Ceritasilat Novel Online

Pusaka Gua Siluman 8

Eps 8 Pusaka Gua Siluman - Kho Ping Hoo

Baca online Pusaka Gua Siluman - Kho Ping Hoo

Cersil Pusaka Gua Siluman - Kho Ping Hoo.

Jawab Lee Ing karena memang ia merasa lelah dan hendak beristirahat di dalam kamarnya sebelum ia keluar lagi mencari Siok Bun.

Tentu saja ia tidak tahu bahwa pelayan itupun seorang di antara penyelidik yang tentu saja menjadi kaget mendengar nona ini mencari Siok Bun yang amat dikenalnya.

Ia merasa curiga dan memang tidak seharusnya ia memberitahukan tempat tinggal keluarga Siok kepada seorang yang belum diketahui keadaannya.

Diam-diam dia memberi tahu kepada kepala penyelidik tentang pertanyaan nona ini hingga saat itu nama Lee Ing sudah dimasukkan daftar "tamu-tamu yang dicurigai."

Malam itu Lee Ing tidur nyenyak setelah berpekan-pekan ia melakukan perjalanan jauh sekali.

Akan tetapi menjelang tengah malam ia bangun.

Ada suara membangunkannya.

Suara itu demikian perlahan dan tentu takkan terdengar oleh telinga orang biasa yang sedang tidur.

Akan tetapi pendengaran Lee Ing amat tajam, perasaannya juga halus sekali.

Sedikit suara yang mencurigakan cukup membuat ia serentak bangun dan dalam detik-detik selanjutnya ia sudah tahu bahwa ada orang berada di aras genteng kamarnya.

Betapapun pandai orang itu menggunakan ginkang sehingga jejak kakinya hampir tidak mengeluarkan bunyi, tetap saja tertangkap oleh pendengaran gadis itu.

Dengan tenang namun cepat sekali, Lee Ing menyambar pakaian luarnya, mengenakan pakaian dan terus melompat keluar jendela, sebelah tangan menyambar ujung genteng dan diayunnya tubuhnya itu melengkung ke atas genteng.

Benar-benar gerakan yang amat indah, juga berbahaya, dilakukan di malam gelap itu.

"Bangsat pengecut jangan lari!"

Lee Ing memaki dan terus mengejar, la tadi melihat bayangan dua orang berdiri di atas genteng.

Dua orang itu cepat sekali larinya, berloncat-loncatan dari genteng ke genteng rumah lain.

Namun mereka kurang gesit bagi Lee ing yang cepat mengejarnya.

Tiba-tiba Lee Ing sengaja mengurangi kecepatannya karena ia hendak mengetahui di mana sarang penjahat-penjahat ini yang sudah pasti tidak bermaksud baik malam-malam mengintai kamarnya.

Ia hanya mengikuti dari belakang dan menjaga agar jarak antara dia dan mereka tetap dekat.

Ternyata dua bayangan orang itu membawanya ke sudut kota di mana terdapat beberapa bangunan besar.

Mereka melompat ke atas genteng rumah yang besar dan tinggi dan hendak masuk ke dalam melalui wuwungan.

Akan tetapi Lee Ing sudah melompat jauh dan menyerang mereka.

"Jangan lari!"

Bentaknya dan kedua tangannya melakukan serangan totokan yang hebat, la tidak mau menurunkan tangan maut, apa lagi ketika ia melihat bahwa mereka adalah orang-orang muda yang kelihatan gagah dan berpakaian seperti pakaian penjaga keamanan.

Dua orang itu cepat mengelak, namun ilmu menotok dari Lee Ing adalah lain dan pada yang lain.

Bagaikan bermata, jari-jarinya mengejar terus sampai akhirnya dua orang itu roboh tak berkutik di atas genteng.

Terdengar hiruk-pikuk di bawah genteng dan alangkah kaget hati Lee Ing ketika belasan orang melompat naik sedangkan di bawah genteng masih terdapat puluhan orang yang berpakaian seragam.

Kiranya ia dibawa ke sebuah markas penjaga keamanan!

Makin tercenganglah ia melihat bahwa belasan orang yang melompat naik itu dipimpin oleh pengemis yang ia lihat siang tadi.

Timbul marahnya.

Masa datang-datang ia sudah diawasi seorang mata-mata dan malamnya ada yang mengintai kamarnya?

Mereka menganggap dia orang apa?

"Bagus, kalian hendak mencari gara-gara dengan aku?"

Lee Ing menggerakkan tangan kanan dan pedang Li-lian-kiam berada di tangannya.

"Kepung dan tawan dia. Gadis ini mencurigakan sekali!"

Teriak pengemis itu dengan nada memerintah.

Sekarang mudah diduga siapa adanya pengemis ini.

Pedang dan golok digerakkan ke atas mengancam Lee Ing.

Gadis itu menggerakkan pedangnya seperti halilintar menyambar.

"Plak-plak-plak!!"

Sebentar saja tiga pedang dan dua batang golok menempel di pedangnya dan tak dapat ditarik kembali.

Selagi lima orang itu berkutetan hendak menarik kembali senjata mereka, Lee Ing mengerahkan tenaga menarik dan.....

lima batang senjata itu terlepas dari pegangan mereka dan jatuh berkerincingan di atas genteng!

Akan tetapi para pengeroyok itu tidak menjadi gentar.

Agaknya memang mereka sudah terlatih menghadapi orang-orang pandai.

Mereka mendesak terus dan pengemis itu ternyata juga lihai.

Dengan tiongkat besi ia sendiri maju mengeroyok Lee Ing.

Gadis ini menggerakkan pedangnya dan "criiing!"

Tiga batang pedang pengeroyoknya somplak.

"Kepung rapat! Gadis ini lihai sekali pedangnya!"

Pengemis itu berteriak lagi akan tetapi ia segera menjadi repot sekali karena kini Lee Ing mendesaknya.

Ia mencoba untuk mempertahankan diri, akan tetapi tanpa dapat dicegah lagi lengan kanannya terluka.

Cepat ia mundur dengan muka pucat sambil memegangi lengannya yang sudah terluka.

Baiknya gadis itu tidak berniat membunuh, kalau demikian halnya tentu kulit perutnya yang pecah, bukan hanya kulit lengannya!

Selagi Lee Ing dikepung rapat, tiba-tiba berkelebat bayangan dan terdengar bentakan keras.

"Semua mundur! Masa menghadapi seorang gadis harus mengeroyok seperti ini? Benar-benar memalukan sekali!"

Lee Ing memandang, orang yang baru datang itu memandang dan.....

keduanya bengong.

Apa lagi pemuda bertopi batok yang baru sampai ini.

Ia berdiri tegak menatap wajah Lee Ing yang diterangi oleh cahaya obor yang dibawa oleh pasukan yang kini sudah memenuhi genteng.

Ia ragu-ragu.

Ingat-ingat lupa.

Akan tetapi Lee Ing mana bisa lupa?

Jarang ada pemuda tampan bertopi batok!

"Saudara Siok Bun apakah baik-baik saja?"

Tegur Lee Ing sambil tersenyum dan menyimpan kembali pedangnya.

"Aduh, tak salah lagi kiranya! Bukankah kau nona Souw Lee lng?"

Tanya pemuda itu yang bukan lain adalah Siok Bun, pemuda yang dulu dengan mati-matian membela Lee Ing dari tangan Mo Hun dan juga Yap Lee Nio.

Ketika dengan senyum manis Lee Ing tersenyum, Siok Bun lalu memutar tubuh dan membentak orang-orang itu.

"Kalian ini tolol semua! Tamu agung datang tidak disambut dengan baik-baik malah kalian bersikap sangat keterlaluan dan memalukan!"

Orang berpakaian pengemis itu menjadi pucat.

"Dia....dia mencurigakan.... dia bertanya-tanya tentang nama taihiap dan alamat Siok-ciang-kun....!"

Dia mencoba membantah.

"Goblok! Tentu saja dia menanyakan aku dan alamat ayah. Tak tahu kau siapa orangnya yang kalian keroyok ini? Dia puteri Souw-taihiap, tahu?"

Terdengar seruan di sana-sini dan semua orang cepat memberi hormat, didahului oleh pengemis itu yang berkata.

"Souw-lihiap, mohon maaf sebesarnya kalau kami telah berlaku lancang dan kurang ajar."

"Tidak apa."

Jawab Lee Ing dengan senyumnya yang selalu siap di bibir.

"betapapun juga. kalian telah membawa aku bertemu dengan saudara Siok Bun."

Gadis ini lalu membebaskan beberapa orang korban yang tadi telah dirobohkan dengan totokan.

Kemudian ia melompat turun mengikuti Siok Bun yang mengajaknya memasuki ruangan dalam.

Setelah berdua saja, Siok Bun bertanya girang.

"Nona, benarkah kau datang mencari aku?"

Lee Ing mengangguk, tidak tahu mengapa pemuda itu kelihatan luar biasa girangnya.

"Aku telah bertemu dengan ayahmu di selatan dan dia yang memesan supaya aku mencarimu di kota raja ini."

"Kau bertemu dengan ayah? Bagaimana dia? Baik-baik sajakah? Berhasilkah usahanya?"

"Ada sedikit gangguan, akan tetapi sekarang kiranya sudah bertemu dengan Bu-lohiap, diantar oleh saudara Liem Han Sin."

Dengan singkat Lee Ing menceritakan pertemuannya dengan Pek-kong-sin-kauw Siok Beng Hui.

"Dan keperluanmu ke utara ini?"

Tanya Siok Bun yang mendengarkan penuturan nona itu dengan hati penuh kegembiraan sambil menatap wajah yang jelita, wajah yang beberapa tahun yang lalu sudah membuat ia tergila-gila dan sekarang lebih-lebih memikat dan menjatuhkan hatinya.

"Aku minta kau antar aku ke tempat ayah."

Siok Bun mengangguk-angguk sambil mengerutkan keningnya.

"Banyak sekali orang pihak musuh yang mencari ayahmu dengan maksud jelek. Kami yang amat menjunjung tinggi jasa-jasa ayahmu, tentu saja berusaha sedapat mungkin untuk melindunginya. Sayangnya ayahmu tidak suka berurusan dengan siapapun juga, hendak menyendiri saja dan selalu marah-marah kalau dibawa ke dalam benteng. Karena itu, untuk menyembunyikan dan menyelamatkannya dari kejaran orang-orang suruhan para durna di selatian, terpaksa kami membawanya keluar kota dan atas permintaan ayahmu sendiri kami membuatkan sebuah perahu di mana ayahmu tinggal. Agaknya ayahmu gembira setelah tinggal dalam perahu di atas sungai. Selain itu, juga mata-mata musuh tidak ada yang pernah menduga bahwa ayahmu berada di tempat itu. Ayahmu sering bernyanyi-nyanyi dan yang disebut-sebut hanya namamu dan Namilana......"

Kedua mata lee Ing menjadi basah oleh air mala.

"Ibuku...! Ayah sudah cukup lama menderita, sekarang aku hendak berusaha menghiburnya. Saudara Siok Bun, bawa aku ke sana!"

"Berangkat ke sana siang hari, amat tidak baik karena khawatir terlihat oleh mata-mata musuh. Pergi malam hari seperti sekarang, juga khawatir mengganggu ayahmu yang tentu masih tidur. Paling baik pergi pagi-pagi nanti, nona."

"Tidak, aku ingin pergi sekarang! Biar kita menanti sampai ayah bangun. Aku tidak sabar lagi,"

Kata Lee Ing, suaranya penuh permintaan.

"Baiklah, aku selalu bersedia membantumu, nona! Mari kita berangkat."

Siok Bun memesan kepada para perwira di markas itu agar supaya lebih hati-hati menjaga keamanan, kemudian bersama Lee Ing ia berangkat keluar kota raja dari pintu gerbang sebelah utara.

Penjaga pintu gerbang yang melihat pemuda ini, mengenalnya baik-baik dan cepat membuka pintu.

Diam-diam Lee Ing kagum.

Pemuda ini masih muda namun sudah terkenal di antara para penjaga, benar patut menjadi putera seorang panglima seperti Siok Beng Hui.

Di tengah perjalanan yang dilakukan biasa itu, Siok Bun menceritakan keadaan kota raja.

"Para durna mengirim orang-orang pandai untuk menyelidiki keadaan di sini, juga mereka selalu berusaha untuk mengetahui di mana adanya ayahmu,"

Demikian antara lain ia betcerita.

"Mengapa mereka mencari ayah? Di kota ini apakah mereka juga berani bertindak sewenang-wenang dan berani menganggu ayah?"

"Kau tidak tahu, nona. Betapapun juga, daerah utara ini masih termasuk wilayah Kerajaan Beng yang pada waktu ini dikuasai oleh kaisar di Selatan. Kaisar telah kena dihasut oleh para durna sehingga beliau suka memberi surat keputusan bahwa ayahmu dinyatakan sebagai seorang pengkhianat dan pemberontak. Dengan surat keputusan itu, tentu saja orang-orang para durna itu berani menawan atau mencelakai ayahmu, dan para petugas di sini, bahkan raja muda sendiri mana berani melawan surat keputusan kaisar yang menjadi ayah?"

Lee Ing menarik napas panjang.

"Menyebalkan sekali para durna itu! Membosankan sekali penghidupan di selatan yang penuh hawa nafsu dan kepalsuan itu. Kalau sudah selesai tugasku, aku akan mengajak ayah kembali ke utara, ke tempat kong-kong, di sebelah utara padang pasir Gobi..."

Lee Ing lalu menerbangkan lamunannya jauh ke tempat itu, tempat sunyi akan tetapi mengamankan hati di mana tidak terdapat kepalsuan-kepalsuan dan pertentangan-pertentangan seperti di daratan Tiongkok ini.

"Di sini semua orang berhati jahat....."

Tak terasa lagi ucapan ini keluar dari bibir Lee Ing. Wajah pemuda itu menjadi pucat.

"Betul tidak ada orang baik menurut pendapatmu?"

Lee Ing baru sadar bahwa dia bicara keterlaluan.

Bukankah orang-orang Tiong-gi-pai itu baik-baik, juga orang-orang seperti Siok Beng Hui, apa lagi Oei Siok Ho, amat baik?

Masih ada lagi Liem HanSin dan....

pemuda ini.

Tidak tahu mana yang lebih baik, akan tetapi menurut suara hatinya, yang paling baik tentu saja Siok Ho!

"Maaf, saudara Siok Bun.

Tentu saja tidak semua, maksudku banyak terjadi hal-hal yang tidak menyenangkan, kepalsuan-kepalsuan yang membikin jemu hatiku di selatan sini.

Memang banyak kujumpai orang-orang baik, di antaranya....

kau sendiri dan ayahmu."

Wajah Siok Bun menjadi merah sekarang, akan tetapi oleh karena udara hanya diterangi bintang-bintang, perubahan warna pada kulit mukanya ini tidak terlihat oleh Lee Ing.

Akhirnya sampai juga mereka di pinggir sungai yang dimaksudkan itu.

Benar saja, di tengah sungai terdapat sebuah perahu besar yang diam tak bergerak.

Penghuninya agaknya membuang jangkar di tengah sungai.

Tidak ada penerangan pada perahu itu.

"Siapa itu?"

Tiba-tiba terdengar teguran dan dua orang muncul dari sebuah perahu kecil yang berada di tepi sungai. Mereka ini membawa pedang di tangan.

"Aku orang sendiri!"

Jawab Siok Bun mendekat.

"Ah, kiranya Siok-taihiap!"

Kata seorang di antara mereka yang ternyata merupakan penjaga-penjaga yang diberi tugas mengawasi perahu Souw Teng Wi itu.

"Semua aman? Tidak ada sesuatu yang mencurigakan?"

Tanya Siok Bun.

"Aman dan tidak ada apa-apa,"

Jawab mereka.

"Baik, pergilah kalian meronda, biar aku yang berada di sini,"

Kata pula pemuda itu. Dua orang penjaga itu lalu naik ke dalam perahu mereka dan mendayung perahu itu untuk meronda, yaitu mengitari perahu di tengah sungai itu.

"Hemtn, mereka baru bangun tidur,"

Kata Lee Ing tak puas.

"Apakah hanya mereka berdua yang melakukan penjagaan?"

"Betul, nona. Bukan untuk menjaga keselamatan, hanya untuk segera melapor apa bila terjadi hal-hal yang mencurigakan. Di sini termasuk daerah terlarang, bahkan para nelayanpun tidak ada yang berani lewat di sini."

Lee Ing duduk di atas akar pohon yang banyak tumbuh di pinggir sungai.

Hatinya tidak puas.

Ayahnya seorang yang memiliki kepandaian tinggi, masa hanya dijaga oleh dua orang yang tidak ada gunanya seperti tadi?

Lebih baik tidak dijaga, ayahnya mampu menjaga diri sendiri..

Akan tetapi tentu saja ia tidak mau menyatakan suara hatinya ini kepada Siok Bun yang juga sudah duduk di atas akar pohon.

"Aku sering kali duduk di sini mendengarkan suara ayahmu bernyanyi,"

Kata pemuda itu memecah kesunyian malam.

"Bernyanyi?"

Tanya Lee Ing heran, juga terharu.

"Ya, suara ayahmu tidak merdu, lagunya juga tidak menarik. Akan tetapi kata-katanya amat mengagumkan, penuh semangat perjuangan. Ayahmu benar-benar seorang pahlawan besar, sampai dalam keadaan seperti itupun masih bersemangat. Sering kali aku mendengarnya dan hanya satu lagu yang amat meresap di hatiku, sampai-sampai aku hafal kata-katanya."

"Lagu apakah itu?"

Tanya Lee Ing tertarik, karena pemuda ini begitu memperhatikan ayahnya.

"Dengarkan aku hendak menyanyikannya seperti yang dinyanyikan oleh ayahmu,"

Kata Siok Bun yang bangkit berdiri tegak, membuka dada membusung ke depan, lalu bernyanyi.

Suara pemuda ini nyaring dan merdu, akan tetapi Lee Ing tidak memperhatikan suaranya saking terpesona oleh kata-kata lagu itu.

"Berjuang mempertaruhkan nyawa. Demi membela nusa dan bangsa! Isteri pujaan menanti di utara. Bersama seorang puteri ataukah putera? Namilana, dewi pujaan kalbu... Masih ingatkah kau akan daku..? Mengapa kau tidak datang mencariku? Di mana kau...... di mana kau Namilana isteriku?"

Tak tertahan lagi Lee Ing menutupi mukanya dengan tangan dan menangis tersedu-sedu mendengar nyanyian yang dinyanyikan oleh Siok Bun Ini.

Ia hafal benar akan kata-kata ini, kata-kata yang diukir oleh ayahnya pada dinding batu dalam Gua Siluman.

Sajak yang merupakan jerit hati ayahnya.

Sampai tergoncang-goncang pundak Lee Ing ketika ia menangis.

Ia menahan-nahan sedapat mungkin, namun suara nyanyian Siok Bun demikian menusuk kalbunya, seakan-akan dengan nyanyian itu, Siok Bun telah dapat menggambarkan betapa keadaan ayahnya yang amat sengsara.

"Ayah... alangkah besar penderitaanmu...."

Ia bersambat.

Tiba-tiba sebuah tangan yang halus diletakkan di atas pundaknya.

Ia kaget, menoleh dan melihat Siok Bun memandang kepadanya dengan wajah aneh.

Lebih aneh lagi suara Siok Bun yang sekarang berkata dengan perlahan itu terdengar gemetar.

"Nona Lee Ing... jangan kau berduka........ aku.... aku tak tahan melihat kau menangis. Jangan bersedih, di dunia ini masih ada aku yang selalu bersiap melindungimu, hidupku ini kalau perlu.... kusediakan untuk kepentinganmu, nona."

Seketika itu juga Lee Ing sadar dari keadaannya yang sedih, ia bangkit serentak seperti kena siram air dingin. Matanya terbelalak memandang kepada Siok Bun.

"Saudara Siok Bun! Apa..... apa maksudmu dengan kata-kata itu?"

Siok Bun terpukul hatinya, mukanya menjadi merah sekali dan ia berkata sambil menundukkan mukanya.

"Maaf.... aku telah berlaku lancang dan mengeluarkan kata-kata kurang sopan. Apa hendak dikata kalau aku memang suka kepada nona dan hatiku penuh dengan haru dan iba? Apa dayaku kalau aku tertarik oleh diri nona, kalau aku selalu membayangkan wajah nona semenjak kita berjumpa beberapa tahun yang lalu? Maafkanlah, tidak semestinya aku mengeluarkan semua ini. Kalau aku menyinggung hatimu harap kau maafkan dan aku berjanji selamanya takkan mengulanginya lagi."

Lee Ing memandang dengan muka sebentar merah sebentar pucat.

Celaka tiga belas, pikirnya.

Jadi pemuda inipun jatuh cinta kepadanya?

Pemuda ini baik sekali dan ucapannya yang terakhir itu mengharukannya.

"Saudara Siok Bun, harap kau kasihani aku dan jangan bicara lagi soal itu. Aku ingin bertemu dengan ayah, kemudian aku ingin membalaskan sakit hati ayah yang telah dibuat sedemikian sengsara oleh orang-orang jahat. Yang lainnya aku tidak mau pikirkan...... yakni.... setidaknya...;.. pada waktu sekarang ini."

Berseri wajah Siok Bun.

Hatinya lega bukan main.

Tadinya ia sudah siap menerima caci-maki dari gadis itu.

Tidak disangka gadis itu tidak marah, malah kalau dipikirkan secara mendalam, ia masih ada harapan.

Gadis itu bilang bahwa pada waktu sekarang ini tidak mau memikirkan tentang hal lain, atau jelasnya tentang cinta, jadi dapat diartikan bahwa lain waktu atau kelak akan memikirkannya.

Inilah logika pemuda yang mabok asmara.

Sedikit kata-kata, sedikit senyum, sekilas kerling, sudah diterima dan diartikannya sebagai seribu janji.

Malam mulai menghilang, terganti fajar menyingsing di ufuk timur.

Sinar-sinar pertama dari matahari mengusiri sisa-sisa kegelapan malam.

Pergumulan antara cahaya terang berkilat dengan kegelapan menghitam tercermin di permukaan air sungai, menimbulkan pemandangan yang gaib.

Burung-burung yang tak pernah malas untuk bangun pagi-pagi sekali itu mulai berkicau, siap-sedia menempuh kehidupan sehari itu dengan sikap gembira dan besar hati, sungguhpun besar kemungkinan mereka takkan mendapatkan makanan cukup untuk hari itu.

Tiada pemikiran tentang hari depan, tiada kekhawatiran, tak pernah diganggu oleh tujuh perasaan nafsu seperti manusia, karenanya hidup bebas lepas, bergerak sesuai dengan kehendak yang menciptanya, itulah burung!

Karena selalu nampak gembira.

Pantas saja penyair besar The Sun pernah menyatakan keinginan hatinya untuk berubah menjadi burung.

Agaknya ia membuat syair itu setelah melihat burung-burung di waktu pagi, apa lagi di dekat sungai seperti itu.

Akan tetapi, dua orang muda yang duduk di tepi sungai, Lee Ing dan Siok Bun, agaknya tidak memperhatikan keindahan pagi hari seperti penyair The Sun.

Yang menjadi pusat perhatian mereka hanyalah perahu besar yang terapung di tengah sungai.

"Biasanya ayahmu bangun pagi-pagi sekali dan mulai mendayung perahunya itu ke sana ke mari, kadang-kadang menjala ikan, kadang-kadang kalau lagi senang hatinya malah mengajak penjaga main catur sambil menikmati hidangan ikan bakar dan arak. Mengapa sekarang sunyi saja? Apakah beliau masih tidur?"

"Mari kita ke sana, itu ada perahu kosong,"

Kata Lee Ing sambil menunjuk ke sebuah perahu penjaga yang kosong. Memang di situ terdapat beberapa buah perahu yang disediakan untuk para penjaga.

"Biasanya Souw-taihiap tidak suka diganggu. Kalau beliau menghendaki adanya hubungan dengan orang lain, ayahmu itu suka mendayung perahunya menghampiri. Kalau diganggu suka marah. Pernah dua orang penjaga dipukul dan dilempar ke dalam air karena berani mendatangi perahunya."

"Kasihan, karena sering kali difitnah dan dicurangi orang jahat, menjadi penuh kecurigaan terhadap orang lain. Biar aku yang menghampiri perahunya. Padaku dia takkan marah."

"Nanti dulu, nona."

Siok Bun mencegah penuh kekhawatiran.

"Ayahmu berbahaya sekali kalau sedang marah, dan dia itu lihai bukan main. Lebih baik aku yang memanggilnya dari sini."

Pemuda itu lalu mengerahkan tenaga menggunakan khikang memekik keras.

"Souw-locianpwe.....! Di sini aku Siok Bun mohon bertemu.....!!"

Teriakan ini bergema sampai jauh, akan tetapi keadaan tetap sunyi.

Tak ada jawaban apa-apa dan suara burung-burung yang tadi berkicau gembira menjadi sirap, agaknya terkejut dan takut akan pekik manusia yang amat nyaring tadi.

"Heran, biasanya pagi-pagi sekali ayahmu sudah bangun..."

Siok Bun menggerutu dan hatinya mulai tidak enak.

Melihat perahu panjang sudah bergerak mendekat lagi setelah melakukan perondaan, ia memberi isyarat memanggil.

Dua orang penjaga itu mempercepat gerakan perahu yang mereka dayung sekuat tenaga menuju ke tempat dua orang muda itu.

Sekarang kelihatan tegas wajah mereka, dua orang muda yang kelihatan kuat dan gagah, hanya mata mereka agak kemerahan karena mengantuk.

"Apakah tidak terjadi sesuatu yang mencurigakan semalam?"

Tanya Siok Bun setelah mereka melompat ke darat dari perahu mereka yang diseret ke pinggir.

"Tidak. Siok-taihiap. Sunyi-sunyi saja tidak ada sesuatu yang mencurigakan."

"Hemm, justeru aku curiga karena terlalu sunyi. Bukankah biasanya Souw-locianpwe sudah bangun pagi-pagi sekali?"

Kata pemuda itu sambil memandang ke tengah sungai di mana perahu Souw Teng Wi itu bergerak-gerak keterjang ombak kecil.

Dua orang itu kelihatan kaget dan pucat.

Agaknya baru sekarang mereka melihat keganjilan ini.

"Betul, biasanya pagi-pagi sudah bangun dan bernyanyi-nyanyi,"

Kata mereka.

"Tolol kalian!"

Siok Bun memaki. Akan tetapi Souw Lee Ing sudah tidak sabar lagi.

"Aku hendak melihat ke sana!"

Katanya dengan suara agak gemetar, la gelisah kalau-kalau terjadi sesuatu dengan ayahnya. Cepat ia melompat ke dalam perahu penjaga-penjaga tadi.

"Mari kutemani!"

Kata Siok Bun yang cepat melompat pula.

Mereka mendayung kuat-kuat dan sebentar saja perahu kecil mereka sudah menempel pada perahu besar Sduw Teng Wi.

Tanpa ragu-ragu lagi Lee Ing melompat ke atas perahu ayahnya, diikuti oleh Siok Bun yang terheran-heran menyaksikan kegesitan dan keringanan tubuh gadis itu.

Alangkah banyaknya kemajuan yang diperoleh gadis itu, pikirnya.

Juga ketika ia menyaksikan sepak terjang Lee Ing dikeroyok oleh para perajurit di benteng, ia sudah terheran-heran.

Akan tetapi oleh karena para pengeroyok itu memang hanya memiliki ilmu kepandaian lumayan saja, hal itu tidak dianggapnya luar biasa.

Ia hanya mengira bahwa selama ini puteri Souw-taihiap itu tentu telah memperdalam kepandaiannya.

lapun cepat mengikuti Lee Ing, melompat ke atas perahu sambil membawa tambang yang diikatkan pada kepala perahunya sendiri.

Sampai di atas ia mengikatkan ujung tambang pada pinggiran perahu besar itu.

Lee Ing sementara itu sudah menghampiri ruangan perahu dan melongok ke dalam.

Ia mengharapkan melihat ayahnya masih terbaring tidur di bawah atap peiahu yang amat sederhana itu, akan tetapi ia menjadi melongo.

Wajahnya pucat.

bibirnya gemetar dan sepasang matanya nampak kaget, duka dan kecewa.

Tempat itu kosong, tidak ada seorangpun manusia di dalamnya!

Siok Bun yang juga sudah melongok ke dalam, mengeluarkan seruan kaget.

"Celaka...! Ke mana perginya Souw-locianpwe?"

Katanya. Lee Ing tiba-tiba memutar tubuhnya menghadapi Siok Bun dan mencabut pedangnya, membuat pemuda itu kaget bukan main.

"Di mana ayah?"

Bentak Lee Ing.

"Kau, ayahmu dan orang-orang kota raja sini bertanggung jawab atas keselamatan ayah! Di mana kalian menyembunyikan ayah?"

Siok Bun maklum bahwa gadis ini karena duka dan gelisah melihat ayahnya tidak berada di situ, menjadi naik darah. Ia menarik napas dan berkata halus.

"Nona Souw, ayahmu seorang yang tinggi ilmunya, mana bisa kami paksa dia bersembunyi? Kami hanya bisa menjaga dan mengamatinya, akan tetapi menjaga seorang selihai ayahmu benar-benar tidak mudah. Memang para penjaga kami yang bersalah sampai tidak melihat ayahmu meninggalkan perahu, akan tetapi dengan kepandaian yang dimiliki ayahmu, apa sukarnya pergi tanpa diketahui oleh para penjaga? Harap nona bersabar dan jangan menyangka yang bukan-bukan. Kami amat menghargai ayahmu dan bermaksud sedapat mungkin melindunginya, sungguhpun perkataan melindungi ini kurang tepat mengingat bahwa ayahmu adalah seorang yang tak membutuhkan perlindungan karena memiliki kepandaian tinggi. Kukira sekarang dia hanya pergi karena bosan berada di sini."

Melihat sikap Siok Bun, Lee Ing menjadi lebih sabar.

Ia melompat ke dalam ruangan itu dan matanya memandang ke sekitar kamar.

Tiba-tiba ia mengeluarkan seruan kaget, demikian pula siok Bun ketika melihat ada tanda tapak tangan hitam di dinding ruangan itu.

"Bedebah she Auwyang! Jadi kaukah yang telah menculik ayah?"

Lee Ing berteriak marah, teringat kepada Auwyang Tek yang juga melakukan perjalanan ke utara dikawani oleh Bu Lek Hwesio dan Hu-niu Sam-lojin.

Akan tetapi, dia telah meninggalkan mereka itu di tengah perjalanan, masa mereka sudah mendahuluinya sampai di sini?

Siok Bun adalah seorang pemuda yang teliti, la sudah pernah bertempur melawan Auwyang Tek, bahkan sudah pernah merasa kehebatan Hek-tok-ciang.

Melihat tapak tangan di atas dinding itu, ia menarik sebuah meja dan melompat ke atasnya untuk melihat tanda itu lebih dekat lagi.

Setelah melihat dengan teliti, ia menggunakan telunjuknya meraba-raba permukaan dinding yang dinodai oleh gambar itu.

dan berkata.

"Nona Spuw, menurut pendapatku ini bukan tapak tangan Hek-tok-ciang Auwyang Tek! Biarpun dilakukan dengan pukulan Iweekang yang hebat bukan main, namun hitamnya karena hangus, bukan karena racun Hek-tok-ciang."

"Dia manusianya atau bukan, bagiku sama saja. Ayah telah lenyap tak berbekas dan ini terjadi di daerah utara yang katanya aman terlindung! Ah, aku menyesal sekali!"

Tak tertahan lagi Lee Ing mengusap air mata yang menitik turun dari matanya.

Dapat dibayangkan betapa marah dan kecewanya, juga gelisahnya.

Jauh-jauh ia menjelajah dari selatan ke utara untuk menemui ayahnya.

Siapa tahu begitu ia tiba di tempat ayahnya, orang tua itu hilang secara penuh rahasia dan aneh!

"Aku menyesal sekali, nona.

Akan tetapi aku bersumpah akan mencari ayahmu sampai dapat, biar untuk itu aku harus berkorban jiwa!"

Kata-kata yang bersemangat dari pemuda ini kembali agak menghibur hati Lee Ing.

Membuat gadis ini teringat bahwa tidak selayaknya kalau dia menyalahkan sebab kehilangan ayahnya kepada pemuda ini atau, siapapun juga yang berada di sini.

Ia tahu bahwa orang-orang utara ini bersama Tiong-gi-pai yang menyelamatkan ayahnya dari tangan Tok-ong Kai Song Cinjin dan kawan-kawannya, dan tahu pula bahwa tak mungkin kalau orang-orang utara menyembunyikan ayahnya dengan jalan kekerasan karena ia maklum bahwa ayahnya masih tidak beres ingatannya.

Kehendak ayahnya sendiri untuk hidup di atas sungai dan Siok Bun sudah menaruh penjaga-penjaga.

Akan tetapi apa sih artinya penjaga-penjaga macam itu?

Dan juga, seperti yang dikatakan oleh Siok Bun tadi, siapa tahu kalau ayahnya memang sengaja pergi dari situ dan tidak ada yang menculiknya?

Akan tetapi tanda tapak tangan itu?

Tak mungkin ayahnya yang membuatnya.

Untuk apa?

"Tanpa tenaga Hek-tok-ciang, kiranya orang macam Auwyang Tek tak dapat melakukan pukulan yang menghanguskan dinding.

Akan tetapi siapa tahu?

Selain bangsat she Auwyang itu, siapa lagi yang sudi meninggalkan tanda tapak tangan hitam?

Saudara Siok Bun.

maafkan semua sikapku tadi.

Aku tidak seharusnya mencurigaimu.

Biarlah aku akan mencari ayah dan terima kasih atas kesediaanmu tadi.

Sampai bertemu lagi!"

Gadis itu berkelebat keluar dan nampaknya seperti hendak menceburkan diri ke dalam air, karena melompat begitu saja ke air.

Siok Bun cepat mengejar dan ia menjadi melongo melihat Lee Ing sudah jauh meninggalkan perahu besar, mendayung perahu kecil tadi dengan kecepatan yang sukar dipercaya.

Hebat, pikirnya.

Kiranya Lee Ing juga sudah mendapat kemajuan luar biasa.

Gerakannya tadi, dan cara dia mendayung itu....

berlipat ganda kalau dibandingkan dengan dahulu.

Ia hanya dapat melihat betapa gadis itu sudah sampai di darat, melompat dan berkelebat menghilang.

Ia berdiri bengong sampai beberapa lama, merasa menyesal sekali mengapa hanya demikian pendek waktu pertemuannya dengan gadis yang sudah merampas hatinya, dan lebih menyesal lagi mengapa kebetulan terjadi hal yang amat tidak menyenangkan, yaitu kehilangan Souw-taihiap.

"Dasar aku yang sial,"

Gerutunya seorang diri.

"Akan tetapi jangan kau khawatir, Lee Ing. Aku akan mencari Souw-locianpwe sampai dapat, biar ke neraka sekalipun, akan kukejar!"

Dengan gemas Siok Bun lalu memekik memberi tanda kepada para penjaga untuk datang membawa perahu kecil, dan maki-makian sudah siap di bibirnya bagi para penjaga yang dianggapnya kurang hati-hati dan tolol itu, Setelah memaki-maki para penjaga yang ternyata sama sekali tidak tahu akan lenyapnya Souw Teng Wi, hari itu juga Siok Bun meninggalkan kota untuk mencari jejak Souw Teng Wi.

Ia tidak menanti kedatangan ayahnya, hanya memberi tahu akan maksudnya kepada ibunya.

Ibunya, Ang-lian-ci Tan Sam Nio, mengerutkan kening dan menggeleng-geleng kepalanya.

"Kenapa kau tidak mengajak nona Souw datang menjumpai aku? Sekarang, setelah Souw-taihiap lenyap tanpa meninggalkan bekas, kau hendak mencari kemanakah? Siok Bun, kau tahu betapa lihainya orang-orang yang menghendaki nyawa Souw-taihiap. Kalau Souw-taihiap sendiri sampai terculik, kau akan berdaya apakah? Bukankah itu berarti mencari kecelakaan sendiri? Lebih baik menanti kembalinya ayahmu."

Siok Bun menggeleng-geleng kepalanya dengan tegas sambil berkata.

"Tidak, ibu. Aku harus dapat mencari Souw-taihiap. Coba saja ibu bayangkan, Souw-taihiap lenyap dalam perlindungan dan penjagaan kita. Bukankah itu berarti kita akan mendapat muka buruk sekali dari Souw-siocia (nona Souw)? Baiknya nona Souw berpemandangan luas dan berhati mulia, kalau tidak apakah dia tidak akan menuntut kepada kita? Selain itu, orang menculik Souw Laihiap sama sekali tidak memandang muka kita, malah boleh dibilang dia atau mereka itu menghina kita. Apakah kita harus tinggal diam saja, ibu? Kalau bukan anak yang pergi mencari dan menebus hinaan itu, siapa lagi?"

Dasar Ang-liang-ci Tan Sam Sam Nio juga seorang pendekar wanita yang berjiwa gagah perkasa, tentu saja mendengar pendirian puteranya ini, hilang keraguan dan kecemasan hatinya, terganti oleh rasa bangga akan kegagahan puteranya.

Akan tetapi selain bangga, ada pula perasaan lain yang membuat nyonya ini menatap wajah putera tunggalnya dengan tajam penuh selidik.

"Bun-ji, belum berubahkah perasaan hatimu semenjak empat tahun yang lalu? Agaknya tepat dugaan ayahmu!"

Siok Bun memandang ibunya dan kulit mukanya berubah merah sekali, akan tetapi ia masih berpura-pura dan bertanya.

"Apa maksudmu, ibu?"

"Kau mencinta nona Souw!"

Sebagai anak tunggal, Siok Bun amat dimanja oleh ibunya sejak kecil.

Tidak demikian dengan ayahnya yang selalu bersikap keras berdisiplin.

Oleh karena ini, hubungan Siok Bun dengan ibunya jauh lebih erat dan tidak ada rahasia hatinya yang ia simpan dari ibunya.

Sekarangpun, mengenai perasaan hatinya, ia berterus terang.

"Agaknya demikianlah, ibu. Entah bagaimana, aku selalu tertarik oleh nona Souw, merasa suka dan kasihan sekali. Mungkin karena rasa kagumku terhadap ayahnya, atau.... entahlah."

Ibunya tersenyum.

"Sayang aku tidak bertemu dengan dia, akan tetapi puteri seorang pahlawan besar seperti Souw-taihiap tentulah seorang gadis yang baik. Jangan gelisah, Bun-ji. soal perjodohanmu, akan kubicarakan dengan ayahmu kalau dia "pulang."

Wajah Siok Bun makin merah lagi.

"Paling perlu sekarang mencari jejak Sou-taihiap, ibu. Soal itu... terserah kepada ayah bunda!"

Setelah mempersiapkan segala keperluannya, Siok Bun minta diri dari ibunya dan berangkat dan melakukan penyelidikan untuk mencari Souw Teng Wi yang lenyap secara aneh itu.

Ia harus bisa mendapatkan kembali Souw Teng Wi, kalau dia ingin terpandang oleh Lee Ing, gadis yang telah mencuri hatinya.

Adanya gadis itu bukan sekali-kali menjadi sebab utama akan usaha Siok Bun mencari Souw Teng Wi.

Andaikata di sana tidak ada Lee Ing, tetap saja pemuda yang berhati baik dan bersemangat besar ini akan pergi mencari Souw Teng Wi, pahlawan yang amat dikaguminya.

Kita tinggalkan dulu pemuda perkasa ini dan mari kita ikuti perjalanan Souw Lee Ing yang cepat keluar dari kota raja menuju ke selatan, untuk mengejar orang yang mungkin melarikan ayahnya, juga untuk mencegat datangnya rombongan Auwyang Tek kalau saja pemuda putera menteri durna itu belum tiba lebih dulu.

"Bukankah kau Souw-lihiap.....?"

Souw Lee Ing terkejut mendengar teguran ini dah cepat ia menengok.

Orang yang menegurnya adalah seorang laki-laki berjenggot berusia hampir lima puluh tahunan, bertubuh tinggi besar dan bersikap gagah.

Melihat laki-laki ini, Lee Ing segera teringat akan pengalamannya ketika untuk pertama kali ia datang ke pedalaman bersama kakeknya.

"Paman Lo Houw, kau di sini....?"

Serunya girang. Seperti telah dituturkan di bagian depan, Lee Ing berpisah dari Lo Houw dan Haminto Losu ketika ia dibawa pergi oleh Bu Lek Hwesio (baca

Jilid pertama).

Dan gadis ini sekarang sedang melakukan pengejaran terhadap orang-orang yang telah menculik ayahnya.

Ataukah ayahnya itu memang sengaja melarikan diri?

Hal ini masih menjadi pertanyaan baginya dan ia baru saja keluar dari kota raja utara menuju ke selatan.

Baru tiba di sebelah utara kota Paoting ia bertemu dan ditegur oleh Lo Houw ini.

"Syukur sekali kau dalam keadaan selamat, Souw-lihiap,"

Kata Lo Houw, terharu dan benar nampak girang kekali. Semenjak gadis puteri Souw-taihiap ini dibawa lari Bu Lek Hwesio, Lo Houw mencari kemana-mana namun tak pernah mendengar jejak gadis ini.

"Paman Lo Houw, kong-kong di mana? Apakah dia baik-baik saja?"

"Kong-kongmu sudah kembali ke utara, Souw-lihiap, mari kita rayakan pertemuan ini! Kita minum-minum sambil mengobrol. Alangkah banyaknya yang akan kita bicarakan."

Lee Ing tak dapat menolak karena ia memang sudah lapar, pula ia bisa mempercayai orang ini dan siapa tahu kalau-kalau Lo Houw yang banyak pengalaman ini akan dapat membantunya mencari jejak ayahnya.

Mereka lalu berjalan cepat memasuki kota Paoting dan masuk ke dalam sebuah rumah makan.

Lo Houw memesan makanan dan minuman.

"Di sini cukup berbahaya, sekarang banyak sekali mata-mata dari selatan berkeliaran,"

Bisik Lo Houw. Lee Ing tersenyum, mengeluarkan pedangnya dan menaruh pedang itu di atas meja didepannya.

"Tak usah khawatir, siapa sih berani mengganggu kita?"

Katanya.

Lo Houw tersenyum pahit.

Dia sama sekali tidak tahu bahwa Lee Ing sekarang jauh sekali bedanya dengan Lee Ing lima tahun yang lalu.

Dia mengira bahwa Lee Ing masih sama dengan dulu, memiliki kepandaian ilmu silat cukup lihai, namun sama sekali belum boleh dipakai menjagoi di daerah ini.

Mulailah mereka bercakap-cakap, menuturkan pengalaman masing-masing.

Akan tetapi Lee Ing tidak menceritakan bahwa dia telah menjadi ahli waris ilmu-ilmu peninggalan Bu-Beng Sih-Kun dl Gua Siluman, hanya menceritakan bahwa ia tadinya telah bertemu dengan ayahnya dan bahwa baru saja ia pergi ke Peking untuk menjumpai ayahnya yang bersembunyi dari kejaran kaki tangan menteri durna di sana.

Akhirnya ia berkata.

"Celakanya, terjadi hal yang amat hebat. Ketika aku tiba di tempat persembunyian ayah, ternyata ayah telah lenyap secara aneh sekali. Entah ada yang menculiknya, entah ayah pergi atas kehendak sendiri. Orang tua yang malang itu selalu tidak tenteram pikirannya, terlalu amat menderita sejak berpisah dari ibu...."

Lee Ing menjadi merah mukanya dan sepasang matanya yang bening menjadi basah Lo Houw mengangguk-angguk.

"Sudah banyak bagian ceritamu yang kudengar,"

Katanya.

"Aku-pun mendengar bahwa Souw-taihiap berada di Peking, akan tetapi tempat tinggalnya demikian dirahasiakan sehingga aku sendiri yang ingin sekali bertemu dengan beliau, tidak berhasil mendapatkan tempat itu. Sekarang beliau ada yang menculik, sungguh aneh! Hal ini mengingatkan daku akan dua orang aneh yang kutemui di luar kota ini."

"Dua orang aneh? Siapa dan di mana? Apa hubungannya dengan lenyapnya ayah?"

"Aku tidak dapat memastikan apakah ada hubungannya. Akan tetapi aku mendengar mereka berdua menyebut-nyebut nama Souw-taihiap, dan berhenti bicara ketika aku mendekat."

"Coba ceritakan yang jelas, paman Lo Houw."

Lo Houw lalu menuturkan pengalamannya.

Dia masih tetap si harimau tua yang berwatak gagah, pendekar yang selalu mengulurkan tangan kepada siapapun juga yang membutuhkan pertolongan darinya.

Selagi ia kebingungan mencari-cari di mana kiranya orang yang ia puja, Souw-taihiap, berada, Lo Houw tiba di daerah selatan kota raja.

Ia mendengar di sebuah dusun dekat kota Paoting hidup seorang tuan tanah yang amat keji, yang menjalankan kejahatan dan pemerasan tenaga ratusan orang kanak-kanak yatim piatu korban perang yang lalu.

Dengan hati panas Lo Houw menuju ke tempat itu, akan tetapi ketika ia tiba di luar kota Paoting, di sebuah hutan kecil, ia menemui sesuatu yang membuat ia menunda rencana memberi hajaran kepada tuan tapah itu.

Kejadiannya sudah sepekan yang lalu.

Ketika ia berjalan cepat, ia melihat dua orang, seorang laki-laki muda tampan bersama seorang wanita cantik, berjalan bersama menuju ke sebuah kelenteng rusak, kelenteng kuno yang tidak dipakai lagi, yang berada di dalam hutan kecil itu.

Karena merasa curiga, dengan hati-hati sekali Lo Houw mengikuti mereka, la merasa malu untuk mengintai, maka ia hanya mendengarkan dari luar jendela yang penuh sarang laba-laba.

Tiba-tiba ia mendengar suara wanita itu.

"Souw Teng Wi si jahanam gila itu amat lihai, aku khawatir kau takkan dapat menang."

"Tak usah takut, ibu. Dengan kepandaian yang kumiliki sekarang, biar ada dua orang Souw Teng Wi aku tidak gentar. Akan tetapi apakah betul dia berada di perahu seperti kau katakan tadi?"

"Sssttt, jangan banyak bicara. Kau lihat saja sendiri nanti."

Mendengar ini sudah cukup bagi Lo Houw.

Ia dapat menduga bahwa mereka adalah orang-orang lihai, kalau tidak demikian mana berani menghadapi Souw Teng Wi?

Maka diam-diam ia lalu pergi dari situ dan cepat-cepat melakukan perjalanan ke Peking.

Akan tetapi, tidak mudah mencari perahu yang dimaksudkan pemuda itu.

Ia sudah menyusuri tepi sungai akan tetapi tidak melihat perahu yang ditumpangi Souw-taihiap.

Akhirnya ia putus asa dan kembali ke selatan di mana ia berjumpa dengan Souw Lee Ing.

"Nah, demikianlah ceritanya,"

Kata Lo Houw kepada Lee Ing sambil menghirup araknya.

"Entah benar-benar mereka yang menculik ayahmu, entah bukan."

Lee Ing mengerutkan keningnya.

Ia kecewa karena urusannya menjadi bertambah ruwet.

Kalau sekiranya Lo Houw menceritakan bahwa Auwyang Tek campur tangan dalam hal ini, ia akan merasa lebih lega karena mudah mengetahui siapa yang menculik ayahnya.

Akan tetapi pemuda dan wanita itu, siapakah mereka?

"Bagaimana macamnya pemuda itu?

Dan bagaimana pula wanitanya?"

Tanyanya penuh perhatian.

"Pemudanya tampan, matanya liar, wanitanya setengah tua, masih cantik, lincah dan gerakannya gesit bukan main, hijau pakaiannya dan..."

"Celaka..!"

Lee Ing menahan seruannya dan bangkit berdiri sambil menggenggam gagang pedangnya.

Tak salah lagi, wanita itu tentu Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio, Si Kupu-Kupu Terbang!

Dan pemuda itu, yang memanggil ibu kepada Yap Lee Nio, siapa lagi kalau bukan Sim Hong Lui?

Kalau ibu dan anak itu mencari dan memusuhi ayahnya, itu tidak aneh karena mereka tentu hendak membalas kematian ayah Sim Hong Lui, yaitu bajak laut Siang-pian Hai-liong Sim Kang.

Tak salah lagi, tentu mereka.

Akan tetapi, tak mungkin.

Mana bisa Hui-ouw-tiap dan anaknya pemuda dogol itu menculik ayahnya?

Tak mungkin sama sekali.

Teringat akan ini Lee Ing.

lemas lagi dan kembali ia duduk, menarik napas berkali-kali.

Melihat nona itu bangkit berdiri, sikapnya menakutkan, lalu bibirnya bergerak-gerak kemudian duduk kembali, Lo Houw menjadi terheran.

"Apakah kau mengenal mereka, lihiap?"

Lee Ing mengangguk.

"Mereka tentu Hui-ouw-tiap dan puteranya. Memang mereka itu musuh-musuh ayah. Akan tetapi tidak mungkin mereka dapat menculik ayah, kepandaian mereka tidak seberapa"

"Ah, bagaimana kau bisa bilang begitu, lihiap? Gerakan mereka gesit dan ringan sekali, tanda bahwa ilmu kepandaian mereka jauh di atas tingkatmu atau tingkatku."

Lee Ing tersenyum.

Ia tidak menyalahkan Lo Houw sampai berkata demikian karena orang tua ini memang tidak tahu sampai di mana kehebatan ilmu kepandaian ayahnya dan tidak tahu pula bahwa dia bukanlah Lee Ing lima tahun yang lalu.

"Betapapun juga, sikap mereka memang mencurigakan. Tiada salahnya kalau kita mencoba-coba melihat ke dalam kelenteng itu, siapa tahu mereka masih berada di sana,"

Kata Lee Ing.

Lo Houw mengangguk, memanggil pelayan dan membayar makanan dan minuman.

Ia lalu mengajak Lee Ing keluar kota Paoting.

Di tengah jalan Lee Ing teringat bahwa Hui-ouw-tiap tentu akan mengenalnya, padahal maksudnya mengikuti Lo Houw ini hanya ingin mencari keterangan bagaimana Hui-ouw-tiap bisa tahu bahwa ayahnya berada di atas perahu.

Kalau Hui-ouw-tiap tahu, tentu ada orang lain yang tahu, dan Lo Houw dapat menyelidiki hal ini.

Hui-ouw-tiap tidak mengenal Lo Houw, oleh karena ini sebaiknya kalau ia tidak melakukan perjalanan ke tempat itu bersama Lo Houw.

"Paman Lo Houw, kau beri tahu di mana letaknya kelenteng itu, kemudian kita berpisah agar jangan menimbulkan kecurigaan orang. Tolong kau selidiki dan pancing-pancing mereka, dari mana mereka bisa menduga bahwa ayah berada di atas perahu."

Lo Houw berpengalaman, ia mengangguk. Memang sebaiknya kalau ia melakukan penyelidikan sendiri sehingga kalau terjadi hal-hal "keras"

Ia tidak payah melindungi Lee Ing.

Setelah menyatakan persetujuannya dan memberi gambaran di mana letak kelenteng yang ia maksudkan itu, Lo Houw lalu mengerahkan tenaga dan kepandaiannya.

berlari secepat mungkin menuju ke hutan itu.

Lee Ing tersenyum geli melihat tingkah orang tua itu yang seakan-akan hendak memamerkan ilmu lari cepatnya kepadanya.

Diam-diam ia merasa kasihan juga.

Orang tua itu tentu tidak tahu bahwa dia bisa berlari lima kali lebih cepat dari pada larinya Lo Houw itu.

Lee Ing tidak mengejar terlalu cepat.

Memang ia sengaja menyuruh Lo Houw melakukan penyelidikan sendiri, oleh karena ia tahu bahwa kalau Hui-ouw-tiap yang sudah mengenalnya melihat ia berada di situ, tentu sukar untuk mencari rahasia nyonya itu, bagaimana nyonya itu dapat mengetahui tempat persembunyian ayahnya.

Diam-diam ia mengingat-ingat cerita Lo Houw di bagian ucapan Sim Hong Lui yang menyatakan bahwa dengan kepandaiannya yang sekarang dimiliki, pemuda itu tidak takut menghadapi ayahnya, la merasa heran.

Seingatnya, ilmu kepandaian Sim Hong Lui rendah saja, terlampau rendah kalau dibandingkan dengan kepandaian ayahnya.

Malah pemuda ini sendiripun sudah mengetahui akan hal ini, karena ketika Souw Teng Wi mengamuk di perahu, pemuda itupun hampir menjadi korban seperti ayahnya yang tewas.

Kalau tidak ada apa-apanya, tak mungkin pemuda itu berani mengucapkan kala-kata itu di hadapan ibunya lagi.

Padahal ibunya lihai, jauh lebih lihai dari pemuda itu.

"Tentu dia belajar lagi."

Pikir Lee Ing dan ia tidak menyangkal adanya kemungkinan ini.

Dahulupun ketika ia bertemu dengan pemuda itu, apa sih kepandaiannya?

Dibandingkan dengan Sim Hong Lui, ia kalah jauh.

Sekarang, kurang lebih lima enam tahun kemudian, ia telah mewarisi ilmu kepandaian yang amat tinggi, bukan tidak mungkin kalau daiam waktu selama itu Sim Hong Lui juga mewarisi kepandaian tinggi.

Tiba-tiba Lee Ing sadar dari lamunannya dan cepat ia menyelinap di balik rumpun tetumbuhan.

Pendengarannya yang tajam menangkap derap kaki orang berlari cepat mempergunakan ginkang yang istimewa.

Benar saja dugaannya, tak lama kemudian datang dua orang kakek yang berlari cepat laksana terbang melalui tempat itu.

Lee Ing memperhatikan.

Dua orang kakek itu sudah tua-tua sekali, tentu tidak kurang dari tujuh puluh tahun.

Yang seorang adalah kakek-kakek tua.

yang buntung tangan kirinya, tinggi kurus tubuh tegak, pakaian putih tambal-tambalan.

Orang ke dua bermuka hitam pula, mukanya kerut-merut buruk sekali, memegang tongkat ular.

Keduanya mempergunakan ilmu lari cepat yang jarang tandingannya Dari cara mereka berlari ini saja sudah dapat dibuktikan bahwa mereka adalah tokoh-tokoh silat yang sakti.

Selama hidupnya belum pernah Lee Ing melihat dua orang kakek ini.

Akan tetapi melihat keadaan jasmani mereka, nona ini teringat akan dua orang yang ia temui bertengkar dengan Siok Beng Hui, yaitu Gak Seng Cu si tosu berpedang dan Pek-Ke Cui si muka kodok yang berpedang ular.

Sekarang kakek buruk, yang ia mendengar dahulu disebut Im-Kan Hek-mo (Iblis Hitam Akhirat) dan bukankah si kakek buntung itu guru Cak Seng Cu yang berjuluk Tok-pi Sin-kai Si Pengemis Lengan Satu?

Berdebar dada Lee Ing.

Dua orang kakek ini juga mencari ayahnya, bukan untuk memusuhi ayahnya, melainkan untuk mencari tahu perihal Bu-Beng Sin-Kun, musuh lama mereka Ilmu silat ayahnya yang aneh telah sampai di telinga mereka dan tahulah mereka bahwa ayahnya mempelajari ilmu silat dari BuBeng Sin-Kun.

Tadinya ia hendak mengikuti dua orang kakek itu karena ia berpikir bahwa kalau dua orang kakek ini yang menculik ayahnya, masih tidak aneh.

Dua orang kakek ini memiliki kepandaian tiriggi, setingkat dengan kepandaian Pek-kong-sin-ciang Bu Kam Ki, tidak kalah lihainya oleh Tok-ong Kai Song Cinjin.

Akan tetapi tiba-tiba ia mendengar suara kakek tangan buntung.

"Kita harus cepat-cepat, orang she Souw itu banyak musuhnya. Jangan sampai kita didahului orang!"

Mendengar ucapan ini dan melihat bahwa kakek-kakek itu tidak menuju ke dalam hutan kecil melainkan menuju ke utara, Lee Ing mengurungkan niatnya melakukan pengejaran.

Kenyataan ini membuktikan bahwa dua orang kakek itu bukan yang menjadi sebab lenyapnya ayahnya.

Mereka (Lanjut ke

Jilid 22) Pusaka Gua Siluman (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 22 memang bermaksud menculik ayahnya, akan tetapi jelas bahwa maksud itu belum tercapai.

Adapun dua orang kakek itu betul-betul mengerahkan tenaga karena kini mereka berkelebat lenyap dengan kecepatan angin!

Diam-diam Lee Ing kagum sekali dan mengaku bahwa ilmu lari cepat dua orang kakek tua itu benar-benar jarang tandingannya.

Selagi ia termangu-mangu melihat ke-jurusan lenyapnya dua orang kakek sakti itu, tiba-tiba ia mendengar pekik dari dalam hutan kecil yang hendak ia masuki.

Mendengar pekik kesakitan itu, Lee Ing cepat berlari memasuki hutan.

Dari jauh ia melihat bangunan kelenteng kuno yang dimaksudkan oleh Lo Houw.

Akan tetapi ia segera menuju ke kelenteng karena perhatiannya tertarik oleh seorang hwesio yang sedang berjongkok, mengguncang-guncangkan tubuh seorang laki-laki yang rebah di tanah sambil bertanya berkali-kali.

"Siapa melukaimu? Hayo katakan, siapa melukaimu! Tahukah kau di mana adanya Souw Teng Wi....?"

Hwesio itu mengguncang-guncang terus, akan tetapi tubuh orang yang menggeletak itu kaku tak bergerak, kemudian terdengar ia berbisik lemah.

"Pemuda tampan...."

Dan orang itu tak dapat melanjutkan kata-katanya karena kepalanya rebah miring dan ia tidak bergerak lagi, mati!

Mendengar suara orang yang rebah di tanah itu, Lee Ing kaget bukan main.

Cepat ia berlari mendekati.

Benar dugaan dan kekhawatirannya.

Orang itu bukan lain adalah Lo Houw, kini sudah menjadi mayat!

"Paman Lo Houw.....!"

Lee Ing cepat berlutut di dekat mayat itu.

Hatinya menyesal bukan main mengapa ia tadi menyuruh Lo Houw melakukan penyelidikan sendiri.

Kalau ia tahu bahwa di situ terdapat bahaya besar bagi keselamatan Lo Houw, tentu ia akan membayangi orang tua ini.

Sekarang tahu-tahu Lo Houw sudah menjadi mayat.

Benar-benar Lee Ing merasa amat kecewa dan menyesal.

Saking sedihnya, ia sampai lupa kepada hwesio gundul yang tadi mengguncang-guncang tubuh Lo Houw.

Adapun hwesio itu begitu melihat wajah Lee Ing.

cepat menggerakkan tangan memukul sambil berseru.

"Puteri Souw Teng Wi, bagus!"

Pukulannya itu cepat bukan main lagi keras.

Lee Ing yang mencurahkan seluruh perhatian kepada Lo Houw, tidak sempat menangkis atau mengelak, hanya mengerahkan tenaga Iweekang ke arah bahu yang dipukul.

Tubuh gadis itu terlempar bagaikan tertumbuk oleh tenaga raksasa, akan tetapi sedikitpun Lee Ing tidak merasa sakit karena ia sudah dilindungi oleh pengerahan tenaga.

Iweekang tadi.

Di lain fihak, hwesio itu ketika melihat betapa gadis yang dipukulnya terlempar sampai tiga meter lebih akan tetapi turunnya berdiri tegak, sedikitpun tidak terluka atau terlihat tanda-tanda kesakitan, menjadi melongo dan.....

melarikan diri tunggang langgang ke arah kelenteng!

Geli hati Lee Ing menyaksikan kelakuan hwesio itu dan ia teringat ketika melihat wajah itu.

Tak salah lagi, hwesio itu adalah Bu Lek Hwesio yang telah merampasnya dari tangan kakeknya lima enam tahun yang lalu.

Hwesio itu lihai sekali.

Kakeknya juga kalah.

Akan tetapi sekarang baginya hwesio itu hanya seorang kasar yang besar tenaganya, tidak lebih.

Setelah membenarkan letak tangan Lo Houw dan menutupi muka mayat orang tua itu dengan pakaian Lo Houw sendiri, Lee Ing lalu melompat dan berlari cepat mengejar ke kelenteng.

Semua orang telah datang, semua orang mencari ayahnya.

Benar-benar ayahnya amat malang nasibnya.

Ketika tiba di dekat kelenteng, di sini nampak sunyi saja.

Lee Ing yang dapat menduga bahwa di situ tentu bersembunyi musuh-musuh tangguh, cepat mengeluarkan pedangnya dan bagaikan disulap, Li-lian-kiam sudah berada di tangan kanannya.

Ia melirik ke sana ke mari, sunyi saja.

Tiba-tiba ia mendengar suara ribut di belakang kelenteng.

Lee Ing tidak mau berlaku sembrono.

Dengan jalan memutar ia tiba di belakang kelenteng dan melihat hwesio tadi, Bu Lek Hwesio, muntah-muntah darah dan pedang ular yang dipegangnya terlepas.

Sedangkan di depan hwesio itu, Auwyang Tek berdiri sambil memaki-maki.

Lee Ing melihat bahwa hwesio itu telah terkena pukulan Hek-tok-ciang di dada kiri dan mudah diduga bahwa hwesio buruk watak ini takkan dapat hidup lama.

"Setan gundul, kau berani main-main di depanku? Tadinya kau bilang mengetahui tempat persembunyian Souw Teng Wi, kemudian kau bilang Souw Teng Wi diculik orang dan membawaku ke tempat ini. Kelenteng ini kosong pula dan kau bilang Souw Teng Wi sudah dibawa kabur oleh penculiknya. Setelah itu. kau setan gundul tak tahu malu, kau berani memerasku di sini dan minta seribu tael baru mau memberi tahu siapa penculiknya. Apa kau kira aku ini bocah yang mudah diperas dan kau tipu? Rasakan Hek-tok-ciang, baru tahu kelihaianku!"

"Pin.... pinceng tidak bohong...... murid Lui Siu Nio-nio.... ketua Hoa-lian-pai di Tapie-san... aaahhhhh......."

Bu Lek Hwesio terguling roboh dan tamatlah riwayatnya, tewas di saat itu juga.

Lee Ing tadinya hendak menyerang pemuda yang dibencinya itu, akan tetapi tiba-tiba melayang turun tiga hwesio aneh, seorang bermuka merah, yang ke dua bermuka kuning dan ke tiga bermuka hitami Mereka ini melayang bagaikan tiga ekor burung gagak, langsung menubruk Lee Ing Mereka itu bukan lain adalah Hu-niu Sam-lojin yang bernama Ang Bin Hosiang.

Oei Bin Hosiang, dan Ouw Bin Hosiang!

"Auwyang-Kongcu, di sini ada mata-mata!"

Teriak Ang Bin Hosiang, akan tetapi teriakannya itu disusul teriakan kaget dan heran ketika ia melihat bahwa ia telah saling tubruk sendiri dengan Oei Bin Hosiang dan Ouw Bin Hosiang!

Sedangkan gadis cantik yang ditubruk tadi lenyap entah ke mana!

"Mana mata-mata itu?"

Auwyang Tek bertanya ketika ia melompat ke balik dinding itu. Tiga orang hwesio tadi saling pandang dengan bengong.

"Siluman...!"

Kata Ang Bin Honsiang.

"Omitohud..... siang-siang muncul setan..."

Kata Oei Bin Hosiang.

"Tak mungkin manusia. Kita telah bertemu dengan iblis,"

Kata Ouw Bin Hosiang. Auwyang Tek membanting-banting kakinya.

"Aku sedang kecewa dan mendongkol, masa sam-wi lo-suhu mengajakku bermain-main di tempat seperti ini?"

"Kami tidak main-main, memang tadi terlihat seorang wanita. Kami bertiga menubruk hendak menangkapnya, akan tetapi ia menghilang,"

Kata Ang Bin Hosiang.

"Benar, dia lenyap begitu saja seperti asap,"

Kata Ouw Bin Hosiang sambil bergidik.

Mereka bertiga adalah hwesio-hwesio berilmu tinggi, maka mengandalkan kepandaian sendiri mana mereka percaya ada orang, apa lagi seorang gadis muda, dapat meloloskan diri dari tubrukan mereka bertiga secara begitju gaib?, Maka jalan satu-satunya yang paling murah agar jangan menurunkan nama, adalah menyatakan bahwa yang ditubruknva tadi adalah setan!

Ke mana perginya Lee Ing?

Gadis ini setelah dapat menyelinap pergi dengan kecepatan luar biasa dari tubrukan tiga orang hwesio itu, maklum bahwa kalau dia menyerang Auwyang Tek, tentu ia dikeroyok empat dan ini bukanlah hal yang boleh dipandang ringan.

Tubrukan tadi saja sudah memperingatkan kepadanya bahwa tiga orang hwesio itu tidak boleh dibuat main-main sedangkan Auwyang Tek sendiri dengan pukulan Hek-tok-ciang, juga cukup lihai.

Biarpun ia tidak gentar dan tak mungkin kalah, akan tetapi itu hanya akan membuang waktu saja sedangkan ia perlu cepat-cepat menyusul Sim Hong Lui dan Hui-ouw-tiap.

Dari ucapan penghabisan Lo Houw, gadis ini menjadi makin yakin bahwa, penculik ayahnya tentu pemuda itu.

Siapa lagi kalau bukan Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio yang disebut murid Lui Siu Nio-nio?

la tahu ke mana ia harus menyusui.

Ke mana lagi kalau bukan ke Ta-pie-san, ke pusat perkumpulan Hoa-lian-pai yang diketuai oleh Lui Siu Nio-nio?

Maka tanpa melayani Auwyang Tek lebih lanjut, Lee Ing mempergunakan ilmu lari cepatnya pergi dari tempat itu.

Apakah sebetulnya yang terjadi dengan diri Souw Teng Wi?

Untuk mengetahui akan hal ini, baik kita tinggalkan dulu, Lee Ing yang melakukan pengejaran ke Ta-pie-san untuk mencari ayahnya dan mari kita menengok pengalaman pahlawan rakyat Souw Teng Wi yang bernasib buruk itu.

Semenjak Souw Teng Wi dibawa oleh Tiong-gi-pai ke utara, memang ia telah hidup dalam keadaan aman.

Di utara tidak ada orang yang berani mengganggunya, dan lagi siapakah yang mau mengganggunya?

la terkenal sebagai seorang pahlawan rakyat yang dahulu tiada hentinya berusaha mengusir kekuasaan penjajah Mongol dari wilayah Tiongkok.

Sekarang ia telah berubah ingatan, seperti orang gila sebentar tertawa terbahak-bahak sebentar menangis menyebut-nyebut nama Namilana dan Lee Ing.

Dia telah menjadi seorang kakek yang buta, akan tetapi amat berbahaya kalau lagi mengamuk.

Ilmu kepandaiannya aneh dan tinggi sekali sehingga kalau dia lagi mengamuk, tidak ada orang berani mendekatinya.

Mungkin sekali teringat akan pertemuan kembali dengan puterinya di atas perahu bajak laut Sim Kang, setelah dibawa ke kota raja utara.

Souw Teng Wi minta supaya ia ditempatkan di sebuah perahu.

Untuk menyembunyikannya, maka ia lalu dibikinkan sebuah perahu besar dan gembiralah hati Souw Teng Wi.

Ia hidup di dalam perahu itu seorang diri, segala keperluannya dilayani oleh para penjaga yang selalu meronda di-sungai itu dengan perahu-perahu kecil.

Sampai bertahun-tahun Souw Teng Wi hidup aman terjaga dan setiap pagi atau kadang-kadang pada malam hari terdengar suaranya bernyanyi lagu perjuangan yang penuh semangat.

Akan tetapi pada malam hati itu.

tepat pada saat Lee Ing datang ke kota raja menemui Siok Bun, terjadi hal aneh dan hebat di sungai tadi.

Dalam kegelapan malam, tanpa terlihat oleh para penjaga dari perahu-perahu mereka, sesosok baayangan hitam meluncur maju di permukaan sungai tanpa mengeluarkan suara.

Kalau para penjaga itu melihatnya, tentu mereka akan menggigil ketakutan, oleh karena apa yang mereka lihat itu memang benar-benar mengerikan dan tak masuk di akal.

Kalau manusia, bagaimana bisa berjalan di atas air?

Akan tetapi melihat sesosok tubuh hitam itu, tak salah lagi bahwa dia seorang manusia.

Memang seorang manusia, masih muda malah.

Seorang pemuda yang berwajah tampan namun pucat, dengan senyum aneh menghias kulit mukanya yang halus putih, menggerak-gerakkan tangan kakinya dengan teratur dan.....

tubuhnya meluncur di permukaan air!

Apakah ia memiliki ilmu gaib dan dapat berjalan di permukaan air?

ataukah barangkali ia pandai terbang?

tak mungkin, selama sejarah berkembang, belum pernah ada manusia bisa terbang atau mengambang di permukaan air.

kecuali dalam dongeng.

Apakah ia siluman atau iblis?

Lebih tak mungkin lagi.

Mana di dunia ini ada siluman atau iblis yang muncul begitu saja!

Siluman atau iblis, kalau ada, selalu sembunyi dalam pandang mata orang-orang penakut, dan sembunyi dalam hati dan pikiran orang-orang jahat.

Kalau dilihat lebih dekat, baru diketahui bahwa sesosok bayangan itu memang betul-betul seorang manusia tulen, manusia darah daging, hanya bedanya dengan manusia biasa, ia memiliki kepandaian tinggi.

Kalau bukan orang yang memiliki ginkang sampai di puncaknya, tak mungkin, bisa melakukan apa yang ia lakukan di malam itu.

la benar-benar meluncur di permukaan air, mengambang dengan bantuan dua potong papan.

Dua potong papan yang panjangnya dua kaki lebar setengah kaki itu diinjaknya, diikat dengan sepatunya, lalu ia menggerak-gerakkan kedua tangan, mengerahkan Iweekang pada kaki tangannya dan demikianlah ia meluncur maju dengan kecepatan luar biasa!

Orangnya masih muda namun sudah memiliki ginkang dan Iweekang sedemikian tingginya, benar-benar sukar dicari bandingnya.

Dengan kecepatan mengagumkan sehingga tidak-terlihat oleh para penjaga, pemuda ini sudah melompat ke atas perahu Souw Teng Wi dan melepaskan dua bilah papan itu.

Kemudian ia maju hendak memasuki ruangan dalam perahu.

Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara ketawa menyeramkan dan angin dahsyat menyambar dari dalam perahu.

Pemuda itu terkejut.

Ia tahu itulah angin pukulan yang kuat sekali.

Dengan hati-hati ia mengelak dan mengibaskan tangannya, kemudian dengan berani sekali ia menyelonong masuk.

Ia disambut dengan pukulan oleh Souw Teng Wi, namun dengan gerakan aneh sekali pemuda ini dapat menangkis.

"Sobat, kau hebat sekali!"

Souw Teng Wi menegur sambil tertawa.

"Kau pantas menemani aku minum, arak, ha-ha-ha!"

Pemuda itu tersenyum, akan tetapi hanya bibirnya saja yang tersenyum, sedangkan sepasang matanya berputaran liar, lebih liar dari mata Souw Teng Wi yang selalu melirik ke sana ke mari sebelum pendekar ini dibikin buta matanya oleh Tok-ong Kai Song Cinjin.

Sekarang mata Souw Teng Wi kosong melompong, hitam mengerikan.

"Souw Teng Wi, dulu, kau yang menjadi tamu, sekarang aku yang kau tawari arak. Akan tetapi lain dulu lain sekarang. Dulu kau tidak buta, dan aku masih amat lemah dan bodoh. Hah-hah-hah-hah!"

Suara ketawa pemuda ini benar-benar dapat membikin orang waras menjadi, beku darahnya kalau mendengarnya.

Bukan suara ketawa manusia lagi, tinggi berirama seperti lagu neraka dinyanyikan oleh para setan!

Souw Teng Wi tertawa-tawa lagi.

"Ya, lain, dulu lain sekarang. Dulu aku pahlawan besar, sekarang orang buta hina-dina.....! Dan kakek ini, bekas pahlawan rakyat yang dicintai kawan dlsegani lawan, lalu menangis sambil menyodorkan arak. Pemuda itu melangkah maju, menerima arak, akan tetapi tidak diminum, melainkan disiramkan ke arah muka Souw Teng Wi sampai kakek itu gelagapan.

"Souw Teng Wi, kau telah membunuh ayahku, ingat?"

Sambil berkata demikian, secepat kilat pemuda itu mencengkeram pundak Souw Teng Wi.

Kakek buta yang sudah mewarisi ilmu silat aneh itu cepat mengelak, akan tetapi sama anehnya, dengan gerakan seperti orang terhuyung roboh ke depan, pemuda itu melanjutkan serangannya dengan dua kali totokan.

Betapapun pandainya Souw Teng Wi, ia sudah tua, sudah buta, dan terlalu banyak minum arak.

Apa lagi pemuda itu benar-benar lihai sekali, gerakannya aneh dan cepat dan tahu-tahu Souw Teng Wi telah roboh lemas terkena totokan.

Sambil tertawa aneh pemuda itu lalu menyeret tubuh lawannya dipondongnya lalu melompat ke luar setelah lebih dulu memukulkan tangannya pada dinding kamar itu.

Dipakainya dua bilah papan di bawah sepatunya dan seperti datangnya tadi, ia meluncur di permukaan air sungai, menghilang di dalam gelap sambil membawa tubuh Souw Teng Wi yang tak dapat bergerak lagi.

Setelah berhasil menculik Souw Teng Wi, pemuda aneh ini berlari cepat sekali ke selatan dan pada pagi hari ia sampai di dalam hutan kecil dekat kota Paoting, lalu melompat ke dalam kelenteng.

Seorang wanita setengah tua yang masih cantik menyambut kedatangannya dengan muka girang.

"Hong Lui, anakku yang ganteng, kau betul-betul berhasil menawan bajingan ini!"

Seru wanita itu yang bukan lain adalah Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio.

sedangkan pemuda aneh yang mukanya tampan akan tetapi mengerikan itu adalah Sim Hong Lui.

Pemuda itu tidak menjawab, melainkan melempar tubuh Souw Teng Wi di atas lantai sedangkan dia sendiri melepaskan lelah, duduk bersila di atas lantai yang kotor.

Sekarang, di bawah sinar matahari pagi, kelihatan Wajah pemuda ini.

Dibandingkan dengan dulu, ia banyak kurusan.

Juga sikapnya jauh berbeda, ia pendiam, bibirnya tersenyum aneh, matanya liar seperti mata orang yang miring otaknya.

Benar benar Sim Hong Lui sekarang ini jauh sekali dengan dahulu, sekarang dia bermuka pucat seperti orang menderita batin yang hebat, namun kepandaiannya luar biasa, aneh dan lihai sekali.

Melihat Souw Teng Wi, orang yang telah membunuh suaminya, biarpun sudah lama bercerai dari suaminya itu.

hati Hui-ouwtiap Yap Lee Nio masih panas, la cepat mencabut pedangnya dan tanpa banyak cakap ia menubruk ke depan untuk menusukkan pedangnya ke dada musuh besar itu.

Souw Teng Wi yang sudah siuman akan tetapi tak dapat bergerak itu, masih tertawa-tawa perlahan, la sama sekali tidak ambil perduli akan pedang yang berkelebat meluncur ke dadanya itu.

"Tranggg.....!"

"Ayaaaa...! Lui-ji (anak Lui), kenapa kau menahan pedangku?"

Tanya Yap Lee Nio terkejut sambil memegang-megang tangan kanan yang terasa sakit sekali kemudian membungkuk untuk memungut pedangnya yang terlempar ke bawah.

Pedang itu telah disentil oleh kuku jari Sim Hong Lui dan sekali sentil saja cukup kuat membuat pedang terlepas dari tangan ibunya!.

Benar-benar pemuda ini telah menjadi hebat sekali, kepandaiannya jauh melampaui ibunya, malah jauh melampaui kepahdaian Souw leng Wi!

"Aku yang akan menghukum dia, menggunakannya sebagai umpan memancing datang si cantik manis Souw Lee Ing,"

Kata Sim Hong Lui, wajahnya tidak berubah sedikitpun akan tetapi suaranya perlahan berpengaruh dan mengandung nafsu. Ibunya memandang bingung.

"Di mana?"

"Kita bawa dia ke Ta-pie-san,"

Kata pula pemuda aneh itu yang masih tetap duduk bersila, kemudian pemuda itu meramkan mata dan ibunya tidak berani lagi mengganggu puteranya yang sedang tidur itu.

Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio hanya duduk menatap wajah puteranya, dalam hati masih belum habis keheranannya melihat keadaan Sim Hong Lui.

Telah tiga tahun lebih pemuda itu pergi tanpa meninggalkan bekas kemudian baru beberapa bulan ini muncul lagi dengan kepandaian yang luar biasa, akan tetapi otaknya agak miring.

Setelah cukup beristirahat, Sim Hong Lui lalu memanggul tubuh Souw Teng Wi dan berangkat, diikuti oleh ibunya.

Akan tetapi baru saja ia melompat keluar dan lari tidak berapa jauh dari kelenteng, seorang laki-laki muncul dan langsung menyerangnya dengan pukulan tangan kiri sedangkan tangan kanan orang itu berusaha merampas Souw Teng Wi.

Orang ini bukan lain adalah Lo Houw yang segera mengenal Souw Teng Wi yang terculik.

Akan tetapi dengan mengeluarkan suara mengejek, Sim Hong Lui menangkis pukulan itu dan sekali kakinya diangkat tubuh Lo Houw terlempar jauh Mana Lo Houw mau sudah begitu saja?

Pendekar ini merayap bangun lagi dan dengan kemarahan meluap ia mencabut pedangnya.

Akan tetapi sebelum ia sempat bergerak, menyambar benda-benda kecil ke arah dadanya.

Lo Houw mengeluh dan roboh lagi, dadanya terluka oleh beberapa butir Thi-lian-ci, senjata gelap yang dilepas oleh Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio.

Lo Houw mengerang sekali, la hanya mendengar suara ketawa dua orang ibu dan anak im, sama sekali tak berdaya untuk mengejar, bahkan untuk bangun saja ia tidak kuat.

Demikianlah.

Sim Hong Lui dan ibunya membawa lari Souw Teng Wi dan seperti telah dituturkan di bagian depan, Lee Ing mengejar ke Ta-pie-san.

Juga Auwyang Tek menjadi penasaran sekali.

Mendengar penuturan Bu Lek Hwesio yang ia bunuh, pemuda ini lalu menyuruh Ouw Bin Hwesio untuk memanggil Tok-ong Kai Song Cinjin di selatan.

Adapun dia.

sendiri ditemani oleh Ang Bin Hosiang dan Oei Bin Hosiang, langsung melakukan pengejaran ke Ta-pie-san.

Ouw Bin Hwesio atau Ouw Bin Hosiang segera berangkat ke kota raja, membawa surat pemuda itu.

Ta-pie-san adalah pegunungan di Tiongkok Selatan, di sebelah barai kota raja Nan-king.

Pemandangan alam di pegunungan ini indah sekali karena tanahnya amat subur.

Sungai Huai bermata air dari pegunungan ini.

Seluruh permukaan gunung ditumbuhi pohon-pohon menghijau, hutan-hutan lebat yang penuh binatang-binatang hutan beraneka macam dengan burung-burungnya yang indah rupa dan suaranya.

Memang pantas sekali kalau tempat ini dijadikan pusat atau markas perkumpulan Hoa-Iian-pai, perkumpulan wanita yang diketuai oleh Lui Siu Nio-nio, nenek perkasa yang masih gadis itu.

Seperti sudah dituturkan di bagian depan, Lui Siu Nio-nio adalah bekas kekasih Im-Yang Thian-Cu yang dahulu di waktu muda bernama Can Hoat.

Karena perbedaan faham, keduanya berpisah dan tetap tidak mau menikah.

Perkumpulan Hoa-Iian-pai tadinya dibuka oleh Lui Siu Nio-nio dengan dua maksud.

Pertama untuk menghibur hatinya yang terluka agar hidupnya tidak begitu kesunyian, mempunyai banyak kawan dan murid.

Ke dua untuk memberi kesempatan kepada para wanita yang terlantar mendapatkan tempat untuk belajar memperkuat diri.

Boleh dibilang Lui Siu Nio-nio berhasil dalam usahanya ini, tidak saja hatinya sedikit banyak terhibur, juga ia telah menolong banyak sekali wanita yang tadinya sudah putus asa dan mengambil jalan pendek dengan menceburkan diri dalam pelacuran dan kejahatan.

Di bawah bimbingan Lui Siu Nio-nio, para anggauta Hoa-Iian-pai menjadi berdisiplin dan terutama sekali mereka bukan lagi merupakan wanita-wanita lemah yang boleh diperbuat sesuka hati kaum pria.

Malah banyak di antara anggauta Hoa-Iian-pai yang menjadi pendekar wanita, banyak pula yang sudah berumah tangga dan hidup bahagia.

Hanya satu hal yang dianggap gagal oleh Lui Siu Nio, yakni dalam memilih murid.

Jarang ada murid bertulang dan berbakat baik, hanya satu-satunya murid yang berbakat adalah Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio.

Akan tetapi sayang sekali, murid ini selain nasibnya buruk sampai bercerai dari suaminya malah akhirnya kehilangan suaminya yang tewas oleh SouwTeng Wi, juga harus diakui bahwa murid nomor satu ini kurang baik, terlalu ganas dan kejam, mudah sekali membunuh orang yang dibencinya atau dianggapnya musuh.

Memang tadinya Yap Lee Nio terkenal sebagai seorang pendekar wanita, seorang perampok tunggal budiman yang membagikan hasil perampokannya kepada rakyat jelata.

Pula ia hanya merampok hartawan-hartawan kikir dan bangsawan-bangsawan jahat.

Akan tetapi hati Yap Lee Nio terlampau keras dan kalau wanita ini sudah marah, mudah saja menyebar maut!

Kematian Sim Kang yang membuat Yap Lee Nio merasa sakit hati sehingga murid ini menangis di depan gurunya, membuat Lui Siu Nio-nio tak enak hati dan terpaksa guru besar Hoa-lian-pai ini turun gunung untuk mencari Souw Teng Wi atau Souw Lee Ing agar sakit hati muridnya dapat terbalas.

Ia terlalu sayang kepada muridnya itu.

Akan tetapi, seperti telah dituturkan di bagian depan, tidak saja Lui Siu Nio-nio gagal menolong muridnya mendapatkan kembali Souw Teng Wi atau puterinya, malah Lui Siu Nio-nio bertemu muka dengan Souw Lee Ing dan mendapat malu besar karena alat tetabuhan khim yang juga menjadi senjata istimewa darinya itu rusak sedikit oleh Lee Ing!

Hal ini merupakan sesuatu yang amat merendahkan namanya, maka Lui Siu Nio-nio segera pulang ke Ta-pie-san dan kepada Yap Lee Njo ia menyatakan bahwa ia tidak sanggup membantu muridnya karena kepandaiannya masih terlampau rendah.

Semenjak kekalahannya itu dan semenjak pertemuannya dengan Im-Yang Thian-Cu atau Can Hoat.

yang menolak untuk melanjutkan cita-cita mereka di waktu muda (baca

Jilid sebelumnya), Lui Siu Nio-nio lalu menyembunyikan diri saja di dalam kelenteng Hoa-lian-pai dan bertapa menenteramkan batin dan memperkuat hawa murni.

Sungguh sedikitpun juga wanita sakti ini tak pernah mengira bahwa hari itu perkumpulan dan tempatnya akan mengalami hal-hal hebat yang diakibatkan oleh kedatangan muridnya yang tersayang, Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio dengan puteranya, Siin Hong Lui.

Kedatangan Hui-ouw-tiap di lereng atau dekat kaki Bukit Ta-pie-san disambut dengan girang oleh para anak murid Hoa-lian-pai, akan tetapi para wanita itu menjadi terheran-heran melihat bahwa kedatangan Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio disertai seorang pemuda tampan bersikap aneh yang memanggul tubuh seorang kakek yang tertawa-tawa dan memaki-maki.

Lui Siu Nio-nio yang mendengar laporan tentang kedatangan muridnya segera keluar.

Yap Lee Nio cepat menjatuhkan diri berlutut di depan gurunya.

"Teecu. datang mengganggu, harap niocu sudi memaafkan. Teecu datang beserta putera teecu yang berhasil membekuk musuh besar, Souw Teng Wi."

Lui Siu Nio-nio mengerutkan kening melirik ke arah pemuda itu.

Sim Hong Lui sama sekali tidak memperlihatkan sikap menghormat kepada guru ibunya itu, malah ia melemparkan tubuh Souw Teng Wi ke atas lantai lalu mengebut-ngebut pakaiannya, membersihkannya dari debu.

Debu dari pakaiannya inengebul ke sana-sini, di antaranya terbang ke arah Lui Siu Nio-nio yang berpakaian bersih sekali.

Para murid Hoa-lian-pai mengerutkan alis dan menggerutu melihat pemuda itu bersikap tidak tahu adat sama sekali.

"Lui-ji, ini adalah Lui Siu Nio-nio, ketua Hoan-lian-pai dan guru ibumu, hayo kau memberi hormat kepada niocu!"

Kata Yap Lee Nio yang merasa jengah juga melihat sikap puteranya itu. Sim Hong Lui tertawa.

"Lui Siu Nio-nio. tuan mudamu datang, tidak lekas-lekas pergi ambil minuman malah berdiri seperti patung. Sungguh tak tahu adat, ...tak tahu adat....!"

Wajah Yap Lee Nio menjadi pucat, juga wajah para anak murid Hoa-lian-pai menjadi merah sekali. Bahkan Lui Siu Nio-nio sendiri berobah air mukanya. Ia melirik ke arah Yap Lee Nio.

"Lee Nio, kau bawa dari mana bocah gila ini. Kalau kau sudah berhasil menangkap Souw Teng Wi, bawalah pergi dari sini, pinni tidak sudi mencampuri lagi. Mengapa kau membawa ke sini bersama anakmu yang berotak miring ini?"

Ketua Hoa-lian-pai sekali pandang saja maklum bahwa putera muridnya itu tidak beres otaknya, maka ia dapat menindas kemarahannya ketika pemuda itu mengeluarkan kata-kata yang tak patut tadi.

Adapun Yap Lee Nio yang ditegur gurunya, hanya bisa menundukkan muka, tak dapat menjawab.

Apa yang harus dijawabnya?

Adalah kehendak Hong Lui maka ia terpaksa mengantar puteranya itu kc Ta-pie-san.

Ibunya tidak menjawab, akan tetapi Sim Hong Lui yang menjawab dengan suara ketawanya yang membikin bulu tengkuk meremang.

"Ha-ha-hi-hi-ha-ha! Nenek-nenek tua, mana anakmu yang baru? Suruh keluar dong, jangan yang tua-tua buruk rupa saja, siapa sudi kepada mereka? Hayo, tuan mudamu sudah haus, haus arak wangi dan haus belaian kasih sayang. Ha-ha-hah!"

Yap Lee Nio menjadi makin pucat, la maklum bahwa kalau puteranya itu sudah angot (kambuh) penyakit gilanya, makin ditentang makin menggila.

Biasanya kalau puteranya itu mengoceh tentang wanita secara tak tahu malu, ia mendiamkannya saja sampai reda kembali.

Pernah ia memaki dan melarangnya, eh, bukannya berhenti malah makin menggila.

Memang Sim Hong Lui pada dasarnya berwatak rendah.

Sudah terlampau banyak ia melakukan kejahatan, sudah terlampau dalam ia terperosok ke dalam lumpur kehinaan.

Dahulu tempat bermainnya adalah tempat-tempat perjudian dan tempat pelacuran, maka sekarang dalam keadaan gila ia masih saja mengoceh tentang tempat pelacuran dan pelbagai kejahatan!

Saking marah dan kagetnya, Lui Siu Nio-nio dan anak-anak muridnya sampai tak dapat mengeluarkan suara apa apa.

Yang menjawab kata-kata ini adalah suara ketawa lain lagi, yang keluar dari mulut Souw Teng Wi.

Juga kakek ini tertawa, terbahak-bahak, biarpun tubuhnya masih lemas di bawah pengaruh totokan namun suara ketawanya keras bagaikan geram seekor harimau jantan.

Sebentar saja ruangan yang biasanya sunyi aman, bersih dan tak pernah didatangi laki-laki, yang selalu hanya berisikan suara-suara nyanyian halus, atau suara-suara doa penuh khidmat, kadang-kadang anak-anak murid Hoa-lian-pai itu juga bergurau akan tetapi dengan suara lemah-lembut, kini penuh oleh dua suara ketawa yang aneh dan sama gilanya dari dua orang laki-laki berotak miring.

Mendengar Souw Teng Wi ketawa.

makin geli hati Hong Lui sampai ia terpingkal-pingkal tertawa dan memegangi perutnya.

Kemudian ia menepuk-nepuk pundak Souw Teng Wi seperti kepada seorang sahabat baik, lalu berkata di antara tawanya.

"Dua orang laki-laki seperti kita dan perempuannya begini banyak. Hayaaa, siapa kuat? Apa lagi perempuannya tua-tua, eh, kakek Souw, kau mau yang mana?"

Lui Siu Nio-nio tidak kuat lagi menahan kemarahannya. Ia melangkah maju sambil menggerakkan senjatanya kembang emas ke arah pundak Sim Hong Lui sambil membentak.

"Bocah tidak sopan, pergi kau dari sini!"

Ilmu kepandaian Lui Siu Nio-nio tinggi sekali senjatanya kembang emas itupun hebat, dimainkannya seperti sebatang pedang.

Mengingat bahwa pemuda itu adalah putera muridnya yang terkasih, ia hanya menyerang pundak untuk menakut-nakuti.

Akan tetapi segera ia mengeluarkan seruan tertahan saking kaget dan marahnya ketika tiba-tiba, dengan gerak tangan yang aneh, pemuda itu tidak saja dapat mengelak, malah hampir berhasil merampas tangkai kembang emas itu kalau saja Lui Siu Nio-nio tidak cepat-cepat menariknya kembali.

"Heh-heh-heh, nenek tua, pergi ke mana? Aku tidak mau pergi, di sini enak banyak perempuannya,"

Jawab Hong Lui yang kumat gilanya.

"Hong Lui....!"

Ibunya membentak, akan tetapi pemuda itu hanya tertawa ha-hah-heh-heh saja, juga Souw Teng Wi tertawa-tawa mendengar ketua Hoa-lian-pai marah-marah.

Lui Siu Nio-nio tak dapat menahan marahnya.

Ia berseru keras dan kini senjatanya kembang emas meluncur cepat melakukan serangan maut ke arah dada Sim Hong Lui.

Yap Lee Nio menjadi pucat.

Serangan gurunya ini hebat bukan main dan di dunia ini tidak banyak orang yang akan dapat menghindarkan diri dari ancaman maut dari serangan itu.

Akan tetapi sambil terkekeh-kekeh aneh dan matanya tetap liar Sim Hong Lui membuat gerakan luar biasa, seperti orang mabok terhuyung-huyung, namun serangan itu menjadi luput.

Lui Siu Nio-nio kaget dan penasaran, terus melakukan penyerangan lanjutan yang bertubi-tubi dan berbahaya.

Akan tetapi sia-sia belaka, setiap kali ujung senjatanya mendekati tubuh pemuda itu, seakan-akan ada semacam hawa ajaib yang menolak senjata itu menyeleweng ke samping.

Pemuda itu tertawa sambil berkata.

"Nenek tua masih banyak lagak, heh-heh-heh!"

Tiba-tiba tangan kirinya menyambar ke arah dada Lui Siu Nio-nio.

Biarpun sudah tua, Lui Siu Nio-nio adalah seorang wanita yang masih gadis, mana ia mau membiarkan tubuhnya tersentuh tangan pria?

Mukanya menjadi merah sekali dan cepat ia menangkis tangan kurang ajar itu dengan kembang emasnya.

Akan tetapi alangkah kagetnya ketika serangan itu hanya pancingan saja karena dalam sekejap mata tangan pemuda itu berubah menjadi cengkeraman ke arah kembang emas dan di lain saat senjata istimewa itu telah berpindah tangan.

Sim Hong Lui menggunakan kedua tangannya menekuk senjata itu sampai menjadi bengkak-bengkok tidak karuan dan menyodorkannya kepada Lui Siu Nio-nio sambil tertawa mengejek!

Belum pernah Selama hidupnya Lui Siu Nio-nio dihina orang seperti ini.

la cepat merenggut alat tetabuhan khim, senjatanya yang luar biasa ini, lalu memukul kepada Hong Lui dengan pengerahan seluruh tenaga lweekangnya.

Hong Lui merendahkan tubuhnya dan kedua tangannya memukul.

"Brakkkkk!!"

Khim itu pecah berantakan dan tubuh Lui Siu Nio-nio sendiri terguling roboh.

Nenek ini bergerak hendak bangun dengan susah payah, wajahnya pucat sekali.

Hong Lui tertawa bergelak dan melompat maju, agaknya hendak memukul.

"Bocah kurang ajar, mundur kau!"

Yap Lee Nio membentak dan melompat di depan puteranya sambil mendorongnya ke belakang.

Menghadapi ibunya, pemuda berotak miring itu tidak melawan, hanya melangkah sambil tersenyum.

Yap Lee Nio hendak menolong gurunya bangun, akan tetapi sekali sampok saja Lui Siu Nio-nio membuat muridnya itu terguling.

Dengan isak tertahan Lui Siu Nio-nio meninggalkan ruangan itu, kepalanya ditundukkan, hatinya patah.

Dua kali ia mengalami kekalahan yang memalukan.

Pertama kali ketika ia kalah oleh Souw Lee Ing, puteri Souw Teng Wi sehingga senjata yang diandalkannya, alat tetabuhan khim itu, putus senarnya.

Akan tetapi kekalahan itu tidak sehebat sekarang ini, senjata kembang emas dirusak, khim-nya hancur, masih dihina lagi oleh seorang pemuda gila seperti putera muridnya itu!

Kalau saja ia bukan seorang wanita tua, tentu ia akan menangis dan bergulingan di atas lantai.

Lui Siu Nio-nio lari ke dalam, kamarnya dan duduk bersila, meramkan matanya, hatinya perih dan tekadnya ingin saat itu mati saja.

Pada saat itu, terdengar teriakan nyaring dari luar, kelenteng.

"Lui Siu Nio-nio! Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio! Kalian keluarlah, aku mau bicara!"

Teriakan ini terdengar ke dalam kelenteng seakan-akan orangnya bicara di dalam, demikian jelas dan bergema, padahal orangnya tidak kelihatan karena berada di luar.

Dari sini saja sudah dapat dibayangkan bahwa orang itu memiliki ilmu mengirim suara dari jauh yang amat hebat.

Kalau Sim Hong Lui tertawa-tawa tidak perdulian mendengar suara ini adalah Yap Lee Nio yang menjadi berubah air mukanya.

"Puteri Souw Teng Wi yang datang itu......"

Katanya.

Mendengar ini, Sim Hong Lui mengeluarkan seruah aneh dan ia melompat keluar dengan kecepatan kilat.

Yap Lee Nio yang dapat menduga bahwa gadis itu tentu datang hendak merampas Souw Teng Wi, cepat menyeret kakek yang masih lumpuh oleh totokan itu ke dalam sebuah kamar tahanan di dalam kelenteng, kamar yang biasa dipergunakan untuk menghukum murid Hoa-lian-pai yang melanggar peraturan atau yang bersalah.

Memang benar dugaan Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio.

Yang datang dan berteriak-teriak di luar kelenteng adalah Souw Lee Ing.

Dengan melakukan perjalanan cepat tak mengenal lelah, akhirnya Lee Ing tiba di depan kelenteng yang merupakan asrama perkumpulan Hoa-lian-pai.

Melihat keadaan kelenteng yang bersih terawat, juga terutama sekali mengingat akan kedudukan Lui Sin Nio-nio yang menjadi ketuanya, Lee Ing tidak mau berlaku lancang.

Maka ia tidak menyerbu ke dalam melainkan berteriak-teriak memanggil keluar Lui Siu Nio-nio dan Yap Lee Nio.

Ketika melihat seorang pemuda aneh yang keluar dari kelenteng, Lee Ing segera mengenalnya.

Akan tetapi alangkah jauh bedanya Hong Lui dahulu dan sekarang.

Wajahnya masih tak berubah, tampan dan gagah seperti dulu akan tetapi kulit muka yang dulu kemerahan itu sekarang menjadi pucat tak berdarah seperti muka mayat.

Mata yang dulu jalang liar itu kini berputaran tidak normal, bibir yang dulu selalu tersenyum memikat sekarang masih tersenyum, akan tetapi senyumnya mengejek dan aneh seakan-akan di balik senyumnya ini terkandung tekanan dan penderitaan batin yang sukar dilukiskan.

Melihat gadis itu, sepasang mata Sim Hong Lui makin cepat berputaran, mulutnya terbuka tertawa, ha-hah-he-heh, lalu berkata dengan suara parau.

"Manisku, kau sudah datang? Ke sinilah, aku memerlukan jantungmu!"

Lee Ing bergidik. Tak salah lagi pandang matanya, pemuda jahat dan ceriwis ini telah menjadi seorang gendeng yang berotak miring.

"Sim Hong Lui, agaknya Thian telah menghukummu karena kejahatanmu sudah melewati batas sehingga kau menjadi gila,"

Katanya perlahan. Kemudian ia melihat Yap Lee Nio muncul dari pintu, segera Lee Ing membentak.

"Hui-ouw-tiap, kau bawa ke mana ayahku?"

Yap Lee Nio sudah mengenal kelihaian gadis itu maka ia tidak berani mendekat, juga tidak menjawab, hanya memandang ke arah puteranya yang gila.

Biarpun sudah gila, nyonya ini maklum akan kehebatan kepandaian puteranya itu, maka ia mengandalkan kepada Hong Lui untuk menghadapi Lee Ing.

Jangan berpura-pura tuli dan gagu, hayo katakan di mana ayahku!"

Lee Ing membentak lagi dan tubuhnya melayang ke arah Yap Lee Nio untuk menangkap wanita itu.

Akan tetapi tiba-tiba ia mendengar suara ketawa aneh di belakangnya dan tahu-tahu lengannya ada yang memegang dari belakang sehingga ia terpaksa memutar tubuh dan membatalkan niatnya menangkap Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio.

"Manisku, jangan ganggu ibuku!"

Kata Hong Lui yang telah memegang lengan Lee Ing dari belakang sambil menarik gadis itu.

Lee Ing memutar tubuh, membetot lengan yang terpegang sambil mengirim pukulan langsung ke arah lambung.

Inilah serangan yang luar biasa hebatnya dan kalau orang tidak memiliki kepandaian tinggi sekali pasti akan roboh oleh pukulan aneh dan dahsyat ini.

Akan tetapi pemuda gila itu benar-benar habat Dengan gerakan tubuh sama anehnya, seperti orang sakit ayan sedang kumat, tiba-tiba tubuhnya limbung dan kejang, kedua tangannya menegang ke depan melindungi lambungnya dan.....

serangan Lee Ing dapat ditangkisnya dengan baik sekali!

Lee Ing terkejut, membelalakkan kedua matanya.

la mengenal betul gerakan pemuda tadi.

Itulah gerakan yang disebut "Si Gila Mengusir Iblis"

Semacam gerak tipu dari ilmu silat warisan Bu-Beng Sin-Kun yang terdapat di gua Siluman!

Bagaimana pemuda ini dapat melakukan gerakan itu?

Padahal gerakan ini termasuk gerakan yang paling sulit dan hanya dapat dilakukan oleh orang yang telah belajar di dalam gua itu seperti dia sendiri.

Ayahnya saja kiranya belum dapat melakukan gerakan ini!

la menjadi penasaran dan terus menyerang Sim Hong Lui dengan ilmu pukulan-ilmu pukulan terhebat dari dalam Gua Siluman, pukulan-pukulan yang belum pernah ia keluarkan.

Maka terlihatlah Lee Ing seperti seorang mabok menari-nari, atau seperti seorang gila mengamuk, tubuhnya berputaran, berjungkir-balik, jongkok berdiri melompat ke sana ke mari, akan tetapi semua gerakannya mengandung daya serangan yang hebat, menimbulkan angin pukulan yang membuat Yap Lee Nio cepat-cepat pergi menjauhkan diri karena tidak kuat berada dekat tempat pertempuran itu.

Lee Ing mengeluarkan seruan kaget sekali ketika ia melihat betapa pemuda itu benar-benar telah menghadapinya dengan ilmu silat yang sama.

Malah pemuda itu menggunakan Ilmu Silat Gua Siluman dengan hawa pukulan yang aneh dan amat jahat untuk membalasnya.

Karena ketika mempelajari ilmu silat peninggalan Bu-Beng Sin-Kun itu Lee Ing berada dalam keadaan waras, maka yang memasuki tubuhnya adalah hawa murni yang bersih.

Sebaliknya, hawa pukulan pemuda ini mengandung hawa yang kotor dan dahsyat, benar-benar merupakan pukulan-pukulan iblis yang mengandung bahaya maut.

Lee Ing terdesak hebat!

Hong Lui terkekeh-kekeh sambil mendesak terus.

Lee Ing penasaran sekali.

Untuk mencabut Li-lian-kiam dan menggunakan pedang itu, ia merasa malu.

Pemuda gila itu bertangan kosong, masa ia harus menggunakan pedang?

Masa melawan pemuda gila ini saja ia akan kalah, biarpun andaikata pemuda itu pernah mempelajari ilmu silat peninggalan Bu-Beng Sin-Kun sekalipun?

Lee Ing mengertak gigi dan mengerahkan seluruh kepandaiannya, menerjang pemuda itu.

Baru kali ini selama keluar dari Gua Siluman ia mempergunakan semua ilmu silat yang dipelajarinya.

la merasa girang ketika melihat pemuda itu berkurang daya serangannya.

Bagaimanapun juga, kepandaiannya lebih matang, pikirnya.

Hanya yang ia herankan, ilmu silat warisan Bu-Beng Sin-Kun yang diukir di atas dinding batu.

Ketika mendapat kesempatan baik, tiba-tiba Lee Ing menggunakan semacam pukulan dengan kedudukan kaki tangan yang amat aneh, tangan kiri menggaruk ke atas tangan kanan menepuk-nepuk lantai.

Inilah ilmu silat tangan kosong dengan gerakan Lo-thian-tong-te (mengacau Langit Menggetarkan Bumi) yang merupakan kunci terakhir dari Ilmu Silat Thian-te-kun peninggalan Bu-Beng Sin-Kun, gerakan paling hebat yang baru dapat ditemui atau dipecahkan rahasianya oleh Lee Ing setelah ia melihat kedudukan kaki tangan rangka guru besar itu (baca

Jilid sebelumnya).

Memang Lee Ing cerdik sekali.

Ketika bertempur sampai puluhan jurus, otaknya bekerja dan ia menjadi yakin bahwa entah secara bagaimana, pemuda gila ini tentu telah berhasil memasuki Gua Siluman dan mempelajari ilmu silat aneh itu.

Akan tetapi ia teringat bahwa ia telah mengubur rangka gurunya sehingga orang lain takkan mungkin dapat memecahkan rahasia gerakan Lo-thian-tong-te itu.

Maka ia mempergunakan ilmu silat ini untuk menghantam Sim Hong Lui.

Ternyata akalnya berhasil baik.

Menghadapi gerakan yang belum dipelajarinya ini, Hong Lui terkejut sekali, gerakan tangan kakinya kacau.

Ia mengeluarkan pekik aneh, agaknya ia mengenal gerakan Lee Ing yang membingungkan akan tetapi tak dapat ia elakkan ini.

Pundaknya terpukul dan pemuda gila itu terjungkal dan merintih-rintih.

Souw Lee Ing menjadi girang sekali.

Selagi ia hendak mengirim pukulan terakhir untuk melenyapkan pemuda gila yang amat berbahaya ini, tiba-tiba ia mendengar seruan Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio.

"Souw Lee Ing, kau lihat siapa ini? Kalau kau tidak melepaskan anakku, aku akan membunuh ayahmu!"

Lee Ing cepat menengok dan apa yang dilihatnya membuat kedua kakinya terasa lemas tak bertenaga lagi.

Ayahnya rebah di dekat kaki Hui-ouwtiap Yap Lee Nio, rebah tidak berdaya seperti orang kehabisan tenaga, sedangkan Hui-ouw-tiap yang memegang pedang menodongkan ujung pedangnya di leher ayahnya.

Orang tuanya kelihatan amat sengsara, matanya yang sudah lenyap bijinya itu kelihatan cowong menghitam, mukanya kotor, rambutnya awut-awutan, tubuhnya kurus, akan tetapi anehnya, ayahnya masih mengeluarkan suara ketawa-tawa perlahan.

Hancur hati Lee Ing menyaksikan keadaan ayahnya yang tercinta itu.

Air mata bercucuran dari kedua matanya.

"Ayah...."

Mendengar suara ini. Souw Teng Wi menggerakkan lehernya, matanya yang buta seakan-akan sedang mencari-cari.

"Namilana...."

Bibirnya bergerak lemah.

"Ayah, aku Souw Lee Ing, anakmu.......! Jangan khawatir, ayah. Aku datang untuk menolongmu."

Sudah tegang seluruh urat dalam tubuh gadis ini untuk menerjang Hui-ouw-tiap dan puteranya. Kemarahannya memuncak.

"Souw Lee Ing, jangan bergerak. Sedikit saja . kau bergerak, pedangku akan menembusi leher ayahmu!"

Bentak Hui-ouw-tiap, matanya tajam memandang gadis itu, ancamannya bukan main-main.

Souw Lee Ing ragu-ragu.

Sementara itu, Souw Teng Wi yang mendengar suara anaknya ini, tiba-tiba awan gelap yang menyelubungi ingatannya buyar dan ia mulai teringat.

"Lee Ing.... anakku...... ah, anakku sayang..."

Kakek buta ini mencoba untuk berdiri, akan tetapi oleh karena jalan darah di punggungnya sudah ditotok, ia roboh lagi.

"Ayah...."

Lee Ing melangkah maju.

"Berhenti kau! Kalau tidak dia kubunuh!"

Bentak Hui-ouw-tiap, tetap menodongkan pedang pada leher Souw Teng Wi.

Akan tetapi Lee Ing maju terus, mengira bahwa itu hanya gertak belaka.

Manusia mana tega membunuh seorang kakek yang sudah buta dan keadaannya demikian lemah seperti ayahnya.

Akan tetapi alangkah terkejutnya ketika Hui-ouw-tiap benar-benar menggerakkan pedang menusuk leher Souw Teng Wi.

Kakek buta ini tinggi sekali kepandaiannya akan tetapi totokan yang dilakukan oleh Sim Hong Lui hebat bukan main.

Ia mencoba untuk mengelak, namun sia-sia.

Terdengar suara "cesss.."

Dan darah muncrat keluar dari leher kakek tua itu yang roboh miring! "Ayaaaahhhh....!"

Souw Lee Ing menjerit nyaring sekali. Tubuhnya mencelat ke depan dan kedua tangannya digerakkan.

"Krakkk!"

Pedang di tangan Hui-ouw-tiap patah-patah terkena benturan lengannya, kemudian kedua tangannya bergerak maju menghantam.

"Krek! Krek!"

Dua kali tangan Lee Ing menghantam kepala Yap Lee Nio dan nyonya itu terjungkal roboh, kepalanya pecah dan mati di saat itu juga.

Gadis itu tidak memperdulikan korbannya lagi, terus saja berlutut di dekat ayahnya yang masih rebah miring dengan leher bercucuran darah.

"Ayah..."

Souw Teng Wi membuka mulutnya, bibirnya bergerak-gerak. Dalam saat-saat terakhir dari hidupnya ia benar-benar waras, pikirannya jernih. Ia tersenyum.

"Lee Ing anakku.... kau hendak menyusul ibumu.... kau....kau...."

"Ayah, jangan tinggalkan aku.... aku belum sempat berbakti kepadamu!"

Lee Ing menahan tangisnya. Souw Teng Wi tersenyum.

"Negara ayahmu, tanah air ibumu, berbaktilah kepada mereka..... bantu rakyat..... aahhhh....."

Souw Teng Wi menghembuskan napas terakhir dalam pelukan puterinya.

"Ayaaaaah..."

Saking sedih dan marahnya, Lee Ing pingsan di samping jenazah ayahnya!

Ketika siuman kembali, Lee Ing sudah mendapatkan dirinya terikat pada sebuah tiang besar di belakang kelenteng.

Kedua tangannya dibelenggu ke belakang, juga kedua kakinya dibelenggu, diikat ke tiang itu.

Pada pinggangnya juga terdapat ikatan belenggu besi yang tebal dan kuat sekali.

Gadis ini siuman dalam keadaan lemah dan tahulah ia bahwa jalan darah thian-hu-hiat di tubuhnya ditotok orang.

Akan tetapi hal ini bukan apa-apa baginya.

Ia memejamkan mata, menahan napas dan menyalurkan sinkang di tubuhnya.

Dalam sekejap mata saja ia berhasil mempergunakan hawa murni mendesak pengaruh totokan dan jalan darahnya pulih kembali seperti biasa.

Inilah ilmu membuka jalan darah dari dalam yang ia pelajari di dalam Gua Siluman.

Akan tetapi, biarpun ia sudah bebas dari totokan dan tubuhnya tidak lemas lagi, tetap saja ia tidak mampu bergerak, tidak mungkin melepaskan diri dari belenggu besi sekuat itu.

Kalau tidak terikat kedua tangannya ke belakang, kiranya ia masih sanggup mematahkan belenggu.

Akan tetapi kedua tangannya diikat ke belakang, jari-jari tangannya tak bisa berbuat apa-apa.

Ketika ia melirik ke bawah, di depannya dipasangi meja kecil dan di atas meja itu terdapat hio yang sudah dinyalakan.

Tentu belum lama ini ada orang bersembahyang di situ.

Ia teringat lagi.

Siapa lagi kalau bukan Sim Hong Lui pemuda gila itu yang bersembahyang?

Lee Ing diam-diam bergidik, la dapat menduga apa maksudnya.

Tentu ia dijadikan semacam hidangan, dijadikan semacam "samseng"

Untuk korban sembahyangan.

Mudah diduga bahwa pemuda edan itu menyembahyangi arwah ayah bundanya dan ia sengaja diikat di dekat meja sembahyang agar ayah bunda pemuda edan itu dapat melihat dari alam baka dan dapat tertebus penasarannya.

Lee Ing lalu teringat kepada ayahnya dan air matanya mengucur deras, la tidak memperdulikan nasib sendiri, akan tetapi mengingat kematian ayahnya ia menjadi berduka bukan main.

Dari duka yang menghebat timbul kemarahan dan sakit hatinya.

"Keparat Hong Lui! Awas kau kalau aku bisa terlepas!"

Gerutunya dan Lee Ing mengusir segala kedukaan yang melemahkan. Ia mengerahkan tenaganya, memeramkan mata mengumpulkan semangat.

"Aku harus dapat mematahkan belenggu ini..."

Pikirnya.

Ia hendak mempergunakan segenap tenaga sinkang yang berada di tubuhnya dan ia percaya akan dapat berhasil mematahkan belenggu.

Akan tetapi tiba-tiba ia merasa betapa semangatnya buyar, hidungnya mencium keharuman yang memuakkan berbareng memabokkan la membuka mata dan melihat asap hio di atas meja itu mengebul.

Kening gadis ini berkerut.

Tentu bukan sembarang hio.

Asapnya bukan asap biasa, melainkan asap yang mengandung pengaruh memabokkan.

Celaka, pikirnya gelisah.

Pemuda edan itu ternyata telah mempergunakan hio yang dicampuri obat berbisa sehingga asapnya mengandung racun, memabokkan dan tak mungkin ia mengerahkan segenap sinkang di tubuhnya.

Asap itu menyiarkan bau yang mengacau semangatnya.

Lee Ing menjadi bingung.

Ia maklum bahwa kalau ia tidak dapat melepaskan diri, ia tentu akan menjadi korban pemuda gila itu.

Tiba-tiba terdengar orang tertawa terkekeh-kekeh.

Sim Hong Lui muncul di depannya sambil tersenyum mengerikan, seperti senyum sebuah mayat hidup.

Wajah pemuda itu pucat sekali.

Matanya kemerahan dan liar berputar.

Lee Ing memandang dengan tabah, sedikitpun tidak gentar.

Akan tetapi ia merasa jijik melihat pemuda ini.

Apa lagi pada saat itu kegilaan Sim Hong Lui memuncak.

Mulutnya mengeluarkan sedikit busa dan senyumnya makin mengerikan.

Melihat munculnya pemuda ini, ia teringat akan kepandaian pemuda gila ini.

Tak salah lagi, tentu pemuda ini telah berhasil memasuki Gua Siluman dan telah mempelajari ilmu peninggalan Bu-Beng Sin-kun, biarpun cara mempelajarinya hanya mengambil bagian yang penuh hawa jahat saja.

"Heh-heh-heh, Souw Lee Ing. Sekarang akulah orang paling pandai di dunia ini! Hah-hah-hah!"

Melihat pemuda itu tertawa-tawa sambil memandang ke atas, Lee Ing makin benci. Akan tetapi ia menahan kemarahannya karena timbul keinginan hatinya untuk mengetahui apakah dugaannya tadi betul.

"Sim Hong Lui. kau memang memiliki kepandaian tinggi. Akan tetapi, kepandaianmu itu hanya kepandaian yang kau curi di Gua Siluman. Betul tidak?"

Berubah wajah Hong Lui mendengar disebutnya Gua Siluman.

"Mencuri? Kau gila! Akulah murid Gua Siluman, aku yang mewarisi kepandaian mujijat. Aku seorang, ha ha-ha, kalian ayah dan anak she Souw tidak akan menjadi saingan lagi! Kau tahu apa yang hendak kulakukan padamu? Lihat ini!"

Pemuda itu mengeluarkan sebilah pisau yang berkilauan saking tajamnya.

"Sekarang masih terlalu pagi. Nanti menjelang tengah hari, di bawah sinar matahari yang menjadi saksi, aku akan belek dadamu, kukeluarkan jantungmu dan kumakan mentah-mentah. Ha-ha-ha, dengan demikian hatimu selamanya akan menjadi milikku, aku dapat membalaskan sakit hati ayahku, dan kau takkan lagi menjadi sainganku. He-he-he!"

"Sim Hong Lui, kau bukan murid Gua Siluman, kau hanya pencuri hina dina! Kau tidak berhak mengaku menjadi murid suhu Bu-Beng Sin-Kun, karena suhu Bu-Beng Sin-Kun adalah seorang pendekar besar, tidak patut mempunyai murid seperti engkau seorang pengecut besar!"

"Eh....eh.....kau bilang apa? Aku pengecut?"

Pemuda edan itu melangkah dekat sampai mukanya hampir menyentuh muka Lee Ing, membuat gadis itu meramkan mata saking jijiknya.

Akan tetapi ia tidak hendak memperlihatkan takutnya, ia membuka kembali matanya dan meludahi muka di depannya itu.

Hong Lui mengelak dan tertawa-tawa.

"Memang kau pengecut! Kalau kau memang jantan, mengapa kau menangkap aku selagi aku pingsan? Hayo kau coba buka belenggu ini dan kita bertempur untuk membuktikan siapa murid Bu-beng Sin-kun yang sejati!"

Sim Hong Lui menggerakkan tangannya yang memegang pisau ke arah ulu hati di dada Lee Ing.

Gadis itu merasa betapa bajunya tertembus ujung pisau dan kulit dadanya tersentuh benda runcing itu, maka tahulah ia bahwa saat kematiannya sudah tiba.

la tidak berdaya, maka ia meramkan mata sambil menanti maut.

Akan tetapi pisau itu ditarik kembali dan terdengar suara Hong Lui mengejek.

"Kau sudah tertawan, berarti kau sudah kalah. He-he-he, mana bisa kau menangkan aku yang sudah menjadi murid Raja Siluman di Gua Siluman? Ha-ha-ha, sungguh lucu... sungguh mengerikan... hiiii... menakutkan sekali!"

Sim Hong Lui tiba-tiba mundur-mundur dan menutupi mukanya dengan kedua tangan.

"Takut, takut... iblis dan siluman mengamuk...."

Lee Ing membuka matanya dan memandang penuh perhatian kepada pemuda itu.

Sim Hong Lui berubah seperti seorang bocah kecil yang takut di waktu malam gelap, mengoceh tentang setan dan iblis.

Kemudian dengan suara pelahan sekali pemuda ini mengoceh terus, menceritakan pengalaman pengalaman hebat di dalam Gua Siluman.

Dari ocehan yang tidak karuan ini akhirnya Lee Ing dapat mengetahui bahwa dugaannya memang tepat.

Sebelum ayahnya berhasil memasuki Gua Siluman dan membuka rahasia pusaka Gua Siluman itu kepadanya, ternyata ayah pemuda ini, Sim Kang, sudah mendengar tentang Gua Siluman yang aneh itu, malah sudah mencari-cari namun tidak berhasil.

Kemudian melihat kepandaian hebat dari Souw Teng Wi, Sim Kang dan Sim Hong Lui menjadi makin tergerak hatinya ingin mencari Gua Siluman.

Setelah Sim Kang tewas oleh Souw Teng Wi dan Sim Hong Lui terpaksa melompat ke dalam laut (baca

Jilid sebelumnya), pemuda ini menjadi begitu prihatin dan sakit hati sehingga ia mati-matian mencari Gua Siluman.

Atas petunjuk ibunya yang menyatakan bahwa Souw Lee Ing telah menjadi seorang sakti setelah lenyap di daerah pegunungan Gua Siluman.

Akhirnya setelah melakukan perantauan di daerah liar itu sampai lama, tidak perduli lagi akan lapar dan lelah, pemuda yang sudah nekat ini akhirnya dapat menemukan Gua Siluman!

Ia memasuki gua itu dan alangkah girangnya ketika mendapatkan pelajaran-pelajaran aneh dan sakti di dalam gua.

Akan tetapi dasar wataknya sudah bejat dan pikirannya tidak bersih, ia tidak kuat menahan godaan di dalam gua.

tidak kuat melawan hawa iblis yang memang terdapat di dalam gua itu sehingga biarpun ia berhasil mempelajari ilmu-ilmu vang aneh, ia telah menjadi gila.

Kegilaannya malah melebihi Souw Teng Wi dan pemuda ini seakan-akan telah berubah menjadi iblis sendiri!

Setelah mengoceh dan tanpa disadari membuka rahasia, Sim Hong Lui lalu bangun berdiri, mengacung-acungkan pisaunya ke arah Lee Ing sambil berkata.

"Kau tunggu saja sampai tiga hari, sampai matahari muncul seterangnya dan tidak ada iblis menggangguku. aku akan makan jantungmu mentah-mentah."

Pemuda itu lalu memandang ke angkasa dan mulutnya berkemak-kemik. Lee Ing mendengar ia berkata perlahan.

"Ayah, ibu, tunggulah sebentar lagi. Nanti anak akan membelek dada gadis ini, makan jantungnya, membelek perutnya, menarik semua isi perutnya supaya dimakan anjing. Baru ayah dan ibu puas!"

Setelah itu, pemuda gendeng itu lalu berlari-lari pergi memasuki kelenteng.

Segera terdengar jerit dan kekacauan di dalam kelenteng karena anak-anak murid Hoa-lian-pai dikejar-kejar oleh pemuda gila ini!

Lee Ing bergidik.

Biarpun ia mempunyai nyali baja dan tidak takut sama sekali menghadapi maut dan bahaya apapun, menghadapi kegilaan pemuda yang menjijikkan itu meremang bulu tengkuknya.

Akan tetapi ia tidak putus asa.

la masih mempunyai waktu sedikit lagi.

Dicobanya lagi untuk mengerahkan tenaga dalamnya dan mematahkan belenggu kaki tangannya.

Akan tetapi asap celaka itu masih saja menguasainya, membuat semangatkacau dan lemah sehingga tidak mungkin ia dapat memusatkan panca inderanya untuk membangkitkan sinkang di tubuh.

Tiba-tiba ia melihat bayangan berkelebat dan seorang tosu yang memegang kipas mendatangi tempat itu.

Berdebar hati Lee Ing, penuh harapan.

Tosu itu bukan lain adalah Im-yang Thian-cu, guru Liem Han Sin!

Ia tahu bahwa tosu ini adalah seorang simpatisan Tiong-gi-pai dan karenanya tentu akan suka menolongnya.

Im-yang Thian-cu cepat menghampirinya dan berkata lirih.

"Sudah sejak tadi pinto mengintai. Nona yang begini gagah mengapa sampai bisa tertawan?"

"Aku tertawan oleh kecurangan Sim Hong Lui. Totiang harap sudi menolongku sedikit, buang dan padamkanlah hio menyala ini."

Im yang Thian-cu yang telah berpengalaman tahu bahwa hio itu mempunyai pengaruh buruk terhadap diri Lee Ing, maka dengan kipasnya ia mengebut sehingga tidak saja hio itu padam, malah meja-mejanya sekalian ikut terbang terpental jauh!

Kemudian kakek ini inencoba untuk mematahkan belenggu, namun sia-sia.

Belenggu itu terlampau kuat.

"Harap totiang mundur, biar kucoba mematahkan belenggu ini!"

Seru Lee Ing yang kini sudah dapat membebaskan diri dari pengaruh asap hio tadi.

Gadis ini meramkan mata mengumpulkan napas memusatkan hawa murni di tubuhnya, lalu mengerahkan tenaga dalamnya ke arah kedua lengan yang diikat ke belakang.

Terdengar suara "krek-krek-krek!"

Dan tak lama kemudian putuslah rantai besi tebal itu! "Hebat..!"

Kata Im-yang Thian-cu memuji.

"Nona, pinto benar-benar kagum melihat kepandaianmu. (Lanjut ke

Jilid 23) Pusaka Gua Siluman (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 23 Akan tetapi lihat, di kelenteng ini tentu akan terjadi hal-hal hebat. Pinto terpaksa harus pergi dulu menolong ketua Hoa-lian-pai."

Sambil menunjuk ke arah belakang kelenteng, Im-yang Thian-cu lalu melompat pergi.

Lee Ing menengok dan melihat api berkobar-kobar di sebelah belakang kelenteng, kemudian di sebelah kanan kiri kelenteng itu.

Nampak anak murid Hoa-lian-pai berlari ke sana ke mari berusaha memadamkan api.

Di antara sinar api yang berkobar-kobar Lee Ing melihat beberapa orang laki-laki bertempur dengan anak murid Hoa-lian-pai dan kagetlah hati Lee Ing ketika mengenal orang-orang itu sebagai anggauta-anggauta pasukan kerajaan, yaitu para pasukan pengawal yang dulu pernah dipimpin oleh Tok-ong Kai Song Cinjin dan kawan-kawannya.

Akan tetapi Lee Ing tidak perdulikan itu semua.

Pada saat itu, keinginan hatinya hanya satu, ialah mencari Sim Hong Lui dan membalas penghinaan pemuda gila itu.

la meraba pinggangnya.

Untung baginya, pemuda gila itu tidak merampas pedang Li-lian-kiam yang dilibatkan di pinggang.

Lee Ing mencabutnya, kini ia tidak akan ragu-ragu lagi untuk mempergunakan pedang pusaka itu guna menewaskan Sim Hong Lui, pemuda gila yang lihai itu.

Apakah sebetulnya yang terjadi dan mengapa terbit kebakaran di Kelenteng Hoa-lian-pai?

Seperti diketahui, Auwyang Tek yang cepat menyuruh Ouw Bin Hosiang memberi tahu tentang terculiknya Souw Teng Wi kepada kaki tangannya di kota raja setelah ia sendiri membunuh Bu Lek Hwesio, tidak membuang waktu lagi, langsung ia menyusul pula ke Ta-pie-san.

Rombongan kaki tangannya terdiri dari Ma-thouw Koai-tung Kui Ek, Toat-beng-pian Mo Hun dan jagoan-jagoan lain telah menunggu di sebelah barat kota raja, lalu mereka berangkat bersama merupakan rpmbongan terdiri dua puluh orang lebih.

Tok-ong Kai Song Cinjin tidak ikut, menjaga di kota raja karena dianggapnya tidak perlu menggunakan tenaga terlalu kuat untuk menyerbu tempat seperti itu saja.

Ketua Hoa-lian-pai, Lui Siu Nio-nio, cukup dihadapi oleh Kui Ek atau Mo Hun.

Kebetulan sekali di tengah jalan rombongan ini dilihat oleh Pek Mao Lojin dan Im-yang Thian-cu.

Dua orang tokoh kang-ouw ini tentu saja timbul curiganya melihat rombongan Auwyang Tek yang jahat ini menuju ke Ta-pie-san.

Apa lagi karena Im-yang Thian-cu mengkhawatirkan keselamatan bekas kekasih dan sumoinya, Lui Siu Nio-nio yang menjadi ketua Hoa-lian pai di Ta-pie-san, melihat rombongan ini lalu cepat mengajak Pek Mao Lojin mengikuti rombongan ini dengan diam-diam.

Ketika dua orang kosen ini betul melihat rombongan itu mendatangi Hoa-lian-pai, Im-yang Thian-cu lalu mengambil jalan dari belakang untuk menemui Lui Siu Nio-nio sedangkan Pek Mao Lojin terus mengikuti rombongan itu dengan diam-diam.

Demikianlah, lm-yang Thian-cu yang mengambil jalan dari belakang itu kebetulan sekali dapat menolong Lee Ing.

Ketika melihat pemuda gila itu di sana, Im-yang Thian-cu tidak berani secara lancang turun tangan.

Sebagai seorang kang-ouw yang berpengalaman ia dapat menduga bahwa biarpun gila, pemuda itu tentu lihai sekali kalau ia sudah berhasil menawan Lee Ing.

Memang perhitungannya ini tepat.

Kalau ia siang-siang muncul dan tidak dapat menahan kemarahannya lalu menyerang Sim Hong Lui, kiranya bukan saja Lee Ing takkan tertolong, malah dia sendiri tentu akan roboh oleh pemuda gila yang luar biasa itu.

Sementara itu, Pek Mao Lojin melihat bagaimana begitu datang di kelenteng, kaki tangan Auwyang Tek segera berteriak-teriak minta supaya Souw Teng Wi diserahkan.

Beberapa orang anak murid Hoa-lian-pai keluar melakukan perlawanan dan segera terjadi pertempuran.

Auwyang Tek segera memerintahkan anak buahnya yang lain, dipimpin oleh dia sendiri dan Mo Hun serta Kui Ek, untuk menggeledah ke dalam kelenteng.

Malah ia menyuruh bakat bagian-bagian kelenteng, untuk memancing keluar Souw Teng Wi.

Melihat perbuatan kaki tangan Auwyang Tek, kakek botak Pek Mao Lojin tak dapat menahan kesabarannya lagi.

Ia melompat keluar dari tempat persembunyiannya dan menyerbu, membantu para anak murid Hoa-lian-pai menghantam pasukan pengawal kerajaan itu.

Pertempuran menjadi makin hebat.

Ketika Pek Mao Lojin melihat Auwyang Tek dan jago-jagonya masuk ke dalam, iapun mengejar.

Kakek botak ini betapapun juga tidak ingin melihat pahlawan rakyat Souw Teng Wi terjatuh ke dalam tangan Auwyang Tek Memang ia kurang perduli tentang perjuangan Tiong-gi-pai, akan tetapi ia masih tahu membedakan mana patriot mana pengkhianat, mana pahlawan mana anjing penjilat menteri-menteri durna yang tak segan-segan menjual negara dan bangsa demi kepentingan golongan sendiri.

"Pemberontak Souw Teng Wi berada di dalam kamar ini!"

Terdengar seruan Mo Hun, manusia iblis yang bersenjata pian kelabang itu.

Akan tetapi maklum betapa lihainya Souw Teng Wi, manusia pengecut ini hanya berteriak-teriak dan tidak berani menyerbu masuk, la tadi menggunakan kekerasan, memaksa seorang anak murid Hoa-lian-pai mengaku.

Karena disiksa, anak murid ini berterus terang bahwa Souw Teng Wi berada di kamar itu.

Memang ia tidak membohong dan tadi ia melihat bagaimana Sim Hong Lui memanggul tubuh kakek itu dan meninggalkannya di dalam kamar ini.

"Bakar ruangan ini, paksa dia keluar!""

Auwyang Tek berteriak-teriak pula memberi perintah.

Sebentar saja ruangan ini menjadi korban api.

Pada saat itu, Pek Mao Lojin menyerobot memasuki pintu yang sudah dijilat api.

Kakek ini nekat masuk untuk menolong Souw Teng Wt dari korban api.

Sungguh perbuatan yang amat berani dan patut dipuji.

Melihat hal yang tidak disangka-sangka ini, Auwyang Tek dan kaki tangannya untuk sejenak menjadi bengong.

"Bagus, biar kakek botak itu menjadi hangus. Kepung kamar ini, jangan perbolehkan dia keluar. Kalau Souw Teng Wi yang keluar, tangkap hidup-hidup!"

Auwyang Tek memberi perinlah pula.

Akan tetapi, apa yang dilihat oleh Pek Mao Lo-jin di dalam ruangan yang ternyata amat luas itu, sama sekali bukan Souw Teng Wi, melainkan....

Im-yang Thian-cu yang berlutut df dekat tubuh Lui Siu Nio-nio yang duduk bersila dalam keadaan...

tak bernyawa pula!

Ternyata bahwa saking sedih dan malunya, maklum pula bahwa kali ini nama baik dan nama besar Hoa-lian-pai akan rusak oleh Hui-ouw-tiap dan puteranya, ketua Hoa-lian-pai ini mengambil keputusan pendek dan mengakhiri hidupnya dengan jalan menelan napasnya sendiri, la mati dalam keadaan duduk bersila.

Demikianlah Im-yang Thian-cu mendapatkan bekas kekasihnya dan dapat dibayangkan betapa duka dan pedih hati kakek ini, penuh rasa kasihan kepada sumoinya.

"Im-yang Thian-cu, apa yang terjadi?"

Pek Mao Lojin menegur dengan penuh keheranan. Im-yang Thian-cu seakan-akan baru sadar dari mimpi buruk, la bangkit dan cepat mengeluarkan kipas dan pilnya, sepasang senjatanya yang amat ampuh.

"Pek Mao, Lui Siu Nio-nio telah tewas. Hoa-lian-pai kedatangan iblis-iblis jahat...."

"Souw-taihiap di mana...?"

"Juga sudah tewas, kumelihat tadi mayatnya di kamar sebelah. Iblis dan setan merajalela, kewajiban kita untuk menentangnya!"

Setelah berkata demikian, Im Yang Thian-cu dengan kemarahan meluap-luap menerjang keluar pintu yang sudah ambruk daunnya karena dimakan api.

Ia disambut oleh dua orang kaki tangan Auwyang Tek.

akan tetapi dua orang itu segera terjungkal terkena to-tokan pit di tangan kanan Im-yang Thian-cu yang sudah rusak hatinya dan marah sekali melihat bekas sumoinya mati.

"Tar-tar-tar! Im-yang Thian-cu, akulah mu-siihmul"

"Toat-beng-pian Mo Hun manusia berhati iblis. Siapa takut padamu?"

Bentak Im-yang Thian-cu dan terjadilah pertempuran yang amat dahsyat di tempat yang sudah penuh oleh asap dan api itu.

Pek Mao Lojin maklum bahwa melawan musuh tangguh dari depan dan diancam api dari belakang, mereka berdua takkan dapat menang.

Kebetulan sekali ia melihat gentong besar tempat air di ruangan itu, yaitu persediaan air untuk ketua Hoa-lian-pai.

la segera menenggak habis kedua guci araknya yang merupakan senjatanya yang istimewa.

Benar-benar hebat kakek ini.

Dua guci arak yang masih setengahnya berisi arak itu ditenggak habis dua kali saja, la sama sekali tidak menjadi mabok.

malah bertambah-tambah semangatnya.

Cepat sekali ia mengisi guci-guci arak itu dengan air dan menyirami api yang mulai memakan segala apa yang terbuat dari pada kayu di ruangan itu.

la mengerahkan tenaga Iweekangnya, air dari guci menyambar dengan kuat dan daya pemadamnya melebihi air berpuluh ember!

Sementara itu Im-yang Thian-cu juga masih melawan mati-matian terhadap serangan Toat-beng-pian Mo Hun dan di belakang Mo Hun ini sudah kelihatan Ma-thouw Koai-tung Kui Ek yang hendak mengeroyok.

Baiknya asap dan api menjadi penghalang, sehingga untuk sementara Im-yang Thian-cu hanya menghadapi seorang musuh saja.

Akan tetapi Im-yang Thian-cu maklum bahwa biarpun berkat ketangkasan Pek Mao Lojin mereka berdua selamat dari ancaman api, namun fihak lawan di depan terlampau banyak dan terlampau kuat.

Diam-diam ia merasa heran sekali mengapa sampai begitu lama Lee Ing tidak muncul?

Kalau gadis itu datang membantu, ia tidak usah khawatir lagi, tentu mereka bertiga akan sanggup mengusir musuh.

Ke mana perginya Lee Ing?

Gadis ini setelah berhasil mematahkan rantai yang membelenggu tubuhnya, segera lari pula mencari Sim Hong Lui.

Juga ia hendak mencari dan menegur Lui Siu Nio-nio yang agaknya membantu muridnya, Hui-ouw-tiap melakukan penculikan atas diri ayahnya.

Lee Ing juga melihat adanya kebakaran di kelenteng dan melihat pula betapa Auwyang Tek dan kaki tangannya menggempur anak buah Hoa-lian-pai.

la tersenyum getir, hatinya sudah dilukai oleh Hoa-lian-pai dengan adanya Yap Lee Nio dan puteranya di situ, maka ia tidak sudi membantu, malah ia hendak mencari ketuanya.

Ia heran mengapa dua orang itu, Lui Siu Nio-nio dan Sim Hong Lui tidak kelihatan di antara keributan itu.

Betapapun lihai, kaki tangan Auwyang Tek tanpa disertai Tok-ong Kai Song Cinjin, mana mampu melawan Sim Hong Lui?

Kenapa pemuda gila itu tidak muncul?

Karena ktiawatir kalau-kalau pemuda gila itu akan melarikan diri, Lee Ing cepat memeriksa semua bagian yang belum didatangi rombongan Auwyang Tek, yaitu di bagian ujung kiri, di belakang ruangan yang terbakar di mana Pek Mao Lojin dan lm-yang Thian-cu sedang mati-matian melawan musuh dan api.

Melihat Im-yang Thian-cu bertempur melawan Mo Hun, Lee Ing segera hendak membantu.

Akan tetapi tiba-tiba ia mendengar suara ketawa bergelak dari belakang tempat itu.

Ia kenal suara ketawa ini, suara ketawa iblis.

Siapa lagi dapat tertawa seperti itu kalau bukan pemuda gila Sim Hong Lui?

Lee Ing melompat cepat naik ke atas genteng untuk menjaga kalau-kalau pemuda itu hendak melarikan diri dari atas.

Api menjilatnya, akan tetapi Lee Ing tidak merasakannya lagi, malah ia tendang-tendangi usuk yang dimakan api sehingga api tidak menjalar lebih jauh.

Akan tetapi ia tidak melihat bayangan Sim Hong Lui.

Lee lng penasaran sekali dan melompat-lompat dari sana ke mari melalui api dan asap di atas genteng.

Kemudian dari atas ia melihat pemandangan yang membuai ia mengeluarkan seruan tertahan dan terpaksa ia melompat ke tempat itu.

Ruangan tempat tinggal Lui Siu Nio-nio yang kini menjadi medan pertempuran, ternyata telah ambruk gentengnya.

Hal ini dilakukan oleh Pek Mao Lojin.

Kakek ini dapat menyiram padam semua api di bawah, akan tetapi api yang sudah memakan atap rumah sukar disiram.

Terpaksa ia mengerahkan Iweekangnya membobol dinding merobohkan tiang sehingga gentengnya ikut pula runtuh!

Sekarang ruangan itu sebagian tak beratap lagi sehingga Lee Ing dapat memandang dari atas.

Gadis ini melihat Lui Siu Nio-nio duduk bersila, tak bergerak dan Im-yang Thian-cu sudah terdesak hebat.

Baiknya Pek Mao Lojin sudah selesai dengan tugasnya memadamkan api, sekarang kakek botak inipun membantu kawannya mengamuk dengan sepasang guci araknya!

Hebat sepak terjang kedua orang kakek itu.

Im-yang Thian-cu dikeroyok dua oleh Mo Hun dan Kui Ek, tentu saja menjadi repot sekali dan baiknya kipas di tangannya merupakan perisai yang sukar ditembusi lawan.

Melihat banyaknya pengeroyok yang mulai mendesak dari dinding yang bobol, Pek Mao Lojin lalu membentak nyaring dan menyerang dua orang hwesio yang berada paling depan.

Dua orang hwesio yang mukanya merah dan kuning.

Dengan sepasang guci araknya Pek Mao Lojin menghantam kepala mereka yang gundul pelontos.

Akan tetapi dua orang, itu ternyata kosen juga.

Tidak terlalu sukar mereka mengelak dan membalas serangan Pek Mao Lojin dengan senjata mereka, yaitu toya-toya pendek.

Pek Mao Lojin tercengang melihat, kehebatan serangan mereka, akan tetapi ia tidak gentar, malah tertawa terbahak karena gembira mendapatkan lawan tangguh, la tidak tahu bahwa kedua orang lawannya adalah Ang Bin Hcsianu dan Oci Bin Hosiang, dua orang dari tiga saudara Hu niu Sam-lojin.

Tentu saja mereka itu merupakan lawan yang amat tangguh dan di lain saat terjadilah pertempuran yang tidak kalah serunya dari pertempuran antara Im-yang Thian-cu yang dikeroyok Mo Hun dan Kui Ek.

Lee Ing mengerutkan keningnya, alisnya yang bagus itu bergerak naik turun.

Ia memang ingin sekali segera mendapatkan Hong Lui, akan tetapi melihat Im-yang Thian-cu dan Pek Mao Lojin terkurung dan terdesak hebat, ia tidak tega.

Apa lagi Lui Siu Nio-nio kelihatannya diam saja dan agaknya nenek ini tidak ikut apa-apa dalam semua keributan, hal yang amat mengherankan dan mencengangkan hatinya.

Mengapa nenek itu tidak membantu bekas kekasihnya atau suhengnya, Im-yang Thian-cu?

Tiba-tiba ia mengetahui sebabnya ketika Ma-thouw Koai tung Kui Ek menyerang Im-yang Thian-cu dengan ayunan tongkatnya dan dielak oleh Im-yang Thian-cu.

Tongkat itu menyambar sebuah bangku yang melayang ke arah tubuh Lui Siu Nio-nio yang duduk bersila.

Tubuh itu terguling roboh dalam keadaan masih bersila juga!

Baru Lee Ing tahu bahwa ternyata ketua Hoa-lian-pai itu telah tak bernyawa sejak tadi!

Hal ini mengusir semua keraguan dan kelambatannya.

Ia memekik keras dan tubuhnya melayang turun bagaikan seekor burung elang menyambar korban.

Tangan kirinya bergerak mendorong sebelum tubuhnya sampai dan dorongan dari jauh ini demikian hebatnya sehingga orang-orang lihai seperti Ang Bin Hosiang dan Oei Bin Hosiang sampai terhuyung mundur dan kehilangan keseimbangan tubuhnya!

Memang Lee Ing sengaja menyerang mereka karena melihat Pek Mao Lojin terdesak hebat dan terancam keselamatannya.

Kini melihat dua orang pengeroyoknya terhuyung mundur, Pek Mao Lo-jin tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini.

Dua buah guci araknya terayun cepat sekali ke depan dan terdengar suara "prak!

prak!"

Ketika guci-guci itu bertemu dengan kepala dua orang hwesio itu.

Pek Mao Lojin tersentak ke belakang dan napasnya agak memburu, akan tetapi dua orang hwesio dari Hu-niu-san itu roboh dengan kepala pecah dan tewas di saat itu juga.

"Ha-ha-ha, dengan kau di sini, musuh terlampau empuk!"

Kata Pek Mao Lojin sambil menengok ke arah Lee Ing yang sementara itu sudah melayang turun.

Di lain fihak.

ketika Mo Hun, Kui Ek.

Auwyang Tek dan yang lain-lain melihat turunnya Lee Ing, mereka menjadi pucat dan cepat-cepat Mo Hun dan Kui Ek yang berada paling depan melompat ke belakang sambil memutar senjata menjaga diri dan di sepanjang jalan Auwyang Tek menyumpah-nyampah mengapa Tok-ong Kai Song Cinjin tidak ikut serta.

Kalau ada hwesio Tibet itu, kiranya dia dan kawan-kawannya tidak harus berlari-lari seperti itu menjauhkan diri dari Souw Lee Ing.

Adanya Pek Mao Lojin dan Im-yang Thian-cu, dibantu oleh anak murid Hoa-lian-pai yang berani-berani itu sudah merupakan lawan yang tidak mudah dikalahkan, lalu muncul Souw Lee Ing, gadis yang lihai itu.

Betul-betul merupakan lawan berat, apa lagi setelah Ang Bip Hosiang dan Oei Bin Hosiang tewas di tangan Pek Mao Lojin.

Melarikan diri adalah jalan paling aman.

"Kejar mereka! Pemuda jahat Auwyang Tek itu kalau tidak dibasmi, lain kali hanya akan mendatangkan keributan saja!"

Kata Pek Mao Lojin.

Akan tetapi Lee Ing tidak mau mengejar, menggeleng kepala karena gadis ini lebih mengutamakan mencari Sim Hong Lui.

melihat gadis Ini tidak mengejar, Pek Mao Lojin maupun Im-yang Thian-cu tidak berani mengejar sendiri.

Apa lagi karena Im-yang Thian-cu segera mengangkat jenazah Lui Siu Nio-nio, dibawa keluar dari tumpukan puing itu.

Murid-murid Hoa-lian-pai menangis sedih melihat ketua mereka sudah tewas.

Im-yang Thian-cu tidak mau bersikap lemah.

Setelah menyerahkan jenazah itu kepada para anak murid Hoa-lian-pai, ia lalu mengikuti Lee Ing dan Pek Mao Lojin yang sementara itu sudah mencari-cari ke belakang kelenteng.

Secara singkat Lee Ing memberitahukan bahwa yang menculik ayahnya adalah Sim Hong Lui dan bahwa ayahnya telah tewas di tangan Yap Lee Nio.

Kini ia mencari pemuda gila itu, sambil mencari jenazah ayahnya yang lenyap tak berbekas.

Dua orang kakek itu makin kagum melihat Lee Ing.

Baru saja kematian ayahnya, namun gadis itu tetap gagah sikapnya, sungguhpun agak pucat mukanya dan agak merah matanya.

"Dia takkan pergi jauh-jauh."

Kata Im-yang Thian-cu.

"Sebelum pertempuran, pinto juga melihat jenazah Souw-taihiap. Sekarang lenyap, tentu dia bawa."

Tiga orang ini setelah memeriksa semua tempat di sekitar kelenteng dengan sia-sia, mulai mencari di lereng-lereng.

Tiba-tiba terdengar suara ketawa aneh dari jauh.

Mendengar suara ini, Lee Ing berkelebat cepat dan lenyap dari samping dua orang kakek itu.

Pek Mao Lojin dan Im-yang Thian-cu cepat mengejar ke arah berkelebatnya Lee Ing, yaitu ke arah datangnya suara ketawa tadi.

Memang tidak salah dugaan Lee Ing.

Yang ketawa tadi adalah Sim Hong Lui.

Ketika gadis ini mengejar ke tempat itu, ia melihat Sim Hong Lui berdiri sambil tertawa bergelak, berhadapan dengan dua orang kakek tua sekali.

"Heh-heh-heh, dua ekor kambing tua tak usah banyak omong lagi. Minggat dari sini!"

Bentak pemuda itu dan tangan kanannya bergerak menghantam ke depan.

Lee Ing yang melihat gerakan ini tahu bahwa pemuda itu menggunakan gerakan pukulan jarak jauh Twi-hong-hok san (Dorong Angin Balikkan Gunung), ilmu pukulan dahsyat dari Gua Siluman!

Akan tetapi dua orang kakek itu cepat mengelak dan keduanya saling pandang.

Kakek yang seorang, yang buntung tangan kirinya, menggunakan tangan kanan menggaruk-garuk kepalanya yang botak.

"Aneh! Hek-mo (Setan Hitam), bukankah itu tadi pukulan Bu bengSin-kun pula"

"Tak salah lagi, Sin-kai (Pengemis Sakti)! Selain Souw Teng Wi, agaknya bocah inipun telah menuruni ilmunya!"

Kata kakek ke dua, kakek hitam mukanya buruk, sambil menggerak-gerakkan tongkat ularnya.

Dua orang kakek ini bukan lain adalah Tok-pi Sin-kai (Pengemis Sakti Tangan Satu) dan Im-kan Hek-mo (Iblis Hitam dari Akhirat).

Seperti telah di tuturkan di bagian depan, dua orang kakek ini bersama Pek-kong Sin-ciang Bu Kam Ki.

dahulu pernah dikalahkan oleh Bu-beng Sin-kun.

Mereka belajar lagi dengan giat, namun tidak mendapat kesempatan bertemu lagi dengan Bu-beng Sin-kun.

Akhirnya mendengar bahwa Souw Teng Wi mempunyai ilmu pukulan yang menjadi warisan Bu-beng Sin-kun, dua orang kakek tua ini menyuruh murid masing-masing, yaitu Gak Seng Cu dan Pek Ke Cui, untuk membujuk Siok Beng Hui memberi tahu di mana tempat sembunyi Souw Teng Wi.

Hal ini sudah diceritakan di bagian depan.

Juga Souw Lee Ing pernah melihat dua orang kakek ini menuju ke kota raja.

Memang, kakek sakti itu keduanya mencari ke kota raja dan mendengar bahwa Souw Teng Wi telah lenyap diculik orang.

Mereka cepat menyusul ke selatan lagi dan di tengah jalan melihat rombongan Auwyang Tek.

Diam-diam inereka mengikuti rombongan ini setelah mendengar bahwa rombongan ini juga hendak mengejar penculik Souw Teng Wi ke Ta-pie-san.

Karena dua orang ini memang memiliki kesaktian tinggi, maka Auwyang Tek dan kawan-kawannya tidak melihat mereka.

Ketika mereka melihat keadaan, kelenteng yang kacau balau karena perbuatan anak buah Auwyang Tek.

dua orang kakek ini diam-diam memasang mata.

Akhirnya mereka melihat seorang pemuda yang cepat sekali gerakan-gerakannya, lari dari kelenteng memanggul tubuh seorang laki-laki.

Mereka lalu menghadangnya dan berhadapan dengan pemuda itu yang bukan lain adalah Sim Hong Lui yang hendak melarikan diri membawa jenazah Souw Teng Wi setelah ia melihat bahwa Souw Lee Ing telah terlepas dari belenggu.

Biarpun telah gila dan memiliki kepandaian tinggi, tetap saja pemuda ini masih mempunyai watak pengecut.

Ia tahu bahwa dalam hal kepandaian.

ia masih kalah ssetingkat oleh Lee Ing, maka ia tidak berani melawan, apa lagi karena tempat itu kedatangan demikian banyak musuh.

Dua orang kakek itu menahannya dan bertanya tentang Souw Teng Wi.

Hong Lui boleh jadi jerih terhadap Lee Ing, akan tetapi orang lain ia memandang ringan.

Ditanya tentang Souw Teng Wi.

ia bilang bahwa Souw Teng Wi sudah mati dan mayatnya ia bawa, kalau dua orang kakek itu hendak mengantar nyawa Souw Teng Wi boleh mampus sekarang juga!

Tentu saja Tok-pi Sin-kai dan Im-kan Hek-mo menjadi marah-marah dan mendesaknya untuk mengaku jelas yang dijawab oleh serangan Sim Hong Lui seperti telah diceritakan di atas pada saat Lee Ing tiba di situ.

Sebelum melakukan serangannya tadi, Hong Lui lebih dulu melemparkan mayat Souw Teng Wi ke atas tanah.

Sementara itu, Lee Ing yang juga telah melihat mayat ayahnya, tidak memperdulikan lagi kepada mereka, melainkan cepat-cepat melangkah maju menghampiri jenazah ayahnya dan dipondongnya ke pinggir, menjauhi mereka yang sedang bertempur.

Memang Hong Lui sudah menyerang kalang-kabut kepada dua orang kakek itu karena penasaran melihat pukulannya tadi tidak mendatangkan hasil.

"Hebat, ini dia Bu-beng Sin-kun mudai"

Kata Tok-pi Sin-kai sambil menggerakkan tubuh mengelak dan balas menyerang dengan tangan tunggalnya.

"Malah lebih berbahaya....!"kata Im-kan Hek-mo pula sambil mencoba untuk mematahkan lengan tangan pemuda itu dengan tangkisan tongkat ulamya. Akan tetapi, hanya terdengar bunyi "takkkl"

Dan tongkatnya terpental, sedangkan lengan pemuda itu tidak apa-apa! "Kita harus kalahkan dia dan desak di mana adanya Bu-beng Sin-kun !*"

Teriak Tok-pi Sin-kai sambil menyerang maju.

Lee Ing yang duduk di dekat mayat ayahnya, ketika menengok ke depan, melihat bahwa kakek tangan satu itu betul-betul lihai sekali ilmu silatnya.

Biarpun lengan tangannya tinggal sebelah, namun tangan itu bergerak dengan kecepatan yang sukar diikuti pandang mata sehingga seakan-akan berubah menjadi enam buah, sedangkan setiap pukulannya mendatangkan sambaran angin yang dingin.

Di sampingnya, Im-kan Hek-mo ternyata juga lihai sekali..

Tongkat ular di tangannya seperti hidup bergerak-gerak turun naik sukar sekali diduga ke mana arahnya dan mana yang hendak dijadikan sasaran.

Tongkat ini dapat dipergunakan untuk memukul maupun menotok, keduanya dapat merenggut nyawa.

Dua orang kakek ini, menghadapi seorang di antaranya saja sudah berat, apa lagi sekarang mereka maju bersama.

Benar-benar merupakan lawan yang amat tangguh.

Kalau dua orang kakek ini ditambah lagi dengan Pek-kong Sin-ciang Bu Kam Ki, masih tidak mampu mengalahkan Bu-beng Sin-kuo, dapat dibayangkan betapa tingginya kesaktian Bu-beng Sin-kun!

Seperti telah diketahui, di dalam Gua Siluman keadaannya amat menyeramkan, dan di situ mengandung hawa ajaib yang mungkin sekali tercipta karena keadaan yang amat mengerikan ketika Bu-beng Sin-kun berada di dalam gua, menjaga kekasihnya sampai gadis itu mati dan membusuk di dalam gua!

Penuh dengan hawa nafsu, penuh dengan kerinduan, sehingga bagi siapa yang memasukinya, kalau kurang kuat batinnya akan menjadi gila seperti halnya Souw Teng Wi dan Sim Hong Lui.

Souw Teng Wi lemah batinnya karena ia sedang merana dan rindu dendam kepada isterinya yang ia tinggal pergi bertahun-tahun lamanya.

Maka hawa busuk di dalam gua itu mempengaruhi otaknya dan membuatnya gila, lebih-lebih pengaruh hawa jahat dalam gua itu terhadap Sim Hong Lui, lebih hebat lagi.

Pemuda ini memang sudah mempunyai kebiasaan jahat, hati dan pikirannya tidak bersih lagi.

Setelah berhasil menemukan Gua Siluman dan mempelajari ilmu di situ, ia telah berubah seperti iblis sendiri.

Akan tetapi harus diakui bahwa semua ilmu silat yang tinggi dan aneh dari Bu-beng Sin-kun telah dipelajarinya dengan baik dan kalau Lee Ing dapat mewarisi hawa murninya, adalah pemuda ini sebaliknya.

Mewarisi hawa jahat di dalam gua itu.

Sim Hong Lui telah menjadi demikian lihai, baik ilmu silat maupun tenaganya sehingga menghadapi keroyokan dua orang kakek itu, ia masih dapat mempertahankan diri biarpun ia hanya bertangan kosong!

Gerakan-gerakannya sudah tidak karuan lagi, kadang-kadang limbung terhuyung-huyung, kadang-kadang jongkok berdiri Seperti orang liar menari-nari.

Akan tetapi makin aneh gerakannya, makin lihailah dia.

Sambaran tongkat ular di tangan Im-kan Hek-mo dap pukulan-pukulan tangan kanan yang ampuh dari kakek buntung Tok-pi Sin-kai, selalu hanya mengenai angin belaka atau tertumbuk dengan kerasnya pada lengan tangan pemuda itu.

Sebaliknya, desakan-desakan liar dari Sim Hong Lui kadang-kadang membuat dua orang kakek itu melompat mundur sambil mengeluarkan seruan kaget.

"Lihai sekali,"

Seru pengemis buntung itu.

"gerakan-gerakannya mirip Bu-beng Sin-kun, akan tetapi mengandung hawa iblis.."

"Agaknya Bu-beng Sin-kun sudah menyerahkan diri kepada iblis, ilmu silatnya berubah ilmu hitam...!"

Kata Im-kan Hek-mo sambil mendesak terus dengan hati penuh penasaran.

Kedua orang ini, Tok-pi Sin-kai dan Im-kan Hek-mo, keduanya adalah tokoh-tokoh kang-ouw, pendekar-pendekar besar yang puluhan tahun yang lalu amat terkenal.

Mereka tergolong tokoh-tokoh kang-ouw yang namanya bersih, biarpun berwatak aneh namun bukan tergolong orang-orang jahat.

Permusuhan mereka dengan Bu-beng Sin-kun hanya karena adu kepandaian saja.

Maka sekarang menyaksikan sepak terjang Sim Hong Lui mereka kaget dan juga heran.

Sepanjang pengetahuan mereka Bu-beng Sin-kun adalah seorang tokoh besar yang bersih pula ilmunya, mengapa sekarang menurunkannya kepada seorang pemuda yang demikian gila seperti iblis?

Adapun Lee Ing yang melihat pertempuran itu, diam-diam memuji Sim Hong Lui yang benar tangguh sekali, juga ia merasa penasaran ilmu di Gua Siluman dimainkan seperti iblis jahatnya, setiap serangan mengarah nyawa dan penuh sifat-sifat curang.

Apa lagi mendengar ucapan dua orang kakek itu, ia menjadi penasaran sekali.

Nama baik gurunya, Bu-beng Sin-kun, tidak boleh ternoda oleh sepak-terjang seorang berotak miring Sim Hong Lui.

Gadis ini setelah menutupi jenazah ayanya dengan baju luarnya, lalu melompat maju ke dalam kalangan pertempuran dan sama sekali tidak perdulikan Pek Mao Lo'jin dan Im-yang Thian-cu yang juga sudah sampai di situ dan menonton pertempuran dengan pandang mata kagum.

Dua orang kakek ini maklum bahwa orang-orang yang bertempur mempunyai tingkat kepandaian yang jauh lebih tinggi dari pada mereka, sukar diukur sampai di mana tingginya.

Tentu saja mereka tahu siapa dua orang yang mengeroyok pemuda gila itu.

Semua orang kang-ouw mengenal Tok-pi Sin-kai dan Im-kan Hek-mo, biarpun dua orang ini sudah belasan tahun lenyap dari dunia persilatan.

"Minggirlah kalian dua orang kakek tua. Orang gila ini musuhku!"

Teriak Lee Ing yang melompat ke tengah medan pertempuran sehingga pada saat itu, pukulan tangan kanan Tok-pi Sin-kai dan ayunan tongkat ular lm-kan Hek-mo yang tadinya ditujukan kepada Sim Hong Lui, kini menyambar kearahnya tanpa dapat ditarik kembali oleh para penyerangnya karena gerakan Lee Ing memasuki medan pertempuran itu terlalu cepat.

Sedangkan Sim Hong Lui yang melihat siapa yang masuk sambil tertawa terkekeh-kekeh lalu menyerang pula dengan kedua tangan dibentangkan lalu ia menubruk dan memeluk ke arah pinggang Lee Ing!

Dengan demikian, begitu memasuki medan pertempuran, sekaligus Lee Ing menghadapi tiga serangan dari tiga orang yang pandai.

Akan tetapi gadis lihai ini tidak menjadi gugup.

la menggerakkan kedua tangan ke belakang, bagaikan dua ekor ular sakti dua tangannya menangkap pergelangan kedua tangan Sim Hong Lui lalu dengan seruan keras ia melompat sambil berpoksai sehingga tahu-tahu ia "bertukar tempat"

Dengan pemuda itu dan kini Sim Hong Lui yang menghadapi serangan dua orang kakek itu yang baru datang!

Pemuda ini mengeluarkan seruan aneh, ke dua kakinya bergerak dan tongkat ular serta pukulan kakek buntung keduanya dapat ia tangkis dengan tendangan-tendangannya!

Tok-pi Sin-kai dan lm-kan Hek-mo melompat mundur dengan wajah berubah.

Tidak saja mereka terheran-heran menyaksikan kehebatan gerakan Lee Ing, akan tetapi kaget sekali menyaksikan betapa dalam keadaan kedua tangan tak berdaya, pemuda itu masih dapat menangkis serangan hanya dengan tendangan-tendangan kaki!

Benar-benar dua orang muda ini memiliki ilmu yang amat luar biasa.

Sementara itu, Lee Ing sudah melepaskan cekalannya sambil mendorong maju pemuda itu.

Hong Lui juga cepat-cepat membalikkan tubuh menghadapi Lee Ing lalu cengar-cengir menjemukan.

"Ahahhah! Kiranya kau nona manis. Kita memang cocok sekali satu kepada yang lain, kedua-duanya murid Gua Siluman, Ha-ha-hah, kakek-kakek hampir mampus ini menyebalkan saja. Baik kita tinggalkan mereka dan mari ke Gua Siluman, selanjutnya kita berdua hidup bahagia!"

Baru kali ini ia mendengar ocehan Sim Hong Lui yang agak panjang dan mukanya menjadi merah sekali.

Celaka, pikirnya.

Banyak pemuda mencintainya, pemuda-pemuda ganteng dan baik baik seperti Han Sin dan Siok Bun.

Apa lagi Oei Siok Ho.

Hemm pemuda-pemuda seperti itu sih pantas gpja kalau mencintanya.

Akan tetapi pemuda seperti si otak miring ini?

Menyebalkan sekali!

"Sim HongLui, jangan kau mengoceh tidak karuan.

Kau ini manusia gila berani mengaku murid Bu-beng Sin-kun.

Ketahuilah, hanya aku seorang murid suhu Bu-beng Sin-kun, bukan macam mukamu, manusia gila!"

Sambil berkata demikian, Lee Ing sengaja melirik kepada dua orang kakek yang tadi mencela Bu-beng Sin-kun, karena memang kepada merekalah dia menujukan perkataannya itu.

Sim Hong Lui ketakutan.

Ia sudah merasakan kelihaian nona ini dan ia sudah kalah.

"Nona manis, ayahmu dan ayahku sudah setuju kalau kita berjodoh...."

"Tutup mulut!"

Lee Ing menyerbu dan menerjang dengan pukulan dahsyat!

Hong Lui mengelak dan balas menyerang, mulutnya tiada hentinya bersambatan dan mengeluh.

Akan tetapi tangannya tidak tinggal diam, melainkan balas menyerang dengan kedahsyatan yang sama.

Memang, di balik kegilaannya, Sim Hong Lui tetap merupakan seorang yang licik dan banyak akalnya, la pura-pura saja mengeluh dan minta dikasihani, akan tetapi diam-diam ia mencari akal untuk merobohkan gadis itu.

Malang baginya, Lee Ing tidak memperdulikan segala ocehannya dan tetap menyerang dahsyat.

Gadis ini telah menyimpan pedangnya karena ia malu kalau tak dapat mengalahkan pemuda gila ini bertangan kosong, la sekarang tahu di mana letak kelihaian pemuda ini, yaitu di dalam pukulan-pukulan yang mengandung hawa dingin.

Pemuda ini lebih memperkuat lm-kang ketika mempelajari ilmu-ilmu peninggalan Bu-beng Sin kun.

Ia tidak mau kalah, sambil mengeluarkan seruan-seruan dan suara ketawa yang mengandung tenaga Im-kang dahsyat untuk melawan suara Hong Lui yang merengek-rengek, gadis ini terus melancarkan serangan bertubi-tubi dan menghantam mendesak lawannya dengan bagian-bagian Lo-thian-tong-te, yaitu bagian Ilmu Silat Thian-te-kun terdahsyat yang belum dipelajari oleh orang lain kecuali Lee Ing sendiri.

Benar saja.

Pemuda itu sekarang main mundur dan terdesak hebat.

Ia mulai celingukan mencari jalan keluar, namun Lee Ing tidak memberi kesempatan kepadanya.

Jalan lari depan kanan kiri sudah tertutup oleh hawa pukulan Lee Ing yang baru sekali ini menemui lawan paling tangguh selama ia keluar dari Gua Siluman.

Jalan satu-satunya bagi Hong Lui hanya main mundur, berputaran dan mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk menyelamatkan diri.

Memang hebat sekali warisan ilmu menjaga diri dari Bu-beng Sin-kun.

Pemuda itu dapat melompat ke sana ke mari dan semua pukulan Lee Ing menyambar angin.

Kalau toh ada yang sudah mendekati sasaran, selalu menyeleweng ke samping.

Lee Ing maklum bahwa itu adalah berkat ilmu lweekang tinggi yang dipergunakan melindungi seluruh tubuh sehingga seakan-akan ada hawa ajaib berputaran di luar kulit tubuh, menolak setiap pukulan yang mendekat!

Puncak lweekang peninggalan Bu-beng Sin-kun sudah dikuasai oleh pemuda ini, benar-benar amat berbahaya pemuda gila ini kalau dibiarkan hidup.

Sementara itu, bukan saja Pek Mao Lojin dan Im-yang Thian-cu yang menonton dengan penuh keheranan dan takjub, bahkan Tok-pi Sin-kai dan lm-kan Hek-mo mengangguk-angguk kagum dan Harus mengaku bahwa selama hidup mereka baru kali ini menyaksikan pertarungan yang demikian dahsyat di mana dua orang lawan yang memiliki kepandaian sama anehnya melakukan pertandingan mati-matian.

Hawa yang timbul dari perkelahian itupun amat aneh, kadang-kadang panas kadang-kadang dingin dan pekik serta seruan dua orang muda itu membuat empat orang kakek ini sampai tergetar jantungnya.

Seratus jurus lebih mereka bertempur dan belum juga Lee Ing dapat merobohkan lawannya.

Akan tetapi tempat pertempurannya makin Jauh tergeser dari tempat semula karena Hong Lui main mundur dan Lee Ing terus mengejar.

Akhirnya Im-kan Hek-mo dan Tok-pi Sin-kai sempat juga memperhatikan sekelilingnya dan melihat Pek Mao Lojin dan Im-yang Thian-cu, mereka datang mendekat.

Im-yang Thian-cu dan Pek-Mao Lojin menjura dengan hormat.

"Hemm, kalau tidak keliru pandanganku yang lamur, Pek Mao Lojin dan Im-yang Thian-cu di sini,"

Kata Tok-pi Sin-kai.

"Betul sekali dugaan Sin-kai yang terhormat,"

Jawab Im-yang Thian-cu.

"Kalian berada di sini bersama gadis itu, siapakah dia gerangan yang memiliki ilmu pukulan Bu-beng Sin-kun? Apakah betul dia itu muridnya?"

Tanya Im-kan Hek-mo. Pek Mao Lojin yang tidak mengetahui tentang permusuhan dua orang kakek tua ini terhadap Bu-beng Siu-kun, menjawab tertawa.

"Kami dua orang tua mana tahu dia murid siapa? Hanya yang jelas kami sama sekali bukanlah apa-apa kalau dibandingkan dengan dia. Akan tetapi yang kami ketahui nona itu adalah puteri dari pendekar rakyat Souw Teng Wi."

Berkata demikian kakek botak ini menujuk ke arah mayat Souw Teng Wi yang masih menggeletak di bawah pohon.

Tok-pi Sin kai dan Im-kan Hek-mo saling pandang lalu mengangguk-angguk.

Pantas kalau begitu, pikir mereka.

Souw Teng Wi mewarisi kepandaian Bu-beng Sin-kun, tentu ia yang mengajar anak perempuannya.

Tidak apa Souw Teng Wi sudah mati, ada anak perempuannya, pikir mereka sambil menengok ke arah pertempuran yang kini meningkat menjadi makin hebat.

Hong Lui melawan mati-matian, namun ia sudah amat lelah dan terdesak terus.

Pertempuran antara Sim Hong Lui dan Souw Lee Ing benar-benar merupakan pertempuran hebat sekali.

Keduanya ahli waris pusaka Gua Siluman murid-murid Bu beng Sin-kun yang belajar tanpa petunjuk siapapun juga kecuali gambar-gambar dan tulisan-tulisan di dalam gua.

Oleh pelajaran manusia sakti dan aneh itu memang mengandung dua unsur dan hawa berlainan, bahkan yang bertentangan, maka pembentukan ilmu itu dijadikan menurut watak masing-masing.

Atau tegasnya, kalau ilmu pelajaran kesaktian itu menjadi bahannya, watak si pelajar menjadi cetakannya.

Souw Lee Ing adalah gadis yang bersih pikirannya dan murni hatinya, tidak terisi oleh sifat-sifat jahat, jauh dari pada nafsu rendah, malah semangatnya bernyala-nyala sebagai seorang pendekar.

Dia keturunan pahlawan, darahnya bersih dan di waktu menggembleng diri dengan ilmu peninggalan Bu-beng Sin-kun di dalam gua yang menyeramkan itu, perhatiannya sepenuhnya ia curahkan kepada apa yang ia pelajari tidak menyeleweng ke mana-mana.

Tentu saja ia dapat menyedot hawa murni, dapat memetik sari pelajaran bagian yang bersih, ilmu aseli yang memang tadinya menjadi dasar dan milik Bu-beng Sin-kun, pendekar jarang tandingan itu.

Apa lagi ia sudah dapat dibilang matang karena ia melatih diri selama empat tahun terus-menerus, hanya berhenti untuk bersamadhi melatih dan memperkuat sinkang di tubuhnya.

Selain ini, ia telah pula makan tiga biji buah karena sian-le peninggalan suhunya.

Buah yang sudah ratusan tahun umurnya ini mempunyai khasiat yang istimewa, membersihkan darah memperkuat tulang sumsum sehingga dengan sendirinya tenaga sinkang (tenaga sakti) di dalam tubuhnya dapat meresap dan menjalar sampai di seluruh urat-urat dan memasuki tulang-tulangnya, membuat ia mendapat kemajuan yang melebihi latihan lima tahun.

Sebaliknya, biarpun Sim Hong Lui juga telah mempelajari ilmu-ilmu silat peninggalan Bu-beng Sin-kun dengan amat tekunnya dan berkat kecerdikannya yang luar biasa ia dapat mewarisi dan menghafal semua gerakan Ilmu Silat Thian-te-kun kecuali jurus terakhir, namun selama belajar fikirannya sering kali terisi dengan lamunan-lamunan kotor.

Pemuda ini biasanya hidup senang, biasa hidup sebagai seorang pemuda pemogoran yang selalu menurutkan hawa nafsunya.

Sudah tentu saja hidup di dalam gua yang gelap dan menyeramkan itu, baginya merupakan siksaan.

Hanya karena dendamnya yang besar membuat ia memaksa diri mempelajari ilmu-ilmu itu sampai habis.

Namun, dasar batinnya yang tidak bersih membuat ia tidak dapat menahan pengaruh hawa jahat atau hawa iblis yang memenuhi gua itu sehingga ketika ia keluar dari gua itu, pikirannya telah berubah gila dan yang ia warisi adalah ilmu silat yang penuh mengandung hawa jahat!

Dilihat dari perbandingan itu, memang Sim Hong Lui kalah tinggi tingkatnya oleh Souw Lee Ing.

Akan tetapi pemuda yang sudah menjadi gila ini menutup kekalahannya dengan kemenangan tingkat ilmu silatnya di waktu mereka berdua mewarisi ilmu silat di Gua Siluman.

Inilah ya rg membuat ia kini dapat menghadapi Lee Ing dengan gigih dan tidak mudah bagi Lee Ing untuk menjatuhkan lawannya dalam waktu pendek.

Setelah seratus jurus lewat, Hong Lui lalu mulai mengeluarkan suara aneh, ketawa tidak menangispun bukan.

Akan tetapi Pek Mao Lojin dan Im-yang Thian-cu merasa jantung mereka berdebar dan kaki mereka lemas ketika mendengar suara yang lebih mirip suara harimau merintih kesakitan itu.

Mereka kaget sekali dan cepat-cepat memejamkan mata mengerahkan tenaga lweekang untuk melindungi jantung dan menenteramkan hati agar jangan sampai terluka oleh hawa serangan suara aneh itu.

Mereka maklum bahwa pemuda itu telah mengeluarkan semacam ilmu serangan melalui suara yang jauh lebih hebat dari pada ilmu-ilmu semacam Sai-cu Ho-kang (Auman Singa) atau khi kang lainnya.

Bahkan nyanyian atau suara dari alat tetabuhan khim Lui Siu Nio-nio takkan sehebat ini pengaruhnya.

Ini saja sudah menjadi bukti bahwa pemuda gila itu betul-betul memiliki kepandaian hebat dan berbahaya seperti iblis.

Hebatnya Tok-pi Sin-kai dan Im-kan Hek-mo sendiri sampat melangkah mundur dua tindak saking kagetnya.

Tergetar jantung mereka.

"Pemuda gila ini hebat betul. Bu-beng Sin-kun sendiri tak pernah mengeluarkan ilmu seperti ini.."

Kata Tok-pi Sin-kui dengan kagum.

Memang ucapan ini betul.

Bu-beng Sin-kun adalah seorang pendekar gagah perkasa.

Mana ia mau mempergunakan segala ilmu yang mengandung hawa kotor?

Memang ada geraman suara mengandung khikang yang membikin lumpuh lawan, akan tetapi tidak mengandung hawa kotor seperti yang dikeluarkan Hong Lui.

Pemuda inipun secara otomatis mendapatkan ilmu ini setelah khikang dan sinkangnya tinggi sekali.

Karena hawa sinkang di tubuhnya digerakkan oleh hawa kotor, tentu saja ilmu yang ia keluarkan juga tidak bersih.

Akan tetapi, biarpun suara itu membuat bulu tengkuk Lee Ing berdiri, mengingatkan gadis ini akan suara-suara iblis yang ditimbulkan oleh angin di dalam Gua Siluman, namun dia tidak menjadi gentar karenanya.

Gadis ini lalu bersenandung lagu rakyat Mancuria yang dahulu ia pelajari ketika masih berada di utara bersama kakeknya, Haminto Losu.

Akan tetapi sekarang ia menyanyikan lagu ini jauh bedanya dengan dahulu di waktu masih kecil.

Sekarang ia bernyanyi dengan merdu, perlahan akan tetapi dari suaranya tergetar hawa yang mengandung tenaga mujijat, yang mendatangkan rasa aman, tenang dan damai.

Seakan-akan suara nyanyiannya itu semacam suara dewi yang mengusir suara iblis yang terkandung dalam geraman-geraman Hong Lui.

Pek Mao Lojin dan Im-yang Thian yii kembali membuka mata karena pengaruh geraman tadi lenyap sudah.

Mereka membuka mata dan memandang ke depan.

Pertempuran masih berjalan seru.

Akan tetapi jelas sekali bahwa Hong Lui sudah mati kutunya.

Pemuda ini masih memukul-mukul dan menendang-nendang, namun setiap kali kaki atau tangannya bergerak, selalu terpental kembali membuat ia terhuyung, seolah-olah yang diserangnya adalah benteng baja.

Ia main mundur terhuyung-huyung.

Tiba-tiba ia tertawa mengejek dan terdengar Tok-pi Sin-kai dan Im-kan Hek-mo berseru hampir berbareng.

"Jangan biarkan dia melompat ke bawah.. !"

Namun terlambat.

Tubuh Sim Hong Lui sudah melayang melalui tebing jurang dan meluncur ke bawah, dibarengi suara ketawanya yang menyeramkan sekali.

Lee Ing sama sekali tidak mengira bahwa lawannya akan berlaku nekat.

Ia menjenguk ke bawah dan melihat betapa tubuh pemuda itu jatuh terbanting pada batu-batu karang di tebing jurang, lalu bergulingan terus ke bawah dan tiba di dasar jurang dalam keadaan remuk tidak karuan.

Beberapa ekor burung terbang menyambar ke bawah dan terbang berkeliling di atas tumpukan sisa tubuh itu, agaknya menanti sampai mayat itu membusuk baru akan disantap!

Lee Ing menutupi dua matanya, penuh kengerian ketika ia mundur kembali dari tepi jurang.

"Omitohud..., tamat riwayat manusia iblis yang amat berbahaya...."

Kata Pek Mao Lojin sambil menarik napas panjang.

"Pinto harus bantu mengurus pemakaman sumoi..."

Kata Im-yang Thian-cu perlahan sambil pergi dari situ.

Hatinya kembali diliputi kesedihan ketika ia teringat akan sumoinya, Lui Siu Nio-nio yang tewas dalam keadaan mengenaskan itu.

Pek Mao Lojin menghampiri Lee Ing.

"Nona Souw, jenazah ayahmu juga perlu diurus sebaiknya. Kurasa dimakamkan di pegunungan ini tiada halangannya karena tanah di sini kulihat amat baik untuk dijadikan makam."

Memang pada masa itu, memilih tanah baik untuk penguburan jenazah merupakan hal yang amat penting sekali bagi orang-orang di Tiongkok.

Menurut kepercayaan mereka, hal ini dekat sekali hubungannya dengan nasib keluarga si mati, kalau tanah penguburannya baik, roh si mati akan senang dan akan dapat memberi berkah kepada anak cucunya dan demikian Sebaliknya.

Lee Ing timbul juga kedukaannya ketika teringat akan ayahnya, la menengok ke arah jenazah ayahnya yang ia tutupi baju tadi sambil mengangguk.

Dalam kedukaannya, ia memerlukan sahabat dan pada saat itu, kiranya hanya Pek Mao Lojin dan Im-yang Thian-cu saja yang bisa dijadikan sahabat.

"Biar kuangkatkan jenazah ayahmu ke kelenteng Hoa-lian-pai,"

Kata pula Pek Mao Lojin yang diam-diam merasa amat kasihan kepada nona muda itu.

Kembali Lee Ing mengangguk dan menahan air matanya.

Pek Mao Lojin sudah memondong mayat itu dan mereka hendak pergi ke kelenteng ketika tiba-tiba Im-kan Hek-mo menahan Lee Ing, katanya.

"Nanti dulu, nona. Kau tidak boleh pergi dulu sebelum memberi penjelasan kepada kami perihal Bu-beng Sin-kun. Bukankah kau telah mewarisi ilmu-ilmunya? Kau mempelajari dari ayahmu ataukah kau langsung menerima dari Bu-beng Sin-kun? Di mana dia sekarang?"

Lee Ing terpaksa berhenti bertindak, lalu berkata perlahan kepada Pek Mao Lojin, Lo-cianpwe harap sudi menolongku, bawa jenazah ayah ke kelenteng, biar aku menyusul belakangan setelah beres urusanku dengan dua orang kakek ini."

Pek Mao Lojin terkejut sekali.

Apakah dua orang kakek yang ia tahu amat sakti inipun hendak mengganggu Lee Ing?

Benar-benar keterlaluan sekali.

Akan tetapi karena maklum bahwa dalam urusan ini ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu, ia hanya mengangguk dan melanjutkan perjalanannya, memondong jenazah itu pergi dari situ, untuk merawatnya di dalam kelenteng yang bagian belakangnya sudah terbakar itu.

Adapun Lee Ing dengan hati penuh kesebalan memutar tubuh dan menghadapi dua orang kakek itu.

"Kalian ini dua orang tua sungguh tak tahu diri. Sudah mendekati lubang kubur masih mengumbar angkara murka. Murid-murid kalian Gak Seng Cu dan Pek Ke Cui secara tidak tahu malu hendak membujuk Pek-kong Sin-kauw Siok Beng Hui untuk berkhianat. Benar-benar di antara kalian bertiga, hanya Pek-kong Sin-ciang Bu Kam Ki yang patut disebut lo-enghiong (orang tua gagah) Kalian ini tiada lebih hanya kakek-kakek yang sudah terlalu tua sehingga wataknya kembali seperti anak kecil yang tidak mau mengalah. Tok-pi Sin-kai dan Im-kan Hek-mo, kalian minta penjelasan? Ketahuilah dan dengar baik-baik. Murid Bu-beng Sin-kun adalah aku seorang. Mendiang suhu Bu-beng Sin-kun adalah seorang gagah perkasa, dan kalian tidak boleh menyebut-nyebut namanya. Kalau kalian masih penasaran, dan tetap tidak mau mengaku kalah oleh beliau, di sini ada aku muridnya yang akan dapat membuktikan bahwa sampai sekarangpun suhu Bu-beng Sin-kun tidak kalah oleh kalian!"

Kata-kata ini memang terdengar sombong, akan tetapi Lee Ing adalah seorang gadis yang cerdik sekali.

Ia bukan sembarangan bicara sombong tanpa perhitungan.

Ia tadi mampu mengalahkan Sim Hong Lui, maka tentu saja ia tidak takut terhadap mereka!

Sama sekali ia tidak tahu bahwa dua orang kakek ini kalah oleh Hong Lui karena tidak kuat menghadapi hawa iblis yang keluar dari pukulan-pukulan Hong Lui.

Dua orang kakek ini tingkat kepandaiannya sudah sukar diukur tingginya, dan menghadapi ilmu kesaktian yang bersih, kiranya kakek-kakek ini sukar dicari tandingannya.

Mereka sekarang sudah jauh lebih maju dari pada dahulu ketika bersama Bu Kam Ki mereka dikalahkan oleh Bu-Beng Sin-Kun.

Tok-pi Sin-kai menghela napas panjang lalu berkata sambil meraba-raba lengan kirinya yang buntung.

"Orang bilang, hutang uang membayar uang, hutang nyawa mengganti nyawa. Bu-Beng Sin-Kun hutang sebuah lengan kepadaku, sekarang ia tak dapat membayar apa-apa karena baik lengan maupun nyawa ia sudah tidak punya lagi. Hayaaa, apa artinya lenganku yang sebelah lagi ini dilatih sampai puluhan tahun? Orang lain mana mampu menguji sampai di mana hasilnya latihan-latihanku selain kau sebagai murid Bu-Beng Sin-Kun Nona Cilik, dahulu gurumu tidak saja membuntungi lengan kiriku, akan tetapi juga mengalahkan kami bertiga saudara. Sekarang kalau muridnya mampu mengalahkan aku, aku tidak penasaran lagi, matipun akan puas. Mari kau coba lengan tunggalku!"

Setelah berkata demikian, Tok-pi Sin-kai melangkah maju mendekati Lee Ing.

"Kalau mendiang suhu dahulu menangkan kalian maju bareng bertiga, setelah sekarang kalian menjadi tua, apakah muridnya tak sanggup menhadapi hanya dua orang saja? Im-kan Hek-mo, kau majulah sekalian. Bukankah kau juga masih penasaran dan ingin membalas kekalahanmu dahulu?"

Kata Lee Ing dengan berani.

"Nona cilik, jangankan mengeroyokmu, baru seorang melawan seorang saja sebetulnya sudah amat memalukan. Akan tetapi melihat kepandaianmu tadi, kau memang patut menjadu ahli waris Bu-Beng Sin-Kun dan karenanya kami berdua tidak malu-malu untuk minta pengajaran darimu sebagai wakil mendiang suhumu,"

Kata Im-kan Hek-mo yang sudah siap dengan tongkat ular di tangannya.

Melihat sikap dua orang kakek yang merendah dan sungkan, lenyap sebagian besar kemarahan hati Lee Ing.

Ia memang sudah tahu bahwa bagi ahli silat golongan atas, tidak ada keperihan hati yang lebih menyakitkan dari pada kalah dalam pibu (mengadu kepandaian).

Tidak mengherankan apa bila dua orang kakek ini masih selalu mencari-cari Bu-Beng Sin-Kun untuk menguji kepandaian lagi, dan sekarang menjadi amat kecewa mendengar Bu-Beng Si n-Kun sudah mati.

Apa lagi bagi Tok-pi Sin-kai yang kehilangan lengannya dalam pibu melawan Bu-Beng Sin-Kun.

Akan tetapi dasar ia masih muda, darahnya masih bergolak panas dan masih sukar bagi orang semuda Lee Ing untuk memandang secara mendalam.

Belum pandai nona muda ini menempatkan diri dalam perumpamaan sebagai lawan untuk dapat memaklumi benar-benar perataan hati lawan.

Ia masih menganggap bahwa dua orang kakek itu memandang dia yang muda amat rendah kepandaiannya..

Sambil tersenyum mengejek nona ini mencabut pedang Li-lian-kiam lalu berkata.

"Tok-pi Sin-kai dan Im-kan Hek-mo! Aku juga tidak takut untuk membela kehormatan suhu. Jangankan baru kalian berdua yang maju, biar ditambah lagi dengan seorang Bu Kam Ki seperti ketika kalian mengeroyok suhu, akupun tidak takuti. Kalau aku sampai kalah menghadapi pengeroyokan kalian berdua, biar kugunduli rambutku!"

Memang Lee Ing suka sekali berjenaka, akan tetapi kali ini ia agak keterlaluan.

Hal ini tidak saja karena dia memang agak aneh wataknya semenjak keluar dari Gua Siluman, akan tetapi kiranya terutama sekali karena ia baru saja mengalami goncangan batin yang hebat ketika melihat ayahnya tewas.

Di dalam dadanya berkumpul perasaan marah, duka, menyesal, dan sakit yang kesemuanya hendak ia tumpahkan kini.

Akan tetapi oleh karena ia tidak melihat sesuatu dalam sikap dua orang kakek itu yang bisa membuat ia marah, maka sekarang ia hanya mempergunakan kata-kata mengejek dan memandang rendah mereka untuk memuaskan hatinya yang sedang bergejolak hebat.

Dua orang kakek itu berobah air mukanya mendengar kata-kata Lee Ing seorang gadis muda remaja, cantik jelita seperti itu berjanji hendak menggunduli kepalanya kalau kalah.

Inilah pertaruhan hebat sekali!

Dua orang kakek itu sudah banyak mengalami segala hal dalam hidup, maklum bahwa bagi wanita, kecantikan lebih berharga dari pada nyawa sehingga pertaruhan tadi bagi Lee Ing lebih berat dari pada mempertaruhkan nyawa!

Tok-pi Sin-kai menarik napas panjang.

"Semangatmu hebat sekali, nona. Membuat orang tua seperti aku menjadi malu. Karena kau sudah membuat taruhan, baiklah aku hendak menyatakan bahwa kalau dalam pibu ini kami kalah, tiada gunanya lagi lenganku yang tinggal sebelah ini."

"Nona masih muda dan cantik, kalau sudah berani mempertaruhkan rambut, tidak lebih ringan dari pada kalau aku mempertaruhkan sepasang mataku. Kalau kami kalah berarti aku mempunyai mata, akan tetapi tidak dipergunakan dengan sebaiknya sehingga tidak mengenal nona. Maka lebih baik Sepasang mata ini kubuangkan saja,"

Kata Im-kan Hek-mo.

Mendengar ini, baru hati Lee Ing terkejut bukan main.

Tidak disangkanya bahwa ejekan tadi yang dikeluarkan seperti main-main memancing pertaruhan yang demikian hebat dari dua orang kakek itu.

Akan tetapi, kata-kata sudah dikeluarkan dan bagi orang gagah lebih baik mati dari pada menelan kembali kata-kata atau janji yang sudah diucapkan.

Lee Ing tidak bisa berbuat apa-apa lagi dan ia melintangkan pedang Li-li-an kiam di depan dadanya sambil berkata, kini tidak main-main lagi melainkan penuh kesungguhan dan hormat.

"Ji-wi (tuan berdua) mulailah!"

"Nona cilik, kau lihat tongkatku..!"

Seru Im-kan Hek-mo dan tongkat ularnya mulai melakukan serangan pertama yang hebat.

Kelihatannya si muka hitam ini hanya menusukkan tongkatnya, namun ujung tongkat ular itu seperti berubah menjadi lima dan lima macam serangan sekaligus menghujani tubuh Lee Ing!

"Bagus!"

Seru Lee Ing dan tubuhnya terhuyung ke sana ke mari, dengan gerakan pedang yang aneh ia berhasil memecahkan serangan Ngo-heng-Uan-hoan ini dengan mudahnya.

Akan tetapi segera ia memutar tubuh untuk menghindarkan diri dari angin pukulan Tok-pi Sin-kai yang sementara itu sudah pula terjun dalam pertempuran, mengeluarkan pukulan-pukulan yang selama ini ia latih khusus untuk menghadapi Bu-Beng Sin-Kun.

Diam-diam Lee Ing kagum.

Dua orang kakek benar-benar tak boleh dipandang ringan dan bukan hal mudah untuk menyelamatkan diri dari hujan serangan mereka, la menjadi kaget.

Di waktu mereka mengeroyok Sim Hong Lui.

tadi, kelihatannya tidak sehebat ini.

Mungkinkah sekarang dalam mengeroyok dia, dua orang kakek ini baru benar-benar mencurahkan kepandaian mereka?

Apakah tadi mereka tidak sungguh-sungguh ketika menempur Hong Lui?

la tidak mau memusingkan hal ini lebih lanjut, atau lebih tepat lagi, ia tidak diberi banyak kesempatan untuk memikirkan atau memperhatikan hal lain.

Serangan-serangan dua orang kakek itu benar-benar lihai dan berbahaya sekali, membuat gadis ini harus mencurahkan seluruh perhatian, mengerahkan seluruh kepandaian dan sinkang.

Pada jurus ke tiga puluh, hampir saja telinga kirinya "dimakan"

Tongkat ular Im-kan Hek-mo yang menyambar secara tidak terduga-duga dan cepatnya bukan main.

Hanya pendengarannya yang amat tajam dan perasaannya yang amat halus saja menyelamatkannya ketika ia miringkan kepala sehingga di pinggir telinganya terdengar suara "ngiiinggg....."

Dan daun telinganya terasa panas sekali.

Pada saat yang bersamaan pula pukulan Tok-pi Sin-kai menyambar keras ke arah lambungnya.

Baru saja terlepas dari ancaman tongkat sekarang terancam pukulan sehebat itu, tidak ada lain jalan bagi Lee Ing kecuali melempar tubuh ke belakang lalu berjungkir balik seperti trenggiling menuruni tebing jurang.

"Akan tetapi baru saja ia melompat berdiri, pukulan-pukulan Tok-pi Sin-kai dan tongkat ular Im-kan Hek-mo sudah mengurungnya lagi. Yang satu memukul dari bawah kalau yang lain menyerang dari atas, yang ke dua mempergunakan tenaga Yang-kang kalau yang pertama mempergunakan tenaga Im-kang. Benar-benar amat sukar bagi Lee Ing sehingga ia lebih banyak mengelak, berloncatan ke sana ke mari dari pada menyerang, Baiknya ia memiliki gerakan cepat dan lincah seperti seekor burung walet dan cara ia bergerak meloncat-loncat demikian kacau-balau seperti orang mabok menari-nari sehingga dua orang lawannya dapat dibuat bingung dan bohwat (tak berdaya). Demikianlah, untuk puluhan jurus Lee Ing di-desak terus tanpa dapat membalas, atau kalah dapat juga sedikit sekali. Pedang Li-li-an-kiam sudah sibuk untuk menangkis serangan tongkat ular yang seolah-olah sudah pian-hoa (berubah) menjadi belasan ekor ular hidup itu. Tangan kirinya sudah sibuk untuk kadang-kadang menangkis pukulan tangan Tok-pi Sin-kai yang amat kuat dan cepat gerakannya. Memang, kalau dibandingkan dengan dua orang kakek itu, Lee Ing merupakan seorang tokoh yang masih hijau. Baik dalam hal pengertian ilmu silat, atau pengalaman bertempur maupun latihan tenaga dalam, gadis ini sebetulnya ketinggalan jauh sekali. Dua orang kakek itu sudah merupakan datuk-datuk atau lebih muluk lagi, sebagai dewa-dewa dalam ilmu silat, menduduki puncak tertinggi dan pada masa itu sukar dicari tandingannya. Mereka telah menjadi jago-jago silat kenamaan ketika Lee Ing belum terlahir dari kandungan ibunya! Yang amat mengherankan hati Lee Ing, dua orang itu bermain silat dengan serasi sekali dan setiap gerakan seakan-akan memang sengaja diciptakan untuk menghadapi ilmu-silatnya, Thian-te-kun yang ia pelajari di dalam Gua Siluman! Serangan-serangan dua orang itu biarpun kelihatannya tidak diatur lebih dulu, akan tetapi merupakan serangan-serangan dengan dua unsur Im dan Yang, sungguh amat cocok dan amat berat menghadapi Thian-te-kun! Setelah seratus jurus bertempur mati-matian, diam-diam Lee Ing memaki diri sendiri.

"Kau goblok,"

Pikirnya.

"berani memandang rendah mereka ini. Hemmm, Lee Ing...... Lee Ing.... memang sudah nasibmu agaknya menjadi seorang gundul, menjadi.. menjadi... nikouw (pendeta wanita). Celaka sekali."

Entah mengapa, tiba-tiba saja terbayang wajah Siok Ho di depan matanya, lalu terbayang pula wajah Han Sin, lalu Siok Bun!

Bagaimana reaksi mereka, tiga orang pemuda itu kalau melihat dia menjadi gundul pelontos, menjadi nikouw?

(Lanjut ke

Jilid 24) Pusaka Gua Siluman (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 24

"Lebih baik mampus....I"

Pikiran ini tanpa disengaja keluar dari mulut Lee Ing.

dan gerakan pedangnya menjadi nekat dan hebat, la memang sudah tidak ada harapan untuk menang, maka takut apa lagi?

Pedangnya berkelebat cepat dan tangkas, berobah menjadi ganas sekali.

Akan tetapi hanya untuk beberapa jurus saja dua orang kakek itu terkejut dan mundur, selanjutnya kembali Lee Ing terkurung rapat dan tertindih oleh hawa pukulan Tok-pi Sin-kai dan bayangan tongkat ular di tangan lm-kan Hek-mo!

"Kau lihat, Sin-kai, Thian-te-kun sebetulnya tidak seberapa setelah kita benar-benar melatih diri.

Tanpa bantuan Bu Kam Ki.

kita berdua sudah mampu menggencet Thian-te-kun,"

Kata lm-kan Hek-mo dengan suara penuh kepuasan hati.

"Kau benar, Hek-mo,"

Baca Juga: Kisah Pendekar Bongkok 6

Baca Juga: Jaka Lola 7

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert