Ceritasilat Novel Online

Jodoh Si Naga Langit 6

Eps 6 Jodoh Si Naga Langit - Kho Ping Hoo

Baca online Jodoh Si Naga Langit - Kho Ping Hoo

Cersil Jodoh Si Naga Langit - Kho Ping Hoo.

Ia mengalah dan hal ini hanya mempunyai arti bahwa puterinya itu jatuh cinta kepada Ciang Lun itu!

Bagi dia mempunyai seorang mantu yang ilmu silatnya lebih rendah daripada tingkat puterinya tidak menjadi soal.

Yang penting Siu Cen mencintanya dan mantunya itu bukan seorang jahat.

Melihat betapa pertandingan itu berlangsung sampai hampir limapuluh jurus, Ouwyang Kun merasa cukup dan dia pun melompat ke tengah.

"Cukup, harap kalian berhenti!"

Dua orang itu mundur dan Siu Cen menundukkan mukanya yang menjadi kemerahan. Clang Lun memandang kepadanya dengan mulut terseyum, tampak dia girang sekali.

"Cu-wi, sayembara ini sudah selesai. Kami telah menemukan pilihan calon suami puteri kami."

"Tidak bisa! Ini tidak adil!"

Terdengar teriakan dan seorang laki-laki berusia kurang lebih tigapuluh lima tahun, bertubuh tinggi besar dan mukanya hitam bopeng (bekas cacar) melompat ke tengah lapangan.

"Kemenangan bocah ini sama sekali tidak sah!"

Dia berseru dengan suaranya yang parau dan terdengar logat bicaranya kaku dan asing.

"Hemm, dia itu orang dari barat, suku Tibet,"

Bisik Han kepada Thian Liong.

Pemuda ini juga sudah menduga demikian karena pernah dia bertemu dengan beberapa orang pendeta Lhama dari Tibet ketika mereka datang mengunjungi gurunya, Tiong Lee Cin-jin.

Ouwyang Kun menghadapi orang itu dengan alis berkerut, akan tetapi dia menahan marah dan bertanya.

"Sobat, menentukan pilihan calon suami untuk puteriku merupakan hak kami, orang luar sama sekali tidak berhak mencampuri."

"Ho-ho-ha-ha! Enak saja engkau menentukan begitu! Akan tetapi tanyalah kepada semua penonton ini. Kalian berdua telah melanggar peraturan yang kalian adakan sendiri. Bukankah tadi engkau sendiri mengumumkan bahwa yang berhak berjodoh dengan puterimu adalah orang yang dapat mengalahkan puterimu dan dapat bertahan pula melawanmu selama duapuluh jurus? Hai, saudara-saudara, bukankah dia tadi berjanji demikian?"

Para penonton yang juga merasa tidak puas dengan keputusan yang diambil. Ouwyang Kun dan mereka menginginkan sebuah pertandingan berikutnya yang lebih seru, segera berseru.

"Benar......!!"

Mendengar seruan orang banyak ini, Ouwyang Kun lalu bertanya dengan lantang.

"Sobat, katakan siapa namamu!"

"Ho-ho, namaku Golam!"

Kata Si Tinggi Besar Muka Hitam. Dia berbangsa Mongol akan tetapi sudah belasan tahun tinggal di Tibet sehingga logat bicaranya seperti orang Tibet.

"Sekarang, apa kehendakmu maka engkau mencampuri urusan kami memilih jodoh ini?"

"Tentu saja engkau harus memegang janjimu, dan aku ingin memasuki sayembara, hendak mengalahkan puterimu dan menghadapimu selama duapuluh jurus. Kalau aku berhasil, maka puterimu ini harus menjadi isteriku!"

Ouwyang Kun mengerutkan alisnya dan menatap tajam wajah yang bopeng dan berwarna hitam itu.

"Golam, melihat usiamu, engkau tentu sudah mempunyai isteri dan anak, bukan?"

"Ho-ho, punya anak isteri atau tidak sama sekali tidak ada hubungannya dengan sayembara ini. Pendeknya, aku memasuki sayembara dan kalian harus memenuhi janji dan melawan aku. Kecuali, tentu saja, kalau kalian Ayah dan anak merasa takut padaku! Kalau begitu, lebih baik kalian mengaku terus terang di depan semua orang ini bahwa kalian takut melawan aku, lalu cepat gulung tikar dan tinggalkan kota ini sebagai pengecut!"

Beberapa orang penonton mengeluarkan suara tawa dan semua orang menjadi tegang karena mereka mengharapkan terjadinya pertandingan yang sungguh-sungguh dan sikap Golam itu memancing ketegangan.

Ouwyang Kun menjadi merah mukanya dan matanya mencorong marah.

"Golam!"

Suaranya membentak.

"Sombong sekali engkau! Mendengar namamu, engkau tentu seorang Mongol dan suaramu menunjukkan bahwa engkau lama tinggal di Tibet! Aku mengerti betapa banyaknya orang Mongol yang terusir dari negaranya karena kejahatannya lalu berkeliaran di Tibet! Kami tidak pernah takut menghadapi orang-orang macam engkau ini. Guruku See-ong Hui Kong Hosiang tidak mempunyai murid pengecut!"

"Ho-ho-ha! Kiranya engkau murid See Ong (Raja Barat)? Bagus kalau kalian bukan pengecut. Suruh puterimu maju melawan aku, baru nanti engkau sendiri yang maju!"

Ouwyang Kun meragu, akan tetapi Siu Cen sudah bangkit berdiri dengan marah. Pada saat itu, Ciang Lun yang sejak tadi berdiri di pinggiran melangkah maju dan berkata kepada Golam dengan suara keras.

"Sobat, minggirlah dan jangan mencampuri dan mengganggu urusan orang lain!"

Golam menyeringai melihat pemuda itu berdiri di depannya dengan sikap menantang.

"Pergi kau!"

Dia membentak dan tangannya yang berlengan panjang itu menampar ke arah kepala Ciang Lun. Pemuda itu cepat menangkis sambil mengerahkan seluruh tenaganya.

"Dukk......!!"

Tubuh Ciang Lun terpelanting dan jatuh bergulingan saking kuatnya tenaga yang membentur tangkisannya. Golam tertawa bergelak sambil menengadah dengan sikap sombong sekali.

"Manusia sombong!"

Tiba-tiba Ouwyang Siu Cen membentak dan ia sudah menghadapi Golam dan memasang kuda-kuda ilmu silat Kwan-im-kun.

Ayah gadis ini, Ouwyang Kun memang murid See-ong Hui Kong Hosiang yang merangkai ilmu silat Ji-lai-hud dan ilmu silat yang dimainkan oleh Siu Cen adalah ilmu silat berdasarkan Ji-lai-hud-kun, khusus untuk wanita dan dinamakan Kwan-im-kun.

Akan tetapi Golam tertawa mengejek.

"Nona manis, aku akan malu kalau engkau bertangan kosong. Pergunakanlah pedangmu itu dan aku akan menghadapimu dengan tangan kosong. Itu baru adil namanya dan lebih seru!"

Akan tetapi Siu Cen sudah membentak nyaring dan maju menerjang dengan cepat dan kuat.

"Lihat seranganku!"

Akan tetapi, Golam menangkis dan begitu lengan Siu Cen bertemu dengan tangannya, tenaga tangkisan itu begitu kuatnya sehingga tubuh Siu Cen terputar dan pada saat itu, tangan kiri Golam menyambar dan dengan kurang ajar sekali tangan itu telah mengelus dan membelai dagu dan leher.

Siu Cen menjerit kecil sambil melompat jauh ke belakang dengan terkejut dan marah sekali.

"Ha-ha-ho-ho, sudah kukatakan. Pergunakanlah pedangmu, Nona manis!"

Siu Cen cepat mengambil pedangnya, melompat ke depan Golam dan membentak.

"Keluarkan senjatamu!"

Tantangnya.

"Ho-ho, tidak seru kalau aku menggunakan senjata. Aku tidak mau melukai kulitmu yang putih mulus itu, Nona. Tangan kakiku ini sudah lebih dari cukup untuk melayanimu main-main. Majulah!"

"Sombong, sambut pedangku!"

Siu Cen membentak dan menyerang dengan pedangnya.

Gerakannya cepat sekali.

Akan tetapi ternyata lawannya memang hebat.

Biarpun bertubuh tinggi besar, namun orang Mongol itu dapat bergerak cepat dan lebih hebat lagi, dia berani menangkis pedang Siu Cen dengan lengannya!

Kalau pedang itu bertemu lengan Golam yang menangkis, terdengar bunyi seolah pedang itu bertemu sepotong baja yang amat kuat.

Kini para penonton mulai merasa tegang dan khawatir.

Yang mereka tonton kini bukan lagi pertandingan adu kepandaian untuk mengukur tingkat masing-masing, melainkan pertandingan perkelahian sungguh-sungguh yang menggunakan senjata, yang dapat merobek tubuh dan merenggut nyawa!

Maka, banyak di antara para penonton yang mulai mundur menjauhkan diri dan menonton dari jarak agak jauh yang aman.

Tinggal sedikit saja yang menonton di tempat semula, di antara mereka termasuk Thian Liong dan Han.

Setelah pertandingan antara Siu Cen yang memegang pedang melawan Golam yang bertangan kosong itu berjalan lewat duapuluh jurus, terdengarlah Golam terkekeh dan diseling jerit-jerit kecil Siu Cen karena kini Golam yang lebih tinggi tingkatnya itu mulai mempermainkan Siu Cen.

Tangannya secara kurang ajar sekali menowel pipi, meraba dada, dan mencubit pinggul.

Siu Cen menjerit-jerit kecil dan merasa malu dan marah sekali.

"Jahanam busuk, biar kubunuh dia!"

Han berbisik dengan muka berubah merah karena marahnya.

"Ssstt, jangan, Han. Ouwyang Kun adalah murid See Ong, seorang di antara Empat Datuk Besar. Dia pasti tidak membiarkan puterinya diganggu,"

Kata Thian Liong. Baru saja Thian Liong habis bicara, terdengar Ouwyang Kun membentak lantang.

"Golam bangsat kurang ajar!"

Thian Liong memandang dan dia melihat betapa Golam sudah merampas dan mematahkan pedang Siu Cen dan kini dia menangkap dan merangkul gadis itu.

Ouwyang Kun melompat dan langsung menyerang Golam dengan tamparan tangannya.

Golam melepaskan rangkulannya dan mendorong tubuh Siu Cen sehingga gadis itu terpelanting.

Kemudian dia mengangkat tangan menangkis.

"Desss ...... !!"

Pertemuan dua tenaga itu dahsyat sekali dan akibatnya tubuh Golam terpelanting dan roboh bergulingan. Pada saat itu terdengar suara nyaring.

"Omitohud! Golam, bawa gadis itu. Engkau berhak memilikinya!"

Tampak bayangan berkelebat dan bayangan itu ternyata seorang laki-laki berusia sekitar empatpuluh lima tahun, bertubuh tinggi kekar dan mukanya penuh brewok akan tetapi kepalanya gundul dan dari jubahnya dapat diketahui bahwa dia itu seorang pendeta Lhama dari Tibet.

Dengan gerakan yang cepat sekali pendeta itu mendorongkan kedua tangannya ke arah Ouwyang Kun.

Hawa pukulan dahsyat disertai uap hitam menyambar ke arah Ouwyang Kun bagaikan angin badai.

Ouwyang Kun terkejut sekali dan dia menyambut dengan kedua tangan sambil mengerahkan seluruh sin-kang (tenaga sakti) karena dia maklum bahwa pendeta Lhama itu menyerangnya dengan pukulan yang amat kuat dan ampuh.

"Blaaaarrrr......!!"

Bukan main dahsyatnya pertemuan antara dua tenaga sakti itu.

Semua penonton merasa betapa tanah yang mereka injak tergetar oleh benturan hebat itu.

Tubuh Ouwyang Kun terpental ke belakang dan sebelum dia dapat bangkit, tubuh pendeta Lhama itu sudah meluncur dekat dan ketika tampak kilat menyambar, pedang di tangan pendeta itu telah memasuki dadanya!

Ketika pedang dicabut, Ouwyang Kun mendekap luka di dadanya darimana darah mengucur dan dia memandang terbelalak kepada penyerangnya.

"Kau...... kau...... mengapa menyerangku?"

"Hemmm, engkau yang curang mengeroyok muridku!"

Kata pendeta Lhama itu. Ouwyang Kun roboh terkulai dan tewas.

"Ayaaahhh......!"

Siu Cen yang tadi terpelanting, sebelum sempat menghindar Golam sudah menubruk dan menotok pundaknya sehingga ia tidak mampu melawan lagi.

Tubuhnya terasa lemas tiada tenaga dan ia pun tidak dapat melawan ketika tubuhnya dipondong Golam.

Akan tetapi ia melihat ayahnya tertusuk dan roboh maka ia menjerit.

Golam melompat dan membawa gadis itu lari sambil terkekeh senang.

"Thian Liong, tolong gadis itu, biar kuhajar keledai gundul ini!"

Kata Han.

"Akan tetapi dia lihai sekali, Han!"

"Dulu aku pernah menghajarnya, jangan khawatir. Cepat kejar buaya darat yang melarikan Siu Cen itu!"

Thian Liong tidak membantah lagi dan dia sudah berkelebat cepat melakukan pengejaran terhadap Golam yang membawa lari Siu Cen.

Sementara itu, pendeta Lhama itu terkejut ketika tiba-tiba ada bayangan berkelebat di depannya dan tahu-tahu di depannya telah berdiri seorang pemuda yang amat tampan.

"Goat Kong Lhama, engkau memang seorang yang jahat dan kejam!"

"Omitohud! Engkau sudah mengenal nama pinceng (aku)? Siapakah engkau? Siapa namamu, orang muda?"

Tanya Goat Kong Lhama dengan heran.

Dia adalah seorang pendeta Lhama dari Tibet yang namanya asing di wilayah Kerajaan Kin maupun Kerajaan Sung Selatan.

Kemunculannya ini baru yang kedua kalinya.

Dulu, kurang lebih dua tahun yang lalu, dia pun pernah keluar dari Tibet untuk mencari Jit Kong Lhama, seorang tokoh Lhama yang dianggap murtad dan dicari oleh para Lhama di Tibet.

Goat Kong Lhama menjadi utusan para Lhama untuk mencari dan menangkap Jit Kong Lhama.

Ketika itu, Jit Kong Lhama yang menjadi guru Han Bi Lan, sudah meninggalkan wilayah Sung dan kembali ke Tibet.

Goat Kong Lhama tidak dapat bertemu dengan orang yang dicarinya dan dia bertemu dengan Bi Lan yang membela Kun-lun-pai karena Goat Kong Lhama menuduh Kun-lun-pai menyembunyikan Jit Kong Lhama.

Terjadi perkelahian dan Bi Lan dapat mengalahkan Goat Kong Lhama dengan ilmu silat Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat yang ia pelajari dari kitab yang ia curi dari Thian Liong.

Setelah Goat Kong Lhama kalah, dia diberi tahu bahwa Jit Kong Lhama sudah kembali ke Tibet dan dia pun lalu kembali ke barat.

"Tidak perlu engkau tahu siapa aku!"

Jawab Han dengan ketus.

"Sekarang katakan, di mana adanya Jit Kong Lhama?"

Goat Kong Lhama membelalakkan matanya.

"Mengapa engkau menanyakan Jit Kong Lhama? Apa hubunganmu dengan dia?"

"Tak perlu engkau tahu. Katakan saja di mana dia!"

"Omitohud"", ha-ha-ha, orang muda, engkau ingin mengetahui di mana adanya Jit Kong Lhama? Sebentar lagi engkau akan dapat bertemu dengan dia di neraka!"

Han atau Bi Lan terkejut.

"Apa...... apa maksudmu?"

"Ha-ha, kami sudah membunuh murid murtad itu, dan sekarang engkau akan menyusulnya!"

Tiba-tiba Goat Kong Lhama sudah menyerangnya dengan tusukan pedangnya, pedang yang masih bernoda darah dari dada Ouwyang Kun tadi.

Akan tetapi mendengar bahwa gurunya, Jit Kong Lhama dibunuh oleh pendeta Lhama ini, Han sudah menjadi marah sekali dan dengan cepat dia sudah miringkan tubuhnya dan gerakannya menjadi kaku dan aneh karena dia sudah mainkan ilmu silat aneh Sin-ciang Tin-thian yang dia pelajari dari Si Mayat Hidup.

Biarpun gerakannya kaku sekali, akan tetapi dengan tangan telanjang dia berani menangkis pedang Goat Kong Lhama.

"Cringgg......! Tranggg""!!"

Goat Kong Lhama terkejut bukan main ketika pedangnya terpental dan hampir terlepas dari pegangannya.

Hampir dia tidak dapat percaya.

Bagaimana mungkin pemuda itu kuat menangkis pedangnya?

Dia sendiri memiliki kekebalan dan berani menangkis senjata tajam lawan, akan tetapi bukan pedangnya ini!

Pedangnya adalah sebatang pedang pusaka yang dapat memotong sepotong besi baja seperti memotong kayu lunak saja.

Dan gerakan pemuda itu mengerikan!

Bukan seperti orang bergerak dalam ilmu silat, melainkan seperti setan atau mayat berjalan, kaku dan menyeramkan!

Goat Kong Lhama mengeluarkan seluruh jurus simpanannya dan mengerahkan seluruh tenaganya karena dia maklum betapa lihai lawannya yang masih muda itu.

Padahal selama ini dia sudah mem-perdalam ilmu-ilmunya.

Bagaimana mungkin dia yang bersenjatakan sebatang pedang pusaka ampuh tidak akan dapat mengalahkan seorang pemuda yang bertangan kosong?

Saking penasaran, pendeta Lhama itu menyerang dengan hebat, mengamuk sambil mulutnya mengeluarkan suara bacaan mantram yang dapat mendatangkan kekuatan sihir yang ampuh.

Namun, Han agaknya tidak terpengaruh dan terjadilah pertandingan mati-matian karena sambaran tangan dan kaki Han juga merupakan cengkeraman-cengkeraman maut bagi lawannya.

Sementara itu, Thian Liong sudah berlari cepat mengejar Golam yang melarikan diri sambil memondong Ouwyang Siu Cen.

Orang Mongol ini lari ke arah telaga dan dia melepaskan tali sebuah perahu, agaknya hendak melarikan diri dengan perahu itu.

Akan tetapi pada saat itu terdengar bentakan di belakangnya.

"Lepaskan gadis itu!"

Golam cepat membalikkan tubuhnya, lengan kiri masih memanggul tubuh Siu Cen di atas pundaknya dan tangan kanannya yang besar dan panjang itu menyambar ke arah Thian Liong.

Tamparan itu kuat sekali.

Akan tetapi Thian Liong yang mengkhawatirkan keselamatan gadis itu, takut kalau dia menggunakan kekerasan Siu Cen akan terluka, tidak menangkis melainkan mengelak dan secepat kilat tangan kirinya menotok ke arah pundak kiri Golam.

"Tukk!!"

Golam mengeluh karena tiba-tiba lengan kirinya terasa lumpuh dan sebelum dia dapat menguasai dirinya, tahu-tahu tubuh Siu Cen sudah terlepas dari pondongannya.

Dia menjadi marah bukan main, mengerahkan seluruh tenaganya sehingga kelumpuhan sementara pada lengan kirinya itu menghilang.

Dengan suara menggereng seperti seekor srigala, dia menubruk ke arah Thian Liong.

Akan tetapi pemuda yang masih memondong tubuh Siu Cen yang dirampasnya tadi memutar tubuh setengah lingkaran dan kaki kanannya mencuat dengan amat cepat dan kuatnya, merupakan sebuah tendangan kilat.

"Syuuuuttt...... desss!"

Tubuh Golam terlempar jauh dan jatuh ke dalam telaga.

Air muncrat dan Golam yang terkejut dan merasa dadanya nyeri dan napasnya sesak maklum bahwa pemuda itu lihai bukan main.

Dia tidak akan menang melawan pemuda itu, maka takut kalau dikejar dan diserang, dia lalu menyelam ke dalam air.

Akan tetapi Thian Liong sama sekali tidak mempunyai niat untuk mengejar.

Dia hanya memandang ketika orang Mongol itu muncul di permukaan air, sudah jauh di tengah lalu berenang dengan cepat ke arah menjauh.

Lalu dengan hati-hati Thian Liong menurunkan tubuh Siu Cen di atas tanah dan menggunakan jari tangannya membuka totokan yang dilakukan Golam atas diri gadis itu.

Begitu terbebas dari totokan, Siu Cen bangkit berdiri, akan tetapi ia terhuyung dan mengeluh.

"Ayah.......!"

Tiba-tiba Ciang Lun, pemuda yang tadi menjadi orang pertama memasuki sayembara, dan yang tadi ikut mencoba mengejar ketika melihat Siu Cen dilarikan Golam, sudah mendekati gadis itu dan memegang lengannya agar tidak jatuh.

"Nona, tenangkan hatimu......"

Setelah Siu Cen tidak terhuyung lagi, Ciang Lun melepaskan pegangannya.

"Ahh...... bagaimana dengan Ayahku......?"

Ia melihat Thian Liong yang tadi menolongnya sudah berlari cepat ke tempat dilakukan pi-bu tadi.

"Ayahmu terluka oleh pendeta jahat itu, akan tetapi sekarang seorang pemuda sedang berkelahi dengannya."

"Ayah......!"

Siu Cen menoleh ke arah tempat tadi lalu ia lari sambil terisak-isak.

Ciang Lun juga lari mengikuti.

Perkelahian antara Goat Kong Lhama dan Han berlangsung seru.

Pendeta Lhama itu makin terkejut ketika menghadapi serangan-serangan aneh dari Han, dengan gerakan kaku namun setiap gerakan itu mengandung tenaga sin-kang yang luar biasa.

Di lain pihak, Han atau Bi Lan sengaja mengeluarkan jurus-jurus andalannya karena ia mengambil keputusan untuk membunuh pendeta Lhama yang tadi mengatakan telah membunuh gurunya, yaitu Jit Kong Lhama.

Selain itu, juga dia tadi melihat betapa jahat dan kejamnya Goat Kong Lhama yang membantu Golam dengan membunuh Ouwyang Kun dan membiarkan orang Mongol itu menculik Siu Cen.

"Mampuslah""!!"

Goat Kong Lhama menyerang dengan dahsyat sekali, menusukkan pedangnya ke arah dada Han sambil mengeluarkan teriakan menggelegar.

Bagi lawan yang sinkangnya tidak kuat, baru menghadapi serangan suara menggelegar ini saja sudah dapat menewaskannya atau setidaknya melumpuhkannya.

Akan tetapi Han tidak terpengaruh sama sekali.

Bahkan ketika pedang itu meluncur ke arah dadanya, dia hanya miringkan tubuhnya sedikit saja namun cukup untuk menghindarkan diri.

Pedang itu meluncur dekat sekali dengan tepi dada sebelah kiri.

Han membarengi tusukan pedang itu dengan hantaman tangan kanannya, dengan gerakan kaku, lengannya menusuk seperti sebatang kayu.

Gerakannya aneh namun tepat sekali karena pada saat itu Goat Kong Lhama sedang mencurahkan seluruh perhatiannya kepada pedang yang hampir menusuk dada pemuda itu.

"Han, jangan......!"

Tiba-tiba terdengar Thian Liong yang baru datang di tempat itu.

Dia terkejut melihat serangan Han kepada pendeta Lhama itu karena dia melihat bahwa serangan itu adalah pukulan maut.

Dia dapat melihat sinar meluncur dari tangan Han yang memukul.

Akan tetapi Han tidak menarik kembali atau menahan pukulannya.

Bahkan dia menambahkan tenaga.

"Wuuuuttt...... blarrr......!"

Tubuh Gwat Kong Lama terpental lalu terbanting, terjengkang di atas tanah dan tidak mampu bergerak lagi karena dia tewas seketika terkena pukulan ilmu dari Si Mayat Hidup! "Han......!"

Thian Liong menghampiri dan menengur dengan lembut namun nada suaranya mengandung penyesalan.

"Mengapa engkau membunuhnya?"

"Mengapa aku membunuhnya? Tentu saja aku membunuhnya. Dia jahat dan kejam. Tidakkah engkau melihat sendiri betapa dia membantu Golam menculik Siu Cen dan dia membunuh Ouwyang Kun? Mengapa masih bertanya dan suaramu mencela kalau aku membunuh orang kejam ini?"

"Han, engkau menganggap dia kejam karena dia membunuh Ouwyang Kun, akan tetapi engkau sendiri membunuh Goat Kong Lhama! Lalu apa bedanya dengan dia dan engkau yang sama-sama menjadi pembunuh?"

"Thian Liong, mengapa engkau seolah membela dia?"

"Bukan membela, Han. Akan tetapi, setidaknya dia harus ditanya dulu mengapa dia membunuh Ouwyang Kun. Ketahuilah, seperti sudah kukatakan tadi, Ouwyang Kun adalah murid datuk besar yang sesat dari barat, jadi kita belum tahu ada urusan apa di antara mereka dan siapa tahu sebagai murid See Ong, Ouwyang Kun itu juga bukan orang baik-baik."

"Dan engkau tidak mengerti, Thian Liong. Aku membunuh Goat Kong Lhama bukan hanya karena dia membunuh Ouwyang Kun, akan tetapi lebih dari itu, dia telah membunuh guruku, Jit Kong Lhama! Aku membalas dendam atas kematian Suhu di tangannya."

Thian Liong mengangguk-angguk dan menghela napas panjang.

Dia teringat akan wejangan gurunya, Tiong Lee Cin-jin bahwa dalam dunia persilatan terdapat banyak permusuhan, bunuh membunuh karena saling mendendam.

Bunuh membunuh karena dendam ini tidak akan ada habisnya.

Yang kalah mendendam lalu berusaha membalas, kalau dapat membunuh lawannya, maka lawan itu pun akan berganti menjadi pendendam dan berusaha membunuh musuhnya.

Demikian tiada habisnya.

Terhentinya dendam mendendam ini berada di tangan kita sendiri, kalau kita menghentikan mata rantai dendam itu ketika tiba pada bagian kita, maka rantai dendam mendendam itu menjadi putus.

Bi Lan adalah seorang manusia biasa, apalagi ia memang memiliki watak yang keras.

Tidak terlalu aneh kalau ia mendendam kepada Goat Kong Lhama yang telah membunuh gurunya.

Apalagi gadis itu melihat betapa jahat dan kejamnya pendeta Lhama itu membunuh Ouwyang Kun dan membantu Golam menculik Siu Cen.

Mungkin juga kematiannya itu merupakan hukuman sebagai buah kejahatannya dan jatuhnya hukuman itu melalui diri Bi Lan.

Terdengar suara jerit tangis.

Ketika Han dan Thian Liong menengok, ternyata yang menangis adalah Ouwyang Siu Cen yang berlutut dekat jenazah ayahnya.

Ciang Lun berlutut di dekatnya dan pemuda ini mengucapkan kata-kata menghibur.

"Sudahlah, Nona, harap tenangkan hatimu. Ayahmu telah meninggal dunia, tidak ada gunanya ditangisi lagi. Pula, pembunuhnya juga sudah menerima hukumannya dan terbunuh. Lebih baik mengurus jenazah ayahmu, kasihan kalau dibiarkan menggeletak di sini."

Siu Cen memandang ke arah mayat Goat Kong Lhama yang menggeletak tidak jauh dari situ, kemudian ia memandang jenazah ayahnya dan berkata lirih, suaranya parau karena tangis.

"Akan tetapi...... bagaimana mengurusnya......? Aku...... aku tidak mempunyai keluarga atau kenalan di sini......"

"Nona Ouwyang, biarlah aku yang akan mengurus, dari upacara persembahyangan sampai pemakaman selesai. Aku yakin Ayah Ibuku akan membantu dengan rela dan senang hati. Ketahuilah, Ayahku adalah seorang guru silat yang dikenal di kota ini. Mari, Nona, biar kuatur pengangkutan jenazah Ayahmu ke rumah kami."

"Nanti dulu, Twako (Kakak). Aku harus mengucapkan terima kasih lebih dulu kepada dua orang pemuda yang tadi membela kami."

Akan tetapi ketika Siu Cen dan Ciang Lun bangkit dan mencari-cari, Han dan Thian Liong telah pergi meninggalkan tempat itu.

Ciang Lun lalu mendatangkan sebuah kereta untuk mengangkut jenazah Ouwyang Kun ke rumah orang tuanya.

Siu Cen yang tadinya merasa rikuh sekali harus mengganggu keluarga Ciang yang sama sekali tidak mempunyai hubungan dengannya, menjadi lega setelah bertemu dengan Ciang-kauwsu (Guru Silat Ciang) dan isterinya yang menyambutnya dengan ramah sekali.

Kiranya ayah dan ibu Ciang Lun merasa setuju sepenuhnya ketika Ciang Lun menceritakan hubungannya dengan Siu Cen dan betapa dalam pi-bu (adu silat) tadi dia telah diterima sebagai jodoh gadis itu.

Jenazah Ouwyang Kun lalu diurus sebaik-baiknya sampai selesai dimakamkan.

Tentu saja Siu Cen sangat berterima kasih dan karena memang sejak pi-bu tadi ia sudah tertarik dan suka kepada Ciang Lun, maka ia setuju ketika orang tua Ciang Lun dengan resmi mengangkatnya menjadi mantu.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Thian Liong dan Bi Lan atau yang kini menyamar sebagai seorang pemuda dengan nama Han, meninggalkan rumah penginapan lalu melanjutkan perjalanan keluar dari kota Leng-an.

Mereka melangkah perlahan-lahan di atas jalan umum yang menuju utara.

Pagi itu masih sepi dan mereka berjalan sambil bercakap-cakap, membicarakan peristiwa yang mereka alami kemarin di dekat telaga.

"Engkau agaknya sudah mengenal pendeta Lhama itu, Han. Bagaimana engkau bertemu dengannya?"

"Nanti dulu. Engkau juga agaknya mengenal See Ong, datuk besar yang menjadi guru Ouwyang Kun itu. Ceritakan dulu tentang pertemuanmu dengan datuk itu, baru nanti giliranku bercerita."

Thian Liong lalu menceritakan pengalamannya ketika dia mengintai pertemuan antara Empat Datuk Besar di Pulau Iblis yang terdapat di tengah Telaga Barat.

"Hemm, mau apa Empat Datuk Besar itu berkumpul di sana?"

"Mereka itu secara bersama menggembleng seorang murid sehingga murid itu kini menjadi seorang yang lihai dan berbahaya sekali. Ilmu-ilmu dari Empat Datuk Besar itu telah digabung. Dia menjadi luar biasa kuatnya sehingga ketika mereka berempat menguji, mereka tidak mampu mengalahkan pemuda itu."

"Wah, hebat pemuda itu! Siapa dia?"

"Namanya Can Kok dan dia adalah keponakan dari Tung-sai Kui Tong, datuk sesat dari timur, majikan Pulau Udang. Demikianlah, Han, pertemuanku dengan Empat Datuk Besar itu, atau lebih tepat bukan pertemuan karena ketika mereka muncul di pulau itu, aku hanya mengintai sambil bersembunyi. Sekarang ceritakan bagaimana engkau dapat mengenal pendeta Lhama tadi."

Han tersenyum, lalu tiba-tiba cemberut karena teringat akan pesan Thian Liong agar dia jangan tersenyum yang akan memperlihatkan kecantikannya sebagai wanita. Melihat ini, Thian Liong tertawa.

"Ha-ha-ha, kalau tidak ada orang lain yang melihatnya, tentu saja engkau boleh tersenyum, bahkan senyumlah yang banyak karena aku senang melihatnya!"

"Tidak perlu memuji! Engkau mau mendengarkan atau tidak?"

"Ya-ya, maafkan aku, Han. Ceritakanlah, aku mendengarkan."

"Ketika itu aku pergi ke Kun-lun-pai untuk bertemu dengan pimpinan Kun-lun-pai. Di sana aku melihat Goat Kong Lhama sedang mengacau dan menantang para pimpinan Kun-lun-pai. Beberapa orang pemimpin Kun-lun-pai telah dikaIahkan. Aku lalu membela Kun-Iun-pai dan setelah bertanding, aku berhasil mengalahkan dia berkat...... berkat perbuatanku dulu mencuri kitab dari buntalan pakaianmu itu!"

"Eh? Bagaimana bisa demikian?"

"Ketika aku mendapatkan kitab Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat itu, aku lalu mempelajarinya dan tekun berlatih di bawah bimbingan guruku, Jit Kong Lhama. Setelah aku menguasai ilmu itu, aku lalu pergi ke Kun-lun-pai dengan niat mengembalikan kitab itu kepada pemiliknya. Nah, aku melihat Goat Kong Lhama mengacau di sana. Dia utusan para Lhama di Tibet untuk mencari guruku, Jit Kong Lhama yang dianggap murtad. Nah, dengan ilmu yang kucuri dari Kun-lun-pai itu aku mengalahkan Goat Kong Lhama. Para pimpinan Kun-lun-pai memaafkan aku, menerima kembali kitab itu bahkan mengakui aku sebagai murid Kun-lun-pai. Dan tadi ketika aku bicara dengan Goat Kong Lhama dia mengaku bahwa dia dan para Lhama telah membunuh guruku."

"Hemm, kalau begitu pantas engkau mendendam kepadanya,"

Kata Thian Liong sambil mengangguk-angguk.

"Apa maunya Empat Datuk Besar itu bergabung dan menurunkan ilmu mereka kepada pemuda bernama Can Kok itu? Engkau belum menceritakan hal itu."

"Mereka mempunyai niat yang keji, yaitu agar murid mereka yang digembleng secara khusus itu dapat mewakili mereka untuk membunuh guruku, Tiong Lee Cin-jin."

"Hemm, mengapa harus bersusah payah mendidik murid itu yang memakan waktu lama? Mengapa tidak langsung saja mereka melaksanakan niat mereka itu?"

Thian Liong tersenyum.

"Mereka semua pernah dikalahkan Suhu dan mereka tidak berani. Karena itu, masing-masing membuang waktu dua tahun untuk bergantian melatih Can Kok dan kukira, dengan adanya Can Kok tentu saja mereka akan menjadi kuat sekali dan keselamatan Suhu terancam. Karena itu aku hendak menghadap Suhu dan menceritakan tentang bahaya yang mengancamnya itu."

"Hemm, engkau sudah menceritakan hal itu kepadaku. Kukira tidak perlu dipusingkan benar. Kalau tingkat kepandaian para Datuk Besar itu hanya seperti itu, melihat tingkat Ouwyang Kun murid seorang dari mereka, apa yang perlu ditakuti? Tiong Lee Cin-jin pasti akan dapat mengalahkan mereka. Aku mendengar bahwa Tiong Lee Cin-jin memiliki kepandaian seperti dewa! Guruku, Jit Kong Lhama sendiri yang memuji-mujinya."

Thian Liong menggeleng kepala dan menghela napas panjang.

"Engkau tidak mengerti, Han. Suhu Tiong Lee Cin-jin sudah semakin tua dan aku mengetahui benar wataknya. Dia tidak suka bermusuhan dan kalau para datuk ditambah Can Kok dan murid-murid mereka yang lain, Suhu pasti mengalahkan dan tidak mau membunuh. Betapapun juga, menghadapi pengeroyokan mereka, apalagi dengan adanya Can Kok yang lihai, Suhu yang sudah tua sukar untuk dapat mengatasi mereka."

Thian Liong memandang wajah Han dan melanjutkan.

"Karena itu, sekali lagi aku minta, maukah engkau membantu suhu untuk menghadapi Empat Datuk Besar dan murid-murid mereka itu?"

"Ah, apa yang dapat kubantukan? Kepandaianku masih rendah......"

"Wah, kalau tingkat ilmu silatmu masih rendah, lalu yang bagaimana tingkat yang tinggi itu? Kepandaianmu tidak rendah, Han, tetapi engkaulah yang merendah. Aku kagum sekali padamu. Selain engkau menguasai Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat dari Kun-lun-pai, engkau juga kebal terhadap serangan sihir seperti yang kulihat ketika engkau melawan Goat Kong Lhama tadi. Selain itu...... aku masih terkejut, terheran, dan kagum sekali melihat gerakanmu ketika menyerang tadi. Gerakanmu begitu aneh, kaku dan".. menyeramkan. Akan tetapi daya serangannya luar biasa hebatnya. Terus terang saja, karena mendapat bimbingan Suhu Tiong Lee Cin-jin, aku mengenal hampir semua dasar gerakan ilmu silat dari bermacam aliran. Akan tetapi melihat gerakanmu tadi, aku sama sekali belum pernah melihat atau mendengarnya. Kalau engkau tidak ingin merahasiakannya, ingin aku mengetahui, dari mana engkau mempelajari ilmu aneh menyeramkan dan amat lihai itu?"

Gadis yang menyamar sebagai pemuda itu termenung. Dia terbayang dan terkenang masa lalu ketika menjadi murid Si Mayat Hidup. Selama satu tahun ia digembleng dengan ilmu silat "mayat hidup"

Yang aneh itu dan Heng-si Ciauw-jiok (Mayat Hidup Berjalan) itu memesan agar setelah belajar setahun dia harus mengubur gurunya itu hidup-hidup!

Akan tetapi dia tidak melakukan pesan ini dan setelah selesai belajar selama setahun, dia kabur dan pergi tanpa pamit.

Kini Thian Liong bertanya tentang gurunya itu.

Dia sudah percaya betul kepada pemuda itu dan mengharapkan dapat bekerja sama dengannya.

"Aku mau menceritakan, akan tetapi engkau harus berjanji untuk merahasiakan hal ini, tidak mengatakan kepada siapapun juga."

"Aku berjanji!"

"Sumpah?"

"Aku bersumpah tidak akan menceritakan rahasiamu itu kepada siapapun juga!"

"Eh, sumpah macam apa itu?"

Han mengomel.

"Habis bagaimana?"

"Engkau harus bersumpah bahwa kalau engkau melanggar sumpahmu, akan terjadi sesuatu padamu."

"Oo, begitu? Baiklah, aku bersumpah tidak akan menceritakan rahasiamu kepada siapapun juga, kalau aku melanggar sumpahku ini biarlah....... selamanya aku tidak akan berpisah lagi denganmu!"

"Wah, enak betul kamu!"

"Han, kau anggap bahwa kalau kita berkumpul terus takkan pernah berpisah merupakan hal yang enak dan menyenangkan?"

"Kubilang kau yang enak dan senang."

"Dan engkau sendiri? Tidak senangkah?"

"Sudahlah, jangan macam-macam. Engkau harus bersumpah bahwa kalau engkau melanggar, engkau akan mengalami hal yang tidak enak, seperti misalnya....... tidak bisa tidur dan tidak bisa makan!"

"Wah, kau biarkan aku ngantuk dan kelaparan?"

"Jangan bergurau, cepat bersumpah atau aku tidak akan sudi menceritakannya kepadamu."

"Baiklah, Han. Nah, aku mengulang sumpahku. Kalau aku menceritakan rahasiamu kepada orang lain, biarlah aku tidak bisa tidur kalau makan dan tidak bisa makan kalau tidur!"

Sejenak Han mengerutkan alisnya, bingung mendengar kata-kata yang dibolak-balik itu. Akan tetapi ketika akhirnya dia mengerti, dia melotot dan marah-marah.

"Enak saja kau! Sumpah macam apa itu? Tentu saja kalau tidur tidak bisa makan dan bagaimana mungkin makan sambil tidur? Engkau mau mempermainkan aku, ya?"

"Maaf, Han, terus terang saja aku memang belum pernah bersumpah, jadi tidak mengerti bagaimana seharusnya."

"Katakan kalau engkau melanggar, kepalamu membengkak, rambutmu rontok gundul, telingamu besar kecil, matamu juling, hidungmu pesek rata, mulutmu sumbing, perutmu busung"""

"Cukup, jangan panjang-panjang, repot aku mengingatnya. Baiklah, kalau aku melanggar, kepalaku bengkak, rambutku rontok, telingaku besar, mataku juling, hidungku pesek, mulut sumbing, perut busung, akan tetapi bertambah tampan!"

"Dasar brengsek! Aku tidak mau menceritakan!"

"Aih, Han, begitu saja marah? Sudahlah, biar aku mohon ampun sebanyaknya kepadamu."

Thian Liong merangkap kedua tangan depan dada dan memberi hormat berulang-ulang. Han tertawa melihat ulah ini.

"Sudah, sekali ini kumaafkan. Awas lain kali kalau berani mempermainkan aku. Nah, dengarlah, guruku yang kedua itu berjuluk Heng-si Ciauw-jiok."

Sekali ini Thian Liong tidak main-main lagi. Dia malah terbelalak, kaget dan heran.

"Ah, Heng-si Ciauw-jiok? Suhuku pernah menyebut nama itu yang kabarnya telah tewas dikeroyok banyak datuk lain."

"Benar, dialah guruku kedua yang membimbingku selama satu tahun. Suhu Jit Kong Lhama juga pernah bercerita kepadaku seperti itu. Akan tetapi kenyataannya dia masih hidup biarpun lebih pantas kalau disebut mayat hidup. Dia pesan agar setelah aku belajar ilmu selama setahun, aku harus mengubur dia hidup-hidup! Tentu saja aku tidak mau melaku-kan perbuatan kejam itu, apalagi selama setahun dia menjadi guruku! Maka, setelah belajar setahun lamanya, aku lalu meninggalkannya tanpa pamit."

"Wah, hebat sekali! Pantas engkau begitu lihai, Han!"

"Apanya yang lihai? Buktinya aku masih tidak mampu mengalahkanmu. Padahal aku belajar mati-matian dengan niat untuk mengalahkanmu!"

Thian Liong menghela napas panjang.

"Aku masih ingat semuanya itu, Han, dan selama ini aku selalu menyesali perbuatanku terhadap dirimu. Masih terus terngiang dalam telingaku kata-katamu bahwa engkau akan membalas penghinaanku kepadamu. Akan tetapi mengapa engkau tidak membalas sepenuhnya, baru menampar beberapa kali saja sudah berhenti, bahkan engkau menyelamatkan aku ketika aku diserang Pak-sian dan muridnya?"

"Karena....... karena....... ah, sudahlah! Semua itu merupakan sebab akibat yang sambung menyambung dan ruwet. Aku ingin sekali memperdalam ilmu, maka aku mencuri kitab Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat darimu. Sebetulnya aku menyesal maka melihat engkau dikeroyok orang-orang Siauw-lim dan Kun-lun, aku membantumu. Kemudian engkau membalas dan menampari aku. Aku merasa sakit hati, lalu memperdalam ilmu lagi untuk membalasmu. Kita saling bertemu dan engkau mengalah sehingga aku pun setengah hati membalas tamparanmu. Lalu muncul Pak-sian dan muridnya menyerang engkau yang tak berdaya. Tentu saja aku membelamu! Semua itu wajar, kecuali kalau engkau menganggap aku orang sesat seperti Empat Datuk Besar itu."

Thian Liong mengangguk-angguk.

"Aku pun merasa menyesal bukan main setelah dulu menamparmu dan baru aku ketahui bahwa gadis baju merah yang mencuri kitabku itu adalah Han Bi Lan, puteri dari Paman Han Si Tiong dan Bibi Liang Hong Yi yang kuhormati. Kalau aku tahu sebelumnya, tidak mungkin aku berani melakukan hal itu kepadamu."

"Sudahlah, kita lupakan saja semua itu. Kita sama-sama merasa bersalah, ya sudahlah, kejadian itu menjadi pelajaran bagi kita."

"Engkau benar, Han. Akan tetapi, bagiku, mendapatkan maaf darimu saja masih belum cukup. Aku ingin sekali mengakui kesalahanku itu kepada Paman Han Si Tiong dan Bibi Liang Hong Yi. Akan tetapi....... sayang Ayahmu terbunuh orang dan engkau tidak mau mengatakan di mana Ibumu berada."

"Sudah kukatakan, cukup dan jangan bicarakan lagi!"

"Maafkan aku. Engkau benar, membicarakannya hanya akan membangkitkan kenangan sedih tentang kematian Ayahmu."

Kedua orang muda itu melakukan perjalanan ke barat.

Tujuan perjalanan mereka adalah Pegunungan Gobi karena Thian Liong ingin menghadap gurunya, Tiong Lee Cin-jin yang tinggal di Puncak Pelangi, satu di antara puncak-puncak Pegunungan Gobi-san.

Namun, di sepanjang perjalanan mereka mencari keterangan tentang keberadaan Bouw Kiang dan Bong Siu Lan, dua orang murid Ouw Kan yang telah menewaskan Han Si Tiong.

Mereka melakukan perjalanan tanpa mengenal lelah, namun atas nasihat Thian Liong, mereka melakukan perjalanan secara santai karena selain hal ini akan memudahkan mereka mencari keterangan tentang dua orang murid Ouw Kan itu, juga tidak akan terlalu banyak menguras tenaga.

Kalau malam tiba, mereka menginap di rumah penginapan sebuah kota, dan kalau terpaksa perjalanan tertunda waktu malam selagi mereka berada di hutan, mereka pun bermalam di tengah hutan.

Selama melakukan perjalanan ini, keduanya saling tertarik.

Han Bi Lan atau Han melihat kenyataan bahwa Souw Thian Liong adalah seorang pemuda yang sederhana, rendah hati, lembut dan baik budi.

Sebaliknya Thian Liong juga melihat bahwa Han Bi Lan adalah seorang gadis yang biarpun wataknya keras namun memiliki jiwa pendekar yang gagah.

adil, pembela kebenaran dan.......

Entah mengapa, segala gerak geriknya, cara ia bicara, memandang, semua itu tampak amat menarik hati, membuat dia terkagum-kagum dan terpesona.

Dalam lubuk hatinya Thian Liong membandingkan gadis ini dengan para gadis lain yang pernah dekat dengannya seperti Pek Hong Niocu atau Puteri Moguhai, Ang Hwa Sian-li atau Thio Siang In, dan banyak lagi gadis lain yang pernah bertemu dengannya.

Pada suatu siang mereka tiba di sebuah hutan di lereng bukit yang tidak terlalu besar.

Thian Liong mengerling ke samping dan melihat gadis yang menyamar pria itu melangkah dengan tegap di sampingnya.

Caping lebar dan mantel longgar yang menutup kepala dan badannya, menyembunyikan keaslian dirinya sebagai wanita.

Thian Liong menghela napas panjang.

Mengapa dia tertarik dan berpikir yang bukan-bukan terhadap Bi Lan?

Dia mencela pikirannya sendiri.

Dia tahu bahwa Han Bi Lan oleh orang tuanya telah dijodohkan dengan Kwee Cun Ki pemuda yang gagah dan tampan, putera Panglima Kwee yang terkenal, setia kepada Kaisar, bijaksana dan jujur itu!

Dia harus membuang jauh-jauh khayalan hampa itu!

"Apa yang kaukatakan?"

Tiba-tiba Thian Liong seperti terseret turun ke alam kenyataan dari lamunannya tadi. Dia menoleh kepada Han dan balas bertanya.

"Mengatakan apa? Aku tidak bicara"..."

"Hemm, aku mendengar engkau tadi berkata-kata dengan bisikan."

Thian Liong terkejut.

Jangan-jangan jalan pikirannya dalam lamunan tadi terucapkan olehnya!

"Oo.......

itu?

Aku......

aku tadi hanya bicara kepada diri sendiri bahwa.......

perutku lapar sekali......."

"Gila!"

Han tertawa.

"Perut lapar mengapa bicara kepada diri sendiri? Ka-takan saja dan kita dapat mencari makanan untuk perutmu yang gembul itu!"

"Ah, aku malu untuk bilang bahwa perutku lapar."

"Nah itu sudah bilang! Mengapa tidak malu?"

"Ini namanya sudah terlanjur ketahuan!"

Mereka berdua tertawa.

Akan tetapi suara tawa itu terhenti ketika tiba-tiba belasan orang muncul di hadapan mereka.

Agaknya mereka itu tadi bersembunyi dan ketika Thian Liong dan Han tiba di situ, mereka berlompatan keluar dari balik semak dan pohon.

Semua ada tigabelas orang, dipimpin seorang laki-laki berusia empatpuluh tahun lebih yang tinggi besar dan mukanya hitam.

Laki-laki itu memegang sepasang golok besar, sedangkan duabelas orang kawannya semua memegang sebatang golok!

Melihat penampilan mereka, mudah diduga bahwa mereka adalah golongan penjahat, mungkin perampok.

Han tersenyum kepada Thian Liong.

"Nah, ini sudah datang para pelayan yang akan mencarikan makan untuk perutmu!"

Thian Liong tersenyum.

Gadis ini memang pemberani dan di balik kekerasan hatinya, ia itu sebetulnya periang, jenaka dan nakal walaupun selama dalam perjalanan dia sering melihat Han bermuram durja tanpa mau mengatakan apa yang merisaukan hatinya.

Kepala perampok itu tertawa bergelak melihat dua orang pemuda yang tampaknya lemah itu.

Dia tidak dapat mendengar jelas ucapan Han kepada Thian Liong karena Han hanya berbisik saja.

"Hoa-ha-ha, dua ekor anak ayam ini tidak banyak bulunya! Akan tetapi lumayan, dari pada ini hari kosong tidak ada pemasukan sama sekali!"

"Twako, siapa tahu dalam buntalan mereka itu terdapat apa-apa yang berharga!"

Kata seorang di antara para anak buah perampok.

"Ha, benar juga! Hei, kalian dua orang bocah! Cepat tanggalkan buntalan dari pundakmu dan juga tanggalkan pakaian luar kalian dan sepatu kalian di sini. Barulah kami melepaskan dan membolehkan kalian melanjutkan perjalanan!"

"Eh, muka hitam buruk kaya lutung! Kalau kami tidak mau, bagaimana?"

Muka yang sudah hitam itu menjadi semakin hitam, mungkin kalau bagi orang lain yang kulit mukanya agak bersih akan tampak merah saking marahnya mendengar ucapan Han yang amat merendahkan dan mengejek itu.

Duabelas orang temannya juga menjadi marah dan juga heran merasa heran sekali ada orang muda lemah berani bicara sedemikian kurang ajarnya kepada pemimpin mereka.

"Bangsat kurang ajar kamu! Kawan-kawan, tangkap dia! Kita gantung di pohon!"

Si Muka Hitam membentak dan memerintahkan kawan-kawannya.

Karena mereka juga marah, duabelas orang anak buah perampok itu lalu mengepung Han yang menjauhkan diri dari Thian Liong sehingga yang dikepung hanya dia.

Thian Liong sendiri sambil tersenyum lalu duduk di atas akar pohon yang tersembul di permukaan tanah dan menonton.

Orang-orang jahat itu mencari penyakit, pikirnya.

Dan dia hendak melihat apakah nasihat-nasihatnya diturut oleh Han, yaitu bahwa amat tidak baik membunuh orang.

Duabelas orang itu dengan wajah bengis, mengancam dan menyeringai menakutkan, kini serentak maju menjulurkan tangan-tangan yang berotot dan besar untuk menangkap pemuda itu.

Mereka hendak menangkap Han dan menggantungnya di pohon seperti yang diperintahkan pemimpin mereka tadi.

Si Muka Hitam berdiri bertolak pinggang sambil tertawa, ingin segera melihat pemuda yang menghinanya tadi tergantung sampai mati di pohon.

Akan tetapi mukanya yang menyeringai itu berubah.

Matanya terbelalak dan mulutnya ternganga ketika dia melihat betapa duabelas orang anak buahnya yang seolah berebut hendak menangkap pemuda itu, tiba-tiba berpelantingan ke belakang sambil mengeluarkan seruan-seruan kaget.

Mereka semua terjengkang dan terbanting ke atas tanah.

Kini tampak pemuda yang akan ditangkap dan digantung itu berdiri tegak dengan kedua lengan dilipat di depan dada, memandang kepadanya sambil tersenyum mengejek.

Melihat ini, selain kaget dan heran, kepala perampok itu juga menjadi marah dan penasaran sekali.

Karena tadi tidak melihat bagaimana anak buahnya dapat berpelantingan seperti itu, dia berseru nyaring.

"Bunuh dia! Bunuh!!"

Duabelas orang itu memang penasaran juga.

Tadi ketika mereka hendak menangkap, pemuda itu hanya berputar dan tahu-tahu mereka terjengkang seolah diterpa angin yang amat kuat.

Kini mendengar aba-aba itu, mereka berloncatan berdiri dan mencabut golok masing-masing.

Tanpa menanti komando lagi mereka menyerbu ke arah pemuda yang masih berdiri bersedakap sambil tersenyum-senyum itu.

Melihat ini, Thian Liong tenang saja karena dia yakin bahwa mereka tidak akan mampu menyakiti Han dan tadi dia sudah melihat betapa Han hanya membuat mereka berpelantingan dan tidak mencederai mereka, apalagi membunuh.

Andaikata kawanan perampok ini bertemu Han Bi Lan sebelum gadis itu bergaul dengan Thian Liong, sudah dapat dipastikan bahwa pada waktu pertama kali mereka tadi menyerang, kini mereka tentu sudah tewas semua.

Akan tetapi, ternyata Han tidak mau mencederai mereka.

Hal ini adalah karena ia yakin bahwa perbuatan membunuh itu adalah amat kejam dan tidak baik, dan terutama sekali karena dia merasa malu terhadap Thian Liong kalau dia melakukan pembunuhan.

Kini, melihat duabelas orang itu malah menggunakan golok menyerangnya, hatinya menjadi panas dan ingin memberi hajaran yang lebih keras lagi.

Karena duabelas orang itu menyerang dengan kepungan ketat, maka kepala perampok itu tidak dapat melihat apa yang terjadi.

Akan tetapi dia semakin terkejut ketika orang-orangnya berteriak dan kini terlempar ke belakang satu demi satu dengan tubuh terluka!

Walaupun luka-luka itu tidak terlalu berat sehingga tidak mematikan, namun mengeluarkan banyak darah sehingga pakaian mereka berlepotan darah mereka sendiri.

Ada yang terluka pundaknya, ada yang terbacok pahanya, ada yang tergores lengannya dan sebagainya dan semua luka itu diakibatkan oleh golok mereka sendiri yang tiba-tiba membalik dan menyerang diri mereka sendiri!

Melihat betapa duabelas orang roboh dan mengaduh-aduh, Si Muka Hitam cepat melarikan diri dari tempat itu.

"Heh, Muka Hitam, berhenti engkau!"

Han berteriak dan teriakannya itu melengking, mengandung getaran kuat dan kepala perampok itu pun tiba-tiba berhenti berlari seolah-olah berubah menjadi arca!

"Muka Hitam, berbaliklah dan merangkaklah engkau ke sini!"

Kembali terdengar suara yang penuh wibawa dari Han.

'I'hian Liong tersenyum dan menggeleng-geleng kepalanya.

Benar-benar nakal seperti anak kecil.

Mempermainkan Si Muka Hitam dengan kekuatan sihir!

Si Muka Hitam itu memang seperti seorang perajurit mendengar perintah jenderalnya.

Dia memutar tubuh menghadap ke arah Han, lalu menjatuhkan diri berlutut dan merangkak menghampiri Han!

Setelah tiba di depan kaki Han, kepala perampok itu berhenti.

Semua anak buahnya yang masih kesakitan kini juga memandang heran dan seolah lupa akan rasa nyeri di tubuh mereka ketika melihat pemimpin mereka merangkak-rangkak seperti itu.

Han tidak dapat menahan tawanya.

"He-he-heh-hi-hik, engkau benar-benar seperti seekor lutung besar!"

Karena dia tertawa maka pengerahan tenaga sihirnya juga terhenti dan Si Muka Hitam terkejut bukan main ketika melihat dirinya berlutut di depan kaki pemuda itu.

Dia melompat dan mencabut sepasang goloknya, lalu menyerang dengan marah.

Melihat gerakan sepasang goloknya, Si Muka Hitam ini bukan seorang lawan yang lemah.

Namun bagi Han tentu saja dia bukan apa-apa.

Dengan gerakan ringan sekali dia dapat mengelak dari serangan sepasang golok yang bertubi-tubi datangnya itu.

Betapapun cepatnya sambaran sepasang golok yang membentuk dua gulungan sinar itu, gerakan Han lebih cepat lagi.

Tiba-tiba saja Si Muka Hitam berteriak mengaduh dan dia roboh terkulai dan sepasang goloknya sudah berpindah tangan.

Han menggerakkan sepasang golok itu dan "crat-crat!"

Kedua pundak Si Muka Hitam terluka sehingga darah mengucur membasahi bajunya.

"Han, jangan bunuh orang!"

Thian Liong berseru. Sambil menodongkan sepasang golok itu ke leher Si Muka Hitam, Han menoleh, memandang Thian Liong dan tersenyum sambil menggeleng kepalanya. Kemudian dia menghardik Si Muka Hitam.

"Kau dengar itu? Aku akan membunuhmu kalau engkau tidak cepat memenuhi permintaanku!"

Si Muka Hitam tak mampu bergerak karena kaki tangannya menjadi lumpuh terkena totokan yang Iihai dari Han. Akan tetapi dia dapat bicara.

"Ampun, Taihiap (Pendekar Besar), saya akan melaksanakan semua perintah Taihiap!"

Katanya dengan wajah pucat dan tubuh gemetar ketakutan.

"Nah, hayo cepat perintahkan anak buahmu untuk menyediakan makanan dan minuman untuk kami berdua. Kami lapar sekali! Hayo cepat!"

Si Muka Hitam segera memerintahkan anak buahnya untuk memenuhi permintaan itu. Biarpun dia tidak mampu bergerak, namun suaranya masih lantang ketika dia memerintahkan para anak buahnya.

"Hayo cepat laksanakan perintah Tai-hiap!"

"Akan tetapi di sini tidak ada penjual masakan "

"Goblok!"

Si Muka Hitam membentak.

"Carikan makanan seadanya yang terbaik. Panggang daging binatang hutan, petik buah-buahan, ambilkan arakku dalam tempat penyimpanan. Apa saja keluarkan semua. Hayo cepat!"

Han menghampiri Thian Liong dan duduk di dekat pemuda itu sambil ter-senyum-senyum.

"Nah, laparmu akan terobati, bukan?"

Thian Liong tertawa dan memandang Si Muka Hitam yang masih rebah tak mampu berkutik.

"Engkau bocah nakal! Mengapa dia dibiarkan seperti itu? Kalau, dia dapat bergerak pun tidak akan berani melawan atau melarikan diri. Bukalah totokan itu, Han."

Sambil tersenyum Han mengambil dua buah kerikil dan dua kali dia melontarkan kerikil-kerikil itu ke arah tubuh Si Muka Hitam.

Dengan tepat sekali kerikil itu mengenai jalan darah di punggung atas dan bawah tubuh Si Muka Hitam dan seketika orang itu terbebas dari totokan.

Akan tetapi tentu saja dia tidak berani melarikan diri dan hanya bangkit duduk sambil membalut luka di kedua pundaknya.

Tak lama kemudian, anak buah perampok itu berbondong datang membawa berbagai makanan untuk dua orang pemuda itu.

Ada panggang daging kijang, arak, air teh, buah-buahan.

Tanpa rikuh lagi Han lalu mengajak Thian Liong makan.

Setelah merasa kenyang dia iseng-iseng bertanya kepada Si Muka Hitam.

"Heh, Muka Hitam, apakah engkau dan anak buahmu mengetahui di mana adanya seorang pemuda bernama Bouw Kiang dan seorang gadis bernama Bong Siu Lan, dua orang murid Toat-beng Coa-ong Ouw Kan? Apakah dua orang itu pernah lewat di sini? Kalau engkau tahu hayo cepat katakan kepadaku sebagai penebus nyawa kalian yang sudah kuampuni!"

Si Muka Hitam memandang kepada anak buahnya yang berkumpul dan berjongkok tidak jauh dari situ.

"Kalian dengar apa yang ditanyakan Tai-hiap? Kalau ada yang mengetahui, cepat laporkan!"

Kata Si Muka Hitam. Duabelas orang itu berbisik-bisik dan seorang dari mereka yang matanya buta sebelah, berkata.

"Kami tidak mengenal dua orang yang dicari Tai-hiap itu, akan tetapi kemarin kami melihat lima orang yang amat mencurigakan dan amat lihai sehingga kami tidak berani memperlihatkan diri, hanya mengintai dari jauh. Kami sempat mendengar percakapan mereka dan dengan suara lantang seorang dari mereka, kakek yang berpakaian tambal-tambalan berkata bahwa dia akan senang sekali melihat musuh mereka tewas di depan kakinya."

"Hemm, bagaimana kalian tahu bahwa mereka itu lihai sekali?"

Tanya Han tertarik.

"Mereka menerabas hutan dan apa pun yang menghalang di depan mereka, mereka singkirkan dengan cara yang luar biasa sekali. Pohon-pohon yang batangnya sebesar orang dewasa, sekali tendang tumbang. Batu-batu sebesar kerbau mereka lempar-lemparkan seolah ringan saja."

"Kelima-limanya sekuat itu?"

Tanya Han penasaran.

"Benar, Taihiap. Kami berani bersumpah, karena itu kami hanya mengintai tidak berani keluar."

"Hemm, dan siapa musuh yang mereka ingin lihat mati di depan kaki mereka itu?"

"Kakek berpakaian tambal-tambalan yang kurus pucat akan tetapi lihai sekali itu hanya menyebut nama Yok-sian (Dewa Obat)."

"Yok-sian......?"

Kini Thian Liong bangkit berdiri dan menghampiri Si Mata Sebelah itu.

"Mereka berlima itu hendak membunuh Yok-sian?"

Si Mata Satu terkejut melihat Thian Liong menghampirinya dan dia sudah ketakutan.

"Begitulah...... yang kami dengar dari pembicaraan mereka yang tidak begitu jelas karena mereka melempar-lemparkan batu besar yang menghalang dan menumbangkan pohon-pohon sehingga gaduh sekali."

"Hemm, coba gambarkan keadaan lima orang itu, mulai dari Si Kakek berpakaian tambal-tambalan,"

Kata Thian Liong dan Han juga semakin tertarik mendengar bahwa yang hendak dibunuh lima orang itu adalah Yok-sian, nama julukan Tiong Lee Cin-jin guru Souw Thian Liong!

Melihat sikap Thian Liong tidak galak seperti sikap Han, Si Mata Satu itu menjadi tenang kembali.

Dia menoleh kepada kawan-kawannya dan berkata.

"Kalian bantulah aku kalau keteranganku keliru. Taihiap, kakek kurus bermuka pucat itu berusia sekitar enampuluh tahun, mukanya yang pucat dan kurus sekali itu seperti tengkorak. Matanya mencorong menakutkan dan di punggungnya terdapat sebatang pedang."

"Hemm, Lam-kai......"

Kata Thian Liong.

"Coba gambarkan empat orang yang lain."

Si Mata Satu melanjutkan.

"Kakek kedua bertubuh tinggi besar, mukanya menyeramkan seperti singa dan dia membawa tombak...... dia menakutkan, tampak buas. Sekali ayun, tombaknya dapat mematahkan sebatang pohon besar dan suaranya menggereng seperti seekor singa......"

"Ah, itu Tung-sai!"

Kata pula Thian Liong dan Han mengangguk-angguk.

"Dan tiga orang yang lain, bagaimana?"

Si Mata Satu berkata kepada kawan-kawannya.

"Hayo, siapa yang dapat menceritakan tentang tiga orang muda itu? Aku tidak begitu ingat."

Seorang yang mukanya brewok berkata dengan suaranya yang besar.

"Mereka adalah dua orang pemuda dan seorang gadis. Yang seorang bertubuh sedang dan tegap, wajahnya bulat dan putih, matanya mencorong seperti mats harimau, rambutnya dikuncir dan di pungungnya tergantung sebatang pedang."

"Dia pasti Can Kok,"

Kata pula Thian Liong.

"Pemuda yang kedua bertubuh tinggi besar, mukanya tampan akan tetapi hitam......"

"Dia membawa tongkat hitam?"

Han memotong.

"Benar, Taihiap."

"Ah, jangan-jangan dia Bouw Kiang yang kucari!"

Kata Han dengan hati tegang.

"Dan gadisnya bagaimana? Hayo cepat ceritakan!"

Dia membentak sehingga Si Brewok menjadi gugup dan cepat bercerita.

"Gadis itu cantik, matanya lebar, tubuhnya ramping......"

"Dan senjatanya?"

Tanya Han.

"Kalau tidak salah, di punggungnya terdapat sepasang pedang."

"Tak salah lagi, ia tentu Bong Siu Lan!"

"Aneh, apa hubungan dua orang murid Ouw Kan dengan para datuk itu?"

Thian Liong bertanya heran.

"Apa anehnya? Ouw Kan juga seorang datuk, tentu mengenal dan mempunyai hubungan dengan para datuk lain. Mereka sama-sama sesatnya."

"Ke arah mana mereka pergi dan sejak kapan?"

Tanya Thian Liong kepada Si Mata Satu.

"Mereka lewat kemarin, Tai-hiap, dan menuju ke arah sana. Mudah mengikuti jejak mereka karena mereka merobohkan pohon-pohon dan menyingkirkan batu-batu besar."

Orang itu menunjuk ke barat.

"Mari kita pergi, Han!"

Setelah berkata demikian, Thian Liong dan Han berkelebat dan lenyap dari depan gerombolan perampok itu sehingga mereka terkejut dan ketakutan.

Akan tetapi mereka merasa beruntung tidak sampai dibunuh dua orang muda yang memiliki kesaktian demikian hebat.

"Jelas bahwa lima orang itu akan pergi ke Puncak Pelangi di Pegunungan Go-bi untuk mencari dan menyerang Suhu,"

Kata Thian Liong yang berlari bersama Han.

"Hemm, kalau hanya mereka berlima saja, kiraku tidak perlu khawatir. Lo-cianpwe Tiong Lee Cin-jin pasti akan mampu menandingi mereka."

"Mereka itu orang-orang jahat yang lihai dan juga licik curang. Biarpun Suhu dapat mengatasi mereka, namun aku sebagai muridnya harus membelanya."

"Engkau benar, dan aku pun sudah berjanji akan membantumu. Apalagi dua orang yang kucari, pembunuh-pembunuh ayahku berada di sana pula. Dengan begini dapat dikatakan kita tepuk satu kali dapat dua ekor lalat!"

Dua orang itu melanjutkan perjalanan dan betul seperti keterangan anak buah perampok bermata satu tadi, mereka dengan mudah dapat mengikuti jejak lima orang itu karena mereka mengambil jalan pintas dengan menyingkirkan semua perintang dengan kekerasan.

Ketika Siang In berpamit kepada Thio Ki dan Miyana, suami isteri yang ia anggap sebagai ayah ibunya sendiri, suami isteri itu segera menyetujui karena biarpun Siang In berpamit untuk mengunjungi Pek Hong Niocu atau Puteri Moguhai, mereka tahu bahwa anak mereka itu sesungguhnya juga akan bertemu dengan ibu kandungnya sendiri, walaupun gadis itu masih belum mengetahui akan rahasia ini.

Tentu saja suami isteri itu sama sekali tidak menduga bahwa Siang In sudah mengetahui segalanya, dan bahwa ia memang ingin sekali bertemu dengan Tan Siang Lin, selir Kaisar Kin yang menjadi Ibu kandungnya itu!

"Jaga dirimu baik-baik dan berhati-hatilah, anakku.

Dan jangan lupa, kalau engkau mengunjungi Puteri Moguhai dan kebetulan bertemu dengan Ibunya, selir Kaisar, sampaikan salam hormatku kepadanya karena dahulu aku menjadi sahabat baiknya."

Diam-diam Siang In tersenyum dalam hati.

Tentu saja ia sudah tahu bahwa ibunya ini, Miyana, dahulu adalah sahabat baik selir kaisar yang sesungguhnya adalah ibu kandung anak kembar, ia dan Moguhai!

"Baik, Ibu.

Aku tidak akan melupakan pesan Ibu,"

Jawabnya.

Ia lalu berkemas, membawa buntalan pakaian dan menunggang seekor kuda yang besar dan baik.

Setelah memperoleh pesan dan restu Thio Ki dan Miyana, Thio Siang In atau Ang Hwa Sian-li lalu menjalankan kudanya keluar dari pekarangan rumah orang tuanya, menuju ke pintu gerbang utara.

Akan tetapi sebelum tiba di pintu gerbang ia bertemu dengan Cin Han yang berjalan seorang diri.

Melihat Siang In berkuda, Cin Han menegurnya dengan ramah.

"Hai, Adik Siang In!"

Tegurnya sambil menghampiri.

Siang In menahan kudanya lalu melompat turun.

Tidak enak rasanya kalau dia bercakap-cakap dengan pemuda itu dengan duduk di atas kuda sedangkan Cin Han berdiri di atas tanah.

"Han-ko (Kakak Han), engkau hendak ke manakah?"

Tegurnya. Cin Han tersenyum dan wajahnya tampak tampan dan lembut kalau tersenyum. Putera pangeran ini memang halus budi pekertinya dan ramah.

"Aku hendak berkunjung ke rumahmu, In-moi (Adik. In)."

"Ah, maaf, Han-ko. Aku hendak pergi maka tidak dapat menyambutmu."

"In-moi, kalau boleh aku bertanya, engkau hendak pergi ke manakah?"

"Tentu saja boleh, Han-ko. Aku hendak pergi mengunjungi Puteri Moguhai di kota raja."

"Berapa lama engkau akan tinggal di sana?"

Tanya pemuda itu sambil memandang ke arah buntalan pakaian yang berada di punggung kuda yang besar itu.

"Entahlah, Han-ko, aku belum dapat menentukan. Mungkin bisa seminggu atau sebulan, tergantung keadaan."

Cin Han mengangguk.

"Baiklah, In-moi, harap engkau berhati-hati dalam perjalanan. Aku mendengar bahwa ada beberapa orang bekas sekutu Pangeran Hiu Kit Bong yang memberontak dulu, membentuk gerombolan dan suka mengacau. Akan tetapi aku percaya, engkau tidak mudah diganggu penjahat. Nah, selamat jalan, In-moi."

"Terima kasih dan selamat tinggal, Han-ko!"

Kata Siang In dan ia segera melompat ke atas punggung kudanya dan menuju ke pintu gerbang utara, diikuti pandang mata Cin Han yang memandang kagum.

Dulu dia tertarik sekali kepada Thio Siang In, setelah bergaul dekat, dia kini yakin bahwa dia benar-benar jatuh cinta kepada gadis yang berjuluk Ang Hwa Sian-li itu.

Sambil tersenyum gembira Cin Han lalu kembali ke rumah orang tuanya.

Sementara itu, Siang In sudah keluar dari kota Kang-cun dan membalapkan kudanya ke utara, ke arah Kota Raja Peking di mana saudara kembarnya, Puteri Moguhai atau Pek Hong Niocu tinggal bersama ibu mereka di istana kerajaan.

Akan tetapi ketika ia membalapkan kudanya, terbayanglah di depan matanya wajah Cin Han.

Pemuda itu sungguh lembut, tampan dan juga telah memperlihatkan wibawa dan kecerdikannya ketika dulu membawa pasukan menolong ia dan Pek Hong Niocu.

Sungguh seorang pemuda yang menarik hati dan mengagumkan.

Dan pemuda itu pernah melamarnya akan tetapi ia menolak keras padahal ia belum pernah melihat orangnya.

Kini ia telah berkenalan dengan Cin Han dan kagum kepada pemuda yang pernah ditolak lamarannya itu.

Ia menghela napas.

Beruntunglah seorang gadis kalau dipersunting oleh pemuda tampan lembut putera seorang pangeran itu!

Siang In menghela napas panjang dan berbisik kepada diri sendiri.

"Sayang......, dia seorang siu-cai (sastrawan) yang lemah dan tidak pandai ilmu silat......"

Siang In menghela napas lagi dan tiba-tiba saja wajah Thian Liong terbayang dalam benaknya.

"Ah, kalau saja Cin Han memiliki kelihaian seperti Thian Liong......"

Ia sadar dari lamunannya dan menggebrak kudanya sehingga binatang itu terkejut dan berlari cepat sekali, membuat rambut dan pakaian Siang In berkibar.

Di sepanjang perjalanan itu Thio Siang In mendengar berita dari penduduk bahwa memang benar apa yang dikatakan Cin Han kepadanya bahwa di daerah-daerah banyak terjadi gangguan terhadap penduduk, yang dilakukan oleh gerombolan yang merampok dan membunuhi pejabat-pejabat kerajaan yang bertugas di dusun-dusun.

Jelas bahwa gerombolan itu memang bersikap anti dan memberontak terhadap Kerajaan Kin.

Akan tetapi Siang In tidak mengalami gangguan seperti yang ia harapkan karena ia ingin bertemu dan membasmi gerombolan pengacau itu.

Ia tiba di kota raja dan langsung saja menuju ke istana.

Kepada perajurit pengawal yang berjaga di pintu gapura istana dan yang terheran-heran melihat ia begitu mirip Puteri Moguhai, Siang In mengatakan bahwa ia bernama Thio Siang In dan ingin bertemu dengan Puteri Moguhai yang menjadi sahabat baiknya.

Perajurit kepala jaga yang bersikap hormat mendengar bahwa gadis ini sahabat baik Puteri Moguhai yang mereka hormati dan takuti, segera memberitahu bahwa Puteri Moguhai tidak berada di istana.

Mendengar ini, Siang In merasa kecewa.

Akan tetapi sesungguhnya kedatangannya ini terutama untuk mengunjungi ibu kandungnya, maka ia pun lalu berkata dengan sikap lembut.

"Kalau begitu, saya akan menghadap Ibunda Puteri Moguhai karena saya ada pesan yang amat penting dari Puteri Moguhai untuk disampaikan kepada Ibundanya."

Kepala jaga itu mengerutkan alisnya.

"Ah, Nona. Untuk menghadap Beliau kami harus melaporkan dulu kepada pengawal istana dan mereka yang akan melaporkan ke dalam istana. Kalau beliau bersedia menerimamu, barulah Nona akan diperkenankan dan dikawal oleh pengawal dalam istana. Mari kami antar Nona menemui kepala pengawal istana."

Siang In lalu diantar oleh kepala jaga itu memasuki pekarangan istana yang luas dan segera ia dihadapkan kepada pengawal yang mengenakan seragam indah dan yang sikapnya angkuh.

Akan tetapi kepala pengawal ini pun memandang heran melihat Siang In yang demikian mirip dengan Puteri Moguhai.

Kepala jaga pintu gapura melapor bahwa gadis itu mohon menghadap Ibunda Puteri Moguhai.

Kepala pengawal yang memandang kepada Siang In dengan penuh perhatian itu lalu bertanya kepada Siang In.

"Siapakah engkau, Nona dan apakah keperluanmu hendak menghadap Beliau?"

"Nama saya Thio Siang In dan saya adalah sahabat baik dan saudara seperguruan Puteri Moguhai,"

Siang In memperkenalkan diri, sengaja mengaku sebagai saudara seperguruan Moguhai karena ia tahu betapa Moguhai sudah terkenal sebagai seorang gadis yang berilmu tinggi.

Benar saja dugaannya.

Kepala pengawal itu berubah sikap dan dengan hormat dia bertanya.

"Thio-siocia, kami akan melaporkan ke dalam. Akan tetapi kalau kami ditanya apa keperluan Nona mohon menghadap Beliau, bagaimana kami harus menjawab?"

"Saya adalah anak dari Ibu Miyana yang dahulu menjadi sahabat baik beliau dan juga tinggal di istana ini. Saya membawa pesan dari Puteri Moguhai dan dari Ibu Miyana yang sangat penting untuk disampaikan kepada Beliau."

"Akan tetapi, Nona. Kami takut kalau mendapat marah karena tidak boleh sembarangan orang memasuki istana, apalagi bagian puteri. Beritahukan saja kepada kami pesan itu dan kami yang akan menghaturkan kepada Beliau."

"Tidak mungkin. Puteri Moguhai akan marah sekali kalau saya tidak dapat menyampaikan pesannya itu kepada Ibundanya."

Ucapan ini manjur. Kepala pengawal itu tentu saja takut sekali kalau nanti Puteri Moguhai yang dia kenal amat keras itu marah kepadanya kalau dia melarang saudara seperguruannya ini masuk.

"Baiklah, Nona. Silakan tunggu sebentar dan silakan duduk, saya sendiri yang akan melaporkan ke dalam."

Setelah berkata demikian kepala pengawal yang bertubuh tinggi besar itu meninggalkan Siang In di situ.

Siang In duduk di atas bangku dan para pengawal yang melakukan penjagaan tidak berani memandang kepadanya secara langsung.

Ini berkat nama besar Moguhai yang ditakuti semua orang, pikir Siang In.

Ia merasa heran, ke mana perginya Moguhai?

Tak lama kemudian, kepala pengawal itu muncul dan dengan muka berseri dia berkata.

"Beliau memerintahkan saya mengantar Nona menghadap beliau. Mari, Nona."

Dengan jantung berdebar tegang Siang In dikawal kepala pengawal itu memasuki istana bagian puteri dan langsung membawanya ke dalam sebuah ruangan tertutup.

Pengawal itu mengajak ia masuk dan setibanya di dalam, pengawal itu memberi hormat dengan menekuk sebelah lututnya.

"Nona Thio Siang In datang menghadap!"

Wanita setengah tua yang duduk seorang diri di ruangan itu memberi isyarat kepada pengawal itu dengan tangan.

"Keluarlah!"

Pengawal itu keluar dan menutupkan kembali pintu ruangan itu.

Siang In memandang dengan jantung berdebar-debar.

Wanita itu berusia sekitar empatpuluh tahun, masih tampak cantik dan sikapnya lemah lembut.

Wanita itu segera bangkit berdiri dan kedua orang wanita itu saling pandang.

Lalu wanita yang bukan lain adalah Tan Siang Lin selir Kaisar dan Ibu Moguhai itu perlahan-lahan melangkah menghampiri.

Ia berhenti setelah berada dalam jarak satu tombak dari Siang In.

Mereka saling pandang dan mata wanita itu mengeluarkan air mata yang perlahan menetes ke atas kedua pipinya.

Siang In seketika merasa bahwa wanita ini adalah ibu kandungnya.

Ada sesuatu pada diri wanita ini yang menggetarkan jantungnya sehingga ia pun tak dapat menahan keluarnya air mata dari sepasang matanya.

"......engkau...... engkau Thio Siang In...... anak...... Miyana?"

Wanita itu menelan ludah dan melanjutkan.

"Moguhai...... tidak berada di sini, ia keluar kota raja beberapa hari yang lalu......"

"Saya...... saya datang untuk bertemu dengan Ibu......"

Kata Siang In dengan suara gemetar.

"Ibu??...... engkau...... engkau...... sudah tahu......??"

Selir kaisar itu berkata lirih dan tergagap. Siang In mengangguk-angguk.

"......aku tahu...... engkau Ibu kandungku......"

Seperti ditarik sembrani, dua orang wanita itu menubruk ke depan dan saling rangkul.

"Anakku......!"

"Ibu""!!"

Keduanya menangis sesenggukan dan saling cium dengan muka basah air mata.

"Anakku......, maafkanlah Ibumu ini, Nak...... terpaksa...... terpaksa sekali...... begitu terlahir engkau kuberikan kepada Miyana......"

"Ibu tidak bersalah,"

Kata Siang In sambil merangkul erat.

"Ibu terpaksa berbuat begitu karena...... karena Kaisar......"

"Anakku, Kaisar juga tidak bersalah,"

Kata selir kaisar itu sambil menarik tangan Siang In dan diajaknya gadis itu duduk di sampingnya.

"Sejak ratusan tahun, bangsa Yu-cen yang mendirikan Kerajaan Kin (Cin), memiliki kepercayaan bahwa anak kembar mendatangkan malapetaka. Kaisar juga percaya akan hal itu maka mereka tidak berani membiarkan anak kembar hidup. Aku terpaksa memisahkan engkau dari Moguhai agar kalian berdua selamat, karena kalau tidak, kalian berdua tentu akan dibunuh begitu ketahuan terlahir kembar. Kebetulan Miyana yang menjadi sahabat baikku, yang telah menjadi janda karena suaminya, seorang pangeran telah meninggal dunia, bersedia menolongku dan membawamu keluar istana."

Siang In merangkul ibunya dan mengusap air mata dari pipi ibunya dengan saputangan.

"Sudahlah, Ibu. Harap jangan bersedih. Aku sudah mengetahui akan semua itu, mendengar cerita dari Ayah Sie Tiong Lee sendiri."

Setelah dapat menguasai keharuan hati mereka dan menjadi tenang kembali, ibu dan anak ini duduk bersanding dan saling berpegangan tangan dengan hati merasa bahagia sekali..

"Ibu, ke manakah perginya Pek Hong?"

"Pek Hong? Ah, ya, aku ingat sekarang. Ayahmu memberi nama Sie Pek Hong kepada Moguhai! Dan engkau menjadi Sie Siang In! Ah, aku gembira sekali. Kalian berdua berdarah Han aseli karena Ayah dan Ibu kandungmu adalah orang-orang Han. Pek Hong baru beberapa hari pergi, katanya hendak pergi mencari orang-orang yang telah membunuh Han Si Tiong akan tetapi aku tahu bahwa selain itu juga ada hal-hal lain yang membuat ia pergi. Ia dimarahi Ayahnya karena ia selalu menolak pinangan para pangeran dan pemuda bangsawan putera para pejabat tinggi. Kaisar juga melarang ia bergaul dengan Souw Thian Liong walaupun pemuda itu pernah membantu Kerajaan Kin membasmi pemberontak. Kaisar bukan tidak suka Thian Liong, hanya dia ingin menjodohkan Moguhai dengan seorang bangsa Yu-cen. Karena itulah, Pek Hong pergi."

"Ah, sayang Kaisar berpendirian demikian, Ibu. Souw Thian Liong adalah seorang pendekar budiman yang bijaksana, dan aku melihat keakraban antara Thian Liong dan Pek Hong."

"Engkau tentu lebih mengetahui, sebenarnya bagaimanakah hubungan antara Souw Thian Liong dan Pek Hong? Ketika aku bertanya, Pek Hong menjawab bahwa ia memang kagum dan tertarik kepada pemuda itu, akan tetapi ia sendiri tidak tahu apakah ia mencinta Thian Liong atau hanya kagum."

Sejenak Siang In termenung.

Ia harus mengaku dalam hatinya bahwa ia sendiri amat kagum dan tertarik kepada Thian Liong dan kalau ada kesempatan, bukan mustahil ia pun akan jatuh cinta kepada pemuda itu.

"Aku sendiri tidak tahu pasti, Ibu."

Selir Kaisar itu menghela napas panjang.

"Mudah-mudahan saja Pek Hong dapat melupakan Thian Liong dan dapat mencinta seorang pemuda lain yang sesuai dengan keinginan Kaisar. Kalau tidak, tentu akan terjadi kesulitan besar. Kau tahu, Siang In, Kaisar mengira bahwa Pek Hong adalah darah dagingnya sendiri dan ia amat menyayangnya. Kalau sampai terjadi ia mencinta Thian Liong, tak dapat aku membayangkan apa yang terjadi. Tentu semua orang akan menderita. Kaisar yang amat mencinta puterinya itu akan berduka dan marah, Pek Hong sendiri akan mengalami kesusahan dan mungkin akan diusir dari istana dan terpisah dariku, dan aku sendiri tentu akan merana. Ah, akan tetapi kalau Thian menghendaki, segala dapat terjadi. Bukankah jodoh, seperti juga kelahiran dan kematian, berada sepenuhnya di tangan Thian dan tak seorang pun dapat mengubahnya?"

"Ibu benar, biarlah kita berdoa saja agar semuanya akan berjalan dengan baik sehingga membahagiakan semua orang."

"Terima kasih, anakku. Ucapanmu itu sungguh membesarkan hatiku. Sekarang, coba ceritakan semua pengalamanmu menjadi anak Miyana."

Dengan singkat Siang In menceritakan keadaannya sebagai puteri Thio Ki dan Miyana, menjadi murid mendiang Toat-beng Coa-ong Ouw Kan yang wataknya sama sekali berlawanan dengan hatinya, sampai pengalamannya yang terakhir, bertemu dengan Pek Hong, kemudian mereka berdua diajak oleh ayah kandung mereka, Tiong Lee Cin-jin ke tempat pertapaan di Puncak Pelangi dan mempelajari ilmu yang lebih tinggi.

Mendengar semua itu, Tan Siang Lin menghela napas panjang dan wajahnya berseri ketika ia memandang kepada puterinya.

"Ah, aku merasa berbahagia sekali. Ternyata sepasang anak kembarku sekarang telah menjadi pendekar-pendekar wanita sakti. Sekarang, anakku, kalau Pek Hong kini menghadapi persoalan karena Ayahnya, Kaisar, menghendaki ia berjodoh dengan seorang bangsa Yu-cen, lalu bagaimana dengan engkau sendiri? Tentu saja untuk urusan perjodohanmu, yang lebih berhak menentukan tentu saja ayah ibumu Thio Ki dan Miyana karena merekalah yang mengasuh, merawat dan mendidikmu sejak engkau masih bayi. Akan tetapi usiamu kini sudah duapuluh tahun, sudah sepatutnya engkau menjadi isteri dan ibu. Apakah oleh orang tuamu di Kang-cun engkau sudah dijodohkan? Aku hanya ingin tahu, anakku, bukan ingin mencampuri."

"Ibu, agaknya tanpa disengaja, ada persamaan keadaanku dengan keadaan Pek Hong. Ayah dan Ibu di Kang-cun membujukku untuk segera memilih dan menerima pinangan seorang di antara mereka yang melamar aku. Akan tetapi aku selalu menolak karena masih belum ingin terikat rumah tangga, masih ingin bebas."

"Hemm, dan bagaimana dengan hatimu? Apakah engkau sudah mempunyai pilihan sendiri?"

Siang In menundukkan mukanya dan terbayanglah wajah Cin Han dan Thian Liong berganti-ganti.

"Belum, Ibu, aku masih bingung."

"Ah, kalian berdua memang serupa benar, badan dan batinnya. Aku tidak dapat memaksa kalian, hanya mendoakan semoga segera menemukan jodoh kalian yang cocok dan dapat hidup berbahagia."

"Ibu, sayang Pek Hong tidak ada. Saya akan menyusulnya karena kalau ia seorang diri mencari pembunuh seperti yang Ibu ceritakan tadi, mungkin ia perlu bantuan. Apakah ia menceritakan ke mana ia hendak mencari pembunuh itu dan siapakah Han Si Tiong yang dibunuh, siapa pula pembunuhnya?"

"Han Si Tiong adalah sahabat baik Pek Hong dan menurut apa yang diceritakan Pek Hong, Han Si Tiong tewas terbunuh oleh dua orang murid Ouw Kan......"

"Ah, Ibu, mengapa Toat-beng Coa-ong membunuh Han Si Tiong dan siapakah Han Si Tiong yang dibela sedemikian rupa oleh Pek Hong?"

"Aku pun hanya mendengar dari cerita Pek Hong. Han Si Tiong dan isterinya dahulu adalah perwira Kerajaan Sung Selatan, memimpin Pasukan Halilintar dan ketika terjadi perang antara Kerajaan Sung dan Kerajaan Kin (Cin), Pasukan Halilintar terkenal dan ditakuti karena kehebatan pemimpinnya. Bahkan ketika seorang pangeran Kerajaan Kin yang bernama Pangeran Cu Si maju memimpin pasukan melawan Pasukan Halilintar, Pangeran Cu Si tewas di tangan Han Si Tiong dan isterinya. Kematian seorang perwira dalam perang merupakan hal wajar dan bukan merupakan urusan pribadi, maka sebetulnya Kaisar Kin juga tidak mendendam kepada Han Si Tiong, walaupun Beliau merasa berduka atas kematian anggauta keluarganya. Akan tetapi ketika itu mendiang Pangeran Hiu Kit Bong yang kemudian memberontak dan tewas, membujuk Kaisar untuk membalas dendam kepada Han Si Tiong dan isterinya. Kaisar, lalu mengutus Ouw Kan untuk pergi ke kota raja Sung dan membunuh Han Si Tiong dan isterinya."

"Hemm, sungguh tidak kusangka. Aku tidak mendengar sama sekali akan hal itu,"

Kata Siang In lirih.

Ia sebagai murid Ouw Kan maklum bahwa gurunya itu adalah seorang datuk sesat dan seringkali ia bertentangan dengan gurunya dalam berbagai hal.

Akan tetapi ia tidak pernah mendengar bahwa gurunya menjadi utusan Kaisar untuk membunuh seorang perwira Sung hanya karena perwira itu merobohkan seorang pangeran dalam perang!

"Akan tetapi Ouw Kan gagal membunuh suami isteri itu karena tidak menemukan mereka di kota raja.

Hal ini membuat Ouw Kan merasa malu kepada Kaisar dan setelah kaisar melupakan hal itu, bahkan telah sadar bahwa dendam atas gugurnya Pangeran Cu Si dalam perang merupakan suatu kesalahan, dan membatalkan perintahnya kepada Ouw Kan, agaknya Ouw Kan melanjutkan usaha pembunuhan itu karena dendam pribadi.

Bahkan ketika dia berusaha membunuh Han Si Tiong dan isterinya, Pek Hong muncul dan membela suami isteri itu, mengusir Ouw Kan.

Kemudian Pek Hong yang menjadi sahabat baik Han Si Tiong dan isterinya, meninggalkan tulisan yang isinya melarang Ouw Kan mengganggu suami isteri itu.

Pek Hong tidak membenarkan dendam seperti itu, tidak membenarkan membawa kematian dalam perang menjadi dendam pribadi."

"Pek Hong memang bijaksana, Ibu."

Siang In memuji.

"Kemudian bagaimana, Ibu?"

"Nah, belum lama ini terdengar berita bahwa Ouw Kan dibunuh oleh seorang yang mengaku berjuluk Ang I Mo-li. Beberapa hari kemudian pada suatu malam, Ang I Mo-li masuk menyusup ke istana ini untuk membunuh Kaisar! Ia menganggap Kaisar sebagai musuhnya karena ia mengira bahwa Kaisar Kin yang mengutus Ouw Kan dan murid-muridnya membunuh Han Si Tiong. Pek Hong menyambutnya dan ternyata Ang I Mo-li (Iblis Betina Baju Merah) itu adalah seorang gadis puteri Han Si Tiong bernama Han Bi Lan dan sudah mengenal Pek Hong. Pek Hong berhasil membujuknya dan menyadarkannya bahwa Kaisar sama sekali tidak mengutus Ouw Kan untuk membunuh ayahnya. Han Bi Lan itu bercerita kepada Pek Hong bahwa ayahnya, Han Si Tiong telah terbunuh oleh dua orang murid Ouw Kan yang bernama...... ah, aku sudah lupa lagi nama mereka......"

"Tentu bernama Bouw Kiang dan Bong Siu Lan!"

"Ya, benar! Eh, Siang In, bagaimana engkau bisa mengetahui nama dua orang pembunuh murid Ouw Kan itu?"

"Tadi sudah kuceritakan bahwa aku pernah berguru kepada Toat-beng Coa-ong, dia adalah Ouw Kan, Ibu. Maka aku dapat menduga bahwa yang melakukan pembunuhan itu tentulah dua orang muridnya yang lain, yang bernama Bouw Kiang dan seorang murid perempuan bernama Bong Siu Lan. Aku tidak akrab dengan mereka karena tempat tinggal kami berbeda kota dan hanya beberapa kali saja aku pernah bertemu dengan mereka. Juga aku pernah mendengar berita yang tidak baik tentang mereka."

"Begitulah, Siang In. Han Bi Lan dapat menerima penjelasan Pek Hong dan ia pun membatalkan niatnya membunuh Kaisar."

"Gadis berpakaian merah bernama Han Bi Lan? Rasanya pernah aku bertemu dengan gadis itu ketika kami membantu Souw Thian Liong menghadapi pengeroyokan orang-orang Siauw-lim dan Kun-lun, akan tetapi ketika itu aku belum mengetahui namanya. Akan tetapi mengapa Pek Hong mati-matian membela kematian Han Si Tiong dan pergi mencari pembunuhnya, Ibu?"

"Menurut Pek Hong, Han Si Tiong dan isterinya adalah orang-orang yang gagah perkasa dan baik, dan ia sudah mengenal mereka dengan akrab. Yang membuat Pek Hong merasa penasaran adalah bahwa ia telah meninggalkan tulisan yang melarang Ouw Kan mengganggu suami isteri itu, akan tetapi nyatanya dua orang murid Ouw Kan masih juga menyerang mereka sehingga Han Si Tiong tewas. Karena itu, Pek Hong lalu hendak niencari dua orang itu, ditambah lagi karena ia dimarahi Kaisar karena belum mau menikah."

"Ibu, kalau begitu aku harus cepat menyusul Pek Hong. Dua orang pembunuh itu adalah orang-orang yang lihai dan licik. Pek Hong perlu bantuanku, Ibu." 'Akan tetapi ke mana engkau hendak mencarinya, Siang In?"

"Aku kira ia tentu mencari dua orang pembunuh itu di tempat tinggal Suhu Ouw Kan. Aku akan menyusul ke sana. sekarang juga, Ibu."

Wanita itu merangkul Siang In.

"Tidak, engkau baru saja datang, bagaimana tega untuk meninggalkan aku lagi. Aku masih rindu padamu, Siang In. Besok pagi saja engkau pergi. Malam ini engkau harus berada di sini dan kita bicara melepas kerinduanku!"

Siang In balas merangkul.

Ia tidak tega untuk menolak permintaan ibu kandung itu.

Maka ia pun menunda perjalanannya menyusul Pek Hong dan bermalam di kamar ibunya di mana keduanya semalam suntuk bercakap-cakap dengan penuh kebahagiaan.

Barulah pada keesokan harinya selir kaisar itu mengijinkan puterinya meninggalkan istana.

Pek Hong Niocu atau Sie Pek Hong atau juga Puteri Moguhai mendaki bukit menuju kota Ceng-goan.

Kota itu letaknya di daerah perbukitan yang berpemandangan indah.

Bukan kota dagang yang besar, namun lebih merupakan kota pariwisata yang hawanya sejuk dan peman-dangannya indah.

Penduduknya bertani dan berdagang bunga-bunga yang dapat tumbuh dengan subur di daerah perbukitan itu.

Puteri Moguhai pernah datang ke Ceng-goan dan dia langsung menuju ke sebuah rumah mungil, yaitu rumah tinggal Ouw Kan pemberian Kaisar.

Ia sudah mendengar dari Bi Lan bahwa Ouw Kan telah tewas di tangan Puteri Han Si Tiong itu.

Akan tetapi ke mana lagi ia dapat mencari dan menyelidiki di mana adanya dua orang murid Ouw Kan itu kalau tidak ia mulai dari tempat tinggal mendiang Toat-beng Coa-ong Ouw Kan?

Ia melihat rumah itu sunyi dan pintu depannya tertutup.

Lalu diketuknya daun pintu depan karena ia mendengar dari keterangan Bi Lan bahwa rumah itu dijaga seorang wanita setengah tua yang tidak diganggu oleh Bi Lan.

Tak lama kemudian, setelah tiga kali ia mengulang ketukannya, terdengar langkah ringan dan daun pintu dibuka dari dalam.

Begitu janda tua penjaga rumah itu melihat seorang gadis muda berdiri di depan pintu, langsung saja ia menjatuhkan diri dan menangis.

"Ampun, Li-hiap (Pendekar Wanita)! Ampunkan saya yang tidak bersalah apa-apa dan tidak tahu apa-apa. Ampun dan harap jangan bunuh saya, Ang I Mo-li......!"

Moguhai tersenyum. Agaknya nenek ini mengira bahwa ia Bi Lan yang memperkenalkan diri sebagai Ang I Mo-li sehingga ia ketakutan dan minta ampun.

"He, Bibi yang bodoh. Lihat baik-baik siapa aku! Apakah pakaianku merah? Apa engkau tidak mengenal aku?"

Wanita itu kini mengangkat mukanya.

Tadi saking ketakutan ia tidak berani melihat langsung secara teliti, langsung saja minta ampun.

Setelah mengangkat muka ia melihat seorang gadis yang pakaiannya dari sutera halus putih bersih dan ketika ia mengenal wajah Puteri Moguhai, ia cepat berlutut menyembah-nyembah.

"Aduh, ampunkan hamba, Yang Mulia Puteri! Hamba tidak mengira bahwa Paduka yang datang maka bersikap tidak semestinya. Ampunkan hamba."

Biarpun hatinya terasa tegang, namun rasa takutnya hilang setelah melihat bahwa gadis itu bukan si pembunuh majikannya.

"Sudahlah, aku tidak marah. Sekarang duduklah yang baik, Bibi, duduk di bangku itu. Aku ingin bicara denganmu dan aku minta agar engkau dapat memberi semua keterangan yang kuminta."

"Hamba tidak berani......"

Pelayan tua itu tetap berlutut.

"Aku perintahkan engkau duduk dan engkau masih tidak mau mentaati?"

Pek Hong membentak agar nenek itu ketakutan dan taat.

"Ampun...... ah, baik-baik, hamba menaati perintah Paduka."

Ia lalu bangkit dan duduk di atas bangku sambil menundukkan muka dan merangkap kedua tangan depan dada memberi hormat.

"Engkau tentu mengetahui bahwa mendiang Ouw Kan mempunyai dua orang murid, bukan?"

"Bukan dua, malah murid-murid yang dekat dengan almarhum ada tiga orang."

"Tiga orang? Coba sebutkan siapa saja mereka!"

"Yang seorang adalah murid wanita yang kalau tidak salah bertempat tinggal di kota Kang-cun dan namanya Thio Siang In......"

Pek Hong mengangguk. tentu saja ia sudah tahu karena saudara kembarnya itu pernah bercerita ia pernah menjadi murid Toat-beng Coa-ong Ouw Kan.

"Lalu yang dua lagi siapa namanya?"

"Yang seorang adalah murid laki-laki bernama Bouw Kiang dan yang seorang lagi murid perempuan bernama Bong Siu Lan."

"Engkau tahu di mana dua orang murid itu tinggal?"

"Aduh, Tuan Puteri yang mulia, hamba sungguh tidak tahu di mana kedua orang murid itu tinggal. Dulu, Ang I Mo-li yang membunuh Tuan Besar, juga menanyakan hal itu. Akan tetapi hamba sungguh tidak tahu. Mereka hanya kadang-kadang saja datang, bermalam sehari dua hari lalu pergi lagi. Hamba tidak berani bertanya di mana mereka tinggal. Mereka itu galak-galak, tidak seperti Thio-siocia (Nona Thio) yang ramah dan mau memberi tahu di mana tempat tinggalnya."

"Coba engkau ingat-ingat, Bibi. Ketika Bouw Kiang dan Bouw Siu Lan datang ke sini dan bercakap-cakap dengan Ouw Kan, mungkin engkau mendengar sedikit pembicaraan mereka secara kebetulan."

Nenek itu mengerutkan alisnya, mengingat-ingat.

"Hanya sedikit yang hamba ingat, Tuan Puteri. Ketika secara kebetulan hamba menghidangkan makan minum, mereka menyebut-nyebut tentang Empat Datuk Besar yang katanya menghubungi mereka berdua. Dan Tuan Besar Ouw Kan mengatakan boleh saja bekerja sama dengan Empat Datuk Besar, akan tetapi tugas terpenting mereka harus dilakukan dulu. Nah, hanya itulah yang hamba ingat, akan tetapi hamba tidak tahu apa yang mereka maksudkan."

Pek Hong dapat menduga. Tugas penting yang harus diselesaikan dulu itu tentulah tugas membunuh Han Si Tiong. Akan tetapi ia tidak tahu apa maksud mereka berhubungan dengan Empat Datuk Besar.

"Bibi, siapkan kamar yang bersih untukku. Aku akan tinggal di sini selama beberapa hari untuk melakukan penyelidikan di sekitar tempat ini tentang kedua orang itu."

"Baik, Tuan Puteri, akan hamba persiapkan."

"O ya, Bibi. Coba gambarkan dulu bagaimana rupanya dua orang murid itu."

"Yang bernama Bouw Kiang itu adalah seorang pemuda berusia sekitar duapuluh enam tahun, bertubuh tinggi besar berwajah tampan dengan kulit yang gelap agak hitam dan dia selalu membawa sebatang tongkat hitam yang terselip di pinggangnya. Adapun yang bernama Bong Siu Lan adalah seorang gadis berusia sekitar duapuluh tahun, wajahnya bulat telur, matanya lebar, mulutnya agak lebar namun ia cantik sekali. Bia-sanya ia membawa sepasang pedang di punggungnya."

Demikianlah, setelah mendapat keterangan dari pelayan itu, Pek Hong tinggal di bekas rumah Ouw Kan selama beberapa hari dan setiap hari ia melakukan pencarian dan penyelidikan di sekitar daerah itu dengan bertanya-tanya.

Akan tetapi tidak ada hasilnya.

Akhirnya, ia merasa yakin bahwa dua orang murid Ouw Kan itu pasti tidak berada di daerah itu.

Mengingat akan keterangan pelayan, mungkin sekali kedua orang itu mengadakan hubungan dengan Empat Datuk Besar.

Akan tetapi di mana?

Selagi ia berjalan perlahan-lahan menuju rumah Ouw Kan sambil termenung karena bingung ke mana harus mencari dua orang itu, ketika ia tiba di pintu gerbang kota Ceng-goan, tiba-tiba ia mendengar derap kaki kuda datang dari arah belakang dan terdengar suara nyaring.

"Pek Hong""!!"

Puteri Moguhai cepat membalikkan tubuhnya dan wajahnya berseri, mulutnya tersenyum ketika ia mengenal siapa penunggang kuda itu.

"Siang In......!"

Thio Siang In menghentikan kudanya dan melompat turun. Mereka saling berpegang tangan dengan gembira.

"Wah, beruntung sekali aku dapat bertemu dengan engkau di sini, Pek Hong."

"Engkau mencari aku? Dari manakah engkau, Siang In?"

"Aku dari kota raja, mengunjungi Ibu kita."

"Ah, engkau sudah bertemu dengan Ibu?"

Siang In mengangguk.

"Aku mendengar dari Ibu bahwa engkau sedang keluar meninggalkan kota raja, katanya engkau hendak mencari dua orang murid Suhu Ouw Kan yang membunuh Han Si Tiong. Aku sudah mendengar semua dari Ibu! Aku lalu mencari ke sini."

"Mari kita bicara di rumah saja. Aku Sementara ini tinggal di rumah bekas...... gurumu itu, Siang In."

Siang In tersenyum mendengar Pek Hong agak ragu menyebut Ouw Kan sebagai gurunya. Ia menepuk pundak saudara kembarnya itu dan berkata.

"Mari kita bicara di sana, lebih leluasa."

Wanita setengah tua yang menjaga rumah itu, terbelalak melihat kedatangan mereka berdua.

Tadinya ia memang sudah merasa heran melihat persamaan wajah Puteri Moguhai dengan wajah Nona Thio, akan tetapi sekarang persamaan itu lebih menyolok lagi walaupun tatanan rambut dan dandanan pakaian mereka berdua itu saling berbeda.

Akan tetapi ia segera mengenal Siang In.

"Ah, Thio-siocia! Sudah lama Siocia tidak datang ke sini. Guru Siocia telah"""

"Cukup, Bibi Alun, aku sudah mengetahui semua. Engkau yakin benar bahwa engkau tidak mengetahui di mana adanya suheng (kakak seperguruan pria) Bouw Kiang dan suci (kakak seperguruan wanita) Bong Siu Lan? Kalau engkau tahu, katakanlah kepadaku."

Nenek itu mengerutkan alis sambil memandang kepada Pek Hong.

"Semua yang saya ketahui telah saya ceritakan kepada Tuan Puteri Moguhai, Nona, akan tetapi baru tadi saya teringat bahwa dulu sekali pernah datang seorang Hwesio yang sudah tua, tubuhnya gemuk sekali seperti arca Ji-lai-hud, suara tawanya menggelegar dan mengagetkan. Karena suaranya nyaring, dari dapur saya dapat mendengar ketika dia mengatakan bahwa Bouw-kongcu (Tuan Muda Bouw) dan Bong-siocia (Nona Bong) diharapkan kehadirannya di Puncak Pelangi. Nah, hanya itulah yang saya lupa menceritakannya kepada Sang Puteri."

"Aih! Justru itu amat penting, Bibi!"

Teriak Pek Hong dan Siang In berbareng.

Tentu saja kedua orang gadis ini terkejut karena yang disebut Puncak Pelangi adalah tempat pertapaan ayah kandung mereka, Tiong Lee Cin-jin!

"Tidak salah lagi, mereka pasti pergi ke sana!"

Kata Pek Hong.

"Kalau begitu, kita harus kejar mereka, sekarang juga!" 'kata Siang In. Kedua orang gadis itu lalu berangkat meninggalkan kota Ceng-goan menuju ke barat. Karena jalan menurun bukit itu cukup terjal dan berbatu-batu, maka keduanya menjalankan kudanya dengan santai sambil bercakap-cakap.

"Pek Hong, dulu telah kuceritakan kepadamu bahwa biarpun aku pernah berguru kepada Toat-beng Coa-ong Ouw Kan, namun aku sama sekali tidak setuju dengan wataknya. Seringkali aku bahkan mencelanya sehingga dia merasa tidak suka kepadaku dan aku selalu akan menentang setiap perbuatan jahat, oleh siapa pun perbuatan itu dilakukan. Maka, engkau tidak perlu merasa rikuh menentang dua orang murid Suhu Ouw Kan itu. Aku akan membantumu!"

"Ah, aku senang sekali mendengar kata-katamu ini, Siang In. Engkau tidak mengecewakan menjadi puteri Yok-sian Tiong Lee Cin-jin dan aku bangga mempunyai saudara kembar sepertimu."

"Aku lebih bangga lagi kepadamu, Pek Hong. Biarpun engkau sejak kecil hidup dalam istana, akan tetapi engkau tetap menjadi puteri Yok-sian Tiong Lee Cin-jin, menjadi seorang pendekar wanita yang gagah dan gigih menentang kejahatan. Bahkan namamu terkenal karena engkau telah membela Kerajaan Kin dan juga Kerajaan Sung Selatan dari para pemberontak."

"Ah, jasaku tidak banyak. Souw Thian Liong yang sungguh berjasa dalam menantang para pemberontak di dua kerajaan itu. Dialah yang sepatutnya menerima pahala, akan tetapi dia seorang yang sungguh rendah hati, tidak tergoda kemilaunya harta dan kedudukan, dan bijaksana sekali."

Siang In menghela napas panjang. Ia tahu bahwa saudara kembarnya ini bergaul akrab dengan Souw Thian Liong. Ia sendiri juga sudah mengenal baik pemuda itu dan diam-diam merasa kagum juga kepadanya.

"Pek Hong, engkau...... cinta padanya, bukan?"

"Eh? Mengapa engkau bertanya demikian?"

"Pek Hong, Ibu telah menceritakan semuanya kepadaku. Menurut cerita Beliau, engkau dimarahi Kaisar karena engkau menolak semua pinangan dari para pangeran dan putera bangsawan, dan Kaisar melarang engkau berjodoh dengan Souw Thian Liong karena Beliau menghendaki engkau menikah dengan seorang bangsa Yu-cen. Nah, katakan padaku, Pek Hong, apakah engkau benar-benar mencinta Souw Thian Liong?"

Pek Hong Niocu menghela napas panjang.

"Entahlah, Siang In. Aku sendiri tidak tahu, aku memang kagum sekali kepadanya."

"Kagum bukan berarti cinta, Pek Hong."

"Aku tidak tahu. Bagaimana sih rasanya hati yang jatuh cinta?"

"Ah, aku sendiri pun tidak tahu, Pek Hong. Aku belum pernah jatuh cinta."

"Hemm, bagaimana hubunganmu dengan Pangeran Cin Han? Apakah engkau tidak cinta padanya?"

"Aku juga tidak tahu, Pek Hong. Aku hanya kagum dan suka padanya karena dia seorang pemuda yang berbudi halus dan sopan, bijaksana sekali."

"Dan tampan......!"

Pek Hong melanjutkan.

"Ah, soal tampan atau tidak itu tergantung dari hati kita, Pek Hong. Kalau kita menyukai seseorang dia akan tampak tampan, kalau sebaliknya kita membenci seseorang, dia akan kelihatan buruk seperti setan!"

Dua orang gadis itu tertawa geli.

"Eh, Siang In. Aku tahu benar bahwa Cin Han itu amat mencintamu. Kalau tidak salah dia pernah meminangmu akan tetapi engkau menolak pinangan itu karena ketika engkau dipinang, engkau belum pernah bertemu dengan dia. Sekarang, setelah engkau berkenalan dengan dia, bagaimana perasaan hatimu?"

Wajah Siang In berubah kemerahan dan ia tersenyum.

"Dia memang seorang pemuda yang baik sekali, Pek Hong. Memang terus terang saja aku merasa tertarik dan suka kepadanya, akan tetapi sayang"... dia seorang siucai (sasterawan) yang lemah. Aku ragu apakah aku dapat hidup bahagia dan cocok dengan dia mengingat pendidikan antara kami yang amat berbeda. Dia ahli sastra sedangkan aku ahli silat."

"Wah, keadaan kita sungguh senasib dan sama, Siang In. Aku pun tertarik kepada seorang pemuda bangsawan bangsa Yucen, akan tetapi seperti juga Cin Han, pemuda itu adalah seorang yang mendapat pendidikan bun (sastra). Sebetulnya keadaannya sebagai seorang putera pangeran bangsa Yucen cocok dengan keinginan Kaisar, dan aku pun mengenal baik ayahnya dan aku tahu bahwa ayahnya seorang yang gagah perkasa, baik budi dan setia kepada Kaisar. Akan tetapi...... ya itu tadi, sayang dia seorang pemuda lemah."

Dua orang gadis itu kini termenung. Siang In membayangkan wajah Cin Han, sedangkan Pek Hong membayangkan wajah Pangeran Kuang Lin.

"Siang In, mari kita percepat perjalanan kita ke tempat pertapaan Ayah, selain untuk menjaganya kalau-kalau dia terancam orang-orang sesat, juga kita dapat minta nasihatnya tentang masalah perjodohan kita."

"Baik, Pek Hong. Aku kira hanya Ayah yang akan dapat menunjukkan jalan terbaik bagi kita."

Dua orang gadis itu lalu membalapkan kuda mereka menuju ke Pegunungan Go-bi.

Pondok itu berdiri di puncak sebuah bukit.

Dari puncak itu tampak pemandangan alam yang teramat indah.

Terutama di waktu matahari terbit atau di waktu matahari tenggelam, pemandangan itu sungguh membuat orang terpesona, seolah melihat taman sorga terbentang di depannya.

Pemandangan yang dibentuk oleh awan dan sinar matahari sukar digambarkan keindahannya.

Apalagi kalau tampak pelangi yang mengandung semua warna itu melengkung di depan, membuat orang lupa bahwa dia berada di dunia, bukan di alam lain.

Pondok kayu yang kokoh itu berada di Puncak Pelangi, sebuah di antara puncak-puncak banyak perbukitan di Pegunungan Gobi.

Matahari pagi sudah agak tinggi sehingga sinarnya yang hangat terasa nyaman sekali menembus kedinginan puncak itu.

Sejuk dan segar.

Kakek itu duduk bersila di atas sebuah bangku batu yang bundar dan rata, bersih dan halus permukaannya.

Dia seorang laki-laki berusia sekitar enampuluh lima tahun.

Wajahnya bersih tanpa jenggot maupun kumis, wajah yang berbentuk bulat dengan dagu meruncing.

Sepasang matanya lembut dan bersinar-sinar cerah seperti mata orang yang merasa lega den puas, mata orang berbahagia.

Rambutnya yang sudah bercampur uban itu diikat dengan pita kuning.

Pakaiannya hanya terdiri dari kain yang dilibat-libatkan di tubuhnya, di bagian pinggang diikat sabuk sutera putih.

Sepatunya dari kain tebal dengan lapisan besi.

Mata yang tajam, hidung mancung dan mulut yang bentuknya indah itu membuat wajahnya tampak tampan.

Dia adalah Tiong Lee Cin-jin yang dikenal banyak tokoh besar dunia persilatan sebagai Yok-sian (Dewa Obat atau Tabib Dewa) dan nama aselinya adalah Sie Tiong Lee.

Beberapa ekor burung gereja bercicitan dan terbang turun dari atas pohon.

Tanpa takut sedikit pun mereka beterbangan dekat tempat Tiong Lee Cin-jin duduk.

Bahkan ada yang hinggap di atas batu tepat di kakinya dan ada pula yang demikian beraninya hinggap di atas pundaknya.

Agaknya burung-burung kecil itu sudah terbiasa berbuat seperti itu dan sudah yakin benar bahwa mereka aman dan tidak akan diganggu.

Bahkan lebih dari itu, mereka seolah menagih!

Tiong Lee Cin-jin tersenyum, merasa bahwa burung-burung itu memang menagih.

Dia lalu mengambil sekepal butiran gandum dan menyebarkannya di atas tanah depan batu yang didudukinya.

Ramailah burung-burung itu berloncatan dan mulai mematuki biji-biji gandum sambil mengeluarkan bunyi hiruk pikuk.

Tiong Lee Cin-jin tersenyum bahagia sambil memandang ke kawanan burung gereja yang setiap pagi pasti menemaninya di situ.

Tiba-tiba Tiong Lee Cin-jin mengangkat muka memandang ke arah bawah puncak sebelah timur.

Dia melihat dua titik hitam yang bergerak mendaki bukit dan sebentar saja dua titik hitam itu mulai berbentuk dua tubuh manusia yang dengan mempergunakan ilmu berlari cepat mendaki bukit menuju puncak.

Mulut kakek itu tersenyum lebar dan matanya bersinar, wajahnya berseri.

Bayangan dua orang itu semakin jelas dan mereka itu adalah Souw Thian Liong dan Han Bi Lan yang menyamar pria dan menggunakan nama Han.

Seperti kita ketahui, pemuda dan gadis itu melakukan perjalanan bersama dan bersepakat untuk saling membantu.

Han Bi Lan berusaha mencari dua orang murid mendiang Toat-beng Coa-ong Ouw Kan yang telah membunuh ayahnya, sedangkan Souw Thian Liong hendak mengunjungi gurunya, Tiong Lee Cin-jin untuk mengabarkan bahwa Empat Datuk Besar mengancam gurunya itu dan dia akan membantu gurunya.

Dalam perjalanan mereka, kedua orang muda ini mendengar bahwa dua orang murid Ouw Kan yang dicari Bi Lan itu agaknya bergabung dengan Empat Datuk Besar dan mungkin akan membantu Empat Datuk Besar menyerang Tiong Lee Cin-jin di Puncak Pelangi.

Maka, mereka berdua lalu cepat melakukan perjalanan menuju Puncak Pelangi.

Setelah tiba di depan kakek itu, mereka berdua segera berlutut memberi hormat.

"Suhu, teecu datang menghadap,"

Kata Thian Liong.

"Lo-cianpwe, maafkan kalau saya mengganggu,"

Kata Han Bi Lan. Tiong Lee Cin-jin tertawa dan mengangguk-angguk sambil memandang kepada dua orang muda itu.

"Thian Liong, siapakah nona yang ikut datang berkunjung bersamamu ini?"

Bi Lan kagum.

Kakek ini sekali pandang saja sudah mengetahui bahwa ia seorang wanita, padahal penyamarannya itu bagus sekali dan di sepanjang perjalanan, tidak ada orang yang mengetahui rahasianya.

Sebelum Thian Liong menjawab, Bi Lan sudah mendahuluinya.

"Maaf kalau saya terpaksa menyamar sebagai pria agar leluasa dalam perjalanan, Lo-cianpwe. Nama saya adalah Han Bi Lan dan saya melakukan perjalanan bersama Souw Thian Liong untuk saling bantu menghadapi orang-orang jahat yang lihai."

"Heh-heh, menarik sekali. Seorang gadis dengan kepandaian seperti yang kaumiliki, siapakah yang akan berani mengganggumu, Nona? Kalian duduklah di batu depan itu agar lebih enak kita bicara."

Thian Liong dan Bi Lan mengucapkan terima kasih lalu duduk di atas batu datar, berhadapan dengan kakek itu.

Bi Lan semakin kagum.

Sekali pandang saja kakek itu mengetahui bahwa ia memiliki ilmu kepandaian tinggi!

"Suhu, teecu mengharap keadaan Suhu baik-baik dan sehat saja,"

Kata Thian Liong.

"Keadaanku baik-baik saja, Thian Liong. Terima kasih dan puji sukur kepada Thian yang senantiasa melimpahkan berkatnya kepada tubuh yang tua ini. Sekarang ceritakan apa yang mendorong kalian datang ke sini."

Thian Liong lalu menceritakan tentang pertemuan antara Empat Datuk Besar di Pulau Iblis telaga See-ouw yang telah mendidik seorang murid sehingga lihai sekali dengan niat khusus agar murid itu membalaskan sakit hati Empat Datuk Besar kepada Tiong Lee Cin-jin.

Tiong Lee Cin-jin mendengarkan cerita Thian Liong dengan sikap tenang seolah tidak ada apa-apa yang perlu khawatirkan.

Bukannya dia meremehkan orang-orang yang mengancamnya, akan tetapi bagi Tiong Lee Cin-jin, gangguan dari golongan sesat sudah sejak dulu dia alami dan hal itu merupakan hal yang wajar saja baginya.

Kekuasaan Setan tidak akan pernah berhenti untuk menyeret manusia ke dalam kesesatan dan selalu golongan sesat memusuhi golongan yang hidup sebagai pengabdi kebenaran dan keadilan.

"Kalau itu yang mereka kehendaki, biarlah, Thian Liong. Hal itu tidak perlu dikhawatirkan. Aku akan selalu melindungi diriku ini sedapat mungkin dan selanjutnya terserah kepada keputusan Thian. Yang harus terjadi terjadilah seperti yang sudah ditentukan oleh Thian. Tidak perlu khawatir."

"Akan tetapi, maaf, Suhu. Teecu menduga bahwa mereka itu akan mengerahkan semua tenaga golongan sesat untuk menyerang Suhu. Tentu saja teecu tidak dapat berdiam diri, Suhu. Maka teecu lalu sengaja datang berkunjung dan menghadap Suhu untuk memberitahu akan ancaman itu agar Suhu dapat bersiap-siap, dan teecu dapat membantu Suhu kalau mereka datang menyerbu."

"Baiklah kalau engkau mengkhawatirkan diriku, Thian Liong. Akan tetapi, bagaimana dengan Nona ini?"

"Suhu pernah melihat Bi Lan ketika dulu teecu hendak dihukum para pimpinan Siauw-lim dan Kun-lun karena fitnah dan Nona ini juga membelaku menghadapi serangan mereka. Han Bi Lan ini adalah puteri dari Paman Han Si Tiong dan Bibi Liang Hong Yi yang dulu bersama teecu dipenjara di istana Kerajaan Sung karena menentang Menteri Chin Kui, Suhu."

Tiong Lee Cin-jin mengangguk-angguk, memandang kepada Bi Lan.

"Ya, aku ingat. Bukankah ayahmu Han Si Tiong itu bersama ibumu memimpin Pasukan Halilintar di bawah pimpinan Mendiang Jenderal Gak Hui yang gagah perkasa itu, Bi Lan?"

"Benar sekali, Lo-cianpwe. Akan tetapi sebagai akibat dari perang itu, Ayah saya dibunuh orang."

"Siancai......! Bagaimana ceritanya?"

"Dalam perang itu Ayah saya merobohkan seorang pangeran Kerajaan Kin sehingga menimbulkan dendam dan Kaisar kerajaan itu mengutus Toat-beng Coa-ong Ouw Kan untuk membunuh Ayah Ibuku. Biarpun usahanya gagal dan Kaisar Kerajaan Kin sudah mencabut perintahnya, Ouw Kan masih penasaran dan pada suatu hari, dia mengutus dua orang muridnya untuk membunuh Ayah dan ibu saya. Usaha itu berhasil, Ayah saya mereka bunuh. Karena itu, saya lalu mencari Toat-beng Coa-ong Ouw Kan dan saya berhasil membalas dendam, saya telah membunuh Toat-beng Coa-ong Ouw Kan itu."

Kakek itu meagangguk-angguk.

"Hemm, aku tidak heran kalau engkau mampu mengalahkan Ouw Kan. Bi Lan, siapa gurumu?"

"Guru saya adalah Jit Kong Lhama......"

"Hemm, aneh sekali. Biarpun tingkat kepandaian Jit Kong Lhama lebih tinggi daripada tingkat kepandaian Toat-beng Coa-ong Ouw Kan, namun tidak banyak selisihnya dan kalau engkau hanya menerima ilmu dari Jit Kong Lhama, kiranya akan sukar bagimu untuk mengalahkannya. Dan aku melihat ada tenaga aneh dalam dirimu, Bi Lan, yang mungkin sekali bahkan lebih kuat dari tenaga yang dimiliki Jit Kong Lhama!"

Sambil berkata demikian, Tiong Lee Cin-jin memandang wajah Bi Lan dengan sinar mata tajam penuh selidik.

Kembali Bi Lan merasa kagum, bahkan terkejut.

Penglihatan kakek itu sungguh tajam seolah menembus dirinya sehingga terhadap Tiong Lee Cin-jin kiranya tak mungkin ia menyembunyikan sesuatu tentang dirinya.

Ia memandang ke arah Thian Liong yang kebetulan juga sedang memandang kepadanya.

Dari pandang mata Thian Liong gadis itu seolah dapat membaca suara hatinya bahwa guru pemuda itu mengetahui segalanya dan lebih baik berterus terang saja!

"Sesungguhnya, Lo-cianpwe, saya telah menerima gemblengan dari seorang guru lain selama satu tahun."

"Ah, gurumu itu tentu seorang manusia luar biasa yang memiliki kesaktian yang tinggi, Bi Lan."

"Guru saya itu berjuluk Heng-si Ciauw-jiok (Mayat Hidup Berjalan), Lo-cianpwe."

"Siancai......! Jadi benar dia itu masih hidup? Heh-heh, dulu aku sudah merasa sangsi mendengar kabar bahwa dia tewas dikeroyok para datuk. Ternyata dia masih hidup! Bukan main, hebat sekali tingkat kepandaiannya, tidak akan mungkin dapat dikuasai sembarang orang!"

"Ada yang aneh sekali tentang datuk itu, Suhu. Menurut cerita Bi Lan, Si Mayat Hidup itu sebelum menerimanya sebagai murid selama setahun, Bi Lan harus berjanji bahwa setelah belajar setahun, Bi Lan harus menguburnya hidup-hidup! Akan tetapi Bi Lan tidak mau melakukan hal itu dan ia kabur meninggalkan orang aneh itu.

"Siancai......! Mengapa engkau mengeluarkan janji seperti itu, Bi Lan? Berjanji harus ditepati! Baik sekali engkau tidak melaksanakan penguburan hidup-hidup terhadap orang yang telah memberimu ilmu-ilmu selama setahun. Akan tetapi, berjanji itulah yang salah! Dan manusia seperti Si Mayat Hidup itu pasti akan terus mencarimu untuk menuntut engkau melaksanakan apa yang telah kau janjikan itu."

"Aduh, Lo-cianpwe, saya mohon petunjuk. Ketika itu, memang saya sedang dalam keadaan bingung dan ingin memperdalam ilmu sehingga mau saja disuruh berjanji seperti itu."

"Ya, aku tahu. Bahkan sekarang pun engkau masih dalam keadaan kacau, batinmu mengalami guncangan dan tekanan berat. Apakah sebetulnya yang menjadi ganjalan hatimu, Bi Lan? Siapa tahu aku akan dapat memberi petunjuk untuk membebaskanmu dari tekanan batin itu."

"Suhu sesungguhnya teecu yang membuat Bi Lan tertekan batinnya. Karena dulu ia pernah meminjam kitab Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat yang seharusnya teecu berikan kepada Kun-lun-pai seperti yang Suhu perintahkan, maka teecu lalu menghukumnya dengan menampar tubuh belakangnya seperti menghajar anak kecil. Bi Lan sakit hati dan berusaha memperdalam ilmu silatnya untuk membalas perbuatan teecu yang ia anggap penghinaan itu. Akan tetapi ia telah membalasnya, Suhu, dan teecu yakin ia sudah tidak mendendam lagi sekarang."

Tiong Lee Cin-jin tersenyum lebar.

"He-heh, kalian ini orang-orang muda sungguh lucu. Terkadang melakukan perbuatan yang berlawanan dengan perasaan hati sendiri. Benarkah engkau tidak mendendam lagi kepada muridku ini, Bi Lan?"

Bi Lan menggeleng kepala sambil mengerling ke arah pemuda itu.

"Tidak Lo-cianpwe, urusan saya dengan Thian Liong sudah beres dan tidak ada ganjalan lagi."

"Bagus! Akan tetapi aku tetap melihat betapa engkau menyimpan kedukaan dalam hatimu, Bi Lan. Mengapa demikian? Atau, kalau urusan itu tidak dapat kauberitahukan orang lain, tidak perlu kauceritakan. Hanya aku ingin memperingatkan bahwa tidak baik membiarkan hatimu digerogoti gundah gaulana dan duka nestapa. Seperti juga dendam kebencian, perasaan itu akan melemahkan jantung dan meracuni darahmu kalau dibiarkan berlarut-larut.

"Maafkan saya, Lo-cianpwe. Saya tidak dapat menceritakan apa yang saya derita, biarlah hal itu menjadi rahasia saya sendiri. Agaknya sudah nasib saya, sudah kodratnya saya harus hidup menderita batin seperti ini."

Ucapan Bi Lan terdengar agak gemetar sehingga Thian Liong sendiri merasa heran dan bertanya-tanya dalam hatinya, apa gerangan yang menyebabkan gadis itu menderita batin seperti itu.

Apakah karena kematian ayahnya?

Akan tetapi kematian ayahnya sudah dibalas dengan kematian Ouw Kan dan kini mereka sedang menantikan munculnya dua orang murid Ouw Kan yang membunuh Han Si Tiong.

Jadi, kalau urusan itu, semestinya Bi Lan tidak menderita batin.

"O-ho, anak baik. Jangan sekali-kali menyalahkan kodrat! Kodrat adalah terjadinya rencana Thian, yang tidak dapat diubah oleh siapapun juga. Akan tetapi, Thian tidak pernah merencanakan penderitaan bagi manusia. Segala macam penderitaan adalah akibat dari ulah manusia sendiri. Kalau kita mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan, misalnya kalau kita menjadi orang yang amat miskin hidupnya, hal itu bukan kodrat semata. Keadaan itu merupakan tantangan dan kita sebagai manusia berkewajiban untuk berikhtiar, berusaha sekuat kemampuan kita untuk mengubah keadaan itu! Penderitaan batin bukan timbul karena keadaan itu sendiri, melainkan karena kita tidak mampu menerima kenyataan seperti apa adanya. Yang terpenting dalam kehidupan adalah ikhtiar, usaha, bekerja karena hidup ini berarti gerak, dan gerakan yang tepat adalah bekerja, berikhtiar. Kita berikhtiar sekuat tenaga melalui jalan yang tidak melanggar hukum Thian, ikhtiar yang tidak melalui tindak kejahatan. Dan sebagai landasan adalah berserah diri kepada Thian karena pada akhirnya Thian yang menentukan. Memang harus diakui bahwa ikhtiar saja belum tentu dapat mengatasi keadaan, akan tetapi kalau kita sudah berusaha sekuat mungkin, berarti kita sudah memenuhi tugas hidup. Kemudian selanjutnya, apa pun yang terjadi setelah kita berusaha sekuat mungkin terserah kepada keputusan Thian. Kehendak Thian selalu terjadi, di mana pun dan bilamana pun. Perasaan kita dalam menerima kenyataan ini tidak masuk hitungan. Kenyataan ini bisa saja oleh umum disebut enak atau tidak enak, menyenangkan atau menyusahkan Namun seorang bijaksana tidak akan menuruti keinginannya sendiri."

"Terima kasih, Lo-cianpwe. Lalu, kalau ada sesuatu yang terasa amat pahit dan menimbulkan perasaan kecewa, penasaran, marah dan terutama sekali sedih, apa yang harus saya lakukan?"

Kakek itu tersenyum.

"Pertanyaan yang baik sekali, Bi Lan. Apa yang ha-rus kita lakukan kalau ada semua perasaan yang tidak enak itu? Nah, jangan lakukan apa-apa, Bi Lan. Yang penting, mengertilah dengan sepenuhnya lahir batin bahwa yang menimbulkan perasaan tidak enak itu adalah si-aku yang berulah dalam pikiran. Aku dirugikan, apa yang terjadi tidak cocok dengan keinginanku, aku dipermalukan, aku dibegini, dibegitukan maka bermunculanlah semua perasaan itu. Ini hanya permainan pikiran belaka, Bi Lan. Kalau kita tidur dan pikiran tidak bekerja, ke mana perginya semua perasaan tidak enak yang kausebut tadi? Semua perasaan itu tentu menghilang bersama dengan berhentinya pikiran. Apa pun yang terjadi adalah suatu kenyataan! Sudah terjadi dan tidak akan dapat diubah oleh kita, bahkan kalau muncul semua perasaan itu, tidak akan menolong keadaan bahkan membuatnya semakin parah. Kalau terjadi sesuatu yang terasa pahit dan menyedihkan seperti kaukatakan tadi, kewajiban kita yang utama adalah berusaha sekuat tenaga untuk mengubah keadaan itu. Kalau semua ikhtiar sepenuhnya dari kita tidak berhasil mengubahnya, maka hadapilah peristiwa itu sebagai suatu kenyataan! Sebagai suatu keadaan apa adanya dan sudah dikehendaki Thian, dengan penyerahan lahir batin. Kalau kita menyerah sepenuhnya, maka Kekuasaan Thian yang akan bekerja sehingga kita dapat menghadapi semua itu tanpa penderitaan. Penyerahan ini mendatangkan kekuatan yang ampuh, Bi Lan, karena kalau kita sudah benar-benar menyerah, kekuasaan Thian akan berkarya dengan ajaib."

Bi Lan menarik napas panjang.

Pikirannya menjadi terang.

Memang selama ini, semenjak ia mengetahui akan kehidupan ibunya di masa lalu sebagai seorang pelacur, ia merasa kecewa, penasaran, dan malu sekali.

Timbul perasaan iba diri yang berlebihan.

Semua perasaan yang mengganggu itu timbul dari bayang-bayang pemikiran.

Bagaimana kalau semua orang mengetahui bahwa ia anak seorang bekas pelacur?

Ke mana harga dirinya?

Dan Thian Liong!

Kalau dia tahu......!

Dapatkah ia menerima kenyataan tentang ibunya itu, menerima dengan ikhlas?

Alangkah berat rasa hatinya!

Bagaimana kalau Thian Liong mengetahui kenyataan itu?

Apakah dia tidak akan memandang rendah padanya?

Ke mana harga dirinya?

Bi Lan semakin pusing.

"Lo-cianpwe, saya dapat memahami petunjuk Lo-cianpwe. Persoalannya sekarang terserah kepada diri saya sendiri dan saya akan mencoba untuk mengatasi gejolak hati ini."

"Siancai! Kesadaran akan mendatangkan penerangan. Semoga kekuasaan Thian Yang Maha Kasih akan membantumu, Bi Lan. Sekarang kalian bersihkan badan dan tukar pakaianmu yang penuh debu. Lalu kita makan bersama. Di dapur telah tersedia makan pagi, tinggal menghangatkan saja."

"Lo-cianpwe, biarlah saya yang akan menyiapkan semua itu,"

Kata Bi Lan.

"Baiklah. Aku akan menanti di sini."

Thian Liong dan Bi Lan memasuki pondok dan Thian Liong yang pernah tinggal di situ selama sepuluh tahun ketika dia digembleng ilmu oleh Tiong Lee Cin-jin, memberi petunjuk kepada Bi Lan di mana adanya tempat mandi dari sebuah mata air di belakang pondok, di mana adanya dapur dan lain-lain.

Mereka mandi bergantian dan ketika selesai mandi, Thian Liong melihat Bi Lan muncul dalam pakaian wanita!

Alangkah cantik jelitanya!

Thian Liong sampai terpesona dan memandang gadis itu dengan mulut melongo!

"Ih, Thian Liong!

Engkau ini mengapa sih?"

Bi Lan menegur dan tersipu, karena ia dapat melihat betapa mata pemuda itu memandang penuh kagum dan hal sekecil ini saja sudah mendatangkan perasaan yang amat menyenangkan hatinya.

Ah, betapa ia ingin Thian Liong kagum kepadanya, kagum akan segala-galanya dan menghargainya.

Akan tetapi ibunya......!

"Ah, aku......

aku......

hanya kaget karena tidak menyangka engkau akan berganti pakaian wanita.

Engkau......

engkau......

cantik sekali, Bi Lan!"

Bi Lan tersenyum, kulit kedua pipinya menjadi merah dan matanya bersinar-sinar.

"Sudahlah, cepat mandi dan tukar pakaian sana! Aku mau mempersiapkan makanan untuk Lo-cianpwe."

Thian Liong pergi ke belakang dan Bi Lan memasuki dapur.

Agaknya kakek yang hidup seorang diri itu pagi tadi telah memasak air dan bubur, akan tetapi dibiarkan dingin.

Bi Lan cepat menyalakan api dan menghangatkan makanan dan minuman air teh.

Tak lama kemudian, Thian Liong yang sudah selesai mandi dan berganti pakaian, bersama Bi Lan keluar dan mempersilakan Tiong Lee Cin-jin untuk makan.

Tiong Lee Cin-jin juga tersenyum lebar ketika melihat Bi Lan yang kini telah berubah menjadi seorang gadis cantik.

"Aih, engkau cantik sekali, Bi Lan!"

Katanya.

Gadis itu tersipu dan diam-diam merasa heran mengapa pujian yang keluar dari mulut kakek itu sama benar dengan pujian Thian Liong tadi.

Apakah Thian Liong juga mempelajari cara memuji seorang gadis dari kakek itu pula?

"Ah, Lo-cianpwe terlalu memuji......!"

Katanya tersipu.

Mereka lalu makan bubur yang hanya dimasak dengan lobak dan sayur hijau, akan tetapi cukup lezat karena tubuh mereka lelah dan perut mereka lapar.

Baru saja mereka selesai makan dan Bi Lan, dibantu Thian Liong, menyingkirkan mangkok sumpit ke dapur, tiba-tiba Tiong Lee Cin-jin berkata sambil menghela napas panjang.

"Wah, mereka sudah datang!"

Thian Liong dan Bi Lan terkejut.

Mereka tidak mendengar apa-apa.

Akan tetapi Thian Liong merasa yakin akan kebenaran ucapan gurunya, maka dia pun bergegas keluar dari pondok, diikuti oleh Bi Lan.

Setelah tiba di luar pondok, baru mereka melihat serombongan orang berlari cepat mendaki puncak itu!

Orang-orang itu berlari dan berlompatan dengan cepat, tidak menimbulkan suara gaduh.

Bagaimana mungkin Tiong Lee Cin-jin yang berada di dalam pondok dapat mengetahui akan kedatangan mereka?

Akan tetapi, mereka tidak memusingkan hal itu karena keduanya yakin akan kesaktian Tiong Lee Cin-jin.

Sebaliknya mereka menanti di depan pondok sambil mencoba untuk mengenal orang-orang yang mendaki puncak itu.

Ternyata mereka semua berjumlah sepuluh orang!

Yang berada paling depan adalah seorang pemuda tampan berkulit putih, wajahnya bulat, matanya mencorong dan mulutnya tersenyum mengejek, sebatang pedang tergantung di punggung.

Di sebelahnya adalah seorang kakek kurus pucat berpakaian tambal-tambalan dan di punggungnya juga tergantung sebatang pedang.

"Hemm, itu adalah Can Kok dan Lam-kai (Pengemis Selatan)!"

Kata Thian Liong.

Di belakang mereka tampak seorang kakek berpakaian seperti seorang tosu (Pendeta Agama To), tinggi kurus rambutnya sudah putih semua dan dia memegang sebatang tongkat hitam berkepala ular.

Di sebelah kirinya berjalan seorang laki-laki berusia empatpuluhan tahun yang tinggi kurus dan berkumis tebal.

"Dan itu tentu Pak-sian (Dewa Utara) dan muridnya, Jui To yang dulu se-cara curang menyerangmu sehingga engkau terluka,"

Kata Bi Lan.

Ternyata mereka berjalan sepasang-sepasang.

Urutan ketiga adalah seorang kakek berpakaian hwesio (Pendeta Buddha) yang tubuhnya pendek gendut dan di punggungnya terselip Sebatang hud-tim (kebutan dewa).

Di sebelahnya berjalan seorang laki-laki berusia sekitar tigapuluh lima tahun, bertubuh tinggi besar bermuka bopeng dengan kulit hitam.

Dari pakaiannya dapat diduga bahwa dia tentu seorang berbangsa Mongol.

"Wah, itu Golam murid Goat Kong Lhama!"

Kata Bi Lan menuding ke arah orang Mongol itu.

"Dan hwesio gendut itu adalah See-ong (Raja Barat),"

Kata Thian Liong.

"Pasangan di samping mereka itu adalah Tung-sai (Singa Timur) dan di dekatnya itu...... hemm...... aku tidak mengenalnya. Mungkin belum pernah aku bertemu dengan dia atau aku lupa lagi......"

Pemuda yang berjalan di dekat See-ong itu berusia sekitar duapuluh delapan tahun, mukanya memanjang ke depan seperti muka kuda, tubuhnya jangkung kurus dan kumisnya tebal.

"Melihat pakaiannya yang biarpun bersih dan baru namun dihias tambal-tambalan itu, dia tentu murid Lam-kai (Pengemis Selatan),"

Kata Bi Lan.

"Dan pasangan terakhir itu, lihat......! Tak dapat diragukan lagi, pemuda dan gadis itu pastilah Bouw Kiang dan Bong Siu Lan dua orang murid Ouw Kan yang telah menyerang Ayah Ibuku dan mengakibatkan Ayah tewas!"

Dugaan Bi Lan memang benar.

Pemuda berpakaian tambal-tambalan itu adalah Kui Tung, murid Lam-kai, sedangkan pasangan kelima itu adalah Bouw Kiang dan Bong Siu Lan!

Tiba-tiba Thian Liong berkata dengan seruan tertahan.

"Lihat, Bi Lan! Lihat jauh di belakang mereka itu!"

Bi Lan memandang dan benar saja, jauh di belakang rombongan sepuluh orang yang mendaki puncak dengan ilmu berlari cepat mereka tampak sekitar tigapuluh orang yang tertinggal karena agaknya ilmu kepandaian mereka tidak setinggi sepuluh orang itu.

"Ah, jahanam-jahanam itu membawa puluhan orang anak buah! Mari kita amuk dan gempur mereka sebelum tiba di sini, Thian Liong!"

Sebelum Thian Liong menjawab, terdengar suara lembut Tiong Lee Cin-jin dari dalam pondok.

"Jangan turun tangan. Orang bijaksana mempergunakan ilmunya untuk membela diri, bukan untuk menyerang orang lain. Tunggu sampai mereka datang, aku akan menemui mereka."

Mendengar suara kakek itu, Thian Liong dan Bi Lan berdiri tenang saja, memandang ke arah sepuluh orang yang diikuti sekitar tigapuluh orang mendaki puncak.

Akhirnya, sepuluh orang itu sudah tiba di pekarangan yang luas dan mereka berhenti.

Bouw Kiang dan Bong Siu Lan bergabung dengan rombongan Empat Datuk Besar ketika mereka diajak oleh Jiu To murid Pak-sian.

Jiu To ini bersama dua orang sutenya yang terbunuh oleh Bi Lan terkenal sebagai Sam-pak-liong (Tiga Naga Utara) dan menjadi sahabat baik mendiang Ouw Kan, maka dia mengenal pula Bouw Kiang dan Bong Siu Lan.

Sepuluh orang itu berhenti di pekarangan dan mereka melihat Thian Liong dan Han Bi Lan berdiri tegak di depan pondok dengan sikap tenang namun sama sekali tidak gentar.

Empat Datuk Besar tidak heran melihat Souw Thian Liong di situ karena mereka sudah mendengar bahwa Souw Thian Liong adalah murid Tiong Lee Cin-jin.

Akan tetapi mereka heran melihat Han Bi Lan.

Akan tetapi Jiu To berkata kepada gurunya dengan suara lantang.

"Suhu, gadis itulah yang telah membunuh Sute Kai Ek dan Lee Song!"

"Keparat, kalau begitu ia yang telah membunuh Suhu pula!"

Teriak Bong Siu Lan marah.

Ia dan Bouw Kiang sudah mendengar tentang gadis ini yang berpakaian serba merah dan berjuluk Ang I Mo-li (Iblis Wanita Baju Merah) dan yang telah membunuh guru mereka selagi mereka tidak berada di sana.

Mereka mengenal Han Bi Lan dari cerita Jiu To tentang gadis baju merah itu.

Mendengar ini, Bi Lan menahan kemarahannya dan suara menggetar karena marah ketika ia berbisik kepada Thian Liong sambil mengepal tinju.

"Tidak salah, Thian Liong, mereka tentulah pembunuh Ayahku!"

"Tenang, Bi Lan, tunggu sampai Suhu keluar."

Bi Lan yang amat menghormati Tiong Lee Cin-jin, tidak berani membantah dan mereka berdua hanya memandang ke arah sepuluh orang itu yang kini melangkah mendekati pondok.

Tigapuluh orang anak buah mereka itu pun sudah tiba di luar pekarangan, agaknya siap menanti komando.

Dalam jarak sekitar tujuh tombak di mana Thian Liong dan Bi Lan berdiri, mereka berhenti melangkah dan Tung-sai yang agaknya diserahi pimpinan atau wakil pembicara, mengeluarkan gerengan seperti auman singa lalu berkata dengan suara yang menggetarkan jantung karena mengandung tenaga sakti yang kuat.

"Tiong Lee Cin-jin! Keluarlah engkau untuk menerima kematianmu!"

Dari dalam pondok terdengar suara tawa.

Lembut dan lirih saja akan tetapi anehnya, dapat terdengar jelas oleh mereka semua, bahkan juga oleh gerombolan yang berada di luar pekarangan!

Lalu muncul Tiong Lee Cin-jin dengan pakaian bersih, wajahnya cerah mengembangkan senyum, melangkah perlahan keluar dari pondok lalu berdiri di depan Thian Liong dan Bi Lan, menghadapi rombongan Empat Datuk Besar itu.

Sejenak matanya yang lembut memandang ke arah empat orang itu satu demi satu lalu dia berkata lembut.

"Ah, kiranya Empat Datuk Besar yang datang bertamu! Pak-sian Liong Su Kian, See-ong Hui Kong Hosiang, Tung-sai Kui Tong dan Lam-kai Gui Lin! Selamat datang, semoga kalian berempat sehat-sehat saja!"

"Tiong Lee Cin-jin kami datang bukan untuk bertamu, melainkan untuk menebus kekalahan kami dahulu! Hayo, majulah melawan kami. Hari ini saatnya engkau menerima kematianmu!"

"Siancai-siancai-siancai......! (Damai-damai-damai)!"

Kata Tiong Lee Cin-jin tenang.

"Tung-sai dan Saudara sekalian. Sejak dahulu aku siap menerima saat kematianku yang pasti akan tiba padaku pada saat Tuhan menghendaki. Kematian takkan dapat dihindarkan manusia, siapapun juga adanya dia! Kalau Tuhan menghendaki seseorang mati, biarpun dia bersembunyi di lubang semut, maut pasti akan datang menjemput! Sebaliknya kalau Tuhan tidak menghendaki seseorang mati, biarpun iblis menyerang kalang kabut, semua itu pasti akan luput! Aku hanya berserah diri kepada Kekuasaan Tuhan, dan tidak akan menyerah kepada kalian, walau kalian membawa seribu orang kawan sekalipun!"

Pada saat itu terdengar derap kaki dua ekor kuda menuju ke pekarangan pondok itu dan terjadi keributan ketika para anak buah Empat Datuk Besar hendak menghalangi, mereka dibuat jatuh berpelantingan oleh dua orang gadis cantik yang sudah melompat turun dari atas kuda mereka dan kini lari memasuki pekarangan.

"Ayah......!!"

Mereka berseru dengan suara berbareng dan semua orang yang datang di tempat itu, termasuk Bi Lan, tentu saja terkecuali Tiong Lee Cin-jin dan Souw Thian Liong, terbelalak heran memandang kepada dua gadis yang kini dirangkul kedua tangan Tiong Lee Cin-jin itu.

Mereka itu begitu persis satu sama lain.

Hanya pakaian dan bentuk rambut saja yang berbeda.

Yang seorang berpakaian serba putih dari sutera halus, rambutnya digelung seperti kebiasaan wanita bangsawan.

Adapun gadis yang kedua, yang wajah dan tubuhnya tiada bedanya dengan gadis baju putih, berpakaian serba hijau dan terdapat bunga mawar merah di rambutnya yang disanggul seperti wanita Han biasa.

"Pek Hong! Siang In! Kalian datang juga? Mengapa begini kebetulan?"

Tiong Lee Cin-jin bertanya sambil tersenyum dan memandang ke arah mereka yang datang menyerbu itu.

"Ayah, aku dan Siang In mendengar akan adanya orang-orang jahat yang hendak membunuh Ayah, maka kami segera pergi ke sini,"

Kata Pek Hong.

"Benar, Ayah. Mari kita basmi orang-orang sesat yang busuk itu!"

Kata Siang In.

"Tenang dan sabarlah, anak-anakku sayang. Biarkan aku bicara dengan mereka."

Dengan lembut Tiong Lee Cin-jin memberi isyarat kepada dua orang puterinya untuk berdiri di belakangnya.

Dua orang gadis itu tersenyum kepada Souw Thian Liong yang menyambut mereka dengan hati gembira pula.

"Syukur kalian datang!"

Katanya lirih.

"Kami juga gembira sekali melihatmu di sini, Thian Liong. Dan ini"... ah, engkau Han Bi Lan, bukan? Bagus kulihat kalian sudah berbaikan!"

Kata Pek Hong atau Puteri Moguhai. Pada saat itu, kembali Tung-sai mengeluarkan suara gerengan yang menggetarkan itu.

"Wah, ada singa mengaum!"

Kata Siang In dengan senyum mengejek.

"Singa apa? Masa singa kakinya dua! Itu tentu sebangsa monyet!"

Kata Puteri Moguhai, tentu saja dengan suara mengejek.

Melihat sikap dua orang gadis kembar itu, sejak tadi Han Bi Lan merasa geli dan timbul rasa suka dalam hatinya terhadap mereka.

Keduanya cantik jelita, keduanya anak-anak orang terhormat.

Puteri Moguhai puteri Kaisar, Ang Hwa Sian-li Thio Siang In puteri seorang pedagang kaya!

Alangkah jauh bedanya dengan dirinya sendiri!

Ia tahu akan mereka berdua dari cerita Thian Liong.

Dan kini, ia melihat dan mendengar sendiri dua orang gadis itu menyebut ayah kepada Tiong Lee Cin-jin!

Mereka begitu cantik, begitu anggun, begitu kaya dan terhormat, Sedangkan ia?

Ibunya saja seorang bekas pelacur!

Dan mereka tampak begitu akrab dengan Thian Liong!

Di balik kegembiraannya bertemu dua orang gadis kembar ini, ada sesuatu yang membuat hatinya tidak enak, membuat ia rasanya ingin menangis!

"Tiong Lee Cin-jin, majulah dan lawan kami!"

Terdengar Tung-sai membentak, menyambung gerengannya tadi.

"Tung-sai, sejak dahulu sudah kuberitahu kepadamu bahwa aku tidak ingin bermusuhan, tidak ingin berkelahi dengan siapapun juga."

"Akan tetapi kami ingin berkelahi denganmu! Kami ingin membunuhmu untuk menebus kekalahan-kekalahan kami dahulu!"

"Siancai......! Alangkah bodohnya. Kalian semua renungkan baik-baik, apa gunanya semua permusuhan ini? Kalau kalian kalah, kalian rugi apakah? Kalau kalian menang, keuntungan apa yang kalian dapat?"

"Sudah, jangan cerewet, Tiong Lee Cin-jin! Kalau engkau tidak berani bertanding melawan kami, hayo engkau berlutut dan mohon maaf kepada kami, baru kami akan melepaskan dan membiarkan engkau hidup!"

"Aku tidak bersalah apa pun kepada kalian, untuk apa minta ampun. Pula, andaikata aku melakukan dosa, aku hanya minta ampun kepada Tuhan. Tung-sai, apakah engkau akan mengajukan puluhan orang ini untuk mengeroyok aku?"

"Hemm, kami lihat engkau pun sudah mengumpulkan orang-orang yang akan membelamu. Kita boleh mengadu kesaktian, tidak perlu keroyokan. Kami mengajukan seorang atau dua orang jago untuk ditandingi jagoanmu."

Lam-kai memberi isyarat kepada Kui Tung, muridnya yang paling dibanggakan. Kui Tung mengangguk dan dia maju ke depan.

"Aku, Kui Tung yang maju mewakili rombongan kami. Hayo, siapa di antara kalian yang berani melawan aku?"

Han Bi Lan hendak maju, akan tetapi ia didahului Ang Hwa Sian-li Thio Siang In yang menyentuh lengannya dan berbisik.

"Biar aku yang menghadapinya."

Lalu gadis ini memandang kepada Tiong Lee Cin-jin untuk minta persetujuannya. Kakek itu mengangguk dan berkata sambil tersenyum.

"Majulah akan tetapi ingat, aku tidak menghendaki pembunuhan di sini."

"Baik, Ayah,"

Kata Siang In dan ia sudah meloncat dengan gerakan ringan sekali ke depan Kui Tung. Ia tersenyum mengejek.

"Aih, Muka Kuda, engkau belum jera juga melakukan kejahatan? Dahulu itu sebagai kepala perampok engkau masih dapat lolos dari tanganku. Sekarang, mari kita teruskan perkelahian itu!"

Diam-diam Kui Tung merasa gentar karena dahulu, dia dan Can Kok bertanding melawan Siang In dan Puteri Moguhai dan dia terdesak oleh gadis yang kini berdiri di depannya itu.

Kalau ketika itu tidak ada Can Kok yang dapat mendesak Puteri Moguhai, tentu dia kalah oleh gadis berbaju hijau ini.

Akan tetapi, saat ini, dia memiliki banyak kawan yang tangguh.

Etnpat Datuk Besar berada di situ, masih ada lagi Can Kok yang amat lihai, ada lagi Jiu To murid Pak-sian, Golam orang Mongol murid Gwat Kong Lhama, dan dua orang murid Ouw Kan, yaitu Bouw Kiang dan Bong Siu Lan yang lihai.

Selain itu di belakang ada tigapuluh orang lebih anak buah Tung-sai yang sengaja dibawa dari Pulau Udang dan rata-rata memiliki ketangguhan lebih dari orang biasa.

Hal ini membuat hatinya tabah dan berani.

"Sratt!"

Dia mencabut sebatang tongkat yang terselip di pinggangnya.

"Ang Hwa Sian-li, sekarang tiba saat pembalasanku. Engkau akan mampus di tanganku!"

Setelah berkata demikian, cepat sekali tongkatnya sudah meluncur dan menusuk ke arah dada gadis itu.

Ang Hwa Sian-li Thio Siang In sudah pernah bertanding dengan pemuda muka kuda ini dan ia tahu bahwa tongkat di tangan lawannya itu bukan sembarang tongkat, melainkan tongkat yang di dalamnya tersembunyi sebatang pedang.

Maka ia sudah mencabut sepasang pedangnya dan menangkis.

"Tranggg......!"

Bunga api berpijar dan gadis itu lalu mainkan ilmu pedangnya, yaitu Toat-beng Siang-kiam (Sepasang Pedang Pencabut Nyawa) yang gerakannya dahsyat.

Terjadilah perkelahian mati-matian dan kedua pihak mengeluarkan semua kepandaian mereka.

Akan tetapi ada bedanya.

Kalau Kui Tung mengerahkan seluruh tenaga dan semua serangannya dimaksudkan untuk membunuh, sebaliknya Siang In membatasi tenaganya agar serangan sepasang pedangnya tidak sampai mematikan lawan, sesuai dengan pesan ayahnya yang tidak berani ia langgar.

Empat Datuk Besar itu selain tinggi dan lihai ilmu silatnya, juga amat cerdik dan curang.

Melihat betapa Tiong Lee Cin-jin ditemani empat orang muda, mereka hendak mempergunakan kelebihan jumlah mereka untuk mendapatkan kemenangan tanpa harus main keroyokan beramai-ramai.

Maka dia memberi isyarat kepada Bouw Kiang dan Bong Siu Lan, dua orang murid mendiang Ouw Kan itu dan mereka yang sebelumnya memang sudah mengatur rencana, maju bersama.

Bouw Kian memegang tongkat hitamnya dan Bong Siu Lan mencabut sepasang pedangnya.

Bouw Kiang berseru.

"Hayo, siapa berani menandingi kami kakak beradik seperguruan?"

Bi Lan menghadap Tiong Lee Cin-jin minta persetujuan tanpa mengeluarkan kata-kata. Kakek itu tersenyum, mengangguk dan memesan pula.

"Majulah akan tetapi ingat, tidak boleh membunuh."

Bi Lan mengangguk, lalu ia melangkah maju menghadapi dua orang itu.

Gadis berusia duapuluh tahun ini tampak cantik dan gagah bukan main.

Pakaiannya serba merah muda, menempel ketat mencetak tubuhnya yang padat ramping dengan lekuk lengkung tubuh yang indah menggairahkan.

Wajahnya bulat telur, rambutnya hitam panjang ditata menjadi kepang dua, di dahi dan pelipisnya bergantungan anak rambut yang melingkar-lingkar.

Dahinya berkulit putih dan halus, alis matanya hitam, kecil namun tebal dengan bentuk melengkung seperti dilukis.

Sepasang matanya begitu jeli dan bening seperti bintang, tajam dan biarpun agak redup seperti tertutup awan tipis, namun berwibawa.

Hidungnya kecil mancung dan lucu, mulutnya mempunyai daya tarik yang kuat dengan bibir yang merah basah tanpa gincu dan di kanan kiri mulutnya terhias lesung pipit yang membuat mulut itu tampak menarik dan menggairahkan.

Dagunya meruncing manis dan kulitnya putih mulus.

Namun di balik semua kejelitaannya itu tersembunyi sesuatu yang gagah berwibawa.

Bi Lan memandang dua orang itu dengan penuh perhatian.

Pemuda itu mukanya seperti muka kuda, walaupun dapat dikatakan tampan.

Sepasang matanya tampak lincah dan cerdik curang, juga jelas membayangkan watak yang cabul mata keranjang.

Adapun gadis berusia sekitar duapuluh tahun itu juga cantik, namun mulutnya agak lebar dan matanya liar.

"Kalian yang bernama Bouw Kiang dan Bong Siu Lan?"

Tanya Bi Lan. Dun orang saudara seperguruan itu mengangguk. Tadi mereka sudah mendapat bisikan dari Kui Tung bahwa gadis baju merah ini adalah Han Bi Lan, maka mereka memandang penuh kebencian.

"Dan engkau ini tentu Si Jahat Han Bi Lan yang telah membunuh guru kami Ouw Kan!"

Teriak Bong Siu Lan marah.

"Tidak keliru! Aku membunuh Ouw Kan karena dia mengutus kalian berdua untuk menyerang Ayah Ibuku!"

"Dan sekarang kami akan membunuhmu untuk membalaskan kematian suhu!"

Bentak Bouw Kiang dan mereka berdua segera menerjang tanpa memberi peringatan lagi.

Tongkat hitam yang mengandung racun itu digerakkan Bouw Kiang menyambar ke arah kepala Bi Lan, sedangkan Bong Siu Lan menggerakkan sepasang pedangnya membuat gerakan menggunting ke arah leher dan pinggangnya.

Bi Lan sekarang berbeda dengan Bi Lan dahulu.

Ketika dahulu ia menerima gemblengan dari gurunya yang pertama, yaitu Jit Kong Lhama, ia sudah mendapatkan ilmu silat yang lihai.

Kemudian ia mempelajari ilmu rahasia simpanan Kun-lun-pai dari kitab Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat yang membuat kepandaiannya bertambah hebat Akan tetapi yang membuat ia seperti sekarang, seorang gadis yang sakti, adalah ketika ia bertemu gurunya yang terakhir, Heng-si Ciauw-jiok (Si Mayat Hidup Berjalan) yang hanya mengajarkan tigabelas jurus silat Sin-ciang Tin-thian dan memperdalam serta memperkuat tenaga sinkangnya.

Biarpun dia dikeroyok dua orang murid Ouw Kan yang lihai itu, namun Bi Lan dengan mudah saja berkelebatan menghindarkan diri.

Sejak menjadi murid Si Mayat Hidup, ia tidak lagi memerlukan bantuan senjata karena benda apa pun dapat ia jadikan senjata ampuh!

Sambaran sepasang pedang dan tongkat hitam itu dihindarkannya dengan cara mengelak, menangkis dengan kedua tangan kosong, bahkan sekali-kali ia menggerakkan kepala dan rambutnya yang dikepang dua itu dapat ia pergunakan untuk menangkis pedang atau tongkat dan sedikitpun tidak ada rambut yang putus, sebaliknya pedang dan tongkat yang tertangkis tergetar hebat dan terpental!

Mereka saling serang dan seperti yang terjadi dengan pertandingan pertama di mana Siang In membatasi tenaganya karena tidak ingin membunuh lawan, juga Bi Lan membatasi tenaganya.

Ia memang membenci dua orang yang mengakibatkan kematian ayahnya ini.

Kalau saja ia tidak segan kepada Tiong Lee Cin-jin yang ia tidak ingin bantah pesannya, tentu dua orang itu sudah diserangnya dengan hebat dan dibunuhnya dalam waktu singkat!

Kembali Tung-sai memberi isyarat, sekali ini kepada pasangan ketiga, yaitu Jiu To murid Pak-sian dan Golam murid Gwat Kong Lhama.

Dia memperhitungkan bahwa dua orang ini akan dilawan oleh.

Puteri Moguhai dan Souw Thian Liong sehingga di pihak musuh tinggal Tiong Lee Cin-jin yang akan dihadapi Empat Datuk Besar dan Can Kok sehingga dia memperhitungkan akan dapat membunuh Tiong Lee Cin-jin yang juga dikenal sebagai Yok-sian (Tabib Dewa atau Dewa Obat) itu.

Jiu To dan Golam, seperti juga Kui Tung, berbesar hati karena merasa kuat dengan adanya banyak kawan, maka mereka melangkah maju dengan sikap gagah, Jiu To sudah menghunus pedangnya dan Golam melolos rantai baja yang tadi dililitkan di pinggangnya.

Tiong Lee Cin-jin mengangguk ketika Moguhai minta persetujuannya untuk menghadapi dua orang ini.

Sie Pek Hong atau Puteri Moguhai yang dikenal dengan julukan Pek Hong Niocu, melompat ke depan dua orang itu sambil mencabut pedang bengkoknya.

Tanpa banyak cakap lagi, Jiu To dan Golam sudah menggerakkan senjata mereka menyerang Moguhai.

Puteri Tiong Lee Cin-jin itu mengelebatkan pedang bengkoknya.

"Trangg...... cringgg......!"

Bunga api berpijar dan berhamburan ketika pedang bengkok itu menangkis pedang di tangan Jiu To dan rantai baja yang digerakkan Golam menyambar ke arah kepala gadis itu.

Seperti juga Siang In, setelah mendapat gemblengan dari ayah kandung mereka, Puteri Moguhai kini juga memperoleh kemajuan hebat.

Tenaga sakti yang mengalir di tubuhnya demikian kuat sehingga bukan saja tenaganya mampu menandingi tenaga dua orang pengeroyoknya, namun ia memiliki kecepatan gerakan yang membuat dua orang pengeroyoknya bingung seolah menghadapi lawan bayangan.

Namun, dua orang ini telah memiliki tingkat kepandaian yang tinggi, ditambah lagi Puteri Moguhai tidak mengerahkan seluruh tenaga karena tidak ingin membunuh mereka seperti yang dikehendaki Tiong Lee Cin-jin, maka pertandingan itu juga berlangsung seru bukan main.

Setelah tiga orang gadis pendekar itu menghadapi lawannya masing-masing, kini tinggal Tiong Lee Cin-jin dan Souw Thian Liong yang tersisa di pihak Yok-sian.

Tung-sai lalu menyuruh Can Kok maju.

Begitu Can Kok melangkah maju dengan bibir tersenyum mengejek dan sikap congkak sekali, Thian Liong mendapat perkenan gurunya untuk menghadapi pemuda sombong yang sinar matanya aneh tanda ada kelainan dalam pikirannya.

Setelah melihat Thian Liong maju mengha-dapinya, Can Kok membentak sombong.

"Kamu minggirlah! Aku datang untuk membunuh Tiong Lee Cin-jin, bukan bertanding melawan bocah yang tiada artinya macam kamu!"

Thian Liong tidak dapat disulut kesabarannya oleh ucapan yang sombong dan memandang remeh itu. Dia tersenyum dan berkata dengan tenang.

"Can Kok, engkau perlu belajar seratus tahun lagi untuk pantas menjadi lawan Suhu. Suhu bukan lawanmu. Akulah lawanmu dan engkau boleh mengeluarkan segala kemampuanmu untuk mengalahkan aku."

Can Kok marah sekali dan seperti kebiasaan anehnya kalau dia marah, dia mengeluarkan suara mengguguk seperti orang menangis!

Suara ini sesungguhnya mengandung getaran tenaga dalam yang amat kuat.

Bahkan Thian Liong yang diserang langsung oleh suara itu merasa betapa jantungnya tergetar!

Akan tetapi dengan pengerahan tenaga sakti dia mampu melindungi tubuhnya sehingga getaran suara itu lewat begitu saja tanpa mengganggunya.

Tiba-tiba tanpa memberi peringatan apa pun tubuh Can Kok sudah membuat lompatan seperti terbang menerjang ke arah Thian Liong seperti seekor burung rajawali menyerang kelinci!

Kedua lengannya dikembangkan dan jari-jari tangannya membentuk cakar menyerang ke arah kepala dan leher Thian Liong!

Thian Liong maklum akan kelihaian lawannya yang digembleng secara khusus oleh Empat Datuk Besar ini.

Dia mengenal serangan dahsyat yang berbahaya, maka dia pun mengerahkan tenaganya menyambut.

Kedua tangannya memapaki serangan Can Kok dan dua pasang tangan yang sama-sama memiliki tenaga sakti yang kuat, bertemu di udara.

"Blaarrr"...!"

Ketika dua pasang tangan bertemu, terasa getaran mengguncang sekelilingnya sehingga mereka yang sedang bertanding di pekarangan itu pun merasakan getaran itu.

Akibat pertemuan dua tenaga sakti yang amat kuat itu, Thian Liong yang menangkis sambil berdiri di atas tanah, tertekan dan kedua kakinya ambles ke dalam tanah sampai ke mata kakinya.

Akan tetapi tubuh Can Kok yang menyerang dari atas tadi, terpental sampai jauh dan setelah membuat pok-sai (salto) lima kali baru dia turun ke atas tanah dengan wajah agak pucat.

Sambil mengeluarkan teriakan melengking, Can Kok sudah menyerbu lagi dan mengirim serangan-serangan maut.

Akan tetapi Thian Liong tetap tenang dan menyambut semua serangan itu dengan kokoh sehingga semua rangkaian serangan itu dapat dia hindarkan dengan elakan atau tangkisan.

Mereka lalu bertanding dengan amat serunya dan keduanya mengeluarkan semua jurus simpanan masing-masing karena tahu bahwa lawannya memiliki kesaktian.

Baca Juga: Dewi Maut 6

Baca Juga: Suling Naga 10

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert