Eps 6 Jodoh Rajawali - Kho Ping Hoo
Baca online Jodoh Rajawali - Kho Ping Hoo
Cersil Jodoh Rajawali - Kho Ping Hoo.
Sementara itu, Perwira Su Kiat mengumumkan bahwa kini telah terpilih tiga orang yang dianggap patut menjadi pengawal-pengawal pribadi di istana gubernur, yaitu yang pertama adalah si gagu, ke dua adalah Kang Swi, dan ke tiga adalah Siauw-hong.
Para penonton menyambut pengumuman ini dengan sorak-sorai memuji sedangkan tiga orang yang dipilih itu sudah diajak menghadap gubernur dan berlutut di depan Gubernur Ho-nan, Kui Cu Kam yang merasa girang memperoleh tiga orang yang demikian gagah perkasa sehingga hal itu akan lebih memperkuat kedudukannya.
Sang gubernur memuji-muji mereka bertiga dan menyatakan bahwa hari itu juga dia akan mengajak mereka bertiga kembali ke Lok-yang dan mereka itu langsung saja bertugas sebagai pengawal-pengawal istananya.
Perwira Su Kiat masih sibuk untuk mengadakan pemilihan calon-calon perajurit dan selagi para penonton masih memenuhi tempat itu, diam-diam Siluman Kecil menyelinap di antara banyak orang.
Tidak ada orang yang menaruh curiga kepadanya.
Siapa yang akan mencurigai seorang kakek sederhana dan biasa saja, seorang kakek yang menjadi seorang di antara ribuan orang penonton itu?
Siluman Kecil melihat seorang yang pakaiannya penuh tambalan seperti pengemis menyelinap di antara banyak penonton dan hatinya tertarik sekali.
Pengemis yang usianya setengah tua ini pakaiannya penuh tambalan, akan tetapi bersih.
Serupa benar dengan pakaian Siauw-hong sebelum pemuda itu berganti pakaian untuk mengikuti sayembara, sewaktu Siauw-hong masih menjadi seorang pengemis muda pula.
Pakaian yang agaknya masih baru namun sudah penuh tam-balan.
Lebih tertarik lagi hatinya ketika dia melihat betapa ada seorang kakek agaknya membayangi pengemis itu dan ternyata olehnya bahwa kakek ini adalah Ho-nan Ciu-lo-mo yang sudah dikenalnya.
Siapa yang tidak mengenal jagoan Honan itu?
Tentu saja dia sudah mengenal baik Ho-nan Ciu-lo-mo, apalagi pernah dia menjadi tamu kehormatan Gubernur Ho-nan ketika dia membersihkan Honan dari para penjahat sehingga dia memperoleh kehormatan diterima sebagai tamu kehormatan oleh gubernur dan dia sekalian menitipkan Phang Cui Lan kepada sang gubernur.
Melihat betapa Ciu-lo-mo membayangi atau lebih tepat mengejar pengemis setengah tua itu, Siluman Kecil merasa tertarik sekali dan dia pun cepat membayangi mereka berdua.
Dan benar saja dugaannya.
Ketika pengemis setengah tua itu telah keluar dari pekarangan semacam alun-alun yang penuh dengan penonton itu, dan agaknya dia maklum bahwa dia dibayangi oleh Ciu-lo-mo, pengemis itu lalu melarikan diri dengan gerakan cepat sekali.
Ciu-lo-mo juga cepat mengejarnya dan diam-diam Siluman Kecil yang masih menyamar sebagai seorang kakek itu pun mengejar dari jauh, ingin sekali melihat apa yang akan dilakukan oleh Ciu-lo-mo terhadap pengemis itu.
Suasana di kota agak sunyi karena semua orang tertarik untuk menonton sayembara di depan istana, maka pengemis itu yang berlari cepat dikejar oleh Ciu-lo-mo, dapat bergerak leluasa dan akhirnya yang berkejaran itu menuju ke pintu gerbang kota di sebelah utara.
Pengemis itu ternyata dapat berlari cepat sekali sehingga sekian lamanya belum juga Ciu-lo-mo mampu menyusulnya.
Ketika melihat betapa pengemis itu akan lolos dari pintu gerbang, Ciu-lo-mo cepat mengerahkan khikang-nya dan berteriak memberi perintah kepada penjaga pintu gerbang untuk menutupkan pintu gerbang.
"Tutup pintu gerbang....! Jangan biarkan dia lolos....!"
Suaranya menggema sampai jauh dan para penjaga pintu gerbang mengenal suara Ciu-lo-mo.
Apalagi ketika para penjaga yang berjaga di menara pintu gerbang melihat dari atas betapa Ciu-lo-mo datang berlari dari jauh mengejar seorang pengemis yang juga berlari cepat sekali, Mereka cepat-cepat memutar alat yang menggerakkan pintu gerbang itu.
Pintu besi yang amat tebal dan berat itu bergerak perlahan dari kanan kiri, berderit-derit suaranya ketika bergerak di atas landasan besi.
Karena tergesa-gesa didorong oleh perintah Ciu-lo-mo, maka empat orang sekaligus maju memutar alat untuk menggerakkan daun pintu besi yang dua buah dan yang maju dari kanan kiri itu.
Dua buah daun pintu itu sudah hampir tertutup, tinggal dua jengkal lagi ketika pengemis itu akhirnya tiba di situ.
Empat orang penjaga menghadangnya dengan tombak di tangan, akan tetapi dengan beberapa kali gerakan kaki tangannya, empat orang penjaga itu terlempar ke kanan kiri dan pengemis itu bagaikan burung terbang cepatnya sudah menerjang ke arah pintu yang masih dua jengkal terbuka.
Dia menggunakan kedua tangan menahan dua buah daun pintu.
Terjadilah adu tenaga antara empat orang penjaga yang memutar alat penutup pintu dan si pengemis.
Empat orang itu mengerahkan seluruh tenaga untuk memutar alat yang tiba-tiba macet itu, namun sia-sia belaka.
Dua orang penjaga maju lagi dan menyerang si pengemis yang mempertahankan daun pintu dengan golok, akan tetapi dua kali kaki pengemis itu menendang dan dua orang penjaga itu terlempar dan terbanting roboh.
Kini pengemis itu mengeluarkan suara nyaring dan tiba-tiba tubuhnya menyelinap melalui renggangan yang sebetulnya terlalu kecil untuk dilalui tubuhnya itu.
Ternyata dia telah memperguna-kan ilmu Sia-kut-hoat yang amat hebat sehingga dia dengan mudah dapat menerobos celah dua daun pintu itu dan lolos ke luar dari pintu gerbang, tepat pada saat Ciu-lo-mo telah tiba di situ.
"Tolol! Buka pintu!"
Teriak Ciu-lo-mo ketika melihat daun pintu itu kini terus tertutup setelah tidak ditahan lagi oleh tangan pengemis.
Mendengar bentakan ini, empat orang penjaga itu terkejut dan cepat memutar lagi alat untuk membuka daun pintu.
Ciu-lo-mo lalu menerobos keluar dan melanjutkan pengejarannya.
Para penjaga hanya melongo dan memandang dengan bingung ketika mereka melihat seorang kakek lain cepat berlari keluar dari pintu gerbang, tidak lama setelah Ciu-lo-mo lewat.
Tentu saja kakek ini adalah Siluman Kecli yang terus membayangi mereka berdua.
Setelah keluar dari kota, kini pengemis itu berlari makin cepat lagi, akan tetapi Ciu-lo-mo yang merasa penasaran mengejar secepatnya sehingga setelah tiba di lereng bukit, dia hampir berhasil menyusul pengemis itu.
Tiba-tiba pengemis itu berhenti dan mengeluarkan busur dan meluncurkan anak panah yang meletus ketika melayang sampai di tempat yang tinggi.
Itu adalah tanda rahasia dan tentu saja Ciu-lo-mo menjadi makin curiga.
Kiranya sekarang pengemis itu tidak lari lagi, bahkan menyambut kedatangan Ciu-lo-mo dengan sikap tenang.
Mereka berhadapan dan Ciu-lo-mo membentak.
"Mata-mata laknak! Engkau tentu seorang mata-mata, hayo cepat berlutut dan menyerah dengan baik-baik daripada harus kupaksa dengan kekerasan!"
"Setan Arak, siapa yang takut kepadamu?"
Pengemis setengah tua itu membentak.
"Mata-mata hina!"
Ho-nan Ciu-lo-mo marah sekali dan guci arak di tangannya menyambar ganas ke arah kepala pengemis itu.
Pengemis itu cepat mengelak dan balas menyerang dengan sebuah tongkat pendek yang ujungnya bercabang.
Gerakannya gesit dan juga mengandung tenaga dahsyat maka cepat Ciu-lo-mo menangkis dengan guci araknya.
Tenaga mereka seimbang karena benturan dua macam senjata itu membuat keduanya terjengkang akan tetapi tidak sampai roboh.
Melihat hal ini, Ciu-lo--mo tentu saja terkejut.
Tak disangkanya bahwa pengemis itu demikian lihai, maka dia cepat menu-bruk dan mengirim serangan bertubi-tubi dengan guci arak dan dengan tangan kirinya.
Pengemis itu pun bergerak cepat, mengelak, menangkis dan balas menyerang.
Terjadilah pertandingan yang seru dan dari balik sebuah pohon besar, Siluman Kecil hanya menonton tanpa mencampuri pertandingan itu karena dia pun tidak mengenal siapa adanya pengemis setengah tua yang cukup lihai itu.
Tiba-tiba Ciu-lo-mo mengeluarkan suara melengking nyaring dan guci araknya menyambar dari bawah menghantam ke arah dada lawan.
Serangan ini dahsyat sekali dan ketika pengemis itu menggerakkan tongkatnya untuk menangkis, dia terkejut bukan main melihat sinar keemasan menyambar ke arah mukanya.
Itulah arak yang muncrat dari dalam guci, yang merupakan senjata rahasia yang amat aneh dan berbahaya.
"Ahhh....!"
Pangemis itu menarik kepalanya ke belakang dan gerakan ini membuat tangkisannya menjadi kurang tepat.
"Trakkkkk....!"
Tongkatnya patah dan dia terlempar ke belakang.
Akan tetapi dia cepat sudah meloncat bangun dan melempar diri ke kiri sehingga terhindar dari pukulan maut yang disusulkan oleh Ciu-lo-mo.
"Tahan....!"
Tiba-tiba terdengar bentakan halus dan pada saat itu Ciu-lo-mo kembali sudah menyerang, akan tetapi dia merasa betapa ada serangkum hawa yang amat kuat mendorongnya dari samping membuat dia hampir roboh dan cepat-cepat dia melompat ke belakang dengan kaget sekali, lalu mengangkat muka memandang.
Ternyata yang muncul adalah seorang kakek yang bertubuh tinggi tegap dan bersikap gagah, bersama seorang setengah tua yang juga bersikap gagah walaupun pakaian mereka sederhana.
Siluman Kecil yang mengintai dari balik pohon, tadi kagum bukan main menyaksikan betapa kakek tua itu mendorong Ciu-lo-mo dari jarak jauh menggunakan tenaga sinkang yang amat hebat, dan dia mengenal kakek ini sebagai kakek pembeli sepatu rumput pada nenek penjual sepatu rumput, kakek yang memimpin rombongan beberapa orang.
Dia menduga-duga siapa gerangan kakek tua yang memiliki kepandaian tinggi ini.
Sementara itu, Ciu-lo-mo terkejut bukan main ketika dia mengenal laki-laki setengah tua, karena dia tahu bahwa laki-laki itu bukan lain adalah Panglima Souw Kee An, komandan Pasukan Garuda yang dulu mengawal Pangeran Yung Hwa!
Komandan yang lolos ketika dikepung dan telah terjerumus ke dalam selokan air di bawah tanah.
Dan kini komandan Souw Kee An datang bersama kakek tua yang kelihatan lihai ini, maka tentu saja dia menjadi gentar.
Menghadapi pengemis itu saja, dia sudah merasa agak sukar untuk memperoleh kemenangan, dan dia tahu bahwa kepandaian komandan Souw itu juga tinggi, setidaknya berimbang dengan dia.
Padahal kakek yang tadi hampir merobohkannya dengan dorongan dari jarak jauh itu sudah jelas merupakan lawan yang amat berat.
Ciu-lo-mo tidak akan menjadi orang kepercayaan Gubernur Ho-nan kalau dia, di samping kepandaiannya yang tinggi, tidak cerdik pula.
Dia tahu bahwa mengguna-kan kekerasan merupakan kebodohan, maka dia cepat menjura ke arah komandan Souw Kee An dan menebalkan muka berkata ramah.
"Ah, kiranya Souw-ciangkun yang datang! Kalau Cu-wi ada keperluan dengan taijin, silakan menghadap selagi taijin masih berada di Ceng-couw. Saya tadi mengejar dia karena sikapnya mencurigakan dan saya mengira dia seorang mata-mata musuh."
"Hemmm, memang dia mata-mata yang kami suruh menyelidiki ke Ceng-couw!"
Tiba-tiba kakek tinggi tegap yang gagah itu berkata, suaranya menggeledek dan penuh wibawa.
"Dan memang kami ingin bicara dengan Gubernur Ho-nan, Kui Cu Kam taijin. Akan tetapi kami tidak sudi memasuki perangkap yang kalian pasang di Ceng-couw, seperti yang telah kalian lakukan terhadap Pangeran Yung Hwa. Ciu-lo-mo, kau sampaikan kepada Gubernur Kui, kalau dia ingin damai, dia harus menemui kami di sini, bukan di istananya. Kalau tidak, maka terpaksa kami akan menghancurkan istananya dan menangkapnya sebagai seorang tawanan pemberontak!"
Biarpun tidak berani memperlihatkan sikap secara berterang karena dia merasa kedudukannya saat itu kalah kuat, namun di dalam hatinya Ciu-lo-mo mengejek kata-kata yang dianggapnya terlalu som-bong ini.
Tiga orang ini berada di wilayah Propinsi Ho-nan, akan tetapi berani mengeluarkan kata-kata sesombong itu!
Agaknya, kakek tua itu dapat membaca isi hati Ciu-lo-mo, maka tiba-tiba dia mengeluarkan suara menggereng seperti seekor singa marah.
Suaranya terdengar demikian keras sehingga bumi sekitar tempat itu seperti tergetar karenanya.
Siluman Kecil sendiri memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi menjadi terkejut dan diam-diam dia kagum sekali, Di dalam hati memuji kekuatan khikang kakek ini yang ternyata mahir ilmu Saicu-ho-kang (Ilmu Auman Singa).
Ilmu seperti ini kalau dipergunakan untuk menyerang lawan, sekali mengaum saja cukup untuk merobohkan lawan yang kurang kuat dan wibawanya melebihi singa tulen yang kalau hendak menangkap mangsa didahului dengan auman yang cukup membikin pingsan atau lumpuh binatang yang akan menjadi korbannya.
Ciu-lo-mo juga kaget setengah mati, apalagi ketika dia mendengar suara gegap-gempita, suara banyak sekali orang dari balik bukit.
Keringat dingin membasahi leher dan dahi jagoan Ho-nan itu karena dia mengerti apa artinya itu.
Kiranya kakek luar biasa ini bukan hanya datang sendirian, melainkan membawa bala tentara yang entah berapa banyaknya!
"Di sana terdapat selaksa perajurit pilihan yang sudah siap untuk menghancurkan daerah ini dan menangkap Gubernur Ho-nan kalau dia tidak mau hadir di sini.
Nah, kau pergilah!"
Kata kakek itu dengan sikap penuh wibawa kepada Ciu-lo-mo.
Ciu-lo-mo bersikap hormat, jantungnya berdebar penuh ketegangan.
Kakek ini dapat memimpin pasukan yang begitu besar, tahu-tahu sudah memasuki Propinsi Ho-nan tanpa ada penjaga tapal batas yang datang memberi kabar.
Hal ini saja sudah membuktikan bahwa kakek ini memang hebat luar biasa dan bahwa Propinsi Ho-nan terancam bahaya hebat.
Dia menjura dengan hormat dan berkata.
"Baiklah, saya akan menyampaikan pesan itu kepada Kui-taijin. Akan tetapi bolehkah saya mengetahui siapa gerangan Locianpwe, agar saya dapat memperkenalkan kepada Kui-taijin?"
Kakek itu tidak menjawab, bahkan memandang pun tidak kepada Ciu-lo-mo. Adalah komandan Souw Kee An yang menjawab.
"Ketahuilah olehmu, Ho-nan Ciu-lo-mo Wan Lok It. Beliau ini adalah utusan yang dipercaya oleh Sri Baginda Kaisar untuk menuntut pertanggungan jawab Gubernur Ho-nan atas peristiwa yang terjadi di Ho-nan tempo hari. Dunia kang-ouw mengenal beliau sebagai Saicu Kai-ong (Raja Pengemis Singa) dan secara tidak resmi seluruh perkumpulan kai-pang (persatuan kaum pengemis) memujanya sebagai seorang pemimpin dan pengawas."
Siapakah sebenarnya kakek yang hebat ini?
Memang kakek ini hanya terkenal di antara para tokoh dunia pengemis saja, sungguhpun dia tidak pernah berpakaian pengemis.
Kakek ini yang berjuluk Sai-cu Kai-ong dan dianggap sebagai raja oleh seluruh pengemis yang bagaimana rendah sampai tinggi pun, yang lemah sampai yang sakti, ini sebenarnya bernama Yu Kong Tek dan memang nenek moyangnya dahulu merupakan tokoh-tokoh pengemis yang hebat-hebat.
Yu Kong Tek ini masih keturunan dari Yu Jin Tianglo, ketua perkumpulan pengemis Khong-sim Kai-pang yang amat terkenal di jaman Suling Emas!
Yu Jin Tianglo mempunyai putera Yu Kang, kemudian Yu Kang mempunyai putera Yu Siang Ki (baca cerita Mutiara Hitam) yang menikah dengan Song Goat puteri seorang berilmu yang berjuluk Si Raja Obat (Yok-ong) dan kemudian suami isteri ini hidup sebagai orang-orang biasa dan membuka sebuah toko obat.
Biarpun Yu Siang Ki sudah tidak mengurus perkumpulan pengemis, bahkan telah mengundurkan dlri dari dunia pengemis, namun dia selalu masih menghargai kedudukan nenek moyangnya.
Oleh karena itu, turun-menurun keluarga Yu ini masih menggunakan tradisi nenek moyang mereka, yaitu di waktu muda mengembara sebagai seorang pengemis untuk menggembleng diri lahir batin!
Sampai kepada Kakek Yu Kong Tek, tokoh ini pun tidak pernah melupakan tradisi nenek moyangnya dan biarpun dia sekarang sebagai seorang kakek tidak lagi berpakaian pengemis, namun dia memakai julukan pengemis, yaitu Sai-cu Kai-ong!
Dan biarpun dia tidak langsung menjadi raja pengemis, namun namanya dikenal dan dihormati oleh seluruh kaum pengemis, dari anggauta terkecil sampai dengan para ketua perkumpulan yang berkepandaian tinggi.
Bagi para pembaca yang telah membaca, cerita Suling Emas dan cerita Mutiara Hitam, tentu akan bertemu dengan nenek moyang Sai-cu Kai-ong Yu Kong Tek ini.
Karena nenek moyangnya di fihak ayah adalah seorang ahli silat yang sakti sedangkan dari fihak ibu adalah seorang ahli pengobatan, maka Yu Kong Tek ini selain mewarisi ilmu silat tinggi, juga mahir ilmu pengobatan.
Dia jarang mun-cul, namun akhirnya dapat menjadi kepercayaan kaisar karena komandan Souw Kee An yang memperkenalkan namanya kepada kaisar.
Semenjak istana ditinggalkan oleh Puteri Milana, kaisar kehilangan orang kepercayaan yang memiliki kesaktian, maka banyak ponggawa yang setia memperkenalkan banyak orang-orang pandai, akan tetapi Sai-cu Kai-ong memperoleh kepercayan kaisar dan dalam kesempatan ini kepandaian dan kesetiaan tokoh ini diuji oleh kaisar dengan mengutusnya untuk membereskan kekacauan di Ho-nan.
Ho-nan Ciu-lo-mo Wan Lok It tidak mengenal kakek ini.
Tokoh Ho-nan berambut merah yang lihai ini hanya pernah mendengar bahwa di kalangan para pengemis terdapat seorang tokoh yang dijunjung tinggi dan dihormat oleh para pengemis, yang besar sekali pengaruhnya secara turun-temurun dan ilmu silat keluarga tokoh ini kabarnya amat hebat, bahkan menurut dongeng, tidak kalah hebatnya oleh ilmu silat keluarga Suling Emas!
Menurut dongeng yang didengarnya, antara keluarga tokoh pengemis itu dan keluarga Suling Emas, dahulu, ratusan tahun yang lalu, memang terdapat hubungan yang amat erat, seperti keluarga saja.
Seperti dikabarkan orang, ilmu keluarga Suling Emas katanya terjatuh ke tangan keluarga Pulau Es, dan ilmu keluarga pengemis aneh itu entah terjatuh ke tangan siapa.
Apakah benar kakek ini keturunan dari keluarga pengemis aneh itu?
Hatinya penuh ketegangan dan setelah memberi hormat dan berjanji akan menyampaikan semua kepada majikannya, Ciu-lo-mo lalu pergi meninggalkan mereka.
Setelah jagoan Ho-nan yang berambut kemerahan dan membawa guci arak itu pergi, pengemis setengah tua yang tadi bertanding melawan Ciu-lo-mo segera melangkah maju dan menjatuhkan diri berlutut di depan kakek gagah itu.
"Suhu!"
Kakek yang berjuluk Sai-cu Kai-ong itu memandang muridnya dan bertanya.
"Bagaimana hasil penyelidikanmu?"
Pengemis setengah tua itu adalah murid pertama dari Sai-cu Kai-ong dan dia pun hanya menggunakan nama julukan saja, sungguhpun dia masih memperkenalkan she-nya (nama keturunannya), yaitu she Gu.
Dia berjuluk Gu Sin-kai (Pengemis Sakti she Gu).
Mendengar pertanyaan gurunya, Gu Sin-kai lalu menceritakan tentang pemilihan pengawal yang diadakan oleh Gubernur Ho-nan, sampai dia dicurigai dan dikejar oleh Ho-nan Ciu-lo-mo tadi.
"Selain itu, teecu juga melihat suatu keanehan luar biasa, Suhu,"
Sambungnya.
"Teecu melihat sute, akan tetapi sungguh mengherankan teecu melihat sute memasuki sayembara pula dan dia berhasil dipilih sebagai pengawal gubernur tingkat ke tiga, yaitu sesudah seorang pincang gagu dan seorang kongcu yang tampan."
Diceritakanlah jalannya pertandingan pemilihan pengawal itu. Sai-cu Kai-ong mengerutkan alisnya yang tebal.
"Ahhhhh....! Memang telah kuberitahukan bahwa dia telah tamat belajar dan dia sudah bebas untuk menjadi pengemis atau orang biasa, akan tetapi sungguh tidak kuduga mengapa dia mengangkat diri menjadi pengawal Gubernur Ho-nan yang tersesat itu!"
Siluman Kecil yang masih mengintai dan mendengarkan, menjadi maklum bahwa ternyata Sai-cu Kai-ong yang gagah perkasa itu adalah guru dari Siauw-hong!
Maka dia merasa tidak enak untuk mengintai terus, apalagi ketika guru dan murid itu membicarakan urusan mereka sendiri.
Dia tidak perlu mendengarkan terus karena bagi dia masih banyak urusan menanti, yaitu mencari nenek pencuri dan kemudian mencari pencuri kitab-kitab pusaka Suling Emas.
Maka keluarlah Siluman Kecil dari tempat persembunyian dan dia berjalan pergi.
"Eh, apakah dia itu temanmu?"
Tiba-tiba Sai-cu Kai-ong bertanya kepada Gu Sin-kai.
"Teecu tidak mengenal dia, tidak tahu pula bahwa dia berada di sini."
"Ah....!"
Sai-cu Kai-ong mengeluarkan suara gerengan seperti singa dan tahu-tahu tubuhnya mencelat ke depan dan karena dia menaruh curiga kepada kakek yang diam-diam menyelinap pergi dari tempat persembunyiannya itu, langsung saja Sai-cu Kai-ong mengulur tangan hendak mencengkeram pundak Siluman Kecil dan menangkapnya untuk diperiksa.
Dia sedang memimpin pasukan dengan tugas amat penting dari kaisar, maka tentu saja kakek sakti itu harus bersikap waspada terhadap gerak-gerik musuh yang mungkin sudah menyebar mata-mata dan di antaranya barangkali adalah kakek yang hendak ditangkapnya itu.
"Wuuuttttt....!"
Tangan Sai-cu Kai-ong seperti cakar singa yang menyambar, cepat dan kuat bukan main menuju ke pundak kiri Siluman Kecil.
"Plakkkkk!"
Tanpa menoleh, Siluman Kecil menggerakkan tangannya menangkis sehingga dua tangan bertemu di udara.
Keduanya tergetar dan Sai-cu Kai-ong yang tubuhnya masih melayang tadi, cepat berjungkir-balik dan turun ke atas tanah dengan mata terbelalak lebar!
Sungguh tidak disangkanya bahwa orang itu mampu menangkis cengkeramannya dan bukan hanya mampu, bahkan dia merasa betapa lengannya tergetar hebat!
Juga Siluman Kecil merasa lengannya tergetar, tanda bahwa Sai-cu Kai-ong memang benar seorang sakti yang memiliki sinkang kuat sekali.
Sai-cu Kai-ong makin curiga.
Orang yang dapat menangkis dengan kekuatan seperti itu, malah agaknya jauh lebih kuat daripada Ciu-lo-mo tadi, tentulah seorang yang benar-benar merupakan mata-mata pilihan dari Gubernur Ho-nan dan merupakan bahaya bagi tugasnya.
Maka dengan cepat dia sudah menerjang lagi, kini menambah tenaga dalam gerakan tangannya.
Di lain fihak, ketika dia merasakan betapa lengannya sendiri tergetar hebat dalam pertemuan tangan tadi, Siluman Kecil menjadi gembira dan ingin sekali dia menguji kehebatan guru Siauw-hong itu, maka ketika melihat kakek gagah itu menyerang dengan cepat dan kuat, dia pun cepat bergerak mengelak dan balas menyerang tidak kalah hebatnya.
"Plak! Plakkk!"
Kembali ada pertemuan tenaga yang dahsyat melalui dua pasang telapak tangan dan keduanya terdorong mundur.
"Uhhh....!"
Sai-cu Kai-ong makin penasaran, mendengus keras dan menyerang lagi.
Akan tetapi, Siluman Kecil sudah lenyap dari depannya seperti setan dan tahu-tahu telah menyerangnya dari atas, mencengkeram ke arah batok kepalanya.
"Hebat....!"
Sai-cu Kai-ong menggerakkan tubuhnya miring dan tangannya menyambar, dapat ditangkis oleh Siluman Kecil yang selanjutnya mengeluarkan ilmunya yang mujijat, yaitu gerakan yang amat cepat seperti berkelebatnya kilat, seperti seekor burung yang beterbangan ke sana-sini dengan kecepatan yang mentakjub-kan.
Namun, dia harus mengakui bahwa daya tahan kakek itu pun hebat sekali sehingga setelah dia berkelebatan dan bertanding sampai lima puluh jurus, barulah dia berhasil melubangi ujung lengan baju kakek itu.
"Bukan main....!"
Sai-cu Kai-ong melompat ke belakang dan memeriksa lengan baju-nya yang sudah bolong!
Kalau tidak menghadapinya sendiri tentu dia tidak akan percaya.
Biarpun hanya merupakan kekalahan tipis saja, namun ternyata bahwa kakek di depannya ini telah dapat mengalahkannya!
Sungguh sukar dipercaya.
Tidak mungkin kiranya kalau Gubernur Ho-nan memiliki mata-mata yang seperti itu kepandaiannya, sedangkan orang kepercayaan gubernur itu saja, si Ciu-lo-mo, tingkat kepandaiannya baru setingkat dengan muridnya, Gu Sin-kai.
Di lain fihak, Siluman Kecil juga kagum karena kembali dia bertemu dengan seorang yang sakti!
Kalau mereka berdua bertanding sungguh-sungguh, dia masih belum dapat memastikan apakah dia akan dapat mengalahkan kakek ini dengan mudah.
Maka dia merasa ragu-ragu untuk maju, hanya menanti gerakan lawannya.
"Sabar, tahan dulu! Siapakah engkau dan mengapa engkau mengintai di sini?"
Tanya Sai-cu Kai-ong sambil memandang kakek di depannya itu penuh perhatian. Siluman Kecil menjura dan menjawab.
"Maaf, saya tidak sengaja mencampuri urusan Locianpwe. Saya kebetulan lewat, hanya orang lewat biasa saja.... maaf."
Siluman Kecil menjura lagi dan memutar tubuhnya hendak pergi dari situ.
"Sahabat yang baik, tunggu dulu!"
Sai-cu Kai-ong berseru.
Kakek ini sungguh luar biasa, pikirnya, berwatak demikian sederhana dan merendah, kepandaiannya begitu tinggi namun masih menyebut dia "locianpwe".
"Setelah kita bertemu di sini, setelah tanpa disengaja kita saling menguji kepandaian, apakah sahabat menganggap saya terlalu rendah untuk dijadikan kenalan? Saya disebut orang Sai-cu Kai-ong dan saya merasa kagum sekali kepadamu yang memiliki kepandaian hebat. Bolehkan saya mengetahui namamu yang terhormat?"
Siluman Kecil menggeleng kepalanya yang penuh rambut putih menutupi mukanya yang keriputan.
"Saya tidak bernama....saya tidak mempunyai nama...."
Sai-cu Kai-ong tidak merasa heran mendengar ini.
Dia maklum bahwa makin tinggi kepandaian orang, makin seganlah dia memperkenalkan namanya.
Dia sendiri pun tidak pernah menyebutkan namanya sendiri dan membiarkan orang lain menamakannya.
Tidak pernah nama aselinya, yaitu Yu Kong Tek, dikenal orang.
"Sahabat yang baik, biarpun engkau tidak sudi memperkenalkan nama, akan tetapi dengan hormat saya mengundangmu untuk menemani kami. Harap saja engkau orang tua tidak akan menolak undangan kami"
Siluman Kecil sebetulnya tidak suka untuk berkenalan dengan orang banyak.
Akan tetapi, mendengar tentang urusan Pangeran Yung Hwa tadi, dia merasa tertarik sekali dan sebetulnya ingin juga dia mengetahui bagaimana perkembangan urusan yang menyangkut diri pangeran itu, maka tanpa banyak cakap dia lalu mengangguk.
Sai-cu Kai-ong girang sekali dan dia lalu bersama Siluman Kecil, diiringkan oleh Gu Sin-kai dan Panglima Souw Kee An, kembali ke perkemahan para pasukan di balik bukit, di mana dia menjamu Siluman Kecil dan bercakap-cakap tentang ilmu silat.
Makin gembiralah hati Sai-cu Kai-ong mendengar betapa tamunya itu ternyata luas sekali pengetahuannya tentang ilmu silat.
Sebaliknya, Siluman Kecil terkejut ketika mendengar pengakuan tuan rumah bahwa kakek gagah itu ternyata adalah keturunan dari para pendiri Khong-sim Kai-pang dan nenek moyangnya menjadi sahabat-sahabat baik dari keturunan Pendekar Sakti Suling Emas!
Siluman Kecil mendengarkan pula penuturan tentang lenyapnya Pangeran Yung Hwa yang tadinya menjadi utusan kaisar, lenyap ketika terjadi keributan di taman bunga istana Gubernur Ho-nan.
Yang menceritakan urusan ini adalah Perwira Souw Kee An.
Menjelang sore hari itu, penjaga melaporkan bahwa di kejauhan muncul kurang lebih seribu orang perajurit dari Ho-nan dan utusan pasukan itu datang menyampaikan berita bahwa Gubernur Ho-nan telah datang untuk menemui pimpinan pasukan kota raja yang diutus oleh kaisar dan ingin bicara!
Mendengar ini, Sai-cu Kai-ong mengangguk-angguk.
"Baik sekali kalau dia datang bicara,"
Katanya di hadapan Siluman Kecil, Souw Kee An, dan Gu Sin-kai.
"Aku pun tidak akan merasa senang kalau harus menggempur Ho-nan dan mengorbankan banyak perajurit dan rakyat yang tidak berdosa."
Kakek gagah ini lalu memerintahkan penjaga untuk membawa utusan pasukan gubernur itu menghadap.
Setelah perajurit yang bermuka pucat itu menghadap, Sai-cu Kai-ong berkata.
"Sampaikan kepada Gubernur Kui Cu Kam, bahkan saya akan menantinya di puncak bukit, dan saya mempersilakan dia datang tanpa pasukan, hanya bersama satu orang pengawal saja. Pergilah!"
Perajurit itu pergi dan Sai-cu Kai-ong berkata.
"Sahabat yang baik, kini aku minta kepadamu untuk menemaniku menemui gubernur."
"Baik, Kai-ong,"
Jawab Siluman Kecil.
"saya pun ingin sekali mendengar bagaimana nasib pangeran itu."
Siluman Kecil kini menyebut tuan rumah itu Kai-ong, karena Sai-cu Kai-ong menolak ketika disebutnya locianpwe.
Sedangkan Saicu Kai-ong hanya menyebut Siluman Kecil "sahabat"
Saja karena Siluman Kecil berkeras tidak mau memperkenalkan namanya.
Berangkatlah dua orang itu ke puncak bukit.
Dan mereka melihat bahwa dari depan, ada dua orang pula yang mendaki puncak bukit kecil itu dan ternyata mereka itu adalah Gubernur Kui Cu Kam sendiri yang dikawal oleh seorang kakek yang bertubuh tinggi besar seperti raksasa, kepalanya botak, mantelnya lebar dan berwarna merah darah, dan mulutnya selalu menyeringai lebar dengan lagaknya yang congkak.
Orang ini bukan lain adalah Ban Hwa Sengjin, koksu dari Nepal yang telah bersekutu dengan Gubernur Ho-nan!
Setelah empat orang ini saling berjumpa di puncak bukit itu, mereka tidak saling memberi hormat, melainkan saling pandang dengan sinar mata penuh selidik.
Akhirnya, Gubernur Ho-nan bertanya.
"Menurut pelaporan Ciu-lo-mo, engkau mengundang kami datang ke sini. Apakah urusannya?"
Dari suaranya, jelas bahwa gubernur ini marah sekali karena sesungguhnya dia datang dengan terpaksa karena khawatir mendengar ancaman itu, bahwa kalau dia tidak datang maka Ho-nan akan diserbu.
Menurut para penyeli-diknya, memang ada sepuluh ribu orang perajurit kota raja siap di balik puncak bukit ini!
Sai-cu Kai-ong mengangguk dan berkata.
"Gubernur Kui Cu Kam, kami memenuhi peritah kaisar untuk menuntut agar engkau suka membebaskan Pangeran Yung Hwa dan memberi penjelasan akan sikapmu yang tidak layak itu!"
Suara Sai-cu Kai-ong menggeledek dan muka gubernur itu menjadi agak pucat.
Akan tetapi, Ban Hwa Seng-jin hanya tersenyum mengejek dan memandang rendah, bahkan dia menggerak-gerakkan kakinya untuk menghilangkan lumpur dari bawah sepatunya pada sebongkah batu karang.
Nampak bunga api berpijar ketika bawah sepatunya bertemu dengan batu karang dan ujung batu karang itu pun hancur lebur oleh injakan sepatunya yang dilapis tapal baja!
Tentu saja suara tapal baja mengenai batu karang itu nyaring dan mengganggu dan memang inilah yang dimaksudkan oleh Ban Hwa Seng-jin untuk memperlihatkan sikap bahwa dia sama sekali tidak memandang sebelah mata kepada dua orang kakek di depannya itu.
Gubernur Kui tersenyum dan matanya yang sipit menyambar penuh kecerdikan.
"Kalau memang manusia she Hok dari Ho-pei itu sudah mengadu ke sana, penjelasan dari kami apalagi artinya? Tentu keadaan yang sebenarnya telah diputarbalikkan oleh orang she Hok Gubernur Hopei itu. Di antara dia dan kami memang sudah lama ada pertikaian mengenai wilayah di perbatasan, dan pertikaian itu meletus ketika dia mengantar Pangeran Yung Hwa sebagai utusan kaisar. Keributan antara dia dan kami serta para pembantu kami kedua fihak tak dapat dicegah lagi. Sudah tentu saja dia memutarbalikkan kenyataan dan mendongeng di kota raja bahwa fihak kami sengaja hendak mencelakakan Pangeran Yung Hwa. Padahal, fihak orang she Hok itulah yang sengaja memancing timbulnya keributan di taman istana kami agar dapat mempergunakan sebagai bahan fitnah."
Sai-cu Kai-ong mengerutkan alisnya.
Dia pribadi tentu saja tidak akan berfihak kepada Gubernur Ho-nan ini atau kepada Gubernur Ho-pei, dan dia tidak pula mengatahui apa urusannya antara mereka berdua.
Akan tetapi sebagai utusan, dia hanya akan melaksanakan apa yang menjadi tugasnya.
"Gubernur Kui, penjelasanmu tentu akan kami sampaikan kepada Sri Baginda Kaisar. Sekarang, kami harap engkau suka membebaskan Pangeran Yung Hwa agar beliau dapat kembali ke kota raja bersama kami."
Gubernur itu kembali tersenyum, lalu berkata lantang.
"Anggapan bahwa kami menangkap Pangeran Yung Hwa tentu timbul karena fitnah yang dilontarkan oleh Gubernur Ho-pei itu. Padahal, kami hanya melindungi Pangeran Yung Hwa karena kami tahu bahwa fihak Ho-pei tentu berusaha sekuat mungkin untuk dapat membunuh pangeran itu sehingga kemudian kami pula yang akan dituduh sebagai pembunuhnya. Pangeran Yung Hwa kami lindungi dan dalam keadaan selamat. Tentu akan kami bebaskan dan setelah mendengar perjelasan kami ini, maka pengiriman pasukan dari kota raja itu sungguh tidak pada tempatnya dan harap sekarang juga ditarik mundur kembali."
"Hemmm, mudah saja menarik mundur pasukan. Akan tetapi saya hanya akan menarik mundur pasukan kalau sudah melihat Pangeran Yung Hwa dibebaskan dan berada di antara kami."
"Orang tua yang tinggi hati! Kami mendengar bahwa engkau bukanlah seorang panglima, dan menurut Ciu-lo-mo, engkau hanya seorang kang-ouw yang berjuluk Sai-cu Kai-ong."
"Memang benar demikian,"
Jawab kakek itu tenang.
"Mengapa orang seperti engkau tidak mempercayai kami?"
Bentak gubernur itu, marah bukan main bahwa seorang "raja pengemis"
Saja berani tidak percaya kepadanya."
"Tidak ada soal percaya atau tidak percaya, Kui-taijin. Kami hanya menjalankan tugas yang akan kami pertahankan sampai detik terakhir. Kami ulangi bahwa kami baru akan menarik mundur pasukan kalau Pangeran Yung Hwa sudah diserahkan kepada kami."
Gubernur itu menoleh kepada Ban Hwa Sengjin dan sampai beberapa lamanya mereka bertemu pandang, kemudian Gubernur Kui berkata.
"Baiklah, kau tunggu saja. Besok akan kami bebaskan Pangeran Yung Hwa. Hari sudah mulai gelap, kami akan kembali dulu."
Setelah berkata demikian, gubernur itu mengangguk kepada Ban Hwa Sengjin.
Koksu dari Nepal yang bertubuh seperti raksasa itu lalu memondong tubuh Gubernur Kui, kemudian dia berlari cepat sekali menuruni bukit itu.
Gerakannya gesit dan larinya seperti terbang saja.
"Hemmm, raksasa itu lihai sekali dan gubernur itu amat cerdik,"
Kata Sai-cu Kai-ong dan Siluman Kecil mengangguk.
"Saya kira juga ada sesuatu yang direncanakannya,"
Kata Siluman Kecil.
Sai-cu Kai-ong lalu mengajak Siluman Kecil kembali ke perkemahan dan dia mengadakan rapat kilat di antara para pembantunya.
Semua pembantunya juga menyatakan rasa curiga mereka terhadap Gubernur Kui, maka akhirnya diambil keputusan bahwa Sai-cu Kai-ong sendiri, dibantu oleh Gu Sin-kai, pergi menyelidiki ke istana Gubernur Kui di Lok-yang dan atas permintaan Sai-cu Kai-ong, Siluman Kecil mau juga menemani mereka.
Berangkatlah mereka bertiga pada malam hari itu juga menuju ke Lok-yang.
Malam itu amat sunyi di istana gubernuran di kota Lok-yang.
(Lanjut ke
Jilid 18) Jodoh Rajawali (Seri ke 10 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 18 Karena menurut keterangan dari Ho-nan Ciu-lo-mo bahwa Gubernur Kui sedang sibuk dengan urusan penting dan belum sempat berbicara dengan tiga orang jagoan yang terpilih sebagai pengawal-pengawal pribadi, maka tiga orang yang memenangkan sayembara yang diadakan di Ceng-couw itu kini diserahi tugas menjaga keamanan di istana gubernuran, ditemani oleh Ciu-lo-mo sendiri.
Seperti diceritakan di bagian depan, yang memang dalam pertandingan itu adalah tiga orang, yaitu pertama adalah laki-laki pincang yang gagu, ke dua adalah, Kang Swi pemuda royal itu, dan ke tiga adalah Siauw-hong, yaitu pengemis muda yang tadinya menjadi tukang kuda dari Kang Swi.
Setelah menang dalam sayembara, Kang Swi memberikan empat ekor kudanya kepada A-cun, kacungnya itu dan menyuruh kacungnya itu pergi.
Kang Swi yang berwatak ugal-ugalan dan manja, juga agak angkuh itu, masih merasa penasaran karena dia hanya jatuh nomor dua, dinyatakan kalah oleh si pincang gagu!
Padahal, siapakah si gagu itu?
Orang yang sama sekali tidak punya nama!
Benar-benar tidak punya nama karena si gagu itu tidak bisa menjawab ketika ditanyai namanya, dan ketika disuruh tuliskan namanya, dia menggeleng-geleng kepala dan menggoyang-goyangkan tangannya sebagai tanda bahwa dia tidak dapat menulis.
Pincang, gagu, dan buta huruf!
Akan tetapi toh dianggap pengawal nomor satu dan dia berada di bawahnya!
Karena malam itu sunyi dan mereka menanti berita dari gubernur, maka mereka merasa kesal juga.
Setelah makan malam, Ciu-lo-mo lalu mengajak mereka bermain kartu.
Akan tetapi, dalam permainan ini pun si gagu amat bodoh dan sukar diajari sehingga Kang Swi merasa makin tidak senang.
"Aku berani bertaruh bahwa kumismu itu palsu, Gagu!"
Katanya.
Karena tidak punya nama, maka laki-laki pincang gagu yang menjadi yang nomor satu atau juara di antara tiga pengawal baru yang terpilih itu, disebut Gagu.
Dan si Gagu ini biarpun tidak pandai bicara, rupanya dapat mengerti semua kata-kata orang yang ditujukan kepadanya.
Akan tetapi, ternyata orangnya pendiam, sabar dan terhadap goda-godaan dan gangguan-gangguan Kang Swi dia sama sekali tidak mau melayani-nya.
"Kang-sicu, harap kau suka hentikan godaan-godaanmu itu. Jangan sampai dia menjadi marah dan terjadi keributan antara engkau dan dia."
Ciu-lo-mo akhirnya menegur Kang Swi yang terus-menerus menggoda Gagu.
"Hemmm, kalau dia marah aku pun tidak takut,"
Kata Kang Swi.
"Bukan soal takut, akan tetapi kalau sampai terjadi keributan di sini, bukankah hal itu tidak baik sekali?"
Ciu-lo-mo menasihatinya.
Akan tetapi, di dalam hatinya Kang Swi masih merasa penasaran dan marah karena dikalahkan oleh orang gagu dan pincang ini, maka dia tetap saja membantah.
"Mana dia berani ribut-ribut? Akan kubuka kedoknya kalau dia ribut-ribut. Dia ini orang palsu, entah darimana dia. Kalau dia berani ribut, kuajak keluar dia dan dalam pertandingan sungguh-sungguh, tentu pedangku mampu membuka kedoknya!"
Ciu-lo-mo mengerutkan alisnya dan tiba-tiba si gagu menggebrak meja, lalu bangkit berdiri dan meninggalkan mereka bertiga.
Kang Swi juga bangkit, akan tetapi Ciu-lo-mo berkata.
"Kang-sicu, harap kau jangan mencari keributan di sini. Biarlah dia sendiri dan jangan mengganggu lagi!"
Suaranya mulai terdengar keras sehingga Kang Swi menengok kepadanya.
"Apa yang dikatakan oleh Ciu-lo-mo memang benar, Kang-kongcu. Sebagai pengawal-pengawal baru, sungguh tidak baik kalau membuat ribut-ribut. Kalau nanti taijin datang dan mendengar bahwa antara engkau dan si Gagu terjadi keributan, tentu beliau menjadi marah."
Siauw-hong juga membujuk Kang Swi.
Pemuda tampan ini mengeluarkan suara mendengus dari hidungnya seolah-olah dia tidak takut akan semua akibatnya, akan tetapi akhirnya dia duduk lagi dan mereka bertiga melanjutkan permainan mereka tanpa mempedulikan si Gagu yang kelihatan berjalan-jalan perlahan seperti orang yang sedang meronda, memandang ke sana-sini dengan penuh perhatian.
Ketika Ciu-lo-mo menoleh kepadanya, si Gagu memberi isyarat dengan kedua tangannya bahwa dia hendak meronda dan berkeliling memeriksa istana itu untuk menjaga keamanan.
Ciu-lo-mo dapat mengerti maksudnya, maka untuk mencegah agar jangan sampai si Gagu itu digoda terus oleh pemuda she Kang itu, dia mengangguk memberi ijin.
Mula-mula si Gagu meronda di dekat sekitar tempat itu dan masih kelihatan oleh tiga orang pengawal yang bermain kartu, akan tetapi ketika dia mendapat kenyataan bahwa dirinya tidak lagi diperhatikan oleh tiga orang yang makin asyik bermain kartu setelah tidak ada gangguan dari si Gagu yang kurang pandai bermain, si Gagu menyelinap dan masuk ke bagian belakang dari istana itu.
Dan begitu dia menyelinap masuk dan tidak nampak lagi oleh tiga orang itu, tiba-tiba tubuhnya berkelebat dan dengan kecepatan luar biasa dia telah meloncat ke dalam taman dan mencari-cari!
Agaknya dia tidak asing dengan tempat itu, buktinya dia berlari ke sana-sini dengan cepatnya dan akhirnya tibalah dia di tempat tahanan yang tersembunyi, yaitu di bagian ujung belakang istana.
Dia melihat enam orang perajurit pengawal berjaga di luar sebuah kamar sambil bercakap-cakap.
Si Gagu lalu keluar dari tempat sembunyinya, dan berjalan seenaknya menghampiri mereka.
Enam orang perajurit itu ketika melihat si Gagu, cepat berdiri dan memberi hormat.
Mereka tentu saja sudah mengenal si Gagu yang telah diperkenalkan kepada semua pasukan pengawal, bahkan tiga orang pengawal pribadi gubernur yang baru itu tadi menjadi bahan percakapan mereka, terutama si Gagu ini yang membuat mereka merasa kagum sekali.
Pincang, gagu dan kabarnya buta huruf, namun memiliki kepandaian yang amat tinggi sehingga mengalahkan semua peserta sayembara.
Bahkan mereka mendengar bahwa tingkat kepandaian si Gagu ini kiranya masih lebih tinggi daripada tingkat kepandaian Ciu-lo-mo sendiri.
"Selamat malam, Ciangkun!"
Kata mereka serentak, bingung harus menyebut apa kepada si Gagu yang tak bernama ini.
Si Gagu mengangguk-angguk sambil tersenyum lebar, kemudian dengan tangannya dia menuding ke arah kamar dan menunjuk dada sendiri, lalu menunjuk dua orang di antara mereka.
Dengan jelas dia memberi isyarat bahwa dia ingin memeriksa kamar itu dan minta agar ditemani oleh dua orang diantara mereka.
Mereka saling pandang dengan ragu-ragu, akan tetapi karena si Gagu ini adalah orang baru yang menjadi pengawal pribadi gubernur, mereka tentu saja tidak berani membantah, apalagi ada mereka di situ, dan si Gagu minta diantar oleh dua orang.
Dua orang pengawal lalu mengantarnya membuka pintu kamar dengan kunci dan masuklah mereka bertiga.
Ternyata Pangeran Yung Hwa yang berada di dalam kamar itu, kamar yang cukup mewah dan indah, dan pangeran itu kelihatan sehat-sehat saja, bahkan ketika mereka memasuki kamar itu, pa-ngeran yang muda itu sedang asyik membaca kitab.
Ketika mendengar pintu dibuka, dia menoleh dan memandang tiga orang yang masuk itu dengan alis berkerut, kemudian Pangeran Yung Hwa membentak.
"Mau apa kalian? Berani sekali masuk tanpa kupanggil!"
Dua orang pengawal itu menjura dengan hormat sekali.
"Harap Paduka maafkan, Pangeran. Perwira....eh, Gagu yang baru saja diangkat menjadi pengawal ini...."
Tiba-tiba orang itu menghentikan kata-katanya karena pada saat itu, berbareng dengan temannya dia sudah roboh pingsan ditotok dengan jari-jari tangan si Gagu di arah tengkuk mereka.
Si Gagu cepat menyambar tubuh mereka agar tidak roboh.
Pangeran Yung Hwa tentu saja terkejut sekali, akan tetapi tiba-tiba orang yang dinamakan Gagu itu berkata lirih kepadanya.
"Harap Paduka tenang saja, Pangeran. Saya datang untuk menolong Paduka keluar dari tempat tahanan ini."
Ternyata si Gagu itu sama sekali tidak gagu! Bahkan dia dapat bicara dengan halus sekali.
"Akan tetapi...."
Pangeran Yung Hwa berkata dengan mata terbelalak, bingung dan juga curiga.
"Sssttttt...."
Si Gagu itu memberi tanda dengan jari di depan bibir, kemudian dia berjalan ke pintu, membuka pintu sedikit dan memberi isyarat kepada para penjaga di luar pintu agar dua di antara mereka masuk.
Dua orang pengawal bergegas masuk, akan tetapi begitu mereka tiba di dalam, sebelum mereka sempat berteriak, mereka sudah roboh oleh totokan si Gagu yang amat lihai.
Kembali dia menjenguk keluar pintu dan dua orang penjaga lainnya dipanggilnya masuk dengan isyarat tangan, dan mereka ini pun dirobohkannya.
Enam orang pengawal itu roboh semua dalam keadaan pingsan tertotok!
"Apa artinya ini?"
Pangeran Yung Hwa bertanya sambil berdiri tegak dan memandang tajam kepada orang yang tidak dikenalnya itu.
"Maaf, Pangeran. Kiranya tidak banyak waktu untuk memberi penjelasan. Akan tetapi saya datang untuk membebaskan Paduka...."
"Ah, akan tetapi aku tidak ditahan! Aku malah dilindungi di sini."
Si Gagu menjadi terkejut dan memandang heran.
"Dilindungi?"
"Benar, Gubernur Ho-nan telah menyelamatkan aku dan melindungi aku dari ancaman Gubernur Ho-pei yang hendak memberontak! Aku tidak diperbolehkan kembali karena khawatir kalau tertimpa bencana, bahkan katanya sampai sekarang orang-orangnya Gubernur Ho-pei masih mencari-cariku. Dan kau.... jangan-jangan.... kau...."
Pangeran itu memandang tajam penuh kekhawatiran.
"Ah, Paduka telah ditipu! Gubernur Ho-nan itulah yang akan memberontak! Saya mengalaminya sendiri, juga Gubernur Ho-pei hampir saja tewas! Percayalah Paduka kepada saya, dan mari kita lari selagi masih ada waktu."
"Hemmm, engkau orang aneh, aku tidak mengenalmu, akan tetapi.... memang aku juga selalu curiga kepada Gubernur Ho-nan. Katanya aku selalu dilindungi dan dijaga, akan tetapi aku dilarang keluar dari kamar, seperti orang tahanan saja."
"Memang Paduka ditawan...., marilah...."
Si Gagu lalu menggandeng tangan Pangeran Yung Hwa diajak lari keluar dari dalam kamar itu.
Dengan cepat dia mengajak pangeran itu ke ruangan dalam dan dia mencari-cari jalan keluar yang paling aman.
"Sebaiknya kalau saya menyelidiki dulu keadaan di luar harap Paduka menunggu...."
Bisiknya dan dia lalu menghampiri jendela ruangan itu, menjenguk ke luar untuk melihat keadaan.
Kemudian perlahan-lahan dia membuka pintu ruangan itu untuk meneliti keadaan di luar.
"Wuuuttttt....!"
Terkejutlah si Gagu ketika dia melihat ada bayangan orang menyambar turun dari atas genteng dan tahu-tahu orang itu telah tiba di depan pintu ruangan.
Orang ini adalah seorang pengemis setengah tua.
Si Gagu terkejut sekali melihat munculnya seorang yang berpakaian pengemis.
Juga pengemis itu pun terkejut melihat seorang laki-laki bercambang bauk berada di dalam tempat itu bersama Pangeran Yung Hwa yang sudah dikenalnya.
"Pangeran, harap, Paduka tenang. Kami datang untuk menolong Paduka!"
Kata si pengemis dan secepat kilat dia sudah menyerang si Gagu!
Tentu saja si Gagu terkejut dan dia pun cepat mengelak dan balas menyerang, karena dia sendiri tidak percaya bahwa pengemis ini datang untuk menolong Pangeran Yung Hwa.
Keadaan negara sedang kacau dan banyak terdapat orang-orang yang berniat membantu pemberontak, maka dia tidak boleh percaya kepada siapapun juga dalam hal menolong Pangeran Yung Hwa ini.
Pengemis setengah tua itu bukan lain adalah Gu Sin-kai, murid dari Sai-cu Kai-ong yang datang ke istana itu bersama gurunya dan Siluman Kecil.
Mereka bertiga melakukan penyelidikan secara berpencar untuk mencari tempat ditahannya Pangeran Yung Hwa dan kebetulan sekali Gu Sin-kai melihat si Gagu bersama Pangeran Yung Hwa di dalam ruangan itu.
Tentu saja Gu Sin-kai menganggap si Gagu itu orangnya gubernur dan langsung saja dia menyerangnya.
Terjadilah pertempuran di dalam ruangan itu.
Pangeran Yung Hwa sendiri hanya menonton saja dengan bingung.
Dua orang yang saling hantam ini keduanya mengaku datang hendak menolongnya, akan tetapi kedua-duanya tidak dia kenal, maka tentu saja dia tidak tahu harus percaya dan membantu yang mana.
Karena itulah maka dia diam saja dan hanya menanti perkembangan selanjutnya.
Akan tetapi ternyata kepandaian si Gagu terlalu tinggi bagi Gu Sin-kai dan dalam belasan jurus saja Gu Sin-kai sudah terdesak hebat sekali sampai beberapa kali terhuyung dan nyaris roboh.
Baiknya bagi pengemis ini adalah kenyataannya bahwa si Gagu tidak mau menurunkan tangan besi, karena kalau demikian, kiranya pengemis itu sudah roboh sejak tadi.
Tiba-tiba terdengar suara menggele-dek.
"Muridku, mundurlah kau!"
Dan dari luar menerjang masuk seorang kakek yang gagah perkasa, yang datang-datang terus menerjang si Gagu dengan pukulan yang mendatangkan angin bersuitan saking kuatnya tenaga sinkang yang terkandung di dalamnya.
Gu Sin-kai cepat melompat mundur dan hatinya girang melihat kedatangan gurunya, yaitu Saicu Kai-ong.
Seorang kakek lain yang sebenarnya adalah penyamaran Siluman Keciil, juga sudah tiba di situ dan Siluman Kecil hanya menonton saja ketika melihat Sai-cu Kai-ong bertanding melawan laki-laki penuh cambang bauk itu.
Tidak perlu membantu seorang yang sakti seperti Sai-cu Kai-ong, pikirnya dan di dunia ini jarang ada orang yang akan mampu menandingi kakek itu.
Akan tetapi, makin lama dia menjadi makin terheran-heran dan memandang dengan mata terbelalak kaget dan kagum ketika dia melihat betapa lawan Sai-cu Kai-ong itu ternyata memiliki gerakan yang cepat dan hebat bukan main!
Tentu saja Sai-cu Kai-ong sendiri merasa terkejut ketika tangkisan lengan lawannya itu membuat dia terhuyung ke belakang.
Dia menjadi penasaran dan menubruk dengan pengerahan tenaga dahsyat karena dia ingin cepat merobohkan lawan ini agar dapat menolong Pangeran Yung Hwa.
"Desssss....!"
Pertemuan tenaga itu amat hebatnya dan akibatnya tubuh Sai-cu Kai-ong terlempar ke belakang dan dia harus berjungkir-balik beberapa kali baru dapat berdiri dan memandang ke-pada lawannya dengan mata terbelalak.
Kemudian dia menerjang lagi dan kini Siluman Kecil yang menjadi bengong.
Orang itu ternyata dapat melancarkan pukulan-pukulan Swat-im Sin-ciang dan Hwi-yang Sin-ciang dari Pulau Es!
"Keparat!"
Bentaknya dan ketika kembali Sai-cu Kai-ong terdorong mundur dengan muka pucat dan tubuh menggigil kedinginan, Siluman Kecil sudah menerjang ke depan, disambut oleh si Gagu dengan sama kuatnya.
Keduanya terkejut karena ternyata serangan mereka dapat dielakkan oleh lawan dengan mudah.
Melihat kesaktian lawannya, Siluman Kecil langsung saja mengeluarkan ilmu-nya, ilmu yang hebat, yaitu ilmu gerak kilat yang diberi nama Sin-ho-coan-in (Bangau Sakti Menerjang Awan).
Hebat bukan main pertandingan itu.
Tubuh Siluman Kecil mencelat ke sana-sini, namun tidak mudah baginya untuk dapat mengalahkan si Gagu yang ternyata benar-benar sakti dan menyimpan banyak ilmu-ilmu mujijat dan sakti itu.
Sai-cu Kai-ong yang berdiri menonton berkali-kali menggeleng kepalanya.
Baru sekarang ini selama hidupnya dia menyaksikan pertandingan yang seperti ini hebatnya.
Dia seorang sakti, keturunan dari keluarga yang gagah perkasa, namun pandang matanya sampai menjadi kabur ketika dia menyaksikan kakek berambut putih itu bertanding melawan laki-laki bercambang bauk.
Sukar mengatakan siapa yang terdesak karena keduanya berkelebatan seperti dua ekor bucung garuda bertanding di angkasa.
Di seluruh ruangan itu menyambar-nyambar angin pukulan yang bercampur aduk, sebentar panas sebentar dingin sehingga Pangeran Yung Hwa sendiri sudah bersembunyi di balik meja di sudut ruangan karena tidak tahan menghadapi sambaran-sambaran angin itu.
Kulit mukanya terasa sakit semua dilanda hawa yang amat panas dan kadang-kadang berubah amat dingin itu, bahkan Gu Sin-kai sendiri juga sudah menjauh sampai mepet dinding ruangan.
Si Gagu agaknya merasa penasaran bukan main.
Selama ini, dia hanya mengeluarkan sebagian kecil saja kepandaiannya untuk melayani musuh, akan tetapi sekarang ini, biarpun dia sudah menge-luarkan semua ilmu simpanannya, dia masih tidak mampu menang, bahkan mulai terdesak karena gerakan kilat lawannya benar-benar amat hebat.
Dengan penasaran dia lalu mengerahkan seluruh tenaga di kedua tangannya, lalu memukul dengan dorongan kuat.
Siluman Kecil terkejut bukan main.
Dia tahu bahwa pukulan lawannya itu merupakan pukulan maut yang amat hebat, maka dia pun lalu menerimanya dengan dua tangan didorongkan ke depan sambil mengerahkan tenaga sakti yang selama ini dilatihnya, yaitu tenaga sakti yang merupakan penggabungan dari inti tenaga Im dan Yang.
"Bresssss....! Tubuh si Gagu terlempar seperti sehelai daun tertiup angin dan tubuh Siluman Kecil terhuyung-huyung sampai jauh ke belakang. Hebat bukan main pertemuan tenaga itu, terasa oleh semua orang dan dinding ruangan itu sampai tergetar. Tubuh si Gagu rebah terlentang dan dia mengeluh perlahan, kulitnya luka-luka seperti terkena air mendidih. Cambang bauk dan kumisnya ternyata palsu semua dan kini cambang bauk itu copot semua, meninggalkan pemuda yang tampan. Akan tetapi, Siluman Kecli juga kehilangan topeng penyamarannya yang dilakukan oleh Kang Swi. Topeng itu terkupas oleh hawa pukulan lawan sehingga kelihatanlah wajah yang aseli, wajah seorang pemuda yang tampan akan tetapi dengan rambut panjang berwarna putih semua, wajah Siluman Kecil yang aseli! "Kokooooo....!"
Tiba-tiba Siluman Kecil lari dan menubruk si "Gagu"
Yang masih terlentang di atas lantai ruangan itu.
"Koko.... ah, Kian Lee koko.... kiranya engkau.... ya Tuhan, apa yang telah kulakukan tadi....?"
Dan Siluman Kecil merangkul dan memeluk tubuh si "Gagu"
Itu dan menangis sejadi-jadinya!
Semua orang terkejut bukan main menyaksikan peristiwa aneh ini.
Sai-cu Kai-ong sampai melongo karena tidak disangkanya bahwa "kakek"
Sakti yang menjadi temannya itu ternyata adalah seorang yang masih amat muda dan yang kini menangis, seperti anak kecil memeluk bekas lawannya yang juga masih amat muda.
Sementara itu, si "Gagu"
Yang ternyata adalah penyamaran Suma Kian Lee, membuka mata memandang orang yang memeluknya.
Luka yang dideritanya akibat pukulan gabungan tenaga Im dan Yang dari Siluman kecil itu hebat sekali, akan tetapi dia tidak pingsan, bahkan kini dia tidak mengeluh sama sekali, menahan rasa nyeri yang seolah-olah menghancurkan seluruh tulang di dalam tubuhnya.
Mula-mula dia memandang penuh keraguan ke arah wajah pemuda berambut putih itu, rambut putih itulah yang meragukannya, akan tetapi kemudian dia pun menggerakkan kedua lengannya yang lemah, memeluk dan berkata.
"Aihhhhh.... Kian Bu adikku.... sayang, betapa sukarnya mencarimu, Bu-te. Engkaukah kiranya si kakek rambut putih tadi? Bukan main, adikku, kau hebat.... sekali...., ah, kau maju pesat sekali.... uhhh, adikku, betapa selama bertahun-tahun aku rindu kepadamu, Bu-te...."
"Koko, ah, Koko.... apa yang telah kulakukan tadi....?"
Siluman Kecil yang ternyata bukan lain adalah Suma Kian Bu, masih menangis melihat keadaan kakaknya.
Pukulannya tadi hebat sekali, pukulan yang dilatihnya selama bertahun-tahun ini, pukulan yang mengandung penggabungan dari inti tenaga sakti Im dan Yang.
Di tempat asal mereka, yaitu di Pulau Es, mereka berdua memang telah digembleng oleh ayah mereka, Si Pen-dekar Super Sakti, dan telah melatih diri dengan ilmu inti hawa sakti Im, yaitu Swat-im Sin-kang dan Hwi-yang Sin-kang, inti dari hawa sakti Yang.
Dan ayah mereka pun telah melatih mereka dengan penggabungan antara kedua ilmu itu, akan tetapi penggabungan itu hanya merupakan kerja sama, yaitu menggunakan Hwi-yang Sin-kang dan Swat-im Sin-kang secara bergantian, atau juga berbareng dengan tangan kanan dan kiri.
Akan tetapi, penggabungan kedua tenaga yang berlawanan, sehingga merupakan tenaga yang mujijat sekali, yang ketika melatihnya hampir saja mengorbankan nyawanya akan tetapi ternyata dia telah berhasil menguasai tenaga mujljat itu.
Dan kini, yang menjadi korban adalah kakaknya sendiri!
"Sudahlah,....
jangan berduka, adikku....
aku....
aku mati pun tidak akan penasaran....
engkau tidak bersalah....
kita saling menyamar dan tidak mengenal....
dan kau hebat sekali, Bu-te....eh, adikku, kenapa rambutmu menjadi putih semua....?
Apakah untuk menyamar?
Bu-te....
kalau kau pulang nanti....
jangan bilang kepada Ayah dan Ibu....
bahwa....
kita saling bertanding...."
Napas Kian Lee terengah-engah dan agaknya sukar sekali baginya untuk bicara.
"Koko....!"
Kian Bu memeluknya.
Sampai dalam keadaan hampir tewas pun kakaknya ini tidak menyalahkannya, bahkan ingin agar tidak sampai diketahui oleh orang tua mereka bahwa adiknya yang telah memukulnya seperti itu!
"Kian Lee koko....
kalau kau mati....
aku pun tidak mau hidup!"
"Ah, jangan begitu, Bu-te...."
Kakak dan adik ini berpelukan.
Melihat ini, Saicu Kai-ong yang sejak tadi melongo dan hanya mendengarkan saja dua orang pemuda luar biasa itu berangkulan dan bicara, kini melangkah maju dan berkata.
"Biarkan saya memeriksa dan mengobatinya."
Kian Bu menoleh kepadanya.
"Locian-pwe, dia ini kakakku, dan dia hampir tewas oleh pukulanku sendiri. Kalau Locianpwe dapat menyembuhkannya, aku Suma Kian Bu akan berterima kasih sekali dan tidak akan melupakan budimu."
"Suma....?"
Kini Sai-cu Kai-ong terkejut setengah mati.
"Kalian she Suma? Ada hubungan apa dengan majikan Pulau Es, Suma Han?"
"Dia adalah ayah kami...."
Kata Suma Kian Bu dengan suara lirih dan lemah.
"Ahhh....! Ya Tuhan, kalian putera Pendekar Super Sakti dan telah saling hantam sendiri? Minggirlah, biarkan aku memeriksanya dan aku akan berusaha mati-matian untuk menyelamatkan dia."
Akan tetapi pada saat itu, terdengar suara ribut-ribut.
Ternyata kini pasukan pengawal telah mengepung ruangan itu!
Melihat munculnya banyak pengawal, otomatis Kian Bu memondong tubuh kakaknya sedangkan Sai-cu Kai-ong cepat memondong Pangeran Yung Hwa.
"Dari mana datangnya penjahat-penjahat yang bosan hidup berani mengancam di sini?"
Tiba-tiba terdengar seruan nyaring dan seperti seekor burung melayang tahu-tahu di antara para pasukan pengawal itu meloncat masuk seorang pemuda tampan yang bukan lain adalah Kang Swi.
Pemuda ini langsung menyerang ke arah Sai-cu Kai-ong untuk merampas Pangeran Yung Hwa yang dipondong oleh kakek itu.
Akan tetapi, kakek gagah perkasa itu sudah melompat ke samping dan terdengar Gu Sin-kai membentak marah lalu kakek pengemis inilah yang menerjang dan menyambut Kang Swi.
Mereka segera bertanding dengan hebat sedangkan para pengawal sudah menyerbu ke dalam ruangan itu sehingga kakek gagah perkasa dan Kian Bu yang masing-masing menggendong Pangeran Yung Hwa dan Kian Lee, mengamuk dengan tamparan satu tangan dan tendangan-tendangan kaki mereka.
Sepak terjang kakek itu hebat, dan Kian Bu yang marah dan berduka melihat keadaan kakaknya, juga marah bukan main sehingga setiap tendangan atau tamparan tangannya tentu merobohkan seorang pengeroyok.
Senjata-senjata beterbangan dan para pengeroyok terlempar ke sana-sini di tengah-tengah teriakan-teriakan mereka.
Akan tetapi, Gu Sin-kai terdesak hebat oleh Kang Swi yang amat lihai, apalagi setelah Kang Swi mencabut pedangnya.
Biarpun Gu Sin-kai melawan mati-matian dengan tongkatnya, namun tetap saja dia menjadi kewalahan karena pedang di tangan Kang Swi benar-benar amat lihai, mengeluarkan suara bersuitan dan mengandung hawa yang panas dan tajam.
Tiba-tiba Gu Sin-kai berteriak kaget ketika ujung pedang itu mencium pundaknya sehingga bajunya robek dan pundaknya berdarah.
"Mundurlah, Gu Sin-kai, biarkan saya yang menghadapinya!"
Teriak Kian Bu marah dan biarpun dia menggunakan tangan kirinya untuk memanggul tubuh kakaknya, namun dengan berani dia menerjang Kang Swi dengan tangan kosong.
"Wuuuuuttt....!"
Angin pukulan dahsyat menyambar ganas ke arah pemuda royal itu.
"Eihhhhh...., kau....?"
Kang Swi berseru kaget sekali, tidak mengira bahwa Siluman Kecil yang telah menjadi "sahabatnya"
Itu kini menyerangnya demikian ganas.
Dia cepat mengelak, akan tetapi tetap saja sambaran hawa pukulan itu membuat dia terdorong mundur dan terhuyung-huyung!
"Saudara Kang Swi, mundurlah!
Kau telah keliru membela orang!
Gubernur Ho-nan adalah seorang pemberontak,"
Kian Bu berkata.
"Jangan kau halangi kami menyelamatkan Pangeran Yung Hwa!"
"Twako, aku telah menjadi pengawal, aku harus setia kepada tugasku. Kembalikan Pangeran Yung Hwa dan aku akan membiarkan kalian pergi dengan baik-baik!"
Kata Kang Swi.
"Bandel, kalau begitu terpaksa kita harus menjadi lawan!"
Kian Bu menerjang lagi.
Kang Swi menyambut dengan pedangnya yang ditusukkan ke arah lambung Kian Bu sedangkan kakinya menendang ke arah lutut Siluman Kecil itu.
"Huhhh!"
Kian Bu mendengus, tangannya tidak ditarik mundur melainkan langsung menangkis pedang itu!
Dan dia pun menyambut tendangan lawan dengan tendangan kakinya.
"Tranggg.... dukkk.... aihhhhh....!"
Kang Swi menjerit dan tubuhnya terlempar ke belakang, terbanting keras dan dia bangkit duduk dengan mata terbelalak sambil memijit-mijit kakinya.
Tulang keringnya bertemu dengan kaki Siluman Kecil, bukan main nyerinya, kiut-miut rasanya menusuk-nusuk tulang sumsum, sedangkan pedangnya yang bertemu dengan tangan pendekar itu tadi telah terlempar, entah lenyap kemana.
Tentu saja dia bengong dan hampir tidak percaya bahwa dia dirobohkan dalam segebrakan saja, dan betapa pedangnya ditangkis oleh tangan kosong saja!
Akan tetapi, Kian Bu tidak mempedulikannya lagi karena pada saat itu telah muncul Ho-nan Ciu-lo-mo dan Siauw-hong!
Di belakang mereka nampak banyak pengawal lagi yang memenuhi tempat itu!
Ho-nan Ciu-lo-mo segera mengenal Kian Lee yang berada di atas pundak Kian Bu, maka tahulah dia bahwa istana itu telah kebobolan mata-mata dari Ho-pei, akan tetapi ketika dia melihat Sai-cu Kai-ong, dia terkejut setengah mati.
Kiranya orang tua gagah yang memimpin pasukan besar dari kota raja itu pun telah berada di situ dan kini sudah memondong Pangeran Yung Hwa.
Dia maklum akan siasat majikannya, maka dia lalu membentak marah.
"Penculik-penculik hina, lepaskan Pangeran Yung Hwa!"
Bentaknya dan bersama beberapa orang pembantu dia sudah menerjang maju.
Akan tetapi Kian Bu yang tidak ingin melihat pangeran itu terancam bahaya, sudah memapaki si muka dan rambut merah itu dengan tamparan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya memondong tubuh kakaknya.
"Wuuuttttt....!"
Ciu-lo-mo cepat mengelak dan terkejut melihat sambaran tenaga dahsyat itu.
Cepat dia menggerakkan guci araknya menyerang ke arah kepala Kian Bu, sedangkan arak dari guci itu muncrat menyerang ke arah muka Kian Lee yang setengah pingsan.
"Keparat!"
Kian Bu. membentak, dengan gerakan tangannya dia menangkis dan sekaligus membuyarkan percikan arak itu dengan tiupan mulutnya.
"Tranggg!"
Guci arak membalik dan nyaris terlepas dari tangan Ciu-lo-mo saking kerasnya terpental oleh tangkisan itu.
"Hong-ji (Anak Hong)....!"
Terdengar Sai-cu Kai-ong berseru ketika dia melihat Siauw-hong menyerbu ke dalam.
"Suhu....!"
"Apa kau sudah gila? Kau membantu musuh-musuhku?"
Kakek itu membentak lagi sambil merobohkan seorang pengawal yang menyerangnya dengan golok dari samping dengan tendangan kakinya yang panjang dan besar.
"Suhu....!"
Siauw-hong memandang bingung.
"Teecu.... teecu menjadi pengawal dengan baik...."
"Tolol! Yang kau bantu adalah seorang pemberontak!"
"Ahhhhh....!"
Siauw-hong memandang bingung.
"Hayo kau bantu kami keluar dari tempat ini, menyelamatkan Pangeran ini!"
Kakek itu kembali berseru.
"Baik, Suhu!"
Siauw-hong berseru dan kini dia membalik, sekali bergerak dia telah merobohkan dua orang pengawal!
Akan tetapi, kini banyak sekali pengawal yang sudah mengepung tempat itu sehingga tidak ada lagi jalan keluar yang terbuka.
Para pengawal yang tidak kebagian ruangan berjejal di depan pintu dan jendela, siap dengan senjata di tangan untuk menggantikan kawan-kawan mereka yang roboh.
Melihat ini, Kian Bu merasa khawatir.
Betapapun lihainya mereka, menghadapi begitu banyak lawan di tempat sempit ini amat berbahaya, pikirnya.
Apalagi amat berbahaya bagi kakaknya yang terluka parah.
"Mampuslah!"
Dia membentak dan melancarkan pukulan Hwi-yang Sin-ciang ke arah Ciu-lo-mo.
Kakek pemabuk ini terkejut mendengar suara pukulan yang bercicitan suaranya itu.
Dia cepat menggerakkan guci araknya dengan sepenuh tenaga untuk menangkis.
"Pyarrrrr....!"
Guci arak itu pecah berantakan araknya muncrat berhamburan dan tubuh si muka dan rambut merah itu roboh terjengkang!
"Siauw-hong, kau tolong panggul kakakku ini, biar aku membuka jalanl"
Tiba-tiba Kian Bu berseru kepada Siauw-hong yang juga masih mengamuk dan melindungi suhunya.
"Baik, Taihiap,"' jawab Siauw-hong dan dia cepat mendekati Kian Bu dan menerima tubuh Kian Lee yang sudah lemas setengah pingsan itu lalu dipondongnya. Melihat ini, Sai-cu Kai-ong merasa girang.
"Hong-ji, kau sudah mengenal pendekar ini?"
Tanyanya sambil bergerak ke sana-sini sambil menggerakkan lengan bajunya yang lebar untuk menghalau senjata-senjata yang datang menyerangnya.
"Tentu saja, Suhu,"
Jawab Siauw-hong sambil meloncat ke kiri untuk membiarkan lewat sebatang tombak yang menusuknya, kemudian tangan kanannya mendorong dan si pemegang tombak itu menjerit dan roboh terjengkang.
"Taihiap ini adalah Siluman Kecil."
"Ahhhhh...."
Sai-cu Kai-ong berteriak kaget.
Sungguh dia telah mendengar banyak hal yang aneh dan mengejutkan.
Tadi, pemuda berambut putih itu mengaku sebagai putera Pendekar Super Sakti dari Pulau Es, dan kini ternyata menurut penuturan muridnya, pemuda itu adalah juga Siluman Kecil yang namanya sudah tersohor!
Kini Kian Bu yang sudah tidak lagi memondong tubuh kakaknya, mengamuk bagaikan seekor naga sakti.
Dia menggunakan ilmunya yang mujijat, yaitu ilmu Sin-ho-coan-in, tubuhnya berkelebatan ke sana-sini dengan cepatnya dan kedua tangannya menyambar-nyambar ganas sehingga dalam waktu pendek saja, semua pengawal yang berada di ruangan itu sudah roboh malang melintang seperti disambar petir.
"Mari keluar, biar aku membuka jalan!"
Teriaknya dan dia sudah menerjang ke pintu, sekali dorong saja dia merobohkan enam orang pengawal di luar pintu.
Tentu saja kehebatan pemuda yang rambutnya putih terurai ini mengejutkan orang-orang, apalagi ketika mereka mengenal bahwa pemuda itu bukan lain adalah Siluman Kecil!
"Siluman Kecil....!"
"Celaka, dia mengamuk. Minggir....!"
Para perwira pengawal dan para anggauta pengawal yang sudah pernah melihat bayangan Siluman Kecil, Bahkan pernah menyanjungnya sebagai seorang pendekar perkasa yang mengamankan Ho-nan, menjadi gentar sekali dan mereka semua mundur.
Memang nama Siluman Kecil sudah terkenal sekali di Ho-nan.
Dia pernah membersihkan Ho-nan dari gangguan orang-orang jahat, bahkan pernah mengakurkan semua fihak yang bertentangan dari orang-orang kang-ouw, dan dia pernah diterima oleh Gubernur Ho-nan sendiri sebagai seorang pahlawan.
Dan kini, Siluman Kecil mengamuk dan membantu orang-orang yang hendak melarikan Pangeran Yung Hwa.
Keraguan dan rasa jerih menghantui hati para pengawal sehingga mereka tidak banyak melawan atau menghalangi ketika Kian Bu mempelopori teman-temannya keluar dari ruangan itu dan langsung melarikan diri keluar dari daerah istana gubernuran.
"Siluman Kecil mengamuk!"
"Siluman Kecil melarikan Pangeran Yung Hwa!"
Teriakan-teriakan para pengawal ini membuat para pengawal lain menjadi gentar hatinya dan mereka tidak banyak melakukan usaha pencegatan sehingga rombongan Kian Bu dapat terus melarikan diri sampai ke pintu gerbang.
"Buka pintu! Aku, Siluman Kecil, hendak lewat bersama teman-temanku! Jangan membikin aku marah!"
Kian Bu membentak, suaranya nyaring dan menggema karena memang dia sengaja mengerahkan khikangnya dan dia sengaja menggunakan nama julukannya untuk menggertak agar mereka tidak perlu mengerahkan tenaga dan membuang waktu untuk menggunakan kekerasan terhadap para penjaga di pintu gerbang itu.
Dia harus cepat dapat menyelamatkan kakaknya.
Jangan-jangan kakaknya yang dipondongnya lagi itu telah tewas!
Dia menunduk, dan melihat bahwa Suma Kian Lee ternyata masih membuka mata memandangnya dengan kagum.
"Kau hebat, adikku.... kau hebat...."
Bisik Kian Lee.
"Ahhhhh....!"
Jantung Kian Bu rasanya seperti ditusuk dan bagi pendengarannya, pujian kakaknya itu seperti ujung pedang menghujam dadanya karena kehebatannya itu dipergunakan untuk memukul roboh kakaknya sendiri!
"Lekas buka!
Kalau tidak, kubunuh kalian semua!"
Bentaknya geram untuk menutupi hatinya yang tersiksa rasanya.
"Baik.... baik, Taihiap!"
Terdengar jawaban seorang penjaga dan bergegas dia membuka pintu benteng itu dibantu oleh kawan-kawannya.
Keluarlah mereka dari tembok kota yang merupakan benteng pertahanan kota Lok-yang.
Akan tetapi, malam telah mulai terganti pagi dan tiba-tiba nampak debu mengebul dan dari depan datanglah serombongan orang berkuda yang dipimpin oleh seorang raksasa berkepala botak bermantel merah.
Ban Hwa Sengjin koksu dari Nepal bersama pengawal-pengawal pribadi Gubernur Kui dari Ho-nan!
Kiranya sudah ada berita terdengar oleh Gubernur Kui yang masih berada di Ceng-couw dan mendengar berita bahwa ada keributan di Lok-yang, maka gubernur minta bantuan Koksu Nepal yang sakti itu untuk memimpin serombongan pengawal cepat-cepat menuju ke Lok-yang dan kebetulan sekali mereka bertemu dengan rombongan yang melarikan Pangeran Yung Hwa itu di luar tembok benteng Lok-yang!
"Ha-ha-ha-ha, kiranya kalian ini hanyalah penculik-penculik hina!"
Bentak Ban Hwa Sengjin sambil tertawa bergelak penuh ejekan.
"Seperti sekumpulan maling kesiangan saja. Setelah bertemu dengan kami, lebih baik kalian menyerah daripada mati konyol!"
Biarpun suaranya agak kaku namun ternyata Koksu Nepal ini pandai sekali berbicara dalam bahasa daerah. Sai-cu Kai-ong marah sekali.
"Manusia sombong! Engkau menjadi kaki tangan pemberontak, padahal kulihat engkau bukanlah orang Han. Agaknya engkau malah yang membujuk Gubernur Ho-nan untuk memberontak. Sekarang bertemu dengan aku Sai-cu Kai-ong, berarti ajalmu sudah berada di depan mata! Siapakah engkau, orang asing?"
"Ha-ha-ha-ha! Aku adalah sahabat baik dari Gubernur Ho-nan, dan namaku Ban Hwa Sengjin. Kini aku bertugas menangkap kalian maling-maling kecil. Julukanmu Sai-cu Kai-ong? Ha-ha, biarpun suaramu seperti seekor sai-cu (singa) namun engkau menghadapi aku seperti seekor singa ompong, jembel busuk!"
Dimaki singa ompong dan jembel busuk yang tentu diambil dari julukannya sebagai Kai-ong (Raja Pengemis), kakek gagah itu menjadi marah bukan main.
"Siauw-ji, kau jaga beliau,"
Katanya sambil menunjuk Pangeran Yung Hwa yang berdiri di belakangnya, kemudian dengan langkah lebar dia menghampiri Ban Hwa Sengjin yang dengan sikap tenang telah turun dari atas punggung kudanya.
"Ban Hwa Sengjin pengecut hina! Kau mengandalkan pasukanmu yang jumlahnya dua puluh orang lebih ini untuk menggertak kami? Kaukira kami takut?"
Sai-cu Kai-ong membentak.
"Ha-ha, mereka ini hanya menjadi pengantarku. Dengan tenagaku sendiri aku mampu merobohkan kalian semua, satu demi satu atau berbareng. Kalau aku tidak dapat mengalahkan kalian, biarlah kalian lewat tanpa kami ganggu."
Ucapan ini merupakan kesombongan yang hebat.
"Benarkah itu? Apakah manusia macam engkau akan dapat menahan diri untuk tidak bersikap curang dan dapat memegang janji?"
Alis yang tebal itu berkerut.
"Sai-cu Kai-ong, tahan sedikit mulutmu. Kau tidak tahu dengan siapa kau berhadapan. Aku adalah seorang koksu dari Kerajaan Nepal, tahu?"
Bentak Ban Hwa Sengjin.
"Ah, kiranya begitu?"
Sai-cu Kai-ong berseru.
Mengertilah kini dia mengapa orang Nepal ini berada di sini.
Kiranya dalam usahanya untuk memisahkan diri dari kaisar, Gubernur Ho-nan telah mendekati dan mengadakan hubungan rahasia dengan Kerajaan Nepal di barat!
"Nah, majulah menyerahkan nyawamu!"
Ban Hwa Sengjin melangkah maju dengan tangan kosong sambil tersenyum mengejek.
"Sambutlah!"
Sai-cu Kai-ong membentak dan sudah menerjang ke depan dengan gerakan tangkas dan karena dia dapat menduga akan kelihaian kakek botak ini, maka begitu dia menyerang langsung dia mengeluarkan ilmu simpanannya, yaitu ilmu keluarga turun-temurun dari nenek moyangnya.
Ilmu ini dinamakan Khong-sim-sin-ciang (Ilmu Pukulan Tangan Sakti Hati Kosong), sesuai dengan nama perkumpulan pengemis yang dipimpin oleh nenek moyangnya, yaitu perkumpulan Khong-sim-kai-pang.
Ilmu pukulan ini amat lihai, kelihatan kosong namun berisi dan memang inti ilmu pukulan ini berdasarkan kekosongan.
Menurut dongeng yang diceritakan turun-temurun dalam keluarganya, nenek moyangnya adalah orang-orang yang suka sekali mempelajari Agama To dan dari pelajaran Agama To inilah maka Ilmu Khong-sim-sin-cang itu diciptakan.
Menurut cerita neneknya dahulu, dalam keluarga Yu terdapat ayat dari Kitab To-tik-khing yang amat mereka junjung tinggi, yaitu pelajaran dari Nabi Lo Cu tentang kekosongan yang menjadi inti dari segalanya, bahkan yang berisi tidak akan ada gunanya tanpa ada kekosongan itu seperti disebutkan dalam ayat ke sebelas dari Kitab To-tik-khing.
"Tiga puluh ruji berpusat pada satu poros roda, pada tempat yang kosong terletak kegunaannya. Dari tanah liat dibuatlah jembangan, pada tempat yang kosong terletak kegunaannya. Lubang pintu dan jendela dibuat untuk rumah, pada tempat yang kosong terletak kegunaannya."
Selain ayat dari To-tik-khing itu, juga masih banyak wejangan keluarga turun-temurun yang mengingatkan mereka akan pentingnya kekosongan, Antara lain dinyatakan bahwa di dalam setiap langkah kaki, jarak yang dilewati antara kedua kaki, yaitu yang tidak terinjak, yang kosong itulah yang berguna karena tanpa itu tidak akan ada kemajuan dalam langkah kaki.
Juga keindahan dan kenikmatan sebuah lagu tidak akan terasa lagi tanpa adanya jarak-jarak yang kosong antara satu dan lain nada!
Serangan yang dilancarkan oleh Sai-cu Kai-ong hebat bukan main.
Kelihatannya sih ringan dan kosong saja, akan tetapi begitu anginnya menyambar, seorang sakti seperti koksu dari Nepal itu sendiri sampai mengeluarkan seruan kaget dan cepat-cepat dia mengelak.
Jubahnya yang lebar dan merah itu sampai berkibar terkena hembusan hawa pukulan yang sifatnya kosong namun berisi penuh dengan kekuatan dahsyat itu!
Dia cepat membalas dengan pukulan yang tidak kalah dahsyatnya sehingga Sai-cu Kai-ong juga terkejut dan cepat melompat ke samping karena dia tidak berani menyambut pukulan yang amat hebat itu.
Terjadilah pertandingan hebat dan keadaan sekeliling tempat itu disambar oleh hawa-hawa pukulan kuat sekali sehingga dua puluh orang lebih pengawal yang mengiringkan Ban Hwa Sengjin terpaksa mundur karena kuda mereka meringkik ketakutan dan gelisah sekali.
Bahkan Pangeran Yung Hwa juga cepat bersembunyi di balik tubuh Siauw-hong karena merasa ngeri.
Akan tetapi, seorang yang sudah menjadi koksu sebuah negara, bahkan kini menjadi utusan raja, tentu saja adalah seorang yang memiliki kepandaian yang boleh diandalkan.
Dahulu, di jaman Kera-jaan Beng-tiauw, seorang utusan kaisar seperti Panglima Besar The Hoo juga merupakan seorang yang luar biasa saktinya, Juga semua utusan raja-raja dari semua negara tentulah merupakan seorang tokoh pilihan yang berilmu tinggi.
Demikian pula dengan Ban Hwa Sengjin ini.
Ilmu kepandaiannya amat tinggi karena boleh dibilang dia merupakan tokoh nomor satu yang dikenal orang di negara Nepal, maka tentu saja dia telah membekali dirinya dengan ilmu-ilmu yang amat hebat.
Tidak hanya ilmu silat, akan tetapi juga dia mahir sekali dalam ilmu sihir dan ilmu perang, juga ahli dalam soal-soal kenegaraan!
Kini, menghadapi seorang lawan yang demikian lihainya seperti Sai-cu Kai-ong, dia merasa gembira dan dia tidak mau menggunakan ilmu sihirnya selama ilmu silatnya masih belum kalah.
Dan dia selama ini menganggap bahwa tidak mungkin ilmu silatnya dapat dikalahkan orang lain!
Memang, amat berbahayalah bagi seorang manusia yang merasa telah mempelajari ilmu sampai tinggi, apalagi kalau sudah menerima sanjungan-sanjungan orang lain!
Seorang yang dipuji-puji orang lain, kepalanya menjadi seperti sebuah balon karet yang ditiup, penuh oleh angin pujian sehingga kepalanya melembung besar dan dia merasa bahwa dialah orang yang terpandai, terbaik dan segala macam "ter"
Lagi.
Dan kalau sudah demikian, dia menjadi orang yang setolol-tololnya, sebodoh-bodohnya dan patut dikasihani.
Maka, seorang bijaksana akan selalau waspada akan semua kekurangan dan kebodohan diri sendiri sampai saat kematian tiba, karena hanya dengan kewaspadaan ini saja maka dia dapat melihat betapa bahayanya semua pujian yang diterimanya dalam keadaan bagaimanapun juga.
Akan tetapi Ban Hwa Sengjin terang tidak bijaksana.
Dia sudah dihinggapi penyakit angkuh dan menganggap diri sendiri orang terpandai di dunia ini.
Dan memang ilmu kepandaiannya hebat dan bahkan Sai-cu Kai-ong yang merupakan ahli waris dari ilmu keturunan yang amat mujijat itu ternyata kalah kuat dibandingkan dengan Ban Hwa Sengjin sehingga setelah lewat seratus jurus, Raja Pengemis itu terdesak hebat dan dalam satu pertemuan tenaga ketika kedua tangan mereka bertemu, Sai-cu Kai-ong terlempar ke belakang dan terbanting jatuh.
Napasnya menjadi sesak dan kepalanya pening, tanda bahwa dia telah mengalami luka walaupun tidak sangat berat, akan tetapi dia harus berdiam diri.
dan cepat mengumpulkan hawa murni untuk menyembuhkan lukanya.
Siluman Kecil atau Suma Kian Bu menyerahkan Kian Lee kepada Siauw-hong.
Dia akan maju sendiri.
"Hati-hati, Bu-te. Dia memang lihai sekali, aku sendiri pernah melawan dia dan hampir aku celaka...."
Bisik Kian Lee kepada adiknya ketika dia diserahkan kepada Siauw-hong untuk dipondong karena dia tidak kuat untuk berdiri sendiri.
Kian Bu mengangguk dengan sikap tenang "Jangan khawatir, Koko."
Dengan langkah lebar dia lalu menghampiri Ban Hwa Sengjin.
Kcksu Nepal yang sudah memperoleh kemenangan itu menjadi makin sombong sikapnya.
Melihat bahwa yang maju hanya seorang pemuda, tentu saja dia memandang rendah.
Kakek yang berjuluk Raja Pengemis dan yang benar-benar sakti tadi saja tidak kuat melawannya.
Apalagi pemuda ini?
Masih begini muda, pantas menjadi anaknya, bahkan cucunya, biarpun rambut pemuda ini sudah putih semua!
"Kau mau apa?"
Tanyanya dengan sikap memandang rendah.
"Ban Hwa Senjin, kalau aku mampu mengalahkanmu, bagaimana?"
Kian Bu bertanya.
"Kau? Mengalahkan aku? Ha-ha-ha, tidak mungkin, orang muda!"
"Kalau aku kalah, kami semua menyerah kepadamu, Ban Hwa Sengjin. Akan tetapi, bagaimana kalau kau yang kalah?"
"Ha-ha, bocah lancang. Dengar baik-baik. Kalau kau mampu mempertahankan diri terhadap seranganku selama dua puluh jurus saja, biarlah aku mengaku kalah dan kalian boleh lewat!"
"Engkau adalah Ban Hwa Sengjin, jagoan besar dan koksu dari Kerajaan Nepal. Akan tetapi apakah omongan seorang koksu dari Nepal dapat dipercaya sepenuhnya? Apakah nanti engkau tidak akan menarik kembali omonganmu, menjilat kembali ludah yang telah dikeluarkan, dan benar-benar kalau aku mampu mempertahankan diri terhadap seranganmu selama dua puluh jurus, engkau mengaku kalah dan kami semua boleh lewat?"
Tanya Siluman Kecil yang sengaja menekankan hal pelanggaran janji itu agar menyinggung kehormatan koksu yang kelihatan lihai sekali ini.
Dan anak panah yang dilepaskan berupa kata-kata ini tepat mengenai sasarannya.
Wajah Ban Hwa Sengjin menjadi merah sekali, seluruh muka sampai ke kepalanya yang botak menjadi merah, semerah mantelnya dan kedua tangannya yang besar itu dikepalkan.
Dia menjadi marah dan tersinggung.
"Bocah bermulut lancang! Kau kira, aku orang macam apa? Orang-orang seperti aku, janji lebih berharga daripada nyawa, mengerti? Akan tetapi, sebaliknya kalau dalam dua puluh jurus kau tidak mampu mempertahankan diri, kalau kau tidak sampai kupukul mampus, engkau dan semua temanmu selain harus menyerah dan tunduk, juga harus mentaati semua perintahku!"
Siluman Kecil diam-diam merasa girang dan kini dia yakin bahwa tentu si botak tinggi besar ini tidak akan ada muka lagi untuk melanggar janjinya sendiri.
"Baik, kalau sampai aku roboh sebelum dua puluh jurus, engkau memang pantas menjadi kakek buyutku yang harus kutaati!"
"Nah, sambutlah ini jurus pertama!"
Ban Hwa Sengjin berseru, dan tubuhnya yang tinggi besar itu sudah bergerak cepat ke depan, demikian cepat gerakannya sehingga mantelnya yang merah itu sampai berkibar di belakangnya seperti layar perahu tertiup angin.
Kedua tangannya sudah melancarkan serangan dahsyat sekali, tangan kiri membentuk cakar garuda mencengkeram ke arah batok kepala Siluman Kecil atau Kian Bu, sedangkan tangan kanannya dengan jari tangan terbuka menghantam ke arah dada!
Cakaran tangan kiri itu kelihatannya amat menyeramkan dan agaknya kalau mengenai kepala, akan remuklah kepala itu, dan dilakukan dengan amat cepat sedangkan tangan kanan yang menghantam ke arah dada itu sebaliknya gerakannya lambat dan perlahan.
Namun, Kian Bu yang sejak kecil menerima gemblengan ilmu-ilmu yang amat tinggi sudah tahu bahwa cakaran itu hanya merupakan kembangan saja atau gertakan, sedangkan serangan yang sesungguhnya dan merupakan inti pukulan adalah yang dilakukan oleh tangan kiri itu, karena tangan kiri kakek raksasa itu melakukan pukulan yang mengandung tenaga mujijat yang dapat disebut Hun-kin Coh-kut (Memutuskan Otot dan Melepaskan Tulang).
Kalau pukulan itu mengenai dadanya dengan tepat, tentu akan, copot semua tulang iganya!
Karena maklum akan hebatnya serangan jurus pertama inj, Kian Bu cepat melindungi dirinya dengan Ilmu Silat Sin-coa Kun-hoat (Ilmu Silat Ular Sakti).
Kedua lengannya bergerak cepat dan meliuk-liuk seperti gerakan ular dan tubuhnya juga dapat meliuk cepat, sekali sehingga tidak sukarlah baginya untuk mengelak dan menangkis dua lengan lawan itu dari samping dengan meminjam tenaga pukulan lawan.
Ilmu Silat Sin-coa Kun-hoat ini adalah merupakan satu di antara banyak ilmu-ilmu silat yang tinggi dari ibunya, yaitu Puteri Nirahai, yang telah diwariskan kepada Kian Bu.
Tentu saja, gerakan ilmu silat yang ba-gaimana tinggi pun tidak akan banyak manfaatnya tanpa dilandasi tenaga sinkang yang kuat, maka gerakan Sin-coa Kun-hoat ini oleh Kian Bu didorong dengan tenaga Hwi-yang Sin-kang yang panas.
"Plak-plak....!"
Kedua lengan kakek raksasa botak itu kena ditangkis sehingga menyeleweng karena tangkisan dari samping itu mendorong tenaga serangannya dan dia merasa kedua lengannya panas sekali.
"Ehhh....!"
Ban Hwa Sengjin terkejut.
Kalau pemuda itu hanya dapat mengelak atau menangkis serangannya yang pertama itu, tidaklah amat mengejutkan karena seorang pemuda yang sudah berani menghadapinya tentulah mempunyai juga sedikit kepandaian.
Akan tetapi, tangkisan pemuda itulah yang membuat dia tanpa disadarinya mengeluarkan seruan kaget karena dia merasakan adanya tenaga mujijat yang panas sekali menyerang dirinya melalui pertemuan kedua lengan itu.
Sebagai seorang yang sudah berpengalaman banyak, Ban Hwa Sengjin segera dapat mengenal sifat gerakan lawan.
Dia mengenal ilmu silat yang mendasarkan gerakannya dan sifatnya dengan sifat dan gerakan ular.
Semua ilmu silat yang mendasarkan gerakan dan sifatnya dengan ular adalah gerakan yang memupuk tenaga Khi (hawa) yang dilatih dengan aturan pernapasan.
Karena tenaga Khi inilah maka seekor ular kelihatan lunak dan lembut tanpa tenaga kalau tubuhnya menyentuh sesuatu, akan tetapi dia dapat menarik kekuatan hebat luar biasa setiap saat!
Seperti baja yang terbaik, dapat menjadi benda yang paling keras, akan tetapi juga dapat dibuat menjadi kawat yang paling lembut dan lemas.
Gerakan ilmu silat ular amat lemas dan cekatan, terus-menerus bergerak lembut namun kuat.
Kedua jari telunjuk dan jari tengah mematuk-matuk seperti lidah ular dan merupakan serangan totokan yang ampuh.
Karena sudah mengenal sifat Sin-coa Kun-hoat, maka Ban Hwa Sengjin tahu bagaimana harus menghadapinya.
Tubuhnya tiba-tiba mencelat ke atas, seperti seekor burung garuda hendak menyerang seekor ular dia menerjang dan menyerang Kian Bu dengan jurus yang ke dua.
Akan tetapi, Kian Bu adalah seorang pemuda yang amat cerdik.
Melihat cara penyerangan lawan, dia pun maklum bahwa menggunakan Sin-coa Kun-hoat untuk menyambut serangan dari atas itu amat berbahaya, maka secara otomatis dia sudah mengubah gerakan tubuhnya, kini dia bergerak menurut Ilmu Silat Pat-mo Kun-hoat, juga ilmu warisan dari ibunya yang memang kaya dengan segala macam ilmu silat itu.
Gerakannya menjadi kacau-balau tidak karuan, membingungkan lawan akan tetapi di dalam kekacauan ini terdapat gerakan inti yang amat tertib.
"Des-des-plakkk!"
Kini tubuh Ban Hwa Sengjin yang masih di udara itu terpental dan dia meloncat turun dengan mata terbelalak lebar dan muka makin merah karena penasaran dan marahnya.
Ternyata jurus ke duanya itu dihancurkan oleh pemuda itu dengan amat mudah dan aneh sekali, seolah-olah pemuda itu tahu ke mana dia hendak menyerang dan mendahuluinya dengan tusukan sehingga terpaksa dia menangkis sampai dua kali dan akhirnya terpental karena tahu bahwa kalau dia tidak cepat-cepat menjauhkan diri, dia malah yang terancam bahaya, maka dalam pertemuan tangkisan berikutnya dia telah meminjam tenaga lawan dan melemparkan dirinya ke belakang sehingga terpental.
"Hemmm, kau boleh juga!"
Katanya dengan tenang untuk menutup rasa kagetnya, kemudian sambil mengeluarkan suara menggereng seperti seekor harimau terluka, dia sudah menyerang dan kini dia bergerak cepat sambil memutar tubuhnya seperti gasing!
Itulah ilmunya yang amat diandalkan oleh koksu dari Nepal ini.
Ilmu ini adalah ilmu yang dinamakan Thian-te Hong-i (Hujan Angin Langit Bumi) yang diumpamakan seperti mengamuknya angin taufan yang mengan-dung angin puyuh berputaran, seperti badai dahsyat yang amat mengerikan.
Dan memang hebat bukan main gerakan dari kakek botak ini.
Tubuhnya berputaran seperti gasing, kedua lengannya yang panjang bergerak-gerak dan dalam putaran itu seolah-olah kedua tangan telah berubah menjadi puluhan maut yang amat cepat tidak terduga dan dari gerakan memutar itu meniup angin yang seperti angin puyuh ke arah lawan.
Hebat bukan main dan bahkan Suma Kian Bu sendiri sampai terkejut sekali.
Selama ini, baru dua kali dia bertemu lawan yang benar-benar amat hebat, yaitu yang pertama adalah Sin-siauw Seng-jin yang mewarisi ilmu-ilmu dari Pendekar Sakti Suling Emas, dan ke dua adalah koksu dari Nepal inilah.
Tentu saja perlawanannya ketika menghadapi kakaknya sendiri tidak masuk hitungan.
Agaknya Ban Hwa Sengjin setelah melihat kelihaian lawan selama dua jurus tadi, merasa khawatir kalau-kalau dia sampai kalah, maka langsung saja dia mainkan ilmu silat kosong yang menjadi andalannya itu untuk mencoba merobohkan lawan.
Dan memang Kian Bu menjadi kaget sekali.
Masih banyak ilmu-ilmu silat tinggi yang dikuasainya, baik yang diwarisi dari ayahnya maupun dari ibunya.
Namun dia maklum bahwa menghadapi ilmu silat lawan yang amat aneh dan dahsyat ini, dia tidak boleh percaya kepada ilmu-ilmu silat lain yang dikuasainya, karena hal itu dapat membahayakan dirinya.
Sukar sekali untuk menghadapi serangan dari bayangan yang berpusing seperti gasing itu sehingga dia tidak lagi dapat melihat jelas bagian-bagian tubuh lawan, bahkan serangan-serangan lawan yang mencuat dari pusingan itu sukar pula diduga-duga.
Maka terdengarlah suara melengking dari mulut Siluman Kecil ini dan tiba-tiba saja tubuhnya melesat dan lenyap dari pandangan para pengikut Ban Hwa Sengjin dan yang lain-lain.
Demikian cepatnya gerakan Kian Bu yang tubuhnya mencelat ke sana-sini seperti kilat menyambar-nyambar sehingga sukar diikuti oleh pandangan mata.
Itulah ilmunya yang baru, ilmu ciptaannya sendiri yang disebut Sin-ho-coanin.
Dengan gerakan seperti itu, semua serangan dari Ban Hwa Sengjin menjadi gagal!
Ban Hwa Sengjin amat terkejut.
Setiap kali tubuhnya yang berpusing itu menyerang dengan pukulan tangan yang cepat tak terduga, tiba-tiba saja tubuh lawan itu melesat dan lenyap!
Dan ber-turut-turut dia telah menyerang sampai sembilan belas jurus!
Kurang satu jurus lagi dan dia akan kalah!
Tahulah dia bahwa dia menghadapi seorang pemuda yang selain lihai sekali, juga amat cerdik.
Pemuda itu sama sekali tidak mau balas menyerang!
Dengan demikian, pemuda itu dapat memusatkan seluruh perhatiannya pada perlindungan diri saja sehingga akan dapat melewati dua puluh jurus dan tidak dapat dirobohkan, berarti menang!
Kalau pemuda itu balas menyerang, tentu pertahanan dirinya menjadi berkurang kuatnya, akan tetapi satu kalipun Kian Bu tidak mau membalas serangan lawan.
Tentu saja Ban Hwa Sengjin menjadi khawatir sekali.
Tentu kalah dia kalau dalam jurus terakhir ini dia tidak mampu mengalahkan atau merobohkan pemuda ini.
Dia harus menggunakan sihirnya!
Dari sepasang matanya memancarkan cahaya amat aneh berpengaruh, dia menarik napas panjang mengumpulkan kekuatan mujijat lalu terdengar suara yang dalam dan berpengaruh sekali, mengandung kumandang aneh, berseru.
"Lihat nagaku menerkammu!"
Kian Bu terkejut bukan main dan terbelalak memandang ke atas ketika tiba-tiba saja dia melihat seekor naga hitam yang menyemburkan api menyerangnya dari atas udara.
Tentu saja menghadapi ancaman hebat ini, seluruh perhatiannya tercurah ke atas dan dia tidak tahu bah-wa pada saat itu Ban Hwa Sengjin siap melancarkan serangan jurus terakhir!
Semua orang, termasuk Kian Lee, menjadi khawatir sekali melihat adiknya itu tiba-tiba saja berdiri bengong memandang terbelalak ke atas, seolah-olah tidak lagi mempedulikan lawannya yang sudah siap untuk menerjangnya!
Akan tetapi, tiba-tiba terdengar suara ketawa, tertawa merdu halus akan tetapi juga nyaring dan mengandung pengaruh yang mujijat.
Lalu oleh Kian Bu yang seperti baru sadar ketika mendengar suara ketawa itu, tampak seekor naga merah yang menyambar dan menerkam naga hitam itu.
Terdengar suara keras dan naga hitam itu lenyap bersama naga merah dan sadarlah Kian Bu bahwa dia berada di bawah pengaruh sihir.
Marahlah Siluman Kecil dan dia mengerahkan seluruh tenaga yang ada padanya, menggabungkan tenaga Swat-im Sin-kang dan Hwi-yang Sin-kang, lalu dia menyambut kakek itu yang sudah menyerangnya dengan ganas, serangan dari jurus terakhir!
"Desss....!"
Ban Hwa Sengjin terpental dan terbanting roboh ke atas tanah dalam keadaan pingsan!
Untung dia memiliki tenaga mujijat karena kalau tidak, tentu dia sudah mengalami luka-luka seperti tersiram air panas seperti yang diderita oleh Kian Lee.
Dia hanya terbanting roboh dan pingsan saja, sebagian besar karena terpukul oleh kekuatan mujijatnya sendiri yang dipergunakan untuk menyihir dan ternyata membalik karena campur tangan wanita yang mengeluarkan suara ketawa tadi.
Kian Bu cepat menengok ke kanan dan dia melihat seorang gadis yang luar biasa cantiknya, yang berdiri lemas seperti batang pohon yang-liu, dan mulutnya tersenyum mengejek memandang kepadanya, seorang yang cantik manis, pakaiannya serba indah dan di bawah ketiak kirinya mengempit sebuah payung hitam.
Dia merasa seperti pernah mengenal dara ini, akan tetapi dia lupa lagi di mana.
Karena dia menduga bahwa tentu gadis ini yang telah menolongnya tadi dari bahaya maut akibat pengaruh sihir, maka dia lalu menjura ke arah gadis itu sambil berkata.
"Terima kasih!"
Akan tetapi pada saat itu, Sai-cu Kai-ong sudah cepat berkata.
"Mari kita cepat pergi dari sini!"
Dan dia sudah mendahului Kian Bu dengan menggendong Pangeran Yung Hwa.
Kian Bu sadar bahwa memang mereka harus cepat pergi selagi Ban Hwa Sengjin yang lihai itu tidak berdaya, maka dia pun segera berkata kepada Siauw Hong.
"Cepat kau ikuti Suhumu, biar aku yang menjaga dari belakang."
Siauw Hong mengangguk dan sambil memondong tubuh Kian Lee, pemuda remaja ini pun cepat (Lanjut ke
Jilid 19) Jodoh Rajawali (Seri ke 10 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 19 berlari pergi mengejar suhunya, sedangkan Kian Bu berlari paling belakang untuk menjaga dua orang yang memondong Pangeran Yung Hwa dan kakaknya itu.
Akan tetapi setelah melihat Ban Hwa Sengjin roboh, dan mengenal pula Siluman Kecil, para pengawal Gubernur Ho-nan itu sama sekali tidak berani bergerak dan membiarkan mereka pergi.
Gadis cantik jelita yang tadi tersenyum-senyum, sekali berkelebat juga lenyap dari situ.
Gadis ini tentu saja bukan lain adalah Siang In!
Seperti kita ketahui, gadis ini masih terus mencari Syanti Dewi yang lenyap dari puncak Naga Api di Pegunungan Lu-liang-san, dari sarang Hwa-i-kongcu Tang Hun secara aneh, dan kebetulan saja dia menyaksikan pertandingan hebat antara Siluman Kecil dan koksu dari Nepal itu.
Andaikata koksu itu tidak mempergunakan ilmu sihir, tentu Siang In tidak akan mencampuri pertandingan hebat itu, bahkan dia sendiri menonton dari kejauhan dengan kagum sekali karena maklum, bahwa yang sedang bertanding itu adalah dua orang yang memiliki tingkat kepandaian yang jauh lebih tinggi daripada tingkatnya sendiri.
Akan tetapi begitu melihat kakek raksasa botak itu mempergunakan ilmu hitam, tentu saja hatinya tertarik dan dia menjadi penasaran maka tanpa diminta dia lalu turun tangan membuyarkan pengaruh sihir itu.
Bukan sengaja untuk mendukung orang muda yang rambutnya putih dan aneh itu, melainkan hanya karena dia selalu tertarik oleh pertunjukan ilmu sihir karena dia sendiri adalah seorang ahli sihir!
Dia pangling terhadap Kian Bu karena pemuda itu kini rambutnya sudah menjadi putih semua dan dia pun hanya melihat wajah pemuda itu dari jarak yang cukup jauh.
Padahal, telah lama dia mencari pemuda ini!
Akhirnya tibalah mereka di perkemahan pasukan yang dipimpin oleh Sai-cu Kai-ong dari kota raja itu.
Legalah hati Sai-cu Kai-ong karena kini dia yakin bahwa dia telah berhasil menyelamatkan Pangeran Yung Hwa dari bahaya maut.
Maka begitu mereka tiba di ruangan dalam dari kemah induk yang ditinggali oleh Sai-cu Kai-ong, kakek yang gagah perkasa ini lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Pangeran Yung Hwa untuk memberi hormat.
Dengan hati terharu pangeran yang rendah hati dan selalu ramah ini memeluk dan mengangkat bangun kakek itu sambil berkata.
"Locianpwe, jangan menggunakan terlalu banyak sikap sungkan terhadap saya. Pada saat ini saya hanyalah seorang yang telah berhutang budi dan nyawa kepada kalian semua. Sebaiknya Locianpwe cepat-cepat menolong Suma Kian Lee yang terluka parah itu."
Sai-cu Kai-ong mengangguk dan merasa girang karena kini dia memperoleh kenyataan akan kebenaran berita di luaran tentang sikap Pangeran Yung Hwa yang bijaksana dan baik terhadap siapa saja.
Di samping merasa bahwa sudah menjadi kewajibannya untuk membantu kerajaan, juga dia merasa girang telah membantu seorang pangeran yang begitu menyenangkan sikapnya.
Cepat dia lalu menghampiri Kian Lee yang sudah direbahkan di atas pembaringan dan cepat dia melakukan pemeriksaan dengan teliti.
Setelah melakukan pemeriksaan agak lama, Sai-cu Kai-ong lalu berkata kepada Kian Bu yang mengikuti pemeriksaan itu penuh perhatian.
"Taihiap, sungguh baru satu kali ini aku melihat kehebatan-kehebatan yang amat luar biasa. Akibat pukulan darimu amat mengerikan, akan tetapi daya tahan kakakmu ini juga amat luar biasa. Kalau bukan dia yang mengalami pukulan seperti ini, agaknya dia akan kehilangan seluruh sumber tenaga murninya dan akan menjadi seorang penderita cacad selama hidupnya "
"Ahhh, Locianpwe....!"
Kian Bu cepat menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu.
"Harap Locianpwe sudi mengusahakan agar kakakku dapat sembuh....!"
Dia berkata dengan muka pucat dan hati menyesal bukan main. Sai-cu Kai-ong tersenyum dan membangunkan pemuda itu.
"Jangan khawatir, Taihiap. Kakakmu ini memiliki dasar kekuatan yang tidak lumrah manusia berkat sinkang yang selama hidup belum pernah kusaksi-kan demikian kuatnya sehingga dia hanya mengalami luka yang tidak membahayakan nyawanya. Akan tetapi, luka itu kalau kuobati dengan obat-obat biasa, akan memakan waktu berbulan-bulan. Hanya ada semacam obat yang kutahu akan dapat menyembuhkannya secara cepat sekali, akan tetapi aku sangsi apakah kita akan dapat memper-oleh obat itu...."
"Di mana tempatnya? Locianpwe, aku sendiri akan mencari obat itu!"
Kian Bu berseru. Kakek itu mengerutkan alisnya.
"Obat itu adalah semacam jamur yang amat mujijat dan tidak ada ke duanya di dunia ini. Jamur panca warna yang hanya nampak warnanya kalau berada di tempat gelap, karena di dalam tempat gelap itu jamur ini mengeluarkan sinar mencorong dan kelihatanlah warnanya seperti warna pelangi. Kalau terkena sinar terang, jamur itu menutupkan kelopaknya seperti jamur mati dan hanya di waktu gelap saja dia mekar, mengeluarkan sinar dan warnanya."
Kian Bu mengangguk-angguk.
"Sudah saya catat dalam hati tentang keadaan jamur itu, Locianpwe, lalu di mana tempatnya?"
"Itulah sukarnya. Aku sendiri pun belum pernah ke sana, dan hanya mendengar penuturan seorang pendeta yang pernah tersesat ke sana. Tempat itu agaknya tidak mungkin didatangi orang. Pernah aku sendiri mencapai tebing itu, akan tetapi tidak melihat jalan turun saking terjal dan licinnya. Akan tetapi, melihat kesaktian Taihiap, siapa tahu kalau-kalau Taihiap dapat menuruninya. Pendeta yang kini telah meninggal itu pun hanya karena tersesat saja, karena kecelakaan dan terguling ke dalam jurang lalu mencoba mencari jalan keluar, maka dapat tiba di tempat itu dan dia pun sudah tidak tahu lagi bagaimana dia dapat sampai ke tempat itu. Dialah yang membawa jamur aneh itu dan memberikan kepadaku, sayang bahwa jamur itu sudah habis kupakai mengobati orang. Tempatnya di tepi Sungai Huang-ho. Mari kubuatkan gambaran petanya."
Kakek yang gagah perkasa itu lalu memberi petunjuk kepada Kian Bu tentang letaknya tebing yang curam di pegunungan dekat muara Sungai Huang-ho itu sampai pemuda ini jelas benar akan tempat yang hendak dikunjunginya untuk mencarikan obat bagi kakaknya.
Setelah merasa yakin bahwa dia akan dapat mencari tempat itu, Kian Bu lalu berpamit kepada kakaknya.
"Lee-ko, harap tenangkan hatimu. Aku akan mencarikan obat jamur panca warna itu untukmu, dan percayalah, aku pasti akan bisa mendapatkan jamur itu. Harap kau baik-baik menjaga diri dan biarlah Sai-cu Kai-ong locianpwe yang akan merawatmu."
Kian Lee memegang tangan adiknya.
"Jangan terlalu lama, Bu-te. Kita belum puas bicara, bahkan aku belum tahu bagaimana riwayatmu sehingga selama lima tahun engkau menghilang dan tahu-tahu rambutmu telah menjadi putih semua dan ilmu kepandaianmu meningkat sedemikian hebatnya,"
Kata Kian Lee dengan pandang mata penuh kasih sayang kepada adiknya.
"Nanti saja kalau aku sudah kembali kita bicara sebanyaknya, Koko. Yang terpenting sekarang adalah obat untukmu."
"Suma-taihiap, kalau engkau kembali dan melihat kami sudah tidak berada di sini, berarti pasukan kami telah ditarik mundur kembali ke kota raja dan aku akan membawa kakakmu ke tempat tinggalku di puncak Bukit Nelayan untuk beristirahat dan diobati. Kami mempunyai pondok di sana, di puncak Bukit Nelayan di tepi sungai, sebelah selatan kota Pao-teng."
"Hati-hatilah mencari obat yang amat sukar didatangi tempatnya itu, Taihiap,"
Kata Pangeran Yung Hwa yang hadir pula di situ.
"Apakah perlu kiranya kau dikawal oleh pasukan? Mereka dapat membantumu"
"Terima kasih, saya kira tidak perlu,"
Jawab Kian Bu.
Maka berangkatlah pemuda perkasa ini meninggalkan perkemahan pasukan itu, menggunakan kepandaiannya berlari cepat sekali menuju ke tempat yang telah digambarkan oleh Sai-cu Kai-ong kepadanya.
Apapun yang akan dihadapinya, apa pun yang akan menimpanya, dia harus mendapatkan obat untuk kakaknya itu, demikian dia mengambil keputusan di dalam hatinya.
Para pembaca yang pernah mengikuti pengalaman-pengalaman pendekar sakti Gak Bun Beng di waktu dia masih kecil, yaitu dalam cerita Sepasang Pedang Iblis, mungkin masih ingat ketika pendekar sakti itu di waktu masih kecil terlempar ke dalam air Sungai Huang-ho yang amat deras, kemudian dia diseret oleh pusaran air, disedot ke bawah dan dihanyutkan melalui terowongan aneh sampai dia mendarat di lambung gunung!
Terowongan yang menembus dalam tubuh gunung itu merupakan terowongan maut dan hanya secara "kebetulan"
Saja dia dapat selamat dan tiba di tempat yang luar biasa anehnya, tempat yang penuh dengan binatang setengah kera setengah anjing (baboon) di mana dia menemukan sepasang pedang iblis dan kitab-kitab Sam-po Cin-keng yang mujijat.
Di tempat luar biasa itulah adanya jamur panca warna yang dimaksudkan oleh Sai-cu Kai-ong.
Dan memang benar seperti yang dituturkan oleh Sai-cu Kai-ong, tempat itu tidak pernah atau tidak mungkin didatangi manusia.
Pendeta Buddha yang kebetulan dapat tersesat ke situ adalah seorang hwesio pencari daun-daun obat yang hanya kebetulan saja dapat tiba di situ.
Hwesio ini ketika sedang mencari obat di tebing dan menginjak sebuah batu telah tergelincir dan dia terjatuh ke dalam jurang yang amat terjal itu.
Akan tetapi secara aneh, tubuhnya yang pingsan itu "diterima"
Oleh sebatang pohon yang tumbuh di tebing.
Tubuh itu ditangkap oleh cabang, ranting dan daun-daun pohon dan pohon kecil itu jebol, terbawa melayang turun dan akhirnya setelah mencelat ke sana-sini, tubuh itu terjatuh ke air!
Itulah air anak sungai yang terbentuk dari air hujan dan yang mengalir masuk ke air terowongan yang dulu menghanyutkan pendekar sakti Gak Bun Beng!
Dan karena kebetulan yang luar biasa ini hwesio itu dapat berada di situ.
Setelah siuman dia lalu mencari jalan keluar, menemukan jamur panca warna yang belum diketahui khasiatnya dan hanya diambil karena sifatnya yang luar biasa.
Setelah dia berusaha mati-matian sampai berbulan dan sampai lupa jalan, akhirnya dapat juga dia keluar dari tebing maut itu, melalui perjalanan yang amat jauh dan yang tidak dapat diingatnya kembali karena perjalanan itu menyusup-nyusup, naik turun jurang kecil dan memakan waktu sampai sebulan lebih baru dia dapat "keluar"
Dari sana!
Akan tetapi Kian Bu yang berjuluk Siluman Kecil bukanlah seorang manusia biasa, melainkan seorang pemuda yang telah memiliki kepandaian amat hebat.
Maka setelah dia tiba di tempat yang dimaksudkan, dia menjenguk ke tepi tebing dan mengerutkan alisnya.
Memang tidak mungkin bagi seorang manusia untuk menuruni tebing itu, tepat seperti yang dikatakan oleh Sai-cu Kai-ong.
Agaknya keturunan pengemis sakti pendiri Khong-sim Kai-pang itu telah pula berdiri di tepi tebing ini, pikir Kian Bu.
Dia sendiri kalau dalam keadaan biasa, tentu lebih baik cepat-cepat menjauhkan diri dari tebing itu, apalagi harus mencari jalan turun!
Akan tetapi dalam keadaan seperti saat itu, untuk mencarikan obat bagi kakaknya, jangankan hanya te-bing yang curam, biar lautan api pun tentu akan ditempuhnya!
Dengan mempergunakan ketajaman pandang matanya, Kian Bu dapat mengerti mengapa tidak mungkin ada orang dapat menuruni tebing itu.
Kalau hanya curam saja, asalkan ada tempat untuk berpijak kaki dan berpegang tangan, pasti dia akan mampu menuruninya, betapa terjal sekalipun.
Atau biarpun amat terjal, kalau dia sudah tahu bagaimana keadaan dasar tebing itu, tentu dia pun akan berani mempergunakan ilmunya Sin-ho-coan-in untuk berloncatan ke bawah dengan menggunakan dinding tebing sebagai penahan luncuran dan tempat menjejakkan kakinya.
Akan tetapi tanpa mengetahui keadaan dasar tebing, padahal tenaga luncuran berat tubuhnya tentu akan luar biasa kuatnya dari tempat setinggi itu, berarti mempertaruhkan nyawa secara konyol.
Dia dapat pula menggunakan Ilmu Pek-houw-yu-jong (Cecak Bermain-main di Tembok) dengan sinkang yang mengeluarkan daya sedot pada kaki tangannya yang telanjang untuk merayap menuruni tebing.
Akan tetapi tentu saja ilmu itu hanya dapat dipergunakan untuk pendakian yang tidak begitu tinggi atau penurunan yang tidak securam tebing ini.
Dia tentu sudah akan kehabisan tenaga sebelum mencapai seperempat jarak tebing itu dan kehabisan tenaga berarti akan melayang jatuh dan mati dalam keadaan tubuh hancur lebur!
Menggunakan tali?
Mana mungkin mencari tali yang panjangnya seperti itu?
Pula, merayap turun ke tebing menggunakan tali berarti menggantungkan nyawa pada tali itu, padahal tali itu terikat di atas tebing.
Sekali bacok saja tali di atas tebing itu oleh musuh, nyawanya akan melayang.
Kian Bu duduk termenung di tepi tebing dengan alis berkerut.
Betapapun juga, dia tidak akan menyerah begitu saja!
Dia harus mencari akal dan kembali dia menjenguk ke bawah.
Memang terjal bukan main sampai dia tidak dapat melihat jelas keadaan di bawah sana.
Jangankan seorang manusia, bahkan seekor monyet sekalipun kiranya tidak akan mungkin menuruni tebing ini, pikirnya.
Kadang-kadang ada kabut melayang di bawah sehingga menutupi keadaan bawah tebing sama sekali.
Tiba-tiba dia melihat seekor burung terbang melayang.
Seekor burung walet hitam dan dia memandang dengan penuh iri.
Kalau aku bersayap seperti burung itu!
Alangkah akan mudahnya menuruni tebing ini, pikirnya.
Jangankan baru tebing ini, biar naik ke langit pun tiada sukarnya bagi seekor burung yang bersayap!
Kembali dia menjenguk ke bawah, bahkan tubuh atasnya condong ke tepi tebing.
Dia tidak melihat bahwa ada bayangan hitam berkelebat di belakangnya.
Kalau saja perhatiannya tidak tercurah sepenuhnya ke bawah tebing dan untuk mencari jalan turun ke bawah, tentu pendengarannya yang sudah terlatih dan menjadi tajam luar biasa berkat sinkangnya itu akan dapat menangkap gerakan si bayangan hitam ini, betapapun cekatan dan ringan gerakan si bayangan hitam ini.
"Heiii, jangan coba bunuh diri....!"
Tiba-tiba terdengar seruan halus dan nyaring itu yang membuat Kian Bu terkejut bukan main.
Dalam keadaan melamun dan menjenguk ke dalam tebing seperti itu lalu tiba-tiba mendengar bentakan yang demikian nyaring, benar-benar amat membahayakan.
Seorang yang lemah jantungnya tentu akan terperanjat dan dapat saja terjungkal ke dalam jurang!
Dia cepat membalikkan tubuhnya dan matanya terbelalak memandang, kemudian dia mengerutkan alisnya dengan hati mengkal.
Kiranya di situ telah berdiri gadis cantik jelita berpakaian serba hitam yang membawa-bawa ular dahulu itu, yang pernah menyerangnya kalang-kabut hanya karena berbeda pendapat tentang diri Cui Lan dan karena menyangka bahwa dia mengejar-ngejar gadis ini!
Setelah dia membalik, gadis itu pun terkejut, lalu tersenyum mengejek.
Begitu tersenyum, seketika tercipta dua lesung pipit di kanan kiri bibirnya.
Manis bukan kepalang!
Lalu bibir itu merekah membentuk senyum sehingga deretan gigi kecil yang putih bersih berkilau sesaat di antara belahan bibir yang merah basah.
Cantik sekali!
"Ya ampuuunnnnnn....!
Kiranya engkau ini?
Aha, kalau begitu lanjutkan usahamu itu, Siluman Kecil.
Lanjutkan selagi aku menjadi saksi di sini.
Aihhh, betapa akan senangnya menjadi orang satu-satunya yang menyaksikan betapa Siluman Kecil yang tersohor itu ternyata hanyalah seorang laki-laki yang berhati kecil pula seperti julukannya, seorang pengecut yang mudah patah hati, seorang laki-laki cengeng yang mudah mendapat dorongan hasrat untuk membunuh diri.
Hi-hik, teruskanlah bunuh diri di depanku, aku akan senang sekali!"
Kian Bu bangkit berdiri dan memandang dengan melongo, lalu dia maju beberapa langkah, memandang wajah cantik jelita dan manis itu penuh selidik.
Melihat sinar mata, yang mencorong dari pemuda berambut putih itu, diam-diam gadis itu bergidik.
Gadis itu tentu saja adalah Hwee Li, puteri ketua Pulau Neraka!
"Ihhh!
Kenapa kau memandang aku seperti itu?"
Bentaknya dengan suara dibikin galak untuk menutupi rasa ngerinya.
Dia sebenarnya merasa ngeri terhadap pemuda berambut putih ini yang dia tahu memiliki kepandaian amat tinggi sehingga dia sama sekali tidak akan mampu menang melawannya.
Kalau dia bersikap angkuh dan berani, hal itu hanya dilakukan agar dia jangan dipandang rendah saja!
Memang, biarpun dia sudah dewasa, Hwee Li masih belum dapat menghilangkan sifat kekanak-kanakannya.
Suma Kian Bu dahulunya adalah seorang pemuda yang berwatak penuh keriangan, gembira dan jenaka, juga bengal dan pandai bicara, pandai berdebat dan suka menggoda orang (baca cerita Kisah Sepasang Rajawali).
Setelah dia mengalami pukulan batin karena cinta kasihnya terhadap Puteri Syanti Dewi menemui kegagalan dan kekecewaan, kemudian ditambah lagi oleh latihan ilmu penggabungan tenaga Im dan Yang dari Pulau Es yang membuat rambutnya mengalami perubahan warna, dia menjadi seorang pendiam yang penuh rahasia.
Pendiam karena dia seperti terbenam dalam tumpukan kedukaan dan kekecewaan yang membuat dia menjadi pemurung, kadangkadang ganas akan tetapi tentu saja sebagai seorang yang berjiwa satria, keganasannya hanya ditujukan kepada kaum penjahat saja.
Kini dia telah berjumpa dengan kakaknya dan hal ini membangkitkan atau setidaknya sedikit membongkar sifatnya yang tadinya sudah tertimbun oleh kedukaan itu, mengingatkannya akan keluarganya sehingga timbul kembali gairah hidupnya.
Kini, bertemu dengan gadis berpakaian hitam yang amat lincah jenaka dan galak ini sepasang matanya mengeluarkan sinar mencorong dan wajahnya mulai agak berseri, seolah-olah mulai ditanggalkanlah sedikit demi sedikit topeng kedukaan yang selama ini menutupi wajah aselinya.
"Nona, apakah otakmu miring?"
Tiba-tiba Kian Bu yang sudah mulai "menemukan"
Kembali sifat kegembiraannya itu bertanya sambil memandang tajam.
Dia bukan sekedar menggoda atau balas mengejek, melainkan bertanya sungguh-sungguh karena memang dia mulai menyangka dengan perasaan sayang bahwa gadis yang demikian cantik jelita dan berkepandaian tinggi itu agaknya gila.
Buktinya, dulu pun sudah mencari keributan dengan dia untuk perkara yang bukan-bukan saja, dan sekarang bicaranya begitu tidak karuan!
Hwee Li merasa seperti disengat kalajengking ketika mendengar pertanyaan itu.
Ada rasa kaget, heran akan tetapi marahlah yang lebih besar menguasainya sehingga biarpun matanya terbuka lebar amat indahnya, namun bibirnya cemberut meruncing dan sepasang alis yang hitam kecil panjang itu berkerut.
"Siluman Gila! Engkau adalah seorang gila, bunuh diri merupakan perbuatan gila, dan kau masih mengatakan orang lain gila. Sungguh gila!"
Hwee Li memberi tekanan kepada setiap kata "gila"
Sehingga dia seolah-olah telah membalas dengan makian gila kepada Siluman Kecil sampai empat kali gila!
Melihat cara gadis ini melampiaskan rasa mendongkolnya, Kian Bu tak dapat menahan diri lagi dan dia tersenyum.
Senyum pertama semenjak dia berjuluk Siluman Kecil!
Sebelum ini, kalau toh dia tersenyum, maka senyumnya itu tentulah hanya senyum untuk bersopan-sopan saja, senyum paksaan.
Akan tetapi baru sekali ini dia tersenyum yang terdorong oleh kegembiraan hati.
"Nona ular...."
"Engkau makin kurang ajar!"
Hwee Li membanting kaki kanannya.
"Harus disebut apa kalau tidak mau dinamakan nona ular? Engkau ke mana-mana membawa ular yang menjijikkan!"
"Tidak lebih menjijikkan daripada manusia, apalagi yang gila seperti engkau!"
Hwee Li balas menyerang.
"Hemmm....kau mengingatkan aku akan sebuah syair...."
"Wah, orang gila mau bersyair, coba kudengarkan sampai di mana kegilaannya!"
"Manusia adalah mahluk gila yang tidak mengenal kegilaannya! Yang gila mengaku waras yang waras dimaki gila! Adakah yang lebih gila daripada manusia?"
Hwee Li bersorak.
"Bagus, bagus! Nah, syair itu menggambarkan keadaan dirimu sendiri, hi-hik! Sudah kusangka bahwa engkau memang Siluman Gila, Siluman Gila yang kecil!"
Kian Bu yang belum pulih semua kelincahannya merasa kewalahan juga menghadapi dara yang ternyata pandai sekali berdebat ini.
"Nona, kau tadi datang-datang membentak sampai aku kaget, lalu tiada hujan tiada angin kau memaki aku pengecut, cengeng, rendah dan gila yang akan membunuh diri. Sikapmu itulah yang membuat aku mengira engkau berotak miring."
"Habis, mau apa engkau melongok-longok ke bawah tebing securam itu kalau bukan untuk bunuh diri? Ataukah engkau bercanda dengan kabut yang melayang di bawah kaki? Nah, itu pun merupakan tanda-tanda bahwa engkau gil...."
"Sudahlah, jangan engkau mengobral makian. Sungguh tidak pantas maki-makian keluar dari mulut yang begitu indah."
Sepasang mata itu terbelalak, lalu dia mengangguk-angguk.
"Hemmm, sekarang baru aku mengerti mengapa Cui Lan jatuh hati kepadamu. Kiranya engkau adalah seorang laki-laki yang selain berkepandaian tinggi, berwajah tampan dan berambut aneh, juga pandai merayu!"
Kian Bu bengong.
"Aku? Merayu?"
"Menyangkal lagi! Baru saja kau bilang mulutku indah...."
"Kalau memang benar mulutmu indah, harus berkata bagaimana aku ini? Lihat, bentuk bibirmu amat indah, kemerahan dan segar, kalau tersenyum gigimu kecil berderet rata dan putih berkilau, dan lesung pipit di kanan kiri mulutmu mengintai. Benar indah mulutmu. Apakah aku harus bilang mulutmu buruk dan jelek? Aku tidak merayu, hanya bicara sebenarnya. Salahkah itu?"
Kian Bu mulai menemukan kembali kepandaiannya berdebat dan kini Hwee Li yang menjadi bengong, mencari-cari jawaban yang tepat.
Akan tetapi sekali ini sukar dia membantah.
Wanita mana yang tidak suka akan pujian?
Dan pujian dari Siluman Kecil itu begitu wajar dan terbuka, begitu langsung dan jelas bukan pujian kosong!
Tanpa disadarinya, warna kemerahan menjalar di kedua pipi yang halus putih itu.
"Sudahlah!"
Katanya gemas karena tidak berdaya untuk menangkis.
"Ketahuilah, Siluman Kecil, hatiku masih penasaran dan benci kepadamu kalau aku teringat kepada Cui Lan!"
"Hemmm, mengapa tidak kau lupakan saja dia?"
"Huh, pantas! Apa kau tidak peduli betapa dara yang cantik jelita dan halus budi pekertinya itu jatuh cinta kepadamu? Dia tergila-gila kepadamu, sungguh tolol mengapa seorang gadis seperti dia bisa tergila-gila kepada seorang sepertimu ini. Dia tergila-gila kepadamu, hatinya merana penuh kerinduan kepadamu, dan kau bersikap tidak peduli kepadanya! Bukankah hal itu membuktikan bahwa engkau sebenarnya adalah seorang yang kejam, keji, dan jahat, suka melihat kesengsaraan yang diderita seorang wanita?"
Melihat dara itu hendak nerocos terus menyerangnya dengan kata-kata tajam, Kian Bu cepat mengangkat tangan ke atas.
"Stop! Engkau salah mengerti dan tidak mengerti, Nona. Aku memang pernah menolong Nona Cui Lan. Dan dia jatuh cinta kepadaku, hal ini aku mengetahuinya. Akan tetapi, salahkah aku kalau ada seorang gadis jatuh cinta kepadaku? Salahkah aku kalau aku tidak membalas cintanya? Engkau sungguh tidak mengerti. Hanya karena aku merasa amat kasihan kepadanya sajalah maka aku sengaja bersikap tidak peduli dan kasar kepadanya. Memang sikap itu kusengaja!"
Sepasang mata yang bening itu melotot.
"Coba, betapa gilanya! Kasihan kepada orang dan menyatakan rasa kasihan itu dengan sikap tidak peduli dan kasar! Seperti baris terakhir dari syair gilamu itu. Adakah yang lebih gila daripada itu?"
"Engkau seperti anak kecil saja, dan memang engkau seorang anak-anak yang belum tahu tentang seluk-beluk cinta."
Makin meradang hati Hwee Li.
"Engkau makin besar kepala dan sombong saja. Baiklah, Guru Besar, berilah kuliah kepada hamba tentang cinta karena Guru Besar tentu merupakan seorang yang berpengalaman dan ahli tentang cinta!"
Hwee Li menjura dengan sikap mengejek. Akan tetapi Kian Bu tidak mempedulikan sikap ini.
"Aku sengaja bersikap kasar kepadanya agar dia membenciku! Aku tahu betapa sengsaranya hati yang menderita karena cinta gagal, dan kurasa penderitaannya itu hanya akan berakhir kalau cintanya terhadap aku berubah menjadi benci. Dengan demikian barulah dia akan dapat melupakan aku dan itulah sebabnya aku bersikap kasar kepadanya!"
Kian Bu bicara penuh semangat dan Hwee Li menjadi bengong melihat betapa wajah tampan yang tadinya mulai berseri dan bersemangat itu kini kembali menjadi muram sekali, penuh duka yang membayang di dalam sinar mata dan tarikan mulutnya.
"Ohhh.... begitukah? Kenapa kau tidak dapat mencintanya? Dan bagaimana kau tahu bahwa cinta gagal menimbulkan penderitaan hebat!"
"Karena aku sendiri.... ah, sudahlah, Nona. Harap kau tidak lagi menggangguku. Aku sedang menghadapi kepentingan yang amat besar di sini dan kedatanganmu hanya mengganggu terlaksananya kepentingan besar itu. Maaf, aku tidak dapat lama-lama menunda urusanku."
Akan tetapi gadis itu tentu bukan Hwee Li kalau dapat "digebah"
Sedemikian mudahnya.
Dia adalah seorang dara yang keras kepala, lebih keras daripada baja sehingga dia tidak akan mudah saja disuruh pergi sebelum dia sendiri menghendakinya untuk pergi!
"Eh, apakah tempat ini milikmu maka kau berani mengusir aku pergi dari sini?
Kalau aku tidak mau pergi, kau mau apa?"
Tantangnya.
Siluman Kecil melirik dan menarik napas panjang.
Dia tahu bahwa kalau dilayani, hal itu hanya akan berkepanjangan dan mungkin sekali mereka akan bertarung lagi.
"Terserah kepadamu, akan tetapi jangan ganggu aku dengan bicaramu lagi."
Setelah itu, dia lalu menghampiri tepi tebing, merenung kembali sambil mengasah otaknya, mencari jalan bagaimana dia dapat turun ke dasar tebing itu.
Setiap orang manusia tentu mempunyai sifat ingin tahu.
Hwee Li tidak terkecuali.
Melihat pemuda itu longak-longok memandang ke bawah tebing, dia tidak dapat menahan lagi hasrat ingin tahunya dan dia pun lalu menghampiri tepi tebing dan mulai pula ikut longak-longok memandang ke bawah tebing, seolah-olah hendak mencari sesuatu yang sedang dicari-cari pula oleh pemuda itu.
Kian Bu sudah tenggelam dalam renungannya mencari-cari akal maka dia tidak peduli, bahkan hampir tidak sadar bahwa tak jauh dari situ ada seorang gadis yang juga longak-longok seperti dia menjenguk ke bawah tebing.
Akhirnya dia menarik napas panjang dan menggeleng kepala, dan seperti dalam mimpi dia melihat Hwee Li juga menjenguk ke bawah tebing lalu gadis itu mengangkat muka memandangnya.
Mereka saling bertemu pandang dan Hwee Li bertanya secara otomatis.
"Sudah ketemu?"
Secara otomatis pula Kian Bu menggeleng kepala sambil menjawab.
"Belum...."
Baru dia terkejut dan sadar, maka sambungnya dengan bentakan.
"Ketemu apanya?"
"Tentu barang yang kau cari-cari itu, apa lagi? Tentu buntalan pakaianmu tadi terjatuh ke bawah tebing ini, bukan? Maka kau sejak tadi mencari-cari. Ku rasa tidak mungkin dapat kelihatan dari sini buntalan itu dan...."
"Buntalan hidungmu!"
Kian Bu membentak dengan hati mengkal karena dia merasa digoda terus-terusan.
Hwee Li meloncat berdiri dan kedua tangannya bertolak pinggang.
Hampir bertemu jari-jari kedua tangannya di sekeliling pinggang itu saking rampingnya pinggang gadis ini.
Mukanya merah dan matanya bersinar-sinar penuh kemarahan.
"Sombong, benar! Engkau berani menghidung-hidungkan orang, ya? Aku sudah susah payah ikut mencari-cari, engkau malah memaki orang sebagai balasan! Hayo berdirilah dan kita selesaikan penghinaan ini di ujung kedua kaki tangan!"
Kian Bu menarik napas panjang.
"Sudahlah, Nona. Kita ribut-ribut untuk urusan kosong belaka. Aku tidak mencari buntalan apa pun, tidak ada kehilangan apa pun. Aku sedang mencari akal bagaimana aku dapat turun ke dasar tebing ini. Nah, Nona manis, sudah puaskah engkau sekarang dan sudikah engkau meninggalkan aku untuk melanjutkan usahaku ini?"
Hwee Li kembali menjenguk ke bawah tebing, lalu mendengus.
"Huh, disebut gila tidak mau akan tetapi mau turun ke dasar tebing! Mau apa sih engkau hendak turun ke sana?"
Dengan setengah hati Kian Bu terpaksa menjawab, dengan maksud agar dara itu cepat pergi setelah rasa penasarannya dipenuhi.
"Aku hendak mencari obat untuk kakakku yang terluka parah, dan obatnya hanya terdapat di dasar tebing itu. Nah, sudah cukupkah penyelidikanmu, Nona? Silakan meninggalkan aku sekarang."
Tiba-tiba Hwee Li tertawa dan Kian Bu mengerutkan alisnya.
Terjadi perang di dalam hatinya melihat dara itu tertawa.
Di satu fihak, ingin dia menempiling perawan ini, di lain fihak dia kagum melihat wajah itu ketika tertawa.
Bukan main indah dan cantiknya ketika tertawa, seperti matahari di senjakala!
Cerah namun tidak menyengat!
Karena tertawa dara itu tidak dibuat-buat melainkan wajar, maka dia bertanya.
"Kenapa kau tertawa?"
"Karena sekarang engkau harus bersikap sopan dan ramah kepadaku kalau engkau ingin dapat turun ke dasar tebing sana."
"Hemmm, apa maksudmu?"
"Karena, biarpun engkau berjuluk Siluman Kecil, biarpun engkau memiliki kepandaian amat tinggi sehingga engkau mampu mengalahkan Sin-siauw Seng-jin, namun engkau tidak akan mungkin turun ke dasar tebing ini kecuali kalau kau hendak membunuh diri. Karena, hanya aku seoranglah yang dapat menolongmu turun ke sana dengan selamat."
"Jangan main-main, Nona!"
"Siapa main-main? Aku berani bertaruh potong leher bahwa aku dapat membawamu dengan selamat sampai di bawah tebing sana."
Kian Bu mengerutkan alisnya.
"Nona, jangan main-main. Aku menghadapi urusan yang amat penting dan aku tahu bahwa engkau memiliki kepandaian yang tinggi. Akan tetapi sedikit banyak aku telah mengukur kepandaianmu itu dan aku yakin bahwa engkau tidak mungkin dapat menggunakan kepandaianmu itu untuk menuruni tebing ini."
"Tentu saja! Siapapun tidak mungkin dapat menuruni tebing ini, akan tetapi dengan terbang, betapa akan mudahnya!"
"Terbang? Jangan bilang bahwa kau pandai terbang...."
"Aku sih bukan kupu-kupu yang mempunyai sayap. Akan tetapi burung garudaku tentu bisa!"
Kian Bu terbelalak.
"Kau.... kau mempunyai burung garuda?"
"Tentu saja, kalau tidak, perlu apa aku banyak bicara kepadamu?"
Gadis itu lalu bangkit berdiri, menaruh kedua tangan di kanan kiri mulutnya kemudian terdengarlah bunyi lengking aneh seperti suara burung dari mulut yang dilindungi dua tangan itu.
Kian Bu terkejut.
Lengking itu memang bunyi lengking untuk memanggil burung seperti rajawali atau garuda!
Berkali-kali Hwee Li mengeluarkan suara melengking nyaring itu dan tiba-tiba dia menuding ke atas.
"Nah, itu dia garudaku!"
Benar saja.
Seekor burung garuda yang besar menukik turun dan terbang berputaran di atas kepala mereka.
Berdebar jantung Kian Bu.
Memang inilah jalan satu-satunya turun ke sana.
Naik punggung garuda!
Dan dia bukanlah se-orang yang asing dengan pengalaman seperti itu.
Dia sudah sering kali naik punggung rajawali ketika dia masih berada di Pulau Es.
"Ah, sungguh hebat kau, Nona! Maafkan semua kekasaranku tadi dan sekarang aku percaya. Kau tolonglah aku, Nona. Biarkan aku meminjam burungmu itu untuk turun ke sana mencarikan obat untuk kakakku."
"Enaknya! Pinjam! Apa kau kira akan dapat menguasai Sin-eng-cu (Garuda Sakti)? Kau boleh kuboncengkan ke bawah sana, asal engkau mau minta maaf kepadaku dan mengatakan siapa adanya kakakmu yang terluka itu. Aku hampir tidak percaya bahwa seorang yang berjuluk Siluman Kecil masih mempunyai seorang kakak."
Karena Kian Bu tahu bahwa hanya dengan pertolongan gadis ini sajalah dia akan dapat memperoleh obat untuk kakaknya itu dengan cepat dan pasti, maka tanpa ragu-ragu lagi dia lalu menjura dan berkata halus.
"Nona, harap kau suka maafkan semua kesalahan-ku. Kakakku menderita luka dalam yang cukup hebat, kini dirawat oleh Sai-cu Kai-ong, obatnya hanya terdapat di daerah bawah tebing itu. Kakakku bernama Suma Kian Lee dan...."
"Kian Lee....? Aihhh, kenapa tidak dari tadi-tadi kau bilang....!"
Hwee Li melonjak kaget dan cepat dia melengking keras memanggil garudanya.
Burung itu menukik dan hinggap di atas tanah di depan gadis itu, mengeluarkan suara nguk-nguk manja, kemudian mendekam.
"Hayo cepat, nanti saja kau ceritakan bagaimana Suma Kian Lee sampai terluka hebat. Kau boleh duduk di belakangku. Sin-eng-cu, kau antarkan kami ke bawah sana!"
Berkata demikian, Hwee Li melompat ke punggung garuda itu lalu menggeser ke depan sedikit untuk memberi tempat kepada Kian Bu.
Pemuda itu yang sudah biasa menunggang burung besar, lalu meloncat dengan ringan agar tidak mengejutkan burung itu dan dia telah duduk di belakang Hwee Li.
"Sin-eng-cu, berangkatlah!"
Hwee Li menepuk leher burung itu yang mengeluarkan suara keras, menggerakkan kedua sayapnya, kedua kakinya menggenjot dan melayanglah dia ke atas, lalu terbang melayang ke bawah tebing.
"Sekarang ceritakan, benarkah kakakmu itu Suma Kian Lee?"
"Benar,"
Jawab Kian Bu dan jantungnya mulai berdegup tidak karuan.
Punggung garuda itu agak melengkung di tengah-tengahnya, sehingga dia yang duduk di bagian belakang, tentu saja selalu melorot ke depan sehingga tubuhnya merapat dengan tubuh belakang dara itu.
Rambut dara itu tertiup angin dan menyapu-nyapu muka dan hidungnya, selain mendatangkan rasa geli juga bau harum menyergap hidungnya dan rambut halus itu mengusap-usap mukanya seperti mem-belainya!
"Sungguh aneh!
Engkau Siluman Kecil dan kakakmu Suma Kian Lee.
Lalu siapa namamu sebenarnya?
"Namaku Suma Kian Bu...."
"Ahhh....!"
Gadis itu berseru demikian keras sehingga burungnya terkejut dan agak miring. Hwee Li cepat menepuk-nepuk punggungnya menenangkan.
"Jadi engkau dan kakakmu itu putera-putera Pulau Es? Kian Bu kini yang terkejut. Bagaimana gadis ini dapat mengenal kakaknya dan tahu pula bahwa dia dan kakaknya itu dari Pulau Es? Akan tetapi karena dia mengharapkan bantuan gadis itu, dia tidak mau banyak bertanya lebih dulu.
"Benar, Nona."
"Pantas engkau begini lihai!"
"Hemmm...."
"Dan pantas saja engkau agaknya sudah biasa menunggang garuda."
"Memang kami juga mempunyai rajawali di sana...."
Hwee Li mengangguk.
"Aku tahu...."
Hening sejenak dan terdengar oleh Kian Bu gadis itu bicara kepada diri sendiri, lirih.
"Kiranya dari Pulau Es...."
Tak lama kemudian gadis itu berkata lagi.
"Aku tahu bahwa Suma Kian Lee juga amat lihai seperti engkau, bagaimana dia sampai dapat menderita luka parah?"
Kian Bu hampir tidak dapat menjawab pertanyaan itu karena dia sekarang makin gelisah duduknya.
Sejak tadi jantungnya sudah berdebar keras tidak karuan dan makin lama makin hebat gelora di dalam hatinya.
Dia duduk begitu rapat sehingga tubuh depannya menempel ketat pada tubuh belakang gadis itu!
Dan kehangatan tubuh itu sampai terasa olehnya kelunakan dan kehalusan kulit di balik pakaian itu, tercium olehnya bau keringat, bau badan yang khas, dan mulailah dia membayangkan yang bukan-bukan.
Teringatlah dia ketika dia mengalami permainan cinta yang amat mesra dan hebat ketika dia untuk beberapa lamanya dahulu terpikat oleh seorang wanita cantik yang berwatak cabul, yaitu Mauw Siauw Mo-li Lauw Hong Kui, si Siluman Kucing.
Membayangkan semua pengalamannya dengan Lauw Hong Kui yang lalu, sedangkan di depannya duduk seorang dara yang malah jauh lebih cantik menarik daripada Lauw Hong Kui, lebih muda, lebih menggairahkan, maka seketika naiklah darah ke kepala Kian Bu dan sejenak menggelapkan mata batinnya.
Dia memejam-kan mata akan tetapi makin terbayanglah adegan-adegan mesra antara dia dan Lauw Hong Kui ketika bermain cinta, dan wajah Hong Kui itu berubah menjadi wajah dara yang duduk di depannya!
Dia berusaha untuk menekan perasaan ini dan mengusir bayangan-bayangan itu, maka terjadilah perang hebat di dalam hati dan pikirannya pada saat itu.
Tidak salah lagi, timbulnya segala macam nafsu keinginan, termasuk nafsu birahi adalah dari ingatan yang bertumpuk di dalam pikiran.
Biarpun kita duduk dikelilingi oleh puluhan orang wanita cantik manis, kalau kita menghadapi mereka dengan wajar dan dengan pikiran bebas, tidak akan terjadi sesuatu dalam batin kita.
Akan tetapi, begitu pikiran mengusik dan mengingat pengalaman-pengalaman yang lalu, baik pengalaman itu kita alami sendiri dengan wanita maupun pengalaman orang lain yang kita dengar atau baca, terbayanglah adegan-adegan mesra antara kita dengan wanita atau laki-laki lain dengan wanita.
Dan kalau sudah begitu, timbuliah keinginan untuk menikmati kesenangan itu, bangkitlah nafsu berahi, timbul nafsu untuk memiliki.
Seorang pertapa yang duduk samadhi seorang diri di puncak gunung, biarpun dalam jarak ratusan li jauhnya tidak ada wanita, namun kalau pikirannya membayangkan permainan cinta yang pernah dialaminya atau dialami orang lain dengan wanita, akan timbul pula nafsu berahinya.
Demikian pula dengan Suma Kian Bu.
Selama lima tahun lebih ini dia tidak pernah mengalami hal seperti saat itu.
Ketika dia duduk di atas punggung burung garuda bersama Hwee Li, duduk demikian dekatnya dan merapat ketat karena punggung itu miring sehingga tubuh depannya menempel rapat ke tubuh belakang Hwee Li, mula-mula tidak terjadi apa-apa.
Akan tetapi, setelah dia membayangkan adegan-adegan mesra yang pernah dialaminya bersama Lauw Hong Kui, maka mulailah terasa olehnya betapa dia seakan-akan sedang memeluk dara cantik jelita di depannya itu, memeluk dari belakang sehingga terasa dan tercium segala-galanya, kelembutannya, kepadatan tubuhnya, kehalusannya, kesedapannya, dan bangkitlah berahinya!
Karena sampai, lama tidak memperoleh jawaban, Hwee Li menoleh dan bertanya.
"Heiii, katakanlah, siapa yang melukai Suma Kian Lee?"
Ketika Hwee Li menoleh, muka mereka begitu berdekatan dan napas hangat dara itu menghembus di pipinya, membuat Kian Bu hampir tak kuat bertahan pula dan berahinya makin berkobar.
"Ihhhhh....!"
Tiba-tiba Hwee Li berseru dengan kaget dan geli dan pada saat itu Kian Bu menjawab gugup karena dia maklum mengapa dara itu menjerit.
"Akulah yang memukulnya...."
"Ahhhhh....!"
Kembali Hwee Li berseru kaget dan sekali ini seruannya adalah karena dua hal, pertama karena dia merasakan keadaan pemuda itu yang sedang diamuk berahi dan kedua kalinya mendengar bahwa pemuda itu yang memukul dan melukai Suma Kian Lee.
Berbareng dengan seruannya itu, tangannya bergerak dan dua ekor kepala ular mematuk dari kanan kiri ke arah leher dan dahi Kian Bu.
"Heiii....!"
Kian Bu berteriak keras dan cepat dua tangannya menangkis dengan pengerahan tenaga.
"Plak! Plak! Bukkkkk....!"
Dua ekor ular itu ditangkis remuk kepalanya, akan tetapi tangan Hwee Li telah mendorong dadanya sehingga tanpa dapat dicegah lagi tubuh Kian Bu terguling jatuh dari atas punggung garuda!
Untung bagi Kian Bu bahwa pada saat itu, mereka telah tiba di atas dasar tebing itu, tidak begitu tinggi lagi sehingga ketika dia terguling, dia dapat mengatur keseimbangan tubuhnya dan meloncat ke arah sebatang pohon yang tumbuh di bawah itu dan menyambar cabang pohon sehingga dia dapat mendarat dengan selamat.
Cepat dia lalu meloncat turun ke atas tanah dan peristiwa berbahaya itu sekaligus mengusir semua bayangan yang tadi membuat dia kehilangan kesadaran dan diamuk oleh nafsu berahi.
Mukanya menjadi merah sekali ketika dia teringat dan dia melihat kini burung garuda yang ditunggangi oleh Hwee Li itu terbang berputaran di atas kepalanya.
"Kau laki-laki cabul! Kau laki-laki kurang ajar, tidak tahu kesusilaan dan kau laki-laki porno!"
Terde-ngar Hwe Li memaki-maki sambil menjenguk dari atas punggung garudanya, suaranya penuh dengan kemarahan.
"Dan engkau juga laki-laki kejam dan durhaka, memukul kakak sendiri!"
Kian Bu merasa malu bukan main mengingat apa yang terjadi di atas punggung garuda tadi.
Tentu saja dara itu menjadi kaget kemudian menjadi geli dan jijik!
Tentu saja dara itu merasa dan tahu bahwa dia diamuk berahi karena tubuh mereka begitu rapat seolah-olah dara itu tadi setengah dipangkunya!
"Nona....
kau maafkanlah aku...."
Dia berkata dengan pengerahan khikang sehingga suaranya pasti dapat terdengar dari atas punggung garuda yang terbang berputaran di atas kepalanya beberapa tombak tingginya itu.
"Engkau.... engkau begitu cantik dan kita duduk begitu berdekatan dan aku.... aku hanya orang lemah...."
Kian Bu menunduk, kemudian berkata lagi.
"Aku menyesal sekali, Nona. Percayalah!"
Pemuda ini memang benar-benar merasa malu dan amat menyesal mengapa dia tadi membiarkan saja pikirannya melamun dan mengingat-ingat hal yang dapat membangkitkan berahinya.
Dia tidak tahu betapa di atas punggung garuda, Hwee Li yang marah-marah itu menjadi merah mukanya karena jengah atau malu teringat akan keadaan pemuda itu tadi yang duduk mepet di belakangnya sehingga pinggulnya dapat merasakan kebangkitan berahi pada pemuda itu.
Mendengar ucapan Kian Bu, diam-diam Hwee Li memuji kejujuran pemuda itu dan dia memang sudah memaafkannya karena bukankah sesungguhnya pemuda itu tidak melakukan sesuatu terhadap dirinya?
Kalau pemuda itu sudah menggerakkan tangan untuk merabanya misalnya, barulah hal itu dapat dianggap sebagai suatu kekurangajaran.
Yang membuat dia penasaran adalah ketika mendengar betapa Siluman Kecil itu memukul dan melukai Suma Kian Lee.
Berahi yang timbul pada diri Siluman Kecil tadi bahkan membuktikan bahwa dia memang mempunyai kecantikan dan daya tarik istimewa sehingga seorang tokoh besar seperti Siluman Kecil, yang dia melihat sendiri menolak cinta kasih seorang gadis cantik jelita seperti Cui Lan, ternyata timbul berahinya terhadap dia!
"Aku tidak mau bicara tentang itu!"
Bentak Hwee Li dari atas dan dia membiarkan garudanya terus beterbangan perlahan mengelilingi pemuda itu.
"Akan tetapi engkau telah memukul Suma Kian Lee, padahal, dia kakakmu sendiri!"
Di dalam cerita Kisah Sepasang Rajawali, lima enam tahun yang lalu, Kim Hwee Li pernah bertemu dengan Suma Kian Lee ketika pemuda ini terluka pahanya oleh senjata rahasia peledak yang dilepas oleh Mauw Siauw Mo-li dan Kim Hwee Li yang ketika itu baru berusia sebelas dua belas tahun, telah menolong pemuda itu, menyembunyikannya dan mengobatinya.
Melihat Suma Kian Lee yang tampan dan gagah, di dalam hati gadis kecil yang ketika itu baru menjelang dewasa, telah terdapat perasaan kagum dan memuja, dan Kian Lee merupakan pemuda atau pria pertama yang pernah menggoncangkan perasaan wanitanya.
Oleh karena itu, ketika mendengar bahwa Kian Lee terluka parah dan yang memukulnya adalah pemuda yang mengaku adiknya itu sendiri, tentu saja dia menjadi marah bukan main.
Apa lagi, ketika menangkis serangan ular-ularnya tadi, Siluman Kecil telah memukul mati kedua ularnya!
Kian Bu mengerti bahwa hanya dengan bantuan gadis itu dia dapat mencapai dasar tebing, dan juga tanpa bantuan gadis dengan garudanya itu, agaknya akan sukar bahkan tidak mungkin baginya untuk mendaki tebing yang amat tinggi itu.
Dia tidak takut menghadapi ancaman bahaya terkurung di situ, akan tetapi kalau tidak dibantu, tentu dia akan terlambat sekali membawa obat untuk kakaknya.
Maka dia mengambil keputusan untuk mengaku terus terang kepada gadis yang aneh itu.
Siapa tahu gadis yang aneh itu mempunyai watak gagah yang dapat mempertimbangkan keadaan dengan adil.
Buktinya gadis itu pun telah menghabiskan saja urusan yang timbul karena bangkitnya nafsu berahinya tadi, dan hal ini saja sudah menunjukkan bahwa gadis itu mempunyai kebijaksanaan dan kegagahan.
"Nona dengarlah baik-baik. Kakakku itu kena pukulanku karena kami berdua berkelahi dalam keadaan saling menyamar. Aku menyamar sebagai kakek-kakek dan dia menyamar sebagai seorang jagoan Gubernur Ho-nan sehingga kami tidak saling kenal dan saling serang. Setelah dia roboh dan penyamarannya terbuka, barulah kami saling mengenal. Melihat dia terluka parah, aku pergi ke sini untuk mencarikan obat penyembuhnya. Nah, terserah apakah engkau mau percaya atau tidak. Aku hendak mencari obat itu sekarang juga."
Dia lalu membalikkan tubuhnya dan tidak lagi mempedulikan nona itu, melainkan meneliti keadaan di situ untuk mencari anak sungai seperti yang telah digambarkan oleh Sai-cu Kai-ong kepadanya.
Biarpun dia maklum bahwa dia membutuhkan bantuan nona itu dan burung garudanya untuk dapat menyampaikan obat, kalau sudah ditemukannya, kepada kakaknya, namun bukanlah watak Suma Kian Bu untuk mengemis-ngemis bantuan orang.
Maka dia pun tidak merasa kecewa ketika melihat burung itu terbang naik meninggalkan dirinya, dan dia melanjutkan penyelidikannya.
Akhirnya ditemukanlah anak sungai tidak jauh dari situ dan tepat seperti yang digambarkan oleh kakek itu dari hwesio yang secara kebetulan menemukan tempat itu, dan Kian Bu cepat mengikuti aliran sungai kecil itu sampai anak sungai itu memasuki sebuah gua yang gelap.
Tanpa ragu-ragu lagi Kian Bu lalu turun ke air sungai yang dalamnya hanya selutut itu karena untuk mengikuti aliran sungai dari tepi sudah tidak mungkin lagi sekarang.
Ketika dia hendak memasuki gua, dia melihat burung garuda itu menukik dan nona yang duduk di atas punggung burung itu memandang penuh perhatian, akan tetapi dia tidak mau mempedulikan lagi dan terus memasuki gua yang gelap.
Dia tidak tahu berapa jauhnya dia menempuh jalan yang amat gelap dan sukar itu karena dia harus terus berjalan di dalam sungai dengan air kadang-kadang sampai sedalam dadanya dan dasar sungai itu kadang-kadang amat licin dan kadang-kadang penuh dengan batu-batu runcing.
Akan tetapi, setelah melewati waktu yang agaknya tiada habisnya itu, akhirnya Kian Bu melihat cahaya terang di sebelah depan dan tibalah dia di daerah terbuka.
Dia lalu mendarat di tepi sungai yang penuh dengan batu-batu besar hitam dan hatinya lega ketika dia melihat bahwa tempat itu terbuka, Langit dapat kelihatan dari situ sungguhpun daerah itu merupakan sumur raksasa yang amat dalam dan sekeliling tebingnya terjadi dari dinding batu yang amat licin dan tidak mungkin sama sekali untuk mendaki naik.
Akan tetapi di bawah dinding licin yang amat tinggi itu terdapat banyak batu-batu karang besar dan terdapat pula gua-gua yang besar dan hitam sehingga tempat yang terpencil itu kelihatan menyeramkan sekali.
Kian Bu menjadi bingung.
Menurut petunjuk Sai-cu Kai-ong, setelah tiba di tempat terbuka, dia harus memasuki sebuah gua karena di dalam gua yang katanya merupakan terowongan panjang itulah dia akan menemukan jamur panca warna yang akan menjadi obat bagi kakaknya.
Akan tetapi gua yang mana?
Dilihat dari tempat dia berdiri, agaknya di sekeliling tempat yang merupakan lambung gunung terhimpit tebing itu terdapat ratusan buah gua!
Mana dia bisa tahu gua yang manakah yang benar?
Dia tidak menyalahkan Sai-cu Kai-ong karena kakek itu sendiri belum pernah tiba di tempat ini dan hanya mendengar dari orang lain.
Tiba-tiba ada bayangan hitam didekat kakinya.
Cepat dia melihat ke atas dan benar saja, jauh sekali di atas tebing tebing itu nampak titik hitam yang bukan lain adalah burung garuda tadi!
Tentu saja seekor burung yang terbang dapat memeriksa keadaan sekeliling itu dan dapat menemukan "sumur raksasa"
Ini, akan tetapi kalau harus mendatangi tempat ini melalui atas, dengan jalan kaki sungguh merupakan hal yang sama sekali tidak mungkin.
Burung itu lewat dan samar-samar dia melihat gadis aneh yang duduk di punggung burung itu menjenguk ke bawah.
Akan tetapi dia tidak mempedulikan gadis pemarah itu karena dia masih menghadapi pekerjaan yang banyak dan sukar sekali.
Tanpa membuang banyak waktu lagi, mulalah Kian Bu memeriksa dan memasuki gua itu satu demi satu!
Sungguh hal ini merupakan pekerjaan yang amat sukar dan melelahkan.
Gua-gua itu ternyata banyak sekali yang amat dalam, merupakan terowongan-terowongan panjang dan berliku-liku, akan tetapi setelah dimasuki dan diikuti, ternyata hanya merupakan gua-gua kosong dan buntu, tidak ada nampak jamur sama sekali di situ.
Karena tidak dimasuki sinar matahari, lumut pun tidak nampak, apalagi jamur panca warna!
Baru belasan lubang gua yang diperiksanya dengan sia-sia, hari telah mulai gelap.
Kian Bu merasa heran sekali ketika keluar dari gua dan melihat matahari telah lenyap dan tempat itu cepat sekali gelap.
Tadi ketika dia membonceng gadis itu turun, hari masih pagi dan dia membuang waktu untuk memeriksa gua-gua itu hanya makan waktu empat lima jam saja.
Mengapa sekarang tahu-tahu telah menjadi remang-remang, menjadi senja dan hampir malam?
Akan tetapi ketika dia berdongak memandang ke sekeliling di atas tempat yang seperti sumur raksasa itu, mengertilah dia.
Tentu saja di tempat ini, waktu yang diukur dengan sinar matahari amatlah berbeda dengan di atas sana, di lapangan terbuka di mana sinar matahari dapat bercahaya sepenuhnya.
Di sini, matahari cepat lenyap terhalang ujung tebing di barat dan biarpun di dasar tempat itu sudah gelap, namun dia dapat menduga bahwa di atas sana tentu masih terang dan baru lewat tengah hari!
Karena gelap, terpaksa Kian Bu menunda pekerjaannya memeriksa gua-gua itu.
Dia duduk di atas batu yang halus permukaannya dan banyak terdapat di tempat itu, sambil termenung dan memandang ke sekeliling.
Di tempat ini tidak ditumbuhi pohon karena lantainya penuh dengan batu.
Ada pohon-pohon tumbuh di lereng tebing dan pohon-pohon itu merupakan pohon-pohon liar yang tidak mengandung buah yang dapat dimakan.
Akan tetapi, dia tidak lapar dan sebagai seorang yang terlatih, tidak makan beberapa hari saja bagi pemuda Pulau Es ini tidaklah merupakan hal yang menyiksa.
Juga dia tidak perlu membuat api unggun karena hawa dingin tidak akan mengganggu tubuhnya yang sudah biasa dengan hawa yang jauh lebih dingin ketika dia berlatih di Pulau Es.
Maka duduklah Suma Kian Bu di atas batu itu, bersila dan mulai melakukan siulan untuk mengumpulkan hawa murni, memulihkan tenaga dan memberi kesempatan kepada tubuhnya untuk mengaso.
Kegelapan kini menyelimuti tempat itu dan hanya sinar bintang-bintang di langit yang hanya seperempat luasnya daripada langit biasanya di tempat terbuka, yang mendatangkan cahaya remang-remang.
Sunyi sekali di sekitar tempat itu, kesunyian yang makin terasa karena adanya suara gemercik air yang tiada hentinya dan yang kini terdengar amat jelas.
Berbeda dengan waktu siangnya yang hariya pendek sekali, sebaliknya waktu malamnya di tempat itu amat panjang dan lama karena matahari yang di permukaan bumi sudah muncul dan naik tinggi, di dasar sumur raksasa itu masih belum nampak!
Kian Bu sudah tidak melihat adanya bintang-bintang di langit yang sudah disapu bersih oleh sinar matahari, namun tempat itu masih gelap.
Tiba-tiba dia mendengar suara, di belakangnya.
Cepat dia menoleh dan biarpun Kian Bu merupakan seorang pemuda gemblengan, seorang pendekar sakti yang berkepandaian tinggi, tidak urung bulu tengkuknya meremang.
ketika dia melihat sesosok tubuh berindap-indap keluar dari sebuah di antara ratusan gua itu.
Akan tetapi segera dia melenyapkan rasa takut itu dengan dugaan bahwa tentu orang itu adalah dara cantik yang tentu saja dapat turun dengan bantuan garudanya.
Maka dia pun bersikap dingin saja dan melanjutkan siulannya.
Bayangan orang itu dapat bergerak cepat dan kini telah tiba di dekat Kian Bu, lalu tiba-tiba saja bayangan itu menyerang dengan cengkeraman dari belakang ke arah tengkuk dan kepala pemuda itu.
Kian Bu terkejut dan cepat dia meloncat ke depan sehingga cengkeraman itu luput.
Akan tetapi orang itu dengan marah menerjangnya terus dengan pukulan-pukulan yang aneh.
"Nona, berhenti dulu! Mengapa kau menyerangku? Nona....!"
Kian Bu mengelak ke sana-sini dan dia makin terheran ketika memperoleh kenyataan bahwa gerakan orang ini sungguh jauh berbeda daripada gerakan nona pemilik garuda.
Dara cantik pemilik garuda itu memiliki gerakan yang berdasarkan gerakan ilmu silat tinggi, lihai sekali, akan tetapi sebaliknya orang ini menyerangnya dengan gerakan kasar, hanya gerakannya lebih nekat dan liar.
"Heh-heh-heh, hi-hik, kau menyebutku Nona? Hi-hi-hik!"
Wanita itu terkekeh dan Kian Bu makin terkejut dan terheran ketika dia mendapat kenyataan dari suara wanita ini bahwa dia sama sekali bukanlah dara pemilik burung garuda!
Akan tetapi cuaca masih terlalu gelap untuk dapat mengenal orang ini yang hanya tampak bayangannya saja.
"Siapakah kau? Dan kenapa kau menyerangku?"
Tanyanya.
"Hik-hik, kau pembunuh keji! Kau manusia jahat, masih tanya mengapa aku menyerangmu? Heh-heh, aku hendak membunuhmu untuk membalaskan kematian nyonya majikanku!"
Dan wanita itu menyerangnya lagi.
Kian Bu kembali mengelak ke sana ke mari dengan amat mudahnya karena ternyata kini bahwa serangan-serangan itu hanya sembarangan saja dan sama sekali tiada artinya bagi dia.
Akan tetapi dia merasa tidak enak untuk merobohkan seorang wanita, apalagi seorang wanita yang agaknya tidak waras otaknya.
"Aku tidak membunuh nyonya majikanmu! Siapa sih nyonya majikanmu itu?"
Tanya lagi Kian Bu sambil tetap mengelak ke sana-sini dan terus main mundur.
Wanita itu terus mengejar dan mendesaknya, melancarkan serangan-serangan nekat dan membabi-buta.
"Huh, engkau masih pura-pura lagi bertanya? Nyonyaku tentu saja Ang Siok Bi, siapa lagi? Dan dia sudah kalian bunuh secara kejam, dan kalian telah melemparkan aku ke sungai, ke pusaran maut. Heh-heh, akan tetapi kalian keliru, aku tidak mati dan sekarang aku akan membalaskan kematian majikanku, hik-hik!"
Kian Bu mengerutkan alisnya.
Tentu saja dia tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh wanita ini.
Sementara itu, cahaya matahari mulai menerangi tempat itu dan akhirnya dia dapat melihat bahwa yang menyerangnya mati-matian itu adalah seorang wanita yang usianya sudah tiga puluh tahun lebih, rambutnya awut-awutan dan pakaiannya juga seperti pakaian seorang jembel terlantar, seluruh tubuhnya menunjukkan bahwa wanita itu telah lama menderita di tempat ini.
Sepasang matanya yang berputar-putar itu menandakan bahwa wanita ini memang tidak waras lagi otaknya.
Kian Bu mengelak ke samping dan kini jari tangannya menyambar.
Robohlah wanita itu terkena totokannya.
Setelah Kian Bu, dapat melihat keadaan wanita itu, maka dia tidak ragu-ragu lagi untuk merobohkannya dengan totokan yang tidak berbahaya, hanya membuat kaki tangan wanita itu lumpuh.
Wanita itu memandang kepada Kian Bu dengan mata terbelalak, kemudian menangis.
"Hu-hu-huuukkkkk.... kiranya engkau adalah Tuan Muda Ang Tek Hoat....! Hu-huuuk, Tuan Muda, Ibumu telah mati dibunuh orang....!"
Kini Kian Bu terkejut bukan main mendengar wanita ini menyebut nama Ang Tek Hoat.
Tentu saja dia mengenal nama ini, mengenalnya dengan baik sekali.
Bukankah Ang Tek Hoat ini yang telah menjadi penyebab kehancuran hatinya dan kehancuran kehidupannya?
Dia telah jatuh cinta kepada Puteri Syanti Dewi, mencinta puteri itu dengan seluruh jiwa raganya, kemudian hatinya hancur berkeping-keping ketika dia mendapat kenyataan bahwa puteri yang dicintanya itu ternyata mencinta Ang Tek Hoat, pemuda yang tadinya amat jahat itu!
Pemuda yang sebenarnya masih terhitung keponakannya sendiri, karena Ang Tek Hoat adalah cucu dari ibu Suma Kian Lee (baca cerita Kisah Sepasang Rajawali).
Dan wanita ini menyebut Ang Tek Hoat sebagai tuan muda, dan mengatakan bahwa ibu Ang Tek Hoat mati dibunuh orang!
Kian Bu maklum bahwa jalan satu-satunya untuk menghadapi seorang gila adalah melayani kegilaannya.
Dia disangka Tek Hoat, maka akan percuma saja kalau dia menyangkal di depan seorang gila.
Biarlah dia berpura-pura menjadi Tek Hoat untuk mendengar tentang kematian ibu Tek Hoat itu.
"Bibi yang baik, engkau siapakah? Aku sudah lupa lagi,"
Katanya sambil duduk di atas batu dan membebaskan totokannya sehingga wanita itu kini dapat bergerak dan duduk pula di atas batu sambil menangis.
"Ah, Kongcu (Tuan Muda), engkau sudah lupa lagi kepadaku? Aku Cui-ma, pengasuhmu di waktu kau masih kecil."
"Hemmm, Cui-ma, tentu saja aku lupa karena sekarang engkau menjadi seperti ini. Ceritakanlah, Cui-ma, kenapa kau bisa berada di sini dan apa yang telah terjadi dengan.... Ibuku?"
Dengan sikap seorang gila yang mengerikan, kadang-kadang menangis, kadang-kadang tertawa, mulailah wanita itu bercerita yang didengarkan oleh Kian Bu dengan penuh perhatian.
Karena cerita itu menyangkut Ang Siok Bi, ibu dari Ang Tek Hoat seorang di antara tokoh-tokoh besar cerita ini, maka sebaiknya kalau kita mengikuti sendiri apa yang telah dialami oleh wanita she Ang (Lanjut ke
Jilid 20) Jodoh Rajawali (Seri ke 10 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 20 itu, daripada mendengarkan cerita Cui-ma yang tidak karuan.
Seperti telah diceritakan di bagian terdepan dari cerita ini, Ang Siok Bi, ibu dari Ang Tek Hoat, menyusul puteranya ke Kerajaan Bhutan.
Setelah wanita yang bernasib malang itu mengetahui bahwa dugaannya selama ini keliru, yaitu yang memperkosa dia di waktu dia masih gadis dahulu (baca cerita Kisah Sepasang Rajawali dan Sepasang Pedang Iblis) bukanlah Gak Bun Beng seperti yang selama itu disangkanya, melainkan Wan Keng In putera dari Lulu, isteri ke dua majikan Pulau Es, maka sakit hatinya berpindah kepada keluarga Pulau Es!
Dan untuk membalas dendamnya kepada keluarga Pulau Es, tentu saja dia merasa tidak mampu dan dia hendak menyuruh puteranya yang kini telah menjadi seorang sakti untuk membalas dendamnya kepada keluarga Pulau Es yang lihai itu.
Akan tetapi, Ang Tek Hoat yang sudah memperoleh kedudukan baik di Bhutan, sebagai panglima muda dan lebih-lebih lagi sebagai tunangan puteri raja, yaitu Puteri Syanti Dewi, menolak bujukan ibunya sehingga Ang Siok Bi menjadi marah.
Ang Siok Bi lalu menemui Raja Bhutan dan membuka rahasianya sendiri bahwa calon mantu raja itu, puteranya yang bernama Ang Tek Hoat adalah seorang anak haram tanpa ayah.
Setelah meninggalkan kata-kata beracun yang kemudian berakibat hebat itu, Ang Siok Bi lalu meninggalkan Bhutan, kembali ke tempat tinggalnya di puncak Bukit Angsa, di lembah Huang-ho di mana dia hidup mengasingkan diri, Hanya ditemani oleh seorang pembantunya yang setia, yaitu Cui-ma, seorang janda yang telah lama ikut bersama dia.
Sebagai teman satu-satunya, tentu saja dia mengajarkan ilmu silat kepada Cui-ma, sekedar untuk menjaga kesehatan dan untuk dipakai bela diri apabila perlu.
Cui-ma ini yang selalu menemaninya dalam semua kesengsaraannya hidup menyendiri itu.
Ketika melihat Ang Siok Bi pulang dan begitu tiba di pondoknya lalu menangis sejadi-jadinya, penuh kedukaan dan kekecewaan, Cui-ma cepat memeluknya dan menghiburnya, akan tetapi pelayan dan teman yang setia ini pun ikut menangis ketika mendengar cerita nyonya majikannya betapa Ang Tek Hoat, kongcu yang ditunggu-tunggu kedatangannya, yang diharap-harapkan akan dapat menghibur ibunya itu, ternyata menolak ajakan ibunya untuk meninggalkan Bhutan.
"Cui-ma, mulai saat ini kita harus berhati-hati...."
Setelah tangisnya mereda, Ang Siok Bi berkata, lalu cepat-cepat dia menutupkan daun pintu yang tadi terbuka, menutupkan pula semua daun jendela pondoknya yang terbuka.
Melihat sikap nyonya majikannya ini, Cui-ma terkejut dan merasa heran.
Tempat itu biasanya sunyi dan selama ini keamanan mereka tidak pernah terganggu orang maupun binatang.
Kenapa sekarang nyonya majikannya kelihatan begitu gelisah dan menutupi daun pintu dan jendela seperti orang ketakutan?
Padahal, andaikata ada bahaya mengancam sekalipun, apa yang perlu ditakutkan?
Bukankah nyonya majikannya memiliki kepandaian yang lihai?
"Toanio, apakah yang telah terjadi?
Siapa yang mengancam keselamatan kita?"
"Panglima dari Bhutan.... kalau tidak salah, Mohinta namanya, putera panglima tertinggi di Bhutan. Beberapa hari yang lalu aku melihat dia, dan dia bersama orang-orangnya berusaha untuk menangkap aku, melihat gelagatnya dia agaknya bertekad untuk membunuhku. Kita harus siap menghadapi mereka, Cui-ma."
"Mengapa, Toanio? Siapa mereka dan mengapa?"
"Mereka orang-orang Bhutan yang telah menjebak puteraku, mengikat puteraku dan agaknya mereka itu diperintah oleh raja mereka untuk membunuh aku karena aku dianggap menghalangi rencana mereka mengikat anakku Tek Hoat...."
Dengan cemas karena maklum bahwa dia menghadapi orang-orang yang sudah merencanakan kematiannya, mulai hari itu Ang Siok Bi dibantu oleh Cui-ma lalu mengatur persiapan untuk menghadapi musuh-musuh itu.
Ang Siok Bi adalah seorang wanita yang berani dan berhati baja, maka biarpun dia sering kali kelihatan gelisah, namun dia membuat persiapan yang teliti, Bahkan di balik daun pintu dan jendelanya dia pasangi alat-alat rahasia yang akan secara otomatis menggerakkan jarum-jarum hitam yang dipasangnya menyerang siapa saja yang membuka pintu atau jendela dari luar dengan paksa!
Tiga hari tiga malam Ang Siok Bi berjaga-jaga, tidak berani tidur, jarang makan dan tidak pernah berganti pakaian sejak dia pulang.
Cui-ma menjadi khawatir sekali melihat keadaan nyonya majikannya itu.
Pada malam yang ke dua rumah itu telah diserbu orang ketika mereka tertidur saking lelahnya.
Terdengar suara gedebugan dan ketika mereka memeriksa pada keesokan harinya, jelas nampak bekas kaki orang di luar pintu, daun pintu terbuka dan ada darah berceceran di situ.
Jelas bahwa anak panah yang dipasang pada belakang daun pintu telah mengenai korbannya, yaitu orang-orang yang membuka pintu itu semalam.
Sejak itu, Siok Bi dan Cui-ma tidak lagi berani tidur!
"Cui-ma, dengar baik-baik.
Tidak boleh kita berdua mati di sini.
Kalau kita berdua berjaga di sini sampai akhir-nya musuh dapat menerjang masuk dan kita berdua mati, tentu anakku tidak akan tahu apa yang telah terjadi dengan ibunya.
Kau harus pergi dari sini!"
"Ah, lebih baik kita pergi berdua saja, Toanio. Mengapa kita harus menanti datangnya musuh di sini? Marilah kita pergi dan bersembunyi di lain tempat."
Ang Siok Bi menggeleng kepala.
"Percuma, mereka sudah membayangi dan mengejarku sejak dari Bhutan. Hendak bersembunyi ke mana? Tentu akhirnya akan mereka dapatkan juga. Dan kalau aku mati di tangan mereka, aku ingin mati di rumahku sendiri dan dapat melakukan perlawanan sebaiknya, daripada mati di tempat asing. Kau pergilah, Cui-ma...."
"Tidak, Toanio. Kalau Toanio tidak mau pergi, biar aku mati bersamamu di sini."
"Jangan banyak membantah!"
Siok Bi membentak marah.
"Aku sudah cukup mengenal kesetiaanmu. Aku menyuruh kau pergi bukan karena sayang nyawamu atau tidak percaya kepada kesetiaanmu. Justeru kalau engkau setia, engkau harus pergi, harus hidup dan kelak kau ceritakan kepada Ang Tek Hoat anakku bagaimana ibunya mati dan oleh siapa. Mengertikah engkau? Katakan bahwa yang membayangi ibunya adalah Mohinta dan anak buahnya, orang-orang dari Bhutan. Mengerti?"
Sambil menangis akhirnya Cui-ma mentaati perintah majikannya dan sore hari itu pergilah dia meninggalkan rumah sewaktu menjelang senja dan cuaca sudah mulai gelap.
Ang Siok Bi berjaga-jaga seorang diri di dalam kamarnya, matanya menatap ke arah pintu dan jendela kamarnya secara bergantian.
Di balik pintu telah dia pasangi anak panah dan kalau pintu itu terbuka dari luar, tentu anak panah akan menyambar ke luar.
Sedangkan di jendela kamarnya dia pasangi jarum-jarum hitamnya yang juga akan menyambar keluar apabila daun jendela dibuka dengan paksa dari luar.
Dia sendiri rebah terlentang melepaskan lelah dengan pedang terhunus di atas mejanya.
Malam itu sunyi sekali.
Rasa kantuk hampir tak tertahankan lagi, namun Ang Siok Bi mempertahan-kan rasa kantuk itu dengan mencoret-coret pada kayu pembaringannya, menggunakan jarum hitamnya menuliskan huruf-huruf kecil di kayu itu dengan cara menggores-goreskannya.
"Tiga malam aku tidak tidur, menanti serangan si pengecut laknat. Kalau ada puteraku di sini, engkau akan mampus...."
Tiba-tiba dia menghentikan goresan jarumnya karena dia mendengar sesuatu di luar kamarnya.
Siok Bi cepat meloncat turun dan dengan pedang di tangan, matanya memandang tajam ke arah jendela dan pintu, juga dia melirik ke atas, kalau-kalau ada musuh yang datang masuk melalui genteng.
Akan tetapi suara itu lenyap dan selanjutnya tidak ada gerakan apa-apa lagi.
Jantungnya berdebar tegang, akan tetapi lalu dia tenang kembali.
Tentu hanya tikus, pikirnya dan dia merebahkan diri lagi di atas pennbaringan, meletakkan pedang di dekat pembaringan, di atas meja sehingga sewaktu-waktu dia dapat menyambarnya.
Gangguan suara yang mencurigakan itu menambah semangat dan mengusir rasa kantuknya yang tadi hampir tidak dapat ditahankannya lagi itu.
Dia membayangkan puteranya dan tak terasa air matanya berlinang.
Harapan satu-satunya hanya kepada puteranya.
Dia telah menderita tekanan batin belasan tahun lamanya.
Dia merasa sakit hati semenjak ada orang memperkosanya, orang yang disangkanya semula adalah pendekar sakti Gak Bun Beng akan tetapi yang ternyata bukan pria yang pernah menjatuhkan hatinya itu, melainkan Wan Keng In, putera dari Lulu yang kini menjadi isteri ke dua dari Pendekar Super Sakti majikan Pulau Es.
Dan Tek Hoat, puteranya yang diharap-harapkan akan dapat menebus penghinaan dan membalaskan sakit hatinya itu, ternyata telah mengecewakan!
Bahkan kini dia dikejar-kejar oleh rombongan orang-orang Bhutan yang dipimpin oleh panglima Mohinta itu!
Jangan-jangan rombongan itu disuruh pula oleh puteranya!
Mungkinkah itu?
Dia menggigit bibir dan teringatlah dia akan dongeng kuno tentang seorang janda yang puteranya setelah menjadi seorang besar lalu melupakan ibunya.
Bukan hanya melupakan ibunya yang miskin, bahkan karena tidak ingin orang mengetahui bahwa wanita janda miskin itu adalah ibunya, si anak yang telah menjadi orang besar itu menyuruh membunuh ibunya sendiri!
Akan demikian pulakah nasibnya?
Sedemikian jahat dan durhakakah puteranya?
Membayangkan kemungkinan yang dibantahnya sendiri ini, Ang Siok Bi tidak dapat menahan lagi tangisnya dan air matanya bercucuran.
Akan tetapi, dia merasa mengantuk sekali.
Rasa kantuk yang tidak dapat ditahannya lagi dan karena menangis tadi, maka dia menjadi lengah, tidak melihat betapa ada asap halus memasuki kamarnya dari lubang di dekat pintu!
Setelah asap itu mengenai mukanya, timbuliah rasa kantuk yang amat hebat, yang tidak dicurigainya karena selama tiga hari tiga malam boleh dibilang dia tidak berani memejamkan mata.
Dan sekarang, bersedih karena membayangkan kemungkinan puteranya akan berbuat keji dan durhaka terhadap dirinya, Siok Bi menjadi lemah dan bersikap masa bodoh, maka dia pun tidak melawan rasa kantuk itu dan akhirnya tertidurlah wanita ini dengan nyenyaknya.
Tak lama kemudian ada suara gerakan di atas kamar itu.
Genteng dibuka dan sesosok bayangan melayang masuk.
Ketika bayangan itu melihat betapa Siok Bi telah tidur, dia tertawa di balik sapu-tangan yang dipergunakan sebagai kedok menutupi mulut dan hidungnya, kemudian dia mengeluar-kan suara suitan perlahan.
Dari atas genteng melayang turun lagi seorang yang juga memakai kedok saputangan dan orang ini mengangguk-angguk.
"Dia sudah pulas, Tuan Muda Mohinta,"
Kata orang pertama dalam bahasa Bhutan.
Laki-laki ke dua yang ternyata adalah Mohinta itu, mencabut pedangnya dan dengan tenang saja dia menggerakkan tangannya.
Pedang meluncur dan menusuk dada Ang Siok Bi, tepat mengenai ulu hatinya dan menembus sampai ke punggung!
Cepat Mohinta mencabut pedang itu dan tubuh Ang Siok Bi berkelojotan, darah muncrat-muncrat dari dada dan punggungnya, lalu dia terdiam dan tewas tanpa dapat bersuara lagi, Hanya matanya yang terbelalak memandang kepada dua orang yang membunuhnya secara curang itu.
Dua orang laki-laki itu lalu meloncat keluar melalui genteng, di mana terdapat beberapa orang teman mereka dari pergilah mereka menghilang ditelan kegelapan malam.
Tidak ada seorang pun yang menyaksikan pembunuhan keji itu.
Demikianlah peristiwa pembunuhan atas diri Ang Siok Bi dan ketika Ang Tek Hoat muncul di dalam pondok ibunya, dia hanya mendapatkan kerangka ibunya, coretan tulisan di atas kayu pembaringan, dan pedang ibunya, tanpa dapat mengerti siapa yang telah membunuh ibunya.
Tentu saja cerita yang disampaikan oleh Cui-ma kepada Suma Kian Bu tidak lengkap, dan dia hanya bercerita tentang Ang Siok Bi sampai dia disuruh pergi oleh majikannya di waktu senja itu, kemudian dia menangis lagi sesenggukan.
"Lalu bagaimana, Cui-ma? Bagaimana dengan Ibuku?"
Suma Kian Bu mendesah, masih terus bersandiwara melayani si gila itu yang menyangka dia adalah Ang Tek Hoat putera dari Ang Siok Bi.
"Karena tidak berani membantah, sore hari itu aku meninggalkan rumah, akan tetapi aku tidak pergi jauh dan pada keesokan harinya, aku kembali ke pondok. Aku tidak berani membuka pintu atau jendela yang dipasangi senjata rahasia, maka aku mengintai dan aku melihat nyonya majikan.... Ibumu itu hu....huuukkk.... dia telah tewas...."
Kian Bu terkejut juga, terkejut dan marah walaupun dia tahu bahwa yang diceritakan itu bukanlah ibunya sendiri.
"Celaka!"
Serunya sambil mengepal tinju.
"Siapa yang membunuhnya, Cui-ma? Siapa?"
"Tadinya aku pun tidak tahu siapa.... hu-hukkk.... akan tetapi tiba-tiba mereka itu muncul dan menangkapku.
"Mereka siapa?"
"Orang-orang Bhutan itu, yang dipimpin oleh Mohinta, seperti diceritakan Toanio kepadaku. Mereka menangkapku, membawaku dengan paksa ke sungai dan melemparkan aku ke pusaran air maut di Huang-ho...."
"Pusaran maut?"
"Ya, aku tidak berdaya. Aku dilempar di air dan pusaran air menyedot dan menarikku. Aku tidak tahu apa-apa lagi dan ketika aku sadar, ternyata aku telah berada di sini....di tepi sungai yang memasuki terowongan itu...."
Kembali dia menangis.
Suma Kian Bu tertegun dan terheran-heran.
Kiranya di samping hwesio yang tergelincir ke dalam jurang dan menemukan tempat ini secara aneh, juga dia yang dapat turun dibantu oleh gadis yang memiliki burung garuda, ada seorang lain yang dapat tiba di sini secara lebih aneh lagi, yaitu Cui-ma ini.
Melalui pusaran air dan sungai yang memasuki terowongan!
Kemudian dia teringat akan keperlu-annya sendiri.
Mungkin Cui-ma ini mengetahui tentang jamur panca warna!
"Cui-ma, setelah mendengarkan ceritamu, maukah engkau menolongku?"
"Tentu saja, Kongcu. Akan tetapi engkau harus membalaskan kematian Ibumu."
"Sudah pasti akan kulakukan itu, Cui-ma. Sekarang katakanlah, apa engkau tahu di mana adanya jamur panca warna yang berada di dalam satu di antara gua-gua ini?"
Tanya Kian Bu sambil me-mandang wanita itu penuh harapan.
"Jamur panca warna....?"
Wanita itu memandang kepada Kian Bu dengan sinar mata tidak seliar tadi.
Agaknya pertemuannya dengan pemuda yang disangka putera majikannya itu, dan cerita yang dituturkan sambil menangis, telah banyak mengurangi tekanan batinnya.
"Ya, jamur panca warna untuk obat."
Kemudian Kian Bu teringat bahwa mungkin Cui-ma tidak mengenal nama jamur itu.
"Jamur itu kalau siang biasa saja, akan tetapi kalau malam mengeluarkan sinar lima macam seperti pelangi dan berada di dalam satu di antara gua-gua itu."
Tiba-tiba Cui-ma nampak ketakutan dan bergidik seperti melihat sesuatu yang mengerikan. Dia memandang ke kiri, ke arah sebuah gua besar dan berkata.
"Kau.... kau maksudkan.... ihhhhh.... mata-mata iblis itu, mata setan yang kalau malam mengejar-ngejarku.... hiiihhhhh, sungguh mengerikan, di gua tengkorak itu penuh tengkorak bayi dan anak kecil, di situ terdapat pula mata iblis yang hidup kalau malam aku takut, Kongcu, aku takut....!"
Wanita yang mengalami banyak tekanan dan penderitaan batin itu menjerit dan melompat hendak lari.
Akan tetapi Kian Bu lebih cepat lagi dan sudah memegang lengannya.
"Tenanglah, Cui-ma, tidak ada apa-apa dan jangan takut. Ada aku di sini. Yang kau maksudkan dengan gua tengkorak itu yang mana? Yang besar itu? Yang di depannya ada tumpukan tiga buah batu besar itu?"
Dia menuding ke arah kiri di mana terdapat sebuah gua yang agak besar.
Wanita itu menoleh dan memandang ke arah gua itu dan matanya makin terbelalak berputaran.
Gilanya kumat lagi.
"Benar.... benar.... aku takut.... takuttt....!"
Dan dia menangis terisak-isak dalam pelukan Kian Bu yang merasa kasihan sekali kepada wanita ini.
"Hemmm, katanya mencari jamur, kiranya hanya mencari perempuan untuk dicumbu-rayu. Huh, dasar laki-laki cabul!"
Kian Bu terkejut bukan main.
Dia menoleh dan kiranya dara cantik jelita itu telah berdiri di atas batu dan burung garudanya hinggap di pohon yang tumbuh tinggi di dinding tebing.
Tentu saja sukar mendengarkan suara halus dari gerakan sayap yang menahan peluncuran mereka tadi dan tahu-tahu gadis itu telah berada di situ, mengeluarkan kata-kata yang mengejek dan dengan pandang mata yang marah dan mengandung hinaan pula.
"Ah, jangan sembarangan bicara!"
Bentaknya marah, akan tetapi tentu saja dengan perasaan tidak enak dia melepaskan pelukannya yang tadi dilakukan untuk mencegah Cui-ma lari dan membiarkan wanita itu menangis.
Tiba-tiba Cui-ma menjerit nyaring sekali.
"Siluman.... datang hendak mencabut nyawaku....!"
Dia menoleh ke arah dara itu, lalu melarikan diri dengan cepat berloncatan ke atas batu-batu yang besar-besar dan berserakan di tempat itu.
"Cui-ma....!"
Kian Bu berteriak mengejar.
Akan tetapi seperti orang nekat Cui-ma telah lari cepat berloncatan membabi-buta.
Tiba-tiba dia tergelincir dan terbanting jatuh ke depan.
Terdengar suara "prakkk"
Dan tubuhnya terguling, tidak bergerak lagi.
"Cui-ma....!"
Kian Bu melompat dan cepat berlutut di atas batu di mana Cui-ma roboh tadi.
Dia memeriksa dan menarik napas panjang, lalu menoleh ke arah dara cantik yang masih berdiri itu.
"Dia telah mati...."
Katanya seperti orang mengeluh.
"Mati....?"
Gadis itu cepat berlari menghampiri dan terbelalak memandang wanita setengah tua yang kini kepalanya pecah berlumuran darah.
Kiranya ketika terjatuh tadi, kepalanya menimpa batu keras dan pecah sehingga dia tewas seketika!
Dan baru sekarang Hwee Li mendapat kenyataan bahwa wanita yang dipeluk oleh Kian Bu tadi ternyata adalah seorang wanita setengah tua yang mukanya kotor menjijikkan dan yang agaknya adalah seorang wanita yang tidak waras otaknya.
"Dia siapa? Kenapa?"
Tanyanya sambil memandang kepada Kian Bu.
Akan tetapi Kian Bu masih merasa marah, sedih dan kecewa melihat nasib Cui-ma sehingga dia tidak menjawab pertanyaan gadis itu, malah tidak mempedulikannya lagi dan dia memondong mayat Cui-ma, dibawanya ke tempat yang ada tanahnya.
Dia menggali lubang tanpa bicara sepatah kata pun, kemudian mengubur mayat Cui-ma di situ, di depan sebuah gua.
Akhirnya dia membersihkan kedua tangannya sambil menghela napas.
"Suma Kian Bu, kau menganggap dirimu ini siapa sih? Sikapmu begitu sombong!"
Hwee Li yang sejak tadi diam saja dan menonton semaa yang dilakukan Kian Bu sambil duduk di atas batu besar, kini menegur dengan wajah cemberut karena dia merasa sama sekali tidak diacuhkan oleh pemuda itu.
Kian Bu menengok dengan alis berkerut.
"Engkau telah membuat dia ketakutan dan menjadi sebab kematiannya, dan kau sama sekali tidak menyesal?"
"Eh, eh! Siluman Kecil, ngawur saja bicaramu! Bagaimana duduk perkaranya maka kau katakan bahwa aku menjadi sebab kematiannya? Hwee Li berseru sambil bangkit berdiri dan bertolak pinggang, wajahnya merah karena marahnya. Hemmm, pemarah benar gadis ini, pikir Kian Bu. Akan tetapi dia tidak mau kalah karena memang dia merasa kasihan sekali kepada Cui-ma dan mendongkol melihat kedatangan gadis itu yang mengejutkan Cui-ma.
"Kau telah mengejutkan dia, mengira engkau siluman maka dia lari lalu terjatuh. Apa kau tidak melihat itu?"
"Huh, kalau dia menganggap aku siluman, apakah itu kesalahan-ku? Kalau dia takut melihat aku lalu lari seperti gila, apakah itu juga kesalahanku? Kalau kau yang dekat dengan dia tidak mampu mencegah dia lari, apakah itu pun kesalahanku? Kalau memang wajahku jelek sekali seperti siluman sehingga membikin dia takut, apakah itu juga kesalahanku?"
Diberondong oleh ucapan yang nadanya menantang dan mengejek, namun tak dapat dibantah kebenarannya itu membuat Kian Bu merasa tidak enak dan serba salah.
Memang kalau dipikir benar-benar, tentu saja munculnya gadis itu tidak salah dan tidak sengaja hendak mengaget-kan Cui-ma.
"Kau tidak berwajah jelek...."
Saking bingungnya dia membantah kalimat terakhir itu.
"Sudah jelas dia menyangka aku siluman sehingga dia ketakutan! Wajahku jelek seperti siluman, dan apa dayaku?"
Kalau dia diserang dengan kata yang mengandung kemarahan, agaknya Kian Bu akan dapat membalas karena dia pun terhitung seorang yang pandai bicara, bahkan dulu sebelum dia menjadi Siluman Kecil, dia adalah seorang pemuda yang lincah jenaka dan pandai menggoda orang lain dengan kata-kata, akan tetapi kini melihat dara itu memburuk-burukkan diri sendiri, dia menjadi makin tidak enak.
"Tidak, tidak...., sebaliknya malah, kau cantik sekali...."
"Huh, sudah keluar pula sifat cabulnya!"
Hwee Li mengejek.
Kian Bu makin bingung.
Celaka, gadis ini benar-benar membikin orang menjadi kewalahan dan mendongkol sekali!
"Maksudku, kau tidak jelek dan karena cantik itu agaknya dia menyangka kau siluman.
Tentu saja bukan salahmu, akan tetapi, ah, aku kasihan sekali padanya.
Nasibnya demikian Buruk sampai matinya...."
Dan pemuda itu memandang ke arah gundukan tanah campur batu yang menjadi kuburan Cui-ma itu.
Melihat sikap yang sungguh-sungguh dari pemuda itu, Hwee Li juga mereda rasa penasarannya dan dia bertanya sambil memandang ke arah kuburan itu.
"Siapakah dia itu?"
"Namanya Cui-ma, dia pelayan dari Ang Siok Bi yang telah menjadi gila karena tekanan batin yang hebat dan dia sampai di sini karena dilempar ke Sungai Huang-ho dan hanyut oleh pusaran air."
"Ihhh....! Siapa yang melakukannya dan kenapa? Siapa pula itu Ang Siok Bi? "Dia adalah ibu Ang Tek Hoat."
"Tek Hoat....? Tek Hoat? Serasa pernah aku mendengar nama itu!"
Hwee Li mengerutkan alisnya sambil mengingat-ingat.
"Mungkin saja. Dia pernah terlibat dalam urusan pemberontakan Pangeran Liong Bin Ong. Dia terkenal dengan julukannya si Jari Maut, Ang Tek Hoat."
"Ahhh....! Benar! Wah, dia terkenal sekali dan orang itu amat menarik. Kau bilang bahwa wanita tadi adalah pelayan ibu si Jari Maut?"
Melihat betapa Hwee Li amat tertarik, maka dengan singkat Kian Bu lalu menuturkan tentang pertemuannya dengan Cui-ma dan tentang cerita Cui-ma bahwa ibu dari Tek Hoat telah dibunuh oleh orang-orang Bhutan yang dipimpin oleh orang yang bernama Mohinta, seorang panglima dari Bhutan yang lihai.
Hwee Li mendengarkan dengan penuh perhatian dan dia kembali memandang ke arah kuburan itu.
"Maafkan aku, tadinya kusangka...."
"Kau sangka apa?"
"Dari atas kulihat engkau memeluk seorang wanita, kelihatan kalian seperti sedang bercinta-cintaan dan bermesra-mesraan."
Kian Bu sudah mendapatkan kembali sifatnya yang nakal dan suka menggoda orang.
"Andaikata benar demikian, mengapa?"
Kedua pipi itu berubah merah dan matanya bersinar marah.
"Aku sih tidak peduli! Akan tetapi karena kau bilang hendak mencarikan obat untuk Suma Kian Lee, dan melihat kau bermain gila, maka aku sudah menegurmu."
"Obat? Ah, benar! Agaknya aku sudah menemukan tempatnya, berkat petunjuk dari Cui-ma,"
Berkata demikian, Kian Bu lalu melangkah menuju ke gua yang ditunjuk oleh Cui-ma tadi.
Hwee Li cepat mengikutinya dan mereka berdiri di depan gua besar yang agak gelap karena sinar matahari tidak dapat langsung masuk ke dalamnya.
Akan tetapi lambat-laun mata mereka sudah menjadi biasa dan ketika mereka memasuki gua, kelihatanlah oleh mereka banyak sekali kerangka kecil di situ.
"Hemmm, Cui-ma bilang bahwa gua ini penuh tengkorak bayi dan anak kecil. Agaknya inilah gua tengkorak itu...."
Kata Kian Bu sambil memandang tengkorak dan tulang-tulang berserakan.
"Tidak ada tengkorak bayi atau anak kecil. Ini adalah tengkorak dan kerangka binatang, semacam monyet, hanya mukanya seperti anjing. Hemmm, tidak salah lagi, ini adalah kerangka binatang baboon yang tubuhnya monyet dan mukanya anjing. Ini agaknya menjadi kuburan mereka."
"Dan Cui-ma bilang di sini terdapat mata iblis...."
Kata pula Kian Bu. Mereka masuk terus ke dalam gua yang agak panjang itu. Tiba-tiba Hwee Li berseru.
"Ihhhhh...."
Dan otomatis tangannya memegang tangan Kian Bu.
Pemuda ini pun terkejut sehingga dia pun membalas pegangan tangan itu.
Mereka saling berpegang tangan dan jantung mereka berdebar tegang.
Jauh di sebelah dalam, di tempat gelap, nampak banyak mata yang mencorong dan bersinar-sinar memandang ke arah mereka!
Bukan mata manusia, bukan pula mata binatang, dan agaknya itulah mata iblis yang ditakuti oleh Cui-ma.
Tiba-tiba Hwee Li tertawa dan melepaskan tangannya.
"Ah, memang benda yang berkilau dan mengeluarkan sinar, akan tetapi lihat, sinarnya tidak pernah bergerak. Bukan mata, melainkan benda-benda bersinar."
"Benar engkau, Nona. Dan agaknya inilah yang kucari. Lihat, bukankah sinarnya berubah-ubah dan seperti warna pelangi? Inilah jamur panca warna itu! Menurut penuturan Sai-cu Kai-ong, jamur itu hanya mengeluarkan sinar di tempat gelap, kalau di tempat terang tidak bersinar."
Kian Bu mendekat, berjongkok dan menggunakan tangannya mencabuti jamur-jamur itu.
Jamur-jamur itu masih bersinar-sinar di tangannya ketika dia bawa keluar, akan tetapi setibanya di luar, jamur-jamur itu kehilangan sinarnya dan berubah sebagai jamur biasa saja!
"Inilah obatnya, tidak salah lagi!"
Kian Bu berseru dan menoleh ke arah kuburan Cui-ma sambil berkata.
"Terima kasih, Cui-ma, engkau telah menyelamatkan kakakku."
"Belum tentu,"
Tiba-tiba Hwee Li berkata.
"Kalau kau tidak dapat keluar dari sini dan cepat-cepat memberikan jamur itu kepada kakakmu, mana bisa dia tertolong? Mari, kuantar kau naik."
Hwee Li mengeluarkan suara melengking dan burung garuda itu menyambar turun lalu hinggap di atas batu di depan gadis itu.
"Siluman Kecil...."
"Namaku Suma Kian Bu, Nona."
"Sebaiknya sekarang kukenal sebagai Siluman Kecil saja. Kau akan kubantu agar dapat naik ke sana."
"Terima kasih, Nona. Akan tetapi...."
Kian Bu meragu karena dia merasa "ngeri"
Kalau harus duduk membonceng lagi.
Dia tidak berani tanggung kalau tidak akan bangkit berahinya lagi duduk berhimpitan dengan nona yang amat cantik itu.
"Kau kira akan membonceng? Aku pun tidak mau....! "Kalau aku duduk di depan...."
"Huh, di depan pun berbahaya. Seorang cabul seperti engkau!"
"Kalau begitu tinggalkan saja aku di sini, Nona, aku akan mencari jalan ke luar sedapatku dan aku tidak mau menyusahkanmu."
"Sombong!"
Hwee Li meloncat dengan gerakan ringan sekali ke atas punggung garudanya dan burung itu pun terbang ke atas.
Hwee Li menjenguk ke bawah sambil berteriak.
"Kau bergantunglah pada ini!"
Dan sehelai sabuk sutera merah muda meluncur ke bawah.
Kian Bu tersenyum.
Memang banyak akalnya nona ini, pikirnya dan karena dia harus cepat-cepat dapat kembali ke kakaknya, maka dia pun lalu meloncat dan menangkap ujung sabuk sutera itu, bergantung di udara.
Gadis itu mengeluarkan suara melengking dan burungnya terbang ke atas dengan cepat sekali.
Tubuh Kian Bu tetap bergantung dan diam-diam pemuda perkasa ini merasa ngeri juga.
Dia tahu bahwa nyawanya berada di telapak tangan nona itu karena sekali saja nona itu melepaskan sabuk, betapapun tinggi kepandaiannya, dia tidak akan mungkin dapat menyelamatkan nyawanya lagi.
Untuk keluar dari tempat itu, belum tentu akan dapat dilakukannya dalam waktu berhari-hari karena dia harus akan mencari-cari jalan lebih dulu, akan tetapi dengan menggantung pada sabuk sutera itu, dalam waktu beberapa menit saja dia sudah tiba di atas tebing dan dia meloncat turun.
Burung garuda itu terbang perlahan berputaran di atas kepalanya dan gadis itu menjenguk ke bawah.
"Siluman Kecil, kau cepat bawa obat itu kepada kakakmu!"
Kian Bu menjura ke arah gadis itu dengan mengangkat kedua tangan ke depan dada sambil berkata.
"Engkau sungguh amat baik, Nona. Engkau telah menolong aku dan berarti engkau telah menyelamatkan nyawa kakakku. Aku menghaturkan terima kasih atas bantuanmu."
"Aku tidak membantumu! Kalau tidak ingat kepada kakakmu, apa kau kira masih hidup setelah apa yang kau lakukan di atas punggung garuda kemarin?"
Wajah Kian Bu terasa panas dan menjadi merah sekali.
"Nona, semua itu terjadi tanpa kusengaja, apakah kau tidak dapat memaafkan aku?"
"Sudahlah, cepat pergi dan obati kakakmu."
"Tapi tinggalkan dulu namamu, Nona."
"Aku tidak ingin menjadi kenalanmu."
"Tidak, akan tetapi kalau kakakku bertanya siapa adanya dewi kahyangan yang menolongnya bagaimana aku akan menjawab?"
Disebut dewi kahyangan, Hwee Li tersenyum.
"Engkau memang perayu besar! Katakan saja bahwa lima enam tahun yang lalu aku pernah mengobati luka di paha kakakmu!"
Setelah berkata demikian, dia menepuk punggung garudanya yang terbang cepat ke atas.
Kian Bu menjadi bengong.
Pernah kakaknya dahulu bercerita betapa ketika kakinya terluka parah, terkena ledakan senjata rahasia Mauw Siauw Mo-li, paha kakaknya yang terluka itu diobati dan disembuhkan oleh seorang gadis cilik yang bernama Kim Hwee Li, yaitu puteri dari Hek-tiauw Lo-mo ketua Pulau Neraka!
Jadi gadis cantik jelita itu adalah puteri ketua Pulau Neraka!
"Engkau Kim Hwee Li dari Pulau Neraka?"
Dia berseru nyaring ke arah burung garuda yang sudah terbang tinggi.
Tidak ada jawaban kecuali suara melengking nyaring yang makin menjauh, entah lengking gadis aneh itu ataukah lengking garuda.
Kian Bu melakukan perjalanan cepat sekali, akan tetapi ketika dia tiba di perbatasan Propinsi Ho-nan di mana tempo hari pasukan kerajaan berada, kini tempat itu telah menjadi sunyi dan tahulah dia bahwa pasukan itu telah meninggalkan tempat itu.
Dan hal itu memang benar.
Setelah Pangeran Yung Hwa selamat sampai di istana kaisar, kaisar lalu memerintahkan agar pasukan kembali ke kota raja.
Kaisar tidak ingin melihat timbulnya perang saudara yang baru, karena pasukan lebih diperlukan untuk menjaga perbatasan dengan negara tetangga dan melindungi tanah air dari serbuan orang-orang liar terutama dari utara dan barat, daripada dipergunakan untuk perang saudara.
Adapun mengenai tanda-tanda dan sikap-sikap memberontak dari para gubernur, akan diserahkan kepada orang-orang pandai dari kerajaan untuk mengatasi dan membereskannya.
Setelah mendapatkan kenyataan bahwa pasukan telah meninggalkan tempat itu, Kian Bu terlngat akan pesan Sai-cu Kai-ong, maka tanpa membuang waktu lagi dia langsung pergi dengan cepat menyusul ke puncak Bukit Nelayan, yaitu bukit di tepi sungai sebelah selatan kota Pao-teng di mana Sai-cu Kai-ong tinggal.
Beberapa hari kemudian, setelah dia tiba di puncak Bukit Nelayan, benar saja dia bertemu dengan Sai-cu Kai-ong dan kakaknya juga berada di situ, berbaring di dalam sebuah kamar dan keadaannya tidaklah separah ketika dia tinggalkan berkat perawatan yang baik dari seorang ahli pengobatan yang pandai, yaitu Sai-cu Kai-ong.
Kakek itu girang dan kagum sekali menerima jamur panca warna dari Kian Bu.
"Benar...., benar inilah jamur yang mujijat itu.... aihhh, Suma-taihiap, sungguh engkau hebat sekali, dan kakakmu tentu akan sembuh dengan cepat berkat obat ini,"
Kata kakek itu sambil membawa masuk jamur itu untuk dibuatkan ramuan obat. Kian Bu memandang girang dan menoleh ketika kakaknya berkata.
"Bu-te, engkau telah bersusah-payah untukku. Aku harus mengucapkan terima kasih kepadamu, adikku."
Kian Bu duduk di atas bangku dekat pembaringan kakaknya, wajahnya berseri gembira dan dia berkata.
"Lee-ko, kau tidak semestinya mengucapkan terima kasih kepadaku, karena yang berjasa mendapatkan jamur mujijat itu bukanlah aku...."
"Aku tahu, memang Locianpwe Sai-cu Kai-ong juga telah melimpahkan budi kepadaku, akan tetapi engkau yang bersusah payah mendapatkannya, padahal menurut cerita Locianpwe itu, amat sukarlah mendapatkannya dan kau telah berhasil dalam waktu singkat."
"Ah, sama sekali bukan aku. Kalau tidak ada pertolongan orang itu, kiranya belum tentu satu bulan lagi aku sudah dapat kembali, bahkan belum tentu bisa mendapatkan jamur itu."
"Ah, begitukah? Siapakah penolong yang budiman itu, adikku?"
"Dia adalah seorang yang amat kau kenal baik, Koko."
"Siapa?"
"Pacarmu!"
Kian Lee terkejut dan mengerutkan alisnya memandang wajah adiknya yang berseri dan kemudian dia tersenyum.
Biarpun adiknya ini telah mengalami banyak sekali perubahan, rambutnya putih semua persis seperti keadaan ayah mereka si Pendekar Super Sakti, wajah adiknya itu sudah nampak dewasa dan "matang", namun ternyata adiknya masih belum kehilangan sifat kebengalannya!
"Kian Bu, jangan main-main kau!"
Katanya menegur karena dia mengira bahwa yang dimaksudkan oleh Kian Bu itu tentulah Ceng Ceng, atau Lu Ceng, atau kini telah menjadi isteri Kao Kok Cu putera sulung Jenderal Kao Liang yang dulu berjuluk Topeng Setan.
Begitu mendengar adiknya menyebut "pacarmu", terbayanglah wajah Ceng Ceng, akan tetapi Kian Lee cepat mengusir bayangan itu karena maklum bahwa tidak semestinyalah kalau dia membayangkan wajah isteri orang lain!
Melihat wajah kakaknya menjadi agak muram, Kian Bu segera teringat dan maklum, maka cepat-cepat dia menyambung.
"Bukan dia maksudku, Lee-ko, akan tetapi dara cantik jelita yang menjadi pacarmu dalam cinta pertamamu. Hayo, masa kau lupa lagi siapa yang menerima cinta pertamamu?"
Kian Lee masih mengerutkan alisnya.
Dia tahu bahwa adiknya ini bengal dan suka menggoda orang, terutama menggoda wanita-wanita muda.
Dia sendiri jarang bergaul dengan wanita, dan selama hidupnya, baru satu kali dia jatuh cinta, jatuh cinta benar-benar dan ternyata yang dicintanya itu, Ceng Ceng, keponakan tirinya sendiri!
Ceng Ceng adalah puteri gelap dari mendiang Wan Keng In, sedangkan Wan Keng In itu adalah anak kandung dari ibunya sendiri, jadi satu ibu lain ayah dengan dia!
Tentu saja tidak mungkin dia berjodoh dengan Ceng Ceng dan kenyataan itu sebenarnya banyak menolongnya, karena kalau tidak, tetap saja dia akan patah hati, malah lebih parah lagi karena ternyata Ceng Ceng mencinta seorang laki-laki lain, yaitu Kao Kok Cu!
"Aku tidak mengerti siapa yang kau maksudkan itu, Bu-te,"
Katanya menggeleng ,kepala. Kian Bu tertawa.
"Dia sendiri tidak mau memperkenalkan namanya. Akan tetapi dia adalah seorang gadis yang cantik jelita dan manis sekali Koko, galak dan lincah, menunggang seekor garuda, pakaiannya serba hitam dan ilmu kepandaiannya hebat."
Kian Lee tetap tidak dapat menduga siapa adanya gadis itu.
"Siapakah dia, Bu-te? Katakanlah, siapa dia dan mengapa kau tadi mengatakan bahwa dia adalah pacarku."
"Dia tidak bilang begitu, Koko, maafkan aku. Akan tetapi dia hanya mengatakan bahwa dia dahulu pernah menolongmu dan mengobati pahamu yang terluka parah lima enam tahun yang lalu...."
"Aihhh....! Dia....?"
Tentu saja Kian Lee teringat baik akan peristiwa itu.
Lima tahun lebih yang lalu dia terluka oleh ledakan senjata rahasia Mauw Siauw Mo-li, dan dia tentu akan tertawan musuh dan tidak berdaya dalam keadaan luka itu kalau tidak ditolong oleh seorang gadis cilik yang manis dan mungil, murid keponakan Mauw Siauw Mo-li sendiri, gadis yang muncul bersama banyak kucing, Kim Hwee Li atau puteri tunggal dari Hek-tiauw Lo-mo ketua Pulau Neraka!
Terbayanglah dia wajah anak yang cantik itu.
"Benar dia, tentu kau ingat sekarang bukan, Koko?"
Tanya Kian Bu sambil tersenyum dan menyelidiki wajah kakaknya.
Dia tahu bahwa kakaknya telah patah hati karena kasih tak sampai dan dia akan senang kalau kakaknya ini mendapatkan seorang pacar baru, dan gadis pakaian hitam itu memang hebat!
"Kim Hwee Li, puteri Hek-tiauw Lo-mo dari Pulau Neraka?"
Kian Lee menegaskan.
"Benar, dialah orangnya yaang memungkinkan aku secepat ini memperoleh jamur itu untukmu, Koko."
Kian Bu lalu menceritakan semua pengalamannya ketika dia mencari jamur dan bertemu dengan Hwee Li yang memboncengkannya turun ke bawah tebing itu.
Tentu saja dia tidak berani menceritakan tentang peristiwa memalukan dan lucu ketika dia terserang oleh nafsu berahi yang bangkit ketika dia dibonceng di belakang tubuh Hwee Li dan betapa Hwee Li menjadi marah-marah dan menyerangnya sehingga dia terjatuh ke bawah.
"Dia.... dia cinta padamu, Koko."
"Hushhhhh....!"
Kian Lee membentak dengan muka berubah merah.
"Jangan menyalahtafsirkan kebaikan orang, Bute. Apakah karena dia dahulu pernah mengobati pahaku, kemudian sekarang membantumu mencari jamur panca warna, lalu kauanggap kebaikan hatinya itu sebagai tanda jatuh cinta? Kau sungguh terlalu merendahkan kebaikan orang, Bute."
"Bukan begitu, Lee-ko. Aku tentu saja tidak akan sembarangan bicara kalau tidak ada bukti-bukti nyata. Buktinya menyatakan bahwa dia cinta kepadamu."
"Hemmm, kau masih bengal seperti dulu, Kian Bu. Hayo apa buktinya?"
Kian Lee mendesak.
Baca Juga: Cinta Bernoda Darah 2
Baca Juga: Kisah Sepasang Rajawali 14