Ceritasilat Novel Online

Dewi Maut 5

Eps 5 Dewi Maut - Kho Ping Hoo

Baca online Dewi Maut - Kho Ping Hoo

Cersil Dewi Maut - Kho Ping Hoo.

Sang suci juga berkata dengan suara merayu.

Bun Houw mengambil keputusan untuk menggunakan kekerasen.

Gara-gara dua orang wanita yang agaknya haus dan gila laki-laki ini urusannya bisa kacau dan gagal.

Dia akan membuat mereka tidak berdaya dan meninggalkan mereka di kamar itu.

Akan tetapi baru saja semua urat syaraf di tubuhnya menegang, siap untuk bergerak turun tangan, tiba-tiba dari luar pintu kamar itu terdengar suara laki-laki.

"Ai-kwi dan Ai-kiauw... apakah kalian berada di dalam?"

Bun Houw terkejut bukan main dan tentu saja dia menahan gerakan tangannya yang tadi sudah siap untuk menotok mereka.

Dua orang wanita itu menoleh ke arah pintu, dan yang lebih tua menjawab.

"Ah, Bu-susiok (paman guru Bu) di luar? Benar, kami berada di sini menemani tamu!"

Daun pintu kamar itu terdorong dan terbuka karena memang tadi tidak dipalang saking tidak sabarnya kedua orang wanita yang sudah didorong nafsu berahi itu.

Bun Houw menjadi merah sekali mukanya saking malu ketika melihat Toat-beng-kauw Bu Sit, laki-laki berusia empat puluh tahun yang kurus, dan mukanya seperti monyet, kuning dan pucat itu, masuk ke dalam kamar itu sambil tertawa.

"Ha-ha-ha, aku mencari kalian setengah mati, kiranya kalian bermain-main di sini. Pengawal muda ini sebagai tamu boleh kalian hibur, akan tetapi cukup seorang sajapun dia tidak akan mampu menang. Ha-ha! Ai-kwi... aku sudah rindu kepadamu, mari kau temani pamanmu yang kesepian."

Setelah berkata demikian, si muka monyet merangkul pinggang yang ramping itu dengan mesra.

Sang suci mengerutkan alisnya dan tampak jelas oleh Bun Houw betapa wajah yang cantik itu menjadi buruk dan kejam ketika bersungut-sungut.

"Aihh... susiok, biar sumoi saja malam ini menemanimu..."

Wanita itu membantah halus.

"Siapa? Ai-kiauw...? Ah, Ai-kwi, aku rindu padamu, sudah lama benar... heh-hehm, dan Ai-kiauw baru kemarin menemani aku. Hayolah...!"

Dia menarik dan memaksa wanita itu.

Ai-kwi bersungut-sungut dan terpaksa menyambar pakaian luarnya dan membiarkan dirinya dirangkul dan didorong keluar dari kamar setelah dia melempar pandang mata penuh kekecewaan dan penasaran ke arah Bun Houw.

"Hi-huuuuuhh...!"

Ai-kiauw bersorak gembira, lari dengan lenggang-lenggok ke arah pintu, menutupkan pintu dan memalangnya, kemudian dia lari kembali dan meloncat, menubruk Bun Houw sehingga pemuda itu terjengkang ke atas pembaringan.

"Sekarang kita hanya berdua, orang tampan...!"

Wanita itu lalu menghujankan ciuman ke seluruh muka Bun Houw sampai pemuda ini menjadi gelagapan.

Sejenak Bun Houw tertegun, kemudian terbayanglah wajah Yalima.

Mengapa ketika dia berciuman dengan Yalima, dia merasa babagia dan nikmat, akan tetapi ciuman-ciuman penuh nafsu berahi dari wanita ini membuat dia merasa muak?

"Enci, jangan begitu...!"

Dia mendorong halus dan pada saat itu terdengar panggilan dari luar pintu.

Mendengar suara ini, Ai-kiauw terkejut sekali dan cepat dia meloncat ke sudut kamar.

Bun Houw kagum sekali melihat kecepatan Ai-kiauw mengenakan pakaian luarnya.

Kemudian wanita ini bergegas membuka pintu kamar.

Kiranya Hui-giakang Ciok Lee Kim sendiri yang berdiri di depan pintu itu!

"Maaf, subo.

Subo memanggil teecu?"

Ai-kiauw bertanya dengan sikap hormat.

Sepasang mata yang tajam dan galak itu memandang muridnya penuh selidik, kemudian pandang matanya menyapu ke arah Bun Houw dan ke arah pembaringan.

Agaknya keadaan pemuda itu dan pembaringannya melegakan dan memuaskan hati wanita ini.

Dia mengangguk dan berkata.

"Kau pergi ke kamar tamu kita, Kiam-mo Liok Sun, kau temani dia!"

Jelas betapa Ai-kiauw kelihatan terkejut dan kecewa bukan main.

"Akan tetapi... teeeu kira... subo dan dia..."

"Cerewet, pergilah! Yang tua harus berpasangan dengan yang muda agar yang muda bertambah pengalaman dan yang tua awet muda. Hayo pergi memenuhi perintah!"

Ciok Lee Kim membentak.

"Baik, subo..."

Ai-kiauw mengambil pakaian luarnya, kemudian keluar dari kamar itu dengan kepala ditundukkan.

Ciok Lee Kim menutupkan daun pintu dan dia menghampiri Bun Houw sambil tersenyum genit.

Wanita berusia lima puluh tahun ini masih nampak cantik karena dia pandai bersolek dan memang dahulunya dia adalah cantik.

"Muridku memang bandel. Apakah dia tadi mengganggumu, orang muda she Bun? Kalau dia mengganggumu, biar kuhukum dia di depanmu."

Sepasang mata itu memandang wajah Bun Houw dengan sinar aneh.

Sejak tadi Bun Houw sudah merasa makin muak menyaksikan tingkah laku dua orang murid dan guru mereka itu.

Dari sikap dan kata-kata mereka saja sudah jelas dapat dinilai orang-orang macam apa adanya mereka.

Akan tetapi diam-diam dia merasa girang karena kini musuh yang seorang ini datang sendiri tanpa dia harus mencarinya di kamarnya.

Dia akan membekuk wanita ini dan memaksanya mengaku tentang tiga orang musuhnya yang lain dan tentang pedang Siang-bhok-kiam, kemudian dia akan membunuh Bu Sit dan pergi dari tempat itu untuk mencari tiga orang yang lain dan pedang Siang-bhok-kiam.

Bun Houw menggeleng kepalanya.

"Tidak, toanio. Tidak ada yang mengganggu saya."

Jawabnya.

"Syukurlah kalau begitu. Kau adalah seorang tamu, harus dilayani dengan baik, karena itu aku sendiri yang akan menemanimu malam ini, orang muda. Marilah, mari kita rebahan sambil omong-omong... aku ingin mendengar riwayatmu. Kau menarik hatiku, tidak sama dengan pemuda-pemuda lain... jangan sungkan-sungkan, ke sinilah..."

Wanita itu sudah duduk di pinggir pembaringan dia menggapai mengajak pemuda itu duduk di dekatnya.

Bun Houw hampir tak dapat menahan kemarahannya.

"Tidak...!"

Dia menggeleng kepalanya.

"Dua orang murid toanio tadi pun membujuk saya, akan tetapi saya... saya bukanlah laki-laki seperti itu...!"

Ucapan ini membuat wajah Ciok Lee Kim menjadi merah sekali dan tiba-tiba wanita ini menggerakkan tubuhnya membalik, tangan kanannya bergerak.

"Wirrrr...!"

Bun Houw terkejut bukan main, tadinya menyangka bahwa wanita itu marah kepadanya dan menyerangnya, akan tetapi ternyata senjata piauw beronce merah itu menyamber ke arah jendela kamar itu, menembus jendela dan terdengar jatuh berkerontangan di luar kamar.

"Keparat jangan lari kau!"

Tubuh Ciok Lee Kim sudah meloncat dengan gerakan yang ringan sekali, kakinya menendang jebol daun jendela dan tubuhnya sudah mencelat keluar.

Barulah pemuda itu tahu bahwa tadi ada orang mengintai dari luar jendela.

Dia merasa heran sekali mengapa dia tidak lebih dulu melihatnya atau mendengarnya.

Hal ini adalah karena dalam keadaan tergoda bujuk rayu wanita-wanita tadi, hati Bun Houw berdebar dan kacau tidak karuan dan hal ini mengurangi kewaspadaannya.

Andaikata dia berada dalam keadaan biasa, tentu sebelum Ciok Lee Kim mendengar sesuatu, dia akan lebih dulu dapat mendengarnya.

"Tangkap penjahat...!"

Terdengar teriakan wanita itu di luar.

Bun Houw juga meloncat keluar dari kamar dan setibanya di ruangan besar dia melihat betapa Ciok Lee Kim, Bu Sit, dua orang kakek dan seorang nenek tamu, juga Kiam-mo Liok Sun dan dua orang murid wanita Ciok Lee Kim, semua sudah berada di situ dengan pakaian dan rambut kusut, agaknya tergesa-gesa meninggalkan kamar tidur oleh teriakan Ciok Lee Kim tadi.

Mereka semua ini mengurung tiga orang yang berdiri di tengah ruangan dengan pedang di tangan.

Dan selain tokoh-tokoh kaum sesat itu, juga tampak anak buah Lembah Bunga Merah sudah mengurung ruangan itu dari sebelah luar.

Bun Houw memandang dengan penuh perhatian.

Tiga orang itu biarpun sudah dikepung, kelihatan sama sekali tidak memperlihatkan rasa takut.

Moreka itu adalah dua orang gadis dan seorang pemuda, usia mereka antara dua puluh sampai dua puluh lima tahun, kelihatan cantik, tampan, dan gagah dengan pedang melintang di depan dada, saling mengadu punggung dan menghadapi kepungan banyak orang itu.

Diam-diam Bun Houw kagum menyaksikan kegagahan mereka, akan tetapi juga mencela kecerobohan mereka, berani secara sombrono memasuki guha harimau yang amat berbahaya ini.

"Hemm, kalian seperti tiga ekor tikus yang terkurung!"

Ciok Lee Kim mengejek kepada mereka.

"Hayo kalian mengaku, siapa kalian dan mengapa kalian berani memasuki tempat kami tanpa ijin. Jawab, agar kalian tidak mati tanpa nama!"

Pemuda yang mewakili dua orang kawannya itu memandang kepada wanita ini dengan sinar mata berapi-api.

"Kami adalah murid-murid Bu-tong-pai yang datang hendak menuntut balas atas kematian suheng kami seminggu yang lalu di luar hutan Lembah Bunga Merah."

"Siapa suheng kalian dan apa hubungan kematiannya dengan kami?"

Ciok Lee Kim mengerutkan alisnya.

Semenjak dia bersama empat orang saudara segolongannya yang bergabung menjadi Lima Bayangan Dewa berhasil menyerbu Cin-ling-pai, mereka berlima selalu berhati-hati, tidak menanam permusuhan dengan lain golongan, bahkan berusaha mencari teman-teman untuk diajak bersama menghadapi Cin-ling-pai.

Maka mendengar murid-murid Bu-tong-pai memusuhinya, dia menjadi heran dan terkejut.

"Suheng kami sebelum meninggal dunia mengatakan bahwa dia dilukai oleh dua orang murid Lembah Bunga Merah."

"Hemmm..."

Ciok Lee Kim memandang ke sekelinngnya, ke arah para anak buah Lembah Bunga Merah.

"Subo, kami yang melukainya!"

Tiba-tiba Ai-kwi dan Ai-kiauw melangkah maju.

Ciok Lee Kim memandang dua orang muridnya itu dengan alis berkerut.

"Apa yang terjadi?"

Tuntutnya.

"Pemuda itu terlalu menghina kami, mengatakan bahwa kami dan orang-orang Lembah Bunga Merah adalah orang-orang cabul yang tak tahu malu. Kami bertanding melawan dia dan dia melarikan diri dengan luka-luka berat. Kami tidak tahu bahwa dia itu murid Bu-tong-pai atau murid siapa, yang jelas dia kurang ajar."

"Bohong!"

Tiba-tiba seorang di antara dua gadis itu berseru marah.

"Kam-suheng menceritakan kepada kami bahwa dia kalian bujuk rayu, kalian perempuan-perempuan jalan yang tak tahu malu. Kam-suheng adalah seorang laki-laki sejati, mana sudi menuruti kehendak cabul kalian? Karena suheng menolak, kalian mengeroyok dan melukainya!"

Wajah kedua orang murid Ciok Lee Kim berubah merah.

"Subo, kalau manusia itu tidak menghina, kami tentu tidak akan melukainya. Subo mendengar sendiri betapa busuk mulut orang-orang ini menghina kita!"

"Perempuan jalang dan cabul!"

Gadis murid Bu-tong-pai yang sesungguhnya adalah pacar dan calon isteri suhengnya sendiri yang tewas itu sudah memekik dan dengan pedangnya dia menyerang Ai-kwi dan Ai-kiauw.

Dua orang wanita ini mengelak lalu membalas dan bertandinglah Ai-kwi dan Ai-kiauw melawan tiga orang murid Bu-tong-pai itu.

Para orang tua itu mula-mula hanya menonton.

Ilmu Pedang Bu-tong-pai terkenal bagus gayanya dan kuat serta cepat, dan dan kini Ai-kwi dan Ai-kiauw yang juga menggunakan pedang, setelah lewat lima puluh jurus, terdesak hebat oleh pedang tiga orang murid Bu-tong-pai itu.

"Bu-sute, kauwakili aku tangkap tiga orang bocah kurang ajar ini!"

Melihat betapa dua orang muridnya terdesak, Hui-giakang Ciok Lee Kim menyuruh Toat-beng-kauw Bu Sit yang disebutnya sute, untuk maju.

Biarpun Lima Bayangan Dewa itu tidak mempunyai hubungan perguruan, melainkan hubungan segolongan dan terutama sekali sama-sama menaruh dendam kepada ketua Cin-ling-pai, akan tetapi semenjak mereka memakai nama Lima Bayangan Dewa, mereka saling menyebut adik dan kakak seperguruan.

"Tar-tar-tarrr...!"

Joap-pian atau cambuk baja di tangan Toat-beng-kauw Bu Sit meledak-ledak ketika dia menerima perintah ini.

Tubuhnya mencelat ke depan dengan keringanan seekor burung, dan tahu-tahu joan-pian di tangannya sudah melecut-lecut dan menyambar-nyambar ganas.

"Tar-tar-tringggg...! Aihhhh...!"

Seorang gadis Bu-tong-pai mehjerit dan pedangnya terlempas, dia memegangi tangan kanan dengan tangan kiri karena tangan kanannya terasa sakit.

Saat itu dipergunakan oleh Ciok Lee Kim untuk menggerakkan tangannya.

Gadis itu berusaha mengelak, akan tetapi dia kalah cepat dan robohlah dia terkena totokan wanita yang berjuluk Kelabang Terbang itu.

Dua orang murid Bu-tong-pai yang lain menjadi marah sekali.

Mereka berdua saling beradu punggung dengan pedang melintang di depan dada, siap untuk bertempur mati-matian melawan orang-orang lihai itu.

"Heh-heh-heh, kalian bocah-bocah ingusan sungguh tidak tahu diri!"

Ciok Lee Kim terkekeh mengejek.

"Kailan tidak tahu dengan siapa kalian berhadapan! Biar guru kalian, ketua Bu-tong-pai sendiri belum tentu berani bersikap kurang ajar seperti kalian di hadapan kami."

"Hemm, kami tidak perduli dengan siapa kami berhadapan!"

Pemuda Bu-tong-pai itu membentak sambil melirik sumoinya yang roboh tertotok tadi.

"Kami datang untuk menuntut balas atas kematian subeng kami dan untuk itu, kami siap mengorbankan nyawa kami kalau perlu. Kami tidak takut kepada kalian!"

"Ciok-suci, bereskan saja mereka ini, habis perkara!"

Bu Sit berkata sambil mengayun-ayun joan-pian di tangannya.

"Nanti dulu, Bu-sute, kita tidak ingin bermusuhan dengan Bu-tong-pai atau partai manapun. Ingat?"

Kata Si Kelabang Terbang dan Toat-beng-kauw Bu Sit mengangguk.

"Bocah-bocah Bu-tong-pai, kami masih memandang nama Bu-tong-pai dan mau mengampuni kalian bertiga. Berlututlah dan kami akan mengampuni kalian,"

Kata Ciok Lee Kim.

"Hub, tidak sudi!"

Gadis Bu-tong-pai yang kedua membentak marah.

"Agaknya kalian belum tahu siapa kami. Aku adalah Hui-giakang dan aku sendiri saja belum tentu akan dapat kalian menangkan andaikata kalian maju dengan teman-teman kalian sebanyak dua puluh orang! Dia dengan joan-pian mautnya ini adalah Toat-beng-kauw Bu Sit yang di dunia selatan pernah menggegerkan para tokoh besar persilatan. Dan kalian belum tahu siapa adanya tamu-tamu kehormatan ini, ya? Beliau ini adalah Hwa Hwa Cinjin yang sukar dicari tandingannya di dunia kang-ouw, sedangkan beliau yang ini adalah Hek I Sinkouw, sejajar nama dan terkenalnya dibandingkan dengan Hwa Hwa Cinjin locianpwe. Dan tahukah kalian siapa beliau yang baru turun dari pertapaan ini? Beliau adalah datuk dari seluruh pantai Lautan Pohai, Bouw Thaisu yang kepandaiannya setinggi Gunung Thai-san! Masih ada sahabatku ini, Kiam-mo Liok Sun Si Setan Pedang."

Dua orang murid Bu-tong-pai itu memandang dengan mata mendelik.

Pemuda itu lalu menjawab setelah wanita musuhnya berhenti bicara.

"Biarpun engkau akan mengundang semua iblis dari neraka, kami tidak akan takut menghadapi untuk membela kebenaran dan menuntut balas atas kematian suheng kami!"

Suci, bocah-bocah sombong macam ini kalau tidak dihajar akan makin besar kepala saja!"

Ucapnya Bu Sit disusul bunyi pecut baja di tangannya yang meledak-ledak dan sinar-sinar kilat senjatanya itu menyambar ke arah dua orang murid muda Bu-tong-pai itu.

"Cringgg...! Cringgg...!"

Bunga api berhamburan ketika joan-pian itu tertangkis oleh dua batang pedang, akan tetapi Toat-beng-kauw yang memiliki gin-kang tinggi sekali itu sudah menyerang lagi, gerakannya cepat bukan main, joan-pian di tangannya lenyap berobah menjadi sinar kilat yang menyambar-nyambar dan mengurung kedua orang muda itu.

Dua orang murid Bu-tong-pai itu terkejut juga, maklum bahwa si muka monyet ini benar-benar lihai, maka mereka memutar pedang melindungi tubuh mereka sambil berusaha sedapat mungkin untuk balas menyerang.

Akan tetapi karena memang tingkat mereka kalah tinggi, gin-kang mereka jauh kalah cepat dan tenaga lwee-kang merekapun jauh kalah kuat, dalam belasan jurus saja mereka sudah terhimpit dan terancam hebet oleh sinar senjata joan-pian itu.

Hui-giakang Ciok Lee Kim yang tidak ingin dilakukan pembunuhan di dalam rumahnya, sudah bergerak terjun ke dalam gelanggang pertandingan.

Dua tangannya bergerak dan nampaklah dua sinar merah dari sepasang saputangan suteranya, ujung kedua saputangan menyambar dan menotok ke arah jalan darah di punggung dan pundak dua orang muda yang sedang sibuk didesak oleh joan-pian Bu Sit, maka mereka tidak mampu menghindarkan diri dari totokan saputangan merah.

Mereka mengeluh, pedang mereka terlepas dari tangan dan tubuh mereka terguling dengan lemas seperti keadaan teman mereka yang pertama tadi.

"Ciok-suci, sebaiknya dibunuh saja mereka ini!"

Kata Bu Sit sambil mangamang-amangkan joan-piannya.

"Sute, jangan mengotori rumah ini dengan darah dan pembunuhan!"

Ciok Lee Kim mencegah.

"Ha-ha, kalau begitu biar kubawa mereka ke hutan dan kuhabisi mereka di sana!"

Bu Sit berkata dan kedua matanya menyambar dan melahap tubuh dua orang gadis cantik murid Bu-tong-pai itu.

Di dalam benaknya yang kotor terbayang betapa dia akan mempermainkan dan menikmati dua orang murid wanita ini lebih dulu sebelum dibunuhnya.

Memang di antara Lima Bayangan Dewa, Ciok Lee Kim dan Bu Sit sama-sama mata keranjang dan batinnya penuh dengan kecabulan.

"Mengapa mereka harus dibunuh?"

Tiba-tiba Kiam-mo Liok Sun ikut bicara.

"Ciok-toanio, saya kira amat tidak baik kalau membunuh anak murid Bu-tong-pai, sungguh tidak menguntungkan bagi toanio kalau kelak dimusuhi oleh partai itu."

Bun Houw sejak tadi sebetulnya sudah siap.

Andaikata dia melihat tiga orang murid Bu-tong-pai tadi hendak dibunuhi dia sudah siap-siap untuk membantu dan menolong mereka.

Akan tetapi melihat mereka hanya dirobohkan dengan totokan saja, dia belum mau turun tangan karena dia menganggap belum tiba saatnya.

Kalau urusannya yang besar dan penting itu dirusak oleh bantuannya terhadap tiga orang murid Bu-tong-pai ini, sungguh tidak baik sekali.

Kini dia mendengarkan saja dengan penuh perhatian.

Toat-beng-kauw Bu Sit memandang kepada Liok Sun dengan mata disipitkan, alisnya berkerut dan dia berkata kepada nyonya rumah.

"Ciok-suci, engkau sendiri tentu mengerti mengapa mereka ini harus dibunuh dan tidak perlu mendengarkan pendapat orang lain!"

Melihat ada ketegangan dan perbedaan pendapat ini, Ciok Lee Kim memandang ke arah tiga orang murid Bu-tong-pai dan berkata.

"Sebaiknya mereka ditahan dulu dan mari kita bicara hal ini di dalam saja,"

Katanya sambil memberi isyarat dan orang-orangya lalu dipimpin oleh Ai-kwi dan Ai-kiauw menyeret tubuh tiga orang murid Bu-tong-pai itu, dibawa ke tempat tahanan yang mereka jaga ketat.

Kemudian dua orang murid Ciok Lee Kim setelah menyerahkan mereka kepada para anak buah untuk menjaganya, lalu kembali ke ruangan karena mereke ingin mendengarkan kelanjutan percakapan tadi.

Sementara itu tiga orang tua yang menjadi tamu agung, menonton dan mendengarkan dengan sikap tenang dan tidak acuh karena mereke merasa diri mereka terlalu tua untuk ikut mencampuri urusan tetek-bengek itu!

Ketika Bun Houw melihat mereka semua memasuki ruangan kembali, dia mendapatkan kesempatan baik dan diam-diam dia menyelinap kembali ke kamarnya.

Sudah diambilnya keputusan untuk menyelamatkan dan membebaskan tiga orang Bu-tong-pai itu lebih dulu, kemudian baru dia akan membunuh Ciok Lee Kim dan Bu Sit kalau mungkin dia hendak memaksa seorang di antara mereka mengaku di mana adanya tiga orang teman mereka yang lain.

Bergegas Bun Houw memasuki kamarnya untuk membawa buntalannya.

Akan tetapi, selagi dia mengumpulkan pakaiannya, tiba-tiba terdengar suara tertawa girang dan...

dua orang wanita cantik yang genit itu, Ai-kwi dan Ai-kiauw, memasuki kamarnya dan langsung memalang daun pintu sambil tertawa-tawa.

Kemudian kedua orang wanita itu menubruk dan menggeluti Bun Houw!

"Hayo...

cepat...

selagi kita mempunyai sedikit waktu sebelum mereka memanggil kami...!"

Ai-kwi berkata dengan napas memburu karena didesak nafsu.

"Benar, adik yang manis... mari kau layani kami sebentar...!"

Ai-kiauw juga berkata sembil berebut dengan sucinya untuk menciumi wajah yang tampan itu.

"Plak! Plak!"

Kedua tangan Bun Houw menampar dengan tepat mengenai hidung kedua orang wanita itu.

Karena pemuda ini mengerahkan tenaga, maka seketika tulang hidung yang mancung itu menjadi hancur dan berdarah!

Tulang ujung hidung mcrupakan tulang muda, maka ditampar seperti itu tentu saja menjadi remuk dan lanyaplah hidung mancung yang merupakan penghias utama wajah cantik mereka.

Sebelum mereka yang terkejut dan kesakitan mampu berteriak, Bun Houw sudah menepuk tengkuk mereka dengan kecepatan luar biasa dan mereka jatuh pingsan tanpa mampu mengeluarkan suara sebelumnya.

Cepat Bun Houw menotok jalan darah mereka, dan setelah menutupkan kembali pintu kamar itu, dia menyelinap keluar untuk mencari tempat ditahannya tiga orang murid Bu-tong-pai.

Akan tetapi pada saat itu terdengar suara pekik-pekik kesakitan dari arah belakang gedung.

Bun Houw terkejut dan cepat dia berlari ke arah suara itu, khawatir kalau-kalau dia terlambat dan tiga orang murid Bu-tong-pai itu disiksa atau dibunuh.

Akan tetapi betapa kagetnya ketika dia melihat anak-anak murid atau anak-anak buah Lembah Bunga Merah malang melintang di sekitar kamar tahanan yang telah menjadi kosong!

Belasan orang itu berserakan dan luka-luka hebat, ada yang patah tulang, ada yang pecah kepalanya, dan mereka yang terluka berkata.

"Tahanan... lari... ditolong setan...!"

Bun Houw melihat bayangan berkelebat di atas, cepat dia meloncat dan masih sempat melihat berkelebatnya bayangan orang bertubuh ramping kecil, agaknya seorang di antara dua gadis Bu-tong-pai, akan tetapi gerakannya cepat sekali dan dalam sekejap mata saja sudah lenyap ditelan kegelapan malam yang sudah hampir pagi itu.

Terpaksa dia turun kembali dan ternyata Ciok Lee Kim dan semua tamunya sudah berkumpul di situ.

Dengan suara marah Ciok Lee Kim memeriksa seorang di antara para anak buahnya yang hanya patah tulang lengannya.

"Kami sedang berjaga... lalu entah dari mana datangnya, ada angin menyambar-nyambar, ada bayangan orang berkelebatan, dan tahu-tahu kami semua roboh dan tiga orang tawanan itu melarikan diri."

Orang itu bercerita dengan suara hampir menangis, tidak hanya karena kesakitan, akan tetapi juga karena takut kepada majikannya ini.

"Hemm, babi-babi tolol kalian! Bagaimana muka orang itu? Laki-laki atau wanita?"

"Hamba... tidak tahu... gerakannya terlalu cepat... agaknya dia itu bukan manusia, melainkan... setan..."

"Dess!"

Tangan Ciok Lee Kim menampar gemas dan orang yang sialan itu kini selain patah tulang lengannya, juga roboh pingsan!

"Ha, inilah kalau menurut pendapat orang luar!"

Tiba-tiba Toat-beng-kauw Bu Sit berkata dengan suara mengejek dan melirik ke arah Liok Sun.

"Kalau tadi sudah kubunuh mereka, tentu tidak begini jadinya. Kini mereka dapat kembali ke Bu-tong-pai dan sudah dapat dipastikan bahwa kita mempunyai musuh baru, yeitu Bu-tong-pai dan untuk ini kita boleh berterima kasih kepada Kiam-mo Liok Sun!"

Merah wajah Liok Sun mendengar ejekan ini.

"Harap Bu-enghiong tidak berkata demikian. Saya tadi hanya mengusulkan agar urusan ini didamaikan saja..."

"Ya, dan kau yang menjadi sahabat baik Bu-tong-pai akan menjadi perantara. Bukankah begitu? Eh, Kiam-mo Liok Sun, kau yang menjadi sahabat baik Bu-tong-pai tentu tahu pula siapa dia yang telah membebaskan tiga orang murid Bu-tong-pai itu."

Ucapan Bu Sit ini membuat semua orang, termasuk Ciok Lee Kim, memandang kepada Si Setan Pedang itu dengan pandang mata penuh pertanyaan dan tuntutan.

Liok Sun menjadi terkejut dan merah sekali karena pertanyaan orang she Bu itu mengandung ejekan dan juga tuduhan berat seolah-olah dia mengenal orang yang membebaskan tiga orang murid Bu-tong-pai tadi!

"Bu-enghiong, apa artinya kata-katamu ini?

Engkau tahu bahwa aku sama sekali tidak mengenal siapa setan itu.

Aku hanya mengusulkan agar tiga orang murid Bu-tong-pai itu tidak dibunuh dan aku tadinya mengusulkan pula agar mereka dikembalikan kepada Bu-tong-pai disertai keterangan akan kesalahpahaman yang terjadi sehingga dengan demikian ketua Bu-tong-pai akan mau mengerti duduknya perkara dan menghabiskan permusuhan..."

"Hemm... kalau tidak kau cegah, tentu sudah kami bunuh mereka dan Bu-tong-pai pun tidak akan tahu apa-apa. Sekarang moreka lolos dan semua ini adalah salahmu, orang she Liok!"

Bu Sit berseru marah.

"Toat-beng-kauw, kau sungguh terlalu menuduh orang!"

Liok Sun membentak dan mencabut pedangnya.

"Ha-ha, sekarang baru kelihatan belangnya! Engkau agaknya bersekongkol dengan orang Bu-tong-pai!"

Bu Sit membentak dan melolos cambuk bajanya.

Memang orang she Bu ini sudah merasa tidak senang ketika Liok Sun datang bersama Bun Houw, merasa iri hati melihat pergaulan yang akrab antara Setan Pedang itu dengan Ciok Lee Kim, apalagi melihat betapa Liok Sun datang bersama seorang pemuda tampan yang menjadi pengawalnya, pemuda yang dia tahu membuat Ciok Lee Kim dan dua orang muridnya tergila-gila.

Melibat dua orang itu saling serang, Ciok Lee Kim hanya menonton saja, karena ia sendiri merasa penasaran dan juga marah dan menyesal melihat lolosnya tiga orang tawanan tadi.

Betapapun juga, cegahan Liok Sun tadilah yang membuat pembunuhan terhadap diri tiga orang tawanan itu tertunda sehingga mereka dapat lolos.

"Trang-cring-cringgg...!"

Berkali-kali pedang di tangan Kiam-mo Liok Sun bertemu dengan joan-pian di tangan Bu Sit.

Pertandingan itu seru dan ramai sekali, akan tetapi segera terbukti bahwa kepandaian Bu Sit jauh lebih tinggi karena pedang di tangan Liok Sun mulai terdesak hebat dan sinarnya menjadi makin menyempit.

"Trangg... cring... srattt...!"

Saking hebatnya tangkisan cambuk baja itu pedang Liok Sun membalik dan hampir saja mengenai lehernya sendiri.

Pada saat itu, terdengar ledakan cambuk disusul suara tertawa dari Toat-beng-kauw Bu Sit yang bergerak cepat sekali, tahu-tahu ujung cambuknya sudah melecut ke arah ubun-ubun Liok Sun.

Kalau ujung cambuk baja itu mengenai ubun-ubun kepala, tentu akan berlubang.

Liok Sun terkejut, menggerakkan pedangnya menangkis.

Ubun-ubunya selamat, akan tetapi pundaknya masih saja terkena ujung cambuk sehingga terluka parah dan mengeluarkan darah.

Liok Sun terhuyung-huyung dan dengan suara meledak cambuk itu terus mengejarnya, mengancam bagian-bagian berbahaya dari tubuhnya.

Tar-tar-tarrr...!"

Tiba-tiba ujung cambuk itu terhenti di tengah udara.

Bu Sit terkejut dan memutar tubuhnya.

Dia melihat betapa ujung cambuknya yang tertahan itu kiranya dijepit oleh dua jari tangan Bun Houw yang telah berdiri di belakangnya!

Liok Sun terhuyung dengan tubuh penuh luka-luka lecutan cambuk dan pedangnya sudah terleimpar entah ke mana.

Kini dia memegangi pundaknya dan berdiri dengan muka pucat dan penuh kekhawatiran melihat pengawalnya yang begitu berani menahan ujung cambuk Bu Sit yang amat lihai itu.

Ketika melihat bahwa yang menahan cambuknya adalah pemuda pengawal yang menimbulkan iri hati dan dibencinya itu, Bu Sit menjadi marah bukan main.

Dengan mata mendelik dia memaki.

"Keparat busuk, engkaupun sudah bosan hidup!"

Dia mengerahkan sin-kangnya untuk menarik kembali joan-pian itu, akan tetapi betapapun dia mengerahkan tenaga, ujung pecut baja itu tetap saja tidak terlepas dari tangan Bun Houw.

Tentu saja Bu Sit menjadi kaget, penasaran dan marah sekali.

Dia memperkuat tenaganya, menarik sampai perutnya mengeluarkan suara melalui kerongkongannya.

"Hekk!"

Dan... tiba-tiba ujung pecut itu dilepaskan Bun Houw.

"Wirrrr...!"

Ujung pecut menyambar ganas, dengan kecepatan luar biasa karena tenaga Bu Sit sendiri yang membalik dan dengan hebatnya menyerang ke arah kepalanya!

Dapat dibayangkan betapa kagetnya Bu Sit melihat ini dan matanya terbelalak, mukanya pucat sekali karena dia maklum akan datangnya bahaya maut di depan mata!

Dia hanya bisa miringkan kepalanya untux menghindarkan diri.

"Ciuuuttt... tess...!"

"Auuuhhh... aduhhhh... aduhhhh... wah, keparat kau...!"

Bu Sit tentu saja berjingkrak kesakitan sambil memegangi bagian kepala di mana tadi telinga kirinya berada dan kini bagian itu tidak ada lagi daun telinga yang sudah hancur oleh sambaran ujung cambuknya sendiri.

Semua orang menjadi kaget bukan main, terutama sekali Ciok Lee Kim dan Bu Sit sendiri.

Mereka berdua sudah tahu betapa hebat kepandaian Bu Sit, akan tetapi dalam segebrakan saja, sebelum pemuda itu menggerakkan kaki tangan, Toat-beng-kauw (Monyet Pencabut Nyawa) telah kehilangan daun telinga kirinya!

"Lihat...

lihat...

jahanam she Liok itu ternyata menyelundupkan mata-mata ke sini...!"

Bu Sit membentak dan dia sudah menerjang kepada Bun Houw dengan kemarahan meluap-luap.

Cambuk bajanya meledak-ledak dan menyambar-nyambar ke arah Bun Houw dengan dahsyatnya, akan tetapi dengan tenang sekali pemuda itu dapat menghindar ke sana ke mari.

Pada saat itu terdengar teriakan-teriakan aneh, setengah tangis setengah maki-makian marah, dan tampaklah Ai-kwi dan Ai-kiauw berlari terhuyung ke tempat itu, tangan kiri menutupi hidung yang sudah remuk dan berdarah, tangan kanan manuding-nuding ke arah Bun Houw yang masih berkelebatan diserang joan-pian di tangan Bu Sit itu.

Melihat keadaan dua orang muridnya, Ciok Lee Kim terkejut dan hanya dengan susah payah dua orang wanita yang suaranya menjadi bindeng dan tidak karuan itu menceritakan bahwa muka mereka dibikin cacat dan buruk oleh Bun Houw.

Ciok Lee Kim makin kaget dan cepat dia lalu menerjang dan membantu sutenya menyerang pemuda yang ternyata amat lihai itu.

Girang hati Bun Houw.

(Lanjut ke

Jilid 16) Dewi Maut (Seri ke 03 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 16

"Majulah, memang aku hendak membunuh kalian!"

Katanya sambil menangkis sambaran ujung saputangan merah yang meluncur ke arah lehernya itu dengan sentilan jari tangannya.

"Prattt...! Aihhh...!"

Ciok Lee Kim menjerit karena sentilan jari tangan yang mengenai ujung saputangannya itu membuat saputangannya terpental dan jari-jari tangannya sendiri tergetar hebat sekali!

"Ciok Lee Kim dan Bu Sit, kematian sudah di depan mata, hayo, katakan di mana adanya Tiga Bayangan Dewa lainnya dan di mana pula kalian sembunyikan Siang-bhok-kiam pusaka Cin-ling-pai!"

Bun Houw berseru dan tubuhnya bergerak cepat sekali.

Dua orang lawannya menjadi silau oleh gerakan ini, mereka berdua berusaha memutar senjata untuk melindungi tubuh mereka, akan tetapi tetap saja sambaran hawa pukulan dari kedua lengan pemuda itu membuat mereka terhuyung-huyung.

Tentu saja mereka terkejut sekali oleh kehebatan tenaga sin-kang ini, namun mereka lebih kaget mendengar pertanyaan pemuda itu.

"Keparat! Siapa engkau?"

Ciok Lee Kim berseru dan kedua saputangannya berobah menjadi dua gulungan sinar merah di depan dan atas tubuhnya.

"Aku adalah Dewa Akhirat yang bertugas mencabut nyawa Lima Bayangan Dewa!"

Bun Houw berkata sambil meloncat ke depan.

Ciok Lee Kim terkejut sekali, dua gulungan sinar merahnya menyambut dan Toat-beng-kauw Bu Sit yang maklum akan kelihaian pemuda itu membantu sucinya, menubruk dengan lecutan cambuk bajanya.

"Tar-tarrr... suiiiittt...!"

Sebatang cambuk baja dan dua helai saputangah merah itu menyambut Bun Houw, akan tetapi dengan kelincahan luar biasa Bun Houw bergerak di antara gulungan sinar senjata lawan sambil menggerakkan kaki tangannya.

"Dess...! Plakkk...!"

Dan tubuh Ciok Lee Kim bersama sutenya terlempar dan terbanting ke kanan kiri! "Singgg...!"

Sinar hitam menymbar ganas dan Bun Houw terkejut karena maklum bahwa senjata yang menyambarnya adalah sebatang pedang hitam yang digerakkan cepat sekali dan mengandung tenaga yang jauh lebih kuat dibandingkan dengan tenaga dua orang Bayangan Dewa ini.

Cepat dia menarik tubuh atas ke belakang lalu memutar dan kakinya melayang ke arah penyerangnya.

Namun Hek I Siankouw nenek tua yang pakaiannya serba hitam itu dapat meloncat ke belakang sambil menarik pedangnya sehingga tendangan maut dari Bun Houw mengenai tempat kosong pula.

"Wuuuttt-wut-wutttt...!"

Bun Houw lebih terkejut lagi karena sambaran sinar kemerahan dari samping kiri yang secara bertubi-tubi menyerang ke arah tiga belas jalan darah utama di tubuhnya dengan kecepatan dan tenaga dahsyat ini bahkah lebih lihai lagi daripada serangan pedang hitam si nenek tadi.

Untuk menyelamatkan diri, tubuhnya dilemparkan ke belakang dan dia membuat salto sampai lima kali baru terhindar.

Ketika dia turun dan memandang, ternyata bahwa yang menyerangnya adalah Hwa Hwa Cinjin, tosu tinggi kurus yang tak banyak cakap itu, menggunakan sebatang hudtim (kebutan dewa) di tangannya.

"Hemm, lumayan juga kepandaianmu, bocah lancang!"

Hwa Hwa Cinjin mengangguk-angguk memuji.

Serangan hudtimnya tadi dilakukan dengan cepat dan sungguh-sungguh dan agaknya tidak banyak lawan di dunia kang-ouw yang akan mampu menghindarkan diri, akan tetapi pemuda ini dengan lemparan tubuh ke belakang dan berjungkir balik lima kali itu ternyata sekaligus telah dapat menyelamatkan diri.

Hal ini selain membuatnya kagum, juga penasaran dan dia lalu menerjang maju didahului gulungan sinar hudtimnya yang lebar dan mendatangkan angin kencang.

Juga Hek I Sinkouw yang merasa penasaran telah menggerakkan pedangnya dengan hebat.

Bun Houw maklum bahwa tamu-tamu agung dari Ciok Lee Kim itu adalah orang-orang yang pandai dan agaknya kini membantu musuh besarnya, maka diapun cepat menggerakkan tubuhnya, menghindarkan diri dengan cepat sambil mengerahkan gin-kangnya yang luar biasa.

Dua orang kakek dan nenek itu terkesiap juga menyaksikan gerakan pemuda itu amat cepatnya, lebih cepat daripada gerakan mereka berdua!

Akan tetapi betapapun cepatnya gerakan Bun Houw, dihujani serangan pedang dan hudtim dari dua orang tokoh besar yang kepandaiannya sudah mencapai tingkat tinggi itu, dia masih saja harus menghadapi sambaran hudtim ke lehernya yang tidak dapat dielakkannya lagi.

"Plakkk...! Siancai...!"

Tosu tua itu terkejut setengah mati melihat betapa hudtimnya kena ditangkis dengan tangan oleh pemuda itu dan terpental!

Hampir dia tidak dapat percaya akan hal ini.

Hudtimnya itu bukanlah sembarangan hudtim, didapatkarmya di utara di dekat kutub dan bulu-bulu hudtim itu terbuat dari bulu monyet salju raksasa yang amat kuat, bulu-bulu itu dapat menyalurkan sin-kangnya secara langsung dan kalau dia gerakkan dengan sin-kangnya yang amat kuat, jangakan senjata biasa, bahkan senjata pusaka lawan akan dapat rusak beradu dengan bulu-bulu hudtimnya.

Akan tetapi pemuda ini berani menangkis dengan tangan kosong, bahkan telah membuat hudtimnya terpental!

Ini berarti bahwa tangan kosong pemuda ini lebih kuat daripada senjata pusaka!

Tentu saja tosu ini tidak tahu bahwa Bun Houw adalah murid terkasih Kok Beng Lama dan bahkan gemblengan dari ayahnya sendiri yang sakti.

Pemuda ini sudah memiliki tenaga Thian-te Sin-ciang dari Kok Beng Lama, dan tenaga sin-kang ini membuat kedua tangannya sedemikian kebalnya sehingga berani dipergunakan untuk menangkis senjata pusaka lawan yang bagaimana kuatpun.

Bun Houw maklum bahwa sebelum dia mengalahkan kakek dan nenek ini, sukarlah baginya untuk dapat memaksa pengakuan dari dua orang musuhnya sobelum dia membunuh mereka.

Akan tetapi tiba-tiba terdengar teriakan Liok Sun, teriakan mengerikan dan ketika Bun Houw menoleh, dia melihat Bu Sit menggunakan cambuk bajanya untuk menyerang Liok Sun.

Majikan rumah judi itu terguling roboh dan sekali lagi cambuk baja mengenai kepalanya.

"Keparat...!"

Bun Houw meloncat dan dengan tendangan kaki dari udara dia membuat Bu Sit yang menangkis dengan cambuknya tetap saja terguling.

Bun Houw lalu berlutut di dekat Liok Sun.

Orang ini ternyata terluka perah di kepalanya dan sekali pandang saja maklumlah Bun Houw bahwa Liok Sun tak dapat tertolong lagi.

"Bun-hiante... tolong... kaudidik... anak... ku...!"

Maka habislah napas orang she Liok itu.

"Siuuuutttt...! Plak! Plakk!"

Bun Houw yang masih berlutut itu menggunakan tangan kirinya dua kali menangkis sambaran kebutan Hwa Hwa Cinjin dan kini dia meloncat bardiri, dikepung oleh Hwa Hwa Cinjin, Hek I Siankouw Ciok Lee Kim, Bu Sit, dan dua orang murid perempuan Ciok Lee Kim yang memegang pedang di tangan kanan dan manutup hidung dengan tangan kiri itu.

Bun Houw memandang mereka semua dengan sinar mata tajam, kemudian dia berkata, yang ditujukan kepada Hwa Hwa Cinjin dan Hek I Siankouw "Aku tidak berurusan dengan orang lain kecuali dengan dua orang Bayangan Dewa ini.

Harap yang lain mundur agar jangan ikut menjadi korban."

"Keparat, hayo mengaku, siapa kau sebenarnya? Engkau jelas bukan pengawal biasa dari Liok Sun!"

Bu Sit membentak. Bun Houw tersenyum.

"Aku memang hanya menyamar sebagai pengawalnya dan sudah kukatakan bahwa aku adalah Dewa Akhirat yang bertugas membasmi Lima Bayangan Dewa."

"Jahanam!"

Bu Sit memaki dan cambuk bajanya mcledak-ledak.

Seperti berebut saling mendahului dengan Ciok Lee Kim, Dia sudah menerjang maju dari depan, dibarengi oleh sambaran dua saputangan merah Ciok Lee Kim dari kanan.

Adapun Hwa Hwa Cinjin dan Hek I Siankouw yang maklum bahwa dua orang Bayangon Dewa itu tidak akan mampu menandingi pemuda yang lihai itu juga mengerakkan senjata masing-masing mengepung dan mengeroyok.

Ai-kwi dan Ai-kiauw yang kini menjadi besar hati karena gurunya dan orang-orang pandai itu mengepung, dengan kemarahan meluap juga sudah menyerang dengan pedang mereka.

Hanya Bouw Thaisu seorang yang masih berdiri tenang dan tidak ikut mengeroyok, karena kakek yang memiliki ilmu kepandaian tinggi ini masih merasa canggung dan tidak enak kalau dia sebagai seorang cabang atas tingkat tinggi ikut-ikut mengeroyok seorang lawan begitu muda, Sungguhpun pandang matanya yang tajam sudah mengenal bahwa pemuda itu memang lihai luar biasa.

Dikeroyok enam orang, empat di antaranya merupakan tokoh-tokoh berkepandaian tinggi, Bun Houw memperlihatkan ketangkasannya.

Berkali-kali Hwa Hwa Cinjin dan Hek I Siankouw berseru kaget karena serangan-serangan maut mereka yang sukar dihindarkan lawan tangguh, tidak berhasil merobohkan pemuda ini!

Diam-diam mereka terkejut dan terheran, menduga-duga siapa adanya pemuda tidak terkenal yang memiliki kepandaian begini hebat sehingga dikeroyok oleh mereka berempat, ditambah oleh Ai-kwi dan Ai-kiauw, masih dapat menyambut mereka dengan serangan balasan yang amat berbahaya, biarpun hanya dilakukan dengan tangan kosong belaka.

Ai-kwi yang kini menjadi benci sekali kepada Bun Houw karena batang hidungnya remuk dan wajahnya yang tadinya cantik kini tentu berobah menakutkan dan menjijikkan, mengeluarkan pekik dahsyat dan menggunakan kesempatan selagi senjata empat orang sakti itu berkelebat menyambar-nyambar mengurung Bun Houw, dia menubruk dengan pedangya, secara nekat dia menyerang dan menusukkan pedang itu ke arah pusar pemuda yang belum lama tadi diciuminya dan dirayunya penuh gairah nafsu berahi!

Melihat serangan nekat ini, Bun Houw miringkan tubuh, menyambar pedang itu dengan tangannya dan pada saat itu cambuk baja Bu Sit dan pedang hitam Hek I Siankouw menyambar dari atas dan bawah.

Cepat dia mengerahkan tenaga, mendorong pedang Ai-kwi yang dipegangnya tadi.

"Wuuuttt... crapp... aihhhhhhh...!"

Pedang itu membalik dan bagaikan digerakkan oleh tangan yang tidak kelihatan, pedang yang membalik ini menusuk perut pemiliknya sendiri.

Pedang itu amblas ke perut Ai-kwi sampai tembus di punggungnya dan robohlah Ai-kwi setelah mengeluarkan jerit mengerikan.

Melihat ini, Ai-kiauw menjerit dan tiba-tiba saja dia melemparkan pedangnya dan menubruk tubuh Bun Houw, merangkul pinggang dan menggigit ke arah lambung pemuda itu!

Bun Houw terkejut, tidak mengira bahwa wanita ini melakukan serangan liar seperti itu.

Dia menggoyang tubuhnya, akan tetapi kedua lengan dan kaki Ai-kiauw sudah membelit tubuhnya dan gigi wanita itu menggigit kulit lambungnya!

Bun Houw bergidik karena merasa jijik, seolah-olah tubuhnya diserang seekor lintah besar.

Siku kirinya bergerak ke belakang, ke arah kepala wanita itu yang menempel di lambung kirinya.

"Krakkk!"

Pecahlah kepala itu dan Ai-kiauw mati seketika, akan tetapi sungguh mengerikan, wanita itu masih saja mencengkeram dan menggigitnya!

Bun Houw menggunakan kedua tangannya memaksa tubuh Ai-kiauw yang kaku itu untuk melepaskan kaki tangan dan gigitannya dari dirinya, lalu melemparkan mayat wanita itu.

Akan tetapi penyerangan Ai-kiauw yang membabi-buta tadi mendatangkan peluang banyak sekali bagi empat orang pengeroyoknya yang berilmu tinggi.

Seperti hujan datangnya, pedang Hek I Siankouw, cambuk Bu Sit, saputangan merah Ciok Lee Kim dan kebutan di tangan Hwa Hwa Cinjin menyambar dahsyat.

Dalam sibuknya menghadapi kenekatan Ai-kiauw tadi, Bun Houw tentu saja kurang leluasa mengelak, maka dia hanya menangkisi dengan kedua lengannya sambil mengerahkan Thian-te Sin-ciang sehingga senjata-senjata lawan itu terpental.

Akan tetapi dengan tepat sekali ujung cambuk baja Bu Sit menotok jalan darah di pundaknya, pada saat dia baru saja berhasil melempatkan mayat Ai-kiauw dari tubuhnya.

"Tarr...!"

Seketika tubuh Bun Houw kesemutan dan dia terhuyung dan jatuh.

Akan tetapi begitu tubuhnya meyentuh tanah, dengan pengerahan sin-kangnya dia dapat memulihkan jalan darahnya dan meloncat bangun lagi.

Celakanya, baru saja meloncat, pedang Hek I Siankouw yang ganas menyambarnya.

Bun Houw yang baru saja terbebas dari totokan hebat tadi, masih merasa kesemutan pundaknya dan dia berhasil menangkis pedang itu dengan tamparan tangan kanannya.

Akan tetapi pada saat itu, sepasang saputangan merah menyambar, yang kiri menotok jalan darah di tengkuknya, yang kanan menotok jalan darah di punggungnya, sedangkan kebutan di tangan Hwa Hwe Cinjin juga cepat sekali menotok pundak kanannya.

Sekaligus menerima totokan-totokan maut di jalan darahnya sebanyak tiga tempat, seketika tubuh Bun Houw menjadi lemas dan dia terguling roboh.

Akan tetaoi, pemuda ini memang hebat bukan main.

Begitu dia roboh, dia menggunakan kedua tangannya mendorong tanah dan tubuhnya mencelat tinggi ke atas, di udara dia menggoyang tubuh mengerahkan sin-kangnya sehingga bobollah semua totokan itu, jalan darahnya mengalir kembali sungguhpun dia masih tergetar hebat.

Akan tetapi, pada saat dia mampu memulihkan jalan darahnya dari tiga totokan itu, tiba-tiba tampak bayangan berkelebat, dan ada angin pukulan dahsyat menyambar ke arah kepalanya.

Inilah serangan dengan tenaga sin-kang yang amat berbahaya.

Bun Houw yang masih tergetar itu cepat mengelak akan tetapi tiba-tiba lututnya kena ditendang oleh Bouw Thaisu yang baru sekarang turun tangan.

Bun Houw terguling dan ujung baju Bouw Thaisu menyambar, menotoknya bertubi-tubi di tujuh jalan darahnya sehingga sekali ini Bun Houw tidak mampu berkutik lagi!

Bu Sit dan Ciok Lee Kim yang amat membenci pemuda yang sudah membunuh Ai-kwi dan Ai-kiauw, dengan kemarahan meluap menggerakkan cambuk dan saputangun menyerang tubuh Bun Houw yang sudah tidak mampu bergerak dan menggeletak di atas lantai itu.

"Wuuuuttt... tarr...!"

Senjata-senjata itu menyambar ganas dan Bun Houw hanya membelalakkan mata, menanti maut.

"Plak! Plakk!"

Bu Sit dan Ciok Lee Kim terkejut sekali dan menarik senjata mereka, lalu memandang kepada Bouw Thaisu yang menangkis senjata mereka dengan ujung lengan baju.

"Thaisu, mengapa menghalangi kami?"

Ciok Lee Kim bertanya, alisnya berkerut.

Dia tahu bahwa kakek sakti ini boleh dipercaya, karena kakek ini adalah seorang sahabat Thian Hwa Cinjin yang dahulu menjadi ketua Pek-lian-kauw wilayah timur dan tewas oleh keluarga Cin-ling-pai (baca Petualang Asmara), maka Bouw Thaisu yang ingin menuntut balas atas kematian sahabatnya itupun merupakan musuh Cin-ling-pai dan bersekutu dengan Lima Bayangan Dewa untuk menghadapi keluarga Cia Keng Hong yang sakti itu.

Akan tetapi mengapa kakek ini sekarang mencegah dia membunuh pemuda yang jelas memusuhi Lima Bayangen Dewa?

Bouw Thaisu menghela papas panjang dan menggeleng-geleng kepalanya.

"Selama hidupku, baru sekali ini aku bertemu dengan seorang pemuda yang memiliki kepandaian sehebat ini! Orang seperti ini tidak boleh kita samakan dengan musuh-musuh biasa, dia tentu memiliki latar belakang yang menarik. Karena itu, Ciok-toanio, amat bodoh kalau membunuhnya begitu saja tanpa mengetahui dengan betul siapakah dia ini sebenarnya, dan apa pula sebabnya dia memusuhi engkau dan Lima Bayangan Dewa. Apakah dia mempunyai hubungan dengan Cin-ling-pai? Dan apa hubungan pemuda yang kepandaiannya luar biasa hebatnya ini dengan Cia Keng Hong?"

Hwa Hwa Cinjin menarik napas panjang.

"Ucapan Thaisu sungguh tepat, Ciok-toanio. Pemuda ini tentu orang penting dan terus terang saja, pinto (aku) sendiri harus mengakui bahwa belum pernah pinto bertemu tending semuda ini dengan kepandaian sehebat yang dimilikinya."

Ciok Lee Kim mengangguk, dia lalu memberi isyarat kepada anak buahnya untuk mengambil tali yang kuat dan membelenggu kaki tangan Bun Houw.

"Dia memiliki kekebalan yang melebihi Ilmu Kim-ciong-ko, semacam ilmu kekebalan yang hebat. Bayangkan saja, tangannya mampu menyambut pedangku!"

Hek I Siankauw berkata.

"Oleh karena itu, apa artinya tali ini, Ciok-toanio? Kalau dia sudah bebas dari totokan, biar dirangkap sepuluh tali ini akan putus olehnya. Tenaganya melebihi kekuatan seekor gajah. Jalan satu-satunya untuk mencegah dia lolos hanya dengan mengait tulang-tulang pundaknya!"

Toat-beng-kauw Bu Sit menjadi girang sekali dan dia cepat minta kepada anak buah Lembah Bunga Merah untuk mengambilkan dua batang kaitan baja dan dengan wajah beringas dia menghampiri Bun Houw.

Pemudar ini maklum bahwa dia tidak akan terlepas dari ancaman siksaan atau bahkan maut di tangan musuh-musuhnya ini, akan tetapi dia adalah seorang pomuda berjiwa gagah perkasa yang sejak kecil telah digembleng oleh orang tuanya maka sedikitpun dia tidak merasa jerih.

Sambil mengeluarkan bentakan, Bu Sit yang kehilangan sebelah daun telinganya dan merasa malu dan marah sekali kepada pemuda itu, lalu menusukkan kaitan-kaitan itu di pundak Bun Houw.

Tentu saja hal ini mendatangkan rasa kenyerian yang amat hebat.

Bun Houw memejamkan matanya dan mematikan rasa, akan tetapi karena besi-besi kaitan itu menembus kulit daging dan mengait tulang kunci pundaknya, dia tidak dapat bertahan lagi, mengeluh panjang dan pingsan!

Setelah dia siuman kemball, Bun Houw mendapatkan dirinya telah berada di dalam sebuah kamar yang kokoh kuat.

Dia rebah di atas pembaringan batu, kedua tangannya terbelenggu dan kaitan yang mengait kedua tulang pundaknya itu disambung rantai panjang dan diikatkan pada dinding sehingga andaikata dia dapat menggunaken tenaga sin-kang untuk mematahkan belenggu, tentu geraken ini akan membuat tulang-tulang pundaknya tertarik patah!

Dengan tulang pundak terkait baja-baja kaitan itu, dia benar-benar tidak berdaya dan biar dia memiliki kekuatan sepuluh kali lipatpun tidak mungkin dia dapat membebaskin diri tanpa mematahkan kedua tulang pundaknya dan kalau hal ini terjadi berarti kedua lengannya menjadi lumpuh.

Perasaan nyeri yang mengentak-entak dan berdenyut-denyut sampai ke ujung ubun-ubun kepalanya, membuat dia memejamkan matanya kembali.

Lalu dia teringat akan ilmu yang dia pelajari dari Kok Beng Lama, yaitu ilmu untuk mematikan rasa.

Setiap orang pendeta yang suka bertapa dan melakukan upacara menyiksa diri seperti para pendeta Lama tentu mahir akan ilmu ini.

Dengan ilmu mati rasa ini mereka mampu melakukan segala macam bentuk penyiksaan diri dan puasa tanpa terlalu sangat menderita.

Bun Houw memejamkan matanya dan "menutup"

Saluran pikiran dengan perasaan tubuh melalui urat syaraf.

Tak lama kemudian dia sudah membuka matanya dan dia seperti dalam keadaan "lupa"

Bahwa tubuhnya tersiksa dan rasa nyeri yang hebat itu tidak lagi terlalu mengganggunya.

Dia mulai memeriksa keadaan sekelilingnya dengan pandang mata penuh selidik.

Kamar itu amat kuat, tidak berjendela, hanya berpintu sebuah yang terbuat dari besi dan di bagian atasnya berterali.

Dari celah-celah terali baja sebesar lengan tangan itu dia melihat kepala banyak orang yang agaknya menjaganya.

Sudah dibelenggu, dikait kedua tulang punggungya, dikeram di dalam kamar yang kokoh kuat, masih dijaga ketat lagi.

Bagaimana dia akan mampu membebaskan diri?

Bahkan pertolongan dari luarpun, kalau ada, merupakan ketidakmungkinan besar.

Dari celah-celah terali itu pula Bun Houw dapat menduga bahwa waktu itu masih malam, terbukti dari penerangan lampu yang menyorot dari luar pintu.

Dia merasa heran sekali.

Ketika dia tertawan, hari sudah hampir pagi, kenapa sekarang masih juga gelap?

Dia tidak tahu bahwa dia telah pingsan selama satu hari penuh dan sekarang memang telah malam lagi.

Pintu besi terbuka dan muncullah Ciok Lee Kim dan Bu Sit dan pintu segera ditutup kembali.

Bun Houw memandang dengan mata terbelalak penuh tantangan.

"Kalian manusia-manusia tak tahu malu, pengecut besar!"

Dia memaki.

"Wah, dia sudah siuman sekarang, suci. Lekas suci yang menanyai dia, kalau dia berkeras kepala tidak terus terang, aku yang akan menyiksanya sampai dia mengaku!"

Bu Sit menghampiri pembaringan batu dengan wajah beringas penuh kekejaman siap dengan sebatang jarum panjang hitam.

Sekali pandang saja maklumlah Bun Houw bahwa yang dipegang Monyet Pencabut Nyawa yang kini buntung daun telinganya itu tentu sebatang jarum yang mengandung racun hebat.

Si muka monyet itupun memegangnya dengan menggunaken saputangan untuk melindungi jari-jarinya yang menjepit ujung gagang jarum.

"Orang she Bun,"

Ciok Lee Kim kini menghampiri dan memandang Bun Houw tidak lagi dengan pandang mata penuh gairah berahi seperti kemarin malam, melainkan dengan pandang mata penuh ancaman.

"Sudah satu hari kami menunggu dan baru sekarang kau siuman. Kau tahu bahwa kau tidak mungkin dapat meloloskan dirl lagi."

"Tidak perlu banyak cerewet, aku sudah tertangkap karena kalian orang-orang pengecut menggunakan pengeroyokan. Sekarang mau bunuh lekas bunuh, siapa takut mati?"

Bun Houw mengejek.

"Hi-hi-hik, justeru itulah yang tidak kami kehendaki. Terlalu enak kalau kau mati begitu saja. Kau lihat apa yang dipegang oleh Bu-sute itu? Bukan jarum sembarang jarum. Jarum ini sudah direndam dengan racun kelabang hitam yang amat jahat. Kalau jalan darah tertentu di tubuhmu tertusuk jarum ini, engkau akan merasakan siksaan yang belum tentu terdapat di neraka sekalipun. Engkau akan menderita kenyerian hebat dan engkau tidak akan segera mati, melainkan akan hidup selama tiga hari tiga malam terus-menerus menderita siksaan itu. Rasa gatal-gatal seperti ribuan ekor semut menggigiti daging dan tulangmu di sebelah dalam."

"Banyak mulut, gertak sambal!"

Bun Houw membentak.

"Aku sebenarnya kasihan kepadamu. Engkau masih muda, tampan dan gagah. Ada jalan yang lebih baik bagimu, yaitu mati seketika atau mungkin bahkan... kebebasan. Untuk memperoleh itu, engkau hanya mengaku siapa sebetulnya kau ini, apa hubunganmu dengan Cin-ling-pai, apakah hubunganmu dengan Cia Keng Hong?"

Bun Houw membuang muka dan tidak mau menjawab.

Dia mengerti bahwa tidak ada gunanya mengaku bahwa dia putera ketua Cin-ling-pai, karena pengakuan ini hanya akan mendatangkan kegirangan dan rasa kemenangan bagi dua Bayangan Dewa itu.

Baik mengaku atau tidak, dia tentu akan dibunuh, maka tidak ada perlunya membuat pengakuan yang akan memuaskan hati musuh-musuh ini.

Pula, hal ini tentu akan menjadi bahan hinaan dan ejekan terhadap nama orang tuanya.

Tidak, biar dia disiksa atau dibunuh, dia tidak akan membiarkan mereka ini menikmati kemenangan mereka atas nama orang tuanya.

"Bun Houw, kau tetap tidak mau mengaku?"

"Bunuh aku, atau pergilah! Kalian menjijikkan hatiku!"

Bun Houw membentak. Wajah dua orang Bayangan Dewa itu menjadi merah padam.

"Manusia kepala batu dan sombong!"

Ciok Lee Kim berseru.

"Sudah tak mampu bergerak, masih bermulut lebar."

"Suci, biar kusiksa dia, dan kita lihat apakah dia masih belum juga mau mengaku."

Bu Sit berkata.

Ciok Lee Kim mengangguk dan melangkah mundur.

Dengan wajahnya yang seperti monyet itu menyeringai kejam dan buas, Bu Sit menghampiri Bun Houw.

Bu Sit merasa sakit hati sekali kepada pemuda yang membuat daun telinganya buntung itu.

Dia mendekatkan mukanya dan dengan mata bersinar-sinar penuh kebencian dia menghardik.

"Kau membuntungi telingaku, akan tetapi aku akan menyiksamu sampai engkau terkuik-kuik seperti anjing, sampai kau minta-minta ampun di depanku, keparat!"

Bun Houw tidak menjawab melainkan tiba-tiba meludahi muka Monyet Pencabut Nyawa itu.

Bu Sit mengelak dengan miringkan kepalanya, dan tentu saja dia menjadi semakin marah.

Jarum di tangannya didekatkan tengkuk Bun Houw.

Pemuda ini siap menerima datangnya maut, karena dia tidak mampu bergerak lagi.

"Creppp...!"

Jarum itu menusuk tengkuk Bun Houw.

Pemuda ini menggigit bibirnya ketika merasa tengkuknya ditusuk, tidak berapa nyeri rasanya.

Jarum dicabut dan dua kali lagi Bun Houw ditusuk dengan jarum itu di kanan kiri atas pundaknya.

Sambil terkekeh Bu Sit melangkah mundur dan memandang puas, membungkus jarum panjang hitam itu dengan saputangan dan mengantonginya.

Bun Houw mula-mula hanya merasa nyeri tusukan biasa saja, akan tetapi tidak lama kemudian mulailah dia merasakan betapa tengkuk dan kedua pundaknya berdenyut-denyut, disusul perasaan seperti kesemutan dan segera datang serangan yang membuat sekujur tubuhnya terasa seperti dibakar dari dalam!

Dia berusaha mengerahkan sin-kangnya untuk melawan akan tetapi rasa panas itu makin lama makin menghebat.

Mukanya menjadi merah, matanya melotot dan seluruh tubuhnya mengeluarkan uap tipis.

Namun tidak ada sepatahpun kata keluhan keluar dari mulutnya.

Dia malah memejamkan mata dan alisnya berkerut-kerut, keringatnya jatuh menetes-netes.

"Hi-hi-hik, kau masih bersikeras? Hayo kau mengaku dan aku akan memberi obat penawar kepadamu sebelum terlambat!"

Ciok Lee Kim berkata sedangkan Bu Sit masih tertawa puas.

"Persetan dengan kalian!"

Bun Houw membentak.

Akan tetapi segera dia dilanda rasa nyeri yang amat hebat.

Kini rasa panas itu berubah dengan rasa dingin yang membuat seluruh tubuhnya menggigil!

Dia menjadi kaget karena maklum bahwa racun itu sedemikian hebatnya, sehingga mempengaruhi hawa murni di tubuhnya, membangkitkan hawa panas lalu hawa dingin yang terkumpul di tubuhnya berkat latihan di Tibet.

Bisa rusak penguasaannya atas tenaga saktinya sendiri!

Betapapun juga, dia tahu bahwa segala siksaan badaniah ada batasnya dan kalau sudah melampaui batas itu, dia akan mati.

Paling hebat cuma mati, perlu apa dia takut menghadapinya.

Lebih baik mati namun tetap dapat memukul musuh dengan mengecewakan hati mereke daripada mendengar penghinaan terhadap orang tuanya, dan andaikata dia mengaku, sama sekali tidak mungkin dia aken selamat, bahkan hal itu menjadi alasan yang kuat lagi bagi dua Bayangan Dewa untuk menyiksanya lebih hebat dan membunuhnya.

Setelah rasa dingin yang membuat tubuhnya menggigil dan giginya saling beradu itu lenyap, mulailah kini rasa gatal-gatal merayapi seluruh tubuhnya dan benar seperti ancaman Ciok Lee Kim tadi, seperti ada ribuan ekor semut merayap di sebelah dalam tubuhnya, atau di bawah kulit dan semut-semut itu menggigitnya.

Terhadap serangan hawa panas membakar dan dingin luar biasa tadi, Bun Houw masih mampu bertahan dan tidak ada sedikitpun suara keluhan terdengar keluar dari mulutnya.

Akan tetapi rasa gatal-gatal pada seluruh tubuh ini demikian menyiksa, demikian mengganggu urat-urat syarafnya, membuat dia ingin sekali menggaruk-garuk padahal kedua tangannya tidak bebas, Sehingga mulailah tubuhnya menggeliat-geliat di luar kekuasaan pertahanannya.

Mendengar Ciok Lee Kim dan Bu Sit tertawa-tawa melihat dia menggeliat-geliat itu, Bun Houw menelan kembali keinginannya untuk bersambat.

Dia menggigit bibirnya menahan penderitaan itu sampai kulit bibirnya pecah berdarah, dia berhasil menahan sehingga tidak ada keluhan keluar dari mulut akan tetapi dia tidak mampu menahan agar tubuhnya tidak bergerak.

Dia tetap menggeliat-geliat dan makin lama "semut-semut"

Di bawah kulitnya itu makin hebat menggigiti, menimbulkan kegatalan yang tak tertahankan lagi.

Keringatnya bercucuran, ingin dia menjerit, hampir dia menangis, hampir dia memaksa diri menggerakkan kedua lengan yang tentu akibatnya akan celaka.

Akhirnya Bun Houw terkulai lemas dan pingsan!

Melihat korban mereka pingsan, tentu saja Ciok Lee Kim dan Bu Sit kehilangan kegembiraan dan meninggalkannya di dalam tahanan setelah memesan kepada belasan orang anak buah Lembah Bunga Merah untuk menjaga dengan ketat malam itu secara bergiliran.

Dapat dibayangkan betapa hebat penderitaan yang dialami oleh Bun Houw.

Baru saja meninggalkan perguruan di Tibet, dia sudah menghadapi malapetaka yang menimpa keluarganya di Cin-ling-san, dan sekarang baru saja dia bisa menemukan tempat persembunyian dua di antara Lima Bayangan Dewa, dia sudah tertawan dan menderita penyiksaan hebat, bahkan sekaligus nyawanya terancam maut karena tusukan jarum beracun yang dilakukan oleh Bu Sit itu bukan hanya untuk menyiksanya, melainkan juga untuk membunuhnya.

Ucapan Ciok Lee Kim bukanlah gertak belaka, akan tetapi setelah mengalami penusukan jarum beracun itu, tanpa mendapatkan obat penawar dari Ciok Lee Kim sendiri, dia hanya akan hidup selama tiga hari tiga malam saja dan di dunia ini jarang ada orang yang akan mampu menyelamatkannya dari ancaman maut itu.

Sebetulnya, tingkat kepandaian pemuda itu sudah tinggi dan hebat sekali, jarang ada tokoh persilatan yang akan mampu menandinginya.

Andaikata semua musuhnya itu maju satu demi satu, tentu dengan mudah saja dia akan mampu mengalahkan mereka.

Bahkan Bouw Thaisu yang amat lihai itu belum tentu akan mampu menandinginya.

Akan tetapi, pengeroyokan lima orang yang kesemuanya memiliki tingkat kepandaian yang tinggi itu, Pula karena Bun Houw sendiri belum memiliki banyak pengalaman dan fihak musuh menggunakan kecurangan maka akhirnya dia roboh juga dan tertawan.

Andaikata tidak ada Ai-kiauw yang nekat merangkul dan menggigitnya, kiranya lima orang datuk kaum sesat itupun tidak akan mudah saja merobohkan pemuda putera ketua Cin-ling-pai ini.

Menjelang tengah malam, keadaan di Lembah Bunga Merah itu sunyi sekali, sunyi menyeramkan setelah apa yang terjadi malam kemarin.

Biarpun pemuda perkasa itu telah tertawan dan kini berada dalam keadaan tidak berdaya sama sekali, namun para penjaga masih melakukan penjagaan dengan ketat mengingat betapa tawanan pertama, yaitu tiga orang murid Bu-tong-pai, telah dapat lolos dari tempat tahanan.

Akan tetapi karena pemuda itu masih pingsan dan kini lima orang sakti itu secara bergilir ikut pula meronda, hati para penjaga menjadi tenang.

Ketika Hwa Hwa Cinjin dan Hek I Siankouw sepasang tosu dan tokouw yang sakti itu bergiliran meronda, mereka menuju ke kamar tahanan, menjenguk ke dalam dan melihat Bun Houw masih pingsan dalam keadaan terbelenggu dan terkait tulang pundaknya, maka mereka mengangguk dan berpesan kepada para penjaga agar jangan tertidur, kemudian mereka meninggalkan kamar tahanan untuk meronda di sekitar lembah.

Akan tetapi tak lama kemudian, sesosok bayangan yang berkelebatan seperti bayangan iblis sendiri, mendekati tempat tahanan itu, kemudian dengan gerakan yang sukar dlikuti pandang mata para penjaga, bayangan ini berkelebatan dan terdengar keluhan-keluhan lemah disusul robohnya para penjaga!

Melihat betapa teman-temannya roboh dan kelihatan bayangan seperti iblis barkelebatan menyilaukan mata, seorang di antara para penjaga menjadi terkejut sekali dan ketakutan.

Dia berteriak keras.

"Toloooonggg!"

Akan tetapi segera roboh dengan kepala pecah dan tewas seketika.

Hanya dia seorang yang sempat bertertak, karena tiga belas orang yang lainnya sudah roboh sebelum mereka sempat mengeluarkan suara.

Mereka tadi terlalu heran dan kaget, bahkan sebagian besar masih belum mengerti apa yang berkelebatan itu, tahu-tahu mereka sudah ditampar dan dipukul.

Setiap tamparan atau pukulan membuat mereka roboh, ada yang pingsan, ada pula yang tewas seketika.

Bayangan yang bergerak cepat seperti setan itu kini sudah menghampiri Bun Houw, dengan hati-hati sekali dia menggerakkan pedang, mematahkan rantai yang membelenggu kaki dan yang dihubungkan dengan kaitan-kaitan di pundak.

Dia bergidik melihat baja-baja kaitan yang mengait kedua pundak Bun Houw, tidak berani melepaskan kaitan di situ karena dia maklum bahwa teriakan penjaga tadi tentu akan mendatangkan para tokoh Lembah Bunga Merah, maka setelah mematahkan belenggu, dia mengangkat tubuh Bun Houw, dipondongnya dan dengan gerakan cepat sekali, bayangan itu lalu melompat keluar.

Tubuh Bun Houw dipanggul di atas pundak kiri dan tangan kanannya mencabut dan memegang pedangnya, dengan gerakan luar biasa cepatnya sekali melompat dia telah keluar dari tempat tahanan itu.

Hwa Hwa Cinjin dan Hek I Siankouw yang sedang meronda dan belum terlalu jauh dari tempat tahanan, mendengar teriakan minta tolong tadi.

Cepat mereka berdua lari kembali ke tempat tahanan.

Akan tetapi di luar tempat itu, mereka melihat sesosok bayangan mamanggul sesuatu bergerak cepat di antera pohon-pohon.

"Heiii, siapa di situ?"

Teriak Hwa Hwa Cinjin.

"Berhenti...!"

Hek I Siankouw juga membentak.

Melihat bayangan itu tidak menghirauken bentakan mereka, Hek I Slinkouw sudah menubruk ke depan, menyerang dengan pedang hitamnya yang sudah dicabutnya dengan cepat sekali.

Gerakannya ini disusul oleh sambaran hudtim di tangan Hwa Hwa Cinjin.

Kakek dan nenek ini merasa yakin bahwa serangan mereka yang dilakukan secara hampir berbareng, dengan cepat dan dahsyat itu tentu cukup untuk merobohkan bayangan yang mencurigakan ini.

"Tringgg... cringggg...!"

Dua orang kakek dan nenek itu terkejut bukan main ketika mereka berdua merasa tangan mereka panas oleh tangkisan pedang di tangan bayangan hitam yang dapat menggerakkan pedangnya sedemikian rupa sehingga sekaligus pedang itu dapat dikelebatkan kedua jurusan dan menangkis kebutan dan pedang hitam dengan kekuatan dahsyat sehingga tangan mereka menjadi tergetar dan terasa panas!

Akan tetapi, bayangan hitam yang tentu saja tidak dapat bergerak leluasa karena harus memanggul tubuh Bun Houw itu telah meloncat ke depan dengan cepat seperti lompatan seekor kijang.

Tentu saja Hwa Hwa Cinjin dan Hek I Siankouw merasa penasaran.

"Kau hendak lari ke mana?"

Hwa Hwa Cinjin berseru.

"Kau makanlah ini!"

Hek I Siankouw membentak dan dari tangan kirinya menyambar sinar hitam ke arah bayangan yang melarikan diri itu.

Juga Hwa Hwa Cinjin menggerakkan kebutannya dan sinar putih menyambar dari tengah kebutan.

Kiranya dua orang tua ini telah melepas senjata rahasia mereka yang ampuh.

Hek I Siankouw telah melepaskan Hek-tok-ting (Paku Racun Hitam) dan Hwa Hwa Cinjin telah melepaskan bulu kebutannya.

Benda-benda hitam dan putih menyambar seperti kilat cepatnya ke arah punggung bayangan yang melarikan diri.

Akan tetapi, tanpa menoleh seolah-olah di tengkuknya terdapat mata ketiga, bayangan itu menggerakkan pedangnya ke belakang dan semua senjata rahasia runtuh, sedangkan dia kini telah berada jauh di depan, menghilang di antara bayangan pohon-pohon yang gelap.

Hwa Hwa Cinjin dan Hek I Siankouw kembali terkejut, maklum bahwa bayangan itu benar-benar amat pandai.

Mereka melakukan pengejaran beberapa lamanya, namun kerena tempat itu banyak terdapat pohon-pohon yang gelap dan malam itu hanya diterangi bintang-bintang yang sinarnya suram, maka mereka tidak mampu menemukan bayangan itu dan mereka cepat ktmbali ke tempat tahanan.

Alangkah kaget hati mereka melihat bahwa selain Bun Houw telah lenyap, juga empat belas orang penjaga itu sudah roboh semua, ada yang tewas dan selebihnya masih pingsan!

Gegerlah Lembah Bunga Merah oleh kejadian ini.

Terutama sekali Ciok Lee Kim merasa amat marah dan penasaran.

Tawanan itu sudah dijaga ketat, tetap saja masih dapat dicuri orang!

Ketika lima orang sakti itu menanyai para penjaga yang tidak tewas dan sudah siuman dari pingsan, para penjaga ini juga tidak dapat memberi keterangan yang jelas.

"Kami hanya melihat bayangan yang berkelebat cepat, seperti seekor burung beterbangan menyambar-nyambar di antara kami dan tahu-tahu kami merasakan pukulan hebat dan tidak ingat apa-apa lagi,"

Demikianlah rata-rata keterangan mereka.

"Hemmm, sungguh mentakjubkan,"

Hwa Hwa Cinjin berkata.

"pinto juga tidak dapat melihat jelas mukanya karena malam gelap dan ketika kami berdua menyerangnya, dia berada di dalam bayangan pobon. Akan tetapi yang jelas, dia bukan orang biasa, memiliki kepandaian tinggi dan merupakan lawan tangguh."

"Aku dapat memastikan bahwa dia tentulah seorang wanita!"

Kata Hek I Sian-kauw dengan tegas.

"Biarpun aku juga tidak dapat melihat mukanya dengan jelas karena gelap, namun bentuk tubuhnya yang ramping dan gerakannya yang lemas menunjukkan bahwa dia seorang wanita."

Hwa Hwa Cinjin membenarkan pendapat ini, dan demikian pula para penjaga menyatakan bahwa memang bayangan itu mempunyai potongan tubuh ramping.

Lima orang sakti itu menduga-duga siapa gerangan orang aneh itu yang telah melarikan Bun Houw.

"Tidak salah lagi, tentu dia pula yang telah menolong tiga orang murid Bu-tong-pai,"

Kata Ciok Lee Kim sambil mengerutkan alisnya karena peristiwa berturut-turut hilangnya tawanan itu merupakan tamparan baginya.

"Jangan-jangan dia yang kembali membikin ribut..."

Tiba-tiba Toat-beng-kauw Bu Sit berkata.

"Dia siapa, Bu-sute?"

Ciok Lee Kim bertanya dan yang lain-lain juga memandangnya.

"Siapa lagi kalau bukan gadis Giok-hong-pang itu..."

Mendengar ini, teringatlah Hwa Hwa Cinjin, Hek I Siankouw, dan Bouw Thaisu yang pernah bertemu dengan Yap In Hong, tokoh Giok-hong-pang yang amat lihai itu.

Mereka mengangguk-angguk, akan tetapi Bouw Thaisu berkata penuh keraguan.

"Agaknya dugaanmu itu amat meragukan kebenarannya, Bu-sicu. Kita mengetahui betapa gadis itu adalah seorang wanita aneh dari Giok-hong-pang, tidak memusuhi kita secara langsung dan juga tidak bersahabat dengan fihak Cin-ling-pai, pula kita telah tahu bahwa Giok-hong-pang adalah perkumpulan yang mempunyai hubungan dengan partai-partai lain. Karena itu, agaknya tidak boleh jadi kalau dia menolong anak murid Bu-tong-pai dan apalagi menolong pemuda yang agaknya mempunyai hubungan erat dengan Cin-ling-pai itu. Aku lebih condong menduga bahwa mereka tentulah seorang tokoh Bu-tong-pai. Ingat, pertai beser itu tentu saja memiliki banyak orang pandai dan tidak mengherankan kalau seorang tokoh wanita dari Bu-tong-pai yang turun tangan menolong anak-anak murid Bu-tong-pai itu dan juga pemude she Bun yang aneh itu."

Semua orang mengangguk-angguk.

"Betapapun juga, manusia she Bun itu tidak akan dapat menyelamatkan diri dan tentu akan tewas, karena di tubuhnya telah mengeram racun yang tidak mungkin dapat disembuhkan oleh orang lain,"

Kata Ciok Lee Kim. Toat-beng-kauw Bu Sit mengerutkan alisnya.

"Ciok-suci, setelah apa yang terjadi, malam ini kurasa sebaiknya kalau kita meninggalkan tempat ini. Fihak Bu-tong-pai kiranya tidak akan tinggal diam dan kalau sampai mereka mengerahkan tokoh-tokohnya dan anak murid Bu-tong-pai yang banyak menyerbu ke Lembah Bunga Merah, berarti kita hanya akan menanam permusuhan yang lebih mendalam lagi selain juga amat berbahaya. Mereka tentu akan menyerbu ke sini."

"Aku tidak takut!"

Ciok Lee Kim berseru keras.

"Suci, soalnya bukan takut atau tidak takut. Orang-orang seperti kita ini tentu saja tidak mengenal apa artinya takut lagi. Pula, dengan adanya sam-wi locianpwe di sini, sebagai tamu kita dan sahabat-sahabat kita, kita tidak takut menghadapi siapapun juga. Akan tetapi, kalau sampai kita terlibat permusuhan dengan Bu-tong-pai, bukankah hal itu melemahkan kedudukan kita? Padahal tujuan kita semua hanya untuk menghancurkan Cin-ling-pai! Selain itu, pemuda she Bun itu telah mengetahui tempat kita, dan dia tentulah kaki tangan Cin-ling-pai. Sekarang dia telah lolos, tentu dia akan mengabarkan kepada ketua Cin-ling-pai. Kalau ketua Cin-ling-pai dan kaki tangannya juga menyerbu kt sini bersama Bu-tong-pai, bukankah hal itu akan amat merugikan kita? Lebih baik kita bergabung dengan para suheng di Ngo-sian-chung."

Bouw Thaisu mengangguk-angguk.

"Agaknya benarlah apa yang dikatakan oleh Bu-sicu. Betapapun juga, kita harus berhati-hati karena musuh-musuh yang kita hadapi bukan orang-orang lemah. Pula, tujuan pinto meninggalkan pertapaam di pantai Pohai semata-mata hanya untuk menuntut kematian sahabatku Thian Hwa Cinjin, dan tujuanku hanya menghadapi orang-orang Cin-ling-pai."

Demikianlah pula Hwa Hwa Cinjin dan Hek I Siankouw yang juga menaruh dendam kepada ketua Cin-ling-pai, merasa keberatan kalau harus memusuhi Bu-tong-pai, maka akhirnya Ciok Lee Kim setuju.

Pada keesokan harinya, berangkatlah mereka meninggalkan Lembah Bunga Merah, menuju ke Ngo-sian-chung yaitu tempat tinggal Pat-pi Lo-sian Phang Tui Lok yang berada di lembah muara Sungai Huang-ho.

Sesungguhnya, dugaan Toat-beng-kauw Bu Sit sama sekali tidaklah meleset dari kenyatannya.

Yang menolong tiga orang anak murid Bu-tong-pai, dan yang menolong Bun Houw, bukan lain adalah Yap In Hong.

Gadis ini ingin merampas pedang Siang-bhok-kiam yang dicuri oleh Lima Bayangan Dewa, dan juga, setelah bertemu dengan Bu Sit, orang termuda dari Lima Bayangen Dewa, sudah timbul perasaan tidak senangnya kepada Lima Bayangan Dewa yang akhir-akhir ini menggegerkan dunia kang-ouw karena perbuatan mereka berani mengacau di Cin-ling-pai.

Oleh karena itu, ketika secara kebetulan dia melihat Toat-beng-kauw Bu Sit, Bouw Thaisu, Hwa Hwa Cinjin, dan Hek I Siankouw melakukan perjalanan mengunjungi Hui-giakang Ciok Lee Kim di Lembah Bunga Merah, diam-diam dia lalu mengikuti mereka, membayangi dan kemudian setiap malam melakukan penyelidikan di Lembah Bunga Merah dengan niat hati untuk mencuri Siang-bhok-kiam andaikata pedang pusaka Cin-ling-pai itu disimpan di lembah itu.

Diam-diam dia mengetahui akan kunjungan Kiam-mo Liok Sun dan seorang pemuda tampan yang didengarnya adalah orang she Bun yang menjadi pengawal pribadi Kiam-mo Liok Sun itu.

Kemudian dia melihat betapa pemuda pengawal Kiam-mo Liok Sun itu menolak ketika dibujuk dan dirayu oleh dua orang murid Ciok Lee Kim, Bahkan menolak ketika dibujuk rayu oleh Si Kelabang Terbang sendiri.

Hal ini sungguh mengherankan hati In Hong dan mendatangkan kesan yang amat mendalam.

Dia tahu betapa dua orang murid Ciok Lee Kim adalah wanita-wanita muda dan cantik, dan Ciok Lee Kim sendiri adalah seorang wanita cantik yang berpengaruh, akan tetapi pemuda itu, seorang pengawal biasa saja, menolak!

Padahal majikannya, Liok Sun, adalah seorang laki-laki yang biasa saja, yaitu seperti anggapan In Hong sejak kecil bahwa semua laki-laki adalah mata keranjang, cabul dan pengrusak wanita!

Akan tetapi mengapa pemuda ini lain daripada laki-laki lain?

Kemudian dia melihat munculnya tiga orang murid Bu-tong-pai.

Sikap mereka amat mengagumkan hatinya dan kembali dia terheran-heran menyaksikan sikap tiga orang muda Bu-tong-pai yang gagah perkasa itu.

Bagaimana di dunia ini terdapat orang-orang muda yang demikian gagah perkasa, demikian berani menentang kejahatan dan demikian bersih hatinya sehingga tidak terjatuh oleh rayuan dan tidak tunduk oleh ancaman maut?

Tentu saja In Hong tidak tahu bahwa dunia kang-ouw mempunyai banyak orang-orang gagah perkasa, seperti banyaknya pule terdapat orang-orang sesat, golongen hitam yang di dalam hidupnya hanya mengutamakan pengejaran kesenangan bagi diri sendiri sehingga untuk memperoleh kesenangan itu, mereka suka melakukan apapun juga, perbuatan kejam dan cabul yang bagaimanapun dengan mengandalkan kepandaian mereka.

Dan sejak kecil In Hong hanya berdekatan dengan orang-orang sesat, dengan wanita-wanita pembenci kaum pria.

Belum pernah dia berdekatan dengan pendekar, maka sekarang, begitu melihat sikap orang-orang yang berjiwa pendekar, dia menjadi terheran-heran, terkejut, dan kagum bukan main.

Karena rasa kagum inilah maka tergerak hatinya untuk menolong tiga orang murid Bu-tong-pai itu.

Andaikata hatinya tidak digerakkan oleh kegagahan mereka, tentu perasaan hatinya yang dingin itu akan membuat dia menutup mata dan tidak memperdulikan urusan orang lain.

Kini mulai terbuka hatinya bahwa tidak semua pria jahat, cabul dan khianat, seperti yang dia selalu mendengar dari mulut gurunya, dan dari semua anggauta Giok-hong-pang.

Dia turun tangan membebaskan tiga orang murid Bu-tong-pai itu dan membawa mereka lari ke sebuah hutan di bawah Lembah Bunga Merah, di mana mereka bersembunyi ke dalam sebuah kuil tua sambil merawat luka mereka.

Ketika pada keesokan harinya diam-diam In Hong menyelidiki lagi ke Lembah Bunga Merah, dia terkejut bukan main melihat bahwa pemuda yang dikenalnya sebagai pengawal Kiam-mo Liok Sun, pemuda yang menimbulkan kagumnya, karena pemuda itu menolak rayuan-rayuan Ai-kwi dan Ai-kiauw, telah ditawan dan disiksa secara mengerikan, karena kedua tulang pundaknya dikait oleh kaitan baja dan dibelenggu dalam keadaan pingsan.

Timbul perasaan iba hatinya terhadap pemuda perkasa itu, apalagi ketika mendengar bahwa pemuda itu mengamuk dan membunuh Ai-kwi dan Ai-kiauw sebelum akhirnya tertawan, yang didengarnya dari percakapan para penjaga, dia lalu mengambil keputusan untuk monolong pemuda she Bun yang tidak dikenalnya itu.

In Hong tahu benar akan kelihaian Toat-beng-kauw Bu Sit, terutama sekali Hek I Siankouw, Hwa Hwa Cinjin dan Bouw Thaisu, maka dia tidak berani bertindak secara gegabah.

Dia menanti sampai tengah malam sehingga dia tidak tahu betapa malam itu Ciok Lee Kim dan Bu Sit telah menyiksa pemuda itu yang telah siuman bahkan kemudian menusuknya dengan jarum beracun dan meninggalkan pemuda itu dalam keadaan pingsan lagi dan dalam keadaan terancam nyawanya.

Dengan kepandaiannya yang hebat, In Hong akhirnya berhasil menolong pemuda itu dan membawanya lari dari Lembah Bunga Merah setelah dia berhasil meloloskan diri dari pencegatan Hek I Siankouw dan Hwa Hwa Cinjin.

Dia lalu membawa pemuda itu ke dalam hutan di kaki bukit dan memasuki kuil di mana tiga orang murid Bu-tong-pai masij bersembunyi dan mengobati luka mereka.

"Lihiap, dia siapakah dan mengapa dia sampai begitu tersiksa...?"

Seorang di antara tiga orang murid Bu-tong-pai itu bertanya.

Mereka memandang dengan hati ngeri melihat keadaan Bun Houw seperti itu.

Muka pemuda itu menghitam, jelas bahwa pemuda itu keracunan, dan kedua pundak yang dikait tulangnya itu benar-benar menimbulkan kengerian dan mendirikan bulu roma.

"Dia adalah seorang pengawal biasa yang entah mengapa telah disiksa seperti ini oleh manusia-manusia kejam itu."

In Hong menjawab, kemudian dia memeriksa keadaan Bun Houw.

Dengan hati-hati dia mencabut dua baja kaitan dari pundak Bun Houw.

Setelah memeriksa dan mendapat kenyataan bahwa tulang-tulang pundak pemuda itu tidak patah, hanya kulit dagingnya saja berlubang dan luka parah, dia lalu mengobati luka-luka di pundak pemuda itu dengan obat luka yang dibawanya, kemudian membalut pundak itu dibantu oleh tiga orang murid Bu-tong-pai.

"Dia keracunan hebat..."

Kata murid wanita Bu-tong-pai dengan alis berkerut, masih ngeri hatinya membayangkan penderitaan yang ditanggung oleh pemuda yang baru saja ditolong oleh In Hong.

In Hong adalah seorang yang tidak asing dengan racun, karena dari gurunya dia memperoleh banyak pelajaran tentang racun, bahkan dia mengenal racun-racun dari tumbuh-tumbuhan, dan senjata rahasianyapun adalah Siang-tok-swa, yaitu pasir yang mengandung racun dari kembang yang berbau harum.

Akan tetapi dia menjadi bingung melihat racun yang menyerang darah Bun Houw.

Setelah dia memeriksa dengan teliti, dia menghela napas dan menggeleng kepala.

"Apakah kalian mengenal racun yang menyerangnya?"

Tanyanya kepada tiga orang murid Bu-tong-pai itu.

Tentu saja murid-murid Bu-tong-pai ini juga pernah mempelajari tentang racun-racun untuk sekedar menjaga diri, akan tetapi setelah mereka memeriksa, orang tertua dari mereka berkata dengan alis berkerut.

"Lihiap, racun ini hebat sekali dan saya kira kalau dia tidak cepat mendapat obat yang mujarab, nyawanya sukar ditolong lagi. Tak jauh dari sini ada seorang ahli obat yang kiranya dapat menolongnya, akan tetapi sayang..."

Dia menghentikan kata-katanya.

"Sayang bagaimana?"

In Hong bertanya.

"Dia adalah seorang yang berwatak aneh bukan main. Kakek itu di dunia kang-ouw terkenal dengan sebutan Yok-mo (Setan Obat), akan tetapi juga terkenal dengan wataknya yang amat luar biasa. Maka sedikit sekali harapan apakah dia akan mau mengobati orang ini."

"Luar biasa bagaimana? Harap kau jelaskan."

In Hong mendesak.

"Hampir semua tokoh kang-ouw mengenal Yok-mo ini, sungguhpun tidak ada yang tahu siapa namanya. Dia selalu mengobati orang-orang sakit dan orang-orang yong tergigit binatang berbisa apapun juga, dengan cepat dapat disembuhkannya secara luar biasa. Bahkan ada orang yang tergigit ular yang paling berbisa, yang kabarnya tidak ada obatnya, dapat pula dia obati, dan ada orang bilang bahwa Setan Obat itu pernah menyombongkan diri, mengatakan bahwa tidak ada gigitan binatang berbisa di dunia ini yang tidak dapat dia sembuhkan..."

"Kalau begitu, dialah yang dapat menolong!"

Kata In Hong girang.

"Menurut pendengaranku ketika para penjaga Lembah Bunga Merah bercakap-cakap, racun yang dimasukkan ke tubuh pemuda ini adalah racun dari kelabang hitam. Akan tetapi, apakah kesulitannya bagi Setan Obat untuk mengobati dia ini?"

"Dia mau mengobati segala macam penyakit tanpa menerima bayaran sama sekali, akan tetapi dia paling benci kepada ahli-ahli silat dan dia tidak pernah mau mengobati orang-orang yang terluka dalam pertempuran. Itulah kesukarannya, lihiap."

"Hemm, di mana dia?"

"Dia tinggal di puncak gunung tak jauh dari sini, di puncak Gunung Cemara di barat itu."

Murid Bu-tong-pai itu menuding ke barat.

"Kalau begitu, biar aku mengunjunginya ke sana. Menurut percakapan para penjaga tadi, orang ini hanya dapat hidup tiga hari tiga malam saja, maka harus cepat mendapatkan obat. Harap kalian suka menjaganya selama aku pergi."

"Baik, lihiap. Engkau sudah begitu baik kepada kami, sudah menyelamatkan nyawa kami tanpa pamrih, bahkan memperkenalkan namapun lihiap tidak mau. Sekarang lihiap menolong seorang lain yang tidak lihiap kenal, hendak mencarikan obat menghadap Yok-mo, sungguh membuat hati kami kagum bukan main. Tentu saja kami suka membantu lihiap untuk menjaga saudara ini."

In Hong tersenyum dan sekali berkelebat lenyaplah dia dari hadapan tiga orang murid Bu-tong-pai itu.

Mereka saling pandang dan menarik napas panjang.

Selama hidup, mereka belum pernah bertemu dengan seorang pendekar wanita seperti penolong mereka itu.

Dan mereka menyesal sekali mengapa penolong mereka itu merahasiakan namanya dan tidak mau mengaku walaupun mereka tanya berkali-kali.

Gunung itu penuh dengan hutan yang mengandung pohon-pohon lengkap dan subur, akan tetapi sungguh mengherankan, di puncaknya hanya ditumbuhi pohon-pohon cemara belaka.

Oleh karena itu meka puncak itu disebut puncak Gunung Cemara, sebuah gunung yang tidak berapa tinggi akan tetapi lerengnya penuh dengan hutan lebat.

Sebuah rumah gubuk kecil terdapat di puncak di antara pohon-pohon cemara yang tinggi, seperti berlindung di bawah pohon-pohon itu, atapnya sudah penuh dengan batang-batang daun cemara yang tebal menutupi atap rumah gubuk.

Tanah di sekitar tempat itupun sudah tertutup batang daun cemara sehingga kalau orang duduk di atasnya, terasa enak dan empuk pula, bersih tidak becek walaupun di waktu hujan.

Kakek itu pakaiannya biasa saja, seperti pakaian seorang petani.

Dia sudah tua sekali, tentu sudah ada tujuh puluh tahun usianya, namun wajahnya masih segar dengan kulit kemerahan dan tidak nampak keriput seperti wajah orang-orang muda, sungguhpun semua rambut, jenggot dan kumisnya telah putih semua.

Pada pagi hari itu, kakek ini sedang mengeluarkan banyak tampah-tampah untuk menjemur rempah-rempah dan bahan-bahan obat di bawah sinar matahari pagi.

Pekerjaan ini dilakukannya dengan penuh kesungguhan, penuh perhatian dan dengan wajah gembira-ria.

Berbahagialah orang yang melakukan segala sesuatu dalam hidup ini dengan perasaan kasih di hatinya.

Dan pekerjaan apapun yang dilakukan orang, perbuatan apapun yang dilakukannya, apabila berdasarkan cinta kasih, maka perbuatan itu tentu benar adanya!

Sayang sekali bahwa kita pada umumnya sudah tidak lagi mengenal cinta kasih dalam segala perbuatan kita.

Perbuatan kita selalu didorong oleh kepentingan diri pribadi lahir batin, demi keuntungan, demi kesenangan, demi kebencian, iri hati, pamrih dan lain-lainnya.

Kalau saja kita dapat melakukan pekerjaan kita dengan cinta kasih di hati!

Bukan demi penghasilannya!

Kalau saja kita dapat melakukan segala sesuatu dengan kasih di hati!

Betapa akan indahnya hidup ini, betapa akan bahagianya hidup ini.

Bagi kakek tua renta itu, pada saat dia menjemur rempah-rempah itu, tidak ada apa-apa lagi di dunia ini, tidak ada persoalan, tidak ada pemikiran, tidak ada apa yang disebut waktu, bahkan dia tidak ingat lagi akan dirinya sendiri.

Sinar matahari pagi, hembusan angin pegunungan, kicau burung, keharuman daun cemara dan rempah-rempah yang dijemurnya, pergerakan jari-jari tangannya yang mengatur akar-akaran dan daun-daunan yang dijemur di atas tampah-tampah, semua itu sudah serasi, sudah selaras, Merupakan suatu kesatuan yang tidak terpisah-pisahkan, merupakan bagian dari keadaan, dari kehidupan, dari cinta kasih.

Tanpa disadarinya, terdengar dendang disenandungkan dari mulut kakek yang sudah ompong itu, seolah-olah dia mengikuti irama yang terdengar oleh telinganya, entah dari mana, seperti terbawa oleh angin yang semilir.

Akan tetapi, keheningan yang suci itu segera terganggu dengan munculnya seorang gadis cantik jelita yang membawa sebatang pedang di punggungnya.

Gadis ini bukan lain adalah Yap In Hong.

Melihat kakek tua renta ini menjemuri obat-obat di depan gubuknya, membiarkan tampah-tampah berisi obat-obat itu ditimpa sinar-sinar matahari yang menerobos turun melalui celah-celah daun cemara, In Hong berhenti sejenak, memandang penuh perhatian lalu menengok ke kanan kiri.

Tidak nampak orang lain di tempat itu.

Dia melangkah maju menghampiri.

"Kakek, apakah engkau yang berjuluk Setan Obat?"

Kakek itu terkejut, seperti diseret turun dari sebuah dunia lain di mana tidak ada pemikiran, tidak ada persoalan, kini kembali ke dunia yang banyak pertikaian, banyak pertentangan yang ditimbulkan oleh manusia.

Dia menoleh, memandang gadis muda itu dan alisnya berkerut merut ketika pandang matanya bertemu dengan sarung pedang di punggung gadis itu.

Dia lalu menunduk kembali, mengatur akar-akaran dan daun-daunan obat di atas tampah seolah-olah tidak terjadi sesuatu, akan tetapi kini lenyaplah seri di wajahnnya, lenyaplah senandungnya.

In Hong sudah diberi tahu oleh murid-murid Bu-tong-pai akan keanehan watak kakek ini, maka dia tidak menjadi marah melihat betapa kakek itu seolah-olah tidak mengacuhkannya sama sekali.

"Yok-mo."

Dia berkata sambil melangkah maju dan menghadapi kakek itu.

"Aku Yap In Hong, datang untuk mohon pertolonganmu memberi obat untuk seorang yang telah terluka hebat oleh racun kelabang hitam."

Setelah mengulang kata-katanya sampai tiga kali dengan suara sabar, akhirnya kakek itu mengangkat muka memandang dan In Hong terkejut melihat betapa kakek tua renta ini selain berwajah segar dan muda, juga memiliki sepasang mata yang bersinar jernih seperti mata kanak-kanak.

"Wanita muda, apakah kau datang untuk membunuh orang?"

Tiba-tiba kakek itu bertanya dengan suara lantang.

Tentu saja In Hong terkejut dan terheran mendengar pertanyaan ini.

Dia cepat menggeleng kepala.

"Kalau begitu, mengapa engkau datang membawa-bawa sebatang pedang? Untuk apalagi orang membawa-bawa pedang kalau tidak ada niat terkandung di hati untuk menyerang dan membunuh orang lain?"

In Hong makin terkejut.

Biarpun dia sudah mendengar bahwa kakek ini seorang aneh, akan tetapi dia tidak menyangka akan diserang dengan kata-kata seperti itu.

Akan tetapi dia tidak menjadi gugup dan cepat menjawab.

"Kakek yang baik, setiap orang yang melakukan perjalanan, apalagi kalau dia mengerti ilmu silat, tentu membawa sebatang senjata. Apa anehnya hal itu? Membawa senjata bukan berarti hendak menyerang orang."

"Huh! Semua orang yang membawa senjata, mana ada yang baik iktikadnya? Senjata adalah alat untuk membunuh, siapa yang membawanya berarti sudah siap untuk menyerang dan membunuh orang lain. Setiap orang manusia mesti mati, mengapa kalian ini orang-orang yang haus darah tidak membiarkan semua orang mati seperti semestinya dan wajar, akan tetapi menuruti nafsu untuk saling membunuh? Engkau yang mempunyai hati kejam, yang selalu membawa pedang dan setiap saat siap membunuh orang lain, sekarang tidak malu datang kepadaku minta obat untuk menyelamatkan nyawa orang? Bukankah sudah menjadi kesenanganmu melihat orang mati?"

In Hong mengerutkan alisnya. Sungguh berabe menghadapi orang seperti ini, pikirnya.

"Kakek yang aneh, senjata tajam belum tentu untuk menyerang dan membunuh orang, aku membawanya untuk menjaga diri dari ancaman bahaya. Coba saja kau pikir, kalau aku melakukan perjalanan seorang diri, lalu muncul seekor binatang buas yang menyerangku, bagaimana aku harus membela diri? Bahkan harimaupun mempunyai taring, ular mempunyai racun, semua binatang mempunyai senjata untuk membela diri, mengapa manusia tidak?"

"Binatang tidak akan menyerang manusia kalau tidak diganggu atau lapar. Binatang merupakan mahluk yang lebih baik daripada manusia! Manusia adalah mahluk paling jahat dan kejam di permukaan bumi ini. Tidak ada binatang yang membunuh untuk kesenangan, atau membunuh karena permusuhan dan kebencian. Binatang membunuh untuk dapat hidup, membunuh karena dorongan perut lapar. Akan tetapi manusia membunuh apa saja di dunia ini untuk mencari kesenangan, bahkan membunuh sesama manusia untuk mencari kesenangan dalam kemenangan, membunuh karena permusuhan dan kebencian. Phahh!"

"Akan tetapi, Yok-mo, aku tidak akan sembarangan memusuhi orang, tidak sembarangan membenci orang, apalagi tidak akan sembarangan menyerang atau membunuh orang lain. Semua itu tentu ada sebab-sebabnya. Seperti sekarang ini, aku sama sekali tidak mempunyai niat membunuh siapapun juga, bahkan kedatanganku ingin minta bantuanmu agar kau suka memberi obat kepada seorang yang menjadi korban kejahatan manusia lain yang amat jahat. Tentu saja keadaan ini bisa berobah sama sekali. Andaikata engkau lalu tiba-tiba menyerang dan hendak mencelakakan aku, tentu saja aku akan membela diri dan mungkin membunuhmu dalam pertempuran. Jadi, menyerang, membenci, memusuhi atau membunuh sekalipun tentu ada sebab-sebab yang mendorongnya, bukan semata-mata manusia adalah mahluk yang suka membunuh."

"Memang ada manusia yang tidak suka sama sekali untuk membunuh, baik dengan alasan apapun juga, akan tetapi engkau termasuk manusia yang suka membunuh, dan hal ini dibuktikan dengan adanya pedang di punggungmu. Dan manusia tukang bunuh seperti engkau ini datang untuk minta bantuan kepadaku? Huh, aku tidak sudi!"

Merah wajah In Hong. Hatinya mulai marah. Kakek ini kasar dan sombong, pikirnya.

"Orang tua, melihat sikapmu ini, andaikata aku sendiri yang terluka dan terancam maut, akupun tidak akan sudi minta pertolongan kepadamu! Akan tetapi yang terluka adalah orang lain, dan dia menjadi korban dari kejahatan manusia iblis, dia dilukai dengan jarum yang mengandung racun kelabang hitam, kalau tidak mendapatkan obat yang mujarab, dalam waktu tiga hari tiga malam tentu mati."

"Orang yang terluka itu tentu seorang tukang bunuh pula. Tidak! Biarkan dia mampus, sesuai dengan kesukaannya membunuh manusia lain, aku tidak sudi menolongnya!"

"Ha-ha-ha-ha, tidak mau menolong orang yang terancam maut, bukankah seorang pembunuh pula? Ha-ha-ha, engkau kakek yang bernama Yok-mo? Engkaupun seorang pembunuh! Seorang pembunuh (Lanjut ke

Jilid 17) Dewi Maut (Seri ke 03 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 17 yang licik dan curang!"

Tiba-tiba terdengar suara orang, suara yang datangnya dari jauh, bergema akan tetapi begitu kalimat terakhir habis, orangnyapun nampak muncul seperti setan, seorang kakek pendeta Lama tinggi besar seperti raksasa, berjubah merah dan memanggul tubuh seorang anak laki-laki yang seluruh tubuhnya sudah kehitaman karena racun yang amat hebat!

Yok-mo memutar tubuhnya dan In Hong terkejut bukan main.

Melihat munculnya kakek yang didahului sambaran angin dahsyat, dan suaranya yang jelas dikerahkan dengan kekuatan khi-kang yang hebat sekali, jelas bahwa pendeta Lama ini bukanlah orang sembarangan dan memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi.

Akan tetapi Yok-mo sudah marah sekali.

Dia menudingkan telunjuknya ke arah muka pendeta gundul itu dan membentak.

"Pendeta-pendeta malah merupakan manusia-manusia yang lebih jahat lagi, seperti srigala-srigala berkedok domba. Seperti engkau ini, mulutmu lancang sekali mengatakan bahwa aku pembunuh! Selama hidupku aku belum pernah membunuh."

"Ha-ha-ha, kalau begitu engkau manusia yang paling jahat!"

Pendeta berjubah merah itu tertawa bergelak dan hal ini tentu saja membuat Yok-mo dan In Hong memandang dengan mata terbelalak.

Yok-mo marah sekali, akan tetapi In Hong terheran-heran karena omongan pendeta ini malah lebih aneh dan nekat daripada Yok-mo!

"Eh, hwesio sesat!

Jangan bicara sembarangan kau!

Aku melihat engkau membawa anak laki-laki yang terkena racun hebat, tentu engkaupun tukang berkelahi dan tukang bermusuhan dengan manusia lain.

Aku tidak bisa berhubungan dengan orang-orang macam engkau!"

"Ha-ha-ha, Yok-mo, membunuh dan membunuh ada dua macam. Ada membunuh yang baik dan membunuh yang tidak baik. Kau harus obati muridku ini!"

"Tidak, aku tidak sudi!"

Kakek gundul itu melepaskan tubuh anak yang kehitaman itu ke atas tanah.

In Hong memandang ke arah anak itu dengan penuh perhatian dan dia terkejut bukan main melihat gejala anak itu seperti korban keganasan racun Siang-tok-swa!

Dugaannya memang betul karena anak itu adalah Lie Seng yang menjadi korban Siang-tok-swa gurunya, yaitu Yo Bi Kiok dan kakek gundul itu bukan lain adalah Kok Beng Lama.

"Yok-mo, kata-katamu membuktikan bahwa memang ada dua macam sifat membunuh, yang baik dan yang jahat. Kau adalah pembunuh yang jahat, sedangkan nona ini dan aku adalah pembunuh-pembunuh yang baik. Kalau engkau tidak mau mengobati muridku, berarti muridku mati dan engkau menjadi pembunuh yang jahat karena sebetulnya engkau akan mampu mengobatinya. Kalau engkau tidak mau, aku akan membunuhmu dan aku adalah pembunuh yang baik karena manusia seperti engkau sudah sepatutnya dibunuh agar tidak membunuh orang-orang lain seperti sekarang. Ha-ha-ha!"

In Hong menjadi bingung.

Kata-kata kakek gundul ini tidak karuan dan melihat sinar matanya, kakek gundul ini seperti orang yang tidak waras otaknya.

Akan tetapi, anehnya, ucapan itu membuat Yok-mo termenung-menung dan meraba-raba jenggotnya yang sudah putih semua, lalu dia menjatuhkan diri duduk di atas bangku, bengong melamun dan mulutnya berkali-kali mengeluarkan kata-kata lirih.

"Aku... pembunuh? Benarkah aku pembunuh? Pembunuh...?"

"Ha-ha-ha! Kau pembunuh licik dan curang. Aku selalu membunuh orang lain dengan adil, memberi kesempatan kepadanya untuk membela diri. Akan tetapi engkau! Engkau membunuh orang tanpa memberi kesempatan orang itu membela diri. Lihat, kau sedang membunuh muridku itu, nah, bukankah engkau pembunuh yang curang dan licik? Biar aku menunggu di sini melihat bagaimana engkau membunuhnya dengan kejam, setelah itu, aku akan membunuhmu dengan adil, memberi kau kesempatan untuk membela dirimu."

Mata Yok-mo tertutup seperti orang bingung. Kemudian dia menarik napas panjang.

"Hwesio Lama, baru sekarang aku dapat melihat kebenaran omonganmu. Akupun pembunuh! Benar! Entah sudah berapa banyaknya orang yang kubunuh, mereka yang kutolak untuk diobati sehingga mereka itu mati karena luka-luka mereka. Padahal kalau aku mengobati mereka, mereka itu tentu sembuh dan belum mati. Aku pembunuh dan aku melihat ini karena ucapan seorang pendeta Lama gendeng!"

Kakek itu menepuk dahinya dan menggeleng kepalanya.

"Lama, engkau menderita tekanan batin hebat sehingga otakmu tergoncang dan tidak waras, namun engkau yang gendeng, masih mampu mengucapkan kata-kata yang menyadarkan aku. Engkau benar! Bunuh-membunuh timbul karena perbedaan perasaan antara cinta dan benci, karena memilih-milih, yang menguntungkan menjadi sahabat yang merugikan menjadi musuh, dibenci dan dibunuh. Kalau dalam mengobati orang aku juga membeda-bedakan, memilih-milih, apa bedanya dengan kalian yang membawa-bawa senjata? Lama, majulah, engkau menderita tekanan batin hebat, akan tetapi aku bukanlah Yok-mo kalau tidak mampu menyembuhkanmu!"

"Ha-ha-ha, kakek gila! Engkau selain pembunuh jahat juga gila! Aku datang membawa muridku untuk kau obati, bukan aku. Mau atau tidak engkau harus mengobati muridku ini!"

Yok-mo menoleh ke arah Lie Seng.

"Dia terkena racun jahat pula, dan untuk menyembuhkannya membutuhkan waktu panjang, sedikitnya dua pekan perawatan yang teliti..."

"Kakek Yok-mo!"

In Hong berseru dengan hati khawatir.

Setelah kini ahli obat itu mau mengobati orang, kalau harus menanti sampai dua pekan, pemuda yang ditolongnya itu keburu mati!

"Aku adalah orang yang datang lebih dulu, karena itu sudah sepatutnya dan seadilnya kalau engkau lebih dulu memberi obat kepadaku."

"Heiiittt!"

Kok Beng Lama meloncat dan berdiri di depan In Hong, matanya terbelalak marah.

"Engkau ini bayi kemarin sore berani hendak mendahului aku? Ha-ha-ha, aku lahir puluhan tahun lebih dulu daripada kau, maka harus aku yang lebih dulu mendapat giliran pertolongan Yok-mo!"

Sebetulnya Kok Beng Lama hendak mengatakan bahwa sebagai orang muda, sudah sepatutnya kalau gadis itu mengalah terhadap seorang yang jauh lebih tua, apalagi dia datang membawa muridnya, yang sudah empas-empis napasnya, akan tetapi karena pikirannya tidak waras, maka kata-katanya melantur tidak karuan!

"Tidak perduli!"

In Hong membentak.

"Biar kau seratus tahun lebih tua, engkau datang belakangan dan orang yang hendak kumintakan obat itu amat payah keadaannya."

"Eh, kau berani menentangku?"

Kok Beng Lama menantang.

"Karena aku benar, mengapa tidak berani?"

"Bocah sombong engkau! Sombong dan lancang!"

Kok Beng Lama sudah membentak marah dan kedua tangannya bergerak.

In Hong kaget bukan main karena dari kedua tangan kakek itu menyambar hawa pukulan yang dahsyat bukan main.

Cepat dia melempar tubuh ke belakang berjungkir balik sambil mencabut pedangnya dan ketika tubuhnya meluncur turun dia langsung membalas dengan serang pedangnya yang juga amat dahsyatnya.

"Aihhh... plak-plak-plak...!"

Kok Beng Lama terkejut bukan main.

Dia tadi memandang rendah, mengira bahwa seorang dara remaja seperti ini mana bisa memiliki kepandaian tinggi?

Disangkanya bahwa sekali dia menyerang dengan hawa pukulan sin-kang tentu akan membuat dara itu jatuh bangun kemudian lari tunggang langgang ketakutan.

Siapa kira, bukan saja dara itu mampu menghindarkan diri dari serangan pukulan jarak jauhnya, akan tetapi bahkan mampu membalas dengan serangan pedang yang amat dahsyat dan bertubi-tubi datangnya.

Dan karena sambaran pedang yang bertubi-tubi itu mengarah bagian-bagian berbahaya dari tubuhnya, terpaksa kakek itu menangkis sampai tiga kali berturut-turut dengan lengan kirinya.

In Hong meloncat turun dengan muka berobah.

Kakek itu mampu menangkis pedangnya dengan tangan kosong!

Seolah-olah pedangnya yang merupakan pedang pilihan itu, yang digerakkan dengan pengerahan sin-kang yang mampu menabas putus senjata-senjata lawan, hanyalah merupakan pedang-pedangan kayu belaka.

Dia makin yakin bahwa kakek ini memang benar-benar hebat, lawan terhebat yang pernah dihadapinya semenjak dia memasuki dunia ramai.

Akan tetapi, bukan watak In Hong untuk merasa jerih menghadapi lawan tangguh.

Dia mengeluarkan teriakan melengking dan tubuhnya mencelat ke depan, seperti seekor burung walet saja cepatnya dia menerjang kakek itu dan pedangnya bergulung-gulung menjadi sinar berkilauan menyilaukan mata.

Timbul kegembiraan hati Kok Beng Lama dan dia melayani In Hong dengan tangkisan-tangkisan kedua lengannya dan membalas dengan totokan-totokan jari tangannya yang lihai.

"Wah-wah-wah, jangan berkelahi! Jangan bertempur di sini! Celaka...! Kalian manusia-manusia celaka... jangan mengotori tempatku dengan pertempuran! Heii, bocah perempuan, jangan ugal-ugalan kau. Simpan kembali pedangmu!"

Yok-mo berteriak-teriak dan menggerak-gerakkan kedua lengannya.

"Dan kau Lama gila, hentikan perkelahian itu!"

Akan tetapi, seorang dara berhati sekeras baja seperti In Hong, mana mau berhenti setelah ada orang menentang dan menantangya?

Dan Kok Beng Lama, sebelum otaknya agak miririgpun sudah berwatak aneh sekali, suka berkelahi, sekarang setelah otaknya tidak waras, tentu saja kegemarannya itu timbul kembali, dan dia melayani In Hong sambil tertawa-tawa dan memuji-muji dengan suara keheranan.

"Bagus! Kiam-hoat (ilmu pedang) hebat...! Akan tetapi engkau tidak akan mampu mengalahkan aku, bocah! Ha-ha-ha!"

Memang benar teriakannya ini.

Betapapun In Hong mengamuk dan menggerakkan senjatanya secara hebat, sama sekali pedangnya tidak pernah dapat melukai lawannya.

Dia sudah mengerahkan gin-kangnya sehingga tubuhnya berkelebat tidak tampak lagi, yang kelihatan hanya bayangannya, namun kecepatannya itu sia-sia belaka terhadap kakek ini yang selalu dapat mengikutinya.

Juga pengerahan sing-kangnya tidak ada gunanya karena dia memang jauh kalah kuat.

Yang membuat In Hong terheran-heran adalah kekuatan tangan kakek itu yang mampu menangkis pedangnya dan setiap kali kakek itu mendorong dengan pengerahan tenaga sin-kang, dia pasti terhuyung-huyung ke belakang.

"Bagus, masih begini muda sudah amat lihai... ha-ha, akan tetapi kalau tidak diberi rasa, kau akan tetap sombong! Plak-plak-desss...!"

Tubuh In Hong terlempar dan bergulingan.

Akan tetapi dara itu biarpun terkejut sekali karena terdorong oleh tamparan yang amat dahsyat, sudah mencelat bangkit kembali dan menyerang makin nekat.

"Plak-plak-plak... desses...!"

Kembali dia terlempar dan roboh, sekali ini lebih keras, terbanting sampai kepalanya menjadi pening.

Dan pada saat itu, sambil tertawa-tawa Kok Beng Lama sudah berada di dekatnya, sudah mengangkat tangan menghantam.

"Plakkk...!"

In Hong menangkis dengan pedangnya, akan tetapi pedang itu terlepas dari tangannya, menancap di atas tanah sedangkan kakek itu sudah mengangkat lagi tangannya yang ampuh.

Sekali ini In Hong maklum bahwa dia bertemu dengan orang yang tingkat kepandaiannya jauh lebih tinggi darinya, bahkan jauh lebih tinggi dari tingkat kepandaian gurunya sendiri, maka dia hanya memandang, siap menghadapi pukulan maut.

"Locianpwe, jangan membunuh orang...!"

Tiba-tiba terdengar suara anak dan kiranya Lie Seng yang berteriak itu.

Dia tadi siuman dan melihat pertandingan antara kakek itu dan seorang gadis, kini melihat kakek itu hendak membunub lawannya, dia merasa kasihan dan meneriaki orang tua itu dengan suara nyaring.

Kok Beng Lama menahan tangannya dan menoleh.

"Ha-ha-ha, Kau kira aku akan membunuhnya? Tidak, aku tidak bisa membunuhnya... dia... dia mirip anakku...!"

Dia kini menoleh lagi ke arah In Hong.

"Ehhh...?"

Gadis itu telah lenyap dari tempatnya ketika terjatuh tadi, bahkan pedangnya juga lenyap.

"Kalau kau menyerang lagi, aku akan membunuh Yok-mo!"

Tiba-tiba kakek itu mendengar suara In Hong.

Dia cepat menengok dan terbelalak memandang kepada gadis itu yang sudah menangkap lengan Yok-mo dan menekankan pedangnya di leher kakek ahli obat itu!

"Dia harus memberi obat kepadaku lebih dulu, kalau kau menentang, Lama, biar dia kubunuh lebih dulu dan kita sama-sama tidak memperoleh obat!"

Kok Beng Lama terbelalak, kemudian menggeram.

"Bocah licik, kalau kau melakukan itu, engkau akan mati di tanganku!"

"Aku sudah berani berbuat berani pula bertanggung jawab, Lama. Mati bukan apa-apa bagiku, dan biarpun sesudah itu kau membunuhku, namun kematian tetap tidak akan menolong nyawa muridmu, bagaimana?"

Kok Beng Lama menjadi bengong.

Semenjak dia menghadapi tekanan batin hebat, dimulai dari matinya puterinya sampai peristiwa di Cin-ling-san, dia sering menjadi bingungm bahkan banyak hal-hal lampau yang dilupakannya.

"Wah, kau bocah memang cerdik! Ha-ha-ha, engkau memang hebat. Biar aku mengaku kalah. Heii, Yok-mo, bukankah sudah sepatutnya kalau tua-bangka tua-bangka macam kita yang sudah mendekati lubang kubur ini mengalah terhadap anak muda? Hayo kau berikan obat untuk bocah cerdik ini, sesudah itu baru kau obati dan sembuhkan muridku!"

In Hong maklum bahwa seorang seperti pendeta Lama yang memiliki kelihaian hebat itu, biarpun wataknya aneh dan seperti orang gila, namun sudah tentu tidak sudi menarik omongannya kembali, mempunyai keangkuhan besar dan tinggi hati, maka diapun menarik kembali pedangnya dari leher Yok-mo.

Kakek ini menghela napas panjang dan mengomel.

"Kekerasan...! Hemm... di mana-mana manusia mempergunakan kekerasan..."

In Hong tidak membuang-buang waktu lagi, segera dia menceritakan keadaan Bun Houw kepada kakek itu, menceritakan betapa pemuda itu ditusuk dengan jarum yang mengandung racun kelabang hitam, menceritakan dengan jelas di bagian mana yang ditusuk dan gejala-gejala apa yang nampak pada tubuh pemuda itu.

Yok-mo mengomel lagi.

"Biar di dalam dongeng tentang neraka sekalipun, belum tentu ada iblis penyiksa di neraka yang sekejam itu! Jalan darah Tiong-cu-hiat di tengkuk ditusuknya, hal itu berarti bahwa si korban paling lama dapat hidup tiga hari saja. Tusukan di jalan darah itupun mendatangkan siksaan luar biasa, seluruh tubuhnya akan terasa gatal-gatal di sebelah dalam seperti digigiti ribuan ekor semut. Hemm, kalau pemuda itu masih dapat bertahan, sungguh amat luar biasa..."

"Dua tulang pundaknya juga dikait dengan baja kaitan, Yok-mo."

In Hong menceritakan lagi dengan nada suara bangga.

Heran dia mengapa dia berbangga hati karena pemuda itu, demikian tahan derita!

"Hemm, untung engkau datang kepadaku, nona.

Bukan karena aku pandai mengobatinya, melainkan karena kebetulan sekali aku ada menyimpan obat yang mujarab untuk melawan racun kelabang hitam.

Andaikata aku tidak menyimpan obat itu, biar aku sendiri tidak mungkin dapat menolongnya, karena mencari obat itu harus di tempat asal kelabang hitam itu sendiri, yaitu tahi kelabang hitam yang menjadi bahan bakunya.

Dan binatang seperti itu jarang sekali muncul di permukaan bumi, selalu bersembunyi di dalam tanah."

Kakek tua renta itu lalu masuk ke dalam gubuknya dan keluar lagi membawa beberapa butir obat pulung, semacam pel kasar yang berwarna hitam.

"Ini ada sembilan butir pel, sehari beri dia tiga kali, setiap kali sebutir dan dalam waktu tiga hari, setelah pel ini habis, aku tanggung dia sembuh kembali. In Hong girang bukan main dan cepat menerima bungkusan pel itu, menjura dan menghaturkan terima kasih.

"Harap engkau sudi memaafkan kekasaranku tadi, locianpwe, dan saya menghaturkan banyak terima kasih atas pertolonganmu!"

"Ha-ha-ha-ha, palsunya! Sebelum diberi marah-marah dan mengancam, sesudah diberi merendah dan berterima kasih. Itulah manusia!"

Kok Beng Lama tertawa bergelak dan In Hong memandang dengan muka berobah merah.

Betapapun kasarnya pendeta Lama itu, kata-katanya amat jitu menancap di ulu hatinya dan dia merasa malu kalau mengingat akan sikapnya sendiri tadi.

Dia tidak segera pergi karena dia ingin melihat bagaimana Yok-mo akan menyembuhkan anak itu, yang dia yakin pasti terluka oleh serangan Siang-tok-swa.

"Hayo kau obati muridku, Yok-mo. Jangan sampai aku harus mengancammu seperti yang dilakukan bocah liar itu."

Kok Beng Lama berteriak.

Tanpa menjawab akan tetapi dengan mulut bersungut-sungut karena baru sekali ini selama hidupnya dia dipaksa orang untuk mengobati, Yok-mo menghampiri tubuh anak itu dan berlutut, membuka bajunya, mencium dekat dada Lie Seng dan memeriksa denyut nadinya yang lemah.

Lie Seng yang sudah siuman itu masih rebah dengan lemah, hanya matanya yang lebar itu memandang dan melirik ke mana-mana.

"Hemm, tepat seperti dugaanku. Dia terkena racun yang jahat, racun kembang yang berbau harum. Racun harum dipergunakan untuk melukai seorang bocah sekecil ini! Betapa kejamnya manusia di dunia ini."

"Memang kejam sekali iblis betina itu!"

Kok Beng Lama berteriak.

"Tidak mampu melawan aku, dia melukai muridku. Awas dia, kalau lain kali bertemu dengannya, akan kupukul pecah kepalanya!"

Makin tidak senang hati Yok-mo mendengar ancaman itu, dia tidak memperdulikan dan memeriksa lagi tubuh Lie Seng lalu berkata.

"Tentu saja aku sanggup menyembuhkannya, akan tetapi dia harus dirawat di sini sedikitnya dua pekan. Racun yang menjalar di tubuhnya ini halus dan lembut akan tetapi cukup mematikan dan untuk membersihkannya sama sekali membutuhkan waktu lama..."

"Pendeta Lama yang kasar, aku mampu mengobati dia dan kutanggung dalam waktu tiga hari saja dia akan sembuh!"

Tiba-tiba In Hong berkata.

Tadinya dia menyangka bahwa anak itu tentu terluka oleh Siang-tok-swa, ketika dia mendengar teriakan pendeta Lama itu bahwa yang melukai anak itu adalah seorang iblis betina, dia menjadi yakin bahwa tentu gurunya yang melakukan itu.

Agaknya gurunya bentrok dengan pendeta ini dan dia tidak akan merasa heran kalau gurunya sampai kewalahan menghadapi pendeta Lama yang memang amat hebat ilmu kepandaiannya ini.

Di dunia ini, yang pandai mempergunakan Siang-tok-swa hanyalah dia dan gurunya, maka siapa lagi kalau bukan Giok-hong-cu Yo Bi Kiok yang melukai seorang anak itu?

Dia sendiri merasa penasaran mengapa gurunya mau melukai seorang anak sekecil itu dengan Siang-tok-swa.

Perbuatan ini pasti tidak akan dia lakukan, karena hal itu dianggapnya terlalu keji dan curang.

Siang-tok-swa adalah pasir beracun yang hanya patut dipergunakan kalau menghadapi pengeroyokan banyak orang atau bertemu dengan lawan tangguh.

Akan tetapi sama sekall tidak pantas kalau dipergunakan untuk melukai seorang bocah yang masih begitu kecil dan tentu belum tahu apa-apa!

Rasa penasaran inilah yang membuat hatinya tergerak untuk mengobati anak itu dengan obat penawar Siang-tok-swa yang selalu dibawanya bersama pasir beracun itu sendiri.

Akan tetapi dia memang seorang dara yang cerdik, tentu saja dia tidak mau mengobati begitu saja!

Kok Beng Lama dan Yok-mo keduanya terkejut mendengar ini.

Kok Beng Lama terkejut bercampur girang, sedangkan Yok-mo terkejut dan marah.

"Bocah sombong engkau! Aku saja baru akan dapat menyembuhkannya dalam waktu dua pekan atau... baiklah, kuperpendek menjadi sepuluh hari!"

"Dan aku tetap dapat menyembuhkannya dalam waktu tiga hari."

"Akan kukeluarkan semua ilmuku... hemm, aku sanggup menyembuhkannya dalam waktu sepekan! Aku akan bohong kalau mengatakan kurang dari sepekan!"

Yok-mo kembali berseru, penasaran.

"Dan aku ulangi lagi, paling lama tiga hari obatku pasti akan menyembuhkannya, paling lama tiga hari, mungkin kurang dari tiga hari."

Kok Beng Lama menghampiri In Hong.

"Nona, benarkah itu? Kau sanggup mengobatinya secepat itu?"

In Hong mengangguk.

"Kalau kau pandai mengobati muridku, kenapa kau sendiri datang minta bantuan kepada Yok-mo?"

"Luka yang diderita oleh... sahabatku dan luka yang diderita muridmu tidak sama, Lama. Dan aku kebetulan mempunyai obat yang paling mujarab untuk mengobati luka muridmu yang terkena racun itu. Racun itu tentu disebabkan oleh Siong-tok-swa, bukan?"

Yok-mo terkejut. Tidak memeriksa sudah mengerti, sungguh hebat dan tepat sekali.

"Benar, luka itu oleh senjata rahasia pasir yang mengandung racun harum,"

Katanya.

"Kalau begitu, nona yang baik, kau obatilah muridku ini dan aku akan berterima kasih sekali kepadamu!"

Kata Kok Beng Lama.

"Ucapan terima kasih hanya merupakan kata-kata kosong belaka, apa gunanya bagiku, Lama? Sudah sepantasnya kalau orang memberi juga meminta, karena itu, aku mau memberi obat kepada muridmu dengan jaminan bahwa paling lama tiga hari dia pasti sembuh, sebaliknya akupun ingin meminta sesuatu darimu."

Kok Bang Lama tertawa.

"Ha-ha-ha, baru sekali ini aku bertemu dengan bocah secerdik engkau. Baiklah, kau mau minta apa?"

"Karena engkau seorang yang memiliki kesaktian luar biasa, maka aku minta diberi ilmu yang dapat mengalahkan semua ilmuku, termasuk ilmu pedangku."

Sepasang mata yang lebar dan besar itu terbelalak.

"Wahhh... ilmu silatku banyak sekali macamnya, aku sendiri sampai tidak hafal lagi. Yang mana yang kau minta?"

"Yang mana saja, asal bisa menangkan semua ilmuku. Kau tadi menggunakan kedua lengan kosong untuk menghadapi pedangku, nah, aku mau kau ajarkan ilmu sin-kang itu kepadaku."

"Ha-ha-ha, menggunakan tangan kosong menghadapi senjata hanyalah mampu dilakukan orang yang memiliki Thian-te Sin-ciang. Kau mau minta sin-kang istimewa yang khas hanya dimiliki olehku ini?"

"Tidak perduli apa namanya dan bagaimana macamnya, pokoknya aku ingin menukar obatku dengan Ilmu Thian-te Sin-ciang itu. Kalau kau mau, boleh. Kalau tidak, aku mau pergi sekarang. Sahabatku sudah menunggu dan nyawanya tinggal dua hari lagi."

Sambil berkata demikian, dengan lagak "jual mahal"

In Hong membalikkan tubuhnya dan hendak pergi dari situ.

"Eeiiitttt... nanti dulu...!"

Sekali berkelebat Kok Beng Lama sudah mencelat dan melampaui tubuh In Hong, tahu-tahu sudah berdiri menghadang, membuat dara itu menjadi makin kagum.

Pantas gurunya tidak mampu menandingi hwesio Lama ini, memang amat luar biasa kepandaiannya.

"Kau mau atau tidak?"

In Hong berkata.

"Kau kira mudah saja mempelajari Thian-te Sin-ciang? Untuk memperoleh ilmu ini kau harus berlatih sedikitnya lima tahun!"

"Tidak perduli, pendeknya aku ingin memiliki ilmu itu, sekarang juga. Dan jangan kau mencoba untuk menipuku, Lama, karena aku cukup tahu bahwa menurunkan sin-kang kepada seseorang, sang guru dapat pula menyalurkan hawa murni kepada si murid dan dengan cara demikian akan dapatlah ilmu itu dikuasai secara langsung."

"Wah, kau minta yang bukan-bukan!"

"Kenapa yang bukan-bukan? Dengan memberikan itu kepadaku, engkau tidak akan kehilangan apa-apa dan tenaga yang hilang oleh penyaluran itupun akan mudah terisi kembali."

"Ha-ha, agaknya engkau cukup tahu akan segala hal ihwal pengoperan tenaga sin-kang, nona. Akan tetapi engkau tentu tahu pula bahwa ilmu simpanan seseorang hanya bisa diberikan kepada seorang muridnya."

"Aku tidak akan menjadi muridmu dan engkau bukan guruku. Tidak ada hubungan guru dan murid antara kita, bahkan saling mengenal namapun tidak. Kita hanya saling menukar sesuatu yang berharga. Bagaimana, mau tidak kau menukar Thian-te Sin-ciang dengan obat untuk muridmu?"

Andaikata Kok Beng Lama masih waras pikirannya, tentu dia akan memikirkan hal ini lebih mendalam dan tidak akan memberikan ilmunya begitu saja.

Akan tetapi dia dalam keadaan bingung, maka dia lalu menghela nafas.

"Baiklah, baiklah... nah, kau obati muridku dan aku akan memberi Thian-te Sin-ciang kepadamu."

"Tidak, engkau serahkan dulu ilmu itu, baru aku obati muridmu."

"Hemm, kenapa begitu?"

"Pendeta Lama, di antara engkau dan aku, sudah jelas bahwa kepandaianmu jauh lebih tinggi. Kalau aku obati dulu muridmu dan engkau ingkar janji, aku tidak akan bisa apa-apa terhadapmu. Sebaliknya, kalau kau berikan dulu ilmu itu, kemudian aku tentu tidak mungkin berani ingkar janji terhadapmu karena engkau akan dapat dengan mudah mengalahkan aku. Nah, ini sudah adil, bukan? Dan lagi, setelah kau memberikan ilmu Thian-te Sin-ciang kepadaku, aku akan menyerahkan obat kepadamu lalu pergi karena aku sudah meninggalkan sahabatku yang terluka itu selama satu hari satu malam. Nyawanya tinggal dua hari lagi umurnya, maka aku harus cepat pergi."

"Wah-wah, kau memang cerdik dan banyak akal bulusmu. Mana bisa kau mau menipu aku? Bagaimana kalau obat yang kau berikan itu palsu dan ternyata tidak bisa menolong muridku dalam tiga hari?"

"Habis, hadirnya Yok-mo ini untuk apa? Dialah saksi yang paling berharga. Dia akan tahu apakah obatku itu betul mujarab atau tidak setelah kuobatkan kepada muridmu."

Yok-mo yang sejak tadi mendengarkan perbantahan itu, ingin cepat-cepat terbebas dari dua orang muda dan tua yang sama-sama tiak disenanginya itu.

Dia mengangguk.

"Benar, kalau obat itu palsu dan tidak mujarab, aku tentu akan segera tahu. Akupun ingin melihat apakah dia tidak membohongi orang-orang tua."

"Kalau aku bohong, apa sukarnya bagi Lama ini untuk membunuhku?"

In Hong membantah. Kok Beng Lama merasa kalah bicara. Dia mengangguk-angguk lalu duduk bersila.

"Kau kesinilah dan duduk bersila di depanku,"

Dia berkata dengan nada memerintah.

In Hong girang sekali dan cepat dia duduk bersila di depan kakek itu.

Si kakek menarik napas panjang.

Duduk berhadapan demikian dekatnya dengan dara muda yang cantik jelita ini membuat dia teringat akan puterinya dan tiba-tiba dia menangis!

Tentu saja In Hong menjadi terkejut dan mengangkat muka.

Melihat kakek itu menangis terisak-isak dan air matanya bercucuran, In Hong bergidik dan merasa serem.

Tentu ada suatu hal yang amat hebat menimpa diri kakek sakti ini yang membuat terguncang batinnya dan membuat kakek setua itu dapat menangis mengguguk seperti ini.

Karena gemblengan paksaan, In Hong menjadi seorang dara yang berhati dingin, akan tetapi pada dasarnya dia memiliki watak yang lincah, halus dan perasa seperti mendiang ibunya.

Maka kini menghadapi keadaan kakek tua renta itu, tak dapat dicegah lagi air matanyapun bercucuran!

Hal ini amat menguntungkan In Hong.

Kok Beng Lama yang sudah agak sinting itu, merasa seolah-olah berhadapan dengan puterinya.

Dia merangkul dan mengeluh.

"Anakku... ah, anakku..."

Dan In Hong balas merangkul. Sejenak mereka saling berpelukan sambil menangis.

"Gila...! Gendeng orang-orang kang-ouw ini..."

Yok-mo yang menonton pertunjukan aneh itu menggeleng-geleng kepala berkali-kali.

"Harap... harap kau berikan ilmu itu kepadaku..."

In Hong berbisik, hatinya masih terharu sekali. Hal ini adalah kakek itu tadi menyebutnya "anakku"

Yang tentu saja mengingatkan dia bahwa dia telah tidak berayah ibu lagi, bahkan dia belum pernah melihat atau tidak ingat lagi bagaimana wajah ayahnya dan ibunya.

Maka, mendengar kakek ini menganggap dia sebagai anaknya, tentu saja mengingatkan dia kepada ayahnya menimbulkan keharuan.

"Terimalah, anakku... terimalah... kau buka seluruh jalan darahmu, buka pusarmu dan jangan melawan aku... aku akan memasukkan Thian-te Sin-kang kepadamu yang menjadi dasar Ilmu Pukulan Thian-te Sin-ciang..."

In Hong bersila dan "membuka"

Semua jalan darah dan pusarnya.

Tiba-tiba kedua telapak tangan yang amat lebar dari pendeta itu menyentuh ubun-ubun kepalanya dan pusarnya.

Terasa olehnya hawa yang hangat dan amat kuat mamasuki tubuhnya, berputaran di seluruh tubuh untuk kemudian berkumpul di pusar, bercampur dengan hawa sakti miliknya sendiri.

Tubuhnya tergetar, kemudian menggigil dan berkelojotan.

Hampir dia tidak kuat menahan, kemudian terdengar bisikan suara kakek itu.

"Perlahan-lahan kerahkan tenaga dari pusar, kuasai tenaga yang meliar itu sampai berputaran di pusar, pusatkan kekuatan dan seluruh perhatianmu..."

Dengan membuta In Hong mentaati perintah ini, dan dia terus mendengarkan perintah kakek itu yang merupakan petunjuk dan teori pengendalian tenaga Thian-te Sin-kang.

Hampir tiga jam mereka duduk bersila berhadapan dan akhirnya In Hong dapat menguasai tenaga sakti mujijat yang liar itu.

Keadaan itu hampir sama dengan menaklukkan seekor kuda liar.

Mula-mula kuda itu meronta dan melawan, meloncat dan hendak membedal, akan tetapi setelah akhirnya dapat dijinakkan, menjadi penurut dan bergerak ke mana saja menurut kemauan yang menguasainya.

Setelah membuka matanya dan wajahnya, masih pucat sekali, In Hong dengan penuh perhatian mendengarkan petunjuk-petunjuk tentang teori Thian-te Sin-ciang.

Cukup ruwet teori ilmu silat ini, akan tetapi sebagai seorang gadis yang cerdas dapat menerima dan menghafal teori itu dalam waktu dua jam.

Tentu saja teori itu membutuhkan latihan, akan tetapi dengan dasar tenaga sin-kang Thian-te Sin-kang yang telah dikuasainya, dia akan dapat melatih ilmu itu dengan cepat.

Kok Beng Lama bangkit berdiri dengan tubuh agak lemas dan mukanya pucat.

Dia telah menggunakan banyak tenaga, bahkan kehilangan banyak sin-kang, namun hatinya puas karena anak perempuan yang seperti anaknya ini dapat menerima ilmu demikian cepatnya.

"Sudah cukup... kau telah menguasai Thian-te Sin-ciang asal kau rajin berlatih..."

Hati In Hong masih diliputi keharuan.

Dia tadi merasa betapa kakek itu menurunkan ilmu kepandaiannya penuh kasih sayang seperti kepada anaknya sendiri.

Dan, memang demikianlah keadaannya.

Andaikata tidak ada kasih sayang ini, kiranya tidak mudah untuk menerima penyaluran tenaga mujijat seperti Thian-te Sin-kang tadi.

Maka kini In Hong menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu sambil berkata.

"Locianpwe, teecu menghaturkan banyak terima kasih kepada locianpwe."

"Hushh, ingat. Kita bukan guru dan murid, bukan apa-apa, bukan sanak bukan kadang bukan tidak saling mengenal. Hayo cepat kau obati muridku."

In Hong tidak berani, bersikap kasar lagi.

Dia mengangguk, lalu mengeluarkan obat penawar Siang-tok-swa, menghampirl Lie Seng dan memeriksa.

Diam-diam dia menyesal sekali atas perbuatan gurunya yang terlalu kejam.

Anak ini terkena Siang-tok-swa di dada, muka dan perutnya!

Cepat dia menaruhkan obat bubuk yang dicampur air dan diborehkan ke tempat-tempat yang terluka dan menghitam itu, kemudian dia memasak sebungkus obat lalu obat itu diminumkannya kepada Lie Seng.

Diam-dam dara inipun kagum bukan main karena sejak tadi dia tidak mendengar anak itu mengeluh sedikitpun!

Benar-benar seorang bocah yang luar biasa dan sudah patut menjadi murid seorang sakti seperti pendeta Lama itu.

Sejam kemudian, hari sudah mulai sore dan Yok-mo memeriksa keadaan Lie Sang.

Dia mengangguk-angguk.

"Lama, kau percayalah. Obat boreh dan obat minum itu benar-benar manjur sekali dan agaknya memang khusus dibuat untuk mengobati luka karena Siang-tok-swa. Muridmu sudah hampir sembuh dan dalam waktu dua hari saja kurasa dia sudah akan terbebas dari pengaruh racun."

Kok Bang Lama tertawa girang sekali.

"Ha-ha-ha, tidak percuma kalau begitu aku menyerahkan ilmu kepadamu, nona. Ha-ha-ha!"

In Hong lalu menyerahkan obat untuk Lie Seng kepada Yok-mo, kemudian dia berpamit setelah menjura kepada Yok-mo dengan ucapan terima kasih, kemudian memberi hormat kepada Kok Beng Lama sambil berkata.

"Biarpun teecu bukan murid locianpwe, namun teecu berjanji bahwa Ilmu Thian-te Sin-ciang tidak akan teecu pergunakan secara sembarangan dan akan merupakan ilmu simpanan teecu. Sekali lagi teecu menghaturkan terima kasih."

"Ha-ha-ha, kalau kau pergunakan dengan sembarangan, apa sukarnya bagiku untuk mencarimu dan mencabutnya kembali berikut nyawamu? Ha-ha-ha!"

In Hong menjura lalu membalikkan tubuhnya dan berkelebat lenyap dari tempat itu.

Yok-mo bengong dan menggeleng-geleng kepala.

"Nona itu dahsyat bukan main, sinar dingin di wajahnya menunjukkan dendam kebencian yang mendalam. Kini ditambah ilmu pemberianmu, Lama, sama dengan memberi sayap kepada seekor harimau."

Akan tetapi Kok Beng Lama tidak memperhatikan ucapan itu.

Hatinya terlampau girang melihat Lie Seng tertolong karena dia telah menganggap bocah itu sebagai muridnya.

Memang Kok Beng Lama telah berobah sekali dibandingkan dengan wataknya sebelum dia mengalami pukulan batin yang hebat.

Dulu tidak mudah bagi siapapun untuk menjadi murid kakek sakti ini.

Akan tetapi kini, begitu bertemu dengan Lie Seng, tanpa tanya-tanya dulu apakah bocah itu mau atau tidak menjadi muridnya, tanpa menyelidiki lebih dulu siapa bocah itu dan anak siapa, dia sudah begitu saja menganggap bocah itu sebagai muridnya!

Dan tanpa menanyakan nama In Hong, sama sekali tidak mengenalnya, dia sudah begitu saja menyerahkan ilmu yang merupakan satu di antara ilmu-ilmunya yang paling rahasia dan ampuh!

"Ah, untung engkau keburu datang, lihiap!"

Pemuda murid Bu-tong-pai itu berseru dengan suara lega.

"Aku khawatir dia sudah dalam sekarat..."

In Hong terkejut mendengar sambutan murid Bu-tong-pai itu dan cepat dia mengikuti masuk dalam kuil tua.

Dan benar saja, orang yang tersiksa itu rebah dengan mata tertutup, muka kehitaman dan napas tinggal satu-satu.

Dua orang murid Bu-tong-pai yang menjaga di situ juga kelihatan girang melihat datangnya penolong mereka.

Cepat mereka itu membantu In Hong mencari dan memasak air, Kemudian dengan paksa mereka membantu In Hong mencekokkan obat yang dibawa oleh In Hong itu ke dalam perut pemuda yang sekarat melalui mulutnya yang dibuka dengan paksa.

Mereka berempat menunggu dengan hati tegang, ingin menyaksikan bagaimana pengaruh obat yang didapatkan dari Yok-mo yang terkenal itu.

Satu jam mereka menanti penuh ketegangan, karena mereka seolah-olah melihat pemuda itu bergulat dengan elmaut.

Detik jantung pemuda itu amat lemah dan napasnya Senin Kemis, kadang-kadang menggeliat-geliat seperti orang dalam sekarat.

Tiba-tiba terdengar suara berkeruyuk dari perut Bun Houw.

Empat orang muda itu memperhatikan.

Suara berkeruyuk itu sambung-menyambung dan perut pemuda itu bergerak-gerak, terus bergerak dan kini naik ke dada.

Tiba-tiba pemuda itu muntah dan cepat sekali In Hong melompat dan membantu pemuda itu duduk sehingga pemuda itu dapat muntah ke pinggir dalam keadaan setengah rebah miring.

Lengan In Hong terkena muntahan yang ternyata adalah darah hitam yang berbau busuk!

Tiga orang murid Bu-tong-pai itu benar-benar merasa kagum sekali melihat betapa tekun dan penuh perhatian In Hong merawat Bun Houw.

Padahal wanita sakti penolong mereka itu sama sekali tidak mengenal pemuda itu, seperti juga tidak mengenal mereka.

Juga mereka melihat betapa sinar mata yang biasanya dingin itu menjadi berseri ketika melihat bahwa pernapasan Bun Houw kini menjadi lebih tenang dan detik jantungnya lebih kuat, tanda bahwa obat itu memang manjur sekali.

"Dia tertolong, dan kalian bertiga boleh pergi sekarang,"

Kata In Hong setelah melihat Bun Houw tidur nyenyak dengan napas tenang dan muka pemuda itu tidak begitu menghitam lagi.

Dua orang gadis Bu-tong-pai itu memandang dengan mata terharu dan pemuda yang menjadi suheng mereka memandang kagum.

"Lihiap, kami akan kembali ke Bu-tong-pai untuk melapor kepada suhu kami. Setelah menerima pertolongan lihiap dan berkumpul beberapa lama, mustahil kalau kami tidak memperkenalkan diri. Saya bernama Sim Hoat, ini adalah sumoi Lim Soan Li, dan dia itu adalah sumoi Coa Gin Hwa. Kami masih tinggal di Bu-tong-san karena belum tamat belajar dari suhu kami, ketua Bu-tong-pai Thian Cin Cu Tojin. Sudilah kiranya lihiap memperkenalkan nama, karena tanpa ada pertolongan lihiap, kami bertiga tentu sudah tidak hidup lagi. Kami berhutang budi dan tentu suhu akan marah kalau kami tidak dapat memberi tahu kepada beliau siapa lihiap yang telah menyelamatkan nyawa kami."

In Hong mengerutkan alisnya.

Sudah berkali-kali dia mengalami bahwa jika orang mengenalnya sebagai murid ketua Giok-hong-pang, orang akan menggolongkan dia sebagai orang sesat atau golongan hitam.

Dan merasa malu untuk digolongkan dengan kaum sesat yang selalu mengumbar nafsu tidak segan-segan melakukan kejahatan.

Tidak, dia bukan orang macam itu!

"Terima kasih atas kebaikan sam-wi.

Akan tetapi aku tidak punya nama dan peristiwa kecil itu tidak perlu mengikat kita.

Sebaiknya kita melupakan saja hal yang telah lalu dan aku tidak pernah menolong sam-wi.

Baik ikatan budi maupun ikatan dendam hanya merepotkan hidup saja.

Pergilah dan di antara kita tidak ada hubungan apa-apa lagi."

Tiga orang murid Bu-tong-pai itu saling pandang dan menarik napas panjang.

Banyak terdapat orang sakti yang berwatak aneh di dunia ini, akan tetapi penolong mereka ini masih begini muda, lebih muda dari mereka, aken tetapi berwatak begini dingin dan aneh, seolah-olah tidak suka berhubuhgan dengan manusia lain, akan tetapi yang jelas sanggup mengorbankan apa saja untuk menolong orang lain yang sama sekali belum dikenalnya.

Seorang dara yang luar biasa!

Apalagi bagi Sim Hoat pemuda Bu-tong-pai ini, dia sekaligus sudah jatuh cinta kepada dara luar biasa yang selain sakti juga amat cantik jelita ini!

Terpaksa mereka lalu berpamit, memberi hormat meninggalkan kuil dalam hujan lebat itu untuk pergi ke Bu-tong-pai dan melaporkan kepada suhu mereka tentang kematian suheng mereka di Lembah Bunga Merah dan tentang kegagahan mereka membalas dendam.

Setelah mereka itu pergi, In Hong merawat Bun Houw seorang diri dengan tekun dan penuh perhatian.

Setiap kali dia mencekokkan pel hitam yang dicampur air matang ke dalam perut pemuda itu, Bun Houw muntahkan darah hitam.

Sampai dua hari pemuda itu terus muntah setiap habis makan pel, akan tetapi setelah dicekoki pel yang ketujuh, dia tidak muntah lagi dan mukanya sudah menjadi bersih dari warna hitam!

Pada hari ketiga, mukanya mulai agak kemerahan dan kini napasnya sudah teratur sehat dan detak jantungnya juga sudah menjadi kuat.

Tentu saja In Hong menjadi girang sekali.

Tiga hari tiga malam lamanya dia tidak tidur maka kini saking lelahnya, dia tertidur menyandar tembok tidak jauh dari Bun Houw yang masih rebah tidak sadar di atas lantai.

Sehabis memberi minum pel yang kedelapan di siang hari, In Hong tertidur sambil duduk bersandar tembok.

Saking lelahnya, dia telah tidur setengah hari dan siang telah terganti senja hampir golap, namun dia masih juga belum bangun.

Di dalam tidurnya In Hong bermimpi.

Dia diajak berjalan-jalan di dalam sebuah taman bunga yang indah, penuh bunga-bunga mekar semerbak harum, tangannya digandeng oleh Bun Houw dan dia mandah saja.

Bahkan dia merasakan suatu kebahagiaan yang belum pernah dialami sebelumnya.

Wajah Bun Houw berseri-seri, demikian tampan, sikapnya demikian gagah dan melindungi.

Dia sudah begitu hafal akan wajah Bun Houw yang setiap saat dipandangnya itu, Hafal akan garis dan lekak-lekuk wajah itu, dan kini wajah pemuda itu demikian dekat dengan wajahnya, mata yang bersinar-sinar tajam itu memandang mesra, seolah-olah membelainya dengan pandang mata, dan senyum yang menawan itu khusus ditujukan kepadanya.

Dia menjadi malu, perasaan malu yang luar biasa, perasaan malu dan jengah yang amat mengguncang hatinya, mengusap kalbu dan mendatangkan perasaan bahagia yang sukar dituturkan dengan kata-kata.

Akan tetapi tiba-tiba pemuda itu mengeluh, In Hong terkejut dan...

dia tersadar, membuka mata, memandang ke kenan, ke arah pemuda yang tadi masih rebah tak sadar, karena sebelum tidur seluruh perhatiannya tercurah kepada Bun Houw, maka biarpun dia tidur nyenyak sekali, sedikit saja pemuda itu mengeluh sudah cukup untuk menyadarkannya.

"Kenapa kau tidak membunuhku? Bunuh saja aku, tidak ada gunanya kausiksa dan kaubujuk. Kau... perempuan hina dina, perempuan keparat jahanam!"

Pemuda itu memaki-maki, pandang matanya penuh kebencian ditujukan ke arah In Hong.

Di dalam ruangan kuil itu sudah mulai gelap.

In Hong lalu meloncat bangun, menjenguk keluar jendela butut untuk mengira-ngira waktu.

Cuaca sudah mulai gelap, sudah tiba waktunya pemuda itu menelan pel hitam kesembilan, Pel yang terakhir dan dia girang sekali karena pemuda itu kini sembuh, buktinya sudah sadar dan sudah penuh semangat hidup kembali, sudah dapat marah-marah dan memaki-maki!

Dia tahu bahwa pemuda itu mengira dia seorang di antara para musuh-musuh yang menyiksanya, maka makian itu tidak menyakitkan hati, bahkan menggelikan.

Tanpa thenjewab, In Hong mengambil air matang dari panci butut di sudut ruangan, menuangkan ke dalam mangkok, mengambil obat pel terakhir dan menghampiri Bun Houw.

Seperti biasa, tanpa bicara apa-apa dia meletakkan mangkok di atas lantai, menggenggam pel di tangan kanan dan lengan kirinya menyangga punggung pemuda itu dan diangkatnya pemuda itu untuk bangkit setengah duduk.

Akan tetapi Bun Houw yang dirangkul itu meronta.

"Aku tidak sudi...! Lepaskan, kau perempuan hina...!"

Pemuda itu menggerakkan tangannya hendak memukul, akan tetapi dia mengeluh dan kedua lengannya tergantung lemas karena luka di kedua pundaknya masih belum sembuh benar sehingga sedikit gerakan saja membuat tulang-tulang pundaknya seperti ditusuk-tusuk rasanya.

"Tenanglah, engkau harus menelan pel sebutir lagi dan engkau akan sembuh sama sekali. Buka mulutmu, telan pel ini dan minum air ini."

Akan tetapi Bun Houw menggeleng kepalanya dan memandang wajah yang cantik itu dengan sinar mata penuh kebencian dan kemarahan.

"Perempumn hina, percuma saja Thian mengaruniai padamu wajah secantik ini, temyata engkau hanya seorang manusia berhati iblis, seperti ular beracun, hamba dari nafsu yang cabul!"

Bun Houw mengira bahwa gadis yang amat cantik ini tentu saudara seperguruan dari Ai-kwi dan Ai-kiauw.

Wajah In Hong menjadi merah sekali.

Kalau saja bukan pemuda ini yang memakinya seperti itu, kalau saja dia tidak tidak tahu benar bahwa pemuda ini salah sangka, kalau saja dia masih seperti In Hong beberapa hari yang lalu, makian itu sudah cukup baginya untuk membunuh laki-laki ini!

Huh, laki-laki berani memaki dia secara demikian menghina!

Akan tetapi kini dia tahu betul bahwa pemuda ini bukanlah laki-laki perusak wanita, bahkan sebaliknya, dia mempertahankan diri terhadap bujuk rayu wanita-wanita cabul dan hina.

Makiannya itu hanya menunjukkan betapa pemuda ini di saat terakhir pun masih tetap tidak sudi melayani bujuk rayu itu, masih tetap mempertahankan kegagahannya dengan menentang maut!

Makin kagumlah hati In Hong.

"Orang she Bun, engkau salah kira..."

Dia berkata lirih.

"Engkau sudah bukan tawanan lagi, dan aku hanya membantumu menelan pel kesembilan ini yang telah menyelamatkan nyawamu dari ancaman racun kelabang hitam."

Bun Houw mendengarkan suara ini dan matanya perlahan-lahan terbuka lebar.

Dia memandang wajah itu, yang tidak begitu jelas karena cuaca yang mulai gelap, dan dia memandang ke sekeliling dan mendapat kenyataan bahwa dia berada di sebuah ruangan kuil yang rusak.

"Kau... kau... siapakah...? Kau... bukan... seorang di antara mereka...?"

Ing Hong tersenyum dan giginya yang putih sempat berkilau di dalam gelap. Dia menggeleng kepalanya.

"Telanlah dulu pel ini, dan minum air di mangkok ini..."

Katanya lirih.

Bun Houw masih bingung, akan tetapi kini mulailah kesadarannya kembali.

Siapapun adanya wanita ini, jelas bahwa wanita ini tidak berniat buruk terhadap dirinya, bukan meracuni ataupun merayu.

Bukan demikian sikap orang merayu, biarpun lengan wanita ini merangkul punggungnya.

Dan kalau wanita ini hendak membunuhnya atau meracuninya, bukan demikian pula sikapnya.

Dan lagi, setelah mengalami siksaan seperti itu, apalagi yang ditakutinya.

Dia lalu membuka bibirnya menerima pel yang dimasukkan ke dalam mulutnya, pel yang berbau sedap dan terasa pahit, kemudian menelan pel itu bersama air dari mangkok yang ditempelkan di bibirnya oleh wanita itu.

Kemudian wanita itu merebahkan dia kembali ke atas lantai.

Tanpa bicara In Hong mengembalikan mangkok kosong ke sudut ruangan, lalu membuat api dari kayu-kayu kering di sudut ruangan itu, agak jauh dari Bun Houw.

Dengan alat seadanya yang disediakan oleh murid-murid Bu-tong-pai, dia memasak bubur dan semua pekerjaan ini dilakukan dengan mulut tertutup, biarpun dia maklum bahwa sepasang mata selalu mengikuti setiap gerakannya, memandanginya di bawah penerangan api unggun yang kemerahan.

Sepasang mata yang memandang penuh keheranan, penuh pertanyaan dan keraguan.

Sepasang mata itu terus memandanginya seperti mata seorang anak kecil memandang orang yang baru pertama kali dijumpainya, ketika In Hong menyuapkan bubur ke mulut pemuda itu.

Akhirnya sepasang mata itu tertutup kembali, tertidur nyenyak.

In Hong lalu makan pula, makan bubur dengan sayur asin sederhana sebagai lauknya, akan tetapi karena hatinya lega dan perutnya lapar, rasanya belum pernah dia makan selezat itu.

Kemudian dia pun tidur tidak jauh dari Bun Houw, tidur dengan nyenyak tanpa mimpi semalam suntuk.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali In Hong sudah bangun.

Tubuhnya terasa segar dan cepat dia keluar dari kuil, kini berlatih ilmu yang baru saja dipelajarinya dari pendeta Lama raksasa itu.

Dia bersila dan mengumpulkan hawa murni, menggerak-gerakkan sin-kang yang sudah terkumpul di dalam pusar, melatih perlahan-lahan sehingga "kuda liar"

Yang amat kuat itu tunduk kepada kemauannya dan dia dapat mengalirkan Thian-te Sin-kang itu sampai ke ujung-ujung jari tangannya, akan tetapi belum dapat sepenuhnya.

Setelah merasa cukup berlatih, dia lalu pergi ke sumber air di tengah hutan, menanggalkan pakaiannya dan mandi sampai bersih.

Segar bukan main rasanya, lenyap seluruh sisa kelesuan dan kelelahan tubuhnya.

Sambil berdendang In Hong mencuci pula rambutnya yang dianggapnya tentu kotor.

Tiba-tiba dia berhenti di tengah-tengah dendangnya dan mukanya teran panas.

Dia menengok ke kanan kiri, menarik napas lege karena tidak ada orang lain yang melihat dan mendengarnya, cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya membersihkan seluruh tubuh lalu memakai kembali pakaiannya, duduk memeras air dari rambutnya yang hitam panjang, mengurai rambut itu agar cepat kering sambil melamun.

Baru sadar dia akan keadaan dirinya sendiri.

Dia berdendang?

Belum pernah dia melihat dirinya sendiri seperti ini!

Sejak kecil dia tidak pernah bernyanyi, sungguhpun dia tahu bahwa dia pandai menirukan semua nyanyian yang didengarnya dinyanyikan oleh para anggauta Giok-hong-pang dan bahwa suaranya cukup merdu.

Tidak pernah selama hidupnya dia merasa begini gembira, begini bebas, begini lapang dadanya.

Belum pernah selama hidupnya dia melihat pagi seindah itu, secerah itu sinar keemasan matahari pagi, semerdu itu suara kicau burung dan gemericik air dari sumber air, secantik itu daun-daun hijau terhias embun dan bunga-bunga beraneka warna, senyaman itu tarikan napasnya, membawa bau sedap pohon-pohonan dan keharuman bunga-bunga.

Mengapa begini?

Mengapa setelah melihat pemuda she Bun...

dia terkejut dan cepat dia meloncat bangun ketika teringat kepada pemuda itu.

Tentu telah bangun pemuda itu!

Seperti orang takut kehilangan sesuatu yang amat berharga, In Hong meloncat dan berlari cepat ke arah kuil, memegangi rambutnya yang masih terurai lepas dan terbang melambal-lambai di belakang tubuhnya ketika dia berlari cepat.

Dengan berindap-indap dia memasuki kuil, seolah-olah khawatir kalau mengejutkan pemuda itu dan dia menarik napas lega ketika melihat betapa Bun Houw masih rebah terlentang di atas lantai.

Dia lalu duduk dengan perlahan, menyanggul rambutnya yang menjadi agak kering karena dibawa lari tadi, sambil menatap wajah pemuda itu.

Betapa hafal dia sudah akan wajah yang tampan dan gagah itu, wajah agak kurus dan pucat karena banyak menderita dan hanya makan bubur sedikit setiap hari selama lima hari ini.

Akan tetapi warna gelap sudah lenyap sama sekali dan kini wajah itu kelihatan makin tampan, ada warna merah sedikit pada pipi dan bibir itu, tanda bahwa dia sudah sehat benar, hanya tinggal memulihkan tenaga saja.

Hati In Hong dilanda rasa iba melihat pakaian yang kotor itu, rambut yang kusut dan pundak yang masih dibalut.

Ada bekas-bekas darah pada pakaiannya dan keadaan pemuda itu sungguh mengharukan.

Pakaian itu perlu dicuci, pikir In Hong yang sudah membayangkan betapa dia akan dengan senang hati mencucikan pakaian pemuda itu.

Tiba-tiba In Hong menghentikan lamunannya dan memandang penuh perhatian.

Jantungnya berdebar tegang.

Pemuda itu menggeliat, tubuhnya yang kuat seperti tubuh seekor harimau itu menggeliat dan menegang, akan tetapi ketika kedua lengannya direnggangkan, dia menahan rintihan dan membuka mata karena kedua pundaknya terasa nyeri.

Begitu membuka mata, seperti orang yang baru sadar dari mimpi buruk, Bun Houw bangkit duduk, menggigit bibir ketika merasa pundaknya kembali nyeri.

Dia menoleh ke kanan kiri, lalu ke arah kaki tangan dan pundaknya dan kini dia menatap wajah In Hong yang duduk dengan tenang-tenang saja itu dengan mata penuh selidik.

Seperti teringat sebuah mimpi, Bun Houw mengenal wajah ini yang pernah dilihatnya secara remang-remang, lalu dia menoleh ke sudut di mana terdapat panci dan mangkok, ke sudut lain di mana terdapat bekas api unggun dan dia teringat.

"Kau... eh, nona... apakah yang telah terjadi dengan diriku? Di mana aku sekarang ini berada...?"

Tanyanya, kesadarannya membuat dia bingung melihat betapa dia yang tadinya ditawan dan disiksa oleh dua orang musuh besarnya itu tahu-tahu bisa berada di sini terbebas dari belenggu dan tubuhnya terasa sehat sama sekali, kecuali rasa nyeri pada kedua tulang pundaknya yang masih terbalut.

Dengan sikap dingin, bukan dingin sewajarnya seperti yang sudah menjadi sikapnya sejak kecil menurut gemblengan gurunya, melainkan sekali ini dingin buatan, seperti orang acuh tak acuh, seperti orang memandang rendah, In Hong menjawab lirih.

"Di dalam sebuah kuil rusak..."

Lalu dia menunduk dan merapikan bajunya, kemudian merapikan rambutnya yang tadi digelung, dan dipasangnya tusuk konde burung hong kumala di rambutnya.

Bun Houw tentu saja melihat betapa cantik jelitanya dara yang duduk di depannya itu, akan tetapi pada saat itu dia lebih memperhatikan keadaan luar kuil dari jendela ruangan itu yang terbuka karena hatinya masih diliputi keheranan besar.

Dia melihat pohon-pohon lebat dan tahulah dia bahwa kuil tua ini berada di tengah hutan.

"Hemmm... di dalam sebuah kuil tua di tengah hutan. Dan... bagaimana aku bisa berada di sini? Bukankah tadinya aku berada dalam kamar tahanan di Lembah Bunga Merah?"

In Hong tidak menjawab, hanya memandang dan dua pasang mata saling bertemu, sejenak bertaut dan akhirnya In Hong menundukkan mukanya.

Melihat dara itu tidak menjawab, timbul pula kecurigaan Bun Houw dan dia menduga-duga.

Apakah dara ini murid Hui-giakang Ciok Lee Kim?

Akan tetapi tidak mungkin, karena jelas bahwa dara ini memperlakukan dirinya dengan baik, memberi obat dan menyiapkan bubur!

"Ah, tentu ada yang menolongku keluar dari tempat itu, betapapun anehnya, hal itu mengingat bahwa aku tersiksa dan dibelenggu, kedua tulang pundakku dikait dengan besi kaitan..."

Tiba-tiba dia teringat akan bayangan rahasia yang memiliki gerakan cepat luar biasa, yang telah menyelamatkan dan membebaskan tiga orang tawanan Lembah Bunga Merah, yaitu tiga murid-murid Bu-tong-pai.

"Nona, apakah engkau yang telah membebaskan tiga orang anak murid Bu-tong-pai dari Lembah Bunga Merah?"

Dia memandang tajam penuh selidik.

In Hong mengangkat muka, ketika pandang matanya bertemu dengan pandang mata penuh selidik itu, dia merasakan sesuatu yang aneh pada jantungya.

Dia berdebar malu, dan...

bangga!

Sungguh dia hampir tidak mengenal diriya sendiri, perasaannya sendiri, mengapa sekarang menjadi begini aneh?

Dia hanya mengangguk dan menunduk lagi.

"Kalau begitu... agaknya engkau pula yang telah menolong aku, nona?"

Pertanyaan ini diajukan oleh Bun Houw dengan pandang mata penuh keheranan, hampir tidak percaya.

Mana mungkin seorang gadis muda seperti ini, yang begini cantik jelita, begini pendiam dan agaknya pemalu, dapat menolong dia yang sudah terbelenggu dan dikait tulang punggungnya dari tangan lima orang sakti dan anak buah Lembah Bunga Merah?

Akan tetapi kembali dara itu mengangguk!

Hening sejenak karena Bun Houw terlalu heran dan terkejut sehingga sampai lama dia hanya bengong saja memandang wajah dara itu.

Kalau yang menolongnya itu gurunya, Kok Beng Lama misalnya, atau ayahnya dan ibunya sendiri, masih tidak terlalu aneh.

Akan tetapi dara ini!

Dan bukan hanya menolongnyg keluar dari tahanan yang berbahaya itu, malah sudah menyembuhkannya, padahal dia masih ingat betul betapa dia tersiksa hebat oleh rasa nyeri dan tahu bahwa dia keracunan, bahkan menurut Hui-giakang Ciok Lee Kim dia hanya dapat bertahan hidup tiga hari saja!

Buktinya sekarang dia sudah sembuh!

Gadis ini pulakah yang menyembuhkannya?

Tiba-tiba dia teringat dan cepat Bun Houw bangkit berdiri ketika dia melihat dara itu yang agaknya merasa tidak enak dipandanginya terus seperti itu telah bangkit berdiri di dekat jendela, memandang keluar, membelakanginya.

"Kalau begitu... aku telah kau tolong, nona. Kau telah menyelamatkan nyawaku...! Betapa hebat dan besar budimu terhadap diriku, nona. Bagaimana aku harus mengatakan terima kasihku?"

Kata Bun Houw gagap karena hatinya terharu, tahu betul dia betapa bahayanya menolong dia dari lembah maut itu, bahaya yang hanya dapat ditempuh dengan taruhan nyawa.

"Mengapa bingung-bingung?"

In Hong menjawab tanpa menoleh.

"Sudah saja jangan menyatakan terima kasih, aku tidak membutuhkan itu..."

Bun Houw menjadi makin bingung.

Sikap gadis ini sungguh aneh.

Melihat budinya yang demikian besar, jelas bahwa dara ini adalah seorang yang berhati mulia, akan tetapi mengapa sikapnya demikian dingin?

Jangan-jangan ada maksud tertentu di balik pertolongannya itu!

Akan tetapi tak mungkin...!

"Sudikah engkau menceritakan bagaimama engkau dapat membebaskan aku dari tahanan itu, nona?"

In Hong membalikkan tubuhnya.

Karena dia berdiri miring, sinar matahari yang menerobos masuk dari jendela tua itu menimpa separuh mukanya dan kelihatan cantik bukan main.

Rambut yang baru saja dicuci itu berkilauan, anak rambut banyak yang bergumpal-gumpal kacau dan awut-awutan di sekitar dahi, pelipis dan leher.

Manisnya sukar dilukiskan!

"Apa yang dapat diceritakan?

Aku melihat engkau ditawan dan disiksa, lalu aku menggunakan kesempatan selagi lima orang sakti itu tidak menjagamu, aku merobohkan semua penjaga, anak buah Lembah Bunga Merah, lalu membawamu ke sini."

Kata-kata yang keluar dari mulut dara itu begitu bersahaja, seolah-olah menceritakan hal yang biasa saja, demikian penuh kerendahan hati sehingga Bun Houw menjadi makin terheran-heran dan kagum.

"Akan tetapi... apakah tidak ada di antara mereka yang merintangimu?"

In Hong mengangguk.

"Hwa Hwa Cinjin dan Hek I Siankouw menghadangku, akan tetapi aku dapat melewati mereka dengan selamat."

Bun Houw terbelalak.

Kakek dan nenek pertapa itu lihai bukan main, dan tentu dara ini memanggulnya ketika melarikan dia, namun toh dapat membebaskan diri dari mereka.

Bukan main!

Cepat dia menjura dengan penuh hormat yang dibalas oleh In Hong dengan kaku dan sembarangan.

"Ah, kiranya aku berhadapan dengan seorang pendekar wanita yang amat lihai! Sungguh beruntung sekali, karena tanpa pertolonganmu aku tentu tewas di tangan mereka. Terimalah ucapan terima kasihku yang sedalam-dalamnya, nona."

Melihat pemuda itu kembali menjura dengan hormat, In Hong membalas dan berkata.

"Sudah kukatakan, aku tidak membutuhkan terima kasih."

"Dan aku telah keracunan, Toat-beng-kauw Bu Sit menusukkan jarum dengan racun kelabang hitam di tengkukku, sakitnya bukan main, seperti ribuan ekor semut menggigit dari dalam tubuhku, sampai aku tidak tahan... dan... aku tidak berdaya, tulang pundakku dikait baja pengait dan Hui-giakang Ciok Lee Kim mengatakan bahwa aku hanya dapat hidup tiga hari saja. Akan tetapi sekarang..."

Bun Houw melihat kaki tangan dan pundaknya.

"tidak ada bekas-bekasnya lagi! Agaknya engkau pula yang telah menyembuhkan aku dari ancaman racun kelabang hitam itu, nona?"

"Bukan aku, melainkan Yok-mo. Aku pergi ke puncak Gunung Cemara di mana tinggal Yok-mo, ahli obat gila. Aku memaksa dia memberikan obat untukmu dan ternyata kau sembuh."

"Dan nona meninggalkan aku di sini ketika pergi mencari obat?"

"Tidak, tiga anak murid Bu-tong-pai menjagamu di sini. Setelah aku kembali membawa obat, baru mereka pulang ke Bu-tong-pai."

"Aihhhh... dua kali engkau menyelamatkan nyawaku, nona!"

Kembali Bun Houw menjura dengan terheran-heran dan kagum sekali.

"Sudahlah, capek aku kalau terus-mencrus membalas penghormatanmu!"

In Hong mengomel dan cemberut, akan tetapi sebetulnya belum pernah dia merasa demikian girang hatinya.

"Sungguh hebat... sunguh mengherankan sekali... engkau yang masih begini muda... bolehkah aku mengetahui namamu yang mulia dan terhormat, nona?" (Lanjut ke

Jilid 18) Dewi Maut (Seri ke 03 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 18

"Hemm, pertemuan antara kita hanya kebetulan saja. Aku hanya tahu engkau seorang she Bun, dari percakapan mereka di Lembah Bunga Merah. Biarlah aku mengenalmu sebagai orang she Bun, dan engkau tidak perlu mengetahui namaku..."

"Aih, mengapa begitu, nona?"

Bun Houw bertanya dengan heran lagi, dan diam-diam diapun tidak ingin memperkenalkan namanya.

Dia tahu betapa bahayanya kalau namanya dikenal orang, apalagi kalau sampai dikenal oleh Lima Bayangan Dewa, sedangkan nona jelita ini begini aneh dan penuh rahasia.

"Habis, bagaimana aku harus mengingatmu, harus memanggilmu, kalau aku tidak tahu namamu, nona?"

In Hong tersenyum.

"Jangan mengingat, jangan memanggil..."

Melihat sikap yang dingin, kata-kata yang singkat ini, Bun Houw menjadi khawatir sekali kalau-kalau penolongnya itu marah.

Maka dia lalu membelokkan percakapan dan dia bertanya.

"Aku sudah tidak mempunyai harapan ketika ditusuk jarum beracun itu, akan tetapi buktinya aku sembuh, sungguh hebat obat itu, bagaimana macamnya dan bagaimana pula cara kerjanya ketika engkau mengobatiku, nona?"

"Aku menerima sembilan butir pel hitam dari Yok-mo. Ketika kau menelan pel pertama sampai keenam, setiap kali menelan pel hitam itu kau muntah darah hitam yang berbau busuk, akan tetapi mulai dengan pel ketujuh engkau tidak muntah lagi."

"Aihh... sungguh menjijikkan... akan tetapi mengapa lantai ini bersih?"

"Aku sudah membersihkannya setiap kali kau muntah..."

"Ahhh...! Dan nona merawatku, menjagaku, memberi obat, menyuapkan bubur selama tiga hari tiga malam... dan..."

Serasa hampir meledak jantung di dalam dada In Hong melihat pemuda itu memandangnya dengan mata terbelalak penuh keharuan, penuh rasa syukur dan terima kasih.

"Sudahlan, pakaianmu kotor, mari... mari... kucucikan... dan kau dapat mandi di sumber air di dalam hutan..."

Mata yang sudah terbelalak itu makin terbelalak berisi penuh dengan sinar keharuan, kekaguman dan kini bercampur dengan keheranan.

"Apa? Nona... nona hendak... mencucikan pakaianku...? Ah, tidak..."

"Mengapa tidak?"

Sikap In Hong biasa saja.

"Aku seorang wanita, sudah biasa mencuci pakaian..."

"Tidak, tidak boleh nona begitu merendahkan diri. Di mana sumber air itu? Aku akan membersihkan tubuh dan pakaian ini..."

In Hong menudingkan telunjuknya dan Bun Houw cepat bangkit dan melangkah lebar ke dalam hutan.

Pundaknya masih terasa nyeri sedikit apabila terlalu keras dia menggerakkan kedua tengannya.

Setelah tiba di sumber air, dia menanggalkan pakaiannya, membersihkan tubuhnya dan tubuhnya terasa segar kembali.

Dia merendam tubuh di dalam air, lalu mengumpulkan hawa murni, menggunakan sin-kangnya untuk melancarkan jalan darah dan dengan kekuatan sin-kangnya dia dapat melindungi tulang-tulang pundaknya.

Untung bahwa di dalam sakunya masih terdapat obat lukanya yang mujarab pemberian ayahnya, maka dia membuka balutan pundaknya, lalu memberi obat luka setelah mencucinya bersih, membalutnya kembali setelah dia mandi sampai bersih.

Kemudian dia mencuci pakaiannya, memeras airnya dengan kekuatan besar sehingga sebentar saja pakaian itu hampir kering karena semua air dapat diperasnya keluar.

Dia menjemur pakaian ini di atas batu dan sambil menanti keringnya pakaian itu, dia kembali bersamadhi mengumpulkan hawa murni.

Tak lama kemudian, pulih kembali tenaganya dan ketika dia menggerakkan kedua lengan, rasa nyeri di pundak hanya tinggal sedikit.

Akan tetapi perutnya terasa lapar bukan main.

Kurang lebih dua jam kemudian, dia kembali ke kuil dengan baju bersih dan pakaian bersih pula, juga sudah kering.

Baru saja nampak dinding kuil itu, hidungnya sudah mencium bau sedap yang membuat perutnya makin terasa lapar.

Dia mempercepat langkahnya dan...

di depan kuil itu, di bawah pohon, nampak dara itu sedang memanggang seekor ayam hutan yang gemuk sekali, sedangkan dari panci bekas tempat air itu nampak nasi mengepul panas.

Bun Houw berdiri memandang, menelan ludahnya dua kali.

"Kau sudah selesai?"

In Hong menengok dan sejenak pandang mata mereka bertemu.

Gadis itu menunduk dan di lehernya menjalar warna merah terus ke kepalanya, kemudian terdengar suaranya tanpa dia mengangkat muka.

"Aku berhasil menangkap seekor ayam..."

Bun Houw tidak menjawab, hanya memandang dara itu, hatinya diliputi keheranan besar.

Sungguh amat sukar untuk mengerti watak dan sifat wanita cantik ini pikirnya.

Masih begitu muda, tentu lebih muda darinya, namun sudah memiliki kepandaian yang amat hebat, sungguhpun dia belum menyaksikan sendiri.

Dari caranya menolong dia dari Lembah Bunga Merah saja sudah dapat diduga bahwa kepandaiannya tentu hebat sekali.

Kadang-kadang wanita ini demikian dingin dan tak acuh, sehingga agaknya sama sekali tidak mau saling berkenalan, tidak mau memperkenalkan nama dan tidak pula menanyakan namanya, padahal wanita ini sudah mempertaruhkan nyawa untuk monolongnya, bahkan selama tiga hari tiga malam merawatnya sedemikian rupa!

Akan tetapi ada saat-saat tertentu wanita itu kelihatan begitu lemah lembut, seperti sekarang ini, sama sekali tidak patut menjadi seorang wanita kang-ouw yang perkasa dan aneh sekali.

"Kau tentu lapar sekali..."

Bun Houw sadar dari lamunannya, sadar betapa sejak tadi dia hanya berdiri bengong memandang dara itu yang sedang memanggang daging ayam.

"Oh, lapar...? Lapar sekali...! Dan panggang ayam itu begitu sedap!"

"Kalau begitu, mari kita makan. Ayam ini lebih enak dimakan panas-panas sebagai teman nasi. Sayang tidak ada arak..."

"Ah, itu sudah cukup, nona. Airpun cukup menyegarkan,"

Jawab Bun Houw yang lalu duduk di dekat dara itu.

Mereka lalu makan nasi dan panggang daging ayam, tidak menggunakan sumpit karena memang tidak ada, hanya menggunakan lima batang sumpit alam alias lima jari tangan kanan.

Nasinya mengepul panas, daging ayam panggang juga masih mengepul panas, empuk dan gurih, ditambah kesunyian di pagi indah itu, hadirnya mereka berdua, perut lapar, semua ini membuat nasi dan daging ayam menjadi lezat bukan main.

Dalam waktu pendek saja habislah semua nasi dan daging ayam, memasuki perut mereka, tidak ada ketinggalan sebutirpun nasi dan secuilpun daging.

Bun Houw menjilati jari-jari tangannya yang terkena gajih panggang ayam dan In Hong memandang sambil menaban senyum.

Satu di antara kelemahan wanita, adalah, di samping ingin dipuji-puji tentang kecantikannya, juga ingin dtpuji-puji tentang kelezatan hasil masakannya!

Kini, melihat Bun Houw menjilati jari-jari tangannya, In Hong merasa mendapat pujian yang jauh lebih mengesankan daripada kata-kata.

"Kau belum kenyang? Masih kurang?"

Tanyanya lirih, tersenyum dan tampak deretan gigi mutiara. Bun Houw tertawa.

"Makan sesedap ini, agaknya aku takkan mengenal kenyang. Akan tetapi sementara ini cukuplah, dan terima kasih."

Dia lalu minum air tawar dengan segarnya.

"Beras yang ditinggalkan oleh para murid Bu-tong-pai tinggal itu, aku belum sempat pergi membeli ke dusun."

Kembali Bun Houw tersenyum.

Percakapan antara mereka itu seolah-olah percakapan dua orang sahabat lama yang hidup bersama di suatu tempat.

Setelah mencuci tangan dan mulut, dia lalu berkata dengan suara sungguh-sungguh.

"Nona, setelah apa yang kau lakukan semua untukku, setelah engkau menyelamatkan nyawaku dengan mempertaruhkan keselamatanmu sendiri..."

"Cukup, aku tidak mau bicara tentang itu..."

In Hong memotong.

Bun Houw menunduk.

Melihat wajah nona ini ketika itu, dia menduga bahwa di samping semua keanehannya, dara ini memiliki kekerasan hati yang luar biasa.

Sebaliknya, melihat pemuda itu menunduk dan tidak berani bicara lagi, In Hong merasa kasihan dan sadar bahwa dia terlalu keras.

Betapapun juga, tidak aneh kalau pemuda ini amat berterima kasih kepadanya dan ingin membicarakan tentang pertolongan itu.

Akan tetapi justeru dia tidak mau membicarakannya, karena pertolongannya itu memang terasa aneh olehnya sendiri, mengapa dia begitu bersusah payah untuk pemuda ini.

Kejanggalan ini membuat dia merasa malu sendiri sehingga dia tidak ingin lagi membicarakannya.

Akan tetapi melihat pemuda itu bingung dan kecewa, dia lalu ingin membicarakan lain daripada pertolongan itu sendiri.

"Mengapa engkau begitu nekat, menentang lima orang yang berkepandaian tinggi itu sehingga engkau ditawan dan disiksa?"

Tiba-tiba In Hong bertanya.

Bun Houw memandang dan hatinya merasa gembira lagi.

Kiranya dara ini bukan marah atau bersikap dingin, hanya agaknya tidak mau menyinggung tentang pertolongan itu, Betapa rendah hati, tidak ingin menonjolkan jasa, pikirnya.

Dia belum mengenal dara ini, sungguhpun dia sudah percaya sepenuhnya, namun tidak baik kalau dia memperkenalkan diri dan menceritakan urusan pribadinya.

Maka dia lalu menarik napas panjang dan menjawab.

"Yang menjadi gara-gara adalah lenyapnya tiga orang murid Bu-tong-pai yang kau tolong itu. Ketika mereka ditawan dan hendak dibunuh, Liok-twako mencegah dan memperingatkan mereka agar tidak menanam permusuhan dengan Bu-tong-pai..."

"Siapa itu Liok-twako?"

"Dia adalah Kiam-mo Liok Sun, dia... eh, majikanku..."

"Yang datang bersamamu? Aku hanya mendengar bahwa engkau orang she Bun adalah pengawal pribadinya."

"Karena mencegah itulah, setelah tiga orang murid Bu-tong-pai melarikan diri, Liok-twako dicurigai dan akhirnya dibunuh. Sebagai... eh, pengawalnya, tentu aku melawan dan aku lalu ditawan dan disiksa."

"Orang she Liok itu dibunuh, akan tetapi mengapa engkau ditawan dan disiksa pula? Apa yang mereka kehendaki?"

"Mereka memaksa aku mengaku siapa yang membebaskan tiga orang murid Bu-tong-pai dan apa maksud kedatangan Liok-twako di Lembah Bunga Merah."

"Ataukah karena perempuan-perempuan hina itu hendak memaksamu melayani bujuk rayu mereka?"

Bun Houw memandang dengah mata terbelalak.

"Kau... kau tahu pula akan hal itu?"

"Aku tahu penolakanmu terhadap murid-murid Ciok Lee Kim yang tak tahu malu, juga terhadap nenek cabul itu sendiri, dan mungkin karena itulah aku membebaskanmu dari tahanan."

"Dua orang wanita murid Ciok Lee Kim itu telah tewas di tanganku, sayang bahwa aku tidak sempat membunuh gurunya. Akan tetapi, aku akan mencari mereka! Aku akan mencari Ciok Lee Kim dan teman-temannya, terutama sekali dia sendiri dan Bu Sit, dua orang yang menyiksaku. Kalau bertemu, mereka harus tewas di tanganku!"

Bun Houw teringat akan penyiksaan itu dan timbul kemarahannya, otomatis tangannya meraba pinggang dan tampak sinar kilat berkelebat ketika dia tahu-tahu telah melolos pedangnya, yaitu pedang Hong-cu-kiam.

Pedang ini dia dapat dari gurunya, sebatang pedang pusaka yang terbuat dari baja murni, tipis sekali sehingga dapat digulung dan dibuat menjadi sabuk pinggang maka senjata ini tidak ketahuan dan tidak terampas oleh musuh-musuhnya.

"Aihhh, pedang yang bagus!"

In Hong berseru memuji.

"Boleh aku melihatnya?"

Bun Houw menyerahkan pedangnya.

In Hong menerima dan menggerak-gerakkan pedang sampai berbunyi berdesing dan berobah menjadi kilat.

Dia memuji lagi, lalu menimang-nimang pedang dan meriksanya.

Ketika melihat ukiran gambar burung hong dekat gagang pedang, dia memuji lagi.

"Sama benar dengan ini...!"

Dia melolos hiasan rambutnya yang berupa burung hong kumala, lalu membandingkan burung hong kumala itu dengan lukisan burung hong pada pedang Hong-cu-kiam.

"Apanya yang sama, nona?"

Bun Houw tentu saja bingung dan tidak mengerti.

Bagaimana sebatang pedang dipersamakan dengan sebuah hiasan rambut wanita?

"Burung hongnya yang sama.

Indah sekali pedangmu ini...!"

In Hong menggerakkan pedang itu dan Bun Houw menjadi kagum.

Memang benar dugaannya.

Dara ini bukan sembarang ahli silat.

Dari cara dia menggerakkan pedang saja sudah dapat dikenal sebagai seorang ahli pedang yang lihai.

"Sing-sing-wirrrrr... crakk!"

Sebatang pohon sebesar paha manusia yang berdiri dalam jarak jauh, robob hanya tersambar hawa pedang yang digerakkan dengan sin-kang yang amat kuat.

"Bukan main...! Engkau lihai sekali, nona...!"

Bun Houw memuji karena dia maklum bahwa hanya seorang yang memiliki sin-kang amat kuat saja mampu merobohkan pohon hanya dengan sinar pedang.

In Hong menimang-nimang pedang itu, meraba-raba mata pedang yang amat tajam.

"Hemm... pedang ini yang lihai..."

Saking kagumnya dan senang hatinya, terloncat saja ucapan dari mulut Bun Houw.

"Kalau nona suka, biarlah pedang Hong-cu-kiam ini kupersembahkan kepadamu, nona."

In Hong terkejut dan memandang dengan sinar mata tajam penuh selidik.

"Apa?"

"Nona telah..."

Dia teringat dan tidak mau mengulangi tentang pertolongan itu, maka dia melanjutkan.

"...kita telah menjadi kenalan, bukan? Karena itu, dengan hormat aku menyerahkan pedang Hong-cu-kiam itu kepadamu. Pedang itu ringan dan lemas, memang lebih tepat dipergunakan oleh wanita, pula dapat dipakai sebagai ikat pinggang..."

Wajah In Hong berseri dan tangannya masih membelai pedang itu dengan rasa sayang, akan tetapi pandang matanya kepada Bun Houw masih meragu dan penuh selidik.

Melihat wajah pemuda itu terbuka dan polos, dengan pandang mata yang tajam dan membayangkan kejujuran, dia lalu berkata.

"Apakah dengan tulus ikhlas...?"

"Tentu saja nona, dengan sepenuh hatiku yang tulus ikhlas."

"Terima kasih...!"

In Hong kelihatan girang sekali dan dia lalu memakai pedang Hong-cu-kiam itu sebagai ikat pinggangnya, lalu ditutupi jubahnya sehingga tidak nampak dari luar.

Dia lalu meraba-raba pedangnya, akan tetapi tidak jadi diambil dan dia berkata.

"Pedangku ini hanya pedang biasa, sama sekali tidak pantas untuk ditukar dengan pedang pusaka seperti Hong-cu-kiam, akan tetapi ini... Giok-hong-cu (burung hong kumala) ini tak pernah terpisah dari aku sejak aku kecil sehingga bagiku merupakan benda pusaka. Biarlah kuberikan ini kepadamu, Bun-twako (kakak Bun)."

Dia menyerahkan burung hong kumala itu kepada Bun Houw.

Bun Houw terkejut dan seketika mukanya menjadi merah sekali, jantungnya berdebar.

Dia merasa seolah-olah ada sesuatu yang amat aneh dalam tukar-menukar benda pusaka ini!

Akan tetapi karena maklum akan keanehan watak wanita ini yang agaknya pasti akan merasa tersinggung dan terhina kalau dia menolaknya, dia lalu menerimanya dan memandangi perhiasan, rambut itu dengan kagum.

"Sebuah perhiasan yang indah sekali... terima kasih, nona. Sekarang kita benar-benar telah menjadi sahabat, bukan?"

Bun Houw bertanya sambil menatap wajah yang cantik jelita dan gagah itu.

In Hong balas memandang, tersenyum dan mengangguk.

Sejak pertama kali melihat Bun Houw marah-marah dan menolak bujuk rayu dua orang murid wanita yang genit itu, hatinya sudah kagum dan tertarik sekali.

Kini, setelah pemuda itu siuman dari pingsannya dan sembuh, dia memperoleh kenyataan bahwa pemuda ini benar-benar tidak seperti kaum laki-laki seperti yang disangkanya semula, yaitu seperti yang sering kali dibicarakan gurunya dan para anggauta Giok-hong-pang, yaitu mata keranjang, cabul, pengganggu wanita dan pengrusak kehidupan wanita.

Pemuda ini sama sekali tidak pernah memperlihatkan sikap kurang ajar, mata keranjang dan sama sekali tidak pernah mengganggunya.

"Setelah kita menjadi sahabat, apakah engkau masih juga tidak percaya kepadaku dan tidak mau memperkenalkan namamu kepadaku?"

In Hong meraba pedang Hong-cu-kiam di pinggangnya dan memandang perhiasan burung hong kumala di tangan pemuda itu, lalu berkata.

"Pedang Hong-cu-kiam kau berikan kepadaku dan perhiasan Giok-hong-cu telah kuberikan kepadamu, keduanya merupakan lambang burung hong. Maka, biarlah aku mengenalmu sebagai Bun-twako dan kau mengenalku sebagai Hong."

"Hong saja? Apakah namamu Hong?"

In Hong mengangguk. Bun Houw tidak berani mendesak.

"Baiklah, Hong-moi (adik Hong), memang apakah artinya nama? Persahabatan adalah antara pribadi, bukan antara nama! Tentu tidak perlu lagi aku menceritakan riwayatku atau mendengar riwayatmu, bukan?"

In Hong mengangguk dan Bun Houw menarik napas panjang.

Din mulai tertarik sekali akan pribadi nona ini yang amat aneh, seolah-olah hendak merahasiakan dirinya dan seolah-olah tidak suka berurusan dengan orang-orang lain.

Betapapun juga, di balik sikap dingin dan tidak perdulian itu, dia tahu bahwa pada dasarnya dara ini memiliki kegagahan luar biasa dan memiliki jiwa pendekar penentang kejahatan, juga mempunyai sifat-sifat yang budiman dan mulia.

"Kalau begitu, agaknya engkau tidak keberatan untuk mengatakang ke mana tujuanmu sekarang? Kau hendak pergi ke mana, Hong-moi?"

In Hong termenung.

Pertanyaan itu dengan tepat mengenai hatinya dan dia menjadi bingung.

Hendek ke manakah dia pergi?

Apakah tujuan hidupnya?

Tidak ada!

Tidak ada ketentuan!

"Aku seperti seekor burung di udara,"

Katanya sambil memandang seekor burung dada kuning yang beterbangan dari dahan ke dahan, mencari-cari ulat, di antara daun-daun hijau.

"Entah ke mana aku hendak pergi, aku sendiripun tidak tahu, Bun-ko."

Bun Houw termenung juga, heran mendangar jawaban yang amat aneh ini.

"Apakah engkau tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap, Hong-moi?"

Dara itu menggeleng kepala.

"Tidak mempunyai keluarga?"

Kembali gelengan kepala.

"Tidak mempunyai orang tua?"

In Hong menggeleng lagi, pandang matanya masih mengikuti burung dada kuning yang telah mendapatkan seekor ulat gemuk yang kini dipatuknya dan dibanting-bantingnya ke atas ranting pohon.

"Ahhhh...!"

Bun Houw berseru penuh perasaan haru.

"Kenapa?"

In Hong menoleh dan memandangnya, memandang tajam.

"Kasihan kau, Hong-moi."

"Kenapa kasihan? Kasihankah engkau kepada burung itu?"

In Hong membuang muka.

"Sudahlah, aku tidak mempunyai tujuan tertentu, akan tetapi engkau sendiri hendak ke manakah, Bun-ko?"

"Yang jelas, aku akan pergi ke Lembah Bunga Merah!"

"Hemm... kau hendak membalas dendam kepada mereka? Berbahaya sekali, Bun-koko, mereka itu lihai."

"Tidak perduli, aku harus membalas penghinaan dan penyiksaan mereka, terutama dua Bayangan Dewa itu."

"Dua Bayangan Dewa? Kau tahu itu?"

"Aku mendengar dari Liok-twako bahwa Hui-giakang Ciok Lee Kim dan Toat-beng-kauw Bu Sit adalah dua orang di antara Lima Bayangan Dewa yang tersohor itu."

"Hemm... akupun akan ke sana, twako."

"Apa? Apakah hubunganmu dengan mereka?"

"Akupun ingin mencari Lima Bayangan Dewa."

Bun Houw terkejut sekali.

"Kenapa?"

"Tidak apa-apa. Aku hanya mendengar bahwa mereka telah mencuri pedang Siang-bhok-kiam dari Cin-ling-pai."

"Hemmm... akupun mendengar itu. Lalu bagaimana kalau begitu?"

"Aku ingin merampas pedang itu, aku mendengar bahwa pedang Siang-bhok-kiam adalah pedang pusaka yang amat hebat dan dahulu pernah diperebutkan oleh para datuk persilatan. Aku ingin merampasnya..."

"Untuk apa, moi-moi?"

"Untuk apa? Mungkin kelak kukembalikan kepada ketua Cin-ling-pai."

In Hong teringat akan kunjungannya ke Cin-ling-pai.

"Aku... sekali waktu aku pasti akan pergi ke Cin-ling-san dan aku akan mengembalikan pedang itu kepada Cin-ling-pai kalau aku berhasil merampasnya."

"Engkau aneh sekali, Hong-moi. Tanpa alasan engkau hendak merampas pedang itu dari tangan Lima Baymgan Dewa. Apakah itu tidak amat berbahaya?"

"Justeru karena berbahaya aku menempuhnya. Lima Bayangan Dewa itu, kalau melihat yang dua ini, pastilah orang-orang jahat. Kalau aku tidak merampas kembali pedang itu, mereka akan menjadi sombong, mengira bahwa tidak ada orang berani terhadap mereka setelah mereka menggegerkan dunia kang-ouw dengan penyerbuan mereka ke Cin-ling-pai."

"Kalau begitu, mari kita sama-sama pergi ke Lembah Bunga Merah, Hong-moi."

In Hong mengangguk dan berangkatlah mereka meninggalkan kuil itu.

Di tengah perjalanan, tiba-tiba In Hong berhenti.

"Bun-ko, bagaimana dengan kedua pundakmu?"

Bun Houw menggerakkan kedua tangannya, mengayun-ayun kedua legannya. Tidak terasa nyeri lagi.

"Sudah sembuh sama sekali, Hong-moi,"

Katanya.

"Akan tetapi masih berbahaya kalau bertemu dengan lawan tangguh, dan mereka itu amat lihai. Karena itu, kalau tiba di sana, biarkan aku yang turun tangan, kau boleh lihat saja, twako."

Bun Houw tersenyum dan mengangguk.

Mereka melanjutkan perjalanan dan In Hong menggunakan ilmunya berlari cepat.

Bun Houw tidak ingin menonjolkan diri dan menimbulkan kecurigaan kepada dara itu.

Bukankah dia hanya dikenal sebagai seorang pengawal pribadi Liok Sun yang tentu saja hanya memiliki kepandaian silat biasa saja?

Maka dia pura-pura mengerahkan tenaganya untuk mengimbangi kecepatan dara itu, akan tetapi dengan terengah-engah dia tertinggal jauh.

"Aihhh... Hong-moi, harap jangan berlari terlalu cepat...!"

In Hong yang memang hanya ingin mengukur kepandaian pemuda itu, memperlambat larinya dan diam-diam dia tahu bahwa pemuda yang bernyali besar ini sama dengan mengantar kematian kalau ingin mencari lima orang di Lembah Bunga Merah yang berilmu tinggi itu.

Maka dia diam-diam mengambil keputusan untuk melindungi pemuda ini, yang selain tenaganya belum pulih dan pundaknya baru saja sembuh, juga tingkat kepandaiannya masih terlalu rendah untuk menghadapi lawan-lawan tangguh seperti Lima Bayangan Dewa dan sekutu-sekutunya.

"Pedangku ini biarpun bukan pedang pusaka, akan tetapi terbuat dari baja yang cukup baik. Kau bawa pedangku ini untuk menjaga diri, Bun-ko!"

In Hong berkata dan menyerahkan pedangnya.

"Aku sendiri sudah mempunyai Hong-cu-kiam."

Bun Houw tidak membantah sungguhpun sebetulnya untuk menghadapi lawan yang bagaimana tangguhpun, dia tidak begitu membutuhkan senjata.

Kalau tempo hari dia sampai dapat dirobohkan dan ditawan, adalah karena keneketan Ai-kiauw.

Dia mengucapkan terima kasih dan menggantungkan pedang itu di pinggangnya.

Ketika mereka tiba di daerah Lembah Bunga Merah, suasana di situ sunyi saja dan mereka cepat memasuki daerah itu menuju ke perkampungan yang menjadi sarang Hui-giakang Ciok Lee Kim dan anak buahnya.

Akan tetapi di dalam bangunan-bangunan inipun sunyi tidak kelihatan ada manusianya.

"Hati-hati, mungkin mereka akan menjebak kita!"

Bun Houw berkata dan In Hong mengangguk.

Bun Houw mencabut senjatanya karena kalau tidak dia khawatir gadis itu akan menjadi curiga akan ketenangannya.

Dengan berindap mereka memasuki ruangan depan rumah besar yang tadinya dihuni oleh Ciok Lee Kim dan di mana dia menjamu para tamunya.

"Ada orang-orang mengepung kita..."

In Hong berbisik.

Tentu saja Bun Houw juga sudah dapat menangkap gerakan orang-orang itu akan tetapi dia diam saja.

"Awas senjata rahasia...!"

In Hong berseru dan dara ini cepat meloncat untuk melindungi Bun Houw.

Akan tetapi anak panah dan senjata-senjata rahasia yang bagaikan hujan itu datang dari empat penjuru.

In Hong menangkisi senjata senjata rahasia itu dengan hawa pukulan kedua tangannya, sedangkan Bun Houw dengan "sibuk"

Menangkisi dengan pedang di tangan yang diputar-putarnya.

Sampai habis senjata-senjata rahasia itu, Bun Houw masih memutar-mutar pedang.

"Siaplah, Bun-ko, biar aku melindungimu, mereka tentu akan muncul."

In Hong yang merasa geli melihat bagaimana pemuda itu memutar-mutar pedang, memegang lengan pemuda itu dan dia berdiri melindungi Bun Houw.

Benar saja, dari empat penjuru muncul belasan orang anak buah Lembah Bunga Merah dengan segala macam senjata di tangan.

Melihat Bun Houw, mereka terkejut sekali, maklum bahwa pemuda yang pernah ditawan dan disiksa ini memiliki kepandaian tinggi.

Akan tetapi karena pemuda itu baru saja terluka parah, bahkan dua tulang pundak juga dikait, mereka kini memandang rendah.

Juga mereka memandang rendah kepada gadis muda cantik yang datang bersama pemuda itu.

"Ha-ha-ha, kau sudah berhasil lolos kini kembali lagi mengantar kematian?"

Teriak seorang di antara mereka yang berhidung besar terhias kumis kecil.

"Toanio tentu akan senang sekali. Hayo lekas kawan-kawan tangkap tikus ini!"

Dua belas orang itu menyergap ke depan.

"Bun-ko, biarkan aku membereskan mereka!"

In Hong berseru dan tubuhnya berkelebat cepat sekali, seperti halilintar, menyambar-nyambar dan terdengarlah pekik-pekik kesakitan, Bun Houw hanya berdiri menonton dan diam-diam diapun terkejut.

Dia dapat menduga bahwa gadis yang bernama Hong ini memiliki kepandaian tinggi, akan tetapi tidak disangkanya akan selihai itu.

Gerakannya aneh sekali, gerakan ilmu silat yang sama sekali tidak dikenalnya, akan tetapi kecepatannya belum tentu kalah oleh dia sendiri, dan jari-jari tangan yang halus itu seolah-olah berobah menjadi baja-baja yang ampuh.

Setiap tamparan membuat lawan terguling roboh, setiap tangkisan membuat lengan lawan patah-patah dan dalam waktu singkat saja, dua belas orang itu sudah roboh semua, merintih-rintih dan mengaduh-adub!

"Mari kita cari mereka!"

In Hong berkata kepada Bun Houw yang masih bengong, memegang tangan pemuda itu dan menariknya ke dalam.

Mereka hanya mendapatkan bangunan kosong.

In Hong mengajak Bun Houw menggeledah dan memeriksa di seluruh perkampungan itu, namun tidak menemui lima orang sakti yang mereka cari.

Dengan penasaran In Hong mengajak Bun Houw kembali ke ruangan depan di mana dua belas orang anak buah Lembah Bunga Merah itu masih rebah malang-melintang dan mengeluh kesakitan.

"Hayo katakan di mana adanya nenek cabul Ciok Lee Kim dan teman-temannya!"

In Hong membentak sambil mendekati seorang yang patah-patah tulang lengannya.

Orang itu nampak ketakutan, berlutut sambil merintih-rintih.

"Ampunkan kami, lihiap... ampunkan kami... Ciok-toanio dan yang lain telah pergi dua hari yang lalu... meninggalkan kami dua belas orang menjaga di sini..."

"Ke mana mereka pergi?"

In Hong membentak lagi.

"Tidak... tidak... tahu..."

"Keparat, kalian layak mampus!"

In Hong mengangkat tangan, akan tetapi tiba-tiba Bun Houw berkata.

"Hong-moi, nanti dulu..."

In Hong menurunkan kembali tangannya dan menoleh, Bun Houw lalu menghampiri orang itu.

"Srattt...!"

Dicabutnya pedang In Hong yang diberikan kepadanya itu dandengan sikap mengancam dia menempelkan mata pedang di leher orang itu.

"Hayo lekas kau mengaku terus terang, ke mana perginya Hui-giakang Ciok Lee Kim dan Toat-beng-kauw Bu Sit! Kalau kau tidak mau mengaku, pedang ini akan memenggal lehermu dan leher semua orang di sini!"

"Ampunkan kami... Taihiap, ampunkan kami..."

Dua belas orang itu meminta-minta dan seorang di antara mereka berkata.

"Ciok-toanio dan yang lain-lain tentu pergi mengunjungi tempat tinggal Phang-loya (tuan besar Phang)..."

"Hemmm, kau maksudkan Pat-pi Lo-sian Phang Tui Lok?"

Bun Houw membentak.

"Benar... benar, Taihiap..."

"Di mana tempat tinggalnya?"

"Di dusun Ngo-sian-chung, di lembah muara Sungai Huang-ho..."

"Hayo katakan yang jelas, di mana tempat itu!"

"Benar... Taihiap... di sebelah timur kota Cin-an... kurang lebih dua puluh lima li jauhnya... saya tidak membohong..."

Bun Houw mengangguk girang.

Kiranya dua orang Bayangan Dewa itu pergi ke tempat tinggal orang pertama dari Lima Bayangan Dewa!

Alamat orang pertama dari Lima Bayangan Dewa itu saja sudah merupakan keterangan yang amat penting baginya.

"Mari kita menyusul mereka, Hong-moi."

"Tapi... lebih baik kita bunuh dulu mereka ini!"

In Hong berkata dan kembali tubuhnya bergerak. Akan tetapi lengannya sudah dipegang oleh Bun Houw.

"Jangan, Hong-moi. Mereka tidak perlu dibunuh."

In Hong mengerutkan alisnya, sejenak mereka saling pandang dan Bun Houw merasa betapa sinar mata gadis itu berapi-api penuh kemarahan dan kebencian, amat mengerikan hatinya.

Akan tetapi dia memandang dengan tenang.

menentang pandang mata yang berapi-api itu.

Perlahan-lahan api dalam mata itu mengecil dan akhirnya In Hong menundukkan mukanya, merenggutkan lengannya dan melompat keluar meninggalkan ruangan itu.

Bun Houw juga meloncat keluar mengikutinya.

Tanpa mengeluarkan kata-kata, mereka meninggalkan Lembah Bunga Merah.

In Hong berjalan sambil menundukkan mukanya.

Bun Houw berjalan di sebelahnya.

Sampai lama mereka tidak mengeluarkan kata-kata.

Tiba-tiba In Hong berhenti melangkah.

Bun Houw juga berhenti.

In Hong mengangkat muka memandang, alisnya berkerut.

"Kenapa kau tadi menghalangi aku membunuh mereka? Kenapa kau berani menghalangi aku?"

Bun Houw memandang heran.

"Moi-moi, mereka tidak perlu dibunuh."

"Heran aku, mengapa aku menuruti permintaanmu? Belum pernah ada yang berani menghalangi kehendakku. Hayo katakan, kenapa mereka tidak perlu dibunuh?"

Diam-diam Bun Houw bergidik.

Gadis aneh dan agaknya gadis ini biasanya tidak pernah mau memberi ampun kepada musuh-musuhnya dan kalau dia membayangkan betapa gadis itu tadi akan membunuh dua belas orang anak buah Lembah Bunga Merah itu dengan darah dingin, begitu saja, dia bergidik ngeri.

"Hong-moi sebelum aku menjawab, lebih dulu katakanlah, apakah engkau tadi hendak membunuh mereka karena engkau membenci mereka?"

"Tentu saja! Aku benci mereka, dan, dan sepatutnya mereka dibunuh!"

"Hong-moi, karena itulah aku mencegahmu. Di antara kita dan mereka itu tidak ada permusuhan langsung, mereka hanyalah orang-orang yang mentaati perintah pemimpin mereka. Dan pula, kita harus turun tangan menghadapi siapapun dengan dasar membela kebenaran dan keadilan, menentang kejahatan. Kalau hati kita dikuasai oleh kebencian, mungkin kita akan membunuh orang yang tidak bersalah hanya berdasarkan perasaan benci itu."

In Hong masih mengerutkan alisnya, seolah-olah tidak memperdulikan kata-kata itu.

"Baiklah, lain kali harap kau tidak mencegah aku lagi. Sekarang kita hendak ke mana?"

"Aku akan menyusul mereka ke Ngo-sian-chung. Dan kau...?"

"Akupun akan mencari mereka, mungkin Lima Bayangan Dewa berkumpul di sana dan pedang Siang-bhok-kiam disimpan di sana pula."

"Kalau begitu, mari kita melakukan perjalanan bersama, Hong-moi."

In Hong tiba-tiba menggeleng kepalanya.

"Tidak! Aku akan pergi sendiri. Sampai jumpa!"

Gadis itu hendak membalikkan tubuh untuk pergi meninggalkan Bun Houw.

"Akan tetapi, mengapa, moi-moi? Bukankah tujuan kita sama?"

"Kalau kita melakukan perjalanan bersama, kita tentu akan saling bentrok!"

"Tidak mungkin!"

"Kau mau berjanji babwa lain kali tidak akan mencegah aku lagi?"

"Kalau aku melihat engkau melakukan sesuatu yang tidak benar, sudah semestinya aku mencegah dan mengingatkan engkau, Hong-moi."

"Nah, kalau begitu, selamat tinggal!"

"Hong-moi...!"

Bun Houw berteriak memanggil namun bayangan gadis itu sudah lenyap.

Dia hanya dapat menarik napas panjang dan menggeleng-geleng kepala.

Gadis yang hebat, lihai sekali dan cantik jelita, akan tetapi juga liar dan kadang-kadang berwatak aneh dan dingin sekali, seperti setan!

Terpaksa dia melanjutkan perjalanan dengan perlahan seorang diri, kadang-kadang berhenti untuk memulihkan tenaganya, terutama sekali menyembuhkan luka di kedua pundaknya.

Semenjak matinya Panglima Besar The Hoo, biarpun bekas kebesaran panglima itu mendatangkan banyak kemakmuran dan kemajuan dalam pordagangan dan hubungan dengan luar negeri, namun tetap pengaruh Kerajaan Beng menurun.

Kemajuan yang dipupuk oleh kebesaran The Hoo memang tampak menonjol, membuat Kerajaan Beng terkenal di seluruh negeri tetangga.

Pada masa itu, semenjak tewasnya Timur Leng yang amat terkenal di barat, yaitu pada tahun 1404, hubungan dagang dengan Negara Iran dan lain negara barat dapat dilakukan melalui darat.

Oleh karena itu, maka perkembangan armada Kerajaan Beng dipandang tidak begitu perlu lagi dan perdagangan melalui lautan dilakukan oleh bangsa-bangsa lain, yaitu bangsa kulit putih dan Jepang.

Pemerintah Beng hanya menerima barang-barang ini di pantai-pantai sehingga banyak timbul kota-kota besar di pantai lautan yang makin lama menjadi makin ramai dengan perdagangan dengan bangsa-bangsa asing ini.

Betapapun juga, bangsa-bangsa asing itu yang masih terkesan oleh kebesaran dan kekuatan bala tentara yang dahulu dipimpin oleh Panglima The Hoo dan para pembantunya, tidak ada yang berani bermain gila atau mengacau secara berterang, apalagi karena perdagangan mereka mendatangkan banyak untung, yaitu dengan mengangkut rempah-rempah dan hasil bumi lain dari pedalaman, serta menjual barang-barang luar negeri yang masih merupakan benda-benda aneh di masa itu.

Di pantai-pantai selatan dan timur, banyak kota-kota dan dusun-dusun pelabuhan yang menjadi ramai, setiap hari didatangi perahu-perahu asing yang membawa barang-barang dagangan dan pajak mereka cukup dengan pemberian-pemberian terhadap para pembesar setempat.

Kota Yen-tai merupakan sebuah kota pelabuhan yang ramai di pantai Lautan Po-hai yang banyak disinggahi kapal-kapal dari luar negeri.

Banyak terdapat pedagang-pedagang di temput ini, di kotanya banyak pula berkeliaran orang-orang asing yang rambutnya beraneka warna, demikian pula matanya, ada yang berwarna biru, keemasan, dan kuning muda rambutnya, dan mata mereka berwarna biru atau coklat.

Tidak ada di antara mereka yang berambut dan bermata hitam.

Pakaian mereka juga beraneka warna, dan mereka ini adalah pekerja-pekerja kapal atau pedagang-pedagang yang datang bersama kapal-kapal yang berlabuh, ada pula yang menetap di kota itu sebagai pedagang.

Akan tetapi jarang kelihatan wanita bangsa asing, semuanya pria, tua dan muda, dengan muka penuh brewok dan gaya mereka yang bagi penduduk setempat tampak kasar dan biadab!

Ada pula orang-orang yang muka serta kulitnya sama dengan pribumi, akan tetapi tubuh mereka pendek-pendek dan pakaian mereka agak berbeda.

Mereka ini adalah orang-orang Jepang yang terdiri dari banyak pulau-pulau.

Pada suatu hari, pagi-pagi sekali keadaan Yen-tai sudah ramai karena semalam banyak kapal asing berlabuh di pantai.

Pagi-pagi sudah tampak kesibukan di kota itu, ada yang menurunkan barang dari kapal-kapal dan ada pula yang menaikkan rempah-rempah dan hasil-hasil bumi lainnya, juga barang-barang kerajinan dari pedalaman, terutama sutera dan barang-barang ukiran, yang serba indah dan mahal.

Di antara banyak sekali orang yang beraneka macam bahasanya, bermacam pula pakaiannya, terdapat seorang pemuda yang berusia kurang lebih dua puluh satu tahun, Bertubuh tinggi tegap dan bersikap gagah namun amat sederhana gerak-gerik dan pakaiannya yang berwarna kuning itu, dengan sebatang pedang di pinggangnya, pemuda itu adalah Tio Sun, putera tunggal dari Ban-kin-kwi Tio Hok Gwan bekas pengawal panglima Besar The Hoo yang paling dipercaya.

Seperti kita ketahui, secara kebetulan Tio Sun menolong Yap Mei Lan dan diapun tertawan oleh orang-orang liar yang dipimpin Jeng-hwa Sian-jin Si Ahli Sihir dan hampir saja dia celaka oleh kawanan Jeng-hwa-pang di dalam hutan itu kalau saja tidak tiba-tiba muncul seorang yang luar biasa sektinya, tokoh tua yang sudah tidak pernah muncul di dunia kang-ouw yaitu Bun Hoat Tosu.

Pemuda ini mewakili ayahnya untuk membantu Cin-ling-pai mencari musuh-musuh besar Cin-ling-pai, yaitu Lima Bayangan Dewa yang telah menyerbu mengacau Cin-ling-pai, Membunuh murid-murid Cin-ling-pai dan mencuri Siang-bhok-kiam.

Karena dia sudah tahu akan nama-nama Lima Bayangan Dewa, Tio Sun menyelidiki dan akhirnya dia mendengar berita bahwa Liok-te Sin-mo Gu Lo It, orang kedua dari Lima Bayangan Dewa, tinggal di sekitar pantai Po-hai.

Berita inilah yang membawa Tio Sun pergi ke pantai Po-hai dan pada pagi hari itu tibalah dia di kota Yen-tai.

Dengan tenang Tio Sun melangkah dan berjalan di atas jalan raya, mengagumi keramaian kota itu dan terheran-heran melihat banyaknya orang-orang asing yang warna rambut, mata dan kulitnya amat mengerikan hatinya itu!

Memang belum pernah dia bertemu dengan orang asing kulit putih, sungguhpun sudah banyak dia mendengar tentang mereka dari ayahnya.

Gembira hati Tio Sun menyaksikan kota pantai yang amat ramai itu.

Seringkali dia berhenti untuk menonton keramaian, melihat orang-orang berdagang dan mendengarkan kata-kata yang terdengar agak kaku dan asing keluar dari mulut orang-orang berkulit putih itu.

Juga ia melihat-lihat banyak barang yang aneh dan indah dipamerkan di toko sepanjang jalan.

Akan tetapi setelah setengah hari berjalan-jalan melihat kota yang ramai ini, akhirnya dia merasa bosan juga dan akhirnya menjelang senja itu dia berjalan-jalan di tepi pantai laut yang hawanya lebih sejuk karena angin bertiup dan agak sunyi tidak terdapat terlalu banyak orang.

Tio Sun memasuki sebuah warung di tepi laut, warung yang agak sunyi dan ketika dia masuk, hidungnya disambut oleh bau arak wangi yang memenuhi tempat itu.

Suara tertawe bergelak disusul munculnya dua orang asing kulit putih keluar dari dalam warung makan itu, keduanya membawa seguci arak.

Sambil tertawa-tawa mereka bicara dalam bahasa yang sama sekali tidak dimengerti oleh Tio Sun.

Ketika berpapasan, Tio Sun mendapat kenyataan betapa tingginya dua orang itu.

Dia sendiri sudah terhitung seorang pemuda yang bertubuh jangkung, akan tetapi ternyata tubuhnya hanya mencapai pundak kedua orang raksasa berkulit putih dan bermata biru itu.

Tio Sun segera melupakan mereka dan dia duduk di atas sebuah bangku, memesan makanan dan minuman kepada pelayan.

Tidak banyak tamu sore itu di warung ini, hanya beberapa orang yang pakaiannya seperti nelayan dan ketika mereka itu bicara tentang hasil penangkapan ikan maka jelaslah apa pekerjaan mereka itu.

Ketika Tio Sun sedang makan, tiba-tiba terdengar suara jeritan wanita, yang kedengaran agak jauh dari situ.

Seketika Tio Sun bangkit berdiri.

Jerit itu terulang lagi.

"Toloooooonggg...!"

Tio Sun menggeser bangkunya, siap untuk lari keluar.

Akan tetapi para nelayan yang juga menghentikan percakapan mereka dan memperhatikan jeritan itu, menoleh ke arah Tio Sun dan seorang di antara mereka yang usianya sudah lima puluh tahun lebih berkata.

"Harap kongcu jangan memperhatikan dan mencampuri urusan kotor itu."

Tio Sun memandang heran.

"Mengapa kau berkata demikian, lopek?"

Dan pada saat itu kembali jerit tadi terulang.

Kakek nelayan itu hanya menarik napas panjang dan tidak menjawab, lalu terdengar ucapan pelayan warung.

"Omongan paman nelayan ini benar, kongcu. Tentu keributan itu dilakukan oleh setan-setan kulit putih pemabok itu, dan yang menjerit itu hanyalah perempuan-perempuan lacur. Memalukan sekali dan kongcu akan mtndapat malu saja kalau mencampuri urusan pelacur-pelacur dengan setan-setan pemabok itu. Kalau melihat itu, lebih baik kita tulikan telinga dan butakan mata."

"Tolonggggg...!"

"Bagaimana kita dapat menulikan telinga dan membutakan mata kalau mendengar jerit wanita minta tolong?"

Tio Sun berkata dan tanpa menanti jawaban dia sudah berlari keluar, langsung ke kanan dari mana dia tadi mendengar suara jeritan itu.

Cuaca senja sudah mulai remang-remang akan tetapi dia masih dapat melihat dua orang laki-laki yang sedang menarik dan menyeret seorang wanita di dekat pantai, agaknya hendak memaksa wanita itu naik ke sebuah perahu.

"Keparat...!"

Tio Sun berlari cepat di sepanjang pantai yang sunyi itu, otot-otot tubuhnya sudah menegang dan hatinya panas oleh kemarahan.

"Plak-plak!"

Dua kali Tio Sun menggerakkan tangannya menampar pundak dua orang raksasa bule itu.

Dua orang itu terhuyung dan melepaskan lengan gadis yang tadi mereka tarik-tarik.

Tamparan itu keras sekali namun hanya membuat mereka terhuyung, maka tahulah Tio Sun bahwa dua kedua orang raksasa bule itu bertubuh kuat sekali.

Gadis itu sambil menangis menjatuhkan diri berlutut di depan Tio Sun.

"Harap Taihiap menolong saya... mereka hendak menculik saya..."

Tio Sun memandang.

Gadis itu adalah seorang gadis berpakaian nelayan sederhana, namun kesederhanaan pakaiannya dan air mata yang membasahi mukanya itu tidak mengurangi kemanisan wajahnya dan kepadatan tubuhnya yang muda.

"Nona, kau minggirlah..."

Kata Tio Sun dengan tenang, lalu dia melangkah menghadapi dua orang raksasa bule yang kini sudah melangkah maju dengan muka mereka merah sekali, mata mereka melotot dan memandang Tio Sun penuh kemarahan.

Mula-mula mereka itu mengeluarkan kata-kata keras dalam bahasa asing itu, telunjuk mereka menuding-nuding, akan tetapi Tio Sun sama sekali tidak mengerti artinya.

Kemudian seorang di antara mereka, yang rambutnya kemerahan, berkata dalam bahasa pribumi yang kaku namun sikapnya jelas menunjukkan kemarahannya.

"Kau berani merampas perempuan kami?"

Tio Sun teringat akan cerita pelayan warung dan para nelayan tadi, maka dia dapat menduga bahwa agaknya dua orang kelasi barat yang mabok ini menganggap gadis itu sebagai seorang pelacur, maka dengan sikap tenang karena mengira akan kesalahpahaman mereka, dia menjawab.

"Kalian salah sangka. Nona ini adalah seorang wanita baik-baik, maka kalian tidak boleh kurang ajar terhadapnya."

"Kurang ajar? Apa kurang ajar?"

Si rambut merah itu membentak dan mengepal tinjunya yang besar, matanya juga merah melotot marah.

"Kami cinta padanya, kami... kami akan membayar!"

Tio Sun mengerutkan alisnya.

"Kalian orang-orang kasar yang mabok. Jangan mengganggu wanita dan pergilah!"

Si rambut merah melangkah maju dengan langkah lebar, sedangkan temannya yang berambut pirang hanya menonton sambil tersenyum-senyum memandang rendah, yakin bahwa temannya tentu akan memberi hajaran kepada pemuda kecil lemah yang mencampuri urusan mereka itu.

Si rambut merah menuding-nuding dengan isyarat agar Tio Sun pergi dari situ, suaranya parau dan kasar, kemarahannya membuat dia makin sukar mengeluarkan bahasa yang belum dikuasainya benar-benar itu.

"Pergi kamu... pergi... dia perempuan kami...!"

Melihat keributan itu, beberapa orang yang datang mendekati untuk menonton, dan seorang nelayan tua berkata kepada Tio Sun.

"Orang muda, sebaiknya kau pergi dan tidak mencampuri urusan mereka. Ketahuilah, mereka itu adalah dua orang terkuat di antara mereka yang mempunyai banyak anak buah. Jangan kau mencari penyakit..."

Sementara itu, seorang kakek nelayan lain yang kurus dan berpakaian butut lari mendatangi, dan melihat kakek ini, gadis nelayan tadi lalu menjerit dan lari menubruk kakek itu.

"Ayahhh...!"

"Kui-ji... kau kenapa...?"

Nelayan tua itu bertanya sambil mengelus rambut kepala anaknya.

Akan tetapi gadis itu tidak dapat menjawab, hanya menangis.

Nelayan tua yang tadi memperingatkan Tio Sun berkata.

"Kalian cepat pergi...! Lekas...!"

Ayah dan anak itu terkejut dan keduanya hendak menyingkir dari tempat itu, akan tetapi raksasa berambut pirang dengan beberapa langkah lebar sudah mendekat, lalu lengannya yang panjang dengan jari-jari tangannya yang besar itu menangkap pergelangan tangan gadis manis itu.

"Ha-ha-ha, jangan pergi... jangan pergi... kau manis..."

Kata raksasa asing itu sambil tertawa.

Sang ayah kini mengerti bahwa anak perempuannya menjadi kebiadaban para kelasi asing itu, maka dengan marah dia memukul.

"Bukkk""""!"

Dada yang bidang itu menerima pukulan dengan enak saja, sedikitpun tidak terguncang dan tangan kiri yang lebar itu mendorong sehingga si kakek terjengkangkang jauh.

"Ayahhh"""!"

"Keparat""!"

Tio Sun melangkah maju.

"Orang muda, mari kita pergi. Kalau mereka mengamuk""!"

Nelayan itu berkata ketakutan.

Tio Sun menjadi marah sekali.

Di bertolak pinggang, memandang ke sekeliling.

Terutama ke arah beberapa orang nelayan yang berdiri di sekitar tempat itu dengan wajah ketakutan.

"Kalian ini laki-laki ataukah pengecut yang tak tahu malu! Melihat gadis bangsa kita dihina dan hendak dipermainkan orang-orang asing biadab ini, kalian sama sekali tidak mengulurkan tangan membantu, malah ketakutan dan hendak menyingkir, dan lebih celaka lagi, kalian melarang aku untuk menolongnya. Apakah kalian tidak mau hidup sebagai laki-laki?"

Tidak ada seorangpun yang dapat menjawab.

Mereka itu hanya nelayan-nelayan yang tahunya hanya mencari nafkah setiap hari di lautan, dan mereka semua sudah maklum akan kekuasaan dan kekasaran orang-orang berkulit putih ini.

Orang-orang kulit putih itu ada kalanya amat baik dan ramah terhadap pribumi, apalagi dalam hal perdagangan.

Akan tetapi sikap mereka itu rata-rata kasar dan keras, apalagi kalau dihalangi kehendak mereka, keramahan berobah menjadi kekerasan dan kekejaman.

Dan rata-rata mereka itu terdiri dari jagoan-jagoan berkelahi yang bertubuh kuat dan berani, bahkan agaknya mereka itu mempunyai kesukaan untuk berkelahi sehingga para nelayan yang sering kali mengalami pemukulan mereka, kini menjadi takut.

Lebih-lebih lagi ketika laporan mereka kepada yang berwajib bahkan merugikan mereka sendiri karena agaknya ada pertalian persahabatan yang erat antara pembesar-pembeear setempat dengan orang-orang bule tinggi besar itu.

Dan kenyatannya memang demikian.

Para pembesar sudah menerima banyak sumbangan dan hadiah dari raksasa-raksma ini, Maka tentu saja sebagai seorang yang baik hati para pembesar ini merasa sungkan untuk bersikap memusuhi dan setiap ada pengaduan mereka ini menyalahkan yang mengadu dan memberi nasihat agar sebagai "tuan rumah"

Para pribumi suka mengalah terhadap para tamu yang banyak mendatangkan keuntungan bagi "rakyat"

Ini.

Tentu saja hanya di mulut mereka ini mengucapkan demi rakyat, padahal sudah tentu, seperti yang sudah lajim terjadi di seluruh dunia, mereka itu hanya mementingkan dirinya sendiri dan demi kepadatan kantong mereka sendiri.

Inilah sebabnya mengapa para nelayan bersikap ketakutan dan teguran Tio Sun itu hanya membuat muka mereka menjadi merah akan tetapi tidak ada seorangpun berani menentang dua orang raksasa kulit putih itu.

Sebaliknya, ucapan Tio Sun itu membikin marah si rambut merah.

"Setan, engkau perlu dihajar!"

Bentaknya dan dia sudah menerjang Tio Sun dengan pukulan-pukulan kedua tangannya yang bertubi-tubi dan pukulan-pukulannya ternyata keras sekali!

Tio Sun tentu saja sudah siap dan waspada, dengan mudahnya dia menggerakkan tubuh sedikit saja namun cukup membuat pukulan kanan kiri yang bertubi-tubi datangnya itu menyambar angin kosong belaka.

Ketika pukulan yang kesekian kalinya meluncur mengarah dagunya, kepalan kanan si rambut merah yang besar sekali itu menyambar, Tio Sun menggerakkan tangan menangkis dengan tangan kirinya.

Tangkisan ini membuat tulang bawah lengan kirinya bertemu dengan amat kerasnya dengan tulang atas lengan kanan si rambut merah.

"Dukkkk... aughhhh...!"

Si rambut merah berteriak kesakitan dan memegangi lengan kanannya.

Tulang bawah lengan merupakan bagian yang lebih kuat daripada tulang atas lengan, biarpun keduanya terlatih sekalipun, apalagi Tio Sun mempergunakan tulang bawah lengannya dengan pengerahan tenaga sin-kang, tentu saja membuat lawannya yang terpukul tulang atas lengannya itu merasa nyeri bukan main seolah-olah tulang lengannya retak-retak rasanya.

Akan tetapi rasa nyeri ini tidak berlangsung lama dan kemarahan si rambut merah memuncak.

Dia mengeluarkan suara gerengan disambung maki-makian dalam bahasa yang tidak dimengerti oleh Tio Sun, kemudian raksasa rambut merah itu menerjang seperti seekor kerbau mengamuk, kepalanya di depan, tubuhnya agak membungkuk dan kedua lengannya merapat tubuh, kedua kepalan tangan yang besar itu silih berganti menyambar dengan pukulan-pukulan keras yang mengarah bagian muka dan tubuh atas Tio Sun.

Tentu saja serangan sederhana yang hanya mengandalkan tenaga kasar ini merupakan serangan yang sama sekali tidak berbahaya bagi Tio Sun.

Dengan amat mudahnya pemuda ini mengelak dan menangkis, kemudian satu kali tanganya menyambar dia sudah berhasil memukul leher dekat pundak kiri lawan dengan tangan kanan yang dimiringkan.

"Ngekkk!"

Raksasa muka merah itu terjungkal, mengaduh dan memijit-mijit lehernya yang terpukul.

Akan tetapi ternyata dia bertubuh kuat sekali karena dia sudah bangkit kembali, merogoh saku celana dan mengeluarkan dua buah senjata kalung besi yang ketika digenggamnya melingkari celah-celah jari kedua tangannya sehingga kini kepalannya tertutup oleb ujung-ujung besi yang menonjol dan agak meruncing.

Dapat dibayangkan betapa kepala akan dapat pecah dan tubuh akan terluka parah kalau sekali saja terkena pukulan tangan yang diperlengkapi dengan senjata istimewa ini.

"Mampus kamu! Wuuutttt... siyuuuutt...!"

Kembali si rambut merah menyerang dengan ganas.

Kedua matanya sudah menjadi merah dan lagaknya persis seekor lembu jalang yang mengamuk karena terluka.

Kalau tadi si rambut merah menggunakan cara bertinju menurut aturan karena dia merasa yakin bahwa dengan kepandaiannya bermain tinju dia akan dapat mengalahkan lawan yang kelihatan kecil lemah ini, kini dia tidak lagi memperhatikan aturan dan menggunakan segala akal curang dalam cara berkelahi untuk mencari kemenangan, maka kini dia tidak lagi memukul ke arah tubuh atas saja, melainkan dia memukul ke arah lambung, pusar dan lain-lain, bahkan kedua kakinya yang memakai sepatu boot itupun ikut pula menyerang.

Betapapm juga, bagi Tio Sun, gerakan raksasa ini masih terlalu lambat dan kacau tidak teratur, pokoknya asal menyerang saja maka sudah tentu amat mudah dihadapi oleh pemuda gemblengan ini.

Dia membiarkan lawan menyerang membabi buta sampai dia mundur empat langkah, Kemudian ketika musuh terus menyerbu, dia melangkah ke kiri, membiarkan tubuh lawan agak terdorong ke depan dan dengan gerakan kaki cepat sekali, dia melangkah maju sehingga kini dia berada di sisi belakang lawan.

Cepat kakinya bergerak menyentuh lutut kanan lawan, dibarengi dengan tamparan jari tangan terbuka ke arah tengkuk.

Si rambut merah kembali terjungkal, kini roboh dan menyeringai kesakitan, kepalanya pening, pandang matanya berkunang-kunang dan dia melihat ribuan bintang beterbangan di sekelilingnya, dan kakinya yang kanan menjadi salah urat di bagian lutut sehingga dia tidak mampu bangun kembali.

Semua nelayan yang menyaksikan pertempuran ini dari tempat aman, melongo dan terheran-heran mengapa ada pemuda yang begitu berani menentang si rambut merah yang terkenal kuat dan pemberani itu.

Bahkan raksasa rambut merah ini pernah dikeroyok oleh belasan orang nelayan pribumi tanpa merasa takut dan tidak kalah pula!

Juga si rambut pirang bengong keheranan, hampir tidak percaya bahwa temannya yang cukup jagoan itu dikalahkan sedemikian mudahnya oleh si pemuda kecil lemah ini.

Keheranannya berobah menjadi kemarahan besar ketika dia tahu bahwa temannya itu terluka cukup parah karena buktinya tidak mampu bangkit kembali.

Dia lalu mencabut sebatang pisau belati, kemudian tanpa banyak cakap lagi dia menyerang Tio Sun dengan senjata pisaunya yang mengkilap.

Melihat ini, para nelayan menjadi pucat wajahnya.

Pemuda itu tentu akan tewas!

Akan tetapi tentu saja serangan pisau yang menyambar ke arah perutnya itu merupakan serangan yang tidak ada artinya bagi Tio Sun.

Akan tetapi pemuda ini juga sama sekali tidak ada niat di hatinya untuk membunuh dua orang ini, karena dia masih menganggap bahwa kesalahan mereka itu hanya timbul karena mungkin terjadi salah pengertian belaka.

Mungkin karena kurang pandai bicara atau belum begitu menguasai bahasa daerah, orang-orang asing ini salah menduga dan mengira gadis nelayan itu seorang perempuan pelacur yang boleh dipermainkan sesukanya asalkan dibayar!

Dia sama sekali tidak tahu bahwa dalam keadaan mabok seperti itu, dua orang asing ini memang menganggap semua perempuan pribumi suka kepada mereka dan boleh mereka ajak bermain cinta dengan hadiah uang.

Karena tidak ingin membunuh, maka Tio Sun juga hanya mengelak dari sambaran pisau itu.

Sampai lima kali dia terus mengelak sambil berkata.

"Kau pergilah dan jangan ganggu wanita!"

Akan tetapi mana mungkin si rambut pirang yang sudah marah dan mabok itu mau menerima begitu saja?

Dia menyerang makin ganas karena terbawa oleh rasa penasaran, betapa lawannya dapat mengelak dengan mudah, bahkan sambil menasihatinya!

Pada saat itu, kelasi barat yang berambut merah sudah berhasil bangkit, terpincang-pincang dan (Lanjut ke

Jilid 19) Dewi Maut (Seri ke 03 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 19 meniup peluitnya.

Terdengar bunyi peluit melengking nyaring berkali-kali dan para nelayan yang mendengar peluit ini menjadi terkejut.

Mereka maklum apa artinya bunyi peluit ini.

Kelasi asing itu memanggil kawan-kawannya dan mereka menjadi takut kalau-kalau terbawa-bawa, maka mereka lalu melarikan diri dari pantai itu untuk pergi melapor kepada yang berwajib agar pemuda itu tidak sampai dikeroyok dan mati secara mengerikan.

Tadinya Tio Sun tidak mengerti apa artinya tiupan peluit nyaring itu.

Akan tetapi ketika dia melihat belasan orang asing datang berlarian ke tempat itu, dia mengerti bahwa itu tentulah teman-teman dua orang ini yang datang memenuhi panggilan suara peluit tadi.

Marahlah hatinya dan dia berkata kepada dua orang itu.

"Gadis itu dan ayahnya sudah pergi. Perlu apa ribut-ribut lagi? Mundurlah, kalian dan aku tidak akan memperpanjang urusan ini!"

Ucapan Tio Sun itu dianggap sebagai sikap ketakutan oleh dua orang asing itu, maka si rambut pirang memperhebat serangan pisaunya, dan si rambut merah terpincang-pincang memberi isyarat kepada kawan-kawannya agar lebih cepat datang.

"Keparat!"

Tio Sun membentak dan pada saat pisau menyambar untuk ke sekian kalinya, dia hanya miringkan sedikit tubuhnya, pada saat pisau itu meluncur dekat dadanya dia cepat menggerakkan tangannya yang dimiringkan, membacok ke arah lengan yang memegang pisau itu.

"Dukkk... plak!"

Pisau terpental dan pukulan ke arah lengan itu disusul tamparannya yang mengenai bawah telinga lawan.

Si rambut pirang terpelanting dan mengaduh-aduh, kepalanya seperti pecah rasanya.

Pada saat itu, sebelas orang kulit putih lain yang merupakan anak buah dua orang kelasi jagoan ini, sudah tiba di situ dan tanpa banyak cakap lagi mengepung dan menyerang Tio Sun dari berbagi jurusan, dengan senjata macam-macam, besi pelindung kepalan, pisau dan rantai.

"Kalian orang-orang biadab yang jahat!"

Tio Sun berseru dan kini pemuda ini mengamuk.

Gerakannya tangkan dan cepat, membagi-bagi pukulan dan tendangan di antara mereka, sehingga ramailah pertempuran itu.

Para pengeroyok itu jatuh bangun dan setiap kali kaki atau tangan Tio Sun bergerak pasti ada seorang pengeroyok yang terjungkal atau terpelanting, setidaknya terhuyung-huyung sambil mengaduh-aduh.

Tidak ada yang tahu betapa sejak tadi ada sepasang mata jeli yang menonton pertempuran keroyokan itu dengan mata berseri-seri dan mulut mengeluarkan kekagumannya melihat ketangkasan Tio Sun.

Mata jeli ini milik seorang dara muda yang memiliki kecantikan yang khas.

Melihat pakaiannya, dia adalah seorang dara pribumi yang berkecukupan, akan tetapi kalau orang memperhatikan dia di tempat terang, tidak di tempat gelap seperti sekarang ini karena senja telah tua, orang akan melihat bahwa sepasang matanya lebar, tidak seperti dara wanita pribumi, dan warnanya kebiruan!

Juga rambutnya tidaklah hitam seperti biasa, melainkan agak keemasan!

Mata dan rambutnya seperti orang asing itu, akan tetapi bentuk tubuhnya seperti wanita pribumi, demikian pula pakaiannya!

Karena inilah maka dia memiliki kecantikan yang khas dan aneh, memiliki daya tarik tersendiri, berbeda dari dara-dara umumnya.

Tio Sun yang mengamuk dengan sibuknya, juga karena waktu itu cuaca sudah mulai gelap, sama sekali tidak melihat betapa orang asing berambut merah tadi kini mengeluarkan sebuah benda mengkilap, Yang dipegang dengan tangan kanannya, kemudian membidikkan benda itu ke arah pundak Tio Sun yang masih mengamuk diagan hebatnya, merobohkan semua pengeroyoknya dengan pukulan dan tendangan terukur agar tidak sampai membunuh orang.

Ketika dara yang menonton pertempuran itu dari tempat tersembunyi melihat si rambut merah mengeluarkan benda itu, dia kelihatan kaget sekali dan dengan geraken cepat dia sudah mencabut sebatang hui-to (pisau terbang) yang bentuknya mungil dan dihias ronce-ronce merah, kemudian secepat kilat dia menggerakkan tangannya.

Pisau kecil itu maluncur cepat, mengeluarkan suara berdesing dan tepat mengenai tangan si rambut merah yang memegang pistol dan sedang membidikkan pistol itu ke punggung Tio Sun.

"Crepp... auwww...!"

Pistol itu terlepas dari tangan si rambut merah yang berteriak kesakitan karena pisau kecil beronce merah itu telah menancap di tangannya.

"Pedro...! Berani kau dan kaki tanganmu mengacau di sini, bahkan hendak menggunakan senjata api? Kalau aku menangkapmu dan mengajukanmu ke depan pengadilan, apakah kalian tidak akan celaka semua?"

Si rambut merah yang disebut Pedro oleh dara cantik itu makin terkejut.

Dia menoleh, memandang kepada dara itu dan semua teman-temannya yang sudah jatuh bangun oleh hajaran Tio Sun juga terkejut.

Mereka semua memandang kepada nona itu yang kini berdiri dengan tegak dan gagahnya bertolak pinggang dan memandang marah kepada si rambut merah.

"Maaf... nona De Gama... maafkan kami..."

Pedro kini berkata sambil memegangi tangannya yang terluka.

"Kalian memang berani mati!"

Nona itu menghardik lagi, sikapnya penuh wibawa dan kata-katanya seperti menusuk jantung tiga belas orang itu.

"Sudah berapa kali kami memperingatkan pimpinanmu agar kalian tidak membikin ribut di sini, dan terutama tidak boleh mengganggu penduduk pribumi. Kembalikan pisauku!"

Bentaknya.

Sambil menggigit bibirnya Pedro mencabut pisau terbang yang menancap di tangan kanan itu dengan tangan kirinya, kemudian dia melangkah maju, menyerahkan pisau kecil itu, wajahnya masih merah karena mabok, akan tetapi pandang matanya penuh rasa jerih.

Dara itu menerima kembali pisaunya, lalu berkata dengan sikap dingin dan memerintah.

"Kalian pergilah!"

"Terima kasih, nona."

Pedro membungkuk dengan hormat, mengambil pistolnya dan memberi isyarat kepada teman-temannya untuk pergi.

Semua temannya juga memberi hormat kepada dara muda itu.

"Pedro, lain kali kalau engkau mendarat dengan membawa pistol, aku tidak akan mengampunimu lagi."

Nona itu menyusulkan kata-kata ancaman.

Pedro membalik, lalu membungkuk, kemudian merekapun pergi menuju ke perahu-perahu yang mereka naiki dan mereka dayung ke tengah lautan di mana terdapat kapal mereka yang berlabuh.

Mereka berdiri saling berhadapan dan berusaha untuk meneliti wajah masing-masing menembus kesuraman cuaca hampir malam, Tio Sun memandang penuh kekaguman.

Dara ini masih muda dan cantik sekali, akan tetapi mempunyai wibawa begitu besar dan sanggup mengusir belasan orang laki-laki kasar tadi dengan kata-kata dan ancaman saja, Juga dia melihat hui-to yang tadi menancap di tangan si rambut merah dan biarpun dia tidak melihat cara gadis itu menyerang si rambut merah, namun dia maklum juga bahwa dara ini selain cantik jelita dan berpengaruh, juga tentu memiliki kepandaian tinggi.

Di lain fihak, nona itupun memandang Tio Sun dengan kagum, menatap wajah yang membayangkan kesederhanaan, kejujuran dan kegagahan itu, wajah yang biarpun tidak dapat dikatakan tampan, namun juga tidak buruk dan cukup jantan.

Tio Sun yang masih memandang kagum, juga diam-diam dia terheran-heran.

Nona ini adalah seorang gadis pribumi, akan tetapi tadi telah menggunakan bahasa orang asing, bahasa orang biadab itu ketika bercaka-cakap dengan mereka!

Hal ini tentu saja menambah kekagumannya dan kini dia menjura dengan hormat sambil berkata.

"Banyak terima kasih atas bantuan nona yang telah berhasil menyuruh mereka pergi sehingga keributan ini dapat dihentikan."

Dara itu tersenyum dan balas memberi hormat.

"Engkau begini sopan dan ramah, Taihiap (pendekar besar), sungguh mengherankan bagaimana dapat bentrok dengan mereka?"

Kembali Tio Sun terkejut.

Ternyata gadis ini dapat bicara dalam bahasa daerah yang baik sekali!

Hal ini membuktikan bahwa dia benar-benar berhadapan dengan seorang gadis pribumi, akan tetapi bagaimana tadi gadis ini dapat bicara dalam bahasa asing terhadap gerombolan orang kasar itu?

Dia makin kagum akan kepintaran gadis ini, maka dia cepat menjawab.

Baca Juga: Istana Pulau Es 5

Baca Juga: Kisah Para Pendekar Pulau Es 6

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert