Eps 5 Jodoh Si Naga Langit - Kho Ping Hoo
Baca online Jodoh Si Naga Langit - Kho Ping Hoo
Cersil Jodoh Si Naga Langit - Kho Ping Hoo.
Dia menyambar sebatang tombak dari rak, yaitu senjata andalannya yang membuat dia disebut Bu-tek Sin-jio (Tombak Sakti Tanpa Tanding) dan siap membunuh puterinya dengan tombak itu.
Akan tetapi tiba-tiba Nyonya Kui menghadang di depannya dan membu-sungkan dadanya.
"Langkahi mayatku dulu kalau engkau hendak membunuh anakku!"
Nyonya yang biasanya lembut itu kini menatap wajah suaminya dengan sinar mata bersinar-sinar.
Sejenak mereka saling berpandangan.
Akan tetapi tidak lama.
Kui Tong Datuk Besar yang terkenal sebagai Singa Timur dan yang ditakuti orang-orang di dunia kang-ouw tidak kuat bertahan beradu pandang dengan isterinya yang lembut dan lemah itu.
Dia menundukkan pandang matanya.
"Sialan!"
Dia menggerutu lalu dia menancapkan tombaknya di lantai. Tombak itu menghunjam lantai sampai setengahnya dan dia lalu meninggalkan ruangan itu dengan muka tunduk.
"Ibu......!"
Leng Hwa kini menubruk dan merangkul ibunya sambil menangis.
Tadi, di depan ayahnya yang marah-marah dan yang siap membunuhnya, gadis ini tidak tampak gentar dan sama sekali tidak menangis.
Akan tetapi setelah ayahnya pergi, ia tidak mampu menahan kesedihan hatinya dan merangkul ibunya sambil menangis.
Mengagumkan sekali sikap Nyonya Kui, wanita yang lembut dan lemah itu.
Ia sama sekali tidak menangis, hanya alisnya berkerut dan ia berkata kepada puterinya.
"Sudahlah, Leng Hwa. Mari kita bicara di dalam kamar."
Ia mengajak puterinya masuk ke kamar Leng Hwa dan keduanya duduk di tepi pembaringan.
"Nah, sekarang katakan terus terang. Engkau mati-matian menolak kehendak Ayahmu untuk menjodohkanmu dengan Can Kok. Sesungguhnya, apa alasannya? Apakah hanya karena Can Kok itu seperti orang yang miring otaknya?"
"Ibu, bagaimana mungkin aku dapat menjadi isteri seorang yang gila dan mengerikan itu? Dahulu, Can Kok memang seorang pemuda yang baik dan sejak kecil menjadi teman baikku. Akan tetapi setelah dia dilatih oleh Empat Datuk Besar, dia menjadi gila dan mengerikan. Bahkan dia telah membunuh lima orang pengawal tuli gagu dari Ayah. Dulu memang aku tidak menolak ketika Ayah merencanakan untuk menjodohkan aku dengan Can Kok. Akan tetapi sekarang, ah, aku tidak sudi, Ibu."
"Akan tetapi, mengapa engkau memilih mati daripada menikah dengan dia, Leng Hwa?"
"Aku...... aku sudah bersumpah, lbu......"
"Bersumpah?"
"Ya, aku sudah bersumpah tidak akan menikah dan kalau dipaksa lebih baik mati kalau tidak......"
"Ya......?"
"......kalau tidak dengan dia...... ah, Ibu tentu telah tahu"""
"Hemm, engkau sungguh mencinta Ho Lam itu?"
Gadis itu menjadi merah kedua pipinya dan ia mengangguk.
"Dia seorang yang amat baik, Ibu. Dia lembut, bijaksana, dan selalu bersikap menentang kalau ada anak buah Pulau Udang melakukan kekejaman."
Ibunya menghela napas panjang.
"Ya, dia keponakanku dan dia memang lain. Karena wataknya yang bersih dia dibenci oleh Ayahmu dan sekiranya dia bukan keponakanku yang kulindungi, tentu dia sudah dibunuh Ayahmu sejak dulu. Akan tetapi dia yatim. piatu, tiada sanak keluarga......, hanya aku satu-satunya keluarga. Aku adik Ayahnya......"
"Kami sudah berjanji sehidup semati, Ibu. Aku siap hidup sederhana dan seadanya, sebagai isterinya."
Nyonya Kui menghela napas panjang.
"Aku dapat memahami perasaanmu, Leng Hwa, dan aku tidak menyalahkanmu. Aku bahkan setuju sepenuhnya kalau dapat berjodoh dengan Ho Lam. Akan tetapi apakah Ho Lam juga amat mencintamu?"
"Dia sanggup mengorbankan apa saja, bahkan nyawanya untukku, Ibu."
"Hemm. Ayahmu tentu akan mati-matian menentang perjodohanmu dengan Ho Lam."
"Kami sudah mengambil keputusan bulat, ibu. Kami akan nekat dan siap untuk mati di tangan Ayah, kalau Ayah memang tega kepadaku."
"Ayahmu pasti tega. Biarpun dia amat sayang kepadamu, namun dia jauh lebih sayang kepada dirinya sendiri. Tidak ada jalan lain, Leng Hwa. Engkau harus pergi bersama Ho Lam dari pulau ini. Malam ini juga sebelum terlambat!"
"lbu......!"
"Sudahlah engkau harus menurut kata-kataku. Ini jalan satu-satunya. Kalau terlambat, jangan harap engkau akan dapat berjodoh dengan Ho Lam. Ayahmu tidak akan membunuhmu, akan tetapi dia dapat memaksamu. Dia itu licik dan cerdik. Dia dapat menggunakan racun untuk menjebakmu sehingga engkau akan menyerahkan diri dengan rela kepada siapa pun yang dikehendaki Ayahmu. Cepat berkemas! Aku sendiri yang akan mengatur agar Ho Lam bersiap-siap dan menyediakan perahu untuk kalian."
Malam itu Pulau Udang kedatangan seorang tamu yang sudah dikenal oleh semua anggauta Pulau Udang, dan juga ditakuti karena tamu itu pernah membunuh lima orang pengawal Kui Tong yang gagu dan tuli.
Tamu itu bukan lain adalah Can Kok.
Para petugas jaga tidak ada yang berani menentangnya, bahkan menyambutnya dengan hormat lalu melaporkan kedatangan itu kepada Kui Tong.
Mendengar akan kunjungan pemuda itu, dengan girang Kui Tong keluar menyambut.
"Ah, engkau Can Kok? Aku girang sekali engkau pulang!"
Kata datuk itu sambil tersenyum dengan wajah berseri.
Dia merasa bangga kepada Can Kok.
Pemuda ini adalah keponakannya, juga muridnya dan kini dia tahu bahwa pemuda ini telah memiliki ilmu kepandaian hebat, lebih tinggi daripada tingkat kepandaiannya sendiri.
Sungguh membanggakan sekali untuk memamerkan Can Kok sebagai keponakan dan muridnya!
"Paman,"
Kata Can Kok sambil memberi hormat.
Kui Tong merasa girang bahwa kini Can Kok tidak liar lagi.
Agaknya pemuda itu telah mulai terbiasa dan dapat mengendalikan tenaga sakti yang amat dahsyat dalam dirinya, yang membuat dia ketika itu menjadi liar tak terkendali sehingga mengamuk, bahkan membunuh lima orang pengawalnya di Pulau lblis itu.
Dia lalu menggandeng tangan pemuda itu.
"Mari masuk, kita bicara di dalam, Can Kok!"
Setelah duduk berdua dalam ruangan, Kui Tong segera bertanya.
"Bagaimana hasilnya usahamu mencari dan membunuh Tiong Lee Cin-jin, Can Kok'?"
"Untuk membicarakan itulah aku datang ini, Paman. Aku belum dapat menemukan di mana adanya Tiong Lee Cin-jin. Akan tetapi aku telah bertemu dengan dua orang muridnya."
"Siapa mereka?"
"Mereka berjuluk Pek Hong Niocu dan Ang Hwa Sian-li."
"Ah, aku pernah mendengar nama gadis-gadis tokoh kang-ouw itu! Hemm, jadi mereka adalah murid-murid Tiong Lee Cin-jin? Lalu bagaimana, apakah engkau sudah menangkap atau membunuh mereka?"
Can Kok menggeleng kepalanya.
"Ketika itu aku bertemu dengan Kui Tung."
"Eh? Siapa orang yang namanya mirip dengan namaku itu?"
"Kui Tung adalah murid Suhu Lam-kai (Pengemis Selatan) Gui Lin dan kami berdua bertanding melawan dua orang gadis murid Tiong Lee Cin-jin. Sebetulnya kami sudah hampir dapat menundukkan mereka ketika tiba-tiba muncul sekitar seratus orang pasukan pemerintah. Sayang sekali, Paman. Aku tidak berhasil menangkap atau membunuh mereka."
"Bagaimana tingkat kepandaian mereka?"
"Sudah cukup tinggi. Murid Suhu Lam-kai masih kalah setingkat dibandingkan seorang di antara mereka. Akan tetapi aku masih dapat mengungguli mereka kalau bertanding satu lawan satu. Karena aku belum berhasil menemukan di mana adanya musuh besar kita itu, Paman, maka aku datang untuk minta petunjuk Paman. Dan pula, mengingat bahwa Tiong Lee Cin-jin mempunyai murid-murid lihai, maka setelah kita mengetahui di mana dia berada, agar jangan sampai gagal, sebaiknya Paman dan ketiga Suhu lainnya bersama aku menyerbu agar dia dapat kita bunuh."
"Kui Tong mengangguk-angguk.
"Hemm, memang Tiong Lee Cin-jin memiliki ilmu kepandaian yang amat hebat. Engkau benar, Can Kok. Kita semua harus bekerja sama. Aku mengundang See-ong (Raja Barat), Pak-sian (Dewa Utara) dan Lam-kai (Pengemis Selatan) untuk datang dan berkumpul di sini. Siapa tahu di antara mereka ada yang sudah dapat mengetahui di mana adanya Tiong Lee Cin-jin. Kalau sudah diketahui tempat tinggalnya, kita semua beramai-ramai menyerbu ke sana dan membunuhnya. Akan tetapi Sementara itu, aku hendak membicarakan hal yang amat penting denganmu, Can Kok."
Can Kok menatap wajah Paman tuanya.
"Ada urusan apakah, Paman?"
"Begini Can Kok. Engkau sejak kecil telah ikut denganku di sini dan kami semua sudah menganggap engkau sebagai keluarga sendiri. Katakan, Can Kok, bagaimana pendapatmu tentang Leng Hwa, anakku?"
"Hemm, apa maksudmu Paman? Pendapatku tentang Adik Leng Hwa? Ah, mengapa? Ia baik sekali."
"Maksudku, menurut pandanganmu, apakah ia cukup cantik menarik?"
"Wah, Paman ini aneh. Tentu saja Leng Hwa cantik sekali dan menarik. Jarang aku bertemu seorang gadis secantik Leng Hwa!"
"Dan cukup pandai?"
"Pandai dan cerdik."
"Can Kok, begini maksud aku dan Bibimu. Kami ingin menjodohkan Leng Hwa denganmu. Bagaimana pendapatmu?"
Sepasang mata itu mencorong dan terbelalak sejenak, lalu biasa kembali.
"Wah, Paman, tentu saja aku merasa girang sekali! Memang sejak dulu aku merasa kagum kepada Adik Leng Hwa dan alangkah senangnya kalau ia menjadi isteriku!"
Kata Can Kok dan ucapannya ini saja sudah menunjukkan bahwa sikapnya memang sudah luar biasa.
Agaknya dia tidak lagi mempunyai perasaan rikuh terhadap datuk yang menjadi gurunya dan juga pengganti orang tuanya itu.
"Ha-ha-ha-ha!"
Tung-sai Si Singa Timur tertawa bergelak dan suara tawanya bergema di pulau itu, menggetarkan hati orang yang mendengarnya.
"Bagus! Bagus sekali!"
Dia lalu bertepuk tangan.
Ini merupakan isyarat bagi para pelayan yang berada di dalam rumah bahwa majikannya itu memanggil mereka.
Seorang pelayan wanita yang kebetulan berada di luar ruangan itu dan mendengar panggilan ini, segera memasuki ruangan dengan sikap hormat.
"Cepat panggil Toanio (Nyonya Besar) dan Siocia (Nona) ke sini!"
Perintah Tung-sai Kui Tong yang masih menyeringai tanda gembira hatinya.
Tak lama kemudian terdengar langkah kaki lembut dan muncullah Nyonya Kui, memasuki ruangan itu dengan alis berkerut dan sinar mata menunjukkan kegelisahan.
"Mana Leng Hwa? Aku minta ia datang ke sini. Kami ingin membicarakan urusan perjodohannya!"
Can Kok yang melihat bibinya, hanya mengangguk saja tanpa bangkit dari kursinya.
"Bibi, harap undang Adik Leng ke sini, aku sudah merasa rindu padanya,"
Katanya. Nyonya Kui menekan rasa tidak senangnya dan ia, tidak memperdulikan ucapan pemuda itu, melainkan berkata kepada suaminya.
"Leng Hwa tidak berada dalam kamarnya."
"Eh? Ke mana ia pergi?"
"Aku tidak tahu. Sejak tadi sudah kucari-cari di seluruh ruangan dan taman, akan tetapi ia tidak ada. Dan ketika aku memeriksa kamarnya, aku menemukan bahwa sebagian dari pakaiannya yang baru telah tidak ada."
"Apa? Keparat! Ia minggat?"
Bentak Tung-sai sambil bangkit berdiri, lalu dia melangkah lebar keluar dari ruangan itu menuju ke kamar puterinya, diikuti oleh Can Kok yang tidak berkata apa-apa.
Nyonya Kui berlari kembali ke kamarnya dan menahan tangisnya.
Setelah tiba di kamar Leng Hwa, Tung-sai menggeledah kamar itu dengan marah-marah.
Lalu dia berteriak memanggil pelayan yang biasa melayani puterinya.
Pelayan itu, seorang wanita berusia empatpuluh tahunan, masuk dengan tubuh gemetar dan wajah pucat.
"Hayo katakan ke mana Nona pergi!"
Bentak Singa Timur itu.
"Saya...... saya tidak tahu, Tuan Besar ...... sejak sore tadi Nona mengeram diri dalam kamar dan melarang siapa pun memasuki kamarnya."
"Bodoh! Sejak kapan ia tidak berada di kamarnya?"
Si Singa Timur membentak.
"Sa...... saya tidak tahu...... kami semua baru tahu bahwa Nona tidak berada lagi dalam kamarnya ketika Nyonya Besar membuka pintu kamar dan ternyata Nona sudah tidak berada dalam kamar. Kami semua mencarinya akan tetapi Siocia (Nona) tidak dapat ditemukan."
"Keparat! Apa artinya engkau menjadi pelayan kalau begitu? Lebih baik mampus saja!"
Si Singa Timur melangkah maju dan hendak membunuh wanita pelayan yang ketakutan dan sudah terkulai dan berlutut saking takutnya itu.
"Jangan pukul ia!"
Tiba-tiba terdengar bentakan lembut dan Nyonya Kui muncul lalu melangkah menghampiri pelayan itu, menariknya bangun.
"Pergilah ke belakang sana!"
Katanya, kemudian setelah pelayan pergi wanita itu mendekati suaminya.
"Mengapa menyalahkan orang lain? Kalau anak kita pergi, engkaulah yang menjadi biang keladinya, engkaulah penyebabnya! Engkau memaksanya untuk menikah! Mungkin kini ia telah mati membunuh diri dan engkaulah pembunuhnya! Engkau membunuh anakku......!"
Nyonya itu menangis dan Si Singa Timur berdiri bagaikan patung.
Hilang semua kegalakan dan kemarahannya, bahkan dia tertegun mendengar kemungkinan anaknya bunuh diri.
Bagaimanapun juga, datuk ini amat mencinta puterinya.
Tiba-tiba Can Kok berkata.
"Paman, tidak mungkin orang membunuh diri membawa pergi pakaian-pakaiannya!"
"Ah, benar!"
Si Singa Timur seperti sadar.
"Ia tidak bunuh diri, melainkan minggat! Mari kita cari, Can Kok!"
Dua orang itu lalu berlari keluar dari rumah meninggalkan Nyonya Kui yang kembali ke kamarnya dengan kaki gemetar.
Ia merasa khawatir sekali.
Ia tadi hampir berhasil membuat suaminya percaya bahwa anaknya membunuh diri sehingga tidak akan melakukan pengejaran.
Akan tetapi siapa kira, pemuda gila itu yang menyadarkannya dan kini mereka mulai mencari Leng Hwa.
Ah, bagaimana kalau mereka sampai dapat menyusul dan menemukannya?
Wanita itu gelisah sekali dan ia menjatuhkan diri menelungkup di atas pembaringannya dan menangis terisak-isak, mengeluh dan memohon kepada Thian (Tuhan) agar puterinya diselamatkan.
Ia yang mengatur kepergian Leng Hwa.
Diaturnya sejak mulai gelap tadi agar Leng Hwa dan Ho Lam, pemuda putera seorang anggauta Pulau Udang yang sudah tua, dapat melarikan diri dari pulau itu dalam sebuah perahu tanpa terlihat oleh siapa pun.
Tung-sai yang diikuti Can Kok mencari-cari di seluruh pulau, bertanya kepada semua anggauta Pulau Udang.
Akan tetapi tak seorang pun mengetahui atau melihat Leng Hwa dan mereka tidak berhasil menemukan gadis itu.
Melihat majikan mereka marah-marah mencari Leng Hwa, semua orang menjadi panik dan ikut mencari.
"Paman, aku yakin bahwa Adik Leng Hwa pasti melarikan diri dari pulau dengan menggunakan perahu. Sebaiknya Paman periksa apakah ada perahu yang hilang."
"Ah, engkau benar, Can Kok!"
Tung-sai lalu memerintahkan anak buahnya untuk memeriksa kalau-kalau ada perahu yang tidak berada di pulau.
Pada waktu malam, biasanya semua perahu pasti ada di pulau.
Para anak buah itu dengan gugup melaksanakan perintah dan tak lama kemudian mereka melaporkan bahwa ada sebuah perahu yang hilang, yaitu perahunya Ho Lam.
"Ah, tidak salah lagi, Paman. Pasti si keparat Ho Lam itu yang melarikan Adik Leng Hwa!"
"Hmm, Ho Lam adalah keponakan isteriku. Tentu Ibunya Leng Hwa yang merencanakan ini semua!"
Tergesa-gesa Tung-sai dan Can Kok berlari dari pantai pulau, kembali ke rumah dan dengan kasar Singa Timur itu membuka pintu kamarnya.
Isterinya masih menelungkup di atas pembaringan sambil menangis.
Tung-sai mengguncang pundak isterinya.
Ketika wanita itu bangkit duduk, dia berkata dengan marah.
"Tentu engkau yang telah menyuruh keponakanmu, si jahanam Ho Lam itu untuk membawa minggat Leng Hwa!"
Wanita itu tiba-tiba menghentikan tangisnya, dengan muka masih basah air mata lalu berkata dengan lantang.
"Benar! Aku yang menyuruh mereka pergi! Habis kau mau apa? Mau membunuh aku? Bunuhlah, aku pun lebih suka mati dari pada menderita batin sengsara menghadapi kekejamanmu!"
Wanita itu mengedikkan kepalanya dan membusungkan dadanya, menantang. Si Singa Timur yang biasanya galak itu tertegun melihat isterinya menantang seperti itu.
"Paman, mereka tentu belum pergi jauh. Biar aku mengejar mereka dan membunuh jahanam Ho Lam itu dan membawa kembali Adik Leng Hwa!"
Tanpa menanti jawaban, Can Kok sudah berkelebat keluar dari rumah itu.
"Aih, mengapa engkau melakukan ini?"
Tung-sai mengeluh sambil menatap wajah isterinya yang amat disayangnya itu.
"Mengapa? Tanyalah kepada dirimu sendiri. Anak kita itu sudah saling mencinta dengan Ho Lam, mereka sudah bersumpah sehidup semati. Akan tetapi engkau hendak memaksanya berjodoh dengan Can Kok itu. Biarlah mereka berdua kabur saja meninggalkan pulau neraka ini, terbang bebas seperti sepasang burung merpati menuju kebebasan dan kebahagiaan. Jangan kejar mereka! jangan ganggu mereka!"
Tung-sai ingin menumpahkan kemarahannya, namun seperti biasa, menghadapi isterinya dia mati kutu.
"Keparat!"
Dia memaki seperti kepada diri sendiri lalu dia pun berkelebat lari meninggalkan isterinya yang menangis kembali di atas pembaringannya karena hatinya merasa khawatir bukan main me-mikirkan keselamatan puterinya.
Ketika tiba di pantai pulau, Tung-sai mendengar dari anak buahnya bahwa Can Kok sudah sejak tadi naik perahu kecil meninggalkan pulau.
Tung-sai lalu memerintahkan pengawal-pengawalnya yang gagu tuli itu mempersiapkan perahunya dan tak lama kemudian perahunya sudah berlayar meninggalkan pulau untuk ikut melakukan pengejaran terhadap puterinya yang melarikan diri bersama Ho Lam, keponakan isterinya.
Pemuda itu mendayung perahu kecil dengan sekuat tenaga.
Dari cara dia mendayung, dapat diketahui bahwa pemuda itu adalah seorang ahli dan juga memiliki tenaga besar.
Perahu kecil itu meluncur cepat di permukaan air lautan yang pada malam itu tenang.
Hulu perahu yang runcing bagaikan sebatang pedang menusuk dan membelah air.
Rambut dan kain pengikat rambut pemuda itu berkibar tertiup angin saking lajunya perahu meluncur.
Ketika merasa betapa perahu yang meluncur semakin kuat, pemuda itu menoleh dan dia melihat gadis yang duduk di belakangnya itu ternyata telah menggunakan dayung cadangan untuk membantunya mendayung perahu.
"Hwa-moi (Adik Hwa), engkau tidak perlu membantu, nanti engkau lelah,"
Tegurnya dengan lembut.
"Ah, tidak mengapa, Lam-ko (Kakak Lam). Aku juga terbiasa dan pandai mendayung. Kita lari bersama, harus bekerja sama. Masa engkau bersusah payah mendayung, aku hanya enak-enak saja?"
"Leng Hwa, kalau Ayahmu sudah mengetahui bahwa kita berdua melarikan diri, dia tentu akan mengejar dan akan celakalah kita."
"Aku tidak takut menghadapi segala akibatnya, Lam-ko. Apakah engkau takut?"
"Aku tidak mengkhawatirkan diriku sendiri, untukmu aku rela mengorbankan nyawa sekalipun! Akan tetapi aku mengkhawatirkan keselamatanmu, Hwa-moi."
"Mengapa khawatir, Koko? Apa pun yang terjadi, kita hadapi berdua. Kalau kita harus mati, kita mati berdua! Syukur kalau Thian melindungi kita sehingga kita dapat hidup berdua selamanya."
"Terima kasih, Moi-moi...... kini aku tidak khawatir lagi. Aku berbahagia sekali dan akan selalu berbahagia selama aku bersamamu, hidup ataupun mati."
Kini mereka tidak bicara lagi, melainkan mengerahkan seluruh tenaga dan perhatian untuk mendayung perahu itu ke daratan sana.
Sinar lampu kecil-kecil di daratan itu seolah menggapai-gapai agar mereka datang lebih cepat ke sana.
Dua orang muda ini memang sudah cukup lama menjalin cinta.
Mereka bergaul sejak kecil di pulau itu dan setelah mulai dewasa, mereka saling tertarik dan akhirnya saling jatuh cinta.
Akan tetapi, mereka adalah sepasang orang muda yang patut dijadikan tauladan.
Mereka saling mencinta sepenuh hati, merasa kehilangan dan rindu kalau tidak bertemu sehari saja.
Akan tetapi keduanya dapat menjaga diri, saling menghormati dan menghargai.
Mereka saling menjaga ke-hormatan masing-masing, tidak mau membiarkan diri terseret oleh nafsu berahi.
Mereka yakin benar bahwa menjaga kesusilaan dan kehormatan masing-masing sebelum menikah itu merupakan modal batin yang paling berharga dan indah untuk membangun rumah tangga kelak.
Nafsu berahi, seperti nafsu-nafsu lain, bukanlah sesuatu yang buruk, bahkan semua nafsu merupakan anugerah dari Tuhan yang sudah diikutkan manusia sejak dia lahir.
Akan tetapi, kalau nafsu berahi yang membawa kepada hubungan badan itu dilakukan oleh mereka yang bukan suami isteri, maka hubungan itu menjadi kotor dan mencemarkan cinta itu sendiri.
Akan tetapi, kalau suami isteri yang melakukan, maka hal itu bukan saja wajar, bahkan indah dan bersih dari dosa.
Malah dapat dikatakan bahwa hubungan suami isteri tanpa nafsu berahi, adalah tidak mungkin.
Sebaliknya hubungan berahi kalau dilakukan oleh bukan suami isteri, adalah kotor dan berdosa!
Cinta kasih yang mengikat hati Ho Lam dan Leng Hwa murni dan bersih dan semua ini berkat pendidikan Nyonya Kui Tong yang memiliki budi pekerti baik, sama sekali berbeda dari suaminya, datuk Si Singa Timur yang kejam itu.
Nyonya Kui mendidik puterinya sejak kecil, juga ia mendidik Ho Lam yang menjadi keponakannya itu dengan budi pekerti baik sehingga kedua orang muda itu memiliki batin yang kuat untuk mengekang gairah nafsu mereka sendiri dan dapat membedakan mana cinta dan mana pula cinta berahi.
Dapat dibayangkan betapa lega rasa hati mereka ketika akhirnya perahu mereka tiba di pantai daratan.
Bulan sepotong tersenyum di langit cerah.
Dua orang nelayan setengah tua yang sedang bersiap-siap untuk keperluan mencari ikan pagi nanti, menghampiri perahu mereka karena tadinya mereka mengira bahwa perahu kecil yang mendarat itu adalah perahu rekan mereka yang mencari ikan di waktu malam.
Akan tetapi mereka terheran-heran ketika tiba dekat mereka melihat seorang pemuda dan seorang gadis cantik yang turun dari perahu, sama sekali bukan nelayan!
Sepasang orang muda itu pun tidak membawa ikan hasil tangkapan, atau jala dan pancing, melainkan membawa dua buntalan pakaian seperti orang yang sedang melakukan perjalanan.
"Selamat malam, Paman berdua,"
Sapa Ho Lam dengan sopan dan ramah.
"Selamat malam, Kongcu (Tuan Muda) dan Siocia (Nona). Sungguh kami merasa heran sekali. Ji-wi (kalian berdua) datang dari mana dan hendak ke manakah malam-malam begini?"
Tanya seorang di antara mereka yang bertubuh jangkung kurus. Tiba-tiba Ho Lam mendapat suatu gagasan yang dia anggap baik dan dapat menyelamatkan mereka berdua.
"Paman berdua, maukah kalian menolong kami yang sedang menderita dan terancam bahaya?"
Dua orang laki-laki setengah tua itu saling berpandangan, lalu yang bertubuh pendek gendut menjawab.
"Sudah menjadi kebiasaan para nelayan untuk saling menolong, Kongcu. Bahaya apakah yang mengancam Ji-wi (Anda berdua) dan bagaimana pula kami dapat menolong kalian?"
"Begini, Paman. Aku dan...... isteriku ini sedang melarikan diri karena terancam akan dibunuh orang jahat yang mengejar kami. Karena itu, kami minta tolong kepada kalian, apabila nanti atau besok atau kapan saja ada orang yang datang bertanya kepada kalian tentang diri kami berdua, harap Paman suka mengatakan bahwa Paman berdua tidak tahu dan tidak melihat kami. Maukah Paman berdua menolong kami begitu? Kami akan memberi imbalan atas pertolongan Paman berdua."
"Aih, kalau cuma begitu tentu saja kami akan menolong Ji-wi, Kongcu dan Siocia. Sama sekali kami tidak mengharapkan imbalan karena kami tidak melakukan apa-apa, hanya mengatakan tidak tahu dan tidak melihat Ji-wi. Jangan khawatir, Kongcu, kami pasti akan ingat dan melaksanakan pesanmu ini,"
Kata yang jangkung kurus. Ho Lam dan Leng Hwa girang bukan main mendengar jawaban ini.
"Benarkah Paman mau menolong kami?"
Tanya Leng Hwa.
"Paman betul-betul berjanji akan mengatakan tidak melihat kami?"
Orang tinggi kurus itu mengangguk mantap.
"Tentu, Siocia. Kami berjanji."
"Terima kasih, Paman,"
Kata kedua orang muda itu.
"Nah, kami akan melanjutkan perjalanan kami dan perahu kami ini kami berikan kepada Paman berdua."
Dua orang nelayan itu terbelalak "Wah, kami sungguh tidak minta imbalan, Kongcu!"
Kata yang jangkung.
"Ini bukan imbalan, Paman. Kami memang tidak memerlukan lagi, maka kami berikan kepada Paman agar dapat dipergunakan untuk menangkap ikan. Kami mohon diri, Paman!"
Kata Ho Lam dan dia lalu menggandeng tangan Leng Hwa dan diajaknya melangkah cepat meninggalkan tempat itu.
Ho Lam cukup cerdik untuk tidak mengambil jalan melalui jalan umum yang terdapat di situ.
Dia membelok ke kiri menyusuri pantai menuju ke arah selatan.
Dua orang nelayan itu berdiri bengong sambil mengikuti bayangan dua orang muda itu dengan pandang mata sampai bayangan itu lenyap ditelan cuaca yang masih remang-remang gelap karena matahari agak jauh di ufuk timur, masih terbenam kaki langit di ujung lautan.
Tentu saja dua orang nelayan itu girang bukan main.
Mereka merasa seolah menerima harta karun.
Perahu bagi mereka merupakan modal untuk mencari ikan.
Biasanya, mereka yang tidak mempunyai perahu hanya menjala atau memancing ikan di tepi, memasuki lautan sampai sedalam pinggang.
Kini, dengan adanya perahu mereka bisa mencari ikan ke tengah lautan dan hasilnya tentu jauh lebih banyak.
Apalagi perahu itu masih baik sekali keadaannya.
Mereka merasa seperti bermimpi.
Dan untuk mendapatkan perahu itu mereka hanya disuruh tutup mulut.
Betapa mudahnya dan betapa besar imbalannya!
Akan tetapi, kegirangan hati mereka itu ternyata tidak bertahan lama.
Setelah matahari muncul sebagai bola merah yang amat besar di permukaan air laut sebelah timur, dan selagi kedua orang itu hendak mulai dengan kehidupan baru sebagai nelayan berperahu tiba-tiba sebuah perahu meluncur ke tepi dan Can Kok melompat ke darat lalu menarik perahunya ke atas pantai.
Dia melihat dua orang nelayan yang sedang siap menyeret perahu ke air dan sebagai seorang yang sejak kecil hidup di Pulau Udang, tentu saja dia segera mengenal perahu dua orang nelayan setengah tua itu.
Itu adalah perahu Pulau Udang!
Maka cepat dia menghampiri dua orang itu.
Melihat seorang pemuda tampan berpakaian mewah menghampiri mereka, dua orang nelayan itu memandangnya dan Si Gemuk Pendek segera memberi salam.
"Selamat pagi, Kongcu."
Akan tetapi Can Kok tidak menjawab salam itu dan mengamati perahu mereka.
"Hei!"
Dia membentak.
"Dari mana kalian mendapatkan perahu itu?"
"Dari...... dari......"
Si Gemuk tergagap.
"Kongcu, ini adalah perahu milik kami sendiri,"
Si Jangkung menjawab tenang.
"Jangan bohong! Tentu ada dua orang yang memberi perahu ini kepada kalian!"
"Kami...... kami......"
Si Gemuk tergagap lagi.
"Terus terang saja, Kongcu. Kami menemukan perahu ini di tepi laut, tidak ada yang punya, maka kami lalu mengambilnya,"
Kata Si Jangkung.
"Tidak perlu bohong! Kalian tentu melihat pemuda dan gadis yang naik perahu ini! Hayo katakan, di mana mereka itu sekarang!"
"Kami tidak melihat mereka, Kongcu. Kami tidak tahu......"
Kata pula Si Jangkung.
"Hayo katakan di mana mereka! Atau kalian ingin kupukul? Kubunuh?"
Can Kok membentak dan sekali tangannya bergerak ke arah perahu itu terdengar suara seperti ledakan keras.
"Brakkkk!"
Dan perahu itu pecah berkeping-keping. Dua orang nelayan itu menjadi pucat dan tubuh Si Gemuk gemetar.
"Sekali lagi, katakan di mana pemuda dan gadis itu berada atau ke mana mereka pergi! Kalau tidak, kalian akan kubunuh!"
"Mereka...... mereka......"
"A Sam, diam kau! Kita adalah orang-orang miskin, tidak mempunyai apa-apa, yang ada hanya kehormatan! Kalau kita melanggar janji, berarti kehormatan pun kita tidak punya!"
Si Jangkung membentak kawannya.
"Mampus kau!"
Can Kok menggerakkan tangan kirinya.
Tangannya itu tidak menyentuh si nelayan jangkung karena jaraknya ada dua meter lebih, akan tetapi tubuh Si Jangkung terpelanting seperti disambar kilat dan dia roboh, tewas seketika dengan muka berubah kehitaman!
Melihat ini, Si Gendut menggigil seperti orang terserang penyakit demam dan kedua lututnya menjadi lemas sehingga dia terkulai dan berlutut.
"Kau! Hayo katakan ke mana pemuda dan gadis itu pergi!"
Can Kok membentak. Si Gemuk Pendek semakin menggigil;
"Saya...... saya tidak berani......"
Can Kok menggerakkan tangannya dan telunjuknya menotok tengkuk nelayan gemuk.
Nelayan itu roboh dan bergulingan, merintih-rintih dan mengaduh-aduh, seluruh tubuhnya terasa nyeri bukan main, seperti ditusuk-tusuk dari dalam.
"Aduh......, ampun...... ampun...... aduh......"
"Katakan ke mana mereka!"
Dengan menggigil ketakutan, Si Gemuk menudingkan telunjuknya ke arah selatan.
"Mereka...... mereka tadi berjalan ke arah sana......"
"Engkau tidak berbohong?"
"Tidak, sungguh mati...... mereka berjalan ke arah sana......"
"Baik, aku akan mengejar ke sana. Kalau engkau ternyata berbohong, nanti aku akan kembali untuk mencabut nyawamu!"
Setelah berkata demikian, Can Kok lalu berkelebat dan berlari cepat menuju ke arah yang ditunjukkan nelayan gemuk, ke arah selatan.
Nelayan gemuk itu merintih-rintih dan ketika dia memandang ke arah mayat temannya, dia mengerang dan menangis.
Dia menoleh ke arah perahu pemberian yang kini hancur berkeping-keping dan rintihannya semakin keras.
Dia menangis mengguguk.
Betapa rasa senang dalam waktu sebentar saja kini berubah menjadi rasa susah dan sakit.
Dia mencoba untuk bangkit berdiri, akan tetapi terkulai kembali karena rasa nyeri yang tak tertahankan.
Dia ingin kembali ke kampung, minta pertolongan penduduk, akan tetapi dia tidak mampu bangkit berdiri.
Dia mencoba maju sambil merangkak-rangkak dan hatinya penuh penyesalan.
Sahabatnya Si Jangkung itu jauh lebih baik nasibnya, pikirnya penuh penyesalan.
Sahabatnya itu mempertahankan kesetiaan akan janjinya sampai mati dan kini sudah mati, tidak menderita lagi dan mati sebagai seorang terhormat!
Akan tetapi dia?
Dia telah melanggar janji, dia kehilangan kehormatannya dan kini menderita kesakitan yang lebih hebat deritanya daripada kematian sendiri!
Sambil menangis seperti anak kecil nelayan gemuk itu merangkak dengan susah payah.
Tiba-tiba sebuah bentakan yang menggetarkan tanah di mana dia merangkak, mengejutkan hatinya.
"Hai! Katakan di mana dua orang pelarian dan pengejarnya tadi!"
Nelayan gemuk berhenti merangkak, berlutut dan mengangkat mukanya.
Dia melihat Tung-sai Singa Timur itu berdiri seperti seorang raksasa di depannya, tangan kanan memegang sebatang tombak, menyeramkan sekali.
Biarpun dia tidak tahu apa yang terjadi dan siapa orang-orang yang ditanyakan, namun dia dapat menduga bahwa tentu yang ditanyakan adalah pemuda dan gadis pemberi perahu, lalu pemuda pengejarnya tadi.
"Mereka...... mereka ke sana......"
Dia menuding ke selatan.
Tung-sai Kui Tong menendang dan tubuh Si Gemuk itu terlempar jauh lalu jatuh berdebuk ke atas tanah.
Akan tetapi dia tidak mengeluh dan tidak merasa nyeri.
Dia sudah tidak merasakan apa-apa karena tendangan itu membuat dia tewas seketika!
Setelah memberi isyarat kepada sepuluh orang pengawalnya untuk menunggu di situ, kemudian dia pun berlari cepat ke arah selatan, menyusuri pantai.
"Lam-ko, aku lelah sekali......!"
Leng Hwa mengeluh.
Biarpun ia juga telah menguasai ilmu silat dan tubuhnya cukup kuat, namun ia tidak pernah berlari-larian sampai sejauh dan selama itu.
Sejak malam tadi, setelah memberikan perahu kepada dua orang nelayan, Ho Lam mengajak ia berlari-lari menyusuri pantai menuju ke selatan.
Ketika ada gunung karang menghalang pantai, kekasihnya mengajak ia melanjutkan pelarian mereka mendaki bukit karang yang keras, kasar dan tajam meruncing sehingga sepatunya terobek dan telapak kedua kakinya terasa nyeri.
Mereka berlari sampai matahari naik tinggi dan hawa udara mulai panas.
"Baiklah, Hwa-moi. Kasihan sekali engkau! Lihat, di atas sana ada guha. Kita beristirahat di sana melepas lelah."
Mereka berdua mendaki bukit itu ke atas dan tiba di depan sebuah guha yang cukup luas.
Kebetulan sekali lantai guha itu kering dan rata.
Leng Hwa segera menjatuhkan diri duduk di dalam guha, menjulurkan kedua kakinya dan memijati paha dan betisnya.
Ho Lam duduk di dekatnya, memandang ke arah sepatu yang pecah-pecah itu.
"Aduh, kasihan kedua kakimu, Moi-moi. Bukalah sepatunya. Akan kuperiksa apakah kedua kakimu lecet terluka. Aku membawa obat luka."
Setelah gadis itu mengangguk, dengan hati-hati dan sopan Ho Lam membantu gadis itu membuka kedua sepatunya.
Kedua kaki yang berkulit putih halus itu kemerah-merahan, akan tetapi tidak terluka parah, hanya lecet-lecet sedikit.
Dengan hati-hati Ho Lam mengoleskan obat luka pada bagian yang lecet-lecet itu, lalu membantu Leng Hwa mengenakan sepatunya kembali.
"Aku haus, Lam-ko."
"Untung aku telah siap tadi dan membawa seguci air dan roti daging (bak-pauw) untuk menahan haus dan lapar,"
Kata Ho Lam dan dia mengambil makanan dan minuman itu dari buntalan pakaiannya.
"Aku tidak lapar, hanya haus, Koko."
Leng Hwa lalu minum air dari guci itu dan merasa segar.
"Lam-ko, kita akan pergi ke mana?"
"Rencanaku begini, Hwa-moi. Kita pergi dulu ke kota Cin-le yang sehari perjalanan dari sini. Kalau kita berjalan agak cepat, sore atau paling lambat malam nanti kita akan tiba di sana. Nah, di Cin-le nanti kubeli dua ekor kuda dan kita melanjutkan perjalanan dengan menunggang kuda agar lebih cepat dan tidak terlalu melelahkan."
"Pergunakan perhiasanku untuk membeli kuda, Lam-ko. Aku membawa perhiasan pemberian Ibu di dalam buntalan ini."
"Aku juga membawa semua hasil tabunganku, Hwa-moi. Kalau nanti kurang, baru menggunakan perhiasanmu."
"Akan tetapi ke mana kita akan pergi, Koko?"
"Hwa-moi, kita harus pergi sejauh mungkin dari sini, mengganti nama dan tinggal di sebuah dusun yang terpencil. Kita harus bersembunyi sampai beberapa tahun lamanya karena kalau tidak, kita akan dapat ditemukan Ayahmu. Engkau, mau bukan, hidup di tempat sunyi dalam keadaan melarat sebagai petani sederhana?"
Leng Hwa menatap wajah kekasihnya dengan penuh kepasrahan dan menjawab.
"Mengapa engkau masih bertanya lagi, Koko? Apakah engkau belum percaya akan kesetiaanku? Aku dengan senang hati akan menemanimu, hidup bersamamu di manapun juga dan dalam keadaan apa pun juga."
"Moi-moi......!"
Ho Lam merangkul dan mendekap kepala gadis itu ke dadanya.
"Aku rela berkorban nyawa untukmu! Aku cinta padamu, Hwa-moi!"
"Aku juga, Lam-ko,"
Kata Leng Hwa lirih dan memejamkan mata dalam dekapan kekasihnya itu, merasa sangat berbahagia.
"Lam-ko, kita beristirahat dulu di sini sampai kedua kakiku sembuh dari rasa pegal dan lelah, ya?"
"Baiklah, Hwa-moi. Akan tetapi jangan terlalu lama. Aku khawatir Ayahmu dapat menyusul kita."
"Kalau hal itu terjadi, aku tidak takut, Lam-ko. Aku siap mati bersamamu."
"Hwa-moi...!"
Ho Lam mempererat dekapannya dengan hati penuh kasih sayang dan beberapa lamanya keduanya diam tak bergerak dalam suasana mesra itu.
Mungkin saking lelah dan semalam suntuk tidak tidur, ditambah kelegaan hati dalam dekapan kekasihnya setelah mengalami ketegangan dan kegelisahan semalam, tak lama kemudian Leng Hwa tertidur dalam dekapan, bersandar di dada Ho Lam.
Melihat ini, Ho Lam tidak tega untuk membangunkan kekasihnya dan dia bahkan tidak mau membuat gerakan agar Leng Hwa dapat tidur dengan pulas.
Akan tetapi hati Ho Lam mulai merasa khawatir juga setelah lewat tiga jam Leng Hwa belum juga bangun.
Matahari sudah mulai condong ke barat.
Akan tetapi untuk membangunkan kekasihnya, dia tidak tega.
Tiba-tiba Ho Lam tersentak kaget dan matanya terbelalak memandang kepada Can Kok yang tahu-tahu telah berdiri di depan guha!
Can Kok memandang dengan matanya yang mencorong aneh dan bibirnya tersenyum sinis.
Karena Ho Lam tersentak kaget Leng Hwa terbangun.
Begitu membuka matanya ia juga melihat Can Kok dan cepat gadis itu melompat dan bangkit berdiri.
"Can Kok, mau apa engkau menyusul kami?"
Leng Hwa membentak dan dalam kemarahan dan kebencian ia menyebut nama Can Kok begitu saja, padahal dulu ia akrab dengan pemuda itu dan menyebutnya kakak.
"Adik Leng Hwa yang manis, aku diutus Paman Kui Tong untuk membawamu pulang ke Pulau Udang dan membunuh tikus busuk ini!"
Can Kok menudingkan telunjuknya ke arah muka Ho Lam yang juga sudah berdiri di dekat Leng Hwa dengan sikap melindungi kekasihnya itu.
"Suheng (Kakak Seperguruan) Can Kok, di antara kita ada pertalian persaudaraan seperguruan dan hubungan antara kita sejak dulu baik. Apakah engkau tidak merasa kasihan kepada kami berdua? Kami saling mencinta dan kami telah bersumpah untuk sehidup semati. Biarkan kami pergi, Suheng, dan kami tidak akan melupakan budi kebaikanmu ini."
Can Kok tertawa. Tawanya aneh, bergelak namun terdengar mengguguk seperti tangis! Ini menunjukkan bahwa hatinya dibakar kemarahan.
"Ha-ha-hu-hu-huk! Engkau telah berkhianat terhadap Paman, engkau harus mati di tanganku. Adik Leng Hwa ini adalah calon isteriku dan engkau berani membawa lari, keparat!"
"Can Kok, aku tidak sudi menjadi isterimu. Lebih baik mati daripada menjadi isteri seorang gila seperti engkau!"
Leng Hwa berteriak dengan marah dan nekat.
"Can-suheng, kami tidak ingin bermusuhan denganmu. Kuharap engkau suka meninggalkan kami, kalau tidak kami terpaksa akan melawan mati-matian!"
Kata Ho Lam yang tahu bahwa tidak mungkin meloloskan diri dari ancaman Can Kok.
"Hemm, tikus busuk, mampuslah!"
Can Kok membentak dan menyerang ke depan dengan dorongan tangan kanan ke arah Ho Lam.
Melihat Can Kok menyerang kekasihnya, Leng Hwa melompat ke depan menyambut serangan jarak jauh itu dengan kedua tangannya, melindungi Ho Lam.
"Wuuuttt...... desss ......!"
Tubuh Leng Hwa terpental dan jatuh terjengkang.
"Jahanam!"
Ho Lam marah sekali melihat kekasihnya roboh.
Dia sudah mencabut pedangnya dan menerjang Can Kok dengan nekat.
Gerakannya cukup kuat dan cepat.
Namun, dibandingkan dengan Can Kok, kekuatannya itu tidak ada artinya sama sekali.
Can Kok tidak mengelak, akan tetapi ketika pedang itu sudah meluncur dekat hendak menusuk dadanya, tangan kanannya menyambar dan tahu-tahu pedang itu telah ditangkapnya.
Sekali renggut pedang itu pun pindah tangan.
Ho Lam terkejut, akan tetapi Can Kfok sudah menggerakkan tangannya yang menangkap pedang itu dan sekali sentakan, pedang itu membalik dan meluncur seperti anak panah cepatnya ke arah dada Ho Lam!
Ho Lam tidak sempat lagi menghindar.
"Capppp......!!"
Pedang itu menancap tepat di tengah dada Ho Lam.
Pemuda itu terhuyung ke belakang dan roboh telentang.
Leng Hwa yang tadi hanya terjengkang dan kini sudah bangkit berdiri, terbelalak melihat kekasihnya roboh dengan dada ditembusi pedang.
"Iblis jahat, kau...... kaubunuh Lam-ko......!"
Sambil menangis Leng Hwa lalu menyerang Can` Kok dengan pedangnya.
Akan tetapi sekali mengibaskan tangannya, pedang itu terlepas dari tangan Leng Hwa dan sebelum gadis itu dapat menyerang lagi, Can Kok sudah memeIuknya dan ia tidak mampu bergerak.
Can Kok tertawa dan menciumi muka Leng Hwa yang meronta-ronta.
"Heh-heh, engkau mencinta tikus ini, ya? Nah, biarlah sebelum mampus tikus ini melihat betapa engkau bermesraan dengan aku!"
Can Kok duduk dekat Ho Lam yang belum tewas, yang telentang dengan mata terbelalak dan pedang menancap di dada.
Leng Hwa meronta-ronta, akan tetapi Can Kok merobek bajunya dan sengaja hendak pamer mempermainkan gadis itu di depan Ho Lam yang masih belum mati.
Akan tetapi pada saat itu terdengar suara orang menegur.
"Sungguh perbuatan yang terkutuk dan biadab! Engkau ini iblis berwajah manusia!"
Berbareng dengan teguran itu, ada angin menyambar ke arah Can Kok. Can Kok melepaskan tubuh Leng Hwa yang bajunya telah robek, lalu menangkis ke arah angin yang menyambar dari sebelah kanan.
"Wuuuttt...... desss!!"
Can Kok terkejut bukan main dan berseru keras sambil melompat jauh ke belakang ketika dia merasa betapa tangkisannya bertemu dengan hawa yang amat kuat sehingga lengannya tergetar.
Mereka saling pandang dengan sinar mata mencorong.
Yang menyerang Can Kok tadi bukan lain adalah Souw Thian Liong!
Seperti kita ketahui, Thian Liong berkunjung ke dusun Kian-cung dekat Telaga See-ouw untuk mengunjungi rumah Han Si Tiong.
Di sana dia mendengar bahwa Han Si Tiong telah tewas ketika diserang dua orang muda dan bahwa Han Bi Lan telah pulang kemudian bersama ibunya meninggalkan Kian-cung menuju ke kota raja.
Dia menduga bahwa ibu dan anak itu tentu pergi ke rumah Panglima Kwee di kota raja karena Han Bi Lan hendak dijodohkan dengan Kwee Cun Ki, putera Panglima Kwee.
Setelah bersembahyang di kuburan Han Si Tiong, Thian Liong lalu melanjutkan perantauannya.
Kebetulan dia tiba di bukit dekat pantai itu dan melihat Can Kok hendak memperkosa seorang gadis di depan seorang pemuda yang sudah hampir mati.
Dia mendengar ucapan Can Kok dan menjadi marah lalu menyerang pemuda gila itu.
Kini mereka saling berhadapan dalam jarak sekitar tiga tombak.
Thian Liong segera mengenal pemuda yang menjadi murid Empat Datuk Besar seperti dilihatnya di Pulau lblis dahulu.
Sebaliknya, Can Kok tidak mengenalnya dan Can Kok marah bukan main melihat ada orang berani menghalanginya.
"Keparat, siapa engkau berani mencampuri urusanku?"
Bentak Can Kok.
Kalau saja yang berbuat itu orang lain, tentu dia sudah turun tangan membunuhnya.
Akan tetapi, dari tangkisannya tadi, dia tahu bahwa pemuda sederhana di depannya ini seorang yang memiliki kepandaian tinggi, maka dia ingin mengetahui siapa orang ini.
"Can Kok, aku bernama Souw Thian Liong."
"Hemm, engkau mengenal namaku?"
"Tentu saja, engkau Can Kok murid Empat Datuk Besar dan engkau telah menguasai ilmu yang amat tinggi. Hanya sayang seribu sayang, ilmu yang tinggi itu kini diperalat iblis yang menguasai dirimu!"
Tiba-tiba terdengar jerit tangis.
Dua orang pemuda itu menengok ke arah Leng Hwa.
Tadi perhatian mereka sepenuhnya diarahkan kepada lawan sehingga tidak memperhatikan Leng Hwa.
Gadis itu juga tidak memperdulikan mereka, melainkan lari menubruk tubuh Ho Lam yang masih telentang hampir mati dengan mata masih terbuka.
Mata pemuda itu basah dan dua butir air mata bergulir turun ke atas pipinya ketika dia memandang Leng Hwa.
"......Hwa...... Hwa-moi......"
Kedua mata itu terpejam.
"Lam-ko...... tidak...... engkau tidak boleh mati sendiri!"
Leng Hwa lalu menggunakan kedua tangannya untuk mencabut pedang yang menancap di dada Ho Lam.
Darah muncrat dari dada Ho Lam.
Leng Hwa menjerit ketika melihat muncratnya darah itu dan ia pun lalu menusukkan pedang itu ke dadanya sendiri sampai tembus lalu terkulai, dan roboh di atas dada Ho Lam.
Darah muncrat-muncrat dari dua dada sepasang kekasih itu, bercampur dan membasahi tubuh mereka yang perlahan-lahan menghembuskan napas terakhir.
Thian Liong merasa ngeri dan terharu, juga menyesal bahwa dia tidak mampu mencegah hal itu terjadi.
Dia kini memandang lagi kepada Can Kok, pandang matanya tajam penuh teguran.
"Can Kok, lihat itu korban dari kekejianmu! Kamu bukan manusia, melainkan iblis jahat yang harus dibasmi dari permukaan bumi ini!"
"Ha-ha-ha-hu-hu-huk!"
Can Kok tertawa seperti tangis mengguguk karena marahnya.
"Souw Thian Liong bocah sombong. Engkaulah yang akan mampus menemani mereka berdua! Haaiiiiikkkk!"
Can Kok sudah menyerang dengan amat dahsyatnya.
Tangan kirinya yang terbuka menampar dan dari telapak tangannya itu keluar hawa pukulan yang panas dan telapak tangannya berubah menjadi kemerahan.
Inilah Ang-see-ciang (Tangan Pasir Merah), ilmu andalan dari Lam-kai Gui Lin, Pengemis Selatan itu.
Akan tetapi Thian Liong yang sudah tahu akan kelihaian Can Kok, dapat mengelak dengan gesit dan dari samping, tangan kirinya membalas dengan tamparan yang mengandung hawa sakti yang kuat pula.
Namun Can Kok dapat pula mengelak.
Can Kok yang juga sudah menduga bahwa lawannya ini tidak seperti para lawan yang pernah dihadapinya, melainkan memiliki kesaktian, kini bersilat dengan gerakan yang amat aneh dan setiap gerakan kedua tangan dan kakinya membawa hawa pukulan yang dahsyat.
Inilah ilmu silat gabungan dari ilmu-ilmu Empat Datuk Besar menjadi satu.
Aneh, dahsyat dan berbahaya karena setiap sambaran tangan atau kaki itu merupakan serangan maut!
Bukan saja serangan-serangannya itu kuat, namun juga mengandung hawa beracun yang jahat.
Thian Liong bersilat dengan tenang dan hati-hati sekali.
Ketika dia mengintai di Pulau Iblis dan melihat Can Kok, dia sudah tahu bahwa pemuda yang dipersiapkan oleh Empat Datuk Besar untuk membunuh Gurunya, Tiong Lee Cin-jin ini merupakan lawannya yang paling kuat dan berbahaya.
Maka kini setelah tanpa disengaja mereka saling bertemu dan bertanding, dia bersilat dengan hati-hati sekali.
Dia mengerahkan seluruh sin-kang (tenaga sakti) dan mengeluarkan jurus-jurus yang paling ampuh untuk mengimbangi serangan lawan dengan serangan balasan yang tidak kalah dahsyatnya.
"Haaaaiiikkk......!"
"Hyaaaattt...... blaarrr......!"
Untuk kesekian kalinya dua tenaga sakti bertemu di udara dan keduanya terdorong ke belakang.
Bahkan dalam hal tenaga sakti, kekuatan mereka seimbang.
Hanya ada sebuah perbedaan yang jauh dalam pertandingan hebat tanpa saksi ini karena dua orang yang berada di situ, Ho Lam dan Kui Leng Hwa, telah menjadi mayat.
Perbedaan itu adalah bahwa kalau Can Kok mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menyerang dengan maksud membunuh, sebaliknya Thian Liong sama sekali tidak mempunyai niat untuk membunuh.
Dia hanya ingin merobohkan dan menaklukkan lawannya saja, tidak pernah mau menggunakan serangan maut.
Ketika mereka terdorong ke belakang sehingga mereka berpisah dalam jarak lima-enam tombak, sebelum mereka bergerak menerjang lagi, tiba-tiba terdengar suara yang amat nyaring sehingga menggetarkan seluruh tempat itu.
Suara gerengan seperti auman singa!
Dua orang pemuda itu sudah mengenal suara ini, suara yang dikeluarkan dengan ilmu Sai-cu Ho-kang (Suara Sakti Auman Singa) dari Tung-sai Kui Tong!
Kalau Thian Liong yang mendengar ini menjadi terkejut dan gentar, sebaliknya Can Kok merasa girang sekali.
Lawannya amat kuat dan munculnya Singa Timur itu tentu saja akan memudahkan dia membunuh Souw Thian Liong.
Si Naga Langit ini sebaliknya maklum bahwa dia tidak akan mungkin dapat menandingi pengeroyokan Can Kok dan Singa Timur.
Apalagi kini tidak ada pula yang harus ditolong.
Sepasang muda-mudi itu telah tewas dan dia tidak dapat melakukan apa-apa lagi.
Maka begitu mendengar auman yang menggetarkan itu, Thian Liong segera melompat dan berkelebat pergi dari situ.
Can Kok ragu untuk mengejar seorang diri.
Si Singa Timur muncul dengan tombak di tangan kanannya.
"Paman, mari kita kejar Souw Thian Liong!"
Kata Can Kok dengan girang.
Kalau mereka mengejar berdua, besar kemungkinan mereka akan dapat membunuh lawan yang berat itu.
Akan tetapi Tung-sai tidak menjawab.
Dia malah melangkah menghampiri dua tubuh yang bertumpuk di depan guha dan mandi darah itu.
Ketika mendapat kenyataan bahwa tubuh yang menindih tubuh lain dan yang mandi darah dan sudah tewas itu adalah Kui Leng Hwa, wajahnya yang merah berubah pucat.
"Tidak......!"
Tung-sai Kui Tong menancapkan tombaknya di atas tanah lalu dia berlutut dekat dua tubuh yang tumpang tindih itu.
Dia membalikkan tubuh Leng Hwa yang tertelungkup seolah masih tidak percaya bahwa yang mati itu adalah puterinya.
Ketika wajah Leng Hwa tampak Tung-sai mendekap mukanya dengan kedua tangannya.
"Tidak......! Leng Hwa...... ah, anakku......!"
Tiba-tiba Singa Timur ini bangkit berdiri dan membalikkan tubuhnya menghadapi Can Kok. Wajahnya tampak menyeramkan sekali, matanya mencorong seperti mata seekor singa yang marah.
"Siapa membunuh anakku?"
Bentaknya.
"Paman, aku berhasil membunuh Ho Lam. Akan tetapi pada saat itu muncul jahanam itu dan kami berkelahi sehingga aku tidak sempat mencegah Adik Leng Hwa membunuh diri."
"Bunuh diri?"
Kembali Singa Timur menoleh dan memandang ke arah jenazah puterinya.
Pedang itu masih menancap di dada Leng Hwa.
Kini dia maklum.
Ho Lam terbunuh dan puterinya itu, membela kekasihnya dengan membunuh diri!
Tiba-tiba kemarahannya ditumpahkan kepada Ho Lam.
Tung-sai menyambar jenazah puterinya dengan rangkulan lengan kirinya sambil mencabut pedang yang tertancap di dada Leng Hwa, kemudian dia membentak-bentak dengan kalap.
"Engkau membunuh anakku! Keparat, engkau membunuh anakku!"
Tangan kanan yang memegang pedang itu bergerak.
"Crak-crak-crakk!"
Mayat Ho Lam menjadi empat potong.
Leher, pinggang, dan lutut terbabat putus.
Sambil menggereng-gereng Singa Timur membuang pedang itu dan mencabut tombaknya, la1u berlari sambil memondong jenazah puterinya, menuju pulang.
Dia seolah telah lupa kepada Can Kok.
Pemuda ini pun tertawa sinis dan berlari mengejar Singa Timur majikan Pulau Udang.
Kedatangan Tung-sai yang memondong jenazah puterinya di Pulau Udang disambut hujan tangis.
Seluruh penduduk pulau itu menangisi kematian Kui Leng Hwa.
Nyonya Kui menjerit-jerit dan jatuh pingsan melihat puterinya dibawa pulang sebagai mayat yang berlumuran darah.
"Leng Hwa......, Leng Hwa anakku......!"
Nyonya itu menjerit-jerit sambil memeluk dan menciumi anaknya yang sudah menjadi mayat.
Ketika Tung-sai Kui Tong memegang pundak isterinya yang kesetanan itu untuk menghiburnya, tiba-tiba Nyonya Kui membalik kepadanya.
"Engkau......! Engkau yang telah membunuhnya!"
Ia membentak dan, matanya terbelalak lebar, rambutnya awut-awutan, kemudian wanita yang lemah ini tiba-tiba menyerang suaminya, mencakar dengan kedua tangannya.
"Tenang......, anak kita membunuh diri, gara-gara si jahanam Ho Lam!"
Katanya.
"Tidak! Engkau yang membunuhnya! Engkau terkutuk, engkau membunuh anakku!"
Wanita itu berteriak-teriak dan menangis, lalu terkulai dan jatuh pingsan.
Tung-sai Kui Tong memondongnya dan membawanya ke dalam kamar.
Hati datuk yang biasanya keras itu kini bersedih melihat keadaan isterinya dan anaknya.
Sekarang baru terasa olehnya betapa dia amat menyayang puterinya sehingga kematiannya mendatangkan luka parah dalam hatinya.
Hati datuk timur itu semakin remuk ketika isterinya siuman dari pingsan lalu mengamuk, menangis dan tertawa.
Isterinya mengalami tekanan batin yang demikian hebatnya, membuat pikirannya terguncang dan berubah.
Dan yang lebih menyedihkan hati Singa Timur, tiga hari kemudian isterinya itu tewas menggantung diri dalam kamarnya!
Hal itu dilakukan di tengah malam, ketika dia sedang tidur nyenyak karena sorenya dia minum arak sampai mabuk.
Tiga orang datuk besar yang lain datang melayat.
Setelah upacara penguburan isteri dan anaknya selesai, empat orang datuk itu mengadakan perundingan bersama Can Kok.
Di depan mereka, Can Kok menceritakan tentang kematian Leng Hwa.
"Kalau saja tidak muncul jahanam itu, pasti aku dapat mencegah Adik Leng Hwa membunuh diri. Jahanam itulah yang memberi kesempatan kepada Leng Hwa untuk membunuh diri. Jahanam itulah yang seolah telah membunuh Leng Hwa."
"Can Kok, mengapa engkau dulu tidak cepat membunuhnya agar engkau dapat menyelamatkan Leng Hwa?"
Singa Timur bertanya, suaranya bernada menegur.
"Paman, jahanam itu memiliki ilmu kepandaian yang hebat dan ilmu silatnya mengingatkan aku kepada ilmu silat yang dimainkan dua orang gadis yang mengeroyok aku dulu itu. Tentu ada hubungannya antara dia dan kedua orang gadis itu."
"Maksudmu Pek Hong Niocu dan Ang Hwa Sian-li, dua orang murid Tiong Lee Cin-jin itu?"
"Benar, Paman. Aku yakin bahwa dia tentu murid Tiong Lee Cin-jin pula."
"Murid-murid Tiong Lee Cin-jin? Hemm, apa maksud kalian?"
Tanya Pak-sian (Dewa Utara) Liong Su Kian. See ong (Raja Barat) Hui Kong Hosiang dan Lam-kai (Pengemis Selatan) Gui Lin juga ikut memandang dengan pertanyaan yang sama.
"Secara kebetulan aku telah bertemu dan bertanding dengan Pek Hong Niocu dan Ang Hwa Sian-li......"
"Hemm, aku tahu bahwa Pek Hong Niocu adalah Puteri Moguhai, puteri Kaisar Kin!"
Kata Pak-sian.
"Dan aku pernah mendengar akan nama Ang Hwa Sian-li. Ia seorang gadis pendekar yang malang melintang di daerah Kerajaan Sung!"
Kata pula Lam-kai.
"Omitohud, apakah engkau yakin bahwa dua orang gadis itu adalah murid-murid Tiong Lee Cin-jin, Can Kok?"
Tanya See-ong.
"Tentu saja aku yakin, See-suhu (Guru Barat). Mereka memperkenalkan nama mereka dan juga guru mereka."
"Wah, lalu bagaimana tingkat kepandaian mereka, Can Kok?"
Tanya Pak-sian.
"Pak-suhu (Guru Utara), mereka cukup lihai, akan tetapi kalau menghadapi seorang dari mereka, aku pasti dapat mengalahkannya."
"Hemm, bagaimana ketika mereka maju berdua? Apakah engkau dapat menandingi pengeroyokan mereka?"
Tanya Lam-kai.
"Memang berat kalau mereka maju berdua mengeroyokku, Lam-suhu (Guru Selatan), namun aku tidak akan kalah! Ketika itu, aku menghadapi mereka dengan murid suhu Kui Tung, dan kami berdua sudah hampir berhasil mengalahkan mereka, akan tetapi muncul ratusan orang perajurit kerajaan. Terpaksa kami meninggalkan musuh yang terlalu banyak itu."
"Can Kok, ceritakan tentang jahanam yang menghalangimu sehingga engkau tidak sempat mencegah anakku membunuh diri. Siapakah dia? Benarkah dia itu juga murid Tiong Lee Cin-jin?"
Tanya Tung-sai.
"Dia seorang pemuda, usianya sekitar duapuluh dua tahun. Orangnya biasa saja, pakaiannya juga sederhana seperti seorang petani. Namanya Souw Thian Liong, Paman, dan dari gerakan silatnya ketika kami bertanding, aku melihat persamaan dasar dengan ilmu silat yang dimainkan dua orang gadis murid Tiong Lee Cin-jin itu, Paman. Maka aku hampir yakin bahwa dia juga seorang murid dari musuh kita itu!"
"Omitohud!"
See-ong Hui Kong Ho-siang menggeleng-geleng kepalanya yang gundul.
"Kalau manusia sombong itu mempunyai tiga orang murid yang lihai, kedudukannya menjadi kuat. Tentu terlampau kuat kalau dihadapi Can Kok seorang diri!"
"Itulah, maka aku mengajak kalian mengadakan perundingan,"
Kata Tung-sai Kui Tong.
"Kalau kita hanya menyuruh Can Kok mewakili kita untuk menghadapi Tiong Lee Cin-jin seorang diri, tentu saja akan terlalu berat bagi Can Kok untuk menghadapi keparat itu yang dibantu oleh tiga orang muridnya. Akan sulitlah diharapkan hasilnya kalau Can Kok dikeroyok empat!"
"Tak dapat disangkal kebenaran kata-katamu, Tung-sai. Lalu bagaimana baiknya?"
Tanya Pak-sian dengan suaranya yang melengking tinggi.
"Aku mempunyai usul, Pak-suhu, See-suhu dan Lam-suhu. Seperti yang sudah kusampaikan kepada Paman Tung, cara satu-satunya agar kita berhasil adalah kita harus maju bersama ramai-ramai melakukan penyerbuan ke tempat tinggal Tiong Lee Cin-jin, membunuh dia dan semua muridnya. Akan tetapi sayang, aku belum dapat menemukan di mana dia tinggal."
"Omitohud......! Kebetulan sekali aku mendengar berita bahwa dia kini di Puncak Pelangi, sebuah di antara puncak-puncak Go-bi-san (Pegunungan Gobi),"
Kata See-ong.
"Bagus kalau begitu, kita beramai-ramai ke sana. Sekali ini kita tidak boleh gagal. Ingat, kalau kita berhasil, bukan saja kita dapat membalas kekalahan kita, akan tetapi aku yakin manusia sombong itu masih menyimpan banyak kitab-kitab langka. Kita dapat memiliki kitab-kitab yang amat berharga itu!"
Kata Tung-sai.
Ucapan Singa Timur ini disambut gembira oleh rekan-rekannya dan mereka berlima lalu berunding untuk membuat persiapan keberangkatan mereka ke Puncak Pelangi di Pegunungan Go-bi.
Thian Liong yang terpaksa melarikan diri karena merasa tidak akan dapat mengalahkan Can Kok apabila Tung-sai datang membantu, pula karena melihat bahwa dua orang yang harus dilindunginya itu sudah tewas, menghentikan larinya setelah tiba di bawah bukit karang itu.
Kemudian dia mengambil jalan memutar untuk mengintai apa yang terjadi di depan guha.
Dia melihat Tung-sai memondong jenazah gadis yang ternyata puterinya itu sambil menangis dan pergi dari depan guha.
Kemudian Can Kok juga mengikutinya.
Setelah kedua orang itu pergi, barulah Thian Liong kembali ke depan guha dan dia mengerutkan alisnya melihat mayat pemuda itu terpotong menjadi empat.
"Kejam, bukan manusia mereka itu!"
Gerutunya dan dia pun segera menggali tanah dan mengubur mayat pemuda yang tidak diketahuinya siapa itu.
Akan tetapi dia menemukan dua buntalan pakaian pria dan wanita, maka dia dapat menduga bahwa gadis puteri Tung-sai itu agaknya melarikan diri dengan pemuda ini, kemudian dikejar Can Kok dan Tung-sai.
Si pemuda tewas di tangan Can Kok dan gadis itu membunuh diri!
Setelah selesai mengubur jenazah yang terpotong-potong itu, Thian Liong lalu melanjutkan perjalanannya.
Dia berniat mencari Bi Lan dan ibunya yang pergi ke kota raja untuk melihat apakah dugaannya benar bahwa ibu dan anak itu pergi berkunjung ke rumah keluarga Panglima Kwee dan untuk melangsungkan pernikahan seperti yang direncanakan Panglima Kwee dan isterinya.
Dia tidak akan menemui mereka, dan kalau Bi Lan sudah menikah dengan putera Panglima Kwee, dia akan ikut merasa bahagia.
Bahagia?
Memang ada perasaan tidak enak dan hampa, akan tetapi dia tetap akan merasa bahagia melihat gadis itu mendapatkan suami yang baik dan kehidupannya dengan ibunyanya tenteram dan berbahagia.
Menjelang sore Thian Liong tiba di luar sebuah dusun yang cukup besar.
Melihat sawah ladang di luar dusun demikian luas, dengan tanaman yang subur, juga adanya sebuah anak sungai yang airnya cukup banyak dan jernih mengalir di luar dusun, dia dapat menduga bahwa tentu penduduk dusun itu berkeadaan cukup makmur.
Kalau sebuah dusun memiliki tanah subur dan air cukup, sudah dapat dipastikan penduduknya tentu hidup makmur, cukup sandang pangan papannya.
Thian Liong mengetahui dari pengalamannya bahwa kebutuhan hidup penduduk dusun tidaklah banyak.
Asalkan sebuah keluarga setiap hari dapat makan kenyang, berpakaian utuh dan memiliki pengganti pakaian, lalu memiliki sebuah rumah untuk tidur dan berteduh, walaupun ketiga kebutuhan hidup itu tidaklah mewah, mereka akan merasa cukup makmur!
Cukup sandang pangan papan, keluarga sehat, itulah dambaan setiap keluarga dusun.
Akan tetapi dia melihat di luar dusun itu sepi dan setelah agak dekat dia mendengar suara ribut-ribut di dalam dusun.
Dia merasa heran dan cepat dia berlari memasuki dusun itu.
Pertama-tama yang ditemuinya adalah rumah-rumah yang sama sekali di luar perkiraannya.
Rumah-rumah itu sebagian besar hanya merupakan gubuk-gubuk reyot, bukan sederhana lagi akan tetapi lebih tepat disebut miskin, sepantasnya menjadi gubuk para gelandangan.
Juga dia melihat beberapa orang anak-anak yang berseliweran di sekitar rumah-rumah gubuk itu berpakaian kotor dan compang-camping seperti pakaian pengemis!
Akan tetapi Thian Liong tidak sempat terlalu memperhatikan keadaan yang di luar perkiraannya tadi karena dia sudah lari ke tengah dusun di mana terdapat banyak orang yang berteriak-teriak dan mereka berkumpul di depan rumah-rumah gedung yang mentereng dan mewah!
Sungguh seperti langit dan bumi keadaan deretan gedung yang terdiri dari sepuluh bangunan besar itu.
Gedung-gedung itu kokoh dan indah, seperti bangunan rumah-rumah para bangsawan dan hartawan besar di kota-kota, dikelilingi dinding tembok yang dihias patung-patung singa dan binatang lain dan memiliki pintu gerbang besi!
Hebatnya lagi, di depan gedung-gedung itu pada saat itu terdapat puluhan orang berbaris melindungi gedung-gedung itu, dan mereka ini mengenakan pakaian seragam seperti perajurit, dengan memegang senjata tombak atau pedang di tangan!
Sikap mereka itu galak dan gagah, wajah mereka bengis memandang ke arah kerumunan orang di jalan depan gedung-gedung itu.
Thian Liong memperhatikan mereka yang berkerumun di situ.
Tidak kurang dari seratus limapuluh orang yang berkumpul di situ sambil berteriak-teriak.
Melihat keadaan mereka, Thian Liong kembali merasa kaget dan heran.
Pakaian mereka itu sebagian besar juga kotor dan compang-camping seperti pakaian anak-anak tadi.
Hanya belasan orang saja yang berpakaian tidak compang-camping, akan tetapi pakaian mereka juga kotor dan dari kain murah.
Dibandingkan pakaian para penjaga rumah itu, sungguh jauh bedanya!
Mereka berteriak-teriak sambil mengacung-acungkan tangan-tangan yang kasar dan kulitnya hitam terbakar sinar matahari, tangan-tangan yang biasa kerja berat.
"Pembesar lalim!"
"Munafik!"
"Penipu!"
Demikian mereka berteriak-teriak dan berdesak-desakan hendak memasuki pintu gerbang sebuah di antara gedung-gedung itu yang berada di tengah.
Gedung ini tidaklah semewah gedung-gedung di kanan kirinya, biarpun cukup besar namun tidaklah tampak mentereng.
Akan tetapi barisan penjaga itu menghadang dengan senjata mereka dan seorang kepala pasukan jaga ini membentak.
"Mundur semua! Apakah kalian hendak memberontak? Mundur atau kami bunuh kalian yang berani melawan penguasa!"
"Kami tidak memberontak, tidak melawan!"
Terdengar seorang di antara para penduduk miskin itu berseru.
Suaranya cukup lantang dan dia adalah seorang laki-laki berusia limapuluh tahun lebih yang pakaiannya amat sederhana, walaupun tidak compang-camping.
Wajahnya lembut, akan tetapi matanya me-ngeluarkan sinar berapi penuh keberanian.
"Kami hanya menuntut keadilan! Kami minta agar Mo-chungcu (Kepala Dusun Mo) menemui kami dan memenuhi janji-janjinya kepada kami, rakyat dusun Be-san ini!"
"Keparat, engkau yang memimpin pemberontakan ini, ya?"
Komandan penjaga itu menggerakkan cambuk di tangannya.
"Tar-tarrr......!"
Laki-laki yang bicara lantang tadi melindungi mukanya dengan kedua tangan.
Cambuk melecuti tubuhnya dan dia pun terpelanting roboh, bajunya robek tercabik-cabik sengatan ujung cambuk dan tampak darah di sana sini keluar dari kulit yang ikut pecah.
Penduduk yang berkerumun di situ menjadi panik dan mereka bergerak mundur.
Komandan gerombolan penjaga itu menyeringai dan melihat wajah para penduduk yang ketakutan, merasa mendapat angin.
Dengan bengis dia lalu maju dan mengangkat cambuknya untuk menghajar laki-laki yang sudah roboh itu.
"Mampuslah engkau, pemberontak!"
Bentaknya.
Akan tetapi sebelum cambuknya menyambar ke bawah, tiba-tiba saja cambuk itu direnggut orang.
Renggutan itu kuat bukan main sehingga dia tidak mampu mempertahankan cambuk dan tahu-tahu sudah terlepas dari pegangannya dan dirampas orang.
Ketika dia membalikkan tubuh dan memandang, ternyata yang merampas cambuknya itu seorang pemuda asing yang berpakaian sederhana.
Pemuda itu jelas bukan penduduk dusun Be-san itu karena dia tidak mengenalnya.
"Jahanam busuk, siapa kamu berani merampas cambukku? Hayo kembalikan, cepat!"
Dia maju dan hendak merampas kembali cambuknya yang berada di tangan Souw Thian Liong.
Pemuda yang merampas cambuk kepala pasukan penjaga itu adalah Thian Liong.
Tadi dia marah sekali melihat perbuatan kepala jaga itu mencambuki orang yang tidak dapat melawan, maka dia lalu merampas cambuk itu.
Kini melihat tukang pukul itu memakinya dan hendak merampas kembali cambuknya, Thian Liong menangkis dengan tangan kirinya dan begitu lengan mereka bertemu, tukang pukul itu pun terpelanting roboh.
Dia marah bukan main.
Cepat dia bangkit berdiri, mencabut goloknya dan membacok ke arah kepala Thian Liong.
Thian Liong menggerakkan tangan sambil mencondongkan tubuh ke kiri mengelak.
Ketika golok meluncur lewat, tangan kirinya menyambar dan dia pun sudah merampas golok penyerangnya.
Dengan mudah seperti orang mematahkan sebatang ranting kecil saja, Thian Liong mematah-matahkan golok itu lalu membuang ke atas tanah.
Kemudian dia menggerakkan cambuk rampasan itu sehingga terdengar ledakan-ledakan cambuk yang menari-nari di atas tubuh kepala jaga itu.
Tukang pukul itu mengaduh-aduh dan roboh menggeliat-geliat, bajunya robek-robek dan berlepotan darah.
Melihat ini, timbul keberanian para penduduk.
Mereka berdesakan maju dan dengan wajah beringas mereka hendak mengeroyok komandan jaga yang galak itu.
Kalau hal ini dibiarkan, tentu komandan jaga itu akan dihujani pukulan dan tak dapat ditolong lagi.
Akan tetapi Thian Liong menghadang dan mengayun cambuknya ke atas sehingga terdengar meledak-ledak.
"Mundur! Ada urusan dapat dibicarakan, tidak perlu menggunakan kekerasan!"
Bentaknya dan para penduduk itu lalu menghentikan niat mereka menghajar komandan jaga itu.
Setelah Thian Liong tidak mencambuki lagi, komandan jaga itu tertatih-tatih bangkit berdiri dan ditolong oleh beberapa orang temannya.
Pada saat itu muncul seorang laki-laki dari dalam gedung.
Karena pendapa rumah besar itu lebih tinggi daripada pekarangan, maka semua orang dapat melihatnya, seolah dia berdiri di atas panggung.
Kalau tadinya para penduduk itu saling bicara dengan suara riuh, kini mereka berhenti mengeluarkan suara sehingga suasananya hening.
Thian Liong sendiri memandang ke arah pendapa dan melihat laki-laki itu melangkah dengan tenang sampai ke tepi pendapa menghadapi orang-orang yang berdiri di pekarangan, di bawah pendapa.
Laki-laki itu sudah tua, sekitar tujuhpuluh tahun usianya.
Rambutnya sudah putih semua dan wajahnya mengandung senyuman, sikapnya tampak lembut sehingga Thian Liong diam-diam merasa heran.
Kakek ini tampaknya baik hati dan penuh kesabaran.
Mengapa kini penduduk ribut-ribut dan dari teriakan-teriakan mereka tadi seolah merasa penasaran dan menuntut?
Kakek inikah yang tadi dimaki sebagai pembesar lalim, munafik dan penipu?
Sejenak kakek itu melayangkan pandang matanya kepada semua orang dan kini Thian Liong melihat bahwa di balik kelembutannya, kakek itu memiliki pandang mata yang membayangkan kekerasan hati.
Semua penduduk diam dan tampak gelisah.
Lalu terdengar suara kakek itu, suaranya juga terdengar lembut namun cukup lantang sehingga terdengar oleh semua orang.
"Hei, para penduduk Be-san. Kalian ini mau apa ribut-ribut di sini? Kalau ada urusan, siapa pun boleh menghadap padaku untuk membicarakannya, bukan ribut-ribut datang ke sini seperti perampok. Kalau kalian menggunakan kekerasan, aku pun dapat memerintahkan para pengawalku untuk membasmi kalian!"
Setelah berkata demikian, kakek itu menggapai ke dalam dan muncullah lima orang laki-laki tinggi besar yang berwajah menyeramkan.
"Lihat, kalian semua tahu bahwa Twa-to Ngo-houw (Lima Harimau Bergolok Besar) ini adalah para pengawal pribadiku. Kalau kalian hendak menggunakan kekerasan dan hendak memberontak, aku dapat memberi perintah kepada mereka untuk membunuh kalian!"
Kini suara yang lembut itu mengandung ancaman.
Lima orang tinggi besar itu berdiri tegak sambil tersenyum simpul, mengangkat dada dan memandang rendah semua orang yang berdiri di pekarangan.
Laki-laki yang tadi dicambuk berdiri di depan.
Dia berseru dengan lantang.
"Mo-chungcu (Kepala Dusun Mo), kami sama sekali tidak ingin memberontak, hanya ingin menuntut hak kami dan menagih semua janji Chung-cu kepada kami beberapa tahun yang lalu. Kami merasa dibohongi!"
"Apa?"
Lurah Mo itu membelalakan matanya dan kini wajahnya berubah merah.
"Kamu berani menuduh kami membohongimu? Aku sudah mati-matian berjuang demi kemakmuran desa dan rakyat dan kamu bilang aku berbohong? Pengawal, tangkap pemberontak itu!"
Lurah Mo menuding ke arah laki-laki yang menjadi wakil pembicara penduduk dusun itu.
Seorang di antara lima pengawal itu menyeringai dan melangkah maju hendak turun dari atas pendapa, tangannya meraba gagang golok dengan sikap bengis mengancam.
Akan tetapi sebelum dia turun, tampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu Thian Liong sudah berdiri di depannya.
Ketika Thian Liong menghajar kepala penjaga tadi, Lurah Mo dan lima orang pengawalnya tidak melihat hal itu.
Maka kini melihat seorang pemuda asing, bukan penduduk dusun Be-san, tiba-tiba muncul, Lurah Mo membentak marah.
"Hei, siapa kamu berani naik ke sini tanpa kami panggil?"
Sementara itu, lima orang Twa-to Ngo-houw sudah bergerak mengepung Thian Liong dengan sikap mengancam. Thian Liong bersikap tenang saja dan dia berkata dengan suara lantang.
"Saya bernama Souw Thian Liong dan kebetulan saja saya lewat di dusun Be-san ini dan melihat para penduduk hendak menyatakan isi hati mereka kepada Mo-chungcu. Tadi engkau sendiri yang mengatakan bahwa kalau ada urusan, mereka boleh bicara denganmu, akan tetapi mengapa, setelah kini ada yang mewakili para penduduk untuk bicara, malah kau ancam dan hendak menggunakan anjing-anjingmu untuk menggonggong dan menggigit penduduk?"
Tentu saja Lurah Mo marah sekali mendengar ucapan itu. Juga Twa-to Ngo-houw yang disebut anjing-anjing oleh pemuda asing sederhana ini.
"Tangkap bocah lancang mulut ini!"
Bentak Lurah Mo.
Karena mereka memang marah terhadap Thian Liong, maka tanpa diperintah dua kali, lima orang tukang pukul itu segera menerjang, ada yang menubruk, ada yang mencengkeram, ada yang memukul atau menendang.
Agaknya mereka berlima berlumba untuk lebih dulu merobohkan pemuda itu.
Para penduduk dusun yang menonton dari bawah pendapa, memandang dengan cemas karena mereka semua tahu betapa lihai dan kejamnya lima orang jagoan andalan Lurah Mo itu.
Akan tetapi, terjadilah hal yang membuat semua orang terperangah.
Tiba-tiba tubuh Thian Liong berpusing seperti gasing dan tangannya berubah banyak, membagi-bagi tamparan kepada lima orang penyerangnya.
"Plak-plak-plak-plak-plak......!!"
Dan lima orang tinggi besar itu berpelantingan roboh di atas lantai pendapa!
Lima orang jagoan itu sendiri terbelalak, heran dan juga pening.
Akan tetapi mereka kini menjadi marah sekali, maklum bahwa pemuda itu bukan seorang lemah.
Tanpa menanti komando lagi mereka sudah mencabut golok besar mereka dan kembali mereka mengepung Thian Liong.
"Hemm, orang-orang yang mengandalkan kekuasaan bertindak sewenang-wenang terhadap orang lain adalah siauw-jin (orang berbudi rendah) dan menjadi permainan iblis yang akan menyeretnya ke neraka jahanam!"
Kata Thian Liong.
"Mundurlah kalian sebelum terlambat dan bertaubatlah!"
Akan tetapi ucapan ini bahkan menjadi minyak yang disiramkan ke api, membuat lima orang itu menjadi semakin marah.
Mereka membentak nyaring dan golok mereka berkelebatan, diputar menjadi sinar bergulung-gulung menyelimuti tubuh mereka dan sinar-sinar golok mencuat dan menyambar ke arah Thian Liong!
Thian Liong maklum bahwa lima orang yang menggunakan julukan Lima Harimau Bergolok Besar ini tentu merupakan ahli-ahli golok yang tangguh dan berbahaya, maka dia pun sudah mencabut Thian-liong-kiam (Pedang Naga Langit) dan sekali dia berseru, pedangnya menjadi sinar panjang menyilaukan mata.
"Trang-trang-trang-trang-trang""!!"
Tampak api berpijar-pijar, disusul robohnya lima orang pengeroyok itu.
Kejadian itu berlangsung amat cepatnya, tak dapat diikuti pandang mata dan tahu-tahu ketika semua orang memandang lagi, Thian Liong berdiri santai dan pedangnya sudah kembali ke tempatnya.
Lima orang itu mengaduh-aduh, lengan kanan mereka berdarah karena terluka goresan pedang yang cukup dalam pada pangkal lengan kanan.
Golok-golok besar mereka berserakan di atas lantai dalam keadaan patah menjadi dua potong!
Pada saat itu dari dalam gedung bermunculan empat orang laki-laki berusia antara tigapuluh sampai empatpuluh lima tahun, dan seorang laki-laki berusia sekitar enampuluh lima tahun.
Lima orang laki-laki ini bukan tukang pukul.
Pakaian mereka mewah dan mereka berdiri di belakang Lurah Mo dengan wajah pucat pula, seperti wajah Lurah Mo yang pucat dan matanya terbelalak, jerih memandang kepada Souw Thian Liong.
Akan tetapi, agaknya karena sudah banyak pengalaman, Lurah Mo dapat bersikap tenang dan dia lalu berkata kepada Thian Liong dengan suara yang lembut ramah dan membujuk setelah tahu bahwa pemuda ini tidak dapat dilawan dengan kekerasan.
"Souw-sicu (orang gagah Souw), sebetulnya apakah yang kau inginkan? Kalau engkau menginginkan uang, katakanlah berapa kebutuhanmu? Akan kami cukupi. Atau engkau menghendaki kedudukan? Akan kami beri kedudukan yang layak dan terhormat."
"Tidak, Chung-cu, aku tidak butuh apa-apa. Aku hanya minta agar sekarang juga engkau mendengarkan tuntutan rakyat dusun yang kaupimpin ini."
Setelah berkata demikian, Thian Liong lalu berdiri menghadapi penduduk dan berkata dengan suara lantang.
"Saudara-saudara sekalian, sekarang bicaralah, ceritakan semua isi hati dan tuntutanmu. Jangan takut, bukalah semua, aku yang menanggung bahwa tidak akan ada orang yang mengganggu kalian!"
Laki-laki yang menjadi juru bicara para penduduk itu lalu melangkah maju dan berkata dengan suara lantang.
"Saya Liu Cin mewakili seluruh penduduk Be-san menyampaikan rasa penasaran dan tuntutan kami kepada Lurah Mo. Beberapa tahun yang lalu, ketika diadakan pemilihan lurah baru untuk dusun ini, Lurah Mo berjanji kepada kami untuk berjuang memajukan dusun dan mendatangkan kemakmuran bagi kami semua. Untuk usaha itu, Lurah Mo mengadakan peraturan-peraturan yang memberatkan kami seperti pajak-pajak, sumbangan-sumbangan, dan lain-lain. Kehidupan kami selama bertahun-tahun menjadi semakin berat. Hasil sawah ladang kami memang subur dan banyak, namun semua itu sebagian besar habis untuk membayar pajak dan sumbangan-sumbangan yang mencekik sehingga kami hidup melarat. Untuk memberi makan semua keluarga pun terkadang kurang, apalagi untuk membeli pakaian dan membetulkan rumah."
"Akan tetapi, bukankah sudah sering kami katakan bahwa untuk mendatangkan kesejahteraan, kita harus prihatin? Bukankah sudah sering kami katakan bahwa ada pribahasa. Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian? Kita berprihatin sekarang ini untuk membangun desa, untuk mempersiapkan kehidupan yang makmur bagi anak keturunan kita?"
Demikian Lurah Mo membantah dengan suaranya yang khas, lembut namun lantang. Tiba-tiba para penduduk menjadi gaduh lagi. Ada yang berteriak-teriak.
"Munafik......!"
"Penipu......!"
Thian Liong mengangkat kedua tangan ke atas.
"Saudara-saudara harap tenang dan dengarkan saja pembicaraan yang dilakukan wakil kalian dan Lurah Mo!"
Semua orang lalu diam.
"Itulah yang selalu dikatakan Lurah Mo kepada kami seluruh penduduk dusun. Kami harus prihatin, hidup sederhana seadanya, demi pembangunan dusun, demi kemakmuran anak cucu. Kami menaati semua nasihat dan petunjuknya karena menganggap dia benar-benar berjuang demi kesejahteraan dusun dan penduduknya, akan tetapi apakah kenyataannya? Mungkin Lurah Mo sendiri tidak menonjolkan kekayaannya, akan tetapi lihatlah! Gedung-gedung besar dibangun oleh anak-anaknya dan saudaranya! Itu mereka berdiri di belakang Lurah Mo! Anak-anaknya dan saudaranya menjadi kaya raya, rumah gedung, memiliki ratusan ekor ternak, membeli hampir semua sawah ladang sehingga kami yang terpaksa menjual tanah untuk makan kini hanya menjadi buruh tani. Dan ke mana larinya semua hasil pajak yang kami bayar, semua sumbangan-sumbangan yang amat banyak diambil dari hasil keringat kami? Mana pembangunan untuk dusun ini? Yang ada hanya pembangunan untuk Lurah Mo sekeluarganya yang menjadi kaya raya. Demikian kayanya sampai gandum di lumbung mereka membusuk. Mereka sering mengadakan pesta pora dengan para hartawan dari kota."
Laki-laki berusia sekitar enampuluh tahun yang berdiri di belakang Lurah Mo dan yang mengenakan pakaian mewah itu menjawab dengan suara lantang dan sikap gagah-gagahan.
"Heh, kalian orang-orang bodoh. Jangan menuduh sembarangan dan seenaknya saja! Kami memang kaya raya, akan tetapi kekayaan kami adalah hasil kami berdagang dengan para saudagar di kota!"
Empat orang Iaki-laki yang lebih muda juga berseru marah.
"Itu betul! Kami berdagang dan apa salahnya menjadi kaya karena keberhasilan kami berdagang?"
"Kalian hanya iri karena kalian tidak becus mencari uang! Karena kalian ini orang-orang desa yang bodoh! Kalau kami menjadi kaya karena pandai berdagang, dan kalian miskin karena kalian bodoh dan tidak becus, mengapa mau menyalahkan kami?"
Mendengar alasan-alasan keluarga lurah itu, kembali terjadi kegaduhan dan sekali lagi Thian Liong mengangkat kedua tangan ke atas.
"Tenanglah, biarlah wakil kalian yang bicara!"
Setelah suasana menjadi hening, wakil pembicara penduduk itu lalu berkata lagi dengan, lantang.
"Kami semua sudah mendengar ucapan keluarga Mo, putera-puteranya dan saudaranya. Jadi kalian menjadi kaya raya karena pandai dan berdagang sedangkan kami menjadi miskin karena bodoh? Memang kami akui, kami bodoh karena mudah saja dibodohi kalian. Kami masih ingat, ketika Lurah Mo dan keluarganya, anak-anaknya, saudaranya, dahulu sebelum Lurah Mo menjadi lurah, kalian semua tidak ada bedanya dengan kami! Kalian dulu juga hanya orang desa, kalian juga dulu miskin tidak punya apa-apa. Akan tetapi setelah Lurah Mo menjadi lurah di sini, kalian menjadi pedagang dan tuan tanah yang kaya raya dan berlebih-lebihan. Coba terangkan, dari mana kalian mendapatkan itu semua? Darimana kalian mendapatkan modal untuk berdagang secara besar-besaran, membeli ratusan ekor hewan ternak dan tanah yang luas sekali?"
Empat orang anak lurah dan seorang saudaranya itu menjadi pucat wajahnya dan tidak mampu menjawab, kini mereka semua memandang kepada Lurah Mo seolah minta pertolongan agar Sang Lurah yang menjawab.
Melihat enam orang itu diam saja, mulailah penduduk ramai lagi saling bicara dan kata-kata keras dilontarkan mereka kepada keluarga itu.
Thian Liong mengangkat tangannya minta agar semua orang tenang, kemudian dia berkata kepada sang Lurah.
"Mo-chungcu, silakan menjawab pertanyaan mereka. Dari mana keluargamu itu mendapatkan uang begitu banyak untuk dipakai modal berdagang? Kalau kalian tidak mau menjawab terus terang, terpaksa aku akan membiarkan para penduduk ini menggunakan kekerasan dengan cara mereka sendiri!"
Wajah Lurah Mo menjadi pucat dan wajahnya kini tampak lebih tua daripada biasanya. Berulang kali dia menghela napas panjang, memandang kepada anak-anak dan saudaranya, lalu berkata.
"Mereka mendapatkan...... dari...... dari aku......"
Wakil pembicara para penduduk itu cepat bertanya lantang.
"Dan engkau mendapatkan uang demikian banyaknya itu darimana, Mo-chungcu?!?"
"Dari...... dari penghasilan kelurahan......!"
Thian Liong merasa betapa dadanya panas mendengar ini semua.
Jelaslah baginya bahwa kepala dusun ini telah mempergunakan kesempatan selagi dia berkuasa di dusun itu untuk memperkaya diri sendiri dan keluarganya, tanpa memperdulikan penduduk yang hidupnya di bawah garis kemiskinan, padahal seluruh harta yang mereka miliki itu berasal dari hasil perahan keringat penduduk dusun Be-san.
Maka, setelah mengerti dengan jelas permasalahannya, Thian Liong kini mewakili penduduk dan bertanya dengan suara mengguntur.
"Mo-chungcu, penghasilan kelurahanan yang kaumaksudkan itu adalah hasil tarikan pajak dan sumbangan dari penduduk, sebagian besar hasil sawah ladang mereka dan dari tanah mereka yang terpaksa dioperkan kepadamu karena kekurangan makan. Begitukah? Tidak perlu berbohong lagi, jawablah!"
Mo-chungcu tidak dapat mengeluarkan suara, hanya mengangguk-angguk.
"Mo-chungcu, engkau telah menyalahgunakan kekuasaanmu untuk memperkaya diri sendiri dan keluargamu, tanpa memperdulikan rakyat dusun ini! Seluruh harta kekayaanmu dan keluargamu berasal dari hasil sawah ladang yang disiram keringat para penduduk. Sadarkah engkau akan hal itu?"
Kembali Lurah itu mengangguk.
Dan dia tampak lemah sekali, tubuhnya menggigil, mukanya pucat.
Kemudian dia terhuyung-huyung lalu tangannya bergerak, telunjuknya menuding ke arah empat orang anaknya dan seorang saudaranya itu sambil berkata.
"Kalian...... bodoh...... kalian terlalu pamer......"
Dia lalu terguling roboh ke atas lantai dan ketika diperiksa, ternyata Lurah Mo telah tewas.
Mungkin rasa takut, malu, dan tegang telah menekan jantungnya dan menewaskannya.
Thian Liong tidak mau kepalang tanggung dalam menolong penduduk dusun Be-san itu.
Dia bermalam di situ beberapa hari lamanya dan melakukan pembenahan.
Atas keputusan orang-orang yang dianggap menjadi sesepuh dan pemuka di dusun itu, setelah mengadakan musyawarah, lalu diputuskan bahwa semua harta kekayaan Lurah Mo dan semua keluarganya, sanak kerabatnya yang kebagian harta tidak halal itu, disita oleh kepala dusun dan para pembantunya yang baru atas pilihan rakyat.
Harta sitaan itu dipergunakan untuk memperbaiki rumah-rumah penduduk, dan untuk pembangunan dusun yang diperuntukkan kesejahteraan penduduk.
Sawah ladang penduduk dikembalikan kepada pemilik lama.
Rumah besar itu menjadi rumah kelurahan dari lurah yang baru, dan rumah-rumah gedung yang tadinya milik para putera dan saudara mendiang Lurah Mo, kini menjadi gedung-gedung yang dipergunakan untuk penduduk melakukan berbagai kegiatan kesenian dan lain-lain.
Akan tetapi, atas usul Thian Liong yang dianggap sebagai pahlawan dan penolong penduduk Be-san, keluarga mendiang Lurah Mo tetap diperbolehkan tinggal di Be-san dan menempati rumah yang tidak banyak bedanya dengan perumahan penduduk.
Mereka disadarkan dan mengakui bahwa selama ini mereka dibutakan oleh pengaruh harta dan kekuasaan.
Setelah hidup sebagai penduduk biasa, sederajat dengan para penduduk lainnya, mereka malah merasa tenteram dan damai.
Para tukang pukul yang memiliki kekejaman diusir dari dusun itu dan bagian keamanan dusun diserahkan kepada para pemuda.
"Dengar baik-baik,"
Kata Thian Liong ketika hendak meninggalkan dusun itu.
"Kalian seluruh penduduk harus bersatu padu bergotong-royong saling bantu, bersama-sama menghadapi dan menentang kekuasaan yang sewenang-wenang hendak menindas kalian. Sama sekali bukannya jahat dan tidak boleh untuk menjadi orang berharta, asalkan harta itu didapatkan dengan cara yang wajar dan baik, bukan hasil pemerasan, pencurian, atau penipuan. Yang kaya membantu yang miskin, yang miskin juga dibutuhkan yang kaya. Kaya maupun miskin tidak mungkin hidup menyendiri tanpa bantuan orang lain. Ingatlah kata-kata bijaksana. Guru Besar Khong Cu . Se-hai-ce-nei-cai-syung-ti-ye (Di empat penjuru lautan semua adalah saudara). Karena itu kita harus tolong menolong seperti saudara, jangan berpesta pora di depan orang-orang yang kelaparan, jangan bermewah-mewah, berfoya-foya di depan orang-orang yang miskin dan papa."
Setelah memberi nasihat kepada penduduk, dan berpamit kepada lurah baru dan para pembantunya, Thian Liong juga meninggalkan pesan kepada mereka, terutama kepada lurah baru itu.
"Ingatlah selalu bahwa kedudukan kalian ini diberi oleh rakyat dusun ini. Kalian dapat menjadi pemimpin karena mereka yang memilih dan menentukan. Kalian dipilih untuk mengatur dusun ini agar rakyatnya hidup sejahtera. Tanpa rakyat dusun ini, kalian ini bukan apa-apa. Karena itu, bekerjalah sebaik mungkin demi kepentingan dan kesejahteraan rakyat. Kalau kalian menjadi penguasa yang bijaksana dan mencinta rakyat, tentu rakyat akan mencinta kalian dan kalau sudah begitu, setiap perintah dan petunjuk kalian pasti akan ditaati dan dilaksanakan rakyat dengan senang hati dan patuh. Bukannya tidak boleh seorang penguasa hidup makmur, bahkan sudah sewajarnya seorang pemimpin hidup berkecukupan sebagai imbalan jasanya menyejahterakan rakyatnya, dan sudah menjadi kewajiban rakyatnya membagi sebagian dari penghasilannya kepada para pimpinan sebagai imbalan jasa. Akan tetapi sama sekali tidak benar kalau para pemimpin lain mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya dengan cara yang tidak wajar. Janganlah diulang lagi kesalahan pemimpin seperti yang sudah. Keluarga sendiri menumpuk harta sampai berlebihan, sedangkan sebagian besar rakyatnya hidup miskin sekali, padahal merekalah yang telah memilih pemimpin mereka. Penguasa seperti ini, yang mengandalkan kekuasaan dan mencari kesempatan memperkaya diri sendiri, bersenang-senang dan menari-nari di atas kepala rakyatnya, pasti tidak akan diberkati Thian dan akan terkutuk sehingga akhirnya mencelakakan diri dan keluarganya sendiri."
Setelah memberi banyak nasihat, Thian Liong lalu meninggalkan dusun Be-san dan melanjutkan perjalanannya menuju kota raja Lin-an (Hang-chouw), yaitu kota raja Sung Selatan.
Thian Liong melakukan perjalanan menuju Lin-an.
Hatinya masih merasa risau dan pilu kalau dia memikirkan Bi Lan, yang sudah berbulan-bulan meninggalkan dusun Kian-cung dekat Telaga Barat.
Dia merasa iba kepada gadis itu, juga merasa bersedih mendengar akan kematian Han Si Tiong.
Mudah-mudahan saja dugaannya benar bahwa Bi Lan dan ibunya pergi ke kota raja Lin-an, ke rumah keluarga Panglima Kwee dan mungkin kini telah menjadi isteri Kwee Cun Ki, putera Panglima Kwee dan hidup berbahagia di kota raja.
Kalau sekiranya dibutuhkan, dia akan membantu gadis itu mencari para pembunuh ayahnya.
Ketika dia memasuki wilayah kota raja, dia mendengar berita tentang Ang I Mo-li (Iblis Betina Baju Merah) yang mengamuk di kota-kota besar, terutama di kota Cin-koan.
Menurut kabar itu, Ang I Mo-li ini mengamuk, menghajar banyak laki-laki bangsawan dan hartawan yang sedang bersenang-senang di rumah-rumah pelesir.
Wanita itu kabarnya amat lihai dan para laki-laki hidung belang itu ia lukai dan diberi cacat mukanya, akan tetapi tidak dibunuh.
Rumah-rumah pelesir itu dirusak.
Agaknya wanita itu mendendam dan membenci para pria yang suka berkeliaran dan bersenang-senang di rumah-rumah pelesir itu!
Sungguh aneh, pikirnya.
Ketika dia mencari keterangan lebih lanjut dan mendengar bahwa Ang I Mo-li itu selain lihai juga masih muda dan cantik jelita, pikirannya melayang dan membayangkan Han Bi Lan.
Gadis itu juga selalu berpakaian merah!
Apakah Ang I Mo-li, Si Iblis Betina Baju Merah itu Han Bi Lan?
Akan tetapi kalau benar, mengapa gadis itu mengamuk di rumah-rumah pelesir dan membikin cacat para pria yang berpelesir di situ?
Rasanya tidak masuk akal.
Apa hubungannya Han Bi Lan dengan mereka yang berpelesir?
Ayahnya dibunuh seorang pemuda dan seorang gadis, demikian menurut penjaga rumah Han Si Tiong yang telah ditinggalkan keluarga itu.
Akan tetapi kalau memang Ang I Mo-li itu Han Bi Lan, mengapa ia membenci para pria yang berada di rumah pelesir?
Apakah dua orang pembunuh Han Si Tiong itu ada hubungannya dengan rumah pelesir?
Hal ini meragukan hati Thian Liong.
Kalau begitu agaknya Si Iblis Betina Baju Merah itu bukan Han Bi Lan.
Thian Liong melamun dan membayangkan wajah Han Bi Lan.
Terbayang olehnya betapa Han Bi Lan mati-matian membelanya ketika dia difitnah dan hendak menerima hukuman dari para pimpinan Siauw-lim-pai dan Kun-lun-pai karena fitnah yang ditimpakan kepadanya oleh Cia Song.
Kemudian betapa dia yang ketika itu merasa penasaran dan marah kepada gadis yang mencuri kitab untuk Kun-lun-pai dari tangannya itu, dia tampari pinggulnya sampai sepuluh kali seperti yang dia janjikan dalam hatinya.
Sejak pertemuan terakhir itu, setahun lebih telah lewat.
Pada pagi hari itu, Thian Liong menuruni sebuah bukit di puncak di mana dia melewatkan malam yang dingin.
Tidak tampak dusun di sekitar bukit itu.
Akhirnya dia menemukan jalan umum yang kasar dan dia ingat bahwa jalan ini menuju ke kota raja di sebelah timur, walaupun masih sekitar sehari penuh perjalanan dari tempat itu ke kota raja.
Jalan umum itu memasuki sebuah hutan yang lebat.
Matahari pagi hanya mampu menyusup di antara daun-daun yang rimbun sehingga membentuk sinar-sinar putih menembus keremangan hutan.
Indah sekali pemandangan itu.
Thian Liong merasa seperti dalam dunia yang aneh dan asing, berjalan melalui berkas-berkas sinar putih itu.
Sunyi bukan main di jalan itu, tak tampak seorang pun manusia.
Akan tetapi suasananya cukup riang dengan adanya kicau burung-burung yang berloncatan di dahan dan ranting pohon.
Tiba-tiba Thian Liong berhenti melangkah.
Di antara suara kicau burung-burung itu, dia mendengar suara lain yang aneh.
Isak tangis tertahan!
Dia memejamkan mata mengerahkan pendengarannya.
Tak salah lagi.
Ada orang menangis dengan isak ditahan-tahan.
Agak jauh dan lirih, namun pendengarannya yang tajam dapat menangkap suara itu dan dia lalu melangkah perlahan dan hati-hati menuju ke arah suara.
Dia tidak ingin mengganggu orang yang sedang menangis itu, hanya ingin melihat apa yang terjadi maka dia berjalan perlahan agar jangan sampai diketahui orang yang sedang menangis dan dia hampiri.
Tak lama kemudian dia melihat seorang gadis duduk bersandar pada batang pohon dan dia menutupi mukanya dengan kedua tangan.
Ia menangis terisak-isak akan tetapi jelas bahwa ia menahan agar tangisnya tidak terlalu nyaring.
Jantung dalam dada Thian Liong berdebar keras, hatinya merasa tegang sekali.
Melihat bentuk tubuhnya, gadis itu masih muda dan pakaiannya serba merah muda!
Han Bi Lan?
Ah, dia tidak dapat melihat mukanya, maka dia masih ragu, tidak yakin apakah gadis itu Han Bi Lan.
Seingatnya, gadis itu lincah jenaka galak dan bukan model wanita yang cengeng.
Akan tetapi mengapa kalau gadis itu Bi Lan ia menangis, dan lebih aneh lagi mengapa ia berada di hutan ini seorang diri?
Semestinya ia berada di kota raja Lin-an bersama ibunya!
Dengan hati-hati Thian Liong menghampiri dan dia sengaja batuk-batuk setelah berdiri dalam jarak sekitar tiga tombak dari gadis itu.
"Ugh-ugh-ugh......!"
Tiba-tiba gadis itu menghentikan tangisnya, menggunakan kedua tangan menggosok kedua matanya untuk menghapus sisa air mata lalu menurunkan kedua tangan memandang.
Dua buah mata bintang menatapnya dengan tajam dan Thian Liong terbelalak.
"Kau...... eh, kau...... Nona Han Bi Lan......?"
Gadis itu memang Han Bi Lan.
Sama sekali tidak pernah diduganya seujung rambutpun bahwa orang yang dicari-carinya selama ini, orang yang membuatnya mengertakan gigi saking gemas dan penasaran, membuat hatinya panas sekali setiap kali mengingatnya, tahu-tahu kini berada di depannya!
Kalau tahu bahwa Souw Thian Liong datang, sudah pasti ia tidak akan memperlihatkan tangisnya.
Ia merasa malu bukan main telah dilihat orang bahwa ia menangis, apalagi yang melihatnya adalah Souw Thian Liong!
Perasaan malu ini bagaikan minyak dituangkan ke dalam api, membuat hatinya menjadi semakin bernyala panas!
Ia segera meloncat bangkit berdiri dengan cekatan sekali dan kini mereka berdiri saling berhadapan, dalam jarak sekitar tiga tombak (lima meter), saling pandang dengan penuh perhatian.
Diam-diam Thian Liong merasa kagum akan tetapi juga kasihan melihat Han Bi Lan.
Gadis itu masih cantik jelita seperti dulu walaupun kini rambutnya kusut dan wajahnya tidak berseri.
Akan tetapi ia masih tampak jelita dan manis sekali.
Wajahnya yang bulat telur itu agak pucat dan agak kurus, rambutnya yang panjang hitam digelung sederhana dan sebagian terurai lepas, anak rambutnya semakin binal bermain di dahi dan pelipisnya.
Dahi yang berkulit halus putih kemerahan itu kini terhias dua garis melintang tanda bahwa gadis ini menderita batin.
Alisnya hitam kecil dan tebal, matanya yang seperti sepasang bintang itu berkilauan, namun Thian Liong dapat menangkap kesayuan membayang dalam mata itu.
Dia ingat betapa dahulu mata itu tajam dan penuh gairah hidup, penuh semangat.
Hidung yang mancung itu sesuai sekali dengan bibirnya yang berbentuk indah penuh dan tipis kemerahan.
Lesung pipi di kedua ujung mulut itu masih tampak.
Dagunya agak meruncing seperti menantang.
Kulitnya putih mulus.
Tubuhnya yang ramping padat itu agak kurus.
"Nona Han Bi Lan, mengapa Nona menangis?"
Tanya Thian Liong dengan lembut, karena dia tidak tahu harus bicara apa. Begitu berhadapan dengan gadis itu, dia seolah menjadi gugup dan bingung.
"Bukan urusanmu!"
Bi Lan menjawab dengan suara membentak marah dan melanjutkan.
"Sungguh kebetulan sekali, sudah lama aku mencarimu, Souw Thian Liong!"
Thian Liong tersenyum, hatinya gembira mendengar ucapan itu.
"Ah, aku juga girang sekali dapat bertemu denganmu secara tidak tersangka-sangka seperti ini, Nona. Aku sedang mencari dan hendak menyusulmu ke kota raja Lin-an."
"Hemm, mau apa engkau mencari dan menyusulku?"
Pertanyaan ini keluar dengan ketus.
"Aku mau menyatakan ikut berduka cita kepada engkau dan lbumu atas kematian Ayahmu, dan aku...... aku hendak minta maaf kepadamu atas perlakuanku kepadamu dahulu itu......"
Lalu disambungnya.
"dan engkau mencariku dengan keperluan apakah, Nona?"
"Enak saja sudah menghina orang minta maaf begitu saja! Aku mencarimu untuk membalas dendam atas penghinaanmu dahulu! Bersiaplah engkau, Souw Thian Liong! Aku akan menebus kekalahanku dan membalas penghinaanmu dengan menampar mukamu sebanyak duapuluh kali!"
Setelah berkata demikian, gadis itu memasang kuda-kuda.
Aneh kuda-kudanya ini, tubuhnya berdiri tegak, kedua lengannya tergantung lurus ke bawah, kaku seperti patung atau seperti......
mayat karena wajahnya yang agak pucat itu kini benar-benar seperti wajah mayat dengan mata yang "mati"
Dan kulit muka kaku!
Inilah ilmu silat Sin-ciang Tin-thian (Tangan Sakti Menaklukkan Langit) yang terdiri hanya dari tigabelas jurus yang ia pelajari dari gurunya yang baru, Si Mayat Hidup.
Pembukaannya adalah seperti itu, kaku menyeramkan!
Thian Liong terbelalak heran dan juga merasa seram.
Dia mengira bahwa tentu ilmu andalan gadis itu adalah Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat dari Kun-lun-pai itu, dari kitab yang dulu dicurinya, akan tetapi setelah ia menguasainya dan mengembalikan kitab itu kepada Kun-lun-pai, ia bahkan diterima menjadi murid.
Akan tetapi kuda-kuda aneh menyeramkan itu jelas bukan dari ilmu silat Kun-lun-pai.
"Bersiaplah!"
Thian Liong semakin terkejut dan seram ketika mendengar bentakan itu seolah keluar dari dalam perut Bi Lan tanpa gadis itu membuka mulut! Dia memang tidak ingin berkelahi dan tidak mau melawan.
"Tidak, Nona. Aku dahulu telah bersalah kepadamu. Kalau sekarang engkau hendak membalas dan hendak menampari aku, jangankan hanya duapuluh kali, biarpun sampai seratus kali aku akan menerimanya dan tidak akan melawan."
Mendengar ucapan ini, Bi Lan mengurungkan kuda-kuda ilmu silatnya dan ia menghampiri Thian Liong dengan kedua pipi kini berubah merah saking marahnya.
"Engkau harus melawanku! Aku ingin mengalahkanmu lalu membalas tamparanmu dahulu itu. Hayo lawan aku!"
Thian Liong tersenyum dan menggeleng kepalanya.
"Tidak, Nona Han Bi Lan. Engkau adalah puteri, Paman Han Si Tiong dan Bibi Liang Hong Yi yang kuhormati, dan aku pernah bersalah kepadamu. Maka, kalau engkau hendak membalas, tamparlah aku sesukamu, aku tidak akan membalas."
"Keparat kau! Engkau hendak membuat aku menjadi seorang pengecut curang yang menyerang orang yang tidak mau melawan? Engkau telah menghinaku, dan sekarang engkau ingin membuat aku menjadi seorang pengecut pula?"
"Tidak, Nona, bukan itu maksudku. Kalau engkau merasa terhina dahulu, sekarang engkau boleh menghinaku kembali dan kalau engkau hendak membalas tamparanku, engkau boleh menampar sesuka hatimu. Ini untuk membuktikan bahwa aku benar-benar menyesali perbuatanku kepadamu dahulu itu. Tamparlah, Nona, engkau berhak melakukan itu!"
Bi Lan yang marah sekali kalau mengingat betapa pinggulnya telah ditampari sehingga kalau ia teringat, sampai sekarang kedua bukit pinggulnya masih terasa panas dan pedas, lalu melangkah maju dan kedua tangannya menampar dari kanan kiri.
"Plak-plak!"
Tamparan itu kuat sekali, mengenai kedua belah pipi Thian Liong.
Kepala pemuda itu sampai terguncang ke kanan kiri oleh kerasnya tamparan.
Karena ia hendak menampar sedikitnya sepuluh kali untuk membalas, Bi Lan melanjutkan tamparannya, bertubi-tubi.
"Plak-plak-plak......!"
Tiba-tiba Bi Lan menahan gerakan tangannya dan terbelalak memandang Thian Liong yang terhuyung-huyung ke belakang sampai belasan langkah dan darah mengalir dari kedua ujung bibir pemuda itu!
Bi Lan terkejut bukan main.
Ia memang tidak menggunakan sin-kang (tenaga sakti) ketika menampar karena bukan maksudnya hendak mencelakai pemuda itu, akan tetapi ia telah menggunakan tenaga kasar yang cukup kuat.
Ia mengira bahwa pemuda itu tentu akan mengerahkan tenaga untuk melindungi kedua pipinya.
Akan tetapi ternyata Thian Liong sama sekali tidak melindungi kedua pipinya dengan tenaga sehingga ketika dia menerima tamparan-tamparan itu begitu saja, bibirnya pecah, mulutnya berdarah dan matanya berkunang-kunang, kepalanya berpusing sehingga dia terhuyung-huyung ke belakang sambil memejamkan kedua matanya.
Pada saat itu, tiba-tiba muncul dua orang.
Yang seorang berpakaian tosu berusia enampuluh tahun lebih, membawa sebatang tongkat hitam berkepala ular, dan orang kedua seorang laki-laki berusia empatpuluh tahun lebih, tinggi besar berkumis tebal.
Tahu-tahu mereka muncul dari balik pohon besar dan berada dekat Thian Liong yang terhuyung-huyung dengan mata terpejam.
Dan tanpa berkata apapun juga, orang yang muda menggerakkan tangan yang memegang pedang, lalu dia membacok ke arah leher Thian Liong yang terhuyung-huyung mundur di dekatnya.
Ketika itu, Thian Liong merasa kepalanya pening karena terguncang oleh tamparan Bi Lan yang lima kali itu.
Karena dia menerima tamparan tanpa melindungi dengan tenaga, maka selain bibirnya pecah, juga kepalanya terguncang sehingga dia terhuyung ke belakang.
Akan tetapi ketika ada pedang menyambar ke arah lehernya, pendengarannya yang peka tajam itu dapat menangkap desingan pedang.
Dia mencoba untuk mengelak dengan membuang tubuh ke kiri.
"Sing...... crott......!!"
Pedang itu masih menyambar bahu lengan kanannya sehingga darah muncrat dari bahunya yang terluka cukup parah.
Akan tetapi tubuh Thian Liong telah memiliki gerakan otomatis.
Biarpun kepalanya masih pening dan pangkal lengannya terluka parah, terasa panas dan pedih, namun secara otomatis tubuhnya memutar ke kanan dan tangannya menampar ke depan, ke arah orang yang membacoknya.
"Wuuuttt...... dessss......!"
Tubuh pemegang pedang itu terlempar ke belakang, akan tetapi pada saat itu juga tubuh Thian Liong terpelanting karena sebuah pukulan dengan telapak tangan mengenai punggungnya.
Ternyata laki-laki yang tua itu yang memukulnya dari belakang dan pukulan itu mengandung tenaga sin-kang yang amat kuat.
Melihat Thian Liong terbacok pedang dan terpukul secara dahsyat Bi Lan mengeluarkan pekik melengking dan tubuhnya sudah melayang ke depan, menyambar ke arah tubuh kakek yang tadi memukul punggung Thian Liong.
Melihat serangan yang hebat datangnya itu, kakek berambut putih yang berpakaian jubah tosu terkejut sekali dan dia pun mengeluarkan jeritan melengking tinggi dan mendorongkan kedua tangannya menyambut serangan Bi Lan.
"Wuuuttt...... dessss......!!"
Dua tenaga sakti bertemu dengan dahsyatnya di udara dan akibatnya, tubuh Bi Lan yang masih berada di udara itu terpental ke belakang.
Akan tetapi tubuh gadis itu membuat pok-sai (salto), berjungkir balik lima kali dan turun ke atas tanah dengan ringannya.
Sebaliknya, tubuh kakek itu terhuyung ke belakang dan wajahnya yang kurus menjadi pucat.
Dia terkejut bukan main karena pertemuan tenaga itu telah mendatangkan guncangan dalam dadanya dan ini menunjukkan bahwa gadis itu memiliki tenaga sakti yang kuat sekali.
Apalagi melihat Thian Liong sudah bangkit kembali sambil menyeringai dan menahan rasa nyeri, dia menjadi semakin kaget.
Padahal pukulannya tadi hebat bukan main, dilakukan dengan pengerahan tenaga sin-kang.
Lawan yang tangguhpun akan tewas terkena pukulannya seperti itu.
Akan tetapi pemuda itu masih mampu bangkit!
Ini juga membuktikan bahwa pemuda itu pun lihai bukan main.
Kalau pemuda dan gadis itu maju bersama, dia pasti kalah.
"Hemm...... Pak-sian (Dewa Utara) ternyata seorang yang curang,"
Kata Thian Liong dan mendengar ini, kakek berambut putih dengan tubuh tinggi kurus berjubah seperti tosu itu semakin jerih.
Ternyata pemuda ini mengenalnya.
Maka tanpa banyak cakap lagi Pak-sian Liong Su Kian, datuk besar dari utara itu berkata kepada laki-laki berkumis itu.
"Mari kita pergi!"
Keduanya lalu melompat jauh dan melarikan diri.
Bi Lan hendak mengejar, akan tetapi ia melihat Thian Liong terhuyung lalu roboh telentang di atas tanah.
Ia tidak jadi melakukan pengejaran dan segera menghampiri Thian Liong dan berjongkok di dekatnya, memeriksanya.
Bi Lan terkejut bukan main ketika memeriksa dengan teliti.
Tamparan-tamparannya sendiri tidak mendatangkan luka parah, hanya membuat kedua bibir pemuda itu pecah-pecah.
Luka bacokan pedang pada pangkal lengan kanan itu jauh lebih parah, dan ketika ia memeriksa punggung, wajah Bi Lan berubah pucat.
Thian Liong telah menderita luka dalam yang amat parah terkena pukulan kakek tadi.
Pukulan itu selain amat dahsyat juga mengandung hawa beracun yang berbahaya.
Kalau tidak cepat hawa beracun itu dikeluarkan dari rongga dadanya, nyawa pemuda itu takkan dapat diselamatkan lagi!
Melihat wajah pemuda yang telentang itu amat pucat, di kedua ujung mulutnya berlepotan darah dan kedua matanya terpejam, napasnya agak terengah dan lemah, Bi Lan merasa jantungnya seperti diremas.
"Thian Liong......!"
Ia berbisik, merasa menyesal sekali.
Kalau ia tidak menampar pemuda yang sama sekali tidak melindungi dirinya itu sehingga terhuyung dan pening, tidak mungkin dia akan terluka bacokan pedang dan menerima pukulan yang amat dahsyat tadi.
Ia yang menyebabkan pemuda itu sampai begini.
Hatinya yang sejak tadi amat gundah sehingga tadi ia menangis, kini menjadi semakin sedih dan sambil menyusut darah dari kedua ujung bibir Thian Liong dengan saputangannya, Bi Lan mengusap kedua matanya yang basah dengan punggung tangan.
Kemudian ia membuka kancing baju pemuda itu, menanggalkan baju itu dan kini Thian Liong bertelanjang bagian atas badannya.
Bi Lan mendorong tubuh pemuda itu sehingga miring, hampir menelungkup, lalu sambil duduk bersila di belakang tubuh itu ia menempelkan tangan kanannya pada punggung Thian Liong yang terdapat tanda telapak tangan menghitam.
Bi Lan menyalurkan tenaga saktinya untuk mendorong dan mengusir hawa beracun itu dari rongga dada Thian Liong.
Akan tetapi ia harus berhati-hati sekali karena kalau salah perhitungan dan menggunakan tenaga terlalu besar, bukan tidak mungkin tenaganya itu malah akan merusak jantung dan paru-paru!
Sampai beberapa lamanya, Bi Lan melihat bahwa usahanya itu belum juga berhasil.
Ia menjadi bingung, dan serba salah.
Mengerahkan tenaga terlalu besar, ia takut kalau akan mendatangkan luka pada isi rongga dada.
Kalau terlalu lemah, tidak kuat untuk mengusir hawa beracun dari dalam rongga dada Thian Liong.
"Ah...... Thian Liong......."
Ia mengeluh lagi dengan bingung dan panik karena melihat betapa pernapasan pemuda itu semakin melemah.
Memandang wajah itu, kembali jantungnya seperti diremas dan kembali matanya menjadi basah dan dua butir air mata mengalir keluar dari pelupuk matanya, jatuh menetes pada punggung pemuda itu.
Tiba-tiba saja Bi Ian merasa betapa sesungguhnya, wajah yang berada di depannya ini belum pernah hilang dari kenangannya.
Wajah ini selalu terbayang dan ia memaksa hatinya menganggap bahwa ia mengenang pemuda itu karena sakit hati, karena merasa terhina, karena jengkel dan marah.
Akan tetapi sesungguhnya, di balik itu semua, terdapat perasaan rindu dan sakit hatinya itu lebih disebabkan kekecewaan mengapa pemuda yang dikaguminya itu malah menampari pinggulnya.
Mengapa pemuda itu membencinya!
Padahal ia mengharapkan pemuda itu memperlihatkan keramahan kepadanya.
Kini bagaikan sinar kilat memasuki kesadarannya bahwa sesungguhnya, sejak pertemuan pertama, tanpa disadarinya, ia mencinta Thian Liong!
"Thian Liong......!"
Ia mencoba lagi, berusaha sedapatnya untuk mengusir hawa beracun itu dengan menambah tenaganya, namun dengan hati-hati sekali sambil memperhatikan wajah Thian Liong.
Kalau ada tanda sedikit saja bahwa tenaganya terlalu besar sehingga pemuda itu kesakitan, tentu akan dihentikannya.
Ia melihat sepasang mata itu bergerak, berkedip, akan tetapi wajah yang pucat itu tidak tampak kesakitan.
Hatinya menjadi girang sekali, Thian Liong telah siuman!
Pemuda itu membuka kedua matanya dan menggerakkan kepalanya, menoleh agar dapat melihat siapa yang berada di belakang tubuhnya yang miring.
Dia bertemu pandang dengan Bi Lan yang menyalurkan sin-kang melalui tangan kanan yang ditempelkan di punggungnya.
Dengan heran Thian Liong melihat wajah itu, bibirnya tersenyum akan tetapi mata bintang itu basah air mata!
Lalu dia teringat bahwa dia terkena pukulan ampuh dan Bi Lan sedang berusaha mengobatinya dengan penyaluran sin-kang untuk mengusir hawa beracun dari dalam rongga dadanya.
Bi Lan mengobatinya?
Tidak mimpikah dia?
"Nona Han Bi Lan, engkau......
engkau mengobati aku......?"
"Diamlah, Thian Liong. Engkau terkena pukulan beracun yang berbahaya, mudah-mudahan aku akan dapat mengusir hawa beracun dari dadamu."
Thian Liong tersenyum! Hatinya girang bukan main melihat sikap Bi Lan. Gadis itu berusaha menolongnya, berarti telah memaafkan dia.
"Nona cabutlah pedangku...... Thian-liong-kiam...... tempelkan di punggungku......"
Katanya terengah karena rongga dadanya terasa panas yang membuat ia sesak napas.
Bi Lan mengerti.
Ia tadi menanggalkan pedang dari punggung Thian Liong ketika melepas baju pemuda itu.
Pedang itu ia letakkan di atas tanah.
Ia lalu mencabut pedang itu dari sarungnya dan kagum melihat pedang itu berkilau.
Kemudian ia menempelkan pedang itu di punggung Thian Liong.
Thian-liong-kiam (Pedang Naga Langit) adalah sebatang pedang puslika yang amat langka.
Pedang ini mengandung daya untuk menyedot hawa beracun, bahkan air rendamannya dapat mengobati segala macam luka yang mengandung racun.
Pedang ini pemberian Tiong Lee Cin-jin kepada muridnya itu.
Tak lama kemudian setelah pedang itu menempel di punggung Thian Liong, tampak asap hitam perlahan-lahan mengepul keluar dari punggung itu!
Bi Lan memandang dengan kagum sekali, juga hatinya merasa girang karena tak lama kemudian, warna telapak tangan hitam di punggung itu perlahan-lahan menipis dan makin menghilang.
Thian Liong mulai dapat bernapas dengan longgar.
Dia lalu bangkit duduk dan membantu daya sedot pedang itu dengan pengerahan sin-kang untuk mengusir bersih semua hawa beracun.
"Cukup, Nona. Bahaya yang mengancam nyawaku telah lewat. Terima kasih atas pertolonganmu, Nona. Engkau sungguh mulia."
"Jangan banyak bicara dulu, lukamu di pangkal lengan perlu diobati dulu."
Bi Lan lalu mengambil obat bubuk dari buntalan pakaiannya.
Ia memang selalu membawa obat bubuk itu untuk mengobati luka.
Setiap orang kang-ouw selalu membawa obat seperti ini.
Setelah menaruh obat bubuk pada luka menganga di pangkal lengan kanan Thian Liong, Bi Lan lalu mengambil sehelai pita rambutnya dari buntalan itu dan membalut pangkal lengan Thian Liong.
"Cukup, Nona Han Bi Lan. Sungguh aku merasa berhutang budi dan berterima kasih sekali padamu,"
Kata Thian Liong yang lalu mengenakan kembali bajunya.
"Akan tetapi bibirmu......"
Bi Lan hendak menyentuh ke arah muka Thian Liong, akan. tetapi ditariknya kembali tangan itu karena merasa tidak pantas. Ia memandang bibir yang pecah itu dengan hati penuh penyesalan.
"Ah, bibir begini saja tidak mengapa, Nona. Nanti akan sembuh sendiri. Hanya lecet sedikit saja."
"Curang sekali Pak-sian Liong Su Kian tadi. Akan tetapi aku tidak tahu siapa orang berkumis yang membacok lenganku tadi,"
Kata Thian Liong.
"Aku mengenalnya. Dia adalah Jiu To, seorang dari Sam-pak-liong yang pernah bentrok dengan aku. Sam-pak-liong (Tiga Naga Utara) menjadi pengawal Hiu Kan, putera mendiang Pangeran Hiu Kit Bong. Mereka berempat menggangguku dan mereka kubunuh semua, hanya Jiu To yang kubiarkan hidup karena dia mau memberitahu kepadaku di mana adanya Toat-beng Coa-ong Ouw Kan."
"Ah, dan engkau sudah dapat bertemu dengan musuh besarmu itu? Aku sudah mendengar dari orang tuamu bahwa dulu yang menculikmu adalah Ouw Kan."
"Aku sudah membunuhnya!"
Kata Bi Lan singkat. Diam-diam Thian Liong merasa ngeri dan menyesal mengapa gadis yang sesungguhnya amat baik ini dapat begitu liar dan kejam.
"Aku mendengar tentang Ang I Mo-li yang mengamuk melukai banyak bangsawan dan hartawan......"
"Akulah yang disebut Ang I Mo-li!"
Bi Lan berkata pula, singkat.
Thian Liong merasa semakin menyesal sehingga dia tidak dapat mengeluarkan kata-kata Iagi.
Juga Bi Lan tampak termenung.
Mereka duduk di atas rumput tebal di bawah pohon besar itu.
Matahari sudah naik agak tinggi sehingga cuaca dalam hutan lebat itu semakin terang.
Beberapa kali Thian Liong menghela napas panjang dan kebetulan sekali gadis itu pun menarik napas panjang.
Suasana menjadi kaku.
Gadis itu diam seperti patung, seolah tidak mengacuhkan segala sesuatu, membuat Thian Liong menjadi salah tingkah dan merasa hatinya tidak nyaman.
Dia memaksa diri membuka percakapan untuk mencairkan suasana yang seolah membeku itu.
"Nona......."
"Tidak usah menyebut Nona padaku!"
Bi Lan memotong cepat.
"Engkau tahu, namaku Bi Lan, Han Bi Lan."
Thian Liong tertegun, akan tetapi dia lalu tersenyum. Pembukaan percakapan yang baik, pikirnya.
"Baiklah, Bi Lan. Aku ingin mengulang permintaan maafku kepadamu atas perbuatanku yang sungguh tidak pantas terhadap dirimu beberapa waktu yang lalu."
"Tidak perlu minta maaf karena aku pun tidak minta maaf kepadamu. Aku malah telah melakukan dua kali kesalahan terhadap dirimu. Aku sudah mencuri kitab darimu, dan tadi...... aku telah menamparimu tanpa engkau melawan sehingga hampir saja aku menyebabkan kematianmu."
"Tidak, Bi Lan. Engkau berhak menampari atau memukuli aku! Aku memang telah menghinamu. Dan engkau telah berkali-kali menolongku. Pertama engkau membantuku ketika aku difitnah dan diserang para tokoh Siauw-lim-pai dan Kun-lun-pai. Kedua kalinya, tadi kalau tidak ada engkau yang menolongku, pasti aku sudah mati oleh serangan gelap Pak-sian. Sungguh, aku berhutang nyawa, berhutang budi padamu, Bi Lan."
"Sudahlah, jangan bicara tentang hal itu lagi. Aku malu mengingat betapa aku memukuli orang yang sama sekali tidak membela diri. Perbuatanku itu curang dan aku menjadi pengecut. Kita bicara urusan lain saja, Thian Liong."
"Kalau begitu, sudah tidak ada lagi dendam permusuhan di antara kita?"
"Kalau engkau mau, kita lupakan saja semua itu dan menganggap tidak pernah terjadi. Akan tetapi tentu saja kalau engkau mendendam dan hendak membalas......"
Suaranya menantang.
"Ah, sama sekali tidak, Bi Lan. Aku merasa bahagia sekali kalau kita lupakan semua itu. Sekarang kalau aku boleh bertanya, mengapa engkau tadi menangis?"
"Aku tadi sedih sekali."
"Aku tahu, Bi Lan. Ayahmu meninggal dunia setelah dilukai orang. Aku ikut bersedih karena mendiang Ayahmu adalah seorang sahabat baikku yang kukagumi dan kuhormati. Akan tetapi, aku mendengar bahwa engkau pergi ke kota raja bersama Ibumu. Mengapa engkau berada di sini?"
"Aku sedang mencari dua orang murid Ouw Kan yang menyerang Ayah, akan tetapi aku belum mendapatkan keterangan di mana mereka berada."
"Dan engkau mencari mereka di daerah Kerajaan Kin ini?"
"Mereka itu murid-murid Ouw Kan, tentu saja aku mengira bahwa mereka berada pula di daerah ini. Pula, aku memang sudah berada di daerah ini untuk mencari Ouw Kan. Setelah berhasil membunuh Ouw Kan, aku juga menyusup ke istana kaisar dengan maksud untuk membunuhnya."
"Ah......? Mengapa, Bi Lan?"
"Aku mendengar dari Ibuku bahwa yang mula-mula menjadi penyebab Ayah Ibuku dimusuhi Ouw Kan adalah karena Ayah dan Ibu membunuh seorang Pangeran Kin dalam perang. Kaisar Kin marah dan mengutus Ouw Kan untuk mencari Ibu dan Ayah dan membunuh mereka. Karena Ouw Kan tidak menemukan Ayah dan Ibu, maka dia menculik aku. Demikianlah, kuanggap Kaisar Kin yang menjadi musuh besar yang mengutus Ouw Kan, maka aku pergi ke istananya untuk membunuhnya."
Thian Liong terbelalak.
"Dan engkau...... engkau berhasil?"
Bi Lan menggeleng kepala.
"Aku dihadapi Puteri Moguhai dan dibujuk, dan akhirnya aku mendengar darinya bahwa Kaisar Kin tidak menyuruh Ouw Kan membunuh orang tuaku. Adalah Ouw Kan sendiri yang memusuhi orang tuaku karena dia kecewa dan malu tidak berhasil membunuh mereka, bahkan gagal pula menculik aku karena guruku Jit Kong Lhama merampas aku dari tangannya. Aku menyadari, apalagi Puteri Moguhai itulah yang menyelamatkan Ibuku dari kematian."
"Hemm, bagaimana ceritanya?"
"Begini, dulu pernah orang tuaku diserang oleh Ouw Kan, akan tetapi Puteri Moguhai...... dan engkau sendiri menyelamatkan mereka. Lalu Puteri Moguhai meninggalkan tulisan di atas kain yang, diberikannya kepada Ayah agar tulisan itu diperlihatkan kalau Ouw Kan berani mengganggu lagi."
Thian Liong mengangguk-angguk.
"Ya, ya, aku ingat itu......"
"Tentu saja engkau ingat, Thian Liong. Engkau akrab sekali dengannya dan selalu bersamanya. Ia memang seorang puteri yang anggun, cantik jelita, dan lihai ilmu silatnya. Siapa tidak terkagum-kagum dibuatnya?"
Thian Liong memandang heran.
Salah dengarkah dia kalau menangkap kepanasan hati dan kecemburuan dalam ucapan Bi Lan itu?
"Ah, kami hanya kebetulan saja melakukan perjalanan bersama, Bi Lan.
Teruskan ceritamu tadi."
"Ketika dua orang murid Ouw Kan itu muncul, nama mereka Bouw Kiang dan Bong Siu Lan, mereka merobohkan Ayah yang terluka berat dan ketika mereka juga hendak membunuh Ibuku, mereka melihat tulisan pemberian Puteri Moguhai itu terselip di ikat pinggang Ibu. Mereka membaca tulisan itu lalu melarikan diri tanpa mengganggu Ibu. Surat Puteri Moguhai itulah yang menyelamatkan Ibu."
"Bi Lan, ketika aku mendengar keterangan A Siong di rumah Paman Han Si Tiong bahwa engkau dan Ibumu pergi ke kota raja, aku mengira bahwa engkau tentu pergi berkunjung ke rumah Panglima Kwee Gi. Benarkah itu?"
Gadis itu mengangguk, lalu menundukkan mukanya karena hatinya perih ketika Thian Liong bicara tentang kunjungannya ke kota raja.
Kunjungan itulah yang menjadi permulaan ia menghadapi kehancuran hatinya.
"Aku tahu, engkau dan Ibumu tentu ke sana karena bukankah engkau telah menjadi calon keluarga Panglima Kwee?"
Bi Lan mengangkat mukanya dan sepasang matanya seolah berubah menjadi dua sinar terang yang menyoroti wajah Thian Liong dengan penuh selidik.
"Apa maksudmu, Thian Liong?"
"Maksudku...... eh, ketika dulu aku bersama Pek Hong Niocu......"
"Pek Hong Niocu......?"
"Maksudku, Puteri Moguhai. Ketika kami berada di rumah keluarga Panglima Kwee, mereka membicarakan tentang engkau dan...... dan...... mereka mengatakan bahwa mereka hendak menjodohkan putera mereka, Kwee Cun Ki, denganmu......"
"Cukup! Aku tidak mau bicara tentang hal itu!"
Tiba-tiba Bi Lan berkata dengan ketus dan marah.
Thian Liong melihat betapa kedua pipi gadis itu menjadi merah sekali, bukan merah karena malu, melainkan merah karena marah.
Sepasang matanya berkilat.
Dia merasa heran dan terkejut.
"Ah, maafkan aku, Bi Lan. Sekarang, di manakah Bibi Liang Hong Yi?"
"Aku tidak mau bicara tentang dirinya!"
"Tapi...... tapi ia Ibumu......!"
"Cukup, jangan bicara tentang mereka atau pergilah tinggalkan aku!"
Bi Lan membentak.
"Maaf, Bi Lan. Baiklah, sekarang ke mana engkau hendak pergi?"
"Sudah kukatakan aku sedang mencari dua orang murid Ouw Kan itu."
"Kalau begitu, aku akan membantumu, Bi Lan. Mari kita mencari mereka bersama."
"Aku tidak butuh bantuanmu atau bantuan siapapun juga!"
"Aku percaya bahwa engkau akan mampu menghadapi mereka sendiri, Bi Lan. Akan tetapi aku pun berhak mencari mereka. Mendiang Paman Han Si Tiong adalah sahabat baikku, bahkan kami bersama-sama menghadapi fitnah dan bahaya ketika kami menentang Menteri Chin Kui, sama-sama ditahan dalam penjara. Aku pun ingin menghajar dua orang murid Ouw Kan yang telah menyerang dan melukainya sehingga dia meninggal. Selain itu, aku juga hendak mencari guruku, Tiong Lee Cin-jin."
"Sudah banyak aku mendengar nama Tiong Lee Cin-jin."
"Ketahuilah, Bi Lan. Suhu Tiong Lee Cin-jin terancam bahaya. Empat Datuk Besar kini bersekutu dan melatih seorang murid secara khusus untuk membunuh Suhu Tiong Lee Cin-jin. Empat Datuk Besar dari empat penjuru itu bersama murid istimewa dan para murid mereka akan mengeroyok Suhu. Kalau engkau tidak keberatan, aku mengharapkan bantuanmu untuk bersama Suhu menghadapi mereka."
Diam sejenak.
Bi Lan mengerutkan alisnya.
Biarpun sama sekali tidak terbayang pada wajahnya yang jelita, namun di lubuk hatinya ia merasa gembira sekali membayangkan bahwa ia akan melakukan perjalanan bersama Thian Liong, pemuda yang selama ini tak pernah ia lupakan, dengan berbagai macam perasaan.
Ada kagum, ada suka, ada marah, penasaran dan kecewa.
Akan tetapi sekarang semua perasaan marah dan mendendam sudah tidak ada sama sekali dalam hatinya sehingga yang tinggal hanya rasa kagum dan suka!
"Bagaimana Bi Lan?
Engkau tidak merasa keberatan untuk melakukan perjalanan bersamaku, bukan?"
Thian Liong ingin sekali melakukan perjalanan bersama Bi Lan terdorong oleh keinginan untuk membalas kebaikan gadis itu dan, untuk membuktikan bahwa dia sama sekali tidak menghina atau merendahkan gadis itu.
Apalagi kalau dia teringat bahwa gadis ini adalah puteri tunggal Han Si Tiong dan Liang Hong Yi, suami isteri yang dia hormati.
Akhirnya gadis itu mengangguk.
"Akan tetapi bukan berarti aku ikut engkau atau engkau ikut aku, Thian Liong, melainkan hanya kebetulan saja kita melakukan perjalanan bersama."
Thian Liong tersenyum, ingat akan ucapannya tentang dia melakukan perjalanan bersama Puteri Moguhai.
"Tentu saja, Bi Lan."
"Dan mulai sekarang, di depan semua orang, engkau jangan menyebut Bi Lan kepadaku."
"Eh? Lalu menyebut apa?"
"Sebut saja Han, tanpa embel-embel apa pun."
"Lho, mengapa begitu?"
"Akan kaulihat nanti. Tunggu sebentar di sini!"
Setelah berkata demikian, Bi Lan menyambar buntalan pakaiannya dan berkelebat lenyap ke balik pohon-pohon.
Thian Liong menggerakkan bahunya, sehingga terasa nyeri pada bahu kanannya, mengingatkan dia akan lukanya dan teringat betapa tadi Bi Lan dengan sungguh-sungguh berusaha mengobatinya.
Teringat dan terasa olehnya betapa lembut dan hangatnya jari-jari tangan gadis itu menyentuh lengannya ketika ia membalut luka di pangkal lengan kanannya itu.
Kini gadis itu bersikap aneh, minta dipanggil Han saja dan minta dia menunggu lalu menghilang di balik pohon-pohon.
Apa maunya?
Akan tetapi dia sabar menunggu.
Tidak lama kemudian Thian Liong melihat seorang pemuda muncul dari balik pohon-pohon dan dia terkejut, juga merasa heran.
Dia bangkit berdiri, siap menghadapi ancaman.
Siapa tahu pemuda itu juga seorang musuh tangguh yang hendak menyerangnya.
Akan tetapi pemuda itu melangkah, menghampirinya dan tersenyum.
"Thian Liong, perkenalkan, aku adalah Han."
Biarpun suara pemuda itu wajar sebagai suara seorang pemuda, namun kata-kata itu tentu saja menyadarkan Thian Liong dengan siapa dia berhadapan.
"Bi Lan......!"
Serunya kagum bukan main.
Gadis itu benar-benar pandai sekali menyamar.
Pakaian pria yang agak longgar itu menyembunyikan lekuk lengkung tubuh gadisnya, dan hebatnya, gadis itu dapat mengubah penampilannya, menata rambutnya sehingga dia sendiri pun tidak akan mengenalnya kalau tadi tidak bicara.
"Wah, engkau hebat sekali, Bi Lan. Sungguh aku sama sekali tidak mengenalmu. Engkau benar-benar menjadi seorang pemuda, tidak akan ada orang dapat menduga bahwa engkau seorang gadis!"
"Engkau yang akan membuka rahasiaku kalau engkau masih menyebut namaku seperti itu. Aku bernama Han, jangan lupakan itu."
Thian Liong tertawa.
"Baiklah, Han kalau ada yang bertanya, engkau menjadi apaku?"
"Sahabat, apa lagi? Nah, mari kita berangkat."
"Ke mana?"
"Mencari makanan, perutku lapar sekali."
Mereka lalu keluar dari hutan itu, menggendong buntalan pakaian masing-masing.
Setelah keluar dari hutan, jalan umum itu membawa mereka memasuki sebuah kota yang cukup besar dan ramai.
Ketika mereka mencari keterangan, mereka diberitahu bahwa itu adalah kota Leng-an dan kota itu terletak di sebelah selatan Telaga Kim-hi yang luas.
Kim-hi-ouw (Telaga Ikan Emas) terkenal mengandung banyak ikan emas yang lezat dagingnya.
Thian Liong dan Bi Lan, atau lebih baik kita sebut saja Han seperti yang dikehendaki gadis itu, memasuki sebuah rumah makan yang besar dan ramai dikunjungi orang.
Mereka mendapatkan meja di sudut dan Han segera memesan masakan ikan emas yang membuat kota Leng-an terkenal.
Setelah pesanan masakan dihidangkan dan mereka mulai makan, mereka membuktikan sendiri kelezatan, masakan ikan emas telaga itu seperti yang disohorkan orang.
Setelah makan minum dengan puasnya, Han dan Thian Liong duduk santai dan baru mereka memperhatikan sekeliling.
Tak jauh dari meja mereka, terdapat tiga orang pemuda yang makan minum sambil bercakap-cakap.
Mendengar mereka bicara tentang seorang gadis sedang mencari jodoh dengan cara bertanding ilmu silat, mereka tertarik sekali.
Memang pada waktu itu, peristiwa seperti ini merupakan hal yang biasa.
Banyak gadis dunia persilatan, oleh ayahnya dicarikan jodoh dengan jalan pi-bu (mengadu ilmu silat), semacam sayembara!
"Sayang aku tidak mempunyai kepandaian silat.
Betapa akan senangnya menyunting bunga yang demikian indahnya!"
Kata seorang di antara mereka.
"Ah, kalau hanya mempunyai ilmu silat sedang-sedang saja, siapa berani mencoba-coba? Gadis itu lihai bukan main. Kemarin saja sudah ada tiga orang calon yang dikalahkan. Kalau kalah, selain sakit badan dan juga sakit hati karena malu,"
Kata orang kedua.
"Memang sayang sekali. Gadis itu demikian cantik jelita dan tampaknya lemah lembut, kulitnya putih mulus, akan tetapi ternyata bunga indah itu mempunyai duri yang tajam dan berbahaya. Kabarnya hari ini ia dan ayahnya tidak lagi mengadakan pertunjukan silat. Apa mereka sudah meninggalkan kota ini?"
Kata orang ketiga.
"Ah, tidak. Aku mendengar bahwa besok pagi gadis itu akan memberi kesempatan lagi kepada yang berminat untuk pi-bu. Kalau kabar ini sudah tersiar dan datang jago-jago dari kota lain, tentu akan ramai sekali."
"Di mana akan diadakan pi-bu itu?"
"Di mana lagi kalau bukan di tempat yang kemarin, di tepi telaga itu. Besok kita harus nonton, tentu menarik sekali. Aku ingin melihat berapa orang laki-laki lagi yang dirobohkannya dan siapa yang akhirnya beruntung menyunting bunga itu."
"Ah, kalau aku ogah mempunyai bini seperti itu. Biar cantik jelita, akan tetapi lihai ilmu silatnya. Jangan-jangan setiap hari aku akan dipukul dan ditendangnya!"
Tiga orang itu berhenti bicara.
Thian Liong dan Han segera membayar harga makanan.
Han mendahului membayarnya sehingga Thian Liong hanya tersenyum saja.
Melihat dua orang pemuda ini membawa buntalan pakaian yang ditaruh di atas meja, pelayan rumah makan itu lalu berkata, setelah menerima pembayaran.
"Ji-wi Kongcu (Tuan Muda Berdua) agaknya datang dari luar kota. Kalau ji-wi (kalian berdua) membutuhkan pondokan, silakan bermalam di rumah penginapan kami, di belakang itu. Kami mempunyai kamar-kamar yang bersih."
Thian Liong menoleh kepada Han, menyerahkan keputusannya kepada temannya itu. Sebetulnya, tadi mereka memasuki Leng-an hanya untuk mencari makanan, dan tidak ada rencana untuk menginap.
"Baik, kami akan menginap di sini semalam. Sediakan dua buah kamar yang bersih,"
Kata Han kepada pelayan.
"Dua buah, Kongcu (Tuan Muda)?"
"Ya, dua buah!"
Kata Han singkat dan suaranya agak ketus menunjukkan bahwa dia tidak senang dengan pertanyaan pelayan itu.
"Baik, baik, Kongcu. Mari silakan!"
Thian Liong dan Han mengikuti pelayan itu yang mengajak mereka ke bagian belakang rumah makan itu.
Ternyata bagian belakangnya luas dan ada bangunan rumah penginapan yang memiliki belasan buah kamar.
Mereka senang melihat kamar untuk mereka itu cukup bersih, biarpun perabotnya sederhana.
Setelah pelayan yang mengantar mereka pergi, Thian Liong bertanya.
"Apa yang menarik hatimu sehingga ingin bermalam di kota ini, Han?"
Han memandang wajah Thian Liong dan tersenyum.
Hemm, pikir Thian Liong.
Penyamaran itu sudah baik sekali, akan ada satu hal yang agaknya terlupa.
Kalau tersenyum lebar, lesung yang manis itu muncul di kanan kiri mulut Han, membuat wajah itu menjadi terlampau tampan sehingga akan menarik perhatian dan menimbulkan kecurigaan orang.
Maka sebelum Han menjawab pertanyaan tadi, dia sudah cepat berkata.
"Han, jangan tersenyum lebar, penyamaranmu dalam bahaya kalau engkau tersenyum."
Han mengerutkan alisnya.
"Mengapa?"
"Terlalu...... terlalu cantik, tidak jantan."
Han mengangguk.
"Akan kuingat itu."
"Engkau belum menjawab pertanyaanku tadi. Apa yang menarik hatimu untuk bermalam di sini?"
"Sama dengan yang menarik hatimu, Thian Liong. Engkau juga ingin sekali nonton pi-bu (adu silat) yang diadakan gadis di tepi telaga itu, bukan? Eh, Thian Liong, siapa tahu engkau yang akan dapat mengalahkannya dan menjadi jodohnya."
Digoda begitu, Thian Liong tidak mau membantah, bahkan berkata sambil tersenyum.
"Yah, siapa tahu?"
Dia terheran melihat betapa tiba-tiba wajah Han menjadi keruh, alisnya berkerut dan mulutnya merengut! "Aku mau mengaso!"
Katanya singkat dan dia hendak memasuki kamarnya.
"Sore nanti kita melihat-lihat kota dan telaga, Han,"
Kata Thian Liong.
"Bagaimana nanti sajalah!"
Han memasuki kamar dan menutup daun pintunya agak keras.
Thian Liong menggerakkan pundak dengan hati merasa heran atas sikap Han yang tidak dimengertinya itu.
Dia pun memasuki kamarnya, mele-paskan buntalan dan meletakkannya di atas meja lalu dia pun merebahkan diri mengaso.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi, setetah mandi dan tukar pakaian, Han mengajak Thian Liong keluar dan mereka berdua segera menuju ke tepi telaga.
Kemarin sore mereka sudah berjalan-jalan ke sini, bahkan sempat naik perahu sewaan berputar-putar di telaga.
Mereka sudah mendapat keterangan bahwa gadis yang mengadakan pi-bu itu kemarin mengambil tempat di bagian tepi telaga yang tanahnya agak tinggi.
Setelah tiba di tempat itu, tepi telaga sudah mulai ramai.
Bukan saja ramai dengan mereka yang hendak berangkat dengan perahu mereka menangkap ikan, ada pula yang baru pulang dari mencari ikan semalam dan kini membawa hasil tangkapan mereka untuk dijual ke dalam kota.
Ada juga yang hendak pesiar, dan banyak orang-orang muda yang sengaja datang hendak nonton gadis yang mencari jodoh dengan jalan mengadakan pi-bu.
Akan tetapi agaknya gadis dan ayahnya itu belum datang.
Akan tetapi Thian Liong dan Han tidak perlu menunggu lama.
Ketika suasana menjadi riuh dengan suara orang-orang yang menujukan pandang mata ke satu jurusan, Thian Liong dan Han juga memandang ke arah sana.
Tampak seorang gadis dan seorang laki-laki setengah tua datang ke tepi telaga yang tanahnya tinggi itu.
Thian Liong memandang penuh perhatian.
Gadis itu berusia sekitar delapanbelas tahun.
Tak dapat disangkal bahwa gadis itu memang cantik menarik, dengan bentuk tubuh yang denok padat, kulitnya yang putih mulus.
Yang menarik adalah sepasang matanya yang lebar dan indah.
Laki-laki yang berjalan di sampingnya itu berusia sekitar empatpuluh tahun, bertubuh tinggi kurus dan mukanya kuning, wajahnya muram seperti orang yang tidak bahagia.
Dengan langkah lebar mereka berdua menuju ke atas tanah yang tinggi tanpa memperdulikan puluhan pasang mata yang memandang kepada mereka.
Setelah tiba di atas tanah tinggi itu, mereka menurunkan buntalan kain dari punggung mereka dan meletakkannya di atas batu-batu yang berada di atas tanah.
Mereka juga melepaskan pedang berikut sarungnya dari pinggang dan meletakkan pedang mereka itu di atas buntalan pakaian.
Setelah dua orang itu berada di situ, mereka yang memang datang hendak nonton, berbondong-bondong datang tanpa diatur, mereka sudah membentuk lingkaran yang cukup luas sehingga kedua orang itu seperti berdiri di atas panggung tanah tinggi itu merupakan gundukan tanah yang lumayan luasnya.
Mereka yang nonton berdiri mengelilingi gundukan tanah itu.
Setelah di situ berkumpul lebih dari limapuluh orang, sebagian besar adalah pemuda-pemuda, laki-laki tinggi kurus itu lalu maju ke tengah lapangan itu dan menjura ke empat penjuru.
"Kami kira Cu-wi (Anda sekalian) tentu sudah tahu atau sudah mendengar bahwa kami sedang mengadakan sayembara pi-bu (adu silat) untuk memilih jodoh. Siapa saja dipersilakan memasuki sayembara ini apabila berminat. Adapun syarat-syaratnya seperti berikut. Pengikut sayembara haruslah seorang laki-laki yang belum menikah. Pengikut sayembara harus disetujui dulu oleh anak kami sebelum bertanding. Pengikut sayembara harus dapat mengalahkan anak kami dalam pertandingan silat dengan tangan kosong dan setelah dapat mengalahkannya, dia harus dapat bertahan melawan kami selama duapuluh jurus. Perkenalkan, nama kami adalah Ouwyang Kun, sedangkan ini anak kami satu-satunya bernama Ouwyang Siu Cen yang sudah tidak mempunyai ibu lagi. Nah, kalau ada yang berminat, silakan maju!"
Ouwyang Kun lalu memberi hormat lagi dan kembali duduk di atas batu dekat puterinya. Para penonton mulai berisik saling bicara sendiri. Akan tetapi belum juga ada yang maju memasuki lapangan.
"Thian Liong, gadis itu cantik jelita. Mengapa engkau tidak coba-coba?"
Bisik Han yang berdiri di samping pemuda itu.
"Mengapa tidak engkau saja yang maju dan mengalahkannya, Han?"
Thian Liong menjawab sambil tersenyum. Han hampir saja tersenyum lalu teringat dan dia cemberut.
"Gila kau!"
Bisiknya.
Melihat belum juga ada yang' memasuki lapangan, Ouwyang Kun berbisik kepada puterinya.
Siu Cen mengangguk dan ia lalu bangkit dan menuju ke tengah lapangan, berdiri tegak dan memandang ke sekeliling dengan matanya yang lebar dan indah, lalu berkata dengan suara lembut.
"Sambil menanti munculnya pengikut sayembara yang pertama, untuk mengisi kekosongan saya akan memainkan sebuah tarian pedang! Kalau tarianku jelek dan banyak kesalahannya, harap Cu-wi suka memaafkan dan memberi petunjuk."
Setelah berkata demikian Siu Cen mencabut pedangnya dan mulailah ia dengan tarian pedangnya.
Tarian itu sesungguhnya adalah ilmu silat pedang yang diberi gerakan kembangan sehingga tampak indah dan lemah gemulai.
Siu Cen memang memiliki tubuh yang lentur dan gerakannya mengandung seni tari yang indah.
Akan tetapi di balik kelemasan, kelenturan dan keindahan itu tersembunyi kekuatan yang mengagumkan.
Daya tahan dan daya serang yang kokoh.
Kalau semua gerakan kembangan dan variasi itu dihilangkan, maka gerakan-gerakan pedang itu akan menjadi berbahaya sekali bagi lawan.
"Hemm, cantik dan indah sekali, Thian Liong,"
Han berbisik pula.
"Ilmu silatnya cukup tangguh. Kuda-kudanya seperti yang biasa dipergunakan para hwesio (pendeta Buddhis) kalau mengajarkan silat kepada muridnya. Kokoh dan mantap."
Tarian itu tidak lama.
Tentu saja Ouwyang Siu Cen tidak mau menghamburkan banyak tenaga karena ia menghadapi pertandingan silat kalau ada yang maju mengikuti sayembara.
Ayahnya, Ouwyang Kun memang bijaksana.
Di antara syarat-syarat bagi calon jodohnya itu, adalah syarat bahwa ikutnya seorang calon harus atas persetujuannya.
Berarti ayahnya hanya mau menjodohkannya dengan seorang pemuda kalau Siu Cen menyetujuinya.
Hal ini untuk mencegah agar gadis itu tidak terpaksa menjadi isteri seorang laki-laki yang tidak disukanya hanya karena laki-laki itu dapat mengalahkannya dalam pi-bu.
Setelah Siu Cen menghentikan tariannya, seorang pemuda berusia sekitar duapuluh tahun masuk ke dalam gelanggang, disambut tepuk tangan para penonton karena selain mereka mengenal pemuda itu sebagai putera guru silat Ciang di kota Leng-an, juga semua orang sejak tadi sudah tidak sabar menanti munculnya orang yang memasuki sayembara itu agar mereka dapat menonton pertandingan silat.
Melihat ada seorang pemuda memasuki gelanggang, Ouwyang Kun lalu bangkit dan menghampiri sehingga berdiri berhadapan dengan pemuda itu, sedangkan Ouwyang Siu Cen mundur dan berdiri di belakang ayahnya sambil memandang kepada pemuda itu.
Ciang Lun adalah seorang pemuda yang berwajah cukup ganteng, tubuhnya sedang dan dia berdiri di depan Ouwyang Kun dengan tegak.
"Apa kehendakmu masuk ke sini, orang muda?"
Tanya Ouwyang Kun.
"Kalau boleh, saya ingin mencoba kelihaian Nona Ouwyang."
Ouwyang Kun menoleh dan memandang kepada puterinya. Siu Cen mengangguk, tanda bahwa ia mau berpi-bu melawan pemuda itu.
"Orang muda, siapa namamu?"
"Nama saya Ciang Lun."
"Baik, kami mempersilakan engkau untuk saling menguji kepandaian dengan Siu Cen."
Setelah berkata demikian, Ouwyang Kun mundur dan duduk kembali ke atas batu. Kini Siu Cen berhadapan dengan pemuda itu.
"Silakan mulai, Nona. Aku telah siap!"
Kata Ciang Lun yang segera memasang kuda-kuda dengan berdiri tegak, kedua kaki merapat dan kedua tangan direntangkan, yang kanan menunjuk ke atas, yang kiri menunjuk ke bawah.
"Pembukaan Thian-te-sin-kun (Silat Sakti Langit Bumi),"
Bisik Thian Liong.
"Tapi rapuh,"
Bisik pula Han.
Thian Liong juga maklum bahwa pasangan kuda-kuda dari pemuda bernama Ciang Lun itu tidak cukup kokoh dan melihat gerakan kaki Siu Cen ketika menari silat pedang tadi dia sudah dapat menduga bahwa pemuda ini tidak akan menang melawan gadis itu.
Tingkat kepandaian mereka berselisih jauh.
"Kami tuan rumah dan engkau tamunya, silakan menyerang lebih dulu,"
Kata Siu Cen yang juga memasang kuda-kuda dengan menekuk kedua lututnya, menghadap ke samping dan memutar kepala ke arah lawan, kedua tangan dikepal di pinggang.
"Hemm, kalau tidak salah kuda-kuda itu dari aliran Kwan-im-kun (Silat Dewi Kwan Im),"
Kata Han lirih.
"Atau silat Dewa Ji-lai-hud, ilmu silat yang biasanya dimainkan para pendeta,"
Kata Thian Liong. Mendengar ucapan gadis itu, Ciang Lun tersenyum.
"Baiklah, maaf, sambut seranganku, Nona!"
Pemuda itu mulai menyerang dan dia mainkan ilmu silat Langit Bumi yang sebetulnya merupakan ilmu silat yang cukup ampuh karena gerakan serangannya berganda, serangan ke bagian atas tubuh lawan disusul dengan hampir berbarengan dengan serangan dari bawah.
Kalau saja dia sudah menguasai dengan baik dan memiliki sin-kang (tenaga sakti) yang kuat, dia akan merupakan lawan yang tangguh dan berbahaya.
Akan tetapi, Siu Cen bergerak cepat dan gerakannya ringan sekali.
Tubuhnya berkelebatan ketika mengelak dari serangkai pukulan pemuda itu.
Ia pun balas menyerang dan Ciang Lun dapat menangkis serangan balasan itu dengan baik pula.
Bagi mereka yang tidak mengenal ilmu silat, atau yang hanya mengenal kulitnya saja tentu menganggap bahwa pertandingan itu seru dan seimbang.
Telah lebih dari tigapuluh jurus mereka bertanding dan tampaknya belum ada yang lebih unggul sehingga kelihatan seru dan seimbang.
Akan tetapi Han berbisik kepada Thian Liong.
"Wah, engkau terlambat, Thian Liong. Gadis itu agaknya telah memilih calon suaminya."
"Engkau benar dan aku ikut girang, mereka memang serasi untuk menjadi pasangan hidup."
Sementara itu, Ouwyang Kun juga maklum apa yang terjadi pada puterinya.
Dia tahu benar bahwa kalau dikehendaki, dalam belasan jurus saja puterinya itu akan mampu mengalahkan lawannya.
Akan tetapi agaknya Siu Cen tidak mau melakukan hal itu.
Baca Juga: Suling Emas 12
Baca Juga: Jodoh Rajawali 6