, mukanyapun mengandung warna kehijauan.

Maka mengertilah dia bahwa sutenya ini tentu terkena totokan cengyakang, Si Kelabang Hijau tokoh Ban-kwi-to itu.

Yap Kiong Lee menjadi bengong, wajahnya pucat sekali dan hatinya dicekam rasa khawatir yang hebat akan keselamatan sutenya yang tersayang.

Sesosok bayangan berkelebat cepat sekali dari tahu-tahu nenek Siang Houw Nio-nio telah berada didekat kereta dan suaranya terdengar keren ketika ia menghardik.

"Apa katamu? Ada apa dengan Kim-ji (anak Kim)? Hayo jawab!"

Yap Kiong Lee menjawab dengan suara penuh duka dan kepala ditundukkan.

"Subo, adik Kim telah dilukai orang karena dia bergaul dengan orang jahat. Hari ini sebenarnya teecu hendak membawanya kepada suhu, tidak teecu sangka bahwa orang yang menjadi sahabatnya itu telah menculiknya, selagi teecu berkelahi direstoran tadi."

Nenek itu menjadi semakin marah, sepasang matanya memancarkan sinar berapi.

"Kenapa engkau dan suhumu membiarkan anak itu berkeliaran? Sungguh orang tua yang tidak tahu mengurusi anak! Berteman dengan segala macam manusia jahat dibiarkan saja. Hemm, aku akan minta pertanggungan jawab kepada suhumu. Akan kulabrak dia kalau tidak bisa mendapatkan anakku dalam keadaan sehat selamat!"

Wajah nenek itu menjadi merah padam dan hampir saja ia menangis. Ia lalu cepat memasuki keretanya dan berkata dengan suara berteriak kepada murid-muridnya.

"Kita tidak jadi bermalam disini! Bayar semuanya lalu susul aku. Malam ini juga aku harus melabrak si tua bangka itu atas keteledorannya mengasuh Kim-ji!"

Setelah berkata demikian, kereta dilarikan dengan kencang menuju ke barat, kearah Kotaraja.

Para murid itu tertegun dan bengong saja.

Yap Kiong Lee menjadi serba salah.

Sejak suhu dan subonya hidup berpisah, hatinya merasa bingung dan prihatin sekali, bahkan dia sampai tidak mau menikah sampai sekarang.

Dia sangat takut dan hormat kepada subonya karena diwaktu dia masih kecil, subonya itulah yang mengasuhnya dan dia tahu bahwa subonya itu sebenarnya amat sayang padanya.

Kemudian suhu dan subonya saling berpisah, subonya meninggalkan suhunya yang sudah tua itu dan mengabdi kepada Kaisar di Istana yang masih keponakannya sendiri.

Suhunya tidak mau ikut dan dia sendiri kasihan dan tidak tega untuk meninggalkan suhunya yang sudah tua dan sendirian itu.

Karena dia tidak mau ikut subonya dan memilih untuk tinggal disitu merawat suhunya, maka subonya tidak mau lagi menggubrisnya.

Kini subonya marah-marah, tentu akan terjadi keributan dan dia merasa prihatin sekali.

Yap Kiong Lee lalu memerintahkan para sutenya untuk berpencar dan menyelidiki kemana Yap Kim dilarikan orang.

Pada saat itu, Si Harimau Gunung bersama empat orang penjahat kasar tadi telah lenyap dari situ, agaknya jerih dan tidak bernapsu lagi untuk melanjutkan perkelahian.

Pek In dan Ang In membayar sewa kamar yang belum dipakai itu dan membayar harga makanan, kemudian mereka yang juga nampak tegang dan khawatir itu menghampiri Kiong Lee.

"Bagaimana baiknya sekarang, Yap-suheng?"

Tanya Pek In.

"Tidak ada jalan lain, kalian harus mentaati perintah subo, menyusulnya ketempat suhu. Dan nona ini... siapakah nona ini dan bagaimana bisa bersama kalian?"

"Nona Sie Pek Lian ini adalah seorang yang dicurigai subo sebagai teman ketua Lembah Yang-ce, maka subo memerintahkan kami untuk menawannya dan mengajaknya pulang."

"Hemm, kalau begitu, mari kita susul subo. Pasti akan menjadi ramai disana."

Merekapun berangkat, mempergunakan kereta Kiong Lee untuk mengikuti jejak kereta nenek Siang Houw Nio-nio yang marah itu. Kiong Lee benar-benar merasa prihatin sekali.

"Adik Pek dan Ang, aku khawatir akan terjadi salah paham antara subo dan suhu. Padahal, saat ini suhu sedang mengasingkan diri ditempat samadhinya, sudah belasan hari suhu tidak keluar dari situ."

Dua orang gadis itupun merasa khawatir sekali.

Sebaliknya, Pek Lian menjadi ingin tahu sekali dan merasa amat tertarik.

Makin lama, makin banyak ia mengalami hal yang aneh-aneh, bertemu dengan orang-orang yang aneh dan berilmu tinggi Betapa didunia ini penuh dengan orang-orang pandai, pikirnya, Akan tetapi herannya, semakin pandai orang, semakin banyak masalah yang mereka hadapi, keruwetan-keruwetan hidup yang membuat kehidupan mereka itu menjadi tidak tenang, bahkan menderita.

Biarpun ia belum tahu benar, akan tetapi iapun dapat menduga bahwa tentu ada rahasia besar antara nenek Siang Houw Nio-nio dan ketua Thian-kiam-pang itu, rahasia yang membuat mereka terpisah dan agaknya menderita dan saling bermusuhan.

Benar juga kata-kata yang pernah didengarnya dahulu bahwa kelandaian itu, seperti juga harta dan kedudukan, lebih banyak mendatangkan malapetaka dari pada bahagia.

Tadinya ia sendiri tidak begitu mengerti akan arti kata-kata ini yang dianggapnya tak masuk akal karena bukankah semua itu bahkan merupakan sarana untuk dapat merasakan kebahagiaan?

Akan tetapi, sekarang ia mulai melihat betapa orang-orang yang berkepandaian tinggi, justeru menjadi sengsara hidupnya karena kepandaian itu sendiri.

Persaingan, permusuhan, perkelahian terjadi dimana-mana dan saling bunuh terjadi diantara orang-orang yang pandai ilmu silat.

Apakah hal buruk ini akan terjadi pada orang-orang yang tidak tahu ilmu silat?

Agaknya kemungkinannya jauh karena mereka tentu tidak condong mempergunakan kekerasan.

Dan kedudukan?

Ayahnya sendiri sekeluarga tertimpa malapetaka karena kedudukan.

Andaikata ayahnya bukan seorang Menteri, melainkan seorang petani miskin, apakah Kaisar akan melihatnya?

Tentu keluarga ayahnya kini masih aman sentausa, walaupun sebagai keluarga petani miskin!

Untung bagi mereka bahwa malam itu terang bulan sehingga dengan mudah mereka dapat mengikuti jalan yang berlika-liku mengikuti arus sungai itu.

Belasan li sebelum memasuki daerah Kotaraja Tiang-an, mereka membelok kekanan, meninggalkan jalan besar memasuki jalan kecil, akan tetapi tetap mengikuti aliran sungai.

Mereka memasuki sebuah hutan kecil yang banyak menyembunyikan cahaya bulan.

Akan tetapi karena Yap Kiong Lee sudah hapal akan jalan ditempat itu, dia dapat menjalankan keretanya dengan lancar.

Kemudian nampak sebuah telaga kecil ditengah hutan dan dipinggir telaga itu terdapat sebuah bangunan megah yang dilingkari tembok merah yang kokoh kuat seperti benteng.

Hari telah larut malam dan tempat itu nampak sunyi sekali.

Akan tetapi mereka tahu bahwa tempat itu tentu terjaga ketat oleh para murid perkumpulan Thian-kiam-pang.

Kiong Lee, Pek In dan Ang In longak-longok dan merasa heran karena tidak melihat adanya kereta subo mereka yang tadi dilarikan kencang lebih dahulu.

"Berhenti! Siapa disana?"

Bentakan nyaring ini segera dikenal oleh Kiong Lee sebagai suara ji-sutenya, yaitu orang kedua setelah dia diantara murid-murid Thian-kiam-pang.

Tentu ji-sutenya itu sedang bergilir meronda.

Pek Lian yang mendengar bentakan itu, merasa jantungnya tergetar karena suara itu dikeluarkan dengan pengerahan khikang yang cukup kuat untuk membuat orang yang datang dengan niat buruk menjadi gentar.

Akan tetapi Kiong Lee tidak jadi menjawab karena dia mendengar suara kaki berlari-lari disusul suara beradunya senjata!

Agaknya yang ditegur oleh ji-sutenya tadi bukanlah rombongannya, melainkan orang lain.

Yap Kiong Lee mengerahkan ilmu ginkangnya dan sekali tubuhnya meluncur kedepan, dia telah meninggalkan tiga orang wanita muda itu.

Tubuhnya lalu mencelat keatas, berputaran dan tahu-tahu dia telah hinggap diatas pagar tembok yang kokoh kuat dan tinggi itu.

Akan tetapi baru saja kakinya menginjak pagar tembok, dari sebelah dalam menyambar sebatang piauw kearah lehernya.

Dia cepat mengelak, akan tetapi penyerangnya itu sudah berada didekatnya dan menyerangnya dengan tusukan pedang.

Kembali Kiong Lee mengelak dan biarpun cuaca remang-remang, agaknya penyerangnya itu mengenal gerakan mengelak ini, sedangkan Kiong Lee juga mengenal gerakan serangan pedang.

"Toa-suheng...!"

Penyerang itu berseru.

"Sam-sute! Ada apakah ini?"

"Entahlah, suheng. Aku baru saja keluar karena mendengar teriakan ji-suheng tadi. Agaknya tempat ini kedatangan orang-orang jahat. Lihat, disana ji-suheng sedang melayani seorang musuh agaknya!"

"Benar! Cepat kau pergi kebelakang, disana terdengar banyak orang bertempur. Aku akan membangunkan semua saudara kita!"

Sute ketiga dari Kiong Lee itu meloncat lenyap dan Kiong Lee lalu mengerahkan ilmunya yang hebat, membungkuk dan mencengkeram kearah tembok pagar itu sehingga tembok itu hancur didalam genggaman tangannya, kemudian dia menggunakan tenaganya untuk menyambit kearah genta besar diatas menara yang berada tinggi dan agak jauh disudut pekarangan.

Biarpun jaraknya jauh dan yang dipakai menyambit hanyalah hancuran tembok, akan tetapi segera terdengar suara genta nyaring berbunyi berkali-kali seperti ditabuh bertalu-talu oleh tangan yang kuat.

Tentu saja suara itu mengejutkan semua penghuni rumah perkumpulan atau perguruan Thian-kiam-pang itu dan semua terbangun dari tidur dan bergegas keluar.

Keadaan menjadi gempar akan tetapi kini semua murid telah berlarian keluar dengan pedang ditangan.

Akan tetapi mereka itu hanyalah murid-murid tingkat rendahan yang juga menjadi anak-buah Thian-kiam-pang, sedangkan diantara tujuh orang murid utamanya, kini yang berada disitu hanya Yap Kiong Lee, ji-sutenya dan sam-sutenya saja, sedangkan yang lain-lain masih ketinggalan karena sedang berpencar dan mencari-cari kemana perginya orang yang menculik Yap Kim.

Kiong Lee sudah cepat meloncat kearah samping bangunan dimana dia melihat ji-sutenya sedang bertanding melawan seorang wanita cantik.

Melihat betapa Kwan Tek, yaitu adik seperguruannya yang kedua itu tidak bersepatu, tahulah Kiong Lee bahwa Kwan Tek tentu terbangun dari tidur dan tidak sempat mengenakan sepatu.

Kiong Lee berdiri memperhatikan perkelahian itu.

Dengan sepasang pedangnya, Kwan Tek sebetulnya dapat mendesak lawannya, karena selain serangannya lebih mantap, juga ia memiliki tenaga yang lebih besar sehingga lawannya kewalahan menghadapi serangan-serangan sepasang pedangnya.

Akan tetapi wanita baju hitam itu memiliki kegesitan yang luar biasa dan jelaslah bahwa ginkangnya memang hebat sehingga sebegitu jauh ji-sutenya itu belum juga dapat mengalahkannya.

Kiong Lee segera mengenal wanita cantik itu yang bukan lain adalah Pekpi Siauw-kwi (Iblis Cantik Tangan Seratus) atau juga terkenal dengan sebutan Si Maling Cantik yang amat terkenal namanya sebagai maling tunggal didaerah selatan.

Maling Cantik itu juga memegang sepasang senjata, yang kiri sebatang pedang pendek dan yang kanan sehelai sabuk sutera.

Kiong Lee maklum bahwa sutenya itu tidak perlu dibantu, maka diapun cepat meloncat kebelakang dan terkejutlah dia melihat betapa tempat itu telah didatangi oleh banyak penjahat yang rata-rata memiliki kepandaian tinggi.

bangunan sebelah kiri sudah terbakar dan dia melihat adik seperguruannya yang ketiga sibuk menghadapi serbuan para penjahat, dibantu oleh para anggauta Thian-kiam-pang.

Dia teringat akan suhunya yang masih berada didalam tempat pertapaannya, yaitu disebuah bangunan yang berada diatas pulau kecil ditengah telaga kecil.

Cepat dia berlari ketempat itu dan didepan bangunan itupun terdapat orang bertempur.

Ketika Kiong Lee melihat bahwa yang berkelahi itu adalah nenek Siang Houw Nio-nio, dia terkejut bukan main.

Lawan subonya itu adalah seorang laki-laki tinggi bermantel hitam, memiliki gerakan yang luar biasa sekali, cepat dan aneh sehingga subonya sendiri nampak terdesak!

Sejenak Kiong Lee berdiri tertegun.

Subonya bukanlah tokoh silat sembarangan.

Ia merupakan pengawal pribadi Kaisar yang berilmu tinggi.

Dia tahu betul betapa saktinya subonya itu, mungkin tidak banyak selisihnya dengan kesaktian gurunya.

Akan tetapi sekarang, menghadapi lawan berjubah hitam ini, subonya jelas terdesak.

Orang berpakaian hitam itu bergerak luar biasa cepatnya, seperti setan saja.

Jantungnya berdebar tegang.

Dia sudah mendengar laporan tentang Raja Kelelawar.

Inikah orangnya?

Kiong Lee mengamati gerakan orang itu dengan penuh perhatian.

Memang luar biasa sekali gerakan orang itu.

Kiranya mantel hitam itulah yang menjadi semacam perisai, atau tempat berlindung, juga tempat dimana dia bersembunyi dan dari situ melakukan serangan-serangan dahsyat.

Mantel hitam itu kadang-kadang kaku kadang-kadang lemas dan dapat menyembunyikan gerakan-gerakannya dari mata lawan karena pihak lawan hanya dapat melihat ujung kepala, kaki dan tangan saja.

Semua serangan lawan banyak digagalkan oleh adanya mantel yang menjadi perisai itu dan setiap kali ada lowongan, tentu iblis itu menyerang dari balik mantel dengan dahsyat.

Beberapa kali dilihatnya betapa subonya kewalahan dan nyaris terpukul.

Melihat ilmu silat aneh ini, Kiong Lee teringat akan cerita gurunya tentang ilmu andalan Si Raja Kelelawar yang amat hebat, yaitu yang disebut Ilmu Silat Gerhana Bulan.

Mantel itu seolah-olah menjadi awan tebal yang menyelimuti atau menyembunyikan bulan.

Inikah Ilmu aneh itu?

Kiong Lee tidak tega melihat subo nya terdesak dan terancam bahaya, maka diapun cepat terjun kedalam medan perkelahian dan membantu, subonya.

Begitu terjun, Kiong Lee menyerangnya dari belakang.

Dia berpendapat bahwa kalau orang itu dikeroyok dari depan dan belakang, tentu tidak akan mampu berlindung dibalik mantelnya lagi.

Akan tetapi ternyata pendapatnya ini tidak benar.

Secara aneh sekali, mantel yang hitam lebar itu dapat bergerak aneh dan cepat, menggulung dan berkibaran mengelilingi tubuh Si Raja Kelelawar sehingga menyembunyikannya dari semua jurusan, juga dari belakang!

Seperti juga subonya, Kiong Lee tidak dapat melihat tubuh lawan dengan jelas dan tidak melihat pula gerakan lawan dibalik mantel hitam itu.

Dan semua hantamannya selalu bertemu dengan mantel yang seperti perisai.

Kalau dia mempergunakan tenaga sinkang, maka pukulannya tiba dipermukaan mantel yang lunak dan yang menyerap semua tenaga pukulannya, dan kadang-kadang mantel itupun menjadi keras seperti perisai baja yang kuat.

Sungguh merupakan ilmu yang aneh dan, berbahaya.

Mantel itu bisa saja tiba-tiba terbuka untuk memberi jalan keluar serangan dahsyat dari Raja Kelelawar itu!

Dan gerakan orang itu cepat bukan main, berkelebatan seolah-olah dia mempergunakan ilmu terbang saja.

Kiong Lee sudah mencabut sepasang pedangnya dan menyerang dengan sungguh-sungguh, namun semua serangannya gagal dan dia sendiripun kini terdesak.

Mengeroyok dua bersama subonya yang sakti masih terdesak, padahal tingkat kepandaiannya disaat itu sudah maju pesat, tidak berselisih banyak dengan tingkat subonya.

Sungguh membuat mereka berdua merasa penasaran sekali.

Tiba-tiba subonya mengeluh karena paha kirinya kena tendangan iblis itu yang mencuat dari balik mantel hitamnya.

Tendangan itu datangnya sama sekali tidak tersangka-sangka dan sedemikian cepatnya karena gerakan iblis itu memang luar biasa cepatnya, dilakukan ketika tubuh iblis itu baru saja meloncat dan mengelak dari sambaran pedang Kiong Lee sehingga datangnya tidak tersangka-sangka dan tendangan itu luar biasa kerasnya sampai tubuh Siang Houw Nio-nio terlempar dan menabrak pintu bangunan sampai jebol!

Tentu saja Kiong Lee terkejut sekali dan cepat menolong subonya yang bangkit lagi.

Sepasang pedangnya diputar dengan pengerahan sinkang sekuatnya sehingga membentuk gulungan sinar yang lebar dan tidak memungkinkan Raja Kelelawar untuk mendesak nenek yang sudah terkena tendangannya itu dan terpaksa harus menghadapi pemuda perkasa itu.

Akan tetapi setelah kini dia harus menghadapi iblis itu sendirian saja sedangkan subonya agaknya belum pulih kembali dan belum terjun membantunya, Kiong Lee merasakan betapa hebatnya kepandaian iblis itu.

Setelah kini dia harus menghadapinya sendirian, baru terasa olehnya kehebatannya.

Terutama sekali kecepatan gerakan itulah yang membuatnya benar-benar bingung dan kewalahan karena dia merasa seperti menghadapi banyak lawan.

Iblis itu bergerak sedemikian cepatnya sehingga sukar untuk dapat diikutinya dengan pandang mata, sebentar didepan, tahu-tahu sudah menyerang dari kanan, dari kiri, bahkan tahu-tahu menerjang dari belakangnya!

Dia sudah mengerahkan kepandaiannya, memainkan langkah-langkah ajaib, akan tetapi semua itu sia-sia saja karena kecepatan gerak Si Raja Kelelawar itu sungguh tak dapat dipecahkan oleh langkah-langkah ajaib.

Iblis itu seolah-olah dapat terbang atau menghilang, dan juga dalam hal tenaga sinkang, Kiong Lee harus mengakui keunggulan lawan.

Dia memang kalah segala-galanya, pendeknya tingkatnya masih kalah jauh.

Maka, setelah terdesak hebat, akhirnya pundak kirinya terkena sambaran jari tangan lawan.

Kelihatan perlahan saja, akan tetapi cukup membuat lengannya terasa ngilu dan seperti setengah lumpuh, lengan kirinya tergantung lemas dan terpaksa dia melompat mundur.

Pada saat itu nampak bayangan diluar pintu.

Nenek Siang Houw Nio-nio yang maklum bahwa pemuda itu terluka pula, khawatir melihat bayangan ini.

Kalau ada musuh lagi datang, tentu mereka berdua takkan berdaya lagi.

"Lee-ji, cepat buka pintu rahasia bawah tanah! Cepat!"

Kiong Lee tercengang dan meragu.

"Tapi... tapi suhu sedang bertapa didalam... teecu takut mengganggu, tanpa ijin beliau tak seorangpun boleh membukanya... aughh...!"

Sebuah tendangan iblis itu mengenai punggungnya dan Kiong Lee terlempar, muntah darah! "Persetan dengan tua bangka itu! Cepat sebelum kita mati penasaran! Lihat, lawan kita bertambah!"

Sambil berkata demikian, nenek itu menyebar jarum-jarum halus kearah iblis itu, bagaimanapun juga, nenek itu adalah seorang yang berilmu tinggi dan hal ini diketahui oleh si iblis yang tidak berani sembarangan dan cepat melindungi tubuhnya dari jarum-jarum halus itu dengan mantelnya.

Juga dia maklum bahwa pemuda itupun amat lihai, maka biarpun keduanya telah terluka, dia tidak berani sembarangan mendekat dan menanti kesempatan baik untuk menurunkan tangan mautnya.

Dan kini, khawatir kalau mereka lolos, iblis itu bergerak cepat mengelilingi mereka, tidak membiarkan mereka melarikan diri melalui pintu rahasia yang belum diketahuinya dimana letaknya.

Siang Houw Nio-nio dan Kiong Lee berdiri beradu punggung melindungi diri yang sudah terluka.

Tiba-tiba berkelebat bayangan orang memasuki ruangan bangunan kecil itu.

Semua orang melirik dan kiranya yang masuk adalah Ho Pek Lian, nona tawanan itu.

Dibelakangnya nampak Pek Lian dan Ang In.

Ketika Pek Lian melihat Raja Kelelawar yang pernah menawannya, dan melihat betapa pemuda perkasa itu luka, ia menjadi marah sekali dan langsung saja, dengan nekat iapun menerjang maju dan menyerangnya dengan pukulan tangan kanan.

Akan tetapi, Raja Kelelawar itu menangkis dan akibatnya, tubuh Pek Lian terlempar menabrak sebuah pot bunga yang berada disudut ruangan.

Pot bunga kuningan itu tidak roboh terlanggar tubuh Pek Lian, melainkan tergeser kesamping.

Terdengar bunyi berkerotokan dan tiba-tiba saja separuh lantai ruangan itu terbuka dan tanpa dapat dicegah lagi, tubuh nenek Siang Houw Nio-nio dan Kiong Lee, juga tubuh Pek Lian terjerumus kedalam lubang.

Melihat ini, Pek In dan Ang In berteriak khawatir, akan tetapi merekapun meloncat menyusul kedalam lubang itu karena mereka maklum bahwa lubang itu tentulah merupakan rahasia yang baru dibuat oleh Thian-kiam-pang.

Melihat ini, Raja Kelelawar menjadi marah, hendak mengejar, akan tetapi dia meragu, takut kalau-kalau dia akan terjebak.

Kembali terdengar suara berkerotokan dan tahu-tahu lantai telah menutup kembali.

Barulah Raja Kelelawar sadar bahwa mereka itu telah meloloskan diri melalui pintu rahasia, yaitu lubang tadi.

Dia menjadi geram.

Dihampirinya pot bunga kuningan itu dan digeser-gesernya kekanan kiri untuk membuka lantai.

Namun dia tidak berhasil.

Agaknya lubang itu telah tertutup dan dikunci dari bawah.

Dia memukul-mukul pot bunga sampai hancur dan memukul-mukul lantai, menendang-nendang.

Akhirnya dia mengerahkan anak-buahnya untuk membakar bangunan ditengah pulau kecil itu, lalu diapun keluar dan bersama anak-buahnya dia melakukan pembantaian besar-besaran digedung induk Perguruan Pedang Langit (Thian-kiam-pang).

Semua anggauta dan murid dibunuhnya dengan kejam, dan seluruh bangunannya dibakar sampai habis.

Agaknya, Raja Kelelawar ini amat membenci Thian-kiam-pang, seperti orang melampiaskan dendam yang hebat!

*** Mereka yang terjeblos kedalam lubang itu terjatuh kedalam ruangan bawah tanah dan biarpun lantai diatas telah menutup kembali, namun keadaan disitu cukup terang dengan adanya lampu-lampu yang menempel didinding batu.

Nenek Siang Houw Nio-nio yang terluka pahanya itu, terpincang-pincang menuruni lorong kecil.

Dibelakangnya, Pek In dan Ang In memapah Kiong Lee yang terluka parah dipundak dan punggung.

paling belakang adalah Ho Pek Lian.

Lorong itu panjang sekali, berbelak-belok naik turun dan akhirnya mereka tiba didepan sebuah pintu tertutup yang bertuliskan RUANGAN SAMADHI.

Agaknya langkah kaki mereka sudah diketahui orang karena dari balik pintu terdengar suara teguran halus.

"Siapa diluar itu? Lee-jikah itu?"

Sebelum Kiong Lee dapat menjawab, nenek itu mendahuluinya menjawab lantang.

"Akulah yang datang!"

Terdengar seruan tertahan dari dalam dan tiba-tiba daun pintu terbuka.

Dibalik pintu itu berdiri seorang kakek berambut panjang.

Kiong Lee, Pek In dan Ang In cepat menjatuhkan diri berlutut dan berkata.

"Suhu!"

Untuk beberapa lamanya, nenek dan kakek itu berdiri saling pandang penuh selidik dan ada keharuan menyelinap dalam pandang mata mereka.

Mereka adalah suami-isteri yang telah saling berpisah selama lima belas tahun walaupun keduanya sama-sama tinggal didaerah Kotaraja.

"Sumoi...!"

Kakek itu akhirnya menegur dengan suara lirih.

Semenjak berpisah, nenek itu tidak mau lagi diakui sebagai isteri, maka terpaksa kakek itupun menyebutnya dengan sebutan semula sebelum mereka menjadi suami-isteri, yaitu sumoi karena memang isterinya ini adalah sumoinya sendiri.

Akan tetapi, panggilan yang mengandung keha-ruan dan kelembutan ini tidak diacuhkan oleh si nenek yang marah.

Ia bahkan tidak memperdu-likan pahanya yang amat nyeri rasanya, akan tetapi langsung saja ia menyerang kakek itu dengan kata-kata ketus.

"Dimana anakku, Kim-ji? Hayo katakan dimana dia? Engkau membiarkan dia dihina orang, ya? Engkau membiarkan dia bergaul dengan segala macam manusia sesat, ya? Hayo kau kembalikan anakku kepadaku, kalau tidak...!"

Nenek itu terengah-engah dan kedua matanya tiba-tiba menjadi basah!

Kakek itu menjadi bengong.

Matanya memandang berganti-ganti kepada isterinya dan murid-murid itu, karena dia sungguh tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh isterinya yang marah-marah.

Juga dia merasa heran melihat mereka masuk seperti itu, bahkan isterinya dan juga murid utamanya menderita luka yang cukup parah.

Melihat keadaan suhunya, Kiong Lee merasa kasihan dan diapun berkata.

"Suhu... adik Kim... Dia telah dilukai orang... lalu diculik..."

Sejenak kakek itu terbelalak, akan tetapi sebentar saja dia sudah mampu menguasai hatinya lagi dan dengan sikap tenang diapun berkata.

"Marilah kita semua masuk kedalam, jangan ribut-ribut disini. Aku mempunyai seorang tamu disebelah dalam. Mari, sumoi, silahkan masuk dan kalian samua, anak-anak, masuklah."

Biarpun masih cemberut, nenek Siang Houw Nio-nio melangkah masuk terpincang-pincang, diikuti semua murid dan juga Pek Lian tidak ketinggalan memasuki ruangan itu dengan hati tegang dan heran.

Ternyata ruangan itu sangat luas dan nyaman sejuk.

Pada dinding-dindingnya bergantungan lukisan-lukisan orang dalam posisi bersilat.

Didalam kamar itu telah berdiri seorang kakek tua yang nampaknya masih sehat dan bersemangat, menyambut sambil tersenyum membungkuk terhadap Siang Houw Nio-nio.

Melihat pakaian kakek itu, diam-diam Pek Lian menjadi terkejut bukan main.

Kakek tamu ini berjubah hitam yang ada lukisannya seekor naga dibagian dadanya, menutupi tabuhnya yang tinggi besar.

Pek Lian teringat akan orang-orang dari Liong-i-pang, yaitu Perkumpulan Jubah Naga yang berambut riap-riapan dan yang pernah menyerang keluarga Bu itu.

Inikah ketua dari Liong-i-pang yang mempunyai anak-buah yang kasar dan kejam itu?

Akan tetapi karena maklum bahwa ia berada diantara orang-orang sakti, maka Pek Lian berlagak tidak tahu dan bersikap tenang saja walaupun hatinya terguncang hebat.

"Isteriku, inilah dia saudara Ouwyang Kwan Ek"

Kakek itu memperkenalkan. Nenek itu memandang dan nampaknya tertarik.

"Ah, murid kedua dari mendiang Sin-yok-ong?"

Tanyanya. Kakek tinggi besar berkulit hitam itu tersenyum dan menjura.

"Sudah lama mendengar nama besar Siang Houw Nio-nio, sungguh beruntung hari ini dapat bertemu. Toanio, kakimu terluka dan mengandung racun, kalau boleh saya berlancang, silahkan toanio menelan obat ini, tentu segera sembuh kembali,"

Kata si tinggi besar sambil menyerahkan sebutir pel merah.

Nenek itu maklum bahwa ia berhadapan dengan murid seorang tokoh besar Raja obat, maka iapun tidak mau sungkan lagi, menerima pel itu dan menelannya.

Rasa panas menjalar dari perutnya dan dengan sinkangnya ia menekan hawa panas itu kearah pahanya yang terluka dan sungguh ajaib, ia merasa betapa rasa nyeri dipahanya perlahan-lahan lenyap.

Cepat ia menghaturkan terimakasih.

"Ouwyang-toyu, jangan pelit, sekalian berilah obat kepada muridku yang terluka,"

Kata kakek itu.

"Lee-ji, majulah agar diobati oleh Ouwyang-Lo-cianpwe."

Kiong Lee maju dan berlutut didepan kakek itu.

Ouwyang Kwan Ek adalah murid kedua dari Si Raja Tabib dan sebenarnya dia tidak mewarisi ilmu pengobatan karena yang mewarisi adalah mendiang Bu Cian murid pertama Si Raja Tabib.

Akan tetapi sebagai murid Raja Tabib, tentu saja dia tidak buta dengan ilmu pengobatan dan kalau tidak terlalu hebat saja, dia mempunyai obat-obat untuk bermacam luka parah.

Setelah meraba punggung dan pundak Kiong Lee, kakek itu menarik napas panjang.

"Siancai...! Luka-luka ini diakibatkan pukulan-pukulan sakti yang hebat. Untung muridmu ini telah memiliki sinkang yang amat kuat, kalau tidak, tentu aku akan sukar mengobatinya, Yap-lojin!"

Katanya kepada tuan rumah.

Kakek ketua Thian-kiam-pang itu bernama Yap Cu Kiat atau diantara kenalan-kenalannya lebih terkenal disebut Yap-lojin (orang tua Yap).

Setelah menotok pundak dan punggung Kiong Lee, kakek itu lalu memberi obat bubuk berwarna kuning untuk diminum dengan air.

Dan memang obat itu mustajab sekali karena Kiong Lee merasa betapa luka-luka didalam tubuhnya tidak terasa nyeri lagi dan hanya membutuhkan pengobatan dengan pengerahan sinkang sendiri.

Diapun cepat menghaturkan terimakasih.

"Kiong Lee, apakah yang terjadi? Kenapa engkau sampai terluka dan juga subomu..."

"Hemm, enak-enak saja bersenang sendiri disini, tidak tahu diluar dibanjiri musuh yang dipimpin oleh Raja Kelelawar. Anak sendiri dilarikan orangpun tidak tahu!"

Nenek itu masih marah. Mendengar ini, terkejutlah Yap-lojin.

"Raja Kelelawar menyerbu kesini? Ah, aku harus keluar melihatnya!"

"Aku akan menemanimu, lojin!"

Kata Ouwyang Kwan Ek yang segera mengikuti tuan rumah.

Mereka cepat keluar dari terowongan itu dan mencari keluar.

Akan tetapi, setelah mereka tiba diluar, pertempuran telah berhenti dan pihak musuh telah tidak nampak lagi bayangannya.

Yang ada hanya mayat-mayat para anggauta Thian-kiam-pang, termasuk murid-muridnya yang kedua, yaitu Kwan Tek, dan murid ketiga, diantara bangunan yang terbakar habis!

Tentu saja Ouwyang Kwan Ek merasa terkejut dan kasihan kepada sahabatnya yang berdiri bengong dengan muka pucat.

Dia lalu membantu tuan ramah untuk mengangkut mayat-mayat itu melalui terowongan.

Melihat kedua adik seperguruannya tewas, Kiong Lee memekikinya sambil menangis.

Juga Pek In dan Ang In ikut menangis sedih.

Bahkan nenek Siang Houw Nio-nio sendiri tak dapat menahan runtuhnya beberapa butir air matanya dan nenek ini mengepal tinju.

"Raja Kelelawar, aku akan menghadapimu kelak untuk membuat perhitungan!"

Pek Lian yang melihat semua ini menjadi ikut terharu dan ikut menangis.

Tak disangkanya bahwa keluarga yang sakti ini tertimpa malapetaka demikian hebat dan kembali matanya seperti dibuka oleh kenyataan bahwa semakin tinggi kepandaian orang, semakin besar pula bahayanya karena tentu orang itu mempunyai musuh-musuh yang lihai pula.

Dengan penuh duka cita mereda semua lalu mengubur mayat-mayat dengan upacara sederhana saja.

Mayat-mayat itu dikubur dibelakang bangunan yang sudah menjadi abu dan malam hari itu terpaksa mereka kembali memasuki terowongan karena semua tempat telah terbakar sehingga sisa tempat yang ada hanyalah ruangan dibawah tanah.

Mereka duduk berkumpul dalam suasana duka dan masing-masing merasakan suatu keakraban.

Bahkan Pek Lian sendiri yang tadinya adalah seorang tawanan, pada saat itu merasa seolah-olah ia menjadi anggauta keluarga itu.

Juga Ouwyang Kwan Ek memperlihatkan simpatinya.

Suami-isteri yang tadinya seperti mengambil sikap bertentangan itupun kini seperti melupakan perselisihan mereka yang sudah berlangsung belasan tahun itu.

"Ilmu silat Raja Kelelawar dengan jubahnya itu memang hebat luar biasa. Semua setanganku kandas, bahkan jarum-jarumku tidak ada gunanya. Mengeroyoknya bersama Kiong Leepun masih terdesak dan terluka."

Suaminya menarik napas panjang.

"Itu baru Ilmu Gerhana Bulan, belum yang lain-lain. Ah, sungguh tidak kusangka setelah berpuluh tahun tidak ada jago silat yang menonjol dan berbakat, kini muncul keturunan Raja kaum hitam yang penuh bakat dan menyamai kesaktian leluhurnya, Si Raja Kelelawar yang sakti."

"Memang kenyataan yang pahit sekali!"

Kata Ouwyang Kwan Ek, kakek tinggi besar hitam berjubah naga itu.

"Padahal, dipihak kaum bersih, sampai kini tidak ada seorangpun jago berbakat yang muncul. Dari perguruan kamipun tidak ada seorang yang berbakat seperti mendiang suhu Raja Tabib Sakti. Aku sendiri cuma mewarisi sebagian saja dari ilmu-ilmunya, seperti halnya saudara seperguruanku yang lain."

"Demikian pula pada perguruan kami,"

Yap-lojin berkata penuh sesal.

"Sebenarnya Kiong Lee ini sangat berbakat, akan tetapi akulah yang bodoh tak mampu membimbingnya. Sayang, guruku, Sin-kun butek, telah tiada. Kalau masih ada, tentu beliau akan dapat membimbing Lee-ji ini dan akan ada seorang penggantinya yang boleh diandalkan!"

Mendengar percakapan mereka, diam-diam Pek Lian mengalami kejutan lain.

Tahulah ia sekarang bahwa ketua Perguruan Pedang Langit ini adalah keturunan dari Sin-kun butek, datuk dari utara, pendekar sakti terbesar seabad yang lalu, yang pernah didengarnya ketika ia masih bersama dua orang gurunya.

Sin-kun butek yang sejajar namanya dengan si datuk selatan, yaitu Raja Tabib Sakti.

Keduanya merupakan datuk-datuk kaum bersih yang merupakan saingan terbesar dari datuk-datuk kaum sesat seperti pendiri Tai-bong-pai, pendiri Soa-hu-pai, dan juga tentu saja menjadi musuh yang ditakuti dari Bit-bo-ong Si Raja Kelelawar.

Mengertilah ia kini mengapa Raja Kelelawar memusuhi Thian-kiam-pang.

Kiranya iblis itu ingin membalas dendam leluhurnya yang kabarnya tewas ditangan Sin-kun butek.

pantas saja sarang Thian-kiam-pang itu dibasminya, semua penghuninya yang ada ditewaskan dan bangunan-bangunannya dibakar habis.

Nenek Siang Houw Nio-nio juga hanyut dalam percakapan itu dan ia menarik napas panjang lalu berkata.

"Yahh... padahal asal salah seorang dari murid-murid kita bisa mendalami pelajaran perguruan masing-masing secara sempurna seperti halnya iblis itu mempelajari ilmu leluhurnya yaitu Raja Kelelawar, aku berani bertaruh bahwa iblis itu pasti akan bisa ditaklukkan. Seperti juga dijaman dahulu Si Raja Kelelawar tidak berkutik ketika melawan guru-guru kita, baik melawan guru kami Raja Tabib Sakti maupun melawan Sin-kun butek."

Ouwyang Kwan Ek mengangguk-angguk membenarkan ucapan ini.

Memang patut disayangkan bahwa tidak ada murid dari para datuk itu yang dapat mewarisi seluruh ilmu gurunya sampai mencapai tingkat setinggi mereka.

Akan tetapi dia tiba-tiba teringat akan sesuatu, lalu diapun berkata.

"Kim-mo Sai-ong pendiri Soa-hu-pai yang bersama dengan iblis pendiri Tai-bong-pai merupakan juga datuk-datuk persilatan yang setingkat dengan guru-guru kita seabad yang lalu? Nah, aku mendengar bahwa ada cucu murid dari Kim-mou Sai-ong ini yang sangat berbakat, dan kabarnya kini telah mencapai tingkat ketiga belas ilmu-ilmu Soa-hu-pai, yaitu tingkat terakhir dari Soa-hu-pai yang hebat itu. Dan kabarnya orang itu kini mengabdi kepada Kaisar."

Berkata demiki-an, Ouwyang Kwan Ek memandang kepada nenek Siang Houw Nio-nio yang juga mengabdikan dirinya kepada Kaisar karena masih terhitung keluarga dekat Kaisar. Nenek itu mengangguk-angguk.

"Memang benar, akan tetapi orang itu menjadi komandan pengawal Istana dan kurasa diapun masih belum setinggi Raja Kelelawar tingkatnya. Dan seperti juga dahulu, alirannya tidak mau berurusan dengan iblis itu. Seperti, juga guru-gurunya tidak pernah acuh terhadap Raja Kelelawar."

"Selama ini aku tidak pernah mendengar tentang orang-orang Tai-bong-pai. Setelah keturunan Raja Kelelawar keluar, apakah keturunannya juga tidak memperlihatkan diri? Ataukah Tai-bong-pai sudah mati dan tidak mempunyai keturunan?"

Yap-lojin bertanya karena percakapan itu membongkar hal-hal lama, mengingatkan mereka akan golongan-golongan jaman dahulu yang pernah menggemparkan dunia persilatan.

Mendengar pertanyaan ini, hampir saja Pek Lian membuka mulut menjawab.

Ia teringat akan orang-orang yang membawa gadis cantik dalam keranjang yang terluka parah dan lumpuh itu.

Untung bahwa ia masih dapat menahan hatinya, karena kalau ia membuka mulut, akhirnya tentu ia akan terpaksa membuka rahasianya bahwa ia adalah puteri Menteri Ho dan hal ini dapat berbahaya bagi dirinya.

Maka iapun diam saja dan menundukkan muka, hanya memasang telinga mendengarkan percakapan yang amat menarik hatinya itu.

"Entahlah, tidak ada berita tentang mereka..."

Kata kakek berjubah naga. Tiba-tiba Yap-lojin berseru.

"Ahh...!"

Pek Lian terkejut dan mengangkat muka memandang kepada kakek itu yang agaknya teringat akan sesuatu.

"Lupakah kalian akan sasterawan itu? Dia yang yang mengalahkan keempat datuk sakti dahulu, leluhur kita itu?"

Kakek berjubah naga terkejut.

"Maksudmu?"

"Mari kita memasuki ruang samadhiku."

Kakek itu mendahului mereka semua memasuki pintu rahasia dan berkumpul diruangan bawah tanah yang luas.

Yap-lojin membawa mereka semua kepada beberapa buah gambar.

Gambar-gambar yang melukiskan bermacam gerakan menyerang, gambar searang sasterawan terhadap lawan-lawannya.

Dalam tiap gambar, sasterawan tua itu menghadapi seorang lawan berbeda.

"Lihat gambar-gambar ini dilukis untuk mengabadikan pengalaman yang amat langka itu, yaitu kalahnya para datuk sakti terhadap si sasterawan tua dan lukisan-lukisan ini adalah jurus-jurus terampuh yang dipergunakan para datuk, akan tetapi selalu si sasterawan yang menang,"

Kata Yap-lojin.

"Ah, betapa hebat dan menariknya. Harap suhu sudi menceritakan karena teecu amat tertarik mendengarnya."

Kakek itu menarik napas panjang.

"Hal ini sebenarnya merupakan rahasia para datuk yang dianggap amat memalukan, bahkan subomu sendiripun tidak tahu akan cerita ini. Akan tetapi setelah kini Raja Kelelawar seperti menjelma lagi dan mengacaukan dunia, kita memang boleh mengharapkan munculnya tokoh keturunan sasterawan ini yang akan menundukkannya. Nah, kalian dengarlah ceritaku."

Kakek itupun lalu menceriterakan peristiwa hebat yang terjadi puluhan tahun yang lalu.

Seabad yang lalu, dunia persilatan mengenal nama empat orang datuk yang dianggap sebagai tokoh-tokoh yang memiliki kepandaian silat paling tinggi didunia persilatan.

Mereka itu adalah dua orang tokoh golongan putih, yaitu Bu-Eng Sin-yok-ong (Raja Tabib Sakti Tanpa Bayangan) yang merupakan datuk putih daerah selatan, dan Sin-kun butek (Kepalan Sakti Tanpa Tanding) yang menjadi datuk putih diutara.

Kemudian dua orang datuk golongan hitam, yaitu Cui-beng Kui-ong (Raja Iblis Pengejar Arwah) pendiri dari Tai-bong-pai dan Kim-mo Sai-ong (Raja Singa Berbulu E-mas) pendiri dari Soa-hu-pai.

Empat orang tokoh inilah yang dianggap amat sakti dan paling tinggi ilmunya sehingga seorang seperti Bit-bo-ong (Raja Kelelawar) yang dianggap Rajanya kaum penjahat sekalipun tidak pernah berani bertingkah terhadap mereka dan dianggap masih lebih rendah dari pada mereka berempat.

Biarpun diantara dua golongan itu ada golongan putih dan golongan hitam, akan tetapi mereka itu dapat mengikat persahabatan dan tidak pernah saling bermusuhan.

Memang aneh, akan tetapi memang kehidupan para datuk ini tidak lumrah manusia biasa.

Biarpun Cui-beng Kui-ong dan Kim-mo Sai-ong itu merupakan dua orang datuk hitam, akan tetapi mereka sendiri tidak pernah melakukan kejahatan, hanya dianggap datuk dan didewa-dewakan oleh kaum sesat.

Mereka itu balikan memiliki kegagahan yang mengagumkan, walaupun pandangan mereka kadang-kadang sesat dan tidak mengenal arti kesopanan atau hukum-hukum yang ada.

Mungkin karena saling segan oleh ilmu masing-masing yang amat tinggi, dan saling menyayang kepandaian masing-masing kawan, maka mereka itu dapat bersahabat.

Anehnya, setiap empat tahun sekali, empat orang datuk itu selalu mengadakan pertemuan untuk membicarakan ilmu silat, bahkan mereka itu masing-masing memperlihatkan kemajuan-kemajuan yang mereka peroleh selama empat tahun terakhir, untuk dikagumi oleh yang lain, juga diakui!

Akan tetapi baiknya, belum pernah diantara mereka itu terjadi persaingan atau cekcok, apa lagi lalu saling serang sampai bunuh-membunuh.

Mereka agaknya maklum bahwa sekali bentrok, berarti mereka akan membiarkan dirinya terancam maut, karena sekali berkelahi, tentu kematian mengancam mereka.

Bukan tidak mungkin, mengingat bahwa tingkat mereka seimbang, mereka akan sampyuh dan mati semua.

Kadang-kadang mereka mengadakan pertemuan ditepi pantai, kadang-kadang di puncak gunung atau ditempat-tempat yang sunyi dan yang tak pernah didatangi orang lain.

Pada suatu hari, kembali mereka mengadakan pertemuan setelah selama empat tahun mereka tidak pernah saling bertemu.

Sekali ini, mereka memilih tempat di lembah Gunung Hoa-san yang indah dan amat sunyi.

Dan di lembah itu terdapat sebuah telaga yang indah sekali, dengan airnya yang dalam dan kehijauan, bening seperti kaca.

Sunyi sekali disitu sehingga ketika empat orang datuk itu datang secara beruntun, mereka merasa suka sekali dan memuji tempat itu sebagai tempat pertemuan yang amat menyenangkan.

"Ha-ha-ha, kamu tukang obat memang pandai memilih tempat yang bagus!"

Cui-beng Kui-ong pendiri Tai-bong-pai memuji karena memang tempat itu adalah pilihan Bu-Eng Sin-yok-ong.

Mereka lalu duduk mengelilingi sebuah perapian sambil bercakap-cakap, membicarakan tentang ilmu silat dan tentang hasil-hasil mereka selama empat tahun ini.

Bu-Eng Sin-yok-ong mengatakan bahwa diapun hanya mendengar saja tentang keindahan telaga ini dan baru sekarang dia datang ketempat itu.

"Yok-ong, selama empat tahun ini ilmu apa sajakah yang berhasil kau ciptakan?"

Kita-mo Sai-ong bertanya.

Diantara mereka berempat, memang boleh dibilang tingkat Bu-Eng Sin-yok-ong yang paling tinggi sehingga tiga orang yang lain menganggap dia seperti saudara tua.

Menurut tingkat mereka, walaupun mereka tidak pernah saling gempur, orang pertama adalah Bu-Eng Sin-yok-ong, kedua adalah Sin-kun butek dan Cui-beng Kui-ong yang memiliki tingkat seimbang, dan yang sedikit lebih rendah adalah Kim-mo Sai-ong.

Akan tetapi, perbedaan tingkat ini tidak pernah mereka, nyatakan dengan mulut, hanya masing-masing mencatatnya didalam hati, mengukur dari kepandaian mereka ketika saling mendemonstrasikan ilrnu masing-masing.

Ditanya oleh Kim-mo Sai-ong secara terbuka itu, Bu-Eng Sin-yok-ong tersenyum sambil mengelus jenggotnya.

"Ah, sudah tua seperti aku ini, perlu apa memperdalam ilmu membunuh orang lain? Tidak, selama ini aku tidak mau menambah ciptaan ilmu membunuh. Sudah terlalu banyak ilmu membunuh diciptakan orang-orang pandai seperti kalian bertiga ini, maka aku lalu tekun didalam guha untuk mencari rahasia ilmu menghidupkan yang menjadi kebalikan dari ilmu membunuh."

"Lo-heng, engkau adalah seorang Raja Tabib yang merupakan dewa pengobatan didunia ini, apakah engkau maksudkan selama ini engkau memperdalam ilmu pengobatan yang sudah hebat itu? Hampir tidak ada penyakit yang tak dapat kau sembuhkan dengan ilmumu,"

Tanya Sin-kun butek yang merasa seperti saudara sendiri dengan datuk selatan itu sehingga menyebutnya lo-heng.

"Bukan hanya ilmu pengobatan, lo-te, melainkan ilmu menghidupkan,"

Jawab yang ditanya.

"Ha-ha-ha, tukang obat!"

Cui-beng Kui-ong yang suka ugal-ugalan dan tidak pernah mau memakai peraturan, juga dalam hal memanggil nama itu, tertawa.

"Yang dihidupkan itu hanyalah orang mati, apakah kau mau katakan bahwa engkau dapat menghidupkan orang mati?"

Pertanyaan ini seperti kelakar, akan tetapi diam-diam yang bertanya merasa tegang dan juga dua orang lainnya memandang wajah Bu-Eng Sin-yok-ong dengan mata terbelalak penuh perhatian.

Sin-yok-ong menarik napas panjang.

"Siancai... aku hanya manusia biasa, mana mungkin dapat membuka rahasia antara mati dan hidup? Akan tetapi, sebagai ahli pengobatan, aku tertarik untuk menyelidiki sebab-sebab mengapa ada kematian dalam hidup ini. Manusia ini hidup karena adanya tenaga yang menggerakkan segala sesuati dalam tubuh kita, baik selagi terjaga maupun sedang tertidur, menggerakkan jantung, pernapasan dan seluruh urat syaraf dalam tubuh, sampai yang terhalus sekalipun. Kematian disebabkan karena tenaga penggerak ini tidak dapat menembus bag;an tubuh yang rusak, baik oleh kuman maurmn oleh kekerasan dari luar. Nah, aku melakukan penyelidikan bagaimana untuk menembus bagian tertutup itu sehingga tenaga penggerak itu mampu menembus kebagian-bagian yang terpenting sehingga semua anggauta tubuh dapat bekerja dengan baik walaupun ada bagian yang cacat dan hidup dapat dipertahankan."

Tiga orang datuk lainnya mendengarkan dengan mata terbelalak.

"Wah, wah, bukan main hebatnya! Kalau benar engkau telah berhasil mengatasi kematian, maka segala ilmu didunia ini tidak ada artinya lagi. Selamat, Yok-ong!"

Kata Kim-mo Sai-ong akan tetapi Sin-yok-ong mengangkat tangannya.

"Jangan tergesa-gesa memberi selamat, Sai-ong. Aku baru dalam taraf penyelidikan dan percobaan saja dan ternyata dibalik itu tersembunyi rahasia-rahasia yang amat pelik dan gawat. Sudahlah, lebih baik kalian menceritakan dan memperlihatkan ilmu-ilmu baru yang kalian berhasil ciptakan selama ini."

Kim-mo Sai-ong lalu mendemonstrasikan ilmunya yang paling hebat, yaitu ilmu tenaga sakti Rawa Pasir.

Ketika dia mainkan ilmu ini yang diberi nama Pukulan Pusaran Pasir Maut, disekitar tubuhnya terasa ada tenaga hebat yang berdaya tolak luar biasa kuatnya, mengandung hawa dingin yang menggigilkan, terasa oleh tiga orang datuk lainnya yang dapat mengerti bahwa lawan yang kurang kuat tidak akan dapat bertahan menghadapi datuk ini dalam jarak tiga langkah saja.

Dan kaki tangan Kim-mo Sai-ong mainkan ilmu silat yang dinamakannya Soa-hu-lian (Teratai Danau Pasir).

Tiga orang datuk itu memuji ilmu-ilmu baru ini.

Tiba giliran Cui-beng Kui-ong yang mendemonstrasikan ilmunya yang mutakhir, yaitu Ilmu Pukulan Penghisap Darah!

Bukan main hebatnya pukulan ini.

Terasa oleh tiga orang datuk lainnya betapa dalam angin pukulan itu terkandung hawa beracun yang menyedot kearah lawan dan setiap pertemuan anggauta badan dengan lawan, seperti kalau lawan menangkis dan sebagainya, lawan yang kalah kuat sedikit saja tenaganya tentu akan terkena akibat hawa pukulan ini yang akan menyedot keluar darah dari balik kulit mereka sehingga lawan seolah-olah akan berkeringat darah!

Sebelum ilmu yang mengerikan ini, Cui-beng Kui-ong sudah pula memiliki Ilmu Tenaga Sakti Asap Hio yang membuat keringatnya berbau seperti hio (dupa biting) yang harum-harum aneh.

Diam-diam Sin-yok-ong dan Sin-kun butek merasa khawatir dan ngeri.

Kalau ilmu kedua orang datuk kaum sesat itu dipergunakan oleh murid-murid mereka yang berahlak bobrok, tentu akan mendatangkan malapetaka didunia ini.

Akan tetapi mereka berdua merasa yakin bahwa biarpun dua orang datuk sakti itu dianggap sebagai datuk sesat, namun mereka amat keras terhadap muridmurid mereka dan tidak sembarangan menurunkan ilmu mereka kepada murid mereka.

Tiba giliran Sin-kun butek yang memperlihatkan ilmu pukulan terbarunya.

Ilmu itu dinamakan Ilmu Silat Angin Puyuh dan dimainkan dengan pengerahan tenaga sakti yang dinamakannya tenaga Thian-hui-gong-ciang (Tangan Kosong Halilintar).

Ketika orang sakti ini memainkan ilmunya, maka terasa oleh tiga orang datuk lainnya betapa ada hawa menyambar-nyambar panas dan disertai angin puyuh yang mengamuk hebat.

Debu mengepul tinggi dan berpusing seperti terbawa angin puyuh dan pohon-pohon disekeliling tempat itu bergoyang-goyang, daun-daun rontok beterbangan terbawa berpusing pula.

"Hebat, hebat..., lo-te. Ilmu pukulan ini hebat sekali"

Bu-Eng Sin-yok-ong memuji, demikian pula dua orang datuk sesat juga merasa kagum dan merasa bahwa bagaimanapun juga, kemajuan ilmu mereka masih kalah dibandingkan dengan Sin-kun butek ini.

"Nah, sekarang tiba giliranmu, lo-heng. Biarpun engkau mengaku belum berhasil, akan tetapi selama empat tahun ini tentu telah ada kemajuan. Siapa tahu engkau telah dapat menghidupkan orang mati! Wah, kalau benar demikian, kami bertiga akan berlutut dan takluk!"

Kata Sin-kun butek yang dibenarkan oleh dua orang datuk lainnya.

Kalau benar Tabib Sakti itu dapat menghidupkan orang mati, apa artinya semua kemajuan yang mereka peroleh?

Kecil sekali dibandingkan dengan ilmu yang dapat menghidupkan orang mati!

Bu-Eng Sin-yok-ong tersenyum dan menggeleng kepala.

"Jangan kalian melebih-lebihkan. Sudah kukatakan, aku baru membuat penyelidikan dan percobaan, dan dibalik kehidupan ini terdapat hal-hal yang tidak dapat dijangkau oleh kekuatan otak belaka. Akan tetapi, memang selama empat tahun ini aku sudah membuat percobaan-percobaan. Nah, Sai-ong, engkau yang paling gesit, cobalah engkau mencari seekor kelinci."

"Baik!"

Begitu menjawab, tubuhnya sudah melesat lenyap dan sebentar saja iblis pendiri Soa-bu-pai ini telah datang kembali membawa seekor kelinci.

"Bunuhlah tanpa merusak kepalanya!"

Kata pula Bu-Eng Sin-yok-ong. Kim-mo Sai-ong tertawa dan sekali tangan kirinya bergerak, jari telunjuknya telah memukul punggung kelinci itu.

"Ngekk!"

Dan kelinci itupun tewaslah, hanya berkelojotan sekali dua kali saja.

"Periksalah oleh kalian apa benar-benar binatang, ini sudah mati,"

Kata pula Bu-Eng Sin-yok-ong dengan tenang.

Tiga orang datuk itu dengan bergantian memeriksa dan mendapat kenyataan bahwa kelinci itu memang sudah mati, darahnya sudah terhenti sama sekali dan napasnya tidak jalan walaupun tubuhnya masih hangat.

Bu-Eng Sin-yok-ong sudah mengeluarkan serangkaian jarum-jarum emas dan perak.

Lalu dia mengambil bangkai kelinci itu dan mulai menggu-nakan jarum-jarumnya untuk menusuk sana-sini.

Belum sampai dua belas kali dia menusuk...

eh, binatang itu dapat bergerak kembali dan ketika jarum-jarum itu diambil dan kelinci dilepaskan, binatang itu berlari cepat memasuki semak-semak!

Tiga orang datuk itu terbelalak dan seperti telah mereka janjikan tadi, mereka menjatuhkan diri berlutut.

Akan tetapi Bu-Eng Sin-yok-ong juga berlutut membalas mereka dan berkata.

"Sudah, sudah, jangan main-main. Mari kita duduk kembali. Aku hanya menghidupkan seekor kelinci yang matinya dalam keadaan utuh. Kalau manusia yang mati dan rusak alat tubuhnya yang penting, sungguh aku tidak berani memastikan apakah aku akan dapat menghidupkannya."

Biarpun kakek itu merendah, namun tiga orang datuk itu semakin kagum dan hormat kepadanya.

Mereka lalu bercakap-cakap dan mula-mula yang membangkitkan kebanggaan dihati mereka adalah Kim-mo Sai-ong yang berkata.

"Setelah kita berempat mencapai tingkat seperti sekarang ini, siapakah didunia ini yang sanggup mengatasi kita?"

"Ha-ha-ha, omonganmu sungguh aneh, Sai-ong!"

Cui-beng Kui-ong mencela temannya.

"Kita berempat adalah datuk-datuk yang memiliki kepandaian tinggi, siapa lagi yang akan mampu melebihi kita? Bahkan Bit-bo-ong saja yang dianggap Rajanya penjahat, menyembunyikan ekornya diantara kaki belakang kalau melihat seorang diantara kita!"

Kata-kata dua orang datuk sesat itu sedikit banyak menimbulkan rasa bangga dan angkuh dalam hati dua orang datuk bersih. Sin-kun butek batuk-batuk untuk menekan rasa bangga ini, kemudian dia berkata.

"Uhh, tua bangka-tua bangka seperti kita ini menghabiskan waktu puluhan tahun untuk menciptakan ilmu-ilmu silat yang tinggi. Kalau sudah mencapai tingkat tertinggi, lalu untuk apa?"

Biarpun demikian, dalam ucapannya ini mengakui bahwa mereka telah mencapai tingkat tertinggi!

"Siancai..., sungguh beruntung bahwa kita berempat dapat bersahabat seperti ini.

Kalau ilmu-ilmu kita ini dipergunakan untuk saling hantam, bukankah dunia akan menjadi kacau dan kiamat?"

Bu-Eng Sin-yok-ong juga berkata dan dalam kata-katanya juga terbayang rasa bangga akan kepandaian mereka berempat yang mereka anggap sudah tidak ada bandingnya lagi diseluruh dunia ini.

Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara nyanyian halus yang datangnya dari seberang telaga!

Suara itu halus sekali seperti berbisik, akan tetapi mereka dapat mendengar dengan jelas, seperti suara anak-anak yang dibawa angin lalu.

"Langit biru tinggi nian Apa gerangan yang berada diatasmu? Telaga biru betapa dalam Apa gerangan yang berada dibawahmu? Adakah yang tertinggi? Adakah yang paling dalam? Aku tak tahu...!"

Empat orang tua itu saling pandang dan dalam pandang mata itu mereka tahu babwa nyanyian itu seolah-olah mengejek dan menusuk jantung mereka, seolah-olah mencela rasa bangga dan angkuh yang tadi mencekam hati mereka.

Disamping rasa penasaran, juga mereka merasa malu bahwa mereka yang telah berada ditempat itu selama hampir setengah hari, tidak tahu bahwa didekat telaga itu ada orangnya!

Orang itu adalah seorang sasterawan, atau seorang kakek yang memakai pakaian sederhana seperti sasterawan, sudah tua sekali, dengan kumis dan jenggot panjang berwarna putih, tubuhnya kurus kering seperti orang kurang makan, namun wajahnya membayangkan kelembutan yang mengharukan.

Kakek ini sejak pagi buta telah duduk ditepi telaga, terlindung oleh semak-semak dan pohon-pohon, dan karena dia sama sekali tidak mengeluarkan suara sedikitpun, seperti gerakan bayangan pohon saja, maka empat orang datuk sakti itu sama sekali tidak tahu akan kehadirannya.

Sasterawan itupun tidak memperdulikan mereka berempat, tenggelam dalam kesibukannya sendiri.

Dia sedang melukis keindahan telaga dengan gunung-gunung yang mengelilinginya.

Didekatnya terdapat tangkai pancing yang ditancapkan, ada beberapa buah berderet-deret ditepi telaga.

Akan tetapi sasterawan itupun tidak memperdulikan pancing-pancing ini, melainkan asyik melukis.

Hanya setelah empat orang datuk itu berbincang-bincang dengan penuh kebanggaan dan keangkuhan tentang kepandaian mereka, kakek tua ini secara langsung menyanyikan sajak tadi, sama sekali bukan bermaksud untuk mengejek atau menyindir, melainkan karena ucapan-ucapan empat orang yang mengandung keangkuhan itu membuat dia termenung dan bertanya-tanya dalam hati tentang apakah ada yang tertinggi dan terdalam.

Pertanyaan ini timbul karena dia melukis langit dan danau, dan terdorong oleh percakapan yang mengandung nada angkuh dan bangga akan diri sendiri itu.

Empat orang datuk itu dengan kepandaian mereka yang hebat, dalam beberapa detik saja sudah berada ditepi telaga, berhadapan dengan kakek sasterawan yang asyik melukis itu.

Kakek itu hanya menengok dan memandang dengan sinar mata lembut dan mulutnya yang kempot tak bergigi itu tersenyum tenang.

Akan tetapi Cui-beng Kui-ong, si iblis pengisap darah dari Tai-bong-pai yang berangasan itu sudah tak dapat menahan kemarahannya lagi.

Dia melangkah maju dan memandang kepada kakek sasterawan itu dengan sinar mata berapi dari sepasang matanya yang lebar terbelalak, lalu dia menudingkan telunjuknya kearah muka kakek itu.

"Heh, orang tua yang sombong! Engkau telah lancang mengintai kami, ya? Sungguh kurang ajar sekali perbuatan itu, melanggar peraturan dan kebiasaan orang-orang gagah! Bukan jantan kalau suka mengintai orang lain!"

Sasterawan tua itu nampak terkejut dengan serangan kata-kata yang kasar ini.

Dia bangkit berdiri dengan gerakan lemah, meninggalkan lukisannya yang terbentang diatas tanah, akan tetapi dia tidak melepaskan tempat tinta bak yang dipegang dengan tangan kiri dan pena bulu yang dipegang dengan tangan kanan, yaitu alat-alatnya untuk melukis tadi.

"Maaf, maaf... harap cuwi yang gagah perkasa tidak salah sangka dan menuduh aku melakukan hal yang bukan-bukan. Sejak pagi buta aku telah berada disini seperti yang kulakukan setiap hari, memancing dan melukis atau menulis sajak. Rumahkupun tidak jauh dari sini, itu dilereng sebelah sana, nampak dari sini. Siapa yang mengintai? Salahkah aku kalau aku sudah berada disini ketika cuwi datang?"

Ucapan itu halus dan cukup beralasan, akan tetapi karena Cui-beng Kul-ong merasa penasaran dan menduga bahwa orang ini tentu telah menyaksikan ilmu-ilmu baru yang mereka keluarkan, tadi, dia menjadi naik darah.

Apa lagi, sejak tadi dia memang merasa kurang puas, karena dia merasa bahwa ilmu barunya tadi masih kalah hebat dibandingkan dengan ilmu bara dari Sin-kun butek, dan hal ini berarti bahwa dalam empat tahun ini kemajuan ilmunya masih kurang dibandingkan dengan kemajuan tiga orang datuk lainnya.

"Mancing? Alasan! Beginikah caranya orang mancing?"

Dan diapun menggunakan tangannya bergerak kedepan dan batang-batang pancing itu tercabut semuanya dan ternyata dimata kailnya tidak ada seekorpun cacing! Inikah namanya mancing?"

Dia melempar-lemparkan semua batang pancing keatas tanah.

Akan tetapi, kakek sasterawan itu ternyata sabar sekali.

Dia sama sekali tidak marah, bahkan dia lalu mengangkat muka memandang keatas dan bersajak lagi.

"Memancing tanpa umpan karena tidak butuh ikan hanya memancing ketenangan untuk menikmati kebahagiaan. Apa artinya pintar kalau hanya untuk menipu? Apa artinya kuat kalau hanya untuk menindas? Lebih baik bodoh lebih baik lemah!"

Cui-beng Kui-ong menjadi semakin marah karena dia merasa diejek dan disindir.

"Keparat, berani engkau memaki orang?"

Katanya dan diapun merenggut lukisan dari atas tanah dan merobek-robek lukisan itu!

Datuk yang bertubuh tinggi besar dengan kumis dan jenggot kasar pendek ini kelihatan menyeramkan sekali.

Lukisan itu hancur lebur ketika dirobeknya.

Padahal, sasterawan tua itu bersusah payah dengan lukisan itu selama berhari-hari dan lukisan itu telah mendapatkan bentuknya.

Sebuah lukisan yang amat indahnya.

Matahari pagi dilukisan itu seolah-olah menyinarkan cahaya begitu hidup, cahaya keemasan yang gilang-gemilang dan yang membentuk cahaya panjang dipermukaan danau.

Padahal, lukisan itu hanya hitam putih saja, namun orang yang menatap lukisan itu seolah-olah melihat keindahan warna-warna aselinya.

Bu-Eng Sin-yok-ong dan Sin-kun butek mengerutkan alisnya dan merasa bahwa tindakan Cui-beng Kui-ong itu agak keterlaluan walaupunmereka berduapun merasa tidak senang kalau mengingat bahwa kakek sasterawan ini tadi telah mendengarkan semua percakapan mereka berempat, bahkan mungkin sekali telah melihat demonstrasi kepandaian mereka yang amat dirahasiakan itu.

Sasterawan tua itu ternyata tidak marah, hanya dengan muka sedih sekali dia melihat betapa lukisan kesayangannya dirobek-robek orang.

kedua lengan yang memegang mouw-pit dan tempat bak itu tergantung lemas dan wajahnya yang tua keriputan nampak amat berduka.

Lalu dia berlutut didekat robekan-robekan lukisan, menaruh pena bulu dan tempat tinta diatas tanah, memunguti robekan lukisan, melihatnya dengan air mata berlinang, kemudian dia berkata dengan lirih, nadanya penuh keprihatinan.

"Kuharap dengan sangat agar tuan-tuan suka cepat berlalu dari tempat ini sebelum anak angkatku yang pemarah itu datang kesini dan melihat malapetakka ini."

Tentu saja ucapan yang mengandung peringatan ini membuat empat orang datuk itu mau tidak mau tertawa, bahkan Bu-Eng Sin-yok-ong sendiripun sempat tersenyum dan mengelus jenggotnya.

Mereka adalah empat orang datuk terbesar diseluruh dunia persilatan, merasa tanpa tandingan dan tentu saja menghadapi siapapun mereka tidak merasa takut, apa lagi harus berhadapan dengari anak angkat kakek itu yang berangasan saja, bahkan dengan Kaisar dan bala tentaranya sekalipun mereka tidak akan gentar menghadapinya.

Bahkan Sin-kun butek yang berjiwa pendekar juga merasa tersinggung diperingatkan seperti itu, seolah-olah mereka berempat akan merasa takut terhadap ancaman seorang bocah, karena betapapun juga, anak angkat kakek itu tentu masih muda.

Maka diapun bertanya dengan suara mengandung kemarahan.

"Sobat yang pandai melukis dan bersajak, tahukah engkau siapa adanya kami berempat?"

Dengan sikap tenang sasterawan itu menjawab.

"Sejak cuwi datang, sebenarnya aku tidak tahu sama sekali siapa cuwi dan akupun tidak perduli. Akan tetapi aku tahu bahwa cuwi saling bersa-habat dan ingin menguji ilmu masing-masing, Baru setelah cuwi selesai saling menguji ilmu dan bercakap-cakap serta saling memanggil nama masing-masing, aku tahu bahwa cuwi adalah empat orang datuk dunia persilatan yang tersohor itu. Benarkah demikian? Menilik dari kesaktian-kesaktian yang telah cuwi perlihatkan tadi, tentu perkiraanku benar."

Jawaban ini tentu saja mengejutkan dan mencengangkan.

Kalau sasterawan ini sudah dapat mengenal ilmu kesaktian mereka, berarti kakek ini tidak asing dengan ilmu silat tinggi.

Kim-mo Sai-ong yang sejak tadi diam saja kini berkata dengan suara mengejek.

"Meskipun telah dapat menduga siapa kami, engkau masih berani menakut-nakuti kami dengan anak angkatmu itu? Apakah anak angkatmu itu bisa mengalahkan kami?"

"Justeru itulah yang kutakutkan. Biarpun berangasan, aku sangat mengasihinya, dan aku tidak ingin melihat orang menyakitinya. Kalau dia datang dan melihat lukisanku dirobek-robek orang, tentu dia akan marah dan mengamuk. Padahal, pada waktu ini, ilmunya belum mencapai tingkat setinggi tingkat cuwi. Akibatnya tentu dia akan dihajar habis-habisan. Bukankah aku akan merasa sedih sekali kalau begitu?"

"Sudahlah mari kita pergi saja!"

Bu-Eng Sin-yok-ong membujuk tiga orang temannya karena dia merasa kasihan terhadap sasterawan tua itu.

Tiga orang datuk lainnya juga merasa enggan untuk mengganggu seorang kakek lemah seperti itu.

Tidak pantaslah kalau datuk-datuk sakti seperti mereka harus melayani seorang sasterawan tua lemah.

Merendahkan martabat saja dan membuang-buang tenaga sia-sia.

Mereka bertiga mengangguk dan sudah hendak pergi bersama Bu-Eng Sin-yok-ong.

Tiba-tiba nampak bayangan orang berkelebat dan muncullah seorang pemuda tinggi tegap dari balik tebing gunung.

Begitu datang, pemuda ini melihat lukisan yang robek-robek dan ayah angkatnya yang berdiri dengan muka berduka, berhadapan dengan empat orang kakek yang agaknya hendak meninggalkan tempat itu.

"Tahan!!"

Pemuda itu berteriak dan karena teriakannya mengandung tenaga khikang yang cukup dahsyat, maka empat orang datuk itu terkejut dan tertarik, lalu tidak jadi pergi dan memandang kepada pemuda itu.

Inikah anak angkat kakek sasterawan yang berangasan itu?

"Siapakah yang berani merobek-robek lukisan ayahku?

Hayo, siapa berani melakukan perbuatan biadab ini?

iblis sekalipun tidak akan tega mengganggu ayah, apa lagi merobek lukisannya yang dibuatnya dengan penuh kecintaan dan ketekunan selama berhari-hari.

Hayo kalian mengaku, siapa diantara kalian yang merobek-robeknya?"

"Anakku... sudahlah!"

Sasterawan tua itu membujuk, suaranya gemetar.

"Biar, ayah. Aku tidak akan mau sudah sebelum yang merobeknya berlutut minta-minta ampun kepadamu dan bersumpah lain kali tidak akan berani berbuat sewenang-wenang lagi!"

Tentu saja sejak tadi Cui-beng Kui-ong sudah marah bukan main.

"Heh, bocah gila, akulah yang telah merobek-robek gambar busuk itu! Habis, kau mau apa?"

Sambil berkata demikian, datuk ini melangkah maju dan membusungkan dadanya yang bidang dan kokoh kuat. Pemuda itu memandang kepada datuk tinggi besar itu dengan mata berapi-api.

"Engkau, ya? Siapakah engkau begitu berani menghina ayahku?"

Cui-beng Kui-ong masih merasa malu kalau harus melayani seorang pemuda seperti ini, maka dia menahan kemarahannya dan tertawa.

"Ha-ha-ha, ketahuilah, pemuda tolol. Aku adalah Cui-beng Kui-ong!"

Dikiranya bahwa pemuda itu tentu akan ketakutan setengah mati mendengar namanya.

Diseluruh dunia ini, baik pendekar maupun penjahat, gemetar ketakutan mendengar namanya, apalagi seorang pemuda tak terkenal seperti ini.

Akan tetapi sikap pemuda itu sungguh mengejutkan empat orang datuk itu.

"Hernm, engkau baru seorang Kui-ong (Raja Iblis) sudah berani mengganggu ayahku. Sedangkan seorang Sian-ong (Raja Dewa) sekalipun tidak akan berani. Iblis seperti ini memang patut dihajar!"

Dan pemuda itu langsung saja memukul dengan kepalan lurus kearah dada Cui-beng Kui-ong!

Hampir saja Raja iblis ini tertawa bergelak melihat pemuda itu berani menyerangnya dengan kepalan biasa seperti itu.

Tentu saja dengan mudah dia akan dapat mengelak, akan tetapi karena dia ingin segebrakan saja membuat pemuda itu "tahu rasa,"

Maka diapun tidak mengelak, melainkan menangkis sambil mengerahkan sinkang biasa yang cukup kuat untuk mematahkan tulang lengan pemuda itu dan sekaligus membuatnya terlempar.

"Dukkk!!"

Akibat benturan kedua lengan itu membuat Cui-beng Kui-ong terbelalak, bahkan tiga orang datuk lainnya juga menjadi bengong.

Mereka bertiga itu maklum akan maksud Cui-beng Kui-ong dengan tangkisan itu.

Akan tetapi akibatnya, pemuda itu sama sekali tidak terlempar, apa lagi patah tulang lengannya, bahkan Cui-beng Kui-ong merasa betapa pemuda itu memiliki tenaga sinkang yang amat kuat, setidaknya mampu menandingi tenaganya tadi!

Tentu saja dia merasa kecelik, terkejut dan juga penasaran dan cepat datuk ini membalas serangan dengan dahsyat dan bertubi-tubi.

Akan tetapi kembali dia terkejut setengah mati karena dengan gerakan-gerakan aneh akan tetapi teratur dan cepat sekali, pemuda itu dapat menghindarkan semua serangannya dengan baik, bahkan membalas setiap serangan secara kontan dan berantai!

Karena Cui-beng Kui-ong memandang rendah, hal yang tidak aneh karena memang selama ini dia tidak pernah menemukan tanding, nyaris dalam serangan jurus ketiga belas kepalan tangan pemuda itu mengenai lehernya.

Untung dia masih dapat melempar tubuh kebelakang sehingga terhindar dari pada malu terkena pukulan lawan.

Akan tetapi pemuda itu terus mendesaknya dengan pukulan-pukulan yang mantap sekali.

"Anakku, sudahlah... sudahlah, Cong Bu... jangan berkelahi!"

Sasterawan tua itu meratap-ratap.

Akan tetapi anak angkatnya yang berangasan dan yang sudah marah dan sakit hati sekali itu mana mau mendengarkan permintaannya?

Pemuda itu menerjang terus dan terjadilah perkelahian yang seru dan yang amat mengherankan hati tiga orang datuk lainnya, juga membuat semakin penasaran hati Cui-beng Kui-ong.

Dia merasa malu sekali karena tadi memandang rendah dan ternyata pemuda ini sedemikian lihainya sehingga dapat melayaninya sampai hampir tiga puluh jurus.

Marahlah Cui-beng Kui-ong an diapun mulai memainkan ilmunya yang paling baru, yaitu Ilmu Pukulan Penghisap Darah!

Bu kan main hebatnya pukulan ini dan sekali ini pemuda itu terdesak hebat.

Memang harus diakui bahwa bagaimanapun juga, tingkat kepandaian pemuda ini walaupun memiliki bakat yang amat kuat, namun masih belum matang dan masih kalah setingkat dibandingkan dengan Cui-beng Kui-ong.

Dia terdesak mundur, akan tetapi dasar wataknya keras dan berangasan, dia masih nekat terus melakukan perlawanan.

Akhirnya, sebuah pukulan dahsyat dengan Tenaga Sakti Asap Hio mengenai dada sebelah kanan pemuda itu yang roboh terjengkang dan tak sadarkan diri!

"Cong Bu...

ah, Cong Bu, mengapa engkau tidak mentaati kata-kataku tadi?"

Sasterawan tua itu menubruk dan menangisi anak angkatnya, mengeluh panjang pendek.

Diambilnya sehelai koyo (obat tempel) dan ditempelkan pada dada anaknya yang terluka parah itu.

Baju bagian dada itu berlubang seperti terbakar dan kulitnya juga matang hangus terkena pukulan itu dan masih mengepulkan uap!

Melihat ini Raja Tabib Sakti lalu mendekat dan sekali lihat saja tahulah dia bahwa pemuda itu terkena pukulan Tenaga Sakti Uap Hio, maka diapun cepat-cepat mengeluarkan obat cair dalam botol.

Dia percaya bahwa pemuda itu tidak terancam nyawanya karena tadi sudah dilihatnya bahwa pemuda itu memiliki sinkang yang cukup kuat, akan tetapi kalau tidak cepat diberi obat yang tepat, hawa beracun dari pukulan itu bisa merusak jalan darah.

"Sobat, tuangkan obat ini pada luka didadanya dan paksa dia minum sebagian sisanya,"

Katanya halus.

Tanpa berkata apa-apa, sasterawan itu menerima botol dan membukanya, lalu menyiram luka itu dengan sebagian dari obat cair itu.

Kemudian, dia membuka mulut anaknya dan menuangkan sisa obat kedalam mulutnya.

Kalau dia tidak memiliki kepercayaan sepenuhnya kepada datuk yang berjuluk Raja Tabib Sakti itu, tentu dia meragu mendengar bahwa obat luar bisa dipergunakan untuk obat dalam itu.

Dan memang hebat sekali obat dari Raja Tabib Sakti itu.

Begitu diobati, pemuda itu siuman kembali dan mengeluh lirih.

"Nah, apa kataku tadi, Cong Bu, janganlah kau lanjutkan sifatmu yang berangasan itu, hanya mendatangkan malapetaka saja bagimu. Untung engkau tidak mati dan menerima pertolongan dari Bu-Eng Sin-yok-ong!"

Kakek sasterawan itu menegur anaknya.

"Akan tetapi... akan tetapi mereka menghina ayah! Hemm, kelak aku akan membalas penghinaan ini, setelah aku menyempurnakan pelajaran ilmu yang ayah berikan. Sungguh kurang ajar sekali! Aduhh... huh-huh... kepandaiannya cuma seperti itu sudah berani menyombongkan didepan ayah! Huh, lihat saja dua tahun lagi, aku tentu akan menghajar Raja iblis itu!"

Sasterawan tua itu cepat membungkam mulut anaknya yang marah-marah dan penasaran itu, sambil dengan muka was-was melirik kepada empat orang datuk yang sudah hendak pergi itu.

Dan memang sesungguhnyalah apa yang dikhawatirkannya.

Cui-beng Kui-ong marah bukan main mendengar ocehan pemuda yang telah dirobohkannya itu.

Sambil menggeram dia melangkah kedepan, sekali mengulur tangan dia telah mencengkeram leher sasterawan tua itu dan melemparkannya ketengah telaga.

Tubuh yang kurus kecil itu terlempar bagaikan layang-layang putus talinya.

Cui-beng Kui-ong yang marah-marah itu melanjutkan gerakannya, menjambak rambut pemuda itu untuk dijotos.

Melihat ini, Bu-Eng Sin-yok-ong hendak mencegah akan tetapi tiba-tiba mereka semua dikejutkan oleh hal yang sama sekali tidak pernah mereka duga!

Tubuh sasterawan tua itu tadi terlempar kearah telaga seperti layang-layang putus talinya, dan tak dapat diragukan lagi bahwa tubuhnya yang ringan itu tentu akan terjatuh keair telaga.

Akan tetapi, ketika sasterawan tua itu melihat betapa anaknya dijambak rambutnya dan terancam nyawanya, Tiba-tiba dia mengeluarkan suara melengking tinggi halus sekali seperti suara nyamuk terdengar didekat telinga dan tubuhnya yang tadinya meluncur itu, mendadak menggeliat diudara dan dapat menukik kembali kedarat dengan kecepatan seperti seekor burung walet terbang saja.

Bu-Eng Sin-yok-ong adalah seorang ahli ginkang yang tiada keduanya didunia persilatan, akan tetapi menyaksikan ginkang yang diperlihatkan oleh kakek sasterawan itu, dia sampai melongo dan bengong keheranan.

Kemudian, sekali kedua tangan kakek sasterawan itu bergerak, tahu-tahu pemuda yang tadinya dijambak rambutnya oleh Cui-beng Kui-ong itu telah berpindah tangan dan dipondong oleh kakek sasterawan kecil kurus itu!

Sasterawan itu memangku anaknya diatas tanah dan sambil mengelus-elus kepala puteranya, dia berkata dengan suara gemetar.

"Agaknya cuwi memiliki hati yang demikian angkuhnya sehingga selalu mau menang sendiri. Agaknya untuk memohon agar cuwi suka pergi, haruslah lebih dulu menundukkan keangkuhan itu. Nah, sekali lagi, harap cuwi suka meninggalkan tempat ini sebelum cuwi kehilangan keangkuhan itu."

Sebelum yang lain menjawab, Cui-beng Kui-ong sudah menjadi marah sekali dan dia maju menghampiri kakek sasterawan itu.

"Tua bangka sombong! Inilah aku, Cui-beng Kui ong yang telah memukul anakmu karena anakmu lancang mulut. kau hendak menundukkan keangkuhan kami? Hemmu, majulah, siapa takut kepadamu? Akan tetapi ingat, kalau engkau mampus ditanganku, anakmu inipun akan kubunuh agar engkau tidak mati sendiri!"

Ucapan datuk ini bukan sekali-kali karena kekejamannya, melainkan karena kecerdikannya.

Kalau kakek itu tewas, tentu kelak anaknya yang berangasan itu hanya akan mendatangkan kesulitan saja baginya, maka harus dibunuh sekali untuk menghilangkan balas dendam.

Dengan perlahan kakek sasterawan itu bangkit berdiri dan mengangguk.

"Sesukamulah, akan tetapi dengan kepandaianmu yang jauh dari pada bersih itu, dengan banyak kelemahan dan kekurangannya disana-sini, bagaimana engkau akan dapat memastikan kemenanganmu? Pertamatama, engkau harus merobah watakmu yang bukan saja kejam, akan tetapi juga sombong dan. tekebur itu, ini merupakan pelajaran pertama bagimu, Cui-beng Kui-ong!"

Kini ucapan sasterawan itu tidak lemah seperti tadi, melainkan penuh wibawa dan mengandung kekuatan yang menggetarkan jantung. (Lanjut ke

Jilid 09) Darah Pendekar (Seri ke 01 -Serial Darah Pendekar) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo Bahan Cerita . Sriwidjono

Jilid 09 Tentu saja Cui-beng Kui-ong menjadi semakin marah.

Sambil menghardik, diapun sudah menerjang maju.

Karena dia tahu bahwa sebagai ayah pemuda itu, tentu kakek ini memiliki ilmu kepandaian tinggi, maka begitu menerjang, dia sudah mengeluarkan ilmu andalannya, yaitu dia memukul dengan Tenaga Sakti Asap Hio yang mengeluarkan bau harum aneh itu.

Biasanya, ilmu ini akan mengeluarkan bau yang membuat lawan menjadi pusing dan bisa roboh sendiri tanpa dipukul.

Dan dari kedua tangannya keluar asap tipis putih berbau, harum yang melengkung keayah lawannya.

Akan tetapi, dengan tenang saja kakek sasterawan ini menghadapi semua pukulannya sambil menerangkan kelemahan-kelemahan jurus yang dimainkan Cui-beng Kui-ong.

"Lihat, bukankah lambung kirimu terbuka? kalau kumasukkan kakiku kesitu, engkau sudah roboh! Nah, penutupan lambung itu membuka lehermu sebelah kiri, dan pukulanku dengan tangan miring pada leher itu tentu sukar kau hindarkan lagi!"

Dan setiap gerakan Cui-beng Kui-ong disambutnya dengan uraian tentang kelemahan-kelemahannya.

Lebih hebat lagi, asap tipis putih berbau hio yang tadinya melengkung kearah kakek sasterawan itu, kini membalik dan dari kedua lengan Cui-beng Kui-ong bukan melengkung kedepan, melainkan membalik kebelakang!

Cui-beng Kui-ong merasa terkejut bukan main.

Memang semua yang dinyatakan kakek itu tentang kelemahan semua jurusnya itu tepat dan bahkan baru sekarang dia melihatnya!

Dia merasa penasaran sekali dan cepat diapun mainkan pukulan Pehisap Darah yang amat hebat itu.

Akan tetapi, kembali pukulan keji ini sama sekali tidak mempengaruhi si kakek sasterawan.

Tidak ada setetespun darah sasterawan itu terpecik keluar seperti yang biasa terjadi pada lawan-lawan iblis itu kalau mempergunakan Ilmu Penghisap Darah, padahal berkali-kali sasterawan itu mengadu lengan dengan si Raja iblis.

Bahkan dalam jurus-jurus ilmu inipun si sasterawan menunjukkan kelemahan-kelemahannya.

"Yang paling berbahaya adalah ilmu-ilmu hitam seperti ini, Kui-ong. Kalau engkau tidak merobah sifat dan watakmu, maka ilmu-ilmu seperti ini bahkan akan menjadi kutukan bagimu. Lihat, kalau kulawan begini, bukankah engkau yang akan celaka sendiri?"

Kakek itu menggerakkan kedua lengannya yang kecil dan angin yang menyambar amat dahsyatnya, kemudian Cui-beng Kui-ong terpekik kaget melihat betapa ada darah keluar dari pori-pori kedua lengannya, tanda bahwa dia sendiri telah menjadi korban ilmunya sendiri, seperti senjata makan tuan!

Maka tahulah dia bahwa kakek sasterawan ini benar-benar maha sakti dan diapun bukan orang bodoh, melainkan seorang datuk sehingga dia tahu saat kekalahannya.

Diapun meloncat kebelakang.

"Hari ini Cui-beng Kui-ong mengaku kalah!"

Katanya dengan menahan geram lalu mengatur pernapasannya untuk mengobati luka-lukanya sendiri akibat ilmu yang membalik tadi.

Tentu saja tiga orang datuk lainnya hampir tidak percaya akan apa yang mereka saksikan tadi.

Disamping keheranan dan kekagetan, juga mereka merasa penasaran.

Mungkinkah kepandaian mereka yang menggemparkan dunia persilatan itu harus kalah oleh seorang sasterawan tua renta yang sama sekali tidak terkenal!

Kim-mo Sai-ong meloncat maju dan menjura kepada kakek itu.

Dia tahu bahwa kakek itu seorang sakti, maka diapun tidak sembrono.

"Sobat, aku mohon petunjukmu!"

Dan tanpa menanti jawaban, Kim-mo Sai-ong sudah menerjang dengan dahsyatnya dan begitu turun tangan diapun sudah mempergunakan ilmunya yang paling hebat, yaitu Pukulan Pusaran Pasir Maut dan dimainkannya ilmu silatnya yang, dinamakan Soa-hu-lian (Teratai Danau Pasir).

Hawa dingin yang menggigilkan terpancar dengan daya tolak hebat dari tubuhnya.

Kuda-kudanya kokoh kuat, lengannya yang panjang itu mencuat kesana kemari mencari lowongan, dengan jari-jari tangan terkembang siap untuk mencengkeram lawan.

seluruh tubuhnya melambangkan setangkai bunga teratai, nampak sangat indah dipandang.

Kalau kedua kakinya yang kokoh kuat itu bergerak lamban dan kuat seperti menjadi akar-akar teratai, maka kedua tangannya bergerak cepat dari atas, melambai-lambai seperti tangkai-tangkai bunga teratai tertiup angin.

"Bagus, Kim-mo Sai-ong, akan tetapi ilmumu ini terlalu mengandalkan kekuatan kaki belaka, dan ingat, orang bisa roboh karena kelemahan bagian atasnya, walaupun kakinya tidak roboh akan tetapi kalau bagian atas terluka, apa artinya? Lihat, aku membuat tangkai-tangkai terataimu tidak berdaya!"

Dan benar saja, dengan totokan-totokan satu jari yang mengeluarkan hawa panas, kakek sasterawan itu membuat kedua lengan Kim-mo Sai-ong tidak berdaya karena sebelum mendekati tubuh lawan telah bertemu dengan hawa-hawa yang menotok kearah jalan darah diseluruh kedua lengannya.

Kim-mo Sai-ong yang telah mencapai tingkat ketiga belas, tingkat terakhir dari Soa-hu-pai ini mengerahkan seluruh tenaganya sampai daya tolak nya membuat batu-batu besar bergoyang-goyang dan pohon-pohon disekitar tempat itu seperti tertolak angin badai.

Akan tetapi kakek sasterawan itu tenang saja menghadapi daya tolak Tenaga Sakti Pusaran Pasir Maut, seolah-olah tonggak besi kecil namun kokoh kuat yang tidak goyang sedikitpun juga dilanda angin.

Karena kedua lengannya selalu menjadi sasaran totokan yang menyambut semua serangannya, akhirnya Kim-mo Sai-ong kewalahan dan mati kutu.

Ilmu yang diandalkannya itu seperti api bertemu air, tidak berdaya sama sekali dan akhirnya, karena terlalu banyak mengeluarkan tenaga sia-sia, dengan terengah-engah diapun meloncat kebelakang.

"Terimakasih, aku Kim-mo Sai-ong mengaku kalah!"

Giliran Sin-kun butek yang maju.

Datuk ini terkenal memiliki ilmu silat yang luar biasa ampuhnya sehingga dijuluki Sin-kun butek (Tangan Sakti Tanpa Tanding).

Sebagai seorang datuk golongan bersih, walaupun wataknya lebih keras dibandingkan dengan Bu-Eng Sin-yok-ong, namun datuk ini tidaklah sekasar dua orang datuk pertama.

Dia menjura dengan hormat dan berkata.

Baca Juga: Pendekar Lembah Naga 1

Baca Juga: Suling Emas Dan Naga Siluman 9

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert