Ceritasilat Novel Online

Dewi Maut 6

Eps 6 Dewi Maut - Kho Ping Hoo

Baca online Dewi Maut - Kho Ping Hoo

Cersil Dewi Maut - Kho Ping Hoo.

"Nona, sebetulnya tidak ada urusan pribadi antara saya dengan mereka. Saya sedang makan di warung sana ketika saya mendengar jerit seorang wanita. Saya cepat lari ke sini dan melihat seorang gadis nelayan sedang ditarik-tarik oleh dua orang di antara mereka tadi, yaitu yang berambut merah dan pirang tadi. Mereka agaknya sedang mabok, maka melihat gadis nelayan itu berteriak minta tolong dan mereka menggunakan kekerasan, saya lalu mencegah. Kemudian datang teman-teman mereka dan saya dikeroyok."

"Dan tikus-tikus itu akan mati semua sekiranya Taihiap menghendaki. Betapa tidak tahu diri mereka itu!"

Tio Sun terkejut karena ucapan ini jelas menunjukkan betapa tajam pandang mata dara ini dan ini saja sudah jelas membuktikan bahwa dara ini tentu pandai ilmu silat sehingga tahu bahwa dia tadi melayani pengeroyokan mereka itu dengan menggunakan tenaga terukur agar jangan sampai kesalahan tangan membunuh mereka.

"Ah, nona terlalu memuji...!"

Katanya, akan tetapi dia sendiri merasa heran mengapa hatinya menjadi begini girang mendengar nona ini menyebutnya "Taihiap"

Dan mengetahuinya bahwa dia tadi tidak bersungguh-sungguh menghajar belasan orang itu?

Biasanya, pujian-pujian baginya hanya akan menimbulkan perasaan muak karena sejak kecil dia sudah digembleng ayahnya sehingga dia menganggap pujian orang lain sebagai suatu hal yang amat berbahaya.

Jangan mendengarkan pujian, demikian kata ayahnya, karena pujian itu merupakan racun yang dapat membuatmu menjadi tinggi hati dan sombong sehingga mengurangi kewaspadaan.

Kini, nona ini memujinya dan baru pertama kali selama hidupnya dia merasa girang dan bangga!

"Saya tidak memuji hanya bicara tentang apa adanya.

Taihiap berilmu tinggi dan sudah lama sekali saya ingin bertemu dengan seorang pendekar seperti Taihiap yang banyak saya dengar dari cerita ibu saya.

Menurut ibu, seorang pendekar sakti yang budiman seperti Taihiap akan selalu siap membantu orang yang dilanda malapetaka, benarkah itu?"

Tio Sun merasa tidak enak juga mendengar dia dianggap sebagai seorang pendekar sakti yang budiman!

Sudah terlampau berlebihan pujian ini!

Akan tetapi karena sikap dara itu jujur dan tidak dibuat-buat, dia menjawab juga.

"Nona, saya bukan seorang pendekar sakti budiman, akan tetapi sebagai seorang manusia, tentu saja saya selalu siap untuk menolong manusia lain yang dilanda malapetaka."

"Kalau begitu, harap Taihiap sudi menolong saya yang sedang dilanda malapetaka dan menderita kegelisahan hebat ini!"

Berkata demikian, nona itu tiba-tiba lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Tio Sun.

Tentu saja pemuda itu menjadi terkejut bukan main.

"Ah, nona... Jangan berbuat demikian... tentu saja saya selalu siap sedia membantumu... harap jangan berlutut seperti ini."

Tio Sun memegang kedua lengan yang kecil itu dan menarik nona itu untuk bangun, Akan tetapi alangkah kagetnya ketika dia mendapat kenyataan bahwa sedikitpun nona itu tidak dapat diangkatnya naik.

Nona itu ternyata telah mengerahkan ilmu memberatkan tubuh!

"Saya tidak akan bangkit kalau Taihiap belum berjanji akan menolong saya."

"Janji baru dapat diberikan kalau saya sudah mendengar urusannya, nona. Bagaimanapun juga saya hanya akan membantu fihak yang benar."

Tio Sun yang maklum bahwa gadis ini sengaja hendak mengujinya, lalu mengerahkan sin-kangya.

Gadis itu mempertahankan diri, akan tetapi Tio Sun adalah putera tunggal Ban-kin-kwi Tio Hok Gwan yang memiliki ilmu menghimpun tenaga selaksa kati yang amat hebat.

Maka dara itu akhirnya tidak kuat bertahan dan tubuhnya dapat diangkat oleh Tio Sun.

Akan tetapi, biarpun dengan dipegang kedua lengannya dia dapat diangkat, tetap saja dia dalam keadaan berlutut seolah-olah tubuhnya menjadi kaku seperti batu!

Tio Sun terkejut dan kagum sekali.

Tidak salah dugaannya bahwa nona ini memiliki kepandaian yang tinggi juga!

"Harap nona tidak sungkan-sungkan dan mari kita bicara,"

Katanya sambil melepaskan kedua lengan itu.

Nona itupun turun keadaan berdiri dan di dalam kegelapan malam itu dia memandang dengan wajah berseri penuh harapan.

"Di sini bukan tempat bicara. Marilah saya persilakan Taihiap untuk singgah di rumahku dan di sana kita dapat berbicara dengan leluasa, dan saya akan menceritakan malapetaka apa yang menimpa diri saya."

Tio Sun mengangguk.

Kalau seorang gadis yang memiliki kepandaian begini hebat, dan juga mempunyai pengaruh terhadap orang-orang kasar tadi sampai dapat dilanda malapetaka, tentulah telah terjadi hal yang amat hebat.

Mereka lalu berangkat menuju ke rumah gadis itu, akan tetapi Tio Sun lebih dulu mengajak nona itu singgah di warung untuk membayar makanan yang tadi dipesannya dan yang belum dimakan sampai habis.

Pemilik warung yang sudah mendengar akan perkelahian Tio Sun dikeroyok oleh banyak orang asing itu menyambut sambil membungkuk hormat, akan tetapi sikapnya menjadi makin menghormat ketika dia melihat nona itu datang bersama Tio Sun.

"Ah, kiranya Souw-siocia (nona Souw)... silakan duduk, nona..."

Kata pemilik warung dan dara itu mengucapkan terima kasih dan menanti di luar sampai Tio Sun selesai membayar harga makanan.

Diam-diam nona itu menjadi semakin kagum dan girang.

Tidak salah lagi, pikirnya.

Seperti inilah seorang pendekar budiman yang seringkali dia mendengar diceritakan oleh ibunya akan tetapi yang belum pernah dijumpainya.

Tio Sun di lain fihak tercengang ketika nona itu mengajaknya memasuki pekarangan sebuah bangunan yang besar dan megah.

"Inikah rumahmu, nona?"

Tanyanya dengan ragu-ragu. Nona itu tersenyum.

"Harap jangan perdulikan rumah, Taihiap. Engkau datang untuk bicara dengan aku, bukan dengan rumah, bukan?"

Tio Sun mengangguk.

Benar, mengapa dia ribut tentang keadaan nona ini?

Apakah bedanya andaikata nona ini seorang miskin sekali ataukah seorang yang kaya raya?

Mereka memasuki ruangan depan, disambut oleh dua orang pelayan wanita yang memberi hormat kepada nona majikan mereka dan kepada tamu itu.

Dara itu mengajak Tio Sun memasuki sebuah ruangan besar, ruang tamu dan memerintahkan dua orang pelayannya untuk mempersiapkan hidangan.

"Ah, tidak perlu repot-repot, nona..."

Tio Sun mencegah.

"Tidak repot, akan tetapi seharusnya. Bukankah Taihiap sedang makan ketika Taihiap mendengar wanita minta tolong? Nah, akupun belum makan malam maka sudah sepatutnya kalau saya mengajak Taihiap makan malam bersama."

Mereka duduk berhadapan terhalang meja dan Tio Sun makin heran melihat sikap dara ini yang demikien terbuka dan polos, tidak malu-malu seperti kebanyakan gadis yang dijumpainya.

Akan tetapi ketika dia memandang dan kini wajah gadis itu nampak jelas disinari lampu gantung di atas mereka, Tio Sun terkejut bukan main.

Gadis itu cantik!

Cantik bukan main, seperti gambar seorang bidadari!

Akan totapi matanya berwarna kebiruan dan rambutnya keemasan!

Seorang gadis asing!

Akan tetapi kulitnya yang kuning, tata rambutnya, pakaiannya, bicaranya adalah seratus prosen gadis pribumi.

Hanya warna mata dan rambutnya!

Dia memandang bengong!

"Eh, Taihiap, engkau memandang apa?"

Nona itu menegur ketika melihat Tio Sun terlongong seperti orang terkena pesona, senyumnya melebar dan di sebelah kiri mulutnya muncul lesung pipit yang manis sekali.

Kini tampak jelas oleh Tio Sun betapa dara itu sebetulnya masih amat muda, akan tetapi agaknya memang mempunyai tubuh yang lebih besar daripada gadis-gadis biasa, karena biarpun tubuhnya yang padat itu seperti tubuh dara yang matang, namun wajahnya menunjukkan bahwa dia baru saja di ambang pintu kedewasaan, paling banyak tujuh belas tahun usianya.

"Maaf... eh, saya kira nona seorang gadis pribumi, akan tetapi..."

Nona itu menghela napas panjang.

"Kau maksudkan mataku biru dan rambutku agak keemasan?"

Lega hati Tio Sun dan dia mengangguk, karena rasanya amat tidak enak kalau dia yang harus mengatakan hal itu.

"Memang demikianlah"

Kata nona itu.

"Kalau aku dikatakan gadis pribumi, hal itu benar, dan namaku adalah Souw Kwi Eng, akan tetapi kalau ada yang mengatakan bahwa aku seorang gedis asingpun, benar dan namaku adalah Maria de Gama. Ayahku seorang Portugis aseli akan tetapi ibuku seorang Tionghoa aseli pula."

"Aihh, kiranya begitukah...?"

Tio Sun memandang dengan penuh kagum dan terheran-heran karena baru sekarang ini dia bertemu dengan seorang peranakan yang berdarah campuran.

Namun harus diakuinya bahwa belum pernah dia melihat yang begini mempesonakan, begini cantik jelita, kecantikan yang khas dan amat menawan hatinya yang berdebar-debar.

"Akan tetapi ayahku bukanlah seperti orang-orang kasar yang mengeroyokmu tadi, Taihiap. Ayahku adalah seorang terpelajar, yang di negaranya termasuk seorang ahli pedang yang disegani, dan di sini dahulu terkenal sebagai pemilik kapal dan juga kapten kapal. Adapun ibuku juga seorang pendekar wanita yang terkenal, karena ibuku adalah murid Panglima The Hoo yang terkenal itu. Ayah bernama Yuan de Gama, maka aku memakai nama Maria de Gama, sedangkan ibuku she Souw, maka akupun memakai nama keturunan Souw."

Tio Sun kelihatan terkejut bukan main mendengar nama-nama itu.

Dia pernah mendengar penuturan ayahnya tentang nama-nama itu.

"Nona... apakah ibumu bernama Souw Li Hwa...?"

Wajah nona yang cantik itu berseri gembira.

"Kau telah mengenal ibuku?"

Tio Sun menggeleng kepala.

"Aku hanya mendengar dari ayah. Ketahuilah nona, bahwa ayahku bernama Tio Hok Gwan dan ayah adalah bekas pengawal setia dari mendiang Panglima Besar The Hoo, oleh karena itu ayah tentu saja mengenali murid beliau, yaitu ibumu yang bernama, Souw Li Hwa. Akan tetapi..."

Dia memandang wajah yang cantik jelita itu dengan alis berkerut karena dia merasa sangsi, bahkan agak curiga memandang nona itu.

"Akan tetapi apakah, Taihiap?"

"Menurut cerita ayahku, pendekar wanita Souw Li Hwa telah tewas, tenggelam bersama Yuan de Gama di atas kapal... bagaimana mungkin sekarang muncul seorang puterinya...?"

"Memang begitulah yang diketahui oleh semua orang, akan tetapi ada rahasia di balik semua itu, Taihiap. Sebetulnya ayah merahasiakan keadaan kami ini, akan tetapi karena sekarang aku menghadapi malapetaka dan membutuhkan bantuanmu, apalagi setelah aku mengetahui bahwa engkau adalah putera seorang pengawal setia dari mendiang The-sucouw (kakek guru The), biarlah aku menceritakannya kepadamu."

Dara itu lalu bercerita yang didengarkan oleh Tio Sun dengan penuh perhatian dan kekaguman.

Tentu saja pembaca cerita "Petualang Asmara"

Juga terheran-heran mendengar pengakuan nona peranakan yang bernama Maria de Gama alias Souw Kwi Eng itu, karena para pembaca tentu masih ingat betapa Souw Li Hwa, pendekar wanita perkasa murid Perdana Menteri The Hoo telah tewas bersama pemuda asing yang dicintainya, yaitu Yuan de Gama.

Oleh karena itu, mari kita mendengarkan penuturan nona cantik yang mengaku sebagai puteri Souw Li Hwa itu.

Seperti telah diceritakan dalam cerita "Petualang Asmara", Yuan de Gama, seorang pemuda Portutis yang gagah perkasa, sebagai seorang kapten kapal, tidak mau meninggalkan kapalnya yang terbakar dan tenggelam.

Setiap orang kapten yang terhormat dan gagah perkasa harus sehidup semati dengan kapalnya, maka biarpun dia masih mempunyai kesempatan untuk menyelamatkan diri, meninggalkan kapalnya yang mulai tenggelam, Yuan de Gama berkeras tidak mau meninggalkannya.

Dan seorang dara cantik jelita dan perkasa, murid Panglima The Hoo, yang bernama Souw Li Hwa, juga berkeras tidak mau meninggalkan Yuan de Gama yang dicintanya.

Kedua orang muda yang saling mencinta ini saling berpelukan dan ikut tenggelam bersama kapal yang terbakar itu, disaksikan oleh ribuan pasang mata yang merasa terharu dan kagum sekali, termasuk mata pendekar-pendekar Cia Keng Hong, Yap Kun Liong, Panglima Besar The Hoo dan lain-lain.

Sudah dapat dipastikan kedua orang muda yang sallig mencinta itu akan mati tenggelam di lautan kalau saja pada saat kapal tenggelam itu tidak terjadi sesuatu yang amat luar biasa.

Seorang laki-laki tua yang berpakaian nelayan, yang tidak mencampuri perang yang terjadi antara fihak pemberontak dan tentara pemerintah (baca Petualang Asmara) dan yang ikut pula menyaksikan terbakarnya kapal dan ikut tenggelamnya pasangan yang saling berpelukan itu bersana kapalnya, memandang peristiwa itu dengan air mata menitik turun di kedua pipinya yang keriputan.

Akhirnya tanpa ada yang melihatnya, kakek tua renta yang perpakaian sebagai nelayan sederhana lalu meloncat dan terjun ke dalam air, menyelam dan lenyap.

Demikianlah, Yuan de Gama dan Souw Li Hwa yang sudah hampir mati lemas, tahu-tahu telah berada di darat, di tempat yang sunyi dalam hutan.

Mereka ditolong dan diselamatkan oleh kakek nelayan itu.

Mula-mula Yuan de Gama marah-marah karena hidupnya itu merupakan suatu hal yang amat memalukan, dan dia dapat dianggap seorang pengecut karena sebagai seorang kapten dia tidak mati tenggelan bersama tenggelamnya kapal.

Hampir saja dia marah dan menyerang kakek itu, akan tetapi dicegah oleh Souw Li Hwa yang menangis dan menyatakan keinginan hidupnya bersama kekasihnya itu setelah ternyata mereka berdua masih hidup.

Adapun kakek itu dengan sabar dan tenang berkata.

"Mungkin sekali kebiasaan bangsamu itu dianggap sebagai perbuatan gagah perkasa, namun di sini hanya akan dianggap sebagai perbuatan tolol, suatu pembunuhan diri yang konyol. Bagaimana nyawa manusia disamakan dengan tenggelamnya sebuah benda mati seperti kapal? Pula, engkau sudah memenuhi kebiasanan itu, sudah tenggelam bersama kapalmu, maka apakah salahnya kalau hal itu tidak membuat kau mati karena memang Thian belum menghendaki kau mati? Setelah sekarang kapalmu tenggelam dan kau dapat kuselamatkan di sini, apakah kau lalu akan membunuh dirimu sendiri bersama wanita yang amat setia kepadamu ini?"

Mendengar ucapan kakek nelayan se"derhana itu, Yuan de Gama tertegun dan tidak dapat membantah.

Memang, kapalnya sudah tenggelam dan dia ternyata masih hidup, bukan atas kehendaknya karena dia ditolong dalam keadaan tidak sadar.

Tak mungkin sekarang dia harus mengajak Souw Li Hwa untuk bersama-sama membunuh diri!

Kematian gagah seorang kapten adalah tenggelam bersama kapalnya, bukannya membunuh diri secara konyol satelah kapalnya tidak ada lagi!

Akhirnya Yuan de Gama dapat melihat kebenaran itu dan tak lama kemudian dia saling rangkul dengan Souw Li Hwa yang menangis sesenggukan sehingga Yuan tidak dapat bertahan lagi untuk tidak mencucurkan air mata.

Kakek nelayan itu tertawa bergelak saking girangnya dan demikianlah, mulai saat itu Yuan de Gama dan Souw Li Hwa hidup sebagai suami isteri dan kakek nelayan itu yang ternyata memiliki kepandaian renang dan bermain di dalam air seperti seekor ikan saja, menjadi pembantu mereka.

Yuan de Gama masih merasa sungkan untuk muncul di tempat ramai dan ketahuan oleh orang-orang bahwa dia tidak lagi menjadi seorang kapten yang gagah perkasa maka dia mengajak untuk hidup sunyi di pantai laut dalam hutan, hanya ditemani oleh kakek nelayan itu.

Akan tetapi, setelah setahun kemudian Souw Li Hwa melahirkan anak kembar, terpaksa Yuan mengajak keluarganya pindah ke kota Yen-tai dan di situ dia hidup sebagai seorang pedagang yang dalam waktu beberapa tahun saja, telah menjadi kaya raya.

"Demikianlah, Taihiap, aku diberi nama Maria de Gama alias Souw Kwi Eng, sedangkan kakak kembarku bernama Richardo de Gama seperti kakek, alias Souw Kwi Beng. Kakek nelayan itu mengajar kami berdua ilmu di dalam air, sedangkan ibu mengajar kami ilmu silat. Dua tahun yang lalu kakek nelayan itu telah meninggal dunia karena usia tua."

Mendengar penuturan itu, Tio Sun cepat bangkit dari kursinya, dan menjura dengan penuh hormat.

"Maafkan kesangsian saya tadi. Kiranya nona adalah puteri pendekar Souw Li Hwa yang dipuji-puji oleh ayah, dan setelah mendengar siapa adanya nona, maka tentu saja saya siap untuk membantu nona."

"Terima kasih, Taihiap..."

"Maaf, harap nona tidak menyebut saya Taihiap. Saya adalah putera ayah saya Tio Hok Gwan yang mengenal baik ibu nona, dan nama saya Tio Sun. Sekarang, perkenankan saya menghadap ibu nona untuk menyampaikan hormat saya..."

"Aihhh, kalau ibu berada di rumah, tentu sudah sejak tadi dia keluar. Tio-Taihiap... eh, baik kusebut kau twako saja, ya?"

"Terserah, asal jangan menyebut Taihiap, karena saya tidak pantas disebut Taihiap."

"Baiklah, Tio-twako. Ketahuilah bahwa ayah ibuku sudah setengah tahun ini pergi berkunjung ke barat, ke negeri ayahku di Portugal. Aku dan Beng-koko tidak boleh ikut dan diharuskan melanjutkan perdagangan ayah dan menjaga rumah. Akan tetapi baru beberapa hari yang lalu terjadilah malapetaka itu."

"Peristiwa apakaah yang terjadi, nona?"

"Kakakku diculik orang..."

Dan wajah itu seketika menjadi muram, pandang matanya diliputi kegelisahan.

Tio Sun terkejut, akan tetapi pada saat itu, empat orang pelayan datang membawa hidangan yang segera diatur di atas meja.

"Nanti saja kita lanjutkan, twako,", kata Kwi Eng dan mereka lalu makan. Tio Sun yang kini sudah mengenal siapa adanya dara yang amat menarik hatinya ini tidak sungkan-sungkan lagi dan mereka makan tanpa bicara, kecuali kalau Kwi Eng menawarkan ini-itu kepada tamunya. Setelah selesai makan dan sisanya diasingkan oleh para pelayan, mereka kini duduk berdua lagi dan bercakap-cakap.

"Sekarang ceritakanlah bagaimana kakakmu dapat diculik orang, nona. Melihat kelihaianmu, tentu kakak kembarmu itupun seorang yang tidak akan mudah diculik orang begitu saja."

"Dugaanmu memang benar, twako. Beng-koko memiliki kepandaian yang cukup, bahkah lebih pandai daripada aku. Selama belajar, aku hanya dapat mengatasi kakakku itu dalam ilmu di dalam air saja, akan tetapi dalam latihan ilmu silat, dia lebih pandai dariku. Akan tetapi yang menculiknya juga bukan orang biasa, melainkan gerombolan bajak laut Jepang yang diketuai oleh seorang yang lihai sekali yang bernama Tokugawa, dan terkenal sebagai seorang jagoan samurai yang menyeleweng menjadi kepala bajak. Di antara Tokugawa dan ayah ibu memang terdapat permusuhan, dimulai ketika Tokugawa dan anak buahnya merampok kapal milik ayah dan ayah bersama ibu segera merampasnya. Di dalam pertandingan satu lawan satu, Tokugawa dikalahkan oleh ibu. Semenjak itu, Tokugawa agaknya tergila-gila kepada ibu dan memiliki niat tidak baik, ingin membunuh ayah dan merampas ibu! Tentu saja ayah dan ibu menentangya dan selalu gerombolan Tokugawa dikalahkan. Kini, setelah ayah dan ibu pergi ke barat agaknya Tokugawa berani lagi bermain gila. Setelah dia dikalahkan untuk yang terakhir kalinya, dia Odak berani muncul lagi dan kabarnya menyembunyikan diri di Pulau Hiu yang kosong. Tiba-tiba, beberapa hari yang lalu dia muncul, tentu telah menggunakan akal sehingga dia berhasil menculik Beng-koko dan mengiriin surat kepadaku. Inilah suratnya!"

Dengan wajah gelisah Kwi Eng lalu memperlihatkan sesampul surat yang ditulis dengan huruf-huruf kasar namun cukup jelas untuk dapat dibaca.

"Kalau ingin melihat pemuda peranakan asing pulang dengan selamat, kirimkan kapal Angin Timur ke Pulau Hiu sebagai penukarnya."

Di bawah huruf-huruf itu, terdapat sebuah gambar tengkorak hitam.

"Apakah artinya gambar ini?"

Tanya Tio Sun setelah membaca surat itu.

"Itulah julukan Tokugawa, Si Tengkorak Hitam yang menjadi bendera gerombolannya."

Setelah mengembalikan surat itu, Tio Sun bertanya.

"Dan kapal Angin Timur itu adalah milik ayahmu?"

"Ya, kapal itu milik kami, kapal yang terbesar dan belum lama ini dibeli oleh ayah dari barat."

"Kenapa kau tidak melaporkan kepada yang berwajib, nona? Bukankah sudah jelas ada bukti dengan surat itu?"

"Brakkkk!"

Kwi Eng menggebrak meja sampai meja itu tergetar.

"Itulah yang menjengkelkan dan menggemaskan! Kau tahu, twako, semua pembesar korup itu telah makan sogokan dari settap orang. Siapa saja yang mampu menyogoknya, tentu akan dilindungi, bahkan penjahat sekalipun tidak akan mereka ganggu selama penjahat itu melakukan sogokan dan membagi hasil!"

"Kau maksudkan Tokugawa telah menyuap para pembesar?"

"Hal itu sudah diketahui oleh umum. Karena yang berani menentang hanya ayah dan ibuku, maka kini Tokugawa menentang kami dan berani mengganggu kami. Hal ini oleh para pembesar dianggap sebagai permusuhan pribadi dan mereka tidak mau mencampuri."

"Hemmm... dan kapal itu amat berharga sehingga engkau merasa sayang untuk menukarnya dengan kakakmu?"

"Tio-twako!"

Tiba-tiba dara itu bangkit berdiri dan memandang Tio Sun dengan sinar mata berapi.

"Kau kira orang macam apa aku ini?"

Tio Sun cepat bangkit berdiri dan menjura.

Hebat gadis ini, pikirnya.

Penuh dengan semangat dan api!

"Maafkan, nona.

Aku tidak menyangka apa-apa, hanya bertanya untuk mengetahui bagaimana tanggapanmu terhadap surat ancaman bajak itu."

Mereka duduk kembali dan Kwi Eng menarik napas panjang.

"Engkau tentu tahu betapa sayangku kepada kakak kembarku itu, twako. Jangankan hanya sebuah kapal, biar seluruh harta benda kami akan kuserahkan untuk menebus keselamatan kakakku. Akan tetapi kau tidak tahu siapa adanya Tokugawa, kepala bajak yang seperti iblis itu. Dia tahu bahwa ayah dan ibu tidak ada, maka dia minta tebusan kapal dan aku tahu bahwa kalau kapal itu kuberikan, tetap saja Beng-koko tidak akan dia bebaskan begitu saja. Yang dia kehendaki adalah ibu atau... aku."

"Maksudmu?"

Kwi Eng menundukkan mukanya.

"Dahulu, Tokugawa pernah tergila-gila kepada ibu karena ibulah satu-satunya wanita yang pernah mengalahkannya dalam ilmu silat. Akan tetapi setelah niatnya itu gagal, dia pernah mengajukan lamaran kepada orang tuaku untuk minta... aku sebagai isterinya."

"Hemm, manusia keparat!"

"Memang, dia kurang ajar sekali. Kini, dengan ditawannya kakakku, aku mengerti bahwa tentu dia akan menggunakan kakak sebagai sandera untuk memerasku, dan untuk memaksa menuruti kehendaknya itu."

"Hemm... lalu bagaimana kehendakmu, nona?"

"Aku akan melawan! Aku akan melawan mati-matian!"

"Bagus kalau begitu!"

"Aku sudah siap, twako. Aku aku sudah mempersiapkan anak buah ayahku yeng terdiri dari lima puluh orang untuk menyerbu ke Pulau Hiu. Akan tetapi, selama ini aku selalu menunda niatku itu karena aku tahu bahwa baik kakakku maupun aku sendiri, tidak akan dapat mengalahkan Tokugawa. Bukannya aku takut kalah. Akan tetapi kalau sampai aku kalah, bukankah berarti hanya mati konyol dan kakakkupun tidak akan tertolong? Aku sedang menanti-nanti kembalinya ibu atau hendak mencari seorang pembantu yang memiliki kepandaian tinggi. Dan... agaknya Thian telah mengirim twako ke sini sehingga aku bertemu dengan twako. Dengan adanya twako yang membantu, twako tentu akan dapat menandingi Tokugawa dan kita akan depat menyelamatkan Beng-koko."

"Kepandaianku tidak seberapa, nona, akan tetapi setelah mendengar penuturanmu, aku ingin berhadapan dengan Tokugawa si keparat kurang ajar itu dan aku mempertaruhkan nyawaku untuk menolong kakakmu."

"Aku sudah melihat gerakanmu ketika kau dikeroyok tadi, twako, dan aku yakin bahwa engkau tentu akan mampu menandingi Tokugawa. Hanya saja, kurahap engkau berhati-hati dan tidak memandang rendah senjata pistol mereka."

"Pistol?"

Tio Sun belum pernah mendengar akan senjata ini.

"Agaknya engkau belum pernah melihat senjata itu. Tadi ketika kau dikeroyok, hampir saja engkau ditembak dengan pistol oleh Pedro si pengecut. Baiknya aku melihatnya dan mendahuluinya."

"Hemm, jadi itukah sebabnya maka nona mempergunakan hui-to untuk melukai tangan si rambut merah itu? Dia hendak mempergunakan senjata pistol? Senjata rahasia apakah itu?"

"Sebuah senjata api, pelurunya digerakkan oleh obat peledak. Berbahaya sekali karena peluru itu cepat sekali menyambarnya, sukar dielakkan karena cepatnya."

Tio Sun mengangguk-angguk.

"Kiranya senjata api dengan obat peledak. Akan tetapi, aku pernah mendengar baha pemerintah melarang orang-orang membawa senjata seperti itu."

"Memang benar demikian, maka tadipun aku mengancam Pedro dan kawan-kawannya. Akan tetapi siapa bisa melarang bajak-bajak yang hidupnya liar di atas lautan? Hanya baiknya, menurut pendengaranku, Tokugawa sebagai seorang bekas jagoan samurai, pantang mempergunakan senjata barat itu dan hanya mengandalkan pedang samunarinya yang amat dibanggakan. Mungkin di antara anak buahnya ada yang membawa pistol, akan tetapi jangan khawatir, akupun mempunyai beberapa buah pistol yang akan kubagi-bagikan kepada anak buahku. Aku sendiri lebih senang menggunakan hui-to daripada pistol yang sebetulnya kalan cepat karena pistol harus membidik dan mengisi obat peluru. Pendeknya, dengan bentuanmu, aku yakin akan dapat menyelamatkan Beng-koko, bahkan dapat membasmi Tokugawa dan anak buahnya."

Gadis itu kelihatan bergembira dan bersemangat sekali.

"Kapan kita berangkat, nona?"

"Besok sore, twako. Besok kupersiapkan anak buahku, lalu pada sore harinya kita berangkat dengan kapal Angin Timur. Kita bersikap seolah-olah memenuhi permintaan si jahanam Tokugawa. Akan kulihat bagaimana macam mukanya kalau dia melihat kita menyerbu pulau itu."

Malam itu Tio Sun tidur di dalam sebuah kamar tamu di rumah Kwi Eng hatinya gembira sekali, dan malam itu tidurnya diisi mimpi indah dengan dara jelita yang amat menarik hatinya itu.

"Sebentar lagi baru air laut akan bergelombang besar,"

Kata Kwi Eng yang tiba-tiba muncul di dekat Tio Sun.

"Indah sekali pemandangannya, nona. Mengagumkan sekali."

Malam itu bulan purnama muncul di langit yang cerah.

Sinar bulan yang sejuk menerangi permukaan kapal yang melundur dengan tenangnya, dan Tio Sun yang berdiri di geladak kapal itu memandangi bayangan bulan yang menari-nari di atas permukaan air laut, mombuat jalur jalan keemasan.

Air hanya berkeriput sedikit saa dan agaknya kalau tidak ada kapal yang meluncur itu, air laut mungkin akan diam seperti kaca.

"Sebentar lagi baru air laut akan bergelombang besar,"

Kata Kwi Eng yang tiba-tiba muncul di dekat Tio Sun.

"Indah sekali pemandangannya, nona. Mengagumkan sekali."

Kwi Eng tertawa ditahan.

"Memang demikianlah bagi yang belum pernah melihatnya. Hidup merupakan pengulangan-pengulangan yang membosankan sehingga baru hal-hal yang baru saja yang akan menarik hati. Coba twako tanyakan kepada setiap orang nelayan atau mereka yang biasa hidup di atas lautan, malam bulan purnama seperti ini same sekali tidak ada keindahannya. Para pelaut tentu lebih mengagumi keindahan di pegunungan, akan tetapi sebaliknya para penghuni gunung sama sekali tidak lagi depat menikmati tamasya alam di pegunungan."

Tio Sun menghela napas panjang.

"Agaknya engkau suka berfilsafat, nona."

Kwi Eng tertawa lagi.

"Mungkin hanya terpengaruh oleh kitab-kitab yang diajarkan oleh ibu kepadaku. Lihat, air laut mulai bergelombang, twako. Sehentar lagi gelombang akan cukup besar sehingga berdiri di sini tidak menyenangkan lagi. Apalagi bagi twako yang tidak biasa, jangan-jangan malah memabokkan. Mari kita masuk saja ke dalam, twako."

Tio Sun melihat bayangan bulan tadi sudah pecah-pecah dan merasakan goyangan kapal ke kanan kiri.

Dia mengangguk dan keduanya lalu memasuki bilik yang cukup besar di mana tersedia meja kursi.

"Bagaimana kau bisa tahu bahwa gelombang akan datang, nona? Padahal tadi tenang-tenang saja, bahkan air laut hampir tidak bergerak sama sekali."

"Karena belum tiba saatnya, twako. Akan tetapi setiap malam terang bulan, air laut pasti bergelombang besar. Karena itu, para nelayan lebih senang mencari ikan di waktu malam gelap."

Kwi Eng sengaja memberangkatkan kapal itu di malam hari agar tidak menarik perhatian orang-orang di pantai, karena dia tahu bahwa sudah pasti diantara anak buah bajak Tengkorak Hitam, Ada yang memata-matai gerakannya.

Dia mengerahkan anak buahnya kurang lebih lima puluh orang, sebagian besar adalah pribumi dan ada belasan orang anak buah bangsa asing yang bekerja di perusahsan ayahnya.

Dia sendiri memakai pakaian ringkas, dengan sepatu yang hitam mengkilap, sepatu boot yang sampai di lututnya.

Sebatang pedang tergantung di punggungnya dan Tio Sun memandang kagum karena dara itu benar-benar kelihatan gagah perkasa.

Malam itu gelombang amat besar dan kapal Angin Timur yang besar itu tidak dapat laju, harus menentang gelombang dan perlahan-lahan mendekati sebuah pulau yang terpencil jauh dari pulau-pulau lain.

Menjelang pagi, ombak mereda dan kapal itu baru berani membuang sauh di dekat pulau, menanti sampai datangnya pagi.

Setelah bola emas besar sekali itu muncul dari permukaan air di sebelah timur, membakar lautan menjadi merah menyala, barulah kapal itu bergerak lagi menuju ke pulau yang memanjang dan dari jauh kelihatan seperti seekor ikan hiu sedang meliuk.

Yang berada di atas dek hanya Kwi Eng, Tio Sun dan beberapa orang anak buah yang bertugas memegang kemudi dan mengatur layar.

Kapal besar itu kelihatan sunyi sekali dan kosong karena tidak ada sepuluh orang yang berada di atas geladak.

Selebihnya, atas perintah Kwi Eng, menyembunyikan diri di bawah dan di balik bilik.

Pembantu yang mengemudikan kapal itu sudah hafal akan tempat ini, maka dengan hati-hati dia dapat memilih jalan yang aman dan menempelkan kapal di tepi putlau yang airnya dalam.

Di situ nampak beberapa buah perahu besar yang bercat hitam, dan beberapa orang yang tadinya berada di situ, berlari-lari ke daratan ketika melihat Kapal Angin Timur itu.

Tak lama kemudian, muncullah seorang laki-laki setengah tua, usianya kurang lebih lima puluh lima tahun, bertubuh pendek tegap, kelihatan kokoh kuat dengan sepasang lengannya yang pendek agak membengkok ke dalam.

Dia memakai pakaian yang berlengan pendek sampai ke siku dan berkaki pendek sampai ke lutut sehingga nampaklah otot-otot di lengan dan kakinya yang melingkar-lingkar dan besar menggembung, tanda bahwa orang itu bertubuh kuat dan bertenaga besar.

Rambutnya diikat di bagian atas dan dibiarkan terurai di belakang lehernya, dan di pinggangnya tampak sebatang pedang melengkung panjang, yaitu sebatang pedang samurai bergagang panjang.

Kedua kakinya memakai sandal sederhana, dan mukanya tertutup kumis dan brewok yang membuat orang ini kelihatan menyeramkan.

Inilah dia Tokugawa, kepala bajak laut Tengkorak Hitam yang amat ditakuti oleh para pemilik kapal karena kejamnya.

Oleh karena itu, melalui perantara kepala bajak laut ini yang bukan lain adalah pembesar di kota Yen-tai sendiri, para pedagang dan pemilik kapal rela membayar uang sumbangan atau hadiah kepada kepala bejak ini agar kapal-kapal mereka dibebaskan dari gangguan Tengkorak Hitam.

Tentu saja hal ini membuat Tokugawa menjadi seorang yang kaya raya dan hanya karena permusuhannya dengan Yuan de Gama dengan isterinya saja yang akhirnya membuat Tokugawa sampai terpaksa melarikan diri ke Pulau Hiu, di mana dia membangun sebuah rumah besar dan menjadikan pulau itu sebagai tempat persembunyiannya atau sebagai pusat dari gerombolan bajak Tengkorak Hitam.

Tokugawa tadinya adalah seorang jagoan samurai di Jepang.

Golongan samurai ini amat termasyhur di Jepang yang muncul di abad ke sebelas.

Pertama-tama muncul para pimpinan golongan-golongan yang menamakan dirinya sebagai pendekar yang disebut daimyo (yang bernama besar) dan para daimyo ini yang karena sifatnya seperti seorang jenderal pemimpin pasukan, maka muncullah golongan samurai (mereka yang mengabdi).

Senjata para pendekar ini yang terutama adalah pedang panjang yang bergagang panjang pula, yang bentuknya agak melengkung.

Banyak jagoan-jagoan samurai yang sudah tidak bertugas dalam pasukan seorang daimyo, lalu menjadi perantau dan sifat mereka yang amat menjunjung tinggi nama mereka sebagai jagoan samurai, mengutamakan kagagahan, seperti halnya para pendekar di Tiongkok.

Akan tetapi karena mabok akan wajah cantik wanita dan mabok akan kesenangan duniawi, berobahlah watak Tokugawa setelah tidak ada disiplin kelompok yang mengikatnya dan dia lalu dimusuhi oleh para jagoan samurai lainnya, karena dianggap sebagai seorang yang mencemarkan nama samurai.

Tokugawa lalu melarikan diri dan akhirnya dia muncul sebagai kepala bajak yang disegani di sepanjang pantai Teluk Po-hai.

Benar seperti diceritakan oleh Kwi Eng kepada Tio Sun, bekas jagoan samurai ini ketika bentrok dengan Yuan de Gama dan bertanding satu lawan satu dengan Souw Li Hwa, samurainya tidak mampu menandingi Li Hwa dan tentu saja dia menjadi kagum bukan main.

Di samping suka akan wanita dan kedudukan serta kehormatan, juga bekas jagoan samurai ini suka sekali akan kegagahan, maka melihat kegagahan Li Hwa, dia menjadi tergila-gila kepada nyonya itu!

Akan tetapi ternyata dia selalu gagal menghadapi pendekar wanita dan suaminya itu, dan akhirnya ketika melihat puteri pendekar wanita itu yang sudah besar, dia mengalihkan harapannya kepada Kwi Eng karena dia tahu bahwa dara cantik inipun mewarisi kepandaian ibunya.

Hal ini membuat Yuan de Gama dan Souw Li Hwa marah sekali dan dengan terang-terangan mereka ini memusuhi Tokugawa dan hendak membunuh serta membasmi gerombolannya.

Tokugawa berkali-kali mengalami kekalahan dan akhirnya dia melarikan diri ke Pulau Hiu itu.

Ketika dia mendengar berita bahwa Souw Li Hwa yang ditakutinya itu bersama suaminya pergi ke barat timbul kembali niatnya dan akhirnya dia menggunakan pengeroyokan anak buahnya berhasil mengalahkan dan menculik Richardo de Gama, kakak kembar dari Kwi Eng dan membawanya sebagai tawanan ke Pulau Hiu.

Mulailah dia melakukan pembalasan terhadap keluarga itu dengan jalan menggunakan Richardo, sebagai sandera dan dia minta ditukar dengan kapal Angin Timur, kapal terbesar di pantai itu!

Kalau dia dapat memiliki kapal itu, tentu dia akan leluasa melakukan pembajakan, mengejar kapal-kapal lain yang tidak memberi sumbangan kepadanya!

Dan tentu saja dia akan menggunakan pemuda itu untuk mendapatkan gadis yang dirindukannya, yaitu Kwi Eng si cantik jelita!

Dapat dibayangkan betapa girang hati Tokugawa ketika mendengar dari penjaga di pantai pulaunya bahwa kapal Angin Timur yang dinanti-nantinya telah muncul!

Dan lebih girang lagi hatinya ketika dia mendengar laporan bahwa di antara delapan orang yang membawa perahu dan tampak di atas geladak itu terdapat Souw Kwi Eng, dara yang membuatnya tergila-gila sebagai pengganti ibu dara itu!

Dia menggosok-gosok kedua tangannya.

"Bagus, sekali tepuk dua lalat ini namanya, ha-ha-ha-ha!"

Maka cepat dia mengumpulkan orang-orangnya yang berjumlah empat puluh orang lebih menuju ke pantai menyambut datangnya kapal itu.

Melihat munculnya musuh besar yang amat dibencinya itu, Souw Kwi Eng lalu mengerahkan khi-kangnya dan berseru dengan suara lantang.

"Heiiiii...! Tokugawa, manusia curang! Hayo lekas bebaskan kakakku, baru aku akan menyerahkan kapal ini kepadamu. Kalau tidak, aku akan memutar kembali kapal ini!"

"Ha-ha-ha, nona manis. Engkau menjadi tamu kehormatan, silakan turun dulu dan kita bicara."

"Siapa percaya omonganmu! Hayo lekas kau bebaskan kakakku!"

"Omongan seorang pendekar samurai boleh dipercaya seratus prosen seperti mempercaya pedangnya!"

Tokugawa berseru agak marah karena kehormatannya tersinggung.

Dia lalu memberi aba-aba dalam Bahasa Jepang kepada anak buahnya dan tak lama kemudian kelihatan seorang pemuda yang tampan dan yang mukanya persis Kwi Eng, hanya lebih besar dan tegap karena dia adalah seorang laki-laki yang gagah, juga matanya berwarna biru dan rambutnya keemasan.

Pemuda ini adalah Souw Kwi Beng dan dia digiring ke pantai dengan kedua tangan terbelenggu ke belakang.

"Koko...!"

Kwi Eng berseru girang ketika melihat kakaknya dalam keadaan selamat walaupun menjadi tawanan musuh.

"Moi-moi... jangan terjebak oleh jahanam Tokugawa! Jangan kaudengarkan omongannya yang palsu! Bawa anak buah sebanyaknya dan serbu saja, atau tunggu sampai ayah ibu pulang. Aku matipun tidak akan penasaran kalau kelak dia dan gerombolannya terbasmi!"

Diam-diam Tio Sun kagum melihat pemuda itu yang demikian tabah dan bersemangat, persis seperti sikap dara jelita itu.

Sudah berada di tangan musuh, berarti nyawanya berada di tangan musuh, masih berani bersikap menentang seperti itu.

"Ha-ha-ha-ha!"

Tokugawa tertawa bergelak.

"Nona manis, engkau tinggal pilih. Engkau serahkan kapal itu baik-baik dan menjadi tamu kehormatanku, atau kau boleh bawa pergi kapal itu akan tetapi lebih dulu kau akan melihat leher kakakmu kupenggal di sini, di depan matamu!"

Tokugawa menggerakkan tangan kanannya dan "sratt!"

Pedang samurai yang melengkung penjang itu telah dihunusnya dan berkilauan tertimpa sinar matahari pagi.

Sebatang pedang yang terbuat dari baja pilihan, pikir Tio Sun.

"Tokugawa, aku tidak takut akan ancamanmu. Aku memang mau menyerahkan kapal ini kepadamu sebagai penukar kakakku, akan tetapi suruh kakaku mendekat dan kau harus menjauhinya agar kau tidak bermain curang. Baru aku mau turun bersama kakakku."

"Moi-moi, jangan...!"

Kwi Beng berteriak penuh kekhawatiran.

"Biarlah, koko, matipun tidak mengapa, asal kita bersama. Pulau seorang jagoan samurai tentu tidak akan mencemarkan samurainya sendiri dengan jalan melanggar janji dan bertindak curang."

"Ha-ha-ha?ha, kau benar, nona manis. Ha-ha-ha!"

Tokugawa menyarungkan samurainya dan mendorong tubuh Kwi Bang ke arah pantai.

"Kau sambutlah adikmu yang manis dan kalian akan kusambut sebagai tamu-tamu kehormatan, ha-ha-ha!"

Kwi Beng terhuyung dan menghampiri adiknya dengan kedua tangan masih terbelenggu ke belakang.

Pada saat itu, Tio Sun mengeluarkan pekik melengking nyaring dan tubuhnya sudah melayang dari atas kapal ke derat, langsung dia menerkam dan menyerang Tokugawa!

Tokugawa terkejut bukan main, cepat dia menggerakkan lengannya yang amat kuat untuk menangkis.

"Dukkk!"

Benturan dua tenaga yang sama kuatnya itu membuat Tokugawa dan Tio Sun keduanya terlempar ke belakang.

Tokugawa makin kaget dan cepat dia memberi aba-aba kepada anak buahnya untuk menyerbu dan menangkap kakak beradik itu.

Akan tetapi tiba-tiba berserabutan anak buah Kwi Eng keluar dari kapal dengan jumlah yang sama besarnya dengan jumlah anak buah bajak.

Bahkan di antara mereka ada pula yang memegang pistol seperti juga anak buah Tokugawa.

Kwi Eng sendiri cepat membebaskan kakaknya dari belenggu, menyerahkan sebatang pedang dan bersama kakaknya dia lalu barlari ke depan.

"Tahaaann...!"

Tiba-tiba Tokugawa berseru sebelum anak buahnya bertempur melawan anak buah Kwi Eng.

Dia mengangkat langan ke atas dan Kwi Eng juga cepat memberi aba-aba agar orang-orangnya menahan senjata.

"Nona Souw, engkau ternyata curang! Engkau menyembunyikan kaki tanganmu di dalam kapal yang katanya hendak kautukarkan dengan kakakmu!"

Tokugawa berteriak, diam-diam matanya menghitung dan mengukur kekuatan lawan, kemudian mengerling tajam ke arah pemuda berpakaian kuning sederhana yang memiliki kekuatan dahsyat tadi.

"Tokugawa, manusia tak tahu malu, kau masih berani bicara tentang kecurangan orang lain? Engkau lari bersembunyi ketika ayah ibu kami masih berada di Yen-tai, kemudian engkau muncul ketika mareka melakukan perjalanan ke luar negeri, dan engkau menculik kakakku. Adakah yang lebih curang dari itu? Sekarang aku datang dengan pasukanku untuk membasmimu, dan engkau bilang aku curang?"

"Bocah she Souw yang sombong! Karena aku kagum kepada ibumu dan karena aku cinta kepadamu maka aku tidak membunuh kakakmu, aku perlakukan dengan baik. Daripada engkau dan kakakmu mati konyol, lebih baik engkau menurut saja menjadi isteriku dan kita semua menjadi keluarga, bukankah kedudukan kita akan menjadi lebih kuat?"

"Jahanam hina! Manusia macam engkau ingin memperisteri aku? Lebih baik aku mati bersama kakakku daripada dijamah tangan kotormu yang berlumuran darah manusia tak berdosa itu. Kau orang hina dan curang, yang hendak bersembunyi di belakang samuraimu yang sudah berkarat!"

Hebat bukan main hinaan ini bagi seorang jagoan samurai.

Tio Sun menjadi terkejut mendengar kata-kata dara itu, karena kata-kata itu luar biasa tajamnya menusuk perasaan.

"Bocah bermulut lancang! Kau menghina Tokugawa? Ayahmu sendiri seorang pengecut, bersembunyi di balik nama seorang kapten gagah perkasa yang tewas bersama kapalnya, tapi diam-diam melarikan diri dan hidung dengan sembunyi-sembunyi...! Kalau memang kalian keluarga gagah, hayo lawan Tokugawa satu lawan satu!"

Tio Sun mengangguk dan dia melangkah maju menghadapi Tokugawa.

"Tokugawa, akulah lawanmu. Kita bertanding satu lawan satu ataukah hendak main keroyokan?"

"Siapa kau?"

Tokugawa membentak dengan suara yang agaknya keluar dari dalam perutnya yang gendut.

"Namaku Tio Sun."

"Kenapa kau mencampuri urusan ini? Apakah engkau kaki tangan bayaran dari keluarga berdarah campuran ini? Sungguh memalukan sekali seorang pendekar menjadi antek orang asing!"

"Tokugawa, mulutmu kotor seperti pecomberan!"

Kwi Eng membentak, akan tetapi Tio Sun tersenyum kepadanya.

"Tokugawa, dengarlah baik-baik. Ayahku adalah seorang bekas pengawal yang paling dipercaya dari mendiang Panglima Besar The Hoo, oleh karena itu, biarpun aku tidak bekerja kepada pemerintah, namun melihat bahwa engkau adalah kepala bajak laut yang jahat dan mengganggu ketenteraman, sudah menjadi kewajibanku untuk menentang dan membasmimu."

"Keparat, bocah sombong engkau. Sudah bosan hidup agaknya. Hyaaaaattttt...!"

Dengan tiba-tiba Tokugawa menyerang dengan kedua lengannya yang pendek-pendek namun kuat sekali itu.

Caranya menyerang seperti seekor kerbau hendak menyeruduk, kepalanya di depan dan kedua lengannya menyambar dari kanan kiri, agaknya hendak meringkus tubuh Tio Sun yang dibandingkan dengan dia hanya kecil saja sungguhpun jauh lebih jangkung.

Tio Sun yang maklum bahwa orang ini mungkin ahli bermain pedang, akan tetapi bukan ahli berkelahi dengan tangan kosong, hanya mengandalkan tenaga kasarnya saja, maka dia sengaja tidak mau mengelak, melainkan menangkis pula dengan kedua lengannya yang dikembangkan ke kanan kiri.

"Plak! Plakk!"

Untuk kedua kalinya mereka mengadu tenaga, kini dengan kedua lengan, dan akibatnya, lengan mereka terpental.

Akan tetapi, tiba-tiba Tio Sun menjadi terkejut bukan main karena entah bagaimana, tahu-tahu tangan Tokugawa telah dapat menangkap lengannya, dengan cara yang aneh dan cepat lengannya diputar dan sebelum Tio Sun sempat membebaskan diri, tubuhnya sudah terlempar!

Untung pemuda ini memiliki gin-kang yang baik sekali dan cepat dia dapat menguasai keseimbangan tubuhnya sehingga dia dapat terhindar dari bantingan, dan dari kejaran Tokugawa yang sudah tertawa-tawa.

"Keparat, siapa takut padamu?"

Kini Souw Kwi Beng hendak meloncat ke depan, akan tetapi adiknya memegang lengannya dan menoleh ke arah Tio Sun.

"Tio-twako, maukah kau mewakili kami memberi hajaran kepada bejak sombong ini?"

Katanya.

"Plak! Desss!"

Tokugawa yang kini terkejut ketika tubuhnya terkena tamparan dan perutnya tercium ujung kaki lawan ketika dia hendak mengejar lawan yang telah dibantingnya itu.

Keduanya lalu meloncat bangun lagi, saling pandang dengan sinar mata saling mengukur dan marah seperti lagak dua ekor ayam jago yang berlaga hendak saling terjang.

Tio Sun merasa kecelik.

Biarpun mungkin Tokugawa tidak memiliki ilmu pukulan yang membahayakan, namun ternyata kepala bajak ini memiliki kepandaian gulat dan gerakan seperti Ilmu Kim-na-jiu yang mengandalkan kecepatan kedua tangan dan mematahkan kedudukan kaki lawan.

Tahulah dia bagaimana harus menghadapi lawan yang pandai Ilmu Kim-na-jiu (Ilmu Silat Cengkeraman dan Pegangan) ini.

Sama sekali tidak boleh merapat atau mengadu tangan!

Maka Tio Sun lalu menerjang dengan cepat sekali, mengirim pukulan-pukulan mengandalkan kecepatan gerakannya dan sama sekali tidak memberi kesempatan kepada lawan untuk merapat.

"Bukkk...desss...!"

Tubuh Tokugawa terpelanting, akan tetapi tubuhnya menang kuat dan kebal sehingga hantaman tangan kiri Tio Sun yang mengenai pundak kanannya disusul tendangan pemuda itu yang mengenai lambungnya tidak membuat si kate kekar ini kalah.

Dia terpelanting dan bergulingan lalu meloncat dekat lawan, langsung dia menerkam seperti seekor burung garuda menyambar anak kambing.

Kini Tio Sun mengelak cepat, meloncat ke kiri dan sengaja berlaku sedikit lambat sehingga lawan lewat dekat di sampingnya.

Sikunya menyambar disusul tamparan pada tengkuk lawan.

"Plakkk...desss...!"

Kembali tubuh Tokugawa terjungkal dan bergulingan, akan tetapi tetap saja dia meloncat bangun lagi.

Kedua matanya menjadi merah, mulutnya mengeluarkan busa dan jenggot serta kumisnya bergerak-gerak, dari mulutnya terdengar bunyi kerot gigi beradu.

Kedua tangannya direnggangkan dengan jari-jari tangan terbuka, buku-buku jari tangannya mengeluarkan bunyi berkerotokan dan tiba-tiba tampak sinar kilat menyambar ketika dia mencabut samurainya yang gemerlapan saking tajamnya itu.

Setelah mencabut samurainya, agaknya bangkit semangat jagoan samurai dalam diri Tokugawa.

Sikapnya menjadi gagah sekali, gagah dan tenang, agaknya dia telah mampu menguasai kemarahannya setelah melihat samurainya yang diagungkannya itu.

Kedua tangan memegang gagang samurai yang panjang, tubuhnya agak membongkok, kedua kakinya memasang kuda-kuda, matanya terang dan tajam memandang gerak-gerik lawan, dan sedikitpun dia tidak bergerak seolah-olah telah berobah menjadi arca batu.

Tio Sun juga sudah mencabut pedangnya.

Pemuda itu sama sekali tidak berani memandang rendah karena biarpun cara memegang pedang lawannya begitu aneh, menggunakan dua tangan, namun sikap lawannya, pasangan kuda-kudanya, gerakgeriknya, jelas membayangkan keahlian.

Pula, selama hidupnya belum pernah dia bertemu dengan lawan yang menggunakan pedang samurai, maka dia tidak tahu bagaimana sifat ilmu pedang ini.

Oleh karena itu, setelah menghunus pedangnya dan memegang pedang dengan tangan kanan, Tio Sun juga memasang kuda-kuda yang gagah, kaki kiri tegak, kaki kanan diangkat dan ditekuk lututnya sehingga ujung sepatu kanan menyentuh lutut kiri, pedangnya di depan tubuh menuding ke bawah, ujungnya menyentuh tanah dan tangan kiri di atas kepala menuding ke langit, mata mengerling ke kanan, ke arah lawan dengan pandang mata tajam.

Inilah pembukaan kuda-kuda yang disebut Menunjuk Bumi dan Langit yang merupakan pembukaan pertahanan yang amat kuat.

Melihat lawannya tidak dapat dipancing untuk menyerang lebih dulu, Tokugawa yang menjadi penasaran itu lalu menggerakkan pedangnya.

"Singgg... hyyyaaaatttt!"

Dia berlari ke depan, pedangnya digerakkan dengan cepat sekali, terputar-putar berobah menjadi gulungan sinar pedang kilat yang bergulung-gulung dan mengeluarkan bunyi dahsyat.

"Sing-singggg... wuuutt-wuuutt-wuutt...!"

Tio Sun cepat mengelak dan kini dia mulai mengerti akan kedahsyatan ilmu pedang yang dimainkan oleh dua tangan itu.

Pedang itu melengkung dan panjang lagi berat, digerakkan oleh kekuatan dua buah tangan maka tentu saja amat hebat dan dahsyat, sekali saja mengenai tubuh lawan pasti berarti maut dan gerakan lawan itu sembilan puluh prosen berupa serangan, dan sedikit sekali mementingkan pertahanan karena tentu menurut perhitungan Tokugawa, serangannya yang dahsyat dan bertubi-tubi tanpa memberi kesempatan kepada lawan (Lanjut ke

Jilid 20) Dewi Maut (Seri ke 03 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 20 itu pasti membuat lawan tidak mampu balas menyerang.

Jadi inti gerakan Tokugawa itu adalah semata-mata menekan lawan dan tidak memberi kesempatan kepada lawan untuk membalas!

Tio Sun sejak kecil digembleng oleh ayahnya sendiri dan ayahnya itu, Ban-kin-kwi Tio Hok Gwan, adalah seorang bekas pengawal Panglima Besar The Hoo sehingga telah melakukan ribuan pertempuran dan telah memiliki pengalaman vang luas sekali menghadapi orang-openg pandai dari berbagai aliran.

Karena tidak mungkin baginya untuk menceritakan semua teori aliran-aliran ilmu silat yong demikian banyaknya, maka dia hanya memesan kepada puteranya itu agar setiap kali menghadapi lawan yang tidak dikenal ilmunya, janganlah terburu nafsu untuk mengalahkan lawan itu sebelum tahu benar-benar akan kelemahan-kelemahannya.

Terburu nafsu ini mungkin akan mencelakakan diri sendiri karena dalam keadaan terdesak, lawan itu mungkin memiliki suatu ilmu simpanan yang akan berbalik mencelakakan penyerangnya.

Oleh karena itu, biarpun Tio Sun sudah tahu bahwa lawannya lebih menekankan penyerangan sehingga pertahanannya menjadi lemah, dia tidak mau tergesa-gesa membalas serangan lawannya, apalagi karena dia maklum bahwa lawannya ini memiliki ilmu yang aneh-aneh dan tentu saja sebagai seorang tokoh sesat telah memiliki pengalaman pertempuran yang amat luas.

Oleh karena itu, dia hanya mengelak dan kadang-kadang menangkis dan setiap kali tangkisan, pedangnya tentu terpental karena tenaga sebelah tangannya, betapapun kuatnya, tidak mampu menandingi tenaga kedua tangan Tokugawa.

"Sing-sing-wuuut-wuuuttt... trang-cringggg...!"

Sampai lewat lima puluh jurus Tio Sun kelihatan seolah-olah terdesak oleh Tokugawa dan anak buah Tokugawa sudah menyeringai dan tersenyum-senyum girang.

Mereka itu agaknya maklum bahwa pemuda itu adalah "jagoan"

Yang dibawa oleh musuh, dan kalau sang jagoan itu sudah dirobohkan, tentu akan mudah membasmi pasukan lawan yang sudah kehilangan jagoannya yang diandalkan.

Akan tetapi, di fihak Kwi Eng dan Kwi Beng, hanya para anak buah mereka saja yang kelihatan gelisah melihat Tio Sun terus didesak mundur, bahkan sering kali samurai yang tajam bukan main itu hanya berselisih sedikit dari tubuh jagoan mereka!

Akan tetapi Kwi Eng dan Kwi Beng menonton dengan tenang-tenang saja.

Dua orang muda ini adalah putera-puteri pendekar wanita Souw Li Hwa dan mereka itu dapat melihat betapa Tio Sun bertanding dengan hati-hati dan tenang, tanda bahwa pemuda itu memang berkepandaian tinggi dan tidak sembarangan main seruduk saja yang kemudian akan mengakibatkan kekalahan di fihaknya.

Kini mulailah Tio Sun dapat mempelajari inti gerakan lawan.

Juga dengan girang dia melihat betapa lawannya sudah mulai berkeringat dan napasnya mulai memburu.

Hal ini tidak mengherankan karena Tokugawa telah berusia lima puluh tahun lebih, menggerakkan samurainya dengan kedua tangan dan dengan sepenuh tenaga, ditambah lagi cara hidupnya yang tidak sehat, maka tentu saja ketangkasan dan daya tahannya tidak seperti di waktu dia masih menjadi seorang jagoan samurai di negerinya.

Diapun maklum bahwa lawannya ini hebat bukan main, tidak boleh dipandang ringan saja.

Dahulu pernah dia memandang ringan kepada Souw Li Hwa dan dia kalah, hampir saja dia tewas.

Maka kini dia harus bersikap hati-hati.

Setelah mendesak selama lima puluh jurus dan sama sekali tidak ada tanda-tanda bagi lawan untuk kewalahan menghadapi samurainya, bahkan gerakan lawan makin lama makin cepat dan ringan, Tokugawa lalu menggunakan siasat.

Dia sengaja memperberat napasnya dan memperlambat gerakannya.

Betapapun juga, Tio Sun adalah seorang pemuda yang baru saja keluar dari rumah ayahnya, seperti seekor burung yang baru keluar dari sarang.

Biarpun dia telah mempelajari banyak teori, akan tetapi dia belum banyak pengalaman, maka dia tidak tahu bahwa lawannya itu berpura-pura kehabisan tenaga.

Dia menjadi girang sekali melihat kelambatan gerakan samurai, maka mulailah dia menyerang!

"Heiiiiittttt...!"

Pedangnya meluncur seperti kilat.

"Cring-cringgg... ciuuuutttt...!"

Samurai itu menangkis dua kali dan tiba-tiba dari pinggir gagangnya meluncur sebatang paku ke arah Tio Sun.

"Aduhhh...!"

Tio Sun terpekik karena kaget ketika tahu-tahu paku itu menancap di pundak kirinya.

Pedangnya berkelebat cepat laksana kilat dan kini Tokugawa yang berteriak, tangannya berdarah dan terpaksa dia melepaskan samurainya.

Pada saat itu Tio Sun yang telah terluka pundaknya itu secepat kilat menusukkan pedangnya ke arah dada lawan.

Tokugawa miringkan tubuhnya membiarkan pedang itu menancap di pundaknya akan tetapi pada saat itu, Kedua tangannya menyambar dan dia sudah berhasil menangkap kedua pergelangan tangan Tio Sun!

Cengkeramannya itu kuat sekali dan Tio Sun maklum bahwa agaknya tidak mungkin melepaskan kedua lengarmya dari cengkeraman itu, maka diam-diam dia lalu mengerahkan sin-kangnya untuk memberatkan tubuhnya.

Tokugawa tertawa bergelak.

Jagoan samurai ini maklum bahwa bagi ahli silat, yang berbahaya adalah kedua tangannya, maka kini dia telah berhasil menangkap kedua pergelangan tangan lawan, membuat lawannya tidak berdaya.

Dia sama sekali tidak berani melepasken lengan lawan, karena maklum bahwa begitu terlepas, tangan itu akan dapat mengirim pukulan maut dengan cepat sekali dan hal ini amat membahayakan dirinya.

Maka setelah kini berhasil menangkap lengan lawan, dia tertawa.

"Ha-ha-ha, hayo, kau lepaskan dirimu kalau bisa! Dan bersiaplah kau untuk mampus kubanting!"

Souw Kwi Beng dan Souw Kwi Eng memandang dengan kaget sekali.

Tadi mereka sama sekali tidak khawatir karena ilmu silat pemuda yang membantu mereka itu ternyata tinggi sekali.

Akan tetapi sekarang, dengan kedua pergelangan tangan dicengkeram, ilmu silat tidak ada gunanya lagi, karena kedua lengan tak dapat digerakkan.

Kwi Beng dan Kwi Eng merasa heran mengapa pemuda itu tidak mau menggunakan kakinya untuk menendang.

Dan Tokugawa juga bahkan mengharapkan lawannya itu menggerakkan kaki menendangnya.

Akan tetapi Tio Sun berpendapat lain.

Setelah bertempur, dia maklum bahwa dia dapat mengatasi ilmu silat kepala bajak ini, akan tetapi yang amat diandalkan oleh lawannya dan tidak dapat diatasinya hanyalah ilmu gulat yang aneh.

Maka dia tidak mau mengangkat kaki menendang, karena dia menduga bahwa pada saat dia menendang, maka kekuatan bawah tubuhnya lenyap dan dia akan mudah diangkat dan dibanting oleh lawan yang bertenaga gajah ini.

Dan dugaannya memang benar, Tokugawa juga menanti-nanti saat itu.

Karena dia mendapat kenyataan bahwa lawannya tetap tidak mau menendangnya bahkan kelihatan seperti memasang kuda-kuda yang kokoh kuat, Tokugawa tertawa, kemudian tiba-tiba mengeluarkan suara dari perut dan kedua lengannya bergerak, otot-otot sebesar jari tangan di sekitar lengannya menonjol.

"Haaaaaiiiiikkkkk... hyaaaaatttt...!"

Dia mengerahkan seluruh tenaganya, dengan ilmu gulat dia berusaha mengangkat tubuh pemuda itu untuk dilemparkannya atau dibantingnya.

Akan tetapi, sedikitpun kedua kaki Tio Sun tidak terangkat!

Pemuda ini adalah putera tunggal, Juga murid dari Tio Hok Gwan yang berjuluk Ban-kin-kwi (Setan Bertenaga Selaksa Kati), maka tentu saja dia sudah melatih diri dengan ilmu kebanggaan keluarganya ini sehingga kini jangankan baru tenaga seorang Tokugawa, biar kepala bajak itu menggunakan bantuan sepuluh orang kaki tangannya, belum tentu akan mampu mengangkat tubuh Tio Sun!

Tentu saja Tokugawa menjadi penasaran sekali.

Dia adalah seorang jagoan samurai yang terkenal memiliki tenaga hebat dan jarang ada lawan yang mampu menandingi tenaganya.

Akan tetapi sekarang, setelah menguasai kedua lengan lawan ini, seorang pemuda yang masih amat muda, bertubuh kecil saja, seorang pemuda yang belum ternama, dia tidak mampu mengangkatnya!

Saking marahnya, dia mengerahkan seluruh tenaga dalam dan tenaga otot, perutnya mengeluarkan gerengan seperti seekor harimau terluka.

"Auggghhhh... haaaiiiikkkkk... prott!"

Kwi Eng sebagai seorang gadis yang wataknya jenaka dan periang, tidak mampu menahan kegelian hatinya mendengar suara terakhir tadi, karena suara berperopot itu keluar dari pantat Tokugawa!

"Hi-hi-hik, tak tahu malu...!"

Kwi Eng terkekeh sambil menutupi hidungnya, menjepitnya dengan ibu jari dan telunjukiya.

Pada saat itu, Tio Sun nengeluarkan pekik dahsyat melengking, tanda bahwa dia telah mengerahkan Ban-kin-keng (Tenaga Selaksa Kati) sepenuhnya dan tiba-tiba saja tubuh Tokugawa terangkat ke atas dan sekali Tio Sun menggerakkan kedua lengannya, terlepaslah pegangan kedua tangan Tokugawa dan tubuh kepala bajak itu terlempar ke depan sampai enam tujuh meter jauhnya, terbanting ke atas tanah berdebuk dan mengebullah debu di atas tanah yang tertimpa tubuhnya itu.

Sebelum Tokugawa sempat merangkak bangun, tampak sinar menyambar dibarengi suara ledakan.

"Tar-tar...!"

Dan tubuh itu roboh kembali dengan kepala pecah disambar pecut baja, yaitu joan-pian yang merupakan pecut yang dipakai oleh Tio Sun sebagai ikat pinggang!

Tentu saja peristiwa ini mengejutkan hati para bajak laut dan serentak mereka menyerbu ke depan didahului oleh tembakah-tembakan dari pistol beberapa orang anak buah bajak.

"Tio-twako, awas pistol...!"

Kwi Eng menjerit, akan tetapi Tio Sun yang sudah bersikap waspada, cepat meloncat ke belakang, kemudian bertiarap di dekat Kwi Eng dan Kwi Beng yang merupakan seorang jagoan tembak, menyambar sepucuk pistol dari tangan seorang anak buahnya, Lalu bersama para anak buahnya yang memegang pistol dia lalu maju.

Terjadilah tembak-menembak, akan tetapi hanya sebentar saja karena Kwi Eng yang tahu bahwa fihak lawan sudah kehabisan peluru tidak memberi kesempatan kepada lawan untuk mengisi kembali senjata api mereka dan sudah mengerahkan anak buahnya menyerbu ke depan.

Dia sendiri bersama kakaknya dan Tio Sun sudah meloneat ke depan dan mengamuklah tiga orang muda ini dengan hebatnya.

Perang tanding kini terjadi dengan amat seru.

Akan tetapi sebentar saja para bajak yang sudah kehilangan kepalanya itu menjadi kocar-kacir.

Banyak di antara mereka yang tewas dan sebagian lagi berhasil melarikan diri dari Pulau Hiu dengan perahu-perahu mereka.

Kwi Eng hendak mengerahkan anak buahnya untuk melakukan pengejaran, akan tetapi dicegah oleh Tio Sun.

"Nona, tidak perlu mereke dikejar. Niat kita hanya menyelamatkan kakakmu dan hal itu sudah berhasil, sedangkan Tokugawa telah tewas."

Kwi Beng membenarkan pendapat Tio Sun ini dan mereka lalu membakar bekas sarang gerombolan bajak laut itu, kembali lagi ke kapal membawa teman-teman yang tewas atau luka dalam pertempuran tadi dan kembali ke pantai daratan.

Dengan hati penuh rasa kagum, kakak beradik kembar itu setelah tiba di dalam gedung mereka, menghaturkan terima kasih kepada Tio Sun yang diterima oleh pemuda sederhana ini dengan sikap merendahkan diri.

Kwi Beng juga girang mendengar bahwa pemuda ini ternyata adalah putera pengawal setia dari Panglima Besar The Hoo, guru dari ibunya sendiri.

"Tio-twako hendak pergi ke manakah maka kebetulan dapat lewat di Yen-tai dan dapat bertemu dengan Eng-moi dan menolongku?"

Kwi Beng bertanya. Tio Sun menarik napas panjang.

"Sebetulnya aku sedang memikul tugas yang amat penting sebagai wakil dari ayahku yang sudah tua dan yang tidak suka lagi mencampuri urusan dunia. Karena ayah merasa penasaran akan peristiwa dan malapetaka yang menimpa keluarga ketua Cin-ling-pai yang amat dihormati dan disayangnya, maka ayah menyuruh aku untuk pergi melakuken penyelidikan dan membantu Cin-ling-pai."

Kwi Beng dan Kwi Eng kelihatan terkejut dan tertarik sekali.

"Apakah twako maksudkan Pendekar Sakti Cia Keng Hong ketua Cin-ling-pai?"

Tanya Kwi Beng.

Tio Sun tidak merasa heran kalau dua orang kakak beradik ini telah mendengar akan nama Cia Keng Hong.

Siapakah yang tidak mendengar nama besar ketua Cin-ling-pai yang merupakan pendekar atau tokoh besar di dunia persilatan pada masa itu?

"Jadi ji-wi (anda berdua) sudah mengenal beliau?"

"Mengenal sih belum,"

Jawab Kwi Eng.

"Akan tetapi ibu sering kali bercerita kepada kami tentang pendekar-pendekar sakti dan budiman di dunia kang-ouw, di antaranya adalah Cia Keng Hong locianpwe, ayahmu bekas pengawal Tio Hok Gwan, dan pendekar Yap Kun Liong. Karena ibu sering bercerita, kami mengenal nama-nama besar itu sungguhpun belum pernah berjumpa dengan mereka dan baru sekarang secara kebetulan kami dapat bertemu dan berkenalan dengan twako."

"Apakah yang telah terjadi dengan Cin-ling-pai? Malapetaka apa yang dapat menimpa ketua Cin-ling-pai yang menurut ibu memiliki kepandaian yang amat tinggi?"

Tanya Kwi Beng.

"Peristiwa itu terjadi sewaktu Cia-locianpwe (orang tua sakti Cia) dan isterinya tidak berada di Cin-ling-san. Lima orang datuk sesat dari dunia hitam yang agaknya menaruh dendam kepada keluarga Cia-locianpwe menggunakan kesempatan itu untuk menyerbu dan mengacau Cin-ling-pai, mencuri pedang pusaka Siang-bhok-kiam dan membunuh tujuh orang dari Cap-it Ho-han di Cin-ling-pai."

Tio Sun mulai dengan penuturannya dan kemudian dia menceritakan semua peristiwa yang terjadi di Cin-ling-san sebagaimana yang didengar dari ayahnya.

Dua orang kakak beradik itu mendengarkan dengan penuh perhatian, dan dengan hati diliputi penuh rasa penasaran karena cara Lima Bayangan Dewa yang mengganggu Cin-ling-pai itu mereka anggap amat pengecut.

"Dengan menyebutkan nama asing kami, jelas bahwa pembesar korup ini tidak mempunyai niat yang baik,"

Kata Kwi Beng.

"Pembesar busuk!"

Kwi Eng memaki.

"Sungguh dia berani menghina kita setelah ayah ibu tidak ada di sini. Lupakah dia betapa ibu sudah membersihkan Yen-tai dari gangguan para penjahat dan betapa sudah banyak dia makan uang hadiah dari ayah?"

Tio Sun merasa khawatir sekali.

"Kalau sekiranya dia mempunyai niat buruk, lebih baik ji-wi tidak usah datang menghadapnya."

"Kita tidak mempunyai pilihan lain,"

Kwi Beng berkata.

"Kalau tidak datang tentu dianggap membangkang dan memberontak. Biarlah kami berdua datang untuk mendengar apa yang akan dikatakannya."

"Dan aku akan membawa bekal untuk menutup mulutnya kalau perlu,"

Kata Kwi Eng.

Mereka lalu mempersiapkan segalanya, tidak lupa sekantong terisi uang emas, kemudian minta kepada Tio Sun agar menanti sebentar di gedung mereka.

Tak lama kemudian berangkatlah kakak beradik itu menghadap pembesar setempat, diantar pandang mata penuh kekhawatiran oleh Tio Sun.

Sampai hampir sore dua orang kakak beradik itu belum juga pulang dan hati Tio Sun telah merasa gelisah sekali.

Tak lama kemudian, datang seorang anggauta atau anak buah keluarga itu berlarian dengan terengah-engah dia menceritakan betapa Kwi Eng dan Kwi Beng telah ditangkap dengan tuduhan memberontak, bahkan para anak buahnya yang malam tadi menyerbu Pulau Hiu juga ditangkap semua!

"Celaka...!"

Tio Sun berseru kaget dan pada saat itu, sepasukan perajurit keamanan kota datang menyerbu gedung tempat tinggal Kwi Eng dan Kwi Beng.

"Tio-Taihiap, larilah... kalau tidak Taihiap tentu akan ditangkap pula!"

Kata orang yang datang pertama tadi.

Tio Sun maklum bahwa tidak mungkin dia melawan perajurit-perajurit pemerintah.

Dia putera bekas pengawal setia dari kerajaan, maka tentu saja tidak mungkin bagi dia untuk melawan perajurit pemerintah, sungguhpun sekali ini para perajurit itu dipergunakan oleh seorang pembesar yang agaknya sewenang-wenang.

"Kalau begitu, hayo kau ikut aku melarikan diri!"

Tio Sun menyambar lengan orang itu dan membawanya lari lewat pintu belakang setelah mengambil buntalan pakaian dan pedangnya.

Karena dia dapat bergerak cepat sekali, biarpun dia mengajak seorang anak buah Kwi Beng, dia dapat lolos melalui tembok belakang ketika para perajurit menyerbu gedung itu, menangkapi pelayan dan menyita gedung seisinya.

Apakah sesungguhnya yang telah terjadi atas diri Souw Kwi Beng dan Souw Kwi Eng?

Mereka berdua pergi menghadap Ciang-tikoan, akan tetapi begitu mereka tiba, segera keduanya dikepung oleh sepasukan perajurit dan ditangkap dengan tuduhan telah membunuhi para nelayan di Pulau Hiu!

Tentu saja Kwi Beng menjadi marah sekali dan hampir saja dia mengamuk kalau tidak dilarang oleh Kwi Eng.

"Kita difitnah, Beng-ko dan kita dapat membela diri di pengadilan. Kalau kita menentang, berarti kita memberontak terhadap penguasa setempat yang mewakili pemerintah."

Demikian kata Kwi Eng dan gadis ini lalu menyerahkan bungkusan uang emas kepada kepala pasukan agar disampaikan kepada Ciang-tikoan.

Akan tetapi mereka tetap saja ditawan, dibelenggu dan dihadapkan kepada tikoan, sedangkan kantong terisi uang itu entah ke mana larinya!

Dengan suara keren tikoan membentak kedua orang kakak beradik yang sudab dipaksa berlutut di depannya itu.

"Kalian ini keturunan orang-orang asing berani membuat keonaran di daerah kami? Kalian telah mengandalkan kekuatan, membunuhi para nelayan di Pulau Hiu dan merampok harta benda mereka."

Dua orang kakak beradik itu mengangkat muka dan memandang kepada tikoan itu dengan heran dan penasaran.

Ciang-tikoan ini sudah mengenal baik orang tua mereka, sudah pernah datang ke gedung mereka dan sudah banyak memperoleh hadiah, akan tetapi sikapnya sekarang ini seolah-olah seperti belum pernah kenal saja, seperti menghadapi dua orang penjahat!

"Maaf, taijin (sebutan pembesar).

Kami sama sekali tidak merasa membunuhi nelayan, apalagi merampok harta mereka,"

Jawab Kwi Beng.

"Brakkk!"

Tikoan menggebrak mejanya.

"Kau masih berani membohong, Richardo de Gama? Beberapa orang nelayan dari Pulau Hiu berhasil lolos dan mereka menjadi saksi-saksi utama. Kau tidak mengaku bahwa malam tadi kalian berdua membawa anak buah, dan naik kapal Angin Timur menyerbu Pulau Hiu dan membunuhi banyak nelayan tak berdosa di sana?"

"Tidak! Itu hanya fitnah semata!"

Kwi Eng menjawab dengan suara lantang.

"Sayalah yang membawa anak buah naik kapal Angin Timur menyerbu Pulau Hiu, akan tetapi sama sekali bukan untuk membunuhi nelayan, melainkan untuk menolong kakak saya ini yang diculik oleh gerombolan bajak laut yang dipimpin oleh Tokugawa."

"Ha, jadi kalian sudah mengaku telah menyerbu Pulau Hiu, bukan? Sudah ada bukti dan pengakuan, jadi sudah jelas dosa kalian! Jangan mencoba memutarbalikkan kenyataan, ya? Di Pulau Hiu tidak ada bajak, yang ada hanya beberapa orang petani dan nelayan Bangsa Jepang dan pribumi yang hidup tenteram."

"Taijin! Mereka itu benar-benar para bajak yang dipimpin oleh Tokugawa!"

Kwi Beng berseru. Ciang-tikoan mengangkat tangannya.

"Kau hendak membantah? Mana buktinya bahwa ada bajak laut di sana? Kalau ada bajak laut tentu sudah kusuruh basmi!"

"Tapi benar-benar kakak saya diculik, taijin!"

Kwi Eng membantah.

"Diam! Tanpa bukti, kalian tidak boleh bicara seenaknya saja. Karena masih mengingat kebaikan orang tua kalian, aku tidak akan menyuruh hukum rangket kepada kalian, akan tetapi kalian telah melakukan pembunuhan besar-besaran ini harus diadili di kota raja sebagai pemberobtak-pemberontak!"

"Taijin...!"

Kwi Beng berteriak marah.

"Kau akan memberontak pula di sini?"

Pembesar itu mengangkat tangan dan para perajurit pengawal sudah mengurung pemuda yang terbelenggu kedua tangannya di belakang tubuh itu.

"Tidak, taijin, kami tidak akan memberontak dan kami tidak pernah memberontak,"

Kwi Eng berkata dengan suara halus.

"Jika perbuatan kami di Pulau Hiu itu tidak berkenan di hati taijin, harap Ciang-taijin sudi memaafkan dan suka memandang muka orang tua kami memberi ampun. Tentu saja atas budi kebaikan taijin ini kami tidak akan melupakan."

Dengan halus Kwi Eng membujuk dan menjanjikan "balas jasa"

Yang besar.

Ciang-taijin mengurut kumisnya yang panjang melengkung ke bawah seperti kumis anjing laut jantan itu.

"Ha-ha, kebaikan apa yang dapat dilakukan kalian ini, peranakan-peranakan asing yang sudah berani memberontak? Seluruh rumah dan seisinya telah kami sita sebagai milik pemerintah dan kalian akan diadili di kota raja. Pengawal, kurung mereka sambil menanti saat mereka dikirim sebagai tawanan pemberontak ke kota raja."

"Penasaran! Tidak adil...!"

Kwi Bang meloncat berdiri akan tetapi belasan orang pengawal sudah meringkusnya kembali.

"Beng-ko, tenanglah dan jangan melawan,"

Kata Kwi Eng dan mereka lalu digusur keluar dari ruangan itu.

"Tangkap semua anak buahnya yang menyerbu ke Pulau Hiu!"

Ciang-taijin memerintah pasukannya.

Mengapa pembesar she Ciang itu demikian keras dan menekan terhadap dua orang muda itu?

Ada beberapa sebab yang mendorong pembesar itu berlaku sedemikian rupa terhadap Kwi Beng dan Kwi Eng.

Pertama-tama, memang terdapat rasa tidak puas dan tidak senang di dalam hati pembesar itu terhadap keluarga Yuan de Gama, apalagi setelah Souw Li Hwa selalu menentang para penjahat dan bajak yang berkeliaran di Yen-tai.

Lebih-lebih lagi setelah terjadi bentrok antara keluarga pendekar ini dengan Tokugawa, diam-diam Ciang-tikoan menjadi makin tidak senang.

Tokugawa adalah "tangan kanannya"

Secara rahasia dan dari bajak laut inilah segala keinginan hati Ciang-tikoan dapat terlaksana.

Mau kekayaan?

Mau wanita-wanita muda yang cantik?

Mau membunuh orang yang tidak disukainya?

Hanya tinggal menyuruh para bajak itu, tanggung beres!

Maka kemudian Souw Li Hwa dan suaminya yang menentang kejahatan, dianggap sebagai ancaman yang dapat menggoyahkan kedudukannya.

Hanya dia tidak berani secara terang-terangan menentang karena Souw Li Hwa dan suaminya merupakan orang-orang gagah dan berpengaruh, pula tidak ada alasannya.

Kini, suami isteri perkasa itu pergi, dan terjadi peristiwa pembasmian di Pulau Hiu, Ciang-tikoan mendapat kesempatan baik untuk membalas dan melampiaskan semua kebenciannya.

Dia kehilangan Tokugawa, maka dia segera mebangkap Kwi Beng dan Kwi Eng dengan tuduhan pemberontak, dan tentu saja rumah gedung seisinya itulah yang merupakan dorongan besar pula untuk menangkap dua orang muda itu.

Dia tidak khawatir kalau kelak orang tua dua muda-mudi kembar itu pulang, karena sudah ada bukti dan banyak saksi betapa dua orang kakak beradik membunuhi orang-orang yang disebutnya "nelayan-nelayan tak berdosa"

Di Pulau Hiu.

Semenjak sejarah berkembang, tidak perduli di negara manapun di bagian dari dunia ini, terdapat banyak sekali pembesar-pembesar seperti Ciang-tikoan ini.

Terutama sekali di waktu pusat pemerintahan sedang kalut dan pengawasan dari atasan kurang ketat, maka para pembesar setempat lalu mempergunakan kekuasaannya untuk bertindak sewenang-wenang terhadap rakyat jelata.

Segala sesuatu kebutuhan rakyat yang harus terlebih dulu mendapatkan ijin dari pera pembesar, pasti dipersulit sedemikian rupa, sehingga rakyat yang membutuhkan ijin itu secara terpaksa harus mengeluarkan sebagian miliknya untuk "memberi hadiah"

Atau istilah umumnya sogokan atau suapan kalau dia menghendaki pekerjaannya dapat lancar dan ijin yang dibutuhkannya dapat diberi oleh pembesar yang berwenang.

Tentu saja ada pembesar-pembesar yang betul-betul merupakan pemimpin rakyat, pelindung rakyat yang bijaksana dan menunaikan tugas kewajibannya dengan baik, yang berhati bersih dan tidak menyalahgunakan kekuasaan dan kedudukannya, akan tetapi sayang, pembesar seperti ini hanya dapat dihitung dengan jari tangan saja!

Mengapa keadaan di Yen-tai dan di kota-kota lain di seluruh Tiongkok yang dikuasai Kerejaan Beng-tiauw seperti itu, penuh dengan para pembesar yang menyalahgunakan kedudukannya untuk memenuhi kesenangan diri pribadi tanpa menghiraukan nasib rakyatnya?

Hal ini adalah karena pengaruh dari keadaan di pemerintahan pusat, yaitu di Kota Raja Peking, di mana pusat pemerintahan di tangan Kaisar, juga mengalami kekacauan dan kelemahan.

Seperti tercatat dalam sejarah, Peking dibangun oleh Kaisar Yuang Lo yang gagah perkasa.

Bukan saja Kaisar ini membangun tembok besar, terutama di bagian timumya, akan tetapi juga membangun kota raja yang tadinya menjadi kota raja Bangsa Mongol itu, dibongkar dan dirobah secara hebat sehingga merupakan sebuah kota raja yang terbesar dan termegah di dunia.

Kerajaan Beng-tiauw mengalami kejayaannya sewaktu Kaisar Yung Lo yang memegang kendali pemerintahan, yang dilakukannya dengan tangan besi dan dengan adil, tidak segan-segan menghukum para pejabat yang bersalah sehingga sebagian besar pejabat melakukan tugasnya dengan baik.

Pada masa itu, rakyat dapat mengecap kenikmatan hidup di bawah pemerintahan yang adil.

Dalam tahun 1425, di dalam perjalanan pulang dari penyerbuan musuh di Mongolia luar, Kaisar Yung Lo meninggal dunia.

Kedudukan Kaisar diwariskan kepada putera mahkota, yaitu Kaisar Hung Shi yang sudah sakit-sakitan dan Kaisar inipun meninggal dunia setelah menjadi Kaisar selama sepuluh bulan saja.

Kembali kedudukan Kaisar diwariskan kepada cucu Yung Lo yang bernama Hian Tek Ong, seorang Kaisar yang mencoba mempertahankan kebesaran kakeknya.

Akan tetapi Kaisar Hian Tek Ong inipun hanya memegang kekuasaan selama sebelas tahun saja.

Kini singgasana diserahkan kepada seorang buyut dari Yung Lo, seorang pangeran yang baru berusia delapan tahun, yang menjadi Kaisar Cheng Tung.

Penggantian kekuasaan yang berusia pendek ini melemahkan Kerajaan Beng-tiauw, karena dengan perobahan Kaisar berarti terjadi pula perobahan politik dan wibawa.

Apalagi karena Kaisar yang tetakhir ini, Cheng Tung, masih kanak-kanak sehingga pemerintah dipegang dalam kekuasaan ibu suri yang tentu saja sebagai seorang wanita kurang pandai mengatur pemerintahan dan seperti biasa, yang berkuasa di istana sesungguhnya adalah para thaikam yaitu para pembesar yang bertugas di dalam istana dan para petugas pria ini semua dikebiri agar jangan sampai terjadi hal-hal yang melanggar susila antara para petugas ini dengan para wanita istana.

Ketika Kaiser Cheng Tung sudah mulai dewasa, dia sudah terbiasa oleh pengaruh para thaikam ini, dan boleh dibilang dia berada dalam cengkeraman yang membius dari seorang thaikam yang paling dipercayanya, yaitu Thaikam Wang Cin, seorang yang berasal dari kota Huai Lai di utara, di daerah Mongol.

Demikianlah, karena Kaisarnya seperti boneka, hanya tahu menandatangani saja semua hal yang disetujui dan direncanakan oleh Wang Cin, maka pemerintahannya sangat lemah.

Orang semacam Wang Cin mana memikirkan keadaan rakyat?

Setiap gerak perbuatannya selalu bersumber kepada kepentingan pribadinya.

Dengan adanya pemerintah pusat seperti ini, tentu saja para pejabat di daerah menjadi raja-raja kecil yang berdaulat penuh dan sewenang-wenang seperti yang dilakukan oleh Ciang-tikoan di Yen-tai yang tentu saja cukup cerdik untuk "menempel"

Para pembeser di kota raja, terutama mencari muka terhadap yang dipertuan Wang Cin.

Kedua saudara Kwi Eng dan Kwi Beng menjadi korban dari kesewenang-wenangan pembesar lalim ini dan beberapa hari kemudian, dua orang kakak beradik ini dalam keadaan terbelenggu kaki tangannya, diberangkatkan menuju ke kota raja dalam sebuah kereta milik mereka sendiri yang dirampas dan dikawal ketat oleh tiga losin orang perajurit, Dipimpin oleh seorang perwira yang membawa surat-surat laporan tentang "dosa-dosa"

Dua orang tawanan itu untuk disampaikan kepada pembesar atasan di kota raja yang berwenang mengadili perkara-perkara besar.

Banyak rakyat memandang dengan mata merah bahkan ada yang mengucurkan air mata melihat dua orang muda yang dermawan dan budiman itu menjadi orang-orang pesakitan diseret ke dalam kereta dan dibawa pergi dari tempat tinggal mereka.

Akan tetapi, seperti biasa, rakyat kecil hanya mampu menangis dan mengeluh, paling-paling hanya mampu mengepal tinju dengan diam-diam karena mereka tahu bahwa mereka itu tidak berkuasa atas kehidupan mereka sendiri!

Dapat dibayangkan betapa marahnya hati Kwi Beng ketika dalam keadaan terbelenggu kuat dia bersama adiknya diseret ke dalam kereta itu.

Mereka duduk berhadapan dan saling pandang.

"Moi-moi, kalau saja kita memberontak sejak pertama kali dipanggil..."

Kwi Beng menyatakan penyesalannya.

"Tenanglah, koko. Belum tentu kita akan celaka, kita bersabar saja sambil melihat perkembangannya. Tentu akan terdapat kesempatan bagi kita, dan lagi... aku percaya bahwa Tio-twako tidak akan tinggal diam saja."

Seorang pengawal menghardik dan melarang mereka bicara.

Kereta lalu diberangkatkan dan sebelum tirai kereta diturunkan oleh pengawal, Kwi Eng sempat melihat berkelebatnya bayangan seorang pemuda jangkung berpakaian kuning di antara rakyat yang menonton dan legalah hati gadis ini.

Kwi Beng hanya memandang heran mengapa ada senyum di bibir adiknya itu dalam keadaan seperti itu!

Beberapa hari kemudian pasukan yang mengawal kereta berisi dua oran tawanan itu tiba di kota Cin-an.

Di sini para pengawal berganti kuda dan membawa perlengkapan dan bekal makanan baru dari para pembesar di Cin-an.

Setelah bermalam di kota Cin-an, pasukan melanjutkan perjalanan pada keesokan harinya menuju ke utara, ke kota raja.

Sorenya, mereka sudah tiba di tepi Sungai Huang-ho di mana telah tersedia perahu-perahu besar untuk menyeberangkan mereka.

Akan tetapi karena hari telah mulai gelap, mereka berhenti dan berkemah di dekat sungai sambil beristirahat.

Seperti biasa, dua orang tawanan itu menerima makanan dan minuman dan mereka diperbolehkan makan minum dengan kedua pergelangan tangan dibelenggu di depan tubuh mereka dan dipasangi rantai baja yang panjang dan berat.

Demikian pula kedua kaki mereka dibelenggu dengan rantai panjang.

Biarpun kedua orang kakak beradik ini dijaga ketat sekali, namun di sepanjang perjalanan mereka diperlakukan dengan baik dan sopan.

Hal ini adalah karena si perwira yang memimpin pasukan pengawal itu tahu siapa adanya mereka berdua ini, tahu pula bahwa ibu dua orang muda itu adalah seorang pendekar wanita yang amat lihai, demikian pula ayah mereka adalah seorang asing yang berpengaruh dan dermawan.

Akan tetapi diapun maklum betapa penting dan beratnya perkara yang membuat mereka dikirim ke kota raja, yaitu tuduhan memberontak dan membunuhi banyak nelayan tidak berdosa!

Tentu saja diapun tahu bahwa yang dimaksudkan dengan "nelayan-nelayan tidak berdosa"

Itu sesungguhnya adalah Tokugawa dan kawanan bajak laut.

Akan tetapi sebagai seorang bawahan, dia tidak dapat berbuat apa-apa dan tidak berani menentang atasannya.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali rombongan itu melakukan penyeberangan, menggunakan perahu besar yang telah tersedia di pantai sungai yang amat luas itu.

"Sekarang tiba kesempatan bagi kita, koko. Kau bersiaplah. Rantai tangan kaki kita ini cukup panjang, memudahkan kita bergerak di air."

"Akan tetapi juga cukup berat untuk membuat kita tenggelam,"

Bisik kembali Kwi Beng.

"Kita harus berani mengambil resiko. Kesempatan ini yang terbaik dengan mengandalkan kepandaian kita di air,"

Bisik lagi Kwi Eng dan karena perwira pengawal mendekati mereka, keduanya menghentikan bisikan dan hanya saling pandang dan mereka telah bersepakat untuk mempergunakan kesempatan penyeberangan itu untuk melarikan diri.

Ketika perahu besar yang menyeberang itu mulai meluncur ke tengah sungai, nampak sebuah perahu kecil juga meluncur cepat sekali seiring dengan perahu besar itu.

Perahu ini ditumpangi dan didayung oleh seorang pemuda berpakaian kuning yang tidak mencurigakan.

Para pengawal yang melihat pemuda ini mengira bahwa dia adalah seorang nelayan atau seorang pelancong saja.

Akan tetapi Kwi Eng menyentuh lengan kakaknya ketika dia mengenal bahwa pemuda itu bukan lain adalah Tio Sun.

Akan tetapi Tio Sun tidak segera turun tangan melainkan terus saja mengikuti perahu itu sampai tiba di dekat pantai sebelah utara.

Di pantai selatan dia tidak berani turun tangan karena tempat itu ramai dan dekat dengan kota Cin-an, berbeda dengan pantai utara yang sunyi.

Setelah perahu besar yang membawa dua orang sahabatnya sebagai tawanan itu berada kurang lebih tiga ratus meter lagi dari pantai, tiba-tiba Tio Sun meloncat ke atas perahu besar dan tanpa banyak suara lagi dia meloncat ke arah Kwi Eng dan Kwi Beng yang duduk di atas dek terjaga oleh lima orang pengawal.

"Heii, siapa kau...?"

Seorang pengawal membentak dan suasana menjadi geger.

Para perajurit pengawal meloncat bangun dan mencabut senjata masing-masing.

Akan tetapi pada saat itu, Kwi Eng dan Kwi Beng sudah bangkit berdiri, dengan kaki tangan mereka yang terbelenggu itu mereka berhasil menampar dan menendang roboh lima orang penjaganya.

Tio Sun menggunakan pedangnya mematahkan belenggu kaki tangan mereka dengan cepat dan merobohkan setiap orang pengawal yang mencoba untuk menghalanginya.

"Cepat menyingkir...!"

Tio Sun berkata sambil menyerahkan dua batang pedang yang sengaja dibawanya kepada Kwi Eng dan Kwi Beng.

Perwira pengawal berteriak mengumpulkan anak buahnya dan mulailah mereka itu maju mengepung dan mengeroyok.

"Apakah kalian berani hendak memberontak?"

Perwira muda itu berseru.

"Harap ji-wi jangan menambah dosa ji-wi."

"Kalian mundurlah!"

Kwi Beng yang maklum akan kebaikan perwira itu berseru.

"Kalian tahu bahwa kami bukan pemberontak, melainkan Ciang-tikoan yang bersekutu dengan bajak-bajak laut! Mundurlah!"

"Kami hanya menjalankan tugas, kalau sampai kalian lolos tentu kami dihukum!"

Sang perwira membantah dan terus mengepung ketat.

Kwi Eng, Kwi Beng, dan Tio Sun mengamuk dengan pedang mereka.

"Jangan membunuh orang, mereka hanya petugas-petugas biasa,"

Kata Kwi Eng dan tentu saja hal ini disetujui oleh Tio Sun yqng juga segan untuk memusuhi dan membunuh perajurit pemerintah.

Maka mereka itu hanya menggunakan pedang mereka untuk menghalau semua serangan senjata lawan, dan hanya merobohkan para pengeroyok dengan tendangan kaki atau tamparan tangan kiri saja.

Akan tetapi tiga losin orang perajurit pengawal itu yang tentu saja merasa takut kalau sampai tawanan itu lolos, dengan nekat mengeroyok terus tanpa memperdulikan keselamatan mereka sendiri dan hal ini membuat tiga orang muda itu merasa repot juga.

Andaikata mereka bertiga itu mau membagi-bagi pukulan maut dan merobohkan para pengeroyoknya, agaknya mereka akan berhasil membasmi puluhan orang itu.

Akan tetapi, tanpa membunuh para pengeroyok yang nekat itu, tentu saja amat sukar bagi mereka untuk meloloskan diri, bahkan kalau pertandingan itu dilanjutkan, tentu mereka akan terancam bahaya oleh hujan serangan itu.

"Tio-twako, kau pergilah dulu dengan perahumu!"

Teriak Kwi Eng dan mereka kini mulai bergerak ke pinggir perahu besar.

"Tidak, aku tidak akan meninggalkan kalian!"

Jawab Tio Sun sambil mengelak dari sambaran dua batang golok dan menggerakkan kakinya menendang roboh seorang pembokong dari belakang.

"Twako, pergilah dulu dengan perahumu, kami akan mengambil jalan dalam air,"

Kata Kwi Beng dan kini mengertilah Tio Sun.

Teringat dia akan penuturan Kwi Eng betapa kedua orang saudara kembar itu pernah belajar ilmu di dalam air dari nelayan yang dahulu pernah menyelamatkan ayah ibu mereka, maka dia mengangguk dan mengamuk dengan pedangnya sampai semua pengeroyokdya dipaksa mundur.

Setelah tiba di tepi perahu besar dan melihat perahu kecilnya masih berada di dekat perahu besar itu, dia berseru.

"Berhati-hatilah kalian! Aku pergi dulu!"

Sekali mengayun tubuhnya Tio Sun sudah meloncat keluar dari perahu besar, tepat di atas perahunya yang segera didayungnya menuju ke seberang sungai.

Kwi Beng dan Kwi Eng juga mencontoh perbuatan Tio Sun tadi, mereka mengamuk dan makin mendekati pinggiran perahu, kemudian setelah merobohkan beberapa orang pengeroyok, merekapun cepat meloncat keluar dari perahu besar, langsung terjun ke dalam air dengan kedua tangan lebih dulu.

"Cluppp! Cluppp!"

Bagaikan dua ekor ikan lumba-lumba saja mereka terjun tanpa menimbulkan banyak suara dan airpun tidak muncrat banyak, tanda bahwa keduanya memang ahli bermain di air.

Lenyaplah kedua orang muda itu dari permukaan air dan para pengawal yang bergegas menuju ke pinggir perehu sambil membawa anak panah, tidak melihat mereka lagi.

Akan tetapi perwira pasukan pengawal itu bersikap tenang-tenang saja.

"Cepat jalankan kembali perahu ke seberang. Mereka tentu sudah ditangkap kembali di sana!"

Semua anak buahnya merasa heran mendengar ucapan ini dan mereka bersicepat meluncurkan perahu besar di tepi sungai sebelah utara.

Ketika tiba di tempat itu, benar saja mereka melihat tiga orang muda tadi sudah dikepung dan dikeroyok oleh kurang lebih lima puluh orang perajurit yang bersenjata lengkap!

Tentu saja mereka menjadi girang dan serentak mereka berbondong-bondong mendarat dan bantu mengeroyok pula.

Ternyata siasat dari tiga orang muda itu sia-sia belaka.

Mereka tidak memperhitungkan kecerdikan Ciang-tikoan.

Pembesar ini tentu saja mengerti akan kelihaian dua orang tawanannya, mendengar pula akan keahlian mereka bermain di air, maka diam-diam dia mengutus seorang pembantu secara rahasia menghubungi rekannya di Cin-an untuk menjaga di seberang sungai kalau-kalau dua orang tahanannya itu mencoba untuk meloloskan diri ketika diseberangkan, mengingat akan kelihaian mereka bermain di air.

Dan memang dugaannya tepat sekali, maka pembesar di Cin-an telah mempersiapkan pasukan dari lima puluh orang yang bersembunyi di pantai sungai sebelah utara.

Begitu Tio Sun yang telah mendarat lebih dulu dengan perahunya itu menyambut dua orang temannya yang muncul dari dalam air seperti dua ekor ikan itu, mereka langsung menyergap dan terjadilah pengeroyokan hebat di tepi sungai sebelah utara itu.

Tentu saja mereka bertiga menjadi kaget sekali, dan mereka melawan mati-matian.

Akan tetapi, setelah perahu besar pasukan pengawal mendarat pula dan pengeroyokan menjadi makin ketat, mereka benar-benar terdesak hebat dan keadaan mereka amat berbahaya, kalau tidak tertawan kembali tentu akan tewas, atau setidaknya terluka hebat di bawah pengeroyokan lebih dari lima puluh orang itu.

Mereka tanpa dikomando telah membela diri secara saling melindungi, berdiri saling membelakangi dan dengan senjata pedang mereka, dibantu oleh joan-pian di tangan kiri Tio Sun, mereka menangkis semua senjata yang datang bagaikan hujan dan sekali ini terpaksa mereka menggunakan senjata untuk merobohkan pengeroyokan, sungguhpun pedang mereka itu hanya ditujukan kepada bagian-bagian tubuh yang tidak berbahaya.

Belasan orang pengeroyok sudah roboh dengan pundak, lengan atau kaki terluka parah akan tetapi pengeroyokan masih cukup ketat dan tiga orang itu mulai menjadi lelah sekali, bahkan Kwi Beng telah terluka pahanya, dan Kwi Eng telah terluka pangkal lengan kirinya.

Namun mereka tidak mau menyerah karena ketiganya maklum bahwa urusan telah menjadi semakin berat sehingga kalau mereka tertawan kembali, hukuman mereka tentu akan jauh lebih berat lagi, mungkin akan dihukum mati sebagai pemberontak-pemberontak hina.

"Tio-twako, kau larilah...!"

Tiba-tiba Kwi Eng berkata kepada Tio Sun.

"Benar, kau pergilah, twako dan jangan mengorbankan diri untuk urusan kami!"

Kwi Beng juga berkata.

Hati Tio Sun rasanya seperti ditusuk, dia merasa terharu dan juga kagum akan kegagahan dua orang kakak beradik ini yang dalam keadaan seperti itu masih ingat kepadanya dan tidak mau membawa-bawanya mengalami kecelakaan.

"Tidak! Aku akan membela kalian sampai titik darah terakhir!"

Bentaknya dan pedang serta joan-pian di tangannya bergerak cepat maka robohlah tiga orang pengeroyok.

Akan tetapi karena dia mencurahkan seluruh perhatian untuk merobohkan lawan sebanyak mungkin dalam kemarahannya ini, Tio Sun tak dapat menghindarkan bacokan golok dari samping yang mengenai pundaknya.

"Tio-twako...!"

Kwi Eng menjerit ketika melihat darah muncrat dari pundak pemuda itu.

Tio Sun membalikkan pedangnya dan penyerangnya itu menjerit roboh ketika lengannya terbabat pedang hampir putus.

"Tidak apa-apa, nona."

Tio Sun tersenyum dan mereka bertiga terus mengamuk biarpun mereka telah terluka semua.

"Bunuh saja tiga pemberontak ini!"

Tiba-tiba terdengar komandan pasukan Cin-an berteriak marah.

Tadinya perintah atasannya hanyalah untuk membantu para pengawal dari Yen-tai untuk menangkap kembali tawanan itu jika melarikan diri, akan tetapi kini melihat betapa tiga orang itu memberontak dan merobohkan banyak anak buahnya, dia menjadi khawatir dan marah sekali, maka dia mengeluarkan perintah untuk membunuh mereka.

Dengan adanya perintah ini, para perajurit kini mendesak makin ketat dan senjata mereka datang bagaikan hujan menyerang tiga orang muda yang membela diri mati-matian itu.

"Twako, kitapun harus membuka jalan darah!"

Terdengar Kwi Eng berteriak dan terpaksa Tio Sun tidak membantah.

Karena kini para pengeroyok menghendaki nyawa mereka, tentu saja mereka bertiga harus pula menjaga dan menyelamatkan diri, kelau perlu dengan jalan membunuh para pengeroyok.

Tio Sun menggerakkan pedang dan joan-piannya secara hebat, demikian pula Kwi Beng dan Kwi Eng mengamuk dengan pedang mereka dan terdengarlah pekik-pekik mengerikan ketika beberapa orang perajurit roboh untuk tidak bangun kembali!

Pertandingan menjadi makin seru dan kini merupakan pertempuran mati-matian, namun karena tiga orang muda itu sudah terluka dan fihak pengeroyok amat banyaknya, mereka makin terdesak dan makin terkurung sehingga ruang gerak mereka menjadi makin sempit.

Pada saat yang amat kritis dan berbahaya bagi keselamatan tiga orang muda itu, tiba-tiba terdengar bentakan-bentakan nyaring dan keadaan para pengeroyok di sebelah luar menjadi kacau-balau.

Ketika Tio Sun melirik, dia kaget dan juga kagum sekali melihat seorang pemuda tampan dan gagah mengamuk, hanya menggunakan kedua tangan kosong saja melempar-lemparkan para perajurit seperti orang melempar-lemparkan rumput kering saja, sama sekali tidak memperdulikan hujan senjata tajam yang menyambar ke tubuhnya.

Para perajurit terkejut dan gentar karena pendatang baru ini benar-benar amat lihai, bacokan-bacokan senjata tajam hanya ditangkis oleh lengan yang kulitnya seperti baja kerasnya dan setiap kali tangan kaki pemuda ini bergerak, mereka terlempar sampai beberapa meter jauhnya!

"Hai, pemberontak dari mana berani menentang pasukan pemerintah?"

Komandan pasukan menerjang ke depan, akan tetapi pedangnya ditangkap oleh tangan kiri pemuda itu dan sekali remas pedang itu patah-patah.

Kemudian pemuda itu menangkap komandan ini pada pinggangnya dan mengangkatnya, tinggi-tinggi.

"Pasukan pemerintah yang hanya menyalahgunakan kedudukannya tiada bedanya dengan penjahat-penjahat! Pergilah kalian!"

Pemuda itu melemparkan komandan itu sampai jauh dan jatuh terbanting sampai pingsan.

Tentu saja semua perajurit menjadi makin gentar, kurungan mereka melonggar.

"Sam-wi yang terkurung, tidak lekas lari mau tunggu apa lagi?"

Pemuda tampan itu berseru dan mendahulul lari, cepat diikuti oleh Tio Sun, Kwi Beng dan Kwi Eng.

Karena mereka berempat mempergunakan ilmu berlari cepat, sebentar saja para perajurit sudah kehilangan jejak mereka.

Di tengah sebuah hutan, empat orang muda itu berhenti.

Ketika pemuda tampan itu hendak melanjutkan larinya tanpa memperdulikan tiga orang yang telah ditolongnya, Tio Sun cepat mengejar dan berseru.

"Sahabat yang gagah harap suka berhenti dulu!"

Pemuda tampan itu menoleh dan melihat pandang mereka penuh harapan, terpaksa dia berhenti.

"Sam-wi sudah beruntung dapat terbebas dari kepungan para pasukan itu, ada urusan apalagikah dengan aku?"

Tio Sun, Kwi Beng dan Kwi Eng cepat menghampiri dan kini mereka berhadapan.

Sepasang mata pemuda tampan itu terbelalak dan jelas dia kelihatan kaget, heran dan bingung ketika dia memandang kepada Kwi Beng dan Kwi Eng secara bergantian.

"Aihh... kiranya kalian bukan... bukan..."

Dia tidak melanjutkan kata-katanya karena hatinya merasa sangsi.

Melihat pakaian dan bentuk tubuhnya, pemuda tampan dan dara jelita ini jelas orang-orang Han, akan tetapi, mengapa matanya kebiruan dan rambutnya agak pirang?

Kwi Eng adalah seorang gadis peranakan barat yang tak dapat disamakan dengan gadis-gadis pribumi yang biasanya bersikap pendiam dan pemalu.

Apalagi dia bersama kakak kembarnya mewakili pekerjaan ayahnya sehingga dia sudah biasa bergaul dan tidak malu-malu lagi, bersikap polos dan jujur di samping juga memiliki kecerdasan sehingga dia sudah dapat maklum mengapa pemuda gagah perkasa yang menolong mereka itu kelihatan begitu kaget, heran dan bingung.

Cepat dia melangkah maju dan mengangkat kedua tangan di depan dada sambil tersenyum manis sekali dan berkata.

"Harap saudara yang gagah perkasa dan yang telah menyelamatkan kami tidak menjadi curiga. Biarpun mungkin warna mata dan rambut kami kakak beradik kembar agak berbeda, namun kami berdua adalah berdarah Han, kakak kembarku ini bernama Souw Kwi Beng dan aku sendiri bernama Souw Kwi Eng. Sedangkan dia itu adalah Tio-twako bernama Tio Sun. Kami bertiga telah kena fitnah dan hendak dibawa ke kota raja sebagai tawanan pemberontak, maka pertolonganmu merupakan budi yang amat besar bagi kami."

Mendengar ucapan lancar dan tidak kaku, pemuda itu merasa lega.

Gadis ini luar biasa cantiknya, cantik dan aneh, akan tetapi kata-katanya jelas menunjukkan bahwa dia seorang Han tulen.

Melihat pemuda yang usianya masih amat muda dan sikapnya seperti pemalu itu namun yang telah memiliki kepandaian sedemikian hebatnya, Tio Sun yang merasa kagum sudah maju dan berkata.

"Saudara yang muda memiliki kelihaian yang amat mengagumkan hati kami, dan sudah menyelamatkan kami dari bahaya maut. Bolehkan kami mengetahui she dan namamu yang mulia?"

Pemuda itu kelihatan meragu.

Dia tadi menolong karena melihat tiga orang muda itu terancam bahaya, sama sekali tidak mempunyai keinginan lainnya.

Akan tetapi menyaksikan keramahan mereka, terutama sekali keramahan dara jelita yang dengan mata birunya memandangnya dengan sinar mata penuh rasa kagum dan terima kasih, dia merasa tidak enak kalau pergi begitu saja setelah mereka memperkenalkan nama masing-masing.

Akan tetapi diapun tidak ingin memperkenalkan namanya, maka dia lalu teringat akan nama yang diperkenalkan kepada gadis aneh bernama "Hong"

Saja yang baru dijumpainya, maka dia lalu menjura dan berkata.

"Nama saya Houw, she... Bun."

Pemuda ini bukan lain adalah Cia Bun Houw, putera ketua Cin-ling-pai.

Seperti telah diceritakan di baglan depan, Bun Houw berpisah dengan In Hong, atau lebih tepat lagi dara itu yang meninggalkannya karena tidak mau melakukan perjalanan bersama setelah Bun Houw suka mencegahnya membunuh musuh-musuhnya di perjalanan.

Bun Houw merasa kecewa sekali bahwa dara yang telah menjadi penolongnya itu meninggalkannya, akan tetapi kerena teringat akan tugasnya mencari dan menyelidiki musuh-musuh besarnya, yaitu Lima Bayangan Dewa, diapun melanjutkan perjalanannya dan pada hari itu dia menyeberangi Sungai Huang-ho dan kebetulan melihat tiga orang muda yang terancam bahaya oleh pengeroyokan para perajurit itu, lalu turun tangan menolong mereka.

Tio Sun merasa makin kagum dan heran.

Pemuda tampan ini sikapnya begitu sederhana, masih amat muda dan agaknya dia belum pernah mendengar nama pemuda ini di dunia kang-ouw, akan tetapi melihat kepandaiannya tadi, biarpun hanya bergebrak dengan para perajurit, dia dapat menduga bahwa pemuda ini bukan orang sembarangan, tentulah murid seorang yang sakti.

"Bun-enghiong masib begini muda akan tetapi telah memiliki kepandaian luar biasa, sungguh membuat kami merasa kagum sekali. Kalau sekiranya tidak menjadikan halangan dan kalau kiranya kami cukup pentas menjadi sahabatmu, kami ingin sekeli bersahabat dengan Bun-enghiong,"

Kata Tio Sun. Souw Kwi Beng yang sejak tedi diam saja kinipun berkata.

"Kami kakak beradik kembarpun akan merasa terhormat sekali kalau bisa menjadi sahabat Bun-Taihiap."

Bun Houw merasa kikuk sekali.

Tiga orang muda ini jelas merupakan orang-orang gagah yang sopan dan terpelajar, maka akan keterlaluanlah di fihaknya kalau dia tidak melayani uluran tangan mereka.

Pula, dara bermata biru itu benar-benar mempesonakan!

Selama hidupnya baru sekarang dia berhadapan dengan seorang dara yang begitu jelita, matanya bening lebar kebiru-biruan dan rambutnya agak pirang dan berkilauan halus.

Bun Houw menjura dengan hormat.

"Tentu saja saya suka sekali bersahabat dengan sam-wi (kalian bertiga). Mengapakah kalian tadi dikeroyok perajurit di tepi sungai dan di mana sam-wi tinggal?"

"Mari kita duduk di tempat yang teduh agar leluasa bicara,"

Kata Tio Sun dan mereka lalu memilih tempat di bawah pohon yang rindang, duduk di atas batu-batu di bawah pohon itu.

Secara singkat Kwi Eng yang pandai bicara itu lalu menceritakan urusannya, mula-mula dengan Tokugawa ketika kepala bajak itu menculik kakak kembarnya dan dia dengan bantuan Tio Sun berhasil menyelamatkan kakaknya.

Kemudian betapa dia difitnah oleh pembesar setempat sebagai pemberontak dan pembunuh kaum nelayan yang bukan lain hanya bajak-bajak laut.

Sampai mereka ditangkap dan akan dikirim ke kota raja, kemudian mereka berusaha meloloskan diri dan dikeroyok di tepi Sungai Huang-ho.

Bun Houw menarik napas panjang.

"Sudah kudengar akan kekacauan yang mulai terjadi di mana-mana karena lemahnya pemerintah pusat di kota raja. Jadi ji-wi adalah putera-puteri seorang ayah bangsa barat dan ibu bangsa pribumi? Pantas saja keadaan ji-wi agak lain."

"Biarpun kedua saudara Souw ini putera orang barat, akan tetapi ayahnya bukan orang sembarangan, karena ayahnya adalah Yuan de Gama, seorang tokoh bangsa barat yang disegani dan dihormati. Apalagi ibunya. Ibunya adalah pendekar wanita terkenal, Souw Li Hwa murid mendiang Panglima Besar The Hoo..."

"Ahhhh...!"

Bun Houw kaget bukan main mendengar ini.

Tentu saja diapun sudah pernah mendengar dari ayah dan ibunya tentang Yuan de Gama dan Souw Li Hwa yang dikabarkan mati tenggelam secara gagah bersama kapalnya.

"Kau pernah mendengar nama ayah dan ibu, Bun-Taihiap?"

Tanya Kwi Eng sambil memandang tajam. Bun Houw menggeleng kepala.

"Saya terkejut mendengar nama mendiang Panglima Besar The Hoo."

Kemudian dia memandang kepada Tio Sun.

"Tio-twako agaknya juga bukan keturunan sembarangan dan ternyata engkau seorang pendekar yang suka menolong orang lain yang sedang tertimpa malapetaka seperti yang telah kaulakukan terhadap kedua orang saudara Souw ini."

Merah wajah Tio Sun menerima pujian ini, dan dia menarik napas panjang.

"Persoalan yang kuhadapi tadi benar-benar membuat aku bingung, Bun-hiante. Terus terang saja, ayahku adalah seorang bekas pengawal kepercayaan Panglima Besar The Hoo, ayahku bernama Tio Hok Gwan..."

"Ban-kin-kwi...?"

Bun Houw kelepasan bicara karena tentu saja mengenal baik nama ini, nama seorang sahabat baik ayahnya!

"Kau sudah mendengar pula julukan ayah?

Ayah seorang bekas pengawal yang setia, tentu saja akupun segan untuk melawan perajurit pemerintah.

Akan tetapi melihat sikap Ciang-tikoan yang sewenang-wenang, terpaksa aku menentangnya.

Sekarang, setelah terjadi peristiwa ini, kedua orang saudara Souw tidak mungkin lagi kembali ke Yen-tai, dan inilah yang membikin aku menyesal sekali."

"Ah, mengapa menyesal, twako? Kami berdua tidak menyesal. Biarlah kami tidak dapat kembali ke Yen-tai dan menanti sampai ayah ibu pulang dari barat. Kami berdua malah telah mengambil keputusan untuk membantu Tio-twako dalam mencari musuh-musuh Cin-ling-pai itu dan mengerahkan seluruh kemampuan kami untuk mencari Lima Bayangan Dewa yang menjadi musuh-musuh besar Cin-ling-pai. Ayah dan ibu tentu akan bangga kalau mendengar akan sikap kami ini,"

Kata Kwi Eng.

Dapat dibayangkan betapa terkejut dan heran rasa hati Bun Houw mendengar percakapan mereka itu.

Dan sampai bengong memandang mereka tanpa mampu mengeluarkan kata-kata.

Kwi Eng yang kebetulan memandang kepada pemuda itu tiba-tiba menjadi merah mukanya dan menunduk karena melihat betapa pemuda tampan itu memandang kepadanya dengan mata terbelalak seolah-olah hendak menelannya bulat-bulat!

"Bun-Taihiap, engkau...

mengapakah?"

Kwi Eng yang tidak pemalu itu menegur halus.

Bun Houw terkejut, mukanya menjadi merah sekali dan dia memandang kepada mereka bertiga dengan mata bersinar-sinar.

"Sungguh mati saya amat terkejut mendengar betapa sam-wi menyebut-nyebut soal Lima Bayangan Dewa dan hendak membela Cin-ling-pai. Kalau boleh saya bertanya, apakah hubungan antara sam-wi dengan Cin-ling-pai?"

Kini Tio Sun dan dua orang saudara kembar itu yang menatap wajah Bun Houw dengan tajam penuh selidik.

"Bun-hiante... tahu soal... Lima Bayangan Dewa dan Cin-ling-pai?"

Tio Sun bertanya. Bun Houw mengangguk.

"Tentu saja, dan saya bahkan tersangkut secara langsung. Akan tetapi sebelum aku dapat menceritakan hal itu, harap sam-wi lebih dulu menerangkan apa hubungan sam-wi dengan Cin-ling-pai?"

Tio Sun menghadapi Bun Houw, memandang dengan sinar mata tajam sejenak, lalu berkata.

"Biarpun baru berjumpa pertama kali dan tidak mengenal benar siapa adanya dirimu, Bun-hiante, akan tetapi aku telah percaya benar kepadamu, maka biarlah aku mengaku terus terang. Seperti telah kukatakan kepadamu, aku adalah putera dari bekas pengawal Panglima The Hoo, ayahku bernama Tio Hok Gwan dan ayah adalah seorang sahabat baik dari Cia Keng Hong locianpwe, ketua Cin-ling-pai. Agaknya tentu engkau telah mendengar kegemparan di dunia kang-ouw dengan adanya penyerbuan Lima Bayangan Dewa di Cin-ling-san yang membunuh anak-anak murid Cin-ling-pai bahkan telah mencuri pedang pusaka Siang-bhok-kiam. Nah, mengingat akan hubungan persababatan yang amat baik dengan Cin-ling-pai, ayah lalu mengutus aku untuk mewakili ayah, membantu Cin-ling-pai mencari Lima Bayangan Dewa dan kalau mungkin merampas kembali pedang pusaka Siang-bhok-kiam. Demi persahabatan itu, aku melupakan kebodohanku sendiri, melakukan penyelidikan sampai di Yen-tai di mana aku bertemu dan berkenalan dengan kedua orang saudara Souw ini yang ternyata adalah cucu murid sendiri dari mendiang Panglima The Hoo."

"Adapun kami berdua, setelah terjadi peristiwa di Yen-tai, kami juga sudah sepakat untuk membantu Tio-twako mencari Lima Bayangan Dewa, karena ibu kami pernah bercerita kepada kami tentang kegagahan ketua Cin-ling-pai yang patut kami bantu pula,"

Kata Kwi Eng.

Mendengar ini, Bun Houw segera bangkit dari atas batu dan dia lalu memberi hormat kepada tiga orang itu dengan menjura.

Hal ini mengejutkan dan mengherankan mereka yang segera bangkit pula untuk membalas penghormatan itu.

Dengan suara terharu Bun Houw lalu berkata.

"Atas nama Cin-ling-pai, saya menghaturkan banyak terima kasih atas bantuan sam-wi yang demikian budiman."

"Eh, siapakah sesungguhnya Bun-Taihiap?"

Tanya Tio Sun yang kembali menyebut Taihiap karena dia menduga bahwa pemuda ini tentulah bukan orang sembarangan.

"Maafkan kalau saya tadi kurang berterus terang. Sebetulnya saya she Cia dan bernama Bun Houw..."

"Aih...! Kiranya Cia-Taihiap, putera dari ketua Cin-ling-pai?"

Tio Sun berteriak girang.

"Pantas saja demikian lihai, kiranya Cia-Taihiap sendiri orangnya! Maafkan kalau kami bersikap kurang hormat."

"Putera Pendekar Sakti Cia Keng Hong...?"

Kwi Eng berseru dan memandang dengan wajah bersinar penuh kekaguman.

Juga Kwi Bang memandang kagum dan hal ini membuat Bun Houw menjadi makin sungkan dan malu.

"Harap sam-wi jangan berlebihan. Marilah kita duduk kembali dan bicara dengan leluasa."

Mereka duduk kembali dan Bun Houw lalu memandang mereka dengan bergantian.

"Tidak kukira bahwa ayah mempunyai demikian banyak sahabat yang diam-diam membela Cin-ling-pai dan hal ini amat mengharukan hatiku. Akan tetapi sebelum kita bicara, di antara kita adalah orang segolongan, apalagi sam-wi adalah penolong-penolong Cin-ling-pai, maka harap tinggalkan saja sebutan Taihiap yang tidak pada tempatnya. Tio-twako, harap kau suka menyebutku adik saja, dan kedua adik Souw juga hendaknya menyebutku kakak saja. Bukankah sebagai orang-orang segolongan kita boleh dibilang bersaudara atau bersahabat baik?"

Tiga orang gagah itu menjadi girang melihat sikap putera ketua Cin-ling-pai yang berilmu tinggi akan tetapi bersikap sederhana dan tidak tinggi hati itu.

"Baiklah, Houw-te (adik Houw),"

Kata Tio Sun.

"Terima kasih, Houw-ko,"

Kata Kwi Eng dan Kwi Bun hampir berbareng. Bun Houw menghela napas.

"Niat kalian untuk membantu kami amat baik dan tentu saja saya merasa amat bersyukur. Akan tetapi apakah kalian tahu di mana tinggalnya Lima Bayangan Dewa dan ke mana kalian hendak mencari mereka?"

"Tadinya kami mendengar bahwa seorang di antara mereka yang bernama Liok-te Sin-mo Gu Lo It tinggal di pantai Laut Timur, akan tetapi setelah kami selidiki, ternyata dia sudah pergi ke pedalaman dan kami hendak mencari jejaknya di pedalaman."

"Pedalaman Tiongkok berarti merupakan daerah yang puluhan ribu mil luasnya, bagaimana kita dapat menyelidiki mereka? Pula, tingkat kepandaian Lima Bayangan Dewa itu amat tinggi sehingga kalau sam-wi membantu kami, besar bahayanya sam-wi akan menghadapi malapetaka. Bukan aku tidak tahu terima kasih, akan tetapi ayahku yang telah menugaskan aku menghadapi mereka tentu akan marah kepadaku kalau aku membiarkan orang lain menjadi korban kejahatan Lima Bayangan Dewa. Maka, kuharap sam-wi suka kembali saja,"

Bun Houw berkata dengan suara sungguh-(Lanjut ke

Jilid 21) Dewi Maut (Seri ke 03 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 21 sungguh.

"Adik Cia Bun Houw mengapa berkata demikian?"

Tio Sun membantah dengan suara keras.

"Biarpun kepandaianku masih amat rendah, akan tetapi aku bukan orang yang takut menghadapi bahaya. Ayah sudah menugaskan kepadaku, bagaimana bisa pulang sebelum lecet kulitku, sebelum patah tulangku? Demi melaksanakan tugas yang diperintah ayah, selembar nyawaku menjadi taruhan!"

"Kami berduapun tidak mempunyai tempat tinggal lagi sebelum orang tua kami pulang, maka harap Houw-ko tidak menolak bantuan kami yang juga tidak takut bahaya dalam menentang kejahatan!"

Kwi Eng berkata, sikapnya gagah sekali dan Bun Houw menjadi makin kagum saja.

"Kalau begitu besar tekad sam-wi, saya tidak berani mencegah dan saya makin berterima kasih. Ketahuilah bahwa saya sendiri telah memperoleh jejak mereka, bahkan telah bertemu dengan dua orang di antara mereka. Sayang saya tidak berhasil merobohkan mereka dan sekarang mereka telah melarikan diri. Menurut penyelidikan saya, Lima Bayangan Dewa itu kini agaknya berkumpul di Ngo-sian-chung, tidak jauh dari sini, di lembah muara Huang-ho."

"Bagus! Kalau begitu mari kita berempat menyerbu ke sana, Houw-te!"

Tio Sun berseru penuh semangat.

"Mereka itu selain lihai juga amat curang, maka kita harus berlaku hati-hati sekali!"

Bun Houw menerangkan.

"Belum lama ini aku sendiri terjebak dan hampir tewas oleh mereka, kalau tidak tertolong oleh seorang sahabat. Dan saya minta kepada sam-wi agar nama saya dirahasiakan sebagai putera Cin-ling-pai, karena selama ini saya hanya dikenal sebagai seorang she Bun bernama Houw. Sebelum berhasil meringkus atau membasmi mereka, saya tidak akan menggunakan nama sendiri, dan hanya kepada sam-wi saja yang saya tahu adalah putera-puteri sahabat dari ayah maka saya memperkenalkan diri secara sesungguhnya."

Empat orang muda itu lalu melanjutkan perjalanan sepanjang Sungai Huang-ho menuju ke timur.

Kwi Eng yang berwatak terbuka dan tidak pemalu, dengan terang-terangan mengatakan sikap kagumnya terhadap putera ketua Cin-ling-pai ini, selalu berjalan di dekat Bun Houw dan ada saja hal yang dibicarakan, nampaknya begitu akrab dan sedikitpun Kwi Eng tidak menyembunyikan rasa tertarik dan sukanya.

Di lain fihak, karena memang Kwi Eng amat cantik jelita, memiliki daya tarik yang keras, tentu saja Bun Houw juga senang sekali berdekatan dan bercakap-cakap dengan gadis ini.

Kwi Beng sebagai saudara kembar memilki hubungan jiwa yang amat dekat dengan adiknya, maka tentu saja dia segera dapat merasakan debaran jantung adiknya yang mulai disentuh asmara itu.

Sambil berjalan di dekat Tio Sun, Kwi Beng berbisik kepada pendekar muda itu tentang adiknya, menunjuk dengan gerakan mukanya ke depan.

"Tio-twako, lihat betapa cocoknya mereka berdua... aihhh, betapa akan senang hatiku kalau saja adikku bisa menjadi jodohnya kelak..."

Kwi Beng sama sekali tidak mengira bahwa bisikannya itu sebenarnya merupakan ujung pisau berkarat yang menghujam di ulu hati Tio Sun!

Dia sama sekali tidak pernah menduga bahwa sebetulnya Tio Sun inilah yang sudah bertekuk lutut, jatuh hati kepada adiknya semenjak saat mereka saling jumpa.

Tio Sun sudah jatuh cinta kepada Kwi Eng, dara jelita yang bermata lebar kebiruan dan berambut hitam agak pirang keemasan itu!

Hanya karena Tio Sun orangnya pendiam dan pemalu, maka sedikitpun tidak pernah tampak perasaan cinta itu, baik pada pandang matanya, kata-katanya maupun gerak-geriknya.

"Hemmm..."

Hanya begitulah Tio Sun menjawab sambil menundukkan mukanya, tidak tahan melihat betapa Kwi Eng sambil tersenyum-senyum bicara kepada Bun Houw yang jalan berendeng demikian dekatnya sehingga seolah-olah lengan mereka saling bersentuhan.

Dan Bun Houw demikian gagahnya, demikian tampannya, juga memiliki kepandaian demikian tingginya.

Putera ketua Cin-ling-pai pula.

Seorang pemuda gagah perkasa, putera pendekar sakti yang dijunjung tinggi dan dihormati oleh semua orang kang-ouw.

Sedangkan dia?

Hanya putera seorang bekas pengawal miskin dan tidak terkenal.

Tio Sun makin menunduk, berusaha mengusir rasa tidak enak dan sakit yang berada di rongga dadanya.

Malam itu mereka melewatkan malam di sebuah hutan di tepi sungai karena menurut nasihat Tio Sun, lebih baik berhati-hati menyelidiki tempat Lima Bayangan Dewa yang selain lihai tentu juga memiliki banyak anak buah itu.

Dia sendiri lalu membuat api unggun, dan kedua orang saudara Souw pergi menangkap beberapa ekor kelinci dan ayam hutan.

Kwi Eng segera sibuk menguliti dan memanggang kelinci dan ayam hutan, sedangkan Bun Houw sudah duduk bersama Kwi Beng dan Tio Sun bercakap, saling menceritakan pengalaman masingmasing di dekat api unggun.

Ketika Tio Sun bercerita tentang pengalamannya menolong seorang gadis cilik kemudian bertemu dengan Bun Hoat Tosu, Bun Houw dan Kwi Beng merasa kagum sekali.

Terutama Bun Houw yang sudah sering mendengar dari ayahnya bahwa di jaman itu, Bun Hoat Tosu merupakan seorang di antara tokoh-tokoh sakti yang jarang muncul di dunia persilatan, yang merupakan seorang manusia setengah dewa.

Tentu saja Bun Houw sama sekali tidak pernah mengira bahwa gadis cilik yang diselamatkan kawannya itu sebetulnya adalah Yap Mei Lan, anak dari Yap Kun Liong yang masih terhitung suhengnya itu!

"Aku mendengar dari ayah bahwa ilmu kepandaian bekas ketua Hoa-san-pai itu seperti dewa.

Dan Yap Kun Liong suheng juga menerima sebagian dari ilmu-ilmunya dari kakek dewa itu,"

Kata Bun Houw kagum.

"Untung sekali engkau dapat bertemu dengan beliau, Tio-twako."

"Akan tetapi engkau sendiripun murid seorang manusia dewa, Houw-te. Aku pernah mendengar dari ayah yang mengenal baik keadaan Cin-ling-pai bahwa engkau sejak kecil telah menjadi murid Kok Beng Lama di Tibet yang kepandaiannya sukar dibicarakan saking tingginya."

"Ahhh, engkau terlalu memuji, twako. Memang, suhu Kok Beng Lama seorang sakti luar biasa, akan tetapi aku yang muda dan bodoh mana bisa mewarisi seluruh kepandaiannya? Sayang bahwa begitu pulang ke Cin-ling-pai, terdapat malapetaka itu sehingga aku terus saja berangkat menyelidiki Lima Bayangan Dewa, tidak sempat mengunjungi enciku yang tinggal di Sin-yang dan mengunjungi Yap-suheng yang tinggal di Leng-kok. Sungguh menggemaskan sekali Lima Bayangan Dewa itu."

"Mereka itu pengecut kalau berani bergerak selagi ayahmu tidak berada di Cin-ling-san, Houw-ko,"

Kwi Beng ikut pula bicara.

"Aiiiihhh...!"

Tiga orang pemuda itu terkejut sekali, Bun Houw sudah mencelat dan diikuti oleh Tio Sun dan Kwi Beng.

Yang menjerit adalah Kwi Eng dan kini dara itu sudah tidak kelihatan lagi, hanya kelihatan bayangan orang berkelebat ke barat.

Bun Houw yang memiliki gerakan paling ringan dan cepat sudah meloncat seperti terbang cepatnya, disusul oleh Tio Sun dan Kwi Beng lari paling akhir karena pemuda peranakan ini biarpun juga memiliki kepandaian cukup tinggi, masih kalah jauh kalau dibandingkan dengan Bun Houw dan kalah setingkat oleh Tio Sun.

"Aihhh... apa kau gila...?"

Kwi Eng menjerit dan kelihatan terdesak hebat oleh serangan sesosok bayangan yang bertubuh ramping.

Bayangan wanita!

Ketika Bun Houw tiba di tempat itu, dia melihat Kwi Eng terancam bahaya maut dan cepat dia menerjang dan sempat menangkis pukulan maut yang sudah mengancam kepala Kwi Eng.

"Dukkkk...! Aihhhh...!"

Bayangan wanita itu terkejut ketika pukulannya tertangkis dan dia terhuyung ke belakang, lalu dia meloncat sambil terkekeh dan lenyap ditelan kegelapan malam.

Bun Houw tidak dapat melihat wajahnya, akan tetapi melihat bentuk tubuh wanita itu dan melihat caranya bergerak dan menyerang, jantungnya berdebar tegang karena dia yakin siapa adanya wanita yang menyerang Kwi Eng tadi.

Melihat Kwi Eng terhuyung, cepat dia menyambar, mendukungnya dan membawanya kembali ke tempat tadi, diikuti oleh Tio Sun dan Kwi Beng yang menjadi khawatir sekali.

Bun Houw dengan hati-hati merebahkan Kwi Eng di dekat api unggun.

Hatinya lega ketika memeriksa dan ternyata Kwi Eng tidak menderita luka parah, hanya mengalami tamparan yang membuat pipi dan lehernya terdapat tanda jari tangan yang merah, tanda bahwa tamparan itu keras sekali.

Kwi Eng masih nanar, akan tetapi dia dapat bangkit duduk dan mukanya merah sekali.

"Keparat, dia entah orang gila entah setan!"

Dia memaki sambil meraba leher dan pipinya yang terasa panas.

"Eng-moi, apakah yang terjadi?"

Kakaknya bertanya, kelihatan marah melihat adiknya dipukuli orang.

"Aku sendiri tidak tahu dengan jelas. Seperti kalian tahu, aku baru memanggang daging dan aku hendak membuang isi perut kelinci dan ayam hutan agak jauh dari sini agar tidak mendatangkan bau tidak enak. Kulihat kalian masih sibuk bercakap-cakap. Ketika aku tiba di sana..."

Dia menuding ke arah gerombolan pohon tak jauh dan yang gelap.

"aku membuang isi perut itu dan tiba-tiba saja lenganku disambar orang dan aku dibawa lari seperti terbang cepatnya!"

"Siapa dia? Bagaimana orangnya?"

Tio Sun bertanya dan Bun Houw hanya mendengarkan, bahkan menundukkan mukanya karena dia sudah mulai menduga siapa orang yang mengganggu Kwi Eng itu dan sedang menduga-duga mengapa terjadi hal itu.

"Aku tidak dapat melihat mukanya karena gelap, akan tetapi yang jelas dia adalah seorang wanita, agaaknya masih muda dan cantik karena cahaya api unggun sebentar menimpa pipinya. Dia kuat sekali karena betapapun aku meronta, aku tidak dapat melepaskan diri, malah dia lalu menampariku dan berbisik penuh ancaman. Tentu saja aku melawan, akan tetapi gerakannya lihai bukan main sehingga betapapun aku mengelak dan menangkis, tetap saja aku kena ditampar beberapa kali,"

Kwi Eng kembali meraba leher dan pipinya.

"Dan... kalau saja Houw-koko tidak keburu datang, aku... aku agaknya sudah terpukul mati, aku merasa betul bahwa iblis itu menghendaki kematianku dan kepandaiannya begitu hebat!"

Kwi Eng bergidik.

"Bagaimana kau tahu kepandaiannya amat hebat?"

Kakaknya mendesak.

"Kau tahu, koko, ketika dia menarikku, aku sudah mengerahkan tenaga, aku diam-diam mencabut tusuk kondeku. Kau tahu tusuk kondeku itu adalah pemberian ibu, terbuat dari baja tulen seperti pedang, diselaputi emas luarnya. Aku menusuknya di tempat gelap, tepat pada lambungnya dan kau lihatlah ini..."

Dara itu mengeluarkan sebatang tusuk konde yang telah patah menjadi dua! "Ihhhh...!"

Kwi Beng berteriak ngeri.

Membayangkan lawan yang lambungnya ditusuk dengan senjata itu malah senjatanya patah, benar-benar mengerikan sekali.

"Adik Kwi Eng, kau tadi mengatakan bahwa iblis itu berbisik penuh ancaman. Bisikan apakah yang dikatakan kepadamu?"

Tiba-tiba Tio Sun bertanya.

Kwi Beng dan Bun Houw juga memandang dan Kwi Eng kelihatan gugup, bahkan lalu mengerling dan menatap wajah Bun Houw sampai lama.

Pemuda ini mengerutkan alisnya, hatinya menjadi tidak enak dan akhirnya dia menunduk.

"Aku sendiripun merasa heran sekali memikirkan apa yang dibisikkan oleh iblis betina itu."

Kwi Eng akhirnya berkata lirih.

"Suaranya halus dan bisikannya jelas terdengar olehku kelika dia menampariku. Dia berkata, berani kau mendekati dia? Kubunuh kau kalau kau berani jatuh cinta padanya!"

"Ehhhh...! Gila!"

Kwi Beng berkata marah dan memandang ke kanan kiri.

"Hemmm, siapakah yang dimaksudkannya itu?"

Tio Sun juga berkata sambil mengerling ke arah Bun Houw yang makin menundukkan mukanya.

Mendengar penuturan ini, Bun Houw makin yakin siapa wanita yang telah menyerang Kwi Eng itu dan dia merasa heran, terkejut, bingung dan penasaran.

Tentu dara bernama Hong itu!

Akan tetapi mengapa demikian?

Mengapa Hong bersikap seperti itu?

Apa artinya semua itu?

Cemburu?

Ah, mengapa cemburu?

"Houw-koko, apakah kau mengenal iblis itu?"

Tiba-tiba Kwi Eng bertanya kepada Bun Houw dan pemuda ini terkejut, tersentak dari lamunannya.

"Aku tidak tahu..."

Dia menggeleng ragu.

"Aku tidak melihat suatu sebab yang membuat orang dapat bersikap seperti itu kepadamu. Mungkin dia seorang gila, atau siapa tahu dia adalah seorang mata-mata Lima Bayangan Dewa..."

"Atau mungkin juga dia salah melihat orang, kau disangka orang lain, adik Kwi Eng,"

Kata pula Tio Sun yang merasa tidak enak melihat Bun Houw kelihatan bingung.

"Sudahlah, karena tidak ada akibat yang terlalu hebat, mari kita makan dan beristirahat. Malam ini kita harus berjaga-jaga, siapa tahu kalau-kalau dia muncul kembali."

Kwi Eng melanjutkan pekerjaannya memanggang daging, kini tidak berani terlalu jauh dari teman-temannya.

Setelah mereka makan daging dan cukup kenyang, Bun Houw yang masih merasa tidak enak dan menduga bahwa boleh jadi dara bernama Hong itu yang melakukan perbuatan kasar terhadap Kwi Eng karena orang aneh seperti dia sukar diduga sebelumnya apa yang akan dilakukannya, mengusulkan untuk mencari penginapan di dalam dusun di luar hutan saja.

Mereka lalu melanjutkan perjalanan keluar dari hutan sambil membawa obor.

Maksud Bun Houw mencari penginapan di dusun adalah untuk menghindari gangguan "iblis"

Tadi, karena hatinya masih khawatir akan keselamatan Kwi Eng.

Ketika dia menangkis pukulan iblis tadi, dia memperoleh kenyataan betapa kuatnya tenaga lengan iblis betina itu dan kalau mereka tinggal di dalam hutan yang terbuka, sukarlah baginya untuk terus melindungi Kwi Eng.

Benar saja, tepat di luar hutan, mereka mendapatkan sebuah dusun kecil yang dihuni oleh puluhan keluarga petani.

Tentu saja di dusun kecil seperti itu tidak terdapat rumah penginapan, akan tetapi Kwi Eng yang pandai bicara ramah dan juga mempunyai banyak uaug bekal itu berhasil mendapatkan sebuah rumah besar tempat tinggal seorang petani yang agak kaya untuk menampung dan memberi kamar kepada mereka berempat untuk satu malam itu.

Petani yang kecukupan ini she Ma dan hidup bersama seorang istri, dua orang anak gadis yang sudah dewasa dan dua orang pelayan.

Keluarga she Ma ini ternyata ramah sekali dan dengan gembira mereka menyambut empat orang tamu mereka, bahkan menjamu mereka dengan nasi, lauk pauk dan minuman, memaksa mereka berempat makan walaupun mereka menyatakan bahwa mereka sudah makan di hutan.

Memang kehidupan di dusun jauh bedanya dengan di dalam kota.

Orang-orang kota biasanya terlalu mementingkan diri sendiri, hidup memisahkan diri, dan saling tidak mengacuhkan keadaan orang lain, jarang sekali nampak keakraban dan kegotongroyongan.

Berbeda dengan kgbidupan di dusun di mana mereka lebih saling bergaul dengan akrab, senasib sependeritaan dan selalu bersikap ramah apabila kedatangan tamu.

Demikian pula, keluarga she Ma ini, ketika mendengar permintaan Kwi Eng untuk dapat bermalam di situ malam itu, mereka gembira sekali, apalagi ketika melihat bahwa Kwi Eng adalah seorang dara yang demikian cantik jelita dan mempunyai kecantikan yang khas, sedangkan tiga orang pemuda itu begitu gagah-gagah dan tampan, terutama sekali Bun Houw dan Kwi Beng.

Diam-diam timbullah keinginan besar di dalam hati suami isteri Ma.

Sudah lama mereka itu ingin sekali memperoleh mantu-mantu yang sesuai dengan keadaan mereka.

Sebagai petani yang paling kaya di dusun itu, tentu saja mereka menganggap pemuda-pemuda dusun itu kurang memenuhi syarat untuk menjadi mantu-mantu mereka.

Kini muncul pemuda-pemuda kota yang demikian gagah dan tampan, tentu saja timbul harapan di dalam hati mereka dan sang ibu segera memberi nasihat kepada dua orang puterinya untuk keluar dan ikut pula melayani para tamu makan minum dan bersikap ramah dan manis kepada para tamunya.

Tentu saja tidak lupa mereka itu berhias diri untuk menarik perhatian para pemuda kota itu, terutama Kwi Beng dan Bun Houw.

Kwi Eng yang dapat mengerti sikap ibu dan dua orang anak gadisnya itu merasa geli dan juga kasihan.

Sikap mereka begitu polos dan kaku sehingga amat menyolok mata ketika perawan pertama dengan manisnya melayani Bun Houw sedangkan adiknya dengan sikap memikat melayani Kwi Beng.

Beberapa kali Kwi Eng menutup mulutnya menahan ketawa melihat betapa Kwi Beng dan Bun Houw menjadi merah mukanya dilayani oleh perawan-perawan dusun yang berbedak tebal dan memakai minyak wangi semerbak itu.

Karena keramahan fihak tuan rumah sekeluarga, mereka berempat merasa tidak enak untuk menolak dan biarpun mereka sudah kenyang makan daging kelinci dan ayam hutan tadi, kini mereka makan dan minum lagi sekedarnya hanya untuk menyenangkan hati keluarga tuan rumah.

Demikian pula setelah mereka makan, keluarga itu mengajak para tamunya bercakap-cakap di ruangan depan, dan kembali dalam kesempatan ini, dua orang anak gadis keluarga itu memperlihatkan sikap manis dan tertarik sekali kepada Bun Houw dan Kwi Beng.

Tentu saja dua orang pemuda ini menjadi sungkan dan malu-malu, dan baru mereka merasa terbebas ketika Tio Sun akhirnya minta perkenan dari keluarga itu untuk mengaso.

Kwi Eng memperoleh kamar sendiri, sedangkan tiga orang pemuda itu tidur menjadi satu di dalam sebuah kamar besar sederhana di bagian belakang rumah itu.

Menjelang tengah malam, semua orang terkejut ketika mendengar jerit melengking yang mengerikan.

Sebagai orang-orang berkepandaian tinggi, tentu saja tiga orang pemuda itu cepat meloncat keluar dari kamar mereka, dan bertemu dengan Kwi Eng yang juga sudah meloncat keluar kamarnya.

Lalu mereka mendengar suara tangis dari kamar dua orang gadis puteri tuan ruinah.

Tentu saja mereka terkejut dan cepat mendatangi kamar itu dan dapat dibayangkan betapa kaget hati mereka ketika melihat bahwa gadis pertama she Ma telah rebah tak bernyawa lagi di atas pembaringannya dan di dahinya terdapat tanda tiga buah jari tangan menghitam.

Jelas bahwa gadis ini tewas terbunuh orang yang memiliki kepandaian tinggi!

Ketika melihat empat orang itu, suami isteri Ma dan anaknya yang kedua menangis makin riuh rendah.

Tanpa diminta, Tio Sun dan tiga orang temannya sudah menggunakan kepandaian mereka untuk meloncat dan melakukan pengejaran, mencari di luar belakang dan di atas genteng rumah, namun tidak nampak bayangan orang lagi.

Mereka kembali ke kamar itu di mana semua keluarga masih menangis.

"Apakah sesungguhnya yang telah terjadi?"

Tio Sun bertanya kepada tuan rumah.

"Mengapa puteri ji-wi tahu-tahu meninggal seperti ini?"

Sambil menangis orang she Ma itu menjawab bahwa mereka suami isteri juga tidak tahu, akan tetapi menurut penuturan gadis mereka yang kedua, anak pertama mereka itu dibunuh oleh seorang wanita!

"Seorang wanita?"

Bun Houw bertanya dengan suara terkejut sekali.

Jantungnya berdebar tegang dan dia langsung bertanya kepada gadis Ma yang muda dan yang masih menangis itu.

"Nona, harap ceritakan, apa yang telah terjadi dan siapa yang membunuh encimu?"

"Saya... saya terbangun oleh suara dalam kamar kami..."

Gadis itu bercerita dengan air mata bercucuran.

"Lampu kami bernyala kecil... dan... dan saya melihat bayangan seorang wanita di kamar... ada bau harum bunga... dan saya mendengar suara wanita itu berkata kepada enci..."

Dia melihat lagi terisak-isak. Ibunya memeluknya dan berkata.

"Kau tenanglah dan ceritakan dengan jelas..."

"Saya... mendengar jelas, wanita itu... bayangan itu berkata.

"Kau berani menggoda pemuda itu, kau harus mati!"

Enci menjerit dan bayangan itu berkelebat lenyap...

seperti iblis...

melalui jendela.

Saya menghampiri enci dan...

dan..."

Gadis itu menangis lagi sesenggukan.

Kwi Eng, Kwi Beng, dan Tio Sun saling pandang dengan mata terbelalak, sedangkan Bun Houw yang merasa jantungnya berdebar dan tengkuknya meremang menundukkan mukanya sambil mengepal tinju tangannya.

Benarkah?

Benarkah wanita iblis itu adalah wanita yang telah mengancam Kwi Eng dan kini membunuh puteri tuan rumah ini?

Benarkah nona Hong yang cantik jelita, gagah perkasa, penolong dan penyelamatnya itu, dia itukah iblis betina ini?

Agaknya tidak mungkin salah lagi!

Siapa lagi kalau bukan dia yang berkepandaian begitu tinggi sehingga Kwi Eng sendiripun tidak berdaya?

Akan tetapi mengapa dia melakukan hal itu?

Mengapa?

Karena cinta kepadanya dan karena cemburu melihat sikap puteri tuan rumah manis kepadanya?

Cemburu?

Begitu kejamnya?

Dia bergidik.

Tio Sun menyentuh lengannya dan pemuda itu memberi isyarat kepadanya.

Bun Houw mengangkat muka, melihat betapa tiga orang temannya itu memandang kepadanya dengan sinar mata tajam penuh selidik.

Dia menghela napas dan keluar dari kamar itu bersama tiga orang temannya.

Setelah tiba di ruangan depan rumah itu, Tio Sun memandang kepada Bun Houw dengan tajam lalu berkata.

"Houw-te, agaknya pembunuhan ini ada hubungannya dengan penyerangan atas diri adik Kwi Eng. Apakah engkau dapat monduga siapa yang melakukannya?"

Melihat mereka bertiga memandang penuh selidik, Bun Houw menghela napas dan menjawab.

"Sungguh, aku sendiri menjadi bingung. Ada seorang pendekar wanita yang kukenal, akan tetapi agaknya tidak mungkin dia berobah menjadi iblis betina. Aku tidak dapat percaya. Tidak, tentu ada apa-apa yang aneh di balik semua ini"

Bun Houw tetap tidak mau mengaku.

Bagaimana mungkin dia menceritakan tentang nona Hong yang amat dikagumi dan yang telah menyelamatkan nyawanya itu?

Terus terang saja, di sudut hatinya memang ada dugaan bahwa nona itulah yang melakukan ancaman terhadap Kwi Eng dan pembunuhan malam ini, karena betapapun juga, dia tahu bahwa nona perkasa itu memiliki watak aneh dan hati yang keras, tidak dapat memberi ampun kepada musuhnya.

Akan tetapi mengapa menyatakan cemburu secana demikian ganas?

Dan benarkah perbuatan itu dilakukan karena cemburu?

Apakah nona Hong yang panuh rahasia itu jatuh cinta kepadanya?

Semua pertanyaan ini mengaduk otaknya dan karena belum terdapat bukti-bukti nyata, biarpun dia mulai menduga demikian, dia tidak mau merusak nama gadis panolongnya itu.

Betapapun juga dia masih tidak mau percaya bahwa dara cantik jelita itu telah membunuh gadis she Me yang sama sekali tidak berdosa itu.

Dia bergidik.

Bagaimana kalau benar nona Hong yang membunuhnya?

Betapa kejamnya.

Seperti iblis betina saja!

Dia menjadi makin penasaran dan ingin sekali dia bertemu dengan gadis itu untuk ditanyainya.

Teringat dia betapa ganasnya nona itu ketika hendak membasmi anak buah Lembah Bunga Merah.

Seorang gedis yang cantik jelita, berilmu tinggi dan amat ganas menghadapi musuh-musuhnya.

Akan tetapi membunuh gadis she Ma yang tidak berdosa dengan darah dingin begitu saja?

Sungguh keterlaluan!

Bun Houw merasa terisksa batinnya di antara keraguan dan rasa penasaran.

Benarkah nona Hong yang membunuhnya?

Seorang dara seperti bidadari, seperti seorang dari kahyangan!

Mengapa begitu kejam?

Seperti Dewi Maut saja, bidadari yang bertugas mencabut nyawa sebagai pembantu Giam-lo-ong!

Dapat dibayangkan betapa bingungnya hati pemuda itu.

Dia amat kagum kepada In Hong dan merasa berhutang budi karena harus diakuinya bahwa kalau bukan nona itu yang menyelamatkannya dari tangan musuh-musuhnya, tentu dia sekarang sudah mati.

Akan tetapi peristiwa penyerangan terhadap diri Kwi Eng dan pembunuhan terhadap gadis she Ma itu menunjukkan seolah-olah gadis yang dikaguminya itu seorang ibils betina yang kejam.

Tangannya sudah merogoh kantong menyentuh burung hong kumala yang diterimanya dari nona itu.

Saking gemas dan bencinya hampir saja dia meremas benda itu, akan tetapi dia ingat bahwa belum ada bukti nyata bahwa nona itulah yang melakukan semua kekejian ini.

Kelak dia pasti akan menyelidiki dan membongkar rahasia ini!

Karena hatinya amat terganggu oleh peristiwa itu, dan juga karena tiga orang temannya agaknya mencurigainya, maka dengan dalih mencari dan mengejar pembunuh itu, Bun Houw mengajak tiga orang temannya meninggalkan rumah keluarga Ma dan malam itu juga mereka meninggalkan dusun itu dan berusaha mencari jejak pembunuh, namun semua usaha mereka sia-sia belaka.

Ngo-sian-chung (Kampung Lima Dewa) adalah sebuah dusun kuno yang terletak di lembah muara sungai Huang-ho.

Di dusun itu, di dekat sungai, terdapat bukit kecil di mana orang dapat melihat adanya lima buah batu gunung besar yang berjajar dan jika dilihat dari kejauhan mirip lima orang sedang duduk bercakap-cakap.

Karena itulah mungkin maka dusun itu disebut Dusun Lima Dewa.

Akan tetapi, belasan tahun yang lalu ketika seorang datuk kaum sesat datang dan menetap di dusun itu, lambat-laun para penghuni dusun pindah ke lain tempat dan akhirnya dusun itu seolah-olah menjadi "milik pribadi"

Datuk kaum sesat itu yang bukan lain adalah Pat-pi Lo-sian Phang Tui Lok.

Dia ini sebetulnya adalah seorang yang berilmu tinggi peranakah Mongol, ayahnya seorang Han akan tetapi ibunya seorang wanita Mongol.

Ayahnya adalah seorang petualang yang berkepandaian tinggi dan ketika bertualang di dadrah Mongol ayahnya itu menikah dengan puteri kepala Suku Bangsa Mongol.

Oleh karena itu, biarpun dia memakai nama keturunan ayahnya dan mempunyai nama Han, Akan tetapi wajahnya yang tampan itu mirip orang Mongol dari seperti juga orang Mongol, dia tidak begitu suka kepada Bangsa Han, bangsa ayahnya sendiri, dan lebih setia kepada Bangsa Mongol yang dianggapnya bangsa paling besar dan mulia di dunia.

Phang Tui Lok menerima ilmunya dari seorang sakti, dan dia adalah sute dari mendiang Ban-tok Coa-ong, seorang datuk kaum sesat yang pada puluhan tahun yang lalu amat terkenal di dunia persilatan.

Seperti kita ketahui, di dalam cerita Petualang Asmara, Ban-tok Coa-ong Ouwyang Kok tewas di tangan Pendekar Sakti Cia Keng Hong ketua Cin-ling-pai, Dan oleh karena ini maka Pat-pi Lo-sian Phang Tui Lok menaruh dendam kepada Cin-ling-pai dan semenjak dia tinggal di Ngo-sian-chung, dia selalu mencari kesempatan uatuk membalas sakit hatinya itu.

Namun, dia bukanlah seorang bodoh dan ceroboh.

Dia maklum betapa lihainya ketua Cin-ling-pai, maka dia selalu mencari kesempatan yang baik dan menyusun kekuatan.

Setelah dia dapat mengumpulkan harta dan menjadi "majikan"

Dusun Ngo-sian-chung itu, mulailah dia mengumpulkan teman-teman yang dia tahu juga merupakan musuh-musuh dari ketua Cin-ling-pai sehingga akhirnya dia berhasil menarik empat orang lihai lainnya dan bahkan mengangkat saudara dengan mereka ini dan mereka menggunakan julukan Lima Bayangan Dewa, sesuai dengan Ngo-sian-chung yang menjadi sarang atau pusat pertemuan mereka.

Setelah merasa kuat, maka Pat-pi Lo-sian mengajak empat orang saudara angkatnya itu untuk menyerbu Cin-ling-pai dan seperti telah dituturkan di bagian depan cerita ini, Mereka berhasil membunuh Cap-it Ho-han murid-murid kepala Cin-ling-pai dan Phang Tui Lok sendiri sebagai saudara tertua dan yang terpandai, berhasil merampas pedang Siang-bhok-kiam.

Setelah berhasil menggegerkan dunia kang-ouw dengan penyerbuan mereka ke Cin-ling-pai itu, Lima Bayangan Dewa maklum bahwa tentu fihak Cin-ling-pai tidak akan tinggal diam, maka merekapun lalu mengumpulkan teman-teman segolongan untuk bersiap-siap menghadapi musuh besar mereka.

Bahkan Pat-pi Lo-sian Phang Tui Lok sendiri lalu membujuk dua di antara Lima Bayangan Dewa, yaitu Liok-te Sin-mo Gu Lo It yang tadinya tinggal di pantai timur, dan Toat-beng-kauw Bu Sit yang tadinya di selatan untuk tinggal di Ngo-sian-chung.

Selain mengumpulkan tokoh-tokoh besar golongan sesat yang juga memusuhi Cin-ling-pai, Juga Pat-pi Lo-sian Phang Tui Lok yang masih terhitung keluarga para bangsawan Mongol, diam-diam menghubungi seorang pembesar istana yang pada waktu itu sedang berkuasa besar, yaitu seorang pembesar thaikam (pembesar kebiri) yang berpengaruh di istana Kaisar.

Kini dusun Ngo-sian-chung tidaklah seramai dahulu lagi, sebagian besar penghuni aseli dusun itu, yang sudah tinggal di situ selama beberapa keturunan, telah pergi dari situ dan pindah ke dusun lain semenjak Lima Bayangan Dewa menguasai dusun itu.

Mereka ini, orang-orang dusun yang lemah, tidak mau terlibat dengan urusan orang-orang kang-ouw yang mengandalkan kepandaian dan kekerasan untuk melewati hidup.

Mereka yang masih tinggal di situ adalah orang-orang yang memperoleh keuntungan dengan adanya Lima Bayangan Dewa dan bekerja menjadi kaki tangan mereka Pada pagi hari itu, empat orang muda memasuki dusun Ngo-sian-chung dengan sikap tenang namun penuh kewaspadaan.

Mereka itu adalah Bun Hoow, Tio Sun, Kwi Beng dan Kwi Eng.

Setelah mereka pada malam hari itu gagal mencari dan mengejar pembunuh rahasia yang telah membunuh gadis she Ma, mereka merasa tidak enak untuk kembali ke dusun dan mereka melanjutkan perjalanan menuju ke Ngo-sian-chung.

Karena Ngo-sian-chung memang sudah dekat, berada di lembar muara sungai Huang-ho, maka pada keesokan harinya, pagi-pagi mereka telah memasuki dusun itu dengan sikap penuh kewaspadaan karena mereka menduga bahwa mereka tentu tiba di sarang Lima Bayangan Dewa yang mereka cari-cari.

Dugaan mereka memang tepat.

Mereka sedang memasuki sarang naga yang amat berbahaya.

Tidak percuma tempat itu dijadikan sarang Lima Bayangan Dewa dan biarpun pagi hari itu empat orang muda ini memasuki pintu gerbang dusun yang sunyi seolah-olah tempat itu aman dan kosong, seolah-olah tidak terdapat bahaya sama sekali, namun sesungguhnya kedatangan mereka sudah sejak malam tadi diketahui oleh para penghuni Ngo-sian-chung dan pagi ini.

empat orang itu memang dibiarkan memasuki dusun seperti empat ekor domba yang dibiarkan masuk ke dalam jebakan dan di sekeliling tempat itu, secara bersembunyi, telah menanti segerombolan harimau yang kelaparan dan yang memandangi gerakan empat ekor domba itu!

Sebetulnya, sebelum mereka memasuki dusun itu, Tio Sun menyatakan tidak setujunya karena dia menganggap perbuatan mereka ini terlalu ceroboh.

"Lima Bayangan Dewa yang telah melakukan perbuatan menentang Cin-ling-pai tentu selalu telah siap menghadapi lawan,"

Katanya kepada Bun Houw.

"Kalau kita masuk secara berterang, bukankah hal itu amat berbahaya? Mereka sudah tahu bahwa kita hanya berempat, dan kita tidak tahu sampai di mana kekuatan mereka."

"Tio-twako,"

Bun Houw menjawab malam tadi.

"Mereka itu adalah orang-orang dari golongan sesat, ketika mereke menyerbu Cin-ling-pai, mereka sengaja menanti ketika ayah dan ibu tidak berada di sana, dan mereka memancing para suheng dari Cap-it Ho-han meninggalkan Cin-ling-san. Akan totapi, kedatanganku adalah untuk menuntut balas, maka aku pantang masuk secara menggelap. Aku menyesal sekali telah membawa twako dan kedua adik Souw ke dalam bahaya ini."

"Ah, Houw-koko mengapa berkata demikian?"

Kwi Beng membantah.

"Kita adalah keturunan pendekar, bahaya, sakit dan kematian dalam membela kebenaran bukan apa-apa bagi kita."

Tio Sun menarik napas panjang.

"Maaf Houw-te, aku hanya memperingatkan, sama sekali bukan berarti bahwa aku takut. Kalau begitu, marilah kita masuk dusun itu."

Demikianlah, pagi itu mereka memasuki dusun dengan sikap tenang akan tetapi hati-hati dan penuh kewaspadaan.

Mereka tidak melihat adanya fihak musuh yang memang sudah mengawasi setiap gerak-gerik mereka sambil bersembunyi, namun mereka seperti dapat merasakan kehadiran musuh yang tidak nampak itu.

Pada waktu itu, orang tertua dari Lima Bayangan Dewa, yaitu Pat-pi Lo-sian Phang Tui Lok tidak berada di Ngo-sian-chung.

Dia bersama orang ketiga, yaitu Sin-ciang Siauw-bin-sian Hok Ho Siang, beberapa hari yang lalu berangkat ke kota raja atas panggilan pembesar thaikam di istana yang membutuhkah tenaga bantuan mereka.

Oleh karena itu yang menjaga Ngo-sian-chung adalah Liok-te Sin-mo Gu Lo It, orang kedua dari Lima Bayangan Dewa.

Dan beru saja rombongan Hui-giakang Ciok Lee Kim juga tiba di situ, yaitu Toat-beng-kauw Bu Sit, Hwa Hwa Cinjin, Hek I Siankouw, dan Bouw Thaisu sehingga Ngo-sian-chung penuh dengan orang-orang yang berilmu tinggi!

Di samping tiga orang Bayangan Dewa dan tiga orang tamu mereka yang bahkan lebih lihai daripada mereka ini, masih terdapat anak buah Ngo-sian-chung yang hampir tiga puluh orang jumlahnya ditambah lagi beberapa orang pembantu dan kaki tangan Hui-giakang Ciok Lee Kim yang ikut datang dari Lembah Bunga Merah.

Sebetulnya Liok-te Sin-mo Gu Lo It yang pada saat itu menjadi wakil tuan rumah, telah memimpin barisan pendam yang telah siap dengan anak panah dan senjata rahasia mereka.

Kalau dia memberi aba-aba untuk menghujankan senjata rahasia, kemudian dia bersama para temannya yang lihai itu menyerbu, Kiranya empat orang muda itu akan menghadapi bahaya yang amat besar.

Akan tetapi ketika mereka mengintai itu, para tamu dari Lembah Bunga Merah segera mengenal Bun Houw!

Mereka terkejut sekali karena mereka sudah menyaksikan sendiri kelihaian pemuda ini, dan biarpun mereka telah berhasil menangkap pemuda itu, menyiksanya secara hebat, akan tetapi kini tampaknya pemuda itu sudah sembuh same sekali!

Tiga orang muda lain yang ikut datang bersama Bun Houw, tidak mereka kenal akan tetapi mereka itu memandang rendah dan menduga bahwa ini agaknya adalah murid-murid Bu-tong-pai yang hendak membalas dendam kepada Hui-giakang Ciok Lee Kim.

Oleh karena itu, Ciok Lee Kim lalu menahan suhengnya dan menyentuh lengan Liok-te Sin-mo Gu Lo It sambil berbisik-bisik.

"Pemuda yang di depan itu lihai sekali, dan agaknya dia utusan Cin-ling-pai. Akan tetapi dia belum mengaku. Dan tiga yang lain itu, boleh jadi murid-murid Bu-tong-pai. Tidak baik kalau membunuh mereka, dan pemuda bernama Bun Houw itu harus dipaksa mengaku."

"Tepat sekali, memang mereka itu harus ditawan hidup-hidup untuk dimintai keterangan. Kita harus mengetahui gerak-gerik musuh, jangan sampai terjebak oleh Cin-ling-pai."

Toat-beng-kauw Bu Sit membenarkan pendapat sucinya.

Sebetulnya siasat yang dipergunakan oleh dua orang tokoh Lima Bayangan Dewa ini mengandung niat lain yang bersumber kepada keinginan pribadi.

Begitu Ciok Lee Kim melihat wajah dan bentuk tubuh Kwi Beng, dengan matanya yang bening kebiruan dan rambutnya yang agak pirang, wanita ini sudah menjadi tergila-gila dan dia akan merasa sayang sekali kalau pemuda seperti itu dibunuh begitu saja.

Dia sudah membayangkan betapa akan senang hatinya kalau dia dapat ditemani oleh pemuda setampan itu untuk beberapa malam lamanya.

Demikian pula Toat-beng-kauw Bu Sit si wajah monyet, begitu dia melihat Kwi Eng yang cantik jelita, yang memiliki kecantikan yang khas dan aneh namun amat menarik itu, dia sudah mengilar dan tergila-gila.

Betapapun juga, dia harus dapat menguasai gadis yang demikian cantiknya!

Gu Lo It bukan tidak tahu akan watak sumoi dan sutenya ini, akan tetapi karena memang usul mereka itu tepat dan diapun ingin sekali mengetahui siapa sebenarnya pemuda tampan yang menurut cerita dua orang adik angkatnya itu memiliki kepandaian yang amat tinggi, maka dia mengangguk dan lalu diaturlah siasat untuk menghadapi empat orang penyerbu muda yang demikian tenang dan beraninya memasuki sarang Lima Bayangan Dewa.

Setelah empat orang muda itu tiba di tengah-tengah dusun Ngo-sian-chung dan di antara rumah-rumah yang agaknya kosong, tiba-tiba terdengar sorak-sorai dari empat penjuru dan tahulah mereka bahwa mereka telah terjebak dan terkurung.

"Awas dan siap, kita harus saling melindungi!"

Bun Houw berbisik dan tiga orang temannya mengangguk lalu mereka berdiri saling membolakangi, menghadapi empat penjuru dengan seluruh urat saraf di tubuh mereka menegang, siap menghadapi segala kemungkinan yang akan menimpa mereka.

Kini tampaklah orang-orang muncul dari balik-balik rumah dengan gendewa terpentang dan anak panah siap ditodongkan ke arah mereka.

Sedikitnya ada tiga puluh orang bersenjata lengkap, kebanyakan dari mereka menodongkan anak panah, muncul dan mengurung empat orang muda yang sudah siap dan tidak bergerak di tengah-tengah lapangan yang cukup luas itu.

Dengan sikap tenang Bun Houw berkata, suaranya nyaring sekali sehingga bukan hanya dapat terdengar oleh semua pengepung, melainkan juga dapat terdengar sampai jauh di empat penjuru.

"Kami datang bukan hendak mengganggu orang-orang yang tidak berkepentingan, maka harap suruh Lima Bayangan Dewa untuk keluar!"

Tiba-tiba terdengar suara wanita tertawa mengejek.

"Heh-heh-hi-hi-hik! Jadi engkau belum mampus?"

Ciok Lee Kim meloncat keluar.

"Dan engkau datang untuk mengantar nyawa? Jangan harap sekarang engkau akan dapat lolos dari tanganku, pemuda sombong!"

Bu Sit juga menyusul sucinya, meloncat keluar dengan sikap sombong karena dia yakin bahwa dengan bantuan teman-temannya mereka akan dapat menangkap empat orang itu dengan mudah.

Biarpun dia berkata kepada Bun Houw, namun matanya yang bulat seperti mata monyet, bulat kecil, mengincar wajah Kwi Eng karena empat orang muda itu kini membalik dan menghadapi tokoh yang menjadi musuh-musuh besar dan yang baru muncul itu.

Melihat dua orang ini, tentu saja darah Bun Houw menjadi panas.

Teringat dia betapa dia disiksa secara hebat oleh mereka ini.

Akan tetapi sebagai seorang pendekar muda gemblengan orang-orang sakti, dia dapat menahan diri dan hanya memandang dengan tersenyum ketika melihat dua orang yang telah dikenalnya itu muncul diikuti oleh Bouw Thaisu yang amat lihai, Hwa Hwa Cinjin, Hek I Siankouw, dan seorang laki-laki berhidung besar berjubah hitam, bertopi dan bertubuh kokoh kuat berusia kurang lebih enam puluh tahun.

Bun Houw menduga bahwa laki-laki ini agaknya merupakan seorang di antara Lima Bayangan Dewa, dan kalau benar demikian, mana yang dua lagi?

Dia ingin bprhadapan dengan mereka berlima sekaligus agar dia dapat membuat perhitungan secara serentak.

"Aku telah mengenal Hui-giakang Ciok Lee Kim dan Toat-beng-kauw Bu Sit, dua orang berwatak pengecut di antara Lima Bayangan Dewa,"

Kata Bun Houw dengan lantang dan berani.

"akan tetapi mana yang tiga lagi? Apakah tiga orang Bayangan Dewa yang lain begitu pengecut untuk selalu menyembunyikan diri dan mengajukan orang-orang lain?"

"Hemmm, kalau begitu robah saja julukan Bayangan Dewa menjadi Bayangan Tikus yang penakut dan pengecut!"

Kwi Eng menyambung dengan suara mengejek.

"Bocah she Bun yang sombong!"

Liok-te Sin-mo Gu Lo It membentak sambil melangkah maju.

"Dari sumoi dan sute aku telah mendengar bahwa engkau menyamar sebagai pengawal Kiam-mo Liok Sun, akan tetapi sebenarnya engkau dari Cin-ling-pai! Sebelum engkau mampus, hayo kauperkenalkan dulu siapa adanya tiga orang muda yang kauajak mengantar nyawa ke sini. Apakah kalian bertiga juga murid-murid Cin-ling-pai?"

Tio Sun memandang dengan sinar mata berapi dan dia menjawab.

"Ketahuilah, manusia-manusia iblis. Aku bernama Tio Sun dan ayahku adalah Tio Hok Gwan. Kami sekeluarga telah biasa menentang dan membasmi manusia-manusia iblis macam kalian."

Semua orang terkejut karena mereka tentu saja sudah mendengar nama besar Ban-kin-kwi Tio Hok Gwan.

"Dan kami kakak beradik bernama Souw Kwi Beng dan Souw Kwi Eng. Ibu kami adalah pendekar wanita Souw Li Hwa murid mendiang Panglima Besar The Hoo! Hayo kalian lekas berlutut dan menyerah daripada terpaksa kami membunuh kalian!"

Kwi Beng juga membentak dengan suara nyaring.

Kembali para tokoh kang-ouw yang memusuhi Cin-ling-pai itu terkejut.

Nama Souw Li Hwa memang tidak mereka kenal, akan tetapi siapakah yang tidak mengenal nama The Hoo yang ditakuti lawan disegani kawan?

Dan dua prang muda ini adalah putera-puteri murid The Hoo, hal ini saja sudah membuat mereka memandang dengan sinar mata lain dan tidak berani memandang rendah.

Akan tetapi, tetap saja mata Si Kelabang Terbang Ciok Lee Kim dan Monyet Pencabut Nyawa Bu Sit seperti akan keluar dari rongganya saking kagumnya setelah kini mereka berdiri dekat dengan kakak beradik kembar itu yang ternyata memiliki ketampanan dan kecantikan yang benar-benar amat menjatuhkan hati mereka dan menimbulkan nafsu berahi karena memang keelokan mereka itu khas dan belum pernah mereka temukan dalam petualangan mereka bercinta dengan macam-macam orang!

Liok-te Sin-mo Gu Lo It yang ditemani tidak hanya oleh dua orang sumoi dan sutenya, akan tetapi juga oleh tiga orang sakti Bouw Thaisu, Hwa Hwa Cinjin dan Hek I Siankouw, belum lagi anak buah Ngo-sian-chung ditambah anak buah Lembah Bunga Merah, tentu saja sama sekali tidak merasa gentar, bahkan dia memandang rendah empat orang muda itu.

"Bagus!"

Katanya mengejek.

"Kiranya kalian adalah keturunan orang-orang pandai, akan tetapi sayang sekali bahwa guru-guru atau ayah-ayah kalian amat sembrono, mengirim kalian orang muda hijau datang ke sini. Orang muda she Bun, kalau engkau benar dari Cin-ling-pai, apa maksud kedatanganmu di sini mengajak tiga orang temanmu ini?"

"Siapakah engkau?"

Bun Houw balas bertanya sambil memandang penuh selidik.

"Suruh tiga orang lain dari Bayangan Dewa untuk keluar menemui aku!"

"Ha-ha-ha, betapa sombongnya! Aku adalah Liok-te Sin-mo Gu Lo It, orang kedua dari Lima Bayangan Dewa. Dengan adanya kami bertiga dan tiga orang sahabat kami yang mulia ini, sudah cukup. Orang pertama dan ketiga dari kami sedang ada urusan keluar, maka kausampaikan saja kepada kami apa yang menjadi keperluan dan kehendakmu."

Bun Houw agak kecewa bahwa dua orang di antara Lima Bayangan Dewa tidak hadir.

Kini dia mengepal tinju dan membentak.

"Liok-te Sin-mo, kalian Lima Bayangan Dewa telah bertindak pengecut, selagi ketua Cin-ling-pai tidak ada, kalian berani menyerbu dan mengacau Cin-ling-pai. Sekarang aku datang untuk minta kembali pusaka Cin-ling-pai, Siang-bhok-kiam dan nyawa Lima Bayangan Dewa."

"Ha-ha-ha, sungguh sombong kau, keparat!"

Liok-te Sin-mo adalah seorang yang berwatak keras dan kasar, maka mendengar ucapan Bun Houw, dia tidak dapat menahan kemarahannya lagi.

Cepat dia memberi isyarat kepada teman-temannya dan kepada para anak buahnya.

Sambil bersorak riuh, anak buah Ngo-sian-chung dibantu anak buah Lembah Bunga Merah maju menyerbu dengan senjata mereka, mengepung dan mengeroyok empat orang muda itu.

Sedangkan Liok-te Sin-mo Gu Lo It, sesuai dengan rencana, mundur dan bersama teman-temannya mereka menonton lebih dulu untuk menilai siapa di antara empat orang muda itu yang paling lihai dan siapa pula yang lebih lemah agar lebih mudah bagi mereka untuk melakukan pengeroyokan yang menguntungkan.

Akan tetapi, karena sudah maklum dari pelaporan dua orang adik angkatnya akan kelihaian Bun Houw, maka seperti telah direncanakan, Bouw Thaisu, Hwa Hwa Cinjin, dan Hek I Siankouw sudah menggerakkan tubuh mereka dan tiga orang sakti ini mengurung dan mengeroyok Bun Houw!

Bun Houw sendiri maklum dari pengalamannya di Lembah Bunga Merah, bahwa tiga orang tua ini memang hebat sekali kepandaiannya, maka diapun malah merasa lega bahwa mereka langsung mengeroyoknya sehingga kawan-kawannya akan menghadapi pengeroyokan lawan yang tidak selihai mereka bertiga ini.

Maka diapun cepat meraba pinggangnya dan nampaklah sinar pedang yang sudah dipegang di tangan kanannya.

Pedang ini pedang pemberian In Hong, sebatang pedang yang cukup baik.

Sebetulnya, berkat gemblengan dari suhunya, Kok Beng Lama, Bun Houw dapat menghadapi lawan yang betapa lihainyapun dengan kedua tangan kosong saja, akan tetapi karena dia tahu betapa hebat kepandaian tiga orang pengeroypknya yang juga mempergunakan senjata, maka dia tidak mau bersikap ceroboh memandang rendah, dan dia sudah mengeluarkan pedang itu untuk melakukan perlawanan mati-matian.

Sementara itu, Tio Sun juga sudah mengeluarkan dua senjatanya yang ampuh, yaitu sebatang pedang di tangan kanan dan sebatang joan-pian, yaitu sabuk yang dapat dipergunakan sebagai cambuk, kemudian dia sudah mengamuk hebat, dalam waktu singkat saja sudah merobohkan dua orang pengeroyoknya.

Kwi Beng dan Kwi Eng, dua saudara kembar yang tentu saja memiliki perasaan yang amat dekat dan saling membela, telah mengamuk pula dengan pedang di tangan, saling melindungi dan keduanya sudah memutar pedang dengan tangan kanan, sedangkan tangan kiri mereka melemparkan hui-to, yaitu pisau terbang yang mereka lempar dengan kegapahan seorang ahli sehingga masing-masing juga sudah merobohkan dua orang pengeroyok dengan hui-to mereka.

Melihat ini, tiga orang Bayangan Dewa menjadi kaget juga.

Akan tetapi begitu melihat tiga orang mude itu menggerakkan senjata, Liok-te Sin-mo Gu Lo It maklum bahwa di antara mereka, Putera Ban-kin-kwi Tio Hok Gwan itulah yang paling lihai, maka diapun lalu meloncat ke depan, menyerang Tio Sun dengan kedua ujung lengan bajunya yang merupakan senjatanya yang istimewa, karena kedua ujung lengan baju hitam itu dipasangi baja-baja yang kuat dan tersembunyi sehingga tidak kelihatan oleh lawan, akan tetapi kalau mengenai tubuh lawan sama bahayanya dengan senjata tajam manapun juga.

Melihat gerakan orang kedua dari Lima Bayangan Dewa ini, Tio Sun cepat menyambut dan di antara mereka segera terjadi pertandingan yang amat hebat dan seru, akan tetapi atas isyarat Gu Lo It, beberapa orang anak buahnya sudah turun tangan pula membantu sehingga Tio Sun kembali dikepung dan sekali ini dia harus mengerahkan seluruh tenaga dan andalannya karena pengepungan itu dipimpin oleh Liok-te Sin-mo Gu Lo It yang amat lihai.

Sementara itu, Ciok Lee Kim dan Bu Sit girang bukan main ketika mendapat kenyataan bahwa biarpun dua orang kakak beradik kembar itu memiliki ilmu kepandaian yang tinggi pula, namun dibandingkan dengan dua orang muda lainnya, mereka ini paling lunak dan kedua brang ini segera terjun ke dalam medan pertempuran, dan otomatis Bu Sit sudah menggerakkan pecut bajanya menahan pedang di tangan Kwi Eng, sedangkan Ciok Lee Kim mainkan dua helai saputangan suteranya menandingi Kwi Beng sambil tersenyum-senyum penuh gairah!

Dengan cara memecah-mecah, pertandingan dibagi menjadi empat dan memang Liok-te Sin-mo dan kawan-kawannya merupakan orang-orang yang selain berilmu tinggi, juga pandai bersiasat.

Andaikata pertempuran itu dilakukan dengan pengeroyokan umum, maka dengan gabungan kepandaian mereka, terutama dengan adanya Bun Houw yang amat lihai dan Tio Sun yang juga bukan orang lemah, maka fihak para pengeroyok akan mengalami kesukaran dan tentu akan banyak anak buah mereka yang dirobohkan empat orang muda itu.

Akan tetapi, setelah dipecah-pecah dan setiap orang muda dikepung oleh fihak lawan yang disesuaikan, tentu saja mereka berempat menjadi repot juga!

Terutama sekali Kwi Beng dan Kwi Eng!

Tingkat kepandaian Kwi Beng dan Kwi Eng masih kalah jauh kalau dibandingkan dengan tingkat kepandaian Ciok Lee Kim dan Bu Sit.

Tanpa dikeroyokpun mereka berdua akan kalah oleh dua orang Bayangan Dewa itu.

Apalagi kini mereka dikeroyok oleh lima orang yang dipimpin oleh dua orang lihai itu!

"Awas!

Jangan lukai dia, tangkap hidup-hidup!"

Pesan Ciok Lee Kim kepada lima orang pembantunya yang mengeroyok Kwi Beng dan dia sendiri menujukan sambaran kedua ujung saputangan suteranya ke arah jalan darah untuk menotok pemuda itu dan untuk menangkapnya.

Kwi Beng repot sekali melindungi dirinya, dan tidak ada kesempatan menyerang sama sekali.

"Hati-hati jangan sampai kulitnya yang putih itu lecet!"

Bu Sit tertawa-tawa memesan lima orang pembantunya pula, dan dia sendiri dengan pecut baja di tangannya yang meledak-ledak, beberapa kali hampir dapat merampas pedang di tangan Kwi Eng.

Dara ini menjadi semakin marah sekali, mukanya merah dan matanya berapi-api mendengar kata-kata Bu Sit yang ditujukan kepadanya, kata-kata bujuk rayu, pujian dan lain-lain ucapan yang menusuk hati dan cabul.

Bun Houw sendiri dikeroyok oleh Bouw Thaisu, Hwa Hwa Cinjin, dan Hek I Siankouw, masih ditambah oleh sepuluh orang anak buah Ngo-sian-chung yang menyerangnya dari lingkungan luar.

Pemuda ini sama sekali tidak menjadi gentar.

Gerakannya tangkas dan cepat laksana kilat menyambar sehingga diam-diam tiga orang tokoh tua itu terkejut dan kagum bukan main.

Sekarang, setelah pemuda itu dalam keadaan bebas, tidak dirintangi oleh orang seperti ketika di Lembah Bunga Merah dahulu, ketika dia dipeluk mati-matian oleh murid Ciok Lee Kim, maka baru ternyata oleh tiga orang tokoh tua ini betapa lihainya pemuda ini.

Mereka terkejut bukan main dan mulai menduga-duga siapa gerangan adanya pemuda ini.

Mereka tadinya hendak membalas dendam kepada Cia Keng Hong ketua Cin-ling-pai dan mereka membayangkan bahwa tingkat kepandaian ketua Cin-ling-pai itu tentu tidak berselisih jauh dengan tingkat mereka sendiri.

Akan tetapi sekarang, seorang pemuda Cin-ling-pai memiliki ilmu kepandaian yang begini hebat sehingga Bouw Thaisu sendiri, orang yang terpandai di antara mereka, diam-diam merasa sangsi apakah dia akan dapat menang melawan pemuda ini kalau pertandingan itu dilakukan satu lawan satu!

Beberapa kali lengannya tergetar kalau ujung lengan bajunya bertemu dengan jari-jari tangan kiri pemuda itu, tanda bahwa tenaga sin-kang pemuda itu luar biasa kuatnya, mungkin lebih kuat daripada tenaganya sendiri!

Hal ini dianggapnya luar biasa dan tentu tidak akan dipercayanya kalau dia tidak mengalaminya sendiri!

Maka dengan hati penuh penasaran, Bouw Thaisu, Hwa Hwa Cinjin dan Hek I Siankouw mengeluarkan kepandaian mereka sehingga betapapun lihainya Bun Houw, dia menjadi repot juga dan hatinya mulai merasa khawatir akan keselamatan teman-temannya.

Dia melihat betapa Tio Sun juga terdesak oleh para pengeroyoknya, sedangkan kedua orang kakak beradik Souw juga amat repot dan terancam bahaya.

Memang Tio Sun juga mendapatkan tanding yang berat dalam dari orang kedua dari Lima Bayangan Dewa.

Akan tetapi, dengan ilmunya Ban-kin-kiat, andaikata Liok-te Sin-mo Gu Lo It tidak dibantu oleh lima orang anak buah Lima Bayangan Dewa yang memiliki kepandaian lumayan, agaknya pemuda ini masih akan mampu mengalahkan lawannya.

Memang hebat bukan main pertandingan antara Tio Sun dan Liok-te Sin-mo.

Orang kedua dari Lima Bayangan Dewa ini terkenal sebagai seorang yang memiliki tenaga besar, maka merupakan lawan yang cocok sekali karena Tio Sun juga mewarisi tenaga mujijat yang amat kuat dari ayahnya.

Berkali-kali pecut baja di tangan pemuda ini bertemu dengan ujung lengan baju yang dipasangi potongan baja dan akibatnya, terdengar suara nyaring sekali, bunga api berpijar dan kedua orang itu terbuyung ke belakang.

Para pengeroyoknya, seperti juga para pengeroyok yang membantu tiga orang kakek mengepung Bun Houw, tidak lagi berani menyerang terlalu dekat karena pedang dan joan-pian di tangan Tio Sun merupakan tangan-tangan maut yang amat mengerikan.

Sudah banyak anak buah yang roboh oleh Tio Sun dan Bun Houw, maka mereka itu hanya bertugas sebagai pengacau saja agar memecah-belah perhatian para muda yang perkasa itu.

Yang merasa paling tidak enak dalam pertempuran itu adalah Bun Houw.

Diam-diam dia merasa menyesal mengapa tiga orang muda itu dia perbolehkan membantunya menyerbu Ngo-sian-chung, karena sebelumnya diapun maklum akan behayanya pekerjaan ini, bahkan Tio Sun sendiripun sudah menyatakan betapa fihak lawan amat berbahaya dan lihai.

Bagi dirinya sendiri, dia akan rela mengorbankan nyawa kalau perlu demi untuk mencari Siang-bhok-kiam dan membasmi musuh-musuh Cin-ling-pai, untuk mencuci penghinaan yang diderita oleh orang tuanya.

Akan tetapi, tiga orang muda itu, terutama Kwi Eng, hanyalah orang-orang muda yang merasa bersahabat dengan dia dan dengan orang tuanya.

Kalau sampai kini mereka menjadi korban, benar-benar membuat dia merasa tidak enak sekali.

Pikiran ini membuat Bun Houw menjadi marah terhadap para musuhnya.

"Tio-twako...! Adik Kwi Beng dan Kwi Eng...! Larilah kalian bertiga, biar aku sendiri yang membasmi mereka!"

Teriaknya dengan suara nyaring sekali, pedangnya berkelebat seperti halilintar membabat ke arah tubuh Bouw Thaisu dan Hek I Siankouw dengan kekuatan yang amat hebat sehingga pedang itu mengeluarkan suara mengaung seperti ribuan ekor lebah beterbangan.

Dua orang sakti ini terkejut, maklum betapa berbahaya sambaran pedang ini sehingga mereka tidak berani menangkis, dan cepat mereka meloncat ke belakang untuk menyelamatkan diri.

Akan tetapi, pedang itu meluncur lepas dari tangan Bun Houw, merupakan sinar panjang berkelebat dan terbang dengan cepat, menyambar tubuh tiga orang pengeroyok, Merobohkan mereka itu dengan leher hampir putus akan tetapi masih terus "terbang"

Seperti seekor naga hidup, membuat gerakan memutar dan kembali ke arah Bun Houw yang begitu pedang dilepaskan lalu menghantam ke arah kanan kiri, depan belakang dengan kedua kepalan tangannya sambil mengeluarkan pekik melengking amat dahsyatnya.

Sambaran kedua tangannya yang memukul ini membuat Hwa Hwa Cinjin yang menggerakkan kebutannya dengan pengerahan tenaga lwee-kang sebagai seorarig ahli lwee-keh yang kuat, tak dapat menahan dan kakek ini terhuyung dengan muka pucat, sedangkan empat orang pengeroyok lain roboh pula seperti pohon-pohon ditebang!

Itulah jurus Hong-tian-lo-te (Badai Mengamuk di Bumi) yang amat hebat, merupakan jurus mujijat dan ampuh yang sekali dari ilmu pedangnya.

Ketika pedang yang telah merobohkan tiga orang pengeroyok itu "terbang"

Membalik, Bun Houw sudah menangkapnya kembali dan karena para pengeroyoknya gentar dan terpaku menghadapi jurus Hong-tian-lo-te yang mujijat tadi, dia cepat meloncat ke depan, merobohkan dua orang pengeroyok yang sedang mengepung Tio Sun.

Hal ini membuat kepungan yang mendesak Tio Sun menjadi bobol dan Tio Sun dapat menguasai keadaannya lagi, akan tetapi segera Bouw Thaisu, Hwa Hwa Cinjin, Hek I Siankouw dan para pembantu lainnya sudah mengepung Bun Houw lagi dengan serangan-serangan maut dan kepungan ketat.

Bun Houw gelisah sekali melihat betapa Kwi Beng dan Kwi Eng didesak dan dipancing sehingga menjauhi tempat dia bertempur.

Dan memang demikianlah siasat yang dijalankan oleh para tokoh kaum sesat itu.

Kwi Beng terus didesak oleh Ciok Lee Kim dan dipaksa menjauhi tempat itu, Demikian pula Kwi Eng terus didesak oleh Bu Sit sampai keluar dari lapangan itu dan tidak kelihatan oleh kawan-kawanannya.

Ketika Kwi Eng dengan kemarahan meluap-luap mencoba untuk membuka jalan darah, menerobos dari kepungan, dia berhasil melukai dua orang pengeroyok yang membantu Bu Sit, akan tetapi tiba-tiba pergelangan tangannya terasa sakit, terbelit ujung cambuk baja di tangan Bu Sit.

Orang termuda dari Lima Bayangan Dewa ini tertawa mengejek, sekali dia menarik senjatanya, Kwi Eng menjerit dan pedangnya terlepas, karena pergelangan tangan kanannya seperti hendak patah rasanya.

Pada saat itu, seorang pengeroyok lain menggunakan gagang tombak memukul ke arah kakinya dari belakang.

Serangan ini tak dapat dihindarkan oleh Kwi Eng.

Terdengar suara tulang patah dan dara ini mengeluh perlahan lalu terguling, tulang kaki kirinya dekat pergelangan telah patah.

"Desss!"

Bu Sit menendang orang yang mematahkan tulang kaki Kwi Eng itu.

"Keparat, kau lukai dia?"

Bentaknya.

Para pengeroyok itu menjadi ketakutan dan mereka lalu mundur dan membantu teman-teman yang lain, yang masih mengeroyok tiga orang muda lainnya, sedangkan Bu Sit sudah menubruk Kwi Eng, ditotoknya pundak dara itu, kemudian dia memondong tubuh Kwi Eng dan dibawa lari keluar dari dusun menuju ke sebuah hutan kecil di lembah sungai.

"Adik Beng...! Di mana Eng-moi...?"

Bun Houw yang dikepung ketat itu masih sempat berteriak dan bertanya kepada Kwi Beng yang dilihatnya makin didesak menjauhinya oleh Si Kelabang Terbang Ciok Lee Kim.

Akan tetapi Kwi Beng hampir tidak sempat menjawab.

"Tidak tahu...!"

Hanya demikianlah dia mampu menjawab karena Ciok Lee Kim dengan dua helai saputangan suteranya sudah membuat dia terengah-engah kehabisan napas dan pandang matanya berkunang.

"Pemuda ganteng, marilah kau ikut aku bersenang-senang..."

Ciok Lee Kim berbisik dan saputangannya yang berbau harum itu mengelus dagu Kwi Beng.

Sudah sejak tadi Ciok Lee Kim membentak para pembantunya untuk mundur dan kini dia seorang diri mendesak Kwi Beng yang sudah kewalahan.

Kwi Beng kini juga kehilangan adiknya dan dia mulai bingung, memandang ke sana ke mari untuk mencari adiknya.

Tentu saja sikapnya ini amat tidak menguntungkan karena dengan penuh perhatian saja daya tahannya sudah mulai lemah menghadapi hujan totokan kedua saputangan Ciok Lee Kim, apalagi sekarang dia memecah perhatiannya.

"Cus-cus... plakk!"

Dua kali ujung saputangan itu menotok jalan darah di leher dan pundak, sedangkan telapak tangan Ciok Lee Kim menampar belakang telinga dan tanpa mengeluh lagi Kwi Beng roboh pingsan dalam pelukan Ciok Lee Kim dan seperti juga Bu Sit, Wanita yang tak dapat menahan diri setiap kali melihat pemuda tampan ini lalu memondong tubuh Kwi Beng dengan girang dan membawanya pergi dari dusun itu.

Andaikata melihat bahwa fihak mereka terancam bahaya oleh musuh, tentu saja dua orang Bayangan Dewa itu tidak akan meninggalkan gelanggang pertempuran dan betapapun mereka tergila-gila kepada orang-orang muda yang menjadi korban mereka itu, tentu mereka akan membantu teman-teman untuk menundukkan fihak musuh.

Akan tetapi mereka tadi sudah melihat jelas bahwa biarpun pemuda she Bun dan pemuda putera pengawal Tio Hok Gwan itu memiliki kepandaian tinggi, namun merekapun sudah terkurung dan terdesak, tinggal menanti robohnya saja maka mereka berdua tidak perlu lagi membantu.

Memang Si Kelabang Terbang Ciok Lee Kim dan si kepala monyet Bu Sit tidak keliru dengan dugaan mereka bahwa fihak musuh sudah terdesak hebat.

Bun Houw sendiri yang memiliki kepandaian amat tinggi, kini mulai terdesak hebat.

Dia makin marah dan menyesal kalau mengingat bahwa yang mengurungnya bukan orang-orang Lima Bayangan Dewa, melainkan tiga orang tokoh tua yang berilmu tinggi.

Maka mulailah dia mengambil keputusan untuk menurunkan tangan maut terhadap tiga orang musuhnya ini.

Tadinya dia selalu menghindarkan serangan maut karena dia selalu ingat akan pesan ayah ibunya agar jangan sampai menanam bibit permusuhan dengan golongan lain dan hanya menghadapi Lima Bayangan Dewa saja.

Sebagai contoh, ayahnya menceritakan betapa ayahnya dehulu terlalu banyak menentang golongan sesat sehingga akibatnya, sampai tuapun dia masih dimusuhi orang!

"Tahan...!"

Bentak Bun Houw sambil memutar pedang yang berobah menjadi gulungan sinar berkilauan sehingga musuh-musuhnya cepat mundur.

"Sam-wi tiga orang tua mengapa bersikeras mencampuri urusan kami dari Cin-ling-pai dengan Lima Bayangan Dewa? Saya sama sekali bukan takut, hanya saya tidak ingin menanam bibit permusuhan dengan orang-orang yang bukan dari Lima Bayangan Dewa."

Bouw Thaisu mengangguk-angguk, hatinya kagum bukan main karena baru sekarang selama hidupnya, dia bertemu lawan yang begini muda namun yang ternyata memiliki ilmu kepandaian yang amat hebatnya.

"Orang muda, kalau tidak ada alasan kuat yang memaksa aku orang tua mati-matian menghadapimu, tentu aku akan malu sekali mengeroyok seorang pemuda seperti engkau yang sepantasnya menjadi cucuku. Ketahuilah, seorang sahabat baikku yang melebihi saudara kandungku sendiri, yaitu Thian Hwa Cinjin, telah tewas di tangan keluarga ketua Cin-ling-pai! Kami di waktu muda pernah bersumpah bahwa kami akan saling membela, maka mendengar kematiannya, tentu saja aku tidak mau melanggar sumpah dan sebelum aku mati, aku harus menghadapi ketua Cin-ling-pai dan keluarganya."

Bun Houw mengerti bahwa kembali hal ini adalah sebagai akibat dari orang tuanya yang terlalu banyak menentang golongan hitam.

"Dan kau boleh mengetahui bahwa pinto (aku) adalah sute dari Toat-beng Hoat-su yang biarpun tewas di tangan mendiang The Hoo, akan tetapi juga menjadi musuh dari ketua Cin-ling-pai dan golongannya. Dan Hek I Slankouw ini merupakan tangan kananku, sehidup semati denganku."

Bun Houw mengerutkan alisnya.

"Sam-wi adalah tiga orang tua yang berilmu tinggi, akan tetapi mengapa berpandangan picik dan dikuasai oleh dendam kosong yang tidak ada artinya? Apakah sam-wi tidak tahu bahwa sam-wi diperalat oleh Lima Bayangan Dewa?"

"Cukup, kalau kau takut, menyerahlah, orang muda yang sombong!"

Hwa Hwa Cinjin yang biarpun sikapnya halus akan tetapi sebenarnya hatinya dipenuhi rasa penasaran dan malu karena menghadapi seorang pemuda saja, biarpun telah mengeroyok bersama Hek I Siankouw dan Bouw Thaisu masih belum dapat menang, sudah menerjang lagi dengan kebutannya.

"Wiir... siuuuuttt...!"

Ujung kebutan menyambar ke arah mata Bun Houw, akan tetapi begitu dielakkan, seperti ekor ular yang hidup saja ujung kebutan itu sudah membalik dan menotok ke arah ulu hati!

"Kalau begitu, maaf kalau aku menjadi sebab kematian sam-wi!"

Bun Houw membentak, tiba-tiba tangan kirinya mendorong dan ujung kebutan itu seperti digerakkan tangan yang tidak kelihatan, membalik dan menotok ke arah dada Hwa Hwa Cinjin sendiri!

(Lanjut ke

Jilid 22) Dewi Maut (Seri ke 03 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 22

"Aihhh...!"

Bukan main kagetnya hati kakek ini dan cepat dia menggerakkan tangan menarik kebutannya yang hendak menyerang dirinya sendiri.

"Singgg... tranggg... aihhhh!"

Hek I Siankouw menjerit karena pedangnya yang sudah dia gerakkan untuk menyusul serangan Hwa Hwa Cinjin tadi kini kena disentil oleh kuku jari tangan kiri Bun Houw, pedang itu tergetar dan selagi nenek itu terkejut, pedang di tangan kanan Bun Houw sudah menyambar ke arah lehernya!

"Plakkk...!

Hemm, kau hebat, orang muda!"

Bouw Thaisu sempat menangkis pedang yang mengancam nyawa Hek I Siankouw tadi dengan tangkisan ujung lengan bajunya, akan tetapi ketika dia melihat, ternyata ujung lengan bajunya itu terobek!

Kini Bun Houw yang sudah marah sekali itu telah mengerahkan Thian-te Sin-ciang yaitu ilmu sin-kang simpanan yang dia latih selama bertahun-tahun di bawah gemblengan Kok Beng Lama.

Thian-te Sin-ciang ini merupakan ilmu tangan kosong yang amat mujijat, mengandung tenaga dahsyat dan ketika pemuda ini diuji oleh ayahnya sendiri.

tenaga Thian-te Sin-ciang ini bahkan mampu menghadapi Thi-khi-i-beng, yaitu ilmu sin-kang yang tiada taranya, yang dapat menyedot hawa murni lawan!

Maka tidaklah terlalu mengherankan ketika pemuda perkasa ini mulai mengerahkan Thian-te Sin-ciang, dia sekaligus mampu membuat tiga orang lawannya yang amat lihai itu terdesak mundur!

Akan tetapi, kini mereka bertiga sudah maju lagi dan kehebatan Bun Houw bahkan membuat mereka menjadi makin berhati-hati dan kini mereka melakukan penyerangan secara teratur bahkan saling membantu karena mereka maklum bahwa biarpun mereka bertiga maju bersama, tanpa kerja sama dan saling bantu, amatlah berbahaya bagi mereka!

Bun Houw menjadi makin gelisah.

Bukan gelisah memikirkan dirinya sendiri, melainkan gelisah karena tidak lagi melihat Kwi Beng dan Kwi Eng, dan Tio Sun agaknya sudah kewalahan dan tentu tak lama lagi akan roboh.

Celaka, pikirnya dan kini dia benar-benar menyesal mengapa dia menyeret mereka bertiga ke tempat berbahaya ini.

Kalau sampai tugasnya gagal, dia tidak begitu menyesal karena dia sudah melakukannya dengan sepenuh hati dan dengan pengorbanan nyawa, akan tetapi kalau sampai tiga orang muda itu tewas, bukan hanya dia yang akan menyesal, bahkan ayah ibunya juga tentu akan menyalahkan dia!

"Ayah...!

Ibu...!

Maafkan kegagalanku...!"

Tiba-tiba dia berteriak dan mengamuk makin hebat, pedangnya merobohkan empat orang anak buah Ngo-sian-chung sekaligus sehingga tiga orang tua lihai itu makin berhati-hati.

"Adikku, jangan putus asa. Encimu datang membantumu!"

Tiba-tiba nampak bayangan berkelebat didahului sinar merah yang panjang yang melakukan totokan ke arah pelipis Hek I Siankouw dan sinar kilat seperti perak menyambar ke arah leher Bouw Thaisu!

"Keng-cici (kakak Keng)...!"

Bun Houw berteriak, girang bukan main karena biarpun bayangan itu belum kelihatan jelas siapa orangnya, dia sudah mengenal sinar merah panjang dari sabuk merah muda dan sinar pedang Gin-hwa-kiam yang putih seperti perak itu.

Hek I Siankouw dan Bouw Thaisu terkejut, maklum bahwa serangan itupun tak boleh dipandang ringan, maka mereka cepat mengelak dan membalas.

Akan tetapi, Cia Giok Keng, wanita itu, adalah seorang wanita yang luar biasa lincah dan beraninya.

Biarpun dibandingkan dengan adiknya, kepandaiannya belumlah dapat menandingi, namun sebagai puteri dari Pendekar Sakti Cia Keng Hong dan pendekar wanita Sie Biauw Eng, tentu saja kepandaian Cia Giok Keng cukup hebat.

Kegembiraan hati Bun Houw membuat gerakannya makin kuat dan tamparan tangan kirinya yang penuh dengan tenaga mujijat, Thian-te Sin-ciang menyerempet pundak Hwa Hwa Cinjin, membuat tosu tua itu terhuyung.

"Mampuslah...!"

Cia Giok Keng melihat tosu itu terhuyung sudah menerjang dengan sabuk sutera dan pedangnya.

"Hayaaaaa...!"

Hwa Hwa Cinjin terkejut akan kegalakan wanita ini yang sama sekali tidak memberi kesempatan padanya.

Akan tetapi dia sudah memutar kebutannya menangkis dan sekaligus membelit ujung pedang Gin-hwa-kiam.

"Plakk!"

Ujung sabuk sutera merah menotok lehernya membuat tosu itu merasa separoh tubuhnya seperti lumpuh.

"Sratttt...!"

Giok Keng yang cerdik secara tiba-tiba menarik pedangnya dan ujung tali kebutan putus, bulu kebutannya berhamburan.

Hal ini mengejutkan Hwa Hwa Cinjin dan dia meloncat ke belakang, mengambil sikap mempertahankan diri.

"Enci, aku tidak perlu dibantu. Kau bantulah Tio-twako... dia terdesak!"

Bun Houw berkata.

Giok Keng menoleh.

Dia tidak mengenal siapa pemuda jangkung berpakaian kuning yang didesak oleh seorang kakek dibantu oleh banyak anak buahnya itu.

Akan tetapi dia menduga bahwa tentu pemuda itu teman adiknya, maka sekali meloncat dia sudah tiba di gelanggang pertempuran di mana Tio Sun terdesak, dan sabuk merahnya yang dikawani pedang peraknya mengamuk, merobohkan tiga orang pengeroyok dalam waktu singkat saja.

Kepungan ketat terhadap diri Tio Sun menjadi kacau dan kini pertandingan berjalan makin seru dan mati-matian.

Tio Sun berterima kasih dan girang sekali sedangkan Liok-te Sin-mo yang sudah hampir depat mengalahkan Tio Sun menjadi marah sekali, cepat dia meneriaki anak buahnya agar makin ketat mengepung dua orang itu.

Bun Houw masih gelisah memikirkan kedua orang saudara Souw.

Tio Sun sudah mending keadaannya, karena dia tahu bahwa encinya juga bukan orang sembarangan dan dengan bantuan encinya, tentu Tio Sun dapat membela diri lebih baik.

"Bun Houw, kau terlalu sembrono!"

Sambil membantu Tio Sun, Giok Keng berteriak menegur adiknya.

"Pengecut-pengecut macam ini selalu main keroyok dan curang!"

Bun Houw tersenyum.

Kakaknya itu sejak dahulu galaknya bukan main!

Masa, baru saja datang dan masih menghadapi pengeroyokan musuh begitu banyaknya, eh, masih ada kesempatan untuk marah-marah dan menegurnya.

"Cici, maaf!"

Teriaknya kembali.

"Tapi setelah engkau datang, mari kita basmi mereka. Yang kau hadapi itu adalah Liok-te Sin-mo Gu Lo It!"

Mendengar bahwa kakek yang bertubuh tinggi besar, berjubah hitam dan kepalanya memakai topi, ujung lengan bajunya dipasangi baja, yang amat lihai ini adalah orang kedua dari Lima Bayangan Dewa, Giok Keng terkejut dan kemarahannya memuncak, wajahnya merah, matanya berapi-api.

"Kiranya Si Iblis Kuburan!"

Bentaknya dan dia menggerakkan kedua senjatanya makin cepat lagi mendesak Liok-te Sin-mo.

Kakek ini marah dan mendongkol bukan main.

Julukannya adalah Iblis Bumi, akan tetapi wanita yang cantik jelita, gagah dan galak ini memakinya Iblis Kuburan.

Belum pernah dia dihina orang seperti ini.

"Keparat, siapa engkau?"

Bentaknya sambil mengelak dari sambaran ujung sabuk merah dan menangkis tusukan pedang Tio Sun dengan ujung lengan baju kiri.

"Aku she Cia, mewakili ayah untuk memenggal leher Lima Bayangan Monyet!"

Bentak Cia Giok Keng sambil menyerang makin hebat.

Kini terkejutlah semua tokoh itu.

Kiranya wanita ini adalah puteri Cia Keng Hong, dan melihat hubungan antara wanita ini dengan pemuda itu, jelas bahwa pemuda itu kiranya adalah putera ketua Cin-ling-pai!

Pantas begitu lihai!

"Bagus...!

Jadi engkau Cia Giok Keng yang membunuh sahabatku Thian Hwa Cinjin...?"

Tiba-tiba Bouw Thaisu meloncat tinggi, meninggalkan Bun Houw dan dari atas dia sudah mengebutkan kedua lengan bajunya ke arah kepala dan dada Giok Keng.

"Enci, awass...!"

Bun Houw terkejut dan memperingatkan kakaknya.

"Plak-plak, cringgg... bresss...!"

Serangan Bouw Thaisu tadi memang hebat bukan main.

Biarpun Giok Keng sudah mengelak, namun ujung lengan baju dari kakek ini seperti hidup.

Tio Sun sudah cepat memapaki dengan pedangnya, akan tetapi juga pedangnya terpukul ke samping seperti pedang Giok Keng dan totokan sabuk merah Giok Keng pada pundak kakek itu seperti mengenai baja tebal saja.

Ujung lengan baju kiri Bouw Thaisu sudah mengancam ubun-ubun kepala Giok K6hg dengan pukulan maut.

Tiba-tiba saja ujung lengan baju itu terpental kembali dan lengan kakek itu bertemu dengan sebuah lengan lain yang dengan cepat menangkis.

Kakek itu terpental dan hampir terbanting roboh.

Dia terkejut bukan main dan melihat.

Ternyata seorang laki-laki gagah dan tampan, berusia hampir empat puluh tahun, telah berdiri di situ sambil memandangnya dengan sikap tenang.

"Kau...? Huh...!"

Demikian kata Giok Keng, dan wanita ini tidak memperdulikan lagi laki-laki yang sebenarnya telah menyelamatkan nyawanya itu, dan dengan kemarahan hebat Giok Keng kini menyerang Bouw Thaisu yang masih bengong terlongong dan kaget bukan main.

Tangkisan laki-laki yang masih belum tua ini telah membuat seluruh tubuhnya seperti digerayangi tenaga mujijat yang membuat napasnya sesak.

Maka ketika Giok Keng menyerang, dia cepat meloncat jauh ke belakang.

"Yap-suheng...!"

Bun Houw berteriak girang.

Biarpun sudah lama sekali dia tidak bertemu dengan laki-laki gagah perkasa itu, dia masih mengenalnya.

"Sute, engkau sekarang hebat sekali!"

Yap Kun Liong, pria itu, memujinya sambil tersenyum, kemudian sekali tubuhnya berkelebat, Kun Liong sudah meloncat dan menyerang Bouw Thaisu yang dia lihat tadi gerakannya paling lihai.

Bouw Thaisu terpaksa menyambut serangannya dan keduanya segera bertanding mati-matian tidak mempergunakan senjata karene Bouw Thaisu menggunakan sepasang lengan baju sedangkan Kun Liong hanya menggunakan kedua lengannya saja.

Terdengar suara dak-duk-dak-duk ketika lengan mereka saling bertemu bagaikan dua pasang lengan baja yang amat kuat dan berkali-kali Bouw Thaisu tergetar tubuhnya dan terbuyung ke belakang!

Melihat datangnya wanita dan pria yang gagah perkasa itu, Liok-te Sin-mo Gu Lo It terkejut dan takut setengah mati.

Dia mengerti bahwa Bun Houw dan Giok Keng adalah putera-puteri ketua Cin-ling-pai yang berilmu tinggi, dan setelah mendengar teguran Bun Houw tadi, dia dapat menduga siapa adanya laki-laki perkasa yang kini mendesak Bouw Thaisu.

Dia sudah mendengar akan nama Yap Kun Liong, maka gentarlah hatinya dan diam-diam dia memaki sumoi dan sutenya yang tidak nampak batang hidungnya lagi.

"Maju semua...! Kepung dan keroyok...!"

Teriaknya dan anak buahnya yang sesungguhnya juga merasa gentar, apalagi terhadap sikap Giok Keng yang demikian ganas mainkan pedang dan sabuk merahnya, terpaksa maju mengurung lagi.

Jumlah mereka masih ada dua puluh orang lebih, maka pengepungan mereka cukup memberi kesempatan kepada Liok-te Sin-mo untuk diam-diam melarikan diri!

Melihat ini Hwa Hwa Cinjin dan Hek I Siankouw mendongkol sekali.

Tiga orang dari Lima Bayangan Dewa, fihak yang mereka bantu, diam-diam telah melarikan diri semua.

Maka Hwa Hwa Cinjin memberi isyarat kepada tokouw berpakaian hitam itu, lalu merekapun meloncat ke belakang dan melarikan diri.

"Hemm, aku ingin bertemu dan bertanding sendiri kelak berhadapan dengan ketua Cin-ling-pai!"

Bouw Thaisu berkata dan diapun meninggalkan Kun Liong yang sibuk dikeroyok banyak anak buah Ngo-sian-chung.

"Cici, suheng, harap tahan mereka, aku hendak mencari dan menolong kedua saudara Souw!"

Bun Houw berteriak dan tubuhnya mencelat dan lenyap dari tempat itu.

Melihat ini, Giok Keng girang dan kagum sekali, sedangkan Kun Liong menarik napas panjang.

Murid ayah mertuanya itu benar-benar amat lihai sekarang.

Kini dengan enak saja Tio Sun, Giok Keng, dan Kun Liong menghadapi pengeroyokan dua puluh lebih orang-orang Ngo-sian-chung dan Lembah Bunga Merah.

Diam-diam Kun Liong memperhatikan dan dia merasa lega bahwa biarpun masih kelihatan amat galak dan ganas, akan tetapi Cia Giok Keng bukanlah gadis belasan tahun yang lalu, yang seolah-olah merupakan harimau betina haus darah.

Dahulu, menghadapi musuh-musuhnya, apalagi anak buah Lima Bayangan Dewa yang merupakan musuh besar, Tentu gadis itu akan memperlihatkan sikap kejam tak mengenal ampun lagi, tentu ujung sabuk merah itu akan mencari sasaran jalan darah kematian, sedangkan pedang Gin-hwa-kiam tentu akan berlepoton darah sampai ke gagangnya.

Akan tetapi sekarang, biarpun masih ganas, Giok Keng hanya merobohkan para pengeroyok tanpa menimbulkan kematian.

Demikian pula Tio Sun membuat Kun Liong diam-diam kagum karena biarpun masih muda, Tio Sun juga jelas tidak menghendaki kematian terhadap para pengeroyoknya, hanya menjatuhkan mereka dengan mematahkan tulang dan mendatangkan luka yang ringan saja.

Sementara itu, Bun Houw sudah mencari di seluruh perkampungan Ngo-sian-chung, namun sia-sia belaka.

Akhirnya terpaksa dia menangkap seorang wanita anggauta keluarga anak buah Ngo-sian-chung dan menghardik.

"Hayo cepat katakan di mana adanya Toat-beng-kauw But Sit dan Hui-giakang Ciok Lee Kim!"

Sengaja menempelkan pedangnya di leher wanita yang tentu saja menjadi ketakutan sekali.

"Hamba... hamba tidak tahu... tadi... mungkin... ke hutan di sebelah sana..."

Bun Houw melepaskannya dan cepat dia berlari seperti terbang menuju ke dusun kecil di sebelah timur dusun itu.

Ketika dia tiba di tepi sungai, di atas lapangan rumput yang tebal menghijau dan sunyi sekali, lapangan yang dihimpit oleh sungai dan hutan kecil, tiba-tiba dia berdiri seperti patung dan matanya terbelalak, mukanya pucat, kemudiah perlahan-lahan menjadi merah sekali.

Dia melihat Toat-beng-kaw Bu Sit sedang menanggalkan bajunya sambil tertawa-tawa, sedangkan di atas rumput rebah Kwi Eng yang sudah tidak berpakaian!

Pakaian gadis itu tertumpuk di sebelah dan dia melihat dara itu terbelalak memandang si muka monyet dengan air mata bercucuran, akan tetapi agaknya dalam keadaan tertotok karena tidak mampu bergerak sama sekali!

Saking marahnya, Bun Houw mengayun pedang pemberian In Hong ke depan.

Terdengar suara berdesing nyaring dan Bu Sit terkejut sekali.

Cepat dia menoleh dan melihat sinar terang menyambar, dia mengelak, akan tetapi karena dia sedang membuka baju atasnya, pedang itu menerobos bajunya dan terus mcluncur ke depan, menancap ke atas tanah berumput sampai ke gagangnya.

Tentu saja Bu Sit menjadi pucat sekali wajahnya ketika mengenal siapa yang datang.

"Hyaaaaaatttt...!"

Dalam kemarahan yang sukar dilukiskan hebatnya, Bun Houw sudah meloncat dan seperti seekor garuda terbang saja dia menerjang Bu Sit dengan kedua tangan di depan, jari-jarinya terbuka seperti cakar garuda.

"Heiittt...!"

Bu Sit yang sudah melempar jubahnya itu menyambar senjatanya, yaitu joan-pian atau pecut baja, lalu dia menggerakkan pecut itu.

Terdengar suara meledak, pecut itu dengan tepat menghantam tubuh Bun Houw yang melayang datang, akan tetapi Bun Houw menggerakkan tangan menangkap ujung pecut baja!

Bu Sit hampir tidak dapat percaya.

Pemuda itu menangkap ujung pecut baja!

Padahal perbuatan ini lebih berbahaya daripada menangkap pedang telanjang.

Dia mengerahkan tenaga, mendengarkan pecutnya untuk membikin telapak tangan Bun Houw pecah atau mungkin tangan itu akan putus.

Namun sia-sia belaka dan tahu-tahu pecutnya sendiri sudah melingkar di lehernya!

"Augghhkkkk...!"

Bu Sit mendelik karena lehernya terbelit pecutnya sendiri, menghentikan pernapasan.

Dia melihat lawannya berdiri di depannya, maka dia lalu menggerakkan kedua tangannya, dikepal dan menghantam ke arah perut dan dada Bun Houw.

"Bukkk! Dessss...!"

Sedikitpun tubuh pemuda itu tidak bergoyang, akan tetapi pergelangan tangan kanan Bu Sit yang memukul dada tadi menjadi patah tulangnya!

"Auukhhh...

auukhhhhh...!"

Toat-beng-kauw Bu Sit mendelik, lidahnya terjulur keluar.

Mengingat akan penyiksaan Toat-beng-kauw kepadanya, masih belum begitu memarahkan hati Bun Houw, akan tetapi melihat si muka monyet ini menelanjangi Kwi Eng dan hampir saja memperkosanya, membuat dia menjadi mata gelap dan marah sekali.

Akan tetapi, terngiang di telinganya segala nasihat orang tuanya, maka dia terengah-engah menahan kemarahan dan melepaskan libatan pecut itu yang dirampasnya dari tangan Bu Sit.

Begitu dilepaskan libatan lehernya, Bu Sit memegangi leher dengan kedua tangan, megap-megap seperti seekor ikan dilempar ke darat, kemudian tanpa malu-malu lagi dia menjatuhkan dirinya berlutut!

"Ampun...

ampunkan aku..."

Bun Houw meludah penuh kejijikan.

Kemudian, teringat akan keadaan Kwi Eng, dia menoleh dan dia seperti silau melihat keadaan tubuh dara itu yang rebah terlentang dalam keadaan polos sama sekali.

Cepat dia melempar pandang matanya ke bawah, menghindari penglihatan itu, lalu mengambil pakaian Kwi Eng, tanpa memandangnya lalu melemparkan pakaian itu menutupi tubuh Kwi Eng, kemudian dengan muka masih berpaling dan pandang mata terbuang ke samping dia membebaskan totokan tubuh Kwi Eng.

Terdengar sedu-sedan dari leher dara itu dan Kwi Eng mengenakan pakaiannya cepat-cepat, kemudian dia terpincang-pincang berloncatan dengan sebelah kaki ke arah pedang Bun Houw yang menancap di tanah, mencabut pedang itu dan terpincang-pincang menghampiri Bu Sit.

Bu Sit bukanlah seorang yang bodoh.

Sama sekali tidak.

Dia adalah seorang datuk kaum sesat yang amat cerdik.

Dia masih berlutut setengah menangis minta-minta ampun, seolah-olah tidak melihat dara yang hampir diperkosanya tadi sekarang terpincang-pincang menghampirinya dengan pedang di tangan!

Akan tetapi, begitu Kwi Eng telah tiba dekat dan mengayun pedang ke arah lehernya, cepat sekali Bu Sit mengelak dengan menggulingkan tubuh dan ketika pedang menyambar, dia meloncat bangun dan sudah menangkap kedua tangan Kwi Eng, memutarnya ke belakang tubuh dan kini jari tangannya mengancam ke ubun-ubun kepala dara itu.

"Ha-ha-ha, majulah dan gadis ini akan mampus dengan kepala berlubang!"

Bu Sit mengancam Bun Houw.

Bun Houw memandang pucat, tak mengira bahwa orang termuda dari Lima Bayangan Dewa itu akan melakukan hal securang itu.

"Serang dia, Houw-ko! Jangan perdulikan aku! Serang dia dan bunuh si jahanem ini keparat!"

Kwi Eng berteriak-teriak sambil memandang pemuda itu.

"Cobalah, majulah dan jari-jari tanganku akan menembus ubun-ubunnya, otaknya akan berceceran keluar!"

Bu Sit menghardik.

Bun Houw masih memandang dengan muka pucat dan mata terbelalak, tidak tahu harus berbuat bagaimana.

Tentu saja dia tidak mau memenuhi permintaan Kwi Eng, menyerang dan membunuh Bu Sit karena dia tahu bahwa sebelum dia berhasil membunuh penjahat keji itu, tentu Kwi Eng akan tewas lebih dulu.

"Jangan maju, selangkah saja aku akan bunuh dia!"

Bu Sit berkata lagi dan kini dia menyeret Kwi Eng mundur-mundur menjauhi Bun Houw yang diam tak bergerak.

Kwi Eng meronta, akan tetapi sia-sia saja.

"Houw-koko, kau serang dia, kau bunuh dia! Aku lebih suka mati daripada diculik dan dibawanya!"

Akan tetapi Bun Houw tetap tidak bergerak, seluruh urat syaraf di tubuhnya menegang dan siap untuk menyerang apabila dia diberi kesempatan.

Akan tetapi dengan jari-jari tangan Bu Sit menempel di ubun-ubun Kwi Eng, bagaimana mungkin dia berani bergerak?

Betapapun cepat gerakannya, tak mungkin dapat menang cepat dengan jari tangan yang sudah menempel di ubun-ubun itu.

"Ha-ha-ha, sampai bagaimanapun engkau tidak akan mampu menandingi Lima Bayangan Dewa, ha-ha-ha..."

Pada saat itu, tampak sinar hijau menyambar seperti sinar halilintar dari belakang, mengenai punggung Bu Sit yang masih telanjang karena tadi si muka monyet ini telah menanggalkan bajunya.

"... ha-ha-ha... augghhhh...!"

Suara ketawa dari Bu Sit disambung pekik melengking, matanya yang kecil bulat terbelalak, mulutnya menyeringai kesakitan, mukanya pucat dan kini dia mengangkat tangan kanannya ke atas untuk menghantam kepala Kwi Eng!

Akan tetapi, kesempatan yang hanya beberapa detik ini cukuplah bagi Bun Houw.

Kalau tadi jari-jari tangan Bu Sit menempel di ubun-ubun dara itu, dia tidak berani bergerak.

Sekarang, setelah iblis itu menerima serangan sinar hijau dari belakang yang membuatnya terkejut dan mengangkat tangan baru akan memukul kepala Kwi Eng, cukuplah kesempatan itu bagi Bun Houw.

Bagaikan terbang dia meloncat ke depan, tangannya bergerak dan hawa pukulan dahsyat menyambar, membuat tangan Bu Sit yang memukul itu tertahan di udara dan di lain saat Bun Houw sudah menyambar pinggang Kwi Eng, dipondongnya dan dengan telapak tangan itu keluar serangkum hawa pukulan yang amat panas mengarah dada lawan.

Pada saat itu, Bu Sit berdiri limbung, dengan muka pucat sekali.

Dalam keadaan sehat saja tak mungkin dia dapat menahan pukulan Bun Houw ini, apalagi dalam keadaan seperti ini, yaitu setelah dia mengalami luka yang amat hebat di punggungnya.

"Dessss...!"

Tubuhnya terjengkang dan terbanting ke atas tanah, roboh dan tak dapat bergerak lagi karena dia telah tewas seketika, isi dada dan perutnya hancur oleh getaran hawa pukulan dahsyat tadi.

Bun Houw memandang ke sekeliling, terutama ke arah belakang Bu Sit dari mana tadi datang sinar hijau, akan tetapi dia tidak melihat sesuatu.

Dengan lengan kiri masih merangkul Kwi Eng, dia menggunakan kakinya membalikkan tubuh Bu Sit dan tampaklah olehnya betapa punggung laki-laki bermuka monyet itu penuh dengan lubang-lubang kecil dan luka-luka kecil itu melepuh dan membengkak berwarna kehijauan.

Dia tahu bahwa Bu Sit terkena serangan senjata rahasia beracun, agaknya seperti senjata pasir beracun, akan tetapi dia tidak tahu bahwa Toat-beng-kauw Bu Sit telah menjadi korban serangan Siang-tok-swa (Pasir Racun Harum), yaitu senjata rahasia khas dari Giok-hong-pang!

Tiba-tiba suara isak tertahan membuat dia memandang Kwi Eng yang masih dia peluk pinggangnya.

Dia tetkejut melihat dara itu menangis dan baru teringat bahwa dia masih merangkul pinggang yang ramping itu, maka dilepaskannyalah rangkulannya.

Kwi Eng terhuyung dan hampir jatuh, maka cepat Bun Houw memegang lengannya, menahannya.

"Ah, kau... kau terluka, adik Kwi Eng?"

Bun Houw bertanya penuh kekhawatiran. Kwi Eng menggigit bibirnya.

"Hanya... hanya kakiku... agaknya patah tulang pergelangan kakiku... terpukul gagang tombak tadi..."

Dia lalu duduk di atas tanah.

Bun Houw cepat berlutut memeriksa.

Ternyata benar.

Tulang pergelangan kaki kiri dara itu patah!

"Ah, benar saja kakimu yang kiri ini...

tulangnya patah.

Harus cepat diobati, Eng-moi.

Kau tahankan rasa nyeri sedikit..."

Dara itu mengangguk dan Bun Houw lalu menyingkap pipa celana kaki kiri itu.

Berdebar juga hatinya ketika jari-jari tangan meraba kulit kaki yang halus sekali, halus lunak dan hangat itu, dengan kulit tipis putih, begitu tipis dan halusnya sehingga seolah-olah dia melihat urat-urat darah di bawahnya.

Namun dia mengusir semua ingatan tentang yang indah-indah itu dan cepat dia menotok jalan darah di dekat lutut, Kemudian dia meraba pergelangan kaki yang tulangnya patah, dengan cekatan dan tanpa ragu-ragu lagi dia menarik dan membenarkan letak tulang yang patah itu, kemudian mengambil bungkusan obat penyambung tulang, setelah mencampur obat dengan air, lalu menaruh obat di sekeliling pergelangan kaki itu, dibalutnya pergelangan kaki itu dengan kain yang dia ambil dari robekan bajunya dan sebagian sabuknya, dibalut dengan kuat-kuat dan kanan kiri kaki diganjal dengan kayu sehingga kedudukan tulang yong patah itu tidak akan berobah lagi.

Semua ini dikerjakan oleh Bun Houw tanpa berkata-kata dan dengan cepat sekali.

Dia kagum karena sedikitpun tidak terdengar keluhan dari dara itu dan setelah selesai membalut, dia mengangkat muka memandang.

Dara itu ternyata sedang menatapnya dengan bulu-bulu mata terhias butiran air mata!

"Sakit...?"

Kini Bun Houw bertanya. Kwi Eng menggeleng kepala.

"Sedikit..."

Bisiknya, akan tetapi dia lalu menahan tangis, bibirnya yang merah itu tergetar dan akhirnya dia menangis sesenggukan dan menutupi mukanya dengan kedua tangan.

Butiran-butiran air mata mengalir turun melalui celah-celah jari tangannya.

Bun Houw menjadi bingung dan dia mengusap pundak dara itu untuk menghibur.

"Bahaya telah lewat, musuh telah tewas. Mengapa kau berduka, Eng-moi? Kau kan tidak... belum... tertimpa bahaya..."

Tangis itu makin mengguguk.

Bun Houw memegang kedua pundak dara itu, mengguncangnya halus dan berkata.

"Eng-moi, kenapakah? Katakan kepadaku, mengapa kau begini berduka?"

Perlahan-lahan Kwi Eng mengangkat mukanya.

Dari tirai air mata dia memandang.

Dua pasang mata bertemu, bertaut ketat dan dua pasang sinar saling melekat, saling menyelami dan perlahan-lahan Kwi Eng berkata dengan suara menggetar.

"Houw-koko, kau... kau telah... menyelamatkan aku... dari malapetaka yang lebih hebat daripada maut... Houw-koko, bagaimana aku dapat membalas budimu...?"

"Hushhhh... perlukah hal itu dibicarakan lagi, moi-moi? Engkau yang membantu aku menghadapi musuh-musuhku, sampai-sampai engkau hampir mengorbankan nyawa, dan sekarang kau bicara tentang budi? Sudahlah, mari kita kembali ke tempat kawan-kawan. Aku yakin semua penjahat telah terbasmi. Tahukah engkau siapa yang datang membantu kita? Enciku Cia Giok Keng dan suhengku Yap Kun Liong!"

Kwi Eng mengangguk dan berusaha untuk berdiri dengan satu kaki.

"Ah, jangan pergunakan kakimu yang patah tulangnya. Mari kupondong."

Bun Houw lalu menggunakan kedua lengannya, memondong tubuh dara itu.

Kwi Eng menyandarkan kepalanya di dada Bun Houw dan sejenak pemuda ini memejamkan matanya ketika hidungnya mencium bau harum dari rambut dan muka yang begitu dekat dengan mukanya.

"Houw?koko...!"

Bun Houw melangkah perlahan dan menjawab.

"Hemmm...?"

Jantungnya berdebar karena tubuh yang hangat itu terasa begitu ketat di kedua lengan dan dadanya, maka dalam keadaan seperti itu sukar dia mengeluarkan kata-kata.

"Di dunia ini... hanya ada dua orang pria yang telah melihatku... yang seorang telah mampus... dan orang kedua adalah engkau... dan aku bersumpah, tidak akan ada laki-laki ketiga yang akan melihatku..."

Bun Houw terkejut, juga bingung.

"Apa... apa yang kau maksudkan, moi-moi?"

Tiba-tiba Kwi Eng sesenggukan lagi dan kedua lengannya seperti dua ekor ular merayap dan merangkul leher pemuda itu.

Tentu saja Bun Houw menjadi berdebar-debar, seluruh tubuhnya tergetar oleh gelora darah mudanya.

Otomatis pelukan kedua tangannya makin dipererat seolah-olah dia hendak mendekap tubuh dara yang cantik jelita itu makin ketat.

Rasa rindu akan seorang wanita yang selama ini ditahannya, rindunya kepada Yalima, wanita pertama yang dicintanya, kini seolah-olah memperoleh pelepasan pada diri Kwi Eng!

"Koko...

engkaulah satu-satunya pria yang melihat aku...

seperti tadi...

dan hanya engkaulah yang boleh melihatku seperti itu...

untuk selama hidupku."

"Hemmm... maksudmu?"

"Engkau telah menyelamatkan diriku dari bencana yang amat hebat, engkau telah melihat aku dalam keadaan seperti tadi... semua itu hanya dapat kutebus dengan penyerahan jiwa ragaku, koko... jika kau sudi menerimanya..."

Hampir saja pondongan itu terlepas saking kagetnya hati Bun Houw. Kiranya demikian "mendalam"

Perasaan hati dara ini.

Kiranya Kwi Eng hendak menyatakan bahwa dara yang cantik ini jatuh cinta kepadanya!

"Maksudmu...

kau...

kau cinta padaku?"

Dia menjelaskan sambil memandang.

Kwi Eng juga mengangkat muka memandang.

Dua muka saling berdekatan.

Otomatis langkah kaki Bun Houw terhenti dan tiba-tiba kedua lengan Kwi Eng yang merangkul leher itu menarik leher Bur Houw makin kuat sehingga muka pemuda itu makin menunduk dan tak terhindarkan lagi, Sukar dikatakan siapa yang lebih dulu bergerak, muka yang tampan dan cantik itu saling bertemu, dua mulut dengan bibir yang penuh gairah hidup saling berciuman, terdorong oleh getaran perasaan hati mereka.

Mereka lupa diri, lupa keadaan, seperti dalam mabok sehingga seolah-olah ciuman itu takkan pernah berakhir, seolah-olah dalam ciuman itu mereka hendak saling mempersatukan diri, selamanya tidak akan terpisah lagi.

Namun kebutuhan akan napas dan gelora perasaan yang melonjak membuat mereka terpaksa melepaskan bibir dengan napas terengah-engah, sejenak mereka saling pandang, pipi mereka menjadi merah sekali, pandang mata mereka menjadi sungkan dan malu, Kwi Eng menunduk dan Bun Houw menengadah, degup jantung mereka dapat saling mereka rasakan karena dada mereka berdekapan.

"Eng-moi..."

"Koko..."

"Jangan... tak benar ini..."

"Mengapa tak benar...? Aku rela..."

"Tidak boleh... kita baru saja bertemu dan saling berkenalan..."

"Bagiku engkau sudah selamanya kukenal..."

"Sudahlah, harap kau jangan bicara tentang urusan kita ini dulu, moi-moi. Kau tahu bahwa tugasku masih jauh daripada selesai, aku... aku tidak mungkin bisa membagi perhatian terhadap soal lain. Kita tunda saja dulu urusan ini, maukah kau berjanji?"

Kembali dua pasang mata saling bertemu dan Kwi Eng tersenyum.

Senyum penuh kebahagiaan karena ciuman tadi baginya sudah lebih dari cukup sebagai tanda bahwa pemuda yang telah menjatuhkan cinta kasihnya ini, ternyata juga mencintanya.

Kalau tidak demikian, tidak mungkin terjadi ciuman seperti tadi!

Terasa benar olehnya menembus sampai ke dasar hatinya.

Maka dia mengangguk sambil tersenyum.

Bukan main manisnya dan penuh daya pikat sehingga terpaksa Bun Houw harus mengangkat kepala memandang ke atas.

Tidak kuat dia untuk memandang wajah yang demikian manisnya, demikian dekatnya, bibir yang segar merah basah, sedikit terbuka, mulut yang seolah-olah menantang, dan yang diciptakan untuk dicium penuh kasih sayang, memandang kesemuanya ini tanpa menciuminya!

Dan Kwi Eng kembali tersenyum.

Senyum kemenangan seorang wanita yang mempunyai naluri kewanitaannya, yang tahu benar saat seorang pria bertekuk lutut tanpa syarat!

Rangkulannya makin ketat dan sambil tersenyum-senyum, mata yang masih basah air mata itupun tersenyum malu-malu, dara ini menyembunyikan mukanya di dada kekasih pujaan hatinya!

Pada saat itu, ketika Bun Houw melanjutkan langkahnya dan matanya memandang ke depan, dia melihat berkelebatnya bayangan orang di antara pohon-pohon.

Dia cepat mengejar dengan pandang matanya dan dilihatnya bayangan itu berdiri tegak di samping sebatang pohon, bayangan seorang wanita dengan sinar mata berapi-api yang ditujukan kepada tubuh Kwi Eng yang dipondongnya.

Tentu saja dia segera mengenal gadis yang berdiri dengan sinar mata berapi-api itu.

"Hong-moi...!"

Tak terasa lagi dia berseru memanggil.

Akan tetapi bayangan itu berkelebat, dan lenyap di balik pohon-pohon di dalam hutan di tepi sungai itu.

"Eh, kau memanggil siapa, Houw-koko?"

Kwi Eng bertanya dan memandang ke kanan kiri. Bun Houw mengerutken alisnya.

"Pendekar wanita yang pernah menolongku, Eng-moi. Seperti kulihat dia tadi berkelebat di dalam hutan. Akan tetapi mungkin juga aku salah lihat..."

Namun hatinya merasa yakin bahwa gadis penolongnya itulah yang dilihatnya tadi.

Dengan sinar mata tajam penuh kemarahan dan kebencian ditujukan kepada Kwi Eng.

Bun Houw mengerutkan alisnya dan makin kuat dugaannya.

Tidak salah lagi.

Tentu gadis itulah yang pernah menyerang Kwi Eng, dan bahkan yang telah membunuh gadis she Ma itu.

Jantungnya berdebar penuh ketegangan.

Andaikata benar demikian, alasannya hanya satu, yaitu cemburu!

Gadis yang bernama Hong itu agaknya selalu membenci setiap orang wanita yang berdekatan dengan dia!

Cemburu, berarti gadis itu cinta kepadanya!

Bun Houw bergidik dan kalau tadinya dia merasa amat tertarik kepada In Hong, kini dia mulai merasa jijik dan tidak suka.

Dicinta oleh seorang wanita yang demikian besar cemburunya, yang demikian kejamnya, sungguh mengerikan.

Biarpun cantik seperti dewi, akan tetapi selalu melakukan kekejaman seperti setan, Dewi Maut!

Biarpun gadis itu amat cantik, amat tinggi ilmunya, dan sudah pernah menolongnya, menyelamatkannya dari bahaya maut, akan tetapi kalau sekejam itu perangainya, dia kelak akan menegurnya kalau dia sempat bertemu lagi dengan Si Dewi Maut itu.

Akan tetapi...

kematian Bu Sit tadi!

Siapakah yang melepas pasir beracun dan merobohkan Bu Sit, dengan demikian menyelamatkan Kwi Eng?

Apakah bukan Si Dewi Maut itu pula?

Memang tidak keliru dugaan Bun Houw.

Bayangan yang berkelebat di antara pohon-pohon dan yang tadi sejenak memandang tajam ke arah Bun Houw yang memondong Kwi Eng, adalah In Hong.

Baru saja gadis perkasa ini juga menyelamatkan Kwi Beng dari ancaman maut di tangan Hui-giakang Ciok Lee Kim.

Seperti kita ketahui, Kwi Beng, seperti juga Kwi Eng yang dipancing menjauhi gelanggang pertempuran oleb Bu Sit, juga dipancing oleh Hui-giakang Ciok Lee Kim si nenek cabul yang tergila-gila oleh ketampanan pemuda itu.

Kemudian pemuda itupun roboh pingsan dan dipondong serta dilarikan oleh Ciok Lee Kim, dibawa ke dalam hutan di belakang dusun Ngo-sian-chung.

Ketika tiba di tempat sunyi, Ciok Lee Kim menyandarken pemuda itu dan dia merayu Kwi Beng.

Makin dipandang, makin tergila-glia Si Kelabang Terbang itu kepada pemuda ini.

Kwi Beng yang sudah siuman akan tetapi dalam keadaan lemas tertotok, memandang marah dan memaki.

"Perempuan iblis, setelah aku kalah, kaubunuhlah aku!"

Bentaknya dan berusaha menggerakkan kaki dan tangannya, akan tetapi anggauta badannya itu seperti lumpuh.

Ciok Lee Kim membelai pipi dan leher pemuda itu.

"Aihh, sayang kalau orang seperti engkau ini dibunuh. Orang muda yang ganteng, aku suka sekali kepadamu. Kaulayanilah aku dan bersumpah akan menjamin keselamatanmu dan selamanya engkau akan menjadi kekasihku, sahabatku, dan muridku."

"Cih, perempuan tak tahu malu!"

Kwi Beng memaki.

"Kau sudah gila!"

"Hi-hik, memang aku sudah gila, tergila-gila kepadamu, sayang. Apa perlunya mati sia-sia dalam usia begini muda? Biarpun aku lebih tua darimu, aku adalah seorang ahli dalam permainan cinta, dan kau akan menjadi muridku, kau akan menikmati hidup dan apapun permintaanmu akan kupenuhi, sayang."

Ciok Lee Kim berlutut, merangkul dan menciumi.

Dia benar-benar sudah tergila-gila melihat mata kebiruan dan rambut agak pirang itu.

Sepuluh jari tangannya yang sudah mulai keriputan itu kini mulai meraba-raba.

"Bedebah! Tua bangka gila! Pergilah, atau bunuhlah aku!"

Kwi Beng merasa jijik dan muak sekali, akan tetapi tentu saja dia tidak dapat mencegah jari-jari tangan wanita itu menggerayangi tubuhnya, hal yang membuat pemuda itu merasa ngeri dan jijik sekali.

Sudah sejak tadi ada sepasang mata jeli dan tajam yang menonton peristiwa ini.

Bahkan sejak Ciok Lee Kim memasuki hutan memondong tubuh Kwi Beng yang pingsan, pemilik mata jeli itu sudah membayanginya.

In Hong yang melihat peristiwa ini, diam-diam merasa kagum kepada Kwi Beng.

Untuk ke sekian kalinya dia tercengang, dan setelah dia kagum melihat murid-murid Bu-tong-pai yang gagah perkasa, kemudian melihat Bun Houw yang lebih baik mati daripada tunduk kepada rayuan wanita, kini dia melihat Kwi Beng yang sama sekali tidak mau tunduk terhadap rayuan Ciok Lee Kim.

Rasa kagum dan simpatinya sudah timbul dan tentu saja sekaligus menimbulkan perasaah muak dan marah kepada Si Kelabang Terbang itu.

Memang sadah lama dia merasa benci kepada Hui-giakang Ciok Lee Kim yang dianggapnya wanita tak tahu malu, jahat dan keji.

Kini, melihat betapa Ciok Lee Kim secara tak tahu malu menggerayangi tubuh pemuda yang terang-terangan menolak rayuannya itu, dan betapa jari-jari tangan nenek itu mulai membuka kancing baju Kwi Beng, In Hong tidak dapat menahan rasa jijiknya.

"Iblis betina cabul tak tahu malu!"

Bentaknya sambil meloncat dekat.

Ciok Lee Kim terkejut bukan main, segera diapun meloncat berdiri sambil membalikkan tubuhnya.

Di antara Lima Bayangan Dewa yang pernah bertemu dan berkenalan dengan dara perkasa ini hanyalah Toat-beng-kauw Bu Sit.

Ciok Lee Kim belum pernah melihatnya, maka kini melihat bahwa yang muncul hanya seorang gadis muda belia yang cantik jelita, dia memandang rendah dan menjadi marah bukan main, Kemarahan yang didorong rasa jengah dan malu karena perbuatannya merayu pemuda itu ketahuan orang lain.

Dengan gerakan galak dan angkuh dia mencabut keluar sepasang senjatanya, yaitu sepasang saputangan sutera merah dan begitu kedua tangannya bergerak, terdengar suara bersiutan dan saputangan itu diputarnya sedemikian cepat sehingga lenyap bentuknya dan berubah menjadi dua gulungan sinar merah.

Dengan demonstrasi tenaga sin-kang ini agaknya Ciok Lee Kini hendak menakut-nakuti gadis muda itu.

Sungguh menggelikan!

Dia tidak tahu siapa adanya wanita muda ini, dan tentu saja bagi Yap In Hong, murid tunggal ketua Giok-hong-pang yang telah mewarisi ilmu-ilmu simpanan dari bokor pusaka Panglima The Hoo, permainan nenek itu seperti permainan kanak-kanak saja.

"Bocah yang bosan hidup, siapakah kau mengantar nyawa sia-sia dengan mencampuri urusanku?"

Bentak Ciok Lee Kim, karena biarpun dia marah sekali, timbul pula keinginan tahunya siapa adanya gadis muda yang begini berani mengganggunya.

Padahal banyak orang kang-ouw sudah menggigil baru mendengar namanya saja.

"Hui-giakang Ciok Lee Kim, setelah engkau lari terbirit-birit dari Lembah Bunga Merah, kiranya engkau bersembunyi di Ngo-sian-chung, hanya untuk melanjutkan perbuatannya yang tidak tahu malu. Tak perlu kau tahu aku siapa, hanya yang jelas, akulah yang akan mengantar nyawa kelabangmu terbang ke neraka."

Tentu saja Ciok Lee Kim menjadi marah bukan main mendengar ucapan yang memandang rendah dan menghina ini.

Sepasang matanya melotot, mulutnya mengeluarkan teriakan yang merupakan lengking tinggi nyaring dan tahu-tahu tubuhnya sudah mencelat ke depan, seperti seekor burung terbang saja dan bayangan tubuhnya yang berkelebat itu didahului oleh sinar merah dari kanan kiri, yaitu gerakan saputangannya yang di dalam tangannya dapat berobah lemas atau kaku menurut penyaluran tenaganya.

Kini ujung saputangan merah yang kiri menotok ke arah ubun-ubun kepala In Hong sedangkan yang kanan menotok ke arah buah dada kiri.

Serangan maut yang amat berbahaya dan Kwi Beng yang menyaksikan ini, menjadi terkejut bukan main dan mengkhawatirkan nasib dara yang agaknya hendak menolongnya itu.

Gerakan Ciok Lee Kim memang hebat.

Wanita ini mendapat julukan Si Kelabang Terbang, mungkin dijuluki kelabang karena jahatnya sehingga pantas menjadi kelabang yang beracun, dan gerakannya memang amat cepat, gin-kangnya amat tinggi seolah-olah dia pandai terbang.

Maka serangannya yang ditujukan kepada In Hong dalam keadaan merah itupun hebat bukan main, cepat laksana kilat menyambar.

Akan tetapi, In Hong yang memiliki tingkat kepandaian jauh lebih tinggi daripada Ciok Lee Kim, hanya berdiri dengan tenang dan menanti datangnya serangan lawan itu seperti seorang dewasa memandang lagak seorang kanak-kanak saja layaknya.

Begitu serangan dengan dua helai saputangan itu tiba, In Hong menggerakkan kedua tangannya, yang satu menyampok saputangan yang menotok ubun-ubun kepala, sedangkan tangan kedua menangkis saputangan yang menotok dada terus dilanjutkan dengan dorongan tangannya dengan pengerahan tehaga sakti.

"Desss... brukkkk!"

Tubuh Ciok Lee Kim terbanting ke atas tanah dan wajah nenek itu menjadi luar biasa sekali, kaget, heran, tak percaya, dan juga kesakitan karena pantatnya yang tepos (tipis) itu terbanting keras ke atas tanah sehingga seperti remuk rasa ujung bawah tulang pinggulnya!

Akan tetapi semua perasaan ini dilebur menjadi satu, menjadi perasaan kemarahan yang meluap-luap.

Dia melupakan rasa nyeri di pantatnya dan sudah meloncat lagi dengan amat cepat, terus dia menerjang kalang kabut dengan mengerahkan seluruh tenaga dan kecepatannya, mengeluarkan semua jurus-jurus simpanannya yang paling ampuh.

Amat indah nampaknya karena bayangan nenek ini lenyap, yang nampak hanya bayangan dan saputangannya yang seperti dua ekor kupu-kupu merah beterbangan cepat mengelilingi tubuh In Hong yang masih berdiri tegak dan hanya kadang-kadang saja kedua tangannya bergerak menangkis.

Kwi Beng menonton dengan melongo.

Dia melihat seolah-olah In Hong merupakan seorang dewi yang sedang menari-nari.

Tarian menangkap sepasang kupu-kupu agaknya!

Padahal nenek itu sudah melakukan penyerangan yang amat dahsyat dan mati-matian, akan tetapi anehnya, dara itu hanya bergerak sedikit saja, kedua kakinya bahkan jarang melangkah, hanya kedua lengannya saja bergerak-gerak seperti orang menari dan semua serangan tidak ada yang mengenai sasaran.

"Nenek menjemukan, mampuslah!"

Tiba-tiba gadis itu berseru nyaring dan tiba-tiba nampak sinar yang amat menyilaukan mata, sinar emas yang entah dari mana datangnya tahu-tahu berada di tangan dara itu dan sekali sinar emas itu berkelebat, hampak darah memancar dan tubuh nenek itu roboh, lehernya hampir putus terkena sambaran sebatang pedang yang dengan cepat sekali telah lenyap menjadi sabuk dara itu!

Dengan langkah ringan In Hong menghampiri Kwi Beng, menotoknya dan seketika Kwi Beng terbebas dari totokan.

Dia bangkit dan memandang mayat Ciok Lee Kim dengan mata terbelalak, kemudian dia memandang gadis itu dengan mata kagum.

Bukan main cantiknya dara ini, cantik jelita dan gagah perkasa, belum pernah dia melihat seorang gadis seperti ini!

Cepat Kwi Beng maju dan menjura dengan hormat kepada In Hong.

"Saya Souw Kwi Beng menghaturkan terima kasih atas budi pertolongan lihiap yang gagah perkasa. Kalau tidak ada pertolongan lihiap, tentu saat ini saya telah menjadi mayat."

In Hong balas memandang dan tersenyum.

"Belum tentu iblis ini akan membunuhmu. Betapapun juga, kau seorang laki-laki jantan dan siapapun tentu akan menentang iblis tak tahu malu ini!"

Baca Juga: Suling Emas 10

Baca Juga: Petualang Asmara 16

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert