Eps 1 Darah Pendekar - Kho Ping Hoo
Baca online Darah Pendekar - Kho Ping Hoo
Cersil Darah Pendekar - Kho Ping Hoo.
Darah Pendekar (Seri ke 01 -Serial Darah Pendekar) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo Bahan Cerita . Sriwidjono
Jilid 01 Kalau kita membayangkan keadaan manusia pada ribuan tahun yang lalu seperti dapat kita baca didalam kitab-kitab sejarah, kita memperoleh kenyataan betapa manusia telah memperoleh kemajuan yang amat hebat didalam keadaan lahiriah, yaitu soal-soal teknik, ilmu pengetahuan dan sebagainya.
Gerobak-gerobak sederhana ditarik lembu atau kuda kini telah diganti dengan mobil, kereta api, bahkan pesawat terbang jet.
Senjata-senjata pelindung diri yang tadinya hanya berupa pedang, tombak dan sebagainya kini telah diganti dengan senjata api, peluru kendali, bahkan bom dan senjata nuklir yang maha dahsyat.
Memang, tidak dapat disangkal lagi bahwa manusia telah memperoleh kemajuan yang amat hebatnya.
Itu dibidang lahiriah.
Akan tetapi bagaimana dengan bidang batiniah, rohaniah?
Majukah kita?
Kembali kita dapat menyelidikinya dengan bantuan catatan-catatan sejarah dan kita akan memperoleh kenyataan yang amat mengejutkan, memalukan, bahkan mengkhawatirkan.
Menurut catatan sejarah, dijaman dahulu, ribuan tahun yang telah lalu, kita sudah mengenal perebutan kekuasaan, korupsi, benci-membenci, bunuh-membunuh, tipu-menipu karena manusia saling berlumba untuk meraih kesenangan sebanyak mungkin.
Dan bagaimana keadaannya sekarang?
Sama saja, bahkan semakin hebat!
dijaman dahulu, manusia sudah mengenal kesengsaraan dan dijaman sekarang ini, belum juga manusia dapat merobah keadaan batinnya, masih saja kesengsaraan merajalela dan manusia lebih banyak mengenal duka dari pada suka dalam hidupnya.
Mungkin pertentangan antar manusia tidaklah sekasar dahulu lagi, namun hal itu bukan berarti bahwa pertentangan itu berkurang atau lebih lunak.
Bahkan pada dasarnya lebih keji lagi.
Dan keadaan seperti ini, yaitu kemajuan pesat pada bidang lahiriah namun tetap atau hampir dapat dikatakan mundur pada bidang batiniah, terjadi diseluruh bagian dunia ini, tanpa kecuali!
Cerita ini terjadi dua ribu tahun lebih yang lalu, kurang lebih dua abad Sebelum Masehi, pada jamannya Cin Si Hong-te, yaitu Kaisar pertama dari Dinasti Cin.
Ada yang mengatakan bahwa orang-orang dari Dinasti Cin inilah yang pertama kali melakukan perantauan dan pelayaran sampai jauh dari negerinya, kenegara-negara asing sehingga dari mereka inilah munculnya sebutan Negeri China atau Cina, yaitu dari Dinasti Cin.
Menurut catatan sejarah, Cin Si Hong-te dilahirkan pada tahun 259 Sebelum Masehi dan dalam usia tiga belas tahun, yaitu pada tahun 243.
S.M.
telah menjadi Raja dari Kerajaan Cin.
Pada waktu itu, banyak terdapat Raja-Raja yang membuat Tiongkok terpecah-pecah menjadi banyak kerajaan dan timbullah perang antara Raja-Raja ini, perang yang tak pernah ada henti-hentinya karena perebutan wilayah dan kekuasaan.
Namun, Raja Cin yang muda itu, dengan bantuan para panglimanya yang pandai, memperoleh kemenangan dan akhirnya, pada tahun 221 S.M.
ketika dia berusia tiga puluh delapan tahun, hampir seluruh kerajaan kecil-kecil itu ditaklukkannya dan diapun mengangkat dirinya menjadi Kaisar pertama berjuluk Cin Si Hong-te dari Dinasti Cin.
Kekuasaan, sejak jaman dahulu sampai sekarang, selalu mendatangkan kekerasan dan penindasan.
Hal ini tidaklah mengherankan karena dimana terdapat para pendukungnya, terdapat pula pihak-pihak yang menentangnya, Terdapat pula pihak-pihak yang merasa iri hati dan ingin merebut kekuasaan itu, dan pihak yang berkuasa tentu saja berusaha mati-matian untuk mempertahankan kekuasaannya.
Maka, sudah tentu terjadi kekerasan dan penindasan demi mempertahankan kekuasaan dan dalam perebutan kekuasaan itu, mereka yang menentang tentu saja memberi cap lalim kepada penguasa yang ditentangnya.
Hal ini terjadi sejak dahulu sampai kini, sejarah berulang sepanjang masa dan agaknya takkan pernah dapat dirobah selama kita manusia selalu mengejar kesenangan masing-masing.
Cin Si Hong-te juga disohorkan sebagai seorang Kaisar diktator, kejam, bertangan besi sehingga banyak orang-orang cerdik pandai dan para pendekar membencinya disamping juga menakutinya.
Lebih dari itu malah, Kaisar ini terkenal sebagai seorang Kaisar yang penuh rahasia, yang aneh, Bahkan sering Kaisar ini lenyap tanpa ada yang tahu kemana, untuk menyusup diantara rakyat dan sering menyamar sebagai rakyat biasa, melakukan hal-hal aneh tanpa ada yang tahu bahwa dia adalah sang Kaisar sendiri.
Seperti terjadi dijaman apapun dan dimanapun didunia ini, setiap kekuasaan disamping menghadapi tentangan dan tantangan, tentu mempunyai pula pendukung dan biasanya, diantara para pendukung dan para penentang inilah terjadi bentrokan-bentrokan, merupakan dua pihak yang berdiri saling berhadapan sebagai musuh.
Dan kalau para pendukung ini memusatkan pembelaan mereka pada tokoh penguasa, adalah para penentang itu memusatkan pembelaan atau bantuan mereka pada tokoh pemberontak.
Dan kalau sudah begitu, rakyatpun ikut terseret, terpecah-belah, saling bermusuhan sendiri dan negarapun menjadi kacau!
Dalam keadaan seperti itulah cerita ini terjadi.
*** Selama beberapa bulan terakhir ini, dunia kang-ouw, terutama kaum sasterawan, menjadi geger oleh perbuatan Kaisar yang dianggap sungguh keterlaluan.
Kaisar telah memerintahkan agar semua kitab pelajaran Nabi Khong Cu dibakar!
Tidak seorangpun diperbolehkan menyimpan kitab dengan ancaman hukuman mati.
Tentu saja hal ini mempunyai akibat yang amat hebat.
Perlu diketahui bahwa kitab-kitab pelajaran Nabi Khong Cu telah dianggap sebagai garis-garis kebudayaan, bahkan dianggap sebagai ukuran tentang kemampuan sastera seseorang.
Akan tetapi, Kaisar berpendapat lain.
Pelajaran dalam kitab-kitab itu dianggap melemahkan kedudukan Kaisar, dan dianggap mengandung pelajaran kepada rakyat untuk memberontak dan tidak mengindahkan Kaisar lagi sebagai satu-satunya Wakil atau Utusan TUHAN didunia!
Banyak sasterawan yang tidak sudi membakar, atau menyerahkan kitab-kitabnya dan mereka ini mempertahankan pendiriannya dengan mengorbankan nyawa.
Para sasterawan itu dibunuh oleh kaki tangan Kaisar.
Gegerlah dunia!
Seorang Menteri yang amat setia dan jujur, yaitu Menteri Ho Ki Liong yang menjabat kedudukan sebagai Menteri kebudayaan, terkejut bukan main.
Dia maklum bahwa perintah Kaisar yang kejam itu terjadi karena hasutan-hasutan kaki tangan Kaisar yang menganut agama lain.
Kaisar sendiri condong untuk mempelajari Agama To yang sudah bercampur dengan ilmu-ilmu hitam dari See-thian (India).
Padahal, urusan kitab-kitab itu sebetulnya adalah wewenangnya sebagai Menteri kebudayaan, Maka, tanpa memperdulikan akibat-akibatnya Menteri Ho lalu menghadap Kaisar dan mengajukan protes!
Protes dari Menteri yang setia ini tentu saja berpengaruh dan Kaisar lalu memerintahkan agar memperlunak pelaksanaan pelarangan atau pembakaran kitab-kitab itu.
Dan Menteri Ho sendiri segera pergi kedaerah selatan untuk menangani urusan ini, menghentikan kekejaman-kekejaman yang terjadi didaerah itu, Dimana kaki tangan Kaisar membakari kitab-kitab dan membunuhi mereka yang menentang dengan kejam.
Akan tetapi kaki tangan Kaisar yang membenci para pemeluk Agama Khong-hu-cu, tidak tinggal diam.
Dengan cerdik mereka menghasut Kaisar dan akhirnya mereka berhasil membujuk Kaisar sehingga Kaisar menganggap bahwa protes dan penentangan Menteri Ho ini merupakan sikap memberontak kepadanya.
Dan diapun mengirim pasukan untuk menangkap Menteri yang setia itu.
Peristiwa ini sungguh amat menggemparkan dunia kang-ouw, karena Menteri Ho, selain dikenal sebagai seorang Menteri yang pandai dan bijaksana, juga dikenal sebagai orang yang menghargai para tokoh kang-ouw dan bahkan mengenal tokoh-tokoh besar dunia kang-ouw dan para pemimpin partai persilatan besar diempat penjuru.
Dan orang-orang kang-ouw, para pendekar itupun lalu bergeraklah!
Pada suatu hari, dusun hankung-ce amatlah panasnya.
Dusun yang terletak disebelah utara kota Kong-goan ini biasanya amat ramai karena dusun itu merupakan tempat simpangan dari para pedagang dan pelancong yang hendak menuju ke Kotaraja diutara.
Juga dusun ini berada disebelah utara Sungai Yang-ce-kiang, menjadi tempat dimana para pedagang bermalam sebelum mereka berangkat membawa barang-barang dagangan mereka melalui jalan air diSungai Yang-ce-kiang.
Hari itu amat panas, berbeda dari biasanya sehingga jalan-jalan didusun itu, terutama jalan rayanya, nampak sunyi.
Orang-orang lebih suka berlindung ditempat teduh, minum teh diwarung-warung, atau beristirahat dibawah pohon sambil mengobrol.
Namun, dibalik kesunyian yang timbul karena panasnya hari itu, terasa adanya ketegangan, walaupun tidak ada diantara para pedagang itu mengetahui apa gerangan yang sedang atau akan terjadi, karena pada siang hari itu memang tidak nampak ada terjadi sesuatu yang luar biasa didusun itu.
Para penghuni rumah-rumah ditepi jalan raya, kecuali mereka yang mempergunakan rumah itu sebagai toko, tidak ada yang mau duduk didepan, karena jalan raya yang kering berdebu tertimpa cahaya matahari terik itu amat tidak enak bagi mata.
Lebih nyaman untuk duduk dibelakang rumah, diantara pohon-pohon, bertelanjang dada membiarkan tubuh yang kegerahan dihembus angin semilir.
Maka jalan raya itu nampak lengang.
Betapapun juga, panasnya hari itu tidak mampu menghentikan kesibukan para pekerja kasar untuk bekerja.
Dari jauh nampak serombongan pekerja kasar itu, memikul keranjang-keranjang besar berisi garam, menempuh jalan yang panas berdebu itu.
Jalan mereka terseok-seok seirama, tubuh mereka dipaksa oleh beratnya ayunan keranjang yang tergantung dipikulan mereka, membuat tubuh mereka bergoyang-goyang dan sebelah tangan yang tidak memegang pikulan tergantung kaku dan bengkok, digerak-gerakkan untuk mengatur keseimbangan badan yang dibebani muatan amat berat itu.
Pikulan bambu mereka berbunyi kreyat-kreyot, lebih nyaring dari pada bunyi kaki mereka atau mulut mereka yang kadang-kadang bercakap-cakap tanpa menoleh kenada kawan yang diajaknya bercakap-cakap.
Mereka berjalan beriring-iringan satu-satu seperti barisan panjang.
Biarpun jumlah mereka hanya ada belasan orang, akan tetapi karena setiap dari mereka memikul garam dengan pikulan bambu yang panjangnya tidak kurang dari satu setengah meter, maka tentu saja jarak diantara mereka agak jauh, ada dua meter sehingga barisan belasan orang itu menjadi panjang juga.
belasan orang yang sebagian besar bertelanjang dada itu nampak kuat-kuat, seperti pada umumnya para pekerja kasar yang mencari nafkah mengandalkan otot-otot badan mereka.
Akan tetapi yang paling menarik adalah orang pertama yang berjalan didepan.
Orang inilah yang seolah-olah ditiru oleh orang dibelakangnya dan dengan demikian gerakan semua orang itu seperti gerakan pasukan yang terlatih saja.
Orang pertama ini adalah seorang laki-laki setengah tua.
Usianya kurang lebih empat puluh tahun dan dia memakai pakaian sederhana dan kasar.
Bajunya tidak ditanggalkan seperti sebagian besar teman-temannya, dan mudah dilihat bahwa tubuhnya tidaklah kekar dan berotot seperti teman-temannya yang lebih muda.
Akan tetapi keranjang-keranjang garam yang dipikulnya itu dua kali lebih besar dari yang dipikul teman-temannya dan hebatnya, kalau teman-temannya yang bertubuh kekar dan masih muda itu bermandi peluh dan kelihatan lelah.
Sebaliknya orang setengah tua ini tidak nampak repot memikul keranjang-keranjang itu, dan hanya ada sedikit peluh membasahi leher dan dahinya.
Napasnya tidak memburu seperti napas teman-temannya yang mulai terengah-engah ketika mereka memasuki dusun itu.
Pria yang agaknya memimpin rombongan tukang memikul garam ini bertubuh sedang, tidak mengesankan, dan dia kelihatan seperti seorang petani atau orang dusun biasa saja.
Akan tetapi mukanya putih bersih dengan jenggot dan kumis masih hitam lebat, membuat mukanya nampak semakin putih lagi.
Akan tetapi, muka yang putih itu mengandung sinar mata kehijauan dan ini menunjukkan bahwa dia adalah seorang ahli lweekeh atau ahli tenaga dalam yang telah melatih diri dengan suatu ilmu tenaga dalam yang hebat, dan sepasang matanya juga amat tajam, walaupun dia nampak tenang sekali sikapnya.
Setelah tiba didepan pasar hankung-ce, rombongan pemikul garam itu berhenti dan memang benarlah bahwa laki-laki bermuka putih itu adalah pemimpin mereka.
Hal ini terbukti bahwa laki-laki setengah tua itu kini memasuki sebuah toko, menjumpai pemilik toko itu yang agaknya biasa menerima dan memborong garam yang datang dari luar daerah.
Ketika pemimpin para pemikul garam ini bercakap-cakap dengan pemilik toko, belasan orang anak-buahnya nampak berkumpul dipinggir toko dimana terdapat sebuah gang dan mereka itu berteduh ditempat itu, berlindung dari teriknya sinar matahari yang kini terhalang oleh bangunan toko.
Mereka bercakap-cakap dan diselingi sendau-gurau orang-orang muda, nampaknya lega telah tiba ditempat tujuan dan dapat bersantai membiarkan tubuh yang lelah itu beristirahat.
Mereka menggunakan baju yang mereka lepaskan untuk menyusuti badan mereka yang basah oleh peluh, dan ada yang menggunakan caping mereka, yaitu topi-topi bundar lebar dengan ujung sebelah atasnya meruncing, untuk mengipasi tubuh yang gerah.
Kadang-kadang, beberapa orang diantara mereka melayangkan pandang mata mereka kearah sebatang pohon pek yang besar sekali, paling besar diantara pohon-pohon pek yang banyak tumbuh ditepi jalan dalam dusun itu.
Dua orang laki-laki yang agaknya ditugaskan oleh pimpinan pamong praja didusun itu, sedang menebangi dahan-dahan yang bergantung kejalan raya.
Pasar itu tidak begitu ramai lagi karena hari telah siang dan sebagian besar dari orang-orang yang datang berbelanja sudah pulang kembali kerumah masing-masing.
Yang tinggal hanya para pedagang pasar yang dengan sabar masih menanti datangnya pengunjung-pengunjung yang kesiangan.
Akan tetapi ada beberapa orang diantara mereka yang sudah mulai berkemas-kemas untuk menutup dagangannya dan pulang.
Tiba-tiba terdengar derap kaki kuda dan debu diatas jalan raya itu mengebul, membuat suasana menjadi semakin pengap dan panas.
Yang datang dari arah utara ini adalah serombongan piauwsu berkuda dan dari bendera mereka, dapat diketahui bahwa mereka adalah rombongan piauwsu dari Hek-coa-piauwkiok (Perusahaan Ekspedisi Ular Hitam).
Mereka mengawal sebuah kereta penuh muatan barang dan diatas kereta ini terdapat bendera yang bergambar seekor ular hitam melingkar disertai empat buah huruf nama perusahaan itu.
Belasan orang piauwsu itu dipimpin oleh seorang piauwsu yang tubuhnya tinggi besar bermuka hitam, nampaknya kuat dan menyeramkan.
Melihat sikap gagah dan muka hitam orang ini, mudah diduga bahwa dialah kepala atau ketuanya, dan mungkin saja sebutan Ular Hitam itu disesuaikan dengan kulitnya yang hitam.
Rombongan piauwsu ini turun dari kuda masing-masing dan berhenti didepan sebuah kedai arak, menambatkan kuda mereka dan mereka lalu memasuki kedai, makan-minum sambil bergurau.
Si tinggi besar bermuka hitam duduk didekat pintu kedai, sesekali dia memandang kearah toko dimana nampak pria muka putih bercakap-cakap dengan pemilik toko, agaknya mereka itu sedang tawar-menawar garam.
Pemilik toko itupun usianya sudah empat puluh tahun lebih, tangan kirinya mengisap huncwe tembakau yang panjang, dan orang ini memiliki kumis yang kecil panjang dan bergantung dari bawah hidung melalui sebelah kanan kiri mulutnya.
Setelah melihat bahwa keadaannya sunyi dan ditoko itupun tidak ada pembeli lain, yang ada hanya si tuan toko pedagang garam, maka piauwsu tinggi besar ini lalu bangkit berdiri dan menghampiri toko itu dengan lagak seperti orang yang hendak melihat-lihat dan hendak membeli sesuatu.
Akan tetapi, setelah jelas melihat bahwa disekitar tempat itu tidak ada orang lain yang memperhatikan mereka, diapun segera menghampiri dua orang pria yang sedang bercakap-cakap itu.
Ternyatalah bahwa mereka bertiga ini sudah saling mengenal dengan baik.
Piauwsu itu menegur dengan suara lirih, akan tetapi dengan sikap gembira dan akrab sekali.
"Heii, Kim-suipoa (Suipoa Emas) dan Pek-bin-houw (Harimau Muka Putih), kiranya kalian sudah datang lebih dulu?"
Melihat si tinggi besar muka hitam ini, dua orang yang sedang bercakap-cakap itu tersenyum gembira.
Tentu saja mereka tadi sudah melihat datangnya rombongan piauwsu itu dan kini mereka menyambut dengan tersenyum.
"Ah, engkau dan rombonganmu berkuda, akan tetapi datang terbelakang! Dasar Ular Hitam yang malas!"
Kata mereka. Pemimpin Hek-coa-piauwkiok itu tertawa, akan tetapi lalu mendekati mereka dan berkata dengan suara serius dan lirih.
"Awas, kalian berhati-hatilah. Ternyata jagoan kerajaan yang lihai sekali itu berada dalam rombongan dengan menyamar!"
Dia menoleh kekanan kiri dan jelas nampak kegelisahan membayang diwajahnya yang hitam kasar itu. Dua orang itu terkejut.
"Benarkah...?"
Tanya si muka putih atau si pedagang garam yang berjuluk Pek-bin-houw itu.
"Bukankah kabarnya dia diutus Kaisar memimpin pasukan untuk melakukan pembersihan disepanjang lembah Yang-ce?"
"Memang kabarnya demikian, akan tetapi entahlah, agaknya fihak Istana telah dapat mencium akan gerakan kita. mata-mata mereka tersebar dimana-mana. Dan agaknya mereka lalu merobah siasat dan mempergunakan jagoan itu untuk mengawal. Hal ini sudah jelas karena anak-buah Sin-kauw (Kera Sakti) ada yang berhasil menyelundup kesana dan dialah yang memberi kabar kepadaku,"
Jawab pemimpin piauwkiok yang berjuluk Hek-coa (Ular Hitam).
"Wah, kalau begitu berbahaya sekali! Orang itu memiliki ilmu silat yang tinggi sekali. Padahal kita tidak memperhitungkan dia, hanya mengira bahwa rombongan itu akan dikawal oleh Ciong-ciangkun saja yang sudah cukup lihai,"
Kata pemilik toko yang berjuluk Kim-suipoa.
"Lalu bagaimana baiknya'?"
Tanya pedagang garam yang berjuluk Pek-bin-houw atau Harimau Muka Putih itu.
"Kita bukan penakut dan untuk perjuangan kita, mati bukanlah apa-apa. Akan tetapi kita harus waspada dan kita tahu bahwa menghadapi jagoan Istana itu satu lawan satu, kita bukanlah tandingannya. Akan tetapi, kalau kita bertiga maju bersama menandinginya, kukira belum tentu kita akan kalah olehnya,"
Kata Kim-suipoa.
"Benar, dan biarlah Sin-kauw yang menandingi Ciong-ciangkun, komandan pasukan pengawal itu,"
Kata Pek-bin-houw.
"Dan anak-buah kita berempat akan menyerang pasukan pengawal. Semua ini memang baik dan tepat. Akan tetapi, lalu siapa yang akan bergerak melarikan dan menyelamatkan Ho-taijin (pembesar Ho)?"
Tanya Hek-coa. Mereka bertiga mengepal tinju dan menjadi kebingungan mendengar pertanyaan ini. Kim-suipoa membanting kaki kanannya.
"Sungguh diluar dugaan! Kita mengira bahwa dengan mengerahkan empat orang dan kita bersama anak-buah kita, urusan ini akan dapat diselesaikan dengan mudah. Tidak tahunya manusia itu ikut datang dan merusak rencana kita. Biarpun Ho-siocia (nona Ho) dapat diharapkan akan berhasil dan datang tepat pada waktunya, namun kita tidak ingin membuatnya terancam bahaya. Kalau tahu begini, aku tentu akan minta persetujuan Ho-siocia untuk mengajak Liu-twako supaya membantu kita."
"Benar, agaknya memang hanya Liu-twako yang akan mampu menandingi iblis itu,"
Kata Hek-coa. Selagi mereka bercakap-cakap dengan hati agak gelisah karena terjadinya perobahan tiba-tiba itu, muncullah seorang anak-buah piauwkiok dengan sikap tergopoh-gopoh.
"Rombongan kerajaan yang mengawal kereta tawanan telah tiba diluar dusun,"
Demikian orang itu melapor.
"Baik, atur semua kawan menurut rencana semula. Kurung tempat didepan pasar dan bersembunyi. Laksanakan siasat bumi hangus!"
Kata Kim-suipoa yang dalam gerakan ini agaknya menjadi pemimpin. Orang itupun memberi hormat dan pergi untuk melaksanakan perintah.
"Mari kita bersiap. Kalian tahu adanya perobahan rencana. Kita bertiga harus menghadapi jagoan Istana itu dan biar Sin-kauw menghadapi Ciong-ciangkun yang mengepalai pasukan pengawal. Hek-coa, harap kau cepat beri tahu Sin-kauw yang bersembunyi dipohon itu."
"Baik!"
Kata si muka hitam yang cepat pergi kearah pohon.
Tak lama kemudian, semua orang ini sudah tidak nampak lagi, akan tetapi sambil bersembunyi mereka telah melakukan persiapan untuk menyerbu dan dibelakang rumah-rumah disekitar pasar itupun telah terjadi kesibukan-kesibukan para anak-buah mereka.
Akhirnya terdengarlah derap kaki kuda para perajurit itu.
Debu mengebul tinggi dan dari arah selatan nampaklah rombongan itu memasuki dusun.
belasan orang perajurit berkuda nampak paling depan, kemudian sebuah kereta berkuda empat yang dikusiri oleh seorang laki-laki muda yang berpakaian biasa saja, tidak seperti para perajurit sehingga mudah diduga bahwa kereta itu bukanlah kereta pasukan dan kusir itupun bukan perajurit.
Kemudian, dikanan kiri kereta itu nampak beberapa orang perajurit berkuda, lalu dibelakang kereta masih ada puluhan orang perajurit lagi.
Jumlah seluruh perajurit tidak kurang dari lima puluh orang!
Pakaian seragam mereka tertimpa sinar matahari mengeluarkan cahaya berkilauan, bersama kilauan tombak dan golok mereka!
Ketika pasukan ini tiba didepan pasar, tiba-tiba saja terjadi kebakaran diempat penjuru!
Suasana menjadi gempar.
Teriakan "Api!
api!"
Terdengar dan para penduduk menjadi panik.
Orang-orang lari berserabutan, keluar dari rumah dan memenuhi jalan raya yang tadinya sunyi itu.
Asap yang terbawa angin juga ikut menambah kacaunya suasana.
Kuda para perajurit menjadi ketakutan juga karena para penduduk itu berteriak-teriak, lari kesana-sini, ada yang mencari anak mereka, ada pula yang lari mencari air dan ada pula yang berteriak-teriak, minta tolong karena rumah mereka kebakaran.
Ciong-ciangkun, komandan pasukan itu, nampak keluar dari dalam kereta bersama seorang perajurit yang bertubuh pendek cebol.
Keduanya lalu melompat keatas kereta yang telah dihentikan oleh kusir.
Komandan pasukan yang bertubuh tinggi besar dan nampak gagah itu, lalu berteriak-teriak dari atas atap kereta, mengatur para perajuritnya agar waspada dan berhati-hati karena dia menaruh kecurigaan akan peristiwa yang terjadi secara tiba-tiba ini.
Mana mungkin ada kebakaran rumah terjadi sedemikian tiba-tiba dan sekaligus terjadi diempat penjuru?
Dan kecurigaannya itu memang segera terbukti.
Dua orang perajurit mengeluarkan pekik keras dan mereka jatuh terjungkal dari atas punggung kuda mereka.
Ternyata mereka telah diserang oleh anak-buah para penghadang tadi.
"Awas, jaga kereta tawanan!"
Teriak Ciong-ciangkun dan dari atas kereta diapun mengeluarkan aba-aba sehingga semua perajurit itu cepat mengepung kereta dan melakukan penjagaan dengan ketat.
Pada saat itu, tidak kurang dari tiga puluh orang, yaitu gabungan dari anak-buah para penghadang, tukang-tukang pikul garam, para piauwsu, pegawai-pegawai toko, mulai menyerbu dan terjadilah pertempuran yang ramai ditengah jalan didepan pasar itu.
Para penduduk dusun itu yang tadinya dengan panik lari berserabutan, kini menjadi ketakutan dan cepat merekapun lenyap bersembunyi, tidak ingin terbawa dalam pertempuran yang tidak mereka ketahui sebabnya itu.
Terjadilah pertempuran yang seru dan mati-matian tanpa banyak bicara lagi karena kedua fihak sudah tahu mengapa mereka bertempur dan para perajurit itupun dapat menduga bahwa orang-orang ini tentulah orang-orang yang ingin merampas dan menyelamatkan tawanan.
Biarpun jumlah para perajurit itu lebih banyak, akan tetapi karena para penyerbu itu rata-rata memiliki kepandaian silat yang lumayan, maka pertempuran itu dapat berimbang.
Setiap orang penyerbu dikeroyok dua orang perajurit, akan tetapi keadaan mereka tidak terdesak, bahkan sebaliknya, fihak pasukan pemerintah mulai kewalahan dan beberapa orang perajurit mulai berjatuhan.
Terutama sekali karena adanya tiga orang pemimpin penyerbu yang mengamuk hebat, yaitu Kim-suipoa yang menyamar sebagai pedagang toko, Pek-bin-houw yang menyamar sebagai pedagang garam, dan Hek-coa ketua piauwsu.
Tiga orang ini mengamuk hebat dan makin mendekat kearah kereta dimana duduk seorang tawanan yang hendak mereka bebaskan.
Melihat sepak terjang tiga orang ini, Ciong-ciangkun, komandan pasukan itu menoleh kepada perajurit pendek cebol yang berdiri diatas kereta pula sambil menonton pertempuran.
Ciong-ciangkun berkata dengan sikap hormat.
"Harap taihiap suka menjaga kereta. Saya akan menahan mereka!"
"Baik, ciangkun, jangan khawatir,"
Jawab si pendek dengan sikap tak acuh dan melihat sikap komandan itu demikian hormat kepadanya, sungguh amat mengherankan orang.
Si pendek itu berpakaian perajurit biasa saja, akan tetapi komandan itu demikian menghormatnya.
Kini Ciong-ciangkun, komandan pasukan yang kelihatan gagah perkasa itu mencabut pedangnya dan meloncat turun dari atas kereta, lalu dia berlari menyerbu kedepan.
Lawan tangguh yang paling dekat adalah Hek-coa si ketua piauwkiok, akan tetapi sebelum dia dapat mendekati si muka hitam itu, tiba-tiba saja nampak bayangan berkelebat dan dia telah disambut oleh seorang laki-laki berusia lima puluh tahun yang berpakaian sederhana dan yang gerakannya gesit bukan main.
Laki-laki ini mukanya kecil dan hidungnya pesek seperti hidung seekor monyet.
Inilah Sin-kauw, seorang diantara empat orang gagah yang berusaha menghadang pasukan dan hendak merampas tawanan itu.
Seperti telah mereka rencanakan, Sin-kauw inilah yang bertugas menghadapi komandan itu, maka begitu melihat komandan itu turun dari kereta, diapun segera menyambutnya dengan senjata tongkatnya.
Melihat munculnya orang ini, Ciong-ciangkun membentak marah.
"Bagus sekali! Kiranya si monyet sakti kini telah menjadi pemberontak!"
Komandan ini mengenal Sin-kauw, seperti juga dia mengenal tiga orang pimpinan yang lain itu, karena mereka berempat itu adalah orang-orang kang-ouw yang cukup ternama sebagai tokoh-tokoh yang memiliki kepandaian tinggi dan sebagai pendekar-pendekar yang gagah perkasa.
"Ciong-ciangkun,"
Kata Sin-kauw si Monyet Sakti.
"Kita sama-sama mengabdi, hanya bedanya, kalau engkau mengabdi kelaliman karena memperoleh bayaran, sebaliknya aku mengabdi kebenaran tanpa mengharapkan upah apapun juga."
"Keparat, pemberontak tetap pemberontak hina!"
Dan Ciong-ciangkun sudah menyerang dengan marahnya, mempergunakan pedangnya.
Sin kauw menangkis dengan tongkatnya dan membalas dengan cepat dan tidak kalah dahsyatnya.
Mereka sudah berkelahi dengan hebat, mempergunakan senjata dan mengerahkan seluruh tenaga, mengeluarkan semua jurus-jurus simpanan mereka.
Dan memang keduanya memiliki kepandaian yang seimbang sehingga perkelahian antara mereka amat hebatnya.
Tidak ada anak-buah dari kedua fihak berani mencampuri, karena jauhnya tingkat kepandaian mereka membuat pembantu-pembantu itu bukan membantu, malah mengantar nyawa dengan konyol saja.
Melihat betapa komandan itu telah dihadapi oleh Sin-kauw dan kereta tawanan itu ditinggalkan, yang nampak berjaga hanyalah seorang perajurit pendek dan kusir yang nampak ketakutan, juga hanya beberapa orang perajurit dikanan kiri kereta, maka Kim-suipoa menjadi girang sekali.
Ternyata, tidak seperti berita yang diterimanya, disitu tidak terdapat jagoan Istana yang kabamya amat lihai itu.
"Mari cepat, kita serbu kereta!"
Katanya kepada dua orang temannya dan tiga orang gagah ini lalu mengamuk lebih hebat, makin mendekati kereta. Setelah mereka berhasil mendekati kereta, Kim-suipoa berseru dengan suara lantang.
"Ho-taijin, kami datang membebaskan tuan!"
Akan tetapi begitu mereka tiba didekat kereta, tiba-tiba saja ada angin puyuh menyambar kearah mereka.
Angin yang mempunyai tenaga berputaran hebat dan sedemikian kuatnya tenaga angin ini sehingga gerakan mereka tertahan dan tiga orang ini tidak mampu bergerak maju, betapa kuatpun mereka berusaha untuk menerjang kedepan!
Tentu saja tiga orang gagah ini terkejut bukan main.
Mereka baru tahu bahwa angin puyuh itu timbul dari gerakan tangan perajurit pendek yang berdiri diatas kereta setelah si pendek itu tertawa bergelak dengan suara yang menggeledek, tidak sesuai dengan tubuhnya yang pendek cebol itu.
"Hua-ha-ha-ha...! Sungguh tak kusangka, ditempat ini benar-benar ada penjahat-penjahat kecil yang tak tahu diri!"
Baru sekarang tiga orang gagah itu sadar.
Inilah kiranya jagoan Istana yang dikabarkan ikut dalam pasukan pengawal ini!
Pantas saja disohorkan orang karena memang ternyata kepandaiannya hebat sekali.
Mereka memang hanya mendengar saja tentang jagoan Istana yang memiliki kepandaian hebat, dan baru sekarang mereka memperoleh kesempatan untuk bertemu dan merasakan kelihaiannya.
Maka, ketika si pendek itu melompat turun, tiga orang gagah ini sudah menerjang dan mengeroyoknya.
Sambil tertawa mengejek, perajurit pendek cebol itu menyambut mereka.
Jelaslah bahwa si pendek ini memandang rendah karena dia hanya menggerakkan kaki tangan saja untuk melawan mereka.
Padahal, Kim-suipoa menyerang dengan senjatanya yang aneh, yaitu sebuah alat penghitung (suipoa) yang lingkarannya terbuat dari pada baja, sedangkan biji-bijinya terbuat dari emas.
Agaknya senjatanya inilah yang membuat dia memperoleh julukan Suipoa Emas.
Pek-bin-houw menyerang dengan senjata pikulan dan ternyata pikulannya bukan terbuat dari pada bambu, melainkan dari baja yang kedua ujungnya meruncing dan tajam.
Orang ketiga, yaitu Hek-coa mempergunakan sebatang golok besar tipis yang amat tajam.
Menghadapi tiga orang gagah yang lihai dan yang semua memegang senjata andalan mereka masing-masing tanpa senjata ditangan, sungguh merupakan hal yang amat berbahaya sekali.
Akan tetapi, si pendek ini benar-benar amat lihai.
Dengan kaki dan tangannya yang kecil pendek, tidak saja dia mampu menandingi tiga orang pengeroyoknya, bahkan sebelum lewat dua puluh jurus, tiga orang lawan yang mengeroyoknya itu telah menjadi kalang-kabut!
Tentu saja tiga orang gagah itu merasa penasaran bukan main.
Mereka adalah tiga orang tokoh kang-ouw yang cukup terkenal sebagai orang-orang yang berkepandaian tinggi dan jarang bertemu tanding!
Mereka terkenal sebagai pendekar-pendekar yang ditakuti para penjahat.
Kim-suipoa adalah seorang pendekar yang pandai berdagang, berkepandaian tinggi dan berhati dermawan, suka membantu fakir miskin dan berani menentang kejahatan, sedangkan alat suipoa ditangannya itu merupakan senjata ampuh yang sukar dilawan.
Pek-bin-houw adalah seorang pendekar yang suka berkelana kegunung-gunung dan ditakuti para perampok karena dia selalu membasmi gerombolan perampok yang suka mengganggu orang yang berlalu-lintas dihutan-hutan yang sunyi.
Senjatanya berupa pikulan ini menunjukkan bahwa dia berasal dari keluarga petani, dan senjata ini tidak kalah terkenalnya dibanding dengan senjata suipoa itu.
Dan orang ketiga, Hek-coa juga amat ditakuti para bajak disepanjang Sungai Huang-ho, karena lihainya.
Sebagai seorang piauwsu, diapun amat terkenal dan banyak memperoleh kepercayaan orang untuk mengawal barang sangat berharga, bahkan mengawal anggauta keluarga yang melakukan perjalanan jauh melalui tempat-tempat berbahaya.
Ya, mereka adalah tiga orang pendekar yang terkenal, dan berempat bersama Sin-kauw.
Mereka itu pernah bekerja-sama dan dijuluki Huang-ho suhiap (Empat Pendekar Huang-ho) karena mereka berempat berhasil membersihkan para penjahat disepanjang sungai itu!
Akan tetapi, kini menghadapi seorang lawan saja yang bertangan kosong, mereka malah tidak mampu menang dan terdesak hebat.
Mereka pernah mendengar akan nama jagoan Istana ini yang hanya mereka ketahui julukannya saja, yaitu Pek-lui-kong (Malaikat Halilintar), seorang aneh yang berilmu tinggi, dan kabarnya merupakan seorang tokoh yang menguasai ilmu dari partai persilatan terkenal yang disebut Soa-hu-pai (Partai Persilatan Danau Pasir).
Menurut penuturan Liu Pang, yaitu seorang Bengcu (pemimpin rakyat) amat terkenal disepanjang lembah Yang-ce-kiang, dan merupakan pendekar dengan siapa mereka berempat itu bekerja-sama.
Pek-lui-kong memang seorang yang lihai sekali.
Menurut Bengcu itu, setahun yang lalu kepandaian Pek-lui-kong itu sudah hebat, akan tetapi masih belum mampu menandingi ilmu kepandaian Liu Pang.
Sekarang, melihat kehebatan gerakannya, agaknya hanya Liu Pang saja yang akan mampu menandinginya.
Mereka terus menggerakkan senjata untuk berusaha mengalahkan lawan.
Akan tetapi, setiap kaki si pendek itu mengeluarkan seruan sambil mendorong, mereka bertiga tentu terdorong kebelakang oleh hawa pukulan yang amat kuat dan dingin sekali.
Tak dapat mereka bertahan, dan betapapun mereka mengerahkan tenaga sinkang, tetap saja mereka terdorong kebelakang, terhuyung dan menggigil kedinginan!
"Haiiiittt...!"
Kim-suipoa berteriak panjang sebagai isyarat kepada dua orang temannya untuk melakukan gempuran dengan serentak.
Senjata ditangannya menyambar, nampak sinar keemasan berkelebat dan senjata suipoa itu telah menghantam kearah kepala lawan.
Pada saat itu, Hek-coa juga sudah menyerang dengan babatan goloknya kearah pinggang lawan, sedangkan Pek-bin-houw memutar tongkatnya yang meluncur dan menusuk kearah anggauta rahasia si pendek itu.
Sungguh tiga serangan ini amat dahsyat dan berbahaya sekali karena satu saja diantaranya mengenai sasaran, tentu akan merupakan cengkeraman maut menyambar nyawa!
Akan tetapi, si pendek itu sama sekali tidak merasa gugup dengan serangan serentak itu.
Sambil tersenyum, tiba-tiba tubuhnya melesat keatas sehingga semua serangan itu mengenai tempat kosong, kemudian dari atas, dia mengeluarkan suara melengking nyaring dan dengan tubuh berjungkir-balik, kepala dibawah, tubuhnya melayang kebawah dan kedua tangannya melakukan gerakan mendorong.
Serangkum angin yang berputar menyerang kebawah.
Belum pernah tiga orang pendekar itu melihat serangan macam ini, maka mereka menyambut tubuh lawan yang melayang turun itu dengan senjata mereka.
Akan tetapi, sebelum senjata-senjata itu sempat menyentuh tubuh Pek-lui-kong, tiga orang itu terpelanting oleh sambaran hawa pukulan yang dahsyat sekali.
Rasa dingin menyelinap kedalam tubuh mereka, menggetarkan jantung dan membuat mereka menggigil.
Sejenak ketiganya tidak mampu bergerak dan saat itulah yang amat berbahaya karena dengan mudah lawan akan dapat mempergunakan kesempatan itu untuk memukul mati mereka tanpa mereka mampu melindungi diri sendiri.
"Suhu, teecu datang...!!"
Nampak bayangan berkelebat dan sebatang pedang yang digerakkan dengan sangat cepat, menyerupai segulung sinar yang menyilaukan mata telah menyambar kearah Pek-lui-kong dan menghalangi si pendek itu untuk mengirim pukulan susulan yang akan mematikan tiga orang pengeroyoknya.
Melihat betapa lihainya gerakan pedang ini, Pek-lui-kong terkejut dan memandang heran.
Yang memegang pedang menolong tiga orang lawannya itu adalah seorang dara yang cantik jelita!
Karena pedang itu gerakannya cepat dan amat kuat, Pek-lui-kong tidak berani memandang rendah dan cepat dia meloncat kebelakang untuk menghindar.
Kesempatan itu dipergunakan oleh nona cantik ini untuk menyerbu kearah pintu kereta.
"Ayah...!"
Teriaknya.
Akan tetapi, serangkum angin puyuh yang dingin menyambar dari kiri.
Kiranya si pendek sudah menyerangnya.
Nona cantik itu agaknya maklum akan kehebatan angin pukulan ini, maka ia terpaksa mundur lagi, tidak jadi menyerbu kearah kereta dan cepat ia memutar pedangnya, dengan marah ia sudah menyerang lagi kepada si pendek.
Sementara itu, tiga orang pendekar yang tadi rebah kedinginan, sudah dapat memulihkan dirinya dan sudah bangkit lagi, lalu membantu nona cantik tadi untuk mengeroyok si pendek yang amat lihai.
Kini terjadilah pertempuran yang makin hebat, dan setelah nona itu datang mengeroyok, ternyata kekuatan mereka hampir seimbang dan si pendek menjadi lebih sibuk menghadapi pengeroyokan mereka.
Siapakah nona cantik itu yang menyebut suhu kepada empat orang pendekar akan tetapi yang ternyata memiliki kepandaian yang agak lebih tinggi dari pada mereka itu?
Seperti yang pembaca agaknya dapat menduganya, tawanan didalam kereta itu bukan lain adalah Menteri Kebudayaan Ho yang telah berani memprotes kepada Kaisar tentang pembakaran kitab kitab pelajaran Nabi Khong Hu Cu.
Ho-taijin atau Menteri Ho ini melakukan perjalanan keselatan untuk mengakhiri pembakaran kitab-kitab dan pembunuhan para sasterawan yang mempertahankan kitab-kitab itu, akan tetapi Kaisar yang kena dihasut oleh kaki tangannya itu lalu mengirim pasukan yang dipimpin oleh Ciong-ciangkun untuk menyusul dan menangkapnya.
Bukan ini saja, malah keluarga Menteri Ho telah ditangkap lebih dulu dan dijebloskan dalam penjara!
Untung bahwa satu-satunya anak keluarga Ho ini, yaitu seorang anak perempuan yang telah remaja, bernama Ho Pek Lian, telah berhasil diselamatkan oleh empat orang gurunya.
Ho-taijin yang sasterawan itu ternyata mempunyai hubungan baik dengan para pendekar, bahkan puteri tunggalnya itu sejak kecil menjadi murid dari Huang-ho suhiap Maka, ketika terjadi penangkapan atas seluruh keluarga Ho, nona Ho Pek Lian berhasil melarikan diri, dan ia ditolong oleh empat orang gurunya yang membawanya lari kepada Liu-Bengcu, yaitu Liu Pang yang menjadi memimpin rakyat yang amat disegani diwaktu itu.
Liu Pang ini juga merupakan seorang pengagum Ho-taijin.
maka dia menerima Ho Pek Lian yang selanjutnya disebut Ho-siocia dengan suka hati, bahkan dia mau pula menerima Ho Pek Lian menjadi muridnya.
Sarang atau pusat yang dijadikan tempat para pendekar berkumpul dibawah pimpinan Liu Pang ini, yang menjadi tempat rahasia mereka, terletak disebuah puncak yang bernama puncak Awan Biru diPegunungan Fu-niu-san.
Liu Pang sendiri marah sekali mendengar akan tindakan Kaisar yang bukan hanya menyuruh tangkap Ho-taijin, bahkan telah menangkap semua keluarga pembesar yang bijaksana itu.
Maka, selain memberi petunjuk kepada murid barunya ini dalam hal ilmu silat, juga Liu Pang lalu mengangkat Ho-siocia menjadi pimpinan dalam usaha mereka untuk membebaskan Ho-taijin dari tawanan.
Usaha ini dibantu oleh Huang-ho suhiap, yaitu guru-guru pertama dari Pek Lian seperti telah diceritakan dibagian depan.
Dan biarpun Pek Lian menjadi murid-murid mereka, namun karena ia telah menguasai ilmu-ilmu dari mereka, maka penggabungan ilmu inilah yang membuat ia menjadi tidak kalah lihainya dibandingkan dengan seorang diantara guru-guru mereka.
Apalagi ia telah memperoleh petunjuk dari gurunya yang baru dan amat lihai, yaitu Liu Pang.
Demikianlah, seperti telah direncanakan, ketika terjadi pertempuran didusun itu.
tiba-tiba Ho Pek Lian yang disebut Ho-siocia oleh semua orang gagah pengikut Liu Pang, muncul untuk membebaskan ayahnya.
Akan tetapi, alangkah kagetnya ketika ia melihat betapa tiga diantara guru-gurunya kewalahan menghadapi seorang lawan yang bertubuh pendek cebol, sedangkan seorang guru yang lain.
Sin-kauw, sedang bertanding dengan serunya melawan komandan pasukan.
Maka Pek Lian cepat bergerak menolong tiga orang gurunya yang terancam bahaya maut itu dan kini ia bersama tiga orang gurunya itu mengeroyok si pendek yang kini iapun dapat menduga tentu Pek-lui-kong yang kabarnya diam-diam menyelundup kedalam pasukan pengawal yang menangkap ayahnya.
Setelah kini Pek Lian membantu, dan mereka berempat mengeroyok, maka Pek-lui-kong menjadi sibuk juga.
Terpaksa dia mengeluarkan senjatanya, yaitu sabuk rantai baja, akan tetapi dia hanya mampu mengimbangi saja empat orang pengeroyoknya.
Sementara itu, pertempuran antara Sin-kauw yang melawan Ciong-ciangkun juga amat seru dan keduanya sudah menerima hantaman dari lawan, telah menderita luka-luka yang tidak membahayakan nyawa, akan tetapi mereka masih terus bertanding dengan hebatnya.
Hanya keadaan para anak-buah yang mengalami pembahan.
Biarpun jumlahnya lebih banyak, namun perajurit itu tidak dapat bertahan menghadapi amukan para pendekar yang rata-rata memiliki ilmu silat yang lebih tinggi.
Banyak diantara perajurit yang roboh terluka atau tewas.
Melihat keadaan ini, Pek Lian cepat berseru kepada para pembantunya.
"Cepat... bebaskan Ho-taijin!"
Teriakan ini ditujukannya kepada para anak-buah yang berhasil mendekati kereta.
Ia sendiri bersama tiga orang gurunya tidak berani meninggalkan Pek-lui-kong, karena berkurang satu saja diantara mereka berarti keadaan mereka akan terdesak dan berbahaya.
Dengan berempat, mereka mampu mengimbangi kelihaian Pek-lui-kong.
Mendengar perintah dari Ho-siocia (nona Ho) ini, seorang diantara para anak-buah puncak Awan Biru ini cepat meloncat keatas kereta.
Dibagian depan, kusir muda yang sejak tadi tidak ikut berkelahi, masih menelungkup diatas bangkunya dan menutupi muka dengan kedua tangan, tubuhnya gemetar dan nampaknya dia merasa ngeri dan ketakutan.
Melihat ini, anggauta puncak Awan Biru itu menendang dan kusir itu mengeluarkan seruan keras, tubuhnya terguling kebawah dan jatuh ber debuk keatas tanah.
Dia menjadi semakin ketakutan, dengan kedua tangan masih menutupi mukanya dan tidak memperdulikan rasa nyeri karena terbanting tadi, dia berteriak-teriak.
"Jangan dirusak keretaku! Kereta ini duma disewa oleh perajurit-perajurit itu! Jangan dirusak, ini keretaku!"
Pada saat itu, beberapa orang pendekar anggauta puncak Awan Biru telah berloncatan dan mereka hendak membuka pintu kereta yang agaknya terkunci kuat sekali.
Melihat betapa pintu kereta itu ditarik-tarik dan agaknya hendak dibuka dengan paksa, si kusir itu takut kalau-kalau keretanya rusak, maka diapun lari menghampiri dan dengan marah dia menarik dari belakang beberapa orang pendekar sambil berteriak-teriak.
"Jangan dirusak keretaku ini!"
Para pendekar itu tentu saja menganggap si kusir sebagai kaki tangan pasukan perajurit biarpun mengaku bahwa keretanya hanya disewa.
Mereka menjadi marah dan seorang diantara mereka yang menjadi gemas itu mengayun goloknya sambil menghardiknya.
"Pergi kau!"
Kusir muda itu mencoba untuk mengelak, akan tetapi karena agaknya dia memang tidak mengenal ilmu silat sama sekali, gerakannya kaku dan kurang cepat sehingga golok itu sempat menggores lengan kirinya.
"Crett...! Aduhhh...!"
Darah mengucur dari lengan yang terobek kulitnya dan sebuah tendangan membuat kusir muda itu terlempar dan jatuh terbanting.
Dan terjadilah hal yang amat aneh, diawali dengan suara ketawa yang mendirikan bulu roma.
"Ha-ha-hi-hi-hi...!"
Suara ketawa ini nyaring sekali sehingga semua orang menengok kearah pemuda kusir yang tertawa itu.
Para pendekar yang tadinya berusaha membuka pintu kereta juga menengok.
Baru sekarang mereka memandang kusir muda itu penuh perhatian dan melihat bahwa kusir itu masih muda sekali, berperawakan tinggi tegap, pinggangnya ramping dan nampaknya kuat.
Juga wajahnya yang membayangkan kesederhanaan, bahkan kebodohan itu, nampak tampan dan gagah.
Akan tetapi, kini sepasang matanya yang lebar dan yang dilindungi alis hitam tebal seperti golok itu terbelalak dan beringas.
Lengan kirinya berdarah, matanya beringas memandang kekanan kiri seperti orang gila.
Semua orang yang memandangnya menjadi terkejut dan juga ngeri.
Kusir muda itu telah menjadi gila.
"Heh-heh, hi-hi-hi... Darah... Darah...! Hemmm...!"
Sambil berjingkrak-jingkrak seperti menari-nari, pemuda itu lalu menjilati darah yang keluar dari luka dilengannya!
Melihat ini, semua orang menjadi semakin ngeri.
Mereka mengira bahwa tentu kusir muda itu menjadi gila karena takutnya setelah lengannya terbacok luka itu.
Seorang perajurit yang merasa ikut malu melihat ulah kusir kereta yang tadi dikawalnya itu, membentaknya dan memukulnya untuk mengusirnya pergi dari situ.
"Pergi... Aiiiiihhhhh...!"
Bentakan itu disambung dengan jeritan yang mengerikan dan tubuh perajurit yang menghantam itu terlempar seperti didorong oleh tenaga dahsyat, lalu tubuhnya terbanting keatas tanah dan ternyata perajurit itu telah tewas dengan kepala retak-retak!
Padahal tadi dialah yang memukul pemuda yang seperti gila itu!
Tentu saja semua orang menjadi kaget setengah mati.
Kiranya kusir muda yang gila itu memiliki kepandaian yang luar biasa hebatnya.
Ketika kusir itu melihat perajurit terbanting tak jauh dari situ, dia berlari maju dan menubruk mayat itu, dipelukinya dan diapun menangis.
Diangkatnya mayat itu, dipangkunya dan dirangkulnya dan mulutnya tiada hentinya mengeluarkan ratap tangis.
"Ayaahh... Ayaahhh...!"
Dan kusir itupun menjadi semakin beringas.
Setelah menurunkan kembali mayat itu keatas tanah, diapun meloncat berdiri dan mulailah dia mengamuk!
Tidak perduli siapapun yang berada didekatnya, perajurit maupun pendekar, tentu diamuknya.
Dan tidak ada seorangpun yang mampu bertahan terhadap amukannya.
Setiap ayunan kaki atau tangan tentu membuat orang itu terlempar sampai jauh!
Melihat ini, semua orang menjadi gempar dan ketakutan, semua lari menyingkir setelah mencoba melawan yang hanya berakhir dengan tubuhnya terlempar jauh dan terbanting keras.
Karena semua perajurit dan pendekar menjauhinya, kusir muda yang gila itu kemudian lari kearah Sin-kauw yang masih bertanding dengan serunya melawan Ciong-ciangkun.
Mereka berdua sudah luka-luka dan sudah agak lemas, namun masih tidak mau saling mengalah.
Dan begitu pemuda itu menyerbu, keduanya telah dapat ditangkap pada tengkuk masing-masing dan sekali menggerakkan kedua tangannya, kusir muda itu telah berhasil melemparkan Sin-kauw dan Ciong-ciangkun sampai lima meter jauhnya!
Mereka berdua jatuh terbanting, tidak terluka parah tetapi juga nanar dan merangkak bangun dibantu oleh anak-buah masing-masing.
Semua orang terkejut.
Bukan main hebatnya kepandaian kusir muda itu.
Dan kini kusir itu telah menerjang kearah pertempuran antara Pek-lui-kong yang bertubuh pendek dan yang dikeroyok oleh empat orang lihai itu.
Dan rusaklah perkelahian itn setelah kusir muda ini masuk.
Dia memukul dan menendang, tanpa berpihak, bahkan diserangnya mereka kelimanya dengan gerakan kacau dan kaku, secara membabi-buta saja.
Hek-coa, Pek-bin-houw dan Kim-suipoa terdorong mundur sebelum menangkis, terdorong oleh angin pukulan yang keluar dari kedua tangan kusir muda itu.
Mereka terkejut sekali, dan Pek Lian juga cepat menyerang dengan pedangnya.
Akan tetapi, kusir muda itu menangkis dengan mengipaskan tangannya dan akibatnya, tubuh nona itu terlempar sampai dua tiga meter jauhnya!
"Hyaaahhh...!"
Pek-lui-kong mengeluarkan bentakan nyaring sambil menyambut pukulan kusir muda itu dengan dorongan kedua telapak tangannya.
"Dess...!"
Dua tenaga aneh yang dahsyat berjumpa dan akibatnya, si pendek itu tergetar hebat dan terhuyung kebelakang, sedangkan kusir itupun terpelanting jatuh.
akan tetapi dia sudah cepat bangkit kembali dan menangis melolong-lolong seperti anak kecil!
Si pendek terkejut setengah mati karena dia mendapat kenyataan bahwa tenaga kusir ini ternyata tidak kalah kuatnya dibandingkan dengan tenaga sinkang yang dikeluarkannya tadi.
Dia menjadi gentar, karena dia tidak tahu dipihak siapakah kusir itu berdiri.
Tadinya kusir itu jelas membunuh seorang perajurit, akan tetapi diapun melihat kusir gila itu menyerang kalang-kabut tanpa memilih orang.
Selagi semua orang dari kedua pihak gentar memandang kepada pemuda yang menangis melolong-lolong itu, tiba-tiba jendela kereta terbuka dari dalam dan nampaklah kepala seorang pria tua tersembul dari dalam.
Pria itu bukan lain adalah Menteri Ho sendiri.
Dengan suara penuh wibawa pembesar yang menjadi tawanan ini berkata, suaranya tegas dan tak mungkin dapat dibantah lagi oleh mereka yang menghormati dan mengaguminya.
"Pek Lian... anakku, dan para sahabatku semua. Kalian pulanglah. Aku tidak menghendaki kalian memberontak kepada pemerintah. Semenjak turun-temurun, nenek moyang keluarga Ho adalah orang-orang yang setia mengabdi kepada nusa dan bangsa, setia kepada pemerintah yang berkuasa dan tidak pernah ada yang menjadi pemberontak. Aku tidak ingin menodai nama keluarga Ho dengan pemberontakan. Nah, pulanglah. Bagaimanapun juga, aku tidak mau melarikan diri dari tahanan pemerintah."
"Ayahhhh...!"
"Anakku, pergilah! Semoga Thian selalu memberkahimu, selamat berpisah!"
Daun jendela kereta itu tertutup kembali.
Ho Pek Lian menangis, akan tetapi Kim-suipoa, gurunya, menuntunnya dan mengajaknya pergi dari situ.
Pertempuranpun berhenti ketika kedua fihak menyerukan agar anak-buah masing-masing itu mundur.
Ciong-ciangkun yang maklum bahwa pasukannya akan menderita kekalahan kalau pertempuran dilanjutkan merasa lega bahwa Ho-taijin sendiri yang menghentikan pertempuran dan para penyerbu itu mundur dan meninggalkan tempat itu.
Dia lalu mengumpulkan sisa pasukannya, meninggalkan yang tewas dan luka, lalu tergesa-gesa melanjutkan perjalanan dengan pengawalan sisa pasukan itu yang kini tinggal separuhnya saja.
Kusir muda yang gila tadipun telah pergi sambil menangis dan kadang-kadang tertawa, agaknya dalam kegilaannya itu dia sudah lupa akan kereta dan kudanya, ditinggalkannya begitu saja dan entah kemana dia pergi tak ada seorang yang mengetahuinya.
Sikap seperti yang diperlihatkan oleh Menteri Ho itu sudah sering kali diperlihatkan oleh orang-orang yang disebut sebagai "orang besar"
Disepanjang sejarah.
Memang amat mengherankan sekali.
Kalau direnungkan secara mendalam, apakah gunanya sikap seperti itu?
Dia tahu bahwa dirinya difitnah, bahwa Kaisar telah bersikap lalim dan tidak benar, bahwa dia telah menjadi korban kelaliman Kaisar.
Akan tetapi, mengapa dia tidak mau menyelamatkan diri, dengan dalih tidak mau memberontak terhadap pemerintah?
Bukankah hal ini didasari oleh kebanggaan diri dan ketinggian hati yang konyol belaka?
Nama baik!
Kehormatan!
Semua ini hanya sebutan, sebutan yang diperhalus saja untuk menutupi rasa bangga diri dan ketinggian hati itu.
Kita melihat betapa diri kita ini kosong melompong tidak ada artinya, bahwa diri kita ini dangkal sekali, menjadi hamba dari pada nafsu belaka dan bahwa hidup ini hanya fana, bahwa tubuh kita ini akhirnya akan hilang ditelan usia dan kematian, bahwa semua pada diri kita ini akhirnya akan lenyap.
Karena itulah, diantara harapan-harapan dan sebutan-sebutan lain, maka nama kita anggap takkan lenyap.
Karena itu, nama harus dijaga sebaiknya, agar hidup selama-lamanya biarpun badan ini telah tiada!
Dan demi nama dan kehormatan ini, kita mau saja melakukan segala-galanya, bahkan berkorban nyawa sekalipun, bahkan mati konyol sekalipun seperti yang diperlihatkan oleh sikap Menteri Ho itu!
Apakah gunanya nama besar?
Berguna bagi anak cucu?
Belum tentu!
Yang jelas, apapun gunanya bagi si empunya nama, tidak ada artinya lagi karena si empunya nama telah mati.
Akan tetapi, kita mengejar-ngejar nama baik ini, kehormatan ini.
Bukan untuk sesudah mati, melainkan untuk sekarang, agar kita dapat berbangga hati dan agar kita merasa tenteram mengingat bahwa kalau kita mati nama kita akan terus dipuji-puji orang, dikagumi orang!
Kalau nama baik dan kehormatan sudah menjadi tujuan, maka semua jalan untuk mencapainya merupakan kepalsuan.
Tujuan menghalalkan segala cara.
Perbuatan apapun, cara apapun yang kita lakukan, kalau sudah ditujukan untuk sesuatu demi keuntungan diri sendiri lahir maupun batin, maka perbuatan itu, cara itu, tidaklah wajar dan palsu, merupakan pura-pura belaka.
Namun, seperti tercatat dalam sejarah bahkan sampai kinipun masih dilakukan orang, kita tergila-gila akan hal-hal yang kita anggap menyenangkan, seperti harta kekayaan, kemuliaan, kehormatan, nama besar, dengan ukuran dalam pikiran kita bahwa semua itulah sarana untuk mencapai kebahagiaan.
Harapan kosong belaka!
Rombongan Ho Pek Lian dan empat orang gurunya yang gagal membebaskan Menteri Ho karena dilarang oleh Menteri itu sendiri, pulang kepegunungan dengan lesu.
Mereka telah kehilangan beberapa orang kawan yang tewas dan yang mayatnya mereka bawa dan mereka kuburkan ditengah perjalanan, dan beberapa orang pula luka-luka dan kini ikut melakukan perjalanan pulang.
Diantara empat orang pendekar itu, Sin-kauw mengalami luka-luka pula dalam pertandingannya melawan komandan pasukan, bahkan yang lainpun tidak keluar dari pertandingan itu dengan utuh.
Bekas hantaman Pek-lui-kong dan kemudian tangkisan-tangkisan pemuda gila yang menjadi kusir, itu masih terasa oleh Pek Lian dan guru-gurunya.
Namun, semua pengorbanan itu ternyata sia-sia belaka!
Menteri Ho sendiri, pada saat mereka hampir berhasil membebaskannya, menolak dibebaskan dan menyuruh mereka pergi.
"Ayaahhh..."
Hati kecil Pek Lian menjerit dan air matapun berlinang dikedua matanya. Keempat orang gurunya menghibur.
"Kami dapat mengerti akan sikap ayahmu, nona,"
Kata Kim-suipoa. Keempat orang pendekar ini selalu menyebut nona kepada murid mereka ini, mengingat bahwa Pek Lian adalah puteri tunggal Menteri Ho yang mereka hormati.
"Bagi seorang pejabat seperti ayah nona itu, keluarga sendiri dan nyawa sendiri tidak dipentingkan lagi, yang terpenting adalah mengabdi kepada pemerintah dengan penuh kesetiaan."
"Tapi, suhu!"
Pek Lian membantah dengan hati penuh penasaran.
"Teecu sendiri juga bukan seorang yang suka berkhianat, bukan pula seorang yang berjiwa pemberontak dan tidak setia kepada negara dan bangsa. Kita yang menamakan diri pendekar dan patriot, memang mencinta negara dan bangsa dan rela mati demi membela nusa dan bangsa. Akan tetapi, kalau negara dipimpin oleh seorang Kaisar yang lalim dan jahat, kalau bangsa ditindas demi kepuasan nafsu Kaisar lalim, apakah kita juga harus bersetia kepada Kaisar seperti itu? Bukankah kalau kita setia kepada Kaisar lalim, berarti kitapun membantu Kaisar untuk menindas bangsa sendiri, untuk membawa negara keambang kehancuran? Lihat, betapa banyaknya rakyat terbunuh, ratusan ribu, jutaan, untuk membangun Tembok Besar. Dan pembakaran kitab-kitab itu! Apakah semua itu harus dibiarkan saja?"
"Tentu saja tidak, nona!"
Kata Pek-bin-houw.
"Dan buktinya, Ho-taijin yang mulia sudah bertindak, memprotes Kaisar!"
"Dan akibatnya, dia sendiri ditangkap!"
Nona itu berseru marah.
"Dan semua keluarga ayah, bibi, paman, keponakan-keponakan, bahkan pelayan-pelayan, semua ditangkapi dan dijebloskan tahanan!"
"Itulah yang dinamakan membela kebenaran, nona. Ayahmu bukan setia kepada Kaisar, melainkan kepada nusa dan bangsa, kepada kebenaran. Demi kebenaran, ayahmu berani menentang Kaisar dan berani menghadapi hukuman. Kami mengerti, dengan perbuatannya itu, ayahmu ingin menyadarkan Kaisar akan kelalimannya!"
"Benarkah Kaisar akan sadar? Aku tidak percaya akan hal ini. Kaisar telah lalim, dan untuk itu, siapa lagi kalau bukan kita kaum pendekar yang bergerak untuk membebaskan rakyat dari kelalimannya? Ini bukan pemberontakan terhadap negara dan bangsa, melainkan pemberontakan terhadap penguasa lalim yang akan menyeret negara dan bangsa kelembah kehancuran!"
Empat orang gurunya mengangguk-angguk dan diam-diam mereka merasa bangga akan semangat murid mereka itu.
"Ucapanmu benar, nona. Pengorbanan ayahmu tidak akan sia-sia, mata para pendekar akan lebih terbuka dan akan makin banyaklah orang gagah yang menentang Kaisar yang lalim. Akan tetapi, urusan ini bukan urusan kecil, oleh karena itu kita semua harus menyerahkan segala urusan ini dibawah pimpinan Liu-toako (kakak Liu)."
Mereka melanjutkan perjalanan dan kini empat orang pendekar itu bercakap-cakap tentang kelihaian orang-orang yang mereka temui dalam pertempuran siang tadi.
Pek Lian mendengarkan percakapan mereka dengan hati tertarik, karena didalam hatinya iapun merasa kagum akan kepandaian Pek-lui-kong dan terheran-heran akan perobahan pada diri kusir muda yang tiba-tiba saja menjadi gila dan setelah gila ternyata memiliki ilmu kepandaian yang amat hebat sehingga si pendek Pek-lui-kong sendiri sampai tidak mampu menandinginya!
"Kepandaian Pek-lui-kong yang lihai itu tidak perlu diherankan lagi,"
Antara lain Kim-suipoa yang lebih berpengalaman sebagai pedagang yang suka merantau dari pada saudara-saudaranya berkata.
"Dia adalah murid dari Soa-hu-pai tingkat tinggi, tentu saja ilmunya hebat bukan main dan masih baiklah kalau kita berempat tadi masih mampu menandinginya dan tidak sampai tewas ditangannya."
"Suhu, teecu rasakan tadi pukulannya mengandung hawa yang berputaran seperti angin puyuh, dan juga terasa dingin bukan main. Pukulan apakah itu?"
Pek Lian sejenak melupakan kedukaannya karena ditangkapnya ayahnya dan mengajukan pertanyaan itu.
"Itulah pukulan yang disebut Pukulan Pusaran Pasir Maut!"
Jawab Kim-suipoa sambil bergidik.
"Pukulan itu merupakan inti dari ilmu Perkumpulan Danau Pasir itu. Aku hanya mengetahui sedikit saja, nona, akan tetapi perlu juga kau dengarkan agar kelak dapat berhati-hati kalau bertemu dengan tokoh dari Soa-hu-pai itu. Danau itu sebetulnya kini lebih tepat disebut rawa berpasir yang terletak disebuah puncak, merupakan kawah yang sudah mati, dan mirip sebuah danau, akan tetapi bukan air yang berada didanau itu, melainkan pasir. Pasir ini amat panas, kadang-kadang mengepulkan asap yang panas dan berbau keras. Dan dalamnya pasir ini tak pernah ada yang dapat mengukurnya, mungkin saja tak dapat diukur selamanya. Selain amat dalam dan juga amat panas, pasir ini mempunyai sifat yang mengerikan, yaitu dapat bergerak menyedot segala sesuatu yang terjatuh disitu. Biar binatang yang kuat seperti harimau sekalipun, sekali terjatuh kedalam pasir, jangan harap akan dapat keluar lagi karena tersedot terus sampai lenyap tanpa meninggalkan bekas."
"Ih, mengerikan...!"
Kata Pek Lian, membayangkan betapa mengerikan kalau sampai ia terjatuh kedalam kubangan pasir itu.
"Dan hasil ilmu dari tempat itupun mengerikan,"
Kata lagi Kim-suipoa.
"Tokoh yang menemukan ilmu itu kemudian mendirikan partai Soa-hu-pai berjuluk Kim-mou Sai-ong, seorang pendeta berambut keemasan yang amat terkenal abad lalu, Dan ilmu itu bertingkat-tingkat. Kabarnya hanya Kim-mou Sai-ong seoranglah yang dapat mencapai tingkat ketiga belas. Ilmu itu luar biasa sukarnya dan mempelajarinya harus dengan taruhan nyawa, maka jaranglah ada murid yang mencapai tingkat tinggi. Kabarnya, guru dari Pek-lui-kong itu sendiripun hanya mencapai tingkat kesepuluh! Akan tetapi, melihat ilmu si pendek itu, sungguh aku heran sekali entah tingkat berapa sekarang telah dicapainya"
"Bagaimana sih mempelajarinya, suhu?"
Tanya Pek Lian, tertarik.
"Akupun hanya mendengar beritanya saja, nona. Karena danau pasir itu luas sekali dan Kim-mou Sai-ong kebetulan bertapa ditempat itu, pertapa yang sakti ini lalu mencari daya upaya untuk dapat menanggulangi bahaya dari danau pasir ini. Dia lalu menciptakan ilmu yang didasarkan untuk mengatasi kehebatan pasir itu. Dengan latihan sinkang diatas pasir itu, Kim-mou Sai-ong berhasil menemukan tenaga sinkang yang kekuatannya menolak daya sedot pasir itu. Dapat dibayangkan betapa hebatnya tenaga sinkang itu kalau sudah mampu menolak daya sedot seperti itu. Selain ini, juga untuk melawan panasnya pasir ketika berlatih diatas pasir, diapun berhasil membuat hawa sinkangnya menjadi dingin untuk menahan panas. Oleh karena itu, setelah ilmunya yang dinamakan Ilmu Pukulan Pusaran Pasir Maut itu sempurna, ilmu itu mengandung hawa yang memutar dan mendorong untuk melawan sedotan itu, dan juga mengandung hawa dingin yang dapat mematikan lawan."
Perjalanan mereka kini tiba ditepi Sungai Yang-ce-kiang yang amat lebar.
Disitu sudah menanti beberapa orang teman mereka yang sudah mempersiapkan perahu-perahu untuk mereka.
Maka perjalanan dilanjutkan dengan naik beberapa buah perahu.
Akan tetapi Pek Lian tidak mau naik perahu.
"Harap suhu sekalian dan saudara-saudara semua melanjutkan perjalanan dengan perahu,"
Katanya kepada empat orsng suhunya.
"Teecu lebih senang mengambil jalan darat naik kuda, karena teecu ingin menghibur hati dengan melihat pemandangan alam yang indah."
"Ah, jalan darat lebih berbahaya dari pada jalan air, nona,"
Kata Sin-kauw yang masih lemah oleh luka-lukanya.
"Teecu tidak takut, suhu."
"Kalau begitu, biarlah aku menemani nona Ho mengambil jalan darat,"
Kata Hek-coa.
"Tidak, Ular Hitam, engkau lebih ditakuti para bajak, maka sebaiknya kalau engkau menemani Si Monyet Sakti yang terluka itu mengambil jalan air. Biarlah aku dan Harimau Muka Putih yang menemani murid kita mengambil jalan darat,"
Kata Kim-suipoa yang merupakan orang tertua dan juga menjadi pemimpin setelah Ho Pek Lian yang mereka anggap sebagai pemimpin mereka seperti yang telah ditentukan oleh Liu-toako.
Si Ular Hitam tidak membantah, lalu dia bersama teman-temannya menggunakan perahu-perahu itu, mendayung perahu ketengah dan sebentar saja perahu-perahu itu telah menghilang disuatu tikungan.
Kim-suipoa dan Pek-bin-houw lalu mengajak murid mereka melanjutkan perjalanan.
"Matahari telah mulai condong ke barat, sebaiknya kalau kita mempercepat perjalanan agar dapat melewati hutan didepan, nona. Hutan ini tidak kita kenal, dan kalau sudah melewati hutan barulah kita sampai disebuah dusun nelayan dimana kita boleh beristirahat."
"Baiklah, suhu."
Mereka lalu melanjutkan perjalanan memasuki hutan.
Akan tetapi, jalan setapak yang dilalui oleh kuda mereka itu makin lama makin menjauhi sungai dan akhirnya sungai tidak nampak sama sekali karena jalan itu terhalang oleh tebing-tebing dan batu-batu besar ditepi sungai.
Akhirnya mereka sama sekali terputus dari sungai dan berada ditengah-tengah hutan yang amat liar dan gelap.
Sementara itu, cuaca menjadi semakin gelap.
Mereka melanjutkan perjalanan, akan tetapi kegelapan malam membuat mereka tersesat jauh kedalam hutan, makin menjauhi jalan setapak dan akhirnya mereka terpaksa menghentikan kuda karena mereka tidak tahu lagi mana jalan yang benar.
Tiga orang itu adalah pendekar-pendekar yang memiliki kepandaian tinggi, tentu saja mereka tidak takut berada didalam hutan itu.
Mereka tidak takut terhadap binatang buas, juga tidak takut akan orang jahat.
Betapapun juga, mereka merasa tidak enak kalau harus melewatkan malam didalam hutan lebat yang tanahnya lembab dan hawanya dingin itu.
Pek-bin-houw lalu memanjat pohon besar sampai ke Puncaknya dan dari situ dia mencari-cari dengan pandang matanya.
Akhirnya, disebelah kirinya, ditempat yang agak meninggi, dia melihat sinar api kecil yang tak lama kemudian lalu padam.
Cepat dia turun kembali dan berkata.
"Di sebelah sana kulihat ada sinar api. Mungkin ada rumah orang."
Kim-suipoa menjadi girang.
"Bagus, sebaiknya kalau kita tuntun saja kuda kita, lebih mudah mencari jalan kalau begitu."
Demikianlah, dibawah penerangan bulan yang baru saja muncul, dan dengan hati-hati sekali, mereka lalu berjalan sambil menuntun kuda.
Pek-bin-houw didepan karena dialah yang melihat api tadi dan dia yang selalu mengingat-ingat dimana letak api yang dilihatnya tadi.
Pek Lian ditengah sedangkan Kim-suipoa dibelakang.
Mereka sudah berjalan selama dua jam, namun belum juga melihat ada rumah orang.
Yang ada hanyalah pohon-pohon raksasa dan tanah yang penuh dengan alang-alang, rumput dan tumbuh-tumbuhan liar.
Akan tetapi, jalan mulai mendaki dan Pek-bin-houw berseru.
"Agaknya kita tidak salah jalan. Api itu memang berada ditempat yang agak tinggi."
Dan makin menanjak jaian itu, makin berkuranglah pohon-pohon besar, terganti padang rumput sehingga tiga orang itu menjadi lapang pula.
Akan tetapi mereka masih belum tahu jalan mana yang menuju kearah jalan setapak yang akan membawa mereka kembali ketepi sungai.
Dan selagi mereka mencari-cari, tiba-tiba Pek Lian yang masih remaja dan penglihatannya lebih tajam dibandingkan dengan dua orang gurunya, berseru lirih.
"Nah, disana itu ada rumah!"
Dua orang gurunya cepat menengok dan mengerutkan alis untuk dapat memandang lebih jelas dan merekapun dapat melihat bayangan remang-remang dibawah sinar bulan.
Merekapun merasa gembira dan cepat tiga orang ini menuntun kuda mereka menuju kearah bayangan rumah itu yang ternyata masih cukup jauh.
Setelah tiba dipekarangan rumah, mereka menambatkan kuda mereka pada pohon didepan rumah, kemudian merekapun menuju kepintu depan.
Rumah itu besar sekali, besar dan menakutkan karena gelap dan rumah itu kuno.
Suasana menyeramkan meliputi rumah besar yang gelap itu.
Tidak nampak penerangan sedikitpun sehingga Pek-bin-houw menyatakan bahwa mungkin bukan ini rumah yang dilihatnya dari atas pohon dalam hutan, karena dari atas tadi ia melihat sinar penerangan walaupun hanya sebentar.
"Rumah siapapun juga, ada penghuninya atau tidak, cukup lumayan untuk kita mengaso malam ini, dari pada dihutan yang lembab dan dingin,"
Kata Kim-suipoa dan mereka lalu mengetuk pintu.
Pek Lian memandang kekanan kiri.
Rumah itu terpencil, tidak terdapat rumah lain disekeliling tempat itu.
Padang rumput yang luas dengan beberapa batang pohon disana-sini.
Ketukan pintu mereka tak terjawab dan Pek-bin-houw mendorong daun pintu.
Terdengar bunyi berkriyet ketika daun pintu itu terbuka dengan mudahnya.
Kiranya memang tidak terkunci.
Mereka lalu memasuki daun pintu itu.
Mereka tidak banyak cakap karena biarpun tempat itu sedemikian sunyinya namun mereka bertiga merasa seolah-olah ada banyak orang mengintai mereka dari empat penjuru.
Maka ketiganya memasuki rumah itu dengan sikap yang waspada, siap sedia menghadapi segala kemungkinan.
Ditempat yang angker seperti ini, tidak akan mengherankan mereka kalau tiba-tiba ada bahaya mengancam.
Biarpun rumah itu nampak kosong dan tidak berpenerangan, namun ketika mereka masuk, mereka melihat kebersihan dalam rumah, dan perabot-perabot rumah sederhana.
Hal ini menunjuk kan bahwa rumah itu sebenarnya bukan kosong, tentu ada penghuninya atau setidaknya baru saja ditinggalkan para penghuninya.
Mereka berjalan terus dengan hati-hati, memasuki lorong dalam rumah.
Dikanan kiri lorong itu terdapat kamar-kamar yang berderet dan semua kamarnva tertutup.
Mereka terus kebelakang dimama terdapat pekarangan belakang yang merupakan sebuab taman.
Disamping taman terdapat bangunan kamar-kamar.
Namun, seperti juga dibangunan induk didepan, dibagian belakang Minim nampak sunyi dan kosong.
Sinar bulan yang menerangi tempat itu menambah kesunyian dan keseraman tempt itu.
"Kita mengaso dikamar sana..."
Kim-suipoa menunjuk kekamar disudut sebelah belakang akan tetapi tiba-tiba dari dalam kamar yang berada disudut paling kiri terdengar suara wanita, suaranya halus agak parau, pantasnya suara seorang wanita tua.
"Hong-ji, kulihat hanya tiga orang tamu kita malam ini, benarkah?"
"Benar, ibu. Mungkin masih ada yang lain diluar, tapi koko belum bergerak!"
Jawaban yang terdengar dari gubuk didekat kolam ikan ditaman itu amatlah merdunya, jauh berbeda dan bahkan menjadi kebalikan dari suara wanita pertama.
Mendengar dua suara yang tiba-tiba ini, tentu saja Pek Lian dan dua orang gurunya menjadi terkejut dan mereka bertiga sudah menghentikan langkah dan memandang kearah suara itu dengan penuh perhatian.
Suara pertama datang dari dalam sebuah kamar, dan ketika mereka mencari kearah suara merdu yang datang dari gubuk ditengah taman itu, nampaklah oleh mereka bayangan seorang wanita yang tinggi ramping sedang berdiri dan bersandar pada tiang gubuk tadi.
Melihat ini, dan mendengar percakapan tadi, ketiganya merasa tak enak dan malu sekali karena mereka maklum bahwa dua orang yang bersuara itu tentulah fihak nyonya rumah.
Maka, cepat Kim-suipoa mengajak Pek-bin-houw dan Pek Lian untuk pergi menghampiri wanita yang berada digubuk itu dan setelah dekat, dibawah sinar bulan mereka dapat melihat bahwa orang ini adalah seorang gadis yang tubuhnya ramping sekali dan garis-garis wajahnya membayangkan kecantikan.
Sebagai wakil rombongannya, Kim-suipoa lalu menjura, diikuti oleh Pek-bin-houw dan Pek Lian, lalu pendekar ini berkata dengan suara penuh hormat.
"Kami mohon maaf sebesanya kepada kouw-nio (nona) atas kelancangan kami bertiga memasuki rumah ini tanpa ijin. Kami adalah tiga orang yang sesat jalan ingin berteduh melewatkan malam dan karena kami mengira bahwa rumah ini kosong maka kami berani memasukinya."
Wanita yang memiliki suara merdu itu berkata, suaranya masih merdu dan enak didengar walaupun mengandung kemarahan.
"Hemm, banyak sekali srigala yang berkedok domba selama tiga hari orang-orang jahat berkeliaran disini, membuat kami banyak pusing. Siapakah yang dapat percaya omongan kalian?"
Mendengar jawaban ini Ho Pek Lian mengerutkan alisnya.
Ia sendiri adalah seorang wanita yang halus wataknya, berpendidikan sebagai puteri seorang Menteri kebudayaan walaupun sejak kecil ia mempelajari ilmu silat tinggi.
Maka, melihat betapa tadi gurunya bersikap hormat dan kini wanita itu sebaliknya bersikap kasar, iapun merasa tidak senang.
"Hemm, jangan sembarangan menuduh orang!"
Akan tetapi sebelum Pek Lian dapat melanjutkan kemarahannya, tiba-tiba terdengar suara nyaring sekali, didahului siulan panjang yang terdengar dari jauh. Suara nyaring itu terdengar dari atas genteng.
"Hong-moi, awas mereka datang lagi!"
Mendengar suara ini, gadis yang bersuara merdu itu keluar dari gubuk dan diam-diam Pek Lian memandang dengan kagum bukan main.
Gadis yang bersuara merdu itu ternyata memiliki kecantikan yang sama indahnya dengan suaranya.
Amat cantik jelita dan manis, dan hal ini mudah dilihat biarpun hanya dengan penerangan sinar bulan saja.
Sementara itu, dengan tiba-tiba, seolah-olah muncul dari tiada, disitu telah berdiri seorang wanita tua berusia lebih dari lima puluh tahun, dan ternyata ialah pemilik suara parau tadi karena dengan sikap sembarangan wanita ini berkata kepada mereka bertiga.
"Kalau sam-wi (kalian bertiga) memang tidak berniat jahat, lekaslah pergi dari sini agar selamat!"
Setelah berkata demikian, wanita itu bersama puterinya lalu pergi kedalam rumah.
Kim-suipoa dan Pek-bin-houw yang sudah banyak pengalamannya didunia kang-ouw, maklum bahwa mereka memasuki rumah keluarga yang agaknya sedang menanti datangnya musuh-musuh mereka, maka karena dia tidak ingin terlibat dengan urusan orang lain, Kim-suipoa lalu mengajak Pek-bin-houw dan Pek Lian untuk cepat keluar dari tempat itu.
"Mari kita cepat pergi, tidak ada gunanya kita berdiam lebih lama disini."
Mereka bertiga lalu bergegas keluar, akan tetapi ketika mereka tiba dipintu depan, mereka berhenti.
Dari jauh mereka melihat datangnya tiga orang laki-laki yang rambutnya riap-riapan, tiga orang ini semua memakai jubah seperti jubah pendeta, dua diantara mereka berjubah hijau sedangkan orang ketiga berjubah biru.
Di bagian dada dari jubah mereka itu terdapat lukisan seekor naga.
Ketika tiga orang itu, yang berjubah biru ditengah sedangkan yang berjubah hijau berada dikanan kirinya, tiba didepan pintu pekarangan, tiba-tiba nampak ada dua bayangan orang berkelebat melayang turun dari atas genteng dan ternyata mereka itu adalah seorang kakek berusia hampir enam puluh tahun, berjenggot panjang, dan seorang pemuda tampan gagah bertubuh jangkung tegap.
Begitu kedua pasang kaki itu menyentuh tanah, keduanya berdiri dengan tegak, disebelah depan Kim-suipoa dan dua orang temannya, menghadapi tiga orang berambut riap-riapan itu.
Orang yang berjubah biru itu cepat menjura kearah kakek berjenggot panjang, diikuti oleh dua orang berjubah hijau dan terdengarlah suaranya yang bernada kasar.
"Selamat berjumpa, supek, kami bertiga datang menghadap!"
Kim-suipoa, Pek-bin-houw dan Pek Lian merasa serba salah.
Mereka tidak sengaja memasuki rumah orang, dan tidak sengaja pula mereka menjadi saksi pertemuan dua fihak yang agaknya diliputi ketegangan.
Oleh karena itu, atas isyarat Kim-suipoa, mereka bertiga lalu melangkah maju, lalu ketiganya menjura sebagai penghormatan kearah kakek berjenggot dan pemuda tampan karena mereka menduga bahwa tentu keduanya itu yang menjadi tuan rumah.
Kakek berjenggot itu hanya mengangguk sebagai balasan, akan tetapi pandang matanya masih terus ditujukan kearah tiga orang laki-laki berambut riap-riapan itu.
Melihat ini, Kim-suipoa dan dua orang temannya lalu melanjutkan langkah mereka, bermaksud untuk pergi mengambil kuda mereka dan meninggalkan tempat itu.
Akan tetapi ketika mereka hendak melewati tiga orang berambut riap-riapan itu, si baju biru membentak, suaranya kasar dan keras sekali.
"Berhenti...!!"
Sebelum Kim-suipoa dan teman-temannya menjawab, si baju biru itu lalu menghadapi kakek jenggot panjang dan berkata.
"Supek, seorangpun tidak boleh meninggalkan halaman ini sebelum tuntutan kami yang kemarin itu supek penuhi dan berikan kepada kami!"
Kakek itu tidak menjawab, akan tetapi pemuda jangkung disebelahnya yang menjawab, suaranya dingin.
"Mereka adalah orang luar, tidak ada sangkut-pautnya dengan kita!"
"Biar orang luar biar setan, sebelum tuntutan kami dipenuhi, tidak boleh keluar dari tempat ini dalam keadaan bernyawa!"
Bentak si jubah biru dengan nada suara, keras dan tegas.
Mendengar ucapan ini, Ho Pek Lian sudah tidak dapat menahan kemarahannya lagi.
Dara ini telah mencabut pedangnya.
Terdengar suara berdesing dan nampak sinar berkilau ketika sinar bulan menimpa pedang yang tajam itu.
"Aku hendak keluar dari sini, ingin kulihat siapa yang akan berani melarangku!"
Katanya sambil melangkah maju. Si jubah biru mundur dan berkata kepada dua orang berjubah hijau.
"Bekuk bocah ini!"
Dua orang berjubah hijau itu bergerak maju.
"Baik, suhu!"
Kata mereka dan keduanya lalu menggerakkan kedua tangan, jari-jarinya ditekuk dan dibuka seperti kuku harimau dan terdengarlah suara berkerotokan dari buku-buku jarinya.
"Nona, biarlah kami berdua menghadapi mereka,"
Kim-suipoa berkata dan bersama Pek binhouw diapun melangkah kedepan.
Melihat dua orang suhunya sudah maju, Pek Lian lalu mundur kembali dan menyimpan pedangnya, namun pandaug matanya berapi-api ditujukan kepada si jubah biru, hatinya panas dan marah sekali.
Siapapun adanya mereka, ia tidak takut untuk menghadapi nya.
"Kalian hendak melarang kami pergi dari sini. Nah, perlihatkanlah kepandaian kalian!"
Kata Kim-suipoa sambil tersenyum mengejek.
Akan tetapi diam-diam dia dan Pek-bin-houw merasa heran sekali dengan munculnya orang-orang berambut riap-riapan yang berjubah dan jubahnya bergambar naga ini.
Selama mereka malang-melintang didunia kang-ouw dan terutama didaerah lembah Huang-ho dan Yang-ce, mereka berempat telah dikenal oleh semua penjahat, akan tetapi mereka belum pernah bertemu dengan golongan seperti yang mereka hadapi sekarang ini.
Dua orang berjubah hijau itu mengeluarkan suara gerengan keras, lalu mereka menubruk seperti gerakan seekor harimau atau seperti cakar naga.
Gerakan mereka cepat dan juga kuat sekali karena dari gerakan ini menyambar angin yang berhawa panas.
Namun.
Kim-suipoa dan Pek-bin-houw bukanlah orang-orang lemah dan dengan cekatan mereka sudah mengelak dan balas menyerang dengan sama dahsyatnya.
Pek-bin-houw adalah seorang pendekar yang memiliki lweekang yang amat kuat, maka begitu bergebrak selama belasan jurus, lawannya yang berkumis tebal itu beberapa kali menggereng-gereng marah karena pertemuan antara lengan mereka membuatnya kenyerian.
Sedangkan Kim-suipoa adalah seorang pendekar yang memiliki banyak macam ilmu silat dan juga memiliki gerakan yang aneh dan cepat sehingga biarpun lawannya juga amat tangguh, namun dia dapat menandingi bahkan mengatasinya.
Dua orang berjubah hijau itu memang hebat sekali gerakannya dan tingkat merekapun seimbang dengan dua orang pendekar ini, namun mereka itu mulai terdesak dan melihat hal ini, si jubah biru menjadi marah bukan main.
Tak disangkanya bahwa dua orang muridnya yang amat diandalkannya itu, yang kepandaiannya sudah tinggi dan tidak banyak selisihnya dengan kepandaiannya sendiri, tidak mampu mengalahkan dua orang pria yang menjadi tamu tuan rumah.
Dia bersiul panjang dan nyaring sekali.
Dari jauh terdengarlah siulan sebagai jawabannya, dan diapun menggereng lalu menerjang kedepan untuk membantu dua orang muridnya.
"Singggg...!"
Gulungan sinar terang berkelebat dan si jubah biru terpaksa melompat kesamping.
Pedang ditangan Pek Lian menyambar ganas dan memaksa si jubah biru untuk menghadapi dan melawan ia, tidak dapat mengeroyok kedua orang suhunya.
Si jubah biru menjadi semakin marah dan dengan gerengan dahsyat diapun balas menyerang, gerakannya seperti seekor naga marah, kedua tangannya membentuk cakar, kedua lengannya bengkok seperti dua ekor ular yang berdiri dan siap menyerang, dan kedua tangan ini melakukan serangan dengan cara mencengkeram dan menotok, kadang-kadang juga membuat gerakan hendak menangkap.
Gerakannya aneh, gesit dan terutama sekali mengandung hawa panas yang membuat Pek Lian menjadi agak kewalahan.
Biarpun pedangnya telah digerakkan dengan cepat, namun selalu pedangnya bertemu dengan hawa pukulan kuat yang membuat gerakannya menyimpang.
Tentu saja Pek Lian merasa terkejut dan terheran-heran sekali.
Dalam waktu singkat saja dari sejak percobaan membebaskan ayahnya sampai sekarang, ia telah berjumpa dengan banyak sekali orang pandai.
Mula-mula Pek-lui-kong si pendek yang lihai itu, lalu si kusir gila, dan sekarang orang-orang yang berambut riap-riapan ini ternyata lihai-lihai bukan main.
Iapun menduga bahwa tentu fihak tuan rumah ini merupakan keluarga yang berilmu tinggi, apa lagi mendengar bahwa si jubah biru yang amat lihai ini menyebut kakek berjenggot panjang itu sebagai supek (uwa guru)!
Selagi ramai-ramainya mereka berkelahi, terdengar siulan nyaring dan nampak berkelebat dua bayangan orang yang begitu tiba disitu terus menggerakkan tangan kearah Pek Lian dan dua gurunya.
Angin pukulan yang dahsyat dan panas sekali membuat dara dan dua orang garunya ini terkejut dan cepat meloncat jauh kebelakang.
Kiranya yang datang adalah dua orang yang rambutnya riap-riapan juga, yang seorang berjubah biru dan seorang lagi berjubah coklat.
Si jubah coklat ini usianya sudah enam puluh tahunan, rambutnya yang riap-riapan itu sudah setengahnya putih, matanya berkilauan dan tajam sekali, wajahnya membayangkan kekerasan hati.
Dengan matanya yang tajam dia memandang kepada Pek Lian dan dua orang gurunya, lalu berkata dengan suara mengandung ejekan.
"Huh, kiranya Bu-suheng telah menjadi penakut dan mengandaikan bantuan orang luar, hehe...!"
"Bhong-sute, jangan menuduh sembarangan. Ketiga orang ini adalah tamu-tamu yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan urusan kita. Akan tetapi murid-muridmu yang tak tahu diri dan menyerang mereka." (Lanjut ke
Jilid 02) Darah Pendekar (Seri ke 01 -Serial Darah Pendekar) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo Bahan Cerita . Sriwidjono
Jilid 02
"Sudahlah,"
Kata si baju coklat.
"Katakanlah murid-muridku salah, akan tetapi mereka inipun tidak penting. Sekarang aku ingin minta dengan cara persaudaraan yang baik kepadamu, Bu-suheng. Guruku ingin melihat pusaka yang diberikan oleh mendiang kakek guru kepada mendiang supek, ayah suheng. Kata guruku, pusaka itu hanya hendak dipinjam sebentar, setelah dipelajari akan dikembalikan kepadamu."
Kakek berjenggot panjang itu menghadapi tamunya yang bersikap kasar dengan tenang. Kemudian terdengar dia berkata, suaranya tenang dan halus namun lantang dan mengandung ketegasan.
"Bhong-sute, mendiang kakek guru adalah seorang sakti yang bijaksana dan adil sekali. Diantara, tiga orang muridnya, masing-masing telah diberi sebuah pusaka, Mendiang ayahku sebagai murid pertama menerima pemberian pusaka, demikian pula ji-susiok (paman guru kedua) yang menjadi gurumu, dan juga sam-susiok (paman guru ketiga), masing-masing telah menerima pemberian pusaka. Kenapa sekarang ji-susiok ingin memiliki pusaka yang telah diberikan kepada mendiang ayahku dan telah diwariskan kepadaku?"
"Tapi suhu hanya ingin meminjam sebentar, Bu-suheng."
"Sute, engkau tentu sudah tahu, dan demikian pula ji-susiok bahwa pusaka sama dengan jiwa, tidak boleh dipinjam-pinjamkan."
"Ha-ha-ha, jiwa tidak boleh dipinjamkan akan tetapi bisa saja diambil!"
Kakek berambut riap-riapan itu tertawa.
"Mendiang sucouw kita tidak adil dalam pembagian itu, demikian kata suhu. Kalau yang lain hanya diberi sebuah kitab pusaka, ternyata supek diberi dua kitab. Yang pertama adalah rahasia ilmu tenaga dalam yang merupakan inti perguruan kita, juga supek masih diberi kitab rahasia ilmu ketabiban. Padahal guruku hanya diberi rahasia ilmu silat perguruan kita dan susiok hanya diberi rahasia ilmu ginkang kakek guru yang termasyhur itu. Nah, karena itu maka guruku merasa curiga, jangan-jangan dalam kitab ilmu ketabiban itu diterangkan mengenai kelemahan-kelemahan ilmu yang lain. Ini namanya tidak adil!"
"Sute, kita golongan muda tidak tahu sama sekali akan hal itu. Pembagian itu adalah urusan orang-orang tua. Kalau ji-susiok merasa tidak adil, kenapa tidak sejak dahulu mengurusnya dengan mendiang sucouw, atau dengan mendiang ayahku?"
"Bu Kek Siang!"
Si jubah coklat membentak sambil menudingkan telunjuknya kearah muka kakek jenggot panjang itu.
"Ucapanmu sungguh menghina! Dengan menyuruh suhu berurusan dengan orang-orang yang sudah mati, bukankah itu berarti engkau menyuruh suhu mati? Keparat..., pendeknya serahkan kitab itu atau terpaksa aku akan melakukan kekerasan!"
Sepasang mata kakek berjenggot panjang itu berkilat karena diapun marah sekali.
"Bhong Kim Cu, jangan mengira bahwa aku takut akan ancamanmu. Sebelum tubuh ini menggeletak tanpa nyawa, jangan harap untuk mendapatkan kitab pusaka kami!"
Orang yang bernama Bhong Kim Cu itu mengeluarkan suara gerengan seperti seekor binatang buas dan diapun sudah menerjang kedepan, menyerang kakek berjenggot yang bernama Bu Kek Siang itu.
Kakek berjenggot itupun menyambut serangan ini dengan sikap tenang dan merekapun sudah saling serang dengan hebat, masing-masing mengeluarkan pukulan-pukulan yang mengandung tenaga sinkang sedemikian hebatnya sehingga terasa angin menyambar-nyambar disekitar tempat itu.
Sementara itu si baju biru yang baru datang bersama Bhong Kim Cu itupun sudah maju dan disambut oleh pemuda jangkung putera Bu Kek Siang dan merekapun ternyata memiliki kepandaian seimbang sehingga terjadilah pertandingan yang amat seru.
Ketika si baju biru yang pertama hendak maju Pek Lian membentak.
"Mari kita lanjutkan pertandingan kita!"
Dan iapun sudah menyambut dengan pedangnya.
Akan tetapi, tiba-tiba dua orang berbaju hijau telah menerjangnya dari kanan kiri sehingga terpaksa Pek Lian melayani pengeroyokan dua orang ini.
Sedangkan si baju biru telah menerjang dan disambut oleh pengeroyokan Kim-suipoa dan Pek-bin-houw.
Ternyata fihak penyerbu itu cerdik sekali.
Tadinya mereka tahu bahwa kepandaian nona berpedang itu tidak banyak selisihnya dengan kepandaian dua orang pria yang menjadi tamu ditempat itu, maka untuk mengimbangi mereka, si jubah biru lalu bertukar tempat dengan dua orang muridnya.
Kini, si jubah biru menandingi pengeroyokan dua orang kakek sedangkan nona itu yang dianggap lebih lihai dikeroyok oleh dua orang berjubah hijau.
Terjadilah pertempuran yang amat hebat dipekarangan rumah kuno itu.
Memang fihak penyerbu cerdik sekali.
Setelah bertukar tempat, kini jelaslah bahwa dikeroyok oleh dua orang jubah hijau, Pek Lian mulai terdesak Dua orang itu juga sudah mengeluarkan senjata, yaitu keduanya mempergunakan semacam cambuk baja bergigi, semacam joan-pian ak.an tetapi dibentuk mengerikan, seperti ekor ikan pihi yang panjang.
Menghadapi kedua orang lawan ini, Pek Lian terdesak dan terpaksa ia memutar pedangnya untuk melindungi tubuhnya dari desakan dua buah senjata panjang yang berbahaya itu.
Sedangkan Kim-suipoa dan Pek-bin-houw sudah mainkan senjata pikulannya yang tak pernah terpisah dari tubuhnya itu, akan tetapi si baju biru itu biarpun bertangan kosong, ternyata memiliki gerakan ilmu silat yang aneh dan cepat sekali.
Perobahan-perobahan gerakan kedua tangannya amat hebat dan juga gerakan kedua kakinya gesit dan kadang-kadang si jubah biru ini berloncatan dan meni haritam dengan tiba-tiba secara tidak terduga-duga, membuat kedua orang pendekar itu benar-benar kewalahan.
Sebaliknya, pertandingan antara pemuda jangkung dan jubah biru yang lain amat ramai, sungguhpun perlahan-lahan si pemuda dapat mendesak lawan.
Juga tuan rumah, yaitu kakek jenggot panjang yang bernama Bu Kek Siang itu mulai dapat mendesak lawan.
Si jubah coklat yang bernama Bhong Kim Cu itu memang memiliki ilmu silat yang lebih hebat dari pada lawannya, lebih cekatan dan perobahan pada gerakan tangannya amat aneh dan indah sehingga dia dapat memperoleh lebih banyak kesempatan untuk melakukan serangan terhadap lawan.
Namun jelaslah bahwa dalam hal tenaga dalam, dia kalah oleh tuan rumah.
Setiap kali mereka bertemu lengan, tentu si jubah coklat itu terhuyung, dan dengan kelebihan tenaga dalam inilah fihak tuan rumah dapat menahan lawan.
"Manusia-manusia tak tahu malu!"
Tiba-tiba nampak dua bayangan berkelebat dan ternyata seorang nenek dan seorang dara muda telah berloncatan keluar dan masing-masing membawa sebatang pedang, lalu keduanya menerjang kedalam medan pertempuran.
Mereka tadi telah melihat siapa yang perlu dibantu, maka dara cantik seperti bidadari tadi telah menggunakan pedangnya membantu Pek Lian sehingga tentu saja dua orang berjubah hijau itu seketika berbalik terdesak oleh dua orang dara cantik itu.
Sedangkan nenek itupun segera menyerbu dan membantu Kim-suipoa dan Pek-bin-houw.
Gerakan pedangnya juga amat kuat sehingga si jubah biru yang hanya lebih unggul sedikit saja menghadapi pengeroyokan dua orang pendekar itu, kini menjadi terdesak hebat dan terus main mundur.
Melihat keadaan yang amat tidak menguntungkan ini, dimana semua anggauta fihaknya terdesak dan kalau dilanjutkan tentu akan menderita kekalahan mutlak, Bhong Kim Cu lalu mengeluarkan siulan nyaring dan meloncat mundur, diturut oleh semua muridnya dan tanpa mengeluarkan kata-kata lagi, lima orang itupun melarikan diri dan menghilang kedalam gelap.
Setelah semua lawan menghilang, kakek itu menarik napas panjang, lalu dia bersama keluarganya, yaitu isterinya, puteranya dan puterinya, menghadapi Pek Lian dan dua orang gurunya.
Kakek itu menjura dan berkata dengan halus.
"Kami sekeluarga menghaturkan terimakasih atas bantuan nona dan ji-wi sicu."
Tentu saja Pek Lian dan dua orang gurunya menjadi kikuk sekali dan tergopoh-gopoh mereka membalas penghormatan mereka. Kim-suipoa mewakili rombongannya berkata sambil tersenyum ramah.
"Ah, harap cuwi tidak bergurau! Mana bisa dinamakan bahwa kami membantu cuwi? Bahkan kalau tidak ada toanio dan siocia yang menolong, mungkin kami bertiga telah mati konyol Kepandaian kami bertiga disatukan ini saja masih belum dapat menyamai kelihaian putera-puteri Lo-cianpwe."
Ucapan ini bukan hanya merupakan sikap merendahkan diri saja, melainkan mengandung kebenaran yang benar-benar merupakan pukulan dan kekecewaan bagi mereka bertiga.
Mereka kini baru sadar dan seolah-olah baru terbuka mata mereka bahwa kepandaian mereka yang selama ini mereka anggap sudah cukup lihai, ternyata belum apa-apa.
Berturut-turut mereka bertemu dengan orang-orang yang amat lihai, yang memiliki ilmu kepandaian jauh lebih tinggi dari pada mereka, membuat mereka merasa bodoh sekali.
"Sekarang kami mohon diri dan maafkanlah kalau kami bertiga tanpa sengaja telah mengganggu cuwi,"
Kata pula Kim-suipoa dan mereka bertiga lalu menjura dan berpamit.
"Ah, malam telah mulai larut dan bulan bersembunyi dibalik awan, malam akan gelap. Sebaiknya kalau sam-wi bermalam saja disini untuk malam ini,"
Kata kakek Bu Kek Siang dengan ramah.
"Maaf, kami tidak ingin mengganggu Lo-cianpwe lebih lama lagi,"
Kini Pek-bin-houw berkata.
"Tidak ada yang mengganggu. Kalian boleh bermalam disini, kecuali kalau kalian merasa takut akan ancaman lawan terhadap tempat ini, tentu kami tidak dapat menahan kalian "
Kata nenek itu pula. Pek Lian mengerutkan alisnya dan ia menjawab.
"Biarpun kami tidak mempunyai kepandaian, namun kami tidak takut akan ancaman orang jahat! Kami dapat melawan sampai titik darah terakhir untuk menentang kejahatan!"
Kakek berjenggot itu tersenyum menyaksikan semangat nona ini, dan pemuda jangkung itupun lalu berkata.
"Maafkan kalau tadi kami semua merasa curiga kepada nona dan paman berdua. Akan tetapi, sekarang kami tahu bahwa paman berdua adalah Kim-suipoa dan Pek-bin-houw, dua orang pendekar terkenal disepanjang lembah Huang-ho dan Yang-ce itu, bukan?"
Dua orang itu terkejut dan menjura.
"Ah, sungguh pengetahuan kami dangkal bukan main, Taihiap telah mengenal kami, sebaliknya kami sama sekali tidak pernah menduga akan bertemu dengan orang-orang sakti yang sama sekali belum pernah kami kenal namanya. Maaf, maaf"
Kata Kim-suipoa.
"Masuklah dan jadilah tamu kami untuk malam ini, dan kami akan memperkenalkan diri,"
Kata kakek Bu Kek Siang dengan ramah.
Kini tiga orang itu tidak berani menolak lagi, apa lagi ketika dara yang cantik jelita dan manis sekali itu segera menggandeng tangan Pek Lian dan berkata dengan manis.
"Enci, engkau gagah sekali, aku suka padamu!"
Pek Lian juga tersenyum dan balas merangkul.
"Ah, tidak ada setengahnya kepandaianmu, adik yang manis."
Merekapun beramai-ramai memasuki rumah itu dan dibawah penerangan beberapa buah lilin, karena keluarga itu tidak berani membuat terlalu banyak penerangan, tiga orang tamu ini lalu dijamu dengan makanan malam sederhana.
Namun, kesederhanaan jamuan dan sikap fihak tuan rumah yang amat ramah itu cukup menggembirakan para tamu itu dan sebentar saja mereka telah berkenalan dengan akrab sekali.
Terutama sekali Pek Lian yang segera menjadi sahabat baik dari dara yang bernama Bu Bwee Hong itu.
Dalam percakapan mereka, Bu Seng Kun, pemuda jangkung itu, mewakili keluarganya menceritakan keadaan keluarga Bu.
Ayahnya bernama Bu Kek Siang, seorang pewaris ilmu tinggi sekali namun yang tidak suka akan ketenaran nama sehingga sampai bertahun-tahun mereka sekeluarga itu tinggal dirumah kuno ditempat sunyi ini, tanpa mencampuri urusan dunia karena menurut ayahnya, dunia sedang kacau dan negeri dikuasai oleh orang-orang yang suka menindas rakyat demi mencapai keinginan mereka untuk menyenangkan diri mereka sendiri.
Seperti juga suaminya, nyonya Bu pandai ilmu silat pula, terutama memiliki ginkang yang mengagumkan.
Suami-isteri pendekar yang mengasingkan diri ini mempunyai dua orang anak, yaitu Bu Seng Kun yang kini telah berusia dua puluh tahun dan Bu Bwee Hong yang cantik jelita dan manis seperti bidadari itu, yang telah berusia delapan belas tahun.
Mereka berdua mewarisi ilmu-ilmu silat ayah mereka, dan juga ilmu ketabiban.
Biarpun mereka berdua tinggal didalam hutan dan hanya berhubungan dengan penghuni dusun disekitarnya, dan jarang pergi mengunjungi kota, namun keduanya terdidik baik sekali dalam hal kesusasteraan oleh ayah mereka sendiri.
Dirumah gedung yang kuno dan besar itu, mereka mempergunakan tenaga beberapa orang dusun sebagai pelayan, akan tetapi semenjak datang gangguan-gangguan itu beberapa hari yang lalu, semua pelayan disuruh pulang kedusun agar mereka itu tidak ketakutan dan tidak perlu terancam bahaya karena keluarga mereka.
"Kalau boleh kami mengetahui, keluarga Lo-cianpwe ini dari perguruan manakah?"
Kim-suipoa memberanikan diri bertanya sedangkan yang lain-lain yang juga hadir disitu hanya mendengarkan saja.
Pek Lian duduk didekat Bwee Hong dan mereka itu nampak akrab sekali.
Kakek Bu Kek Siang menarik napas panjang.
"Biarpun kami tidak pernah memperkenalkan diri, namun agaknya sam-wi pernah mendengar nama kakek guruku. Kurang lebih seratus tahun yang lalu, didunia persilatan terdapat dua orang tokoh yang dianggap sebagai datuk golongan pendekar atau golongan putih, dan dua orang datuk golongan hitam atau kaum sesat. Apakah ji-wi sicu mengenal nama mereka itu?"
Tanyanya kepada Kim-suipoa dan Pek-bin-houw. Dua orang ini saling pandang dan cepat mengangguk.
"Kalau kami tidak salah, dua orang datuk golongan putih itu adalah Sin-yok-ong (Raja Tabib Sakti) yang dipuja sebagai datuk diselatan, dan kedua adalah Sin-kun butek (Tangan Sakti Tanpa Tanding) yang menjadi datuk diutara. Sedangkan dua orang datuk kaum sesat itu kalau tidak salah adalah Cui-beng Kui-ong (Raja Iblis Pengejar Roh) yang mendirikan Tai-bong-pai, dan yang kedua adalah Kim-mou Sai-ong (Raja Singa Bulu Emas) pendiri dari Soa-hu-pai. Benarkah?"
Kakek itu mengangguk-angguk dan mengacungkan jempolnya.
"Ternyata ji-wi mempunyai pengetahuan yang cukup luas. Nah, agaknya, jarang ada yang tahu karena memang murid-murid beliau tidak pernah menonjolkan diri. Akan tetapi, mendiang Sin-yok-ong mempunyai tiga orang murid. Yang pertama adalah mendiang ayahku, dan masih ada dua orang lagi, yaitu ji-susiok (paman guru kedua) dan sam-susiok (paman guru ketiga). Nah, mereka yang datang tadi adalah murid-murid atau para pengikut dari ji-susiok."
"Ah...!"
Kim-suipoa berseni kaget dan heran.
"Maaf, Lo-cianpwe. Kiranya keluarga Lo-cianpwe adalah keluarga yang mewarisi ilmu dari seorang yang terpandai diantara empat tokoh besar itu seperti yang pernah saya dengar dari guru saya. Akan tetapi, Lo-cianpwe Sin-yok-ong terkenal sebagai seorang pendekar sakti yang budiman, dan kami tidak heran melihat Lo-cianpwe sebagai keturunan beliau. Hanya anehnya, mengapa para murid-murid dari ji-susiok lociannwe tadi seperti itu sikapnya seolah-olah maaf, seolah-olah mereka itu dari golongan sesat saja?"
Kembali kakek itu menarik napas panjang.
"Nyatanya memang demikianlah. Mereka berjumlah tiga puluh orang, termasuk ji-susiok. Ji-susiok sendiri berjubah hitam, mempunyai dua orang murid berjubah coklat, dan setiap orang murid itu mempunyai masing-masing dua orang murid berjubah biru, yang berjubah biru masing-masing mempunyai dua orang murid berjubah hijau dan yang berjubah hijau masing-masing mempunyai dua orang murid berjubah kuning. Jadi jumlah keseluruhannya tiga puluh satu yang merupakan tenaga inti dari perguruan ji-susiok. Para pelayan dan penjaga adalah orang-orang biasa yang tidak termasuk murid perguruan itu."
"Tapi, kalau Lo-cianpwe Sin-yok-ong terkenal sebagai seorang pendekar sakti yang budiman, bagaimana muridnya."
"Tak perlu diherankan, sicu. Apakah seorang guru itu dapat menentukan watak atau cara hidup muridnya, apa lagi kalau guru itu sudah meninggal dunia? Tidak. Watak dan cara hidup seseorang hanya ditentukan oleh si orang itu sendiri, dan mungkin saja keadaan sekelilingnya amat mempengaruhinya. Oleh karena itu, kami lebih senang tinggal ditempat sunyi, bergaul dengan kembang-kembang, tumbuh-tumbuhan dan binatang-binatang hutan. Atau paling banyak kami bergaul dengan orang-orang gunung dan dusun yang masih bersih dan polos batinnya."
Dua orang pendekar itu mengangguk dengan penuh kekaguman.
"Lo-cianpwe adalah pewaris dari mendiang Raja Tabib Sakti, sungguh kami merasa berbahagia sekali dapat kesempatan berjumpa dengan Lo-cianpwe sekeluarga,"
Kata Pek-bin-houw.
"Tidak biasa kami memperkenalkan diri, dan kalau kami menceritakan keadaan kami kepada sam-wi, adalah karena sam-wi telah mendengar akan semua urusan tadi. Harap sam-wi suka menyimpan rahasia kami ini dan tidak menceritakan kepada orang-orang luar, karena kami tidak suka akan banyak urusan."
Para tamu itu menyatakan kesanggupannya dan fihak tuan rumah lalu mempersilahkan para tamunya beristirahat didalam kamar tamu yang banyak terdapat dalam rumah besar itu.
Akan tetapi Pek Lian menolak dan berkata.
"Bagaimana kami dapat tidur kalau keluarga tuan rumah terancam bahaya? Tidak, saya akan bergadang dan ikut menjaga kalau-kalau ada fihak penjahat yang berani datang lagi. Sungguh tidak enak kalau selagi kami tidur, fihak tuan rumah sibuk menghadapi serbuan lagi."
"Wah, enci, kami jadi merepotkan engkau saja, bukankah kau datang untuk beristirahat dan bukan untuk berjaga?"
Bwee Hong mencela sambil tertawa.
"Tapi sekarang kita sudah berkenalan dan tak dapat dikatakan tamu orang luar. Biarlah aku akan menemanimu dan kalau ada bahaya, biarpun aku bodoh, aku akan menyumbangkan tenagaku dan aku tidak takut mati ditangan penjahat untuk membela kebenaran!"
Ucapan ini juga sambil tertawa, akan tetapi pandang mata yang tajam dari kakek berjenggot itu dapat menyelami hati dara itu dan diam-diam dia merasa kagum.
"Bagus, engkau sungguh seorang berdarah pendekar, nona. Baiklah kalau begitu, akan tetapi kami belum banyak mendengar tentang dirimu. Ceritakanlah sedikit tentang keluargamu."
Ditanya demikian, tiba-tiba Pek Lian menundukkan mukanya dan wajahnya yang tadinya bersemangat dan terang itu menjadi muram dan sampai lama ia tidak mampu menjawab.
Terbayanglah kembali ia kepada ayahnya dan hatinya menjadi berduka sekali.
Tak dapat ditahannya lagi, kedua matanya menjadi basah dan ia menahan turunnya air mata dengan memejamkan kedua matanya.
Melihat ini, Bu Kek Siang mengerutkan alisnya.
Baru saja dia kagum menyaksikan kegagahan dan semangat dara ini dan sekarang dia harus melihatnya menjadi wanita yang cengeng!
Dia merasa kecewa dan mengira bahwa dia telah salah menilai orang.
Sementara itu, Kim-suipoa lalu berkata dengan suaranya yang ramah.
"Lo-cianpwe, harap maafkan nona Ho yang dilanda kedukaan. Agaknya sukar baginya untuk menceritakan keadaannya dan karena kita telah saling berkenalan, kiranya tidak ada salahnya kalau saya menceritakan keadaannya. Bolehkah, Ho-siocia?"
"Silahkan, suhu..."
Kata Pek Lian dengan suara lirih dan gemetar.
Semua anggauta tuan rumah heran mendengar betapa Kim-suipoa menyebut nona kepada dara itu dan sebaliknya dara itu menyebut suhu.
Kim-suipoa lalu menceritakan keadaan keluarga Ho yang mengalami bencana ditangan Kaisar itu.
Menteri Kebudayaan Ho Ki Liong adalah seorang duda, dalam arti kata, isterinya yang pertama, yaitu ibu Pek Lian, telah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu karena penyakit.
Kini Menteri Ho tinggal bersama dua orang selirnya, dua orang adik perempuan dan seorang ipar bersama para keponakan dan pelayan-pelayan.
Ketika Menteri Ho terkena musibah itu, seluruh keluarganya ditangkap dan dijebloskan penjara, dan hanya Ho Pek Lian seoranglah yang berhasil meloloskan dirinya.
Kemudian Kim-suipoa menceritakan usaha mereka untuk membebaskan Menteri Ho dan betapa mereka bertanding melawan seorang tokoh dari Soa-hu-pai yang berjuluk Pek-lui-kong, dan betapa dalam keadaan hampir berhasil, Menteri Ho sendiri yang mencegah mereka dan menyuruh mereka pergi.
Betapa kemudian mereka bertiga yang menuju ke puncak Awan Biru di Fu-niu-san, mengambil jalan darat dan kemalaman serta tersesat sampai ketempat itu.
"Penasaran...!!"
Tiba-tiba terdengar Bu Seng Kun menghantamkan tangan kanan ketelapak tangan kiri sendiri sehingga mengeluarkan bunyi keras dan mengejutkan semua orang.
Pemuda ini bangkit berdiri, wajahnya yang tampan itu kelihatan merah padam.
"Bagaimana negara dan bangsa kita dipimpin oleh seorang Kaisar yang begitu laknat? Kami sudah mendengar tentang ratusan ribu rakyat yang dipaksa membangun Tembok Besar dan ratusan ribu orang tewas. Kini Kaisar malah membakari kitab-kitab Nabi Khong Cu dan membunuhi para sasterawan! Sungguh, nama besar Menteri Ho yang membela kaum sasterawan dan berani menentang Kaisar sampai berkorban keluarga patut dijunjung tinggi, akan tetapi mengapa membiarkan diri mati penasaran?"
Dia duduk kembali dan berkata dengan marah.
"Kelaliman, dari siapapun juga datangnya, harus ditentang!' Sunyi dan hening sejenak setelah pemuda itu mengeluarkan perasaannya melalui kata-kata keras. Kemudian terdengar suara kakek Bu Kek Siang yang halus, mendinginkan suasana yang panas itu.
"Seribu kepala seribu pendapat dan seribu hati seribu selera! Seng Kun, engkau harus dapat menghargai pendapat dan selera lain orang. Karena engkau masih muda dan berdarah panas maka engkau tidak dapat mengerti mengapa Menteri Ho yang budiman itu menolak puterinya menyelamatkannya. Kalau beliau dipaksa dan dibebaskan, hal itu hanya akan menghancurkan hati beliau dan beliau akan merasa terhina sekali."
"Tapi...!"
Pek Lian yang merasa cocok dengan pendapat Seng Kun tadi hendak membantah, akan tetapi lengannya disentuh oleh gurunya.
"Nona, ayahmu yang mulia itu adalah seorang patriot sejati, seorang pendekar besar yang didalam bidangnya sendiri telah berbakti kepada negara dan bangsa, sama sekali bukan kepada Kaisar lalim. Beliau sengaja menentang Kaisar, sengaja membiarkan dirinya ditangkap agar semua mata para pendekar terbuka. Beliau memberi contoh untuk melawan Kaisar dengan taruhan nyawa. Beliau juga memberontak kepada Kaisar, akan tetapi bukan dengan cara kasar dari orang-orang golongan bu (silat) seperti kita. Beliau menentang dan memberontak dengan cara halus, akan tetapi hasilnya tidak kalah besarnya. Kaisar akan nampak semakin buruk dalam pandangan kaum patriot sehingga hal itu akan menambah kekuatan mereka yang menentang Kaisar. Ayahmu memiliki kegagahan dan keberanian menentang maut, lebih besar dari pada kita menentang maut dengan pedang ditangan! Aku amat menghormatinya, nona."
Setelah mengenal Pek Lian sebagai puteri Menteri Ho dan dua orang guru nona itu sebagai para pendekar patriot yang membantu Liu Pang, Bengcu yang amat terkenal dan dihormati oleh semua orang gagah itu, hubungan antara tamu dan tuan rumah menjadi semakin akrab.
Mereka lalu melakukan penjagaan dan perondaan dilakukan secara bergilir.
Pek Lian bersama Bwee Hong berada didalam kamar nona rumah itu, bercakap-cakap dan kemudian mereka mengaso dengan duduk bersila dan melakukan siulian.
Bagi orang-orang yang telah mempelajari ilmu silat tinggi seperti mereka, tidak tidurpun tidak menjadi persoalan dan mereka cukup duduk bersila membiarkan tubuh mereka dan pikiran mereka beristirahat, Namun kesadaran mereka masih ada dan biarpun mereka seperti dalam keadaan tidur, namun sedikit perobahan keadaan saja sudah cukup untuk membuat mereka sadar.
Mereka tetap waspada.
Kakek Bu bersama isterinya juga beristirahat didalam kamar mereka.
Kim-suipoa duduk bersila seorang diri diruangan tengah, sikapnya penuh kewaspadaan.
Pek-bin-houw dan Bu Seng Kun tadinya juga berjaga disitu, akan tetapi mereka berdua lalu melakukan perondaan disekitar tempat itu dengan hati-hati dan waspada sekali.
Sambil meronda, Pek-bin-houw yang merasa amat tertarik oleh keluarga yang menjadi pewaris ilmu dari tokoh datuk yang hidup seabad yang lalu, yaitu Sin-yok-ong itu, mengajak si pemuda untuk membicarakan soal perguruannya.
"Saya pernah mendengar bahwa seabad yang lalu, nama Sin-yok-ong merupakan nama yang amat hebat dan terkenal diseluruh dunia sebagai tokoh yang paling lihai diantara datuk-datuk lainnya yang pernah ada."
"Menurut keterangan ayah memang ada benarnya demikian. Akan tetapi sesungguhnya ilmu silat empat orang datuk itu, dua dari golongan putih dan dua dari golongan hitam, berimbang tingkatnya. Hanya karena sucouw Sin-yok-ong itu memiliki ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang hampir dikatakan sempurna, maka beliau mempunyai kelebihan dari pada yang lain, dan agaknya itulah kemenangannya. Sayang bahwa kami sekeluarga tidak mewarisi ginkang yang hebat itu,"
Kata Bu Seng Kun.
"Menurut kata-kata Bhong Kim Cu si jubah coklat itu, keluargamu menerima dua macam ilmu, taihiap."
Bu Seng Kun menarik napas panjang.
"Menurut penuturan ayah, diantara tiga orang murid beliau, tidak ada yang memiliki bakat hebat seperti beliau sehingga tidak ada yang dapat menguasai semua ilmu dari sucouw Sin-yok-ong itu. Maka agar adil, sucouw lalu membagi bagi ilmunya, disesuaikan dengan bakat masing-masing. Kakekku, sebagai murid pertama, menerima pusaka tentang latihan tenaga dalam. Murid kedua menerima kitab pusaka tentang ilmu-ilmu silat dari sucouw dan rahasia-rahasianya, sedangkan murid yang termuda menerima kitab pusaka tentang ilmu ginkang beliau yang hebat itu."
"Sayang bahwa kepandaian yang hebat dari mendiang Sin-yok-ong harus dibagi-bagi seperti itu. Akan tetapi keluarga taihiap selain menerima pusaka, tentang Iweekang, juga memperoleh pusaka ilmu pengobatan."
"Benar, akan tetapi justeru ilmu ini sekarang akan dijadikan rebutan dan karenanya memecah-belah persaudaraan seperguruan,"
Kata si pemuda dengan suara menyesal sekali.
"Lalu dimanakah murid termuda yang ahli ginkang itu kini?"
Pek-bin-houw merasa amat tertarik.
"Entahlah, sejak kakekku meninggal beliau tidak pernah terdengar lagi berada dimana. Ilmu ginkangnya, menurut ayah, amat hebat, bahkan tidak kalah hebatnya dengan ilmu ginkang yang pernah dimiliki oleh sucouw Sin-yok-ong sendiri."
"Ah, bukan main! Saya kira didunia ini tidak ada lagi orang yang dapat menyamai kesempurnaan ginkang dari Sin-yok-ong seperti yang pernah saya dengar dari guru saya."
"Paman keliru,"
Bantah Bu Seng Kun.
"Pada jaman sucouw itu, masih ada seorang lagi dari golongan hitam yang malang-melintang diutara dan selatan. Dia ini memiliki ginkang yang boleh dibilang setingkat dengan sucouw, biarpun ilmu silatnya tidak setinggi tingkat keempat orang datuk itu. Tokoh ini amat terkenal, terutama didunia kang-ouw, dikalangan liok-lim dan bahkan ditakuti oleh pemerintah pada waktu itu. Nama julukannya adalah Bit-bo-ong (Raja Kelelawar)."
"Ah, saya pernah mendengar tentang Raja Kelelawar itu. Seperti dalam dongeng saja dan tidak saya sangka bahwa benar-benar ada orangnya. Kabarnya, tokoh ini menguasai semua golongan hitam, baik dari para pencopet paling kecil sampai maling, perampok, tukang tadah, penjudi dan tempat pelacuran semua dikuasainya. Katanya ilmu silatnya juga hebat sekali. Dia dijuluki Raja Kelelawar karena keluarnya hanya dimalam hari, tidak pernah keluar disiang hari. Benarkah itu?"
"Kabarnya demikian menurut cerita ayah. Yang sungguh menyedihkan, kalau dulu sucouw amat terpandang sebagai datuk para pendekar sedangkan Raja Kelelawar sekalipun tidak berani main-main didepannya. Akan tetapi murid-muridnya membuat perguruan menjadi terpecah-belah, dan sekarang malah paman kakek guru kedua mengirim murid-muridnya untuk memaksa ayah menyerahkan kitab pusaka yang menjadi hak milik ayah. Sungguh membikin hati penasaran dan menyesal sekali. Mengapa bermusuhan antara saudara seperguruan sendiri sehingga hanya menimbulkan kelemahan diantara saudara sendiri?"
Pek-bin-houw menarik napas panjang.
Dia sudah banyak pengalaman dan tidak merasa heran.
Betapapun tinggi kedudukan seorang manusia, betapapun pandainya dia, selama sang aku masih menguasai diri, sang aku yang selalu mengejar kelebihan, sudah pasti hidup ini menjadi arena persaingan, permusuhan dan kebencian, Dia adalah orang luar, tidak berhak mencampuri urusan keturunan datuk sakti itu.
Akan tetapi, melihat betapa sikap Bu Seng Kun demikian polos, demikian terbuka terhadap dirinya, diapun merasa tidak enak kalau hanya diam saja.
"Bu-taihiap, sungguh patut disayangkan bahwa ilmu-ilmu dari mendiang kakek buyut gurumu itu, Sin-yok-ong Lo-cianpwe, telah terpecah-pecah dan terbagi-bagi sehingga tentu saja menjadi berkurang kelihaiannya. Siapa tahu kalau-kalau usaha peminjaman pusaka itu bermaksud untuk mempersatukan kembali ilmu-ilmu yang tercecer-cecer itu? Apakah tidak pernah taihiap mempunyai minat untuk mempelajari semua ilmu keturunan perguruan taihiap, dengan jalan mempersatukan dan saling mempelajari dengan ilmu-ilmu yang terjatuh kepada murid-murid yang lain?"
"Ahhh...!"
Bu Seng Kun terbelalak dan berteriak kaget.
"Benar juga kata-katamu, paman! Kenapa keluarga kami tidak berpikir sejauh itu? Bukankah lebih baik kalau kami memberikan kitab itu dan sebaliknya meminjam pusaka mereka dan kami saudara-saudara seperguruan saling mempelajarinya sehingga kami semua dapat mewarisi seluruh ilmu dengan lengkap?"
Pek-bin-houw tersenyum.
"Sebuah pikiran yang baik sekali, butaihiap. Akan tetapi, melihat sikap mereka, agaknya mereka itu tidak dapat digolongkan pendekar-pendekar dan mungkin saja akan bertindak curang. Bagaimanapun juga, sebaiknya kalau taihiap memperbincangkannya dengan ayah taihiap."
Mereka terus meronda dan bulan sudah naik tinggi.
Keadaan amat sunyi sekali.
Sunyi yang mengerikan karena mereka masih menduga akan adanya ancaman pihak yang tidak beritikad baik terhadap keluarga Bu.
Tiba-tiba saja keadaan menjadi terang-benderang didaerah hutan itu.
Kiranya awan tipis yang tadinya lewat dan menghalangi sinar bulan, kini lenyap dan bersih terbawa angin.
Langit nampak terang dan bulan tidak terhalang apapun sehingga dapat menjatuhkan sinarnya kebumi, sepenuhnya.
Pek-bin-houw dan Bu Seng Kun yang mengadakan perondaan, tiba ditepi hutan.
Keadaan tetap amat sunyi dan tiba-tiba terdengar bunyi gonggong anjing dari jauh.
Bukan seperti anjing menggonggong kearah bulan purnama, dengan suara yang menyayat hati, seolah-olah anjing yang menggonggong bulan itu menjadi berduka dan menangis, melainkan gonggong anjing pelacak!
"Sungguh aneh, suara itu bukan suara anjing hutan,"
Kata Bu Seng Kun.
"Dan setahuku, disini tidak ada anjing jinak peliharaan orang."
Akan tetapi, Pek-bin-houw memegang lengannya dan menarik pemuda itu menyelinap dibalik sebatang pohon besar yang gelap dalam bayangan daun-daun lebat.
Hidung pendekar tua itu bergerak mencium-cium seperti hidung anjing pelacak pula.
"Mereka datang..."
Bisik kakek itu dan mukanya berobah pucat.
"Apa...? Siapa...?"
Seng Kun bertanya, heran sekali melihat kakek pendekar yang gagah perkasa itu nampak seperti orang ketakutan.
"Ssttt... tunggu dan lihatlah..."
Kata kakek itu.
Pemuda itu kini dapat pula mencium bau harum.
Namun dia masih belum mengerti.
Dan tak lama kemudian, terdengar lagi gonggong anjing bahkan suaranya ada beberapa ekor.
Kemudian muncullah empat orang yang memikul sebuah keranjang bambu yang besar dan panjang.
Pek-bin-houw memandang kepada rombongan orang itu dengan mata terbelalak dan muka pucat.
Memang keadaan mereka itu amat memeramkan.
Pakaian mereka putih-putih dan wajah mereka yang tertimpa sinar bulan itu nampak pucat seperti muka mayat, muka orang yang jarang terkena sinar matahari rupanya.
Mereka semua ada delapan orang, empat orang memikul keranjang dan empat orang lagi menjaga dikanan kiri.
Empat ekor anjing hitam, putih, coklat dan belang berjalan bersama rombongan ini, kadang-kadang dibelakang kadang-kadang mendahului didepan.
Anjing-anjing biasa saja, tidak terlalu besar, namun mereka itu nampak liar dan ganas.
Setelah tiba diluar hutan, delapan orang itu berhenti, dengan hati-hati empat orang pemikul keranjang bambu itu menurunkan keranjang dan seorang diantara empat yang lain, yang suaranya nyaring halus mengandung wibawa yang menyeramkan, berkata.
"Kita telah sampai ditempat yang dituju. Kalian harus berhati-hati. Suhu bilang bahwa ilmu silat keturunan Lo-cianpwe Sin-yok-ong amat lihai. Biarlah kita berhenti disini dulu, nanti setelah lewat tengah malam kita mengetuk pintu."
Sementara itu, Bu Seng Kun yang memandang penuh perhatian, tidak juga mengenal siapa adanya orang-orang aneh yang berpakaian putih dan bermuka pucat itu.
Melihat bahwa agaknya kakek Pek-bin-houw mengenal mereka, maka diapun berbisik lirih bertanya.
"Ah, apa kau tidak dapat menduga, taihiap? Mereka itu jelas adalah orang-orang dari Kuburan Besar, iblis-iblis dari Tai-bong-pai!"
Kini Seng Kun terkejut sekali dan memandang kearah rombongan orang yang berhenti agak jauh dari situ dengan penuh perhatian.
Tentu saja dia sudah mendengar banyak tentang Tai-bong-pai.
Nama Tai-bong-pai muncul pada jaman kakek buyut gurunya, kira-kira seabad yang lalu.
Karena agaknya Pek-bin-houw tahu banyak tentang partai ini, maka dia bertanya lagi.
"Paman, benar-benar hebatkah mereka itu?"
"Mereka mengerikan!"
Kata Pek-bin-houw lirih.
"Akan tetapi kenapa mereka itu datang kesini? Padahal, mereka hampir tidak pernah keluar dari sarang mereka, yaitu sebuah kuburan kuno yang amat luasnya, yaitu bekas kuburan para bangsawan dijaman dahulu dan yang letaknya jauh didaerah barat melalui Gurun gobi. Kuburan dibawah tanah itu berisi kamar-kamar seperti sebuah Istana dengan benteng yang kuat dan luas. Seratus tahun lebih yang lalu, tempat ini dimanfaatkan oleh seorang datuk iblis yang membuat jalan-jalan terowongan antara makam-makam itu dan dijadikan sarang, turun-temurun sampai sekarang."
Seng Kun mengangguk-angguk kagum.
"Iblis-iblis Tai-bong-pai ini mudah diketahui karena kemunculan mereka tentu membawa bau dupa dari tubuhnya apabila mereka berkeringat. Akan tetapi mereka itu jarang sekali keluar sehingga keadaan mereka tidak dikenal orang."
"Paman, mari kita keluar dan kita temui mereka. Mereka tiba didaerah kami, perlu kutanya apa maksud mereka mengunjungi kami ditengah malam begini,"
Kata Seng Kun.
Selagi Pek-bin-houw meragu karena maklum betapa berbahayanya bertemu dengan iblis-iblis atau kawanan Tai-bong-pai itu, tiba-tiba ada anjing menggonggong didekat mereka.
Tentu saja anjing-anjing itu dengan mudah dapat menemukan tempat persembunyian mereka dan kini empat ekor anjing pelacak itu sudah mengurung mereka dan menggonggong dengan ribut sekali.
Melihat keadaan anjing-anjing mereka itu, seorang diantara delapan orang aneh itu sekali menggerakkan kakinya sudah mencelat dan tiba didepan Seng Kun dan Pek-bin-houw yang terpaksa harus keluar dari tempat persembunyian mereka.
"Orang-orang jahat, keluarlah dari tempat persembunyian kalian untuk menerima hukuman!"
Kata orang Tai-bong-pai itu yang ternyata adalah si pemimpin yang bersuara nyaring tadi.
Muka orang ini pucat sekali, pakaiannya putih-putih seperti orang dalam keadaan berkabung, dari mori kasar dan berlengan pendek.
Rambutnya digelung keatas dan keadaannya amat sederhana, agaknya disesuaikan dengan keadaan orang berkabung.
Ditengah dahinya terdapat sebuah benjolan sebesar kacang yang berwarna merah, membuat wajahnya nampak lebih menyeramkan lagi.
Pek-bin-houw melangkah maju dan memandang kepada orang itu, lalu berkata tenang dan sabar.
"Harap saudara jangan sembarangan memaki orang sebagai orang jahat. Sebaliknya kalianlah yang datang ditempat orang dimalam buta, sungguh amat mencurigakan."
"Nanti dulu, apakah engkau keturunan dari Raja Tabib Sakti?"
Tanya orang itu. Tentu saja Pek-bin-houw menggeleng kepalanya.
"Bukan, aku..."
"Tak perduli engkau siapa, kalau bukan keturunan Raja Tabib Sakti, engkau harus mati karena telah melihat kami!"
Berkata demikian, orang berpakaian putih itu sudah menyerang Pek-bin-houw dengan tamparan kedua tangan dari kanan kiri! "Plak-plak-plak-plakk!!"
Empat kali Pek-bin-houw diserang dan empat kali dia menangkis dengan pengerahan tenaga, akan tetapi ternyata orang itu kuat sekali dan sama sekali tidak terdorong oleh tangkisan-tangkisannya, bahkan dia sendiri merasa betapa kedua lengannya tergetar hebat!
Bukan main, pikirnya.
Kembali dia telah bertemu dengan orang yang amat lihai, yang agaknya memiliki tingkat kepandaian tidak kalah tinggi dari padanya.
Dan orang berpakaian putih itupun agaknya penasaran karena empat kali serangannya berturut-turut dapat dihindarkan lawan, maka dia mendesak terus dengan pukulan-pukulan yang semakin lama menjadi semakin dahsyat.
Pek-bin-houw mengelak, menangkis dan balas menyerang, namun dia segera terdesak oleh lawan yang memiliki gerakan silat yang luar biasa anehnya itu.
Terutama sekali bau dupa harum itu membuatnya agak muak dan pening.
Melihat keadaan Pek-bin-houw yang terdesak itu, Bu Seng Kun menjadi tidak tega, marah dan penasaran.
"Berhenti!"
Teriaknya sambil meloncat kedepan.
"Tamu dari manakah yang berani kurang aturan mengacau daerah kami?"
Si muka pucat itu menghentikan serangannya dan memandang kepada Bu Seng Kun.
"Apakah engkau keturunan Raja Tabib Sakti?"
"Benar, aku adalah anggauta keluarga Bu!"
"Maafkan kami!"
Orang itu lalu menjura dengan hormatnya kepada Bu Seng Kun.
"Karena tidak tahu, kami telah membikin ribut."
Dan tujuh orang temannya semua menjura kepada Bu Seng Kun dengan sikap hormat sekali.
Tiba-tiba terdengar seruan kaget dari Pek-bin-houw.
Ujung lengan bajunya terkena noda merah seperti terkena darah, padahal dia sama sekali tidak merasa telah terluka dalam perkelahian tadi.
Keringatnya yang keluar dilengan telah bercampur darah!
Dengan mata terbelalak dia memandang kepada bekas lawannya.
"Kau... kau menggunakan ilmu siluman apakah?"
Tanyanya gagap karena dia teringat akan ilmu-ilmu aneh dari Tai-bong-pai yang pernah didengarnya didunia kang-ouw.
Si muka pucat itu memandang kepada Pek-bin-houw, sikapnya sama sekali berbeda dengan sikapnya ketika dia menghadapi pemuda she Bu itu.
Terdengar dia mendengus, lalu berkata.
"Hemm, ilmu itu belum kukeluarkan semua. Kalau tadi dilanjutkan, sebentar kemudian engkau akan menggeletak disini tanpa darah setetespun ditubuhmu lagi, semua akan keluar membasahi tempat ini."
"Ilmu... ilmu penghisap darah...!"
Pek-bin-houw berseru kaget dan mukanya menjadi pucat.
Dia memandang kepada lengannya dan melihat betapa disetiap pori-pori lengan yang bajunya disingkapkannya itu nampak butiran-butiran darah keluar bersama keringat.
"Berterimakasihlah kepada bukongcu karena kalau tidak ada bukongcu yang menghentikan pertempuran tadi, engkau tentu sudah menjadi mayat tanpa darah. Melihat muka tuan rumah yang kami hormati, biarlah kuberi obat kepadamu."
"Tidak perlu!"
Kata Bu Seng Kun.
"Paman ini adalah tamuku, maka akulah yang wajib menolongnya."
Pemuda ini mengeluarkan sebutir pel merah dan memberikannya kepada Pek-bin-houw. Paman, telanlah pel ini."
Pek-bin-houw menjadi girang, menerima pel itu dan menelannya.
Hal ini dilihat oleh delapan orang kawanan Tai-bong-pai itu dengan pandang mata kagum.
Mereka agaknya sudah tahu akan kelihaian tuan rumah dalam ilmu pengobatan, maka mereka merasa kagum sekali betapa hanya dengan sebutir pel saja, maka seketika darah yang keluar dari lubang-lubang lengan bersama keringat itu seketika berhenti!
"Siapakah kalian?"
Bu Seng Kun bertanya.
"Benarkah dugaan kami bahwa kalian adalah para anggauta Tai-bong-pai?"
Delapan orang itu menjura dengan hormat, dan pemimpin mereka yang tadi melawan Pek-bin-houw menjawab.
"Tidak keliru dugaan bukongcu. Harap dimaafkan kalau kami mendatangkan keributan, akan tetapi kami perlu sekali untuk menghadap keturunan Raja Tabib Sakti yang kalau tidak salah bernama Bu Kek Siang taihiap dan tinggal disini."
"Beliau adalah ayahku. Kalau kalian hendak bertemu dengan keluarga kami, mengapa datang malam-malam?"
"Maaf, kongcu, akan tetapi kami tidak pernah keluar pada siang hari!"
Orang itu berkata dan agaknya merasa heran dan penasaran.
Teringatlah Seng Kun akan kebiasaan yang luar biasa dari kawanan Tai-bong-pai, yaitu mereka hanya keluar dimalam hari saja.
Maka, maklum bahwa mereka itu tentu mempunyai urusan penting sekali dan kalau dia berdua dengan Pek-bin-houw saja yang harus melayani delapan orang ini, tentu keadaannya akan berbahaya sekali.
"Kalau begitu, marilah kalian ikut bersamaku menghadap ayah."
Beramai merekapun mengikuti Bu Seng Kun menggotong lagi keranjang bambu itu.
Pek-bin-houw berjalan mengikuti mereka dari belakang, diam-diam menduga-duga apa gerangan isi keranjang bambu yang dipikul dengan amat hati-hati oleh empat orang itu.
Dia, sudah banyak mendengar akan kekejaman orang-orang aneh dari Tai-bong-pai yang terdiri dari golongan sesat, maka diapun merasa curiga dan menduga bahwa kedatangan mereka ini tentu membawa niat yang kurang baik.
Bu Seng Kun membawa para tamu itu kepekarangan luar rumah keluarganya.
Pemuda ini bersikap hati-hati sekali maka membawa mereka kepekarangan, tempat terbuka dan kedatangan mereka tentu saja dapat dilihat dengan baik oleh ayah-bundanya.
Dan memang sesungguhnyalah.
Kedatangan rombongan itu sudah dapat dilihat oleh Bu Kek Siang.
Pendekar ini telah melihat dan dapat menduga siapa yang datang berkunjung, maka diapun sudah menanti diruangan tamu yang berada didepan sebelah kanan.
"Ayah, tamu-tamu dari Tai-bong-pai datang berkunjung!"
Teriak puteranya dari luar.
"Persilahkan mereka memasuki ruangan tamu!"
Jawabnya dari dalam ruangan itu yang sudah diterangi oleh cahaya beberapa batang lilin yang dinyalakan.
Bu Seng Kun lalu mempersilahkan tamu-tamunya masuk.
Dia mendahului sebagai penunjuk, jalan sedangkan dibelakang rombongan itu berjalan Pek-bin-houw.
Ketika mereka semua memasuki ruangan tamu, ternyata disitu Bu Kek Siang telah menanti bersama isterinya, puterinya, dan juga Kim-suipoa telah siap sedia dan berada disitu Ketika delapan orang itu memasuki ruangan tamu, bau dupa menyerang hidung.
Keranjang bambu diturunkan perlahan-lahan dan delapan orang itu lalu menjura dengan hormatnya.
"Cu-wi jauh-jauh datang kesini malam-malam, tidak tahu ada urusan apakah dengan kami?"
Bu Kek Siang bertanya dengan sikap tenang dan dialah yang dapat menduga bahwa isi keranjang itu tentulah seorang manusia, mungkin yang sedang menderita sakit, karena kalau tidak begitu, apa perlunya mereka ini datang?
Selama hidupnya dia belum pernah berurusan dengan pihak Tai-bong-pai.
Akan tetapi delapan orang itu tidak menjawab.
Tiba-tiba terdengar suara melengking halus dan tinggi sekali, seperti suara beberapa ekor nyamuk beterbangan dalam ruangan tamu itu, makin lama semakin kuat dan nyaring menyakitkan telinga Kemudian, tahu-tahu diambang pintu telah berdiri seorang wanita berusia kira-kira lima puluh tahun, membungkuk dan menjura dengan sikap hormat sekali kepada pihak tuan rumah.
Bau dupa kini luar biasa kerasnya, mengalahkan bau dupa yang dibawa oleh delapan orang pertama tadi!
Wanita itupun memakai pakaian serba putih dan walaupun kainnya terbuat dari bahan yang lebih baik dari pada delapan orang tadi, namun tetap saja potongannya sederhana sekali.
Wajahnya masih membayangkan kecantikan walaupun sudah mulai keriputan, sepasang matanya yang bersinar tajam itu kini nampak diliputi kegelisahan dan kedukaan.
"Maafkan kami,"
Katanya dengan suara halus.
"Kami datang dari seberang Gurun gobi, untuk minta pertolongan keturunan dari Raja Tabib Sakti yang kami hormati. Puteri kami sedang menderita sakit hebat akibat kesalahan mempelajari ilmu perguruan kami sehingga lumpuh kaki tangannya. Sudah setahun ia menderita dan segala usaha kami sia-sia berlaka. Kemudian kami teringat bahwa dijaman dahulu, Raja Tabib Sakti merupakan satu-satunya orang yang dapat menyembuhkan segala macam penyakit yang ada didunia ini. Maka kami mencari keturunannya yang mewarisi kepandaian beliau dan mendengar bahwa butaihiap adalah keturunan itu, maka kami datang untuk minta tolong. Harap dimaafkan bahwa kami datang ditengah malam, maklumlah karena kami tidak biasa melakukan perjalanan pada siang hari."
Setelah berkata demikian, wanita itu menghampiri keranjang bambu lalu membuka tutupnya dengan hati-hati sekali.
Nampaklah seorang gadis yang berwajah cantik rebah disitu.
Namun gadis itu kurus sekali dan wajahnya, lehernya, kedua tangan yang tidak tertutup itu nampak pucat kebiruan seperti membeku.
Bahkan bibirnyapun nampak kebiruan sehingga dipandang sepintas lalu saja orang tentu akan mengira bahwa yang rebah didalam keranjang itu tentu telah menjadi mayat Wanita itu berusaha untuk menahan perasaannya, namun tidak urung air matanya berlinang dan menuruni pipinya yang keriputan.
Agaknya karena kedukaan maka wanita ini menjadi kurus keriputan.
"Anakku..."
Bisiknya menahan isak.
Bu Kek Siang mengerling kearah puterinya sendiri yang berdiri didekat Bu Seng Kun.
Dia dapat membayangkan betapa akan sedih hatinya sebagai seorang tua kalau melihat puterinya, Bu Bwee Hong mengalami penderitaan seperti gadis dalam keranjang bambu itu.
Selain itu, diapun mempunyai watak sebagai seorang ahli pengobatan tulen, selalu merasa kasihan kepada yang sedang menderita sakit dan setiap macam penyakit merupakan musuh atau tantangan yang harus ditanggulanginya dan dikalahkannya.
Makin berat penyakit itu, makin besar pula gairah didalam batinya untuk mengalahkannya.
"Bu-taihiap, tolonglah anakku..."
Nyonya itu meratap.
"Baiklah, toanio. Biarkan aku memeriksanya."
Bu Kek Siang lalu bangkit dari tempat duduknya, menghampiri keranjang itu lalu melakukan pemeriksaan.
Diperiksanya nadi pergelangan tangan gadis itu, dibukanya pelupuk mata itu, dan setelah dia mengetuk sana-sini dengan penuh ketelitian, pendekar itu lalu kembali ketempat duduknya, menarik napas panjang berkali-kali dan setiap gerak-geriknya diikuti oleh pandang mata nyonya itu dengan penuh kegelisahan.
"Bagaimana, Bu-taihiap...?"
Akhirnya dia bertanya dengan gelisah, akan tetapi penuh harap-harap cemas.
"Keadaan puterimu memang parah, toanio. Kami suka membantu, walaupun aku tidak dapat menjamin apakah kami akan berhasil. Untuk menyembuhkan puterimu, selain pengobatan berupa obat minum dan tusuk jarum, juga dibutuhkan sinkang yang kuat dari aliran persilatan kami. Tenaga sinkangku sendiri terbatas, maka terpaksa aku harus minta bantuan anak isteriku. Kalau kami semua turun tangan, kiranya baru berhasil, walaupun aku belum yakin apakah kekuatan kami itu sudah cukup untuk menembus semua pembuluh darah dan urat-urat syaraf dalam tubuh puterimu yang seperti sudah membeku itu. Kami dengan segala senang hati akan berusaha menolongnya, akan tetapi..."
"Akan tetapi, bagaimana, taihiap...?"
Sang ibu bertanya penuh kegelisahan.
"Ketahuilah, toanio, pada saat ini keluargaku sedang mengalami gangguan dan ancaman dari... musuh-musuh kami!"
Bu Kek Siang menarik napas panjang dan merasa berduka sekali.
Alangkah akan baiknya kalau ji-susioknya itu membantunya mengobati gadis ini, bukannya memusuhinya untuk merampas kitab pusaka seperti sekarang ini.
Dengan tenaga sinkang dari ji-susioknya yang amat hebat, yang lebih tinggi dari pada ilmunya sendiri, apa lagi kalau, dibantu pula oleh sinkang dari sam-susioknya, dan dia sendiri turun tangan mengobati, pasti gadis ini akan dapat disembuhkan dengan cepat.
Mendengar keterangan tuan rumah yang amat diharapkan akan dapat menyelamatkan nyawa puterinya, wanita itu lalu menjatuhkan diri berlutut didepan Bu Kek Siang.
"Bu-taihiap, kalau taihiap bersama keluarga taihiap sudi menolong puteriku maka kami yang akan menjaga rumah ini dari gangguan siapapun juga. Kami anak murid dari Partai Kuburan Besar, biarpun bukan orang-orang yang disukai oleh kaum persilatan, akan tetapi kami tahu membalas budi kebaikan orang lain. Selama hidup turun-temurun, anak murid kami akan menjunjung tinggi budi kecintaan keluarga Bu sampai turun-temurun."
Bu Kek Siang tersenyum.
"Toanio salah sangka. Melawan penyakit mengobati orang merupakan kewajiban seorang ahli pengobatan. Bukan hanya kewajiban, juga merupakan suatu pekerjaan yang kucinta. Siapapun yang datang minta tolong kepadaku untuk diobati tentu akan kutolong tanpa pandang bulu, tanpa minta imbalan jasa, tanpa pamrih. Sekarang, baiklah kita mengadakan pembagian kerja. Aku bersama isteri dan kedua orang anakku akan mencoba untuk mengobati puterimu. Tiga orang tamu kami dapat membantu kalau mereka suka..."
Bu Kek Siang memandang kearah Pek-bin-houw, Kim-suipoa, dan Pek Lian.
Sebenarnya, Bu Kek Siang tidak mengharapkan bantuan mereka untuk mengobati gadis itu, melainkan mengharapkan bantuan mereka untuk menghadapi lawan kalau mereka muncul.
Karena, selagi melakukan pengobatan, kalau musuh-musuh itu datang sungguh amat berbahaya sekali, dan diapun belum tahu bagaimana nanti sikap orang-orang Tai-bong-pai.
"Jangan khawatir, Lo-cianpwe. Saya akan membantu keluarga Lo-cianpwe!"
Kata Pek Lian yang menghampiri Bwee Hong, gadis cantik jelita yang telah menjadi sahabat baiknya itu.
"Benar, kami berduapun siap untuk membantu,"
Kata Kim-suipoa sedangkan Pek-bin-houw juga mengangguk menyetujui. Diam-diam Bu Kek Siang merasa girang, akan tetapi dia masih mencoba lagi.
"Akan tetapi, pengobatan ini akan memakan waktu yang cukup lama, mungkin sampai belasan hari lamanya! Apakah sam-wi akan dapat membantu terus?"
Dua orang pendekar dari puncak Awan Biru itu menjadi ragu-ragu mendengar ini, akan tetapi mereka telah didahului oleh Pek Lian yang berkata dengan nada suara tetap dan nyaring.
"Tentu saja kami akan terus membantu sampai pengobatan itu berhasil baik!"
Wanita berpakaian putih itu cepat menghadap kepada Pek Lian dan dua orang gurunya, lalu menjura dengan hormat.
"Tak tahu bagaimana kami harus berterimakasih kepada sam-wi, dan kami sungguh merasa malu sekali bahwa murid kami pernah menyerang penolong kami."
Tiba-tiba wanita itu menoleh kearah anak-buahnya yang tadi berkelahi dengan Pek-bin-houw dan membentak.
"A-jui, hayo maju dan serahkan nyawamu!"
Orang yang disebut A-jui itu terbelalak, tubuhnya menggigil akan tetapi dia lalu maju berlutut didepan wanita itu.
Semua orang merasa terkejut sekali, akan tetapi ketika wanita itu mengangkat tangannya, tiba-tiba Pek-bin-houw meloncat kedepan dan berseru.
"Tahan!!"
Wanita itu tidak jadi menurunkan pukulan mautnya dan menoleh kepada Pek-bin-houw.
"Apakah saudara hendak turun tangan sendiri? Lakukanlah, dia sudah menyerahkan nyawanya untuk menebus dosa tadi."
"Tidak!"
Bentak Pek-bin-houw, bergidik menyaksikan kekejian ini.
"Aku sama sekali tidak ingin melihat dia dibunuh hanya karena tadi berkelahi denganku. Kami berkelahi karena salah paham. Toanio, jangan bunuh dia!"
Bu Kek Siang juga melangkah maju.
"Siancai...! Aku disuruh menyelamatkan nyawa seseorang dari ancaman maut, akan tetapi sekarang ada orang hendak dibunuh begitu saja. Sama sekali tidak boleh hal ini dilakukan. Toanio, kalau engkau hendak membunuh orangmu, terpaksa aku tidak akan sanggup mengobati puterimu."
Wanita itu nampak terkejut dan matanya terbelalak, seperti orang keheranan, lalu iapun berkata kepada tuan rumah.
"Ah, maafkan, butaihiap, akan tetapi sudah menjadi kebiasaan kami untuk menghukum anak-buah kami yang bersalah. Biarpun demikian, melihat betapa para tuan penolong kami telah mintakan ampun, terpaksa kamipun akan mentaati. A-jui, tidak lekas menghaturkan terimakasih kepada tuan-tuan ini yang telah mengembalikan nyawamu?"
A-jui, laki-laki yang ditengah dahinya ada benjolan merah itu, cepat menghaturkan terimakasih kepada Bu Kek Siang dan Pek-bin-houw sambil berlutut.
Tentu saja pihak tuan rumah dan tamu-tamunya merasa heran sekali melihat sikap luar biasa ini.
"Nah, kulanjutkan pembagian tugas,"
Kata Bu Kek Siang.
"Ho-siocia dan kedua saudara Kim-suipoa dan Pek-bin-houw membantu kami dalam ruangan ini, juga sambil menjaga keamanan kami yang sedang mengobati, dan toanio bersama anak buan toanio harap menjaga disekitar rumah, dan mencegah masuknya orang luar yang nendak mengganggu kami."
"Baik, sekarang juga kami melakukan tugas itu!"
Kata wanita itu sambil melangkah keluar diikuti oleh delapan orang anak-buahnya, setelah ia melempar pandangnya kearah puterinya dengan pandang mata penun harapan.
Pek Lian dan dua orang gurunya lalu membantu keluarga itu mengadakan persiapan.
Sebuah meja panjang diangkat kedalam ruangan itu, juga sebuah perapian dengan alat-alat menggodok obat dipersiapkan disitu.
Kemudian mereka semua beristirahat karena menurut Bu Kek Siang, pengobatan baru akan dimulai besok paginya.
Malam itu ternyata tidak terjadi sesuatu, tidak ada penyerbuan dari orang-orang yang rambutnya riap-riapan itu.
Hati mereka menjadi lapang dan merasa dapat beristirahat untuk menghimpun tenaga.
Baru pada keesokan harinya, setelah sarapan, keluarga Bu mulai dengan pengobatannya atas diri gadis yang nampaknya seperti sudah mati itu.
Pek Lian dan kedua orang gurunya menyaksikan cara pengobatan yang amat aneh, yang mula-mula dilakukan oleh Bu Kek Siang sendiri, yaitu melakukan totokan-totokan pada beberapa jalan darah rahasia yang merupakan cara pengobatan sukar dan berbahaya sekali.
Totokan-totokan pada jalan darah rahasia itu kalau kurang tepat dilakukan, akibatnya malah akan mencelakakan pasien, dapat membunuhnya!
Apa lagi totokan-totokan dibagian leher dan kepala.
Selain sukar dan harus tepat, juga membutuhkan pengerahan tenaga yang amat besar sehingga nampak pucat seperti tanpa darah sama sekali.
Bu Kek Siang, Kim-suipoa dan Pek-bin-houw adalah pria-pria yang sudah tua, akan tetapi Bu Seng Kun adalah seorang pemuda, sehingga kalau menurut kebiasaan umum, tidak pantaslah bagi seorang pemuda untuk melihat tubuh seorang wanita muda yang telanjang.
Akan tetapi, Bu Seng Kun tidak dapat disamakan dengan orang-orang muda biasa.
Sejak kecil dia sudah mempelajari ilmu pengobatan dari ayahnya dan dialah yang merupakan ahli waris terakhir dari Raja Tabib Sakti.
Sejak muda sekali Seng Kun telah membantu ayahnya mengobati bermacam-macam orang dengan bermacam-macam penyakit sehingga baginya, tidak merupakan hal aneh untuk melihat wanita bertelanjang bulat ketika diobati.
Apa lagi pengobatan yang harus mempergunakan totokan atau penusukan jarum dibagian-bagian yang penting, haruslah bagian itu dibuka agar penusukan dapat dilakukan dengan tepat sekali.
Maka, kini melihat keadaan nona yang kadang-kadang harus telanjang sama sekali itu, dia dapat memandang tanpa bayangan-bayangan cabul sama sekali, yang dilihatnya hanyalah sebatang tubuh yang menderita dan harus diobati sampai sembuh!
Memanglah, kecabulan atau yang dinamakan porno merupakan hal yang amat relatip sekali.
Apa dan bagaimanakah porno itu?
Apakah porno itu identik dengan tubuh telanjang?
Apakah porno itu berarti terbukanya tanpa ditutupi anggauta rahasia pria atau wanita, termasuk buah dada wanita?
Itukah porno?
Ataukah juga penulisan tentang hal-hal seksuil, hubungan sanggama dan yang menyangkut dengan hal itu?
Lalu sampai dimanakah batas-batas kepornoannya?
Hal ini agaknya menjadi masalah yang selalu diributkan karena memang tidak mungkin orang menemukan batas-batas tertentu, tidak mungkin menggariskan antara porno dan tidak, seperti juga menggariskan tentang kegilaan dan kewarasan seseorang.
Kecabulan bukan terletak dalam kenyataan diluar.
Kecabulan terletak didalam batin masing-masing.
Cabulkah atau pornokah kalau ada seorang wanita mandi disungai bertelanjang bulat?
Pornokah wanita itu dan pornokah yang melihatnya?
Tergantung dari si wanita dan si pemandang sendiri.
Wanita mandi telanjang disungai itu adalah suatu kenyataan, dan kalau si wanita mandi karena tidak ada tempat lain baginya untuk mandi, Kalau ia mandi karena kebutuhan akan mandi tanpa mempunyai dasar untuk memamerkan tubuh telanjangnya itu untuk menarik perhatian orang, untuk menimbulkan gairah pria yang memandangnya, maka ia sama sekali tidak porno!
Sebaliknya kalau ia mandi telanjang itu dengan kesengajaan untuk menimbulkan gairah pada pria yang melihatnya, maka jelaslah bahwa perbuatannya itu porno!
dilain fihak, kalau ada pria yang melihat ia mandi, melihat tanpa adanya pikiran yang membayang-bayangkan hal lain dari pada yang ada, maka diapun sama sekali tidak porno walaupun boleh jadi dia akan melihat wanita mandi itu.
Sebaliknya kalau diwaktu dia memandang tubuh wanita telanjang itu dia membayangkan kemesraan-kemesraan seperti misalnya dia bermain cinta dengan wanita itu sehingga timbullah napsu berahi, maka tentu saja dia itu porno!
Contoh ini dapat saja diterapkan dengan pelukis dan penonton lukisan, pengarang dan pembaca karangan, dan sebagainya.
Bukan gambar atau cerita yang menentukan porno tidaknya, melainkan batin si pelaku itu sendirilah, baik dia itu pencipta keadaan itu maupun si pemandang keadaan.
Dan tentu saja, kalau diteliti mudah saja terasa apakah si pencipta keadaan itu menciptakan sesuatu dengan dasar batin porno ataukah tidak.
Seorang wanita mandi telanjang bulat belum tentu porno, akan tetapi kalau wanita ini dengan pakaian lengkap bersikap memancing gairah dengan menyingkap sedikit gaun memperlihatkan betis saja, ia sudah porno.
Wanita berpakaian putih bersama delapan orang anak-buahnya menjaga dengan tertib dan dengan teliti, bergiliran siang malam dan mereka itu menyediakan keperluan makan mereka sendiri, tanpa mengganggu keluarga tuan rumah.
Hanya beberapa kali sehari saja wanita itu menjenguk kedalam kamar tamu yang menjadi kamar pengobatan itu untuk melihat keadaan puterinya.
Pengobatan itupun tidak dilakukan terus-menerus.
Bermacam-macam cara pengobatan dilakukan oleh Bu Kek Siang.
Tubuh gadis itu telah digosok seluruhnya oleh arak obat, totokan-totokan dan tusukan-tusukan jarum telah dilakukan.
Semua berjalan dengan baik dan lancar, hanya satu hal yang membuat keluarga itu kewalahan.
Mereka belum berhasil menembus pembuluh-pembuluh darah dan urat-urat syaraf yang seperti membeku itu.
Bagaimanapun juga, lewat lima hari pengobatan, keadaan gadis itu sudah mengalami banyak sekali perobahan.
Tubuhnya yang tadinya pucat kebiruan seperti tubuh mayat itu kini sudah mulai memerah.
Pemapasannya yang tadinya seperti telah hampir terhenti itu kini nampak lebih lancar dan longgar.
Bahkan ada senyum membayang dibibir yang mulai agak merah itu, cuping hidungnya sudah dapat berkembang-kempis kalau bernapas, hanya gadis itu masih lumpuh sama sekali.
Ibu gadis itu kelihatan gembira bukan main.
Biarpun gadisnya masih lumpuh, akan tetapi jelas nampak perobahan-perobahan yang menggembirakan, tanda-tanda bahwa usaha pengobatan sekali ini akan berhasil baik.
Dan keluarga Bu juga merasa lega bahwa selama beberapa hari itu tidak ada gangguan pihak musuh sama sekali.
Hal ini tentu saja menggirangkan hati mereka dan menimbulkan dugaan bahwa agaknya pihak musuh merasa segan mengganggu karena disitu terdapat orang-orang Tai-bong-pai!
Akhirnya, pengobatan itu mencapai puncaknya pada hari kesepuluh.
"Hari ini bagaimanapun juga kita harus berhasil menembus jalan darah gadis itu,"
Kata Bu Kek Siang.
"Sebetulnya, melihat keadaannya, nona Kwa sudah berada diambang pintu kematian. Maka, perjumpaannya dengan kita dapat dikatakan jodoh, dan kita harus berusaha sekuat tenaga untuk menyembuhkannya."
"Akan tetapi, ayah,"
Kata Seng Kun.
"Kalau ayah masih hendak melaksanakan penggabungan tenaga, bukankah hal itu amat berbahaya sekali bagi kita dan juga bagi nona Kwa? Kalau terjadi penyerbuan."
"Jangan khawatir, bukankah sudah sepuluh hari ini tidak terjadi sesuatu? Dan sekali ini, biar kita beritahukan bahaya itu kepada Kwa-toanio agar ia ikut pula melakukan penjagaan terhadap diri puterinya."
Selama beberapa hari tinggal ditempat terpencil itu, wanita berpakaian serba putih telah memperkenalkan diri.
"Sebetulnya, kami selalu merahasiakan nama dan keadaan kami, akan tetapi melihat pertolongan cuwi yang demikian penuh pengorbanan, kami akan meniadakan kebiasaan itu dan perkenalkanlah, saya adalah isteri dari Kwa Eng Ki, seorang diantara tokoh Tai-bong-pai. Dan anak ini adalah puteri tunggal kami bernama Kwa Siok Eng. Penyakit yang diderita oleh Siok Eng ini sebetulnya adalah karena kelancangannya sendiri. Diambilnya kitab pusaka partai kami dan diam-diam ia mempelajarinya tanpa memberi tahu kepada kami, sedangkan tingkatnya masih terlampau rendah untuk mempelajari ilmu simpanan partai kami itu, maka beginilah jadinya. Nah, setelah saya memperkenalkan diri, maka mulai sekarang kita telah menjadi sahabat-sahabat karib."
Tentu saja bagi pihak tuan rumah, cerita itu sama sekali bukan pembukaan rahasia, dan hanya memperkenalkan sedikit saja, yaitu hanya nama ibu dan anak itu sehingga keadaan mereka masih tetap diliputi rahasia.
Akan tetapi mereka tidak mau bertanya lebih banyak, karena merekapun sebenarnya tidak mempunyai minat untuk bersahabat dengan Tai-bong-pai yang terkenal sebagai perkumpulan golongan hitam yang disamakan dengan iblis-iblis yang kejam sekali.
Setelah diberi tahu bahwa hari itu pihak tuan rumah akan mengadakan pengobatan terakhir yang besar-besaran dengan penggabungan tenaga, nyonya Kwa merasa tegang dan iapun segera menyatakan siap sedia untuk melakukan penjagaan dengan kuat diluar rumah.
Pek Lian dan kedua orang gurunya juga melakukan penjagaan diluar.
Mereka bertiga maklum akan bahayanya keadaan mereka ketika fihak tuan rumah sekeluarga sedang melakukan pengobatan dengan penggabungan tenaga itu.
Pengobatan dengan pengerahan sinkang membuat orang yang melakukan pengobatan itu sama sekali tidak berdaya terhadap serangan dari luar, karena kalau dia melawan, berarti membahayakan nyawa yang diobati.
Dan kini, menurut keterangan Bu Seng Kun terhadap mereka, pemuda itu bersama ayah dan ibunya akan menggabungkan tenaga sehingga kalau sewaktu mereka mengadakan pengobatan itu datang.
musuh, mereka bertiga takkan berdaya untuk membela diri.
Dengan demikian, maka penjagaan seluruhnya hanya berada ditangan mereka bertiga, dan orang-orang Tai-bong-pai.
Bahkan nona Bu sendiripun membantu pengobatan itu dengan tusukan-tusukan jarum.
Pagi itu mereka sudah bersiap-siap.
Yang berada dikamar pengobatan, selain si sakit, juga empat orang keluarga Bu lengkap.
Kwa Siok Eng telah direbahkan diatas meja panjang dengan menelungkup.
Kulit tubuhnya yang putih mulus itu tidak begitu pucat lagi, akan tetapi masih belum dapat bergerak sama sekali.
Ibunya, nyonya Kwa, menjaga didekat pintu, sepasang matanya hampir tidak pernah berkedip memandang kepada puterinya dan kadang-kadang saja beralih kepada empat orang yang sedang mengobati puterinya itu.
Hatinya terharu.
Nampak jelas olehnya betapa keluarga itu berusaha sungguh-sungguh.
Tadi sebelum melakukan pengobatan, Bu Kek Siang telah memberi penjelasan kepadanya sekedarnya sehingga dia tahu bahwa mereka berempat itu, sungguh-sungguh berusaha untuk menolong puterinya, terutama sekali kakek Bu sendiri bersama Bu Seng Kun, pemuda itu.
Mereka berdua ini akan mengerahkan sinkang sekuatnya untuk menembus jalan darah gadis itu yang belum pulih, dan sebagai seorang ahli silat tinggi, tentu saja nyonya itu tahu apa artinya ini.
Pengerahan sinkang untuk menolong orang seperti itu amatlah berbahaya karena tenaganya dikerahkan terus-menerus, kalau keliru sedikit saja tentu dapat membunuh si sakit atau membunuh diri sendiri!
Memang amat menegangkan keadaan dalam ruangan itu.
Bu Seng Kun bertelanjang dada, karena dia mempergunakan dadanya itu untuk menempel pada kedua telapak kaki Kwa Siok Eng dan dengan penyaluran tenaga sinkang sepenuhnya dia menyalurkan hawa murni melalui kedua telapak kaki gadis itu.
Pemuda ini memejamkan kedua matanya dan dadanya nampak membesar, wajahnya menjadi merah dan kedua tangannya mencengkeram belakang lutut gadis itu.
Diseberangnya, ayahnya berdiri dan menempelkan tangan kirinya diubun-ubun kepala gadis itu.
Seperti juga puteranya, Bu Kek Siang, kakek ini mengerahkan sinkangnya disalurkan melalui ubun-ubun kepala gadis itu, kedua matanya juga dipejamkan.
Isterinya, nenek yang masih nampak cantik itu, berdiri ditepi meja, kedua tangannya ditaruh diatas pinggang telanjang itu dan nenek inilah yang menjadi semacam penghubung atau penampung saluran tenaga dari atas dan bawah itu untuk kemudian, setelah dapat bertemu dan bersatu, dipergunakan untuk membobol semua jalan darah dalam tubuh.
Dan ditepi meja seberangnya, Bu Bwee Hong sibuk mempergunakan jarum-jarum emas untuk menusuki bagian-bagian yang penting untuk mengurangi hambatan-hambatan penyaluran tenaga ayahnya dan kakaknya.
Dan memang, dalam hal ilmu pengobatan, gadis inilah yang telah mewarisi kepandaian ayahnya dan dibandingkan dengan ibunya dan kakaknya, ia memang lebih pandai dalam hal tusuk jarum.
Pekerjaan gadis ini, seperti juga ibunya, tak dapat dikatakan ringan, bahkan mengharuskan adanya ketelitian yang luar biasa.
Empat orang itu sungguh mengerahkan dan mengeluarkan semua kepandaian mereka untuk menolong gadis itu.
Hal ini nampak jelas sehingga seorang seperti nenek Kwa yang selamanya berkecimpung dalam dunia hitam itu merasa terharu.
Matahari telah naik tinggi.
Setengah hari telah lewat dan suasana dalam ruangan pengobatan itu menjadi semakin tegang.
Empat orang keluarga Bu itu bermandi peluh, namun agaknya usaha mereka itu sia-sia belaka karena seluruh tenaga ayah dan anak itu belum juga dapat dipertemukan!
Seng Kun yang telah mengerahkan seluruh tenaganya itu hanya bisa mendorong sampai kepangkal paha dan dia telah menemui rintangan-rintangan disepanjang kedua kaki itu yang seolah-olah telah membeku.
Ayahnya lebih sukar lagi, hanya dapat mendorong sampai dibawah pundak.
Bwee Hong sibuk menusuk sana-sini sehingga tubuh belakang gadis yang diobati itu penuh dengan jarum kecil-kecil, perak dan emas.
Dan nyonya Bu juga sibuk sekali, menggunakan sinkang seperti hendak menyedot hawa murni dari atas bawah, namun belum juga terasa olehnya datangnya sinkang yang disalurkan oleh suaminya dan puteranya itu.
"Cepat, tambah lagi tenaganya!"
Ibu ini mendorong dan mengerutkan alisnya.
"Ahhh... tidak... tidak bisa lagi... ibu, aku tidak kuat lagi... ahhhh!"
Seng Kun mendesah dan tiba-tiba dari sudut bibirnya mengalir darah segar.
"Koko!"
Bwee Hong berseru khawatir. Akan tetapi pemuda itu tidak memperdulikan dirinya.
"Moi-moi, cepat kau bantu ayah!"
Bwee Hong menoleh memandang ayahnya dan semakin gelisah ia melihat betapa ayahnya juga payah sekali keadaannya, wajahnya pucat pasi dan dari lubang hidungnya juga mengalir darah.
"Ibu, ayah itu"
Akan tetapi, ibunya hanya menggeleng kepala dengan sikap tenang karena ibu ini percaya bahwa suaminya dan puteranya masih akan dapat menolong diri sendiri.
Kalau sudah ada darah keluar dari mulut atau hidung, berarti bahwa tenaga mereka sudah sampai di Puncaknya, dan tentu mereka akan mengendurkan tenaga karena kalau dilanjutkan berarti mencari mati sendiri.
Ibu gadis yang sakit itu sejak tadi melihat ini.
Wajahnya pucat dan beberapa kali ia memejamkan mata, mengepal tinju dan membanting-banting kakinya.
Akhirnya iapun berseru.
"Sudahlah!, Sudahlah!!"
Ia melihat betapa usaha keluarga Bu yang mati-matian itu telah menemui kegagalan.
Keadaan yang amat menegangkan itu membuat mereka semua tidak sadar bahwa diluar rumah telah terjadi penyerbuan!
Ada beberapa orang yang luar biasa datang menyerang dan tentu saja serbuan itu disambut oleh para penjaga yang berada diluar rumah, yaitu Ho Pek Lian dan dua orang gurunya, dan delapan orang anggauta perkumpulan Tai-bong-pai.
Akan tetapi, para penyerang itupun lihai bukan main.
Dua orang diantara mereka adalah orang-orang yang berambut riap-riapan dengan pakaian berwarna coklat!
Masih ada lagi teman-teman mereka, yaitu empat orang berjubah biru dan delapan orang berjubah hijau!
Tentu saja pihak penyerbu menjadi jauh lebih kuat.
Seperti telah kita ketahui, seorang yang berjubah biru saja kepandaiannya sudah sedemikian hebatnya sehingga ketika dikeroyok oleh Kim-suipoa dan Pek-bin-houw, dua orang pendekar inipun kewalahan.
Apa lagi kini terdapat dua orang yang berjubah coklat, ditambah empat orang murid mereka dan delapan cucu murid.
Sebentar saja delapan orang anak-buah Tai-bong-pai sudah terpukul roboh dan Pek Lian sendiri bersama dua orang gurunya juga hanya mampu menangkis saja ketika dikeroyok oleh orang-orang berjubah biru dan hijau.
Dua orang yang berjubah coklat itu sudah menerjang pintu ruangan dan dengan mengeluarkah suara hiruk-pikuk pintu itu pun jebol!
Tentu saja Bwee Hong dan Kwa-toanio terkejut bukan main.
"Awas musuh...!!"
Kwa-toanio berseru dan Bwee Hong sudah meloncat dan memapaki kedua orang itu dengan sambitan jarum-jarumnya, jarum perak dan emas yang tadinya dipergunakan untuk menusuk dan mengobati Siok Eng.
Akan tetapi, dengan amat mudahnya kedua orang yang berjubah coklat itu meruntuhkan semua jarum dengan kebutan lengan baju mereka.
Dan dibelakangnya masih bermunculan orang-orang berjubah hijau.
Mereka ini segera mengeroyok Kwa-toanio yang merobohkan dua orang diantara mereka.
Ketika melihat betapa jarum-jarumnya tidak ada gunanya, Bwee Hong menerjang kedepan sambil mencabut pedangnya, menyerang seorang diantara dua orang berjubah coklat itu.
Akan tetapi orang itu mengelak dan dari belakangnya, Bwee Hong merasakan sambaran angin pukulan dahsyat.
Dia mengelak dan membalik, dan ternyata yang menyerangnya telah tidak ada lagi dan juga orang berjubah coklat yang pertama yang diserangnya tadi sudah tidak ada.
Mereka berdua itu telah meloncat dengan gerakan yang amat cepatnya, seorang berada dibelakang ayahnya dan seorang pula dibelakang kakaknya!
Kwa-toanio sendiri sibuk dikeroyok oleh orang-orang baju biru sebanyak empat orang.
Ternyata bahwa Pek Lian dan dua orang gurunya juga sudah terluka dan kini hanya dikeroyok oleh orang-orang jubah hijau, sedangkan empat orang berjubah biru sudah menyerbu kedalam dan mengurung Kwa-toanio, membuatnya tidak berdaya.
Dua orang berjubah coklat itu tahu bahwa diantara mereka semua, yang paling lihai adalah Bu Kek Siang dan Bu Seng Kun, maka merekapun langsung saja meloncat kebelakang ayah dan anak yang masih mengerahkan tenaga kepada si sakit itu.
Juga nyonya Bu tak dapat meninggalkan tempatnya, karena hal itu akan membahayakan si sakit.
Pula, peristiwanya terjadi sedemikian cepat dan tiba-tiba.
Tahu-tahu kedua orang berjubah coklat itu telah mengirim serangan kilat kearah ayah dan anak itu.
Kakek berjubah coklat yang pertama sudah menghantamkan tangan kanannya dengan jari-jari tangan terbuka kearah lambung Bu Kek Siang, sedangkan kakek kedua dengan kepalan tangan kanannya sudah menghantam kearah punggung Bu Seng Kun.
Kedua pukulan ini datang dengan berbareng dan tepat benar.
"Blaaarrrr...!!'"
Akibatnya hebat!
Ayah, anak dan ibu roboh tersungkur!
Dari mulut mereka muncrat darah segar dan seketika mereka itu roboh pingsan.
Akan tetapi yang lebih aneh lagi, pada saat pukulan itu tiba, terdengar jeritan nyaring dari mulut gadis yang menelungkup itu, dan beberapa batang jarum yang masih menancap ditubuhnya mencelat sedangkan bekas-bekas tusukan jarum itu mengeluarkan darah, dan iapun terkulai dan pingsan.
Kwa-toanio marah sekali, mengira bahwa puterinya tentu menjadi korban dan tewas.
Dengan kemarahan meluap, tokoh Tai-bong-pai ini mengamuk, dikeroyok oleh empat orang berjubah biru yang agaknya kewalahan juga menghadapi amukan ibu yang marah ini.
Bwee Hong sudah memutar pedangnya, menyerang seorang berjubah coklat akan tetapi ia tidak mampu mencegah ketika seorang berjubah coklat yang lain telah memasuki rumah keluarganya.
Sedangkan menghadapi si jubah coklat itu saja ia sudah merasa amat kewalahan pedangnya tak mampu berbuat banyak karena lawannya itu sedemikian lihainya sehingga lengan orang itu berani menangkis pedangnya tanpa terluka sedikitpun, sebaliknya malah setiap kali terjadi benturan keras, hampir saja pedangnya terlepas dari pegangan karena seluruh lengannya tergetar hebat.
Kwa-toanio yang marah sekali itu mengeluarkan seluruh kepandaiannya.
Kini ditariknya sehelai sabuk putih yang ia gerakkan seperti cambuk dan tangan kirinya kadang-kadang menyambitkan hio-hio yang bernyala.
Entah bagaimana hio-hio itu dapat dinyalakan, akan tetapi senjata-senjata rahasia ini memang hebat sekali sehingga para pengeroyoknya yang berjubah biru itu menjadi repot juga karena mereka tidak berani menyambut senjata rahasia itu.
Melihat kehebatan nenek ini, si jubah coklat yang mendesak Bwee Hong lalu meloncat dan menyerang Kwa-toanio, sedangkan dua orang berjubah biru kini mengeroyok Bwee Hong yang masih tetap kewalahan.
Setelah si jubah coklat maju mengeroyok, repotlah Kwa-toanio dan akhirnya sebuah tendangan kilat dari si jubah coklat mengenai pahanya dan membuatnya terhuyung.
Pada saat itu, kakek berkubah coklat yang tadi memasuki rumah keluarga Bu, muncul sambil berkata.
"Sudah kudapatkan, mari kita pergi!"
Teman-temannya yang masih bertempur segera meloncat keluar dan para anak-buah mereka yang berjubah hijau juga sudah melarikan diri sambil membawa teman-teman yang terluka.
Sebentar saja, keadaan disitu menjadi sunyi.
Melihat keadaan pihak keluarga tuan rumah, Kwa-toanio menjadi berduka sekali.
Tanpa memperdulikan lagi puterinya yang masih rebah menelungkup tak sadarkan diri, pertamatama yang ditolongnya adalah nyonya rumah karena ia melihat Bwee Hong berlutut dan merangkul nyonya itu sambil berusaha untuk membuat pernapasan dengan cara meniupkan napasnya sendiri melalui mulut ibunya dengan menutup lubang hidungnya.
Bwee Hong tidak menangis, hanya air matanya saja berlinang.
Gadis yang juga telah mempelajari ilmu pengobatan ini berusaha untuk bersikap tenang sungguhpun hatinya merasa amat gelisah dan bingung.
Hati siapa tidak akan menjadi bingung melihat betapa ayahnya, ibunya, dan kakaknya seluruh keluarganya roboh pingsan dan semuanya menderita luka yang hebat?
Setelah berhasil mengembalikan pernapasan ibunya, walaupun masih amat lemah, gadis itu cepat merebahkan kembali ibunya dan menghampiri ayahnya.
Ternyata ayahnya sudah siuman, walaupun keadaannya masih amat payah karena ayahnya juga menderita luka yang amat berat disebelah dalam tubuhnya.
"Coba periksa kakakmu..., hentikan jalan darah koan-goan-hiat"
Ayahnya berkata dengan napas terengah.
Gadis itu bangkit dan menghampiri kakaknya.
Ternyata pemuda itu masih pingsan, akan tetapi setelah memeriksanya, hati Bwee Hong tidak begitu khawatir akan keadaan kakaknya.
Biarpun kakaknya juga menerima pukulan hebat, namun agaknya tubuh muda kakaknya itulah yang menyelamatkannya dan mampu melindungi isi dadanya.
(Lanjut ke
Jilid 03) Darah Pendekar (Seri ke 01 -Serial Darah Pendekar) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo Bahan Cerita . Sriwidjono
Jilid 03 Memang serangan dua orang berjubah coklat yang mendadak itu telah mendatangkan keanehan-keanehan.
Selain ayah dan anak itu yang langsung menerima pukulan dan menderita luka parah, juga hawa sinkang dari kedua orang penyerang yang kuat itu telah mendorong hawa sinkang dari ayah dan anak itu sendiri, membuat kekuatan yang mengalir kedalam tubuh Siok Eng menjadi berlipat ganda dan tenaga sinkang itu, yang tadinya kurang kuat dan hanya berhenti sampai pada pangkal paha dan bawah pundak, Kini dengan serentak mengalir dan menyerbu sehingga dapat bertemu dan ditampung oleh nyonya Bu melalui kedua telapak tangannya yang berada dipunggung gadis sakit itu.
Seperti aliran listrik yang ditampung dan terlalu besar, maka ibu inipun tidak kuat bertahan dan seperti menerima hantaman dahsyat dari kanan kiri melalui kedua telapak tangannya, membuat ia roboh seketika dan menderita luka yang parah sekali.
Akan tetapi, peristiwa ini mendatangkan keuntungan yang besar kepada Siok Eng.
Dengan adanya penambahan tenaga sinkang dari luar, dari kedua orang jubah coklat itu, maka semua pembuluh darah dan urat syaraf dapat ditembus, dan semua kebekuan telah dapat mencair.
Kalau tadinya ia tak mampu bicara, sekarang tiba-tiba saja ia sudah dapat bicara bahkan ia sudah dapat menggerakkan semua anggauta tubuhnya.
Setelah siuman dari pingsannya, gadis ini dapat bergerak dan mengenakan pakaian sendiri.
Hanya tubuhnya masih amat lemah dan ia masih belum mampu turun dan berjalan, walaupun sudah dapat bangkit duduk kembali tanpa bantuan orang lain.
Melihat keadaan ini, Kwa-toanio yang sejak muda telah menjadi tokoh sesat dalam dunia hitam, sekali ini meruntuhkan air mata dan menangis sesenggukan.
Ia melihat betapa keluarga itu telah berusaha sungguh-sungguh untuk menyelamatkan puterinya, dan akibatnya, puterinya benar-benar sembuh, akan tetapi keluarga itu sendiri menjadi hancur!
Maka tentu saja ia merasa berterimakasih sekali, bukan hanya kepada keluarga Bu, akan tetapi juga kepada Ho Pek Lian dan kedua orang gurunya yang juga mengalami luka-luka dalam pertempuran itu.
Biarpun penyerbuan itu dilakukan orang kepada keluarga Bu tanpa ada sangkut-pautnya dengan rombongannya, namun kalau tidak ada bantuan Pek Lian dan kedua orang gurunya, tentu akibatnya akan lebih hebat pula.
Memang akibat penyerbuan itu hebat sekali.
Kakek Bu Kek Siang dan isterinya ternyata tidak dapat menahan gempuran hebat itu.
Bahkan pada keesokan harinya, nyonya Bu yang jatuh pingsan lagi tidak sadar lagi dan tewas!
Juga Bu Kek Siang sendiri napasnya tinggal satu-satu.
Dia lebih banyak menggunakan isyarat tangan dari pada bicara ketika dia minta agar diambilkan sebuah peti hitam kecil yang disimpannya ditempat rahasia bersama kitab-kitab pusaka.
Kitab-kitab pusaka itu telah lenyap diambil oleh si jubah coklat, akan tetapi peti itu biarpun sudah dibuka, ternyata tidak dibawa pergi.
Isinya sebuah kitab catatan kakek Bu Kek Siang sendiri.
"Terimalah ini"
Katanya kepada puterinya.
"Dan kelak, berdua dengan kakakmu, bacalah"
Hanya itulah pesan yang ditinggalkan pendekar ini.
Agaknya, kematian isterinya membuat dia seolah-olah ingin mempercepat perjalanannya meninggalkan dunia yang penuh kepalsuan ini.
Tentu saja, kematian ayah-bundanya ini merupakan pukulan yang amat hebat bagi Seng Kun dan adiknya.
Terutama sekali bagi Bwee Hong.
Gadis ini berusaha untuk bersikap gagah dan tidak menangis, akan tetapi ternyata usaha ini malah membuat ia menjadi pucat sekali dan air matanya selalu berlinang dikedua matanya dan setiap kali ia berkedip, beberapa butir air mata mengalir keatas kedua pipinya yang pucat.
Rumah keluarga Bu itu kini menjadi rumah duka yang penuh dengan orang sakit.
Karena kakaknya masih terluka dan belum dapat turun dari pembaringan, maka Bu Bwee Hong seoranglah yang menjadi wakil keluarga Bu, menghadapi semua itu.
Ayah-bundanya tewas, kakaknya terluka berat.
Untung disitu terdapat Ho Pek Lian yang menghiburnya, menemani dan membantunya.
Juga kedua orang guru dari Pek Lian yang dengan penuh rasa kasihan membantu sekuat tenaga.
Masih ada lagi nyonya Kwa yang merasa berhutang budi dan berterimakasih sekali kepada keluarga itu.
Maka nyonya ini mengerahkan sisa anak-buahnya yang hanya luka ringan, yaitu hanya enam orang, untuk membantu segala keperluan untuk mengubur jenazah Bu Kek Siang dan isterinya.
Dikubur secara sederhana saja, dibelakang rumah dimana terdapat sebuah bukit kecil.
Sebelum kedua peti jenazah diangkat, diadakan upacara sembahyang dan dalam kesempatan inilah baru Bu Bwee Hong dapat menangis terisak-isak seperti anak kecil.
Pemandangan waktu itu sungguh amat memilukan hati.
Dua peti jenazah itu dijajarkan dengan satu meja sembahyang didepannya.
Tidak ada orang lain yang hadir kecuali mereka yang berada disitu semenjak terjadinya penyerbuan itu.
Nyonya Kwa dan delapan anak-buahnya, dua diantaranya luka parah.
Kwa Siok Eng yang terpaksa dituntun ibunya ketika hendak bersembahyang.
Dan juga Bu Seng Kun yang dirangkul dan dipapah oleh adiknya.
Dua orang kakak-beradik itu menjatuhkan diri berlutut didepan peti dan menangis.
Seng Kun ternyata adalah seorang gagah yang cepat dapat menguasai hatinya.
Dia menyusut air matanya dan melihat betapa adiknya menangis seperti tak sadarkan diri, dia mencengkeram lengan adiknya itu, mengguncangnya dan berkata.
"Moi-moi, mana kegagahanmu? Apakah engkau kira ayah dan ibu akan senang hati mereka melihat engkau cengeng seperti ini?"
Bwee Hong mengangkat mukanya yang basah air mata, memandang kepada kakaknya sejenak, kemudian menjerit dan merangkul kakaknya, dan pingsan dalam pelukan kakaknya!
Seng Kun merasa jantungnya seperti diremas-remas, akan tetapi dia menahan diri dan dengan adiknya masih dalam rangkulannya, diapun menghadap dua peti jenazah itu.
"Ayah, ibu..., ampunkanlah kelemahan moi-moi, ia masih kanak-kanak... Dan menghadapi semua ini... ah, ayah dan ibu, aku tidak dapat berkata apa-apa lagi. Ayah dan ibu tewas dalam tangan saudara seperguruan sendiri, apa yang harus kulakukan? Apa yang harus kulakukan??"
Pemuda itu mengeluh karena hatinya sungguh merasa bingung sekali.
Ayahnya selalu mendidik putera-puterinya agar menjauhi kekerasan, agar mengusir segala perasaan dendam.
Dan kini mereka tertimpa musibah yang demikian hebat, dan yang menyebabkan adalah keluarga seperguruan sendiri!
Karena hendak memperebutkan kitab peninggalan kakek guru mereka.
Ho Pek Lian yang teringat akan keadaan ayahnya sendiri, segera maju dan mengambil Bwe Hong dari rangkulan kakaknya, untuk dipondongnya dan dibawanya kepinggir, lalu dirawatnya sehingga Bwee Hong siuman kembali dan kedua orang gadis ini saling berangkulan sambil menangis Melihat keadaan kakak-beradik itu, nyonya Kwa dan puterinya juga merasa terharu sekali.
"Twako Bu Seng Kun, akulah yang menyebabkan kematian ayah-ibumu, maka kau bunuhlah aku untuk menghapuskan penasaran itu!"
Tiba-tiba terdengar suara halus dan kiranya Siok Eng yang mengeluarkan kata-kata itu dari tempat duduknya disudut.
Seng Kun menoleh kearah gadis itu yang memandang kepadanya dengan mata merah menahan tangis.
Dia tersenyum pahit lalu menarik napas panjang.
"Nona Kwa, ayah dan ibuku telah mati-matian berusaha menyelamatkanmu, setelah mereka berhasil, engkau minta aku membunuhmu! Apakah berarti engkau menyuruh aku berkhianat dan murtad kepada mereka?"
"Ohhh...!"
Siok Eng terkejut dan menangis, dirangkul oleh ibunya.
Kemudian, setelah Kim-suipoa dan Pek-bin-houw membantu Seng Kun yang masih belum dapat berjalan itu, mengangkatnya dan membawanya kepinggir, nyonya Kwa membawa puterinya untuk bersembahyang didepan sepasang peti mati itu.
Mereka menangis sesenggukan ketika mengangkat hio dan terdengar suara Kwa-toanio yang bicara dengan lantang diseling isak tangis.
"Bu-taihiap berdua, semenjak puluhan tahun kami tinggal didalam kuburan. Kematian bukan apa-apa bagi kami. Kuburan adalah tempat tinggal kami. Mayat-mayat adalah sahabat-sahabat kami, dan selama hidup kami berkabung. Entah sudah berapa banyak orang yang kami bunuh. Akan tetapi, taihiap sungguh kematian yang taihiap berdua alami ini membuat hati kami penasaran!! Kami akan membalas kebaikan ini, kami harus menuntut balas atas kematian ji-wi dan mulai saat ini kami menganggap keluarga taihiap sebagai keluarga kami sendiri."
Dan nenek itu menangis bersama puterinya.
Pemakaman dilakukan secara sederhana sekali dan setelah pemakaman selesai, Pek Lian dan kedua orang gurunya masih tinggal disitu selama seminggu lagi, membantu Bwee Hong yang masih harus mengobati kakaknya dan juga mengobati Siok Eng.
Setelah lewat seminggu, barulah Pek Lian dan kedua orang gurunya berpamit.
Bwee Hong merangkulnya.
"Pek Lian, benarkah engkau hendak meninggalkan aku yang kesepian ini?"
Gadis itu mengeluh. Setelah menjadi sahabat baik, keduanya tidak menyebut enci adik lagi, karena memang keduanya sebaya berusia delapan belas tahun.
"Apakah engkau tidak bisa memperpanjang beberapa hari lagi?"
"Bwee Hong, aku juga sayang sekali kepadamu dan aku ingin dapat terus berdekatan dengan seorang sahabat seperti engkau. Akan tetapi, sudah terlalu lama kami bertiga meninggalkan kawan-kawan kami, dan engkau tentu tidak lupa akan keadaan ayahku"
Sampai disini, suara Pek Lian menjadi gemetar mengandung duka.
"Ah, sahabatku yang baik. Aku ikut menyesal dengan keadaanmu yang tidak lebih baik dari pada keadaanku. Kalau saja kami dapat membantu..., sayang kakakku masih belum sembuh"
"Terimakasih, engkau baik sekali. Akan tetapi bantuan apakah yang dapat diberikan orang kepada kami? Yang memusuhi kami bukan orang biasa melainkan pemerintah!"
Bu Seng Kun kini sudah dapat turun dari pembaringan dan dapat berjalan, walaupun masih lemah dan perlu beristirahat agar bekas-bekas luka dalam tubuhnya dapat sembuh sama sekali.
Diapun memandang kepada kedua orang guru Pek Lian, dan berkata.
"Bantuan sam-wi sungguh tak ternilai besarnya bagi keluarga kami, dan entah kapan kami kakak-beradik akan sanggup untuk membalasnya. Semoga Thian Yang Maha Esa sajalah yang akan membalas sam-wi dengan berkah yang melimpah-limpah."
"Ah, butaihiap terlalu sungkan,"
Kata Kim-suipoa.
"Bantuan apa yang dapat diberikan oleh kami orang-orang lemah ini?"
"Selain itu, sudah menjadi kewajiban kita para pendekar untuk saling bantu, bukan?"
Kata pula Pek-bin-houw.
Mereka bertiga lalu pamit dan meninggalkan tempat itu, diantar oleh kakak-beradik itu sampai kepintu depan dan mereka berdua melambaikan tangan sampai tiga orang tamu itu lenyap disebuah tikungan.
Dua hari kemudian, setelah dua orang anak-buahnya yang terluka itu sembuh, Kwa-toanio juga minta diri.
Sambil memegang lengan kedua orang muda itu, Kwa-toanio berkata dengan mata basah dengan air mata.
"Anakku sembuh adalah berkat keluarga Bu. Sampai mati, aku dan anakku tidak akan melupakan budi kalian. Aku akan membawa Siok Eng pulang untuk dirawat sampai sembuh, Kami belum dapat memikirkan bagaimana untuk membalas budi kalian. Untuk sementara ini, harap kalian suka menerima bendera keramat dari kami ini untuk disimpan. Bendera ini adalah pusaka Tai-bong-pai, pemegangnya akan dihormati seperti kepada ketua Tai-bong-pai sendiri."
Bwee Hong menerima bendera itu, bendera kecil yang terbuat dari pada anyaman kawat baja lembut yang bersulamkan benang emas dengan lukisan sebuah kuburan dengan huruf Tai Bong Pai.
"Sayang sekali bahwa kami belum berhasil menyembuhkan sama sekali penyakit yang diderita oleh Kwa-siocia,"
Kata Seng Kun dengan suara menyesal.
"Padahal, sudah hampir sembuh. Kalau ia dilanjutkan dengan pengobatan yang menggunakan sinkang dari golongan kami, tentu akan dapat disembuhkan secara cepat sekali. Sayang, aku masih terluka sehingga tidak mampu melakukannya, sedangkan adikku, hanya mempelajari tusuk jarum dan pengobatan saja, akan tetapi sinkangnya belum sekuat itu untuk dapat mengobati. Kalau saja ji-susiok tidak memusuhi kami, sekali dia turun tangan tentu puterimu akan dapat disembuhkan dengan seketika, bibi Kwa."
Setelah berkali-kali menghaturkan terimakasih, ibu dan anak itu lalu pergi pada malam hari.
Karena belum mampu berjalan sendiri, Siok Eng masih dipikul dalam keranjang bambu seperti ketika ia datang.
Ibu dan anak itu berangkat dimalam gelap, diiringkan oleh delapan orang anak-buah yang seram-seram itu.
Setelah semua tamunya pergi, barulah kakak-beradik itu merasa betapa sunyinya rumah mereka.
Barulah terasa oleh mereka benar-benar bahwa mereka telah kehilangan ayah-bunda mereka.
Maka, tak tertahankan lagi, Bwee Hong menangis.
Seng Kun juga termenung dengan hati terasa kosong dan kesepian.
Akan tetapi untuk menghibur adiknya, dia cepat berkata.
"Sudahlah, adikku. Dari pada membiarkan diri hanyut dalam kesedihan, apakah tidak lebih baik kalau kita membaca buku catatan peninggalan ayah itu?"
Ucapan ini mengingatkan Bwee Hong.
Selama ini, mereka berdua belum sempat membaca buku catatan itu karena disitu terdapat banyak tamu dan Bwee Hong juga sibuk merawat kakaknya dan Siok Eng.
Kini, teringat akan pesan ayah mereka, Bwee Hong segera memasuki kamar dan membawa keluar peti hitam itu.
Mereka duduk berdampingan agar dapat membaca isi kitab itu bersama-sama, Ternyata pada halaman pertama terdapat tulisan ayah mereka yang ditujukan kepada mereka berdua!
Seng Kun dan Bwee Hong tersayang, Surat dan catatan ini memang kupersiapkan untuk kalian, pada saat terakhir kita berpisah, akan kuserahkan kepada kalian.
Sekarang, kuatkanlah hati kalian untuk menghadapi kenyataan, pahit maupun manis, kenyataan tentang diri kalian yang sesungguhnya.
Nah, bacalah catatanku ini."
Ayah angkat kalian, Bu Kek Siang "Ayah angkat...? Apa maksud ayah?"
Bwee Hong berseru dengan kaget sekali membaca sebutan itu. Kakaknya lebih tenang.
"Marilah kita baca catatan ini selanjutnya, adikku."
Mereka berdua dengan tidak sabar lalu membaca catatan itu.
Dan keduanya terkejut bukan main, mula-mula mereka memang tidak mengerti ketika catatan itu bercerita tentang keadaan seorang pangeran.
Pangeran itu bernama Chu Sin, seorang pangeran yang berjiwa pemberontak karena dia tidak suka melihat kehidupan Istana yang penuh dengan kepalsuan dan korupsi.
Dia menentang keluarga Kaisar, keluarga ayahnya sendiri dan karena dia dimusuhi, dia lalu meninggalkan Istana dan merantau diluar Istana.
Akan tetapi, karena dia dianggap sebagai pemberontak yang berbahaya dan mungkin akan menghimpun kekuatan dari rakyat untuk menentang Istana, maka dia lalu dikejar-kejar sebagai buronan.
Dalam perantauannya ini, Pangeran Chu Sin bertemu dengan seorang gadis kang-ouw, yaitu keponakan dari nyonya Bu Kek Siang sendiri, seorang gadis she Sim.
Mereka saling mencinta dan akhirnya menjadi suami-isteri.
Pangeran Chu Sin dan isterinya tinggal mengasingkan diri digunung sampai mereka mempunyai dua orang anak.
Akan tetapi pada suatu hari, datanglah pasukan pemerintah yang telah mengetahui dimana adanya Pangeran Chu Sin.
Rumah itu diserbu.
Isteri Chu Sin, sebagai seorang wanita kang-ouw, melakukan perlawanan gigih dan akhirnya tewas.
Pangeran Chu Sin sendiri tertawan oleh pasukan dan dibawa pergi ke Kotaraja.
Pada akhir catatan itu, barulah Seng Kun dan Bwee Hong dengan kaget membaca bahwa putera sang pangeran itu bukan lain adalah mereka sendiri!
Ketika itu, demikian menurut catatan pendekar Bu Kek Siang, Seng Kun baru berusia tiga tahun dan Bwee Hong berusia satu tahun.
Mereka lalu ditolong oleh pendekar Bu Kek Siang suami-isteri dan diaku sebagai anak-anak mereka sendiri, digembleng dengan ilmu silat dan ilmu pengobatan.
"Koko..."
"Moi-moi!"
Dua orang anak itu saling berangkulan dan menangis.
Kiranya mereka bukan anak kandung pendekar Bu Kek Siang, melainkan putera-puteri seorang pangeran yang kini entah masih hidup ataukah sudah mati.
sedangkan ibu kandung mereka telah lama tewas dalam pengeroyokan pasukan Istana.
Pendekar yang dianggap ayah itu ternyata malah kakek paman mereka, karena bukankah ibu kandung mereka itu keponakan dari nyonya Bu?
Kenyataan yang mereka baca dalam catatan pendekar Bu Kek Siang itu menimbulkan berbagai macam perasaan.
Mereka merasa terharu dengan kenyataan bahwa suami-isteri pendekar itu biarpun hanya merupakan ayah dan ibu pungut saja, ternyata telah mencurahkan kasih sayang yang amat besar kepada mereka.
Dan ternyata bahwa she mereka sendiri bukanlah she Bu melainkan she Chu!
Akan tetapi, kenyataan itu pun mendatangkan suatu harapan tipis, yaitu untuk dapat bertemu dengan ayah kandung mereka.
Bukankah menurut catatan itu, ayah kandung mereka, Pangeran Chu Sin, masih hidup dan hanya ditawan saja oleh para pasukan Istana?
Ho Pek Lian bersama dua orang gurunya, melanjutkan perjalanan mereka yang telah tertunda sampai setengah bulan lebih itu.
Pengalaman-pengalaman mereka selama beberapa belas hari ini benar-benar mengejutkan sekali dan membuka mata mereka bahwa didunia ini terdapat banyak-sekali orang pandai dan bahwa kepandaian mereka sesungguhnya masih amatlah rendah.
Pengalaman-pengalaman ini terutama sekali amat mengejutkan hati Pek Lian.
Dua orang kakek itu sudah banyak pengalaman, akan tetapi baru sekarang merekapun menghadapi orang-orang yang amat pandai, seolah-olah ada sesuatu terjadi didunia kang-ouw ini yang membuat orang-orang sakti bermunculan dari tempat pertapaan dan persembunyian mereka.
Kim-suipoa adalah seorang yang belum pernah menikah dan namanya adalah Tan Sun.
Semenjak muda dia suka bertualang, oleh karena itu maka dia tidak pernah menikah setelah dimasa mudanya pernah gagal bercinta.
Kesukaannya, selain ilmu silat, adalah berdagang dan kalau dia sudah memperoleh keuntungan-keuntungan karena tepatnya perhitungannya, maka berbahagialah hatinya.
Akan tetapi, dia tidak pernah dapat mengumpulkan hartanya.
Hatinya terlalu perasa dan kedua tangannya terlalu terbuka sehingga semua keimbangan yang didapatnya karena kelihaiannya mainkan suipoa, selalu habis disumbangkan kepada orang lain.
Sekarangpun, seluruh hartanya diberikannya kepada Liu Pang untuk memperkuat kedudukan pendekar yang memimpin orang-orang gagah sebagai seorang Bengcu itu.
Pek-bin-houw bernama Liem Tat dan dalam usia semuda itu, baru empat puluh tahun lebih, dia sudah menduda.
Isterinya tergila-gila kepada pria lain dan melarikan diri bersama pria itu.
Pek-bin-houw Liem Tat tidak mengejar, membiarkannya saja karena dia berpikir bahwa kalau memang isterinya itu, sebagai seorang wanita sudah tidak suka hidup bersama dia, perlu apa dipaksa?
Lebih baik begitu, lebih baik berpisah dari pada memilih seorang isteri yang tidak mencintanya lagi.
Untung bahwa selama pernikahannya itu, dia dan isterinya tidak dikurniai anak.
Penyebab utama mengapa isterinya meninggalkannya adalah karena dia suka bertualang, sebagai seorang pendekar kang-ouw tidak memperdulikan keadaan kesejahteraan rumah tangga, bahkan tidak jarang dia bertualang meninggalkan isterinya sampai berbulan-bulan.
Inilah salahnya kalau orang memperisteri wanita yang tidak sehaluan dengan sang suami.
Andaikata isterinya juga seorang kang-ouw, tentu keduanya dapat bertualang bersama-sama.
Dua orang ini yang sekarang menjadi pembatu-pembantu Liu Pang, yaitu Bengcu (pemimpin rakyat) yang amat terkenal itu, menjadi terkejut dan terheran ketika melihat munculnya banyak orang sakti selama ini.
Mereka lalu mengajak murid mereka untuk cepat-cepat kembali ke puncak Awan Biru untuk kembali kesarang mereka dan melapor kepada Liu-twako.
Akan tetapi Pek Lian membantah.
"Maaf, suhu. Akan tetapi aku ingin sekali mengetahui bagaimana nasib ayahku. Menurut kabar, ayah akan ditawan dikota Wu-han diPropinsi hupeh. Aku ingin sekali menyelidiki kesana."
Kim-suipoa mengerutkan alisnya.
"Sungguh berbahaya sekali bagimu, nona. Engkau telah dikenal dan tentu sekarang mereka sudah bersiap-siap. Apa lagi setelah terjadi serangan kita yang ternyata gagal itu, tentu pemerintah telah menganggap engkau seorang buronan yang akan dikejar-kejar."
"Dan untuk menyelidiki keadaan Ho-taijin, sebaiknya kalau diserahkan kepada pendapat dan siasat Liu-twako yang dapat mengirim penyelidik-penyelidik rahasia, tentu hasilnya akan lebih baik dari pada kalau kita sendiri yang menyelidiki sambil sembunyi-sembunyi,"
Pek-bin-houw menyambung. Akan tetapi gadis itu mengerutkan alisnya.
"Suhu sendiri tentu akan kecewa kalau melihat muridnya menjadi seorang anak yang tidak memperdulikan keadaan ayah yang tertawan, dan takut menghadapi bahaya demi menolong ayahnya. Suhu, aku ingin mencari keterangan tentang ayah,"
Gadis itu berkata lagi dan teringat akan ayahnya yang menderita, matanya menjadi basah.
"Nona, kami sama sekali tidak berkeberatan dan memang sepantasnya kalau Ho-taijin dibebaskan dari cengkeraman Kaisar lalim. Akan tetapi apa daya kita kalau beliau sendiri tidak mau dibebaskan? Apakah yang akan kita lakukan kalau kita pergi keWu-han?"
"Aku hanya ingin mendengar bagaimana keadaannya."
"Baiklah,"
Akhirnya Kim-suipoa Tan Sun mengangguk.
"Bagaimanapun juga, untuk pulang ke puncak Awan Biru, kita dapat mengambil jalan melewati Wu-han. Mari kita pergi agar sebelum terlampau gelap kita sudah bisa tiba dikota kihan disebelah selatan Wu-han."
Mereka melakukan perjalanan cepat dan pada sore hari itu tibalah mereka dikota kihan, sebuah kota yang cukup besar dan ramai.
Selagi mereka berjalan dijalan raya untuk mencari sebuah rumah penginapan, mereka melihat betapa dijalan raya itu banyak terdapat perajurit-perajurit pemerintah hilir-mudik dan Suasana nampak sibuk sekali.
Melihat ini, Pek Lian lalu berjalan dibelakang kedua orang gurunya untuk menyembunyikan mukanya dan mereka mengambil jalan ditepi jalan raya itu agar jangan bertemu dengan komandan-komandan pasukan.
Akan tetapi, dara ini tidak mengenal betul watak para perajurit yang sedang mengadakan suatu gerakan disebuah tempat.
Mereka ini bukan hanya merupakan kelompok orang-orang yang sudah biasa dengan kekerasan dan juga yang selalu merasa memiliki kekuasaan atas rakyat jelata sehingga sering sekali melakukan tindakan dan sikap sewenang-wenang, juga mereka yang bertugas dan agak lama berjauhan dari wanita itu selalu mempergunakan kesempatan untuk bersikap kurang ajar terhadap wanita-wanita yang dijumpainya dimana saja.
Apa lagi kalau wanita itu secantik Ho Pek Lian!
Para perajurit yang berkeliaran dikota kihan itu adalah pasukan yang baru saja kembali dari tugas mereka untuk menumpas gerombolan, yaitu mereka yang tidak mentaati pemerintah, gerombolan disepanjang Sungai Yang-ce yang terkenal itu.
Biarpun Pek Lian telah mengambil jalan dipinggir namun kemudaan dan kecantikannya tidak lolos dari pandang mata seorang perajurit mabok yang kebetulan lewat didekatnya.
Apa lagi karena siang-siang para wanita kota itu sudah menyembunyikan diri didalam rumah ketika pasukan tiba, sehingga dijalan raya itu tidak nampak wanita muda, maka kehadiran Pek Lian amatlah menyolok.
"Heh, nona manis, hendak kemana?"
Perajurit mabok itu berkata sambil menyeringai dan tangannya terjulur kedepan untuk meraih dada! Tentu saja Pek Lian mengelak dan menjadi marah.
"Manusia tak sopan!"
Desisnya akan tetapi ia tidak melayani perajurit itu dan mengharap perajurit itu akan lewat begitu saja.
Akan tetapi dugaannya keliru karena tiba-tiba perajurit itu membalik dan menubruk pinggangnya yang ramping.
Tentu saja Pek Lian yang sedang berduka memikirkan keadaan ayahnya itu menjadi jengkel sekali, apa lagi karena setelah ayahnya ditawan oleh pasukan kerajaan, ia membenci setiap orang perajurit kerajaan, maka tanpa ampun lagi ia menggerakkan kaki tangannya dan perajurit itu roboh terjungkal diatas jalan.
Ketika menerima hantaman yang amat keras itu, perajurit mabok ini berteriak keras, akan tetapi setelah roboh terbanting, dia tidak mampu berteriak lagi.
Tentu saja peristiwa itu menimbulkan kegemparan.
Para perajurit yang sedang berkeliaran itu, cepat berlari mendatangi dan melihat betapa seorang diantara kawan mereka dihantam roboh oleh seorang dara cantik, tentu saja mereka langsung saja maju mengeroyok!
Pek Lian cepat melawan dan tentu saja dua orang gurunya juga tidak tinggal diam dan membantu murid mereka itu.
Tentu saja banyak perajurit yang roboh malang-melintang ketika tiga orang ini mengamuk.
Akan tetapi makin banyak perajurit berdatangan.
Melihat ini, karena khawatir kalau-kalau para peiwira tinggi yang lihai datang, Kim-suipoa lalu berteriak kepada Pek-bin-houw dan Pek Lian untuk mengikutinya melarikan diri dan menghilang kedalam kegelapan malam.
Tentu saja para perajurit mengejar sambil berteriak-teriak.
Kim-suipoa terus berlari, diikuti oleh Pek-bin-houw dan Pek Lian.
Mereka lari ketepi kota dan melihat sebuah rumah ditempat yang sunyi dan gelap, mereka segera menghampirinya.
Rumah itu gelap diluar maupun didalamnya, maka mereka lalu mendorong daun pintu depan.
Daun pintu terbuka dan didalamnya gelap sekali.
Kebetulan, pikir mereka.
Agaknya rumah kosong.
Mereka lalu melangkah masuk dan menutupkan kembali daun pintunya.
Dari jauh mereka mendengar derap kaki orang-orang yang berlari-larian, yaitu kaki para perajurit yang mengejar dan mencari-cari mereka.
Agaknya mereka itu tidak mencurigai rumah ini, buktinya tidak ada perajurit yang menuju kerumah itu.
Keadaan kamar yang gelap pekat itu membuat mereka tidak berani bergerak.
Setelah suara kaki dijalan raya itu tidak terdengar, lagi, terdengar Kim-suipoa berbisik.
"Mereka sudah pergi. Tempat ini agaknya kosong, sebaiknya kalau kita bermalam disini saja."
"Sebaiknya begitu, akan tetapi kegelapan ini..."
Kata Pek-bin-houw.
"Aku membawa batu pembuat api!"
Kata Pek Lian.
"Kalau saja ada lilin disini."
"Kamar ini tentu ada mejanya, barang kali ada lilin atau lampu"
Kata Kim-suipoa. Mereka melangkah untuk meraba-raba mencari meja.
"Ihh...!"
Pek Lian menahan jeritnya.
"Ehh...!"
Kim-suipoa juga berseru.
"Apa yang terinjak ini?"
Pek-bin-houw juga berseru.
Mereka merasa menginjak sesuatu yang lunak.
Karena tidak dapat menyentuh meja, dan ingin melihat apa yang mereka injak itu, Pek Lian lalu memukul batu apinya.
Terdengar bunyi "crek!
crek!"
Dan setiap ada api berpijar, nampak sinar terang.
Tiba-tiba Pek Lian menjerit ketika ia melihat kedepan pada saat bunga api berpijar.
Ia melihat sepasang mata melotot dari seorang pria berpakaian perwira kerajaan yang duduk diatas kursi!
Saking kagetnya, ia menjerit dan batu api itu terlepas, jatuh.
Ia berjongkok dan dengan tangan menggigil karena merasa ngeri, ia hendak mencari bata apinya.
Akan tetapi, untuk kedua kalinya ia menjerit karena tangannya meraba-raba sesuatu yang ternyata adalah muka orang!
"Ihhh...!"
"Ada apa, nona?"
"Ada... ada orang... Duduk kursi dan rebah dilantai"
Kim-suipoa meraba-raba dan diapun dapat meraba orang-orang yang malang-melintang diatas lantai.
"Ah, ada beberapa orang dan mereka agaknya telah mati. Ini batumu"
Katanya dan cepat mereka mencetuskan batu api sehingga terpancar sinar.
Setelah mencetuskan beberapa kali, mereka dapat melihat tempat minyak dan lampu.
Cepat mereka lalu menyalakan api dan betapa ngeri hati mereka melihat bahwa ada sedikitnya enam orang perwira kerajaan yang tewas malang-melintang diatas lantai, sedangkan seorang perwira yang telah mati duduk diatas kursi dengan mata melotot dan lidah terjulur keluar.
Mengerikan sekali.
Rumah itu kosong, agaknya tidak ada orang lain, atau orangnya yang masih hidup kecuali mereka bertiga.
Tiba-tiba terdengar suara terkekeh perlahan.
Mereka bertiga terkejut dan memandang keatas.
Kiranya diatas tiang yang melintang nampak empat orang yang memiliki wajah yang menyeramkan, wajah yang gagah dan juga bengis.
Tiga orang diantara mereka sudah berusia lima puluh tahun lebih, akan tetapi seorang diantaranya masih muda, kurang lebih dua puluh tahun usianya, wajahnya halus dan tampan.
Karena mengira bahwa tentu mereka itu adalah orang-orangnya pasukan yang mengejar mereka, maka Kim-suipoa sudah menggerakkan tangannya dan empat butir biji suipoa terbuat dari baja meluncur kearah empat orang itu.
Senjata Kim-suipoa Tan Sun ini adalah alat suipoa, dan senjata rahasianya juga biji suipoa, tentu saja bukan dari emas melainkan dari baja.
Akan tetapi, dengan tenangnya empat orang itu menyambut sinar yang menyambar itu dengan tangan mereka!
Kim-suipoa terkejut karena hal ini saja sudah membuktikan betapa lihainya mereka itu.
"Aha, kiranya Kim-suipoa yang dikejar-kejar para perajurit. ha-ha, ini namanya jodoh!"
Kata pemuda itu dan dia sudah mendahului meloncat turun diikuti oleh tiga orang temannya.
Karena sikap empat orang itu tidak bermusuhan, maka Pek Lian dan dua orang gurunya juga hanya memandang dengan sikap waspada.
Orang muda itu menyingkirkan mayat yang menghalang didepan kakinya dengan menendangnya kepinggir dan dengan sikap menghina.
Kemudian dia menjura kepada Kim-suipoa.
"Maaf kalau kami mengejutkan lo-enghiong berdua dan nona. Kalau boleh kami bertanya, mengapa sam-wi dikejar-kejar para perajurit?"
"Aku diganggu perajurit dan kami merobohkan beberapa orang perajurit, lalu kami dikeroyok dan lari sampai disini,"
Kata Pek Lian. Pemuda itu tersenyum.
"Hemm, memang begitulah watak mereka. Sudah lama kami mendengar nama besar Kim-suipoa lo-enghiong, dan kamipun merasa kagum sekali kepada Liu-taihiap."
"Beliau adalah guruku!"
Kata Pek Lian. mendengar ini, mereka berempat menjura.
"Ah, kiranya para pendekar dari puncak Awan Biru. Maafkan kami. Tempat inipun tidak aman, kami mohon diri lebih dulu!"
Berkata demikian, pemuda itu berkelebat diikuti oleh tiga orang temannya dan merekapun lenyap dari situ.
Hanya ada angin menyambar yang membuat api lampu diatas meja bergoyang-goyang.
Pek Lian saling pandang dengan dua orang gurunya sambil menggeleng-geleng kepala.
Kembali mereka bertemu dengan orang-orang yang berkepandaian tinggi.
"Suhu, siapakah kiranya orang-orang tadi?"
Kedua orang gurunya menggeleng kepala karena mereka memang belum mengenal orang-orang tadi dan tidak dapat menduga siapa mereka.
Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara derap kaki orang diluar rumah dan diikuti teriakan-teriakan para perajurit.
"Mari lari dari jendela!"
Teriak Kim-suipoa. yang sudah membuka jendela samping dan mereka berloncatan keluar.
"Tangkap!"
"Serbu...!"
"Kejar...!!"
Akan tetapi tiga orang itu dengan cepat telah melarikan diri didalam kegelapan malam dan dikejar-kejar oleh para perajurit.
Dan kiranya kota kihan itu telah dijaga ketat sekali oleh banyak perajurit sehingga pintu-pintu gerbang tak mungkin dilalui orang tanpa pemeriksaan dan pengge-ledahan yang ketat.
Untuk melompati pagar tembok kota juga berbahaya karena agaknya malam itu para perajurit benar-benar sibuk melakukan penjagaan.
Untuk melalui pintu gerbang tentu saja mereka tidak berani.
Dan untuk tetap tinggal didalam kota, tanpa ada tempat menginap, selain berbahaya juga akan membuat, mereka tentu menjadi lelah sekali.
Akhirnya mereka dapat menemukan tembok kota yang gelap dan agak jauh dari penjagaan, maka tanpa ragu-ragu lagi mereka lalu berlompatan dan keluar dari kota kihan melalui tembok kota itu.
Betapapun juga, mereka tidak berhenti dan terus berlari sampai akhirnya mereka melihat sebuah kuil tua dikaki bukit.
kesitulah mereka menuju dan mereka segera mengetuk pintu kayu tebal kuil itu.
Beberapa kali mereka mengetuk dan akhirnya pintu depan terbuka dan seorang hwesio dengan mata mengantuk berdiri didepan mereka.
Kim-suipoa yang memimpin rombongannya segera memberi hormat kepada hwesio itu.
"Kami mohon kemurahan hati para hwesio disini untuk dapat menampung kami bermalam ditempat ini melepaskan lelah."
Hwesio itu mengerutkan alisnya.
"Pinceng tidak berani memberi keputusan karena sam-wi datang ditengah malam begini, apa lagi ada seorang wanita muda sebaiknya pinceng melapor kepada suhu, yaitu kalau suhu belum tidur. Kalau suhu sudah tidur, tentu saja pinceng tidak berani membangunkannya dan tidak berani menerima sam-wi."
"Sudahlah, A-ceng, silahkan mereka masuk kekamar tamu."
Tiba-tiba terdengar suara halus dari dalam. Hwesio yang dipanggil A-ceng itu tersenyum.
"Ah, suhu belum tidur. Silahkan, sam-wi, silahkan masuk kesini..."
Dia lalu membawa lampu teng bergagang, menutupkan kembali daun pintu dan memalangnya, kemudian mengantar tamu-tamu itu menuju kesebuah ruangan tamu disamping.
Seorang hwesio tua sudah duduk disitu.
Kim-suipoa selain terkenal sebagai seorang pendekar gagah perkasa, juga terkenal sebagai seorang dermawan, maka mengingat bahwa dia banyak dikenal oleh kuil-kuil yang sudah banyak disumbangnya, dia lalu memperkenalkan diri setelah memberi hormat.
"Saya Kim-suipoa Tan Sun dan dua orang teman mohon maaf kalau mengganggu losuhu. Kami bertiga kemalaman dijalan dan mohon diperkenankan mengaso sampai pagi dikuil ini."
Mendengar julukan ini, benar saja hwesio tua itu segera merangkapkan kedua tangan didepan dadanya.
"Omitohud..., kiranya Tan-sicu yang datang. Apa lagi Tan-sicu yang telah banyak melimpahkan budi kepada kaum miskin dan tempat-tempat ibadah, biar orang lain sekalipun kalau kemalaman tentu akan pinceng terima dengan hati dan tangan terbuka. Silahkan, sicu."
Hwesio tua itu lalu menyuruh hwesio bernama A-ceng itu untuk membawa tiga orang tamunya kekamar tamu, dua buah kamar, sebuah untuk siocia (nona) dan yang kedua untuk kedua orang sicu (orang gagah) itu.
Malam itu Pek Lian dan kedua orang gurunya dapat beristirahat dengan tenang dan dapat tidur nyenyak sehingga pada keesokan harinya, ketika pagi-pagi mereka bangun, mereka merasa segar dan tenaga mereka telah pulih kembali.
Pagi-pagi sekali, mereka bertiga sudah bangun, mereka membersihkan diri, berkemas dan bersiap-siap untuk berpamit dari ketua kuil untuk melanjutkan perjalanan mereka, karena mereka merasa bahwa terlalu lama berada disekitar daerah dimana sedang diadakan pembersihan itu, tidaklah menguntungkan.
Pula, yang mereka tuju adalah Wu-han, dimana Menteri Ho kabarnya ditawan.
Akan tetapi, pada saat mereka berjalan menuju keruangan depan, terdengar ada orang membuka pintu depan dan menutupkannya kembali, lalu terdengar suara ketua kuil yang halus dan sabar.
"Hei, A-hai, kemana sajakah engkau semalam? Omitohud... pinceng benar-benar mengkhawatirkan dirimu. Kenapa engkau tidak pulang? Apakah terjadi kesukaran lagi, Hai-ji (anak Hai)?"
"Maaf, suhu. Aku tidak berani pulang. Habis, banyak sekali perajurit-perajurit dikota pada mengamuk membabi-buta. Aku jadi ketakutan dan aku tidur bersama para jembel didalam pasar."
Jawaban suara ini seperti tidak asing dan telah dikenal oleh Pek Lian dan dua orang gurunya, akan tetapi mereka lupa lagi dimana pernah mendengar suara itu, suara yang ketolol-tololan.
Kim-suipoa lalu maju dan membuka pinta lalu melangkah keluar.
Orang yang disebut Hai-ji dan baru datang itu telah memegang sebatang sapu bergagang panjang dan sudah siap untuk menyapu pelataran dimana banyak terdapat, daun-daun sang berguguran semalam.
Mudah diduga bahwa pemuda itu adalah murid atau juga pelayan dikuil itu karena dia bukanlah hwesio, melainkan seorang pemuda yang bertubuh jangkung tegap, dengan rambut hitam panjang digelung kebelakang dan pakaiannya sederhana.
Mendengar pintu dibuka orang, pemuda itu menoleh.
"Eh, kau??!"
Suara Kim-suipoa terdengar kaget sekali ketika dia mengenal pemuda itu.
Pek Lian dan Pek-bin-houw cepat keluar dari pintu itu dan merekapun terkejut, memandang kepada pemuda yang memegang sapu itu dengan mata terbelalak dan pandang mata gentar.
Tentu saja mereka gentar karena pemuda ini bukan lain adalah pemuda yang pernah menjadi kusir kereta tawanan yang membawa Menteri Ho, pemuda yang terluka lalu mengamuk dengan kepandaiannya yang mentakjubkan dan mengerikan itu!
Mereka bertiga memandang dengan muka berobah dan sikap waspada.
Siapakah pemuda ini?
Bagaimana dulu pernah menjadi kusir pasukan pemerintah, dan sekarang menjadi pelayan kuil?
Ketua kuil, hwesio yang usianya sudah mendekati tujuh puluh tahun itu kini datang menghampiri.
Diapun tersenyum gembira.
"Omitohud..., betapa sempitnya dunia ini. Kiranya sam-wi (anda bertiga) telah mengenal anak ini? Sungguh kebetulan sekali! Baru setengah bulan dia bekerja disini. Dan pinceng tidak tahu siapa dia sebenarnya. Siapakah anak ini, sicu?"
Tanyanya kepada Kim-suipoa.
"Sungguh aneh!"
Ho Pek Lian berseru.
"Apakah losuhu belum mengenal dia? Kalau begitu, bagaimana dia bisa berada disini? Kami baru dua kali ini bertemu dengan dia dan kamipun tidak tahu siapakah dia sebenarnya."
"Orang muda, bukankah sudah tiba saatnya bagimu untuk memperkenalkan diri?"
Pek-bin-houw berkata sambil memandang tajam kepada wajah yang tampan dan gagah sekali itu.
Sejenak pemuda tinggi besar itu memandang kepada mereka satu demi satu.
Alisnya yang tebal hitam berbentuk golok itu berkerut, sepasang mata yang bening tajam akan tetapi nampak bingung itu menjadi semakin muram.
Dia membanting kakinya dan nampak jengkel sekali, bahkan dia lalu membuang sapunya.
Wajahnya muram dan membayangkan kekesalan hatinya.
Tangan kirinya menggaruk-garuk kepala dibelakang telinga, bahkan lalu mencengkeram dan menjambaki rambutnya sehingga gelungnya terlepas dan rambut yang diikat dibagian belakang itu menjadi seperti ekor kuda yang besar.
"Suhu... sungguh celaka, semua membuatku menjadi pusing saja! Setiap orang mengatakan bahwa dia pernah mengenalku, pernah melihatku, malah banyak yang mengatakan bahwa aku pernah memukulnya. Mereka memandang dengan takut kepadaku, katanya aku lihai dan pandai silat. Padahal, aku belum pernah melihat mereka! Dan aku sama sekali tidak bisa silat, apa lagi memukul orang. Bagaimana ini? Suhu, siapakah aku ini sebenarnya? Kenapa begitu banyak orang mengenalku sedangkan aku belum pernah bertemu dengan mereka? Ah, aku bisa menjadi gila kalau menghadapi teka-teki ini... suhu, katakanlah siapa sebenarnya diriku ini."
Hwesio tua itu merangkap kedua tangan didepan dada, pandang matanya diangkat keatas seolah-olah dia berdoa.
"Omitobud...!"
Dipandangnya pemuda itu dengan sinar mata penuh iba kasih mendalam.
"Sudahlah, Hai-ji... engkau masuk dan beristirahatlah dulu. Mungkin engkau masih merasa kaget oleh ulah para perajurit malam tadi, maka tenangkanlah hatimu dan mengasolah."
Pemuda itu mengangguk dan melangkah pergi, baru beberapa langkah berhenti dan mengambil sapu yang dibuangnya tadi, menyandarkannya dibatang pohon, barulah dia pergi meninggalkan tempat itu tanpa menoleh kepada Pek Lian dan dua orang gurunya.
Dan melihat sikap pemuda itu, entah bagaimana ia sendiripun tidak tahu dan tidak mengerti mengapa, hati Pek Lian terasa amat kecewa.
Pemuda itu sama sekali tidak memperhatikannya, melirik sedikitpun tidak, seolah-olah ia tidak pernah ada disitu!
Dan anehnya, pemuda itu nampaknya seperti ketakutan benar ketika diingatkan akan para perajurit.
Dan pemuda itu nampak bahwa dia benar-benar sama sekali tidak mengenal mereka.
Benarkah pemuda itu sakit ingatan?
Sungguh sayang sekali.
Pemuda yang demikian gagahnya, tampan dan juga sebetulnya lihai bukan main sehingga seorang tokoh besar seperti Pek-lui-kong saja dapat dibuat gentar olehnya.
Hwesio tua itu menarik napas panjang.
"Sunggun patut dikasihani anak itu. Agaknya sesuatu yang amat hebat telah menimpa dirinya sehingga jiwanya terguncang hebat. Dia benar-benar lupa sama sekali akan masa lalunya. Dia tidak tahu siapa dirinya dan siapa pula orang tuanya."
"Akan tetapi, losuhu. Bukankah losuhu menyebut namanya dengan Hai-ji (anak Hai)?"
Hwesio itu kembali menghela napas.
"Ketika dia mengerahkan seluruh ingatannya, dia mengatakan bahwa dia hanya ingat orang tuanya menyebutnya Hai-ji (anak Hai). Oleh karena itu maka pinceng menyebutnya A-hai atau Hai-ji. Agaknya namanya, tak salah lagi, tentu ada huruf Hainya Dia telah berkelana sampai jauh, mencari orang yang tahu akan riwayat hidupnya, yang benar-benar mengenalnya dan tahu keadaan keluarganya., Namun, sampai sekarang sia-sia belaka."
"Sungguh aneh sekali. Apakah dia tidak ingat sama sekali peristiwa yang terjadi pada saat terakhir dia dapat mengingatnya, losuhu?"
Tanya Pek-bin-houw. Kakek itu menggeleng kepalanya.
"Keadaan dirinya sendiripun kadang-kadang aneh dan dia kehilangan ingatan sama sekali. Dalam keadaan sadar, dia adalah seorang pemuda yang rajin, sopan, biarpun pemurung karena selalu memikirkan dirinya, dan juga seorang pemuda yang lemah, dalam arti kata tidak mengenal ilmu silat walaupun pada dasarnya dia bertenaga besar dan bertulang bersih sekali. Akan tetapi apabila dia mengalami tekanan batin atau melihat darah, maka dia akan kumat. Dan kalau sudah begitu, dia bisa berbahaya bukan main. Dengan tiba-tiba saja dia menjadi buas, liar dan memiliki gerakan silat yang luar biasa sekali. Sudah setengah bulan dia bekerja disini. Pinceng membawanya kesini setelah dia roboh pingsan, sesudah kumat dan mengamuk. Setelah sadar, dia menyatakan bahwa tempat ini menenangkan hatinya dan dia minta bekerja disini. Karena kasihan, pinceng menerimanya."
Pek Lian dan dua orang suhunya yang sudah merasakan kelihaian pemuda itu ketika kumat, lalu menceritakan tentang pertemuan mereka yang pertama kali dengan pemuda itu kepada ketua kuil yang mendengarkan dengan penuh rasa heran dan kagum.
"Pinceng tidak percaya bahwa dia dengan sengaja membantu pasukan,"
Katanya, tidak mengerti bahwa nona itu adalah puteri Ho-taijin yang terkenal karena mereka tidak menceritakan hal itu.
"Dia tidak berpura-pura. Dalam keadaan sadar, dia sama sekali tidak mengerti ilmu silat. Pinceng sudah beberapa kali mencobanya. Akan tetapi kalau penyakit aneh itu kambuh, ilmunya hebat bukan main. Sungguh mengherankan sekak, mengapa begitu hilang kesadarannya, dia malah menjadi lihai sekali."
"Memang mengherankan dan patut dikasihani,"
Kata Kim-suipoa.
"Kalau dia tidak cepat memperoleh pengobatan sampai sembuh, keadaannya seperti itu amat berbahaya dan tentu saja dia dapat disalah-gunakan oleh golongan penjahat."
Hwesio itu mengangguk-angguk.
"Memang berbahaya sekali. Tiga hari yang lalu ketika dia sedang bergembira, pinceng menyuruhnya membetulkan genteng yang pecah dan bocor. Entah karena kurang hati-hati barangkali, dia terjatuh kebawah. Kakinya terluka, lecet dan mengeluarkan banyak darah. Begitu dia melihat darah, langsung saja dia kumat, mengamuk. Kalau pinceng dan para hwesio tidak cepat melarikan diri, mungkin ada yang terbunuh. Dia mengejar pinceng dan melawanpun percuma. Pinceng lalu pasrah dan bersila, bersembahyang. Eh, melihat pinceng bersembahyang, dia tidak jadi memukul walaupun angin pukulan tangannya sempat membuat pinceng tergetar hebat. Dan diapun melayang naik keatas genteng diwuwungan tertinggi dan duduk menangis! Hebatnya, setelah dia sadar kembali, dia menjadi ketakutan dan tidak dapat turun sehingga pinceng terpaksa memasang anak tangga untuk dia turun."
Pek Lian dan dua orang gurunya merasa heran dan juga geli.
Sungguh keadaan pemuda itu amat aneh dan penuh rahasia.
Akan tetapi karena pemuda itu sendiri tidak dapat menceritakan keadaan dirinya, dan mereka mempunyai urusan penting mereka lalu mohon diri dari ketua kuil.
Akan tetapi, baru saja mereka hendak melangkah keluar, tiba-tiba terdengar suara terompet bersahut-sahutan dari jauh, disusul suara derap kaki banyak kuda disepanjang jalan tak jauh dari kuil itu.
Jelaslah bahwa keributan para perajurit itu menunjukkan bahwa telah terjadi sesuatu yang hebat.
Para hwesio kuil itu berlari-larian keluar untuk menonton, kecuali pemuda aneh yang malah bersembunyi dibelakang kuil.
Dan ketua kuil yang dengan tenang saja berada diruangan depan.
"Maaf, losuhu, kemarin kami bentrok dengan para perajurit ketika saya diganggu, maka kami ingin tinggal dulu disini sampai mereka itu pergi,"
Kata Pek Lian. Ketua kuil itu mengangguk dan mempersilahkan.
"Kami akan menyelidiki keadaan diluar dan melihat apa yang terjadi,"
Katanya, kemudian dia memanggil beberapa orang hwesio dan memberi perintah kepada mereka untuk pergi menyelidik.
Menjelang tengah hari, ketua kuil itu menemui para tamunya dengan wajah yang serius.
Setelah duduk berhadapan, ketua kuil itu lalu menarik napas panjang berkali-kali.
"Omitohud..., dunia semakin menjadi kacau kalau manusia-manusianya tidak lekas-lekas sadar akan dirinya, baik yang paling tinggi kedudukannya maupun yang paling rendah."
"Apakah yang telah terjadi, losuhu?"
Tanya Pek Lian.
"Ah, sungguh menyedihkan dan mengerikan. Para pendekar mulai memperlihatkan kemarahannya dan banyak perwira-perwira dibunuh dimana-mana, tidak terkecuali dikota kihan. Beberapa orang perwira yang sedang berkemah didekat kota dan sedang menghibur diri dikota, tahu-tahu dibunuh orang. Ahhh..., semua ini akibat dari pada peraturan-peraturan tidak adil yang dilakukan oleh Kaisar. Malah baru saja pemerintah melarang terhadap orang-orang bersenjata. Pendeknya, semua senjata yang ada dalam rumah dirampas dan disita untuk dilebur dan dihancurkan, dan tentu saja setiap, orang yang membawa senjata ditangkap, senjatanya dirampas dan kalau dia melawan akan dipukuli bahkan ada yang dibunuh. Kacau... kacau..., dan sam-wi sebagai pendekar-pendekar sebaiknya cepat menyembunyikan senjata kalau sam-wi membawanya."
Pek Lian meraba pedangnya dan saling berpandangan dengan kedua orang gurunya.
Kaisar telah bertindak terlampau jauh.
Akan menentang para pendekar dengan terang-terangan agaknya.
Kim-suipoa mengepal tinjunya.
"Tindakan pemerintah sungguh sewenang-wenang. Semenjak ratusan tahun yang lalu, para pendekar mempersenjatai dirinya untuk melawan kejahatan. Kalau dilarang memegang senjata, bagaimana harus membela diri terhadap serangan segala macam binatang buas dan orang jahat?"
"Omitohud... makin tua pinceng mengalami hal-hal yang amat menyedihkan. Semenjak Kaisar yang sekarang berkuasa, memang ada beberapa hal yang pinceng anggap merupakan kebijaksanaan yang baik sekali. Penertiban ukuran dan timbangan sungguh menguntungkan dalam dunia perdagangan. Kemudian disamakannya huruf-huruf di seluruh daratan juga merupakan hal yang amat baik sekali bagi kesusasteraan dam kesenian. Akan tetapi, kenapa akhir-akhir ini bermunculan perintah-perintah yang begitu jahat? Kitab-kitab suci dibakar dan dimusnahkan! Bagaimana mungkin hal itu dilakukan tanpa menggegerkan dunia? Pinceng sendiri beragama Buddha, akan tetapi melihat betapa kitab-kitab Nabi Khong Cu dimusnahkan, diam-diam pinceng merasa ngeri. Jelas itu merupakan persaingan agama yang tidak adil. Kemudian, Menteri Ho yang bijaksana itu ditangkap seluruh keluarganya! Bukan main..."
"Berita apa lagi yang diperoleh murid-murid losuhu?"
Kim-suipoa bertanya.
"Hebat, dan membuat pinceng merasa tidak enak terhadap sam-wi. Ada berita yang mengatakan bahwa para perajurit itu mencari seorang gadis dan dua orang laki-laki setengah tua yang kabarnya pernah membuat onar dan mereka bertiga itu dituduh telah melakukan pembunuhan-pembunuhan terhadap para perwira kerajaan itu."
"Ah, yang dimaksudkan adalah kami!"
Kata Pek Lian terkejut.
"Agaknya demikianlah, nona. Maka sebaiknya kalau sam-wi bersembunyi dulu dikuil ini dan baru pergi setelah keadaan aman dan tenteram."
Tiga orang itu menjura dan menghaturkan terimakasih.
Tan Sun si Suipoa Emas dan Liem Tat si Harimau Muka Putih mengintai dari balik pintu depan, sedangkan Pek Lian pergi kebelakang untuk mencari pemuda aneh yang sinting itu.
Didapatkannya pemuda itu asyik membelah kayu-kayu bakar dengan pisau dapur yang tidak tajam dan juga kecil.
Dari belakang pemuda itu, Pek Lian memandang kagum.
Biarpun dalam keadaan sadar pemuda itu tidak paham ilmu silat, akan tetapi harus diakuinya bahwa pemuda ini bertenaga besar.
Kalau tidak, mana mungkin membelah kayu bakar hanya mempergunakan pisau dapur kecil yang tumpul pula?
Pemuda itu bertelanjang baju, hanya memakai celana hitam panjang.
Dari belakang nampak tubuhnya yang kekar dan kokoh kuat, dengan otot-otot yang besar dan hidup.
Pek Lian memandang kagum sekali sampai melongo dan seperti orang menahan napas.
Menarik sekali dan indah sekali bentuk tubuh pemuda itu, membayangkan kejantanan dan kekuatan yang mengagumkan hatinya.
Tiba-tiba pemuda itu menengok, seolah-olah merasa bahwa ada orang memandanginya.
Dua pasang mata bertemu dan sejenak bertaut.
Pek Lian segera menundukkan mukanya yang menjadi merah.
Ia telah tertangkap basah sedang "mencuri"
Pandang. Pemuda itupun kelihatan canggung dan dihentikannya pekerjaannya.
"Ada... ada apakah, nona?"
Dia bertanya sambil mengusap keringat dari dada dan lehernya, menggunakan saputangan besar.
"Ah, tidak apa-apa, maaf kalau aku mengganggu pekerjaanmu, eh... saudara A-hai. Bolehkah aku memanggilmu A-hai?"
Pek Lian melangkah, mendekat dan memandang ramah.
Pemuda itu sejenak menatap wajah itu, lalu menunduk dan dengan canggung seperti orang yang malu-malu membelah lagi kayu didepannya, akan tetapi karena canggung, gerakannya kaku dan kayu itu tidak dapat terbelah pecah.
"Tentu saja boleh, nona. Memang namaku A-hai."
"Dan namaku Pek Lian,"
Kata dara itu tanpa menyebutkan shenya yang untuk sementara ini harus disembunyikan dulu.
"Pek Lian?"
Pemuda itu mengerutkan alisnya, seolah-olah hendak mengingat-ingat atau hendak menanamkan nama itu dalam-dalam di batinnya.
"Pek Lian..., Pek Lian...!"
Pek Lian menahan senyumnya. Aneh sekali rasanya. Mengapa ketika namanya disebut berulang-ulang itu hatinya terasa senang sekali? "Engkau mengenal nama itu?"
A-hai menggeleng kepala.
"Aku hendak mengingatnya agar jangan lupa."
Kembali Pek Lian terasa sejuk nyaman.
Senang sekali hatinya dan iapun berjongkok didekat pemuda itu yang masih mencoba-coba untuk membelah kayu akan tetapi selalu gagal karena dia tiba-tiba menjadi canggung sekali.
"Begini kalau membelah kayu!"
Kata Pek Lian dan gadis ini miringkan tangan kanannya, mengerahkan tenaganya dan sekali "bacok"
Dengan tangan miring itu pecahlah kayu bakar didepannya menjadi dua, seperti terbacok golok yang tajam saja. Wajah A-hai berseri.
"Wah, engkau pandai sekali, Pek Lian!"
Pek Lian semakin girang.
Padahal, pemuda ini seharusnya menyebut nona.
Lalu iapun teringat bahwa ia sendiripun menyebut A-hai begitu saja, dan dalam sebutan-sebutan ini terasa olehnya suatu keakraban yang luar biasa.
"Apa engkau tidak bisa melakukannya dengan tangan kosong, A-hai?"
Pemuda itu menggeleng.
"Mana mungkin? Dengan pisau inipun amat sukarnya."
"Dengan pisau itu memang lebih sukar dari pada dengan tangan kosong. Cobalah dan tirulah aku, engkau tentu bisa,"
Kata Pek Lian.
"Nah, mula-mula tangan kananmu begini, lalu kerahkan tenaga, tahan napas dan salurkan tenaga ketanganmu, pusatkan pada bawah tanganmu dan curahkan perhatian dan keyakinan bahwa kayu ini tentu akan pecah terbelah oleh pukulan tanganmu yang tajam seperti golok.
"Mulai. Lihatlah dulu tanganku. Satu-dua-tiga! Krakk!"
Kayu itu pecah oleh bacokan tangan Pek Lian.
"Sekarang coba kau lakukan dengan kayu didepanmu itu."
Wajah pemuda itu berseri seperti seorang anak kecil memperoleh suatu permainan baru.
Diapun lalu menegangkan tangannya, dibentuk seperti bentuk tangan dara itu tadi, kemudian diapun menahan napas dan mengerahkan tenaga.
Pek Lian menekuk ibu jari pemuda itu agak membengkok kedalam telapak tangan, lalu mengangguk.
"Sudah baik begitu, nah, kerahkan tenaga dan dengar hitunganku. Satu..., dua... tiga...!"
Pemuda itu mengayun tangannya dan "Krakkk!"
Kayu itupun pecah terbelah!
A-hai tertawa gembira biarpun sambil menyeringai karena tangannya agak nyeri rasanya.
Diam-diam Pek Lian memandang kagum.
Tanpa disadari, pemuda ini sebenarnya memiliki sinkang yang amat kuat.
Kalau saja pemuda ini dapat mempergunakannya, tentu akan hebat sekali.
Kalau begitu, pikirnya, keadaan menjadi sebaliknya malah.
Kalau pikirannya sedang sadar seperti ini, justeru ilmu pemuda itu seperti "tidur,"
Akan tetapi sebaliknya kalau pikirannya kacau dan tidak sadar, ilmunya malah "bangun."
"Engkau baik sekali, Pek Lian,"
Katanya dan sikapnya menjadi ramah.
"Engkau juga baik sekali, A-hai. Benarkah bahwa engkau sudah tidak ingat sama sekali akan asal-usulmu?"
Pemuda itu mengerutkan alisnya yang hitam tebal itu, lalu menghela napas panjang. Dadanya yang bidang dan kuat itu membusung ketika dia menyedot napas.
Baca Juga: Bu Kek Siansu 10
Baca Juga: Pedang Ular Merah 7