Ceritasilat Novel Online

Pendekar Bego 3

Eps 3 Pendekar Bego - Can ID

Baca online Pendekar Bego - Can ID

Cersil Pendekar Bego - Can ID.

"Heeehhh... heeehhh... heeehhh... bagaimana Hebat bukan kepandaian silatmu sekarang?"

Katanya "Eeh... eeehh... aa..., apakah pukulan tersebut... dihasilkan dari telapak tangan sendiri?"

Bisik Ong It sin kemudian dengan suara tergagap. Nenek itu segera tertawa.

"Tentu saja dihasilkan oleh telapak tangan sendiri barusan aku telah membantu kau untuk menembusi delapan nadi penting disekujur tubuh mungkin tenaga dalammu sudah memperoleh kemajuan yang pesat, dan kau pantas disebut seorang jago kelas wahid sekolong langit"

Sudah cukup lama Ong It sin bercokol dalam perkampungan keluarga Li yang dipimpin si Dewa perak Li Liong, kendatipun ilmu silatnya tak becus, tapi cukup banyak cerita cerita tentang ilmu silat yang pernah didengar olehnya.

Diapun pernah mendengar bahwa seseorang jika kedelapan nadi pentingnya sudah berhasil ditembusi, maka ilmu silatnya bisa mencapai puncak kesempurnaan, sebab itulah ia percaya seratus persen sehabis mendengar perkataan dari nenek tersebut.

"oooh... terima kasih banyak atas budi kebaikan suhu..."

Buru buru katanya.

"Eeeh... eehh... aku bukan suhumu"

Tampik si nenek dengan cepat. Ong It sin membelalakkan matanya semakin lebarjelas tampak betapa kecepatan pemuda itu. Si nenek kembali berkata sambil tertawa.

"Tingkat kehebatan dari tenaga dalammu sudah hampir mencapai taraf kepandaianku sendiri, mana aku pantas menjadi gurumu?"

Ketika Ong It sin mendengar perkataan dari nenek itu, disamping merasa agak terkejut, diapun merasa bagaikan melayang layang dalam sorga loka.

Dengan suara yang tinggi rendah tak menentu katanya dengan cepat.

"Aaah... mana, mana, tentu saja kungfumu jauh lebih hebat dari pada kepandaian silatku"

Ternyata ia telah bersikap sungkat sungkan terhadap nenek itu. Tak tahan lagi si nenek segera tertawa terbahak bahak lantaran geli.

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... kau tak usah terlalu sungkan sungkan kepadaku kita sekarang sudah hampir seimbang, tentu pula kedudukan kita hampir sederajat... kenapa musti sungkan sungkan terhadap orang yang sama kedudukannya?"

Makin diumpak Ong It sin makin senang ia tertawa kebodoh bodohan.

"Heehhh... heehhh... heehhh... betul juga perkataan si nenek ini tapi biar kucoba sekali lagi tenaga seranganku ini"

Sambil berkata ia lantas bersiap siap untuk melancarkan sebuah pukulan lagi. Tapi sebelum niat tersebut dilantarkan, si nenek telah mencegah niatnya itu.

"Jangan, jangan kau coba kepandaianmu secara sembarangan"

Katanya.

"ingatlah baik-baik, sekarang kau telah menjadi seorang jago nomor wahid dikolong langit, andaikata tidak berada dalam keadaan yang kritis atau terancam jiwamu, jangan sekali kali kau gunakan kepandaianmu secara sembarangan"

"Yaa, betul juga perkataanmu"

Ong It sin manggut manggut berulang kali.

Telapak tangan yang telah dipersiapkan pun segera diturunkan kembali kebawah, selain itu kata kata dari si nenek tadipun diukir dalam dalam di lubuk hatinya ia akan mengingatkan selalu bahwa pukulan mautnya tak boleh digunakan jika jiwanya tidak terancam oleh bahaya, sebab sekarang ia telah menjadi seorang jagoan nomor satu dikolong langit.

Pembaca yang budiman, untuk belajar silat maka bukan saja seseorang dibutuhkan ketekunannya untuk berlatih diapun harus mempunyai bakat yang bagus.

Seandainya secara kebetulan ia mempunyai bakat bagus, untuk menjadi seorang jago tangguh dalam sepuluh atau setengah bulan bukanlah suatu kejadian yang mustahil.

Akan tetapi, untuk menjadi seorang jagoan hanya cukup dalam waktu singkat, hal ini adalah suatu omong kosong.

Lantas, apa pula yang terjadi dengan diri Ong It sin tadi?

Apa sebabnya dari balik tubuhnya bisa terpancar keluar tenaga pukulan dahsyat itu...?

Sebagaimana diketahui, sebelum Ong It sin melancarkan serangannya tadi, si nenek itu telah menepuk beberapa kali disekujur tubuhnya, nah dalam setiap kali tepukan itulah secara diam diam si nenek tersebut telah menyusupkan kekuatan hawa murninya ke dalam tubuh Ong It sin-Dengan kekuatan yang disusupkan ke tubuhnya tadi, maka disaat Ong It sin melancarkan serangannya tadi, maka segenap kekuatan yang terkumpul dalam tubuhnya meluncur keluar bagaikan air bak sudah barang tentu hebatnya bukan kepalang.

Tapi menyusul pukulan itu segenap kekuatan yang semula disusupkan ke dalam tubuhnya oleh si nenek pun kandas dan lenyap tak berbekas, andai kata Ong It sin sampai melepaskan pukulannya yang kedua, maka jangankan untuk mematahkan sebatang pohon, untuk mematahkan selembar rumputpun belum tentu mampu.

Dengan alasan inilah maka disaat Ong It sin hendak mencoba pukulannya yang kedua buru-buru nenek tersebut menghalangi niatnya itu...

Begitulah Ong It sin semakin percaya kalau kepandaian silatnya sudah mencapai puncak kesempurnaan betapa girang hatinya sukar dilukiskan dengan kata-kata sampai-sampai sewaktu berjalanpun dadanya dibusungkan dan kepalanya diangkat tinggi-tinggi.

"Apakah sekarang kau bersedia menganggapku sebagai sahabat?"

Tanya si nenek kemudian-"Tentu saja tentu saja, sepantasnya kau adalah sahabatku yang paling akrab..."

Jawab pemuda itu dengan segera.

"Usiaku berlipat lipat kali lebih tua darimu, bagaimana kalau kau sebut aku sebagai si nenek saja"

"Bagus sekali si nenek."

Saat ini ia merasa betapa menyenangkannya suasana disekeliling tempat itu, sebab bukan saja ia pernah berkenalan dengan Bwe Yau yang begitu menaruh perhatian kepadanya, sekarang diapun mempunyai sahabat si nenek yang telah menjadikan dirinya sebagai seorang jago silat kelas satu dalam dunia persilatan-"Bukankah sedianya kau akan pergi ke lembah Ciong cu kok di bukit Tay soat san"

Tanya si nenek kemudian-Dengan cepat Ong It sin gelengkan kepalanya.

"Bukan, bukan, Liji siok membawaku kemari untuk menjumpai nenekku"

Katanya.

"Nenekmu...? Siapa kah nenekmu itu?"

Tanya si nenek sudah tertegun sejenak. cepat Ong It sin gelengkan kepalanya.

"Aku tidak tahu, sejak dilahirkan hingga sekarang belum pernah kujumpai dirinya, andaikata Liji siok tidak memberi tahukan hal ini kepadaku, aku benar-benar tidak tahu kalau di dunia ini masih terdapat sanak sedekat itu"

"Aaah... betul, jadi orang yang kabur terbirit birit setelah berjumpa dengan diriku tadi adalah Liji siokmu itu?"

"Yaa, betul, betul Memang dia"

"Lantas siapa ibumu?"

Tanya si nenek itu kemudian.

"Eeeh... bukankah kau pernah berkata kenal dengan ayahku? masa kaupun tidak tahu siapakah ibuku? Kalau ibuku sudah mati lama sekali, jadi akupun tak bisa membayangkan bagaimanakah raut wajahnya"

Setelah berhenti sejenak katanya kembali.

"Tapi yang jelas dia adik perempuan dari Si Dewa perak Li Liong yang berdiam dilembah Li hu kok wilayah Kiam bun propinsi suchuan...?"

Begitu mendengar keterangan tersebut tiba tiba saja paras muka nenek itu berubah hebat.

"Jadi kalau begitu, nenek yang hendak kau jumpai itu adalah ibunya Li Liong..."

Berbicara sampai disitu tiba tiba ia berhenti kembali.

"Hei, si nenek, apa kah kau kenal dengan dia orang tua?"

Buru buru Ong It sin bertanya. Nenek itu segera menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Kau sendiri saja tidak kenal dengan nenekmu mana mungkin aku bisa kenal?"

Sahutnya.

Padahal kalau didengarkan dengan seksama jelas kedengaran bahwa perkataan sinenek yang pertama kata katanya yang terakhir bernama saling bertentangan cuma sayang Ong It sin terlalu goblok sehingga penyakit sejelas itupun tidak diketahui olehnya.

Bahkan dia malah mengangguk berulang kali.

"Yaa, yaa, betul juga perkataan sinenek"

Katanya.

"Jadi kalau begitu, sesungguhnya kaupun belum mempersiapkan diri untuk berkunjung kelembah Ciong cu kok dibukit Toa soat san ?"

Ong It sin segera menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal "Aku...

aku...

tak pernah berpikir sampai kesitu, mana mungkin mengadakan persiapan segala??

Nenek itu tidak banyak bicara lagi, setelah berpikir sebentar ia menutup kembali kotak kemala itu dan diserahkan kembali kepada Ong It sin-Sungguh terharu perasaan Ong It sin setelah menerima kembali kotak kemala itu, untuk sesaat dia tak tahu apa yang musti diucapkan nenek itu.

Sementara dia masih kebingungan, terdengar nenek itu sudah berkata lagi.

"sekarang kita boleh berangkat bersama sama menuju kelembah Ciong cu kok mengerti?"

Sesungguhnya Ong It sin tidak habis mengerti mengapa nenek itu bersikeras hendak mengajaknya mengunjungi lembah Ciong cu kok bersama sama akan tetapi mengangguk juga setelah mendengar perkataan itu.

Kembali nenek itu berkata.

"Sekalipun dikatakan berangkat bersama, tapi yang jelas kau berjalan sendiri dan aku berjalan sendiri, kau tak boleh berangkat bersama sama aku aku harap kau bisa memahami akan hal ini"

Ong It sin jadi melongo, dipikir ia merasa pikirannya semakin bingung untuk sesaat lamanya dia cuma bisa mengerdipkan matanya sambil garuk garuk kepalanya yang tidak gatal Hampir saja nenek itu melontarkan caci makinya yang paling kotor setelah melihat sikap pemuda itu tapi begitu teringat ia masih membutuhkan tenaga pemuda bodoh itu maka sedapat mungkin nenek itu berusaha agar jangan meninggalkan kesan jelek dihatinya.

Maka sambil tertawa paksa katanya.

"Apa kah kau masih belum paham dengan perkataanku? Maksudku kau berjalan lebih duluan di depan, sedang aku akan menyusulmu dari belakang mengerti?"

Sekarang Ong It sin telah memahami perkataannya, diapun bertanya dengan cepat.

"Tapi aku tidak kenal jalan, bagaimana caraku untuk mencapai lembah ciok cu kok tersebut?"

"Kau akan berjalan saja terus lurus ke depan"

Kata si nenek sambil menunjuk ke depan.

"setiap hari aku akan bertemu satu kali denganmu untuk menunjukkan jalan yang mesti ditempuh"

"Aneh betul nenek ini"

Diam diam Ong It sin berpikir.

"kan lebih baik melakukan perjalanan bersama sama dari pada musti bersusah payah begini? Heran, kukoay betul watak nenek ini, entah apa yang dipikirkan?"

Akan tetapi berhubung ia merasa berterima kasih sekali kepada si nenek yang telah merubahnya menjadi seorang jagoan kelas wahid dalam dunia persilatan diwaktu singkat, maka pemuda itupun tidak bertanya lebih lanjut..."Baiklah"

Katanya kemudian.

"akan kuturuti semua perkataan itu, tapi... apa kah kotak kemala ini sudah tidak kau maui lagi?"

Nenek itu tersenyum.

"Benda itu kan merupakan barang peninggalan dari ayahmu? Kenapa aku musti memintanya darimu jangan sok serius, aku merebutnya tadi darimu hanya bermaksud untuk bergurau saja"

Ong It sin semakin gembira, sambil tertawa terkekeh kekeh ia simpan kotak kemala itu kedalam sakunya.

"Heeeh... heeeh... heeeh... bagus sekali, bagus sekali, akan berangkat duluan"

Katanya.

Karena gembiranya, semangatnya berkobar kobar dengan sendirinya ketika ia melangkah dengan langkah lebar, tubuhnya seakan akan terasa lebih enteng dan cepat, pemuda itu lantas mengira kalau tenaga dalamnya telah memperoleh kemajuan pesat Sekaligus ia berjalan sejauh tujuh delapan li, tapi apa yang dilihat melulu lapisan salju yang putih dimana-mana, untung hujan salju telah berhenti.

Ong It sin berhenti ditengah padang salju dan melongok sekejap kesekeliling tempat itu, ia sakslkan kecuali dirinya sendiri tak nampak sesosok manusiapun disana.

Seandainya kejadian ini berlangsung sehari sebelumnya, pemuda itu pasti akan merasa ketakutan tapi kini dia percaya kalau tenaga dalamnya sudah sempurna, maka terhadap keheningan dan keseraman suasana disitu tidak terlalu ia pikirkan.

Lima empat li kembali sudah dilampaui ditengah keheningan yang mencekam seluruh jagad itulah tiba tiba dari kejauhan sana dia mendengar suara gonggongan anjing yang ramai sekali begitu nyaringnya gonggongan kawanan anjing itu sehingga cukup menggetarkan sukma.

Ong It sin menjadi terkejut dan hampir saja ia mengambil langkah seribu, untung teringat olehnya akan ilmu silat yang dimilikinya, sambil menepuk dada sendiri segera bisiknya.

"Hey, apa yang mesti ditakuti? Jangan lupa, kau adalah jagoan nomor satu dalam dunia persilatan"

Berpikir sampai disitu, dia lantas menengok ke belakang, tapi apa yang kemudian terlihat segera mendebarkan jantungnya keras-keras.

Seorang gadis berbaju merah dan kuning sedang berlarian mendekat dari tempat kejauhan.

Dalam bopongan gadis itu seakan akan membawa suatu benda, menanti Ong It sin menengok untuk kedua kalinya, gadis itu terjatuh berulang kali ditanah.

Kurang lebih setengah li dibelakang gadis itu, tampaklah bunga bunga salju beterbangan keangkasa, lamat lamat tampaklah tujuh delapan ekor anjing gembala yang amat besar sedang menarik sebuah kereta salju dan meluncur datang dengan cepatnya.

Diantara gonggongan anjing yang memekikkan telinga, kedengaran pula suara bentakan yang nyaring.

Terdengar seseorang sedang berteriak dengan suara yang lantang.

"Itu dia, perempuan sialan tersebut berada tak jauh didepan sana, hayo cepat dikejar"

Menyusul bentakan bentakan manusia, kedengaran pula suara cambuk yang dibunylkan amat nyaring, gonggongan anjingpun berkumandang semakin keras dan ramai.

Sekalipun berulang kali gadis itu terjatuh ketanah ternyata gerakan tubuhnya cukup cepat.

Bahkan ketika menjumpai Ong It sin berada di sana ia lari menghampirinya.

Setelah gadis itu berada dihadapannya, Ong It sin baru dapat melihat jelas bahwa gadis itu ternyata mengenakan seperangkat baju berwarna kuning telur, sedang warna merah yang terlihat dari kejauhan tadi adalah warna darah yang menodai hampir separuh bagian tubuhnya Ketika berada lima enam kaki dihadapan Ong It sin tiba tiba gadis itu (Ada hal hilang) sepasang matanya yang genit, hal ini membuat Ong It sin merasa jantungnya berdebar semakin keras lagi.

Sepanjang hidupnya belum pernah Ong It sin mendapat kesempatan untuk mendekati gadis cantik, sekalipun apa yang dia bayangkan belum pernah terbayang olehnya bakal menjumpai lirikan mata seorang gadis secantik dan seindah itu, maka dari itu mukanya menjadi merah padam dan pikirannya menjadi melayang-layang.

Buru-buru ia melengos kearah lain, meski sesungguhnya ia kepingin sekali memandang gadis tersebut sekali lagi, tapi hatinya tidak berani untuk melakukan hal ini.

Sementara pemuda itu masih berdiri dengan perasaan bimbang terdengarlah suara bunyi cambuk dan gonggongan anjing yang semula ramai kini sudah reda dan tak terdengar lagi.

Buru buru ia berpaling dan celingukan keempat penjuru ternyata kereta salju itu telah berhenti dua orang pria bermantel kulit yang berawakan tinggi besar melompat turun dari kereta salju dan berjalan menghampirinya.

Dengan sekali lompat Ong It sin menghadang dihadapan kedua orang itu, ia lihat mereka berusia antara empat puluh tahunan, mukanya keren dan cukup gagah.

Ketika jalan perginya dihadang kedua orang itu pun berhenti sambil memperhatikan lawannya dengan wajah tercengang, kemudian sambil memberi hormat katanya.

"Sahabat silahkan menyingkir ke samping, jangan menghalangi tugas kami"

Ong It sin adalah seorang pemuda yang paling suka mencampuri urusan orang lain, tapi dia tak punya akal dan semua perbuatannya hanya dilakukan atas dorongan suara hatinya.

Karena itu setelah ditegur lawan, dia menjadi gelagapan dan tak tahu apa yang mesti dilakukan-Selang sesaat kemudian sambil melototkan matanya ia berseru.

"Tugas apa yang hendak kalian lakukan?"

Sambil menuding si gadis yang berada diatas salju kata kedua orang laki laki itu.

"Perempuan rendah ini telah melarikan sebuah benda milik pocu kami, dan sekarang kami mendapat tugas untuk menangkapnya kembali perempuan rendah ini bukan manusia baik-baik, lebih baik kau tak usah banyak mencampuri urusan orang lain"

Seandainya berganti orang lain yang menghadapi kejadian itu paling sedikit ia akan mencari tahu duduknya perkara setelah mendengar penjelasan tersebut.

Tapi Ong It sin sudah menganggap dirinya sebagai pendekar besar ksatria budiman, ia enggan bertanya lebih jauh malah tanpa mencari tahu merah atau putihnya persoalan kembali bentaknya.

"omong kosong, darimana kalian bisa tahu kalau dia orang baik baik? Hey, kamu berdua dari benteng mana?"

Dua orang laki laki itu agak tertegun, kemudian jawabnya.

"Sobat seribu li disebelah timur bukit Altai hanya ada sebuah benteng Khekpo memangnya kau anggap kami berasal dari benteng mana?"

Dalam anggapan orang itu, Ong It sin pasti akan menunjukkan wajah terkejut setelah mendengar nama benteng mereka.

Siapa tahu anak muda itu masih tertegun dengan wajah tidak mengerti.

Maka merekapun berkata lagi.

"Pernah kau dengar tentang benteng Khekpo?"

"Tidak pernah"

Jawab pemuda itu sambil menggelengkan kepalanya berulang kali. Dua orang laki laki itu saling berpandangan sekejap. lalu berkata lagi.

"Kalau begitu bolehkah aku tahu siapa namamu?"

"Aku bernama Ong It sin"

Kemudian setelah berhenti sebentar, ia menerangkan lebih jauh.

"Aku adalah seorang jagoan tangguh nomer wahid dikolong langit, kalian berdua jangan harap bisa menangkap diriku, lebih baik cepatlah pulang dan laporkan kepada pocu kalian, agar ia jangan mengejar seorang gadis dan bayi lagi"

Paras muka dua orang laki laki itu berubah membesi, segera tegurnya pula.

"Sobat kau jangan mencampuri urusan ini, dia bukan orang baik baik tahukah kau bahwa gadis ini adalah putrinya Hek wu kong (kelabang hitam) Be Ji nio?"

Pada hakekatnya Ong It sin tidak tahu siapakah si kelabang hitam Be Ji Nio itu, sekalipUn banyak juga nama nama jago persilatan yang diketahuinya tapi sebagian besar merupakan jago disekitar Suchuan, tentu saja jago dari wilayah See ih tak ada yang diketahuinya.

Sekalipun demikian, diapun dapat merasakan juga bahwa Be Ji Nio bukan orang baik baik, ini terbukti dari julukannya yang menggunakan si kelabang hitam.

Sambil menggelengkan kepalanya berulang kali pemuda itu berkata lagi kepada kedua orang lawannya.

"Keliru besar kalau kalian berdua berkata demikian, sekalipun aku tidak kenal manusia macam apakah Be Ji Nio itu, Tapi aku yakin sekalipun Be Ji Nio bukan orang baik baik, tapi sebagai putrinya belum tentu dia juga orang jahat, selain itu..."

Pemuda itu masih mencoba berkhotbah lebih jauh, tapi dua orang laki laki itu sudah tidak sabar lagi, mendadak mereka menerjang maju beberapa langkah.

Begitu merasakan gelagat tidak menguntungkan, Ong It sin segera membentak keras.

"Hey, hey jangan sembarangan maju yaa. Hati hati kalau kusobek perutmu bisa keluar semua isi perutmu"

Sambil mengancam, dia lantas merendahkan tubuhnya bersikap seakan akan memasang kuda kuda, kemudian mengayunkan telapak tangannya seperti mau melancarkan serangan-Sesungguhnya gaya si anak muda itu kuda tidak mirip kuda keledai tidak mirip keledai bukan saja tak masuk dalam daftar dan lagi lucu sekali.

Namun kedua orang laki laki kekar itu tak berani bertindak gegabah, sebab pertama bentakan dari pemuda itu cukup nyaring, kedua merekapun belum tahu asal usulnya yang sesungguhnya.

Betapa bangga dan gembiranya Ong It sin setelah menyaksikan kedua orang laki laki itu tak berani bertindak lebih lanjut kembali bualnya.

"Tenaga dalamku sudah mencapai puncak kesempurnaan apa bila tidak berada dalam keadaan terdesak atau berbahaya, tak akan kulantarkan serangan secara gegabah maka dari itu kalian jangan memaksaku untuk turun tangan... coba lihatlah enso itu tubuhnya sudah terluka parah, kenapa kalian masih saja mengejarnya terus menerus?"

"Ia menderita luka parah?"

Jengek seorang di antara dua laki laki itu sambil tertawa dingin-"Tentu saja, coba kau lihat darah yang menodai tubuhnya masa kalian tidak melihatnya?"

Sampai detik ini kedua orang laki laki itu baru sadar bahwa mereka telah berjumpa dengan seorang telur busuk yang goblok. kontan saja mereka membentak marah.

"Kontol!!!! Ketahuilah, darah itu bukan darahnya melainkan darah dari tujuh orang saudara kami yang telah dibunuhnya"

Sementara Ong It sin masih tertegun, tiba tiba nyonya muda itu membentak keras, tubuhnya melompat keudara bagaikan burung elang terbang ke angkasa, dengan tangan sebelah ia membopong bayi itu, tangan yang lain disebarkan kedepan-Segerombol jarum-jarum emas yang lembut dan bersinar tajam segera berhamburan keempat penjuru Dua orang laki laki itu segera mengebaskan ujung bajunya, angin tajam menderu-deru, sebagian besar jarum lembut yang mengancam tubuh merekapun segera tersapu lenyap diudara.

Sekarang mereka tidak mempedulikan Ong It sin lagi begitu lolos dari ancaman, tubuh mereka serentak menerjang kedepan Akan tetapi si bego Ong It sin tidak mau melepaskan kesempatan baiknya untuk menjadi "ksatria budiman"

Dengan begitu saja melihat kedua orang laki-laki itu menyerbu ke muka, dia ikut menyerbu pula ke dalam gelanggang.

Tentu saja mimpipun ia tak menyangka kalau jarum emas yang dipergunakan nyonya muda itu barusan adalah jarum lembut khusus untuk memecahkan tenaga dalam orang, andaikata hatinya tak keji, tak nanti ia akan mempergunakan senjata terkutuk itu.

"Hey kalian tak boleh berkelahi dengan enso itu"

Demikian teriaknya keras-keras "jika kalian ngotot terus, jangan salahkan kalau aku segera akan turun tangan"

Dalam pada itu nyonya muda itu sudah melompat dua kali kesisi arena, diantarag etaran tangannya tahu-tahu dalam genggaman tangan kanannya telah ditambah dengan sebilah senjata yang aneh sekali bentuknya.

Sepintas lalu senjata tersebut mirip dengan sebilah pedang panjang, akan tetapi diujung senjata tersebut dipenuhi jarum jarum yang lembut yang memancarkan sinar keemas emasan-Tentu saja Ong It sin tidak akan tahu kalau senjata tersebut dikenal orang persilatan sebagai "Tek hong chi"

Duri lebah beracUn-Dua orang laki-laki kekar yang sedang siap menerjang itu serentak menghentikan tubuhnya setelah menyaksikan nyonya muda itu mengeluarkan senjata andalannya.

Untuk sesaat lamanya suasanya menjadi hening, kedua belah pihak sama-sama berdiri saling berpandang tanpa berkutik.

Ditengah keheningan itulah, tiba-tiba terdengar suara mendesis yang amat nyaring, menyusul kemudian segulung asap hijau meluncur ke udara dan meledak.

Kontan saja paras muka nyonya muda itu berubah hebat, buru-buru teriaknya.

"Ksatria budiman, bereskan kedua orang ini dengan cepat, kasihanilah aku dan anakku, kalau tidak kabur sekarang mungkin kami tak bisa lolos lagi dari cengkeraman mereka"

Berkobar rasanya darah panas dalam dada Ong It sin, sambil membentak keras telapak tangan kirinya didorong ke muka. Lalu sambil menerjang maju teriaknya.

"Enso jangan takut, aku tak akan duduk berpeluk tangan belaka membiarkan kau menjadi manusia bajingan bajingan ini"

Didalam anggapannya, begitu serangan tersebut dilancarkan, kedua orang laki laki itu pasti akan melecap bagaikan layang layang putus talinya atau bahkan saking dahsyatnya serangan tersebut si nyonya muda yang berada dibelakang kedua orang laki laki itupun ikut terhajar terluka parah Siapa tahu meskipun pukulan telah dilancarkan namun kedua orang laki laki itu masih tetap tenang tenang saja seakan akan tak pernah terjadi sesuatu apapun bahkan mereka telah menggetarkan lengannya dan masing masing mencabut keluar sebuah ruyung baja beruas sembilan-Sambil menggetarkan ruyungnya, dua orang itu menyerbu lagi ke depan satu dari depan yang lain dari belakang serentak mengepung nyonya muda itu rapat rapat.

Nyonya muda itu tampak semakin gelisah kembali teriaknya dengan perasaan cemas.

"Ksatria budiman sebentar lagi seorang gembong iblis yang lihay segera akan tiba disini bila kau tidak turun tangan lagi niscaya kami tak dapat meloloskan diri"

Sesungguhnya bukan Ong It sin yang enggan turun tangan, tapi pukulannya sama sekali tidak menghasilkan angin pukulan seperti apa yang digembar gemborkan semula, kenyataan ini tentu saja menggelisahkan pula si nyonya muda itu.

Sambil menggaruk garuk kepalanya ia mencoba untuk memeriksa sepasang telapak tangannya dengan seksama pikirnya mungkin ada sesuatu yang tidak beres disitu, tapi periksa ia merasa telapak tangannya normal dan sedikitpun tak ada sesuatu yang aneh.

Dengan penasaran pemuda itu mengayunkan kembali telapak tangannya melancarkan beberapa puluh kali pukulan tapi sedikitpun tak ada gunanya peluh mulai membasahi pipinya karena cemas.

Sementara itu nyonya muda tadi sudah terlibat dalam pertarungan sengit melawan dua orang laki laki itu sepanjang pertempuran berlangsung, dua orang laki laki itu hanya bertahan tanpa melancarkan serangan-Nyonya muda itu semakin gelisah, senjata Duri lebah beracunnya diputar sedemikian rupa menciptakan gulungan gulungan cahaya kuning yang menyilaukan mata, desingan tajam yang menderu deru seakan akan setiap saat mencari mangsa.

Sekalipun serangan dari nyonya muda itu cukup dahsyat, akan tetapi pertahanan yang dilakukan dua orang laki laki itu dengan senjata ruyung beruas sembilannya terhitung tangguh pula, ibaratnya dua gulung mega hitam yang menyelimuti angkasa kemanapun nyonya muda itu berusaha untuk melepaskan diri, usahanya selalu gagaL Pertarungan yang melibatkan tiga orang itu berlangsung dengan cepatnya, Ong It sin hanya merasakan awan hitam menggulung kesana kemari diiringi kilatan cahaya emas jangankan mengetahui jurus serangan apa yang dipergunakan ketiga orang itu bagaikan gerakannya tidak tahu.

Dia hanya ribut terus dengan telapak tangannya ia sedang ia berusaha untuk menemukan kembali tenaga dalamnya yang hilang.

Pada saat itulah tiba tiba dari kejauhan berkumandang suara pekikan nyaring mula mula pekikan tersebut berasal dari tempat yang cukup jauh tapi sekejap kemudian sudah berada dekat sekali dengan serak Menyusul suara pekikan nyaring itu, tiba tiba si anak muda itu merasakan pandangan matanya menjadi silau, diiringi suara bentakan keras bagaikan guntur membelah bumi disiang hari belong sesosok bayangan hijau telah muncul didepan mata.

Ong It sin terperanjat sekali menyaksikan kehadiran bayangan tersebut dengan keadaan seseram itu, buru buru diperhatikan orang itu seksama ternyata adalah seorang kakek berbaju hijau yang mempunyai perawakan tinggi besar.

orang ini adalah Ik tianglo golongan berbaju hijau dari benteng Khekpo.

Begitu munculkan diri, dengan suara nyaring Ik tianglo segera membentak keras.

"Tahan"

Kebetulan Ong It sin berdiri sangat dekat dengan Ik tianglo ketika mendengar bentakan nyaring itu, seakan-akan ada guntur yang membelah bumi disiang hari belong, pemuda itu merasakan sepasang kakinya menjadi lemas dan..

"Bluuk"

Ia jatuh terduduk diatas permukaan salju.

Beberapa kali ia mencoba untuk bangkit berdiri tapi setiap kali ia roboh kembali keatas tanah.

Gelisah sekali Ong It sin menghadapi kejadian seperti ini pikirnya.

"Aku adalah seorang jago lihay nomer satu dalam dunia persilatan, masa kekuatan untuk duduk saja tidak mampu?"

Berpikir sampai disitu, sekuat tenaga dia lantas meronta dan merangkak bangun.

Tapi pada saat itulah kebetulan sekali Ik tianglo sedang berpaling kearahnya, menyaksikan sinar matanya yang begitu hijau dan tajam, sekali lagi Ong It sin menjerit kaget badan yang baru saja berdiri tegak kembali roboh ketanah dan tak mampu berkutik lagi.

Ik tianglo tidak lebih hanya memperhatikan Ong It sin sekejap.

kemudian berpaling kearah lain Sementara itu pertarungan antara dua orang laki laki itu melawan si nyonya mudapun telah berhenti.

Rambut si nyonya muda itu kalau dua terurai tak karuan, wajahnya pucat pias seperti mayat, jeritnya dengan suara lengking.

"Ik tianglo kau berhasil menyusul kami berdua ibu dan anak, apakah yang hendak kau lakukan?"

Ik tianglo tidak menjawab, melainkan maju ke depan dan memberi hormat kepada nyonya muda itu sambil katanya.

"Menunjuk hormat buat hujin"

"ciss, aku sudah meninggalkan benteng Khekpo dengan pocu kalian tentu saja tak ada sangkut pautnya lagi, lebih baik jangan memanggil hujin kepadaku, hujan mau bekuk, mau tangkap lakukanlah dengan segera..."

Sementara itu Ong It sin hanya duduk termenung diatas salju sambil memandang orang disekelilingnya dengan rasa bingung dan tidak habis mengerti.

Kalau ditinjau dari apa yang diucapkan Ik tianglo tersebut agaknya kedudukan nyonya muda itu adalah nyonya pocu dari benteng Khekpo.

Tapi hal ini mana mungkin bisa terjadi?

Sebetulnya Ong It sin paling enggan mengakui ketololan sendiri tapi sekarang tak urung pikirnya juga.

"Goblok!!! Melantur kemana pikiranmu? Tentu saja dia tak mungkin adalah pocu hujin dari benteng Khekpo"

Tapi kenyataannya justru berbalikan dengan apa yang dipikirkan Ong It sin ketika itu. Kembali Ik tianglo membungkukkan badannya memberi hormat sambil berkata.

"Hamba tidak berani menyusahkan hujin, ada pun kedatanganku adalah untuk menjemput hujin pulang ke benteng"

Ketika mendengar perkataan itu dua orang laki laki bertubuh kekar itu segera memperhatikan wajah penasaran, teriaknya dengan cepat.

"Liok tianglo diantara sepuluh orang saudara kami yang melakukan pengejaran, kini tinggal dua orang yang masih hidup bagaimanakah dengan hutang darah ini?"

Jangan dilihat sikap Ik tianglo terhadap nyonya muda itu selalu lembut dan menaruh hormat namun sikapnya terhadap dua orang laki laki tersebut ternyata keras dan keren-"Ngaco belo"

Dampratnya "perintah ini datang dari pocu sendiri siapa yang berani menentangnya?"

"Heeeh... heehhh... heeehhh... akulah yang akan menentangnya"

Tiba-tiba nyonya muda itu nyeletuk. Ik tianglo menghela napas panjang.

"Aaai... hujin.."

Baru dua patah kata, si nyonya muda itu sudah menukas sambil menjerit lengking.

"Tapi hamba mendapat perintah dari pocu untuk mengundang hujin pulang ke benteng, apabila hujin bersikeras tak mau pulang..."

"Kenapa?"

Ejek nyonya muda itu sambil tertawa dingin.

"kau hendak membekukan dan menyeretnya pulang bukan? Aku tahu bahwa aku bukan tandinganmu, kaupun mengetahui akan hal ini, kenapa masih belum juga turun tangan..? Apalagi yang kau nantikan?"

Ik tianglo segera menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Tidak, bukan begitu, pocu hanya berpesan seandainya kau bersikeras tak mau kembali, maka tolong serahkan kembali benda yang kau bawa kabur itu kepadaku, pocu pun berkata, satu malam menjadi suami istri seratus tahun akan teringat selalu meskipun kau telah pergi, tapi kapan saja kau ingin kembali kepangkuannya, pintu gerbang Khekpo masih terbuka untukmu"

Ooodowooo "Huuuh... tak usah banyak bicara lagi"

Seru nyonya muda itu sambil tertawa dingin.

"jangan harap benda yang berhasil kudapatkan itu kuserahkan kembali kepadamu"

Berbicara sampai disini, perasaan murung dan sedih melintas diatas wajahnya, tapi hanya sesaat kemudian telah lenyap kembali menyusul kemudian katanya lebih jauh.

"Seharusnya kau tahu kenapa aku bersedia kawin dengan seorang tua bangka semacam dia, aku... aku telah membayar mahal untuk benda tersebut bayangkan sendiri apakah benda yang berhasil kuperoleh dengan susah payah itu akan kuserahkan kepadamu kembali? Aku telah bertekad akan hidup dan mati bersama benda itu, apa bila ia tidak ingin menyaksikan putranya tewas ditanganku lebih baik berilah jalan hidup bagiku"

Sambil berkata, senjata anehnya langsung bergerak menyingkap kain yang membungkus tubuh bayi itu kemudian memalangkan senjatanya ditengkuk sang orok.

Dengan tersingkapnya kain pembungkus itu maka muncullah seraut wajah sang orok yang masih merah dengan sepasang matanya yang besar, agaknya orok itu baru berusia empat lima bulan diantara perputaran biji mata, tampak otot urat itu sangat menawan hati Disamping wajah orok itu lamat-lamat terlihat sebuah gagang pedang, dari ukir-ukirannya yang indah dapat diketahui bahwa pedang tersebut pastilah sebilah pedang antik yang sudah berusia ratusan tahun.

Demikianlah, setelah menyingkap bungkusan itu nyonya muda itu memalangkan pedangnya diwajah si orok yang masih berwarna merah tersebut, ketika orok itu melihat sinar gemerlapan menyilaukan matanya, bayi itu menjejak-jejakkan kakinya sambil tertawa gembira.

"Bagaimana?"

Tantang nyonya itu sambil tertawa dingin.

"kami diperkenankan pergi atau tidak?"

Ik tianglo menjadi serba salah, wajahnya tampak jengah dan untuk sesaat tak tahu bagaimana harus menjawab. Ong It sin menjadi berkaok-kaok menyaksikan adegan tersebut, segera teriaknya.

"Enso cepat singkirkan senjatamu, jangan sampai melukai bayi tersebut..."

Akan tetapi, walaupun ia sudah berkaok-kaok sekeras kerasnya, tak seorangpun yang menggubrisnya . Nyonya muda itu berkata lebih lanjut.

"Apabila ia tidak mengirim orang untuk mengikuti dibelakangku, tentu saja akupun akan memegang janji, dalam tiga bulan kemudian, apabila aku sudah tiba ditempat tujuan dengan selamat, pasti akan kuutus seseorang untuk menghantar becah itu pulang ke benteng Khek Po"

Ik tianglo tertegun, sesaat kemudian katanya.

"Lan... lantas bagaimana dengan pedang antik Husi ku kiam (Pedang antik dari kaisar Husi)..."

Nyonya muda itu tertawa panjang.

"Apa yang kuperbuat selama ini hanya bertujuan untuk mendapatkan pedang antik Husi ku kiam tersebut, apa gunanya kau singgung kembali senjata tersebut??"

Ik tianglo menghela nafas panjang.

"Aaai... hujin, kau harus bisa berbicara ada buktinya yang nyata..."

"Kau jangan kuatir setelah menjadi putranya apakah kau anggap bukan putraku?"

Kemudian setelah berhenti sejenak. sambungnya kembali.

"cobalah pikirkan sendiri mungkinkah aku akan mencelakai putraku sendiri?"

Ik tianglo termenung beberapa saat lamanya tanpa menjawab,jelas ia tak percaya apakah nyonya muda itu benar-benar tak akan mencelakai putranya.

Ong It sin yang menyaksikan kejadian itu segera menunjukkan perasaan tak puas buru-buru katanya.

"Tentu saja ia tak akan mencelakai putranya sendiri lotiang, manusia macam apa kah enso ini?"

Tak seorang manusia yang memperhatikan ucapan Ong It sin itu, jangankan memperhatikan, menolehpun tidak. Lewat beberapa saat kemudian, Ik tianglo baru bertanya.

"Siapakah yang hendak kau utus untuk menghantar becah itu kembali ke benteng?"

Nyonya muda itu menunjuk kearah Ong It sin seraya berkata.

"Dialah orangnya"

"Aku?"

Gumam Ong It sin dengan wajah tercengang.

"Ksatria yang budiman, itu kan cuma urusan yang gampang dan enteng, aku percaya kau pasti akan menyanggupinya"

Kata nyonya muda itu sambil tertawa. Ong It sin yang diumpak terus menerus menjadi senang, ia merasa tubuhnya seakan-akan melayang diudara, buru buru katanya.

"Tentu saja, tentu saja aku pasti akan menghantar becah itu... sampai... sampai di benteng Khekpo, kalian tak usah kuatir"

Ik tianglo lantas berpaling kearah Ong It sin sambil tanyanya.

"Siapakah kau? Berasal dari perguruan mana?"

"Aku bernama Ong It sin, tidak termasuk perguruan mana-mana tapi aku adalah seorang jago kelas satu didunia, aku mempunyai seorang sahabat karib, dia bernama si nenek, kalau kau bisa menunggu setengah harian lagi, siapa tahu dia akan tiba pula disini"

Ketika Ik tianglo mendengar nama "si nenek"

Tanpa terasa segera memperdengarkan seruan tertahan, diawasinya Ong It sin dari atas hingga kebawah, kemudian baru katanya.

"Sobat, becah itu adalah satu-satunya putra pocu kami, apabila kau bisa menghantarnya sampai dibenteng Khekpo dengan selamat, sudah pasti ada hadiah besar untukmu. Nah, aku titip bocah itu padamu"

"Apa lagi yang musti dikatakan? Setelah kusanggupi pekerjaan itu, sudah tentu akan kulaksanakan dengan sebaik baiknya"

Ik tianglo tidak banyak bicara lagi, dia lantas memberi tanda kepada kedua orang laki laki itu untuk berlalu dari situ.

Meskipun dua orang laki-laki itu menunjukkan sikap keberatan dan marah, akan tetapi mereka tak berani berbicara banyak.

setelah melotot sekejap kearah nyonya muda itu mereka putar badan dan segera berlalu dari situ.

"Tinggalkan kereta salju itu disini, aku membutuhkannya untuk melanjutkan perjalanan"

Perintah nyonya muda itu.

Ik tianglo tidak banyak bicara, setelah meninggalkan kereta salju itu, bersama dua orang laki laki anak buahnya dengan cepat berlalu dari sana.

Dikala Ik tianglo bertiga sudah berada puluhan kaki jauhnya dari tempat semula nyonya muda itu baru naik ke atas kereta salju, kepada Ong It sin katanya sambil tertawa.

0ooo-d-wooo0

Jilid 7

"KSATRIA budiman, mari kemari, ikutilah diriku"

"Aku..."

Sebenarnya pemuda itu hendak berkata bahwa ia tak bisa ikut pergi karena harus berangkat ke lembah Ciong Cu kok, tapi begitu menyaksikan senyum manis dan genit dari nyonya muda itu, kata kata selanjutnya tak sanggup diutarakan lagi.

Bukan saja ia terbungkam, bahkan tanpa disadari telah maju ke depan dan menuju ke tepi kereta salju.

Tiba-tiba ia merasa tangan kirinya menjadi hangat ketika diperiksa ternyata tangan si nyonya yang putih bagaikan salju dan lembut itu sedang menggenggam tangannya.

"cepatlah naik,"

Bisik nyonya itu manja.

Sejak kecil sampai dewasa belum pernah Ong It sin bermesrahan dengan seorang gadis.

Tapi kini, orang bersikap mesrah kepadanya adalah seorang nyonya muda yang Cantik jelita, hal ini membuat telinganya terasa mendengung keras bagaikan kena aliran listrik bertegangan tinggi, sekujur badannya bergetar keras, bergerak sedikitpun tidak.

Nyonya muda itu tertawa terkekeh-kekeh, ditariknya Ong It sin sekuat tenaga hingga anak muda itu tertarik naik ke atas kereta salju.

Kasihan Ong It sin yang jejaka ini, ia merasa sukmanya bagaikan sudah melayang meninggalkan raganya.

"Ensoo... nyonya kecil... kau... ini... aai sepasang tanganmu sungguh indah sekali"

Perkataanya terbata-bata dan tak karuan, setengah harian lamanya ia gelagapan sebelum akhirnya terlontar juga sepatah kata. Nyonya muda itu tertawa, ia menarik kembali tangannya sambil berkata.

"Pegangan tali les itu, kedelapan ekor anjing gembala itu dapat menghela kereta salju ini melanjutkan perjalanan ke arah depan..."

Ong It sin mengiakan diambilnya tali penghela lalu digetarkan keras-keras, delapan ekor anjing gembala itu menggonggong bersama dan menyerang ke depan.

Kereta salju bergerak dengan cepatnya, bunga salju segera beterbangan kemana mana.

Sambil menghardikan tali les, Ong It sin melarikan kereta salju itu secepat-cepatnya, ketika fajar hampir menyingsing mereka sudah menempuh perjalanan sejauh tujuh delapan puluh li.

"Berhenti dulu..Berhenti dulu"

Tiba-tiba nyonya itu berteriak keras. Ong It sin segera menarik tali lesnya dan kereta salju pun segera berhenti. Ketika ia berpaling, tampaknya nyonya muda itu dengan wajah memerah sedang berkata.

"Kau... kau jangan memperhatikan aku, bocah ini sudah lapar"

"Oooh... lapar? Biar kucarikan makanan untuknya"

Kata Ong It sin dengan cepat. Mendengar perkataan itu, si nyonya muda itu tertawa cekikikan.

"Hendak kau carikan makanan apa untuknya?"

Ia bertanya. Seperti baru sadar, Ong It sin tertawa bodoh.

"Oya, bocah itu minum susu, dan susunya sudah menggembul di tubuhmu... heeehhh... heeehhh... heeehhh... Nah, itu dia barangnya"

Sambil berkata ditudingnya payudara nyonya muda itu seraya tertawa menyengir.

Tapi dengan cepat teringat olehnya bahwa perbuatan semacam ini adalah perbuatan yang kurang sopan, tampangnya yang jelek kontan saja berubah menjadi merah padam bagaikan babi panggang tangannya yang masih menuding payudara si nyonya dipukul keras-keras, kemudian ia melengos dan menjauh dari sana.

Walaupun berdiri ditengah salju yang amat dingin, Ong It sin merasa suhu badannya makin meninggi sehingga akhinya peluh sebesar kacang mengucur keluar tiada hentinya dan membasahi jidatnya Selang sesaat kemudian, nyonya muda itu baru berkata.

"Ksatria Ong, ke marilah"

Bagaikan mendapat perintah, buru-buru Ong It sin menghampirinya dengan munduk-munduk.

"Ksatria Ong"

Kata nyonya itu kemudian.

"aku sangat berterima kasih kepadamu karena kau bersedia membantu diriku"

"Sesungguhnya aku... aku tidak membantu apa-apa kepadamu"

Kata Ong It sin tergagap "enso aku... sebenarnya aku adalah seorang jago nomer satu di dunia, tapi entah mengapa ternyata tenaga dalamku telah musnah dengan begitu saja"

Nyonya muda itu tertawa lebar, tapi iapun tidak membongkar rahasia orang, katanya kemudian.

"Kau jangan memanggil enso kepadaku, aku she Be bernama Siau-soh, panggil saja namaku Siau-soh"

"Eeeh... eeh... salah, bukan... Siau-soh enso..."

Melihat keadaan Ong It sin yang kocak dan ketolol-tololan itu, Be Siau-soh tak dapat menahan rasa gelinya lagi, ia mendongakkan kepalanya dan tertawa terkekeh-kekeh.

Sambil tertawa ia serahkan orok itu ke tangan Ong It sin, menanti si anak muda itu sudah menerima bayi tersebut, dia mengambilpula pedang disampingnya sang orok dan meloloskannya .

Ternyata pedang itu sudah tak bersarung lagi, bukan saja gagang pedangnya sudah kuno, pedang itupun sudah berkarat, lagipun panjangnya mencapai dua depa, jadi tidak diketahui apakah pedang itu dasarnya memang pendek ataukah sudah patah menjadi dua.

Setelah meloloskan pedang itu dan menyembunyikan dalam sakunya, Be Siau-soh memandang bocah itu sekejap.

wajahnya kelihatan seperti merasa berat hati untuk berpisah dengannya.

Tapi tak lama kemudian, ia sudah mendongakkan kepalanya sambil berkata lagi.

"Ksatria Ong, kau adalah seorang yang jujur dapatkah aku mempercayai dirimu?"

"Tugas apapun yang hendak kau berikan kepadaku, pasti akan kukerjakan dengan sebaik-baiknya"

Janji Ong It sin "Baik, kalau begitu aku akan serahkan bocah ini kepadamu"

"Bocah ini... kau serahkan kepadaku"

Bisik Ong It sin terperanjat.

"tapi... tapi... aku tak bisa merawat bayi"

"Tentu saja aku tidak suruh kau merawat bayi ini, didalam oto bayi itu terdapat emas dan perak, berangkatlah kesebelah barat sejauh belasan li maka akan kau temui sebuah kota kecil yang bernama Wa koan yan, tempat itu merupakan tempat paling ramai disekitar seratus li dari tempat ini, gunakanlah uang perak itu untuk membeli sebuah rumah, gajilah seorang mak inang dan rawatlah bayi ini selama tiga bulan, setelah itu tolong hantarlah bayi itu ke benteng Khekpo"

Ong It sin mendengarkanperkataan itu dengan termangu, pikirnya kemudian.

"Kalau cuma begitu sih gampang"

Maka ia bertanya lagi.

"Lantas dimanakah letaknya benteng Khekpo?"

"Tempat itu terletak tujuh-delapan puluh li di sebelah utara tempat pertemuan kita tadi, meskipun kau belum melihat benteng itu sendiri, tapi aku percaya tentu ada orang yang munculkan diri untuk menanyai dirimu, serahkan bocah ini kepada pocu sendiri, kalau tidak aku kuatir ada orang akan mencelakainya"

"Aku tahu, nona... nona Be, kau sendiri akan pergi ke mana?"

Buru-buru Ong It sin bertanya. Be Siau-soh menghela napas panjang.

"Aaai... Ksatria Ong, untuk sementara waktu aku tak dapat mengatakan hal ini padamu, aku cuma berharap masih bisa bertemu lagi dengan kau..."

Tiba-tiba ia merentangkan tangannya lebar-lebar dan memeluk Ong It sin, kemudian sekali melesat tahu-tahu tubuhnya sudah melesat kearah depan sana.

Meskipun pelukan itu cuma berlangsung dalam sekejap mata, namun cukup fatal bagi Ong It sin.

untuk sesaat lamanya ia berdiri termangu seperti orang yang kehilangan ingatan, setengah jam kemudian kesadarannya baru berangsur-angsur pulih kembali.

Menunggu pikiran si anak muda itu sudah sadar kembali bayangan tubuh Be Siau-soh sudah tak kelihatan lagi, tapi Ong It sin merasa seakan-akan masih mengendus bau harum yang menyebar keluar dari tubuh nyonya itu, malah bau harum tersebut seakan akan mengitar terus disekeliling tubuhnya.

Kembali ia berdiri termangu-mangu beberapa waktu lamanya, kemudian sambil membopong sang bocah memegang kendali, ia jalankan kereta salju itu menuju kekota Wan koan-yu.

Demikianlah, sambil melarikan kereta salju itu menuju kota Wan koan-yu, pikirannya terasa kosong dan hampa, seakan-akan setitik perasaan pun sudah tidak dimilikinya lagi.

Padahal, sebagaimana telah diketahui Ong It sin adalah seorang pemuda yang tolol manusia macam itu sesungguhnya tidak mempunyai pikiran apa-apa, otomatis tak mungkin pula baginya timbul perasaan kosong atau hampa semacam itu.

Tapi sekarang, memandang tumpukan salju yang menyelimuti permukaan bumi, ia tak bisa membayangkan bagaimanakah perasaannya pada waktu itu, ia merasa kemanapun pandangannya diarahkan, disanalah ia seakan-akan menyaksikan Be Siau-soh sedang tersenyum manis kepadanya.

Senyuman itu serasa bikin jantung berdebar keras, membuat ia hampir saja lupa kalau dirinya masih harus berkunjung ke lembah Ciong Cu kok dibukit Toa soat san.

Terlebih pelukan Be Siau soh sesaat meninggalkan dirinya, pelukan itu membuat Ong It sin bagaikan kehilangan sukma, ia merasa tubuhnya seperti lagi melayang diantara awan yang tebaL Beberapa kali kemudian, pemuda itu kembali berhenti, selimut yang membungkus tubuh si orok dibukanya.

Memandang sang bayi yang berada dalam pelukan, terutama sepasang biji matanya yang besar dan jeli, senyuman manis yang menawan hati, lagi lagi ia merasa seolah olah Be Siau soh berada dihadapannya.

Tak tahan lagi, diciumnya pipi si orok itu dengan penuh kasih sayang...

Sesungguhnya mencium seorang bayi adalah hal yang lumrah, akan tetapi berhubung dalam hati Ong It sin telah timbul pikiran lain, maka dikala bibirnya menyentuh pipi orok tersebut hampir saja jantungnya serasa melompat keluar dari rongga dadanya.

Pemuda itu tak berani melanjutkan niatnya lagi cepat cepat disentaknya tali kendali kereta salju pun melanjutkan kembali perjalanannya meluncur kedepan.

Tak lama kemudian tampaklah beberapa buah cerobong asap besar memancarkan asap hitam depannya menyusul kemudian rumah penduduk mulai tampak satuper satu.

Ong It sin tahu, tempat itu pastilah kota Wan koan yU yang dimaksudkan, tadi pikirannya masih tetap bimbang dan kosong ia tak tahu sampai kapankah bisa berjumpa lagi dengan Be Siau soh dia pun tak tahu apakah ia mempunyai harapan untuk hidup bersama dengan si ibu dari orok tersebut.

Uang emas dan perak yang berada dalam selimut bayi memang cukup banyak jumlahnya, sebagaimana yang dikatakan pepatah, dengan uang banyak apapun yang diinginkan dapat tercapai.

Meskipun Ong It sin hanya seorang laki laki bodoh tapi setibanya dalam kota dengan lancar ia telah membeli rumah dan menyewa seorang inang pengasuh.

Tiga bulan lewat dengan cepatnya, ternyata ia berhasil merawat bocah itu lebih gemuk lebih putih dan semakin menawan hati.

Tiga bulan kemudian, musim dingin sudah lewat dan musim semi pun menjelang tiba.

Setelah lapisan salju mencair, udara terasa jauh lebih hangat dan nyaman.

Selama tiga bulan belakangan ini, setiap hari Ong It sin selalu berharap ibu dari sang orok bisa datang ke kota Wan koan yu untuk menengok anaknya karena Be Siau soh tahu bahwa dia dengan membawa putranya berdiam disana.

Tapi harapan Ong It sin tetap tinggal harapan tiga bulan sudah lewat namun bayangan dari Be Siau soh tak pernah terlihat sebaliknya bayi itu malah bersikap lebih merah dan rapat dengan sianak muda itu.

Untuk melepaskan rasa kangennya Ong It sin lebih menyayang bocah itu, sebab baginya bertemu dengan si orok sama halnya dengan bertemu sendiri dengan Be Siau soh.

Suatu hari, ketika saat menetapkan di kotaWa koan yau telah genap tiga bulan, dia menyewa sebuah kereta, membawa serta si mak inang dan mengusiri sendiri kereta itu berangkat meninggalkan kota tersebut.

Setelah berada diluar kotaWa koan yau, pemuda itu baru teringat bahwa seharusnya ia pergi ke lembah Ciong cu kok, setelah tertunda selama tiga bulan, tentu si nenek telah duluan disana.

Setelah si nenek tiba di lembah Ciong cu kok dan tidak menjumpai dirinya berada disitu, mungkinkah dia menjadi naik darah dan marah kepadanya...?

Ong It sin melarikan kudanya siang malam terus menerus, dua hari kemudian ia sudah berada dua tiga ratus li jauhnya.

Hari ketiga, ketika ia masih melanjutkan perjalanan, tiba tiba dari arah belakang berkumandang suara derap kaki kuda yang sangat ramai, ketika Ong It sin coba berpaling, tampaklah tiga ekor kuda jempolan sedang menyusulnya dengan kecepatan luar biasa.

Kemungkinan besar ketiga ekor kuda itu muncul dari persimpangan jalan, bahkan kalau ditinjau dari gerakan mereka, tampaknya tujuan mereka adalah menyusul keretanya.

Ong It sin mulai merasakan hatinya berdebar keras ia sadar bahwa sipencari gara gara telah datang.

Tapi setelah teringat kembali olehnya bahwa dia adalah seorang jago silat kelas satu dalam dunia persilatan, rasa takut itu segera terusir lenyap.

Baru saja ia selesai melamun, ketiga ekor kuda itu bagaikan hembusan angin puyuh telah berada disampingnya, bahkan kemudian berhenti tepat di hadapan keretanya.

Ketiga orang laki laki itu memperhatikan Ong It sin sekejap kemudian, setelah bertukar pandangan sekejap mereka bersama-sama melompat turun dari kudanya.

"Apakah saudara adalah Ksatria Ong?"

Sapanya hampir berbareng.

"Aku tidak merasa kenal dengan mereka bertiga kenapa mereka bisa tahu kalau aku dari marga ong? Heran, sungguh mengherankan"

Tapi dengan cepat pikirnya lebih jauh.

"Aaai... Apa anehnya kejadian ini? Sekarang aku toh jago nomor satu dalam dunia persilatan, tentu saja orang persilatan kenal semua denganku apa anehnya jika ketiga orang ini pun tahu kalau aku dari marga ong?"

Berpikir sampai disini, dengan wajah berseri segera berkata.

"Benar, aku memang dari marga ong, ada urusan apakah kalian bertiga mencariku?"

Setelah mengetahui bahwa orang yang ditemui adalah benar, sikap ketiga orang itu segera berubah menjadi lebih hormat dan sopan.

"Kami adalah orang orang dari benteng Khekpo, sudah lama ditugaskan ditempat ini untuk menantikan kedatangan saudara, boleh kami tahu sekarang majikan cilik dari benteng Khekpo berada dimana?"

"Majikan cilik kalian berada dalam kereta"

Jawab Ong It sin dengan cepat.

"Bagus sekali"

Seru ketiga orang laki laki itu dengan wajah berseri.

"Saudara usah bersusah payah melakukan perjalanan jauh lagi serahkan saja majikan cilik kepada kami, biar kamilah yang menghantar tuan kecil pulang ke benteng Khekpo"

Andaikata persoalan lain yang dikehendaki, sebagai orang yang tanpa perhitungan niscaya Ong It sin akan menyanggupi dengan begitu saja.

Tapi masalahnya sekarang menyangkut masalah lain, Be Siau soh sendiri telah berpesan kepadanya agar bocah itu diserahkan sendiri kepada sang pocu, maka ia tak mau mengingkari janjinya .

Baginya, setiap patah kata dari Be Siau soh seakan akan sudah terukir dalam dalam di benaknya, meski agak tertegun setelah mendengar perkataan dari ketiga orang itu, dengan cepat kepalanya segera digelengkan..."Tidak bisa"

Katanya.

"aku telah mendapat pesan orang yang mengharuskan bocah ini kuserahkan sendiri ketangan Khekpoo pocu, sebelum sampai di tempat tujuan mana boleh kuserahkan bocah ini kepadamu dengan begitu saja?"

"Benar juga yang dikatakan Ksatria Ong"

Jawab ketiga orang itu dengan cepat.

"tapi sebelum itu, dapatkah Ksatria Ong mengijinkan kepada kami untuk menengok sekejap wajah bocah itu?"

"Tentu saja boleh"

Sambil berkata ia melompat turun dari kereta, membuka pintu kereta sambil katanya.

"Mak inang, boponglah keluar bocah itu dan perlihatkan kepada ketiga orang sahabat ini"

Mak inangnya adalah seorang perempuan kekar yang berusia tiga puluh tahunan, sambil membopong bocah itu dia berjalan keluar.

Berserilah wajah ketiga orang laki laki itu setelah menjumpai sang bocah, buru buru katanya.

"Ksatria Ong, seandainya kau bisa menghantarnya ke dalam benteng, pocu kami pasti akan memberi hadiah besar kepadamu"

Ong It sin tidak memberi tanggapan apa apa, dia hanya diam diam menghela napas panjang.

"Aaai... siapa yang kesudian segala, hadiah besar?"

Pikirnya didalam hati.

"aku hanya berharap bisa berjumpa sekali lagi dengan Be Siau soh..."

Ketika teringat sampai disitu, tiba tiba ia merasa bahwa jalan pemikiran semacam itu Sesungguhnya tidak patut, kontan saja Selembar wajahnya berubah menjadi merah padam.

Ketiga orang laki laki itu kembali berkata.

"Kalau memang begitu, biarlah kami berangkat ke benteng Khekpo bersama Sama Ksatria Ong, dengan begitu Sepanjang jalan kitapun bisa membantu bantu dirimu, Setuju bukan?"

"Hey, apakah maksudmu dalam perjalanan kita nanti masih akan menjumpai banyak kesulitan?"

Tanya Ong It sin tercengang.

"Mara bahaya sukar diduga datangnya, apa salahnya kalau kita sedia payung dulu sebelum hujan?"

"Baiklah"

Kata Ong It sin kemudian dengan perasaan apa boleh buat.

"mari kita segera berangkat"

La naik kembali ke kursi kusir dan menjalankan keretanya menuju ke depan, sementara ketiga orang laki laki tadi mengikuti dibelakangnya.

Kurang lebih tujuh delapan li kemudian, tiba tiba dari depannya berkumandang suara ledakan yang cukup keras, disusul segulung asap hijau membumbung tinggi ke angkasa.

Ketiga orang laki laki itu segera mencemplak kudanya lari kedepan, teriaknya dengan gembira.

"Tianglo dari benteng kami telah datang"

Ong It sin pun cukup paham akan bahaya dan liciknya orang orang persilatan, sedikit banyak ia menaruh curiga juga atas keaslian atau tidaknya ketiga orang itu sebagai anggota benteng Khekpo, tapi setelah ia mendengar bahwa ketiga orang itu berpekik bahwa Tianglo nya telah datang, semua rasa curiganya segera tersapu lenyap.

Sebab waktu Ong It sin berjumpa dengan Be siau soh untuk pertama kalinya dulu, diapun sempat berjumpa dengan tianglo mereka.

Tianglo adalah anggota benteng Khekpo, otomatis keasliannya tak bisa diragukan lagi, sebab itu ketika mendengar bahwa tianglo telah datang dengan perasaan gembira Ong It sin berseru pula.

"Dia berada dimana?"

"Itu dla, tianglo telah datang"

Belum habis jawaban tersebut, tampaklah sesosok bayangan manusia telah menyambar datang dari kejauhan sungguh cepat gerakan tubuh orang itu dalam waktu singkat ia sudah berada dihadapan anak muda itu.

Benar juga , orang yang baru datang itu memang Tianglo adanya.

Begitu tiba, tianglo segera memberi hormat kepada Ong It sin seraya katanya.

"Ksatria Ong aku benar benar seorang yang memegang janji, apakah bocah itu sudah kau hantar kemari?"

"Betul bocah itu berada dalam keadaan baik baik dan berada dalam ruangan kereta, ketiga orang sahabatmu telah melihat semua"

Kata Ong It sin.

"Ksatria Ong, kaupasti lelah bukan setelah melakukan perjalanan jauh sekian lama, sedang pocu yang telah berpisah selama tiga bulan dengan putranya merindukan pula siang malam, ia selalu berharap dapat bertemu secepatnya dengan anaknya maka harap ong sauhiap bersedia untuk menyerahkan bocah itu kepadaku agar bisa kubawa pulang lebih dulu ke benteng dan saudara menyusul dari belakang?"

Kata sang tianglo. Ong It sin tertegun sejenak lalu, katanya.

"Tentang soal ini... tentang soal ini... aku rasa kurang baik, aku tak dapat menyerahkan anak ini kepada kalian sebab pesan hujin... aku... aku diharuskan menyerahkan sendiri bocah ini kepada pocu kalian"

Tianglo itu segera tertawa terbahak bahak.

"Haahhh... haaahhh... haaahhh... Ksatria Ong memang amat bertanggung jawab, pesan memang tetap merupakan pesan, cuma kau harus tahu bahwa aku adalah seorang dari kelima orang Tianglo dari benteng Khekpo, masakan kau tidak percaya padaku?"

Ong It sin adalah seorang pemuda yang takpernah kenal akan segala kebiasaan masyarakat, ia beranggapan bahwa apa yang telah dipesankan kepadanya tak akan bisa dirubah kendatipun orang lain merayunya dan mendesaknya dengan pelbagai perkataan.

Maka setelah mendengar perkataan itu ia tetap menggelengkan kepalanya sambil berkata.

"Aku rasa hal ini kurang baik, lebih baik kuserahkan sendiri kepada pocu kalian"

"Kalau begitu... yaa... begitu baik"

Kata Tianglo itu.

Seraya berkata ia lantas mengerling sekejap kearah salah seorang diantara ketiga orang laki laki itu.

Orang itu segera melangkah ke depan membuka pintu kereta.

Ong It sin masih mengira Tianglo itu akan melihat sang bocah, maka ia tidak menghalangi niat mereka bahkan memperhatikan pun tidak.

Tapi begitu pintu kereta dibuka, laki laki itu segera menyambar tangan si inang pengasuh itu dan menariknya keluar dari kereta.

Inang pengasuh itu segera menjerit jerit seperti babi yang hendak disembelih.

Tapi baru berteriak beberapa kali, sebuah tendangan dari laki laki itu bersarang telak diatas pinggangnya.

Diiringi jeritan ngeri yang menyayatkan hati, inang pengasuh tersebut mencelat ke Udara seperti layang layang putus.

Cepat nian gerakan tubuh laki laki tersebut, begitu inang pengasuh tadi ditendang seCara telak tangannya bekerja cepat merampas sang bocah yang berada dalam pelukannya Sungguh kasihan inang pengasuh tersebut, ketika tubuhnya terbanting kembali ke tanah beberapa kaki dari tempat semula, tubuhnya tidak berkutik lagi jelas selembar jiwanya sudah melayang meninggalkan raganya.

Semua perubahan itu berlangsung secara mendadak dan diluar dugaan, siapapun tidak menyangka kalau bakal terjadi peristiwa semacam ini.

Ong It sin hanya duduk termangu diatas tempat duduknya didepan kereta, hampir saja ia menyangka semua kejadian tersebut sebagai suatu impian belaka.

Menanti ia mulai sadar bahwa apa yang terjadi bukan suatu impian melainkan suatu kenyataan, ketiga orang laki laki itu dengan membopong sang bocah telah mundur bersama sejauh empat lima kaki dari tempat semula..."Weeess..."

Berbareng itu pula sang tianglo melancarkan sebuah puklan kearah kuda penarik kereta.

Dengan angin pukulan serasa angin puyuh yang menyambar seluruh jagad, dalam waktu singkat semua kaki keempat ekor kuda penarik itu sudah terhajar patah semua.

Kuda kuta itupun roboh, otomatis kereta penariknya ikut oleng mengakibatkan Ong It sin yang berada diatas kereta nyaris terjungkal keatas tanah.

Tergopoh gopoh Ong It sin merangkak bangun dari atas tanah, tapi tianglo itu sudah putar badan mengambil langkah seribu.

Kalau ketiga orang laki laki itu kabur dengan gerakan cepat maka tianglo itu jauh lebih cepat lagi dalam sekejap mata ia telah berhasil menyusul ketiga orang anak buahnya yang telah kabur terlebih dahulu itu.

Dalam waktu singkat baik tianglo maupun ketiga orang laki laki yang melarikan sang bocah telah lenyap dari pandangan mata.

Hingga detik itu Ong It sin baru bisa menghembuskan napas panjang, teriaknya keras "Hey, permainan setan apa yang sedang kalian lakukan?

Hey, kalian orang orang dari benteng Khekpo kenapa begitu tak tahu aturan...?"

Sekalipun ia sudah berteriak sampai serak suaranya juga percuma, karena bukan saja tianglo itu sudah lenyap tak berbekas, bahkan ketiga orang laki laki itupun sudah tak tampak batang hidungnya lagi.

Diatas tanah lapang yang luas tinggal kuda kuda berkaki patah yang meringkik tiada hentinya, suasana semacam ini menambah seramnya keadaan ditempat itu.

Ong It sin masih saja berdiri termangu seperti orang bodoh, terhadap kejadian yang telah berlangsung selama ini jangankan mengambil suatu keputusan, apa yang terjadipun ia tak tahu.

Setelah termangu sekian lama, akhirnya ia baru merasa bahwa kejadian ini sedikit mencurigakan, tentu ada sesuatu bagian yang srasa tidak beres.

Ia tahu kalau Tianglo itu anggota benteng Khekpo, tapi kenapa sang tianglo tidak berani menghantar bocah itu ke benteng bersama samanya?

Mengapa pula ia membunuh orang dan melukai kuda untuk merampas bocah tersebut dari tangannya?

Ong It sin segera bangkit berdiri lalu berpikir.

"Bagaimanapun juga aku harus pergi ke benteng Khekpo untuk menanyakan persoalan ini sampai terang, persoalan ini tak dapat dibiarkan lewat dengan begitu saja..."

Baru selangkah ia maju, tiba tiba dari kejauhan sana kembali munculu dua ekor kuda jempolan, belum sampai ditempat tujuan, kedua orang penunggangnya sudah melayang meninggalkan punggung kuda dan langsung menerjang kearanya, sungguh cepat gerakan mereka ibaratnya dua ekor burung menerkam mangsanya.

Bukan begitu saja, sewaktu kedua orang itu menerjang tiba, masing masing membawa desingan angin tajam yang amat dahsyat.

Gulungan angin tajam itu amat dahsyat dan menerbangkan batu kerikil danpasir, sedemikian hebatnya sehingga Ong It sin sendiripun ikut tergulung ke belakang.

Dengan gugup gelagapan ia mundur beberapa langkah untuk menghindar, akan tetapi toh ada beberapa bijih batu kerikil yang sempat menghantam tubuhnya sehingga menimbulkan rasa sakit.

Dalam pada itu dua orang yang melayang meninggalkanpelana kudanya tadi telah berdiri tegak dihadapannya.

Dua orang itu yang satu mengenakan baju merah dan merupakan seorang laki laki setengah umur yang kurus kering dan berusia lima puluh tahun, sedangkan yang lain adalah seorang kakek berambut putih yang memakai baju hitam.

Begitu tiba digelanggang, kakek berbaju hitam itu segera menghampiri mayat inang pengasuh yang tergeletak beberapa kaki jauhnya itu, setelah diperiksa sebentar kemudian melayang balik ke depan itu.

Laki laki setengah umur berbaju itu memperhatikan Ong It sin sekejap.

kemudian tegurnya.

"Apakah engkau she Ong?"

Ong It sin masih juga tidak mengetahui apa gerangan yang telah terjadi, diapun tak tahu asal usul kedua orang itu tapi kedatangan mereka yang begitu garang dan membuatnya menjadi sangat tidak memuaskan hatinya.

Sekalipun demikian, ia tak dapat mendiamkan pertanyaan orang, maka sambil mempermainkan diri ia menjawab.

"Yaa betul, aku she Ong"

Paras muka kedua orang itu berubah hebat, dengan nada gelisah bercampur cemas mereka bertanya lagi.

"Lantas dimanakah majikan kecil kami? Apakah sudah terjadi hal hal diluar dugaan?"

Dari sebutan "majikan kecil"

Ong It sin dapat menduga bahwa kedua orang itupun berasal dari benteng Khekpo, ini membuat hatinya semakin mendongkol.

"Hmm... Apa lagi yang musti kukatakan"

Sahutnya gemas.

"kalian orang orang Khekpo memang semuanya tak tahu aturan"

Kedua orang itu kembali saling berpandangan sekejap tiba tiba laki laki berbaju merah itu turun tangan kembali kelima jari tangannya direntangkan bagaikan kuku garuda, kemudian dicengkeramnya bahu Ong It sin keras keras ini membuat si anak muda itu merasa kesakitan hingga tak kuasa lagi dia berkaok kaok seperti babi disembelih "Hayo jawab"

Bentak laki laki baju merah itu makin mengencangkan cengkeramannya.

"bukan majikan cilik kami seharusnya sudah dikirim pulang ke benteng Khekpo?"

"Aduuh mak... lepaskan tanganmu lebih dulu... sakit... Yaa, yaa... memang aku harus menghantarnya pulang ke benteng Khek po"

"Lantas dimana orangnya sekarang?"

Bentak lelaki itu marah.

"Kemana lagi? Tentu saja sudah dibawa kabur oleh orang orang benteng Khekpo kalian"

"Apa?"

Teriak dua orang itu berbareng.

"cepat katakan, siapakah mereka?"

Teriak laki laki berbaju merah lagi dengan suara lengking.

"Lepaskan dulu cengkeramanmu. Apa lagi yang musti kukatakan, dia adalah tianglo kalian sendiri"

Dalam anggapan Ong It sin, setelah ucapan tersebut diuatakan niscaya mereka tak akan setegang itu lagi, siapa tahu justru paras muka mereka berubah makin keabu-abuan.

"Kemana mereka telah pergi?"

Bentak laki laki berbaju merah lagi setelah berhenti sejenak. sedapat mungkin Ong It sin menunjuk ke arah depan.

"Sana, mereka telah kabur ke situ"

Dua orang itu segera berpekik nyaring, laki laki berbaju merah itu melancarkan sebuah pukulan dahsyat ke depan, segulung hembusan angin kencang dengan cepat menghantam tubuh Ong It sin, membuat si anak muda itu mundur sejauh tujuh delapan langkah dan roboh terjengkang ke tanah.

Menunggu Ong It sin mendongakkan kembali kepalanya, kedua orang itu sudah lenyap tak berbekas.

Sambil memegang pantatnya yang sakit,pelan pelan Ong It sin merangkak bangun, lalu gerutunya.

"Sialan manusia manusia itu... tak ada angin tak ada hujan tahu tahu mencari gara gara denganku... hmm Dasar orang sinting semua..."

Tapi ketika kepalanya didongakkan kembali, pemuda itu kembali dibuat terperanjat.

ooodowooo Entah sejak kapan tahu tahu didepan matanya telah bertambah dengan seorang manusia.

Orang itu berwajah pucat pias seperti mayat, memakai baju warna putih dan pada hakekatnya tidak lebih adalah seorang setan gantung putih seperti yang ada dalam dongeng.

Serta merta Ong It sin melompat mundur selangkah, teriaknya dengan gelagapan.

"Kau... kau... sejak kapan kau datang kemari?"

Orang itu segera memperdengarkan suara tertawanya yang aneh dan menyeramkan.

"Heeehhh... heeehhh... heeehhh... bukankah kau orang she Ong?"

Bukan saja suara tertawanya menyeramkan, bahkan logat berbicaranya juga aneh dan mendatangkan perasaan yang mengerikan bagi siapapun yang mendengarnya.

Sambil tertawa getir Ong It sin manggut manggut "Betul, jadi kalian sudah kenali siapa aku?"

Demikian jawabnya. Agaknya orang ini memiliki tabiat yang lawanan bila dibandingkan dengan manusia berbaju merah tadi, ia tidak gelisah pun tidak buru buru katanya pelan.

"Kalau kutinjau dari keadaanmu, tampaknya majikan cilik dari benteng Khekpo telah menemui kejadian yang berada diluar dugaan?"

"Betul...Betul...Rupanya kau juga anggota benteng khekpo? sesungguhnya tidak dapat dikatakan sebagai suatu kejadian yang luar biasa, menurut tianglo kalian, pocu sudah kangen dengan anaknya dan kepingin cepat cepat bertemu maka mereka merampas bocah itu dan melarikan diri tanganku"

Setelah berhenti sejenak, dengan kening berkerut lanjutnya.

"cuma aku rasa tianglo itu orang yang kurang baik, bukan saja telah merampas bocah itu, inang pengasuhnya juga dipukul sampai mati. Aaai... berbuat sewenang wenang, apakah tindakan dari seorang ksatria sejati...?"

Orang itu manggut manggut.

"Benar juga perkataanmu itu"

Kata orang tadi sambil manggut manggut "tapi apakah kau telah bertemu dengan dua orang manusia yang berbaju merah dan hitam?"

"Yaa... aku menjumpainya, mereka telah pergi mengejar tianglo tersebut"

"Ehmm... kalau begitu, mari ikut aku pulang ke benteng Khekpo"

Kata orang itu kemudian Betapa senangnya Ong It sin setelah mendengar perkataan itu, katanya dengan cepat.

"Bagus sekali, kebetulan aku memang ingin berkunjung ke benteng Khekpo serta mencari tianglo itu untuk menuntut keadilan, kalau kau bersedia membawaku kesitu, itu lebih baik lagi, tapi sebelumnya bolehkah aku tahu siapa namamu?"

"Sebut saja aku sebagai Goan tianglo"

Ong It san tertawa.

"oooh... rupanya kau seperti juga Ik tianglo merupakan salah satu diantara lima orang tianglo dari benteng Khekpo, bukan begitu?"

"Hmm... rupanya kau memang pintar"

Sepanjang hidupnya, berapa kali Ong It sin pernah dipuji orang sebagai orang pintar? Kontan saja ia menjadi girangnya setengah mati, buru buru tanyanya kembali.

"Goan tianglo, aku... aku ingin menanyakan satu hal, apakah kau bersedia untuk menjawabnya? "

Dengan sorot mata yang tajam Goan tianglo memperhatikan wajah anak muda itu sekejap. kemudian baru katanya.

"Apa yang ingin kau tanyakan?"

Ong It sin tertawa paksa, kemudian baru katanya "Setelah meninggalkan benteng, apakah pocu hujin kalian-.. pernah... pernah pulang kembali ke benteng?"

Paras muka Goan tianglo yang pada dasarnya memang berwarna pucat keabu abuan, kini berubah semakin mengerikan setelah mendengar pertanyaan itu, membuat siapapun yang melihatnya ikut merasa kan bulu kuduknya pada bangun berdiri.

Akhirnya lewat beberapa waktu kemudian, Goan tianglo baru berkata.

"la belum kemari"

Ong It sin menjadi dag dig dug tidak tenang karena lawan bicaranya cuma membungkam "Kalau begitu sekarang ia berada dimana, apa kalian tahu?"

Kembali anak muda itu bertanya.

"Aku juga tidak tahu,"

Paras muka Goan tianglo berubah semakin menyeramkan.

Sebetulnya Ong It sin tidak berani mengajukan pertanyaan itu, tapi akhirnya setelah mengumpulkan semua kekuatan dan keberaniannya, terlontar juga pertanyaan-pertanyaan sekitar Be Siau soh.

Sayang pertanyaan tersebut tidak menghasilkan apa apa, ia menjadi kecewa sekali hingga menghela napas panjang.

Dan pada waktu itulah Goan tianglo memperdengarkan suara tertawa dinginnya yang menggidikkan hati.

Ong It sin tidak ambil peduli kenapa Goan tianglo memperdengarkan suara tertawa dingin itu, dia hanya berdiri termangu seperti orang bodoh, kemudian melangkah maju tanpa tujuan.

Kurang lebih tujuh delapan li kemudian, tiba tiba dari belakang tubuhnya kedengaran suara dua kali ledakan yang memekikkan telinga.

Buru buru Goan tianglo dan Ong It sin berpaling ke belakang, tampaklah dua gulung asap merah dan hitam membumbung tinggi ke angkasa.

Menyaksikan gumpalan asap tersebut, Goan tianglo segera bertindak cepat, sebelum Ong It sin mengetahui apa yang hendak dilakukan si kakek tersebut, tahu tahu jalan darahnya sudah tertotok.

"Bluuuk..."

Tak ampun lagi tubuh Ong It sin jatuh terjengkang ke tanah, sementara Goan tianglo segera meluncur kedepan menghampiri arah dimana asap tadi berasal, dalam sekejap mata bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata.

Dalam waktu tak sampai dua jam, Ong It sin telah dibuat bingung oleh serentetan kejadian yang memusingkan kepala, bagaimanakah duduk persoalan yang sesungguhnya masih merupakan sebuah pertanyaan besar, dan iapun tidak sadar kalau jalan darahnya telah ditotok orang.

Menanti tubuhnya tak bisa bergerak, si anak muda itu baru mulai mengeluh, kendatipun hawa amarah menyelimuti benaknya, tapi apa daya?

Satu jam lebih ia musti berbaring sendirian di tengah tanah lapang yang sunyi, sebelum akhirnya ia mendengar seakan akan ada orang sedang menghampirinya.

Ong It sin segera berpikir.

"Peduli siapapun yang datang, pokoknya asal ia bebaskan jalan darahku yang tertotok, pasti akan kuhadiahkan sebuah tonjokan keperutnya"

Baru saja ingatan itu berkelebat lewat dalam benaknya, ia mendengar ada orang berseru tertahan dari arah belakang, menyusul kemudian bahunya ditepuk orang dan jalan darahnya segera bebas.

Serta merta Ong It sin melompat bangun kemudian-..

"Seees..."

Sebuah puklan langsung disodok ke depan.

Bagi pandangan Ong It sin pribadi, pukulan tersebut telah disertai segenap tenaga yang dimilikinya, padahal sama sekali tak berkekuatan bagi pandangan orang lain-Baru saja kepalanya melayang, bayangan manusia tahu tahu berkelebat lewat dan orang itu sudah lolos dari incarannya, sebaliknya ia sendiri malah maju dengan sempoyongan dan hampir saja roboh ke tanah.

la berusaha keras menjaga keseimbangan tubuhnya, lalu bertanya.

"Hey, siapa kau?"

Sambil membentak matanya ikut celingukan kesana kemari untuk mencari orang itu, setelah tampang orang itu terlihat olenya, pemuda itu baru tertegun.

Rupanya orang itu bukan Tianglo atau laki laki berwajah bengis, melainkan adalah seorang nona cilik bermuka bulat bermata besar yang kelihatannya baru berusia tiga-empat belas tahunan.

Merah padam selembar wajah Ong It sin karena jengah, setelah mendengus katanya.

"Nona cilik, apakah kau datang dari benteng Khekpo?"

Nona cilik itu tidak menjawab, sebaliknya dengan wajah cemberut tegurnya.

"Apakah kau she Ong? Hmm, kata enci Be orang she Ong adalah orang paling baik dikolong langit, tapi sekarang, aku telah membantu untuk membebaskan jalan darahmu sebaliknya kau malah menghantamku secara diluar dugaan. Hmm, kalau begitu pasti bukan kau yang sedang kucari"

Mendengar perkataan itu, Ong It sin menjadi gelagapan, buru buru katanya dengan gelisah.

"Yaa, yaa... aku memang she Ong, aku bernama Ong It sin apakah nona... nona Be yang suruh kau datang mencariku?"

Begitu mendengar nama nona "Be"

Ong It sin merasa sukmana seperti sudah melayang tinggalkan raganya.

"Betul, jawan nona cilik itu, tapi mengapa kau menghantamku ketika kubebaskan jalan darahmu tadi?"

Ong It sin segera menghela napas panjang.

"Aaai... nona cilik, masalah ini tak bisa diselesaikan dalam sepatah dua patah kata saja tapi... di manakah... dimana nona Be saat ini?"

Sekali lagi nona cilik itu mengamati Ong It sin dengan seksama, kemudian baru katanya.

"Ikutilah diriku"

Sambil mengipatkan kuncirnya yang panjang ia putar badandan berlalu dari sana.

Tak terlukiskan rasa gembira dihati kecil Ong It sin setelah terbayang bahwa tak lama kemudian ia bakal berjumpa dengan nona Be yang dirindukan siang malam selama tiga bulan belakang ini Setengah harian sudah mereka berjalan disebuah jalan setempat yang sempit, makin berjalan suasana makin sepi dan terpencil, anak muda itu mulai gelisah sambil memburu kesisi si nona, ia lantas menegur.

"Hey nona cilik, dia berada dimana?"

"sebentar akan tiba"

Jawab nona cilik itu tanpa berpaling lagi.

Demikianlah, merekapun melakukan perjalanan lebih sejauh lima enam belas suasa makin lama makin gelap karena senja telah menjelang tiba Waktu itu mereka berdua baru saja melewati sebuah hutan yang lebat dan berjalan melalui sebuah selat yang sempit, setengah jalan kemudian tiba tiba nona itu berhenti dan mulai merangkak naik melalui sebuah ranting yang terjulai dari atas tebing.

Ong It sin memang pemuda yang tak berkepandaian apa apa, tapi soal kepandaian memanjat bukit dia adalah nomor satu, maka dengan cekatan pemuda itu menyusul dibelakang nona tersebut dengan tidak kalah cepatnya...

Menanti kedua orang itu berhasil mencapai puncak tebing tersebut, tengah malam sudah lewat...

Ternyata puncak tebing tersebut adalah sebuah tanah datar yang luasnya mencapai beberapa hektar, dibawah sebatang pohon slong besar berdirilah sebuah bangunan rumah batu yang jelek sekali Nona kecil itu berhenti kurang lebih tujuh delapan depa didepan bangunan rumah itu, lalu serunya dengan suara rendah.

"Enci Be, orang yang kau cari telah kubawa kemari"

Waktu itu Ong It sin merasa hatinya tegang sekali, ia telah mendengarkan suara dari Be Siau hong yang berkumandang keluar dari dalam ruangan, entah sudah berapa lama ia mengharapkan dapat mendengar suara semacam itu..."Ksatria Ong, apakah...

apakah kau telah datang?"

Terdengar Be Siau soh bertanya. Buru buru Ong It sin maju ke depan.

"Yaa, yaa... aku telah datang, aku telah datang... aku yang telah datang"

Sahutnya tergagap.

Setelah mendengar suara dari Be Siau soh, ia merasa tak tahu bagaimana musti menjawab, dia hanya merasakan jantungnya berdebar keras sehingga apa yang telah diucapkanpun tidak diketahui olehnya.

Suara dari Be Siau soh kembali berkumandang dari dalam ruangan batu itu.

"Ksatria Ong, masuklah kemari, aku... aku ada persoalan hendak disampaikan kepadamu"

Suara dariBe Siau soh kedengaran begitu merayu, begitu menawan hati membuat bajapun akan leleh dibuatnya.

Cepat cepat Ong It sin maju beberapa langkah ke muka, mendorong pintu itu dan melongok ke dalam.

Cahaya lampu dalam ruangan amat redup, sinar yang menerangi sekeliling sana tak lebih hanya berasal dari sebuah lentera kecil yang sudah hampir habis minyaknya.

Perabot yang berada dalam ruangan itulah sangat sederhana, yang ada tak lebih hanya sebuah pembaringan dan sebuah kursi.

Waktu itu Be Siau soh sedang berbaring diatas pembaringan, tubuhnya ditutup dengan selembar kulit harimau, badannya sama sekali tak berkutik.

Ong It sin segera mendekati pembaringan itu, tapi setelah menyaksikan apa yang terbentang didepan matanya, seketika itu juga ia menjadi termangu...

Gadis yang berbaring diatas pembaringan itu bertubuh sangat kurus tapi wajahnya kelihatan amat cantik, sekalipun sedang lesu dan keadaannya layu, sedikitpun tidak mengurangi kegenitan serta daya tariknya yang merangsang.

Perempuan itu benar benar adalah Be siau soh cuma saking kurusnya sehingga Ong It sin sendiri pun hampir saja tidak mengenalnya lagi.

Ong It sin merasakan hatinya sedih, katanya dengan suara lirih.

"Nona Be, kau... kau... mengapa kau menjadi begini?"

Be Siau soh mengeluarkan tangannya dengan kelima hari yang lencir, lalu digenggamn Ong It sin erat erat, katanya.

"Ksatria Ong, baik baikkah anak itu?"

"oooh... baik, baik, ia menarik sekali"

Jawab pemuda itu dengan cepat. Be Siau soh menghela napas panjang.

"Aaai... tentunya ia sudah kau hantarkan pulang ke benteng Khekpo bukan-.."

Katanya.

"Betul"

Sebetulnya dia hendak berceritera kalau ditengah jalan telah terjadi peristiwa tapi ingatan lain cepat melintas dalam benaknya, ia merasa bagaimanapun juga Goan tianglo adalah anggota benteng Khekpo, asal bocah itu berada di tangannya pasti tak akan mengalami kejadian apa apa.

Sedangkan kini Be siau soh tampaknya sedang menderita sakit, ia merasa tidak baik untuk menyinggung persoalan ini kepadanya.

Be Siau soh segera menghembuskan napas lega katanya.

"Bagus sekali kalau begitu"

"Nona Be, aku lihat kau sendiri juga sedang sakit, parahkah sakitmu itu?"

"Aku tidak apa apa... aaai, setelah bertemu denganmu, akujadi terbayang kembali bahwa semua kejadian selama tiga bulan belakangan ini seakan akan suatu impian belaka..."

Perkataan itu diucapkan Be Siau soh dengan nada sedih, tapi bagi Ong It sin, hal ini membuatnya tak tahu apa yang musti dikatakan. Lewat sesaat kemudian Be Siau soh baru berkata lagi.

"Ksatria Ong, aku masih ada satu urusan ingin mohon bantuanmu, apakah kau bersedia untuk mengabulkannya?"

"Nona Be, asal kau minta kepadaku, pasti akan kusanggupi tanpa membantah."

Be Siau soh menatap wajah anak muda itu sesaat lamanya, kemudian berkata lagi.

"cuma persoalan ini gampang tampaknya susah untuk dikerjakan"

Ong It sin segera membusungkan dadanya.

"Urusan yang lebih sukarpun pasti akan kulakukan untukmu"

Sahutnya cepat. Janji itu diucapkan dengan suara tegas dan tekad yang besar. Be Siau soh berkata lagi.

"Tapi kau harus tahu, untuk melakukan pekerjaan ini mungkin harus menghilangkan waktumu selama dua puluh tahunan"

Sekarang Ong It sin baru tertegun, beginilah kalau orang mengambil tindakan tanpa dipikir-pikir, setelah terlanjur bicara menyesalpun apa gunanya?

Dua puluhan tahun adalah suatu jangka waktu yang panjang sekali, maka untuk sesaat dia tak tahu bagaimana harus menjawab.

Be Siau soh menghela napas panjang, kembali desaknya.

"Sebetulnya... kau... bersediakah kau mengabulkan permintaanku? bukankah kau pernah berkata bahwa..."

Tapi sebelum perempuan itu menyelesaikan kata katanya, dengan cepat Ong It sin telah berseru.

"Yaa, aku mau, aku mau, tentu saja aku mau, tadi aku cuma lagi berpikir bahwa waktunya kelewat panjang, aku tak tahu sanggupkah melakukannya atau tidak..."

Sesudah ada kesanggupan dari pemuda itu, diatas wajah Be Siau soh yang murung baru terlintas sedikit cahaya cerah, katanya.

"Kau pasti sanggup melakukannya, kau..."

Tiba tiba ia mendongakkan kepalanya sambil menuding kearah pintu lalu bisiknya lagi.

"Tutup dulu pintu kamar itu"

Ong It sin menurut dan menutup pintu, ketika ia memutar badannya kembali Be siau soh telah menepuk sisi pembaringannya seraya berkata.

"Kemarilah kau, duduk disini aku masih ada banyak persoalan yang hendak kubicarakan denganmu"

Ong It sin berdebar keras, jantungnya hampir saja melompat keluar dari rongga dadanya, untuk sesaat ia terbungkam dengan wajah merah padam ia hanya berdiri didepan pintu sambil menghembuskan napas panjang.

Be siau soh menghela napas panjang sambil membereskan rambutnya yang kusut kembali bertanya.

"Apakah lantaran aku sudah sakit lama sehingga tampangku menjadi jelek maka kau tidak bersedia mendekati aku lagi?"

"ooh bukan, tentu saja bukan"

Sahut Ong It sin sambil goyangkan tangannya berulang kali.

"kau... cantiknya bukan kepalang... tiada orang didunia ini yang bisa menandingi kecantikan wajahmu"

"Kalau begitu kemarilah kau"

Selangkah demi selangkah Ong It sin maju ke depan, entah apa sebabnya ia merasa kakinya seolah olah sedang berjalan diatas mega, tiba tiba kakinya menjadi sempoyongan dan hampir saja terjatuh buru buru ia bangkit berdiri menghampiri sisi gadis tersebut.

Dengan lemah lembut Be Siau soh segera menggenggam tangannya yang kasar lalu katanya.

"Ksatria Ong, kau sungguh seorang yang baik, aku tak lebih hanya seorang perempuan jahat, kalau tidak... aaai..."

Dengan sedih ia gelengkan kepalanya sambil menghela napas seakan akan sulit baginya untuk melanjutkan perkataannya .

"Siapa yang bilang kalau kau adalah perempuan jahat?"

Tiba tiba Ong It sin berteriak keras.

Teriaknya yang secara mendadak ini ibaratnya dengusan kerbau lapar, kontan saja membuat Be Siau soh menjadi amat terperanjat.

Be siau soh mendongakkan kepalanya, melihat sikapnya yang bersungguh sungguh, tergelaklah perempuan itu lantaran geli.

"Kau toh sudah tahu kalau aku adalah istrinya Khekpo pocu yang kabur dari rumah"

Katanya.

"perempuan semacam ini kalau bukan seorang perempuan jahat lantas apa namanya?"

"Tentu saja bukan, pastilah... pastilah pocu dari benteng Khekpo itu yang telur busuk"

Dengan termangu mangu Be Siau soh mengangkat kepalanya dan memandang lentera kecil dihadapannya, selang sesaat kemudian ia baru berkata.

"Dalam hal ini pocu dari benteng Khekpo tak dapat disalahkan, sekarang aku mulai menyesali perbuatanku sendiri dimasa lalu, sayang menyesalpun tak ada gunanya"

Dengan sedih ia menggelengkan kepalanya, tiba tiba pokok pembicaraan dibawa ke masalah lain, katanya lagi.

"Bukankah kau telah menyanggupi untuk melakukan pekerjaan bagiku, kau betul betul mau atau karena terpaksa saja?"

Ong It sin segera mengangkatjari tangannya ke atas sambil bersumpah.

"Jika aku berbohong, biar Thian mengutuk diriku dan melimpahkan kematian yang tragis untukku"

Be Siau soh segera mengulur tangannya untuk menutup mulut Ong It sin lalu katanya.

"Kalau mau bicara maka bicaralah secara baik baik, kenapa musti angkat sumpah, aku... oya, bagaimana dengan anakku... mesrahkah dia kepadamu?"

Menyinggung soal anak Ong It sin segera mementangkan mulutnya lebar lebar sambil tertawa.

"Yaa, dia memang mesrah benar denganku"

"Aaai... setelah berada dalam benteng Khekpo sekarang, dia pasti akan merasa kesepian"

"Aku tidak..."

Sebenarnya pemuda itu hendak berkata bahwa tak tahu karena bagaimana keadaan bocah itu dibenteng Khekpo memang tidak diketahui olehnya ditengah jalan, bocah itu telah dilarikan oleh Ik tianglo.

Tapi baru saja mengucapkan dua patah kata, tiba tiba ia teringat akan suatu hal...

Ia merasa kuatir bila Be siau soh menjadi sedih lantaran memikirkan nasib anaknya, maka pemuda itu merasa ada baiknya untuk merahasiakan persoalan itu dihadapannya, sebab itulah baru saja mengucapkan dua patah kata, ia membungkam kembali.

Untung Be Siau soh sedang memikirkan persoalan lain, diapun tidak menyangka seorang yang jujur bisa mengelabuhi dirinya, maka katanya lebih jauh.

"Pekerjaan yang kuminta kau kerjakan sekarang adalah minta kau balik lagi ke benteng Khekpo"

"Kembali ke benteng Khekpo? Mau apa aku ke situ lagi?"

Teriak Ong It sin dengan mulut terpentang lebar.

"Kau yang telah menghantar bocah itu pulang ke benteng, lagipula bocah itu sangat baik kepadamu, pocu... dia pasti akan amat berterima kasih kepadamu dan iapun pasti akan mengijinkan kau tetap tinggal di benteng tersebut"

Setelah berhenti sebentar tambahnya.

"Nah, asal bisa hidup bersama bocah itu, maka kaupun bisa melihat bocah itu tumbuh menjadi dewasa"

Ong It sin masih juga tidak tahu apa yang telah dikatakan oleh Be siau soh dan apa tujuannya berbicara dengan memutar kayun sejauh itu.

"Hiduplah terus dalam benteng Khekpo"

Be siau soh berkata lebih lanjut.

"Jangan tinggalkan bocah itu, dan disaat bocah itu sudah berusia dua puluh tahun, serahkan benda ini kepadanya"

Sebetulnya Be Siau soh berbaring diatas pembaringan dengan tubuh lemas, tenaga untuk berbicarapun takpunya, tapi ketika berbicara sampai di situ, tiba tiba ia melompat bangun dan meloloskan sebilah pedang pendek dari bawah bantalnya.

Gagang pedang pendek itu sudah berkarat, sarung pedangnya juga kuno dan sudah butut, sepintas lalu mirip barang bobrok buangan yang tak ada gunanya.

Tapi Be siau soh memegang pedang tersebut dengan tangan gemetar keras, sesudah ragu ragu sejenak ia baru menyerahkan benda itu ke tangan Ong It sin.

Pemuda itu menerimanya dengan keheranan, baru saja dia akan bersuara, Be siau soh telah menggenggam tangannya erat erat sambil berbisik lirih.

"Ksatria Ong, pedang... pedang kuno Hu si klam ini kuperoleh hampir dengan mempergunakan seluruh jiwa dan ragaku, kau musti... kau musti menyimpannya baik baik dihari hari biasa tak boleh dilihat secara sembarangan, bila bocah itu telah berusia dua puluh tahun kau baru boleh memberi tahukan kesemuanya ini kepadanya katakanlah kalau pedang tersebut adalah satu satunya barang yang dapat diberikan ibunya kepadanya..."

Ketika berbicara sampai disitu, mata Be siau soh telah jatuh berlinang membasahi seluruh tubuh wajahnya. Ong It sin menjadi cemas dan gelagapan serunya berulang kali.

"Jangan menangis jangan menangis..."

Be Siau soh melepaskan genggamannya atas tangan Ong It sin, lalu setelah menyeka air matanya ia jatuhkan diri berbaring kembali diatas pembaringan katanya.

"Ksatria Ong, kini aku sudah tidak mengharapkan apa apa lagi, aku hanya berharap dalam penitisan yang akan datang aku bisa peroleh seorang suami yang baik seperti kau, oh betapa gembiranya hatiku bila dapat peroleh suami seperti dirimu"

Ong It sin duduk serba salah, peluh telah membasahi sekujur tubuhnya, kecuali tertawa bodoh ia tak mampu mengucapkan sepatah katapun. Lewat sesaat kemudian ia baru bertanya.

"Kau... kau hendak mati?"

"Mati...? Aku kira untuk sesaat aku tidak bakal sampai mati"

Tiba tiba, entah dari mana datangnya keberanian di hati kecil Ong It sin, katanya dengan terbata bata.

"Kalau begitu... kalau begitu.. kenapa... kenapa kau tidak mau kawin saja dengan-.. denganku?"

Sekalipun hanya sebuah kalimat yang pendek.

akan tetapi ketika ucapan tersebut selesai diucapkan keluar, sekujur badannya sudah basah oleh keringat, seluruh otot dan kulit badannya terasa mengejang keras.

Dengan sedih Be Siau soh menghela napas panjang.

"Aaai... terlambat sudah, itu hanya karena salah berpikir akhirnya aku harus menerima akibat seperti ini, yaa... sekarang telah terlambat..."

Ketika Ong It sin dengan memberanikan diri mengucapkan kata kata tersebut, sesungguhnya dalam hati kecil pemuda tersebut sama sekali tidak terlintas harapan bahwa Be Siau soh akan mengabulkan permintaannya itu.

Sebaliknya setelah mengutarakan kata kata tadi hampir saja ia hendak menempeleng wajah sendiri, karena ia telah berbuat kurang ajar terhadap gadis pujaannya.

Oleh karena itu, setelah Be Siau soh menjawab demikian, dia malahan merasa sangat lega.

Paras muka Be Siau soh sesungguhnya berwarna putih kepucat-pucatan, tapi secara tiba tiba telah menjadi merah padam, dibawah remang remangnya cahaya lentera, tampak kecantikan wajah gadis itu benar benar sukar dilukiskan dengan kata kata.

Dengan suara yang lembut dan manja bahkan dengan gerakan yang merangsang dan mempesonakan hati ia berbisik.

"Aku sudah tidak pantas lagi untuk kawin denganmu, tapi bila kau suka denganku, malam ini... malam ini kita... kita boleh..."

Berbicara sampai disitu, kepalanya tertunduk rendah rendah dan ia tak sanggup untuk melanjutkan kembali kata katanya, keadaannya ketika itu tak ubahnya seperti pengantin perempuan yang sedang bersiap-siap menghadapi malam pertamanya.

Ong It sin merasakan sepasang kakinya enteng seperti melayang diangkasa, hampir saja ia tak mampu berdiri tegak seakan akan seseorang yang kebanyakan minum arak.

Ia merasakan darah yang mengalir dalam tubuhnya mendidih, seperti ada beribu ribu ekor kuda liar sedang berlari bersama...

Tiba tiba ia mengulur tangannya ke depan untuk mengangkap sepasang tangan Be Siau soh yang mungil bibirnya gemetar keras namun tak sepotong perkataanpun sanggup diutarakan Be Siau soh meronta dan berusaha untuk duduk diatas pembaringannya...

Waktu itu Ong It sin telah duduk ditepi pembaringan, maka setelah Be Siau soh duduk, otomatis mereka berduapun saling berpelukan dengan penuh kehangatan dan kemesrahan.

Bagi Ong It sin, peristiwa yang kemudian terjadi pada malam itu hakekatnya seperti suatu impian yang tak berlukiskan indahnya.

Ong It sin hanya teringat, ketika ia selesai menikmati kehangatan tubuh perempuan itu, Be Siau soh mengulangi kembali pesannya disisi telinganya dan minta ia simpan baik baik pedang IHusi kiam tersebut serta menyerahkan kepada anaknya bila sudah dewasa nanti.

Ucapan tersebut seakan akan sudah terukir dalam dalam dihati Ong It sin, selamanya tak mungkin bisa teriupakan lagi.

Dia pun tidak tahu sendiri kapan tubuhnya terasa mengantuk dan tertidur nyenyak, menanti ia terbangun kembali, tampaklah ruangan batu itu sudah terang benderang oleh sinar matahari, sementara Be Siau soh sudah tak kelihatan lagi disitu.

Buru buru Ong It sin melompat bangun dan memburu keluar, pintu rumah terbuka lebar tapi suasana diluarpun sunyi senyap tak kelihatan sesosok bayangan manusiapun.

bahkan si nona cilik itupun lenyap tak berbekas...

Ong It Sin mengucak matanya berulang kali, untuk sesaat ia tak dapat membedakan impiankah yang dialami semalam atau kini masih berada dalam alam impian?

Tapi dalam hati kecilnya dia tahu, entah kemarin ataupun sekarang jelas ia tidak berada dalam alam impian, apa yang telah berlangsung dan terjadi adalah suatu kenyataan, Be Siau soh kini telah pergi sedang ia harus kembali ke benteng Khekpo untuk selamanya mereka tak akan bertemu kembali.

Ketika Ong It sin teringat sampai disitu, saking sedihnya hampir saja ia membelah dada sendiri...

Setelah memperdengarkan jeritan aneh yang mengerikan dia kabur menuju ke bawah puncak.

dengan harapan dapat menyusul kembali Be Siau soh, beberapa kali bahkan hampir saja ia terperosok ke dalam jurang, sayang kendatipun sudah ia susul sampai dibawah kaki bukit, namun bayangan tubuh Be Siau soh tetap tidak ditemukan.

Akhirnya sambil menghela napas panjang ia meraba pedang kuno Husi kiam dalam sakunya, kemudian berdiri termangu mangu disitu.

Tentu saja dia ingin sekali menemukan Be Siau soh, tapi diapun teringat kembali dengan kepercayaan yang diberikan Be Siau soh kepadanya, cinta kasihnya kepada perempuan itu membuat pemuda tersebut mau tak mau harus berangkat ke benteng Khekpo untuk mewujudkan pesan dari Be siau soh tersebut.

Tapi...

dua puluh tahun yang dibutuhkan untuk melaksanakan tugas itu...

dua puluh tahun bukan cuma dua hari...

Seandainya berganti orang lain mereka pasti akan ragu ragu untuk menerimanya, tapi Ong It sin memang seorang pemuda yang jujur.

Sejak berdiam dalam perkampungan keluarga Li, selama banyak tahun tak pernah ada seorang manusiapun yang menaruh perhatian kepadanya tapi sekarang Be Siau soh begitu baik kepadanya ini membuat si anak muda itu dengan pasrah dan rela siap melakukan pekerjaan pula demi Be Siau soh.

Ong It sin tak tahu dimanakah letak benteng Khekpo, dia hanya menentukan arah secara mengawur lalu meneruskan perjalanannya kesana.

Ia berjalan menembusi selat melewati lembah selama berhari hari tak pernah berjumpa dengan seorang manusiapun, diapun tak tahu sampai kapan baru akan sampai di benteng Khekpo.

Senja itu, ketika matahari sudah terbenam dilangit barat, dikala Ong It sin sedang melanjutkan perjalanannya dengan cepat tiba tiba ia menyaksikan ada seseorang sedang duduk bersandar pada pohon didepan sana.

Sudah beberapa hari Ong It sin tak pernah berjumpa dengan seorang manusiapun, setelah bertemu dengan orang sekarang tentu saja ia merasa girangnya bukan kepalang, timbul niat dalam hatinya untuk bertanya kepada orang itu dimanakah letak benteng Khek po.

Maka ia mempercepat langkahnya memburu ke depan, namun ketika mencapai satu dua kaki lagi dari hadapan orang itu, tiba tiba ia meraskaan sesuatu keadaan yang tidak beres.

Menanti ia sudah semakin dekat dan dapat melihat semuanya dengan lebih jelas, tak tahan lagi pemuda itu menjerit sekeras kerasnya seperti orang histeris.

Ternyata orang itu bukan berdiri bersandar pada pohon, melainkan dadanya telah ditembusi pedang yang mana ujung pedangnya menembusi punggungnya dan memantek diatas dahan pohon ooodowooo Orang itu tertunduk rendah rendah,jelas sudah mati agak lama.

Dikala Ong It sin mengetahui bahwa orang itu sudah tewas hatinya sangat bergetar karena kaget secara beruntun ia mundur sejauh dua langkah lebih.

Tapi dua langkah kemudian kembali ia berhenti, sesudah menenangkan hatinya timbul keinginan untuk melihat siapa gerangan orang itu.

Dengan memberanikan diri kembali ia melangkah kedepan lalu didongakkan kepala sang mayat yang terkulai ke bawah itu.

Masih mendingan kalau tidak ia periksa raut wajah orang itu, begitu kepala mayat tersebut didongakkan, kontan saja hatinya menjadi tercekat dan sukmanya serasa melayang meninggalkan raga...

Ternyata kulit wajah mayat itu sudah disayat orang sehingga meninggalkan daging wajahnya yang merah dan penuh berlepotan darah.

Ong It sin merasa sepasang kakinya menjadi lemas dan tubuhnya ikut roboh ke belakang, teriaknya seperti orang kalap.

"Aduuuh mak tolong..."

Sekuat tenaga ia merangkak pergi dari situ, napasnya terengah engah tapi selangkahpun ia tak mampu bergeser, ia merasa seakan akan kehilangan segenap tenaga.

Rasa takut dan ngeri yang mencekam perasaannya saat itu pernah dialami sebelumnya dimasa lampau, waktu itu hujan sangat deras dan ia dalam perjalanan pulang ke perkampungan keluarga Li.

Untuk berteduh dari hujan di suatu kuil bobrok ia telah menjumpai empat orang anggota perkampungan tewas dengan kulit wajah merah tersayat..

Tanpa terasa sekujur badan Ong It sin gemetar keras, ia tahu kematian orang ini pertanda akan terjadinya peristiwa besar di sekitar tempat itu, seperti juga apa yang pernah terjadi di perkampungan keluarga Li tempo hari.

Lama sekali Ong It sin terduduk diatas tanah kemudian dengan sangat hati hati ia merangkak bangun, ia tak berani menyentuh mayat itu lagi, pemuda itu hanya berani berdiri di tempat kejauhan sambil mengamati orang tersebut.

Setelah kulit wajah orang itu disayat orang, sudah barang tentu raut wajahnya tak dapat dkenali kembali.

Tapi dari pakaian yang dikenakan orang itu, Ong It sin merasa kenal sekali, ia merasa seakan akan pernah berjumpa dengan orang ini.

Dengan kening berkerut Ong It sin termenung sebentar, tiba tiba ia teringat kembali siapakah orang, ternyata orang itu adalah salah seorang laki laki yang sekomplot dengan Ik tianglo.

Betapa terkesiapnya si anak muda itu setelah teringat pula bahwa orang itu adalah anggota benteng Khekpo.

Pikirnya kemudian dengan cepat.

"Heran, menurut apa yang kuketahui, benteng Khekpo mempunyai daya pengaruh serta kekuasaan yang besar disekitar tempat ini, Khekpo pocu juga seorang jago persilatan yang berilmu tinggi siapakah yang begitu berani mencelakai jiwa anggota bentengnya...?"

Tentu saja Ong It sin tak akan berhasil memecahkan persoalan ini, apa yang dirasakan hanya terbatas pada rasa heran belaka.

Anak muda itu tidak berdiam lebih lama lagi disitu, ia melanjutkan kembali perjalanannya ke depan, entah berapa saat kemudian diatas sebuah pohon kembali ditemukan seseorang terpantek di atas pohon, kulit wajah orang itupun telah disayat orang.

Kejut dan heran perasaan Ong It sin, perjalanan dilanjutkan dengan lebih cepat lagi menjelang hari mulai gelap.

ia telah menemukan empat orang tewas dalam keadaan yang sama.

Kembali Ong It sin berpikir.

"Keempat orang anak buah Ik tianglo telah kedapatan semua disini, tapi kenapa perginya Ik tianglo? Waaah... kalau dilihat dari suasananya di sekitar tempat ini sudah pasti diapun tidak berada dalam keadaan selamat. Kalau Ik tianglo sampai ikut terancam jiwanya... bukankah keselamatan sang bocahpun sangat berbahaya...?"

Berpikir sampai disitu, si anak muda itu merasa kan sekujur badannya menjadi dingin karena basah oleh keringat.

"Ik tianglo Ik tianglo... apakah kau telah mengalami musibah?"

Teriaknya kemudian dengan suara lantang^ Sebagaimana diketahui, pemuda itu adalah seorang yang bodoh, apa yang dipikirkan selamanya diutarakan secara jujur, karena ia tidak berharap Ik tianglo ketimpa musibah, otomatis diapun bertanya secara begitu gamblang...

Setengah li sudah lewat namun tak kedengaran seorang manusia yang menjawab pertanyaannya itu tapi ketika ia berhenti dan coba memperhatikan keadaan sekitarnya dengan seksama, akhirnya ditangkapnya suara rintihan yang amat lirih berkumandang tak jauh dari situ.

Waktu itu langit sudah gelap.

cahaya bintang dan rembulanpun amat redup, membuat suasana hanya terasa remang-remang.

Mengikuti arah berasalnya suara rintihan itu, Ong It sin berjalan mendekatinya, ternyata suara tadi berasal dari balik semak belukar yang amat lebat.

Sayang suasana amat gelap sehingga sulit untuk mengetahui apakah dibalik semak itu ada seseorang yang menyembunylkan diri atau tidak.

Akhirnya ia berhenti sambil menegur.

"Siapa disitu siapa yang bersembunyi dibalik semak belukar? Hayo cepat menjawab"

Rintihan itu segera terhenti sejenak, tapi tak lama kemudian terdengarlah suara seseorang yang lemah berkumandang.

"Ksatria Ong kah disitu? Barusan... apakah kau yang memanggil diriku?"

Ong It sin tertegun.

"Hey, rupanya kau adalah It tianglo?"

Teriaknya.

"Bee... benar aa... aku..."jawaban dari balik semak itu makin lemah dan lirih. Buru buru Ong It sin memburu kedepan menyingkap semak dan melangkah masuk ditemukan tubuh ik tianglo tergeletak disitu dan melingkar menjadi satu. Dalam semak belukar cuma ada Ik Tianglo tapi bocah itu tak nampak batang hidungnya ini semakin mencemaskan hati si anak muda itu.

"Hey, dimana perginya bocah itu?"

Tegurnya.

"Ik tianglo, kemana perginya bocah yang telah kau rampas itu? Apakah telah kau hantar kebenteng Khekpo?" 0oood-wooo0

Jilid 8 TUBUH Ik tianglo bergetar pelan tapi sekujur badannya semakin melingkar jadi satu.

"Bocah... bocah itu telah...telah dirampas orang"

Bisiknya kemudian teramat lirih.

"Siapa yang telah merampasnya? Siapa?"

Teriak pemuda itu panik.

"Say... siu... jin-.. mo..."

Empat patah kata itu diucapkan berputus-putus, untuk melontarkan setiap patah katapun membutuhkan tenaga yang teramat besar. Menanti kata "mo"

Telah diucapkan, tiba tiba badannya mengejang keras...

Kemudian tiba tiba badannya melejit ke udara setinggi dua tiga depa lebih, ketika dadanya terbanting kembali ke atas tanah, ia tak berkutik lagi, jelas jiwanya sudah melayang meninggalkan raganya.

Dibawah cahaya rembulan yang redup, dapat dilihat kulit wajah Ik tianglo masih utuh, cuma sekujur badannya penuh dengan luka, pada hakekatnya ia telah berobah menjadi seorang manusia darah.

"Say siujin mo... manusia iblis berwajah singa... siapa gerangan iblis ini..."

Gumam Ong It sin berulang kali.

"Hey, jangan-jangan gembong iblis yang dimaksudkan adalah Say siujin mo yang pernah disebut sebut engku ku setelah Ciong lay su shia mengobrak abrik perkampungan keluarga Li?"

Setelah termenung sebentar, anak muda itu kembali berpikir.

"Konon gembong iblis yang berilmu sangat tinggi ini telah tewas lama sekali, mungkinkah Say siujin mo yang dimaksudkan Ik tianglo sekarang adalah orang yang sama dengan orang dulu?"

Setelah mengetahui bahwa sang bocah telah dirampas orang, hatinya merasa kacau sekali, pikirannya kalut dan tak tahu apa yang sedang dipikirkan.

Pada saat itulah, tiba tiba ia mendengar suara bentakan bentakan nyaring berkumandang dari kejauhan sana.

Kemudian muncul pula empat sosok bayangan manusia yang dengan cepat telah meluncur tiba.

Sungguh cepat gerakan tubuh keempat orang itu, dalam sekejap mata mereka telah tiba didekatnya.

Begitu mencapai tempat tersebut, keempat orang itu berpekik nyaring lalu menyebarkan diri ke empat penjuru dan mengurung Ong It sin ditengah arena.

Ong It sin merasa tercengang dan tidak habis mengerti, dia tak tahu permainan apakah yang sedang dilakukan orang orang itu.

Setelah mengerdipkan matanya, ia mencoba untuk memperhatikan raut wajah keempat orang itu, ternyata tiga orang diantaranya sudah pernah dijumpainya.

Keempat orang itu memakai baju sama dengan warna berbeda, orang mengenakan baju berwarna hitam, seorang berbaju kuning dan dua orang lainnya yang satu memakai baju merah dan yang terakhir memakai baju putih.

Ong It sin tahu mereka semua berasal dari benteng Khekpo.

Mulutnya telah dibuka siap hendak memberitahukan kepada mereka kalau bocah itu sudah dibawa kabur orang, tapi sebelum ia sempat mengucapkan sesuatu manusia berbaju putih itu telah berkata.

"Eehmm... ternyata bukan Ik tianglo, semestinya Ik tianglo berjalan lewat tempat ini"

Ong It sin segera menuding kearah semak belukar ditepi jalan sambil menimbrung.

"oh, kalian sedang mencari jejak Ik tianglo? Dia berada disini"

Baru habis si anak muda itu berkata keempat orang itu sudah menggerakkan tubuhnya menyusup ke arah semak belukar.

Kiranya keempat orang ini ditambah dengan Ik tianglo disebut orang sebagai Khek Po ngo toa tianglo (lima orang tianglo dari benteng Khekpo) Setelah menjumpai mayat Ik tianglo tergeletak dalam keadaan mengenaskan, tak kuasa lagi keempat orang itu menghela napas sedih.

Lewat beberapa saat kemudian, Goan tianglo baru berkata.

"Siapa suruh dia berhati busuk dan timbul niat jahatnya untuk merampas Siau pocu dan ingin mengancam pocu? Kini ia mati dalam keadaan mengerikan, itulah ganjarannya bagi orang yang berhati busuk"

"Betul"

Sambung ketiga orang lainnya sambil manggut manggut.

Ong It sin, yang berada di samping cuma berdiri ketolol-tololan.

Ketika bocah itu dirampas untuk pertama kalinya oleh Ik tianglo, dia masih mengira kalau bocah itu oleh Ik tianglo sedang dihantar pulang ke benteng Khekpo, mimpipun dia tak mengira kalau Ik tianglo berniat jahat dan merampas bocah itu karena hendak digunakan untuk kepentingan pribadi.

Kendatipun demikian, dia masih mengira nasib bocah itu tidak akan seburuk keadaan sebelum terjatuh ke tangan Say siujin mo, maka hatinya bukan menjadi tegang malah sebaliknya jauh lebih lega.

Karenanya ketika mendengar perkataan itu, dia segera ikut menimbrung.

"oooh... rupanya Ik tianglo bukan orang baik baik"

Gumaman tersebut sama sekali tidak digubris orang, bahkan diperhatikanpun tidak, seakan-akan pernah ada orang lain yang hadir disitu.

Selang sesaat kemudian, tiba tiba Tay tianglo berseru tertahan "Kalau begitu dimanakah siaupocu sekarang?"

Tadi, persoalan yang dipikirkan keempat orang itu hanya persialan sekitar dosa yang dilakukan Ik tianglo, hampir boleh dibilang tak seorangpun yang berpikir kesitu, maka setelah disinggung oleh Tay tianglo mereka baru saling berpandangan dengan wajah berubah.

"Aku tahu soal ini..."

Timbrung Ong It sin. Tapi sebelum ucapan itu sempat diselesaikan, Goan tianglo telah memutar badannya sambil membentak.

"Tak usah turut campur, tutup mulutmu"

Ong It sin tidak menggubris bentakan itu, katanya kembali.

"Aku tahu dimanakah siaupocu berada"

Mendengar perkataan itu, serentak empat orang itu berpaling sambil bertanya.

"Dia berada dimana?"

"Dirampas orang, orang yang merampasnya bernama Say siujin mo (manusia iblis berkepala singa)..."

Sesungguhnya apa yang diucapkan Ong It sin adalah kata kata sejujurnya.

Tapi begitu mendengar perkataan itu, paras muka keempat orang itu kontan berubah hebat, pertama tama Goan tianglo yang menjadi mendongkol lebih dahulu, sambil mendengus ia segera melancarkan sebuah pukulan kedada Ong It sin-"Hey, apa apa an kau..."

Teriak Ong It sin terperanjat. Tapi baru sampai tengah jalan, angin pukulan yang dilancarkan Goan tianglo telah menghantam dadanya.

"Tunggu sebentar"

Terdengar Tay tianglo mencegah.

"jangan dibunuh, mari kita tanyai dirinya lebih dulu"

Tentu saja pukulan dahsyat tersebut tidak bersarang didada Ong It sin, akan tetapi ketika termakan oleh angin pukulan yang amat dahsyat tersebut tubuhnya segera terdorong sejauh tujuh delapan langkah kebelakang, kemudian karena tak mampu mempertahankan diri, akhirnya ia roboh terjengkang ke atas tanah.

Baru saja pantatnya mencium tanah, sepasang lengan Goan tianglo telah dibentangkan, bagalkan seekor burung elang anak muda itu segera ditubruknya.

Sama sekali tidak terlintas ingatan untuk menghindar dalam benak Ong It sin, tahu tahu bahunya terasa kencang dan ia sudah kena dicengkeram oleh Goan tianglo segera diangkat ke tengah udara.

Berhubung sepasang kakinya tidak menempel tanah sekuat tenaga Ong It sin menjejak kesana kemari.

Paras muka Goan tianglo segera berubah menjadi keren, bentaknya.

"Kalau kau berani sembarangan bergerak. jangan salahkan kalau sekali hantam kubunuh dirimu"

Kalau berganti di waktu biasa, apalagijika watak bodohnya kambuh, Ong It sin pasti tak mau tunduk malah mungkin akan berteriak teriak keras.

Tapi sekarang ia tak berani berbuat demikian, sebab ia sempat berpikir seandainya ia sampai mati terbunuh ditangan Goan tianglo, niscaya urusan yang diserahkan Be Siau soh kepadanya tak akan bisa dilaksanakan lagi...

oleh karena itu dia menghela napas panjang dan berdiri tak berkutik lagi.

Goan tianglo masih juga mencengkeram tubuhnya kemudian tegurnya kembali.

"Mengapa kau mengaco belo bicara tidak karuan untuk membohongi kami...?"

"Aku tidak bohong, akupun tidak ngaco belo, kalau misalnya kalian anggap perkataan itu bohong."

"Apa sangkut pautnya urusan ini dengan Ik tianglo?"

Bentak Goan tianglo semakin gusar.

"Ik tianglo yang bicara sendiri kepadaku, waktu aku sampai disini, ia belum mati"

"Masa ia mengatakan kalau perampasnya adalah Sai siujin mo?"

"Yaa, waktu itu aku bertanya kepadanya, siapakah yang telah merampas anak itu dia bilang Say siujin mo"

Sementara itu ketiga orang tianglo lainnya telah maju mendekat, slang tianglo lantas bertanya.

"Mungkin perkataan yang diucapkan Ik tianglo menjelang ajalnya tidak jelas, dan bangsat ini tidak mendengar dengan tepat, maka ia bicara sembarangan disini"

"Betul"

Sambung Tay tianglo.

"Say siujin mo sudah mati dikerubuti oleh pelbagai jago lihay dari dunia yang sudah mati mana mungkin bisa hidup kembali?"

Ong It sin menjadi tidak tahan, segera timbrungnya dengan suara keras.

"Aaah... kalian tahu apa? Menurut orang persilatan Ciong lam su shia sudah mati, padahal belakangan ini mereka berempat telah membakar habis perkampungan keluarga Li yang tersohor namanya diwilayah cuanpak..."

"Dimana letak perkampungan keluarga Li, aku tak pernah mendengarnya?"

Ejek Tay tianglo dengan mata melotot.

"Hmm... apa lagi benteng Khekpo kalian itu akupun lebih lebih tak pernah mendengar"

Paras muka Tay tianglo berubah membesi, telapak tangannya langsung diayunkan kemuka dan..

"Plok", pipinya sudah kena ditampar keras keras. Ong It sin berpekik nyaring, darah kental meleleh keluar membasahi ujung bibirnya. Meskipun pukulan tersebut tidak terlalu keras toh pukulan tersebut cukup membuat pipi Ong It sin berubah menjadi bengkak besar. Dalam keadaan demikian Ong It sin merasa yaa Cemas yaa marah, segera teriaknya.

"Kalian manusia manusia tak tahu aturan, siaupocu kalian telah hilang, bukannya dicari jejaknya malahan mencari gara gara ditempat ini denganku."

"Hmm... hmm... sekarang juga aku akan berangkat ke benteng Khekpo, hendak kujumpai pocu kalian dan ingin kulakukan kejadian ini kepadanya akan kulihat apa yang bisa ia katakan?"

Mendengar perkataan itu empat orang tianglo tersebut saling berpandangan sekejap akhirnya Goan tianglo lepas tangan dan menurunkan Ong It sin ke atas tanah.

Setelah itu mereka berempatpun berbisik bisik merundingkan masalah tersebut.

Waktu itu Ong It sin sedang mendongkol, ia sama sekali tidak mempedulikan apa yang sedang dirundingkan keempat orang tianglo tersebut, ia hanya ribut dengan kemangkelan dalam hatinya.

Lewat sesaat kemudian, Goan tingnlo baru putar badannya sambil bertanya.

"Sewaktu kau tiba disini tadi bukankah Ik tianglo belum mati? Hati hati kamu yaa, kalau bertemu dengan poocu kami nanti harap jangan memutar balik kembali duduknya persoalan"

"Si telur busuk baru memutar balikkan pembicaraan"

Teriak Ong It sin dengan mata melotot.

"Baik kalau begitu ikutilah kami pulang ke benteng Khekpo"

Berbicara sampai disitu ia lantas bersuit nyaring suaranya keras dan tajam hingga berkumandang sampai ketempat yang jauh sekali.

Tak lama setelah suara pekikan tersebut, terdengar suara derap kaki kuda berkumandang datang, keras dan nyaring sekali suaranya, seperti ada belasan ekor yang lari mendekat bersama sama.

setelah rombongan itu sampai dihadapan mereka, Goan tianglo baru berseru.

"Hayo naik kuda kita harus melakukan perjalanan siang malam untuk kembali ke benteng Khekpo"

Setelah melakukan perjalanan selama tiga hari akhirnya pagi itu sampailah mereka didepan sebuah bukit dengan pepohonan yang lebat, dipimpin Goan tianglo, mereka langsung menerjang masuk ke atas bukit tersebut.

Bukit itu tinggi rendah tak menentu, sama sekali tak ada jalan setapak yang bisa dilewati, setelah melakukan perjalanan sekitar setengah jam, akhirnya sampailah mereka di depan sebuah pintu gerbang besar dan tinggi yang memancarkan sinar keemas-emasan.

Pintu itu sesungguhnya terbuat dari tembaga lantaran digosok sampai mengkilap maka sepintas lalu pintu itu mirip sekali seperti terbuat dari emas murni.

Delapan orang busu bersenjata tombak panjang berdiri dikedua belah sisi pintu gerbang, mereka rata-rata berwajah keren dan bertubuh tegap keren sekali tampangnya.

cukup menyaksikan kesemuanya itu, Ong It sin telah dibuat termangu mangu jadinya.

Pintu gerbang itu tingginya mencapai dua kaki dengan lebar tujuh depa, entah berapa banyak tenaga manusia yang telah dikerahkan untuk membuat pintu sebesar itu.

Baru pertama kali ini Ong It sin menjumpai pintu tembaga sebesar ini, sebelum itu jangankan melihatnya, bahkan mimpipun tak pernah membayangkan sampai kesitu.

Ketika mereka berlima tiba didepan pintu, para busu bersenjata tombak itu segera mendorong pintu tersebut ke samping.

Tampaknya pintu tembaga itu berat sekali, karena beberapa orang busu yang tinggi besar itupun harus mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya untuk mendorong pintu tadi.

Suasana dalam ruangan dibalik pintu gerbang itu terasa amat seram dan serius, sedemikian seramnya membuat orang tak berani berbicara keras keras.

Tak lama kemudian, pintu gerbang itu sudah terbuka dua tiga depa, beberapa orang busu itu segera menyingkir ke samping, sementara keempat orang tianglo itu dengan mengempit Ong It sin segera melangkah masuk ke dalam ruangan-Setelah masuk ke balik pintu, dihadapan mereka terbentang sebuah tanah lapang yang luas, tanah lapang itu dibagi atas lima depa sebagai satu petak, dan petak demi petak diberi alas batu berwarna abu abu, luas seluruhnya mencapai dua hektar lebih.

Dihadapannya merupakan sebuah atap batu yang terdiri dari dua puluh anak tangga, diatas tangga batu merupakan sebuah lapangan kecil, selewatnya tanah lapang kecil itu baru merupakan sederet bangunan rumah yang megah.

Selama tinggal diperkampungan keluarga Li dulu Ong It sin selalu menganggap perkampungan milik pamannya sebagai bangunan paling megah, akan tetapi bila dibandingkan dengan benteng Khekpo sekarang hakekatnya perkampungan keluarga Li ibarat seorang perempuan desa yang menyelipkan sekuntum bunga disanggulnya, sekalipun cantik namun sederhana, sebaliknya benteng Khekpo ibaratnya seorang putri keraton, bukan cantik saja bahkan kelihatan megah.

Ong It sin masih termangu memandang sekelilingnya, ketika Goan tianglo mendorong tubuhnya untuk maju terus kedepan dalam sekejap mata mereka sudah menaiki tangga batu itu.

Baru tiba didepan gedung mewah itu bunyi tambur yang berat dan dalam berkumandang dari arah dalam.

Tambur itu berbunyi sebanyak tujuh kali kemudian sekalipun sudah berhenti suaranya masih mengaung kencang disekelilingnya membuat hati orang terasa bergetar keras.

Ketika bunyi tambur berhenti, Goan tianglo ikut pula berhenti, katanya sambil berpaling.

"Pocu telah bersiap-siap menjumpai kita, kalau bicara nanti kau musti tahu diri, mengerti??"

Ong It sin yang bodoh bukan seorang penakut, sikapnya sekarang bukan disebabkan keder oleh keadaan tapi ia dibuat kesemsem oleh suasana dalam Khekpo yang angker itu. Maka jawabnya amat menghormat.

"Yaa, aku tahu"

Berluma mereka naiki anak tangga batu, dan menyeberangi tanah lapang kecil, dimana tampaklah dua baris busu bersenjata lengkap berdiri dikedua sisi tanah lapang.

Menanti mereka sudah tiba dimuka pintu, dua orang manusia cebol yang berwajah aneh dan selama ini berdiri ditepi pintu, buru buru maju ke muka serta membukakan pintu untuk mereka.

Paras muka Goan tianglo berempat berubah makin tegang, tiba tiba mereka berbisik.

"Agaknya Pocu sangat terburu buru kita musti berhati hati"

Secara beruntun mereka berlima melangkah masuk kedalam ruangan istana...

Megah sekali ruangan itu, permadani kulit monyet emas yang berkilauan hampir menutupi setiap permukaan lantai, tapi suasananya amat hening dan tidak kedengaran sedikit suarapun.

Ki si kau atau monyet berbulu emas adalah sejenis binatang aneh yang langka sekali, untuk menangkap seekor saja sudah sulitnya bukan kepalang, apa lagi seluruh permukaan lantai dilapisi oleh kulit monyet emas, entah kulit dari berapa ekor monyet yang telah dipergunakannya?

Ong It sin mencoba untuk mendongakkan kepalanya dan memeriksa keadaan disekelilingnya, nyatanya bukan cuma lapisan lantai saja yang dipenuhi oleh kulit monyet emas, bahkan setiap benda baik itu tiang penyanggah ruangan, wuwungan rumah kursi meja pokoknya setiap benda yang berada dalam sekeliling ruangan memancarkan sinar keemas-emasan.

Ruangan ini luas sekali, disisi setiap tiang penyanggah ruangan berjejerlah beberapa buah kursi, diatas kursi itu duduk pula manusia baik laki laki maupun perempuan, baik tinggi atau pendek, pokoknya jumlah itu sedemikian banyaknya sehingga sulit buat Ong It sin untuk mengingat ingat raut wajah mereka satu persatu.

Pada ruang paling belakang tersedia sebuah kursi yang terbuat dari emas murni, waktu itu masih kosong dan tak ada yang menempatinya.

Jangan dilihat jumlah manusia yang berada dalam ruangan mencapai tujuh delapan orang, tapi sejak awal sampai kini tak kedengaran sedikit suarapun, coba kalau tidak ada orang yang duduk disitu, Ong It sin pasti akan mengira ruangan itu adalah sebuah ruangan kosong.

Goan Tianglo membawa Ong It sin berjalan masuk kedalam ruangan, mereka berhenti kurang lebih tujuh delapan depa didepan kursi emas itu.

"Trang... Trang... trang"

Tiba tiba berkumandang suara genta yang amat nyaring, empat orang bocah cilik muncul dari pintu samping, keempat orang bocah itu semuanya mengenakan kopyah emas dan jubah yang terbuat dari serat emas pula sehingga dari jauh tampak berkilauan-"Waah...

hebat betul pocu dari benteng Khekpo"

Pikir Ong It sin.

"dari kursinya yang terbuat dari emas, baju anak buahnya yang tersebut dari emas pula, kalau bukan orang kaya, dia pasti manusia yang menyerupai dewa."

Terbayang akan Khekpo pocu, tanpa terasa pemuda itu terbayang kembali akan Be Siau soh, dari Be Siau soh diapun teringat kembali malam syahdu yang dilewatkannya bersama gadis itu, ia mulai termenung melamun dan pikirannya melayang entah sampai dimana.

Ditengah keheningan, tiba tiba terdengar seseorang mendehem, suara deheman itu datangnya dari balik pintu, bukan saja suaranya keras pun amat berwibawa.

Serentak semua orang bangkit berdiri sedang keempat orang bocah tadi secara terpisah telah berdiri dikedua belah sisi kursi emas.

Sebodoh bodohnya Ong It sin, waktu itu diapun tahu kalau pocu dari benteng Khekpo segera akan munculkan diri.

Dengan mata yang terbelalak besar dia awasi ke depan dia ingin tahu suami Be Siau soh yang dicintainya itu sesungguhnya lelaki macam apa.

Tanpa berkedip pemuda itu awasi terus kearah pintu samping diapun sempat mendengar suara langkah kaki yang berat dan kasar berkumandang memecahkan kesunyian.

Sedemikian beratnya langkah kaki itu hampir saja membuat setiap orang dapat merasakan getaran akibat langkah tadi.

Ong It sin merasakan hatinya makin tegang, tiba tiba ia merasa ada sinar emas memancar keluar dari balik pintu, sinar emas itu sangat tajam dan menyilaukan mata untuk sesaat membuat sepasang matanya tidak sanggup dipentangkan kembali.

Berulang kali Ong It sin musti mengucak matanya, akhirnya ia dapat melihatjuga kalau sinar emas itu berasal dari pantulan pakaian yang dikenakan seseorang.

Jelas pakaian itu bukan dibuat dari benang emas, karena pantulan sinarnya entah beberapa kali lipat lebih hebat dari pantulan sinar dari pakaian yang dikenakan keempat orang bocah itu.

Belum pernah Ong It sin menjumpai pakaian seaneh ini, tiba-tiba ia merasa takut lagi denyutan nadinya bertambah cepat, tanpa sadar peluh dingin membasahi tubuhnya.

Dalam pada itu orang tadi sudah masuk ke dalam ruangan dan berdiri didepan kursi emasnya.

serentak segenap hadirin memberi hormat sembari berseru.

"Salam hormat untuk Pocu"

"Ehmm"

Orang itu menyahut, sinar matanya lantas dialihkan kearah Ong It sin.

Ternyata ketika semua orang membungkukkan badan untuk memberi hormat tadi, hanya Ong It sin seorang yang tetap berdiri tegak.

oleh karena itu ia tampak menyolok sekali.

Sementara itu Ong It sin pun telah melihat jelas raut wajah orang itu, ternyata dia kurus sekali, baju emas yang dipakainya terlampau kedodoran sehingga makin dilihat orang itu kelihatan makin lucu.

Serta merta Ong It sin memperhatikan pula tampang wajahnya, mula-mula ia tampak rada tertegun kemudian sambil menuding wajah orang tadi tiba-tiba ia tertawa cekikikan.

Dalam bayangan semula, pemuda itu mengira Pocu dari benteng Khekpo pastilah seorang yang berwajah lebar bertelinga besar bertampang keren dan berwibawa sehingga siapapun akan merasa keder dan menaruh hormat kepadanya.

Tapi kenyataannya sekarang sedemikian kurusnya Khekpo pocu itu sehingga pada hakekatnya menyerupai sebuah bambu, apa lagi melihat tampangnya, ia merasa sedemikian gelinya hingga tergelak gelak tertawanya.

Rupanya pocu itu berkepala botak.

panca inderanya hampir mendapat satu sama lainnya, alis matanya amat jarang dan terputus putus, alis sebelah kiri amat tebal dan alis sebelah kanan tipis, hidungnya seperti gunung yang kena dibom, amblek ke dalam, dagunya sempit dan bibirnya tebal seperti congor babi, matanya kecil macam mata tikus telingannya besar seperti kipas yang lagi menggape gape.

Padahal seringkali Ong It sin mengeluh akan tampangnya yang jelek.

apa lagi kalau sedang bercermin di air, pemuda itu seringkali merasa kecewanya bukan main.

Tapi sekarang, bila dia harus dijajarkan dengan pocu itu, tiba tiba saja pemuda itu merasa wajahnya berubah jadi setampan janoko.

Ditengah keheningan yang sedang mencekam seluruh ruangan, gelak tertawa Ong It sin kedengaran nyaring sekali, bahkan hampir cuma suara tertawanya saja yang kedengaran-Tentu saja tak seorang manusiapun yang tahu kenapa secara tiba tiba Ong It sin tertawa tergelak, lebih lebih tidak mengerti kenapa ia tertawa dalam suasana begini.

seketika itujuga paras muka setiap orang berubah hebat.

Pocu dari benteng Khekpo sendiripun mula mula agak tertegun, kemudian, tanpa mengucapkan sesuatu apapun ia duduk dikursinya.

Ong It sin masih juga tidak menyadari kalau suara tertawanya barusan telah mengagetkan semua orang sampai paras mukanya berubah, ia tak ambil peduli, diapun tak pernah berpikir sampai kesitu.

Begitu dilihatnya pocu itu duduk dikursinya, pemuda itu malah maju beberapa langkah, kemudian sambil menuding wajah pocu katanya.

"Jadi kau adalah pocu dari benteng Khekpo?"

"Benar"

Jawab pocu dengan suara dalam.

"Haaahh... haaahhh... haaahhh..."

Ong It sin malah tertawa tergelak sampai terpingkal-pingkal sambil memegang perutnya dan air mata sampai ngerocos keluar ia tertawa terus tiada hentinya.

Ong It sin betul-betul tak bisa menahan rasa gelinya lagi, dia tidak menyangka kalau wajah pocu itu seperti begini, apalagi kalau mengamati bibirnya yang macam congor babi, ia lantas teringat babinya tempo dulu waktu makan dedak.

Tak selang beberapa saat kemudian, tiba tiba ia merasa dalam ruangan yang begitu lebar cuma dia seorang yang tertawa, matanya coba celingukan kesana kemari, ketika dilihatnya semua orang sedang memandangnya dengan wajah tegang, otomatis ia tak mampu tertawa lebih jauh.

Dengan terhentinya tertawa itu, maka suasana dalam ruanganpun pulih kembali dalam keheningan, bahkan kali ini dibalik keheningan terasa pula suasana yang begitu seram dan mengerikan.

bikin bulu kuduk orang pada berdiri saja.

Ong It sin kembali menggosok gosok matanya, ia masih belum juga mengerti kenapa semua orang memandangnya dengan tegang, diapun tak tahu kejadian apakah yang telah berlangsung disana?

Suasana hening tersebut tidak berlangsung terlalu lama, tiba-tiba terdengar Pocu itu bertanya.

"Goan tianglo, siapa kah orang sinting itu?"

Kalau suara deheman serta langkah kakinya tadi kedengaran begitu keras sampai menggoncangkan seluruh ruangan, maka pertanyaan tersebut diajukan dengan lirih seperti orang yang barusakit parah.

Ong It sin membuka mulutnya, hampir saja ia tertawa tergelak lagi.

Tapi dengan sikap yang hormat Goan tianglo telah menjawab.

"Sobat ini she Ong bernama It sin, orang inilah yang telah diserahi hujin untuk merawat siau pocu"

Pocu mengangguk pelan, kembali dia berpaling dan memandang kearah Ong It sin, tanyanya.

"Dimanakah bocah itu, sekarang dia masih berada dimana?"

"Ketika kuhantar bocah itu pulang ke benteng Khekpo, ditengah jalan Ik tianglo telah merampasnya"

Sahut Ong It sin Tampaknya pocu itu sama sekali tidak mengetahui peristiwa yang terjadi, mendengar perkataan itu dia menjadi kebingungan, buru buru serunya.

"Sekarang Ik tianglo berada dimana?"

Sambil menjatuhkan diri berlutut Goan tianglo menjawab.

"Ik tianglo merampas siaupocu dengan maksud hendak berkhianat ia hendak menyandera siaupocu untuk memaksa pocu menuruti permintaannya tapi sewaktu kabur tadi telah terjadi lagi suatu peristiwa, Sahabat Ong lebih jelas dalam persoalan ini"

"Peristiwa apa lagi yang telah terjadi?"

Buru buru pocu bertanya.

"Ia telah berjumpa dengan Say siujin mo"

Jawab Ong It sin.

"dia bersama anak buahnya mati terbunuh, sedang bocah itu dilarikan manusia iblis berkepala singa"

Begitu berita tersebut tersiar keluar, hampir bersama waktunya semua orang yang berada dalam ruangan berseru tertahan.

Tapi hanya sebentar saja semua telah pulih kembali dalam keheningan yang luar biasa.

Tampak pocu berdiri dengan gelisah lalu duduk kembali dengan tak tenang, suaranya kedengaran bertambah panik.

"Sekarang Say siujin mo berada dimana?"

"Hmm Siapa yang tahu? coba aku tahu kemana perginya, sejak tadi aku telah mengejarnya, buat apa aku datang kemari untuk menjumpai dirimu!"

Sekali lagi pocu bangkit berdiri lalu berjalan ke depan Waktu itu Goan tianglo berempat masih berdiri disamping Ong It sin, tapi ketika dilihatnya pocu menghampiri mereka, serentak keempat orang itu mengundurkan diri ke belakang, sedang semua orang yang duduk disekitar sanapun ikut bangkit berdiri.

suasana dalam ruangan segera tercekam dalam ketegangan luar biasa.

Ong It sin sedikitpun tidak merasa takut apa lagi setiap kali memandang wajah pocu yang diibaratkan seperti "kentut"

Itu, hampir meledak suara tertawa. Pocu berhenti lebih kurang dua tiga depa didepan Ong It sin lama sekali ia tidak berbicara, kemudian setelah menghela napas katanya setengah berbisik.

"Apakah... apakah kau telah berjumpa lagi dengan Be Siausoh?"

Pertanyaan itu diajukan dengan penuh perasaan sedih dan murung, membuat Ong It sin merasa kasihan dan simpatik kepadanya.

"Aku..."

Hanya sepatah kata saja yang mampu dia katakan, sebab ucapan selanjutnya serasa sukar untuk meluncur dari mulutnya.

Ia memang telah bertemu lagi dengan Be Siau soh, dirumah batu itu, bahkan mengadakan pula hubungan yang syahdu dimalam itu...

tapi, bagaimana mungkin ia dapat mengucapkannya keluar?

Mana mungkin dia bisa menceritakan adegan mesrah yang ia lakukan dengan Be Siausoh kepada orang lain, apa lagi terhadap bekas suaminya?

Maka dari itu, setelah mengucapkan sepatah kata ia segera terhenti di tengah jalan dan tidak kembali.

Keadaan pocu waktu itu seperti anak kecil, dicengkeramnya tangan Ong It sin kencang kencang, pemuda itu dapat merasakan tangannya sedingin es...

Ong It sin pada dasarnya memang seorang pemuda yang jujur, apa lagi menghadapi seraut wajah yang begitu gelisah dan penuh permohonan, ia merasa tak tega untuk membohonginya.

Maka setelah termenung sebentar, sahutnya.

"Aku... aku telah bertemu lagi dengannya"

"Dimana? Kapan? cepat beritahu kepadaku, cepat beritahu kepadaku "

Seru pocu makin gelisah.

"Kejadian itu berlangsung beberapa hari berselang, dalam sebuah rumah batu dipuncak bukit, aku sendiripun tidak tahu apa nama bukit itu?"

Mendadak Pocu mendongakkan kepalanya lalu berteriak.

"sudah kalian dengar belum perkataannya? Kenapa tidak segera pergi mencarinya?"

Hadirin yang jumlahnya hampir mencapai seratus orang itu saling berpandangan tanpa mengucapkan sepatah katapun, karena Ong It sin hanya mengatakan "Dalam sebuah rumah batu dipuncak bukit", tidak diterangkan apa nama bukit itu dan dimana letaknya, padahal jumlah bukit didunia tak terhitung jumlahnya, kemana mereka musti pergi?

Sementara semua orang masih merasa serba salah Ong It sin telah berkata lagi sambil menghela napas.

"Kalian tak usah pergi mencarinya lagi"

Meskipun sebelum bertemu dengan pocu, dia setelah membayangkan pocu itu sebagai orang yang berwibawa, meskipun setelah berjumpa ia merasa pocu itu bertampang seperti "kentut", tapi sekarang ia merasa pocu itu tak lebih hanya sejenis dengannya, terkena penyakit mala rindu.

"Kenapa tak usah mencarinya? tanya pocu.

"Ia telah pergi, kalau bisa ditemukan, aku pergi mencarinya"

Tiba tiba pocu melepaskan genggamannya lalu mundur selangkah, teriaknya dengan keras.

"Hei, mau apa kau pergi mencarinya?"

Selama ini dia selalu berbicara dengan suara lembut, suara cemas, gelisah dan memohon.

sedikitpun tidak menunjukkan tampangnya sebagai seorang pocu yang disegani banyak orang.

Tapi bentakannya kali ini sungguh amat nyaring, sedemikian kerasnya hampir saja membuat Ong It sin jatuh pingsan-Menyorong sinar setajam sembilu dari matanya, sinar tajam itu menatap wajah Ong It sin lekat lekat.

Ong It sin berusaha keras untuk mengendalikan perasaannya, lalu jawabnya agak tergagap.

"Aku... aku mencarinya... aku mencarinya lantaran..."

"Lantaran kenapa? Hayo jawab"

Bentak Pocu semakin melotot. Buru buru Ong It sin menggoyangkan tangannya berulang kali.

"Aku mencarinya... bukan-.. bukan lantaran apa apa, aku... aku cuma kepingin bertemu dengannya"

Tiba tiba Pocu menghela napas panjang, katanya.

"Ia cantik jelita bak bidadari dari kahyangan, siapa yang menjumpainya tentu menyukainya, kau ingin menemuinya akupun tidak menyalahkan dirimu, cuma... dapatkah kau menceritakan pengalamanmu selama bertemu dengannya? Siapa tahu dari ceritamu itu aku bisa menemukan sedikit petunjuk tentang jejaknya "

Seketika itu juga merah padam selembar wajah Ong It sin seperti babi panggang ujarnya tergagap.

"Soal ini... soal ini sulit untuk dibicarakan aku... aku tak bisa memberitahukannya kepadamu"

"Kenapa tak boleh memberitahukan kepadaku. Apakah diantara kalian berdua telah terjalin hubungan cinta kasih?"

Ucapan itu sama artinya dengan mengorek rahasia hati Ong It sin, begitu mendengar perkataan tersebut kontan saja jantungnya berdegar makin keras, mukanya jadi merah padam dan untuk sesaat dia tak mampu mengucapkan sepatah katapun.

Sekalipun mulutnya bungkam dalam seribu bahasa dan tidak mengucapkan sepatah katapun, tapi dari sikapnya itu dengan mengetahui bahwa ia telah mengakui kebenarannya.

Sepasang mata pocu terbelalak semakin lebar, begitu tajam sorot matanya membuat Ong It sin tak berani beradu pandangan dengannya.

Tiba-tiba saja pocu itu pelan-pelan mengangkat tangannya ketengah udara, diantara gerakan tangan tersebut ujung bajunya segera memancarkan sinar emas yang amat menyilaukan mata.

Dalam sekejap mata Ong It sin merasa dihadapan matanya telah bertambah dengan lima buah jari tangan yang kurus kering menyeramkan, diantaranya jari telunjuk serta jari tengahnya tertuju ke bagian sepasang matanya, jarak dengan matanya cuma tinggal beberapa inci.

Tak terlukiskan rasa kaget dan ngeri Ong It sin menghadapi ancaman musuh tersebut, buru-buru serunya.

"Hai, apa apaan kau ini? Jangan coba main mengancam yaa, ketahuan akupun seorang jago lihay kelas satu, aku tidak akan membiarkan orang lain mempermainkan diriku seenaknya"

Sekalipun berulang kali dia menderita kekalahan ditangan orang lain, tapi ia masih belum juga mengerti kalau sinenek telah membohonginya, sampai detik itu dia masih mengira dirinya sebagai seorang jago silat kelas satu.

Pocu tidak menggubris ocehannya itu, dengan suara yang dingin menyeramkan ia berkata.

"cepat katakan, apa saja yang kalian lakukan dalam perjumpaan itu? Kalau tidak kau jawab, janganlah salah kalau kuculik dulu sepasang biji matamu"

Ong It sin melongo, ditatapnya wajah Pocu dengan sinar mata bodoh, ia tidak menyangka sang Pocu yang berwajah seperti kentut, dan sikapnya yang demikian gelisah, kini dapat mengucapkan ancaman yang buas dan mengerikan itu.

"Tidak!! aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu"

Kata Ong It sin tetap sambil gelengkan kepalanya.

"Tidak menjawab?"

Dengan geramnya Pocu menggerakkan jari tangan lebih kedepan, Ong It sin segera merasakan datangnya segulung desingan angin dingin yang menyerang sepasang matanya, dalam satu singkat membuat matanya tak mampu dipentangkan dan tubuhnya secara beruntun mundur kebelakang.

Dalam waktu singkat ia sudah mundur sejauh lima-enam langkah lebih.

Akan tetapi ketika tubuhnya sudah mundur hingga punggungnya menempel diatas tiang, kelima buah jari tangan tersebut masih juga mengancam didepan matanya.

Ong It sin mulai panik, dengan ketakutan ia berteriak.

"Aku tidak akan menjawab pertanyaanmu, aku tidak akan bicara, sekalipun kau bunuh diriku, aku pun tak akan menjawab"

Pocu sama sekali tidak menggubris teriakan teriakannya itu, ancaman terhadap matanya malah kian lama kian mendekat. Pada saat itulah Goan tianglo segera maju kedepan sambil memberi hormat, katanya.

"Pocu, ada laporan"

"Soal apa?"

Tanya pocu sambil berpaling.

Goan tianglo maju ke depan dan membisikkan sesuatu kesamping telinganya.

kemudian pocu mengangguk berulang kali dan pelan-pelan menarik kembali ancamannya.

Pada saat itulah, dari luar ruangan berkumandang suara genta, menyusul seseorang berseru nyaring.

"Say siujin mo dari bukit Ciong lay san datang menjumpai pocu"

"Silahkan masuk"

Jawab pocu sambil menengadah.

Meskipun suaranya tidak kasar tapi amat nyaring dan menggelegar di udara, sehingga diluar ruanganpun dapat terdengar suaranya yang begitu nyaring seperti gulungan arus disungai tiang kang.

Gelak tertawa nyaring berkumandang dari luar ruangan, suara tertawa itu tak kalah kerasnya sehingga seluruh ruangan bergetar keras dan atap atap ruangan yang berwarna emas ikut berbunyi gemerutukan.

Pocu itu mundur kembali ke depan kursi singgasananya lalu duduk.

Dalam sekejap mata dari depan pintu ruangan muncullah seorang lelaki bertubuh kekar yang mengenakan baju panjang terbuat dari kulit singa, suara tertawa masih juga berkumandang diangkasa membuat siapapun merasa telinganya menjadi sakit.

Orang itu mempunyai rambut berwarna kuning, rambutnya berikal dan panjang bahu, hidungnya mancung ke dalam, bibirnya tebal dan mukanya amat bengis.

Begitu tiba didepan pintu ruangan, dia memandang sekejap sekeliling tempat itu, lalu tegurnya.

"Siapakah diantara kalian menjadi pocu disini?"

Dari atas kursi emasnya Pocu menjawab.

"Silahkan duduk saudara, kau telah menculik putraku, kini datang ke benteng Khekpo seorang diri, aku pikir kedatanganmu tentu dengan sesuatu maksud bukan?"

Dengan sinar mata yang tajam orang itu memandang sekejap ke ruang tengah, lalu jawabnya dengan dingin.

"Saudara memang tidak malu menjadi pimpinan disini, ternyata tanpa diterangkanpun kau telah menduga maksud kedatanganku"

Sambil berkata tangannya lantas diayun ke depan sebuah kursi yang berada enam tujuh depa dihadapannya segera terhisap oleh tenaga dalamnya dan melayang ke depan tubuhnya.

Siang tianglo tertawa dingin, tiba tiba ia maju selangkah sambil menekan punggung kursi itu dengan sepasang tangannya, kursi itu segera berhenti bergerak.

"Mana ada peraturan tamu mengambil kursi sendiri?"

Jengeknya dingin.

Dalam menghisap kursi dari tempat kejauhan tadi jelas orang itu hendak mempamerkan ilmu silatnya yang tinggi, tapi setelah ditahan oleh Siang tianglo, orang itu menjadi naik darah, diam diam ia menambahi lagi tenaga hisapannya.

Sambil tertawa dingin, kelima jari tangannya yang sedang menghisap itu tiba tiba ditolak ke depan dari sebuah serangan menghisap kini ia merubahnya menjadi sebuah serangan tolakan yang maha dahsyat.

Siang tianglo telah menyadari bahwa yang dihadapinya sangat lihay, sejak tangannya menahan punggung kursi tadi ia sudah waspada, kesiap siagaannya tak pernah mengendor barang sedikitpun juga.

Ia cukup tahu siapa kah manusia yang bernama Say siujin mo.

dalam dunia persilatan dia masih terhitung salah seorang gembong iblis yang disegani orang banyak.

sekalipun sudah lama dikabarkan mati, tapi kemunculannya kembali di benteng Khekpo, apa lagi kedatangannya yang seorang diri itu pasti ditunjang dengan tujuan tertentu.

Sementara ia masih mempertahankan kursi itu dengan waspada tiba tiba terasa olehnya segulung tenaga besar menerjang diatas kursi itu dan dari kursi langsung menerjang ketubuhnya, iapun merasakanpula dibalik tenaga serangan yang keras terbawa hawa lunak.

jelas suatu ancaman yang serius.

Siang tianglo sangat terperanjat, buru buru hawa murninya disalurkan kedalam telapak tangan untuk melakukan perlawanan-Masih mendingan kalau ia tidak mengerahkan tenaganya, semakin besar tenaga murninya yang disalurkan ke dalam telapak tangan, semakin besar pula daya tolak yang memancar dari balik kursi itu, akhirnya Siang tianglo tidak kuat menahan diri, ia lepas tangan dan..

"Blang pukulan itu menghajar telak diatas dadanya. Dengan sempoyongan Siang tianglo terdorong mundur sejauh dua langkah, wajahnya pucat pias seperti mayat, jeritnya tertahan "Kiu thian to..."

Hanya tiga patah kata yang diucapkan, dadanya terasa amat sakit dan ia muntah darah segar.

Orang itu tertawa dingin, begitu musuhnya berhasil dijengkangkan kebelakang, tangannya kembali menggape kemuka, kursi itu lantas melayang hadapannya dan serta merta diapun duduk diatas kursi itu dengan wajah sinis.

Sewaktu terluka tadi, Siang tianglo sempat menjeritkan tiga patah kata, sekalipun teriaknya tidak lengkap.

tapi rata-rata semua jago yang hadir dalam ruangan mengetahui bahwa yang dimaksudkan adalah ilmu sakti Kiu thian to sou kang.

Kepandaian tersebut merupakan sejenis kepandaian yang menyelimuti aliran lurus maupun sesat.

Itulah yang diandalkan Say siujin mo dimasa lampau, cuma saja ketika itu kepandaiannya belum berhasil mencapai puncak kesempurnaan ketika ia dikerubuti orang banyak.

Padahal dibawah kerubutan para jago dari pelbagai perguruan, Say siujin mo berhasil dihantam jatuh ke dalam Ciong lay san, tapi nyatanya sekarang bukan saja ia masih segar bugar bahkan melukai pula Siang tianglo dengan kepandaian andalannya...

Atas terjadinya peristiwa itu, maka semua orang pun dapat mengambil dua kesimpulan, yakni pertama Say siujin mo belum mati setelah terjatuh kedalam jurang tempo hari kedua Say siujin mo sekarang bukan gadungan karena hanya dia seorang yang sanggup mempergunakan ilmu Kiu thian to soukang yang merupakan kepandaian andalannya.

Sekejap mata semua orang dibuat terkesima atas kehadirannya, semua orang bungkam dalam seribu basa dan tidak berani berkutik lagi.

Hanya Ong It sin seorang yang tak dapat tenang, apalagi bila teringat perbuatan Say siujin mo yang telah membakar habis perkampungan keluarga Li, tiba-tiba hawa amarah berkobar dalam dadanya.

"Hei bajingan tua"

Segera teriaknya "permusuhan apa yang terikat antara kau dengan perkampungan Li keh Ceng? kenapa kau bakar rumahku itu dan membunuh orang secara keji?"

Orang itu berpaling dan memandang sekejap ke arah Ong It sin dengan pandangan dingin, namun ia tidak melakukan sesuatu gerakanpun.

Secara tiba tiba Ong It sin merasakan antara dada dan lambungnya terasa diserang angin dingin lalu tiga buah jalan darahnya terasa sakit sekali.

Rasa sakit itu sukar ditahan, seperti ada tiga bilah pedang tajam yang menembusi tubuhnya.

Lama kelamaan rasa sakit itu kian bertambah hebat, akhirnya pemuda itu berkaok kaok, sambil memegang bagian tubuhnya yang sakit dia bergulingan kesana kemari, peluh dingin membasahi sekujur tubuhnya.

Goan tianglo mendengus dingin, dia lantas maju ke depan dan menendang jalan darah Khi hay hiat ditubuh pemuda itu.

Setelah ditendang, Ong It sin merasa rasa sakitnya seketika hilang lenyap.

cepat cepat ia melompat bangun, wajahnya amat pucat dan napasnya kedengaran agak tersengkal.

Dalam pada itu, pocu dari benteng Khekpo telah berkata sambil tertawa dingin.

"Ilmu silatmu benar-benar bisa disejajarkan dengan Say siujin mo tapi aku tahu kau bukan Say siujin mo yang asli katakan mengapa kau mencatut nama besarnya?"

Ucapan tersebut sungguh amat aneh dan diluar dugaan kontan saja semua jago dibikin tertegun.

"Kalau memang betul betul mempunyai ketajaman mata yang luar biasa"

Jawab orang itu dingin.

"rasanya mungkin kau turut ambil bagian dalam peristiwa pengerubutan dibukit Ciong lay tempo hari"

"Selamanya benteng Khekpo tak pernah mencampuri urusan dunia persilatan, kami tak mau terlibat dalam pertikaian apapun, cuma saja... Say siujin mo pernah mendatangi benteng Khekpo bukan cuma sekali, akupun pernah mencoba sendiri kepandaian silatnya, tentu saja penyaruanmu tak akan mengelabuhi mataku"

Orang itu segera tertawa terbahak bahak.

"Haaahh... haaahh... betul, aku memang bukan Say siujin mo yang asli, tapi akupun bukan bermaksud mencatut namanya... Say siujin mo yang dulu pernah mati, kebetulan rambutku berwarna emas pula maka akupun menyebut diriku sebagai Say siujin mo. Dari dulu sampai sekarang toh banyak orang mempunyai nama yang sama apa salahnya kalau akupun mempergunakan nama yang sama?"

"oooh rupanya begitu..."

Kata pocu setelah berhenti sejenak ia melanjutkan.

"sudah lama aku berpisah dengan putraku, bila kau mempunyai suatu permintaan harap segera disampaikan aku pasti akan memenuhi semua harapanmu itu"

"Haaahhh... haaahhh... haaahh... yaa, putramu memang menarik dan menyenangkan, kalau diberi umur yang pendek memang hal ini terlalu sayang sekali"

Iblis itu memang aneh, bukan persyaratan yang diajukan, ia malah menggantikan hal-hal yang lain, meski demikian semua orang dapat memahami juga maksud dibalik ucapan tersebut.

Paras muka Pocu kontan berubah hebat.

Ong It sin sendiripun merasa amat terkejut setelah mendengar ucapan itu, segera bentaknya.

"omong kosong, dia kan sehat dan kuat, siapa bilang kalau umurnya pendek...?"

Mendengar perkataan itu, Say siujin mo kembali berpaling dan memandang kearahnya.

Sesungguhnya Ong It sin masih ingin mengucapkan beberapa patah kata lagi tapi teringat rasa sakit yang dideritanya tadi akibat serangan orang itu, maka begitu dilihatnya Say siujin mo berpaling kearahnya, serta merta ia kabur lebih dulu dan menyembunyikan diri dibalik sebuah tiang besar.

Khek po pocu tertawa paksa katanya kemudian.

"Yaa, apa yang dikatakan Sahabat Ong memang betul, anakku tak pernah menderita sakit mana mungkin ia bakal mati muda?"

Say siujin mo tertawa seram.

"Heeeh... heeeh... heeeh... panjangkah umurnya atau pendekkah umurnya, semua ini tergantung pada keputusan sendiri"

"Lebih baik kau tak usah berbicara putar kayun, bila membutuhkan sesuatu lebih baik katakan saja secara langsung"

"Baik"

Setelah berhenti sejenak. pelan-pelan iblis itu berkata "Aku membutuhkan pedang Hu si ku kiam."

Sekali lagi paras muka Khekpo pocu berubah hebat sementara semua orang dalam ruanganpun menjadi gaduh dan saling berbisik, hanya sebentar kemudian suasana pulih kembali dalam keheningan, hanya Ong It sin seorang yang merasakan denyut nadinya berdetak lebih cepat.

Hanya dia seorang yang tahu kalau pedang mestika itu telah dibawa kabur oleh Be Siau soh, kemudian sewaktu ada dirumah batu pedang itu diserahkan pula kepadanya dengan pesan agar pedang itu diserahkan kepada anaknya bila sudah dewasa nanti.

Siapa yang tidak berdebar kalau secara tiba tiba mendengar bahwa pedang yang diperebutkan itu sesungguhnya ada di dalam sakunya?

Secara lamat lamat Ong It sin mulai merasakan sesuatu, ia mulai merasa bahwa pedang antik itu bukan cuma sebilah senjata mestika saja, dibalik kesemuanya itu sudah pasti mempunyai kegunaan lain yang lebih berharga lagi.

Tapi apakah kegunaannya?

ia sendiripun tidak tahu.

Ketika itu tangannya menekan terus didepan dadanya dengan gelisah, seakan akan dia merasa kuatir sekali jika pedang Hu si ku kiam tersebut secara tiba tiba akan terbang melayang.

Pada dasarnya semua orang memang tidak menaruh perhatian kepadanya, tentu saja mereka lebih lebih tak menyangka kalau pedang antik Hu si kiam yang dihebohkan sesungguhnya berada dalam saku pemuda tolol yang sama sekali tak berilmu itu.

Dipihak lain Khekpo pocu telah berkata sambil tertawa getir.

"Kedatangan anda sangat tidak kebetulan, pedang antik tersebut sudah lama tidak berada di tanganku lagi"

Mendengar jawaban tersebut, Say siujin mo kontan bangkit berdiri, lalu sambil memberi hormat katanya.

"Kalau begitu aku mohon diri lebih dulu"

Belum sampai lima langkah ia berjalan tampak bayangan manusia berkelebat lewat, tahu tahu Goan tianglo, Ik tianglo dan Tay tianglo telah menghadangjalan baginya.

"Tunggu sebentar"

Seru Khekpo pocu pula. Terpaksa Say siujin mo harus berhenti katanya.

"Kalau toh engkau tidak berniat sungguh sungguh untuk membicarakan persoalan ini, apa gunanya aku tetap tinggal disini? Tapi kalau ingin menahanku secara paksa... haaahhh... haaahhh... haaahhh... bukan aku omong besar, benteng khekpo bakal ketimpa bencana besar"

Khekpo pocu segera tertawa.

"Jangan terburu napsu saudara, apa yang kukatakan barusan jika bohong, biarlah Thian mengutuk diriku"

Katanya. Sekarang say siujin mo baru tertegun, sambil memutar badannya dia berseru.

"Pedang mestika Hu si kiam merupakan benda mestika yang turun temurun dalam benteng Khekpo, jika dikatakan sudah terjatuh ke tangan orang, aku betul betul merasa tidak percaya, apakah kau bisa menerangkan dengan lebih jelas lagi?"

Khekpo pocu menghela napas panjang.

"Aaa... maaf, persoalan ini tidak baik diketahui orang luar, tapi kau musti percaya bahwa semua perkataanku adalah sejujurnya, pedang antik tersebut benar benar sudah tak ada didalam benteng lagi, jika kau mau barang lain, apapun yang kau minta pasti akan kupenuhi harapanmu itu"

Bagi pendengaran Ong It sin, syarat yang diajukan Khekpo pocu memang cukup baik.

Akan tetapi, Say siujin mo tetap menggelengkan kepalanya berulang kali rambutnya yang berwarna kuning emas ikut bergoyang keras membuat tampangnya kelihatan bertambah menyeramkan Dengan wajah yang tidak sabar ia berseru.

"Aku datang kemari hanya khusus untuk mendapatkan pedang antik Husi ku kiam, lain tidak"

Suaranya keras dan nyaring, seakan-akan ia tidak merasa jeri atau takut menghadapi kerubutan. Siang tianglo kembali maju selangkah, teriaknya keras keras.

"Say siujin mo, sebagai seorang jago lihay dalam dunia persilatan, tidakkah kau merasa bahwa perbuatanmu menyandera seorang anak kecil adalah suatu perbuatan terkutuk yang memalukan?"

Say siujin mo tertawa seram.

"orang bilang, untuk menang tak malu menggunakan siasat, apalagi setelah pedang antik Hu si kiam itu terjatuh ketanganku, siapakah yang berani mengucapkan kata kata tersebut kepadaku"

"Say siujin mo Bukan cuma melulu pedang Hu si kiam saja dapat membawamu mencapai tujuan, kau musti menemukan pula sarungnya yang asli, karena pedang tanpa sarungpun tak berguna. Kenapa kau musti menyusahkan seorang anak kecil?"

Say siujin mo tidak berbicara apa-apa, tapi begitu ucapannya selesai, sambil tertawa dingin ia lantas merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah benda. Sambil angsurkan benda itu kedepan ia berseru.

"coba kalian lihat, benda apakah itu?"

Kalau didengar dari nada pembicaraan itu, seakan akan benda yang dibawa keluar pastilah sebuah benda mustika yang dlinginkan orang banyak.

Dengan perasaan ingin tahu Ong It sin segera ikut menengok kedepan, ternyata benda itu bukan lain adalah sebuah sarung pedang yang berwarna hitam pekat.

Sarung pedang itu entah buatan tahun berapa, keadaannya sudah rusak dan jelek sekali, sekalipun dibuang dipinggir jalan belum tentu orang akan memungutnya, tapi Say siujin mo telah memegangnya dengan begitu sayang.

Bukan sekali ini Ong It sin menyaksikan benda tersebut, ketika berteduh dalam kuil tempo hari diapun menyaksikan sarung antik itu dibawa oleh seorang lelaki setengah umur yang dikiranya patung kuil, kemudian dia baru tahu kalau patung itu ternyata adalah manusia.

Dalam sangkaan Ong It sin, sarung pedang itu pasti rongsokan dan tak ada nilainya, maka ia menjadi geli setelah dilihatnya Say siujin mo menganggap benda itu sebagai barang mestika.

Makin dipikir ia merasa makin geli sehingga akhirnya meledakiah gelak tertawanya, tapi itu tidak berlangsung lama, sebab ia segera merasakan bahwa dalam ruangan yang begitu besar, hanya dia seorang yang tertawa.

Meskipun bodoh Ong It sin dapat pula merasakan sesuatu yang tak beres, ia temui semua orang disekitar sana tak ada yang menggubris suara tertawanya, tapi sinar mata mereka semua ternyata ditujukan keatas sarung pedang kuno dan kumal itu.

Untuk sesaat lamanya suasana dalam ruangan berubah menjadi amat hening sekali, sedemikian heningnya sehingga andai kata ada sebuah jarum yang terjatuhpun dapat kedengaran pula .

Tak lama kemudian, dengan suara yang sangat aneh Khekpo pocu berbisik.

"Aaah... itulah cian nian liong siau... sarung pedang yang kau pegang adalah sarung naga berusia seribu tahun..."

Menyusul bisikan dari sang pocu, semua hadirinpun ikut bergumam keempat buah kata itu hingga suasana dalam ruangan menjadi gaduh dan ramai sekali...

Ong It sin hanya bisa menyaksikan kejadian itu, dengan perasaan tertegun, ia sama sekali tidak mengetahui benda macam apakah sarung naga berusia seribu tahun itu, diapun tidak tahu kenapa pocu serta sekalian orang memandang begitu serius atas sebuah sarung pedang kumal.

Pelan pelan Pocu bangkit berdiri, tangannya lantas diangkat keatas dan suasanapun berubah menjadi hening kembali.

Selangkah demi selangkah Khekpo pocu maju kedepan, sementara semua orang jago lainnya ikut pula menggeserkan badannya mengambil posisi, seketika itu juga suasana menjadi tegang.

Say siujin mo masih tetap tenang, seakan-akan ia tidak merasa kalau suasana dalam ruangan telah mengalami perubahan, setelah tergelak katanya.

"Pocu, sekarang kau musti mengerti bukan apa sebabnya aku menghendaki pedang mustika Hu si ku kiam milikku itu?"

Khekpo pocu masih tidak menjawab, malah ia semakin maju kedepan.

Jangan dilihat tubuhnya yang kurus kering macam gala bambu yang sedang berjalan, ternyata langkah kakinya amat mantap dan sangat bertenaga, ditambah pula mimik wajahnya yang keren dan serius kesemuanya itu menambah seramnya dia.

Lima enam depa dihadapan Say siujin mo, ia baru menghentikan langkahnya dan berdiri mengambil ancang ancang.

Rupanya waktu itu Say siujin mo baru menyadari kalau keadaan tidak menguntungkan, dia lantas bangkit dan memperhatikan keadaan disekelilingnya...

Ternyata seluruh jago yang hadir dalam ruangan telah membentuk posisi mengurung yang mengepungnya ditengah arena.

Say siujin mo amat terperanjat, segera tegurnya dengan suara dalam.

"Hei pocu, beginikah caramu melayani tamu?"

"Tinggalkan sarung naga berusia seribu tahun itu kepadaku, kami pasti tak akan menyalahkan engkau"

Kata Khekpo pocu pelan. Mula mula Say siujin mo agak tertegun setelah mendengar perkataan itu menyusul kemudian ia lantas tertawa terbahak bahak.

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... tak kusangka didunia terdapat kejadian semacam ini, sungguh lucu, sungguh menggelikan, tak nyana aku datang untuk menuntut pedang antik Husi kiam, belum saja benda itu kudapatkan, sekarang kau malah menuntut sarung naga berusia seribu tahun dariku... lucu, betul betul amat lucu"

"Ketahuilah sahabat, sekarang kau hanya seorang diri dalam benteng ini, mampukah kau menerjang kelaur dari kepungan kami?"

Ejek Khekpo pocu ketus. sekali lagi Say siujin mo tertawa seram.

"Haaah... haaah... haaah... mampukah aku lolos dari sini atau tidak. sampai sekarang masih menjadi satu pertanyaan besar,jika aku menjumpai sesuatu yang tak beres disini maka kaupun pasti akan putus keturunan..."

Khekpo pocu tertegun, rupanya sejak mengetahui munculnya sarung naga berusia seribu tahun ia telah melupakan kejadian tersebut, setelah diingatkan seribu kembali sekarang ia baru teringat kembali kalau anaknya masih berada ditangan lawan Dalam pada itu Ong It sin telah dibuat terbelalak dengan mulut melongo oleh kejadian yang berlangsung dalam ruangan itu.

Untuk sesaat lamanya dia tidak habis mengerti kejadian apa yang telah berlangsung disitu, tapi ada satu hal dipahami olehnya, yakni jika Say siujin mo diganggu maka selembar nyawa anak Hok pasti akan terancam bahaya.

Hok ji atau anak Hok adalah nama yang ia berikan buat siau pocu, karena selama tiga bulan berdiam dikota Kay koan yan hubungannya dengan pocu itu sudah akrab sekali, karena tak tahu musti memberi nama apa, maka akhirnya diapun memanggilnya sebagai anak Hok seperti apa yang digunakan oleh inang pengasuhnya.

Sekarang, ketika dilihatnya pocu itu hendak menyusahkan Say siujin mo, ia menjadi amat panik segera teriaknya.

"Pocu, apakah kau sudah tidak menginginkan nyawa si bocah itu lagi...?"

Padahal Khekpo pocu adalah seorang yang selalu dihormati orang, belum pernah ia diperlakukan secara kasar dan kurang ajar seperti apa yang dialaminya sekarang.

Sambil mendengus tangannya lantas diayun ke depan, entah gerakan apa yang digunakan tahu tahu muncul segulung desingan tajam yang meluncur kedepan-Ong It sin tidak tahu kalau desingan angin tajam itu tertuju kearahnya, karena jaraknya waktu itu dengan sang pocu masih terpaut dua tiga kaki, maka ketika mendengar suara desingan, dengan mata yang dibelalakkan lebar pemuda itu malah celingukan kesana kemari mencari sumber dari suara tersebut.

Tiba tiba jalan darah ciau keng hiat nya menjadi kaku dan segenap tenaganya musnah tak berbekas, tidak ampun tubuhnya terdorong mundur selangkah dan roboh terjengkang ke tanah.

Melihat Ong It sin roboh, paras muka Say siujin mo segera berubah sangat hebat.

Padahal antara Ong It sin dan Say siujin mo tidak mempunyai ikatan apa apa, semestinya tertotoknya anak muda itu tak ada hubungannya sama sekali dengan gembong iblis itu.

Tapi lantaran Ong It sin ditotok oleh Khekpo pocu lantaran menasehati sang pocu agar jangan menyalahi Say siujin mo, maka iblis itu pun segera menarik kesimpulan bahwa musuhnya memang bermaksud hendak menyusahkan dirinya.

Say siujin mo berani mendatangi benteng Khekpo seorang diri tentu saja hal ini disebabkan siaupocu masih berada ditangannya, dalam perkiraan gembong iblis itu, Khek po pocu pasti tak berani menyusahkan dirinya.

Apalagi ketika Khekpo pocu menyatakan bahwa apapun yang diminta segera akan dipenuhi keadaan seperti itu boleh dibilang sangat menguntungkan posisi Say siujin mo.

Tapi setelah ia mengeluarkan sarung naga berusia seribu tahun, keadaanpun mengalami perubahan yang besar.

Segenap jago lihay dari benteng Khekpo telah mengurungnya rapat rapat, Khekpo pocu sendiri pun tidak takut lagi kepadanya bahkan berniat untuk merampas sarung naga berusia seribu tahun itu ini semua membuatnya menjadi tertegun dan sama sekali diluar dugaan.

Maka sambil tertawa berat ia berkata.

"Pocu, apakah kau hendak menyusahkan diriku?"

Mencorong sinar tajam dari balik mata Khekpo pocu, ditatapnya sarung naga berusia seribu tahun di tangan Say siujin mo itu tajam tajam kemudian katanya.

"Tinggalkan sarung naga berusia seribu tahun itu kau boleh tinggalkan benteng ini dengan selamat"

Terkejut juga Say siujin mo menghadapi kenyataan tersebut, dengan segala kemampuan ia berusaha untuk menenangkan hatinya, kemudian sambil tertawa dingin ia berkata.

"Tadi, bukankah kau mengatakan bahwa pedang antik Hu si kiam sudah tidak berada dibenteng Khekpo lagi kalau memang pedang tersebut sudah tidak kau miliki, apa pula gunanya sarung rongsokmu seperti ini?"

"Pedang antik Hu si kiam memang tidak berada di benteng Khekpo, tapi setelah sarung naga berusia seribu tahun itu kumiliki, asal kukerahkan segenap kekuatan Khekpo untuk mencari kembali pedang antik Hu si kiam tersebut, aku rasa hal ini bukan suatu pekerjaan yang menyulitkan"

"Hmm... Sekalipun sarung naga seribu tahun kau dapatkan, mesti pedang antik Hu si kiam kau temukan kembali, tapi kau bakal kehilangan anak kandungmu. tidakkah kau rasakan bahwa hal ini sangat tidak menguntungkan bagimu?"

Khekpo pocu kembali agak tertegun, kemudian sepatah demi sepatah katanya.

"Sudah beberapa generasi pedang antik itu berada dalam benteng Khekpo, nenek moyang kami telah berpesan agar dengan segala daya upaya mencari sampai ketemu sarung naga seribu tahun itu maka setelah ada kesempatan baik sekarang,jika kusia siakan dengan begitu saja, kemana aku musti taruh mukaku terhadap leluhur kami dialam baka?"

Baru saja ia menyelesaikan kata-katanya, Say siujin mo telah berteriak aneh, tiba tiba badannya melejit ke tengah udara, sepasang telapak tangannya berputar kencang dan sebuah pukulan dahsyat dilontarkan ke arah itu.

"Plaaang..."

Dengan kerasnya pukulan itu menghajar atap rumah bangunan tersebut.

Dalam waktu singkat atap dan tiang berjatuhan ke bawah dengan menimbulkan suara yang memekakkan telinga.

Gerakan dari Say siujin mo itu boleh dibilang amat cepat, tapi gerakan tubuh para jago lainpun tidak terhitung pelan, baru saja tubuh Say siujin mo melompat keatas, ada enam tujuh orang yang menyusul pula dari belakang.

Begitu mencapai di atas atap.

serentak keenam tujuh orang itu melepaskan pukulan bersama ke bawah dengan suatu jalinan kerja sama yang sangat rapat.

Sungguh hebat hasil dari pukulan gabungan itu, selapis jaring besar yang tak berwujud segera tercipta ditengah udara.

Sebetulnya Say siujin mo sedang melambung ke tengah udara, tampaknya ia bermaksud menjebolkan atap rumah untuk kabur dari situ, tapi pukulan gabungan dari keenam tujuh orang itu membuat tubuhnya segera terhenti di tengah udara.

Setinggi tingginya ilmu silat yang dimiliki, tidak mungkin bagi tubuhnya untuk berdiam terlalu lama diudara, maka sesaat kemudian badannya terperosok kembali ke bawah.

Pada saat yang bersama an Khekpo pocu melompat ke atas, ketika mencapai bawah kaki say siujin mo, ujung bajunya lantas dikebaskan keatas gulung tenaga pukulan yang amat hebat dengan cepat menghantam ke udara...

Sentakan nyaring memecahkan kesunyian, enam tujuh orang yang berada diatas atap telah melancarkan kembali pukulan yang kedua.

Dalam waktu singkat muncullah dua gulung tenaga yang menggencet tubuh Say siujin mo dari atas dan bawah, sekarang gembong iblis itu baru kaget, buru buru sepasang lengannya direntangkan kesamping, telapak tangan kanannya dihadapkan keatas sedang telapak tangan kirinya menghadap kebawah, ditengah bentakan nyaring angin pukulan segera dilontarkan keluar.

Seandainya dia hanya melawan Khekpo pocu seorang, mungkin pertarungan itu akan berakhir dengan seri, tapi sekarang bukan hanya pocu seorang yang musti dilawan, dari ataspun muncul pula enam tujuh orang jago lihay, hal ini membuat posisi menjadi gawat.

Ia hanya bisa membagikan separuh saja bagian dari tenaganya untuk menghadapi pocu, padahal pukulan dari Khekpo pocu dilakukan dengan segenap tenaga, kontan saja ditengah ledakan nyaring tubuh say siujin mo terlempar beberapa depa lebih keatas.

Tapi pada saat itulah tenaga besar yang menekan kepalanya telah meluncur tiba...

Berbicara dari ilmu silat enam-tujuh orang itu, tentu saja mereka masih bukan tandingan Say siujin mo, namun tenaga gabungan mereka bertujuh tak boleh dianggap enteng, seketika itu juga gembong iblis itu kembali ditekan meluncur ke bawah.

Dalam keadaan demikian tubuh Say siujin mo ibaratnya ditekan oleh dua gulung tenaga yang berlawanan arah, semua tulang belulang dalam tubuhnya segera bergemerutukan keras, jelas ia sudah tidak dapat bertahan lebih lama lagi.

Sungguhpun ilmu silat Say siujin mo amat lihay ia telah mengambil tindakan yang keliru, coba kalau tidak terlintas niatnya untuk kabur lewat atap rumah, mungkin keadaannya tidak sedemikian mengenaskannya.

Kini keadaannya sungguh mengenaskan tubuhnya tergencet di tengah udara oleh dia kekuatan yang saling bersamaan, mau naik keatas tak bisa, mau turun kebawahjuga tak dapat, kerugian yang dideritapun makin lama semakin besar.

Say siujin mo cukup mengetahui posisinya yang gawat, beberapa kali ia mencoba untuk berkelit dan menghindarkan diri, tapi daya tekanan yang datang dari atas dan bawah itu kian lama kian bertambah berat.

Pada saat itulah, kawan jago lain yang telah ikut turun tangan, ada yang melompat ke udara, ada pula yang menanti dibawah tubuh Say siujin mo sambil melepaskan pukulan pukulannya.

-oooo0dw0oooo-

Jilid 9 TUBUH Say siujin mo seolah olah tergantung diudara, bagaimanapun ia meronta tubuhnya selalu berada diposisi semula, seakan akan ia sudah terkurung dalam sebuah jaring besaryangtak berwujud, yang mana jaring itu makin lama makin mengecil dan menggencet tubuhnya.

Ong It sin yang tergeletak ditanah tak mampu berkutik maupun mengucapkan sepatah katapun, tapi semua kejadian tersebut dapat ia saksikan dengan jelas.

Ia tidak tahu kalau nama Say siujin mo sebetulnya sudah berada diujung tanduk, pemuda itu malah mengira ia memiliki ilmu silat yang amat lihay sehingga dapat berhenti di udara sekian lamanya.

Untung jalan darahnya tertotok, coba bisa bersuara sejak tadi ia sudah bersorak sorai untuk memujinya.

Say siujin mo sangat geram bercampur panik, tenaga dalam hasil latihannya selama puluhan tahun sudah dikerahkan sedemikan rupa untuk meronta dan melepaskan diri dari cengkeraman musuh, tapi apa mau dikata jika daya tekanan yang datang dari empat penjuru kian lama kian bertambah kuat, akhirnya saking tak tahan dia menjerit keras Setelah mendengar jeritan itu, Ong It sin baru sadar kalau keadaan gembong iblis itu berbahaya, tanpa terasa diapun ikut menjadi gelisah...

Menurut jalan pemikirannya, jika Say siujin mo sampai menderita kerugian, pastilah bocah itu yang mendapat sasaran pelampiasan, padahal ia mendapat pesan dari Be Siausoh untuk menjaga bocah itu sampai dewasa, seandainya bocah itu sampai menjumpai musibah, bagaimanakah pertanggung jawabannya nanti dengan nona tersebut.

Sayang pemuda itu tak bisa berbuat apa apa, kecuali cemas tak sebuah tindakanpun bisa dia lakukan.

Sementara itu, semua jago dari benteng Khekpo sudah merasa yakin bahwa kemenangan berada dipihak mereka, sorak sorai mulai berkumandang memenuhi ruangan-Pada saat itulah, tanpa pengetahuan siapapun tiba tiba dalam ruangan telah muncul seorang kakek bermata besar berhidung mancung dan berambut putih, pelan-pelan ia masuk kedalam ruangan dan mendekati arena pertarungan.

Begitu berada dalam ruangan, kakek itu segera tertawa terbahak bahak.

"Haaah... haaah... haaah... sungguh ramainya"

Sesungguhnya perkataan dari kakek berambut putih itu diutarakan dengan suara lembut, dalam suasana gaduh yang sedang diramaikan oleh teriakan Say siujin mo serta tempik sorak kawan jago Khekpo mustahillah jika suara tersebut dapat kedengaran jelas.

Tapi keanehan kembali terjadi, sekalipun suara si kakek berambut putih itu lembut dan pelan, tapi setiap orang dapat menangkapnya dengan jelas sekali, tanpa terasa sinar mata semua orang dialihkan ke arah kakek itu.

Raut wajah kakek itu amat asing bagi setiap anggota Khekpo, tentu saja tak seorangpun yang mengenalinya sekali lagi semua orang dibuat tertegun Paras muka Khekpo pocu berubah hebat.

Selang Ong It sin lantas mengenali kembali kakek berambut putih itu tak lain adalah kakek yang beberapa kali telah menolongnya sewaktu perkampungan Lie khe ceng terjadi musibah.

"Siapa kau?"

Terdengar Khekpo pocu membentak keras. Kakek berambut putih itu segera tertawa.

"Aku adalah seorang tamu tak diundang yang datang untuk menyalahi pocu dalam dua hal, buat apa aku musti memberitahukan namaku?"

Baca Juga: Tiga Dara Pendekar Siauw Lim Kho Ping

Baca Juga: Pusaka Gua Siluman 8

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert