Ceritasilat Novel Online

Badik Buntung 7

Eps 7 Badik Buntung - GKH

Baca online Badik Buntung - GKH

Cersil Badik Buntung - GKH.

Sebentar Pek Si-kiat pandang Hun Thian-hi, ia tahu kepandaian dan kemampuan Hun Thian-hi jauh mencukupi untuk menghadapi musuh, maka dia manggut-manggut lalu mundur dan duduk kembali.

Sementara Tok-sim-sin-mo malah pandang Hun Thian-hi dan Pek Si-kiat bergantian dengan perasaan aneh dan heran.

Adalah Bing,tiong-mo-tho yang berjingkrak gusar, serunya.

"Selamanya Sukong Ko belum pernah lihat ada orang berani kurang ajar memandang rendah diriku!"

Hun Thian-hi mandah tersenyum manis, ujarnya.

"Aku bernama Hun Thian-hi, tidak lebih sebagai Wanpwe, angkatan muda!"

Lalu ia memutar menghahadapi Tok-sim-sin-mo. katanya pula.

"Bila Sukong Ko dapat kukalahkan, apakah Pho-pangcu rela menyerahkan Sutouw Ci-ko kepada kami?"

Hati Tok-sim-sin-mo rada was-was, biji matanya berjelilatan, katanya.

"Jadi maksudmu kau ingin main taruhan dalam pertandingan babak pertama. ini?"

Hun Thian-hi mandah tersenyum saja tanpa bersuara. Kata Tok-sim-sin-mo lagi.

"Apa yang kau taruhkan dalam pertandingari ini?"

Baru saja Thian-hi mau buka mulut. dari belakang Pek Si-kiat sudah keburu bicara.

"Bila dia kalah, kami berdua suka masuk menjadi anggota. Kau dengar, kami akan bekerja demi kepentinganmu!"

"Bagus!"

Teriak Tok-sim-sin-mo menepuk paha.

"Aku terima syarat pertandingan ini, bila kau yang menang, Sutouw Ci-ko segera kuserahkan. tapi bila kalah kalian harus menepati janji dan harus tunduk pada perintahku!"

Bing-tiong-mo,tho Sukong Ko beranggapan kepandaiannya cukup lihay dan berkedudukan tinggi pula, kecuali beberapa tokoh silat kosen jaman ini yang ditakuti hanya beberapa orang saja.

ia tidak pernah tunduk pada siapapun juga, sekarang justru harus berhadapan dengan Hun Thianhi yang dianggap masih pupuk bawang, keruan hatinya murka sekali.

Dengan pandangan berapi-api ia pandang Pek Si-kiat sembari menggerung geram, ia sangka Pek Si-kiat sengaja memajukan Hun Thian-hi untuk mempermainkan dan menghina dirinya.

Bahwasanya ia tidak pandang Hun Thian-hi sebelah matanya....

Sambil menyungging senyum lebar pelan-pelan Hun Thian-hi beranjak masuk gelanggang, sikapnya tenang tanpa gentar.

Diam-diam Tok-sim-sin-mo terkejut dan tak habis herannya, melihat kewajaran sikap Thian-hi.

seolah-olah ia punya pegangan untuk memenangkan gebrak pertama ini.

Sebaliknya tampak sikap congkak Bing-tiong-mo-tho yang berkelebihan, tanpa merasa sanubarinya mendapat firasat jelek, seakan-akan Bing-tiong-mo-tho jelas bakal kalah.

Ia heran kenapa dia bisa punya pikiran demikian, memang kepandaian antara Hun Thian-hi dan Bing-tiongmo-tho dalam pandangannya terpaut antara bumi dan langit.

Hun Thian-hi tidak akan kuat bertahan, sekali pukul.

Begitu Hun Thian-hi memasuki gelanggang Bing Cong-mo-tho lantas menggeram keras seperti harimau kelaparan, mendadak tubuhnya berkelebat menubruk maju seraya mencengkeram dengan cakar tangan kanannya.

Gebrak pertama ini ia sudah lancarkan kepandaian khususnya yang sangat dibanggakan yaitu Jian-yu-mo-jiu (cakar iblis beribu bayangan), maksudnya sekali cengkeram ia hendak membuat Thian-hi sebagai kelinci, makanan empuk yang dapat dibuat permainan, tindakannya ini bukan saja supaya Pek Si-kiat tahu bahwa dirinya tidak gampang dihina dan dipermainkan, tujuan yang utama adalah hendak memperlihatkan kepandaian silatnya sejati.

Gerakannya ini memang cepat luar biasa, telak sekali cengkeramannya ini mengenai pundak Hun Thian-hi.

Tampak biji mata Hun Thian-hi memancarkan sinar aneh, diam-diam ia menerawang situasi yang tidak menguntungkan ini, maka harus menyelesaikan pertandingan babak pertama ini secara kilat, maka Pan-yok-hian-kang segera dikerahkan tanpa berkelit lagi.

Begitu tangannya kena mencengkeram pundak orang, kontan berubah airmuka Bin-tiong~motho Sukong Ko, terpancang rasa heran dalam sorot matanya, begitu kelima jarinya mencengkeram seketika terasa tangannya kesemutan tak mampu mengerahkan tenaga.

Keruan bukan kepalang kejutnya.

Kiranya pemuda yang dihadapi ini membekal ilmu sakti yang hebat sekali, sungguh aku terlalu memandang ringan padanya!

Dasar ingin menangnya sendiri sedikitpun ia tidak gentar atau mumdur teratur, sambil mendengus ia kerahkan seluruh kekuatannya dikelima jarinya untuk mencengkeram lebih keras, pikirnya kecuali Ka-yap Cuncia.

tiada seorang pun yang akan mampu bertahan dari cengkeraman jarinya yang lihay seperti jepitan tanggem besi ini.

Dalam pada itu Thian-hi kerahkan seluruh Lwekangnya untuk bertahan, memangnya iapun rada memandang ringan pada Bing-tiong-mo-tho, apalagi Cian-kin-hiat dipundak kena dicengkeram, seolah-olah sipenunggang harimau yang sulit turun.

terpaksa ia harus melawan dengan segala kemampuannya.

sebab ia harus menang dalam pertandingan babak pertama ini.

Tampak Tok-sim-sin-mo mengunjuk rasa kaget dan tak habis herannya, kehebatan Lwekang Thian-hi benar-benar diluar perhitungannya semula.

yang lebih mengejutkan hatinya lagi justru dari tubuh Hun Thian-hi yang berdiri sekokoh gunung itu seolah-olah terbayang duplikat Ka-yap Cuncia yang sangat ditakuti itu.

Bukankah Lwekang yang dikerahkan itu adalah Pan-yok-hian-kang yang diandalkan Ka-yap Cuncia untuk malang melintang dan menjagoi dunia persilatan dulu?

Sekian lamanya kedua belah pihak bertahan berdiri seperti tonggak kayu, kedua musuh ini sama tokoh kosen ahli Lwekeh yang lihay, adanya adu kekuatan tenaga dalam ini membuat seluruh hadirin menonton dengan jantung berdebar dan menahan napas, keadaan ruang batu itu menjadi sunyi senyap.

Entah berapa lama berselang, mendadak Hun Thian-hi menjebir bibir bersuit lirih pendek.

dimana kelihatan pundaknya sedikit bergerak terdengarlah suara "Duk!"

Yang keras kontan badan Bing-tiong-mo-tho yang tinggi besar itu terpental jauh tiga empat tombak terus terbancng roboh dan berkelejetan, Banyak orang segera merubung maju memajang Bing-tiong-mo-tho ke dalam untuk diobati.

Pundak kiri Thian-hi sendiri juga terasa sakit dan kesemutan lekas-lekas ia menyedot napas lalu mengerahkan hawa murninya untuk memulihkan kesegaran badannya.

Pek Si-kiat mengunjuk seri tawa lebar, ia sangat bangga akan hasil kemenangan Hun Thian-hi....

dengan tersenyum sinis ia pandang Tok-sim-sin-mo.

Tok-sim-sin-mo menggeram gusar, tanyanya kepada Hun Thian-hi.

"Apa hubunganmu dengan Ka-yap? Dimana dia sekarang?"

Lihay benar-benar Tok-sim-sin-mo ini, demikian pikir Thian-hi dengan kaget. Namun lahirnya ia tetap tenang, sahutnya tawar.

"Soal ini dibicarakan nanti. yang terang aku sudah menang lekas kau serahkan dulu Toaciku!"

Tok-sim,sin-mo menyeringai iblis, jengeknya.

"Hari ini bila kalian tidak masuk menjadi anggota, untuk meninggalkan tempat ini. sesulit memanjat langit!"

Pek Si-kiat berjingkrak bangun, pedang pusaka ditangannya diangsurkan kepada Thian-hi, serunya.

"Jadi kau mau ingkar janji?"

"Samte!"

Teriak Tok-sim-sin-mo mendongak sambil terbahak-bahak.

"Kau sangka aku gentar oleh sebatang pedang pusaka itu? Aku berani memperlihatkan pedang pusaka itu kepada kau sebelum kalian menentukan haluan, sudah tentu aku punya cara untuk mengatasi dan menundukkan Kamu berdua!"

Pek Si-kiat berdua bungkam.

"Kau harus tahu!"

Sambung Tok-sim-sin-mo.

"kenapa aku angkat nama dengan Hek-liong-pang! -Lalu ia terkekeh-kekeh dingin sambil menyapu pandang keseluruh hadirin.

"Seumpama kau punya tipu daya yang keji kamipun tidak perlu gentar."

Demikian ujar Pek Sikiat.

"Kau tahu watakku, apa yang hendak kulakukan kecuali aku lepas tangan, kalau tidak aku tidak merubah haluan sebelum tujuanku tercapai!"

Tok-sim-sin-mo tertawa kering dua kali, katanya kepada Hun Thian-hi.

"Aku tahu tentu kau pernah bertemu dengan Ka-yap. malah mendapat pelajaran. ilmu saktinya, namun semua pengalaman itu akupun tidak perlu main selidik lagi. Bila kau mau masuk anggota, kami tidak akan menyia-nyiakan bakat dan segala kemampuanmu. Apalagi Sutouw Ci-ko masih berada ditanganku, mau atau tidak, kau harus pilih satu diantaranya. Kalau kau benar-benar keras kepala dan tidak mau, aku kuatir kelak kau akan menyesal!"

Hun Thian-hi tersenyum manis. katanya.

"Setelah kau tahu aku sebagai ahli waris Pan-yokhian-kang, maka tiada halangannya kita bicara secara blak2an saja. Kau sebagai Pangcu, aku menuntut supaya Sutouw Ci-ko segera kau lepaskan, soal masuk jadi anggota, saat ini aku tidak suka membicarakannya, karena kurasa pembicaraan ini tidak akan menguntungkan."

Lalu bagaimana menurut maksudmu?"

Semprot Tok-sim-sin-mo dengan mata berapi-api.

"Pak-yok-hian-kang cukup berkelebihan untuk menggetarkan Bulim,"

Ujar Thian-hi sinis.

"Hekliong-pang kalian mengundang aku masuk menjadi anggota, dengan apa kalian hendak melemaskan hatiku?"

"Samteku menjabat wakil Pangcu, sedang kau bagaimana kalau kuangkat menjadi kepala dari empat pelindung kumpulan?"

Hun Thian-hi menggeleng dengan menjebir bibir. jengeknya.

"Bila demikian tawaranmu ini terlalu merendahkan derajatku, tidak sukar kau undang aku menjadi anggota, asal kau mau serahkan kedudukan Pangcu kepada aku!"

Tok-sim-sin-mo mendongak tertawa menggila, serunya.

"Sombong benar-benar, kau belum pernah lihat dan menjajal kekuatan Hek-liong-pang kami, bukankah kau mengandalkan Pan-yokhian-kang yang tiada tandingannya di Bulim? Akan kupertunjukkan kepada kalian betapa hebat dan lihaynya, Pek-tok-kek-liong-ting! (paku naga hitam beratus racun)" -lalu ia ulapkan sebelah tangannya empat orang berpakaian seragam hitam segera muncul, tangan masing-masing membawa selaras besi hitam, langsung diarahkan kepada mereka berdua. Pek Si-kiat kaget bukan main, dengan tajam ia pandang keempat orang itu. Ia tahu Pek-tok-hek-liong ting khusus untuk memecahkan Lwekang aliran Lwekeh yang terhebat, cara pemhuatannya sangat sukar, ratusan tahun yang lalu senjata macam ini sudah lenyap dari percaturan dunia persilatan. Sekarang mendadak muncul disini. jikalau Ling-lam-kiamciang Coh Jian-jo berada disini, tentu Tok-sim mampu membuat senjata jahat ini, tapi untuk membuat laras senjata ini diperlukan Besi murni laksaan tahun, entah dari mana Tok-sim-sin-mo mampu memperoleh bahan bakunya yang sulit didapat ini.

"Dalam dunia ini tokoh mana yang mampu melawan Pek-tok-hek-liong-ting? Pan-yok-hian-kang memang ilmu sakti yang tiada taranya, namun mana bisa melawan kehebatan Pek-tok-hek-liongting. Pek Si-kiat menggeram gusar, serunya.

"Jangan kau kira setelah memiliki Pek-tok-hek-liong-ting lantas kau dapat malang-melintang bersimaharaja. Apakah senjatamu itu tulen atau tiruan belum diketahui, bila benar-benar, kaupun akan kena ditumpas oleh seluruh kekuatan kaum persilatan!"

Tok-sim-sin-mo tertawa besar, ujarnya.

"Kau sangka senjataku itu tiruan? Kiu-thian-ham-giok merupakan bahan terpilih yang paling cocok untuk membuat Pek-tok-hek-liong-ting. Apalagi kekuatanku sedemikian besar ini masa takut ditumpas kaum persilatan apa segala?"

Hun Thian-hi berpikir sebentar lalu menyela bicara.

"Dalam kehidupan di dunia ini terdapat dua unsur positip dan negatif yang saling berlawanan. Kau sangka Hek-liong-tingmu ini tiada benda lain yang dapat mengatasinya?"

"Kau hendak mencari tahu? Sayang tiada suatu benda apapUn yang dapat mengatasinya. Dalam tempo sesulutan batang hio kuberikan kesempatan pada kalian untuk berpikir memberikan keputusan kalian."

Dari samping sana seorang menyulut hio lalu ditancapkan di atas meja.

Thian-hi harus berpikir secara cermat, mencari jalan untuk mengatasi situasi yang gawat ini, namun sesaat lamanya ia tidak memperoleh jalan keluar untuk menghadapi Tok-sim-sin-mo.

Sementara Pek Si-kiat sendiri pejamkan mata tanpa berkata-kata, ia mengandal kecerdikan otak Thian-hi, entah punya cara apa yang sempurna, buat dia sendiri tiada punya pegangan.

Tak lama kemudian batang hio itu sudah terbakar separo, Thian-hi lantas buka suara kepada Tok-sim-sin-mo.

"Apakah benar-benar Hek-liong-ting kalian bisa memecahkan segala Lwekang aku belum tahu, dengan cara ancamanmu ini kau hendak menarik kami menjadi anggota, kukira kalian bertindak kurang bijaksana."

"Jadi maksudmu kau ingin tahu kekuatan Hek-liong-ting ini lebih dulu?"

"Begitulah maksudku!"

Pek Si-kiat membuka mata, dia heran kenapa Thian-hi begitu gegabah, masa Hek-hong-ting dianggap barang mainan yang boleh dicoba apa segala, seumpama pedang pusaka atau senjata tajam lainnya juga tiada kemungkinan mematahkannya.

"Begitupun baik,"

Seru Tok-sim-sin-mo terloroh-loroh.

"Aku sendiri juga belum tahu apakah Hek-liong-ting dapat memecahkan Pan-yok-hian-kang, melalui percobaan ini ingin aku saksikan ilmu saktimu yang hebat itu, terlebih penting akan kuketahui betapa lihay Hek-liong-ting milik kita ini!"

"Tapi cara bagaimana mencobanya?"

"Gampang saja. Hek-liong-ting seluruhnya ada tujuh batang, kusuruh keempat orang itu bergantian menyerang kepadamu, kau boleh melawan dengan Pan-yok-hian-kangmu."

"Cara ini tidak bisa dilaksanakan!"

Dengus Pek Si-kiat. Dia tahu akan kelicikan pihak lawan, bila Thian-hi benar-benar tak kuasa bertahan, bukankah bakal menjadi korban secara konyol.

"Kenapa? Kalau tidak begitu cara bagaimana pula?"

Hun Thian-hi tertawa tawar, ujarnya.

"Paman Pek, cara ini memang cukup baik, kau tidak perlu kuatir padaku!"

Dengan sorot heran dan tak mengerti Tok-sim-sin-mo pandang wajah Thian-hi, Hun Thian-hi berani mempertaruhkan jiwanya untuk percobaan yang berbahaya ini.

Bagi perhitungan Hun Thian-hi bila dia berhasil memunahkan serangan Kek-liong-ting lawan, nyali Tok-sim-sin-mo tentu ciut dan gentar menghadapi dirinya, serta menyerahkan Sutouw Ci-ko.

Seumpama dirinya yang kalah, dirinya tidak akan hidup lama lagi, maka sasaran utama bagi musuh adalah dirinya, meski harus ajal di bawah paku naga hitam yang jahat ini, betapapun Pek Si-kiat harus berkesempatan meloloskan diri dari sarang iblis ini.

Tok-sim-sin-mo menggeram, dalam hati ia mencemooh.

"Anak muda, kau terlalu congkak!"

Bahwasanya ia tahu bahwa Hun Thian-hi tidak akan mampu melawan Hek-liong-ting, namun betapapun ia tidak mau kehilangan kesempatan paling baik yang sukar dicari ini.

Pelan-pelan Hun Thian-hi maju ke tengah gelanggang, pedang disarungkan di dalam serangkanya, terkilas olehnya akan Wi-thian-cit-ciat-sek, tergeraklah hatinya, bila Hek-liong-ting benar-benar khusus untuk memecahkan ilmu Lwekang, kenapa aku tidak gunakan saja Wi-thiancit-ciat-sek untuk memenangkan percobaan ini?

Seumpama gagal juga tidak menjadi soal, apalagi Wi-thian-cit-ciat-sek merupakan ilmu pedang dari aliran Lwekeh yang tiada taranya, apakah benarbenar tidak mampu bertahan dari serangan Pek-tok-hek-liong-ting?

Melihat Thian-hi menunduk memandangi pedang di tangannya, seperti sedang memikirkan apaapa, Tok-sim-sin-mo mengejek dingin.

"Kau menggunakan pedang juga boleh, tapi kukuatir Hekliong-ting tidak semudah itu dapat ditangkis atau dilawan!"

Dengan tangannya Thian-hi obat-abitkan pedangnya sambil tertawa tawar tanpa bersuara.

"Kau sudah siap belum?"

Tanya Tok-sim-sin-mo.

Hun Thian-hi angkat kepala, dengan pandangannya yang tajam ia awasi seluruh hadirin, lalu manggut pelan-pelan.

Tok-sim-sin-mo menyeringai iblis seperti serigala yang kelaparan bakal menggares mangsanya, biji matanya berkilat mengandung hawa membunuh.

Dalam angan2nya, Hun Thian-hi segera bakal mati konyol di hadapannya....

Pelan-pelan ia sedikit angkat tangannya, salah seorang seragam hitam yang berdiri paling kanan segera angkat longsong besinya serta memijatnya.

"cret"

Setabur sinar hitam kontan melesat keluar, seluruhnya menerjang ke depan dada Hun Thian-hi.

Sejak menelan buah ajaib jasmani Hun Thian-hi luar biasa melebihi orang bjasa.

maka ia menjadi terkejut waktu melihat Pek-tok-hek-liong-ting melesat mengarah dirinya.

Dalam sekilas pandang saja ia melihat jelas formasi ketujuh Hek-liong-ting yang menerjang datang ini begitu sempurna dan lihay benar-benar, yang membuatnya terkejut adalah formasinya yang mengincai berbagai tempat, mungkin tiada seorang tokoh kosen dari Bulim yang mampu terhindar dari incaran Hek-liong-ting yang ganas ini.

Seumpama SitUa Pelita yang mengagulkan ilmu Gin-kang yang tiada keduanya dijagat ini juga takkan mampu menyelamatkan diri.

Sementara itu laksana kilat ketujuh paku naga hitam itu, sudah meluncur tiba, tiada tempo lagi bagi Hun Thian-hi untuk berpikir.

lekas-lekas ia angkat tangan kiri menepuk ke depan, ia kerahkan Pan-yok-hian-kang menyongsohg kedatangan ketujuh Hek-liong-ting itu dengan pukulannya.

Baru saja Thian-hi melancarkan pukulannya lantas dia merasa firasat jelek, tampak olehnya ketujuh Hek-liong.ting itu masih menerjang tiba dengan kecepatan yang ada, sedikitpun tidak menjadi terhalang atau menyimpang dan merandek oleh tenaga pukulan Thian-hi tadi.

Sebat sekali Thian-hi menggeser mundur seraya mengayun tangan, tahu-tahu pedang pusaka sudah berada ditangannya terus membalik ke depan, dengan jurus gelombang perak mengalun berderai salah satu jurus dari Gin-ho-sam-sek ia tangkis ke depan, cahaya pedangnya yang gemerdep segera mengurung luncuran senjata rahasia musuh.

Ketujuh paku naga hitam itu seperti terhenti sekilas ditengah udara, namun lantas meluncur maju lagi dengan kekuatan yang sama.

Apa boleh buat terpaksa Thian-hi lancarkan Wi-thian-citciat-sek dengan tujuan men-coba-coba.

Dengkul ditekuk tubuhnya rada mendak kebawah pedang panjangnya lantas teracung miring ke depan, dimana pedangnya sedikit bergerak beberapa mili saja, (gerak pedang yang hanya beberapa mili ini sulit diikuti oleh pandangan mata) ia sudah kerahkan seluruh Lwekangnya.

seketika hawa pedang mengembang memenuhi udara sekitar gelanggang, benar-benar juga usahanya ternyata berhasil, ketujuh paku naga hitam beracun itu kena terhalang.

Keruan girang hati Thian-hi, dengan kekuatan hawa pedangnya ia bermaksud menghancur leburkan semua paku2 beracun itu, namun begitu pedangnya berputar terdengarlah suara Trangtring yang ramai, terasa olehnya bahwa ketujuh paku itu adalah sedemikian keras pedangnya tak berhasil mematahkannya.

Sudah tentu kejut sekali hatinya, sembari bersuit nyaring cepat ia putar pedangnya pula menyapu jatuh ketujuh Hek-liong-ting itu tercerai berai di atas lantai....

Tok-sim-sin-mo kaget bukan main, tanpa kuasa ia melonjak bangun seraya berteriak.

"Itulah Wi-thian-cit-ciat-sek!"

Waktu pertama melihat Hun Thian-hi tidak berhasil melumpuhkan luncuran paku naga hitam musuh, berubah airmuka Pek Si-kiat.

Kini dilihatnya Thian-hi berhasil menyapu rontok seluruh paku berbisa dan ganas itu, keruan bukan kepalang senang hatinya, dengan suara lantang iapun berteriak.

"Benar-benar, itulah Wi-thian-cit-ciat-sek. Dalam kotong langjt ini siapapun yang mampu melawan Wi-thian-cit-ciat-sek?"

Tok-sim-sin-mo menggeram gusar, matanya berapi-api.

Dilihatnya Thian-hi berdiri tegak lurus dengan gagahnya pelan-pelan menyarungkan kembali pedangnya.

tanpa merasa hatinya menjadi gentar dan kuncup nyalinya.

Sekali sapu Thian-hi dapat menyampok runtuh senjata rahasia yang paling dibanggakan ini.

mungkin Wi-thian-cit-ciat-sek benar-benar sudah sempurna dilatihnya, betapapun dirinya bukan tandingannya, bagaimana tindakan selanjutnya?

Ia menjadi bingung.

Tapi tidak terpikir olehnya bahwa latihan Wi-thian-cit-ciat-sek Thian-hi justru belum sempurna, sebelumnya tadi ia sudah lancarkan Pan-yok-hian-kang dan sejurus Gin-ho-sam-sek.

sehingga daya luncuran Hek-liong-ting yang keras dan cepat itu kena dipunahkan seoagian besar, begitu ia lancarkan sejurus Wi-thian-cit-ciat-sek dengan sendirinya mudah sekali ia rontokkan seluruh Hekliong-ting itu.

Bila Tok-tim-sin-mo tadi memberi perintah pada anak buahnya supaya menyerang bergantian, betapapun tinggi kepandai Hun Thian-hi tidak akan lolos dari renggutan elmaut, dan kelak ia akan benar-benar dapat menjagoi dan bersimaharaja di seluruh dunia persilatan.

Justru karena kagetnya ini sehingga otak Tok-sim-sin-mo tidak dapat berpikir secara jernih, sesaat lamanya ia tak kuasa buka suara, entah berapa lama kemudian baru ia berkata.

"Kalau begitu, akupun tidak akan memaksa kalian masuk anggota lagi, Sutouw Ci-ko akan kuserahkan kepada kalian!"

Thian,hi dan Pek Si-kiat menjadi girang.

"Tapi ada syaratnya!"

Demikian tambah Tok-sim-sin-mo. Pek Si-kiat mendengus, jengeknya.

"Syarat apa? Apa kau mampu melawan Wi-thian-cit-ciatsek? Ketahuilah Pek-tok-hek-liong-ting tidak lebih sebagai barang rongsokan belaka!"

"Benar-benar. memang aku tidak kuasa melawan Wi-thian-cit-ciat-sek."

Tok-sim-sin-mo mengakui terus terang.

"Tapi ingat Sutouw Ci-ko masih berada ditanganku, masa kalian berani mengusik-usik kepada aku?"

Pek Si-kiat terbungkam.

Dia tahu tabiat Tok-sim-sin-mo, bila ia sudah nekad segala apapun berani dilakukan, seumpama gugur bersamapun akan dia lakukan, dalam keadaan yang mendesak dan genting ini terpaksa ia harus berlaku sabar dan mengalah, maka katanya.

"Coba kau katakan dulu syarat apa yang kau ajukan?"

"Paling tidak sampai pada detik ini, setelah aku menyerahkan Sutouw Ci-ko, diantara kita tiada ikatan permusuhan dan dendam sakit hati lagi. Kelak peduli apapun yang kami lakukan, kalian berdua dilarang turut campur dan menghalangi, inilah syaratnya. gampang dan sepele saja apakah kalian mau setuju dan mematuhi syarat yang kuajukan ini?"

Hun Thian-hi berpikir sebentar, ia insaf bahwa situasi tetap gawat dan belum menguntungkan pihaknya, bila ia tidak setuju akan syarat yang diajukan ini, bila Tok sim-sin-mo murka dan nekad, paling-paling kepandaian sendiri setingkat sama Tok-sim belum lagi anak buahnya yang banyak jumlah dan tinggi kepandainnya, akan merupakan tekanan berat juga bagi pihaknya, maka ia berkata.

"Tapi bila tindakan kalian merugikan sanak kadang dan para sahabat kita bagaimana?"

"Tidak mungkin! Kalian harus cepat membawa Sutouw Ci-ko meninggalkan Tionggoan, sanak kadang atau teman2 kalian tidak akan kami recoki, bagaimana pendapat kalian?"

Thian-hi berpikir, bila aku mengajukan imbalan yang terlalu rumjt juga belum tentu mereka mau setuju, pula tidak mungkin hanya karena urusan kecil lantas aku mengingkari urusan besar ini, akhirnya ia tertawa mauggut2, ujarnya.

"Begitupun baiklah!""

Melihat Hun Thian-hi begitu wajar dan tanpa curiga sedikitpun menyetujui syarat2 yang diajukan Tok-sim-sin-mo menyeringai tawa lebar, katanya.

"Kau harus pegang teguh janji ini, kau tahu aku pernah kau tipu sekali, tempo hari kau tinggal merat sendiri tanpa hiraukan aku lagi, apakah kau masih ingat?"

Berdeguk jantung Thian-hi, sahutnya tertawa.

"Kau harus percaya kepada ucapanku sekarang!"

Tok-sim-sin-mo tertawa aneh, katanya.

"Segera kuantar Sutouw Ci-ko keluar gua, sekarang kalian boleh keluar dan tunggu diluar." -habis berkata ia melangkah ke ruang sebelah dan menghilang. Thian-hi berdua keluar diantar anak buah Tok-sim-sin-mo. Tak lama kemudian tampak Tok-sim-sin-mo beranjak keluar sambil menggusur Sutouw Ci-ko. Begitu melihat Hun Thian-hi Sutouw Ci-ko berteriak kegirangan.

"Thian-hi, kau sudah pulang!" -Begitu senang hatinya sampai matanya mengalirkan air mata.

"Mari lekas kita tinggalkan tempat ini!"

Demikian ujar Thian-hi sambil menggandengnya. Tok-sim-sin-mo mengunjuk tawa sinis yang aneh, tangannya segera diulapkan, anak buahnya segera menuntun tiga ekor kuda putih, katanya.

"Aku tiada punya tanda mata yang harus kuberikan, ketiga ekor kuda ini anggap saja sebagai tanda kenangan."

Pek Si-kiat rada heran dan bertanya-tanya kenapa Tok-sim-sin-mo hari ini begitu sungkan dan bersikap begitu baik.

malah begitu gampang kena diapusi lagi.

Siapa pun tahu Hun Thian-hi tidak mungkin mau pegang janjinya yang merugikan itu, tapi orang mau percaya begitu gampang, tentu ada udang dibalik batu.

Demikian ia menerawang dan berpikir.

Tok-sim-sin-mo mengangsurkan selempit kertas kepada Hun Thian-hi, katanya.

"Setelah meninggalkan tempat ini boleh kau baca surat ini seorang diri!"

Bercekat hati Pek Si-kiat, katanya cepat.

"Hun-hiantit, lekas kau lihat, apa yang dia tulis di atas kertas itu?"

Tanpa bersuara Thian-hi awasi Tok-sim-sin-mo dengan pandangan berkilat.

pelan-pelan ia membuka lempitan kertas itu.

Terdengar Tok-sim-sin-mo tertawa dingin, mendadak tubuhnya berkelebat menghilang kedalaan gua.

Begitu melihat apa yang tertulis di atas kertas itu, sejenak Hun Thian-hi melengak dan terlongong, lalu ia meremas hancur kertas itu dengan tangan kanannya, katanya kepada Pek Sikiat dan Sutouw Ci-ko.

"Mari lekas berangkat!"

Melihat perobahan sikap Hun Thian-hi yang mendadak ini, Pek Si-kiat dan Sutouw Ci-ko berbareng mengajukan pertanyaan.

"Apa yang tertulis dalam kertas tadi?"

Thian-hi menunduk sambil tertawa tawar, sahutnya.

"Tiada persoalan bagi kalian!"

Mulutnya bicara begitu, namun jelas ia mengetahui bahwa urusan bakal berlarut-larut berkepanjangan, karena surat itu berbunyi;

"Sutouw Ci-ko sudah menelan Pek-tok-hoan (pil seratu5 bisa) setiap tahun pada pertengahan musim rontok, datanglah mengambil obat penawarnya...."

Hun Thian-hi punya perhitungan, bila sekarang dia bersikap keras dan bermusuhan menghadapi Tok-sim-sin-mo, pihak sendiri terang tidak unggulan, dan pada pihak sendiri yang bakal konyol lebih baik bersabar dan main ulur waktu sembari menyempurnakan Wi-thian-cit-ciatsek sebelum Tok-sim-sin-mo menyadari bahwa latihan Wi-thian-cit-ciat-seknya belum sempurna ia harus cepat-cepat meninggalkan daerah yang penuh ancaman mam bahaya ini.

Maka segera ia keprak kudanya serta berseru kepada mereka berdua.

"Kita keluar dulu dari Giok-bun-koan baru bicara lagi lebih lanjut!" -dalam bicara ini kudanya sudah dibedal sekencang angin. Terpaksa Sutouw Ci-ko dan Pek Si-kiat mengikuti jejak Thian-hi, merekapun mencongklang tunggangannya secepat angin pula, debu mengepul tinggi memenuhi angkasa. Sekejap saja mereka sudah pergi jauh dan tidak kelihatan lagi. Sementara itu Tok-sim-sin-mo sedang termenung memikirkan keadaan Hun Thian-hi, lambat laun timbul rasa kecurigaannya. masa Hun Thian-hi mandah saja mau tinggal pergi begitu saja? Rasanya tidak mungkin, atau mungkinkah dia punya urusan penting lainnya. sehingga harus cepat menyusul kesana. Begitulah ia menepekur dan menerawang adegan yang terjadi tadi, semakin dipikir terasa kejanggalan yang semakin menyolok, dia mendengus lirih, tingkah laku itu Hun Thian-hi terakhir ini sudah membuatnya curiga, maka terbayang pula. gerak-gerik Hun Thian-hi sejak ia memasuki Jian-hud-tong tadi. Mendadak terbayang olehnya waktu Hun Thian-hi melolos pedang, sikapnya rada ragu-ragu dan sangsi. Kontan terpancar sorot "tajam berkilat dari biji matanya, ia berpaling dilihatnya seluruh anak buahnya berdiri tegak meluruskan tangan. Gerak gerik Hun Thian-hi selanjutnya lantas terbayang pula di dalam ingatannya. Akhirnya ia menggerung dengan murkanya, baru sekarang ia paham kenapa Hun Thian-hi bersikap demikian. Adegan Hun Thian-hi menangkis dan menghadapi Pek-tok-hek-liong-ting tadi lantas terhenti dalam bayangannya. jelas kelihatan cara Hun Thian-hi menghadapi serangan itu begitu runyam dan terpaksa. Sungguh sesal dan dongkol dibuatnya kenapa waktu itu dirinya tidak perhatikan jurus permainan Wi-thian-citciat-sek itu sendiri hakikatnya belum begitu sempurna dilancarkan oleh Hun Thian-hi. Baru sekarang ia sadar justru dirinyalah yang kena tipu malah. Cepat ia berteriak.

"Lekas siapkan kuda. Kita kejar Hun Thian-hi bertiga!"

Sebagai salah satu Huhoat (pelindungl Hek-liong-pang Bing-tiong-mo-tho merasa berkewajiban dalam tugas2 berat ini, sejenak ia tertegun lantas berkata.

"Mereka sudah berangkat satu jam yang lalu, apakah sekarang masih dapat kecandak?"

Tok-sim-sin-mo melongo, dengan kertak gigi ia berkata.

"Lekas kau lepas burung dara! perintahkan Siang-tongcu mencegat dan merintangi mereka, kita segera menyusul tiba. Bagaimana juga aku harus bunuh bocah keparat itu sebelum ia berhasil menyempurnakan Wician-cit-ciat-sek!"

Bing-tiong-mo-tho rada terkejut cepat ia mengundurkan diri melaksanakan perintah, tak lama kemudian merexa sudah mencongklang kuda be-ramai-ramai dibedal menuju ke Giok-bun-koan.

Dalam pada itu Hun Thian-hi bertiga tengah membedal kuda masing-masing cepat-cepat, ditengah jalan ia memperingatkan kepada Pek Si-kiat dan Sutouw Ci-ko.

"Tok-sim-sin-mo pasti mengejar datang. Kita harus cepat keluar dari daerah kekuasaannya."

"Apa yang dia tulis dalam kertas tadi?"

Tanya Pek Si-kiat.

"Tidak apa-apa. Tok-sim-sin-mo mampu membunuh kami bertiga, kenapa dia tidak akan mengejar? Coba pikir apakah dia bisa menepati janjinya?"

Sebagai seorang kawakan Kangouw, serta mengetahui tabiat Tok-sim-sin-mo, sedikit berpikir lantas Pek Si-kiat maklum akan keadaan yang berbahaya ini.

tahu dia kemana juntrungan katakata Hun Thian-hi.

Begitulah tanpa berhenti dan tidak mengenal lelah mereka bertiga membedal tunggangan mereka, selama sehari semalam tanpa berhenti istirahat.

Untung tujuan Tok-sim-sin-mo semula supaya mereka lekas pergi dan meninggalkan wilajah kekuasaannya, maka kuda yang diberikan pada mereka rata2 adalah kuda pilihan yang dapat lari ribuan li sehari.

dalam waktu sehari semalam itu mereka sudah hampir tiba di Giok-bun-koan.

Mereka larikan kudanya berjajar.

sebelum memasuki Giok-bun-koan jauh di depan sana tampak jejak musuh telah menanti dan mencegat ditengah jalan.

Pek Si-kiat bertiga tidak tahu siapa dan apa tujuan mereka mencegat mereka?

Apalagi sudah tiba diambang pintu Giok-bun-koan tidak perlu merasa kuatir yang berkelebihan, segera bersama menghentikan kuda dan menanti kedatangan rombongan musuh.

Setelah dekat baru Pek Si-kiat melihat tegas, diam-diam hatinya bercekat melihat siapa yang menjadi pemimpin rombongan pencegat ini, dia bukan lain Lam-bing-it-hiong Siang Bu-wong.

Nama julukan Lam-bing-it-hiong memang tidak begitu tenar di daerah Tionggoan.

Tapi Pek Si-kiat dulu pernah menjajal ilmu silatnya, kepandaian Lam-bing-it-hiong (si durjana dan selatan) tak terpaut jauh dibawahnya.

Sekarang Tok-sim-sin-mo sudah melebarkan sayapnya dan menggaruk sedemikian banyak gembong-gembong iblis, Siang Bu-wong adalah satu diantara gembonggembong iblis itu, betapapun kita harus hati-hati menghadapi mereka, demikian Pek Si-kiat.

Sambil memincingkan mata Lam-bing-it-hiong Siang Bu-wong menyapu pandang mereka bertiga lalu berkata sembari tertawa aneh.

"Kiranya Pek-heng masih gemar tamasya naik kuda untuk melemaskan tulang-ulang tua. Aku mendapat perintah dari Pangcu untuk menahan kalian bertiga."

Pek Si-kiat tahu Tok-sim-sin-mo sangat mengandalkan tenaga dan kemampuan Siang Bu-wong ini, dia merupakan salah seorang tangan kanannya yang paling diandalkan.

Dia diutus bercokol di tempat ini tujuannya adalah untuk menghadapi Kiu-yu-mo-lo yang telah menghilang diluar perbatatan.

Sambil menjengek dingin segera Pek Si-kiat balas mengolok.

"Siang Bu-wong kiranya kau. Kau hendak menahan aku, haha, mampukah kau?"

Ternyata Lam-bing-it-hiong seorang yang licik dan licin, sedikitpun ia tidak terpengaruh oleh olok2 ini, dengan sikap dingin mendadak ia angkat sebelah tangannya memperlihatkan sebuah benda.

teriaknya.

"Aku sendiri memang tidak mampu, namun kupercaya senjata ini akan mampu menahan kalian disini."

Berjingkrak kaget Pek Si-kiat dan Hun Thian-hi, benda yang diacungkan Lam-bing-it-hiong itu bukan lain adalah laras Pek-tok-hek-liong-ting.

Dengan lirikan matanya Hun Thian-hi memberi aba-aba kepada Pek Si-kiat dan Sutouw Ci-ko, 'Sreng!' cba2 tangan kanannya mencabut keluar pedang pusaka itu.

Lam-bing-it-hiong Siang Bu-wong mandah tersenyum sinis, begitu tangan kirinya menepuk ke atas laras besi panjang itu kontan setabur bayangan hitam kontan menungkrup ke arah Hun Thian-hi.

Sambil menghardik keras tubuh Thian-hi tiba-tiba mencelat mumbul dari tunggangannya.

pedang pusaka ditangannya lantas melancarkan jurus pedang dari ilmu Wi-thian-cit-ciat-sek, itulah tipu Thian-wi-te-liu (langit berputar bumi mengalir), hawa pedang yang menyerupai kabut putih kehijauan pupus menguap keluar dari batang pedang terus memberondong maju menerjang ke arah samberan Pek-tok-hek-liong-ting.

Dalam pada itu.

Pek Si-kiat juga sedang berteriak.

"Ci-ko. lekas terjang!"

Secepat kitiran kedua telapak tangannya bergerak.

dia kerahkan Pek-kut-sin-kang terus menerjang ke depan dilindungi kekuatan angin pukulannya terus menyerbu ke arah rombongan Lam-bing-it-hiong.

Lam-bing-it-hiong tahu begitu ia turun tangan.

pasti Pek Si-kiat juga tidak akan tinggal diam dan menerjang pada dirinya.

Cepat ia ayun laras Pek-tok-hek-liong-ting, terus menutuk kejalan darah Siau-hou-hiat ditenggorokan Pek Si-kiat.

hebat benar-benar serangan ini, kekuatannya pun ia kerahkan seluruhnya.

Pek Si-kiat rada kaget menghadapi rangsekan musuh yang lihay, tapi sebagai seorang ahli silat yang waktu mudanya merupakan seorang Gembong iblis juga kepandaian Pek Si-kiat sudah tentu tak terukur tingginya, mana ia gentar menghadapi serangan jurus yang lihay ini, tiba-tiba ia menggentakkan kaki, seketika tubuhnya mencelat tinggi meninggalkan tempat duduknya, berbareng kedua telapak tangannya terpentang ke kanan kiri terus melancarkan ilmu pukulan Pekkut-mo-ou-ciang yang pernah menggetarkan kalangan Kangouw dulu, dimana kedua tangannya bergerak, dengan setaker tenaganya ia balas merangsak kepada Lam-bing-it-hiong.

Dalam pada itu, waktu Hun Thian-hi melancarkan Thian-wi-te-tong dengan seluruh kekuatan Lwekangnya untuk menghalau senjata rahasia musuh, namun Pek-tok-hek-liong-ting musuh masih menerjang maju terus sampai ke depan dadanya kira-kira setengah kaki baru kena dihalau dan tertangkis jatuh tercerai berai.

Betapa kejut hatinya bahwa Pek-tok-hek-liong-ting ternyata benarbenar begitu hebat, bila musuh melancarkan dua laras senjata rahasia yang lihay ini, jelas dirinya tidak akan mampu melawan.

Bila musuh sampai berhasil memproduksi laras2 senjata rahasia yang hebat ini, mungkin seluruh Kangouw ini tiada seorangpun yang bakal mampu melawan.

Bab Pikiran ini hanya berkelebat dalam alam pikirannya, waktu ia berpaling dilihatnya Pek Si-kiat dan Sutouw Ci-ko memang sudah berhasil mengacau balaukan perlawanan musuh dan berada di atas angin, namun selama itu belum berhasil menerjang lolos dari kepungan musuh.

Laksana seekor burung garuda tiba-tiba Thian-hi melompat jauh mencemplak ke atas kudanya terus dikeprak maju, berbareng pedang di tangannya menyerang dengan jurus Gin-go-sam-sek yang ketiga.

Gin-ho-sam-sek merupakan ilmu pedang yang maha sakti tiada taranya.

jurus ketiganya justru merupakan tipu yang paling hebat dan tepat untuk menggempur kepungan, dimana pedang panjangnya berkelebat, hawa pedangnya ikut berkembang melebar, kontan Siang Bu-wong kena terdesak mundur, tanpa ayal mereka bertiga segera menerjang lewat dan terus dibedal menuju ke Giok-bun-koan.

Melihat Thian-hi bertiga berhasil meloloskan diri dengan menghela napas rawan Siang Bu-wong mendelong mengawasi bayangan mereka yang semakin kecil dan hilang dikejauhan.

Waktu ia membalik tubuh jauh di arah yang barlawanan sana dilihatnya rombongan Tok-sim-sin-mo tengah mendatangi dengan cepat, sayang kedatangan mereka setindak telah terlambat, Hun Thian-hi bertiga sudah tidak kelihatan lagi bayangannya....

Dari jauh Tok-sim-sin-mo sudah melibat bayangan Siang Bu-wong dan anak buahnya, kontan dingin perasaannya, tahu dia bahwa Hun Thian-hi pasti sudah berhasil meloloskan diri, bila mereka sudah keluar dari Giok-bun-koan jelas dirinya tidak mungkin dapat membekuknya Kembali.

Setelah dekat mereka memperlambat lari kuda, cepat Siang Bu-wong beramai maju memapak serunya memberi lapqr.

"Aku sendiri tidak becus, mereka bertiga sudah lolos pergi."

Tok-sim-sin-mo ternyata mandah tertawa besar, ujarnya.

"Siang-lote, bukan salahmu, kami sudah tahu mereka pasti berhasil lolos, cuma coba-coba saja merintangi, bila tidak berhasil tak perlu diambil dalam hati, kelak tentu aku punya cara untuk mengatasinya, Betapapun Hun Thianhi pasti akan kembali ke Tionggoan, tatkala itu akan kami beri sebuah jalan kematian kepadanya!"

Habis berkata ia bergelak tawa pula.

"Maksud Pangcu adalah...."

Siang Bu-wong bicara ragu-ragu. Dengan pandangan dingin Tok-sim-sin-mo menyapu pandang seluruh anak buahnya, ujarnya.

"Hun Thian-hi tidak lebih seorang bocah angkatan muda, dimana wibawa dan kegagahan kita pada waktu dulu? Masa takut terhadap bocah keroco itu? Aku bersumpah harus membunuhnya lebih dulu sebelum Wi-thian-cit-ciat-sek berhasil ia latih sempurna. Aku harus bunuh dia."

Habis berkata ia menggeram dengan gegetun, lalu katanya pula kepada Siang Bu-wong.

"Kau tetap bertugas disini, bila Hun Thian-hi masuk perbatasan jangan kau ganggu usik dia, cukup asal kau memberi kabar dengan burung pos."

Lalu ia putar kudanya dan kembali ke arah timur diikuti anak buahnya.

Setelah keluar dari Giok-bun-koan, terbentang padang rumput nan luas di hadapan Hun Thianhi bertiga.

Entah berapa lama kemudian, akhirnya mereka turun dan beristirahat.

Sutouw Ci-kolah yang paling merasa lelah, dengan suara lesu ia berkata tertawa.

"Setelah sampai disini, kita tidak perlu takut lagi terhadap Tok-sim-sin-mo. Dia tidak akan berani mengejar keluar dari Giok-bunkoan."

Begitulah sambil istirahat mereka menutur pengalaman masing-masing sejak berpisah, kira-kira satu jam kemudian, setelah badan terasa segar dan perut sudah kenyang, mereka berangkat lagi menuju ke Hwi-king-ouw (telaga kaca terbang) di Thian-san.

Entah berapa lama sudah mereka, menempuh perjalanan, tiba-tiba di hadapan mereka muncul seseorang, begitu melihat orang itu Hun Thian-hi lantas berteriak kegirangan.

"Siau-suhu! Bagaimana bisa kau berada disini?"

Cepat ia turun dan memburu maju. Hwesio jenaka tertawa lebar, serunya.

"Aku sedang tunggu kau disini.... Eh, kenapa kau tidak panggil Siau-suhu lagi?"

Hun Thian-hi tersipu-sipu malu. Hwesio jenaka berpaling dan merangkap tangan ke arah Pek Si-kiat, ujarnya.

"Tuan ini bukankah Pek Si-kiat Pek-sicu. Apakah Pek-sicu baik selama ini?"

Begitu melihat tegas Hwesio jenaka kontan berubah air muka Pek Si-kiat, serunya kaget.

"Kau kiranya?"

Sambil cengar-cengir Hwesio jenaka manggut-manggut, tangannya sedikit digoyangkan, ia memberi tanda kepada Pek Si-kiat supaya tidak membocorkan rahasia dirinya.

Pek Si-kiat mandah tersenyum penuh arti tak bicara lagi.

Sungguh dia tidak nyana orang ini bisa berubah menjadi berbentuk seperti sekarang.

Sutouw Ci-ko pernah dengar mengenai Hwesio jenaka ini dari penuturan Thian-hi....

cepat ia loncat turun dan memberi hormat pada Hwesio jenaka.

Dengan cengar cengir Hwesio jenaka amat-amati Sutouw Ci-ko, lalu katanya berpaling pada Thian-hi.

"Ci-ko sudah berhasil kau tolong. Sekarang kau tidak punya urusan yang lebih penting bisakah sekarang kau ikut aku ke Bu-la-si?"

Thian-hi bertiga kaget.

"Sekarang?"

Tanya mereka bersama.

"Adakah keperluan penting disana?"

Tanya Pek Si-kiat lebih lanjut. Hwesio jenaka tertawa lebar, katanya pada Pek Si-kiat.

"Dalam hal ini kau jangan turut campur saja." -Lalu katanya pula pada Hun Thian-hi.

"Pergilah nanti kau akan tahu. Kukira kau akan lebih berprihatin dari aku."

Thian-hi terlongong sejenak, katanya.

"Baiklah sekarang juga aku berangkat, Tapi sebetulnya ada kejadian apakah, bolehkah kau beritahu aku dulu?"

Hwesio jenaka tertawa, sesaat kemudian baru bicara.

"Soal mengenai Ham Gwat."

Thian-hi melengak, hatinya menjadi gugup, bukankah Ham Gwat diutus Bu-bing Loni untuk meringkus dirinya pulang?

Dengan pulang bertangan kosong tentu Bu-bing Loni akan memberi hukuman berat padanya.

Cepat ia berkata pada Pek Si-kiat.

"Paman Pek, terpaksa aku harus pergi ke Bu-la-si dulu!"

Pek Si-kiat mengerut alis, akhirnya manggut-manggut.

Ia tidak bicara karena dalam anggapannya semula ia mengira hubungan kental Thian-hi dan Sutouw Ci-ko merupakan pasangan yang setimpal.

Tapi dari keadaan sekarang dapatlah da meraba bahwa sebetulnya hati Thian-hi sudah tertambat pada gadis lain.

memang nasib SutOuw Ciko harus menjadi kakak angkatnya saja.

Kata Thian-hi kepada Sutouw Ci-ko.

"Ciko-ci, ada urusan lain yang harus kuselesaikan. Setelah urusan beres biar kudatang mendenguk kau, tunggulah aku di Hwi-king-ouw.!"

Sutouw Ci-ko sendiri tidak bisa mengatakan bagaimana perasaan hatinya pada saat itu, seakanakan ia merasa hatinya sangat pedih.

namun terasa juga rada girang.

Matanya berkejap2, dengan berseri tawa ia manggut-manggut, katanya.

"Pergilah, kutunggu di Hwi-king-ouw, tapi kau harus hati-hati menghadapi Bu-bing Loni."

"Terima kasih Ciko-ci, aku akan cepat pulang." -Lalu ia serahkan kudanya pada Sutouw Ci-ko, setelah ambil berpisah bersama Hwesio jenaka menuju ke selatan. Ditengah jalan ia bertanya pada Hwesio jenaka.

"Siau-suhu, apa kau tahu bagaimana keadaan Ham Gwat sekarang?"

Hwesio jenaka berpaling mengawasinya, katanya tertawa.

"Kau tak perlu gugup. dia tidak kurang suatu apa. Bu-bing Loni tidak akan berani menyakiti dia. Tapi Bu-bing Loni sekarang berada di Bu-la-si, petentengan dengan Ngo-hong Locu, kau sendiri sudah mendapat berkah dari Ka-yap Cuncia, Wi-thian-cit-ciat-sek sudah kau pelajari meski belum sempurna, perlu juga kau memburu kesana selekasnya."

Thian-hi menjadi kaget.

kenapa Hwesio jenaka ini begitu jelas segala gerak geriknya, bahwa latihan Wi-thian-cit-ciat-sek dirinya belum sempurna juga sudah diketahui.

Karena pikirannya ini, dengan heran dan melenggong ia.

pandang Hwesio jenaka.

"Kau tak perlu heran, soal ini ada orang yang beritahu kepadaku, baru saja aku menyusul datang dari Bu-la-si."

Sambil berlari-lari kencang otak Thian-hi bekerja, tak lama Kemudian ia bertanya lagi.

"Bagaimana keadaan Bun Cu-giok sekarang? Apakah baik-baik saja?"

"Dia kena diusir dari Tionggoan oleh Tok-sim-sin-mo, untung dia didukung oleh gurunya Ce-hun dan Hoan-hi dua orang. Sam-kong Lama juga mau membantu dia, kalau tidak sejak lama dia sudah runtuh total, tapi keadaannya sekarang pun sudah payah, jikalau Tok-sim-sin-mo sedang tekun menghadapi perlawanan Hwe-tok-kun, mungkin dia sudah habis berantakan."

Thian-hi manggut-manggut, dalam hati ia merasa bahwa Bun Cu-giok hakikatnya bukan seorang jahat.

Hanya jiwanya rada sempit, dalam suatu ketika juntrungannya kurang lapang dan kurang dapat dihargai.

tapi untunglah bila dia tidak sampai dicelakai oleh Tok-sim-sin-mo.

"Sekarang dia sudah menikah dengan putri Ciok Hou-bu!"

Demikian tutur Hwesio jenaka.

Dingin perasaan hati Thian-hi, entah betapa perasaan sanubarinya sekarang, sebelum ia tahu hubungan antar Bun Cu-giok dan Sutouw Ci-ko, dia pernah merasa adalah jamak dan lumrah hubungan eratnya dengan istrinya sekarang.

Tapi lain pula keadaan sekarang, terasa olehnya bahwa Bun Cu-gioklah yang salah dalam hal ini, diam-diam ia sesalkan tindakan Bun Cu-giok yang tidak punya pribadi seorang laki-laki sejati.

Sesaat lamanya ia berdiam diri, lalu tanyanya lagi.

"Untuk apa Bu-bing Loni mencari urusan dengan Ngo-hong Locu?"

"Mengandal ilmu silatmu sekarang, kau boleh mengetahui."

Demikian ujar Hwesio jenaka sambil tertawa lebar. Sesaat kemudian baru melanjutkan.

"Sebab beliau adalah ibunda Ham Gwat."

Melonjak jantung Thian-hi, saking kaget kakinya sampai berhenti berlari, sekian lama menjublek ditempat.

Ong Gin-sia adalah ibu Ham Gwat?

Kalau begitu....

Sungguh hal ini diluar dugaannya.

Waktu ia angkat kepala, Hwesio jenaka sudah jauh setengah li lebih di depan sana, cepat ia angkat kaki mengejar dengan kencang, sambil lari pesat hatinya merasa heran, setelah direnungkan sekian lama baru ia sadar.

Tapi hatinya masih dirundung keheranan.

Lalu bagaimana pula bisa terjadi ayah Ham Gwat bisa dibunuh oleh Ang-hwat-lo-mo?

Setelah dekat mengejar Hwesio jenaka ia bertanya.

"Siau-suhu, apakah benar-benar ayahnya mati terbunuh oleh Ang-hwat-lo-mo?"

Hwesio jenaka tidaK hiraukan pertanyaannya, setelah rada jauh mereka berlari baru tiba-tiba ia berpaling dan jawabnya.

"Siapa yang bilang? ayahnya masih sehat baik-baik, bagaimana bisa mati dibunuh Ang-hwat?"

Thian-hi menjadi bingung.

ia heran kenapa segala kejadian itu begitu ganjil, tidak diketahui olehnya cara bagaimana peristiwa macam itu bisa terjadi.

Lebih heran lagi kenapa Bu-bing Loni bilang kepada Ham Gwat bahwa ayahnya terbunuh oleh Ang-hwat-lo-mo, sehinggga hampir saja dirinya mati secara konyol oleh Ham Gwat.

Ujar Hvosio jenaka.

"Jangan kau percaya obrolan Bu-bing Loni. Semua itu hanyalah bualannya terhadap Ham Gwat waktu masih kecil, namun sekarang dia sudah dewasa. Bu-bing Loni masih mengelabui padanya!"

Thian-hi menjadi paham sekarang. Tapi entahlah sekarang Ham Gwat sudah tahu rahaSia ini belum? Terdengar Hwesio jenaka berkata pula.

"Tapi jangan kau bocorkan rahasia ini kepada siapapun juga. Kelakuan Bu-bing Loni selamanya sangat kejam dan telengas, tapi terhadap Ham Gwat ia sangat sayang dan baik. Tapi Ham Gwat cukup cerdik betapa pun Bu-bing tidak kuasa menutupi bualannya, karena itu entahlah bagaimana kelak akibat dari penyelesaiannya."

Hun Thian-hi menjadi prihatin akan persoalan ini, sesaat lama kemudian ia bertanya.

"Apakah Ham Gwat sendiri tahu akan hal ini? Apakah dia tahu siapa ayah bundanya?"

Hwesio jenaka tertawa lebar, ujarnya.

"Soal ini hanya dia sendiri yang tahu, tiada seorang pun yang tahu seluk beluknya, tapi nanti bila kau ketemu dia jangan sekali2 kau bocorkan rahasia ini!"

Thian-hi manggut melulusi.

Hatinya jadi bertanya-tanya kenapa Hwesio jenaka berpesan wantiwanti kepadanya mengenai hal ini?

Hatinya rada menyesal, waktu Hwesio jenaka membantu dirinya dulu, kenapa ia tidak melulusi syarat yang diajukan itu.

Sekarang untuk bicara rasanya tidak gampang.

Hatinya mendelu dan menyesal.

Begitulah mereka berlari-lari kencang tanpa berhenti, lama kelamaan Hun Thian-hi menjadi heran.

Betapa tinggi Lwekang Hwesio jenaka ini kiranya tidak lebih rendah dari Situa Pelita, namun kenapa selama ini dirinya beluim pernah.

dengar ketenaran namanya dikalangan Kangouw.

Sekejap saja tiga hari sudah berlalu, Thian-hi berdua melanjutkan menuju ke Bu-la-si.

Setelah semakin dekat pada tujuan Hwesio jenaka berkata pada Thian-hi.

"Aku tak enak bertemu dengan Bu-bing Loni, silakan kau masuk sendiri, mungkin beliau masih belum pergi!"

Thian-hi sangsi sebentar, akhirnya ia manggut-manggut, pelan-pelan ia masuk ke dalam biara besar itu.

Baru saja kakinya melangkah masuk tampak Sam-kong Lama sudah menunggu diruang pendopo, tersipu-sipu ia maju memberi hormat kepada Sam-kong Lama.

Sambil berseri tawa Sam-kong mengawasinya, katanya.

"Kata Hwesio jenaka dia pergi mencari kau, ternyata benar-benar dapat ketemukan kau."

"Cianpwe, apakah Bu-bing Loni masih berada didalam?"

"Mari ikut aku. Dia masih disini. Baik sekali kau datang, kukira takkan ada persoalan lagi."

Thian-hi cuma tertawa, dia tahu untuk mengalahkan Bu-bing Loni, saat ini jelas tidak mungkin, apalagi Su Giok-lan pasti juga mengintil kemari.

Entah bagaimana keadaannya sekarang, sebelum ajal Su Cin kakaknya pernah berpesan supaya aku perhatikan dan mengasuhnya, tapi sekarang dirinya malah saling bermusuhan.

Begitulah dia ikut di belakang Sam-kong Lama masuk ke dalam, melewati serambi panjang dan sebuah pekarangan besar, dimana terlihat dua ekor burung dewata bertengger disana, itulah burung piaraan Bu-bing Loni.

Setelah melewati pekarangan, mereka memasuki sebuah kamar batu.

Di dalam kamar batu ini tampak Ong Ging-sia sedang duduk berhadapan dengan Bu-bing Loni, mereka sama pejamkan mata dan tidak bergerak.

SU Giok-lan berdiri di belakang Bu-bing Loni membelakangi pintu.

Begitu Hun Thian-hi memasuki kamar, tanpa berpaling tiba-tiba Bu-bing Loni mendengus serta bersuara.

"Siapa itu yang datang?"

Hun Thian-hi diam saja.

Sepasang biji mata Ong Ging-sia sedikit dibuka, seketika matanya mengunjuk rasa girang dan aneh.

Su Giok-lan berpaling ke belakang, begitu melihat kehadiran Hun Thian-hi, ia terkejut sampai mundur setindak.

Segera Bu-bing Loni bersuara pula tanya pada Su Giok-lan.

"Lan-ji, siapakah yang datang."

"Hun Thian-hi!"

Sahut Su Giok-lah pelan-pelan.

Bu-bing Loni tersentak kaget, kedua biji matanya terbelalak ke depan, hampir dia tidak mau percaya, begitu mendengar langkah orang lantas dia dapat mengukur betapa tinggi kepandaian pedatang ini.

Meski betapapun besar rejeki Hun Thian-hi, lwekangnya tidak mungkin maju begitu pesat dan mencapai tingkat teratas, pelan-pelan ia berpaling, dilihatnya yang baru datang ini memang Hun Thian-hi.

Dengan sinis Hun Thian-hi pandang Bu-bing Loni dan Su Giok-lan, mulutnya bungkam.

Hidung Bu-bing Loni mendengus lirih, sekarang dia harus percaya, sekilas ia pandang Hun Thian-hi lalu menoleh pula, seolah-olah ia tidak pedulikan kehadiran Thian-hi, namun mulutnya berkata pada Su Giok-lan.

"Lan ji, aku sedang ada urusan disini, coba kau usir dia keluar!"' Su Giok-giok mengiakan, segera ia melolos pedang.

"Nanti dulu!"

Seru Thian-hi.

"Toaci!"

Seru Ong Ging-sia tertawa.

"kau tak usah repot2, akulah yang mengundangnya kemari, bukankah kau hendak mencari dia? Kenapa pula kau usir dia?"

Bibir Bu-bing mengejek, dengusnya.

"Itu urusanku kau tak usah ikut campur. Bila Ham Goat sampai mencari kemari, itulah tanda saat kematiannya!"

Berdetak jantung Thian-hi, ia melangkah maju menjura kepada Ong Ging-sia.

"Wanpwe Hun Thian hi, menghadap pada Cianpwe!"

"Tak usah banyak beradatan, apa kau baik selama ini?"

Sapa Ong Ging-sia lemah lemhut.

"Berkat doa Cianpwe segalanya baik, terima kasih akan perhatian ini. Cuma tempo hari bikin repot Cianpwe saja." -Waktu bicara ia angkat kepala mengawasi Ong Ging-sia. Perasaannya kali ini jauh berbeda dengan tempo yang lalu, Ong Ging-sia adalah ibunda Ham Gwat, dia menjadi risi dan kikuk malah entahlah apa yang harus diperbuat selanjutnya."

BU-bing melirik hina, semprotnya kepada Thian-hi.

"Apa saja yang telah kau ucapkan kepada Ham Gwat? Kemana dia sekarang?"

Sesaat Hun Thian-hi menjublek.

"Apa dia sudah pergi?"

Tanyanya berseri girang. Bu-bing menggeram marah, jengeknya.

"Bila kau mendengar apa dan berani mengadu domba diantara kami, aku tidak akan gampang memberi ampun pada kau. Selama ini kemana pula kau berada?"

Hun Thian-hi mandah tertawa tawar, ujarnya.

"Apa yang kau tanyakan aku tidak tahu!"

Bu-bing Loni menyeringai sinis, katanya.

"Baik. mungkin kau temukan rejeki aneh, ilmu silatmu sekarang sudah tinggi, aku harus membuat perhitungan selama setahun ini padamu. Lalu ia berpaling ke arah Su Giok-lan dan berkata pula.

"Lan.ji, belakangan ini bagaimana latihan Hui-simkiam-hoat mu?"

Su Giok-lan bersangsi sejenak, sahutnya.

"Murid sendiri kurang jelas, paling tidak dapat mencapai taraf yang ditentukan oleh Suhu!"

"Itupun sudan cukup,"

Ujar Bu-bing mendengus.

"Gunakanlah Hun Thian-hi untuk mencoba latihan ilmu pedangmu!"

Su Giok-lan mengiakan dan patuh.

Memang kesannya terhadap Hun Thian-hi rada jelek, meski tempo hari Hun Thian-hi pernah menolong dirinya, namun sekarang dia merasa tidak puas dan sirik terhadap Thian-hi, orang telah menjerumuskan Ham Gwat, sejak mula Su Giok-lan sangat simpatik dan patuh sekali terhadap Ham Gwat, terutama beberapa bulan belakangan ini, sikap Ham Gwat terlalu baik terhadapnya.

Sekarang Ham Gwat telah lari mengkhianati gurunya, sebab musababnya adalah karena Hun Thian-hi yaitu karena Ham Gwat telah melepasnya pula itu berarti dia membangkang terhadap perintah gurunya.

Su Giok-lan melangkah maju sambil menenteng pedang.

"Nona Su,"

Kata Hun Thian-hi tertawa.

"Apakah harus bergebrak dengan aku?"

"Jangun cerewet."

Pelan-pelan Hun Thian-hi melolos Hwi-hong-siau dari pinggangnya, ujarnya.

"Kalau begjtu harap nona Su memberi petunjuk!"

Tanpa ayal pedang Su Giok-lan lantas terangkat dan mulai menyerang, beberapa bulan terakhir ini ia rajin dan tekun melatih Hui-sim-kiam-hoat, Hui-sim-kiam-hoat merupakan ilmu pedang dari aliran Lwekeh yang tertinggi dan sangat menakjupkan.

Begitu Su Giok-lan menggerakkan pedang sejurus permainannya saja lantas terlihat sinar pedangnya berkelebat memutih laksana lembayung menggulung ke arah Hun Thian-hi.

Biji mata Hun Thian-hi berputar mengikuti samberan sinar pedang, mulutnya menyungging senyum manis, sebat sekali ia angkat serulingnya, dengan mengembangkan Gim-ho-sam-sek ia melawan serangan musuh, pancaran cahaya merah dadu dari seruling ditangannya berkembang melebar seperti kabut merah, melindungi badannya, sinar pedang Su Giok-lan berubah berkuntum2, mengembang keempat penjuru merangsak dari berbagai jurusan, sedemikian gencar serangan pedangnya, namun sedemikian jauh ia tidak mampu mendesak maju setengah Undakpun.

Begitulah setengah jam sudah lewat, yang satu menyerang dengan bernafsu yang lain bertahan dengan rapat dan kuat, Hun Thjan-hi cukup menggunakan jurus Gelombang perak mengalun berderai dari Gin-ho-sam-sek ajaran Soat-san-su-gou, seluruh rangsakan pedang Su Giok-lan berhasil dihalau ditengah jalan.

Menyaksjkan pertempuran ini, lama kelamaan bercekat hati Bu-bing Loni, mengandal kepandaian Thian-hi yang tinggi sekarang, jangan kata Su Giok-lan bukan tandingannya, seumpama dirinya sendiri yang maju juga belum tentu pasti bisa menang dalam waktu singkat secara gampang.

Beberapa jurus lagi, segera ia berseru.

"Lan-ji, kau mundurlah!"

Su Giok-lan menarik pedang mundur beberapa langkah, hatinya pun dirundung keheranan, kepandaian silat Hun Thian-hi kiranya sudah maju begitu cepat berlipat ganda, sungguh sukar dipercaya kalau tidak menyaksikan dan membuktikan sendiri.

Disamping heran hatinya pun menjadi dengki, betapapun ilmu silat Hun Thian-hi selalu lebjh maju lebih tinggi dari kemampuannya, sanubarinya yang paling dalam diam-diam merasa sirik karena akhir2 ini ia beranggapan setelah pelajaran ilmu pedangnya maju pesat, kecuali Bu-bing Loni dan Ham Gwat dua orang, seluruh kolong langit ini tiada orang ketiga yang dapat mengalahkan dirinya.

Sambil tersenyum Hun Thian-hi pun mundur sambil menyimpan serulingnya, sekilas tampak olehnya rasa kurang puas dari pancaran mata Su Giok-lan, terlihat pula rasa penasaran dan hawa pembunuh dari sorot mata Bu-bing Loni.

Kata Bu-bing Loni kepada Hun Thian-hi.

"Selama ini kemana saja kau pergi?"

Ong Ging-sia malah yang menjawab pertanyaannya ini.

"Ketahuilah dia adalah murid angkat Ka-yap Cuncia."

Kontan berubah hebat air muka Bu-bing Loni.

selama hidupnya ini, otaknya terlalu berangan2 bahwa dirinya tiada tandingannya di seluruh kdlong langjt.

konon bahwa Ka-yap jauh lebih kuat dari dirinya, namun sudah sekian lamanya menghilang dari percaturan dunia persilatan.

Siapa nyana sekarang Hun Thjan-hi diangkat menjadi murid angkat Ka-yap Cuncia.

Dari kepandaian Thian-hi yang begitu hebat dan tinggi ini dapatlah diukur sampai dimana tingkat kepandaian Kayap Cuncia.

Bu-bing terlongong sesaat lamanya, akhirnya sambil bangkit ia tertawa dingin.

"Kalau begitu, kutantang kau tiga hari lagi bertemu di Yan-bun-koan, kau tidak datang, aku pun bisa temukan kau dimana saja kau berada." -Selesai bicara sekilas ia pandang Ong Ging-sia, tampak mulut orang sudah bergerak, namun urung bicara. Bu-bing mendengus hidung berjalan di depan ia bawa Su Giok-lan keluar dari kamar batu terus naik burung dewata, dikejap lain mereka sudah terbang tinggi dan menghilang. Hun Thian-hi menganiar dengan pandangan matanya, setelah tidak kelihatan lagi baru dia menoleh kembali. Seketika jantimgnya berdetak keras, tampak sapasang biji mata Ong Ging-sia mengembang air mata, seolah-olah ada banyak ucapan sedih yang ingin dilimpahkan, namun tak kuasa diucapkan. Pelan-pelan Hun Thian-hi menunduk. ia berdiri bungkam. Sebentar kemudian. Ong Ging-sia menghasut air matanya, serta berkata.

"Hun-siauhiap, belum lama, ini kau pernah ketemu Ham Gwat bukan?"

Thian-hi manggut-manggut. sahutnya.

"Jangan Cianpwe panggil aku demikian, panggil aku Hun Thian-hi saja!"

Pancaran mata Ong Ging-sia mengunjuk rasa senang, katanya.

"Baiklah aku pun tidak perlu sungkan-sungkan, Bu-bing Loni mengurungnya, namun ia berKesempatan melarikan diri dengan pelayannya. Bu-bing menyangka aku telah membocorkan perkara ini kepada kau, sehingga Ham Gwat datang kemari menemui aku, ingin dia tahu apakah betul Ham Gwat pernah kemari!"

Thian-hi manggut-manggut lagi tanpa bersuara, diapun tengah heran, sebetulnya kemanakah Ham Gwat telah pergi?"

Kata Ong Ging-sia pula setelah menghela napas.

"Kukira Hwesio jenaka sudah memberitahu pada kau bahwa Ham Gwat sebetulnya adalah putriku. Waktu kau ketemu dia tempo hari bagaimana keadaannya?"

Thian-hi tersenyum, sahutnya.

"Dia baik sekali, dia...."

Ia menjadi kememek tak tahu apa yang harus dia ucapkan....

"Bagaimana kesanmu terhadapnya?"

Tanya Ong Ging-sia tersenyum. Merah dan panas muka Thian-hi, ia menunduk malu. sesaat baru menjawab.

"Dia seorang baik, pintar dan tidak congkak. malah...."

Sampai disini ia merandek dan tertawa geli sendiri, tak melanjutkan kata-katanya.

"Benar-benarkah begitu?"

Seru Ong Ging-sia kegirangan.

"Meski ini menurut ucapanku saja. namun aku bicara setulus hati, aku percaya siapapun bila kenal dan bergaul dengan dia lantas akan merasakar hal-hal itu."

Ong Ging-sia menunduk, otaknya tepmenung mengenang kembali masa dua puluh tahun yang lalu.

sampai sekarang berarti dua puluh tahun sudah ia tidak pernah bertemu dengan Ham Gwat putri tunggalnya sendiri yang sudah dewasa dan tumbuh menjadi seorang gadis remaja yang cantik rupawan.

Sungguh ingin sekali ia bertemu, tapi aku....

mukaku seburuk ini, seumpama ketemu Ham Gwat, hanya membuat hatinya seram belaka, terpikir sampai disini ia menghela napas dengan rawan dan murung.

Suasana menjadi sepi sekian lama, akhirnya Thian-hi membuka suara pula.

"Dia cantik sekali, Cianpwe ingin bertemu dengan dia?"

Ong Ging-sia angkat kepala, tanyanya.

"Dia tahu bahwa aku berada disini?"

"Mungkin dia tidak tahu, kita tahu pasti dia sudah memburu kemari."

"Jangan kau beritahu dia, kuharap dia tidak menemui aku...."

Berhenti sebentar lalu menambahkan.

"Bila kau bisa, setelah bertemu dengan dia, beritahu padaku dimana dia berada, biar aku pergi melihat dia." -Ia menunduk sambil menitikkan air mata kesedihan. Thian-hi menjublek tak Bersuara. Ong Ging-sia menggeleng, katanya.

"Perjanjian tiga hari itu. jangan kau layani tantangan Bu-bing. kau kerjakan urusanmu yang lain saja, aku....aku tak mampu bantu kau untuk menghadapj dia, hatinya kejam dan telengas. yang penting kau harus sempurnakan dulu Wi-thian-cit-ciat-sek lebih dulu. Sementara ini boleh kau menetap disini saja, bila Bu-bing meluruk kemari biar aku yang hadapi dia!"

Thian-hi berpikir, akhirnya ia manggut-manggut sahutnya. .Begitu pun baiklah!"

Ong Ging-sia menunduk, diam-diam hatinya senang, Hun Thian-hi terang menaruh cinta terhadap Ham Gwat. ia berpikir lagi lalu berkata angkat kepala.

"Thian-hi pernahkah terpikir olehmu, kemanakah sebenar-benarnya Ham Gwat telah pergi?"

"Aku juga tidak tahu, tapi pasti ada sasaran tempat bagi tujuannya sehingga dia berani merat. Kupikir waktu masih ada dua hari, selama ini dapat kusempurnakan pelajaran Wi-thian-cit-ciat-sek, beberapa hari lagi biar kumencari jejaknya!"

Rasa senang Ong Ging-sia terunjuk pada air muka dan sinar matanya, tentu Hun Thian-hi sudah sangat rindu dan kangen betul terhadap Ham Gwat, mendapat calon suami seperti Hun Thian-hi, Ham Gwat pasti bahagia dan akupun harus lega dan terhitung sudah menyempurnakan tuntutan hidup putrinya.

Melihat reaksi perkataannya mengubah sikap dan air muka Ong Ging-sia, tanpa merasa Thianhi menjadi tegang sendiri, Ong Ging-sia adalah ibunda Ham Gwat, hubungan dirinya dengan Ham Gwat belum lagi intim, mana bisa menampilkan rasa hatinya sedemikian rupa, apakah tidak terburu nafsu?

Entah bagaimana pendapat dan penerimaan Ong Ging-sia?

"Kalau begitu bikin susah padamu saja,"

Ujar Ong Ging-sia tertawa.

"Sementara ini kau tinggal saja di Bu-la-si ini...."

Baru saja ia selesai bicara, mendadak Hwesio jenaka melangkah masuk dari luar, katanya Kepada Thian-hi.

"Aku baru saja tiba. Apa benar-benar kau mau menetap sementara di Bu-la-si?"

Thian-hi manggut-manggut.

Ia tidak tahu kemana Hwesio jenaka telah pergi, namun melihat kedatangannya ini, diam-diam Thian-hi berpikir pasti ada sesuatu peristiwa besar telah terjadi, terasa olehnya hati seperti dibebani ribuan kati batu besar.

Kata Hwesio jenaka kepada Ong Ging-sia.

"Kurasa saat ini tidak mungkin. Ketahuilah Tok-simsin-mo sudah bersumbar dalam waktu sepuluh hari dia sendiri hendak meluruk ke Siau-lim-si dan menumpasnya habis2an bila kau tidak menyusul kesana dalam jangka waktu yang ditetapkan ini!"

Berubah air muka Thian-hi, cara kerja Tok-sim-sin-mo sungguh cukup ganas dan jahat, belum lagi racun di badan Sutouw Ci-ko dipunahkan, sekarang sudah menekannya dengan urusan lain pula, apakah aku harus kesana masuk perangkapnya?"

Kata Hwesio jenaka pula tertawa.

"Ang-hwat-lo-co juga ingin supaya kau pergi ke Thian-lam, katanya gurumu Kongsun Hong sudah terjatuh di tangannya bila kau meluruk pada tantangan Tok-sim-sin-mo berarti jiwa Kongsun Hong tak bisa diselamatkan lagi!"

Lebih kejut dan gugup lagi hati Thian-hi, tak tahu apa yang harus dilakukan sekarang. Akhirnya Ong Ging-sia bersuara sambil menghela napas.

"Terpaksa kau harus memburu ke Tionggoan saja!"

"Benar-benar,"

Timbrung Hwesio jenaka.

"kau pergi ke Siongsan dulu, bekerja menurut situasi dan keadaan.... Soal Thian-lam biar aku kesana lebih dulu, Ang-hwat tidak akan berani turun tangan seceroboh itu. Jelasnya kau harus hati-hati melawan kelecikan Tok-sim-sin-mo."

Thian-hi berpikir mantep, akhirnya ia ambil berpisah dengan Ong Ging-sia, langsung menuju ke Tionggoan.

Siau-lim-si selama berdirinya tetap digdaya dan diagungkan, banyak anak muridnya yang pandai dan berbakat tinggi.

Bila benar-benar Siau-lim-si runtuh, maka kaum persilatan di daerah Tionggoan sini pasti akan tenggelam dalam hidup kegelapan, betapapun tinggi kemampuan seseorang takkan mampu mengembangkan kembali kejayaan semula.

seperti sepandai Thiancwan Taysu yang teragung dan terpandang di mata dunia.

Sekarang terpaksa Thian-hi harus kembali pula ke Tionggoan.

mengandal ilmu silat dan kecerdikan otaknya, mungkin dapatlah menggagalkan atau menolong bencana yang bakal melanda ke seluruh kepentingan kaum persilatan disini.

Tapi betapapun ia tidak tega dan sangat menguatirkan keselamatan guru pembimbingnya Kongsun Hong yang telah mengasuhnya sejak kecil.

Selama menempuh perjalanan dari Bu-la-si ke Siau-lim-si, belum pernah pikiran Thian-hi menjadi tentram.

hatinya selalu dirundung kekusutan dan kegugupan.

Perjanjian tiga hari dengan Bu-bing sudah terlupakan olehnya....

Juga tidak terpikir olehnya apakah kelak Bu-bing mandah mau membiarkan dirinya yang ingkar janji ini?"

Cuaca sudah gelap.

Sebuah bayangan hitam melesat terbang diantara semak-semak pegunungan.

orang itu bukan lain adalah Hun Thian-hi adanya.

Sekonyong-konyong pekik burung dewata berkumandang di tengah udara.

Thian-hi menjadi tersentak kaget dan sadar, hari ini tepat tiba perjanjiannya tiga hari itu.

Kenapa aku melupakan perjanjian beradu pedang dengan Bu-bing Loni.

Sesaat ia terlongong dan menghentikan langkahnya, dari tengah udara meluncur turun sesosok bayangan, sekejap saja sudah berdiri tegak dihadapannya, siapa lagi kalau bukan Bu-bing Loni.

Dengan memicingkan mata Bu-bing pandang Thian-hi dengan sikap kaku.

"Kemana kau hendak lari?"

Demikian jengeknya.

Mulut Thian-hi terbungkam, ia pandang Bu-bing lekat-lekat.

Dia tahu sepak terjang Bu-bing selalu dilandasi kemauan hati melulu, dia tidak pernah kenal apa itu keadilan, maka dengan tawar ia menyahut.

"Apakah sekarang saja dimulai bertanding pedang,"

Melihat sikap Hun Thian-hi yang demikian congkak, Bu-bing Loni menjadi murka, alisnya terangkat tinggi, serunya.

"Jangan kau kira Pan-yok-hian-kang dan Gin-ho-sam-sekmu dapat menjagoi di seluruh Kang-ouw. Hari ini akan kuperkenalkan padamu kepandaian ilmu pedang yang sejati!"

Thian-hi mundur setengah tindak seraya melolos pedang di punggungnya, kedua biji matanya lekat-lekat mehgawasi gerak gerik Bu-bing Loni.

Pelan dan acuh tak acuh Bu-bing menanggalkan pedang dari serangkanya, pelan-pelan ia melolosnya keluar, seenaknya saja ia buang serangka pedangnya ke samping, dengan mengawasi batang pedang mulutnya bicara.

"Seluruh kaum persilatan di dunia ini belum ada seorang pun yang benar-benar pernah melihat Hui-sim-kiam-hoatku seluruhnya. Terutama tiga gerak serangkai dari jurus yang terakhir, sekarang sebelum kau ajal akan kupertunjukkan kepada kau!"

Melihat Bu-bing Loni bicara begitu enak dan enteng saja, seolah-olah tidak pandang sebelah mata dirinya, dingin perasaan Thian-hi.

Wi-thian-cit-ciat-sek latihan dirinya belum lagi sempurna, bila sekarang dia kembangkan untuk melawan Hui-sim-kiam-hoat, bukan saja tidak mampu menandingi tiga rangkai serangan pedang musuh, malah mungkin akan menambah gelora angkara murka hati Bu-bing Loni untuk melenyapkan dirinya.

Karena pikirannya ini tanpa merasa hatinya menjadi lemas.

Tapi dendam ayah belum terbalas, merabahaya sedang mengancam keselamatan hidup kaum persilatan di seluruh Tionggoan, mana boleh aku ayal begitu gampang saja.

Pandangan mata Bu-bing dari batang pedang pelan-pelan beralih kemuka Thian-hi.

Terasa oleh Thian-hi dalam pandangan mata Bu-bing Loni ini terkandung rasa penghinaan dan merendahkan dirinya yang berkelebihan, agaknya hatinya akan menjadi senang setelah melihat orang lain menjadi mayat.

Sontak terbangkit rasa kejantanannya, alisnya tegak berdiri, darah menggelora, dengan pandangan berkilat gusar ia balas pandang ke arah Bu-bing Loni.

Melihat Hun Thian-hi tidak mengunjuk rasa gentar atau takut berjengkit alis Bu-bing Loni, katanya sambil menjengek bjbir.

"Mungkin kau belum tahu cara kerjaku. Kau tidak akan bisa segera mati, akan kusayat dan kukuliti kulit dan dagingmu sedikit2 sampai kau mampus. Aku akan bekerja pelan-pelan, mungkin tiga hari atau mungkin sampai setengah bulan baru badanmu habis kusayati!"

Hun Thian-hi mandah menyeringai tawa, ujarnya.

"Kedengarannya memang enak dan nikmat sekali. tapi apakah kau mampu?'"

Bu-bing Loni menggeram gusar sambil membanting kaki, tiba-tiba wajahnya mengunjuk senyum-tawa yang sangat aneh, katanya.

"Mungkin aku tidak mampu, tapi mungkin pula bisa bukan! Nanti akan kamu buktikan dan kau akan tahu akibatnya!"

Melihat senyum aneh diwajah Bu-bing Loni, sontak terbit suatu rasa ketakutan dalam sanubari Hun Thian-hi, selamanya belum pernah ia melihat tertawa aneh Bu-bing Loni semacam itu.

Bukan saja tawanya itu tidak bersahabat, malah sebaliknya terasa adanya hawa kesadisan sedang mengancam setiap waktu di sekelilingnya.

Sekilas saja ai rmuka Bu-bing Loni pulih seperti sedia kala, tanpa expresi ia berkata.

"Kau sudah siap belum? Aku akan segera turun tangan awaslah kau."

Kaki kanan Hun Thian-hi mundur setengah langkah.

pedang siap melintang di depan dada, ia berdiri tegak siap siaga.

Laksana awan mega nan enteng tubuh Bu-bing Loni melejit maju.

ringan tanpa menimbulkan kesiur angin pedangnya terayun, menjojoh ke depan tengah alis Hun Thian-hi.

Sigap sekali dalam waktu yang bersamaan Hun Thian-hi juga menggerakkan pedangnya dengan jurus Gelombang perak mengalun berderai dari ilmu Gin-ho-sam-sek untuk memapaki serangan musuh, begitu jurus permainan kedua belah pihak sedikit kebentur, lantas Hun Thian-hi rasakan gaya gerak pedang Bu-bing Loni yang kelihatan bergerak enteng itu mengandung tekanan tenaga yang luar biasa besarnya menggetar mundurkan tubuhnya, keruan kejutnya bukan kepalang, tak berani menyambut secara kekerasan ia melejit mundur.

Terdengar Bu-bing Loni menjengek dingin.

pedangnya terbang membalik lagi.

jurus kedua ini lebih hebat, berbareng dengan samberan batang pedang hawa sekelilingnya seperti menjadi dingin ikut menerpa ke arah Hun Thian-hi.

Thian-hi harus beruntun menggerakkan dua tipu pedangnya baru berhasil memunahkan daya kekuatan serangan jurus pedang Bu-bing Loni yang kedua ini.

Serta merta timbul keheranan dalam hatinya, karena cara permainan jurus-jurus ilmu pedang yang dimainkan Bu-bing Loni ini jauh berlainan dengan permainan Su Giok-lan tempo hari.

Terbit pancaran heran dari sorot pandangan Bu-bing Loni melihat Thian-hi mampu memunahkan gelombang tekanan serangan kekuatan pedangnya, namun rasa heran itu hanya sakilas saja.

Dilain saat tubuhnya sudah melejit mumbul terbang ke tengah udara, berbareng ia lancarkan ilmu Hui-sim-kiam-hoat yang tulen, seketika Hun Thian-hi terkurung dalam kilatan sinar pedangnya.

Hun Thian-hi menyedot napas dalam-dalam, Pan-yok-hian-kang dikerahkan selurufhnya ke arah batang pedang, dengan Gin-ho-sam-sek yang kuat dan rapat serta kokoh penjagaannya itu ia layani rangsak membadai dari serangan pedang BU-bing Loni.

Saking cepat permainan mereka, sekejap saja lima puluh jurus sudah berlalu Sambil mengunjuk rasa hina dan mengejek Bu-bing Loni mengurung Hun Thian-hi dalam kurungan kilat sinar pedangnya.

Pertempuran mereka berdua kali ini, rasanya jauh lebih hebat dan seru dibanding Bubing Loni melawan Swat-san-su-gou dipuncak Soat-san setahun yang lalu itu.

Begitu menakjupkan seolah-olah dapat menyedot sukma bagi setiap orang yang menonton.

Hanya bedanya kalau dulu Soat-san-su-gou satu melawan empat, sebaliknya sekarang Thian-hi satu lawan satu, dan keadaan selama ini masih tetap seimbang.

Selama tempur terasa oleh Thian-hi tekanan dari empat penjuru semakin besar, begitu besar gencetan ini sampai dada terasa sakit dan susah bernapas.

Tapi kelihatannya Bu-bing bergerak begitu bebas dan seenaknya saja, seperc belum mengerahkan setaker tenaganya.

tujuannya tak lain tak bukan adalah hendak mengurung Thian-hi sampai mati lemas.

Lama kelamaan Thian-hi naik pitam, bahwa dirinya dipermainkan seperii kucing mempermainkan tikus merupakan suatu penghinaan terhadap dirinya, dengan menghardik keras, mendadak pedangnya mencorong terang, ia kerahkan seluruh kekuatannya melancarkan jurus ketiga dari Gin-ho-sam-sek yang terhebat yaitu jurus Ho-jong-boh-hun-siau (bangau terbang menembus awan mega), dengan kekerasan ia terjang dan merangsak ke arah tembok pertahanan sinar pedang Bu-bing Loni yang mengepung dirinya Melihat Hun Thian-hi mendadak melancarkan jurus permainan pedangnya.

yang aneh rada bercekat hati Bu-bing, cepat pedangnya berkelebat membandir dengan jurus Lian-so-kim-liong (merantai naga mas) pedangnya menekan dan menggubat seluruh badan Hun Thian-hi.

Sudah tentu Thian-hi tidak mau mandah terima binasa begitu saja, mau tak mau ia harus kerahkan seluruh tenaga dan kemampuan untuk menjebol segala rintangan, kedua belah pihak menjadi sama kerahkan setaker tenaga masing-masing.

Begitu pedang kedua belah pihak saling bentur "Creng", kontan tubuh Hun Thian-hi mencelat tinggi ke tengah udara.

tubuhnya terbang keluar dari lingkaran sinar pedang Bu-bing Loni yang mengurung dirinya.

Tapi setelah ia berhasil hinggap di tanah kembali seketika berubah pucat air mukanya, karena pedang pusaka ditangannya sudah patah menjadi dua tergetar oleh benturan dahsyat tadi.

Dilain pihak Bu-bing Loni juga menarik mukanya yang membeku dingin.

Sungguh tak nyana olehnya kurungan sinar pedangnya yang begitu ampuh dan hebat itu berhasil dijebol oleh Hun Thian-hi.

Dengan kaku dan dingin ia pandang Hun Thian-hi, lama sekali mereka berdiri saling pandang tanpa buka suara.

Sekonyong-konyong tubuh Bu-bing Loni melambung tinggi lagi, pedang panjang bergerak cepat menyerang pula kepada Hun Thian-hi.

Tak sempat Thian-hi banyak pertimbangan lagi, dimana tangan kanannya terayun ia sambitkan kutungan pedang buntung itu ke arah Bu-bing sekuat tenaganya.

Tanpa susah Ba-bing Loni menggerakkan pedangnya menyampok jatuh sambitan kutungan pedang Hun Thian-hi, mulutnya menyungging seringaj sadis.

dimana pedangnya terayun ia menusuk kejalan darah Jian-kin-hiat dipundak Hun Thian-hi.

Gesit sekali Hun Thian-hi meloncat berkelit berbareng tangannya meraih kepinggang merogoh keluar seruling pemberian Ong Ging-sia.

Tanpa, banyak berpikir lagi Hwi-hong-siau menuding miring ke depan, ia kembangkan jurus Wi-thian-cit-ciat-sek jurus pertama yang dinamakan Thianwi-te-liu (langit berputar bumi mengalir).

Dengan permainan pedangnya yang hebat tiada taranya itu Bu-bing menyangka jurus serangan kali ini pasti berhasil melumpuhkan perlawanan Hun Thian-hi, tak lebih tiga jurus belaka.

selanjutnya Hun Thian-hi harus tunduk dan patuh mendengar perintahnya.

Tak nyana begitu tusukan pedangnya dilancarkan, mendadak dilihatnya Hun Thian-hi mengacungkan senjata seruling, sedikitpun ia tidak ambil perhatian, tapi tiba-tiba tusukan pedangnya belum lagi mengenai sasarannya mendadak terasa tangan kanannya kesemutan, segulung angin berkekuatan dahsyat melanda tiba dengan daya kisaran yang hebat sekali.

Hampir saja ia terdesak melepaskan pedang sendiri.

Keruan bukan main rasa kejutnya, lekas-lekas ia menyurut mundur beberapa langkah.

dengan dingin ia tatap muka Hun Thian-hi.

Selamanya memang ia belum pemah kebentur dengan Withian-cit-ciat-sek, tapi sejak lama pernah dengar namanya.

Kini Wi-thian-cit-ciat-sek ternyata muncul atas bocah keras kepala yang menjadi musuhnya ini, bila sekarang tidak diberantas dan ditumpas, bila dia sampai melatihnya sampai sempurna kelak pasti bakal merupakan lawan tangguh yang paling berbahaya bagi dirinya.

Dasar culas dengan dingin mulutnya menggeram seperti binatang kelaparan.

Thian-hi insaf tibalah kini saatnya bagi dirinya untuk berjuang bagi hidup dalam menghadapi mara bahaya yang mengancam ini.

Sedikit berpikir segera mulutnya bersuit panjang, tiba-tiba tubuhnya meluncur terbang lempang dan lurus ke depan, ditengah jalan tubuhnya menjulang ke atas lalu menukik pula meluncur dengan kecepatan kilat, dimana tubuhnya bergerak memutar seruling ditangan melancarkan pula tipu-tipu Wi-thian-cit-ciat-sek, yang diarah adalah batok kepala Bu-bing Loni.

Tidak malu Bu-bing Loni diagungkan sebagai jago pedang nomor satu di seluruh dunia ini, tanpa gugup ia sambut serangan hebat Thian-hi ini dengan tipu-tipu Hui-sim-kiam-hoat yang sakti itu, dimana kekuatan tenaganya terpancar dari ujung pedangnya serangan seruling Thian-hi kena tergetar miring.

Tapi Wi-Thian-cit-ciat-sek memang bukan olah-olah hebatnya, ditengah udara Thian-hi terbang berputar, sedikit serulingnya bergerak saja, setabur kekuatan hawa yang berkisar besar menerjang ke arah Bu-bing Loni.

Dengan tenang Bu-bing Loni pandang permainan Thian-ni, cukup ia gerakkan pedangnya pula setiap jurus serangan Thian-hi kena dibendung diluar lingkaran.

Tapi tak urung hatinya kaget juga.

dia heran bahwa kepandaian Hun Thian-hi bisa maju pesat sedemikian tingginya, Wi-thian-cit-ciat-selk yang digjaya dan hebat ini memang bukan ilmu sembarang ilmu yang dapat dihadapi secara serampangan, untung latihan Hun Thian-hi belum matang.

Kalau tidak mungkin hari ini dirinya sendiri yang bakal terjungkal ditangan musuh mudanya ini.

Melihat rangsakannya berulang kali selalu gagal Hun Thian-hi semakin gugup dan kaget.

Memang tidaklah malu Bu-bing Loni disebut tokoh kosen nomor satu di seluruh dunia ini.

dibanding Tiang-pek-lokoay boleh dikata terlalu jauh bedanya, tidaklah heran bahwa Ang-hwat-lomo juga gentar terhadapnya.

malah begitu takut dan takutnya ini tidaklah bukan beralasan.

Sekarang Thian-hi baru insaf jangan kata untuk menang, supaya tidak kalah saja juga rasanya tidak mungkin lagi, aku tidak bisa mati demikian saja dan tidak bisa mati secara konyol.

Sembari tempur Hun Thian-hi memutar otak, akhirnya ia berkeputusan.

seketika tubuhnya melambung tinggi pula, disaat Bu-bing Loni hanya bertahan menyelami serangan Wi-thian-cit-ciat-sek, tiba-tiba ia meluncur jauh dan lari sipat kuping ke depan sana.

Bu-bing menggerung gusar, sebagai tokoh yang banyak pengalaman perbuatan Hun Thian-hi masa dapat mengelabui kejelian matanya, begitu tubuh Hun Thian-hi melambung ke depan, ia lantas dapat meraba maksud tujuan Hun Thian-hi, tahu-tahu tubuhnya pun sudah berkelebat mengejar.

"Mau lari kemana kau?"

Jengeknya sambil menghadang jalan lari Thian-hi.

Thian-hi tidak bicara, serulingnya menggempur dengan seluruh kekuatannya.

Bu-bing menyeringai dingin ringan sekaii ujung pedangnya menutul ke depan, ia balas serang dada Hun Thian-hi sebelum serangannya tiba.

Sementara itu.

tenaga Hun Thian-hi sudah terkuras tidak sedikit, apalagi serangannya selalu gagal.

tenaganya sudah habis lagi, ia insaf bahwa dirinya tidak akan mampu menempur Bu-bing lebih lanjut terpaksa ia puter tubuh dan lari lagi.

"Mau lari pula kau? Cobalah rasakan Lian-hoan-sam-kiamku ini!" -Pedang panjang ditangan Kanannya teracung, hawa pedang segera merembes keluar dari batang pedang, seiring dengan gerak pedang tubuhnya ikut menggeser kedudukan, hawa pedang yang semakin padat laksana lembayung segera menyapu dan merangsak ke arah Hun Thian-hi. Thian-hi menyedot napas panjang, ia insaf bahwa dirinya hari ini sulit menyelamatkan diri pula, terpaksa harus mengadu jiwa. cepat seruling disapukan miring ke depan, ia sambut rangsekan hebat musuh ini dengan Wi-thian-cit-ciat-sek pula. Bu-bing sudah tidak perlu gentar menghadapi serangan Wi-thian-cit-ciat-sek, namun ia sendiri belum mendapatkan cara untuk memecahkan perlawanan Thian-hi ini, kecuali dengan kekuatan Lwekangnya yang ampuh untuk menekan seret gerak serangan musuh tiada jalan lain untuk mengatasinya. Begitulah sekilas ia berpikir tiba-tiba tajam pedangnya meluncur laksana bintang jatuh melesat ke ulu hati Hun Thian-hi. Thian-hi menekuk dengkul mendakan tubuh untuk menghindar, bersamaan tangannya menggentak senjata dengan tipu-tipu Wi-thian-cit-ciat-sek menghalau rangsekan Bu-bing selanjutnya. Bu-bing sudah berkeputusan hari ini betapapun ia harus bunuh Thian-hi dengan pedangnya, memang dengan perhitungan yang cukup masak, serangan kali ini hanya gertak sambel belaka, tiba-tiba badannya menerjang maju ke depan, berbareng pedang panjang dibalikkan berputar terus disambitkan lempang ke depan, ia sudah kerahkan seluruh Lwekangnya utk melontarkan pedang, tujuannya sekaii gebrak harus berhasil melumpuhkan perlawanan Hun Thian-hi. Tapi kepandaian Hun Thian-hi sekarang sudah bukan olah-olah tingginya, begitu melihat serangan balasan serulingnya mengenai tempat kosong mulutnya lantas membentak mengguntur, berbareng kaki kiri menggeser setengah langkah badan ikut berputar setengah lingkaran. serulingnya lantas menjungkit dari bawah ke atas, ia sendal ke arah pedang panjang lawan yang meluncur tiba dengan kekuatan dahsyat itu. Usaha Thian-hi memang berhasil, ujung serulingnya telah dapat menyungsang pedang lawan tapi diluar perhitungannya bahwa lontaran pedang Bu-bing kali ini menggunakan seluruh Lwekangnya yang ada, apalagi ia hanya sempat menggerakkan tenaga dengan kuda-kuda sedikit jongkok dan tubuh miring, maka tenaga sendalannya bukan saja tidak berhasil menyampok jatuh pedang musuh, malah luncuran pedangnya menusuk ke atas sedikit dan tahu-tahu amblas ke dalam pundak kirinya, begitu deras daya luncuran pedang ini sehingga pundaknya tertembus lewat sampai ke punggung, keruan sakitnya bukan kepalang, sesaat seperti seluruh badan menjadi kejang. Tujuan serangan Bu-bing adalah Jian-kin-hiat, jalan darah di atas pundak, namun hanya terpaut beberapa mili saja yang kena cuma tulang pundak Thian-hi saja. Tapi hasil tusukan pedang cukup menghabiskan tenaga perlawanan Hun Thian-hi, mandah saja dicincang atau disiksa oleh musuh. Dengan terpaku oleh selaras pedang yang menembus pundak kirinya, Thian-hi mengeraskan hati berdiri tegak, separo tubuhnya sudah basah kuyup oleh darah, tangan kanan masih kencangkencang menggenggam seruling, dengan pandangan berapi-api ia deliki Bu-bing Loni.

"Kau masih ingin melawan?"

Ejek Bu-bing Loni.

Terasa oleh Thian-hi kesakitan yang luar biasa di pundaknya kiri, darah menyembur semakin deras.

seluruh tubuhnya semakin lemah dan seperti hampir lumpuh, diam-diam ia tutup jalan darah sendiri berusaha membendung darah yang bocor keluar.

Tapi luka yang begitu berat, mana mungkin dapat ia atasi begitu saja di saat ia harus menghadapi musuh yang masih mengancam jiwanya ini.

Pelan-pelan selangkah demi selangkah Bu-bing mendesak maju.

Thian-hi gentakkan serulingnya menyerang, namun tenaganya sudah lemah, sekali raih saja Bu-bing berhasil merampas serulingnya, sebat sekali ia merabu beruntun ia tutuk tiga jalan besar di atas tubuh Thian-hi.

Setelah Thian-hi tidak berdaya, ia menyeringai dingin, otaknya menerawang, cara bagaimana ia harus memberi hukuman pada Hun Thian-hi.

Sekonyong-konyong kupingnya mendengar pekik burung dewata yang penuh kekuatiran dan takut, berubah air mukanya, cepat ia menengadah ke belakang sana, hatinya menjadi terkejut, belum pernah terjadi hal seperti sekarang, kecuali ketemu lawan berat, atau ketemu orang yang sudah dikenal, burung dewata tidak sembarangan berpekik demikian.

Dengan sebelah tangan mengempit Hun Thian-hi ia berlari-lari menuju ke selatan, setelah keluar dari hutan, ia mendongak, tampak burung dewata sedang bertempur hebat dengan seekor burung rajawali yang cukup besar pula.

Beringas muka Bu-bing.

Begitu melihat kedatangan Bu-bing burung dewata berusaha menukik turun, tapi selalu kena dihalangi dan terdesak naik pula ke tengah udara.

Bu-bing menjadi gusar mulutnya menjebir hina, kelihatannya burung rajawali ini peliharaan orang, setelah mengukur jarak ketinggiannya, hidungnya mendengus, batinnya.

"Kau kira jarak begini tinggi aku tidak mampu naik?"

Segera ia letakkan tubuh Thian-hi di tanah, tubuhnya mendadak mencelat tinggi ke tengah udara, laksana burung besar kedua tangannya berkembang terus meluncur tinggi tepat sekali hinggap di atas punggung burung dewata, berbareng ia ayun pedang di tangannya membacok ke arah burung rajawali.

Rajawali itu berpekik kejut dan ketakutan, agaknya ia tahu akan kelihayan Bu-bing Loni.

cepat ia melambung tinggi terus terbang meninggi hendak lari.

Tapi Bu-bing sudah keburu gusar, pedang panjang disambitkan seperti anak panah melesat ke arah burung rajawali itu.

Burung rajawali itu memang cukup cerdik ia jumpalitan sekali terus menukik turun, tapi sudah terlambat tak urung sayapnya sudah tertusuk pedang, terdengar mulutnya berpekik kesakitan, membawa pedang yang menancap di badannya ia terbang rendah terus menghilang di balik lembah sebelah sana.

Bu-bing menyeringai sinis dengan kemenangan, waktu ia menunduk melongok ke bawah, Hun Thian-hi yang diletakkan di tanah tadi sudah tidak kelihatan pula bayangannya, sejenak ia terlongong, lantas meluncur turun memeriksa dan mencari ubek2an, namun tidak berhasil menemukan jejaknya.

Sungguh terbakar rongga dadanya, gusarnya bukan kepalang, siapakah yang telah memancing dirinya dengan burung rajawali tadi lalu menolong pergi Hun Thian-hi.

Terpaksa ia naik ke punggung burung dewata, ia periksa dan obrak-abrik seluruh pelosok gunung ini namun hasilnya nihil.

Akhirnya dengan rasa gusar dan penasaran ia tinggal pergi.

Bu-bing tak habis herannya, ia bertanya-tanya dalam hati siapakah yang tahu jelas akan tabiatnya dapat mengatur tipu daya sebegitu rapi dan cermat sekali, bukan saja dirinya dapat dikibuli jejak musuhpun tak berhasil dicarinya."

Dalam pada itu, Thian-hi sejak ditutuk tiga jalan darah besar di atas tubuhnya lantas jatuh pingsan, tutukan hebat itu melumpuhkan seluruh sendi2 badannya, apalagi pundaknya terluka parah, keadaannya sangat lemah dan payah.

Entah berapa lama kemudian, waktu pelan-pelan ia rasakan pulih kesadarannya, pelan-pelan ia membuka mata, terasa ia rebah di atas ranjang batu, lambat laun pandangan matanya menjadi terang, terlihat bentuk sesosok tubuh orang yang sangat dikenalnya berdiri di hadapannya, keruan kagetnya bukan main, hampir saja ia melonjak bangun.

Orang yang berdiri di hadapannya ini bukan lain adalah Ham Gwat.

Melihat Thian-hi sadar dan membuka mata.

Ham Gwat berkata lirih dan lemah lembut.

"Hunsiauhiap! Bagaimana perasaanmu?"

Dengan terlongong Thian-hi pandang sepasang mata Ham Gwat yang bening cerah, ia heran bagaimana mungkin dia mendadak muncul di hadapannya, bukankah dia sudah minggat dan melepaskan diri dari ikatan sama Bu-bing Loni.

Sebenar-benarnya apakah yang telah terjadi?

Adakah terjadi sesuatu atas dirinya?

Serta merta mulutnya menggumam tanya.

"Kenapa kau berada disini?"

Dengan seksama Ham Gwat juga awasi wajah orang, sahutnya lirih.

"Kau jangan kesusu tanya. Jelasnya sekarang kau sudah aman, Bu-bing Suthay sekarang sudah pergi!"

Sekian lama Thian-hi terlongong, pelan-pelan ia berkata pula.

"Kiranya kaulah yang menolongku!"

Ham Gwat manggut-manggut, pandangannya mendelong ke arah jauh sana, ujarnya.

"Bukan begitu sebetulnya. Luka-lukamu belum lagi sembuh, kelak kau akan tahu duduk perkara sebenarbenarnya."

Melihat Ham Gwat tak mau banyak bicara, Thian-hi pejamkan matanya, Sungguh tak nyana bahwa di tempat ini ia bakal bersua kembali dengan Ham Gwat, banyak kata yang sebenarbenarnya ingin diutarakan, namun tak kuasa diucapkan.

Tiba-tiba Ham Gwat bersuara.

"Sudah jangan terlalu banyak pikiran, istirahat saja supaya lukamu lekas sembuh!"

"Berapa lama lagi baru luka-lukaku bisa sembuh?"

"Tiga lima hari tentu bisa sembuh!"

Mencelos hati Thian-hi, tiga lima hari lagi, bagaimana mungkin dirinya bisa menyusul ke Siongsan Siau-lim-si dalam jangka waktu sepuluh hari yang ditentukan itu?

Bukankah menyianyiakan perkara besar.

Ham Gwat mengawasinya dengan tajam, katanya.

"Tiada gunanya kau menyusul ke Siong-san, ketahuilah bahwa Tok-sim-sin-mo sudah menyebar jaringan kaki tangannya ke-mana-mana menanti kau masuk ke dalam perangkapnya. Sekarang dia tidak berani mendesakmu menjadi anggota, tujuan yang utama adalah melenyapkan jiwamu yang dipandang saingan terberat bagi kehidupan gerombolannya!"

"Bagaimana juga situasi yang akan kuhadapi nanti, betapapun aku harus menyusul kesana,"

Kata Hun Thian-hi tegas.

"Memang kau harus pergi ke sana. Baiklah akan kubantu kau tepat pada waktunya dapat menyusul ke sana!" -sekian lama ia termangu memandangi Thian-hi lalu katanya pula.

"Aku keluar sebentar, kau istirahatlah baik-baik"

Ia memutar tubuh terus keluar dari kamar batu itu.

Mengantar punggung Ham Gwat pikiran Thian-hi melayang tak menentu arahnya.

Ia merasa bahwa diri Ham Gwat ini penuh diliputi kemisteriusan, jejaknya tidak menentu dan sulit diraba juntrungannya.

Entah cara bagaimana ia bisa menolong dirinya dari cengkeraman Bu-bing Loni.

Entah berapa lama ia termangu dan berpikir, selama itu tak memperoleh kesimpulan yang diharapkan, akhirnya ia menghela napas panjang.

Mendadak didengarnya derap langkah lirih yang mendatangi dengan cepat, waktu ia berpaling, dilihatnya yang muncul adalah Siau Hong.

Sembari berseri tawa Siau Hong maju menghampiri, serunya lincah.

"Sungguh berbahaya keadaanmu kemarin, syukur Siocia menggunakan akal memancing Suthay dan berhasil menolong kau, kalau tidak mungkin saat ini kau sudah menderita oleh siksaannya yang kejam itu!"

"Cara bagaimana kau bisa sampai di tempat ini?"

Tanya Thian-hi. Siau Hong meleletkan lidahnya, sahutnya.

"Aku sendiri juga tidak tahu, siocia yang membawa aku kemari, kebetulan mendengar pekik burung dewata, siocia lantas suruh aku sembunyi, belum lama setelah dia pergi, ia perintahkan Kim-ji memancing pergi Suthay, lalu ia berkesempatan menolong kau kemari. Tapi Kim-ji sendiri sekarang juga terluka parah."

Bab 21 Hun Thian-hi terlongong heran, tanyanya.

"Siapakah Kim-ji itu?"

"Kim-ji adalah seekor burung rajawali yang besar. Pemberian dari seorang kakek tua ubanan kepada siocia!"

Baru sekarang Thian-hi menjadi sadar, mungkin Ham Gwat memperoleh suatu pengalaman aneh di tempat ini bersua dengan seorang tokoh kosen aneh, entah siapakah beliau?

"Keadaanmu sungguh sangat berbahaya, banyak orang ingin membekuk kau, sedang kau berkeras kepala ingin ke Siau-Iim-si, aku menjadi kuatir dan takut bagi keselamatanmu!"

"Kenapa kau kuatir dan takut bagi diriku?"

Siau Hong mengejapkan matanya, sahutnya tertawa jenaka.

"Kenapa tidak? Bukankah kau seorang baik! Sayang nasibmu terlalu jelek, jikalau aku punya kepandaian silat yang tinggi tentu aku bantu kau!"

"Aduh sungguh bahagia dan terima kasih pada kau!"

"Kau harus terima kasih kepada siocia baru betul!"

Demikian goda Siau Hong sembari tertawa penuh arti.

"Sudah tentu, bukankah kali ini dia yang menolong jiwaku."

"Bukan itu yang kumaksudkan. sungguh bodoh kau, aku tak mau bicara lagi padamu." -Lalu ia berlari keluar dan menghilang. Thian-hi tercengang, ia menjadi bingung, tak tahu dia kemana juntrungan maksud kata-kata Siau Hong, pikir puhja pikir ia menjadi keletihan, akhirnya ia himpun semangat dan mengatur napas mulai samadi. Kecuali luka dipundaknya kiri masih terasa sakit. mungkin karena terlalu banyak mengeluarkan darah sehingga kepalanya terasa pusing dan mata berkunang-kunang. Serta merta terpikir dan terbayang lagi wajah Ham Gwat, entah kemana dia selama ini? Sedang ia termangu, derap langkah lirih mendatangi pelan-pelan, yang muncul memang Ham Gwat adanya. Setelah tiba disamping Thian-hi, Ham Gwat berkata.

"Bagaimana kau ini. dari keadaanmu ini jelas bahwa tadi kau tidak istirahat secara baik-baik!"

Thian-hi tertawa kikuk, sahutnya.

"Banyak urusan yang tidak bisa tidak harus kupikirkan." -Tak tertahan ia tertawa geli.

"Kau punya janggalan hati, tiada halangannya turun berjalan-jalan. cuma badanmu rada lemah karena terlalu banyak keluar darah, jalan-jalan melemaskan otot dan melapangkan pikiran juga ada faedahnya bukan!"

Thian-hi termangu tak bicara.

"Aku masih ada urusan,"

Demikian ujar Ham Gwat.

"Kau jalan-jalan sendiri atau nanti aku panggil Siau Hong untuk temani kau?"

Pelan-pelan Thian-hi merangkak bangun, katanya tertawa dibuat-buat.

"Tak usahlah! Aku jalanjalan sendiri saja."

Ham Gwat termenung sebentar, mulutnya terbuka namun urung bicara, setelah Thian-hi berdiri ia berkata.

"Kalau begitu aku pergi dulu!" -Ia tinggal pergi. Hun Thian-hi menjadi merasa hambar melihat sikap Ham Gwat yang tidak menentu itu, kadangkadang hangat simpatik, dilain saat dingin, wajahnya tak pernah mengulum senyum manis, akhirnya Thian-hi tertawa geli sendiri. Batinnya.

"Bagaimana aku ini, seorang laki-laki sejati kenapa tak punya pendirian tetap, seumpama aku punya rasa cinta terhadap Ham Gwat, tak seharusnya aku berpikiran tidak genah, apalagi aku belum begitu mengenal pribadi dan keadaannya, mana bisa bicara soal cinta terhadap dia!"

Pelan-pelan ia menggeremet maju dan keluar dari kamar.

Begitu berada diluar didapatinya dirinya berada di dalam sebuah hutan bambu, hawa disini rada sejuk dingin, sebuah jalan berliku memanjang tepat di depan pintu.

Pelan-pelan Thian-hi menyelusuri jalan kecil ini keluar dari hutan bambu.

Tanah luas dan subur terbentang dihadapannya, kembang liar tumbuh dimana-mana.

Pikiran Hun Thian-hi lantas melayang, sekarang sudah musim semi, selama kelana setahun ini bukan saja tidak membawa hasil yang diharapkan malah dirinya memikul dosa berlimpah dan berkepanjangan tiada penyelesaian, sehingga gurunya sendiri berpendapat bahwa aku sudah tersesat semakin dalam dan mengusir dari perguruan.

Ia menghela napas dengan murung, kepalanya mendongak celingukan kesekelilingnya.

Terpikir oleh Thian-hi bahwa segala sesuatu dalam lingkungan yang melibatkan dirinya adalah begitu aneh begitu misterius.

Sekarang ini betul-betul ia belum mengetahui keadaan sekeliling Ham Gwat, sebetulnya siapakah yang telah ditemui oleh Ham Gwat?

Ibu Ham Gwat Ong Ging-sia sangat terkenang dan ingin jumpa dengannya.

entah apakah dia tahu bahwa ibu kandungnya masih hidup dan sehat walafiat di dunia ini, haruskah aku memberitahu hal ini padanya?

Thian-hi sendiri tak kuasa memberi jawaban.

Kini pikiranmja melayang pada persoalan dirinya sendiri, Wi-thian-cit-ciat-sek belum lagi sempurna.

Bu-bing Loni begitu lihay pula, bila tidak ditolong oleh Haim Gwat, mungkin dirinya sudah ajal ditangannya.

Begitulah duduk di atas tanah berumput ia menengadah mengawasi mega yang mengembang dilangit, terpikir olehnya apa yang harus kulakukan selanjutnya?

Tengah pikirannya melayang mendadak terasa olehnya dibelakangnya ada seseorang, gesit sekali tiba-tiba ia membalikkan tubuh, pendatang ini kiranya adalah Ham Gwat, ia menghela napas lega, ujarnya.

"Kiranya kau!"

Sorot mata Ham Gwat memancarkan senyum manis, tiba-tiba ia menunduk malu-malu, katanya.

"Tak tahu aku apa yang sedang kau lakukan disini, aku datang menengok kau!"

"Wah banyak terima kasih akan perhatianmu!"

"Tadi kau termangu dan asjik berpikir, kedatanganku malah mengejutkan kau, maaf ya!"

"Aii, berkelebihan ucapanmu. Kau harus salahkan aku berlaku kurang waspada!"

"Tentu kau merasa sangat heran terhadapku bukan?"

Tiba-tiba tanya Ham Gwat.

"Tidak! Aku hanya merasa kau rada misterius sepak terjangmu Sulit diraba, aku merasa ada sesuatu yang kurang kupahami atas dirjmu!"

"Kelak pasti kau akan paham!"

Desis Ham Gwat lirih.

Sampai disini mereka tenggelam dalam alam pikiran masing-masing.

Thian-hi merasa kehabisan kata-kata, setiap kali berhadapan ia menjadi mati kutu dan tak kuasa membuka isi hatinya.

"Mengandal ketekunan dan keyakinanmu pasti kelak kau berhasil. Wi-thian-cit-ciat-sek sudah berhasil kau pelajari kelak tentu kau akan menjagoi dan memimpin rimba persilatan. Sayang kau sekarang belum dapal menyelami intisarinya, perlahan-lahan aku yakin akan dapat membantu kesukaranmu ini."

Thian-hi lantas bangkit, katanya.

"Kalau begitu kuharap nona sudi memberi petunjuk!"

"Bukan diriku yang kumaksud. Aku kenal seorang kosen yang aneh, tentu beliau dapat bantu kau, bila Kau sudi, aku dapat membawamu kepada beliau."

"Apakah beliau sudi menerima aku?"

"Mungkin, tapi coba kutanyakan dulu, kau tunggu sebentar disini!"

Lalu ia membalik tubuh dan menghilang di rumpun bambu.

Setelah Ham Gwat tidak kelihatan, Thian-hi bertanya-tanya dalam hati, entah siapakah tokoh kosen yang dimaksudkan?

Tengah pikirannya bekerja, sekonyong-konyong dilihatnya sesosok bayangan hitam berkelebat lewat, sekilas pandang saja ia dapat mengukur betapa tinggi kepandaian orang itu, keruan terkejut hatinya.

Memang luncuran tubuh orang itu juga mendadak berhenti, agaknya iapun sudah melihat kehadiran Thian-hi di tempat itu, kiranya itulah seorang nenek tua renta yang ubanan.

Dengan cermat Thian-hi awasi nenek tua ini tanpa bicara, hatinya kejut dan heran, ilmu silat nenek tua ini begitu lihay, sekarang berhenti dan mengawasi dirinya, kelihatannya sudah kenal pada dirinya.

Nenek tua itu menyeringai iblis, katanya.

"Kau tidak kenal aku, tapi aku kenal kau, kau adalah Hun Thian-hi, ya bukan?"

"Siapa kau?"

Tanya Thian-hi melongo.

"Tiada halangannya kuberitahu pada kau, aku bernama Kiu-yu-mo-lo, kukira kau sudah kenal nama besarku itu bukan?"

Thian-hi benar-benar terperanjat, batinnya.

"Kiu-yu-mo-lo sudah muncul kembali, dia memperoleh Hian-thian-mo-kip, kepandaian silatnya sekarang tentu sudah teramat lihay, entah apa tujuannya dengan menampakkan dirinya ini?"

Kiu-yu-mo-lo menyeringai tawa dua kali, ujarnya.

"Kiranya kau tidak mampus, dimana Tok-simsin-mo? Aku ingin mencarinya untuk membuat perhitungan padanya!" -sebelum Thian-hi sempat menjawab, mendadak Kiu-yu-mo-lo menubruk maju serta berkata.

"Mari kau ikut aku saja!"

Hun Thian-hi menjejakkan kakinya mundur dengan cepat, namun kedua telapak tangan Kiu-yomo-lo bergerak mencomot dan meraih dari kanan kiri, dua gelombang tenaga lunak menerpa keluar dari telapak tangannya mencengkeram ke arah Hun Thian-hi.

Thian-hi mengeluh dalam hati, sungguh celaka pengalamannya hari ini, baru saja dirinya keluar jalan-jalan menyegarkan badan tak nyana kepergok oleh Kiu-yu-mo-lo yang kebetulan lewat, dia punya pertikaian dengan Sutouw Ci-ko yang belum terselesaikan, tentu diapun tak mau melepaskan dirinya.

Thian-hi berdaya berkelit sekuat tenaganya, sayang darahnya keluar terlalu banyak sehingga kelincahan gerak-gerik tubuhnya banyak berkurang, namun Lwekangnya memang jauh lebih hebat dibanding dulu, meski gerak-geriknya rada lamban, sekuatnya ia masih berhasil lolos dari sergapan Kiu-yu-mo-lo yang pertama.

Keruan Kiu-yu-mo-lo sendiripun bukan kepalang kejutnya, jikalau hari ini ia tidak berhasil membekuk Hun Thian-hi, cara bagaimana ia harus mencari Pek-kut-sin-mo dan Tok-sim-sin-mo kelak?

Terdengar ia menggeram murka, tubuhnya bergerak begitu lincah dan sebat sekali, sekali berkelebat, kelima jarinya secepat kilat mencengkeram kejalan darah di pundak Thian-hi.

Insaf bahwa dirinya tidak akan mampu membebaskan diri lagi, saking gugup Thian-hi berteriak.

"Tahan!"

Tapi serangan Kiu-yu-mo-lo tidak berhenti karena bentakannya ini, tahu-tahu Thian-hi rasakan kepalanya berat, mata berkunang-kunang, pundak kirinya sudah dicengkeram keras oleh jari-jari Kiu-yu-mo-lo yang kurus dan berkuku runcing itu, jengeknya.

"Apa yang hendak kau katakan?"

Memandang muka orang Hun Thian-hi menjadi kecewa dan putus asa, Kiu-yu-mo-lo bicara setelah berhasil meringkus dirinya, untuk mengulur waktu sudah tak mungkin lagi, tawar2 saja ia menyahut.

"Sekarang tak ada apa-apa lagi!"

"Kau kira aku tidak tahu apa yang sedang kau pikirkan?"

Jengek Kiu-yu-mo-lo.

"Sangkamu aku hanya ingin tahu jejak Tok-sim-sin-mo belaka? Apa yang ingin kudapat belum tentu bisa kuperoleh dari atas tubuhmu!"

Mendengar nada perkataan orang, tahu Thian-hi bahwa Kiu-yu-mo-lo ini tentu sangat congkak dan takabur akan kepandaian dan kemampuannya sendiri, maka ia bersuara.

"Tidak!"

"Kau masih punya teman bukan?"

Kiu-yu-mo-lo menyeringai sadis.

"Kau main ulur waktu supaya kawanmu menolong kau bukan?"

"Pikiranmu ini sungguh sangat menggelikan."

Terpancang hawa membunuh dalam sorot mata Kiu-yu-mo-lo, namun sekilas lantas lenyap. Ejeknya.

"Lalu kau tadi menyuruh aku 'tahan' apa maksudmu? Berani kau mentertawakan aku?"

Thian-hi mandah tersenyum ewa, batinnya.

"Kiu-yu-mo-lo tentu sudah sekian lama mengasingkan diri, sembari mengobati luka-lukanya sembari mempelajari ilmu yang diperolehnya dari Hiari-thian-mo-kip itu. Sekarang sudah berhasil jadi ia berani muncul di Bu-lim untuk mencari perhitungan sama Tok-sim-sia-mo dan Pek-kut-sin-mo, secara kebetulan di tempat ini melihat diriku, tahulah dia bahwa Tok-sim-sin-mo tentu juga sudah lolos, dia menyangka bahwa aku tentu dapat mengetahui dimana jejak Tok-sim-sin-mo, tentu dia minta aku membawanya mencari musuh besarnya itu...."

Karena rekaannya ini segera ia buka bicara.

"Tok-sim-sin-mo sekarang menjadi Pangcu Hekliong-pang, kekuatannya sudah menjangkau selatan dan utara sungai besar, dia punya persenjataan Pek-tok-hek-liong-ting yang amat ampuh lagi, kau berani mencari dia, bakal konyol belaka."

Kiu-yu-mo-lo menjengek mulut, matanya bersinar beringas, mulutnya terbungkam. Melihat sikap orang senang hati Thian-hi, ujarnya.

"Banyak kejadian di Kangouw belakangan ini yang tidak kau ketahui. Semua kejadian itu banyak yang punya sangkut paut terhadap dirimu!"

Kiu-yu-mo-lo termangu, entah, apa yang sedang dipikir, sesaat kemudian ia bersuara.

"Kau sudah angkat Tok-sim sebagai gurumu bukan?" $ "Kau kira aku sudi?"

Jawab Thian-hi tawar.

"Meski ilmu silatku tidak becus masa aku sudi angkat guru padanya? Ketahuilah dia sedang menarik Pek-cianpwe yaitu saudara kecilmu yang ketiga untuk membantu pergerakkannya, tapi beliau pun tidak sudi!"

Melihat orang tidak mengunjukan reaksi apa-apa, Thian-hi lantas meneruskan.

"Belum lama aku berpisah dengan beliau, sekarang dia bersama Sutouw Ci-ko!"

"Sangkamu aku mencari kau karena segala urusan tetek bengek itu?"

Demikian tukas Kiu-yumo-lo dengan keras.

"Ketahuilah aku masih punya urusan lain yang lebih penting."

"Hwe-tok-kun sekarang bersama Ang-hwat-lo-mo, mereka sama mendirikan sebuah partai lain sebagai tandingan yang kuat dari Hek-liong-pang pimpinan Tok-sim-sin-mo!"

"Aku tidak peduli segala peristiwa itu, bukan itu tujuanku ...." -tiba-tiba tangannya mencengkeram lebih keras serta membalik tubuh secara mendadak, sehingga mereka sama berputar. Ham Gwat berdiri tegak tiga tombak di belakang sana. Biji matanya memancarkan sorot aneh mengawasi Kiu-yu-mo-lo.

"Siapa kau?"

Tanya Kiu-yu-mo-lo.

Ham Gwat berdiri tegap tak bersuara, lambat laun sinar matanya tenang kembali, seakan-akan selamanya perasaannya begitu tenang tapi dingin dan kaku.

Secara langsung terasa oleh Kiu-yu-mo-lo bahwa Ham Gwat bukanlah orang yang gampang dapat digertak dan gebah pergi begitu saja, sebelah tangannya membalik beruntun ia menutuk beberapa jalan darah ditubuh Hun Thian-hi, lalu dengan waspada ia awasi Ham Gwat.

"Kenapa kau harus menutuk jalan darahnya?"

Tanya Ham Gwat pelan-pelan.

"Persetan dengan kau? Siapa kau?"

Teriak Kiu-yu-mo-lo, suaranya melengking tinggi.

Kelihatannya Ham Gwat memeras otak, entah apa yang sedang dipikirkan, sekian lama ia berdiam diri.

Kiu-yu-mo-lo sendiri menjadi risi dan bingung, serunya geram.

"Kutanya kau apakah kau tidak dengar?"

Tawar2 saja Ham Gwat pandang orang, ia sedang menggunakan kecerdikan otaknya mencari akal cara untuk menolong Thian-hi.

Tanpa bicara tiba-tiba ia membalik tubuh terus jalan kembali dari arah datangnya semula.

Dada Kiu-yu-mo-lo menjadi terbakar, dengan wataknya yang begitu berangasan dan congkak itu, masa dia terima dipandang hina dan tidak direwes oleh Ham Gwat, dengan murka ia menghardik.

"Berhenti!"

Seperti tidak mendengar Ham Gwat terus berjalan ke depan pelan-pelan.

sedikitpun ia tidak peduli apakah orang akan marah atau mencak-mencak.

yang terang ia kerahkan Lwekang tingkat tinggi mengembangkan Ginkang Ling-khong-pou-si, tubuhnya bergerak laksana awan mengembang dan air mengalir melesat terbang cepat sekali.

Karuan Kiu-yu-mo-lo semakin murka.

sambil mengempit Thian-hi segera ia kembangkan ilmu ringan tubuhnya mengejar ke arah Ham Gwat.

Ham Gwat berjalan beberapa langkah lebih dulu, Kiu-yu-mo-lo sendiri juga mengempit Hun Thian-hi, sudah tentu kecepatan gerak tubuhnya tidak dapat mengungguli Ham Gwat.

Sementara itu Ham Gwat sudah berkelebat memasuki hutan bambu, semakin murka Kiu-yu-molo dibuatnya, diam-diam iapun merasa kejut akan Lwekang Ham Gwat yang tinggi dan Gingkangnya yang lihay, masa gadis kecil yang masih remaja tidak kuasa dikejar olehnya, apa pula yang telah berhasil dilatih selama beberapa bulan mengasingkan diri belakangan ini.

Tok-sim-sinmo sudah lolos dari belenggu kurungan, dilihat keadaan sekarang, apakah dirinya dapat menghadapi Tok-sim-sin-mo kelak menjadi suatu pertanyaan besar, tengah pikirannya melayang, dilihatnya Ham Gwat sudah tiba di belakang sebuah gunung dan membelok kesana terus memasuki hutan pohon jati dan menghilang.

Kiu-yu-mo-lo menjerit enteng, cepat ia menyedot napas tubuhnya lantas menerjang ke depan laksana anak panah.

Tanpa sangsi dan banyak pikir ia terus menerobos masuk ke dalam hutan jati itu, namun jejak Ham Gwat sudah menghilang, sambil mengempit Hun Thian-hi ia melangkah terus ke depan, pikirnya, setelah menembus hutan pohon jati ini hendak kulihat kemana pula kau lari.

Begitulah Kiu-yu-mo-lo berlari-lari kencang mengejar terus ke depan, kira-kira setengah jam sudah berlangsung pengejaran itu, selama itu tidak kelihatan bayangan Ham Gwat tapi hutan jati ini tidak kunjung habis dari kaget lambat laun hati Kiu-yu-mo-lo menjadi ciut dan takut, waktu ia angkat kepala, pohon nan subur itu sedang berkembang mengluarkan baunya yang wangi, waktu ia celingukan kian kemari jalan menjadi buntu, sekelilingnya dilingkungi oleh pohon-pohon besar kecil yang tumbuh subur.

Sekian lama ia berdiri terlongong, semakin pikir hatinya semakin ciut dan kejut, tak tahu dia cara bagaimana dirinya nanti keluar dari hutan jati yang lebat dan membingungkan ini.

Pikir punya pikir Kiu-yu-mo-lo menggeram dengan aseran, tiba-tiba ia berlari lagi menerobos hutan, tapi loncatan tubuhnya hanya tiga empat kaki tingginya, seolah-olah daun-daun pohon di atas kepalanya tak mampu dicapainya.

Bukan kepalang kejut hatinya, seketika ia menjadi sadar dan terpikir olehnya suatu kabar berita yang pernah didengarnya dulu, seketika mukanya berubah pucat, tangannya menjadi lemas, Hun Thian-hi yang dikempit di bawah ketiaknya melorot jatuh di tanah.

Ia berdiri terlongong dengan putus asa.

Menurut kedaan yang dihadapinya sekarang, apakah dirinya sudah masuk ke dalam barisan Thay-si-ciang-soat-lian-mo-tin?

Sejak dulu pernah kudengar nama barisan yang hebat itu, apakah hari ini aku mengalami sendiri jatuh ke dalam barisan penggugah iblis itu?

Karena dipengaruhi oleh pikirannya ia berdiri tegak terkesima dengan muka pucat, bila sudah terjebak masuk ke dalam barisan menggugah iblis itu seumpama kepandaian maha lihay setinggi langi tpun jangan harap dapat keluar dari kurungan, demikianlah keadaan dirinya sekarang harus pasrah nasib jiwa sendiri tergenggaan ditangan orang.

Waktu ia angkat kepala celingukan sekelilingnya hening lelap.

Mendadak teringat olehnya akan Hun Thian-hi segera ia menyeringai dingin, teriaknya.

"Apakah jiwa Hun Thian-hi tidak kalian hiraukan lagi? Awas kubunuh dia!"

Sembari mengancam ia angkat tangannya mengincar batok kepala Hun Thian-hi, sedang kuping dipasang serta mata memeriksa keadaan sekelilingnya.

Sekonyong-konyong sebuah suara yang lirih seperti bunyi nyamuk terkiang dipinggir kupingnya.

"Setelah masuk ke dalam Thay-si-ciang-soat-lian-mo-tin masih berani timbul angan2 jahatmu?"

Berubah air muka Kiu-yu-mo-lo, kiranya benar-benar dirinya sudah terjebak ke dalam Thay-siciang-soat-lian-mo-tin konon kabarnya barisan ini setiap seabad muncul sekali di Kangouw, tujuannya adalah menggugah kesadaran jiwa setiap gembong iblis yang sudah terlalu banyak membuat kejahatan, tapi selama itu tiada seorangpun yang tahu alamat dan keadaan sebenarbenarnya dari barisan yang lihay itu.

tapi itu kenyataan bukan khayal belaka, dan buktinya sekarang dirnya telah berada di dalam barisan yang sangat ditakuti oleh kaum sesat itu.

Ilmu silat yang dipelajari dari Hian-thian-mo-kip belum lagi mendapat hasil yang memuaskan, sungguh penasaran kalau dirinya harus berkorban secara konyol disini.

setelah terlongong, akhirnya ia berseru.

"Hun Thian-hi berada ditanganku, dia menggembol rahasia Ni-hay-ki-tin, dengan segala rahasia yang berharga itu untuk menebus jiwaku, apakah belum setimpal? Ingatanku sekarang masih segar bugar, bila kudapati rahasia Ni-hay-ki-tin itu pasti akan kuhancurkan lebih dulu, kuharap kau tidak menyesal setelah terlambat!"

Sesaat kemudian suara lirih seperti nyamuk itu berkata lagi.

"Kejahatan yang kau pernah lakukan terlalu banyak. dosamu tak berampun, masih kan berani menggunakan Hun Thian-hi untuk mengancam padaku. dosamu lebih tak bisa diampuni lagi. kau kira kau masih segar dan belum hilang ingatan? Bila ingatanmu masih segar, sejak tadi kau sudah keluar dari barisan itu!" -Lenyap suaranya suasana sekelilingnya kembali menjadi lelap. Dengan rasa kebencian yang berlimpah Kiu-yu-mo-lo mengumpat caci. pelan-pelan tangan yang terangkat tinggi diturunkan, rasanya kurang tepat bila membunuh Hun Thian-hi sekarang. pikirnya bila Hun Thian-hi berada ditanganku. dengan adanya sandera yang kuat ini akan kulihat sampai kapan kau kuat bertahan mengurung aku. Begitulah ia lantas duduk bersimpuh, tangan kanannya masih mencengkeram pergelangan tangan Hun Thian-hi, ia pejamkan mata dan pelan-pelan mulai melatih ilmu yang dipelajari dari Hian-thian-pit-kip. Angin menghembus sepoi-sepoi, dedaunan pohon disekitarnya terdengar berkeresekan seperti bergerak. Kiu-yu-mo-lo duduk tenang tanpa bergerak. tahu dia bahwa Thay-si-ciang-soat-lian-motin sudah mulai bergerak. tapi terpikir olehnya bahwa semua itu tak lebih sebagai pandangan khayal yang mengaburkan ingatan manusia belaka, asal aku kuat mengendalikan hati dan pikiran, apa yang harus kutakuti! Hawa nan sejuk di dalam hutan semakin terasa panas, pohon-pohon disekelilingnya kelihatannya berubah menjadi serba merah, seluruh hutan jati ini seperti terbakar jago merah yang membara lambat laun kobaran api semakin besar, seluruh hutan jati ini menjadi lautan api. Kian lama Kiu-yu-mo-lo merasa seluruh badan makin panas seperti dipanggang, sungguh tidak tartahan lagi suhu panasnya. Ia menengadah celingukan ke arah sekitarnya, tampak dimana-mana api sudah menjilat semakin besar, berulangkali ia ingin bangkit dan lari keluar dari lingkungan kobaran api ini, tapi selalu gagal dan urung, akhirnya ia duduk bersimpuh kembali. Akhirnya Kiu-yu-mo-lo berpikir; bila aku benar-benar ingin lari juga tidak mungkin lolos dari Kepungan kobaran api yang begini besar. Seumpama mati juga ikhlas karena Hun Thian-hi akan menyertainya ke jalan alam baka, bila kalian memang tidak ingin menyelamatkan jiwa Hun Thianhi, apa boleh buat, biar aku gugur bersama dia. Demikian ia berpikiran secara nekat Karena tujuan orang mengurung dirinya di dalam barisan ini terang bertujuan untuk menolong Hun Thian-hi. Dengan adanya Hun Thian-hi sebagai sandera apa lagi yang perlu dilakuti. Sementara itu bara api disekitarnya lambat laun mulai mengecil dan akhirnya padam. Empat penjuru menjadi gelap gulita, pulih seperti sediakala. hutan jati yang lebat dan sejuk, sunyi dan lelap. Kiu-yu-mo-lo menjadi terlongong, baru sekarang ia sadar, kiranya tadi matahari sedang terbenam, sebaliknya dirinya mengira dirinya terkurung di dalam lautan api. Begitulah ia termangu-mangu, tiba-tiba terasa hawa mulai dingin dan angin menghembus keras. Kiu-yu-mo-lo mandah mendengus hidung, waktu ia melirik ke arah Hun Thian-hi yang rebah disampingnya. tampak orang seperti tertidur pulas tak kurang suatu apa, ia kertak gigi pikirnya pasti aku terombang-ambing di dunia khayalan belaka, kenapa aku urus segala gejala yang menyesatkan ini? Batinnya memang merasa akan gejala yang tidak wajar itu dan tak mau peduli lagi, tapi hembusan angin kenyataan semakin dingin seperti hampir membekukan seluruh sendi tulangnya. Ia kertak gigi dan berpikir.

"Hembusan angin dingin betapapun tidak akan mempersukar dan meruntuhkan kekuatan batinku!" -begitulah ia duduk tenang tanpa bergeming. Berselang tak berapa lama, hawa semakin dingin tiba-tiba ia membuka mata mengawasi Hun Thian-hi, tiba-tiba timbul pikirannya.

"Bila dia siuman bagaimana perasaannya?" -Segera ia kebutkan lengan, bajunya membebaskan seluruh jalan darah Thian-hi yang tertutuk. Pelan-pelan Hun Thian-hi siuman dan membuka mata, kuatir orang melarikan diri cepat-cepat Kiu-yu-mo-lo menggencet urat nadi pergelangannya. Pelan-pelan Hun Thian-hi merangkak bangun duduk bersila, sekilas ia pandang Kiu-yu-mo-lo tanpa bersuara, ia tidak tahu cara bagaimana dirinya bisa sampai di tempat itu, yang terang dirinya masih tertawan oleh Kiu-yu-mo-lo jadi Ham Gwat tak berhasil menolong dirinya. Sikap Hun Thian-hi tenang dan acuh tak acuh akan keadaan sekelilingnya, Kiu-yu-mo-lo jadi heran. tanyanya.

"Tahukah kau dimana sekarang kita berada?"

Thian-hi memandangnya tawar, ia rada curiga akan sikap pertanyaan Kiu-yu-mo-lo ini, mimpipun ia tidak mengira bahwa dirinya ternyata ikut terjeblos di dalam barisan menggugah iblis yang lihay itu.

Tanpa bersuara ia menundukkan kepala.

Kata Kiu-yu-mo-lo menjelaskan.

"Ketahuilah kita berdua sudah terperangkap ke dalam Thay-siciang-soat-lian-mo-tin oleh kawan baikmu itu!"

Thian-hi tersentak kaget sambil menengadah mengawasi Kiu-yu-mo-lo, sungguh kejut dan girang pula hatinya, sungguh tidak nyana bahwa dirinya sekarang berada di dalam Thay-si-ciangsoat-lian-mo-tin.

Entah dengan cara apa Ham Gwat bisa berhasil mengurung Kiu-yu-mo-lo ke dalam barisan ini.

"Kelihatannya kau sangat girang ya?"

Thian-hi tertunduk diam. Kiu-yu-mo-lo menjadi berang, jengeknya.

"Jangan kau merasa senang lebih dulu. Ketahuilah bila, aku tidak bisa keluar kau pun takkan bisa hidup. Dengan ada kau disini, betapa pun mereka takkan berani berbuat apa-apa terhadap diriku."

Thian-hi manggut-manggut, ujarnya.

"Benar-benar, aku sendiri menjadi tidak tega bila kau terkurung sendirian disini, Apalagi bila kau dapat keluar paling tidak dapat memberi tekanan berat terhadap Tok-sim-sin-mo!"

Mendengar nada perkataan Hun Thian-hi berubah cegitu cepat, sesaat Kiu-yu-mo-lo menjadi melongo dibuatnya.

Tanpa hiraukan Kiu-yu-mo-lo.

Thian-hi bersimpuh dan mejamkan mata, pelanpelan ia kerahkan Pan-yok-hian-kang untuk memulihkan kesegaian badannya.

Sementara itu Kiu-yu-mo-lo sudah merasa hawa semakin dingin sehingga badannya yang tua renta itu gemetar.

Dilihatnya Thian-hi duduk tenang-tenang seperti tidak kurang suatu apa, hatinya merasa aneh tak habis herannya, akhirnya iapun menghimpun semangat dan memusatkan pikiran mulai samadi.

Hari kedua, waktu terang tanah badan Hun Thian-hi sudah pulih kesegarannya, sebaliknya keadaan Kiu-yu-mo-lo semakin lesu dan jompo.

Hun Thian-hi menjadi heran dan bertanya-tanya.

Tapi terpikir olehnya mungkin Kiu-yu-mo-lo sudah terseret ke dalam alam khayal yang mulai menyedot sukmanya yang sesat kalau keadaah begitu terus berlarut dalam jangka dua hari lagi mungkin dia sendiri takkan kuasa mengendalikan dirinya lagi.

Sebetulnya Kiu-yu-mo-lo juga menyadari akan hal ini.

Waktu ia melihat cara latihan Thian-hi yang begitu wajar dan tenang, Lwekangnya yang tinggi dan ampuh itu sebetulnyalah bahwa dirinya takkan mampu lagi mengendalikannya, diam-diam terpikir cara lain untuk mengatasinya.

Hun Thian-hi menyedot hawa segar, Kiu-yu-mo-lo segera melepaskan cengkeraman tangannya katanya.

"Jangan mimpi kau dapat lari dari hadapanku!"

Hun Thian-hi mandah tertawa ewa, jalan darah pergelangannya dicengkeram musuh sehingga ia tak kuasa menyempurnakan latihannya menurut kesukaan hatinya, tapi dari persentukan tangan ini diam-diam ia dapat mengukur sampai dimana sebenar-benarnya kepandaian sejati Kiu-yu-molo.

sebenar-benarnyalah bahwa Lwekang Kiu-yu-mo-lo jauh di bawah perkiraannya semula, juga terlalu jauh dibanding dengan Tok-sim-sin-mo.

Tak tahu kenapa ia harus kelana pula di Kangouw sebelum ilmu yang dipelajari dari Hian-thian-mo-kip sempurna, malah katanya hendak membuat perhitungan dengan Tok-sim-sin-mo apa segala.

Atau mungkim dia punya tujuan lain, justru yang ketemu adalah dirinya.

"Lekas kau suruh perempuan baju hitam itu melepas kita keluar!"

Demikian desak Kiu-yu-mo-lo dengan aseran. Hun Thian-hi tersenyum, sahutnya.

"Aku sendiri pun ingin keluar, tapi bila kau ikut keluar pasti dia tidak akan melepaskan kau. Ka-yap Cuncia sudah membelenggu kau selama lima puluh tahun, hukuman selama itu masih belum bisa membuat kau bertobat dan mencuci hati membina diri, kembali menjadi manusia yang berguna bagi masyarakat, sebaliknya kau berbuat kejahatan pula di Bulim, aku sebagai manusia biasa tak kukenal parbedaan antara berat dan ringan. Coba bila kau sendiri yang menjadi dia, bagaimana sikap dan apa yang akan kau lakukan?"

Kiu-yu-mo-lo menyeringai sinis. katanya.

"Kau menggembol rahasia Ni-hay-ki-tin, bekal yang kau bawa itu jauh cukup dapat menjadikan kau bersimaharaja di Bulim, masa kau sendiri tidak tahu atau pura-pura tidak tahu!"

Hun Thian-hi tartawa tawar, ujarnya.

"Maksudmu Badik buntung itu bukan? Ketahuilah bahwa Badik buntung sudah terjatuh ketangan Bu-bing Loni, kau belum tahu."

Kiu-yu-mo-lo rada tercengang, tanyanya.

"Serangkanya juga maksudmu?"

Melonjak keras jantung Hun Thian-hi, pikirnya.

"Apakah rahasia Ni-hay-ki-tin itu berada di atas serangka Badik buntung itu?" -ia manggut-manggut membenar-benarkan. Kiu-yu-mo,lo menghela napas lesu, dengan putus asa ia menunduk, katanya sesaat kemudian.

"Kalau begitu, tiada halangannya kuberitahu soal ini kepada kau. Ketahuilah rahasia Ni-hay-ki-tin di seluruh kolong langit ini hanya aku dan Tok-sim-sin-mo serta I-lwe-tok-kun bertiga yang tahu, Samte atau Pek Si-kiat kita kelabui, sengaja kami tidak mau memberitahu padanya."

Bercekat hati Hun Thian-hi, kiranya mereka bertiga sama dalam satu gerombolan.

"Bicara terus terang, yang benar-benar tahu jelas segala rahasia ini bukan melulu kami bertiga saja."

Demikian sambung Kiu-yu-mo-lo.

"Itulah Ling-lam-kiam-ciang Coh Jian-jo, dia paling tahu dan jelas sekali mengenai rahasia ini, ketahuilah bahwa Ni-hay-ki-tin adalah warisan dari leluhurnya. turun temurun sampai jaman ini, tapi Badik buntung selalu berpindah tangan. Kami bertiga pun tiada yang mau mengalah satu sama lain, kami masing-masing insyaf diri sendiri tidak akan kuat menghadapi dua orang yang lain maka tiada berani sembarangan turun tangan merebut Badik buntung itu."

Sampai disini ia menepekur sekian saat baru melanjutkan.

"Coh Jian-jo pernah tertawan oleh kami bertiga, sayang ia berhasil melarikan diri. Dan tidak lama setelah kejadian itu Si-gwa-sam-mo sama dikurung oleh Ka-yap Cuncia di dalam Jian-hud-tong!"

"Jadi maksudmu rahasia Ni-hay-ki-tin itu sebetulnya berada di atas serangka Badik buntung itu?"

Tanya Hun Thian-hi. Kiu-yu-mo-lo manggut-manggut, sahutnya.

"Mungkin begitu. tapi kebenar-benarannya harus tanyakan langsung kepada Coh Jian-jo!"

Diam-diam Thian-hi mengutuk kejahatan Mo-bin Su-seng, meski dia sudah dibikin cacat dan dipunahkan ilmu silatnya oleh Ka-yap Cuncia, namun masih tidak mau menyerah, begitu tamak dengan segala kelicikan dan kekejamannya berusaha mendapatkan Badik buntung sehingga dunia persilatan menjadi geger dari kemelut karena perebutan Badik buntung itu, secara licik ia hendak menunggangi keuntungan dalam perebutan ini, yang diincar melulu serangkanya saja, untung dalam dua kali peristiwa perebutan itu tidak tercapai harapannya.

Teringat oleh Thian-hi akan serangka Badik buntung yang sekarang masih tersimpan di dalam kantong bajunya, ingin rasanya dikeluarkan untuk diperiksa, sebetulnya macam apakah rahasia menemukan Ni-hay-ki-tin itu, sehingga menimbulkan perebutan manusia-manusia tamak dan mengambil banyak korban.

"Mungkin kau heran, kenapa kami ingin memiliki Ni-hay-ki-tin itu bukan?"

Demikian tanya Kiuyu-mo-lo.

"Bahwasanya jarang kaum persilatan yang tahu, mereka menyangka disana terpendam harta benda yang tak ternilai harganya, sebetulnyalah disana tiada sepeserpun barang-barang berharga, yang ada hanyalah pelajaran ilmu silat yang maha lihay."

"Tapi sekarang kau telambat untuk dapat memilikinya!"

"Tidak, kukira aku masih punya harapan untuk keluar, setelah keluar aku akan langsung mencari Bu-bing Loni!"

"Anggapmu Bu-bing Loni kamu keroco? Janganlah kau lupa beliau adalah keturunan dari ilmu Hui-sim-kian-hoat dari Ngo-bi-pay!"

Kiu-yu-mo-lo menjadi tertegun, katanya.

"Kalau keturunan murid Ngo-bi-pay emangnya mau apa. Anggapmu aku tidak kuasa menempur dia?"

"Kukira kau bukan tandingannya, semestinya kau sendiri juga jelas akan hal ini. Tentu kau menghadapi kesukaran dalam berlatih Hian-thian-mo-kip bukan?"

Mendelik gusar biji mata Kiu-yu-mo-lo, desisnya.

"Darimana kau bisa tahu? Kau ...."

Mendadak ia sadar mana boleh dia membocorkan rahasia ini begitu saja sehingga Hun Thian-hi ikut mengetahui, meskipun batinnya sangat berang, tapi segera ia tutup mulutnya.

"Pelajaran Hian-thian-mo-kip tidak bakal berhasil dilatih dalam waktu singkat, jelas kau pasti menemui kesukaran, tapi sudah mendapat hasil yang lumajan, kuatir bila Tok-sim-sin-mo lolos dari belenggu dan sukar diatasi, kau ingin pula mengangkangi Ni-hay-ki-tin itu, maka terpaksa kau muncul pula di Kangouw, benar-benar tidak?"

Kiu-yu-mo-lo menyeringai dingin, katanya.

"Analisamu memang benar-benar, yang penting aku hanya ingin mencari seseorang, orang ini dapat membantu aku menyempurnakan latihan pelajaran yang termuat di dalam Hian-thian-mo-kip itu!"

Berkilat mata Hun Thian-hi, mulutnya bungkam. Kiu-yu-mo-lo menengadah memandangi pohon-pohon jati nan jauh di depan sana, suaranya lirih.

"Kau belum tahu akan kelicikan dan keganasan Tok-sim-sin-mo, dia merupakan satu pasangan dengan I-lwe-tok-kun itu, tapi daya pikirnya masih rada ketinggalan oleh kecerdikan Ilwe-tok-kun Kalau aku bisa keluar dari barisan ini tujuan yang pertama aku harus bunuh dia!"

Hun Thian-hi tersenyum geli, katanya.

"Duduk saja tenang-tenang, selama hidup ini takkan ada harapan dapat keluar!"

Kiu-yu-mo-lo menghela napas rawan, ujarnya.

"Kau kira Thay-si-ciang-soat-lian-mo-tin ini begitu gampang? Kecuali yang pasang perangkap sengaja melepas kita, kalau tidak selama hidup ini kau dan aku memang harus tetap disini, jangan harap bisa keluar!"

Melihat orang menghela napas Hun Thian-hi rada heran, Kiu-yu-mo-lo sudah mulai lemah, agaknya batinnya mulai sadar.

Terpikir olehnya bila setiap hari berada di tempat ini apalagi pikiran dan pandangan selalu tenggelam dalam khayalan, betapapun sebagai manusia biasa kita takkan kuat bertahan, justru Thay-si-ciang-soat-lian-mo-tin merupakan alat penyadar dan penggugah kesesatan yang tidaklah gampang dihadapi begitu saja!

Sambil terengah-engah Kiu-yu-mo-lo bangkit sembari menyeret Hun Thian-hi, katanya.

"Kau ikut aku, jangan mimpi untuk lari. jika kau lari, segera kubunuh kau!"

Lalu mereka beranjak ke depan, entah kemana tujuannya.

Begitulah pelan-pelan ia seret Thian-hi maju terus ke depan, entah berapa lama dan berapa jauhnya, mendadak dilihatnya di depan Sana terbentang daun-daun pohon nan subur menghijau, itulah rumpun pohon-pohon bambu yang kelihatan sangat menyolok dan menyegarkan.

Dengan kejut ia kucek2 kedua matanya, ia ragu-ragu dengan apa yang dia lihat, tapi kenyataan apa yang dia lihat ini bukan khayalan belaka, keruan bukan kepalang girang hatinya, syukurlah akhirnya toh aku bisa keluar dari kurungan pohon jati ini.

Tengah Kiu-yu-mo-lo kegirangan, mendadak terasa tangannya kesendal oleh saluran tenaga dalam yang kuat, kontan pegangan kelima jarinya terlepas, sembari menggerung gusar ia membalik tubuh, kedua telapak tangannya bersama menepuk ke arah Hun Thian-hi.

Gesit sekali Hun Thian-hi sudah menyurut mundur terus menggelinding dan menghilang di dalam rumpun daun-daun semak belukar.

Kiu-yu-mo-lo tidak berani mengejar, ia takut kehilangan kesempatan untuk keluar dari barisan, terpaksa ia mengumpat caci dan melampiaskan gusarnya dengan menghantamkan tangannya ke arah semak-semak, keadaan yang rapi dari semak pohon-pohon itu seketika menjadi porak peronda, daun berguguran.

Waktu Kiu-yu-mo-lo membalik tubuh, tampak daun-daun menghijau di depan Sana masih kelihatan, pelan-pelan ia lantas beranjak menghampiri, setelah dekat itulah serumpun hutan bambu, keluar dari hutan bambu ini dihadapannya berdiri tegak sebuah bangunan gedung berloteng, sejenak ia berdiri menjublek, pikirnya, setelah sampai disini kenapa harus takut-takut masuk kesana.

Begitulah ia maju lagi setiba diambang pintu ia mendongak tempak di atas pintu bertuliskan empat huruf besar "Thay-si-yu-king" (Alam khayalan), mencelos hatinya, setitik harapan yang bersemi dalam sanubarinya tadi seketika amblas, kabut berbondong-bondong mengepul dari tanah disekitar kakinya, lambat laun dirinya seperti dibungkus oleh kabut putih yang bergulung-gulung itu, selayang pandang melulu warna putih yang tidak berujung pangkal lagi.

Pikirannya Kiu-yu-mo-lo juga menjadi kosong dan seperti memutih sama sekali, Sekian lama ia menjublek, akhirnya meloso duduk kelelahan.

otaknya sudah berhenti bekerja.

yang terasa bahwa sang waktu selalu berhenti di dalam kejap yang sama, dunia ini terasa sepi dan hening seolah-olah tiada kehidupan lagi dimajapada ini, hatinya semakin dikili2 seperti ingin meronta, rela sudah bila aku mati saja daripada tersiksa macam ini!

Entah berapa lama, keadaan masih seperti itu, sungguh sedih dan rawan sekali batin Kiu-yumo-lo, akhirnya ia berteriak-teriak seperti orang gila sesambatan, namun yang didengar hanyalah gema suaranya sendiri dari empat penjuru.

Akhirnya ia berhenti berteriak.

dengan putus asa ia celingukan ke sekitarnya, 'aku sudah kejeblos ke dalam alam khayal yang menyesatkan pikiran.

mungkin selama hidup ini tidak akan bisa keluar lagi.' Duduk bersimpuh pikiran Kiu-yu-mo-lo sekarang mulai bekerja, tapi kalut dan berpikir secara abnormal.

Terpikir olehnya bila dia berhasil keluar pekerjaan apa yang harus dia lakukan, aku akan bunuh seluruh manusia yang tidak kusenangi, aku harus mendapatkan Ni-hay-ki-tin, menjadi jago silat nomor satu di seluruh kolong langit yang tiada tandingan, barisan macam setan yang menyesatkan ini akan kuhancur leburkan, tidak ketinggalan pencipta dari barisan gaib inipun akan kusiksa sampai mampus....

Begitulah alam pikirannya melayang-layang.

entah berapa lama ia memutar otak, kadangkadang mulutnya menggeram, tangan menepuk tanah, matanya berkilat menyapu sekelilingnya, tapi yang dilihatnya sama adalah alam keputihan yang menyilaukan pandangan matanya, akhirnya ia menghela napas.

Sekarang otaknya terasa kosong pula, yang terpikir tadi melulu hanyalah khayalan hatinya belaka.

pikiran yang tidak mungkin dicapai dan dilakukan olehnya.

Kini teringat olehnya akan waktu mudanya.

sejak ia masih bocah mengangkat guru belajar silat sampai dia kelana di Kangouw, ganti berganti pengalaman dulu terbayang dikelopak matanya, heran dia kenapa aku bisa mengenangkan masa lalu, belum pernah aku terkenang akan masa yang telah silam itu tapi masa silam yang penuh kenangan itu sekarang terbayang dalam alam pikirannya.

Hatinya mulai mengeluh dan merasa derita.

Terbayang betapa takut hatinya waktu pertama kali ia membunuh orang, dari kelakuan lurus aku semakin terperosok kejalan sesat dan menyeleweng dari ajaran guru, akhirnya malang melintang sebagai salah seorang dari Si-gwa-sam-mo yang ditakuti, perbandingan dari awal mula dan babak terakhir ini, perubahan yang begitu cepat betulbetul membuat sanubarinya merasa heran dan kejut.

Dalam Jian-hud-tong tanpa disadarjnya ia menetap lima puluh tahun lamanya, meski dalam waktu yang begitu lama selalu aku berpikir mencari akal untuk meloloskan diri untuk menuntut balas kepada Ka-yap Cuncia.

terutama waktu secara tak terduga memperoleh Hian-thian-mo-kip, angan2 untuk menuntut balas semakin membakar sanubarinya.

Tatkala itu aku bertahan untuk hidup dan hidup ini memang untuk menuntut balas, tapi bagaimana sekarang?

Entahlah aku tidak tahu lagi.

di dalam dunia kehidupan yang serba memutih ini, apa pula yang harus kutuntut untuk kubalas?

Lambat laun ia menyesal dan putus asa.

"Thay-si-ciang-soat-lianmo-tin tidaklah begitu gampang dibobol atau dipecahkan seperti dugaannya semula, keadaan yang abstrak tidak berbentuk ini, betapapun jauh lebih hebat lebih sukar dihadapi daripada belenggu rantai dari Ka-yap Cuncia. Untuk meloloskan diri harapannya sangat nihil. Kiu-yu-mo-lo menepekur lagi, pikirannya melayang kembali mengenang pengalamannya dahulu, ia duduk dengan hampa dan perasaan kosong. entah apa yang harus dilakukan, ia mandah terima nasib saja. Lambat laun ia merasa menyesal dan bertobat. perbuatannya dululah yang justru membuat dirinya sekarang menerima akibatnya ini. Dengan mendelohg ia pandang ke sekelilingnya tak berani ia kenang masa silam pula, ia menjadi sebal dan gegetun karena keadaan sekelilingnya"

Tetap sama tak pernah berubah seakan-akan sang waktu berhenti berjalan tak bergerak lagi.

Dibanding di dalam Jian-hud-tong jauh lebih sunyi dan lelap.

Tak tahan lagi ia bergegas melompat bangun, kedua telapak tangannya terayun menepuk dan menghantam serabutan ke segala penjuru, kemana angin pukulannya yang dahsyat itu menyamber keluar, sedikitpun tidak dengar desir angin atau gelombang pergerakan akibat dari pukulannya, akhirnya ia berteriak melengking putus asa, tapi gema teriakannya pun tak terdengar lagi, ia meloso duduk lemas, airmata meleleh keluar.

suaranya sendiri pun tak kuasa dikendalikan lagi.

Dengan lemas ia bersimpuh memejamkan mata, lambat laun timbul rasa sesal dalam benaknya dan rasa menyesal ini semakin besar sampai mengetuk sanubarinya, ja, sepak terjang dulu waktu masih muda harus disesalkan, batinnya mulai bertobat.

Hati kecilnya berteriak dengan kekosongan jiwa yang menggersang, sungguh ia sendiri pun tidak nyana bahwa akhirnya ia harus menyesal, terasa betapa kerdil jiwanya ini begitu bejat dan kejam serta telengas hidup jiwanya ini, suka membunuh dan selalu ingin membunuh seolah-olah jiwa manusia tidak berharga sepeserpun, membunuh manusia seperti membabat rumput layaknya.

Sebenar-benarnyalah setiap manusia sangat menghargai jiwa masing-masing.

tapi kenapa aku tidak menghargai jiwa mereka?

Karena rasa sesalnya ini sekian lama ia terlongong.

Baru sekarang ya sadar dan insaf bagaimana mungkin dirinya terjeblos ke dalam barisan penggugah iblis ini, seharusnya ia tidak punya rasa benci dan dendam, apa pula salahnya jiwaku tergugah dari kesesatan disini!

Detik demi menit berlalu, lambat laun keadaan sekitarnya terasa mulai berubah, keadaan menjadi terang benderang dan bercahaya menyegarkan hati, namun ia masih duduk tenang tak bergerak.

Dalam pada itu.

setelah luput dari pengejaran Kiu-yu-mo-lo Hun Thian-hi berhasil lari sembunyi ke dalam gerombolan semak-semak rumput tinggi, waktu ia merangkak bangun dan celingtikan tiba-tiba dari semak-semak rumput di depannya sana muncul sebuah wajah nan jelita, itulah Ham Gwat yang muncul dari balik semak-semak sana, berdiri tegak dihadapannya, dengan cermat ia pandang dirinya.

Thian-hi menjadi haru dan sangat berterima kasih, katanya melangkah mendekat.

"Kali ini nona pula yang menolong jiwaku!"

"Bukan aku melulu yang menolong kau,"

Ujar Ham Gwat pelan-pelan.

"Lo-cianpwe yang kukatakan itu ingin menemui kau, mari kau ikut aku menemui beliau!"

Tanpa bicara Hun Thian-hi ikut di belakang Ham Gwat, hatinya dirundung berbagai pikiran hatinya rada malu dan menyesal, biasanya aku selalu membanggakan dan mengagulkan kepandaian sendiri, beberapa kali kena diringkus atau tertawan oleh musuh selalu Ham Gwat yang menolong diriku.

Tak lama kemudian mereka sudah keluar dari hutan jati, Hun Thian-hi berpaling ke belakang sungguh ia hampir tidak percaya bahwa hutan jati ini adalah Thay-si-ciang-soat-lian-mo-tin yang tenar dan ditakuti di Bulim, jadi orang aneh yang ingin ditemui atas prasaran Ham Gwat ini pasti adalah Thay-si Lojin yang kenamaan di seluruh kolong langit tapi belum ada orang pernah melihat akan ujudnya.

Kalau begitu sungguh beruntung nasib Ham Gwat.

Ham Gwat membawa Thian-hi memasuki sebuah kamar batu, kata Ham Gwat.

"Silakan kau masuk sendiri menemui beliau, kutunggu kau disini!"

"Terima kasih!"

Kata Thian-hi, sejenak ia pandang Ham Gwat lalu pelan-pelan berjalan-jalan masuk.

Dalam kamar batu yang remang-remang tampak duduk bersila seorang tua.

setelah dekat baru jelas bahwa kedua kaki orang tua ini sudah buntung, kelihatannya terpotong oleh senjata tajam.

Raut wajah orang tua ini sudah penuh keriput.

namun selebar mukanya mengulum senyum manis, dia mengangguk kepada Thian-hi, segera Thian-hi berlutut dan menyembah, sapanya.

"Wanpwe Hun Thian-hi menghadap Cianpwe!"

"Lekas bangun,"

Ujar si orang tua lemah lembut, menurut kata Gwat-ji kau adalah keturunan atau ahli waris dari Wi-thian-cit-ciat-sek?"

Thian-hi manggut-manggut, sahutnya.

"Terima kasih pada Cianpwe yang telah menolong jiwaku."

Si orang tua menggoyang tangan, ujarnya.

"Kau tak usah sungkan, sebagai ahli waris "Withian-cit-ciat-sek seharusnyalah aku menolong kau, apalagi kau harus segera menyusul ke Siaulim-si bukan!"

Lalu ia melanjutkan.

"Menurut Gwat-ji kau hanya memperoleh Kiam-boh dari Withian-cit-ciat-sek itu, tapi belum mempelajarinya secara sempurna, intisari yang dalam itu?"

Hun Thian-hi manggut-manggut, sahutnya.

"Memang begitu, harap Cianpwe suka memberi petunjuk,"

Dari lubuk hatinya yang dalam timbul suara perasaan bahwa si orang tua dihadapannya ini agaknya bersikap sangat baik terhadap Ham Gwat.

kalau tidak salah mungkin punya hubungan dalam yang sangat erat.

sehingga iapun bersikap ramah dan baik terhadap aku.

tapi dari sorot matanya itu kelihatan bahwa hatinya pasti dirundung janggalan hati yang belum terlampias.

Kata pula si orang tua sembari tertawa.

"Ham Gwat bersikap baik terhadap kau, kaupun bagus, aku.... kuharap kau ingat kata-kataku ini, berlakulah baik terhadapnya, dia...."

Sampai disini ia menghela napas, lalu melanjutkar dengan suara lebih lirih.

"Bila kau tahu riwayat hidupnya. pasti kau akan merasa dan tahu bahwa hidupnya sungguh harus dikasihani!"

Hun Thian-hi terbungkam menunduk, akhirnya tak tertahan ia bertanya.

"Cianpwe tahu akan riwayat hidupnya?"

Pelan-pelan orang tua manggut-manggut, ujarnya.

"Ya, tapi dia sendiri justru tidak tahu."

Heran dan terperanjat hati Thian-hi, heran dia kenapa orang tua ini bisa tahu jelas akan riwayat hidup Ham Gwat, tapi kenapa tidak memberitahu kepadanya, entah apakah sebabnya.

Dengan seksama orang tua awasi Thian-hi, sesaat baru buka suara.

"Kaupun sudah tahu riwayat hidupnya bukan?"

Thian-hi rada sangsi, dia tidak tahu apa hubungan orang tua ini dengan Ham Gwat, namun tentu tiada maksud jahat terhadapnya, akhirnya ia manggut-manggut, sahutnya.

"Tahu sedikit."' Terpancar cahaya tegang dan rasa heran dari sinar mata si orang tua, tanyanya.

"Darimana kau ketahui? "Kudengar langsung dari penuturan ibundanya!"

Tergetar badan si orang tua, matanya semakin berkilat dan memancarkan sinar aneh, bibirnya gemetar, agaknya banyak kata-kata yang ingin diucapkan tapi urung, akhirnya ia tertunduk.

Heran Thian-hi dibuatnya, hatinya bertanya-tanya, tapi ia tutup mulut.

Berselang lama si orang tua menepekur, akhirnya ia angkat kepala dan berkata.

"Kalau begitu, banyak omongan yang perlu kuberitahu pada kau. Tapi kau harus berjanji sementara tidak memberitahu hal ini kepada Ham Gwat!"

Thian-hi menjadi ragu-ragu malah, tanyanya.

"Apakah aku perlu mengetahui hal-hal itu?"

Orang tua itupun berpikir, katanya.

"Tahukah engkau siapakah aku? Aku adalah Suheng ibundanya, juga menjadi Suheng dari Bu-bing Loni. Tapi aku banyak berbuat kesalahan terhadap ayah bundanya, agaknya Ham Gwat sudah mendapat firasat ini, dia selalu tidak mau menerima segala bantuanku, tapi kali ini demi kau dua kali ia memohon kepada aku!"

Kejut dan girang pula hati Thian-hi, sungguh tak diketahuinya akan terjadinya hal-hal itu.

Orang tua ini pasti sedang menyesali perbuatannya dulu, entahlah kesalahan besar apa yang dulu sudah dia perbuat atas diri ayah bunda Ham Gwat.

"Selama hidupku ini aku hanya sesalkan perbuatanku itu,"

Demikian tutur si orang tua.

"Tapi kesalahanku itu selama hidup ini mungkin takkan mungkin dapat kutebus lagi."

Ia menghela napas rawan.

"Tahu bersalah dapat mengubahnya itulah perbuatan seorang susilawan, kenapa pula harus berkeluh kesah, cobalah kau lakukan segala sesuatunya yang kau pandang baik demi perikemanusiaan, mungkin Segala perbuatan dharma bhaktimu itu akan menebus segala dosa2 yang lalu. Kau belum lagi pernah melaksanakan darimana kau bisa tahu bahwa kesalahanmu takkan dapat ditebus"

Orang tua itu manggut-manggut, ujarnya.

"Kau sudah pernah ketemu ibunya, kau harus tahu yang mencelakai ibunya adalah Bu-bing Loni, tapi algojonya adalah aku. Aku pernah sirik dan menjelusi ayahnya, sehingga aku melakukan segala perbuatan tercela yang tidak mungkin dapat kusesali pula selama hidup ini, aku ingin menyesal dan sesalanku itu harus kutebus pada diri Ham Gwat, namun dia selalu menampik secara halus segala bantuanku!"

"Tapi yang jelas akhirnya kau sudah menyesal bukan?"

Tanya Hun Thian-hi prihatin. Orang tua tertawa tawar, kepalanya menengadah matanya mengawasi jauh ke depan, sesaat baru bersuara.

"Akhirnya! Akhirnya Bu-bing membacok buntung kedua kakiku ini, mempunahkan seluruh ilmu silatku lagi, tatkala itu baru aku sadar, baru aku merasa menyesal setelah kasep. Untung Thay-si Locin sudi menerima aku sebagai muridnya, setelah beliau wafat aku lantas berdiam disini mengurus dam menjaga Thay-si-ciang-soat-lian-mo-tin ini!"

"Tidak terlambat, belum terlambat, kau sudah pernah menyesal, maka sesalanmu itu belum lagi terlambat, ketahuilah bahwa kesadaran dari sesal itu selamanya tidak mengenal terlambat."

Tanya si orang tua ragu-ragu.

"Dimanakah ibunda Ham Gwat sekarang? Bagaimana keadaannya?"

"Beliau sekarang baik-baik, dia tidak akan menyalahkan kau!"

Jawab Thian-hi tersenyum. Si orang tua terduduk, akhirnya dia berkata tertawa.

"Seumpama dia tidak mau memberi ampun padaku, akupun harus bertobat kepadanya, aku harus menerima segala hukuman karena dosa2ku itu!"

Kembali mereka tenggelam dalam alam pikiran masing-masing, sesaat lamanya tak bicara.

"Tak lama lagi kau harus segera menyusul ke Siau-lim-si,"

Demikian ujar si orang tua membuka kesunyian.

"Sudah tentu, disana kau memerlukan tenagamu sendiri untuk menyelesaikan segala pertikaian. Wi-thian-cit-ciat-sek belum kau sempurnakan, aku sendiri tiada mampu membantu kau, cobalah kau gembleng dan kau latih sendiri menurut praktek. Tapi perlu kuberitahu pada kau, sudah ratusan tahun lamanya Wi-thian-cit-ciat-sek malang melintang di dunia persilatan, dia melulu hanya sejurus saja, kau harus ingat, sejurus, hanya sejurus saja!"

Bercekat sanubari Thian-hi, maka permainan Wi-thian-cit-ciat-sek secepat kilat lantas terbayang dalam kelopak matanya, memang melulu hanya sejurus dengan tujuh kembangan yang penuh variasi yang sulit diraba, menggunakan dasar Lwekang tinggi, serta gerak ilmu pedang yang lihay tiada taranya, dalam sekejap kilasan mata beruntun melancarkan tujuh gerak kembangan jurus pedangnya.

Otaknya timbul tenggelam membayangkan serentetan ilmu yang sudah menghayati batinnya.

Betapa girang hatinya, jika bisa terlaksana seperti yang terbayang dalam angan2nya ini mungkin gerak pedang yang digdaya, ini takkan ada lawannya dikolong langit ini.

Tersipu-sipu ia menyembah serta berseru kegirangau.

"Terima kasih akan petunjuk Cianpwe!"

"Tak perlu sungkan-sungkan,"

Ujar si orang tua tertawa.

"apa yang kujelaskan tadi kudapat baca dari catatan peninggalan Thay-si Locin, sayang ilmu silatku sendiri sudah punah!"

Mulut Thian-hi mengiakan lirih, ia rada kejut, sangkanya sebagai murid Thay-si Lojin tentu ilmu silatnya lihay luar biasa, siapa nyana beliau ternyata. tak bisa main silat.

"Sekarang kau boleh keluar, Ham Gwat tentu sedang tunggu kau diluar pintu."

Thian-hi maklum segera ia bangkit dan mohon diri lalu keluar dari kamar batu. Benar-benar juga Ham Gwat sedang menunggu dirinya diluar, begitu melihat Thian-hi keluar segera ia bertanya.

"Kau kembali dulu mengobati luka-lukamu, setelah sembuh segera menyusul ke Siongsan!"

Thian-hi mengiakan sambil menyatakan terima kasih.

Ham Gwat berdiri menanti sambil mengawasinya tajam, entah mengapa Thian-hi tak berani adu pandang, cepat ia menunduk menghindari pandangan orang.

Terpancar sinar aneh dari biji mata Ham Gwat, kelihatan sorot matanya itu rada mengandung kekecewaan, akhirnya mulutnya berkata lirih.

"Tak perlu sungkan, kau pun pernah menolong aku!"

Terketuk sanubari Thian-hi, iapun merasakan kemana juntrungan pandangan Ham Gwat tadi, ia dapat membayangkan apa yang sedang berpikir dalam benak Ham Gwat, tapi bisakah aku memberitahu kepadanya?

Tak lama kemudian ia sudah berada di kamar batunya, Ham Gwat berdiri sebentar lalu pamit dan meninggalkannya.

Perasaan Thian-hi menjadi hambar, duduk bersimpuh pelan-pelan ia kerahkan Pan-yok-hiankang untuk mengobati luka-luka dalamnya.

Sekejap saja tiga hari telah berlalu, kesehatan Hun Thian-hi sudah pulih sebagian besar, selama tiga hari ini Ham Gwat entah kemana tidak pernah muncul menemui dirinya, mungkin ada keperluan menempuh perjalanan ke tempat yang jauh.

Thian-hi tanya pada Siau Hong, kelihatannya Siau Hong rada berat menerangkan, katanya Ham Gwat sudah berpesan supaya dia tidak banyak bicara soal dirinya.

Fajar telah menyingsing, sang surya menyinarkan semarak merah bercahaya.

Waktu Hun Thian-hi bangun tidur, datanglah Siau Hong ke dalam kamarnya, kiranya ia sudah mempersiapkan hidangan, Setelah makan sekadarnya Thian-hi berkata.

"Siau Hong, aku ingin hari ini juga berangkat. ingin aku ketemu Siociamu untuk nyatakan terima kasihku padanya!"

Siau Hong tertawa, ujarnya.

"Siocia sudah tahu, beliau suruh aku memberitahu pada kau tak usah banyak sungkan lagi, Kim-ji (burung rajawali) sudah menunggu di depan pintu. kau naik burung menuju ke Siong-san, kelak masih ada kesempatan bertemu!"

Hun Thian-hi terlongong, mulutnya sudah terbuka tapi tak kuasa berbicara. Kata Siau Hong pula.

"Sudah jangan melamun, kata-kata Siocio tidak akan salah."

Mendelu rasa hati Thian-hi, pikirnya; kenapa Ham Gwat berlaku demikian terhadap diriku, si orang tua itu mengatakan bahwa dia sangat baik terhadapku.

memang sikap dan lakunya sangat baik terhadap aku, namun kenapa ia menghindari pertemuan dengan aku, sebelum aku berangkat untuk meninggalkan dia kenapa tidak mau datang, mungkinkah ada suatu persoalan yang tidak disenangi akan diriku?

Demikian hatinya mereka-reka, akhirnya ia tertunduk.

Melihat keadaan Thian-hi berkilat biji mata Siau Hong, matanya melirik keluar lalu pelan-pelan maju mendekat dan katanya lirih.

"Bodoh. Kelakuan Siocia ini adalah demi kebaikanmu, hayo berangkat, jangan melamun lagi!"

Tergetar sanubari Thian-hi, dengan kaget ia angkat kepala mengawasi Siau Hong.

Siau Hong kegelian menutup mulut terus berlari keluar.

Thian-hi menjublek lagi ditempatnya, dia masih belum paham kemana maksud juntrungan katakata Siau Hong tadi, tapi ia percaya bahwa Siau Hong tidak akan ngapusi dirinya, akhirnya bergegas ia memburu keluar, terpikir olehnya Kim-ji pernah memancing Bu-bing Loni sehingga terluka parah oleh pedangnya, sekarang aku harus meniliknya dan melihat bagaimana keadaan sebenar-benarnya.

Diambang pintu kamar batu.

Benar-benar juga berdiri seekor burung rajawali besar.

Tingginya melebihi badan manusia, matanya merah berkilat, lehernya berkilau mas membundar, sekilas pandang perawakannya memang sangat angker dan gagah.

Melihat Thian-hi sudah keluar segera Siau Hong berlari datang, serunya.

"Coba kau lihat, bagaimana Kim-ji ini?"

"Sangat gagah dan kereng, seperti seorang jendral saja layaknya!"

Siau Hong senang dan tertawa geli, dengan tangannya ia peluk leher burung rajawali serta katanya.

"inilah orang yang tempo hari kau tolong itu, dia adalah sahabat karib Siocia kami, bawalah dia pergi ke Siong-san!"

Rajawali itu berpaling dan memandang tajam kepada Hun Thian-hi, mulutnya bersuara rendah.

Siau Hong menggerakkan tangan minta Hun Thian-hi maju mendekat, dengan tertawa ia berkata sambil mengelus-elus bulu leher sang burung.

"Terima kasih akan pertolonganmu kepadaku tempo hari!"

Burung itu berpekik keras sekali lalu manggut-manggut.

kedua sayapnya dipentang lebar.

Terlihat oleh Thian-hi sepasang sayap burung itu terbentang ada dua tombak lebih, diam-diam ia kejut dan girang.

Kata Siau Hong.

"Dia minta kau lekas naik, cepatlah kau berangkat saja."

Setelah berada dipunggung burung rajawaJi, Thian-hi mengapai tangan kepada Siau Hong serunya.

"Selamat bertemu!"

Bab 22 Siau Hong membalas lambaian tangan. serunya.

"Berangkatlah, mungkin bersama Siocia kami juga akan menyusul kesana, hati-hatilah kau, Tok-sim-sin-mo sangat jahat."

Thian-hi manggut-manggut, sementara itu burung rajawali sudah mengembangkan sayapnya terus melambung ke tengah udara, sebentar saja mereka sudah berada ditengah angkasa menuju ke Siong-san.

Ooo)*(ooO Senjakala tiba, Thian-hi pun tiba di Siong-san, burung rajawali segera menukik turun dan hinggap di atas puncak yang berdekatan.

Setelah turun dan menginjak tanah Thian-hi menepuk leher Kim-ji serta berkata.

"Kim-ji! Silakan kau pulang, sampaikan salam hormat dan terima kasih pada majikanmu!"

Kim-ji berbunyi sekali sambii manggut-manggut terus terbang kembali dan menghilang.

Setelah Kim-ji tidak kelihatan lagi, Thian-hi celingukan memandang sekitarnya, lalu pelan-pelan ia menuju ke Siau-lim-si.

Tempo hari ia pernah ikut Hwesio jenaka kemari tapi diwaktu malam.

keadaan disini tidak diingat terlalu jelas, maka sekarang dia harus main selidik dan celingukan mencari jalan lalu pelan-pelan menuju ke Siau-lim-si.

*** Setelah melompati pagar tembok Hun Thian-hi melesat naik sembunyi di atas puncak pohon, dengan ke jelian matanya ia mengawasi keempat penjuru, rada jauh di depan sana terdapat sebidang hutan bambu, tergerak hati Thian-hi, pikirnya.

"Bukankah disana tempat tinggal Thiancwan Taysu? Thian-hi berlaku sangat hati-hati, setelah melihat sekelilingnya sunyi sepi tanpa ayal segera ia melesat ke arah hutan bambu sana, karena sekelilingnya tidak terjaga, maka tubuhnya seenteng burung langsung meluncur tiba dan hinggap di atas pucuk sebatang bambu. Waktu ia menunduk memandang kebawah, tampak olehnya seorang Hwesio tengah duduk bersimpuh berhadapan dengan seorang tua bermata putih kemilau, itulah Thian-cwan Taysu dan Tok-sim-sin-mo dua orang. Terdengar Tok-sim-sin-mo sedang berkata pada Than-cwan Taysu.

"Hun Thian-hi segera bakal tiba. Sangat kebetulan kedatangannya, sekaligus aku bisa menumpasnya bersama Siau-lim kalian."

Lalu ia terkekeh-kekeh dingin. Thian-cwan Taysu pejamkan mata, sesaat baru bicara.

"Mungkin tidak begitu gampang, kunasehati pada kau supaya cepat merubah haluan dan lakukan perhitungan lain, ketahuilah Ilwe-tok-kun dia tidak akan membiarkan cita-citamu ini terlaksana seenak udelmu sendiri."

Tok-sim-sin-mo menjengek hidung, ancamnya.

"Bila dia berani masuk ke Tionggoan, mungkin datangnya hidup tapi takkan dapat pulang dengan jiwa masih hidup ke Thian-lam."

Thian-cwan duduk tenang tak menghiraukan dia lagi.

Dengan pandangan dingin berkilat Tok-sim-sin-mo pandang Thian-cwan Taysu lekat-lekat, sekonyong-konyong ia menengadah menyapu pandang ke pucuk bambu.

Berdetak jantung Thian-hi, pikirnya.

"Hati-hati jangan sampai konangan olehnya!"

Ia menahan napas, otaknya harus bekerja cepat mencari cara untuk bertindak nanti.

Tok-sim-sin-mo menunduk lagi.

Hun Thian-hi celingukan ke sekelilingnya, tak terlihat sebuah bayangan orangpun, sebuah pikiran mendadak berkelebat dalam benaknya.

"Dalam keadaan sekarang ini, Tok-sim-sin-mo hanya. seorang diri, kenapa aku tidak turun saja berhadapan secara langsung? Dengan kekuatan dua orang untuk membekuk Tok-sim-sin-mo rasanya segampang membalikkan telapak tangan!"

Karena dilandasi pikirannya ini, segera tubuhnya melejit maju lalu melayang turun dengan ringan ke bawah.

Begitu mendengar kesiur angin lambaian baju Hun Thian-hi, sebat sekali kelihatan Tok-sim-sinmo melejit mundur dua tombak, sepasang matanya berkilat mengawasi Hun Thian-hi.

Terpancar rasa heran yang aneh dari sorot matanya itu.

Begitu hinggap di tanah Hun Thian-hi tersenyum simpul, ia celingukan ke kanan kiri lalu maju dua langkah di hadapan Thian-cwan serta memberi hormat membungkuk badan.

"Wanpwe Hun Thian-hi menghadap pada Taysu!"

Thian-cwan Taysu juga membuka mata mengawasi dirinya dengan heran, katanya.

"Hun-sicu apakah baik selama berpisah ini?"

"Terima kasih akan perhatian Taysu. Kudengar katanya Tok-sim-sin-mo berada disini maka Wanpwe juga menyusulnya kemari!"

Dengan sikap dingin mulut Tok-sim-sin-mo mengulum seringai sadis, katanya.

"Ternyata kau berani datang seorang diri. Besar benar-benar nyalimu!"

Hun Thian-hi berpaling memandang ke arah Tok-sim-sin-mo sekejap lalu berkata pula kepada Thian-cwan Taysu.

"Taysu! Tok-sim-sin-mo si durjana ini jangan diberi pengampunan lagi.... kenapa tidak dilenyapkan saja!"

Thian-cwan Taysu menghela napas panjang, tak bicara. Tok-sim-sin-mo tertawa panjang, serunya.

"Kau ingin mengeroyok aku bersama dia bukan? Kalau begitu salah besar perhitunganmu, ketahuilah ilmu silatnya sudah punah sejak lama!"

Tersentak jantung Hun Thian-hi. Terdengar Tok-sim-sin-mo menjengek pula.

"Kedatanganmu hari ini justru menempuh jalan kematian!"

Baru habis ucapannya seekor burung dara melayang turun dari angkasa terus hinggap di tangan Tok-sim-sin-mo.

Berubah air muka Tok-sim-sin-mo, dari kaki burung ia mengambil selarik surat terus dibaca, tampak berubah hebat air mukanya, desisnya dengan mata mendelik.

"Kiranya begitu, jadi kau sudah berserikat bersama I-lwe-tok-kun."

Timbul rasa heran dalam benak Thian-hi, kenapa Tok-sim-sin-mo mengajukan pertanyaannya ini, sepintas lalu pikirannya bekerja, lantas ia menjadi paham.

"Mungkin Ang-hwat-lo-mo dan Ilwe-tok-kun sudah meluruk bersama ke Tionggoan, dan mungkin juga sedang menempuh perjalanan kesini sehingga dia menuduh diriku punya intrik dengan mereka."

Tengah mereka bersitegang leher berdiri diam berhadapan, sekonyong-konyong sesosok bayangan merah melambung datang memasuki gerombol hutam bambu, begitu hinggap di tanah baru kelihatan jelas, itulah Ang-hwat-lo-mo adanya.

Di belakangnya menguntit seorang tua bertubuh kecil kurus.

Begitu hinggap di tanah mereka berpaling ke kanan kiri, akhirnya pandangan Ang-hwat-lo-mo berhenti pada tubuh Hun Thian-hi.

Dari belakang dibalik rumpun bambu sana terdengar derap lirih orang banyak.

tampak Bingtiong-mo-tho Su-kong Ko dan Lam-bing-it-hiong Siang Bu-wong dan lain-lain beranjak masuk.

Ada dua diantaranya tidak dikenal oleh Thian-hi.

Mereka berdiri siap siaga.

Terdengar Ang-hwat-lo-mo berkakakan dua kali sikapnya sangat congkak, setelah berpaling ke arah Thian-cwan Taysu ia bicara pada Hun Thian-hi.

"Berani kau tidak menyusul ke Thian-lam. Ketahuilah gurumu Lam-siau Kongsun Hong sudah berada di tempat kediamanku, kenapa kau tidak mau datang?"

Tok-sim-sin-mo tertawa lebar, jengeknya dingin kepada Ang-hwat-lo-mo.

"Tak kunyana kau bisa datang begitu cepat!"

"Benar-benar aku telah datang, dan hanya membawa Seorang sahabat belaka."

Sambung Anghwa-lo-mo dengan sombong sambil menunjuk orang kate di belakangnya, serunya pula.

"Mari kuperkenalKan, inilah Ting-hou-it-koay Lenghou Khek!"

Thian-hi mengamati si orang tua kate, dalam hati ia berkata.

"Kiranya orang ini adalah ayah Kim-i Kongcu yang kubunuh Sing-hou-it-koay, entah mengapa selama ini dia tidak meluruk mencari diriku."

Tok-sim-sin-mo mandah tersenyum ejek, tanpa bicara ia maju menghampiri kehadapan Thiancwan Taysu terus duduk.

Ang-hwat-lo-mo juga tertawa-tawa, dengan ulapan tangan ia mempersilakan Sing-hou-it-koay duduk, sedang dia sendiri juga lantas duduk.

Melihat Tok-sim-sin-mo tetap berdiam diri akhirnya Ang-hwat-lo-mo bergelak tawa.

serunya.

"Bagaimana! Apakah si tua dari Si-gwa-sam-mo menjadi gentar dan ketakutan terhadap diriku?" -ia bergelak tawa pula!"

Tok-sim-sin-mo masih menyeringai iblis saja tanpa memberi reaksi.

Sungguh hatinya murka sekali akan sikap takabur Ang-hwat-lo-mo, namun ia punya perhitungan dalam situasi seperti sekarang ia harus bertindak hati-hati.

terpaksa bersabar ulur waktu dan mencari jalan yang lebih mantap dan matang.

Menghadapi sikap tenang Tok-sim-sin-mo rada kejut perasaan Ang-hwat-lo-mo, bila Tok-simsin-mo mengumbar nafsu amarahnya, dia akan merasa terhibur dan senang malah, karena itu menandakan bahwa pihak lawan tiada persiapan.

tapi sekarang Tok-sim-sin-mo bersikap diam menanti dan tidak banyak bicara.

terang kalau punya persiapan yang sudah matang, jangan karena urusan kecil melalaikan tugas besar?

Demikian pedoman kerja pihak lawan.

Maka dengan cermat ia menyelidik keadaan empat penjuru, tapi tiada persiapan apa-apa.

Sekonyong-konyong tampak pula berkelebat dua sosok bayangan hitam yang melesat masuk ke dalam hutan bambu ini.

waktu Thian-hi angkat kepala yang datang ini kiranya adalah salah seorang dari Tiang-pek-siang-ki yaitu Ciang-ho-it-koay Cukat Tam, seorang yang lain laki-laki tua beruban yang mengenakan juhah kuning.

Ang-hwat-lo-mo terbahak-bahak.

serunya.

"Sungguh hari ini sangat beruntung. Tiang-peksiang-ki sudi berkunjung datang bersama, hari ini Siau-lim-si bakal menjadi tempat kumpulan tokoh-tokoh kosen yang cukup ramai dan menyenangkan!" -kelihatan betapa rasa girang hatinya melihat kedatangan kedua orang tokoh dari Tiang-pek-san ini, entah apa tujuan kedatangan kedua orang ini? Menghadapi dirinya atau mencari perkara kepada Tok-sim-sin-mo? Tanpa merasa Hun Thian-hi melirik lebih tajam ke arah orang tua berjubah kuning, kiranya orang tua ini bukan lain adalah Ce-han-it-ki, It-ki dan It-koay sama muncul di tempat ini, entah apa tujuannya. Melayangkan pandangan matanya Ce-han-it-ki membuka suara.

"Kedatangan kami hanya ingin ikut menyelesaikan perkara di Siau-lim-si sini, tentu Tok-sim-sin-mo sudah berada disini bukan?"

Sementara itu Ciang-ho-it-koay juga sudah melihat kehadiran Hun Thian-hi.

mulutnya menggerung gusar, matanya mendelik besar ke arah Thian-hi.

mukanya diliputi hawa membunuh.

dengan lirikan tajam iapun melerok ke arah Ang-hwat-lo-mo.

Tok-sim-sin-mo masih tetap bersikap tenang tanpa peduli percakapan dan kedatangan lain orang.

Adalah Ang-hwat-lo-mo yang bersorak dalam hati begitu mendengar Ce-han-it-ki hendak mencari Tok-sim-sin-mo, musuh yang utama justru adalah ToK-sim-sin-mo, maka segera ia bersuara menuding kepada Tok-Sim-sin-mo.

"Tuan inilah tertua dari Si-gwa-sam-mo itu."

Dengan cermat Ce-han-it-ki mengawasi Tok-sim-sin-mo. mulutnya terkancing tak bersuara.

"Bocah keparat!"

Seru Ciang-ho-it-koay kepada Hun Thian-hi.

"Panjang benar-benar nyawamu, belum mampus kau ya! Hari ini aku tidak akan memberi ampun lagi pada kau. setelah urusan disini selesai, kuharap kau jangan lari" -Lalu ia berpaling ke arah Ang-hwat-lo-mo dan sambungnya.

"Demikian juga kau!"

Melihat sikap Tok-sim-sin-mo yang jumawa itu mendengus berang Ce-han-it-ki, kakinya beranjak menghampiri ke belakang Tok-sim-sin-mo.

Dengan gaya tetap duduk bersila mendadak tubuh Tok-sim-sin-mo mencelat naik ke tengah udara, berhenti sebentar seperti mengembang lalu terbang berputar setengah lingkaran, menghindar diri bila Ce-han-it-ki menyergap dari belakang.

Keruan seluruh hadirin melengak dibuatnya, betapa mereka takkan terkejut melihat pertunjukan Cin-kang Leng-kong-pau-si maha lihay dan menakjubkan itu, seluruh hadirin adalah tokoh-tokoh kosen yang bisa juga mempertunjukan Ginkang macam begitu, sulitnya untuk berhenti mengembang sebentar ditengah udara itulah yang tiada seorangpun mampu melaksanakan, bukanlah tidak beralasan bila mereka sama terkejut.

Dari luar lantas berkelebat masuk pula sebuah bayangan orang, yang datang ini adalah Pek Sikiat.

Begitu tiba sepasang matanya segera menyapu selidik keseluruh gelanggang, melihat Hun Thian-hi juga sudah hadir, kelihatan ia rada terkejut.

Melihat Pek Si-kiat juga datang sungguh girang Thian-hi bukar main, pihak sendiri terhitung tambah seorang tenaga yang sangat dapat diandalkan.

segera ia memburu maju serta menyapa.

"Paman Pek, kau baik!"

Pek Si-kiat manggut-manggut. sahutnya.

"Sungguh tidak nyana kaupun sudah tiba, aku bergegas menyusul kemari dari barat daya. sangkaku bisa datang lebih cepat dari kedatanganmu, siapa duga aku terlambat satu tindak!"

Ce-han-it-ki dan Ciang-ho-it-koay rada asing terhadap masing-masing Pek Si-kiat dan Tok-simsin-mo, dengan penuh rasa curiga dan tanda tanya mereka awasi dua orang tokoh dari Si-gwa-jimo bergaantian.

mereka tidak tahu akan hubungan dua orang ini.

Melihat kehadiran Pek Si-kiat, Tok-sim-sin-mo bangkit berdiri, serunya kalem.

"Memang kedatanganmu sedang kutunggu!"

"Masih ada aku seorang lagi!"

Terdengar orang berkata dingin dari luar hutan dalam kejap lain ia sudah meluncur turun dan hinggap di tanah.

Pendatang baru ini bukan lain adalah Situa Pelita.

Thian-hi kaget dibuatnya, kenapa hari ini seluruh tokoh-tokoh lihay sama meluruk datang.

Situa Pelita mendelik dan berludah ke arah Ang-hwat-lo-mo, pelan-pelan ia memutar tubuh lalu berkata kepada Tok-sim-sin-mo.

"Kau memaksa dan menindas seluruh golongan dan aliran persilatan di Tionggoan menutup pintu dan menyimpan pedang, sekarang kau pun main kekerasan pula terhadap Siau-lim, selama kaum gagah masih hidup jangan harap kau dapat melaksanakan angan2 gilamu, seluruh kaum persilatan akan bangkit dan menumpas kau. Sebentar lagi Ce-hun dan Hoan-hu juga akan meluruk kemari untuk membuat perhitungan pada kau, jangan kau takabur dan bersimaharaja disini!"

Tok-sim-sim-mo memicingkan mata, dengan mengejek dingin ia pandang Situa Pelita, bentaknya.

"Besar benar-benar bualanmu, siapa kau?"

Malu dan murka pula hati Situa Pelita, di hadapan sekian banyak tokoh-tokoh kosen Tok-simsin-mo bersikap begitu merendahkan terhadap dirinya, sambil membanting kaki ia menggerung gusar. serunya.

"Kau dibekap lima puluh tahun oleh Ka-yap Cuncia, sudah tentu kau tidak kenal aku."

Pelan-pelan Tok-sim-sin-mo duduk kembali, katanya kalem.

"Kalau begitu, kunanti setelah bantuan kalian datang semua baru bicara lagi!"

Situa Pelita mengalihkan pandangan matanya yang berapi-api ke arah Ang-hwat-lo-mo. Ce-han-it-ki berpaling ke arah Cukat Tam, ujarnya.

"Begitupun baik!"

Bersama Cukat Tam mereka duduk berendeng. Baru sekarang Thian-cwan Taysu membuka mata, dengan pandangan kalem ia awasi seluruh hadirin satu persatu, akhirnya ia menghela napas panjang.

"Kenapa Taysu menghela napas!"

Tanya Situa Pelita. Thian-cwan Taysu menunduk, sesaat kemudian baru bicara.

"Jalan suci cukup panjang, akal iblis harus dijaga, para sicu harus hati-hati, janganlah sampai diperalat oleh musuh."

Thian-hi pun merasakan akan situasi yang terpecah belah diantara sekian banyak hadirin ini, hati masing-masing punya rasa permusuhan terhadap yang lain, terutama Ciang-ho-it-koay dan si Tua Pelita punya pertikaian sama dirinya, entah apa yang bakal mereka lakukan terhadap dirinya sebelum Ce-hun dan Hoan-hu keburu datang, demikian juga rasa permusuhan mereka terhadap Ang-hwat-lo-mo.

Terdengar Ang-hwat-lo-mo tertawa besar, serunya.

"Harap kutanya pada kalian, apa tujuan kita kemari?"

Bagi golongan putih semua sama pasang kuping dan meningkatkan kewaspadaan mendengar pertanyaannya itu, mereka gentar dan rada jeri menghadapi iblis ini, semua orang tahu bahwa orang ini adalah iblis laknat yang harus ditumpas dari percaturan hidup manusia, entah mengapa hari ini mendadak mengajukan pertanyaan ini?

Entah apa tujuannya!

Thian-cwan Taysu menanggapi dengan helaan napas panjang lagi, matanya dipejamkan.

Kata Ang-hwat-lo-mo pula.

"Kita jangan mengulur waktu lagi, dosa2 Tok-sim-sin-mo tidak terampun lagi, demikian juga aku punya pertikaian terhadap kalian, tapi kenapa sekarang harus persoalkan pertikaian kecil ini, yang penting kita harus bersatu lebih dulu menumpas kelaknatan sepak terjang Tok-sim-sin-mo, soal urusan kita marilah kesampingkan dulu!"

Mendengar propokasi ini Tok-sim-sin-mo tidak bisa tinggal diam, segera iapun menimbrung.

"Kau sangka aku gentar terhadap kalian semua!"

Lalu ia mendengus, pelan-pelan bangkit sambil mendelik ke arah seluruh hadirin. Hati Ciang-ho-it-koay menjadi jeri, serunya.

"Kalau begitu mari kita sama-sama menumpas Toksim-sin-mo lebih dulu!"

Situasi menjadi tegang, semua orang saling pandang.

Hun Thian-hi dan Pek Si-kiat mundur ke samping, mereka insaf bahwa Tok-sim-sin-mo bukanlah kaum keroco yang mudah ditundukkan.

Terutama senjata Pek-tok-hek-liong-tingnya itu sulitlah dihadapi, mana boleh bertindak begitu ceroboh.

Tok-sim-sin-mo menyeringai sadis, sambil tertawa sinis ia pandang Thian-hi berdua lalu melambaikan tangau.

serunya.

"Kalian sudahkah pernah dengar nama Pek-tok-hek-liong-ting?"

Seiring dengan ucapannya ini dari empat penjuru segera terpancang puluhan laras Pek-tok-hekliong-ting ke arah seluruh hadirin.

Keruan berubah pucat muka seluruh hadirin, mereka adalah tokoh-tokoh tingkat tinggi adalah mustahil bila tidak mengenal asal usul kehebatan Pek-tok-hek-liong-ting.

Tok-sim-sin-mo menyeringai lagi.

ujarnya.

"Kalian sendiri agaknya sudah bosan hidup, janganlah salahkan aku bila aku turun tangan kejam pada kalian. Tapi aku tidak akan turun tangan sekarang, tadi kudengar Ce-hun dan Hoan-hu juga akan datang, baiklah aku tunggu kedatangan mereka baru bekerja!"

Baca Juga: Pedang Awan Merah Kho Ping Hoo

Baca Juga: Sepasang Garuda Putih 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert