Eps 5 Jodoh Rajawali - Kho Ping Hoo
Baca online Jodoh Rajawali - Kho Ping Hoo
Cersil Jodoh Rajawali - Kho Ping Hoo.
Kedua fihak merasakan lengan kanan mereka tergetar hebat dan tahulah mereka bahwa tenaga sinkang mereka berimbang.
Maklum akan kelihaian lawan, Giok Thian Cu juga tidak bersikap sungkan lagi, terus saja dia mengeluarkan ilmu pedang simpanannya yang paling lihai, yaitu ilmu Pedang Sin-hong Kiam-sut (Ilmu Pedang Burung Hong Sakti) sehingga pedangnya lenyap berubah menjadi gulungan sinar hijau yang indah sekali.
Tiba-tiba Gin-siauw Lo-jin yang terkesiap dan terdesak oleh gulungan sinar hijau itu mengeluarkan suara melengking nyaring dan sulingnya juga lenyap, berubah gulungan sinar perak yang amat luas dan aneh sekali gerakannya.
Bukan hanya bergulung-gulung menjadi sinar perak, juga dari suling perak itu terdengar suara mengaung yang aneh dan menyakitkan telinga lawan!
Gulungan sinar perak itu kini membuat gerakan coret-moret seperti membentuk huruf-huruf di udara dan setiap coretan mengandung tenaga dahsyat yang menyerang lawan.
"Hebat....! Liang Sim Tosu, ketua Kun-lun-pai yang sudah tua itu menggeleng-geleng kepala saking kagumnya.
"Mungkin inilah Ilmu Hong-in Bun-hoat yang disebut dalam dongeng Suling Emas...."
Memang hebat sekali gerakan Gin-siauw Lo-jin.
Dalam waktu, kurang dari tiga puluh jurus, sinar perak itu telah menggulung dan menekan sinar hijau sehingga sinar hijau dari pedang di tangan ketua Bu-tong-pai itu menjadi makin sempit.
Akhirnya terdengar seruan.
"Si-ancai....!"
Dan kedua gulungan sinar itu berhenti.
Ketua Bu-tong-pai telah menyimpan kembali pedangnya dan sambil tersenyum pahit dan dengan muka agak pucat dia memandang ke arah kedua lengan bajunya yang telah berlubang bekas tusukan suling perak!
Tentu saja dalam pertandingan sungguh-sungguh, bukan di lengan baju jatuhnya serangan tusukan itu, melainkan di tempat yang berbahaya.
"Sungguh hebat, pinto mengaku kalah."
"Ahhh, Kim Thian Cu dan Giok Thian Cu toyu terlalu merendah, kepandaian mereka hebat sekali akan tetapi harus diakui bahwa ilmu-ilmu peninggalan Pendekar Suling Emas memang amat luar biasa. Pinto juga menjadi gatal tangan dan ingin sekali menguji, kalau boleh."
Liang Sim Tosu sudah melangkah maju dan mepgeluarkan sepasang poan-koan-pit berwarna putih dan hitam yang dipegang oleh kedua tangan dan disilangkan di depan dada.
Gin-siauw Lo-jin masih memegang suling peraknya dan dia pun membalas dengan penghormatan dan menjawab.
"Kalau Totiang masih penasaran dan hendak menguji, silakan maju."
Liang Sim Tosu cepat menggerakkan kedua poan-koan-pit hitam dan putih yang tadi disilangkan, yang kanan berwarna hitam menuding ke langit, yang kiri berwarna putih menuding ke bumi, kemudian dia berkata.
"Gin-siauw Lojin, harap jaga seranganku!"
Tiba-tiba nampak sinar hitam dan putih berkelebatan dan makin lama makin cepat sehingga kemudian nampak dua sinar hitam dan putih itu saling sambar dan saling belit, kemudian bersatu menjadi segulungan sinar yang berwarna abu-abu meluncur ke arah kakek yang memegang suling perak.
"Bukan main....!"
Gin-siauw Lo-jin berseru kaget dan cepat dia menggerakkan suling peraknya sehingga nampak sinar berkilauan menangkis.
"Cring-tranggg....!
Kini Gin-siauw Lo-jin yang terhuyung dan ketua Kun-lun-pai itu sudah menerjang lagi, serangan halus namun luar biasa kuatnya dan sepasang poan-koan-pit itu memang amat lihainya, kadang-kadang seperti dua sinar berlawanan saling menggunting, kadang-kadang bersatu menjadi sinar abu-abu yang amat kuat, yang hitam mengandung tenaga Im lemas dan yang putih mengandung tenaga Yang yang kuat dan panas.
Kiranya dua buah poan-koan-pit itu mengandung tenaga Im dan Yang, dua unsur yang berlawanan akan tetapi kalau bersatu mempunyai daya yang luar biasa kuatnya.
Juga kedua poan-koan-pit itu dapat melakukan totokan-totokan yang bertubi-tubi ke seluruh jalan darah terpenting di tubuh lawan.
Gin-siauw Lo-jin maklum bahwa dia menghadapi lawan yang amat lihai, maka dia cepat mainkan Hong-in Bun-hoat dengan suling peraknya.
Ilmu ini memang mujijat, karena dahulu, Pendekar Suling Emas menerima ilmu ini langsung dari manusia dewa Bu Kek Siansu, dan biarpun ilmu ini dimainkan dengan menuliskan huruf-huruf di udara, namun setiap gerakan mengandung daya serang yang amat mujijat, di samping juga dapat menjadi daya tahan yang rapat seperti tembok yang kokoh kuat sehingga kini, gulungan sinar perak itu dapat membendung semua serangan poan-koan-pit yang luar biasa itu.
Pertandingan itu amat cepat dan seru, membuat mata Cui Lan menjadi kabur dan kepalanya pening sehingga dia mengalihkan pandang matanya ke arah Siluman Kecil yang berdiri dengan tegak, tenang dan penuh perhatian.
Sebaliknya, Hwee Li menonton dengan wajah berseri.
Girang sekali hati gadis ini dapat melihat pertandingan yang demikian hebatnya.
"Ahhhhh....!"
Gin-siauw Lo-jin berseru dan terhuyung-huyung sampai lima langkah ke belakang.
Biarpun ilmu Hongin Bun-hoat yang dimainkannya dapat membendung serangan lawan, namun karena memang dia kalah kuat dalam tenaga sinkang, dia sering kali tergetar dan terhuyung.
"Gin-siauw, mundurlah karena engkau sudah kalah."
Tiba-tiba terdengar suara halus dan Gin-siauw Lo-jin cepat meloncat mundur, menyimpan suling peraknya dan menjura ke arah Liang Sim Tosu.
"Saya mengaku kalah."
Liang Sim Tosu tersenyum lebar.
"Bukan main.... terus terang saja pinto hanya menang dalam hal tenaga, akan tetapi tentang ilmu silat, wah, pinto masih bingung menghadapi ilmu tadi."
Kini Sin-siauw Seng-jin melangkah maju.
"Ketua dari Kun-lun-pai terlalu merendah. Ilmu Im-yang Poan-koan-pit yang Totiang mainkan tadi memang hebat sekali, akan tetapi betapapun hebatnya, masih belum dapat menandingi Hongin Bun-hoat yang telah dilatih dengan sempurna. Untuk membuktikan ini, harap Totiang maju dan mencoba suling kami!"
Tampak sinar emas menyilaukan mata dan ternyata tangan kakek tua renta ini telah memegang sebatang suling yang terbuat daripada emas.
Semua mata memandang dan jantung mereka berdebar.
Itulah suling emas yang terkenal sekali dalam dongeng dunia persilatan, senjata dari Pendekar Suling Emas yang terkenal itu!
"Wah-wah-wah....
kalau aku bisa mendapatkan suling itu...."
Terdengar Hwee Li berbisik.
"Hemmm, kau begitu murka menginginkan emas?"
Cui Lan mencela.
"Aihhh, kau mana tahu...."
Mereka menghentikan bisik-bisik itu ketika kini ketua Kun-lun-pai itu telah mulai menyerang dengan poan-koan-pit di tangannya.
Akan tetapi, kakek tua renta itu kelihatan tidak mengubah kedudukan kakinya, hanya tampak sinar emas berkelebat dan setiap kali sepasang poan-koan-pit itu kena ditangkisnya, ke manapun sepasang sinar hitam putih itu menyambar!
"Sekarang jagalah, Totiang!"
Kakek tua renta itu berseru dan nampak kini sinar emas yang panjang dan luas sekali seperti seekor naga melayang ke atas, lalu menyambar turun dengan gerakan coret-coret seperti membentuk huruf.
Terdengar suara trang-tring-trang-tring dan nampak bunga api berhamburan.
Akan tetapi belum sampai dua puluh jurus, terdengar ketua Kun-lun-pai mengeluh dan sepasang poan-koan-pit telah terpukul lepas dari kedua tangannya!
Seorang murid Kun-lun-pai cepat mengambilkan senjata gurunya itu dan ketua Kun-lun-pai cepat menjura penuh hormat.
"Itukah Hong-in Bun-hoat yang terkenal dalam dongeng? Hebat bukan main dan pinto mengaku kalah."
Kakek itu tersenyum.
"Pukulan tangan kosong yang dimainkan oleh murid kami tadi adalah ilmu Lo-hai-kun-hoat (Ilmu Silat Mengacau Lautan) yang diambil dari ilmu aselinya, yaitu Lo-hai San-hoat (Ilmu Kipas Pengacau Lautan). Dan yang barusan dimainkan oleh suling adalah sebagian dari Hong-in Bun-hoat (Ilmu Sastra Angin dan Hujan)."
Semua orang memandang kagum sekali. Kakek itu menjura ke empat penjuru dan berkata.
"Biarpun kami meng-akui bahwa ilmu-ilmu ini adalah warisan yang kami dapat dari mendiang Pendekar Sakti Suling Emas, akan tetapi jangan Cu-wi mengira bahwa kami telah menguasai seluruhnya! Hemmm, kami selamanya menyembunyikan diri karena kami merasa bahwa kami belum dapat menguasai setengahnya saja dari ilmu-ilmu itu."
Semua orang makin kagum mendengar ini.
"Locianpwe, saya sudah menunggu!"
Tiba-tiba terdengar suara bening melengking nyaring dan ternyata suara ini adalah suara Siluman Kecil yang telah berdiri di tengah halaman itu dengan tegak, sepasang matanya memandang dengan sinar tajam.
Kakek tua renta itu menghela napas panjang, lalu menghampiri pemuda itu.
Sejenak mereka saling pandang dan kakek itu berkata.
"Aahhh, sudah setua ini baru sekarang kami bertemu dengan seorang pemuda yang benar-benar amat hebat kepandaiannya. Sicu, sekarang kami melihat bahwa engkau benar-benar tidak membawa teman dan ternyata engkau seorang yang memenuhi janji. Lima tahun yang lalu engkau mengaku kalah dan dapat sembuh kembali untuk memenuhi janji malam ini. Nah, kami telah siap, majulah!"
Pemuda berambut putih itu memungut sebatang ranting di atas tanah, lalu dia menggerakkan ranting itu di depan dadanya.
Terdengar suara mencicit nyaring, lalu dia menghentikan gerakannya dan berkata.
"Locianpwe, saya hanya menuntut yang benar. Kalau Locianpwe mengakui kesalahan dan mengembalikan pusaka kepada yang berhak, saya pun tidak akan mendesak."
"Hemmmm, orang muda. Puluhan tahun kami memilikinya, mana mungkin mudah saja melepaskannya. Kami sudah siap, majulah! Kebetulan sekali banyak tokoh kang-ouw yang menjadi saksi pertandingan antara Sin-siauw Seng-jin dan Siluman Kecil."
"Locianpwe mengerti bahwa saya hanya mempertahankan kebenaran!"
Kata Siluman Kecil sambil menggerakkan rantingnya dan memandang suling emas di tangan kakek itu.
"Nah, maafkan aku!"
Tiba-tiba saja bagi mata kebanyakan orang yang hadir, tubuh Siluman Kecil itu berubah menjadi bayangan berkelebat dan lenyap!
Sukar sekali mengikuti gerakannya dengan pandang mata dan tahu-tahu kakek itu sudah menggerakkan suling emasnya menanggkis.
"Tringgggg....!"
Kini semua orang melihat betapa Siluman Kecil telah berubah menjadi bayangan putih yang berkelebatan, mencelat ke sana-sini dengan kecepatan yang memusingkan kepala mereka yang memandangnya, Dan kakek itu pun sudah memutar sulingnya sehingga suling itu lenyap berubah menjadii gulungan sinar emas.
Memang hebat sekali kakek itu.
Gulungan sinar kuning emas itu melingkar-lingkar seperti seekor naga emas beterbangan di angkasa dan bermain-main di angkasa yang gelap, kadang-kadang mengeluarkan sinar kilat menyambar-nyambar dan terdengar suara suling itu mengeluarkan suara seperti ditiup oleh seorang anak kecil yang sedang belajar main suling.
Sumbang dan tidak teratur.
Padahal, menurut dongeng tentang Pendekar Suling Emas, kala pendekar itu mainkan suling emas sebagai senjata, maka akan terdengar suling itu seperti ditiup dengan lagu yang merdu!
Hal ini saja membuktikan bahwa memang Sin-siauw Seng-jin belum menguasai ilmu itu secara sempurna seperti yang telah diakuinya tadi.
Pertandingan itu makin lama makin hebat.
Terlalu cepat gerakan mereka, apalagi gerakan Siluman Kecil yang luar biasa sekali, seolah-olah dia beterbangan kesana-sini sehingga kakek itu harus berputaran pula untuk menghadapinya karena musuhnya yang serba putih itu seolah-olah telah berubah menjadi enam orang yang menyerangnya dari empat penjuru!
Sudah hampir dua ratus jurus berlangsung dan belum juga ada yang roboh.
Semua orang yang menonton pertandingan itu sudah banyak yang tidak kuat, terpaksa memejamkan mata.
Hanya orang-orang lihai seperti ketua Bu-tong-pai dan Kun-lun-pai itu saja, termasuk Hwee Li, yang masih mampu mengikuti terus dengan mata tanpa berkedip saking tertariknya.
Cui Lan sudah sejak tadi menunduk dan bibirnya berkemak-kemik karena gadis ini telah berdoa untuk kemenangan Siluman Kecil!
Tiba-tiba terdengar suara melengking nyaring dan suara ini membuat beberapa orang pemburu jatuh terjungkal dan pingsan.
Untung Hwee Li sudah menempelkan telapak tangannya di tengkuk Cui Lan sehingga ketika suara itu membuat kepala Cui Lan pening, rasa hangat yang menjalar keluar dari telapak tangan Hwee Li mencegah gadis itu roboh pingsan pula.
Dan terjadi perubahan pada pertandingan yang sukar diikuti oleh pandangan mata itu.
Beberapa kali terdengar Kakek Sin-siauw Seng-jin berseru kaget dan akhirnya gerakan mereka terhenti, kakek itu melompat jauh ke belakang, mukanya pucat, dahinya berkeringat napasnya agak terengah ketika dia memandang kepada Siluman Kecil yang berdiri tegak dan keadaannya masih biasa saja.
"Aku mengaku kalah.... sekali.... ini...."
"Kalau begitu Locianpwe harus mengembalikan...."
"Tidak! Menurut perjanjian, kalau kami kalah, kami semurid kami harus meninggalkan tempat ini. Akan tetapi, kau pernah kalah sekali, dan kami kalah sekali, berarti masih sama. Tunggu setahun lagi, kalau dalam pertandingan penentuan itu kami kalah, kami akan mengembalikan semua dan menyerahkan nyawa kami. Dan karena kami yang kalah sekali ini, kelak setahun lagi kami yang akan mencarimu, Siluman Kecil. Nah, selamat tinggal!"
Kakek tua renta itu lalu melangkah pergi perlahan-lahan, dengan muka lesu, diiringkan oleh para muridnya dipimpin oleh Gin-siauw Lojin yang membawa tongkatnya dan membawa bungkusan besar.
Tidak ada orang yang berani menahan mereka, juga Siluman Kecil diam saja hanya mengikuti mereka dengan pandang matanya.
Dia maklum bahwa kalau dia mengambil kekerasaan, dan dikeroyok oleh mereka, sukar baginya untuk mencapai kemenangan.
Pula, memang kakek itu benar.
Dia belum dapat dikatakan menang karena pernah kalah sekali dan menang sekali.
Penentuannya adalah pertandingan ke tiga dan yang terakhir, pertandingan sampai mati!
"In-kong (Tuan Penolong)....!"
Tiba-tiba terdengar teriakan nyaring dan seorang gadis cantik berlari-lari menghampiri Siluman Kecil.
Gadis itu adalah Cui Lan yang saking girangnya melihat orang yang dipujanya itu keluar sebagai pemenang dan selamat, telah lupa akan keadaan, meninggalkan Hwee Li dan lari menghampiri dengan kedua lengan di bentangkan seperti, orang hendak memeluk!
Seorang gadis lain yang berpakaian serba hitam menyusul di belakangnya.
Siluman Kecil menoleh dan ketika dia melihat Cui Lan, dia mengerutkan alisnya dan berkata dengan suara mengandung teguran.
"Ah, kau juga di sini, Nona?"
Melihat sikap Siluman Kecil itu Seperti marah dan menegurnya, sungguh jauh bedanya dengan sikapnya sendiri yang penuh kegembiraan dan kerinduan, Cui Lan tertegun dan merasa seolah-olah pipinya ditampar sehingga dia sadar akan keadaan dirinya sadar betapa dia telah memperlihatkan perasaan hatinya di depan Siluman Kecil dan banyak orang.
Seketika mukanya menjadi merah sekali, kemudian berubah pucat.
Dengan gagap dia berbisik.
"In-kong.... saya...."
Akan tetapi, dengan dahi berkerut Siluman Kecil seolah-olah tidak mendengarnya dan tidak mempedulikannya, malah pendekar itu menoleh ke arah gedung yang baru saja ditinggalkan penghuninya dengan penuh perhatian.
Tiba-tiba dia meloncat ke arah pintu gedung itu, akan tetapi pada saat itu sehelai benda hitam panjang seperti tali meluncur ke arah kakinya.
"Hemmm....!"
Siluman Kecil men-dengus marah, kakinya bergerak menendang ke arah benda hitam itu.
Akan tetapi benda itu dapat mengelak, dan menyambar ke atas, ujungnya mematuk ke arah pinggang pendekar itu.
Siluman Kecil mengelak, menahan loncatannya tidak jadi memasuki pintu dan ketika tubuhnya turun, tak disangkanya ujung benda yang lain menyambutnya dengan patukan yang amat cepat.
"Ahhhhh....!"
Siluman Kecil menangkis akan tetapi kembali benda panjang itu meliuk dan ketika lengannya lewat, ujung benda itu mematuk kembali.
"Brettt....!"
Siluman Kecil melangkah ke belakang dan memandang dengan muka memperlihatkan kekagetan karena ujung lengan bajunya telah berlubang!
Kagetlah dia, karena tak disangkanya bahwa benda panjang yang dia tahu adalah seekor ular hitam panjang itu demikian gesit dan lihainya, maka dia lalu mengangkat muka memandang gadis berpakaian hitam yang memegangi ujung atau ekor ular hitam panjang itu yang kini telah melingkar kembali ke lengannya.
"Laki-laki tak berperasaan!"
Hwee Li memaki marah sambil memandang kepada Siluman Kecil dengan sepasang mata berkilat.
Siluman Kecil menjadi bimbang.
Ada sesuatu yang menarik perhatiannya dan dia menoleh lagi ke arah pintu gedung, akan tetapi gadis pembawa ular itu pun menarik perhatiannya pula, maka berkatalah dia kepada nikouw tua yang sejak tadi hanya menonton saja dengan sikap tenang.
"Ibu, tolong Ibu lihat apa yang berada di dalam rumah itu, aku melihat ada orang di dalamnya."
Nikouw tua itu mengangguk, lalu melangkah memasuki pintu gedung yang dapat, didorongnya terbuka dengan mudah.
Sementara itu, Siluman Kecil kini menghadapi Hwee Li, memandang dengan penuh perhatian akan tetapi karena ada awan tipis menutupi bulan dan lampu penerangan di situ pun tidak berapa terang, maka wajah Hwee Li tidak begitu tampak jelas.
"Nona, aku seperti pernah melihatmu, akan tetapi entah di mana, siapakah kau?"
Hwee Li mencibirkan bibirnya.
"Laki-laki kejam. Sudah jelas bahwa yang kau kenal baik adalah Cui Lan, akan tetapi kenapa matamu memandang orang lain?"
"Eh, bocah sombong! Engkau sungguh kurang ajar sekali!"
Teriak Sim Kun, orang termuda dari tiga orang pemburu keluarga Sim itu.
Melihat pendekar pujaannya dimaki dan dimarahi oleh gadis ini, tentu saja hatinya, menjadi panas, apalagi ketika nama Cui Lan dibawa-bawa.
Setelah membentak, Sim Kun lalu menyerangnye dengan golok yang telah dicabutnya.
"Huh, orang kasar!"
Hwee Li mendengus sambil mengelak, akan tetapi kini Sim Hoat dan Sim Tek juga sudah turun tangan menyerang sehingga Hwee Li dikeroyok tiga orang Saudara Sim itu.
Selagi Siluman Kecil hendak melerai karena dia melihat kelihaian gadis pakaian hitam itu, terdengar suara teriakan dari dalam gedung.
Siluman Kecil mengenal suara nikouw tua, maka tanpa mempedulikan lagi gadis pekaian hitam yang sedang bertempur melawan tiga orang Saudara Sim, dia bergegas masuk, diikuti pula oleh ketua kun-lun-pai dan Bu-tong-pai yang ingin melihat apa yang terjadi di dalam gedung itu.
Ternyata kamar belakang gedung itu telah porak poranda, meja kursi berserakan dan semua isi lemari awut-awutan.
Nikouw tua itu telah tertawan oleh seorang gadis cantik berpakaian merah muda.
Tangan kiri gadis itu mencengkeram punggung baju nenek itu sedangkan tangan kanan memegang pedang yang ditempelkan di lehernya.
"Berhenti semua! Jangan mendekat atau.... kubunuh nenek ini! Rumah ini sudah kukuras habis.... hi-hi, kau datang terlambat, Siluman Kecil!"
Gadis cantik itu memandang kepada Siluman Kecil dan dua orang kakek dengan mata bersinar-sinar, sikapnya penuh keberanian dan pedang berkilauan yang berada di tangan kanannya tidak tergetar sedikit pun juga.
Gadis ini bukan lain adalah Ang-siocia yang pernah menghadiri undangan Kuiliong-pang mewakili gurunya, yaitu Heksin Touw-ong si Raja Maling dari perbatasan!
"Siancai....
di tempat begini ada maling!"
Ketua Bu-tong-pai menggerakkan tangannya hendak menerjang, akan tetapi lengannya cepat dipegang oleh Siluman Kecil yang khawatir akan keselamatan nikouw tua itu.
"Kau lepaskan dia....!"
Siluman Kecil berkata halus kepada Ang-siocia.
Ang-siocia tersenyum, nampak deretan giginya yang putih dan ujung lidahnya yang runcing merah menyapu bibirnya dengan cepat "Berjanjilah dulu, Siluman Kecil, bahwa kalau aku melepaskan nenek ini, kalian semua tidak akan menyerangku dan membiarkan aku pergi membawa kitab-kitab ini!"
Dia menuding ke arah bungkusan kain kuning yang agaknya berisi kitab-kitab dan diletakkanya di depan kakinya.
"Maling hina yang curang!"
Ketua Bu-tong-pai membentak marah. Kalau tidak dicegah oleh Siluman Kecil, tentu dia sudah menerjang gadis itu.
"Totiang adalah ketua Bu-tong-pai, mengapa tidak bersikap tenang seperti seorang pendeta yang berkedudukan tinggi?"
Nona berpakaian serba merah itu mengejek.
"Siluman Kecil, bagaimana?"
"Baiklah, kau boleh pergi membawa barang-barang yang kau curi itu. Akan tetapi aku pasti akan mencarimu!"
Ucapannya terdengar halus akan tetapi mengandung ancaman yang menyeramkan.
"Hik-hik, tentu saja. Dan agar engkau tidak bingung-bingung mencari, aku akan menantimu di ujung Pantai Pohai, di teluk sebelah utara. Nah, selamat tinggal!"
Gadis cantik berpakaian merah lalu melepaskan nikouw tua, menyambar bungkusan dengan tangan kiri, dan dengan tangan kanan masih membawa pedang dia lalu meloncat ke luar melalui jendela kamar belakang itu, lenyap ke dalam kegelapan malam.
"Aku akan segera ke sana!"
Siluman Kecil berseru, tangannya bergerak ke arah jendela dan nampak benda kecil menyambar ke luar jendela.
"Ihhhhh....!"
Terdengar gadis itu menjerit di luar jendela, lalu terdengar suaranya agak gemetar karena benda itu adalah sebuah kancing baju putih yang tahu-tahu telah menyusup ke dalam rambut kepalanya!
Kalau saja sasarannya diubah sedikit saja tentu dia sudah menggeletak tanpa nyawa!
"Siluman Kecil, aku dan Suhu menantimu di sana!"
Keadaan lalu sunyi kembali dan Siluman Kecil menggandeng tangan nikouw tua keluar dari dalam gedung itu.
Di luar masih terjadi pertempuran, akan tetapi sambil tertawa-tawa Hwee Li mempermainkan tiga orang lawannya, melecuti muka dan tubuh mereka dengan ekor dua ularnya sehingga mereka babak belur, dan terdengar Cui Lan berseru.
"Jangan bunuh orang.... jangan lukai orang....!"
Melihat ini, Siluman Kecil melompat ke depan. Cepat bukan main gerakannya itu dan nampak bayangannya yang putih itu berkelebat.
"Aihhh....!"
Hwee Li menahan jerltannya ketika melihat Siluman Kecil menerjangnya dengan kecepatan yang amat hebat.
Tiap orang she Sim itu segera mengudurkan diri melihat Siluman Kecil kini sudah menghadapi gadis berpakaian hitam yang amat hebat itu.
Dan kini semua orang menyaksikan pertandingan yang amat aneh dan juga indah dipandang.
Gadis itu ternyata juga sudah menggunakan ginkang yang luar biasa cepatnya untuk mengimbangi kecepatan Siluman Kecil dan tubuh mereka lenyap berubah menjadi bayangan hitam dan putih yang saling serang dan saling terjang, kadang-kadang sukar dibedakan lagi karena dua bayangan itu seperti telah menjadi satu.
Tiba-tiba terdengar Hwee Li Menjerit dan nampak bayangan hitam melesat dan lenyap di telan kegelapan malam.
Siluman Kecil berdiri termangu, memandang ke arah lenyapnya bayangan hitam.
Kemudian dia sadar bahwa banyak orang memandangnya.
Dia membalikkan tubuh dan tanpa disengaja tepat sekali dia bertemu pandang dengan Cui Lan.
Sejenak dua sinar mata itu saling pandang, melekat dan akhirnya Siluman Kecil menundukkan mukanya, jantung berdebar dan merasa tidak enak.
Dia lalu berkata kepada nikouw tua yang berdiri di situ.
"Ibu, aku harus pergi mengejar maling tadi. Aku pergi!"
Begitu dia berkata pergi, tubuhnya berkelebat dan nampak bayangan putih meluncur cepat ke depan dan lenyap dari situ.
Semua orang tertegun dan tanpa banyak cakap mereka pun bubar dan meninggalkan tempat yang baru saja terjadi hal-hal yang amat menegangkan hati mereka itu.
Peristiwa itu tidak akan dapat mereka lupakan sebagai pengalaman yang menegangkan dan akan menjadi buah bibir di dunia kang-ouw sampai bertahun-tahun lamanya.
Begitu melihat Siluman Kecil pergi tanpa pamit kepadanya, tanpa sepatah pun kata kepadanya, bahkan seperti tidak mempedulikannya sama sekali, Cui Lan menunduk, air matanya meleleh tanpa dapat ditahannya pula.
Kini jelaslah baginya bahwa pendekar yang dipuja-pujanya itu, dicintanya, sama sekali tidak memperhatikan dia.
Barulah dia sadar bahwa sesungguhnya tidak mungkin dia mengharapkan yang bukan-bukan.
Siluman Kecil adalah seorang pendekar besar yang dipuja banyak orang, apalagi setelah dapat memenangkan kakek tadi, sampai-sampai ketua partai-partai besar menghormatinya.
Sedangkan dia?
Dia hanya seorang gadis dusun, seorang bekas pelayan!
Seperti kilat memasuki benaknya bahwa dia adalah puteri angkat seorang gubernur, akan tetapi ingatan ini cepat diusirnya karena dia pun telah bersalah kepada ayah angkatnya ltu, telah pergi tanpa perkenan.
Ayah bundanya sudah tiada, tidak ada sanak keluarga, orang satu-satunya yang dia pandang dan harapkan, Kiranya sama sekali tidak mempedulikannya, apalagi mencintanya.
Air matanya makin deras mengucur sampai dia tidak tahu bahwa tempat itu telah sunyi, semua orang telah pergi kecuali dia sendiri dan nikouw tua tadi, ibu dari Siluman Kecil yang sejak tadi memandangnya dengan sinar mata penuh rasa iba dan terharu.
Nenek ini saking terharunya mengusap dua butir air mata yang menghias bulu matanya.
Dia tahu benar apa yang terjadi di dalam hati gadis cantik ini.
Jelas bahwa dara ini jatuh cinta kepada Siluman Kecil, akan tetapi anaknya itu agaknya tidak membalas cintanya.
Dia lalu menghampiri Cui Lan.
Dipegangnya lengan gadis itu.
Cui Lan menoleh dan barulah dia merasa terkejut bahwa di situ telah sunyi, dan bahwa nenek yang tadi disebut ibu oleh Siluman Kecil itu memegang lengannya.
"Anak yang baik, marilah engkau ikut bersamaku. Mungkin ada kecocokan antara kita karena kulihat bahwa pengalamanmu agaknya sama dengan peristiwa yang menimpa diriku di waktu aku muda dahulu. Mari kutunjukkan jalan Tuhan kepadamu."
Ucapan ini seperti membuka bendungan di hati Cui Lan dan tangisnya makin mengguguk ketika dia membiarkan dirinya digandeng dan dibawa pergi perlahan-lahan meninggalkan puncak itu.
Para pembaca yang pernah mengikuti cerita-cerita terdahulu seperti cerita Suling Emas, Pendekar Super Sakti, Sepasang Pedang Iblis dan lain-lain tentu telah mengenal siapa adanya Pendekar Sakti Suling Emas dan apa yang terjadi dengan pusaka-pusaka peninggalannya.
Di dalam cerita Pendekar Super Sakti telah diceritakan bahwa senjata pusaka suling emas peninggalan Pendekar Sakti Suling Emas itu yang terakhir berada di tangan Puteri Nirahai, dipergunakan oleh Puteri Nirahai untuk bertanding melawan Suma Han atau Pendekar Super Sakti yang akhirnya menjadi suaminya.
Adapun mengenai kitab-kitab peninggalan Pendekar Suling Emas yang berisikan pelajaran ilmu-ilmu silat tingkat tinggi dan mujijat seperti Kim-kong Sin-hoat, Pat-sian Kiam-hoat, Lo-hai San-hoat, dan Hong-in Bun-hoat dan kipas pada saat terakhir telah terjatuh ke tangan Lulu dan dibawanya ke Pulau Neraka di mana dia akhirnya menjadi ketua Pulau Neraka sebelum dia juga menjadi isteri Suma Han si Pendekar Super Sakti.
Jadi, baik suling emas yang terjatuh ke tangan Puteri Nirahai maupun kipas dan kitab-kitab yang terjatuh ke tangan Lulu, semua telah menjadi milik keluarga Pulau Es, yaitu Suma Han si Pendekar Super Sakti dan dua orang isterinya.
Akan tetapi mengapa kini tiba-tiba berada di tangan kakek yang mengaku bernama Sin-siauw Sengjin itu?
Hal ini, akan diceritakan kelak kalau sudah tiba waktunya untuk memperlancar jalannya cerita karena di dalamnya terdapat rahasia-rahasia yang sementara ini belum dapat dibuka atau diceritakan.
Bayangan putih yang seperti terbang melayang dengan kecepatan luar biasa lari dengan ilmu Jouw-sang-hui-teng (Ilmu Terbang di Atas Rumput) itu akhirnya berhenti di sebuah lapangan terbuka yang penuh rumput hijau di bawah bukit.
Bulan masih bersinar terang setelah awan-awan yang menutupnya tadi lewat.
Lapangan rumput itu seperti laut kehijauan indah bukan main dan Siluman Kecil berdiri di tepi lapangan rumput, menunduk dan melamun.
Pikirannya agak kacau karena pertemuannya dengan Cui Lan tadi.
Dia tadi sengaja tidak mau memperhatikan dan bersikap acuh tak acuh terhadap dara itu, disengajanya agar dara itu dapat terbuka matanya bahwa dia tidak mungkin dapat membalas cinta kasih dara itu.
Tentu saja dia tahu bahwa sejak dahulu ketika dia menolong dara itu, Cui Lan telah jatuh cinta kepadanya dan selalu memujanya dan merindukannya.
Dia merasa suka dan kasihan sekali kepada Cui Lan, akan tetapi bagaimanapun juga, dia tidak dapat mencinta dara itu.
Dia tidak dapat mencinta siapa-siapa lagi di dunia ini!
Dia mengerti betapa duka dan merananya orang yang tidak dibalas cintanya, dia terlalu mengerti akan kedukaan ini karena dia sendiri telah mengalaminya!
Dia pun pernah mengalami seperti Cui Lan, mencinta seseorang mati-matian, penuh harapan dan bayangan yang muluk-muluk dan mesra-mesra, akan tetapi kenyataan amat pahit menghantam hatinya, bahwa orang yang dicintanya itu tidak membalas perasaan hatinya.
Beberapa tahun yang lalu dia hidup merana, bahkan bosan hidup, tidak ingin hidup lagi sampai dia tiba di pucak bukit itu, bertanding melawan Sin-siauw Seng-jin, dan terluka hampir mati.
Akan tetapi dia tidak mati, agaknya dia masih diharuskan hidup lebih lama untuk memperpanjang hukumannya, yaitu penderitaan batin karena dia tidak dapat melupakan kedukaan hatinya.
"Ihhhh....! Kau lagi....?"
Bentakan marah ini mengejutkan dan membuyarkan semua lamunannya.
Di depannya telah berdiri gadis berpakaian serba hitam tadi, gadis yang membawa ular yang tadinya menyerangnya!
"Hemmm...."
Dia hanya menggumam.
"Hemmm apa? Kau laki-laki tak berperasaan, kau laki-laki kejam yang suka menghancurkan hati wanita! Kau tidak mempedulikan orang yang mencintamu malah mengejar wanita lain!"
Dara sudah mencak-mencak marah dan menudingkan telunjuk yang berkuku runcing terpelihara ke arah hidung Siluman Kecil.
Siluman Kecil mengerutkan dahinya dan memandang tajam.
"Bocah lancang mulut, apa yang kau maksudkan itu?"
"Huh, mentang-mentang rambutmu sudah putih semua kau lantas boleh menyebut aku bocah, ya? Kau kira aku tidak tahu bahwa sebetulnya kau masih muda, tidak berbeda banyak dengan aku?"
Siluman Kecil merasa kewalahan juga menghadapi dara yang begini galak. Dia menarik napas panjang.
"Yaaah, terserah. Sekarang katakan, apa maksudmu dengan kata-katamu itu tadi?"
"Maksudnya? Maksudnya sudah jelas masih pakai tanya-tanya segala! Engkau kejam terhadap Cui Lann kau tinggalkan begitu saja, tidak tahu kahwa hatinya seperti disayat-sayat rasanya. Engkau, setelah kau jatuhkan hatinya dengan pertolonganmu, dengan kegagahanmu, dengan ketampananmu, lalu kau sia-siakan begitu saja. Lebih celaka lagi, kau malah meninggalkan dia dan mengejar aku! Mau apa kau mengejarku? Mau pamerkan kepandaianmu? Mau membunuh aku?"
Siluman Kecil beberapa kali membuka mulut akan tetapi terpaksa menutupkannya kembali karena dia sama sekali tidak diberi kesempatan untuk membela diri.
Kata-kata yang keluar dari mulut yang manis itu seperti memberobotnya anak panah yang dilepas dari busur sakti!
Dia kini menghela napas lega setelah dara itu menghentikan serangan-serangannya dan dia mengangkat muka memandang gadis itu bertolak pinggang, sikapnya sama sekali tidak takut bahkan menantang, padahal sudah jelas bahwa gadis itu telah dikalahkannya, sungguhpun harus dia akui bahwa tidak mudah mengalahkan dara yang ternyata memiliki ilmu silat yang amat tinggi dan aneh itu.
Baru sekarang Siluman Kecil merasa serba salah dan canggung.
"Aku tidak mengejarmu, Nona."
Akhirnya dia berkata singkat.
"Dusta kau!"
Dan tiba-tiba gadis ber-pakaian hitam itu telah menyerangnya kalang-kabut. Siluman Kecil cepat mengelak ke sana ke mari sambil berkata.
"Aku tidak ingin berkelahi!"
Akan tetapi Hwee Li tidak memberi kesempatan kepadanya dan terus mendesak dengan pukulan-pukulan yang mendatangkan angin dahsyat dan amat berbahaya.
Siluman Kecil menjadi repot juga dan terpaksa dia meloncat tinggi dan jauh untuk menghindar, lalu dia melarikan diri karena memang dia tidak ingin berkelahi hanya karena perbedaan pendapat tentang diri Cui Lan dan tentang kejar-mengejar itu.
"Lari ke mana kau?"
Hwee Li membentak dan mengejar.
Akan tetapi pada saat itu muncul bayangan orang di balik pohon dan terdengar bentakan halus menegur dara berpakaian hitam itu.
"Hwee Li, jangan kurang ajar. Kembalilah!"
"Eh, Subo....!"
Gadis berpakaian hitam itu berseru kaget dan girang.
Siluman Kecil cepat lari akan tetapi dia masih sempat menengok dan melihat bahwa yang disebut subo oleh gadis itu adalah seorang wanita yang sangat cantik dan dia seperti pernah melihat wajah itu.
Akan tetapi dia tidak ingin bentrok dengan wanita cantik itu yang tentu memiliki ilmu kepandaian yang lebih hebat lagi daripada si dara galak, apalagi karena memang tidak ada permusuhan apa-apa di antara mereka.
Maka Siluman Kecil lalu mempercepat gerakannya dan tubuh yang berpakaian dan berambut putih itu kelihatan melayang cepat sekali di atas lapangan rumput, diikuti oleh pandang mata dua orang wanita guru dan murid itu penuh kekaguman.
Fajar telah menyingsing ketika Siluman Kecil tiba di pintu gerbang kota An-yang, di dekat tapal batas Propinsi Ho-nan dan Ho-pei sebelah utara.
Di depan pintu gerbang telah menanti banyak orang, yaitu sebagian besar adalah orang-orang luar kota An-yang yang hendak memasuki kota itu, menanti sampai dibukanya pintu gerbang oleh para penjaga.
Munculnya Siluman Kecil tentu saja mendatangkan rasa heran di antara mereka, karena keadaan pendekar ini memang aneh.
Pakaiannya putih dan rambutnya juga terurai putih, sebagian menutupi mukanya sehingga menyembunyikan sebagian besar wajah yang tampan.
Akan tetapi, di antara semua orang itu, ada seorang wanita muda yang selalu memandangnya, dengan alis berkerut dan sinar mata tajam penuh selidik, kelihatan jelas bahwa wanita ini mencurigainya dan memperhatikan semua gerak-geriknya.
Siluman Kecil tentu saja merasa tidak senang dan tidak enak, akan tetapi dia diam saja dan berdiri di sudut yang agak gelap.
Wanita itu berpakaian serba hijau, menuntun seorang anak kecil berusia empat tahun, dan wanita itu sendiri berusia kurang lebih dua puluh tahun dengan wajah yang cukup cantik dan membayangkan kegagahan.
Ketika pintu gerbang dibuka tak lama kemudian, Siluman Kecil cepat menyelinap masuk dan mencari sebuah warung makan untuk sarapan dan menghangatkan badan di pagi hari yang cukup dingin itu.
Sebuah warung baru saja dibuka dan masih kosong belum ada tamunya seorang pun, maka dia cepat memasuki warung ini dan memesan masakan bubur ayam dan air teh panas.
Akan tetapi, selagi pelayan menyiapkan pesanannya, masuklah tiga orang laki-laki muda ke dalam warung dan mereka itu bercakap-cakap dengan suara lantang.
"Lo-ciang, kenapa engkau tidak ikut memasuki pemilihan jago itu? Siapa tahu, engkau akan terpilih dan kelak menjadi seorang panglima besar, seorang jenderal sehingga aku yang menjadi sahabatmu tentu takkan kau lupakan, ha-ha!"
"Enak saja kau bicara, A-seng! Yang dipilih adalah orang-orang yang berilmu tinggi untuk menjadi pengawal gubernur sendiri, dan yang terpandai akan memperoleh kedudukan istimewa. Maka tentu akan muncul banyak sekali orang sakti. Aku ini apa? Hanya bisa sekedar menggerakkan tangan seperti monyet menari! Kalau saja aku mempunyai kepandaian seperti pendekar Siluman Kecil yang disohorkan orang itu, nah....!"
Siluman Kecil memutar duduknya membelakangi mereka, dan ketika pelayan datang mengantarkan bubur dan air teh yang dipesannya, Dia mulai makan bubur yang masih mengebul panas itu.
Tiga orang laki-laki itu masih bercakap-cakap ramai akan tetapi tiba-tiba percakapan mereka terhenti ketika ada rombongan orang memasuki warung itu.
Siluman Kecil melirik dan melihat bahwa wanita muda berpakaian hijau yang tadi dijumpainya di pintu gerbang menuntun seorang anak kecil, akan tetapi kini tidak lagi menuntun anak itu, memasuki warung diiringkan oleh lima orang laki-laki yang bersikap hormat seolah-olah mereka adalah pengawal-pengawal wanita itu.
Begitu mengambil tempat duduk, tak jauh dari tempat Siluman Kecil, dengan suara lantang wanita itu memanggil pelayan, kemudian berkata setelah melirik ke arah tiga orang laki-laki muda dan Siluman Kecil.
"Pelayan, hidangkan masakan yang paling istimewa dari warungmu ini, dan arak yang hangat dan paling baik. Suguhkan kepada semua tamu atas namaku, aku yang akan membayar semua yang dimakan para tamu di pagi hari ini!"
Tiga orang laki-laki muda itu menoleh dan mereka menjadi gembira, lalu bangkit berdiri dan menjura ke arah wanita itu.
Seorang di antara mereka berkata.
"Kouwnio, banyak terima kasih atas kebaikanmu!"
Wanita itu hanya membalas penghormatan mereka sambil tersenyum dan tiga orang laki-laki itu kembali duduk dengan sikap gembira.
Akan tetapi Siluman Kecil tentu saja merasa sungkan dan dia berkata dari tempat duduknya.
"Harap Twanio tidak perlu repot, saya hanya makan bubur dan air teh, dan akan saya bayar sendiri. Terima kasih atas kebaikanmu."
"Ah, tidak mengapa, sobat. Hari ini adalah hari ulang tahunku dan sudah biasa setiap ulang tahun, aku membayar makanan semua tamu di suatu warung seperti ini,"
Kata wanita itu dengan sikap gembira dan melihat sikap dan mendengar kata-kata Siluman Kecil dapat menduga bahwa wanita ini sudah biasa hidup di dunia kang-ouw sehingga tidak canggung lagi berhadapan dengan orang, bahkan laki-laki asing.
Dia tidak mau berbantah dan agar tidak menarik perhatian wanita ini yang sejak di pintu gerbang tadi memandangnya penuh kecurigaan, maka dia tidak membantah lagi dan ketika hidangan disajikan oleh pelayan, dia makan dengan diam-diam dan berusaha sedapat mungkin untuk menyembunyikan mukanya.
Wanita itu sendiri pun tidak memperhatikannya lagi dan makan minum bersama lima orang laki-laki yang mengiringkannya tadi, sedangkan tiga orang laki-laki muda yang merupakan rombongan lain tadi agaknya mempergunakan kesempatan selagi ada orang yang mau membayar makanan mereka, memesan lagi masakan-masakan dan minuman arak, agaknya ingin mabuk-mabukan di atas biaya orang lain!
Siluman Kecil cepat menyelesaikan makannya dan selagi dia hendak bangkit, tiba-tiba dia melihat ada seorang pemuda memasuki warung.
Hatinya tertarik sekali melihat pemuda ini yang berkulit putih dan berambut coklat tua, seorang pemuda berbangsa asing atau sebangsa orang barat yang akhir-akhir ini banyak dilihatnya di kota-kota besar.
"Sumoi....!"
Pemuda asing itu berseru sambil menghampiri meja rombongan wanita berbaju hijau tadi.
"Ah, Suheng, kau baru datang?"
Wanita itu pun berseru ketika pemuda asing itu menghampiri mejanya.
Lima orang pengiring wanita itu ke-lihatan bersikap hormat, berdiri dan mempersilakan pemuda asing itu duduk, mengambilkan bangku kosong dan tidak mengeluarkan kata-kata.
Pemuda asing itu lalu berbisik kepada wanita berbaju hijau.
"Sumoi, dia kulihat di luar dusun.... sedang menuju ke sini.... sendirian."
Wanita muda itu kelihatan terkejut, akan tetapi lalu berkata.
"Hemmm, tak kusangka begitu cepat dia datang. Akan tetapi kita tidak usah mempedulikan kedatangannya. Betapapun juga kita belum pernah mengenal dia. Kita duduk saja di sini merayakan berhasilnya usahaku, Suheng. Oh ya, mari kuperkenalkan engkau kepada tamu-tamu kita yang kujamu untuk merayakan hari ulang tahunku."
Dia bangkit berdiri dan menghadap ke arah meja tiga orang pemuda tadi.
"Cu-wi, ini Suheng saya, dan Cu-wi bertiga adalah...."
Wanita itu memperkenalkan.
"Saya Ma Kok Ciang!"
"Saya Kam Seng!"
"Saya Kam Tiong!"
Tiga orang pemuda itu memperkenalkan diri dengan suara lantang.
Pemuda asing itu menjura dengan hormat dan mengikuti sumoinya menghadap ke arah Siluman Kecil.
"Sobat, Suhengku ingin berkenalan denganmu. Bolehkah kami mengenal namamu yang terhormat?"
Wanita baju hijau itu bertanya kepada Siluman Kecil.
Pendekar ini menundukkan muka, membiarkan rambutnya menutupi mukanya.
Sebetulnya dia tidak ingin berkenalan dengan siapa pun juga.
Akan tetapi baru saja dia telah makan hidangan orang, maka tidaklah enak kalau tidak menjawab.
Lebih baik memperkenalkan diri dan cepat pergi dari situ, pikitnya.
"Namaku....? Hemmm, panggil saja aku Siluman Kecil,"
Jawabnya pendek.
"Ughhh-ukkkhhhhh!"
Seorang di antara tiga pemuda itu terbatuk-batuk karena makanan yang sedang ditelannya itu menyangkut di kerongkongannya ketika dia mendengar ini.
Mereka terbelalak menoleh ke arah Siluman Kecil yang mereka hanya dapat lihat punggungnya.
Sedangkan wanita baju hijau dan suhengnya itu pun memandang dengan mata terbelalak kaget, akan tetapi kerut alis mereka menunjukkan bahwa mereka itu masih ragu-ragu.
Memang sejak berjumpa di pintu gerbang, wanita baju hijau itu sudah menaruh curiga kepada Siluman Kecil dan sudah menduganya bahwa pemuda yang berambut putih dan bersikap aneh itu tentu bukan orang sembarangan.
Bahkan di dalam warung ini si wanita baju hijau sengaja mencari jalan untuk berkenalan dengan pemuda rambut putih itu.
Akan tetapi begitu mendengar bahwa dia itu adalah Siluman Kecil, tentu saja dia meragu dan tidak mudah percaya begitu saja.
Sliurnah Kecil sendiri setelah memperkenalkan namanya sudah hendak bangkit dan pergi, akan tetapi pada saat itu terdengar suara gemuruh dan derap kaki kuda menuju ke depan warung.
Seorang pelayan yang tadi berada di luar tergopoh-gopoh memasuki warung dan langsung menemui pemilik warung yang duduk di belakang meja.
"Celaka, rombongan pembunuh dari perkampungan nelayan itu datang!"
Pemilik warung menjadi pucat mukanya dan semua pelayan juga lari bersembunyi.
Melihat ini, Siluman Kecil tidak jadi pergi dan duduk kembali dengan tenangnya, menunduk dan mereguk arak di dalam cawan araknya.
Wanita baju hijau itu, bersama suhengnya dan lima orang pengiringnya, juga tiga orang laki-laki muda yang sudah agak mabuk, semua menengok ke arah pintu warung.
Dengan menimbulkan suara hiruk-pikuk masuklah dua puluh orang lebih yang bersikap gagah dan kasar, dipimpin oleh seorang kakek yang pakaiannya gemerlapan mewah, pakaian seorang hartawan besar.
Dengan matanya yang kelihatan makin sipit karena teraling sepasang pipi yang gemuk, kakek ini menyapu ruangan warung dengan pandang matanya, kemudian dengan gerakan kepala dia memberi perintah kepada tangan kanannya sebagai pemimpin rombongan, yaitu seorang laki-laki bermuka hitam yang bertubuh tinggi.
Laki-laki hitam ini dengan lantang lalu berkata kepada pemilik warung yang masih duduk di belakang meja dengan muka pucat dan agaknya dia telah lumpuh saking takutnya sehingga tidak sempat pula menyembunyikan dirinya seperti yang dilakukan oleh para pelayan.
"Haaai! Pemilik warung, sudah berbulan-bulan engkau tidak pernah menyerahkan hasil tangkapan ikan kepada kami, ya?"
Kata Si Muka Hitam dengan muka menyeringai dan nada suara menggertak.
Pemilik warung itu menelan ludah beberapa kali untuk mengusir rasa takut yang mencekik lehernya sebelum dapat menjawab.
"Saya.... saya adalah pengusaha warung.... harap maafkan.... saya tidak lagi menangkap ikan...."
"Bohong!"
Si Muka Hitam menghardik, suaranya keras sekali membuat si pemilik warung menjadi makin ketakutan.
"Siapa tidak tahu bahwa engkau adalah bekas nelayan yang pandai? Engkau masih mempunyai lima buah perahu dan engkau menyuruh orang-orangmu mencari ikan-ikan tetapi hasil ikan-ikan yang baik dan besar kau suruh bawa ke sini, hanya yang kecil-kecil saja kau suruh menjual. kepada kami. Berani kau menyangkal?"
Gemetar seluruh tubuh pemilik Warung itu. Tak disangkanya bahwa Boan-wangwe.
"raja"
Kaum nelayan itu demikian cerdiknya, dapat tahu setiap langkah perbuatannya.
"Maaf.... ampunkan saya.... saya membutuhkan ikan-ikan baik untuk warung saya...."
"Ha-ha-ha!"
Kini Boan-wangwe, hartawan itu, tertawa.
"Sudahlah! Sekarang kau keluarkan hidangan dari ikan-ikan yang terbaik, keluarkan semua persediaan masakan dan minuman untuk kami dan kami akan melupakan pelanggaran yang kau lakukan itu. Akan tetapi suruh pergi semua tamu dari sini, kami tidak ingin diganggu."
"Heiii, pelayan! Tambah araknya!"
Tiba-tiba terdengar suara si pemuda asing, seolah-olah dia sama sekali tidak melihat atau mendengar apa yang terjadi di situ.
Tukang warung itu tergopoh-gopoh mendatangi meja wanita baju hijau itu, membongkok-bongkok dan berkata gugup.
"Harap Cu-wi sudi memaafkan saya.... harap sudi meninggalkan saja warung ini dan.... dan Cu-wi tidak usah membayar harga makanan dan minuman tadi...."
"Hemmm, apa artinya ini?"
Pemuda asing itu membentak, sikapnya marah.
"Maaf, Siauw-ya.... warung ini.... harus melayani Boan-wangwe dan orang-orangnya, saya tidak bisa menerima tamu lain, semua telah diborong oleh Hartawan Boan...."
"Tidak peduli yang memborong itu hartawan atau jembel, raja atau petani, dewa atau setan yang bernama Boan atau anjing kera, kami sudah datang lebih dulu dan harus dilayani lebih dulu!"
Pemuda asing itu membentak marah.
"Hayo tambah lagi araknya!"
"Ba.... baik...."
Pemilik warung itu menjadi makin ketakutan dan seperti seekor anjing dipukul dia mundur dan mengkeret, lalu berdiri di belakang mejanya dengan bingung, tak tahu apa yang harus dilakukannya.
Sementara itu, Si Muka Hitam pimpinan rombongan pengikut Boan-wangwe itu, telah melangkah maju sambli memberi isyarat kepada orang-orangnya.
Meja wanita baju hijau itu dikurung, akan tetapi wanita baju hijau itu bersama suhengnya dan lima orang pengiringnya masih tetap duduk mengelilingi meja dengan sikap tenang.
Boan-wangwe sendiri, kakek berpakaian mewah itu, hanya tersenyum lalu dengan enaknya duduk di atas bangku di sudut sambil menonton, mengeluarkan huncwe (pipa tembakau) dan mengisinya dengan tembakau, lalu menyulutnya dengan api, semua ini dilakukan dengan tenang seenaknya seperti orang yang hendak menikmati tontonan yang menarik.
Siapakah kakek ini?
Di bagian depan telah kita ketahui bahwa kakek ini adalah seorang bekas bajak laut yang berkepandaian tinggi, dan yang sekarang telah menjadi seorang hartawan, Seorang pedagang ikan yang melakukan pemerasan terhadap semua nelayan, melepas uang panas, dan memaksa semua orang nelayan untuk menjual hasil tangkapan mereka kepadanya, tentu saja dengan harga murah dan dia mempunyai banyak anak buah yang disebarnya di belasan buah dusun-dusun di sepanjang Sungai Huangho.
Hartawan she Boan ini dikenal sebagai "raja"
Kaum nelayan, dan dia merupakan seorang tokoh kaum sesat yang tidak saja kaya raya dan berani mengeduk saku untuk membantu segolongannya, akan tetapi juga memiliki iimu kepandaian yang tinggi.
Seperti telah diceritakan di bagian depan, di waktu ketua Huangho Kui-liong-pang mengundang kaum sesat untuk mengadakan pertemuan di lembah, Boan-wangwe juga tidak ketinggalan dan menjadi seorang di antara para tamu kehormatan.
"Orang bule! Agaknya engkau sudah bosan hidup! Hayo lekas engkau dan teman-temanmu merangkak keluar kalau tidak ingin kami seret ke luar sebagai mayat!"
Bentak Si Muka Hitam.
Akan tetapi pemuda asing itu bersama sumoinya masih enak-enak menggunakan sumpit lengan tangan kanan untuk menyum-pit daging ini atau sayur itu, membawa ke mulut dan memakannya dengan tenang.
Mendengar ben-takan itu, pemuda asing yang dimaki orang bule itu menoleh, lalu berkata acuh tak acuh.
"Hendak kulihat siapa yang akan mampu menyeret aku keluar!"
"Keparat!"
Si Muka Hitam membentak.
Dia merupakan seorang di antara pembantu-pembantu Boan-wangwe dan dalam perjalanan ini dia bahkan memimpin rombongan itu, maka tentu saja dia marah bukan main mendengar tantangan si pemuda asing.
Sambil memaki dia menghantam ke depan, tangan kanan mencengkeram pundak, tangan kiri menjotos ke arah tengkuk.
Serangan maut ini kalau mengenal sasaran, tentu akan membuat yang diserang roboh dan tewas seketika dengan kepala remuk.
"Plak-plakkk.... aughhh...."
Si Muka Hitam itu terlempar ke belakang dan roboh terbanting keras!
Ternyata dengan tangan kanan masih memegang sumpit dan melanjutkan makannya, pemuda asing itu tanpa menoleh telah menggerakkan tangan kirinya, menangkis dua tangan lawan dan mendorong, membuat Si Muka Hitam terjengkang dan roboh!
Tentu saja hal ini membuat semua anak buah Boan-wangwe menjadi marah.
Sambil berteriak-teriak mereka bergantian menerjang pemuda asing itu.
Akan tetapi sungguh hebat sekali pemuda ini.
Dia terus melanjutkan makan minum, ditemani sumoinya yang seolah-olah tidak mempedulikan suhengnya dikeroyok, dan lima orang pengiringnya pun hanya memandang saja dengan sikap siap siaga, akan tetapi sambil melan-jutkan makan hidangan, di depannya dengan sumpit, pemuda asing itu menggunakan tangan kirinya, menangkis, menampar, menyodok, merampas senjata dan berturut-turut para pengeroyoknya itu ada yang terpelanting, ada yang terjengkang dan jatuh tumpang tindih!
Boan-wangwe yang melihat keadaan anak buahnya ini, mengerutkan alisnya dan dia menggigit ujung huncwenya, matanya memandang marah akan tetapi dia masih duduk karena melihat anak buahnya masih bangun lagi dan masih mengurung, kini semua mencabut senjata mereka.
Lima orang pengiring wanita baju hijau kelihatan bangkit berdiri, meraba gagang pedang di pinggang, akan tetapi wanita baju hijau itu menggeleng kepala.
Mereka memandang penasaran, akan tetapi ternyata mereka taat sekali karena mereka sudah duduk kembali sambil memandang pemuda asing yang menghabiskan hidangan di dalam mangkoknya.
Setelah hidangannya habis, pemuda asing ini bangkit berdiri dengan muka kesal, lalu membalikkan tubuhnya menghadapi para pengepungnya.
"Kalian sungguh manusia-manusia yang menjemukan!"
Katanya perlahan dan pemuda ini menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya, kemudian kedua tangan itu diputar-putar di depan dada.
"Suheng, jangan....!"
Wanita baju hijau berseru kaget.
Akan tetapi kedua tangan pemuda itu sudah terlanjur digerakkan, mendorong ke depan dan biarpun dia mendengar seruan mencegah dari sumoinya dan sudah mengurangi tenaganya, tetap saja terdengar teriakan-teriakan kaget dan kesakitan dari dua puluh orang lebih itu.
Mereka tidak roboh, melainkan menggigil kedinginan, gigi mereka berkeretakan berbunyi saling beradu, mulut mereka mengeluarkan suara (Lanjut ke
Jilid 15) Jodoh Rajawali (Seri ke 10 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 15
"hu-hu-hu-huuu...."
Dan mereka berusaha mengusir rasa dingin dengan memeluk tubuh sendiri.
Keadaan mereka sungguh lucu dan aneh sekali.
Siluman Kecil merasa terkejut bukan main.
Dia melihat betapa keringat-keringat yang tadi membasahi tubuh dua puluh orang lebih itu, kini tampak membeku, berubah seperti tepung-tepung salju menempel di tubuh mereka.
Bukan main, pikirnya.
Seperti Swat-im Sin-ciang dari Pulau Es, akan tetapi bahkan lebih ganas!
Juga Boan-wangwe terkejut dan kini dia bangkit berdiri.
"Huh!"
Pemuda asing itu mendengus.
"Kalau saja Sumoi tidak mengasihani kalian, tentu sekarang kalian telah menjadi patung-patung beku tak bernyawa lagi. Boan-wangwe kini mengeluarkan semua abu dan tembakau dari huncwenya dan dengan perlahan dia mencabut ujung huncwe yang ternyata bersusun dan kini huncwe itu memanjang sampai selengan panjangnya. Kiranya huncwe itu selain dapat dipakai sebagai penghisap tembakau, juga merupakan senjata yang aneh dan ampuh! Tangan kirinya merogoh saku dan keluar lagi menggenggam peluru-peluru kecil yang segera dimasukkan ke dalam mulutnya! Kemudian, dengan mengeluarkan suara menggeram, Boan-wangwe menggerakkan kakinya dan tubuhnya yang agak gendut itu ternyata memiliki gerakan ringan dan cepat sekali, melayang melalui atas kepala orang-orangnya yang masih kedinginan, langsung menyerang pemuda asing itu dengan huncwenya yang panjang! "Wuuuttttt.... singgggg....!"
Sambaran huncwe itu mengejutkan si pemuda asing yang dari suaranya saja maklum bahwa dia menghadapi senjata ampuh yang digerakkan oleh tenaga sakti yang kuat.
Maka dia cepat melompat ke samping sambil mengelak, sambil mencabut pedangnya, kemudian balas menusuk yang dapat ditangkis oleh Boan-wangwe.
"Tranggggg!.... Cringgggg....!"
Dua kali pedang bertemu huncwe dan nampak api berhamburan, keduanya menarik senjata masing-masing untuk memeriksa.
Lega hati mereka melihat betapa senjata mereka tidak rusak biarpun tadi mereka merasakan getaran hebat mengiris telapak tangan mereka.
Para anak buah Boan-wangwe kini mundur dan anehnya, mereka semua kini duduk di atas lantai di sudut ruangan itu, tidak ada seorang pun yang berdiri dan mereka menonton pertandingan hebat antara majikan mereka dan pemuda asing itu penuh perhatian.
Siluman Kecil juga menonton dengan hati tertarik.
Kembali dia merasa kagum karena ternyata bahwa pemuda yang berkulit putih dan berambut coklat itu selain memiliki pukulan yang mirip Swat-im Sin-ciang, juga memiliki ilmu pedang yang amat lihai sehingga biarpun Boan-wangwe juga memiliki gerakan lihai sekali, cepat kuat dan aneh, namun kakek ini kelihatan terdesak oleh ilmu pedang si pemuda asing.
"Hyaaaaattttt....!"
Tiba-tiba pedang itu meluncur dengan gerakan memutar seperti seekor naga bermain di angkasa, bergulung-gulung dengan cepat sekali.
Boan-wangwe menggerakkan huncwenya menangkis dan memutar huncwe untuk mengimbangi kecepatan pedang, namun tetap saja dia masih kalah cepat.
"Brettttt....!"
Untung dia masih sempat menarik lengannya sehingga yang terbabat putus hanya ujung lengan bajunya saja.
Akan tetapi hal ini cukup membuat dia terkejut sampai mukanya berubah dan tiba-tiba dia meloncat ke belakang dan menempelkan ujung huncwe ke mulutnya.
"Awas, Suheng....!"
Wanita baju hijau itu berseru dan pemuda asing itu sudah waspada.
Dari ujung huncwe itu menyambar sinar-sinar kehitaman yang mengeluarkan bunyi bersuitan.
Melihat benda-benda kecil menyambar ke arahnya, pemuda itu mengelak dan dengan pedangnya dia menangkis.
"Tringgg.... tarrrrr-tarrrrr!"
Dua buah peluru kecil yang kena disampok pedang itu meledak dan pemuda asing itu berteriak kaget lalu roboh.
Ternyata peluru itu mengandung jarum-jarum lembut sekali yang agaknya beracun, yang berhamburan keluar ketika peluru itu meledak dan ada yang mengenai pemuda bule itu.
"Suheng....!"
Wanita baju hijau itu berteriak dan dengan marah dia meloncat ke arah Boan-wangwe, gerakannya ketika meloncat membuktikan bahwa dia memiliki ginkang yang amat hebat.
Seperti seekor burung walet menyambar saja ketika dia meloncat.
Akan tetapi Boan-wangwe sudah cepat menggerakkan huncwenya menangkis ketika melihat sinar pedang meluncur cepat.
"Tranggggg....!"
Kembali nampak bunga api berhamburan dan Boan-wangwe harus cepat memutar huncwenya karena wanita baju hijau itu ternyata memiliki ilmu pedang yang bahkan lebih hebat daripada suhengnya!
Dan selain itu, lima orang pengiringnya kini sudah mencabut pedang semua dan mengeroyoknya!
Boan-wangwe maklum bahwa kalau dia melanjutkan pertempuran dengan senjata, jangankan dikeroyok enam, melawan wanita baju hijau itu saja sudah kewalahan, maka dia kembali melompat ke belakang dan menggunakan huncwe dan peluru-peluru kecil untuk menyerang lawan.
Huncwe yang sudah berubah menjadi senjata sumpitan itu menyemburkan banyak sekali peluru-peluru kecil.
Wanita baju hijau terpaksa menangkis, demikian pula lima orang pengiringnya dan terdengar bunyi ledakan-ledakan kecil.
Wanita itu menjerit dan bersama lima orang pengiringnya, juga tiga orang muda yang sudah mabuk dan yang tadi menonton sambil duduk di atas kursi mereka, roboh semua tak sadarkan diri.
Mereka semua, sejumlah sembilan orang itu, roboh pingsan terkena serangan jarum-jarum halus yang tak tampak oleh mata, yang berhamburan keluar dari dalam peluru-peluru kecil yang pecah dan meledak.
"Ha-ha-ha, baru kalian tahu rasa!"
Boan-wangwe tertawa bergelak.
"Berani kalian menentang Huncwe Maut Boan Kwi, ha-ha!"
Sekarang pergilah kalian ke neraka!"
Dengan iringan suara ketawa anak buahnya yang baru sekarang berani berdiri dengan tubuh masih ada yang menggigil kedinginan, Boan-wangwe melangkah lebar sambil membawa huncwenya, hendak membunuh tujuh orang bekas lawannya itu.
Kini baru Siluman Kecil mengerti mengapa anak buah Boan-wangwe tadi semua duduk di atas lantai.
Kiranya mereka itu tahu bahwa majikan mereka akan menggunakan huncwe mautnya dan mereka sudah lebih dulu bersembunyi dari sambaran-sambaran peluru yang berisi jarum-jarum halus itu!
Ketika Boan-wangwe sudah mengangkat huncwe untuk memukul kepala si pemuda bule yang masih pingsan, tiba-tiba ada angin menyambar dari kanan.
Dia terkejut sekali, akan tetapi ketika dia menggerakkan huncwe ke kanan, pukulan itu lenyap dan kini hawa pukulan menyambar dari kiri!
Boan-wangwe terkejut dan bingung, mengangkat tangan kirinya menangkis.
"Plakkk....! Nyesssss....!"
Boan-wangwe tertegun dan matanya berkejap-kejap heran, menikmati rasa yang amat nyaman dan enak yang dirasainya ketika tangannya bertemu dengan tangan orang yang menghantamnya itu.
Tadi dia masih tergetar oleh benturan-benturan tenaga dari si pemuda bule yang mendatangkan rasa dingin sekali, dan sekarang, benturan tenaga ini mendatangkan rasa hangat dan nyaman, nikmat, seolah-olah dia baru saja diserang hawa dingin lalu mendapatkan kehangatan dari perapian atau selimut hangat yang halus.
Sukar dilukiskan rasanya, amat enak dan menyenangkan.
Akan tetapi ketika dia memandang ke arah lengan kirinya yang tadi terbentur dengan lengan lawan dan yang mendatangkan rasa nyaman itu, dia terbelalak dan hampir saja menjerit.
Ternyata lengan bajunya hancur lebur dan kulit tangannya rusak seperti habis disiram minyak mendidih.
"Celaka....!"
Serunya dan dia cepat menoleh ke kiri.
Di situ telah berdiri seorang pemuda berpakaian putih dan berambut putih pula.
Pemuda berambut putih!
Muka Boan-wangwe berubah pucat, jantungnya berdebar penuh ketegangan.
Apakah ini orangnya yang disebut-sebut di dalam pertemuan di lembah itu?
Inikah dia si Siluman Kecil?
Bulu tengkuknya meremang.
Tak mungkin tokoh yang menggegerkan dunia kang-ouw itu masih begini muda!
Siapapun adanya orang ini, jelas orang ini memiliki ilmu pukulan yang seperti ilmu iblis!
Mengerikan sekali!
Maka Boan-wangwe tidak mau menyia-nyiakan waktu lagi.
Cepat dia meloncat ke belakang dan menggunakan huncwenya sebagai sumpitan.
Siluman Kecil sudah siap waspada karena dia tadi telah menyaksikan sendiri betapa lihai dan berbahayanya senjata sumpitan itu.
Dia harus mengelak kalau dia ingin selamat, sama sakali tidak boleh menangkis, karena justeru di situlah letak bahayanya peluru-peluru kecil itu.
Sekali ditangkis, peluru akan meledak dan jarum-jarum halus yang agaknya beracun akan menyerangnya tanpa dapat dielakkannya lagi karena selain terlalu dekat juga terlalu halus tidak dapat dilihat nyata.
Maka begitu ada suara bersuitan dan ada sinar-sinar hitam menyambar, Siluman Kecil lalu menggerakkan tubuhnya dan dia pun sudah berloncatan ke sana-sini dengan kecepatan yang amat luar biasa.
Seperti kilat menyambar-nyambar saja layaknya.
Setiap kali berloncatan, dia hanya menggunakan satu kaki saja untuk mengenjot tubuhnya, seperti seekor burung bangau berdiri dengan satu kaki.
Kaki yang sebuah lagi ditekuk ke belakang.
Akan tetapi, loncatannya itu demikian tiba-tiba dan tubuhnya dapat melejit ke sana-sini, mencelat ke kanan kiri, depan belakang, atas bawah seperti sebuah bola saja melambung ke sana-sini.
Cepatnya bukan main karena tubuhnya seolah-olah tidak lagi berloncatan, melainkan melenting ke sana-sini karena memantul kembali.
Pertunjukkan ginkang yang diperlihatkan oleh Siluman Kecil ini benar-benar amat luar biasa sekali.
Tubuhnya seperti telah menjadi banyak loncat ke sana-sini, jungkir balik, melayang ke atas, menyentuh atap dan menukik turun seolah-olah kepalanya akan menyentuh lantai, lalu membuat salto sampai lima enam kali berturut-turut, berbalik kembali ke atas, selalu meluncur diantara hujan peluru kecil itu.
Kakinya menotol ke sana-sini, menjejak dinding tembok, hinggap di atas meja, di atas bangku, melayang lagi ke atas kepala Boan-wangwe, bahkan pernah kaki itu menyentuh pundaknya dan menggunakan pundak lawan untuk mencelat ke lain bagian, terus mengelak.
Warung itu menjadi sasaran ledakan-ledakan peluru yang mengenai tembok, meja dan bangku sehingga kini semua pelayan termasuk pemilik warung yang bersembunyi, tidak urung terkena jarum halus dan semua roboh pingsan di atas lantai di mana mereka bersembunyi!
Pada saat itu muncul seorang laki-laki yang masih muda, usianya kurang lebih tiga puluh tahun.
Dia tiba di ambang pintu dan memandang ke dalam dengan mata terbelalak.
"Hebat!"
Serunya ketika dia melihat tubuh Siluman Kecil yang melayang-layang.
"Ah....!"
Dia berteriak kaget ketika melihat peluru-peluru kecil yang meledak itu pecah dan menyebar jarum-jarum lembut yang beracun.
Dia melihat banyak orang rebah di lantai akibat serangan jarum-jarum halus itu.
"Tahan....!"
Laki-laki ini berseru, suara melengking nyaring dan tubuhnya mendoyong ke depan, hampir menelungkup, dan tiba-tiba badannya meluncur ke depan, cepat sekali, lengan bajunya yang kiri berkibar-kibar dan bergerak-gerak ke kanan kiri seperti seekor ular yang hidup.
Dan semua peluru yang kesasar dan menyambar ke arahnya, semua lenyap seperti tertelan atau tergulung oleh lengan baju itu, kemudian dengan gerakan yang bukan main gesitnya, dia mendekati Boan-wangwe dan ujung lengan baju yang seperti ekor naga itu bergerak-gerak di depan sumpit dan menggulung semua peluru yang disemburkan keluar, sampai akhirnya habislah peluru yang berada di mulut Boan-wangwe.
Boan-wangwe terkejut bukan main.
Pelurunya habis.
Tidak ada lagi yang boleh diandalkannya untuk menghadapi lawan-lawan yang amat sakti ini.
Baru menghadapi pemuda rambut putih yang disangkanya tentu Siluman Kecil itu saja, dia sudah kewalahan dan tak mungkin bisa menang, sekarang muncul lagi orang aneh ini yang dengan lengan baju yang kosong dapat membikin peluru-pelurunya yang ampuh dan berbahaya itu mati kutu sama sekali!
Laki-laki tampan dan gagah perkasa itu ternyata memang hanya berlengan satu.
Lengan kirinya buntung, maka lengan baju kirinya itu kosong.
Akan tetapi hebatnya, justeru lengan baju yang kosong inilah yang amat lihai, yang seolah-olah merupakan ekor naga yang hidup dan mampu menangkap peluru-peluru berbahaya itu.
Dengan sikap tenang, orang itu menggunakan tangan kanannya mengambil peluru-peluru kecil yang tergantung oleh lengan baju kirinya, memberikannya kepada Boan-wangwe.
sambil berkata dengan suara penuh teguran.
"Terimalah kembali peluru-pelurumu! Akan tetapi jangan begltu kejam lagi untuk menghamburkan barang-barang beracun yang keji ini di tempat umum. Lihatlah orang-orang itu yang menjadi korban. Engkau harus mengobati mereka."
Boan-wangwe menerima peluru-pelurunya tanpa berkata-kata, masih terkejut sekali menyaksikan orang-orang yang begini sakti.
Si lengan buntung itu melirik ke arah Siluman Kecil yang sedang berjongkok memeriksa wanita baju hijau dan suhengnya yang masih pingsan.
Dia sudah memeriksa dan maklum bahwa mereka itu benar saja menjadi korban racun jarum-jarum halus, akan tetapi racunnya amat aneh dan dia tidak mampu mengobati mereka.
Melihat kekejaman orang yang menyebar jarum halus beracun yang amat keji itu, marahlah Siluman Kecil dan dia menoleh untuk memandang kepada Boan-wangwe dengan geram.
Akan tetapi pandang matanya bertemu dengan sinar mata yang mencorong seperti mata naga, yaitu mata laki-laki yang buntung lengan kirinya itu.
Keduanya kelihatan terkejut sekali, karena si lengan satu itu pun melihat sinar mata yang amat tajam berkilat dari mata pemuda berambut putih itu.
Dari pandang mata ini saja keduanya maklum bahwa masing-masing memiliki kesaktian yang hebat, karena hanya mata orang-orang yang telah memiliki tenaga sakti amat kuat sajalah yang mengeluarkan sinar seperti itu.
Laki-laki berlengan buntung itu bukan hanya terkejut melihat sinar mata berkilat dari Siluman Kecil, Juga dia terkejut dan kagum sekali karena sama sekali tidak mengira bahwa orang berambut putih yang memiliki kepandaian demikian dahsyatnya, yang memiliki gerakan yang demikian cepat dan mujijatnya, ternyata masih amat muda.
Hal ini dapat dia lihat dari sebagian muka yang tidak tertutup oleh rambut putih riap-riapan itu.
Tadinya melihat kelihaian orang itu dan melihat rambutnya yang putih, dia mengira bahwa tentu orang itu sudah tua dan merupakan seorang lo-cianpwe yang sakti.
Siapa mengira bahwa orang itu ternyata masih amat muda, hanya rambutnya yang sudah putih semua.
Siluman Kecil sebaliknya terkejut dan kagum karena orang yang lengannya buntung sebelah itu memiliki sinar mata yang mencorong seperti mata harimau atau naga.
Sejenak mereka beradu pandang, akhirnya keduanya mengangguk, terdorong oleh rasa kagum dan hormat.
"Sungguh hebat sekali ilmu kepandaian saudara, terutama ilmu ginkang tadi. Saya amat kagum melihatnya,"
Kata laki-laki berlengan sebelah itu.
"Hemmm.... tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan kepandaian saudara!"
Jawab Siluman Kecil sambil menggerakkan kepala sehingga makin banyak rambutnya yang menutupi muka, dan dia bangkit berdiri.
"Ah, saudara terlalu merendahkan diri,"
Kata Si lengan satu.
"Tidak, saya berkata sungguh-sungguh. Caraku menghadapi peluru-peluru tadi hanya dengan mengelak terus sambil mencari kesempatan untuk membekuknya. Akan tetapi saudara telah langsung menghadapi peluru-peluru tadi dan merampas semua peluru sebelum meledak. Cara saya tadi menimbulkan korban kepada orang-orang lain ketika peluru meledak, tentu saja cara saudara lebih tepat dan lebih baik. Ilmu saudara tadi sungguh mengagumkan!"
Kembali Siluman Kecil menjura dengan setulus hatinya karena harus dia akui bahwa selain Sin-siauw Seng-jin kakek yang mewarisi ilmu-ilmu dari Suling Emas, belum pernah dia bertemu orang yang kepandaiannya sehebat si lengan satu ini.
"Ah, saudara terlalu memuji dan terlalu merendahkan diri, sungguh makin mengagumkan hati saya!"
Kata Si lengan satu sambil memandang penuh selidik dan benar-benar merasa kagum sekali.
Siluman Kecil tidak mengacuhkannya lagi dan dengan langkah lebar dia menghampiri Boan-wangwe, berkata dengan nada mengancam.
"Manusia kejam! Kalau engkau tidak lekas mengeluarkan obat penawar racunmu yang jahat, jangan katakan aku kejam kalau terpaksa aku akan melumatkan kepalamu!"
"Dan aku pun tidak akan tinggal diam sebelum kau mengobati mereka sampai sembuh!"
Kata pula Si lengan satu sambil menghampir Boan-wangwe. Bekas bajak sungai yang lihai ini bukan orang bodoh untuk melawan dua orang sakti ini.
"Baiklah,"
Katanya dengan suara berat.
"Aku pun tidak bermaksud membunuh orang karena pertempuran ini hanya disebabkan oleh urusan kecil saja!"
Dia lalu mengeluarkan sebuah guci arak dan setelah dia menggunakan saputangan yang dibasahi dengan obat dari dalam guci itu untuk menggosok-gosok bagian yang terkena jarum halus dan meneteskan sedikit obat di lubang hidung mereka yang menjadi korban, orang-orang yang tadinya pingsan itu berbangkis beberapa kali dan sadar kembali.
Melihat ini, Siluman Kecil yang tidak ingin dirinya menjadi pusat perhatian, menyelinap pergi dengan cepat.
Pula, dia ingin cepat-cepat memenuhi tantangan Ang-siocia dan mencari pencuri pusaka yang agaknya ditinggal oleh Sin-siauw Seng-jin itu di pantai Po-hai.
Dia mendengar suara orang berlengan sebelah memanggilnya, akan tetapi dia malah mempercepat larinya karena justeru dia tidak ingin dikenal oleh orang gagah itu.
Setelah semua korban disembuhkan, baru laki-laki berlengan buntung itu membiarkan Boan-wangwe bersama para anak buahnya pergi meninggalkan warung.
Derap kaki kuda mereka terdengar berisik ketika mereka rneninggalkan warung Diam-diam Boan-wangwe menyadari betapa pentingnya golongan mereka untuk bersatu, mengingat demikian banyaknya orang-orang sakti yang menentang mereka.
Sementara itu, suheng dan sumoi bersama lima orang pengiringnya itu segera menghaturkan terima kasih kepada si lengan satu, kemudian juga bergegas pergi meninggalkan warung setelah dengan royal mengganti semua harga makanan dan mengganti semua harga barang-barang yang rusak akibat pertempuran itu kepada si pemilik warung.
Tentu saja pemilik warung menjadi girang sekali dan dalam kesempatan itu dia dapat menarik keuntungan yang tidak sedikit, karena tentu saja dia naikkan semua harga barang yang diganti oleh wanita baju hijau itu.
Kini warung itu menjadi sunyi kembali.
Yang tinggal hanyalah laki-laki tampan berlengan sebelah tadi.
Bersikap seolah-olah tidak pernah terjadi hal-hal hebat di warung itu, laki-laki ini lalu memilih tempat duduk di sudut, di mana meja dan bangkunya masih utuh dan dia memanggil si pemilik warung.
Orang ini bergegas menghampiri karena maklum bahwa pendekar berlengan satu ini merupakan seorang di antara golongannya, di samping Siluman Kecil yang telah pergi lebih dulu.
"Taihiap hendak memerintah apakah?"
Tanya si pemilik warung dengan sikap merendah.
"Lopek, harap buatkan masakan untukku. Masakan apa sajakah yang dapat kau sediakan?"
"Wah, untuk Taihiap saya sanggup masak apa saja. Akan tetapi, warung kami ini teristimewa menyediakan hidangan-hidangan dari ikan sungai."
"Nah, kalau begitu buatkan goreng udang bumbu tomat lima porsi, ikan lele ditim lima porsi, panggang telur ikan dua porsi, masak kuah daging kepiting lima porsi, ang-sio-hi dua porsi besar, bakso daging ikan satu panci, masak sirip ikan campur sarang burung dan telur dua porsi. Jangan lupa bumbu dan acarnya! Dan bakmi telur lima porsi!"
"Baik.... baik....!"
Pemilik warung mengangguk-angguk, sungguhpun di dalam hatinya merasa heran sekali mengapa ada satu orang memesan masakan demikian banyaknya!
Akan tetapi tentu saja dia tidak berani membantah.
Bukankah pendekar ini telah mendatangkan keuntungan besar sekali baginya, di samping menyelamatkannya?
Andaikata tidak dibayar semua masakan yang dipesan itu sekalipun, dia rela memberikanya sebagai tanda terima kasih!
Bergegas dia lari ke dapur untuk memimpin sendiri masakan besar itu.
Karena di situ tidak ada tamu lain sedangkan semua tenaga dikerahkan untuk melayani laki-laki berlengan buntung itu, maka terdengarlah kesibukan di dalam dapur, suara golok mencacah daging beradu dengan kayu landasan, suara api bergemuruh, suara minyak mendidih dan alat masak beradu dengan wajan berkerontangan.
Sementara itu, laki-laki berlengan buntung itu duduk termenung.
Siapakah laki-laki ini?
Para pembacacerita Kisah Sepasang Rajawali tentu sudah dapat menduganya dengan tepat siapa adanya laki-iaki tampan yang berlengan buntung sebelah ini.
Dia adalah Kao Kok Cu, putera sulung Jenderal Kao Liang, murid Go-bi Bu Beng Lojin yang terkenal de-ngan sebutan Si Dewa Bongkok.
Seperti telah diceritakan dalamcerita Kisah Sepasang Rajawali, Kao Kok Cu berjodoh dengan Ceng Ceng atau nama lengkapnya Wan Ceng atau Lu Ceng, puteri dari mendiang Wan Keng In dan Lu Kim Bwee, adik angkat dari Puteri Syanti Dewi.
Setelah bertemu dengan Ceng Ceng, mereka menikah dan Kao Kok Cu mengajak isterinya kembali ke Istana Gurun Pasir, istana tempat tinggal gurunya di gurun pasir Go-bi di mana mereka hidup rukun dan damai, penuh kasih sayang dan sudah menjauhkan diri dari urusan dunia ramai.
Di dalam cerita Kisah Sepasang Rajawali telah diceritakan bahwa Kao Kok Cu ini sejak kecil hilang karena tersesat di gurun pasir dan ditolong kemudian dipelihara dan dididik oleh gurunya.
Setelah dewasa, barulah dia kembali ke selatan mencari orang tuanya dan dalam perjalanan ini dia berjumpa dengan Ceng Ceng, Jatuh cinta dan setelah mengalami banyak lika-liku dalam pengalaman hidup yang amat hebat, sehingga dia terpaksa menyembunyikan mukanya di balik topeng yang membuat dia dikenal sebagai Topeng Setan, dan dia kehilangan lengan kirinya ketika membantu Ceng Ceng mencari obat, yaitu anak ular naga, akhirnya dapat juga dia dan Ceng Ceng bersatu sebagai suami isteri yang saling mencinta.
Akan tetapi, memang segala sesuatu tidak ada yang kekal di dunia ini.
Keadaan kehidupan setiap orang manusia selalu berubah.
Yang berada di atas setiap waktu bisa saja tergelincir ke bawah, sebaliknya yang berada di bawah juga bisa saja sewaktu-waktu naik ke atas.
Oleh karena itu, tentu saja keliru kalau orang menjadi besar kepala dan sombong selagi dia berada di atas, sama kelirunya dengan orang yang menjadi putus asa selagi dia berada di bawah.
Hanya orang yang wajar dan tidak mengharapkan apa-apa saja yang akan selalu merasa gembira dan bahagia, kalau dia berada di atas, dia tidak khawatir akan tergelincir ke bawah dan kalau dia berada di bawah, dia pun tidak membabi buta mengejar-ngejar tempat yang lebih tinggi.
Kalau dia berada di atas, dia tidak menginjak yang berada di bawah, dan kalau dia berada di bawah, dia tidak pula menjilat yang berada di atas!
Keadaan suami isteri Kao Kok Cu dan Ceng Ceng, yang menjadi majikan dan keluarga Istana Gurun Pasir, yang hidup selama beberapa tahun dalam keadaan tenteram dan rukun, kemudian mereka dikaruniai seorang anak laki-laki yang sehat dan mungil, menjadi berubah sama sekali ketika putera mereka itu pada suatu hari lenyap tanpa meninggalkan jejak!
Peristiwa ini seketika menghancurkan semua ketenangan hidup suami isteri itu, Dan mau tidak mau terpaksa mereka harus meninggalkan Istana Gurun Pasir untuk pergi merantau dan mencari putera mereka dan lenyap!
Itulah sebabnya mengapa pada hari itu majikan Istana Gurun Pasir, Kao Kok Cu yang dikenal sebagai Si Naga Sakti itu berada di kota An-yang, dan kebetulan sekali dia melihat pertempuran di dalam warung dan membantu Siluman Kecil menundukkan Boan-wangwe.
Untuk lebih teliti dan mencari jejak putera mereka yang hilang, kemarin dia berpisah dari isterinya, masing-masing mengambil jalan sendiri dan mereka berjanji akan bertemu hari ini di An-yang.
Dia sendiri sejak kemarin telah menyelidik tanpa hasil dan kini semua peristiwa tadi telah dilupakannya karena pikirannya sudah penuh lagi dengan urusan lenyapnya puteranya yang membuat pendekar ini duduk termenung.
Bahkan ketika semua hidangan yang dipesannya telah diatur di atas meja di depannya, pendekar ini masih saja duduk termenung, tidak mempedulikan masakan-masakan yang masih mengepulkan uap dengan baunya yang sedap menyergap hidung dan melayang-layang tercium oleh mereka yang berada di luar warung.
Melihat betapa pendekar itu mendiamkan saja masakan yang sudah dipersiapkan dengan susah payah itu, si pemilik warung yang seperti juga pemilik warung mana saja di dunia ini ingin sekali melihat tamunya menikmati hidangannya dan sejak tadi menanti dengan pandang mata berseri-seri penuh kebanggaan, menjadi tidak sabar dan dia menghampiri pendekar itu.
"Taihiap, masakan sudah siap semua. Silakan Taihiap makan dan menikmatinya selagi masih panas, karena kalau keburu dingin tentu kurang sedap."
Akan tetapi, dengan sikap tak acuh dan kurang semangat, Kao Kok Cu menjawab.
"Biarlah, aku memang sedang menanti isteriku. Sebentar lagi dia tentu akan datang. Tidak mengapalah kalau masakan-masakan itu menjadi sedikit dingin."
Dengan mengangkat pundak penuh rasa kecewa si pemilik warung terpaksa mundur dan duduk di belakang menjaga mejanya, akan tetapi kini berkurang keheranannya mengapa pendekar itu memesan masakan begitu banyak.
Ternyata pendekar itu menanti kedatangan isterinya dan tentu juga keluarga lainnya.
Seorang pengemis kecil berusia kurang lebih sepuluh tahun memasuki warung itu.
Para pelayan dan pemilik warung itu sudah hampir mengusirnya ketika pendekar itu dengan ramah berkata.
"Anak, kau mau apakah?"
Pengemis itu cengar-cengir, hidungnya kembang kempis karena bau masakan yang sedap itu sungguh seperti tangan-tangan jahil yang meremas-remas isi perutnya yang kosong.
"Saya.... saya mohon dikasihani, minta sedikit uang pembeli nasi...."
Katanya. Si Naga Sakti memandang bengong sejenak, kemudian dia menggeleng kepala.
"Aku tidak pernah membawa uang, dan isteriku yang membawa uang belum datang. Apakah kau lapar?"
Jembel kecil itu mengangguk dan matanya memandang ke arah piring-piring berisi masakan yang masih mengepulkan uap dan yang berjajar menantang di atas meja itu.
Kao Kok Cu lalu berkata sambil melihat kaleng yang dibawa oleh anak pengemis itu.
"Kesinikan kalengmu itu."
Si pengemis dengan girang menyerahkan kalengnya dan Kao Kok Cu lalu mengisi kaleng itu penuh dengan beberapa macam masakan dan bakmi, lalu menyerahkannya kembali kepada anak itu.
"Terima kasih.... terima kasih...."
Anak itu menyambut kaleng yang telah penuh makanan dan separuh berlari dia ke luar dari warung itu dengan wajah berseri dan mata bersinar-sinar penuh kegembiraan.
Akan tetapi, tak Lama kemudian masuklah seorang anak pengemis lainnya sambil menodongkan kaleng kosongnya.
Kao Kok Cu menerima kaleng kosong itu, meletakkannya di atas meja dan kembali mengisinya dengan masakan.
Anak itu menghaturkan terma kasih, dan datang pula seorang anak lain.
Kiranya peristiwa itu telah memancing datangnya hampir semua jembel kecil di kota An-yang itu yang jumlahnya tidak kurang dari dua puluh orang anak!
Tentu saja, setelah semua orang pengemis kecil itu menerima bagiannya, semua masakan di atas meja telah habis sama sekali!
Para pelayan memandang dengan mata terbelalak dan si pemilik warung membanting-benting kakinya, akan tetapi sama sekali dia tidak berani melarang atau mencegah karena melihat pendekar itu membagi-bagi makanan dengan wajah terharu, kemudian tersenyum ketika dia melihat anak-anak itu makan sambil tertawa-tawa di emper warung, dan kadang-kadang mereka menoleh ke dalam, memandangnya seperti mata anjing-anjing yang baru saja diberi makan dan dibelai oleh majikannya.
Pandang mata yang jelas membayangkan rasa gembira dan terima kasih yang mendalam.
"Terima kasih, Siauw-ya! Terima kasih, Siauw-yang! Terima kasih, Siauwya!"
Anak-anak itu bersorak-sorak dan berteriak-teriak dari luar warung, ada yang bertepuk tangan dan ucapan terima kasih itu mereka nyanyikan dalam paduan suara penuh kegembiraan.
Akan tetapi, Kao Kok Cu hanya tersenyum dan memandang keluar karena dia melihat dua orang wanita berjalan menuju ke warung itu.
Seorang wanita yang cantik jelita dan gagah perkasa, dan yang paling cantik di antara seluruh wanita di dunia ini bagi Kao Kok Cu yang mencintanya karena wanita itu adalah Wan Ceng atau Lu Ceng, atau lebih terkenal dengan sebutan Ceng Ceng, isterinya!
Dan wanita ke dua adalah seorang dara remaja yang cantik jelita pula, berpakaian serba hitam sehingga menonjolkan kulitnya yang putih halus itu.
Dara jelita itu adalah Kim Hwee Li, murid dari isterlinya, atau puteri dari Hek-tiauw Lo-mo majikan Pulau Neraka!
Ketika Ceng Ceng yang wajahnya agak pucat dan muram karena selalu memikirkan nasib puteranya dengan hati gelisah itu melihat suaminya menjamu para jembel kecil demikian banyaknya sehingga semua masakan di atas meja telah ludes, dia menegur.
"Hemmm, apa pula yang kau lakukan ini?"
"Wah, kedatanganmu terlambat, isteriku. Makanan yang kupesan telah dihabiskan oleh tamu-tamu kita itu. Engkau terlambat sekali sih!"
Dia membalas teguran isterinya.
Ceng Ceng mengerutkan alisnya dan memandang kepada suaminya dengan gemas.
Kelakuan suaminya memang aneh, akan tetapi kadang-kadang juga membikin hatinya mengkal, seperti sekarang ini.
Dia berjanji akan bertemu dengan suaminya di kota An-yang ini, dan setelah bertemu dan perutnya lapar sekali, suaminya menyambutnya dengan piring-piring kosong karena semua masakan telah diberikan habis kepada pengemis-pengemis kecil itu!
Hati siapa tidak akan men-dongkol?
Melihat gurunya yang cantik itu cemberut dan marah, Hwee Li tertawa dan menutupi mulutnya dengan tangan seperti menyaksi-kan hal yang lucu sekali.
"Wah, Suhu telah membikin pusing lagi kepada Subo! Hi-hik, Suhu harus didenda dengan minuman tiga cawan arak sebagai tambahan minta ampun kepada Subo! Kalau tidak, Subo akan marah terus!"
"Hwee Li, jangan main-main kau!"
Ceng Ceng membentak muridnya yang menahan ketawa dan duduk di dekat meja.
Akan tetapi, Kao Kok Cu memandang ke luar, kepada seorang pengemis muda yang duduk di emper rumah di seberang jalan.
Dia ingat bahwa pengemis yang satu itu belum memperoleh bagian tadi, maka dia lalu menegur kepada pengemis-pengemis cilik yang berada di dekat pintu warung.
"Heiii, kenapa temanmu yang di seberang jalan itu tidak kalian beri bagian makanan?"
"Ah, Siauw-ya, apakah Siauw-ya maksudkan dia yang duduk di sana itu? Dia adalah Siauw-ong-ya, mana dia mau? Dia tidak pernah minta-minta, kalau kami beri tentu kami semua akan dihajar. Kami tidak berani!"
Tentu jawaban ini membuat Kao Kok Cu, Ceng Ceng dan Hwee Li merasa heran sekali dan mereka bertiga lalu memandang ke arah pengemis muda yang disebut Siauw-ong-ya oleh para pengemis kecil itu.
Dan seolah-olah tahu bahwa dirinya menjadi pusat perhatian, pengemis muda itu bangkit berdiri, menghadap ke arah warung dan mulutnya berkemak-kemik.
Tiga orang keluarga sakti itu mendengar dengan jelas suaranya yang bergema.
"Terima kasih atas perhatian Siauw-ya kepada saya. Akan tetapi tidak perlu Siauw-ya mempedulikan saya. Saya sudah merasa bersyukur dan berterima kasih sekali bahwa Siauw-ya mau mengasihani kawan-kawan saya."
Lalu dia berteriak kepada para pengemis kecil itu.
"Hei, anak-anak, hayo haturkan terima kasih sekali lagi dan cepat pergi, jangan mengganggu terus."
Anak pengemis itu ternyata amat mentaati seruan pengemis muda itu.
Mereka beramai-ramai menyatakan terima kasih mereka kepada Kao Kok Cu, lalu menjura dan berlari-larian pergi dari tempat itu seperti sekawanan burung yang beterbangan bebas dan gembira.
Pengemis muda itu sendiri pun melenggang seenaknya meninggalkan emper rumah di seberang jalan itu.
"Hemmm, lagaknya! Kaum jembel pun mempunyai raja segala! Dan bocah itu raja mudanya! Hi-hik, kalau tidak melihat sendiri siapa percaya?"
Hwee Li berkata sambil tertawa geli.
"Husss!"
Ceng Ceng menegur muridnya.
"Jangan kau bicara sembarangan, Hwee Li. Apakah kau tidak melihat kenyataan bahwa pengemis muda itu bukan orang sembarangan? Semuda itu dia sudah pandai mengirim suara dari jauh dan khikangnya cukup kuat."
Dengan cepat Ceng Ceng lalu memesan makanan kepada pemilik warung yang melayaninya dengan penuh perhatian.
"Bagaimana hasil penyelidikanmu? Sudah mencium jejak?"
Tanya Ceng Ceng kemudian kepada suaminya. Kok Cu menggeleng kepala.
"Belum...."
Jawabnya dengan wajah muram dan sepasang matanya kini melayang jauh, mengikuti anak-anak pengemis yang pergi dari situ.
Isterinya juga memandang kepada anak-anak itu, maklum akan isi hati suaminya, dan kini dia mengerti mengapa suaminya tadi menjamu anak-anak pengemis itu.
Tentu suaminya teringat akan anak mereka yang hilang dan sampai sekarang belum dapat mereka temukan jejaknya, membayangkan betapa anak mereka itu mungkin juga terlantar dan kelaparan seperti anak-anak pengemis itu!
Ceng Ceng merasa lehernya seperti dicekik dan hanya kekerasan hatinya yang luar biasa sajalah yang mampu membuat dia menahan jatuhnya air matanya.
Mereka berdua telah bersusah payah mencari-cari di seluruh padang pasir.
Dalam penyelidikan mereka, anak mereka itu bukan hilang diculik orang karena yang nampak dari dalam istana mereka sampai di luar, hanya tapak kaki anak mereka, tidak nampak tapak kaki orang lain.
Tapak kaki anak mereka itu menuju ke luar dan tentu saja tak lama kemudian tapak kaki itu lenyap diratakan lagi oleh angin sehingga mereka tidak mampu menemukan jejak anak mereka.
Agaknya anak itu bermain-main di luar, lalu bermain-main terlalu jauh dan tersesat, tidak mampu pulang kembali.
"Hemmm, sungguh mengherankan sekali. Kenapa anak kita mengalami peristiwa yang sama dengan pengalamanku ketika masih kecil? Aku dulu juga hilang di gurun pasir ketika masih kecil dan ayahku tidak berhasil menemukan. Baru setelah aku berusia dua puluh lima tahun aku dapat bertemu lagi dengan ayah dan keluargaku. Jangan-jangan Liong-ji (Anak Liong) juga...."
"Jangan kau bicara demikian, suamiku!"
Ceng Ceng cepat memotong kata-kata suaminya yang menusuk perasaannya dan menimbulkan kekhawatiran besar didalam hatinya.
"Kita harus mencari sampai dapat dan aku yakin kita akan dapat menemukan kembali Cin Liong!"
"Ucapan Subo benar sekali!"
Hwee Li berkata dengan wajahnya yang tetap berseri cerah dan gembira.
"Tidak mungkin ada orang lenyap begitu saja seperti ditelan bumi! Kita pasti akan dapat menemukan kembali Adik Cin Liong, dan teecu (murid) akan menjelajahi seluruh dunia golongan hitam untuk menyelidiki kalau-kalau di antara mereka ada yang melihat putera Subo."
Ucapan dan sikap Hwee Li amat menghibur suami isteri yang sedang kebingungan dan dilanda kegelisahan itu, Namun tetap saja hidangan masakan di depan mereka itu hampir tidak dapat tertelan kalau mereka mengingat betapa anak mereka yang hilang itu usianya baru empat lima tahun dan betapa akan sengsaranya bagi anak sekecil itu untuk merana seorang diri, apalagi perginya dari Istana Gurun Pasir itu melalui padang pasir yang luas, panas dan amat berbahaya!
Pagi yang cerah.
Sinar matahari yang masih menciptakan bayangan-bayangan panjang memuntahkan cahayanya dengan langsung ke bumi, tanpa halangan awan karena langit nampak biru muda dan bersih sekali, bersih dan amat tinggi.
Sinar matahari di saat itu mengandung daya hidup yang mukjijzat di dalam kehangatan yang tidak terlalu panas, namun kehangatan yang dapat menembus apa saja dan memberi daya hidup kepada bumi dan apa saja yang berada di permukaannya.
Awan-awan putih yang agaknya menjauh, tidak berani menghalangi berkah yang berlimpahan itu berarak di angkasa, bergerak perlahan-lahan seperti bermalas-malasan, namun semua gerakan itu teratur rapi dan selalu berubah bentuknya, seolah-olah ada tangan gaib yang mengatur awan-awan itu, memilih dan memisah-misahkannya, mengumpul-ngumpulkannya, untuk digiring ke tempat yang membutuhkan hujan kelak.
Tidak ada angin berkelisik.
Daun-daun yang bermandikan cahaya matahari nampak kekuningan seperti bermandikan cahaya keemasan, berseri-seri mengelilingi bunga-bunga yang mencuat di sana-sini, dan kupu-kupu bersayap kuning dan putih menyemarakkan suasana yang penuh dengan suka cita di pagi hari itu.
Berkelompok-kelompok kecil burung-burung terbang lewat di udara tanpa suara, menuju ke sawah ladang di mana terdapat makanan berlimpah bagi mereka.
Orang-orang yang berpakaian seperti penduduk dusun, membawa bermacam-macam barang dagangan hasil kebun mereka, berlalu-lalang di jalan raya itu pergi ke dan pulang dari kota An-yang yang menjadi pasar bagi barang dagangan hasil bumi mereka.
Yang berangkat dan memikul barang dagangan, kelihatan tergesa-gesa dan berjalan separuh berlari tanpa bicara, akan tetapi yang pulang ke dusun berjalan seenaknya sambil meng-obrol membicarakan hasil penjualan mereka dan belanjaan mereka.
Siluman Kecil yang sudah keluar dari pintu gerbang kota An-yang, kini berdiri di luar tembok kota, memandang air yang mengalir di tepi tembok.
Air itu memasuki kota dari sebelah barat dan keluar dari selatan.
Ketika memasuki kota, air itu bersih dan jernih, akan tetapi setelah keluar dari kota, Air itu menjadi keruh, penuh dengan sampah-sampah dan segala kekotoran kota yang dicampakkan ke dalamnya.
Kekeruhan air ini tidak akan berlangsung lama, karena beberapa mil jauhnya setelah meninggalkan kota, air sungai itu sudah akan menjadi jernih kembali.
Melihat setangkai daun hijau yang agaknya rontok sebelum waktunya hanyut pula di air itu, Siluman Kecil mengikutinya dengan pandang matanya dan dia menarik napas panjang.
Keadaannya seperti daun itu.
Daun muda yang sudah hanyut seorang diri mengikuti ke mana air mengalir.
Tidak tahu akan apa jadinya dengan dirinya.
Seperti juga dia!
Hanya mengikuti jalan peristiwa yang dijumpainya di jalan hidupnya.
Siluman Kecil termenung dan tiba-tiba perhatiannya tertarik oleh suara orang wanita yang cukup nyaring .
"Kun Cu Souw Ki Wi Ji Heng. Put Goan Houw Ki Gwee!"
Siluman Kecil mengerutkan alisnya.
tentu saja dia hafal pula akan ujar-ujar itu karena dia pernah mempelajari semua pelajaran dari Nabi Khong Cu.
Dia masih ingat bahwa ujar-ujar yang dinyanyi-kan mulut wanita itu adalah ujar-ujar dalam kitab Tiong Yong, ayat pertama dari bagian ke tiga belas, yang berarti .
"Seorang kongcu (budiman) bertindak sesuai dengan kedudukannya, tidak menginginkan hal-hal di luar dari kedudukannya."
Siluman Kecil menarik napas panjang.
Dia telah mengalami banyak sekali hal-hal yang amat pahit dalam kehidupannya dan kalau direnungkan secara mendalam, memang karena manusia menginginkan hal-hal yang tidak ada padanya, menginginkan sesuatu yang belum ada, yang tidak dimilikinya, yang berada di luar jangkauannya, dan KEINGINAN inilah yang menjadi biang keladi segala macam penyakit dan kesengsaraan hidup.
Dia menarik napas panjang lagi.
Sesungguhnyalah, bukan hanya seperti yang disadari oleh Siluman Kecil bahwa keinginan menjadi biang keladi kesengsaraan hidup.
Bahkan keinginan itulah yang membuat kita kehilangan kesbahagiaan!
Betapa tidak?
Keinginan membuat mata kita buta terhadap segala keindahan yang telah kita miliki.
Keinginan membuat kita meremehkan dan tidak dapat melihat keindahan yang sudah berada pada kita.
Contohnya .
Biarpun kita telah memegang sebutir buah apel di dalam tangan, namun kalau kita menginginkan buah anggur yang belum ada, mata kita seperti buta akan kelezatan buah apel yang sudah berada di tangan, menganggapnya tidak enak dan tidak memuaskan dan yang paling memuaskan adalah buah anggur yang kita inginkan, yang belum ada itulah!
Karena itu mari kita mencoba untuk membuka mata dan melihat segala sesuatu yang sudah ada pada kita, melihat keindahannya, tanpa membanding-bandingkan dengan yang belum ada, tanpa membayangkan yang lain-lain, Maka kita akan melihat keindahan dan akan terbuka mata kita bahwa sesungguhnya selama ini kita hanya diombang-ambingkan oleh pikiran kita yang selalu haus akan hal-hal yang belum ada pada kita!
Kita selalu beranggapan bahwa kebahagiaan berada di sana, yang harus kita kejar-kejar, sama sekali kita tidak pernah mau melihat, apa yang berada di sini, yang sudah ada pada kita.
Kita seperti mengejar-ngejar bayangan kita, biar dikejar sampai selama hidup pun tidak akan dapat tersusul, kita tidak pernah mau berhenti dan menyelidiki apa gerangan bayangan itu, lupa bahwa bayangan itu adalah kita sendiri, karena kitalah yang menciptakan bayangan yang kita kejar-kejar itu!
Siluman Kecil sadar kembali dari lamunannya ketika dia mendengar suara tadi bernyanyi terus.."Cai Shang Wi, Put Leng He.
Cai He Wi, Put Wan Shang."
Siluman Kecil mengangguk-angguk, menterjemahkan ujar-ujar itu dalam hatinya.
"Dalam kedudukan tinggi, dia tidak menghina yang di bawah. Dalam kedudukan rendah, dia tidak menjilat yang di atas. Betapa sukarnya mencari seorang kuncu (budiman) seperti itu! Sudah lajim di dunia ini, orang selalu memandang rendah kepada orang-orang yang lebih rendah kedudukannya daripada kita, kita suka menginjak dan meremehkan orang-orang yang berada di bawah kita, kita merasa jijik kepada kaum jembel, kita menjebikan bibir terhadap orang-orang miskin dan papa, kita merendahkan mereka yang bekerja kasar dan yang kedudukannya jauh lebih rendah daripada kita. Sebalikya, sudah menjadi KESOPANAN masyarakat bahwa kita selalu bersopan santun kepada orang-orang yang tinggi kedudukannya, kita bermanis muka kepada orang-orang kaya, kita menjilat-jilat kepada pejabat tinggi. Betapa palsunya kita ini! Betapa kejamnya kita ini! Namun kita marah kalau dinyatakan bahwa kita tidak memiliki perikemanusiaan!"
Siluman Kecil makin dalam tenggelam dalam renungannya.
Dia mengenal ujar-ujar itu yang merupakan ayat ke tiga dari bagian ke tiga belas itu, dan dia masih ingat pula akan bagian selanjutnya, yang berbunyi.
"Dia memperbaiki diri sendiri dan tidak mencari kesalahan orang lain, maka dia tidak mempunyai penyesalan apa pun. Ke atas dia tidak menyalahkan Thian dan ke bawah dia tidak menyalahkan manusia lain."
Setelah suara itu berhenti bernyanyi, Siluman Kecil menoleh.
Timbul keinginan tahunya untuk melihat siapa gerangan yang di tempat seperti itu menyanyikan ujar-ujar yang mengandung sari pelajaran amat tinggi itu.
Dan dia tertegun.
Di bawah sebatang pohon yang rindang nampak seorang nenek tua sedang duduk di atas tanah berumput, menghadap barang dagangannya yang bertumpuk di atas tikar terhampar.
Seorang nenek tua penjual sepatu rumput rupanya!
Dan nenek itulah yang tadi bernyanyi.
Memang harus diakui bahwa ujar-ujar dari Nabi Khong Hu Cu dikenal oleh semua orang yang pernah bersekolah, sungguhpun sebagian besar orang hanya mengenalnya sebagai ujar-ujar belaka tanpa menghayati isinya, tanpa meneliti diri sendiri apakah ujar-ujar yang setiap hari keluar dari mulutnya, terus-menerus diulang-ulanginya itu ada pula terkandung dalam langkah hidupnya sehari-hari.
Akan tetapi, mendengar ujar-ujar itu dinyanyikan oleh seorang nenek penjual sepatu rumput, dinyanyikan di tempat seperti itu, yaitu di luar kota di bawah pohon, sungguh merupakan hal yang amat janggal didengar.
Biasanya, ujar-ujar Nabi Khong Hu Cu atau ujar-ujar dari Agama Buddha hanya didengar di sekolah-sekolah, di kuil-kuil, atau dibicarakan di antara "orang-orang pandai"
Sebagai bahan untuk berbantahan dan mempertahankan pendirian dan pentafsiran masing-masing, dan diperalat untuk membanggakan kepintarannya!
Melihat nenek itu menghadapi dagangannya dan kelihatan sama sekali tidak laku, terbukti dari bertumpuknya sepatu rumput itu dan tidak ada seorang pun di antara orang-orang yang lalu-lalang itu menengok ke arah nenek itu, apalagi membeli dagangannya, Siluman Kecil merasa kasihan.
Nenek itu kelihatannya miskin, pandang matanya sayu, dan siapa tahu sudah berapa hari nenek itu tidak makan.
Tubuhnya begitu kurus!
Siluman Kecil cepat menghampiri dan berjongkok di depan dagangan nenek itu.
"Nenek, apakah ada sepatu yang ukurannya cocok untuk kakiku?"
Tanyanya, sambil memandang wajah keriputan itu.
Akan tetapi dari sinar matanya, Siluman Kecil tahu bahwa nenek itu agaknya tidak mengerti atau mungkin juga tidak mendengar.
Ketika nenek itu menaruh tangan di belakang daun telinganya, mengertilah dia bahwa nenek ini adalah seorang yang sudah berkurang pendengarannya atau agak tuli.
"Apakah ada yang cocok dengan ukuran kakiku?"
Tanyanya pula dengan suara lebih keras.
"Oh, tentu ada.... ada....! Nah, ini agaknya cocok!"
Nenek itu menyerahkan sepasang sepatu dan memandang wajah Siluman Kecil yang sebagian tertutup rambut putih penuh perhatian.
"Agaknya Kongcu akan pergi ke selatan juga! Memang lebih enak pakai sepatu rumput, apalagi di selatan sana banyak hujan. Lebih hangat memakai sepatu rumput."
Siluman Kecil mengukur sepatu itu dengan kakinya.
Memang cocok.
Agaknya pedagang sepatu ini sudah biasa mengira-ngira ukuran kaki orang yang datang membeli sepatunya.
"Berapa harganya?"
Dia bertanya.
"Memang banyak yang ke sana. Kemarin banyak orang muda yang membeli sepatu saya pula, mereka hendak pergi ke selatan,"
Jawab nenek itu dan Siluman Kecil baru sadar bahwa pertanyaannya yang kurang keras tadi telah didengar lain oleh Si Nenek, maka jawabannya pun kacau.
Dia mengeluarkan uang tembaga dan mengangkat sepatu itu.
"Harganya berapa?"
"Ohhh...."
Nenek itu tertawa dan nampak mulut yang ompong!
Setelah nenek itu memberi tahu harga sepatu yang hanya beberapa potong uang tembaga, Siluman Kecil membayarnya tanpa menawar.
Padahal dia tahu bahwa biasanya pedagang seperti ini menawarkan dagangannya dengan harga dua kali lipat dan biasanya fihak pembeli pasti juga menawar harga itu.
Nenek itu kelihatan girang menerima pembayaran Siluman Kecil dan berkata.
"Terima kasih. Mudah-mudahan Kongcu akan diterima menjadi perajurit."
"Apa? Perajurit apa?"
Siluman Kecil terheran mendengar itu.
"Eh, apakah Kongcu bukan hendak pergi ke selatan seperti mereka itu, untuk memasuki ujian penerimaan perajurit?"
"Hemmm, ada apakah di selatan sana?"
"Kongcu belum tahu? Kabarnya Gu-bernur Ho-nan sedang mengadakan ujian untuk menerima calon-calon perajurit pengawal. Gajinya besar, kedudukannya tinggi, dan mereka yang terpilih akan dijadikan pengawal gubernur, atau kalau untung malah bisa diangkat menjadi calon pengawal pribadi."
Tiba-tiba percakapan terhenti karena ada serombongan orang menghampiri nenek itu untuk membeli sepatu rumput.
Yang membeli sepatu hanya dua orang, yaitu seorang kakek bertubuh tinggi tegap dan seorang setengah tua yang sikapnya pendiam dan matanya bersinar tajam.
Sedangkan di belakang dua orang kakek ini terdapat sepuluh orang lain yang berpakaian ringkas dan sikapnya juga pendiam.
Kakek berusia enam puluhan tahun yang bertubuh tinggi tegap itu melirik ke arah Siluman Kecil dan pandang matanya tajam penuh selidik.
Siluman Kecil menundukkan muka, pura-pura memilih sepatu dan membiarkan rambutnya yang panjang itu menutupi mukanya seperti tirai.
Setelah memilih sepatu dan membayar harganya, kakek itu bertanya kepada si pedagang sepatu.
"Apakah banyak orang yang lewat ke sini dan menuju ke Ceng-couw, ibu kota Ho-nan?"
Suaranya besar, tegas dan berwibawa.
"Banyak sekali.... banyak orang-orang muda yang hendak melamar pekerjaan pengawal. Agaknya Sicu semua ini juga hendak ke sana?"
Kakek itu hanya menggumam, lalu bangkit berdiri dan bersama ternan-temannya meninggalkan tempat itu.
"Wah, sungguh banyak sekali yang ingin melamar sebagai pengawal,"
Kata Si Nenek.
"Tentu ramai sekali di Ceng-couw sana, wah, kalau aku bisa berdagang sepatu di sana, tentu laris sekali!"
"Kenapa kau tidak membawa sepatumu dan berdagang di sana saja?"
Kata Siluman Kecil sambil bangkit berdiri pula.
"Oh, jadi Kongcu juga ingin ke sana?"
Tanya nenek itu yang kembali salah dengar.
Siluman Kecil mengerutkan alisnya.
Repot juga bicara dengan seorang tuli.
Dia mengangguk-angguk sebagai jawaban, tidak mau lagi berteriak-teriak karena terdengar seperti orang cek-cok saja sehingga tentu akan banyak menarik perhatian mereka yang lewat di jalan itu.
Akan tetapi, jawabannya dengan anggukan itu membuat si nenek menjadi gembira dan nenek itu pun bangkit berdiri.
"Kalau begitu, sebaiknya Kongcu naik kuda ke sana! Mungkin besok pagi sudah dimulai ujian itu dan Kongcu tentu akan ketinggalan kalau berjalan kaki. Di sini terdapat seorang pedagang kuda yang bagus-bagus dan harganya pun murah. Dia masih keponakanku sendiri. Saya tinggal bersama dia di sana juga. Marilah kuantarkan Kongcu ke sana melihat-lihat. Baru kemarin dia pulang membawa dua ekor kuda peranakan Mongol yang amat baik."
"Tapi aku sudah biasa berjalan kaki, Nek. Aku tidak ingin membeli kuda."
Siluman Kecil hendak melangkah pergi, Akan tetapi dia melihat seorang pengemis muda duduk tak jauh dari tempat itu.
Wajah pengemis ini menarik hatinya karena wajah itu terlalu tampan untuk seorang pengemis, dan sinar mata pengemis ini tidak seperti para pengemis lainnya.
Semua pengemis selalu memiliki pandangan mata sayu, baik dibuat-buat atau tidak, akan tetapi sinar mata pengemis ini tajam berseri-seri dan sedikit pun tidak kelihatan duka terbayang di dalamnya!
Keadaan ini menimbulkan keharuan di hati Siluman Kecil dan dia lalu memberikan kelebihan uang pembeli sepatu tadi kepada si pengemis muda tanpa mengeluarkan kata-kata.
Pengemis itu menerima pemberian ini, membungkuk sedikit sebagai tanda terima kasih, akan tetapi mulutnya diam saja!
Bahkan ada ba-yangan keangkuhan di sinar matanya!
Siluman Kecil merasa makin heran dan tertarik.
"Kongcu akan menyesal setengah mati kalau tidak membeli kuda itu!"
Kembali nenek itu mendesak dan ketika Siluman Kecil menoleh, ternyata nenek itu sudah menggulung tikarnya dan membungkus semua sepatunya tanda bahwa dia sudah kukut (berkemas untuk pulang).
"Sudahlah, Nek. Aku tidak punya uang....eh, uangku tidak akan cukup untuk membeli seekor kuda peranakan Mongol yang bagus."
"Aaahhhhh, Kongcu sungguh merendah! Kongcu mempunyai banyak uang....eh, maksud saya, seorang seperti Kongcu yang melakukan perjalanan jauh tentu kaya raya, tentu Kongcu akan mampu membeli seekor kuda yang baik. Apakah Kongcu tidak rela memberi sedikit keuntungan kepada keluarga kami?"
Siluman Kecil terkejut.
Dia memang membawa banyak uang, pemberian seorang hartawan yang pernah dltolongnya, sebagai bekal dan terima kasih atat bantuannya.
Bagaimana nenek ini bisa tahu?
Akan tetapi, mungkin juga sebagai seorang pedagang, nenek ini memiliki pandangan tajam tentang hal itu.
Tertarik juga hatinya.
Memang selama ini banyak sekali hal-hal yang menarik hatinya.
Dia selalu tertarik oleh urusan orang-orang lain.
Apakah hal ini menunjukkan gejala bahwa dia sudah tidak tertarik lagi kepada diri sendiri?
"Baiklah, Nek.
Aku hendak melihat kuda yang kau puji-puji itu.
Akan tetapi tidak perlu kau mengemasi dagangan untuk mengantar aku.
Katakan saja di mana tempat keponakanmu itu, dan aku akan mencarinya sendiri ke sana.
Tidak perlu kau mengorbankan daganganmu yang menjadi tidak laku hanya untuk mengantarkan aku."
"Kongcu, biar saya yang mengantar Kongcu ke sana. Saya juga tahu tempat pedagang kuda itu. Bukankah yang Nenek maksudkan itu adalah Paman Ciok pedagang kuda di sebelah barat jembatan hijau itu?"
Tiba-tiba pengemis muda itu berkata. Nenek itu mengangguk dan mengerling ke arah Siluman Kecil.
"Benar di sana...."
"Kalau begitu, biar ia ini yang mengantarku, Nek. Terima kasih!"
Kata Silu-man Kecil dan dia lalu pergi bersama si pengemis muda.
Siluman Kecil makin tertarik kepada pengemis ini.
Sungguh tidak seperti pengemis-pengemis umumnya.
Memang pakaiannya penuh tambalan, akan tetapi pakaian itu bersih dan jelas bahwa pakaian itu belumlah begitu butut sehingga perlu ditambal-tambal.
Agaknya seperti pakaian yang masih baru akan tetapi sengaja ditambal-tambal!
Hal ini tentu saja mencurigakan hatinya dan membuat dia menjadi tertarik.
Jangan-jangan bocah pengemis ini mempunyai maksud tertentu dan sengaja mendekatinya, pikirnya.
Banyak sekali orang-orang yang memusuhinya di dunia ini, apalagi sejak dia dikenal sebagai Siluman Kecil dan banyak menolong orang-orang yang tertindas sehingga otomatis dia dimusuhi oleh mereka yang ditentangnya.
Akan tetapi, tentu saja dia tidak merasa gentar, hanya tertarik kepada pribadi pengemis cilik ini.
"Siapakah namamu?"
Pengemis itu terkejut, akan tetapi lalu menjawab dengan suara tenang.
"Na-ma saya Hong, dan orang-orang memanggil saya Siauw-hong (Hong Kecil)."
"Kenapa? Engkau tidak begitu kecil tubuhmu."
"Entahlah, Kongcu. Sejak kecil saya disebut Siauw-hong."
"Hemmm, di mana tempat tinggalmu?"
"Saya tidak mempunyai tempat tinggal."
"Dan ayah bundamu?"
Siauw-hong menggeleng kepala.
"Tidak punya."
Siluman Kecil mengerutkan alisnya, kemudian tiba-tiba dia berhenti, memegang pundak pengemis cilik itu dan menggunakan jari-jarinya untuk menotok jalan darah dekat leher, jalan darah kematian.
Pengemis itu terkejut, cepat dia miringkan tubuh sehingga pegangan itu meleset dan totokan itu luput.
"Ha, sudah kuduga. Engkau pandai ilmu silat tinggi!"
Siluman Kecil berseru.
"Dan Kongcu adalah Siluman Kecil!"
Pengemis cilik itu berkata.
"Hemmm, ternyata engkau bukan bocah pengemis sewajarnya, seperti pakaianmu yang tambal-tambalan akan tetapi bersih dan masih baru. Hayo katakan, mau apa engkau membayangi aku?"
Siluman Kecil menghardik. Pengemis muda itu menjura.
"Maafkan saya, Taihiap. Sesungguhnya bukan maksud saya hendak membayangi, hanya karena sudah lama saya mendengar nama Taihiap dengan penuh kekaguman maka begitu melihat Taihiap tadi, saya sudah menduganya dan saya ingin mengenal dan berdekatan dengan Taihiap. Saya sungguh tidak bermaksud buruk dan hendak mengantar Taihiap kepada rumah pedagang kuda itu."
"Bagaimana engkau berpakaian pengemls? Apa maksudnya?"
"Maaf, memang saya sengaja dan ini merupakan syarat menjadi murid dari guru saya. Ketahuilah bahwa sejak kecil saya diserahkan oleh kakek saya yang sekarang entah berada di mana, kepada guru saya itu, dan setelah saya menjadi muridnya, saya diharuskan berpakaian pengemis untuk memenuhi kebiasaan nenek moyang dari guru saya."
"Hemmm, mengapa begitu?"
Siluman Kecil makin tertarik.
"Guru saya adalah keturunan pengemis, Taihiap. Oleh karena itu, biarpun sekarang guru saya tidak menjadi pengemis, akan tetapi semua muridnya diharuskan berpakaian pengemis sebelum tamat belajar untuk menghormati leluhurnya."
Siluman Kecil memandang tajam.
Dari gerakan anak ini ketika mengelak tadi, dia maklum bahwa anak ini memiliki dasar ilmu silat tinggi, bukan ilmu silat sembarangan saja, maka guru anak ini tentulah seorang tokoh besar pula.
"Siapakah gurumu itu, Siauw-hong?"
"Maaf, Taihiap, akan tetapi guru saya tidak pernah mau menyebutkan namanya."
Siluman Kecil mengangguk-angguk.
Dia maklum akan hal ini karena memang demikianlah, makin tinggi pengertian seseorang, makin rendah hati pula watakhya di samping keanehan-keanehan yang tidak lumrah manusia biasa.
Maka dia pun tidak mau mendesak lagi untuk menghormati pendirian guru pengemis cilik ini.
Akhirnya mereka tiba di tempat si pedagang kuda.
Seorang laki-laki berusia empat puluh tahun, bermata sipit dan berkumis pendek, menyambut kedatangan mereka dan ketika mendengar bahwa Siluman Kecil datang untuk melihat kuda keturunan Mongol itu setelah diberi tahu oleh nenek penjual sepatu rumput, dia tersenyum lebar.
"Memang benar, Kongcu. Dan kalau bukan bibi saya yang memberi tahu, tidak sembarangan orang akan saya persilakan melihat dua ekor kuda dagangan saya itu. Kuda simpanan, kuda tunggangan raja-raja di daerah Mongol!"
Sambil memuji-muji kudanya, orang itu mengantar Siluman Kecil dan Siauw-hong ke kandang kuda.
Dan memang dua ekor kuda itu merupakan kuda-kuda pilihan, tinggi besar dan jelas kelihatan kuat sekali.
Yang seekor berbulu hitam mulus sedangkan yang ke dua berbulu putih.
Warna bulu mereka begitu mulus dan terang sehingga amat menyolok perbedaan warna bulu mereka.
Yang putih adalah kuda betina sedangkan yang hitam adalah seekor kuda jantan yang kelihatan galak.
"Coba Kongcu lihat tanda di paha kiri mereka ini!"
Kata si tukang kuda.
Siluman Kecil melihat dan di paha dua ekor kuda itu, di paha belakang yang kiri, terdapat capnya, yaitu ukiran kepala naga yang tentu saja kasar karena dibuat dengan menempelkan besi membara yang bergambarkan kepala naga di bagian paha itu.
"Apa artinya gambar ini?"
Tanya Siluman Kecil. (Lanjut ke
Jilid 16) Jodoh Rajawali (Seri ke 10 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 16
"Itu adalah tanda bahwa sepasang kuda ini adalah bekas milik raja Mongol, seorang di antara raja-raja liar di antara suku bangsa Nomad di Mongol sana dan agaknya raja itu memuja naga. Atau mungkin juga dua ekor kuda ini adalah keturunan Liong-ma (Kuda Naga) yang terkenal itu. Pendeknya, bukan kuda sembarangan, Kongcu, dan kalau Kongcu dapat memiliki seekor kuda ini, Kongcu sungguh beruntung. Akan tetapi, saya anjurkan Kongcu memilih yang putih."
"Yang betina? Mengapa?"
"Karena dua ekor kuda ini memang mempunyai keanehan. Yang putih ini agaknya hanya mau menjadi jinak kalau dinaiki oleh seorang pria! Sedangkan yang jantan, yaitu yang hitam ini, hanya mau menjadi jinak kalau dinaiki oleh seorang wanita!"
"Ah, sungguh luar biasa!"
Siluman Kecil berseru dan pengemis kecil itu tertawa.
"Ha-ha, kalau begitu mereka adalah kuda-kuda yang cabul!"
Seru Siauw-hong.
"Hushhhhh, jangan sembarangan saja kau, Siauw-kai (Pengemls Cilik)!"
Pedagang kuda itu menghardik.
"Omongannya itu ada benarnya,"
Kata Siluman Kecil membela Siauw-hong.
"Tidak, Kongcu. Sama sekali tidak benar. Dua ekor kuda ini bukanlah kuda cabul, akan tetapi adalah kuda yang sudah terlatih matang di tempat asalnya. Dengan wataknya yang aneh itu, kita dapat menarik kesimpulan bahwa tentu kuda hitam ini dahulu adalah kuda tunggangan seorang permaisuri dan dilatih sedemikian rupa, sehingga dia tidak mau ditunggangi seorang pria, maka hanya sang permaisuri sajalah yang dapat menung-ganginya. Mana boleh kuda tunggangan seorang permaisuri ditunggangi seorang pria? Dan demikian pula dengan kuda putih ini, tentu dahulunya menjadi kuda tunggangan seorang raja."
Siluman Kecil mengangguk-angguk. Biarpun cerita itu agaknya terlalu dibuat-buat, akan tetapi masuk akal juga.
"Saya tidak percaya!"
Tiba-tiba Siauw-hong berkata.
"Saya yakin bahwa kuda hitam itu lebih baik karena dia jantan. Lebih baik Kongcu memilih yang jantan saja."
"Eh, kau berani tidak percaya kepadaku, Siauw-kai? Kau menyuruh Kongcu naik kuda hitam kemudian dibantingkan?"
Bentak si tukang kuda.
"Masa dibantingkan! Kuda itu kelihatan begitu jinak!"
Siauw-hong membantah.
"Kalau tidak percaya, boleh kau coba naik di punggungnya!"
Tantang si tukang kuda.
"Baik, akan saya tunggangi dia!"
Siauw-hong menerima tantangan itu.
"Siauw-hong, apakah kau bisa menunggang kuda?"
Siluman Kecil bertanya khawatir. Siauw-hong tersenyum dan anak ini kelihatan tampan sekali kalau tersenyum.
"Jangan khawatir, Taihiap, sejak kecil saya sudah biasa menunggang kuda dan entah sudah ada berapa ratus ekor kuda jantan yang saya tunggangi, maka saya tidak percaya kalau ada kuda jantan tidak mau ditunggangi pria!"
"Kau bocah sungguh bermulut besar. Boleh kau coba si Hitam, akan tetapi Kongcu ini menjadi saksi dan saya tidak mau dipersalahkan kalau nanti kau dibantingkan dan punggungmu patah,"
Kata si tukang kuda.
Siauw-hong tertawa lalu dia menuntun kuda hitam itu keluar kandang.
Kelihatan si Hitam ini memang cukup jinak dan menurut saja ketika dituntun keluar.
Dengan gerakan cekatan tanda bahwa dia memang biasa menunggang kuda, Siau-whong lalu meloncat ke atas punggung kuda hitam yang tinggi itu.
Dan mulailah si Hitam itu memperlihatkan keliarannya.
Dia meringkik keras, mendengus-dengus marah lalu berloncatan ke atas, berdiri di atas kedua kaki, meloncat lagi dan membuat punggungnya menjadi melengkung, bergerak ke kanan kiri dan membuat gerakan dengan punggung untuk melemparkan Siauw-hong yang duduk di atas punggungnya.
Siauw-hong ternyata memang seorang ahli menunggang kuda.
Kalau lain orang yang menunggangi punggung kuda hitam yang mengamuk itu, tentu takkan dapat bertahan lama dan sudah terlempar sejak tadi.
Akan tetapi Siauw-hong juga memperlihatkan kelihalannya, biarpun beberapa kali tubuhnya kelihatan hampir terlempar dari punggung, namun ternyata dia masih dapat turun lagi duduk di atas punggung sambil memegangi kendali dengan cekatan.
Siluman Kecil menonton dengan hati tegang.
Kembali dia dibuat kagum, sekali ini dibuat kagum oleh Siauw-hong dan juga oleh kuda itu.
Benar-benar seekor kuda yang amat aneh, terlatih baik sekali dan penuturan pedagang kuda ini ternyata tidak bohong.
Kuda jantan ini benar-benar tidak sudi ditunggangi oleh seorang pria!
Kini kuda itu mengeluarkan suara ringkikan yang rendah mirip gerengan harimau dan tiba-tiba dia membanting diri ke kanan dan membuat gerakan bergulingan!
"Awas, Siauw-hong....!"
Mau tidak mau Siluman Kecil memekik dan dia sudah siap menolong karena keadaan pengemis muda itu benar-benar amat berbahaya.
"Kuda iblis....!"
Siauw-hong berteriak dan tubuhnya terlempar, akan tetapi dengan gerakan pok-sai (salto) dia berhasil turun ke atas tanah dengan kaki lebih dulu.
Dia mengebut-ngebutkan pakaiannya dan mengomel.
"Taihiap, kuda iblis itu berbahaya sekali!"
Pedagang kuda tertawa menyeringai akan tetapi tidak berani bicara semba-rangan karena dia pun sekarang tahu bahwa pengemis cilik itu bukan orang sembarangan setelah dia melihat betapa pengemis itu tadi dapat menyelamatkan diri secara luar biasa.
Dia menuntun kuda hitam yang sudah jinak kembali begitu punggungnya tidak ditunggangi orang!
"Kuda yang baik sekali!"
Mereka bertiga menoleh dan melihat seorang pemuda yang berwajah tampan sekali, Berpakaian mentereng dan bersikap lincah memasuki tempat itu dan memuji si kuda hitam yang liar tadi, Siluman Kecil memandang penuh perhatian.
Pemuda itu usianya tentu masih amat muda, mungkin baru belasan tahun, akan tetapi sinar matanya memandang penuh perhatian, dan melihat pakaiannya yang indah dan serba baru, mudah diduga bahwa pemuda ini tentulah putera seorang hartawan besar atau setidaknya putera seorang bangsawan!
Tubuhnya kecil, akan tetapi kelihatan gesit, tanda bahwa pemuda hartawan ini tentu "berisi", yaitu pernah berlatih silat.
Di belakang pemuda ini berjalan seorang anak laki-laki yang membawa buntalan.
Pedagang kuda itu pun bermata tajam, tentu saja dia segera mengenal seorang hartawan, maka sambil menuntun kuda hitam dia menghampiri dan menjura.
"Kuda yang manakah yang Kongcu anggap baik?"
Tanyanya.
"Mana lagi kalau bukan kuda yang kau tuntun itu,"
Jawab si pemuda tampan sambil memandangi kuda hitam dengan mata bersinar-sinar.
"Ini kuda Mongol tuan!"
Serunya sambil mendekati kuda itu, mengelus leher kuda itu dengan tangannya.
"Apakah Kongcu ingin membeli kuda?"
Tanya pula si pedagang kuda.
"Benar, aku membutuhkan dua ekor kuda untuk aku dan pelayanku ini, karena aku hendak pergi ke Cheng-couw, untuk memasuki ujian pengawal gubernur!"
Siluman Kecil merasa tertarik sekali.
Benar dugaannya bahwa pemuda ini tentu memiliki kepandaian silat, kalau tidak tentu tidak akan ikut-ikut memasuki ujian pengawal.
Pedagang kuda itu tersenyum lebar dan matanya berseri girang.
Hari baik rupanya hari ini bagi dia.
Sepagi itu sudah banyak orang datang hendak membeli kuda!
"Kongcu tidak salah kalau mencari kuda di sini!"
Katanya.
"Aku suka sekali dengan kuda hitam ini, berapa harganya? Akan kubeli dia!"
Kata si kongcu yang masih mengelus-ngelus kuda itu. Si pedagang kuda kelihatan kaget.
"Ohhh, jangan yang ini, Kongcu! Apakah Kongcu tadi tidak melihat betapa liarnya dia? Kuda ini pantang ditunggangi oleh seorang pria. Dia adalah bekas tunggangan seorang permaisuri suku Nomad di Mongol, sudah terlatih untuk menolak kalau ditunggangi seorang pria. Sebaliknya, kuda putih itu pantang ditunggangi seorang wanita. Maka, kalau Kongcu membutuhkan kuda, sebaliknya yang putih itu....eh, kalau belum jadi dibeli oleh Kongcu itu yang datang lebih dulu."
Pemuda tampan itu kini memandang kepada Siluman Kecil, menghampiri dan tersenyum, lalu menjura.
Tentu saja Siluman Kecil juga cepat membalas penghormatan orang itu.
"Apakah engkau juga hendak membeli kuda putih itu, Sobat?"
Pertanyaan ini diajukan dengan sikap ramah sekali sehingga biarpun Siluman Kecil tidak ingin berkenalan dengan orang itu, terpaksa dia menjawab dengan anggukan kepala.
"Agaknya engkau hendak melakukan perjalanan cepat dan jauh pula, Sobat."
"Saya....kami hendak pergi ke selatan....! "Ah! Betapa kebetulan sekali! Tidak dicari-cari di sini bertemu dengan seorang teman seperjalanan! Sobat yang baik, kalau begitu mari kita melakukan perjalanan bersama. Sungguh menyenangkan sekali! Aku mendapatkan seorang teman untuk bercakap-cakap di perjalanan!"
Siluman Kecil mengerutkan alisnya.
Dia tidak ingin melakukan perjalanan dengan orang lain yang tidak dikenalnya.
Pula, memang selama ini dia selalu menjauhkan diri dari pergaulan umum.
"Terima kasih atas kebaikan saudara"
Jawabnya.
"Akan tetapi saya masih mempunyai banyak kepentingan lain."
Penolakan halus diterima oleh pemuda tampan itu dengan senyum.
"Tidak mengapa. Engkau boleh menyelesaikan semua kepentinganmu dulu, baru kita berangkat bersama."
Siluman Kecil tidak menjawab lagi, melainkan menoleh kepada pedagang kuda.
"Paman, berapakah harganya kuda putih itu?"
"Tiga ratus tael perak"
Jawab si pedagang kuda.
"Wah, masa ada kuda harganya sekian?"
Siauw-hong berseru.
"Biasanya, seekor kuda tidak akan lebih dari seratus tael perak harganya!"
Si pedagang kuda menyeringai.
"Siau-kai, biarpun omonganmu itu ada benarnya, akan tetapi dua ekor kuda ini bukanlah kuda biasa! Coba dibayangkan, berapa biayanya mengambil dua ekor kuda ini dari tempat asalnya! Kongcu, harganya tiga ratus tael perak, tidak boleh kurang satu tael pun."
Siluman Kecil tidak tahu akan harga kuda, akan tetapi terdengar pemuda tampan itu berkata.
"Tiga ratus tael tidaklah mahal untuk seekor kuda seperti itu."
Mendengar ini, Siluman Kecil mengerutkan alisnya.
Uang baginya bukan apa-apa, apalagi uang itu adalah pemberian orang untuk bekal.
Dia tidak membutuhkan banyak uang, hanya memberatkan saja.
Tiba-tiba dia terkejut bukan main dan baru teringat bahwa dia tidak merasakan sesuatu yang berat di buntalannya!
Karena dia tidak pernah memikirkan uang, dan jarang sekali membawa uang banyak, maka dia tidak merasakan perbedaan itu!
Dia mengangkat buntalannya, menimbang-nimbang dan jantungnya berdebar.
Benar saja, buntalannya sudah tidak berat lagi!
Padahal seingatnya, uang bekal yang diberikan oleh hartawan itu kepadanya amat berat!
Cepat dia membuka buntalannya dan dia menahan napas.
Uang itu telah lenyap!
Dia telah diberi beberapa potong uang emas dan banyak uang perak oleh hartawan itu, yang rasanya cukup banyak untuk membeli kuda itu.
Akan tetapi ternyata uang itu lenyap sama sekali, tidak ada sisanya barang satu potong pun!
Dan dia tidak merasakan kehilangan itu!
"Celaka....!"
Serunya.
"Taihiap, ada apakah....?"
Siauw-hong bertanya sambil mendekati.
"Uangku lenyap!"
"Ahhh....!"
Siauw-hong juga memandang bingung. Pemuda tampan itu menghampiri Siluman Kecil dan bertanya.
"Sobat, apa yang telah terjadi?"
Siluman Kecil menggeleng kepala.
"Entah bagaimana, uangku yang berada di dalam buntalan ini lenyap semua tanpa kusadari. Aku lupa bahwa aku membawa uang, maka ketika lenyap aku tidak tahu...."
"Hemmm...."
Si pedagang kuda berkata dan alisnya berkerut, matanya memandang penuh kecurigaan kepada Siluman Kecil dan Siauw-hong.
"Kalau begitu, biarlah aku yang membayarnya! Hei, pedagang kuda, berikan kuda putih itu kepada sobatku ini dan kuda hitam itu kubeli, lalu sediakan dua ekor kuda lain untuk pembantu-pembantu kami!"
Pemuda itu cepat mengeluarkan sekantung uang emas dari buntalannya yang tadi dibawa oleh kacungnya.
"Ah, tidak usah, Saudara.... biar kami jalan kaki saja...."
Kata Siluman Kecil.
"Sobat yang baik, kita sudah menjadi sahabat dan calon teman seperjalanan, mengapa banyak sungkan?"
"Aku tidak mau menerima pemberian dari orang yang tidak kukenal dan...."
"Kalau begitu perkenankan, aku she Kang, bernama Swi,"
Katanya.
"Tetapi...."
"Kalau kau segan menerima pemberianku, biarlah kuda itu kau pinjam saja!"
Siluman Kecil tidak dapat menolak lagi, merasa tidak enak kalau menolak terus kebaikan orang yang kelihatannya demikian tulus dan ikhlas.
"Kalau begitu, baiklah, Saudara Kang Swi. Terima kasih atas kebaikanmu,"
Katanya sambil menjura.
"Akan tetapi saya bukanlah pembantu Taihiap ini, saya hanya mengantarnya sampai ke sini saja,"
Kata Siauw-hong. Pemuda tampan itu menoleh kepadanya.
"Aku melihat engkau tadi pandai sekali menunggang kuda, tentu engkau pandai pula merawat kuda, bukan? Nah, bagaimana kalau kau kuangkat sebagai perawat kuda? Berapakah gaji yang kau minta, akan kupenuhi."
Siauw-hong mengangkat dadanya dan menjawab.
"Saya menerima permintaan Kongcu, akan tetapi bukan karena besarnya gaji, melainkan karena saya memang ingin meluaskan pengalaman ke selatan."
"Jadi kau terima?"
Tanya kongcu itu dengan girang, akan tetapi ada sinar keheranan melihat sikap pengemis muda itu, yang demikian angkuh sikapnya.
"Paman, cepat pilihkan dua ekor kuda lain selain si Putih dan si Hitam ini, dan hitung berapa harus kubayar kepadamu."
Tentu saja si pedagang kuda menjadi girang bukan main.
Sungguh mujur dia.
Hari ini bertemu dengan kongcu yang kaya dan begini royal, membeli kuda tanpa menawar lagi!
Tentu saja dia tidak mau mencelakakan seorang langganan yang begini royal, maka dia berkata.
"Akan saya pilihkan seekor kuda yang terbagus untuk Kongcu...."
"Aku sudah memilih si Hitam ini!"
Jawab kongcu itu.
"Ahhh, jangan, Kongcu! Baru saja Siauw-kai ini hampir terbanting mati oleh kuda itu!"
Siauw-hong juga berkata.
"Sebaiknya Kongcu mengambil lain kuda. Kuda hitam ini adalah kuda iblis, atau kuda porno...."
"Eh, kuda porno (cabul)....?"
Kongcu itu bertanya dan memandang Siauw-hong dengan alis berkerut.
"Habis, kuda jantan ini hanya mau ditunggangi seorang wanita! Cabul dia!"
Siauw-hong berkata dan memandang kepada kuda hitam itu dengan hidung dikernyitkan. Kongcu itu tertawa.
"Kalian semua tidak tahu rahasianya. Aku sudah pernah memiliki seekor kuda seperti ini dan kalau tidak tahu rahasianya, memang jangan harap dapat menjinakkan dia."
"Kau kau hendak mengatakan bahwa kau dapat menundukkan dia?"
Siluman Kecil bertanya penuh keheranan.
Dia melihat sendiri tadi betapa Siauw-hong yang merupakan seorang ahli menunggang kuda, hampir celaka.
Apakah pemuda halus yang kaya raya dan royal ini memiliki ilmu menunggang kuda yang lebih mahir daripada Siauw-hong?
Agaknya tak mungkin.
Dia sendiri pun harus mengakui bahwa dalam menunggang kuda, belum tentu dia mampu menandingi Siauw-hong dan dia akan berpikir dua kali untuk menunggangi kuda liar macam si Hitam itu.
"Tentu saja,"
Kata pemuda royal itu tersenyum.
"Kalau tidak, untuk apa kubeli?"
"Tapi.... tapi dia benar-benar ber-bahaya sekali,"
Kata Siluman Kecil.
"Aku mengerti bagaimana harus menguasainya, harap kau jangan khawatir, Sobat."
Akan tetapi ketika pemuda tampan itu hendak memegang kendali kuda hitam dari tangan pedagang kuda, si pedagang berkata ragu.
"Wah, bagaimana kalau sampai Kongcu terbanting jatuh dan.... dan celaka? Siapa akan membayar kuda-kuda saya?"
Kongcu itu tertawa.
"Hitunglah dan akan kubayar sekarang juga. Kalau seandainya nanti aku dibanting mati oleh kuda ini, kau tidak akan rugi apa-apa."
Wajah pedagang kuda itu menjadi merah.
"Bukan.... bukan maksudku begitu.... sebaiknya Kongcu jangan mencoba-coba untuk menunggang ini dia sungguh tidak mau ditunggangi oleh pria."
Akan tetapi pemuda itu tidak melayaninya lagi, melainkan mengeluarkan sejumlah uang untuk membayar empat ekor kuda.
Kemudian dia berkata sambil menuntun si Hitam.
"Kalian semua lihatlah bahwa aku tidak main-main. Aku tahu bagaimana harus menundukkan kuda Mongol yang terlatih ini."
Setelah berkata demikian, dia mengusap-usap kepala kuda hitam itu, mendekatkan mulutnya pada telinga kiri kuda itu dan mengeluarkan kata-kata asing dalam bahasa Mongol.
Mulutnya komat-kamit dan terdengar kata-kata aneh seperti mantra.
Siluman Kecil mengerti juga bahasa Mongol, akan tetapi karena bahasa dari suku bangsa Nomad banyak sekali macamnya, maka dia tidak merasa heran mendengar bahasa yang mirip bahasa Mongol akan tetapi tidak dimengertinya, yang keluar dari mulut pemuda tampan itu.
Akan tetapi dia rnelihat betapa kuda hitam itu menggoyang-goyangkan ekornya ke kanan kiri dan kelihatan gembira dan jinak!
Kemudian, dengan gerakan ringan sekali tanda bahwa pemuda tampan itu memiliki ginkang yang tinggi, pemuda itu meloncat ke atas punggung kuda.
Semua orang, terutama Siuaw-hong, memandang dengan hati berdebar tegang, menduga bahwa tentu si Hitam itu akan meloncat-loncat, meringkik dan membungkukkan punggung.
Akan tetapi sungguh aneh!
Kuda itu berdiri diam dan tenang-tenang saja, bahkan ekornya masih bergoyang-goyang!
Pemuda tampan itu tertawa.
"Nah, tidak percayakah kalian kepadaku? Kuda ini memang terlatih untuk menantang ditunggangi pria, akan tetapi ada rahasianya untuk menjinakkan dia dan aku mengenal rahasia itu. Sobat, marilah kita berangkat. A-cun, dan kau, Siauw-kai...."
"Nama saya Siauw-hong, Kongcu!"
Kata Siauw-hong, tidak senang disebut Siauw-kai (Pengemis Cilik).
"Dan saya tidak pernah mengemis."
"Ahhh, engkau seorang bocah aneh, tidak kalah anehnya dengan kuda ini dan sahabat itu!"
Si pemuda tampan menunjuk ke arah Siluman Kecil yang sudah meloncat naik ke atas punggung si Putih.
dan memang benar kata-kata si pedagang kuda.
Si Putih itu tenang-tenang saja ketika punggungnya ditunggangi oleh Siluman Kecil, seorang pria!
Mereka berempat lalu berangkat meninggalkan si tukang penjual kuda yang berdiri bengong, masih terheran-heran menyaksikan mereka.
Baru hari itu dia memperoleh keuntungan besar di samping keheranannya bertemu dengan orang-orang yang begitu aneh.
Si pengemis yang pandai menunggang kuda, si kongcu yang masih muda akan tetapi sudah putih semua rambutnya, dan si kongcu royal yang ternyata seorang ahli yang luar biasa dalam menaklukkan kuda hitam itu!
Akhirnya dia menggeleng-geleng kepala dan berjalan masuk sambil menggenggam uang emas yang memenuhi saku bajunya.
Sementara itu, Siluman Kecil yang menunggang kuda si Putih menjalankan kudanya berendeng dengan pemuda tampan bernama Kang Swi yang menunggang kuda si Hitam.
Mereka menjalankan kuda perlahan-lahan karena Siluman Kecil sedang melamun dan agaknya Kang Swi juga tidak tergesa-gesa.
A-cun, kacung dari Kang Swi, dan Siauw-hong, menjalankan kuda di belakang mereka dan Siauw-hong kelihatan gembira sekali, Sikapnya sama sekali tidak seperti seorang jembel biarpun pakaiannya tambal-tambalan, melainkan seperti seorang jenderal perang menunggang kuda dan memeriksa barisan!
Siluman Kecil mengerutkan alisnya, mengingat-ingat dan memutar otak, mencari-cari ke mana lenyapnya uangnya yang banyak itu.
Sungguh memalukan, juga mengherankan.
Dia bukan seorang anak kecil yang pelupa, bukan pula seorang yang lemah sehingga uang yang berada di dalam buntalan pakaiannya dapat lenyap begitu saja!
Dia adalah seorang pendekar yang amat terkenal, dijuluki orang Siluman Kecil, namun kenyataannya uangnya dicuri orang dari dalam buntalannya tanpa dia ketahui!
Sungguh menggemaskan!
Dia mengepal tinju dan tanpa disadarinya, mulutnya mengeluarkan suara.
"Hemmmmm!"
Terdengar suara tertawa ditahan dan ketika dia menoleh, dia melihat Kang Swi melirik ke arahnya sambil tersenyum-senyum, senyum yang kelihatan seperti orang mengejek.
"Huh, bocah ini sikapnya manja dan sombong bukan main!"
Pikirnya.
Akan tetapi tentu saja dia merasa tidak enak kalau memperlihatkan rasa gemasnya karena betapapun juga, hartawan muda ini telah membelikan kuda untuknya dan Siauw-hong!
"Tidak mungkin uang itu lenyap begitu saja, bisik hatinya dan kembali dia tenggelam dalam renungan.
Ketika dia membayar sepatu rumput, uang itu masih ada.
Dia ingat benar.
Dan sesudah itu, dia hanya berdekatan dengan si nenek penjual sepatu rumput yang agak tuli dan pengemis muda, Siauw-hong itu.
Siau-whong tidak mungkin mengambil uangnya, biarpun dia tahu bahwa Siauw-hong juga bukan anak biasa, melainkan seorang anak yang memiliki kepandaian.
Siauw-hong bukan pencuri uangnya.
Anak ini kelihatan jujur dan tidak membawa apa-apa di dalam bajunya yang penuh tambalan itu, dan semenjak bertemu di tempat penjual sepatu rumput, anak ini tidak pernah berpisah dari sampingnya.
Bukan, bukan Siauw-hong yang mencuri uang itu.
Kalau begitu, tidak ada orang lain, tentu si nenek itu!
Si nenek yang mencurigakan sekali sekarang, sikapnya yang ramah dan aneh, bicaranya yang membujuk-bujuk, yang sering harus dia dekati karena tidak mendengar kata-katanya, gerak-geriknya yang aneh dan akhirnya nenek itu tadi menggulung tikarnya hendak kukut dan mengantar dia ke tempat pedagang kuda.
Dan sekarang dia teringat betapa nenek itu kadang-kadang tidak mendengar omongannya, akan tetapi kadang-kadang seperti tidak tuli, sikapnya aneh dan penuh rahasia.
Menjual sepatu rumput di luar kota, di jalan yang hanya dilalui orang-orang dusun yang tidak akan mau membeli sepatu seperti itu, seolah-olah memang sengaja menghadangnya!
Teringat akan semua itu, tiba-tiba dia menghentikan kudanya.
"Eh, ada apakah?"
"Saya harus kembali sebentar!"
Siluman Kecil berkata.
"Hemmm, mau mencari uangmu yang hilang?"
Kang Swi bertanya sambil tersenyum simpul.
"Tidak ada gunanya. Ke mana engkau hendak mencari uangmu itu di dunia yang begini luas?"
Dia mengebutkan ujung bajunya dengan sikap agung-agungan.
"Siauw-hong, nenek itu!"
Siluman Kecil menoleh kepada pengemis muda dan Siauw-hong juga mengangguk, seolah-olah baru ingat bahwa mungkin sekali uang "majikannya"
Itu dicuri oleh nenek penjual sepatu rumput yang aneh itu.
"Mungkin sekali, Taihiap!"
Kata Siauw-hong.
"Terlambat, Sobat!"
Kata kongcu tampan itu sambil menggerak-gerakkan cambuknya.
"Dia sudah pergi. Bukankah kau maksudkan nenek si penjual sepatu rumput yang tuli itu? Lihat, sepatu yang dipakai A-cun itu adalah sepatu terakhir yang saya beli darinya,"
Katanya menunjuk ke belakang dan Siluman Kecil melihat sepatu rumput yang dipakai oleh kaki kacung itu.
Siluman Kecil memandang dengan sinar mata penuh selidik kepada Kang Swi.
Dia harus berhati-hati.
Pemuda tampan ini tidak kalah anehnya daripada si nenek penjual sepatu rumput!
Seorang pemuda yang sikapnya begitu baik kepadanya, yang tahu segala!
"Hemmm, Saudara Kang, bagaimana kau tahu bahwa nenek itu yang kumaksudkan?"
Kang Swi tertawa.
"Ha-ha, jangan kau memandang kepadaku seperti itu, Kawan! Aku menjadi takut karenanya! Kau memandang kepadaku seolah-olah aku si pencuri uangmu itu! Tentu saja aku tahu. Begitu mudahnya! Jangan engkau meman-dang ringan kepadaku. Lihat, engkau memakai sepatu rumput yang baru, dan kau tadi menyebut nenek, maka setiap orang pun tentu akan dapat menduga nenek yang mana yang kau maksudkan,"
Jawabnya dengan sikap tenang sekali. Siluman Kecil mengangguk-angguk.
"Engkau sungguh cerdik."
"Sama sekali tidak. Hanya aku menggunakan otak dan engkau yang terlalu memandang ringan kepadaku. Bukan hanya itu saja, aku pun dapat menduga siapa adanya engkau, Sahabatku!"
"Eh?"
Siluman Kecil kembali menatap wajah tampan itu dengan tajam.
"Siapa kiranya?"
"Aku berani bertaruh seribu tael bahwa engkau adalah pendekar yang dijuluki orang Siluman Kecil."
Siluman Kecil cepat menggerakkan kepalanya sehingga rambutnya yang putih itu sebagian menutupi mukanya.
Dia terkejut dan tercengang.
Benar-benar pemuda ini aneh dan cerdik bukan main.
Dia harus berhati-hati!
"Bagaimana kau tahu?
Menggunakan otak pula ataukah hanya kira-kira saja?"
"Aku tidak pernah mau bertindak ceroboh. Segalanya harus kupikirkan masak-masak baru aku mengambil kesimpulan. Dengar alasanku, Sobat. Aku sudah sering mendengar tentang Siluman Kecil, yang kabarnya masih muda akan tetapi rambutnya sudah putih semua. Sekarang, aku bertemu dengan engkau, engkau masih muda, rambutmu seperti benang-benang perak, gerak-gerikmu penuh rahasia, dan Siauw-kai.... eh, Siauw-hong itu menyebutmu Taihiap. Siapa lagi kau kalau bukan Siluman Kecil yang tersohor itu?"
"Saudara Kang Swi, engkau memang cerdik sekali,"
Siluman Kecil kembali memuji.
"Aku harus kembali dulu untuk mencari nenek itu."
"Taihiap.... hemmm, setelah benar bahwa engkau adalah Siluman Kecil, aku harus menyebutmu Taihiap! Taihiap, percuma saja kalau kau hendak mencari nenek itu."
"Mengapa kau berkata demikian?"
"Seorang yang dapat mencuri uangmu tanpa kau ketahui, tentulah bukan orang sembarangan, dan dia tentu tahu bahwa dia telah mencuri uang dari Taihiap, maka setelah berhasil, apakah dia akan menanti di sana sampai Taihiap kembali ke sana dan menghajarnya? Kurasa dia tidaklah begitu bodoh, Taihiap, dan sekarang ini tentu dia sudah pergi jauh sekali, jauh dari kota An-yang. Mencari dia di sana sama dengan membuang-buang waktu, sedangkan kita harus cepat tiba di Ceng-couw karena besok ujian itu sudah dimulai!"
Siluman Kecil terpaksa membenarkan pendapat ini, akan tetapi mendengar ucapah terakhir itu dia berkata.
"Aku tidak ingin mengikuti ujian itu."
"Ah, tentu saja tidak. Masa seorang pendekar sakti seperti Taihiap hendak merendahkan dlri menjadi seorang pengawal? Akan tetapi, kurasa amat penting bagi Taihiap untuk pergi secepatnya ke Ceng-couw jika Taihiap hendak menyelidiki tentang lenyapnya uang Taihiap itu.
"Eh?"
Siluman Kecil memandang heran dan tidak mengerti.
"Taihiap, setiap orang yang memiliki kepandaian tentu akan tertarik oleh sayembara memasuki ujian pengawal itu, dan kurasa nenek tuli itu pun tidak terkecuali. Satu-satunya tempat di mana Taihiap mengharapkan untuk bertemu dengan dia, kurasa di Ceng-couw itulah tempatnya."
Siluman Kecil mengangguk dan memandang kagum.
"Kau benar, mari kita berangkat!"
Dan dia pun membedal kuda putih itu dengan cepat.
Kongcu tampan itu tertawa dan membedal si Hitam untuk mengejar.
Keduanya membalapkan dua ekor kuda itu sampai akhirnya mereka terpaksa berhenti dan menanti dua orang pelayan yang berteriak-teriak karena tertinggal jauh.
Ternyata kemudian oleh Siluman Kecil betapa menyenangkan melakukan perjalanan dengan Kang Swi, pemuda kaya yang royal itu.
Mereka selalu makan di rumah makan besar dan kongcu itu memesan masakan-masakan yang termahal dan terbaik, bersikap royal sekali dan ternyata dia merupakan seorang dermawan besar.
Setiap orang pengemis yang meminta selalu diberi uang yang tidak tanggung-tanggung banyaknya.
Siauw-hong yang menjadi tukang kuda sampai mengacungkan jempolnya saking girang dan kagum terhadap Kang Swi.
"Kang-kongcu benar-behar seorang yang dermawan!"
Dia memuji.
"Saya ikut menyatakan terima kasih atas kebaikan Kongcu terhadap para pengemis itu."
Akan tetapi Kang Swi tersenyum dan tidak kelihatan bangga, malah menjawab.
"Aku dapat mencari uang dengan mudah sekali. Begini banyak uang untuk aku sendiri apa gunanya? Lebih baik kubagi-bagi kepada mereka yang membutuhkan!"
Siluman Kecil merasa makin kagum terhadap teman seperjalanan yang aneh ini.
Memang bocah itu manja dan agak sombong, pikirnya, tinggi hati dan penuh rahasia, akan tetapi harus diakuinya bahwa Kang Swi memang berwatak dermawan.
Yang amat kagum dan senang hatinya adalah Siauw-hong.
Baru sekarang dia melihat dengan mata kepala sendiri betapa di dunia ini banyak pula orang-orang yang berbaik hati.
Dalam beberapa hari saja dia sudah bertemu dengan tiga orang yang selain gagah perkasa dan aneh, juga amat baik.
Pertama-tama dia bertemu dengan laki-laki berlengan sebelah yang menjamu para pengemis cilik dengan royal, kemudian Siluman Kecil yang telah tersohor sebagai seorang pendekar budiman, dan kini pemuda yang sikapnya penuh lagak dan agung-agungan ini ternyata lebih baik hati lagi.
Kota Ceng-couw di Propinsi Ho-nan hari itu kelihatan ramai sekali, jauh lebih ramai daripada biasanya.
Banyak orang luar kota membanjiri kota ini dan pagi-pagi sekali sudah banyak orang berduyun-duyun memasuki halaman yang luas di depan istana gubernur.
Mereka semua ingin menonton ujian pemilihan calon pengawal dan perajurit.
Gubernur Ho-nan, yaitu Kui Cu Kam,tinggal di Lok-yang, yaitu kota yang menjadi ibu kota Ho-nan, akan tetapi dia mempunyai istana di Ceng-couw dan di kota inilah pemilihan perajurit itu diadakan.
Seperti telah diketahui, Gubernur Ho-nan ini diam-diam ingin menanam kekuasaannya di Ho-nan, terlepas dari kedaulatan kaisar dan untuk keperluan ini, selain dia bersekongkol dengan semua fihak yang anti kerajaan, juga dia berusaha mengumpulkan orang-orang gagah yang berkepandaian tinggi sebanyak mungkin.
Untuk keperluan itu pula maka dia memerintahkan untuk mengadakan sayembara pemilihan calon pengawal di Cengcouw itu dan untuk urusan ini, dia telah menugaskan kepada Ho-nan Ciu-lo-mo Wan Lok It, jagoannya yang terkenal lihai itu, untuk membantu pembesar di Ceng-couw dalam mengawasi jalannya sayembara atau ujian pemasukan pengawal itu.
Karena banyaknya tamu dari luar kota, bukan hanya mereka yang ingin memasuki sayembara akan tetapi juga mereka yang ingin menonton, maka kota Ceng-couw menjadi sibuk sekali.
Semua rumah penginapan, besar kecil, penuh dengan tamu, juga semua warung makan penuh dengan tamu sehingga banyak penduduk kota Ceng-couw hari itu benar-benar mengalami panen besar!
Karena banyak-nya orang-orang aneh, jagoan-jagoan kang-ouw, memasuki kota Ceng-couw di hari itu, maka munculnya Siluman Kecil dan Kang Swi bersama dua orang pembantu mereka, tidak begitu menyolok dan menarik perhatian banyak orang, sungguhpun dua ekor kuda mereka, si Hitam dan si Putih, menimbulkan kekaguman banyak orang, terutama mereka yang mengenal kuda baik.
Akan tetapi, Kang Swi sejak tadi bersungut-sungut dan marah-marah karena semua rumah penginapan telah penuh.
Sukar bagi mereka untuk memperoleh kamar di rumah penginapan.
Akhirnya, Kang Swi turun tangan sendiri, tidak mengandalkan dua orang pelayan itu untuk menanyakan kamar di rumah penginapan.
Dia mendatangi sebuah rumah penginapan yang besar dan langsung dia menemui pemilik rumah penginapan itu.
"Saudara Kang, bukankah tadi A-cun dan Siauw-hong sudah menanya-kan dan di situ sudah penuh pula?"
Siluman Kecil menegur temannya itu ketika mereka turun dari atas punggung kuda di depan sebuah rumah penginapan besar.
"Hemmm, ingin kulihat sendiri apakah benar-benar sudah penuh semua, Taihiap."
"Sssttttt, harap Saudara Kang jangan menyebut aku Taihiap di tempat ramai ini, itu hanya akan menarik perhatian orang saja,"
Siluman Kecil berkata.
Kang Swi tersenyum, senyum pertama sejak dia merengut dan marah-marah karena belum memperoleh kamar tadi.
Matanya berkedip-kedip menggoda.
"Kenapa sih? Bukankah Taihiap memang pendekar sakti yang terkenal itu?"
"Sudahlah, aku tidak ingin dikenal orang."
"Kalau begitu, karena engkau lebih tua daripada aku, aku akan menyebutmu Twako (Kakak), akan tetapi siapa namamu?"
"Kau boleh menyebutku Twako, dan aku....aku tidak punya nama."
Kang Swi tertawa lagi.
"Engkau sungguh seorang manusia aneh penuh rahasia, Twako. Nah, aku akan mencari kamar."
Dia lalu berjalan memasuki penginapan besar itu sambil membawa kantung uangnya. Tak lama kemudian keluarlah dia dengan wajah berseri.
"Aku berhasil mendapatkan sebuah kamar!"
Terlaknya.
"Eh! Tadi saya sendiri yang menanyakan dan para pengurus itu bilang kamar telah penuh semua!"
Siauw-hong berseru dengan penasaran.
"Tentu saja, memang penuh semuaa kata Kang Swi.
"Eh, Kang-kongcu.... kalau begitu...."
Siauw-hong berkata heran.
"Yang kusewa adalah kamarnya. Kamar pemilik rumah penginapan itu sendiri. Dia mengalah dan bersama isterinya dia rela tidur di gudang malam ini dan menyerahkan kamarnya untukku."
Dia tertawa dan sikapnya penuh lagak kemenangan.
Diam-diam Siluman Kecil dapat menduga.
Tentu dengan kekuasaan uang, pikirnya.
Entah berapa puluh kali lipat dari harga biasa pemuda royal ini menyewa kamar itu.
"Akan tetapi sayang, kamarnya hanya satu untukku sendiri, dan untuk kalian bertiga terpaksa aku menyewakan sebuah kandang kosong karena memang sudah tidak ada kamar kosong lagi. Maaf, Twako."
"Hemmm....!"
Siluman Kecil menggumam.
"Di kandang atau di mana pun tidak ada bedanya bagiku."
Pelayan muncul dan empat ekor kuda itu digiring ke kandang, juga tiga orang laki-laki itu.
Kandang yang disulap menjadi kamar untuk mereka bertiga itu sudah dibersihkan dan lantainya ditutupi rumput kering.
Bau rumput kering dan tahi kuda kering memang tidak begitu busuk, bahkan mernpunyai kesedapan yang khas, akan tetapi tetap saja hati Siluman Kecil merasa mendongkol juga.
Kurang ajar, pikirnya.
Sungguh sekali ini dia tidak dihargai orang sama sekali!
Dia, yang di mana-mana disambut orang dengan penuh penghormatan, kini tidur di kandang kuda, sedangkan pemuda royal berpakaian mewah dan banyak uangnya itu tidur sendirian di dalam kamar besar!
Kalau dilanjutkan begini, pada suatu hari aku tentu akan menampar kepala yang sombong itu, pikirnya.
Dan hal itu amat tidak baik karena pemuda itu, betapapun juga telah bersikap baik kepadanya, tidak sayang membelikan kuda untuk dia dan Siauw-hong dengan harga mahal.
"Aku harus cepat-cepat pergi menghindarinya,"
Katanya dalam hati.
Dengan hati mengkal Siluman Kecil meninggalkan A-cun dan Siauw-hong di dalam kandang kuda itu dan dia keluar.
Malam gelap, langit hitam pekat, akan tetapi banyak lampu dipasang di sekitar penginapan itu.
Siluman Kecil melangkah keluar dengan niat hendak mencari warung untuk makan dan minum arak menghangatkan badan, karena malam itu dingin sekali sehingga perutnya terasa amat lapar.
"Ahhh...."
Tiba-tiba dia mengeluh dalam hati dan merogoh semua saku bajunya untuk mencari kalau-kalau ada sisa uang di dalam salah saku bajunya.
Namun percuma dan dia sudah menduganya.
Semua sakunya kosong.
Dia tidak mempunyai uang sepeser pun!
Mana mungkin membeli makanan dan minuman?
Mencuri?
Mudah saja baginya, akan tetapi hal itu tidak sudi dia melakukannya.
Minta?
Hemmm, sedangkan seorang bocah jembel seperti Siauw-hong saja tidak sudi mengemis, apalagi dia!
"Twako!
Kau di sini?"
Tiba-tiba terdengar teguran orang dan wajah Siluman Kecil bersungut-sungut di dalam gelap.
Pemuda congkak itu sudah berada disampingnya sambil tersenyum-senyum, seolah-olah mengerti akan kesukarannya, yaitu ingin makan minum akan tetapi tidak mempunyai uang!
Dia hanya mengangguk, tidak ingat bahwa mungkin saja di dalam kegelapan itu pemuda she Kang itu tidak dapat melihat jawabannya tanpa kata itu.
"Twako, mari kita mencari minuman!"
Kang Swi berkata dengan nada suara gembira.
Sebelum Siluman Kecil sempat menjawab, tangannya sudah digandeng dan ditarik oleh pemuda itu dan diajak memasuki sebuah warung arak yang berada di sebelah rumah penginapan.
Muka Siluman Kecil terasa panas.
Untung bahwa waktu itu malam, maka penerangan lampu warung yang kemerahan menyembunyikan perubahan mukanya yang menjadi merah.
Bagaimana dia dapat menolaknya biarpun hatinya merasa amat tidak enak?
Pemuda ini boleh jadi congkak dan agung-agungan, akan tetapi harus diakuinya amat ramah dan akrab.
Mereka memasuki warung itu dan memilih tempat duduk di sudut.
Seperti biasa, secara royal sekali Kang Swi menanyakan masakan istimewa dari warung itu dan memesan masakan macam-macam dan arak yang paling baik!
Siluman Kecil diam-diam menegur diri sendiri mengapa setelah berhadapan dengan pemuda ini, melihat sikapnya yang demikian ramah, semua ketidaksenangan hatinya lenyap sama sekali!
Malah dia mendapatkan dirinya makan minum dengan lahapnya, karena selain perutnya lapar, juga hawa yang dingin dan masakan yang lezat membuat dia menjadi seorang pelahap!
Dan seperti biasa, yang diketahuinya semenjak dia melakukan perjalanan dengan Kang Swi, pemuda tampan ini makan sedikit sekali.
"Kenapa makanmu sedikit amat?"
Dia pernah bertanya siang tadi.
"Habis, kalau sebegitu saja sudah kenyang, perlu apa banyak-banyak?"
Jawab yang ditanya.
"Pantas tubuhmu kecil!"
Dan sekatang, pemuda itu juga makan sedikit saja, biarpun hampir semua ma-sakan dicobanya.
Akan tetapi pemuda itu minum arak dengan lagak seorang jagoan minum.
"Agaknya engkau kuat minum arak, Kang-hiante,"
Kata Siluman KeciL melihat wajah yang gembira itu.
Kang Swi tersenyum dan diam-diam Siluman Kecil harus mengakui bahwa pemuda ini memang tampan sekali.
Kalau tersenyum tampak deretan gigi yang putih bersih, kecil dan rata.
Mulutnya berbentuk indah.
Seperti mulut wanita saja.
"Ah, kau kira hanya engkau yang kuat minum, Twako? Mari kita bertanding minum arak, agar diketahui siapa di antara kita yang lebih kuat."
"Hemmm, engkau bisa mabuk nanti,"
Siluman Kecil menjawab sambil tersenyum melihat lagak pemuda yang seperti anak-anak itu.
"Eh, eh, engkau memandang rendah. Nah, mari kita coba. Berapa banyak pun engkau minum, akan kuimbangi, Twako!"
Siluman Kecil dapat menduga bahwa pemuda tampan ini memang bukan orang sembarangan, dan tentu memiliki kepandaian, akan tetapi karena sikapnya yang baik dan ramah, tentu saja dia merasa tidak enak kalau harus menguji kepandai-annya, biarpun dia ingin sekali tahu sampai di mana kelihaiannya.
Maka sekarang dia, memperoleh kesempatan untuk menguji kekuatan minum pemuda itu dan bagi seorang ahli silat tinggi hal ini sudah dapat dipakai ukuran akan kekuatan tenaga dalam seseorang.
"Baiklah, aku akan minum tiga cawan berturut-turut."
Siluman Kecil lalu minum tiga cawan arak berturut-turut.
Sambil tertawa dan dengan sikap memandang ringan, Kang Swi juga minum tiga cawan arak dan cara dia minum memang menunjukkan dia seorang ahli, sekali teguk saja setiap cawan lenyap memasuki perutnya yang kecil.
Siluman Kecil tersenyum.
"Kau memang ahli minum, katanya dan kini dia minum berturut-turut lima cawan arak! Lalu dia memandang kepada temannya itu yang juga tersenyum dan tanpa berkata apa-apa pemuda tampan itu lalu dengan gerakan tangan cepat sekali minum sampai tujuh cawan arak berturut-turut! "Aku melebihi dua cawan, Twako,"
Katanya sambil tersenyum lebar.
Siluman Kecil terkejut juga.
Gerakan tangan pemuda itu demikian cepatnya dan biarpun sudah menghabiskan tiga dan tujuh cawan arak, akan tetapi sedikit pun jari-jari tangannya tidak pernah kelihatan gemetar dan jari-jari tangan itu masih tetap tenang ketika meletakkan kembali cawan kosong di atas meja.
Padahal dia yang baru minum delapan cawan sudah merasakan betapa hawa arak yang keras naik ke dalam kepalanya yang tentu saja dapat ditekannya keluar dengan tenaga sinkangnya.
Dia memandang wajah yang tersenyum ramah itu.
Tidak enak juga kalau sampai Kang Swi diujinya terus sehingga menjadi mabuk, pikirnya.
Sekarang pun sudah jelas bahwa dugaannya tidak salah.
Pemuda ini memiliki sinkang yang cukup kuat.
Biarlah dia minum lima cawan lagi.
"Kau memang hebat,"
Katanya dan kini dia minum lagi lima cawan arak. Akan tetapi Kang Swi memegang guci araknya.
"Mengapa bersikap sungkan, Twako? Kita sama-sama kuat minum. Mari kita habiskan arak dari guci masing-masing."
Dan pemuda tampan itu lalu mengangkat guci araknya, menempelkan bibir guci di mulutnya yang dibuka, kepalanya ditengadahkan dan guci itu lalu dimiringkan, araknya dituang dan seperti pancuran memasuki mulutnya yang ternganga sampai habislah arak dari dalam guci itu.
Ketika dia menaruh kembali guci kosong ke atas meja, jari-jari tangannya masih tidak gemetar sama sekali sungguhpun mukanya yang putih itu menjadi agak kemerahan dan kepalanya agak bergoyang-goyang!
Siluman Kecil terkejut.
Dia sudah menduga bahwa pemuda tampan itu memang memiliki sinkang yang kuat, akan tetapi tidak disangkanya sedemikian kuatnya.
Maka gembiralah hatinya karena ternyata teman seperjalanannya ini adalah seorang yang memiliki kepandaian tinggi.
Dia pun lalu minum semua arak dari gucinya.
Setelah kemasukan arak yang masing-making tidak kurang dari tiga puluh cawan, Siluman Kecil melihat betapa wajah yang kemerahan itu makin berseri dan, sikap Kang Swi makin gembira!
Kiranya ada pula sedikit hawa arak mempengaruhi pemuda ini dan diam-diam Siluman Kecil merasa girang karena bagaimanapun juga dialah yang menang dalam pertandingan ini.
Pemuda itu biarpun belum dapat dikatakan mabuk, akan tetapi caranya bicara dan tersenyum sudah lebih ringan dan lebih gembira dari biasa, tanda bahwa dia telah dipengaruhi hawa arak.
Tiba-tiba pemuda itu tertawa sambil memandang keluar.
Siluman Kecil juga memandang dan ternyata yang ditertawakan oleh Kang Swi itu adalah seorang laki-laki yang jalannya pincang.
Orang ini mukanya penuh dengan kumis dan cambang bauk, amat lebat hampir menyembunyikan semua mukanya sehingga sukar ditaksir berapa usianya.
Begitu masuk, orang ini duduk di sudut bagian depan dan sama sekali tidak mempedulikan para tamu lainnya yang mulai berdatangan untuk makan malam.
Kemudian, dengan gerak tangannya dia memanggil pelayan.
Ketika pelayan itu telah berdiri di depannya, si pincang itu membuat gerakan-gerakan tangan memesan nasi dan arak.
Dari gerakannya dan dari suaranya yang hanya ah-ah-uh-uh itu tahulah Siluman Kecil bahwa orang itu, selain pincang, juga gagu.
"Heh-heh-heh!"
Kang Swi tertawa-tawa melihat tingkah laku si gagu itu ketika memesan makanan dan minuman, membuat gerakan seperti orang sedang makan dan minum.
Siluman Kecil mengerutkan alisnya.
Bocah ini terlalu lancang dan sembrono, pikirnya, mentertawakan orang begitu saja, apalagi cara tertawanya begitu terpingkal-pingkal seolah-olah pemuda tampan itu melihat suatu hal yang luar biasa lucunya.
Padahal, apakah lucunya seorang gagu memesan makanan dan minuman?
Tentu saja harus menggunakan gerak tangan!
"Hemmm, Hiante, jangan sembarangan mentertawakan orang!"
Tegurnya.
"Apakah kau tidak melihat langkahnya tadi biarpun terpincang-pincang? Dan lihat sinar matanya! Hati-hatilah, jangan meng-hina orang, kurasa dia bukan orang sembarangan!."
"Ha-ha-ha!"
Kembali Kang Swi tertawa dan masih terdengar terkekeh biarpun dia sudah mendekap mulutnya.
"Bagaimana tidak akan tertawa melihat yang selucu itu? Hi-hik, Twako.... apa kau tidak tahu, heh-heh...."
Kang Swi kembali tertawa dan menutupi mulutnya sambil memejamkan mata menahan kegeliannya.
Tangis dan tawa biasanya amat menular.
Melihat Kang Swi tertawa terpingkal-pingkal seperti itu, biarpun dia sendiri masih belum mengerti apa yang ditertawakannya, tanpa disadarinya Siluman Kecil juga tersenyum dan ikut gembira.
"Apa sih yang lucu?"
Tanyanya, kini menjadi ingin sekali untuk mengetahuinya.
"Twako, hi-hik aku tidak mentertawakan pincangnya atau gagunya, akan tetapi....heh-heh...."
"Ada apa sih?"
"Mungkin orang lain dapat dia kelabui, akan tetapi aku!"
Kang Swi menepuk dada dengan lagak sombong.
"Di depan hidung seorang ahli seperti aku dia berani main gila, ha-ha! Kumisnya terlalu ke atas dan agak miring penempelannya, dan cambangnya terlalu penuh di bagian pipi kiri. Ha-ha-ha, kalau tidak pandai menyamar, sungguh berbahaya permainan itu!"
Pemuda ini terus tertawa ha-ha-hi-hi dan Siluman Kecil maklum bahwa biarpun tidak sampai mabuk, terlalu banyak arak itu membuat Kang Swi men-jadi terlalu gembira sehingga dia khawatir kalau-kalau sampai menimbulkan persoalan.
Betapapun juga, dia kini memperhatikan orang itu dan setelah mendengar kata-kata Kang Swi tadi, dia baru dapat melihat hal-hal yang hanya dapat diketahui oleh seorang ahli itu.
Dan agaknya, temannya ini benar!
Mencurigakan sekali si pincang itu.
Mendengar orang tertawa, si pincang menengok, akan tetapi karena terhalang oleh pilar dan pot bunga, dia tidak melihat Siluman Kecil dan Kang Swi.
Siluman Kecil juga terpaksa ikut tertawa, lalu bertanya lirih.
"Apakah kau mengenal dia?"
Kang Swi menggeleng kepala sambil tersenyum-senyum, pringas-pringis seperti orang sinting.
Melihat keadaan temannya ini, Siluman Kecil merasa khawatir kalau-kalau ulahnya yang biasanya memang aneh dan kadang-kadang ugal-ugalan itu kini ditambah oleh pengaruh arak akan menimbulkan keributan, maka dia lalu bangkit dan mengajak kembali ke rumah penginapan.
Kang Swi tidak membantah, dibayarnya harga makanan dengan royal, dan mengatakan bahwa uang kembalinya agar dibagi-bagi di antara para pelayan, kemudian dia berjalan bersama Siluman Kecil pergi meninggalkan warung, setelah sekali lagi tertawa ke arah si pincang, sedangkan Siluman Kecil menyembunyikan mukanya di balik rambutnya yang putih panjang.
Akan tetapi ketika mereka tiba di depan rumah penginapan, terdengar teriakan tertahan.
"Siluman Kecil....!"
Siluman Kecil dan Kang Swi terkejut dan cepat menoleh.
Mereka masih sempat melihat dua orang perajurit dengan mata terbelalak dan muka pucat melarikan diri tergesa-gesa dari situ, menyelinap di antara orang banyak.
Siluman Kecil menarik napas panjang dan berbisik.
"Sungguh tidak enak sekali. Di sini banyak orang mengenalku."
Kang Swi tersenyum.
"Twako, agaknya di kota ini banyak terdapat orang-orang yang ketakutan melihat wajahmu yang tampan dan gagah...."
"Hemmm, tidak perlu mengejek!"
Siluman Kecil menegur.
"Ah, aku salah bicara. Mereka takut mendengar namamu yang tersohor."
"Sudahlah, aku pun tidak mempunyai keperluan di sini. Malam ini aku akan pergi saja,"
Kata Siluman Kecil.
"Eh-eh, apakah kau akan merelakan saja uangmu dibawa lari oleh nenek itu? Kurasa hanya di tempat keramaian besok sajalah kita dapat menemukan nenek itu."
"Bukankah ujian sudah dimulai hari ini?"
"Tidak, sudah kuselidiki. Hari ini hanya diadakan pemilihan di antara para pelamar, pemilihan dari mereka yang berkepandaian tinggi untuk dipertandingkan besok, memperebutkan kedudukan pengawal pribadi gubernur yang hanya akan dipilih tiga empat orang banyaknya. Selebihnya hanya akan diterima sebagai perajurit pengawal kalau memenuhi syarat. Jadi besoklah orang-orang kang-ouw akan bermunculan dan tentu kita akan dapat menemukan nenek itu."
"Akan tetapi aku banyak dikenal orang, hanya akan menimbulkan keributan saja."
Siluman Kecil yang biasanya menyendiri itu merasa tidak enak kalau mengingat akan hal itu.
"Twako, Jangan khawatir. Aku tadi mentertawakan penyamaran konyol si pincang itu bukan karena sombong, akan tetapi karena aku benar-benar seorang ahli dalam mendandani orang. Kalau Twako besok kudandani, agaknya orang tuamu sendiri tidak akan dapat mengenalmu lagi, Twako. Dengan menyamar, Twako akan dapat menonton dengan leluasa, juga akan dapat mencari nenek penjual rumput itu."
Siluman Kecil menghela napas. Dia merasa kalah bicara dengan pemuda lincah ini.
"Baiklah...."
Katanya.
"Dan maafkan aku, Twako. Bukan sekali-kali maksudku untuk merendahkan Twako dengan menyewakan, kandang kuda, akan tetapi apa boleh buat, kamar telah habis dan aku.... sejak kecil aku tidak bisa tidur sekamar dengan orang lain. Ataukah Twako yang memakai ka-marku itu dan biar aku tidur di luar saja?"
"Ah, tidak....! Jangan....! Pakailah kamar itu sendiri, aku sudah biasa tidur di alam terbuka. Akan tetapi sungguh mengherankan. Mengapa sih kau tidak bisa tidur berdua dengan orang lain dalam satu kamar?"
"Sudah sejak kecil.... aku tidak bisa tidur kalau ada orang lain dalam kamarku."
Siluman Kecil terseret oleh sikap dan keanehan temannya itu, maka dia menggoda.
"Hemmm, kalau begitu bagaimana kelak kalau kau kawin?"
"Ihhh! Twako sungguh ceriwis! Siapa yang mau kawin?"
Setelah berkata demikian, Kang Swi berkelebat pergi memasuki rumah penginapan dengan gerakan cepat.
Siluman Kecil tersenyum dan menggeleng-geleng kepala.
Pemuda itu seperti anak kecil saja.
Siauw-hong agaknya lebih dewasa daripada Kang Swi.
Maka dia pun lalu memasuki kandang kuda dari pintu pekarangan samping dan ternyata A-cun dan Siauw-hong sudahh tidur.
Siluman Kecil lalu duduk melakukan siulian dan ternyata enak mengaso di atas tumpukan rumput kering itu dan mendapatkan hembusan angin semilir yang lembut dan yang dapat memasuki kandang kuda.
Pada keesokan harinya, keadaan di kota Ceng-couw menjadi makin ramai.
Dan memang keramaian sayembara itu terjadi pada hari ini, di mana para pelamar yang berkepandaian tinggi akan memperebutkan kedudukan pengawal-pengawal pribadi dari gubernur.
Di antara ratusan orang pelamar, setelah diuji ketangkasan dan tenaganya kemarin, hanya ada belasan orang saja yang dicalonkan, dan tentu saja bagi mereka yang belum sempat diuji, kalau memiliki kepandaian, diperkenankan juga mengikuti pertandingan adu kepandaian itu.
Pekarangan yang merupakan alun-alun di depan istana gubernur penuh dengan manusia yang kesemuanya mengelilingi sebuah panggung yang tinggi dan luas, yang sengaja dibangun untuk keperluan itu.
Karena panggung itu tinggi, maka biarpun mereka yang kebagian tempat agak jauh pun dapat melihat dengan jelas apa yang terjadi di atas panggung.
Dan di tempat duduk kehormatan yang berada di depan istana, du-duklah Gubernur Ho-nan sendiri, yaitu Gubernur Kui Cu Kam, dikelilingi oleh para pengawalnya dengan ketat untuk menjaga keselamatan gubernur ini.
Sedangkan Cui-lo-mo Wan Lok It yang mengatur sayembara pemilihan pengawal itu, sejak kemarin sudah sibuk dan kini dia kadang-kadang kelihatan di dekat panggung, kadang-kadang tidak kelihatan karena si rambut merah dan pemabuk ini kadang-kadang mengadakan perondaan sendiri untuk menjamin kelancaran pe-milihan itu dan juga menjaga keamanan gubernur yang berkenan menyaksikan pula pemilihan calon pengawal-pengawalnya itu.
Setelah matahari naik tinggi dan Gubernur Kui Cu Kam telah duduk di tempatnya, bersama dengan para pembesar-pembesar dan para pembantunya, tambur dan canang dipukul bertalu-talu sebagai tanda bahwa sayembara akan dimulai.
Seperti semut-semut yang sibuk, orang-orang yang menonton bergerak mendekati panggung.
Kang Swi yang sudah siap dengan dandanan ringkas dan dengan pedang di punggung, sejak tadi telah siap dan kini dia mendatangi kandang kuda bersama seorang kakek keriputan.
Kakek tua ini bukan lain adalah Siluman Kecil yang telah "disulap"
Menjadi kakek oleh tangan Kang Swi yang ternyata memang benar pandai sekali merias penyamaran itu, dan ternyata pemuda tampan ini sudah membawa perlengkapan untuk merias dan membuat penyamaran-penyamaran.
Ternyata bahwa dia memang benar seorang ahli, maka tidak mengherankan kalau dia dapat mengetahui penyamaran si pincang yang gagu itu dan mencela penyamarannya.
Siluman Kecil menjadi kagum (Lanjut ke
Jilid 17) Jodoh Rajawali (Seri ke 10 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 17 bukan main ketika dia melihat bayangan wajahnya sendiri yang sudah berubah menjadi seorang kakek itu di dalam cermin.
Dia memuji kelihaian Kang Swi akan tetapi pemuda itu hanya tersenyum saja.
"Sekarang kau tidak khawatir akan dikenal orang lagi, Twako, dan dengan leluasa kau dapat mencari nenek itu di antara penonton."
A-cun, pelayan atau kacung pengiring Kang Swi, memandang dengan bengong terlongong kepada kakek tua yang datang bersama majikannya itu.
Dia tidak berani bertanya kepada majikannya siapa adanya kakek itu, hanya dia merasa heran dari mana datangnya kakek itu yang memasuki kandang bersama majikannya.
"Eh, A-cun, di mana adanya Siauw-hong?"
Tanya pemuda tampan itu ketika dia tidak melihat si pengemis muda di situ.
"Dia? Ah, sejak tadi dia sudah pergi, Kongcu. Katanya dia hendak nonton keramaian."
"Hemmm, kalau begitu kau tinggalah di sini menjaga kuda-kuda kita, A-cun, kami hendak pergi nonton keramaian juga,"
Kata Kang Swi yang segera mengajak Siluman Kecil pergi.
Kang Swi tidak lupa untuk membawa pedangnya yang digantung di punggungnya sehingga dia kelihatan gagah karena pagi hari itu dia mengenakan pakaian yang ringkas.
Setelah tiba di depan istana gubernur, ternyata di situ telah berkumpul banyak orang dan di atas panggung itu tengah terjadi pertandingan yang ramai, diikuti oleh sorak-sorai para penonton yang sudah terdengar dari tempat jauh.
Siluman Kecil lalu memisahkan diri untuk mencari nenek pencuri uangnya dan mereka saling berjanji akan berjumpa kembali nanti di rumah penginapan.
Kang Swi sendiri lalu menyelinap di antara penonton untuk mendekati panggung.
Ternyata pertandingan di atas panggung telah selesai.
Seorang yang bertubuh gemuk pendek dirobohkan oleh seorang pemuda tinggi kurus.
Pemuda tinggi kurus ini memang istimewa sekali.
Dia bukan merupakan seorang di antara para calon yang kemarin terpilih, melainkan seorang yang baru muncul di antara penonton.
Akan tetapi secara berturut-turut dia telah mengalahkan sepuluh orang calon terpilih dan masing-masing dirobohkan dalam waktu belasan jurus saja!
Si gemuk pendek yang terakhir itu pun dirobohkannya dalam waktu sepuluh jurus, maka tentu saja kemenangan-kemenangannya disambut oleh sorak-sorai para penonton yang merasa kagum ter-hadap pemuda tinggi kurus berpakaian sederhana itu.
Kini, atas perintah Honan Ciu-lo-mo yang dapat menilai kepandaian orang, pemuda itu dipersilakan untuk beristirahat lebih dulu.
Pemuda itu mengangguk dan turun dari atas panggung, lenyap di antara para penonton.
Ketika Kang Swi tiba di dekat panggung, pemuda tinggi kurus itu sudah turun sehingga pemuda tampan dan royal ini tidak sempat melihat wajah pemuda yang sudah menang sepuluh kali itu.
Kini pengatur pertandingan, seorang perwira tinggi besar dan tua, yaitu bukan lain adalah Su-ciangkun yang bernama Su Kiat, seorang di antara pengawal Gubernur Ho-nan, setelah menyuruh mundur pemuda tinggi kurus, lalu memanggil dengan suara nyaring nama seorang calon yang kemarin dipilih.
Muncullah seorang laki-laki berusia tiga puluh tahun lebih yang bertubuh kecil, yang muncul di panggung dengan muka agak pucat dan sikap yang sungkan dan jerih.
Memang hati si kecil ini sudah jerih ketika menyaksikan betapa selain para calon, ternyata di antara banyak penonton itu terdapat orang pandai seperti pemuda tinggi kurus tadi.
Oleh karena itu, belum juga bertanding, hatinya sudah merasa jerih dan dia kehilangan kepercayaan kepada diri sendiri.
Dengan sikap sungkan-sungkan dan merendah dia berdiri menanti di atas panggung, dengan kedua pundak ke muka sehingga tubuhnya kelihatan makin kecil lagi.
Sebuah nama dipanggil lagi dan muncullah orang ke dua, juga seorang calon yang kemarin telah dipilih, yang mukanya kuning pucat dan mulutnya selalu tersenyum masam.
Setelah diberi tanda oleh Perwira Su Kiat, mereka bergebrak dan bertanding.
Akan tetapi, belum sampal dua puluh jurus, si kecil menang dan orang bermuka kuning pucat itu terlempar ke bawah panggung, disambut sorak-sorai penonton yang merasa kagum bahwa laki-laki yang pemalu dan bertubuh kecil itu ternyata lihai juga.
Berturut-turut maju sampai lima orang calon, akan tetapi semuanya dikalahkan oleh si kecil yang lihai dan yang kini mulai menemukan kembali kepercayaannya kepada diri sendiri setelah berturut-turut memperoleh kemenangan.
Habislah semua calon yang terpilih kemarin.
"Kini dibuka kesempatan kembali kepada para orang gagah yang hadir di antara penonton dan yang belum sempat didaftar kemarin, untuk mengikuti sayembara pertandingan dan dipersilakan naik ke atas panggung!"
Kata Perwira Su Kiat dengan suaranya yang menggeledek.
"Biar saya mencobanya!"
Terdengar jawaban yang tidak kalah nyaringnya dan dari bawah panggung melayanglah sesosok tubuh yang tinggi besar.
Semua penonton tertegun ketika melihat seorang laki-laki yang usianya kurang lebih empat puluh tahun, tubuhnya tinggi besar seperti raksasa dan kepalanya gundul, bukan gundul karena dicukur, melainkan memang gundul karena botak!
Dengan mulut menyeringai lebar, raksasa gundul ini menghampiri si kecil, lalu berkata.
"Anak yang baik, lebih baik kau meloncat turun saja dengan tubuh utuh dan mengalah kepadaku."
Biarpun tadinya si kecil ini merasa jerih, akan tetapi kini setelah memperoleh kemenangan berturut-turut selama lima kali, hatinya sudah menjadi besar dan tentu saja dia marah sekali mendengar dirinya disebut "anak yang baik"
Oleh raksasa itu.
Terdengar suara ketawa di antara para penonton mendengar ucapan itu dan si kecil menjadi merah mukanya.
Maka tanpa banyak cakap lagi, dia lalu menyerang dengan pukulan kedua tangannya.
Gerakannya memang gesit bukan main dan kemenangannya yang berturut-turut tadi pun mengandalkan kegesitannya itulah.
"Buk! Buk! Buk!"
Secara bertubi-tubi dan cepat bukan main, kedua tangan jagoan kecil itu telah melakukan pukulan, dan anehnya si raksasa gundul itu menerima semua pukulan yang tepat mengenai perut dan dadanya itu tanpa menangkis atau mengelak, seolah-olah semua pukulan itu tidak dirasakannya sama sekali!
Dan memang semua pukulan si kecil.
itu seperti mengenai karet saja, membalik dan selagi si kecil terkejut setengah mati, tiba-tiba raksasa itu tertawa, tangannya yang besar dengan lengan yang panjang itu menyambar.
"Plakkk!"
Sebuah tamparan mengenai bawah telinga si kecil dan dia mengeluh lalu roboh pingsan!
Tentu saja peristiwa mengejutkan ini disambut oleh sorak-sorai para penonton.
Si kecil tadi demikian lihainya, akan tetapi dengan sekali tamparan saja dia roboh pingsan oleh raksasa gundul itu.
Maka dapat dibayangkan betapa lihainya si raksasa gundul ini!
Dan tentu akan ramai sekali kalau raksasa gundul yang kebal ini diadu dengan pemuda tinggi kurus yang telah menang sepuluh kali tadi.
Agaknya, Perwira Su Kiat juga berpendapat demikian, dan dia sudah mencari-cari dengan pandang matanya ke arah menyelinapnya pemuda tinggi kurus tadi.
Akan tetapi tiba-tiba nampak bayangan orang berkelebat dan seorang pemuda tampan telah melompat dengan gerakan indah dan ringan ke atas panggung, menghadapi si raksasa gundul.
Pemuda tampan ini tersenyum lebar dan memandang si raksasa dengan sinar mata berkilat.
Di punggungnya pemuda ini kelihatan tergantung sebatang pedang dan pakaian pemuda ini biarpun ringkas namun amat perlente dan serba indah.
Karena pemuda tampan ini berperawakan kecil ramping, maka berhadapan dengan raksasa gundul nampak perbedaan yang amat menyolok sekali.
Yang satu kecil dan kelihatan halus lemah, sedangkan yang ke dua tinggi besar dan kelihatan kokoh kuat.
Sungguh bukan merupakan lawan yang seimbang!
"Ha-ha, anak kecil mengapa ikut-ikutan dan ingin bertanding?"
"Lebih baik pulang, nanti dicari ibumu!"
"Belajar lagi sepuluh tahun baru datang ke sini!"
Teriakan-teriakan penonton yang dilontarkan kepa-da pemuda yang kelihatan masih remaja dan tampan itu disambut oleh muda itu dengah senyum simpul.
Pemuda ini bukan lain adalah Kang Swi, pemuda tampan royal yang datang bersama Siluman Kecil.
Dengan sikap tenang Kang Swi melangkah maju menghadapi si raksasa gundul.
"Heh, kau anak kecil yang lebih pantas membaca kitab daripada berada di sini! Si gundul berteriak.
"Benar, turun saja!"
"Buat apa mengantar nyawa sia-sia!"
"Mati konyol nanti! Sayang ketampananmu!"
Kang Swi tersenyum.
Senang hatinya.
Dia merasa yakin akan dapat mengalahkan raksasa gundul ini, maka makin hebat orang mengkhawatirkan dirinya, makin baiklah karena kemenangannya nanti akan terasa lebih nikmat.
Dia menjura ke empat penjuru dengan lagak yang angkuh, sehingga Perwira Su Kiat yang juga memandang rendah pemuda remaja ini lalu berseru.
"Hayo kalian berdua cepat memulai!"
Raksasa gundul itu lalu melangkah maju.
"Bocah sombong, biarlah kau boleh memukulku, tanpa kulawan pun engkau akan kalah dan kedua tanganmu akan patah-patah dipakai memukul tubuhku."
Banyak orang tertawa menyambut ucapan raksasa ini.
"Benarkah?"
Kang Swi bertanya.
"Hendak kucoba sampai di mana sih tebalnya kulitmu maka kau berani berkata demikian. Nah, terimalah ini!"
Tangan kiri Kang Swi menyambar ke depan secara sembarangan.
"Syuuuttttt, plakkkkk!"
"Aughhh....!"
Raksasa gundul itu jatuh berlutut dan kedua tangannya memegangi dada yang terkena tamparan Kang Swi.
Tangan pemuda halus itu rasanya seperti tusukan pedang tajam yang menembus kekebalannya, dadanya terasa nyeri bukan main, panas dan perih.
Semua penonton tadinya menyangka bahwa raksasa itu pura-pura saja untuk mempermainkan lawan, akan tetapi ketika mereka melihat wajah itu berkerut-merut menahan nyeri, kemudian muka raksasa itu menjadi merah dan matanya melotot marah, mereka terkejut dan terheran-heran.
Benarkah tamparan yang perlahan itu membuat si raksasa yang kebal itu kesakitan?
Sikap raksasa gundul itu menjawab keraguan mereka ketika si raksasa mengeluarkan suara gerengan marah dan tiba-tiba tubuhnya yang tadi berlutut itu menerjang ke depan.
Gerakannya seperti seekor singa marah menerkam kambing, kedua lengan yang panjang itu dikembangkan, jari-jari tangan membentuk cakar hendak menerkam, matanya melotot dan mulutnya terbuka mengerikan!
Dengan gerakan yang indah dan ringan sekali, Kang Swi sudah meloncat ke samping tepat pada saat kedua tangan lawan sudah hampir dapat mencengkeramnya dan pada detik itu juga, kaki kanannya menendang ke arah lutut dan tangannya dengan jari terbuka menyambar ke arah lambung.
"Dukkk! Plakkk!"
Tak dapat dicegah lagi, tubuh tinggi besar itu terjelungkup ke depan dengan terpaksa, dan hidungnya mencium lantai panggung sehingga ketika dia merangkak bangun, hidung-nya berdarah dan mulutnya menyeringai karena selain lututnya terasa nyeri, juga lambungnya mendadak menjadi mulas!
Akan tetapi, dia menjadi makin penasaran dan marah, apalagi ketika mendengar para penonton bersorak riuh rendah.
Tadi, ketika raksasa itu jatuh berlutut, para penonton masih belum yakin benar akan kelihaian Kang Swi, akan tetapi robohnya raksasa itu untuk kedua kalinya, kelihatan jelas oleh para penonton sehingga meledaklah pujian mereka terhadap Kang Swi.
Tidak mereka sangka bahwa pemuda tampan yang masih muda sekali itu demikian hebatnya, dengan mudah saja dalam dua gebrakan telah merobohkan raksasa itu dua kali!
"Arghhhhh....!"
Seperti suara seekor singa menggereng, raksasa gundul itu menyerang dan kini serangannya itu merupakan serangan maut yang mengerikan karena dia bukan hanya menggunakan kedua tangannya untuk mencengkeram dari kanan kiri, akan tetapi juga mem-pergunakan kepalanya yang gundul botak itu untuk menyeruduk ke arah dada Kang Swi!
"Hemmm....!"
Kang Swi berseru mengejek dan tiba-tiba ketika dia menjejakkan kakinya, tubuhnya mencelat ke atas dengan gerakan cepat tak terduga sehingga serangan si raksasa itu luput dan tubuhnya terhuyung ke depan.
Kang Swi yang meloncat tinggi ke atas itu kini sudah meluncur turun sambil membalikkan tubuh dan kakinya menginjak tengkuk lawan sambil mengerahkan tenaganya.
"Hekkk!"
Tubuh tinggi besar itu terdorong ke bawah dan karena tadi dia menggunakan tenaga untuk menyeruduk, maka begitu diinjak tengkuknya, tenaga serudukannya bertambah dan kepalanya kini menyeruduk ke bawah dengan kekuatan dahsyat.
"Brakkkkk....!"
Kepala itu menancap di lantai papan panggung, masuk sampai ke lehernya dan kedua kakinya bergerak-gerak di atas panggung!
Terdengar suara ketawa di sana-sini dari mulut mereka yang suka akan tontonan yang menyeramkan, akan tetapi banyak pula yang meringis dan merasa ngeri, mengira bahwa kepala botak itu pecah atau setidaknya tentu akan robek-robek.
Kang Swi mendekati, kakinya menendang.
"Bukkk!"
Tubuh itu tercabut dan terlempar ke luar panggung, jatuh berdebuk di bawah panggung dalam keadaan pingsan, dirubung banyak orang dan mereka ini terheran-heran karena kepala botak itu sama sekali tidak terluka, sungguhpun orangnya pingsan.
Maka meledaklah sorak dan pujian yang dilontarkan orang kepada Kang Swi.
Diam-diam Perwira Su Kiat terkejut sekali.
Hari ini dia telah banyak sekali melihat orang-orang yang kepandaiannya jauh melampaui tingkatnya!
Apalagi perwira ini, bahkan Ho-nan Ciu-lo-mo Wan Lok It sendiri yang merupakan jagoan kepercayaan Gubernur Ho-nan terkejut melihat kepandaian Kang Swi.
Pemuda tampan itu benar-benar hebat, entah mana lebih lihai dibandingkan dengan pemuda tinggi kurus yang telah menang sepuluh kali pertandingan tadi.
Maka Ciu-lo-mo segera memberi isyarat kepada Su Kiat untuk memanggil pemuda tinggi kurus tadi, dan dia sendiri lalu duduk dan minum arak dari gucinya dengan hati penuh kegembiraan dan ketegangan hendak menyaksikan pertempuran yang tentu akan amat menarik antara kedua orang pemuda itu.
Sementara itu, Gubernur Kui Cu Kam sendiri mengangguk-angguk dan memuji, dia merasa senang kalau mendapatkan seorang pengawal yang lihai dan tampan seperti Kang Swi itu.
"Orang muda tinggi kurus yang telah menang sepuluh kali tadi, kini dipersilakan naik ke panggung!"
Su Kiat berseru dengan suara lantang.
Dia harus mengulang panggilannya sampai tiga kali, barulah kelihatan pemuda tinggi kurus itu naik ke atas panggung, sikapnya seperti orang ragu-ragu sehingga mengherankan hati sernua orang.
Apakah pemuda tinggi kurus itu takut melawan pemuda tampan yang telah mengalahkan si raksasa gundul itu?
Kang Swi sendiri terkejut dan terheran-heran ketika dia memandang wajah pemuda itu karena ternyata bahwa pemuda itu bukan lain adalah tukang kudanya sendiri!
Siauw-hong!
Dia memang su-dah menduga bahwa tukang kudanya itu adalah seorang pengemis muda yang memiliki kepandaian, akan tetapi sungguh sama sekali tidak disangkanya bahwa Siauw-hong yang hanya kebetulan saja bertemu dengan Siluman Kecil, kini ikut pula memasuki sayembara dan menurut ucapan perwira itu tadi telah menang sepuluh kali!
"Harap Ji-wi enghiong suka memperkenalkan kepada Taijin dan semua tamu yang terhormat!"
Terdengar Perwira Su Kiat yang mendapatkan isyarat dari Ciu-lo-mo berseru dari sudut panggung.
Siauw-hong dan Kang Swi segera menghadap ke arah tempat kehormatan, menjura ke arah para pembesar di situ dan terdengarlah Kang Swi berkata dengan suara lantang.
"Hamba bernama Kang Swi!"
Siauw-hong juga menjura dan berkata, suaranya lirih, tidak selantang suara pemuda royal itu.
"Hamba bernama Siauw-hong!"
Su Kiat lalu memberi isyarat dengan mengangkat tangannya.
"Karena calon-calon sudah habis, maka untuk menentukan siapa pemenangnya, harap ji-wi enghiong suka mulai dengan pertandingan ini. Silakan!"
"Kongcu...."
Siauw-hong berkata sambil memandang kepada calon lawannya dengan sinar mata penuh keraguan.
"Hemmm, kiranya engkau, Siauw-hong?"
Kang Swi berkata lirih.
"Benar, Kongcu". Kang Swi memandang kepada Siauw-hong dengan penuh perhatian dan diam-diam merasa tertarik sekali. Wajah itu kini tidak kotor seperti biasa, melainkan bersih dan pakaiannya, biar-pun sederhana dan tidak mewah, namun rapi dan tidak ada tambalannya seperti kemarin. Wajah itu tampan sekali, biarpun agak kurus. Dipandang seperti itu, Siauw-hong merasa canggung dan malu.
"Harap maafkan, Kongcu, sebenarnya.... saya telah tamat belajar maka saya berhak menanggalkan pakaian pengemis itu. Saya saya ingin mencari pengalaman, maka saya memasuki sayembara ini, tidak saya sangka akan berhadapan dengan Kongcu sebagai saingan."
Dia tersenyum, hanya sebentar saja senyumnya karena dia segera memandang dengan wajah serius kembali. Kang Swi tertawa.
"Bagus! Aku senang sekali dapat menguji kepandaianmu, Siauw-hong. Marilah!"
"Silah-kan Kongcu mulai,"
Kata Siauw hong yang bersikap hormat dan merendah.
"Nah, jagalah serangan-ku!"
Kang Swi menerjang maju dengan cepat dan Siauw-hong juga sudah bergerak cepat sekali mengelak dan balas menyerang.
Gerakan pemuda pengemis ini mantap dan cepat, dari lengannya menyambar hawa pukulan yang membuktikan bahwa dia telah memiliki kekuatan sinkang yang cukup hebat.
Kang Swi si pemuda tampan yang royal itu terkejut bukan main karena baru terbuka matanya bahwa tukang kudanya itu, yang dianggapn sebelumnya hanya pernah belajar silat saja, ternyata merupakan seorang ahli silat kelas tinggi!
Apalagi ketika Siaw-hong mainkan ilmu silat yang penuh mengandung serangan-serangan totokan maut amat aneh dan cepat, dia sampai terdesak mundur!
Akan tetapi, pemuda hartawan she Kang ini mempunyai semacam watak yang buruk, yaitu dia selalu terlalu mengandalkan kepandaiannya sendiri sehingga sedikit congkak dan memandang remeh kepandaian orang lain.
Kini, biar pun sudah jelas padanya bahwa kepandaian Siauw-hong sama sekali tidak boleh dipandang ringan, namun dia bersikap sebagai seorang yang tingkatnya lebih tinggi hendak menguji kepandaian orang yang lebih rendah tingkatnya, maka dia sengaja main mundur dan hendak "menguras"
Kepandaian orang!
Karena kekurang hati-hatian yang timbul dari kecongkakan inilah, ketika dia menangkis sambil mengelak, tanpa dapat dicegahnya lagi lengan dekat sikunya kena tertotok dan hampir saja dia berteriak karena untuk beberapa detik lamanya lengan, yang tertotok itu menjadi lumpuh!
Namun, memang orang she Kang ini lihai bukan main.
Tubuhnya sudah mencelat ke atas, tinggi sekali seperti seekor burung terbang, berjungkir balik sampai empat kali di udara dan ketika dia turun kembali, lengannya sudah sembuh dan kini baru dia tahu bahwa Siauw-hong benar-benar amat berbahaya kalau diberi kesempatan.
Oleh karena itu, dia lalu menyerang dan mengeluarkan ilmu simpanannya.
Dari kedua tangannya yang terbuka itu menyambar hawa yang mengeluarkan suara bersuitan seperti gerakan sebatang pedang tajam.
Siauw-hong berseru kaget dan cepat mengelak ke sana-sini.
Di bawah panggung, menyelinap di antara banyak orang, Siluman Kecil juga kagum sekali.
Dia belum berhasil menemukan nenek penjual sepatu rumput yang dianggapnya mencuri uangnya itu, maka dia berkesempatan pula menonton pertandingan antara dua orang yang dikenalnya dengan baik itu, dan terkejutlah Siluman Kecil.
Tidak disangkanya bahwa mereka, terutama sekali Siauw-hong yang tidak mau mengaku siapa gurunya itu, ternyata adalah orang-orang yang benar-benar amat lihai, bukanlah ahli-ahli silat sembarangan saja!
Dan kini dia memandang dengan penuh perhatian ilmu silat yang mujijat dari Kang Swi, maklum bahwa pukulan-pukulan yang mengandung hawa tajam bersuitan itu benar-benar amat berbahaya sekali.
Dia dapat menduga bahwa kalau dilanjutkan, selain Siauw-hong tentu kalah, juga pukulan itu mungkin saja mencelakakan pengemis muda itu.
Dia pasti tidak akan mendiamkannya saja kalau sampai Kang Swi mencelakai Siauw-hong dalam pertandingan mengadu ilmu itu, pikirnya.
Perkiraan Siluman Kecil memang tidak salah.
Siauw-hong terkejut setengah mati ketika melihat cara lawan ini menyerangnya.
Hawa pukulan yang mengeluarkan bunyi bersuitan itu hebat bukan main dan ketika dia memberanikan diri menangkis dengan pengerahan sinkang, lengan bajunya robek-robek seperti terbabat pedang dan kulit lengannya terluka berdarah seperti disayat pisau tajam!
Tentu saja dia meloncat ke belakang dan menjura.
"Saya mengaku kalah!"
Ho-nan Ciu-lo-mo Wan Lok It yang tadi pun menonton pertandingan itu, merasa kagum dan juga girang karena dua orang ini benar-benar patut untuk menjadi rekannya dan menjadi pengawal-pengawal pribadi Gubernur Ho-nan karena kepandaian mereka boleh diandalkan!
Akan tetapi selagi dia ingin memanggil kedua orang itu untuk menghadap gubernur, kelihatan ada orang meloncat naik ke atas panggung.
Melihat ini, Siauw-hong yang sudah merasa kalah itu segera mundur dan diajak turun oleh Ho-nan Ciu-lo-mo yang mempersilakan dia menanti di bawah panggung.
Sementara itu, ketika Kang Swi melihat siapa yang meloncat ke atas panggung menghadapinya, dia tersenyum lebar.
"Aihhh, kiranya badut sandiwara itu yang muncul!"
Dia mengejek, dan orang pincang yang gagu itu hanya memandang tajam, kemudian dengan gerak tangan dia menantang.
Para penonton yang berada di sekeliling panggung memandang heran, ada pula yang tertawa.
Bagaimana orang bercambang bauk yang baru datang ini demikian berani mati?
Mungkin juga per-nah belajar ilmu silat, akan tetapi melihat bahwa dia hanya seorang gagu dan seorang yang kakinya pincang pula, mana mungkin dapat melawan pemuda tampan yang ternyata amat lihai itu?
Akan tetapi, Kang Swi yang juga ingin sekali tahu sampai di mana kelihaian orang gagu dan pincang yang dia duga menyamar itu, segera menyambut tantangan dengan kata-kata nyaring.
"Kau majulah!"
Si gagu sudah menerjang dengan pukulan sembarangan.
Akan tetapi, orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi dan yang berada di tempat itu, seperti Siauw-hong, Kang Swi sendiri, Ciu-lo-mo, Siluman Kecil dan orang-orang lain terkejut karena mereka ini maklum betapa di balik pukulan sembarangan itu tersembunyi hawa pukulan yang amat kuat.
Kang Swi yang menangkis pukulan itu segera mengetahuinya karena tangkisannya yang dilakukan dengan pengerahan tenaga sinkangnya ternyata bertemu dengan tenaga sakti yang amat dahsyat dan yang membuat dia terhuyung!
Marahlah pemuda tampan ini.
Sambil berteriak keras dia menerjang, langsung saja dia mengeluarkan ilmu pukulan yang mengandung hawa tajam bersuitan tadi.
Akan tetapi sekali ini dia benar-benar bertemu tanding.
Biarpun si gagu itu tidak mengeluarkan ilmu-ilmu tertentu yang dapat dikenal orang, melainkan bergerak sembarangan saja, bahkan gerakannya meniru gerakan lawan, namun tetap saja Kang Swi menjadi kewalahan!
Pukulan-pukulannya dengan mudah dapat dielakkan atau ditangkis tanpa mengakibatkan apa-apa karena hawa pukulan mujijat yang tajam itu ternyata lenyap ditelan hawa pukulan dari lawannya, bahkan beberapa kali dia dibuat terhuyung ke belakang, terpelanting ke samping atau hampir jatuh terjerumus ke depan.
Seolah-olah dia tidak berdaya dan dipermainkan oleh serangkum tenaga dahsyat yang menguasainya.
Celakanya, secara aneh sekali tenaga si gagu itu kadang-kadang mengandung hawa panas membakar dan kadang-kadang dingin membekukan sehingga Kang Swi benar-benar menjadi bingung dan penasaran.
Karena jelas bahwa dia kalah angin, dan betapapun dia mengeluarkan seluruh kepandaian dan mengerahkan seluruh tenaganya tetap saja dia terdesak, dia merasa tersinggung kehormatannya, maka Kang Swi meraba gagang pedangnya dengan maksud menggunakan senjatanya itu.
"Uh-uh-uhhh!"
Terdengar si gagu berseru keras dan tiba-tiba Kang Swi terpelanting roboh, dan dia hanya merasa betapa kakinya terangkat dan dia tidak dapat mencegah lagi tubuhnya terpelanting!
Sorak-sorai menyambut kemenangan si gagu ini.
Akan tetapi Kang Swi menjadi amat marah.
Dia meloncat bangun dan hendak mencabut pedangnya, akan tetapi ternyata Ho-nan Ciu-lo-mo telah berada di situ dan berkata.
"Silakan Ji-wi ikut bersama kami menghadap gubernur!"
Dan ternyata Siauw-hong juga sudah diajak oleh Wan Lok It ini.
Baca Juga: Bu Kek Siansu 7
Baca Juga: Suling Emas 10