Ceritasilat Novel Online

Jodoh Rajawali 4

Eps 4 Jodoh Rajawali - Kho Ping Hoo

Baca online Jodoh Rajawali - Kho Ping Hoo

Cersil Jodoh Rajawali - Kho Ping Hoo.

Pementasan ini hanya beberapa adegan saja dari cerita See-yu yang panjang, yaitu di waktu Kauw Cee Thian Si Raja Monyet itu mempermainkan enam orang Siluman Laba-laba yang menjadi enam orang wanita cantik.

Siang In lalu memakai topeng monyet dan mulailah dia menari-nari seperti seekor monyet yang membawa sebatang tongkat panjang, yaitu tongkat Kim-kauw-pang, senjata ampuh dari Si Raja Monyet.

Di sini Siang In memperlihatkan kemahirannya bermain sulap!

Dia maklum bahwa guru dari Hwa-i-kongcu, Nenek Durganini, adalah seorang ahli sihir yang luar biasa, dan bahwa saat itu Durganini tidak ada di situ karena nenek itu telah kena dia akali dan agaknya telah pergi untuk mencari suhunya, See-thian Hoatsu, maka kini gadis ini berani memperlihatkan kepandaian dalam ilmu sihir.

Kalau ada nenek itu di situ, tentu dia tidak berani banyak bertingkah!

Tongkat itu, seperti tongkat Kim-kauw-pang yang sesungguhnya dalam cerita See-yu, digerakkan untuk bermain sulap.

Dia sebagai Kauw Cee Thian lalu menyulap tongkat itu menjadi kecil seperti sebatang pensil yang dapat ia selipkan di atas daun telinganya!

Kemudian ia menyulapnya menjadi besar sampai panjangnya menjadi tiga kali lipat panjang biasa.

Siang In lalu bermain silat, diputar-putarnya tongkat itu sedemikian rupa sampai lenyap bentuk tongkatnya dan yang nampak hanyalah gulungan putih yang amat indah.

Tentu saja semua orang bertepuk tangan memujinya.

Akan tetapi, dasar Siang In adalah seorang dara yang lincah dan bengal, kadang-kadang timbul sifat yang ugal-ugalan sehingga dia suka menggoda orang.

Pada saat itu timbul kerakusannya akan pujian setelah melihat semua orang terheran-heran dan memujinya.

Dia lalu membuat api dengan tongkatnya.

Suasana menjadi serem karena pada adegan yang menceritakan pembakaran itu, tahu-tahu dari tongkatnya muncul api berkobar-kobar.

Dan semua orang terbelalak kaget ketika melihat betapa gadis cantik itu, kini bermain sebagai Sun Go Kong atau Kauw Cee-Thian yang beralih rupa, berkali-kali berteriak akan berganti rupa, dan dia benar-benar telah beralih rupa di depan mata mereka!

"Lihat, aku akan menjadi seekor harimau!"

Terdengar dara itu berseru dan "Hauuuwwwww!"

Di situ nampak seekor harimau dan si Kauw Cee Thian itu lenyap!

Bahkan pada akhir pertunjukan, semua orang menjadi panik dan di samping rasa kagum mereka juga memandang dengan mata terbelalak, muka pucat dan kepala pening ketika si Kauw Cee Thian itu "mencabut"

Bulu tubuhnya, meniup bulu-bulu itu dan muncullah belasan orang Kauw Cee Thian lain di atas panggung!

Suasana menjadi sunyi.

Bahkan para pemain opera lainnya menjadi terbelalak, terdengar para pelayan menjerit saking takut dan ngerinya, dan pada saat itu tiba-tiba saja terdengar bunyi kelenengan yang nyaring sekali.

Begitu terdengar suara ini, semua penglihatan aneh itu pun lenyaplah!

Bayangan-bayangan Kauw Cee Thian ciptaan dari bulu itu pun lenyap dan di atas panggung Si Raja Monyet yang dimainkan oleh gadis itu terhuyung-huyung.

Baiknya suara kelenengan itu berhenti dan Siang In dapat menyelinap di antara kawan-kawan anggauta opera sambil menanggalkan topeng monyetnya.

Untung dia memakai kedok sehingga tldak kelihatan betapa muka yang sesungguhnya dari gadis ini agak pucat.

Dia tadi telah diserang oleh suara kelenengan yang mengandung daya mujijat untuk memuaskan semua sihirnya!

Diam-diam dia melirik ke arah orang Nepal tadi, yang kini sudah menyimpan kembali kelenengannya.

Hemmm, dia seorang ahli, aku harus waspada, bisik hati Siang ln.

"Bagus! Bagus sekali pertunjukan tadi!"

Si orang Nepal itu bangkit sambil berkata dalam bahasa Han yang agak kaku namun cukup lancar, tanda bahwa biarpun dia belum dapat melenyapkan lidah asingnya, namun dia sudah mempelajari bahasa daerah ini dengan baik dan telah menguasai sepenuhnya.

"Kepandaian sripanggung memang hebat, dan saya Gitananda dari Nepal, benar-benar merasa beruntung dapat melihat kepandaian yang amat hebat dari seorang yang masih begitu muda. Sekarang, untuk meramaikan pesta biarlah saya yang bodoh menyumbangkan sedikit permainan, jika Hwa-i-kongcu mengijinkannya!"

Sambil berkata demikian, dia menjura ke arah tuan rumah.

Hwa-i-kongcu yang duduk dan sejak tadi memperhatikan permainan Siang In dengan penuh keheranan dan kekaguman itu mengangguk.

Diam-diam Hwa-i-kongcu terheran-heran.

Dia sendiri adalah murid seorang ahli sihir dan bagi dia, sihir yang diperlihatkan oleh sripanggung tadi biapun tidak aneh, namun amat mengherankan hatinya karena kalau sripanggung itu dapat menguasai para penonton dengan sihirnya, maka sripanggung itu bukan orang sembarangan!

Dan agaknya kakek Nepal ini pun seorang ahli sihir pula!

Kalau saja subonya tidak pergi!

Tentu saja bagi subonya, semua pertunjukan tadi hanyalah merupakan permainan kanak-kanak saja, sungguhpun bagi, dia sendiri sudah merupakan kepandaian yang tidak mudah dilakukan.

Kini Kakek Gitananda melangkah ke tengah ruangan itu, membawa tongkatnya dan membawa pula sebuah kotak kecil.

Setelah mengangguk ke empat penjuru seperti lagak seorang ahli sulap sedang berdemonstrasi, dia lalu melemparkan kotak itu ke atas, lalu tongkatnya diacungkan ke atas menyambar kotak itu yang disangganya dan dibawanya berkeliling.

Kemudian dia kembali ke tengah ruangan dan tiba-tiba dia menarik tongkatnya dan....

kotak itu masih tetap terapung di udara tanpa penyangga!

Kakek itu lalu duduk bersila di bawah kotak yang terapung itu dan membawa tongkat ke mulutnya, meniup dan....

terdengarlah suara suling yang merdu, seolah-olah dia sedang meniup sebatang suling, bukan tongkat!

Semua orang terpesona memandang kearah kakek itu kemudian menahan napas ketika melihat kotak di udara itu terbuka tutupnya, dan dari dalam kotak munculiah seekot ular kobra!

Kulitnya yang hitam coklat kekuningan itu berkilat, matanya kemerahan dan lehernya mekar, mulutnya mendesis-desis, akan tetapi ular itu lalu mulai menari-nari mengikuti suara suling tongkat!

Lucu dan juga indah karena tubuh ular begitu lemasnya ketika menari-nari, tidak kalah dengan lemasnya pinggang sripanggung yang ramping tadi!

Dengan gerakan melenggang-lenggok ular itu melayang keluar dari kotak, lalu turun ke atas lantai di depan si kakek Nepal, Lalu kepalanya berubah menjadi dua, tiga, empat dan akhirnya nampaklah ular kobra itu mempunyai tiga belas buah kepala yang semuanya diangkat dan menari-nari menurut bunyi suling yang ditiup kakek itu, suling yang sebetulnya hanyalah sebatang tongkat.

Tak lama kemudian, ketika suara suling meninggi, ular kobra berkepala tiga belas itu lalu melayang ke atas, kembali memasuki kotak dan turunlah kotak itu perlahan-lahan ke atas pangkuan si kakek Nepal yang juga menghentikan tiupan pada tongkatnya.

Tentu saja permainannya yang luar biasa itu disambut tepuk tangan riuh, dan si kakek Nepal bangkit berdiri, menjura ke empat penjuru dan matanya yang seperti menjuling di atas sebatang hidung melengkung itu mengerling ke arah Siang In yang diam-diam juga terkejut bukan main, maklum bahwa kakek Nepal itu merupakan seorang lawan yang amat tangguh dalam ilmu sihir.

Hidangan besar dan arak mulai membanjiri meja-meja para tamu dan mulailah para tamu bergembira makan dan minum arak.

Minuman keras itu membuat mereka menjadi gembira dan obrolan di antara mereka menjadi makin terlepas dan bebas.

Kini di atas panggung diadakan (Lanjut ke

Jilid 11) Jodoh Rajawali (Seri ke 10 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 11 pertunjukan pelawak dan lawakan mereka membuat para tamu yang mulai terpengaruh minuman keras itu tertawa bergelak.

Suasana menjadi meriah dan gembira sekali.

Para anggauta Hek-eng-pang yang menyamar sebagai pelayan-pelayan yang dikirim oleh Si Jari Maut sebagai sumbangan kepada Hwai-kongcu, dengan sikapnya membantu pelayanan hidangan untuk para tamu sedangkan sebagian pula mulai menyelidiki tempat persembunyian pengantin wanita yang harus mereka culik.

Di panggung kini terjadi pertunjukan yang amat menarik, yaitu kekuatan minum arak!

Dan kembali kakek Nepal yang bernama Gitananda dan yang tadi bermain sulap, memperlihatkan kepandaiannya yang hebat.

Dia menantang jago-jago minum untuk adu kuat minum arak melawan dia dan sudah ada tiga orang roboh pingsan karena mabuk melawan Gitananda.

Mereka digotong ke luar.

Kini yang menghadapinya adalah seorang kakek bertubuh pendek, perutnya sebesar gentong dan kepalanya botak, orang ini terkenal sebagai "setan arak"

Di antara kawan-kawannya dan perutnya yang gendut luar biasa dan kepalanya yang botak itu kabarnya juga karena kebanyakan minum arak!

Cawan demi cawan diminum oleh Gitananda dan lawannya yang baru ini setiap cawan yang memasuki mulut mereka diikuti sorak-sorai para tamu yang menonton pertandingan yang menggembirakan ini.

"Ah, aku haus sekali, sungguh tidak memuaskan minum dari cawan yang kecil ini. Kesinikan dua guci penuh!"

Tiba-tiba Gitananda bertepuk tangan dan seorang pelayan segera berlari mengambilkan dua guci penuh arak yang digotong oleh empat orang pelayan dan diletakkannya dua buah guci arak itu ke atas meja.

Gitananda tertawa memandang kepada lawan-nya yang gendut.

"Bagaimana kalau kita minum dari guci ini saja?"

Si gendut tersenyum.

"Silakan kau dulu!"

Dia menantang.

Gitananda lalu mengangkat guci itu menempelkan bibir guci ke mulutnya dan terdengarlah suara menggelogok ketika dia menuangkan isi guci ke dalam perut melalui mulutnya.

Lama sekali dia minum sampai akhirnya guci itu kosong dan dia meletakkan guci itu di atas meja.

Semua orang mengeluarkan seruan kaget, heran dan kagum sekali.

Satu guci arak itu biasanya dihabiskan oleh delapan orang atau satu meja untuk satu kali perjamuan.

Akan tetapi sekarang ditenggak habis sekaligus oleh kakek Nepal ini.

Sungguh merupakan hal yang luar biasa.

"Ha-ha-ha, giliranmu!"

Kata Gitananda kepada Si gendut.

Dengan dorongan kawan-kawannya, akhirnya Si gendut yang terkenal sebagai setan arak itu pun mengangkat gucinya dan seperti yang dilakukan oleh lawannya tadi, dia pun menenggak arak itu langsung dari gucinya.

Lebih lama lagi dia minum, mukanya sampai ke botak-botaknya menjadi merah dan ketika akhirnya dia menghabiskan arak itu, gucinya terlepas dari tangannya dan jatuh menggelinding ke atas lantai.

Si gundul botak itu sendiri tertawa aneh, lalu bangkit perutnya yang gendut menjadi makin besar dan matanya menjadi merah.

Suara ketawanya menunjukkan bahwa dia telah menjadi mabuk!

"Heh-heh-heh....

kau hebat....

heh-heh, aku kalah deh...."

Si gendut bangkit berdiri, terhuyung kembali ke kursinya, akan tetapi hampir dia jatuh.

Untuk menahan tubuhnya, tangannya diulur untuk meraih pinggang seorang dayang atau seorang pelayan wanita yang sedang lewat membawa baki.

Akan tetapi pelayan itu, yang bukan lain adalah seorang ang-gauta Hek-eng-pang, dengan mudah mengelak dengan menggerakkan pinggul dan miringkan tubuh.

Tentu saja karena raihan tangannya dielakkan, tubuh si gendut mendoyong ke depan.

Akan tetapi ternyata setan arak ini bukan hanya kuat minum arak, melainkan juga pandai ilmu silat dan biarpun dia mabuk sekali, dalam keadaan mendoyong hampir jatuh itu kedua tangannya dapat bergerak cepat ke samping untuk merangkul, sekali ini rangkulannya ditujukan kepada buah pinggul yang menonjol besar itu.

Semua tamu tertawa menyaksikan ini.

Akan tetapi dengan gerakan lincah, si pelayan itu kembali mengelak.

Masakan yang berada di dalam mangkok di atas bakinya sama sekali tidak tumpah, dan sekali ini si gendut tidak dapat mencegah lagi tubuhnya yang limbung.

Dia jatuh!

Kembali semua orang menertawakannya.

"Ehhhhh!"

Si Gendut yang merasa malu karena ditertawakan menjadi marah kepada pelayan itu.

Begitu dia terguling, kakinya mencuat untuk menyerampang kaki si pelayan agar jatuh bersama dia.

Akan tetapi kembali dia keliru karena pelayan itu meloncat dan kembali dapat menghindarkan diri, terus menyelinap pergi.

Para tamu bertepuk tangan memuji kelincahan pelayan wanita itu.

Sementara itu, Hak Im Cu, seorang tosu tinggi kurus yang wajahnya bengis, yang amat tinggi ilmu silatnya dan terkenal sebagai seorang ahli ginkang dan yang menjadi seorang di antara pembantu-pembantu utama Hwa-i-kongcu, diam-diam menjaga keamanan bersama dua orang temannya untuk menjamin keselamatan Hwa-i-kongcu dan Liong-sim-pang.

Mereka adalah tiga orang dan sesungguhnya mereka itu bukan anggauta Liong-sim-pang, melainkan tamu-tamu, juga mereka bertiga merupakan sahabat-sahabat dan pembantu-pembantu utama.

Di samping tosu Hak Im Cu ini, masih ada dua orang lain yang tidak kalah lihainya.

Yang pertama adalah Ban-kin-kwi Kwan Ok, yang sebaya dengan Hak Im Cu, berusia kurang lebih enam puluh tahun.

Berbeda dengan Hak Im Cu yang tinggi kurus dan ahli ginkang, Kwan Ok ini, sesuai dengan julukannya, yaitu Ban-kin-kwi (Setan Bertenaga Selaksa Kati) bertubuh tinggi besar, bermuka hitam dan tenaganya sekuat gajah!

Adapun yang ke dua atau orang ke tiga di antara tiga sekawan ini adalah Hai-liong-ong Ciok Gu To, juga usianya kurang lebih enam puluh tahun, tubuhnya gemuk pendek dan kepalanya gundul akan tetapi dia bukan seorang pendeta, melainkan seorang bekas bajak tunggal yang amat terkenal karena selain ahli bermain di air juga dia seorang ahli lweekeh yang memiliki tenaga dalam kuat sekali.

Memang tadinya tiga orang ini bukan merupakan sahabat-sahabat.

Akan tetapi, ketiganya diundang oleh Hwa-i-kongcu dan menjadi pembantu utama, tentu saja mereka menjadi sahabat yang memiliki keahlian berbeda-beda.

Di dalam cerita Kisah Sepasang Rajawali, tiga orang lihai ini pernah muncul di Telaga Sungai, Ketika terjadi perebutan anak ular naga di telaga tersebut dan biarpun tiga orang ini lihai sekali, namun karena di telaga itu berkumpul banyak sekali orang-orang pandai, mereka tidak berhasil mendapatkan anak naga itu.

Demikianlah keadaan singkat tiga orang pembantu utama Hwa-i-kongcu yang kini telah berada di tempat pesta itu.

Sejak semula, mereka sudah agak curiga ketika mendengar bahwa Si Jari Maut mengirim sumbangan berupa wanita-wanita pelayan yang cantik-cantik itu, maka diam-diam mereka, terutama sekali tosu Hek Im Cu, memasang mata dan mencurahkan perhatian kepada para pelayan itu.

Peristiwa yang terjadi ketika seorang pelayan hendak dirangkul setan arak yang gendut, melihat cara pelayan itu menghindarkan diri, membuat Hak Im Cu menjadi makin curiga.

Jelas bahwa pelayan itu memiliki ilmu silat cukup tinggi sehingga dapat menghindarkan tubrukan dan terkaman si gendut sedemikian mudahnya dan dalam gerakannya mengelak itu, baki tidak terguling bahkan kuah dalam mangkok tidak tumpah.

Biarpun yang mengirim Si Jari Maut yang terkenal, namun pelayan-pelayan yang pandai ilmu silat sungguh mencurigakan.

Apalagi pemimpin pelayan itu, yang cantik dan agung dan yang kini tidak nampak.

Hak Im Cu lalu menghubungi dua orang temannya, mereka berbisik-bisik, lalu dengan tergesa-gesa ketiganya menuju ke belakang untuk menyelidiki dan kalau perlu mengumpulkan pelayan-pelayan sumbangan itu untuk memeriksa mereka.

Akan tetapi pada saat itu, terdengar suara terompet dan canang di pukul gencar.

Itulah tanda bahaya dan tak lama kemudian terdengarlah teriakan-teriakan bahwa pengantin puteri diculik orang!

Gegerlah keadaan dalam pesta itu ketika suara berisik ini terdengar dan mereka mendengar bahwa pengantin puteri diculik orang.

Keributan ini disusul oleh keributan lain yang lebih meributkan ketika para pelayan wanita itu, dengan menggunakan batu yang memang sudah mereka persiapkan sebelumnya, ada pula yang menggunakan mangkok piring menyambit ke arah lampu-lampu di seluruh tempat sehingga lampu-lampu itu pecah dan padam.

Keadaan menjadi gelap gulita dan tentu saja para tamu menjadi panik, kecuali mereka yang berkepandaian tinggi, karena mereka ini maklum bahwa terjadi hal hebat dan cepat mereka menggunakan kepandaian untuk bersiap-siap turun tangan membantu fihak tuan rumah.

Tentu saja Siang In juga terkejut bukan main.

Dia sama sekali tidak mengira bahwa akan terjadi hal seperti itu.

Ketika teman-temannya para penari menjerit dan berkumpul menjadi satu dalam keadaan ketakutan, dia sendiri cepat meloncat dan menyelinap di antara orang-orang yang sedang panik, melihat para pelayan wanita menyambiti lampu-lampu dengan ketepatan seorang ahli, dia memaki kebodohan sendiri yang tidak menduga bahwa pelayan-pelayan wanita itu ternyata adalah orang-orang yang mempunyai niat sama dengan dia yaitu menculik sang puteri!

Dia berlari terus menuju ke tempat tinggal Syanti Dewi dan benar saja, tepat seperti yang dikhawatirkannya, sang puteri telah lenyap dan di situ terdapat Hwa-i-kongcu dan para pembantunya.

Hwa-i-kongcu marah-marah dan memaki-maki para pengawalnya yang dikatakannya tolol.

"Kejar! Isteriku harus dapat dirampas kembali!"

Teriaknya marah-marah dan dari tempat persembu-nyiannya, Siang In melihat betapa tosu tinggi kurus, raksasa tinggi besar muka hitam, dan si gemuk pendek berkepala gundul itu berkelebat dengan kecepatan yang mengejutkan, melakukan pencarian atau pengejaran tanpa mengeluarkan kata-kata apa pun.

Dia terkejut.

Kiranya Hwa-i-kongcu dibantu orang-orang pandai.

Namun toh Syanti Dewi dapat diculik orang.

Hal ini menunjukkan betapa lihainya si penculik yang agaknya dibantu oleh para pelayan wanita.

Dia meninggalkan tempat sembunyinya untuk melakukan pengejaran pula.

Dia harus mendapatkan Syanti Dewi karena agaknya, terjatuh ke tangan siapa pun juga, kecuali ke tangannya, tentu Puteri Bhutan itu akan celaka.

Ketika dia ke luar, ternyata di sana-sini telah terjadi pertempuran-pertempuran hebat antara wanita-wanita pelayan dan para pengawal dan anak buah Hwa-i-kongcu.

Kini jelaslah sudah bahwa pelayan-pelayan wanita itu adalah serombongan orang yang menyamar untuk menculik sang puteri!

Dan ternyata mereka itu terdiri dari orang-orang lihai, sama sekali bukan lawan para pengawal Hwa-i-kongcu atau anggauta-anggauta Liong-sim-pang biasa saja.

Hanya tiga orang lihai tadi yang dapat mengatasi mereka dan mulailah ada beberapa orang wanita pelayan roboh dan selebihnya lalu melarikan diri, dikejar oleh tiga orang itu dan para anak buah Liong-sim-pang.

Tamu-tamu makin panik dan sebagian besar menyelamatkan diri dengan sembunyi di balik semak-semak atau pohon-pohon di dalam taman, ada pula yang begitu saja memasuki kamar-kamar, tidak peduli kamar siapa, dan ada pula yang menyelinap ke dalam dapur, tidak peduli pakaian dan mukanya penuh hangus.

Hanya yang berkepandaian saja membantu para anggauta Liong-sim-pang melakukan pengejaran kepada rombongan wanita pelayan yang ternyata merupakan gerombolan penculik itu.

Ternyata orang-orang Hek-eng-pang amat cerdik dan sebelum mereka melakukan penculikan, sebagian di antara mereka telah mengatur "jalan lari"

Untuk kawan-kawannya.

Kini, mereka mengikuti jalan yang mereka buat, dan dipimpin oleh Hek-eng-pangcu sendiri, yaitu Yang-liu Nio-nio, mereka berserabutan memasuki taman melalui jalan yang sudah direncanakan semula.

"Penculik-penculik hina, hendak lari ke mana kalian?"

Hak Im Cu mengejar dan paling cepat larinya tosu ini karena dia memang seorang ahli ginkang yang hebat.

"Liong-li, bawa dia ini!"

Yang-liu Nio-nio berteriak dan melemparkan tubuh Syanti Dewi yang sudah ditotoknya itu ke arah muridnya itu.

Liong-li menyambut tubuh itu dan terus melarikan diri, sedangkan Yang-liu Nio-nio menyambut, serangan pedang Hak Im Cu dengan ranting yang-liu yang tadi dipegangnya.

"Singgg.... trakkkkk!"

Pedang itu tertahan oleh ranting dan keduanya lalu bertempur seru.

Sementara itu, para pengawal yang melihat pengantin wanita dilarikan seorang pelayan dan belasan pelayan lain, cepat mengejar.

Liong-li lari bersama teman-temannya, meloncati jalan di antara semak-semak.

Para pengawal atau anak buah Liong-sim-pang mengejar.

"Blarrr....!"

Terjadi ledakan keras dan empat orang anak buah Liong-sim-pang terlempar ke sana-sini oleh ledakan itu.

Kiranya di situ sudah dipasang jebakan semacam ranjau oleh orang-orang Hek-eng-pang yang tadi meloncati tempat itu.

Anak buah Liong-sim-pang yang tidak tahu tentu saja berlari biasa dan menginjak ranjau itu.

Bersama bunyi ledakan, Yang-liu Nio-nio diikuti oleh beberapa orang anak buahnya juga lari karena Ban-kin-kwi Kwan Ok dan Hai-liong-ong Ciok Gu To telah tiba di situ.

Melihat adanya tiga orang yang amat lihai ini, Yang-liu Nionio mengajak anak buahnya lari dan mereka menyelinap di semak-semak belukar di luar taman.

"Keparat jangan lari!"

Hak Im Cu memaki dan mengejar, akan tetapi tiba-tiba semak-semak itu terbakar dan nyalanya demikian besar karena ternyata semak-semak itu telah disiram minyak.

Terpaksa tiga orang lihai ini tidak berani menerjang api dan mengambil jalan memutar.

Mereka melihat wanita tua cantik memegang ranting itu bersama lima orang wanita pelayan lain menyeberangi jembatan di luar taman.

Tentu saja dengan cepat mereka mengejar.

Wanita-wanita itu telah tiba di seberang jembatan dan baru saja Hak Im Cu dan kawan-kawannya tiba di jembatan dan meloncat ke atasnya, tiba-tiba jembatan itu ambruk!

Tentu saja ini pun buatan para anggauta Hek-eng-pang.

Untung bahwa yang berada di jembatan itu adalah Hak Im Cu bertiga yang tentu saja dapat meloncat kembali ke belakang dan tidak sampai ikut terjatuh bersama jembatan itu.

Hak Im Cu dan teman-temannya, juga para anak buah Liong-sim-pang cepat mengejar para wanita yang telah tiba di tembok yang mengelilingi tempat markas Liong-sim-pang itu.

Dengan gerakan-gerakan yang amat ringan, mereka meloncat ke atas tembok, didahului oleh Liong-li yang memondong tubuh Syanti Dewi.

"Ha-ha-ha, kalian hendak lari kemana?"

Tiba-tiba terdengar suara ketawa dan kiranya di atas tembok, di menara penjagaan, telah nongkrong seorang tinggi besar bersorban yang bukan lain adalah Gitananda, tokoh aneh dari Nepal tadi!

"Liong-li, lari....!"

Yang-liu Nio-nio berteriak dan dia sendiri menggunakan ranting yang-liu, langsung menubruk dan menyerang kakek Nepal itu.

Si kakek Nepal terkejut karena tahu bahwa serangan nenek cantik ini cepat dan kuat bukan main, maka dia pun menggerakkan tongkatnya menangkis dan mereka segera bertempur di dalam menara penjagaan itu.

Kesempatan ini dipergunakan oleh Liong-li untuk berloncatan pergi ke tempat di mana Tek Hoat dan para anak buah Hek-eng-pang yang lain sudah siap dengan kuda mereka.

Hak Im Cu dan kawan-kawannya tidak mempedulikan nenek yang masih bertanding melawan orang Nepal itu, karena bagi mereka yang terpenting adalah merampas kembali pengatin wanita yang terculik, maka mereka lalu mengerahkan para anak buah Liong-sim-pang untuk mengejar melalui pintu gerbang sedangkan mereka bertiga sendiri melakukan pengejaran dari atas dengan berlompatan.

Melihat bahwa anak muridnya dan para anak buah Hek-eng-pang sudah berhasil keluar dari tembok, Yang-liu Nio-nio cepat mendesak kakek Nepal, dengan gerakan ranting yang-liu dan ketika kakek itu menangkis dengan tongkatnya, tangan kirinya melakukan pukulan atau cengkeraman mautnya, yaitu Hek-eng-jiauw-kang yang hebat bukan main.

Dari jari-jari tangannya yang dibentuk seperti kuku garuda itu menyambar hawa dahsyat sekali.

"Ehhhhh....!"

Gitananda terkejut dan cepat meloncat ke belakang, akan tetapi dia melihat nenek cantik itu pun meloncat jauh dan melarikan diri di dalam gelap.

Karena malam itu gelap dan penerangan dari atas tembok tidak berapa besar, maka kakek Nepal yang hanya menjadi tamu ini tidak mau membahayakan dirinya.

Dia maklum bahwa mengejar seorang lawan pandai di tempat gelap amatlah berbahaya, maka dia pun melakukan pengejaran seenaknya saja, dengan sikap amat berhati-hati.

Kini terjadilah kejar-kejaran di luar tembok dan di tempat terbuka di daerah Pegunungan Lu-liang-san, di malam gelap itu.

Akan tetapi sebentar saja, para wanita yang memang sebelumnya sudah mengatur jalan dengan cerdiknya, dapat melarikan diri di tempat gelap dan terus dikejar oleh para anggauta Liong-simpang yang dipimpin oleh Hak Im Cu dan dua orang temannya, bahkan kemudian Hwa-i-kongcu pengantin pria yang gagal itu pun melakukan pengejaran sendiri.

Kita tinggalkan dulu para penculik Syanti Dewi yang melarikan diri dan dikejar oleh anggauta Liong-sim-pang, dan juga secara diam-diam dikejar pula oleh seorang gadis cantik, yaitu Siang In dan mari kita kembali mengikuti keadaan Suma Kian Lee yang menjadi tawanan Hek-eng-pang.

Seperti telah diceritakan di bagian depan Suma Kian Lee tidak berdaya dan menjadi setengah tawanan dari Hek-eng-pang karena Hek-eng-pang mengancam akan membunuh Cui Lan dan Gubernur Hok kalau dia melawan.

Akan tetapi munculnya Ang Tek Hoat membuka rahasianya dan akhirnya, dalam pertandingan melawan Tek Hoat, dia dikeroyok dan roboh pingsan.

Ketika Kian Lee sadar kembali, dia telah berada di dalam sebuah kamar dan dijaga oleh empat orang wanita anggauta Hek-eng-pang yang cantik-cantik.

Begitu siuman, dia bangkit duduk dan siap untuk mengamuk, akan tetapi seorang wanita cantik yang dia tahu merupakan seorang di antara kepala-kepala pasukan di Hek-eng-pang, muncul dan berkata.

"Harap kau suka tenang, Kongcu. Kalau tidak, terpaksa dua orang kawanmu itu kami bunuh!"

Teringat akan Cui Lan dan Hok-taijin, Suma Kian Lee tenang kembali dan dia bangkit duduk dan berkata.

"Sesungguhnya, apakah yang kalian kehendaki dari aku?"

Dia memandang ke kanan kiri dan bertanya lagi.

"Mana ketua kalian itu? Dan mana pula Tek Hoat? Suruh mereka bicara dengan aku!"

"Pangcu sedang pergi dan aku yang diberi tugas untuk minta agar kau mengaku saja semuanya, Suma-kongcu. Bukankah sudah jelas bahwa yang merampas harta keluarga Kao adalah seorang pemuda yang dikenal sebagai Suma-kongcu dan menjadi saudaramu? Nah, sekarang, demi keselamatan dua orang kawanmu itu, terutama dara cantik jelita yang selalu menanyakan keadaan dan mengkhawatirkan keselamatanmu itu, yang agaknya adalah.... eh, kekasihmu."

"Jangan bicara sembarangan!"

Kian Lee menghardik dan mukanya berubah merah.

Ia tahu betapa lembut dan halus perasaan Cui Lan, betapa dara itu masih mengkhawatirkannya, akan tetapi hal itu bukan berarti dara itu cinta kepadanya karena hati dan cinta kasih dara itu telah ditumpahkan kepada Siluman Kecil!

"Maaf, Kongcu.

Sekarang, demi keselamatan mereka, harap Kongcu berterus terang saja, di mana adanya harta itu dan agar dikembalikan kepada kami untuk ditukar dengan dua orang kawanmu."

"Kalian adalah orang-orang bodoh yang suka menuduh orang secara ngawur saja!"

Kian Lee berkata dengan nada menyesal.

"Aku bukanlah orang-orang macam kalian yang suka membohong, apalagi menghendaki barang orang lain. Sesungguhnya, aku sama sekali tidak tahu tentang harta itu. Kalau kau tidak keberatan, ceritakanlah kepadaku apa yang telah terjadi?"Wanita cantik itu tersenyum, seolah-olah dia tahu bahwa Kian Lee berpura-pura. Lalu dia menarik napas panjang dan berkata.

"Kongcu, engkau membuat tugas kami menjadi lebih berat lagi. Kenapa masih pura-pura tidak tahu kalau yang melakukan ini adalah saudaramu sendiri?"

Kian Lee menahan kesabarannya.

"Aku memang mempunyai saudara yang sedang kucari-cari, akan tetapi saudaraku bukanlah perampok atau penculik! Nah, sudah kukatakan bahwa aku tidak tahu apa-apa dalam hal ini. Kau mau menjelaskan atau tidak terserah!"

Melihat sikap ini, wanita itu menjadi ragu-ragu dan dia pun bercerita.

"Kami mendengar bahwa keluarga Jenderal Kao Liang telah mengundurkan diri dan hendak pulang ke kampung membawa harta yang besar. Karena rombongannya akan lewat tidak jauh dari sini, maka pangcu lalu memerintah kami untuk menghadang dan merampas harta pusaka itu. Kami sudah hampir berhasil, akan tetapi ternyata banyak fihak lain yang juga mengandung niat yang sama dengan kami. Mereka adalah orang-orang lembah, yaitu perkumpulan Huang-ho Kui-liong-pang yang menjadi musuh besar kami. Kemudian dalam perebutan harta pusaka keluarga Kao itu muncul pula pengawal-pengawal kerajaan yang menyamar, dan kami mendengar pula nama Suma-kongcu. Karena kami tidak berhasil merampas harta, juga fihak Kui-liong-pang tidak pula, sedangkan para pengawal itu telah kami hancurkan, maka tinggal Suma-kongcu itulah yang mencurigakan dan tentu dia yang telah merampas harta pusaka keluarga Kao."

"Hemmm, dan di mana adanya keluarga Kao sendiri?"

Wanita itu tersenyum dan mencibirkan bibirnya yang merah.

"Mereka terculik dan kami tidak tertarik oleh hal itu. Kami hanya mementingkan harta pusaka dan karena jelas bahwa harta itu dirampas oleh Suma-kongcu, sedangkan engkau adalah saudaranya, maka kami mengharap bantuanmu untuk mengembalikan harta itu kepada kami sebagai penukaran diri dua orang kawanmu."

Akan tetapi Kian Lee sudah tidak mempedulikan omongan wanita itu lebih lanjut karena dia sudah melamun!

Kini mengertilah dia mengapa hal-hal aneh itu terjadi kepadanya.

Jenderal Kao dan dua orang puteranya menyerangnya, tentu mereka itu pun mendengar bahwa Suma kongcu yang tentu saja kalau memang benar demikian adalah adiknya, Kian Bu, yang mencuri harta mereka dan menculik keluarga mereka.

Pantas saja jenderal itu dan dua orang puteranya menyerang dia!

Tentu ini fitnah belaka!

Tidak mungkin adiknya, Suma Kian Bu, telah berubah menjadi garong!

Apalagi menjadi penculik!

Ini tentu fitnah!

Dan dia berkewajiban untuk membongkar rahasia ini.

Dia harus dapat menemukan keluarga Jenderal Kao dan menemukan harta yang dirampas orang, bukan hanya untuk membantu keluarga Jenderal Kao itu melainkan juga untuk membersihkan nama adiknya dari fitnah.

Akan tetapi sebelum dapat mencari keluarga Jenderal Kao dan harta pusakanya itu, lebih dulu dia harus dapat meloloskan diri dari tempat ini tanpa membahayakan Cui Lan dan Gubernur Hok.

Ah, betapa banyaknya hal yang harus dikerjakan, betapa banyaknya halangan dihadapinya dalam perjalanannya kali ini.

Masih ada lagi tugas yang juga amat penting, yaitu menyelidiki dan membebaskan Pangeran Yung Hwa!

"Biarkan aku bicara sendiri dengan Tek Hoat dan dengan ketua kalian,"

Akhirnya dia berkata.

"Terjadi salah duga atau fitnah keji dalam hal ini,"

Hanya demikian jawabnya dan akhirnya wanita itu pun meninggalkannya, mengatakan bahwa ketua Hek-eng-pang yang pergi bersama Si Jari Maut belum pulang.

Sampai hari menjadi malam, ketua Hek-eng-pang dan Si Jari Maut belum juga pulang dan malam ini terjadilah peristiwa hebat di puncak Gunung Cemara.

Di waktu malam gelap itu, secara tiba-tiba orang-orang lembah, yaitu musuh besar perkumpulan Hek-eng-pang, datang menyerbu!

Mereka ini adalah orang-orang Huang-ho Kui-liong-pang yang datang secara tidak terduga-duga dan menyerang perkampungan Hek-eng-pang dengan hebat, membakari rumah di situ.

Pihak Hek-eng-pang tentu saja melakukan perlawanan sekuatnya, akan tetapi karena sebagian besar di antara mereka pergi bersama ketua mereka, maka jumlah mereka kalah banyak, dan juga tanpa adanya ketua mereka, para anggauta Hek-eng-pang ini lemah semangatnya dan akhirnya mereka melarikan diri cerai-berai mencari keselamatan, meninggalkan rumah-rumah mereka yang menjadi lautan api!

Tentu saja Kian Lee yang terkejut oleh penyerbuan ini, cepat meninggalkan tempat tahanannya.

Para wanita yang menjaga kamar tahanan juga sudah tidak ada lagi dan di dalam keributan itu, Kian Lee tidak mau ikut campur, melainkan langsung saja dia mencari Cui Lan dan Gubernur Hok.

Akan tetapi alangkah kagetnya ketika dia tiba di tempat tahanan dua orang itu, dia melihat dua orang penjaganya, yaitu wanita-wanita anggauta Hek-eng-pang yang ditugaskan menjaga dan menodong mereka, telah menggeletak tewas dan di dalam kamar itu tidak lagi nampak bayangan Cui Lan dan Hok-taijin.

Kian Lee lalu berlari ke sana-sini mencari-cari, akan tetapi dia tidak dapat menemukan jejak dua orang itu.

Ketika dia melihat orang-orang Huang-ho Kui-liong-pang meninggalkan Gunung Cemara sambil bersorak-sorak seperti barisan tentara menang perang, Kian Lee diam-diam membayangi mereka.

Akan tetapi, gerombolan orang-orang dari lembah itu menggunakan perahu-perahu melanjukan perjalanan mereka dan terpaksa Kian Lee lalu membayangi terus di sepanjang pantai sungai.

Sampai pagi hari, perahu-perahu itu terus meluncur dan Kian Lee juga terus membayanginya.

Tibalah mereka di sebuah dusun di pinggir sungai dan perahu-perahu itu berhenti mendarat.

Akan tetapi tidak semua anggauta Kui-liong-pang mendarat sehingga Kian Lee tidak tahu di mana adanya Cui Lan dan Gubernur Hok, di perahu yang mana.

Selagi dia ragu-ragu dan menduga-duga, siap untuk menyerbu dan menolong Cui Lan dan Gubernur Hok, tiba-tiba dia dikejutkan oleh teriakan orang di belakangnya.

"Eh, inilah dia pemuda itu!"

Kian Lee cepat menengok dan dia melihat Honan Cui-lo-mo Wan Lok It, tokoh jagoan dari Gubernur Ho-nan itu, yang gendut dan rambutnya merah, tak pernah melepaskan sebuah guci arak!

Bersama kakek ini, ada pula belasan orang anak buahnya dan agaknya mereka tiba di dusun ini dalam usaha mereka mencari-cari Gubernur Hok dan juga dia sendiri.

Kian Lee terkejut dan diam-diam dia mengharapkan agar Gubernur Hok dan Cui Lan jangan keluar dari tempat mereka, karena kalau sampai ketahuan, tentu akan ditangkap dan sukar baginya untuk melindungi mereka.

Ciu-lo-mo sudah menerjang dengan guci araknya sebagai senjata, dibantu belasan orang itu yang sudah mengurung Kian Lee.

Pemuda ini menganggap bahwa andaikata Cui Lan dan Gubernur Hok ditawan orang-orang lembah, Keadaan mereka lebih aman daripada kalau ditawan oleh orang-orang ini, karena orang-orang lembah itu belum tahu siapa adanya Hok-taijin, sedangkan orang-orang ini adalah kaki tangan Gubernur Ho-nan.

Maka dia lalu melompat merobohkan dua orang anak buah Si Setan Arak Tua dari Ho-nan itu dan melarikan diri, untuk memancing mereka menjauhi perahu-perahu itu yang diduganya menawan Cui Lan dan Hok-taijin.

Benar saja, Cui-lomo dan anak buahnya cepat melakukan pengejaran.

Setelah jauh, barulah Kian Lee membalik dan menghadapi mereka dengan tenang, menanti kedatangan mereka dan mengambil putusan untuk memberi hajaran kepada mereka.

Akan tetapi, begitu orang-orang itu tiba di depannya dan sebelum mereka menyerangnya terdengar bentakan halus.

"Omitohud....! Tahan senjata.... pinni hendak bicara....!"

Semua orang menengok ke arah datangnya suara itu dan munculiah seorang nikouw (pendeta wanita) tua yang usianya tentu sudah enam puluh tahun lebih, tubuhnya kecil dan mukanya pucat, akan tetapi matanya mengeluarkan sinar yang membuat Kian Lee mengenal bahwa nikouw itu bukan sembarang orang.

Nikouw itu memegang sebatang tongkat panjang dan dengan pandang mata menyelidik, dia bertanya kepada Ho-nan Ciu-lo-mo dengan suara nyaring.

"Apakah kalian orang-orang Kui-liong-pang?"

Ciu-lo-mo Wan Lok It memandang marah, akan tetapi karena dia berhadapan dengan seorang nikouw, dia menahan kemarahannya dan berkata.

"Harap Losuthai jangan menduga sembarangan dan mengira kami adalah orang-orang dari perkumpulan kotor itu. Kami adalah pasukan dan utusan dari Kui-taijin, Gubernur Ho-nan!"

Ciu-lo-mo mengangkat dada untuk membang-gakan kedudukannya sebagai utusan gubernur.

Akan tetapi sungguh celaka, ketika nikouw itu mendengar bahwa dia adalah utusan Gubernur Ho-nan, wajah nikouw itu menjadi merah dan sinar matanya menunjukkan kemarahan.

"Bagus! Sungguh kebetulan sekali. Justeru kalian inilah orang-orang yang harus pinni cari. Hayo lekas katakan, di mana adanya Phang Cui Lan? Apa yang terjadi dengan dia?"

Ho-nan Cui-lo-mo Wan Lok It adalah seorang jagoan Ho-nan yang sama sekali tidak mengenal nikouw ini.

Maka tentu saja dia tidak menjadi takut, bahkan dia menghadapi kemarahan nenek ini dengan muka tidak senang.

Apalagi sekarang nenek itu menyebut nama Phang Cui Lan, gadis pelayan istana gubernur yang telah berkhianat dan membantu larinya Gubernur Ho-pei, musuh dari Gubernur Ho-nan.

"Hemmm.... nikouw tua...."

Katanya, kini kurang nada hormatnya.

"Apa maksudmu menanyakan gadis pelayan yang berkhianat itu?"

Nikouw itu makin marah.

"Kau ini siapa? Dan apa kedudukanmu di gubernuran?"

Ditanya demikian, Wan Lok It menepuk dadanya.

"Belum mengenal aku? Inilah Ho-nan Ciu-lo-mo Wan Lok It dan aku adalah pengawal pribadi Gubernur Ho-nan! Gadis bernama Phang Cui Lan itu adalah seorang pengkhianat, apa maksudmu menanyakan gadis itu?"

"Omitohud! Sungguh kebetulan sekali. Tentu orang-orang macam engkau inilah yang membujuk gubernur untuk mencelakai gadis itu. Pinni mendengar bahwa gadis itu dikejar-kejar oleh orang-orangnya gubernur, bahkan hendak membunuh. Benarkah begitu?"

"Benar sekali! Dan apakah engkau tahu di mana dia bersembunyi? Kalau kau berani melindunginya, engkau akan celaka!"

"Omitohud, sungguh berani mati! Eh, Setan Arak, Nona Phang, itu adalah seorang sahabat pendekar Siluman Kecil yang dititipkan ke Gubernur Ho-nan, dan sekarang berani kalian hendak membunuh dia! Bukankah dengan demikian gubernur tidak menghargai beliau? Awas, kalau sampai terjadi sesuatu dengan nona itu, gubernur dan semua kaki tangannya tentu tidak akan bebas dari hukuman!"

Kian Lee merasa kagum dan heran mendengar ucapan nikouw itu.

Kiranya nikouw tua yang lihai dan berwibawa ini juga merupakan seorang pembantu dari pendekar yang terkenal dengan sebutan Siluman Kecil!

Dia kagum karena selain pendekar itu mempunyai banyak pembantu dan namanya amat dikenal dan disegani semua orang, juga ternyata bahwa pendekar itu mempunyai rasa setia kawan yang besar, dan juga semua kawan-kawannya demikian tunduk dan setia kepadanya.

Betapa banyaknya orang yang setia kepada pendekar itu dari seorang gadis cantik jelita dan halus budi seperti Cui Lan, sampai kepada orang-orang kasar seperti para pemburu yang menolongnya keluar dari terowongan saluran air itu dan nikouw tua yang menimbulkan rasa hormat ini.

Akan tetapi orang yang sudah biasa mengandalkan kepandaiannya sendiri, kedudukannya dan banyak kawan seperti Cui-lo-mo tidak merasa takut menghadapi nikouw itu, bahkan dia menjadi marah sekali.

Tentu saja dia sudah mendengar akan nama Siluman Kecil yang kabarnya muncul seperti siluman, membasmi orang-orang jahat akan tetapi tidak pernah dapat dilihat dengan nyata orangnya itu, yang pernah pula membasmi penjahat yang mengganggu Propinsi Ho-nan dan juga dihormati oleh gubernur sendiri.

Akan tetapi, dia sendiri belum pernah melihat sendiri kelihaiannya, maka tentu saja dia tidak mau tunduk begitu mudah, apalagi yang muncul hanya seorang nikouw tua sepertl itu, yang berani mengeluarkan kata-kata keras bernada mengancam terhadap gubernur dan kaki tangannya!

"Eh, nikouw tua!

Hati-hati engkau bicara, atau kau kutangkap sebagai seorang kaki tangan pengkhianat!"

"Hemmm, Setan Arak. Kalau kau berani, boleh coba kau tangkap pinni!"

Jawab nikouw itu.

"Bagus! Engkau yang menantang, jangan nanti persalahkan aku dan mengatakan aku tidak menghormat seorang pendeta wanita tua!"

Ho-nan Cui-lo-mo lalu menerjang maju dengan gucinya, menyerang nikouw itu.

"Trang-trang-tringgggg....!"

Tongkat nikouw itu menangkis guci dan ketika ada arak muncrat dari guci itu ke arah mukanya, nikouw itu hanya meniup dan arak itu pecah dan buyar.

Kemudian tongkatnya membalas dan ternyata serangan balasan nikouw itu pun kuat sekali sehingga mengejutkan Ho-nan Ciu-lo-mo.

Maklum bahwa nenek itu ternyata merupakan lawan yang cukup tangguh, dia lalu meneriaki anak buahnya untuk maju mengeroyok.

"Sungguh tak tahu malu!"

Kian Lee membentak dan pemuda ini melompat maju, mengamuk dan dalam beberapa gebrakan saja para anak buah dari gubernuran itu cerai-berai dan kacau-balau, bahkan Si Setan Arak sendiri terdorong mundur oleh hawa pukulan yang keluar dari tangan Kian Lee.

Wan Lok It bukan orang bodoh.

Dia memang sudah tahu bahwa pemuda itu lihai, akan tetapi dengan mengandalkan belasan orang anak buahnya yang merupakan pengawal-pengawal pilihan dari gubernuran hatinya menjadi besar dan dia tadi hendak menangkap pemuda itu.

Namun siapa tahu, di situ muncul nikouw yang juga lihai dan dengan majunya nikouw itu bersama si pemuda lihai, tentu saja dia dan kawan-kawannya merasa kewalahan dan akhirnya larilah mereka sambil menyeret teman-teman yang terluka.

Nikouw itu memandang kepada Kian Lee dengan kagum lalu berkata memuji.

"Omitohud! Pinni sungguh keliru dan tidak melihat Gunung Thai-san menjulang tinggi di depan mata. Kongcu memiliki kepandaian yang amat tinggi dan tadi pinni mengkhawatirkan keselamatan Kongcu. Sungguh menggelikan!"

Kian Lee menjura kepada nikouw tua itu dan berkata.

"Suthai membela Nona Phang, hal itu saja sudah menunjukkan bahwa Suthai adalah seorang sahabat. Saya pun sedang mencari dia dan hendak menolongnya dari cengkeraman orang-orang jahat."

"Ohhhhh.... begitukah? Di mana dia dan bagaimana Kongcu bertemu dengan dia?"

"Mari kita mengejar perahu-perahu yang tadi berlabuh di dusun sana, Suthai. Kalau tidak salah, Nona Phang dan seorang.... paman dibawa di dalam sebuah diantara perahu-perahu itu. Mari kita mengejar dan nanti saya ceritakan kepada Suthai tentang pertemuan antara kami."

Kian Lee dan nikouw tua itu mengejar dan ternyata bahwa perahu-perahu itu telah lama pergi.

Kiranya begitu melihat keributan di darat, perahu-perahu itu tidak jadi singgah dan melanjutkan perjalanan cepat-cepat sehingga tidak nampak lagi.

Kian Lee lalu mengajak nikouw itu mengejar dengan cepat di sepanjang pinggir sungai.

Dalam perjalanan ini dia menceritakan bagaimana dia bertemu dengan Phang Cui Lan dan dengan singkat dia bercerita bahwa Cui Lan bersama dengan seorang kakek melarikan diri dari gubernuran Ho-nan, dikejar-kejar dan dia sendiri terjerumus ke dalam terowongan saluran air.

Diceritakannya betapa dia telah ditolong oleh Cui Lan yang mengerahkan teman-temannya para pemburu sehingga dia selamat.

"Ah,.... kiranya Kongcu yang ditolong itu? Pinni mendengar dari para pemburu tentang itu, dan dari mereka itulah pinni tahu bahwa nona Phang dikejar-kejar dan hendak dibunuh, maka pinni mewakili beliau untuk menegur gubernur Ho-nan dan untuk menyelamatkan Nona Phang.

"Maksud Suthai beliau Si Siluman Kecil?"

Kian Lee bertanya.

"Siapa lagi?"

Nenek itu mengangguk.

"Lalu bagaimana, harap Kongcu lanjutkan."

"Saya mengantar Nona Phang untuk mengungsi ke Ho-pei, akan tetapi di tengah jalan kami ditangkap oleh gerombolan Hek-eng-pang. Karena mereka itu mengancam hendak membunuh Nona Phang, terpaksa saya menyerah. Dan malam tadi, Hek-eng-pang diserang oleh gerombolan lain yang menjadi musuh mereka. Saya dapat terbebas, akan tetapi ketika saya mencari Nona Phang, dia telah lenyap. Mungkin sekali ditawan oleh gerombolan yang melarikan diri dengan perahu-perahu itu. Sayang sebelum saya berhasil mendapatkan apakah Nona Phang berada di perahu itu, muncul si Setan Arak yang mengenal saya ketika terjadi keributan di gubernuran Ho-nan dan dia menyerang saya sehingga perahu-perahu itu sempat pergi."

Nikouw itu mendengarkan dengan penuh perhatian.

"Ah, kalau begitu Kongcu telah banyak membela dan melindungi Nona Phang dan dengan demikian maka boleh dibilang Kongcu adalah seorang sahabat juga dari beliau."

Mereka melanjutkan perjalanan dengan cepat namun belum juga dapat menyusul perahu-perahu itu.

Hati Kian Lee makin tertarik kepada tokoh yang berjuluk atau dijuluki Siluman Kecil itu.

"Suthai, siapakah sebenarnya Siluman Kecil itu? Siapa namanya dan dia datang dari mana?"

Tiba-tiba nikouw tua itu berhenti dan memandang kepada Kian Lee dengan sinar mata penuh selidik dan kecurigaan.

Akan tetapi melihat sikap Kian Lee tenang-tenang dan biasa saja, dia menjawab.

"Pinni juga tidak tahu banyak. Yang pinni ketahui hanyalah bahwa beliau sering kali datang ke kuil kami dan bercakap-cakap dengan Subo. Beberapa hari yang lalu beliau datang dan setelah bercakap-cakap dengan Subo, pinni dipanggil dan diserahi tugas untuk menyelidiki keadaan Nona Phang."

Nikouw itu menghentikan ceritanya dan jelas bahwa dia enggan untuk banyak bicara tentang tokoh itu.

Tentu saja sikap ini bahkan makin menarik hati Kian Lee.

"Telah lama saya mendengar nama besar Siluman Kecil. Ingin sekali saya bertemu dengan orangnya dan berkenalan,"

Katanya.

"Hemmm, tidak mudah!"

Nikouw itu menggeleng kepala dan mereka melanjutkan perjalanan.

"Sungguh sangat sukar bertemu dan berkenalan dengan beliau, sama sukarnya dengan mendaki puncak Thai-san! Beliau tidak suka bertemu orang, bahkan dengan sahabat-sahabat yang amat dipercayanya pun jarang bertemu."

Setelah itu, nikouw tua yang mengaku berjuluk Liang Wi Nikouw itu tidak mau lagi bicara tentang Siluman Kecil.

Mereka melanjutkan perjalanan dengan cepat, namun anehnya, mereka tidak juga dapat menyusul rombongan perahu itu.

Namun mereka terus mengejar dengan cepat sekali.

Hari telah sore.

Matahari telah condong ke barat dan sinarnya kehilangan teriknya yang hebat.

Kian Lee dan Liang Wi Nikouw tiba di daerah yang berbatu-batu, batu karang yang tajam meruncing dan sukar dilewati.

Namun berkat ginkang mereka, keduanya masih dapat melanjutkan perjalanan, sungguh pun dengan hati-hati dan meloncat dari batu ke batu.

Terdengar suara air bergemuruh.

Kiranya dibagian yang berbatu-batu itu merupakan tebing yang curam sekali dan air sungai itu kini menjadi air terjun yang amat terjal.

Keduanya mendekati dan menjenguk ke bawah.

Tinggi sekali tempat itu dan air sungai itu terjun ke tempat yang dalamnya sampai ratusan meter!

Air yang menghantam batu-batu di bawah berubah menjadi uap dan dari atas kelihatan gelap seolah-olah mereka berdiri di atas awan.

Jauh sekali di bawah, di sekitar air terjun yang tertutup awan air itu, nampak dikelilingi tebing yang amat curam dan agaknya tidak mungkin di datangi manusia.

Dan di antara tebing-tebing itu, seolah-olah dikelilingi tebing yang curam, terdapat tanah datar yang luas dan nampaklah beberapa petak rumah yang dlingkari tembok seperti benteng berdiri di tanah datar itu.

"Ah, ada perkampungan di sana!"

Nikouw itu berkata.

"Dan agaknya perahu-perahu yang lenyap itu telah disembunyikan dan sangat boleh jadi bahwa perkampungan di bawah itulah perkampungan orang-orang yang menyerang Gunung Cemara, yang disebut orang-orang lembah atau Perkumpulan Huang-ho Kui-liong-pang."

"Akan tetapi, sungai ini bukan Sungai Huang-hoi"

Nikouw itu berkata heran.

"Memang bukan, akan tetapi saya rasa merupakan cabang Sungai Huang-ho dan mereka itu adalah bajak-bajak Sungai Huang-ho maka memakai nama demikian. Kalau saya tidak salah menduga, Suthai, di sanalah adanya Nona Phang dan Paman Hok."

"Siapa Paman Hok itu?"

Kian Lee tidak mau sembrono membuka rahasia Gubernur Ho-pei, maka dia menjawab.

"Seorang pekerja di Gubernuran Ho-nan yang membantu Nona Phang melarikan diri."

"Kita harus dapat turun ke sana untuk menyelidiki,"

Kata Liang Wi Nikouw.

"Memang benar, akan tetapi bagaimana kita dapat turun ke sana?"

Mereka lalu mencari-cari jalan turun, akan tetapi tidak ada jalan turun yang merupakan jalan manusia, juga mereka tidak berhasil menemukan jalan rahasia.

Jalan turun satu-satunya menuju ke perkampungan di bawah sana itu hanya menuruni tebing curam itu!

"Nona Phang harus ditolong!"

Kata si nikouw tua.

"Kalau terpaksa, kita harus mendaki tebing dan turun ke sana."

Kian Lee mengangguk.

"Tebing ini biarpun curam, namun terdiri dari batu karang yang runcing dan kuat. Kita dapat merayap turun. Akan tetapi kalau dilakukan di waktu cuaca masih terang, amat berbahaya, Suthai. Kalau kita sedang merayap lalu diserang dari bawah atau dari atas, bagaimana kita dapat menyelamatkan diri? Lebih baik menanti sampai cuaca mulai gelap. Nah, baru kita merayap turun."

Nikouw itu mengangguk-angguk.

"Kongcu benar dan cerdik, biarlah kita menanti sampai gelap."

Mereka lalu mencari tempat duduk untuk menanti datangnya gelap dan mereka mencari batu yang agak datar di antara batu-batu karang yang kasar dan runcing itu.

Dengan duduk bersila di atas batu yang datar, mereka mengaso, melepaskan lelah dan menanti sampai matahari tenggelam di barat.

Liang Wi Nikouw sudah duduk bersila dan tenggelam dalam samadhi.

Tiba-tiba batu itu bergerak.

Bahkan bergeser!

Cepat Kian Lee menyambar lengan nikouw itu, dibawanya meloncat turun dan mereka lalu bersembunyi di balik batu karang yang besar, dan mengintai dengan mata terbelalak heran dan kaget.

Batu yang tadi mereka duduki itu terus bergeser, terdengar suara berderit dan ternyata di bawah batu itu terdapat sebuah lubang yang besar.

Sebuah mulut terowongan!

Kiranya batu yang mereka jadikan tempat mengaso itu merupakan sebuah pintu rahasia!

Terdengar suara orang dan munculiah belasan orang dari dalam lubang, dikepalai oleh seorang kakek berusia enam puluh tahun lebih yang bertubuh kecil dan pendek.

Orang ini sikapnya tenang dan angkuh, tanda bahwa dia adalah seorang yang memiliki kekuasaan di antara teman-temannya itu.

Dan kenyataannya memang demikianlah.

Dua orang anak buahnya cepat-cepat membersihkan permukaan batu yang menjadi pintu itu dengan sapu tangan, mengebut bersih debu yang menempel di atas batu itu dan mempersilakan kakek bertubuh kecil pendek itu untuk duduk di situ.

Sedangkan dua belas orang anak buah itu hanya duduk sembarangan saja di sekitar tempat itu.

"Ji-pangcu (Ketua ke Dua), apakah para tamu sudah akan datang?"

Seorang yang duduk paling dekat bertanya. Kakek kecil itu mengangguk. Dengan mata disipitkan dia memandang ke depan, merenung jauh.

"Tadi sudah ada tanda rahasia bahwa mereka akan datang, maka kita harus berslap-siap menyambutnya di sini. Kian Lee dan Liang Wi Nikouw masih bersembunyi di balik batu karang besar, mendekam, mengintai dan mendengarkan dengan perasaan tegang. Mereka sudah bersepakat untuk tidak sembarangan turun tangan sebelum dapat menyelamatkan Nona Phang dan "paman"

Hok, karena kalau mereka itu belum diselamatkan lebih dulu, tentu sukar bagi mereka untuk turun tangan.

Tak lama kemudian, dari jauh terdengar suara suitan nyaring sekali.

Orang yang disebut Ji-pangcu itu bangkit berdiri, lalu dia pun mengeluarkan suara melengking nyaring sebagai sambutan.

Diam-diam Kian Lee menilai bahwa orang tua pendek kecil ini memiliki khikang yang cukup tangguh, maka dia makin berhati-hati.

Terdengar kini suara kaki kuda berderap dan tak lama kemudian, muncullah seorang kakek yang diiringkan oleh dua puluh orang yang berpakaian seperti jago-jago silat.

Kakek itu bersikap gagah dan segera disambut oleh Ji-pangcu.

Setelah saling menjura, kakek pemimpin rombongan ini mengeluarkan sehelai kartu yang cepat diterima oleh Ji-pangcu.

Setelah membaca tulisan di atas kartu itu, Ji-pangcu segera menjura lagi dan berkata hormat.

"Kiranya Boan-wangwe (Hartawan Boan) yang datang! Selamat datang di Lembah Kui-liong-pang!"

Kakek yang disebut Hartawan Boan ini memandang si kakek kecil pendek penuh perhatian, kemudian tertawa.

"Haha-ha, biarpun baru sekarang saling berjumpa, namun kami telah mendengar nama besar dari Khiu-pangcu (Ketua Khiu). Benarkah dugaan kami?"

Kakek pendek kecil itu pun tertawa.

"Tepat sekali dugaan Boan-wangwe. Silakan masuk!"

Ji-pangcu atau juga disebut Khiu-pangcu itu mempersilakan dengan tangan kanannya dan masuklah Hartawan Boan bersama anak buahnya melalui pintu terowongan itu, diantar oleh seorang di antara dua belas anak buah yang berjaga di luar pintu terowongan itu.

Boan-wangwe itu sebenarnya adalah seorang bekas kepala bajak yang amat terkenal, lihai dan juga berpengaruh.

Akan tetapi kini dia tidak pernah menjadi pembajak lagi karena dia sudah menjadi seorang pedagang besar, dagangannya adalah....

ikan yang dihasilkan oleh sungai cabang Huang-ho itu.

Akan tetapi dia sendiri bukanlah nelayan dan semua nelayan dari belasan desa di sepanjang sungai itu harus menjual ikan hasil tangkapan mereka kepada Boan-wangwe!

Tentu saja dengan harga rendah!

Dan tidak ada seorang pun berani menentangnya karena Boan-wangwe selain terkenal mempunyai banyak tukang pukul jagoan, juga terkenal murah hati dalam hal memberi pinjaman dengan bunga-bunga yang mencekik leher.

Dan hampir semua nelayan sudah mempunyai hutang padanya.

Dia bersedia memberi hutang berupa jala, perahu dan lain-lain keperluan dengan janji bahwa semua hasil tangkapan nelayan itu harus disetorkan kepadanya de-ngan pengganti sedikit uang lelah!

Pendeknya, hartawan she Boan bekas kepala bajak ini merupakan seorang pemeras hebat di sepanjang sungai itu dan kekuasaannya seperti raja saja di kalangan para nelayan.

Kian Lee dan nikouw tua itu mengintai terus dan tak lama kemudlan, kem-bali terdengar suitan nyaring dan seperti juga tadi, Ji-pangcu menjawab dengan suara melengking.

Kiranya suitan nyaring itu adalah tanda rahasia dari penjaga di sebelah depan untuk memberi tahu akan datangnya tamu.

Munculiah rombongan ke dua dan rombongan ini terdiri dari sepuluh orang yang mengawal dua orang yang memikul sebuah tandu.

Cara mereka datang juga amat aneh dan mengagumkan karena dua orang pemikul tandu itu memikul sambil berloncatan dengan tubuh ringan dan gesit bukan main, demikian pula sepuluh orang pengikut atau pengiring itu semua menggunakan ginkang yang mengagumkan berloncatan dengan ringan sekali seolah-olah yang datang ini adalah sekumpulan burung yang aneh atau sekumpulan kucing yang berloncatan dari batu ke batu dengar gerakan yang cepat sekali!

Setelah tiba di depan Ji-pangcu, tandu atau joli diturunkan dan keluarlah seorang gadis yang cantik sekali, berpakaian serba merah muda yang merah tereng dan di punggungnya terdapat sebatang pedang yang gagang dan sarungnya terukir indah, dihias dengan ronce-ronce merah tua.

Melihat gadis cantlk ini, Ji-pangcu segera menyambut sambil tertawa.

"Selamat datang, Ang-siocia! Kiranya Siocia yang datang mewakili Hek-sin Touw-ong (Raja Maling Sakti Hitam)?"

Nona itu tersenyum manis dan menjura.

"Benar, Khiu-pangcu. Suhu sedang banyak urusan maka mengutus aku untuk mewakilinya."

Dia mengeluarkan sebuah kartu nama seperti tadi dan segera diperkenankan masuk dengan penuh keramahan dan diantar pula oleh seorang anak buah Kui-liong-pang.

Senja mulai mendatang dan cuaca makin gelap.

Akan tetapi, setelah malam tiba, bulan muncul sore-sore dan menjadi pengganti langsung dari matahari sehingga biarpun cuaca tidak seterang siang hari, namun cukup terang karena langit bersih dari awan mendung.

Kian Lee dan Liang Wi Nikouw masih bersembunyi karena maklum bahwa tentu masih ada tamu-tamu lain, buktinya Ji-pangcu masih menanti di situ bersama anak buahnya.

Mereka diam-diam merasa heran sekali karena tidak mengerti apa yang terjadi di lembah bawah sana sehingga orang-orang aneh berdatangan mengunjunginya.

Tak lama kemudian, muncullah seorang laki-laki tinggi besar, tanpa pengawal.

Juga kedatangannya didahului oleh suitan tanda rahasia.

Ji-pangcu cepat menyambutnya dan ternyata pendatang baru ini adalah kenalan lama karena mereka berjabat tangan dan bersendau-gurau.

Oleh Ji-pangcu, orang itu disebut Toat-beng Sin-to Can Kok Ma (Golok Sakti Pencabut Nyawa), seorang perampok tunggal yang terkenal.

Seperti yang lain-lain, perampok tunggal tinggi besar ini diperkenankan masuk setelah menyerahkan surat pengenal atau surat berupa kartu rahasia.

Kemudian banyak lagi orang-orang aneh berdatangan dan mereka semua itu agaknya merupakan orang-orang golongan hitam atau kaum sesat yang rata-rata memiliki sikap aneh dan kepandaian tinggi.

Ada pula serombongan yang datang dengan perahu-perahu mereka.

Kemudian, sampai lama tidak ada tamu datang dan Kian Lee diam-diam menduga bahwa agaknya.

kini semua tamu sudah datang.

Demikian pula dengan Ji-pangcu dan anak buahnya, mereka mulai tidak sabar dan kelihatan ingin segera masuk ke dalam terowongan itu karena menanti di situ berarti dikeroyok nyamuk yang bukan main banyaknya.

Tiba-tiba terdengar suara riak air dan muncullah beberapa buah perahu dari dalam air!

Dan belasan orang berlompatan dari permukaan air sambil menyeret perahu mereka.

Hebatnya, pemimpin mereka, seorang kakek yang rambutnya awut-awutan dan berwarna dua, meloncat sambil mengempit perahunya dengan kedua kaki, seperti orang menunggang kuda dan kini perahu itu mendarat dengan empuknya di atas batu karang, seolah-olah batu karang itu hanya kasur saja!

Kian Lee terkejut sekali.

Orang ini pun kepandaiannya hebat, pikirnya.

Akan tetapi, sebelum hilang kagetnya, dia melihat bayangan hitam meluncur turun di atas dan hampir saja pemuda ini berseru saking herannya.

Dia mengenal benda itu, yang sama dengan burung Rajawali Pulau Es.

Benda yang meluncur itu, yang orang lain hanya kelihatan sebagai tanda hitam yang meluncur turun, dikenal oleh Kian Lee sebagai seekor burung juga, burung yang besar sekali, akan tetapi bukan rajawali, melainkan garuda yang agak berbeda dengan Rajawali Pulau Es, akan tetapi sama besarnya!

Dan ketika burung itu melayang setinggi pohon, tiba-tiba dari atas punggung burung itu melayang turun sesosok bayangan manusia dan dengan enaknya orang ini hinggap di atas batu karang di depan Khiu pangcu.

"Kau boleh pergi!"

Suara itu merdu sekali, ditujukan kepada burung yang masih melayang-layang dan burung itu memekik kegirangan lalu terbang pergi.

Ternyata dia adalah seorang gadis yang berpakaian serba hitam yang luar biasa cantiknya, demikian cantiknya sampai Khiu-pangcu dan anak buahnya menjadi bengong!

Dengan gerakan sembarangan gadis itu terbang pergi.

Tampak sebuah tali yang panjang berwarna hitam meluncur turun dari burung itu dan kini tali itu tepat mengenai tangan si gadis dan melingkar-lingkar.

Khiu-pangcu dan anak buahnya makin terkejut.

Ternyata benda itu bukan tali melainkan dua ekor ular hitam!

Akan tetapi dua ekor ular yang panjang bukan main, sungguhpun besarnya hanya sebesar ibu jari kaki.

Gadis itu menengok ke kanan kiri dan ketika sinar bulan menimpa wajahnya yang benar-benar luar biasa cantiknya itu, Suma Kian Lee terkejut dan berbisik.

"Ahhh.... dia....?"

Liang Wi Nikauw berbisik.

"Engkau kenal padanya, Kongcu?"

"Tidak.... eh, rasanya sudah pernah melihatnya...."

"Pinni pun belum pernah jumpa, akan tetapi melihat burung itu, dan ular-ular itu, pinni pernah mendengar Subo bercerita tentang ketua Pulau Neraka dan puterinya. Agaknya dialah puteri dari Pulau Neraka yang tadinya pinni kira hanya dongeng belaka."

Makin yakin kini hati Kian Lee.

Tidak salah lagi, gadis itu adalah Hwee Li!

Puteri dari Hek-tiauw Lo-mo ketua Pulau Neraka.

Ahhh, lima tahun tidak bertemu, kiranya Hwee Li telah menjadi seorang gadis yang luar biasa....

cantiknya dan juga lihainya.

Namun cara gadis itu muncul, dan ular-ular itu membuat Kian Lee bergidik ngeri.

Kakek yang mengepalai rombongan perahu itu, setelah melompat turun dari atas batu karang dan meninggalkan perahunya di situ, cepat menghormat kepada Khiu-pangcu, agaknya tidak mempedulikan gadis yang baru turun dari burung garuda tadi, ia menyerahkan kartu undangan seperti yang lain-lain tadi.

Akan tetapi pada saat yang hampir bersamaan, gadis itu pun sudah melemparkan kartu undangan itu ke arah Khiu pangcu.

Kartu undangannya berputar seperti hidup dan menyambar turun ke arah tangan Khiu-pangcu yang sedang diulur untuk menerima kartu undangan yang diserahkan oleh kakek pemimpin rombongan perahu.

"Plakkk! Ahhhhh....!"

Khiu-pangcu terkejut karena tiba-tiba saja ada kartu undangan menimpa tangannya yang diulur dan berbareng dia menerima pula kartu undangan yag diserahkan oleh kakek itu.

Kini kakek itu yang mengerutkan alisnya menyaksikan perbuatan nona itu, melangkah ke arah lubang terowongan, akan tetapi ada bayangan berkelebat dan tahu-tahu nona cantik itu pun sudah mendahuluinya hendak memasuki lubang terowongan!

Kiranya nona ini tidak mau didahului orang!

"Ah, aku yang datang lebih dulu!"

Kakek itu menjadi penasaran dan kakinya menendang sebongkah batu besar yang berat sekali.

Batu itu meluncur dan menghalang di depan si gadis cantik menutupi lubang.

"Brakkkkk!"

Gadis itu menggerakkan tangan kirinya ke arah batu dan batu sebesar perut kerbau hamil itu pecah berantakan!

Dengan mata melotot, gadis itu pun menendang sebongkah batu besar yang menyambar ke arah kakek itu.

Kakek itu mendengus, bukan menyambut dengan tangan.

atau mengelak, melainkan menyambut dengan kepalanya!

"Dukkk!"

Batu karang besar itu kena disundul kepalanya dan mencelat ke kiri, jauh sekali dan pecah berhamburan menimpa batu karang lain!

"Huh, hendak kulihat sampai di mana kerasnya kepalamu!"

Gadis itu sudah melangkah maju dan kakek itu pun dengan marah sudah siap menandinginya.

"Bocah tak tahu aturan!"

Bentaknya. Khiu-pangcu cepat melerai di antara mereka dan menjura.

"Harap Ji-wi suka menghabiskan perkara kecil ini di antara orang-orang sendiri. Nona, sahabat ini adalah Tiat-thouw Sin-go (Buaya Sakti Berkepala Besi), dan bernama Thio Sui Lok, ketua Sin-go-pang (Perkumpulan Buaya Sakti). Dan Saudara Thio, Nona ini mewakili Locianpwe Hek-tiauw Lo-mo dari Pulau Neraka. Oleh karena itu, harap saudara suka mengalah."

Biarpun hatinya masih penasaran, akan tetapi mendengar nama Hek-tiauw Lo-mo, terkejut juga hati si Kepala Besi itu dan dia diam saja, akan tetapi matanya masih bersinar marah.

"Silakan, Nona,"

Kata Khiu-pangcu dan sambil mendengus dan mengerling ke arah rombongan perahu itu, tak lupa tersenyum mengejek, nona cantik jelita itu lalu memasuki pintu terowongan dan menghilang.

"Sombong...., bocah sombong....!"

Thio Siu Lok yang selamanya dihormat orang dan baru sekarang menerima perlakuan yang tidak menghormat, bersungut-sungut akan tetapi akhirnya dia masuk juga bersama anak buahnya.

Melihat sikap Hwee Li, Kian Lee menggeleng kepalanya dan menghela napas panjang.

Masih teringat dia betapa dahulu, dia terluka oleh senjata rahasia peledak dari Siluman Kucing Mauw Slauw Mo-li yang menjadi bibi guru gadis itu sendiri, kemudian dia diselamatkan, disembunyikan dan diobati oleh seorang gadis cilik yang jenaka dan cerdik.

Gadis cilik itu adalah Hwee Li yang sekarang telah menjadi seorang gadis dewasa, namun masih saja belum hilang sifatnya seperti kanak-kanak yang bengal dan suka menggoda orang.

Namun harus dia akui bahwa gadis itu sekarang amat lihai.

Pukulannya yang menghancurkan batu tadi benar-benar mengejutkan dan mengerikan.

Kini agaknya para tamu telah datang semua, atau demikian persangkaan Khiu-pangcu karena buktinya dia meninggalkan tempat itu dan masuk melalui terowongan sambil meninggalkan pesan kepada belasan orang anak buahnya agar suka berjaga di situ kalau-kalau masih ada tamu yang datang terlambat.

"Kalau kalian sudah mendengar tanda dari bawah, barulah kalian semua masuk dan tutup pintu terowongan,"

Demikian pesan pangcu ke dua dari Huang-ho Kui-liong-pang itu kepada para anak buahnya yang berjumlah dua belas orang.

"Baik, jangan khawatir, Ji-pangcu!"

Jawab seorang di antara mereka yang kumisnya kecil panjang berjuntai ke bawah lucu sekali.

Agaknya si kumis panjang ini adalah kepala regu penjaga itu.

Kian Lee melihat kesempatan baik ini lalu berbisik kepada Liang Wi Nikouw itu.

mengangguk-angguk.

Kian Lee lalu mengambil beberapa butir batu kerikil kecil dan menggunakan jari tangannya menyentil sebutir batu kerikil ke arah siku seorang penjaga yang berdiri dekat kepala regu kumis panjang itu pada saat si kumis panjang sedang membetulkan sepatunya.

Batu kerikil itu tepat menotok siku si penjaga dan otomatis lengannya bergerak ke depan.

"Plakkk!"

Tanpa dapat dicegah lagi tangannya memukul ke depan dan mengenai kepala si kumis panjang.

"Eh, setan! Kau berani menempiling kepalaku, heh? Si penjaga tak dapat menjawab karena dia sendiri tidak mengerti mengapa tangannya secara tiba-tiba tanpa dapat dikendalikannya lagi tadi bergerak menampar kepala si kumis di depannya itu. Si kumis panjang marah dan mengayun tangannya menampar pipi bawahannya.

"Plokkkkk!"

Pipi yang digablok itu menjadi merah, akan tetapi anehnya, pada saat pipinya digablok, penjaga itu mengerahkan kaki kanannya ke depan, padahal bukan niatnya demikian.

Ternyata Kian Lee telah menyentil sebutir kerikil yang mengenai sambungan lutut penjaga itu sehingga secara otomatis kakinya menendang ke depan.

"Ngekkk....!"

Kebetulan sekali gerakan kaki itu membuat lutut si penjaga menghantam selangkangan si kepala penjaga berkumis panjang.

"Aduhhhhh....!"

Si kumis panjang menggunakan tangan kiri mendekap selangkangannya dan meringis kesakitan, marahnya bukan kepalang dan dengan tangan kiri mendekap selangkangan sambil terpincang-pincang, dia menggunakan tangan kanannya memukuli penjaga itu.

Seorang penjaga lain yang menyaksikan perkelahian ini, cepat meloncat untuk melerai.

Akan tetapi selagi dia meloncat, sebutir kerikil menyambar dan mengenai punggungnya.

Seketika tubuhnya menjadi (Lanjut ke

Jilid 12) Jodoh Rajawali (Seri ke 10 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 12 lemas, dia kehilangan tenaganya dan tanpa dapat dicegah lagi dia menubruk si kepala penjaga yang sedang marah.

"Bresssss....!"

"Eh, keparat....! Kalian mengeroyok! Pemberontakan!"

Kepala penjaga itu kini menjadi marah sekali dan dia mengamuk, setiap ada anak buahnya mendekat tentu dipukulnya karena dia menyangka bahwa mereka itu hendak mengeroyoknya.

Kacau-balau di depan pintu terowongan itu dan semua penjaga berusaha untuk menenangkan si kepala penjaga yang mereka sangka kemasukan roh jahat!

Karena keributan ini, mereka sama sekali tidak melihat betapa ada dua sosok bayangan yang amat cepat gerakannya telah menyelinap masuk ke dalam lubang terowongan itu tanpa memperlihatkan kartu undangan!

Kian Lee dan Liang Wi Nikouw berjalan memasuki terowongan dengan cepat namun dengan hati-hati sekali.

Lorong terowongan itu menurun dan agak gelap karena hanya diterangi oleh lampu-lampu minyak yang dipasang di sepanjang dinding terowongan.

Setiap sepuluh meter terdapat seorang penjaga yang berdiri dengan tombak di tangan.

Penjaga pertama yang mendengar ada ribut-ribut di luar, lupa akan tugasnya memeriksa kartu undangan.

"Apakah yang terjadi di luar?"

Tanyanya.

"Di luar ada pemberontakan. Cepat saudara ke luar!"

Kata Kian Lee.

Penjaga itu terkejut dan cepat berlari ke luar.

Kian Lee dan Liang Wi Nikouw terus berjalan masuk dan kepada penjaga ke dua dan ke tiga, Kian Lee berhasil menarik perhatian mereka dengan berita pemberontakan itu sehingga mereka pun bergegas lari keluar menyeret tombak mereka.

Akan tetapi penjaga ke empat yang berada di sebuah tikungan, menghardik.

"Harap Ji-wi perlihatkan kartu undangan Ji-wi!"

Penjaga ini agaknya sudah merasa kesal berjaga terus di situ maka biarpun sikapnya masih menghormat, namun suaranya sudah tidak ramah lagi terhadap para tamu.

Kian Lee pura-pura merogoh saku dan mendekati penjaga itu.

Tangannya keluar dari saku bukan untuk menyerahkan kartu undangan, melainkan untuk bergerak cepat menotok sehingga penjaga itu roboh sebelum sempat berteriak.

Kian Lee dan Liang Wi Nikouw terus masuk makin dalam dan kini para penjaga makin berkurang, jarak penjaga makin jauh sehing-ga mudah bagi Kian Lee untuk merobohkan setiap orang penjaga tanpa ada yang mengetahuinya.

Akhirnya mereka keluar dari terowongan dan tiba di tempat terbuka, di lembah itu yang ternyata penuh dengan bangunan rumah-rumah yang dibagi menjadi dua kelompok, dipisahkan oleh se-buah lapangan yang luas yang terletak di tengah-tengah.

Kian Lee dan Liang Wi Nikouw menyelinap di antara bangunan-bangunan itu sambil memeriksa keadaan dengan hati-hati sekali.

Dengan isyarat tangannya, Kian Lee mengajak nikouw tua itu untuk meloncat naik ke atas wuwungan sebuah bangunan besar dan dari atas wuwungan ini mereka mengintai.

Sinar bulan cukup terang sehingga mereka dapat meneliti keadaan di lembah itu.

Kelompok bangunan di sebelah kiri terdiri dari rumah-rumah biasa dengan kebun-kebun yang rimbun dan subur, di mana selain terdapat banyak pohon-pohon yang berbuah, juga terdapat sayur-sayuran dan bunga-bungaan.

Akan tetapi kelompok ke dua yang berada di sebelah kanan itu sangat aneh bentuknya.

Rumah-rumah di kelompok ini bangunannya seperti tempurung yang tertelungkup dan tidak nampak pintu atau jendela biasa, hanya kelihatan sebuah lubang yang agak-nya merupakan pintu.

Anehnya, di sekitar rumah-rumah luar biasa ini tidak terdapat sebatang pun pohon atau tumbuh-tumbuhan.

Bahkan tanahnya kelihatan putih kering ditimpa sinar bulan, retak-retak seperti tanah kapur.

Dari wuwungan itu, nampak para tamu berkumpul di lapangan, yaitu lapangan luas di antara dua kelompok rumah itu.

Selain penerangan yang didapat dari sinar bulan, juga di situ dipasangi banyak lampu dan lentera besar sehingga cuaca cukup terang.

Para tamu yang banyak juga jumlahnya telah berkumpul di situ duduk di kursi yang diatur menjadi lingkaran besar yang kesemuanya menghadap ke tengah lapangan di mana terdapat semacam panggung tempat duduk fihak tuan rumah dan para tamu kehormatan.

Kian Lee mencari-cari dengan pandang matanya, akan tetapi dia tidak menemukan Cui Lan dan Hok-taijin di antara para tamu.

Kembali dia memandang ke arah panggung dan melihat Khiu-pangcu dan beberapa orang lain yang tidak dikenalnya.

Banyak orang aneh di situ, di antaranya terdapat seorang yang bertubuh tinggi tegap, usianya tidak lebih dari tiga puluh tahun, kulitnya gelap coklat, hidungnya mancung agak melengkung dan matanya cekung ke dalam, alisnya tebal, dan jelas bahwa dia bukanlah orang Han aseli, melainkan ada miripnya dengan orang India.

Di belakangnya duduk banyak pengawalnya, rata-rata bertubuh tinggi dan lengannya berbulu.

Kian Lee menduga bahwa mereka ini tentu orang-orang Nepal, melihat dari pakaian dan juga sorban mereka.

Hanya orang muda berpakaian indah di depan itulah yang tidak bersorban.

Selain mereka, masih banyak terdapat orang-orang aneh yang dilihatnya tadi memasuki terowongan.

Dengan hati-hati Kian Lee lalu mengajak Liang Wi Nikouw turun dan mempergunakan kesempatan selagi para tamu masih hilir-mudik karena agaknya pertemuan itu belum dimulai, untuk menyelinap masuk di antara para tamu dan memilih tempat duduk di bagian para tamu perorangan yang tidak merupakan rombongan.

Dengan demikian, maka mereka bercampur dengan tamu-tamu yang tidak saling mengenal sehingga mereka pun tidak menarik perhatian, sungguhpun ada beberapa orang di antara mereka yang memandang ke arah Liang Wi Nikouw dengan curiga.

Akan tetapi, Liang Wi Nikouw yang sudah berpengalaman itu maklum bahwa dia menghadiri pertemuan orang-orang dari golongan hitam, maka sengaja dia tersenyum-senyum dan "memasang"

Muka bengis, sehingga semua orang menduga bahwa dia pun seorang anggauta kaum sesat yang bersembunyi di balik kedok nikouw!

Dia dan Kian Lee lalu menanti dengan hati berdebar, tidak tahu apa yang akan terjadi dan mengapa demikian banyaknya tokoh-tokoh lihai dari golongan hitam berkumpul di situ.

Akan tetapi yang dicari-cari oleh Kian Lee sejak tadi adalah Cui Lan dan Hok-taijin dan selagi dia menduga-duga di mana kiranya dua orang itu ditahan, tiba-tiba terdengar bunyi canang dipukul di tengah-tengah lapangan itu.

Semua orang memperhatikan ke tengah lapangan karena bunyi canang itu menandakan bahwa pertemuan mulai dibuka.

Bulan bersinar terang tanpa halangan awan, menimpa muka semua tamu yang diangkat memandang ke arah panggung untuk menanti siapa yang akan muncul sebagai pembuka acara dan terutama sekali untuk melihat wajah tuan rumah.

Tidak ada seorang pun di antara para tamu itu yang pernah bertemu dengan ketua Huang-ho Kui-liong-pang, sungguhpun mereka semua telah mendengar bahwa ketua itu adalah seorang yang luar biasa lihainya, seorang aneh yang baru kurang lebih dua tahun ini menjadi ketua Kui-liong-pang.

Tadinya, ketua dari Kui-liong-pang adalah Khiu-pangcu itulah.

Akan tetapi semenjak munculnya tokoh aneh yang berilmu tinggi itu bersama belasan orang anak buahnya yang rata-rata juga berilmu tinggi, Khiu Sek lalu menggabungkan diri dan tokoh luar biasa itu diangkat menjadi ketua pertama sedangkan dia sendiri cukup puas menjadi ketua ke dua saja.

Maka kini semua tamu ingin sekali melihat bagaimana macamnya ketua yang kabarnya merupakan seorang tokoh luar biasa itu.

Akan tetapi, ternyata yang bangkit berdiri dari kursinya dan kini berjalan ke tengah panggung adalah Khiu Sek atau Khiu-pangcu sendiri.

Setelah menjura ke empat penjuru, memberi hormat kepada semua tamu kehormatan yang duduk di panggung, Khiu-pangcu lalu berkata.

"Cu-wi sekalian yang terhor-mat. Pertama-tama atas nama pangcu kami dan seluruh perkumpulan Kui-liong-pang, kami menghaturkan selamat datang dan terima kasih atas kehadiran Cu-wi sekalian. Se-belum maksud undangan kami kepada Cu-wi kami bentangkan secara jelas, lebih dulu kami ingin memperkenalkan perkumpu-lan kami kepada Cu-wi."

Selanjutnya, dengan suara lantang Khiu-pangcu lalu memperkenalkan perkumpulannya, betapa dua tahun yang lalu perkumpulannya menjadi makin kuat setelah memperoleh seorang ketua baru yang amat sakti.

Betapa kemudian rombongan dari Gunung Cemara, perkumpulan wanita Hek-eng-pang menjadi iri dan timbul bentrokan di antara mereka sehingga terjadi pertem-puran besar.

"Karena munculnya seorang tokoh rahasia yang hanya kami kenal dengan sebutan Siluman Kecil, pertempuran itu dapat dihentikan dan ketua kami berkenan mengampuni Hek-eng-pang. Akan tetapi akhir-akhir ini mereka kembali mencari gara-gara dengan mencoba untuk merebut mangsa kami, yaitu harta pu-saka dari keluarga Jenderal Kao Liang yang mengundurkan diri"

Kembali Khiu Sek menceritakan semua peristiwa mengenai perebutan harta pusaka keluarga Jenderal Kao itu.

"Gara-gara ikut campurnya fihak Hek-eng-pang yang hendak merebut mangsa kami, maka semua usaha menjadi gagal dan baru-baru ini kami telah mengirim pasukan untuk menghukum Hek-eng-pang dan membakar tempat mereka! Betapapun juga, mangsa kami itu telah lolos dan harta pusaka itu lenyap tanpa bekas, kami dan Hek-eng-pang yang bentrok sendiri tidak ada yang mendapatkannya."

"Hi-hi-hik!"

Suara tertawa merdu seorang wanita itu memecahkan kesunyian dan terdengar jelas sekali.

Semua orang menengok ke arah suara ini, juga Khiu-pangcu dengan alis berkerut menoleh ke arah gadis cantik jelita yang berpakaian serba merah muda itu, karena yang tertawa adalah gadis cantik ini.

Biarpun dia sudah tidak tertawa lagi, akan tetapi gadis ini masih menutupi mulutnya dengan tangan, dan matanya berseri menahan kegelian hatinya.

Merah muka Khiu Sek karena dia merasa ditertawakan.

Akan tetapi, sebagai seorang tuan rumah, dia menahan kemarahannya dan dengan suara lantang dia menegur.

"Harap Ang-siocia suka menjelaskan mengapa mentertawakan kami?"

Lalu ditambahkannya untuk memperkenalkan nona itu kepada para tamu.

"Cu-wi sekalian, yang baru saja tertawa adalah Ang-siocia, murid yang mewakili gurunya hadir di sini, yaitu Hek-sin Tou-wong!"

Mendengar nama Hek-sin Touw-wong, semua orang memandang kagum.

Raja Maling itu terkenal sekali, dan baru sekarang mereka melihat bahwa Raja Maling yang menyeramkan itu mempunyai seorang murid yang demikian cantiknya, yang pakaiannya serba merah muda dan rapi sehingga kelihatan seperti seorang gadis bangsawan saja!

Melihat dia diperkenalkan dan ditegur, Ang-siocia, gadis she Ang yang hanya dikenal sebagai Nona Ang (Ang-siocia) itu, bangkit berdiri dan berkata lantang, sama sekali tidak kelihatan jerih.

"Itulah jadinya kalau dua ekor anjing memperebutkan tulang! Keduanya babak-bundas akan tetapi tulangnya dibawa kabur orang lain!"

Tentu saja Khiu-pangcu menjadi makin marah dan penasaran.

Tadi dia di-tertawakan dan kini malah disamakan dengan anjing!

Akan tetapi, dia masih menahan kemarahan-nya, hanya bertanya dengan suara yang nadanya kaku dan dingin.

"Kalau menurut pendapatmu, bagaimana baiknya, Nona?"

"Menurut pendapatku? Tentu saja lebih baik kalau kedua ekor anjing itu berdamai dan tulang itu dimakan bersama-sama, dengan demikian berarti menambah persahabatan dan perut keduanya bisa kenyang, hi-hik!"

Semua orang tertawa dan Khiu-pangcu sendiri tersenyum, kemarahannya lenyap dan dia menjura kepada semua orang.

"Apa yang diucapkan oleh Ang-siocia tadi memang benar dan tepat sekali. Karena itu pula maka pangcu kami mengimkan undangan kepada Cu-wi sekalian, yaitu untuk mempersatukan semua golongan dari kita para pencari nafkah yang mengandalkan modal kepandaian silat seperti kita semua ini. Dengan adanya persatuan antara kita, maka tidak akan terjadi lagi bentrokan-bentrokan yang mengakibatkan kelemahan golongan kita sendiri. Kita dianggap golongan hitam, nah, kalau tidak ada persatuan di antara kita, tentu golongan putih yang menyebut diri mereka sendiri para pendekar itu akan merasa girang sekali dan mereka akan mudah untuk memusuhi dan mengalahkan kita."

Terdengar suara teriakan-teriakan menyatakan persetujuan mereka.

Hal ini tidaklah mengherankan karena seperti pada umumnya, manusia di dunia ini tidak ada yang dapat melihat keadaan sendiri, tidak dapat menyadari akan kesalahan dan kejahatan sendiri sehingga kaum itu pun tidak merasa bahwa mereka adalah penjahat-panjahat!

Mereka menganggap bahwa "pekerjaan"

Mereka itu adalah usaha mencari nafkah, dan para pendekar yang memusuhi mereka adalah yang sejahat-jahatnya orang karena merintangi pekerjaan mereka!

Tentu saja usul persatuan ini mereka sambut dengan gembira karena memang sudah terlalu sering mereka ditentang dan di kejar-kejar oleh para pendekar.

"Akan tetapi, siapa yang akan memimpin kita?"

Terdengar suara lantang bertanya.

Khiu-pangcu mengangkat kedua tangan untuk menenangkan suasana yang menjadi hiruk-pikuk itu.

Setelah semua orang diam dia lalu berkata.

"Sudah tentu saja yang berhak memimpin kita adalah orang yang paling tinggi kepandaiannya di antara golongan kita semua."

"Kalau guruku berada di sini tentu kursi pimpinan jatuh di tangannya!"

Terdengar gadis cantik berpakaian merah itu berseru. Khiu-pangcu tersenyum lebar.

"Nona, dan Cu-wi sekalian, hendaknya maklum bahwa kursi pimpinan itu tidak diperebutkan sekarang. Untuk itu tentu saja harus ada undangan khusus sehingga yang hadir adalah tokoh-tokoh pertama dari golongan kita. Sekarang yang penting bagi kita adalah bahwa semua fihak setuju untuk berdiri di bawah satu golongan. Dengan demikian, semua hasil karya kita dapat kita pergunakan bersama dan mereka yang hasilnya besar dapat menolong mereka yang sedang sepi pasarannya. Dan kalau seorang di antara golongan kita diusik oleh golongan putih, kita harus saling membantu dan memusnahkan fihak musuh. Dengan demikian, bukankah kedudukan kita menjadi kuat dan tidak ada sembarang pendekar berani untuk mengganggu?"

"Benar....!"

"Setuju....!"

Kembali suasana menjadi berisik sekali.

Tiba-tiba, terdengar suara tertawa yang amat nyaring, suara yang mengatasi semua suara berisik itu, suara ketawa yang menggema dan mengaung menggetarkan jantung.

Terang bahwa itu adalah suara ketawa yang mengandung tenaga khikang amat kuatnya.

Semua orang terkejut dan menoleh ke tengah lapangan karena suara ketawa itu terdengar dari mulut seorang peranakan Nepal yang muda dan duduk di kursi bagian tamu kehormatan itu.

Tentu saja semua orang terkejut dan marah, karena suara ketawa itu terdengar seperti meremehkan, dan kiranya yang mentertawakan mereka hanya seorang peranakan Nepal!

Khiu-pangcu juga merasa penasaran, segera menghadapi pemuda peranakan Nepal itu dan dengan suara hormat karena orang itu merupakan tamu agung, akan tetapi bernada teguran, dia bertanya.

"Apakah Kongcu (Tuan Muda) tidak menyetujui persatuan ini?". Pemuda jangkung berkulit coklat itu bangkit berdiri dan menjura, lalu terdengar dia berkata dengan suara lantang.

"Kami sangat menyetujui, harap Khiupangcu tidak salah sangka. Hanya kami merasa sangat kecewa dan kasihan melihat cara-cara kalian mencari nafkah yang begitu remeh."

"Haiiiii!!"

Semua orang berseru.

marah karena tersinggung oleh ucapan itu, bahkan sudah ada yang bangkit berdiri dengan sikap mengancam.

Hanya tokoh-tokoh besar lainya, seperti Ang-siocia, lalu gadis cantik jelita yang sama sekali tidak mengacuhkan semua itu dan bermain-main dengan ularnya, kepala bajak sungai yang tadi ribut dengan gadis pembawa ular, yaitu Tiat-thouw Sin-go, perampok tunggal Toat-beng Sin-to, raja kaum nelayan Boan-wangwe, mereka ini tetap duduk diam dan bersikap tenang, sesuai dengan kedudukan mereka yang tinggi.

"Harap Cu-wi jangan salah paham,"

Kata peranakan Nepal itu dengan sikap tenang sekali. Kini dia berdiri di panggung dan menghadapi semua tamu dengan penuh wibawa.

"Saya tidak memandang rendah kepada Cu-wi, hanya ingin menyatakan bahwa apa yang Cu-wi lakukan dan kerjakan itu sungguh tidak sesuai dengan jerih payah Cu-wi sekalian. Cu-wi bersusah payah mencari mangsa, menunggu mereka lewat dan menanti datangnya kesempatan, menghadapi bahaya maut, dan semua itu Cu-wi lakukan hanya untuk sejumlah barang yang tidak berarti, bahkan kadang-kadang gagal seperti yang diceritakan oleh Khiu-pangcu ketika memperebutkan harta pusaka keluarga Jenderal Kao itu. Bukankah cara bekerja seperti itu amat remeh dan tidak memadai?"

Toat-beng Sin-to Can Kok Ma, si perampok tunggal yang tinggi besar itu merasa tersinggung juga.

Dia memandang dengan mata melotot, lalu berkata dengan suara yang lantang dan kasar karena memang dia terkenal seorang yang kasar, jujur tidak mau menggunakan banyak aturan.

"Apakah kau mempunyal usul yang lebih baik?"

Pemuda peranakan Nepal itu menoleh kepada si tinggi besar ini sambil tersenyum, lalu berkata.

"Tentu saja dan usulku amatlah baik, tentu saja kalau Cu-wi sekalian setuju. Akan tetapi usul saya ini usul yang amat penting dan gawat, maka hanya akan saya terangkan kalau semua pimpinan sudah hadir, tidak seperti sekarang ini. Baru fihak tuan rumah saja, hanya wakilnya, yaitu Khiu-pangcu yang keluar, bukan ketuanya sendiri, mana bisa disebut lengkap untuk mendengarkan usul kami yang teramat penting dan menyangkut masa depan kita semua ini?"

Khiu-pangcu menjura kepada orang itu.

"Maaf, pangcu kami sedang menyelesaikan ilmunya yang baru sehingga selama ini tidak pernah keluar dan mewakilkan segala sesuatu kepada saya. Andaikata pangcu kami sudah keluar, apakah kiranya perempuan-perempuan dari Gunung Cemara itu berani banyak tingkah? Itulah sebabnya maka pangcu kami tidak dapat hadir."

Tiba-tiba terdengar suara ledakan keras dan rumah tempurung terdepan meledak.

Rumah itu hancur berantakan dan keluarlah seorang kakek yang berpakaian hitam, agak terhuyung dan mu-kanya putih pucat seperti kapur.

"Khiu Sek, jangan mengecewakan tamu, ini aku sudah datang!"

Kini dari rumah-rumah tempurung itu bermunculan pula orang-orang yang mukanya putih seperti kapur dan itulah para pengikut ketua baru ini yang menyeramkan.

Mereka itu semua agak terhuyung karena terlampau lama berdiam di rumah tempurung itu untuk memperdalam ilmu mereka sesuai dengan petunjuk sang ketua.

Melihat kakek ini, Kian Lee berdebar dan dia memandang dengan mata terbelalak karena tentu saja dia mengenal kakek ini.

Dia itu bukan lain adalah Hek-hwa Lo-kwi, ketua dari Lembah Bunga Hitam, tokoh sesat yang amat sakti dan yang merupakan ahli racun yang luar biasa itu!

Di dalam cerita kisah Sepasang Rajawali telah diceritakan tentang diri kakek ini yang dahulunya adalah seorang pelayan dari Dewa Bongkok dan yang kemudian melarikan diri karena tersangkut dalam pencurian kitab pelajaran ilmu yang mujijat.

Semua orang memandang dengan mata terbelalak.

Baru sekarang mereka dapat menyaksikan ketua dari Kui-liong-pang yang ternyata amat menyeramkan itu.

Ilmu apa gerangan yang dipelajari oleh kakek ini sehingga tadi rumah tempurung itu meledak dan hancur berantakan?

Khiu-pangcu dan semua anak buah Kui-liong-pang menjatuhkan diri berlutut untuk memberi hormat kepada pangcu mereka, sedangkan para tamu juga bangkit berdiri untuk menghormat.

Kian Lee yang juga ikut bangkit berdiri melihat betapa Hwee Li masih enak-enak saja duduk bermain-main dengan ularnya, seolah-olah kemunculan kakek itu sama sekali tidak diketahuinya!

Benar-benar bocah itu masih seperti dulu, aneh dan bengal!

Hek-hwa Lo-kwi kini menghampiri tempat duduk yang telah disediakan untuknya sambil mengangguk ke kanan kiri kepada para tamu, kemudian dia menghadapi peranakan Nepal itu sambil berkata, suaranya menggetar dan mengandung gema yang meraung aneh.

"Nah, sebelum Sicu ceritakan apa usul yang amat penting itu, hendaknya lebih dulu memperkenalkan diri. Maaf kalau kami tidak mengenal Sicu."

Pemuda peranakan Nepal itu menjura dengan hormat dan berkata.

"Sungguh beruntung sekali kami semua dapat bertemu dengan Pangcu yang telah kami kenal namanya yang besar. Dan kami menghaturkan selamat atas berhasilnya Pangcu mempelajari ilmu baru. Perkenankan kami memperkenalkan diri kami."

Dengan suara halus dan lantang sehingga semua orang dapat mendengarnya, orang muda peranakan Nepal itu lalu memperkenalkan dirinya dan mendengar penuturannya, Kian Lee menjadi tertarik sekali dan mendengarkan penuh perhatlan.

Kiranya pemuda itu adalah putera dari mendiang Pangeran Liong Khi Ong!

Di dalam cerita Kisah Sepasang Rajawali dituturkan betapa Pangeran Liong Khi Ong dan kakaknya, Pangeran Liong Bin Ong, telah mengadakan persekutuan untuk mengadakan pemberontakan, akan tetapi akhirnya pemberontakan itu gagal dan kedua orang pangeran tua itu telah tewas.

Liong Khi Ong mempunyai seorang selir berbangsa Nepal, dan sebenarnya selir ini masih seorang puteri Nepal, anak Raja Nepal yang juga lahir dari seorang selir dan yang dihadiahkan kepada Pangeran Liong Khi Ong sebagai tanda persahabatan antara Nepal dan Kerajaan Ceng-tiauw yang pada waktu itu luas sekali daerahnya dan merupakan negara besar yang dihormati negara-negara tetangga termasuk Nepal.

Dari selir Nepal inilah Liong Khi Ong mempunyai putera, yaitu pemuda ini yang memakai nama Liong Bian Cu.

Ketika Liong Khi Ong tewas, pemuda ini bersama ibunya melarikan diri ke barat, kembali ke Nepal di mana dia memperdalam ilmu kepandaiannya dengan menjadi murid dari Ban-hwa Sengjin, yaitu koksu (guru negara) Nepal yang lihai itu.

Setelah memperkenalkan diri dan para tamu memandang dengan kagum karena tidak menyangka bahwa peranakan Nepal ini ternyata adalah putera dari mendiang Pangeran Liong Khi Ong yang amat terkenal di kalangan dunia hitam karena dahulu pangeran itu banyak menerima tenaga bantuan kaum sesat, bahkan ketua Kui-liong-pang ini pun mengenalnya dengan baik, maka pemuda itu lalu menceritakan usulnya dengan suara lantang.

"Dari pada kita bekerja secara kecil-kecilan dengan resiko besar, lebih baik kita melakukan pekerjaan yang besar. Sudah basah kepalang mandi! Daripada kita dikejar-kejar pemerintah dan orang-orang dari golongan putih, kita mendahului mereka! Kita kumpulkan kawan-kawan yang banyak sehingga menjadi barisan yang kuat, lalu kita serbu kota demi kota, kita sita seluruh kekayaannya, dan kita duduki kotanya. Bukankah itu lebih cepat dan berhasil daripada kita menunggu lewatnya mangsa seperti seekor harimau kelaparan menunggu lewatnya seekor kelinci? Kita taklukkan kota demi kota dan kita paksa penduduknya yang laki-laki, muda-muda dan kuat-kuat untuk menjadi anggauta kita, yang menolak kita bunuh semua! Wanita-wanitanya yang cantik kita bagi-bagi. Dengan demikian, akhirnya kita akan menjadi suatu kekuatan yang amat besar dan daerah kita akan makin luas. Kalau sudah kuat benar, kita hancurkan para gubernur. Kita kuasai propinsi dan tujuan terakhir adalah kota raja. Kita mendirikan kerajaan sendiri, kerajaan kaum hitam!"

Sejenak suasana menjadi sunyi karena mereka yang mendengarkan rencana itu terlalu kaget dan heran.

Bahkan Hek-hwa Lo-kwi sendiri kelihatan menunduk, merenung dan mengelus jenggotnya.

Kemudian meledaklah kebisingan di situ karena semua orang bicara sendiri, saling berdebat, ada yang setuju, ada yang menolak dan ada yang ketakutan.

Akhirnya Hek-hwa Lo-kwi mengangkat tangan kanan ke atas dan semua orang diam.

Lalu terdengar ucapan kakek ini.

"Usul yang dikemukakan oleh Liong-sicu bukan hal remeh dan main-main, bahkan hal yang amat baik. Memang pekerjaan kita selalu dibayangi oleh bahaya. Tentu saja makin besar bahayanya, makin besar pula hasilnya, dan kalau kita bersatu, mengapa takut bahaya? Aku sendiri setuju dengan usul itu dan akan mendukung pelaksanaannya!"

Ucapan ini disambut oleh tepuk tangan dan sorak-sorai dari mereka yang tadi setuju, sedangkan yang menolak dan yang ragu-ragu terseret dan hanyut oleh suara setuju ini sehingga mereka pun menjadi besar hati.

Kini Liong Bian Cu, pemuda peranak-an itu mengangkat tangan dan semua orang berhenti membuat berisik.

"Apakah ada di antara Cu-wi yang mengajukan usul lain?"

Terdengar suara merdu nyaring dan gadis berpakaian merah muda, yaitu Ang-siocia, telah berdiri dan berkata.

"Bicara memang mudah saja, akan tetapi pelaksanaannya tidaklah semudah menggoyangkan lidah dan bibir!"

Memang dara ini biasa bicara dengan tajam.

"Kota-kota itu tentu dijaga dan dilindungi oleh pasukan perajurit yang sudah terlatih dan pandai berperang. Mana bisa orang-orang kita yang tidak terdidik perang seperti mereka itu dapat menyerbu kota dan menang? Kepandaian kita hanyalah kepandaian pribadi untuk dipakai dalam pertempuran perorangan atau paling hebat hanya menghadapi keroyokan belasan sampai puluhan orang. Mana mungkin dapat berguna dalam perang antara ribuan orang dan pula fihak pasukan pemerintah tentu diperlengkapl dengan senjata dan perlengkapan yang lebih sempurna?"

Hek-hwa Lo-kwi mengangguk-angguk.

"Alasan yang baik dan kuat sekali. Bagaimana jawabanmu, Liong-sicu?"

"Tidak perlu khawatir!"

Tiba-tiba seorang kakek berusia enam puluh tahun, bersorban dan jenggotnya panjang sampai ke perut, tangannya memegang tongkat kayu cendana, berseru.

Dia ini adalah Gitananda, orang Nepal yang pernah menghadiri pesta pernikahan gagal dari Hwa-i-kongcu Tang Gun di puncak Naga Api itu.

Memang Gitananda adalah seorang di antara utusan-utusan Kerajaan Nepal yang mencari kemungkinan menghubungi orang-orang yang hendak memberontak terhadap Kerajaan Ceng-tiauw, dan kini Gitananda bertugas untuk mengawal dan menemani Liong Bian Cu.

"Hendaknya Cu-wi sekalian maklum bahwa Kongcu kami ini adalah seorang ahli perang yang tentu akan mampu mendidik kawan-kawan dan membentuk barisan-barisan yang kuat!"

Liong Bian Cu bangkit dan menjura ke empat penjuru.

"Saya tidak ingin memamerkan diri, akan tetapi terus terang saja, sebagai putera mendiang Ayah yang juga ahli dalam siasat perang, tentu saja saya telah rnempelajari ilmu perang dan saya dapat membentuk pasukan-pasukan istimewa yang terlatih baik. Tentang perlengkapan, jangan khawatir karena Raja Nepal adalah kakek saya. Cu-wi sekalian tidak perlu gelisah, dan saya berjanji bahwa kalau kelak kita berhasil, Cu-wi sekalian tentu akan menjadi pembesar-pembesar tinggi yang hidup terhormat dan mulia!"

"Nanti dulu!"

Tiba-tiba Hek-hwa Lokwi berkata sambil bangkit berdiri dan memandang ke sekeliling.

"Aku ingin sekali mendengar pendapat sahabat lamaku, Hek-tiauw Lo-mo ketua Pulau Neraka. Ataukah dia tidak hadir dan tidak mengirim wakilnya?"

Semua orang yang mendengar nama ini terkejut, dan Tiat-thouw Sin-go ketua para pembajak itu mengerling ke arah gadis cantik jelita berpakaian serba hitam yang masih duduk bermain-main dengan ularnya tadi.

"Akulah wakilnya!"

Tiba-tiba gadis itu berkata sambil bangkit berdiri.

Semua orang menoleh dan menahan napas menyaksikan seorang gadis yang demikian cantik moleknya.

Wajahnya putih halus kemerahan, dengan rambut yang disanggul indah sekali, dihias dengan batu-batu permata mahal, sepasang matanya seperti bintang pagi, jernih dan lebar akan tetapi mengandung sinar yang tajam menyeramkan, hidungnya mancung dan mulutnya selalu tersenyum, manis dan jelita.

Tubuhnya kelihatan ramping padat dengan lekuk lengkung yang menggairahkan, yang sukar disembunyikan oleh pakaian sutera serba hitam itu.

Akan tetapi yang membuat orang menjadi ngeri dan ke-hilangan gairah adalah ketika melihat dua ekor ular yang melingkar-lingkar di kedua lengan yang halus mulus itu.

"Hemmm!"

Hek-hwa Lo-kwi menatap dengan tajam, akan tetapi memandang rendah kepada gadis muda itu.

"Kalau engkau wakilnya, Nona, apa yang akan dikatakan oleh Hek-tiauw Lo-mo tentang usul tadi?"

Gadis itu yang bukan lain adalah Kim Hwee Li, puteri Hek-tiauw Lo-mo, tersenyum sehingga sekelebatan nampak rongga mulutnya yang merah terhias kilatan gigi putih.

"Apa yang hendak dikatakan? Aku tidak tahu. Aku hanya diutus untuk mendengarkan saja tanpa membuka mulut dan akan kusampaikan semua ini kepadanya."

Hek-hwa Lo-kwi berkata kepada Liong Bian Cu.

"Dahulu Hek-tiauw Lo-mo pernah membantu Ayahmu, Liong-sicu. Kiranya sekarang pun dia akan setuju dengan usulmu itu."

"Mudah-mudahan begitu,"

Liong Bian Cu berkata dan matanya masih terus memandang kepada Hwee Li, agaknya peranakan Nepal ini tertarik sekali kepada gadis yang luar biasa cantiknya itu.

"Tentu saja dia mau kalau kelak setelah berhasil dia yang menjadi rajanya!"

Kata Hwee Li sambil duduk dan bermain main dengan ularnya.

Kian Lee tak dapat menahan senyumnya.

Bukan main gadis ini.

Berani sekali dan sikapnya seolah-olah memandang mereka semua itu seperti semut saja!

Akan tetapi, dia sendiri masih gelisah memikirkan Cui Lan dan Hok-taijin.

Sebaiknya kalau dia sekarang mulal menyelidiki di mana adanya dua orang yang dicarinya itu.

Akan tetapi, mengingat bahwa yang hadir di situ adalah orang-orang yang berilmu tinggi sehingga akan berbahaya bagi dua orang kawannya itu kalau sampai ketahuan, dia terpaksa memberi isyarat kepada Liang Wi Nikouw untuk bersabar.

Mereka ini tentu tidak tahu siapa Hok-taijin, sehingga gadis dan kakek itu hanya merupakan tawanan yang tidak penting, yang mereka ambil dari Gunung Cemara ketika mereka membasminya.

Kalau sampai dia turun tangan dan ketahuan, tentu mereka akan sadar bahwa dua orang itu merupakan orang-orang penting dan kalau sampai mereka tahu bahwa kakek itu adalah Gubernur Ho-pel, maka akan berbahayalah!

Hidangan mulai dikeluarkan dan sambil bercakap-cakap membicarakan rencana besar yang diusulkan oleh Liong Bian Cu, mereka makan minum.

Sementara itu, Para tokoh yang penting di atas panggung kehormatan mulai berunding sambil makan minum dan akhirnya diputuskan bahwa sebelum diadakan pemilihan pemimpin yang harus seorang yang terpandai di antara mereka, yang akan merupakan seorang bengcu (pemimpin rakyat), untuk sementara dibentuklah panitia pimpinan atau pengawas yang terdiri dari Hek-hwa Lo-kwi sendiri, Toat-beng Sin-to Can Kok Ma, Boan-wangwe, Tiat-thouw Sin-go dan Gitananda sebagai wakil fihak orang Nepal.

Ketika hal ini diumumkan, semua orang setuju.

Makan minum dilanjutkan dan Liong Bian Cu yang menganggap mereka semua itu sebagai calon-calon pembantunya untuk melanjutkan "perjuangan"

Mendiang ayahnya dalam kegembiraannya ingin sekali melihat kelihaian mereka.

Maka setelah minum beberapa cawan arak yang cukup menghangatkan hatinya, dia bangkit berdiri dan berkata lantang.

"Cuwi sekalian! Kita telah bersepakat untuk bersatu dan kita merupakan kesatuan orang-orang yang gagah dan memiliki kepandaian! Oleh karena itu, dalam pertemuan ini sudah selayaknya kalau kita memperlihatkan kepandaian masing-masing, bukan untuk menyombongkan diri melainkan sebagai perkenalan. Dan pertunjukan ini akan saya mulai lebih dulu dengan memperlihatkan sedikit kemampuan saya yang saya pelajari dari guru saya yang terhormat, yaitu Ban-hwa Sengjin, koksu dari Nepal!"

Tentu saja ucapan ini disambut dengan gembira oleh semua orang.

Mereka adalah orang-orang yang suka berkelahi, suka akan ilmu silat, maka setiap pertunjukan silat tentu saja menggembirakan hati mereka.

Apalagi karena mereka maklum bahwa di antara mereka terdapat banyak sekali orarg-orang pandai.

Dengan langkah lebar Liong Bian Cu yang oleh orang-orangnya disebut Liong-kongcu itu menghampiri sebuah batu besar yang berada di tempat itu.

Batu itu sebesar kerbau, tentu berat sekali.

Akan tetapi dengan mudah dan ringan Liong kongcu mengangkatnya dan melontarkannya tinggi ke atas.

Dia menggosok kedua telapak tangannya, kemudian cepat dia menggerakkan kedua lengannya dan kedua tangannya dengan jari-jari terbuka memukul dan mendorong ke arah batu itu.

Terdengarlah suara bercuitan dari tangan kanannya dan dari tangan kirinya keluar suara mendesis.

Di sekitar tempat dia berdiri menyambar-nyambar hawa yang panas dan dingin.

Yang panas keluar dari tangan kanannya sedangkan yang dingin keluar dari tangan kirinya.

Ketika kedua tangan itu bergerak memukul, batu itu tidak dapat meluncur jatuh, melainkan terapung di udara seperti tertahan oleh tenaga mujijat, dan batu itu mulai terputar, makin lama makin cepat sehingga mengeluarkan suara mengaung seperti gasing.

Tak lama kemudian nampak debu mengepul, pecahan batu dan pasir berhamburan ke mana-mana.

Liong-kongcu tersenyum, menghentikan gerakan kedua tangannya dan meloncat ke belakang ketika batu itu jatuh berdebuk ke atas tanah.

Dan semua orang melongo ketika melihat betapa batu yang tadinya kasar itu kini telah menjadi halus seperti dibubut, bentuknya bulat seperti telur!

Kian Lee yang sejak tadi memandang penuh perhatian, diam-diam memuji.

Itulah tenaga Im-yang Sin-ciang yang cukup hebat.

Sungguhpun tentu saja tidak dapat dibandingkan dengan Hwi-yang Sin-ciang dan Swat-im Sin-ciang, namun pemuda itu sudah boleh juga dan hal itu tidak mengherankan karena pemuda itu, menurut pengakuannya tadi adalah murid dari koksu dari Nepal, yaitu Ban-hwa Sengjin yang pernah dia jumpai di istana Gubernur Ho-nan!

Pemuda ini mulai mengerti apa tugas orang-orang Nepal ini.

Dia dapat menghubung-hubungkannya dengan kehadiran Ban-hwa Sengjin koksu dari Nepal di istana Gubernur Ho-nan, lalu kehadiran mereka ini di sini, hendak membentuk barisan pemberontak!

Apalagi ketika mendengar bahwa Liong-kongcu ini adalah putera mendiang Pangeran Liong Khi Ong, maka tentu saja apa yang dilihat dan didengarnya semua itu tidaklah terlalu mengherankan.

Suatu persekutuan pemberontak agaknya hendak bangkit lagi mengacaukan negara.

Para tamu bersorak memuji kelihaian pemuda peranakan itu, dan Liong-kongcu kini memandang ke arah Hwee Li sambil tersenyum bangga.

Akan tetapi senyumnya hilang dan alisnya berkerut ketika dia melihat gadis berpakaian hitam yang menggoncangkan hatinya itu sama sekali tidak ikut bersorak memuji, bahkan bibirnya tersenyum mengejek, seolah-olah apa yang dipertunjukkannya, tadi tidak ada artinya sama sekali bagi nona itu.

Selagi Liong-kongcu hendak minta kepada Hwee Li agar memperlihatkan kelihaiannya, tiba-tiba dia didahului oleh Ang-siocia yang sudah bangkit berdiri dan menghampirinya.

"Hik-hik, sungguh lumayan juga kepandaianmu. Ingin sekali aku bertanding denganmu karena ilmu kita hampir ber-samaan. Engkau memiliki pukulan tajam, aku pun juga. Akan tetapi aku akan mempergunakan pedang, lihatlah!"

Dia mencabut sebatang pedang yang tadi tergantung di punggungnya, pedang yang bersarung dan bergagang indah, yang dihias ronce merah tua di gagangnya.

Kemudian, gadis berpakaian merah muda ini mengeluarkan suara melengking panjang dan pedangnya lalu bergerak dengan cepat, bertubi-tubi ke arah batu yang bulat halus seperti telur itu.

Cepat sekali gerakan pedangnya, sampai nampak sinar menyilaukan mata dan ketika sinar itu lenyap, ternyata pedangnya telah kembali memasuki sarungnya di punggung nona itu dan dengan tenang dia berdiri memandang ke arah batu.

Batu itu tiba-tiba roboh terpotong-potong seperti irisan kue keranjang!

Tipis dan lebar.

Tentu saja semua orang melongo dan bertepuk tangan memuji.

"Hii-hik, hampir sama bukan?"

Kata Ang-siocia kepada Liong-kongcu.

"Kalau guruku yang melakukannya, tidak usah memakai bantuan pedang, cukup dengan telapak tangan saja. Itulah pukulan Kianto Sin-ciang (Tangan Sakti Pedang dan Golok)."

Ang-siocia terkekeh lagi dengan bangga, lalu dia menghampiri batu yang sudah terpotong-potong itu dan menggunakan kakinya untuk mencukil dan melemparkan batu itu ke arah sungai yang mengalir tak jauh dari tempat itu, sungai yang menjadi sambungan dari air terjun.

"Lebih baik batu-batu ini dilempar ke sungai!"

Tentu saja perbuatannya ini tak lain mengandung maksud untuk mendemonstrasikan kekuatan kakinya dan memang hebat sekali.

Potongan-potongan batu itu beterbang ke depan.

"Heiii, jangan dibuang! Sayang....!"

Nampak bayangan berkelebat cepat sekali mendahului batu-batu itu dan ketika dia membalik, dia menggunakan tangannya menuding dan menangkapi potong-potongan batu yang seperti roda bentuknya itu lalu menumpuknya kembali di atas tanah.

Semua orang memandang tumpukan batu itu dan terdengar seruan-seruan kagum karena batu-batu yang bentuknya seperti roda itu kini telah berlubang tepat di tengah-tengahnya, Sehingga bentuknya seperti gilingan tahu dan ternyata bahwa ketika menangkap batu-batu itu, kakek ini menggunakan jari tangannya melubangi batu-batu itu tepat di tengah-tengah.

Kakek ini bukan lain adalah Tiat-thouw Sin-go, yang ternyata bukan hanya kepalanya yang keras melebihi batu, melainkan juga jari tangannya amat kuat.

Tentu saja perbuatannya itu pun dimaksudkan untuk mendemonstrasikan kepandaiannya dan kembali semua tamu memuji.

Akan tetapi sebelum orang lain mendemonstrasikan kepandaiannya, tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan keras dan disusul suara canang dipukul bertalu-talu tanda bahaya dan nampaklah beberapa orang penjaga datang berlari-lari dengan muka pucat menghadap pangcu mereka.

Ketika mereka melihat bahwa Hek-hwa Lo-kwi sudah hadir di situ mereka itu serta merta menjatuhkan diri berlutut.

"Celaka.... Pangcu....!"

"Tolol! Pengecut!"

Khiu-pangcu memaki.

"Hayo lekas lapor ada apa!"

"Di luar pintu terowongan.... orang-orang Gunung Cemara datang menyerbu....!"

"Huh, begitu saja ribut!"

Khiu-pangcu membentak.

"Tapi, Ji-pangcu. Mereka itu dipimpin oleh ketua mereka, Yang-liu Nio-nio dan dua orang yang luar biasa lihainya. Tanpa menyentuh orang, mereka berdua telah merobohkan dan membunuh banyak kawan kita! Mereka adalah seorang pemuda tampan dan seorang gadis cantik yang mengeluarkan suara seperti kucing.... huuuh-hu....!"

Para penjaga itu menggigil ketakutan.

"Hemmm, sungguh orang-orang Hek-eng-pang tidak boleh diberi ampun sekali ini!"

Hek-hwa Lo-kwi membentak marah sekali dan meloncat turun dari atas panggung, kemudian dengan langkah lebar, dia pergi menuju ke pintu terowongan, diikuti oleh para tamu yang ingin melihat apa yang akan diperbuat oleh ketua yang baru saja keluar dari pertapaannya itu.

Juga mereka ini mengharapkan akan menyaksikan pertandingan yang hebat antara Hek-hwa Lo-kwi melawan tokoh-tokoh pimpinan Hek-eng-pang.

Akan tetapi belum juga mereka memasuki pintu terowongan, tiba-tiba terdengar suara ledakan-ledakan keras di sebelah luar terowongan itu dan nampak api mengebul di atas tebing arah mulut terowongan di atas.

Semua orang terkejut sekali, apalagi ketika mendengar gemuruhnya suara air menyaingi suara gemuruh air terjun.

Cepat mereka semua mundur kembali menjauhi pintu terowongan dan tak lama kemudian, dari pintu terowongan itu menyembur air yang amat kuat dan derasnya.

Beberapa orang penjaga terowongan terlontar seperti daun-daun kering dihanyutkan air bersama dengan semburan air yang deras itu.

Semua orang menjadi panik karena maklum bahwa entah secara bagaimana, Fihak musuh telah berhasil membobolkan sungai di atas dan mengalirkan airnya memasuki mulut terowongan di atas sehingga menggenangi lembah itu!

Tentu saja terjadi kepanikan hebat.

Orang-orang cepat mencari perahu-perahu yang banyak terdapat di situ.

Akan tetapi karena banyaknya orang dan kurangnya perahu mereka banyak tidak kebagian dan terpaksa mereka menebang pohon-pohon dan bambu-bambu untuk dijadikan pengapung atau semacam rakit.

Air makin meninggi dan keadaan makin kacau.

Mereka yang telah berhasil memperoleh perahu sudah cepat-cepat menyelamatkan diri melalui sungai.

Di dalam suasana yang kacau-balau dan hiruk-pikuk itu, Kian Lee bertindak cepat sekali.

Dia tadi melihat Hoa-guji, tokoh Kui-liong-pang tinggi kurus yang tadi mengepalai para pelayan yang mengeluarkan hidangan.

Kian Lee menduga bahwa orang ini tentu seorang di antara para anggauta pimpinan, maka begitu dia melihat kesempatan, secepat kilat dia menubruk dan merobohkan orang tinggi kurus ini dengan totokan, lalu menyeretnya ke tempat gelap.

Hoa-gu-ji adalah seorang yang memiliki kepandaian cukup lihai, maka dapat dibayangkan betapa kaget dan herannya melihat betapa ada orang mampu merobohkannya sedemikian mudahnya!

Dia tadi hanya melihat seorang pemuda tampan mendekatinya dan tahu-tahu tubuhnya menjadi lemas dan ketika dia hendak berteriak, pemuda itu menepuk tengkuknya dan lenyaplah suaranya!

Kini Hoa-gu-ji benar-benar merasa ketakutan ketika dia diseret di tempat gelap dan dia melihat bahwa di situ telah menanti seorang nikouw tua yang tadi dilihatnya menjadi seorang di antara para tamu di situ.

"Hayo katakan, di mana adanya dua orang tawanan yang kalian bawa dari Gunung Cemara!"

Kian Lee membentak sambil menyentuh ubun-ubun kepala orang itu dan dengan tangan kiri membebaskan totokan pada lehernya sehingga dia dapat mengeluarkan suara lagi.

"Ta.... tawanan.... yang mana....?"

Hoa-gu-ji bertanya, jantungnya berdebar tegang karena jari-jari tangan yang menyentuh ubun-ubunnya itu benar-benar merupakan "todongan maut"

Baginya, maka dia tidak berani main-main.

"Seorang gadis dan seorang laki-laki tua yang kalian bawa dari tempat tahanan Hek-eng-pang. Cepat jawab!"

"Ahhh.... mereka itu?"

Setelah jelas bahwa orang ini mengetahui tentang dua orang temannya, Kian Lee lalu membebaskan totokan pada tubuh Hoa-gu-ji dan sambil mencengkeram leher bajunya, dia menghardik.

"Hayo antarkan kami ke sana!"

Hoa-gu-ji mengangguk-angguk.

Dia maklum bahwa dia tidak berdaya karena selain pemuda ini luar biasa lihainya, juga teman-temannya sedang sibuk menyelamatkan diri dari serangan air yang membanjiri lembah.

Akan tetapi, Kian Lee menjadi repot juga karena air sudah mulai naik sampai ke paha.

"Kita membuat rakit dulu!"

Kata Liang Wi Nikouw dan nenek ini lalu mengumpulkan kayu dan bambu yang banyak hanyut di situ, bekas orang-orang tadi membuat rakit.

Dengan cekatan mereka dibantu oleh Hoa-gu-ji membuat rakit, lalu cepat mereka menuju ke kelompok bangunan yang sudah digenangi air setinggi perut.

Akhirnya tibalah mereka di sebelah kamar tahanan dan dengan hati lega Kian Lee melihat Cui Lan dan Hok-taijin berpegang kepada ruji-ruji besi tempat tahanan itu dengan muka pucat dan ketakutan karena air sudah terus naik!

"Kongcu....

syukur engkau datang....!"

Cui Lan terisak penuh kegembiraan melihat munculnya pemuda itu.

Untung lampu di atas tempat tahanan masih belum padam sehingga keadaan di situ cukup terang.

Kian Lee cepat menotok lumpuh Hoa-gu-ji dan membawanya loncat naik ke atas wuwungan rumah dan melemparkan tubuh itu di atas wuwungan karena dia yakin bahwa air tidak mungkin sampai naik ke wuwungan.

Kemudian bersama Liang Wi Nikouw dia membongkar pintu tahanan dan menolong gadis dan pembesar itu naik rakit dan mereka lalu mendayung rakit itu keluar dari situ.

Di luar, air sudah naik sampai ke dada orang.

Bangunan-bangunan kecil roboh terlanda air, akan tetapi bangunan besar di mana tadi Kian Lee melemparkan Hoa-gu-ji ke atas wuwungan cukup kokoh dan tentu akan dapat bertahan.

"Ahhhhh.... Taihiap.... sungguh kami sudah hampir putus asa...."

Hok-taijin, berkata.

"Untung aku bersama dengan Cui Lan, anakku yang gagah perkasa ini.... dialah yang selalu membesarkan hatiku.... kalau tidak, mungkin aku sudah menjadi gila...."

Kian Lee memandang kepada Cui Lan dengan sinar mata kagum dan gadis itu menunduk dengan air mata berlinang.

"Cui Lan, ini adalah Liang Wi Nikouw yang diutus oleh Siluman Kecil untuk menyelidiki keadaanmu dan menolongmu,"

Kata Kian Lee sambil memandang gadis itu.

Seketika wajah yang menunduk itu bergerak, diangkat dan biarpun air matanya masih berlinang, namun bibirnya tersenyum dan wajahnya berseri.

"Aihhh...? Suthai yang baik, benarkah itu?"

Nikouw itu mengangguk dan terse-nyum.

"Di mana dia? Bagaimana dengan dia? Baik-baik sajakah dia?"

Tanyanya seperti air hujan. Nikouw itu mengangguk-angguk lagi.

"Dia mengkhawatirkan keadaanmu, Nona, maka mengutus pinni menyelidiki. Kiranya engkau benar-benar terancam bahaya, untung ada pemuda perkasa ini yang menolong."

Karena mereka masih berada dalam bahaya, maka Cui Lan tidak berani banyak bertanya lagi.

Juga dia merasa malu untuk banyak bertanya tentang pendekar luar biasa itu, maka dia kini hanya menunduk sedangkan Kian Lee yang dibantu oleh nikouw yang biarpun sudah tua namun masih kuat itu untuk mendayung rakitnya menuju ke sungai di mana juga terdapat kesibukan dari mereka yang menyelamatkan dirinya.

Sementara itu, jauh di atas tebing nampak tiga orang berdiri menonton semua keributan di lembah.

Tentu saja tidak kelihatan jelas benar karena hanya dibantu dengan sinar bulan, akan tetap melihat lampu-lampu bergerak ke sana sini dengan kacau dan teriakan-teriakan orang di bawah terdengar sampai di atas, tiga orang itu cukup puas dan menonton sambil tersenyum.

Mereka itu bukan lain adalah Hek-eng-pangcu Yang-liu Nio-nio, Ang Tek Hoat, dan Mauw Siauw Moli.

Bagaimana mereka bisa berada di sana?

Mari kita ikuti perjalanan Tek Hoat yang kita tahu melakukan usaha menculik Syanti Dewi dari puncak Naga Api, tempat tinggal Hwa-i-kongcu itu.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, setelah Ang Tek Hoat berhasil membantu Yang-liu Nio-nio ketua Hekeng-pang merobohkan Kian Lee, pemuda itu lalu dibantu oleh Yang-liu Nio-nio dan beberapa orang anak buahnya untuk pergi ke puncak Naga Api menculik Syanti Dewi yang menjadi tawanan di sana dan hendak dipaksa menikah dengan Hwai-kongcu Tang Hun, murid dari Durganini yang kaya raya dan lihai itu.

Dan biarpun Hek-eng-pang mengorbankan beberapa orang anggautanya, akhirnya mereka berhasil melarikan Syanti Dewi yang oleh Yang-niu Nio-nio di-lemparkan kepada muridnya, Liong-li dan kemudian dibawa keluar di mana telah menanti Tek Hoat bersama beberapa orang anak buah Hek-eng-pang yang siap dengan beberapa ekor kuda yang baik.

Tentu saja Tek Hoat girang sekali melihat bahwa kekasihnya telah berhasil diselamatkan.

Akan tetapi dia teringat akan perlakuan Raja Bhutan ayah puteri itu terhadap dirinya dan penghinaan lima tahun yang lalu itu masih membuat hatinya terasa panas, apalagi kalau dia teringat betapa sengsaranya hatinya selama ini yang terkenang dengan penuh kerinduan kepada wanita yang dicintanya itu.

Maka, setelah kini dengan susah payah dia dapat bertemu kembali dengan $yanti Dewi, dia tidak mau lekas-lekas mamperkenalkan diri lebih dulu.

Karena cuaca masih gelap sekali, mudah baginya untuk tidak memperkenalkan diri dan tidak membuka suara.

Dia hanya menerima puteri yang tertotok itu dari tangan Liong-li, kemudian dengan mendudukkan wanita yang dicintainya itu di atas punggung kuda, dia melompat di belakang Syanti Dewi dan membalapkan kuda secepatnya, diikuti oleh Yang-liu Nio-nio, Liong-li dan lain anak buah Hek-engpang, menuju kembali ke Gunung Cemara.

Untuk membi-ngungkan para pengejarnya, mereka berpencar menjadi tiga rombongan dan Tek Hoat masih tetap bersama Yang-liu Nio-nio dan Liong-li, sedangkan rombongan lain bertugas untuk menghilangkan jejak ketua dan rombongannya ini.

Tentu saja Hwa-i-kongcu Tang Hun dibantu oleh tiga orang sakti Hak Im Cu, Ban-kin-kwi Kwan Ok, dan Hai-liong-ong Ciok Gu To terus melakukan pengejaran, akan tetapi mereka ini dibikin bingung dan akhirnya juga berpencar menjadi dua rombongan yang membelok ke kanan kiri, Tidak tahu bahwa puteri itu dilarikan terus ke depan oleh Tek Hoat dan rombongannya.

Hal ini adalah karena jejak kaki kuda mereka telah dihapus oleh anak buah Hek-eng-pang yang cerdik itu.

Hanya ada satu orang yang tidak mudah diakali oleh anak buah Hek-eng-pang.

Orang ini adalah Siang In!

Ketika terjadi keributan di tempat pesta, Siang In yang meninggalkan rombongan penari itu cepat-cepat mencari-cari dan ketika jelas bahwa Syanti Dewi diculik orang, dia pun cepat melakukan pengejaran.

Dia amat cerdik, sudah menduga bahwa tentu rombongan penculik itu membawa keluar Syanti Dewi, maka dia telah mendahului pergi ke kandang kuda, mencuri seekor kuda dan menggunakan kesempatan selagi ribut-ribut itu menjalankan kudanya keluar dari benteng yang terjaga.

"Aku sri panggung rombongan penari, hendak membantu mencari pengantin puteri yang terculik!"

Katanya dan karena penjaga tadi melihat betapa dara cantik jelita ini pandai main sulap, mereka membiarkan Siang In keluar.

Dara ini mengintai dan melihat ada rombongan orang membawa kuda menanti di luar tembok, maka dia pun bersembunyi.

Ketika para penculik wanita rombongan orang-orang Hek-eng-pang itu keluar dan membawa lari Syanti Dewi, dia pun membalapkan kudanya membayangi dari jauh.

Dia cukup hati-hati dan dapat menduga bahwa orang-orang itu tentu memiliki kepandaian, maka dia tidak berani sembrono turun tangan di situ, apalagi dia tahu bahwa tentu fihak Hwa-i-kongcu tidak akan tinggal diam dan melakukan pengejaran, sehingga andaikata dia berhasil merampas Syanti Dewi dari tangan para penculik, dia pun tidak akan terlepas dari tangan Hwa-i-kongcu dan para pembantunya yang lihai itu.

Untuk menggunakan sihirnya, dia teringat akan orang Nepal yang lihai tadi, maka sekali ini dia harus bersikap hati-hati sekali.

Sementara itu, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Ang Tek Hoat memeluk pinggang Syanti Dewi yang duduk di depannya.

Pelukan yang penuh kemesraan dan seluruh kerinduan hatinya dicurahkan pada sentuhan mesra itu.

Namun dia tetap membisu dan hanya membalapkan kudanya bersama Yang-liu Nio-nio, dan Liong-li.

Hatinya lega karena tidak terdengar derap kaki banyak kuda mengejarnya.

Hanya kadang-kadang terdengar derap kaki seekor kuda di belakang, akan tetapi tentu saja hal ini dianggap ringan.

Andaikata benar ada satu orang yang mengejar, tentu saja bukan merupakan halangan.

Dia sendiri masih belum berani menggunakan terlalu banyak tenaga sebagai akibat luka dalam ketika bertanding melawan Kian Lee, Akan tetapi Liong-li dan terutama Yang-liu Nio-nio yang menunggang kuda di dekatnya bukanlah orang-orang yang lemah.

Karena tidak ada pengejar, hati mereka tenang dan mereka berhenti di dalam sebuah kuil tua yang berada di tepi jalan untuk membiarkan kuda mereka mengaso.

Tanpa banyak cakap Tek Hoat memondong tubuh Syanti Dewi dan merebahkan dara itu di atas lantai dalam kuil, kemudian dia membebaskan totokannya dan meninggalkannya pergi.

Syanti Dewi mengeluh dan kemudian menangis terisak-isak.

Malam hampir lewat dan waktu itu sudah menjelang subuh.

Sudah terdengar kokok ayam jantan di kejauhan.

Udara dingin sekali.

Syanti Dewi menggigil, akan tetapi Tek Hoat hanya berdiri di luar, bermacam perasaan teraduk di hatinya.

Dia merasa rindu, merasa girang, merasa kasihan, akan tetapi juga mendongkol dan marah.

Ingin dia memeluk, membisikkan kata-kata cinta, menciumi wanita yang selama ini amat dirindukannya itu.

Ingin dia menghiburnya, membuatnya gembira dan tertawa, karena dia yakin bahwa tentu Syanti Dewi akan merasa girang sekali bertemu dengan dia.

Dia tahu bahwa puteri itu belum dapat menduga siapa adanya orang yang menolongnya bebas dari tangan Hwa-i-kongcu!

Akan tetapi karena rasa sakit di hatinya oleh ayah gadis itu, dia masih "menjual mahal"

Dan mengambil keputusan untuk menjumpai Syanti Dewi pagi nanti kalau cuaca sudah terang.

Dia akan muncul begitu saja mengagetkan hati puteri itu.

Tersenyum dia membayangkan betapa Syanti Dewi tentu akan menjerit, dan lari memeluknya kalau puteri itu tiba-tiba melihat dia muncul di dalam kamar kuil rusak itu!

Adapun Yang-liu Nio-nio dan Liong-li membuat api unggun di dalam kuil, tidak mau mencampuri urusan Tek Hoat bersama Syanti Dewi.

Dan mereka membicarakan tentang beberapa orang anggauta mereka yang diduga tewas dalam penyerbuan itu, juga membicarakan tentang orang-orang pandai yang muncul di dalam pesta Hwa-i-kongcu.

Tak lama kemudian, sinar matahari pagi mulai mengusir kabut dan hawa dingin dan tiba-tiba Hek-eng-pang bersama muridnya itu mendengar suara teriakan Tek Hoat dari sebelah dalam kuil.

Mereka terkejut dan cepat melompat ke dalam dan mereka melihat Tek Hoat dengan muka pucat berdiri di ambang pintu, memandang ke arah puteri yang mereka culik semalam.

Puteri itu duduk bersimpuh di atas lantai sambil menangis dan Si Jari Maut yaneg biasanya tenang dan gagah perkasa itu kini berdiri dengan mata terbelalak memandang puteri itu, mukanya pucat sekali.

"Celaka....!"

Tek Hoat berseru marah "Kenapa? Apa yang terjadi....?"

Yang liu Nio-nio bertanya.

"Bodoh! Tolol semua! Dia bukan...."

"Bukan apa?"

"Dia bukan puteri itu!"

Tek Hoat mengepal tinju dan memandang kepada ketua Hek-eng-pang dengan mata melotot.

"Kalian telah tertipu! Ini bukan Puteri Syanti Dewi!"

"Tapi....!"

Yang-liu Nio-nio membantah, terheran-heran.

Dia sendiri yang menculik wanita ini dari dalam kamar pengantin wanita.

Tidak bisa salah lagi.

Liong-li cepat meloncat dan menarik pundak wanita yang mengempis itu.

"Diam kau! Hayo ceritakan siapa kau dan di mana adanya pengantin puteri!"

Hardiknya sambil mengguncang-guncang pundak wanita muda yang cantik itu.

"Ampunkan saya...."

Wanita itu me-ratap.

"Saya adalah seorang pelayan dari Kongcu dan malam tadi.... ada seorang kakek muncul dan menyeret saya, mengancam akan membunuh kalau saya berteriak, lalu saya menjadi lumpuh, bah-kan untuk mengeluarkan suara pun tidak mampu.... dan kakek itu melucuti pakaian saya dan memaksa saya memakai pakaian ini.... saya tidak tahu apa-apa.... dan tiba-tiba saja saya dilarikan sampai di sini...."

"Di mana pengantin puteri?"

Tek Hoat membentak, tidak sabar.

"Saya tidak tahu.... harap ampunkan saya.... saya tidak tahu apa-apa...."

"Hemmm, siapa kakek itu? Bagaimana macamnya?"

"Saya hanya tahu dia kakek tua, entah siapa...."

"Sialan!"

Yang-liu Nio-nio meludahi muka wanita itu, tangannya bergerak dan wanita itu roboh tak berkutik lagi karena kepalanya telah pecah oleh ketukan jari tangan ketua Hek-eng-pang yang merasa dipermainkan dan menjadi marah sekali.

Dia telah bersusah payah, telah kehilangan beberapa orang anggauta perkumpulannya, dan hasilnya adalah puteri palsu!

Pada saat itu terdengar suara dari luar.

"Heiii, Ang Tek Hoat! Biarkan aku bertemu dan bicara dengan Enci Syanti Dewi!l Aku belum puas kalau belum mendengar darl mulutnya sendiri bahwa dia suka ikut dengan orang seperti engkau! Enci Syanti, ini aku, Siang In. Keluarlah dulu dan kita bicara sebentar!"

"Huh!"

Tek Hoat mendengus marah dan dia menyambar punggung baju mayat pelayan yang telah dibunuh oleh Yang-liu Nio-nio dan Liong-li yang terkekeh mengejek ke arah Siang In.

Siang In terkejut bukan main melihat tubuh wanita yang disangkanya Syanti Dewi terlempar ke arahnya.

Dia mengelak dan tubuh itu terbanting ke atas tanah.

Cepat dia memeriksa dan menahan napas lega.

Kiranya bukan Syanti Dewi yang dibawa kabur oleh Tek Hoat!

"Hemmm....

kalau begitu, siapa yang menculik Syanti Dewi!

Ke mana perginya?

Orang lihai macam Tek Hoat dan nenek cantik itu masih dapat ditipu orang.

Dan melihat Hwa-i-kongcu dan orang-orangnya melakukan pengejaran dan pencarian ke mana-mana, jelas bahwa Enci Syanti Dewi benar-benar telah lenyap.

Akan tetapi siapa yang membawanya dan kemana?"

Dengan hati penasaran Siang In lalu melompat ke atas kudanya dan kembali ke daerah puncak Naga Api untuk menyelidiki hilangnya Syanti Dewi yang penuh rahasia itu.

Demikianlah, dengan marah dan kecewa Ang Tek Hoat kembali ke Gunung Cemara bersama Yang-liu Nio-nio dan Liong-li.

Dan ketika mereka tiba di sana, mereka melihat bahwa Gunung Cemara telah dibasmi dan dibakar oleh musuh, yaitu orang-orang dari lembah perkumpulan Huang-ho Kui-liong-pang!

Tentu saja Yang-liu Nio-nio menjadi marah dan berduka sekali ketika para anggauta Hek-eng-pang yang tadinya melarikan diri itu berdatangan sambil menangis.

"Orang muda! Kau lihat apa yang terjadi dengan kami karena kami pergi membantumu. Tempat kami dibasmi musuh. Kalau kau tidak membantu kami melakukan pembalasan, sungguh-sungguh aku harus menyebutmu seorang yang tidak mengenal budi!"

Ketua yang sedang marah dan sakit hati itu berkata kepada Tek Hoat. Ang Tek Hoat juga merasa tidak senang dengan peristiwa ltu.

"Jangan khawatir, Pangcu. Aku tentu akan membantumu."

"Bagus! Kalau begitu, kelak kami pun akan melakukan penyelidikan, siapa yang telah menculik pengantin puteri dari puncak Naga Api itu,"

Yang-liu Nio-nio berkata.

"Akan tetapi, karena anak buahku banyak yang tewas, aku harus minta bantuan dari Subo."

Dia lalu menulis sepucuk surat dan menyuruh Liong-li naik kuda yang kuat untuk cepat minta bantuan gurunya yang dia tahu berada di istana gubernuran di Propinsi Ho-nan.

Sepekan kemudian, munculiah Mauw Siauw Mo-li di tempat itu.

Tentu saja Ang Tek Hoat menjadi terkejut melihat wanita cantik yang genit ini, karena dia sudah mengenalnya dahulu ketika dia membantu pemberontakan Pangeran Liong Khi Ong (baca cerita Kisah Sepasang Rajawali).

Juga Mauw Siauw Mo-li terkejut dan girang bertemu dengan pemuda tampan gagah ini.

"Heh-heh-heh, bukankah engkau Tek Hoat Si Jari Maut? Aku mendengar bahwa engkau telah menjadi seorang panglima dan mantu raja di Bhutan! Bagaimana sekarang berkeliaran di sini?"

Tek Hoat cemberut dan tidak menjawab pertanyaan itu, hanya berkata.

"Hemmm, kiranya engkau guru dari Yang-liu Nio-nio? Sungguh tak kusangka!"

"Pangcu, bagaimana engkau dapat bergaul dengan pemuda ini? Ketahuilah, dia pernah menjadi musuhku beberapa tahun yang lalu, hik-hik!"

Katanya kepada muridnya yang lebih tua daripada dia itu, maka dia menyebutnya pangcu! Yang-liu Nio-nio terkejut bukan main.

"Ahhh.... teecu tidak tahu.... dia.... dia telah membantu teecu dan sekarang pun hendak membantu teecu menghadapi orang-orang Kui-liong-pang."

Mauw Siauw Mo-li tertawa dan memandang wajah Tek Hoat yang tampan dan muram itu sambil berkata, (Lanjut ke

Jilid 13) Jodoh Rajawali (Seri ke 10 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 13

"Tidak mengapa. Ada waktunnya menjadi musuh, ada waktunya menjadi sahabat, bukan? Nah, ceritakan apa yang telah dilakukan orang-orang Kui-liong-pang yang bosan hidup itu."

Yang-liu Nio-nio lalu menceritakan semua pengalamannya, betapa perkumpulannya bermusuhan dengan Kui-liong-pang dan akhir-akhir ini berebutan pusaka keluarga Jenderal Kao dan betapa ketika dia pergi membantu Tek Hoat untuk menculik pengantin dari Hwa-i-kongcu, orang-orang Kui-liong-pang datang membasmi dan membakar tempat itu.

"Hemmm, sungguh mereka itu harus mampus. Jangan khawatir, aku akan membantumu membasmi mereka. Akan tetapi, sungguh mati aku merasa heran sekali mengapa engkau pergi menculik pengantin puteri, Ang-sicu?"

Tanyanya kepada Tek Hoat, memanandang heran.

Tek Hoat sebenarnya tidak suka kepada wanita yang cabul dan genit ini, dan pandang mata wanita itu kepadanya pun sudah membuat dia merasa muak.

Akan tetapi dia tahu pula bahwa Mauw Siauw Mo-li adalah seorang yang memiliki kepandaian tinggi sekali dan selama Syanti Dewi masih belum dapat olehnya dan terancam keselamatannya di tangan orang-orang sesat, dia perlu bantu-an orang-orang seperti wanita ini.

Maka dengan terus terang dia menjawab.

"Pengantin puteri itu adalah Puteri Syanti Dewi."

"Ehhh....?"

Mauw Siauw Mo-li membelalakkan matanya dan wanita yang usianya sudah empat puluh tahun ini masih belum kehilangan daya tariknya.

"Bagaimana ini? Bukankah dia sudah kembali ke istana Bhutan?"

Tek Hoat menggelengkan kepalanya.

Dia tidak suka menceritakan riwayatnya yang menyedihkan dan memalukan itu kepada orang lain, apalagi kepada seorang wanita seperti Mauw Siauw Mo-li ini.

Maka dia menjawab singkat.

"Aku pergi dari Bhutan, dia menyusul dan tertawan oleh Hwa-i-kongcu, akan dipaksa menjadi isterinya."

Mauw Siauw Mo-li mengangguk-angguk, akan tetapi di dalam hatinya merasa heran sekali.

Dia mendengar bahwa pe-muda ini telah menjadi mantu raja, berarti sudah memperoleh kedudukan yang mulia, akan tetapi mengapa sekarang berkeliaran lagi ke sini dan wajahnya begitu murung?

Sungguh dia tidak mengerti sama sekali, akan tetapi dia pun tidak berani mendesak karena tahu bahwa pemuda yang tampan dan lihai ini mempunyai watak yang amat aneh.

Demikianlah, Tek Hoat dan Mauw Siauw Mo-li lalu bersama Yang-liu Nio-nio dan semua sisa anak buah Hek-eng-pang pergi ke lembah yang menjadi sarang Kui-liong-pang dan atas usul Tek Hoat yang melihat keadaan di situ, Mauw Siauw Mo-li lalu mempergunakan senjata peledaknya untuk membobolkan tempat itu sehingga air sungai menyerbu lembah melalui terowongan yang juga telah diledakkan.

Kini mereka bertiga memandang dengan hati puas ke bawah, ke arah lembah yang kebanjiran itu sehingga seluruh penghuni dan para tamunya harus bergegas menyelamatkan diri dengan perahu-perahu dan rakit-rakit darurat.

Setelah itu, tanpa berkata apa-apa lagi Tek Hoat lalu membalikkan tubuh sambli berkata.

"Aku pergi!"

"Terima kasih, dan kami akan menyebar anak buah kami untuk menyelidiki di mana adanya pengantin puteri itu!"

Kata Yang-liu Nio-nio. Tek Hoat tidak menjawab dan terus berkelebat pergi.

"Nanti dulu, Ang-sicu!"

Bayangan lain juga berkelebat pergi dan ternyata Mauw Siauw Mo-li mengejarnya.

Tek Hoat mengerutkan alisnya, akan tetapi dia membalik dan memandang tokoh sesat itu sambil bertanya.

"Engkau mau apa?"

"Ang-sicu, tiga hari yang lalu ketika aku meninggalkan Lok-yang menerima undangan muridku, ketika aku tiba di dusun Khun-kwa aku berpapasan dengan seorang gadis yang bertanya-tanya kepada orang-orang di jalan tentang seorang kakek yang membawa seorang gadis dengan paksa. Aku merasa curiga kepada gadis itu karena aku merasa seperti pernah melihatnya, maka aku bersembunyi dan mengintai. Ketika aku mendengar gadis itu menceritakan ciri-ciri gadis yang dibawa dengan paksa oleh kakek itu, aku teringat bahwa gadis yang diculik itu tentulah gadismu yang dahulu kau pertahankan mati-matian, yaitu Syanti Dewi."

Tentu saja Tek Hoat menjadi tertarik sekali dan wajahnya memancarkan harapan baru. Dia melangkah dekat dan bertanya.

"Mo-li, siapa yarg menculik dia?"

Wanita itu tersenyum lebar dan memang dia masih manis sekali.

"Mana aku tahu? Akan tetapi, kalau kau mau pergi bersama aku mencarinya, mungkin saja kita dapat menemukan gadis itu dan dari dia kita tentu akan dapat tahu siapa yang menculik puterimu itu. Dengan kerja sama antara kita, apa pun akan dapat kita lakukan dengan berhasil, bukan?"

Tek Hoat yang amat mengkhawatirkan keselamatan kekasihnya, tidak dapat menolak dan berkata singkat.

"Baiklah, mari kita pergi!"

Mauw Siauw Mo-li tersenyum dan berjalan pergi di samping pemuda tampan itu, menoleh dan berkata kepada muridnya.

"Engkau bawa anak buahmu menyingkir dan bersembunyi dulu sebelum mendapatkan tempat baru yang baik. Aku pergi dulu!"

Maka berangkatlah wanita cantik yang hatinya sejak dahulu memang sudah tergerak oleh ketampanan dan kegagahan Tek Hoat ini bersama Tek Hoat yang terpaksa menerimanya sebagai teman seperjalanan dalam usahanya mencari kembali Syanti Dewi yang lenyap.

Biarpun yang mereka tumpangi hanya sebuah rakit yang terbuat dari kayu dan bambu yang diikat secara kasar dan tergesa-gesa, namun karena yang memegang dayung adalah Kian Lee dan Liang Wi Nikouw, maka rakit itu dapat meluncur cepat, memasuki sungai bersama dengan orang-orang lain yang berserabutan meloloskan diri dari ancaman air yang membanjiri lembah.

Banyak perahu dan rakit yang bermacam-macam terapung di situ.

Di depan rakit mereka meluncur perahu besar yang ditumpangi oleh rombongan Boan-wangwe yang memang menggunakan perahu besar yang oleh anak buahnya sudah dipersiapkan itu.

Tentu saja dengan cara "membeli"

Dari anak buah Kui-liong-pang.

Dalam keadaan ribut-ribut itu pun pengaruh dan kekuasaan uang masih nampak sehingga rombongan yang kaya raya ini masih mampu memperoleh perahu yang terbesar dan terbaik dengan cara menyogok bagian pengurus perahu-perahu dari Kui-liong-pang.

Tentu saja para tamu yang tidak pernah melihat dan mengenal Cui Lan dan Hok-taijin, tidak memperhatikan empat orang di atas rakit itu, yang mereka anggap juga tamu-tamu yang sama-sama melarikan diri.

"Minggir....!"

Seruan yang keras sekali ini terdengar dari belakang rakit!

Suma Kian Lee, Liang Wi Nikouw, Cui Lan dan Hok-taijin terkejut dan memandang sebatang balok besar yang meluncur dengan cepatnya ke arah mereka dari belakang.

Di atas balok besar ini duduk Toat-beng Sin-to Can Kok Ma, si perampok tunggal yang tinggi besar dan tangannya memegang sebatang golok besar yang menyeramkan karena golok ini di dekat punggungnya mempunyai sembilan buah lubang dan di gagang golok dipasangi tali panjang yang melibat-libat lengan kakek itu.

Melihat betapa balok yang ditumpanginya itu hampir menabrak rakit di depannya, si Golok Sakti ini cepat menggunakan kakinya mendorong rakit Kian Lee sehingga rakit itu menjadi miring hampir terbalik!

Cui Lan menjerit dan Hok-tai jin cepat memeluk gadis itu dan karena ini maka keduanya terguling-guling di atas permukaan rakit!

Mereka tentu terlempar ke air kalau saja Kian Lee tidak cepat-cepat menggunakan tangan kanannya menepuk air sambil mengerahkan tenaga Hwi-yang Sin-kang yang amat hebat.

Air muncrat tinggi dan rakit itu seperti terdorong oleh tenaga raksasa, menjadi tegak kembali sehingga Hok-taijin dan Cui Lan tidak jadi terlempar ke air karena mereka sudah berhasil berpegang pada bambu rakit.

Akan tetapi, air yang muncrat tadi mengenai beberapa orang anak buah Boan-wangwe yang mendayung perahu besar di depan.

Mereka berteriak-teriak kaget dan kesakitan ketika air yang muncrat itu mengenai muka mereka karena terasa seperti jarum-jarum menusuk dan panas sekali!

Marahlah beberapa orang itu dan seorang di antara mereka yang merupakan tukang pukul dari Boan-Wangwe dan tentu saja memiliki kepandaian yang lumayan, memaki dan meloncat ke arah rakit di sebelah.

Akan tetapi pada saat itu nampak sinar hitam meluncur dan sinar seperti tali panjang itu mengenai kaki orang yang meloncat, terus membelit kaki itu dan ketika benda panjang hitam itu bergerak, tubuh orang itu terlempar kembali ke atas papan perahu besar di mana dia bengong terlongong memandang gadis berpakaian hitam yang berada di atas sebuah perahu kecil dan gadis itu menyimpan kembali ular panjang yang melingkar di lengannya.

Orang tadi terlalu kaget, terlalu ngeri karena tahu bahwa dia tadi dilemparkan kembali oleh gadis itu dengan menggunakan ular panjang yang mengerikan itu!

Sebelum orang-orangnya Boan-wangwe dapat melampiaskan kemarahan mereka, rakit Kian Lee sudah meluncur melewati perahu besar itu, dan ketika Kian Lee memandang, dia melihat gadis berpakaian hitam yang dia ingat bukan lain adalah Hwee Li, tersenyum kepadanya.

Dia mengangguk untuk menyatakan terima kasihnya dan mempercepat dayungnya sehingga rakit itu meluncur cepat meninggal perahu besar di mana orang-orangnya Boan-Wangwe masih memandang marah.

Akan tetapi tetap saja dia tidak dapat menyamai kecepatan perahu Hwee Li yang meluncur seperti terbang di permukaan air sungai dan sebentar saja sudah lenyap jauh di depan.

Ketika Kian Lee melihat bahwa perahu besar milik Boan-wangwe itu kini juga melaju pesat dengan menambah barisan pendayung, dia cepat-cepat minggirkan rakitnya sampai jauh agar perahu besar itu lewat lebih dulu karena dia tidak ingin ribut-ribut di situ, apalagi tanpa sebab-sebab yang patut diributkan.

Yang penting baginya adalah menyelamatkan Cui Lan dan Hok-taijin dan sekarang mereka telah berhasil diselamatkan, maka dia tidak boleh mencari perkara lagi sebelum kedua orang ini dapat dia antarkan sampai ke daerah Ho-pei.

Mereka menumpang di atas rakit sejak semalam sampai pada keesokan harinya dan baru setelah menjelang sore, Kian Lee menghentikan rakitnya di sebuah dusun nelayan di tepi sungai.

Mereka lalu mendarat dan mencari sebuah warung nasi untuk mengisi perut karena mereka berempat sudah merasa lapar sekali.

Mereka memasuki sebuah warung yang cukup besar, akan tetapi keadaan di warung itu sunyi sekali, padahal dusun itu cukup ramai karena merupakan pasar ikan.

Setelah mengambil tempat duduk dan memesan makanan, tentu saja masakan sayur tanpa daging untuk Liang Wi Nikouw, Kian Lee melepaskan pandang matanya ke sekelilingnya dan baru dia melihat bahwa tempat itu baru saja mengalami keributan.

Masih banyak meja kursi yang patah-patah ditumpuk di pinggir, juga mangkok piring yang pecah.

Teman-temannya juga melihat ini dan mereka menduga-duga apa yang telah terjadi di warung ini.

Ketika pelayan datang mengantar makanan yang mereka pesan, Kian Lee bertanya.

"Eh, Lopek, apakah yang telah terjadi maka banyak meja kursi hancur dan mangkok piring pecah-pecah?"

Dia menuding ke arah tumpukan barang-barang rusak itu.

"Aihhh, kami mengalami hari sial kemarin, Kongcu,"

Kata pelayan itu.

"Tidak saja barang-barang rusak, akan tetapi sejak peristiwa yang terjadi kemarin, warung kami menjadi sepi karena tidak ada orang berani makan di sini. Baru Kongcu berempat saja yang berani makan di sini dan itulah rejeki kami."

"Eh, apakah yang terjadi?"

Kian Lee makin tertarik.

"Kemarin seperti biasa, orang-orang dari Boan-Wangwe yang biasa mengumpulkan hasil ikan di dusun ini, sebanyak sepuluh orang, makan di sini. Mereka itu memang orang-orang kasar, akan tetapi Boan-Wangwe selalu membayar apa yang mereka makan maka kami pun melayani dengan senang hati. Tiba-tiba masuk pula serombongan tentara yang jumlahnya belasan orang. Tentu saja kami makin sibuk dan kekurangan tenaga untuk melayani terlalu lama, kedua rombongan itu berebut minta didahulukan dan terjadilah pertempuran di sini antara mereka. Wah, bukan main ramainya sampai meja kursi hancur dan mangkok piring beterbangan dan pecah-pecah. Akhirnya fihak tentara itu mengundurkan diri dan pergi. Kami tentu akan mohon kebijaksanaan Boan-Wangwe untuk mengganti kerugian kami, akan tetapi ternyata Boan-Wangwe sedang pergi entah ke mana."

Hok-taijin tentu saja tertarik sekali mendengar adanya sepasukan tentara.

Tentara siapakah itu?

Kalau tentara dari Gubernur Ho-nan, berarti dia masih dikejar-kejar dan dicari-cari sampai di sini.

"Tahukah engkau tentara dari propinsi mana mereka itu?"

Tanyanya kepada si pelayan.

"Mana saya tahu? Tentu saja tentara pemerintah, entah dari propinsi mana."

"Apakah fihak tentara itu kalah?"

Kian Lee bertanya lagi karena dia tahu bahwa orang-orang dari Boan-wangwe seperti mereka yang berada di atas perahu besar semalam, adalah orang-orang yang pandai ilmu silat.

"Sebetulnya sih masih ramai, entah fihak mana yang menang atau kalah karena kami hanya berani menonton sambil bersembunyi. Tentu akan terjadi hal-hal mengerikan dan tentu akan banyak yang mati karena mereka mulai mengeluarkan senjata tajam masing-masing. Baiknya ketika mereka sudah mulai menggerakkan senjata, muncul seorang pendekar yang melerai. Bukan main pendekar ini, tubuhnya terbang seperti burung dan semua senjata itu dirampasnya! Sambil bergerak merampas senjata dia berseru agar mereka menghentikan pertempuran. Dia hanya datang, bergerak merampas senjata, lalu pergi lagi, menghilang begitu saja sehingga kami tidak lagi dapat atau sempat melihat mukanya. Yang tampak hanya rambutnya yang sudah putih semua, padahal dia masih muda dan...."

"Siluman Kecil!"

Cui Lan menjerit tanpa disadarinya dan dia bangkit berdiri sampai sepasang sumpitnya terjatuh ke atas lantai.

"Benar....!"

Kata Liang Wi Nikouw sambil memandang Cui Lan.

Gadis ini segera sadar kembali dan menjadi tersipu-sipu, cepat mengambil kembali sepasang sumpitnya membungkuk dan ketika dia membersihkan sepasang sumpit itu, mukanya menjadi merah sekali.

"Munculnya pendekar itu menghentikan pertempuran dan para perajurit itu lalu pergi, demikian pula orang-orangnya Boan-wangwe tidak berani melanjutkan pertempuran setelah melihat betapa senjata-senjata mereka demikian mudahnya dirampas pendekar itu. Sedangkan para perajurit itu menurut kabar bermalam di dusun ini dan heiii, itulah mereka! Mereka datang lagi ke sini....!"

Pelayan itu cepat pergi meninggalkan tamunya untuk masuk ke dalam dan melapor kepada majikannya tentang kedatangan para perajurit yang kemarin itu.

Dia tidak tahu bahwa empat orang tamunya itu pun terkejut sekali dan Kian Lee bersama Liang Wi Nikouw sudah bersiap-siap untuk melawan kalau pasukan itu ternyata anak buah Gubernur Ho-nan.

Akan tetapi ketika rombongan itu sudah memasuki warung dan dipimpin oleh seorang perwira yang sudah setengah tua, tiba-tiba Hok-taijin berseru girang.

"Ciangkun, ke sinilah!"

Teriaknya kepada perwira itu.

Perwira setengah tua itu terkejut, menoleh dan sejenak dia memandang kepada Hok-taijin dengan melongo.

Akan tetapi akhirnya dia pun mengenal gubernurnya dan cepat dia maju berlutut dan memberi hormat.

"Ah, Taijin! Siapa kira hamba dapat bertemu dengan Taijin di sini!"

Serunya dengan girang.

Semua anak buahnya ketika mengenal pula bahwa kakek berpakaian petani yang berdiri di depan mereka itu bukan lain adalah Hoktaijin, segera berlutut pula memberi hormat.

Perwira itu dipersilakan duduk dan dia bercerita bahwa pasukannya mendapat perintah dari atasannya untuk mencari-cari Gubernur Hok yang kabarnya lenyap ketika mengiringkan Pangeran Yung Hwa sebagai utusan kaisar ke Propinsi Ho-nan.

"Semua pasukan disebar, akan tetapi tidak juga berhasil,"

Perwira itu berkata.

"Siapa tahu, di tempat yang tidak kami sangka-sangka sama sekali ini, hamba berjumpa dengan Taijin."

Perwira itu berhenti sebentar untuk menenangkan jantungnya yang berdebar penuh ketegangan setelah dia bertemu dengan gubernur yang dicari-carinya dengan susah payah itu.

"Marilah Taijin, hamba antar Taijin kembali pulang. Apakah Taijin ingin naik kereta, ataukah kuda?"

"Cui Lan, apakah engkau biasa menunggang kuda? Kalau tidak biasa, biar kita naik kereta saja,"

Tanya Hok-taijin kepada Cui Lan.

Gadis itu tadinya melamun, karena pikirannya masih tertarik oleh berita tentang Siluman Kecil yang muncul di dusun ini.

Betapa ingin dia berjumpa dengan pendekar yang dipujanya itu.

Betapa besar rasa rindu di hatinya ingin memandang wajahnya, mendengar suaranya, merasakan sinar matanya yang aneh tapi lembut.

"Eh.... saya.... hemmm, saya pun biasa naik kuda...."

Jawabnya gagap.

"Bagaimana kabarnya dengan Pangeran Yung Hwa, Ciangkun?"

Suma Kian Lee bertanya. Perwira itu memandang kepada Hok-taijin dan pembesar ini mengangguk.

"Kau boleh menceritakan apa pun juga kepada Suma-taihiap ini,"

Katanya.

"Kalau tidak ada dia dan nona ini dan nikouw ini, kiranya engkau hanya dapat menemukan mayatku."

Perwira itu terkejut dan cepat memberi hormat kepada mereka bertiga, kemudian menjawab kepada Kian Lee.

"Kami tidak mendengar berita tentang Pangeran Yung Hwa. Tidak ada kabar apa-apa dan kami tidak ada yang berani melapor ke kota raja sebelum gubernur pulang."

Kian Lee lalu berkata kepada gubernur itu.

"Hok-taijin, kalau begitu sungguh mengkhawatirkan sekali keadaan Pangeran Yung Hwa. Sekarang, Taijin telah bertemu dengan pasukan Taijin, maka kiranya tidak perlu lagi saya mengantar sampai ke ibu kota. Tentu daerah ini termasuk Propinsi Ho-pei dan Tai jin telah berada di daerah sendiri. Biarlah Taijin dan Nona Phang dikawal oleh pasukan, sedangkan saya sendiri hendak menyelidiki keadaan Pangeran Yung Hwa...."

Pada saat itu, Kian Lee memandang kepada Cui Lan dan kebetulan sekali gadis ini pun memandang kepadanya.

Dua pasang mata bertemu, bertaut sebentar dan Kian Lee melihat, dengan jelas betapa gadis itu merasa amat berat untuk berpisah, agaknya tidak senang untuk ikut bersama pembesar itu ke istana gubernur.

Mengapa?

Dia merasa heran sendiri.

Betapapun juga, dia merasa amat suka dan kagum kepada gadis ini, dan tentu saja rasa suka ini membuat dia pun merasa tidak senang untuk saling berpisah.

Akan tetapi, tidak mungkin mereka akan terus berkumpul.

Tak mungkin!

Dia tidak tahu bahwa memang Cui Lan sebetulnya ingin terus bersama dengan dia untuk mencari Siluman Kecil.

"Benar, dan pinni pun harus kembali,"

Kata Liang Wi Nikouw.

"Suthai...."

Cui Lan berkata akan tetapi ditahannya.

Nikouw yang sudah tua dan bijaksana ini dapat menangkap apa yang terkan-dung dalam hati gadis itu, maka dengan tenang dia berkata.

"Engkau ingin agar pinni menyampaikan kepada dia bahwa engkau ikut bersama Hok-taijin ke Ho-pei, Nona?"

Kedua pipi gadis itu menjadi merah, matanya menjadi basah. Dia mengangguk dan menggumam.

"Terima kasih, Suthai...."

Kian Lee dan Liang Wi Nikouw lalu berpamit dan segera mereka berpisah dan meninggalkan tempat itu, dlikuti pandang mata Hok-taijin dan Cui Lan.

"Suma-taihiap!"

Tiba-tiba kakek itu berseru memanggil. Kian Lee cepat membalik dan menghampiri kakek itu yang sudah bangkit.

"Ada pesan apa yang hendak disampaikan oleh Taijin?"

Hok-taijin melangkah maju dan memegang tangan pemuda itu.

"Suma-taihiap, betapa besar aku hutang budi kepadamu! Betapa inginku untuk membalas segala kebaikanmu itu. Sudikah engkau datang ke rumah kami dan menjadi tamuku yang terhormat agar kami dapat menyatakan terima kasih kami kepadamu?"

Kian Lee tersenyum. Dia tahu bahwa pembesar ini, adalah seorang tua yang baik budi.

"Baiklah, Taijin. Kelak, kalau sudah tidak terlalu banyak urusan yang harus kuselesaikan, saya pasti akan berkunjung kepada Taijin."

Mereka pun berpisah dan Hok-taijin lalu dikawal oleh para perajuritnya, bersama Cui Lan pergi ke rumah penginapan untuk bermalam di situ semalam sambil membuat segala persiapan.

Pembesar yang bijaksana ini melihat bahwa jumlah perajurit pengawal itu hanya dua puluh orang, maka dia mengambil keputusan untuk tetap menyamar sebagai seorang petani.

Pada keesokan harinya, Hok-taijin dan pengawalnya melanjutkan perjalanan.

Rombongan ini bergerak perlahan dan belum lama mereka meninggalkan kota, mereka mendengar derap kaki banyak kuda lari dari arah belakang.

Perwira pengawal memberi aba-aba agar pasukannya berhenti dan menepi, membiarkan belasan orang berkuda itu lewat.

Cui Lan melihat bahwa belasan orang yang berpakaian sebagai pendekar itu tergesa-gesa lewat sehingga kuda mereka menimbulkan debu mengebul tinggi.

Cui Lan memandang kagum.

Sudah banyak ia bertemu orang-orang gagah, pendekar-pendekar budiman.

Sudah banyak ia menerima pertolongan para pendekar, terutama sekali dari Kian Lee yang dianggapnya seorang pemuda yang amat baiknya, paling baik di dunia ini sesudah Siluman Kecil tentunya!

Dan karena dia merasa betapa setiap langkah kuda yang ditungganginya itu makin menjauhkan dia dari dusun di mana Siluman Kecil pernah muncul, hatinya merasa sedih.

Tak lama kemudian, kembali terdengar derap kaki kuda dari belakang.

Ketika mereka menoleh, kelihatan tiga ekor kuda membalap dari belakang.

Perwira itu menyerukan aba-aba agar semua kuda berhenti karena jalan itu sempit, agar tiga orang yang datang membalapkan kuda itu dapat lewat lebih dulu.

Mereka berhenti dan memandang tiga orang penunggang kuda yang bertubuh tegap itu.

Kuda terdepan ditunggangi oleh seorang laki-laki tinggi besar yang memboncengkan seorang anak laki-laki di depannya.

"Heiiiii.... Enci Lan....!!"

Tiba-tiba anak itu berseru. Tiga orang penunggang kuda itu menoleh dan mereka pun melihat Cui Lan, lalu mereka menahan kuda mereka.

"Ah, kiranya engkau, Hong Bu....!"

Cui Lan berseru girang sekali dan cepat dia turun dari kudanya.

Tiga orang laki-laki itu bukan lain adalah Sim Hoat, Sim Tek, dan Sim Kun tiga orang pemburu di tengah hutan yang pernah menolong Cui Lan, dan anak itu adalah Sim Hong Bu, putera dari Sim Hoat.

"Sam-wi Twako, kalian baik-baik saja?"

Cui Lan menegur dan tiga orang itu menjura kepada Cui Lan, juga kepada Hok-taijin yang mereka tahu adalah seorang sahabat dari nona ini.

Mereka menghormati Cui Lan yang mereka anggap sebagai sahabat baik dari Siluman Kecil.

"Terima kasih, Nona,"

Jawab Sim Kun, saudara termuda yang paling ramah dan pandai bicara dibandingkan dengan dua orang kakaknya yang kasar dan kaku.

"Eh, kalian hendak ke manakah? Kelihatan tergesa-gesa amat. Dan siapa pula mereka yang tadi melewati kami? Ada belasan orang berkuda yang juga kelihatan tergesa-gesa melewati kami menuju ke depan,"

Cui Lan bertanya. Mendengar ini, Sim Hoat tertawa girang.

"Ha-ha, kiranya saudara-saudara kita pun sudah berangkat!"

Katanya kepada dua orang adiknya yang juga kelihatan gembira.

"Sebetulnya ada urusan apakah?"

Cui Lan bertanya lagi, penuh perhatian tentu saja karena orang-orang ini termasuk sahabat-sahabat dari Siluman Kecil dan dia justeru mengharapkan berita dari Siluman Kecil!

Kini Hok-taijin juga sudah turun dari kudanya dan ikut mendengarkan, sedangkan para perajurit tetap menanti di atas kuda sambil berjaga-jaga karena mereka itu betapapun juga merasa curiga terhadap tiga orang yang kelihatannya kasar-kasar seperti gerombolan perampok itu.

Heran sekali mereka melihat gubernur mereka dan gadis yang cantik itu dan yang diperkenalkan oleh sang gubernur sebagai anak angkatnya kelihatan begitu bebas bergaul dengan segala macam orang kasar seperti tiga orang penunggang kuda itu.

"Kami hendak membantu penolong kami, Pendekar Siluman Kecil."

"Ehhhhh....?"

Cui Lan berseri wajahnya dan dia maju selangkah.

"Apa yang terjadi?"

Tanyanya penuh gairah.

"Kami hanya mengetahui urusan itu sebagai kabar angin saja, akan tetapi bagaimanapun juga, kami ingin membantu beliau,"

Kata Sim Kun.

"Entah benar entah tidak kabar angin itu, kami pun tidak tahu."

"Ceritakanlah, kami ingin sekali mendengarnya, bukan Gi-hu?"

Cui Lan menoleh kepada ayah angkatnya dengan sinar mata penuh permohonan.

Kakek itu mengangguk.

Betapapun juga, ketika dikejar oleh tentara Ho-nan, dia dan Cui Lan telah ditolong oleh para pemburu ini pun berkat nama Siluman Kecil, pikirnya.

"Menurut kabar angin di antara kawan-kawan yang seperti semacam dongeng tentang diri Siluman Kecil, lima tahun kurang lebih yang lalu, di dalam pengembaraannya, beliau bertemu dengan musuh yang amat sakti yang tinggal mengasingkan diri di atas bukit di depan sana. Orang sakti itu tinggal bersama murid-muridnya dan pelayan-pelayannya yang kesemuanya juga lihai-lihai sekali. Dan menurut dongeng itu, kabarnya orang sakti ini adalah pewaris dari ilmu-ilmu pendekar sakti Suling Emas ratusan tahun yang lalu. Entah apa sebabnya, lima tahun yang lalu tecjadi pertandingan antara Pendekar Siluman Kecil dan orang sakti itu, dan kabarnya beliau terluka parah oleh suling sakti dari lawan itu dan hampir saja beliau tewas. Akan tetapi beliau dapat diselamatkan dan diobati oleh seorang pendeta wanita, dan biarpun dapat sembuh, namun luka-luka hebat itu membuat rambut beliau menjadi putih semua! Nah, kabarnya beliau membuat perjanjian dengan orang sakti itu untuk saling mengadu ilmu lagi lima tahun kemudian dan hari ini adalah hari perjanjian itu. Kami yang berhutang budi kepada Pendekar Siluman Kecil, tidak dapat berdiam diri saja dan kami semua beramai-ramai pergi ke tempat itu untuk membantu beliau."

Setelah selesai bercerita, cerita yang seperti dongeng dan yang hanya mereka dengar sepotong-sepotong itu, hati Cui Lan ingin sekali ikut bersama mereka untuk menyaksikan pertandingan itu, atau sesungguhnya lebih tepat lagi kalau dikatakan bahwa ia ingin pergi untuk menjumpai orang yang dipujanya itu.

Akan tetapi tentu saja dia tidak berani dan malu untuk menyatakan hal ini kepada ayah angkatnya.

Maka ketika tiga orang bersama anak laki-laki itu berpamit untuk melanjutkan perjalanan mereka, Cui Lan melangkah maju beberapa tindak mengikuti mereka sampai ke tempat mereka menambatkan kuda mereka.

Air matanya membasahi bulu matanya, ketika dia mendengar mereka berpamit lagi dan melompat ke atas kuda mereka.

"Selamat tinggal, Enci Cui Lan!"

Terdengar Hong Bu berteriak.

Cui Lan yang tadinya menunduk untuk menyembunyikan air matanya, kini berdongak mendengar seruan suara Hong Bu.

Terkejutlah dia ketika pandang matanya bertemu dengan pandang mata Sim Kun yang ternyata masih berada di situ dan memandangnya dengan sinar mata aneh, lembut, hangat dan mesra!

Cui Lan terkejut dan gugup, cepat dia membalikkan tubuhnya dan dia mendengar Sim Kun berkata.

"Selamat berpisah sampai jumpa kembali!"

Lalu terdengar derap kaki kuda dilarikan cepat ke depan.

Mereka melanjutkan perjalanan dan Cui lan kelihatan termenung.

Melihat ini, Hok-taijin bertanya.

"Anakku, kenapa kau kelihatan diam? Apakah engkau masih terkesan oleh cerita tadi?"

Memperoleh kesempatan itu Cui Lan lalu berkata.

"Benar sekali, Gi-hu. Gi-hu tentu tahu mengapa orang-orang kasar itu sampai begitu setia, mereka semua telah berhutang budi kepada Pendekar Siluman Kecil. Saya pun hutang nyawa, bahkan lebih dari itu kepadanya, dan mendengar dia hendak bertanding melawan orang sakti, saya saya ingin sekali menonton, Gi-hu."

Hok-taijin mengerutkan alisnya.

"Hemmm, berbahaya sekali, Cui Lan. Orang-orang yang tidak mempunyai kepandaian silat seperti kita ini, apa gunanya bagi dia? Tidak dapat membantu seperti para pemburu itu, bahkan kita terancam bahaya maut. Jangan khawatir, kalau kita sudah tiba di rumah, aku akan mengirim utusan mengundang Pendekar Siluman Kecil dengan hormat agar sudi berkunjung ke rumah kita."

Terhibur juga hati Cui Lan mendengar janji ini, sungguhpun hatinya masih ingin sekali untuk pergi ke bukit itu.

Akan tetapi, selain tidak berani memaksa, juga dia merasa malu terhadap ayah angkatnya dan para perajurit, maka dia melan-jutkan perjalanan itu dengan diam saja dan termenung.

Lewat tengah hari, udara panas sekali dan Hok-taijin mengajak mereka beristirahat di sebuah lapangan terbuka dekat hutan di kaki bukit yang penuh dengan hutan-hutan besar.

Perwira itu lalu mengeluarkan perbekalan dan Hok-taijin dan Cui Lan lalu makan.

Lezat bukan main makan di tempat terbuka itu, sungguhpun yang dimakan hanya roti kering dan daging panggang dibantu oleh air jernih.

Setelah keduanya selesai makan, Hok-taijin memberi kesempatan kepada para pengawalnya untuk makan pula.

Kakek ini duduk bersandar pohon dan segera terasa kantuk datang menyerangnya ketika tubuh lelah perut kenyang itu dihembus angin sejuk.

Cui Lan berjalan-jalan di sekitar tempat itu mencari kembang.

Mendadak dia mendengar suara orang bersenandung, suara yang amat merdu dan gembira.

Ketika dia menuju ke tempat itu, dia melihat seorang gadis yang cantik sekali, berpakaian serba hitam dan ringkas, pakaian yang ketat memperlihatkan bentuk tubuhnya yang padat dan indah, sedang duduk di antara rumput-rumput hijau dan rebah terlentang sambil bersenandung.

Cui Lan ingin pergi lagi karena dia tidak ingin mengganggu orang yang sedang beristirahat dengan enaknya itu, akan tetapi tiba-tiba ada sinar hitam menyambar di dekat kakinya.

Ketika dia melihat ke bawah, hampir dia menjerit karena ternyata bahwa sinar hitam itu adalah seekor ular yang hitam panjang dan yang kini berada di depan kakinya dengan kepala terangkat dan bergoyang-goyang seperti menari-nari, atau seperti memberi isyarat kepadanya agar jangan pergi!

Cui Lan memandang dengan muka pucat, akan tetapi memang pada dasarnya gadis ini seorang yang tabah.

Dia tidak jadi menjerit dan perlahan-lahan dia menggeser kakinya untuk menjauhi.

"Hi-hik, si Hek-coa (Ular Hitam) itu suka kepadamu dan dia ingin agar kau duduk di sini bercakap-cakap dengan aku!"

Cui Lan cepat menoleh dan dia melihat gadis berpakaian hitam tadi sudah duduk dan tersenyum.

Bukan main cantiknya!

Baru sekarang dia melihat betapa gadis itu mempunyai kecantikan yang luar biasa, cantik jelita dan manis sekali, apalagi kini sedang tersenyum.

Dia memandang kagum dan melihat gadis berpakaian hitam dan ular yang kini melilit lengan gadis itu, teringatlah dia akan gadis di dalam perahu yang telah melempar kembali orang dari perahu besar yang meloncat ke rakit mereka.

"Kau.... bukankah kau gadis dalam perahu...."

Gadis itu memang Hwee Li adanya. Dia mengangguk dan menepuk rumput di dekatnya.

"Duduklah di sini, enak, lunak seperti duduk di kasur saja. Jangan takut, ularku ini tidak jahat. Aku melihat engkau bersama rombongan perajurit dan si orang tua, akan tetapi mana pemuda yang bersamamu di perahu itu?"

"Ah, dia sudah pergi...."

Cui Lan menahan kata-katanya karena dia tidak hendak bercerita tentang urusan Pangeran Yung Hwa kepada seorang asing.

Lalu cepat disambungnya dengan pertanyaan.

"Engkau siapakah? Aneh sekali seorang gadis cantik seperti engkau bermain-main dengan seekor ular seperti itu."

"Seekor? Ada dua! Lihat di atasmu!"

Cui Lan mengangkat mukanya dan dia menahan jeritnya ketika melihat seekor ular yang amat panjang, bergantung di cabang pohon dengan ekornya dan kini kepala ular itu dekat sekali di atas kepalanya!

Bahkan lidah yang merah itu hampir menjilat-jilat dahinya!

Hwee Li tertawa dan dengan gerakan tangan dia membuat ular itu menarik diri lagi ke atas cabang dan ular yang di lengannya itu pun dia suruh pergi merayap naik ke atas pohon, berkumpul dengan temannya.

"Namaku Kim Hwee Li. Kau juga cantik manis, siapa namamu, Enci?"

"Namaku Phang Cui Lan."

Cui Lan merasa suka kepada gadis itu dan duduk di atas rumput.

Memang enak sekali duduk di situ, rumputnya tebal dan lunak seperti kasur dan tempat itu sejuk di bawah pohon besar.

"Hwee Li nama yang indah sekali. Mengapa kau berada di sini seorang diri saja, Hwee Li? Seorang gadis seperti engkau seorang diri saja, sungguh aneh."

"Apa anehnya? Memang aku hanya sendiri saja di dunia ini, eh, tidak sendiri, melainkan bertiga dengan sepasang ular hitamku itu. Aku ingin nonton keramaian di bukit sana."

Cui Lan terkejut dan memandang dengan mata terbelalak.

"Kau maksudkan.... keramaian.... pertandingan antara Pendekar Siluman Kecil dengan orang sakti....?"

Kini Hwee Li yang terkejut.

"Apa? Kau tahu pula tentang itu? Kau kenal Siluman Kecil?"

Cui Lan mengangguk.

"Tentu saja aku mengenalnya,"

Dan pandang matanya kini merenung, membayangkan pendekar itu.

"Benarkah? Hebat! Namanya sudah tersohor di seluruh daerah ini, dan kau seorang gadis yang lemah telah mengenalnya! Kau lebih aneh dari aku, Cui Lan! Kau seorang lemah akan tetapi kenalanmu pemuda-pemuda hebat! Baru yang di perahu itu saja sudah hebat, sekarang kau bilang kenal dengan Siluman Kecil! Kau benar-benar membuat aku merasa iri."

Terpaksa Cui Lan tersenyum mendengar ini.

Gadis ini sikapnya seperti telah menjadi sahabatnya selama bertahun-tahun saja, demikian ramah dan akrab.

Seketika timbul rasa sayang di dalam hatinya.

"Ah, Hwee Li, seorang gadis seperti engkau ini, yang cantik seperti Dewi Kwan Im, apa sih sukarnya kalau hendak berkenalan dengan pemuda-pemuda yang paling hebat di dunia ini?"

"Benarkah? Eh, orang macam apa sih sebetulnya Siluman Kecil itu?"

"Orang macam apa....?"

Cui Lan menengadah dan memejamkan matanya. Terbayang wajah pemuda pendekar itu dan dia menarik napas.

"Orang yang hebat....! Seorang pendekar yang masih amat muda, akan tetapi rambutnya telah putih semua, seperti benang-benang perak halus mengkilap...."

"Hemmm, kau makin menambah keinginanku untuk nonton pertandingan itu. Kabarnya malam ini Siluman Kecil akan muncul dan melawan Sin-siauw Seng-jin di puncak bukit itu."

"Sin-siauw Seng-jin? Siapakah dia?"

"Seorang tokoh yang maha sakti. Seorang yang terasing akan tetapi seluruh tokoh dunia kang-ouw tidak ada yang berani mengganggunya, dan kabarnya dia hidup seperti dewa. Hemmm, aku berani bertaruh potong leher...."

"Potong leher?"

Cui Lan terkejut.

"Nanti dulu, belum habis. Leher ayam maksudku! Siluman Kecil sekali ini tentu akan jatuh namanya. Mana mungkin dia bisa menang! Hi-hik, kedua ekor ularku ini paling suka minum darah, apalagi kalau darah orang sakti seperti Siluman Kecil itu. Hemmm, mereka tentu akan senang sekali."

Pucat wajah Cui Lan.

"Apa.... apa.... maksudmu....?"

"Hi-hik, pandang matamu begitu ketakutan dan ngeri seperti seekor kelinci. Ah, memang matamu indah sekali, Cui Lan, seperti mata kelinci! Jangan khawatir, aku tidak akan mencampuri urusan mereka, akan tetapi aku tahu bahwa pasti Siluman Kecil akan tewas dan ularularku akan menikmati darahnya kalau dia sudah roboh."

"Ihhh.... kau.... kau kejam sekali!"

Cui Lan bangkit berdiri, sepasang matanya menyinarkan api dan kedua pipinya merah, telunjuknya menuding ke arah muka Hwee Li.

"Kau sungguh kejam, dan aku.... aku akan menggunakan batu menghancurkan kepala dua ekor ular-ularmu kalau mereka beralni melakukan hal itu!"

"Ehhh....?"

Hwee Li memandang dengan mata terbelalak.

"Wah.... kau cinta padanya, hi-hik! Kau cinta padanya!"

Lemas lagi rasa tubuh Cui Lan dan dia menjatuhkan diri di atas rumput. Dia mengangguk.

"Aku memang cinta padanya...."

"Kalau begitu, mengapa tidak nonton bersama aku? Dengan adanya kekasihnya di sana, hal itu akan membesarkan hatinya!"

"Aku bukan kekasihnya, jangan bicara seperti itu, Hwee Li."

"Ihhh? Bagaimana sih kau ini? Baru saja kau mengaku cinta padanya dan kau tidak mau kusebut kekasihnya?"

"Aku cinta padanya, memang, dengan sepenuh jiwa ragaku. Akan tetapi apakah dia cinta padaku.... hemmm, hal itu aku.... aku tidak tahu...."

"Hi-hik, jangan khawatir. Laki-laki mana yang tidak akan membalas cinta seorang dara seperti engkau? Dia pasti cinta padamu. Pasti! Mari kau ikut aku nonton ke sana, Cui Lan."

Cui Lan menengok ke arah rombongan ayah angkatnya. Mereka agaknya sudah berkemas dan ayahnya sudah bangkit berdiri.

"Aku.... aku tidak bisa, di sana ada ayah angkatku.... aku harus pergi bersama mereka."

"Huh, betapa tidak enaknya hidup seperti engkau ini. Hati ingin nonton ke gunung, akan tetapi kenyataannya terpaksa harus pergi. Kau seperti burung dalam sangkar saja. Dan kau gadis yang memiliki keberanian hebat sungguhpun kau lemah."

"Aku ingin sekali, akan tetapi mereka tentu melarang dan kita tidak bisa memaksa."

"Siapa bilang? Baru dua puluh orang perajurit macam itu, biar ditambah dua puluh lagi masih belum cukup untuk melawan aku!"

"Ah, aku tidak ingin kau bertempur dengan mereka. Orang tua itu adalah ayah angkatku yang amat baik."

"Kalau begitu tidak perlu bertempur. Aku dapat melarikan engkau dari sini tanpa dapat mereka kejar!"

"Benarkah? Akan tetapi aku harus berpamit! Aku tidak boleh menyusahkan hati ayah angkatku."

"Nah, berpamitlah!"

Hwee Li lalu menggerakkan tangan dan dua ekor ularnya meluncur turun ke arah kedua lengannya, terus melingkar di situ.

Kemudian dia mengiringkan Cui Lan berjalan menghampiri rombongan itu.

Melihat Cui Lan datang bersama seorang gadis cantik berpakaian hitam yang dikenalnya sebagai gadis yang membantu mereka di atas sungai, Hok-taijin memandang kagum, akan tetapi dia segera mengerutkan alisnya dan wajahnya berubah pucat ketika melihat dua ekor ular melingkar di kedua lengan yang putih mulus itu.

"Gi-hu, ini adalah Kim Hwee Li, seorang sahabat.... dan dia.... dia mengajak saya pergi nonton adu kepandaian di bukit. Gi-hu, perkenankanlah, dan jangan khawatlr, saya pasti akan menyusul Gi-hu.... setelah selesai nonton...."

"Akan tetapi, Cui Lan....!"

Hok-taijin berkata penuh keraguan.

"Mari kita pergi, Cui Lan!"

Tiba-tiba Cui Lan merasa pinggangnya dibelit sesuatu dan tubuhnya terbang ke atas!

Ketika dia tidak melayang lagi, ternyata dia telah berada di atas cabang pohon, dirangkul oleh lengan Hwee Li dan ayah angkatnya bersama para perajurit berada jauh di bawah pohon besar itu!

"Pejamkan mata, kita pergi sekarang,"

Bisik Hwee Li.

"Gi-hu, maafkan, saya pergi dulu....!"

Cui Lan berseru ke bawah dan tiba-tiba tubuhnya melayang ke bawah, jauh dari situ dan selanjutnya dia seperti terbang di atas tanah bersama Hwee Li, pinggangnya dipeluk oleh gadis yang luar biasa itu.

Angin bertiup kencang membuat kedua telinganya mendengar suara gemuruh dan Cui Lan merasa ngeri.

Dia mendengar suara ayahnya lapat-lapat memanggil namanya, lalu tidak mendengar apa-apa lagi kecuali suara angin bertiup kencang dan pohon-pohon berlarian cepat di kanan kirinya.

Dia memejamkan matanya.

Tak lama kemudian dia mendengar suara Hwee Li.

"Kita sudah jauh meninggalkan mereka. Nah, mari kita mendaki bukit itu."

Cui Lan membuka mata.

Kiranya mereka telah berada di kaki bukit, di antara banyak pohon-pohon liar dan dia menengok ke sana-sini, akan tetapi sama sekali tidak melihat lagi rombongan gi-hunya, bahkan dia tidak mendengar suara mereka.

Hanya suara burung yang berbondong-bondong terbang datang untuk berlindung di dalam pohon-pohon besar melewatkan malam, karena matahari telah condong ke barat.

Cui Lan memandang Hwee Li.

"Engkau sungguh seorang gadis yang hebat, Hwee Li. Kiranya engkau juga seorang pendekar sakti."

"Hi-hik, enak juga dipuji orang seperti engkau. Tahukah engkau, Cui Lan, ketika aku memelukmu dan meraba tulang-tulangmu, aku mendapat kenyataan bahwa andaikata engkau mempelajari ilmu silat, agaknya engkau malah dapat mencapai tingkat yang lebih tinggi daripada aku. Bakatmu baik dan nyalimu besar."

Akan tetapi tentu saja Cui Lan menganggap kata-kata Hwee Li itu sebagai kelakar saja dan dia tidak ambil peduli.

Mereka lalu melanjutkan perjalanan mendaki bukit itu.

Cui Lan terheran-heran melihat betapa tempat ini amat sunyi.

Bukankah tadi terdapat banyak penungang kuda yang katanya juga menuju ke tempat ini?

Akan tetapi mengapa di situ sunyi saja, tak pernah mereka bertemu dengan seorang manusia pun?

Dengan hati-hati Hwee Li mengajaknya mendaki terus, berjalan di antara rumpun ilalang yang tinggi-tinggi, ada yang setinggi manusia.

"Hati-hati, Hwee Li...."

Bisik Cui Lan karena gadis ini maklum betapa berbahayanya tempat seperti itu.

Kalau ada orang atau harimau bersembunyi di dalam ilalang, tentu tidak kelihatan dan mereka itu dengan mudah dapat menerkam mangaa yang lewat.

"Hik-hik, jangan khawatir, Cui Lan. Dua ekor ularku ini lebih tajam pendengarannya, penciumannya dan pandang matanya daripada seekor anjing."

Baru saja Hwee Li berkata demikian, seekor di antara dua ekor ular yang melilit di kedua lengan dara itu meluncur ke samping, memasuki rumpun ilalang dengan ekornya masih melilit lengan kiri Hwee Li.

Tampak ilalang di sebelah itu bergerak-gerak keras dan terdengar suara menguik.

Tak lama kemudian, kepala ular itu sudah kembali dan moncongnya yang lebar telah menggigit seekor anak babi yang telah tewas.

"Hik-hik, mengagetkan saja kau. Hayo lepas!"

Hwee Li menggerakkan lengan kirinya dan ular itu melepaskan bangkai babi itu, lalu melingkar lagi di lengan Hwee Li. Cui Lan bergidik ngeri.

"Bagaima-na kalau yang bersembunyi di situ tadi seorang manusia?"

Bisiknya.

"Ularku tahu dengan nalurinya. Kalau manusia itu berniat busuk, tentu digigit dan dibunuhnya. Sekali gigitan saja membuat racun yang mematikan membunuh orang itu, akan tetapi kalau orang itu tidak mempunyai niat jahat, ular-ularku pun tidak mau sembarangan membunuh orang tanpa perintahku."

Hari telah menjadi gelap ketika mereka tiba di puncak bukit.

Akan tetapi bulan segera muncul dari balik bukit di sebelah timur dan sinarnya cukup menerangi tempat itu.

Cui Lan dan Hwee Li duduk di atas batu dan memandang ke depan.

Di puncak itu, di antara batu-batu gunung yang besar-besar, berdiri sebuah bangunan kuno yang kelihatan megah dan angker.

Di sekeliling rumah itu sunyi saja, tidak terdengar apa-apa dan bahkan tidak ada sedikit pun lampu penerangan, seolah-olah bangunan itu adalah sebuah rumah kuno yang kosong tidak dihuni orang.

"Agaknya kosong...."

Cui Lan berkata.

"Sssttttt....

mari kita mendekat dan setelah kita nanti bersembunyi, kau tidak boleh mengeluarkan suara, tidak boleh berisik, Hwee Li berbisik.

Cui Lan mengangguk, jantungnya berdebar tegang ka-rena sikap Hwee Li yang begitu berhati-hati mendatangkan ketegangan di dalam hatinya.

Sikap gadis perkasa itu membayangkan bahwa mereka berada di tempat yang aneh dan berbahaya sekali.

Mereka merangkak dan setelah dekat dengan rumah besar itu, mereka bersembunyi di balik batu besar.

Dari tempat itu mereka dapat melihat dengan jelas ke arah pintu depan gedung kuno itu.

Bulan makin naik tinggi dan sinarnya yang keemasan membuat tempat itu indah sekali dan tentu amat menyenangkan kalau saja suasananya tidak begitu menyeramkan.

Malam makin larut dan Cui Lan mulai menggigil kedinginan.

"Telan ini...."

Hwee Li berbisik dan menyerahkan sebutir pil kuning.

Cui Lan menelannya dan pil itu terasa manis dan harum.

Tak lama kemudian tubuhnya terasa hangat sekali seolah-olah dia baru saja minum beberapa cawan arak.

Dia menyentuh tangan Hwee Li dengan rasa terima kasih dan dara berpakaian hitam itu tersenyum.

Giginya berkilat putih tertimpa sinar bulan.

Tiba-tiba mereka menyelinap karena kaget melihat sinar-sinar lampu menyala di gedung itu.

Keadaan tetap sunyi dan lampu-lampu penerangan itu seolah-olah dinyalakan oleh tangan setan.

Tidak nampak seorang pun di sekitar gedung besar itu.

Dari jauh sekali, dari arah depan rumah, terdengarlah suara orang, suara yang bening halus.

"Locianpwe, saya datang memenuhi perjanjlan kita lima tahun yang lalu!"

Suara itu biarpun halus namun mengandung gema mengaung dan setelah suara itu lenyap, gemanya masih terdengar, lalu sunyi sekali, sunyi yang mencekam dan menegangkan hati.

Terdengar suara orang berdehem di dalam gedung itu, kemudian terdengar suara seorang laki-laki yang parau.

"Silakan masuk!"

Cui Lan terkejut dan terheran bukan main karena entah dari mana datangnya dan bagaimana serta kapan, tahu-tahu di depan pintu gedung itu kini telah berdiri seorang kakek membawa tongkat.

Agaknya kakek inilah yang tadi mengeluarkan kata-kata itu.

Kakek ini berdiri seperti arca, tidak bergerak-gerak dan memandang ke depan gedung, ke arah jalan kecil yang menuju ke bawah bukit.

Tentu saja Cui Lan dan Hwee Li juga memandang ke arah itu, menduga-duga dari mana akan munculnya orang yang tadi mengeluarkan suara, yang mereka duga tentulah Siluman Kecil adanya.

"Sssttttt....!"

Tiba-tiba Hwee Li menyentuh lengan Cui Lan dan menunjuk ke depan.

Cui Lan membelalakkan matanya untuk dapat memandang lebih teliti.

Dia hanya melihat sebuah titik putih naik dari bawah, dan melihat sebuah titik putih itu makin membesar.

Akhirnya nampaklah bayangan putih seorang manusia bergerak dengan amat cepatnya, seolah-olah orang itu terbang di atas pucuk rumpun ilalang!

Kedua kakinya bergerak di antara pucuk ilalang yang bergoyang perlahan.

Cepat sekali dan tahu-tahu orang itu telah berdiri di depan gedung dan menjura ke arah kakek yang memegang tongkat.

Hwee Li mengerahkan kekuatan pandang matanya, memperhatikan orang yang namanya begitu terkenal sebagai seorang pendekar penuh rahasia yang hanya dikenal sebagai Siluman Kecil.

Ternyata orangnya masih muda dan wajahnya tampan, rambutnya dibiarkan terurai dan melambai-lambai ditiup angin, rambut yang berwarna putih dan yang mengkilap seperti perak tertimpa sinar keemasan dari bulan purnama.

Pakaiannya sederhana dan juga terbuat dari bahan putih semua!

Kakek bertongkat itu sejenak memandang, seolah-olah hendak meneliti apakah benar ini orang yang telah ditunggu-tunggu, kemudian dia balas menjura dan dengan tangannya dia mempersilakan orang itu masuk.

Pintu terbuka sendiri seperti digerakkan oleh tangan yang tidak nampak.

Laki-laki berambut putih itu mengangguk dan melangkah hendak memasuki pintu, akan tetapi tiba-tiba terdengar suara teriakan dari depan gedung.

"Anakku....!"

Seorang nikouw tua melompat ke luar dari balik sebuah batu besar dan biarpun jarak antara batu dan depan gedung itu cukup jauh, namun dengan satu kali melompat saja nikouw itu telah berada di situ!

Diam-diam Hwee Li meleletkan lidahnya tanda kaget dan kagum.

"lbu....!"

Siluman Kecil menoleh ke arah wanita itu.

Cui Lan dan Hwee Li saling pandang dan sinar mata mereka bicara banyak.

Mereka berdua terheran-heran melihat kenyataan bahwa si pendekar sakti yang berjuluk Siluman Kecil itu adalah putera seorang nikouw tua!

"Ibu, mengapa menyusulku?"

Tanya Siluman Kecil dengan suara halus dan penuh hormat.

"Hemmm, aku mana bisa tega membiarkan kau menemui sendiri musuhmu? Aku harus ikut, apa pun yang akan terjadi!"

Siluman Kecil membalik dan memandang kepada kakek pemegang tongkat, seperti hendak bertanya apakah ibunya diperbolehkan ikut masuk.

Kakek itu mengangguk dan mempersilakan dengan tangan.

Ibu dan anak itu lalu melangkah memasuki pintu, diikuti oleh kakek bertongkat dan daun pintu pun tertutup sendiri tanpa ada yang menutupkan.

"Diakah....?"

Hwee Li berbisik.

Cui Lan mengangguk, dadanya bergelombang, air matanya berlinang.

Sementara itu, orang muda berambut putih dan nikouw tua yang masuk bersama kakek bertongkat, tiba di ruangan dalam dan di situ nampak duduk seorang kakek tua renta yang rambut, jenggot, kumis dan alisnya telah putih semua.

Kakek ini bertubuh tinggi besar dan biarpun mukanya sudah nampak tua, namun sepasang matanya tetap bercahaya penuh semangat dan mulutnya tersenyum lembut.

Di kanan kirinya nampak beberapa orang laki-laki yang duduk dan ada pula yang berdiri.

Mereka itu adalah murid-muridnya dan kakek bertongkat itu adalah murid pertama.

Kakek bertongkat ini menjatuhkan diri berlutut.

"Suhu, dia datang memenuhi janji!"

Katanya. Siluman Kecil juga menjura dengan hormat sedangkan nikouw tua itu merangkap kedua tangan di depan dada tanpa bergerak atau bicara.

"Dengan perkenan Locianpwe, saya kembali hendak memperlihatkan kebodohan saya,"

Katanya dengan sikap merendah. Kakek itu tersenyum, akan tetapi alisnya yang putih itu berkerut.

"Orang muda, kami telah mendengar bahwa selama lima tahun ini engkau telah memperoleh kemajuan pesat sekali, bahkan telah berbuat banyak sehingga memperoleh julukan Siluman Kecil. Kami merasa girang bahwa kami masih hidup saat ini sehingga dapat rnengagumi kemajuanmu. Akan tetapi sayang, engkau yang dahulu berjanji akan datang sendiri kini ternyata membawa kawan-kawan yang banyak sekali jumlahnya. Apakah maksudmu dengan perbuatan itu?"

Siluman Kecil mengangkat muka memandang dan mereka saling bertemu dan beradu pandang.

"Locianpwe, menyalahi janji dan membawa kawan-kawan merupakan pantangan besar bagi saya. Apakah Locianpwe menganggap bahwa Ibu saya yang menyusul ini merupakan pelanggaran?"

Kakek itu menggerakkan tangan se-perti mencela.

"Ahhh, kalau muncul dengan terang-terangan masih tidak apa. Akan tetapi apa artinya banyak kawanmu yang bersembunyi di sekitar tempat ini?"

"Ohhh....! Maksud Locianpwe mereka yang bersembunyi di sekitar luar gedung ini? Sungguh, saya tidak mengerti. Malah saya kira bahwa mereka itu adalah murid-murid Locianpwe yang sengaja menyambut dan mengawasi saya!"

"Hemmm, sungguh aneh. Mari kita suruh mereka keluar."

Kakek itu turun dari kursinya, kemudian bersama dengan Siluman Kecil dan nikouw tua mereka semua keluar, diiringkan oleh murid-murid kakek itu yang dipimpin oleh kakek pemegang tongkat.

Kini mereka berdiri di luar gedung, di halaman yang luas.

Hwee Li dan Cui Lan masih sembunyi dan memandang dengan mata terbelalak.

Girang hati Hwee Li melihat mereka keluar karena dia khawatir kalau pertandingan dilakukan di dalam gedung, berarti dia tidak dapat nonton!

Dan kini, mereka berada di halaman sehingga dia akan dapat nonton dengan enaknya karena tempat sembunyinya itu tidak berapa jauh.

Akan tetapi, dia merasa heran karena dua orang yang kabarnya akan bertanding itu tidak berdiri berhadapan, melainkan berjajar dan keduanya menghadap ke luar gedung, menoleh ke kanan kiri.

Kemudian terdengar suara Siluman Kecil yang bening dan halus nyaring.

"Cu-wi sekalian yang bersembunyi di luar gedung, harap suka memperlihatkan diril"

Mendengar suara Siluman Kecil ini, maka berloncatan keluarlah para pemburu dan beberapa orang lain yang memang diam-diam datang mengunjungi tempat itu dengan niat untuk membantu Siluman Kecil yang kabarnya hendak bertanding melawan musuhnya yang amat sakti.

Jumlah mereka tidak kurang dari tiga puluh orang yang muncul dari berbagai tempat persembunyian mereka!

Melihat bahwa mereka adalah teman-temannya yang pernah ditolongnya, diam-diam Siluman Kecil menjadi terkejut sekali dan segera dia menegur.

"Mau apa kalian berada di sini? Siapa yang menyuruh kalian datang ke sini?"

Semua orang itu menjura dengan hormat ke arah Siluman Kecil dan seorang di antara mereka menjawab.

"Kami mendengar bahwa Taihiap hendak bertanding dengan seorang lawan yang tangguh, maka kami sengaja datang hendak membantu."

Mendengar jawaban yang terus terang ini, Sin-siauw Seng-jin (Kakek Suling Sakti) tersenyum lebar.

"Aku tidak menghendaki bantuan dari siapapun!"

Siluman Kecil berseru dengan muka merah karena merasa malu kepada tuan rumah. Akan tetapi Sin-siauw Sengjin menggerakkan tangan dan berkata halus.

"Cu-wi telah datang, boleh saja me-nyaksikan pertandingan."

Kemudian kakek ini memandang ke kanan kiri dan berkata lagi, suaranya halus namun menembus sampai jauh seperti hembusan angin.

"Cu-wi sekalian yang masih bersembunyi, silakan keluar saja!"

Kini bermunculanlah dua puluh lebih orang yang tidak dikenal oleh Siluman Kecli.

Pendekar ini merasa heran dan kagum bahwa Kakek Suling Sakti ini ternyata telah mengetahui akan semua orang yang bersembunyi itu.

Dan lebih-lebih heran hatinya ketika mendengar kakek itu berkata sambil memandang kepada dua orang kakek yang berdiri dengan penuh wibawa.

"Hemmm, kiranya saudara-saudara ketua yang terhormat dari Bu-tong-pai dan Kun-lun-pai juga hadir!"

Semua orang menjadi terkejut, termasuk Hwee Li dan juga murid-murid kakek itu sendiri ketika mendengar si Suling Sakti menyebut dua nama perkumpulan yang besar dan amat terkenal itu.

Juga Siluman Kecil cepat memandang kepada dua orang tua itu, diam-diam merasa heran juga mengapa ketua-ketua perkumpulan silat yang besar itu datang pula di tempat itu.

Ketua Bu-tong-pai dan ketua Kunlun-pai menjura ke arah Sin-siauw Sengjin, kemudian ketua Kun-lun-pai mengelus jenggotnya dan berkata.

"Harap Seng-jin maafkan atas kehadiran kami tanpa diundang. Sesungguhnya, tadinya kami hanya ingin menyaksikan ilmu aseli dari Pendekar Suling Emas yang terkenal di seluruh kolong langit ratusan tahun yang lalu, yang menjadi dongeng di dunia persilatan. Akan tetapi Seng-jin telah melihat kehadiran kami, harap maafkan kelancangan kami."

Mendengar ucapan ini, kakek pemegang tongkat yang menjadi murid pertama dari Sin-siauw Seng-jin, memandang kepada gurunya dan dari pandang mata gurunya dia mendapat perkenan, maka majulah dia dan dengan suara halus namun bernada menantang dia berkata.

"Apakah Cu-wi sekalian ingin menguji ilmu-ilmu itu? Kalau benar demikian, silakan maju, tidak perlu Suhu yang tu-run tangan, cukup dengan saya yang akan memperlihatkan kepada Cu-wi."

Dua orang ketua itu adalah orang-orang besar yang memimpin partai persilatan besar, tentu saja mereka memiliki kedudukan tinggi dalam dunia persilatan.

Mereka tentu tidak sudi mencuri lihat ilmu orang lain, hanya karena mendengar bahwa Sin-siauw Seng-jin sebagai pewaris ilmu-ilmu Suling Emas hendak bertanding, Mereka tidak dapat menahan keinginan tahu mereka untuk menonton, biar dengan sembunyi-sembunyi.

Akan tetapi, kini setelah menerima tantangan, berarti mereka memperoleh kesempatan untuk melihat dan sekaligus menguji sendiri ilmu-ilmu itu, tentu saja mereka menyambut dengan gembira.

Ketua Butong-pai memberi isyarat kepada sutenya, seorang tosu berusia enam puluh tahun yang bermuka kuning.

Tosu ini adalah orang ke dua dari Bu-tong-pai, tokoh ke dua setelah sang ketua sendiri.

Namanya Kim Thian Cu dan sebagai tokoh ke dua, tentu saja dia memiliki kepandaian yang tinggi.

Dengan langkah tenang, Kim Thian Cu menggerakkan kedua lengan jubah pendetanya yang lebar dan tersenyum menghadapi kakek pemegang tongkat itu, lalu menjura.

(Lanjut ke

Jilid 14) Jodoh Rajawali (Seri ke 10 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 14

"Silakan!"

Kakek itu juga memandang dengan sinar mata penuh selidik, sikapnya tenang halus seperti gurunya dan dia bertanya.

"Kalau boleh saya bertanya, siapakah julukan Totiang?"

"Pinto Kim Thian Cu, tosu yang bodoh dari Bu-tong-pai,"

Kata tosu itu sambil menjura. Kakek itu lalu menancapkan tongkatnya di atas tanah, kemudian melangkah maju pula dan menjura.

"Kim Thian Cu totiang, sebagai fihak tuan rumah, saya hanya melayani. Silakan Totiang mulai dan sebelumnya ketahuilah bahwa saya yang rendah pengetahuan akan memper-gunakan ilmu tangan kosong dari Suhu."

Kim Thian Cu sebagai seorang tokoh Bu-tong-pai, tentu saja sudah mempunyai pengalaman mendalam dan sekali pandang saja dia mengerti bahwa dia berhadapan dengan lawan tangguh, maka dia tidak bersikap sungkan lagi.

"Pinto mulai, sambutlah!"

Dan begitu dia bergerak, Kim Thian Cu telah mengeluarkan ilmu silat simpanan dari Bu-tong-pai yang hanya dikeluarkan kalau menghadapi lawan yang amat tangguh saja.

Kedua tangannya membentuk cakar garuda dan ketika digerakkan, terdengarlah angin bersiutan dan sepuluh jari tangannya itu berubah menjadi keras seperti baja!

Itulah ilmu Kiauw-ta Sin-na yang amat lihai dari Butong-pai, yang kesemuanya ada seratus dua puluh jurus.

Biarpun dia sendiri sudah menduduki jabatan wakil ketua atau tokoh ke dua, Kim Thian Cu sendiri hanya mengenal delapan puluh jurus saja dari ilmu kuno ini!

Dan begitu menyerang, dia telah mengeluarkan jurus yang paling ampuh, dengan tangan kiri mencengkeram ke ubun-ubun kepala sedangkan tangan kanan yang tadinya seperti cakar, ketika ditusukkan ke arah pusar lawan berubah menjadi lurus seperti pedang!

Serangan ini hebatnya bukan kepalang, yang mencengkeram ubun-ubun seperti badai dahsyatnya, yang menusuk pusar seperti kilat menyambar.

"Bagus....!"

Kakek yang tinggi kurus itu berseru dan cepat tubuhnya yang bergerak, kedua tangannya menangkis dua serangan itu.

"Dukkk!.... Dukkkkk!"

Dua pasang lengan bertemu dan keduanya terhuyung ke belakang, akan tetapi kalau murid Sin-siauw Seng-jin itu hanya terhuyung dua langkah, Kim Thian Cu terhuyung sampai lima langkah!

Hal ini saja membuktikan bahwa tenaga wakil ketua Bu-tong-pai itu kalah kuat.

Kim Thian Cu menjadi penasaran.

Dia tahu bahwa dalam hal tenaga sinkang dia kalah kuat, maka dia mengandalkan ginkangnya dan ilmu Silat Kiauw-ta Sin-na dan mulailah dia menerjang dengan cepat dan kuatnya.

Kakek tinggi kurus itu lalu mengeluarkan seruan keras, menyambut serangan wakil ketua Bu-tong-pai dengan ilmu silat tangan yang gerakannya aneh sekali namun dahsyat seperti badai laut mengamuk!

Tubuh kakek tinggi kurus itu berputaran dan kedua lengannya seperti berubah menjadi belasan buah sehingga hujan serangan dari Kim Thian Cu dapat ditangkisnya semua, bahkan dia membalas dengan serangan yang tidak kalah hebatnya!

Giok Thian Cu mengerutkan alisnya, maklum bahwa sutenya tidak akan mampu menang.

Sayang bahwa sutenya belum menguasai jurus-jurus yang paling rumit dari Kiauw-ta Sin-na sehingga untuk menghadapi lawan yang demikian tangguh amat sukar mendesaknya.

Akan tetapi tentu saja dia tidak mau mencampuri dan hanya memandang dengan penuh perhatian untuk mempelajari gerakan lawan yang menggunakan semacam ilmu silat tangan kosong yang aneh.

Gerakan tangan kakek tinggi kurus itu kadangkadang seperti orang mengebut-ngebutkan kipas dan tangan yang lebar itu dikebut-kebutkan sedemikian cepatnya sehingga memang menyerupai kipas saja!

Akan tetapi, setiap gerakan tangan itu selain mendatangkan angin seperti kipas, juga mengandung tenaga yang amat kuat menyambar lawan!

Tepat seperti dugaan ketua Bu-tong-pai ini, belum sampai tiga puluh jurus, Kim Thian Cu terhuyung ke belakang dan kedua lengannya tergantung seperti lumpuh.

Ternyata kedua pundaknya telah kena totokan kakek itu.

Ketua Bu-tong-pai cepat meloncat ke depan dan sekali menekan kedua pundak sutenya, Kim Thian Cu pulih kembali kedua lengannya dan dia lalu menjura ke arah kakek tadi sambil berkata.

"Pinto mengaku kalah."

"Hebat.... hebat....!"

Giok Thian Cu ketua Bu-tong-pai menjura ke arah kakek itu sambil tersenyum.

"Sungguh hebat dan bukan hanya dongeng kosong belaka ilmu keturunan dari Pendekar Suling Emas. Kalau boleh pinto mengetahui nama Sicu dan nama ilmu pukulan luar biasa tadi...."

Kakek itu tersenyum dan balas menjura.

"Saya berjuluk Gin-siauw Lo-jin (Kakek Suling Perak) dan menjadi murid pertama dari Suhu. Adapun tentang ilmu-ilmu yang saya mainkan, saya tidak berhak menyebutkannya kepada siapa juga, yang berhak adalah Suhu."

Giok Thian Cu mengangguk-angguk.

"Bagus, memang ilmu sehebat itu tidak boleh sembarangan diketahui orang. Pinto kagum sekali. Nama Pendekar Suling Emas yang sudah ratusan tahun merupakan dongeng dan terpendam itu, hari ini muncul sebagai kenyataan yang mengagumkan dan tentu akan menggegerkan dunia persilatan. Sute Kim Thian Cu telah mengaku kalah, dan kalau boleh pinto sendiri akan menguji kehebatan ilmu-ilmu peninggalan Pendengar Suling Emas. Tidak tahu apakah Sin-siauw Sengjin sendiri yang berkenan maju ataukah mewakilkan kepada muridnya?"

Sambil berkata demikian, ketua Bu-tong-pai ini mengeluarkan sebatang pedang dari dalam jubahnya dan kini berdiri tegak dan memegang pedang di depan dada dengan kedua tangan dirangkap tanda penghormatan.

Gin-siauw Lo-jin membalas penghormatan itu dengan mencabut sebatang suling perak dari dalam jubahnya.

"Maaf, Totiang. Biarlah saya mencoba-coba mewakili Suhu menyambut penghormatan Totiang."

Giok Thian Cu sekali lagi menghormat, kemudian berseru halus.

"Lihat pedang!"

Dan nampak sinar hijau berkelebat menyambar ke arah lawan.

"Bagus!"

Sekali lagi kakek itu berseru memuji dan nampak sinar terang putih berkilauan menyambar ke depan, menyambut sinar hijau itu.

"Tranggg....!"

Baca Juga: Sepasang Pedang Iblis 7

Baca Juga: Istana Pulau Es 3

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert