Eps 4 Jodoh Si Naga Langit - Kho Ping Hoo
Baca online Jodoh Si Naga Langit - Kho Ping Hoo
Cersil Jodoh Si Naga Langit - Kho Ping Hoo.
Limabelas orang laki-laki berusia antara tigapuluh sampai empatpuluh tahun itu bergerak menyusup-nyusup di antara semak belukar dan pohon-pohonan dalam hutan di tepi jalan raya itu.
Pakaian mereka ringkas dan di punggung mereka tergantung golok telanjang yang mengkilap saking tajamnya.
Wajah mereka bengis dan sikap mereka kasar.
Mereka adalah segerombolan perampok yang tidak segan melakukan segala macam perbuatan jahat.
Mencuri, merampok, menganiaya, membunuh merupakan pekerjaan mereka sehari-hari.
Di antara limabelas orang itu terdapat seorang yang berusia empatpuluh tahun dan mukanya penuh brewok, tubuhnya tinggi besar dan matanya lebar dan liar.
Dialah yang menjadi pemimpin gerombolan berjuluk Hek-kwi (Setan Hitam) yang terkenal kejam, ganas, namun juga tangguh sekali karena memiliki ilmu silat tinggi.
Hek-kwi ini yang paling buas di antara mereka.
Dia suka memperkosa wanita, menganiaya dan membunuh sambil tertawa-tawa karena semua perbuatan kejam dan jahat itu merupakan kesenangan baginya.
Entah sudah berapa banyaknya wanita dia permainkan dan orang-orang dia bunuh.
Untuk sekitar daerah Kam-tin, namanya sudah terkenal dan ditakuti.
Bahkan pasukan keamanan Kam-tin juga tidak berdaya karena gerombolan ini pandai menyembunyikan diri.
Kalau disergap oleh pasukan yang kuat, mereka sudah menghilang dan kalau pihak penyerbu kurang kuat, tentu akan dibasmi habis oleh gerombolan yang ganas ini.
Para saudagar banyak yang mengalihkan daerah perdagangan mereka ke lain tempat sehingga jalan menuju ke Kam-tin menjadi sunyi.
Karena tidak banyak yang dapat dirampok di jalan yang melalui hutan itu, Hek-kwi terkadang membawa anak buahnya untuk merampok dusun-dusun di daerah itu.
Gerombolan kejam ini tidak segan untuk mengganggu dan merampok penduduk yang sudah melarat hidupnya.
Pada pagi hari itu, limabelas orang ini menyelinap di antara pohon-pohon, mengikuti dan mengintai seorang pejalan kaki yang mereka anggap aneh.
Orang itu bertubuh kecil saja, dari belakang tampak seperti seorang pemuda remaja.
Kepalanya tertutup sebuah caping lebar sehingga mukanya tidak dapat tampak jelas karena, tertutup bayangan capingnya.
Dari belakang orang itu tampak kecil tidak mengesankan, pakaiannya serba merah muda dan dari warna pakaiannya ini saja gerombolan itu dapat menduga bahwa orang itu tentulah seorang wanita!
Wanita yang melihat bentuk tubuhnya yang kecil langsing tentu masih seorang gadis muda atau mungkin juga seorang nenek yang sudah tua.
Akan tetapi kalau ia nenek, tentu tidak memakai pakaian berwarna merah muda seperti itu.
Hek-kwi memberi isyarat kepada anak buahnya dan limabelas orang itu lalu berloncatan sambil mengeluarkan pekikan seperti segerombolan binatang buas, menghadang pejalan kaki itu.
Mereka memandang penuh perhatian kepada orang bercaping itu dan terpesona.
Hek-kwi sendiri yang berdiri paling depan, terbelalak dan berdecak kagum, lalu menyeringai gembira.
Orang itu ternyata seorang gadis yang usianya sekitar duapuluh tahun.
Kepalanya tertutup caping, namun dapat dilihat bahwa rambutnya hitam dan panjang, digelung ke atas dan ditutupi caping.
Pakaiannya dari sutera merah muda, bentuknya sederhana saja namun bersih dan rapi.
Wajah gadis itu bulat telur, sinom (anak rambut) di dahi dan pelipisnya membuat wajah itu tampak manis, dahinya halus, alis hitam tebal namun kecil panjang, matanya bersinar-sinar seperti bintang, bersinar tajam namun tampak sayu seperti merenung, hidungnya kecil mancung, mulutnya indah dengan bibir merah basah dan lesung pipit di kanan kiri mulutnya menambah kejelitaannya.
Dagunya agak runcing.
Kulitnya putih mulus dan tubuhnya ranum, padat dengan pinggang ramping.
Tubuhnya bagian atas tertutup sebuah jubah yang lebar berwarna biru.
Gadis ini bukan lain adalah Han Bi Lan!
Seperti kita ketahui, Han Bi Lan yang remuk perasaan hatinya mendapat kenyataan bahwa setelah ditinggal mati ayahnya ia mendapat keterangan bahwa ibunya seorang bekas pelacur, menjadi liar karena malu, marah dan sakit hati.
Ia mengamuk di rumah-rumah pelacuran, menghajar dan melukai para laki-laki yang mengunjungi rumah pelesir, terutama para bangsawan dan hartawan, mengobrak-abrik rumah-rumah pelesir sehingga namanya terkenal dan ditakuti, bahkan dijuluki Ang I Moli (Iblis Betina Baju Merah)!
Namun semua itu belum dapat menenteramkan hatinya.
Ia menjadi gelisah oleh rasa malu dan duka sehingga ia tidak mengurus dirinya lagi.
Akhirnya ia bertemu dengan seorang yang aneh luar biasa, yang mengaku berjuluk Heng-si Ciauw-jiok (Mayat Hidup Berjalan) dan akhirnya Bi Lan menjadi murid manusia aneh seperti setan ini selama kurang lebih setahun.
Biarpun ia sudah berjanji bahwa setelah ia dianggap selesai belajar, ia harus mengubur gurunya itu hidup-hidup, namun setelah saatnya tiba, diam-diam Bi Lan minggat, meninggalkan gurunya itu karena bagaimanapun juga, tidak mungkin ia tega mengubur gurunya hidup-hidup!
Demikianlah, kini Bi Lan merantau lagi dengan hanya ada dua tujuan dalam hatinya.
Pertama, ia akan mencari Ouw Kan dan dua orang murid Ouw Kan yang telah membunuh ayahnya.
Kedua, ia akan mencari Souw Thian Liong untuk membalas penghinaan yang dilakukan pemuda itu kepadanya.
Pemuda itu telah menampar bukit pinggulnya sebanyak sepuluh kali.
Ia akan membalas kekalahannya dan membalas penghinaan itu.
Ia harus menampar Thian Liong sebanyak dua kali lipat!
Kini setelah mendapatkan gemblengan selama setahun dari Si Mayat Hidup Berjalan, tingkat kepandaian Bi Lan menjadi berlipat ganda tingginya.
Padahal, ia hanya digembleng untuk memperkuat tenaga saktinya dan mempelajari ilmu silat aneh sebanyak tigabelas jurus yang disebut Sin-ciang Tin-thian (Tangan Sakti Menjagoi Kolong Langit).
Pada pagi hari itu, ia berjalan melenggang seenaknya di jalan raya dalam hutan di daerah Kam-tin.
Tentu saja pendengarannya yang amat peka itu telah dapat menangkap gerakan limabelas orang yang membayangi dan mengintainya, akan tetapi ia diam saja dan tetap melenggang dengari tenang.
Setelah melihat bahwa orang yang mereka intai itu hanya seorang gadis yang wajahnya tersembunyi di bawah bayangan caping lebar, Hek-kwi lalu memberi isyarat kepada empatbelas orang anak buahnya dan mereka berlompatan keluar dari tempat pengintaian mereka sambil berteriak-teriak dan tertawa-tawa bahkan ada yang menari-nari berjingkrakan di depan Bi Lan karena melihat bahwa yang mereka hadang itu hanya seorang wanita muda!
Bi Lan menahan langkahnya dan mengangkat mukanya menengadah.
Gerakan yang disentakan ini membuat capingnya terlepas dari kepalanya dan tergantung di punggungnya dan wajahnya kini tampak seluruhnya.
Mereka yang sedang berteriak-teriak, tertawa dan menari tiba-tiba menghentikan suara dan gerakan mereka.
Juga Hek-kwi tertegun dan terpesona memandang gadis yang berada di depannya itu.
"Bidadari......! Dewi dari sorga......!"
Kata Hek-kwi.
Limabelas orang laki-laki kasar dan buas itu memandang Bi Lan dengan mata yang seolah hendak menelan hidup-hidup gadis yang cantik jelita itu.
Pandang mata Hek-kwi seolah menggerayangi dari kepala sampai ke kaki Bi Lan.
Setelah menjadi murid Si Mayat Berjalan selama setahun, watak yang lincah jenaka dari Bi Lan seolah menghilang.
Atau lebih tepat lagi, semenjak ia mendapat kenyataan bahwa ibu kandungnya seorang bekas pelacur, gairah dan kegembirahn hidupnya seolah melayang pergi.
Kini wajahnya yang cantik itu tampak muram seolah matahari tertutup mendung hitam tebal.
Bibir yang bentuknya indah dan merah membasah itu kini terkatup dan tidak pernah tersenyum.
Sepasang matanya yang biasanya kocak dan lembut gembira, kini tajam menusuk dan sering kali mencorong menyeramkan.
Akan tetapi sikap keren Bi Lan ini tidak terlihat oleh Hek-kwi dan anak buahnya yang mata keranjang dan selalu memandang rendah orang lain.
Hek-kwi tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha-ha! Kawan-kawan, yang ini untuk aku sendiri! Siapa berani mengganggunya akan kuhajar sampai mati!"
Dia memandang ke arah anak buahnya.
Semua anak buahnya tertawa dan mengangguk menyetujui.
Hek-kwi lalu menghadapi Bi Lan yang masih berdiri tegak dan tenang, lalu bertanya dengan suara nyaring dan sikap dibuat-buat agar tampak gagah menarik.
"Wahai bidadari yang cantik jelita. Siapakah namamu, datang dari mana dan hendak pergi ke mana? Ketahuilah, aku adalah yang terkenal di seluruh dunia dengan julukan Hek-kwi, akan tetapi aku tidak kasar seperti setan, melainkan lembut seperti dewa kalau berhadapan dengan bidadari seperti engkau. Betul tidak, kawan-kawan?"
"Betul""!!"
Anak buahnya menjawab sambil tertawa ramai.
Bi Lan diam saja.
Tidak bergerak dan tidak menjawab, bahkan pandang matanya tidak acuh seolah-olah belasan orang tidak tampak olehnya.
Melihat gadis itu diam saja, sama sekali tidak memandangnya dan tidak bergerak, apalagi menjawab, Hek-kwi mengerutkan alisnya.
"Hei, Nona manis. Mengapa engkau diam saja? Aih, jangan-jangan engkau tuli dan gagu! Wah, sayang kalau begitu, begini cantik tidak dapat mendengar dan tidak dapat bicara."
"Ha-ha, Twako, (Kakak), kebetulan kalau begitu. Kelak setelah menjadi isterimu tidak banyak rewel dan tidak dapat mengomel!"
Anak buah gerombolan itu berkata dan semua kawannya tertawa riuh rendah. Hek-kwi tersenyum dan mengangguk-angguk.
"Wah, benar juga katamu itu! Kalau sudah menjadi isteriku lalu cerewet dan tukang mengomel, minta ampun! Eh, Nona manis calon biniku, mari ikut bersamaku pulang!"
Hek-kwi lalu maju dan hendak merangkul.
Bagaikan baru menyadari bahwa di depannya terdapat banyak orang laki-laki hendak menyentuh dan merangkulnya, Bi Lan menggerakkan tangan kirinya dan mulutnya berkata lantang.
"Mampuslah!"
Hek-kwi adalah seorang yang tangguh, maka melihat berkelebatnya tangan Bi Lan, dia cepat mengangkat lengan kanan ke atas untuk menangkis.
"Krekkk......!"
Hek-kwi menjerit dan tubuhnya terpental sampai tiga meter ketika lengannya bertemu dengan tangan kiri Bi Lan!
Dia cepat melompat bangun sambil menyeringai kesakitan karena tulang lengan kanannya telah patah!
Dia bukan hanya terkejut, akan tetapi marah bukan main.
"Perempuan keparat!"
Dia memaki dan tangan kirinya mencabut golok yang tergantung di punggungnya.
Hek-kwi terkenal dengan permainan goloknya dan walaupun kini lengan kanannya tak dapat dipergunakan karena tulangnya patah, namun dengan tangan kirinya dia dapat memainkan golok itu sama mahirnya dengan tangan kanan.
Setelah mencabut golok besarnya, sambil mengeluarkan suara menggereng seperti seekor harimau terluka, dia lari menerjang ke arah Bi Lan lalu menyerang dan sabetan goloknya ke arah leher gadis itu.
Kini semua gairah berahinya lenyap, terganti gairah untuk membalas dendam dan membunuh!
Sepasang mata indah itu mencorong dan seolah Bi Lan tidak tahu akan bahaya maut yang mengancamnya.
Golok itu menyambar cepat sekali dan gadis itu masih diam saja.
Akan tetapi ketika golok sudah dekat, ia merendahkan kepalanya dan tangan kanannya bergerak dari bawah ke atas.
Tahu-tahu golok itu sudah ditangkap jari-jari tangan kanannya dan sekali renggut, golok itu terlepas dari pegangan Hek-kwi.
Setelah golok terampas, Bi Lan menggerakkan tangan kanan ke depan.
"Cappp......!"
Golok itu menancap di dada Hek-kwi.
Mata Hek-kwi terbelalak memandang ke arah dadanya, seolah tidak percaya akan apa yang terjadi, kemudian tubuhnya terpental ke belakang karena ditendang kaki Bi Lan.
Dia terbanting roboh dan tewas seketika karena goloknya sendiri menembus jantungnya!
Empatbelas orang anak buah gerombolan terbelalak kaget, akan tetapi mereka juga marah sekali.
Orang-orang kasar ini selalu merasa diri sendiri paling kuat, apalagi mereka berjumlah banyak.
Mereka tidak menyadari bahwa dari kenyataan tadi betapa dalam segebrakan saja Hek-kwi tewas telah membuktikan bahwa gadis yang mereka hadapi itu lihai bukan main.
Orang-orang bodoh itu lalu mencabut golok mereka dan serentak menyerbu dan mengeroyok Bi Lan!
Orang akan terheran-heran kalau menyaksikan apa yang selanjutnya terjadi di atas jalan dalam hutan itu.
Bi Lan sama sekali tidak bergeser dari tempat ia berdiri.
Ia menyambut semua serangan yang datang dari depan, belakang, ka-nan, dan kiri itu dengan menggerakkan kaki tangannya dan tubuh-tubuh para pengeroyok berpelantingan, terlempar ke belakang sejauh tiga meter lebih dan begitu jatuh mereka langsung tewas!
Dalam waktu beberapa menit saja, dua belas orang anak buah gerombolan terlempar roboh dan tewas.
Dua orang sisanya yang belum sempat menyerang dan belum tewas, menjadi pucat ketakutan dan mereka segera memutar tubuh melarikan diri.
Bi Lan menendang dua kali ke arah golok-golok yang berserakan di depan kakinya.
Dua batang golok meluncur seperti anak panah dan dua orang yang melarikan diri itu menjerit dan roboh dengan punggung tertembus golok dan tewas seketika.
Limabelas orang gerombolan itu dalam waktu singkat tewas semua tanpa Bi Lan bergeser selangkah pun dari tempat ia berdiri!
Bi Lan memandang ke sekelilingnya, ke arah mayat-mayat yang berserakan di sekelilingnya, wajahnya masih muram tanpa membayangkan perasaan apa pun, lalu hidungnya mendengus seperti orang yang mencium bau tidak enak, lalu kakinya melangkah pergi dari tempat itu, melangkahi mayat-mayat sambil meletakkan kembali capingnya di atas kepalanya.
Dalam usahanya mencari Ouw Kan yang ia anggap sebagai musuh besarnya, datuk bangsa Uigur yang dulu pernah menculiknya ketika ia masih kecil, juga datuk yang memusuhi orang tuanya, bahkan dua orang murid datuk itu telah menyebabkan kematian ayahnya, Bi Lan menuju ke kota raja Kin.
Gadis yang sakit hati ini juga menganggap bahwa Raja Kin juga bersalah dan harus dibalasnya karena tentu raja itu yang mengutus Ouw Kan untuk membalas dendam atas kematian Pangeran Cu Si yang tewas di tangan ayahnya dalam perang.
Apalagi ibunya menceritakan betapa dua orang murid Ouw Kan itu tidak jadi membunuh ibunya, setelah mereka melihat surat yang ditinggalkan Puteri Moguhai kepada orang tuanya.
Ini hanya berarti bahwa dua orang murid Ouw Kan itu takut kepada puteri raja dan tentu Raja Kin ada hubungannya dengan pembunuhan terhadap ayahnya.
Karena inilah maka Bi Lan menujukan perjalanannya ke kota raja Kin.
Ketika Bi Lan memasuki kota raja Kerajaan Kin di Peking, Bi Lan melihat bahwa biarpun kota raja ini lebih luas daripada Lin-an (Hang-chouw) kota raja Sung di selatan dan memiliki banyak bangunan besar dan kuno, namun kota raja Sung lebih indah.
Akan tetapi kehadiran seorang gadis cantik bercaping lebar di kota itu tidak terlalu menarik perhatian orang karena memang banyak macam orang kang-ouw yang berdatangan di Peking.
Juga banyak suku-suku bangsa utara dengan beraneka macam pakaian dan model topi atau caping.
Akan tetapi, di luar pengetahuan Bi Lan, semenjak ia memasuki pintu gerbang kota raja bagian selatan, beberapa pasang mata telah membayangi gerak-geriknya.
Mereka yang membayanginya itu adalah para penyelidik dari pasukan keamanan kota raja.
Mereka itu selalu mencurigai pendatang baru bangsa Han yang pribumi dari selatan karena bagaimanapun juga, masih ada kecurigaan terhadap Kerajaan Sung di selatan dan setiap pendatang baru dari selatan mungkin saja menjadi mata-mata Kerajaan Sung.
Bi Lan memilih sebuah rumah penginapan besar yang merangkap rumah makan di bagian depannya.
Rumah makan Lok-koan merupakan sebuah di antara rumah-rumah makan terbesar, dengan banyak kamar penginapan yang bersih, dari kota raja itu.
Begitu ia memasuki rumah makan, seorang pelayan tua segera menyambutnya dengan ramah.
Pelayan ini tidak merasa heran menyambut seorang gadis cantik jelita berpakaian merah muda yang berwajah dingin.
Sudah banyak tokoh aneh dia jumpai dan dia pun dapat menduga bahwa gadis ini tentu seorang gadis kang-ouw (sungai-telaga, persilatan) yang sedang merantau.
"Selamat sore, Nona. Silakan duduk, Nona hendak memesan makanan apakah?"
Bi Lan menjawab dengan suara datar.
"Aku ingin menyewa kamar dulu dan mandi, setelah itu baru makan."
"Ah, baik. Tentu saja, Nona. Mari, silakan bertemu pengurus kami untuk mendapatkan sebuah kamar."
Pelayan itu lalu mengajak Bi Lan pergi ke sudut ruangan dalam di mana terdapat meja panjang dan di belakang meja itu duduk dua orang laki-laki.
"Nona ini ingin menyewa sebuah kamar,"
Pegawai itu melaporkan.
"Baik, Nona. Kebetulan masih ada beberapa buah kamar yang belum terisi,"
Kata seorang di antara mereka sambil membuka buku tamu dan siap dengan mouw-pit (pena bulu) untuk mencatat.
"Harap Nona menyebutkan nama dan tempat tinggal untuk kami catat, dan berapa hari Nona akan tinggal di rumah penginapan kami."
Bi Lan adalah seorang gadis yang sudah banyak melakukan perantauan dan ia tahu betul bahwa apabila menyewa kamar di rumah penginapan, tamu harus mencatatkan nama dan alamatnya karena pihak penginapan akan dapat mencari dan menagihnya kalau Si Penyewa pergi diam-diam tanpa membayar sewa kamarnya.
Maka ia lalu mengambil kantung uangnya, mengeluarkan dua potong perak dan menaruhnya di atas meja.
"Apakah ini cukup untuk menyewa sebuah kamar selama lima hari?"
Dua orang pengurus itu tersenyum dan penanya tadi cepat berkata.
"Wah, biarpun dengan makan minumnya selama lima hari, uang Nona mungkin masih ada kelebihannya."
"Kalau begitu, terima uang ini untuk membayar lebih dulu sewa kamar dan bayar makanan selama lima hari. Kelebihannya boleh ambil. Tentang namaku, kiranya tidak perlu dicatat lagi karena sewanya sudah kubayar lunas di muka."
Dua orang itu saling pandang lalu mengangguk.
Tidak biasa seorang tamu membayar di muka berikut makanannya.
Akan tetapi karena gadis itu sudah membayar selama lima hari, mereka pun tidak merasa perlu lagi untuk mencatat nama dan alamat gadis itu walaupun di dalam hati mereka ingin juga mengetahui siapa nama gadis yang cantik jelita namun yang berwajah dan bersinar mata dingin itu.
"Ah, baiklah kalau Nona menghendaki demikian. Ini kunci kamar Nona."
"Aku menghendaki sebuah kamar yang tenang di sudut."
"Baik, Nona. Di sudut bagian belakang ada kamar kosong. Ini kuncinya. A-sam, antarkan Nona ini ke kamarnya,"
Kata pengurus itu kepada seorang pelayan yang bertugas di rumah penginapan.
Pelayan itu mengantarkan Bi Lan ke kamarnya.
Bi Lan cukup senang dengan kamar itu karena cukup bersih terawat baik.
Kain alas pembaringan dan sarung bantalnya semua bersih dan habis dicuci.
Kamar itu mempunyai sebuah jendela yang menghadap ke taman yang sederhana.
Karena letaknya di ujung maka lebih sunyi dan tenang dibandingkan dengan kamar-kamar yang berada di depan dan tengah.
Setelah mandi dan bertukar pakaian bersih, Bi Lan menyerahkan semua pakaian kotor kepada pelayan untuk dicuci, kemudian ia meninggalkan buntalan pakaiannya, keluar dari kamar, mengunci pintunya dan pergi ke depan, ke rumah makan.
Ia merasa segar sehabis mandi air dingin.
Hawa udara pada waktu itu tidak dingin, bahkan agak panas karena musim panas sedang kuat-kuatnya.
Ia memakai mantelnya, bukan karena dingin, melainkan untuk menyembunyikan bentuk tubuhnya yang ia tahu hanya akan menarik pandang mata yang kurang ajar dari para pria, hal yang terkadang membuatnya marah sekali.
Semenjak menjadi murid Si Mayat Hidup Berjalan, Bi Lan merasa tidak perlu lagi membawa senjata tajam walaupun ia memiliki keahlian bermain silat pedang.
Sekarang, segala macam benda dapat saja ia pergunakan sebagai senjata yang ampuh.
Bahkan dua pasang kaki tangannya juga sudah merupakan senjata yang amat ampuh.
Pelayan rumah makan yang setengah tua tadi menyambut Bi Lan yang datang dari rumah penginapan dengan senyum ramah.
Kini Bi Lan tidak memakai ca-pingnya dan wajahnya tampak cantik sekali.
Pakaiannya berwarna merah muda dan biarpun potongannya sederhana dan ia tidak mengenakan perhiasan apa pun, namun pakaian itu bersih dan ia dalam kepolosannya bahkan tampak lebih segar dan kecantikannya aseli tanpa bedak atau gincu.
Sayang bahwa wajah yang cantik itu muram dan mendatangkan kesan dingin karena sinar mata itu layu dan mulut itu pun tidak membayangkan perasaan apa pun.
"Selamat sore, Nona. Sayang tempatnya agak penuh, akan tetapi masih ada meja kosong di sudut sana. Mari, silakan, Nona,"
Kata pelayan itu, sambil mendahului menuju ke sebuah meja kosong di sudut kanan bagian depan.
Rumah makan itu kini penuh tamu yang hendak makan malam.
Bi Lan memesan nasi dan tiga macam masakan, juga minuman yang tidak begitu kuat seperti arak.
Ada tersedia semacam minuman anggur atau sari apel yang tidak sekuat arak biasa.
Bi Lan menanti datangnya pesanannya sambil duduk diam di atas kursinya, menghadapi meja.
Pada saat itu, ruangan penuh tamu yang sebagian besar adalah laki-laki.
Lima meja yang berada tidak begitu jauh dari meja Bi Lan diduduki rombongan laki-laki dan mereka semua, tidak kurang dari duapuluh orang banyaknya, mengarahkan pandang mata mereka kepada Bi Lan.
Bahkan yang duduk di meja yang berada di belakang gadis, itu, masih juga melayangkan pandang mata mereka ke arah Bi Lan walaupun yang mereka lihat hanya bagian belakang tubuh gadis itu.
Di sana-sini terdengar suara tawa dan jelas bahwa mereka itu menujukan kelakar mereka kepada Bi Lan yang membuat mereka semua merasa kagum.
Tiba-tiba banyak tamu bangkit berdiri, mulai dari yang duduk di bagian terdepan.
Mereka bangkit berdiri untuk menghormati rombongan yang baru masuk.
Karena Bi Lan duduk menghadap ke arah pintu depan, maka tanpa disengaja ia pun melihat rombongan itu.
Rombongan terdiri dari empat orang, akan tetapi semua orang itu menghormati orang yang berjalan paling depan.
Dia seorang pria berusia sekitar tigapuluh tahun, bertubuh tinggi kurus dan wajahnya cukup tampan walaupun pandang mata dan senyum mengejek di bibirnya memberi kesan angkuh sekali.
Melihat orang-orang memberi hormat kepadanya, dia mengangkat tangan kanan ke atas seperti seorang raja yang menerima penghormatan rakyatnya!
Dari pakaian orang ini dapat diduga bahwa dia tentu seorang pemuda bangsawan tinggi yang kaya raya.
Pakaian serba mewah gemerlapan, dengan mantel bulu indah dan topinya juga dari bulu biruang berwarna putih.
Tiga orang yang berjalan di belakangnya dapat diduga adalah para pengawalnya.
Pakaian mereka juga indah, akan tetapi tidak semewah pakaian pemuda yang mereka kawal.
Tiga orang laki-laki ini berusia antara tigapuluh sampai empatpuluh tahun, ketiganya bertubuh tinggi besar dan tampak kokoh kuat.
Di punggung masing-masing tergantung sebatang pedang yang besar panjang.
Biarpun orang-orang di rumah makan itu menghormati pemuda yang mereka kawal, namun tiga orang ini berjalan dengan dada dibusungkan dan langkah mereka tegap, sambil tersenyum bangga seolah-olah merekalah yang diberi hormat banyak orang itu.
Bi Lan melihat betapa dua orang pengurus rumah makan dan rumah penginapan itu bangkit sendiri untuk menyambut empat orang tamu itu.
Sambil membungkuk-bungkuk mereka menyambut dan seorang di antara mereka berkata dengan suara merendah dan ramah.
"Selamat datang, Hiu-kongcu (Tuan Muda Hiu)! Sungguh merupakan kehormatan besar bagi kami untuk menyambut kunjungan Kongcu. Silakan mengambil tempat duduk di sebelah dalam, Kongcu!"
Akan tetapi pemuda yang disebut Hiu-kongcu itu kebetulan memandang kepada Bi Lan.
Wajahnya berseri dan senyumnya melebar, pandang matanya seolah melekat pada tubuh Bi Lan yang dijelajahinya dengan penuh perhatian.
Dia lalu berkata kepada dua orang pengurus rumah makan itu.
"Aku ingin duduk di meja itu!"
Dia menuding ke arah meja tepat di depan Bi Lan yang sudah diduduki empat orang laki-laki.
"Akan tetapi meja itu......"
"Suruh mereka pindah ke meja lain!"
Bentak seorang di antara tiga pengawal itu, yang berkumis tebal sambil memandang dua orang pengurus itu dengan mata melotot.
Dua orang pengurus itu saling pandang, lalu keduanya bergegas menghampiri meja yang diminta itu dan dengan suara berbisik-bisik mereka berdua membujuk kepada empat orang laki-laki untuk pindah meja.
Empat orang laki-laki itu adalah tamu dari luar kota dan mereka tidak mengenal rombongan tamu yang baru masuk, maka mereka tentu saja merasa tidak senang harus pindah meja dan memberikan meja mereka kepada orang lain.
Akan tetapi dua orang pengurus itu membujuk akan memberi potongan setengah harga dari harga makanan yang mereka pesan dan ketika mereka memandang ke arah tiga orang tinggi besar yang melotot kepada mereka, akhirnya mereka tidak berani membantah lagi.
Mereka terpaksa pindah ke meja lain dan masakan di meja mereka diangkut dan dipindahkan pelayan.
Meja itu lalu dibersihkan dan pemuda bersama tiga orang pengawalnya dipersilakan duduk.
Pemuda itu mengambil tempat duduk yang menghadap ke arah Bi Lan sehingga dia dapat saling pandang dengan gadis itu.
Dia tersenyum-senyum kepada Bi Lan.
Akan tetapi Bi Lan sudah menundukkan pandang matanya dan tidak mengacuhkan mereka lagi.
Ia melihat betapa rombongan baru ini dengan semena-mena memaksa tamu untuk pindah, akan tetapi karena hal itu bukan urusannya, maka ia pun tidak perduli sama sekali.
Semenjak pengalaman pahit menimpa dirinya, apalagi setelah mempelajari ilmu dari Si Mayat Berjalan, Bi Lan tidak perduli apapun juga yang tidak menyangkut dirinya.
Kalau dulu, melihat kejadian ini ia tentu akan merasa penasaran sekali dan sudah menghajar rombongan yang sewenang-wenang ini!
Akan tetapi sekarang ia sama sekali tidak memperdulikannya.
Juga pandang mata yang penuh gairah dari pemuda berpakaian mewah itu dianggapnya seperti angin lalu saja, sama sekali tidak ditanggapinya.
Biarpun ia tidak mengacuhkan mereka, namun tetap saja ia merasa dongkol juga ketika beberapa orang pelayan datang menghidangkan belasan macam masakan di meja rombongan itu, padahal ia yang lebih dulu datang dan memesan belum juga dilayani!
Mengertilah ia bahwa tentu pemuda.
itu merupakan seorang tokoh yang berpengaruh di kota raja sehingga pengurus rumah makan itu menghormatinya secara berlebihan.
Bi Lan mulai mengerutkan alisnya, merasa disepelekan.
Ketika ia melihat pelayan tua tadi, ia menggapai dan pelayan itu cepat menghampirinya.
"Bagaimana ini? Aku yang memesan sejak tadi belum dilayani, orang lain baru datang sudah didahulukan pelayanannya!"
"Aih, maafkan kami, Nona. Baiklah, akan saya ambilkan pesanan Nona sekarang juga! Pelayan itu bergegas pergi ke dapur. Hiu-kongcu berbisik kepada seorang di antara tiga orang pengawalnya dan pengawal yang berkumis tebal itu tersenyum mengangguk-angguk lalu menghampiri Bi Lan. Sambil menyeringai pengawal tinggi besar berkumis tebal ini lalu mengangguk sebagai penghormatan dan berkata.
"Nona, Kongcu kami ingin mengetahui siapakah nama Nona dan di mana Nona tinggal?"
Tanpa memandang kepada siapapun juga Bi Lan berkata, suaranya datar dan dingin.
"Tidak ada nama dan rumah. Pergilah!"
Pengawal itu memandang heran, lalu berkata.
"Nona, engkau tidak tahu siapa Kongcu kami. Agaknya engkau bukan orang sini. Ketahuilah, Kongcu kami adalah Kongcu Hiu Kan, putera mendiang Pangeran Hiu Kit Bong, keponakan Sri Baginda Kaisar sendiri! Dan kami bertiga adalah Sam-pak-liong (Tiga Naga Utara) yang menjadi pengawal Hiu-kongcu!"
"Aku tidak perduli. Pergilah!"
Jiu To, pengawal pertama berkumis tebal berusia empatpuluh tahun itu, makin terheran akan tetapi juga marah.
Hanya dia tidak berani memperlihatkan kemarahannya sebelum mendapat perintah majikannya, maka sambil menggerakkan kedua pundaknya dia terpaksa memutar tubuh kembali ke meja rombongannya.
Dia lalu berbisik-bisik dengan Hiu Kan atau Hiu-kongcu dan dua orang rekannya yang bernama Kai Ek dan Lee Song.
Sementara itu, pelayan tua datang menghidangkan makanan yang dipesan Bi Lan.
Hidangan itu hanya nasi dan tiga macam sayur sederhana, amat tiada harganya dibandingkan masakan serba daging yang dihidangkan di atas meja putera pangeran itu.
Bi Lan mulai makan hidangannya tanpa mengacuhkan lagi empat orang yang duduk di meja sebelah depannya itu.
Akan tetapi baru sedikit ia makan, Si Kumis Tebal itu sudah menghampirinya lagi.
"Nona, Kongcu kami merasa kasihan melihat Nona makan seorang diri dengan sayuran sederhana itu. Maka Hiu-kongcu mengundang Nona dengan hormat untuk makan bersama beliau. Mari, silakan, Nona, harap jangan malu-malu. Jarang Hiu-kongcu memberi penghormatan kepada seorang gadis yang tidak dikenalnya dan mengundangnya makan bersama."
"Jangan ganggu aku lagi. Enyahlah!"
Bi Lan menghardik dan suaranya mengandung ancaman.
Jiu To Si Kumis Tebal itu merasa malu karena bentakan Bi Lan itu terdengar oleh para tamu lain, maka dia bergegas menghampiri Hiu-kongcu.
Mereka bicara bisik-bisik dan tidak terdengar oleh para tamu lainnya, akan tetapi pendengaran Bi Lan yang terlatih dan amat peka itu, dapat menangkap pembicaraan mereka.
"Kongcu, ia menolak dengan tegas. Agaknya ia bukan gadis sembarangan,"
Kata Jiu To.
"Jiu-ko (Kakak Jiu), kenapa susah-susah amat? Kalau ia membandel, tarik saja ia ke sini, apa sukarnya?"
Kata Kai Ek, pengawal kedua yang pipinya codet bekas luka bacokan.
"Hushh, jangan bikin ribut di tempat umum begini. Apa engkau mau merusak namaku?"
Bentak Hiu Kan, putera pangeran itu.
"Barangkali kalau Kongcu sendiri yang mengundang, tentu ia akan menerima dengan senang hati. Gadis mana yang tidak akan suka memenuhi undangan Kongcu? Barangkali sikap Jiu-twako terlalu kasar sehingga ia tersinggung dan menolak."
"Hemm, aku pun tidak mau merendahkan diri mengundang sendiri. Kalau ia tetap menolak, bukankah aku akan menjadi malu sekali? Akan tetapi, aku menginginkannya, aku harus mendapatkan gadis ini. Aku sudah tergila-gila padanya. Kalau aku tidak bisa mendapatkannya secara halus, aku akan menda-patkannya secara kasar!"
Kata pemuda bangsawan itu.
"Maksud Kongcu, sekarang juga kami harus menangkapnya?"
Tanya Jiu To.
"Bodoh kau! Aku tidak ingin membuat keributan yang akan mencemarkan namaku. Kalian harus menangkapnya dan membawanya ke kamarku, akan tetapi hal itu harus terjadi tanpa pengetahuan orang lain. Mengerti?"
"Kami mengerti, Kongcu, dan jangan khawatir, malam nanti pasti Kongcu akan dapat bersenang-senang dengannya."
Mendengar ucapan Jiu To ini, Hiu-kongcu menjadi girang dan dia tertawa.
Tiga orang pengawalnya juga ikut tertawa gembira dan mereka lalu makan minum sepuasnya.
Semua pembicaraan tadi terdengar jelas oleh Bi Lan.
Kebencian memenuhi hatinya.
Kalau menuruti hatinya, ingin ia membunuh empat orang laki-laki itu di situ pada saat itu juga.
Akan tetapi ia cerdik dan tahu betul bahwa kalau ia melakukan hal ini, kota raja tentu geger karena pemuda itu adalah putera seorang pangeran.
Dan kalau terjadi keributan sehingga ia diburu pasukan ke-amanan, hal ini akan menghalangi niatnya membalas dendam kepada Ouw Kan dan dua orang muridnya, juga kepada Kaisar Kerajaan Kin!
Ia pasti akan membunuh mereka, akan tetapi tidak di sini, di tempat umum begini.
Ia akan membunuh mereka tanpa ada orang lain yang mengetahuinya.
Bi Lan sengaja memperlambat makannya sehingga ia mengakhiri makannya setelah melihat empat orang itu selesai makan.
Ia lalu bangkit berdiri dan memberi isyarat kepada pelayan tua untuk menyingkirkan perabot makan.
Pada saat itu ia mendengar pemuda bangsawan itu berbisik kepada tiga orang pengawalnya.
"Kita bayangi ia, aku ingin tahu di mana ia tinggal."
Mendengar ini, Bi Lan lalu berjalan meninggalkan rumah makan itu, tidak kembali ke kamarnya melainkan pergi ke jalan raya depan rumah makan.
Biarpun ia tidak pernah menengok, ia tahu benar bahwa empat orang laki-laki itu mengikutinya.
Bi Lan lalu berjalan perlahan menuju ke pintu gerbang sebelah selatan.
Ketika ia memasuki kota raja tadi, ia melihat bahwa di luar pintu gerbang sebelah selatan itu, di tepi jalan raya, terdapat sebuah hutan, mungkin hutan buatan di mana kaisar suka pergi berburu.
Tempat itu sepi, apalagi di waktu malam.
Dan malam ini kebetulan bulan telah muncul sejak lewat senja sehingga cuaca tidak terlampau gelap.
Empat orang itu merasa heran sekali ketika melihat gadis yang mereka bayangi itu keluar dari pintu gerbang selatan!
Beberapa orang perajurit yang berjaga di situ segera memberi hormat kepada Hiu-kongcu.
Pemuda bangsawan itu menanggapinya dengan acuh tak acuh.
Ketika mereka keluar dari pintu gerbang selatan dan melihat gadis itu berjalan terus menuju ke hutan yang berada di tepi jalan, Hiu-kongcu terheran-heran.
Kalau saja tidak ada tiga orang pengawalnya yang menemaninya, tentu dia akan kembali ke kota raja, tidak berani melanjutkan.
"Ah, Kongcu sungguh beruntung. Ia menuju ke tempat sunyi sehingga kita dapat menangkapnya tanpa ada orang lain melihatnya,"
Kata Jiu To sambil menyeringai.
Mendengar ini, Hiu Kan tersenyum dan hatinya senang sekali.
Dia sudah membayangkan betapa senangnya kalau dia dapat mendekap gadis yang cantik jelita itu.
Setelah tiba di tempat yang dituju, Bi Lan meninggalkan jalan raya dan memasuki hutan!
Melihat ini, empat orang itu menjadi semakin heran, akan tetapi mereka terus mengikuti gadis itu.
Sebelum hilang rasa heran mereka, tiba-tiba Bi Lan berhenti melangkah.
Tempat itu agak terbuka dan sinar bulan dapat menerangi mereka sehingga mereka dapat saling memandang dengan jelas.
Melihat gadis itu berhenti melangkah dan memutar tubuh menghadapi mereka, empat orang itu pun berhenti dan mereka berdiri di depan Bi Lan, dalam jarak hanya tiga meter.
Di bawah sinar bulan yang redup dan lembut, gadis itu tampak bagaikan seorang bidadari.
"Mau apa kalian mengikutiku?"
Tanya Bi Lan dengan suara datar, suara yang tidak memperdengarkan perasaan hatinya, bukan suara marah atau girang atau malu, hanya datar dan dingin saja.
Karena mereka berada di tempat sunyi dan dia sendiri dijaga tiga orang pengawalnya, timbullah keberanian hati Hiu Kan.
Dia tersenyum semanis mungkin, lalu melangkah maju mendekati Bi Lan sambil berkata.
"Duhai Nona yang cantik jelita seperti bidadari! Aku cinta padamu, Nona. Marilah engkau ikut de-nganku dan hidup berbahagia di istanaku, menjadi selirku yang tercinta. Aku akan memberi pakaian sutera paling halus, perhiasan emas yang lengkap. Manisku, engkau hidup berbahagia. Marilah, manis!"
Dalam pandangan Bi Lan, putera pangeran ini tidak lebih baik daripada para pria bangsawan dan hartawan yang diamuk dan dihajarnya di rumah-rumah pelesir.
Apalagi orang ini berani kurang ajar kepadanya.
"Laki-laki jahanam, kotor dan busuk. Engkau tidak layak hidup!"
Kata Bi Lan dan sekali tangan kirinya bergerak, hawa pukulan yang dahsyat menyambar dari telapak tangannya, menghantam dada Hiu Kan.
"Dess......!"
Tubuh Hiu Kan terlempar ke belakang dan dia terjengkang roboh, tidak mampu bangkit atau bergerak lagi karena dia tewas seketika terkena pukulan maut Bi Lan.
Sam-pak-liong, Tiga Naga Utara itu terkejut bukan main.
Sama sekali tidak disangkanya gadis itu akan memukul majikan mereka dan cepat Jiu To berjongkok memeriksa keadaan Hiu Kan.
Matanya terbelalak dan wajahnya menjadi pucat ketika melihat majikan mudanya itu telah tewas dengan baju dan dadanya menghitam seperti terbakar!
"Keparat!
Kongcu telah mati......!"
Teriaknya.
Kai Ek dan Lee Song terkejut sekali, terkejut dan marah mendengar majikan mereka tewas dipukul gadis itu.
Lee Song yang bertubuh tinggi besar dan mukanya penuh brewok, menerkam gadis itu dengan marah.
Kedua tangannya membentuk cakar dan dia hendak menangkap kedua tangan gadis itu.
Gadis pembunuh majikannya ini harus ditangkap dan dihadapkan kepada keluarga Hiu Kan lalu diseret ke pengadilan untuk mendapat hukuman berat.
"Plakkk!"
Bi Lan menggerakkan kedua tangan menangkis dan ketika kedua tangannya bertemu dengan lengan Lee Song, ia mendapat kenyataan bahwa laki-laki brewok itu memiliki tenaga sin-kang yang amat kuat.
Benturan tenaga itu hanya membuat Lee Song terpental ke belakang akan tetapi tidak merobohkannya.
Di lain pihak Lee Song terkejut setengah mati.
Dia dan dua orang suhengnya (kakak seperguruannya) adalah murid-murid Pak-sian Liong Su Kian, datuk utara yang terkenal sakti dan mereka bertiga memiliki ilmu kepandaian tinggi.
Dia sendiri memiliki tenaga sinkang yang amat kuat dan tadi dia sudah mengerahkan tenaganya dan sudah merasa yakin bahwa dia akan dapat meringkus pembunuh majikannya itu.
Akan tetapi siapa sangka, tangkisan gadis itu membuat dia terpental!
Kai Ek dan Jiu To juga terkejut melihat sute (adik seperguruan) mereka terpental ketika beradu tangan dengan gadis itu.
Mereka berdua tidak memiliki niat yang sama dengan Lee Song.
Kalau orang termuda dari Tiga Naga Utara ini ingin menangkap Bi Lan, dua orang kakak seperguruannya ini ingin langsung membunuh gadis yang telah berani membunuh majikan mereka.
Maka tanpa banyak bicara lagi, mereka berdua sudah mencabut pedang mereka.
Mereka maklum bahwa gadis yang mampu membuat sute mereka terpental dengan tangkisannya itu tidak boleh dipandang ringan, maka mereka langsung menyerang dengan pedang mereka.
"Singgg...... singgg......!"
"Syuuuttttt......!"
Pedang dua orang ini memang dahsyat sekali.
Kedua pedang itu menyambar dengan amat cepat seperti kilat dan mengandung tenaga yang besar.
Diam-diam Bi Lan menjadi waspada.
Ia melihat gerakan pedang yang dahsyat dan maklum bahwa ia berhadapan dengan orang-orang yang tangguh.
Kalau diingat.
menurut pengakuan mereka tadi bahwa mereka adalah murid-murid Pak-sian (Dewa Utara), maka tidak aneh kalau ketiganya memiliki tingkat kepandaian yang tinggi.
Ketika ia baru tamat belajar silat dari guru pertamanya, yaitu Jit Kong Lhama, mungkin tingkat kepandaiannya hanya lebih menang sedikit dibandingkan seorang dari mereka.
Akan tetapi semenjak itu, ia telah mendapat tambahan ilmu Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat dari kitab milik Kun-lun-pai yang dicurinya dari Souw Thian Liong, kemudian ia malah yang terakhir digembleng Si Mayat Berjalan sehingga tingkat kepandaiannya sudah berlipat ganda.
Kalau Tiga Naga Utara ini maju satu demi satu, dalam beberapa jurus saja ia pasti akan dapat merobohkan mereka.
Akan tetapi mereka kini maju bertiga dan semua memegang pedang yang menyambar-nyambar dahsyat dari segala penjuru.
Maka, terpaksa Bi Lan harus mengerahkan semua tenaganya dan menggunakan gin-kang (ilmu meringankan tubuh) sehingga tubuhnya seolah berubah menjadi bayangan yang berkelebatan di antara gulungan sinar tiga batang pedang itu.
Hebatnya, dengan kedua lengan telanjang gadis itu berani kadang-kadang menangkis pedang lawan!
Tentu saja tiga orang jagoan itu menjadi kaget setengah mati.
Sama sekali mereka tidak pernah mengira bahwa gadis yang membuat majikan mereka tergila-gila itu adalah seorang wanita yang memiliki kepandaian seperti iblis betina!
Setelah perkelahian itu berlangsung selama limapuluh jurus lebih dan ia belum mampu merobohkan lawan walaupun tiga orang pengeroyoknya juga tidak dapat melukainya, Bi Lan menjadi marah sekali.
Tiba-tiba ia berkelebat menjauhi tiga orang lawannya, lalu mulutnya mengeluarkan pekik melengking dan kedua lengannya dikembangkan, lalu perlahan-lahan kedua tangan itu disatukan dan diangkat seolah ia menyembah langit.
Itulah pembukaan dari ilmu silat Sin-ciang Tin-thian yang ia pelajari selama satu tahun dari Si Mayat Berjalan!
Suara lengkingan itu meninggi dan dengan kaget tiga orang pengeroyok itu mengerahkan sin-kang mereka sekuatnya menahan serangan suara yang seolah menyerbu telinga mereka dan langsung menyerang jantung.
"Hyaaaaahhh!!"
Tubuh Bi Lan berubah menjadi bayangan yang meluncur ke depan.
Tiga orang jagoan itu berusaha untuk menyambut dengan pedang mereka.
Akan tetapi jurus pukulan ilmu Sin-ciang Tin-thian itu dahsyat luar biasa dan amat aneh.
Dua buah tangan terbuka Bi Lan menyambar dan mengeluarkan suara bercicit seperti suara kelelawar kesakitan.
Tiga orang itu mencoba bertahan, namun tetap saja pukulan-pukulan kedua tangan itu mengenai dada mereka.
Kai Ek dan Lee Song terpental dan terjengkang roboh dengan mata mendelik dan tewas seketika.
Akan tetapi Jiu To hanya roboh dan mengeluh, duduk di atas tanah sambil menahan napas dan kedua tangan menekan dadanya.
Selain Jiu To memiliki tenaga sin-kang yang lebih kuat daripada kedua orang sutenya, juga Bi Lan memang sengaja tidak membunuhnya, maka dia masih terhindar dari maut.
Akan tetapi wajahnya pucat ketika dia melihat gadis itu menghampirinya.
Jiu To adalah murid pertama dari Pak-sian dan dia seorang yang biasanya mengandalkan kekuatan dan kelihaiannya untuk menindas orang lain.
Dia dapat bertindak kejam dan semenjak menjadi pengawal Hiu-kongcu, dia tidak segan melakukan apa saja untuk mentaati perintah majikannya.
Akan tetapi, selama hidupnya baru sekarang dia merasa ketakutan.
Melihat Hiu-kongcu tewas, juga kedua orang sutenya tewas secara mengerikan, dan dia terluka dan tidak ber-daya, dia memandang kepada gadis cantik itu seperti melihat setan yang hendak mencabut nyawanya!
Matanya terbelalak, mukanya pucat dan kumisnya yang tebal itu tergetar.
"Ampun...... ampunkan saya......"
Katanya lirih karena biarpun dia ketakutan, akan tetapi juga ada perasaan malu dalam hatinya bahwa sekarang dia harus minta ampun kepada seorang gadis muda!
"Hemm, orang macam engkau ini tidak patut diampuni."
"Ah, ampunkan saya, jangan bunuh saya......"
Jiu To meratap dengan lirih seolah jangan sampai terdengar orang lain.
"Aku tidak akan membunuhmu kalau engkau mau memenuhi permintaanku."
"Katakan, Li-hiap (Pendekar Wanita), permintaan apa yang Nona inginkan? Saya pasti akan memenuhi permintaan itu,"
Kata Jiu To penuh harapan. Tadi sedikit sekali harapan bahwa dia akan dapat terbebas dari kematian. Akan tetapi mendengar ucapan gadis aneh ini, muncul harapan baru dalam pikirannya.
"Katakan, di mana aku dapat menemukan Toat-beng Coa-ong Ouw Kan dan dua orang muridnya."
"Li-hiap...... kalau saya memberitahu, maukah engkau mengampuni saya dan tidak membunuh saya?"
"Aku tidak akan membunuhmu kalau engkau memberitahu di mana mereka."
"Tentu, Li-hiap. Tentu saya akan memberi tahu di mana mereka. Toat-beng Coa-ong kini tinggal di kota Ceng-goan, sebelah selatan kota raja. Dua orang muridnya adalah Bouw Kiang dan Bong Siu Lan, akan tetapi saya tidak tahu di mana adanya mereka. Mungkin saja mereka berada di Ceng-goan pula, atau kalau mereka tidak berada di sana, tentu Ouw Kan mengetahui di mana dua orang muridnya itu berada."
"Awas, kalau engkau bohong, aku akan mencarimu dan membunuhmu!"
Tiba-tiba Bi Lan menggerakkan tangannya. Sinar hitam menyambar ketika tangannya meluncur ke arah lengan Jiu To.
"Krekk!"
Jiu To terguling dan merintih.
Lengan kirinya lumpuh karena tulang lengannya di bawah siku remuk dan terasa amat panas.
Ketika dia mengangkat muka, gadis itu telah lenyap dari situ.
Jiu To mencoba untuk menggerakkan lengan kiri dan dia terkejut sekali karena lengan kirinya, dari siku ke bawah, tidak dapat merasakan apa-apa.
Rasa nyeri hanya dari siku ke atas, akan tetapi dari siku ke bawah tidak ada perasaan apa-apa seolah setengah lengannya bagian bawah itu telah mati!
Dia lalu meninggalkan tempat itu, menuju ke kota raja untuk minta bantuan untuk mengangkat mayat Hiu-kongcu, Kai Ek dan Lee Song.
Gegerlah para bangsawan di kota raja ketika mendengar akan kematian Hiu Kan `dan dua orang pengawalnya yang terkenal lihai.
Akan tetapi, kematian Hiu Kan itu tidak mengguncangkan keluarga kaisar karena Hiu Kan memang tidak disuka oleh keluarga kaisar.
Hal ini karena pertama, Hiu Kan adalah putera mendiang Pangeran Hiu Kit Bong yang dulu memberontak terhadap kaisar dan kedua karena pemuda itu terkenal sebagai pemuda tidak berguna, hanya berfoya-foya menghabiskan harta peninggalan ayahnya.
Jiu To yang lengan kirinya tidak dapat digerakkan lagi, segera pergi ke Cin-ling-san untuk menghadap gurunya, yaitu Pak-sian Liong Su Kian, dan melaporkan tentang kematian dua orang sutenya.
Kota Ceng-goan adalah sebuah kota yang cukup besar dan ramai.
Letak kota ini di sebelah selatan kota raja.
Karena kota ini berada di daerah perbukitan yang berhawa sejuk dan berpemandangan indah, maka banyak para bangsawan kota raja mendirikan rumah peristirahatan di situ.
Maka, di daerah perbukitan itu ter-dapat banyak rumah-rumah yang mungil dan indah, yang hanya dipergunakan terutama di musim panas ketika hawa udara di kota raja luar biasa panasnya.
Di antara rumah-rumah peristirahatan yang terdapat di dalam dan di luar kota Ceng-goan, terutama di lereng-lereng perbukitan, terdapat sebuah rumah mungil yang berdiri di lereng.
Rumah itu agak terpencil, tidak mempunyai tetangga dekat dan letaknya di tepi jurang.
Pemandangan alam dari lereng ini memang amat indahnya.
Tempatnya sunyi dan tenang, hawanya sejuk.
Tempat yang amat baik bagi mereka yang hendak menjauhkan diri dari semua keramaian yang bising, sibuk, dan panas.
Tempat yang diidamkan para pertapa yang ingin mengasingkan diri dari keramaian dunia.
Pemilik rumah yang merupakan pondok mungil sederhana ini adalah Ouw Kan.
Datuk yang berjuluk Toat-beng Coa-ong (Raja Ular Pencabut Nyawa) ini sudah berusia sekitar tujuhpuluh lima tahun.
Dia adalah seorang suku Uigur yang amat terkenal, bukan hanya di kalangan sukunya sendiri, akan tetapi juga di seluruh wilayah Kerajaan Kin, bahkan namanya sebagai Datuk Sesat terkenal pula sampai jauh di selatan, di wilayah Kerajaan Sung.
Dia terkenal sebagai seorang datuk yang berilmu tinggi, sakti dan ditakuti banyak tokoh persilatan.
Selama puluhan tahun Ouw Kan bertualang di dunia persilatan dan sebagai seorang Datuk Sesat hampir tidak ada kejahatan yang tidak pernah dia lakukan!
Akan tetapi tidak ada kesenangan apapun di dunia ini yang tidak berakhir dengan kebosanan.
Dalam usianya yang sudah tua itu, Toat-beng Coa-ong Ouw Kan mulai merasa bosan dengan kegiatan dalam hidupnya.
Dia merasa jemu dengan segala perbuatan jahatnya.
Bahkan dia mulai menyesali semua perbuatan jahat yang pernah dia lakukan.
Dia mulai merasa takut akan masa depannya, takut akan bayangan keadaan dirinya setelah dia mati nanti.
Dia menyadari bahwa usianya yang semakin tua itu makin mendekatkan dirinya dengan akhir kehidupannya.
Sesudah itu, bagaimana?
Dia mulai merasa takut, apalagi kalau teringat akan cerita bahwa dosa-dosa yang dilakukan manusia sewaktu hidupnya akan diadili dan si pelaku kejahatan akan menerima hukuman atas segala perbuatannya yang jahat.
Dia mulai merasa ngeri karena setelah mati dia tidak akan mampu lagi mengandalkan kesaktiannya.
Selagi hidup, dia tidak takut menghadapi segala akibat dari perbuatannya.
Dia dapat menggunakan segala kemampuannya untuk membela diri.
Akan tetapi bagaimana sesudah dia mati dan tidak lagi dapat mempergunakan segala macam ilmu yang pernah dia pelajari?
Dalam keadaan tidak berdaya dia akan berhadapan dengan Giam-lo-ong (Raja Akhirat).
Ouw Kan mulai merasa ngeri dan mulailah dia mengasingkan diri di tempat sunyi itu, merenungkan segala perbuatannya di masa lalu dan mulai merasa menyesal.
Demikianlah keadaan Toat-beng Coa-ong Ouw Kan yang kini sudah berusia tujuhpuluh lima tahun.
Dia kini lebih banyak duduk bersamadhi, dan tidak mencampuri urusan duniawi.
Segala keperluannya sehari-hari dilayani oleh seorang pembantu wanita setengah tua, penduduk dusun di bawah lereng, seorang janda dusun sederhana.
Kakek ini tidak pernah kekurangan karena semua kebutuhannya dicukupi oleh Kaisar Kerajaan Kin.
Bahkan rumah itu pun merupakan pemberian kaisar kepada datuk ini.
Pada pagi hari itu, Ouw Kan duduk bersila di atas bangku yang berada di pekarangan depan rumahnya.
Setiap pagi, setelah matahari bersinar, dia selalu duduk bersila di atas bangku depan rumah itu untuk membiarkan dirinya bermandi sinar matahari yang menyehatkan.
Kehangatan sinar matahari membuat hawa udara yang dingin menjadi sejuk dan nyaman.
Di depannya terdapat sebuah meja kecil dan tadi, pelayannya menghidangkan minuman air teh hangat dengan poci dan cangkirnya yang diletakkannya di atas meja.
Ouw Kan sedang tenggelam dalam Siu-lian (samadhi) sehingga dia tidak melihat dan tidak tahu bahwa ada seorang gadis yang berpakaian serba merah muda dan kepalanya tertutup caping lebar memasuki pekarangan, berhenti dan berdiri memandang kepadanya penuh perhatian.
Gadis ini bukan lain adalah Han Bi Lan.
Setelah mendapatkan keterangan Jiu To bahwa Ouw Kan tinggal di Ceng-goan, Bi Lan segera langsung saja menuju ke kota itu.
Di Ceng-goan ia mencari keterangan tentang Ouw Kan.
Ternyata tidak sukar mencari keterangan ini karena hampir semua penduduk kota Ceng-goan tahu akan nama datuk besar itu dan dengan mudah Bi Lan mendapatkan keterangan bahwa orang yang dicarinya itu tinggal di lereng bukit itu.
Setelah tiba di situ, ia langsung memasuki pekarangan dan melihat seorang laki-laki tua duduk bersila di atas bangku bermandi sinar matahari, ia berhenti melangkah dan berdiri memandang penuh perhatian.
Kakek itu tampak tua sekali.
Rambut dan jenggotnya yang panjang sudah putih semua.
Badannya masih tegak namun kurus.
Biarpun kini Ouw Kan sudah jauh lebih tua daripada belasan tahun yang lalu, namun Bi Lan masih dapat mengenalnya.
Kakek inilah yang dulu menculik dan melarikannya.
Inilah Toat-beng Coa-ong Ouw Kan.
Keyakinannya bertambah kuat ketika ia melihat sebatang tongkat dari ular kobra kering berada di atas meja depan kakek itu.
"Ouw Kan......!"
Bi Lan berseru memanggil.
Kakek yang duduk bersila sambil memejamkan kedua matanya itu segera membuka matanya.
Setelah sepasang mata itu dibuka, wajah Ouw Kan tampak menyeramkan.
Mata itu lebar dan bersinar tajam dan liar, biji matanya bergerak berputar-putar.
Dia memandang kepada gadis yang berdiri dalam jarak sepuluh meter di depannya itu dan mengerutkan alisnya, meragu apakah benar pendengarannya tadi menangkap suara gadis itu memanggil namanya.
Rasanya tidak mungkin ada seorang gadis berani memanggil namanya begitu saja!
"Hemm, engkaukah yang tadi memanggil namaku?"
"Ouw Kan, aku datang untuk mencabut nyawamu!"
Ouw Kan merasa semakin heran dan dia melihat betapa sinar mata gadis itu luar biasa dinginnya sehingga menyeramkan.
Akan tetapi dia merasa geli dan aneh.
Dia yang berjuluk Raja Ular Pencabut Nyawa, kini malah akan dicabut nyawanya oleh seorang gadis muda!
"Bocah lancang!
Siapakah engkau yang begitu kurang ajar kepada Toat-beng Coa-ong Ouw Kan?"
"Hemm, tua bangka keparat! Lupakah engkau akan anak perempuan yang belasan tahun lalu kau culik dan kau larikan dari Lin-an (kota raja Kerajaan Sung Selatan)?"
Ouw Kan membelalakkan matanya dan memandang penuh perhatian.
Tentu saja dia tidak pernah melupakan peristiwa yang memalukan hatinya itu.
Dia mendapat tugas dari Kaisar Kin untuk membalaskan kematian Pangeran Cu Si yang tewas dalam perang di tangan suami isteri Han Si Tiong dan Liang Hong Yi.
Akan tetapi ketika dia mendatangi rumah Han Si Tiong, suami isteri yang dicarinya itu tidak ada yang ada hanya anak tunggal mereka, seorang anak berusia tujuh tahun.
Dia lalu menculik anak itu untuk diserahkan kepada Kaisar Kin, akan tetapi di tengah perjalanan, anak itu dirampas oleh Jit Kong Lhama.
Dia terpaksa melarikan diri meninggalkan anak perempuan itu karena dia tidak mampu menandingi kelihaian pendeta Lhama dari Tibet itu.
Dalam penasarannya, dia masih berusaha membunuh suami isteri itu, namun gagal.
Akhirnya dia menugaskan dua orang muridnya, Bouw Kiang dan Bong Siu Lan untuk membunuh Han Si Tiong dan Liang Hong Yi.
Hatinya puas mendengar keterangan dua orang muridnya bahwa mereka berhasil merobohkan suami isteri itu yang akhirnya membuat Han Si Tiong tewas.
Akan tetapi dua orang muridnya tidak berhasil membunuh Liang Hong Yi karena mereka merasa jerih menemukan surat yang terselip di ikat pinggang wanita itu, surat yang ditulis oleh Pek Hong Niocu atau Puteri Moguhai!
Akan tetapi hati Ouw Kan sudah puas karena Han Si Tiong dikabarkan tewas oleh dua orang muridnya itu.
Dan Kini, tiba-tiba saja anak perempuan yang dulu diculiknya lalu dirampas oleh Jit Kong Lhama itu muncul di depannya dan mengancam hendak membunuhnya!
Ouw Kan mengangguk-angguk dan tersenyum.
"Ho-ho, aku ingat sekarang! Engkau bocah nakal itu! Hemm, siapa pula namamu? Aku sudah lupa lagi."
"Namaku Han Bi Lan, ingat itu agar engkau tidak menjadi setan penasaran dan tahu siapa yang membunuhmu."
Tiba-tiba Ouw Kan tertawa, suara tawanya bergaung dan mengandung getaran dahsyat yang memiliki wibawa amat kuat.
"Ho-ho-ho-ha-ha! Han Bi Lan bocah nakal, hayo tertawa bersamaku, ha-ha-ha!"
Akan tetapi, suara tawa kakek itu makin melemah dan akhirnya berhenti, matanya terbelalak memandang ke arah gadis itu, terheran-heran melihat gadis muda itu sama sekali tidak terpengaruh oleh kekuatan sihir yang terkandung dalam suara tawanya.
Tawanya tadi merupakan serangan pertama yang hebat.
Biasanya, lawan yang cukup tangguhpun akan terpengaruh oleh kekuatan sihir dalam tawa itu sehingga ikut tertawa sampai terpingkal-pingkal dan kalau tidak dia hentikan, bukan mustahil lawan yang terpengaruh itu akan tertawa sampai rusak isi perutnya dan mati.
Akan tetapi gadis muda itu tetap berdiri tegak dan wajahnya tetap dingin tanpa ada bayangan perasaan apa pun, sinar matanya tetap mencorong namun dingin seperti membeku.
Serangan sihirnya itu gagal sama sekali, menerpa gadis itu seperti semilirnya angin lalu.
Tentu saja Ouw Kan sebagai seorang datuk besar merasa penasaran sekali.
Dia terkenal sebagai seorang datuk besar yang tidak saja tinggi ilmu silatnya, namun juga terkenal sebagai ahli racun dan ahli sihir.
Melihat serangan sama sekali tidak terasa oleh Bi Lan, dia merasa terhina.
"Rasakan gigitan ularku!"
Dia membentak sambil mengerahkan seluruh tenaga sihirnya, lalu melemparkan tongkat dari ular kobra kering itu ke atas.
Tongkat itu melayang ke atas lalu meluncur ke arah Bi Lan, menjadi seperti seekor ular terbang yang menyerang ke arah leher gadis itu dengan moncong terbuka!
Melihat serangan dahsyat ini, Bi Lan bersikap tenang saja.
Tadi ketika diserang gelombang suara tawa, ia hanya mengerahkan sin-kang (tenaga sakti) yang dilatihnya dari Si Mayat Berjalan dan suara tawa itu lewat begitu saja tanpa dapat menyentuh perasaannya sehingga ia sama sekali tidak terpengaruh.
Kini ia menghadapi serangan tongkat yang menjadi ular terbang yang ia tahu juga merupakan serangan yang didorong kekuatan sihir.
Selain tenaga sihir, juga tongkat ular itu mengandung racun sehingga kalau terkena serangan moncong ular itu, dapat mendatangkan maut.
Namun Han Bi Lan sama sekali tidak merasa gentar atau gugup.
Begitu tongkat itu menyambar bagaikan anak panah ke arah lehernya, ia menggerakkan tangan kiri yang dimiringkan untuk menangkis dan sekaligus menyerang ular jadi-jadian itu dengan sabetan tangannya yang membuat gerakan membacok.
"Wuuttt...... plakk!"
Tongkat yang berubah menjadi ular itu terpukul dan terbanting ke atas tanah, lalu mental dan melayang kembali ke tangan Ouw Kan yang cepat menyambut dan memegangnya.
Dia kini marah sekali.
Tubuhnya yang sudah tua renta itu dengan cekatan sekali telah melompat ke depan.
Gerakannya ringan dan gesit.
Karena kini menyadari bahwa gadis muda itu benar-benar merupakan lawan yang tangguh dan sama sekali tidak boleh dipandang ringan, maka Ouw Kan ti-dak berani main-main lagi.
Dia maklum bahwa ilmu sihir tidak akan dapat mengalahkan gadis ini, maka kini dia mengerahkan seluruh tenaganya dan mengeluarkan semua jurus simpanannya untuk menyerang dengan tongkatnya.
Karena memang datuk ini memiliki ilmu silat tingkat tinggi, maka serangannya juga dahsyat sekali.
Tongkatnya berubah menjadi gulungan sinar yang mengeluarkan bunyi berdengung ketika menyambar-nyambar ke arah tubuh Bi Lan dengan serangan beruntun dan bertubi-tubi.
Bi Lan juga mengerahkan gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang istimewa karena gemblengan Si Mayat Berjalan membuat semua ilmunya maju pesat.
Tubuhnya seolah menjadi bayangan yang berkelebatan cepat sekali, menyelinap di antara sambaran gulungan sinar tongkat.
Akan tetapi serangan-serangan Ouw Kan memang dahsyat sekali, maka beberapa kali hampir saja tubuhnya menjadi sasaran sambaran tongkat maut itu.
Bi Lan maklum bahwa ia tidak akan menang jika hanya mengandalkan kelincahan gerakannya untuk mengelak terus.
Untuk menangkis tongkat itu dengan tangan, ia tidak berani melakukannya.
Tongkat itu berada di tangan Ouw Kan, maka menjadi berbahaya sekali dan kalau ditangkis, bukan tidak mungkin tangannya akan terluka atau keracunan.
Juga kalau hanya mengelak, ia tidak mempunyai kesempatan untuk membalas dan dalam sebuah perkelahian, tidak mungkin mengandalkan pertahanan saja tanpa penyerangan.
Karena itu, setelah lewat limapuluh jurus lebih, tiba-tiba Bi Lan menanggalkan mantel dan capingnya dan kini ia melawan Ouw Kan dengan dua macam senjata.
Mantelnya itu berada di tangan kirinya dan caping berada di tangan kanannya.
Ketika ia menggerakkan dua buah benda itu, Ouw Kan terkejut bukan main.
Mantel itu ketika digerakkan seolah berubah menjadi perisai lebar dan amat kuat, yang mampu menangkis dan membendung hujan serangan tongkatnya.
Dan caping itu pun mulai menyambar-nyambar dengan serangan yang dahsyat!
Setelah menjadi murid Si Mayat Berjalan, tingkat kepandaian Bi Lan telah menjadi sedemikian tinggi dan anehnya sehingga ia tidak perlu membawa senjata tajam lagi karena segala benda dapat saja dijadikari senjata yang ampuh!
Kini pertandingan itu menjadi seru bukan main karena Ouw Kan tidak lagi hanya menyerang seperti tadi.
Kini mulailah dia harus melindungi dirinya dari caping lebar yang menyambar-nyambar itu.
Sebaliknya Bi Lan tidak hanya menghindar terus melainkan kini membalas serangan lawan dengan sama gencarnya.
Perkelahian itu menjadi seru dan mati-matian.
Setiap serangan kedua pihak merupakan cengkeraman tangan maut.
Bi Lan memang telah mendapatkan ilmu silat yang amat aneh dan hebat.
Gurunya yang pertama, Jit Kong Lhama telah mengajarkan ilmu-ilmu silat tinggi, juga mengajarnya tentang racun dan ilmu sihir.
Kemudian, ia telah mempelajari sampai sepenuhnya menguasai ilmu silat sakti dari Kun-lun-pai, yaitu Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat.
Setelah itu, semua ilmunya diperkuat oleh gemblengan Heng-si Ciauw-jiok (Mayat Hidup Berjalan) yang selain memperdalam ilmu-ilmu yang telah ia miliki, ia juga diberi ilmu Sin-ciang Tin-thian (Tangan Sakti Menjagoi Kolong Langit) yang biarpun hanya tigabelas jurus namun merupakan jurus-jurus aneh dan ampuh sekali.
Maka dapat dibayangkan betapa lihainya Bi Lan sekarang.
Akan tetapi lawannya juga bukan orang sembarangan.
Kakek Ouw Kan adalah seorang datuk besar, terkenal dengan julukan Toat-beng Coa-ong.
Selama ini dia tidak pernah berhenti berlatih dan memperdalam ilmu-ilmunya sehingga tentu saja dia merupakan seorang lawan yang amat tangguh dan berbahaya sekali bagi Bi Lan.
Bagaimanapun kuat dan tangguhnya seseorang, dia harus tunduk terhadap kodrat alam yang menguasai pula tubuhnya sendiri, yaitu usia tua.
Usia tua menggerogoti kekuatan tubuh dari sebelah dalam dan tidak ada ilmu yang dapat menolak kodrat ini.
Kenyataan ini berlaku pula atas diri Ouw Kan.
Dia memang seorang yang berilmu tinggi, kuat dan tangguh.
Akan tetapi menghadapi usianya sendiri, mau tidak mau dia harus tunduk.
Tenaganya makin berkurang dan terutama sekali daya tahannya jauh merosot.
Kalau tadi dia masih dapat melakukan perlawanan gigih, bahkan mendesak Bi Lan, kini setelah perkelahian itu lewat seratus jurus, napasnya mulai terengah, tubuhnya basah keringat dan tenaganya semakin melemah.
Sebaliknya, gerakan Bi Lan semakin dahsyat sehingga kini setiap tongkat bertemu gulungan kain jubah, Ouw Kan terdorong mundur dan merasa betapa seluruh lengannya yang memegang tongkat tergetar hebat!
Menyadari bahwa tenaganya semakin lemah dan dia pun tidak mempunyai kesempatan untuk melarikan diri, Ouw Kan menjadi nekat.
Dia mengerahkan seluruh sisa tenaganya, menyerang dengan jurusnya yang paling ampuh.
"Hyaaaahhhh!"
Dengan memekik nyaring dia menyerang dengan tongkatnya yang menghantam ke arah kepala Bi Lan dengan dahsyat sekali.
Bi Lan menggerakkan kain mantel di tangan kirinya untuk menangkis dan begitu kedua senjata itu bertemu, dengan gerakan pergelangan tangannya Bi Lan dapat membuat ujung gulungan mantelnya itu melibat tongkat di tangan kanan Ouw Kan.
Pada saat itu, tangan kanannya yang memegang capingnya menyambar ke arah dada Ouw Kan.
Dalam keadaan seperti itu, Ouw Kan tidak dapat menghindarkan diri lagi.
Maka dengan nekat dia lalu menggerakkan tangan kirinya menyambut dan menangkap caping yang meluncur ke arah dadanya itu.
"Wuuttt...... plakk......!"
Dia berhasil menangkap caping itu dan kini sepasang tangan kedua orang itu tidak bebas lagi!
Mereka mengerahkan tenaga untuk saling mendorong melalui kedua tangan yang memegang senjata.
Terjadilah adu tenaga sakti dengan saling mendorong!
Tenaga Ouw Kan memang sudah hampir habis, maka adu tenaga sakti ini tentu saja amat menyiksanya.
Tubuhnya mulai basah oleh keringat, wajahnya pucat dan uap mengepul dari ubun-ubun kepalanya, menembus topi bulunya.
Melihat keadaan lawan sudah payah dan tenaga itu semakin melemah, Bi Lan berkata dengan suara datar dan pandang mata dingin.
"Jahanam Ouw Kan, bersiaplah untuk menghadap arwah Ayahku agar dia dapat menghukummu!"
Setelah berkata demikian, tiba-tiba Bi Lan mengeluarkan suara melengking yang aneh dan menyeramkan.
Suara itu terdengar sampai jauh, tiba-tiba kedua tangannya melepaskan caping dan mantel dan secepat kilat kedua tangan itu mendorong ke depan, ke arah dada Ouw Kan.
"Dessss""!!"
Tubuh yang kurus itu terlempar ke belakang dan terbanting roboh, tewas seketika dan dari semua lubang di mulut hidung dan telinganya mengalir darah.
Bi Lan berdiri memandang mayat musuh besarnya itu dengan wajah dingin tanpa menunjukkan perasaan apa pun......
Hati gadis yang dahulu gembira, lincah jenaka penuh gairah hidup itu kini seolah membeku dan dingin.
Perubahan ini terjadi semenjak ia meninggalkan ibunya.
Wajahnya masih cantik jelita, akan tetapi seperti kecantikan sebuah topeng!
Tiba-tiba tubuhnya bergerak dan ia sudah melompat masuk pondok itu dan memegang lengan wanita setengah tua yang menjadi pembantu Ouw Kan.
Wanita itu menjadi ketakutan, tubuhnya menggigil dan ia berkata dengan suara gemetar.
"Ampun, Nona. Saya...... saya hanya seorang pelayan......"
Ketika merasa betapa lengan yang dipegangnya itu sama sekali tidak mengandung tenaga, Bi Lan melepaskannya dan wanita itu lalu menjatuhkan dirinya berlutut.
Tadi ia hanya mengintai dari balik pintu dan tidak berani keluar melihat majikannya berkelahi.
Melihat majikannya yang sudah tua itu roboh, ia menjadi semakin ketakutan dan menahan tangisnya.
Suaranya itulah, biarpun lirih, yang membuat Bi Lan melompat dan menangkap lengannya.
Ketika mendapat kenyataan bahwa wanita pelayan itu seorang lemah, Bi Lan segera melepaskannya.
Biarpun ia menjadi seorang yang berhati kaku keras dan dingin, namun Bi Lan tidak menjadi orang jahat yang suka mengganggu orang.
Hanya mereka yang bersikap kurang ajar kepadanya, yang mengganggunya, akan dibunuhnya tanpa mengenal ampun.
Akan tetapi ia tidak akan mengganggu sedikit pun orang yang tidak bersalah kepadanya.
"Aku tidak akan menyakitimu, Bibi. Akan tetapi katakan, di mana adanya Bouw Kiang dan Bong Siu Lan?"
"Maafkan saya, Nona. Saya sungguh tidak tahu di mana adanya mereka."
"Kenalkah engkau kepada dua orang murid itu?"
"Saya pernah melihat mereka datang menghadap Guru mereka di sini, Nona."
"Tahukah engkau apa yang mereka bicarakan?"
"Saya tidak tahu dan tidak berani ikut mendengarkan."
"Seperti apa mereka itu? Coba gambarkan."
"Murid laki-laki bernama Bouw Kiang itu bertubuh tinggi besar, mukanya tampan dan kulitnya hitam, usianya sekitar duapuluh enam tahun. Adapun murid perempuan itu berusia sekitar duapuluh tahun, wajahnya cantik kulitnya putih, mata dan mulutnya lebar."
Seperti itu pula penggambaran ibunya tentang dua orang murid Ouw Kan yang menyerang orang tuanya itu.
"Apakah dulu mereka itu tidak tinggal di sini bersama guru mereka?"
"Tidak, Nona. Pernah saya mendengar bahwa mereka tinggal di kota raja, akan tetapi tepatnya entah di mana karena saya sendiri orang dusun, belum pernah pergi ke kota raja."
Bi Lan mengangguk.
"Keteranganmu itu sudah cukup, Bibi. Terima kasih. Sekarang beritahukanlah kepada pendudukdusun terdekat agar mereka membantu penguburan mayat itu. Aku pergi."
"Nona tunggu sebentar."
"Hemm, apa lagi?"
"Nona, kasihanilah saya. Bagaimana kalau orang-orang bertanya kepada saya tentang kematian majikan saya ini? Kalau saya tidak memberi keterangan yang jelas, saya takut kalau malah dicurigai."
"Hemm, beritahu saja seperti apa yang kaulihat. Ouw Kan ini adalah musuh besarku. Katakan bahwa dia dibunuh seorang gadis yang mengaku sebagai musuh besarnya."
"Kalau mereka menanyakan nama Nona?"
"Hemm, katakan saja bahwa aku adalah Ang I Mo-li (Iblis Betina Baju Merah)!"
Setelah berkata demikian, sekali berkelebat Bi Lan telah lenyap dari depan wanita setengah tua itu.
Tentu saja wanita itu terbelalak dan menggigil ketakutan, percaya bahwa gadis cantik pembunuh majikannya itu benar-benar seorang iblis betina!
Beberapa bulan yang lalu Ouw Kan yang sedang berada seorang diri di pon-doknya dan wanita pembantunya sedang pergi berbelanja bumbu dan bahan masakan, Puteri Moguhai muncul di depannya.
Ouw Kan terkejut mengenal gadis itu sebagai orang yang pernah bersama seorang pemuda Iihai melawan dan mencegahnya ketika dia hendak membunuh Han Si Tiong dan Liang Hong Yi.
Dia sudah bersiap-siap untuk menyerang gadis itu, akan tetapi Puteri Moguhai mencabut pedang bengkok terukir naga emas pemberian kaisar dan berkata.
"Toat-beng Coa-ong Ouw Kan, apakah engkau tidak mengenal ini?"
Ouw Kan terbelalak dan menatap wajah jelita itu penuh perhatian.
"Siapakah engkau?"
"Aku Puteri Moguhai dan di luar aku disebut Pek Hong Niocu!"
Ouw Kan terkejut.
"Aih, kiranya Paduka Tuan Puteri? Maaf, saya tidak mengenal Paduka karena seingat saya, saya dulu melihat Paduka sebagai seorang puteri yang masih kecil, masih remaja. Jadi......, Padukalah yang dulu melindungi Han Si Tiong dan isterinya di tepi Telaga Barat?"
Puteri Moguhai mengangguk.
"Benar, akulah yang ketika itu mencegah engkau membunuhnya!"
"Akan tetapi, Tuan Puteri, mengapa? Sri Baginda Kaisar sendiri yang dulu mengutus saya untuk membunuh suami isteri itu, demi membalas kematian Pangeran Cu Si."
"Perintah itu diberikan Ayahanda Kaisar dahulu, belasan tahun yang lalu. Aku sudah menanyakan kepada Beliau dan sekarang Beliau tidak lagi bermaksud membalas dendam kematian Pangeran Cu Si. Kematian itu terjadi dalam perang, jadi tidak ada dendam pribadi. Akan tetapi mengapa engkau masih bersikeras dalam usahamu membunuh suami isteri itu?"
"Saya...... saya merasa malu kepada Sri Baginda karena kegagalanku dahulu dan ingin menebus kegagalan itu, Tuan Puteri."
"Hemm, mulai sekarang harap engkau hentikan usaha pembunuhan itu, karena akulah yang akan menentangmu! Ketahuilah bahwa suami isteri itu kini merupakan sahabat baikku dan aku akan melindungi mereka!"
"Baik, Tuan Puteri. Saya berjanji bahwa mulai hari ini, saya tidak akan pergi mencari dan memusuhi Han Si Tiong dan Liang Hong Yi."
Demikanlah, Puteri Moguhai meninggalkan Ouw Kan dan kembali ke istana.
Ia sama sekali tidak tahu bahwa ketika berjanji, dalam hatinya Ouw Kan menertawakannya karena beberapa bulan yang lalu dia sudah memberi perintah kepada Bouw Kiang dan Bong Siu Lan, dua orang muridnya, untuk mewakili dia pergi mencari suami isteri itu dan membunuh mereka!
Seperti kita ketahui, dua orang murid itu berhasil melukai Han Si Tiong sehingga tewas tak lama kemudian, akan tetapi mereka tidak berani membunuh Liang Hong Yi karena menemukan surat yang ditulis oleh Puteri Moguhai dan terselip di ikat pinggang Liang Hong Yi.
Dua orang murid itu sudah memberi tahu akan hal ini kepada Ouw Kan, maka ketika Moguhai datang kepada Ouw Kan dan melarang Ouw Kan memusuhi suami isteri itu, tanpa ragu-ragu Toat-beng Coa-ong menyanggupi!
Dia tahu bahwa Han Si Tiong telah tewas oleh dua orang muridnya itu.
Akan tetapi, sama sekali dia tidak pernah bermimpi bahwa dua bulan setelah Puteri Moguhai memperingatkannya, muncul Han Bi Lan, bocah yang dulu diculiknya dan dia tewas di tangan gadis yang kini menjadi luar biasa lihainya itu!
Ketika Moguhai pulang ke istana, ayah ibunya, yaitu Sri Baginda Kaisar Kerajaan Kin dan Tan Siang Lin yang menjadi selir kaisar, menyambutnya dengan gembira.
Mereka merasa rindu sekali kepada puteri mereka yang terkasih ini, yang telah meninggalkan istana selama setahun.
Sri Baginda Kaisar dan selirnya itu segera mendesak agar puteri mereka itu menceritakan semua pengalamannya.
Sudah lama Kaisar mendengar akan nama Tiong Lee Cin-jin yang berjuluk Dewa Obat dan dia mengaguminya karena Tiong Lee Cin-jin juga berjasa menyelamatkan kaisar ketika terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh mendiang Pangeran Hiu Kit Bong.
Maka, ketika mendengar bahwa puterinya yang dia tahu telah memiliki ilmu silat tinggi itu hendak digembleng oleh Dewa Obat selama setahun, tentu saja dia menyetujuinya.
Adapun Tan Siang Lin sendiri, tentu saja merasa girang dan rela membiarkan puterinya meninggalkannya selama setahun untuk berguru kepada Tiong Lee Cin-jin karena itu berarti bahwa Moguhai berguru kepada ayah kandungnya sendiri!
Moguhai bercerita kepada Ayahnya betapa selama setahun ia digembleng ilmu oleh Tiong Lee Cin-jin dan bersama ia ada seorang gadis lain yang menjadi murid Si Dewa Obat.
"Ah, ada murid wanita lain? Apakah ia juga memiliki tingkat kepandaian tinggi? Siapa namanya, Moguhai?"
Tanya Kaisar Kin.
"Ia juga lihai sekali. Sebelum menjadi murid...... Suhu, ia juga sudah lihai dan di dunia kang-ouw terkenal dengan julukan Ang Hwa Sian-li, namanya Thio Siang In. Usianya sebaya dengan saya dan kata orang-orang, kami berdua mirip satu sama lain. Ia ingin sekali berkunjung ke sini. Bolehkah, Ayah?"
Sejak kecil Moguhai amat manja kepada ayahnya dan terhadap ayahnya itu, ia tidak menggunakan banyak aturan sebagaimana keluarga kaisar yang lain.
Kaisar yang amat menyayang puterinya itu pun membiarkannya saja.
"Tentu saja boleh! Kapan saja ia boleh datang berkunjung ke istana,"
Kata Sri Baginda Kaisar.
Puteri Moguhai menceritakan tentang pengalamannya ketika belajar ilmu dari Si Dewa Obat.
Tentu saja ia sama sekali tidak menyinggung tentang rahasia yang telah ia ketahui mengenai riwayatnya dan Siang In dan tentang Gurunya yang sesungguhnya adalah Ayahnya sendiri dan dalam kesempatan itu ia bercerita pula akan pengalamannya ketika bertemu dengan Han Si Tiong dan Liang Hong Yi.
"Ayah, mereka adalah suami isteri pendekar yang gagah perkasa dan baik budi. Karena itu, ketika Toat-beng Coa-ong Ouw Kan menyerang dan hendak membunuh mereka, saya melindungi mereka. Saya tahu bahwa Ayah sudah tidak menaruh dendam kepada suami isteri itu dengan tewasnya Pangeran Cu Si dalam perang. Akan tetapi Ouw Kan masih saja memusuhi dan hendak membunuh mereka karena merasa malu atas kegagalannya membunuh mereka belasan tahun yang lalu."
Kaisar itu menghela napas panjang.
"Kami sesungguhnya bukan anak kecil yang tidak tahu bahwa gugur dalam perang bukan merupakan dendam pribadi. Akan tetapi pada waktu itu, mendiang Pangeran Hiu Kit Bong yang memanaskan hatiku sehingga aku utuskan Ouw Kan untuk membalas dendam. Setelah dia gagal, sebetulnya aku sudah menghapus dendam yang sesungguhnya salah itu. Aku tidak lagi mendendam, apalagi hubungan antara kerajaan kita dengan Kerajaan Sung kini sudah menjadi baik. Aku tidak pernah menyuruh Ouw Kan untuk membunuh suami isteri bekas pimpinan Pasukan Halilintar. Kalau dia masih berusaha membunuh mereka, itu adalah urusannya sendiri."
Biarpun di depan Kaisar ia tidak bercerita tentang rahasia ibunya, akan tetapi ketika ia berada berdua dengan ibunya, Puteri Moguhai tidak dapat menahan diri lagi untuk merahasiakan semua itu.
Tan Siang Lin, selir kaisar itu, agaknya sudah menduga bahwa tentu telah terjadi sesuatu dengan puterinya yang selama setahun hidup bersama gurunya yang juga merupakan ayah kandungnya itu.
Ia dapat merasakan sesuatu telah terjadi melihat sinar mata puterinya ketika memandang kepadanya semenjak anak itu pulang.
Kini, Moguhai agaknya sengaja menemuinya berdua dalam kamar itu.
Dengan jantung berdebar tegang ia lalu duduk di atas pembaringan, setengah merebahkan diri dan memandang puterinya yang setelah memasuki kamar lalu menutupkan daun pintu dengan hati-hati.
Setelah menutupkan daun pintu Moguhai menghampiri ibunya dan duduk di atas tepi pembaringan.
Dua orang wanita itu saling pandang dan sampai lama keduanya tidak bicara, hanya saling pandang dan keduanya tersenyum dengan sinar mata membayangkan kasih sayang yang besar.
Melihat betapa sinar mata Moguhai mengandung keraguan, Tan Siang Lin berkata lirih sambil memegang lengan puterinya.
"Anakku, agaknya engkau akan menceritakan sesuatu kepada Ibumu. Jangan ragu-ragu, anakku, kalau ada sesuatu, ceritakanlah saja."
"Ibu, aku sekarang mempunyai nama baru atau nama alias, pemberian...... Suhu Tiong Lee Cin-jin."
Ibunya memandang tajam dan mulutnya tersenyum.
"Nama baru? Engkau diberi nama apakah, Moguhai?"
"Aku diberi nama Sie Pek Hong, Ibu."
Sepasang mata yang masih indah itu terbelalak.
"...... Sie......?"
"Benar, Ibu. Pakai nama marga Sie dan nama Pek Hong adalah nama julukanku, Pek Hong Niocu."
"Akan tetapi, mengapa marga Sie?"
"Karena Guruku juga bermarga Sie, Sie Tiong Lee, Ibu."
Wajah wanita itu berubah kemerahan.
"Akan tetapi...... mengapa engkau ikut-ikutan bermarga Sie?"
"Ibu, bukankah nama marga seorang anak harus mengikuti marga Ayahnya? Ibu bermarga Tan, tidak mungkin aku memakai marga Tan."
Wajah ita menjadi semakin merah.
"Moguhai......!"
Ia memegang lengan pu-terinya dengan kuat.
"Kau...... kau...... tahu......?"
Moguhai tersenyum dan mengangguk.
"Dia...... dia yang bercerita padamu?"
Kembali Moguhai mengangguk.
"Ohhh......!"
Tan Siang Lin bangkit duduk dan memegang kedua tangan puterinya. Moguhai merasa betapa jari-jari tangan ibunya menjadi dingin dan gemetar.
"Apa...... apa saja yang dia ceritakan......?"
"Semuanya, Ibu. Tentang Ayah...... eh, Paman Sie...... eh, Suhu dan Ibu. Aku merasa terharu sekali mendengar akan nasib dia dan Ibu."
Moguhai merangkul ibunya karena jelas ibunya menahan tangisnya.
Tan Siang Lin merangkul puterinya dan sejenak mereka berangkulan.
Wanita itu tidak mengeluarkan suara tangisan, akan tetapi pundaknya bergoyang perlahan.
Akhirnya ia dapat menguasai perasaannya.
Ia melepaskan rangkulannya, menghapus beberapa tetes air mata yang membasahi pipinya, lalu menghela napas panjang dan berkata lirih.
"Akan tetapi engkau tahu bahwa aku hidup cukup bahagia di istana ini. Sri Baginda amat baik terhadap kita berdua, Moguhai."
"Hal itu tidak kusangkal, Ibu. Dan sudah kuceritakan dengan terus terang kepada Suhu. Karena itu, nama Sie Pek Hong juga hanya untuk aku dan Ibu saja, kepada orang luar aku tetap bernama Puteri Moguhai dan berjuluk Pek Hong Niocu. Selain rahasia yang kuceritakan tadi, Ibu, masih ada hal lain yang tentu akan membuat Ibu berbahagia kalau aku ceritakan."
Tan Siang Lin yang masih berdebar jantungnya karena tegang dan haru mendengar bahwa puterinya telah mendengar pengakuan Sie Tiong Lee tentang rahasianya kini memandang kepada wajah Moguhai dengan kedua mata masih basah.
Hatinya sudah terlalu tegang sehingga keharuan membuat ia tidak mampu bicara, hanya bertanya lirih dengan satu kata saja.
"Apa......?"
Moguhai memegang kedua tangan ibunya dan berkata dengan wajah berseri gembira.
"Ibu, tahukah Ibu siapa gadis yang menjadi saudara seperguruanku dan yang bernama Thio Siang In? Ia adalah puteri Bibi Miyana!"
Sepasang mata itu terbelalak menatap wajah Moguhai.
"Puteri...... puteri...... Miyana......?"
Suara itu gemetar dan bibir itu menggigil.
"Ya, Ibu dan Siang In itu serupa benar dengan aku, tidak ada yang dapat membedakan kalau kami mengenakan pakaian yang sama. Ia adalah adik kembarku yang dulu dibawa pergi Bibi Miyana."
Wajah Tan Siang Lin menjadi agak pucat.
"Ia...... ia tahu ! pula akan hal itu?"
"Tahu, Ibu. Suhu...... Ayah...... menceritakan semua kepada kami berdua. Aku sudah singgah ke rumahnya dan bertemu Bibi Miyana yang sekarang menjadi Nyonya Thio Ki di kota Kang-cun. Ibu, Siang In akan berkunjung ke sini untuk bertemu dengan Ibu!"
Tan Siang Lin tak dapat menahan keharuan dan kebahagiaan hatinya lalu ia merangkul Moguhai sambil menangis tersedu-sedu.
Tangis bahagia.
Akan tetapi tiba-tiba ia teringat akan sesuatu dan menghentikan tangisnya, lalu memandang wajah Moguhai dan berkata dengan gelisah.
"Jangan, anakku! Jangan biarkan ia ke sini. Kalau Sri Baginda tahu......"
"Ibu jangan khawatir. Siang In juga sudah tahu bahwa Ayahanda Kaisar tidak boleh mengetahui akan kekembaran kami itu. Ia akan datang ke sini sebagai Thio Siang In yang berjuluk Ang Hwa Sian-li dan mengenakan pakaian yang berbeda sekali denganku. Wajah kami memang sama, namun warna dan bentuk pakaian kami berbeda jauh, juga bentuk sanggul rambut kami. Kemiripan kami itu tidak akan terlalu menyolok dengan adanya perbedaan-perbedaan itu, Ibu."
Mendengar ucapan Moguhai itu, hati Siang Lin menjadi tenang kembali.
Ibu ini menunggu pertemuan yang akan terjadi dengan puterinya itu dengan hati penuh ketegangan dan kegembiraan.
Mendengar bahwa kini puteri kembarnya yang kedua itu telah menjadi seorang gadis yang lihai, sudah bertemu ayah kandungnya dan saudara kembarnya, sudah tahu pula bahwa ialah ibu kandungnya dan Miyana hanyalah ibu angkat, tahu bahwa ayah kandung mereka berdua adalah Sie Tiong Lee, hal ini saja sudah mendatangkan kebahagiaan besar dalam hatinya.
Karena telah meninggalkan istana selama setahun lebih, maka Kaisar Kin dan selirnya melarang Moguhai untuk pergi lagi.
Puteri itu tinggal di istana dan ia sedang murung karena baik kaisar maupun ibunya mendesaknya agar mau memilih seorang di antara banyak pinangan yang diajukan padanya.
Para pelamar itu terdiri dari para putera pejabat tinggi, ada pula putera-putera Pangeran yang menjadi saudara misan Sri Baginda Kaisar.
Ketika Moguhai menolak, Kaisar menjadi marah.
Baru satu kali ini Kaisar memarahi puterinya yang biasanya amat disayang itu.
"Bagaimana engkau ini? Ingat usiamu sudah duapuluh tahun! Kalau tidak sekarang menentukan jodohmu, mau tunggu sampai kapan lagi? Aku sudah memberi kebebasan sepenuhnya padamu, tidak memaksamu berjodoh dengan seseorang menurut pilihan kami. Kami sudah memberi kebebasan kepadamu untuk memilih seorang di antara para pemuda yang telah mengajukan pinangan dengan segala kehormatan!"
"Maafkan saya, Ayah. Akan tetapi, sesungguhnya saya sama sekali belum ingin terikat dalam sebuah pernikahan. Saya masih ingin sendiri......"
Kaisar menjadi marah.
"Hemm, beginilah kalau anak terlalu dimanja. Sejak kecil, orang tua selalu berusaha untuk membahagiakan hatimu, akan tetapi sekarang, diharapkan membahagiakan hati orang tua satu kali saja tidak mau!"
Kaisar marah dan meninggalkan Moguhai bersama, ibunya.
Sejak tadi Tan Siang Lin hanya diam saja.
Ia pun ingin sekali melihat puterinya menikah dan mempunyai anak.
Ia sudah ingin sekali menimang cucu.
Telah menjadi anggapan semua orang tua di masa itu, hati mereka barulah merasa lega dan bahagia kalau anak perempuannya sudah menikah.
Bagi mereka, pernikahan saja yang akan mendatangkan kebahagiaan dalam hati tiap orang gadis.
Menjadi isteri lalu menjadi ibu!
Apalagi kecuali itu yang akan membahagiakan hati seorang wanita?
Dan merupakan hal yang amat memalukan, bahkan dapat mendatangkan aib, akan menjadi buah bibir dan diam-diam menjadi bahan ejekan kalau seorang gadis yang sudah dewasa tidak segera mendapatkan jodoh.
Disangka tidak laku!
Padahal, anaknya kini sudah berusia duapuluh tahun!
Sudah agak terlambat menurut ukuran jaman itu.
Seorang gadis biasanya menikah dalam usia enambelas atau tujuh belas tahun, paling lambat delapanbelas tahun.
Dengan lembut Tan Siang Lin mendekati puterinya yang masih duduk termenung setelah dimarahi ayahnya tadi.
Ia menaruh tangannya ke pundak Moguhai.
Moguhai menoleh dan menghela napas panjang.
"Moguhai, mengapa engkau begitu kukuh menolak anjuran kami untuk menentukan pilihan jodohmu?"
Kata Ibu itu dengan lembut, Ialu ia duduk di atas kursi depan puterinya. Moguhai menghela napas panjang lagi dan berkata.
"Ibu, kalau aku bersama Ayah Sie Tiong Lee, aku yakin beliau tidak akan memaksaku menikah."
"Mungkin saja ia akan bersikap begitu, mengingat dia seorang yang sejak muda hidup di dunia kang-ouw. Akan tetapi sikap seperti itu sama sekali tidak sesuai dengan pendapat umum, anakku. Ayahmu, Sri Baginda dan aku, menghendaki engkau mengambil pilihan dan segera menikah adalah tanda kesayangan kami kepadamu. Kami ingin melihat engkau hidup berbahagia sebagai seorang isteri, sebagai seorang ibu. Kami tidak ingin engkau menjadi bahan pembicaraan dan cemoohan orang, yang mengatakan bahwa engkau tidak laku. Ingatlah, usiamu sudah duapuluh tahun dan itu merupakan usia yang sudah lebih dari cukup bagi setiap orang wanita untuk meninggalkan masa kegadisannya dan memasuki kehidupan berumah tangga, berkeluarga."
"Akan tetapi, Ibu. Kalau aku belum suka menikah, apakah aku harus memaksa diri untuk melakukan hal yang tidak atau belum kusukai itu?"
"Anakku, dalam hal ini tidak ada pemaksaan diri, melainkan pelaksanaan kewajiban. Ketahuilah, Moguhai, dalam kehidupan seorang wanita, terdapat kewajiban-kewajiban yang tidak kita ingkari. Menikah menjadi isteri orang, melahirkan menjadi ibu anak-anak, melayani suami dan mengurus rumah tangga, semua itu merupakan sebagian dari kewajiban seorang wanita. Wanita adalah induk dan sumber perkembang-biakan manusia di dunia ini, yang merupakan tugas yang teramat mulia. Kalau semua wanita berpendirian seperti engkau dan tidak mau menikah, tidak melahirkan anak, manusia akan musnah."
"Aih, Ibu. Aku bukan bermaksud untuk tidak menikah selama hidupku, hanya saja, aku tidak mau menikah dengan pria yang tidak kusukai. Aku hanya mau menikah dengan seorang pria yang kucinta, Ibu."
Tan Siang Lin menghela napas panjang.
"Aku mengerti perasaanmu dan aku tahu bahwa semua wanita pasti memiliki perasaan yang sama seperti itu, walaupun yang terlaksana keinginannya hanya satu di antara seribu. Sebagian besar gadis dijodohkan orang tuanya, bahkan banyak yang sama sekali belum pernah melihat suaminya. Pertama kali melihatnya adalah di saat pernikahan dilangsungkan. Akan tetapi Sri Baginda telah bersikap bijaksana terhadapmu karena Beliau amat mencintamu. Buktinya Beliau memberi kebebasan kepadamu untuk memilih di antara mereka yang telah mengajukan pinangan."
"Akan tetapi, Ibu. Aku sungguh belum mempunyai pilihan dan tentang usia...... hemm, Siang In juga belum menikah!"
"Mengapa mesti menunggu ia? Apakah selama ini engkau belum pernah bertemu dengan seorang pemuda yang menarik hatimu?"
Wajah Moguhai menjadi kemerahan, lalu menjawab malu-malu.
"Sebetulnya memang ada, Ibu. Akan tetapi aku tidak tahu apakah dia juga tertarik padaku. Kami belum pernah saling menyatakan perasaan hati kami. Selain itu, dia adalah seorang pemuda pribumi Han, apakah mungkin Ayahanda mau menerima seorang Han sebagai mantunya?"
"Hemm, memang mungkin sukar Beliau dapat menerimanya. Akan tetapi bukankah aku juga seorang wanita Han? Aku yang akan membujuknya, Moguhai. Aku yakin dapat membujuk Beliau untuk menerima seorang mantu bangsa Han. Akan tetapi siapakah dia, anakku?"
"Ibu pernah melihatnya, bahkan dia telah berjasa besar ketika Ayahanda terancam oleh pemberontakan Paman Pangeran Hiu Kit Bong."
"Ah! Aku tahu! Bukankah dia muridnya dan bernama Souw Thian Liong itu?"
Wajah Moguhai berubah semakin merah, akan tetapi ia mengangguk. Tan Siang Lin merangkul pundak puterinya.
"Anakku, apakah engkau mencinta Souw Thian Liong?"
"Aku tidak tahu, Ibu. Akan tetapi aku kagum sekali padanya. Dia amat baik budi, bijaksana dan rendah hati walaupun ilmu kepandaiannya tinggi sekali. Juga...... Ayah Sie 'l'iong Lee memuji-muji muridnya itu. Terus terang saja, hatiku tertarik kepadanya."
"Dan bagaimaria dengan dia? Apakah Souw Thian Liong mencintamu?"
"Hal itu pun aku tidak tahu, Ibu. Dia selalu bersikap sopan terhadap aku dan tidak pernah memperlihatkan bagaimana perasaannya. Kami selama ini hanya bersahabat baik dan akrab."
"Hemm, biarlah aku yang akan membicarakan hal ini dengan Sri Baginda. Aku kira Beliau akan setuju kalau bermantukan seorang pemuda seperti Souw Thian Liong itu, sungguhpun dia seorang pribumi Han."
"Akan tetapi, Ibu. Sama sekali aku tidak bermaksud untuk memaksa dia...... ah, itu akan memalukan sekali. Aku tidak tahu apakah dia...... mencintaku, bahkan aku pun belum yakin benar akan perasaanku sendiri. Aku belum yakin apakah aku...... mencintanya dan ingin menjadi jodohnya."
"Tentu saja kita tidak akan menggunakan paksaan, Moguhai. Aku hanya akan merundingkan dengan Sri Baginda. Setidaknya aku akan memberi penjelasan sehingga Sri Baginda akan dapat mengerti keadaan hatimu dan tidak akan men-desakmu untuk memilih dan menerima pinangan orang lain."
Hati Moguhai menjadi tenang mendengar ucapan ibunya itu dan dia berterima kasih sekali.
Ibu dan anak itu bercakap-cakap sampai jauh malam dan Moguhai menceritakan semua pengalamannya kepada ibunya yang mendengarkannya dengan asyik dan penuh perhatian, apalagi ketika Moguhai bercerita tentang keadaan dan kehidupan sehari-hari dari Sie Tiong Lee yang dulu menjadi kekasihnya itu.
Tujuh orang pengawal istana itu duduk santai dan mereka saling bicara dengan suara berbisik.
Setiap kali berjaga malam yang digilir bergantian, mereka tidak berani bicara berisik, khawatir mengganggu keluarga istana yang sedang beristirahat dan tidur.
Malam itu udara dingin sekali sehingga tujuh orang pera-jurit pengawal itu mengenakan baju luar mereka yang tebal.
Yang mereka bicarakan adalah peristiwa mengerikan yang terjadi beberapa hari yang lalu.
Tuan muda Hiu Kan dan dua orang dari Sam-pak-liong yang menjadi pengawalnya, telah terbunuh dalam hutan dekat kota raja dan orang ke tiga dari Sam-pak-liong lumpuh dan remuk tulang lengan kirinya.
Jiu To, orang ketiga ini dengan susah payah memasuki kota raja dan minta bantuan.
Kaisar dan keluarga istana memang tidak begitu mengacuhkan peristiwa kematian keponakan kaisar itu karena Pangeran Hiu Kan merupakan seorang pemuda yang hanya mencemarkan nama dan kehormatan keluarga istana.
Pemuda putera mendiang Pangeran Hiu Kit Bong yang pernah memberontak itu adalah orang yang tidak berguna, hanya berfoya-foya menghabiskan harta peninggalan ayahnya dan terkenal sebagai seorang pemuda mata keranjang yang suka mengganggu gadis-gadis, bahkan isteri orang!
Akan tetapi peristiwa itu menggemparkan para perajurit dan orang-orang ahli silat di kota raja, bukan kematian Hiu Kan melainkan robohnya pengawalnya, yaitu Sam-pak-liong (Tiga Naga Utara) yang terkenal lihai itu.
Dua orang dari mereka tewas dan orang pertama yang bernama Jiu To lengan kirinya lumpuh dan remuk tulang lengannya dari siku ke bawah.
Menurut keterangan Jiu To, yang melakukan pembunuhan itu adalah seorang gadis muda cantik jelita yang amat lihai dan yang memaksanya memberitahu di mana tempat tinggal Ouw Kan, Toat-beng Coa-ong yang amat terkenal itu.
Kemudian terdengar berita yang lebih mengejutkan lagi.
Toat-beng Coa-ong tewas dan menurut keterangan pelayannya, pembunuhnya adalah seorang gadis muda cantik jelita yang mengaku berjuluk Ang I Mo-li (Iblis Wanita Baju Merah)!
Tentu saja para pengawal itu menjadi gentar juga mendengar akan munculnya Ang I Mo-li yang membunuh Hiu Kan, dua orang di antara Sam-pak-liong, kemudian malah membunuh Toat-beng Coa-ong (Raja Ular Pencabut Nyawa) Ouw Kan yang sakti itu.
Tujuh orang pengawal ini pun merasa gentar.
Akan tetapi mereka tenang saja malam itu karena merasa bahwa mereka mendapat bagian penjagaan yang ringan, yaitu di sebelah dalam.
Penjagaan di istana itu berlapis lapis dan dari regu-regu penjagaan di kompleks istana itu, dihitung dari regu penjaga di pintu gerbang sampai ke tempat berjaga, mereka berada di lapisan paling dalam atau pada lapisan keenam.
Jadi, kalau ada orang jahat hendak mengacau ke istana, dia harus dapat melewati lima lapis regu pengawal dulu sebelum berhadapan dengan mereka!
Jadi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan sungguhpun berita tentang Ang I Mo-li itu menyeramkan.
Pula, sebagai pengawal yang paling dalam di istana itu, mereka terdiri dari orang-orang yang memiliki ilmu silat tinggi dan cukup tangguh untuk melindungi keselamatan kaisar dan keluarganya.
Selain itu, siapa yang tidak mengenal Puteri Moguhai yang berjuluk Pek Hong Niocu dan yang terkenal sakti dan lihai sekali?
Dengan hadirnya puteri yang sering meninggalkan istana itu, semua orang merasa aman dan terlindung.
Demikian pula dengan tujuh orang pengawal ini, merasa bahwa kedudukan mereka kuat sekali dan tidak perlu mengkhawatirkan sesuatu.
"Sungguh luar biasa dan mustahil! Bagaimana gadis muda mampu mengalahkan tiga orang Sam-pak-liong itu?"
Kata seorang dari mereka.
"Itu masih belum luar biasa. Yang lebih hebat dan tak masuk akal lagi, bagaimana gadis itu dapat membunuh Toat-beng Coa-ong Ouw Kan yang terkenal sebagai datuk besar dunia persilatan?"
Orang kedua berkata.
"Tidak perlu diherankan. Sekarang memang bermunculan gadis-gadis muda yang amat lihai. Tidak usah jauh-jauh, apakah kalian lupa bahwa Sang Puteri Moguhai sendiri adalah seorang puteri yang amat tinggi ilmunya?"
Kata orang ketiga.
"Wah, kalau begin terus, semakin banyak wanita yang amat lihai dan tangguh, jangan-jangan akhirnya dunia ini akan dikuasai oleh wanita!"
Kata yang lain.
"Dan kita kaum pria menjadi pelayan mereka, mengasuh anak, mencuci pakaian, mengurus dan membersihkan rumah, memasak......"
"Dan bukan pria lagi yang melamar melainkan wanita yang meminang pria kalau ingin berumah tangga."
Mereka tertawa, akan tetapi menahan suara mereka agar tidak menimbulkan kegaduhan.
"Ssstt......!"
Tiba-tiba seorang di antara mereka mendesis dan menuding ke kanan.
Semua orang menengok dan dengan gesit mereka berloncatan.
Mereka adalah tujuh orang pengawal dalam istana yang memiliki kependaian tinggi, maka dalam kewaspadaan mereka, mereka segera siap siaga dan dengan cepat sekali mereka sudah mengepung seorang gadis baju merah yang tahu-tahu telah berada di situ!
"Hei!
Siapa engkau?"
Bentak seorang dari mereka dengan suara lantang dan bengis, sungguhpun dalam hatinya dia gentar dan terkejut sekali karena dia sudah dapat menduga bahwa tentu gadis ini yang mereka bicarakan tadi.
Kalau bukan orang yang memiliki kesaktian, mana mungkin dapat masuk sampai ke sini tanpa menimbulkan keributan melewati lima lapisan regu-regu penjaga istana itu?
Dugaan dalam hati pengawal ini, juga semua rekannya, memang benar.
Gadis baju merah ini adalah Han Bi Lan.
Seperti kita ketahui, Bi Lan telah berhasil membalas dendam kematian ayahnya, membelas dendam orang yang dulu menculiknya, membunuh Toat-beng Coa-ong Ouw Kan.
Namun hatinya penasaran karena ia tetap menduga bahwa musuh utamanya adalah Kaisar Kin.
Kaisar itu tentu yang mengutus Ouw Kan untuk membunuh dan membasmi keluarga mendiang ayahnya.
Ia akan membunuh Kaisar Kin!
Dengan menggunakan ilmu kepandaiannya yang tinggi, gadis yang sedang tertekan batinnya itu oleh kenyataan riwayat ibunya yang bekas pelacur, juga karena pengaruh pendidikan Heng-si Ciauw-jiok (Mayat Hidup Berjalan), yang membuat hatinya menjadi keras dan aneh, dapat menyusup ke istana tanpa diketahui lapisan penjaga yang pertama sampai yang kelima.
Sebetulnya dengan gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang tinggi, ia akan dapat pula melewati lapisan keenam ini tanpa mereka ketahui.
Akan tetapi setelah tiba di bagian depan istana ini, ia menjadi bingung.
Bangunan istana ini begitu luas.
Ke mana ia harus mencari kaisarnya?
Karena ia ingin mendapat keterangan tentang hal ini, maka ia sengaja memperlihatkan diri kepada para pengawal yang segera bergerak mengepungnya!
Biarpun tadi para pengawal itu membicarakan tentang Ang I Mo-li dengan hati seram dan gentar, namun setelah kini mereka berhadapan dengan Bi Lan, rasa takut itu segera menghilang.
Gadis itu begini cantik jelita dan tampaknya lemah lembut, sama sekali tidak menimbulkan perassan gentar!
Rasanya mustahil seorang gadis muda secantik ini dapat menjadi mahluk mengerikan seperti yang mereka gambarkan.
Mereka adalah jagoan-jagoan istana, sungguh menggelikan kalau merasa takut kepada seorang gadis muda cantik jelita yang begini lembut dan lemah gemulai!
Mendengar pertanyaan kepala regu pengawal dan melihat betapa tujuh orang pengawal itu mengepungnya tanpa mengeluarkan senjata mereka, Bi Lan menjawab dengan suara tegas.
"Siapa aku tidak penting. Yang penting, aku ingin tahu di mana adanya kaisar. Aku ingin bertemu dengan dia. Laporkan agar dia keluar menemuiku, atau tunjukkan di mana dia dan aku akan masuk dan menemuinya!"
Tujuh orang pengawal itu menahan tawa mereka karena mereka merasa geli.
Gadis ini ingin bertemu dengan kaisar dengan sikap seperti seorang gadis ingin bertemu dengan pacarnya saja!
"Wah, tidak semudah dan sesederhana itu, Nona!
Siapapun juga, tidak mungkin dapat menghadap Sri Baginda Kaisar di waktu malam begini.
Kalau hendak menghadap, datang saja besok pagi dan melapor kepada penjaga di bagian depan."
"Aku harus bertemu dengan dia sekarang juga! Laporkan dan suruh dia keluar, atau antarkan aku kepadanya!"
Gadis ini sudah gila, pikir para pengawal.
Masa ada orang menyuruh Sri Baginda Kaisar keluar untuk menemuinya, malam-malam begini lagi!
"Nona, tidak mungkin kami dapat memenuhi permintaanmu.
Kami tidak dapat melaporkan dan tidak dapat mengantarmu menghadap Sri Baginda."
"Hemm, kalau begitu akan kupaksa seorang dari kalian untuk mengantar aku kepadanya!"
Mendengar ini, tujuh orang pengawal serentak menubruk hendak meringkus dan menangkap gadis itu.
Bagaikan tujuh ekor harimau mereka menerkam gadis itu dari tujuh arah secara berbareng sehingga tidak mungkin bagi Bi Lan untuk mengelak lagi.
Kalau ada orang menonton pada saat itu, tentu akan merasa yakin bahwa gadis itu akan dapat diringkus, bahkan tujuh orang pengawal itu pun sudah merasa pasti.
Mereka bertujuh adalah laki-laki yang memiliki tenaga dalam yang kuat, juga semua pandai silat.
Tidak mungkin gadis itu dapat meloloskan diri.
Bahkan seekor burung yang pandai terbang sekalipun tidak akan dapat lolos dari terkaman tujuh orang dari segala penjuru itu.
Akan tetapi terjadi keanehan.
Gadis itu seolah merupakan sebuah bom peledak.
Begitu tujuh orang itu menerkam, ia menggerakkan tubuh berputar, kedua tangannya menyambar-nyambar dan tujuh orang pengawal itu berseru kaget dan tubuh mereka sudah berpelantingan ke belakang seolah dilanda alat peledak yang amat kuat!
Mereka terbanting jatuh dan Bi Lan masih berdiri tegak dan kini melipat kedua lengan depan dada.
Tujuh orang pengawal itu tentu saja merasa gentar, akan tetapi mereka lebih takut lagi akan hukuman kalau membiarkan gadis itu lewat dan memasuki istana, apa lagi kalau sampai mengganggu bahkan membunuh kaisar.
Maka setelah mengetahui bahwa gadis itu benar-benar lihai seperti iblis, mereka lalu mencabut pedang mereka dan hendak mengeroyok untuk membunuh gadis yang tidak mungkin mereka tangkap itu.
"Tahan senjata dan mundur semua!"
Terdengar bentakan nyaring dan mendengar suara wanita yang amat mereka kenal itu, tujuh orang pengawal itu berlompatan mundur.
Tampak banyak pengawal datang berlarian ke tempat itu sehingga sebentar saja di situ berkumpul sedikitnya limapuluh orang perajurit pengawal yang telah siap dengan pedang di tangan.
Akan tetapi Bi Lan tidak memperhatikan mereka itu.
Matanya mencari-cari kalau-kalau kaisar muncul di situ.
Akan tetapi pandang matanya bertemu dengan pandang mata Puteri Moguhai yang sudah berdiri di depannya.
Mereka saling pandang.
Dua orang gadis yang sama-sama cantik jelita.
Pakaian Bi Lan serba merah muda dan pakaian Puteri Moguhai serba putih!
"Mau apa engkau malam-malam begini membuat kekacauan di istana?"
Puteri Moguhai menegur, suaranya mengandung wibawa.
"Mau bunuh Kaisar!"
Bi Lan menjawab, sedikitpun tidak merasa gentar.
"Gila kau!"
Moguhai berseru dan ia menyerang dengan pukulan jarak jauh.
Kedua tangannya didorongkan ke arah Bi Lan dan pukulan ini mengandung tenaga sin-kang yang menyambar dahsyat ke arah Bi Lan.
Bi Lan tersenyum mengejek dan ia pun menggerakkan kedua tangannya, menyambut dengan dorongan yang diperkuat ilmu Sin-ciang yang ia dapatkan dari Si Mayat Hidup sehingga dari kedua telapak tangannya terdengar suara bercuitan ketika ada hawa kuat dan panas seperti kilat menyambar.
Dorongan kedua tangan Bi Lan ini dahsyat sekali, merupakan ilmu yang langka dan tinggi yang ia pelajari dari Si Mayat Hidup.
Akan tetapi yang ia hadapi kini adalah murid, bahkan puteri Tiong Lee Cin-jin yang juga telah menurunkan ilmu yang hebat kepada Moguhai.
"Syuuuuttt...... blaarrrr......!!"
Kedua orang gadis itu terpental dan tentu akan terjengkang kalau saja keduanya tidak cepat-cepat berpok-sai (bersalto) ke belakang sampai tiga kali sehingga dapat hinggap di atas tanah dengan tegak.
Keduanya terkejut dan saling pandang penuh perhatian.
Kebetulan para pengawal kini sudah memasang banyak obor sehingga tempat itu menjadi terang sekali.
Mereka dapat saling memandang wajah masing-masing dengan jelas.
"Ahh...... engkaukah ini? Bukankah engkau ini...... yang dulu membantu Souw Thian Liong menghadapi pengeroyokan orang-orang Siauw-lim-pai dan Kun-lun-pai?"
"Dan engkau...... engkau Puteri Kerajaan Kin yang menjadi pasangan akrab dari Souw Than Liong?"
Bi Lan berseru pula.
Keduanya saling pandang sampai lama dan semua pengawal di situ hanya memandang, tidak ada yang berani bergerak.
Mereka bukan gentar terhadap Bi Lan, melainkan takut kepada Puteri Moguhai.
Tanpa perkenan atau perintah puteri itu, mereka tidak berani turun tangan.
"Akan tetapi...... engkaukah yang memakai julukan Ang I Mo-li itu? Engkau yang membunuh putera pangeran, Hiu Kan dan dua orang pengawalnya, membunuh pula Toat-beng Coa-ong Ouw Kan?"
"Benar, aku yang membunuh mereka!"
"Akan tetapi mengapa?"
"Jahanam Hiu Kan dan dua orang pengawalnya itu berani bersikap kurang ajar kepadaku dan menghinaku!"
"Hemm, memang Hiu Kan itu pantas menerima hukuman. Akan tetapi Toat beng Coa-ong Ouw Kan?"
"Dia yang dulu menculik aku dan murid-muridnya yang membunuh Ayahku!"
"Ah, begitukah?"
Puteri Moguhai teringat akan pengalamannya bersama Souw Thian Liong.
"Engkau pula yang mencuri kitab milik Kun-lun-pai yang dibawa Souw Thian Liong?"
"Bukan urusanmu!"
Bi Lan menjawab marah karena kalau diingatkan akan hal itu, ia teringat pula betapa karena perbuatannya itu Souw Thian Liong telah menampari pinggulnya sampai sepuluh kali, hal yang tak mungkin ia lupakan selama hidupnya!
"Baiklah.
Aku tahu bahwa engkau bukan orang jahat.
Engkau adalah seorang pendekar wanita dan mati-matian membela Souw Thian Liong yang benar dan difitnah sehingga engkau bahkan berani menentang Kun-lun-pai, padahal engkau murid Kun-lun-pai.
Akan tetapi mengapa engkau hendak membunuh Ayahku, Sri Baginda?
Apa kesalahan Ayahku?"
"Kaisar yang mengutus Ouw Kan membunuh Ayahku!"
"Hemm, siapakah Ayahmu?"
"Ayahku adalah Han Si Tiong!"
"Ahh! Jadi engkau...... engkau ini Han Bi Lan puteri Paman Han Si Tiong dan Bibi Liang Hong Yi? Aku mengenal baik Ayah Ibumu!"
Dengan sikap tenang Bi Lan mengangguk.
"Aku sudah tahu dan karena engkau pernah menolong orang tuaku dan bersikap baik kepada mereka, maka aku melayani engkau bicara!"
"Orang tuamu adalah orang-orang gagah yang setia kepada Kaisar Sung. Bersama-sama Souw Thian Liong, Kwee-ciangkun, beberapa orang pejabat yang setia kepada kaisar, orang tuamu mati-matian menentang Perdana Menteri Chin Kui yang jahat."
"Aku sudah mendengar itu dan aku juga tahu bahwa engkau pun ikut membela orang tuaku, Puteri Moguhai!"
"Ya, kami memang bersahabat baik, bahkan seperti keluarga sendiri. Aku pun percaya bahwa engkau sebagai puteri mereka juga seorang pendekar yang gagah. Karena itu, maukah engkau juga bersikap baik kepada Ayahku dan mendengarkan dulu penjelasanku? Engkau salah kira, Bi Lan. Marilah, kita masuk dan bicara di dalam. Aku tidak ingin bermusuhan denganmu, mengingat akan hubunganku dengan orang tuamu."
Bi Lan mengangguk.
"Baiklah, Moguhai. Demi membalas kebaikanmu terhadap orang tuaku, aku menerima ajakanmu. Akan tetapi kalau ternyata Ayahmu yang mengutus orang untuk membunuh orang tuaku, jangan salahkan aku kalau aku pun berusaha untuk membalas dan membunuh Ayahmu."
Moguhai memberi isyarat kepada semua perajurit pengawal untuk mengundurkan diri, lalu ia menggandeng tangan Bi Lan dengan sikap akrab dan mengajak gadis itu masuk ke istana.
Tak lama kemudian mereka berdua sudah duduk di dalam kamar Moguhai yang luas dan me-wah indah.
Mereka duduk berhadapan di atas kursi, sejenak saling pandang dengan penuh perhatian.
Anehnya, di dalam hati kedua orang gadis ini tiba-tiba saja timbul gagasan dan dugaan yang sama, yaitu seberapa jauh hubungan masing-masing dengan Souw Thian Liong!
"Nah, sekarang apa yang hendak kaubicarakan dengan aku, Moguhai!"
"Dengarkan keteranganku ini, Bi Lan. Engkau tentu sudah dapat menduga bahwa aku juga seorang gadis kang-ouw dengan julukan Pek Hong Niocu. Aku paling benci kejahatan dan kecurangan dan aku henci pula akan kebohongan. Maka apa yang akan kukatakan kepadamu ini sama sekali bukan bohong. Untuk apa aku berbohong kalau ancamanmu sama sekali tidak membuat aku takut? Aku hanya ingin meluruskan persoalan, menghilangkan salah sangka darimu karena engkau sendiri tentu akan menyesal kalau engkau keliru melakukan pembalasan atau pembunuhan."
"Jelaskanlah, aku mendengarkan."
"Begini, Bi Lan. Belasan tahun yang lalu terjadilah perang antara Pasukan Kin melawan Pasukan Sung di perbatasan. Seperti engkau ketahui, Ayah Ibumu merupakan pemimpin yang gagah perkasa dari Pasukan Halilintar di bawah komando Jenderal Gak Hui yang terkenal itu. Seorang Pamanku, Pangeran Cu Si, menjadi seorang di antara para pimpinan Pasukan Kin. Dalam pertempuran, Pangeran Cu Si tewas di tangan Ayahmu. Hal ini sebetulnya wajar saja dan Ayahku, Sri Baginda Kaisar, juga menganggap hal ini wajar. Kalah menang dalam perang adalah wajar, dan kematian dalam perang juga bukan merupakan persoalan pribadi. Karena itu, biarpun hatinya sedih atas kematian Pangeran Cu Si, Sri Baginda Kaisar sama sekali tidak menaruh dendam kepada siapa pun juga. Kami sekeluarga tahu bahwa dalam perang itu, tentu Pangeran Cu Si juga telah merobohkan dan menewaskan banyak perajurit Sung, apakah keluarga mereka yang tewas dalam perang di tangan Pangeran Cu Si juga menaruh dendam pribadi kepada Pangeran Cu Si? Tentu saja tidak!"
"Akan tetapi menurut keterangan ibuku, Ouw Kan itu diutus oleh Kaisar Kin untuk membinasakan Ayahku sekeluarga dan karena Ayah Ibu tidak ada, dia menculik aku."
"Pada mulanya, Sri Baginda Kaisar dihasut dan dibujuk oleh Pangeran Hiu Kit Bong, kakak Pangeran Cu Si, yang hendak membalas dendam atas kematian adiknya. Karena hasutan itu, Ayahku tidak melarang ketika Pangeran Hiu Kit Bong menyuruh Ouw Kan untuk membalas dendam kepada Paman Han Si Tiong. Ouw Kan agaknya sengaja mempergunakan nama Sri Baginda Kaisar sebagai pengutusnya untuk memperkuat kedudukannya. Apalagi Ouw Kan mendapat pesan pula dari Perdana Menteri Chin Kui untuk membasmi keluarga Paman Han Si Tiong, karena Chin Kui menganggap Paman Han Si Tiong berbahaya sebagai pembantu setia Jenderal Gak Hui yang dibenci dan dimusuhinya. Nah, itulah yang terjadi, Bi Lan. Kalau tidak demikian, tidak mungkin Souw Thian Liong mau membantu Ayah menghancurkan pemberontakan Pangeran Hiu Kit Bong. Sebuah bukti pula, kalau keluarga kami, termasuk aku sendiri, mendendam kepada Paman Han Si Tiong, mungkinkah aku membela Ayah Ibumu sehingga aku dan Souw Thian Liong dijebloskan penjara ketika kami menentang Chin Kui? Aku, keponakan Pangeran Cu Si yang terbunuh dalam perang oleh Ayahmu, tidak mendendam kepada Ayahmu bahkan bersahabat. Bagaimana sekarang engkau memusuhi Ayahku yang kauanggap mengutus Ouw Kan untuk membunuh Ayahmu?"
Bi Lan tertegun, bingung harus berkata apa.
Ia dapat melihat kebenaran dalam semua ucapan puteri itu yang otomatis secara tidak langsung menyudutkannya sehingga kalau ia membalas dendam kepada Kaisar Kin akan kelihatan bahwa ialah yang jahat dan tidak mengenal budi!
"Akan tetapi, kalau tidak diutus oleh Kaisar Kin, mengapa Ouw Kan mati-matian memusuhi keluarga Ayahku, bahkan menyuruh dua orang muridnya untuk membunuh Ayah dan Ibu?"
Tanyanya dengan suara mengandung penasaran namun lemah.
"Aku sudah tahu sebabnya, Bi Lan. Karena Ayahku tidak mengutusnya, dan karena mereka yang mendukungnya, yaitu Pangeran Hiu Kit Bong dan Menteri Chin Kui telah tiada, maka hanya satu hal yang membuat Ouw Kan tiada hentinya berusaha membasmi keluarga Ayahmu. Dia mempunyai dendam tersendiri terhadap Paman Han Si Tiong. Pertama, karena dalam usahanya yang pertama kali dia gagal, bahkan setelah menculik dirimu, dia juga gagal karena engkau ditolong Jit Kong Lhama. Kemudian, beberapa kali dia yang merasa penasaran hendak mengulang serangannya terhadap Ayah dan Ibumu juga gagal ketika aku dan Souw Thian Liong menentang dan mengusirnya. Itulah sebabnya dia semakin penasaran. Engkau tentu dapat menyadarinya, Bi Lan. Kalau keluargaku memang mendendam kepada orang tuamu, mana mungkin aku membela mereka dan menentang Ouw Kan sendiri, bahkan aku meninggalkan tulisan untuk disimpan orang tuamu agar tulisanku itu mencegah Ouw Kan melakukan serangan lagi."
Bi Lan menghela napas panjang.
"Terima kasih atas semua penjelasanmu, Moguhai. Semua kata-katamu memang benar. Syukurlah bahwa aku belum terlanjur menyerang Ayahmu. Tulisan yang kau tinggalkan kepada orang tuaku memang telah menyelamatkan nyawa Ibuku, akan tetapi tidak menolong Ayahku."
"Hemm......!"
Moguhai mengerutkan alis dan mengepal tangannya.
"Apakah Ouw Kan masih berani menyerang Ayah Ibumu?"
Bi Lan mengangguk.
"Bukan dia sendiri, melainkan dua orang muridnya yang mewakilinya. Ayahku tewas dan Ibuku nyaris tewas, hanya terluka dan tidak jadi mereka bunuh setelah mereka melihat tulisanmu yang dibawa Ibuku."
"Bi Lan, siapakah dua orang murid Ouw Kan itu?"
"Ketika aku datang ke rumah Ouw Kan dan berhasil membunuh jahanam itu, dua orang muridnya tidak ada dan menurut keterangan pembantu wanita yang berada di rumahnya, dua orang muridnya itu bernama Bouw Kiang dan Bong Siu Lan."
"Hemm, aku pernah melihat mereka sekali ketika mereka dimintakan pekerjaan sebagai pengawal istana oleh Ouw Kan akan tetapi ditolak Ayahku setelah Ayah mendengar ceritaku tentang sepak terjang Ouw Kan sebagai seorang datuk jahat. Jahanam mereka berdua itu! Aku akan mencari dan menghukum mereka! Berani mereka melanggar laranganku agar jangan mengganggu Paman Han Si Tiong dan Bibi Liang Hong Yi."
"Tidak perlu merepotkanmu, Moguhai. Aku sendiri yang akan mencari dan membunuh mereka!"
"Sama sekali tidak merepotkan Bi Lan. Ini merupakan kewajiban kami. Dua orang itu adalah orang utara, termasuk orang dari wilayah Kerajaan Kin, maka kalau mereka bersalah, kewajiban kamilah untuk menghukum mereka. Akan tetapi, setelah Paman Han Si Tiong meninggal dunia, bagaimana keadaan Ibumu, Bibi Liang Hong Yi? Aku suka sekali dan hubunganku dengan Ibumu akrab seperti keluarga sendiri."
"Ibu...... ia baik-baik saja,"
Jawab Bi Lan sambil menundukkan mukanya. Hatinya seperti diremas rasanya setiap ia teringat kepada ibunya.
"Apakah Ibumu masih tinggal di dusun Kian-cung dekat telaga See-ouw itu?"
Bi Lan tidak mengatakan apa-apa karena saat itu ia tahu bahwa kalau ia bicara, suaranya gemetar. Ia hanya menggeleng kepalanya sambil menekan dan menenangkan hatinya.
"Ah, kalau begitu Bibi Liang Hong Yi sudah pindah? Ke mana pindahnya? Aku ingin sekali berkunjung dan menghiburnya. Kasihan Bibi Liang Hong Yi......"
"Aku tidak tahu......"
"Ehh? Engkau tidak tahu ke mana Ibumu pindah? Tidak tahu di mana kini ia tinggal? Bagaimana pula ini, Bi Lan?"
"Kami saling berpisah di kota Cin-koan, aku tidak tahu ke mana ia per-gi......"
"Akan tetapi...... mengapa?"
"Sudahlah, Moguhai, aku tidak dapat menerangkan. Pendeknya, kami bertengkar dan aku pergi mencari musuh-musuhku."
Ia bangkit berdiri.
"Sekarang aku harus pergi. Terima kasih, engkau telah menyadarkan aku bahwa Ayahmu tidak bersalah. Maafkan kesalah-pahamanku ini."
Setelah berkata demikian, Bi Lan berkelebat dan keluar dari ruangan itu dengan cepat bagaikan burung terbang.
"Bi Lan......!"
Moguhai yang penasaran berseru mengejar.
Akan tetapi Bi Lan sudah melompat ke atas genteng dan melalui wuwungan istana itu ia menghilang di malam gelap.
Moguhai cepat memanggil pengawal dan memberi perintah agar jangan ada perajurit yang menghalangi Bi Lan keluar dari istana.
Pada keesokan harinya Kaisar Kin terkejut mendengar laporan pengawal tentang adanya seorang gadis yang membikin kacau di istana.
Moguhai segera menenangkan ayahnya dan menceritakan kepada kaisar dan semua keluarganya tentang Han Bi Lan, puteri Han Si Tiong yang datang hendak membalas dendam atas kematian Ayahnya karena mengira bahwa Ouw Kan diutus oleh Kaisar untuk membunuh keluarga Han Si Tiong.
"Akan tetapi saya telah dapat menyadarkannya dan ia kini tahu bahwa Ayahanda Kaisar tidak bersalah. Malam tadi, setelah kami bicara, ia mau mengerti dan ia pergi dengan damai."
"Hemm, jadi berita tentang dibunuhnya Ouw Kan oleh seorang yang berjuluk Ang I Mo-li (Iblis Wanita Baju Merah) itu...... Han Bi Lan itukah orangnya?"
"Benar, Ayah. Namun ia sama sekali bukan iblis wanita. Ia seorang pendekar wanita yang gagah pekasa!"
"Akan tetapi kami mendengar beberapa waktu yang lalu, Ang I Mo-li ini mengamuk dan membuat cedera para pria bangsawan dan hartawan di kota Cin-koan!"
"Saya juga mendengar akan berita itu, Ayahanda Kaisar. Akan tetapi saya tidak menanyakan hal itu kepadanya. Saya anggap hal itu tidak aneh karena para pria itu memang tidak tahu malu, kotor dan sudah sepatutnya mendapat hajaran agar jangan lagi berani mempermainkan wanita!"
"Ehhh......!"
Kaisar tidak mau berbantahan lagi tentang hal itu.
Memang telah menjadi kelemahan kaum pria dan dia sendiri pun tidak dapat menyangkal bahwa dahulu dia juga seperti mereka, suka pelesir bersenang-senang di rumah-rumah pelesir.
"Jadi Han Bi Lan telah membalas dendam. Apakah Ouw Kan yang dibunuhnya itu telah membunuh orang tuanya?"
"Bukan Ouw Kan, akan tetapi dia menyuruh dua orang muridnya untuk melakukan itu. Han Si Tiong tewas dan isterinya hanya terluka. Sungguh menyebalkan Ouw Kan itu. Dulu ketika dia menyerang Paman Han Si Tiong, saya dan Souw Thian Liong mencegahnya dan saya telah meninggalkan tulisan kepada Paman Han Si Tiong untuk mencegah Ouw Kan mengganggunya. Akan tetapi tetap saja dia menyuruh dua orang muridnya untuk membunuh Paman Han Si Tiong. Hemm, sama saja dengan dia menantang aku!"
Tiba-tiba saja Kaisar mengerutkan alisnya dan berkata kepada puterinya dengan suara keren.
"Moguhai, mulai sekarang aku melarang engkau bergaul dengan Souw Thian Liong!"
Moguhai terkejut bukan main.
Wajahnya sampai berubah pucat mendengar kata-kata yang keras dan wajah Ayahnya membayangkan kemarahan kepadanya itu.
Biasanya, ayahnya ini bersikap lembut dan penuh kasih sayang kepadanya, akan tetapi kini ayahnya dengan sikap galak melarang dia bergaul dengan Souw Thian Liong!
"Ayah!
Mengapa Ayah berkata begitu?"
"Tidak perlu membantah. Engkau harus mentaati perintah Ayah sekali ini!"
"Ayah tidak adil! Lupakah Ayah bahwa Souw Thian Liong telah membantu kita, menyelamatkan Ayah bahkan membela kerajaan kita?"
"Moguhai, engkau sudah dewasa dan aku mengharapkan engkau berjodoh dengan seorang pemuda bangsa sendiri!"
"Ayah, apakah saya tidak boleh bergaul dengan Souw Thian Liong karena dia seorang bangsa Han? Bukankah Ibu juga seorang wanita Han?"
"Cukup!"
Kaisar bangkit dengan marah.
"Ingat, Moguhai! Engkau Puteri istana, Puteri Kaisar. Aku selama ini selalu menuruti kehendakmu. Apakah sekarang engkau tidak mau menuruti kehendakku yang satu ini? Apakah engkau ingin menjadi seorang Puteri istana yang melanggar peraturan dan seorang anak yang murtad kepada ayahnya?"
Setelah berkata demikian, Kaisar meninggalkan ruangan itu.
Moguhai juga bangkit dengan marah, akan tetapi ibunya menubruknya karena khawatir anaknya itu akan menjadi lupa diri dan membuka rahasia pribadinya bahwa ia bukan anak kandung Kaisar!
"Sudahlah, Moguhai.
Sudah, jangan membantah Ayahmu.
Bagaimanapun juga dia seorang yang teramat mencintamu dan semua keinginannya itu bukan karena membenci Souw Thian Liong, melainkan karena tidak ingin engkau berjodoh dengan seorang Han."
"Kalau begitu, Ibu sudah menceritakan tentang perasaanku kepadanya?"
"Benar, dan dia sama sekali tidak setuju. Dia berkeras agar engkau berjodoh dengan bangsa Yucen yang mendirikan Wangsa Kin ini."
"Akan tetapi, Ibu. Mengapa Ayah mempunyai pendirian seperti itu? Bukankah Ayah sendiri juga mengambil Ibu sebagai isterinya?"
"Ketahuilah, Moguhai. Bagi bangsa kita, yang dianggap sebagai keturunan langsung adalah dari ayah. Kalau ayahnya bangsa Yucen, maka anaknyapun bangsa Yucen, tidak perduli isterinya dari bangsa apa pun. Kalau engkau menikah dengan seorang berbangsa Han, kalau kelak mempunyai anak, keturunan itu akan dianggap sebagai bangsa Han dan tidak dapat mewarisi tahta kerajaan. Inilah sebabnya Ayahmu berkeras mengharuskan engkau berjodoh dengan seorang pemuda bangsa Yucen. Bukan sekali-kali dia tidak suka kepada Souw Thian Liong."
"Aku tidak ingin mewarisi tahta kerajaan, juga tidak ingin anakku mewarisi tahta kerajaan! Bagaimanapun juga, aku adalah seorang berdarah Han murni!"
"Hushh, jangan begitu, anakku. Apakah engkau hendak mencemarkan namaku? Apakah engkau hendak melumuri aib kepada Ibumu sendiri?"
Kata Tan Siang Lin dengan suara gemetar karena ia sudah menangis sesenggukan. Moguhai menyadari kesalahannya dan ia merangkul ibunya, menciumi ibunya.
"Aduh, ampunkan aku, Ibu. Bukan maksudku untuk...... ah, sudahlah, aku mengaku salah. Akan tetapi, Ibu. Bagaimanapun juga, aku belum ingin menikah dan ingin pergi lagi untuk mencari dua orang murid Ouw Kan itu. Aku harus turun tangan sendiri menghukum mereka!"
Tan Siang Lin mengenal watak puterinya yang keras. Akan percuma saja kalau ia melarang.
"Terserah kepadamu, anakku. Akan tetapi kuminta kepadamu, taatilah perintah Ayahmu. Lupakan Souw Thian Liong dan pilihlah seorang di antara para pemuda Yucen yang meminangmu. Di antara mereka pun terdapat banyak pemuda yang tampan dan baik."
"Aku tidak dapat menjanjikan apa-apa, Ibu. Akan tetapi aku dapat memastikan bahwa aku masih belum memikirkan tentang jodoh. Mengenai Souw Thian Liong, aku sendiri tidak tahu bagaimana perasaannya terhadap diriku, maka tentu saja aku pun tidak akan terlalu memikirkan dia."
Pada keesokan harinya, ketika Kaisar mendengar laporan selirnya yang terkasih, Tan Siang Lin, bahwa Moguhai telah meninggalkan istana lagi, dia hanya menghela napas panjang dan menggeleng-geleng kepalanya.
Dia terlalu sayang kepada puterinya itu, maka dia tidak mau melakukan kekerasan melarang ia keluar dari istana setiap saat yang di-kehendakinya.
Akan tetapi, tetap saja dia tidak akan menyetujui dan mengijinkan kalau puterinya menikah dengan bangsa Han sehingga cucunya nanti terlahir sebagai orang Han.
Semenjak dulu, dia menganggap bangsa Han adalah bangsa yang lemah, sungguhpun dia harus mengakui bahwa ada orang Han yang gagah perkasa seperti Tiong Lee Cin-jin dan lain-lain.
Akan tetapi tetap saja kesannya terhadap bangsa Han lemah, hal ini terpengaruh oleh Kaisar Sung yang dianggapnya lemah.
Sementara itu, pagi-pagi sekali Moguhai meninggalkan istana.
Tidak ada seorang pun pengawal berani menghalanginya.
Ia menunggang seekor kuda putih yang bagus, melarikan kudanya dengan santai keluar kota raja melalui pintu gerbang selatan.
Pagi hari itu hawanya sejuk sekali.
Matahari belum tampak, akan tetapi sinarnya telah mendatangkan kehangatan dan memberi penerangan di permukaan bumi.
Di jalan raya yang menuju ke pintu gerbang kota raja, hanya ada beberapa orang petani memikul dagangan hasil bumi.
Jalan raya itu masih sepi dan Moguhai masih menjalankan kudanya dengan santai.
Seperti biasa, kalau ia keluar dari kota raja dan tiba di daerah yang sepi, di alam terbuka dengan sawah ladang terbentang luas, di mana angin semilir dengan segar dan udara yang amat jernih dapat direguk sepuas-nya, ia merasa seolah dirinya terbebas dari himpitan.
Di istana, ia merasa terhimpit, bukan hanya terhimpit oleh bangunan istana yang besar dan tinggi, di mana-mana bertemu dinding, ruangan dan kamar-kamar, bertemu dengan banyak penghuni istana, bukan saja keluarga Kaisar, melainkan lebih banyak lagi dayang, pelayan dan pengawal, akan tetapi juga terhimpit segala macam peraturan yang harus ditaatinya sebagai seorang puteri Kaisar.
Terlalu dihormati dan disanjung-sanjung, dan ia pun harus mengatur tingkah lakunya, mana yang tidak patut dilakukan seorang puteri istana, mana yang seharusnya ia lakukan dan sikap tertentu bagaimana yang harus ia ambil.
Terkadang ia merasa jenuh dan muak dengan itu semua!
Ia ingin bebas!
Tertawa bebas sesukanya tanpa sikap dibuat-buat, bicara keras menurut dorongan hatinya, mengeluarkan pendapat apa saja yang timbul di hatinya, duduk atau berdiri sesukanya dan seenaknya tanpa dikekang peraturan.
Begitu keluar dari kota raja dan berada di alam terbuka, ia merasa bebas, segar dan bahagia bagaikan seekor burung yang baru terlepas dari sangkar emas!
Tiba-tiba ia mendengar derap kaki kuda dari belakang.
Ia menoleh dan melihat seorang laki-laki menunggang kuda yang berlari cepat.
Moguhai mengerutkan alisnya.
Mengganggu ketenangan saja, pikirnya.
Akan tetapi ia tidak dapat melarang.
Orang itu berkuda di jalan raya, jalan umum dan biarpun ia seorang puteri Kaisar, ia merasa tidak berhak melarang atau menegurnya.
Agar orang itu cepat lewat dan ia dapat menikmati keheningan kembali, Moguhai meminggirkan kuda putihnya dan menanti untuk membiarkan orang itu lewat.
Akan tetapi penunggang kuda itu menghentikan kudanya tepat di depan Moguhai!
Gadis itu memandang penuh perhatian.
Penunggang kuda itu seorang pemuda berusia sekitar duapuluh satu tahun, wajahnya tampan dan pandang matanya lembut, tubuhnya sedang dan melihat pakaiannya, jelas bahwa dia seorang pemuda bangsawan Kerajaan Kin!
Moguhai merasa sudah mengenal wajah pemuda ini, akan tetapi ia lupa lagi di mana dan siapa dia.
Pemuda itu menahan kudanya yang masih terengah, lalu melompat turun dan memegang kendali dekat mulut kudanya yang kini tenang kembali.
Dia lalu memandang kepada Moguhai dan tersenyum.
"Adinda Moguhai, lupakah engkau kepadaku?"
Moguhai mengerutkan alisnya dan melihat pemuda itu turun dari atas kudanya dan pemuda itu jelas seorang bangsawan, ia pun merasa terikat peraturan sopan santun dan ia pun melompat turun, lalu dengan tangan kiri memegangi kendali kudanya.
Mereka saling pandang dan Moguhai bertanya ragu.
"Eh, sungguh aku tidak kenal...... siapakah engkau?"
"Aku Kuang Lin."
"Kuang Lin......? Siapa, ya......?"
"Aih, agaknya engkau sudah lupa sama sekali, akan tetapi biarpun baru bertemu denganmu beberapa kali saja ketika kita masih remaja, aku tidak lupa padamu. Adinda Moguhai, aku adalah putera Pangeran Kuang. Bukankah engkau akrab dengan Ayahku?"
"Ahhh......! Kiranya engkau putera Paman Kuang? Ya, aku ingat sekarang! Bukankah engkau yang menurut Paman Kuang dulu dikirim ke selatan agar mempelajari sastra Han kepada para sastrawan di Kerajaan Sung?"
"Benar! Kita pernah saling bertemu beberapa kali sebelum aku dikirim ke selatan, kurang lebih empat tahun yang lalu."
"Ya, ya, aku ingat sekarang. Ketika itu aku berkunjung ke benteng di perbatasan selatan di mana Paman Kuang bertugas memimpin pasukan. Engkau...... rasanya engkau masih kecil ketika itu, Kuang Lin!"
Pemuda itu tersenyum dan matanya bersinar-sinar.
Gadis itu menyebut namanya begitu saja, tanpa tata-cara lagi.
Sebetulnya karena dia lebih tua, gadis itu harus menyebutnya kakanda dan dia tadi sudah menyebutnya adinda.
Akan tetapi mendengar gadis itu menyebut na-manya begitu saja yang tentu lebih akrab tanpa embel-embel seperti kebiasaan bangsa pribumi Han, dia pun merasa lebih bebas.
"Tentu saja tidak sedewasa sekarang, Moguhai, akan tetapi aku bukan anak kecil lagi ketika itu. Kita sama-sama sudah remaja. Akan tetapi rasanya bagiku tidak banyak berubah sejak dulu, maka dengan mudah aku dapat mengenalmu. Engkau masih tetap mungil dan cantik!"
Pujian begini bagi bangsa Yucen merupakan hal biasa walaupun bagi bangsa pribumi Han mungkin dianggap tidak sopan. Moguhai tersenyum.
"Selama empat tahun di selatan itu, engkau mempelajari apa saja, Kuang Lin?"
"Ah, bermacam-macamlah, terutama kesusasteraan dan membaca kitab-kitab, terutama Su Si (Empat Kitab)."
"Wah tentu engkau kini menjadi seorang sastrawan besar, Kuang Lin, pantas engkau pandai merayu!"
Kuang Lin membelalakkan matanya, seperti terheran, akan tetapi dia lalu tertawa. Tawanya bebas lepas dan wajahnya menjadi cerah dan tampan sekali ketika tertawa.
"Ha-ha-ha-ha, aku memuji engkau cantik mungil itu kausebut merayu? Ha-ha-ha, agaknya engkaupun sudah ketularan kebiasaan para gadis Han yang menganggap pujian tulus sebagai rayuan. Engkau memang cantik, Moguhai, cantik jelita, bagaimana aku dapat mengatakan lain? Kalau aku bilang engkau jelek, berarti aku berbohong!"
Moguhai tertawa. Boleh juga pemuda ini, pikirnya, dapat mendatangkan suasana gembira. Pemuda terpelajar yang tampaknya lembut ini ternyata lincah dan gembira, seperti Paman Kuang, pikirnya.
"He-he-heh, engkau lucu, Kuang Lin. Mengingatkan aku kepada Ayahmu. Sekarang katakan terus terang, mengapa engkau menyusul aku?"
"Moguhai, rasanya tidak enak kalau kita bicara di tengah jalan begini. Mari kita tambatkan kuda kita di pohon itu dan kita duduk di atas batu-batu di sana itu agar kita dapat bicara dengan leluasa. Bagaimana, tidak keberatankah engkau menerima ajakanku? Sebentar saja kita bicara dan aku akan menjawab pertanyaanmu tadi."
"Baiklah, aku pun tidak tergesa-gesa, Kuang Lin."
Mereka menambatkan kuda mereka pada batang pohon, lalu mereka duduk di atas batu-batu yang terdapat di tepi jalan.
Orang-orang yang berlalu lalang mulai banyak.
Akan tetapi melihat dua orang muda yang dari pakaiannya jelas merupakan muda-mudi bangsawan itu, para pedagang hasil bumi yang datang dari dusun-dusun itu mengambil jalan di tepi yang berlawanan dan dengan hormat mereka berjalan dengan menundukkan muka, tidak berani memandang.
Tidak ada di antara mereka yang mengetahui bahwa dua orang muda itu adalah keturunan bangsawan tinggi, Si Gadis puteri Kaisar dan Si Pemuda putera pangeran yang menjadi panglima besar!
"Nah, sekarang katakan, mengapa engkau menyusul aku dan bagaimana engkau tahu bahwa aku sedang hendak meninggalkan kota raja?"
"Nanti dulu, Moguhai. Maukah engkau lebih dulu mengatakan, bagaimana engkau dapat menduga bahwa aku sengaja menyusulmu?"
Moguhai tersenyum.
"Apa sukarnya? Engkau melarikan kuda terburu-buru dan ketika melihat aku langsung berhenti. Apa lagi artinya kalau bukan engkau sengaja menyusul aku? Hanya aku tidak tahu bagaimana engkau dapat mengetahui bahwa aku keluar kota raja, dan apa maksudmu menyusul aku?"
Pemuda itu menghela napas panjang.
"Sungguh berat bagiku melakukan hal ini, Moguhai. Aku sama sekali tidak berhak mencampuri urusanmu. Akan tetapi aku terpaksa melakukan ini untuk mentaati perintah."
"Hemm, perintah siapa, Kuang Lin?"
"Perintah Ayahku."
"Paman Kuang? Apa urusannya Paman Kuang menyuruh engkau menyusul aku?"
Moguhai bertanya, penasaran. Mendengar suara gadis itu agak ketus, Kuang Lin berkata dengan lembut membujuk.
"Moguhai, engkau tahu betapa sayangnya Ayah kepadamu. Biasanya engkau demikian akrab dengan dia."
"Memang, dia kuanggap sebagai orang tua sendiri atau sebagai guru yang sering kumintai nasihat, akan tetapi urusan pribadiku tidak boleh dicampuri siapapun juga, termasuk Ayahmu atau orang tuaku sendiri sekalipun!"
"Maafkan aku, Moguhai, dan maafkan Ayahku. Sesungguhnya, Ayahku juga mengetahui benar bahwa dia tidak berhak mencampuri urusan pribadimu, akan tetapi dia pun terpaksa menyuruh aku menyusulmu ini, Moguhai."
"Terpaksa? Siapa yang memaksanya?"
"Tidak ada yang memaksanya, akan tetapi dia tidak dapat menolak permintaan Ibumu."
"Permintaan Ibuku? Apa maksudmu, Kuang Lin?"
"Begini, Moguhai, akan kuceritakan semuanya kepadamu. Malam tadi, tanpa disangka-sanka, Ibumu datang berkunjung ke rumah kami. Yang menemuinya adalah Ayahku, Ibuku dan aku sendiri. Dalam pertemuan itu, Ibumu menceritakan kepada Ayahku, bahwa engkau akan meninggalkan istana lagi pada pagi hari ini. Kata Ibumu, Sri Baginda Kaisar dan Ibumu tidak dapat mencegahmu pergi padahal mereka berdua tidak menghendaki engkau pergi. Mereka terlalu sayang kepadamu, Moguhai, dan sudah terlalu sering dan terlalu lama engkau meninggalkan mereka sehingga mereka selalu khawatir akan keselamatanmu. Maklumlah, semua orang tua juga seperti itu perasaannya, apa lagi engkau adalah seorang anak perempuan. Kemudian, Ibumu minta kepada Ayahku agar Ayah suka membujukmu agar engkau tidak pergi meninggalkan istana. Nah, Ayah tentu saja tidak dapat menolak permintaan Ibumu dan Ayah lalu memerintahkan aku untuk menghadang engkau di pintu gerbang selatan karena Ayah menduga bahwa engkau tentu akan merantau ke selatan. Akan tetapi setelah tiba di pintu gerbang, aku terlambat. Ketika kutanyakan kepada perajurit penjaga pintu gerbang, aku diberitahu bahwa engkau telah keluar dari pintu gerbang, menunggang kuda ke selatan. Demikianlah, aku lalu mengejarmu dan untung engkau menjalankan kuda dengan santai sehingga aku dapat menyusulmu. Nah, demikianlah ceritanya mengapa aku menyusulmu, Moguhai. Kalau perbuatanku ini me-nyinggung hatimu dan membuat engkau marah dan tidak senang, aku minta maaf dan aku mintakan maaf untuk Ayahku."
Moguhai menghela napas panjang.
Tidak mungkin ia dapat marah kalau pemuda ini bersikap dan bercerita seperti itu.
Pula, ia pun tidak dapat marah kepada Paman Kuang yang sejak dulu dihormatinya.
Kuang Lin tak bersalah, juga Paman Kuang tidak bersalah.
Apa pun yang dilakukan ibunya, juga ayahnya, menunjukkan bahwa mereka amat menyayangnya, maka usaha mereka menghalanginya pergi meninggalkan istana adalah wajar dan tidak dapat disalahkan.
"Kuang Lin, apakah Ibu juga menceritakan mengapa aku hendak pergi merantau lagi?"
"Tidak, Moguhai. Hal itu pun ditanyakan Ayahku kepada Ibumu, akan tetapi Ibumu menjawab Beliau juga tidak tahu mengapa engkau hendak pergi. Dan sekiranya aku boleh mengetahui, mengapa engkau hendak pergi meninggalkan istana dan membuat Ayah Bundamu bersedih, Moguhai?"
Moguhai memandang ragu.
Tentu saja ia tidak mau bercerita kepada siapapun juga tentang persoalan yang dihadapinya, yaitu tentang perjodohan, tentang ia harus berjodoh dengan bangsa Yucen dan tentang ia tidak boleh bergaul dengan Souw Thian Liong.
"Maaf, Moguhai. Aku bukan bermaksud mencampuri urusan pribadimu. Akan tetapi kalau engkau mau menceritakan mengapa engkau hendak meninggal istana, siapa tahu barang kali aku dapat membantumu."
Moguhai tersenyum.
"Bagaimana engkau akan dapat membantuku, Kuang Lin? Baiklah kalau engkau ingin mengetahui. Aku meninggalkan kota raja untuk mencari dua orang yang harus kuberi hukuman berat karena mereka berdua melanggar laranganku dan telah membunuh sahabat yang kuhormati."
"Hemm, begitukah? Siapakah mereka yang berani menentangmu itu? Dan siapa pula yang mereka bunuh?"
"Yang mereka bunuh adalah Paman Han Si Tiong."
"Ah, bekas Panglima Pasukan Halilintar Kerajaan Sung yang gagah perkasa itu? Aku pernah mendengar cerita Ayah tentang Han Si Tiong dan isterinya yang gagah perkasa, bahkan suami isteri itu ikut berjasa menggulingkan Perdana Menteri Chin Kui dari Kerajaan Sung yang korup dan hendak memberontak. Bahkan menurut cerita Ayah, engkau juga membantu Kerajaan Sung menjatuhkan pengkhianat itu."
"Benar, Paman Han Si Tiong itu yang terbunuh sedangkan Bibi Liang Hong Yi terluka. Padahal aku sudah memberi surat kepada mereka untuk memperlihatkan kepada orang-orang yang berani mengganggunya!" ''Siapakah mereka yang begitu jahat?"
"Mereka adalah Bouw Kiang dan Bong Siu Lan, dua orang murid Toat-beng Coa-ong Ouw Kan."
"Hemm, aku tahu siapa Toat-beng Coa-ong Ouw Kan, datuk sesat itu. Bukankah belum lama ini dia telah dibunuh oleh...... yang berjuluk Ang I Mo-li?"
"Benar, Ang I Mo-li itu adalah seorang pendekar wanita, puteri Paman Han Si Tiong. Akan tetapi mendiang Ouw Kan menyuruh dua orang muridnya untuk membunuh Paman Han Si Tiong. Karena Ang I Mo-li tadinya mengira bahwa Ayahanda Kaisar yang mengutus para pembunuh Ayahnya, maka aku sendiri harus membantunya mencari dua orang pembunuh itu. Selain untuk menghukum mereka yang tidak mengacuhkan laranganku, juga untuk membersihkan nama Sri Baginda Kaisar."
"Aku mengerti sekarang dan aku tidak menyalahkan kalau engkau mencari mereka, Moguhai. Kalau begitu, aku akan membantumu, Moguhai!"
Moguhai tertawa.
"He-he-heh, dengan apa engkau akan membantu aku, Kuang Lin? Dua orang murid Ouw Kan itu lihai sekali dan engkau adalah seorang sastrawan! Apakah engkau akan mengalahkan mereka dengan...... menulis sajak dengan huruf-huruf yang indah?"
Pemuda itu tidak marah dan tertawa pula.
"Ha-ha-ha, kalau perlu. Siapa tahu dengan tulisan sajakku mereka akan takluk, Moguhai!"
"Sudahlah, Kuang Lin. Sampaikan terima kasihku kepada Paman Kuang atas perhatiannya dan terima kasih pula kepadamu yang menawarkan bantuan. Aku harus pergi sekarang. Lihat, matahari sudah tampak sekarang!"
Tiba-tiba Moguhai melompat ke atas punggung kudanya, melepaskan ikatan kendali dan membedal kudanya sehingga binatang itu meringkik dan lari dengan cepat sekali meninggalkan tempat itu.
"Moguhai......!!"
Kuang Lin memanggil, akan tetapi gadis itu telah membalapkan kudanya dan telah jauh, sama sekali tidak menoleh atau menjawab.
Kuang Lin berdiri mengikuti bayangan gadis itu dengan matanya, menghela napas panjang lalu dia pun menunggang kudanya, kembali ke kota raja.
Dia harus melaporkan kepada ayahnya tentang kegagalan usahanya membujuk Moguhai.
Pulau yang berada di Laut Timur itu terpencil.
Dari jauh tampak bentuknya melengkung seperti tubuh seekor udang.
Karena bentuknya inilah maka pulau ini disebut Pulau Udang.
Sebetulnya pulau itu tidak terlalu jauh dari pantai daratan dan mudah dikunjungi para nelayan.
Akan tetapi tidak ada seorang pun nelayan berani berkunjung ke pulau itu, bahkan mendekatinya pun tidak berani.
Mereka hanya berani mencari ikan paling dekat dua lie jauhnya dari Pulau Udang.
Semua orang tahu belaka bahwa pulau itu dikuasai seorang yang amat ditakuti.
Tocu (Majikan Pulau) itu adalah Tung-sai (Singa Timur) Kui Tong yang dikenal sebagai seorang datuk kang-ouw yang menyeramkan.
Setelah setiap orang nelayan berani mendekati pulau itu tewas, maka tidak ada lagi yang berani melanggar batas yang ditetapkan penguasa pulau itu, yakni tidak lebih dekat dari dua lie dari pulau.
Yang tinggal di Pulau Udang adalah Tung-sai Kui Tong dan anak buahya yang bersama keluarga mereka tinggal di pulau itu.
Jumlah mereka berikut keluarga mereka ada tiga ratusan orang.
Yang menjadi kepala dari keluarga-keluarga itu adalah murid atau anak buah Pulau Udang.
Di antara mereka, yang menjadi pengawal pribadi Singa Timur, adalah limabelas orang gagu tuli.
Seperti telah diceritakan di bagian depan, tadinya pengawal pribadi ini ada duapuluh orang, akan tetapi lima orang di antara mereka tewas di tangan Can Kok.
Kui Tong yang bertubuh tinggi besar bermuka singa yang menyeramkan, hidup bagaikan seorang raja di pulau itu.
Tidak seperti para pria yang memiliki kekuasaan dan kekayaan seperti dia, Kui Tong hanya mempunyai seorang isteri.
Padahal pada jaman itu, setiap orang pria yang kaya dan berkuasa, memiliki sedikitnya tiga orang selir di samping isterinya.
Kui Tong mempunyai seorang isteri yang amat dicintanya.
Dia berusia enampuluh tahun lebih dan isterinya berusia empatpuluhan tahun, seorang wanita yang cantik dan lembut.
Mereka mempunyai seorang anak perempuan yang kini telah berusia delapanbelas tahun bernama Kui Leng Hwa.
Gadis ini cantik dan lembut seperti ibunya, akan tetapi ia sama sekali bukan gadis lemah.
Sejak kecil ia telah mempelajari ilmu silat dari Ayahnya yang amat mencintainya.
Hari itu menjelang sore dan para anak buah Pulau Udang sudah pulang ke pondok masing-masing setelah melaksanakan pekerjaan sehari-hari mereka.
Ada yang menjadi nelayan dan ada pula yang menggarap tanah di pulau itu.
Tiba-tiba semua orang dikejutkan suara menggereng atau mengaum seperti auman singa yang menggetarkan seluruh pulau.
Mereka hanya menengok ke arah rumah induk tempat tinggal ketua atau majikan mereka dan tidak ada yang berani bersuara.
Mereka merasa gentar sekali karena mengenal bahwa suara dahsyat itu adalah suara majikan mereka yang mengeluarkan auman seperti itu apabila dia sedang marah.
Mereka semua tahu bahwa kalau suara itu dikerahkan dan dipusatkan untuk menyerang lawan, suara itu menjadi ilmu Sai-cu Ho-kang (Auman Singa Sakti) yang dapat merobohkan lawan.
Orang yang tidak amat kuat tenaga saktinya, diserang dengan auman ini dapat roboh dan mati seketika karena jantung mereka terguncang hebat!
Akan tetapi auman yang sekarang dikeluarkan majikan mereka itu, hanya menggetarkan seluruh pulau dengan gemanya dan tidak mengandung tenaga menyerang, tanda bahwa majikan mereka sedang marah besar.
Di ruangan sebelah dalam rumah besar itu, Kui Tong memang sedang marah bukan main.
Dia duduk di atas kursi menghadapi sebuah meja besar.
Di sudut kamar, menghadapnya, berdiri seorang wanita setengah tua dan seorang gadis.
Dua orang wanita ini cantik jelita dan memiliki bentuk wajah yang mirip satu sama lain.
Mereka adalah Nyonya Kui dan puterinya, Kui Leng Hwa.
Mereka berdua berdiri dan Leng Hwa merangkul pundak ibunya seolah hendak melindunginya.
Mereka berdua sedang menghadapi Kui Tong yang marah-marah.
"Engkau tidak bisa memaksa anak kita yang satu-satunya ini untuk berjodoh dengan keponakanmu yang gila itu! Seekor harimau pun tidak akan mencelakakan anaknya! Apakah engkau hendak menyengsarakan kehidupan Leng Hwa dengan memaksanya menjadi isteri orang gila?"
Kata Nyonya Kui, suaranya tetap lembut walaupun ia marah sekali.
"Siapa bilang Can Kok gila? Dia menjadi seorang yang sakti luar biasa, maka wataknya menjadi aneh. Akan tetapi dialah harapan kami, Empat Datuk Besar, untuk membalaskan sakit hati kami dan untuk itu, sudah sepatutnya kalau dia menjadi mantuku!"
Kui Tong membentak.
Dia marah sekali, mukanya yang seperti muka singa itu berubah merah, akan tetapi dia tidak berani menentang pandang mata isterinya karena Datuk Besar yang sesat dan kejam ini tiba-tiba menjadi lemah kalau bertemu dengan sinar mata isterinya.
Dia amat mencinta isterinya, lebih dari apa pun di dunia ini!
"Ayah, aku tidak mau menjadi isteri Can Kok.
Daripada menjadi isteri orang gila itu, lebih baik aku mati!"
Tiba-tiba Kui Leng Hwa berkata dengan tegas.
"Brakkkk!!"
Meja itu hancur berkeping-keping ketika Kui Tong menghan-tamnya dengan tamparan tangannya. Dia bangkit berdiri dan matanya mencorong karena marah, memandang kepada puterinya.
"Apa? Engkau bilang lebih baik mati? Kalau begitu matilah!"
Baca Juga: Sepasang Pedang Iblis 5
Baca Juga: Mutiara Hitam 6