Eps 3 Jodoh Si Naga Langit - Kho Ping Hoo
Baca online Jodoh Si Naga Langit - Kho Ping Hoo
Cersil Jodoh Si Naga Langit - Kho Ping Hoo.
Setelah berusia limabelas tahun, barulah dia keluar dari pulau untuk menerima gemblengan empat orang datuk besar itu selama masing-masing dua tahun.
Karena itu, lima orang pendayung perahu yang merupakan sebagian dari anak buah Pulau Udang yang menjadi anak buah Tung-sai, mengenal Can Kok.
Mereka adalah orang yang sengaja dibikin gagu dan tuli oleh Tung-sai, dan mereka amat setia kepada Tung-sai.
Melihat Can Kok mendatangi perahu mereka dan tanpa banyak cakap hendak melepaskan ikatan perahu, lima orang itu segera menghampirinya dan menghalangi dengan gerakan tangan, melarang Can Kok yang hendak menggunakan perahu itu.
Can Kok memandang mereka dengan alis berkerut.
"Pergi kalian!"
Bentaknya.
Akan tetapi lima orang gagu tuli itu yang merasa berkewajiban menjaga perahu, kukuh hendak melarang dengan memegangi perahu yang hendak ditarik ke air oleh Can Kok.
Melihat ini, Can Kok menjadi marah dan dia memperlihatkan kemarahannya itu dengan tertawa.
Kalau mengeluarkan tawa terkekeh dengan suara seperti tangis mengguguk seperti itu, merupakan pertanda bahwa pemuda aneh itu sedang marah!
Tiba-tiba tangan kirinya berkelebat ke arah lima orang itu dan mereka berpelantingan roboh dan tewas seketika dengan muka berubah menghitam!
Can Kok tertawa bergelak, kini tertawa karena senang hatinya seperti ketika dia merobohkan empat orang datuk besar tadi.
Dia mendorong perahu ke air telaga lalu mendayung.
Perahu meluncur cepat sekali karena gerakan dayung itu bukan main kuatnya, seolah didayung sepuluh orang, sebentar saja sudah jauh meninggalkan Pulau Iblis.
Ketika empat orang datuk besar tiba di pantai pulau itu, mereka melihat mayat orang gagu tuli yang mukanya kehitaman dan mereka berempat menghela napas panjang.
"Celaka, dia menjadi liar sampai orang-orang sendiri pun dia bunuh!"
Kata Tung-sai Kui Tong.
"Hemm, bukan mustahil kalau kelak bertemu dengan kita, dia juga akan membunuh kita satu demi satu. Otak anak itu telah rusak oleh sin-kang yang amat kuat namun karena datang dari empat aliran yang dipersatukan, merusak dan mengacau pikirannya,"
Kata Pak-sian Liong Su Kian.
"Bagaimanapun juga, dia sudah menjadi luar biasa lihainya dan aku yakin dia akan mampu membunuh Tiong Lee Cin-jin,"
Kata Lam-kai Gui Lin.
"Omitohud! Biarkan dia membunuh Tiong Lee Cin-jin lebih dulu, baru sesudah itu kita mencari jalan untuk memusnakan dia karena kalau dibiarkan, dia hanya akan membikin kotor nama kita yang menjadi guru-gurunya,"
Kata See-ong Hui Kong Hosiang.
Tung-sai Kui Tong lalu melempar-lemparkan mayat lima orang anak buahnya itu ke tengah telaga dan sebentar saja di telaga itu ikan-ikan berpesta pora.
Kekejaman seperti itu bukan merupakan hal aneh bagi empat orang datuk besar yang terkenal akan kesesatannya itu.
kemudian mereka berempat mempergunakan dua buah perahu kecil yang tadi dipergunakan Pak-sian Liong Su Kian dan See-ong Hui Kong Hosiang untuk meninggalkan Pulau Iblis di tengah telaga itu.
Setelah tiba di daratan mereka berpisah dan kembali ke tempat tinggal masing-masing, Pak-sian kembali ke Cin-ling-san, See-ong kembali ke Beng-san, Tung-sai kembali ke Pulau Udang di Laut Timur, dan Lam-kai Gui Lin kembali merantau karena dia adalah seorang datuk pengemis yang suka merantau dan tinggal di Pulau Iblis hanya untuk Sementara, selama dua tahun ketika dia melatih Can Kok.
Yang pernah melihat Han Bi Lan tentu tidak akan menduga bahwa gadis yang berjalan perlahan mendaki bukit itu adalah Han Bi Lan.
Setelah beberapa bulan meninggalkan ibunya, mengamuk dan menciderai para pria bangsawan dan hartawan yang sedang bersenang-senang di rumah-rumah pelacuran, gadis yang tadinya bertubuh denok padat itu kini tampak kurus.
Pakaiannya yang biasanya berwarna merah muda dan rapi bersih, kini lusuh.
Rambutnya yang hitam panjang dan biasanya digelung indah, kini dibiarkan terurai lepas sampai ke punggung.
Wajahnya memang masih tampak cantik menarik namun kehilangan sinarnya, pandang matanya kosong dan sepasang alisnya yang indah bentuknya itu selalu berkerut.
Berbagai kegetiran mengacaukan ingatannya.
Pertama yang mengguncangkan hatinya adalah kenyataan bahwa ibunya adalah seorang bekas pelacur!
Kedua adalah kematian ayahnya sehingga ia bersumpah untuk membalas dendam karena kematian ayahnya itu kepada Toat-beng Coa-ong Ouw Kan dan dua muridnya, yaitu pemuda bernama Bouw Kiang dan gadis bernama Bong Siu Lan!
Dan ketiga, ia harus membalas penghinaan yang dilakukan Souw Thian Liong kepadanya, yaitu telah menampari pinggulnya sebanyak sepuluh kali.
Masih terasa panas kedua pipinya sampai sekarang setiap kali ia teringat akan peristiwa itu.
Pinggulnya yang ditampari, akan tetapi hatinya yang sakit dan kedua pipinya yang panas dan kemerahan.
Tunggu saja, aku akan membalas menampari engkau lipat dua kali, bukan sepuluh melainkan duapuluh kali!
Tentu saja bukan pada pinggul Thian Liong, melainkan pada kedua belah pipinya, pikirnya dengan hati panas.
Akan tetapi untuk dapat melaksanakan semua dendam itu, ia harus memperdalam ilmu silatnya.
Ouw Kan dan dua orang muridnya itu merupakan lawan berat.
Apalagi Thian Liong.
Tidak mudah mengalahkan pemuda itu.
Akan tetapi ia akan belajar lagi, Entah dengan cara bagaimana dan kalau sudah merasa kuat ia akan mencari mereka untuk membalas dendamnya.
Ayahnya telah mati dan ia menganggap ibunya telah mati pula!
Pikiran ini membuat ia merasa demikian tertekan hatinya, membuat ia seolah kehilangan gairah hidupnya dan kini dara perkasa yang menderita batin itu mendaki bukit bagaikan orang berjalan dalam mimpi tanpa tujuan, seolah tidak sadar dan hanya menurut saja ke mana kedua kakinya melangkah dan membawanya.
Ia bahkan seolah tidak melihat keindahan pemandangan alam terbentang di bawah bukit itu.
Matanya terbuka namun kosong.
Bahkan beberapa kali kakinya tersandung batu menunjukkan bahwa ia pun tidak memperhatikan langkahnya.
Padahal, pemandangan di pagi hari yang cerah itu amatlah indahnya.
Setelah tiba di puncak bukit, baru ia berhenti melangkah.
Pendakian yang cukup melelahkan itu tidak dirasakannya, hanya muka dan leher yang basah oleh keringat menunjukkan bahwa untuk mendaki bukit itu menguras banyak tenaganya.
Seolah baru tersentak bangun dari tidur Bi Lan seperti terseret kembali ke alam kesadaran.
Ia berdiri memandang ke sekeliling.
Puncak itu penuh dengan batu-batu besar yang aneh-aneh bentuknya, seolah-olah ada barisan hantu raksasa mengepungnya.
"Makin dicari semakin menjauh! Sudah dekat sekali tidak terasa. Alangkah bodohnya!"
Bi Lan terkejut karena suara itu terdengar demikian dekatnya, seolah mulut yang mengeluarkan kata-kata itu ditempelkan di telinganya!
Ia mencari-cari dengan pandang matanya.
Akan tetapi karena di sekelilingnya berdiri batu-batu besar berderet-deret seperti kepungan raksasa, ia tidak dapat melihat jauh, terhalang batu-batu itu.
Tidak tampak seorang pun di situ.
Ia lalu berjalan, di antara batu-batu dan memandang ke kanan kiri dan ke atas batu-batu, namun setelah ia berputar-putar di sekitar puncak, tidak menemukan seorang pun!
Bi Lan berhenti melangkah, alisnya berkerut, matanya yang selama ini kosong dan sayu, kini mencorong, pertanda bahwa ia mulai mencurahkan perhatiannya dan merasa penasaran.
Bahkan ia mulai waspada.
Ia seorang gadis yang sudah biasa bertualang, tidak mengenal takut.
Bahkan kalau pada waktu itu orang-orang lajim percaya akan tahyul dan takut terhadap cerita dan bayangan tentang setan, Bi Lan tidak pernah takut.
Iblis yang bagaimanapun akan dihadapi dan kalau perlu ditentangnya!
"Keparat!
Siapa yang bicara tadi?
Hayo cepat keluar!"
Ia membentak sambil mengerahkan tenaga saktinya sehingga suaranya itu bergema sampai jauh.
Akan tetapi tidak ada yang menjawab ucapannya tadi.
Bi Lan mulai marah karena ia merasa dipermainkan.
Ia memutar tubuh dan menghantam sebongkah batu sebesar kerbau dangan telapak tangannya.
"Haaiiiittt...... pyarr......!!"
Batu itu ambyar (hancur) berkeping-keping! "Tolol, batu tidak berdosa dipukul hancur. Bocah perempuan gila yang tolol."
Bi Lan cepat sekali memutar tubuhnya dan matanya yang mencorong mencari-cari.
Akan tetapi tidak melihat siapa-siapa kecuali batu-batu, padahal, suara itu tadi terdengar dekat sekali dengan telinganya.
Dengan penasaran ia mencari-cari lagi akan tetapi kembali ia kecewa karena tidak dapat menemukan apa-apa.
Ia menjadi semakin marah.
Ia mengepal tinju dan mengamangkan tinjunya ke atas.
"Setan iblis! Keluarlah, dan mari kita bertanding sampai seribu jurus!"
Teriaknya.
"Ha-ha-heh-heh-heh......!"
Suara tawa itu amat menggelitik, jelas mengandung cemooh atau ejekan, seperti orang tua menertawakan kenakalan seorang anak kecil.
Bi Lan cepat melompat ke belakang sambil membalikkan tubuhnya karena suara itu terdengar dari arah belakang.
Setelah ia menyelinap di antara dua buah batu besar yang lebih tinggi dari tubuhnya, ia melihat sesosok tubuh duduk bersila di atas sebuah batu besar yang tingginya setinggi dirinya.
Ia menjadi marah sekali.
Sekarang ia menemukan pengganggunya!
Maka dengan ringan ia melompat ke atas batu itu dan kini ia berdiri di depan sosok tubuh manusia itu.
Bi Lan mengerutkan alisnya dan mengamati orang itu dengan sinar mata penuh selidik dan kemarahan, namun ia tetap waspada dan berhati-hati.
Orang itu duduk bersila dengan tegak dan kaku seolah-olah telah berubah menjadi arca batu.
Rambutnya putih riap-riapan, sebagian menutupi wajahnya yang kurus pucat.
Alis dan kumis jenggotnya juga sudah putih semua.
Wajah itu tentu sudah tua renta, mungkin ada seratus tahun usianya.
Matanya terpejam, mulut tertutup.
Wajah kurus pucat itu tidak ada sinar kehidupan, seperti wajah mayat!
Pakaiannya yang membungkus badan kurus itu hanya kain putih yang sudah lusuh.
Kepalanya hanya diikat sehelai kain putih pula.
Kedua kaki yang itu mengenakan sepatu kain putih yang sudah butut.
'Hei!
Kakek tua!
engkaukah yang bicara dan mentertawakan aku tadi?"
Bi Lan menegur, agak menyabarkan hatinya karena ia berhadapan dengan seorang kakek tua renta yang pantasnya menjadi kakek buyutnya.
Akan tetapi orang itu sama sekali tidak menjawab, bergerak sedikit pun tidak.
"Hei, Kek! Jawab pertanyaanku! Engkaukah yang bicara tadi?"
Kakek itu tetap diam saja. Bi Lan menjadi jengkel.
"Kakek tua! Tulikah engkau? Gagukah engkau? Hayo jawab, jangan membuat aku marah!!"
Tetap saja kakek itu tidak menjawab.
"Setan, apakah engkau sudah mati?"
Bentak Bi Lan, lalu matanya terbelalak.
Mati?
Mungkin kakek ini sudah mati!
Bi Lan menjulurkan tangannya meraba dahi yang berkeriputan itu.
Hih, Dingin sekali!
Benarkah sudah mati?
Akan tetapi walaupun wajah yang pucat itu seperti mayat, tubuhnya masih duduk bersila dengan tegak.
Mana mungkin mayat dapat duduk bersila tegak terus menerus?
Hanya kalau mayat itu membeku atau sudah menjadi batu!
Akan tetapi mayat ini tidak membeku, kulit dahinya yang dirabanya itu masih lunak.
Bi Lan kembali menjulurkan tangannya, dibawa ke depan hidung itu.
Tidak ada hembusan napas sedikit pun.
Kakek itu tidak bernapas!
Berarti sudah mati.
Juga baju di bagian dadanya tidak bergerak, tanda bahwa dada itu pun tidak mengembang kempis seperti kalau orangnya masih hidup dan bernapas!
Ah, tanda hidup atau mati ada pada detak jantungnya, pikir Bi Lan.
Ia akan tahu apakah kakek ini masih hidup atau sudah mati kalau ia memeriksa denyut nadinya.
Ia menjulurkan tangan lagi, menyentuh bawah dagu, di leher atas tu-tang pundak, di mana biasanya denyut jantung terasa.
Tidak ada denyut!
Ia kini meraba pergelangan tangan kakek itu.
Kulit pergelangan tangan itu masih lunak, akan tetapi dingin sekali dan denyut nadinya juga tidak ada sama sekali!
Ah, dia sudah mati, pikir Bi Lan sambil bangkit berdiri dari jongkoknya.
Sialan!
Ia bertemu mayat.
Akan tetapi......
kenapa mayat dapat bicara?
Dan dapat menertawakannya?
Ia memandang lagi, terbelalak dan betapapun tabahnya, kini ia merasa tengkuknya dingin dan bulu kuduknya berdiri.
Siapa yang tidak ngeri kalau mendengar mayat bicara dan tertawa?
Akan tetapi dasar ia seorang gadis bandel dan keras hati, ia mampu mengusir rasa ngerinya dan membentak sambil menudingkan telunjuknya ke arah muka mayat itu.
"Siapa kau! Sudah mati masih suka menggoda orang!"
"Daripada masih hidup suka menggoda orang, lebih baik sesudah mati, tidak berbahaya!"
Bi Lan terbelalak dan mulutnya ternganga.
Jelas terdengar oleh telinganya bahwa suara itu keluar dari mayat itu, akan tetapi ia tidak melihat mulut mayat itu terbuka!
Sama sekali mulut itu tidak bergerak.
Bagaimana mungkin bicara tanpa menggerakkan bibir?
Bulu kuduknya meremang semakin kuat, rasa dingin di tengkuknya menjalar ke punggung.
Akan tetapi Bi Lan mengeraskan hatinya dan menjadi semakin marah sehingga tanpa disadari ia membanting-banting kaki kirinya yang merupakan kebiasaannya sejak kecil kalau ia sedang marah.
"Setan! Engkau setan iblis neraka yang memasuki tubuh mayat ini untuk menggodaku!"
Ia memaki dan menudingkan lagi telunjuknya ke arah muka mayat itu.
"Heh-heh, engkaulah setan betina cilik yang tolol!"
Kembali terdengar suara dari "mayat"
Itu, suara yang keluar tanpa menggerakkan bibir! Kemarahan mengusir semua rasa ngeri dan takut.
"Setan busuk, jangan kira aku takut padamu! Mampuslah kamu! Bi Lan menggunakan tangan kirinya untuk menampar pundak mayat itu. Karena ia masih ingat bahwa itu mayat seorang kakek, ia masih merasa sungkan dan yang ditampar hanya pundak, itu pun tanpa mengerahkan tenaga saktinya karena ia tidak ingin merusak "mayat"
Itu.
"Wuuttt...... plakk!"
Tangan Bi Lan terpental dan ia merasa telapak tangannya panas dan pedih, seolah ia tadi menampar papan baja yang membara! Tentu saja ia menjadi semakin marah.
"Ihh, engkau melawan, ya? Ingin memperlihatkan kekuatan setanmu padaku? Akan kuhancurkan kepalamu, setan iblis hantu mayat hidup!"
Setelah memaki ia menggerahkan pukulan dengan tenaga sin-kang dari Kwan-im-sin-ciang (Tangan Sakti Kwan Im) ke arah dada "mayat"
Itu.
"Hyaaaaattt""!"
Kini telapak tangannya menghantam dengan didahului angin pukulan yang dahsyat.
"Wuuuuttt...... dessss!"
Bukan mayat itu yang terpukul pecah atau roboh, sedikit pun tidak terguncang, sebaliknya tubuh Bi Lan yang terjengkang ke belakang.
Untung ia dapat cepat berjungkir balik sehingga tubuh belakangnya tidak terbanting ke atas batu besar yang keras dan lebar itu!
"Heh-heh, sedikit ilmu pukulan lemah dari Tibet hendak dipamerkan?
Ha-ha-ha!"
Mayat itu menertawakan.
Bi Lan terbelalak.
Bukan terkejut melihat kelihaian setan yang masuk ke dalam mayat kakek itu, akan tetapi juga kaget mendengar kakek itu mengenal pukulannya yang ia pelajari dari guru pertamanya, Jit Kong Lhama yang memang berasal dari Tibet.
Akan tetapi ia juga menjadi semakin marah karena pukulannya tadi bertemu dengan hawa yang amat kuat.
Karena tadi ia tidak mengerahkan seluruh tenaganya ketika menggunakan pukulan dari Kwan-im-sin-ciang, kini ia memasang kuda-kuda dan menghantam dengan jurus maut dari ilmu silat Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat.
Ilmu silat simpanan dari Kun-lun-pai ini memang hebat sekali dan mengandung hawa pukulan yang amat kuat.
"Terimalah ini, setan! Haiiiiiitt""!!"
Kedua tangan itu menyambar dari kanan kiri, dahsyat bukan main dan pukulan kedua tangan gadis itu akan mampu menghancurkan batu karang.
"Syuuuuuttt...... blaarr......!"
Tubuh Bi Lan terlempar jauh sampai keluar dan turun ke bawah batu besar itu!
Gadis itu terkejut sekali dan untung ia masih mampu mengatur keseimbangan tubuhnya sehingga ia dapat turun ke atas tanah dengan kedua kaki lebih dulu dan hanya terhuyung.
Pada saat itu, ada bayangan berkelebat dari atas batu dan tahu-tahu "mayat"
Tadi kini sudah berdiri di depan Bi Lan, matanya terbuka dan sepasang mata itu mencorong seperti kilat! Bi Lan memandang dan merasa ngeri juga karena jelas bahwa "mayat"
Itu sakti bukan main. Setelah mahluk itu kini berdiri, makin tampak betapa kurusnya dia.
"Heh, bocah perempuan liar! Bagaimana mungkin engkau menggunakan jurus terakhir dari delapan jurus ilmu Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat? Padahal, bahkan Kui Beng Thaisu ketua Kun-lun-pai itu sendiri setahuku hanya mampu menguasai sebanyak enam jurus lebih! Siapakah engkau ini?"
Bi Lan memperhatikan mahluk yang berdiri di depannya.
Melihat tubuh itu dapat bergerak-gerak dengan wajar dan bola mata yang mencorong itu pun bergerak biasa, jelas bahwa dia berhadapan dengan mahluk hidup berwujud manusia.
Akan tetapi kalau manusia, bagaimana dapat bicara tanpa menggerakkan bibirnya?
Ia memandang ke arah kaki yang bersepatu kain itu.
Menurut kabar, setan atau iblis hantu tidak menginjak tanah.
Akan tetapi mayat hidup di depannya ini menginjak tanah seperti manusia biasa!
Baik iblis maupun manusia, mahluk ini jelas memiliki kesaktian yang luar biasa.
Ia hendak memperdalam ilmu-ilmunya, alangkah baiknya kalau dapat berguru kepada mahluk ini!
Gadis yang cerdik ini segera mengambil keputusan dan dia pun menjatuhkan diri berlutut di depan mahluk itu.
"Ampunkan teecu kalau tadi teecu bertindak kurang ajar karena teecu tidak mengenal Suhu dan mengira Suhu mempermainkan teecu. Teecu bernama Han Bi Lan dan teecu pernah menjadi murid Suhu Jit Kong Lhama, kemudian teecu menjadi murid Kun-lun-pai dan sudah mempelajari ilmu dari Kitab Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat. Akan tetapi di depan Suhu, kepandaian teecu itu tidak ada artinya sama sekali. Teecu mohon agar Suhu sudi menerima teecu menjadi murid."
"Heh-he-heh, engkau seorang manusia, gadis muda cantik, ingin berguru kepada setan hantu iblis mayat hidup?"
Mahluk itu terkekeh tanpa menggerakkan bibirnya. Wajah Bi Lan menjadi kemerahan karena ia merasa diejek. Ialah yang tadi menyebut mahluk itu setan hantu iblis mayat hidup.
"Ampunkan teecu, Suhu. Apa pun adanya Suhu, malaikat, dewa, manusia, ataupun hantu, teecu tetap ingin menjadi murid Suhu."
"Ha-ha-ha, Han Bi Lan! Apa sebabnya engkau mengira aku ini setan?"
Bi Lan mengangkat mukanya memandang.
"Tadi Suhu duduk bersila tak bergerak sama sekali, tidak ada detak jantung dan ketika teecu meraba, kulit badan Suhu dingin sekali seperti mayat."
"Heh-heh, engkau yang sudah memiliki ilmu yang lumayan, tentu tahu bahwa dalam samadhi kita dapat saja mengatur denyut jantung dan peredaran darah. Apa anehnya?"
"Akan tetapi...... Suhu tadi dan bahkan sekarang pun kalau bicara tidak menggerakkan bibir!"
"Oh, apa sih anehnya itu? Setiap orang dapat mempelajarinya! Jangan gerakkan bibir dan hanya pergunakan lidah dan kerongkongan dibantu gerakan perut, tentu engkau dapat bicara seperti yang kulakukan ini. Dan sekarang engkau yang tadi mengamuk dan menyerangku, kini ingin berguru kepadaku. Mengapa?"
"Suhu memiliki kesaktian luar biasa sehingga pukulan-pukulan teecu sama sekali tidak mampu menyentuh Suhu, maka teecu ingin mendapatkan pelajaran ilmu dari Suhu. Harap Suhu tidak menolak dan sudi menerima teecu menjadi murid."
"Hemm, engkau begini muda sudah memiliki ilmu-ilmu yang tinggi dari Tibet dan Kun-lun-pai, untuk apa ingin mempelajari ilmu yang lebih tinggi lagi?"
"Teecu ingin membalas dendam, Suhu. Teecu ingin membalas kepada orang-orang yang membunuh ayah kandung teecu, juga membalas orang yang pernah menghina teecu. Akan tetapi, para musuh teecu itu lihai sekali dan teecu tidak mampu mengalahkan mereka, oleh karena itu teecu mohon Suhu suka membimbing teecu."
"Heh-heh-heh, Han Bi Lan, tahukah engkau siapa aku?"
"Teecu tidak tahu, akan tetapi teecu yakin bahwa Suhu tentu seorang tokoh dunia persilatan yang terkenal sekali."
"Hemm, dulu aku disebut Heng-si Cauw-jiok dan semua orang takut padaku!"
Bi Lan terkejut bukan main dan juga girang.
Gurunya yang pertama, Jit Kong Lhama, pernah bercerita kepadanya tentang seorang datuk persilatan penuh rahasia berjuluk Heng-si Cauw-jiok (Mayat Hidup Berjalan) yang dimusuhi hampir semua datuk di daratan Cina.
Tidak kurang dari tujuh orang datuk beramai-ramai mengeroyoknya dan dikabarkan bahwa Heng-si Cauw-jiok tewas ketika dikeroyok itu.
Bagaimana mungkin sekarang datuk besar itu masih hidup?
"Teecu pernah mendengar Suhu Jit Kong Lhama bercerita tentang Suhu!
Katanya bahwa Suhu dikeroyok tujuh orang datuk besar dan tewas, dan peristiwa itu sudah terjadi puluhan tahun yang lalu.
Bagaimana kini Suhu mengaku bahwa Suhu adalah Heng-si Cauw-jiok yang telah tewas puluhan tahun yang lalu?"
"Ha-ha-ha, mereka itu orang-orang bodoh yang menyangka aku mati. Andaikata aku mati sekalipun, aku akan tetap hidup. Bukankah julukanku Si Mayat Berjalan? Ha-ha-ha!"
Diam-diam Bi Lan bergidik.
Jangan-jangan Kakek ini benar-benar telah mati dan menjadi mayat hidup alias setan!
Akan tetapi ia tidak perduli.
Setan atau manusia kalau dapat mengajarkan ilmu kesaktian kepadanya, akan ia angkat menjadi gurunya!
"Suhu, mohon menerima teecu sebagai murid,"
Katanya lagi.
"Hemm, aku sudah bosan hidup. Terlalu lama hidup di dunia yang penuh kepahitan ini. Akan tetapi agaknya kita memang berjodoh. Baiklah, Bi Lan. Engkau akan kugembleng selama satu tahun, akan tetapi engkau harus berjanji dulu bahwa setelah satu tahun, engkau harus mau mengubur aku hidup-hidup!"
Bi Lan terbelalak.
"Mengubur Suhu hidup-hidup? Ah, itu jahat sekali namanya! Teecu akan dikatakan murid durhaka!"
"Pendeknya mau atau tidak? Kalau tidak mau, pergilah sana, aku tidak sudi menjadi gurumu. Baru mulai saja sudah tidak taat, apalagi sesudah setahun!"
Bi Lan menjadi serba salah. Hemm, ia berhadapan dengan seorang kakek yang sudah sinting. Sanggupi saja, soal nanti setahun, bagaimana nanti sajalah! "Baiklah, Suhu, teecu menurut."
"Kalau begitu, mari ikut aku pulang."
"Pulang?"
"Ya, ke tempat tinggalku di sana."
Bi Lan mengikuti kakek itu dan ternyata tempat tinggal Si Mayat Hidup itu tidak jauh dari situ.
Dia tinggal di sebuah guha yang tepat berada di bawah puncak.
Mulai saat itu Bi Lan menjadi murid manusia aneh itu dan ia digembleng dengan keras.
Selama setahun Bi Lan mendapat pelajaran ilmu silat yang aneh dan dahsyat yang oleh Si Mayat Hidup disebut Sin-ciang Tin-thian (Tangan Sakti Menjagoi Langit) yang terdiri dari tigabelas jurus ampuh.
Thio Ki terkenal sebagai seorang pedagang yang berhasil di kota Kang-cun.
Dia sering membawa barang dagangan yang besar jumlahnya ke utara sampai di kota raja Yen-cing (Peking), yaitu kota raja Kerajaan Kin.
Terkadang dia pun membawa barang dagangan ke selatan sampai ke kota Hang-couw, yaitu kota raja Kerajaan Sung Selatan.
Dengan perdagangan ke utara dan ke selatan itu, Thio Ki berhasil mendapatkan keuntungan besar sehingga dia terkenal sebagai seorang hartawan di kota Kang-cun yang terletak di lembah Sungai Yang-ce bagian utara.
Kota Kang-cun merupakan kota yang berada di tapal batas dua kerajaan itu, namun masih termasuk ke dalam Kerajaan Kin.
Isteri Thio Ki adalah seorang wanita berdarah bangsawan karena sebelum menikah dengan Thio Ki, ia adalah janda pangeran Kerajaan Kin.
Sebelumnya ia sendiri adalah puteri seorang kepala suku bangsa Uigur.
Namanya Miyana, usianya sekitar empatpuluh tahun masih tampak bekas kecantikannya.
Thio Ki sendiri berusia empatpuluh lima tahun.
Biarpun selama menikah dengan Miyana, kurang lebih limabelas tahun, mereka tidak mempunyai keturunan, namun Thio Ki cukup merasa berbahagia dengan anak tirinya, seorang anak perempuan yang ketika dia menikah dengan Miyana, berusia empat tahun.
Anak itu bukan lain adalah Thio Siang In yang terkenal dengan julukan Ang Hwa Sian-li!
Thio Ki yang biasa melakukan perjalanan jauh untuk berdagang, selain dikawal beberapa orang piauw-su (pengawal barang dagangan) yang lihai, juga bukan seorang lemah.
Dia pernah belajar silat beberapa tahun lamanya.
Karena itu, ketika anak perempuan yang memakai nama marganya itu tampak suka akan ilmu silat, dia memberi pelajaran ilmu silat.
Ketika isterinya, Miyana memberi tahu bahwa suku bangsanya mempunyai seorang datuk besar yang sakti, yaitu Toat-beng Coa-ong (Raja Ular Pencabut Nyawa) Ouw Kan, Thio Ki lalu menye-rahkan Siang In kepada guru besar itu untuk menjadi muridnya.
Setelah tamat belajar dan Thio Siang In menjadi pendekar wanita yang gagah perkasa, Thio Ki dan Miyana ikut merasa bangga dan berbahagia.
Ternyata setelah menjadi seorang gadis yang lihai, Siang In tidak melupakan pendidikan budi pekerti yang diberikan Ayah Ibunya sehingga ia menjadi seorang li-hiap (pendekar wanita) yang dijuluki Ang Hwa Sian-li.
Akan tetapi yang terkadang membuat mereka berdua gelisah dan rindu, adalah kesukaan puteri mereka itu meninggalkan rumah, mengembara dan bertualang.
Bahkan akhirnya, setahun yang lalu, puteri mereka itu mengikuti seorang guru lain, yaitu Tiong Lee Cin-jin.
Thio Ki sudah mendengar akan nama besar Tiong Lee Cin-jin yang dijuluki Tabib Dewa itu sebagai seorang yang amat sakti dan budiman serta arif bijaksana.
Maka dia dan isterinya menyatakan persetujuan mereka puterinya menjadi murid Tabib Dewa itu.
Tentu saja Miyana telah berterus terang kepada suaminya bahwa Siang In bukanlah anak kandungnya.
Ia menceritakan sejujurnya kepada suami yang amat mencintanya itu bahwa sesungguhnya anak mereka itu adalah puteri Kaisar Kerajaan Kin!
Puteri seorang selir kaisar yang berkebangsaan Han bernama Tan Siang Lin dan menjadi sahabat baiknya ketika ia menjadi selir seorang pangeran dahulu.
Selir kaisar itu melahirkan sepasang bayi kembar dan agar kedua orang bayi itu tidak dibunuh seperti yang telah menjadi kepercayaan bangsa Kin (Nuchen) bahwa anak kembar akan mendatangkan malapetaka, maka seorang dari bayi kembar itu diserahkan kepadanya.
Thio Ki bahkan semakin sayang kepada Siang In, yang sesungguhnya adalah puteri kaisar itu!
Akan tetapi hari ini rumah besar keluarga itu tampak sepi, padahal biasanya seluruh penghuni rumah itu tampak gembira dengan wajah berseri.
Kini para pelayan dan pekerja pembantu tampak muram wajahnya dan kalau bicara pun mereka berbisik-bisik sehingga dapat diduga bahwa tentu ada perkara yang amat menyedihkan terjadi di rumah besar itu.
Di dalam sebuah kamar yang besar dalam rumah itu, kamar induk, Thio Ki rebah telentang di atas pembaringan.
Kepala dan lengan kirinya dibalut.
Tubuhnya yang tinggi besar itu tampak lemah dan wajahnya yang gagah agak pucat.
Miyana, isterinya yang masih cantik, duduk di tepi pembaringan.
Wajahnya masih muram dan matanya masih kemerahan dan sembab, tanda bahwa ia banyak menangis.
Di atas meja dekat pembaringan tampak mangkuk obat yang sudah kosong.
Thio Ki rebah dengan kedua mata terpejam dan mulutnya agak menyeringai menahan rasa nyeri.
Tiba-tiba dia mengeluh dan bergerak hendak bangkit duduk.
Miyana cepat membantunya sambil bertanya lembut.
"Mengapa bangkit? Lebih baik rebah dulu. Bukankah tabib tadi mengatakan bahwa engkau kehilangan ba-nyak darah dan sebaiknya rebah mengaso dan banyak tidur?"
Thio Ki sudah duduk dan pundaknya dirangkul isterinya. Dia menghela napas panjang beberapa kali.
"Ahh, rasa sakit di badan ini dapat kutahan. Akan tetapi hatiku sakit sekali kalau ingat akan semua barang yang dirampas dan penghinaan yang kudapat dari jahanam-jahanam itu......"
"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan soal kehilangan harta benda. Harta bisa dicari lagi, yang penting kesehatanmu cepat pulih kembali,"
Isterinya menghibur.
"Kehilangan harta benda tidak menyusahkan aku,"
Kata Thio Ki.
"aku pernah melarat dan aku tidak takut untuk menjadi melarat lagi. Akan tetapi di antara barang-barang itu ada yang milik orang lain dan aku harus mengganti kehilangan itu! Barang-barangku sendiri sudah habis, dari mana aku dapat mengganti kehilangan itu?"
"Pemilik barang itu pasti akan mengerti bahwa barangnya hilang karena engkau dirampok dan dia mau mengerti. Kita bekerja lagi dan perlahan-lahan kita dapat mencicil barangnya yang hilang itu."
"Hemm, mana dia mau? Kau tahu siapa pemilik barang yang dititipkan padaku untuk dikirim dan ikut dibawa perampok itu? Dia adalah Pangeran Cin Boan!"
"Pangeran Cin Boan? Ahh......!"
Miyana terkejut mendengar nama ini.
"Ya, Pangeran Cin Boan yang kita tolak lamarannya terhadap Siang In yang ingin dia jodohkan dengan puteranya karena Siang In selalu menolak pinangan siapapun juga. Mana mungkin dia mau memberi kelonggaran kepada kita yang dianggap tentu telah menyakitkan hatinya karena penolakan pinangan itu? Ahhh!"
Thio Ki tampak sedih sekali.
"Aihh...... kalau saja dulu Siang In mau menerimanya pinangan itu. Aku pernah melihat Cin-kongcu (Tuan Muda Cin) dan dia adalah seorang pemuda yang tampan dan halus tutur sapanya, sopan santun dan aku mendengar dia telah lulus ujian sebagai seorang sasterawan. Siang In sungguh keras hati. Belum juga melihat Cin-kongcu, ia sudah menolak begitu saja! Sekarang, bagaimana baiknya......?"
Miyana yang biasanya tabah kini mulai merasa gelisah juga mendengar keterangan suaminya tadi.
"Hemm, kalau Siang In berada di rumah, pasti ia akan mampu merampas kembali barang-barang itu dari gerombolan perampok. Mengapa ia belum juga pulang? Bukankah dulu Tiong Lee Cin-jin mengirim kabar kepada kita bahwa dia hendak mengajarkan ilmu kepada Siang In selama satu tahun saja? Dan sekarang, kalau tidak salah, sudah setahun lamanya."
"Sudahlah, jangan memikirkan dulu semua urusan itu,"
Miyana kembali menghibur suaminya.
"Tiduran saja dulu, tenangkan hatimu. Kalau sudah sembuh benar, baru kita memikirkan urusan itu."
Ia membantu suaminya rebah kembali, menyelimuti tubuh suaminya dan membantu pelayan mempersiapkan makan obat untuk suaminya.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali ada seorang laki-laki datang berkunjung ke rumah Thio Ki.
Laki-laki berusia empatpuluh tahun yang bertubuh pendek gendut ini diterima dengan baik oleh Miyana karena ia telah mengenalnya dengan baik.
Orang itu adalah Bhe Liang yang berjuluk Twa-to (Golok Besar) karena dia terkenal lihai dengan permainan golok besarnya.
Bhe Liang ini merupakan seorang di antara para pimpinan pasukan piauw-su (pengawal kiriman barang) yang telah bekerja kepada Thio Ki selama setahun lebih.
Akan tetapi ketika terjadi perampokan barang itu, yang mengawal bukan giliran kelompoknya.
Sebelum menjadi piauw-su, dia pernah bekerja sebagai pengawal pada keluarga Pangeran Cin Boan.
Setelah berada dalam kamar Thio Ki yang dijenguknya, Bhe Liang dipersilakan duduk di kursi dekat pembaringan di mana Thio Ki berbaring.
"Bagaimana keadaanmu Thio-twako?"
Tanya Bhe Liang dengan penuh perhatian.
"Luka-luka di pelipis dan lengan kiri sudah tidak begitu nyeri lagi, Bhe-te (Adik Bhe). Akan tetapi tubuh ini rasanya masih lemas,"
Jawab Thio Ki dengan suara sedih.
"Hemm, kalau saja ketika itu saya yang mengawal, pasti tidak akan terjadi hal ini, Twako. Saya tentu sudah menghajar para perampok keparat itu!"
Si Pendek Gendut ini mengepal tinju dengan penasaran. Thio Ki menghela napas panjang.
"Apa hendak dikata. Semua telah terjadi. Kalau saja puteriku Siang In berada di sini, pasti ia akan mencari dan membasmi gerombolan perampok itu dan merampas kembali semua barangku."
"Thio-twako, kedatangan saya ini selain untuk melihat keadaan, Twako, juga untuk menyampaikan kabar yang penting bagimu. Twako, saya tahu siapa yang menjadi dalang perampokan ini!"
"Eh?"
Thio Ki tertarik sekali dan memandang penuh selidik.
"Benarkah itu, Bhe-te? Siapa yang mendalangi?"
Pada saat itu, Miyana memasuki kamar dan ia mendengar ucapan terakhir suaminya itu.
"Eh? Ada yang mendalangi perampokan?"
Ia lalu duduk di tepi pembaringan dan ikut memandang Bhe Liang dengan sinar mata menyelidik.
"Benar, Twa-so."
Sudah menjadi kebiasaan umum di Cina, seseorang yang hendak menghormati orang lain menyebutnya Twako (Kakak Tertua) dan isterinya disebut Twa-so (Kakak Ipar Tertua) walaupun laki-laki itu bukan kakaknya sendiri dan isteri temannya itu bukan kakak iparnya.
"Saya tahu betul siapa yang mengatur perampokan ini."
"Siapa dia......?"
Suami isteri itu bertanya dengan suara hampir berbareng.
"Siapa lagi kalau bukan Pangeran Cin Boan!"
Suami isteri itu saling pandang dan keduanya mengerutkan alisya, menatap tajam wajah Bhe Liang dengan ragu.
"Bhe-te, jangan main-main kau!"
Kata Thio Ki.
"Jangan menuduh tanpa bukti, itu fitnah namanya!"
"Aih, Twako. Sudah setahun lebih saya membantu Twako dengan setia, apakah Twako masih meragukan keterangan saya? Saya tidak menuduh sembarangan saja. Twako tentu masih ingat, setahun yang lalu saya masih menjadi pengawal di keluarga Pangeran Cin Boan itu. Nah, ketika pinangan keluarga itu terhadap puteri Twako ditolak, Pangeran Cin Boan marah sekali. Saya mendengar sendiri kata-katanya bahwa sekali waktu dia akan membalas penghinaan itu."
"Penghinaan?"
Miyana bertanya heran.
"Benar, Twako. Penolakan pinangan itu dianggap sebagai penghinaan oleh Pangeran Cin Boan. Maka, setelah terjadi perampokan ini, padahal dia juga menitipkan kiriman barang yang besar nilainya, siapa lagi yang mendalanginya kalau bukan dia?"
Setelah Bhe Liang meninggalkan rumah itu, Thio Ki dan Miyana masih duduk termenung, memikirkan keterangan Bhe Liang tadi dengan hati risau.
"Mungkinkah itu? Tidak biasanya dia menitipkan barang demikian banyaknya dalam perjalananku itu...... benarkah dia membalas dendam karena ditolak lamarannya? Semua hartaku dirampas, bahkan diriku dilukai...... alangkah kejamnya......"
"Nanti dulu, kita harus berhati-hati dan jangan dulu memastikan bahwa dugaan Bhe Liang itu benar. Pertama, apa buktinya bahwa perampokan ini didalangi oleh Pangeran Cin Boan yang hendak membalas dendam kepadamu? Kedua, kita sudah mendengar dan mengenal siapa Pangeran Cin Boan. Dia seorang bangsawan kaya raya yang dermawan dan selalu bersikap baik dan ramah terhadap siapapun juga. Jadi, amat meragukan kalau dia dapat melakukan tindakan sejahat itu."
"Akan tetapi dia seorang Pangeran Kin, mungkin saja diam-diam dia membenci aku, seorang pribumi bangsa Han."
"Tidak mungkin! Kalau dia membencimu, mengapa dia melamar anak kita dan hendak menjadikan engkau besannya?"
Mereka diam dan termenung, lalu Thio Ki menghela napas panjang den berkata.
"Bagaimanapun juga, dugaan Bhe Liang tidaklah ngawur. Memang besar sekali kemungkinan Pangeran Cin Boan merasa terhina. Bagaimana dia tidak akan merasa terhina oleh penolakan kita? Dia seorang pangeran, berkedudukan tinggi, kaya raya dan kita ini orang-orang biasa saja. Pinangannya kita tolak, tentu hal itu bagi mereka merupakan pukulan dan kalau terdengar orang akan memalukan sekali. Pinangan seorang pangeran kaya raya ditolak seorang rakyat kecil biasa! Biarpun dia baik hati, namun dendam sakit hati dapat saja membuat seorang yang baik hati menjadi kejam karena dendam kemarahannya. Kiranya hanya dia seorang yang paling pantas dicurigai mendalangi perampokan itu."
Miyana termenung, lalu ia pun menghela napas panjang dan berkata.
"Andaikata benar dugaan itu, lalu kita mampu berbuat apa? Pertama, dugaan itu tidak ada buktinya, dan kedua, apa yang dapat kita lakukan terhadap Pangeran Cin Boan? Dia seorang bangsawan tinggi, keluarga kerajaan yang kedudukannya kuat."
"Ah, kalau saja Siang In ada......"
Keduanya mengeluh dan merasa tidak berdaya.
Ternyata harapan mereka itu terkabul.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi muncul Thio Siang In, seperti biasa berpakaian serba hijau dan ada setangkai bunga merah menghias rambutnya.
Wajahnya masih cantik jelita dan berseri gembira.
Gadis ini muncul bersama Puteri Moguhai yang berpakaian serba putih dengan sabuk panjang berwarna merah, di atas kepalanya terhias burung Hong dari perak yang ukirannya indah.
"Ayah, apa yang terjadi denganmu?"
Ketika Thio Ki dan Miyana muncul, Siang In berseru kaget melihat lengan kiri dan kepala Thio Ki dibalut kain putih dan wajah Ayahnya itu pucat.
"Siang In......!"
Miyana maju merangkul anaknya sambil menangis.
"Aih, Siang In, mengapa engkau baru pulang? Ayahmu mengalami malapetaka, dirampok habis-habisan dan dilukai......"
"Hemm, kapan terjadinya, di mana dan siapa perampoknya?"
Siang In bertanya dan wajahnya sudah berubah kemerahan karena marah.
Akan tetapi Thio Ki yang memandang ke arah Puteri Moguhai dan merasa terkejut dan terheran-heran melihat betapa gadis itu serupa benar dengan puterinya dan hanya pakaian mereka saja yang berbeda, cepat berkata.
"Siang In, nanti saja kita bicara di dalam agar lebih leluasa. Sekarang perkenalkan dulu siapa temanmu ini."
Baru sekarang Miyana menyadari bahwa anaknya tidak pulang seorang diri dan ia pun memandang kepada Moguhai.
Mata wanita itu terbelalak lebar ketika melihat wajah puteri itu.
Lalu ia menoleh dan memandang wajah anaknya, lalu menoleh lagi kepada Moguhai, begitu berulang-ulang, ganti berganti.
"Siang In...... ini...... ini...... siapakah ini......?"
Akhirnya ia dapat bertanya dan kembali ia meneliti wajah puterinya karena ia merasa bingung dan ragu apakah yang dirangkulnya itu benar Siang In, ataukah gadis yang lain itu yang sesungguhnya anaknya!
Siang In juga baru ingat akan kehadiran Moguhai karena tadi ia merasa khawatir dan tegang melihat keadaan Ayahnya.
Ia lalu menoleh kepada orang tuanya.
"O ya, Ayah dan Ibu, perkenalkan. Ini sahabat baikku yang juga menjadi saudara seperguruanku. Ia terkenal dengan sebutan Pek Hong Niocu, nama aselinya Puteri Moguhai."
"Puteri......?"
Miyana makin terkejut.
"Benar, Ibu. Puteri Moguhai ini adalah Puteri Kaisar Kerajaan Kin. Ibunya selir kaisar, seorang wanita Han bernama Tan Siang Lin."
Siang In memperkenalkan dengan suara biasa saja.
"Pek Hong, perkenalkan, ini Ayahku Thio Ki dan Ibuku ini bernama Miyana."
Siang In memang kini menyebut Moguhai dengan nama pemberian Ayah mereka, yaitu Sie Pek Hong. Pek Hong memberi hormat dengan mengangkat tangan depan dada dan berkata sambil tersenyum.
"Paman dan Bibi, senang sekali dapat berkenalan dengan kalian."
Hampir pingsan rasanya Miyana pada saat iuu.
Thio Ki melihat keadaan isterinya dan biarpun dia sendiri terkejut dan tubuhnya masih lemas karena luka-lukanya, dia cepat memegang lengan isterinya yang agaknya menjadi pening dan terhuyung.
Miyana tidak ragu lagi bahwa yang datang ini adalah saudara kembar Siang In, dan Thio Ki yang pernah mendengar cerita isterinya juga mengerti.
Akan tetapi tentu saja mereka berdua tidak ingin memperlihatkan kepada siapapun juga, terutama kepada anak mereka, bahwa mereka telah mengetahui rahasia dua orang gadis itu.
"Ah, Ibu terkejut melihat persamaan antara aku dan Pek Hong? Memang kami mirip sekali satu sama lain, akan tetapi ia adalah puteri kaisar dan aku hanyalah anak Ayah dan Ibu,"
Kata Siang In.
"Ampun, Tuan Puteri. Hamba tidak mengenal maka bersikap kurang hormat......"
Kata Miyana sambil memberi hormat dengan sembah dan menekuk kedua lututnya. Akan tetapi Pek Hong segera membungkuk dan memegang lengannya, mencegah ia berlutut.
"Bibi, jangan begitu. Kalau sudah keluar dari istana, aku lebih suka dikenal sebagai Pek Hong Niocu dan Siang In juga menyebut namaku Pek Hong. Kuharap Paman dan Bibi juga menyebutku begitu."
"Mari, marilah kita semua masuk dan bicara di dalam,"
Kata Thio Ki dan mereka berempat memasuki ruangan dalam dan duduk menghadapi sebuah meja besar.
Miyana menutup daun pintu dan jendela agar tidak ada pelayan yang berani masuk atau mendengarkan percakapan mereka.
"Nah, Ayah. Sekarang ceritakanlah apa yang terjadi padamu,"
Kata Siang In, sudah dapat menekan kemarahannya.
"Terjadinya lima hari yang lalu. Bersama beberapa orang piauw-su, aku membawa barang-barang daganganku sendiri dan juga titipan barang-barang Pangeran Cin Boan menuju ke kota raja. Ketika rombongan kami tiba di kaki Pegunungan Cin-ling-san sebelah timur, kami dihadang segerombolan perampok. Kami melawan dan karena pihak kami kalah banyak, barang-barang itu semua dirampas dan aku terluka.
"Hemm, di mana terjadinya itu, Ayah?"
"Di kaki Pegunungan Cin-ling-san sebelah timur, dalam hutan yang berada di tepi jalan raya menuju kota Kai-feng."
"Tahukah Ayah siapa pemimpin gerombolan itu?"
"Aku tidak mengenalnya, orangnya tinggi kurus dan permainan siang-to (sepasang golok) amat lihai. Dia tidak menyebutkan namanya dan anak buahnya berjumlah lebih dari tigapuluh orang. Dalam rombongan kami, banyak yang terluka bahkan ada dua orang piauwsu yang tewas."
"Dan harta benda Ayah habis?"
"Hemm, terlukanya badanku dan habisnya hartaku tidak menjadi soal berat bagiku, Siang In. Kita dapat mencari lagi dengan bekerja keras. Akan tetapi yang menyusahkan hatiku adalah barang titipan Pangeran Cin Boan yang ikut hilang dibawa perampok, padahal barang-barang itu amat mahal harganya. Bagaimana aku akan dapat membayarnya?"
Kalimat terakhir ini diucapkan Thio Ki dengan keluhan.
"Jangan khawatir, Ayah. Aku akan segera mencari ke tempat Ayah dihadang perampok itu dan aku akan membasmi mereka dan mengambil kembali barang-barang Ayah!"
Kata Siang In.
"Benar, Paman. Aku akan membantu Siang In dan kami pasti akan dapat merampas kembali barang-barang Paman,"
Kata Pek Hong dengan suara menyakinkan. Miyana memandang kepada suaminya dan berkata lirih.
"Apakah tidak perlu menceritakan kepada Siang In tentang dugaan piauw-su Bhe Liang?"
"Laporan apakah, Ayah? Ceritakan kepadaku!"
Kata Siang In kepada Ayahnya. Thio Ki menghela napas panjang.
"Bhe Liang melaporkan kepadaku, mengatakan bahwa yang mendalangi perampokan itu adalah Pangeran Cin Boan."
"Eh, Pangeran Cin Boan? Apa buktinya, Ayah?"
"Itulah, Siang In. Aku juga bilang kepada Ayahmu agar jangan mudah percaya akan dugaan Bhe Liang itu karena tidak ada buktinya,"
Kata Miyana.
"Memang tidak ada buktinya. Menurut laporan Bhe Liang, ketika pinangan keluarga Pangeran Cin Boan itu kita tolak, Bhe Liang yang ketika itu masih menjadi pengawal Pangeran Cin, mendengar betapa Pangeran itu marah kepada kita dan mengeluarkan ancaman akan membalas penghinaan itu. Penolakan kita itu dia anggap sebagai penghinaan. Ketika aku membawa barang ke utara, dia menitipkan barang-barang berharga, lalu terjadi perampokan itu. Karena itulah Bhe Liang menduga bahwa yang mendalangi perampokan adalah Pangeran Cin Boan."
"Hemm, masuk akal juga......"
Kata Siang In.
"Aku akan menyelidiki dulu keluarga Pangeran Cin Boan sebelum melacak di tempat terjadinya perampokan. Kalau benar Pangeran Cin Boan yang mendalangi perampokan itu, hemm, akan kuhajar dia! Tidak tahu malu kalau pinangan ditolak lalu merasa terhina dan mendendam."
"Nanti dulu, Siang In. Aku mengenal Pangeran Cin Boan. Dia masih merupakan Paman luarku dan selama ini aku mengenal dia sebagai seorang yang berwatak baik. Memang sejak dia pindah ke sini, aku tidak pernah lagi bertemu dengan dia. Sudah kurang lebih enam tahun aku tidak bertemu keluarga Paman Pangeran Cin Boan. Maka, biarlah aku yang pergi berkunjung ke sana. Akan kuselidiki apakah benar dia yang mendalangi perampokan ini. Kalau benar, akulah yang akan menegur, kalau perlu menghukumnya. Kalau engkau yang ke sana, mungkin engkau akan dipengaruhi emosi dan melakukan kesalahan."
Siang In tersenyum.
"Engkau selalu menganggap aku galak, Pek Hong dan engkau khawatir aku membikin keributan? Baiklah, kalau bukan engkau yang mengajukan usul dan menggantikan aku menyelidiki Pangeran itu, pasti kutolak."
"Nah, aku akan pergi sekarang. Paman dan Bibi Thio, permisi dulu, aku akan berkunjung ke rumah Pangeran Cin Boan. Nanti kalau sudah ada hasilnya, aku akan kembali ke sini."
"Baik dan terima kasih, puteri...... eh, Pek Hong!"
Kata Thio Ki gembira.
Setelah kini puterinya pulang, harapannya muncul kembali dan dia merasa yakin bahwa barang-barangnya pasti akan bisa didapatkan kembali.
Dia yakin akan kemampuan puterinya, apalagi setelah kini selama setahun ia digembleng oleh Tiong Lee Cin-jin!
Pek Hong Niocu lalu meninggalkan rumah Thio Ki dan setelah ia pergi, Thio Ki dan isterinya minta kepada Siang In agar menceritakan semua pengalamannya selama ia pergi meninggalkan rumah.
Terutama sekali Miyana bertanya kepada puterinya tentang Pek Hong dan menduga-duga apakah puterinya sudah tahu akan rahasia dirinya, bahwa ia adalah Puteri Kaisar Kin dan mereka berdua hanya orang tua angkat.
Siang In menceritakan pengalamannya, akan tetapi ia tidak mau menceritakan bahwa ia sudah tahu akan rahasia dirinya, juga sama sekali tidak menceritakan bahwa Tiong Lee Cin-jin adalah Ayah kandungnya.
Ia memenuhi pesan Ayah kandungnya itu untuk tetap merahasiakan tentang hubungan antara Tiong Lee Cin-jin, Tan Siang Lin, Puteri Moguhai dan dirinya sendiri.
Biarlah Ayah Ibunya, Thio Ki dan Miyana yang baik hati dan menyayangnya sejak kecil sampai sekarang tidak akan merasa sedih kalau ia mengatakan bahwa ia tahu bahwa mereka bukanlah Ayah dan Ibu kandungnya.
"Siang In, sungguh aneh sekali melihat persamaanmu dengan puteri...... dengan Pek Hong itu. Benar-benar sukar bagiku untuk membedakannya, kecuali pakaian kalian yang jauh berbeda. Kalau kalian berdua pergi bersama, tentu orang-orang akan menyangka bahwa kalian adalah saudara kembar."
Mendengar ucapan itu, Siang In maklum bahwa ibunya ini sengaja hendak memancing untuk mengetahui apakah ia sudah tahu akan rahasia itu ataukah belum!
Tentu saja Ibunya ini, Miyana tahu bahwa ia dan Pek Hong adalah saudara kembar karena Miyanalah yang menolong ibu kandungnya, dengan membawa pergi ia, seorang di antara sepasang bayi kembar, untuk menyelamatkan sepasang bayi kembar dari ancaman dibunuh oleh Kaisar.
Kalau ia mengaku sudah tahu, pasti hati wanita yang baik hati ini akan menjadi kecewa dan khawatir kalau-kalau rasa sayang Siang In terhadap Ibunya ini akan berkurang.
"Memang wajah kami mirip sekali, Ibu. Akan tetapi jelas kami berbeda jauh. Ia Puteri Kaisar Kin dan aku hanyalah puteri Ayah dan Ibu di sini. Akan tetapi aku sama sekali tidak merasa iri atau rendah. Aku amat berbahagia menjadi anak Ayah dan Ibu, dan Pek Hong itu baik sekali, tidak angkuh dan tidak memandang rendah kepadaku sehingga kami akrab seperti saudara saja. Urusan dengan Pangeran Cin Boan ini pun sudah pasti akan beres kalau Pek Hong yang menanganinya. Ibu tahu, ia amat disayang oleh Kaisar Kin. Ayahnya itu bahkan memberi pedang bengkok berukir naga emas, yaitu pedang yang merupakan tanda kekuasaan sehingga apa yang diperintahkan Pek Hong terhadap semua pejabat pemerintah Kerajaan Kin dianggap seperti perintah Kaisar Kin sendiri sehingga semua pejabat, dari yang rendah sampai yang tinggi, semua tunduk dan taat kepadanya kalau ia memperlihatkan pedangnya itu."
"Hebat......!"
Kata Thio Ki.
"Pantas saja kalau Kaisar mencintanya, karena ia seorang gadis yang cantik dan gagah perkasa seperti engkau! Siapa yang tidak akan menyayangnya?"
"Aih, Ibu......!"
Kata Siang In manja sambil merangkul Ibunya.
Seperti tidak akan ada habisnya tiga orang itu bercakap-cakap melepas kerinduan hati masing-masing dan kepulangan Siang In ini benar-benar selain mendatangkan harapan besar, juga mempengaruhi keadaan tubuh Thio Ki sehingga dia segera sehat kembali!
Apalagi setelah dengan tenaga saktinya yang kini menjadi amat dahsyat, Siang In menyalurkan ke dalam tubuh Ayahnya melalui telapak tangan yang ditempelkan di punggung.
Wajah Thio Ki kini menjadi kemerahan lagi dan dia merasa tubuhnya kuat!
Rumah tinggal Pangeran Cin Boan merupakan sebuah gedung istana yang biarpun tidak sebesar dan semegah gedung-gedung istana para pangeran yang berada di kota raja, namun untuk ukuran rumah-rumah di kota Kang-cun, sudah termasuk megah dan mewah.
Hal ini tidaklah mengherankan karena Pangeran Cin Boan merupakan seorang pangeran yang mendapat kepercayaan dan tugas dari Kaisar Kin untuk menjadi pengawas di perbatasan, menerima pelaporan para pejabat di daerah dan mengeluarkan peraturan-peraturan atas nama Kerajaan Kin.
Dia terkenal sebagai seorang pejabat tinggi yang bijaksana, tidak melakukan korupsi dan ketika pindah ke Kang-cun lima atau enam tahun yang lalu memang sudah kaya raya.
Dia bersikap jujur dan adil, juga bertindak keras terhadap bawahan yang melakukan penyelewengan uang pemerintah atau penindasan terhadap rakyat jelata.
Selain itu, Pangeran Cin Boan terkenal pula sebagai seorang dermawan, suka menolong dusun-dusun di mana rakyatnya hidup serba kekurangan.
Memberi banyak pertolongan kepada daerah yang dilanda banjir kalau Sungai Yan-ce meluap.
Dia pun tidak sudi disogok dan karena dia sebagai pemimpin para pejabat di daerah perbatasan, maka sikapnya yang adil dan keras itu membuat para pejabat bawahannya merasa gentar untuk melakukan penyelewengan.
Benarlah kalau ada orang bijaksana mengatakan bahwa akar penyelewengan atau korupsi dan sebagainya dalam sebuah pemerintahan bukan berada di bawah seperti akar pohon, melainkan berada di atas!
Segala keadaan suatu pemerintahan, menjadi baik ataupun buruk, dimulai dari atas!
Kalau atasannya kotor, sudah dapat dipastikan bahwa bawahannya juga semua kotor karena selain atasan menjadi panutan bawahan, juga kalau atasannya kotor tentu saja dia tidak berani menindak bawahan yang kotor.
Dalam, keadaan seperti itu semua pejabat akan menjadi kotor dan pemerintah akan menjadi lemah dan miskin karena digerogoti para pembesar.
Yang makmur hanyalah para pejabatnya!
Sebaliknya kalau atasannya bersih, bawahannya tidak berani menyeleweng, demikian pula bawahannya lagi dan bawahannya lagi seterusnya, para pembesar itu dari yang besar sampai yang kecil, bekerja dengan setia, jujur dan bersih.
Dalam keadaan seperti itu, dapat dipastikan bahwa pemerintahannya menjadi kuat, semua penghasilan dapat masuk dengan sempurna tidak ada yang bocor di jalan sehingga pemerintah menjadi kaya.
Kalau pemerintah kaya, sudah pasti ia dapat menyejahterakan rakyat jelata.
Keadilan akan terlaksana di mana-mana.
Yang jahat akan dihukum berat, yang baik dan berjasa mendapat tempat yang layak.
Alangkah akan bahagianya rakyat yang hidup di bawah pemerintahan yang seperti itu!
Tidak ada penggerogotan uang pemerintah yang berasal dari rakyat, tidak ada penindasan, tidak ada sogok dan suap yang melahirkan ketidak-adilan.
Alangkah indahnya!
Pangeran Cin Boan berusia sekitar limapuluh tahun.
Seperti semua bangsawan dan pembesar di jaman itu, Pangeran Cin Boan selain seorang isteri juga mempunyai beberapa orang selir.
Akan tetapi dia hanya mempunyai seorang anak laki-laki yang lahir dari isterinya.
Pangeran itu bertubuh sedang, wajahnya tampan sikapnya halus dan dia ramah terhadap siapa saja, mulutnya selalu tersenyum namun sikap yang lembut itu mengandung wibawa.
Isterinya juga cantik dan lembut, seorang wanita bangsawan Kin yang terpelajar, berusia empatpuluh tahun.
Anak tunggal mereka itu bernama Cin Han.
Dari nama ini saja sudah tampak betapa Pangeran Cin Boan menyesuaikan diri dengan pribumi yang dijajah Kerajaan Kin.
Nama marganya Cin dan puteranya itu diberi nama Cin Han.
Pemuda berusia duapuluh dua tahun ini tampan sekali, seperti ibunya.
Seorang pemuda yang telah lulus ujian sastra dan mendapat ijazah siu-cai (Sastrawan).
Tampan, terpelajar, lemah lembut dan bijaksana seperti Ayahnya sehingga siapa pun yang mengenalnya tentu merasa kagum dan suka.
Akan tetapi sudah sejak dua tahun yang lalu Ayah Ibunya mendesak pemuda itu untuk menikah, dia selalu menolak.
Baru setahun yang lalu Ayahnya hendak menjodohkannya dengan Thio Siang In yang juga terkenal dengan julukan Ang Hwa Sian-li, Cin Han tidak menolak.
Dia pernah melihat gadis itu dan diam-diam mengaguminya.
Akan tetapi, sekali ini dia yang ditolak!
Pinangan itu tidak diterima oleh Thio Ki dengan alasan bahwa puterinya belum mau dijodohkan!
Tentu saja Pangeran Cin Boan dan isterinya kecewa sekali.
Akan tetapi Cin Han yang bijaksana dapat memaklumi penolakan Siang In.
Gadis itu sama sekali tidak mengenalnya, bahkan melihatnya pun belum pernah.
Bagi seorang gadis pendekar seperti itu, tentu saja tidak mau di jodohkan secara "tabrakan"
Begitu saja.
Pemuda ini memaklumi penolakan Thio Siang In.
Akan tetapi sejak penolakan itu, sudah setahun lebih, dia selalu menolak kalau orang tuanya hendak menjodohkannya.
Bahkan, tidak seperti pemuda bangsawan lainnya, dia pun menolak ketika hendak dicarikan selir.
Pada pagi hari di waktu matahari telah naik semakin tinggi, Pangeran Cin Boan duduk di ruangan dalam bersama isteri dan puteranya.
"Ayah, aku mendengar bahwa Paman Thio Ki beberapa hari yang lalu dirampok penjahat habis-habisan, bahkan dia terluka dan dua orang pengawalnya tewas. Bukankah Ayah ada menitipkan kiriman barang ke kota raja kepada Paman Thio Ki?"
"Benar, Han-ji (Anak Han), aku pun sudah mendapat laporan dari utusan Thio Ki. Barang-barang kita ikut terampas penjahat,"
Jawab Pangeran Cin Boan.
"Hemm, padahal barang-barang itu amat berharga dan penting yang dikirim ke kota raja untuk Nenekmu dan para Pamanmu. Sekarang hilang! Thio Ki itu harus bertanggung jawab!"
Kata Nyonya Cin sewot (marah-marah).
"Jangan begitu, kejadian itu kan merupakan kecelakaan? Thio Ki sendiri sudah habis-habisan, bahkan terluka. Jangan kita menambahkan penderitaannya dengan tergesa-gesa menuntut barang-barang kita yang hilang agar dipertanggung-jawabkan."
"Salahnya sendiri. Dulu menolak pinangan kita, sekarang barang kita yang berharga mahal dibikin hilang. Enak dia dan rugi kita kalau didiamkan saja!"
Agaknya isteri pangeran ini masih merasa kecewa, penasaran dan marah karena pinangannya setahun yang lalu ditolak oleh keluarga Thio Ki.
"Ibu, kiranya tidak perlu lagi membicarakan tentang pinangan itu. Yang penting sekarang, bagaimana caranya untuk membantu Paman Thio mengatasi keadaannya yang terluka dan habis-habisan itu."
"Hemm, mengapa kita jadi ikut repot? Bukankah puteri mereka yang cantik seperti dewi, bahkan julukannya juga Ang Hwa Sian-li (Dewi Bunga Merah), adalah seorang pendekar wanita yang amat lihai? Biarlah gadis itu yang merampas kembali harta yang telah dirampok penjahat!"
Kata Nyonya Cin yang masih marah. Sebelum suami dan anaknya menjawab, daun pintu ruangan itu diketuk orang.
"Siapa?"
Pangeran Cin bertanya sambil mengerutkan alisnya karena tak senang percakapannya dengan isteri dan puteranya ada yang mengganggu.
"Hamba, yang mulia. Hamba hendak melaporkan bahwa di luar datang seorang gadis yang ingin menghadap paduka,"
Terdengar suara pengawal yang mereka sudah kenal.
"Siapa ia? Siapa namanya?"
Tanya Pangeran Cin Boan dengan heran. Dia tak pernah ada urusan dengan seorang gadis. Belum pernah ada gadis minta menghadap padanya. Suara pengawal itu menjawab.
"Ia tidak mau mengatakannya, Yang Mulia. Ia hanya berkata bahwa paduka pasti akan mengenalnya kalau ia sudah menghadap Paduka."
"Ayah, biar aku yang keluar dulu melihat siapa yang hendak menghadap Ayah."
"Baiklah, Cin Han, keluarlah dan lihat siapa gadis itu."
Cin Han keluar dan diantar pengawal itu dia melangkah keluar.
Setelah di serambi depan, dia melihat seorang gadis berpakaian serba putih dari sutera halus, kepalanya dihias burung Hong perak, berdiri dan menyongsongnya dengan pandang mata yang mencorong tajam.
Gadis yang luar biasa cantiknya.
Akan tetapi setelah berhadapan, Cin Han berseru terkejut.
"Eh, engkau...... engkau...... Thio-siocia (Nona Thio)??"
Puteri Moguhai atau Pek Hong Niocu diam-diam kagum sekali kepada pemuda yang tampan sekali dan sikapnya lemah lembut itu.
Ia menduga bahwa inilah agaknya putera Pangeran Cin Boan itu.
Rasanya dulu ia pernah bertemu dengan pemuda ini, sekitar enam tahun lebih yang lalu.
Tentu saja ketika mereka masih remaja dan ia sudah tidak ingat lagi wajah pemuda itu.
"Engkau siapakah, Kongcu?"
Tanyanya.
"Aku bernama Cin Han, putera Pangeran Cin Boan."
Ucapan pemuda itu seolah mengingatkan dan dia menatap tajam wajah yang jelita itu.
"Ah, Cin-kongcu. Apakah Pangeran Cin Boan berada di rumah? Aku ingin bertemu dengannya."
"Mari, silakan, Thio-siocia. Silakan menunggu di ruangan tamu, aku akan memanggil Ayah ke sini."
Mereka memasuki ruangan tamu dan Pek Hong lalu duduk di situ menunggu sedangkan Cin Han masuk ke ruangan dalam menemui Ayah Ibunya.
"Ayah, gadis itu adalah Nona Thio Siang In!"
Kata pemuda itu yang masih merasa tegang hatinya bertemu dengan gadis yang pernah menundukkan hatinya itu. Pangeran Cin Boan menaikkan alisnya dengan heran dan isterinya mengerutkan alis dan berkata.
"Hemm, mari kita temui!"
Suami isteri dan putera mereka itu lalu keluar dari ruangan dalam, memasuki ruangan tamu. Pek Hong segera bangkit berdiri dan ia berhadapan dengan mereka bertiga.
"Nona Thio......!"
Kata Pangeran Cin Boan dan memandang penuh selidik. Dia merasa kagum akan kecantikan gadis itu. Pantas puteranya tergila-gila, pikirnya.
"Engkau yang bernama Thio Siang In?"
Tiba-tiba Nyonya Cin bertanya, nada suaranya ketus.
"Dulu engkau menolak pinangan kami. Sekarang datang berkunjung ada keperluan apakah?"
Pek Hong tersenyum melihat Pangeran Cin Boan dan Cin Han memandang Nyonya Cin dengan alis berkerut tanda tidak senang mendengar ucapan yang ketus itu.
Akan tetapi ia pun tidak merasa marah mendengar teguran nyonya itu karena ia maklum betapa kecewanya seorang ibu mendengar pinangan puteranya ditolak.
"Kalian bertiga keliru. Aku bukan Thio Siang In,"
Katanya sambil tersenyum. Tiga orang itu terbelalak.
"Harap Siocia (Nona) tidak main-main. Aku mengenalmu dengan baik dan jelas bahwa engkau adalah Nona Thio Siang In!"
Kata Cin Han sambil tersenyum pula, mengira gadis itu main-main.
"Aku tidak main-main. Memang aku mirip Thio Siang In, akan tetapi aku bukan ia. Paman Pangeran, apakah Paman sudah lupa kepadaku?"
Pangeran Cin Boan memandang penuh perhatian.
"Siapakah engkau sesungguhnya, kalau engkau bukan Thio Siang In?"
"Aku sering bertemu Paman di kota raja sekitar enam tahun yang lalu."
"Enam tahun yang lalu di kota raja? Ah, aku tidak ingat......"
Pek Hong Niocu lalu mengeluarkan pedang bengkok berukir naga emas dari pinggangnya dan memperlihatkannya kepada pangeran itu.
"Paman tentu mengenal ini, bukan?"
Melihat pedang bengkok tanda kekuasaan itu, sepasang mata Pangeran itu terbelalak.
"Dan apakah Paman tidak mengenal hiasan rambutku ini?"
"Ahh...... engkau...... Puteri Moguhai yang dikenal sebagai Pek Hong Niocu??"
Pek Hong tersenyum dan menyimpan kembali pedangnya.
"Nah, Paman mengerti sekarang bahwa aku bukan Thio Siang In."
"Ah, maafkan kami...... kiranya keponakanku yang amat terkenal yang datang berkunjung! Selamat datang, Ananda Moguhai. Kami merasa girang sekali mendapat kesempatan menerima kunjungan ini."
Lalu kepada isteri dan puteranya yang masih memandang terheran-heran dia berkata.
"Mengapa kalian bengong saja? Ini adalah keponakanku sendiri, puteri Sri Baginda Kaisar yang bernama Puteri Moguhai yang akhir-akhir ini terkenal sebagai Pek Hong Niocu, pemilik pedang pusaka tanda kekuasaan tertinggi mewakili Sri Baginda?"
Nyonya Cin Boan seketika mengubah sikapnya, ia bersikap hormat dan ramah sekali.
"Aih, harap memaafkan kami yang tidak mengenalmu."
Cin Han masih terpesona. Kiranya gadis yang wajahnya persis Thio Siang In ini adalah puteri kaisar! "Ah, Nona Puteri, harap maafkan aku......"
Katanya gagap. Pek Hong tersenyum kepada pemuda itu.
"Kita adalah saudara misan, mengapa masih memakai sebutan sungkan seperti itu? Engkau bernama Cin Han, bukan? Tentu lebih tua daripada aku maka akan kusebut Kanda Cin Han saja."
Wajah pemuda yang tampan dan berkulit putih itu menjadi agak kemerahan.
"Baiklah, Adinda Moguhai, dan terima kasih atas keramahan sikapmu."
"Aku akan menyuruh menyiapkan minuman......"
"Tidak usah, Bibi. Aku datang untuk membicarakan suatu hal penting."
"Ada urusan apakah, Moguhai? Persamaanmu dengan Thio Siang In sungguh membuat kami terkejut dan heran."
"Memang benar, Paman Pangeran. Thio Siang In adalah saudara seperguruanku yang akrab dengan aku. Kedatanganku ini pun atas namanya untuk membicarakan tentang peristiwa perampokan atas diri Paman Thio Ki, Ayah Siang In."
"Ya, kami juga sudah mendengar akan peristiwa yang menyedihkan itu. Kabarnya Thio Ki terluka parah. Benarkah itu?"
"Benar, akan tetapi keadaannya sudah tidak berbahaya lagi, Paman Pangeran. Dua orang piauw-su yang membantunya tewas dan banyak yang terluka. Semua harta benda yang dikawal Paman Thio Ki dirampas perampok."
"Kami sudah mendengar dan mendapat pelaporan karena titipan barang kami juga ikut dilarikan perampok."
"Banyakkah barang yang Paman titipkan itu?"
"Hemm, cukup banyak dan berharga karena kiriman kami itu kami tujukan kepada Ibu kami dan adik-adik kami di kota raja."
"Tentu Paman Pangeran akan menuntut kepada Paman Thio Ki agar mengganti semua kehilangan itu, bukan?"
"Ah, sama sekali tidak, Moguhai. Thio Ki mendapatkan kecelakaan yang membuat harta bendanya habis dan dia sendiri terluka. Kehilangan harta yang kami titipkan itu adalah karena kecelakaan."
"Itu benar, Adinda, Paman Thio Ki sedang menderita, bagaimana kami tega untuk menambahi penderitaannya? Kami malah kasihan sekali mendengar akan peristiwa itu."
Moguhai atau kita sebut saja Pek Hong, memandang tiga orang itu bergantian.
Wajah Pangeran Cin Boan dan wajah Cin Han tampak wajar membayangkan bahwa ucapan mereka tadi sejujurnya.
Akan tetapi ia melihat betapa wajah Nyonya Cin yang cantik itu agak muram dan sepasang alisnya berkerut.
"Paman Pangeran, aku mendengar bahwa setahun lebih yang lalu, Paman mengajukan pinangan kepada keluarga Paman Thio Ki, untuk menjodohkan Kan-da Cin Han ini dengan Thio Siang In, benarkah itu?"
"Ya, benar."
"Dan pinangan itu ditolak?"
Pangeran Cin Boan menghela napas panjang.
"Ya, ditolak karena Nona Thio Siang In belum mau terikat perjodohan. Kami dapat menerima alasan itu karena kami tahu bahwa gadis itu adalah seorang pendekar wanita yang tinggi ilmunya dan tentu saja soal perjodohan tidak dapat dipaksakan kepadanya."
"Hemm, tentu Paman sekeluarga menjadi kecewa dan penasaran, bukan?"
"Tentu saja kami kecewa, akan tetapi penasaran? Tidak! Mengapa mesti penasaran? Pinangan hanya mempunyai dua keputusan, diterima atau ditolak."
"Apakah keluarga Paman tidak merasa terhina oleh penolakan pinangan itu dan mendendam sakit hati?"
"Puteri Moguhai! Mengapa engkau bertanya seperti itu? Kami bukan orang-orang sepicik itu!"
Kata Pangeran Cin Boan dengan suara mengandung kemarahan.
"Ayah, Adinda Moguhai mengajukan pertanyaan itu pasti ada sesuatu yang dimaksudkan dan dikehendaki. Dinda Moguhai, harap engkau suka berkata terus terang saja kepada kami. Sebetulnya ada persoalan apakah pada keluarga kami yang sedang kau selidiki?"
Pek Hong memandang kakak misannya yang tampan itu sambil tersenyum. Pemuda ini cerdik juga, pikirnya kagum.
"Begini, Paman, Bibi, dan Kanda. Sesungguhnya, keluarga Paman Thio Ki mendengar berita yang tidak baik, yang membayangkan seolah-olah urusan penolakan pinangan itu ada hubungannya dengan terjadinya perampokan terhadap Paman Thio Ki itu."
"Dinda Moguhai! Apakah engkau hendak mengatakan bahwa engkau menyangka kami yang mendalangi perampokan itu karena kami hendak membalas dendam atas ditolaknya pinangan kami itu?"
Tanya Cin Han penasaran, walaupun suaranya masih lembut. Pek Hong tersenyum lebar.
"Tenang, Kanda. Itu bukan persangkaanku. Justeru aku datang ini untuk menyelidiki tentang persangkaan itu. Sekarang, harap Paman Pangeran suka menjawab sejujurnya. Apakah Paman mengenal seorang bernama Bhe Liang yang berjuluk Twa-to (Si Golok Besar)?"
"Bhe Liang?"
Sepasang alis pangeran itu berkerut dan sinar matanya membayangkan kemarahan.
"Tentu saja kami mengenalnya. Dahulu, dia menjadi seorang di antara para pengawal kami di sini. Akan tetapi kami telah menghentikan dan mengusirnya!"
"Mengusirnya......? Akan tetapi mengapa, Paman? Mengapa Paman mengusirnya?"
Pangeran itu bertukar pandang dengan isterinya dan dengan alis masih berkerut dia bertanya kepada Pek Hong.
"Hemm, apakah pertanyaan itu perlu dijawab?"
"Perlu sekali, Paman! Untuk melengkapi penyelidikanku, harap Paman suka menjawab pertanyaan itu sejujurnya. Ini demi kebaikan keluarga Paman sendiri."
Pangeran Cin Boan memandang isterinya.
"Bagaimana? Apakah kita akan memberitahu kepada Puteri Moguhai?"
Isterinya termangu sejenak, lalu mengangguk.
"Boleh saja kalau itu demi kebaikan keluarga kita."
"Begini, Moguhai. Sebetulnya penyebabnya hanya urusan kecil saja, namun cukup menjengkelkan kami. Bhe Liang memperlihatkan sikap yang kurang ajar kepada isteriku. Pandang matanya kurang ajar dan dia berani tersenyum-senyum penuh arti......"
Pangeran itu memandang kepada isterinya.
"Keparat itu memang kurang ajar sekali. Pandang matanya dan senyumnya itu jelas menjadi tanda bahwa dia mengajak main gila! Dikiranya wanita macam apa aku ini! Maka aku memberitahu suamiku dan dia lalu diusir."
Mendengar keterangan suami isteri itu, Pek Hong mengangguk-angguk lalu ia bangkit berdiri.
"Terima kasih banyak atas semua keterangan Paman, Bibi, dan Kanda Cin Han. Sekarang aku mohon diri, hendak kembali ke rumah Paman Thio Ki."
Pangeran Cin Boan, isterinya dan puteranya mencoba untuk menahannya, akan tetapi Pek Hong mengucapkan terima kasih.
"Biarlah lain kali saja kita berjumpa lagi. Sekarang aku harus kembali ke sana menemui Siang In."
Keluarga pangeran itu mengantar Pek Hong sampai ke pintu depan. Thio Ki, Miyana dan Siang In menyambut kedatangan Pek Hong dan Siang In segera menggandeng tangan Pek Hong, diajak masuk.
"Pek Hong bagaimana hasilnya? Benarkah mereka yang mendalangi semua itu?"
Siang In bertanya ketika mereka berempat sudah berada di ruangan dalam. Pek Hong tersenyum.
"Sabar dulu, Siang In. Penyelidikanku belum tuntas. Sekarang, aku harap Paman Thio Ki dun Bibi Miyana suka berterus terang kepadaku karena jawaban yang jujur dari Paman berdua mungkin akan dapat membawa kita kepada dalang perampokan ini."
"Aih, Pek Hong. Kenapa malah kami yang harus menjawab dengan jujur?"
Tanya Miyana heran.
"Ya, Pek Hong. Seolah kami yang akan kau selidiki?"
Kata pula Thio Ki penasaran.
"Tenanglah, Paman dan Bibi. Percayalah padaku dan harap suka jawab sejujurnya pertanyaanku ini. Paman, pengawalmu yang bernama Bhe Liang itu, apakah pekerjaannya di sini baik-baik saja?"
Thio Ki memandang heran dan mengangguk.
"Ya, pekerjaannya cukup baik. Beberapa kali dia mengawal kiriman barang dan tidak pernah gagal. Juga dia memiliki ilmu silat yang cukup tangguh. Julukannya sebagai Twa-to agaknya cukup dikenal oleh golongan sesat sehingga pengawalannya tidak pernah diganggu.
"Apakah dia tidak pernah melakukan sesuatu yang tercela?"
"Kurasa tidak."
"Dan Paman tidak pernah memarahinya karena suatu tindakan yang tercela?"
Thio Ki menggeleng kepala.
"Seingatku tidak. Akan tetapi apa maksudmu dengan semua pertanyaan itu?"
"Nanti kujelaskan, Paman. Sekarang aku ingin mengajukan pertanyaan kepada Bibi Miyana dan kuharap Bibi akan menjawab sejujurnya dan jangan menyembunyikan sesuatu."
Miyana mengerutkan alisnya dan wajahnya yang masih cantik itu tampak tegang.
"Tanyalah, Pek Hong!"
"Begini, Bibi. Apakah Bhe Liang itu pernah berbuat atau bersikap yang tidak wajar terhadap Bibi?"
Miyana membelalakkan matanya.
"Tidak wajar? Apa...... apa maksudmu?"
"Hemm, misalnya dia melakukan sesuatu atau bersikap yang tidak sopan atau kurang ajar terhadap Bibi."
Miyana menundukkan mukanya yang berubah merah dan sejenak ia diam saja.
"Ibu, jawablah pertanyaan Pek Hong sejujurnya. Percayalah, ia bermaksud baik, Ibu."
Miyana kembali memandang kepada suaminya dan Thio Ki yang kini menduga tentu ada apa-apa yang hendak dikatakan isterinya, ia berkata.
"Benar, Miyana. Ceritakan saja apa yang telah terjadi dengan sejujurnya."
Setelah Miyana menghela napas panjang beberapa kali, ia berkata.
"Memang pernah beberapa kali dia bersikap kurang ajar kepadaku, merayuku. Mula-mula aku tidak perduli, akan tetapi ketika dia semakin berani, malah pernah memegang tanganku, aku menjadi marah dan memaki-makinya."
"Keparat!"
Bentak Siang In.
"Kuhajar jahanam itu!"
"Nanti dulu Siang In. Bersabarlah,"
Kata Pek Hong, lalu ia menoleh kepada Miyana yang kini menundukkan mukanya.
"Bibi, mengapa Bibi tidak melaporkan kekurang-ajaran itu kepada Paman Thio Ki?"
Miyana memandang suaminya yang juga memandang kepadanya dengan alis berkerut.
"Ketika peristiwa itu terjadi, engkau belum pulang Siang In. Kalau ada engkau, pasti langsung kuberitahukan kepadamu. Akan tetapi engkau tidak ada dan aku takut memberitahukan hal itu kepada Ayahmu. Bhe Liang itu orangnya menyeramkan dan kabarnya dia lihai sekali. Aku takut kalau kuberitahukan Ayahmu, mereka berkelahi dan Ayahmu akan celaka di tangannya......"
"Terima kasih, Bibi. Sekarang jelaslah sudah. Paman dan Bibi, dan Siang In, ketahuilah. Aku telah melakukan penyelidikan kepada Paman Pangeran Cin Boan sekeluarga, akan tetapi tidak ada tanda-tandanya mereka mendalangi perampokan itu. Pangeran Cin Boan terlalu baik hati untuk melakukan kekejaman itu. Bahkan dia tidak ingin menuntut Paman Thio untuk membayar barang-barangnya yang dirampok. Akan tetapi aku mendapatkan keterangan penting. Ketika Bhe Liang menjadi pengawal mereka, jahanam itu pun pernah bersikap kurang ajar kepada isteri Paman Pangeran sehingga dia dipecat dan diusir. Dan sekarang dia pula yang memberi kabar yang mendalangi perampokan adalah Pangeran Cin Boan! Jelas bahwa dia hendak membalas dendam kepada Pangeran Cin Boan karena pernah memecat dan mengusirnya, dan juga membalas dendam kepada keluarga ini karena Bibi Miyana pernah memakinya dan menolak rayuannya. Jadi, mudah diduga siapa kira-kira yang mendalangi perampokan ini, bukan?"
Siang In bangkit berdiri.
"Jahanam, kuhajar dia!"
Pek Hong juga bangkit dan memegang lengan Siang In.
"Siang In, tenanglah, jangan menuruti nafsu amarah. Kalau engkau emosi lalu membunuhnya, akan sukarlah bagi kita untuk menemukan kembali barang-barang yang dirampok itu. Mari kita cari dia dan kita paksa dia mengakui perbuatannya dan memberitahu di mana adanya barang-barang rampokan itu. Paman, di manakah kami dapat menemukan jahanam itu?"
"Rumahnya tak jauh dari sini. Dia tidak mau tinggal di sini dan menyewa rumah sendiri, rumah kecil di sebelah kiri dari rumah ini. Biar pelayan mengantar kalian ke sana."
Dua orang gadis itu lalu pergi menuju rumah sewaan Bhe Liang, diantarkan seorang pelayan.
Setelah tiba di luar rumah itu, Siang In menyuruh pelayan itu pulang.
Lalu mereka berdua menghampiri pintu depan rumah itu dan mengetuknya.
Daun pintu dibuka dari dalam dan Bhe Liang yang tinggi besar dan bermata lebar melotot itu muncul di ambang pintu.
Dia membelalakkan kedua matanya yang lebar ketika melihat dua orang gadis cantik jelita berdiri di depannya.
Karena pada dasarnya dia seorang mata keranjang dan dia mengandalkan ketangguhannya sehingga membuat dia berani, melihat sepasang gadis cantik jelita itu dia menyeringai lebar sehingga tampak giginya yang besar-besar menguning.
"Heh-heh, nona-nona manis, kalian mencari aku?"
Tiba-tiba dari dalam muncul pula seorang wanita muda yang wajahnya menor, seperti topeng dibedak dan digincu tebal, dengan lagak genit berkata.
"Orang she Bhe, dengan aku pun engkau belum membayar sekarang sudah mendatangkan dua orang pelacur lain?"
"Plak-plakk!"
Bhe Liang terhuyung ke dalam dan wanita itu menjerit dan terpelanting roboh.
Ia menangis memegangi pipinya yang bengkak, lalu ia berlari keluar dari pintu sambil menangis.
Sementara itu, Bhe Liang marah bukan main, memandang Siang In yang tadi menampar dia dan pelacur langganannya.
Darah mengalir dari ujung bibirnya dan sepasang matanya yang lebar itu kini melotot.
Hampir dia tidak percaya ada seorang gadis berani menamparnya!
"Keparat!
Berani engkau memukul aku?"
Bentaknya dan sambil mengeluarkan gerengan menyeramkan dia mengembangkan kedua lengannya yang panjang, lalu menerjang Siang In dengan terkaman karena dia hendak mendekap gadis cantik yang berani menamparnya itu.
"Wirrrr...... plakk!"
Tangan Siang In sudah menyambar dengan cepat sekali, menampar pundak Bhe Liang.
Seperti disambar petir tubuh Bhe Liang terpental dan terputar, lalu dia jatuh terpelanting.
Bhe Liang merangkak bangkit.
Hampir dia tidak dapat percaya.
Dia tadi menyerang akan tetapi tahu-tahu pundaknya seperti dihantam palu godam yang amat kuat.
Rasanya nyeri menyusup tulang!
Bagaimana mungkin ini?
Dia adalah seorang laki-laki perkasa yang sukar dicari tandingannya di kota Kang-cun.
Akan tetapi kini menghadapi seorang gadis muda dia seperti menjadi seorang anak kecil yang tidak berdaya!
Tentu saja dia menjadi penasaran dan menganggap kejadian tadi hanya kebetulan saja.
Bagaimanapun juga, dia menyadari bahwa gadis cantik ini bukan seorang yang lemah.
Maka setelah dapat bangkit berdiri, Bhe Liang lalu mencabut golok besarnya, senjatanya yang amat diandalkan dan yang selama ini mengangkat namanya sebagai jagoan dengan julukan Si Golok Besar.
Begitu dicabut, dia memutar-mutar golok yang besar, berat dan mengkilap tajam itu di depan tubuhnya dengan wajah bengis mengancam.
"Perempuan jahanam, kini mampuslah!"
Dia membentak dan tiba-tiba dia menerjang maju, goloknya menyambar ke arah leher Siang In dengan cepat dan kuat.
Akan tetapi bagi Siang In yang kini telah memiliki ilmu kepandaian tinggi setelah selama setahun digembleng ayah kandungnya, gerakan hebat itu tampak lamban dan hanya merupakan serangan ringan saja.
Ia miringkan tubuh ke kiri.
Ketika golok menyambar lehernya ia merendahkan tubuhnya dan golok itu menyambar lewat atas kepalanya.
Pada saat itu kakinya mencuat dan menendang perut Bhe Liang.
Tentu saja ia membatasi tenaganya karena ia tidak ingin membunuh orang itu.
"Wuuuttt...... ngekk!!"
Tubuh Bhe Liang terjengkang dan sebuah tendangan menyusul, mengenai pergelangan tangan kanan dan goloknya terlepas dan terlempar.
Sekali ini Bhe Liang tidak dapat menahan rasa nyeri dalam perutnya.
Agaknya usus buntunya terkena tendangan, rasanya mulas dan nyeri bukan main.
Dia pun tidak tahan sehingga mengaduh-aduh sambil memegangi dan menekan-nekan dengan kedua tangan.
Dia bangkit berjongkok dan kini dia menjadi ketakutan.
Sadar sepenuhnya bahwa dia berhadapan dengan seorang lawan yang sakti dan amat tangguh!
"Aduh......
aduh......
Nona, mengapa Nona menyerangku?
Apa kesalahanku kepadamu?"
Dia mengeluh.
"Manusia busuk Bhe Liang! Apa yang kauketahui tentang perampokan terhadap barang-barang Ayahku? Hayo jawab!"
Siang In membentak.
Bhe Liang terkejut dan terheran.
Ketika dia bekerja pada perusahaan Thio Ki, Siang In tidak berada di rumah.
Dia sudah mendengar bahwa Thio Ki mempunyai seorang anak perempuan yang lihai, akan tetapi dia tidak percaya dan menertawakan.
Selihai-lihainya, apa sih yang dapat dilakukan seorang gadis?
Dan kini gadis yang amat tangguh ini, yang dapat merobohkan dia yang memegang goloknya hanya dalam satu gebrakan, tadi menyebut Thio Ki sebagai Ayah!
"Nona......
Nona......
siapakah?"
Kini Pek Hong Niocu yang menjawab setelah tertawa mengejek.
"He-he-he, cacing lumpur! Buka matamu lebar-lebar, juga telingamu! Gadis ini adalah puteri Paman Thio Ki yang bernama Thio Siang In dan berjuluk Ang Hwa Sian-li. Nah, cepat menjawab pertanyaannya tadi. Apa yang kau ketahui tentang perampokan terhadap barang-barang Paman Thio Ki?"
"Saya...... saya tidak tahu apa-apa......"
Bhe Liang yang sekarang mati kutu dan kehilangan kegarangannya itu berkata dengan muka masih menyeringai menahan rasa mulas di perutnya.
"Dengar, Cacing!"
Bentak Pek Hong Niocu.
"Engkau mendendam kepada Pangeran Cin Boan karena dipecat dan diusir! Kemudian engkau mendendam kepada Paman Thio Ki karena engkau menggoda isterinya akan tetapi engkau ditolak dan dimaki-maki! Maka, lalu mengatur perampokan itu, bukan?"
"Tidak......! Tidak......!"
Kata, Bhe Liang, akan tetapi mukanya menjadi pucat dan tubuhnya yang tinggi besar itu menggigil.
"Hayo mengaku, di mana barang-barang rampokan itu?"
Pek Hong membentak. Bhe Liang menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Saya...... saya tidak...... tahu...... saya tidak tahu......"
"Pek Hong, bangsat seperti ini sebaiknya dicokel kedua matanya agar jangan berbohong!"
Siang In berkata, sengaja untuk mengancam pengawal Ayahnya itu. Tentu saja Bhe Liang menjadi ketakutan mendengar ancaman ini.
"Ampun, Nona...... ampun, saya tidak bersalah...... saya tidak tahu......!"
Pek Hong Niocu menggerakkan jari tangan kanannya dua kali, cepat sekali.
"Tuk! Tuk!"
Jari tangan itu telah menotok kedua pundak Bhe Liang, di kanan kiri leher.
"Aduhh......! Ahhh, ampun...... aduuuhhh""!"
Tubuh Bhe Liang bergulingan di atas lantai.
Kedua tangannya menekan seluruh tubuhnya yang terasa nyeri semua, seperti ditusuk-tusuk jarum.
Kakinya, lengannya, perutnya, dadanya, bahkan kepalanya.
Dia mengaduh-aduh, bergulingan, bangkit dan rebah kembali, mulutnya minta-minta ampun, seluruh tubuh menggigil saking nyerinya, kiut-miut rasanya seluruh tubuh, terutama kepalanya yang rasanya hendak pecah.
Keringat dingin sebesar kedele memenuhi muka dan lehernya dan wajahnya menjadi pucat sekali.
Dia menggigit bibirnya yang sudah berdarah sambil mendengus-dengus dan merintih-rintih, napasnya terengah-engah.
"Kalau engkau tidak mau mengaku, kami akan membiarkan engkau tersiksa begini sampai mampus!"
"Aduh...... ampun, Nona...... ampun, saya tidak berani lagi......!"
Siang In melihat sebuah arca singa di sudut ruangan itu, arca sebesar kepala orang. Diambilnya arca itu dan dibawanya ke depan Bhe Liang.
"Lihat, engkau masih belum mau mengaku?"
Gadis itu lalu menampar arca yang berada di atas telapak tangan kirinya.
"Pyarrr......!"
Arca itu pecah dan kedua tangannya mengambil beberapa pecahan arca lalu sekali meremas, pecahlah batu itu hancur menjadi tepung! Bhe Liang terbelalak melihat ini. Wajahnya pucat sekali.
"Jawab, mau tidak engkau mengaku!"
Bentak Siang In.
"Mau...... mau...... ampunkan saya......"
Pek Hong menepuk kedua pundaknya dan rasa nyeri itu pun tak terasa lagi oleh Bhe Liang.
Dia jatuh terduduk dan menggunakan kedua tangannya untuk mengelus pundaknya.
Kedua matanya masih basah karena tadi tanpa terasa dia menangis saking nyerinya.
Dia menghela napas berulang-ulang.
"Duduk dan ceritakan semua!"
Bentak Siang In.
Bhe Liang benar-benar mati kutu karena kini dia tahu bahwa dua orang gadis yang wajahnya serupa ini keduanya ternyata memiliki kesaktian hebat.
Dia bangkit dan duduk di atas sebuah kursi, dihadapi dua orang gadis yang berdiri dengan sinar mata mencorong.
"Saya...... saya memang merasa sakit hati kepada Pangeran Cin Boan karena saya dipecat dan diusir. Juga saya merasa sakit hati kepada Thio-twako karena...... karena......"
"Hayo bicara terus terang!"
Siang In membentak lagi.
"Karena...... isterinya menghina dan memaki saya......"
"Engkau berani menggoda Ibuku? Kamu anjing babi, wajahmu buruk seperti monyet hatimu seperti iblis begini berani menggoda Ibuku? Kau layak mampus!"
Siang In yang marah sekali mengayun tangan memukul kepala Bhe Liang, akan tetapi Pek Hong cepat menangkap lengannya.
"Siang In, ingat, kita masih membutuhkan monyet ini."
Siang In teringat, lalu membentak Bhe Liang yang sudah begitu ketakutan sehingga tubuhnya menggigil lagi seperti kedinginan.
"Hayo lanjutkan keteranganmu. Awas, kalau berani berbohong, kucokel keluar matamu!"
"Baik, Nona. Ampunkan saya. Ketika Thio-twako sendiri mengawal barang-barang berharga, apalagi di situ terdapat titipan barang Pangeran Cin Boan, saya lalu menghubungi teman-teman saya dan...... dan mereka melakukan penghadangan dan perampokan itu......"
"Hemm, siapa pemimpin perampokan itu?"
"Seorang pemuda yang baru saya kenal melalui teman-teman, namanya Kui Tung."
"Di mana barang-barang itu?"
Tanya Siang In.
"Sekarang disembunyikan di kuil tua yang kosong, di kaki bukit di luar kota ini. Sengaja dibawa ke dekat kota ini agar jangan ada yang menduga."
"Kuil tua di kaki bukit sebelah utara kota itu?"
Tanya Siang In.
"Betul, Nona."
"Hayo antar kami ke sana! Sekarang juga!"
Bentak Pek Hong.
Bhe Liang yang sudah ketakutan itu tidak berani membantah.
Dia bangkit berdiri dan diikuti oleh dua orang dara perkasa itu, dia berjalan keluar kota melalui pintu gerbang utara.
Mereka bertiga berjalan cepat ke arah bukit kecil yang tak jauh dari situ.
Bukit ini sunyi karena tidak berada di tepi jalan raya.
Setelah dekat, sudah tampak sebuah bangunan kuil yang sudah tua dan tak terpakai lagi.
Setelah mereka tiba di depan kuil, tiba-tiba, pada saat dua orang tadi mencurahkan perhatian pada kuil tua, Bhe Liang melompat ke depan dan berlari ke arah kuil sambil berteriak.
"Kawan-kawan, awas! Musuh datang......!"
"Tikus busuk!"
Siang In memaki dan sekali tangan kirinya bergerak mendorong ke arah orang yang melarikan diri itu, tubuh Bhe Liang terguling dan dia tidak mampu bergerak lagi.
Tewas!
Pukulan jarak jauh Siang In itu memang dahsyat bukan main dan ini membuktikan betapa kini Siang In telah memiliki tenaga sakti yang amat kuat.
Dua orang gadis itu lalu melompat dengan ringan memasuki kuil yang bagian depannya terbuka itu.
Kuil itu sudah tua dan dindingnya sudah banyak yang runtuh.
Akan tetapi masih bersih dan pintunya yang menuju ke bagian dalam masih berkosen kokoh walaupun tidak berdaun lagi.
Dari bagian depan yang dulunya menjadi ruangan sembahyang, tampak bagian dalam melalui lubang pintu menganga itu.
Bagian dalam itu pun tampak bersih namun sunyi, tidak tam-pak seorang pun manusia!
"Hemm, tidak ada orangnya.
Mungkin tikus itu telah membohongi kita dan barang-barangnya tidak disimpan di sini."
"Hemm, kukira dia tidak akan berani. Pasti di sini bersembunyi teman-temannya maka dia berani membawa kita ke sini dan teriakannya tadi merupakan peringatan bagi teman-temannya agar membantunya dan menyerang kita. Akan tetapi heran, mengapa mereka tidak muncul?"
"Mari kita periksa ke dalam, Pek Hong."
"Mari, akan tetapi kita harus waspada dan hati-hati terhadap serangan gelap. Tempat ini terpencil, memang pantas untuk dijadikan tempat persembunyian para penjahat."
Dengan tenang namun waspada, dua orang gadis itu memasuki ruangan dalam melalui lubang pintu tanpa daun itu.
Ruangan sebelah dalam itu luas dan bersih dan di sudut sana barulah tampak tumpukan peti yang cukup banyak.
"Hemm, benar juga. Barang-barang itu disembunyikan di sini!"
Kata Siang In girang.
Mereka cepat menghampiri tumpukan peti itu dan mulai memeriksa dengan membuka tutup peti.
Ketika mereka membuka tutup dua buah peti dan melihat bahwa peti itu memang berisi barang-barang dagangan berupa kain-kain, tiba-tiba terdengar suara hiruk pikuk di belakang mereka.
Mereka cepat membalikkan tubuh dan tampak debu mengepul dan suara tadi adalah turunnya sehelai daun pintu baja dari atas, menutup lubang pintu yang menyambung ruangan itu dengan ruangan depan tadi!
Mereka terjebak!
Kiranya kuil tua kosong itu kini dijadikan sarang penjahat yang memasang pintu rahasia.
Akan tetapi tentu saja dua orang dara perkasa itu tidak merasa gentar dan mereka menutupkan kembali dua peti itu dan bersikap menanti dengan waspada.
Tiba-tiba dua benda melayang masuk ke dalam ruangan itu.
Terdengar ledakan dan asap putih tebal mengepul memenuhi ruangan itu!
Bau yang keras menyengat memenuhi ruangan yang penuh asap itu.
Perlahan-lahan asap membubung dan keluar dari ruangan melalui atap.
Saking tebalnya asap, orang tak dapat melihat keadaan ruangan itu dan kalau ada orang di luar kuil melihat asap tebal membubung keluar dari atas kuil, tentu akan mengira bahwa di situ terjadi kebakaran.
Banyak orang berkumpul di ruangan depan dan ruangan belakang, dan mereka itu siap dengan senjata di tangan, menghadang kalau-kalau dua orang gadis itu dapat lolos melalui ruang belakang atau depan.
Akan tetapi tidak ada gerakan apa pun di dalam ruangan tengah yang dilempari bahan peledak yang mengandung pembius kuat yang membuat orang pingsan itu.
Mereka adalah gerombolan perampok yang diceritakan Bhe Liang sebagai teman-temannya kepada dua orang gadis itu.
Setelah asap meninggalkan ruangan itu melalui atap, mereka mengintai ke dalam dan bersorak melihat betapa dua orang gadis itu telah roboh, menelungkup di atas lantai ruangan itu, pingsan!
"Dua ekor ikan itu sudah terjaring!"
"Mereka sudah roboh pingsan!"
"Aduh, cantik-cantik bukan main!"
Ketika mereka membuka pintu yang menembus ruangan depan dan ruangan belakang lalu memasuki ruangan itu, menghampiri dua orang gadis yang menggeletak pingsan, tiba-tiba terdengar suara nyaring penuh wibawa yang menggetarkan.
"Kalian mundur semua! Siapa berani menyentuh tubuh dua orang gadis itu, akan kusiksa sampai mati. Mereka itu milikku! Hayo kalian keluar semua dan jaga di luar kuil. Jangan ada yang berani masuk kalau tidak kupanggil!"
Suara orang itu sungguh memiliki wibawa yang amat kuat.
Gerombolan itu sedikitnya ada tigapuluh orang dan mereka itu rata-rata bertubuh kekar dan berwajah bengis dengan sinar mata kejam.
Akan tetapi begitu mendengar suara itu, mereka tiba-tiba berhenti bergerak dan wajah mereka dicekam ketakutan, lalu mereka keluar dari ruangan itu sambil menundukkan muka, seperti gerombolan anak-anak yang takut kepada ayah atau guru yang galak dan yang menegur mereka karena perbuatan mereka yang salah.
Sebentar saja ruangan itu telah ditinggalkan semua anggauta gerombolan yang kini tinggal di luar kuil.
Ada yang duduk-duduk di depan kuil, ada pula yang melakukan penjagaan di belakang kuil di mana terdapat sebuah kereta kosong dan beberapa ekor kuda, dan ada pula yang berjaga di kanan kiri kuil.
Kuil itu telah dikepung penjagaan mereka.
Ruangan di mana dua orang gadis itu rebah menelungkup kini sudah bersih dari asap putih.
Seorang laki-laki memasuki ruangan itu dari pintu yang menembus ruangan belakang.
Dia seorang pemuda yang usianya sekitar duapuluh tujuh tahun.
Tu-buhnya jangkung kurus, langkahnya dibuat gagah dengan dada dibusungkan.
Akan tetapi karena tubuhnya memang kerempeng maka lagak gagah itu malah tampak lucu.
Wajahnya sebetulnya tampan juga, akan tetapi karena bentuk mukanya agak panjang ke depan seperti muka seekor kuda, maka ketampanannya juga lucu.
Sepasang matanya sipit dengan sinar mata mencorong, bola matanya bergerak liar ke kanan kiri.
Hidungnya mancung dihias kumis tipis.
Mulutnya cemberut seperti orang marah.
Yang aneh adalah pakaiannya.
Pakaian itu ringkas dan bentuknya seperti pakaian yang biasa dipakai pendekar silat, akan tetapi pakaian itu terbuat dari kain yang ditambal-tambal, padahal kainnya bersih dan tampak baru!
Jelas bahwa tambal-tambal itu bukan dilakukan karena pakaiannya sudah robek, melainkan pakaian baru yang sengaja, ditambal-tambal dengan kain yang kembang dan warnanya berlainan sehingga tampak ramai dan aneh.
Di punggungnya terselip sebatang tongkat hitam.
Biarpun pakaiannya bermodel pakaian pengemis, namun orang ini pesolek sekali.
Rambutnya mengkilat karena diminyaki, digelung ke atas dan diikat dengan pita sutera merah.
Seuntai kalung emas tergantung di lehernya.
Sepatu botnya dari kulit hitam mengkilat dan baru.
Pendeknya, dia tampak seperti seorang pengemis aneh yang pesolek dan sama sekali tidak mencerminkan kemiskinan.
Pemuda aneh ini memasuki ruangan lalu berdiri memandang kepada dua orang gadis yang rebah menelungkup.
Lalu dia bicara lirih seperti berbisik.
"Bukan main! Tubuh dua orang gadis yang denok, ramping dan padat, seperti dua kuntum bunga yang sedang mekar!"
Dia memandang kagum kepada tubuh belakang dua orang gadis itu yang memang denok dan indah.
Tubuh dua orang gadis yang sedang dewasa dan karena sejak kecil selalu berlatih olah raga silat, maka tentu saja bentuk tubuh itu indah dan padat.
Akan tetapi agaknya pemuda ini hendak memperlihatkan bahwa dia bukan orang yang mudah terpikat tubuh wanita indah, maka dia menghampiri dan membungkuk lalu mendorong tubuh Pek Hong dan Siang In sehingga kini tubuh mereka telentang dan tampak jelas tubuh bagian depan yang lebih indah lagi, dan wajah mereka yang cantik jelita dan sama.
Kini sepasang mata yang sipit itu dibelalakkan, walaupun tetap saja sipit.
"Amboi......! Mimpi apa aku semalam? Belum pernah selama hidupku melihat dua orang gadis yang begini cantik jelita dan sama pula! Kui Tung......, sekali ini engkau memang beruntung bukan main!"
Akan tetapi sebelum dia melakukan sesuatu yang sudah pasti amat keji, tiba-tiba sesosok bayangan berkelebat dan tahu-tahu di situ sudah berdiri seorang pemuda!
Masuknya pemuda ke dalam ruangan itu sungguh mengejutkan hati pe-muda muka kuda bernama Kui Tung itu dan dia cepat melompat ke belakang.
Mereka saling berhadapan, saling pandang dengan sinar mata mencorong dan penuh selidik.
Pemuda yang baru muncul ini berusia duapuluh tiga tahun, bertubuh sedang dan tegap.
Wajahnya bulat dengan kulit putih.
Alis matanya hitam tebal berbentuk golok, hidungnya mancung dan mulutnya selalu tersenyum sinis.
Matanya mencorong aneh.
Rambutnya dikucir dan pakaiannya mewah.
Kui Tung merasa heran sekali.
Dia tahu bahwa kuil itu sudah dikepung dengan ketat dan dijaga anak buahnya yang jumlahnya lebih dari tigapuluh orang.
Akan tetapi bagaimana mungkin orang ini masuk ke ruangan itu tanpa diketahui anak buahnya?
Akan tetapi kemarahannya lebih besar dari keheranannya.
Dia marah karena merasa terganggu sekali.
Maka, menurutkan wataknya yang selalu mengagulkan diri sendiri dan memandang rendah orang lain, tanpa bertanya lagi dia lalu menerjang maju dengan pukulan kuat yang mengandung sin-kang (tenaga sakti) yang dahsyat.
Namun dengan tidak kalah cepatnya pemuda tampan itu bergerak, mengelak dan cepat membalas dengan serangan tamparan ke arah kepala Kui Tung.
Si Muka Kuda ini terkejut bukan main karena gerakan lawan sungguh aneh dan hebat.
Dia dapat merasakan sambaran angin pukulan dahsyat itu, maka cepat dia melompat ke samping sambil mencabut tongkat hitam yang terselip di pungungnya!
Kemudian dia mainkan tongkat itu seperti orang bermain pedang dan tongkat itu sudah berubah menjadi gulungan sinar yang menyambar-nyambar dahsyat!
Akan tetapi alangkah herannya ketika dia melihat lawan itu dapat menghindarkan diri dari semua serangannya.
Tongkatnya itu sebetulnya merupakan pedang yang disembunyikan dalam tongkat bambu agar lebih tepat dibawa seorang berpakaian pengemis.
Dia memainkan ilmu pedang simpanannya, namun hebatnya, pemuda itu seolah mengenal baik semua gerakannya sehingga dapat menghindarkan diri dengan amat mudahnya.
Kui Tung mengeluarkan jurus-jurus terampuh dari ilmu silatnya.
Ilmu silatnya adalah ciptaan gurunya sendiri, bukan merupakan ilmu dari aliran yang mungkin dipelajari banyak orang.
Akan tetapi alangkah herannya ketika lawannya itu mampu menghindarkan diri dan bahkan ketika lawannya itu membalas dengan serangan-serangan yang dahsyat, dia mengenal bahwa lawannya juga menggunakan ilmu yang sama!
"Hei......!
Ini......
ini ilmuku......!"
Kui Tung berseru.
Pada saat itu, sebuah tendangan dari lawannya menyambar.
Sebetulnya Kui Tung mengenal jurus tendangan ini karena sama dengan ilmu yang selama puluhan tahun dia pelajari, akan tetapi datangnya tendangan itu demikian cepatnya sehingga perutnya terkena tendangan.
Cepat dia melindungi perutnya dengan tenaga saktinya.
"Wuuutt...... bukkk!!"
Biarpun perutnya sudah terlindung tenaga sakti dan tidak terluka, namun tenaga tendangan yang kuat itu membuat tubuhnya terlempar menabrak dinding ruangan itu sehingga jebol.
Biarpun tidak terluka, namun tetap saja Kui Tung merasa kepalanya agak pening.
Cepat dia bangkit dan memandang pemuda tampan itu dengan terheran-heran.
"Siapakah engkau? Mengapa engkau mengenal ilmu silatku?"
Pemuda itu tersenyum lebar dan pandang matanya mengejek.
"Hemm, engkau tentu murid Lam-kai (Pengemis Selatan) Gui Lin, betulkah?"
"Engkau mengenal Suhu? Memang benar, aku murid Suhu Lam-kai Gui Lin, namaku Kui Tung. Engkau siapakah?"
"Namaku Can Kok."
"Ah, aku pernah mendengar tentang dirimu! Bukankah engkau yang menjadi murid Empat Datuk Besar. Lam-kai Gui Lin adalah seorang di antara Empat Datuk Besar. Pantas engkau menguasai ilmu yang kupelajari darinya! Kalau begitu, di antara kita masih ada hubungan seperguruan! Biarpun ilmu kepandaianmu lebih tinggi daripada aku, namun karena aku lebih dulu menjadi murid Lam-kai, dan usiaku juga lebih tua daripada usiamu, maka aku adalah suhengmu dan engkau adalah Suteku."
"Huh, engkau bukan Suhengku (Kakak seperguruanku)! Kalau aku tadi tidak mengenal ilmu silatmu, tentu sekarang engkau telah menjadi mayat! Kui Tung, kalau engkau ingin berteman dengan aku, engkau harus menyebut aku Tai-hiap (Pendekar Besar), karena aku adalah Bu-tek Tai-hiap Can Kok (Pendekar Besar Tanpa Tanding Can Kok)! Kalau engkau tidak mau, pergi dari sini sebelum kubunuh!"
Kui Tung merasa penasaran sekali.
Pemuda ini begitu sombongnya!
Akan tetapi Kui Tung adalah seorang yang cerdik.
Dia tahu betul bahwa Can Kok adalah seorang yang Iihai bukan main, bahkan menurut cerita gurunya yang baru-baru ini dia jumpai, murid Empat Datuk Besar ini tingkat kepandaiannya bahkan lebih tinggi daripada tingkat kepandaian Empat Datuk Besar!
Juga gurunya bercerita bahwa Can Kok kini menjadi orang sakti yang jalan pikirannya aneh karena otaknya guncang akibat penyatuan empat macam aliran tenaga dalam yang digabungkan.
Orang begini lihai sebaiknya kalau dijadikan kawan, bukan lawan!
"Ah, baiklah, Can-taihiap (Pendekar Besar Can)!
Lihat, aku telah dapat menangkap dua orang bidadari yang cantik molek.
Engkau boleh memiliki seorang dari mereka!"
Untuk mengambil hati kawan baru ini, Kui Tung menunjuk ke arah tubuh dua orang gadis yang masih menggeletak telentang di atas lantai ruangan itu.
Can Kok menyapu kedua tubuh gadis itu dengan pandang matanya yang aneh.
"Mereka ini mengapa?"
"Mereka adalah dua orang gadis yang lihai sekali dan mereka datang untuk merampas kembali barang-barang yang kami rebut dari tangan Pedagang Thio Ki dari kota Kang-cun, dan sebagian adalah barang-barang berharga milik Pangeran Cin Boan yang menjadi pembesar tinggi di kota itu. Dan selain engkau boleh memilih seorang di antara mereka berdua, engkau juga boleh memilih di antara barang rampasan ini, mana yang kau sukai, ambillah."
Can Kok tersenyum mengejek.
"Kui Tung, engkau memang tolol! Kalau aku menghendaki sesuatu, wanita atau benda apa saja, tidak perlu ditawarkan akan kuambil sendiri. Siapa yang berani melarang aku berbuat sesukaku? Dan ketololanmu yang kedua, Kui Tung, engkau menganggap dua orang gadis ini sudah tidak berdaya. Begitukah? Heh-heh-heh!"
"Apa maksudmu, Can-taihiap? Dua orang gadis ini memang sudah tidak berdaya, sedikitnya selama seperempat hari mereka akan tinggal pingsan karena mereka telah terbius oleh asap pembius kami yang amat manjur,"
Kata Kui Tung.
"Inilah yang membuktikan ketololanmu! Aku sama sekali tidak melihat mereka berdua itu terbius atau pingsan! Sejak tadipun mereka itu tidak apa-apa. Engkau telah terkena tipu mereka, Kui Tung!"
"Ah, benarkah itu, Taihiap?"
Kui Tung membelalakkan kedua matanya.
"Tidak percaya, perhatikan ini!"
Can Kok menendang sebuah kursi dan benda itu melayang cepat ke arah tubuh dua orang gadis yang rebah telentang itu.
"Wuuttt...... krekkk!"
Kursi itu hancur berkeping-keping ketika Siang In, yang rebah terdekat, tiba-tiba melompat bangkit dan sekali tangan kirinya bergerak menghantam, kursi itu pun hancur berantakan!
Pek Hong juga sudah melompat bangkit dan berdiri di samping Siang In.
Mereka berdua tersenyum mengejek.
Kedua orang dara perkasa ini memang sama sekali tidak pingsan!
Ketika terjadi ledakan dan asap putih tebal memenuhi ruangan, mereka berdua cepat bertiarap.
Kedua gadis ini adalah gadis-gadis yang sudah banyak pengalaman menghadapi penjahat-penjahat dan mereka berdua tahu akan bahayanya asap beracun itu.
Mereka tahu bagaimana cara mengatasinya.
Bisa saja mereka menerjang keluar untuk menghindarkan diri dari serangan asap pembius itu.
Akan tetapi mereka ingin melihat kemunculan para penjahat yang telah merampok harta benda Thio Ki dan Pangeran Cin Boan, ingin tahu siapa yang menjadi pemimpin.
Kalau menerjang keluar, besar kemungkinan pimpinan gerombolan akan melarikan diri.
Maka mereka cepat merebahkan diri menelungkup.
Mereka tahu bahwa asap pasti akan membubung ke atas sehingga tidak akan tersedot oleh mereka karena mereka menelungkup dan hidung mereka berada di bawah menempel pada lantai.
Biarpun begitu, mereka menahan napas dan meniup dari mulut mereka untuk mengusir kalau-kalau ada asap mendekat.
Sebagai seorang yang sudah mahir olah pernapasan, tentu saja dua orarg gadis ini mampu menahan napas jauh lebih lama daripada orang biasa.
Setelah asap menghilang dan ketika gerombolan itu menyerbu masuk, mereka sudah hendak bergerak menyambut.
Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara Kui Tung melarang dan para anak buah gerombolan itu keluar dari ruangan.
Mereka menanti, hendak melihat siapa pemimpin mereka.
Ketika Kui Tung masuk dan membalikkan tubuh mereka sehingga telentang, mereka masih pura-pura pingsan, walaupun tangan mereka sudah gatal-gatal untuk turun tangan membekuk pimpinan gerombolan itu.
Akan tetapi tiba-tiba muncul pemuda tampan bernama Can Kok itu.
Mereka berdua menonton perkelahian itu dan diam-diam terkejut.
Orang yang bernama Kui Tung dengan tongkatnya itu sudah hebat sekali kepandaiannya, namun yang datang belakangan, yang mengaku bernama Can Kok, ternyata lebih lihai lagi!
Tahulah mereka bahwa mereka menghadapi orang orang yang tangguh.
Apalagi ketika mereka melihat kedua orang pemuda itu kini berteman, berarti mereka harus menghadapi dua orang pemuda lihai itu.
Mereka juga terkejut ketika mereka menyebut nama Lam-kai dan Empat Datuk Besar.
Lebih kaget lagi ketika ternyata Can Kok mengetahui bahwa mereka hanya pura-pura pingsan dan menendang kursi untuk memaksa mereka bangkit!
Kini Pek Hong Niocu dan Ang Hwa Sian-li berdiri tegak berhadapan dengan dua orang pemuda itu.
Mereka berempat saling beradu pandang mata, seolah hendak mengukur kekuatan lawan melalui pandang mata mereka.
Dua orang dara perkasa itu melihat betapa pandang mata pemuda yang bernama Can Kok itu luar biasa sekali.
Mencorong seperti mata kucing dalam kegelapan, namun bergerak-gerak aneh dan menyeramkan, tidak wajar dan seperti mata orang yang miring otaknya.
Sementara itu, Can Kok juga memperhatikan mereka berdua dan dia merasa heran dan kagum.
"Bukan main!"
Katanya sambil tersenyum sehingga wajah yang tampan itu, kalau saja sinar matanya tidak begitu aneh menyeramkan, tampak menarik.
"Bagaimana mungkin ada dua orang wanita yang begini sama kecuali kalau mereka kembar! Hei, Nona berdua, kalian tadi sudah mendengar nama kami. Kui Tung ini adalah murid Lam-kai Gui Lin, datuk besar selatan. Dan aku Can Kok adalah seorang yang telah menguasai semua ilmu dari Empat Datuk Besar! Nah, sekarang katakan, siapa nama kalian?"
Biarpun wataknya aneh dan dia pun terpesona oleh kecantikan dua orang gadis itu, namun dia tetap bersikap "sopan"
Dan lembut, tidak memuji kecantikan secara kasar seperti para pria yang ugal-ugalan.
Pek Hong Niocu yang tahu bahwa dua orang calon lawannya ini memang lihai, ingin pula menggertak mereka yang sudah memamerkan nama guru-guru mereka yang terkenal di dunia kang-ouw.
Ia tersenyum mengejek dan pandang matanya berkilat.
"Hemm, kalian murid-murid datuk sesat. Pantas kalian sebagai murid mereka juga menjadi penjahat-penjahat busuk! Kalian ingin tahu nama kami? Terlalu bersih nama kami untuk diperkenalkan kepada manusia-manusia busuk macam kalian. Ketahuilah saja bahwa aku dikenal sebagai Pek Hong Niocu dan ini adalah Ang Hwa Sian-li. Kami berdua adalah murid-murid Yok-sian Tiong Lee Cin-jin!"
Kui Tung yang sudah mendengar julukan dua orang gadis itu yang memang amat terkenal, terkejut bukan main.
Apalagi mendengar mereka murid Tiong Lee Cin-jin.
Mukanya menjadi pucat dan jantungnya berdebar tegang.
"Tai-hiap, Pek Hong Niocu ini adalah puteri Kaisar Kin!"
Bisiknya gentar kepada Can Kok.
Akan tetapi ketika Can Kok mendengar bahwa yang berdiri di depannya ini adalah dua orang murid Tiong Lee Cin-jin, tiba-tiba dia tertawa bergelak.
Dia digembleng oleh Empat Datuk Besar untuk mewakili mereka membunuh Tiong Lee Cin-jin dan kini, dua orang murid musuh besar itu berada di depannya!
Dia tertawa, akan tetapi bukan sembarang tawa karena dia mengerahkan sin-kang dalam tawanya itu dan dia menyerang dengan suara seperti yang diajarkan oleh See-ong Hui Kong Hosiang.
Dalam suara tawa itu terkandung hawa sakti bercampur kekuatan sihir yang memaksa orang yang mendengarnya tak dapat bertahan untuk tidak ikut terbawa, terseret pula ke dalam tawa.
Getaran yang terkandung dalam tawa Can Kok itu datang bergelombang, atau seperti angin topan yang amat kuat!
Yang segera terpengaruh adalah Kui Tung.
Walaupun murid Lam-kai ini juga seorang yang lihai dan dia memiliki sin-kang kuat yang sudah cepat dia kerahkan, namun tetap saja dia tidak mampu bertahan.
Pertahanannya seolah bobol dan dia pun segera tertawa-tawa, bahkan lebih terbahak-bahak dibandingkan tawa Can Kok.
Dia tertawa sampai terbongkok-bongkok menekan perutnya dan air matanya bercucuran!
Pek Hong dan Siang In, sebagai murid Tiong Lee Cin-jin yang dikenal sebagai manusia setengah dewa, tidak menjadi gentar atau gugup menghadapi serangan suara tawa yang dahsyat kekuatannya itu.
Mereka berdua segera menggunakan ilmu yang disebut Tho-hun (Sukma Tanah), yang sifatnya membiarkan diri menerima tanpa melawan seperti tanah, namun yang melarutkan segala yang menerjangnya.
Mereka berdua menghadapi angin topan seolah bersikap seperti rumput, lentur, lemas dan rendah sehingga biarpun tergoyang namun sama sekali tidak dapat dirusak.
Tubuh mereka bergoyang-goyang perlahan seperti menari, mata terpejam dan getaran dahsyat suara tawa itu lewat begitu saja.
Dalam puncak pertahanannya, Pek Hong bahkan dapat berkelakar dengan Siang In dan berkata.
"Lihat, dia tertawa-tawa seperti orang gila!"
Siang In menjawab.
"Memang otaknya miring!"
Mendengar ejekan ini, Can Kok menjadi marah sekali.
Mukanya berubah merah dan dia menghentikan tawanya.
Untung dia menghentikannya karena keadaan Kui Tung sudah payah.
Tubuhnya lemas karena tertawa terbahak-bahak tak dapat ditahan, air matanya bercucuran dan napasnya mulai memburu.
Kalau dibiarkan terus, tentu dari lubang telinga, hidung, mata dan mulutnya akan keluar darah dan kalau sudah terlalu parah, nyawanya tidak akan tertolong lagi!
Dia lalu duduk bersila untuk memulihkan tenaga dalamnya yang tadi dia kerahkan untuk melawan pengaruh suara dahsyat itu.
"Hei, orang she Can yang berotak miring. Engkau dapat tertawa, mengapa engkau sekarang tidak menangis?"
Siang In mengejek.
"Hemm, gadis-gadis sombong. Sebelum mati, berdoalah dulu kepada arwah nenek moyangmu karena kalian akan mati di tanganku!"
Mendadak Kui Tung berkata.
"Can-taihiap, sayang kalau dibunuh langsung. Bunga-bunga harum seperti ini, sebaiknya dinikmati dulu baru dibunuh!"
"Hemm, otakmu hanya penuh gairah yang membuat engkau lemah, Kui Tung. Akan tetapi akan kupertimbangkan usulmu itu!"
Siang In sudah marah sekali, akan tetapi Pek Hong menahan kesabarannya dan ia ingin sekali mengetahui mengapa murid-murid Lam-kai dan Empat Datuk Besar memusuhi dan bahkan hendak membunuh ia dan Siang In.
"Heh, monyet babi tikus kecoa cacing busuk!"
Ia memaki untuk memanaskan hati orang agar merasa terhina dan mau mengaku apa yang menyebabkan Can Kok memusuhinya.
"Dalam mimpi pun belum pernah aku dan Saudaraku ini bertemu dengan kamu. Mengapa kamu gila-gilaan ingin membunuh kami?"
Sepasang mata Can Kok seperti memancarkan kilat saking panas hatinya mendengar penghinaan itu.
"Mau tahu mengapa? Baik, akan kuberi tahu agar kalian tidak mati penasaran. Aku mewakili Empat Datuk Besar untuk membunuh Tiong Lee Cin-jin. Dia sudah kuanggap sebagai musuh besarku satu-satunya di dunia dan karena kalian adalah murid-muridnya, maka tentu saja kalian juga hendak kubunuh!"
Siang In tertawa, diikuti Pek Hong.
Mereka tertawa bebas seperti kebiasaan para wanita dalam dunia persilatan, bebas dan tidak malu-malu, namun mereka masih mengingat akan kesopanan maka mereka menggunakan tangan untuk menutupi mulut mereka yang tertawa.
Mereka merasa geli seolah mendengar lawakan badut.
"Heh-he-he-heh! Kunyuk (monyet) kecil macam kau ini hendak membunuh Yok-sian Tiong Lee Cin-jin? He-he-he! Melawan kami pun kamu tidak akan menang, bahkan kami yang akan membasmi dan mengirim kembali ke neraka jahanam dari mana kamu berasal!"
"Perempuan sombong!"
Can Kok berteriak, matanya liar dan menyeramkan, seperti mata singa marah.
Dia mengerahkan tenaga gabungan Empat Datuk Besar dan menekuk kedua lutut lalu mendorongkan kedua telapak tangannya ke arah dua orang gadis itu.
"Mampuslah kalian! Hyaaaaattt......!!!"
Pek Hong dan Siang In maklum akan kedahsyatan tenaga lawan.
Mereka sudah saling mengerti, seolah ada suatu hubungan batin yang amat erat sehingga secara otomatis tangan kiri Pek Hong bertemu dengan tangan kanan Siang In, lima buah jari tangan mereka saling cengkeram sehingga dua tenaga sakti mereka bertemu dan bergabung, lalu tangan kanan Pek Hong dan tangan kiri Siang In didorongkan dengan telapak tangan terbuka ke depan, menyambut pukulan jarak jauh yang dilontarkan dengan marah.
"Syuuuuttt...... blaarr ""!"
Pek Hong dan Siang In terpaksa mundur tiga langkah saking hebatnya tenaga serangan Can Kok.
Akan tetapi Can Kok juga terhuyung ke belakang.
Bukan main dahsyatnya tenaga Can Kok sehingga tenaga dua orang gadis gemblengan Tiong Lee Cin-jin yang digabungkan itu hanya lebih kuat sedikit.
Can Kok mengeluarkan suara tawa menyeramkan yang terdengar seperti suara tangis mengguguk.
Ini merupakan tanda bahwa Can Kok sedang dilanda kemarahan hebat!
Dia meraba punggungnya dan tampak sinar berkelebat menyilaukan mata ketika pedang Giam-ong-kiam (Pedang Raja Maut) yang sinarnya kemerahan telah tercabut.
"Huh, belum lecet kulitnya sudah mengeluarkan senjata!"
Pek Hong mengejek dan ketika dua tangannya bergerak, tangan kirinya sudah melolos sabuk sutera merah dan tangan kanannya memegang sebatang pedang bengkok bersinar emas.
"Siapa bilang dia orang gagah dan bukan pengecut?"
Kata pula Siang In me-ngejek dan ia pun sudah mencabut sepasang pedangnya yang bersinar kehitaman karena siang-kiam (sepasang pedang) ini beracun dan bernama Toat-beng Siang-kiam (Sepasang Pedang Pencabut Nyawa)!
Melihat dua orang gadis itu sudah mencabut senjata mereka, Can Kok lalu mengeluarkan suara mengaum seperti singa.
Itulah ilmu Sai-cu Ho-kang (Auman Singa) yang dia pelajari dari Tung-sai (Singa Timur) Kui Tong.
Auman atau gerengan yang amat kuat itu dapat menggetarkan jantung lawan sehingga kaki tangan lawan akan terasa lumpuh dan ketakutan.
Singa juga mempunyai wibawa seperti itu.
Kalau dia hendak menyerang calon korbannya, dengan mengaum seekor kelinci ataupun domba calon mangsanya menjadi lumpuh ketakutan sehingga akan mudah diterkamnya.
Auman yang dikeluarkan Can Kok ini pun hebat sekali, akan tetapi sama sekali tidak mampu menggoyahkan ketabahan hati Pek Hong dan Siang In.
Getaran auman itu lewat begitu saja tanpa mendatangkan akibat apa pun.
Selagi gema auman itu masih terpantul di empat penjuru dinding ruangan, Can Kok sudah menerjang ke depan dan sinar pedangnya menyambar ke arah dua orang gadis itu.
"Cringg......! Trangg""!!"
Bunga api berpijar terang ketika pedang Giam-ong-kiam di tangan Can Kok itu bertemu dengan pedang bengkok naga emas di tangan Pek Hong dan sepasang Toat-beng Siang-kiam di kedua tangan Siang In.
Setelah mereka tidak menggabungkan tenaga sin-kang mereka, dua orang gadis itu baru merasakan betapa kuatnya tenaga pemuda itu.
Senjata mereka terpental ketika bertemu pedang Can Kok dan tangan mereka tergetar.
Akan tetapi dua orang puteri Tiong Lee Cin-jin itu mendapat gemblengan ilmu-ilmu yang tinggi selama setahun dari ayah mereka sehingga kini tingkat kepandaian mereka menjadi jauh lebih tinggi daripada sebelumnya.
Pek Hong memang masih memainkan Sin-coa Kiamsut (Ilmu Pedang Ular Sakti) dibantu gerakan sabuk merahnya yang melecut-lecut ganas.
Juga Siang In masih memainkan ilmu pedang yang dulu, yaitu Toat-beng Siang-kiam-sut (Ilmu Pedang Pasangan Pencabut Nyawa).
Namun ilmu-ilmu mereka telah diperdalam dan disempurnakan di bawah bimbingan Tiong Lee Cin-jin sehingga menjadi lihai bukan main.
Kedua gadis ini mengamuk, bagaikan sepasang naga terbang menyambar-nyambar.
Senjata mereka berubah menjadi gulungan sinar.
Dua gulungan sinar kehitaman dari Toat-beng Sin-kiam berpadu dengan gulungan sinar merah sabuk sutera dan gulungan sinar emas pedang bengkok, mengepung dan menyerang Can Kok dari segala jurusan!
Can Kok yang berwatak tinggi hati dan menganggap diri sendiri sebagai seorang yang tanpa tanding itu, diam-diam menjadi terkejut bukan main.
Dia memutar pedangnya dan melakukan perlawanan mati-matian, mengeluarkan seluruh kemampuannya.
Namun, sinar pedangnya yang bergulung-gulung dan amat kuat itu menjadi terdesak juga oleh pengeroyokan empat sinar senjata lawan, yaitu sepasang pedang, sabuk dan pedang bengkok.
Gerakan dua orang gadis itu cepat bukan main sehingga Can Kok harus menjaga diri dengan sepenuh tenaga.
Setelah bertanding dengan seru selama kurang lebih limapuluh jurus, mulailah dia merasa bahwa kalau dilanjutkan, dia tidak akan dapat mengalahkan pengeroyokan dua orang gadis yang dapat bekerja sama amat baiknya.
Senjata mereka itu saling menunjang, saling memperkuat serangan, juga saling membantu meng gagalkan serangannya.
"Kui Tung, engkau masih enak-enak saja? Kawan macam apa engkau ini?"
Can Kok berseru marah.
Kui Tung sejak tadi hanya berdiri di sudut dan menjadi penonton.
Dia telah menghentikan latihan pernapasan dan tenaganya sudah pulih kembali.
Kalau dia hanya menonton, karena dia merasa yakin akan kelihaian Can Kok, dan bagaimanapun juga dia tidak jerih melihat kecepatan gerakan empat senjata dua orang gadis itu menyambar-nyambar.
Akan tetapi mendengar ucapan Can Kok, Kui Tung menyadari bahwa kalau dia tidak membantu dan Can Kok roboh oleh dua orang gadis itu, dia sendiri pasti tidak akan mendapat ampun karena dialah yang memimpin perampokan.
Maka dia lalu memutar tongkatnya dan terjun ke medan pertempuran sambil mengeluarkan suara bentakan nyaring.
Melihat Kui Tung maju, Siang In segera menyambut dengan sepasang pedangnya.
Ia membenci laki-laki ini yang dulu memimpin perampokan dan yang melukai ayahnya.
Sepasang pedangnya menyambar-nyambar ganas.
Akan tetapi Kui Tung bukan seorang lawan yang lemah.
Dia adalah murid Lam-kai, seorang di antara Empat Datuk Besar yang sejak dia kecil menggemblengnya sehingga ilmu kepandaiannya juga sudah mencapai tingkat tinggi.
Kui Tung cepat memutar tongkat yang berisi pedang menyambut sambaran sepasang pedang Siang In.
"Trang--tranggg......!"
Bunga api berpijar dan Kui Tung terhuyung ke belakang.
Ternyata dibandingkan Siang In, tenaga saktinya masih kalah kuat!
Akan tetapi cepat dia memutar tongkat pedangnya untuk melindungi tubuhnya dari serangan lawan.
Benar saja, Siang In yang melihat lawannya terhuyung, cepat menerjang dengan dahsyatnya.
Kembali terdengar suara nyaring dan tampak bunga api berpijar ketika Kui Tung menangkis.
Mereka lalu saling serang dengan mati-matian, dan betapapun lihainya Kui Tung, sekali ini dia bertemu lawan yang benar-benar lihai bukan main.
Perlahan-lahan dia mulai terdesak dan hanya mampu menangkis dan berloncatan ke sana-sini untuk menghindarkan diri dari sambaran sepasang pedang.
Dia terdesak hebat dan berada dalam bahaya.
Akan tetapi setelah ditinggalkan Siang In, Pek Hong yang harus menghadapi Can Kok seorang diri, merasa berat sekali.
Pemuda itu benar-benar amat lihai.
Kalau tadi berdua dengan Siang In dia mampu mendesak Can Kok, kini setelah Siang In menghadapi Kui Tung, Pek Hong menjadi kewalahan menghadapi desakan lawan.
Siang In yang menghadapi lawan lebih ringan, mendapat kesempatan untuk memperhatikan keadaan Pek Hong dan melihat Pek Hong terkadang terancam pedang Can Kok, ia pun melompat ke samping dan membantu.
Kalau dua orang gadis itu mendesak Can Kok, Kui Tung yang cepat membantu Can Kok.
Dengan demikian, terjadilah perkelahian empat orang dan ternyata kekuatan mereka seimbang sehingga terjadilah perkelahian yang seru dan mati-matian.
Anak buah gerombolan perampok yang berjumlah tigapuluh orang lebih itu hanya mendengar suara perkelahian dari luar, akan tetapi mereka tidak berani masuk karena mereka amat takut kepada Kui Tung yang galak.
Mereka tidak akan masuk tanpa dipanggil.
Selagi mereka bergerombol di sekeliling kuil, tiba-tiba terdengar suara gaduh dan muncullah banyak sekali perajurit yang dipimpin oleh tiga orang perwira dan di antara mereka terdapat Cin Han yang menunggang seekor kuda!
Melihat pasukan ini, yang jumlahnya tidak kurang dari seratus orang, anak buah gerombolan menjadi terkejut dan panik.
Tanpa komando, mereka terpaksa mempertahankan diri melawan ketika pasukan itu sambil bersorak menyerbu.
Terjadi pertempuran yang berat sebelah di luar kuil.
Mendengar suara pertempuran, teriakan dan sorakan yang hiruk-pikuk itu, empat orang yang sedang berkelahi di ruangan dalam kuil, menjadi terkejut bukan main.
Kedua pihak tidak tahu apa yang terjadi, tidak tahu apakah kejadian yang riuh di luar itu menguntungkan atau merugikan mereka.
"Kui Tung, kita keluar!"
Seru Can Kok.
Kui Tung tak dapat menandingi Can Kok dalam kecepatan sehingga Can Kok sudah melompat lebih dulu keluar ruangan.
Can Kok cepat menggerakkan tangan kirinya yang berubah merah.
Itulah Ang-see-ciang (Tangan Pasir Merah) yang mengandung hawa pukulan beracun, menyambar ke arah Siang In.
Namun Siang In dapat mengelak ke samping dan kesempatan itu dipergunakan Kui Tung untuk melompat keluar dan menyusul temannya.
Pek Hong dan Siang In yang tidak tahu apa yang terjadi di luar, tidak berani mengejar dan mereka pun cepat keluar dari situ untuk melihat apa yang terjadi.
Ketika Can Kok dan Kui Tung tiba di luar, mereka terkejut bukan main melihat betapa anak buah Kui Tung yang berjumlah hanya tigapuluh orang lebih itu, dihimpit pasukan pemerintah yang jumlahnya tidak kurang dari seratus orang!
Sudah banyak anak buah yang bergelimpangan dan sisanya hanya mati-matian mempertahankan diri.
Melihat keadaan berbahaya dan tidak menguntungkan ini, tanpa banyak cakap lagi Can Kok dan Kui Tung segera berlompatan melarikan diri dari tempat itu.
Ketika ada perajurit yang berani menghalangi, mereka berdua merobohkan para penghalang dan terus melarikan diri secepatnya tanpa memperdulikan nasib para anak buah yang sudah terhimpit dan tidak ada kesempatan untuk melarikan diri.
Pek Hong dan Siang In juga tiba di luar dan mereka berdua girang bukan main melihat pasukan pemerintah yang menghajar anak buah gerombolan.
Melihat betapa pasukan jauh lebih banyak jumlahnya dan para anggauta gerombolan banyak yang roboh, mereka pun tidak membantu dan hanya berdiri di ruangan depan kuil.
Tak lama kemudian, sembilan orang anak buah gerombolan yang masih belum roboh membuang senjata mereka dan menjatuhkan diri berlutut, menaluk.
Mereka lalu diringkus dan bersama-sama mereka yang terluka, menjadi tawanan.
Cin Han yang tadi hanya ikut menonton karena dia sendiri adalah seorang sasterawan yang tidak pandai dan tidak suka bertempur, kini melangkah dan menghampiri dua orang gadis itu.
Setelah berhadapan dia menjadi bingung karena dua orang gadis itu wajahnya serupa.
Akan tetapi dia mengenal Pek Hong yang pernah datang ke rumah orang tuanya, mengenalnya dari pakaian puteri itu yang serba putih.
Dia lalu memandang kepada Siang In dan hatinya merasa sedih, teringat betapa pinangannya terhadap gadis itu ditolak.
Akan tetapi dia tidak memperlihatkan perasaan apa pun dan segera mengangkat, kedua tangan depan dada sebagai penghormatan.
"Dinda Moguhai! Bahagia sekali melihat engkau dalam keadaan selamat!"
Dia memandang kepada Siang In dan meragu, tidak tahu apa yang harus dia katakan kepada gadis yang wajahnya serupa dengan wajah Puteri Moguhai itu.
Melihat ini, Pek Hong menoleh kepada Siang In dan melihat betapa Siang In juga memandang kepada Cin Han dengan pandang mata kagum dan bimbang.
Pek Hong tersenyum.
"Siang In, perkenalkan. Ini adalah Kakak misanku bernama Cin Han, putera tunggal Paman Pangeran Cin Boan!"
Mendengar ini, wajah Siang In seketika berubah merah.
Jantungnya berdebar tegang dan ia merasa serba salah.
Jadi inikah orangnya yang dulu pernah meminangnya?
Sama sekali tidak pernah ia menduga bahwa putera Pangeran Cin Boan yang melamarnya ini merupakan seorang pemuda yang luar biasa tampan!
Ia menjadi gagap gugup.
"Eh...... ohh...... senang sekali dapat berkenalan dengan...... Cin-kongcu (Tuan Muda Cin)......"
Cin Han tersenyum.
Wajahnya yang berkulit putih kemerahan itu berseri.
Sebagai seorang siu-cai (sastrawan) tentu saja dia pandai membawa diri, sikapnya lembut dan sopan dan kata-katanya juga teratur indah.
"Thio-siocia (Nona Thio), sayalah yang merasa berbahagia sekali. Merupakan kehormatan besar sekali bagi saya dapat berkenalan dengan Nona yang namanya sudah lama saya kenal."
"Eh, Kanda, bagaimana engkau dapat muncul di tempat ini bersama pasukan? Apakah engkau yang mengerahkan pasukan ini?"
"Nanti akan kuceritakan padamu, Dinda. Yang terpenting sekarang, apakah engkau telah dapat menemukan barang-barang Paman Thio yang dirampok itu?"
"Barang-barang itu lengkap berada di ruangan dalam kuil tua ini, Kanda. Juga barang-barang milik Paman Pangeran Cin Boan berada di dalam."
"Syukurlah kalau begitu,"
Kata Cin Han dan dia memandang kepada tiga orang perwira setengah tua yang datang menghampirinya. Seorarig di antara mereka berkata dengan sikap hormat.
"Cin-kongcu, semua anggauta gerombolan telah dilumpuhkan. Sebagian tewas. Kami menangkap yang terluka dan yang menyerah. Kami menanti perintah Kongcu."
"Bagaimana dengan kerugian di pihak kita?"
"Tidak ada yang tewas, Kongcu hanya ada enam orang yang terluka."
"Bagus, Lu-ciangkun (Perwira Lu). Obati perajurit kita yang terluka dan angkutlah semua barang milik Paman Thio Ki dan Ayah yang berada di dalam. Bawa semua barang itu bersama semua tawanan ke kota Kang-cun sekarang juga. Jangan lupa tinggalkan perajurit secukupnya untuk mengubur semua mayat, kemudian suruh bakar kuil tua ini!"
Pek Hong tersenyum kagum melihat betapa kakak misannya yang sasterawan lemah itu dapat memberi perintah sedemikian tegasnya, seperti seorang jenderal saja.
"Siap laksanakan perintah, Kongcu!"
Kata perwira itu dan mereka bertiga lalu memimpin anak buah untuk mengangkat barang-barang, lalu siap untuk berangkat ke kota Kang-cun.
Limapuluh orang perajurit ditinggalkan untuk melaksanakan tugas mengubur semua mayat dan membakar kuil tua yang dijadikan sarang perampok itu.
Cin Han, Pek Hong, dan Siang In menunggang kuda berdampingan.
Mereka menjalankan kuda perlahan-lahan dan bercakap-cakap.
Siang In masih merasa sungkan dan malu, maka ia lebih banyak mendengarkan saja percakapan mereka.
"Nah, sekarang ceritakanlah, Kanda, bagaimana engkau dapat muncul dengan pasukan untuk membantu kami."
"Begini, Dinda Moguhai. Setelah engkau pergi, aku pun mulai curiga terhadap diri Bhe Liang. Siapa tahu dia mempunyai hubungan dengan perampokan itu atau setidaknya dia tahu siapa yang melakukan. Maka setelah berunding dengan Ayah, kami menyuruh Lu-ciangkun untuk mengutus seorang perajurit yang pandai untuk cepat pergi melakukan penyelidikan ke rumah Bhe Liang. Perajurit itu ketika tiba di sana melihat engkau dan Thio-siocia keluar dari rumah bersama Bhe Liang yang agaknya kalian paksa menunjukkan tempat perampok. Perajurit itu diam-diam mengikuti dari kejauhan dan setelah tahu bahwa sarang para perampok berada di kuil tua yang tidak jauh dari kota Kang-cun, dia cepat memberi laporan. Maka aku lalu minta bantuan Lu-ciangkun dan dua orang perwira lain, membawa pasukan dan mengejar ke tempat itu."
"Wah, tidak kusangka engkau ternyata begitu pandai, Kanda!"
"Ah, aku tidak bisa apa-apa. Engkau dan Thio-siocia inilah yang hebat. Bagaimana hasilnya buruanmu? Siapa yang memimpin perampokan itu, Adinda Moguhai?"
"Kanda Cin Han, memang benar dugaanku. Setelah kami melakukan penyelidikan, ternyata memang Bhe Liang itu yang mendalangi perampokan. Kami memaksa dia mengaku dan dialah yang memberitahu kepada segerombolan perampok tentang pengiriman barang-barang berharga itu dipimpin seorang pemuda bernama Kui Tung yang lihai, kemudian muncul temannya seorang pemuda lain bernama Can Kok yang bahkan lebih lihai lagi. Mereka berdua itu pasti bukan orang-orang sembarangan, bukan sebangsa kepala perampok biasa. Kami berdua bertanding melawan mereka. Lalu pasukan datang dan kedua orang muda lihai itu melarikan diri."
Pek Hong Niocu atau Puteri Moguhai sengaja tidak menceritakan secara rinci mengenai pertandingan seru antara mereka itu karena Cin Han yang tidak pernah belajar ilmu silat itu tentu tidak akan mengerti.
"Aih, sayang sekali kedua orang penjahat itu tidak dapat ditangkap,"
Kata Cin Han.
"Mereka itu lihai bukan main, Kanda Cin Han."
"Bagaimana dengan si jahat Bhe Liang?"
"Ah, dia telah tewas di tangan Siang In!"
Cin Han memandang kagum kepada Ang Hwa Sian-li Thio Siang In.
"Bagus, terima kasih, Thio-siocia (Nona Thio), jasamu besar. Orang itu jahat sekali, mengadu domba, melakukan fitnah, bahkan mengundang penjahat-penjahat yang lihai untuk mengacau."
"Ah, Pek Hong inilah yang lebih berjasa, Cin-kongcu (Tuan Muda Cin), bahkan kalau tidak ada ia, mungkin saya sudah celaka di tangan penjahat yang amat lihai itu."
Melihat pandang mata penuh kagum dari pemuda itu kepada Siang In, dan melihat pula betapa sepasang pipi Siang In kemerahan dan matanya hanya mengerling.
Tidak berani memandang langsung kepada pemuda itu dengan senyum malu-malu, Puteri Moguhai tertawa senang.
Ia akan ikut merasa bahagia kalau saudara kembarnya itu dapat berjodoh dengan Cin Han, pemuda bangsawan yang dia tahu amat bijaksana, ahli sastra, tampan dan berpemandangan luas itu.
Mereka kembali ke kota Kang-cun.
Tentu saja kembalinya dua orang gadis bersama Cin Han yang telah berhasil menumpas gerombolan penjahat dan membawa kembali barang-barang yang dirampok, membahagiakan Thio Ki dan Miyana, juga menyenangkan hati Pangeran Cin Boan dan isterinya.
Yang lebih membahagiakan hati keluarga pangeran ini adalah bahwa nama baik mereka yang difitnah oleh Bhe Liang telah dapat dibersihkan dan penjahat itu telah terbunuh.
Kini tentu keluarga Thio Ki tidak lagi menyangka bahwa dia yang mendalangi perampokan itu.
Setelah tinggal selama tiga hari di rumah keluarga Thio Ki dan melihat Thio Ki sudah sembuh kembali dari lukanya, Puteri Moguhai lalu berpamit meninggalkan kota Kang-cun untuk kembali ke kota raja.
Siang In berjanji akan mengunjungi puteri itu dalam waktu dekat.
Sebelum meninggalkan Kang-cun, Puteri Moguhai berkunjung ke rumah keluarga Pangeran Cin Boan dan dia disambut dengan gembira oleh Pangeran Cin Boan, isterinya, dan Cin Han.
"Dinda Moguhai, bagaimana kesehatan Paman Thio Ki? Apakah luka-lukanya telah sembuh kembali?"
Cin Han menyambut kedatangan puteri itu dengan pertanyaan ini. Moguhai tersenyum.
"Eh, Kanda Cin Han, yang kautanyakan itu sesungguhnya keadaan Paman Thio ataukah keadaan Siang In?"
Mendengar ini, Cin Han tersipu dan ayah ibunya tertawa.
"Aih, Moguhai, engkau tega sekali menggoda Kakakmu, padahal engkau sudah mengetahui bahwa pinangan kami atas diri Siang In ditolak, Cin Han tidak mempunyai harapan lagi."
"Eh, mengapa Bibi berkata demikian? Dahulu Siang In menolaknya karena ia belum mengenal Kanda Cin Han, bahkan melihat pun belum. Akan tetapi sekarang......"
"Sekarang bagaimana? Wah, Moguhai, jangan bermain teka-teki. Katakan saja, bagaimana sekarang? Apakah ada harapan?"
"Paman Pangeran, saya belum dapat mengatakan apa-apa. Akan tetapi sebaiknya dekati saja keluarga Thio. Ada baiknya kalau Kanda Cin Han datang menengok keadaan"", eh, Paman Thio Ki, menanyakan kesehatannya. Nanti Paman, Bibi, dan Kanda dapat melihat sendiri bagaimana sikap Siang In dan orang tuanya, dan akhirnya terserah Paman dan Bibi apakah ada baiknya kalau pinangan itu diulang."
"Eh, jangan main-main, Adinda! Mana kami berani mengajukan pinangan lagi setelah ditolak satu kali? Kalau untuk kedua kalinya ditolak, akan kutaruh di mana mukaku?"
Puteri Moguhai tertawa, tertawa bebas, tidak seperti para puteri istana yang kalau tertawa diatur agar tampak sopan, tertawa kecil hampir tanpa suara dan menutupi mulut dengan ujung lengan baju dan memiringkan mukanya.
Akan tetapi tawa Puteri Moguhai adalah tawa lepas, tanpa ragu membuka mulut memperlihatkan giginya sehingga tampak deretan gigi putih rapi seperti mutiara dan rongga mulut yang merah, ujung lidah yang merah muda.
Sama sekali tidak mendatangkan penglihatan yang tidak sopan atau menjijikan, bahkan sebaliknya, tawa itu membuat wajahnya tampak manis sekali dan tawa itu menyengat dan menular karena orang yang mendengar dan melihatnya, tidak dapat mencegah dorongan dari dalam untuk ikut tertawa!
Begitu mendengar mereka tertawa dan melihat isteri Pangeran Cin Boan tertawa sambil menutupi mulut dengan ujung bajunya, Moguhai teringat akan tata susila yang pernah ditanamkan kepadanya ketika kecil dahulu dan cepat ia pun menutupi mulutnya dengan ujung lengan bajunya.
Akan tetapi gerakan ini malah tampak lucu dan tiga orang itu tertawa semakin geli.
"Eh, Kanda Cin Han, ke mana lagi engkau akan menaruh mukamu kalau tidak di bagian depan kepalamu? Kalau kau simpan dalam almari, lalu bagaimana kalau engkau hendak mencuci muka?"
Ucapan Moguhai ini membuat mereka semakin geli dan mereka tertawa terpingkal-pingkal.
Suasana ini terbawa kegembiraan hati mereka, bukan saja karena barang-barang kembali dan nama mereka tercuci, akan tetapi juga mendengar akan harapan baru bagi keinginan mereka meminang Siang In.
Pangeran Cin Boan dan isterinya saling pandang setelah mereka berhenti tertawa dan pangeran itu bertanya dengan suara sungguh-sungguh.
"Moguhai apakah engkau benar-benar dan tidak main-main mengenai kemungkinan perjodohan antara Cin Han dan Thio Siang In?"
"Kami masih ragu dan khawatir kalau kalau pinangan kami ditolak lagi, Moguhai,"
Kata pula isteri pangeran itu.
"Harap Paman dan Bibi tidak khawatir. Saya mengenal benar watak sahabatku Siang In itu. Biarpun ia tidak berkata apa-apa, namun sikapnya terhadap Kakanda Cin Han dapat saya lihat dengan jelas bahwa ia juga tertarik. Akan tetapi Siang In adalah seorang gadis kang-ouw yang gagah perkasa, tentu saja ia tidak mau kalau dalam soal perjodohan ia dipaksa. Karena itu, sebaiknya Paman dan Bibi tidak mengajukan pinangan lebih dulu, akan tetapi memberi kesempatan kepada Kanda Cin Han untuk bergaul dengan Siang In. Dekatilah ia, Kanda, dan kalau nanti sudah ada persetujuan kedua pihak, kalau Siang In sudah dapat menerima perasaan cinta Kakanda, barulah diajukan pinangan sehingga tidak mungkin gagal lagi."
Selagi mereka bercakap-cakap, seorang pengawal memberitahu Pangeran Cin Boan bahwa di luar ada seorang tamu mohon bertemu Pangeran Cin Boan.
Ketika mendengar bahwa tamu itu adalah Thio Ki, Pangeran Cin Boan segera menyuruh pengawal untuk membawa tamu itu ke ruangan tamu dan dia mengajak isterinya, Cin Han, dan Moguhai untuk menemaninya menerima kunjungan Thio Ki.
Thio Ki memasuki ruangan tamu dan melihat pangeran menyambut bersama isteri dan puteranya, juga melihat Puteri Moguhai berada di situ, wajah Thio Ki menjadi kemerahan dan dia tampak gugup.
"Ah, maafkan saya, Pangeran. Kalau saya mengganggu Paduka sekeluarga......"
"Tenanglah, Saudara Thio Ki, silakan duduk,"
Kata Pangeran Cin Boan. Setelah semua orang mengambil tempat duduk, dia berkata.
"Saudara Thio, engkau sama sekali tidak mengganggu kami, sama sekali tidak. Bahkan kami merasa ikut gembira melihat bahwa engkau sekarang telah sembuh dan sehat kembali. Dalam kesempatan ini kami mengucapkan selamat atas kembalinya semua barang yang dirampok itu."
Melihat sikap dan mendengar ucapan yang ramah dari pangeran itu, Thio Ki merasa semakin terpukul dan dia berkata dengan suara gemetar.
"Pangeran, saya memberanikan diri menghadap Paduka sekeluarga ini, betul-betul untuk mohon maaf, bukan hanya karena mengganggu Paduka dengan kedatangan ini, melainkan untuk hal lain yang membuat saya merasa tidak enak hati dan malu."
Puteri Moguhai berkata.
"Karena Paman Thio Ki hendak bicara dengan Paman Pangeran sekeluarga, maka lebih baik aku keluar dari ruangan ini."
"Ah, Moguhai, engkau termasuk keluarga kami, tentu saja engkau boleh ikut mendengarkan. Bukankah begitu, Saudara Thio Ki?"
Thio Ki mengangguk.
"Saya akan merasa senang kalau Puteri Moguhai sudi menjadi saksi dan ikut mendengarkan. Pangeran, sesungguhnya ketika Bhe Liang melaporkan kepada saya sekeluarga bahwa Paduka yang mendalangi perampokan itu, saya pernah bimbang dan percaya akan keterangan itu yang ternyata hanya merupakan fitnah belaka. Karena itu, saya mohon maaf sebesar-besarnya, apalagi setelah mendengar bahwa Cin-kongcu yang membawa pasukan dan menyelamatkan puteri saya dan semua barang dapat direbut kembali. Sungguh kami merasa menyesal sekali pernah meragukan kebijaksanaan dan kebaikan hati Paduka."
Pangeran Cin Boan tersenyum dan dengan ramah berkata.
"Saudara Thio engkau sekeluarga tidak perlu merasa bersalah dan minta maaf. Kalian sama sekali tidak bersalah. Puteri Moguhai telah menceritakan semuanya kepada kami dan keluargamu sama sekali tidak mempunyai prasangka buruk terhadap kami. Hanya Si Jahat Bhe Liang yang menjatuhkan fitnah kepada kami. Bagaimana mungkin kami akan meragukan ketulusan hatimu, Saudara Thio Ki? Engkau melindungi barang-barang kami dengan taruhan nyawa, sehingga terluka. Juga, dalam usaha penumpasan gerombolan perampok sehingga menghasilkan direbutnya kembali barang-barang, puterimu juga memegang peran penting. Tidak, engkau sekeluarga tidak mempunyai kesalahan apa pun. Bahkan kami yang membuat engkau mengalami kesusahan dengan penitipan barang-barang kiriman itu sehingga memancing munculnya perampok."
Lega hati Thio Ki mendengar jawaban itu.
Keluarga pangeran itu lalu bercakap-cakap dengan Thio Ki dalam suasana yang ramah dan akrab seperti dua orang sahabat lama.
Melihat ini Puteri Moguhai menjadi senang sekali.
Maka, ketika Thio Ki berpamit hendak pulang, ia berkata kepada Cin Han.
"Kanda Cin Han, sebaiknya Kanda mengantar Paman Thio Ki pulang untuk membuktikan bahwa keluarga Paman Pangeran Cin Boan tidak mempunyai perasaan buruk terhadap keluarga Paman Thio."
Thio Ki terkejut dan cepat berkata.
"Ah, mana saya berani menerima kehormatan seperti itu? Saya tidak berani merepotkan Cin-kongcu......!"
Cin Han yang sudah menangkap apa yang tersirat dalam ucapan Puteri Moguhai tadi, sudah bangkit dan berkata.
"Paman Thio Ki, sama sekali Paman tidak merepotkan dan ucapan Dinda Moguhai tadi memang sudah tepat sekali. Sewajarnyalah kalau saya mewakili Ayah mengantar Paman pulang sebagai bukti bahwa tidak ada perasaan buruk sedikit pun di antara keluarga kami dan keluarga Paman."
Mendengar ucapan itu, tentu saja Thio Ki tidak berani membantah lagi dan pergilah mereka berdua menuju rumah Thio Ki.
Setelah mereka pergi, Puteri Moguhai berkata kepada Pangeran Cin Boan dan isterinya sambil tersenyum senang.
"Nah, dugaanku tadi benar, bukan? Percayalah, Paman dan Bibi, kalau Kanda Cin Han sudah berkenalan langsung dengan Siang In, maka perjodohan antara mereka itu bukan merupakan persoalan yang sulit lagi."
Suami isteri itu tertawa dan isteri Pangeran Cin Boan bertanya.
"Eh, Moguhai engkau tampaknya bersungguh-sungguh ingin melihat Kakakmu berjodoh dengan Siang In!"
"Dan betapa sama benar wajahmu dengan Thio Siang In!"
Kata pula Pangeran Cin Boan. Moguhai tertawa.
"Paman dan Bibi, Siang In adalah seorang sahabatku yang paling baik, juga saudara seperguruanku. Selain itu, juga kami berdua amat mirip satu sama lain. Kami saling menyayangi dan saya ingin melihat Siang In hidup, berbahagia. Saya merasa yakin bahwa kalau ia menjadi isteri Kanda Cin Han, ia pasti akan menjadi seorang isteri yang baik dan berbahagia."
Pangeran Cin Boan mendesak.
"Dan engkau sendiri, Moguhai? Engkau pun sudah dewasa, sudah sepantasnya kalau engkau juga menjadi seorang ibu rumah tangga."
Moguhai tertawa.
"Wah, kalau saya...... hemm, saya belum menemukan seorang jodoh yang cocok, Paman."
Berkata demikian, wajah Souw Thian Liong terbayang dalam ingatannya.
"Kalau tidak ada yang cocok, saya tidak akan menikah."
Suami isteri itu saling pandang dan isteri pangeran itu berkata.
"Hemm, anak sekarang memang aneh-aneh jalan pikirannya. Selain tidak sejalan dengan pikiran orang tua dan suka mencari jalan sendiri, juga terkadang bersikap aneh-aneh."
Moguhai tersenyum.
"Tidak semua, Bibi. Bukankah Kanda Cin Han seorang anak yang penurut, taat, berbakti dan baik?"
"Memang, dia baik sekali,"
Ibu itu mengangguk-angguk.
"Akan tetapi dia juga mempunyai kebiasaan yang aneh. Sering kali dia mengunci diri dalam kamarnya dan tidak mau bertemu dengan siapapun juga. Kalau dia sedang dalam kamarnya, bahkan Ayahnya dan aku pun tidak dapat mengganggunya."
"Itu tidak aneh, Bibi, bukankah Kanda Cin Han seorang pemuda yang amat tekun belajar sastra sehingga dia lulus ujian dan menjadi siu-cai (satrawan)?"
"Memang dia aneh kalau sudah mengeram diri di dalam kamarnya, Moguhai,"
Kata Pangeran Cin Boan.
"Dari luar kamar, kami sering mendengar dia bicara seorang diri."
"Ah, tentu dia sedang membuat dan membaca sajak, Paman!"
"Kami juga berpendapat begitu maka kami tidak mau mengganggunya. Akan tetapi hal itu dia lakukan bertahun-tahun dan tentu saja kami beranggapan bahwa dia pun mempunyai keanehan seperti orang muda lainnya!"
"Jangan khawatir, Paman dan Bibi. Kalau dia sudah menikah, maka dia tidak akan seorang diri lagi kalau mengunci kamarnya!"
Kata Moguhai sambi1 tertawa.
Suami isteri itu saling pandang, keheranan mendengar kelakar seperti itu keluar dari mulut Sang Puteri.
Akan, tetapi Moguhai hanya tertawa dan ia lalu berpamit untuk pergi ke kota raja karena sudah setahun lebih ia meninggalkan istana.
Baca Juga: Kisah Para Pendekar Pulau Es 12
Baca Juga: Pusaka Pulau Es 7