Ceritasilat Novel Online

Badik Buntung 5

Eps 5 Badik Buntung - GKH

Baca online Badik Buntung - GKH

Cersil Badik Buntung - GKH.

Desak Kiu-yu-mo-lo dengan sinis.

"Kau tidak perlu urus soal ini, itu adalah urusanku sendiri."

Senggak Sutouw Ci-ko gemas. Kiu-yu-mo-lo terkekeh-kekeh dingin, ejeknya.

"Sekarang kau pikirkan dia. juga tak berguna, dia tentu sudah mampus, jenazahnya saja kau tak mampu melihat dan menemukan lagi. Maka turutlah nasehatku, kelak aku akan bantu kau menuntut balas, kalau tidak, huh, aku kuatir jiwamu sendiripun kau tak mampu menjaganya."

Sutouw Ci-ko tertawa tawar acuh tak acuh, diam-diam ia tengah terpekur apakah perlu ia harus menggantungkan mati hidup dirinya kepada keselamatan Hun Thian-hi.

Terdengar Kiu-yu-mo-lo mendengus dan berkata.

"Mari melanjutkan perjalanan lagi!"

Tanpa menanti Sutouw Ci-ko membuka suara, sekali jinjing terus dikempitnya dibawa lari bagai terbang.

Tanpa terasa tiga hari telah berlalu, dengan menjinjing tubuh Sutouw Ci-ko, hari itu Kiu-yu-molo sudah tiba di pesisir danau kaca terbang, keadaan Hui-king-ouw hening tentram, di pinggir danau tumbuh sebarisan pohon-pohon bunga Bwe yang rindang, di sebelah timur dan barat kedua tepi danau tampak dibangun sebuah gubuk dari anyaman daun-daun welingi.

Sampai disini baru Kiu-yu-mo-lo merasa lega dan menghela napas panjang, setelah menurunkan Sutouw Ci-ko ia berkata.

"Sudah tiba di Hwi-king-ouw, dimana tempat buah ajaib, lekas bawa aku kesana!"

Dari kejauhan Sutouw Ci-ko mendelong mengawasi gubuk sebelah timur, hatinya kebat-kebit dan segan, meski sejak kecil ia dibesarkan oleh gurunya, namun betapapun ia sudah diusir dari perguruan, apakah ada muka ia menemui gurunya lagi.

"Ajo, lekas!"

Desak Kiu-yu-mo-lo gegetun.

Sesaat Sutouw Ci-ko menjadi sangsi, teringat olehnya kata-kata Hun Thian-hi terhadap dirinya tempo hari, tanpa merasa pelan-pelan ia menggerakkan langkahnya menuju ke arah gubuk itu.

Melihat Sutouw Ci-ko menuju ke arah gubuk itu, timbul rasa curiga Kiu-yu-mo-lo, tanyanya.

"Kemana kau!"

"Gubuk itu adalah tempat tinggalku, sudah lama aku berdiam disana."

"Maksudmu kau tinggal dalam gubuk itu menjaga buah ajaib itu?"

Dengan sangsi Sutouw Ci-ko manggut, kakinya melangkah terus.

Orang yang tinggal dalam gubuk sudah mendengar percakapan dan kedatangan mereka, tampak pintu terbuka keluarlah seorang perempuan pertengahan umur, begitu melihat Sutouw Ciko berubah air mukanya, putar tubuh terus masuk ke dalam gubuk lagi.

Melihat gelagat yang ganjil ini Kiu-yu-mo-lo menyeringai dingin, tanyanya.

"Siapa dia? Akal busuk apa yang tengah kau rancang?"

Sekilas tadi Sutouw Ci-ko sudah melihat gurunya Pek-bwe Siancu Tang Siau-hong, namun gurunya tak mau peduli lagi pada dirinya, saking duka air mata mengembeng di kelopak matanya, otak menjadi bebal sehingga ia tidak hiraukan pertanyaan Kiu-yu-mo-lo.

"Jangan kau main gila dengan aku,"

Demikian kata Kiu-yu-mo-lo.

"aku tidak gampang bisa kau tipu!" -lalu sebelah tangannya mencengkeram jalan darah di pundak kiri Sutouw Ci-ko, katanya pula.

"Selama ini aku tidak membuat kau menderita, ketahuilah belum pernah selama hidup aku memberi kelonggaran kepada tawananku." -lalu ia terkekeh-kekeh begitu kelima jarinya mencengkeram semakin keras, seketika Sutouw Ci-ko rasakan seluruh badan lemas lunglai tak bertenaga lagi, tanpa kuasa ia meloso roboh di tanah. Pintu gubuk terbuka lagi, tampak Pet-bwe Siancu dengan muka merengut membesi dingin membentak seraya menuding.

"Hentikan! Siapa bernyali besar berani bertingkah di danau kaca terbang!"

Kiu-yu-mo-lo terkial-kial dingin, tangannya melepas Sutouw Ci-ko, tiba-tiba tubuhnya melejit terbang secepat kilat tahu-tahu sudah berada dihadapan Tang Siau-hong, sembari menyeringai dingin ia mendesis.

"Lima puluh tahun aku tidak muncul di Kangouw, kiranya tiada seorangpun yang kenal lagi kepada aku."

Sebenar-benarnya Tang Siau-hong tahu siapakah sebetulnya Kiu-yu-mo-lo itu, serta melihat keadaan Sutouw Ci-ko yang mengenaskan rebah di tanah, hatinya menjadi gusar, semprotnya.

"Kenapa begitu kejam kau aniaja anak kecil."

Kiu-yu-mo-lo tertawa aneh, dulu golongan hitam atau putih bila mendengar namanya saja mesti lari terbirit2 ketakutan, namun sekarang tiada seorang pun yang memberi muka kepadanya, semakin pikir semakin jengkel, pikirnya; Kalau aku tidak memberi tanda mata apa-apa, tentu kalian tidak akan ingat siapa aku ini.

Tiba-tiba secepat kilat kedua telapak tangannya berkiblat terus menghantam ke arah Tang Siau-hong.

Berdiri alis Tang Siau-hong, meski pun Sutouw Ci-ko sudah diusir dari perguruan, namun rasa kasih sayangnya terhadap gadis remaja yang diasuhnya sejak kecil masih tetap kental, sudah tentu ia tidak tinggal diam melihat orang menganiaja Sutouw Ci-ko begitu rupa, dengan murka ia pun menggerakkan kedua tangannya memukul ke arah Kiu-yu-mo-lo.

Sedetik sebelum kedua pukulan lawan saling bentur, sekonyong-konyong ia merasakan firasat jelek, segesit tupai melompat enteng sekali ia jejakkan kakinya jumpalitan mundur ke belakang.

Terdengar Kiu-yumo-lo terloroh-loroh menggila, kedua telapak tangannya ditarikan semakin cepat dan melancarkan serangan yang gencar.

Untuk sesaat Tang Siau-hong yang belum sempat pernahkan diri menjadi kelabakan dan terdesak di bawah angin, sedikitpun ia tidak mampu balas menyerang.

Pada saat itulah pintu gubuk disebelah utara sana terbuka, melangkah keluar seorang kakek tua, yaitu Hwi-king Lojin adanya.

melihat pertempuran yang gawat ini, segera tubuhnya mencelat terbang, ditengah udara ia bersuit panjang melengking tinggi, seenteng burung walet tubuhnya beirlari terbang melewati permukaan air danau terus menerjang ke arah Kiu-yu-mo-lo.

Melihat Hwi-king Lojin menyerang datang, bertambah murka hati Kiu-yu-mo-lo.

Dia insaf bahwa dirinya terluka dalaim yang cukup parah, kalau satu lawan satu jelas ia lebih unggul dan pasti menang, namun melawan keroyokan dua orang ia menjadi mati kutu, terang tenaganya bakal terkuras habis untuk membela diri saja.

Sebat sekali kakinya melangkah berputar, selicin belut selincah kera ia berloncatan mencari posisi penyerangan dari berbagai penjuru, bertempur main petak melawan kedua lawannya.

Semakin tempur diam-diam Hwi-king Lojin bertambah kejut, kecuali Bu-bing Loni belum pernah ia menemukan musuh sehebat dan setangguh seperti nenek rejot ini.

Segera ia membuka suara bertanya kepada Tang Siau-hong.

"Siau-moay! Siapa dia, ini?"

"Kiu-yu-mo-lo!"

Sahut Tang Siau-hong singkat. Terperanjat Hwi-king Lojin serunya.

"Bangkotan tua renta ini ternyata merajap keluar lagi dari liang kuburnya!"

Kiu-yu-mo-lo berteriak melengking saking gusar mendengar olok2 orang, kedua telapak tangannya bergerak seperti kupu2 lincah menari di atas kuntum bunga.

Tapi kepandaian Hwi-king Lojin dan Tang Siau-hong tidaklah lemah, apalagi lwekang Hwi-king Lojin jauh lebih tinggi dari Tang Siau-hong, dengan gabungan kekuatan mereka, untuk waktu dekat mereka berhasil mendesak Kiu-yu-mo-lo di bawah angin.

Kiu-yu-mo-lo berkaok2 dengan beringas seperti kesetanan gerak-geriknya seperti serigala kelaparan yang ingin menelan bulat2 lawannya, namun sedemikian jauh ia terdesak dan tak mampu menempati posisi yang lebih menguntungkan.

Sekejap saja ratusan jurus sudah berlalu, Kiu-yu-mo-lo insaf bahwa bertempur terus tidak akan menguntungkan dirinya, tiba-tiba tubuhnya mencelat mumbul, beruntun ia tepukan telapak tangannya berantai empat lima kali, waktu Hwiking dan Tang Siau-hong menyambut pukulannya, sigap sekali tubuhnya melayang jauh terus meluncur turun disamping Sutouw Ci-ko, sekali raih ia cengkeram tengkuk Sutouw Ci-ko.

Tercekat hati Hwi-king Lojin dan Tang Siau-hong mereka menjadi keder dan kuatir atas keselamatan Sutouw Ci-ko, sesaat mereka berdiri melongo tak berani bertindak lebih lanjut.

Kiu-yu-mo-lo menyeringai iblis, desisnya.

"Ketahuilah hari ini aku sedikit terluka, maka kuhentikan saja pertempuran sampai disini."

Dengan mengalirkan air mata Sutouw Ci-ko berteriak kepada Hwi-king Lojin dan Tang Siauhong.

"Suhu, Supek, jangan kalian hiraukan aku, bunuh saja iblis laknat ini!"

Kiu-yu-mo-lo menjadi geram, dengan jengkel tangan kanannya bergerak, beruntum ia tutuk beberapa tempat jalan darah penting ditubuh Sutouw Ci-ko.

Kontan Sutouw Ci-ko mengeluh panjang terus jatuh pingsan.

Kejut dan perih perasaan Tang Siau-hong, baru saja ia hendak memburu maju, namun sorot panjangan Kiu-yu-mo-lo yang tajam bengis mengancam itu mengurungkan niatnya.

Sebetulnya ia sudah sangat benci dan tidak mau gubris lagi Sutouw Ci-ko, seumpama Sutouw Ci-ko mati ia pun takkan bersedih, dasar sifat manusia memang bijaksana dan luhur, melihat anak asuhannya sejak kecil kena siksa dan menderita ia menjadi terpukul perasaannya dan menjadi gugup akan keselamatannya.

Terdengar Kiu-yu-mo-lo mendengus ejek.

"Kalau kalian ingin dia tetap hidup hanya ada satu cara untuk menolong jiwanya. Lekas serahkan Kiu-thian-cu-ko kepadaku!"

"Apa?"

Seru Hwi-king Lojin dan Tang Siau-hong berbareng.

"Bagaimana! Tidak mau serahkan?"

Desak Kiu-yu-mo-lo mengancam.

Hwi-king Lojin dan Tang Siau-hong mengeluh dalam hati, namun apa daya, terpaksa mereka saling pandang saja tanpa buka suara, dalam hati masing-masing sedang berpikir cara bagaimana mencari akal untuk mengatasi situasi tegang ini.

"Jiwa bocah ini sebagai tumbal dari buah ajaib itu terserah cara bagaimana kalian hendak menyelesaikan jual-beli ini."

Setelah merenung sesaat lamanya, Tang Siau-hong buka bicara.

"Apakah yang kau maksudkan Kiu-thian-cu-ko?"

"Benar-benar!"

Dengus Kiu-yu-mo-lo, cahaya matanya memancar terang.

"Muridmu ini membawa aku kemari, tentu kau juga tahu dimana jejak buah ajaib itu!"

Hati Tang Siau-hong menjadi rada marah dan sesalkan tindakan Sutouw Ci-ko yang ceroboh dan brutal itu, hidungnya mandah mendengus tanpa buka suara lagi.

Segera Hwi-king Lojin menalangi, setelah tertawa kering ia berkata.

"Gurunya pun tidak tahu dimana buah ajaib itu berada, justru karena dia tidak mau beritahu kepada gurunya maka gurunya ini mengusirnya dari perguruan. kalau mau tanya, silakan tanya kepadanya saja!"

Mereka maklum bahwa maksud tujuan kedatangan Kiu-yu-mo-lo adalah buah ajaib itu, maka segala tanggung jawab urusan ini ditumplekkan kepada Sutouw Ci-ko, demi mencapai tujuan dan hasratnya tentu Kiu-yu-mo-lo takkan mencelakai jiwa Sutouw Ci-ko.

Dengan memicingkan mata Kiu-yu-mo-lo pandang air muka kedua musuh tua ini ganti-berganti dengan cermat, diam-diam hatinya mengumpat caci akan kelicikan akal Sutouw Ci-ko, serta merta terbayang olehnya waktu Tang Siau-hong pertama kali melihat Sutouw Ci-ko tadi sikapnya memang kurang senang dan tak mau gubris padanya.

Sejenak ia berpikir, lalu berkata.

"Baik! Sementara ini aku percaya akan obrolan kalian, akan kuperas keterangannya." -selesai berkata ia memutar tubuh hendak tinggal pergi.

"Nanti dulu!"

Teriak Tang Siau-hong, melihat orang hendak membawa Sutouw Ci-ko ia menjadi gugup.

"Kenapa?"

Tanya Kiu-yu-mo-lo sambil berpaling.

"Apa kalian hendak menahan aku?" -wajahnya mengunjuk senyum sinis yang menyebalkan. Hwi-king segera memberi aba-aba kepada Tang Siau-hong serempak mereka bergerak pencar kedua arah cepat sekali mereka mencari kedudukan menggencet Kiu-yu-mo-lo di tengah antara mereka. Kiu-yu-mo-lo menyeringai dingin, ujarnya.

"Kalian sangka aku takut, kalau kalian tidak mau lepas aku, terpaksa kita harus gugur bersama, atau kalian sudah tidak hiraukan lagi mati hidup bocah ini?"

Hwi-king rada sangsi, katanya.

"Kalau kulepas kau, apakah jiwanya masih bisa hidup?"

"Itu terserah kepada sikapnya selanjutnya!"

Jengek Kiu-yu-mo-lo dingin.

"Serbagai murid murtad aku tidak mengharapkan dia lagi,"

Demikian kata Tang Siau-hong tanpa emosi.

"Tapi kami pun tidak bisa melepas kau membuat keonaran di kalangan Kangouw."

Berubah air muka Kiu-yu-mo-lo, kalau Tang Siau-hong berdua tidak mementingkan jiwa Sutouw Ci-ko dirinya betul-betul bisa konyol di tempat ini. Dengan tertawa dingin segera ia berkata.

"Kau sangka aku takut kepada kamu berdua?"

Di mulut ia bicara garang, hakikatnya hatinya sangat membenci Sutouw Ci-ko, diam-diam ia menerawang mencari akal cara bagaimana harus meloloskan diri, kalau Sutouw Ci-ko tidak tahu tempat dimana beradanya buah ajaib itu, sungguh ingin rasanya ia bunuh bocah kurang ajar ini.

Mulut Tang Siau-hong memang mengancam dengan angkernya, namun iapun ragu-ragu untuk bertindak Jikalau Sutouw Ci-ko tidak berteriak supaya mereka tidak hiraukan jiwanya lagi, mungkin sekarang ia sudah bertindak demi kepentingan kaum persilatan umumnya, namun situasi sekarang sudah membuatnya serba sulit.

Melihat kedua lawannya tidak bergerak, diam-diam timbul rasa curiganya, pikirnya.

"Bukankah kalian juga tidak tega melihat kematian Sitouw Ci-ko? Sama saja mereka pun ingin mendapatkan buah ajaib itu!"

Sejak mula Kiu-yu-mo-lo hanya memikirkan kepentingan pribadinya untuk memperoleh buah ajaib itu, mimpipun ia tidak mengira bahwa sejak permulaan ia sudah masuk perangkap Sutouw Ci-ko.

Sekonyong-konyong timbul sebuah pikiran dalam benaknya; Sekarang aku sedang kepepet, kalau mereka ngotot menahan aku, aku pun tak mampu meloloskan diri, sepucuk buah ajaib itu berbuah enam butir, hanya perlu sebutir saja aku sudah cukup, lebih baik kuajak mereka kompromi saja.

Sutouw Ci-ko berada di tanganku, masa mereka tidak mau terima saran baikku ini.

Tengah ia berpikir2, tiba-tiba tampak sesosok bayangan orang melambung tiba, begitu menginjak tanah baru terlihat tegas, itulah seorang laki-laki tua bermuka putih tanpa jenggot, begitu melihat kedatangan orang ini bermula Kiu-yu-mo-lo sangat kejut dan heran, namun dalam kilas lain hatinya menjadi kegirangan.

Karena orang tua ini bukan lain adalah Pek-kut-sin-mo Pek Si-kiat yang juga telah menghilang selama lima puluh tahun itu, entah cara bagaimana pula ia berhasil lolos dari belenggu.

"Samte!"

Teriak Kiu-yu-mo-lo kegirangan.

"Kau pun datang kesini! Lekas bantu aku."

Bukan kepalang kejut Hwi-king Lojin dan Tang Siau-hong, Pek-kut-sin-mo juga meluruk datang.

Si-gwa-sam-mo malang melintang dan sudah menghilang sejak lima puluh tahun yang lalu dari dunia persilatan, sungguh tak duga hari ini bakal muncul dua diantara tiga, ini benar-benar sangat mengejutkan dan menakutkan.

Kedatangan Pek-kut-sin-mo seketika lebih menyempitkan kedudukan mereka berdua, mungkin untuk mati pun tidak akan bisa dengan jasad tetap utuh.

Meski ajal betapa pun harus turun tangan lebih dulu, serempak mereka membentak bersama terus menyerang ke arah Kiu-yu-mo-lo.

Kiu-yu-mo-lo terkekeh-kekeh.

Mendapat bantuan Pek-kut-sin-mo umpama musuh ditamboh dua lagi iapun tak perlu takut, pelan-pelan ia letakkan Sutouw Ci-ko di atas tanah, gesit sekali ia menggerakkan kedua kepelannya menyambut serbuan musuh....

Sedikit bergerak tubuh Pek-kut-sin-mo melesat masuk ke dalam kalangan pertempuran, dimana kedua kepelannya bergerak seketika segulung uap putih dari kekuatan angin pukulannya menyampok mundur Hwi-king dan Tang Siau-hong.

Serasa arwah sudah keluar badan kejut Hwi-king Lojin dan Tang Siau-hong, insaf mereka bahwa diri sendiri bukan lawan musuh, sebat sekali mereka melompat mundur rada jauh, namun begitu mereka segan untuk melarikan diri.

Kiu-yu-mo-lo terloroh-loroh kering, katanya kepada Pek-kut-sin-mo.

"Samte! Pek-kut-sinkangmu jauh lebih maju dari lima puluh tahun yang lalu!"

Kedengaran oleh Pek-kut-sin-mo akan pujian orang yang mengandung rasa kekecutan hatinya maksud tujuannya kemari bukan melulu untuk itu, segera ia buka bicara.

"Ji-ci! Apakah bocah ini bernama Sutouw Ci-ko?"

Berubah serius air muka Kiu-yu-mo-lo, sekilas ia menyapu ke arah Hwi-king berdua lalu menjawab.

"Benar-benar! Dia tahu dimana buah ajaib berada, kalau ketemu boleh kami bagi dua sama rata dengan kau."

"Ji-ci terluka di dalam bukan?"

Tanya Pek Si-kiat dingin Kiu-yu-mo-lo tersenyum ewa.

Melihat Kiu-yu-mo-lo dan Pek-kut-sin-mo main debat sendiri sudah tentu Hwi-king Lojin dan Tang Siau-hong menjadi senggang dan tidak mau tinggal pergi saja, betapa pun Sitouw Ci-ko harus ditolong.

Sebagai kawan lama sudah tentu Pek Si-kiat tahu tabiat dan karakter Kiu-yu-mo-lo, dengan mendengus ia berkata.

"Kalau tidak aku tidak mau turut campur pertikaian kalian"

Dengan sendirinya Kiu-yu-mo-lo juga tahu bahwa Pek-kut-sin-mo selamanya berlaku kejam dan telengas terhadap orang luar, diantara mereka bertiga hanya dia yang berhati jujur dan lapang dada, entahlah kenapa hari ini sikapnya begitu, akhirnya ia membuka suara.

"Samte! Apa hendak kau kangkangi sendiri?"

Pek-kut-sin-mo bergelak tawa, serunya.

"Ketahuilah Sutouw Ci-ko tidak tahu menahu tentang buah ajaib itu. yang terang aku mendapat perintah dari Ka-yap Cuncia kemari, untuk menolong Sutouw Ci-ko juga untuk minta kembali Hian-thian-pit-kip."

Laksana geledek mengguntur dipinggir telinganya Kiu-yu-mo-lo melonjak kaget, tiba-tiba ia melengking tinggi seraya melemparkan tubuh Sutouw Ci-ko ke tengah udara begitu keras lemparannya sampai badan Sutouw Ci-ko melambung tinggi dan jauh, berbareng ia sendiri lantas melenting jauh melarikan diri.

Kuatir diketahui oleh Pek-kut-sin-mo maka waktu melontarkan tubuh Sutouw Ci-ko ia tidak berani membuat cedera ditubuhnya.

Keruan bukan kepalang gusar Pek Si-kiat.

Ia insaf bahwa Hwi-king dan Tang Siau-hong tidak akan mampu menolong Sutouw Ci-ko.

terpaksa ia melejit tinggi menolong jiwa Sutouw Ci-ko.

Mendengar Pek-kut-sin-mo diutus oleh Ka-yap Cuncia, Hwi-king dan Tang Siau-hong menjadi girang, serempak mereka bergerak bersama Tang Siau-hong memburu ke arah Sutouw Ci-ko sedang Hwi-king Lojin mengejar dan merintangi jalan mundur Kiu-yu-mo-lo.

Dilain pihak Kiu-yu-mo-lo tahu bahwa dirinya bukan tandingan Pek-kut-sin-mo, maka begitu melejit jauh terus lari sipat kuping, waktu Hwi-king Lojin mengejar tiba di belakang dan menyerang dengan sebuah pukulan tangan.

ia mandah saja kena hantaman sampai muntah darah, mulutnya berteriak kesakitan, suaranya serak dan panjang sampai bergema dialam pegunungan, namun kakinya bergerak lebih cepat lagi, sebentar saja ia sudah menghilang.

Waktu Pek-kut-sin-mo berhasil menolong Sutouw Ci-ko, sementara Kiu-yu-mo-lo pun sudah lari jauh, dengan gegetun ia membanting kaki, sungguh ia sangat menyesal terburu nafsu membuka mulut.

Tapi nasi sudah menjadi bubur, menyesal pun sudah kasep.

Dengan mendelong Tang Siau-hong mengawasi Sutouw Ci-ko ditangan Pek-kut-sin-mo, ia tidak berani maju memapah.

Setelah berkeluh kesah sendiri baru Pek Si-kiat teringat akan Sutouw Ci-ko yang dipondongnya itu, cepat-cepat ia membebaskan tutukan jalan darah Sutouw Ci-ko.

Pelan-pelan Sutouw Ci-ko membuka mata, setelah celingukan kekanan kiri, tiba-tiba merangkak bangun terus berlutut dihadapan Tang Siau-hong, serunya sesenggukan.

"Suhu!"

"Siapa Suhumu?"

Jawab Tang Siau-hong ketus. Tangis Sutouw Ci-ko semakin jadi, terdengar Pek Si-kiat bertanya.

"Apa yang telah terjadi, coba tuturkan kepada aku!"

Kesannya sangat baik terhadap Hun Thian-hi, melihat keadaan Sutouw Ci-ko yang bersedih ini tak tertahan lagi lantas mengajukan pertanyaan.

Sutouw Ci-ko angkat kepala, dia tahu bahwa orang tua irnilah yang tadi membebaskan tutukan jalan darahnya, melihat sikap kaku dan kukuh Tang Siau-hong terpaksa ia menjawab pertanyaan Pek Si-kiat.

"Te-rima kasih pada Cianpwe telah menolong jiwaku."

Pek Si-kiat menyengir dengan girang, seolah-olah baru pertama kali inilah selama hidup ia pernah berbuat kebaikan, sekarang baru pertama pula ada orang menyatakan terima kasih kepadanya.

Setelah mengawasi Hwi-king Lojin dan Tang Siau-hong lalu ia berkata tertawa.

"Bocah ini baik dan cantik rupawan lagi, untuk urusan apa kalian tidak mau kenal dia lagi?"

Tahu bahwa Pek-kut-sin-mo diutus oleh Ka-yap, Tang Siau-hong mengira bahwa Pek-kut-sinmo tentu sudah kembali kejalan lurus, terpaksa ia membungkuk serta menyahut.

"Cianpwe tidak tahu, sekarang ia sudah menyeleweng...."

Pek Si-kiat merengut dan rada gusar, katanya.

"Mungkinkah Ka-yap Taysu menyusuh aku menolong seorang jahat? Jika kau tidak mau, biar dia ikut aku saja!"

Segera Sutouw Ci-ko menyembah lagi kepada Tang Siau-hong. selanya.

"Suhu tidak sudi aku kembali, sebetulnya aku belum pernah melakukan kejahatan apa, di dunia ini aku sudah sebatangkara, aku tidak ingin hidup lebih lama lagi, mohon Subu suka mengakui aku sebagai murid sebelum ajal ini." -Sampai kata-kata terakhir suaranya hampir lenyap oleh sengguk tangis dan air mata yang membanjir sedih.

"Apa,"

Teriak Pek Si-kiat keras.

"Hun Thian-hi mohon Ka-yap Cuncia supaya aku menolong kau, kenapa kau ingin mati pula?"

"Apa?"

Sutouw Ci-ko juga berjingkrak kegirangan.

"Apa benar-benar dia?"

Hwi-king Lojin dan Tang Siau-hong beradu pandang, dalam hati mereka berpikir.

"Bagaimana bisa terlibat pula dengan Hun Thian-hi!"

"Benar-benar,"

Jawab Pek Si-kiat.

"Dia selamat dan ikut bersama Ka-yap Cuncia diangkat sebagai murid angkat, diberi pelajaran Pan-yok-hian-kang dan Wi-thian-cit-ciat-sek, mungkin dalam satu setengah tahun ini kau tidak bisa bertemu dengan dia."

Saking kegirangan suara, Sutouw Ci-ko sampai gemetar, katanya tersekat.

"Aku....aku mengira dia tentu sudah mati!" -Sekarang dia menangis karena kegirangan. Mendengar semua kejadian ini melulu karena tujuan dan kemauan Ka-yap Cuncia. Apalagi Hun Thian-hi yang berjuluk Leng-bin-nio-sin itu juga telah diangkat menjadi muridnya. Ka-yap adalah tokoh teragung nomor satu pada ratusan tahun yang lalu, sungguh tak nyana beliau masih hidup, setiap ucapannya lebih mempertebal kepercayaan dirinya sendiri, hanya kejadian ini benar-benar diluar dugaan. Sesaat melongo akhirnya Tang Siau-hong bertanya.

"Cara bagaimana kau berkenalan dengan Hun Thian-hi?"

Dengan mengembeng air mata, Sutouw Ci-ko menjawab sambil tersenyum senang.

"Dia terhitung adik angkatku!"

Dengan tajam Tang Siau-hong menatap Sutouw Ci-ko, dalam hati membatin.

"Melihat gelagatnya bukan melulu hubungan antar kakak beradik .... tapi masih ada Bun Cu-giok lagi, ai, memang sudah ditakdirkan kiranya!"

Terdengar Sutouw Ci-ko berkata lagi.

"Bermula dia berangkat kemari bersama aku, dia mendapat tugas dari majikan Ngo-hong-lau untuk menemui Hwi-king Supek!"

"Kakak misanku?"

Seru Hwi-king Lojin terkejut.

"Dimana beliau sekarang?"

Sutouw Ci-ko beragu sebentar, lalu menjawab.

"Beliau tidak suka orang lain tahu alamatnya. Beliau memberi sebatang Hwi-hong-siau kepada Thian-hi, tapi waktu sampai di Giok-bun-koan kami bentrok dengan seorang tuan yang bernama Situa Pelita, dia melarang kami kemari!"

Hwi-king Lojin tidak tanya lebih lanjut, dengan rawan ia menghela napas. Dengan tertawa berseri Pek Si-kiat pandang Sutouw Ci-ko sungguh girang dan berterima kasih pula Sutouw Ci-ko, katanya.

"Dapatkah aku mengetahui nama Cianpwe yang mulia!"

"Akulah Pek-kut-sin-mo!"

Jawab Pek Si-kiat sambil tertawa lebar. Sutouw Ci-ko melengak kaget, rada lama kemudian baru berkata.

"jangan kau gertak orang, aku tidak takut."

Pek Si-kiat terbahak-bahak, serunya.

"Hampir saja Hun Thian-hi mampus ditanganku, sungguh kamu berdua bernasib mujur, terjeblos ke dalam Sip-kut-tam tidak mati, kalau orang lain, sudah mati konyol tanpa bekas lagi."

Sutouw Ci-ko menenangkan hatinya lalu bertanya.

"Sekarang dimanakah Hun Thian-hi?"

"Aku juga tidak tahu, cuma hari ini kiu-yu-mo-lo berhasil lolos membawa serta Hian-thian-pitkip, kelak tentu menimbulkan banyak bencana, Ka-yap Taysu menugaskan banyak urusan yang perlu kulaksanakan. Aku betul-betul ketarik kepada kau, lain waktu aku pasti datang menjenguk kau kemari."

Sutouw Ci-ko berjingkrak kegirangan, tanyanya.

"Kapan kau akan datang?"

"Tidak perlu kuatir untuk menemukan kau? Kau tak usah gelisah!" -demikian kata Pek Si-kiat seraya melambaikan tangan terus berlari pergi dengan cepat. Pelan-pelan Sutouw Ci-ko membalik badan, dengan penuh rasa kasih sayang Tang Siau-hong mengelus rambutnya serta berkata.

"Nak, mungkin aku terlalu terburu nafsu salahkan kau."

Sutouw Ci-ko menubruk ke dalam pelukan Tang Siau-hong dan menangis gerung-gerung.

"E, eh, kenapa ni? Kukira kau bukan bocah lagi, lima tahun sudah, masa sikapmu masih aleman seperti kanak-kanak"

Demikian goda Tang Siau-hong.

Sutouw Ci-ko angkat kepala seraya membasut air matanya, pelan mereka menggeser menuju ke dalam gubug sambil berpelukan, saat itu sinar matahari sudah tergantung tinggi ditengah cakrawala.

Waktu mereka memandang sekelilingnya, ternyata Hwi-king Lojin sudah tinggal pergi diamdiam, Tang Siau-hong berdua menjadi geli dan saling pandang.

Ooo)*(ooO Waktu sinar cahaya sang surja mulai menongol keluar dari peraduannya menyorot sebuah tebing tinggi ratusan tombak, cuaca masih terlalu pagi, tebing itu terlalu tinggi dan lurus lempang, seperti dipapas dengan kapak atau senjata tajam lainnya.

Dibawa tebing sebelah sana pelan-pelan mendatangi seorang pemuda cakap ganteng, pendatang ini bukan lain adalah Hun Thian-hi, setelah sampai di bawah tebing ia mendongak meneliti tebing tinggi ini.

Jikalau dapat melampaui tebing tinggi maka di dalam sana adalah sebuah negara kuno yang terasing dari dunia luar di daerah selatan ini yaitu Thian-bi-kok seperti yang dikatakan oleh Ka-yap Cuncia itu.

Menurut pesan Ka-yap Cuncia ia harus memanjat tebing tinggi ini dan menyelundup masuk kenegeri kuno bernama Thian-bi-kok ini.

Setelah meneliti sekian lamanya diam-diam Thian-hi mengerut alis, tebing setinggi ratusan tombak begini cara bagaimana bisa masuk kesana, entah cara bagaimana orang yang menemukan negara kecil itu bisa masuk kesana.

Pelan ia berjalan menyusuri kaki tebing mencari jalan.

Tiba-tiba dilihatnya disebuah lekukkan diujung tebing sana ada sebaris retakan batu, garis retak ini sudah penuh ditumbuhi lumut sangat licin susah untuk tempat berpegang atau berpijak, boleh dikata sulit sekali untuk dapat memanjat ke atas.

Sekian lama ia berpikir mencari akal, akhirnya dilolos keluar seruling dipinggangnya, diam-diam ia kerahkan tenaga murni sekali tusuk ternyata mudah sekali serulingnya amblas ke dalam batu tebing.

keruan girangnya bukan kepalang, lekas ia keluarkan pula kutungan serulingnya sendiri, tusuk demi tusuk bergantian dengan gegamannya ia mulai merambat ke atas.

Entah berapa lama kemudian dengan susah payah akhirnya ia berhasil mencapai puncak tebing juga, namun terasa kaki linu pinggang pegal, telapak tangan pun lecet.

Dengan menghela napas lega ia berpaling memandang kebawah, tebing sedemikian tinggi, setapak demi setapak ia berhasil manjat ke atas, hampir ia tidak percaya akan kenyataan ini.

Setelah beristirahat seperlunya pelan-pelan ia mulai beranjak masuk ke dalam sebuah lembah, di dalam lembah tumbuh hutan lebat, tiada kelihatan jejak manusia seorangpun.

Dengan hati-hati Thian-hi menyusuri hutan lebat ini terus maju ke depan.

entah berapa lama kemudian, akhirnya pohon-pohon mulai jarang tibalah ia diujung hutan, lapat-lapat dikejauhan sana kelihatan perumahan orang, ladang sawah nan subur, lebih jauh di depan sana samar-samar kelihatan bentuk sebuah kota.

Bab 14 Dengan saksama Hun Thian-hi memandang ke depan nan jauh sana, dalam hati ia menerawang, betapapun aku harus melihat-lihat situasi dan keadaan kota di depan itu.

Begitulah melalui gili2 sawah ia terus maju ke depan, langsung menuju kekota.

Tak lama kemudian ia sudah tiba diambang pintu kota, tamtak orang berlalu lalang dengan ramainya, kiranya itulah sebuah kota yang cukup besar.

Sambil celingukan kekanan kiri seperti orang desa yang pertama kali masuk kota Hun Thian-hi maju terus ke depan melihat-lihat keadaan kota kuno yang terasing dari dunia luar ini.

Tiba-tiba dilihat orang-orang yang berlalu lalang dikejauhan menjadi ribut dan berlari-lari minggir kedua samping jalan, tampak sebarisan sepasukan seragam hijau membedal kudanya mendatangi bagai terbang.

Cepat-cepat Thian-hi juga ikut menyingkir kepinggir, namun sekilas dilihatnya tak jauh di depan sana seorang anak kecil tengah berlari ditengah jalan, tanpa banyak pikir lagi segera ia memburu maju menarik bocah kecil itu, namun saat mana juga barisan berkuda itupun sudah tiba, baru saja Thian-hi hendak gunakan Ginkangnya untuk melesat berkelit, mendadak teringat akan pesan Ka-yap Cuncia, supaya orang lain tidak tahu bahwa dia seorang persilatan, orang-orang yang berkerumun disekitar jalanan itu menjadi menjerit ngeri dan gempar, tak ampun lagi Thian-hi keterjang ke depan, meminjam daya terjangan ini ia menggelundung kesamping sambil mengempit bocah itu.

Kuda itu lantas berdiri dengan kedua kaki belakangnya sambil bebenger panjang.

penunggangnya tak kuasa mengendalikan kudanya lagi terus lompat turun.

terpaksa rombongan berkuda itu harus berhenti semua.

Dari pinggir jalan sebelah sana memburu seorang gadis dengan muka pucat, katanya kepada Hun Thian-hi.

"Banyak terima kasih akan pertolonganmu!"

Sekali tarik ia terus bopong bocah itu terus bawa lari dan menghilang dipagar manusia yang menonton dipinggir jalan.

Belum lagi Thian-hi sempat inenjawab, tiba-tiba didengarnya sebuah bentakan caci maki, segulung angin menerpa tiba mengarah mukanya, baru saja ia hendak berkelit tapi kuatir diketahui ia bisa main silat terpaksa pura-pura terhujung mundur dan tepat sekali terhindar dari serangan keras yang mengarah mukanya.

Melihat lecutannya tidak mengenai sasarannya, orang itu semakin marah, maju setapak ia ayun pula cambuknya menghajar kepada Thian-hi.

Thian-hi tak berani, menghindar lagi, sekali ia berkelit tentu bisa mengunjuk kepandaiannya silat, dia pun tak berani mengerahkan tenaga untuk melawan sekali kena pecut, kontan terasa kulitnya pedas dan kesakitan, waktu matanya melirik baju yang dipakainya sudah kojak2 kena pecutan, kulithja pun membekas segaris merah darah, Mendapat hasil orang itu semakin bernafsu, lagi-lagi pecutnya terayun tinggi, Thian-hi menjadi berangan, namun apa boleh buat betapapun ia tidak boleh mengunjuk kepandaiannya silat, terpaksa mandah saja kena lecut sampai babak belur.

Sambil menghajar orang itu memaki.

"Bocah keparat. Besar nyalimu berani menghalangi perjalanan rombongan dari istana, sudah bosan hidup ya?" -sembari maki pecutnya sekali lagi melecat dengan keras. Baru saja ia hendak meneruskan hajarannya, dari kejauhan tiba-tiba seseorang berteriak mencegah.

"Hentikanlah!"

Dari luar kota sana mendatangi serombongan pasukan berkuda, penunggangnya mengenakan seragam Busu, Pemimpinnya yang terdepan adalah seorang laki-laki berperawakan tinggi besar berusia pertengahan, laki-laki tegap ini bertanya.

"Apakah Tan Siangkok ada?"

Begitu melihat laki-laki pertengahan umur ini orang itu berubah air mukanya, cepat ia turunkan tangannya, sahutnya.

"Ma-ciangkun, orang ini berani menghadang ditengah jalan, terpaksa harus kuhajar. Joli Siangya sebentar lagi bakal tiba."

Thian-hi angkat kepala mengamati laki-laki pertengahan yang dipanggil Ma-ciangkun itu, tampak mukanya kereng sikapnya gagah, kedua biji matanya berkilat terang, naga-naganya membekal Lwekang yang cukup tinggi juga.

Ma-ciangkun itu mengamati Hun Thian-hi sebentar lalu berkata.

"Kalau begitu jangan sampai mengejutkan Siangkok, orang ini biar kubawa pergi dia berani menghadang jalan, dihajar dua kali lecutan juga sudah cukup, bagaimana menurut maksudmu?"

Cepat orang itu membungkuk, sahutnya.

"Cukup hanya sekecap kata saja Ma-ciangkun boleh bawa orang ini."

Ma-ciangkun manggut kepala lalu mengulapkan tangan ke belakang, seorang bawahannya segera menuntun seekor kuda diberikan kepada Thian-hi, lalu katanya kepada Hun-hian-hi.

"Mau kau ikut aku!"

"Terima kasih akan pertolongan Ma-ciangkun!"

Sahut Thian-hi sambil menekuk dengkul kirinya.

Agaknya Ma-ciangkun itu sudah biasa mendengar pernyataan terima kasih, cukup ia goyang tangan saja terus membedal kudanya ke depan.

Sebetulnya Thian hi tidak mau ikut, namun melihat sikap Ma-ciangkun terpaksa ia naik ke atas kuda.

Punggungnya ada dua jalur berdarah bekas kena cambukan tadi, semua orang dikedua pinggir jalan yang menonton menjadi bergidik dan mengelus dada, Thian-hi sendiri juga menjadi kikuk dan malu ditonton begitu banyak orang.

Setelah melewati beberapa jalan raja dan membelok kesebuah gang besar tibalah mereka di depan sebuah gedung mentereng, Ma-ciangkun segera melompat turun dari atas kuda, para Busu pengawalnya segera mertuntun kudanya masuk.

Dengan langkah tegap dan cepat ia berjalan masuk naik undakan batu hijau, sikapnya sungguh gagah dan penuh wibawa.

Hun Thian-hi tidak tahu orang macam apakah Ma-ciangkun ini namun melihat sikapnya yang gagah dan perwira serta pakaiannya yang serba lengkap dengan pangkat militernya, tentu seorang pejabat tinggi pemerintahan, setelah turun dari kudanya ia berdiri menjublek tak tahu harus berbuat apa.

Setelah beranjak diundakan batu baru Ma-ciangkun seperti teringat kepadanya, segera ia merandek dan berpaling serta menggapai tangan, lalu berjalan masuk lagi.

Melihat orang memanggil dirinya dengan ragu-ragu akhirnya Thian-hi ikut beranjak masuk, setelah melewati pintu besar tibalah mereka disebuah ruang besar, Ma-ciangkun itu menanggalkan jubah perangnya seraya bertanya kepada Thian-hi.

"Siapa namamu?"

Thian-hi menjadi sangsi sesaat lamanya, menyebut nama aslinya pun tidak seorang pun yang bakal mengetahui, segera ia menjawab.

"Aku bernama Hun Thian-hi!"

Ma-ciangkun manggut-manggut, ujarnya.

"Sepak terjangmu dari kejauhan tadi sudah kulihat, kau cukup berani, dengan keadaanmu yang lemah itu kau berani menolong orang, sungguh tidak tahu diri. jikalau bukan karena bernasib baik sejak tadi kau sudah mampus."

"Terima kasih akan budi pertolongan Ma-ciangkun!"

Segera Hun Thian-hi menjura. Kelihatan Ma-ciangkun merasa simpatik terhadapnya, dengan tertawa ia berkata lagi.

"Tak perlu ditaruh dalam hati. Kulihat kau seorang sekolahan bukan?"

Tujuan Hun Thian-hi justeru hendak menutupi keadaan dirinya yang sebenar-benarnya, segera ia manggut-manggut serta menjawab dengan hormat.

"Benar, benar, aku seorang pelajar!"

Ma-ciangkun tertawa-tawa ujarnya.

"Kulihat usiamu masih terlalu muda, apalagi seorang pelajar yang punya keberanian yang pantas dipuji, sungguh sukar didapat, sungguh aku ketarik kepada kau, adakah famili lain dirumahmu?"

"Ajah bundaku sudah lama wafat, hanya aku sebatangkara!"

"Itulah baik,"

Ujar Ma-ciangkun sesaat berpikir.

"Kalau kau sudi, aku punya seorang putra, apakah kau mau jadi gurunya?"

Sungguh girang dan senang Thian-hi sukar dilukiskan.

sungguh tak nyana olehnya baru pertama kali ia datang lantas mendapat tempat menetap yang cukup aman dan selamat, setelah terlongong sebentar ia menyaJhut.

"Terima kasih kepada Ma-ciangkun!"

"Sejak hari ini juga kau kuangkat menjadi guru anakku dan menempati bilik sebelah barat sana. Aku bernama Ma Bong-hwi, lekas kau pergi ganti pakaian dan menemui aku diruang belakang." -Selesai bicara terus tinggal pergi ke dalam. Seorang pelayan segera membawa Thian-hi kesebuah kamar pakaian untuk mengganti bajunya yang sudah butut dan kojak2 tadi. tak lama kemudian ia sudah beranjak menuju keruang dalam. Gedung panglima besar ini kiranya cukup mentereng dan megah, segala perabotnya serba mewah, seorang pelayan menuntunnya menelusuri serambi panjang yang belak-belok ditanam bunga, lalu memasuki sebuah bangunan besar yang terdiri dari sebuah ruangan besar. Tampak Ma Bong-hwi sudah menunggu disana bersanding seorang wanita pertengahan umur. Selamanya Thian-hi belum pernah menghadapi keadaan serba megah dan angker ini, begitu memasuki kamar besar itu sikapnya menjadi prihatin dan kikuk, dengan laku hormat segera ia memberi hormat kepada Ma Bong-hwi dan wanita pertengahan umur itu. Disamping perempuan itu berdiri seorang laki-laki berusia 12-an, begitu melihat Hun Thian-hi masuk segera berpaling dan bertanya kepada Ma Bong-hwi.

"Ajah, apakah dia ini bakal guruku?"

Ma Bong-hwi manggut-manggut sambil berseri tawa, segera ia silakan Thian-hi duduk.

Tahu Thian-hi bahwa bocah laki-laki ini adalah bakal muridnya itu tanpa merasa ia awasi bocah ini dengan seksama, bocah ini cukup tampan dan jenaka, lincah lagi berani, sepasang biji matanya bundar bening mengawasi Hun Thian-hi tanpa berkedip, kelihatannya sangat nakal.

Segera Ma Bong-hwi memperkenalkan Hun Thian-hi, bocah itu bernama Siau-hou, Perempuan pertengahan umur itu adalah istrinya.

Ma Siau-hou meninggalkan ibunya, maju mendekati ke depan Hun Thian-hi lalu berputar mengelilingi Thjan-hi seperti memeriksa sesuatu barang yang menarik perhatiannya.

Hun Thian-hi menjadi jengah dan risi.

Dalam hati ia membatin; 'bocah ini cukup nakal, mungkin rada sukar mengatasinya.' Segera Ma Bong-hwi mengucapkan kata-kata sapa-sapi sekadarnya serta menjelaskan keadaan dirinya.

dengan patuh Thian-hi mengiakan saja.

Akhirnya Ma Bong-hwi surah seorang pelayan mengantar Bun Thian-hi pergi memeriksa kamar dan ruang bukunya.

Di dalam kamar buku ini terletak sebuah harpa, terdapat sebuah meja tulis juga serta beberapa buah kursi, keadaan kamar tidurpun serba lengkap dan nyaman.

Dengan menghela napas panjang pelan-pelan ia duduk di atas sebuah kursi, pelayan itu segera minta diri terus keluar pintu.

Diam-diam Thian-hi merasa was-was dan hampir tidak percaya akan pengalaman sendiri, sungguh suatu pengalaman yang cukup aneh dan menggetarkan sanubarinya.

Tengah ya melayangkan pikirannya, mendadak terdengar derap langkah lirih tengah mendatangi, diam-diam ia terkejut, namun ia cukup waspada untuk tidak mengunjuk kepandaian silatnya, terpaksa ia pura-pura tidak dengar saja.

Tak lama kemudian derap langkah lirih itu sudah sampai di depan pintunya, dengan acuh tak acuh Thian-hi pura-pura tidak dengar, di dalam kamar ia berjalan bolak-balik menggendong tangan membelakangi pintu kamar.

Sesaat kemudian baru ia memutar tubuh, tampak orang itu adalah putra Ma Bong-hwi yang bernama Ma Siau-hou itu, dia tengah longak-longok ke dalam.

Begitu Thian-hi putar tubuh dan melihat dia, bocah itu menjadi kaget dan mengkeret sembunyi dibalik pintu, sesaat kemudian baru berani berjalan keluar.

Dengan tersenyum Hun Thian-hi segera menyapa.

"Ada urusan apa Siau-hou? Kemarilah!"

Pelan-pelan Ma Siau-hou berjalan masuk, dengan terlongong ia awasi Thian-hi, sesaat kemudian baru buka suara, katanya.

"Hun-losu (pak guru), aku datang untuk merundingkan suatu hal dengan kau!"

"Ada urusan apa boleh silakan silakan saja!"

"Aku tidak ingin membaca buku. dan kau pun tak usah ajarkan aku membaca?"

"Lalu apa yang hendak kau pelajari?"

"Kau bawa sebatang seruling, kau ajarkan aku meniup seruling saja, belajar membaca aku tidak suka!"

Thian-hi merenung sesaat baru menjawab.

"Kau mau belajar meniup seruling pun boleh, asal kau sudah belajar membaca lalu kuajarkan kau meniup seruling!"

"Tidak mau! Aku tidak punya begitu banyak tempo. Waktu yang lain aku harus berlatih silat"

Thian-hi menjadi serba sulit, bocah ini sungguh sukar dilayani, akhirnya ia mengada2 saja.

"Waktu terlalu panjang untuk belajar, aku bisa mengatur waktumu secukupnya."

Ma Siau-hou miringkan kepala berpikir.

tanpa bicara lagi segera ia berlari keluar.

Diam-diam Thian-hi mengerut kening, entah cara bagaimana ia harus menghadapi kebinalan bocah ini.

Tak lama kemudian cuaca sudah mulai gelap, setelah makan malam Thian-hi teringat akan Withian-cit-ciat-sek pemberian Ka-yap Cuncia itu, sembunyi di dalam kamar tidurnya pelan-pelan ia keluarkan buku itu dan dibaca di bawah penerangan pelita.

Omslag buku tipis itu terbuat dari sutra halus, dengan saksama ia periksa dari halaman ke halaman terakhir, buku itu melulu memuat gambar2 manusia dalam berbagai bentuk dengan keterangan huruf yang cekak saja.

Seluruhnya ada tujuh jurus gerak pedang serta empat posisi duduk.

Keempat posisi duduk ini kelihatan rada baru, mungkin tambahan belum lama berselang.

Diam-diam Thian-hi membatin mungkin inilah posisi duduk pelajaran dari ilmu Pan-yok-hian-kang, Dengan saksama Thian-hi memeriksa dan mempelajari ajaran Wi-thian-cit-ciat-sek yang menggetarkan kolong langit ini, sesaat ia menjadi melongo, beruntun ia membalik lembar demi lembar, ternyata ketujuh gambar jurus ilmu pedang itu semuanya sama dan persis benar-benar.

Keruan bukan main kejut hatinya, setelah diteliti dari sebarisan huruf2 kecil yang memberi keterangan itu baru ia paham duduk perkara sebenar-benarnya, tampak di baris paling depan ada sebuah pernyataan yang cukup serius, huruf2 itu berbunyi; Perhatian.

Tanpa mempelajari Panyok-hian-kang, takkan dapat menyilami intisari Wi-thian-cit-ciat-sek."

Baru sekarang Thian-hi dapat menghela napas berlega hati, segera ia tutup buku itu, rada lama kemudian baru ia buka pula, setelah sampai halaman terakhir ia amat-amati posisi2 duduk itu dengan seksama, dibawahnya ada kalimat yang memberi penjelasan dan keterangan prakteknya dengan sempurna.

Perlahan-lahan ia mendongak sambil menepekur sesaat kemudian baru mendadak seperti teringat memahami, sekali lagi ia meneliti keempat posisi duduk itu, lalu memadamkan pelita, duduk bersila mulai memusatkan pikiran dan berlatih.

Di luar dugaan latihannya berhasil dengan baik, hawa murni dapat dituntun berputar selingkaran dalam tubuhnya, waktu ia membuka mata terasa badannya enteng segar dan nyaman, keruan girang hatinya bukan buatan, memandang keluar jendela, kelihatan cuaca sudah terang tanah.

Segera ia bangun dan berjalan keluar, dengan langkah ringan ia memasuki taman bunga.

Mendadak didengarnya suara orang mendatangi, sekilas saja lantas ia tahu itulah Ma Bong-hwi beserta anaknya, mereka tengah mendatangi ke arahnya.

Thian-hi berpaling ke kanan kiri, jelas tiada tempat untuk sembunyi terpaksa pura-pura tidak tahu dan tidak dengar saja terus berlenggang ke depan sambil menikmati bunga2 yang mekar segar.

Sebentar saja Ma Bong-hwi dengan Ma Siau-hou sudah mendekat, begitu melihat Hun Thian-hi, Hun Thian-hi segera menyapa lebih dulu.

"Ma-ciangkun! Selamat pagi!"

Ma Bok-hwi juga berseri tawa, sahutnya.

"Kau juga bangun pagi2 benar-benar, matahari belum lagi terbit kau sudah berada disini. Apakah semalam tidurmu nyenyak?"

Belum lagi Thian-hi sempat menjawab, dari samping Siau-hou sudah menyela dengan suara keras.

"Kenapa ayah perlu tanya lagi, tentu dia mengatakan tidur nyenyak sekali."

"Hus, bocah kecil sembarangan omong!"

Segera Ma Bong-hwi membentak anaknya. Thian-hi mandah tertawa tawar saja tanpa bersuara. Siau-hou berkata lagi.

"Ajah! Pak guru pintar meniup seruling, suruh dia mengajar aku. Aku tidak mau belajar membaca."

Ma Bong-hwi pelototi Siau-hou lalu berkata kepada Hun Thian-hi.

"Kau bawa sebatang seruling, tentu kau pandai meniupnya, kalau ada tempo tiada halangannya kau ajarkan Siau-hou."

Hun Thian-hi tersenyum, jawabnya.

"Seruling ini kuperoleh dari seorang Cianpwe sebagai tanda kenangan. Aku sendiri tidak begitu baik meniupnya, digantung disini juga sebagai perhiasan saja!"

"Pak, guru!"

Seru Siau-hou sambil berlari ke depan Hun Thian-hi.

"bolehkah pinjam lihat serulingmu ini?"

Hun Thian-hi tanggalkan serulingnya lalu diberikan kepada Siau-hou, dengan saksama Siau-hou membolak-balik dengan semaunya, katanya.

"Bagus sekali Bolehkah kuperlihatkan kepada bibiku?"

"Siau-hou,"

Segera Ma Bong-hwi membentak.

"lekas kembalikan, mana boleh begitu nakal."

Dengan cemberut dan monyongkan mulut Ma Siau-hou angsurkan kembali seruling itu kepada Thian-hi. Ma Bong-hwi berkata lagi.

"Aku akan berlatih silat kesana dengan Siau-hou, silakan kau jalanjalan dalam taman bunga ini."

Thian-hi manggut sambil mengiakan.

mengantar Ma Bong-hwi dan putranya pergi jauh dengan pandangan mendelong, dalam hati ia membatin; 'bocah ini sungguh binal dan susah dilayani.' Hun Thian-hi tak punya selera jalan-jalan lagi, setelah berputar rada jauh lalu kembah ke kamarnya.

Setelah makan pagi, tampak Ma Siau-hou berlari datang, tangannya menjinjing sebatang seruling kehitaman terbuat dari besi.

Begitu masuk pintu Ma Siau-hou lantas berlari duduk di atas sebuah kursi bundar katanya tertawa kepada Thian-hi.

"Kau boleh mulai ajarkan aku meniup seruling. Baru saja kutemukan. seruling ini!"

Hun Thian-hi mengerut kening, katanya.

"Baik! Lagu apa yang suka kau pelajari?"

Ma Siau-hou berpikir sambil miringkan kepalanya, pikir punya pikir akhirnya ia berkata.

"Aku juga tidak tahu, lagu apa yang sering dipetik oleh bibi."

Berhenti sebentar lalu melanjutkan sambil loncat berdiri.

"Kau tunggu sebentar, ada se

Jilid buku musik, biar kuambil kemari."

Habis berkata lalu berlari-lari pergi.

Thian-hi jadi berpikir cara bagaimana baru ia berhasil memberi pelajaran kepada Ma Siau-hou, tak lama kemudian Ma Siau-hou memburu tiba pula serta berseru kepada Thian-hi.

"Coba lihat, kubawa kemari!"

Begitu melihat buku yang dibawa Ma Siau-hou itu kontan berubah air muka Hun Thian-hi. Buku musik yang tipis dan sudah tua itu di atas sampulnya ada tertera tulisan yang berbunyi.

"Tayseng-ci-lao." (Lagu sempurna abadi). Hun Thian-hi adalah murid Lam-siau (seruling selatan), aliran Lam-siau dapat menggetarkan Bulim lantaran ilmu pelajaran Thian-liong-cit-sek dan Siau-im-pit-hiat, terutama pelajaran menutuk jalan darah menggunakan gelombang irama serulingnya ini, sudah tentu hasil pelajaran yang sempurna ini membuat Hun Thian-hi tambah luas dan dalam mengenai pengetahuan musik, waktu mulai terjun kedunia persilatan ia sudah menggemparkan Kangouw karena berhasil menutuk roboh begitu banyak gembong silat ternama, namun sejak itu tiada kesempatan menggunakan lagi, sebab setiap musuh yang dijumpai belakangan Lwekangnya semua cukup tinggi dan lebih lihay dari kemampuannya. Dari penuturan gurunya ia tahu bahwa waktu kakek gurunya masih hidup, hanya karena dapat mencangkok sebagian dari "Tay-seng-ci-lao"

Ini sehingga ia cukup malang melintang menjagoi Kangouw.

Tapi sejak kakek mojang meninggal pelajaran ini tidak diturunkan kepada gurunya, sekarang, Tay-seng-ci-lou ternyata muncul di tempat ini.

Betapa ia takkan kejut dan heran.

Sebelumnya ia tidak pernah perhatikan siapakah bibi Siau-hou itu tapi sekarang membuatnya was-was dan waspada, gedung besar ini kiranya juga menyembunyikan seorang tokoh aneh, semula ia menyangka dirinya bisa aman dan tentram sembunyi di tempat ini, ah sungguh menggelikan.

Sebentar ia mem-balik-balik, airmukanya semakin pucat, cepat ia berkata dengan nada rendah.

"Siau-hou! Kau tak boleh ambil buku ini, lekas kembalikan!"

Baru saja suaranya lenyap, muncullah seorang gadis diambang pintu kamarnya, begitu Siauhou menoleh lantas berdiri dan berteriak.

"Bibi!"

Gadis itu tanpa buka bicara, cepat-cepat ia meraih buku Tay-seng-ci-lao itu lalu bergegas keluar lagi dengan terburu-buru.

Gadis itu pergi datang begitu cepat, sehingga Thian-hi tak berhasil memperhatikan wajahnya, yang jelas ia mengenakan pakaian serba hijau mulus, perawakannya langsing menggiurkan, selain itu tiada apa yang dapat disimpulkan.

Namun untuk sekilas saja cukup membuat jantung Thian-hi mendebur keras, diam-diam ia mengeluh celaka, kalau darinya pura-pura tidak tahu masih mending, tadi ia suruh Siau-hou mengembalikan, kalau ucapannya ini didengar oleh bibinya itu, wah, bukankah membongkar jejaknya sendiri.

Sesaat kemudian baru pikirannya tenang kembali, dilihatnya Siau-hou masih menjublek diam, akhirnya ia angkat kepala berkata kepada Thian-hi.

"Selamanya bibi belum pernah bersikap begitu kasar terhadap Siau-hou, buku itu telah direbutnya kembali."

Hati Thian-hi semakin gelisah, lebih jelas lagi ucapan Siau-hou, bahwa bibinya itu tentu sudah mengetahui kedok aslinya. Pikir punya pikir akhirnya ia keluarkan serulingnya, katanya.

"Kau ingin belajar meniup seruling? Tapi kau harus tahu, untuk meniup seruling sebelunnnya kau harus belajar teorinya dulu, dan untuk mempelajari teori ini kau harus belajar membaca pula, semakin pintar membaca, cara meniup serulingnya pun semakin bagus."

Habis berkata ia angKat serulingnya, mulai meniup sebuah lagu kanak-kanak yang sangat popular di Kang-lam, yaitu lagu 'dendang jenaka', iramanya mengalun lincah dan merdu, sekian lama Siau-hou sampai terpesona mendengarkan.

Mendadak Thian-hi menghentikan lagunya serta berkata.

"Siau-hou kau suka lagu ini? Apa kau mau belajar? Saking girangnya Ma Siau-hou manggut-manggut sekuat tenaganya. Hun Thian-hi ada ganjalan hati, maka segera ia mengakhiri sampai disitu saja, katanya.

"Untuk belajar meniup kau harus belajar membaca dulu hari ini cukup sekian saja. Besok boleh dimulai!"

Ma Siau-hou lari pergi berloncatan, diam-diam ia berpikir, aku harus belajar lebih pandai meniup seruling dari guru.

Thian-hi jadi tersenyum geli, tahu ia bahwa Siau-hou sekarang sudah punya kegemaran, apalagi sudah punya kepercayaan terhadap dirinya, mau dengar kata nasehatnya lagi.

Entahlah apakah bibinya itu bakal membongkar rahasianya tidak.

Duduk seorang diri di dalam kamar ia menjadi bebal dan gundah.

Diam-diam terpikir oleh Thian-hi.

"Orang macam apakah sebenar-benarnya bibi Siau-hou itu."

Begitulah sampai lohor, keadaan masih tetap sunyi aman, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Thian-hi sendiri menjadi tidak sabar lagi segera keluar dari kamar bukunya terus berjalan keluar gedung.

Maksudnya.

hendak jalan-jalan dan melihat-lihat keadaan kota besar ini, tempo hari ia belum sempat menyaksikan keramaian kota seluruhnya.

Para Centing banyak yang sudah mengenal dirinya, maka dengan leluasa ia dapat keluar gedung.

Setelah berada diluar pintu gerbang Thian-hi.

menyelusuri jalan be"ar terus berlenggang ke depan, dilihatnya didua sisi jalan semua adalah bangunan gedung besar dan mentereng, naganaganya jalan ini merupakan komplek perumahan para pejabat tinggi pemerintah setempat.

Thian-hi berjalan terus sambil menikmati pemandangan beraneka warna dari bangunan gedung yang banyak ragam dan modelnya, tapi sebegitu banyak keadaan disini tidak ubahnya seperti keadaan kota2 besar di Tionggoan, boleh dikata tiada perbedaannya yang menyolok.

Thian-hi berlenggang terus ke depan, dari depan sana berjalan pelan-pelan mendatangi seekor kuda putih yang ditunggangi seorang pemuda ganteng mengenakan jubah sutra yang serba perlente.

Tangannya pelan-pelan mengayun dan mempermainkan pecut pendek, wajahnya berseri tawa riang gembira, mungkin hatinya sedang senang.

Dimana kudanya lewat orang-orang yang berlalu lalang di jalan segera menyingkir memberi jalan, sedapat mungkin menyingkir jauh, seolah-olah ada sesuatu di atas pemuda itu yang menakutkan.

Thian-hi sendiri menjadi heran, dengan seksama ia perhatikan Kongcu jubah sutra itu, wajahnya kelihatan tersenyum simpul, mulutnya bersiul-siul riang, entah kenapa orang itu menyingkir ketakutan.

Sementara itu tunggangan Kongcu jubah sutra itu sudah mendekat, sekilas dilihatnya Hun Thian-hi berdiri di tengah jalan tiada niat menyingkir, kontan wajahnya cemberut dan kurang senang, segera ia menghentikan kudanya, baru Thian-hi tersentak sadar, tersipu-sipu ia menyingkir ke pinggir jalan, dalam hati ia membatin.

"Sekali2 aku tidak boleh membuat keributan disini!"

Kongcu itu tersenyum lagi, baru saja hendak tinggal pergi, mendadak dilihatnya sebatang seruling putih gading yang tergantung di pinggang Thian-hi itu, segera ia berseru.

"Hai, berhenti, kemari kau!"

Hun Thiah-hi melengak, tak tahu dimana ia telah membuat salah terhadap Kongcu ini, setelah membalik tubuh ia berdiri di tempatnya mengawasi Kongcu perlente itu.

"Apa kau tidak kenal aku sebagai putra kesayangan dari Sianghu (istana) yang bernama Tan Goan-mo?"

Demikian tanya Kongcu itu uring-uringan. Hun Thian-ki kaget tersipu-sipu ia membungkuk sambil menyapa.

"Kongcu! kau baik, entah untuk apa kau panggil aku?"

Tan Goan-mo mendengus hidung, ujarnya.

"Ternyata kau kenal aku juga, kenapa tadi tidak menyapa lebih dulu, apa aku dulu yang harus menyapa kepada kau?"

Apa kerjamu disini."

Thian-hi tidak ingin membuat perkara, segera ia minta maaf.

Anggapannya dengan minta maaf tentu urusan menjadi beres, diluar tahunya bukan saja urusan selesai sampai disitu malah hampir saja merembet kepada Ma Bong-hwi.

Sayang tadi ia tidak mengatakan bahwa dirinya sebagai guru sekolahan di gedung kediaman Ma-ciangkun, tentu selanjutnya tiada perkara apa lagi.

"Baru sekarang kau minta maaf demikian jengek Tan Goan-mo.

"Kau berani kurang ajar kepada aku, maka serahkan seruling di pinggangmu itu sebagai penebus dosamu."

Thian-hi semakin tertegun bingung, sahutnya.

"Mana boleh jadi!"

Berubah air muka Tan Goan-mo, teriaknya.

"Apa? Tidak boleh? Mari kau ikut aku ke gedung balai kota!"

Diam-diam timbul hawa amarah Thian-hi, tapi setelah dipikir lebih lanjut segera ia berkata.

"Tan-kongcu, seruling ini adalah tanda mata yang diberikan oleh seorang Cianpwe mana boleh diberikan kepada orang lain! Kalau Kongcu ingin memiliki seruling kelak tentu kucarikan sebatang yang lain yang lebih bagus lagi!"

"Bedebah!"

Maki Tan Goan-mo dengan murka.

"Tar!"

Cambuknya melecut mengenai dagu Thian-hi, Thian-hi menjadi gemas dan membatin; kenapa keluarga dari Sianghu begitu brutal dan bersimaharaja!

Sementara itu pecut Tang Goan-mo sudah menyamber tiba lagi, cepat-cepat Thian-hi melangkah mundur menghindar.

"Berani kau berkelit?"

Maki Tar Goan-mo lebih murka, lagi-lagi pecutnya terayun menghajar kepada Thian-hi.

Sudah tentu Thian-hi tidak mau dihajar semena-mena, ia berhasil menghindar lagi.

Keruan semakin berkobar amarah Tan Goan-mo.

Dari sebelah belakang mendatangi pula seekor kuda, Tan Goan-mo segera berpaling dan berteriak.

"Hoan Kim-pa! Mari kau bantu menghajar bocah kurangajar ini!"

Waktu Thian-hi angkat kepala, dilihatnya pendatang ini adalah seorang laki-laki besar bermuka hitam mengenakan pakaian warna hijau, mendengar teriakan Tan Goan-mo segera ia melompat turun katanya kepada Tan Goan-mo.

"Kongcu, siiakan kau lihat saja!" -sambil menenteng cambuknya yang besar dan panjang ia mendekati Thian-hi. Bercekat hati Thian-hi, kelihatannya laki-laki ini bukan orang biasa, agaknya membeka! kepandaian silat yang cukup lumajan, pakaiannya sederhana dan preman, mungkin bukan orang dari istana atau anggota Busu. Sambil menyeringai sadis Hoan Kim-pa mengayun cambuknya, Tar! Tar! langsung ia memecut ke arah Thian-hi. Sudah tentu Thian-hi tidak rela dihajar begitu saja, cepat ia mundur ke belakang dua langkah dengan pura-pura terhujung, untung bisa terhindar. Namun ayunan cambuk Hoan Kim-pa tidak berhenti, lagi-lagi ia melangkah maju, beruntung ia memecut lagi dua kali. Kedua serangan pecut terakhir ini sebetulnya sudah tak mungkin dihindari lagi. Betapa murka hati Thian-hi, namun terdesak oleh keadaan, apa boleh buat ia berusaha mundur lagi selangkah, ia berhasil menghindari pecutan pertama, sedang pecutan kedua dengan telak mengenai pundaknya, kontan bajunya sobek, pundaknya pun berdarah. Hampir Thian-hi tak kuasa menahan gelora amarah hatinya, cara turun tangan Hoan Kim-pa ini sungguh sangat kejam dan keji, bila ada kesempatan pasti kubalas penasaran ini. Hoan Kim-pa menyeringai semakin kejam, ia mendesak lebih dekat lagi. Sekonyong-konyong terdengar suara kelintingan yang riuh dan congklang kuda yang ramai tengah mendatangi. Seketika berubah air muka Tan Goan-mo, cepat ia ulurkan tangannya, segera Hoan Kim-pa menurunkan cambuknya. Sebuah kereta kencana yang terukir indah ditarik enam ekor kuda putih berlari kencang mendatangi, yang mengendalikan kereta ternyata adalah seorang gadis rupawan berbaju merah, begitu cepat keretanya mendatangi, melihat keramaian ini segera ia berseru heran dan menghentikan kereta, meski dengan cekatan ia berhasil menghentikan kudanya tak urung kudanya sudah melampaui ke depan tiga tombak jauhnya, segera ia putar keretanya mendekat ke arah mereka bertiga. Tersipu-sipu Tan Goan-mo maju menyapa dengan hormat.

"Tuan putri! apa kau baik?"

Ganti berganti Tuan putri mengawasi mereka bertiga lalu bertanya kepada Tan Goan-mo.

"Apa yang telah terjadi disini?"

Tan Goan-mo tersenyum, sahutnya.

"Orang ini punya sebatang seruling pualam semu merah, aku ingin membelinya untuk dipersembahkan kepada Tuan putri, tapi orang ini tidak mau menjual"

Sementara itu, Hun Thian-hi juga sudah mengamati Tuan putri itu, matanya begitu bening dan jeli, sungguh seorang putri remaja yang cantik rupawan, begitu mahir ia mengendalikan keretanya, mungkin sudah biasa, demikian ia membatin.

Di lain pihak Tuan putri juga tengah mengawasi Thian-hi, katanya kepada Goan-mo.

"Jika dia tidak suka jual ya sudah, apa kau telah memukul dia?"

Tan Goan-mo berpaling ke arah Thian-hi dengan mata mendelik gusar, lalu menjawab pertanyaan Tuan putri dengan tertawa.

"Seruling pualam semu merah itu sungguh baik sekali, bukankah Tuan putri paling gemar warna merah. Maka aku ingin membelinya untuk Tuan putri."

Mulut Tuan putri mengiakan dengan lirih, lalu berkata kepada Thian-hi.

"Seruling pualam semu merah milikmu itu bolehkah kupinjam lihat sebentar?"

Hun Thian-hi bersangsi sebentar, lalu menanggalkan serulingnya diangsurkan kepada Tuan putri.

Dengan seksama Tuan putri perhatikan seruling itu, kelihatannya sangat ketarik, ia mendongak ke arah Thian-hi, melihat sikap Thian-hi yang wajar tiada maksud hendak berikan kepada dirinya, ia menjadi kecewa, apa boleh buat akhirnya ia kembalikan kepada Thian-hi.

Dengan kedua tangannya Thian-hi menerima kembali serulingnya, Tuan putri lantas tanya pula.

"Kau bisa memiliki seruling sebagus ini, tentu bukan sembarangan orang, dimana kau tinggal sekarang?"

Sejenak beragu Thian-hi lantas menjawab.

"Aku tinggal di gedung Ma-ciangkun."

"Di gedung Ma-ciangkun?"

Tanya Tuan putri menegas. Thian-hi manggut-manggut. Dari belakang sana mendatang sepasukan pengawal yang mengenakan mantel serba merah. Tuan putri berpaling seraya berkata.

"Aku harus segera pulang, kalian tidak perlu bertengkar lagi."

Selesai berkata ia ayun pecutnya membedal kuda keretanya kencang-kencang. Rombongan pengawal merah itu segera mengejar di belakangnya. Dengan murka Tan Goan-mo pandang Hun Thian-hi, dengusnya dingin.

"Kiranya warga dari Ma-ciangkun, tak heran berani bertingkah terhadap aku Tan Goan-mo!" -lalu ia ulapkan tangan bersama Hoan Kim-pa naik kuda tinggal pergi, kejap lain mereka sudah menghilang di pengkolan jalan. Setelah Tan Goan-mo tak kelihatan, Thian-hi masih berdiri menjublek, hatinya berpikir anggota keluarga dari Sianghu kenapa begitu telengas dan bertingkah kasar. Mungkin negeri ini tidak begitu makmur dan aman sentosa. Tapi entahlah Siangkok (perdana menteri) seorang baik atau orang jahat kejam. Hilang selera jalan-jalannya tadi, segera ia jalan pulang, ditengah jalan teringat pula akan bibi Siau-hou yang serba misterius itu, entah bagaimana keadaannya sekarang, sebetulnya orang macam apakah dia, Tay-seng-ci-lau kenapa bisa berada di tangannya. Demikian Thian-hi bertanya-tanya dalam hati. Sekembali Thian-hi di gedung Ma-ciangkun, sampai petang mendatang keadaan masih tetap tenang dan tiada terjadi apa-apa, lambat laun Thian-hi baru merasa tentram. Malam itu, ia mengulang lagi pelajarah Pan-yok-hian-kang. Hari kedua baru ia mulai ajarkan Siau-hou meniup seruling dan membaca buku. Sebagai murid tunggal Lam-siau, Lam-siau sebagai keturunan aliran kenamaan pula di daerah Kanglam, seluruh kepandaian sastra dan ilmu silatnya sudah diturunkan semua kepada Thian-hi. Untuk mengajar kepada Siau-hou adalah soal sepele bagi Thian-hi.... Apalagi Siau-hou sangat ketarik dan punya minat besar mempelajari Seruling, sudah tentu segala petunjuk dan nasehatnya dipatuhi. Sang waktu berjalan dengan cepat tanpa terasa, tahu-tahu tiga bulan sudah lewat, waktu pertama kali datang, beruntun terjadi dua perkara, sejak itu ia tidak berani keluar pintu lagi, dengan tekun ia memperdalam pelajaran Pan-yok-hian-kang. Agaknya kerjaan Ma Bong-hwi juga sangat banyak dan sibuk, jarang mereka bertemu muka. Selama itu belum pernah ada kesempatan ia melihat bibi Siau-hou, waktu yang cukup lama ini sudah mempererat hubungannya dengan Siau-hou semakin intim. Tiga bulan telah lewat, diam-diam Thian-hi berpikir; sudah tiga bulan aku mempelajari Pan-yokhian-kang, kalau sekarang aku mulai mempelajari Wi-thian-cit-ciat-sek, kukira tiada halangannya. Setelah hari menjadi gelap ia mulai mem-balik-balik buku pelajaran Wi-thian-cit-ciat-sek. Dari jurus pertama secara seksama ia perhatikan ganti berganti sampai jurus ketujuh, setelah selesai diamdiam bercekat sanubarinya. Tiga bulan yang lalu waktu ia melihat ketujuh jurus itu kelihatannya serupa dan tiada perbedaannya, namun sekarang terasa jauh berlainan sama sekali. Ketujuh jurus ini hanya terpaut beberapa mili saja, namun di dalam pergerakan pedang yang hanya beberapa mili dalam waktu singkat itu, ternyata tersembunyi kekuatan yang luar biasa besarnya. Diam-diam kejut dan girang pula hatinya, dengan penuh perhatian ia menekuni dan mempelajari dengan hati-hati, namun sedemikian jauh ia masih kurang paham cara bagaimana ia harus menggunakan tenaga besar yang tersembunyi itu Begitulah dilihat lalu dipikir, dipikir dan diperiksa lagi dengan seksama, tanpa merasa ia habiskan waktu semalam suntuk tanpa membawa hasil. Malam kedua ia menyelami pelajaran Wi-thian-ci-ciat-sek lagi kira-kira sampai tengah malam, terasa sesuatu keganjilan olehnya, mendadak diluar diatap rumah sana ia mendengar lambaian ujung baju orang berjalan malam. Thian-hi terkejut, timbullah kewaspadaannya, cepat ia padamkan pelita dan menyimpan buku Wi-thian-cit-ciat-sek ke dalam bajunya, dengan tenang ia duduk menanti dan mendengarkan dengan cermat. Orang itu berjalan berputar-putar di atas genteng, tahu Thian-hi bahwa orang ini pasti bukan lewat jalan saja, terang sengaja sedang mencari tahu atau main selidik, entah siapa dan darimana dia bernyali besar berani meluruk ke gedung Panglima besar. sedikit mengempos napas ringan sekali Thian-hi melayang keluar dari jendela terus berkelebat sembunyi di bawah atap. Selepas pandangannya yang cukup tajam pada malam hari, kelihatan orang itu masih terpaut puluhan tombak disebelah sana, rupanya tidak begitu tegas, hanya kelihatan muka sampingnya mengenakan pakaian serba hitam legam, ia berdiri sekian lama, seolah-olah sedang berpikir apaapa. Diam Thian-hi membatin.

"Sungguh besar nyali orang ini, di atas gedung Panglima besar masih berani berdiri main terang-terangan, seolah-olah sangat ceroboh dan takabur."

Setelah berhenti sekian lamanya, orang itu berputar-putar lagi di atas genteng.

Cepat Thian-hi mengkeret mepet tambok.

Seperti tiada orang lain saja orang itu berkelebat melompat turun ditaman bunga, ternyata berdiri anteng tak bergerak lagi.

Sejenak kemudian terdengar ia menghela napas panjang, naik ke atas genteng hendak tinggal pergi.

Thian-hi masih ingat akan peringatan Ka-yap Cuncia ia tidak berani mengejar, baru saja ia hendak tinggal masuk kembali ke kamarnya, dari dalam rumah samping sana terdengar seseorang berkata.

"Hai, kenapa tinggal pergi!"

Jelas terdengar oleh Thian-hi bahwa itulah suara Ma Bong-hwi. Kejap lain tampak Ma Bong-hwi melompat naik ke atas genteng sambil menenteng pedang, pakaiannya ringkas, katanya kepada orang itu.

"Kau sengaja kemari hendak bertemu mengapa mau pergi?"

Orang itu pandang Ma Bong-hwi seraya bertanya.

"Apakah aku berhadapan dengan Maciangkun?"

"Benar-benar! Siapa kau? Ada urusan apa malam2 kemari?"

Demikian tanya Ma Bong-hwi.

"Aku yang rendah Hou Cong-ceng!"

Sahut orang itu.

"Entah apakah Ciangkun masih ingat?"

"0, kiranya kau!"

Sahut Ma-ciangkun.

"Ma-ciangkun bertindak terlalu jujur dan tegas dalam segala urusan, sehingga menimbulkan sirik orang. Ada orang mengutus aku kemari untuk membunuh Ciangkun, untuk selanjutnya harap Ciangkun suka hati-hati, aku harus segera pulang."

Diam-diam Thian-hi mengeluh kiranya orang memang sengaja hendak mengunjukkan jejak sendiri, namun sedemikian jauh dirinya tidak dapat mengetahui.

"Nanti dulu!"

Terdengar Ma Bong-hwi menahan.

"Coba kau beri keterangan lebih jelas!"

Hou Cong-ceng rada sangsi, akhirnya berkata.

"Maaf, aku tak bisa banyak bicara, dulu Ciangkun pernah tanam budi terhadap aku, maka aku tidak peduli keselamatan sendiri memberi kisikan kepada Ciangkun, bila diketahui orang lain, tentu jiwaku terancam bahaya, sekarang juga aku harus mengundurkan diri."

Habis berkata terus berlari pergi.

Ma Bong-hwi terlongong di atas genteng, sekian lama ia tidak bergerak, agaknya otaknya sedang diperas untuk memikirkan persoalan rumit ini, rada lama kemudian baru ia turun ke dalam taman dan berjalan masuk ke dalam rumah.

Baru saja Thian-hi hendak kembali ke kamarnya, sekilas dilihatnya di para2 bunga sebelah kiri sana mendekam sebuah bayangan orang, bercepat hatinya, tadi Hou Cong-ceng bilang bahwa dia menyerempet bahaya kemari memberi kisikan, dan takut diketahui orang lain.

Ternyata sejak tadi orang ini sudah mencuri dengar disitu, dengan seksama Thian-hi perhalikan orang itu, tampak pelan-pelan ia menggeremet keluar dari rumpun bunga Seruni hendak melarikan diri.

Segera Thian-hi paham duduk perkara sebenar-benarnya.

Insaf ia kalau orang ini sampai dapat lolos dengan selamat, pasti jiwa Hou Cong-ceng terancann bahaya, entah siapa yang mengutus dia menyelundup kemari.

Thian-hi ingin bertindak, tapi tidak leluasa untuk mengunjukkan diri, akhirnya ia meremas pecah genteng menjadi sebuah batu kecil, dengan kedua jarinya menyelentik ringan mengarah belakang kepafa orang itu.

Kontan terdengar orang itu berteriak kesakitan.

Cepat Thian-hi kembali ke dalam kamarnya, terdengar suara Ma Bong-hwi berteriak.

"Siapa!"

Lalu disusul dengusannya lagi.

"Lari kemana kau?"

Terdengar senjata berdentang beradu, beberapa jurus kemudian terdengar pula orang itu menjerit.

Tahu Thiau-hi bahwa orang itu sudah kena dibunuh oleh Ma Bong-hwi, dengan lega iapun berbaring untuk istirahat.

Hari kedua air muka Ma Bong-hwi tampak kecut, begitu melihat Thian-hi.

Siau-hou lantas mengoceh, katanya.

"Guru! Semalann rumah kita kebobolan pencuri, apa kau tahu?"

Thian-hi menggeleng pura-pura terperanjat, serunya.

"Apa benar-benar?"

Siau-hou, manggut-manggut dengan sungguh, katanya.

"Kau tak tahu, orang itu adalah seorang anak buah ayah sendiri, tapi sudah dibunuh oleh ayah. Jikalau aku belum tidur, wah pasti hebat tontonan ini."

Thian-hi tertawa-tawa, ujarnya.

"Kau masih kecil, jangan turut campur urusan orang tua, lebih baik kau pelajari isi buku yang sangat bermanfaat ini!"

Dengan lucu Siau-hou pandang Thian-hi, sambil tertawa cengar-cengir, lalu goyang2 kepala, seolah-olah ada banyak urusan jauh ia lebih tahu, dari Thian-hi, seumpama dituturkan belum tentu Thian-hi paham.

Sudah tentu Thian-hi makfum akan maksud Siau-hou, namun iapun tak banyak bicara lagi, seperti biasa ia ajarkan Siau-hou meniup seruling dan membaca buku.

Malam itu Hun Thian-hi mengulangi latihan Wi-thian-cit-ciat-sek, sedemikian jauh dapatlah diselami perbedaan dari ketujuh jurus permainan pedang, dengan pejamkan mata ia menepekur berusaha memecahkan inti rahasianya, setiap gerak perubahan ketujuh jurus ilmu pedang ini satu sama lain berbeda dan berlainan arah dan sasaran, tenaga yang dilontarkan pun juga berlainan, dengan tangannya ia bergerak-gerak menirukan dalam gambar, namun terasa kurang leluasa, lantas terpikir olehnya untuk mencoba dan mempraktekkan latihan ini dengan pedang sungguhan.

Selain Badik buntung Thian-hi tidak membekal senjata tajam apapun, kecuali menggunakan serulingnya, namun di tempat sempit begini mana mungkin, bila sampai konangan orang lain dan dlketahui dirinya bisa main silat tentu berabe dan terbukalah kedoknya.

Tapi intisari dan kehebatan dari ilmu pedang ini harus dipraktekkan atau harus latihan menggunakan pedang, baru bisa diselami.

Akhirnya ia bangkit menyimpan Kiamboh Wi-thian-citciat-sek, lalu berjalan keluar ketaman, ia tahu di tempat sepi paling ujung belakang sana ada sebuah gunungan palsu, sebidang tanah datar di belakang gunung palsu inilah yang paling sepi dan tidak pernah diinjak kaki manusia.

Secara diam-diam Thian-hi menuju kesana, setelah celingukan kesekitarnya dan jelas tak ada orang lain, hatinya rada lega dan gembira, namun hatinya.

masih merasa kuatir, segera ia berjalan memutar memeriksa keadaan sekitarnya baru kembali lagi ke belakang gunungan palsu itu.

Pelanpelan ditanggalkan serulingnya, segera ia pasang kuda-kuda dan mulai bergaja, namun terasa seruling di tangannya ini kurang cocok dipakai sebagai gaman pedang.

Ia mengerut kening, batinnya.

"Kenapa aku harus takut dan beragu menggunakan alat senjata, atau akan batal berlatih Wi-thian-cit-ciat-sek saja!' Kejap lain ia sudah menghimpun tenaga dan pusatkan semangat, tiba-tiba tubuhnya mencelat mumbul, tubuhnya berputar setengah lingkaran ditengah udara, dimana tangan kanannya bergerak jurus pertama dari Wi-thian-cit-ciat-sek mulai dikembangkan, waktu serulingnya menutuk keluar, segulung hawa tenaga semi merah kontan memberondong keluar dari batang seruling itu melesat ke depan, namun hanya sekejap mata saja lantas sirna. Sebetulnya Thian-hi bermaksud melanjutkan gerak susulannya, namun tenaganya sudah tak kuasa lagi menyambung, terpaksa ia meluncur turun ke tanah, duduk di atas gunungan palsu, ia berpikir dan menyelaminya dengan seksama. Tak lama kemudian ia mempraktekkan sekali lagi, begitulah secara tak mengenal lelah ia ulangi terus permainan jurus pertama ini sampai akhirnya ia paham sendiri dan dapat diapalkan diluar kepala., hatinya rada gembira, untuk gerak yang terakhir ia sudah berhasil mengendalikan tenaga kekuatan jurus pedang itu sesuka hatinya. Tatkala itu hari sudah mulai terang, terpaksa Hun Thian-hi menghentikan latihannya. Meski semalaman tidak tidur dan berlatih dengan capek lelah lagi, dasar latihan Pan-yok-hian-kangnya sudah kuat, pernah menelan buah ajaib lagi, maka Lwekangnya boleh dikata sudah sangat tinggi jarang tandingan, biasanya cukup cuma semadi beberapa waktu saja sudah cukup, dan tidak perlu tidur lagi. Setelah mendongak melihat cuaca, dengan memejamkan mata ia mengingat kembali permainan jurus pertama ini, untuk selanjutnya ia melatih Thian-liong-cit-sek, tak lupa ia berlatih juga Gin-ho-sam-sek yang diajarkan oleh Soat-san-su-gou itu. Gin-ho-sam-sek sekarang boleh dikata sudah mendarah daging, bisa dilancarkan sesuka hatinya secara mudah. Begitu pula Thianliong-cit-sek lebih apal lagi. Setelah langit semakin terang cepat-cepat Thian-hi kembali ke dalam kamarnya untuk istirahat. Keesokan harinya setelah pulang dari piket tampak air muka Ma Bong-hwi sangat murung, Hun Thian-hi menjadi curiga, namun tidak leluasa menanyakan karena persoalan pribadinya, apalagi dirinya berusaha menyembunyikan keadaan sebenar-benarnya, mana boleh banyak turut campur urus perkara orang lain. Dalam hati ia hanya menerka2 bahwa mungkin Ma Bong-hwi menghadapi urusan yang tidak menyenangkan hati. Pikir punya pikir, akhirnya Thian-hi berkeputusan untuk tinggal diam berpeluk tangan saja. Malamnya setelah duduk samadi berlatih Pan-yok-hian-kang, menjadi kebiasaan untuk hari2 selanjutnya ia mulai tenggelam dalam memikirkan pemecahan rahasia inti jurus-jurus Wi-thjan-citciat-sek. Semalam suntuk ia bersusah payah tanpa hasil m mahami jurus kedua. Setelah makan pagi, seperti biasa Siau-hou datang belajar, namun kali ini tidak membawa Seruling besinya. Begitu masuk Siau-hou lantas berkata.

"Pak guruku! ayahku panggil kau, ada urusan hendak dibicarakan dengan kau!"

Hun Thian-hi rada melengak, selama ini Ma Bong-hwi belum pernah ajak dirinya bicara, sekarang diluar dugaan memanggil aku, entah ada urusan apa, menguntungkan atau merugikan dirinya.

Ia berpikir sebentar lalu berkata kepada Siau-hou.

"Siau-hou! Apa kau tahu untuk urusan apa?"

Siau-hou menggeleng, katanya.

"Aku tidak tahu.". Tapi segera ia merendahkan suara dan menambahi dengan sungguh-sungguh.

"Tapi aku tahu, tentu soal yang sangat penting."

Sangsi dan lebih curiga lagi Hun Thian-hi, sebetulnya untuk urusan penting apakah.

Selamanya Ma Bong-hwi anggap dirinya sebagai penolong jiwa dirinya diluar dugaan hari ini dia sudi mencari dirinya, sungguh sulit diduga dan diraba juntrungnya.

Akhirnya ia manggut-manggut.

"Baiklah. segera aku datang!"

Siau-hou segera berlari pergi.

Setelah dipikir2 ia tidak bisa ambil kesimpulan positip, terpaksa ia beranjak keluar.

Begitu tiba di ruang belakang, kelihatan Ma Bong-hwi sudah menanti disana, begitu melihat Hun Thian-hi masuk segera ia bangkit berdiri seraya berkata tertawa.

"Losu! Apa kau baik?"

"Selamat pagi, Ma-ciangkun!"

Segera Thian-hi menyapa dan memberi hormat.

"Ma-ciangkun hari ini tidak keluar, entah untuk urusan apakah Ma-ciangkun mengundang aku?" ~Lahirnya ia berlaku tenang, tapi batinnya kebat-kebit, entah mengapa Ma Bong-hwi hari ini berlaku sangat sungkan dan ramah terhadap dirinya. Ma Bong-hwi tertawa kikuk serta berkata lembut.

"Sudah tiga bulan Losu berada disini, selamanya Siau-hou sangat nakal tak mau dengar nasehat, berkat didikan Losu sekarang dia mau mendengar katamu. Sebagai seorang tua selamanya tidak pernah aku mengurusnya, terhadap Losu juga terlalu bebas tanpa sungkan-sungkan lagi."

"Ah, ucapan Ma-ciangkun membuat aku menjadi risi, Ma-ciangkun adalah tuan penolongku, apalagi berkat Ma-ciangkun sudi menerima aku berteduh disini, sehingga aku tak terlantar, Hun Thian-hi sangat berterima kasih tak terhingga."

Sekilas matanya melirik, ternyata ruang besar ini menjadi begitu sunyi karena tiada orang lain, jelas para pelayan sudah diperintahkan mengundurkan diri semua, hal ini lebih mempertebal kecurigaan Thian-hi.

"Ternyata Losu suka berkelakar."

Demikian ujar Ma Bong-hwi tertawa.

"Akulah yang terlalu ceroboh, adik kandungku justru menyalahkan kelalaianku ini, selalu mengagulkan diri sebagai tuan penolongmu, sebetulnya.... ai!"

Melonjak jantung Thian-hi, adik kandungnya (perempuan), bukankah berarti bibi Siau-hou.

kalau begitu tentang dirinya bisa main silat sudah dapat diketahui olehnya?

Terpikir sampai disini tanpa merasa keringat dingin telah membasahi sekujur badannya.

Thian-hi menjadi tergagap tak bisa bicara, terang dia tak bisa menyangkal dan tidak bakal mengakui, kalau menyangkal bahwa dirinya bisa main silat, ucapan Ma Bong-hwi tadi tidak atau belum secara langsung ditujukan kepada dirinya, jelas malah akan memperlihatkan kedoknya sendiri, tapi kalau ia tidak bersuara berarti membenar-benarkan.

Akhirnya Thian-hi buka suara dengan menyengir.

"Ma-ciang-kun, aku tidak paham apa yang kau maksudkan."

"Adikku pernah berkata, tidak seharusnya aku bersikap terlalu dingin terhadap kau. Apakah Losu sesalkan perbuatanku ini?"

"Ucapan Ma-ciangkun terlalu berat untuk kuterima, sikap Ma-ciangkun sangat baik terhadapku. Hun Thian-hi merasa sangat berhutang budi dan entah kapan dapat membalas kebaikan ini."

Ma Bong-hwi berkata.

"Aku tengah dihadapi sebuah perkara yang sangat menyulitkan kedudukanku, adikku bilang supaya aku minta bantuan kepada Sian-seng, katanya kecuali Sianseng tiada orang lain yang bisa membereskan. Aku harap Siangseng suka bantu kepada kesukaranku ini."

Berubah air muka Thian-hi, katanya.

"Tenagaku pasti sangat terbatas, aku kuatir akan mengecewakan harapan Ciangkun belaka." -diam-diam ia mengeluh dalam hati, entah cara bagaimana ia harus mengambil sikap, kalau tahu bakal terjadi kejadian hari ini, lebih baik siangsiang aku tinggal pergi saja, soalnya ia terlalu kemaruk akan keselamatan diri sendiri sehing-ga sekarang sulit membebaskan diri dari pertanggungan jawab ini.

"Selamanya adikku tidak bicara sembarangan, dia beritahu kepada aku bahwa Siangseng adalah seorang kosen yang menyembunyikan diri. Bila aku punya kesukaran selalu dialah yang bantu aku membereskan kesulitanku, setiap ucapannya selalu tepat tak pernah salah."

"Ma-ciangkun terlalu memuji, Hun Thian-hi mana terhitung seorang tckoh aneh apa segala, ini betul-betul suatu hal yang menggelikan belaka"

"Malam tempo hari bukankah Siangseng juga telah menanam budi kepada aku, jika tiada mendapat bantuan Sianseng tentu mata2 yang menyelundup itu tak bisa diringkus dan dibereskan."

Mendengar lebih lanjut Thian-hi semakin menjublek ditempatnya, mulutnya terkancing rapat tak kuasa bicara lagi.

Ternyata siang-siang jejaknya sudah dapat dilihat oleh orang, perbuatannya tempo hari menurut anggapannya sudah sangat tersembunyi, tak konangan juga.

Kalau begitu perihal dirinya bisa main silat jelas sudah diketahui oleh mereka, entahlah waktu aku latihan ilmu pedang apakah juga sudah diintip oleh mereka.

Thian-hi menjadi serba salah, tak tahu bagaimana ia harus bertindak, akhirnya ia berkata dengan hambar.

"Ma-ciangkun! Apa katamu? Aku tidak mengerti!"

Dengan kecewa Ma Bong-hwi pandang dia, akhirnya menghela napas rawan, ujarnya.

"Apakah Sianseng betul-betul tidak sudi membantu?"

Lambat laun Hun Thian-hi tertunduk, hatinya menjadi gundah, sepihak ia pernah mendapat pertolongan orang, sebagai seorang gagah apakah ia mandah saja melihat kesulitan orang, sungguh malu rasanya bila dirinya berpeluk tangan melihat orang ketimpa malang.

Terdengar Ma Bong-hwi berkata lagi.

"Adikku menyangka bila aku mau mohon bantuan, tentu Sian-seng suka membantu. Kukira dugaannya sekali ini meleset."

Tersentak sanubari Thian-hi. Katanya.

"Bila aku dapat, sekuat tenagaku aku suka membantu."

Setelah memberi jawaban ini baru ia sadar, kenapa tadi aku selalu menghindari, sebetulnya Ma Bong-hwi mengalami kesukaran apa aku toh belum menanyakan jelas, bila sudah jelas duduk perkaranya, kan lebih gampang untuk menolaknya.

"Apa betul!"

Ma Bong-hwi berteriak kegirangan. Thian-hi manggut-manggut, tanyanya.

"Mengenai soal apakah, harap Ma-ciangkun suka jelaskan."

"Asal Siangseng suka membantu tanggung urusan ini bisa dibikin terang."

Demikian kata Ma Bong-hwi berseri tawa. Kedengarannya Ma Bong-hwi sudah anggap bahwa Thian-hi pasti mau membantu, keruan Thian-hi rada gugup, cepat ia menambahi.

"Ma-ciangkun, tenagaku seorang sangat terbatas...."

Baru sampai disini ucapannya, mendadak terdengar suara "tring"

Yang nyaring dari kamar sebelah, itulah suara petikan sinar harpa yang nyaring merdu, begitu mendengar suara petikan harpa ini seketika berubah air muka Thian-hi.

Diam-diam Thian-hi mengeluh dalam hati, bibi Siau-hou itu pasti hendak menggunakan Tayseng-ci-lau (lagu sempurna abadi) untuk mendesak dirinya mengunjukan ilmu silatnya.

Baru saja terkilas pikirannya ini, petikan gelombang suara harpa kedua sudah kedengaran lagi, kali ini lebih kuat, tajam dan melengking menusuk telinga, kontan melonjak hati Thian-hi.

Thian-hi tengah mencari akal cara bagaimana baru dia bisa tidak mengunjukkan kepandaian silatnya, sebuah pikiran berkelebat secepat kilat dalam benaknya, hanya satu cara saja, meskipun hasil cara ini sangat minim terpaksa harus dicoba dulu.

Segera ia menanggalkan serulingnya terus ditempelkan dibibirnya, dengan pejamkan mata ia mulai meniup serulingnya, tujuannya berusaha membendung gema suara harpa.

Tapi Tay-seng-cilau merupakan buah karja seorang ahli yang sangat lihay, setiap petikan suara harpa mengetuk sanubarinya seperti dadanya dipukul godam.

Apalagi dengan cara dari dalam keluar, bukan dari luar ke dalam yang rada mudah ditangkis.

Lambat laun Thian-hi kepayahan akhirnya tak kuasa meniup serulingnya lagi, bila dia tidak membekal ilmu sakti macam Pan-yok-hian-kang, mungkin sejak tadi jantung di hatinya sudah hancur lebur.

Dengan putus asa Thian-hi pandang Ma Bong-hwi, kelihatan orang berdiri seenaknya sambil menggendong tangan, seperti menikmati musik yang mengasjikkan.

Kongsun Hong guru Thian-hi pernah menuturkan, bahwa Tay-seng-ci-lau punya keanehan yang mujijad, dapat dilancarkan sesuka orang yang melagukan, tanpa dapat mengganggu atau memcelakai orang lain, namun kekuatannya sungguh luar biasa dan sulit dibayangkan.

Tak kuat mendengar irama petikan harpa, terpaksa Thian-hi kerahkan Pan-yok-hian-kang untuk melindungi jantungnya, segera ia duduk bersila dan samadi, seketika terasa irama harpa itu kena terusir dari dalam badannya, pikirannya yang kalut dan gundah tadi pun lantas tersapu bersih.

Agaknya irama harpa juga tidak mau mengalah, beruntun ia merubah nada dan berganti lagu, mulailah lagu Sempurna abadi dikembangkan lebih lengkap.

Tapi setelah Thian-hi berhasil samadi menggunakan Pan-yok-hian-kang, bukan saja tidak kena diganggu usik, malah dengan cermat ia bisa meng-ingat2 irama lagu Tay-seng-ci-lau yang hebat ini.

Sambil mengingat lagu, diam-diam hatinya merasa heran, orang yang memetik harpa ini kelihatan tidak bisa ilmu silat, alangkah lucu dan anehnya, begitu pintar orang dapat mengetahui segala seluk beluknya, namun sedikit pun ia tidak bisa main silat, ini benar-benar aneh bin ajaib.

Atau mungkin dia sengaja mengalah atau hendak memberi muka kepadanya?

Atau sengaja ia hendak menyembunyikan kepandaian silatnya?

Tay-seng-ci-lau merupakan lagu tiada taranya yang dapat mencabut jiwa hanya dalam lintasan petikan senar harpa saja, tapi orang ini tidak pandai silat, kejadian ini betapapun sangat mengejutkan.

Tiba-tiba irama harpa berhenti.

Thian-hi juga lantas menyedot hawa sejuk, Ma Bong-hwi segera maju menghampiri serta berkata.

"Ternyata Sianseng benar-benar seorang tokoh aneh, aku biasa mengagulkan diri sebagai orang kosen, tapi sungguh diluar dugaan Sianseng adalah lebih kosen lagi. Begitu lama menyembunyikan diri di rumah kita tanpa diketahui."

Dengan murung Thian-hi bangkit berdiri, secara tak sengaja ia sudah melanggar pantangan Kayap Cuncia.

Jikalau....

bilamana berita beradanya ia disini sampai tersiar ke Tionggoan, mungkin sebuah tragedi yang menimbulkan banjir darah bakal terjadi.

Bab 15 Melihat sikap murung Thian-hi Ma Bong-hwi menjadi heran.

Dari kamar sebelah berjalan keluar seorang gadis, waktu Thian-hi angkat kepala seketika ia berdiri kesima, gadis ini begitu canck rupawan lagi, seumpama dibanddng dengan Ham Gwat juga tidak kalah ayunya.

Kalau mimik wajah Ham Gwat selalu kaku dingin tanpa expresi sebaliknya gadis di depannya ini bermuka merah jengah laksana buah Tho yang sedang masak.

Melihat Thian-hi memandang kesima pada dirinya, tersipu-sipu ia menunduk malu.

Mendadak Thian-hi sadar akan sikapnya.

yang kurang hormat, cepat-cepat ia menundukkan kepala.

Ma Bong-hwi bergelak tawa, ganti berganti ia pandang mereka berdua, katanya.

"Inilah adikku Ma Gwat-sian!"

Gwat-sian berarti dewi bulan. Dengan tertawa malu-malu Ma Gwat-sian bersuara.

"Laguku tadi tentu mengotori pendengaran Sianseng belaka."

"Petikan harpa Ma-siocia mungkin tiada bandingannya dikolong langit ini,"

Demikian puji Thianhi.

"Sebagai orang biasa, dapat mendengar irama dewa sungguh bahagia selama hidup ini."

Ma Gwat-sian tersenyum lebar. Thian-hi menghela napas, katanya.

"Kita hanya bertiga disini, selanjutnya akupun tidak perlu menyembunyikan diri lagi. tapi aku sudah berjanji kepada orang supaya orang lain tidak tahu bahwa aku pandai main silat. Harap kalian suka merahasiakan."

"Soal yang kuhadapi ini betapapun harus Sianseng bantu membereskan,"

Demikian mohon Ma Bong-hwi sekali lagi.

"Mengandal iimu silat Sianseng, tanggung segampang membalikkan tangan saja. Sudah tentu kita tidak akan membuka rahasia Sianseng pandai main silat. Persoalan itu sendiri pun juga tetap dapat dirahasiakan."

Ma Gwat-sian pandang Thian-hi dengan rasa menyesal dan minta maaf, Thian-hi maklum dan manggut-manggut.

Ma Bong-hwi menjadi kegirangan, segera ia menceritakan sebuah peristiwa besar yang sangat mengejutkan.

Kata Ma Bong-hwi.

"Belakangan ini gudang istana sering kebobolan. setiap kehilangan benda pusaka, tentu terlebih dulu mendapat pemberitahuan, namun siapakah pencurinya selama ini sulit dapat meringkusnya. Tan-siangkok memberi lapor kepada sang Baginda bahwa aku dapat membongkar perkara pencurian ini. Tapi kemaren telah hilang pula sebuah pusaka, kali ini yang dicuri adalah cap kerajaan."

"Oo,"

Thian-hi mengiakan lalu bertanya.

"Biasanya bagaimana hubungan Ma-ciangkun dengan Tan-siangkok? Entah bagaimana pula karakternya?"

"Bicara terus terang,"

Ujar Ma Bong-hui sembari menghela napas.

"kesanku terlalu jelek kepadanya, dia terlalu mengumbar putra dan para centengnya. dia sangat benci kepadaku katanya aku terlalu suka banyak urusan, mencampuri sepak terjang keluarganya."

Hun Thian-hi merenung sesaat kemudian lalu bertanya lagi.

"Bagaimana karakter Tansiangkok?"

Ma Bong-hui pandang Thian-hi dengan perasaan heran, mengapa dia tidak mengetahui, setelah beragu akhirnya ia berkata.

"Umumnya masyarakat berkesan terlalu buruk terhadap dia. Dia memegang tampuk pimpinan dan kekuasaan negara, kecuali Ing-ciang-kun Thian-seng dan aku, seluruh kerabat diistana raja boleh dikata hampir seluruhnya menjadi penyanjungnya."

"Toako,"

Tiba-tiba Ma Gwat-sian menyela.

"Apa kau melupakan Toh-ciatsu?"

"Benar, benar,"

Ujar Ma Bong-hwi tersenyum.

"Kenapa aku melupakan dia, Toh-ciat-su justru menjadi lawan Tan-siangkok yang sembabat, setiap kali Tan-siangkok menjalani kesalahan pasti dialah pertama kali yang tampil ke depan mencercahnya."

Thian-hi manggut-manggut, samar-samar ia dapat meraba bahwa urusan ini tentu punya sangkut paut dengan Tan-siangkok, kenapa pula Tan-siangkok menunjuk kepada Ma Bong-hwi? Segera ia bertanya.

"Siapakah sebetulnya yang berkuasa digudang istana?"

"Seluruh istana dalam kekuasaan komandan Gi-lim-kun. yang menjabat komandan Gi-lim-kun adalah adik kandung Ing-ciangkun, sekarang sudah dipecat dari jabatannya, sebagai gantinya akulah yang diangkat sebagai komandan Gi-lim-kun sementara."

"Menurut maksud Toakoku hendak mohon kau suka menjabat sebagai wakil komandan Gi-limkun membantu dia menyelidiki peristiwa ini."

Demikian Ma Gwat-sian menimbrung. Berubah air muka Thian-hi, katanya.

"Masa aku mampu. kukuatir...."

"Kau boleh gunakan nama palsu,"

Sela Ma Gwat-sian tersenyum penuh arti.

"Apalagi dandananmu sekarang sebagai pelajar kutu buku, bila berganti mengenakan pakaian seragam, tanggung takkan ada seorang pun yang mengenal kau lagi."

Hun Thian-hi hendak menolak, segera Ma Gwat-sian maju dua langkah, dengan suara lirih dan kalem ia berbisik di pinggir telinga Thian-hi.

"Kau baru datang dari Tionggoan, ya bukan?"

Waktu Ma Gwat-sian maju mendekat, kontan Thian-hi mencium bau harum semerbak, namun serta mendengar bisikannya, suara yang lirih itu bagi pendengarannya bagai suara guntur menggelegar dipinggir telinganya, keruan kagetnya bukan kepalang.

Kontan Thian-hi merasa kepalanya seperti dikemplang dengan godam, pandangannya gelap dan pusing, secara reflek mulutnya bertanya.

"Apa?"

"Siaumoay!"

Seru Ma Bong-hwi sambil mengerut kening.

"Apa yang kau katakan?"

Ma Gwat-sian mundur selangkah seraya menjawab.

"Tidak apa-apa."

Otak Hun Thian-hi masih terasa butek, sungguh ia heran cara bagaimana Ma Gwat-sian dapat mengetahui rahasianya, kelihatannya dia tidak bisa main silat, soalnya dirinya pernah menelan buah ajaib serta melatih ilmu sakti macam Pan-yok-sin-kang sehingga tanpa disadari telah membongkar kepandaian sendiri sebagai ahli Lwekang yang tangguh, apakah ilmu silat Ma Gwatsian jauh lebih tinggi dari kemampuan sendiri serta telah mencapai puncak kesempurnaannya sehingga dapat menyembunyikan kepandaiannya itu?

Karena terkaannya ini serta merta ia awasi Ma Gwat-sian, dengan seksama ia pandang dan amati muka dan badan orang dengan cermat.

Melihat sikap Thian-hi ini.

sudah tentu Ma Gwat-sian menjadi malu jengah dan lekas-lekas menunduk.

Dengan bergelak tawa keras Ma Bong-hwi menepuk pundak Hun Thian-hi.

Keruan Thian-hi tersentak kaget, kontan ia sadar akan kelakuannya yang kurang pantas, cepat ia tenangkan hati serta jantungnya yang berdebur keras.

Dalam sekilas itu, ia gagal dalam selidikannya.

"Lote,"

Ujar Ma Bong-hwi.

"Betapa pun kau harus membantu aku mengatasi persoalan ini."

"Ma-ciangkun!"

Seru Thian-hi sambil menyengir.

"Selanjutnya harap kau tidak panggil aku Ma-ciangkun lagi,"

Demikian pinta Ma Bong-hwi.

"Bila kau suka pandang mukaku, silakan kau panggil Ma-toako saja kepada aku."

"Ah. rasanya kurang enak, bukankah kau adalah...."

"Kalau begitu kau pandang rendah pribadiku?"

Kaata Ma Bong-hwi mengerut kening. Apa boleh buat terpaksa Thian-hi berkata.

"Matoako, apaan ucapanmu ini, mana bisa jadi?"

Ma Bong-hwi tertawa girang. Sementara itu Ma Gwat-sian angkat kepala serta berkata.

"Kalau begitu untuk selanjutnya aku pun harus panggil kau Hun-toako. Apa boleh?"

"Kenapa tidak boleh? Aku merasa beruntuhg malah."

Ma Gwat-sian Tertawa lebar, katanya.

"Kata-kataku tadi tiada seorang lainpun yang tahu, legakan saja hatimu!"

Hun Thian-hi tidak enak untuk menjawab.

Seolah-olah Ma Gwat-sian tidak memberi kesempatan pada Thiani-hi untuk membual, namun entah bagaimana ia bisa tahu.

Namun urusan sudah sedemikian lanjut, terpaksa mengikuti perkembangan selanjutnya.

Kata Ma Bong-hwi.

"Untuk mengejar kembali cap kerajaan itu, terpaksa harus minta bantuan kau Lote!"

Apa boleh buat Thian-hi hanya menyengir saja, urusan sudah demikian lanjut, terpaksa harus terjun dalam persoalan rumit ini.

Kalau hanya urusan pencurian ini melulu, kiranya aku dapat mengatasi.

Demikian pikirnya.

"Pencuri itu teiah meninggalkan sepucuk surat, katanya hari ini dia hendak mengambil Ce-kimcu (mutiara merah mas), asal Lote mau tampilkan diri, tentu pencuri itu dapat dibekuk."

Demikian Ma Bong-hwi memberi keterangan. Hun Thian-hi tertawa pahit, katanya.

"Kalau begitu, terpaksa aku membantu sekuat tenagaku."

Setelah makan malam, Thian-hi mengenakan seperangkat pakaian dinas kemiliteran, dalam kamarnya ia menanti kedatangan Ma Bong-hwi, terasa olehnya gerak-geriknya menjadi kurang bebas dan badan sangat gerah, maklum pakaian perang jaman itu terbuat dari bahan tebal yang tidak mempan senjata, saking kepanasan Thian-hi melangkah keluar ke taman bunga.

Waktu sampai di rumpun bunga, tampak olehnya Ma Gwat-sian sedang berdiri disana, sesaat ia menjadi melengak.

dalam hali ia membatin; 'selamanya Ma Gwat-sian jarang keluar kamar dan belum pernah selama ini melihat dia jalan-jalan di taman bunga, entah kenapa hari ini toh berada disini.' Waktu Thian-hi mendekat Ma Gwat-sian berpaling sembari tertawa manis, katanya.

"Aku tahu kau pasti akan kemari, sejak tadi sudah kutunggu kau disini!"

Diam-diam Thian-hi sangsi dan curiga, entah ada omongan apa yang hendak disampaikan Ma Gwat-sian kepadanya, tidak bicara di dalam rumah sebaliknya menunggu di kebon, setelah melengak ia baru bertanya.

"Adakah urusan luar biasa yang perlu dirundingkan?"

"Banyak perkataan yang tidak bisa kuucapkan di hadapan engkohku, umpama kukatakan dia pun takkan mau percaya. Terus terang aku merasa curiga kepada Ing-ciangkun!"

Hun Thian-hi merasa diluar dugaan, mulutnya mengiakan, lalu katanya dengan pandangan kejut dan heran.

"Menurut dugaanmu...."

Ma Gwat-sian geleng-geleng kepala sambil tertawa, katanya.

"Pencurian ini bukan perbuatan Ing-ciangkun. Dia bertempat tinggal di Thian-seng, biasanya ia sangat benci dan mencercah Tansiangkok lebih hebat dari engkohku, untuk urusan rumit ini secara logis seharusnya dialah yang diserahi tugas untuk membongkar perkara besar ini! Tapi diluar dugaan justru engkohkulah yang dia tunjuk."

"Jadi menurut anggapanmu bahwa Ing-ciangkun hakikatnya adalah sekomplotan dengan Tansiangkok?"

"Belum pasti, tapi ada kemungkinan. Menurut anggapanku Tan-siangkok sangat ambisius, sedemikian jauh dia sedang berusaha hendak menjodohkan tuan putri dengan putra kesayangannya, tujuannya supaya kelak dapat mewarisi kedudukan sang raja. Jikalau usahanya ini gagal, aku kuatir dia bakal mata gelap dan melakukan perbuatan terkutuk, jikalau hanya kehilangan satu dua barang berharga rasanya tidak perlu kau sendiri mesti ikut tampil ke depan."

"Sebetulnya kepandaian silatku juga cuma cakar kucing melulu, tak perlu diagulkan."

"Mengenal ilmu silat, aku bukan bidangnya, tapi bagi seseorang yang mampu bertahan dari Tay-seng-ci-lau, ilmu silatnya tentu sudah mencapai tingkatan yang cukup sempurna. Meskipun aku tidak mengerti ilmu silat, tapi semua ini aku mendapat tahu dari cerita guruku."

Diam-diam heran hati Thian-hi, orang macam apakah guru Ma Gwat-sian itu, tak perlu disangsikan lagi pasti seorang tokoh kosen yang lihay.

Tengah ia terpekur, terdengarlah derap langkah kaki berat tengah mendatangi.

Cepat Ma Gwatsian berkata.

"Itulah engkohku datang, selamat jumpa nanti!"

Habis berkata ia terus menyelinap diantara rumpun bunga dan menghilang.

Dengan termenung Thian-hi terpekur, sementara itu Ma Bong-hwi sudah mendatangi, segera Thian-hi membalik tubuh, kelihatan Ma Bong-hwi tercengang, katanya tertawa.

"Hampir saja aku tidak mengenalmu lagi, dandananmu ini sungguh cukup ganteng dan perwira, tampan sekali sebagai panglima muda!"

Hun Thian-hi mandah tertawa saja tanpa membuka suara.

"Mari sekarang juga kita masuk ke istana!"

Demikian ajak Ma Bong-hwi.

Thian-hi manggut-manggut, dengan langkah lebar mereka taerderap keluar dari gedung panglima besar.

Diluar pintu sudah siap dua ekor kuda, cepat mereka naik kuda terus dicongklang pelan-pelan menuju ke pintu selatan, setelah berada di luar pintu selepas pandang ke depan nan jauh sana, kira-kira lima li jauhnya tampak sebentuk kota besar pula, bentuk kota di depan itu lebih besar, lebih megah, diantara kedua belah pintu gerbangnya yang menjulang tinggi adalah sejalur jalan batu mengkilap yang lebar dan bersih, Thian-hi berpikir pasti itulah Thian-seng adanya.

Letak Thian-seng membelakangi pegunungan yang menghijau dan diselubungi mega nan mengembang, pemandangannya sungguh menakjupkan.

Kata Ma Bong-hwi kepada Thian-hi.

"Adikku itu sangat mengagulkan kau, selamanya belum pernah ia merasa kagum dan memuji seseorang."

Hun Thian-hi tersenyum simpul, katanya.

"Sebetulnya tiada suatu keistimewaan atas diriku, kalau dia betul-betul memuji aku, sungguh lebih disesalkan."

"Setiap ucapannya selamanya tidak pernah meleset, sejak kecil ia diangkat murid oleh seorang tokoh aneh yang menyembunyikan diri. Berturut-turut aku mengalami berbagai kesukaran semua adalah dia yang bantu aku mengatasi dan membereskannya! Siapakah gurunya tiada seorangpun yang tahu kecuali dia sendiri."

Tengah mengobrol tanpa terasa mereka sudah tiba di Thian-seng, mereka langsung keprak kuda mencongklang ke dalam kota.

Belum jauh mereka berjalan dari depan sana mendatangi seorang panglima pertengahan umur yang memimpin serombongan orang berkuda, masih rada jauh lantas Ma Bong-hwi memberitahu kepada Thian-hi.

"Pendatang ini adalah Ing Si-kiat Ingciangkun...."

Setelah dekat dengan berseri tawa Ing Si-kiat maju menyapa.

"Ma-ciangkun baru datang, dosa adikku itu, melulu mengandal tenaga Ma-ciangkun untuk menolongnya!"

"Ah, Ing-ciangkun terlalu sungkan,"

Ujar Ma Bong-hwi. Betapapun masih mohon bantuan Ingciangkun juga.!"

Ing Si-kiat tertawa-tawa, katanya.

"Aku akan memberi perintah kepada mereka supaya menutup pintu empat gerbang rapat2. tiada seorang pun diperbolehkan keluar masuk!" -Lalu ia berpaling memandang Hun Thian-hi serta katanya.

"Yang ini adalah...."

"Benar-benar, aku masih belum memperkenalkan kalian. Inilah adik angkatku! Dia bernama...."

Sampai disini ia merandek sebentar lalu meneruskan "Tio Kun-Kah ini aku hanya bawa dia untuk berdinas, dia kuangkat sebagai wakilku."

Bergegas Hun Thian-hi menjura serta menyapa.

"Ing-ciangkun! Selamat bertemu!"

Sekilas Ing-ciangkun melirik ke arah Hun Thian-hi; seolah-olah ia tidak pandang orang sebelah matanya, katanya tertawa.

"Selama ini aku masih belum tahu bahwa Ma-ciangkun ternyata punya seorang adik angkat, Saudara Tio Kun masih muda belia serta gagah lagi, kelak tentu punya harapan besar yang tak terukur!"

Dengan tertawa-tawa Hun Thian-hi menjura serta merendahkan diri dan main sungkan, diamdiam ia perhatikan wajah serta tingkah laku Ing Si-kiat.

Terasa olehnya bahwa sikap Ing Si-kiat kelihatan merasa curiga terhadap dirinya.

"Tak heran Ing-ciangkun tidak mengetahui,"

Demikian jawab Ma Bong-hwi memberi keterangan.

"baru hari ini aku angkat saudara dengan dia, adik angkatku ini jauh lebih kuat dan pintar dari aku, untuk mengatasi peristiwa ini aku sangat mengandalkan tenaganya."

Sekali lagi Ing Si-kiat perhatian Hun Thian-hi. lalu berkata.

"Kalau begitu urusan adikku itu juga mohon bantuan pada. Tio-huciangkun untuk membantu."

Cepat Hun Thian-hi menyahut.

"Ing-ciangkun menggoda saja. saudaraku ini memang suka omong, sebenar-benarnya kemampuanku mana dapat membantu, selanjutnya masih harap Ingciangkun suka memberi petunjuk...."

"Kalian masih punya urusan penting, aku Ing Si-kiat minta diri dulu, semoga kalian sukses dalam tugas."

Berbareng Thian-hi berdua angkat tangan memberi hormat terus melanjutkan menuju ke istana raja.

Tak lama kemudian mereka sudah tiba dibelakang.

setelah turun dari atas kuda, waktu Thian-hi angkat kepala, tampak istana raja ini sedemikian tinggi megah dan mewah sekali, hanya undakan batu pualamnya saja begitu lebar dan panjang tak kurang dari delapan puluh tingkat, sambil berjajar dan menyoreng pedang Thian-hi berdua beranjak ke atas.

Gerbang istana terjaga ketat oleh pasukan Gi-lim-kun, begitu melihat kedatangan Ma Bong-hwi berdua, bergegas mereka maju memberi hormat, menunjuk Thian-hi Ma Bong-hwi berkata pada mereka.

"Inilah Tio-ciangkun, selanjutnya kalian juga harus dengar petunjuknya!"

Serempak para Gi-Lim-kun itu mengiakan sambil menjura, selanjutnya mereka maju lebih jauh ke dalam istana, setiap pelosok istana terjaga ketat, beberapa grup pasukan berlalu lalang meronda, bersama Thian-hi Ma Bong-hwi mengadakan pemeriksaan dan meronda keberbagai pelosok lalu kembali ke tempat semula.

Ce-kim-cu yang diincar pencuri itu terporotkan di atas belandar besar beberapa meter dari bawah, dibawahnya terjaga kuat oleh pasukan Gi-lim-kun.

Begitulah Thian-hi berdua ikut berjaga dengan waspada sambil mengobrol sekadarnya menunggu waktu.

hingga tanpa terasa tahu-tahu sudah tengah malam keadaan tetap sunyi hening tiada kejadian apa-apa.

Kira-kira dua jam kemudian, keadaan masih tenang dan aman tentram, Ce-kim-cu jelas masih terpancang, disana dengan memancarkan sinarnya yang cemerlang kelap kelip.

Tatkala itu cuaca sudah hampir terang tanah, Ma Bong-hwi mendengus hidung; segera ia melolos pedang dan bersiap waspada.

Para pasukan Gi-lim-kun juga segera mempersiapkan diri masing-masing, sementara, pasukan panah pun sudah memancang anak panah di atas busur tinggal menunggu perintah.

Sementara Hun Thian-hi juga merasa was-was dan kebat kebit, dengan penjagaan begitu ketat bagaimanapun si pencuri itu takkan dapat membawa lari Ce-kim-cu.

Sebentar lagi ufuk timur sudah mulai bersemu kuning, keadaan masih tetap tenang dan aman.

Sekelilingnya hening senyap, mereka tinggal menugggu saat gelap berganti terang tanah saja.

Sekonyong-konyong seorang anggota Gi-lim-kun tergopoh2 lari keluar dari dalam istana terus maju kehadapan Ma Bong-hwi serta melapor.

"Lapor Ma-ciangkun! Sang Baginda minta Ciangkun segera menghadap!"

Ma Bong-hwi pandang kanan kirinya, lalu bertanya pada anggota Gi-lim-kun itu.

"Baginda ada bilang apa tidak?"

"Tidak!"

Sahut orang itu sambil membungkuk. Timbul rasa curiga Ma Bong-hwi. namun disini masih ada Hun Thian-hi dan tak perlu kuatir segera ia masukkan pedang ke dalam kerangkanya serta berseru.

"Baik, segera aku menghadap!" -Lalu dengan langkah lebar ia beranjak masuk. Namun baru dua tiga langkah Ma Bong-hwi berjalan orang itu berkata pula.

"Baginda juga minta Tio-ciangkun menghadap bersama."

Semakin tebal curiga Ma Bong-hwi segera ia membalik serta berseru.

"Tio-ciangkun, junjungan belum tahu akan dia!"

Mendadak ia menggeram serta menghardik.

"Siapa kau?"

Cepat orang itu menjura, serta berkata.

"Tadi baru saja sang Baginda bangun, mendengar bahwa Ce-kim-cu tidak hilang lantas menanyakan Ciangkun, tahu bahwa Ciangkun bersama Tiociangkun menjaga bersama, beliau perintahkan hamba kemari mengundang Ciangkun berdua!"

Ma Bong-hwi menjengek, hatinya dirundung kecurigaan, saat ini hari belum lagi terang tanah, pencuri itu masih punya cukup waktu untuk bekerja, bagaimana mungkin dirinya tinggal pergi.

Tapi benar-benar atau palsu sulit diketahui, mana bisa memberi keputusah begitu cepat, dengan seksama ia awasi orang itu lalu bertanya.

"Siapa namamu?"

Badan orang itu kelihatan bergetar namun segera menjawab lantang.

"Hamba Li Gun!"

Ma Bong-hwi mendehem, lalu berkata kepada Thian-hi.

"Lebih baik kau tetap tinggal disini, biar aku masuk dulu!" -Selesai berkata dengan langkak lebar ia menuju keistana. Melihat keputusan Ma Bong-hwi yang tegas itu, Li Gun menjadi gugup, dengan mendelong ia awasi punggung Ma Bong-hwi yang hampir menghilang disebelah dalam.... segera ia berdiri dan membalik tubuh serta melolos pedang, tiba ia berteriak kejut.

"Hai, dimana Ce-kim-cu?"

Semua hadirin menjadi berjingkrak kaget, serentak mereka angkat kepala memandang ke atas belandar, Hun Thian-hi sendiri juga angkat kepala, hatinya rada bercekat, batinnya.

"Jika dalam sekejap ini Ce-kim-cu benar-benar hilang, memang harus diakui bahwa kepandaian pencuri itu entah betapa tingginya?"

Waktu ia angkat kepala benar-benar juga Ce-kim-cu sudah hilang tanpa juntrungan, keruan bukan kepalang kagetnya, dikolong langit ini mana mungkin ada tokoh kosen begitu lihay ilmu silatnya, ia percaya pada diri sendiri seumpama pencuri itu seorang tokoh lihay pun, kesiur angin lambaian bajunya tentu dapat ditangkap oleh ketajaman kupingnya, namun kenyataan Ce-kim-cu sudah lenyap dalam waktu sesingkat itu.

Para pasukan Gi-lim-kun menjadi gempar serempak mereka mengacungkan pedang dan mempersiapkan panah.

Hun Thian-hi segera berseru dengan suara kereng.

"Semua jangan ribut!"

Dengan tajam ia menyapu pandang kesekitarnya.

hatinya dirundung curiga yang tebal, tanpa disadari timbullah perasaan congkak dan tinggi hati, sungguh ia merasa penasaran telah dipermaiankan begitu rupa, dengan keras ia membuka suara.

"Dimana Li Gun?"

Orang-orang sekelilingnya saling pandang dan celingkukan, tiada seorang pun yang menjawab. Semakin memuncak rasa gusar Thian-hi, serunya.

"Siapa diantara kalian yang kenal Li Gun?"

Dengan seksama ia sapu pandang setiap raut muka orang disekitarnya, tiada seorang pun yang memberi jawaban.

Keruan semakin gugup dan gelisah hati Thian-hi, baru sekarang dia betul-betul kebentur pada seorang tokoh kosen yang benar-benar lihay, baru saja ia bernat melompat naik untuk memeriksa, kelihatan Ma Bong-hwi sudah memburu keluar.

Begitu melihat keadaan yang kalut ini kontan ia merasa firasat yang jelek.

Sungguh menyesal dan malu lagi, cepat Thian-hi maju menjura serta berkata.

"Sungguh aku tidak becus, Ce-kim-cu telah hilang dalam sekejap ini. Li Gun pun melarikan diri disaat terjadi keributan."

Sesaat Ma Bong-hwi menjublek ditempatnya, akhirnya, ia menggoyangkan tangan sambil berkata.

"Tak dapat salahkan kau, seharusnya aku tahu bahwa Baginda tidak mungkin mengundang aku tapi aku terburu nafsu hendak membongkar permaian licik ini, sehingga tanpa sadar terjebak ke dalam tipu muslihatnya"

Sungguh pedih perasaan Thian-hi, katanya.

"Aku ingin memeriksa ke atas sana, akan kulihat cara bagaimana Ce-kim-cu itu telah lenyap!"

Ma Bong-hwi manggut-manggut, ujarnya.

"Kali ini Ce-kim-cu hilang secara misterius, bolehlah kau naik kesana memeriksanya!"

Thian-hi membungkuk tubuh sambil mundur dua langkah, ia berlaku hati-hati supaya tidak mempertunjukkan kepandaian aslinya, sedikit menekuk dengkul kakinya segera menjejak tanah terus merambat naik melalui tiang belandar yang besar itu.

Begitu tiba di atas belandar dengan seksama.

ia memeriksa kekanan kiri.

tiba-tiba hidungnya mengendus bau amis yang aneh, selain itu tiada sesuatu yang dapat diketemukan sebagai sumber penyelidikan.

Dengan cermat ia periksa terus sekitar belandar besar yang dapat untuk bersembunyi manusia namun jejak atau telapak kaki orang pun tidak diketemukan.

Kecuali orang itu bisa terbang dan lari pergi, kalau tidak tentu dapat kepergok.

Disebuah sudut belandar sebelah sana ia menemukan secarik kertas yang bertuliskan beberapa huruf yang menyolok, tulisan itu berbunyi.

"Besok malam, kuambil Giok-hud!"

Dengan ringan Thian-hi melompat turun?

langsung ia angsurkan secarik kertas itu kepada Ma Bong-hwi.

lalu berdiri menunduk tanpa buka suara.

Setelah membaca tulisan itu, dengan menghela napas Ma Bong-hwi berkata.

"Ternyata ada orang berani menyelundup masuk ke dalam pasukan Gi-lim-kun, sungguh besar nyali orang itu."

Selamanya Thian-hi belum pernah mendapat malu dihadapan umum, orang lain biasanya menyanjung puji dirinya, dengan berbagai daya upaya mohon dirinya membantu dan mengundang dirinya kemari ikut menanggulangi peristiwa pencurian misterius ini, tapi kenyataan barang yang dilindungi itu tetap hilang juga.

malah sebuah sumber penyelidikan macam Li Gun juga sampai berhasil lolos, betapa malu dirinya.

Seharusnya begitu Ce-kim-cu lenyap aku segera harus meringkus Li Gun, tapi orang itu toh berhasil merat juga.

Sekian lama mereka berdiri berhadapan tanpa bersuara, tak lama kemudian cuaca sudah terang benderang.

Ma Bong-hwi berkata.

"Thian-hi, kau bukan pembesar dinas secara resmi, boleh silakan kau menyingkir dulu ke kamar sebelah, bila Baginda mengundang kau baru kau menghadap."

Tak lama kemudian terdengar derap langkah ribut, disusul lonceng istana berdentang keras suaranya menggema diangkasa, seketika seluruh istana menjadi hening lelap.

Setelah para pembesar menghadap dan melakukan upacara kehormatan terdengarlah Ma Bong-hwi tampil ke depan dan memberi laporan.

"Hamba tidak becus bekerja. Ce-kim-cu telah hilang lagi, harap Baginda suka memberi hukuman setimpal!"

Kedengarannya sang raja sangat murka, dengan menggeram ia berseru.

"Apa pula yang diincarnya nanti malam? sia-sia belaka aku memberi makan kalian para pembesar tinggi, entah mengapa seorang maling kecil saja tidak becus menangkapnya."

Setelah berludah dengan sebal ia melanjutkan.

"Istana raja buat lalu lalang maling sesuka hatinya, barang berharga satu persatu telah dicurinya, apakah tiada seorang pun diantara kalian yang mampu berbakti kepada kerajaan?"

Sebuah suara serak dan bernada rendah segera menyahut.

"Harap junjungan tidak marah, urusan ini tidak bisa semua menyalahkan Ma-ciangkun, paling tidak Lojen (hamba) juga ikut bersalah."

Dalam hati Thian-hi membatin pembicara ini tentu Tan-siangkok adanya, bila dia mau menghasut atau mencelakai jiwa Ma Bong-hwi adalah sekarang kesempatan yang paling baik, entah apa sebetulnya maksud hatinya, ternyata dia tampil ke depan melindungi Ma Bong-hwi.

Dengan gusar sang raja mendengus, lalu katanya.

"Tan-siangkok, kaulah yang menjadi sandaran Ma Bong-hwi, sudah tentu kau pun bersalah."

Terdengar Ing Si-kiat juga ikut menimbrung.

"Harap Baginda suka mempertimbangkan kembali, Ma-ciangkun seorang cerdik pandai, hanya karena sedikit kecerobohannya sehingga Ce-kim-cu telah hilang, kalau malam ini orang itu berani datang lagi pasti dapat dibekuknya."

Sebuah suara tua dan rendah yang lain ikut bicara.

"Hamba juga berani menjadi sandaran Maciangkun!"

"Toh-ciatsu, kau pun mau melindungi dia!"

Demikian tanya sang raja. Akhirnya Tan-siangkok bicara lagi.

"Lojen berani tanggung sekali lagi, Ma-ciangkun seorang pembesar yang mengetahui kepentingan tugasnya, aku percaya malam ini tidak bakal kehilangan barang lagi. Seumpama benar-benar hilang lagi, Lojen rela meletakkan jabatan, dan seluruh keluarga Ma-ciangkun boleh dipenggal kepalanya sebagai penebus dosa!"

Bercekat hati Thian-hi, diam-diam ia kertak gigi, batinnya.

"Tipu daya yang keji dan culas sekali. Kiranya kau mengatur tipu daya secara begitu licik, semula kusangka kau bertujuan baik ingin membantu meringankan bebas orang, kiranya bertujuan menumpas habis seluruh keluarga Ma-ciangkun."

Kedengarannya sang raja juga merasa diluar dugaan, katanya lantang.

"Apa? Begitu besar kepercayaan Tan-siangkok kepada Ma-ciangkun?"

"Menurut hemat Lojen, Ma-ciangkun pasti dapat menunaikan tugasnya dengan sempurna."

"Baiklah, kegagalan hari ini tidak perlu kutarik panjang lagi."

Bersama para pembesar yang lain Ma Bong-hwi berlutut.

serta nyatakan terima kasih akan pengampunan lalu mengundurkan diri.

Dengan lesu dan putus semangat Ma Bong-hwi memasuki kamar dimana Hun Thian-hi tengah menunggu.

Thian-hi bangkit berdiri serta berkata penuh menyesal.

"Ma-ciangkun, akulah yang salah sehingga kau yang ketimpa akibatnya."

Ma Bong-hwi goyang2 tangan dengan lesu, sebelumnya ia sangat percaya akan kemampuan Hun Thian-hi, namun kenyataan Ce-kim-cu telah hilang, sumber penyelidikan yang utama pun sampai lolos, ini yang menjadikan kekecewaan hatinya.

Sungguh rawan dan pedih perasaan Thian-hi melihat sikap orang, betapa pun malam ini Giokhud (patung Budha) tidak boleh hilang pula.

Demikian Thian-hi bertekad.

Kata Ma Bong-hwi.

"Hari ini kita tak usah pulang, nanti akan kuutus seorang memberi tahu rumah. Sementara menunggu waktu kau holeh jalan-jalan sambil memeriksa keadaan sekitarnya supaya apal akan situasi nanti malam, tapi jangan sekali2 kau menuju ke istana dalam."

Thian-hi manggut mengiakan, Ma Bong-hwi lantas tinggal pergi ke arah lain.

Duduk di atas kursi Thianhi merasa kesepian akhirnya ia bangkit dan jalan-jalan, pikirannya masih diliputi keheranan, sungguh tidak masuk diakal, cara bagaimana pencuri itu dapat bekerja begitu rapi dan cepat membawa kabur Ce-kim-cu tanpa diketahui, begitulah sambil berjalan otaknya terus bekerja, tanpa merasa kakinya melangkah ke dalam sebuah taman bunga.

Pada jaman ini orang yang dapat mengambil Ce-kim-cu dan tanpa diketahui olehnya jumlahnya dapat dihitung dengan jari, apakah mungkin pencuri itu seorang tokoh kosen aneh yang berkepandaian tiada taranya?

Kalau benar-benar, masakah dia sudi melakukan perbuatan tercela begini.

Bagi seorang berkepandaian tinggi tak mungkin mau melakukan perbuatan bangsa kurcaci.

Begitulah pikirannya terus bergelombang tak tentram, mendadak kupingnya mendengar suara seruan kaget yang perlahan, Thian-hi berjingkrak kaget, waktu angkat kepala tampak Tuan putri tahu-tahu sudah berdiri tak jauh di depannya.

Keruan gugup dan gelisah hatinya, tahu dia tanpa disadari dirinya sudah melanggar larangan memasuki istana dalam, cepat ia membungkuk tubuh memberi hormat, serunya.

"Tuan putri! Kau baik, karena pikiran kalut hamba sampai melanggar larangan masuk kemari, harap tuan putri tidak marah."

Tuan putri mendengus katanya.

"Apakah kau wakil komandan Gi-lim-kun?"

Tersipu-sipu Thian-hi mengiakan sambil menjura.

"Kenapa kau berani memasuki daerah terlarang?"

Semprot tuan putri dengan merengut. Thian-hi menjadi tergagap.

"Baru kemaren hamba ikut Ma-ciangkun kemari, apalagi benakku sedang gundah memikirkan tugas yang berat ini, sehingga tanpa sadar masuk kemari!"

"Kemaren?"

Tanya tuan putri menegas sambil mengerut kening.

"Baru kemaren kau masuk istana?"

Thian-hi manggut-manggut.

"Tapi kulihat mukamu seperti sudah kukenal, seperti pernah kulihat kau dimana, apa kau tidak bohongi aku?"

Saat itu dua petugas ronda dalam lewat, begitu melihat Hun Thian-hi, mereka saling pandang terus maju menyembah kepada tuan putri.

"Harap tuan putri memberi ampun, karena kelalaian kami sehingga orang ini masuk kemari, biarlah kami yang mengusirnya keluar!-' "Tidak perlu, akulah yang memanggilnya kemari waktu dia lewat disana, tiada urusan kamu disini, hayo pergi!"

Kedua peronda itu saling pandang, sahutnya.

"Tapi...."

"Tapi apa lagi! Ajo lekas enyah jangan cerewet!"

Kedua peronda itu menjadi gemetar dan apa boleh buat terpaksa mereka mengundurkan diri. Tuan putri menepekur sekian saat, lalu berkata lagi.

"Sungguh sebal kenapa tidak bisa kuingat, eh, kenapa kau tunduk saja, coba angkat kepalamu supaya kulihat lebih tegas."

Thian-hi angkat kepala, tampak tuan putri mengenakan pakaian serba putih, yang dikenakan ini adalah pakaian kebesaran dalam istana, jauh berlainan dengan sikapnya tempo hari di atas kereta.

Dibelakangnya mengintil dua dayang, dengan pakaian yang panjang melambai ini tuan putri terasa lebih agung dan cantik, sehingga Thian-hi tak berani metmandang ke depan.

Setelah mengamati sekian lamanya, mendadak tuan putri bertepuk dan berseru tertawa.

"Benar-benar! Kini kuingat, bukankah kau tinggal digedung Ma-ciang-kun?"

Terperanjat hati Thian-hi, tak duga ingatan tuan putri ternyata begitu tajam, kejadian tempo hari sudah sekian lamanya, malah sekarang dirinya sudah ganti pakaian.

kiranya masih tak berhasil mengelabui sepasang biji matanya yang bening dan jeli itu.

Apa boleh buat Thian-hi menjura.

"Tempo hari hamba terlalu kurang hormat, sampai lupa nyatakan terima kasih akan pertolongan tuan putri."

Kelihatannya tuan putri sangat senang, katanya tertawa lebar.

"Sungguh hampir tak kukenal, tempo hari dandananmu sebagai pelajar kutu buku, sekarang sebagai wakil komandan Gi-lim-kun, ai, sungguh aneh!"

Thian-hi menjadi geli oleh banyolan tuan putri. Kata tuan putri lagi.

"Tempo hari putra Tan-siangkok menghajar kau dengan pecut, kenapa kau tidak mau melawan? O. ja, dimana serulingmu itu? Apa kau bawa kemari?"

Thian-hi tertawa-tawa, keadaan dirinya lebih jelas lagi dibelejeti, sungguh tajam dan lihay benar-benar tuan putri ini, ia geleng kepala untuk jawaban.

"Ada omongan hendak kukatakan kepada kau, mari kau ikut aku! Kesana, ke gardu itu!"

Lalu ia mendahului menuju kesebuah gardu yang terdekat.

Thian-hi mengekor di belakang tuan putri memasuki gardu itu, tuan putri ulapkan tangan suruh Thian-hi duduk, Thian-hi geleng kepala, tuan putri berkata dengan tersenyum.

"Kusuruh kau duduk. takut apa kau? Duduklah!"

Terpaksa Thian-hi menduduki sebuah kursi, dengan seksama tuan putri meng-amat-amatinya, Thian-hi menjadi risi dan kikuk, tuan putri terkikih geli, katanya.

"Kiranya kau begitu pemalu, orang lain takkan menduga kau sebagai wakii komandan Gi-lim-kun, apakah kau pandai main silat?"

Bergejolak hati Thian-hi, mendengar suara tawa tuan putri pikirannya lantas melayang mengenangkan keadaan di Tionggoan, seolah-olah ia merasa orang yang berada di depannya ini adalah Sutouw Ci-ko, wataknya memang periang seperti watak Sutouw Ci-ko, entah bagaimana dan dimanakah Sutouw Ci-ko sekarang.

Tuan putri mendesiskan mulut, ujarnya.

"Sedang kutanya kau! Apa yang sedang kau pikirkan?"

Thian-hi tersentak kaget, sahutnya dengan rikuh.

"Apa yang tuan putri tanyakan? Aku tidak jelas mendengar!"

Tuan putri menjadi kurang senang, katanya.

"Bagaimana kau ini, aku bicara dengan kau kenapa menjadi linglug, kukatakan cabutlah pedangmu, aku ingin bertanding pedang dengan kau."

Thian-hi tersentak kaget sampai bangkit dari tempat duduknya, serunya. .Tuan putri, mana boleh jadi!"

Tuan putri dan kedua dayang dibelakangnya menjadi terkekeh geli, Thian-hi sendiri semakin tersipu-sipu tak tahu apa lagi yang harus dilakukannya. Tuan putri segera berkata.

"Jangan bersitegang leher, aku hanya menggertakmu saja, sebetulnya. umpama Ma-ciangkun sendiri kemari dia pun bukan menjadi tandinganku!"

Baru saja Thian-hi dapat menghela napas lega, serta merta ia lantas mengerut kening mendengar bualan tuan putri, dengan cermat diam-diam ia amat-amati tuan putri, kelihatan raut mukanya bundar telor, pipinya bersemu merah laksana buah tho, biji matanya bening sejernih air, dengan tajam orangpun senang menatap dirinya, cepat-cepat ia alihkan pandangan matanya.

sekilas ini terasa olehnya bahwa tuan putri ternyata begitu elok dan rupawan, sampai ia tidak berani memandang lebih lama lagi.

"Belakangan ini aku pun suka meniup seruling, apakah kau sudi mengajarkan aku?"

Demikian ujar tuan putri.

"Mana aku berani mengajarkan kepada tuan putri!"

Tersipu-sipu Thian-hi mengiakan. Tuan putri tak hiraukan ucapan Thian-hi dari dalam lengan bajunya ia mengeluarkan seruling terus diangsurkan kepada Thian-hi sembari berkata.

"Coba kau periksa bagaimana seruling ini?"

Terpaksa Thian-hi menerima seruling itu, tampak seruling ini begitu mulus dan bening laksana terbuat dari kaca, waktu dipegang terasa hangat, seluruh batangnya terukir sembilan naga bergulat seperti sedang bermain di tengah angkasa, kelihatannya jauh lebih bagus dari seruling miliknya itu.

Tuan putri tertawa bangga, ujarnya.

"Bagaimana? Tidak kalah bukan dibanding serulingmu?"

Thian-hi tersenyum, katanya.

"Seruling tuan putri ini jauh lebih bagus dari serulingku!"

Tuan putri berkata.

"Coba kau tiup sebuah lagu untuk kudengar!"

Thian-hi melengak, tanyanya.

"Sekarang juga?"' Tuan putri manggut-manggut.

"Ya, sekarang juga!"

Thian-hi menjadi bimbang, katanya.

"Tiupan serulingku tidak begitu mahir, semoga tidak menjadi buah tertawaan tuan putri."

Tuan putri manggut-manggut, dengan mendelong ia perhatikan Thian-hi serta menanti.

Pelan-pelan Thian-hi angkat seruling kedekat mulutnya, sejenak ia berpikir lalu mulai memup seruling melagukan sebuah irama yang halus mengalun pelan, itulah lagu 'indahnya alam', nada lagunya rendah dan datar mengembang laksana mega berlalu seumpama air mengalir terus mengalun tak putus2.

Sedemikian merdu dan mempesonakan irama seruling lagu Indahnya alam ini sehingga Tuan putri dan kedua dayangnya terlongong kesima, sekian lama setelah lagu selesai ditiup baru Tuan putri menghirup hawa segar, katanya.

"Selamanya belum pernah kudengar irama seruling sedemikian bagus, sungguh enak dan menyegarkan badan, seharusnya kau menjadi guru musik saja."

Thian-hi tertawa-tawa, ujarnya.

"Tiupan serulingku masih kurang sempurna, tak perlu dibanggakan. Sebetulnya Ma-ciangkun...."

Sebetulnya ia hendak menyinggung soal Ma Gwat-sian, tapi serta dipikir menjadi kurang enak rasanya, maka segera ia urungkan.

"Kau cukup pintar dalam ilmu silat dan sastra, aku menjadi kurang paham dari mana Maciangkun dapat mencari orang sepandai kau ini."

"Tuan putri terlalu memuji, sebenar-benarnya bisaku juga sangat terbatas!"

"Apakah kau mau sering kemari menemani aku?"

"Apa?"

Tanya Thian-hi melongo.

"Maksudku, tiupan serulingmu begitu bagus, selanjutnya seringlah datang mengajarkan kepada aku!"

Hun Thian-hi tersenyum getir, sahutnya.

"Aku kuatir tidak mungkin!"

"Apa kau tidak sudi?"

Thian-hi serba sulit tak tahu cara bagaimana harus menjawab, terpaksa ia meng-ada2 saja katanya.

"Tuan putri juga tahu, tadi aku sudah gagal dalam tugas pertama, kehilangan Ce-kim-cu merupakan kelalaianku, sehingga Ma-ciangkunlah yang ketimpa akibatnya, hatiku...."

"Tak perlu kau takut menghadapi urusan itu, biar aku yang mintakan ampun kepada ayah baginda bagi kau dan Ma-ciangkun, ayah baginda tentu melulusi!"

"Sekali2 tuan putri tidak boleh berbuat demikian. Hatiku akan lebih menyesal lagi, kebaikan tuan putri sungguh Huh Thian-hi menyatakan banyak terima kasih."

Dengan tajam tuan putri pandang Hun Thian-hi, katanya.

"Kau ini sungguh sombong, kebaikan lain orang sedikit pun kau tidak mau terima, untung aku ini seorang tuan putri, kalau tidak betapa kau akan lebih sombong lagi."

Thian-hi menjadi tergagap dan tak kuasa menjawab lagi, diam-diam ia membatin dalam hati, apakah begitu watakku, demikian ia bertanya pada dirinya sendiri, apakah sikapku ini betul?

Tuan putri tertawa, ujarnya.

"Bila Giok-hud sampai hilang pula nanti malam, apakah kau hendak berpeluk tangan saja melihat seluruh keluarga Ma-ciangkun dipenggal kepalanya?"

Thian-hi terlongong diam, sesaat kemudian baru menjawab.

"Terima kasih tuan putri!"

"Hari ini cukup sekian saja, mungkin ayah baginda mencari aku, aku harus segera pulang, kau sendiri juga lekas keluar dari tempat ini!" -habis berkata lalu balik masuk ke dalam sebentar saja bayangan punggungnya menghilang dibalik rumpun kembang. Diam-diam bergejolak perasaan Thian-hi, sungguh ia merasa sangat terima kasih dan haru, tuan putri ternyata seorang budiman yang baik hati, tapi sayangnya ia dilahirkan dalam kalangan bangsawan, mungkin dia tidak menyadari betapa culas hati manusia yang sedang saling berebutan kekuasaan harta dan kedudukan. Tanpa merasa ia menghela napas rawan, sekonyong-konyong ia merasa tangannya masih memegang sebuah benda apa, waktu menunduk kiranya seruling itu masih belum sempat ia kembalikan kepada tuan putri. Keruan ia menjadi bingung dan menjublek sekian lama, tak mungkin ia mengejar ke dalam terpaksa dalam kesempatan lain saja baru bisa dikembalikan. Thian-hi tak berani tinggal terlalu lama di tempat terlarang ini, sambil menyimpan seruling ke dalam bajunya bergegas ia lari keluar dari taman bunga, Waktu sampai di bilangan istana luar tampak Ma Bong-hwi tengah ubek2an mencari dirinya, melihat kedatangannya cepat ia bertanya.

"Thian-hi, kemana kau, sukar mencari kau!"

"Maaf toako, secara tidak sadar aku melanggar masuk kebun, tadi bicara sebentar dengan tuan putri!"

"Kau ketemu dengan tuan putri?"

Ma Bong-hwi menegas dengan terbelalak. Thian-hi manggut-manggut. Ma Bong-hwi menghela napas panjang, ujarnya.

"Untung kau masih bisa keluar lagi. Selanjutnya jangan sembarang terobosan!"

Thian-hi mengiakan.

Selanjutnya mereka berdua pergi istirahat untuk menghimpun semangat supaya nanti malam lebih segar menjaga Giok-hud (patung Budha).

Thian-hi duduk samadi di atas dipan dalam sebuah kamar khusus yang disediakan untuk dirinya, dalam kesunyian ini ia dapat melatih Pan-yok-hian kang.

Tanpa merasa waktu ia selesai dalam latihannya cuaca sudah gelap, pelita juga suaah dinyalakan, bergegas ia keluar menemui Ma Bong-hwi, tampak muka orang kejut dan semangatnya lojo, terang ia tidak bisa tidur.

Ma Bong-hwi masuk ke dalam istana mengeluarkan Giok-hud, tampak Patung Budha ini tinggi tiga inci seluruh patung ini mengkilap bening terbuat dari pualam pilihan, betul-betul merupakan barang antik yang tak ternilai harganya.

Ma Bong-hwi segera suruh anak buahnya memasang tangga dan perintahkan supaya patung Budha ini ditaruh di atas belandar....

Mendadak Thian-hi tersentak oleh sebuah pemikiran lain, cepat ia berkata.

"Ma-ciangkun! Siapa yang mengusulkan supaya patung ini diletakkan di atas belandar?"

"Ing-ciangkun yang mengusulkan, menurut hematku memang tepat diletakkan disana, apakah kurang tepat tempat itu?"

Tergerak hati Thian-hi, teringat olehnya akan kecurigaan Ma Gwat-sian yang mengatakan kalau Ing-ciangkun ini kurang dapat dipercaya, segera ia buka suara.

"Hari ini lebih baik kita tidak meletakkan patung ini di atas belandar, coba sekali ini diletakkan di lantai saja!"

Semula Ma Bong-hwi beragu, akhirnya setuju juga meletakkan patung Budha itu di atas lantai, ternyata malam itu berlalu dengan tenang dan aman tanpa terjadi suatu apa.

Hari kedua semua tercengang dan kejut2 heran.

Ma Bong-hwi sendiri juga merasa heran dan takjup.

Memang Ce-kim-cu itu hilangnya secara misterius.

Apakah belandar besar itu yang kurang beres?

Bagaimana mungkin pencuri itu datang pergi begitu cepat tanpa suara lagi seakan-akan bisa menyulap Ce-kim-cu itu masuk ke dalam kantongnya sendiri Sungguh aneh!

Thian-hi sendiri sudah curiga sejak mula bahwa di atas belandar itu tentu ada rahasianya.

Mengandal taraf kepandaian Lwekangnya, betapapun pencuri itu takkan dapat lolos dari pengawasan begitu saja, kecuali pencuri itu sebelumnya memang sudah sembunyi di atas belandar, bila sembunyi di atas memang orang di bawah tak dapat melihat, waktu perhatian semua orang di bawah sedang terpencar gampang saja ia mengambilnya, namun orangnya masih sembunyi di sana, tanpa dapat meninggalkan tempat sembunyinya itu, kalau tidak, tiada alasan tanpa perbuatannya itu bisa konangan oleh begitu banyak orang.

Tapi analisa ini pun tidak mungkin terjadi, bila orang itu tetap sembunyi di atas, siang hari lebih tak mungkin bisa lari, masa dalam sehari semalam dia bisa tahan lapar dan dahaga sembunyi terus di atas belandar?

Hal ini terang tidak mungkin.

Hari kedua pagi2 benar-benar, serta mendengar patung Budha tidak hilang sungguh girang sang Baginda bukan main, tapi segera iapun keluarkan perintahnya, memberi jangka waktu sepuluh hari untuk mengejar kembali barang-barang mestika yang hilang itu.

Apa boleh buat Ma Bong-hwi terpaksa mengiakan saja.

Betapapun karena patung Budha tidak sampai hilang perasaannya yang tertekan rada kendor dan berlega hati.

Setelah mengundurkan diri cepat bersama Thian-hi ia pulang ke gedungnya di Bi-seng.

Belum lagi sampai di rumah, seluruh anggota keluarganya sudah mendengar berita gembira ini semua berbondong keluar menyambut.

Mereka dielu2kan memasuki rumah, setelah basa basi sekadarnya, Ma Bong-hwi lantas masuk istirahat, Thian-hi tahu beruntun beberapa malam dia tidak tidur maka iapun cepat kembali ke kamar bukunya.

Seorang-diri ia termenung dalam kamarnya memikirkan cara bagaimana sebenar-benarnya pencuri itu mengambil Ce-kim-cu, sekian lama ia tidak berhasil memecahkan persoalan ini.

Kecuali belandar besar itu ada rahasianya yang tersembunyi.

Tengah ia terpekur, Ma Gwat-sian datang bertandang.

cepat Thian-hi menyilahkan duduk, sekadarnya mereka bicara urusan biasa, akhirnya pembicaraan mereka beralih ke persoalan pencurian barang-barang mestika itu.

Thian-hi menceritakan pengalamannya cara bagaimana Cekim-cu itu hilang dalam sekejap mata kepada Ma Gwat-sian.

Ma Gwat-sian berpikir sekian lamanya, akhirnya ia bertanya.

"Menurut sangkamu di atas belandar itu dapat bersembunyi si pencuri itu bukan?"

"Itu hanya suatu kemungkinan saja!"

"Apa pula kemungkinan yang lain?"

"Kemungkinan lain perbuatan ini bukan dilakukan oleh manusia!"

"Hun-toako, jika aku harus memilih satu diantara kedua kemungkinan itu, aku memilih kemungkinan kedua. Istana raja bukan kediaman pribadi seseorang, betapapun takkan ada kesempatan bagi seseorang membuat tempat-tempat rahasia di belandar istana, kemungkinan kedua hanyalah kesimpulan dalam perkataan saja,"

Setelah mendengar ucapan Ma Gwat-sian seketika ia berjingkrak bangun, teringat olehnya akan bau amis yang aneh itu, ja, benar-benar, itu bukan perbuatan manusia, tapi adalah....

Semula ia tidak perhatikan bau amis yang aneh itu, sekarang setelah diingat, terasa olehnya bau semacam itu dulu ia pernah menciumnya sekali, itulah pada saat ia mempelajari jurus pencacat langit pelenyap bumi di dalam gua ular yang dlajarkan oleh Ang-hwat-lo-mo itu.

Ja, bau amis itu adalah bau yang keluar dari badan ular.

Sambil menepuk kepalanya Thian-hi berseru kegirangan.

"Sekarang aku tahu sebab musabab menghilangnya barang mestika itu!"

Ma Gwat-sian tersenyum manis, ujarnya.

"Perbuatan ular, ya bukan!"

Terkeaima Thian-hi memandangi muka Ma Gwat-sian, orang begitu yakin akan kesimpulannya, sudah tentu Thian-hi terkejut akan kecerdikan gadis rupawan yang lemah ini, atau sebetulnya memang dia membekal kepandaian silat yang tiada taranya?

Sedikitpun ia tidak berani menyangkal dugaan Ma Gwat-sian.

Ma Gwat-sian sendiri pernah mengatakan bahwa dia tidak pandai main silat, namun kecerdikan yang luar biasa ini serta keyakinannya yang teguh ini benar-benar sangat mengagumkan.

"Jikalau bukan perbuatan orang, sudah pasti perbuatan binatang, binatang lain yang bisa merambat ke atas belandar dan tanpa diketahui oleh orang, apalagi punya gerak gerik yang gesit dan cekatan kecuali ular tiada binatang lainnya lagi. Orang itu dapat mengendalikan ular untuk mencuri mestika itu tanpa mengeluarkan suara sedikitpun, jelas bahwa orang ini pasti seorang kosen juga, jangan kau pandang remeh dia."

Thian-hi manggut-manggut, sungguh ia takjup akan kecerdikan Ma Gwat-sian, setiap perkataannya seolah-olah dikatakan seperti dia sendiri yang menghadapi perkara itu, atau lebih jelas lagi seperti ia sendiri yang melakoni.

Dihadapan Ma Gwat-sian ia merasa betapa bodoh dirinya ini.

Ma Gwat-sian menunduk menghindari pandangan Thian-hi, sambungnya.

"Untuk mengendalikan ular gampang, tapi mengendalikan secara diam-diam tanpa bersuara justru sangat sukar. Aku harus istirahat, kudoakan semoga kau sukses malam nanti." -habis berkata terus dia keluar mengundurkan diri. Thian-hi bangkit mengantar orang sampai diambang pintu. sekian lama ia termenung2 lagi, lalu mulai pula dengan latihan Pan-yok-hian-kangnya, tak lupa iapun menyelami pelajaran Wi-thian-citciat-sek. Sang waktu berjalan sangat cepat, tahu-tahu hari sudah menjelang magrib setelah makan malam bersama Ma Bong-hwi mereka berangkat lagi menunaikan tugas diistana. Malam ini Thian-hi mengusulkan lagi kepada Ma Bong-hwi supaya patung Budha pualam itu diletakan di atas belandar saja.

"Bukankah di bawah lebih gampang dijaga dan diawasi?"

"Tapi tujuan kita adalah hendak menancing pencuri itu datang baru bisa menangkapnya, kalau di bawah dia tak mau datang bagaimana kita bisa meringkusnya!"

Ma Bong-hwi rada kuatir patung Budha itu bisa menghilang secara misterius lagi, namun Baginda memerintahkan dirinya dalam jangka sepuluh hari harus mengejar pulang mestika yang tercuri, cara menunggu lobang untuk menangkap kelinci bukanlah cara yang baik untuk menyelesaikan perkara pencurian ini, adalah lebih baik memancing pencuri itu datang sendiri lebih tepat, karena pikiran ini segera ia manggut-manggut dan menyuruh anak bUahnya meletakkan patung Budha itu ke atas belandar.

Hakikatnya Thian-hi tidak memberi tahu jalan pikirannya kepada Ma Bong-hwi, namun dia sudah punya pegangan, hanya dia meraba-raba, entah ular macam apakah yang begitu lihay dapat bekerja secerdik manusia sampai sekarang dia belum mendapat akal cara bagaimana ia harus mengatasi ular lihay ini.

Akhirnya ia berkata pada Ma Bong-hwi.

"Ma-ciangkun menjaga bagian bawah, biar aku mengawasi bagian atas!"

Ma Bong-hwi manggut-manggut.

Malam ini Thian-hi menghimpun seluruh semangat dan mencurahkan seluruh perhatiannya dengan waspada menanti kedatangan simaling, diam-diam dalam hati ia sudah bertekad harus dapat meringkusnya, seperti kegagalan semula pihak lawan tentu menggunakan cara licik untuk memencar perhatian seluruh penjaga itu lalu melepas ularnya untuk bekerja dengan cepat, akan kulihat cara apa yang dia gunakan malam ini.

Tengah ia bepikir, suasana hening dan sunyi tiba-tiba terdengar seseorang berseru.

"Baginda datang!"

Baginda benar-benar muncul dihadapan mereka keruan semua orang tersentak kaget dan tersipu-sipu menyembah memberi hormat, Baginda menyapu pandang kepada mereka lalu berkata.

"Ma-ciangkun mengundang aku kemari ada urusan apa?"

Ma Bong-hwi melongo.

Sementara Thian-hi mengeluh dalam hati, cepat ia mendongak, dalam waktu sekejap itu benar-benar juga patung Budha sudan lenyap, hanya tampak selarik cahaya bergerak lantas lenyap.

Sebat luar biasa ia jejakkan kaki mencelat naik ke atas.

Perbuatan Thian-hi ini sungguh sangat mengejutkan sang Baginda, ia tersurut dua langkah, sementara itu Ma Bong-hwi sedang menjawab.

"Hamba sekalian tiada pernah mengundang Baginda. Terang kita telah kena tipu lagi!"

Begitu tiba di atas belandar Thian-hi melihat seekor ular hitam panjang empat kaki tengah melata cepat sekali ke depan sana sambil menggigit patung Buddha itu, gerak geriknya begitu gesit secepat angin, sekejap saja sudah tiba di ambang sebuah lobang dan hampir menghilang.

Tanpa ayal segera Thian-hi sambitkan pedang ditangannya, tepat sekali menancap di depan lobang itu sehingga jalan lari siular kebuntu, cepat sekali ia ulur tangan mencengkeram keleher ular terpaut tujuh senti dari bawah kepala ular, dimana terletak kelemahannya.

Melihat jalan lari sudah putus, ular itu agaknya tahu bahaya tengah mengancam cepat buntutnya melingkar terus melecut naik menyerang jalan darah pergelangan Thian-hi.

Disebelah bawah Ma Bong-hwi sudah perintahkan seluruh pintu ditutup rapat dan dijaga ketat mulai mengadakan penggeledahan.

Sudah tentu Thian-hi tidak gampang kena diserang oleh siular, tangannya membalik berbareng jarinya menyelentik tepat sekali menjentik ujung ekor siular, ular itu berteriak kesakitan, tapi mulutnya tetap menggondol patung Buddha itu tak mau meletakkan, gesit sekali mendadak hendak menerobos keluar.

Ketiga jari tangan Thian-hi lantas mencengkeram ke tempat kelemahan siular di bawah kepalanya, cara kerjanya cepat dan telak, apalagi dia sudah bertekad hendak menangkap ular lihay ini.

Tapi disaat ia berhasil, mendadak dari belangkangnya terasa menyerang datang sejalur angin kencang menerjang ke arah jalan darah Ling-tai-hiat dipunggungnya, keruan kejut hati Thian-hi, tangkas sekali ia membalikkan telapak tangannya yang lain menyampok ke belakang, seekor ular putih telak sekali kena ditamparnya sampai jatuh di atas belandar tak bergerak lagi.

Ular hitam itu lari lagi ke depan, namun mana bisa lolos dari kesigapan tangan Thian-hi, sekali berkelebat ia mengejar maju dan tepat sekali berhasil menggencet kelemahannya di bawah kepalanya, ular itu dipaksa mengeluarkan patung Budha, lalu sambil menjinjing patung Buddha itu Thian-hi melompat turun ke-bawah.

Cepat Thian-hi maju menghadap kepada Baginda memberi lapor.

"Pencurinya adalah seekor ular, sudah berhasil hamba ringkus, di atas belandar masih terdapat seekor ular putih yang lain juga berhasil kupukul mampus!"

Baginda berseri tawa, ujarnya.

"Jasa Hun-ciangkun sungguh tidak kecil, ilmu silatnya juga hebat sekali, Yim (aku) berkeputusan untuk memberi anugerah dan pahala kepada kau."

Tuan putri mengikik tawa dan melangkah maju, katanya.

"Ilmu silatmu ternyata begitu lihay. Sungguh aku tidak mengira kaulah orangnya yang naik ke atas belandar!"

Hun Thian-hi merangkak bangun. Dengan heran sang Baginda bertanya kepada tuan putri.

"Jadi kalian sudah kenal?"

"Ya,"

Sahut tuan putri.

"Belum lama berselang aku udah pernah melihat dia, kemarin pagi akupun baru teromong2 dengan dia!"

Sang Baginda melenggong. Thian-hi berkata.

"Pemelihara ular ini pasti berada di dalam istana juga, ular ini belum mati, harap sang Baginda menyingkir, aku mau melepasnya untuk mencari pemiliknya."

Sang Baginda rada sangsi, akhirnya berkata.

"Aku sudah berada disini tak perlu menyingkir lagi. Aku ingin ikut menyaksikan!"

Apa boleh buat Thian-hi lantas melepas ular hitam tu.

Ular itu merambat cepat sekali berputarputar di dalam istana lalu melata keluar, begitu cepat dan gesit sekali gerak geriknya, namun selama itu Thian-li membuntuti di belakangnya dengan ketat.

Setelah melewati sebuah serambi panjang mereka memasuki sebuah taman, kesanalah ular hitam itu menuju terus menuju ke sebuah gunung2an palsu, untung Thian-hi bergerak sangat cepat sebelum si ular menyusup masuk ke dalam sebuah lubang di bawah gunung2an palsu itu ia berhasil menawannya pula.

Sementara itu sang Baginda, tuan putri dan banyak orang lagi pun telah tiba.

Segera sang Baginda memberi perintah.

"Panggil orang untuk mengeduk gunung2an palsu ini, apakah barang-barang yang hilang tu berada di sana."

Tak lama kemudian beberapa orang telah datang lalu mencangkul dan menggali lobang itu, setelah gunung2an itu roboh tampak di bawahnya situ memang terpendam barang-barang mestika yang hilang itu.

Baginda jadi berpikir, katanya tertawa.

"Siapakah pemelihara ular ini sulit diketahui dalam waktu singkat ini, bunuh saja ular itu habis perkara!"

Apa boleh buat, terpaksa Thian-hi melaksanakan perintah raja.

Tapi dia tahu bahwa belakangan hari kejadian ini pasti bakal menimbulkan bibit bencana yang lebih besar.

Bab 16 Tatkala itu cuaca sudah gelap gulita.

Baginda suruh Thian-hi besok pagi harus masuk piket dan memberi lapor selengkapnya.

Setelah itu ia lantas tinggal pergi bersama tuan putri.

Ma Bong-hwi tertawa puas, katanya kepada Thian-hi.

"Kalau Lote ingin mencapai kedudukan yang lebih tinggi besok pagilah saatnya. Kejadian hari ini sungguh diluar dugaanku, kiranya hanya seekor ularlah yang membuat gara-gara. Kalau bukan atas tindakanmu yang cepat sungguh aku tidak berani membayangkan akibatnya."

Hun Thian-hi tertawa tawar. katanya..

"Inipun berkat adikmu yang beritahu kepada aku!"

Ma Bong-hwi melengak, katanya tertawa.

"Dia lagi, Dia tidak beritahu kepada aku, kini memberitahu kepada kau malah."

Dengan cengar-cengir pandang Thian-hi.

Thian-hi kehabisan kata-kata untuk menjawab.

Begitulah segera mereka keluar dan pulang bersama.

Sepanjang jalan diam-diam Thian-hi ambil keputusan, ia sudah penujui gunung gemunung yang tinggi dan luas di belakang Thian-seng itu.

Ingin dia mencari suatu tempat disana untuk mengasingkan diri sementara.

Begitu tiba di gedung Ciangkun, sudah tentu terjadi keramaian dengan sambutan yang meriah sekali.

Tengah malam itu juga diam-diam Thian-hi sudah mempersiapkan diri, setelah ganti pakaian ia menulis sepucuk surat diletakkan di atas meja, diamat-amati kedua batang seruling itu lalu disimpan ke dalam butalannya, gesit sekali ia melompat keluar dari jendela terus tinggal pergi.

Begitu tiba di luar ia terus memasuki taman bunga belum berapa langkah ia berjalan tiba-tiba ia menjublek di tempatnya, kelihatan Ma Gwat-sian tengah berdiri disana menantikan dirinya.

Kata Ma Gwat-sian tertawa.

"Hun-toako! Aku tahu kau pasti akan tinggal pergi, maka sejak tadi ku-tunggu kau disini. Thian-hi menunduk tanpa buka suara, segala gerak geriknya ternyata sudah di dalam perhitungan Ma Gwat-sian.

"Mari kau ikut aku,"

Ajak Ma Gwat-sian.

"Ada beberapa patah kata hendak kuucapkan kepada kau."

Hun Thian-hi menguntit di belakangnya, Ma Gwat-sian mencari sebuah batu hijau besar lalu duduk di sana.

Diapun suruh Thian-hi duduk di sebelahnya, setelah rada sangsi Thian-hi duduk juga di sampingnya.

Kata Ma Gwat-sian.

"Guruku beritahu kepada aku, katanya jika kau mau menyembunyikan jejak dan asal usulmu, ada lebih baik kau sembunyi di dalam kota besar saja. Kau punya harapan untuk menjabat sebagai komandan Gi-lim-kun. Tapi bila kau berkukuh hendak pergi, cara menghilangmu yang mendadak ini malah akan menimbulkan prasangka."

Thian-hi menjublek tanpa bicara, otaknya tengah berpikir. Kata Ma Gwat-sian pula.

"Watakmu rada congkak, tapi bila kau sudi menjabat pangkat, orang lain tidak akan mengira ada seorang tokoh kosen menyembunyikan diri sebagai pejabat tinggi pemerintahan. Sebaliknya kalau kau tinggalkan pangkat dan kedudukan ini, justru bakal membongkar rahasiamu sendiri."

Thian-hi juga menginsyafi hal itu, katanya.

"Jadi maksudmu supaya aku tetap tinggal saja?"

Ma Gwat-sian tertawa. ujarnya.

"Itupun menurut omongan guruku, aku hanya menyampaikan saja kepada kau!"

Heran dan ketarik hati Thian-hi, tanyanya.

"Sebenar-benarnya siapakah gurumu itu? apa boleh beri tahu padaku?"

"Kau tak usah kuatir akan hal itu! Guruku tidak akan mencelakai kau!"

Hun Thian-hi tak enak untuk bertanya lebih lanjut, terpikir olehnya ucapan Ma Gwat-sian tadi memang cukup masuk di akal, tiada halangannya ia menurutkan nasehat itu, tanyanya.

"Apakah kau tahu asal usulku sejelasnya?"

"Juga tidak! Tempo hari guruku pernah berjalan-jalan sampai dipinggir tebing curam itu, dilihatnya sebarisan lobang2 kecil, tahu ia bahwa pasti ada seseorang Tionggoan yang telah menyelundup masuk kenegeri ini, dan akupun menemukan kau pula, dan kaupun menggunakan seruling, maka tahulah aku bahwa pasti kau datang dari Tionggoan, tidak salah bukan rekaanku?."

Dengan cermat Thian-hi pandang sepasang biji mata Ma Gwat-sian yang jeli bening berkilat, wajahnya begitu halus elok bak umpama sang dewi dari rembulan, serta merta kepalanya manggut-manggut.

diam-diam bercekat hatinya, kiranya tanpa disadari aku telah meninggalkan jejak waktu menyelundup masuk ke Thian-bi-kok ini.

Kata Ma Gwat-sian lagi.

"Orang yang mengetahui nama Tay-seng-ci-lau sedikit sekali jumlahnya, yang bisa menyelami intisarinya jarang pula terdapat. Sebaliknya begitu kau melihat Tay-seng-ci-lau dengan gugup lantas suruh Siau-hou mengembalikan, dapatlah diselami bahwa kau pasti sudah paham akan Tay-seng-ci-lau itu, malah hatimu juga baik dan lurus!"

Diam-diam mengeluh hati Thian-hi, setiap tujuan gerak-geriknya seolah-olah telah dipaparkan secara jelas dihadapan Ma Gwat-sian.

"Pada malam itu, ada seseorang datang menyatroni engkohku, setelah orang itu pergi salah seorang pengawal telah dibunuh oleh engkohku. Tapi pengawal itu mengeluarkan suara lebih dulu, sebetulnya tiada alasannya dia berteriak kecuali ada seseorang yang memaksanya begitu. Dan lagi dalam gedung kita ini tiada orang lain kecuali kau!"

Thian-hi bungkam seribu busa, tak kuasa ia mendebat. menunduk saja tanpa bersuara. Ma Gwat-sian tersenyum. ujarnya.

"Itu melulu analisaku yang cukup cermat belaka. untung benar-benar semuanya. Guruku sudah menghapus jejak yang kau tinggalkan itu, kau tak usah kuatir."

"Gurumu itu pasti seorang aneh yang kosen, aku tiada jodoh untuk menghadap menyatakan terima kasih kepada beliau, harap kau suka mewakili aku menyatakan hormat dan sembah sujudku."

"Kenapa begitu sungkan, sekarang apa kau pasti hendak pergi? Atau tetap tinggal disini?"

Thian-hi beragu dan tak bersuara.

"Menurut aku, aku harap kau tetap tinggal disini. urusan disini belum selesai, masih banyak hal yang harus kuminta bantuanmu. Akhirnya tanpa bersuara Thian-hi manggut-manggut setuju. Benar-benar juga besok paginya Thian-hi diangkat menjadi Bu-wi Ciangkun, kedudukannya sebagai komandan Gi-lim-kun. Setelah lewat lohor, tuan putri minta Thian-hi menyiapkan kereta, dia ingin mengendalikan kereta pergi pesiar. minta Thian-hi sebagai pengiringnya. Terpaksa Thian-hi turuti permintaannya, tak lupa iapun menyiapkan tunggangannya. Tak lama kemudian tuan putri sudah berdandan mengenakan seperangkat pakaian ketat serba merah langsung naik ke atas kereta, katanya kepada Hun Thian-hi.

"Kau harus hati-hati menguntit dibelakangku jangan sampai ketinggalan!"

Selesai berkata kudanya segera dibedal dengan kencang.

Thian-hi membawa empat orang pengikut.

Begitu enam ekor penarik kereta tuan putri membedal kencang bersama pengikutnya Thian-hi segera menyusul.

Setelah keluar dari pintu selatan mereka berputar-putar mengelilingi kota tiga putaran lalu luruS menuju ke selatan.

Menginsafi tugasnya yang berat Thian-hi tidak berani lena dengan kencang iapun mengikuti dibelakang.

keenam ekor kuda penarik kereta, adalah kuda pilihan, keruan keempat pengikutnya itu jauh ketinggalan dibelakang.

Hun Thian-hi sendiri juga ketinggalan beberapa tombak dibelakang.

Entah berapa jauh dan berapa lama mereka seolah-olah berlomba, akhirnya tuan putri memperlambat lari keretanya.

Lambat laun Hun Thian-hi dapat mengejar dekat, sambil memandang ke arahnya tuan putri tersenyum geli.

sambil membetulkan letak rambutnya ia berkata.

"Selamanya belum pernah ada orang mampu mengejar aku sedemikian dekat!"

Setelah dekat Thian-hi merogoh keluar seruling batu Giok putih itu dikembalikan kepada tuan putri. katanya.

"Tempo hari tuan putri lupa membawa kembali seruling ini, harap tuan putri suka terima kembali."

"Tidak usah. kuberikan kepadamu!"

Thian-hi melengak, tuan putri berkata lagi.

"Sebetulnya aku tidak bisa meniup seruling kau ambil saja!"

"Aku sendiri sudah punya, harap tuan putri suka terima kembali."

"Kenapa?"

Tanya tuan putri kurang senang.

"Apa kau tidak sudi menerima pemberianku? Serulingmu sendiri itu justru sangat baik, kalau kau ingin kembalikan, boleh ditukar dengan milikmu itu saja!"

Thian-hi menjadi serba sulit. katanya.

"Sebetulnya serulingku itu harus dipersembahkan kepada tuan putri, soalnya seruling Itu pemberian seorang Cianpwe sebagai kenang2an tak boleh hilang!"

Tuan putri mendengus hidung, waktu berpaling dilihatnya keempat pengikut itu sudah kelihatan bayangannya, pecutnya segera terayun "tar!"

Keenam kuda penarik kereta itu segera mencongklang lagi seperti kesetanan.

Terpaksa Thian-hi menyimpan seruling dan mengejar lagi.

Kali ini tuan putri membelokkan keretanya memasuki hutan pegunungan, keretanya menjadi bergoyang2 seperti menari2 di atas pegunungan yang belukar dan tidak rata itu.

Thian-hi menjadi kuatir, betapa pun baiknya tuan putri dapat mengendalikan kereta.

namun dijalanan yang tidak rata ini bukanlah mustahil nanti bisa terjadi sesuatu diluar diluar dugaan.

Dengan sekuat tenaga dan segala daya upaya Thian-hi berusaha mengejar, namun tunggangan sendiri kalah kalau dibanding keenam kuda pilihan penarik kereta itu, jarak mereka tetap beberapa tombak.

Mendadak didengarnya Tuan putri menjerit2 ketakutan, Thian-hi terkejut dan membedal maju.

tampak keenam kuda itu berdiri berbareng dan menjadi beringas liar ketakutan, Kiranya tak jauh disebelah depan sana tampak dua ekor beruang besar tengah mendatangi pelan-pelan, tuan putri menjadi pucat ketakutan.

Thian-hi sangat kalut, cepat ia lonmpat turun seraya melolos pedangnya.

lalu memburu ke depan mencegat di depan kedua biruang besar itu.

"Tio Gun"

Teriak tuan putri.

"Lekas kembali, seorang diri mana kau mampu melawan!"

Terlihat oleh Thian-hi kedua biruang ini jauh lebih besar dan tinggi dari tubuhnya sendiri, tinggi kepalanya hanya sebatas pinggang kedua ekor biruang itu.

Diam-diam ia heran dan kejut akan kebesaran kedua ekor biruang ini, namun mana Thian-hi gentar menghadapi kedua binatang ini.

Katanya tertawa.

"Tuan putri tak perlu takut, hari ini anggap saja kita berburu biruang."

Melihat Thian-hi berani maju sambil menenteng pedang, kedua ekor biruang itu seperti merasa heran dan saling pandang, sambil mengaum keras serempak menubruk ke arah Thiani-hi.

Thian-hi juga membentak keras, badannya berkelit menyingkir ke samping, seluruh tenaga dikerahkan ditangan kanan begitu sebat gerak geriknya, begitu berada disamping kiri salah seekor biruang itu.

kontan pedangnya lantas bekerja menusuk ambles seluruh batang pedangnya ke dalam lambungnya.

Biruang itu menggerung kesakitan dan murka.

seekor yang lain segera mengulur sebelah tangannya mengemplang kekepala Thian-hi.

Thian-hi berusaha menutupi kepandaian sendiri, sambil menarik pedangnya ia melompat berkelit lagi rada jauh, dari kejauhan ini segera ia ayun pedangnya, laksana anak panah selarik sinar pedangnya meluncur ke depan dan ambles seluruhnya kedada biruang yang lain itu.

Meski terluka berat kedua biruang itu masih belum mati, namun sebelum ajal mereka pantang menyerah, berbareng menggerung keras terus menubruk maju lagi dengan cakar terpentang!

Tatkala itu jarak mereka semakin dekat, keruan tuan putri menjerjt ketakutan.

dilihat pula oleh Thian-hi keenam ekor kuda itu tak jauh disebelah sana, sedikit beragu kedua ekor biruang itu sudah menyerbu datang.

tanpa banyak pikir lagi mulut Thian-hi bersuit nyaring, Pan-yok-hiankang yang dilatihnya selama beberapa lama ini segera digunakan.

seenaknya saja ia menepuk ke depan.

kontan kedua ekor biruang yang tinggi besar itu diterpa gelombang tenaga pukulan yang dahsyat sehingga terpental tiga tombak jauhnya, rebah tak berkutik lagi.

Sekian lama Thian-hi berdiri menjublek.

hatinya sungguh sangat menyesal, tidak seharusnya ia melancarkan Pan-yok-hian-kang, bagi seseorang yang punya landasan pelajaran silat, begitu melihat seluruh isi perut kedua biruang ini hancur luluh pasti mereka bakal tahu bahwa keduanya terpukul mati oleh sebuah pukulan tenaga dalam yang sangat hebat.

Tengah ia tenggelam dalam pikirannya.

tiba-tiba terasa sebuah tangan meraba pundaknya, kontan ia tersadar dari lamunannya.

tampak tuan putri berdiri di depannya, kelihatannya ia sangat takut sehingga seluruh tubuhnya lemas lunglai hampir roboh.

Serta merta Thian-hi harus memajangnya katanya.

Tuan putri tak perlu takut lagi!"

Saking lemas tubuh tuan putri lantas menggelencut ke dalam pelukan Thian-hi. katanya.

"Disini tiada orang lain, tak usah kau panggil aku tuan putri, aku bernama Ih-gi!"

Tergetar hati Thian-hi, cepat ia memajangnya berdiri. katanya.

"Tuan putri! Biruang itu sudah mampus, silakan tuan putri berdiri, tak usah takut!"

Setelah berdiri tegak dengan berang tuan putri pandang Thian-hi, katanya.

"Apa kau tidak suka kepada aku?"

Merah jengah dan panas muka Thian-hi, jawabnya tergagap.

"Tuan putri berbadan agung berkedudukan tinggi. mana bisa aku...."

"Bukankah kau sendiri sekarang sebagai panglima tinggi yang pegang kekuasaan. masa kau tidak berani menyukai aku?"

Thian-hi menghela napas, katanya.

"Tuan putri kau dan aku baru bertemu beberapa kali, mana bisa membicarakan soal ini."

Tuan putri cemberut dan kurang senang, tanyanya.

"Kudengar Ma-ciangkun punya seorang adik perempuan, apa benar-benar?"

"Benar-benar, tapi apa sangkut pautnya dengan kau?"

Tuan putri menjengek tanyanya.

"Apakah kau pernah bertemu dengan dia"

Thian-hi manggut-manggut.

"Sejak lama sudah kudengar bahwa dia punya seorang adik perempuan yang sangat cantik, tapi selamanya belum pernah keluar pintu, tiada seorang pun yang pernah melihat dia, banyak orang mengajukan lamaran semuanya gagal, dia cantik bukan?"

Bicara sampai disini tuan putri menjadi rawan, pelan-pelan ia menunduk. dilain saat ia angkat kepala dan bertanya tegas.

"Jangan kau bohongi aku. Sebetulnya kau suka aku atau suka dia."

Thian-hi terlongong sekian lamanya, dilihatnya sikap tuan putri begitu murung dan sedih sungguh sangat kasihan, setelah menarik napas, ia berkata.

"Kejadian di dunia ini siapa yang berani mengira sebelumnya!"

Sungguh dia tidak mengira setelah berada di Thian-bi-kok ini dia harus menghadapi berbagai kesulitan ini. Angkat kapala dilihatnya tuan putri masih menantikan jawabannya, terpaksa ia berkata.

"Tuan putri! Menurut hemadku, tidak lebih kita sebagai sahabat yang baru berkenalan saja!"

Tuan putri membalikkan tubuh dengan jengkel langsung ia naik ke atas kereta. Thian-hi memburu datang serunya berteriak.

"Tuan putri tak boleh menuju ke dalam sana."

Tak usah kau urus aku!"

Semprot tuan putri gusar Keretanya dilarikan lagi ke depan dengan cepat, Thian-hi menjadi gugup dan berteriak-teriak, terpaksa ia memburu dengan kencang.

untung jalanan disebelah depan sangat jelek lari kereta menjadi lambat, Thian-hi bisa mengejar semakin dekat.

Akhirnya kereta berhenti juga karena jalan terlalu sempit.

Thian-hi lantas tampil ke depan serta berkata.

"Tuan putri. mari putar haluan saja!"

"Tidak mau. Kau temani aku disini, orang lain takkan mampu mencari kemari."

Begitulah tuan putri merengek2. Thian-hi angkat pundak tanpa bersuara. Begitulah mereka berdiri tanpa bersuara, sejenak kemudian tuan putri membuka suara.

"Hatiku kesal, coba kau tiup serulingmu untuk menghibur hatiku."

Apa boleh buat Thian-hi keluarkan serulingnya.

di lain saat irama yang merdu mengasjikkan mengalun merdu di alam pegunungan yang sunyi, dengan asjik dan menjublek tuan putri mendengarkan tanpa merasa air mata mengalir membasahi pipinya yang putih molek, setelah lagunya habis, ia lantas berkata sesenggukkan.

"Kenapa kau bersikap dingin terhadap aku?"

Thian-hi tidak tahu cara bagaimana harus menjawab. sesaat kemudian baru ia bersuara.

"Citacita dan tujuan hidup kita berlainan, kau dan aku bukan manusia dalam satu tingkatan."

Tuan putri terlongong memandang Thian-hi katanya.

"Yang kuinginkan hanyalah kau. Apabila kau megejar kedudukan pangkat dan harta, semuanya dapat kuberikan kepada kau, apakah kau menyangsikan kemampuanku?"

Thian-hi tersenyum, ujarnya.

"Banyak kejadian di alam fana ini yang belum diketabui oleh tuan putri, tak pernah terpikir olehku untuk mengejar pangkat dan harta, yang terang memang tuan putri bersikap sangat baik terhadap aku. sungguh aku harus nyatakan banyak terima kasih, menurut pendapatku tuan putri tak lain karena terburu oleh perasaan belaka, dulu aku juga pernah mengalami hal demikian.' "Bukan begitu jalan pikiranku, kau pandai silat dan pintar sastra lagi, apalagi watakmu cukup baik dan lurus, tidak seperti putra Tan-siangkok itu, sikapnya takabur dan licik. Kau punya bakat sebagai pemimpin, calon suamiku kelak pasti dapat mewarisi kedudukan raja. menurut pilihanku kaulah yang paling tepat!"

Thian-hi tertawa getir, katanya.

"Kelak kau akan tahu sendiri bahwa justru aku orang yang paling tidak tepat."

Tuan putri menunduk menepekur, beberapa lamanya tak bersuara lagi.

"Tuan putri,"

Panggil Thian-hi pelan-pelan.

"aku bicara menurut kenyataan." -suaranya begitu lirih hampir kupingnya sendiri juga tak dapat mendengar. Mereka menjadi menjublek di tempat masing-masing tanpa bersuara sampai sekian lamanya. Akhirnya Thian-hi yang membuka kesunyian lagi.

"Cuaca hampir gelap, kita harus lekas pulang!"

Dengan menunduk tuan putri memutar keretanya kembali, dia biarkan saja keenam kuda putih itu berjalan pelan-pelan, kedua biji matanya lempang mengawasi depan tanpa berkesip, seolaholah tenggelam dalam pemikiran yang tiada berujung pangkal.

Dengan menunggang kuda Thian-hi berjalan disisi kereta, dari samping terlihat olehnya rambut tuan putri yang terurai dihembus angin memanjang, ujung matanya basah oleh air mata.

Sambil menghela napas ia menunduk tak berani melihat lagi.

Begitulah dengan legak-legok kereta itu akhirnya sampai juga di jalan raja, jauh di ufuk barat sana sang surja sudah hampir tenggelam.

Keempat anggota Gi-lim-kun itu dengan gelisah masih menanti diluar hutan.

Setelah tiba di istana, Thian-hi rasakan seluruh badannya capai, setelah makan malam ia terus masuk kamar berlatih.

Pan-yok-hian-kang.

Tapi sekian lama ia menjadi gundah karena pikirannya tak bisa tenteram.

Akhirnya dengan kesal ia berjalan keluar dan mondar-mandir di serambi panjang lalu meronda ke berbagai pos penjagaan, tampak rombongan demi rombongan pasukan Gi-lim-kun mondar mandir meronda, tanpa tujuan kakinya melenggong sampai ufuk timur mulai terang.

Hari kedua dari istana dalam didapat kabar bahwa tuan putri rebah di tempat tidur tak bisa bangun, jatuh sakit.

Diam-diam Thian-hi menghela napas.

Setelah piket, Ma Bong-hwi mengundangnya Thian-hi kerumahnya, tapi Thian-hi takut bertemu dengan Ma Gwat-sian, menggunakan alasan kerena repot di istana, ia menolak ajakan itu.

Tak lupa ia menanyai alamat tempat tinggal Tan-siangkok, Ma Bong-hwi rada sangsi, namun akhirnya memberi tahu juga.

Diam-diam Thian-hi sudah berkeputusan untuk menyatroni gedung kediaman Tan-siangkok untuk membuat penyelidikan, orang macam apakah sebenar-benarnya Tan-siangkok itu, setelah segala urusan disini dapat dibereskan lebih baik akupun harus segera membebaskan diri dari segala kerepotan.

Baru saja cuaca menjadi gelap Thian-hi lantas salin pakaian hitam yang ketat.

Gedung kediaman Tan-siangkok juga berada di Thian-seng ini, segera ia beranjak menuju ke gedung Tansiangkok.

Tak lama kemudian ia sudah tiba diambang pintu gedung Tan-siangkok, setelah celingukan tak melihat bayangan orang, sekali berkelebat enteng sekali ia lompat naik ke atas tembok lalu melejit lebih tinggi ke atas wuwungan.

Pelan-pelan ia menggeremet maju terus loncat turun ke sebuah taman bunga.

Baru saja kakinya menyentuh tanah, di dalam keremangan malam terdengar seseorang bicara.

"Tan Su! Hari sudah gelap! Lekas lepaskan anjing!"

Terkejut Thian-hi, sebat sekali tubuhnya melejit tinggi hinggap di atap rumah.

Dengan seksama ia awasi keadaan sekelilingnya, didapatinya gedung Tan-siangkok ini jauh lebih besar dan megah dibanding gedung Ma-ciangkun, empat penjuru dikelilingi tembok tinggi dan pohon-pohon rindang dan tanam2an kembang.

Di lain saat terlihat oleh Thian-hi bayangan hitam besar2 berlari-lari kian kemari, Thian-hi dapat melihat tegas itulah anjing2 besar sebangsa serigala yang buas.

Baru saja ia berniat maju lebih lanjut ke dalam, tiba-tiba pintu besar terbuka, dari luar masuk seseorang.

Diam-diam bercekat hati Thian-hi, karena dilihatnya orang yang baru datang ini tak lain tak bukan adalah Ing-ciangkun Ing Si-kiat.

Thian-hi berpikir, ternyata benar-benar orang ini tidak bisa dipercaya, malam2 dia kemari tentu punya intrik dengan Tan-siangkok.

Tidak salah kecurigaan Ma Gwat-sian terhadapnya.

Tampak Ing Si-kiat menggunakan pakaian preman, Tan-siangkok sendiri menyongsong keluar menyambut tamunya ini, setelah sekedar sapa sapi mereka masuk bersama.

Diam-diam Thian-hi menguntit mereka dari atas genting.

Mereka memasuki sebuah ruang besar, empat penjuru ruang besar itu terjaga ketat, dengan hati-hati Than-hi berkelebat keluar terus sembunyi di bawah pajon untuk mencuri dengar.

Terdengar Tan-siangkok bertanya kepada Ing Sikiat.

"Apakah Ing-ciangkun tahu asal usul Tio Gun itu?"

Ing Si-kiat menjawab.

"Ma Bong-hwi cukup percaya kepada aku, namun soal ini dia tidak pernah beritahu kepada aku, aku sendiri juga tidak enak menanyakan!"

Diam-diam hati Thian-hi, pikirnya; Ing Si-kiat ternyata sedang menyelidiki asal usulku terang memang sekongkol dengan Tan-siangkok.

Tapi entah apa yang sedang hendak mereka lakukan.

Tan-siangkok mengerutkan alis, katanya.

"Tio Gun itu memang cukup menyebalkan, ilmu silatnya benar-benar hebat, Baginda kelihatannya sangat sayang dan bangga kepadanya. Sebetulnya Komandan Gi-lim-kun dijabat oleh adikmu, kini berada di tangannya, kukira urusan akan lebih menyulitkan kita!"

Bercekat hati Thian-hi, batinnya.

"Ternyata mereka hendak berontak, tak heran Ma Gwat-sian bilang kecuali peristiwa kehilangan barang-barang mestika itu, Thian-bi-kok ini masih punya bencana lain yang bakal terjadi."

"Entah bagaimana dengan putramu itu"

Terdengar Ing Si-kiat bertanya.... Tan-siangkok mendengus, sahutnya.

"Dia kurang becus, tuan putri melirik pun tidak mau melihat dia!"

"Menurut berita yang kuperoleh dari Gi-lim-kun, katanya tuan putri sangat simpatik terhadap Tio Gun, apalagi sebelum ini mereka sudah pernah berjumpa."

"Apa benar-benar?"

Tan-siangkok menegas.

Ing Si-kiat manggut-manggut.

Thian-hi menjadi was-was, ternyata diantara anggota pasukan Gi-lim-kun itu ada mata2 pihak musuh, tak heran orang itu tempo hari begitu leluasa melenyapkan dirinya.

Memang pejabat komandan Gi-lim-kun yang terdahulu adalah adik kandung Ing Si-kiat, maka tak perlu dibuat heran bahwa diantara mereka masih ada terdapat bawahan kepercayaannya.

Setelah kembali nanti aku harus mengadakan razia dan pembaharuan di dalam tubuh Gi-lim-kun.

Tan-siangkok berjalan mondar-mandir, katanya.

"Tio Gun ini lebih menakutkan dari Ma Bonghwi, bagaimana juga orang ini harus dilenyapkan."

"Kelihatannya Baginda juga semakin ceroboh, mengangkat orang tanpa tahu asal usul orang itu, hanya mengandal kesenangan hati belaka."

Tan-siangkok mendengus dua kali, katanya.

"Apakah dia tidak mencari tahu siapakah dalang pencurian barang-barang mestika itu?" -pada perkataannya penuh rasa cemooh dan membanggakan diri sendiri. Merandek sejenak lalu melanjutkan.

"Tuan putri justru sangat teliti dan cermat, Goan-mo anakku itu kiranya tidak memenuhi seleranya! Jah, apa boleh buat!"

"Kalau Tio Gun disingkirkan kukira putramu masih punya harapan. Angkat dia sebagai komandan Gi-lim-kun, tanggung kelak ia bakal menonjol diantara rekan2nya."

Tan-siangkok berhenti lalu mendongak memandang atap rumah, di lain saat ia mondar-mandir lagi, katanya.

.,Toh-ciatsu situa renta itu tak perlu ditakuti, dulu hanya Ma Bong-hwi seorang, dia pegang kekuasaan militer, sekarang tambah lagi seorang Tio Gun."

"Sepak terjang Tio Gun selama ini rada mencurigakan, entah darimana Ma Bong-hwi menemukan bocah keparat itu."

Tan-siangkok berhenti lagi memandang Ing Si-kiat. katanya.

Baca Juga: Cinta Bernoda Darah Kho Ping Hoo

Baca Juga: Suling Pusaka Kumala Kho Ping Hoo

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert