Ceritasilat Novel Online

Kisah Para Pendekar Pulau Es 12

Eps 12 Kisah Para Pendekar Pulau Es - Kho Ping Hoo

Baca online Kisah Para Pendekar Pulau Es - Kho Ping Hoo

Cersil Kisah Para Pendekar Pulau Es - Kho Ping Hoo.

Tidak ada cacat-celanya sedikitpun juga dan tubuhnya mengeluarkan bau harum, bukan keharuman yang dibuat dengan minyak.

Kabarnya sejak kecil ia diberi minum semacam obat rahasia yang membuat keringat dan tubuhnya berbau harum.

Dan ia masih amat muda, sri baginda, baru dua puluh lima tahun dan belum mempunyai anak.!

Selanjutnya si penjilat ini menggambarkan kecantikan Puteri Harum dengan kata-kata bermadu, membuat Kaisar Kian Liong tergila-gila dan sampai beberapa hari dia tidak dapat tidur nyenyak atau makan enak.

Yang terbayang hanyalah Sang Puteri Harum dari Sin-kiang itu!

Akhirnya Kaisar Kian Liong tidak dapat menahan lagi kerinduan hatinya.

Dia tergila-gila mendengar adanya seorang wanita yang memiliki kecantikan sedemikian luar biasa seperti yang belum pernah didengarnya sebelumnya, apalagi dilihatnya.

Maka, dengan nekat dia lalu memanggil Jenderal Cao Hui, seorang jenderal kepercayaannya untuk membawa pasukan besar dan menyerbu ke Sin-kiang.

Dia tidak mau mengutus Jenderal Kao Cin Liong karena terhadap jenderal muda ini dia merasa malu.

Perasaannya meyakinkan hatinya bahwa jendeeral Kao Cin Liong tentu akan menentang dan tidak akan menyetujui rencana gila itu, menyerbu ke barat dan mengadakan perang hanya untuk merampas seorang wanita!

Pasukan yang dipimpin Jenderal Cao Hui itu berhasil menyerbu Sin-kiang, membunuh banyak perajurit suku bangsa Ho-co, dan menawan Sang Puteri Harum, dibawa ke timur dan pada suatu hari, tercapailah idam-idaman hati Kaisar Kian Liong berhadapan dengan sang puteri!

Tentu saja peristiwa ini mendatangkan rasa penasaran dan kemarahan besar di antara para pendekar.

Akan tetapi, tidak ada seorangpun yang beranimenentang karena bukankah yang diserbu itu hanyalah suku bangsa terpencil di barat yang tidak termasuk bangsa pribumi Han?

Kaisar Kian Liong terpesona menatap kecantikan asing dari sang puteri yang menangis ketika dihadapkan kepadanya sebagai tawanan.

Tubuh yang ramping padat itu, kulit yang putih halus kemerahan, bibir yang merah basah, mata yang lebar dan indah bening kebiruan, hidung yang mancung, bulu mata yang panjang-panjang melengkung.

Sungguh kecantikan yang berbeda sama sekali dengan kecantikan yang biasa dia lihat.

Apalagi bau harum yang jelas tercium oleh hidungnya walaupun sang puteri itu duduk bersimpuh di atas lantai.

Seluruh ruangan itu seolah-olah baru saja disiram sebotol minyak harum atau seolah-olah ruangan itu berubah menjadi taman bunga-bunga mawar yang baru mekar!

"Thian Yang Agung....!

kaisar itu berbisik dekat Hok Sen, sang kepala thaikam sambil menatap tanpa berkedip.

"Ia tentu seorang bidadari yang turun dari sorga....!

"Hamba yakin memang demikian, sri baginda, dan hanya paduka sajalah yang patut mendampinginya....!

bisik thaikam yang pandai menyenangkan hati itu.

Pada saat itu juga, Kaisar Kian Liong menganugerahkan pangkat Selir Harum kepada sang puteri tawanan, menghadiahkan banyak pakaian dan perhiasan, juga ditempatkan di dalam kamar terindah di dalam istana, menjadi selir baru yang paling dicinta.

Akan tetapi, Puteri Harum tidak mau menyerahkan diri dan hanya menangis.

Ia berduka sekali mengingat akan kematian ayahnya dan suaminya.

Berbagai macam cara para dayang menghiburnya, namun ia tetap menangis dan tidak mau bersolek, tidak mau melayani Kaisar Kian Liong.

Hal ini tentu saja membuat sang kaisar menjadi kecewa sekali.

Akan tetapi, kembali kepala thaikam Ho Sen yang muncul sebagai penasihatnya.

Atas nasihat sang thaikam yang pandai itu, kaisar Kian Liong memerintahkan orang-orangnya membangun sebuah bangunan istana kecil mungil yang baru, yang diberi nama Istana Bulan Indah.

Bukan hanya merupakan sebuah istana yang indah, akan tetapi juga modelnya dibuat seperti bangunan di Sin-kiang, dan untuk menghibur hati selirnya, kaisar memerintahkan orang-orangnya membangun sebuah kota tiruan di dekat istana, sebuah kota yang lengkap dengan mesjid dan para penghuninya yang beragama dan berpakaian orang-orang Sin-kiang yang beragama Islam.

Di loteng Istana Bulan Indah, Puteri Harum dapat melihat semua ini dan agak terhiburlah kedukaan hatinya.

Ia merasa seolah-olah ia masih berada di kampunghalamannya.

Ia berterima kasih dan hatinya tergerak oleh kebaikan hati kaisar kepada dirinya.

Akhirnya iapun menyerahkan dirinya kepada Kaisar Kian Liong dengan suka rela dan semenjak itu, Puteri Harum menjadi selir terkasih dari kaisar itu.

Demikianlah, semua ulah kaisar ini menambahkan rasa tidak suka di hati para pendekar yang ingin memberontak, walaupun tentu saja masih teramat banyak mereka yang setia kepada Kaisar Kian Liong.

"Pouw-sute, engkau tentu tidak lupa akan pesan mendiang suhu dan juga peraturan Kun-lun-pai yang telah dipegang teguh selama ratusan tahun.

Engkau tahu bahwa tidak ada seorangpun murid Kun-lun-pai, tiada terkecualinya, yang boleh membuka dan membaca kitab ilmu pusaka Sin-liong Ho-kang.

Bagaimana mungkin engkau mengharapkan pinto untuk melanggar peraturan itu?!

Ucapan ini keluar dari mulut Hong Tan Tosu, ketua Kun-lun-pai di Tung-keng.

Tosu tinggi kurus yang usianya sudah hampir tujuh puluh tahun ini adalah suheng dari Pouw Kui Lok dan dia mengetuai kuil yang menjadi cabang dari Kun-lun-pai itu, di mana dahulu Kui Lok diambil murid oleh suhu mereka.

Seperti kita ketahui, Pouw Kui Lok menuruti permintaan suhengnya yang baru, yaitu Louw Tek Ciang, untuk berusaha mempelajari ilmu larangan dari Kun-lun-pai itu dalam tekadnya untuk menandingi ilmu meniup suling yang ampuh dari keluarga Kam.

Pouw Kui Lok dan Louw Tek Ciang disambut dengan ramah oleh ketua kuil itu yang merasa gembira melihai sutenya dan sahabatnya itu telah kembali setelah mengikuti keluarga Cu yang sakti ke Lembah Naga Siluman di barat.

Akan tetapi, ketika Kui Lok menyatakan keinginan hatinya untuk meminjam sebentar kitab Sin-liong Ho-kang untuk dipelajari isinya, tosu tua itu terkejut dan mencela sutenya.

Mendengar ucapan ini, Kui Lok tidak mampu menjawap dan Tek Ciang cepat maju memberi hormat kepada tosu tua itu.

"Harap totiang sudi memaafkan Pouw-sute. Sesungguhnya, bukan sute yang menginginkan kitab itu untuk dipelajari, karena sute adalah seorang yang menjunjung tinggi peraturan perguruan Kun-lun-pai. Yang amat membutuhkan bantuan Kun-lun-pai untuk dapat sekedar mempelajari ilmu Sin-liong Ho-kang itu adalah saya sendiri, totiang. Pouw-sute hanya membantu saya saja untuk memintakan ijin dari totiang.! "Siancai, siancai....!! Tosu itu mengangguk-angguk.

"Louw-sicu, hendaknya suka memaafkan pinto. Ketahuilah bahwa ilmu itu oleh perguruan kami dianggap sebagai ilmu yang keji dan sesat, kalau dipergunakan hanya akan mengancam keselamatan nyawa manusia lain saja. Yang mau mempergunakan ilmu seperti itu hanyalah iblis-iblis yang berwatak curang. Oleh karena itu, semua murid Kun-lun-pai dilarang keras mempelajari ilmu itu. Kalau murid sendiri saja tidak boleh mempelajarinya, apalagi orang luar. Harap sicu suka memaafkan dan tidak menjadi kecil hati.! Kembali Tek Ciang memberi hormat.

"Maaf, totiang.

Sayapun cukup mengerti dan dapat menerima alasan yang totiang kemukakan itu.

Akan tetapi tentu totiang sependapat dengan saya bahwa keji tidaknya suatu ilmu, sesat tidaknya, tergantung sepenuhnya kepada penggunaannya, bukan?

Betapapun keji kelihatannya suatu ilmu, kalau dipergunakan untuk kebaikan, tentu menjadi ilmu yang baik pula.!

"Siancai, ada benarnya memang pendapat Louw-sicu itu.

Akan tetapi kita tidak boleh lupa bahwa adanya suatu ilmu amat mempengaruhi pemiliknya.

Bagaimana orang dapat melakukan suatu perbuatan keji kalau tidak memiliki ilmu keji itu sendiri?

Sebaliknya, biarpun hati seseorang tadinya tidak mempunyai niat keji, kalau sudah memiliki ilmu yang keji itu, mudah saja terbujuk untuk melakukan perbuatan keji menggunakan ilmu itu.

Tiada bedanya dengan kekuatan.

Orang tidak akan melakukan pemukulan kalau tidak memiliki kekuatan, sebaliknya, setelah memiliki kekuatan, akan timbul dorongan untuk mempergunakan kekuatan itu memukul atau menindas orang lain.

Nah, karena itulah, sicu, maka murid-murid Kun-lun-pai tidak diperkenankan mempelajari ilmu itu.!

Tek Ciang mengerutkan alisnya.

Sukar memang membujuk tosu yang agaknya kukuh ini.

Akan tetapi Tek Ciang adalah seorang yang cerdik dan licik sekali.

Dia tidak memperlihatkan kekecewaan ataupun kemendongkolan hatinya, melainkan tersenyum ramah.

Lalu dengan suara halus dia bertanya.!Hong Tan totiang, saya tahu bahwa totiang adalah sahabat baik sekali dari para suhu kami di Lembah Naga Siluman, yaitu para tokoh keluarga Cu.

Tentu persahabatan itu berdasarkan rasa kagum akan kegagahan masing-masing.!

Tosu tinggi kurus itu memandang dengan alis berkerut, tidak mengerti ke mana arah tujuan kata-kata pemuda ini.

Akan tetapi dia mengangguk.

"Tentu saja, mereka adalah keluarga yang sakti dan gagah perkasa, pinto ikut merasa gembira sekali bahwa Pouw-sute dapat menerima gemblengan keluarga Cu.! "Totiang, di antara sahabat, baru dapat dikatakan akrab dan benar kalau di situ terdapat kesetiaan dan pembelaan, bukan?! "Tentu, tentu....! Tosu itu mengangguk-angguk.

"Jadi, andaikata ada suatu malapetaka menimpa keluarga para suhu kami di Lembah Naga Siluman, tentu totiang akan sudi membela dan membantu mereka?! "Tentu saja, selama tenaga pinto yang sudah tua dan lemah ini mengijinkan. Akan tetapi ada apakah yang telah terjadi dengan mereka, sicu?! Dan tosu inipun menoleh dan memandang kepada Kui Lok yang hanya menundukkan mukanya, maklum akan siasat yang dijalankan oleh Tek Ciang.

"Nah, baru sahabat saja sudah akan membela dan membantu, totiang.

Apalagi murid-murid seperti kami ini.

Ketahuilah bawa kami, saya dan Pouw-sute, sedang memikul tugas yang dibebankan oleh kedua suhu Cu Han Bu dan Cu Seng Bu, akan tetapi kami berdua telah gagal dan harapan satu-satunya kami hanyalah bantuan totiang melalui ilmu Sin-liong Ho-kang itu.!

"Apa yang telah terjadi?

Pouw-sute, apakah yang telah terjadi dengan keluarga Cu di Lembah Naga Siluman?

Coba ceritakan kepada pinto.!

Tosu itu kini menoleh kepada sutenya untuk minta penjelasan untuk meyakinkan hatinya.

Biarpun dia sudah mengenal Louw Tek Ciang yang menjadi sahabat sutenya dan kini bahkan menjadi suheng dari sutenya itu karena mereka berdua berguru kepada keluarga Cu, namun dia belum mengenal benar keadaan Tek Ciang sehingga keterangan pemuda itu tidak mungkin dapat diterimanya begitu saja.

"Suheng, memang apa yang dikatakan oleh suheng Louw Tek Ciang itu benar.

Setelah tiga tahun menerima pelajaran ilmu di Lembah Naga Siluman, kedua orang suhu di sana mengutus kami berdua untuk mencari dan menebus kekalahan kedua suhu dari seorang musuh mereka.

Suhu tidak mengikatkan kami dengan urusan pribadi di antara mereka, hanya suhu minta agar kami berdua sebagai murid-muridnya menebus kekalahan yang pernah mereka derita dari orang itu.

Kami berdua sudah memenuhi perintah suhu, bertemu dengan lawan itu, akan tetapi kami berdua gagal karena lawan memiliki ilmu semacam Sin-liong Ho-kang.

Karena itulah maka suheng mengajakku untuk menghadap ke sini dan mohon diberi kesempatan mempelajari ilmu Sin-liong Ho-kang, hanya untuk dipakai melawan ilmu dari lawan itu.!

Kakek itu mengerutkan alisnya dan nampak bimbang.

"Siapakah lawan yang dapat mengalahkan orang-orang gagah dari keluarga Cu itu?! Dia memang merasa heran sekali mendengar ada lawan yang mampu mengungguli pendekar-pendekar seperti Cu Han Bu dan Cu Seng Bu.

"Dia orang she Kam dan tentu totiang belum mengenalnya.

Dia sombong sekali!

Sebaiknya kalau totiang tidak mengenal agar tidak terlibat dalam urusan pribadi antara keluarga Cu dan keluarganya.

Kamipun hanya melaksanakan tugas dan kalau kami belum dapat mengalahkannya, bagaimana saya dan Pouw-sute ada muka untuk menghadap para suhu di Lembah Naga Siluman?

Oleh karena itu, sekali lagi, mohon kerelaan hati totiang untuk menolong kami, atau lebih tepat lagi, menolong keluarga Cu dari rasa malu kalau sampai dua orang murid dan wakil mereka kembali dikalahkan oleh musuh lama itu.!

Tosu tua itu merasa terdesak dan tersudut.

Tentu saja dia merasa tidak enak sekali kalau menolak pemintaan bantuan yang pada hakekatnya adalah membantu para sahabatnya, keluarga Cu itu.

Padahal dahulu, di waktu mudanya, pernah Cu Han Bu menolongnya dari kekalahan, bahkan mungkin sekali kematian di tangan seorang musuh yang tangguh.

Andaikata Louw Tek Ciang datang seorang diri, tentu dia mempunyai alasan untuk menolak, dan hatinya tidak akan bimbang ragu.

Akan tetapi kini Tek Ciang datang menghadap bersama Pouw Kui Lok yang tentu saja sudah amat dipercayanya.

"Louw-sicu, biar bagaimanapun juga, murid Kun-lun-pai tidak boleh mempelajari ilmu itu....!

"Totiang, saya bukan murid Kun-lun-pai!!

"Maksud pinto adalah Pouw-sute, dia tidak boleh sama sekali mempelajari ilmu itu, tepat dan sesuai dengan sumpahnya sebagai murid Kun-lun-pai yang taat.

Dan biarpun tidak ada peraturan melarang orang luar mempelajari ilmu itu, akan tetapi kalau pinto berikan kepadamu, berarti pinto yang bertanggung jawab kalau sampai kelak ilmu itu dipergunakan untuk membunuh orang....!

"Totiang, apakah totiang tidak percaya kepada saya dan tidak percaya kepada Pouw-sute?

Sudah kami ceritakan bahwa kami membutuhkan ilmu itu hanya untuk menandingi ilmu yang serupa dari musuh keluarga Cu.!

"Baiklah, Louw-sicu.

Pinto mengingat akan kebaikan-kebaikan keluarga Cu, memberi kesempatan kepadamu untuk mempelajari ilmu itu.

Akan tetapi ada syarat-syaratnya.!

"Apakah syaratnya, totiang?!

"Pertama, sicu harus bersumpah bahwa ilmu itu hanya khusus dipelajari untuk menghadapi ilmu musuh keluarga Cu itu.

Dan ke dua, ilmu itu hanya khusus dipelajari di dalam ruangan perpustakaan di mana kitab itu disimpan, sama sekali kitab itu tidak boleh dibawa keluar dari ruangan perpustakaan.

Dan ke tiga, sicu hanya pinto beri waktu satu bulan saja untuk mempelajarinya.

Setelah lewat sebulan, sicu sudah harus meninggalkan ruangan perpustakaan itu dan....

maaf, meninggalkan pula kuil ini agar tidak mengingatkan pinto bahwa pinto telah melakukan pelanggaran.!

"Baiklah, totiang dan terima kasih atas kebaikan hati totiang.

Saya akan bersumpah sekarang juga.!

Louw Tek Ciang lalu diajak ke depan meja sembahyang dan di depan meja sembahyang ini Tek Ciang mengucapkan sumpahnya dengan suara lantang.

"Teecu Louw Tek Ciang bersumpah, bahwa teecu yang diberi kesempatan mempelajari ilmu Sin-liong Ho-kang, akan mempergunakan ilmu itu untuk menghadapi ilmu suara suling dari keluarga Kam, tidak untuk keperluan lain. Kalau teecu melanggar sumpah ini, semoga teecu dijatuhi hukuman tewas di tangan musuh-musuh teecu!! "Cukup, sicu,! kata tosu tua itu dengan hati lega. Dia sama sekali tidak tahu bahwa diam-diam Tek Ciang mentertawakan sumpah itu. Orang seperti Tek Ciang ini mana bisa mengucapkan sumpah dengan bersungguh hati? Dia hanya bersumpah sebagai siasat saja. Bahkan Pouw Kui Lok sendiripun tidak menduga akan hal ini, demikian pandainya Tek Ciang membawa diri dan bersandiwara.

"Pouw-sute, engkau lah yang mengawasi agar Louw-sicu memenuhi janjinya dan tidak membawa kitab itu keluar dari ruangan perpustakaan, bergilir dengan murid keponakanmu.!

Tosu itu mengambil sebuah genta dan membunyikan genta itu.

Terdengar suara nyaring berkeloneng dan tak lama kemudian dari pintu belakang muncullah seorang gadis yang berpakaian ringkas dan membawa pedang di punggungnya.

Gadis ini memakai pakaian ringkas sederhana, wajahnya tidak dirias, tanpa bedak dan gincu, bahkan rambutnyapun hanya digelung secara sederhana sekali.

Akan tetapi harus diakui bahwa gadis ini manis bukan main, dan tubuhnya padat dan ramping.

Seorang gadis berusia tujuh belas tahun yang manis dan juga kelihatan gagah dengan gerak gerik yang tangkas.

Gadis itu maju dan berlutut di depan Hong Tan Tosu dan terdengar suara halus merdu dari bibirnya yang merah.!Suhu memanggil teecu?

Ada perintah apakah, suhu?!

Tosu tua itu tersenyum, agaknya bangga kepada muridnya yang selain manis juga amat berbakti ini.

"Kui Eng, engkau belum pernah bertemu dengan susiokmu (paman gurumu) Pouw Kui Lok karena ketika tiga tahun yang lalu dia datang, engkau sedang memperdalam ilmu di Kun-lun-san. Nah, ini dia, berilah hormat kepada paman gurumu.! Tosu itu menuding kepada Pouw Kui Lok yang memandang kagum kepada murid keponakannya yang baru sekali ini dilihatnya. Gadis bernama Can Kui Eng itu bangkit dan menoleh kepada Pouw Kui Lok. Biarpun ia seorang gadis dewasa dan paman gurunya itu ternyata masih muda, namun ia tidak kelihatan canggung atau malu-malu. Sambil tersenyum sopan ia memberi hormat kepada Pouw Kui Lok.

"Pouw-susiok, terimalah hormatnya Can Kui-Eng, murid keponakanmu.! Kui Lok cepat membalas penghormatan itu.

"Ah, kiranya suheng mempunyai seorang murid perempuan yang begini gagah. Dan sudah pernah digembleng di Kun-lun-san pula? Nona....! "Susiok, seorang paman guru tidak menyebut nona kepada murid keponakannya.! Gadis itu memotong dan wajah Kui Lok menjadi merah. Biarpun usianya sudah dua puluh tiga tahun kurang lebih, akan tetapi pengalamannya terhadap wanita masih nol.

"Baiklah, Kui Eng. Dan perkenalkan ini adalah suhengku sendiri, akan tetapi bukan saudara seperguruan di Kun-lun-pai, melainkan dari guru lain, namanya Louw Tek Ciang.! Kui Eng memberi hormat pula dan sepasang matanya yang bening itu memandang penuh selidik, lalu alisnya agak berkerut. Ada sesuatu pada pandang mata pria ini yang membuat ia merasa tidak enak dan gelisah. Tek Ciang menyambut penghormatan itu dengan senyum memikat.

"Kui Eng, engkau kupanggil dan kuberi tugas. Engkau bersama susiokmu bertugas untuk menjaga dan mengamati agar Louw-sicu dapat mempelajari kitab Sin-liong Ho-kang dengan tenang di dalam kamar perpustakaan selama satu bulan. Dan kitab itu sama sekali tidak boleh dibawa keluar dari dalam kamar perpustakaan....! "Sin-liong Ho-kang....?! Gadis itu terbelalak dan menatap wajah suhunya dengan penuh kekagetan dan penasaran.

"Dia....

sicu ini hendak mempelajari ilmu larangan itu....?

Tapi, tapi, suhu....!

"Kui Eng, sudahlah.

Ini adalah urusan dan tanggung jawah pinto sendiri.

Engkau tentu yakin bahwa semua keputusan yang pinto ambil sudah melalui pertimbangan yang matang.

Sekarang engkau tinggal melaksanakan tugas jaga bergiliran dengan susiokmu, menjaga agar Louw-sicu ini memenuhi janjinya, mempelajari kitab itu hanya selama satu bulan dan tidak boleh membawa kitab itu keluar dari dalam ruangan perpustakaan.!

"Baik, suhu!

Akan teecu jaga agar dia tidak melanggar janjinya!!

Ucapan yang bernada keras ini saja sudah membuktikan bahwa di dalam hatinya, gadis itu merasa tidak senang kepada Louw Tek Ciang dan juga merasa tidak senang melihat betapa suhunya mengijinkan orang luar mempelajari ilmu larangan itu, padahal setiap orang murid Kun-lun-pai tidak diperkenankan mempelajarinya.

Akan tetapi Louw Tek Ciang menghadapi sikap gadis ini dengan senyum ramah saja.

Demikianlah, terhitung mulai hari itu, Tek Ciang mulai memasuki ruangan perpustakaan dan membuka-buka kitab kuno yang sudah kekuningan itu, mempelajari ilmu yang dinamakan Sin-liong Ho-kang.

Ilmu ini berdasarkan kekuatan khi-kang yang keluar dari pusar, mengerahkan tenaga khi-kang ini melalui suara gerengan yang mengandung getaran amat kuatnya.

Ilmu ini serupa dengan ilmu Sai-cu Ho-kang dan sebagainya, kekuatan yang terkandung dalam gerengan dan auman binatang-binatang buas yang melumpuhkan korban hanya dengan suara gerengan dahsyat itu, akan tetapi Sin-liong Ho-kang ini lebih hebat lagi.

Bukan hanya getaran hebat yang terkandung dalam gerengan dahsyat menggelegar, akan tetapi juga siapa yang sudah menguasainya dengan baik, akan dapat mengeluarkan suara dari jauh, mengirim suara dari jauh untuk dapat didengar oleh orang yang ditujunya saja tanpa didengar orang lain.

Bahkan yang menguasai ilmu itu dapat mengeluarkan suara yang tinggi melengking sampai hampir tidak terdengar, akan tetapi semakin halus suara itu, makin hebatlah getarannya dan amat berbahaya bagi lawan!

Akan tetapi, Tek Ciang mendapatkan kenyataan bahwa untuk dapat menguasai ilmu ini secara sempurna, dibutuhkan waktu yang lama, sedikitnya setengah tahun!

Maka diapun segera mempelajari teori-teorinya saja untuk dilatih kelak.

Memang dia licik dan cerdik.

Tahulah dia bahwa tosu tua itu menggunakan akal.

Pada lahirnya saja memberi ijin kepadanya untuk mempelajari ilmu itu, akan tetapi pada hakekatnya tosu itu berkeberatan.

Buktinya dia hanya diberi waktu satu bulan, waktu yang hanya cukup untuk menghafal teori atau isi kitab.

Juga larangan berlatih di luar kamar perpustakaan merupakan bukti bahwa tosu itu memang berkeberatan dia menguasai ilmu larangan itu karena untuk dapat berlatih, orang membutuhkan udara terbuka, bukan dalam kamar.

"Tua bangka sialan!!

gerutunya, akan tetapi tentu saja Tek Ciang tidak menyatakan sesuatu kepada Kui Lok, apalagi kepada Kui Eng, gadis yang bertugas menjaga dan mengamatinya itu.

Penjagaan itu dilakukan secara bergilir oleh Kui Lok dan murid keponakannya.

Dan dia mendapat kenyataan bahwa Kui Eng memang seorang murid Kun-lun-pai yang lincah dan cekatan, memiliki gin-kang yang mengagumkan dan ilmu pedangnya juga lihai.

Kalau Kui Lok hanya melakukan penjagaan untuk patut-patut saja karena dia sudah tentu saja amat percaya kepada Tek Ciang dan tidak berjaga dengan sesungguhnya, tidak demikian dengan gadis itu.

Kui Eng berjaga dengan amat waspada dan sungguh-sungguh, seolah-olah ia menganggap bahwa Tek Ciang seorang yang tidak dapat dipercaya dan amat perlu diawasi!

Melihat sikap gadis ini, diam-diam Tek Ciang mendongkol sekali dan diapun bersikap hati-hati, tidak berani melanggar janjinya terhadap ketua cabang Kun-lun-pai itu.Kurang lebih sepuluh hari sudah Tek Ciang dengan tekun mempelajari ilmu dari kitab kuno itu, hanya meninggalkan ruangan perpustakaan tanpa kitab itu kalau ada keperluan makan atau mandi dan ke belakang saja.

Bahkan tidurpun dia lakukan di dalam ruangan itu!

Pada suatu malam pelajaran dalam kitab itu sudah sampai pada bagian cara berlatih menghimpun tenaga khi-kang yang harus dilakukan di udara terbuka, di bawah sinar bulan purnama!

Dan malam itu kebetulan bulan sedang purnama, jadi sesungguhnya amat tepat untuk memulai latihan di luar kuil!

Akan tetapi, hatinya merasa penasaran dan mendongkol sekali karena dia sudah terikat oleh janji dan pada malam itu, yang melakukan perjagaan adalah gadis yang amat tekun mengamatinya itu!

"Sialan....!!

gerutunya dalam hati.

Kalau bukan gadis itu yang berjaga, tentu dia akan dapat menyelinap keluar barang satu dua jam untuk mempraktekkan ajaran dalam kitab, yaitu cara menghimpun tenaga khi-kang di bawah sinar bulan purnama.

"Mengapa tidak?! Demikian hatinya berbisik.

"Gadis itu, bagaimanapun juga hanyalah murid keponakan Pouw Kui Lok, masih amat muda dan kepandaiannyapun tidak berapa tinggi.!

Pikiran ini membuat Tek Ciang mulai gelisah.

Kalau dia dapat menggunakan ilmunya untuk menyelinap tanpa diketahui, atau membuat gadis tidak berdaya untuk beberapa lama, misalnya dengan menotoknya pingsan, bukankah dia memperoleh banyak kesempatan untuk mencoba degan latihan menghimpun khi-kang.

Tek Ciang memperhatikan sekeliling.

Biasanya, gadis itu berjaga di luar perpustakaan, berkeliaran di sekitar kamar perpustakaan, terutama sekali di depan pintu, dan di depan jendela.

Akan tetapi keadaan sekeliling kamar itu kini sepi saja.

Dengan menahan napas, Tek Ciang dapat mengikuti setiap gerakan di luar kamar itu dengan pendengarannya yang terlatih.

Sunyi.

Tidak ada orang di luar kamar itu!

Ke mana perginya gadis itu, pikirnya dan diapun mulai bangkit dan berindap-indap ke jendela, mengintai ke luar.

Sepi sekali dan cuaca amat indahnya, karena sinar bulan purnama membuat malam itu terang dan sejuk.

Setelah memyimpan kitab itu, Tek Ciang keluar dari dalam kamar perpustakaan.

Dia tidak berani membawa kitab itu keluar sebelum dia yakin benar bahwa tidak ada orang melihatnya.

Akan tetapi benar-benar sunyi, tidak nampak bayangan Kui Eng.

Malam itu sudah menjelang tengah malam dan tentu penghuni lainnya sudah tidur.

Ke mana perginya gadis itu?

Benarkah sekali ini Kui Eng meninggalkannya dan tidak mengawasinya?

Akan tetapi ketika dia keluar dari kuil, dia melihat dua bayangan berkelebat ke samping kuil di mana terdapat sebuah kebun dan ladang yang penuh dengan pohon-pohon buah dan tanaman sayuran.

Tek Ciang merasa curiga karena gerakan dua orang yang amat cepat itu mengandung rahasia.

Kalau orang Kun-lun-pai, kenapa harus menyelinap ke tempat gelap?

Diapun menggunakan kepandaiannya, menyelinap dan memasuki kebun itu sambil mencurahkan perhatian.

Akhirnya dia melihat dua orang berdiri berhadapan di bawah pohon dan dia cepat menyelinap mendekati dan mengintai.

Kiranya seorang di antara mereka adalah Kui Eng!

Dan gadis itu berada dalam pelukan seorang laki-laki muda yang bertubuh tinggi besar dan gagah.

Tek Ciang tersenyum sinis.

Hemm, pikirnya, kiranya gadis itu meninggalkannya untuk berpacaran di kebun ini!

Akan tetapi, ketika dia mendengarkan percakapan mereka yang bisik-bisik itu, dia tertarik dan lupa akan pertemuan mesra itu.

"Eng-moi, urusan ini tidak bisa ditunda lagi.

Pertemuan rahasia itu akan diadakan dua minggu lagi di hutan cemara sebelah selatan kota raja.

Dan engkau harus menghadiri bersamaku.

Penting sekali, Eng-moi.!

"Aih, Koan-koko, betapa inginku pergi bersamamu menghadiri pertemuan para pendekar patriot itu di sana.

Memang inilah saatnya para pendekar harus membebaskan tanah air dari penjajah Bangsa Mancu!

Akan tetapi, ahh....

orang she Louw yang menjemukan itu....!!

"Siapa?

Mengapa?

Apa yang terjadi sehingga engkau begini lama bertahan di kuil suhumu ini?!

"Tanpa kusangka-sangka, datang susiokku bersama seorang temannya di kuil ini dan dia oleh suhu diperbolehkan untuk mempelajari Sin-liong Ho-kang selama satu bulan.

Dan aku diberi tugas mengawasinya agar dia tidak melatih ilmu itu di luar ruangan perpustakaan.

Aku tidak dapat meninggalkan tugas ini dan baru berjalan dua belas hari, masih delapan belas hari lagi....!

"Kalau begitu akan terlambat!!

"Harus bagaimana, koko, aku tidak mungkin dapat meninggalkan tugas ini.

Dan berterus terang kepada suhu juga berbahaya.

Sudah kukatakan kepadamu bahwa Kun-lun-pai masih bersikap ragu-ragu, belum mau menyambut rencana pemberontakan para patriot yang hendak mengenyahkan para penjajah itu.!

Mendengar suara gadis itu yang demikian kecewa dan berduka, si pemuda lalu mendekapnya dan mencium pipinya dengan mesra, dengan sikap menghibur.

"Sudahlah, Eng-moi, tak perlu engkau berduka. Biarlah aku yang akan menghadiri pertemuan itu dan kelak kusampaikan semua hasilnya kepadamu. Masih ada tugas untukmu dari kawan-kawan. Biarpun engkau tidak akan dapat menghadiri pertemuan itu, akan tetapi biarlah kuserahkan tugas yang lebih penting lagi kepadamu, setelah engkau bebas dari tugasmu di sini.! "Tugas apakah itu, koko?! Si gadis nampak bersemangat.

"Begini....! Suara itu kini bisik-bisik perlahan, akan tetapi masih dapat tertangkap oleh pendengaran Tek Ciang yang amat tajam.

"....ini ada surat untuk Gan-ciangkun, seorang panglima yang mendukung para patriot.

Surat ini membujuk Gan-ciangkun untuk mencari akal guna menarik jenderal Muda Kao Cin Liong menjadi sekutu kita, atau kalau dia menolak, agar dicarikan akal supaya jenderal itu dapat dienyahkan.

Karena, selama dia masih mendukung kaisar, gerakan kawan-kawan kita akan terhalang.

Nah, surat ini penting sekali, bukan?

Dengan begitu, biarpun engkau tidak dapat hadir dalam pertemuan itu, tugasmu ini bahkan lebih penting lagi.!

"Aih, Koan-ko....

tapi....

tapi aku....

tugas ini demikian besar dan aku....

ih, gemetar tanganku dan berdebar jantungku, kau pikir aku....

cukup berharga untuk tugas sepenting itu?!

Kembali pemuda itu menciumnya, lalu melepaskan pelukannya, mengambil sesampul surat dan menyerahkan sampul panjang itu kepada Kui Eng.

"Sudahlah, Eng-moi.

Engkau lah orang yang paling tepat untuk menyampaikan surat itu.

Tidak akan ada orang lain mencurigaimu, dan sekarang kita harus berpisah....!

"Koan-ko, baru saja kita bertemu....

aku masih rindu....!!Ssttt, sayang, bersabarlah.

Kita sudah berjanji akan menikah kalau perjuangan ini selesai bukan?

Nah, selamat tinggal dan simpan baik-baik surat itu.!

Setelah berkata demikian, pemuda tinggi besar itu berkelebat dan lenyap di balik bayangan pohon-pohon.

Kui Eng menoleh ke kanan kiri, lalu menyimpan surat di balik bajunya dan pergi dari situ.

Ketika dara ini tiba di luar ruangan perpustakaan dan menjenguk dari jendela, ia melihat Tek Ciang masih sibuk membaca kitab!

Ketika ia hendak meninggalkan jendela itu, Tek Ciang menoleh dan sambil tersenyum berkata.

"Nona masuklah sebentar.! Kui Eng mengerutkan alisnya. Ia menaruh curiga kepada orang yang sinar matanya berkilat dan kalau memandang kepadanya jelas membayangkan nafsu dan kurang ajar itu. Beraninya orang ini menyuruh ia masuk! "Ada urusan apakah?! tanyanya dari luar jendela sambil memandang tajam.

"Masuklah, nona, aku mengetahui sesuatu yang amat penting tentang Koan-kokomu itu!! Wajah yang manis itu seketika menjadi pucat, lalu merah dan tanpa banyak bicara lagi sekali loncat ia sudah melayang masuk ke ruangan itu melalui jendela yang terbuka, berdiri di depan Tek Ciang dengan kedua tangan bertolak pinggang.

"Apa kau bilang? Koan-koko siapa yang kau maksudkan itu?! Tek Ciang bangkit berdiri menghadapi nona itu sambil tersenyum lebar.

"Nona manis, tak perlu berpura-pura lagi.

Lebih baik kau serahkan saja surat untuk Gan-ciangkun itu kepadaku!!

Seketika wajah gadis itu menjadi pucat dan di lain saat dara itu sudah mencabut pedang dari punggungnya.

Akan tetapi, baru saja pedang tercabut, tubuhnya sudah terkulai lemas karena secepat kilat Tek Ciang sudah mendahuluinya, menotok jalan darahnya membuat Kui Eng roboh lemas tak mampu berkutik lagi.

Tek Ciang menyambut pedangnya sebelum senjata itu jatuh ke atas lantai dan diapun menotok jalan darah di leher gadis itu untuk mencegah gadis itu mengeluarkan suara.

Lalu direbahkannya tubuh gadis itu ke atas lantai.

Kui Eng tidak pingsan, hanya tidak mampu bergerak, tidak mampu bersuara.

Gadis itu hanya memandang saja ketika jari-jari tangan yang nakal itu membukai kancing bajunya dan nampaklah sampul surat panjang itu di atas buah dadanya yang tidak tertutup lagi.

Tek Ciang mengambil sampul surat itu sambil tersenyum lebar dan cepat memasukkan sampul surat itu ke dalam saku jubahnya.

"Hemm, nona manis, engkau dapat bicara apa lagi sekarang? Engkau pemberontak hina, ya?! Dan secara kurang ajar sekali, bukan karena tertarik melainkan karena ingin menggoda dan menghina gadis itu, tangannya menggerayangi tubuh orang. Pada saat itu berkelebat bayangan orang dan Kui Lok telah berdiri di situ dengan mata terbelalak melihat Tek Ciang jongkok di dekat tubuh Kui Eng yang bajunya sudah terbuka sehingga nampak dadanya.

"Louw-suheng, apa.... apa artinya ini....?! Dia begitu kaget dan heran sehingga sukar mengeluarkan kata-kata.

"Sute, nanti saja kuceritakan.

Ia terluka, yang penting sekarang kita harus mengobatinya lebih dulu.

Penjahat datang melukainya dan aku hanya berhasil mengusir penjahat itu.

Lekas kau periksa nona Kui Eng, sute....!

Pouw Kui Lok terkejut mendengar itu dan kecurigaannya terhadap suhengnya itu lenyap.

Dengan penuh khawatir dia berjongkok dan memeriksa tubuh keponakan muridnya dengan teliti.

Akan tetapi hatinya lega mendapat kenyataan bahwa Kui Eng tidak terluka, hanya merasa heran bukan main karena ternyata gadis itu lumpuh dan gagu karena tertotok.

Kui Lok mengerahkan tenaganya dan hendak menotok dan mengurut leher dan punggung gadis itu agar totokannya terbebas.

Akan tetapi pada saat itu ada angin menyambar dahsyat dari belakang kepalanya.

"Wuuuttt....

crettt....!!

Jari tangan yang amat kuat itu memyambar dan menusuk ke arah tengkuk Kui Lok.

Kui Lok terkejut sekali dan berusaha mengelak, akan tetapi karena pada saat itu dia sedang mencurahkan seluruh perhatian kepada murid keponakannya yang sedang dia coba untuk membebasan totokannya, dan karena serangan itu dilakukan secara tiba-tiba dari jarak sangat dekat, biarpun ia sudah mengelak, tetap saja jari tangan yang amat kuat itu menyambar dan mengenai bawah tengkuknya.

Kui Lok terpelanting dan hanya dapat mengeluarkan suara "Oughhh....?!

dan iapun tak sadarkan diri.

Demikian hebatnya ilmu Kiam-ci (Jari Pedang) yang di pergunakan Tek Ciang untuk memukul sutenya sendiri.

Biarpun pukulan itu tidak mengenai sasaran dengan tepat, namun pukulan pada pangkal tengkuk itu mengguncangkan isi kepala dan pendekar Kun-lun-pai itupun roboh pingsan.

Tek Ciang terpaksa memukul sutenya karen dia tahu bahwa dia tidak mungkin dapat mengelak lagi dari kenyataan tentang surat yang dirampasnya.

Kini ia menghadapi keadaan yang amat gawat.

Dia harus bertindak cerdik, pikirnya dan sepasang matanya bergerak liar ketika otaknya diperas untuk mencari akal agar dia dapat mengatasi kegawatan ini dengan selamat.

Lalu nampak dia menyeringai kejam, kemudian diapun mengayunkan lagi jari tangannya, dengan ilmu pukulan keji Kiam-ci dia menotok ke arah pelipis kepala Pouw Kui Lok.

Kelihatannya hanya perlahan saja totokannya itu, akan tetapi tubuh Kui Lok terkulai karena pada saat itu juga dia telah tewas!

Sungguh menyedihkan sekali bahwa seorang pendekar demikian gagahnya seperti Kui Lok terpaksa harus mati konyol, mati secara mengecewakan sekali di bawah tangan suhengnya sendiri yang keji dan curang.

Setelah mendapat kenyataan bahwa sutenya telah tewas, Tek Ciang menyeringai, kini membalik kepada Kui Eng yang biarpun dalam keadaan tidak berdaya, tidak mampu bergerak maupun bersuara, dapat menyaksikan semua peristiwa itu dengan muka pucat sekali.

Kini manusia yan sudah seperti kemasukan iblis jahat itu menubruk.

Hati Kui Eng menjerit, namun tidak ada suara keluar dari mulutnya dan biarpun ia ingin meronta dan melawan, namun kaki tangannya lemas dan hanya mampu bergerak-gerak sedikit saja.

Terjadilah perbuatan yang amat terkutuk, perbuatan yang bagi Tek Ciang biasa saja karena diapun sudah amat terlatih untuk melakukan perkosaan terhadan wanita-wanita semenjak dia menjadi murid Jai-hwa Siauw-ok!

Dapat dibayangkan betapa hancur perasaan hati Can Kui Eng yang dalam keadaan sadar namun tidak mampu bergerak ini menghadapi malapetaka yang menimpa dirinya.

Ia diperkosa tanpa dapat bergerak maupun berteriak.

Malapetaka yang lebih mengerikan daripada maut.

Gadis itu tidak kuat menahan kehancuran hatinya dan iapun pingsan dan hal ini baik baginya karena ia tidak tahu atau merasakan lagi apa yang diperbuat manusia iblis itu terhadap dirinya.

Setelah selesai dengan perbuatannya yang amat terkutuk itu, Tek Ciang melanjutkannya dengan kekejaman yang lebih hebat lagi.

Dia mencabut pedang gadis itu, menaruh gagang pedang dalam kepalan tangan kanan Kui Eng, kemudian dia memaksa tangan yang mengepal gagang pedang itu untuk menusukkan pedang ke dada sendiri.

Sungguh amat kasihan nasib gadis itu.

Baru saja ia mengalami perkosaan yang menghancurkan hati dan kini ia dipaksa untuk membunuh diri!

Pedangnya sendiri, didorong oleh Tek Ciang, menusuk dan menembus dada sendiri.

Darah bercucuran dan tubuh itu berkelojot sedikit lalu rebah dan tewas.

Baiknya gadis itu mengalami semua itu dalam keadaan pingsan sehingga mengurangi penderitaannya.

Tek Ciang menyeringai puas.

Dia lalu membuka-buka pakaian yang menempel di tubuh jenazah Kui Lok, mengawut-awut rambut mayat itu sehingga keadaan pemuda itu seperti orang yang baru saja melakukan perkosaan.

Tek Ciang sendiri sudah merapikan pakaian dan rambutnya, dan setelah memeriksa lagi dengan teliti keadaan dua mayat itu, dia lalu berteriak-teriak sambil meloncat keluar ruangan perpustakaan.

"Tolong....!

Pembunuhan....!

Tolonggg....!!

Dia melakukan ini setelah menyambar kitab pelajaran Sin-liong Ho-kang dan bersama surat dalam sampul untuk Panglima Gan di kota raja dia menyembunyikan di tempat aman, yaitu di balik baju dalamnya.

Teriakan-teriakannya itu mengejutkan semua penghuni kuil dan berserabutanlah para tosu berlari keluar dari kamar masing-masing.

Juga Hong Tan Tosu sendiri nampak berlari-lari datang ke tempat itu.

Dengan muka pucat Tek Ciang menutupi muka sendiri dan membiarkan para tosu itu melihat sendiri dua tubuh yang sudah menjadi mayat menggeletak di lantai kamar penpustakaan.

Tentu saja kematian Pouw Kui Lok dan Can Kui Eng amat mengejutkan mereka semua, terutama sekali Hong Tan Tosu.

Kakek ini memandang dengan muka pucat sekali.

Sutenya telah tewas dan nampaknya tidak mengalami luka, sedangkan muridnya yang terkasih menggeletak mandi darah, dadanya tertembus pedang sendiri dan tangan kanannya masih memegang gagang pedang itu.

Dilihat sepintas lalu saja jelaslah bahwa gadis itu telah membunuh diri dengan pedang sendiri.

Dan melihat keadaan pakaian Kui Eng yang hampir telanjang bulat, dan pakaian Kui Lok yang setengah telanjang, tidak sukar diduga apa yang terjadi antara kedua orang itu.

Inilah yang membuat Hong Tan Tosu pucat dan penasaran.

Sutenya berjina dengan muridnya?

Ah, dia tidak percaya akan hal itu.

Sutenya adalah seorang pendekar sejati, dan muridnya juga seorang murid yang patuh.

Akan tetapi, agaknya kenyataan menunjukkan demikian.

"Louw-sicu, apakah yang telah terjadi? Apakah yang terjadi dalam kamar ini?! Akhirnya dia menghampiri Tek Ciang dan mengguncang pundak pemuda yang masih menangis itu. Dengan mata merah karena tangis, atau lebih tepat karena dia gosok-gosok dengan punggung tangan, Tek Ciang memandang tosu itu dengan muka sedih sekali.

"Ah, totiang, bagaimana aku harus bercerita? Aihhh.... mengapa hal ini menimpa diri kami? Aku.... aku telah membunuh Pouw-sute yang kusayang.... ah, totiang, kalau aku berdosa, silahkan totiang menjatuhkan hukuman kepadaku....! Diapun terisak menangis. Tosu tua itu mengerutkan alisnya.

"Siancai....

segala hal telah terjadi.

Sebelum tahu apa yang terjadi dan apa sebabnya, pinto tidak dapat menghakimi.

Ceritakanlah, apa yang telah terjadi di sini dan mengapa pula engkau membunuh Pouw-sute?!

"Totiang, sungguh aku masih merasa bingung dan tidak tahu mengapa sute tiba-tiba saja dapat melakukan semua itu seperti orang kemasukan setan!

Karena aku merasa telah setelah membaca kitab sejak pagi, aku pergi keluar untuk mencari hawa sejuk.

Kitab kutinggalkan di atas meja dan akupun berjalan-jalan di luar kuil, bahkan sampai ke luar dusun, sampai tubuh terasa segar kembali.

Kurang lebih satu setengah jam aku pergi meninggalkan kuil.

Ketika aku kembali, aku terkejut sekali melihat sute....

sute....!

Dia berhenti dan menutupi muka dengan kedua tangannya.

"Siancai....! Lanjutkanlah, sicu dan kuatkan hatimu,! kata tosu tua itu hampir tidak sabar.

"Dia.... dia telah memperkosa nona Kui Eng! Begitu saja, di atas lantai kamar perpustakaan ini. Entah sebelum itu apa yang terjadi aku tidak tahu. Setahuku hanya bahwa mereka melakukan penjagaan seperti yang totiang perintahkan. Ah, masih ngeri dan bingung aku mengenang semua itu....! "Lanjutkan, sicu. Lanjutkan....!! Hong Tan Tosu mendesak sedangkan para tosu lain yang menjadi pengurus kuil juga ikut mendengarkan dengan muka pucat. Mereka tidak pernah menyangka bahwa peristiwa memalukan seperti ini akan dapat terjadi di kuil mereka. Suatu aib yang amat mencemarkan.

"Ketika aku datang, Pouw-sute sudah mengakhiri perbuatannya yang biadab itu.

Tentu saja aku langsung menegurnya, akan tetapi dia malah marah dan menyerangku seperti orang gila.

Totiang maklum betapa lihainya sute, maka akupun terpaksa melayaninya dan pada saat itu, aku melihat nona Kui Eng mengeluarkan pedang dan membunuh diri.

Melihat ini, aku menjadi marah sekali kepada sute yang masih menyerangku, maka akupun lalu membalas serangannya dan akhirnya aku berhasil memukulnya roboh.

Bukan niatku membunuhnya, akan tetapi....

ah, dia terlalu kuat untuk dapat dirobohkan begitu saja....!

Hong Tan Tosu menunduk dan memandang kepada dua mayat yang masih menggeletak di situ.

Di dalam hatinya dia meragukan kebenaran cerita Tek Ciang.

Ingin dia berteriak untuk menyangkal, tidak percaya akan apa yang diceritakan mengenai perbuatan Kui Lok.

Akan tetapi, apa yang dilihatnya di dalam kamar itu, keadaan dua mayat itu, jelas merupakan kenyataan akan kebenaran cerita Tek Ciang.

Melihat keadaan pakaian mereka, dan melihat pedang yang menusuk dada Kui Eng sendiri sedangkan tangan gadis itu menggenggam gagangnya, merupakan bukti yang sukar untuk disangkal.

"Dan yang lebih mengejutkan hatiku, totiang, kitab Sin-liong Ho-kang yang tadinya kutinggalkan di atas meja telah lenyap....! "Apa....?! Kini tosu tua itu benar-benar terkejut dan pandang matanya kepada Tek Ciang penuh keraguan dan kecurigaan.

"Sicu, harap jangan main-main. Engkau lah yang selama ini membaca kitab itu! Mengenai muridku dan suteku, katakanlah ada buktinya sehingga ceritamu dapat pinto percaya. Akan tetapi hilangnya kitab Sin-liong Ho-kang, bagaimana cara membuktikannya bahwa benar-benar kitab itu hilang? Dan siapa yang akan dapat mengambilnya?! Wajah Tek Ciang menjadi merah dan dia bangkit berdiri.

"Totiang, aku bukanlah orang yang tidak mau bertanggung jawab.

Aku yakin bahwa kitab itu tentu ada yang mengambilnya, tentu sebelum aku kembali ke dalam kamar ini.

Bahkan aku mempunyai dugaan yang amat menyakitkan hati.!

"Hemm, dugaan apakah?!

"Mau tidak mau aku harus menduga bahwa memang Pouw-sute telah kemasukan iblis, telah berobah sama sekali.

Agaknya dia sendiri yang menyembunyikan kitab itu, kemudian dia melakukan perbuatan terkutuk terhadap nona Kui Eng di kamar ini.

Agaknya memang dia sengaja melakukan semua itu dengan maksud untuk menjatuhkan fitnah atas diriku kemudian, dengan menuduh aku menyembunyikan kitab dan memperkosa nona Kui Eng.

Untung aku datang lebih dulu sehingga memergoki perbuatannya yang laknat itu....!

"Louw-sicu!

Jangan menuduh yang bukan-bukan terhadap sute yang sudah tidak ada!

Apa buktinya bahwa dia yang menyembunyikan kitab?!

"Memang tidak ada buktinya, totiang.

Akan tetapi aku akan mencarinya, dan aku bersumpah bahwa aku akan menemukan kitab itu dan mengembalikannya kepadamu.

Nah, selamat tinggal!!

Tek Ciang lalu meloncat ke luar dan dalam sekejap mata saja diapun lenyap dari situ.

Hong Tan Tosu ingin mencegah, akan tetapi dia maklum bahwa tidak ada di antara mereka yang akan mampu menyusul pemuda itu, apalagi menandinginya.

Pula, apa alasannya untuk menahan Tek Ciang yang sudah bersumpah untuk mencari dan mengembalikan kitab?

Diapun hanya dapat menyesal dan berduka, lalu menyuruh anak buahnya untuk mengurus kedua jenazah.

Apa yang disampaikan pemuda tinggi besar yang menjadi pacar Kui Eng kepada gadis itu memang benar dan sudah menjadi rahasia para patriot yang hendak mengadakan pertemuan untuk mulai mengatur pergerakan mereka dan mengangkat seorang bengcu (pemimpin rakyat) agar perjuangan mereka dapat teratur dan tidak simpang siur.

Pemuda tinggi besar itu adalah seorang pendekar muda she Kwee dari perguruan Kong-thong-pai yang bertemu dan berkenalan dengan Kui Eng dalam perantauan, di mana keduanya secara kebetulan menghadapi dan menentang gerombolan perampok yang mengganas di sebuah dusun.

Perkenalan itu disusul dengan rasa cinta kedua pihak.

Sebagai seorang pendekar muda yang penuh semangat mendukung gerakan para patriot yang hendak menumbangkan kekuasaan penjajah, sebentar saja Kwee Cin Koan, demikian nama murid Kong-thong-pai itu, memperoleh kepercayaan di antara para tokoh patriot dan karena itu, tidak mengherankan kalau dia menerima tugas menghubungi Gan-ciangkun melalui sepucuk surat.

Dan tidak aneh pula kalau Cin Koan mengoperkan tugas itu kepada Kui Eng, kekasihnya yang agaknya tidak mempunyai kesempatan hadir dalam pertemuan para pendekar dan patriot.

Tentu saja sama sekali pendekar ini tidak pernah membayangkan bahwa kekasihnya akan tertimpa malapetaka demikian hebatnya sampai menewaskannya.

Di sebelah selatan kota raja terdapat hutan-hutan yang cukup lebat, yang berkelompok-kelompok di sepanjang kaki Pegunungan Tai-hang-san, berbaris seperti benteng sebelah barat.

Dan di antara hutan-hutan ini terdapatlah sebuah hutan yang berada di atas bukit, penuh dengan pohon cemara dan karena itu maka hutan ini dinamakan Hutan Cemara.

Hutan Cemara tidak begitu disuka oleh binatang-binatang hutan, karena selain kurang rimbun, juga cemara tidak menghasilkan sesuatu yang dapat dimakan, buahnya tidak, daun maupun batangnyapun tidak.

Karena itu hutan ini sunyi dari binatang, bahkan jarang terdapat burung-burung di situ, kecuali burung yang terbang lewat.

Hutan-hutan lain yang mempunyai tumbuh-tumbuhan liar dan lebat, dengan semak-semak belukar dan rimbun, penuh dengan binatang-binatang dan para pemburu juga lebih suka berkeliaran di dalam hutan-hutan liar ini untuk berburu binatang.

Pencari-pencari kayupun jarang memasuki hutan pohon cemara yang dibiarkan sunyi dan kering, jarang sekali nampak ada orang memasuki hutan ini.

Akan tetapi justeru kesunyian hutan inilah yang membuat para patriot yang hendak mengadakan pertemuan memilih tempat ini.

Tempat itu selain sunyi, juga jauh dari kota maupun dusun.

Dan di sekitar pegunungan itu terdapat banyak hutan liar di mana para pemburu suka berkeliaran sehingga kedatangan para pendekar di tempat seperti itu tidak akan menimbulkan perhatian.

Pada hari itu, tempat yang amat sunyi itu nampak ramai dengan hilir mudiknya orang-orang yang datang dari segala jurusan.

Dan mereka ini adalah pendekar-pendekar dan orang-orang gagah, dapat dikenal dari pakaian dan sikap mereka.

Ada pula yang berpakaian aneh-aneh dan nyentrik, berpakaian pertapa, sasterawan, bahkan ada yang berpakaian pengemis!

Biarpun di antara mereka belum terbentuk suatu perkumpulan dan belum teratur, akan tetapi mereka semua sudah maklum sendiri dan mereka datang ke tempat itu tidak secara berkelompok sehingga tidak menyolok mata dan tidak menarik perhatian.

Dan rata-rata mereka berwajah gembira karena selain menghadiri suatu pertemuan antara patriot yang sehaluan, juga mereka itu mendapatkan kesempatan untuk saling berkenalan dan bertemu dengan tokoh-tokoh yang namanya sudah lama mereka kagumi.

Di antara banyak pendekar tua muda laki perempuan yang berdatangan ke tempat itu, kelihatan seorang pemuda berusia paling banyak dua puluh tahun, bertubuh tinggi besar dan bersikap gagah perkasa.

Wajahnya selalu tersenyum, sepasang matanya bersinar-sinar dan dia kelihatan periang dan lincah jenaka.

Tidak ada seorangpun di antara para pendekar yang mengenal pemuda ini dan memang tidak aneh karena pemuda ini adalah seorang tokoh baru yang belum lama berkecimpung di dunia kang-ouw dan namanya masih belum dikenal orang banyak.

Akan tetapi kalau orang mengetahui siapa dia, tentu dia akan menjadi pusat perhatian karena pemuda ini adalah seorang keturunan Para Pendekar Pulau Es.

Dia adalah Suma Ceng Liong, yang telah mewarisi ilmu-ilmu dari ayah bundanya, ilmu-ilmu dari Pulau Es, bahkan telah pula digembleng oleh raja iblis Hek-i Mo-ong selama bertahun-tahun!

Para pendekar yang berdatangan ke hutan itu, ada yang bertemu dengan Ceng Liong dalam perjalanan, akan tetapi mereka tidak saling mengenal dan mereka hanya memandang kepada pemuda itu dengan kagum, menduga-duga siapa adanya pemuda yang wajahnya cerah akan tetapi memiliki pandang mata yang mencorong seperti mata naga itu.

Dan Ceng Liong yang selalu rendah hati, tidak mau mendekati mereka, segan kalau harus memperkenalkan diri karena dia tahu bahwa setiap orang pendekar setelah mendengar bahwa dia she Suma, tentu lalu mengaitkannya dengan keluarga Pulau Es.

Apalagi kalau mereka tahu bahwa dia benar-benar cucu aseli dari Pendekar Super Sakti di Pulau Es, tentu pandang mata mereka berobah, penuh kagum, juga mengandung iri!

Semuda itu, karena memiliki kesadaran yang tinggi dan selalu waspada membuka matanya, Ceng Liong sudah dapat melihat kepalsuan-kepalsuan yang menguasai hati dan tindakan manusia tanpa disadari lagi oleh manusia.

Karena hari pertemuan seperti yang ditentukan masih kurang dua hari lagi, Ceng Liong berjalan-jalan di sekitar tempat itu dan melihat-lihat keadaan.

Selama ini timbul keraguan dalam hatinya.

Walaupun dia sudah mendengar penjelasan ayahnya, juga penjelasan orang gagah Sim Hong Bu tentang perjuangan para patriot, tentang penjajahan negara dan bangsa oleh Bangsa Mancu, namun dia masih ragu-ragu apakah itu merupakan jalan yang benar kalau melakukan pemberontakan terhadap Kaisar Kian Liong.

Dia teringat betapa tadinya para pendekar mendukung Kian Liong sebelum menjadi kaisar.

Dan kini, sikap dan keinginan hendak memberontak terhadap kaisar ini sungguh masih agak sukar untuk diterima begitu saja.

Katakanlah memang benar bahwa kaisar itu suka berenang dalam kesenangan dengan wanita-wanita cantik.

Katakanlah bahwa dia memiliki isteri dan selir yang banyak jumlahnya.

Akan tetapi apa hubungannya kelemahan pribadi ini dengan roda pemerintahan?

Bagaimanapun juga, dia dapat mengerti bahwa pemberontakan yang benar adalah satu perjuangan yang mencakup seluruh nasib bangsa, menentang pemerintahannya, bukan karena kebencian pribadi.

Jadi, bukan kelemahan pribadi kaisar itulah yang mendorong pemberontakan, melainkan karena pemerintahannya, yaitu pemerintah penjajah!

Betapapun baiknya Kaisar Kian Liong, tetap saja dia seorang penjajah, seorang asing, seorang berbangsa Mancu yang menjajah Bangsa Han.

Dan nampak olehnya kini betapa semua pejabat tinggi adalah orang-orang Mancu belaka.

Memang ada pula orang-orang Han yang menduduki pangkat, namun kekuasaannya terbatas.

Bahkan ada peraturan-peraturan dari pemerintah Mancu yang dianggap menghina bangsa pribumi, seperti keharusan mengenakan kuncir dan sebagainya.

Keyakinan inilah yang mendorongnya untuk ikut menghadiri pertemuan itu, walaupun tetap saja hatinya diliputi keraguan.

Karena masih ada waktu dua hari, malam itu Ceng Liong berjalan seorang diri menjauhi Hutan Cemara yang dijadikan tempat pertemuan, menuju ke sebuah bukit kecil tak jauh dari situ.

Malam itu terang bulan dan tempat yang sunyi dan indah itu menarik perhatiannya.

Bagaimanapun juga keraguan hatinya, ingatan bahwa keluarga Pulau Es masih ada hubungan darah dengan keluarga kaisar Mancu, membuat hatinya terasa agak nelangsa dan dia ingin menyendiri.

Untung bahwa neneknya sudah meninggal, pikir Ceng Liong sambil berjalan menuju ke bukit kecil yang nampak dari jauh seperti diliputi cahaya emas dari sinar bulan purnama.

Nenek Nirahai adalah seorang puteri Mancu, pikirnya.

Andaikata neneknya itu masih hidup dan melihat dia, cucunya, kini ikut menghadiri pertemuan orang-orang yang hendak memberontak terhadap kerajaan, apa akan dikata oleh neneknya itu?

Ada perasaan malu terhadap neneknya itu ketika Ceng Liong teringat akan hal ini.

Mengapa manusia terpecah-pecah dan terpisah-pisah menjadi bangsa ini dan bangsa itu, beragama ini dan beragama itu, kelompok ini dan kelompok itu?

Perpecahan dan pemisahan-pemisahan ini selalu menimbulkan pertentangan.

Setelah tiba di dekat puncak bukit itu, berjalan perlahan mendaki sambil menikmati pemandangan yang mentakjubkan di bawah bukit, tiba-tiba Ceng Liong mendengar sayup-sayup suara orang laki-laki bernyanyi.

Dia mencurahkan perhatiannya kepada suara yang datang melayang dari puncak bukit itu dan dapat menangkap kata-kata nyanyian itu dengan jelas.

Suara itu cukup merdu, akan tetapi di dalam suara nyanyian terkandung getaran orang yang sedang dirundung kedukaan atau kegetiran hati.

"Masa bodoh bulan tak bersinar Masa bodoh bintang tak berpijar Asal kau cinta padaku!

Tak perduli burung tak menembang Tak perduli bunga tak berkembang Asal kau cinta padaku!

Masa bodoh bumi tak berputar Tak perduli dunia akan kiamat Masa bodoh matahari tak bercahaya Tak perduli langit tiada awan Asal kau cinta padaku, sayang Asal kau cinta padaku!!

Ceng Liong tertegun dan hatinya tersentuh keharuan.

Ada sesuatu dalam nyanyian itu yang membuat hatinya terharu.

Dia seperti dapat ikut merasakan betapa mendalam perasaan cinta menguasai hati penyanyi itu.

Dan betapa suara itu mengandung getaran-getaran duka atau kekecewaan.

Hati Ceng Liong merasa terharu dan tertarik, maka diapun menggerakkan kakinya, dengan hati-hati dia mendaki bukit kecil itu mencari penyanyi itu.

Akhirnya dia melihatnya.

Seorang laki-laki yang duduk sendirian di puncak bukit, laki-laki yang sedang menatap bulan purnama seolah-olah kepada bulanlah dia tadi bernyanyi.

"Kak Ciang Bun....!!

Ceng Liong berseru memanggil dengan gembira sekali ketika dia menghampiri orang yang sedang bersunyi sendiri itu dan mengenalnya.

Biarpun laki-laki itu kini bukan pemuda remaja lagi, tidak seperti keadaannya sembilan tahun yang lalu, akan tetapi Ceng Liong masih ingat akan bentuk wajahnya yang tampan.

Laki-laki itu menoleh dengan kaget, akan tetapi ketika dia melihat Ceng Liong, sejenak dia terbelalak, lalu meloncat berdiri, membalikkan tubuh menatap wajah Ceng Liong dengan ragu-ragu.

Memang orang itu adalah Ciang Bun dan kini dia memandang kepada Ceng Liong dengan hati bimbang.

Dia mengenal wajah Ceng Liong, akan tetapi perobahan yang terjadi atas diri Ceng Liong memang amat besar.

Ketika dia bertemu dengan adik misannya ini untuk yang terakhir kalinya, yaitu semenjak mereka berdua meninggalkan Pulau Es, Ceng Liong adalah seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun.

Dan sekarang, Ceng Liong telah menjadi seorang pemuda gagah perkasa, bertubuh tinggi tegap, berusia hampir dua puluh tahun!

"Kau....

kau....!

Dia berkata ragu.

Ceng Liong melangkah lebar menghampiri sampai berada di depan Ciang Bun, tersenyum lebar dan memandang dengan mata bersinar dan wajah berseri.

"Bun-ko, apakah engkau lupa kepadaku, adikmu Ceng Liong?! "Ceng Liong....? Ah, Ceng Liong ....!! Ciang Bun maju dan merangkul. Keduanya berangkulan dengan hati gembira bukan main dan Ciang Bun menjadi demikian terharu sampai kedua matanya menjadi basah. Melihat ini, diam-diam Ceng Liong merasa heran. Kakak misannya ini sampai sekarang masih saja memperlihatkan kehalusan perasaannya. Ciang Bun meraba pundak dan dada Ceng Liong, memandang kepada adiknya itu penuh kagum.

"Liong-te....

aihh, siapa bisa mengenalnya kalau engkau sekarang sudah begini besar?

Lihat, engkau tidak hanya lebih besar daripada aku, bahkan lebih tinggi.

Engkau begini gagah perkasa, ahhh, adikku, aku bangga sekali melihatmu!!

"Bun-toako, sudah hampir sepuluh tahun kita tidak pernah saling jumpa.

Tak kusangka akan bertemu dengranmu ketika tadi aku mendaki bukit ini, mencari penyanyi yang suaranya begitu menarik hatiku.

Kiranya engkau yang bernyanyi tadi.

Toako, kenapa hatimu begitu berduka?!

Ciang Bun menarik napas panjang.

Pertanyaan itu tentu saja membuat dia teringat akan keadaan dirinya, teringat akan Gangga.

Dan begitu teringat kepada gadis yang meninggalkannya itu, diapun teringat bahwa Gangga pernah menyebut nama Ceng Liong dan diapun memandang dengan penuh perhatian dau alisnya berkerut.

"Liong-te, sebelum kita bicara lebih banyak, jawablah dulu pertanyaanku ini. Benarkah bahwa engkau telah menjadi murid iblis tua Hek-i Mo-ong....?! Tentu saja Ceng Liong terkejut mendengar ini, akan tetapi dia tersenyum dan mengangguk-angguk.

"Bun-toako, itu merupakan cerita yang panjang sekali.

Tanpa mendengar seluruh keadaan pada waktu itu, hanya mendengar bahwa aku menjadi muridnya, tentu akan menimbulkan rasa penasaran....!

"Jadi benarkah berita itu?

Liong-te, benarkah itu?

Tentu saja aku merasa penasaran setengah mati!

Liong-te, engkau sendiri juga mengetahui bahwa kakek iblis itu bersama kawan-kawannya telah melakukan penyerbuan ke Pulau Es yang mengakibatkan tewasnya kakek dan kedua orang nenek kita, bahkan telah mengakibatkan tenggelamnya Pulau Es dan kau....

kau....

bahkan lalu menjadi muridnya?!

"Sabar dan tenanglah, toako dan mari dengarkan dulu keteranganku tentang itu.

Dengarlah ceritaku semenjak kita saling berpisah di tengah lautan itu.

Aku melihat enci Hui dilarikan penjahat, dan melihat engkau dan juga Cin Liong terlempar ke dalam lautan dan aku sendiri lalu dibawa oleh Hek-i Mo-ong sebagai seorang tawanan.!

Kemudian Ceng Liong menceritakan semua pengalamannya dan sebab-sebabnya mengapa dia sampai mejadi murid Hek-i Mo-ong, musuh besar yang mencelakakan kakek dan kedua neneknya di Pulau Es.

Dia menceritakan semua peristiwa yang dialaminya sampai pada saat Hek-i Mo-ong tewas di tangan kakek itu sendiri yang seolah-olah membunuh diri karena dalam keadaan terluka parah kakek itu nekat menyerang pendekar Kam Hong.

Diceritakannya betapa kakek iblis itu telah melimpahkan budi kepadanya sehingga sukarlah baginya untuk menganggap kakek itu sebagai musuh.

Setelah mendengar semua cerita adik misannya, Ciang Bun yang sejak tadi mendengarkan dengan hati amat tertarik itu mengangguk-angguk dan beberapa kali menarik napas panjang.

Memang, dia sendiripun tidak tahu apa yang harus dilakukan kalau dia dilimpahi budi pertolongan dan kasih sayang oleh kakek iblis itu.

"Bun-toako, dari manakah engkau mendengar bahwa aku telah diambil murid Hek-i Mo-ong?! kini Ceng Liong bertanya. Ciang Bun baru sadar dari lamunannya. Kini dia teringat bahwa Ceng Liong belum bercerita kepadanya tentang pertemuan adiknya itu dengan Gangga Dewi seperti yang pernah dikatakan gadis Bhutan itu kepadanya walaupun tadi Ceng Liong juga menceritakan bahwa adiknya itu diajak merantau oleh Hek-i Mo-ong sampai jauh ke barat, ke Pegunungan Himalaya bahkan sampai ke negara Bhutan.!Liong-te, aku mendengarnya dari seorang gadis bernama Gangga Dewi....! katanya memandang tajam. Wajah adik misannya ini di bawah sinar bulan purnama sungguh nampak gagah sekali.

"Gangga Dewi....?! Ceng Liong berseru kaget dan girang.

"Ahh, Gangga Dewi gadis Bhutan itu....! "Liong-te, engkau kenal padanya?! "Kenal! Tentu saja!! Ceng Liong tertawa ketika dia teringat kepada anak perempuan bernama Gangga Dewi yang galak itu.

"Ha-ha, tentu saja aku kenal, toako. Bukankah ia bernama juga Wan Hong Bwee, puteri Bhutan itu? Bukankah ia masih ada hubungan keluarga pula dengan kita?! Kini Ciang Bun benar-benar terkejut bukan main.

"Puteri Bhutan?

Wan Hong Bwee dan masih ada hubungan keluarga dengan kita?

Bagaimana ini, Liong-te, aku tidak tahu sama sekali.

Ceritakanlah kepadaku siapa sesungguhnya gadis itu.!

"Ha-ha, ia tidak pernah bercerita kepadamu?

Wah, memang bengal anak itu!

Ketahuilah, toako, Gangga Dewi atau Wan Hong Bwee itu adalah puteri tunggal dari Wan Tek Hoat dan Puteri Syanti Dewi.!

"Ahh....

ahhh....

maksudmu Wan Tek Hoat cucu mendiang nenek Lulu, jadi....

masih kakak tiriku sendiri?!

Ciang Bun benar-benar terkejut karena tidak pernah menyangka sama sekali.

Kenapa gadis Bhutan itu tidak pernah menceritakan tentang keadaan dirinya?

Ayah gadis itu, Wan Tek Hoat, sudah amat dikenal namanya oleh para cucu Pulau Es, dan diapun sudah mendengar bahwa pendekar yang masih terhitung kakak tirinya itu menikah dengan Puteri Syanti Dewi, puteri istana Bhutan dan kini tinggal di Bhutan.

Jadi kalau begitu, Gangga adalah keponakannya sendiri, walaupun keponakan yang jauh.

Dan tentu saja Gangga sudah tahu akan semua ini.

Bukankah Gangga mengatakan bahwa ia sudah mengenal Ceng Liong dan tahu pula bahwa dia sendiri adalah cucu Pendekar Super Sakti dari Pulau Es?

Akan tetapi gadis itu tak pernah menyinggung keadaan dirinya, dan kini gadis itu telah pergi!

"Dan bagaimana dengan engkau sendiri, toako?

Apa yang telah kau alami sejak engkau terlempar ke dalam lautan dari perahu kita yang diserang penjahat itu?

Dan mengapa pula engkau tidak hadir dalam pesta pernikahan enci Hui?!

Kembali Ciang Bun menarik napas panjang dan termenung, kelihatan berduka sekali sehingga Ceng Liong memandang khawatir, tidak berani mendesak melainkan menunggu saja kakak misannya itu bicara.

Akhirnya Ciang Bun berkata dengan nada suara yang lesu.

"Tidak ada apa-apa yang menarik dalam hidupku, Liong-te, kecuali kemuraman dan kekecewaan. Seperti kau lihat aku masih hidup sekarang karena ketika aku terlempar ke lautan dari perahu kita yang diserbu penjahat sepuluh tahun yang lalu itu, aku berhasil meloloskan diri dari cengkeraman maut. Dan selanjutnya, aku hanya terombang-ambing antara kedukaan dan malapetaka yang menimpa keluargaku....! Pemuda itu menarik napas panjang. Ceng Liong mengangguk-angguk.

"Bun-toako, aku juga menghadiri perayaan pernikahan enci Hui dan aku mendengar bahwa engkau belum lama pergi meninggalkan kota raja, dan aku sudah mendengar dari keluargamu tentang segala yang telah terjadi, yang menimpa diri enci Hui.

Akan tetapi untunglah bahwa enci Hui telah menjadi isteri Jenderal Cin Liong yang gagah perkasa dan baik hati.!

"Engkau benar, Liong-te.

Aku menyesal sekali bahwa aku tidak dapat hadir di waktu pernikahan enci Hui dirayakan, karena aku....

pada waktu itu aku sedang gila mengejar bayangan kosong....

dan sampai sekarang aku belum pulang, biarlah, adikku, biarlah nasib membawa diriku seperti sebuah layang-layang putus talinya dan tertiup angin badai ke angkasa raya tanpa tujuan....!

Melihat betapa pemuda itu kembali tenggelam ke dalam kedukaan, Ceng Liong merasa kasihan sekali.

Dia dapat menduga bahwa tentu kakak misannya ini menderita tekanan batin yang hebat dan seperti orang kebingungan.

Maka diapun berusaha menggembirakan hati kakaknya itu.

Suaranya meninggi gembira ketika dia bertanya.

"Toako, bagaimana engkau dapat berkenalan dengan Hong Bwee?! "Hong Bwee....?! "Ya, atau yang bernama Gangga Dewi itu! Ia tinggal di Bhutan, apakah engkau pernah merantau sampai ke Bhutan pula?! Ciang Bun menggeleng kepala dan menjawab lesu.

"Tidak di Bhutan, aku bertemu dengannya ketika ia merantau sampai ke kota raja....! "Aihhh....! Anak itu memang luar biasa! Pemberani dan juga tentu saja lihai,! kata Ceng Liong, masih belum puas melihat kakak misannya demikian murung dan berusaha untuk menggembirakan hatinya.

"Waah, toako, tak kusangka engkau sekarang gemar bernyanyi dan suaramu hebat pula! Dan nyanyianmu tadi, wah, romantis sekali, toako. Ehmm, siapa sih gadis yang begitu kau cinta sehingga untuk memperoleh cintanya, engkau tidak perduli segala hal lain yang terjadi?! Akan tetapi, mendengar ucapan yang nadanya bergurau itu, Ciang Bun malah menarik napas panjang. Pertanyaan itu seperti menyeretnya kembali ke alam kenangan yang penuh dengan bayangan Gangga yang meninggalkannya. Dan bertemu dengan Ceng Liong dia merasa bertemu dengar saudara sendiri, dengan orang yang dapat dipercaya sepenuhnya, bahkan orang yang dapat dijadikan tempat penumpahan segala rasa dukanya.

"Liong-te, semua keadaan diriku ini, yang seperti orang gila ini.... bukan lain adalah karena dia pula.... orang Bhutan itu....! "Hong Bwee....?! Kata Ceng Liong terbelalak memandang wajah kakaknya.

"Gangga....

dialah yang membuatku merana....

ah, tidak, Liong-te, bukan dia sebabnya, melainkan diriku sendiri, keadaanku sendiri.

Dia tidak bisa disalahkan, dan sudah sepatutnya kalau dia meninggalkan aku, penuh kemuakan dan kebencian....!

Ciang Bun menutupi muka dengan kedua tangannya karena teringat sepenuhnya akan semua itu membuat dia berduka sekali.

Dan Ceng Liong memandang dengan penuh keheranan, apalagi melihat betapa diam-diam kakak misannya itu telah menangis di balik kedua tangan yang menutupi muka!

Kakak misannya ini bukan anak kecil lagi, sudah dewasa, gagah perkasa dan dia tahu bahwa kakaknya ini memiliki kepandaian tinggi akan tetapi kini menangis, karena seorang gadis!

Menangis seperti anak kecil, atau seperti seorang wanita.

Dia tidak tahu harus berbuat apa, harus berkata apa untuk menghibur hati Ciang Bun karena dia sendiri terlalu kaget dan heran mendengar pengakuan kakak misannya yang tak disangka-sangkanya itu.

Agaknya kakaknya ini telah jatuh cinta kepada Hong Bwee atau Gangga Dewi, dan agaknya gadis Bhutan itu menolaknya dan meninggalkannya.!Bun-toako, apakah yang telah terjadi antara engkau dan Gangga Dewi?

Maukah engkau menceritakannya kepadaku?!

Sampai lama Ciang Bun menundukan mukanya, lalu dia melangkah menjauh dan duduk di atas akar pohon, tetap menunduk dan seperti orang melamun jauh.

Rahasia dirinya hanya pernah dia buka kepada kakaknya saja, yaitu Suma Hui.

Akan tetapi Suma Hui adalah seorang wanita, belum tentu dapat ikut merasakan penderitaan batinnya secara tepat.

Dan Ceng Liong adalah saudara misan yang tiada bedanya dengan saudara sendiri karena dia tidak mempunyai saudara kandung laki-laki.

Apa salahnya kalau dia berterus terang kepada Ceng Liong?

Siapa tahu, adik misan yang sejak kecil banyak akalnya ini akan mampu membantuannya mencari jalan yang terbaik untuknya.

"Liong-te, ke sinilah, duduk di sini dan marilah kau dengarkan ceritaku, mudah-mudahan engkau akan dapat membantuku memikirkan bagaimana aku harus melanjutkan hidup ini,!

akhirnya dia berkata.

Mendengar kata-kata itu, Ceng Liong terkejut bukan main.

Suara kakak misannya demikian serius.

Tentu telah terjadi hal yang amat hebat kepada diri kakaknya ini dan dia merasa gelisah juga dan cepat dia menghampiri, lalu duduk di atas batu berhadapan dengan Ciang Bun yang duduk di atas akar pohon yang menonjol dari permukaan tanah.

Untuk beberapa lamanya mereka saling pandang dan keadaan amatlah sunyinya.

Langit bersih tiada awan sehingga sinar bulan purnama menerangi tempat itu seperti pagi yang cerah.

Hawa udara sejuk dan bahkan dingin, akan tetapi dua orang pemuda perkasa itu tidak menderita karena hawa dingin.

Ketika mereka berdiam diri, yang terdengar hanyalah suana jengkerik dan belalang mengurung diri mereka dari segenap penjuru.

Kemudian terdengar suara Suma Ciang Bun, berbisik-bisik menceritakan keadaan dirinya, kelainan yang terdapat dalam batinnya.

Betapa dia amat suka, bahkan tergila-gila dan mudah sekali bangkit gairahnya terhadap pria lain, sedangkan terhadap wanita dia tidak mempunyai perasaan suka itu, kecuali rasa suka seperti seorang sahabat, sama sekali tidak ada gairah terhadap wanita.

Biarpun Ceng Liong adalah seorang pemuda gemblengan yang tidak mudah terguncang perasaannya, mendengar penuturan kakak misannya ini dia terkejut dan juga prihatin sekali, disamping perasaan heran yang tidak terbayang pada wajahnya.

Ciang Bun lalu melanjutkan ceritanya tentang diri sendiri, betapa dia berjumpa dengan seorang pemuda bernama Ganggananda yang membuatnya jatuh cinta, bahkan tergila-gila.

"Ah, betapapun aku menyadari bahwa perasaanku terhadap Ganggananda itu adalah tidak wajar, adikku.

Aku sadar sepenuhnya bahwa aku adalah seorang pria, dan aku jatuh hati, benar-benar aku tergila-gila kepada seorang pemuda lain, seorang pria lain.

Namun aku tidak mampu melawan gejolak hatiku, kesadaranku seolah-olah membutakan diri, tidak mau perduli lagi karena gairah dan hasrat hatiku terhadap Ganggananda tak mungkin dapat dibendung lagi.!

Pemuda itu diam dan berulang kali menarik napas panjang, beberapa kali membuka mulut seperti hendak melanjutkan namun tidak ada suara keluar dari mulutnya, seolah-olah dia tidak kuasa untuk melanjutkan.

Suma Ceng Liong merasa kasihan sekali melihat keadaan kakak misannya itu dan diapun menyentuh tangan Ciang Bun sambil berkata.

"Sudahlah, Bun-toako, kalau engkau merasa berat untuk melanjutkan, tidak perlu kau bicara lagi.

Aku sudah mengerti, atau setidaknya aku akan berusaha untuk mengerti.!

"Tidak, aku harus menceritakan seluruhnya.

Aku sudah kuat, Liong-te, dengarlah baik-baik.!

Suma Ciang Bun lalu melanjutkan, betapa dia bertahan diri untuk tidak membuka cintanya terhadap Ganggananda karena khawatir kalau-kalau pemuda Bhutan itu akan merasa muak dan jijik kepadanya, lalu membencinya karena keadaannya yang tidak wajar itu.

Akan tetapi betapa akhirnya dia tidak kuat bertahan dan mengakui cintanya, siap menerima segala akibatnya andaikata Ganggananda menjadi jijik dan membencinya.

Akan tetapi, sebaliknya dialah yang terpukul.

"Betapa kaget dan hancurnya perasaanku, Liong-te.

Betapa bingung dan malu rasa hatiku ketika Ganggananda membuka rahasia bahwa dia adalah seorang wanita bernama Gangga Dewi dan sama sekali bukan pemuda seperti yang selama itu kuduga!

Dan aku sudah terlanjur mengatakan kepadanya bahwa akn tidak suka wanita!

Ah, ia menjadi marah-marah, tentu ia amat benci kepadaku dan ia lalu meninggalkan aku, Liong-te....!

Dan aku....

aku merasa malu, aku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan, dan aku merana, aku bahkan tidak mau pulang walaupun aku tahu bahwa enci Hui merayakan pernikahannya.

Aku adalah seorang manusia sampah....

membikin malu saja....!

"Bun-toako!!

Terdengar suara Ceng Liong seperti membentak, menggeledek sehingga mengejutkan Ciang Bun.

"Begitukah sikap seorang pendekar yang gagah perkasa? Begitu cengeng penuh dengan iba diri, merasa seolah-olah diri sendiri menjadi orang yang paling sengsara di permukaan bumi ini?! Ciang Bun terkejut sekali. Baru sekarang dia mendengar orang bicara seperti itu kepadanya dan sepasang mata adik misannya itu mencorong menakutkan! Dan sikap Ceng Liong itu seketika menggugah semangatnya, seperti mengguncangnya dari tidur pulas dan mimpi buruk. Dia melihat Ceng Liong bangkit berdiri dan memandang kepadanya dengan sepasang mata bersinar.

"Bun-toako, bagaimanapnn juga, apapun juga yang terjadi atas dirimu, engkau harus berani menghadapi kenyataan!

Katakanlah bahwa engkau mengalami atau menderita kelainan, yang berbeda dengan pria pada umumnya, namun bagaimanapun juga keadaanmu itu adalah suatu kenyataan dan segala kenyataan adalah benar dan tidak dapat diubah hanya dengan tangisan dan keluhan belaka!!

Kata-kata itu seperti tusukan-tusukan pedang yang terasa benar di hatinya, membuat Ciang Bun perlahan-lahan bangkit berdiri.

Hiburan-hiburan baginya tidak ada artinya lagi, akan tetapi kata-kata yang keluar dari mulut Ceng Liong ini sama sekali bukan hiburan, melainkan pisau-pisau yang melakukan operasi membuka segalanya sehingga nampak olehnya, nampak olehnya kenyataan yang ada pada dirinya.

"Ceng Liong....

adikku....

engkau benar.

Lalu....

lalu apa yang harus kulakukan, adikku?!

"Toako, aku bukan guru dan engkau bukan muridku.

Kalau engkau hanya mengekor saja pendapat orang lain, termasuk pendapatku, engkau akan terlibat pula dalam pertentangan batin, akan diputar-putar antara rasa benar dan salah.

Keadaan itu adalah keadaanmu sendiri, badanmu sendiri, dan hanya engkau lah sendiri yang dapat merasakan, maka engkau sendiri pula yang dapat menentukan baik buruknya, engkau sendiri yang dapat mengambil ketentuan, akan melanjutkan atau menghentikan.

Mengertikah, toako?!

Ciang Bun mengangguk-angguk dan mulai memandang adik misannya itu dengan penuh kagum.

Baru sekarang dia merasa semangatnya tergugah, tidak tenggelam di dalam kemurungan dan kekecewaan, tenggelam dalam perasaan yang nelangsa dan putus asa.

Kini matanya seperti dibuka dan dia dipaksa berhadapan dengan kenyataan yang sesungguhnya tidaklah begitu mengerikan atau menakutkan seperti kalau dibayangkan.

Keadaan dirinya bukanlah suatu keadaan yang sudah rusak sama sekali.

Tidak!

Benar Ceng Liong.

Badan ini adalah badannya, berikut baik buruknya, cacat celanya dan dialah yang berkuasa atas badan ini.

Tidak sepatutnya kalau batinnya terseret dan tenggelam oleh keadaan badannya!

"Terima kasih, Liong-te, terima kasih.

Kata-katamu merupakan minuman pahit akan tetapi sungguh bermanfaat sekali bagiku, seperti cambuk akan tetapi dapat menggugahku dari tidur nyenyak!

Aku bersikap terlalu lemah selama ini dan baru nampak olehku sekarang!!

"Toako, keadaanmu itu sebenarnya tidaklah perlu diributkan benar.

Kelainan pada dirimu itu tidak lebih dari kelainan dalam nafsu berahi atau nafsu kelamin belaka.

Dan nafsu itu bukanlah satu-satunya urusan dalam hidup ini bukan?

Lebih baik kita melupakan hal yang sudah lalu dan mempersiapkan diri untuk menghadapi kenyataan setiap saat.

Hanya kenangan lama saja yang menimbulkan gelisah dan duka.

Mari kita bergembira, toako!!

Ciang Bun merangkul adik misannya itu dan memandang wajahnya dari dekat, memandang penuh kagum.

"Ah, tak kusangka adikku yang dahulunya seorang anak yang bengal itu kini menjadi seorang pemuda yang batinnya jauh lebih dewasa daripada aku, dan baru sekarang aku melihat betapa diriku selama ini tersiksa oleh batinku sendiri.

Batinku selalu tenggelam dalam keluhan dan kesengsaraan yang kubuat sendiri.

Engkau memang benar.

Hidup ini bukan hanya urusan nafsu berahi semata dan cintaku yang sudah-sudah itu hanyalah nafsu berahi belaka karena akupun menyadari bahwa cinta yang murni tidak membeda-bedakan dan tidak memilih-milih.

Tapi terus terang saja, adikku.

Setelah aku mengetahui bahwa Gangga seorang gadis, dan aku mengamati perasaanku, aku hampir merasa yakin bahwa aku memang cinta padanya, tak perduli ia itu pria atau wanita.

Akan tetapi....

ah, sudahlah.

Ia tentu sudah benci kepadaku dengan perasaan muak dan jijik, pula, kalau kupikir-pikir lagi, seorang gadis sehebat ia itu memang tidak layak kalau menjadi sisihan seorang laki-laki sinting macam aku yang tidak lumrah pemuda biasa ini.!

Ceng Liong tersenyum.

Ucapan itu nadanya bukan keluhan lagi dan wajah Ciang Bun tidaklah muram seperti tadi lagi.

"Toako, kalau ia membencimu, kalau ia merasa jijik dan muak, itu tandanya ia tidak cinta padamu. Dan dalam urusan jodoh, cinta haruslah ada di kedua pahak, bukan? Kalau hanya kita yang mencinta setengah mati akan tetapi sang gadis tidak, untuk apa dilanjutkan? Berarti hanya penyiksaan batin sendiri, bukan?! "Cocok! Dan aku tidak begitu tolol membiarkan diriku tersiksa sendirian. Ha-ha, engkau seperti dewa penolong yang menyingkirkan batu yang tadinya menindih hatiku, Liong-te.! Ciang Bun tertawa dan mungkin baru sekali inilah dia dapat tertawa dengan sepenuh hatinya semenjak dia ditinggalkan Gangga Dewi.

"Yang menyingkirkan adalah engkau sendiri. Orang lain atau aku tidak mungkin dapat menyingkirkannya, paling banyak hanya membantu menunjukkannya saja. Nah, sekarang ceritakanlah, toako. Bagaimana engkau dapat berada di sini? Apakah engkau juga ingin menghadiri pertemuan antara para pendekar di tempat ini?! Ciang Bun mengangguk-angguk dan kini dia bercerita dengan suara yang wajar dan bebas.

"Aku merantau tidak ada tujuan dan aku membatalkan niatku menyusul ke Bhutan. Dalam perantauan itu aku mendengar berita angin bahwa para pendekar akan mengadakan pertemuan di Hutan Cemara ini, maka akupun segera pergi ke sini.! "Tahukah engkau, toako, apa yang akan dilakukan atau dibicarakan para pendekar dalam pertemuan di Hutan Cemara ini?! Ciang Bun menggeleng kepada dan memandang wajah adiknya dengan alis berkerut.

"Aku tidak tahu, hanya mendengar bahwa para pendekar akan mengadakan pemilihan seorang bengcu (pemimpin rakyat).! "Para pendekar mengadakan pertemuan di sini untuk membicarakan urusan tanah air yang dijajah Bangsa Mancu, toako. Membicarakan tentang rencana perjuangan memberontak dan membebaskan negara dan bangsa dari penjajah Mancu dan untuk itu agaknya memang akan diadakan pemilihan seorang bengcu yang akan memimpin gerakan itu.! Sepasang mata Ciang Bun terbelalak.

"Pemberontakan....? Para pendekar hendak melakukan pemberontakan....?! "Kenapa kau terkejut, toako?! tanya Ceng Liong, teringat akan kekagetan hatinya sendiri ketika untuk pertama kalinya dia mendengar dari pendekar Sim Hong Bu. Dia ingin tahu akan isi hati dan perasaan kakak misannya tentang pemberontakan menentang pemerintah Mancu ini.

"Kenapa tidak terkejut?! Ciang Bun balas bertanya.

"Kita sama sekali tidak boleh mencampurinya kalau seperti itu maksud pertemuan para pendekar itu!! "Kenapa, toako?! "Engkau masih bertanya lagi kenapa, Liong-te? Jelas bahwa kita tidak mungkin dapat mencampuri urusan pemberontakan, apalagi ikut-ikut memberontak! Ingat saja kepada mendiang nenek Nirahai! Ingat saja kepada bibi Milana dan sekarang lebih lagi kalau aku mengingat bahwa enci Hui telah menjadi isteri Jenderal Kao Cin Liong!! Suma Ceng Liong menghela napas. Persis benar perasaan kakak misannya ini dengan perasaan hatinya sendiri ketika untuk pertama kali dia membantah ayahnya dan pendekar Sim Hong Bu.

"Mula-mula akupun berpendapat begitu, toako. Akan tetapi ayahku sendiri menyetujui rencana para pendekar itu dan setelah bercakap-cakap, akupun dapat melihat kebenaran pendapat mereka yang hendak menentang pemerintah Mancu.! Ceng Liong lalu menerangkan kepada kakak misannya tentang para patriot yang hendak membebaskan tanah air dari cengkeraman penjajah Mancu dan dalam perjuangan membebaskan bangsa dari belenggu penjajahan tidak dikenal kepentingan pribadi.

"Boleh jadi kaisar sekarang, biarpun seorang Bangsa Mancu, merupakan seorang kaisar yang baik, akan tetapi bagaimanapun juga baiknya, dia termasuk ke dalam alat dari bangsa asing yang menjajah bangsa kita. Dalam perjuangan ini kita tidak memusuhi pribadi-pribadi, dan juga kita bukan berjuang untuk kepentingan pribadi, melainkan perjuangan rakyat terhadap penjajah.! "Hemm, kalau begitu, engkau datang untuk ikut dalam pertemuan itu, ikut merencanakan.... pemberontakan?! Ciang Bun bertanya, wajahnya menjadi agak pucat mendengar urusan yang amat gawat itu. Ceng Liong tersenyum.

"Toako, seperti juga engkau, dan kuharapkan juga seperti semua orang muda, akupun tidak mudah puas menerima suatu pendapat begitu saja. Aku datang untuk melakukan penyelidikan, meneliti keadaan dan mengenal orang-orang yang hendak memimpin perjuangan itu, apakah benar-benar mereka itu adalah pendekar-pendekar dan patriot-patriot sejati yang hendak menyumbangkan jiwa raga demi kepentingan bangsa, ataukah hanya segerombolan orang yang suka bertualang mencari keuntungan diri pribadi belaka.! Ciang Bun menggeleng-geleng kepalanya perlahan.

"Aku bingung, Liong-te.

Aku tidak tahu apakah aku dapat mencampuri urusan pemberontakan.

Semua terjadi demikian tiba-tiba.

Sebelum mendengar keteranganmu ini, aku sama sekali tidak pernah membayangkan akan adanya rencana pemberontakan.

Akan tetapi, engkau benar.

Sebelum mengambil keputusan, sebaiknya kalau akupun melihat dan mendengar lebih dulu, menyelidiki dahulu dengan teliti.!

"Bagus, begitulah seyogianya, toako.

Dan mengingat bahwa kita berdua adalah anggauta keluarga Pulau Es, dan karena kita berdua masih ragu-ragu dan bermaksud menyelidik, lebih baik kalau kita berpencar.

Sebaiknya kalau kita menyembunyikan nama keluarga kita agar tidak mudah dikenal orang.

Bagaimanapun juga, semua pendekar tahu belaka bahwa keluarga para pendekar Pulau Es masih mempunyai hubungan, bahkan mempunyai darah keluarga kaisar Mancu!

Hal ini, tentu akan menimbulkan kecurigaan dan mendatangkan hal-hal yang mungkin tidak baik.!

Ciang Bun mengangguk.

"Baik, adikku. Dan tempat ini kita jadikan tempat pertemuan kita. Kita berpencar dan melakukan penyelidikan sendiri-sendiri secara terpisah, kemudian pada malam harinya kita bertemu di sini dan membanding-bandingkan hasil penyelidikan kita.! Dua orang kakak beradik misan ini lalu saling berpisah meninggalkan bukit itu, mengambil jalan yang bertentangan.

"Huh, tikus-tikus macam kalian ini tidak patut menyebut diri pendekar-pendekar!!

Bentakan itu dikeluarkan oleh seorang gadis yang berdiri sambil bertolak pinggang, menghadapi tiga orang laki-laki yang menyeringai gembira.

Pagi itu masih agak gelap, matahari masih terlampau rendah untuk dapat mengusir kegelapan yang ditimbulkan oleh pohon-pohon yang lebat dalam hutan itu.

Seorang gadis yang usianya antara delapan belas atau sembilan belas tahun.

Tubuhnya padat ramping dan tingginya sedang.

Pakaiannya sederhana, bukan hanya potongannya melainkan juga terbuat dari kain kasar, akan tetapi justeru pakaian sederhana ini bahkan menonjolkan kecantikannya dan keindahan bentuk tubuhnya.

Rambutnya yang hitam panjang itu dikuncir dua dan digelung ke atas, tanpa perhiasan, hanya ditusuk dengan dua potong bambu sebesar sumpit.

Sepatunya dari kulit, menutupi seluruh kaki sampai ke betis.

Melihat sikap dan dandanannya, mudah diduga bahwa ia adalah seorang gadis yang biasa melakukan perjalanan jauh, biasa menempuh dan menghadapi bahaya, seorang gadis kang-ouw.

Akan tetapi, tidak nampak sebuahpun senjata menempel di tubuhnya.

Sepasang matanya tajam bersinar-sinar, apalagi pada saat ia sedang marah seperti itu.

Hidungnya yang kecil mancung itu dapat bergerak-gerak sedikit cupingnya, dan mulutnya yang cemberut itu berbibir merah basah, tanda bahwa ia sehat dan segar.

Kedua pipinya, pada tonjolan pipi di tepi bawah mata nampak merah sekali seperti diberi pemerah muka, padahal pipi itu merah aseli seperti juga bibirnya.

Tiga orang laki-laki itu berusia antara tiga puluh sampai empat puluh tahun dan biarpun dimaki oleh gadis itu, mereka tetap bergembira dan tersenyum-senyum genit.

Dari pandang mata mereka, sikap dan bau mulut mereka, mudah diketahui bahwa mereka sedang mabok atau kebanyakan minum arak di pagi itu.

Sepagi itu sudah mabok, ini merupakan tanda orang-orang yang sudah menjadi hamba minuman keras dan dalam keadaan mabok seperti itu, biasanya orang tidak lagi sadar akan apa yang mereka lakukan, meniadakan sopan santun dan watak-watak aseli mereka akan nampak keluar tanpa hambatan.

"Heh-heh, nona manis. Apa salahnya kalau kami mengajak engkau bersenang-senang di pagi hari yang sunyi dan sedingin ini? Ha-ha!! seorang di antara mereka yang matanya sipit sekali berkata.

"Bercumbu sedikit tiada salahnya, nona. Kami para pendekarpun suka bermain cinta, hi-hik!! kata orang ke dua yang hidungnya bengkok seperti hidung burung kakatua.

"Ha-ha-ha, benar, benar! Pendekarpun laki-laki biasa yang suka bercanda dengan gadis cantik seperti engkau, nona. Dan tahulah engkau? Kedua pipimu begitu merah dan apa artinya kalau seorang gadis manis merah pipinya?! Orang ke tiga yang jenggotnya lebat berkata.

"Artinya?! sambung yang pertama.

"Artinya gadis itu minta dicium pipinya, ha-ha!! Mereka bertiga tertawa bergelak, terbahak-bahak sambil memegangi perut.

"Ha-ha, akan tetapi jangan engkau yang mencium. Mukamu penuh brewok, kasihan ia akan mati kegelian,! kata pula yang sipit dan kembali mereka tertawa-tawa. Gadis itu membanting-banting kakinya.

"Keparat!

Kalian bertiga ini pantasnya anggauta gerombolan penjahat, sama sekali tidak pantas berada di tempat ini, di antara para pendekar yang mengadakan pertemuan.

Kalau tidak ingat bahwa mungkin sekali kalian ini pendekar-pendekar yang tersesat dan bahwa sekarang akan diadakan pertemuan antara para orang gagah, tentu sudah kuhancurkan mulut kalian yang busuk itu!!

Sambil berkata demikian, gadis yang menahan kemarahannya itu membalikkan tubuhnya dan hendak pergi dari situ.

Akan tetapi, tiga orang itu menggerakkan tubuh mereka dan tahu-tahu mereka sudah berlompatan menghadang di depan gadis itu.

Dari cara mereka bergerak melompat, dapat diketahui bahwa tiga orang pria ini adalah orang-orang yang memiliki kepandaian silat yang lumayan.

"Wah, wah, nanti dulu, nona!! kata yang bermata sipit, yang paling tua dan agaknya menjadi pimpinan di antara mereka.

"Kalian mau apa!! bentak gadis itu dengan kemarahan yang hampir tak dapat dipertahankannya lagi.

"Nona manis, engkau sungguh tidak adil.

Kami bertiga bertemu denganmu, menjamahpun tidak, mengganggupun tidak, hanya memuji-muji kecantikanmu.

Untuk pujian itu, sudah sepatutnya kalau kami menerima hadiah.

Sebaliknya, engkau memaki-maki dan menghina kami.

Karena itu, tidak boleh engkau pergi sebelum kami menerima ganti rugi atas perlakuanmu yang tidak adil kepada kami.!

"Hemm, apa yang kalian kehendaki?!

"Tidak banyak, hanya masing-masing dari kami menerima satu ciuman saja darimu.!

Si mata sipit menyeringai dan dua orang temannya mengangguk-angguk dengan jakun turun naik karena mereka sudah membayangkan betapa akan sedapnya menerima sebuah ciuman dari dara yang manis dan jelita ini.

Kini kemarahan dara itu tidak dapat ditahannya lagi.

Mukanya menjadi merah dan matanya mencorong seolah-olah mengeluarkan api.

"Keparat jahanam bermulut busuk! Sekali lagi, pergilah sebelum aku terpaksa menghajar kalian!! "He-he-he, ia mau menghajar kita!! si mata sipit tertawa. Dua orang kawannya tertawa pula.

"Biarlah, dihajar oleh tangan yang halus itu aku siap!

Sudah lama aku tidak diusap tangan halus.!

"Dan akupun ingin dipijiti jari-jari mungil itu, heh-heh!!!Pergilah....!!

Gadis itu menggerakkan tubuhnya dan kaki tangannya bergerak cepat sekali.

Terdengar suara plak-plak beberapa kali dan tubuh tiga orang itu terpelanting, dibarengi keluhan mereka.

Mereka terbelalak, masing-masing meraba pipi mereka yang menjadi bengkak oleh tamparan nona tadi.

Yang membuat mereka terkejut adalah cepatnya tangan itu bergerak, sehingga berturut-turut mereka kena ditampar tanpa mereka dapat mengelak atau menangkis sama sekali.

Dan karena tamparan itu memang membuat pipi bengkak dan muka panas, nyeri rasanya, ditambah lagi rasa malu karena sudah ditampar oleh seorang gadis muda, tiga orarg itupun menjadi marah.

"Berani kau memukul kami?!

Mereka bangkit berdiri dan mengepung gadis itu.

Kemudian, sambil berteriak marah mereka mulai maju dan dari serangan mereka, dapat dilihat bahwa mereka masih mempunyai niat kotor karena serangan mereka itu bukan pukulan melainkan cengkeraman-cengkeraman.

Agaknya mereka itu ingin membalas tamparan si nona dengan cengkeraman untuk menangkap tubuh yang denok itu atau merobek pakaiannya!

Akan tetapi, mereka kecelik kalau mengira bahwa mereka berhadapan dengan seekor domba betina muda.

Nona itu ternyata memiliki gerakan yang amat gesit dan dengan lincahnya tubuh yang ramping itu berloncatan ke sana-sini dan semua terkaman itu hanya mengenai angin belaka.

Kemudian, kaki yang kecil itu bergerak tiga kali berturut-turut dan untuk ke dua kalinya, tiga orang setengah mabok itu terpelanting dan mengaduh-aduh!

Si dara itu sama sekali bukan seekor domba betina muda yang lunak dagingnya, melainkan seekor macan betina yang galak dan kuat.

Baru sekarang tiga orang itu sadar bahwa mereka berhadapan dengan seorang dara yang lihai.

Akan tetapi, dasar mereka memang memiliki watak yang buruk, mereka tidak menyadari kesalahan mereka, sebaliknya dengan penuh kemarahan tiga orang itu bangkit lagi dan mereka mencabut senjata mereka yaitu sebatang golok tipis dan dengan senjata di tangan mereka kini mengurung si dara dengan wajah bengis.

Akan tetapi, gadis itu sama sekali tidak nampak gentar menghadapi ancaman tiga orang laki-laki yang memegang golok itu.

Bahkan ia berdiri tegak dengan kedua tangan di pinggang dan memandang dengan senyum simpul mengejek, akan tetapi matanya bersinar-sinar penuh kemarahan.

Agaknya ia sama sekali tidak khawatir karena dalam dua gebrakan tadi saja gadis ini sudah yakin benar bahwa tiga orang lawannya hanya galak aksinya saja akan tetapi sesungguhnya merupakan gentong-gentong kosong yang nyaring suaranya.

"Hemm, kalian memang perlu dihajar lebih keras lagi agar bertobat!! katanya dengan senyum tak pernah meninggalkan wajah yang manis. Tiga orang itu kini sudah kehilangan selera mereka untuk menggoda dan berbuat kurang ajar. Kini yang ada dalam benak mereka hanyalah membalas dan kalau perlu membunuh gadis yang telah membikin malu mereka dengan tamparan dan tendangan yang membuat mereka terpelanting roboh tadi.

"Haiiiittt....!!

Si mata sipit sudah menerjang dengan gerakan goloknya yang membentuk gulungan sinar terang.

Dua orang temannya agaknya tidak mau ketinggalan dan dari kanan kiri merekapun menyerang dengan golok mereka.

Sungguh tiga orang ini tak tahu malu, menyerang seorang gadis bertangan kosong dengan golok mereka secara keroyokan seperti itu.

Namun, gadis itu sungguh luar biasa sekali.

Tubuhnya berkelebatan di antara sinar golok.

Tiga orang itu menjadi semakin bernafsu ketika golok mereka membabat udara hampa saja dalam penyerangan pertama mereka, maka mereka menyusulkan serangan-serangan berikutnya yang datang dengan bertubi-tubi.

Gadis itu tetap mengelak ke sana-sini mencari kesempatan untuk membalas dan kurang lebih sepuluh jurus kemudian, tiba-tiba ia mengeluarkan suara melengking nyaring sekali.

Tiga orang pengeroyoknya terkejut, sejenak seperti menjadi lumpuh oleh suara yang menusuk telinga dan menyayat perasaan hati mereka itu.

Dan pada saat itulah si gadis lihai menurunkan tangan membalas.

Tiga kali ia memukul dan tiga orang itu roboh berpelantingan sambil mengaduh-aduh dan golok mereka terlepas dari tangan kanan karena lengan kanan itu seketika lumpuh dan pundak mereka nyeri.

Kiranya gadis itu tadi memukul ke arah pundak kanan dan membuat tulang pundak mereka remuk dan lengan itu tentu saja menjadi lumpuh seketika.

"Hemm, aku masih mengampuni nyawa kalian, dan mudah-mudahan pelajaran ini membuat kalian bertobat!! kata si gadis dengan kata-kata yang tegas. Akan tetapi, pada saat itu bermunculan belasan orang dikepalai oleh dua orang kakek yang berpakaian seperti tosu dan yang memegang sebatang tongkat baja. Melihat tiga orang yang mengaduh-aduh itu, belasan orang ini lalu mengurung si gadis yang memandang dengan sikap tenang namun waspada. Dua orang kakek itu menghampiri tiga orang yang terluka, lalu menggunakan jari tangan mereka menotok beberapa jalan darah dekat pundak untuk mengurangi rasa nyeri. Kemudian mereka bangkit lagi dan menghadapi si gadis yang berdiri dengan sikap tenang itu.

"Nona, siapakah engkau yang begitu berani melukai tiga orang murid kami?! seorang di antara mereka bertanya, sikapnya tenang dan angkuh seolah-olah sikap seorang locianpwe kepada seorang yang tingkatanya lebih muda dan rendah. Melihat jubah putih dari dua orang tosu itu dan gambar bunga teratai putih di atas dasar biru bundar di dada, gadis itu mengerutkan alisnya, lalu berkata dengan suara halus akan tetapi mengandung nada mengejek.

"Siapa adanya aku tidak perlu dibicarakan, akan tetapi kalau tidak salah, ji-wi adalah orang-orang Pek-lian-pai yang sangat terkenal, bukan? Dan tiga orang yang menjadi murid ji-wi itu adalah anggauta-anggauta Pek-lian-pai. Akan tetapi mengapa mereka bersikap seperti penjahat-penjahat rendah yang suka mengganggu wanita? Apakah memang para murid Pek-lian-pai diajar untuk kurang ajar terhadap wanita?! Wajah dua orang kakek itu berobah merah dan tosu ke dua yang bertubuh gemuk pendek menghentakkan tongkatnya di atas tanah.

"Siancai, nona muda yang bermulut lancang! Mana mungkin murid-murid kami melakukan hal yang rendah? Akan kutanya mereka!! Dia lalu menoleh kepada tiga orang yang masih menyeringai itu.

"Coba katakan, apakah benar kalian mengganggu wanita? Hayo jawab sebenarnya!! Si mata sipit yang mewakili dua orang kawannya cepat menjawab.

"Sama sekali tidak, susiok! Kami mana berani mengganggu wanita? Kami bertemu dengan nona ini dan karena merasa bahwa di antara kami dan nona ini terdapat persamaan paham, kami menganggapnya sebagai seorang sahahat dan kami menyapanya. Akan tetapi ia marah-marah dan memaki-maki kami, bahkan lalu menyerang dan melukai kami.! Tosu pendek gendut itu kembali memandang gadis itu dengan alis berkerut. Akan tetapi gadis itu telah mendahuluinya dan berkata sambil tersenyum mengejek.

"Aku mendengar bahwa Pek-lian-pai mempunyai dasar Agama Pek-lian-kauw (Agama Teratai Putih) yang menjadi cabang dari Agama To-kauw. Mengambil gambar teratai putih untuk menunjukkan bahwa Pek-lian-pai putih bersih. Akan tetapi siapa kira, murid-muridnya selain pemabok-pemabok dan pengganggu wanita, juga pembohong-pembohong besar dan pengecut, tidak berani mengakui kesalahan dan tidak mau mempertanggungjawabkan perbuatan mereka!!Si tosu gendut marah. Matanya terbelalak dan tongkatnya digerakkan, melintang di depan dadanya.

"Hemm, engkau ini bocah perempuan lancang mulut dan sombong, agaknya mengandalkan sedikit kepandaian untuk menghina Pek-lian-pai!

Majulah, hendak pinto melihat sampai di mana kelihaianmu.!

Setelah berkata demikian, kakek gendut itu menancapkan tongkatnya di atas tanah dan dia menerjang maju, mengirim tamparan ke arah pundak gadis itu.

Bagaimanapun juga, sebagai seorang tokoh besar Pek-lian-pai, dia merasa malu kalau harus menghadapi seorang gadis remaja dengan senjatanya, dan ketika menyerangpun dia hanya menampar pundak karena tidak bermaksud mencelakai, melainkan hanya memberi hajaran saja kepada gadis muda yang dianggapnya sombong dan keterlaluan telah berani melukai tiga orang murid Pek-lian-pai itu.

Agaknya kakek ini merasa yakin bahwa tamparannya itu tentu akan berhasil, karena bukan tamparan biasa, melainkan jurus ilmu silat Pek-lian-pai yang lihai, tamparan yang dilanjutkan dengan cengkeraman dan dilakukan dengan amat cepat, juga mengandung tenaga sin-kang yang cukup kuat.

Akan tetapi kakek gendut itu kecelik.

Dengan gerakan indah namun cepat sekali, juga dilakukan seenaknya, dengan merendahkan tubuh dan miring lalu menggeser kaki ke belakang, gadis itu sudah mampu menghindarkan serangannya itu dengan amat baiknya.

Hal ini membuat si tosu penasaran.

Kakinya melangkah ke depan dan dia mengirim serangan ke dua, kaki menendang ke arah lutut dilanjutkan cengkeraman ke arah pundak dengan tangan kiri dan totokan jari tangan kanan ke arah leher.

Sungguh merupakan serangkaian serangan yang amat berbahaya!

Kembali kakek itu kecelik.

Dengan gerakan tubuh yang amat lincah, gadis itu dapat menghindarkan diri pula dengan amat baiknya dan tiga serangan beruntun itupun semua hanya mengenai tempat kosong belaka.

Setelah lewat belasan jurus serangan yang semua dapat dihindarkan gadis itu dengan elakan yang lincah, tiba-tiba ketika kakek itu menghantamkan tangan kanannya dari atas ke arah gadis itu karena diapun sudah mulai penasaran dan kini menyerang sungguh-sungguh, gadis itu mengangkat tangan kirinya menangkis.

Melihat ini, kakek Pek-lian-pai menjadi girang.

Inilah yang diharapkan sejak tadi.

Gadis itu terlalu lincah gerakannya sehingga sukarlah mengenai tubuhnya, seperti menyerang seekor kupu-kupu yang lincah saja.

Akan tetapi kalau gadis itu menangkis, dia akan dapat menghajar gadis itu dengan beradunya kedua lengan.

Biarlah gadis itu akan menerima hukuman dan tulang lengannya akan patah.

Maka, melihat gadis itu mengangkat tangan menangkis, diapun segera mengerahkan tenaga sin-kang ke dalam lengan kanan yang ditangkis.

"Dukkk....!! Dua lengan bertemu dan kakek itu terkejut bukan main karena pertemuan lengan yang diharapkan akan dapat mematahkan tulang lengan lawan atau setidaknya menbuat gadis itu roboh, sebaliknya malah membuat dia terhuyung ke belakang dengan lengan terasa nyeri sekali. Ada semacam tenaga aneh yang amat kuat menangkis tenaganya dan tenaga itu bahkan mendorongnya sehingga tanpa dapat dipertahankannya dia terhuyung ke belakang.

"Totiang, apakah engkau masih hendak melanjutkan kesesatanmu?!

Gadis itu membentak, kelihatan marah.

Dalam pertemuan tenaga yang membuat kakek itu terhuyung tadi, ia sama sekali tidak bergoyah, hal ini saja sudah menunjukkan bahwa dalam hal sin-kangpun gadis itu lebih lihai.

Namun tosu gendut itu memang tidak tahu diri atau memang sudah nekat karena merasa malu untuk mengaku kalah.

Dia meloncat ke belakang, mencari tongkat yang tadi menancap di tanah dan dengan tongkat melintang dia menerjang maju lagi.

Tongkat itu membentuk gulungan sinar dan mengeluarkan suara angin mendesir ketika bergerak memyambar ke arah kepala gadis itu!

"Wuuuuttt....!!

Tongkat menyambar luput dan kini kakek ke dua yang tinggi kurus sudah ikut pula menyerang dengan tongkatnya, menusuk ke arah belakang lutut gadis itu dengan maksud merobohkannya.

Gadis itu terkejut.

Nyaris belakang lututnya tertotok, maka iapun meloncat jauh ke belakang dan tangan kanannya bergerak ke arah pinggangnya.

Nampak sinar keemasan menyilaukan mata dan gadis itu ternyata telah memegang sebatang suling terbuat dari emas yang indah sekali!

"Hemm, kalian tidak bisa diberi hati, harus dihajar.

Majulah!!

Gadis itu kini menantang.

Dua orang kakek itupun merasa penasaran sekali.

Mereka adalah tokoh-tokoh besar Pek-lian-pai, masa menghadapi seorang gadis remaja saja tidak mampu menang?

Keduanya tidak tahu malu lagi karena terdorong rasa penasaran untuk dapat mengalahkan gadis itu.

Akan tetapi sebelum bergerak, tiba-tiba berkelebat bayangan orang dan tahu-tahu di situ telah berdiri seorang pemuda remaja berusia dua puluh tahun yang bertubuh tinggi besar dan bersikap gagah perkasa, berwajah ramah penuh senyum cerah.

Pemuda ini segera menyelinap di antara mereka dan menghadapi dua orang kakek itu sambil mengangkat kedua tangan ke atas, lalu menjura dengan hormat.

"Ji-wi totiang harap sabar dulu. Harap ji-wi pikirkan baik-baik, apakah sudah cukup pantas kalau ji-wi melanjutkan perkelahian ini?! pemuda itu bertanya dengan suara lantang. Melihat sikap pemuda ini yang mudah diduga tentu seorang pendekar, dua orang tosu itu merasa ragu-ragu dan si tinggi kurus bertanya.

"Orang muda, mengapa engkan mencampuri urusan kami dan apa yang kaumaksudkan dengan kata-katamu tadi?!

"Ji-wi totiang adalah tokoh-tokoh Pek-lian-pai dan kedatangan ji-wi di tempat ini bersama anak buah ji-wi tentu ada hubungannya dengan pertemuan para pendekar dan patriot yang akan diadakan di tempat ini, bukan?!

"Benar, lalu apa hubungannya dengan urusan kami menghadapi gadis jahat itu?!

"Totiang, harap jangan keliru menilai orang.

Nona ini sama sekali bukan orang jahat, melainkan puteri pendekar sakti Suling Emas, Kam-locianpwe.

Iaadalah seorang pendekar wanita yang lihai, dan tentu kehadirannya juga ada hubungannya dengan pertemuan para pendekar patriot.

Totiang, kalau pertemuan para pendekar dan patriot diawali dengan perkelahian antara kita sendiri, mana mungkin kita bersatu menghadapi pemerintah penjajah?!

Dua orang tosu itu kelihatan terkejut.

Biarpun mereka belum pernah berkenalan atau berjumpa namun nama besar pendekar sakti Suling Emas sudah pernah mereka dengar.

Pantas saja gadis itu lihai bukan main.

"Tapi, nona ini telah melukai tiga orang murid kami,! bantah si gendut untuk menempatkan pihak sendiri di sudut yang menguntungkan.

"Tentu saja aku melukai dan menghajar tiga orang itu yang berani bersikap kurang ajar menggangguku!! bantah gadis itu.

"Kalau bukan tiga orang mabok itu menggangguku, perlu apa aku mengotorkan tangan terhadap mereka?! Pemuda itu mengangkat kedua tangan menyabarkan kedua pihak.

"Ji-wi totiang, harap sudahi saja perkara kecil ini.

Bagaimanapun juga, nona ini adalah seorang pendekar dan tidak mungkin tanpa sebab ia berkelahi dengan murid-murid ji-wi, dan ternyata bahwa murid-murid ji-wi dalam keadaan mabok.

Kita sama-sama tahu bagaimana sikap laki-laki yang sedang mabok kalau melihat wanita muda dan cantik.

Kalau sampai terdengar oleh para pendekar dan patriot lain, tentu nama Pek-lian-pai akan menjadi merosot saja kalau perkelahian dengan puteri Kam-locian-pwe ini dilanjutkan.!

Memang dua orang tosu Pek-lian-pai itu sudah dapat menduga bahwa murid-murid mereka tentu yang lebih dulu menggoda nona yang cantik ini.

Mereka tadi turun tangan hanya karena merasa marah melihat murid-murid mereka dipatahkan tulangnya, dan juga karena malu sebelum dapat membalas nona itu.

Akan tetapi begitu mendengar bahwa nona itu adalah puteri pendekar sakti Suling Emas, mereka sudah dapat melihat bahwa kalau dilanjutkan pertikaian itu, tentu nama mereka akan rusak nama karena membela tiga orang murid mabok!

"Baik, kami akan sudahi saja urusan ini.

Akan tetapi siapakah engkau, orang muda?!

Tosu tinggi kurus bertanya.

"Dia adalah cucu Pendekar Super Sakti dari Pulau Es!!

Tiba-tiba gadis itu berkata, seperti hendak membalas ketika pemuda itu tadi memperkenalkannya sebagai puteri pendekar Suling Emas.

Tentu saja dua orang kakek Pek-lian-pai itu semakin terkejut.

Cucu Pendekar Pulau Es?

Mereka tidak berani lagi banyak lagak dan sambil menjura mereka lalu mengundurkan diri dari membentak tiga orang murid mereka yang menjadi gara-gara pertikaian itu.

Setelah mereka pergi, pemuda itu membalikkan tubuh, menghadapi gadis itu.

Mereka berdiri saling berpandangan, sampai lama tidak dapat mengeluarkan suara, dua pasang mata itu bertemu, bertaut dan seolah-olah mereka menjadi gagu seketika.

Bayangan dan kenangan lama muncul di dalam pikiran mereka dan tiba-tiba keduanya mengeluarkan seruan hampir berbareng.

"Bi Eng....!!

"Ceng Liong....!!

Keduanya melangkah maju mengulur tangan, akan tetapi tiba-tiba Bi Eng berhenti dan ia berdiri memandang dengan muka berobah merah sekali.

Teringat ia bahwa yang berada di depannya bukan anak-anak lagi, bukan remaja yang pernah dikenalnya beberapa tahun yang lalu, melainkan seorang pemuda dewasa yang gagah perkasa!

Dan ia sendiri sudah menjadi seorang gadis dewasa, bahkan menjadi seorang calon isteri, tunangan pemuda yang kini menjadi murid ayahnya, yaitu Sim Houw!

Melihat keraguan di wajah gadis itu, Ceng Liong juga menghentikan langkahnya.

Kini mereka berdiri berhadapan dalam jarak dua meter saja dan Ceng Liong mengamati wajah itu dengan hati penuh kagum.

Dia terpesona oleh sepasang mata itu, oleh hidung dan mulut itu.

Bi Eng telah menjadi seorang gadis yang menurut penglihatannya teramat cantik.

Belum pernah ada seorang gadis yang begini menarik hatinya.

Jantungnya berdebar tegang, penuh kegembiraan dan juga harapan ketika dia teringat akan janjinya kepada mendiang Hek-i Mo-ong bahtwa kelak dia akan menjadi suami Bi Eng!

Dan dia maklum pada saat dia memandang wajah itu bahwa dia akan berbahagia sekali apabila harapan gurunya itu terlaksana.

Dia jatuh cinta kepada gadis ini sekarang!

Dan Ceng Liong merasa terkejut sendiri mengikuti jalan pikirannya.

"Bi Eng.... ah, tak kusangka akan bertemu dengan engkau di sini! Hampir aku tidak dapat mengenalmu lagi, engkau.... sudah begini besar....!! Bi Eng memandang kepadanya dan gadis itu tersenyum. Tersirap darah diri jantung Ceng Liong melihat lesung pipit di sebelah kiri mulut itu. Betapa manisnya! "Ceng Liong, engkau bilang tidak dapat mengenalku akan tetapi engkau bisa memberi tahu kepada kakek-kakek Pek-lian-pai itu bahwa aku puteri pendekar Kam!! Memang tadinya aku tidak mengenalmu, dan baru aku teringat ketika engkau mengeluarkan suling emas itu.! Bi Eng mengangguk-angguk.

"Dan engkau pun bukan anak-anak lagi, sudah menjadi seorang pemuda dewasa.! "Akan tetapi engkau langsung menganalku.! "Yang berobah hanya tubuh dan mukamu, akan tetapi mata dan senyumanmu yang nakal itu masih sama.! "Bi Eng, kalau tidak salah dugaanku, engkau datang ke sini tentu ada hubungannya dengan pertemuan para pendekar dan patriot di Hutan Cemara, bukan?! Gadis itu mengangguk.

"Benar, dan tentu engkau pun datang untuk keperluan itu, bukan? Apakah engkau datang bersama orang tuamu? Apakah para pendekar keluarga Pulau Es ikut datang menghadiri pertemuan itu?! "Tidak, aku datang seorang diri saja. Orang tuaku mewakilkan kepadaku. Dan engkau? Apakah Kam-locianpwe dan isterinya juga hadir?! Bi Eng menggeleng kepalanya.

"Tidak, Ceng Liong. Aku datang bersama.... guruku.! Tiba-tiba wajah gadis itu berobah merah. Hampir saja dia tadi menyebut "mertuaku!, bukan "guruku!. Jawaban ini mengherankan hati pemuda itu.

"Bi Eng! Engkau adalah puteri tunggal Kam-locianpwe yang memiliki kepandaian setinggi langit dan kurasa mewarisi ilmu-ilmu ayah bundamu saja sudah membuat engkau menjadi orang yang sukar dicari tandingannya. Dan engkau masih mempunyai seorang guru lain daripada ayah bundamu?! Bi Eng bertolak pinggang dan memandang pemuda itu dengan senyum mengejek.

"Ceng Liong, engkau sejak dahulu banyak lagak dan tidak mau bercermin melihat diri sendiri. Apa anehnya kalau aku mempunyai seorang guru lain? Tengok dirimu sendiri. Engkau cucu Pendekar Super Sakti dari Pulau Es! Kurang bagaimanakah keluarga para pendekar Pulau Es? Namun ternyata engkau masih berguru kepada mendiang Hek-i Mo-ong!! Ceng Liong tersenyum. Gadis ini masih galak dan tidak mau kalah kalau bicara. Akan tetapi dia seperti diingatkan kepada mendiang Hek-i Mo-ong dan diapun menarik napas panjang.

"Hek-i Mo-ong memang seorang datuk sesat, akan tetapi nasibnya buruk sekali. Aku merasa kasihan kepadanya.! "Akan tetapi dia berwatak baik, dia pernah menyelamatkan aku. Sayang dia menjadi datuk sesat....! "Dan dia mati ketika berhadapan dengan keluangamu.! "Akan tetapi, bukan ayah yang membunuhnya! Hek-i Mo-ong sendiri yang menyerang ayah padahal dia dalam keadaan luka parah sehingga gerakan serangannya itu menewaskannya sendiri!! Bi Eng membantah. Ceng Liong menganggguk-angguk.

"Hek-i Mo-ong memang berwatak aneh, kadang-kadang dia jahat bukan main, akan tetapi kadang-kadang baik sekali. Bagaimanapun juga, andaikata dia tewas di tangan seorang pendekar sakti seperti ayahmupun sudah sepatutnya. Dialah yang menyebabkan kakek dan nenek-nenekku di Pulau Es tewas, dia penyebab malapetaka yang melenyapkan Pulau Es....! Sepasang mata yang indah itu terbelalak.

"Apa? Dan engkau masih mau menjadi muridnya?! tanya Bi Eng dengan seruan kaget dan penuh keheranan. Ceng Liong menghela napas panjang.

"Dia berkali-kali menyelamatkan nyawaku, membelaku dan amat mengasihiku.

Dia mengajarkan ilmu-ilmunya kepadaku dengan setulus hatinya.

Mana mungkin aku membalas budinya dan kasih sayangnya dengan kebencian?!

"Tapi....

tapi dia menyerbu keluarga Pulau Es dan menyerbu orang tuaku....!

"Itulah satu di antara keanehan dan kejahatannya.

Dia tidak pernah mau menerima kekalahan.

Karena itu dia menjadi penasaran karena pernah kalah oleh ayahmu, dia selalu ingin membalas kekalahannya itu.

Akan tetapi sudahlah, Bi Eng.

Dia sudah meninggal dunia, tewas oleh ulahnya sendiri.

Baigaimanapun juga, aku tidak dapat melupakan semua kebaikannya.

Ingatkah kau ketika dia mengobatimu?!

Bi Eng mengangguk-angguk dan menggigit bibirnya.

"Dan engkau ditipunya, obat manjur dikatakan akan membunuhmu.! Ceng Liong tertawa. Teringat akan hal itu, Bi Eng tertawa juga. !Gurumu itu jahat dan nakal, suka menggoda orang. Aku sudah marah dan merasa ngeri karena maut berada di depan mata ketika dia berbohong mengatakan bahwa obatnya itu adalah racun.! "Dan dia memaksa kita bersumpah agar menjadi.... suami isteri....! Tiba-tiba wajah Bi Eng berobah merah sekali dan bersungut-sungut.

"Engkau yang berjanji, bukan aku!! Kemudian gadis itu menyambung secara tiba-tiba.

"Ceng Liong, kenapa engkau berjanji seperti itu kepada Hek-i Mo-ong?! Ceng Liong memandang kepadanya dan melihat betapa gadis itu kelihatan malu. Dia merasa tidak enak hati.

"Bi Eng, aku terpaksa menerima janji suhu karena aku ingin menolongmu. Aku sendiri tidak akan mau berjanji seperti itu kalau tidak terpaksa karena melihat engkau terancam maut. Dan engkau sendiri, kenapa engkau menolak keras ketika disuruh berjanji? Apakah.... apakah engkau benci kepadaku?! Bi Eng menggeleng kepala.

"Bukan karena benci, akan tetapi mana mungkin aku berjanji seperti itu?

Bagiku, urusan pernikahan adalah bagaimana keputusan orang tuaku saja....!

"Ah, sungguh sebaliknya dengan aku, Bi Eng!

Bagiku, urusan pernikahan adalah urusan dua orang yang bersangkutan, sama sekali tidak boleh ditentukan orang lain, walapun orang lain itu orang tua sendiri atau guru.

Dulu itu, kalau tidak terpaksa untuk menolongmu, aku tidak akan mau berjanji.

Aku tidak mau kalau jodohku dipilihkan dan ditentukan oleh guruku atau orang tuaku sekalipun.!

Gadis itu mengangguk-angguk, alisnya berkerut dan ia melangkah perlahan-lahan meninggalkan tempat itu, didampingi Ceng Liong.

Keduanya seperti berjalan-jalan tanpa tujuan, tanpa disengaja, hanya untuk berjalan-jalan di dalam hutan itu sambil bercakap-cakap.

"Kalau begitu....

janjimu itu tidak mengikat?

Jadi....

engkau menganggap janji kepada mendiang Hek-i Mo-ong itu sebagai kosong belaka....?!

"Begitulah!

Aku tidak mau dipaksa oleh siapapun juga untuk menerima jodoh yang dipilihnya atau dipaksakannya, apalagi kalau pilihan itu sendiri tidak suka kepadaku.!!Hemm, kalau begitu....

jodoh yang bagaimana yang cukup berharga untuk hidup di sisimu selamanya?!

Bertanya demikian, gadis itu menghentikan langkahnya, memutar tubuh menghadapi Ceng Liong dan kedua tangannya bertolak pinggang, matanya memandang tajam dan mulutnya tersenyum mengejek seperti orang menantang!

Diam-diam Ceng Liong terkejut dan merasa heran, juga gugup menghadapi pertanyaan tadi.

Akan tetapi dia menenangkan dirinya, dan menjawab dengan suara sungguh-sungguh.

"Ia harus seorang gadis yang kucinta dan mencintaku, itu saja syaratnya.! Hening sejenak dan Bi Eng melangkah maju lagi perlahan-lahan, diikuti oleh Ceng Liong. Gadis itu nampak tenggelam dalam lamunan. Tiba-tiba saja ia berhenti lagi dan menghadapi Ceng Liong, membuat pemuda itu agak terkejut dan dia pun ikut berhenti. Mereka berdiri berhadapan dan saling pandang dan keadaan menjadi amat kaku bagi Ceng Liong.

"Ceng Liong, apakah sudah ada gadis yang kau cinta itu?! Pertanyaan ini terlalu tiba-tiba dan sama sekali tidak tersangka oleh Ceng Liong, membuat pemuda itu manjadi gugup.

"Eh.... itu.... eh, selama ini memang belum ada.... eh, memang ada, ya, ada memang....! Gadis itu mengerutkan alisnya.

"Ceng Liong, kalau engkau tidak percaya kepadaku dan tidak suka menjawab pertanyaan itu, katakanlah, jangan pura-pura. Ada atau tidakkah gadis yang kau cinta itu? Yang tegaslah, jangan plintat-plintut!! "Ada.... ada.... Ya benar, ada memang!! Ceng Liong berkata menutupi kegugupannya dengan sikap tegas.

"Hemm.... dan.... dan iapun cinta padamu?! Ceng Liong menggelengkan kepalanya.

"Aku tidak tahu, Bi Eng.... belum tahu....! Karena pertanyaan-pertanyaan itu makin mendekati sasaran, yaitu hal-hal yang mengguncangkan batinnya di saat itu, Ceng Liong yang gagah perkasa itu merasa betapa kedua kakinya agak gemetar dan tubuhnya lemas. Maka diapun lalu duduk di atas batu yang besar di dekat situ. Anehnya, Bi Eng juga duduk di atas batu berhadapan dengannya dan gadis itu kelihatan tertarik sekali.

"Engkau belum tahu? Engkau mencinta seorang gadis dan engkau belum tahu apakah ia mencintamu atau tidak? Ceng Liong, mengapa engkau tidak bertanya kepadanya?! "Aku.... aku takut, Bi Eng.! "Kau? Kau takut?! Gadis itu tertawa dan menutupi mulutnya dengan punggung tangan.

"Engkau cucu Pendekar Super Sakti Pulau Es, juga murid Hek-i Mo-ong Si Raja Iblis, dan engkau mengenal takut?! "Bi Eng, aku takut kalau-kalau cintaku ditolak, kalau-kalau ia tidak cinta padaku, aku takut dan tidak tahu harus berbuat apa.... Bi Eng, maukah engkau memberi nasihat, apa yang harus kulakukan menghadapi keadaan begini?! Bi Eng tersenyum pahit, matanya bersinar layu memandang jauh.

"Engkau....? Minta nasihat dariku? Ah, bagaimana sih keadaanmu itu? Engkau mencinta seorang gadis dan engkau tidak tahu apakah ia juga mencintamu ataukah tidak. Dan engkau malu atau takut bertanya, karena takut ditolak? Begitukah?! Ceng Liong mengangguk.

"Dan gadis itu sudah tahu bahwa engkau mencintanya?! Ceng Liong menggeleng.

"Wah, bagaimana ini? Jadi selama ini cintamu hanya kau simpan di hati saja? Lama-lama bisa menjadi racun kalau begitu!! Ceng Liong memandang kagum.

"Aih, agaknya engkau ahli benar dalam urusan cinta-mencinta!! "Tentu saja!! Bi Eng menghardik.

"Kalau begitu, tentu engkau sudah saling mencinta dengan seorang pemuda....! "Kalau itu sih belum pernah!! Ceng Liong terbelalak dan nampak girang.

"Eh, kalau belum bagaimana engkau bisa tahu tentang hal ihwal cinta? "Aku kan wanita dan yang kau cinta itupun wanita, bukan?! Ceng Liong mengangguk-angguk bingung.

"Sudahlah, sebaiknya bagaimana menurut nasihatmu, Bi Eng?

Aku cinta seorang gadis akan tetapi aku tidak tahu apakah ia mencintaku, dan aku takut menyatakan cintaku, takut kalau-kalau ia akan marah dan menolakku....!

"Ceng Liong, tidak ada wanita di dunia ini yang akan marah kalau ada pria menyatakan cinta kepadanya.

Baik diterimanya atau ditolaknya cinta itu, akan tetapi yang jelas akan ada perasaan bangga menyelinap di lubuk hatinya.

Kecuali, tentu saja, kalau pernyataan cinta itu dinyatakan secara kasar atau kurang ajar.

Kalau kau tidak menyatakan cintamu, mana ia tahu?

Dan kalau engkau tidak tanya kepadanya, mana kau tahu apakah ia mencintamu atau tidak?

Maka, kalau engkau minta nasihatku, datangi gadis itu dan akuilah terus terang tentang cintamu dan minta jawabannya secara jujur.!

"Begitukah nasihatmu, Bi Eng?

Gadis itu benar-benar takkan marah?!

"Mengapa marah?

Sepatutnya ia bangga menerima cinta seorang cucu Pendekar Super Sakti Pulau Es!!

"Nah, kalau begitu biarlah kupergunakan kesempatan ini untuk menyatakan perasaan hatiku itu.

Bi Eng, aku cintapadamu ....!

Seketika gadis itu meloncat bangun dari atas batu ke belakang menjauhi Ceng Liong, mukanya pucat dan matanya terbelalak, alisnya berkerut dan matanya mengeluarkan sinar menyambar-nyambar ke arah wajah pemuda itu.

"Apa....? Apa yang kau katakan itu....?! "Bi Eng, aku cinta padamu dan semoga engkau sudi menerimanya, semoga engkau dapat membalas cintaku kepadamu....! "Ceng Liong, engkau berani main-main denganku?! Bi Eng mengepal tinju dan mukanya berobah merah, sinar matanya membayangkan kemarahan. Melihat ini, Ceng Liong menjura.

"Bi Eng, maafkan aku.

Ingat bahwa engkau sendiri yang menasihatiku untuk berterus terang, engkau sendiri yang mengatakan bahwa gadis itu takkan marah....!

"Tapi....

tapi....

kukira bukan aku gadis itu, dan....

dan bukankah kau tadi mengatakan bahwa janjimu kepada Hek-i Mo-ong itu hanya kosong belaka?

Bahwa janjimu itu tidak mengikat apa-apa?!

"Memang benar, janjiku itu dahulu kulakukan hanya untuk menyelamatkanmu.

Dan aku menentang janji itu dalam batinku, Bi Eng.

Aku tidak mau mendiang suhu memaksa kita untuk berjodoh begitu saja.!

"Tapi....

kita baru saja berjumpa dan kau menyatakan cinta....?!!Bi Eng, sejak pertemuan kita dahulu, aku sudah merasa kasihan dan suka sekali kepadamu.

Tentu saja aku belum tahu pada waktu itu tentang perasaan cinta.

Karena aku kasihan dan suka, maka aku menolongmu ketika engkau terpukul oleh si jahanam Louw Tek Ciang, dan engkau tahu sendiri, aku bahkan melawan dan menyerang mendiang guruku sendiri karena mengira engkau diracunnya.

Akan tetapi, setelah kini kita saling jumpa, barulah aku tahu dan merasa yakin bahwa aku mencintamu.

Aku cinta padamu, Bi Eng, bukan karena janjiku terhadap mendiang Hek-i Mo-ong.

Aku cinta padamu dan aku akan merasa berbahagia sekali kalau engkau pun membalas perasaan cintaku....

Bi Eng, Bi Eng, engkau kenapa....?!

Gadis itu sudah menjatuhkan diri berlutut dan menangis!

Terisak-isak Bi Eng menangis, seperti anak kecil menutupi muka dengan kedua tangannya dan air mata nampak menetes-netes dari celah jari-jari tangannya.

Tentu saja Ceng Liong terkejut bukan main dan diapun cepat menghampiri dan berlut pula di depan gadis itu.

Ingin dia menghibur, ingin dia menyentuh, akan tetapi tidak berani dan timbul kekhawatiran besar di dalam hatinya.

"Bi Eng....

ah, Bi Eng, kaumaafkanlah aku kalau semua kata-kataku menyingung perasaanmu.

Bi Eng, kalau engkau merasa terhina oleh pengakuanku tadi, biarlah, aku mengaku salah, dan boleh engkau menghukumku.

Pukullah aku, sumpahi matipun aku tidak akan membalas.!

Bi Eng menurunkan kedua tangannya dan dengan mata basah dan hidung merah ia memandang pemuda itu.

Mereka saling pandang dan tiba-tiba Bi Eng menangis lagi, menutupi lagi mukanya dengan kedua tangan.

Ceng Liong menjadi semakin bingung dan khawatir.

Dia adalah seorang pemuda gagah perkasa, penuh keberanian dan ketenangan.

Akan tetapi sekarang menghadapi gadis yang dicintanya menangis tidak karuan mendengar pengakuan cintanya, dia menjadi bingung, tidak tahu harus berbuat apa.

"Bi Eng, sekali lagi maafkanlah aku.... mengapa engkau kelihatan begini berduka? Kalau engkau marah kepadaku, hal itu masih dapat kumengerti, akan tetapi kenapa engkau berduka? Kenapa menangis? Engkau yang segagah ini?! Bi Eng semakin mengguguk dan akhirnya Ceng Liong membiarkan gadis itu menangis. Agaknya gadis itu harus menghabiskan dulu air matanya, baru dapat diajak bicara, pikirnya. Dan biarpun pendapatnya ini hanya ngawur saja, akan tetapi buktinya memang demikian. Setelah puas menangis, tangis gadis itu mereda, bahkan ia lalu dapat bicara.

"Ceng Liong, aku.... aku tidak marah kepadamu, tapi.... kata-katamu tadi membongkar semua isi batinku dan membuatku berduka. Ketahuilah, aku.... aku telah bertunangan dengan orang lain....! Ceng Liong menatap wajah gadis itu, sikapnya tenang, akan tetapi wajahnya berobah pucat dan dia merasa betapa jantungnya seperti ditikam pedang. Dia menggigit bibirnya dan termenung sejenak.

"Tapi, bukankah tadi kau mengatakan bahwa kau tidak pernah.... saling mencinta dengan seorang pria?! Gadis itu terisak dan mengusap air matanya dengan ujung lengan baju.

"Itulah sebabnya aku menangis. Aku.... aku tidak mencintanya, aku hanya menurut kehendak ayah ibuku saja....! "Ah, dan dia? Dia tentu mencintamu, bukan?! Gadis itu menggeleng kepala.

"Diapun seperti aku, hanya menurut kehendak orang tua, dan kami tidak sempat bergaul, begitu bertemu orang tua kami saling setuju menjodohkan kami, kemudian aku ikut calon ayah mertuaku untuk dididik ilmu silat, sebaliknya dia ikut ayahku untuk menerima pendidikan ilmu pula.!

Ceng Liong menarik napas panjang.

Hatinya terasa nyeri.

Dia tahu bahwa amat banyak orang-orang muda seperti Bi Eng dan tunangannya ini.

Bahkan ada orang baru melihat isteri atau suaminya setelah bertemu sebagai sepasang mempelai.

Menjadi mempelai seperti beli undian saja, untung-untungan!

"Sungguh aku merasa heran, bagaimana seorang gadis seperti engkau mau begitu saja dijoodohkan tanpa mempertimbangkan perasaan hatimu sendiri?!

"Aku tidak berani menolak, karena aku tidak ingin menyusahkan hati ayah ibuku yang hanya mempunyai seorang anak tunggal yaitu aku, Ceng Liong.!

Hening sejenak.

Keheningan yang amat tidak enak bagi Ceng Liong.

"Jadi engkau tidak cinta kepada pemuda itu, tidak suka kepadanya?! "Aku tidak mencintanya, bukan berarti tidak suka. Dia cukup baik dan gagah perkasa.! "Siapakah dia, kalau aku boleh mengetahuinya, Bi Eug?! "Dia bernama Sim Houw, putera tunggal dari paman Sim Hong Bu....! "Ahh....?! Ceng Liong melompat berdiri dengan kaget sehingga Bi Eng juga terkejut dan mengangkat muka memandang.

"Putera orang tua yang gagah perkasa itu? Ah, pantas Kalau begitu orang tuamu menerimanya. Kalau begitu.... aku tidak tahu diri, sungguh aku tidak tahu diri berani menyatakan cinta kepada calon mantu Sim-locianpwe. Maafkan kelancanganku, nona.... dan selamat tinggal....! Dengan hati terasa perih dan tubuh lemas Ceng Liong lalu menggalkan gadis itu, setelah membalikkan tubuhnya dan melangkah perlahan-lahan.

"Ceng Liong.....!! Terdengar seruan lemah dan Ceng Liong seperti tertahan kakinya. Benarkah apa yang didengarnya tadi? Suara Bi Eng memanggilnya, disusul isak tangis gadis itu! Dia membalikkan tubuh dan memandang. Dilihatnya Bi Eng menangis, berdiri dengan kedua tangan diulur ke depan, kedua lengan itu terbuka dan air mata bercucuran di atas sepasang pipinya.

"Ceng Liong.... jangan.... jangan pergi, jangan tinggalkan aku....!! gadis itu berkata terisak-isak.

"Bi Eng....

apa artinya ini....?!

Ceng Liong lari menghampiri dan mereka saling tubruk, saling rangkul, entah siapa yang bergerak merangkul lebih dulu.

Bi Eng menyembunyikan mukanya di atas dada pemuda itu dan iapun menangis terisak-isak.

Ceng Liong menjadi bengong sejenak, kedua lengannya merangkul pundak dan leher gadis itu, mendekap kepala itu ke dadanya dan perlahan-lahan dia merasa kehangatan air mata itu menembus bajunya dan membasahi dadanya.

Terasa segar bagaikan siraman embun ke atas bunga yang tadi melayu di dalam hatinyamembuat bunga itu berkembang kembali dengan segarnya.

Dia hampir tidak dapat percaya akan keadaan ini.

Seujung rambutpun tadi dia tidak pernah menyangka bahwa Bi Eng akan bersikap begini, bahkan sekarangpun, setelah dia merangkul gadis itu, merasakan kehangatan tubuhnya dan kehangatan air mata di kulit dadanya, dia masih ragu-ragu dan belum percaya.

"Bi Eng.... ah, Bi Eng apa artinya ini? Kenapa engkau menangis....?! Kedua lengannya memeluk ketat dan kini jari-jari tangannya mengelus rambut kepala yang bersandar di dadanya itu penuh kasih sayang. Tanpa mengangkat mukanya, Bi Eng menjawab lirih dan malu-malu.

"Ceng Liong...., apakah engkau belum dapat mengerti? Aku.... aku tidak hanya menerima cintamu, aku.... aku bahkan juga.... mencintamu....! Dengan jari-jari tangan gemetar dan jantung berdegup girang, Ceng Liong menyentuh dagu yang meruncing itu dan mendorongnya ke belakang sehingga wajah gadis itu tengadah. Mereka saling pandang. Wajah itu kemerahan dan masih ada butir-butir air mata seperti mutiara di kedua pipi itu.

"Bi Eng....

mimpikah aku....?!

Ceng Liong bertanya seperti seperti orang bingung, suaranya lirih mengandung getaran kuat.Wajah yang basah itu kini tersenyum, seperti sekuntum bunga bermandikan embun kini merekah segar.

Nampak sebagian deretan gigi putih berkilau dan sepasang mata yang masih mengandung air mata itu memandang mesra.

Biarpun dia belum berpengalaman, dan biarpun getaran jantungnya membuat tubuhnya menggigil, ada sesuatu yang mendorong Ceng Liong untuk menunduk dan dua kali mencium pipi kanan kiri yang kemerahan, mencucupi butiran air mata dari pipi.

Dua pasang lengan itu otomatis saling memeluk lebih ketat seolah-olah keduanya ingin menyatukan diri dalam pelukan itu.

Setelah gelora perasaan itu mereda, Ceng Liong yang sejak tadi masih dilanda keraguan dan sulit menerima dan mempercaya kebahagiaan yang tiba-tiba melanda dirinya itu, sekali lagi menyentuh dagu gadis itu dan mengangkat mukanya.

Sejenak mereka bertatapan pandang penuh kemesraan, kemudian terdengar Ceng Liong berkata lirih.

"Bi Eng.... tapi.... tapi kau telah bertunangan....! Bagaikan dipagut ular berbisa, Bi Eng melepaskan diri dari pelukan Ceng Liong, meloncat ke belakang dan memandang wajah Ceng Liong dengan muka berobah pucat sekali. Lalu gadis itu mengepal kedua tangannya dengan kuat, matanya mengeluarkan sinar dan ia nampak penasaran sekali.

"Engkau benar!

Aku telah bertunangan atau lebih tepat lagi, ditunangkan dan dipaksa berjodoh.

Aku bukan anjing, atau kucing, bukan boneka.

Aku tidak boleh menerima begitu saja.

Aku harus menentangnya!!

"Tapi, Bi Eng, kalau engkau memutuskan tali pertunangan itu karena aku, tentu orang tuamu marah kepadaku dan menganggap aku yang menjadi biang keladi, padahal mereka itu tidak suka kepadaku.

Dahulupun, mereka menolak keras ketika mendengar usul mendiang Hek-i Mo-ong yang hendak menjodohkan kita.

Pula, aku amat menghormati Sim-locianpwe, bagaimana aku ada muka untuk berhadapan dengannya kalau kini aku menjadi pengrusak pertalian jodoh antara engkau dan puteranya?!

"Ceng Liong, benarkah engkau cinta padaku?!

"Tentu saja!!

"Sebesar aku mencintamu?!

"Ya, lebih lagi, ini aku yakin!!

"Kalau begitu, kenapa engkau kelihatan takut-takut menghadapi segala resiko dan akibatnya?!

"Bukan takut, Bi Eng, hanya merasa tidak enak hati.

Aku menghormati dan mengagumi orang tuamu, juga Sim-locianpwe, dan aku khawatir akan nasibmu kalau menentang orang tuamu....!

"Jadi, kalau begitu engkau menganjurkan aku menerima saja nasibku?

Menerima saja dijodohkan dengan orang lain?

Ceng Liong, cinta macam apa yang ada di hatimu terhadap diriku?!

"Tidak, bukan begitu maksudku.

Aku hanya ingin agar....

dengan halus engkau dapat memberi alasan kepada orang tuamu agar mereka tidak memaksamu, dan kita....

dengan terus terang menghadap orang tuamu, menceritakan tentang cinta kita.!

"Nah, begitu baru benar!!

Bi Eng menjadi gembira dan ia melangkah maju, dipegangnya kedua tangan pemuda itu.

"Ceng Liong, kalau aku berada di sampingmu, kalau aku bersamamu, aku tidak takut menghadapi apapun juga. Aku berani bersamamu menghadap guruku dan orang tuaku untuk berterus terang, minta dibatalkan pertalian jodoh paksaan itu dan menceritakan tentang cinta kita.! Ceng Liong merangkulnya dan kembali mereka saling berpelukan.

"Akupun tidak takut, Eng-moi....! Bi Eng tersenyum.

"Ihh, lucunya kau menyebut Eng-moi kepadaku!!

"Habis, bagaimana?

Sudah sepatutnya demikian, bukan?!

"Dan aku harus menyebut apa padamu, Ceng Liong?!

"Bagaimanapun juga, selain lebih tua darimu, akupun calon suamimu, kan?

Pantasnya engkau menyebut koko.!

"Liong-koko....

ih, lucu juga!!

Melihat kekasihnya itu dengan mata masih basah bekas air mata kini tersenyum-senyum manis dan gembira, Ceng Liong tak dapat menahan hatinya dan diciumnya gadis itu, kini diciumnya bibir yang merah itu.

Dia masih canggung karena selama hidupnya baru pertama kali itu mencium, itupun dilakukannya hanya menurut dorongan naluri kejantanannya saja.

Bi Eng terkejut, mengeluh dan meronta sebentar, akan tetapi lalu tubuhnya menjadi lemas dan iapun membuang semua perlawanan dan keraguan, menyerah dengan sepenuh hati dan merekapun berciuman, canggung namun mesra.

"Eng-moi, aku cinta padamu dan aku siap mempertaruhkan nyawaku untuk melindungimu.!

"Tak perlu sampai membahayakan nyawa, koko.

Aku yakin bahwa guruku dan juga ayah bundaku adalah pendekar-pendekar yang gagah perkasa dan dapat menyadari kekeliruan mereka.

Kita menentang mereka karena memang sekali ini mereka terlalu sembrono dan keliru dalam menjodohkan anak-anak mereka tanpa perhitungkan lebih dulu,tanpa memperdulikan isi hati antara yang bersangkutan.!

"Mudah-mudahan begitu.

Eng-moi, sekarang engkau hendak ke manakah?!

"Aku datang ke tempat ini bersama suhu, dan tadi kami berpisah, masing-masing melakukan penyelidikan di sekitar tempat ini.

Suhu menyuruh aku memasang mata kalau-kalau tempat ini terdapat orang-orang dari golongan lain yang menyelundup.

Aku bertemu dengan orang-orang Pek-lian-pai mabok yang menggangguku.!

Ceng Liong melepaskan rangkulannya dan mereka kini bicara dengan sikap serius, karena perhatian mereka mulai tertarik dan teringat akan keperluan mereka datang ke tempat itu.

"Akupun heran mengapa orang-orang seperti mereka itu hadir pula di sini. Kehadiran mereka itu saja sudah membuat aku menjadi semakin ragu-ragu akan kebenaran pertemuan ini.! "Menurut suhu, Pek-lian-pai adalah perkumpulan yang paling gigih menentang pemerintah sejak dahulu. Yang kita pandang bukanlah perangai mereka, melainkan semangat mereka menentang pemerintah penjajah. Karena itu tadinya aku banyak mengalah, akan tetapi karena mereka semakin kurang ajar, terpaksa aku menghajar mereka,! kata Bi Eng.

"Sekarang mereka sudah mulai berkumpul di Hutan Cemara, mari kita pergi ke sana, Eng-moi.! "Sebaiknya engkau pergi ke sana dulu, Liong-koko. Aku akan mencari suhu dulu dan nanti kita bertemu kembali di Hutan Cemara.! Menuruti perasaan hatinya, Ceng Liong ingin berdampingan terus dengan kekasihnya, akan tetapi diapun tahu bahwa kekasihnya itu tidak mungkin meninggalkan gurunya atau juga calon ayah mertuanya itu begitu saja.

"Baiklah, kita saling jumpa di Hutan Cemara, Eng-moi,!

katanya dan mereka saling menggenggam tangan dan saling berpandangan dengan penuh perasaan mesra.

Bi Eng lalu melepaskan tangannya dan membalik, lalu berlari cepat, lenyap di balik pohon-pohon.

Sampai beberapa lamanya Ceng Liong berdiri bengong, kemudian diapun melanjutkan perjalanan menuju ke Hutan Cemara.

Di Hutan Cemara telah berkumpul banyak sekali orang.

Ada seratus orang lebih yang sudah datang berkumpul.

Mereka itu rata-rata nampak gagah perkasa dan penuh semangat.

Hutan di kaki Pegunungan Tai-hang-san itu nampak ramai walaupun hal ini agaknya tidak diketahui oleh para penduduk dusun yang berada di sekitar Tai-hang-san namun cukup jauh dari tempat pertemuan yang sepi itu.

Pada waktu itu, sudah terdapat beberapa buah perkumpulan yang anti pemerintah, di antaranya yang paling terkenal pada waktu itu adalah Pek-lian-pai atau Pek-lian-pang yang intinya adalah Agama Pek-lian-kauw.

Kemudian Pat-kwa-pai dan Thian-li-pai yang juga merupakan perkumpulan rahasia yang selalu dikejar-kejar pemerintah karena mereka itu terang-terangan menentang pemerintah Mancu yang berkuasa.

Pada mulanya memang cita-cita menentang penjajah ini digerakkan oleh orang-orang yang berjiwa patriot di antara para tokoh mereka.

Akan tetapi sungguh sayang, cita-cita ini kemudian dicampuri dengan cita-cita pribadi atau cita-cita kelompok yang lain lagi, yang hanya mementingkan keuntungan diri pribadi atau kelompok, ambisi untuk mencari kedudukan atau keuntungan.

Bahkan lebih buruk lagi, di antara para anak buah perkumpulan-perkumpulan rahasia itu ada yang terlalu mengandalkan kekuatan dan kekuasaan atau pengaruh perkumpulannya sehingga seringkali mereka bertindak sewenang-wenang.

Bahkan ada pula orang-orang yang memang berwatak jahat menyelundup masuk dan melakukan perbuatan-perbuatan yang mengotorkan nama perkumpulan.

Ketika Ceng Liong tiba di Hutan Cemara, banyak orang sudah berkumpul.

Yang amat menyolok adalah tiga buah perkumpulan itu.

Mereka datang dengan anggauta yang puluhan orang banyaknya dan nampaklah bendera-bendera mereka berkibar dan pasukan mereka berada di belakang bendera perkumpulan masing-masing.

Di depan bendera Pek-lian-pai berdiri seorang tosu berusia enam puluh lima tahun, bertubuh tinggi kurus dan bermuka pucat akan tetapi sepasang matanya yang mencorong itu menunjukkan bahwa tosu yang tua ini tentu memiliki ilmu kepandaian yang tinggi.

Di kanan kirinya berdiri dua orang tosu tua yang tadi ribut dengan Bi Eng.

Sikap tiga orang tosu ini angkuh dengan muka ditegakkan menghadap ke depan, kedua tangan di belakang tubuh dan kedua kaki dipentang lebar.

Akan tetapi sikap para anak buah Pek-lian-pai tidak teratur dan mereka itu nampak berbisik-bisik dan ada yang tersenyum-senyum dengan mata melirik ke kanan kiri.

Pat-kwa-pai dengan benderanya yang angker, bentuk segi delapan dengan garis-garis pat-kwa, dipimpin oleh seorang kakek pula yang bertubuh sedang, berpakaian putih dan kuning seperti pakaian pertapa, dengan rambut, jenggot dan kumis awut-awutan panjang tak terpelihara, diiringkan dua puluh lebih anak buah Pat-kwa-pai yang kesemuanya mengenakan pakaian seragam dengan gambar pat-kwa di bagian dada.

Sikap mereka ini lebih serius dan pendiam daripada para anak buah Pek-lian-pai yang berbendera gambar bunga teratai itu.

Berbeda dengan dua perkumpulan terdahulu, Thian-li-pai yang datang dengan anak buah sebanyak lima puluh orang itu dipimpin oleh seorang pria berusia empat puluh tahun, berpakaian ringkas serba hitam dengan sepasang pedang tergantung di punggung.

Sikapnya pendiam dan gagah, juga anak buahnya kelihatan gagah dengan pakaian yang serba hitam dan ringkas.

Karena saat pertemuan yang ditentukan telah tiba, maka di dataran tinggi yang dikelilingi para peserta itu muncul seorang pria yang gagah perkasa, yang memakai baju kulit harimau.

Pria ini berusia kurang lebih empat puluh tahun dan begitu muncul di dataran tinggi itu pria itu menjura dengan sikap gagah dan hormat ke empat penjuru sambil berseru dengan nada suara yang lantang.

"Cu-wi (saudara sekalian) yang terhormat, mohon perhatian!!

Suaranya yang mengandung getaran khi-kang yang kuat itu mengatasi suara berbisik para pendatang yang memenuhi tengah hutan cemara itu dan suasana lalu menjadi tenang dan sunyi karena semua orang menghentikan percakapan masing-masing, dan kini semua mata ditujukan kepada pria itu.

Melihat pria itu Ceng Liong merasa betapa jantungnya berdebar.

Andaikata tidak terjadi pertemuan antara dia dan Bi Eng, maka melihat pria ini tentu akan mendatangkan rasa girang, tidak bercampur tegang seperti sekarang ini.

Pria itu adalah Sim Hong Bu, pendekar yang mewarisi Koai-liong-pokiam (Pedang Pusaka Naga Siluman) dengan ilmunya itu.

Pendekar yang menjadi guru Bi Eng, juga menjadi calon mertua!

Setelah memberi hormat ke empat penjuru, Sim Hong Bu berkata, nada suaranya masih lantang dan gagah.

"Cu-wi yang terhormat, harap maafkan kelancangan saya mewakili para locianpwe dan para sahabat untuk sementara memimpin rapat ini sebelum kita semua memilih pimpinan.

Bagi cu-wi yang belum mengenal saya, saya memperkenalkan diri bahwa nama saya Sim Hong Bu.

Bagaimana pendapat cu-wi, setujukah kalau saya untuk sementara memimpin pertemuan ini?!

Terdengar teriakan "setuju!!

dari mereka yang sudah mengenal pendekar ini, sedangkan mereka yang belum mengenalnya dan masih ragu-ragu pun diam saja, hanya mendengarkan.

Agaknya para pimpinan tiga perkumpulan besar yang hadir itupun sudah mengenal pendekar ini karena mereka mengangguk-angguk.

Karena sebagian besar di antara yang hadir menyetujuinya, Sim Hong Bu makin bersemangat.

"Terima kasih atas kepercayaan cu-wi.

Saya akan menceritakan sedikit tentang timbulnya gagasan mengadakan pertemuan pada hari ini.

Beberapa orang locianpwe dan sahabat baik, yang berjiwa pendekar dan mencinta tanah air dan bangsa, mengadakan pertemuan dan membicarakan tentang tanah air kita yang dijajah Bangsa Mancu puluhan tahun lamanya.

Sebagai pendekar dan patriot, tentu saja kita tidak mungkin tinggal diam saja.

Maka sayapun diberi tugas untuk menghubungi para sahabat dan pendekar yang sehaluan, mengundang mereka untuk mengadakan pertemuan pada hari ini.

Maksud dari pertemuan ini adalah untuk menghimpun tenaga dan mengatur rencana bagaimana kita dapat berjuang membebaskan tanah air dan bangsa dari tangan penjajah.!

"Harus lebih dulu dipilih seorang bengcu (pemimpin rakyat)!!

terdengar teriakan-teriakan di antara mereka yang hadir.

Sim Hong Bu tersenyum dan mengangkat kedua tangan minta agar mereka itu tenang.

Setelah keadaan menjadi tenang, dia berkata.

"Memang seperti yang cu-wi kehendaki, pertama-tama kita memilih pimpinan. Karena itu maka tadi saya katakan bahwa saya hanya untuk sementara memimpin pertemuan ini, atau sebagai juru bicara. Kita mengangkat seorang pemimpin dan pemimpin itulah yang kemudian menentukan para pembantunya. Setujukah cu-wi?! Semua orang kembali berisik menyatakan setuju. Tosu gendut, yaitu yang pernah ribut dengan Bi Eng, mengacungkan tangan ke atas dengan suara yang menggeledek dia berkata.

"Kami calonkan ketua kami menjadi bengcu!! Ucapan ini disambut sorak-sorai anak buah Pek-lian-pai.

"Kami usulkan pimpinan kami Giam San-jin menjadi bengcu!! teriak seorang di antara anak buah Pat-kwa-pai dan teriakan inipun disambut sorak-sorai anak buah perkumpulan itu.

"Kami usulkan toako kami Su Ciok menjadi calon bengcu!! teriak anak buah Thian-li-pai disambut sorak-sorai teman-temannya.Kembali Sim Hong Bu mengangkat kedua tangannya ke atas untuk memberi isyarat agar suasana kembali tenang. Setelah keadaan tenang, diapun berkata.

"Memang untuk memilih bengcu, harus lebih dahulu diajukan calon-calon. Seorang calon yang diajukan harus memenuhi syarat, dan harus dikemukakan kebaikan-kebaikan apa maka dia dipilih menjadi bengcu. Saya mulai dengan locianpwe Ci Hong Tosu pimpinan Pek-lian-pai yang tadi diajukan sebagai calon. Harapdikemukakan alasan-alasan mengapa dia dicalonkan.! Sim Hong Bu sudah tahu siapa adanya tosu kurus yang memimpin rombongan Pek-lian-pai itu dan dia tahu bahwa biarpun tosu itu memiliki ilmu kepandaian tinggi, akan tetapi berwatak tinggi hati, bahkan kadang-kadang sombong dan terlalu memandang rendah orang lain. Tosu gendut yang tadi mengusulkan agar ketuanya dipilih bengcu, berkata.

"Suhu Ci Hong Tosu memiliki pengetahuan yang luas disamping itu kepandaian tinggi, dan terutama sekali disamping itu semua, beliau adalah seorang tokoh Pek-lian-pai dan siapakah yang tidak tahu bahwa sejak dahulu Pek-lian-pai adalah perkumpulan yang selalu berjuang untuk mengusir penjajah?! "Susiok kami, Giam San-jin belum tentu kalah dibandingkan dengan tokoh Pek-lian-pai!! tiba-tiba terdengar suara dari rombongan Pat-kwa-pai.

"Dan mengenai perjuangan menentang pemerintah penjajah, Pat-kwa-pai juga sudah amat terkenal.!

"Dalam hal perjuangan, Thian-li-pai tidak kalah!

Dan dalam hal kepandaian, juga toako kami Su Ciok boleh diandalkan!!

teriak orang-orang Thian-li-pai.

Kembali keadaan menjadi berisik karena tiga golongan ini bicara sendiri semaunya.

Sementara itu, sejak tadi Ceng Liong tidak memperhatikan mereka yang ribut mengajukan calon-calon bengcu karena dia mencari-cari Bi Eng dengan matanya.

Begitu melihat munculnya guru dan calon ayah mertua kekasihnya, dia sudah menoleh dan memandang ke sana-sini, mencari-cari dengan pandang matanya dan merasa gelisah mengapa gadis itu belum juga muncul.

Akhirnya dia melihat berkelebatnya bayangan Bi Eng di antara penonton di sebelah selatan, maka diapun menyusup ke sana menghampiri dan Bi Eng yang juga melihatnya lalu bergerak pula menghampirinya.

Seperti telah mereka janjikan dan setujui berdua, mereka lalu berdiri di tempat yang tidak begitu berdesak-desak, berdiri berdampingan dan sama-sama memandang ke arah Sim Hong Bu yang memimpin pertemuan itu.

"Suhumu memang gagah perkasa.! Ceng Liong memuji lirih.

"Ya, dan kalau menurut aku, tidak ada yang lebih baik daripada suhu untuk menjadi calon bengcu. Dia penuh semangat dan berilmu tinggi, juga kegagahan dan kebersihannya tidak perlu diragukan lagi,! jawab Bi Eng lirih.

"Kalau begitu, kenapa tidak kau usulkan agar dia dicalonkan pula?! "Engkau benar! Orang-orang seperti mereka itu dicalonkan, mengapa suhu tidak?! Setelah berkata demikian, sekali menggerakkan kakinya, gadis itu sudah meloncat ke depan, ke arah bagian tanah yang agak tinggi walaupun tidak setinggi tanah datar di mana gurunya berada, dan dengan pengerahan khi-kang yang membuat suaranya melengking tinggi mengatasi semua kegaduhan ia berkata.

"Cu-wi, saya juga mengajukan seorang calon bengcu, yaitu bukan lain guru saya sendiri Sim Hong Bu yang cu-wi semua sudah mengenalnya!! Usul ini disambut sorakan setuju dari sebagian banyak orang, mungkin lebih tertarik karena melihat kecantikan dan keberanian Bi Eng daripada kepercayaan mereka terhadap Sim Hong Bu sendiri. Melihat ulah muridnya, Sim Hong Bu tertawa dan mengangkat kedua tangan ke atas.

"Cu-wi sekalian, harap maafkan murid saya.

Akan tetapi karena ia sudah mengajukan saya sebagai calon, tentu saja terserah kepada cu-wi.

Nah, siapa lagi yang akan mengajukan calon?!

Ternyata banyak juga calon yang diajukan oleh para pendekar itu.

Di antara mereka bahkan terdapat Bu-taihiap atau pendekar Bu Seng Kin yang terkenal sebagai seorang pendekar sakti banyak isteri dan kekasihnya itu, yang kini telah berusia enam puluh tahun lebih akan tetapi masih nampak ganteng dan gagah!

Bu-taihiap hanya tersenyum-senyum saja mendengar betapa dia dicalonkan sebagai bengcu yang memimpin para pendekar dan patriot untuk berjuang menentang pemerintah penjajah.

Agaknya pendekar ini merasa gembira bahwa masih ada orang yang percaya kepadanya dan diam-diam dia merasa bangga karenanya.

Jumlah para calon itu ada tujuh belas orang!

"Jumlah calon begini banyak, bagaimana harus diadakan pemilihan di antara yang tujuh belas ini?!

Sim Hong Bu menjadi bingung sendiri melihat demikian banyaknya calon yang diajukan.

Apalagi mereka itu nampak damikian bernapsu untuk menang dalam pemilihan ini.

"Mudah saja diatur!

Kita adalah orang-orang yang sudah biasa mengandalkan ilmu silat untuk melewati hidup.

Karena itu, untuk menentukan pilihan, sebaiknya kalau dipilih di antara kita yang paling tangguh.

Nah, aku sebagai seorang di antara calon-calon sudah maju untuk menandingi calon lain yang merasa berkepandaian tinggi!!

Yang bicara ini adalah seorang pria tinggi besar bermuka hitam yang sudah meloncat ke depan, di tempat datar itu, bersikap menantang.

Semua orang memandang kepadanya.

Pria ini tadi dipilih oleh kawan-kawannya dan dia terkenal sebagai seorang yang ditakuti di Tai-goan, bahkan di Propinsi Shan-si dia dikenal sebagai jagoan atau tukang pukul yang disegani.

Karena dia tidak pernah jahat, walaupun agak sewenang-wenang mengandalkan ilmu silatnya dan selalu ingin benar sendiri, maka dia selalu mengangap diri sendiri sebagai seorang pendekar!

Pria ini bernama Tang Gun, dan pria yang tinggi besar bermuka hitam ini berusia empat puluh tahun, terkenal memiliki banyak macam ilmu silat di antaranya ilmu-ilmu silat Siauw-lim-si dan tenaganya amat besar.Sebelum yang lain-lain mengemukakan pendapatnya dan sebelum Sim Hong Bu sempat mencegahnya, nampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu Su Ciok, tokoh Thian-li-pai, sudah berada di atas tanah datar itu menghadapi Tang Gun!

"Bagus, engkau hendak menantang pibu?

Baik sekali, akulah lawanmu.

Lihat seranganku!!

bentak Su Ciok sambil menerjang dengan pukulannya yang kuat.

Tokoh Thian-li-pai ini memang berwatak keras, tidak banyak cakap namun suka sekali berkelahi.

Begitu mendengar usul dan tantangan Tang Gun tadi, dia sudah naik darah dan menyambut tantangan itu tanpa banyak cakap lagi.

"Heh, kau ini tokoh Thian-li-pang tadi?! bentak Tang Gun sambil menangkis dengan pengerahan tengannya yang besar.

"Dukk....!!

Pertemuan dua buah lengan yang sama besar dan sama kuatnya itu membuat keduanya terdorong ke belakang sampai terhuyung.

Keduanya terkejut, tidak mengira bahwa lawan memiliki tenaga yang demikian besar.

Akan tetapi kini Tang Gun marah dan membalas serangan tadi dengan cengkeraman tangan ke depan, disusul hantaman tangan kiri ke arah kepala lawan.

Karena kini dia tahu bahwa lawannya juga memiliki tenagabesar, maka melibat datangnya serangan yang kuat berbahaya itu, Su Ciok mengelak dan balas menyerang.

Serang-menyerangpun terjadilah dengan serunya.

Dan ternyata dua orang yang sama tinggi besar dan sama kuatnya ini memang memiliki kepandaian dan tenaga seimbang.

Berkali-kali lengan mereka saling bertemu dan keduanya selalu terdorong ke belakang.

Ketika mereka bertanding sampai dua puluh jurus lebih, tiba-tiba berkelebat bayangan tubuh ke medan perkelahian itu.

Kiranya bayangan itu adalah Giam San-jin tokoh Pat-kwa-pai.

"Plakk! Plakk!! kakek berpakaian pertapa ini menggerakkan tangannya menyambut pukulan dua orang yang sedang berkelahi itu dan demikian kuat tamparan tangannya ketika mengenai lengan mereka sehingga Tang Gun dan Su Ciok yang bertenaga besar itupun terpelanting dan hampir terbanting roboh! Tentu saja keduanya terkejut bukan main.

"Kalian mundurlah!! kakek itu membentak dengan mata mencorong kepada mereka. Dua orang kuat itu terbelalak dan sejenak bimbang. Dari pertemuan tenaga tadi saja merekapun maklum bahwa kakek tokoh Pat-kwa-pai ini memang hebat sekali, maka mereka menjadi ragu dan jerih, lalu mundur untuk membiarkan kakek itu bicara. Giam San-jin memberi hormat ke empat penjuru, lalu berkata dengan suara halus.

"Kami setuju dengan usul untuk menentukan siapa menjadi bengcu melalui ujian kepandaian.

Akan tetapi bukan secara kasar dan tak teratur seperti yang diperlihatkan dua saudara tadi.

Sebelumnya harus diadakan peraturan agar tidak kacau-balau.

Pertama ingin kami mendengar apakah cu-wi yang hadir di sini setuju bahwa untuk menentukan bengcu diadakan ujian kepandaian di antara para calon dan yang paling pandai berhak menjadi bengcu?!

"Siancai....!

Itulah yang paling baik.

Kami setuju!!

Terdengar Ci Hong Tosu tokoh Pek-lian-pai berseru, suaranya tinggi melengking sehingga terdengar jelas karena memang tosu ini hendak memperlihatkan kekuatan khi-kangnya.

Selain ketua Pek-lian-pai, banyak pula di antara para tokoh yang tadi dicalonkan menyetujui.

Kembali suasana menjadi gaduh karena ada pula di antara para pendekar yang nampaknya tidak setuju dengan usul pertandingan adu kepandaian itu.

Ceng Liong sejak tadi merasa tidak setuju dengan sikap para tokoh yang hendak melakukan pemilihan bengcu melalui adu ilmu silat.

Dan diapun melihat sesuatu yang menarik hatinya, yaitu ketika ada seorang pemuda gagah perkasa bercakap-cakap dengan Sim Hong Bu.

Bahkan pendekar berbaju kulit harimau itu memeluk pemuda itu.

Dia lalu bertanya kepada Bi Eng siapa adanya pemuda yang baru muncul itu.

Bi Eng menoleh ketika ia memandang pemuda itu, wajahnya menjadi merah sekali.

"Itulah putera suhu....!

katanya lirih.

Jantung dalam dada Ceng Liong berdebar keras penuh ketegangan.

Jadi pemuda itukah tunangan kekasihnya?

Seorang pemuda yang kelihatan gagah sekali!

Akan tetapi Bi Eng tidak mencintanya dan memilih dia!

Selagi semua orang berbisik dan bicara sendiri karena mereka terbagi menjadi dua golongan yang mendukung dan menentang usul diadakannya pibu untuk menentukan siapa yang akan menjadi bengcu, tiba-tiba terdengar suara ketawa.

Suara ketawa ini mengatasi semua suara berisik sehingga semua orang lalu menoleh dan memandang kepada kakek yang tertawa-tawa itu.

Kakek ini sudah berdiri dan karena suara ketawanya yang luar biasa, maka semua orang dengan mudah dapat menemukannya.

Dia berdiri sambil bertolak pinggang.

Seorang kakek yang usianya tentu sudah enam puluhan tahun.

Akan tetapi wajahnya masih nampak ganteng, pakaiannya pesolek dan indah.

Di dekatnya sendiri empat orang wanita setengah tua yang kesemuanya cantik-cantik.

Mereka yang berada di situ, hanya ada beberapa orang saja yang sudah mengenalnya.

Kakek ini bukan lain adalah Bu-taihiap atau nama lengkapnya adalah Bu Seng Kin, seorang pendekar besar yang suka bertualang.

Kini Bu-taihiap yang hadir bersama empat orang isterinya itu memandang kepada Ci Hong Tosu, masih tertawa, dengan nada mengejek.

"Pertemuan macam apakah ini? Pertemuan antara orang-orang yang berjiwa patriot, ataukah pertemuan gerombolan tukang pukul yang hendak pamer kepandaian silat? Ha-ha-ha, sungguh lucu!! Ci Hong Tosu mengerutkan alisnya. Dia sendiri tidak mengenal siapa adanya kakek itu, akan tetapi dia mengenalnya sebagai seorang di antara para calon karena tadi ada orang yang mencalonkan kakek ganteng ini.

"Siancai...., siapa menyetujui cara kami boleh maju memperebutkan kedudukan bengcu, yang tidak setuju boleh mundur!! "Harap cu-wi pikirkan baik-baik!! Tiba-tiba Sim Hong Bu maju menghadapi Giam San-jin yang masih berdiri di dataran itu dengan sikap menantang lawan.

"Apa yang harus dipikirkan lagi, Sim-sicu?

Bukankah kita berkumpul di sini untuk bicara tentang perjuangan dan sebelum itu harus diangkat dulu seorang bengcu yang akan menjadi pemimpin dan menunjuk orang-orang untuk menjadi pembantu-pembantunya.

Nah, calon-calon sudah diambil dan kini tinggal diadakan pemilihan melalui adu kepandaian!!

"Betul!

Lebih baik cepat laksanakan pibu!!

terdengar beberapa orang berseru.

Sebagai ahli-ahli silat, memang biasanya mereka ini suka sekali nonton orang mengadu ilmu silat, apalagi kalau diingat bahwa yang berkumpul di situ sekarang adalah tokoh-tokoh besar dunia persilatan, maka tentu akan menjadi ramai sekali dan mereka berkesempatan untuk melihat ilmu-ilmu silat hebat yang akan dikeluarkan.

Mereka akan memperoleh banyak kemajuan dan pengalaman dalam pibu ini.

Sim Hong Bu mengangkat kedua tangan ke atas minta agar semua orang tenang.

Kemudian dia berkata kepada Giam San-jin.

"Maaf, sobat. Akan tetapi saya kira tidaklah tepat kalau diadakan pibu dalam pemilihan bengcu ini. Dalam pibu, mungkin ada yang akan roboh terluka bahkan mungkin saja akan ada yang tewas.! Giam San-jin tertawa.

"Ha-ha, siapa yang tidak tahu akan hal itu, sicu?

Bukankah kita semua ini adalah orang-orang yang sejak kecil sudah berkecimpung dengan dunia persilatan dan sudah biasa dengan kalah menang, luka dan mati?

Akan tetapi hal itu tidak dapat dipisahkan dari kehidupan orang-orang macam kita.

Kalau ada orang yang takut terluka atau tewas dalam pibu, mana ada harganya orang itu menjadi bengcu, menjadi pemimpin kita?

Karena itu, kami harap agar dapat diputuskan sekarang juga agar pibu segera diadakan untuk menentukan siapa yang patut menjadi bengcu.

Ingat, sicu sekarang ini hanya memimpin pertemuan sementara saja sebelum bengcu dipilih, karena itu sicu tidak berhak menentukan sesuatu.

Dan banyak saudara yang menyetujui diadakan pibu.

Bukankah demikian, cu-wi yang mulia?!

Ucapan ketua Pat-kwa-pai disambut sorak-sorai dan tentu saja dia menang suara karena baru anak buah Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai saja sudah hampir separuh jumlah yang hadir.

Melihat ini, Sim Hong Bu menjadi bingung dan tidak tahu harus berkata apa lagi.

Pada saat itu, Ceng Liong melompat ke depan Giam San-jin dan tentu saja dia tidak mau bertindak lancang dan terlebih dahulu dia menjura kepada Sim Hong Bu.

"Sim-locianpwe, bolehkah saya bicara kepada para hadirin yang terhormat?! Sim Hong Bu memandang wajah Ceng Liong dan sejenak dia memandang tajam, kemudian dia mengangguk.

"Silahkan, dan mudah-mudahan kekacauan ini dapat diredakan,! katanya sambil mundur. Giam San-jin mengerutkan alisnya memandang kepada pemuda remaja yang berani maju dan hendak bicara itu, akan tetapi Ceng Liong sama sekali tidak memperhatikannya. Pemuda ini menjura ke empat penjuru, kemudian suaranya terdengar menggeledek.

"Cu-wi sekalian, perkenankan saya bicara sebentar dan harap cu-wi sudi mempertimbangkan dengan baik-baik.!

Diam-diam Giam San-jin, juga para tokoh yang hadir di situ terkejut.

Di dalam suara pemuda ini terkandung getaran yang amat hebat, yang terasa sampai ke jantung mereka, tanda bahwa kekuatan khi-kang pemuda yang bicara ini besar sekali.

Karena itu, tentu saja semua orang memandan kepadanya penuh perhatian dan ingin sekali tahu apa yang akan dikatakan oleh pemuda itu.

Ceng Liong sudah mengambil keputusan untuk menghalangi terjadinya kekacauan dalam pertemuan ini, maka dengan sikap tenang namun tegas diapun mulai bicara, suaranya tetap lantang karena memang dia ingin mengatasi semua kegaduhan agar dapat didengar dengan baik oleh mereka semua.

"Cu-wi yang terhormat.

Saya mengajak cu-wi untuk merenungkan sejenak dan menjawab pertanyaan yang kita ajukan kepada diri sendiri, yaitu untuk apakah kita semua ini dari jauh datang berkumpul ke sini dan mengadakan pertemuan ini?

Jawabannya tentu mudah dan dapat disetujui kita semua, yaitu bahwa kita berkumpul untuk bersatu padu dan berjuang membebaskan negara dari penjajahan.

Dan sekarang, dalam pemilihan bengcu, kita akan berhadapan sebagai orang-orang yang hendak memperebutkan kedudukan!

Bahkan untuk memperebutkan kedudukan bengcu, kita tidak segan-segan untuk saling serang, saling melukai dan bahkan saling bunuh!

Para saudara yang tidak menyetujui pertandingan pibu memperebutkan kedudukan ini tentu orang-orang gagah perkasa yang juga tidak takut terluka atau mati, akan tetapi tidak setuju karena melihat bodohnya keputusan ini.

Tidak setuju karena cara yang dipergunakan untuk memilih bengcu ini tidak baik!!

Ucapan pemuda itu membuat semua orang tertegun, bahkan mereka yang tadinya menyetujui diadakannya pibu kini terdiam.

Akan tetapi, Giam San-jin yang memelopori cara pibu yang tadi didahului oleh Tang Gun dan Su Ciok, menganggap pemuda ini menjadi penghalang yang menentangnya.

"Cara apapun yang kita adakan, adalah baik karena untuk suatu tujuan yang baik. Tujuan kita memilih bengcu yang benar-benar patut kita jadikan pemimpin. Apa salahnya cara pibu bagi orang-orang yang menganggap diri pendekar?! demikian kepala rombongan Pat-kwa-pai membantah, juga dia mengerahkan tenaga khi-kang dalam suaranya sehingga terdengar lantang.

"Maaf,! kata Ceng Liong, menjura kepada orang tua itu.

"Bukan maksud saya untuk semata-mata menentang pendapat itu, melainkan mengajak semua saudara untuk mempertimbangkan dengan penuh kesadaran.

Kita berkumpul dengan maksud untuk bersatu.

Dalam menghadapi perjuangan besar, kita perlu bersatu padu.

Akan tetapi, cara pemilihan bengcu dengan jalan pibu bukanlah hal yang menguntungkan, bahkan amat berbahaya.

Dalam pibu, yang terluka apalagi yang tewas tentu menimbulkan dendam dan hal ini akan memecah-belah persatuan antara kita.

Pula, harus diingat bahwa seorang bengcu yang akan memimpin perjuangan, tidak cukup kalau hanya mempunyai kepandaian silat tinggi.

Perang lebih membutuhkan ilmu perang, walaupun dalam pertempuran dibutuhkan kemahiran ilmu silat bagi para pejuang yang bertempur.

Yang penting adalah caranya untuk bersatu, karena caralah yang menentukan sesuatu, yang menciptakan baik buruknya sesuatu, bukan tujuan.!

Semua orang yang mendengarkan menjadi semakin bingung, terutama yang tadi menyetujui diadakannya pibu.

Mereka dapat merasakan kebenaran ucapan pemuda itu, akan tetapi sebagai orang-orang yang suka akan ilmu silat, merekapun ingin sekali kalau pibu diadakan agar mereka dapat menikmati pertandingan-pertandingan yang tentu akan hebat sekali itu.

Sementara itu, Giam San-jin sudah marah sekali, merasa bahwa dia disudutkan oleh pemuda remaja yang tidak dikenal itu.

Maka diapun melangkah maju menghampiri Ceng Liong dan menegur keras.

"Orang muda, siapakah engkau berani berlagak menggurui kami?

Bagaimanapun juga, kami tetap mengambil keputusan untuk memilih bengcu dengan cara pibu!

Kalau sudah begitu, engkau mau apa?

Kalau kau tidak setuju, boleh angkat kaki dari sini.

Dalam urusan penting ini, kami tidak membutuhkan nasihat-nasihat seorang bocah hijau seperti engkau!!

Tentu saja ucapan ini merupakan penghinaan yang memanaskan hati.

Akan tetapi Ceng Liong tetap bersikap tenang, bahkan dia tersenyum.

Kalau saja dia tidak ingat bahwa di situ terdapat banyak tamu para pendekar sakti dan para locianpwe, tentu dia sudah mempermainkan kakek yang sombong ini.

Kini dia harus bersikap dan bertindak tegas kalau dia menghendaki agar pertemuan itu tidak sampai berobah menjadi arena pertandingan yang akibatnya tentu akan memecah-belah kekuatan di antara mereka saja.

"Locianpwe,! katanya dengan sikap hormat.

"Bagimanapun juga, saya akan menentang pibu yang diadakan untuk pemilihan bengcu.!

Ucapannya itu hormat, akan tetapi tenang dan tegas sekali.

Suasana menjadi tegang ketika pemuda itu mengeluarkan ucapan ini.

Betapa beraninya pemuda itu, pikir mereka.

Atau lancang dan tak tahu diri?

Berani menentang seperti itu kepada Giam San-jin, tokoh Pat-kwa-pai yang memiliki ilmu kepandaian hebat.

Bahkan Tang Gun dan Su Ciok yang lihai itupun tadi gentar dan mundur berhadapan dengan kakek berpakaian pertapa ini.

Tentu saja Giam San-jin menjadi semakin marah.

Pemuda ini menyebutnya locianpwe, berarti mengakui bahwa kedudukan dan kepandaiannya jauh lebih tinggi, akan tetapi berani menentangnya!

"Orang muda, dengan ucapanmu tadi berarti bahwa engkau hendak menentangku, ataukah engkau hendak memasuki pula pertandingan pibu ini melawan aku?!

Ceng Liong menggeleng kepala.

"Harap locianpwe tidak salah mengerti. Saya tidak bermaksud ikut pibu memperebutkan kedudukan, bahkan saya menentangnya. Bukan berarti saya hendak menentang pribadi locianpwe pribadi, melainkan yang saya tentang adalah cara yang buruk dan hanya yang membuat perpecahan di antara kita itulah.! "Hemm, orang muda, omonganmu berliku-liku akan tetapi yang jelas, engkau hendak menentang aku! Kalau aku melanjntkan pemilihan pibu ini, apakah engkau berani menentangku?! "Demi mencegah terjadinya perpecahan, siapapun juga akan saya tentang kalau memaksakan diadakannya pibu,! jawab Ceng Liong tenang.

"Keparat! Engkau berani menentang aku? Orang muda, sebelum engkau kuhajar, katakan dulu siapa namamu?! "Nama saya Suma Ceng Liong.! "Suma? Engkau she Suma? Hemm, apakah ada hubungannya dengan keluarga Suma Han Pendekar Super Sakti Pulau Es?! tanya kakek Pat-kwa-pai itu terkejut.

"Saya adalah cucunya,! jawab Ceng Liong singkat, terpaksa tidak dapat merahasiakan lagi keadaan keluarganya. Pengakuan Ceng Liong itu membuat suasana menjadi semakin tegang karena siapakah yang tidak pernah mendengar tentang keluarga para pendekar Pulau Es? Kini pandang mata mereka terhadap Ceng Liong makin penuh perhatian dan semua orang ingin menyaksikan bagaimana sepak terjang seorang cucu dari Pendekar Super Sakti.

"Ha-ha-ha!! tiba-tiba terdengar suara ketawa lembut disusul suara Ci Hong Tosu, tokoh Pek-lian-pai yang tinggi kurus itu.

"Cucu Pendekar Super Sakti dari Pulau Es, ya?

Bagus, siapa tidak tahu bahwa keluarga Pendekar Super Sakti, keluarga Pulau Es adalah keluarga pendukung kaisar, pendukung pemerintah penjajah Mancu?

Siapa tidak tahu bahwa isteri Pendekar Super Sakti adalah Puteri Mancu?

Ingat nama Puteri Nirahai, isterinya yang menjadi panglima Mancu, dan Puteri Milana, puterinya yang juga menjadi panglima Mancu.

Dan sekarang cucunya berada di sini, siapa tahu dia malah menjadi mata-mata Kerajaan Mancu!!

Tentu saja semua orang menjadi tegang mendengar kata-kata ini dan muka Ceng Liong menjadi merah.

Dia mengerti bahwa Pek-lian-kauw dengan perkumpulannya, Pek-lian-pai memang sejak dahulu merasa tidak suka kepada keluarga kakeknya, karena memang banyak di antara pimpinan Pek-lian-kauw yang menyeleweng dan pernah dihajar oleh keluarga kakeknya itu.

"Totiang, harap jangan sembarangan membuka mulut menyebar fitnah!! bentaknya. Akan tetapi Giam San-jin sudah mendapat angin dengan ucapan tokoh Pek-lian-pai tadi. Dia sudah menyambar tongkatnya yang dipegang oleh seorang muridnya, sebuah tongkat baja yang kecil panjang dan kedua ujungnya meruncing. Dia memutar tongkatnya dan berteriak.

"Mata-mata Mancu atau bukan, engkau berani menentang kami dan berarti engkau harus menandingi aku dalam ilmu silat!

Orang muda, keluarkan senjatamu, mari kita main-main sebentar!!

Ceng Liong tersenyum pahit.

Tak disangkanya bahwa dalam pertemuan antara para pendekar dan patriot itu dia akan bertemu dengan orang-orang macam ini dan mengalami hal sepahit ini.

Akan tetapi diapun kini maklum bahwa selama ada orang-orang seperti ini mencampuri perjuangan para patriot, maka perjuangan itu yang tadinya bertujuan mulia untuk membebaskan negara dari tangan penjajah asing, akan diselewengkan menjadi tujuan orang-orang yang berambisi mencari kedudukan dan kemuliaan bagi diri sendiri maupun gerombolannya.

Maka, diapun harus memberantasnya!

"Giam San-jin, akupun sudah banyak mendengar bahwa Pat-kwa-pai, apalagi Pek-lian-pai, hanya namanya saja perkumpulan pendekar dan patriot, akan tetapi sesungguhnya banyak hal-hal jahat dan sewenang-wenang telah kalian lakukan.

Kalau engkau memaksa perkelahian, baiklah, aku tidak pernah menggunakan senjata.

Majulah, bakan pribadimu yang kulawan, melainkan sikap perpecahan yang buruk itu yang kutentang!!

"Bocah sombong!

Engkau yang mencari mati sendiri!!

bentak Giam San-jin yang menjadi semakin marah karena dia merasa dipandang rendah oleh pemuda itu.

Seorang pemuda remaja berani menantangnya dan kini menghadapinya dengan tangan kosong, padahal dia telah mempergunakan senjatanya yang paling ampuh dan ditakuti, yaitu tongkatnya yang jarang menemui tandingan!

Kini dia menerjang maju, tongkatnya diputar sedemikian rupa sehingga nampaklah gulungan sinar yang mengandung banyak sekali ujung tongkat runcing yang mengeluarkan suara berdengung-dengung dan tiba-tiba saja ujung tongkat itu mencuat dan menyerang ke arah jalan darah di tubuh Ceng Liong secara bertubi-tubi!

Serangan itu hebat sekali karena makin dielakkan, makin meningkat bahaya serangannya, makin gencar dan makin kuat!

Akan tetapi sekali ini, tokoh Pat-kwa-pai itu menghadapi Suma Ceng Liong.

Biarpun masih muda, akan tetapi Suma Ceng Liong telah mewarisi ilmu-ilmu Pulau Es dan di samping itu dia juga sudah mewarisi ilmu-ilmu yang hebat dari Hek-i Mo-ong.

Oleh karena itu, menghadapi hujan serangan tongkat yang bergerak dengan amat cepatnya itu dia bersikap tenang saja.

Tubuhnya mengelak berloncatan ke sana-sini dan kadang-kadang kalau dia tidak dapat mengelak lagi, dia hanya menggerakkan tangannya dan jari-jari tangan itu menyentil ke arah ujung tongkat yang menotok.

Setiap kali ujung tongkat bertemu dengan jari tangannya, terdengar suara berdencing dan ujung tongkat itupun terpental seperti ditangkis oleh benda yang keras dan kuat sekali!

Sampai habis jurus itu dimainkan Giam San-jin, tidak satu kalipun totokan-totokannya menemui sasaran!

Tentu saja hal ini membuat kakek itu menjadi semakin penasaran.

Tadinya dia sengaja mengeluarkan jurus simpanan ketika menyerang untuk pertama kalinya.

Dia tahu bahwa dia berhadapan dengan keluarga pendekar Pulau Es, maka begitu menyerang dia mengeluarkan jurus simpanannya.

Akan tetapi ternyata bahwa jurus yang ampuh itu dapat disambut dan dihindarkan oleh pemuda itu tanpa banyak kesulitan!

Padahal, ilmu serangannya tadi adalah jurus dari Pat-kwa-pai yang ampuh, yang gerakannya didasari perhitungan pat-kwa dan memenuhi delapan penjuru, menutup semua kemungkinan jalan keluar.

Namun, lawannya dapat menyelamatkan diri dengan baiknya, seolah-olah sudah tahu akan rahasia pat-kwa.

Dan memang, dia tidak tahu bahwa pemuda ini tentu saja sudah hafal akan rahasia pat-kwa.

Di dalam keluarga para pendekar Pulau Es, terdapat ilmu-ilmu Pat-sian-kun (Silat Delapan Dewa) dan Pat-mo-kun (Silat Delapan Iblis) yang kesemuanya berdasarkan garis-garis pat-kwa.

Apalagi Ceng Liong, bahkan sudah mempelajari gabungan kedua ilmu itu.

Dengan demikian serangannya yang didasari perhitungan pat-kwa tadi baginya seperti permainan kanak-kanak saja.

Dalam kemarahan dan penasarannya, Giam San-jin menghujankan serangan-serangan lain yang kesemuanya merupakan serangan maut yang mengancam nyawa.

Ceng Liong sengaja menghadapinya dengan elakan-elakan dan tangkisan-tangkisan saja, bahkan ketika menangkis dia tidak mengerahkan seluruh tenaganya.

Dia masih merasa segan untuk mengalahkan kakek ini dalam beberapa gebrakan.

Bukan maksudnya untuk membikin malu orang dalam pertemuan itu.

Bagaimanapun juga, dia hendak mencegah adanya perasaan dendam agar pertemuan itu dapat berlangsung dengan baik.

Akan tetapi, sikap mengalah Ceng Liong ini disalahartikan oleh Giam San-jin.

Biarpun kakek ini terhitung seorang yang berkedudukan tinggi dan memilki tingkat kepandaian tinggi sehingga dia sudah dapat melihat dari gerakan-gerakan lawan bahwa lawannya ini biarpun masih muda akan tetapi lihai bukan main, namun sifatnya yang selalu mengagulkan diri sendiri dan memandang rendah orang lain membuat dia mengira bahwa sikap Geng Liong yang tidak pernah membalas itu bukan mengalah, melainkan takut!

Maka diapun menyerang semakin ganas lagi karena dia berpendapat bahwa lawan yang sudah gentar atau takut akan mudah dirobohkan.

Setelah lewat dua puluh jurus dan lawannya tidak mau tahu bahwa dia sudah banyak mengalah, Ceng Liong menjadi gemas juga.

Kakek ini memang tidak tahu diri.

Biarpun dia masih segan untuk membikin malu, akan tetapi dia mengambil keputusan untuk merampas tongkat lawan agar terbuka mata lawan bahwa dia akan mudah mengalahkannya kalau memang dia mau.

Dua puluh jurus sudah cukup lama baginya untuk melihat bagian-bagian gerakan lawan yang mengandung kelemahan.

Pada saat itu Giam San-jin menggerakkan tongkatnya dengan cepat dan kilat, menyapu ke arah pinggang Ceng Liong.

Gerakan ini berbahaya sekali dan karena cepatnya, maka agak sukar bagi pemuda itu untuk mengelak dan kalau ditangkis, diapun akan menghadapi hantaman tongkat yang mengandung pengerahan tenaga sekuatnya dari kakek pertapa itu.

"Hyaaaat....!!

Ceng Liong mengeluarkan suara melengking panjang dan tubuhnya tiba-tiba lenyap dari pandang mata lawan karena dia sudah meloncat ke atas dengan kecepatan seperti seekor burung terbang saja.

Tongkat yang menyambar itu lewat di bawah kakinya dan pemuda ini menggunakan kedua tangannya untuk menotok ke arah kedua pundak lawan.

Cepat bukan main gerakannya ini.

Giam San-jin terkejut bukan main, akan tetapi diapun bukan seorang lemah.

Kepandaiannya sudah mencapai tingkat tinggi dan biarpun serangan Ceng Liong yang datangnya tiba-tiba dan tidak terduga-daga itu memang mengejutkan, namun dalam keadaan terancam bahaya itu dia masih mampu menyambut dengan serangan rambut panjang riap-riapan itu ke arah leher Ceng Liong!

Rambut itu bergerak seperti ujung cambuk dan menotok ke arah jalan darah maut di tenggorokan lawan.

Ini memang merupakan satu di antara ilmu-ilmu simpanan kakek itu, dan amat berbahaya karena rambut itu tidak kalah ampuhnya dibandingkan dengan senjata lain.

Dengan pengerahan sin-kangnya, rambut itu menjadi kaku dan menotok jalan darah seperti ujung tongkat atau jari tangan yang keras.

Akan tetapi Ceng Liong sudah waspada.

Dia sudah tahu akan kelihaian lawan, maka menghadapi serangan balasan yang mendadak itu diapun bersikap tenang saja.

Tangan kiri yang tadi menotok pundak lawan ditariknya untuk menangkis serangan rambut itu sedangkan tangan kanannya masih meneruskan totokan ke arah pundak kiri lawan.

Giam San-jin miringkan tubuhnya untuk menyelamatkan pundak.

Pundaknya memang terhindar dari totokan yang akan melumpuhkan lengan, akan tetapi tangan kanan Ceng Liong itu masih menyerempet pangkal lengan di bawah pundaknya.

"Plakk....!! Baju di bagian itu robek dan Giam San-jin terhuyung-huyung, mukanya berubah merah sekali.

"Maaf, locianpwe, harap suka menghentikan serangan!! Ceng Liong berkata sambil menjura dengan harapan kakek itu menyudahi pertandingan yanq tidak diharapkan itu. Akan tetapi kakek itu sudah memuncak kemarahannya sehingga dia menjadi mata gelap dan dalam keadaan seperti itu dia tidak dapat melihat kenyataan bahwa lawannya jauh lebih unggul dan tangguh. Dia berseru.

"Aku belum kalah!!

kemudian dia menyerang lagi dengan tongkatnya.

Dengan cekatan Ceng Liong melompat ke samping, rasa penasaran mulai menyusup ke dalam hatinya.

Kakek ini sungguh tidak tahu diri, pikirnya.

Pada saat itu Ceng Liong melihat betapa kakek Ci Hong Tosu, tokoh Pek-lian-kauw itu, bersama kedua orang tosu pembantunya, telah maju pula.

Dia mengira bahwa mereka bertiga itu hendak mengeroyoknya.

Akan tetapi ternyata mereka bertiga segera duduk bersila dan bersedakap, memejamkan mata.

Pada saat itu Ceng Liong merasakan adanya gelombang getaran aneh yang melanda dirinya.

Tahulah dia apa artinya ini.

Tiga orang tokoh Pek-lian-kauw itu mempergunakan ilmu sihir untuk membantu Giam San-jin dan menyerangnya!

Sebagai cucu Pendekar Super Sakti, putera Pendekar Siluman Kecil dan yang mempunyai ibu seorang ahli sihir, maka tentu saja Ceng Liong tahu apa yang harus dia lakukan.

Cepat dia mengerahkan tenaga batinnya.

Pada saat itu Giam San-jin sudah menyerang lagi.

Kakek inipun tahu bahwa tokoh Pek-lian-kauw yang menjadi sahabatnya itu telah membantunya dengan ilmu sihir.

Giranglah hatinya dan dia menyerang dengan dahsyat.

Akan tetapi betapa kaget hatinya ketika pemuda itu menyahut hantaman tongkatnya dengan kedua tangan yang mencengkeram!

"Braaakkkk....!!

Begitu tongkat bertemu kedua tangan Ceng Liong, tokoh Pat-kwa-pai itu merasa tubuhnya tergetar hebat seperti disambar petir dan diapun terpelanting keras sedangkan tongkatnya terampas oleh Ceng Liong.

Dia tidak mengenal pukulan pemuda itu dan memang Ceng Liong dalam kemarahannya tadi telah mempergunakan pukulan jari tangan Coan-kut-ci (Jari Penembus Tulang) yaug dipelajarinya dari Hek-i Mo-ong.Pada saat itu, terdengarlah suara halus.

"Suma Ceng Liong, engkau adalah seekor anjing, hayo cepat merangkak dan menggonggong!!

Suara yang penuh wibawa ini keluar dari mulut Ci Hong Tosu yang masih duduk bersila bersama kedua orang pembantunya.

Mereka bertiga itu menggabungkan tenaga sakti untuk menyihir dan mempengaruhi Ceng Liong, hendakmemasukkan dan memaksa keyakinan pemuda itu bahwa dia seekor anjing yang harus merangkak dan menggonggong.

Jelaslah betapa kejinya perangai tokoh Pek-lian-kauw ini.

Dia hendak membikin malu pemuda itu melalui kekuatan sihirnya agar semua orang melihat pemuda itu merangkak-rangkak dan menggongong-gonggong!

Gelombang tenaga yang amat kuat melanda Ceng Liong dan pemuda ini merasa betapa ada tenaga mujijat yang memaksanya agar mentaati perintah tadi.

Akan tetapi, dia tahu apa artinya itu.

Tiba-tiba dia melemparkan tongkat rampasannya dan menjatuhkan diri duduk di atas tanah, bukan untuk merangkak melainkan untuk bersila dan diapun menyilangkan kedua lengannya di depan dada dan mengerahkan kekuatan batin untuk melindungi dirinya dari serangan gelombang tenaga yang menyihirnya itu.

Terjadilah pertandingan ilmu sihir yang tidak dapat terlihat orang lain.

Akan tetapi mereka yang berada di situ dapat merasakan adanya getaran-getaran aneh yang memenuhi tempat itu dan seolah-olah dua tenaga yang berlawanan saling tarik-menarik dengan kuatnya.

Tiba-tiba terjadilah hal yang amat luar biasa.

Terdengar suara seperti anjing-anjing menggonggong dan menyalak.

Akan tetapi tidak ada anjing di situ dan suara gonggongan itupun aneh, bukan seperti suara anjing-anjing tulen.

Dan semua orang terbelalak dengan muka pucat ketika mereka melihat tiga orang Pek-lian-pai itu, yang tadinya duduk bersila, kini sudah merangkak-rangkak sambil menggonggong dan menyalak seperti tiga ekor anjing yang kebingungan!

Tentu saja peristiwa luar biasa ini membuat semua orang terkejut dan terheran-heran.

Mereka teringat betapa tadi tokoh Pek-lian-kauw itu menyuruh Ceng Liong merangkak dan menggonggong.

Kini mereka dapat menduga betapa ilmu sihir yang dipergunakan kakek Pek-lian-kauw itu telah membalik dan terjadi peristiwa senjata makan tuan!

Ceng Liong sendiripun terkejut dan merasa heran.

Dia tadi hanya mengerahkan tenaga untuk menolak gelombang tenaga sihir yang menyerangnya dan yang seperti hendak memaksanya mengaku bahwa dia seekor anjing.

Akan tetapi kenapa kini mereka bertiga yang tersihir?

Apakah kekuatan sihirnya sudah menjadi sedemikian ampuhnya.

Akan tetapi tiba-tiba dia tersenyum dan memandang ke kiri.

Dia melihat munculnya ayah dan ibunya dan tahulah dia bahwa ibunya yang tadi turun tangan menghajar tiga orang Pek-lian-kauw yang hendak menghinanya itu!

Kiranya di antara para pendekar yang hadir di tempat itu terdapat pula Suma Kian Bu dan Teng Siang In, isterinya yang ahli dalam hal sihir itu.

Pendekar ini walaupun sudah mengutus puteranya untuk mewakili mereka, masih merasa ragu-ragu dan mereka berdua pergi tak lama setelah putera mereka berangkat.

"Bagaimanapun juga, kita tidak boleh sembrono ikut bergerak dengan mereka yang hendak memberontak walaupun pada prinsipnya kita setuju,! antara lain Suma Kian Bu berkata kepada isterinya.

"Kita harus menyelidiki dulu dengan seksama akan bersihnya cita-cita itu. Pula, aku harus ingat kepada keluarga Pulau Es dan minta pendapat mereka lebih dulu.! Isterinya setuju.

"Memang, akupun merasa khawatir dan sangsi. Sebaiknya kalau kita berunding dulu dengan keluargamu, terutama sekali kakakmu Suma Kian Lee, enci Milana dan juga Kao Cin Liong yang mempunyai kedudukan penting sebagai panglima di kota raja.! Demikianlah, suami isteri pendekar ini lalu melakukan perjalanan ke utara. Mula-mula mereka mengunjungi Suma Kian Lee dan mendengar penuturan adiknya, Suma Kian Lee terkejut sekali.

"Bu-te, masalah ini gawat sekali!! kata Suma Kian Lee.

"Memang aku sendiripun dapat mengerti tentang jiwa patriot para pendekar yang tidak suka akan penjajahan Bangsa Mancu.

Akan tetapi urusan besar itu tidak dapat dilukukan secara begitu sembrono.

Apalagi kita sendiri, keluarga Pulau Es, harus berhati-hati.

Betapapun juga, nenek-nenek kita adalah wanita Mancu, walaupun kita tahu bahwa enci Milana dan suaminya juga tidak suka akan penjajahan bahkan enci Milana tidak lagi mau membantu pemerintah dan mengundurkan diri bersama suaminya.

Sebaiknya kalau kita bicarakan hal yang amat gawat ini dengan Cin Liong.

Engkau mengenal dia.

Biarpun dia seorang jenderal dan panglima perang di kota raja, akan tetapi dia adalah seorang pendekar.!

Demikianlah, mereka berempat, Suma Kian Lee dan Suma Kian Bu bersama isteri mereka, berangkat ke kota raja.

Kebetulan sekali di kota raja mereka berjumpa dengan Kao Kok Cu Si Naga Sakti Gurun Pasir bersama isterinya, bahkan Puteri Milana bersama suaminya, pendekar Gak Bun Beng yang sudah hampir tujuh puluh tahun usianya, berada pula di kota raja dan dapatlah keluarga besar para pendekar Pulau Es itu berkumpul.

Dengan hati-hati Suma Kian Bu mengajak keluarganya berkumpul di rumah gedung Jenderal Kao Cin Liong dan dia menceritakan tentang pertemuan para pendekar di Hutan Cemara untuk merencanakan pemberontakan menggulingkan pemerintah penjajah.

Tentu saja berita ini amat mengejutkan hati Gak Bun Beng dan isterinya, terutama sekali amat mengejutkan hati Kao Cin Liong yang menerima berita itu dengan gelisah.

Jenderal muda ini mengangguk-angguk.

"Saya juga dapat mengerti akan jiwa patriot itu bahkan terus terang saja, kadang-kadang ada pula rasa penasaran dalam hati saya melihat adanya penjajahan. Akan tetapi, dengan jalan mengabdi pemerintah dan melakukan tugas dengan adil dan baik berarti ikut mendorong roda pemerintahan ke jalan yang benar dan tidak menindas rakyat. Saya bingung sekali, tidak tahu harus berbuat bagaimana menghadapi berita ini.! "Biarlah kami pergi ke sana melakukan penyelidikan lebih dahulu,! kata Suma Kian Bu.

"Setelah melihat bagaimana keadaan mereka itu, baru kita dapat menentukan sikap apa yang harus kita ambil.! Puteri Milana yang usianya sudah enam puluh tahun lebih akan tetapi masih nampak segar dan gagah itu lalu bicara, suaranya halus akan tetapi tegas.

"Kita anggauta keluarga Pulau Es harus melihat kenyataan bahwa dari pihak ibu kita, kita juga berdarah Mancu.

Akan tetapi dalam urusan ini kita tidak boleh membiarkan diri terbuai oleh keturunan atau bangsa.

Yang penting adalah rasa keadilan dan kegagahan, dan harus bertindak bijaksana.

Urusan ini bukan urusan yang remeh, melainkan gawat sekali.

Kalau sampai terjadi pemberontakan dan perang, hal ini bukan hanya menjadi urusan kita atau para pendekar, melainkan seluruh rakyat akan terguncang dan biasanya dalam perang akan terjatuh banyak korban.

Hal ini bukan berarti bahwa aku tidak menyetujui cita-cita membebaskan tanah air daripada penjajahan, hanya caranya harus yang wajar dan hati-hati karena menyangkut kehidupan rakyat jelata.!

Setelah mengadakan perundingan dan mengemukakan kebijaksanaan-kebijaksanaan masing-masing selama hampir samalam suntuk, pada keesokkan harinya, Suma Kian Bu dan Suma Kian Lee bersama isteri mereka, berangkat menuju ke Hutan Cemara untuk melakukan penyelidikan dan peninjauan tanpa melibatkan diri sebelum mereka melihat sendiri bagaimana keadaan para patriot yang merencanakan pembebasan tanah air dari tangan penjajah Mancu itu.

Demikianlah, dengan jalan menyelinap diantara para pendekar yang memenuhi Hutan Cemara, dua pasang suami isteri pendekar ini dengan diam-diam mengikuti jalannya pertemuan dan mereka menyaksikan terjadinya kekacauan oleh sikap dan ulah para tokoh Pek-lian-pai, Pat-kwa-pai dan Thian-li-pang.

Akhirnya, melihat Ceng Liong maju menentang tokoh Pat-kwa-pai yang kemudian dibantu oleh orang-orang Pek-lian-kauw yang menggunakan ilmu sihir, Teng Siang In menjadi marah dan nyonya ini mempergunakan keahlian sihirnya untuk membantu puteranya dan memberi hajaran keras kepada tiga orang tosu Pek-lian-kauw itu.

Dengan girang Suma Ceng Liong lalu berlari menghampiri ayah bundanya.

Akan tetapi sebelum sempat bicara, tiba-tiba mereka dan semua orang yang berada di dalam hutan itu dikejutkan oleh suara terompet dan tambur yang dipukul dan ditiup dengan gencar.

Semua orang memandang ke sekeliling dan dapat dibayangkan betapa kaget hati mereka melihat bahwa tempat itu sudah dikurung dari jauh oleh banyak sekali pasukan tentara penyerintah!

Hutan Cemara itu sudah dikepung, mungkin oleh ribuan orang tentara!

Bagaimanakah tempat itu begitu saja dikurung oleh ribuan orang tentara?

Demikian para pendekar bertanya-tanya dan suasana menjadi panik.

Beberapa orang pendekar mengenal dua pasang suami isteri Suma yang baru muncul, maka terdengarlah teriakan-teriakan yang dipelopori olehi Ci Hong Tosu yang sudah sadar kembali dari keadaanaya seperti anjing tadi.

"Pengkhianatan!

Keluarga Pulau Es yang berkhianat.

Mereka yang membawa pasukan untuk mengepung kita!!

Teriakan-teriakan kemarahan terdengar dan semua mata ditujukan kepada Ceng Liong, Suma Kian Bu dan Suma Kian Lee bersama isteri.

Para pendekar tergugah oleh teriakan Ci Hong Tosu tadi dan kini mereka memandang keluarga Pulau Es dengan alis berkerut.

Sebenarnya, apakah yang telah terjadi?

Benarkah keluarga Pulau Es yang mengkhianati para pendekar yang sedang berkumpul di tempat itu?

Seperti telah kita ketahui, hal itu sama sekali tidak benar.

Suma Kian Lee dan Suma Kian Bu datang bersama isteri mereka saja, dan mereka datang untuk menyelidiki, bukan untuk mengkhianati dan membawa pasukan.

Akan tetapi, bagaimana tiba-tiba pasukan yang besar jumlahnya itu tahu-tahu telah mengepung tempat itu?

Apakah Jenderal Kao Cin Liong yang berkhianat?

Juga tidak!

Biarpun dia merupakan seorang panglima muda yang setia, akan tetapi diapun berjiwa pendekar dan tidak mungkin mau melakukan kecurangan dan pengkhianatan seperti itu terhadap para pendekar.

Lalu siapa pengkhianatnya?

Kiranya tidak sukar untuk menebaknya.

Tentu saja, yang menjadi pengkhianat adalah Louw Tek Ciang!

Seperti telah diceritakan di bagian depan, laki-laki yang berwatak buruk dan kotor ini telah menemukan dan merampas surat dari para pimpinan pendekar dan patriot yang ditujukan kepada Gan-ciangkun, seorang panglima di kota raja yang juga mempunyai ambisi besar untuk bersekutu dengan para pemberontak.

Seperti kita ketahui, Tek Ciang merampas surat itu dari Can Kui Eng, murid Kun-lun-pai yang menerimanya dari kekasihnya, Kwee Cin Koan murid Kong-thong-pai yang juga menjadi anggauta para pendekar yang mempunyai prakarsa atas pertemuan di Hutan Cemara.

Tek Ciang bukan hanya merampas surat, akan tetapi bahkan memperkosa Can Kui Eng dan kemudian dia membunuh pula Pouw Kui Lok yang masih sutenya sendiri itu, kemudian menjatuhkan fitnah kepada Pouw Kui Lok yang dilaporkannya kepada pimpinan Kun-lun-pai sebagai pemerkosa dan pembunuh Can Kui Eng!

Setelah berhasil mengelabuhi para tosu Kun-lun-pai dan mencuri kitab Sin-liong Ho-kang, Tek Ciang lalu menjanjikan untuk mencari kitab itu dan pergilah manusia berhati kejam ini ke kota raja.

Dengan sikapnya yang sopan dan terpelajar, akhirnya Tek Ciang berhasil juga dihadapkan kepada kaisar dan dia melaporkan tentang pemberontakan itu, menyerahkan suratnya kepada kaisar.

Tentu saja Kaisar Kian Liong merasa terkejut dan marah bukan main.

Dia selalu bersikap baik dan bersahabat kepada para pendekar, maka sungguh tidak disangkanya sama sekali bahwa kini para pendekar sedang mengadakan persekutuan untuk memberontak kepadanya!

Dengan kemarahan memuncak, kaisar itu lalu memerintahkan pengawal pergi menangkap Panglima Gan sekeluarga dan menjebloskan mereka ke dalam penjara.

Hari itu juga perintah ini dilaksanakan dan gemparlah kota raja ketika mendengar berita bahwa Panglima Gan ditangkap dan dijebloskan ke dalam tahanan atas perintah kaisar sendiri!

Kaisai lalu memanggil semua menteri dan hulubalangnya.

Di depan mereka ini, Tek Ciang mengulang apa yang diketahuinya dan kaisar menyuruh baca surat dari para pendekar yang ditujukan kepada Panglima Gan itu.

"Sekarang juga kita harus mengirim pasukan besar ke Hutan Cemara, menangkapi semua pemberontak laknat itu. Panggil Jenderal Kao, dialah orangnya yang akan memimpin pasukan menangkapi para pemberontak!! bentak kaisar.

"Harap paduka sudi mengampunkan kelancangan hamba, akan tetapi hamba rasa menyuruh jenderal itu memimpin pasukan menyergap para pemberontak tidaklah tepat, sri baginda!! Tiba-tiba Tek Ciang berkata dan semua pembesar yang berada di situ terkejut. Orang ini sudah bosan hidup, pikir mereka, berani mencela keputusan sri baginda kaisar. Akan tetapi Kaisar Kian Liong yang sudah merasa berterima kasih kepada Tek Ciang, tidak menjadi marah, hanya merasa heran.

"Louw Tek Ciang, apa maksudmu dengan ucapanmu itu?

Jenderal Kao Cin Liong adalah seorang panglima cakap, dan juga memiliki ilmu kepandaian tinggi.

Hanya dialah yang akan mampu menandingi para pendekar!!

"Ampun, sri baginda.

Hamba berani mengemukakan pendapat hamba atas dasar perhitungan yang matang.

Hendaknya paduka ketahui bahwa para pemberontak itu terdiri dari para pendekar dan banyak pula keluarga para pendekar Pulau Es hadir di sana.

Seperti paduka ketahui, Jenderal Kao Cin Liong adalah mantu dari seorang pendekar Pulau Es.

Maka kalau dia yang memimpin pasukan, hamba berani berkeyakinan bahwa usaha penyergapan itu tidak akan berhasil, mungkin malah gagal dan siapa tahu Jenderal Kao itu diam-diam bersekongkol dengan para pemberontak, atau setidaknya merasa simpati kepada mereka.

Maka, akan lebih tepatlah kalau paduka memerintahkan seorang panglima lain yang memimpin pasukan untuk menyergap di Hutan Cemara.

Adapun mengenai para pendekar di sana, hamba sendiripun sanggup untuk membantu pasukan menghadapi mereka!!

Kaisar Kian Liong mengangguk-angguk dan alisnya berkerut.

Dia teringat akan permohonan jenderal Kao Cin Liong untuk mengurdurkan diri.

Sudah pernah jenderal muda itu mohon agar diperkenankan mengundurkan diri meninggalkan jabatannya, akan tetapi dia menahannya.

Dan sekarang ada pemberontakan para pendekar itu!!Baiklah, kami akan mengutus Jenderal Cao Hui untuk menyergap para pemberontak itu.

Jenderal Cao, bersiaplah dengan lima ribu orang tentara dan sergap hutan itu, tangkap semua pemberontak.

Akan tetapi sebelumnya, kau coba dulu Louw Tek Ciang ini apakah cukup tepat untuk membantumu, apakah benar dia ada kepandaian ataukah tidak.!

Jenderal Cao Hui adalah seorang laki-laki tinggi besar berusia empat puluh lima tahun.

Selain pandai dalam ilmu perang, dia juga pandai ilmu silat dan mempunyai tenaga besar.

Pernah dia belajar ilmu silat pada seorang hwesio Siauw-lim-pai dan karena itu dia cukup lihai.

Setelah menerima perintah kaisar, Jenderal Cao Hui bangkit berdiri sesudah memberi hormat kepada kaisar dan menghadapi Louw Tek Ciang yang masih berlutut.

"Louw-sicu, mari kita mentaati perintah sri baginda.! Tek Ciang berlutut memberi hormat kepada kaisar yang memberi isyarat dengan tangan agar dia bangkit dan menghadapi jenderal itu. Mereka berdua kini sudah berdiri saling berhadapan ditonton oleh kaisar dan para hulubalang.

"Louw-sicu, sambutlah seranganku ini!! Jenderal Cao Hui menggerakkan kedua tangannya mengirim serangan sambil mengerahkan tenaga. Kaisar memerintahkan agar dia menguji, maka diapun hanya ingin menguji kecepatan dan kekuatan orang yang melapor tentang adanya pemberontakan dan menjanjikan bantuan kepadanya itu.

"Ciangkun, maafkan saya!! jawab Tek Ciang sambil menggerakkan kedua tangan ke depan menyambut serangan panglima itu. Gerakannya ini cepat bukan main dan ternyata kedua telapak tangannya dengan tepat menerima kedua tangan Cao-goanswe.

Baca Juga: Sepasang Pedang Iblis 9

Baca Juga: Cinta Bernoda Darah 1

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert