Ceritasilat Novel Online

Darah Pendekar 2

Eps 2 Darah Pendekar - Kho Ping Hoo

Baca online Darah Pendekar - Kho Ping Hoo

Cersil Darah Pendekar - Kho Ping Hoo.

"Aahh, Pek Lian, jangan bicara tentang masa laluku. Aku menjadi pusing kalau memikirkan itu. Aku tidak mau ingat apa-apa lagi yang penting aku ingat sekarang ini bahwa engkau bernama Pek Lian dan engkau baik sekali terhadap diriku."

Hati dara itu terasa senang sekali.

Ia sendiri merasa heran.

Sebagai puteri seorang Menteri, ia sudah biasa dengan kata-kata menjilat dan memuji, dan sebagai seorang gadis yang cantik dan lihai, banyak sudah orang memuji kecantikannya atau kelihaiannya.

Akan tetapi biasanya, puji-pujian itu membuatnya merasa muak karena ia tahu bahwa dibalik pujian itu tersembunyi maksud lain Sebaliknya, pujian pemuda ini begitu wajar dan bersih dari pada pamrih apapun, dan terasa mengharukan dan juga menyenangkan baginya.

"A-hai, apakah selain aku, tidak ada orang lain yang juga amat baik kepadamu?"

Pemuda itu cemberut, lalu menggeleng kepalanya.

"Ada sih ada, seperti losuhu dikuil ini juga baik kepadaku. Akan tetapi kebanyakan orang amat jahat, jangankan menolong, malah mereka itu selalu menggangguku. Semua orang jahat kepadaku, Pek Lian, akan tetapi engkau baik... baik sekali, aku suka kepadamu."

Pek Lian tersenyum dan dalam keharuannya, otomatis jari-jari tangannya menyentuh lengan yang berotot itu.

"Kasihan engkau, A-hai"

Dalam suara Pek Lian terkandung getaran penuh belas kasihan dan agaknya hal ini terasa dan menyentuh perasaan A-hai karena tiba-tiba saja pemuda itu menangis sesenggukan!

Pek Lian terkejut, memandang pemuda yang menutupi muka dengan kedua tangannya itu dan melihat air mata mengalir dari celah-celah jari tangan itu.

Pek Lian memegang lengannya.

"A-hai, jangan berduka, A-hai"

Katanya lirih, hampir tak dapat menahan air matanya sendiri. Pemuda itu menggunakan tangan yang dikepal untuk menyusuri air matanya, lalu dengan muka muram memandang wajah dara itu.

"Bagaimana aku tidak akan berduka, Pek Lian, kalau hatiku terasa berduka sekali? Aku berduka sekali aku sengsara sekali"

"Eh, apakah yang menyebabkan engkau berduka, A-hai? Apakah yang telah terjadi maka engkau merasa begini sengsara?"

Dipandangnya wajah itu dengan penuh harap kalau-kalau pemuda itu sekarang telah menemukan kembali ingatannya. Akan tetapi, pemuda itu menggeleng kepala dan menarik napas panjang.

"Tidak tahu aku tidak tahu, tahuku hanya bahwa aku berduka dan sengsara sekali"

Pek Lian memandangi pemuda itu, dari kepaL sampai kekaki.

Biarpun dalam keadaan kehilangan ingatannya, ternyata pemuda ini merawat dirinya dengan baik.

Rambutnya, kukunya, terawat dan bersih.

Jelas bahwa dia ini bukan seorang pemuda dusun yang bodoh.

Tiba-tiba pendengaran Pek Lian menangkap suara ribut-ribut diluar kuil.

Ia khawatir kalau-kalau pemuda ini akan kumat pula, maka ia bangkit berdiri dan berkata.

"A-hai, engkau lanjutkan pekerjaanmu dan latihlah membelah kayu dengari tangan seperti tadi. Aku hendak menemui losuhu diluar."

A-hai mengangguk dan sudah mulai membelah-belah kayu dengan tangan seperti yang diajarkan oleh Pek Lian tadi.

Pek Lian sendiri cepat berlari keruangan luar dimana ia melihat kedua orang gurunya sedang mengintai dari balik pintu dengan wajah tegang.

Iapun cepat menghampiri dan ikut mengintai.

Kiranya diluar kuil sedang terjadi sesuatu yang amat menarik, yaitu suatu perkelahian yang aneh karena disitu nampak seorang perajurit muda dikeroyok oleh belasan orang perajurit lain.

Perajurit muda itu dikeroyok oleh teman-temannya sendiri!

Akan tetapi, perajurit muda itu lihai bukan main.

Dengan tangan kosong saja dia menghadapi pengeroyokan belasan orang perajurit bersenjata itu dan berhasil membuat para pengeroyoknya kocar-kacir.

Gerakannya cepat dan mantap, setiap tamparan tangannya membuat perajurit yang terkena seketika roboh dan terlempar.

Akan tetapi, karena pihak pengeroyok amat banyak, roboh satu maju penggantinya, maka perajurit muda itu terkepung.

Pek Lian mengerutkan alisnya, merasa seperti sudah pernah melihat wajah perajurit muda itu.

Dikeroyok banyak orang, perajurit muda itu kelihatan semakin gembira.

Dia tersenyum dan membentak.

"Gentong-gentong kosong, majulah kalian semua!"

Begitu pemuda itu tersenyum dan bicara, teringatlah Pek Lian.

"Suhu... Dia itu orang yang berada diatas tiang melintang dirumah itu. Akan tetapi, dimana tiga orang temannya yang lebih tua itu?"

Kedua orang gurunya memperhatikan, dan pada saat itu terdengar derap kaki kuda dan muncullah seorang berpakaian panglima diiringkan oleh dua orang laki-laki gagah berpakaian preman yang agaknya merupakan pengawal-pengawal panglima itu.

Dibelakang panglima ini nampak belasan orang perajurit berpakaian lengkap berlari-lari mengikuti larinya kuda.

Sementara itu, pertempuran itu agak menjauh, maka Pek Lian dan dua orang gurunya juga sudah keluar dari kuil dan melihat ada sebuah gerobak tertutup yang berhenti ditepi jalan tak jauh dari kuil itu.

"Wah, wah... Dia muncul juga"

Terdengar Kim-suipoa berbisik ketika melihat panglima itu.

Pek-bin-houw juga mengenalnya dan tentu saja Pek Lian yang sudah banyak mengenal panglima-panglima Kotaraja itupun mengenal panglima berkuda itu.

Pada jaman itu, di Kotaraja terdapat dua orang jagoan yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali dan namanya dikenal dan ditakuti orang.

Orang pertama adalah Pek-lui-kong Tong Ciak, jagoan cebol yang jarang keluar karena selalu bekerja secara rahasia dan menjadi panglima dari Kim-i-wi (Pasukan Baju Emas).

Panglima pengawal ini selain memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi karena dia mewarisi ilmu-ilmu dari Soa-hu-pai, juga mempunyai kekuasaan yang tak terbatas besarnya didalam lingkungan Istana.

Hal ini tidaklah mengherankan, karena selain si cebol ini amat dipercaya oleh Kaisar, juga dia masih sanak dengan Chao Kao, yaitu thaikam (pembesar kebiri) kepala yang berkuasa didalam Istana dan menjadi orang kepercayaan nomor satu didalam Istana.

Bahkan para selir dan keluarga Kaisar sendiri menaruh hati jerih terhadap pembesar ini.

Adapun jagoan kedua yang ditakuti orang adalah panglima yang kini tiba-tiba muncul dijalan raya tak jauh dari kuil diluar kota kihan itu.

Panglima ini adalah seorang jenderal yang mengepalai pasukan-pasukan pilihan.

Namanya sudah amat terkenal dan setiap kali jenderal ini memimpin pasukannya menghadapi musuh atau melakukan operasi pembersihan, maka selalu pasti berhasil baik.

Namanya adalah Jenderal Beng Tian dan melihat tubuhnya yang tinggi besar itu saja dia sudah nampak amat gagah perkasa.

Dan memang ilmu silatnya kabarnya juga amat hebat, mendekati kesaktian yang sukar dicari tandingannya, dan kabarnya setingkat dengan ilmu silat si cebol Pek-lui-kong Tong Ciak.

Tentu saja keduanya memiliki kelebihan, yaitu Jenderal Beng Tian mahir ilmu perang dan menguasai banyak pasukan, sedangkan Tong Ciak mempunyai pengaruh besar di Istana, dan lebih dekat dengan Kaisar.

Dua orang berpakaian preman yang selalu mendampingi Jenderal Beng Tian adalah pengawal-pengawal pribadinya.

Bukan orang-orang lain, melainkan masih saudara seperguruannya sendiri.

Maka dapat dibayangkan betapa lihai mereka berdua itu, hanya setingkat lebih rendah dibandingkan dengan jenderal itu sendiri.

Jaranglah jenderal itu turun tangan sendiri, karena setiap lawan yang berani melintang didepannya, cukup ditanggulangi dan ditundukkan oleh dua orang pengawalnya yang tangguh itu.

Beng-goanswe (Jenderal Beng) kini sudah tiba didekat tempat perajurit muda dikeroyok itu.

Dia menghentikan kudanya dan menonton dengan pandang mata tertarik.

Dia merasa kagum sekali kepada perajurit muda itu.

Diam-diam dia merasa heran dan menduga-duga siapa adanya orang muda yang demikian tangguh dan beraninya, menyamar sebagai seorang perajurit dan menyusup kedalam perkemahan bala tentaranya itu.

Sungguh suatu perbuatan yang luar biasa beraninya dan kegagahan yang mengagumkan sekali.

Gerakan pemuda itu selain cepat dan gesit, juga mengandung tenaga kuat dan aneh sekali.

Diam-diam Beng-goanswe mempelajari gerakan-gerakannya itu dan mengingat-ingat, akan tetapi dia tidak mengenal ilmu silat pemuda itu.

Dilain pihak, ketika perajurit muda palsu itu mengenal siapa yang muncul, diam-diam menjadi terkejut bukan main.

Tidak disangkanya sama sekali bahwa orang nomor satu dari pasukan pemerintah pilihan itu muncul disitu!

Tentu saja dia mengenal bahaya dan berusaha untuk meloloskan diri dari kepungan belasan orang perajurit yang mengeroyoknya.

Tiba-tiba pemuda itu mengeluarkan teriakan melengking nyaring, kedua lengannya membuat gerakan memutar-mutar membentuk lingkaran-lingkaran yang saling menyambung dan para pengeroyoknyapun berjatuhan!

Dalam satu gebrakan yang mengandung serangan bertubi-tubi itu, sekaligus robohlah enam orang perajurit pengeroyok!

Beng-goanswe terkejut dan mengeluarkan seruan tertahan sambil mengangkat tangan kanannya keatas.

Dua orang sutenya, atau juga dua orang pengawal pribadinya, maklum akan isyarat ini maka keduanya lalu berloncatan turun dari atas kuda masing-masing, berjungkir balik dan dengan gerakan indah keduanya sudah melayang dan memotong jalan lari perajurit muda palsu itu!

Pemuda yang menyamar sebagai perajurit itu terkejut, maklum bahwa dia berhadapan dengan dua orang lawan yang tangguh, padahal disitu masih terdapat sang panglima dan puluhan orang perajurit, Maka diapun tidak mau membuang banyak waktu lagi, membentak nyaring dan dia sudah menyerang dua orang pengawal panglima itu.

Dan melihat betapa dua orang pengawal itupun menghadapi si pemuda dengan tangan kosong, dapat dimengerti bahwa tingkat kepandaian merekapun sudah tinggi sekali.

Sekali ini para perajurit hanya mengurung dari jauh sambil menonton.

Perkelahian yang terjadi memang hebat bukan main.

Sang panglima yang masih duduk diatas kudanya memandang dengan mata semakin kagum.

Tak disangkanya sama sekali bahwa musuh yang menyamar itu, yang masih demikian muda, mampu melayani pengeroyokan dua orang pengawalnya, dapat membalas setiap serangan dengan serangan yang tidak kalah dahsyatnya, walaupun lambat-laun pemuda itu nampak kewalahan juga.

Panglima ini dapat mengukur bahwa andaikata tidak dikeroyok, belum tentu sutenya dapat menang.

Kini, mengandalkan pengeroyokan itu, dua orang pengawalnya dapat menghujani serangan dan dengan cengkeraman-cengkeraman, satu demi satu pakaian perajurit penyamaran itu dapat dilucuti dan akhirnya nampaklah pakaian pemuda itu sendiri, yaitu pakaian yang dipakai oleh pemuda yang semalam telah bertemu dengan Pek Lian dan dua orang gurunya dirumah kosong.

Tiba-tiba Pek-bin-houw menahan seruannya.

Setelah kini melihat wajah pemuda itu disiang hari, diapun mengenalnya.

Pernah dia bertemu dengan pemuda itu, setahun lebih yang lalu.

"Ahhh...! aku ingat sekarang!"

Dia berbisik kepada Kim-suipoa dan Pek Lian.

"Dia adalah Yang-ce Siauw-kokcu (Ketua Muda Lembah Sungai Yang-ce)!"

Mendengar ini, Pek Lian memandang tajam.

Kiranya inilah pemimpin dari orang-orang gagah yang bermarkas disepanjang lembah Sungai Yang-ce, yang kini sedang digempur oleh pasukan pemerintah itu!

Para pendekar lembah Sungai Yang-ce amat terkenal karena gagah perkasa, dan nama mereka sejajar dengan nama para pendekar puncak Awan Biru.

Memang kedua perkumpulan orang gagah ini sama-sama terkenal sekali sebagai orang-orang gagah yang menentang kelaliman pemerintah.

puncak Awan Biru diPegunungan Fu-niu-san menjadi sarang para pendekar yang tentu saja oleh pemerintah dinamakan gerombolan penentang pemerintah atau gerombolan pemberontak, dipimpin oleh seorang pendekar yang gagah perkasa, yaitu Liu Pang yang terkenal dengan sebutan Liu-toako.

Pek Lian dan empat orang gurunya bergabung kepada perkumpulan pimpinan Liu Pang inilah.

Adapun gerombolan lembah Sungai Yang-ce ini dipimpin oleh seorang pendekar yang tidak kalah terkenalnya, yaitu yang bernama Chu Siang Yu.

Karena sama-sama sebagai perkumpulan pendekar atau patriot yang menentang kelaliman pemerintahan dan membela rakyat kecil yang tertindas, maka kedua pihak ini saling menghormat dan saling membantu.

Bahkan Liu Pang yang berasal dari keluarga petani kecil menaruh sikap hormat sekali kepada Chu Siang Yu yang masih berdarah bangsawan, bahkan terkenal sekali karena dia adalah keturunan Jenderal Chu Tek yang pernah menggegerkan dunia karena kegagahannya dijaman dahulu.

"Bukan main..."

Kata Pek-bin-houw.

"Kok-cu muda ini lihai sekali. Gurunya lebih hebat lagi, pernah pibu (mengadu ilmu silat) secara persahabatan dengan Liu-toako."

"Ah, lalu bagaimana hasilnya, suhu?"

Tanya Pek Lian, tertarik sekali mendengar bahwa guru pemuda yang lihai ini pernah pibu melawan gurunya yang baru, ketua puncak Awan Biru.

"Mereka pibu tangan kosong, dan kalau saja pibu itu dilakukan dengan senjata, dengan keisti-mewaannya bermain pedang mungkin tidak akan "Kalah."

"Jadi, suhu kalah?"

Tanya Pek Liari kecewa.

"Begitulah, akan tetapi hal itu terjadi ketika. Liu-toako masih muda, masih sama-sama muda dahulu, sepuluh tahun yang lalu. Sekarang tentu saja Liu-twako telah memperoleh kemajuan yang amat hebat. Akan tetapi melihat kelihaian pemuda, itu, tentu dapat dimengerti bahwa ilmu silat gurunya tentu jauh lebih hebat lagi."

"Suhu, ternyata didunia ini demikian banyaknya orang-orang yang memiliki ilmu silat sedemikian tingginya."

Dalam suara Pek Lian terkandung kekecewaan karena dara ini melihat betapa ilmunya sendiri masih amatlah dangkalnya.

Dua orang pendekar itu maklum akan perasaan hati murid mereka.

Mereka sendiripun setelah secara berturut-turut mengalami pertemuan dengan begitu banyaknya orang pandai, merasa betapa kepandaian sendiri masih teramat rendah.

Mereka maklum bahwa Pek Lian merasa kecewa sekali melihat kenyataan yang menghancurkan harga diri itu.

Dara itu telah berlatih silat dengan amat tekunnya, bahkan telah belajar dari lima orang guru dan ilmu kepandaiannya bahkan sudah melampaui tingkat masing-masing dari keempat Huang-ho suhiap.

Gadis itu tentu mengira bahwa ilmu silatnya sudah baik dan tidak sembarang orang akan dapat mengalahkannya.

Akan tetapi sungguh merupakan kenyataan yang amat pahit baginya bahwa begitu ia turun gunung untuk pertama kalinya, bertualang sebagai gadis pendekar kang-ouw setelah keluarganya hancur, ia mengalami kekalahan karena bertemu dengan orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi.

Pertamatama, bertemu dan kalah oleh si cebol Pek-lui-kong Tong Ciak.

Kemudian pemuda sinting itupun memiliki kepandaian yang luar biasa lihainya.

Setelah itu, bertemu dengan keluarga Bu yang sakti, yang rata-rata memiliki kepandaian jauh lebih tinggi dari padanya.

Juga orang-orang berjubah naga itu, baru bertemu dengan yang berjubah biru saja ia sudah kalah, belum lagi kalau harus melawan yang berjubah coklat.

Kemudian muncul pemuda Lembah Yang-ce ini, jelas pemuda ini memiliki kepandaian yang jauh lebih tinggi diatasnya.

Dan orang-orang Tai-bong-pai itupun lebih lihai lagi.

Bertemu dengan demikian banyaknya tokoh-tokoh yang hebat, tentu saja dara itu merasa betapa dirinya kecil dan lemah tak berarti!

Perkelahian antara kokcu lembah Sungai Yang-ce dengan dua orang pengawal Jenderal Beng Tian itu menjadi semakin seru, akan tetapi jelaslah kini bahwa pemuda itu terdesak hebat.

Kedua pengeroyoknya itu masing-masing tidak memiliki tingkat lebih tinggi darinya, akan tetapi mereka berdua dapat bekerja-sama dengan baik sekali.

Beberapa kali pemuda itu telah terkena pukulan-pukulan dua orang pengeroyoknya.

Kalau saja tenaga sinkangnya tidak amat kuat, tentu pukulan-pukulan dahsyat itu sudah merobohkannya.

Pemuda itu terdesak terus, main mundur sampai akhirnya pertempuran itu tiba didekat gerobak yang berhenti, dimana Ho Pek Lian dan kedua orang gurunya bersembunyi.

Sementara itu, Pek Lian dan dua orang gurunya hampir lupa diri saking asyiknya nonton perkelahian itu, lupa bahwa kalau mereka bertiga itu sampai ketahuan, amat berbahayalah bagi mereka yang memang sedang dicari-cari oleh para perajurit karena mereka dicurigai sebagai pembunuh para perwira itu.

Sebuah pukulan menyambar kearah kepala pemuda dari Lembah Yang-ce itu.

Pemuda ini menangkis dan sebuah tendangan kearah pusarnya dapat dielakkannya.

Akan tetapi karena dia terhimpit kegerobak itu, pukulan yang mengarah lehernya dan sudah dielakkannya masih saja mengenai pundaknya.

"Dukk!!"

Keras sekali pukulan ini, membuat tubuhnya terdorong dan menabrak gerobak sehingga gerobak itu bergoyang-goyang.

Sebelum pemuda itu dapat memperbaiki kembali sikapnya, kedua orang lawan itu dengan tenaga gabungan telah dapat menghantamnya lagi.

"Dess!!"

Kini tubuh pemuda itu menabrak gerobak dengan keras dan jatuh terlentang kebawah gerobak.

Dari mulutnya keluar darah segar, tanda bahwa dia telah menderita luka dalam yang cukup parah.

Akan tetapi dua orang lawannya tidak mau memberi ampun, masih mendesak maju hendak mengirim pukulan susulan yang tentu akan mematikan.

Melihat ini, Ho Pek Lian dan guru-gurunya tidak dapat menahan hatinya lagi.

Mereka adalah pendekar-pendekar yang sejak lama digembleng untuk selalu mengulurkan tangan menolong pihak lemah atau pihak yang benar, maka melihat betapa nyawa pemuda Lembah Yang-ce itu terancam, mereka segera keluar dari balik gerobak itu dan.

menyerang dua orang pengawal yang hendak menghabiskan nyawa pemuda Lembah Yang-ce.

"Wuuut! Singgg...!!"

Pedang ditangan Pek Lian menyambar kearah leher seorang diantara dua lawan terdekat untuk menyelamatkan pemuda itu.

Akan tetapi pengawal itu gesit sekali, dengan sebuah loncatan menyamping dia dapat menghindarkan diri dari sambaran pedang kelehernya, bahkan secepat kilat tangannya sudah menyambar dari samping, mengarah ubun-ubun kepala Pek Lian!

Melihat ini, pemuda Lembah Yang-ce terkejut.

Dia sendiri sudah terluka parah, akan tetapi melihat bahaya mengancam nona yang mencoba menyelamatkannya itu, diapun meloncat bangkit dan menangkis pukulan itii.

Kembali dia terlempar, akan tetapi pukulan pengawal itu meleset, tidak mengenai kepala Pek Lian, dan sebaliknya menyambar dan mengenai tiang gerobak bagian belakang.

"Krakkkk...!!"

Tiang itu patah dan sebagian atapnya yang belakang ambruk.

"Kurang ajar! Anak setan sialan dangkalan!!"

Terdengar suara parau menyumpah-nyumpah dari bawah atap gerobak yang patah dan runtuh itu berbareng dengan suara jeritan serak suara wanita yang juga memaki-maki lebih kotor lagi.

"Anak haram anjing babi monyet!"

Maki wanita itu.

Semua orang terkejut dan dari bawah atap gerobak yang runtuh itu muncullah sepasang laki-laki dan wanita setengah tua dengan pakaian kedodoran setengah telanjang sambil memaki-maki.

Keduanya berloncatan keluar sambil membetulkan celana yang kedodoran dan diikat sekenanya saja.

Kemudian, tanpa bicara apa-apa lagi pria dan wanita ini menggerakkan kedua tangan mereka dengan cepat luar biasa, tanpa pilih bulu, baik Pek Lian dan kedua orang gurunya, juga pihak perajurit.

Dan terjadilah hal yang mengerikan sekali.

Tangan pria dan wanita itu seketika berobah kehijauan dan ketika mereka menggerakkan kedua tangan, angin besar menyambar-nyambar seperti terjadi angin puyuh.

Karena gerakan empat buah tangan itu cepatnya sukar diikuti dengan mata, orang sebanyak itu merasa seperti mereka masing-masing menerima pukulan, maka merekapun adu yang mengelak dan ada yang menangkis.

Namun akibatnya sama saja.

Baik yang mengelak maupun yang menangkis, semua terkena pukulan itu atau bersentuhan dengan tangan itu dan seketika juga mereka merasa tubuh mereka panas seperti terbakar api, kemudian berobah dingin sampai menggigil, panas dan dingin menyerang tubuh mereka seperti orang sakit demam.

Pek Lian, dua orang gurunya, juga dua orang pengawal lihai itu, tak terkecuali, semua menggigil dan kepanasan silih berganti.

Hanya pemuda Lembah Yang-ce, karena tadi ketika menangkis tubuhnya roboh, terbebas dari hawa beracun yang hebat itu.

Panglima itu, Jenderal Beng Tian, melihat hal ini, berobahlah wajahnya.

Dari atas kudanya dia mengirim pukulan dorongan kedua tangannya berganti-ganti.

Pria dan wanita itu terdorong mundur oleh hawa pukulan ini dan mereka berteriak kesakitan.

Sementara itu, Beng-goanswe sudah berteriak memberi peringatan kepada anak-buahnya.

"Semua mundur! Awas pukulan Imyang Tok-ciang mereka! Sangat beracun. Mereka adalah iblis-iblis dari Pulau Selaksa Setan!"

Sambil berkata demikian, Jenderal Beng Tian melompat turun dari atas kudanya agar dapat bergerak lebih leluasa.

Akan tetapi, sepasang laki perempuan itu telah meloncat keatas gerobak dan dari tangan mereka berhamburan pasir-pasir putih beracun kearah sepasang panglima dan para perajurit yang hendak mengejar.

Panglima itu dan dua orang pengawalnya saja, yang masih menggigil, yang dapat menghindarkan dirinya.

Para perajurit, delapan orang banyaknya, roboh dan menjerit-jerit, bergulingan karena pasir-pasir putih itu mengandung racun yang mendatangkan rasa gatal-gatal dan panas.

Gerobak itu telah dilarikan secepatnya, diseret oleh dua ekor kudanya meninggalkan tempat itu.

Hampir saja gerobak itu bertabrakan dengan sebuah kereta yang juga bergerak datang dengan cepat.

Akan tetapi ternyata kakek yang mengusiri gerobak, juga seorang laki-laki setengah tua yang mengusiri kereta itu, amat cekatan.

Sambil memaki, kakek pengemudi gerobak itu dapat menyim-pangkan gerobaknya kekiri, demikian pula kereta itupun menyimpang kekiri sehingga tubrukan dapat dihindarkan.

Kereta itu berhenti dan secepat kilat, tiga orang kakek, yaitu kawan-kawan dari kokeu Lembah Yang-ce, berloncatan keluar.

Mereka sudah bersiap-siap untuk menghadapi panglima yang lihai itu.

Akan tetapi tiba-tiba kedua pengawal dari jenderal itu mengeluh kepanasan oleh racun pukulan suami-isteri aneh tadi, maka pertempuran dengan sendirinya berhenti.

Tiga orang kakek itu lalu mengangkat pemuda Lembah Yang-ce, juga Pek Lian dan dua orang gurunya ditarik naik memasuki kereta, lalu kereta itu dilarikan secepatnya.

Panglima yang masih gentar menghadapi suami-isteri yang tiba-tiba saja muncul dan seolah-olah juga menentangnya itu, apa lagi melihat dua orang pengawalnya sudah terluka, cepat bersuit panjang memberi isyarat kepada pasukannya untuk mengejar dan menghalangi orang-orang yang memberontak itu untuk melarikan diri.

Maklum bahwa tidaklah mudah untuk dapat melarikan kereta itu dari pengejaran pasukan, apa lagi melihat kenyataan yang tidak menguntungkan betapa kokcu Lembah Yang-ce telah terluka parah, bahkan tiga orang pendekar dari puncak Awan Biru yang dapat diharapkan bantuannya itupun telah menggigil panas dingin, maka tiga orang kakek dari Lembah Yang-ce itu membalapkan kereta sedapat mungkin untuk mencapai hutan didepan.

(Lanjut ke

Jilid 04) Darah Pendekar (Seri ke 01 -Serial Darah Pendekar) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo Bahan Cerita . Sriwidjono

Jilid 04 Akan tetapi, ketika kereta tiba disuatu tikungan, tiba-tiba muncul seorang pemuda bertubuh tinggi besar.

Pek Lian dan dua orang gurunya yang tidak pingsan seperti kokcu Lembah Yang-ce dan ikut mengintai keluar, mengenal pemuda ini sebagai pemuda tukang sapu dikuil itu!

"A-hai...!"

Teriak Pek Lian.

"Harap berhentikan kereta, mungkin dia mempunyai petunjuk penting!"

Mendengar seruan nona ini, tiga orang kakek Lembah Yang-ce menghentikan kereta itu.

Kalau saja bukan Pek Lian yang berseru, tentu mereka tidak akan berhenti karena mereka tidak mengenal pemuda tinggi besar itu, bahkan mencurigainya.

Pemuda itu dengan napas terengah-engah, agaknya ketakutan dan juga gelisah sekali, berkata.

"Cepat turun semua! didepan sudah ada perajurit-perajurit menjaga. Penunggang-penunggang gerobak itupun sudah dikeroyok dan terjadi pertempuran mengerikan. Lekas turun dan mari ikut bersamaku, aku dapat menyembunyikan kalian!"

Pek Lian melihat betapa pemuda itu ketakutan.

Hal ini merupakan tanda bahwa pemuda itu justeru berada dalam keadaan normal dan tidak sedang kumat.

Maka diapun lalu turun dengan menahan rasa dingin tubuhnya, diturut oleh dua orang gurunya.

"Dia dapat dipercaya. Mari cepat!"

Katanya kepada tiga orang kakek Lembah Yang-ce yang tentu saja tidak ragu-ragu lagi, karena keadaan amat mendesak. Pemuda tinggi besar itu melihat Pek Lian menggigil, lalu memegang tangan gadis itu.

"Pek Lian, engkau sakit? Ihhhh...! Tanganmu seperti salju!"

Dan digandengnya dara itu, dibawanya lari dengan hati-hati.

Pek Lian menurut saja karena memang iapun merasa pening dan larinya terhuyung.

Kim-suipoa dan Pek-bin-houw saling bantu dengan bergandeng tangan, lalu dibantu oleh dua orang kakek.

Kakek ketiga memondong tubuh kokcu Lembah Yang-ce.

Pemuda yang menggandeng Pek Lian itu memasuki sebuah kuil kuno yang rusak ditepi hutan, lalu menuju kebagian belakang.

Tiba-tiba Pek Lian mengeluh, dan tubuhnya menjadi panas sekali, kepalanya pening dan matanya berkunang-kunang.

Hampir berbareng dengan kedua orang suhunya, iapun terpelanting.

Untung A-hai cepat menyambar dan memondongnya.

"Ah, celaka Pek Lian! Pek Lian! Ah, badannya panas sekali... ah, jangan-jangan ia mati...!"

Tiga orang kakek Lembah Yang-ce itu terheran-heran melihat sikap pemuda ini.

Mereka masing-masing kini memondong seorang.

Akan tetapi karena agaknya keselamatan mereka berada ditangan pemuda itu, merekapun hanya mengikuti saja ketika pemuda itu berjalan terus.

Dikamar belakang yang amat kotor, penuh dengan rumput tinggi, pemuda itu membuka tutup sumur bekas tempat pembuangan kotoran dari kamar mandi dan kakus!

Begitu tutup sumur dibuka, bau busuk menyerang hidung mereka.

Akan tetapi, pemuda itu memberi isyarat agar mereka semua mengikutinya memasuki lubang sumur kotor itu!

Ada tangga disitu dan dengan susah payah, yang sehat membawa dan menarik yang sakit melalui tangga sampai ketengah-tengah sumur.

Kakek Lembah Yang-ce yang turun terakhir, tidak lupa menutupkan papan penutup sumur kembali.

Sebelum mereka tiba didasar lubang kotoran itu, tangganya sudah habis dan dilambung sumur terdapat sebuah lubang sebesar perut kerbau.

Kini terpaksa yang sakit tidak dipondong lagi, melainkan dibantu memasuki lubang seorang demi seorang.

Kokcu Lembah Yang-ce sudah siuman, dan dengan gerakan lemah sekali diapun merangkak, dibantu oleh seorang kakek.

Tentu saja perjalanan ini amat sukar karena empat orang dari mereka terluka dan keracunan, walaupun yang amat parah hanya kokcu Lembah Yang-ce itu saja.

Lubang sebesar perut kerbau itu ternyata amat panjang, gelap dan licin karena becek dan basah.

Pemuda yang menjadi penunjuk jalan itu berkali-kali terpeleset dan kepalanya terbentur dinding tanah.

Pek Lian yang berada dibelakangnya dan digandengnya, berkali kali harus menjaga agar jangan sampai pemuda ini lecet atau mengeluarkan darah.

Bergidik ngeri ia kalau membayangkan betapa ditempat seperti itu, penyakit pemuda itu kambuh.

Bisa berabe benar-benar!

Maka iapun mengajak bicara pemuda itu, biarpun kepalanya pening dan tubuhnya masih kadang-kadang dingin kadang-kadang panas.

"Hati-hati, A-hai, jalannya licin. Awas jangan jatuh dan lihat atas, kepalamu bisa terbentur batu..."

Akhirnya A-hai tertawa.

"Pek Lian, engkau sendiri yang payah dan sakit, masih memperingatkan aku. Jaga baik-baik dirimu sendiri."

Melihat sikap Pek Lian ini, empat orang tokoh Lembah Yang-ce juga merasa heran.

Memang lucu sekali, pikir mereka.

Pemuda tinggi besar itu dalam keadaan sehat dan menjadi petunjuk jalan, sedangkan gadis itu terluka pukulan sakti akan tetapi kenapa justeru gad's itu yang terus-menerus memperingatkan pemuda itu agar berha tihati?

Akan tetapi tentu saja Kim-suipoa dan Pek-bin-houw tidak merasa heran, bahkan merekapun diam-diam menyetujui sikap Pek Lian itu, karena mereka tahu babwa kalau sampai pemuda itu terbentur dan jatuh lalu terluka, akibatnya mereka tidak berani membayangkan.

Kalau pemuda itu kumat, wah, tentu akan mengerikan sekali dan bukan mustahil kalau mereka semua mati konyol ditangan pemuda itu!

Setelah merangkak-rangkak secara susah payah lebih dari satu jam lamanya, tibalah disuatu tempat dataran lapang yang dikelilingi tembok-tembok kuno yang tebal, merupakan ruangan yang panjang dengan dinding tembok dan atasnya dari batu.

"Tempat apakah ini, A-hai?"

Tanya Pek Lian.

"Ruangan ini berada dibawah tembok benteng kota kihan,"

Jawab pemuda itu sambil menyalakan sebatang lilin yang terdapat ditepi tembok.

"Aku menemukannya beberapa hari yang lalu secara kebetulan saja. Aku mengejar seekor kelinci yang memasuki lubang sumur itu dan akupun bisa sampai ketempat ini. Dari sini ada terowongan yang menembus keluar, keparit-parit diluar benteng. Malam nanti kita dapat melarikan diri melalui terowongan itu."

Empat orang tokoh Lembah Yang-ce, ketika merangkak-rangkak dibelakang tadi, sudah diberi tahu dengan bisikan-bisikan oleh Kim-suipoa dan Pek-bin-houw tentang diri pemuda ini yang sama sekali tidak dapat ditanyai riwayatnya.

Karena itu, merekapun diam saja dan membiarkan Pe Lian saja yang bicara, karena agaknya pemuda itu kenal baik dengan Pek Lian.

Mendengar keterangan tentang tempat ini, mereka menjadi lega.

Untuk sementara, agaknya para perajurit tidak akan dapat menemukan mereka dan diam-diam merekapun berterimakasih kepada pemuda yang dipanggil dengan nama A-hai itu.

Tanpa adanya pemuda itu, dalam keadaan luka-luka, sukarlah bagi mereka untuk dapat diselamatkan oleh tiga orang kakek Lembah Yang-ce.

A-hai lalu memanjat dinding yang kasar itu untuk menaruh lilin didalam sebuah lubang.

setelah dia meletakkan lilin itu didalam lubang, maka ruangan itu menjadi lebih terang.

Akan tetapi ketika dia turun, sebuah batu tembok terlepas, kakinya terpeleset dan diapun jatuh terduduk.

Pek Lian dan dua orang gurunya terkejut dan memandang dengan mata terbelalak dan muka berobah.

Akan tetapi mereka menarik napas lega ketika melihat pemuda itu hanya menyeringai kemalu-maluan dan bangkit kembali.

Bagaimana pemuda yang setolol ini dapat berubah menjadi demikian luar biasa lihainya?

Demikian Pek Lian berpikir sambil memandang penuh keheranan.

Apakah benar-benar dalam keadaan sadar selemah ini?

Akan tetapi kenapa ketika diajarnya membelah kayu dengan tangan kosong, pemuda ini dapat melakukannya sedemikan mudahnya?

Apakah semua ini hanya permainan sandiwara belaka?

Keheranan hati Pek Lian bertambah ketika pemuda itu kini mengeluarkan berbagai macam bungkusan dari dalam saku bajunya.

Kiranya dia tadi menyalakan lilin dan menaruhnya diatas memang ada maksudnya, yaitu agar dia memperoleh cukup penerangan untuk mengeluarkan obat-obatan dari dalam saku bajunya.

Sambil membuka-buka bungkusan bermacam-macam itu ia menunjuk kepada obat-obatan yang berupa bubuk berbagai warna dan butiran-butiran besar kecil sambil berkata.

"Ini obat untuk luka akibat senjata beracun, dan ini dapat menyedot racun yang mengeram didalam tubuh, dan pel kecil ini dapat diminum untuk membebaskan darah dari keracunan, dan yang besar ini untuk membersihkan isi perut. Bubuk putih ini kalau disedot dapat menawarkan racun yang tersedot orang melalui asap beracun, dan yang ini kalau ditelan dapat mempercepat kembalinya tenaga murni."

Semua orang memandang bengong.

Kiranya pemuda ketolol-tololan ini adalah seorang ahli pengobatan, terutama sekali pengobatan tentang orang keracunan!

Bukan keracunan biasa, melainkan akibat dari serangan-serangan pukulan sakti yang beracun.

Biasanya, ilmu pengobatan seperti ini hanya dimiliki oleh ahli-ahli silat tingkat tinggi atau orang-orang yang memang ahli dalam menggunakan segala macam serangan beracun itu.

Akan tetapi Pek Lian yang cerdik itu tidak memberi komentar apa-apa.

Dara ini menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada A-hai.

akan tetapi iapun maklum akan keadaan pemuda ini yang seolah-olah berada diantara dua dunia atau dua kesadaran, yang kadang-kadang membuatnya nampak ketolol-tololan.

Maka, melihat obat-obat itu, iapun lalu berkata dengan suara yang sungguh-sungguh.

"A-hai, aku menjadi korban pukulan yang mendatangkan panas dingin, pukulan beracun yang dilakukan oleh iblis-iblis bertangan hijau."

"Ah! Itu tentu pukulan kalajengking hijau!"

Seru A-hai dan nampak gembira.

"Kebetulan sekali, inilah dia obatnya. Lekas telan sebutir dan engkau akan sembuh, Pek Lian!"

Pek Lian tidak sangsi lagi, mengambil sebutir pel berwarna hitam dan menelannya.

Begitu ditelan, terasa olehnya hawa panas sekali dan terasa seolah-olah pel itu hancur dalam pencernaannya dan mengeluarkan hawa panas dan pedas seperti lada.

Akan tetapi, rasa dingin yang tadinya sudah membuatnya menggigil itu lenyap!

Dan ketika ia menggerahkan sinkangnya.

Diputar-putar disekitar perut dan dada, sudah tidak terasa lagi kenyerian seperti tadi.

"Dia benar! Pel ini manjur bukan main!"

So-raknya.

"A-hai, berilah mereka masing-masing sebutir, merekapun menjadi korban pukulan itu tadi!"

Dan dua orang guru Pek Lian itu menerima masing-masing sebutir pel yang segera mereka telan dan seperti juga Pek Lian, keduanya seketika menjadi sembuh dan sehat kembali!

Tentu saja mereka berduapun menjadi girang bukan main.

"Wah, terimakasih, A-hai. Tak kusangka engkau sehebat ini, pandai mengobati! Sekarang apakah engkau mempunyai obat untuk sahabat kami ini?"

Pek Lian menunjuk kepada pemuda kokcu dari Lembah Yang-ce yang terluka lebih parah itu.

"Dia juga terkena pukulan-pukulan yang hebat sekali"

Pek Lian tidak dapat melanjutkan karena diwaktu ia menonton perkelahian itu, ia melihat pemuda ini roboh oleh pukulan gabungan dari dua orang pengawal Jenderal Beng Tian, akan tetapi ia tidak tahu jelas apa macam pukulan itu.

Melihat keraguan dara itu, kokcu dari Lembah Yang-ce lalu berkata dengan suara lemah dan mulut menyeringai menahan nyeri.

"Pukulan mereka tidak mengandung hawa beracun, akan tetapi karena amat kuat, mematahkan dua tulang iga dan aku terluka karena tenaga sendiri yang membalik."

A-hai tidak kelihatan bingung, malah tersenyum.

"Bagus! Itu ada obatnya! Nah, lebih dulu telan ini untuk membebaskan darah dari keracunan, lalu yang ini untuk menguatkan isi perut yang terguncang oleh pukulan kuat, kemudian ini ditelan untuk mempercepat kembalinya tenaga murni. Adapun tulang patah itu, ah, mudah saja. Aku mempunyai obat param untuk itu."

Dia membuka sebuah bungkusan lain yang terisi bubuk kuning yang cukup banyak.

"Ini harus dicampur dengan putih telur, lalu diparamkan dan dibalut kuat-kuat. Dalam waktu satu dua hari saja tulang-tulang itu akan tersambung kembali!"

Melihat hasil obat-obat itu pada diri Pek Lian dan dua orang gurunya, kokcu Lembah Yang-ce percaya bahwa agaknya pemuda tinggi besar ini adalah seorang pandai yang menyamar sebagai orang tolol, maka diapun tanpa ragu-ragu lagi lalu menelan obat-obat itu.

Dan memang manjurnya bukan main!

Dia cepat duduk bersila setelah jalan darahnya pulih kembali dan pernapasannya normal, untuk melakukan siulian dan menghimpun tenaga dan hawa murni.

Akan tetapi A-hai yang kebingungan.

"Wah, ditempat seperti ini, dimana mencari telur?"

Dia menoleh kesana-sini dan akhirnya melihat burung-burung walet beterbangan dengan cepatnya memasuki ruangan itu dan lenyap disebuah lubang diatas.

"Ah, disana tentu terdapat banyak telur burung. Akan tetapi, bagaimana mencari dan mengambilnya?"

"Jangan khawatir, aku akan mencari dan mengambilnya!"

Tiba-tiba seorang kakek dari Lembah Yang-ce berkata dan diapun lalu memanjat dinding itu dengan mempergunakan Ilmu Cecak Merayap sehingga kaki tangannya seperti menempel pada dinding ketika perlahan-lahan dia terus merayap keatas, sampai dilubang dimana burung-burung walet tadi beterbangan.

Begitu dia tiba dilubang, dan memasuki lubang gelap itu, burung-burung walet beterbangan keluar dengan mengeluarkan bunyi panik.

Kakek itu terus merayap masuk sampai tubuhnya lenyap kedalam lubang dan hanya nampak kedua kakinya saja.

Tak lama kemudian, kakek ini sudah keluar lagi dan meloncat turun sambil membawa dua genggam telur burung!

"Bagus!

Wah, paman sungguh lihai sekali!"

A-hai memuji dengan girang ketika dia menerima telur-telur burung itu.

"Ah, apa artinya sedikit kemampuanku itu dibandingkan dengan kelihaian taihiap?"

Kakek itu merendah dan menjura kepada A-hai dengan penuh kekaguman karena memang hatinya girang dan kagum sekali melihat betapa kokcunya dapat disembuhkan secara demikian mudahnya.

"Apa? Siapa yang paman sebut taihiap? Aku? Wah, jangan bergurau, ah!"

A-hai berkata dan dengan hati-hati diapun lalu mencampur putih telur-telur itu dengan obat kuning diatas permukaan batu yang sudah ditiupnya sampai bersih betul.

Kemudian, dia menaburi iga yang patah itu diatas dada kokcu Lembah Yang-ce setelah tiga orang kakek membantunya dan membuka baju pemuda itu.

Dan A-hai tanpa ragu-ragu lagi lalu merobek sabuknya yang panjang untuk membalut dada itu.

Melihat ini, diam-diam semua orang kagum sekali.

Pemuda ini, biarpun nampak tolol, ternyata selain ahli pengobatan, juga mempunyai budi yang mulia, tanpa ragu-ragu mengorbankan pakaiannya untuk menolong orang.

Pandang mata Pek Lian terhadap pemuda ini menjadi semakin kagum dan mesra.

Setelah diberi obat dan dibalut dada itu, kokcu Lembah Yang-ce, orang muda yang berilmu tinggi itu, merasa betul betapa hawa hangat yang aneh masuk dari luar.

Tahulah dia bahwa obat itu memang mujarab sekali, maka diapun lalu menjura kearah A-hai.

"Saudara telah melepas budi yang amat besar kepada kami. Mudah-mudahan pada saat lain kami akan berkesempatan untuk membalasnya."

A-hai hanya tersenyum dan balas menjura dengan canggung, tidak tahu harus berkata apa.

melihat ini, Pek Lian mendekatinya.

Kini semua orang telah diobati.

Dua orang gurunya, seperti juga kokcu Lembah Yang-ce itu, duduk bersila menghimpun hawa murni untuk menyempurnakan pengobatan itu.

Ia sendiri merasa sudah sembuh sama sekali, terdorong oleh rasa girang dan juga bangga.

Sungguh aneh mengapa ia berbangga atas kemampuan pemuda tolol ini!

"A-hai, sungguh mati aku merasa kagum dan heran.

Baru saja mengenalmu, ternyata engkau memiliki kepandaian mengobati orang dengan hebat!

Siapa sih gurumu dalam ilmu ketabiban ini?"

Ia sengaja bertanya sambil lalu, dan sambil bergurau tersenyum agar jangan sampai mengejutkan pemuda itu. Akan tetapi, ia menjadi heran ketika melihat pemuda itu tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha, ketabiban apa lagi? Aku bukan tabib dan tidak mengenal ilmu ketabiban sama sekali! Aku mendapatkan obat-obat ini dengan keterangan tentang pengobatannya sebagai hadiah karena aku membantu orang mencari kalajengking hijau. Hanya aku yang tahu tempat binatang itu didaerah ini, maka orang itu menjadi girang dan memberi hadiah setelah aku menunjukkan tempatnya kepadanya."

"Orang apa? Siapa dia?"

Tanya Pek Lian, hatinya tertarik, bukan kepada orang yang diceritakan itu, melainkan mengharap kalau-kalau keterangan itu sedikitnya akan membuka sedikit tentang pemuda aneh itu.

"Wah, dia orang yang aneh, hebat bukan main dia. ha-ha, seperti orang gila, dan memang agaknya dia sudah gila. Bayangkan saja, kalajengking hijau itu beracun luar biasa, baru memegang dengan tangan saja dapat meracuni orang. Dan apa yang dilakukan oleh orang itu? Dia menelannya bulat-bulat! ha-ha-ha!"

"Ah, tidak salah lagi. Tentu dia seorang iblis-dari Pulau Selaksa Setan! Apakah orangnya bertubuh gendut, gemuk bulat seperti bola, mata dan kulit tubuhnya kehijau-hijauan?"

Tanya seorang diantara tiga kakek tokoh Lembah Yang-ce.

"Benar sekali, ha-ha, dia bundar seperti bola dan kalau berjalan seperti bola menggelinding kesana-sini. Lucu sekali. Dan memang kulitnya hijau seperti seperti kalajengking-kalajengking itu. Agaknya memang dia terlalu banyak makan kalajengking."

Pemuda tolol itu kelihatan begitu gembira, akan tetapi kalau dia bicara dan tertawa dia selalu memandang wajah Pek Lian yang memandangnya dengan kagum, walaupun dia menjawab ucapan orang lain.

"Apakah kalian sudah mengenal orang itu?"

Akhirnya dia bertanya.

"Aihh! Dia tentu seorang tokoh dari Pulau Selaksa Setan! Sekarang aku yakin akan hal itu."

"Apakah paman sudah mengenal iblis-iblis dari pulau terkutuk itu?"

Tiba-tiba Pek Lian bertanya, hatinya tertarik sekali karena selain ia pernah mendengar serba sedikit tentang adanya Ban-kwi-to (Pulau Selaksa Setan), juga ketika kakek dan nenek iblis yang muncul dari dalam gerobak itu mengamuk, kepandaian mereka itu hebat bukan main dan Jenderal Beng Tian sendiri, yang memiliki ilmu kepandaian sangat tinggi, nampak terkejut dan gentar, dan menyebut bahwa kakek dan nenek itu adalah iblis-iblis pulau terkutuk.

Tokoh Lembah Yang-ce itu menarik napas panjang.

Setelah para tokoh Lembah Yang-ce itu mengenal Pek Lian sebagai puteri Menteri Ho yang; amat terkenal itu, sikap mereka amat menghormatnya.

Kakek inipun menarik napas panjang.

"Ho-siocia, kalau dibilang mengenal mereka, saya belum pernah mendapat kesempatan untuk berkenalan dan kalau bisa diminta, mudah-mudahan selamanya saya tidak mengenal mereka."

Dia bergidik dan nampak gentar sekali.

"Akan tetapi saya mendengar banyak tentang mereka. Mereka berjumlah tujuh orang dan menjadi majikan-majikan Pulau Selaksa Setan itu. Agar nona dan semua saudara ketahui dan bersikap hati-hati kalau tidak kebetulan bertemu muka dengan mereka, biar saya perkenalkan keadaan mereka itu."

Kakek itu lalu memberi gambaran yang jelas tentang Jit-kwi (Tujuh Iblis) itu.

Orang pertama yang menjadi tocu (majikan pulau) dari Ban-kwi-to adalah seorang yang tubuhnya pendek kecil, akan tetapi mudah dikenal karena mukanya yang meruncing seperti muka tikus.

Karena mukanya seperti tikus inilah maka dia mendapat julukan tetok-ci (Tikus Beracun Bumi), selain memiliki kesaktian yang luar biasa, juga wataknya licik dan kejam bukan main.

Yang menjadi orang kedua adalah sutenya, dengan bentuk tubuh yang menjadi kebalikan dari pada orang pertama.

Orang kedua ini bertubuh tinggi besar seperti raksasa yang berjuluk Tiat-siang-kwi (Setan Gajah Besi) dan kabarnya raksasa ini suka makan daging manusia!

Orang yang ketiga dan keempat adalah sepasang wanita kembar.

Mereka berdua ini memiliki keahlian untuk pian-hwa (mengubah diri) dan mereka itu sukar dibedakan satu antara yang lain karena bentuk tubuh dan raut wajah yang serupa benar.

Orang-orang didunia kang-ouw mengenal mereka dengan julukan Jeng-bin Siang-kwi (Sepasang Tblis Bermuka Seribu).

Adapun orang yang kelima adalah orang gendut bundar yang mungkin sekali adalah orang yang mencari kalajengking hijau dan bertemu dengan taihiap eh, saudara ini.

Julukannya adalah Thian-te Tok-ong (Raja Racun Langit Bumi) dan keahliannya tentang racun amat mengerikan.

Kemudian orang yang keenam dan ketujuh adalah sepasang suami-isteri, kakek dan nenek yang pernah kita lihat muncul dari dalam gerobak itu.

"Suami-isteri tua bangka itu terkenal cabul dan tak tahu malu, akan tetapi juga lihai bukan main, terutama ilmu pukulan mereka Imyang Tok-kun. Kita harus berhati-hati kalau bertemu dengan mereka itu. Untung sekali bahwa orang muda perkasa ini memperoleh obat-obatan dari Thian-te Tok-kun sendiri. Kalau tidak, sukarlah mengobati dan kita mungkin akan menjadi penderita cacat, kecuali kalau bisa memperoleh pengobatan dari mendiang Si Tabib Sakti."

Kakek itu mengakhiri ceritanya dan kini mengertilah Pek Lian mengapa mereka begitu berterimakasih dan menghormat kepada A-hai yang telah menyelamatkan mereka, terutama kokcu mereka.

Ketika malam berikutnya tiba, keadaan mereka telah baik kembali, tubuh mereka telah sehat dan segar kembali, kecuali Kwee Tiong Li, pemuda yang menjadi kokcu (majikan lembah) Yang-ce itu.

Pemuda yang pendiam dan tampan berwibawa ini, bersikap sederhana dan jarang bicara, dan ketika mereka saling memperkenalkan diri, dia hanya memperkenalkan namanya sebagai Kwee Tiong Li.

Padahal, pemuda ini yang baru berusia dua puluh dua tahun, adalah murid terkasih dari Bengcu (pemimpin rakyat) yang terkenal itu, yaitu Chu Siang Yu, tokoh para patriot Lembah Yang-ce yang ditakuti oleh pasukan pemerintah.

Kalau yang lain-lain telah sembuh sama sekali, hanya Kwee Tiong Li saja yang biarpun tubuhnya tidak lagi keracunan berkat obat pemberian A-hai namun tubuhnya masih lemas dan lemah.

Dia harus banyak beristirahat dan bersiulian (bersamadhi) untuk memulihkan tenaganya dan menghimpun hawa murni.

Menjelang tengah malam, barulah A-hai ber-kata.

"Sekaranglah tiba saatnya bagi kita untuk, keluar dari sini."

"Keluar? A-hai, bagaimana kita bisa keluar dari sini? Kembali melalui jalan ketika kita masuk?"

Tanya Pek Lian terkejut dan ngeri mengingat kembali jalan masuk yang amat sukar itu, akan tetapi yang membuat jantungnya berdebar kalau ia teringat betapa dalam keadaan pingsan ia dipondong oleh A-hai melalui perjalanan yang demikian sukarnya.

A-hai tersenyum dan menggeleng kepala.

"Ada jalan rahasia ditempat ini dan hanya aku yang tahu, secara kebetulan saja."

Diapun lalu mengorek-ngorek lantai disudut ruangan itu dan nampaklah sebuah tutup besi bundar yang garis tengahnya kira-kira setengah meter.

Ternyata dibawah tutup besi itu terdapat lubang yang hitam gelap dan kalau saja disitu tidak ada A-hai yang sudah mengenal jalan, tentu mereka akan mempertimbangkan masak-masak lebih dulu sebelum memasuki lubang yang menganga hitam gelap itu.

"Saudara A-hai, lubang ini akan membawa kita kemanakah?"

Kim-suipoa Tan Sun bertanya.

Sebagai seorang kang-ouw yang berpengalaman, dia selalu bersikap hati-hati dan memasuki lubang gelap seperti itu tanpa mengetahui lebih dulu apa yang menanti didalam lubang itu, sungguh merupakan perbuatan yang lengah dan berbahaya.

"Kita akan tiba diluar benteng melalui lubang ini,"

Jawab A-hai dengan sikap sederhana, kemudian dia menoleh kepada Pek Lian.

"Pek Lian, sudah siapkah engkau? Mari kau ikuti aku, pegang tanganku dan melangkah hati-hati saja kalau merangkak, ikuti kemana aku pergi."

A-hai sudah memasuki lubang itu dan merangkak.

Biarpun dia tidak mengerti ilmu silat, namun jelas bahwa A-hai memiliki keberanian yang besar sekali.

Pek Lian adalah seorang gadis yang sejak kecil digembleng oleh orang-orang pandai dan kini telah memiliki tingkat kepandaian silat yang tinggi, lebih tinggi dara pada tingkat Kim-suipoa atau Pek-bin-houw, namun melihat lubang gelap itu, iapun gentar juga.

"Yakin benarkah engkau bahwa kita akan sampai ditempat yang aman, A-hai?"

"Tentu saja, aku sudah beberapa kali menggu-nakan jalan ini. Bahkan ketika dikota para pasukan mengamuk, aku mengambil jalan ini juga."

Mulailah mereka merangkak melalui lubang sempit yang gelap itu.

Mereka bergandeng tangan, A-hai didepan, lalu Pek Lian, Kim-suipoa, Pek-bin-houw, Kwee Tiong Li yang dibantu oleh seorang kakek, dan dua orang kakek lainnya.

Ketika mereka merangkak-rangkak ditanah yang licin dan basah itu, Pek Lian berpikir dengan penuh kekaguman bahwa pada saat itu, mereka semua yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, menganggap A-hai sebagai pimpinan mereka!

Semua harapan dan kepercayaan dilimpahkan kepada pemuda yang nampaknya sinting itu!

Setelah merangkak agak lama juga, tiba-tiba A-hai berhenti dan bertanya kepada dara yang merangkak dibelakangnya.

"Pek Lian, apakah engkau dapat berenang?"

"Eh, Berenang?"

Pek Lian merasa heran dan geli juga mengapa ditempat seperti itu, tiba-tiba saja A-hai bertanya tentang berenang.

"Kalau sedikit-sedikit sih bisa saja."

"Bagus, asal engkau tidak sampai tenggelam saja sudah baik, nanti aku yang menarikmu."

Baru mengertilah Pek Lian bahwa perjalanan ini akan melalui air! Dan pemuda itu agaknya tidak perduli apakah yang lain-lain dapat berenang atau tidak, hanya Pek Lian seorang yang ditanya.

"Wah, aku tidak pandai berenang!"

Kata Pek-bin-houw Liem Tat.

"Dan akupun tidak bisa!"

"Aku juga tidak dapat berenang!"

Dua orang kakek tokoh Yang-ce dan Pek-bin-houw nampak gugup dan gelisah.

Betapapun pandainya mereka didaratan, kalau harus menghadap air yang dalam mereka menjadi takut dan gelisah, maklum bahwa sekali berada diair yang dalam mereka lebih lemah dari pada seorang anak kecil yang pandai berenang.

Mereka akan mati lemas dan tenggelam.

"Jangan khawatir!"

Tiba-tiba terdengar Kim-suipoa berkata.

"Yang tidak dapat berenang akan dibantu oleh yang pandai berenang dan aku tidak membual kalau mengatakan bahwa aku pandai berenang dan sanggup menyeberangkan mereka yang tidak pandai berenang seorang demi seorang."

Mereka merangkak terus dan kini terowongan itu menjadi agak lebar, akan tetapi menjadi semakin licin dan basah.

Dari atas berjatuhan air yang menetes-netes membasahi kepala dan pakaian mereka, kemudian terowongan itu mulai menurun, terus menurun sampai akhirnya mereka berdiri ditempat yang digenangi air.

A-hai berhenti dan berkata.

"Sebaiknya semua barang yang penting dibungkus baju dan diikatkan diatas kepala agar jangan basah."

Berkata demikian, dia sendiri mengeluarkan bungkusan-bungkusan obat dan membuntalnya dengan bajunya yang sudah ditanggalkannya, kemudian mengikatkan baju itu diatas kepalanya.

Orang-orang lain juga melakukan hal ini, kecuali Pek Lian tentunya.

Mana mungkin dia menanggalkan bajunya?

"Pek Lian, kalau engkau mempunyai barang yang kau tidak ingin sampai terkena air, berikan padaku,"

Kata A-hai dan untuk kata-kata ini, Pek Lian merasa berterimakasih sekali.

Bagaimanapun juga, agaknya A-hai adalah seorang pemuda baik hati yang teringat akan kesukarannya menghadapi persoalan melepaskan baju ini.

"Tidak, aku tidak mempunyai apa-apa yang perlu dijaga agar tidak basah."

"Baiklah. Apa semua sudah siap?"

Tanya A-hai lalu memegang tangan Pek Lian dan berkata lagi.

"Biar aku berenang lebih dulu mengantar Pek Lian. Paman yang tidak pandai berenang boleh berpegang pada pundakku. Yang lain-lain harus bantu agar kita sekaligus dapat menyeberang semua."

Mereka lalu mengatur diri.

Seorang kakek tokoh Yang-ce berpegang kepada pundak A-hai.

Pek Lian berenang disebelah kiri A-hai yang bersikap melindunginya.

Pek-bin-houw dibantu oleh Kim-suipoa dan seorang kakek Yang-ce membantu temannya yang tidak pandai berenang, Kwee Tiong Li sendiri adalah seorang ahli berenang, akan tetapi karena tenaganya masih lemah, diapun lalu berenang didekat A-hai dan Pek Lian agar kedua orang ini dapat membantunya kalau perlu.

"Nah, inilah perlunya belajar berenang,"

Kata Kim-suipoa kepada temannya, Pek-bin-houw.

"Jangan karena engkau berjuluk harimau, lalu tidak pandai berenang."

"Jangankan aku yang berjuluk harimau, sedangkan dua orang saudara yang menjadi tokoh Yang-ce inipun tidak pandai berenang!"

Pek-bin-houw menjawab olok-olok sahabatnya.

Dua orang kakek Yang-ce itupun lalu berjanji bahwa setelah pulang mereka akan belajar berenang diSungai Yang-ce.

A-hai melangkah terus kedepan, diikuti oleh Tiong Li dan dibelakang kokcu ini baru Pek Lian berjalan sehingga ketua lembah ini diapit oleh dua orang, sedangkan yang lain-lain mengikuti dari belakang.

Air yang tadinya sampai kelutut itu mulai makin dalam dan dinginnya luar biasa sekali, sampai menyusup kedalam tulang rasanya.

Dan mulai terasa arus air.

Untung bahwa arusnya tidak begitu kuat.

Setelah melangkah beberapa belas langkah lagi, mulailah air itu dalam dan mereka harus berenang.

Air yang dingin itu seperti mendatangkan tenaga pada tubuh Tiong Li sehingga dia dapat berenang tanpa dibantu, hanya dijaga saja oleh A-hai dan Pek Lian.

A-hai berenang dengan pundaknya dipegangi oleh kakek Yang-ce.

Ternyata pemuda ini pandai sekali berenang dan mempunyai tenaga yang kuat.

Yang lain-lain mengikuti dibelakang.

Setelah mereka berenang beberapa lamanya, paling lama sepuluh menit akan tetapi bagi mereka yang tidak pandai berenang terasa amat menegangkan dan lama sekali, akhirnya mereka tiba ditempat terbuka.

Mereka lalu berenang ketepi dan ternyata air itu mengalir keluar dan bergabung pada sebatang anak sungai yang berada diluar benteng.

Mereka cepat naik kedarat dan keadaan masih amat gelap dan sunyi.

Tidak segelap tadi karena mereka telah berada ditempat terbuka dan sinar bulan membuat mereka dapat saling melihat.

Semua orang bergembira dan berterimakasih sekali kepada A-hai.

Kwee Tiong Li memegang tangan A-hai dan berkata.

"Terimakasih, saudara A-hai. Tanpa adanya bantuanmu, belum tentu aku dapat hidup sampai sekarang. Percayalah bahwa aku Kwee Tiong Li tidak akan dapat melupakan budimu ini!"

A-hai tersenyum dan menggeleng kepala.

"Sebaliknya, mungkin sebentar saja aku sudah lupa akan namamu itu. Aku pelupa sekali dan aku masih merasa sedih mengapa aku meniadi pelupa seperti ini."

Juga tiga orang kakek Yang-ce mengucapkan terimakasih yang diterima oleh A-hai dengan biasa saja. Sebaliknya pemuda sinting ini merasa gembira melihat Pek Lian telah sembuh sama sekali.

"Pek Lian. pakaianmu basah semua, sebaiknya kalau engkau bertukar pakaian kering, karena engkau bisa masuk angin kalau begitu,"

Kata A-hai dan Pek Lian merasa terharu sekali.

Pemuda ini, biarpun sinting dan nampak ketolol-tololan, namun sungguh amat baik hati dan amat memperhatikan dirinya.

Juga yang lain-lain merasa terharu dan dari gerak-geriknya, mereka itu semua dapat melihat betapa dengan caranya yang polos dan bodoh, pemuda ini amat mencinta Pek Lian!

"Aku telah kehilangan semua pakaianku dalam keributan tadi.

Akan tetapi jangan khawatir, A-hai.

Sebagai seorang gadis perantau, sudah terbiasa aku oleh keadaan yang sukar, maka basahnya pakaian ini tidak akan menggangguku,"

Jawab Pek Lian.

"Kalian tidak bisa tinggal terlalu lama disini. Tempat ini dekat tembok benteng, dan sewaktu-waktu akan ada pasukan meronda,"

Kata pula A-hai.

"Kami memang harus cepat pergi dari sini,"

Kata Kwee Tiong Li.

"Dan engkau dan kedua orang paman ini hendak kemana, nona Ho? Kalau kalian mau, mari ikut bersama kami menemui teman-teman kami. Kami telah berjanji akan mengadakan pertemuan setelah tempat kami di lembah Yang-ce diobrak-abrik pasukan."

"Memang sebaiknya demikian,"

Kata Kim-suipoa.

"Kami bertigapun harus dapat melaporkan kepada pimpinan kami tentang keadaan para sahabat dari Lembah Yang-ce yang mengalami musibah itu."

"A-hai, engkau sendiri hendak kemanakah?"

Pek Lian bertanya.

"Aku harus kembali, pulang kekuil. kemana lagi?"

"Kalau begitu, selamat tinggal, A-hai. Jaga dirimu baik-baik,"

Kata Pek Lian. A-hai mengangguk-angguk.

"Engkau yang harus menjaga dirimu baik-baik, Pek Lian. Apakah... apakah kita tidak akan saling jumpa kembali?"

Dalam pertanyaan yang diajukan dengan nada suara seperti anak kecil kehilangan sesuatu ini jelas nampak betapa pemuda itu bersedih hati sehingga Pek Lian merasa terharu sekali, akan tetapi juga malu karena banyak orang yang mendengarkan.

"Biarlah lain kali aku akan singgah dikuilmu itu."

"Benarkah, Pek Lian? Benarkah engkau akan singgah? Ah, akan kutunggu kedatanganmu!"

Kini suara itu demikian girang dan penuh harapan, membuat semua orang makin terharu.

Sampai lama A-hai berdiri bengong dan merasa kehilangan, memandang kepada bayangan tujuh orang itu sampai bayangan itu lenyap ditelan kegelapan malam.

Baru dia pergi meninggalkan tempat sunyi itu.

Kwee Tiong Li adalah seorang kokcu (ketua lembah) yang muda akan tetapi telah dapat menghimpun banyak anak-buahnya, yaitu para pendekar patriot yang memberontak karena melihat kelaliman Kaisar yang dirasakan amat menindas rakyat.

Mereka membentuk suatu kelompok yang bermarkas di lembah Sungai Yang-ce, dipimpin oleh Kwee Tiong Li yang dibantu oleh tiga orang kakek yang dikenal sebagai Yang-ce Sam-lo (Tiga Kakek Gagah dari Yang-ce).

Kelompok yang dipimpin oleh Tiong Li ini hanya merupakan kelompok cabang saja dari perkumpulan para patriot yang berpusat disebuah bulat di lembah Yang-ce sebelah barat, yang merupakan pusat.

Dan pusat perkumpulan para pendekar patriot ini dipimpin oleh Chu Siang Yu, yaitu pendekar berilmu tinggi yang juga menjadi guru Tiong Li.

Gerakan para anggauta perkumpulan pendekar ini dilakukan oleh kelompok-kelompok cabang, diantaranya yang paling aktip adalah yang dipimpin oleh Tiong Li.

Sedangkan Chu Siang Yu sendiri yang sudah lama menjadi buronan pemerintah, bersembunyi dan mengatur pasukan-pasukannya dari tempat rahasia.

Ketika tempat yang dijadikan sarang oleh Tiong Li dan anak-buahnya itu diserbu oleh pasukan pemerintah yang besar jumlahnya dan dipimpin oleh perwira-perwira pandai pula, Tiong Li dan Yang-ce Sam-lo sedang pergi mengadakan kunjungan kepada perkumpulan pusat, untuk berunding dan melaporkan kepada Chu Siang Yu.

Maka, dapat dibayangkan betapa marah dan berduka rasa hati Hong Li dan tiga orang pembantunya ketika mereka mendapatkan sarang mereka telah kosong, Kebanyakan dari para anak-buahnya tewas dan sebagian lagi ada yang tertawan dan hanya sebagian kecil saja yang dapat melarikan diri.

Maka, dengan hati yang berduka dan marah sekali, Tiong Li mengumpulkan sisa anak-buahnya dan menyuruh mereka bersembunyi lebih dulu.

Dia sendiri bersama Yang-ce Sam-lo mengejar para perajurit yang menyerbu sarangnya, dan dikota kihan dia berhasil menculik dan membunuh.

Mereka yang terbasmi, disuruh berkumpul disebuah tempat rahasia yang mereka tentukan, yaitu disebuah kuil rusak yang kosong dan yang terletak di puncak Bukit Merak Putih.

Maka kini, setelah diselamatkan oleh A-hai, mereka itu, bersama Ho Pek Lian dan dua orang gurunya, menuju ke puncak Bukit Merak Putih dimana telah dijanjikan untuk menjadi tempat pertemuan sisa para anak-buah Lembah Yang-ce itu.

Pada keesokan harinya, menjelang senja, tibalah mereka dibawah puncak Bukit Merak Putih.

Mereka tidak langsung menuju kekuil tua yang sudah nampak dari situ, karena keadaannya amat sunyi.

Tiong Li mengajak mereka bersembunyi dibalik semak-semak belukar, kemudian dia minta kepada ketiga orang Sam-lo untuk melakukan penyelidikan kekuil, untuk melihat apakah teman-teman mereka sudah ada yang tiba ditempat itu.

Menurut perhitungan, karena mereka sendiri terhalang dijalan, tentu teman-teman mereka itu sudah tiba disitu, Akan tetapi mengapa keadaannya begitu sunyi?

Yang-ce Sam-lo dengan hati-hati sekali lalu menuju kekuil dari tiga jurusan karena mereka berpencar.

Dan mereka tiba dikuil untuk mendapatkan kenyataan bahwa tempat itu memang kosong tidak nampak ada seorangpun, hanya ada nampak bekas-bekas pertempuran, darah dan patahan-patahan senjata.

Yang-ce Sam-lo terkejut sekali dan terpaksa mereka kembali ketempat persembunyian kokcu untuk melaporkan keadaan.

Mendengar laporan itu, kokcu merasa terkejut dan juga penasaran.

Maka dia sendiri lalu pergi kekuil, diikuti oleh mereka semua.

Dan melihat bekas-bekas pertempuran itu, hati Tiong Li meniadi bersedih sekali.

Apakah teman-temannya sudah tiba disini dan diketahui oleh pasukan pemerintah lalu merekapun mengalami penyerbuan kedua kalinya dan mereka semua ditawan oleh pasukan?

"Ah, seharusnya diantara kami ada yang menemani mereka, bukan kami tinggalkan seperti ini..."

Seorang diantara Sam-lo membanting kaki penuh penyesalan. Melihat kesedihan terbayang pada wajah kokcu yang mereka kasihi itu, mereka bertiga merasa menyesal bukan main.

"Sudahlah, sam-wi tidak perlu menyesali diri sendiri, sebenarnya akulah..."

Tiong Li tidak melanjutkan kata-katanya karena pada saat itu telinganya menangkap suara seperti lengkingan tinggi dari tempat jauh.

Mereka semua cepat memasuki kuil, bersembunyi sambil mengintai keluar.

Akan tetapi tidak terjadi sesuatu dan agaknya suara tadi datang dari tempat yang jauh sekali.

Mereka tidak dapat menentukan suara apakah itu.

Tadinya mereka merasa khawatir bahwa itu adalah suara tanda dari pasukan yang akan datang menggempur mereka lagi.

Akan tetapi karena tidak terjadi apa-apa, merekapun lalu beristirahat didalam kuil rusak itu sambil makan daging kelinci panggang yang mereka tangkap dibelakang kuil Biarpun mereka dapat beristirahat tanpa gangguan namun mereka tidak dapat tidur, siap siaga menghadapi segala kemungkinan dan kesunyian malam itu amat menegangkan hati.

Menurut kokcu, mereka akan menanti disini sampai dua hari dua malam.

Kalau selama itu tidak ada anak-buah Lembah Yang-ce yang muncul mereka baru akan meninggalkan tempat itu.

Karena merasa setia kawan dan satu golongan dengan para tokoh Lembah Yang-ce ini, maka Pek Lian dan kedua orang gurunya juga mau mendampingi mereka sampai dua hari dan setelah dua hari barulah mereka akan kembali ketempat mereka sendiri.

Pada keesokan harinya, baru saja matahari menyinarkan cahayanya yang gemilang, kembali mereka mendengar suara melengking tinggi itu, seperti yang mereka dengar senja kemarin.

Mendengar suara ini, cepat mereka bertujuh masuk kedalam kuil dan mengintai keluar, siap sedia untuk membela diri kalau ada musuh datang.

Tiong Li sendiri masih lemah, tak mungkin dapat melawan musuh yang tangguh, maka Yang-ce Sam-lo selalu mendekatinya untuk siap melakukan perlindungan terhadap kokcu yang mereka kasihi itu.

Kembali terdengar suara melengking tinggi itu, seperti suara suling ditiup dengan nada yang tertinggi, suara lengkingan itu berulang-ulang, makin lama makin nyaring seolah-olah suara itu makin dekat saja dengan kuil itu.

Dan selagi mereka merasa tegang, tiba-tiba saja terdengar suara batuk-batuk, bukan batuk karena memang sakit batuk, melainkan semacam batuk buatan seperti biasa dilakukan orang untuk memberi isyarat kepada orang lain!

Tentu saja tujuh orang itu terkejut bukan main.

Suara batuk itu terdengar seperti dibelakang mereka dan ketika tujuh orang itu cepat sekali menoleh, ternyata dibelakang mereka tidak nampak seorangpun!

Tentu saja mereka saling pandang dan merasa serem, seolah-olah yang batuk tadi adalah iblis yang tidak kelihatan.

Akan tetapi perhatian mereka kembali tertuju keluar ketika Pek Lian memberi isyarat dengan tangannya karena dara ini yang lebih dahulu melibat bayangan itu.

Bayangan seorang manusia yang bergerak cepat sekali menuju kekuil itu!

Sungguh luar biasa sekali ilmu berlari cepat orang itu, seperti terbang saja dan tahu-tahu bayangan itu telah tiba dipekarangan kuil.

Pek Lian merasa kagum bukan main.

Lagi-lagi ia bertemu dengan orang sakti yang memiliki ginkang seperti itu hebatnya.

Orang itu berdiri membelakangi kuil sehingga yang nampak hanya bagian belakang tubuhnya saja, perawakannya agak kecil dan pakaiannya serba hitam.

Setelah tiba didepan kuil dan melihat sunyi saja, orang itu termangu-mangu, kemudian iapun berdongak lagi keatas memandang langit yang cerah karena matahari sudah mulai memancarkan sinarnya yang kemerahan.

Kemudian!

terdengar pula suara melengking yang amat nyaring itu, yang mendirikan bulu roma karena selain nyaring dan menggetarkan jantung, juga terdengar menyeramkan, bukan seperti suara manusia lagi.

Dan tak lama kemudian dari bawah puncak Bukit Merak Putih itu terdengar suara geraman yang seperti meraungraung, menggetarkan jantung dari biarpun terdengar dari jauh, akan tetapi seperti menusuk anak telinga sehingga orang-orang yang berada didalam kuil itu cepat mengerahkan sinkang untuk melindungi jantung mereka, sedangkan Tiong Li yang masih lemah itu sudah menggunakan kedua tangan untuk menutupi daun telinganya.

Biarpun demikian, tetap saja tubuhnya tergetar hebat.

Setelah raungan itu berhenti, terdengar pula suara bersuit nyaring yang diikuti oleh suara anjing melolong-lolong pula!

Pek Lian teringat akan orang-orang Tai-bong-pai.

Bukankah orang-orang Tai-bong-pai yang memelihara anjing-anjing yang ganas dan terlatih?

Kalau orang-orang Tai-bong-pai datang, tentu ada urusan penting dan ia dapat menduga bahwa suara-suara tadi tentu dikeluarkan oleh orang-orang yang sudah memiliki tingkat ilmu kepandaian yang luar biasa tingginya.

Ada terjadi apakah didunia ini maka bermunculan orang-orang sakti yang biasanya hanya bersembunyi mengasingkan diri didalam guha-guha dipegunungan dan tempat-tempat yang terpencil dan jarang bertemu dengan orang lain?

Sebentar saja setelah semua suara itu menghi-lang, nampaklah bayangan orang-orang berkelebatan cepat dari pelbagai jurusan menuju kekuil itu dan segera nampak betapa pekarangan yang luas didepan kuil itu kini telah penuh dengan manusia.

Ada yang datang seorang diri, ada yang berdua, bertiga dan yang paling banyak adalah delapan orang.

Pakaian mereka bermacam-macam, akan tetapi rata-rata mereka terdiri dari orang-orang yang aneh bentuknya, wajahnya, maupun pakaiannya.

Dan dari sikap mereka, sinar mata mereka, mudah diduga bahwa mereka itu tentu bukanlah terdiri dari orang yang baik-baik, melainkan dari, golongan kaum sesat atau golongan hitam.

Mereka semua tiba disitu dan berdiri diam tak bergerak seperti arca, seolah-olah mereka itu sedang menanti munculnya seseorang.

Keadaan sungguh amat menyeramkan bagi tujuh orang yang bersembunyi didalam kuil.

Mereka merasa seolah-olah menjadi saksi pertemuan para iblis, setan dan siluman!

Begitu banyak orang berkumpul dipekarangan itu, namun tidak terdengar suara apapun, bahkan tidak nampak gerakan apapun!

Ada seperempat jam keadaan diam-diam seperti ini sehingga suasana menjadi semakin menegangkan hati.

Akhirnya, orang berpakaian serba hitam yang sejak tadi berada disitu karena merupakan pendatang pertama, nampaknya menjadi tidak sabar.

Agaknya ia sudah bosan menunggu.

Kembali ia menengadah dan terdengarlah lengkingannya yang menyeramkan tadi, sekali ini agak panjang dan gemanya terdengar dari lereng bukit.

Setelah berhenti mengeluarkan suara lengkingan yang tidak lumrah suara manusia ini, maka terdengar ia bicara sambil menoleh dan memandang kepada sebatang pohon siong yang tumbuh disudut kanan depan kuil.

"Eh, Ciong tua cebol, agaknya kita kena diakali orang! Orang yang menyombongkan diri mengundang kita untuk menjadi pemimpin golongan kita itu agaknya sudah ketakutan melihat kita, hi-hik! Lebih baik kita pulang saja dari pada membuang-buang waktu!"

Pek Lian dan teman-temannya yang berada didalam kuil menjadi terkejut ketika mendengar suara itu.

Baru mereka tahu bahwa orang berpakaian serba hitam ini adalah seorang wanita!

Mereka menduga-duga siapa gerangan wanita yang mengeluarkan suara melengking seperti itu dan yang memiliki ginkang yang amat hebat tadi.

Kini dari balik pohon siong itu muncul seorang laki-laki yang tubuhnya pendek cebol, akan tetapi kekar.

Badannya tidak berbaju dan basah oleh keringat, penuh dengan otot-otot besar, nampak kokoh kuat sekali.

Laki-laki ini nampak kuat dan perkasa, bukan hanya karena otot yang melingkar-lingkar diseluruh tubuh, akan tetapi juga lengan, dagu dan dadanya ditumbuhi bulu hitam yang lebat.

Melihat orang ini, seorang diantara Yang-ce Sam-lo berbisik.

"Ah, dia tentu perampok tunggal daerah selatan yang terkenal itu, she Ciong dan julukannya Tiat-ciang (Si Tangan Besi) karena lengannya seperti baja!"

Orang she Ciong yang cebol ini terkekeh, dan suaranya parau besar.

"Heh-heh, Siauw-kwi (Iblis Cantik), jangan sembarang membuka mulut kau! Orang yang sudah mengundang begini banyak orang tentu tidak berani main-main. Siapa tahu kalau-kalau dia itu benar keturunan dewa pelindung kita yang sudah tiada, mendiang yang mulia Bit-bo-ong (Raja Kelelawar)! Kalau salah omong, apa kau kira akan dapat dengan leluasa engkau menjadi Maling Cantik lagi?"

Kim-suipoa yang mendengar ucapan ini, berbisik kaget.

"Kiranya Si Maling Cantik. Wah, bisa ramai ini!"

"Akan tetapi aku mendengar dari Jai-hwa Toat-beng-kwi (Iblis Pencabut Nyawa Pemetik Bunga) si manusia cabul itu bahwa Bit-bo-ong tidak mempunyai murid, tidak pernah mau menurunkan ilmunya dan... eh, kau disini?"

Wanita itu menoleh dan memandang kepada seorang laki-laki yang tahu-tahu muncul pula disitu Laki-laki ini usianya tentu sudah tiga puluh tahun lebih, ganteng dan pesolek.

Agaknya dia sedang melamun memandang kebawah puncak dimana terbentang pemandangan alam yang indah.

Dia nampak kaget ketika mendengar ucapan wanita itu, maka diapun menoleh dan pipa huncwenya nampak berkilat, lalu mulutnya bersiul nyaring mengejutkan wanita cantik yang sedang bicara tadi.

Dan kini mereka yang berada didalam kuil dapat melihat bahwa wanita yang disebut Iblis Cantik dan juga Maling Cantik itu memang benar-benar memiliki wajah yang cantik manis.

Wanita ini sebenarnya berjuluk Pekpi Siauw-kwi (Iblis Cantik Berlengan Seratus).

Tangan seratus itu menyindirkan kemahirannya mencuri dan mencopet dan biarpun kemahirannya mencuri dan mencopet dan kejam, maka ia disebut Siauw-kwi.

Maling Cantik itu memandang kepada pria tampan itu dengan senyum mengejek yang mengandung penuh daya pikat, dan pria tampan yang selain kejam juga mempunyai watak buruk yaitu suka memperkosa wanita sehingga dijuluki Pemetik Bunga itu tersenyum pula.

"Aha, kiranya engkau si maling yang cantik jelita!"

Suaranya halus dan penuh rayuan.

"Bukankah tadi engkau memanggilku? Nah disini aku, manis, kalau memang engkau merindukanku!"

Biarpun dia mengeluarkan kata-kata merayu, namun Jai-hwa-cat (Penjahat Pemerkosa Wanita) ini tidak berani terlalu mendekati wanita itu.

Dia tahu betapa lihainya si Maling Cantik.

Telah beberapa kali dia bentrok dengan wanita ini dan selalu dia mengalah dan menghindarkan diri sehingga diantara mereka belum pernah secara sungguh-sungguh bertanding untuk membuktikan siapa yang lebih kuat.

"Huh, rayuanmu tidak laku bagiku! Apa engkau ingin berkelahi lagi? Hayo, kulayani disini, bangsat cabul!"

Tantang wanita itu.

"Hushh, jangan main-main kau! Bagaimana kalau benar-benar disini hadir keturunan yang mulia dewa pelindung kita?"

Kini Jai-hwa-cat itu tidak bicara main-main dan kelihatan takut-takut.

Mendengar ini, wajah Maling Cantik itupun agak pucat dan dia memandang kearah kanan kiri dengan matanya yang tajam, dan iapun tidak berani sembarangan membuka mulut lagi.

Bit-bo-ong atau Raja Kelelawar memang amat ditakuti oleh setiap tokoh kaum sesat yang manapun juga.

Biarpun sudah lama sekali dia dikabarkan mati, namun namanya masih ditakuti orang, sehingga Jai-hwa-cat dan Maling Cantik dua orang tokoh sesat dari selatan, juga Tiat-ciang si cebol dari selatan pula, membicarakan namanya saja sudah merasa gentar.

Padahal, sudah bertahun-tahun dikabarkan bahwa datuk itu telah meninggal dunia.

Memang, dahulu ketika masih hidup, Bit-bo-ong merajalela didalam dunia hitam, mengangkat diri sendiri menjadi "maha Raja"

Kaum sesat, berkuasa dengan menggunakan tangan besi.

Siapa saja yang berani menantangnya tentu akan tewas dalam keadaan yang amat mengerikan.

Dan karena Bit-bo-ong ini memiliki ginkang yang luar biasa hebatnya, bahkan kabarnya mengalahkan ahli ginkang Si Tabib Sakti sendiri, maka semua orang gentar kepadanya.

Datang dan pergi seperti iblis yang pandai menghilang saja!

Padahal, Sin-yok-ong atau Tabib Sakti juga dijuluki orang Bu-Eng (Tanpa Bayangan), namun menurut kabar didunia kang-ouw, Puluhan tahun yang lalu pernah Tabib Sakti itu bertanding ginkang dan dikalahkan oleh Raja Kelelawar, walaupun dalam hal ilmu silat, Raja Kelelawar masih belum mampu menandingi Tabib Sakti.

Sebenarnya, bukan ginkang yang membuat Raja Kelelawar itu sedemikian cepat gerakannya melebihi Si Tabib Sakti, melainkan alat-alat ciptaannya sendiri yang dipasangnya pada sepatunya, lalu alat yang berupa sayap disembunyikan didalam jubahnya sehingga dia dapat meloncat dengan bantuan alat seperti per dalam sepatunya dan melayang dengan bantuan alat seperti sayap dibawah jubahnya.

Pertengkaran mulut antara Jai-hwa-cat dan Maling Cantik itu terhenti, akan tetapi tiba-tiba dari atas genteng kuil yang sudah banyak rusak itu melayang turun seorang laki-laki yang bertubuh gemuk pendek.

Biarpun dia tidak secebol Tiat-ciang, akan tetapi dia termasuk orang yang tubuhnya pendek.

"Jangan ribut disini!"

Kata orang yang baru melayang turun dan kedua kakinya sengaja menginjak tanah sampai halaman itu tergetar.

"Kalau mau adu ilmu, tunggu sampai pertemuan ini selesai!"

Orang gemuk pendek itu mengayun-ayun sebatang tongkat besar pendek yang terbuat dari baja putih. Melihat orang ini, Kim-suipoa Tan Sun berbi-sik dengan nada suara gemas, tangannya dikepal.

"Wah, si jahanam ini juga datang?"

Tentu saja Kim-suipoa marah melihat orang ini.

Orang gemuk pendek ini berjuluk Sin-go (Buaya Sakti) dan bernama Mo Kai Ci, seorang bajak tunggal yang luar biasa lihainya, yang malang-melintang disungai-sungai besar, bahkan dipantai-pantai selatan dan timur.

Semua bajak takut kepadanya, dan menjadi buruan pemerintah yang selalu gagal menangkap atau menewaskannya.

Bahkan Kim-suipoa sendiri pernah kehilangan perahu berisi dagangannya ketika dihadang oleh bajak ini dan dia sendiri mengalami luka-luka karena bajak ini menguasai ilmu dalam air yang luar biasa sekali.

para nelayan dan pedagang yang sering mempergunakan perahu untuk mengangkut dagangannya, selalu gelisah kalau-kalau bajak yang tak pernah diketahui tempat tinggalnya yang tetap ini tiba-tiba muncul.

Sin-go Mo Kai Ci memang malang-melintang tanpa tempat tertentu, mengacau dan membajak seenak perutnya sendiri, tanpa memperdulikan daerah kekuasaan para bajak lain.

Pendeknya, dia merupakan seorang tokoh bajak tunggal yang ditakuti orang.

Melihat munculnya orang ini, yang berada didekatnya otomatis surut beberapa langkah.

Mendengar teguran orang ini, si Maling Cantik terkejut dan marah bukan main, akan tetapi iapun mengenal orang.

Kalau saja yang berani mencelanya itu orang lain, tentu sudah dihajarnya sejak tadi.

Akan tetapi ia mengenal betul siapa orang gemuk pendek bertongkat putih yang besar pendek pula itu, maklum bahwa betapapun lihainya, melawan bajak tunggal ini sungguh amat berbahaya.

Ia tahu bahwa dikalangan liok-lim ada tiga orang yang kadang-kadang dinamakan Raja kejahatan dalam hal mencari nafkah.

Mereka bertiga ini sering dinamakan orang Sam-ok (Tiga Jahat), dan mereka mempunyai daerah kekuasaan sendiri, walaupun kadang-kadang, maklum watak orang jahat, merekapun melakukan pelanggaran-pelanggaran wilayah.

Orang pertama dari Sam-ok ini berjuluk Tung-hai-tiauw (Rajawali Laut Timur), seorang bajak laut yang lihai sekali, Raja dari sekalian bajak laut dan mempunyai banyak anak-buah.

Dia sangat kaya raya, dan kapalnya mempunyai bendera bergambar burung Rajawali pada dasar hitam.

Adapun orang kedua adalah Sin-go Mo Kai Ci itulah, seorang bajak sungai yang kadang-kadang suka melanggar wilayah Si Rajawali Lautan Timur, akan tetapi karena dia merupakan bajak tunggal, maka pelanggaran itu tidaklah terlalu menyolok.

Orang ketiga adalah Sanhek-houw (Harimau Gunung Hitam), yang dianggapnya sebagai Raja perampok yang malang-melintang diseluruh daratan, ditakuti oleh kawanan perampok, maling, begal dan copet.

Bahkan juga si Maling Cantik dan Tiat-ciang Ciong Lek perampok selatan itu tidak berani menentang Sanhek-houw yang dianggap Rajanya semua penjahat didaratan.

Pendeknya, Sam-ok adalah tiga orang "raja"

Yang menguasai daerah masing-masing, yaitu seorang dilautan, orang kedua disungai-sungai dan orang ketiga didaratan.

Itulah sebabnya mengapa Pekpi Siauw-kwi atau si Maling Cantik yang biasanya amat kejam dan memandang rendah lawan, kini tidak berani banyak lagak ketika ditegur oleh orang kedua dari Sam-ok.

Ia sendiri termasuk orang yang berada dalam "lindungan"

Sanhek-houw, dan kini ia hanya melirik sana-sini, dengan pandang matanya mencari-cari untuk melihat apakah pelindungnya itu berada disitu.

Kalau disitu terdapat Sanhek-houw, tentu ia berani menentang Sin-go Mo Kai Ci, Karena kalau si jahat penguasa sungai-sungai itu berani mengganggunya, tentu pelindungnya itu akan turun tangan membantunya.

Hatinya kecewa karena tidak melihat bayangan Sanhek-houw.

Tidak mungkin kalau Rajanya penjahat daratan itu sampai tidak menerima undangan, sedangkan golongan yang lebih rendah tingkatnya saja menerimanya.

Mereka yang berada didalam kuil, kini merasa tegang dan diam-diam juga merasa gelisah sekali.

Tak disangkanya bahwa ditempat ini mereka tidak bertemu dengan para anak-buah Lembah Yang-ce, bahkan melihat pertemuan antara golongan-golongan kaum sesat.

Tentu saja mereka merasa gelisah melihat hadirnya begitu banyak orang pandai dari golongan hitam itu, apa lagi hadirnya seorang diantara Sam-ok yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali.

Bagaimanakah para penjahat itu kini berani terang-terangan mengadakan pertemuan, seolah-olah mereka itu "mendapat angin"

Dan menjadi berani? Dan siapakah yang mengundang mereka semua, yang katanya hendak menjadi pemimpin mereka, semacam "Bengcu"

Diantara golongan sesat, menjadi Raja dari dunia hitam?

Dahulu, puluhan tahun yang lalu, memang terdapat Raja dunia hitam, yaitu Bit-bo-ong si Raja Kelelawar, dan setelah Raja itu meninggal dunia, semua golongan menjadi terpecah-pecah kembali, terutama yang sifat pekerjaan mereka berlainan.

Mereka hidup sendiri-sendiri didaerah masing-masing dan tidak saling mengacuhkan, bahkan tidak jarang terjadi bentrokan diantara mereka.

Hal ini tentu saja melemahkan dunia hitam sehingga mereka tidak mampu lagi menahan tentangan para pendekar atau pihak pemerintah.

Inilah sebabnya maka muncul tokoh-tokoh yang berkuasa didalam bidang dan daerah masing-masing, seperti halnya ketiga Sam-ok itu.

Dan kini, pada pagi hari ini, didepan kuil kuno di puncak Bukit Merak Putih itu berkumpul penjahat dari semua golongan, mengadakan pertemuan kembali untuk bersatu padu seperti ketika mereka mempunyai Raja dunia hitam, yaitu Raja Kelelawar dahulu.

Mereka semua datang berkumpul karena diundang oleh seseorang yang mengaku menjadi keturunan Raja Kelelawar yang hendak memimpin mereka kembali.

Benarkah demikian?

Kalau memang benar, alangkah akan gegernya dunia kang-ouw dan hal ini merupakan peristiwa yang amat hebat dan mengancam, baik terhadap para pendekar maupun terhadap rakyat jelata dan juga pemerintah.

Kwee Tiong Li yang biarpun masih muda akan tetapi telah menjadi kokcu atau ketua lembah, dan sebagai murid seorang yang terkenal sebagai seorang Bengcu, pemimpin para pendekar patriot, telah mempunyai pengetahuan luas sekali tentang keadaan didunia kang-ouw.

Maka, ketika dia dalam pengintaiannya itu melihat keadaan para tokoh sesat yang mengadakan pertemuan disitu, sejak tadi dia mengerutkan alisnya dan hatinya merasa terguncang dan gelisah sekali.

Bukan gelisah memikirkan nasib dia dan semua kawannya yang pada saat itu berada didalam kuil sedang diluar kuil berkumpul demikian banyak tokoh sesat yang pandai, melainkan prihatin memikirkan keadaan dunia kalau semua orang jahat itu benar-benar bersatu.

Tentu akan terjadi kemelut didunia persilatan, pikirnya dan teringatlah dia akan penuturan gurunya.

Menurut gurunya, diwaktu dahulu pada jamannya Raja Kelelawar menjadi datuk atau Raja kaum sesat, para pendekar merasa gelisah sekali dan juga berduka mendengar akan kejahatan yang merajalela didunia tanpa dapat berbuat sesuatu.

Sukarlah dicari pendekar yang mampu menandingi Raja Kelelawar!

Hanya ada empat orang saja didunia pada waktu itu yang mampu menandingi Raja Kelelawar.

Mereka berempat itu adalah kedua orang datuk, yaitu Bu-Eng Sin-yok-ong datuk selatan dan Sin-kun butek datuk utara, dan dua orang datuk sesat yaitu Cui-beng Kui-ong pendiri Tai-bong-pai dan Kim-mo Sai-ong pendiri Soa-hu-pai.

Akan tetapi, dua orang datuk putih dan dua orang datuk hitam ini sudah terlampau tinggi kedudukan mereka sehingga mereka tidak pernah mencampuri urusan dunia dengan turun tangan sendiri.

Atau lebih tepat lagi, dua orang datuk golongan putih itu tidak mau mencampuri urusan dunia ramai sedangkan dua orang datuk golongan hitam tidak mengambil pusing dan tidak mau mencampuri urusan Raja Kelelawar walaupun hal ini bukan berarti mereka tidak berani.

Sebaliknya, biarpun merajalela didunia dengan congkaknya, namun Raja Kelelawar selalu menghindarkan bentrokan dengan pihak empat orang datuk itu.

Tentu saja karena empat orang datuk itu tidak mau mencampuri urusannya, Raja Kelelawar malang-melintang didunia kang-ouw dengan leluasa.

Akan tetapi pada suatu hari, Raja Kelelawar melakukan suatu kesalahan besar sekali.

Tanpa disengaja dia bentrok dengan seorang pemuda perkasa dan Raja Kelelawar membunuhnya.

Barulah dia menyesal dan terkejut setengah mati ketika mendengar bahwa pemuda itu bukan lain orang adalah putera dari Sin-kun butek, datuk golongan putih dari utara itu.

Sin-kun butek mendengar akan kematian puteranya, langsung keluar dari tempat pertapaannya, mencari Raja Kelelawar.

Setelah keduanya saling jumpa, tidak dapat dicegah lagi terjadilah perkelahian yang amat hebat, sampai berlangsung semalam suntuk dan akhirnya, hanya karena selisih sedikit saja tingkat kepandaian mereka, Raja Kelelawar terluka parah dan beberapa bulan kemudian dia meninggal dunia dalam keadaan sengsara, tanpa ada seorangpun yang menjaganya.

Demikianlah yang didengar oleh Kwee Tiong Li dari suhunya, oleh karena itu, melihat betapa kini ada orang mengundang semua tokoh penjahat dari tiga daerah kekuasaan itu, darat, sungai dan lautan itu berkumpul disitu dan orang itu mengaku sebagai keturunan Raja Kelelawar, tentu saja hati pendekar ini merasa gelisah sekali.

Apa lagi peristiwa ini muncul pada saat pemerintah dipimpin oleh seorang Kaisar yang lalim seperti Kaisar Cin Si Hong-te!

Sementara itu, keadaan diluar kuil itu menjadi semakin menegangkan.

Jai-hwa Toat-beng-kwi dan Pekpi Siauw-kwi tidak berani membantah ketika Sin-go Mo Kai Ci menegur mereka dan melihat betapa si Maling Cantik itu kelihatan jerih kepadanya, Sin-go Mo Kai Ci yang merasa unggul itu menjadi bangga dan diapun tertawa menyeringai lalu berkata.

"Maling cilik, apakah engkau ingin mengadu kepada Rajamu, si Harimau Hitam Ompong itu? ha-ha-ha!"

Tentu saja ucapan ini sifatnya amat mengejek.

Maling Cantik disebut Maling Cilik, dan Sanhek-houw si Harimau Gunung Hitam dinamakan Harimau Hitam Ompong.

Biarpun jerih terhadap si gendut pendek itu, namun Pekpi Siauw-kwi bukanlah orang penakut.

Penghinaan itu, yang didengarkan oleh banyak orang, apa lagi penghinaan terhadap pelindungnya, si Harimau Gunung, membuat mukanya yang cantik menjadi merah sekali.

Ia mengeluarkan suara mendengus, lalu kembali ia melengking nyaring dan tubuhnya berkelebat cepat.

Melihat gelagat ini, orang-orang lain sudah surut kebelakang.

Wanita cantik itu lalu meloncat cepat dan tangan kanannya menampar kearah kepala Sin-go Mo Kai Ci si Buaya Sakti.

Akan tetapi sambil menyeringai dan memanggul senjata penggadanya yang berat diatas pundak kanan, si Buaya Sakti mengangkat tangan kirinya dan dengan tangan terbuka didorongkan tangan kirinya kearah tubuh wanita yang sedang menerjangnya dari atas itu.

"Ihhh...!"

Maling Cantik menjerit, rambut dan bajunya berkibar tersambar angin pukulan itu dan ia sendiri terpaksa harus berjungkir balik tiga kali kesamping untuk menghindarkan diri dari pukulan jarak jauh yang amat kuat tadi.

Semua orang berseru kagum akan kelihaian tenaga sinkang dari Buaya Sakti dan kelincahan tubuh Maling Cantik itu.

Akan tetapi, segebrakan itu saja sudah cukup untuk dimengerti orang bahwa Maling Cantik akan kalah.

Melihat ini, terpaksa Tiat-ciang Ciong Lek dan Jai-hwa Toat-beng-kwi serentak melompat kedepan.

Tak mungkin mereka berdiam diri melihat Maling Cantik diancam oleh Buaya Sakti.

Boleh jadi mereka berdua kadang-kadang saling gempur sendiri, namun betapapun juga, mereka adalah segolongan, yaitu golongan penjahat daratan.

Kini melihat rekannya terancam oleh Raja bajak sungai tentu saja mereka tidak tinggal diam.

Tiga orang tokoh sesat golongan darat ini sudah siap sedia untuk mengeroyok Buaya Sakti yang masih nampak tenang sambil tersenyum mengejek itu.

"Ciiiittt... cuiitttt... plak-plak-plakk..."

Suara ini terdengar secara tiba-tiba diangkasa.

Semua orang terkejut sekali ketika berdongak dan melihat keangkasa.

Seekor kelelawar raksasa hitam, dengan panjang sayapnya tidak kurang dari satu setengah meter, beterbangan diatas, berputar-putar diatas kuil!

Semua orang yang hadir, baik yang berada diluar maupun yang bersembunyi didalam kuil, belum pernah ada yang bertemu dengan Raja Kelelawar.

Akan tetapi mereka semua sudah mendengar akan ciri-ciri kebesaran datuk junjungan dunia sesat itu.

Menurut keterangan yang mereka peroleh, dahulu Raja Kelelawar selalu berpakaian serba hitam dengan jubah kebesaran yang berwarna hitam pula, jubah hitam yang kabarnya dapat menahan segala macam senjata.

Dipinggangnya terselip dua batang pisau panjang yang gagangnya berbentuk kepala kelelawar.

Pisaunya berwarna kuning keemasan dan gagangnya dihias berpuluh permata berlian sehingga didalam gelap atau terang, gagang itu gemerlapan dan berpijar-pijar.

Sepasang pisau panjang itu kabarnya mengandung racun yang tak dapat disembuhkan dengan sembarang obat, kecuali obat dari Kelelawar Hitam itu sendiri atau mungkin juga hanya Si Tabib Sakti sajalah yang tahu akan obat penawarnya.

Dan ada kabar pula bahwa kemanapun Raja Kelelawar itu pergi, selalu ada seekor kelelawar raksasa yang mengikutinya dari atas.

Tentu saja berita itu hampir merupakan dongeng dan mereka hanya percaya setengahnya saja.

Akan tetapi, setelah kini muncul kelelawar raksasa itu, semua orang saling pandang dan bergidik, bulu roma mereka serentak meremang dan mulailah mereka menduga-duga dengan harap-harap cemas bahwa pengundang mereka itu benar-benar ada hubungannya dengan mendiang Raja Kelelawar Hitam!

Hati semua tokoh dunia sesat yang berada disitu mengikuti gerakan kelelawar yang beterbangan diatas itu.

Bermacam perasaan mengaduk dihati mereka.

Ada rasa gembira karena kalau betul-betul ada keturunan Raja Kelelawar yang hebat seperti Raja Kelelawar itu sendiri, Maka berarti derajat mereka akan terangkat tinggi dan dunia hitam akan memperoleh kejayaannya lagi.

Akan tetapi juga ada semacam rasa takut, karena mereka mendengar bahwa Raja Kelelawar berperangai aneh dan kejamnya tidak lumrah manusia lagi, melainkan seperti setan-setan penjaga neraka!

Sin-go Mo Kai Ci, si Buaya Sakti, Raja dari sekalian orang jahat yang beroperasi disungai-sungai, merasa betapa jantungnya berdebar kencang dan tubuhnya gemetar.

Teringat dia akan pengalamannya sebulan yang lalu.

Dia sedang berperahu diwaktu malam, diSungai Huang-ho.

Kemudian, muncul sesosok tubuh manusia yang hanya nampak sebagai bayangan hitam ditepi sungai.

Bayangan itu mengeluarkan kata-kata yang terdengar seperti bisikan didekat telinganya bahwa dia adalah keturunan Raja Kelelawar!

Kemudian orang itu melemparkan sesuatu yang ternyata adalah sehelai gulungan surat undangan.

Lemparan dilakukan dari tepi sungai dan yang dilemparkan hanya benda yang ringan saja.

Akan tetapi surat itu dapat meluncur sedemikian cepatnya, merobek layar perahu dan menempel ditiang perahu!

kepandaian seperti itu amatlah luar biasa, maka Buaya Sakti ini merasa yakin dan diapun datang ke puncak Merak Putih, memenuhi undangan.

Dan kini, benar saja ada seekor kelelawar raksasa beterbangan ditempat itu.

Semua mata mengikuti gerakan kelelawar itu, Biasanya, kelelawar tidak muncul dipagi hari setelah matahari bersinar terang, karena kabarnya binatang itu tidak dapat melihat diwaktu siang.

Akan tetapi kelelawar itu beterbangan mengitari tempat itu sambil matanya yang mencorong ditujukan kebawah, kepada orang-orang yang memandang ketakutan itu.

Kemudian binatang itu menukik kebawah dan memasuki kelebatan daun siong yang berdiri diujung depan kuil, lalu mencengkeram dahan dan bergantung ditempat itu.

Dahan itu melengkung bergoyang-goyang saking beratnya kelelawar raksasa itu, telinganya yang panjang bergerak-gerak, juga kepalanya bergerak menoleh kekanan kiri dan kadang-kadang moncongnya memperdengarkan suara bercicitan nyaring.

Tiba-tiba terdengar auman suara harimau!

semua orang terkejut mendengar auman nyaring yang tiba-tiba ini, apa lagi karena baru saja hati mereka terguncang penuh kengerian oleh munculnya Kelelawar raksasa.

Akan tetapi Sin-go Mo Kai Ci Buaya Sakti lalu tersenyum sendiri.

Kenapa dia begitu bodoh?

Dia tahu bahwa itu adalah pertanda munculnya tokoh saingannya yang berat, yaitu Sanhek-houw, Raja dunia hitam didarat.

Ditidak perlu merasa takut karena dia maklum bahwa tingkat kepandaiannya seimbang dengan tingkat si Harimau Gunung itu.

Apa lagi, baru saja dia mematangkan ilmunya dengan jalan bertapa sampai tiga bulan lamanya.

Dia berdiri tenang dan meng ambil sikap seenaknya, seolah-olah dia memandang rendah dan bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Tak lama kemudian semua orang yang sudah menoleh kearah datangnya suara auman harimau tadi melihat munculnya bayangan seorang pria yang tinggi besar, mendaki puncak menuju kearah kuil.

Dibelakang orang tinggi besar ini nampak sepasang harimau kumbang berlari-lari mengikuti, jinak seperti dua ekor anjing saja, padahal dua ekor binatang itu besar dan nampak kuat sekali.

Bulunya yang berwarna hitam itu mengkilap karena peluh.

Sebentar saja, orang tinggi besar itu telah berada ditengah-tengah halaman kuil.

Orang-orang agak menjauh melihat dua ekor harimau itu yang melangkah tenang dikanan kiri majikannya, sepasang mata mereka mencorong dan kadang-kadang terdengar geraman lirih dari kerongkongan mereka diikuti bibir yang ditarik naik sehingga nampak taring yang meruncing.

Dua ekor binatang itu nampak ganas dan buas, juga kuat sekali.

Sanhek-houw yang usianya kurang lebih lima puluh tahun dan nampak gagah perkasa itu gelangkah mendekati Maling Cantik, Penjahat Cabul dan Si Tangan Besi yang tadi sudah siap mengeroyok Buaya Sakti itu.

Mereka bertiga kelihatan pucat dan merasa ngeri berhadapan dengan Raja kaum penjahat didaratan ini, karena merekapun tahu betapa galaknya Raja mereka itu.

Tiba-tiba kakek tinggi besar ini menggerakkan lengan kirinya, cepat sekali gerakannya dan tahu-tahu terdengar suara.

"plakk!!"

Dan pipi Maling Cantik telah ditamparnya sampai tubuh wanita itu terhuyung dan hampir terpelanting.

Pek Lian yang mengintai dari dalam, hampir saja berteriak marah menyaksikan kebiadaban si tinggi besar ini, yang tanpa alasan tahu-tahu menampar pipi seorang wanita didepan banyak orang.

Sungguh tidak sopan dan keji sekali.

Akan tetapi setelah ia teringat bahwa mereka semua itu adalah orang-orang dari dunia hitam yang tidak beradab, maka iapun menahan kemarahannya dan hanya mengintai dengan penuh perhatian.

"Kau tadi berkata apa? Berani engkau bicara yang bukan-bukan tentang beliau? Apa lagi engkau, sedangkan aku sendiri saja tidak berani melawannya dan semua orang disini tidak ada yang dapat dibandingkan dengan beliau. Kepandaian kita semua tidak ada sekuku hitamnya. Engkau berani memamerkan ginkangmu? Huh... tidak ada sepersepuluh kepandaian beliau!"

Si Maling Cantik tentu saja merasa malu dan marah sekali, akan tetapi dimarahi oleh Rajanya tentu saja ia tidak berani melawan, apalagi mendengar betapa Rajanya ini memuji-muji pengundang mereka yang mengaku keturunan Raja Kelelawar itu setinggi langit.

Si Buaya Sakti, sebagai Raja dari golongan yang beroperasi disungai-sungai dan merasa menjadi saingan berat dari Sanhek-houw, diam-diam merasa girang dan juga untuk mengejek saingannya, diapun mencela.

"Sudahlah, kaya anak kecil saja ribut-ribut untuk urusan sepele!"

Si Harimau Gunung merasa tersinggung, matanya mendelik marah ketika dia memutar tubuhnya memandang kepada saingannya.

"Kau bilang apa? Coba katakan sekali lagi!"

Dia menantang sambil melangkah maju menghampiri.

Ditantang didepan orang banyak oleh saingannya, tentu saja Si Buaya Sakti menjadi marah juga.

Dia memanggul penggadanya, kakinya memasang kuda-kuda dan diapun mengejek.

"Aku bilang bahwa engkau bukan harimau melainkan kucing! Nah, kau mau apa?"

Tentu saja Sanhek-houw marah sekali dan semua orang yang hadir memandang dengan jantung berdebar dan hati penuh ketegangan. Tentu akan hebat sekali kalau dua "raja"

Ini berkelahi!

Tiba-tiba Sanhek-houw mengeluarkan suara mengaum dari mulutnya, diikuti pula oleh dua ekor harimau kumbangnya itu.

Tangan kanannya bergerak dan dari balik jubahnya yang terbuat dari Pada kulit harimau itu nampak keluar dan dipegang oleh tangannya sebatang rantai panjang yang ujungnya diberi mata tombak yang ada kaitannya dikedua ujungnya, seperti jangkar kecil.

Sin-go Mo Kai Ci si Buaya Sakti juga siap siaga dengan senjata tongkat pendek besar itu tetap dipanggul diatas pundaknya, pandang matanya bersinar dan mulutnya mengejek.

Dia tidak merasa gentar menghadapi musuh bebuyutan ini.

Semua orang sudah memandang dengan hati tegang gembira, mengharapkan untuk dapat menyaksikan perkelahian yang bermutu dan seru.

Akan tetapi, tiba-tiba saja terdengar suara melengking tinggi seperti suara wanita menjerit, mencicit menyakitkan gendang telinga, disambung teriakan penuh wibawa.

"Tahan!!"

Kedua orang tokoh jahat itu terkejut dan jantung mereka berdebar karena mereka mengenal suara itu sebagai ciri khas dari suara si Raja Kelelawar seperti dikabarkan orang dalam dongeng tentang datuk dunia hitam itu.

Didunia kang-ouw terdapat kepercayaan bahwa suara si Raja Kelelawar itu menjadi kecil tinggi dan tajam seperti suara cicitan seekor kelelawar karena ilmunya.

Selagi semua orang, juga kedua jagoan yang sudah berhadapan itu memandang kesana-sini untuk mencari suara tadi, terdengarlah suara itu melanjutkan kata-katanya yang melengking tinggi dan penuh wibawa.

"Aku menghendaki agar kalian semua menjadi satu lagi seperti pada jaman kakekku dahulu, kenapa sekarang belum apa-apa sudah mau saling berhantam sendiri?"

Suara mencicit ini terdengar marah dan aneh, menggetarkan jantung dan mendirikan bulu roma kedua orang tokoh Sam-ok itu.

Dan semua orang juga merasa gentar dan bingung, karena suara itu seolah-olah datang dari segala penjuru dan sukar untuk menentukan dari jurusan mana datangnya.

Inipun merupakan satu diantara ciri khas ilmu ajaib dari si Raja Kelelawar dijaman dahulu, yaitu ilmu sinkang tingkat tinggi yang disebut Pat-hong Sin-ciang (Tenaga Sakti Delapan Penjuru).

Menurut dongeng tentang si Raja Kelelawar, Ilmu Pat-hong Sin-ciang ini amat ditakuti oleh orang-orang didunia persilatan, karena ilmu ini mengandung semacam tenaga sihir yang mujijat.

Seorang lawan yang tidak memiliki sinkang yang amat kuat akan merasa terhimpit oleh suatu tenaga sakti yang datang dari delapan penjuru sehingga membuatnya sukar untuk dapat bergerak.

Apa lagi bertemu pandang dengan sinar mata si Raja Kelelawar yang mencorong seperti mata burung hantu diwaktu malam itu, membuat semua anggauta tubuh terasa lemas dan kehilangan tenaga dan tentu saja lawan yang berada dalam keadaan seperti ini akan amat mudah dirobohkan.

Ho Pek Lian dan kedua orang gurunya, juga Kwee Tiong Li dan ketiga Yang-ce Sam-lo, saling pandang dan bergidik mendengar suara itu.

Sebagai orang-orang yang memiliki tingkat kepandaian tinggi, mereka maklum betapa hebatnya tenaga khikang yang mendorong suara itu.

Suara itu seolah-olah dikeluarkan oleh mulut orang yang berada dekat sekali dengan mereka, akan tetapi entah didepan, dibelakang, atau disamping mereka.

Selagi semua orang, baik yang bersembunyi didalam kuil maupun yang hadir diluar kuil, menengok kesana-sini dan mencari-cari dengan pandang mata mereka untuk menemukan orang yang bersuara tadi, terdengar lagi suara yang bernada tinggi itu, yang ditujukan kepada si Buaya Sakti dan si Harimau Gunung.

"Hayo kalian berdua simpan kembali senjata-senjata kalian itu! Ataukah kalian ingin aku membuangnya?"

Sin-go Mo Kai Ci dan Sanhek-houw adalah dua diantara Sam-ok yang pada waktu itu menganggap diri mereka bertiga sebagai Raja-Raja dari para tokoh sesat didunia hitam.

Kini, didepan sekian banyaknya orang, ada suara yang memerintah mereka, tentu saja kalau mereka mentaati begitu saja, hal ini sungguh membuat mereka kehilangan muka.

Akan tetapi, hati merekapun sudah merasa jerih akan nama Raja Kelelawar yang walaupun belum pernah mereka lihat, namun sudah mereka kenal tanda-tanda dan ciri-ciri khasnya.

Maka, keduanya merasa ragu-ragu, tangan memegang senjata masing-masing dengan kuat dan mata mereka jelilatan mencari-cari orang yang berani mengeluarkan perintah dan memandang rendah mereka itu.

Dan tiba-tiba saja kedua orang tokoh sesat ini terbelalak memandang kedepan, sinar mata mereka tertumbuk dengan sinar mata dingin menyeramkan dari sesosok tubuh yang tiba-tiba saja sudah berdiri disamping si Maling Cantik Pekpi Siauw-kwi!

Saking kagetnya, hampir saja senjata ditangan mereka itu terlepas karena tangan mereka tiba-tiba gemetar keras.

Yang memiliki mata dingin menyeramkan itu bertubuh tinggi kurus dengan jubah dan pakaian hitam mengkilat dari sutera halus.

Inilah gambar si Raja Kelelawar seperti yang pernah mereka dengar dari dongeng!

Pekpi Siauw-kwi sendiri menjadi kaget setengah mati.

Ia terkenal memiliki ginkang yang hebat, akan tetapi kini ia sama sekali tidak mengetahui akan kedatangan iblis ini, yang tahu-tahu berada disampingnya, seolah-olah kemunculannya itu menggunakan ilmu iblis dan pandai menghilang saja.

Iblis berpakaian hitam ini berdiri dekat sekali disampingnya, antara ia dan Jai-hwa Toat-beng-kwi si cabul pesolek.

Tadi ia mengira bahwa yang berdiri dekat sekali dengannya itu adalah si cabul, demikian pula dengan Jai-hwa-cat itu, yang mengira bahwa yang berdiri didekatnya adalah si Maling Cantik.

Maka, setelah kini keduanya mengetahui bahwa si iblis itu yang datang dan berada dekat dengan mereka, keduanya mundur ketakutan dan cepat-cepat menjauh dengan jantung berdebar dan muka pucat.

Dari dalam kuil, tujuh orang pendekar itu memandang dengan penuh perhatian dan mereka semua merasa betapa darah mereka berjalan kencang, jantung mereka berdebar keras.

Dari tempat mereka bersembunyi, mereka dapat melihat jelas.

Iblis itu memang mirip gambaran tentang si Raja iblis itu, pergi datang tanpa suara seperti pandai menghilang, saking tinggi ginkangnya.

Mereka bertujuh sejak tadi selalu memperhatikan keadaan diluar kuil, namun merekapun tidak melihat datangnya Raja Kelelawar itu, tahu-tahu tokoh itu sudah muncul disitu.

Sementara itu, melihat kekiri, kearah Pekpi Siauw-kwi yang mundur-mundur ketakutan, iblis berpakaian hitam itu tertawa.

Suara ketawanya juga bernada tinggi, seperti suara ketawa wanita lalu terdengar suaranya yang berwibawa, memerintah.

"Anak manis, kesinilah engkau!"

Tangannya menggapai kearah maling wanita yang memang berwajah cantik manis itu.

Pekpi Siauw-kwi adalah seorang wanita tokoh kaum sesat yang sudah lama malang-melintang didunia kejahatan sebagai maling tunggal dan ia tidak pernah takut terhadap siapapun juga.

Akan tetapi sekali ini, seperti seorang anak kecil melihat sesuatu yang menakutkan, ia mundur-mundur dan menggeleng-geleng kepala sebagai tanda bahwa ia tidak mau mendekati iblis itu, matanya terbelalak dan mukanya agak pucat.

Menghadapi penolakan si Maling Cantik, iblis itu mengerutkan alis dan sinar matanya berkilat, lalu dia menggerakkan lengannya kearah wanita itu dan biarpun kakinya tidak kelihatan melangkah, tahu-tahu dia telah berada dekat wanita itu.

Pekpi Siauw-kwi mencoba untuk mengelak dan me.

loncat untuk menghindarkan diri.

Akan tetapi, tiba-tiba saja ia merasa ada tenaga aneh menghimpitnya dari semua penjuru, yang membuatnya sukar untuk bergerak.

Ketika matanya yang ketakutan itu memandang dan bentrok dengan sinar mata iblis itu, tenaganya mendadak menjadi lemas dan tubuhnya terkulai.

Dilain saat tubuhnya sudah dirangkul oleh si iblis yang menggunakan jari-jari tangannya untuk menggerayangi tubuh yang gempal padat itu tanpa si Maling Cantik dapat mencegah sama sekali.

Ia hanya menangis ketakutan setengah mati.

"Ha-ha, engkau boleh juga..., engkau tidak merusak tubuhmu... hemm, manis!"

Si iblis mencium kulit yang putih itu dan si Maling Cantik menggigil, seluruh bulu tubuhnya meremang.

Tiat-ciang Ciong Lek, perampok tunggal yang tubuhnya kekar dan tidak berbaju itu merasa panas isi perutnya melihat betapa rekannya dihina seperti itu.

Tadinya dia sendiripun merasa takut dan jerih terhadap si iblis, akan tetapi melihat betapa rekannya mengalami penghinaan, hatinya terbakar dan sesaat dia lupa akan rasa takutnya.

Dia mengeluarkan suara menggeram dan bagaikan seekor singa menerkam, dia sudah menggerakkan golok besarnya dan meloncat terus membacokkan golok besarnya itu kearah punggung iblis yang masih menggerayangi dan menciumi si Maling Cantik itu.

Si iblis itu diam saja dan agaknya tidak melihat serangan ini, sedikitpun tidak mengelak atau menangkis, masih menciumi kulit leher yang lunak itu.

Semua orang yang melihat serangan ini menahan napas.

"Singgg... Dukkk!!" (Lanjut ke

Jilid 05) Darah Pendekar (Seri ke 01 -Serial Darah Pendekar) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo Bahan Cerita . Sriwidjono

Jilid 05 Bacokan golok yang berdesing itu tepat mengenai punggung yang tertutup mantel hitam, membacok dengan kuat sekali, akan tetapi golok itu mental dan mantel itu sedikitpun tidak robek, apa lagi punggungnya.

Agaknya terasapun tidak oleh si iblis itu.

Tentu saja semua orang, termasuk mereka yang bersembunyi didalam kuil, terkejut, kagum dan gentar sekali menyaksikan kehebatan iblis itu.

Kiranya, iblis inipun menggunakan mantel pusaka yang menurut dongeng memang kebal terhadap segala macam senjata.

Kembali terbukti ciri khas dari si Raja Kelelawar!

Setelah bacokan itu mental, barulah iblis itu menoleh dan melepaskan tubuh Maling Cantik yang tadi dipeluknya.

Wanita cantik itu terhuyung dan kedua kakinya masih terasa lemas, akan tetapi semangatnya pulih kembali setelah ia dilepaskan dan ia hanya dapat memandang jerih.

Kini Tiat-ciang Ciong Lek yang berdiri seperti terpesona memandang iblis itu dan dia bergidik melihat betapa sepasang mata yang mencorong itu dingin sekali terasa menusuk jantungnya.

Biarpun iblis itu tidak membuka mulutnya, akan tetapi terdengar ada suara siulan dari bibirnya.

Siulan ini dijawab oleh suara mencicit dan kelepak sayap.

Ternyata binatang kelelawar raksasa yang tadi bergantung didahan pohon, sudah terbang keatas lalu menukik kebawah, kearah si perampok tunggal Ciong Lek!

Perampok ini tentu saja cepat menggerakkan goloknya untuk melakukan perlawanan, akan tetapi tiba-tiba saja dia tidak mampu bergerak goloknya masih diangkatnya tinggi-tinggi dan tubuhnya seperti mendadak menjadi kaku.

Kelelawar raksasa itu meluncur dan menyambar.

"Plokk!"

Kelelawar itu menerkam kearah leher si perampok tunggal, mencengkeram leher itu sebentar dan ketika binatang ini terbang lagi, nampak darah menyembur keluar dari urat nadi leher yang putus tergigit dan terhisap oleh kelelawar itu!

Si perampok tunggal Tiat-ciang Ciong Lek terbelalak, lalu terdengar lehernya mengeluarkan pekik mengerikan dan tubuhnya terguling dan roboh atas tanah, berkelojotan sebentar lalu terdiam karena darahnya habis, sebagian terhisap kelelawar itu dan sebagian lagi membanjir keluar.

Semua orang memandang dengan mata terbelalak dan muka pucat.

Kembali si iblis mengeluarkan suara ketawa yang menyeramkan, ketawanya mencicit seperti bunyi kelelawar atau bunyi tikus-tikus bercanda.

"Masih ada lagi yang meragukan kemampuanku dan ingin melawanku?"

Terdengar dia bertanya sambil memandang kesekeliling.

Tidak ada yang berani menjawab biarpun yang hadir adalah tokoh-tokoh dunia hitam yang biasanya sewenang-wenang dan tidak mengenal takut.

Agaknya, nama Raja Kelelawar sudah sedemikian besar pengaruhnya, ditambah kekejaman iblis ini yang mengaku sebagai keturunan Raja Kelelawar, juga kelihaiannya membuat semua orang maklum bahwa mereka berhadapan dengan orang yang pandai sekali.

Sin-go Mo Kai Ci si Buaya Sakti dan Sanhek-houw si Harimau Gunung adalah dua diantara Sam-ok yang dianggap merajai para anggauta liok-lim dibidang masing-masing.

Selama ini, mereka bertigalah yang berdaulat penuh dan dita-kuti semua penjahat, balikan kalau diantara penjahat timbul pertikaian, mereka inilah yang dianggap berhak untuk mengadili dan menjatuhkan keputusan.

Kini muncul si iblis yang mengerikan, dan tentu saja kalau iblis ini hendak mengangkat diri sendiri menjadi datuk kaum sesat, hal ini sama dengan merendahkan nama Sam-ok sebagai Raja-Raja kaum sesat.

Akan tetapi, mereka berdua adalah orang-orang yang berilmu tinggi dan yang dapat melihat bahwa iblis yang baru muncul ini memang hebat bukan main.

Si Buaya Sakti dan si Harimau Gunung yang tadi hampir saja berhantam sendiri kini saling pandang dan dari pandang mata ini mereka sudah bersepakat untuk bersama-sama menghadapi pendatang baru yang mengancam kedudukan mereka ini.

Sanhek-houw lalu melangkah maju dan rantai yang ujungnya bertombak itu telah diiilitkannya dipinggang.

Dia membungkuk sebagai tanda penghormatan, lalu berkata, suaranya lantang agar terdengar oleh semua tokoh yang hadir.

"Kami semua tentu saja mengenal nama mendiang yang mulia Bit-bo-ong dan menganggap beliau sebagai datuk atau Raja kami yang kami muliakan. Akan tetapi, terus-terang saja, kami semua belum pernah mendengar akan adanya murid atau keturunan beliau, dan bukan sekali-kali kami berani menentang keturunan beliau. Hanya kami mohon petunjuk apakah benar bahwa Lo-cianpwe adalah keturunan beliau. Kalau memang benar demikian dan kalau memang benar bahwa diantara kami semua tidak ada yang dapat mengatasi kepandaian Lo-cianpwe, tentu saja kami semua akan tunduk dan dengan suka hati mengangkat Lo-cianpwe sebagai keturunan beliau dan menjadi Raja baru kami."

Semua orang mengeluarkan suara menggumam menyatakan persetujuan mereka.

Si iblis hitam tertawa.

Wajah yang nampak angker itu tidak bergerak kulitnya, tanda bahwa diluar kulit muka itu dia memakai topeng tipis sehingga mudah diduga bahwa wajah yang menyeramkan ini bukanlah wajah yang sesungguhnya yang berada dibalik topeng tipis.

"Ha-ha-ha, omonganmu memang benar, Sanhek-houw. Dan untung engkau berpendapat demikian, karena kalau tidak, tentu ketiga Sam-ok akan kubunuh lebih dulu. Aku tahu bahwa Tung-hai-tiauw si Rajawali, Sin-go Mo Kai Ci si Buaya Sakti, dan engkau sendiri Sanhek-houw si Harimau Gunung, merupakan Sam-ok, tiga serangkai yang merajai bidang masing-masing diPegunungan, sungai-sungai, dan lautan. Karena kalian memandang kepadaku maka akupun suka mengangkat kalian meniadi pembantu-pembantuku Dan untuk membuktikan bahwa aku adalah keturunan dari Bit-bo-ong, biarlah kalian berdua maju menandingiku. Dengar baik-baik. Kalau dalam sepuluh jurus aku tidak mampu mengalahkan kalian berdua, biarlah aku menarik kembali omonganku dan aku tidak akan mencampuri dunia kalian. Akan tetapi kalau aku menang, siapapun yang berani membantah akan kubunuh. Mengerti? Nah, kalian majulah! Jangan takut, aku tidak akan Membunuh calon pembantu-pembantuku!"

Ucapan ini sungguh tekebur bukan main.

Sam-ok terkenal memiliki ilmu kepandaian tinggi, dan sekarang, dua orang diantara mereka ditantang oleh si iblis untuk dikalahkannya dalam waktu sepuluh jurus saja!

Si Buaya Sakti dan si Harimau Gunung juga saling pandang dan muka mereka menjadi merah karena merasa marah dan penasaran sekali.

Iblis ini sungguh sombong, dan lebih dari itu, kalau sampai mereka berdua yang mengeroyok seorang sampai kalah dalam sepuluh jurus sungguh hal ini akan membuat mereka merasa malu sekali.

"Baiklah, Lo-cianpwe. Kami mohon petunjuk untuk meyakinkan hati kami semua!"

Kata si Hari-mau Gunung yang sudah melolos rantai dari pinggangnya sedangkan si Buaya Sakti juga sudah melangkah maju dengan melintangkan senjata tongkat bajanya didepan dada.

"Bagus, majulah. Aku akan memberi kesempatan kepada kalian untuk masing-masing menyerangku selama lima jurus, baru kemudian aku membalas, dan kalau kalian dapat bertahan sampai tiga jurus saja sudah boleh dibilang bagus!"

Kata si iblis itu dan ini menambah kesombongannya.

"Lihat serangan!"

Si Buaya Sakti berteriak marah.

Biasanya, dalam dunia hitam tidak berlaku segala macam aturan sopan-santun, bahkan biasanya mereka itu melakukan serangan secara menggelap, maka bentakan si Buaya Sakti ini merupakan suatu keanehan.

Hal ini menunjukkan bahwa biarpun dia marah, pada hakekatnya si Buaya Sakti ini merasa jerih sekali maka dia mengeluarkan seruan yang dikalangan persilatan, terutama dikalangan para pendekar, sudah menjadi lajim, yaitu sebelum menyerang, memberi peringatan lebih dulu kepada yang diserang, sebagai tanda kegagahan.

Senjata tongkat pendek besar dari baja putih itu amat berat dan kini digerakkan dengan cepat sekali, membuktikan besarnya tenaga si Buaya Sakti itu.

Tongkatnya menjadi sinar putih yang besar menyambar kearah kepala si iblis berpakaian hitam, dan tangan kiri si Buaya Sakti masih menyusulkan cengkeraman kearah pusar.

Serangan pertama ini sungguh merupakan serangan dahsyat sekali dan dapat mendatangkan maut.

Sanhek-houw si Harimau Gunung lebih cerdik.

Melihat rekannya sudah menyerang, dia menggunakan kesempatan ini untuk menggerakkan rantainya dan nampak sinar bergulung-gulung ketika rantainya itu membuat serangan dari kanan kekiri, dari bawah menyerang kaki lalu terus membubung keatas, merupakan serangan sinar berpusing yang berbahaya dan sukar sekali dielakkan lawan!

"Satu jurus!"

Terdengar suara melengking dari si iblis hitam, akan tetapi hanya suaranya saja yang terdengar oleh dua orang lawan dan oleh semua orang itu, karena dua orang lawan itu telah kehilangan orangnya!

Kiranya, dengan menggunakan ginkang yang sukar dapat diikuti oleh mata saking cepatnya, begitu serangan menyambar, tubuh si iblis itu telah mencelat keatas sehingga serangan rantai itu tidak mengenai sasaran bahkan kehilangan sasaran dan tahu-tahu kaki si iblis itu telah berada diujung tongkat baja putih yang tadi dipergunakan oleh Buaya Sakti untuk menghantam kepalanya!

Memang sukar dapat dipercaya kalau tidak dilihat sendiri betapa orang yang kepalanya dise-rang, tahu-tahu sudah berada diatas dan berdiri diatas tongkat yang tadi menghantam kearah kepala itu.

Ketika si Buaya Sakti hendak menggerakkan tongkatnya, tiba-tiba saja tongkat yang diinjak kaki iblis itu menjadi berat dan hampir saja dia tidak kuat menahan lagi.

Akan tetapi tiba-tiba iblis hitam itu telah meloncat turun lagi sambil tersenyum.

Dua orang itu merasa penasaran sekali dan mereka lalu menubruk maju lagi dengan serangan berganda yang lebih dahsyat lagi.

Kini rantai itu mengeluarkan suara meledak-ledak dan menghantam dari atas dengan lecutan yang membuat ujungnya berbentuk tombak berkait itu menyambar-nyambar kearah kepala si iblis hitam, sementara itu, tongkat pendek yang berat itupun sudah menyodok kearah perut.

"Dua jurus!"

Kembali terdengar si iblis hitam berseru dan sekali ini dia tidak mendemonstrasikan kelincahan gerakannya melainkan ketangkasan kedua tangannya.

Tangan kirinya bergerak keatas dan tangan kanan bergerak kebawah dan dengan tepat sekali kedua tangan terbuka itu telah menangkis dua senjata itu.

"Plakk! Plaakkk!"

Dua orang Raja para penjahat itu berseru kaget karena mereka merasa betapa tangan mereka menjadi panas dan nyeri sekali, sedangkan sebelah lengan yang memegang senjata terasa seperti lumpuh.

Akan tetapi hal ini hanya sebentar saja dan lenyap setelah si iblis itu menarik kembali tangannya sambil tertawa dan dia sudah siap lagi menghadapi serangan kedua orang itu.

Dua orang itu kini menggunakan kecepatan, memutar-mutar senjata mereka menjadi bentuk sinar bergulung-gulung lalu keduanya menyerang dengan cepat.

Dan kembali si iblis memperlihatkan bahwa gerakannya jauh lebih cepat dari pada kedua senjata itu, tubuhnya lenyap berkelebatan seolah-olah dia dapat menyusup diantara gulungan sinar kedua senjata itu sambil terus menghitung jurus-jurus penyerangan lawan sampai lima kali dan kedua senjata itu tidak pernah dapat menyentuh ujung bajunya sekalipun!

Setelah lewat lima jurus, tiba-tiba iblis hitam itu tertawa melengking disambung suaranya yang terwibawa.

"Awas terhadap seranganku!"

Dan tiba-tiba saja dua orang Raja penjahat itu menjadi bingung dan silau karena tubuh hitam itu berkelebat sedemikian cepatnya sehingga mereka tidak tahu kemana arah penyerangan lawan aneh ini.

"Jurus pertama!"

Kata Raja iblis itu dan dua orang lawannya menggerakkan senjata mereka untuk menangkis dan melindungi diri.

Akan tetapi tiba-tiba saja tangan yang memegang senjata terasa lumpuh dan mereka melihat sepasang mata, yang mencorong penuh wibawa, membuat mereka menjadi lemas seketika dan iblis hitam itu hanya sekali menggerakkan kaki, akan tetapi kaki itu sudah dua kali menendang dan tubuh kedua orang itu terlempar sampai tiga tombak kebelakang dan terbanting keras!

Untung bahwa si iblis tidak mempergunakan tenaga sinkang ketika menendang sehingga dua orang itu tidak terluka parah, hanya babak bundas saja karena terbanting tadi.

Mereka bangkit berdiri, hampir tidak percaya kalau tidak mengalami sendiri.

Mereka telah dirobohkan dalam satu jurus saja!

Akan tetapi mereka bukanlah orang-orang bodoh dan mereka sudah yakin kini bahwa orang berpakaian hitam didepan mereka itu memang memiliki ilmu kepandaian, yang muji-jat sekali dan sudah selayaknya kalau menjadi Raja mereka semua.

Maka mereka berdua lalu menjatuhkan diri berlutut, menghadap iblis hitam itu!

Melihat perbuatan dua orang yang selama ini mereka anggap sebagai Raja, tentu saja para tokoh liok-hm yang hadir disitu terkejut bukan main dan satu demi satu merekapun lalu menjatuhkan diri berlutut, termasuk si Maling Cantik Pekpi Siauw-kwi dan si penjahat cabul Jai-hwa Toat-beng-kwi!

"Ha-ha-ha-ha!

Bagus sekali kalau kalian sudah mengakui aku sebagai Raja kalian!

Jangan khawatir, seperti yang telah dilakukan oleh kakekku dahulu, aku akan memimpin kalian dan dunia hitam kita akan menjadi jaya kembali!"

Mendengar ini, semua penjahat yang berkumpul disitu bersorak gembira. Iblis hitam itu mengangkat lengan kanannya keatas dan suara berisik mereka itu tiba-tiba sirap dan berhenti sama. sekali.

"Dan aku tetap melanjutkan julukan kakekku, yaitu Bit-bo-ong dan kalian semua harus menyebut ongya kepadaku!"

Kembali mereka bersorak dan ketika ada yang berteriak.

"Hidup ong-ya...!"

Maka mereka semua juga ikut berteriak-teriak.

Akan tetapi kembali Raja Kelelawar itu mengangkat tangan kanannya keatas dan semua orang terdiam kembali.

Dengan muka kelihatan marah Raja Kelelawar atau Bit-bo-ong itu menoleh kearah kuil dan terdengar suaranya yang melengking tinggi.

"Siapa berani tidak berlutut kepadaku? Kalian yang berada didalam kuil, tidak lekas keluar?"

Raja Kelelawar lalu menggerakkan tangannya sambil melangkah mendekati kuil, kedua tangannya mendorong dan terdengar suara keras ketika sebagian dari dinding kuil tua itu ambruk mengeluarkan suara gemuruh dan debu mengebul keatas!

Tentu saja Pek kian dan enam orang lainnya terkejut bukan main.

Kiranya iblis itu telah mengetahui bahwa didalam kuil ada orangnya dan kalau tadi iblis itu tidak turun tangan adalah karena mengira bahwa mereka juga anggauta dunia hitam.

Setelah semua orang berlutut dan hanya mereka yang bersembunyi itu saja yang tidak, agaknya barulah iblis itu tahu dan menegur.

Tentu saja tujuh orang yang bersembunyi didalam menjadi terkejut dan karena mereka tahu bahwa tempat persembunyian mereka telah diketahui orang, maka terpaksa mereka lalu keluar dari pintu kuil, apa lagi karena sebagian tembok dan atap telah ambruk dan tadi terpaksa mereka harus berloncatan menghindar dan kini mereka semua keluar.

Kwee Tiong Li yang biarpun masih lemah dari belum pulih kembali tenaganya, merasa bahwa dialah yang menjadi pemimpin dan bertanggung jawab, cepat maju dan memberi hormat kepada Bit-bo-ong atau Raja Kelelawar.

"Harap Lo-cianpwe sudi memafkan kami yang tidak sengaja hendak mengintai. Kami hanya kebetulan berada didalam kuil, lama sebelum Lo-cianpwe dan para saudara datang berkumpul diluar kuil."

Sepasang mata Raja Kelelawar yang mencorong itu menyapu tujuh orang yang keluar dari dalam kuil, alisnya berkerut dan jelas bahwa dia merasa tidak senang hatinya.

"Kenapa kalian bersembunyi dan tidak keluar?"

Bentaknya.

"Maaf, Lo-cianpwe, kami merasa sebagai orang luar maka kami tidak berani mengganggu"

"Siapakah kalian?"

"Kami... kami hanya pelancong-pelancong yang kemalaman disini"

Pemuda itu tidak mau memperkenalkan diri mereka.

"Dia itu Kim-suipoa!"

Tiba-tiba berteriak seorang, diantara para penjahat yang mengenal pendekar tua itu.

"Dan itu dia Pek-bin-houw!"

Teriak seorang lain. Mendengar disebutnya dua nama ini, tiba-tiba Raja Kelelawar tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha, kiranya hanya kaum pemberontak hina? Kalian sudah mengintai kami, harus mampus semua!"

Dan diapun lalu mendorongkan tangannya yang sakti kearah Kwee Tiong Li!

Pemuda ini terkejut.

Dia masih belum memperoleh kembali tenaganya dan sedapat mungkin dia meloncat kekiri untuk menghindarkan diri.

Akan tetapi tetap saja angin pukulan itu menyambar dan diapun terguling dan jatuh terduduk dibawah pohon depan kuil.

Sambil tertawa Raja Kelelawar melangkah dan hendak memukul, akan tetapi pada saat itu, Yang-ce Sam-lo tentu saja sudah meloncat kedepan dan menyerangnya untuk menolong ketua rnereka.

"Dessss...!!"

Raja Kelelawar mengibaskan tangannya menyambut mereka dan tiga orang Yang-ce Sam-lo yang lihai itupun terlempar dan terbanting jatuh semua! "Manusia iblis!"

Tiba-tiba Pek Lian sudah menerjang dengan pedangnya.

"Cringg...!"

Pedang itu disampok oleh tangan Raja Kelelawar dan terlepas dari pegangan Pek Lian, dan sebelum Pek Lian mampu mengelak, pergelangan tangan kanannya telah dipegang oleh tangan kanan Raja Kelelawar!

Melihat ini, Kim-suipoa dan Pek-bin-houw segera menerjang maju untuk menolong, akan tetapi Raja Kelelawar menggerakkan kakinya dan dua orang itupun terlempar dan terbanting jauh!

"Heh-heh-heh, ternyata engkau cantik sekali lebih cantik dan manis dibandingkan Maling Cantik.

ha-ha-ha, dan engkau masih perawan.

Bagus...!"

Pek Lian yang dipegang pergelangan tangan kanannya meronta dan hendak memukul dengan tangan kirinya, akan tetapi ketika dia bertemu pandang dengan iblis itu, tiba-tiba kepalanya terasa pening dan tenaganya menjadi lemas dan habislah semangat melawannya.

Iblis itu menariknya dan agaknya hendak mencium, akan tetapi pada saat itu terdengar suara ketawa perlahan dan lembut dari dalam kuil.

Mendengar suara ketawa halus yang mengandung getaran sampai terasa oleh jan-tungnya itu, Raja Kelelawar terkejut dan mengangkat muka memandang.

Tiba-tiba dari dalam kuil muncul seorang kakek berjenggot putih yang memegang sebatang tongkat butut.

Orang tua ini mengangkat tangan kirinya keatas dan berkata kepada Raja Kelelawar.

"Heh-heh-heh, nama Raja Kelelawar terlalu besar dan gagah untuk dirusak oleh perlakuan rendah terhadap seorang nona muda. Raja Kelelawar, kalau memang engkau gagah, lepaskan nona muda itu!"

Raja Kelelawar sejenak meragu dan dia memandang penuh perhatian.

Seorang kakek tua yang sederhana saja, dengan jubah seperti pertapa dan tubuhnya agak kecil, akan tetapi ketika bertemu pandang mata dengan kakek itu, Bit-bo-ong baru ini terkejut melihat sepasang mata tua itu berkilat-kilat sebagai pertanda bahwa kakek itu bukan orang sembarangan.

Dan kakek itu memang cerdik, menantangnya untuk melepaskan gadis itu sebagai orang gagah sehingga kalau tidak dilepaskannya, sama saja mengakui bahwa dia bukan orang gagah!

Maka didorongnya Pek Lian sehingga gadis itu terjengkang, hampir menimpa tubuh Tiong Li yang masih rebah diatas tanah.

Kakek itu lalu berkata kepada Pek Lian.

"Nona, lekas bantu dia dan menjauhlah dari sini..."

Pek Lian, dibantu oleh Yang-ce Sam-lo dan juga oleh dua orang gurunya yang sudah datang Mendekat, lalu memapah Tiong Li menjauhi Raja Kelelawar yang kini sama sekali tidak lagi memperdulikan mereka, melainkan menghadapi kakek bertongkat itu dengan sinar mata tajam.

Dia tahu bahwa kakek ini adalah orang yang pandai sekali dan dia dapat menduga bahwa sekali ini dia akan menghadapi lawan yang amat tangguh.

Dia sama sekali tidak merasa gentar.

Tidak ada apapun didunia ini yang dapat membuatnya merasa takut.

Akan tetapi, didepan semua tokoh sesat dimana baru saja dia diangkat sebagai Raja-di-raja, dia harus dapat cepat menundukkan orang ini yang dianggap sebagai musuh pertama yang melintang dijalan.

Kalau tidak, hal itu tentu akan menurunkan martabatnya yang telah terangkat tinggi sejak kemunculannya tadi.

"Orang tua, dengarlah baik-baik. Kalau engkau bisa menandingi ilmuku, maka tujuh orang itu akan kubebaskan. Kalau engkau tidak mampu, mereka semua dan engkau juga akan kubunuh disini!"

Suara yang melengking tinggi itu terdengar mengerikan sekali.

Mendengar ini, Tiong Li, Pek Lian dan lima orang tua terkejut bukan main.

Mereka kini dapat menduga bahwa suara batuk-batuk yang pernah mereka dengar tanpa melihat orangnya, tentulah kakek bertongkat ini yang melakukannya, untuk memberi peringatan kepada mereka akan bahaya yang mengancam dari para orang sesat yang berkumpul diluar kuil.

Akan tetapi kakek itu nampak tenang-tenang saja bahkan lalu terkekeh, kelihatan girang sekali.

"Heh-heh, benarkah begitu? Ah, terimakasih terimakasih! Akan tetapi, kalau engkau meman benar keturunan Raja Kelelawar, ilmu yang manakah yang harus kutandingi? Sejak muda sudah kudengar bahwa Raja Kelelawar memiliki beberapa ilmu simpanan yang diandalkan, yaitu antara lain Ilmu Bu-Eng Hwee-teng (Loncat Terbang Tanp Bayangan) yang merupakan ginkang yang ama hebat, Ilmu Kim-liong Sin-kun (Silat Sakti Nag Emas) yang merupakan ilmu silat yang amat tinggi mutunya, dan Ilmu Pat-hong Sin-ciang (Tangan Sakti Delapan Penjuru) yang merupakan gabungan sinkang dan sihir! Yang manakah diantaranya yang harus kuhadapi? Kalau harus menghadapi semuanya, wah, wah, terus-terang saja aku yang tua ini tidak akan mampu menandinginya! Mendengar ucapan itu, Raja Kelelawar merasa bangga dan girang sekali karena ucapan itu mengandung pujian-pujian terhadap ilmu-ilmunya yang didengarkan oleh sekian banyaknya orang sehingga derajatnya makin menaik. Akan tetapi diapun sadar bahwa kakek bertongkat yang telah mengenal ilmu-ilmu simpanan dari perguruannya ini jelas adalah seorang yang amat lihai. Dia harus berhati-hati. Orang selihai ini tidak boleh dihadapi dengan sembrono. Kalau sampai dia dikalahkan didepan semua anak-buahnya, tentu namanya akan runtuh. Dan diapun tidak mempunyai permusuhan. Sementara itu orang-orang yang tadinya bersembunyi didalam kuil memandang dengan hati diliputi ketegangan, terutama sekali Pek Lian dan kawan-kawannya yang mengerti bahwa nyawa mereka seolah-olah tergantung kepada kakek bertongkat itu! "Hemmm kalau aku harus melayani ilmumu Pat-hong Sin-ciang, tentu saja aku akan kalah karena aku sudah tua dan sudah puluhan tahun tak pernah berkelahi. Kalau melawan Kim-liong Sin-kun, biarpun aku tidak akan kalah akan tetapi akupun sukar untuk bisa menang. Maka biarlah aku akan mencoba ilmu kesaktian Raja Kelelawar yang pertama tadi, yaitu Bu-Eng Hwee-teng yang kabarnya hebat sekali itu."

Semua orang, terutama sekali Tiong Li dan kawan-kawannya, terkejut bukan main mendengar ucapan kakek itu. Bahkan diantara para tokoh sesat yang hadir disitu, ada yang tertawa cekikikan.

"Kek-kek-kek! Tua bangka ini sudah bosan hidup!"

Jai-hwa Toat-beng-kwi terkekeh dan mengejek.

"Hi-hik, biar melawankupun takkan menang apa lagi mengadu ginkang melawan ong-ya,"

Kata Pekpi Siauw-kwi si Maling Cantik.

Kaum sesat adalah orang-orang yang tidak memperdulikan kesopanan dan tidak menghiraukan peraturan, maka biarpun mereka itu amat takut dan takluk terhadap Bit-bo-ong si Raja Kelelawar, namun tetap saja mereka itu bersikap sembarangan dan tidak memakai aturan.

Dan Pekpi Siauw-kwi si Maling Cantik sudah menyebutnya ong-ya, sebutan untuk Raja, pangeran atau juga biasanya untuk menyebut "raja"

Diantara mereka.

Sebutan yang sifatnya menjilat, bukan penghormatan dan penjilatan mengandung rasa takut.

Memang pilihan kakek itu amat menggelikan disamping mengejutkan.

Hanya orang yang miring otaknya sajalah yang untuk mengadu ilmu melawan Raja Kelelawar memilih adu ilmu ginkang.

Sama saja dengan bunuh diri, seperti ular mencari penggebuk.

Seluruh dunia sudah mendengar bahwa diantara sekian banyak ilmunya yang mujijat, ilmu meringankan tubuh inilah justeru yang sangat diandalkan dan dibanggakan oleh mendiang Raja Kelelawar tua dahulu dan ilmu itu telah mengangkat namanya setinggi langit.

Dunia kang-ouw menganggap bahwa sukar dicari orang yang akan mampu menandingi Bu-Eng Hwee-teng, ilmu "terbang"

Dari Raja datuk kaum sesat itu.

Sebaliknya, ilmunya yang lain, ilmu silatnya dan ilmu sinkangnya, masih dapat ditandingi oleh para tokoh kang-ouw yang sakti.

Dan sekarang, kakek itu memilih ilmu yang hebat itu untuk menandinginya.

Gilakah kakek ini?

Ataukah memang disengaja untuk menguji kebenaran pengakuan iblis hitam itu bahwa dia benar-benar keturunan mendiang manusia iblis Raja Kelelawar?

Si iblis itu sendiri juga merasa amat heran dan terkejut.

Dia memandang bimbang.

Benarkah kakek ini ingin menghadapi ilmu ginkangnya yang tak pernah bertemu tanding itu?

Semenjak dia mempelajari ilmu warisan dari Baja Kelelawar, justeru ilmu itulah yang dipelajarinya secara sempurna karena dia tahu bahwa ilmu ginkang Bu-Eng Hwee-teng itu sukar dicari bandingannya didunia persilatan.

Apakah kakek ini sudah putus asa ataukah gila, ataukah justeru orang ini malah merasa yakin akan dapat mengatasi ilmu itu?

siapakah orang ini?

Dia harus waspada karena pilihan yang aneh ini menimbulkan kecurigaan dan mungkin saja mengandung sesuatu didalamnya.

Bagaimanapun juga, dia amat percaya akan kemampuannya sendiri dalam hal ginkang dan selama ini belum pernah ada orang yang mampu menandingi ilmunya.

Kakek itu sendiri, seorang kakek sederhana saja, agaknya maklum bahwa lawannya merasa bimbang atau memandang rendah dan semua orang mentertawakan dirinya, maka diapun tertawa sambil mengangkat muka memandang kelangit.

"Ha-ha-ha-ha! Kenapa kalian semua heran! mendengar aku ingin menghadapi Bu-Eng Hwee-teng, ilmu yang amat tersohor dari mendiang Raja Kelelawar... eh, yang lama itu? Dengarlah kalian semua, aku sejak kecil pertama kali mempelajari ilmu silat adalah tentang ginkang ini. Sebelum belajar silat yang lain aku lebih dulu belajar ilmu meringankan tubuh! Ini penting sekali, karena aku dapat berlari cepat dan kalau kalah berkelahi, aku dapat mengandalkan ginkang ini untuk melarikan diri dan aman! ha-ha-ha!"

Semua orang tertawa, mentertawakan kakek pikun yang mereka anggap sudah tidak waras otaknya ini.

Melihat suasana yang tadinya begitu terpengaruh oleh kehadirannya sehingga semua orang nampak serius dan takut kini menjadi hambar oleh suara ketawa mereka karena ulah kakek ini, Raja Kelelawar menjadi marah.

Dengan angkuh dia berkata.

"Kakek pikun, menghadapi ilmuku Bu-Eng Hwee-teng, engkau tidak usah memenangkan, asal dapat melayaninya saja cukuplah sudah. Kalau dapat menandingi saja, engkau boleh membawa pergi tujuh orang itu."

"Heh-heh, benarkah itu? Heii, dengarlah semua saudara golongan hitam! Pemimpin baru kalian sudah berjanji dan biarpun golongan hitam, janji seorang pemimpin selalu harus dipegang teguh sebagai lambang kekuasaannya, karena hanya anjing rendah sajalah yang menjilat ludahnya sendiri yang sudah dikeluarkan. Terimakasih, marilah kita mulai. Eh, bagaimana aku harus menandingi ginkang Bu-Eng Hwee-teng yang amat hebat itu?"

Dengan suara yang tetap bernada tinggi, iblis berpakaian serba hitamitu berkata.

"Ginkang mempunyai dua manfaat, yaitu untuk berlari cepat dan untuk bergerak cepat dalam perkelahian. Nah, kita pertandingkan keduanya. Pertamatama, kita berlumba menaruh dua buah batu ini keatas puncak bukit didepan sana. Siapa yang kembali kesini lebih dulu, dia menang."

"Batu-batu ini?"

Kakek itu menudingkan tongkatnya kepada dua buah batu sebesar perut kerbau yang berada didekat tempat itu, didepan kuil.

"Wah, tentu berat sekali."

"Orang yang berani menandingi Bu-Eng Hwee-teng tentu tidak sukar membawa batu itu!"

Tiba-tiba terdengar suara seorang diantara para tokoh kaum sesat itu. Kakek itu mengangguk-angguk.

"Biarlah, biar kucoba tenaga tubuhku yang sudah rapuh ini. Baik, aku setuju. Dan bagaimana dengan pertandingan kedua? Ingat, aku tidak menantangmu untuk berkelahi!"

"Tidak perlu berkelahi. Untuk pertandingan kedua, kita masing-masing memakai sebatang daun pada lubang kancing baju dan kita saling berlumba mengambil daun itu dari tubuh lawan. Siapa yang kalah dulu dia kalah."

"Heh-heh-heh, bagus sekali permainan itu. Aku setuju! Hayo kita mulai saja sekarang!"

Kata kakek bertongkat butut itu sambil mengangguk-angguk setuju.

Tanpa banyak cakap lagi iblis hitam itu lalu menghampiri dua buah batu.

Dan sengaja dia memilih batu yang lebih besar dan sekali kaki kirinya bergerak menendang, batu sebesar perut kerbau itu seperti sebuah bola karet yang ringan saja melambung keatas dan diterima oleh tangan kirinya yang menyangganya diatas pundak kiri.

Begitu mudahnya!

"Bersiaplah membawa batumu!"

Katanya kepada kakek itu dibawah tepuk sorak para tokoh kaum sesat yang memuji kehebatan tenaga si iblis hitam itu, walaupun banyak diantara mereka yang akan sanggup melakukan hal seperti itu.

Kakek itu memandang dengan mata terbelalak, seperti orang terkejut.

"Wah, aku yang tua mana sanggup menggunakan tanganku yang sudah lemah ini untuk mengangkat batu sebesar itu? Biar kuminta tolong tongkatku. Hei, tongkat tua, tolonglah aku sekali ini!"

Dan tongkatnya itu lalu ditusukkan kearah batu yang sebuah lagi dan "crokkk!"

Seperti sumpit menusuk tahu saja, tongkat itu amblas memasuki batu itu dan ketika diangkatnya, maka kini kakek itu memanggul tongkat yang ujungnya sudah menusuk batu!

Tentu saja semua orang melongo menyaksikan ini dan diam-diam si iblis hitam juga terkejut.

Kiranya kakek ini memiliki tenaga dalam yang demikian kuatnya sehingga disalurkan melalui tongkat, dapat membuat tongkat itu menusuk batu seperti menusuk benda lunak saja.

Karena tidak mau kalah membuat kesan, diapun mengeluarkan suara mendengus dari hidungnya, lalu tiba-tiba saja batu yang disangga tangan kiri itu dilontarkannya keatas dan ketika batu itu meluncur turun kearah kepalanya, iblis hitam ini menggunakan tangan kiri yang jari-jarinya diluruskan dan dibuka.

"Crokkk!"

Tangan itu amblas memasuki batu sampai dekat siku!

Tentu saja semua orang bersorak memuji.

Kalau kakek itu menusuk batu dengan tongkat, sekarang si iblis hitam yang menjadi pemimpin mereka itu menusuk batu dengan tangan Degitu saja seolah-olah tangan itu telah berobah menjadi golok tajam runcing dan batu itu berobah lunak sekali!

"Kakek yang nekat, mari kita mulai.

Ingat, kita berlumba meletakkan batu ini di puncak bukit sana itu, lalu kembali kesini.

Kuhitung sampai tiga.

Satu...

Dua...

tiga!"

Dan orang hanya melihat dua bayangan berkelebat dan tahu-tahu dua orang itu lenyap dari tempat mereka berdiri seperti dua setan yang menghilang saja!

Tentu saja semua orang terkejut dan melihat betapa orang-orang yang memiliki kepandaian tertinggi diantara mereka seperti si Buaya Sakti dan si harimau Gunung memandang kesatu arah, merekapun ikut-ikut memandang dan dapat dibayangkan betapa kagum rasa hati mereka melihat dititik hitam "terbang"

Menuju ke puncak bukit didepan!

Kehebatan ilmu ginkang dari Raja Kelelawar telah menjadi semacam dongeng, karena Raja Kelelawar telah meninggal dunia puluhan tahun yang lalu.

Dan sekarang muncul seorang keturunan yang menguasai semua ilmu-ilmunya, termasuk ilmu ginkang luar biasa itu.

Memang jarang ada orang yang sanggup menandingi ginkang dari Raja Kelelawar, karena kalau para ahli yang lain hanya mengandalkan kemampuan tubuh latihan dan kekuatan dalam, Raja Kelelawar mempunyai rahasia-rahasia yang tidak diketahui orang lain.

Ada alat-alat rahasia yang dipakainya, yang membantunya dapat berlari seperti terbang dan bergerak amat lincahnya.

Alat-alat rahasia itu sebagian tersembunyi didalam jubahnya, dan juga disepatunya yang membuat kakinya seperti menginjak pegas yang dapat membuatnya memantul.

Iblis berpakaian hitam itu dapat menduga akan kelihaian kakek yang menantangnya maka diapun mengerahkan seluruh kemampuannya sehingga tubuhnya bagaikan terbang saja.

Dia terkejut melihat betapa kadang-kadang ada bayangan berkelebat didekatnya, dan tahulah dia bahwa kakek itu benar-benar amat luar biasa, dapat menyamai kecepatan gerakannya.

Dan dia menjadi semakin penasaran dan terheran-heran ketika dia meletakkan batu besar itu di puncak bukit, diapun melihat batu yang tadi dibawa oleh kakek itu telah berada disitu!

Maka diapun tidak mau menengok lagi kesana-sini, melainkan "tancap gas"

Dan ngebut, secepat mungkin dia terbang menuruni puncak bukit! Ketika dia tiba disitu, terdengar sorak-sorai dan tepuk tangan para "Anak-buahnya"

Menyambutnya.

Baja Kelelawar menjadi girang sekali dan merasa menang, akan tetapi dia mendengar suara terkekeh dan ternyata kakek itupun sudah berada disitu, agaknya bersamaan waktunya dengan dia!

Jantung Baja Kelelawar terasa berdebar dan perutnya panas.

Dia merasa ditantang benar-benar!

Jelaslah bahwa biarpun kakek ini tidak dapat dikatakan menang atau mendahuluinya, akan tetapi setidaknya dapat menyamainya!

"Bagus, sekarang pertandingan kedua kita mulai,"

Katanya dengan suaranya yang melengking tinggi.

"Pertandingan pertama masih belum dapat menentukan siapa menang siapa kalah!"

Berkata demikian, sekali menggerakkan tubuhnya, si iblis hitam telah lenyap dari situ dan sebelum semua orang hilang Kagetnya, tubuhnya sudah melayang turun dari atas pohon dan tangannya membawa dua tangkai daun.

Dia memberikan setangkai kepada kakek, itu dan memasukkan yang setangkai lagi kelubang kancing bajunya.

Kakek itupun sambil tersenyum dan terkekeh memasukkan tangkai daun kelubang kancingnya, lalu menghadapi Raja Kelelawar sambil berkata.

"Bu-Eng Hwee-teng memang hebat bukan main! Akan tetapi hendaknya diingat bahwa kita tidak sedang berkelahi, melainkan mempergunakan kecepatan gerakan untuk saling merampas daun, Maka, kita berdua cukup mengerti banwa tidak dipergunakan pukulan dan tangkisan dalam lumba ini, melainkan hanya usaha merampas daun dan pengelakan untuk menyelamatkan daun, jadi sepenuhnya menggunakan kecepatan gerakan. Begitu, bukan?"

Si iblis hitam mengangguk.

"Begitulah, dan mari kita mulai!"

Berkata demikian, tiba-tiba iblis hitam sudah menggerakkan tangannya, cepat sekali, menyambar kearah dada kakek itu.

"Eeiiiittt, luput!"

Si kakek sudah mengelak dengan kecepatan yang tak terduga-duga sehingga tubuhnya seperti menghilang saja.

Selanjutnya, semua orang melihat betapa tubuh dua orang itu benar-benar lenyap bentuknya, yang nampak hanya bayangan berkelebatan sedemikian cepatnya sehingga sukar untuk dapat diikuti dengan pandang mata!

Bahkan para tokoh kaum sesat yang sudah tinggi ilmunya menjadi pening dan silau mpnyaksikan gerakan dua tubuh itu dan kadang-kadang bayangan itu seperti menjadi satu, kadang-kadang saling kejar akan tetapi tidak dapat dibe-dakan siapa yang dikejar dan siapa yang mengejar.

Bukan main hebatnya permainan kejar-kejaran saling memperebutkan daun ini sehingga seperempat jam lewat sudah, dan semua orang memandang dengan penuh ketegangan.

Dua orang yang sedang berlumba itu sendiripun menjadi kagum bukan main karena sampai sekian lamanya, belum juga mereka mampu merampas daun.

Iblis sakti itu mengeluarkan suara melengking nyaring karena penasaran.

Sungguh diluar dugaannya bahwa dia akan bertemu dengan seorang kakek yang mampu menandinginya!

Dan kakek ini keluar pada saat dia memperkenalkan diri kepada dunia lagi!

Tiba-tiba kakek itu mengeluarkan seruan kaget karena kini tangan yang mencengkeram kearah daun itu membalik kearah lehernya dengan totokan maut!

Akan tetapi, kakek ini memang sudah bersiap-siap, maklum akan curang dan kotornya watak seorang dari dunia hitam.

Cenat dia mengelak dan pada saat itu, daun dilubang kancingnya telah kena dirampas!

Si iblis hitam meloncat kebelakang dan mengangkat tinggi-tinggi daun itu diatas kepalanya.

"Hemm, daunmu telah dapat kuambil!"

Katanya dan semua tokoh sesat bersorak menyambut kemenangan ini.

Akan tetapi tanpa dilihat siapapun, kakek itu membuka tangannya dan melihat sebuah kancing hitam ditelapak tangan kakek itu.

Raja Kelelawar terbelalak.

Itulah kancingnya, kancing jubahnya!

Kalau kancing jubahnya saja dapat diambil kakek itu, apa lagi daunnya.

Sengaja kakek itu tidak mau mengambilnya dan sengaja kakek itu mengalah!

Iblis hitam itu adalah seorang yang tingkatnya sudah tinggi sekali, maka diapun maklum bahwa lawan telah mengalah dan memberi muka terang kepadanya.

Hal ini berarti bahwa biarpun kakek itu lihai dan mampu mengatasinya, namun kakek itu tidak berniat buruk dari hanya ingin menyelamatkan tujuh orang itu saja Maka diapun lalu membuang daun itu dan berkata, suaranya melengking nyaring.

"Sudahlah! Betapapun juga, ilmu kepandaian mu hebat dan sudah lebih dari cukup untuk membiarkan engkau membawa pergi tujuh orang itu!"

Semua tokoh sesat merasa heran karena tadinya mereka mengira bahwa Raja Kelelawar tentu akan membunuh kakek itu bersama tujuh orang lainnya Akan tetapi tidak ada seorangpun diantara mereka yang berani membantah.

Kakek itupun membungkuk-bungkuk dan tertawa.

"Ahh, ternyata Raja Kelelawar seperti hidup kembali! Kebesarannya sungguh hebat, sesuai dengan perbuatannya dan kegagahannya. Terimakasih, sobat!"

Kakek itupun menghampiri Pek Lian dan teman-temannya, lalu berkata.

"Orang telah bersikap lunak kepada kita, tidak lekas pergi mau tunggu apa lagi?"

Tujuh orang itu tidak menjawab hanya melangkah pergi meninggalkan tempat itu.

Ketika kakek itu hendak pergi juga, tiba-tiba Raja Kelelawar bertanya, suaranya melengking, membuat Pek Lian dan kawan-kawannya terkejut dan merekapun menghentikan langkah dan menengok, siap menghadapi segala kemungkinan.

Hal macam apa saja dapat dilakukan oleh orang-orang dari dunia hitam!

Akan tetapi, ternyata Raja Kelelawar itu hanya bertanya kepada kakek itu dengan suara mengandung geram.

"Kakek, siapakah engkau sebenarnya?"

Kakek itu mencoret-coret tanah dengan ujung tongkat bututnya dan menarik napas panjang berulang-ulang sebelum menjawab.

"Aihh, belasan tahun hidup aman tenteram penuh damai di puncak gunung, siapa kira hari ini terpaksa terjun kedalam kekeruhan dunia. Dan tidak nyana sama sekali bahwa mendiang Raja Kelelawar benar-benar telah mempunyai seorang pewaris sepertimu ini. Sungguh mengagumkan. Terus-terang saja, selama hidupku, baru sekali ini aku mengalami bertemu tanding yang membuatku kewalahan dalam ilmu ginkang. Padahal, aku mengira bahwa aku telah mewarisi semua kemampuan mendiang guruku yang terkenal, dengan julukan Bu-Eng Sin-yok-ong (Si Raja Tabib Sakti Tanpa Bayangan)."

Kakek itu menarik napas panjang lagi dan memandang kagum kepada iblis berpakaian hitam itu.

Semua orang terkejut mendengar ucapan kakek itu.

Nama Si Raja Tabib Sakti amat terkenal, seperti tokoh dongeng yang sama terkenalnya dengan nama Raja Kelelawar, dijaman dahulu.

Juga Pek Lian dan kawan-kawannya memandang heran.

Mereka teringat akan keluarga Bu, keturunan dari Raja Tabib Sakti pula, keturunan murid pertama manusia sakti itu.

Juga mereka pernah bertemu dengan murid-murid ketua iblis berambut riap-riapan yang jubahnya bergambar naga, sebagai keturunan murid kedua si Raja Tabib Sakti.

Jadi inikah murid, ketiga Raja Tabib Sakti yang dikabarkan mewarisi ginkang dari manusia sakti itu?

Pantas ginkangnya demikian hebatnya!

Timbul dalam hati Ho Pek Lian untuk menceritakan semua yang telah dialaminya dirumah keluarga Bu, tentang perebutan kitab pusaka peninggalan Raja Tabib Sakti, maka iapun melanjutkan langkahnya diikuti oleh kawan-kawannya meninggalkan tempat itu.

"Heh-heh-heh, selamat tinggal, Raja Kelelawar, atau engkau hendak mempergunakan julukan lain?"

Kata kakek itu kepada si iblis hitam.

"Tidak! Aku tetap memakai nama Bit-bo-ong si Baja Kelelawar untuk melanjutkan nama besar dari nenek moyangku dan mempersatukan semua sahabat didunia kang-ouw dan liok-lim."

"Bagus, Raja Kelelawar, selamat tinggal dan sampai jumpa pula."

"Selamat jalan, dan dalam perjumpaan lain kali, bagaimanapun juga aku tidak akan melepaskan engkau begitu saja!"

Kata si Raja Kelelawar dengan sikap angkuh untuk meyakinkan hati para pengikutnya bahwa dia "lebih unggul"

Dari pada kakek itu, walaupun didalam hatinya dia mengakui bahwa ginkangnya masih setingkat kalah oleh kakek itu.

Setelah kakek itu pergi pula mengikuti rombongan Pek Lian, si Raja Kelelawar lalu melanjutkan pertemuannya dengan para tokoh sesat.

Dengan suaranya yang melengking tinggi dan penuh wibawa dia lalu berkata kepada dua diantara Sam-ok yang hadir, yaitu Sin-go Mo Kai Ci dan Sanhek-houw.

"Kalian berdua telah datang dan menyambutku. Itu bagus sekali dan biarlah kalian menjadi pembantu-pembantuku dibidang masing-masing. Akan tetapi mengapa Tung-hai-tiauw tidak muncul disini?"

Setelah berkata demikian, iblis hitam itu memandang kesekeliling, seolah-olah hendak mencari orang pertama dari Sam-ok itu disekitar tempat itu.

Suasana menjadi tegang dan semua orang memandang kepada iblis itu dengan rasa takut, khawatir kalau-kalau Raja mereka itu marah.

Akhirnya Sanhek-houw memberanikan diri menjawab.

"Ong-ya, kami semua tidak tahu mengapa dia tidak muncul, mungkin saja terhalang sesuatu."

"Selidiki tentang dia!"

Kata Raja datuk sesat itu.

"Kalau dia memang sengaja tidak memenuhi panggilanku, kalian berdua bunuh dia dan bawa kepalanya didepanku! Akan tetapi kalau memang terhalang sesuatu, bantu dia, kemudian ajak dia bersama-sama menghadap padaku."

"Akan tetapi, ong-ya, kalau kami sudah bertemu dengan Tung-hai-tiauw, kemanakah kami harus pergi untuk dapat menghadapmu?"

Tanya Sin-go Mo Kai Ci.

"Datang saja kekuil ini!"

Jawab sang Raja singkat.

"Akan ada wakilku dimanapun kalian kehendaki untuk menghadapku. Tandanya adalah Kelelawar itu. Dimana ada kelelawar itu, maka disitu akan terdapat seorang wakilku. Dan kalau kalian ingin langsung menghadapku, dapat kalian pergi ke Kotaraja."

"Kotaraja...?"

Tentu saja dua orang Raja kecil kaum sesat itu terkejut sekali.

Tentu saja mereka terkejut karena Kotaraja merupakan tempat terakhir yang ingin mereka kunjungi, tempat yang amat berbahaya karena di Kotaraja terdapat petugas-petugas keamanan yang berilmu tinggi dan merupakan tempat paling tidak aman bagi penjahat-penjahat yang menjadi tokoh besar dan mudah dikenal orang.

"Ya, di Kotaraja. Dibelakang Istana Kaisar terdapat sebuah kuil kecil. Datanglah kesana, katakan kepada hwesio penjaga kuil bahwa kalian ingin menghadapku, dan kalau aku kebetulan berada di Kotaraja, aku akan datang. Seandainya aku tidak sedang berada disana, dapat kalian meninggalkan pesan kepada hwesio disitu."

"Tapi, ong-ya..."

Sanhek-houw berkata.

"Jangan bantah! Tidak ada orang yang berani menggangguku disana! Cukup, aku hendak pergi sekarang."

Akan tetapi dia tidak melangkah pergi, melainkan memandang kesekeliling, kepada mereka semua.

"Tidak tahukah kalian bagaimana caranya menyambut dan mengantar kepergian Raja Kelelawar, pemimpin besar kalian??"

Semua orang terkejut dan dua orang Raja kecil kaum sesat itu lalu membungkuk dengan dalam, tidak berani memandang.

Semua orang mengikuti gerakan mereka.

Terdengar suara melengking tinggi yang dibalas oleh lengking suara kelelawar besar yang tadi bergantung pada pohon, lalu terasa oleh mereka angin menyambar.

Kemudian sunyi.

Setelah beberapa lamanya dan mereka mengangkat muka, ternyata iblis berpakaian hitam itu telah lenyap dari tempat itu!

Maka kini meledaklah suara berisik diantara mereka, membicarakan pemimpin mereka itu.

Dan rata-rata mereka merasa gembira sekali karena kalau keturunan Raja Kelelawar ini seperti pada jamannya dahulu, maka dunia hitam akan bangkit dan menjadi jaya!

Para pendekar tidak akan sembarangan berani menindas mereka, bahkan pemerintahpun akan bersikap lunak.

Dan dua orang "raja kecil"

Yang tadinya hampir saja saling serang itu kini hanya dapat saling pandang, merasa seolah-olah ada kekuasaan lain yang mengamati mereka dan merekapun tidak berani berkutik.

Mereka merasa seperti seekor harimau yang dicabuti cakarnya, tidak berani lagi merajalela memperlihatkan kekuasaan.

Betapapun juga, mereka tidak merasa menyesal karena mereka maklum bahwa dengan munculnya seorang datuk besar seperti Raja Kelelawar itu, kedudukan mereka malah lebih terjamin.

Apa lagi sebagai pembantu-pembantu Raja datuk itu!

Kemunculan kakek yang mengaku sebagai murid Raja Tabib Sakti saja tentu sudah membuat mereka semua ketakutan dan mungkin saja celaka ditangan orang sakti itu kalau saja disitu tidak ada Raja Kelelawar!

Maka mereka merasa terlindung dan Si Buaya Sakti tiba-tiba berteriak.

"Hidup Bit-bo-ong pemimpin kita!"

Dan semua orangpun lalu menyambutnya dengan sorakan yang sama sampai berkali-kali sebelum mereka bubar dengan kacau seperti biasa menjadi watak mereka yang tak pernah dapat tertib.

Tujuh orang itu menuruni bukit bersama kakek yang masih berjalan tertatih-tatih dibantu tongkatnya.

Tidak ada seorangpun diantara mereka yang mengeluarkan kata-kata ketika mereka menuruni bukit itu, meninggalkan kuil kuno yang kini menjadi tempat mengerikan.

Mereka semua merasa seolah-olah mata Raja Kelelawar mengikuti mereka sehingga membuat hati terasa tegang dan tidak enak.

Akhirnya, kesunyian yang amat mencekam itu dipecahkan oleh si kakek sakti yang terkekeh.

"Heh-heh-heh, sejak dahulu nama Raja Kelelawar selalu mendatangkan perasaan menyeramkan. Sudah lama meninggalkan dunia, tahu-tahu kini muncul lagi dan aku berani bertaruh bahwa Raja Kelelawar yang sekarang ini tidak kalah lihainya oleh Raja Kelelawar yang tua dan yang sudah tidak ada lagi itu. Sungguh berbahaya!"

Kakek itu berhenti melangkah dan tujuh orang itupun Menghentikan langkah mereka.

Kini mereka telah tiba dikaki bukit, sudah jauh dari kuil itu.

Melihat kakek itu duduk ditepi jalan kecil, diatas akar pohon yang menonjol keluar dari permukaan bumi, tujuh orang itu saling pandang lalu merekapun semua duduk menghadapi kakek itu.

Bagaimanapun juga, kakek ini telah menyelamatkan nyawa mereka dari ancaman tangan maut Raja Kelelawar.

mereka maklum bahwa mereka semua sudah pasti akan mati kalau tidak ada kakek itu.

Baru Raja Kelelawar sendiri saja sudah demikian lihainya sedangkan ketua Lembah Yang-ce, Kwee Tiong Li, masih dalam keadaan lemah, Walaupun seandainya dia dalam keadaan sehat sekalipun dia bukanlah lawan Raja Kelelawar.

Selain merasa berhutang budi dan nyawa, juga mereka semua ingin bicara dengan kakek ini, menceritakan pertemuan mereka dengan keluarga Bu yang kemudian melihat keluarga Bu tertimpa malapetaka sedangkan keluarga itu masih ada hubungan dekat dengan kakek ini, masih sekeluarga perguruan.

Juga, mereka maklum bahwa kakek ini adalah seorang sakti yang menentang kejahatan dan kelaliman, maka ada baiknya kalau mereka "mendekati"

Orang sakti ini agar kelak dapat membantu mereka menentang kelaliman Kaisar dan kaki tangannya.

Tanpa menanti kakek itu mengeluarkan suara Kwee Tiong Li lalu mewakili teman-temannya memperkenalkan diri sambil memberi hormat.

"Lo-cianpwe, setelah menerima budi pertolongan Lo-cianpwe sehingga kami semua masih dapat hidup sampai saat ini, perkenankanlah kami memperkenalkan diri kepada Lo-cianpwe."

Kakek itu mengangkat tangannya keatas sambil tertawa.

"Heh-heh, jangan kecewa, aku sudah mengenalmu, orang muda. Engkau adalah ketua Lembah Yang-ce, memimpin para pendekar yang sedang melawan kekuasaan Kaisar dan namamu Kwee Tiong Li, engkau murid dari pendekar Chu pemimpin besar para pemberontak, bukan?"

Tiong Li mengangguk dan memandang kagum. Kakek itu tidak perduli lalu menoleh kepada tiga orang kakek pembantunya.

"Dan kalian ini yang disebut Yang-ce Sam-lo, pembantu ketua Lembah Yang-ce."

"Lo-cianpwe sungguh berpengetahuan luas dan berpemandangan tajam,"

Puji seorang diantara Yang-ce Sam-lo. Kembali kakek itu tertawa, ketawanya polos.

"Heh-heh, orang yang tahu bukan merupakan hal yang patut dibanggakan. Kalau sudah mendengar dari orang lain, tentu saja tahu, apa sih hebatnya? Aku mendengar nama para pimpinan Lembah Yang-ce dari anak-buah Lembah Yang-ce sendiri."

Mendengar ini, giranglah hati Tiong Li.

"Ah, kiranya Lo-cianpwe yang telah menolong para saudara kami pula? dimanakah mereka sekarang, Lo-cianpwe?"

"Tidak jauh dari sini, disebuah pondok tua kosong didalam hutan kecil. Terpaksa kusembunyikan disitu karena aku tahu betapa bahayanya kalau mereka berkumpul didalam kuil itu lalu bertemu dengan para tokoh sesat yang mengadakan pertemuan. Akan tetapi harap kalian maafkan aku. Orang-orang Lembah Yang-ce itu agaknya sudah terbiasa dengan kekerasan dan selalu mencurigai orang. Mereka tidak percaya kepadaku dan terpaksa aku harus menotok roboh mereka dan membawa mereka turun bukit kehutan itu. Maaf!"

"Ah, kami yang sepatutnya minta maaf kepada Lo-cianpwe bahwa para saudara kami itu mencurigai maksud baik Lo-cianpwe."

"Dan nona ini siapakah? Juga dua orang saudara yang gagah ini? Apakah juga tokoh-tokoh Lembah Yang-ce?"

Tanya kakek itu sambil memandang kepada Pek Lian dan dua orang gurunya dengan penuh perhatian, terutama sekali kepada Pek Lian kakek itu memandang dengan sinar mata tajam penuh selidik.

Tiong Li lalu memperkenalkan Pek Lian dan dua orang gurunya sebagai rekan-rekan patriot yang menentang kelaliman Kaisar.

"Nona Ho Pek Lian ini adalah puteri dari Menteri Ho Ki Liong yang telah ditangkap oleh Kaisar dan yang namanya menggemparkan seluruh dunia orang gagah itu."

Kakek itu mengerutkan alisnya.

"Aku pernah mendengar akan nama besar Menteri kebudayaan itu. Bukankah kabarnya beliau itu menentang pembakaran kitab-kitab Guru Besar Khong Cu yang dilakukan oleh kaki tangan Kaisar? Apa yang terjadi dengan dia? Mengapa seorang pejabat tinggi yang demikian baiknya malah ditangkap oleh Kaisar?"Tiong Li memandang kepada Kim-suipoa dan berkata.

"Kiranya Tan-lo-enghiong yang dapat berceritera lebih jelas mengenai hal itu, atau nona Ho sendiri."

Ho Pek Lian lalu menceritakan tentang keadaan ayahnya, betapa ayahnya menentang keputusan Kaisar yang dianggapnya keterlaluan dan merusak kebudayaan itu, yaitu menentang pembakaran kitab-kitab yang dianggapnya sebagai kitab-kitab kesusasteraan dan kitab-kitab yang menjadi pegangan seluruh rakyat tentang cara hidup tata susila mereka.

Pada waktu itu, biarpun pelajaran dari Nabi Khong-cu masih belum dianggap sebagai suatu agama dan Nabi Khong-cu sendiri disebut sebagai seorang Guru Besar, namun pelajarannya banyak dianut oleh rakyat sebagai pedoman hidup mereka.

Setelah Pek Lian selesai bercerita tentang ayahnya yang ditangkap oleh Kaisar, tentu saja karena hasutan-hasutan pembesar-pembesar lalim dan penjilat, Kim-suipoa dan Pek-bin-houw juga menceritakan tentang kelaliman Kaisar, bukan hanya memaksa rakyat bekerja sampai mati untuk membangun Tembok Besar sehingga yang jatuh menjadi korban sampai ratusan ribu orang, akan tetapi juga pemerintahan tangan besi yang dijalankan Kaisar untuk menekan rakyat, dan semua perbuatan Kaisar yang membuat para pendekar diamdiam menentangnya dan menyusun kekuatan untuk memberontak.

Mendengar semua itu, kakek ini menarik napas panjang.

"Siancai... siancai... siancai...! Dunia takkan pernah aman, manusia takkan pernah hidup dalam damai selama masih terjadi kekerasan-kekerasan. Sudah menjadi penyakit umum bahwa penguasa mempergunakan tangan besi terhadap rakyat, dibantu oleh semua kaki tangannya, dengan seribu satu macam alasan, katanya demi kebaikan kehidupan rakyat. Mengapa para penguasa tidak sadar bahwa rakyat hanya akan menentang karena tidak puas melihat kelaliman mereka? Biasanya, Kaisar tidak tahu bagaimana macam para pembantunya yang selalu bertindak sewenang-wenang, memeras dan korup, sama sekali tidak ada ingatan untuk memperbaiki kehidupan rakyat melainkan hanya berlumba untuk mengumpulkan kekayaan bagi dirinya dan keluarganya sendiri saja. Mengapa Kaisar sejak dahulu sampai sekarang tidak mau menyadari bahwa dia dikelilingi oleh orang-orang yang sifatnya penjilat keatas dan menindas kebawah? Aihh, kapankah ada Kaisar seperti Bu Ong yang akan memerintah dengan adil dan bijaksana? Seorang Kaisar sepatutnya menggunakan tangani besi terhadap bawahannya, terhadap semua kaki tangannya agar semua pejabat menjadi pejabat yang bijaksana dan baik. Bukan mempergunakan tangan besi terhadap rakyat! Salahnya, hampir semua Kaisar tidak menyadari bahwa dia dibantu oleh iblis-iblis yang korup, yang memeras rakyat akan tetapi selalu membuat pelaporan yang baik-baik saja kepada Kaisar. Kapankah ada Kaisar yang menyelinap diantara rakyat dan menyelidiki sendiri kehidupan rakyat, menyelidiki sendiri cara kerja para pembantunya? Aih, agaknya untuk itu, Thian harus menciptakan manusia-manusia yang khas."

"Lo-cianpwe benar sekali,"

Kata Kim-suipoa sambil menarik napas panjang.

"Sang Bijaksana mengajarkan bahwa sebelum mengatur orang lain, harus lebih dulu dapat mengatur diri sendiri. seorang ayah takkan mungkin dapat mendidik anak-anaknya kalau dia sendiri tidak terdidik, karena dia menjadi contoh dari pada anak-anaknya. Seorang pembesar harus mencuci bersih kedua tangannya sendiri terlebih dahulu sebelum dia ingin melihat anak-buahnya bersih. Kalau penguasa yang diatas korup, mana mungkin bawahannya jujur dart tidak korup? Akan tetapi, kalau atasannya bersih, tentu dia akan berani bertindak terhadap bawahannya yang kotor."

Pek-bin-houw menarik napas panjang.

"Siancai..., alangkah akan senangnya kalau keadaan pemerintahan dapat seperti itu. Sayang, kaum atasan hanya menuntut agar bawahannya bersih, dan hal ini sama sekali tidak mungkin selama dia sendiri masih kotor. Bawahan mencontoh atasan, dan pula, atasan yang kotor mana akan ditaati oleh bawahannya? Sungguh sayang...!"

"Munculnya Raja Kelelawar menandakan bahwa kaum sesat kini bangkit dan menjadi semakin kuat. Kalau hal ini ditambah lagi dengan kelaliman Kaisar dan kaki tangannya, sungguh amat mengerikan kalau dibayangkan bagaimana akan jadinya dengan nasib rakyat jelata,"

Kata kakek itu sambil menarik napas panjang penuh penyesalan.

Keadaan seperti itu tentu akan memaksa orang-orang seperti dia yang tadinya sudah mengasingkan diri dan hidup tenteram dan penuh damai, akan terpaksa terjun kedunia ramai.

Kalau kita memperhatikan percakapan mereka, sungguh banyak terdapat pelajaran yang dapat diambil berdasarkan kenyataan hidup.

Memang tak dapat dipungkiri kebenaran pribahasa yang mengatakan bahwa "guru kencing berdiri, murid kencing berlari."

Kebaikan seorang guru belum tentu dapat ditauladani muridnya dengan mudah, namun keburukan seorang guru akan dapat diikutinya dengan amat cepatnya.

Guru dalam hal ini dapat diperluas menjadi orang tua atau juga kepala suatu kelompok atau seorang pemimpin.

Betapapun kerasnya seorang ayah melarang anaknya berjudi, kalau dia sendiri seorang penjudi, maka dia tidak akan berhasil.

Betapapun kerasnya seorang atasan melarang bawahannya agar tidak korupsi, kalau dia sendiri tukang korup maka usahanya akan sia-sia.

Bawahan selalu condong mencontoh atasan, seperti murid condong mencontoh guru dan anak mencontoh orang tua.

Menekan anak, atau murid, atau bawahan untuk meniadi baik, tanpa si orang tua, guru atau atasan lebih dulu membereskan dirinya, tidak akan ada gunanya!

Namun, kekuasaan selalu digandeng oleh kesewenang-wenangan.

Orang tua, atau guru, atau pemimpin yang merasa berkuasa, selalu membenarkan dirinya sendiri.

Orang tua bilang, berjudi untuk dia tidak apa-apa, akan tetapi tidak boleh untuk anak-anak.

Guru mengatakan, tidak sopan sedikit untuk guru tidak mengapa, akan tetapi tidak boleh untuk murid.

Atasan bilang, penyalahgunaan wewenang untuk atasan adalah wajar, tapi tidak boleh untuk bawahan!

Seorang Kaisar merupakan batang sebuah pohon.

Kalau batang itu sehat, cabang ranting dan daunnya juga tentu sehat.

Akan tetapi kalau batangnya sakit, jangan mengharapkan cabangnya, rantingnya dan daun-daunnya akan tumbuh sehat.

"Lo-cianpwe, belum lama ini kami bertiga telah berjumpa dengan murid keponakan Lo-cianpwe."

Akhirnya Ho Pek Lian berkata kepada kakek itu setelah percakapan mereka mengenai keadaan negara karena kelaliman Kaisar itu mereda. Kakek itu memandang kepadanya.

"Murid keponakan? Yang mana?"

"Namanya Bu Kek Siang,"

Pek Lian memberi keterangan.

"Bu Kek Siang? Ah, dia itu putera Bu-suheng! Sudah puluhan tahun aku tidak bertemu dengan dia,"

Kata kakek itu, tersenyum dan wajahnya menjadi berseri.

"Di antara murid suhu, Bu-suhenglah murid yang boleh dibanggakan mendiang suhu."

"Memang, beliau adalah seorang pendekar yang amat hebat dan budiman, seorang ahli pengobatan yang dalam menolong manusia tidak memandang bulu, sungguh sayang, seorang pendekar sedemikian hebatnya harus tewas dalam keadaan yang amat menyedihkan,"

Kata pula Pek Lian. Kakek itu tidak nampak terkejut, hanya nampak alisnya yang sudah putih itu berkerut sebentar.

"Kek Siang? Tewas?"

Hanya itulah tanyanya dan Pek Lian lalu menceritakan semua peristiwa yang terjadi dirumah keluarga Bu itu.

Kakek itu menarik napas panjang mendengar betapa murid keponakannya itu bersama isterinya tewas diwaktu mengobati puteri tokoh iblis Tai-bong-pai, dan yang membuat dia merasa menyesal adalah bahwa kedua orang murid keponakannya itu tewas ditangan murid-murid keponakan lain, yaitu murid-murid dari ji-suhengnya (kakak seperguruan kedua).

"Hayaaaa...!"

Dia mengeluh.

"Jadi ji-suheng masih hidup malah mendirikan Perkumpulan Baju Naga. Sungguh luar biasa, sudah tua masih bersemangat! Ji-suheng itu amat lihai, memiliki ilmu silat yang paling hebat diantara kami bertiga. Heran, dia bukan orang jahat, kenapa murid-muridnya begitu kejam, tega membunuh Bu Kek Siang yang masih saudara seperguruan? Mungkinkah ji-suheng tua-tua telah berobah?"

Tujuh orang itu tentu saja tidak berani menanggapi urusan perguruan orang, apa lagi karena mereka merasa bahwa mereka berada ditingkat yang jauh lebih rendah. Kakek itu menarik napas panjang lagi.

"Kedua orang anaknya itu... apakah mereka terluka parah?"

"Bu Bwee Hong tidak terluka, akan tetapi kataknya, Bu Seng Kun, terluka parah. Untunglah bahwa mereka adalah ahli-ahli pengobatan yang pandai sekali sehingga agaknya tidak perlu dikhawatirkan keadaannya, Lo-cianpwe,"

Kata Pek Lian.

"Sudahlah, lain hari akan kujenguk mereka. sekarang mari kutunjukkan kepada kalian dimana kusembunyikan orang-orang Lembah Yang-ce itu."

Kakek itu bangkit dan melangkah dibantu tongkatnya, nampaknya seenaknya saja akan tetapi tujuh orang itu terpaksa harus mengerahkan tenaga Snkang mereka untuk mengikutinya!

Bahkan Tiong Li yang masih belum pulih seluruh tenaganya, digandeng oleh dua orang pembantunya dan mereka bertujuh itu harus berlari-larian agar tidak sampai tertinggal oleh kakek sakti itu.

Ketika mereka tiba disebuah hutan kecil, kakek itu memasuki hutan dan tak lama kemudian mereka telah tiba didepan sebuah pondok tua.

Kakek itu memandang kearah sebuah gerobak yang berhenti tak jauh dari pondok.

Kuda penarik gerobak nampak sedang makan rumput dengan tenangnya, tak jauh dari gerobak itu.

Ketika Pek Lian dan kawan-kawannya melihat gerobak itu, mereka terkejut bukan main.

Jantung mereka berdebar tegang dan wajah mereka agak pucat oleh rasa khawatir.

Dan gerobak itu bergoyang-goyang mengeluarkan bunyi berkereyotan karena memang gerobak tua.

Pada saat itu, Pek Lian menoleh dan saling pandang dengan Tiong Li.

Mendadak, keduanya menunduk dengan muka merah karena malu dan jengah.

Kembali mereka dihadapkan dengan keca-bulan yang tidak tahu malu dari kakek dan nenek iblis pemilik gerobak!

Kakek sakti itupun tidak lama memandang kepada gerobak yang bergoyang-goyang itu, lalu dia melangkah memasuki pondok diikuti oleh tujuh orang pendekar.

Akan tetapi, begitu masuk pondok kakek bertongkat itu berseru perlahan.

"Siancai... kemana mereka?"

Tiong Li dan tiga orang Yang-ce Sam-lo memandang kepada kakek itu dengan sinar mata penuh pertanyaan.

Hati mereka berempat menjadi tegang dan khawatir sekali.

Kalau para anak-buah mereka itu bertemu musuh dalam keadaan tertotok, tentu tidak akan ada seorangpun diantara mereka yang dapat lolos dan selamat.

Akan tetapi, kalau bertemu musuh dan dibunuh, lalu kemana perginya mayat-mayat mereka?

Apakah mereka ditemukan oleh pasukan pemerintah yang menawan mereka semua?

Akan tetapi, pasukan pemerintah biasanya tidak bersikap demikian lunaknya dan tentu langsung membunuh orang-orang Lembah Yang-ce, walaupun pada saat itu pemerintah membutuhkan banyak tenaga orang-orang hukuman untuk membangun tembok besar.

"Ah, siapa lagi kalau bukan perbuatan dua orang itu?"

Tiba-tiba kakek itu berkata dan diapun sudah berjalan keluar dari dalam pondok, diikuti oleh tujuh orang itu, menghampiri gerobak yang masih bergoyang-goyang.

Kakek itu tidak berani lancang menuduh orang, akan tetapi karena ditempat itu tidak terdapat lain orang kecuali pemilik gerobak yang berada didalam kendaraan itu, diapun menghampiri untuk bertanya.

"Sobat-sobat pemilik gerobak, keluarlah, aku ingin bertanya!"

Kakek itu berkata dengan suara yang bernada halus.

Tujuh orang pendekar itu memandang dengan khawatir.

Tidak ada jawaban, bahkan gerobak itu makin keras guncangannya dan kini terdengar suara cekikikan genit diiringi suara ketawa parau.

Jelas suara laki-laki dan wanita!

Kakek sakti itu mengangkat alisnya dan kembali dia bertanya.

"Maaf, sobat-sobat yang berada didalam gero-bak. Apakah ada yang melihat orang-orang yang tadinya mengaso didalam pondok itu? kemakah perginya mereka? Apa yang telah terjadi dengan mereka?"

Pertanyaan ini diajukan oleh kakek sakti karena dia maklum bahwa menurut perhitungannya, pada saat itulah orang-orang lembah Yang-ce itu baru akan dapat pulih dari totokannya.

Jadi tidak mungkin kalau dapat terbebas sebelumnya.

Akan tetapi tidak terdengar jawaban dari dalam gerobak dan sendau-gurau didalam gerobak itu malah lebih seru dan ramai!

"Lo-cianpwe, yang berada didalam adalah dua orang tokoh terakhir dari Ban-kui-to (Pulau Selaksa Setan)..."

Tiba-tiba Kim-suipoa membisiki kakek sakti itu.

Kakek itu mengerutkan alisnya.

Akan tetapi sebelum kakek itu menjawab atau melakukan sesuatu, tiba-tiba terdengar suara keras dan gerobak itu bergoyang-goyang keras, lalu terdengar suara gedebugan seperti orang berkelahi disusul maki-makian dan tiba-tiba daun pintu gerobak itu jebol dan terlepas dari kaitannya, disusul terlemparnya sesosok tubuh setengah telanjang seorang kakek yang begitu terlempar dari atas gerobak lalu berjungkir balik dan bangkit berdiri terus lari.

"Mau lari kemana kau!"

Terdengar bentakan dan dari dalam gerobak meloncat seorang nenek yang pakaiannya juga tidak karu-karuan, agaknya dikenakan secara tergesa-gesa dan celananya masih kedodoran.

Nenek ini tidak memperdulikan semua orang yang berada disitu, langsung saja mengejar kakek tadi sambil memaki-maki!

Sekejap mata saja sepasang iblis itu telah lenyap.

Tentu saja melihat ini, Ho Pek Lian menundukkan mukanya dan merasa jengah sekali.

Sepasang iblis tua bangka itu benar-benar keterlaluan sekali!

Tujuh orang pendekar itu tadi hanya memandang dengan bengong, tidak tahu harus berbuat apa, sedangkan kakek sakti hanya menggeleng kepala menyaksikan kelakuan sepasang iblis itu.

"Siancai, kiranya Ban-kui-to sampai sekarang masih dihuni iblis-iblis seperti itu. Kalau mereka itu sudah berkeliaran ditempat ramai, hal itupun menjadi tanda-tanda bahwa dunia akan menjadi semakin tidak aman. Ahhh, mana mungkin orang dapat menikmati keheningan lagi melihat munculnya orang-orang seperti Raja Kelelawar dan penghuni Pulau Selaksa Setan itu?"

Mereka mendekati gerobak dan longak-longok mengintai kedalam.

Akan tetapi tidak nampak ada seorangpun manusia disitu, kecuali benda-benda aneh yang mereka duga tentulah barang-barang berbahaya milik sepasang iblis itu.

Mereka tidak mengganggu milik orang, melainkan menanti didalam hutan itu sampai kembalinya sepasang iblis yang tadi lari berkejaran seperti gila itu.

Akan tetapi sampai lama sekali, belum juga nampak ada tanda-tandanya nenek dan kakek itu kembali.

Tak lama kemudian, dari dalam hutan mereka melihat banyak orang lewat dan mereka mengenal tokoh-tokoh sesat yang tadi hadir dalam pertemuan mereka menghadap pimpinan baru mereka, si Raja Kelelawar.

Mereka tetap tinggal didalam hutan dan tidak memperlihatkan diri.

Akan tetapi ketika tiba-tiba terdapat serombongan orang menyusup keluar dari balik semak-semak belukar didalam hutan, tidak jauh dari tempat mereka berada, tujuh orang pendekar itu terkejut dan diam-diam merekapun mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan sambil memandang kepada rombongan orang itu.

Mereka itu tadi tidak nampak hadir dalam pertemuan para tokoh sesat.

Mereka berjumlah delapan orang dengan pakaian sutera hitam.

Kesemuanya adalah wanita yang sudah setengah tua, antara empat puluh sampai empat puluh lima tahun usianya.

Rata-rata bersikap gagah dan gerakannya gesit, dan selain pakaian sutera hitam yang ringkas, juga disanggul rambut mereka terhias tusuk konde dari batu giok.

Selagi Pek Lian dan kawan-kawannya memperhatikan, tiba-tiba dari lain jurusan muncul pula rombongan empat orang pria yang memakai seragam putih-putih.

Dipunggung masing-masing terdapat sepasang pedang panjang dan sikap mereka juga gagah sekali, sedangkan usia mereka kurang lebih empat puluh tahun.

Rombongan empat orang seragam putih inipun tadi tidak kelihatan diantara kaum sesat yang berkumpul didepan pondok diatas bukit.

Maka merekapun menduga bahwa agaknya, selain para tokoh sesat yang hadir, kiranya banyak juga terdapat tamu tak diundang yang secara diam-diam berdatangan ketempat itu secara sembunyi-sembunyi.

Ketika kedua rombongan, yaitu delapan orang wanita berpakaian hitam-hitam dan empat orang pria berpakaian putih-putih itu berpapasan didalam hutan, kedua pihak nampak kaget.

"Ah, mereka berempat itu adalah pendekar-pen-dekar Thian-kiam-pang (Perkumpulan Pedang Langit) yang terkenal itu!"

Bisik Kwee Tiong Li. Sebagai ketua Lembah Yang-ce, tentu saja dia sudah banyak mengenal atau mendengar tentang perkumpulan-perkumpulan pendekar lainnya.

"Perkumpulan macam apakah itu?"

Pek Lian berbisik, ingin tahu.

"Itu adalah perkumpulan pendekar pedang yang terkenal gagah perkasa. Kalau didaerah untuk daerah utara, nama Thian-kiam-pang amat terkenal, ilmu pedang mereka hebat."

Kini muncul pula rombongan para tosu butong-pai, terdiri dari lima orang tosu.

Kedua rombongan terdahulu segera menyingkir, pergi kejurusan-jurusan yang berlainan.

Juga para tosu butong-pai itu menyingkir.

Mereka adalah tokoh-tokoh dari dunia putih, akan tetapi karena mereka semua datang kedaerah itu sebagai pengintai dan tidak saling berhubungan, maka merekapun saling menghindar, tidak ingin berjumpa karena kalau mereka berkumpul, berarti mereka tidak dapat bergerak secara sembunyi-sembunyi lagi.

Kakek itu makin tertarik dan diapun melangkah keluar dari hutan kecil itu, diikuti oleh Tiong Li, Pek Lian dan teman-teman mereka.

Dan ternyata banyak bermunculan rombongan-rombongan dan tokoh-tokoh persilatan dari kaum bersih atau dari mereka yang tidak memasukkan dirinya kedalam kaum bersih maupun kaum sesat, yang ingin berdiri bebas.

Melihat betapa banyak orang itu baru mereka ketahui sekarang kehadirannya, diam-diam Ho Pek Lian merasa kagum dan dapat menduga bahwa mereka itu adalah orang-orang yang berkepandaian hebat.

"Siancai...!"

Kakek ahli ginkang yang sakti itu berkata setelah melihat betapa banyaknya para pendekar bermunculan setelah pertemuan para tokoh sesat itu bubar.

"Agaknya kemunculan keturunan Raja Kelelawar benar-benar membuat dunia persilatan menjadi geger! Bukankah demikian, sobat yang berada dibalik semak-semak itu?"

Kalimat terakhir ini ditujukan kearah semak-semak yang berada disebelah kiri, beberapa meter jauhnya dari tempat mereka berdiri.

Tentu saja tujuh orang pendekar yang mendengar kalimat ini menjadi terheran-heran kemudian terkejut ketika tiba-tiba melihat tiga orang hwesio muncul dari balik semak-semak itu sambil (mengangkat kedua tangan memberi hormat dengan wajah mereka yang alim dan ramah.

"Omitohud..., lo-sicu sungguh bermata tajam bukan main!"

Seorang diantara mereka memuji.

Melihat seorang diantara tiga hwesio berusia kurang lebih enam puluh tahun ini, yang dahinya terhias bekas luka memanjang, Pek-bin-houw Liem Tat cepat maju memberi hormat.

"Ah, kiranya Ta Beng losuhu yang berada disini. Tidak kami kira bahwa para tokoh Siauw-lim-pai juga hadir ditempat ini! Terimalah hormat saya, losuhu."

Hwesio itu sejenak memandang wajah Pek-bin-houw yang putih, mengingat-ingat, lalu menepuk dahinya dan balas menjura.

"Omitohud... bukankah Si Harimau Putih yang berada disini? Bagaimana kabarnya, sicu? Pinceng mendengar berita bahwa sicu dan kawan-kawan mengadakan gerakan di lembah Yang-ce sekarang, meninggalkan Huang-ho. Benarkah?"

Pek-bin-houw Liem Tat lalu memperkenalkan hwesio itu kepada teman-temannya.

Hwesio itu berjuluk Ta Beng Hwesio, seorang tokoh Siauw-lim-pai, merupakan tokoh kedua dalam urutan tingkat diSiauw-lim-pai, seorang hwesio yang berilmu tinggi.

"Sicu tentu mencari para pendekar Lembah Yang-ce, bukan?"

Tiba-tiba hwesio itu bertanya.

"Karena itulah pinceng bertiga sengaja menanti disini."

Lalu Ta Beng Hwesio menceritakan bahwa dia dan dua orang sutenya itulah yang membebaskan totokan para anak-buah Lembah Yang-ce itu.

"Pinceng melihat munculnya kakek dan nenek iblis dari Ban-kui-to, maka pinceng merasa khawatir melihat mereka itu dalam keadaan tertotok. Kami membebaskan mereka dan menyarankan agar mereka menjauhi tempat itu dan menanti cuwi (anda sekalian) sebagai pimpinan mereka didalam dusun disebelah utara sana."

Mendengar keterangan ini, bukan main girangnya hati Kwee Tiong Li dan tiga orang pembantunya. Cepat dia maju dan memberi hormat.

"Sungguh besar budi pertolongan losuhu terhadap kawan-kawan kami. Saya menghaturkan banyak terimakasih."

Ketika hwesio itu mendengar bahwa pemuda yang perkasa ini adalah ketua muda dari Lembah Yang-ce, murid dari pendekar Chu Siang Yu, wajahnya berseri girang.

"Ah, kiranya sicu adalah murid Chu-taihiap. Sudah lama sekali pinceng tidak berjumpa dengan dia. Bagaimana kabarnya?"

"Suhu dalam keadaan baik saja, akan tetapi perkumpulan kami di lembah Yang-ce mengalami pukulan hebat dari pasukan pemerintah."

Tiga orang hwesio itu mengangguk-angguk karena mereka sudah mendengar akan berita buruk itu dari para anak-buah Lembah Yang-ce yang mereka bebaskan dari totokan.

Mereka lalu berpisah dan kakek sakti bersama tujuh orang pendekar itu menuju kedusun yang ditunjuk oleh para hwesio Siauw-lim-pai.

"Maafkan pertanyaan saya, Lo-cianpwe. Akan tetapi setelah menerima budi pertolongan Lo-cianpwe, kami ingin sekali mengenal nama Lo-cianpwe yang mulia. Sudikah Lo-cianpwe memberitahukan kami?"

Pertanyaan yang diajukan oleh Pek Lian ini melegakan hati enam orang lainnya karena mereka semuapun ingin sekali mendengar lebih banyak dari kakek sakti ini, hanya karena kakek itu lebih sering berdiam diri seperti orang melamun, mereka merasa ragu-ragu dan tidak enak hati untuk bertanya, hanya mengharapkan kakek itu akan memberitahukan sendiri.

Akan tetapi, kini Pek Lian yang mungkin sebagai seorang dara yang lincah lebih berani dalam hal bertanya seperti itu, telah mewakili keinginan hati mereka, maka kini mereka semua memandang kepada kakek sakti itu dengan penuh perhatian.

Kakek itu menarik napas panjang.

"Hemm, sudah puluhan tahun aku ingin menyembunyikan diri agar namaku tidak disebut-sebut orang. Siapa tahu, gara-gara Raja kelelawar kedua tanganku menjadi kotor, berlepotan dengan urusan dunia. Datuk-datuk sesat, seperti setan-setan yang keluar dari neraka, telah bermunculan. Biarlah aku menceritakan keadaanku, apa lagi karena kalian telah berkenalan dan menjadi sahabat dari keluarga Bu."

Kakek itu mulai bercerita sambil berjalan.

Tujuh orang pendekar mendengarkan dengan penuh perhatian.

Gurunya, mendiang Bu-Eng Sin-yok-ong atau Raja Tabib Sakti Tanpa Bayangan mempunyai tiga orang murid.

Murid pertama adalah ayah dari Bu Kek Siang dan murid pertama ini mewarisi ilmu pengobatan dan tenaga sinkang yang amat kuat sehingga bagaimanapun juga, dengan kekuatan sinkang itu, dia dapat dikatakan paling unggul diantara tiga orang murid, sesuai dengan kedudukannya sebagai murid tertua.

Murid kedua adalah seorang yang berasal dari selatan bernama Ouwyang Kwan Ek, yang mewarisi ilmu pukulan sehingga murid ini memiliki ilmu silat yang amat hebat gerakan-gerakannya.

Sedangkan orang ketiga yang menjadi murid termuda dan yang mewarisi ilmu ginkang adalah kakek bertongkat itu yang bernama Kam Song Ki.

Semenjak matinya Raja Tabib Sakti, tiga orang murid ini terpencar dan saling berpisah.

Ayah Bu Kek Siang yang bernama Bu Cian itu tinggal diutara.

Ouwyang Kwan Ek yang berasal dari selatan itu kembali kedunia selatan dan tidak pernah terdengar beritanya, sedangkan Kam Song Ki yang memang hidup sendirian saja dan suka merantau, tidak diketahui dimana tempat tinggalnya yang tetap.

Tentu saja disamping mewarisi keahlian-keahlian itu, masing-masing juga mewarisi ilmu silat yang tinggi, ilmu pengobatan dan ilmu ginkang serta tenaga sinkang.

Hanya saja, masing-masing telah mewarisi keistimewaan yang diberikan oleh guru mereka disesuaikan dengan bakat masing-masing pula.

"Aku suka merantau, dan aku tidak suka berurusan dengan dunia, seperti juga halnya dengan twa-suheng almarhum. Bahkan ji-suhengpun biasanya tidak pernah mau merisaukan urusan dunia sesuai dengan pesan suhu yang tidak ingin murid-muridnya mengandalkan kepandaian untuk melakukan kekerasan dan bermusuhan dengan orang lain. Maka, sungguh mengherankan sekali kalau kini ji-suheng selain masih hidup, malah juga mendirikan perkumpulan Liong-i-pang (Perkumpulan Jubah Naga) itu, bahkan telah membunuh murid keponakannya sendiri hanya untuk memperebutkan kitab pusaka."

Dia menarik napas panjang dengan penuh penyesalan.

Mendengar penuturan singkat itu, tujuh orang pendekar ini menjadi kagum.

Kakek ini murid seorang yang kesaktiannya terkenal seperti dewa, dan memiliki ilmu kepandaian yang sukar diukur tingginya.

Namun sikapnya demikian sederhana, tidak ingin namanya dikenal orang, bahkan tidak ingin mempergunakan kepandaiannya untuk bermusuhan dengan orang lain.

Dengan kagum Tiong Li lalu memberi hormat.

"Penuturan Kam-Lo-cianpwe membuka mata kami bahwa makin banyak gandumnya, makin menunduklah tangkainya, makin dalam airnya, makin tenang dan diam. Akan tetapi, kalau para Lo-cianpwe seperti Kam-Lo-cianpwe tidak mempergunakan kepandaian untuk membendung datuk-datuk hitam yang berkepandaian tinggi, tentu akan lebih parah dan celakalah kehidupan rakyat jelata, dilanda oleh kejahatan mereka."

"Itulah yang menyebalkan!"' kata Kam Song Ki sambil menggurat-guratkan ujung tongkatnya diatas tanah didepannya.

"Kemunculan iblis-iblis seperti Raja Kelelawar itu mau tidak mau menyeret pula orang-orang tua yang sudah mendekati lubang kubur seperti aku ini untuk ikut pula meramaikan dunia dengan pertentangan-pertentangan antara manusia!"

Setelah berkata demikian, kakek itu mempercepat langkahnya sehingga semua orang bergegas mengejarnya dan sikap ini seperti menjadi tanda bahwa dia tidak ingin bicara lagi tentang dirinya.

Ketika akhirnya mereka tiba didusun itu, hari telah sore dan keadaan dusun yang agak sunyi itu membuat mereka merasa heran.

Bahkan beberapa orang kanak-kanak yang tadinya bermain-main dipekarangan rumah, ketika melihat munculnya delapan orang ini, dengan wajah ketakutan mereka melarikan diri memasuki rumah mereka, rumah pondok miskin.

Beberapa orang dewasa yang kebetulan berada diluar rumah juga cepat-cepat memasuki rumah dan menutupkan daun pintu rumah mereka.

Jelaslah bahwa penduduk didusun itu dicekam rasa ketakutan melihat orang asing memasuki dusun mereka.

Hal ini hanya berarti bahwa tentu telah terjadi sesuatu yang hebat.

Mereka terus memasuki dusun itu dan ketika mereka tiba ditengah dusun, tiba-tiba saja bermunculan puluhan orang penduduk dusun itu, kesemuanya pria dan mereka membawa alat-alat senjata seadanya, mengurung dengan sikap mengancam.

Melihat ini, kakek itu tenang-tenang saja, akan tetapi Kwee Tiong Li segera mengangkat tangan keatas dan berkata dengan suara berwibawa.

"Saudara-saudara hendaknya jangan salah menyangka orang! Kami bukanlah orang-orang jahat dan kami datang untuk mencari teman-teman kami yang kemarin dulu datang ketempat ini. Jumlah mereka kurang lebih ada lima puluh orang..."

Dari para pengepung itu majulah seorang laki-laki berusia lebih dari empat puluh tahun. Suaranya agak parau ketika dia berkata.

"Mereka semua telah mati! Semua telah mati!"

Tentu saja delapan orang itu terkejut, terutama sekali Tiong Li.

"Mati? Kenapa? Siapa membunuh mereka dan mengapa?"

"Malam tadi disini terjadi pertempuran hebat, antara pasukan pemerintah yang menyergap orang-orang yang agaknya bersembunyi didusun kami. Kami semua ketakutan, takut terbawa-bawa dan memang ada belasan orang muda didusun kami yang ikut pula terbunuh karena disangka menyembunyikan mereka. Kami semua bersembunyi ketakutan. Akhirnya, semua orang itu tewas, juga puluhan orang perajurit tewas. Sejak pagi tadi kami penduduk dusun bertugas untuk mengubur semua mayat itu. Mengerikan! Lebih dari seratus mayat terpaksa dikubur dalam beberapa lubang besar saja, diluar dusun." (Lanjut ke

Jilid 06) Darah Pendekar (Seri ke 01 -Serial Darah Pendekar) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo Bahan Cerita . Sriwidjono

Jilid 06 Mendengar penuturan ini, pucatlah wajah Tiong Li dan Yang-ce Sam-lo.

Juga Pek Lian dan dua orang gurunya terkejut sekali.

Bagaimanapun juga, yang terbunuh semua sampai terbasmi habis itu adalah para anggauta pemberontak Lembah Yang-ce, jadi masih rekan-rekan mereka sendiri.

Pimpinan mereka, Liu Pang, adalah juga pemberontak Lembah Yang-ce yang untuk sementara ini membangun pusat perkumpulan di puncak Awan Biru.

"Siapa lagi kalau bukan Jenderal Beng Tian dan dua orang pengawalnya itu yang memimpin penyerbuan?"

Kata Pek Lian dengan gemas. Kwee Tiong Li mengepal tinjunya, sepasang matanya merah dan mukanya pucat.

"Habis sudah kawan-kawanku...! Dengan susah payah guruku membimbing mereka, melatih mereka, dan akhirnya, mereka hancur dibawah pimpinanku! Ahhh"

Pemuda itu menutupi muka dengan kedua tangannya, merasa berduka dan menyesal bukan main. Melihat keadaan ketua mereka ini, Yang-ce Sam-lo menghibur.

"Harap kokcu jangan terlalu menyalahkan dan menyesalkan diri sendiri. Semua ini adalah resiko perjuangan menentang kelaliman dan kematian saudara-saudara kita terjadi diluar kemampuan kita untuk mencegahnya,"

Kata seorang diantara mereka.

"Seandainya kita berada disini sekalipun, kalau dikepung oleh pasukan besar yang dipimpin jenderal itu, apa yang akan dapat kita lakukan untuk menyelamatkan kita semua? Memang, lebih dari lima ratus orang anggauta kita gugur sebagai pejuang-pejuang gagah perkasa yang menentang ketidak-adilan, akan tetapi pihak tentara pemerintah juga banyak yang tewas ditangan kita. Setidaknya, setiap anggauta kita tentu sedikitnya merobohkan dua orang, sehingga kalau dihitung-hitung, kita masih tidak rugi."

Akan tetapi hiburan-hiburan tiga orang pembantunya itu tidak melenyapkan kedukaan hati Kwee Tiong Li yang kehilangan semua anak-buahnya.

Dia memukulkan tinju kanannya keatas telapak tangan kirinya dengan keras sehingga terdengar suara nyaring.

"Bagaimanapun juga aku tidak mau berhenti sampai disini saja! Aku harus menuntut balas. Harap Sam-lo kembali kelembah dan menyampaikan laporan kepada suhu. Aku sendiri akan mencari jalan untuk membalas dendam ini!"

Tiga orang pembantunya hendak membantah karena perbuatan itu tentu saja amat berbahaya bagi keselamatan pemuda itu.

"Sam-lo, ini adalah keputusanku sebagai ketua lembah!"

Katanya dengan tegas dan tiga orang itu tentu saja tidak dapat membantah lagi.

Ho Pek Lian melihat betapa pemuda yang biasanya bersikap lembut itu kini nampak keras, bersemangat dan penuh wibawa sehingga hatinya merasa tergetar.

Pemuda ini merupakan seorang jantan yang gagah perkasa, membayangkan kepribadian seorang pemimpin yang hebat, membuat hati Pek Lian menjadi kagum sekali.

"Siancai..., saat kematian merupakan rahasia yang tak pernah terbuka oleh manusia. Siapa sangka aku bermaksud menolong mereka, tidak tahunya karena perbuatanku, malah mereka mengalami pembasmian disini"

Kata kakek Kam dengan suara menyesal. Mendengar ini, Kwee Tiong Li cepat menghadapi kakek itu.

"Harap Lo-cianpwe jangan beranggapan demikian karena Lo-cianpwe sama sekali tidak bersalah dalam hal ini."

"Aku tahu, orang muda... akan tetapi membuat hatiku terasa tidak enak..."

Tiba-tiba kakek itu berhenti dan cepat menoleh kebelakang.

Pada saat itu terdengar bunyi terompet bersahut-sahutan, diiringi sorak-sorai para perajurit dan ternyata dusun itu telah dikepung!

Mendengar ini, para penghuni berlari-larian kembali kerumah masing-masing dan yang tertinggal didusun itu, diluar rumah, hanya tinggal delapan orang itu saja.

Semua penghuni dusun telah bersembunyi!

Delapan orang itu, yang merasa sudah terkepung, tidak mau ikut bersembunyi karena mereka maklum bahwa bersembunyi didusun kecil itu tidak ada artinya malah-malah akan mencelakakan semua penghuni dusun.

Maka, sambil menanti, mereka semua mencabut senjata, siap untuk melawan.

Dengan teriakan yang berisik sekali, bermunculanlah pasukan itu dari segenap penjuru dan mereka segera diserbu dan dikeroyok.

Pek Lian telah mencabut pedangnya, Kim-suipoa Tan Sun mengeluarkan senjata suipoanya sedangkan Pek-bin-houw juga sudah melintangkan pikulan bajanya.

Begitu para perajurit menyerbu, mereka bertiga mengamuk bagaikan harimau-ha-rimau kelaparan.

Sementara itu, Kwee Tiong Li, biarpun tenaganya belum pulih seluruhnya, juga sudah mengamuk dan menggerakkan pedangnya dengan dahsyat.

Tiga orang Yang-ce Sam-lo juga sudah menyambut pengeroyokan musuh dengan senjata golok tipis mereka.

Tujuh orang pendekar itu mengamuk dengan penuh semangat, terutama sekali Tiong Li dan Yang-ce Sam-lo yang seolah-olah memperoleh kesempatan untuk membalas dendam atas terbasminya seluruh kawan mereka itu.

Empat orang ini merobohkan banyak sekali perajurit.

Adapun kakek Kam Song Ki sendiri hanya melindungi dirinya, menggerakkan tongkatnya untuk merobohkan semua orang yang menyerangnya, akan tetapi jelaslah bahwa kakek ini merobohkan orang tanpa bermaksud membunuh.

Biarpun demikian, tidak ada perajurit yang dapat mendekatinya karena belum juga dekat mereka itu sudah roboh berpelantingan.

Akan tetapi, tiba-tiba muncul dua orang berpakaian preman yang menjadi pengawal pribadi, juga sute-sute dari Jenderal Beng Tian yang amat lihai itu!

Bukan hanya kedua orang pengawal ini saja, melainkan juga belasan orang perwira yang memiliki gerakan-gerakan gesit sekali, tanda bahwa mereka adalah orang-orang yang pandai ilmu silat.

Pengepungan semakin ketat, pengeroyokan semakin rapat dan dengan munculnya dua orang pengawal bersama para perwira itu, delapan orang yang dikeroyok menjadi kewalahan juga.

Betapapun juga, mereka terus mengamuk dengan hebatnya dan sudah puluhan orang banyaknya roboh, tewas atau terluka sehingga mayat-mayat mulai bertumpuk dan berserakan, suara orang-orang mengaduh dan mengerang kesakitan amat mengerikan.

Sore semakin gelap.

Satu jam lebih mereka mengamuk, akan tetapi jumlah para perajurit amat banyaknya.

Ada ratusan orang!

Dan akhirnya, apa yang mereka khawatirkanpun tibalah dengan munculnya Jenderal Beng Tian sendiri!

Tadinya, dua orang pengawal pribadi jenderal itu masih menemukan kesulitan ketika mereka dihadang dan dibendung oleh tongkat butut kakek Kam, membuat mereka terheran-heran, penasaran dan juga marah karena ternyata tongkat itu membuat mereka tidak mampu banyak bergerak.

Akan tetapi sebaliknya kakek Kam yang tidak ingin membunuh, tidak mudah pula merobohkan dua orang pengawal lihai ini seperti yang dilakukannya kepada para perajurit.

Sedangkan tujuh orang pendekar itu dikeroyok oleh belasan orang perwira yang dibantu oleh puluhan orang perajurit pula.

Sampai berdesakan dan sukar sekali untuk bergerak dalam pengepungan yang ketat itu.

Dan kini, jenderal itu sendiri muncul.

Tadinya, panglima ini tidak ikut memimpin anak-buahnya.

Bukankah menurut penyelidik, yang berada didusun itu hanya delapan orang pimpinan pemberontak?

Cukup diwakilkan kepada dua orang pengawal atau sutenya saja, para perwira dan pasukan.

Akan tetapi, dia memperoleh berita yang mengejutkan bahwa diantara delapan orang itu terdapat seorang kakek yang amat sakti yang membuat kedua orang sutenya tidak berdaya Tentu saja dia menjadi terkejut sekali dan jenderal itupun bergegas menuju kemedan pertempuran.

Pada saat dia tiba ditempat, itu, dia masih sempat melihat betapa dua orang sutenya mengeroyok seorang lawan yang tidak nampak bayangannya!

Seolah-olah dua orang sutenya itu mengeroyok setan saja.

Tahulah dia bahwa lawan dua orang pembantunya itu adalah seorang ahli ginkang yang amat luar biasa.

Sambil mengeluarkan bentakan nyaring, jenderal itu lalu menyerbu dan dua orang sutenya girang bukan main melihat munculnya jenderal yang selain menjadi atasan, juga menjadi suheng mereka itu.

Dan pukulan yang dilancarkan jenderal itu terhadap kakek Kam membuat kakek itu mengeluarkan seman kaget.

Namun, gerakan kakek itu terlampau cepat sehingga empat serangan yang merupakan rangkaian susul-menyusul dari jenderal itu semua hanya mengenai tempat kosong saja.

Dia menduga-duga siapa gerangan orang ini dan diam-diam terkejut bukan main.

Kalau pihak pemberontak terdapat orang-orang selihai ini, sungguh amat berbahaya, pikirnya.

Bersama dua orang sutenya, dia mengeroyok.

Namun tetap saja mereka bertiga menjadi kewalahan karena jauh kalah cepat gerakan mereka.

Kadang-kadang kakek itu seperti lenyap saja dan tahu-tahu muncul diatas mereka, dibelakang mereka atau dikanan kiri.

Dan malampun tibalah.

Para perajurit memasang obor sehingga keadaan disitu semakin menyeramkan.

Betapapun lihainya, tujuh orang pendekar yang dikeroyok oleh banyak sekali lawan yang tiada habisnya dan tak kunjung berkurang itu, menjadi repot.

Mereka kelelahan, mandi peluh setelah mengamuk selama hampir dua jam lamanya!

Dan akhirnya, tak dapat tertolong lagi, Pek-bin-houw roboh terkena tusukan tombak seorang perwira dari belakang.

Tombak itu menancap dipunggung dan tembus kedadanya, darah muncrat dan dia berteriak seperti harimau terluka, membalik dan senjata pikulannya menghantam kepala penyerangnya sampai pecah.

Kemudian dia menubruk kekiri, merobohkan seorang perajurit, akan tetapi dia sendiripun roboh karena sebatang golok membuat lehernya hampir putus, disabetkan oleh perwira lain.

Robohlah Pek-bin-houw Liem Tat sebagai seorang pendekar dan patriot.

Melihat ini, Kim-suipoa berteriak marah dan menyerang dengan nekat, menubruk kearah perwira yang membacok golok tadi.

Perwira itu menangkis, akan tetapi goloknya terpental oleh hantaman suipoa dan kepala perwira itupun remuk terkena pukulan suipoa baja.

Akan tetapi, pada saat yang sama, dua batang pedang menembus lambung dan dada Kim-suipoa.

Tiong Li dan kakek yang masih dikeroyok tiga oleh Jenderal Beng Tian bersama dua orang sutenya itu.

Tiong Li dan Pek Lian masih mengamuk dan keduanya maklum bahwa nyawa merekapun tidak akan tertolong lagi.

"Nona Ho, selamat berpisah disini!"

Kata Tiong Li sambil memutar pedangnya.

Pek Lian terharu sekali, akan tetapi juga bangkit semangatnya melihat pemuda yang gagah perkasa itu!

"Selamat berpisah, saudara Kwee.

Akan tetapi aku tidak mau mati sebelum membasmi anjing-anjing ini sebanyak mungkin!"

Keduanya mengamuk lagi penuh semangat.

Kakek Kam mendengarkan semua ini dan hatinya tergerak.

Kalau dia menghendaki, tentu dia sudah dapat membunuh tiga orang lawannya.

Akan tetapi dia tidak tega untuk membunuh.

Kalau dia mau melarikan diripun tidak sukar baginya, akan tetapi dia merasa kasihan kepada dua orang muda itu.

Diam-diam dia merasa kagum sekali melihat, gerak-gerik Tiong Li dan Pek Lian.

Terutama pemuda itu sungguh membuat hatinya yang tua merasa terharu.

Seorang pemuda gagah perkasa yang penuh setia kawan!

Sungguh seorang eng-hiong (pendekar) sejati!

Dan melihat betapa Pek Lian terhuyung oleh pukulan rayung lawan yang mengenai punggungnya, cepat dia menggerakkan kakinya dan tahu-tahu tiga orang pengeroyoknya sudah kehilangan kakek itu yang kini telah menyambar tubuh Pek Lian sebelum dara itu terguling roboh.

Dipanggulnya tubuh Pek Lian dan diapun berseru kepada Tiong Li.

"Kwee-sicu, mari kita pergi!"

Memang mudah saja bagi kakek sakti yang memiliki ginkang istimewa itu untuk mengatakan demikian, bahkan mudah pula baginya untuk meloloskah diri dari kepungan ketat dan pengeroyokan itu, akan tetapi amat sukarlah bagi Tiong Li untuk melaksanakannya.

Pula, dia telah dibakar kemarahan meluap-luap dan sudah diambilnya keputusan untuk mengamuk sampai mati, membela kematian tiga orang pembantunya dan juga dua orang guru Pek Lian itu.

Melihat betapa pemuda itu mengamuk makin hebat dan seperti tidak memperdulikan ajakannya, kakek itu berseru lagi.

"Orang muda, perlu apa mengorbankan nyawa dengan konyol? Ingat, kelak engkau harus membuat perhitungan dan membalas semua dendam. Kalau mati sekarang, siapa yang akan membalas dendam kelak?"

Ucapan ini sengaja dikeluarkan hanya untuk membakar semangat pemuda itu agar mau meloloskan diri, bukan ucapan yang keluar dari lubuk hatinya.

Mendengar ini, Tiong Li menjadi sadar.

Semua anak-buahnya, berikut tiga orang pembantunya yang setia, telah gugur.

Hanya tinggal dia seorang diri.

Kalau dia gugur pula, lalu siapa yang akan membalas semua ini.?

Siapa yang akan melanjutkan perjuangan, membantu para pendekar lain, membantu gurunya?

Dia tidak boleh sekedar menurutkan perasaan hati duka dan marah.

Akan tetapi, bagaimana dia dapat meloloskan diri dari kepungan begini banyak musuh?

Sambil memutar, pedang mengamuk, Tiong Li mencari jalan keluar, namun, sia-sia belaka.

Seorang lawan dirobohkan, dua orang menggantikannya.

Dua orang dirobohkan, empat orang yang maju.

Pedangnya sudah berlumur darah, pakaiannya juga berlepotan darah, darah lawan dan darahnya sendiri.

Tubuhnya sudah lelah sekali dan agaknya gerakannya itu hanya dikendalikan oleh semangatnya yang berkobar-kobar.

Seolah-olah kesehatannya yang baru berkembang baik dan belum pulih benar itu kini menjadi sembuh sama sekali dengan adanya pertempuran mati-matian ini.

Sementara itu kakek Kam Song Ki melihat kesukaran yang dialami pemuda itu.

Dia sendiri masih dikepung ketat, bahkan kini Jenderal Beng Tian dan dua orang pengawalnya meneriakkan perintah agar para perwira juga ikut mengepung kakek yang luar biasa lihainya itu.

Kakek Kam masih memondong tubuh Pek Lian dan tubuhnya berkelebatan kesana-sini dan tahu-tahu dia sudah mendekati Tiong Li.

Caranya amat menggiriskan hati para pengeroyoknya karena tubuhnya itu berloncatan atau lebih tepat lagi "beterbangan"

Melayang-layang, meloncat diantara pundak dan kepala para pengeroyok, kadang-kadang menginjak pundak dan kepala, bahkan menginjak ujung senjata, bagaikan seekor burung walet saja tubuh itu kini tahu-tahu sudah mendekati Tiong Li dan menyambar tangan pemuda itu.

"Pegang erat-erat tanganku dan ikuti gerakanku. kau menurut saja, jangan melawan! Dengarkan petunjuk-petunjukku baik-baik. Kalau perlu pejamkan mata, jangan bergerak menurut kemauan sendiri, tapi turuti aku dengan membuta, Ini pelajaran ilmu langkah ajaib yang dapat meloloskan dirimu dari kepungan!"

"Baik... Lo-cianpwe!"

Tiong Li menjawab.

Maka mulailah pemuda itu menurutkan tenaga tarikan, betotan, maupun dorongan tangan kakek itu, mengatur langkahnya sesuai dengan tenaga kakek itu, kekiri, kanan, kedepan, kesamping, kebelakang, kadang-kadang meloncat rendah dan meloncat tinggi, cepat sekali gerakan itu dan amat aneh, akan tetapi hebatnya, gerakan-gerakan itu membuat dia terbebas dari semua serangan dan kepungan tanpa mengelak satu demi satu seperti yang dilakukannya sendiri tadi.

Dia tidak tahu bahwa dia telah dibawa oleh kakek sakti itu melakukan Ilmu Ban-seng-po Lian-hoan (Langkah Selaksa Bintang Berantai).

Langkah-langkah ini menurut garis-garis perbintangan dan langkah-langkahnya teratur sedemikian rupa, penuh rahasia sehingga seolah-olah semua gerakan itu telah mendahului datangnya hujan serangan.

Melihat ini, seorang diantara pengawal atau sute dari Jenderal Beng Tian menjadi marah sekali!

Sambil berseru keras dia menyerang dahsyat kearah kepala Tiong Li.

Pemuda ini terkejut, maklum bahwa dia tidak akan mungkin dapat menyelamatkan diri, akan tetapi dia memejamkan matanya dan dengan membuta dia menurutkan tenaga kakek yang mengendalikannya.

Dia menggeliat dan meloncat kedepan malah!

Tentu saja hatinya terasa ngeri sekali.

Dipukul demikian dahsyat mengapa malah meloncat kedepan?

Akan tetapi sungguh aneh, karena dia meloncat kedepan ini, dia malah terhindar dari pukulan dahsyat yang ternyata telah datang kecuali tentu saja kedepan, karena si pemukul sama sekali tidak pernah menduga bahwa orang yang dipukul itu malah melangkah maju!

Inilah hebatnya Ban-seng-po Lian-hoan itu.

Ilmu ini memungkinkan segala gerakan kaki dan tubuh dalam menghadapi pengeroyokan lawan lawannya yang tangguh.

"Plak! Plakk!"

Tangan kakek itu menampar dan dua orang pengawal itu terhuyung kebelakang dengan muka pucat ketika mereka menangkis.

"Pemberontak hina!"

Terdengar Jenderal Beng Tian membentak dan pedang panjangnya menyambar.

Tiong Li sudah berhasil merampas sebatang tombak yang dibetotnya dari tangan seorang perajurit yang menyerangnya dan menggunakan tombak itu untuk menangkis pedang yang menyambar kearah kakek Kam.

"Trakkkk...!"

Tombak itu patah menjadi dua dan Tiong Li merasakan tangannya sampai kepangkal lengannya seperti lumpuh!

Dia terkejut setengah mati, akan tetapi pada saat itu, Jenderal Beng Tian juga terhuyung kebelakang karena ketika pedangnya bertemu dengan tombak ditangan pemuda itu, secepat kilat kakek Kam telah berhasil mendorong punggungnya dan dia merasa betapa hawa yang dingin sekali menyusup kedalam tubuhnya, membuat dia terhuyung dan cepat-cepat jenderal ini yang tidak mau menderita luka parah segera mengatur pernapasan seperti yang dilakukan oleh dua orang sutenya pula.

Melihat betapa tiga orang tertangguh itu menghentikan penyerangan, kakek Kam melihat kesempatan yang baik sekali.

"Kwee-sicu, cepat rampas kuda!"

Tiong Li yang sejak tadi secara membuta sudah menurut perintah kakek ini, sekarang membuka mata dan melihat seorang perwira menunggang kuda tak jauh dari situ, diapun meloncat mendekati.

Perwira itu menyambutnya dengan bacokan golok, akan tetapi Tiong Li mengelak kekiri dan menyambar lengan perwira itu, menariknya keraskeras kebawah.

Pada saat tubuh perwira itu terpelanting kebawah, Tiong Li meloncat keatas punggung kuda!

Dan pada saat itu pula, seorang lain telah terlempar dari atas punggung kudanya, tak jauh disebelah depan Tiong Li, dan tubuh Pek Lian melayang keatas punggung kuda.

"Naiki kuda itu dan larilah kalian I"

Terdengar kakek Kam berseru.

Akan tetapi karena Pek Lian menderita luka-luka dan merasa lelah sekali, dara ini tidak dapat mengatur tubuhnya dan ia hinggap diatas kuda itu dalam keadaan terbalik!

Akan tetapi sebelum ia terpelanting jatuh, tubuhnya sudah disambar lagi oleh kakek Kam yang tadi merobohkan empat orang perajurit, lalu kakek itupun membalapkan kuda, diikuti oleh Tiong Li.

"Hayo, jangan tidur, anak nakal!"

Kakek itu mengguncang-guncang tubuh Pek Lian.

"Engkau seorang gadis gagah perkasa, masa baru begini saja sudah turun semangat? Bangunlah, dan naiki kuda ini, larikan secepatnya, aku melindungi dari belakang!"

Kembali dia mengguncang.

"Mengertikah kau?"

Mendengar kata-kata ini dan karena guncangan-guncangan itu, apa lagi ketika tengkuknya ditotok dua kali oleh jari si kakek sakti, Pek Lian membuka matanya lebar-lebar.

"Aku mengerti, Lo-cianpwe."

Dan tahu-tahu kakek itu sudah meloncat keatas, meninggalkan Pek Lian, berjungkir balik dan membiarkan Tiong Li lewat, lalu dia sendiri menghadang para pengejar! "Kejar! Tangkap! Bunuh mereka!"

Terdengar teriakan para perwira dan tiba-tiba mereka itu melepaskan anak panah!

Hujan anak panah itu tiba-tiba runtuh semua ketika ditahan oleh bayangan kakek Kam yang berkelebatan kekanan kiri, atas bawah.

Demikian cepatnya, gerakan kakek ini sehingga dia mampu membendung dan meruntuhkan semua anak panah yang meluncur itu dengan kebutan-kebutan kedua ujung lengan bajunya dan pemutaran tongkatnya.

Bahkan ada beberapa batang anak panah yang mengenai tubuhnya, hanya merobek dan melubangi kain bajunya saja, namun tidak dapat melukai kulit tubuhnya.

Ketika barisan pengejar tiba dekat, kakek itu menggerakkan kedua tangannya dan anak panah yang belasan batang banyaknya meluncur kedepan, kearah kaki kuda dan barisan terdepan terguling, membawa para penunggangnya terlempar dan jatuh tersungkur, ditabrak oleh teman-teman dari belakang.

Tentu saja keadaan menjadi kacau-balau dan terdengar teriakan-teriakan mengaduh dan sumpah-serapah.

Sebagian besar meloncat turun dan menyerbu.

Kakek Kam sudah mengamuk lagi dengan tongkat bututnya dan siapapun yang dekat dengannya tentu roboh terguling.

Akan tetapi Jenderal Beng Tian dan dua orang pengawalnya, dibantu oleb para perwira, telah mengurungnya lagi.

Sekali ini jenderal itu yang dapat menduga bahwa dia berhadapan dengan seorang sakti, membentak marah.

"Kakek pemberontak jahat! Siapakah engkau?"

Mendengar bentakan panglima mereka, para pengeroyok itu menahan senjata mereka dan semua mata memandang kakek itu dibawah sinar obor-obor yang cepat menerangi tempat itu, dipegang oleh para perajurit.

"Siancai... tai-ciangkun yang gagah perkasa. aku bukanlah pemberontak. Namaku Kam Song Ki."

Jenderal Beng Tian adalah seorang panglima yang berilmu tinggi dan sudah banyak pengalaman, sudah banyak mengenal hampir semua tokoh persi-latan, akan tetapi dia tidak mengenal nama ini.

Hal itu tidaklah mengherankan mengingat bahwa kakek ini biarpun merupakan murid ketiga dari Raja Tabib Sakti, namun dia selalu mengasingkan diri dan selama puluhan tahun tidak pernah menonjolkan diri didunia kang-ouw sehingga namanya tidak dikenal orang.

"Orang tua she Kam, apakah engkau pura-pura tidak tahu bahwa orang-orang muda yang kau bela itu adalah pimpinan pemberontak-pemberontak besar dari Lembah Yang-ce?"

"Siancai... sayang sekali aku tidak tahu tentang berontak-memberontak. Setahuku kalau ada yang memberontak tentu ada sebabnya dan hanya yang tertindas sajalah yang akan memberontak, bukan? Setahuku, mereka adalah orang-orang yang baik dan melihat orang baik-baik dikeroyok, tentu saja aku membela mereka."

"Engkau hendak melawan pasukan pemerintah? Berarti engkau berani memberontak terhadap pemerintah!"

Kakek itu tertawa.

"Tai-ciangkun, kalau tidak salah ciangkun adalah Jenderal Beng Tian yang terkenal itu. Tentu saja orang seperti engkau ini akan bersetia sampai mati kepada pemerintah, tidak perduli bagaimana keadaannya, karena engkau mempertahankan kedudukanmu, kehormatan dan kemuliaan sebagai jenderal besar! Akan tetapi, aku hanyalah seorang rakyat biasa saja, dan orang macam aku ini hanya mempertahankan hidup, asal dapat makan setiap hari dan dapat menutupi tubuh dengan pakaian saja sudah cukuplah. Aku tidak ingin memberontak, akan tetapi kalau melihat kesewenang-wenangan, tentu saja aku tidak dapat tinggal diam saja."

"Kesewenang-wenangan yang bagaimana maksudmu?"

Jenderal itu membentak.

"Nona Ho Pek Lian kehilangan keluarganya. Seluruh keluarga ayahnya ditangkap, padahal, siapakah yang tidak tahu bahwa Menteri Kebudayaan Ho Ki Liong adalah seorang Menteri yang amat baik? Dan semua teman dari Kwee Tiong Li itu telah dibasmi oleh pasukan pemerintah! Apakah namanya itu kalau bukan sewenang-wenang? karena itulah aku membela mereka, bukan karena berontak-memberontak!"

Mendengar bahwa gadis yang tadi dikeroyok adalah puteri Menteri Ho, jenderal itu terkejut bukan main.

Biarpun Menteri Ho dianggap pemberontak oleh pemerintah dan Menteri beserta seluruh keluarganya itu ditangkap, namun diam-diam jenderal yang gagah perkasa ini merasa kagum bukan main terhadap Menteri Ho.

Tentu saja, sebagai seorang jenderal dia tidak mampu berbuat sesuatu kecuali merasa menyesal akan nasib Menteri yang dia tahu amat setia dan baik itu.

Kini, mendengar bahwa gadis yang gagah perkasa tadi adalah puteri Menteri Ho, dia menjadi semakin kagum dan lenyaplah napsunya untuk menangkap atau membunuh gadis itu.

Tugasnya hanyalah menumpas para pemberontak di lembah Yang-ce dan tugas itu telah diselesaikannya dengan baik.

Semua pemberontak telah berhasil ditumpasnya walaupun dia harus kehilangan banyak sekali perajurit.

Akan tetapi, sebagai seorrmg panglima, tentu, saja dia tidak boleh memperlihatkan sikap kagum terhadap orang yang dianggap pemberontak, maka diapun berteriak.

"Tangkap orang tua ini!"

Dua orang pengawal yang juga menjadi sutenya adalah orang-orang yang amat setia terhadap Jenderal itu, akan tetapi merekapun sudah mengenal baik suheng mereka.

Mereka itu, dengan pandang mata saja, sudah maklum akan isi hati suheng mereka yang didalam hati tidak ingin menangkap atau membunuh kakek ini, maka mereka berduapun bergerak lambat, membiarkan para perwira dan perajurit yang maju mengeroyok.

Dilain pihak, kakek Kam juga merasa heran mengapa panglima dan dua orang pembantunya yang amat lihai itu tidak turun tangan melainkan membiarkan anak-buahnya yang maju mengeroyoknya.

Maka diapun cepat menggerakkan tubuhnya dan dengan mudah saja dia meloloskan diri dari kepungan, terus melarikan diri, sengaja tidak berlari cepat agar para perajurit itu dapat terus mengejarnya.

Dia mengambil jalan kekanan, berlawanan dengan jalan yang diambil oleh dua ekor kuda yang melarikan Tiong Li dan Pek Lian tadi.

Dia terus main kucing-kucingan dan untuk menyembunyikan perasaan hati yang sesungguhnya, biarpun dia dapat menduga bahwa kakek Kam yang tidak berlari sekuatnya itu sengaja memancing kearah lain, Jenderal Beng Tian terus mendesak pasukannya untuk mengejar kakek itu sampai pagi!

Tentu saja pasukan itu menjadi semakin jauh dari jejak kaki dua ekor kuda itu dan menjelang pagi, mereka kehilangan bayangan kakek Kam.

Kakek ini tentu saja sudah kembali ketempat semula dan dibawah sinar matahari pagi dia melanjutkan perjalanan mengikuti jejak kaki dua ekor kuda.

Sambil berjalan, kedua kakinya diseret dan menghapus jejak kaki kuda itu dari permukaan tanah.

Matahari telah naik tinggi ketika kakek Kam tiba didalam hutan dimana dia mendapatkan Tiong Li dan Pek Lian sedang beristirahat.

Tiong Li duduk bersila dan mengatur pernapasan, mengumpulkan hawa murni untuk memulihkan kekuatan badannya sedangkan Pek Lian dengan wajah agak pucat duduk bersandar pohon tak jauh dari pemuda itu.

Kedatangan kakek itu sama-sekali tidak mereka ketahui dan barulah setelah kakek itu berada didepan mereka, keduanya terkejut sekali akan tetapi juga girang karena semalam mereka mengkhawatirkan keadaan kakek sakti itu.

"Lo-cianpwe...!"

Pek Lian berkata dan tiba-tiba saja kedua mata gadis ini menjadi basah air mata.

Hatinya memang sudah berduka sekali karena kematian dua orang gurunya dan khawatir akan keadaan kakek Kam yang melindungi ia dan Tiong Li.

"Lo-cianpwe, kami menghaturkan terimakasih karena hanya berkat pertolongan Lo-cianpwe maka kami berdua masih dapat hidup sampai sekarang,"

Kata Tiong Li, juga suaranya mengandung kedukaan besar. Kakek itu duduk didekat mereka.

"Nona, engkau masih mengandung luka dalam yang cukup berbahaya kalau tidak diobati. Mendekatlah!"

Kakek itu lalu menaruh telapak tangannya dipunggung Pek Lian yang segera merasakan adanya hawa panas menjalar masuk kedalam ruang dadanya.

Iapun cepat memejamkan kedua mata dan menerima hawa panas itu, membiarkan hawa itu berputar-putar dan mendorong atau menekan kearah bagian yang terkena pukulan dalam pengeroyokan tadi.

Setelah menyembuhkan luka-luka didalam tubuh Pek Lian dan membantu Tiong Li memulihkan kembali tenaganya, maka kakek itu lalu mengajak mereka duduk bercakap-cakap dibawah pohon dalam hutan itu.

"Sekarang aku ingin sekali mengetahui, apa rencana kalian selanjutnya? Apa yang akan kau lakukan sekarang, nona?"

Ho Pek Lian mengusap air matanya akan tetapi tidak terisak, lalu dengan mata kemerahan diamatinya wajah kakek sakti itu, kemudian ia menunduk dan berkata.

"Saya hendak menyelidiki keadaan ayah, Lo-cianpwe."

"Tapi itu berbahaya sekali!"

Kata Tiong Li.

"Saya sudah menasihatinya untuk tidak melakukan hal itu, Lo-cianpwe. Tentu ia akan terjebak dan tertawan."

"Jangankan hanya tertawan, biar mati sekalipun aku rela!"

Pek Lian berkata.

"Bagaimanapun juga, sebelum ayah tewas dalam hukuman... aku ingin melihatnya sekali lagi..."

Kembali tangannya mengusap air mata, membuat Tiong Li dan juga kakek itu menarik napas panjang dan merasa kasihan sekali.

"Dan bagaimana dengan engkau, Kwee-sicu?"

Bekas kokcu (ketua lembah) itu mengepal tinjunya. Matanya bersinar-sinar seperti mengeluarkan api ketika dia berkata, suaranya penuh kegeraman.

"Saya akan membalas dendam, Lo-cianpwe saya akan bergabung dengan suhu yang menjadi Bengcu (pemimpin rakyat) dan menghancurkan pemerintah dan Kaisar Chin yang lalim ini!"

"Sayapun demikian!"

Tiba-tiba Pek Lian berkata, mengepal tinjunya.

Baca Juga: Jodoh Rajawali 4

Baca Juga: Kisah Para Pendekar Pulau Es 8

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert