Eps 9 Pusaka Gua Siluman - Kho Ping Hoo
Baca online Pusaka Gua Siluman - Kho Ping Hoo
Cersil Pusaka Gua Siluman - Kho Ping Hoo.
Jawab Tok-pi Sin-kai. Alangkah mendongkolnya hati Lee Ing mendengar ini.
"Tua bangka-tua bangka sombongi Aku belum kalah, jangan tertawa-tawa dulu. Hayo robohkan aku kalau memang kalian merasa menang! Apa lagi baru kalian berdua, biar Pek-kong-Sin-ciang Bu Kam Ki maju sekalian membantu kalian aku takkan menyerah kalah!"
"Tiba-tiba terdengar suara ketawa nyaring.
"Nona Souw memang lihai sekali, semuda ini sudah bisa menjunjung tinggi nama gurunya. Dan memang tidak kalah hebat oleh Bu-Beng Sin-Kun sendiri!"
Melihat orang yang datang, dua orang kakek itu berseru girang.
"Sin-ciang (Tangan Sakti), akhirnya kau datang juga. Apa kau tidak penasaran kalau kita dikalahkan kedua kalinya oleh Thian-te-kun?"
Kata Tok-pi Sin-kai.
"Kam Ki, nona ini menantang kita bertiga, apa kau tidak malu?"
Kata pula lm-kan Hek-mo.
Diam-diam Lee Ing mengeluh melihat munculnya kakek ini yang bukan lain adalah Pek-kong-Sin-ciang Bu Kam Ki sendiri yang tadi ia tantang-tantang suruh mengeroyok sekalian!
"Mampus..."
Pikirnya.
"lengkap ketiga-tiganya. Suhu, kali ini muridmu agaknya takkan dapat menjaga nama besarmu...."
Bu Kam Ki tertawa.
"Benar menggembirakan, mengingatkan aku akan Bu-Beng Sin-Kun. Nona Souw, apa kau berani menghadapi kami bertiga?"
"Kakek-kakek cerewet. Siapa sih yang takut? Majulah, jangan hanya kalian bertiga, panggil anak cucu kalian semua ke sini, suruh mengeroyok aku. Aku takkan lari!"
Jawab Lee Ing dan pedangnya digerakkan menyambar ke arah tubuh Bu Kam Ki.
Kakek ini yang sudah pernah kalah oleh Lee Ing, cepat-cepat mengelak dan di lain saat ia bersama dua kakek yang lain sudah bergerak secara otomatis dan harmonis sekali, mengeroyok Lee Ing yang menjadi kewalahan dan kepalanya pusing melihat gerakan-gerakan tiga orang itu benar menindih semua gerakan Thian-te-kun!
Tiba-tiba Lee Ing teringat akan ilmu pukulan Lo-thian-tong-te, yaitu gerakan-gerakan terakhir dari Thian-te-kun, gerakan yang diciptakan oleh Bu-Beng Sin-Kun pada saat, terakhir sehingga guru besar itu mati berdiri dalam sikap kuda-kuda gerakan itu!
Gerakan Lo-thian-tong-te ini sekaligus merangkap unsur Im dan Yang, dan sesuai sekali untuk menghadapi lawan-lawan yang menggunakan dua unsur ini yang dikombinasi tadi oleh dua orang.
Dengan semangat besar Lee Ing menerjang maju, memainkan ilmu pukulan ini.
Semangatnya bangkit kembali dan ia melakukan seluruh tenaga terakhir dari sinkangnya.
Akibatnya hebat.
Tanpa disengaja, Lee Ing telah mengeluarkan ilmu silat yang memang sengaja diciptakan dengan pertimbangan masak-masak oleh Bu-Beng Sin-Kun, khusus untuk menghadapi tiga orang lawan kawakannya, yaitu mereka bertiga yang sekarang mengeroyok Lee Ing.
Tok-pi Sin-kai berteriak, tubuhnya terhuyung ke belakang dan tangannya yang tinggal sebelah menjadi kaku karena tertotok oleh telunjuk tangan kiri Lee Ing, dan pada saat itu juga, Im-kan Hek-mo berseru keras sambil melompat mundur karena tongkat ularnya mencelat terlepas dari tangannya.
Bu Kam Ki masih sempat melompat mundur dan menyelamatkan diri dari sebuah tendangan kilat.
Selagi ia hendak menyerang lagi, ia melihat sesuatu yang membuat matanya terbelalak dan mukanya pucat.
Ternyata setelah menderita kekalahan ini, cepat sekali Tok-pi Sin-kai menyerang lagi dan ketika Lee Ing menangkisnya dengan pedang Li-lian-kiam, dengan sengaja kakek buntung itu menerima datangnya pedang dengan lengannya.
Lee Ing terkejut dan maklum akan maksud lawan, cepat ia hendak menarik kembali pedangnya, namun terlambat.
Lengan yang tinggal sebelah itu buntung sampai sebatas siku dan Tok-pi Sin-kai tertawa bergelak memandangi lengan tunggalnya yang kini juga sudah buntung itu.
"Bagus...! lebih baik tak berlengan dari pada mempunyai lengan yang tiada gunanya!"
Katanya. Selagi Bu Kam Ki tertegun, ia mengeluarkan seruan keras ketika melihat lm-Kan Hek-mo melakukan lain hal yang lebih mengerikan lagi. Kakek bermuka hitam ini berkati keras.
"Untuk apa punya mata seperti buta? Lebih baik tidak bermata sama sekali!"
Dan dua buah jari tangannya menusuk dan mengorek keluar matanya sendiri.
Kakek ini tertawa bergelak, lalu terhuyung-huyung dan roboh pingsan, mukanya penuh darah!
Biarpun Bu Kam Ki tadinya tidak suka melihat dua orang bekas kawan baiknya ini begitu bernafsu untuk menculik Souw Teng Wi, akan tetapi menyaksikan keadaan mereka, darahnya yang sudah lama didinginkan itu mendadak menjadi panas kembali, la memandang kepada Lee Ing dan memaki.
"Kau seorang bocah siluman keji sekali hatimu!"
Setelah berkata demikian.
Bu Kam Ki melakukan serangan, memukul dengan ilmu pukulan Pek-kong-Sin-ciang yang hebat ke arah Lee Ing.
Sejak tadi Lee Ing sudah kesima, berdiri seperti patung melihat dua orang kakek itu memenuhi janji atas taruhan mereka secara mengerikan sekali, la menyesal bukan main karena dua orang kakek itu telah menjadi demikian karena dia, karena dia tidak mau mengalah!
Tiba-tiba ia merasa datangnya angin pukulan hebat sekali yang menyambarnya, la maklum bahwa Bu Kam K i marah sekali.
Secepat kilat Lee Ing mengelak dan melompat jauh sambil berkata.
"Bu-locianpwe, mereka yang mendesak aku dan mereka sendiri yang bertaruh seperti itu. Bu-locian-pwe, ayah telah tewas secara menyedihkan, hatiku penuh kedukaan, apakah kaupun hendak mengganggu lebih jauh?"
Suara Lee Ing bercampur isak tangis karena selelah ia menyesal setengah mati melihat dua orang kakek yang sekarang menjadi orang-orang cacad itu, ia teringat kepada ayahnya.
Bu Kam Ki menarik napas panjang, lalu membatalkan serangannya lebih lanjut, la menolong Tok-pi Sin-kai yang sudah terhuyung-huyung hendak roboh pula, lalu menotok pangkal lengannya untuk menghentikan mengalirnya darah.
"Kau pergilah, nona Souw,"
Katanya perlahan.
Dengan langkah gontai Lee Ing membalikkan tubuh pergi dari situ, akan tetapi segera mempercepat langkahnya ketika ia teringat bahwa jenazah ayahnya tentu sedang diurus dan dirawat oleh Pek Mau Lojin.
Ketika ia tiba di ruangan depan kelenteng yang belum terbakar, ia melihat jenazah ayahnya dan jenazah-jenazah lain sudah dimasukkan peti dan di situ terdapat banyak sekali orang.
Selain para anak murid Hoa-lian-pai yang memberi penghormatan terakhir dan mengabungi ketua mereka, juga terdapat banyak orang laki-laki.
Akan tetapi pandang mata Lee Ing tidak memperhatikan yang lain-lain, hanya ditujukan kepada peti jenazah ayahnya dan kepada Pek Mau Lojin yang berdiri di depan peti-peti itu.
Melihat hio yang banyak dan mengebul di depan peti-peti jenazah, dapat diketahui bahwa banyak orang sudah menyembahyangi jenazah-jenazah itu.
Lee Ing melihat ada empat peti jenazah di situ.
Ia dapat menduga bahwa yang dua adalah peti jenazah ayahnya dan Lui Siu Nio-nio, akan tetapi jenazah siapakah yang dua lagi dan agak dipisahkan di pojok?
Dan di depan peti mati yang dua ini tidak ada orang yang mengabunginya.
hanya dibakari hio saja.
Ia baru hendak menghampiri dan bertanya, ketika tiba-tiba dari rombongan orang-orang muncul seorang hwesio yang mukanya kehitaman.
Hwesio ini melompat ke depan dua buah peti jenazah di pojok, lalu menjatuhkan diri, berlutut dan menangis!
Kemudian, di luar dugaan, hwesio ini mencabut pedang dan melompat cepat ke dekat Pek Mau Lojin lalu menusukkan pedangnya dari belakang ke arah punggung kakek itu!
Pek Mau Lojin sedang menenggak araknya dari guci sambil berdiri saja.
Memang kakek ini aneh sekali.
Lain orang bersembahyang, lain orang berkabung dan berduka, dia malah minum arak di depan peti-peti mati!
Lebih aneh lagi kalau tadi mendengar ia mengucapkan selamat kepada Souw Teng Wi dan Lui Siu Nio-nio sebelum minum araknya dengan kata-kata nyaring.
"Souw Teng Wi, Lui Siu Nio-nio, kalian benar bahagia sekali, terbebas dari pada belenggu hidup, takkan tergoda suka, takkan menderita duka, seperti kami yang masih hidup. Oleh karena itu, patut aku menghaturkan selamat!"
Demikianlah selagi ia minum arak dari gucinya untuk "memberi selamat"
Kepada dua orang yang telah meninggal dunia itu, tiba-tiba saja hwesio bermuka hitam yang menangisi dua peti jenazah yang lain itu tiba-tiba menusuknya dari belakang!
Para anak murid Hoa-lian-pai berseru kaget.
Im-Yang Thian-Cu yang sedang duduk terpekur bersila di dekat peti mati Lui Siu Nio-njo menengok kaget.
Lee Ing hendak bergerak menghalangi serangan curang ini, akan tetapi tiba-tiba matanya yang tajam melihat sebuah benda kecil melayang ke arah pedang itu.
Tepat sekali ketika pedang mengenai punggung, terdengar suara keras "pletak-pletak!"
Dan pedang itu patah menjadi tiga potong!
Semua anak murid Hoa-lian-pai berseru kagum memuji.
Juga Lee Ing kagum sekali karena biarpun ia tahu bahwa pedang itu patah-patah karena sambaran benda kecil yang dilepas orang lain, namun ujung pedang sudah mengenai punggung dan kalau Pek Mau Lojin tidak mempunyai apa-apa yang hebat untuk membuat punggungnya kebal, tentu punggung itu sudah terluka.
Pek Mau Lojin memutar tubuhnya perlahan menghadapi hwesio muka hitam itu, lalu sambil tertawa ia berkata.
"Sobat gundul, kau siapakah dan apa sebabnya datang-datang menyerangku?"
Hwesio muka hitam itu menjawab ketus.
"Pek Mau Lojin, kau mau bunuh pinceng boleh bunuh sekalian. Setelah di sini berkumpul banyak , orang pandai dan pinceng tak dapat membalas sakit hati kepadamu, biarlah pinceng siap menerima binasa!"
"Eh-eh, nanti dulu. Kau siapa dan mengapa mengandung dendam kepadaku?"
Hwesio itu menudingkan telunjuknya ke arah dua peti mati di pojok, lalu berkata.
"Dua orang saudaraku Ang Bin Hosiang dan Oei Bin Hosiang telah tewas di tanganmu. Aku Ouw Bin Hosiang juga bukan orang takut mati."
Teringatlah Pek Mau lojin akan dua orang hwesio muka merah dan muka kuning yang tewas karena pukulan dua buah guci araknya, dan melihat si muka hitam ini iapun tahu dengap siapa ia berhadapam Katanya sambil mengerutkan kening.
"Akh, kiranya kau dan dua orang saudaramu itu adalah Hu-niu Sam lojin? Heran....... heran...., mengapa orang-orang seperti kalian bisa diperbudak oleh segala macam menteri durna?"
Muka yang hitam itu menjadi makin gelap ketika Ouw Bin Hosiang mendengar ucapan ini.
Akan tetapi ia tidak bisa menjawab.
Memang tak dapat disangkal pula, setelah menyaksikan sepak terjang Auwyang Tek, tahulah dia dan saudara-saudaranya bahwa anak menteri ini tak boleh dibilang manusia baik-baik!
"Ada dua fihak bertentangan.
Kau berdiri di Satu fihak dan aku berdiri di fihak lain.
Tak perlu mencari tahu sebabnya, yang sudah jelas kau telah membunuh dua orang saudaraku.
Pek Mau Lojin, bagaimanapun juga pinceng tak mungkin dapat melupakan bahwa tanganmu yang merenggut nyawa dua orang saudaraku."
Pek Mau Lojin menenggak lagi araknya, lalu berkata sambil menarik napas panjang.
"Sesuka-mulah...!"
Ia lalu memutar lagi tubuhnya menghadapi peti jenazah Souw Teng Wi dan Lui Siu Nio-nio, katanya keras.
"Souw Teng Wi dan Lui Siu Nio-nio, kalian melihat dan mendengar sendiri! Alangkah membosankan hidup ini, selalu terbentur permusuhan! Tanpa kucari, lagi-lagi aku ditambahi seorang musuh..."
Lee Ing segera melangkah maju.
"Ouw Bin Hosiang dan saudara-saudaranya telah kena bujuk oleh Bu Lek Hwesio, menjadi kaki tangan Auwyang Tek yang jahat. Kemudian melihat Bu Lek Hwesio sendiri dibunuh Auwyang Tek, masih tidak sadar dan terus menjadi anjing-anjing pemuda bangsawan itu. Dari sini saja dapat diukur bagaimana macamnya watak Hui-niu Sam-lojin. He, hwesio gundul jangan banyak tingkah. Biarpun dua orang saudaramu terbunuh oleh Pek Mau Lojin, akan tetapi akulah orangnya yang merobohkan mereka. Kalau kau tidak terima, boleh kau balas kepadaku!"
Ouw Bin Hosiang melangkah muudur memberi hormat kepada Lee Ing, lalu berkata keras.
"Jelaslah sudah sekarang. Kiranya nona rouaa yang lihai telah mengalahkan dua orang saudaraku. Tidak tahu siapakah nama besar lihiap?"
"Aku Souw Lee Ing, kau ingat baik-baik."
Hwesio itu berubah air mukanya.
"Hemmin, tidak tahunya puteri Souw Teng Wi sendiri. Baik, takkan pinceng lupakan nama itu."
Setelah berkata demikian, hwesio Ini menghampiri dua peti mati saudara-saudaranya, lalu memanggul pergi dua peti mati itu di kedua pundaknya.
Kemudian ia berlari cepat meninggalkan Ta-pie-san.
Apa yang ia lakukan ini saja sudah membuktikan betapa hebat tenaga hwesio itu, akan tetapi di hadapan orang orang pandai, ia kelihatan tidak berarti.
Setelah hwesio Itu pergi, perhatian Lee Ing kembali kepada peti jenazah ayahnya, la melompat maju dan berlutut di depan peti mati, dengan kedua tangan gemetar ia menerima hio yang dinyalakan oleh Pek Mau Lojin, bersembahyang mengangkat hio dengan muka pucat dan air mata menitik turun.
Bibirnya bergerak-gerak.
"Ayah..."
Dan hio itu terlepas dari tangannya, tubuhnya limbung dan Lee Ing terguling, roboh pingsan!
Setelah mengalami segala peristiwa yang amat tegang menekan hatinya, setelah semua peristiwa itu lewat, gadis yang terlampau banyak menahan kedukaan hatinya ini tak kuat lagi menahan dan roboh pingsan di depan peti mati ayahnya.
la tidak tahu betapa tiga orang pemuda melompat maju dan beramai menolongnya.
Mereka itu adalah Siok Bun, Han Sin, dan Siok Ho.
Bagaimana mereka bisa sampai di situ?
Mari kita mundur sebentar dan mengikuti jejak mereka sebelum mereka berkumpul di tempat itu untuk menyaksikan Lee Ing terguling pingsan di depan peti mati ayahnya.
Liem Han Sin datang ke Bukit Ta-pie-san bersama dengan Pek-kong-sin-kauw Siok Beng Hui dan Pek-kong-sin-ciang Bu Kam Ki, nelayan tua di Telaga Tung-ting yang bukan lain adalah guru dari Siok Beng Hui.
Seperti telah dituturkan di bagian depan, setelah bertemu dengan Siok Beng Hui, Han Sin lalu berpisah dengan Lee Ing.
Pemuda ini diajak oleh Siok Beng Hui untuk menunjukkan di mana adanya gurunya, Bu Kam Ki.
Makin dekat dengan Telaga Tung-ting, makin gelisah dan tidak enak hati Han Sin, Bertemu kembali dengan Bu Kam Ki baginya tidak apa-apa, akan tetapi bertemu dengan Bu Lee Siang, amat tidak enak rasanya bertemu dengan gadis yang pernah menggantung diri karena ia menolak usul perjodohan dengan gadis itu.
Hari telah senja ketika Han Sin dan Beng Hui memasuki wilayah Tung-ting, kira-kira masih tiga puluh li lagi dari kampung tempat tinggal Bu-Lo-hiap.
"Masih jauhkah?"
Tanya Siok Beng Hui.
"Kurang lebih tiga puluh li lagi,"
Jawab Han Sin.
"Kalau begitu kita harus mempercepat perjalanan agar jangan kemalaman di tengah jalan,"
Kata pula Siok Beng Hui.
"Memang, apa lagi sebentar lagi kita memasuki hutan. Akan tetapi kalau lo-enghiong mengerahkan seluruh kepandaian, mana siauwte mampu mengimbangi kecepatanmu?"
"Kita berjalan menurut ukuran ilmu larimu."
Memang Siok Beng Hui biasa bicara singkat. Sangat tidak menyedapkan hati Han Sin yang belum lama Ini melakukan perjalanan di samping seorang gadis jenaka dan "cerewet"
Yang menyenangkan hatinya!
Akan tetapi pada saat dua orang ini memasuki hutan, dari arah kiri berlompatan tiga orang menghadang.
Alangkah kaget hati Han Sin ketika melihat bahwa mereka ini bukan lain adalah Sin-jiu Ciong Thai, jago Lembah Yang-ce bersama interinya, Bu-eng Sin-kiam Giam Loan, dan adiknya, Ciong Sek!
Han Sin menjadi heran sekali.
Bagaimana tiga orang itu masih hidup?
Menurut perhitungannya, sudah hampir dua bulan semenjak mereka itu terluka oleh pukulan Pek-kon-sin-ciang dari Bu Kam Ki dan kini mereka masih segar bugar.
Padahal menurut Bu Kam Ki, paling lama tiga hari semenjak hari itu mereka akan tewas!
Siok Beng Hui tidak mengenal mereka maka berhenti dan memandang dengan mata bertanya.
Ketika dengan suara perlahan Han Sin membisikkan siapa adanya tiga orang itu, muka Siok Beng Hui menjadi merah.
Jadi mereka inikah yang telah membunuh tunangan puteri suhunya?
Mereka ini musuh suhunya dan berarti musuhnya pula.
Sementara itu, Bu-eng Sin-kiam Giam Loan si genit cabul yang melihat Han Sin segera memperlihatkan senyumnya.
Hatinya girang sekali.
"Kebetulan kau datang, Mana perempuan siluman itu? Mengapa tidak sekalian datang agar kami mudah memberi hukuman?"
Katanya garang.
Tentu saja ucapan ini hanya kesombongan kosong belaka.
Giam Loan sudah cukup tahu bahwa kepandaian Lee Ing luar biasa tingginya dan bahwa dia dan suami serta iparnya takkan mampu mengalahkannya.
Akan tetapi karena memang sejak tadi ia dan suami serta iparnya mengikuti Han Sin, maka tahulah dia bahwa Lee Ing tidak bersama pemuda itu, juga Bu-lohiap tidak kelihatan.
Kalau ada dua orang itu, mana dia dan suaminya berani muncul?
Han Sin maklum bahwa mereka tidak mengandung maksud baik.
"Aku dan nona Souw tidak mempunyai urusan dengan kalian, malah-malah sedikit banyak aku dan nona Souw sudah berusaha untuk menolong kalian. Mengapa kalian memperlihatkan sikap bermusuhan?"
Dahulunya memang Han Sin mengharapkan bantuan tiga orang ini dalam pergerakan Tiong-gi-pai kelak.
Akan tetapi setelah ia mengenal watak mereka yang curang dan palsu, ia sekarang tidak sudi lagi bersekutu dengan mereka dan tidak mau bersikap menghormat seperti yang sudah-sudah.
"Bocah she Liem! Bisa saja kau membuka mulut. Pertolongan apa yang kau telah berikan kepada kami? kau bersekongkol dengan tua bangku she Bu, memberi obat palsu kepada kami. Kalau tidak bertemu dengan susiok (paman guru) yang pandai mengobati, apa kau kira kami bertiga sekarang masih dapat bertemu muka dengan kau?"
Kata Sin-jiu Ciong Thai dengan marah. Han Sin tersenyum mengejek.
"Obat palsu atau bukan, bukan urusanku. Buktinya, aku dan nona Souw sudah berusaha menolongmu. Kau terima atau tidak juga bukan urusanku. Akan tetapi kau sekeluargamu tidak menghargai pertolongan orang, malah hendak mempergunakan siasat licik untuk mencelakai aku dan nona Souw. Ciong Thai, kau sekarang membawa isteri dan adikmu,menghadang perjalananku, mau apakah?"
"Menghancurkan kepalamu, apa lagi!"
Bentak Ciong Sek yang sudah mencabut siang-kiam (pedang pasangan) dan menusuk dengan gerakan dahsyat.
"Bagus, Memang kalian bertiga bukan manusia baik baik!"
Kata Han Sin yang cepat mengelak sambil mengeluarkan sepasang senjatanya, yaitu kipas dan pit.
la maklum bahwa tiga orang ini bukanlah orang-orang lemah, akan tetapi sedikitpun Ia tidak memperlihatkan rasa takut.
"Keparat, kali ini kau tentu mampus!"
Bentak Ciong Thai sambil bergerak maju, kedua tangannya mulai melancarkan pukulan-pukulan jarak jauh yang lihai.
"Orang muda, kalau kau mau berlutut minta ampun dan selanjutnya mau menjadi bujangku, aku akan mengampuni nyawamu!"
Terdengar Giam Loan tertawa genit dan menggerakkan pedangnya maju ke depan.
Dikeroyok oleh tiga orang ini dan mendengar ucapan-ucapan mereka, terutama sekali ucapan Giam Loan, darah Han Sin mulai bergolak.
"Persetan dengan kalian bertiga orang-orang busuk!"
Bentaknya dan kipas serta pitnya bekerja cepat sekali, melakukan penjagaan diri sambil mencari kesempatan membalas serangan.
Akan tetapi sukar sekali ia mendapatkan kesempatan ini karena tiga orang lawannya memang amat lihai.
Tiba-tiba kelihatan dua sinar putih yang berkilauan menyambar ke dalam gelanggang pertempuran, dan terdengar bentakan keras.
"Tiga ekor binatang tak tahu malu, pergilah!"
Ciong Sek yang mula-mula menerima serangan dua gulung sinar putih ini dengan sepasang pedangnya, kaget sekali karena merasa tangannya tergetar.
Ketika ia memandang, ia melihat bahwa yang menyerangnya adalah orang tua yang tadi datang bersama Han Sin, yang menyerang dengan menggunakan sepasang senjata gaetan berwarna putih.
Juga Ciong Thai kaget melihat hebatnya serangan ini, maka ia melompat mundur diikuti oleh isteri dan adiknya sambil berseru.
"Siapa kau berani mencampuri urusan Sin-jiu Ciong Thai sekeluarga?"
Siok Beng Hui menggerak-gerakkan sepasang senjatanya di depan dada, lalu berkata keren.
"Orang she Ciong! Suhu telah memberi ampun kepadamu, itu bukan berarti bahwa kau dan keluargamu masih mempunyai kebaikan, melainkan menunjukkan betapa Suhu masih menaruh kasihan kepada kalian bertiga. Akan tetapi kalian tidak tahu diri, tidak bertobat malah memperlihatkan yang tidak parut. Aku sekarang hendak mewakili suhu menyelesaikan hukuman yang setengah-setengah itu!"
Mendengar ini, Ciong Thai memandang kepada Siok Beng Hui dengan tajam lalu pandang matanya memperhatikan sepasang senjata kaitan itu.
"Aha, bukankah kau yang disebut Pek-kong-sin-kauw Siok Beng Hui?"
Sinar mata tiga orang itu menjadi berapi.
"Bagus, luput gurunya, mendapatkan muridnyapun baik!"
Bentak Ciong Sek yang tak dapat menahan sabar lagi, sepasang pedangnya menyambar.
Siok Beng Hui menangkis dengan sepasang kaitannya dan di lain saat ia telah dikeroyok oleh Ciong Thai dan Ciong Sek.
Adapun Giam Loan bagaikan seekor serigala betina menerjang Han Sin dengan pedang tunggalnya yang tentu saja tidak didiamkan oleh Han Sin, ditangkis oleh kibasan kipasnya dan pitnya menyambar melakukan serangan balasan yang tak kalah dahsyatnya.
Pertarungan berlangsung makin seru.
Han Sin dengan sepasang senjatanya yang ringan dan mempunyai gaya tersendiri, masih dapat mengimbangi permainan pedang Bu-eng Sin-kiam Giam Loan yang cepat bukan main, yang memiliki ilmu pedang cabang Go-bi-pai yang sudah tersohor kelihaiannya.
Akan tetapi, betapapun lihai permainan sepasang kaitan dari Pek-kong Sin-kauw Siok Beng Hui, menghadapi keroyokan Ciong Thai dan Ciong Sek, ia merasa kewalahan juga dan terdesak hebat.
Walaupun demikian, tidak mudah bagi kakak beradik she Ciong itu untuk mengalahkan Siok Beng Hui.
Untuk dapat mendesak saja mereka harus mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan seluruh kepandaian mereka.
Han Sin dengan hati-hati sekali menghadapi pedang di tangan Giam Loan yang memiliki gerakan cepat.
Seperti juga suaminya.
Giam Loan yang maklum bahwa dengan pemuda tampan ini tak dapat dipergunakan jalan halus, kini ia menyerang mati-matian, mengeluarkan seluruh kepandaian dan tenaganya.
Setelah lewat lima puluh jurus, tiba-tiba Giam Loani mengeluarkan pekik nyaring dan pedangnya bergerak bagaikan ular menyambar dengan getaran aneh.
Inilah gerak tipu Sin-coa-liak-sui (Ular Sakti Menyambar Air) dari Ilmu Pedang Go-bi Kiam-hoal yang hebat.
Gerakan ini membutuhkan pengerahan tenaga dalam yang sepenuhnya baru sempurna.
Han-Sin kaget bukan main karena pedang lawan seakan-akan berobah menjadi banyak dan yang menyambarnya dari pelbagai jurusan.
Cepat ia mengerahkan tenaga, menangkis dengan pit dan menggoyangkan kipasnya.
"Praaakkk!"
Ujung kipasnya sobek oleh pedang lawan dan ujung pedang itu yang sudah menembus kipas, meluncur ke arah tenggorokannya!
Han Sin mengeluarkan seruan kaget dan menjatuhkan diri ke belakang.
Akan tetapi sebetulnya ia tak perlu melakukan gerakan ini karena tiba-tiba sekali Giam Loan menjadi limbung, pedangnya terlepas dari pegangan dan sambil mengeluh ia meraba-raba dadanya.
Itulah kesempatan yang amat baik kalau Han Sin mau menyerang lawannya.
Akan tetapi pemuda ini adalah seorang pendekar tulen.
Mana ia mau menyerang lawan yang tidak menjaga diri?
la malah menahan kedua senjatanya dan hanya berdiri memandang dengan penuh keheranan.
Ia tahu bahwa ia tadi berada dalam keadaan tidak menguntungkan, malah berbahaya sekali.
Mengapa sekarang tanpa ia menggerakkan tangan, lawannya yang lihai ini terhuyung-huyung Seperti orang terluka hebat?
Sekilas ia teringat kepada Lee Ing.
Gadis itukah yang kembali dan membantunya?
Siapa lagi kalau bukan Lee Ing yang dapat memukul roboh orang tanpa memperlihatkan diri?
Akan tetapi, ia tidak percaya kalau Lee Ing melakukan pukulan yang begini curang.
Hatinya berdebar di antara kegirangan dan juga.
kecemasan.
Girang karena ada kemungkinan berjumpa lagi dengan Lee Ing, akan tetapi cemas kalau-kalau benar Lee Ing yang melakukan penyerangan gelap itu.
Betapapun besar rasa cintanya terhadap gadis itu, tetap saja ia tidak membenarkan penyerangan gelap yang sama sekali tidak seharusnya dilakukan oleh orang gagah.
Sementara itu, Giam Loan kelihatan makin payah.
Mukanya pucat sekali dan la terhuyung-huyung lalu roboh terguling.
Mulutnya hanya bisa berkata perlahan.
"Pek-kok Sin-ciang..."
Dan nyonya muda yang di waktu hidupnya berwatak cabul, genit dan kotor ini menghembuskan napas terakhir! Melihat isterinya roboh, Ciong Thai kaget sekali.
"Celaka..., kita telah melanggar larangan Ang-susiok...!"
Dan aneh sekali, tiba-tiba diapun terhuyung ke belakang.
Siok Beng Hui yang terheran melihat ini, lebih heran lagi ketika tiba-tiba senjatanya yang menangkis sepasang pedang Ciong Sek, berhasil membuat sepasang pedang itu terlepas dari pegangan lawan, kemudian juga Ciong Sek terhuyung-huyung lalu roboh mengikuti kakaknya yang sudah roboh lebih dulu.
Seperti halnya Giam Loan, dua orang laki-laki ini mengeluh dan dalam sekejap mata tewas dengan luka menjadi putih sekali.
Siok Beng Hui dan Han Sin berdiri bengong saling pandang.
Siok Beng Hui lalu membungkuk, memeriksa muka Ciong Thai, lalu berseru.
"Ah, kiranya mereka telah menjadi korban pukulan suhu!"
Ia mulai menengok ke kanan kiri, melihat kalau suhunya berada di situ.
Akan tetapi bukan Pek-kong Sin-ciang Bu Kam Ki yang datang melainkan seorang bocah gundul yang berlari cepat ke tempat itu.
Bocah ini adalah Ciong Swi Kiat, putera Ciong Thai.
Melihat ayahnya menggeletak di atas tanah dalam keadaan tidak bernyawa lagi, bocah gundul yang baru berusia dua belas tahun itu berlari menghampiri sambil menangis, lalu menubruk memeluki mayat ayahnya.
"Ayah, bangunlah... Jangan mati, ayah. Jangan tinggalkan aku seorang diri... aku cinta padamu, aku tidak benci padamu.... bukan kau yang jahat terhadap aku melainkan ibu tiriku...., ayah.... bangunlah....!"
Anak itu menangis terus dan mengguncang-guncang tubuh ayahnya.
Ketika usahanya sia-sia belaka dan ia yakin takkan mampu membangunkan ayahnya, ia menahan isaknya, menggerakkan kepalanya dan kini ia memandang kepada Han sin dan Siok Beng Hui.
Sepasang mata yang tajam itu seperti mengeluarkan api.
Kemudian sambil berteriak nyaring bocah gundul itu melompat dan menyerang Han Sin dan Siok Beng Hui dengan kalang kabut!
"Keturunan orang jahat kalau tidak dibasmi, kelak menimbulkan keributan saja,"
Kata Siok Beng Hui, siap untuk menyerang. Akan tetapi Han Sin mencegah.
"Harap Siok lo-enghiong menaruh kasihan bocah ini. Dia tidak sejahat mereka."
Selagi Siok Beng Hui ragu-ragu, dari arah datangnya anak gundul tadi, berkelebat bayangan merah, dan tahu-tahu seorang kakek berjubah merah, bertopi merah sehingga kelihatan seperti seorang badut, telah berada di situ dan menarik lengan Ciong Swi Kiat ke belakang.
Kemudian kakek jubah merah ini melirik ke arah tiga mayat yang bergeletakan di situ.
Ia menarik napas panjang dan berkata.
"Kodrat tak dapat dirobah. Belum seratus hari sudah berani berkelahi mengerahkan Iweekang. Sama dengan membunuh diri sendiri!"
Setelah berkata-kata seorang diri, ia menoieh kepada Siok Beng Hui dan Han Sin, mengerutkan kening dan bertanya.
"Kalian ini orang-orang apa, melihat tiga orang sudah terluka berat masih diajak bertanding sampai mereka mati sendiri?"
Begitu melihat munculnya kakek aneh ini, Siok Beng Hui sudah menjadi terkejut sekali.
Biarpun selama hidupnya belum pernah ia melihat kakek ini sebelumnya, namun ia sudah sering kali mendengar akan adanya seorang tokoh kang-ouw aneh yang berjubah merah.
Orang itu hanya dikenal sebagai Ang Sinshe (Tabib Ang) dan selain memiliki ilmu silat yang tinggi juga terkenal sebagai seorang tukang obat yang pandai.
Sayangnya, nama Ang Sinshe tidak begitu harum karena praktek-prakteknya yang kotor.
Dia termasuk seorang tokoh Hek-to yang ditakuti, akan tetapi tidak dimusuhi oleh orang-orang gagah karena selain ia kadang-kadang suka menolong orang-orang sakit, juga sudah lama tokoh ini tidak muncul di dunia ramai sehingga sepak terjangnya tidak begitu menyolok.
"Kalau aku tidak salah duga, bukanlah locian-pwe ini Ang Sinshe?"
Tanya Siok Beng Hui sambil melangkah maju. Kakek baju merah itu terbatuk-batuk, batuk buatan yang agaknya sudah menjadi kebiasaannya.
"Kau Siapa sudah tahu namaku dan mengapa berkelahi dengan orang-orang sakit?"
"Siauwte Siok Beng Hui tidak tahu bahwa mereka itu menderita luka. Karena mereka menghina Pek kong Sin-ciang Bu Kam Ki dan orang tua itu adalah guruku maka...."
"Oho... jadi kau murid Bu Kam Ki? Bagus, Dia menghina murid keponakanku, apa dikira aku tidak bisa menyerang muridnya? Ha-ha-ha, orang she Siok, kau harus mengantar murid keponakanku ke alam baka!"
Setelah berkata demikian tiba-tiba tangan kakek itu bergerak dan segulung sinar merah menyambar cepat dan kuat sekali ke arah kepala Siok Beng Hui.
Itulah ujung lengan baju kakek itu yang digerakkan dengan tenaga Iweekang yang luar biasa kuatnya sehingga kain baju itu menjadi seperti sebatang loya baja yang kuat.
Jangankan baru kepala seorang manusia, biarpun kepala patung batu kiranya akan hancur lebur kalau terkena pukulan ujung lengan baju yang sudah membaja ini!
"Orang tua, jangan sombong!"
Bentak Siok Beng Hui sambil melompat mundur dan menggerakkan kaitannya menangkis.
Akan tetapi alangkah terkejutnya ketika kaitannya yang kiri yang dipergunakan untuk menangkis itu, ujungnya telah terlibat kain baju merah dan tak dapat dibetot kembali.
Sebaliknya, ia merasa tenaga betotan yang demikian kuat sehingga kalau ia berkeras mempertahankan kaitannya, tentu tubuhnya akan terbawa dan tertarik ke arah lawan.
Hal ini amat berbahaya.
Setelah mengerahkan seluruh tenaganya dengan sia-sia, akhirnya Siok Beng Hui terpaksa melepaskan kaitan kirinya, terpaksa mengorbankan sebatang kaitannya untuk menyelamatkan diri.
"Ho-ho-ho, begini saja kepandaian murid Bu Kam Ki?*' ejeknya.
"Siok lo-enghiong, aku datang membantumu!"
Kata Han Sin yang melompat maju dengan sepasang senjatanya. Melihat senjata pemuda ini, kakek itu mengeluarkan suara ketawa mengejek.
"Im-yang Thian-cu sendiri tak berani banyak berlagak di depanku. Kau ini bocah ingusan mau memamerkan senjata-senjatamu? Terimalah ini!"
Sambil berkata demikian Ang Sinshe melontarkan senjata kaitan yang tadi ia rampas dari tangan Siok Seng Hui ke arah Han Sin.
Lemparan ini kuat bukan main sampai mendatangkan angin menyambar dan suara bersuitan ketika senjata itu bagaikan sebatang anak panah menyambar ke arah dada Han Sin.
Pemuda ini maklum akan kelihaian kakek jubah merah itu, maka ia tidak berani sembarangan menyambut dengan tangan.
Ia menangkis dengan kipasnya dan menyampok dengan pitnya.
Terdengar suara keras dan kipas yang tadi sudah bolong oleh pedang Giam Loan, sekarang bolong lagi pinggirnya terkena kaitan, sedangkan pitnya hampir terpukul jatuh.
Baiknya Han Sin cepat memutar pit itu dan menggerakkan kipas dengan gerakan memutar pula sehingga daya pukul kaitan itu musnah, malah senjata Siok Beng Hui dapat dirampas kembali.
Han Sin dengan muka berubah saking kagetnya tadi, lalu memberikan senjata itu kepada Siok Beng Hui, kemudian mereka berdua cepat menyambut datangnya serangan Ang Sinshe yang sudah datang, lagi dengan serbuannya, kini makin hebat karena ia marah dan penasaran melihat serangan-serangannya tadi tidak bisa sekaligus merobohkan dua orang, lawannya yang ia pandang ringan.
Biarpun Han Sin dan Siok Beng Hui lihai dan berlaku amat hati-hati, tetap saja mereka tidak dapat mempertahankan diri terhadap serangan kakek jubah merah itu yang benar-benar lihai sekali.
Kini dua buah ujung lengan bajunya mengamuk seperti sepasang naga berebut mustika, membuat pertahanan Han Sin dan Siok Beng Hui menjadi kalang kabut.
Betapapun juga, dua orang gagah ini masih terus melakukan perlawanan dengan gigih dan ulet.
Puluhan jurus telah lewat dan tiba-tiba terdengar Ang Sinshe mengeluarkan seruan keras sekali sambil memperhebat serangannya.
Baik Han Sin maupun Siok Beng Hui sendiri berseru kaget ketika seruan lawan tangguh ini disusul dengan gerakan kedua lengan Ang Sinshe yang mendadak bisa memanjang sampai satu kaki lebih.
Benar-benar hal yang mustahil dan di luar dugaan sehingga dalam satu gebrakan saja Han Sin sudah kena dicengkeram pundaknya dan Siok Beng Hui kena ditotok lambungnya.
Dua orang gagah ini berseru kesakitan dan terhuyung-huyung mundur dengan muka pucat.
Han Sin merasa pundaknya sakit bukan main, baju di bagian pundaknya menjadi matang biru, sakitnya bukan kepalang.
Adapun Siok Beng Hui yang mencoba mempertahankan diri tetap saja tidak kuat dan terguling roboh dengan muka menjadi pucat sekali.
''Ho-ho-ha-ha, cuma sebegitu saja kepandaian kalian?"
Tiba-tiba kelihatan debu mengepul dan angin pukulan yang dahsyat menghantam ke arah Ang Sinshe, dibarengi bentakan nyaring.
"Dukun siluman she Ang, kau benar-benar keterlaluan!"
Ang Sinshe yang menghadapi pukulan dari jauh ini cepat menyodorkan kedua tangan mendorong ke depan.
Akan tetapi tidak urung ia terdorong mundur sampai dua langkah.
Ketika ia memandang, ternyata seorang kakek gagah berpakaian sederhana sudah berada di depannya.
Pek-kong Sin-ciang Bu Kam Ki sendiri yang datang!
Ahg Sinshe menyeringai.
Kedua tangannya yang tadi "memanjang"
Perlahan-lahan menjadi biasa lagi dan ia tersenyum melihat Bu Kam Ki memeriksa luka yang di derita oleh muridnya, Siok Beng Hui, dan Han Sin.
Kemudian Bu Kam Ki menyuruh dua orang itu minggir dan menghadapi Ang Sinshe dengan muka merah dan keren.
"Dukun siluman! Kau benar tak tahu malu menjual kepandaian sulap di depan muridku. Kalau kau memang berkepandaian, marilah lawan aku, tua sama tua. Jangan main-main seperti anak kecil!"
Ang Sinshe terbatuk-batuk, batuk buatan yang sudah menjadi kebiasaannya.
"Pek-kong Sin-ciang Bu Kam Ki, semua adalah kesalahanmu sendiri. Sudah puluhan tahun kau bersembunyi. Seperti juga aku, menyaring pikiran menenteramkan hati tidak mencampuri urusan dunia. Kenapa kau tahu-tahu menurunkan tangan keji melukai muridku Ciong Thai dan Ciong Sek Serta isteri Ciong Thai dengan Pek-kong Sin-ciang? Semua ini tadinya masih kuanggap bahwa mungkin murid-muridku ada yang kurang ajar kepadamu maka kau memberi hajaran. Tidak apalah dan aku masih sanggup mengobati mereka dengan pantangan tidak boleh mengerahkan Iweekang selama seratus hari. Sebetulnya mereka bertiga takkan tewas kalau tidak melanggar pantangan. Akan tetapi celakanya hari ini muridmu lagi datang mengajak mereka bertempur sehingga mereka terpaksa mengerahkan lweekang dan akibatnya mereka tewas. Bukankah ini sma*nu artinya dengan kau bersekongkol dengan muridmu dan membunuh mereka?"
"Orang she Ang. betul-betulkah Ciong Thai dan Ciong Sek itu muridmu?"
"Sungguhpun bukan muridku sendiri, akan tetapi mereka itu sudah kuanggap sebagai murid keponakanku. Bukankah itu berarti bahWa mereka itu murid-muridku pula yang patut kubela?"
BU Kam Ki mengangguk-angguk.
"Kalau begitu memang sudah selayaknya kau membela mereka. Akan tetapi, Ang Sinshe, kau tahu satu tidak tahu dua. Kau hanya tahu mereka itu terluka oleh pukulanku akan tetapi tidak mau perduli apa sebabnya aku memukul mereka! Kau ingin tahu sebab-sebabnya?. Nah, dengarlah baik-baik."
Bu Kam Ki lalu menceritakan tentang perbuatan Giam Loan yang membunuh calon mantunya bersama Ciong Sek, hanya karena calon mantunya itu menolak untuk diajak bermain kotor oleh wanita cabul itu.
Kemudian ia menceritakan pula tentang usaha Han Sin hendak menolong mereka akan tetapi malah akhirnya hendak diracuni dan dijadikan korban nafsu kebinatangan suami isteri keparat itu.
Semua ia tuturkan dengan jelas.
"Pemuda yang kau lukai inilah yang bernama Liem Han Sin."
Bu Kam Ki menutup penuturannya.
Ang Sinshe nampak terkejut.
Tak disangkanya bahwa Ciong Thai dan isteri serta adiknya mempunyai kesalahan demikian besarnya, la memandang ke arah Bu Kam Ki dan Han Sin dengan pandang mata penuh selidik.
Ia sudah terlanjur membela murid-murid keponakannya, bahkan sudah terlanjur melukai Han Sin dan Siok Beng Hul.
Ia merasa malu untuk mundur, maka dengan nekat ia berkata.
"Bu Kam Ki, ada peribahasa kuno yang menyatakan bahwa mengakui kesalahan sendiri lebih sukar dari pada melihat punggung sendiri. Mana di dunia ini ada orang berani mengakui kesalahannya? Ceritamu memang bagus, akan tetapi setelah tiga orang ini mati, bagaimana aku bisa memeriksa kebenarannya? Boleh jadi kau masih belum tentu membohong, akan tetapi orang muda ini yang bernama Han Sin, siapa bilang dia tidak membohong dan memfitnah murid-muridku?"
Bu Kam Ki mengangkat dada, sikapnya Angkuh dan keren.
"Ang Sinshe, pernahkah kau mendengar aku orang she Bu berbohong? Apa yang kuceritakan kepadamu tadi semua benar dan aku berani mempertaruhkan nyawaku untuk kebenarannya. Adapun orang muda ini, dia adalah Liem Han Sin murid Im-yang Thian-cu, juga dia sudah dipercaya menjadi utusan dan petugas Tiong-gi-pai. Mana boleh diduga ia membohong? Pendeknya, semua kesalahan sehingga kematian tiga orang ini adalah karena perbuatan mereka sendiri yang tidak patut dan kau sekarang setelah mendengar penjelasannya, apakah masih hendak membela?"
Ang Sinshe ragu-ragu, akan tetapi kalau ia mundur sama halnya dengan ia menyatakan takut terhadap Pek-kong Sin-ciang.
"Bu Kam Ki, tidak perduli siapa yang betul dan siapa yang salah, yang jelas mereka bertiga orang-orang muda ini tewas karena pukulanmu, oleh karena itu harus kubela. Akan tetapi oleh karena akupun meragukan kebenaran mereka, biarlah kita main-main sebentar. Kalau aku kalah, sudahlah aku tidak akan menarik panjang dan luka-luka muridmu dan pemuda itu akan kuobati sampai sembuh. Akan tetapi kalau kau tidak bisa memenangkan aku, anggap saja kematian dua orang yang kulukai itu sebagai pengganti kematian murid-murid keponakanku."
BU Kam Ki terkejut sekali.
Tadi ketika ia memeriksa luka totokan di lambung muridnya dan luka cengkeraman di pundak Han Sin, memang ia Sudah menduga bahwa kakek jubah merah itu menggunakan hawa beracun yang jahat.
Sebagai seorang ahli pengobatan, tentu saja Ang Sinshe pandai mempergunakan racun.
Sekarang mendengar omongan Ang Sinshe, tak dapat diragukan lagi bahwa memang nyawa Siok Beng Hui dan Hari Sin terancam bahaya maut.
"Ang Sinshe, tantanganmu ini memang cukup adil. Majulah!"
Dua orang kakek tua itu saling berhadapan penuh kewaspadaan dan siap siaga bagaikan dua ekor ayam jago sedang berlagak hendak saling terkam.
Siok Beng Hui dan Han Sin menahan rasa sakit, menonton pertandingan itu dehgan hati berdebar.
Hanya Ciong Swi Kiat bocah gundul itu yang duduk dengan muka penuh kesedihan dan menunggu mayat ayahnya yang sudah Ia angkat ke pinggir.
Setelah mengukur wibawa masing-masing dengan pandang mata, dua orang kakek itu mulai bergerak.
Pertama-tama Ang Sinshe yang menyerang lebih dulu, menggerakkan dua lengannya dan sekaligus dua tangan dan ujung lengan baju menyerang dengan hebat ke arah empat bagian tubuh yang berbahaya dari Bu Kam Ki, Kakek berpakaian nelayan tua ini maklum akan kehebatan Serangan lawan, cepat ia memasang kuda-kuda dan menangkis dengan Pek-kong Sin-ciang.
Ia berhasil menghindarkan diri dari serangan itu, akan tetapi tidak urung kuda-kuda kakinya tergempur juga, membuat Bu Kam Ki terhuyung ke belakang tiga langkah.
Akan tetapi dengan amat cepatnya Bu Kam Ki mengirim serangan balasan, memukul dengan Pek-kong Siu-ciang.
Hawa pukulan yang dahsyat menyambar, membuat debu tanah berhamburan.
Ang Sinshe sudah bersiap siaga.
Ia mengebutkan kedua lengan bajunya sambil mengerahkan Iweekangnya.
Akan tetapi terdengar suara "brettl"
Dan ternyata dua ujung lengan bajunya menjadi hancur dan dia sendiri terhuyung sampai lima langkah ke belakang.
Muka Ang Sinshe menjadi semerah warna jubahnya.
Dalam segebrakan ini saja sudah dapat diukur bahwa tenaga dalam.
Bu Kam Ki memang setingkat lebih tinggi dari pada tenaganya.
Akan tetapi, mana dia mau mengalah begitu mudah?
Sambil mengeluarkan suara ketawa aneh, ketawa yang mengandung hawa khikang, kakek baju merah itu menyerbu, kini menggunakan kedua tangan yang sudah mulur panjang seperti sepasang tangan raksasa.
Ia menggunakan keuntungan tangan panjang ini untuk menyerang dengan gerak cepat, tidak memberi kesempatan kepada Bu Kam Ki untuk mempergunakan ilmu pukulan Pek-kong Sin-ciang jarak jauh.
Pendeknya, kakek jubah merah yang cerdik ini tidak mau menggunakan pertempuran mengadu tenaga, akan tetapi hendak mencari kemenangan mengandalkan kecepatannya.
Akan tetapi ia kecele kalau mengira akan dapat mengalahkan Bu Kam Ki dengan cara ini.
Bu Kam Ki adalah seorang tokoh persilatan yang tinggi ilmu silatnya, juga selama ia tidak muncul di dunia kang-auw, dia tidak menyia-nyiakan.
kepandaiannya, malah sering kali dilatih dan ditambah mana yang dirasa kurang sempurna.
Oleh karena itu, menghadapi serangan hebat ini ia dapat mengimbanginya.
Terjadilah perang tanding yang amat seru dan cepat, membuat Han Sin dan Siok Beng Hui memandang kagum dan lupa akan rasa sakit yang diakibatkan oleh luka-luka mereka.
"Ang Sinshe itu lihai sekali..."
Kata Han Sin kagum.
"Akan tetapi suhu pasti akan dapat mengatasinya,"
Kata Siok Beng Hui dengan suara tetap.
Ia udah tahu akan cara bertempur suhunya dan karenanya ia merasa yakin bahwa akhirnya suhunya gkan menang.
Memang tidak berkelebihan keyakinan hati Siok Beng Hui ini.
Setelah pertempuran berlangsung empat puluh jurus lebih, kelihatan bahwa Bu Kam Ki mulai dapat mendesak lawannya.
Sungguhpun tidak mudah bagi kakek sakti ini untuk mengalahkan lawannya yang tangguh, akan tetapi perlahan-lahan ia mulai membuat Ang Sinshe kewalahan sekali.
"Bu Kam Ki, kau makin tua makin lihai!"
Kata Ang Sinshe sambil terengah mengatur napas ketika ia melompat mundur.
Kemudian ia mengeluarkan serangannya yang terakhir, yang paling dahsyat, yaitu dengan serudukan kepala.
Ilmu menyerang seperti ini hanya terdapat dalam kalangan ahli silat golongan Hek-to, karena orang-orang gagah tidak sudi mempergunakannya.
Akan tetapi jangan dipandang remeh penyerangan dengan kepala, ini, karena seluruh hawa sinkang dikumpulkan di kepala dan jarang ada orang sanggup menerima serudukan kepala Ang Sinshe!
Melihat ini, Bu Kam Ki menjadi marah.
Kalau ia mau, tentu ia dapat mengelak.
Akan tetapi ia tidak mau dianggap takut menghadapi serangan terakhir ini.
Malah dengan menantang sekali ia melembungkan perutnya untuk menerima serudukan kepala Ang Sinshe!
"Capp!"
Kepala itu menancap pada perut Bu Kam Ki dan tak dapat dicabut kembali.
Keduanya mengerahkan tenaga dalam, pertempuran mati-matian terjadi dalam keadaan yang amat lucu itu.
Kalau Bu Kam Ki tidak kuat, isi perutnya akan rusak berantakan oleh hawa serudukan kepala Ang Sinshe.
Sebaliknya kalau Ang Sinshe yahg tidak kuat isi kepalanya akan terguncang dan rusak.
Baiknya Bu Kam Ki bukan seorang yang berhati kejam Melihat perbandingan tenaga Iwee-kang, kiranya Ang Sinshe akan tamat riwayat hidupnya kalau Bu Kam Ki mau berlaku kejam dan meremukkan kepala lawan dengan gencatan perutnya.
Akan tetapi sebaliknya Bu Kam Ki yang tadi mengempiskan perut menerima serudukan kepala, kini mengeluarkan pekik keras dan perutnya dibesarkan.
Bagaikan didorong oleh tenaga dahsyat, tubuh Ang Sinshe terpental ke belakang dan jatuh berdebuk dalam keadaan duduk.
Tabib jubah merah ini terduduk dalam keadaan masih bileng (pusing), matanya mendadak menjadi juling dan mulutnya peot, kepalanya bergoyang-goyang seperti mendadak ada gempa bumi.
Ia cepat-cepat meramkan mata dan mengatur pernapasannya.
Perlahan-lahan jalan darahnya normal kembali dan pikirannya menjadi jernih.
Ia membuka matanya, menarik napas panjang lalu merayap bangun dengan tubuh lemas.
"Pek-kong Sin-ciang memang hebat. Aku mengaku kalah...."
Katanya.
"Ang Sinshe sungguh berlaku sungkan dan mengalah. Kepandaianmu juga hebat sekali,"
Kata Bu Kam Ki sejujurnya.
Memang, kalau dia tidak memiliki lweekang yang setingkat lebih tinggi dari pada lawannya, akan sukar sekali untuk mengalahkan tabib ini.
Ang Sinshe lalu mengeluarkan obat-obat dari saku bajunya yang lebar dan memberi obat bubuk berwarna pulih untuk ditapalkan di pundak Han Sin dan obat merah untuk diminum oleh Siok Beng Hui.
Bu Kam Ki sudah mengenal watak Ang Sinshe, yaitu biarpun dia tergolong kaum Hek-to, akan tetapi amat menjunjung tinggi ilmu pengobatan, maka segala macam obat yang dikeluarkan oleh Ang Sinshe, amat boleh dipercaya.
Dalam hal pengobatan, Ang Sinshe boleh disejajarkan dengan Koai Yok Sian Si Dewa Obat yang gila di Thien-mu-san di dekat Nan-king.
Karena percaya bahwa obat-obat yang diberikan tentu akan menyembuhkan dua orang itu.
Bu Kam Ki menghaturkan terima kasih lalu mengajak pergi Han Sin dan Siok Beng Hui.
Ang Sinshe dibantu oleh Ciong Swi Kiat lalu mengurus mayat Ciong Thai, Ciong Sek dan Giam Loan, dikubur di tempat itu juga.
Adapun Bu Kam Ki setelah mendengar penuturan Siok Beng Hui bahwa dua orang bekas sahabat baiknya, yaitu Tok-pi Sin kai dan lm-kan Hek-mo, juga melakukan pengejaran terhadap Souw Teng Wi, lalu menghela napas dan berkata.
"Agaknya dua orang saudaraku Itu masih penasaran karena kekalahan kami puluhan tahun yang lalu oleh Bu beng Sin-kun. Mlereka keliru dan hanya menuruti nafsu hati. Baiklah, biarlah, biar aku ikut turun gunung dan mencegah mereka melakukan hal-hal yang memalukan. Souw-taihiap tidak boleh diganggu!"
Demikianlah, Pek-kong Sin-ciang Bu Kam Ki bersama Han Sin dan Siok Beng Hui lalu berangkat ke utara dan akhirnya mendengar bahwa Souw Teng Wi terculik, mereka melakukan pengejaran dan sampai di Ta-pie-san, di mana Bu Kam Ki sempat menyaksikan dua orang sahabat baiknya itu kalah oleh Lee Ing sehingga Tok-pi Sin-kai membuntungi sendiri tangannya yang tinggal sebelah dan Im-kan.
Hek-mo membikin buta matanya sendiri!
Dapat dibayangkan pula betapa girang hati Han Sin melihat Lee Ing di situ, girang tercampur duka dan terharu karena ayah gadis itu, Souw Teng Wi, ternyata telah tewas di Bukit Ta-pie-san.
Setelah mengikuti perjalanan Han Sin sampai pemuda itu tiba di Ta-pie-san, mari sekarang kita menengok perjalanan Siok Bun dan Oei Siok Ho, karena dua orang pemuda ini datang di Ta-pie-san bersama-sama, tak lama setelah Han Sin tiba di situ.
Seperti telah diketahui, seperti juga halnya Liem Han Sin, pemuda tampan gagah murid Kun-lun-pai Oei Siok Ho juga mendapat tugas menghubungi orang-orang kang-ouw di selatan di sepanjang Sungai Kan-kian.
Berbeda dengan Han Sin yang mengalami banyak hal mengesankan, adalah Siok Ho tidak menemui rintangan apa-apa.
Para orang gagah yang ditemuinya rata-rata amat menghargai undangan dan ajakan Tiong-gi-pai dan menyatakan kesediaan mereka membantu kelak apa bila masanya tiba.
Mereka Ini rata-rata memang tidak suka melihat kelemahan kaisar yang menyerahkan segalanya ke dalam tangan para menteri durna.
Akan tetapi perjalanan yang dilakukan oleh Oei Siok Ho amat lambat karena dia memang tidak tergesa-gesa dan melakukan perjalanannya sambil menikmati keindahan pemandangan alam di sepanjang jalan.
Inilah sebabnya maka ketika ia mulai menuju ke utara, Han Sin sudah lebih dulu melakukan perjalanan cepat bersama Siok Beng Hui dan Bu Kam Ki.
Pada suatu hari, ketika Siok Ho sedang berjalan memasuki kola Leng-bun, ia melihat seorang pemuda menunggang kuda cepat keluar dari kota itu.
Keadaan sudah menjelang senja, di situ sunyi dan cuaca sudah remang-remang sehingga Siok Ho tidak segera mengenal pemuda itu.
Akan tetapi sebenarnya pemuda itu segera mengenalnya karena menahan kudanya dan berseru memanggil.
"Oei-hiante (adik Oei)...!"
Siok Ho memandang dan berserilah wajahnya. Pertemuan ini benar-benar tidak disangka-sangkanya dan amat menggembirakan hatinya. Setengah berlari ia menghampiri pemuda berkuda itu dan berseru.
"Eh, kiranya Siok-twako (kakak Siok)! KaU hendak ke manakah?"
Pemuda berkuda itu memang Siok Bun adanya.
Seperti telah dituturkan di bagian depan, setelah dengan kaget mendapatkan bahwa Souw Teng Wi lenyap, pemuda ini cepat melakukan penyelidikan dan akhirnya jejak penculik-penculik pendekar besar itu membawanya ke selatan, menuju ke Ta-pie-san.
Pertemuannya dengan Siok Ho benar-benar membesarkan hatinya karena ia maklum betapa lihainya Ang-sin-jiu Oei Siok Ho Si Tangan Merah!
"Oei hiante, kebetulan sekali bertemu dengan kau di sini.
Ketahuilah bahwa Souw-taihiap telah diculik orang dan kemungkinan besar penculiknya adalah orang-orang Hoa-lian-pai."
Dengan singkat Siok Bun lalu bercerita tentang kunjungan Lee Ing ke kota raja dan betapa dia dan Lee ing yang pertama-tama mendapatkan bahwa Souw Teng Wi tidak berada di perahunya dan lenyap tak meninggalkan bekas kecuali tanda cap jari-jari tangan di dinding bilik perahu.
Oei Siok Ho mengangguk, wajahnya yang tampan nampak sungguh-sungguh dan alisnya yang hitam berkerut.
Melihat wajah Siok Bun nampak muram dan berduka ketika menceritakan hal itu, ia dapat maklum dan berkata.
"Aku tahu betapa buruk keadaanmu dengan terjadinya hal itu, Siok-twako. Kau boleh dibilang bertugas menjaga keselamatan Souw lo-enghiong, dan tahu-tahu pada saat puterinya datang menjenguk, orang tua itu tidak ada. Apakah nona Lee Ing marah kepadamu?"
Ditanya begini Siok Bun makin muram.
"Itulah yang membuat hatiku kesal sekali, hiante. Kalau nona Souw marah-marah dan menyalahkan aku, kiranya aku akan menerima salah, biarpun kesalahan itu tidak langsung kulakukan melainkan terjadi karena keteledoran para penjaga. Akan tetapi, nona Souw sama sekali tidak menyalahkan aku, malah dia segera melakukan pengejaran sendiri dengan cepat. Akh, kalau aku tidak berhasil mendapatkan kembali Souw-taihiap,.... bagaimana aku berani bertemu dengan dia lagi?"
Mendengar keluhan Siok Bun, Siok Ho memandang tajam.
"Siok-twako, agaknya dia itu suka sekali kepadamu, kalau tidak demikian halnya, tentu ia akan marah sekali kepadamu."
"Entahlah.. entahlah... mudah-mudahan ia dapat bertemu kembali dengan ayahnya. Kasihan sekali nona itu.."
"Siok-twako, kau... cinta sekalikah kau kepadanya?"
Ditodong pertanyaan tiba-tiba ini, merah sekali wajah Siok Bun. Tentu saja ia merasa malu untuk mengaku dan dia hanya menjawab.
"Adikku yang baik, bagaimana kau bisa bilang demikian? Nona Souw adalah puteri Souw-taihiap, dan Souw-taihiap adalah orang yang amat kami hargai. Tentu saja lenyapnya merupakan persoalan besar dan sudah menjadi kewajibanku untuk berusaha sedapat mungkin mencarinya, biar untuk itu aku harus berkorban nyawa"
Oei Siok Ho mengangguk-angguk tak sabar.
"Bukann itu. maksudku. Tentu saja semua orang harus membantu mencari kembali Souw lo-enghiong. Akan tetapi.. apakah kau mencinta nona Souw Lee Ing?"
Hampir saja Siok Bun mengangguk.
Kepada orang lain ia boleh membohong, akan tetapi ia mempunyai perasaan yang luar biasa terhadap pemuda ini.
Bukan hanya karena Siok Ho pernah menolongnya secara mengharukan sekali ketika ia terluka oleh Hek-tok-ciang, akan tetapi ada sesuatu pada wajah dan sinar mata pemuda itu yang membuat ia tak mungkin dapat membohonginya.
Akan tetapi baiknya ia teringat bahwa pemuda inipun pernah bertemu dengan Lee Ing, pernah melihat Lee Ing.
Dari pertanyaan-pertanyaan pemuda ini yang agaknya mengandung rasa cemburu, siapa tahu kalau-kalau pemuda inipun mencinta Lee Ing!
Ah, boleh jadi sekali.
Lee Ing amat gagah perkasa dan cantik-jelita, tidak aneh kalau setiap orang pemuda mencintainya.
Apa lagi pemuda seperti Siok Ho yang amat gagah perkasa dan tampan sekali.
Pikiran ini amat mengganggunya, merupakan sekilat sinar yang memasuki benaknya, membakar pikiran dan hatinya, membuat ia cemburu dan panas akan tetapi wajah Siok Ho mengalahkan ini semua, mengusir rasa cemburu dan membuat ia tak berdaya, mengalah.
Terhadap pemuda yang telah berlaku demikian berbudi seperti Siok Ho kepadanya, tak mungkin ia mau berebut cinta.
Ia harus mengalah...
"Ti... tidak.."
Jawabnya gagap sambil menggeleng kepala. Tiba-tiba Oei Siok Ho kelihatan marah.
"Twa-ko, kau bohong!"
Katanya dan pemuda ini segera pergi meninggalkan Siok Bun.
Tentu saja Siok Bun menjadi bengong sesaat.
Memang ia telah membohong, akan tetapi bagaimana pemuda itu dapat menduga demikian tepat dan mengapa pula kelihatan marah?
Tentu cemburu, pikirnya.
Celaka, tak salah lagi, tentu pemuda tangan merah yang lihai ini mencinta Lee Ing.
Saingan yang berat sekali.
"Oei-hiante... kau hendak ke manakah?"
Siok Bun mengejar, terheran melihat pemuda itu menjadi marah agaknya.
"Ke mana lagi kalau tidak ke Ta-pie-san?"
Jawab Siok Ho yang masih terus berlari.
"Kebetulan kalau begitul Akupun hendak ke sana!"
Seru Siok Bun girang dan mempercepat larinya (Lanjut ke
Jilid 25) Pusaka Gua Siluman (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 25 untuk menyusul kawannya yang aneh wataknya itu.
"Aku tidak suka melakukan perjalanan bersama seorang pembohong!"
Terdengar Siok Ho berkata lagi.
Siok Bun menjadi serba salah.
Benar-benar aneh sekali watak pemuda murid Kun-lun itu, pikirnya.
Urusan dia mencinta Lee Ing atau tidak, mengapa begitu diurus?
Apa sih sangkut-pautnya dengan pemuda itu?
Akan tetapi karena melihat Siok Ho benar-benar tidak mau menantinya, ia segera berseru.
"Berhenti dulu, Oei-hiante, aku mau bicara. ,Aku tidak mau membohong lagi!"
Tiba-tiba Siok Ho berhenti dan memandang kepadanya, Wajah yang tampan itu kelihatan agak pucat dan mulutnya merengut.
"Hiante, kenapa kau marah-marah kepadaku?"
"Karena kau suka membohong."
Siok Bun memegang tangan pemuda itu, menarik napas panjang dan berkata.
"Adikku yang baik, kau benar-benar selain memiliki ilmu silat yang lihai, juga mempunyai watak aneh! Oei-hiante, apakah sebabnya maka kau ingin mengetahui sekali apakah aku mencinta nona Souw atau tidak?"
Muka Oei Siok Ho menjadi merah sekali dan makin keras dugaan Siok Bun bahwa pemuda remaja yang masih hijau ini tentu juga jatuh hati kepada Lee Ing!
Akan tetapi Siok Ho memandang dengan sungguh-sungguh dan katanya tegas.
"Aku paling menghargai kejujuran maka bencilah hatiku melihat kau tidak mau berterus terang. Twako, kau sendiri yang menganggap aku sebagai adikmu, masa seorang kakak membohong terhadap adiknya?"
Sambil berkata demikian Siok Ho menarik tangannya terlepas dari pegangan Siok Bun.
"Baiklah kau maafkan aku kali ini. Aku berjanji lain kali aku takkan membohongimu, biar lidahku copot kalau aku berani membohong padamu. Oei-hiante, kebetulan sekali aku bertemu dengan kau di sini. Dengan kau berada di dekatku, aku mendapat keyakinan bahwa aku pasti akan dapat menemukan kembali Souw-taihiap."
"Penjahat yang sudah berhasil menculik Souw lo-enghiong tentu bukan seorang biasa. Belum tentu aku dapat melawannya. Akan tetapi kita sama lihat saja nanti. Yang paling penting, untuk menebus kebohonganmu tadi, sekarang harap twako suka mengaku terus terang lebih dulu bagaimana perasaanmu terhadap nona Souw Lee Ing."
Diulanginya urusan ini membuat Siok Bun benar-benar menjadi bohwat (tak berdaya). Ia bingung dan tak tahu harus menjawab bagaimana.
"Hiante, apakah hal ini penting bagimu maka kau terus mendesakku?"
"Tentu saja penting, karena ini memperlihatkan kejujuranmu kepadaku. Tanpa adanya kejujuran, kurasa percuma saja ada hubungan di antara kita,"
Kata Oei Siok Ho dengan sikap sungguh-sungguh.
Siok Bun mengangguk-angguk.
Pemuda aneh, pikirnya.
Akan tetapi tidak amat mengherankan karena memang di dunia kang-ouw ini banyak terdapat orang yang aneh.
Seorang pemuda yang mewarisi kepandaian Kun-lun-pai seperti Oei Siok Ho ini memang sudah sepatutnya pula memiliki watak aneh.
"Apa yang harus kukatakan? Nona Souw Lee Ing adalah seorang gadis yang tidak saja cantik jelita, juga memiliki kepandaian yang tinggi sekali. Pemuda mana yang tidak jatuh hati kepadanya? Apa lagi dia gagah perkasa, puteri seorang pahlawan rakyat yang berjiwa patriotik. Aku hanya pemuda biasa, pemuda lemah, mana ada harga untuk menyintanya? Betapapun juga, harus aku nyatakan terus terang kepadamu bahwa semenjak pertama kali bertemu dengan nona Souw Lee Ing, aku merasa amat kagum dan suka kepadanya."
"Dan menyinta.....?"
Tanya Siok Ho sambil lalu..
"....tentang itu.. eh...... aku tidak tahu karena belum pernah aku jatuh cinta."
Belum selesai Siok Bun bicara, pemuda tampan itu sudah lari cepat.
"Oei-hiante, tunggu..."
"Mari kita cepat-cepat pergi mencari terang yang tercuiik!"
Jawab Siok Ho tanpa menoleh. Siok Bun melompat ke atas kudanya dan membalapkah kuda menyusul.
"Tunggu dulu, Oei-hian-te,..... kita mencari seekor kuda untukmu atau kau tunggangi kuda ini...!"
"Tak usah, kau saja yang menunggang kuda!"
Jawab Siok Ho, terus berlari cepat.
"Biar kita tunggangi berdua sampai kita mendapat seekor lagi,"
Kata Siok Bun yang sudah dapat menyusul pemuda itu.
"Tak usah, twako. Jangan kau sungkan-sungkan, kau tahu aku dapat berlari cepat dan aku... aku lebih suka jalan kaki."
"Jangan begitu, hiante. Kau membikin aku merasa tidak enak. Mari kita naiki berdua."
"Tidak! Siapa mau.... menyiksa kuda? Biar aku berlari saja!"
Siok Ho berkeras, malah mempercepat larinya.
Siok Bun menjadi serba salah.
Akhirnya karena ia tidak sampai hati melihat penolongnya itu berlari seorang diri sedangkan dia berkuda, ia lalu melpmpat turun, mengambil buntalan bekal pakaian lalu menggendong buntalan itu, meninggalkan kuda dan melanjutkan perjalanan sambil berlari juga mengejar Siok Ho.
Setelah agak lama dua orang pemuda itu berlari berdampingan tanpa mengeluarkan kata-kata, baru Siok Ho melirik dan bertanya.
"Lho, mana kudamu, Siok-twako?"
"Kutinggal di jalan, lebih baik aku berlari seperti kau."
Oei Siok Ho tertawa, wajahnya dan matanya bersinar-sinar.
"Kau terlalu sungkan atau terlalu baik hati?"
"Tidak keduanya, aku hanya seorang bodoh."
"Lho, kenapa?"
Tanya Siok Ho terheran sampai ia menghentikan larinya dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan biasa.
"Karena aku terlalu bodoh untuk dapat menyenangkan hatimu."
"Eh.... ah, kau marah, twako?"
"Bukan aku. kaulah yang marah,"
Jawab Siok Bun mendongkol.
"Aku tidak marah. Tak baik orang marah, Siok-twako. Orang marah lekas tua. Dan orang seperti kau ini tidak patut kalau marah. Kau terlampau baik.. hanya terlalu merendahkan diri. Pemuda seperti kau ini tidak semestinya bilang kurang berharga bagi seorang nona seperti Souw Lee Ing."
Siok Bun tertegun, makin heran, tak mengerti sama sekali. Sukar baginya untuk menyelami perasaan hati pemuda aneh ini.
"Apa maksudmu, hiante?"
"Sudahlah, mari kita lanjutkan perjalanan kalau kau memang ingin lekas-lekas berhasil menolong Souw Io-enghiong. Jangan-jangan jasa itu didahului Qleh pemuda lain, kan berabe untukmu!"
Siok Bun tertawa saja digoda begini, lalu mengerahkan tenaga menyusul Siok Ho yang sudah berlari cepat.
Akan tetapi ia masih merasa bahwa diam-diam pemuda penolongnya ini sebenarnya masih marah kepadanya.
Makin tebal keyakinannya bahwa pemuda ini tentu mencinta Lee Ing dan mencoba untuk menyembunyikannya dengan memuji-mujinya.
Kalau betul demikian halnya, ia akan mengalah.
Selain belum tentu Lee Ing mau menerima cintanya, juga tak mungkin ia dapat bersaing dengan Oei Siok Ho, pemuda yang telah menolong jiwanya, pemuda yang amat simpatik dan entah mengapa telah menggerakkan hatinya untuk menganggapnya sebagai saudara atau adik sendiri.
Demikianlah, kita telah mengikuti perjalanan Liem Han Sin yang datang bersama Siok Beng Hui dan Bu Kam Ki, juga telah mengikuti perjalanan Oei Siok Ho yang datang bersama Siok Bun di asrama Hoa-lian-pai di Ta-pie-san.
Han Sin tertinggal jauh oleh Bu Kam Ki yang mendahului naik ke puncak Setelah mereka tiba dekat gunung itu, maka Bu Kam Ki dapat lebih dulu sampai dan sempat melihat Lee Ing bertempur dengan dua orang sahabatnya, Tok-pi Sin-kai dan Im-kan Hek-mo.
Sedangkan Han Sin ketika sedang mendaki, bertemu dengan Siok Ho dan Siok Bun sehingga selanjutnya, tiga orang muda ini, bersama Siok Beng Hui, jalan bersama.
Alangkah kaget dan duka hati mereka ketika tiba di asrama Hoa-lian-pai, mereka melihat Souw Teng Wi dan ketua Hoa-lian-pai telah tewas, dan ternyata pula bahwa Pek Mao Lojin dan Im-Yang Thian-Cu telah berada di situ mengepalai pengurusan jenazah yang dimasukkan ke dalam peti yang dibuat secara mendadak pula.
Seperti telah dituturkan di bagian depan, ketika bersembahyang di depan peti mati ayahnya, Souw Lee Ing terguling dan jatuh pingsan.
Ia mengalami tekanan batin yang hebat, membuat ia pingsan sampai lama sekali.
Setelah mengantar Tok-pi Sin-kai yang sekarang menjadi buntung kedua tangannya dan Im-kan Hek-mo yang menjadi buta.
itu turun gunung, Bu Kam Ki sempat menengok ke asrama Hoa-lian-pai.
Kakek tua ini menarik napas panjang menyaksikan keadaan yang menyedihkan itu, dan ia sempat pula memeriksa Lee Ing yang masih belum siuman.
"Ia menderita tekanan batin yang hebat, gadis yang malang ini. Biarkan dia beristirahat, jangan diganggu, lambat-laun ia akan sembuh kembali seperti sedia kala."
Setelah meninggalkan pesan ini dan memberi banyak nasihat kepada muridnya, Siok Beng Hui supaya teguh dan setia menjalankan tugasnya membela negara dan bangsa, Bu Kam Ki lalu pulang ke kampungnya di mana puterinya, Bu Lee Siang telah menantinya dengan tak sabar lagi.
Juga Im-Yang Thian-Cu yang masih berduka atas kematian bekas sumoinya, Lui Siu Nio-nio, pergi bersama Pek Mao Lojin setelah mengurus upacara pemakaman dari jenazah Souw Teng Wi, Lui Siu Nio-nio, dan Yap Lee Nio yang dikubur secara diam-diam oleh para anak murid Hoa-lian-Pai.
Kini yang tinggal di situ hanya Siok Beng Hui dan puteranya, Siok Bun.
juga Oei Siok Ho dan Liem Han Sin.
Mereka ini hendak kembali ke utara bersama-sama setelah Lee Ing sembuh.
Nona Souw ini masih saja pingsan selama dua hari dua malam.
Dan tiga orang pemuda itu, Siok Bun, Han Sin, dan Siok Ho, kelihatan muram dan gelisah saja.
Berkali-kali mereka bertiga secara bergantian atau kadang-kadang juga bersama-sama, berdiri atau duduk menunggu di luar jendela kamar, atau di ambang pintu, memandang gadis yang diam tak bergerak seperti orang tidur itu, dijaga oleh beberapa orang anak murid Hoa-lian-pai.
Dari sikap masing-masing, tiga orang muda ini tahulah bahwa mereka bertiga sama-sama mencinta Souw Lee Ing, maka diam-diam di antara mereka seakan-akan timbul persaingan!
Sungguh amat menarik kalau mempelajari sikap tiga orang muda yang Sedang menghadapi persaingan dalam cinta kasih yang kini diseling oleh perasaan gelisah melihat gadis yang dijadikan rebutan berada dalam keadaan menyedihkan itu.
Siok Bun kadang-kadang memandang kepada Han Sin dengan pandang mata tak senang dan penuh cemburu, akan tetapi di dalam hatinya ia sudah mengambil keputusan untuk berusaha supaya akhirnya Lee Ing menjadi jodoh Siok Ho.
Malah diam-diam pemuda ini sudah membicarakan hal itu kepada ayahnya.
"Ayah, aku melihat bahwa nona Souw Lee Ing itu amat cocok kalau dijodohkan dengan Oei-hian-te. Nona Souw cantik jelita gagah perkasa, yatim-piatu. Demikian pula Oei-hiante, yatim-piatu dan biarpun tak dapat menandingi nona Souw dalam kegagahan, namun jarang menemukan seorang pemuda gagah-perkasa seperti Oei Siok Ho yang sudah mewarisi ilmu-ilmu lihai dari Kun-lun-pai,"
Tentu saja Pek-kong-Sin-kauw Siok Beng Hui memandang kepada puteranya dengan alis berkerut dan mata bersinar penuh keheranan.
Tadinya ia mengira, bahkan sudah tahu pasti bahwa puteranya ini jatuh cinta kepada Souw Lee Ing, dan dia sendiri bersama isterinya juga sudah setuju seratus prosen kalau puteranya mendapat jodoh seperti Souw Lee Ing.
Akan tetapi mengapa sekarang anaknya itu tiba-tiba mengeluarkan pendapat dan usul seperti itu?
"Aku menganggap Siok Ho seperti adikku sendiri, ayah.
Aku kasihan melihat dia yang sudah yatim piatu, maka kuharap ayah sudi menolongnya, menjadi walinya untuk mengatur perjodohannya dengan nona Souw Lee Ing."
Semenjak tadi Siok Beng Hui diam saja dan ia memandang kepada puteranya penuh perhatian.
Juga telinganya dapat menangkap getaran suara penuh haru dalam kata-kata terakhir dari Siok Bun.
Ia menepuk meja dan berkata lantang.
"Bun-ji, omongan apakah yang kau keluarkan ini? Bukankah kau sendiri yang menyinta nona Souw semenjak pertemuan pertama dahulu? Mengapa sekarang kau mengajukan usul supaya aku melamar gadis itu untuk orang lain?"
"Ayah, Oei-hiante bukan orang lain bagiku. Mungkin dengan pemuda lain aku takkan mau mengalah, akan tetapi terhadap Oei-hiante.. aku rela berkorban apapun juga. Dia telah menolong nyawaku, ayah....."
"Hemm, menolong nyawa orang adalah kewajiba setiap orang gagah. Tidak boleh kalau hanya karena ditolong lalu selama hidupnya bersedia mengorbankan kebahagiaan untuk membalas budi. Oei Siok Ho kukira tidak demikian picik untuk menanam budi agar kau balas dengan pengorbanan. Kalau demikian halnya, dia bukan seorang gagah. Seorang gagah menolong orang tanpa mengharapkan apa-apa. Kalau kau memang mencinta nona Souw dan dia mencinta kau."
"Ayah tahu aku mencinta nona itu, akan tetapi belum tentu dia mencintaku."
"Apa dia mencinta Oei Siok Ho?"
"Itupun anak belum tahu betul."
"Hemm, Bun-ji, jangan kau sembarangan hendak mengatur perjodohan orang. Jodoh adalah kehendak Thian, tak dapat diatur tak dapat dihalangi. Kalau memang Siok Ho berjodoh dengan Lee Ing, tak usah kau turut campur, tentu akan terjadi. Sebaliknya kalau kau memang berjodoh dengan Lee Ing, seorang Siok Ho di dunia takkan dapat menghalangimu."
Siok Bun tak berani banyak membantah lagi, akan tetapi di dalam hatinya ia mengambil keputusan untuk membantu Siok Ho sampai berhasil niat pemuda itu menjadi jodoh Lee Ing.
Demikianlah, biarpun di luarnya kelihatan Siok Bun ikut bersaing untuk merebut hati gadis yang masih menggeletak pingsan itu, namun boleh dibilang bahwa ia melakukan hal ini demi kemenangan Siok Ho!
la selalu menjaga jangan sampai gadis itu memilih Han Sin.
Bagaimana dengan Han Sin sendiri?
Diapun maklum bahwa tidak hanya dia seorang yang tergila-gila kepada dewi pujaannya.
Terang bahwa dua orang pemuda lain yang selalu berada di situ juga mencinta nona Souw ini.
Akan tetapi, pemuda pendiam ini tidak banyak mengeluarkan perasaannya.
Diam-diam ia merasa khawatir karena maklum bahwa dua orang saingannya itu merupakan saingan kelas berat.
Siok Bun adalah putera Pek-kong-Sin-kauw Siok Beng Hui, seorang pemuda gagah, putera seorang kepercayaan Raja Muda Yung Lo.
Kedudukannya tinggi, orangnya tampan dan gagah.
Terhadap Siok Bun, Han Sin merasa kagum dan kiranya ia akan menerima nasib kalau sampai Lee Ing memilih Siok Bun yang memang patut menjadi suami seorang gadis seperti Lee Ing.
Akan tetapi kalau gadis itu sampai terpikat oleh Oei Siok Ho, benar-benar hati Han Sin merasa tidak rela!
Bagi Han Sin, Siok Ho tidak menyenangkan hatinya.
Harus ia akui bahwa Siok Ho gagah perkasa, murid Kun-lun-pai yang lihai sekali ilmu silatnya.
Juga amat tampan, dari pada Siok Bun.
Akan tetapi pemuda itu terlalu tampan, terlalu pesolek, sifat yang bagi Han Sin amat tidak menyenangkan.
Seorang laki-laki pesolek biasanya tidak setia, dan Han Sin paling takut melihat Lee Ing kelak menderita.
Ia akan ikut merasa bahagia melihat Lee Ing hidup beruntung, biarpun dengan laki-laki lain.
Cinta kasih Han Sin terhadap Lee Ing adalah cinta kasih murni, tidak mementingkan diri sendiri.
Bagaimana dengan pemuda ke tiga, Oei Siok Ho?
Sukar untuk mengetahui perasaan pemuda tampan ini dari wajahnya.
Hanya kadang-kadang kalau ia memandang kepada Lee Ing, sinar matanya yang lembut itu makin melembut, penuh rasa kasihan dan kelembutan sinar mata itu!
mengeras apa bila ia melihat Siok Bun memandang ke arah Lee Ing dengan penuh perasaan.
Terhadap Han Sin ia tidak perduli, seakan-akan saingan ini tidak berarti apa-apa baginya.
Demikianlah dengan cara dan gayanya sendiri-sendiri, tiga orang muda ini seperti tengah bersaing.
Mereka menjaga Lee Ing dengan setia, menanti gadis ini membuka matanya.
Sikap tiga orang muda ini terhadap Lee Ing yang, demikian memperhatikan, demikian mengkhawatirkan keselamatan gadis itu, jelas sekali memperlihatkan perasaan mereka terhadap gadis perkasa itu.
Para anak buah Hoa-lian-pai sudah saling mempercakapkan hal ini dan tertawa-tawa di belakang punggung tiga orang pemuda itu.
Siok Beng Hui sendiri hanya memandang dengan kening berkerut dan diam-diam ia menarik napas panjang dan menggeleng kepala.
Pada hari ke tiga, menjelang senja, Lee Ing siuman.
Gadis ini mengejap-ngejapkan matanya seperti orang bangun tidur melihat cahaya matahari yang terang menyilaukan mata, lalu menutup matanya lagi, la mendengar seruan-seruan girang dan dibukanya lagi kedua matanya perlahan.
Sinar matanya bergerak menyapu ruangan Itu, menyapu wajah orang-orang yang mengelilinginya, kemudian sinar mata itu berhenti pada wajah Siok Ho!
Dan Lee Ing tersenyum gembira!
"Saudara Siok Ho, kau juga berada di sini..!"
Sungguh hebat gadis ini, selama tiga hari pingsan, sekarang begitu siuman ia telah ingat akan keadaannya, ingat mengapa ia berbaring di situ, ingat pula bahwa dia berada di Ta-pie-san maka ia mengherankan mengapa tahu-tahu Siok Ho bisa berada di situ.
"Adikku Lee Ing yang manis, sudah tiga hari tiga malam aku berada di sini, menungguimu dalam pingsan selama itu,"
Jawab Siok Ho sambil tersenyum pula dan mendekati pembaringan. Jawaban ini membuat muka Lee Ing merah dan dadanya berdebar. Terdengar manis sekali jawaban ini, terutama panggilan "adikku yang manis"
Dan keterangan bahwa pemuda ini telah menjaganya selama tiga hari tiga malam! "Ing-moi, sukur kau sembuh kembali!"
Terdengar suara Han Sin yang juga sudah mendekati pembaringan.
"Nona Souw, sukur kau baik-baik saja, hanya menyesal taihiap telah... meninggal dunia..."
Kata Siok Bun yang tidak ketinggalan, menghampiri pembaringan. Lee Ing menengok. Wajahnya berseri ketika ia melihat Han Sin.
"Sin-ko (kakak Sin)..."
Tegurnya, akan tetapi ia sudah mendengar ucapan Siok Bun dan sekaligus ia teringat kepada ayahnya.
Otomatis semua kegembiraan hatinya lenyap dan wajahnya yang berseri itn menjadi muram, pipi yang kemerahan menjadi pucat sekali.
Ia melompat turun dari pembaringan, akan tetapi tentu ia jatuh tersungkur kalau tidak cepat-cepat Siok Ho memegang lengannya.
"Kau masih payah, adik Lee Ing. Jangan turun dari pembaringan,"
Kata Siok Ho sambil menuntun Lee Ing kembali ke pembaringan.
Lee Ing meramkan matanya karena pemandangannya menjadi pening, segala kelihatan berputaran.
Akhirnya ia merebahkan diri lagi di atas pembaringan dan air mata mengalir turun dari kedua matanya yang dimeramkan.
"Kau kenapa, Ing-moi....? Apamu yang terasa sakit? Lukakah kau...?"
Tanya Han Sin penuh kekhawatiran dan suaranya menggetar tanda bahwa pemuda ini merasa terharu dan sedih sekali.
"Dia lemah, jangan kita mengganggunya. Mari kita keluar, biarkan dia mengaso dan menenteramkan pikiran,"
Kata Siok Ho kepada Han Sin dan Siok Bun.
Tentu saja dua orang muda ini tidak membantah dan keluar dari kamar itu, dan diam-diam Han Sin makin benci dan cemburu kepada Siok Ho yang tadi tanpa ragu-ragu dan malu-malu memeluk Lee Ing ketika gadis itu hendak jatuh.
Akan tetapi tentu saja ia tidak mau memperlihatkan perasaan tak senangnya ini karena pada waktu itu iapun terlalu penuh oleh kegelisahan melihat keadaan Lee Ing, gadis pujaan hatinya itu.
Ternyata keadaan Lee Ing berlarut-larut.
Tubuhnya terasa lemah dan ia hampir tak pernah turun dari pembaringan, la telah menderita pukulan batin yang hebat dan menurut dugaan Siok Beng Hui yang sudah banyak pengalaman, gadis ini membutuhkan waktu agak lama untuk beristirahat dan memulihkan kesehatannya.
Akan tetapi ia maklum bahwa tidak ada bahaya mengancam keselamatan Lee Ing yang hanya menderita serangan batin dan tubuh gadis yang amat kuat berkat ilmu silatnya yang tinggi itu.
Akan segera mengusir semua kelemahan.
"Aku perlu memberi laporan ke kota raja."
Kata Siok Beng Hui kepada puteranya.
"Kau amat-amati keadaan nona Souw, setelah sehat kembali ajak ke kota raja kalau dia mau."
Setelah berpamit kepada Han Sin dan Siok Ho, juga kepada para anak murid Hoa-lian-pai yang tinggal sedikit karena sebagian besar pulang ke kampung masing-masing setelah ketua mereka meninggal, Siok Beng Hui lalu meninggalkan Ta-pie-san.
Seperti orang-orang yang sudah sama-sama maklum, tiga orang pemuda itu tidak mau mendahului pergi dari situ.
Benar-benar lucu keadaan mereka, tiga orang muda yang mempergunakan kesempatan ini untuk merebut hati Lee Ing.
Akan tetapi kalau bagi Siok Bun rela-rela saja melihat betapa Lee Ing selalu menunjukkan perhatiannya, kepada Siok Ho, adalah Han Sin yang menjadi makin tak enak hati.
Pandangan matanya yang tajam melihat betapa Siok Ho agaknya menganggap Lee Ing seperti saudara sendiri, kadang-kadang malah tidak mengacuhkannya.
Akan tetapi Lee Ing tampak gembira kalau melihat Siok Ho dan tiap kali Han Sin menengoknya, sudah tentu gadis itu menanyakan Siok Ho!
Han Sin tidak bisa tidur karenanya!
Dalam sepekan saja tubuh pemuda ini menjadi kurus dan mukanya pucat.
Andaikata Lee Ing sudah ada kepastian memilih Siok Bun, tentu ia akan mengalah dan pergi dari situ.
Akan tetapi celakanya, agaknya Lee Ing jatuh hati kepada Siok Ho, padahal menurut pandangannya, pemuda pesolek itu tidak patut menjadi sisihan Lee Ing, pemuda itu belum tentu mencinta sesungguhnya, kalau tak boleh dibilang memikat Lee Ing dengan ketampanannya!
Ia harus menjaga jangan sampai Lee Ing terjeblos dalam jebakan, jangan kelak hidup Lee Ing menjadi sengsara karena salah pilih.
Tidak hanya Han Sin yang tak dapat tidur.
Juga Siok Bun melihat jelas betapa sikap Siok Ho tiba-tiba berubah banyak sekali setelah berhadapan dengan Lee Ing.
Pemuda Kun-lun-pai ini selain menjadi pesolek, juga sikapnya amat dibuat-buat dalam berusaha merebut hati Lee Ing.
Bicaranya yang biasanya jujur dan kadang-kadang ketus, di depan Lee Ing menjadi bermanis-manis.
Ia dapat menduga bahwa Siok Ho mencinta Lee Ing, akan tetapi mengapa sikapnya begitu menyolok seakan-akan hendak pamer atau sengaja menyakitkan hatinya dan hati Han Sin?
Beberapa hari kemudian, pada pagi hari sewaktu matahari mulai memancarkan cahayanya yang sehat segar, Lee Ing sudah duduk di taman bunga, ditemani oleh dua orang anak murid Hoa-lian-pai yang sudah setengah tua.
Untuk memulihkan kesehatannya, Lee Ing sering kali berjemur matahari dan menjernihkan pikiran di taman itu.
Tanpa diketahui orang lain, dari dua jurusan yang berlawanan, datang Han Sin dan Siok Bun.
Mereka tidak berani mengganggu, hanya melihat dari tempat agak jauh, bersembunyi di balik rumpun kembang.
Siok Bun memandang penuh kasihan, Han Sin terharu dan terpaku seperti patung.
Ingin ia menghibur dewi pujaannya, ingirv ia menyerahkan segalanya, rela mengorbankan nyawanya asalkan Lee Ing sembuh dan gembira lagi seperti sedia kala.
Memang Lee Ing jauh bedanya dengan beberapa pekan sebelumnya.
Kalau tadinya ia merupakan seorang gadis, yang lincah jenaka, gembira dan gesit, sekarang ia kelihatan lesu dan tidak bergembira, mukanya agak pucat.
Sebetulnya apakah yang diderita oleh gadis ini?
Sesungguhnya, biarpun dalam rohani gadis ini terpukul dan tertekan oleh kematian ayahnya, namun jasmani dia tidak apa-apa!
Lee Ing sudah makan buah dewa yang ia dapatkan di dalam Gua Siluman, tubuhnya kuat sekali, darahnya bersih dan hawa sakti dalam tubuhnya mampu menolak segala macam kelemahan tubuh.
Akan tetapi sesuatu yang membuat dia bersikap seperti itu, yakni adanya tiga orang pemuda di sampingnya yang seakan-akan berlumba untuk menarik cinta kasihnya.
Inilah yang membuat ia bimbang, membuat ia lemas dan tiap malam membuat ia tak dapat tidur.
Sukar bukan main mengadakan pemilihan di antara tiga orang muda ini.
Ketiganya pemuda-pemuda pilihan, ketiganya amat memperhatikannya dan memperlihatkan cinta kasih yang besar.
Han Sin dan Siok Bun sudah pernah menyatakan perasaan hati mereka, hanya Siok Ho yang belum.
Justeru inilah yang membuat hati Lee Ing bimbang tidak karuan, membuat ia tidak nyenyak tidur dan tidak enak makan.
Memang, sikap Siok Ho sudah terang-terangan bahwa pemuda ini suka kepadanya, amat setia dan manis sikapnya kepadanya.
Akan tetapi belum pernah pemuda ini menyatakan cintanya.
Kalau pemuda ini menyatakan cinta kasihnya, kiranya ia takkan ragu-ragu lagi karena bisikan hatinya memilih Siok Ho, biarpun sering kali ia termenung kalau teringat akan kebaikan hati dan besarnya cinta kasih Han Sin.
Karena berada dalam kebimbangan dan kebingungan, gadis ini lalu "memperpanjang"
Sakitnya, tidak lain dengan maksud menahan tiga orang pemuda itu sampai ia dapat mengambil keputusan, kepada pemuda mana ia akan menyerahkan hatinya.
Karena kepandaian Lee Ing memang tinggi sekali, tentu saja ia dapat melihat kedatangan Han Sin dan Siok Bun, biarpun keduanya bersembunyi dan biarpun ia tidak melihat ke arah mereka.
Dua orang anak murid Hoa-lian pai yang bertugas melayani nona yang sedang "sakit"
Ini, tentu saja tidak tahu bahwa ada dua orang pemuda yang mengintai nona ilu dari jauh. Selagi Han Sin dan Siok Bun hendak menghampiri, tiba-tiba terdengar orang memanggil.
"Adik Lee Ing...!"
Lee Ing menengok, wajahnya berseri ketika ia melihat Siok Ho mendatangi dengan lenggang bergaya.
Seperti biasa, pakaian, pemuda ini baru diganti, bersih dan halus, topi yang menutupi rambutnya juga rapi.
Rambutnya berkilat, agaknya baru diminyaki, dan sedikit rambut yang kelihatan di bawah topi atau kain kepalanya nampak hitam dan tebal.
Wajahnya yang tampan berseri, bibirnya tersenyum-senyum ketika ia menghampiri Lee Ing dengan langkah tegap.
"Oei-twako, kau kelihatan gembira, sekali pagi ini!"
Tegur Lee Ing sambil membetulkan rambutnya yang agak kusut...
"Betaapa tidak? Pagi seindah ini, langit cerah udara sejuk hangat oleh sinar matahari, kembang-kembang pada mekar, burung berkicauan dan kupu-kupu beterbangan."
"Aduh, kau agaknya hendak mengeluarkan sajak-sajakmu, siucai (sasterawan) muda!"
Lee Ing juga gembira kini, matanya memandang dengan sinar berseri.
Siok Bun dan Han Sin dapat melihat pandang mata ini dan diam-diam mereka mengeluh.
Kalau saja sinar mata itu ditujukan kepada mereka, alangkah bahagianya.
Sambil tersenyum senyum Siok Ho menghampiri dan pada saat Lee Ing menunduk, ia memberi isyarat cepat dengan tangannya, menyuruh dua orang anak murid Hoa-lian-pai itu pergi.
Sambil tersenyum dua orang wanita itu mengangguk lalu pergi, seakan-akan mereka sudah biasa menerima isyarat seperti ini dari Siok Ho.
Dengan dalih hendak membersihkan ruangan, mereka berpamit dari Lee Ing yang tidak melarang.
Lee Ing tidak melihat isyarat tadi, akan tetapi Han Sin dan Siok Bun melihat dengan jelas.
Siok Ho lalu duduk di atas sebuah bangku dekat Lee Ing.
"Sudah baikkah kesehatanmu, adikku?"
Lee Ing hanya mengangguk dan tersenyum.
Hatinya berdebar-debar karena sekaranglah agaknya saat bagi pemuda ini untuk menyatakan perasaannya.
Akan tetapi Siok Ho hanya mengoceh tentang keharuman kembang mawar, keindahan kembang seruni, kesegaran hawa di Ta-pie-san dan lain-lain lagi.
"Oei-twako, lihat alangkah indahnya kupu-kupu itu."
Lee Ing menuding ke arah sepasang kupu-kupu yang beterbangan di atas serumpun bunga seruni.
Memang indah kupu-kupu itu, yang seekor bersayap kuning polos, yang ke dua kuning berkembang.
Mereka beterbangan di sekeliling bunga-bunga, kadang-kadang hinggap di atas bunga, kadang-kadang hanya berkeliling berkejaran, saling sentuh dan saling kejar.
Nampaknya gembira sekali.
"Memang bagus sekali. Kau juga cantik seperti kupu-kupu itu, adikku."
Berdetak jantung Lee Ing.
Pemuda ini kadang-kadang mengejutkan.
Memuji begitu tiba-tiba dan sejujurnya.
Apa lagi yang sekarang hendak diucapkan oleh pemuda ini?
Akan tetapi Siok Ho diam saja, memandangi kupu-kupu itu lalu menarik napas panjang seakan-akan terpesona sambil berkata lirih.
"Pasangan yang cocok, bahagia sekali!"
Lee Ing memandang, lalu berkata, mukanya merah sekali.
"Kalau bukan kau yang bicara, kalau aku belum mengenal baik padamu dan tahu bahwa kau seorang pemuda sopan, tentu aku akan marah dengan perbandinganmu tadi, twako. Mana aku dapat dibandingkan dengan kupu-kupu itu? Mereka berpasangan, aku hidup sebatangkara...."
"Ah, mana bisa? Seorang gadis seperti kau ini. cantik seperti bidadari, pandai seperti dewi, siapa bilang tidak akan mendapat pasangan?"
"Jangan mengejek. Orang macam aku ini, yatim piatu, miskin dan bodoh, siapa yang akan sudi mengaku....?"
"Ilihhh, bisa saja merendahkan diri. Kiranya ribuan orang pemuda yang akan bertekuk lutut di depanmu, adikku. Laksaan pria yang akan suka mengurangi umurnya asal bisa berada di sampingmu...."
"Aku tidak sudi! Aku tidak perdulikan perhatian laksaan pemuda goblok...."
"Eh, tidak semua pemuda goblok. Aku melihat seorang pemuda hebat, yang kiranya patut menjadi sisihanmu, pemuda yang tiada bandingannya di dunia ini, bukan pemuda sembarang pemuda......! Dia itu.."
Siok Ho menahan kata-katanya.
"....ya? Kenapa kau diam.......?"
Lee Ing mendesak, mukanya merah sekali karena ia sudah hampir dapat menerka lanjutan kala kala itu.
"Dia itu....aahh. aku takut kau akan marah adik Lee Ing."
"Mengapa marah? Kalau orang bicara sejujurnya, tidak ada alasan bagiku untuk marah."
Sampai lama Siok Ho tidak berani melanjutkan kata-katanya, membuat Lee Ing menjadi tidak sabar sekali.
Akan tetapi sebagai seorang gadis tentu saja tidak enak baginya kalau terlalu mendesak, maka ia menanti dengan sabar, dengan muka sebentar merah sebentar pucat, dengan dada berombak dan jantung berdenyut lebih kencang dari pada biasanya.
Tiba-tiba Lee Ing teringat akan hadirnya dua orang pemuda lain yang bersembunyi di balik rumpun kembang, la lalu bangkit berdiri dan berkala kepada Siok Ho.
"Oei-twako, mari kita jalan-jalan sambil mengobrol. Aku sudah lelah duduk di sini terlalu lama."
Setelah berkata demikian, Lee Ing berdiri dari tempat duduknya.
Ia sengaja berlaku lambat dan kakinya gemetar.
Dengan sikap menyayangi Siok Ho membantunya dan memegang lengannya.
Kemudian mereka berjalan-jalan, melihat-lihat kembang dan Lee Ing sengaja membawa Siok Ho menjauhi tempat bersembunyi dua orang muda yang tadi mengintai!
Dapat dibayangkan betapa panas hati Han Sin melihat Lee Ing dituntun pergi oleh Siok Ho dan melihat dua orang itu berjalan-jalan sambil tersenyum-senyum dan nampaknya mesra sekali.
Pemuda ini menggigil bibirnya dan matanya berkunang-kunang.
Berbeda dengan Han Sin, Siok Bun tersenyum.
Biarlah, pikirnya, biarlah Siok Ho mendapatkan gadis itu.
Memang sesuai dan cocok.
Aku girang melihat dia bahagia, orang yang semulia-mulianya dalam hatiku.
Demikianlah, kedua orang muda itu diam-diam lalu meninggalkan taman, kembali ke kamar masing-masing untuk melamun!
Sementara itu, Lee Ing kembali memancing Siok Ho.
"Oei-twako, di antara kita orang sendiri tak perlu ada rahasia-rahasia yang hanya akan meninggalkan salah faham dan tidak enak hati. Kau tadi bicara belum kau lanjutkan. Kuharap saja kau tidak akan membikin hatiku penasaran dan katakanlah siapa gerangan orang yang kau maksudkan tadi?"
Siok Ho berhenti bertindak dan memandang kepada Lee Ing dengan sepasang matanya yang bening tajam.
"Kau benar-benar takkan marah kalau aku menyebut namanya?"
Lee Ing menggeleng kepala dan mukanya menjadi merah sekali melihat mata pemuda itu menatapnya sedemikian rupa.
"Mengapa marah? Aku malah mengharapkan kejujuran semua kawanku."
"Adik Lee Ing,"
Siok Ho berkata hati-hati sekali.
"menurut pendapatku yang bodoh, di dunia ini hanya ada seorang saja pemuda yang pantas menjadi sisihanmu, karena pemuda itu jujur, berwatak mulia, dan mencintaimu dengan sepenuh jiwanya. Pemuda itu adalah.. Liem Han Sin!"
Baiknya muka Lee Ing memang sudah agak pucat maka sedikit perubahan pada kulit mukanya itu tidak sampai kentara.
Juga gadis ini berilmu tinggi sekali, dengan mengerahkan lweekang ia dapat menahan guncangan dalam dadanya dan peredaran darahnya dapat ia atur sedemikian rupa sehingga tidak mempengaruhi perasaan jantungnya.
Hanya sepasang matanya yang mengerling, bagaikan kilat menyambar wajah Siok Ho, penuh selidik seakan-akan hendak menembus jantung pemuda itu untuk menjenguk isi hatinya.
Akan tetapi wajah Siok Ho yang tampan itu nampak serius, sungguh-sungguh dan sama sekali tidak membayangkan ketidakwajaran atau kepalsuan.
Lee Ing menarik napas panjang dan diam saja, hanya menundukkan mukanya.
Siok Ho salah sangka.
Ia merasa khawatir sekali kalau-kalau Lee Ing menjadi marah, maka cepat-cepat ia berkata.
"Adik Lee Ing, tadi sudah kuharapkan agar kau tidak menjadi marah. Maka apa bila kata-kataku tadi menyinggung perasaanmu, aku mohon maaf sebesarnya."
Lee Ing hanya menggeleng kepala dan berkata lirih.
"Tidak apa-apa."
Karena merasa tidak enak, Siok Ho akhirnya minta diri dan sekali lagi minta maaf.
Sikap pemucla ini sangat mengecewakan hati Lee Ing.
Benar-benar sikap yang aneh sekali, pikirnya sambil memandang punggung Siok Ho yang pergi meninggalkannya di taman bunga.
Kelihatannya begitu mencintaiku, akan tetapi mengapa ia malah mengajukan Han Sin?
Lee Ing menjadi makin bingung setelah mendengar pengakuan Siok Ho yang sama sekali di luar dugaannya ini.
Belum lama ia termenung setelah ditinggalkan Siok Ho, tiba-tiba terdengar langkah kaki orang dan Han Sin muncul di depannya.
Tiba-tiba muka Lee Ing menjadi merah sekali.
Baru saja Siok Ho mengatakan bahwa pemuda yang paling cocok menjadi teman hidupnya adalah Han Sin, maka munculnya orang ini tidak saja membuat ia jengah, akan tetapi juga tak senang karena ucapan Siok Ho telah mengecewakan hatinya.
Lebih tak senang lagi ketika ia teringat bagaimana tadi Han Sin bersembunyi di balik rumpun bunga dan mengintai percakapannya dengan Siok Ho.
"Sin-ko (kakak Sin), baru sekarang kau muncul! Tadi kau bersembunyi saja di belakang rumpun kembang!"
Kata-kata ini terdengar dingin, juga wajah gadis itu membayangkan ketidak senangan hatinya.
Han Sin terkejut sebentar, akan tetapi ia lalu teringat bahwa gadis ini memang lihai bukan main, tentu saja dapat melihat kedatangannya tadi.
"Ing-moi, harap kau suka maafkan aku, atau kalau kau anggap perbuatanku itu terlalu kurang ajar, biarlah kau boleh maki aku. Sebetulnya bukan maksudku bersembunyi-sembunyi seperti itu. Tadinya aku hendak menengokmu seperti biasa, akan tetapi tiba-tiba aku melihat munculnya pemuda she Oei itu maka terpaksa aku bersembunyi dan mundur."
Ketika mengatakan sebutan "pemuda she Oei"
Tadi, suaranya terdengar ketus dan tak senang. Tentu saja tekanan suara ini terdengar oleh Lee Ing.
"Sin-ko, kalau ada Oei-twako di sini, mengapa sih? Kau agaknya tidak suka kepadanya!"
"Memang aku tidak suka kepadanya!"
Ucapan keras oleh Han Sin ini mengejutkan hati Lee Ing dan membuat gadis ini penasaran.
"Sin-ko, omongan apa yang kau keluarkan ini? Oei-twako orang baik sekali, terutama terhadap engkau, dan kau. sekarang terang-terangan bilang tidak suka kepadanya?"
Kata Lee Ing yang teringat betapa tadi Siok Ho malah sudah memilih Han Sin sebagai pemuda yang paling cocok untuk Lee Ing, sebuah sikap yang boleh dibilang amat menguntungkan Han Sin dan suatu tanda bahwa Siok Ho amat baik terhadap Han Sin.
Akan tetapi sebaliknya pemuda ini malah bilang tidak suka kepada Siok Ho!
Han Sin menarik napas panjang.
"Ing-moi, aku tidak suka berbohong, hal ini kau tentu maklum. Memang, pada hakekatnya Oei Siok Ho tidak pernah berbuat sesuatu terhadap aku yang membuat aku tidak suka kepadanya. Akan tetapi sikapnya terhadapmu. Dia begitu memikat-mikat hatimu.... dia... ah, laki-laki seperti itu sikapnya amat berbahaya bagi seorang gadis, Ing-moi. Terus terang saja, biar kau marah kepadaku karenanya, aku nyatakan di sini bahwa pemuda seperti dia itu sama sekali tidak patut menjadi..... menjadi.... sisihanmu...."
Sepasang mata Lee Ing mengeluarkan kilat.
Hatinya kecewa dan marah.
Dia amat suka kepada Han Sin, ada sesuatu yang mesra dalam lubuk hatinya terhadap pemuda itu.
yang menjadi samar dan suram karena muncul pemuda seperti Siok Ho.
Akan tetapi sikap Han Sin kali ini benar-benar mengecewakan dan memarahkan hatinya.
Coba saja bayangkan.
Siok Ho memuji-muji Han Sin di depannya, bahkan menyatakan bahwa Han Sin patut menjadi sisihannya, sedangkan sekarang sebaliknya, Han Sin malah mencela Siok Ho habis-habisan!
"Hemmm, Sin-ko, kenapa tidak kau lanjutkan omonganmu bahwa yang paling patut menjadi sisihanku adalah...
adalah....."
"Ya...?"
Han Sin menanti.
Lee Ing tadinya dalam kemarahannya hendak menyindir bahwa tentu kalau menurut anggapan pemuda ini, ia tidak patut menjadi sisihan Siok Ho atau pemuda lain kecuali Han Sin!
Hampir ia membenci Han Sin untuk anggapan ini.
Betulkah Han Sin akan demikian licik dan menjemukan?
"Coba, kalau menurut kau, setelah Oei-twako tidak patut menjadi sisihanku, siapa saja yang patut?"
Ia memancing, dadanya panas karena amarah.
Biarpun ia masih bertanya, namun ia sudah mengerti, sudah hampir yakin bahwa jawaban Han Sin tak bisa lain tentu mengajukan diri sendiri sebagai calon yang paling tepat!
Aneh!
Han Sin menjadi pucat dan menundukkan mukanya yang gagah, lalu berkata perlahan dan serak.
"Kau tidak patut mempunyai sisihan macam Siok Ho Aku...... aku akan ikut gembira kalau meliat kau bahagia di samping pemuda yang amat baik seperti.. seperti misalnya Siok Bun. Dia ini baru boleh dibilang pemuda yang patut menjadi sisihanmu.."
Lee Ing melongo dan untuk beberapa saat tak dapat bicara.
Jangankan mengeluarkan kata-kata, bergerakpun ia tidak sanggup.
Begitu heran dia!
Salah sangka dia!
Han Sin ternyata bukan pemuda licik yang mau menang sendiri.
Seperti yang patut dilakukan pemuda perkasa ini, ia tidak menonjolkan diri sendiri, sebaliknya malah, mengajukan Siok Bun, saingannya, sebagai pilihan Lee Ing gadis yang dicintanya sepenuh nyawa.
Memang bagi Han Sin, seribu kali ia lebih rela Lee Ing berjodoh dengan Siok Bun dari pada dengan Siok Ho.
Bagaikan suara yang datangnya dari atas langit, jauh sekali, Lee Ing sayup-sayup mendengar suara Han Sin.
"Ing-moi, kau percayalah kepadaku. Aku seorang laki-laki maka dalam hal ini aku kiranya lebih tahu dari padamu. Seorang pria seperti Oei Siok Ho itu, yang begitu pesolek, begitu lemah lembut, begitu memikat..... biasanya tidak boleh dipercaya. Hanya manis mulut, tidak terus ke hati. Aku..... aku curiga sekali kepadanya dan sekarang juga akan kukatakan terang-terangan kepadanya. Ing-moi, percayalah karena aku...... aku akan sengsara sekali kalau melihat kau sampai salah pilih. Kepada Siok Bun aku percaya penuh....."
Seperti dalam mimpi, Lee Ing hanya mengangguk.
"Hati-hatilah, Ing-moi.... hati-hatilah."
"Akan kuperhatikan, Sin-ko..... terima kasih atas nasihatmu...."
Jawab Lee Ing seperti orang lupa ingatan.
Melihat gadis itu menjadi lesu dan pucat, Han Sin bersedih, la khawatir sekali bahwa gadis ini betul-betul jatuh hati kepada Siok Ho.
Karena ia sendiri merasa amat terharu, tanpa berkata apa-apa lagi ia lalu pergi meninggalkan Lee Ing yang masih berdiri melamun.
Dengan langkah tegap dan hati panas Han Sin keluar dari taman, langsung pergi mencari Siok Ho!
Dalam urusan mengenai diri Lee Ing, tidak ada sungkan-sungkanan lagi.
Biarpun selama ini Siok Ho memperlihatkan diri sebagai sekutu yang baik, juga sebagai pembela Tiong-gi-pai, akan tetapi dalam urusan mengenai diri Lee Ing, dia tak boleh berlaku sungkan lagi.
Dia harus menempatkan diri sebagai pelindung kebahagiaan gadis itu kalau ia gagal menempatkan diri sebagai calon jodohnya.
Tak seorang jugapun, baik Siok Ho atau siapa juga, boleh menghancurkan kebahagiaan hidup gadis itu.
la tidak percaya kepada Siok Ho, tidak percaya dalam hal kasih sayangnya terhadap Lee Ing.
la harus memperingatkan Siok Ho agar jangan main-main dengan Lee Ing, jangan menjadikan gadis itu korban ketampanannya!
Akan tetapi ia tidak dapat menemukan Siok Ho.
Sebaliknya ia malah bertemu dengan Siok Bun di halaman depan bangunan Hoa-lian-pai.
"Liem-suhehg. kau hendak ke mana?"
Tanya Siok Bun yang melihat wajah orang muram.
"Aku mencari saudara Oei Siok Ho, di manakah dia?"
Jawab Han Sin secara singkat dan kaku.
"Dia tadi turun ke sana, mungkin dia hendak mandi di pancuran air,"
Kata Siok Bun.
Tanpa mengucapkan apa-apa lagi, dengan langkah lebar Han Sin lalu menuju ke jurusan yang ditunjuk.
Tidak enak perasaan Siok Bun.
Diam-diam pemuda ini lalu mengejar dan mengikuti Han Sin dari jauh.
Semenjak terjadi persaingan dalam memperebutkan kasih Lee Ing, memang diam-diam Siok Bun selalu merasa khawatir kalau-kalau terjadi apa-apa antara Siok Ho dan Han Sin.
Dia sendiri memang sudah mengalah terhadap Siok Ho dan sekarang ia khawatir kalau-kalau terjadi sesuatu, kalau-kalau Han Sin yang jujur dan keras hati akan menantang Siok Ho.
Maka ia mengikuti dan bersiap-siap, kalau perlu melindungi Siok Ho, tuan penolongnya yang selamanya akan ia bela.
Betul saja, ketika tiba di dekat pancuran air gunung yang dari kejauhan sudah terdengar suaranya, Han Sin melihat Siok Ho sedang hendak membuka pembungkus rambut kepalanya.
Siok Ho mendengar tindakan kaki orang dan cepat menengok, kelihatan pucat dan kaget sekali melihat Han Sin sudah berdiri di belakangnya.
"Kau.... kau mau apa mengikuti aku.......?"
Tanyanya gagap karena ia tadi benar-benar kaget melihat Han Sin di situ.
Melihat kegugupan orang, Han Sin inakin merasa yakin bahwa tentu Siok Ho sudah merasa mempunyai kesalahan, sudah merasa bersikap palsu di depan Lee Ing.
Dengan senyum sindir ia berkata.
"Biarpun kau mencuci dirimu sampai Air pancuran habis, kau takkan mampu membersihkan diri dari kepalsuan!"
Siok Ho makin terkejut. Cepat ia membenarkan letak kain pembungkus kepalanya, lalu menghampiri Han Sin, matanya yang tajam itu menatap penuh selidik.
"Eh, saudara Liem, kau kenapakah? Kau kelihaian tidak sewajarnya, apakah kau sakit...? Ada perlu apa kau mencariku...?"
"Orang she Oei, ketahuilah. Aku datang mencarimu untuk menyatakan bahwa aku melarang kau menggoda nona Lee Ing! Aku yang akan menghajarmu kalau kau berani mempermainkannya dengan ketampananmu!"
Siok Ho menjadi merah mukanya, matanya berapi. Dengan jari telunjuknya menuding ke arah hidung Han Sin,dia berseru.
"Saudara Liem Han Sin, kau ini siapakah berani bicara begitu kepadaku? Kau perduli apa dengan semua urusanku?"
Han Sin mencabut keluar sepasang senjatanya, kipas dan pitnya. lalu berkata, suaranya keras.
"Urusanmu yang lain aku tidak perduli, akan tetapi kalau kau menggoda Lee Ing. Aku akan mengadu nyawa dengan kau tidak rela melihat Lee Ing menjadi korbanmu!"
Siok Ho tertawa mengejek.
"Heh, laki-laki tak bermalu. Kalah bersaing menjadi gila karena cemburu dan iri hati! Kau sendiri kalau becus, kenapa tidak merampas kasih sayang Lee Ing? Mengapa kau tumpahkan kemarahan kepadaku?"
"Lee Ing seorang gadis suci, tidak patut bersisihan dengan kau yang bersikap palsu. Kau sudah mempergunakan pengaruhmu untuk menguasai orang-orang Hoa-lian-pai dan kau pergunakan kemanisan mulutmu untuk menjatuhkan hati Lee Ing. Apa kau kira aku tadi tidak melihat semua itu? Orang she Oei, pendeknya kalau kau tidak berjanji menjauhi Lee Ing, terpaksa aku menantangmu untuk bertempur."
"Eh, eh, orang she Liem! Kau kira aku takut kepadamu? Sungguh muka tebal, kalah bersaing marah-marah!"
"Aku tidak menghendaki Lee Ing dengan paksa. Aku lebih suka melihat gadis itu berjodoh dengan saudara Siok Bun atau tidak menikah sama sekali dari pada melihat dia kelak sengsara di dalam tanganmu yang palsu dan kotor."
"Keparat, kau menantang dan menghina."
Siok Ho mencabut keluar pedangnya.
Dua orang jago muda itu sudah siap-siap untuk bertanding mati-matian.
Tiba-tiba melompat keluar Siok Bun.
Pemuda inipun sudah memegang senjatanya, gaetan yang bersinar putih.
Datang-datang ia mencela Han Sin.
"Saudara Liem, sepak-terjangmu kali ini benar benar amat mengecewakan hatiku, benar-benar tak dapat dipuji sebagai sikap seorang gagah. Kau menantang dan hendak menyerang adik Oei hanya karena kau cemburu dan iri hati. Kalau memang nona Lee Ing dan adik Oei sudah saling menyintai, mengapa kau tidak tahu diri dan mundur? Ah, saudara Liem Han Sin yang baik. Di dunia ini tidak hanya ada Lee Ing seorang, dan menjadi gelap mata karena cinta benar-benar memalukan dan tidak layak menjadi sikap orang gagah. Di mana kejantananmu?"
Merah muka Han Sin mendengar teguran ini.
"Siok-twako, kata-katamu memang tepat. Akan tetapi kau salah duga. Aku bukan marah karena iri hati dan cemburu. Aku melakukan semua ini demi kebahagiaan nona Souw Lee Ing. Karena aku yakin bahwa saudara Oei ini takkan membahagiakan hidupnya kelak, maka aku bersikap seperti ini dan aku ulangi lagi, kalau saudara Oei tidak berjanji menjauhinya, aku menantangnya untuk bertempur!"
"Boleh... boleh..... akupun tidak gentar!"
Kata Oei Siok Ho sambil melangkah maju, pedang siap di tangan.
"Tahan...I"
Siok Bun melompat ke depan dan menghadapi Han Sin, wajahnya agak pucat dan suaranya terdengar keren ketika ia berkata.
"Sungguh menyesal sekali bahwa aku harus menyatakan ketidaksenangan hatiku terhadap sikapmu itu, saudara Liem! Seperti juga kau atau aku, saudara Oei Siok Ho ini bebas memilih siapa saja menjadi kekasihnya, dan bukanlah salahnya kalau nona Souw memilih dia. Alasanmu itu kosong belaka dan biarpun selama ini aku selalu kagum kepadamu dan menganggap kau tidak saja sebagai kawan seperjuangan, akan tetapi juga sebagai saudara, sekarang terpaksa aku tak dapat tinggal diam dan akan menjadi lawan dan musuhmu kalau kaulanjutkan sikapmu yang tak baik terhadap saudara Oei Siok Ho. Aku mewakili ayah dan di sini aku mengharapkan ketenteraman. Kalau kau tidak suka tinggal di sini lagi, kau boleh tinggalkan kami!"
Wajah Han Sin sebentar pucat sebentar merah.
Sama sekali tidak disangkanya Siok Bun akan semarah itu dan akan membela Siok Ho mati-matian.
la tidak takut, biar andaikata harus bertempur melawan dua orang ini.
Akan tetapi ia tidak ada urusan dengan Siok Bun, pula tadi ia hendak menantang Siok Ho juga bukan karena uruSan lain kecuali mengenai diri Lee Ing Kalau Siok Bun sudah memihak Siok Ho, benar-benarkah dia yang keterlaluan dan bersalah?
Han Sin orangnya jujur dan baik hati, sekarang ia mulai ragu-ragu akan kebenaran sikap sendiri.
"Aku perlu memikirkan hal ini seorang diri. Siok-twako, aku hendak pergi dulu, biar lain kali kita bicara lagi."
Setelah berkata demikian, Han Sin lari cepat turun gunung sambil menyimpan kembali sepasang senjatanya.
Dua orang muda itu, Oei Siok Ho dan Siok Bun, berdiri seperti patung memandang ke arah perginya Han Sin.
Sampai lama mereka tidak bergerak, juga tidak mengeluarkan suara.
Akhirnya terdengar Siok Bun menarik napas panjang dan berkata.
"Kasihan sekali saudara Han Sin....."
"Memang harus dikasihani dia.."
Jawab Siok Ho sambil menyimpan pedangnya.
"Akan tetapi salahnya sendiri, la tidak boleh begitu lemah karena pengaruh cinta kasih tak sampai. Sebagai seorang pendekar ia harus berhati teguh dan kuat."
Siok Ho tak menjawab dan keduanya diam agak lama.
"Siok-twako, kenapa kau tadi membelaku? Bukankah kau juga tahu betapa saudara Liem itu mencintai nona Lee Ing? Kenapa kau seakan-akan berdiri di fihakku dan lebih suka melihat Lee Ing di sampingku?"
Siok Bun mengerutkan kening, agaknya sukar untuk menjawab.
"Karena kaupun mencinta Souw-lihiap dan ia juga mencintamu, karena... karena aku lebih senang melihat kau menjadi jodohnya sehingga kau dan dia hidup bahagia..."
"Siok-twako, kenapa kau justeru memperhatikan kebahagiaanku? Kenapa kau tidak memperhatikan kebahagiaan saudara Liem? Tidak melihatkah kau tadi betapa hancur hatinya? Apa kau tidak dapat membayangkan betapa akan menderita batinnya kalau Lee Ing sampai menjadi kepunyaan orang lain? Siok-twako, kenapa justeru kau mengalah kepadaku?"
"Saudaraku yang baik, mengapa kau masih mengajukan pertanyaan seperti itu? Han Sin boleh jadi sahabatku yang baik, kawan seperjuangan yang kuhormati, akan tetapi dibandingkan dengan kau.... tentu saja aku berfihak kepadamu. Kau adalah penolongku, kau orang yang kuanggap paling mulia dan karenanya aku ingin melihat kau bahagia..."
Siok Ho mengerutkan alisnya yang hitam.
"Jadi kau mau bilang bahwa kau lebih sayang kepadaku dari pada Han Sin?"
"Tentu saja!"
"Dan kasih sayang serta pembelaanmu itu berdasarkan atas pertolonganku dahulu itu ketika kau terluka oleh pukulan Hek-tok-ciang? Jadi artinya, kau hendak membalas budi?"
Siok Bun mengangguk akan tetapi cepat disusul dengan suaranya.
"Tidak..! Tidak hanya untuk membalas budi.... entah, kau... kau kuanggap seperti saudaraku sendiri, malah lebih dari itu..... Saudara Siok Ho, entah mengapa, di dalam hatiku, aku hanya ingin melihat kau bahagia!"
Siok Ho tertawa, suara ketawanya aneh sehingga Siok Bun menatapnya dengan heran.
Siok Ho menahan ketawanya dan bertanya lagi, suaranya kini sungguh-sungguh dan sepasang matanya memandang wajah Siok Bun penuh selidik.
"Siok-twako, katakanlah sejujurnya. Bukankah kau mencinta nona Lee Ing?"
"Dulu memang."
Jawab Siok Bun cepat tanpa ragu-ragu.
"memang aku suka dan kagum kepadanya, sampai sekarangpun masih suka dan kagum. Akan tetapi mencinta? Tidak lagi, semenjak kuketahui bahwa kau mencintainya!"
"Eh, Siok-twako! Jadi kau beratkan aku dari pada nona Lee Ing?"
Siok Bun mengangguk.
"Lebih berat dari pada siapapun juga."
Tiba-tiba muka Oei Siok Ho menjadi merah sekali dan pemuda ini tertawa sambil mendongakkan mukanya yang tampan. Suaranya tergetar aneh ketika ia berkata.
"Kau manusia aneh.! Hampir kukatakan kau gila...!"
Setelah berkata demikian ia lalu melompat dan berlari cepat meninggalkan Siok Bun. Pemuda ini berdiri bengong, lalu mengangkat pundak.
"Apa hendak dikata? Memang hatiku berat sekali padanya... aah, aku cinta kepada saudara Oei Siok Ho. lebih besar dari pada cinta kepada Lee Ing. Memang aneh, pantas dia menganggap aku gila. Mungkin aku sudah gila......"
Dengan perlahan Siok Bun naik lagi ke puncak, pikirannya tidak karuan.
Dapat dibayangkan betapa herannya ketika seorang anak murid Hoa-lian-pai memberi tahu kepadanya bahwa nona Souw minta bertemu dengan dia di ruangan dalam, di lian-bu-thia (tempat berlatih silat).
Bergegas Siok Bun pergi ke ruangan itu dan mendapatkan Lee Ing duduk di atas bangku seperti patung, mukanya agak pucat dan ada tanda-tanda basah di pipinya seperti orang baru menangis.
Siok Bun merasa kasihan, mengira bahwa gadis ini tentu kembali teringat ayahnya dan menangisi nasibnya.
Akan tetapi sesungguhnya Lee Ing bukan hanya menyedihi ayahnya.
Memang ia masih berduka dan berkabung karena kematian ayahnya, akan tetapi pada saat itu ia menghadapi persoalan lain yang membuat ia ingin sekali menangis menggerung-gerung saking bingung dan jengkelnya.
Sikap Siok Ho tadi di taman bunga telah mendatangkan perasaan tidak karuan kepadanya, membuat ia bingung dan tak tahu harus berbuat apa kecuali menangis.
Setelah ia puas memeras air mata di dalam kamar, ia mengambil keputusan untuk berterus terang minta pendapat Siok Bun.
Ia dihadapkan kepada persoalan yang membingungkan hatinya.
Han Sin menyatakan bahwa dia lebih baik menjauhkan diri dari Siok Ho dan lebih patut menerima cinta kasih Siok Bun.
Sebaliknya, Siok Ho menyatakan bahwa jodohnya yang paling baik adalah Han Sin.
Bagaimana ini?
Ia mengambil keputusan untuk bertanya kepada Siok Bun.
Kalau sikap Han Sin dan Siok Ho boleh dibilang aneh sekali ia kira tidak demikian dengan Siok Bun.
Ia sudah mengenal Siok Bun sebagai seorang pemuda gagah yang kiranya takkan mau membohong.
Ketika melihat Siok Bun datang, Lee Ing memcoba tersenyum lalu mempersilahkan pemuda itu duduk.
(Lanjut ke
Jilid 26) Pusaka Gua Siluman (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 26
"Kuharap kau sudah sehat, nona,"
Kata Siok Bun halus.
"Terima kasih. Kau selalu baik sekali Siok-twako. Maaf kalau aku mengganggu. Aku sengaja memanggilmu untuk menanyakan sesuatu yang amat penting dan kuharap kau suka bersikap jujur dan suka membantuku."
Melihat kesungguhan sikap dan kata-kata nona itu, mau tidak mau Siok Bun berdebar hatinya dan merasa tidak enak hatinya.
"Katakanlah, nona. Kiranya tak perlu lagi aku jelaskan karena kau tentu cukup tahu, bahwa aku selalu siap sedia membantumu."
Lee Ing mengangguk.
"Aku hanya mengharapkan kejujuranmu, Siok-twako."
Ia menarik napas panjang untuk melapangkan dadanya, kemudian sambil menekan perasaannya, gadis itu berkata lagi.
"Siok-twako setelah aku jatuh sakit dan berada di tempat ini beberapa lama aku melihat betapa kau dan saudara-saudara Liem dan Oei melepas banyak sekali budi kepadaku. Hal ini tentu saja membuktikan bahwa kalian bertiga adalah orang-orang yang budiman dan setia kepada kawan yang sedang menderita, Akan tetapi, di samping semua ini... entah kau sudah tahu entah belum, aku melihat sesuatu yang tidak enak timbul antara saudara Liem Han Sin dan saudara Oei Siok Ho. Kau tentu mengerti betapa aku dihadapkan persoalan yang amat sulit, kalian bertiga begitu baik kepadaku dan. dan... ah, bagaimana aku harus bicara? Pokoknya kau tentu sudah maklum bahwa perasaan kalian bertiga adalah sama dan..... dan kau tentu tahu pula, Siok-twako, bahwa sebagai seorang gadis, sukar bagiku untuk menyatakan perasaan dan..... dan tak mungkin aku membalas ketiganya."
Sampai di sini Lee Ing tak dapat melanjutkan kata-katanya dan tak dapat ditahan pula air matanya mengalir turun yang cepat diusapnya.
Sejak Lee Ing membuka mulut bicara, Siok Bun hanya duduk bengong dengan muka sebentar pucat sebentar merah.
Hebat gadis ini!
Bicara begitu blak-blakan tentang perasaan tiga orang pemuda terhadap dirinya, begitu saja dengan jujur dan mengharukan.
Sampai lama Siok Bun tak dapat menjawab, hanya memandang wajah yang patut dikasihani itu.
Akhirnya, setelah berkali-kali menarik napas panjang untuk menenteramkan jantungnya yang terguncang, pemuda ini berkata.
"Nona Souw, benar-benar aku kagum sekali akan sikap dan kejujuranmu. Semua yang kau katakan itu benar belaka, seujung rambutpun tidak meleset. Akan tetapi, apa yang harus kukatakan? Segala keputusan tergantung kepadamu sendiri, nona. Bagi aku pribadi, aku mohon maaf sebanyaknya akan sikapku yang lancang dahulu terhadapmu. Sekarang terbuka mataku bahwa aku tidak berharga sedikitpun. Kalau menurut pendapatku, ini pendapatku dan harap nona maafkan kalau keliru, kiranya adik Oei Siok Ho yang akan dapat membahagiakan nona....."
Baru sampai di sini, Siok Bun berhenti dan kaget karena tiba-tiba Lee Ing tertawa. Suara ketawanya aneh dan mukanya menjadi makin pucat, seperti mayat tertawa.
"Souw-ljhiap! Jangan tertawa seperti itu.!"
Siok Bun sampai membentak keras karena merasa ngeri. Kembali Lee Ing terkekeh dan sambil tertawa ia berkata, '"Dunia sudah miring, apa kalian bertiga yang sudah gila atau aku yang miring otakku..?"
Sampai tiga kali ia berkata seperti ini dan ia tertawa-tawa akan tetapi kedua matanya bercucuran air mata.
Celaka, tentu dia yang miring otaknya, pikir Siok Bun teringat akan keadaan ayah gadis ini yang juga berotak miring.
"Nona Souw...."
"Cukup! Pergi kau, kalian bertiga palsu semua ....hi-hi-hi..!"
Siok Bun kaget dan cepat pergi dari situ, lalu berlari keluar untuk mencari Siok Ho dan Han Sin, untuk menyampaikan berita hebat ini, bahwa Lee Ing telah berubah ingatannya.
Betulkah gadis itu berubah ingatannya?
Tidak demikian.
Memang, harus diakui bahwa semenjak ia menjadi murid di Gua Siluman, kadang-kadang ia mendapat rangsangan aneh dan suka berlaku luar biasa tidak memperdulikan keadaan di sekelilingnya, harus diakui bahwa hawa mujijat di gua itu sedikit banyak mempengaruhi.
Akan tetapi pada saat itu ia tidak bingung karena miring otaknya, melainkan ia merasa bingung dan makin ruwet menghadapi persoalan asmara segi tiga itu.
Siapa orangnya yang takkan merasa repot pikirannya, gadis mana takkan merasa linglung kalau menghadapi sikap tiga orang pemuda pilihan itu?
Siok Ho menyuruh ia memilih Han Sin, sebaliknya Han Sin memuji Siok Bun dan sekarang Siok Bun mengajukan Siok Ho!
Benar-benar keadaan yang gila dan sukar diterima oleh seorang gadis seperti Lee Ing.
la tertawa karena memang geli dan merasa lucu menghadapi persoalan itu, di samping perasaan kecewa, gemas, malu, dan marah campur aduk menjadi satu.
Dianggapnya mereka bertiga itu palsu belaka.
Masing-masing dalam sikapnya, dalam gerak-gerik dan pandang matanya, tidak sukar diduga mencinta dirinya.
Akan tetapi mengapa mulut mereka malah saling mengajukan saingan mereka?
Bagaimanakah sebetulnya perasaan mereka?
Lee Ing menjadi bingung sekali.
Secara terang-terangan Han Sin dan Siok Bun pernah menyatakan cinta kasih mereka kepadanya.
Akan tetapi sekarang secara terang-terangan pula mereka seakan-akan mengundurkan diri dan mengajukan saingan mereka.
Apa-apaan "m?
Jangan-jangan mereka itu sudah tidak suka lagi kepadaku, pikir Lee Ing yang tiba-tiba menjadi sedih.
Mendadak ia teringat akan sesuatu, wajahnya berseri dan ia berlari-lari memasuki kamarnya.
Sementara itu, dengan gelisah campur terharu, Siok Bun berlari-lari keluar.
Dengan gagap ia bertanya kepada murid-murid Hoa-lian-pai di mana adanya Siok Ho yang dijawab oleh mereka bahwa pemuda itu berlari turun gunung.
Siok Bun cepat menyuruh mereka mengawani Lee Ing yang ia katakan perlu dijaga karena sakitnya kambuh, kemudian cepat ia menyusul turun gunung mengejar Siok Ho.
Ketika melalui lereng, Siok Bun terkejut bukan main dan menghentikan larinya sambil melihat ke bawah.
Apa yang dilihatnya?
Mayat-mayat bergelimpangan tanpa kepala!
Darah masih memancar keluar dari leher mayat-mayat itu, tanda bahwa pembunuhan keji ini belum lama terjadi.
Sebagian besar adalah tubuh dari para anggauta Hoa-lian-pai, ada pula orang laki-laki yang agaknya keluarga para anggauta itu yang naik ke gunung untuk menyambut keluarga mereka, yakni para anak murid Hoa-lian-pai yang kini hendak pulang ke kampung masing-masing.
Berita tentang bubarnya Hoa-lian-pai sudah tersiar luas.
Melihat keadaan mayat-mayat itu, hati Siok Bun tergerak.
Satu-satunya manusia yang sekejam ini memenggal kepala orang dan membawa kepala itu pergi, di dunia ini kiranya hanya Toat-beng-pian Mo Hun.
"Tar! Tar! Tar!"
Lecut cambuk ini seakan-akan menjawab dugaan pikirannya dan ia tidak ragu-ragu lagi ketika mendengar suara menyeramkan, suara ketawa Mo Hun!
Cepat ia melompat dan mencabut senjatanya, terus lari ke arah suara itu di balik puncak kecil.
Segera ia mendengar suara nyaring senjata tajam, maka ia mempercepat larinya.
Setelah tiba di tempat itu, dengan kaget ia melihat Mo Hun dan Ku!
Ek sedang mendesak hebat Han Sin dan Siok Ho.
Bagaimana dua orang pemuda itu tahu-tahu sudah bertempur dengan dua orang kaki tangan Auwyang Tek itu?
Tadi setelah pertemuannya dengan Siok Bun, Oei Siok Ho lari kencang menuruni puncak.
Kalau Siok Bun menyaksikan tingkahnya, tentu akan mengira Siok Ho juga sudah gila.
Pemuda ini berlari-lari sambil tertawa-tawa, kadang-kadang meloncat-loncat, kadang-kadang berhenti menari-nari mengelilingi sebatang pohon, lalu lari lagi dan tertawanya nyaring bergema di hutan itu.
Tiba-tiba ia mendengar orang memekik mengerikan di sebelah bawah, disusul bunyi cambuk menggeletar.
Siok Ho seketika lenyap sikapnya yang aneh itu, dan cepat mencabut pedang lalu lari menuju ke suara itu.
Apa yang dilihatnya?
Cukup mengerikan dan cukup memanaskan hatinya sehingga seketika itu juga wajah pemuda ini merah saking marahnya.
Tepat pada saat ia tiba di situ, pian kelabang di tangan Toat-beng-pian Mo Hun menyambar putus kepala seorang laki-laki, sedang di tangan kiri iblis itu sudah terjambak rambut dua buah kepala wanita yang berlumuran darah.
Mengerikan sekali penglihatan ini sehingga untuk beberapa lama Siok Ho tak dapat bergerak dari tempatnya.
Kemudian dengan kemarahan yang meluap-luap ia meloncat dan memaki.
"Jahanam berhati iblis! Manusia macam kau harus dibasmi dari muka bumi!"
Pedangnya berkelebat cepat. Pada saat itu juga terdengar bentakan lain dari lain jurusan.
"Mo Hun keparat! Mari kita adu jiwa!"
Dan berbareng dengan bentakan ini, Han Sin melompat dan menyerang dengan pit dan kipasnya.
Mo Hun yang sekaligus diserang dari dua jurusan oleh dua orang pemuda yang gagah itu, masih terkekeh-kekeh akan tetapi terpaksa pula ia melompat mundur sambil menyambitkan dua buah kepala itu ke arah Siok Ho dan Han Sin.
Dua orang pemuda ini merasa ngeri dan jijik sekali, cepat mereka mengelak dan kesempatan ini dipergunakan oleh Mo Hun untuk menyerang mereka dengan pian kelabang di tangannya yang masih berlumuran darah.
"Dua kepala yang bagus! Dua otak yang segar! Heh-heh-heh!"
Katanya sambil menyerang terus dengan senjatanya yang memang hebat itu.
Akan tetapi kini ia dikeroyok oleh dua orang pemuda jagoan.
Biarpun kalau melawan seorang dengan seorang tentu ia akan menang, akan tetapi sekarang dikeroyok oleh dua orang pemuda yang marah dan benci sekali itu Mo Hun kewalahan juga.
Beberapa kali ia sengaja membunyikan cambuknya sehingga terdengar suara nyaring "tar!
tar!"
Kiranya suara ini adalah semacam isyarat minta tolong, karena tak lama kemudian muncullah Ma-ihouw Koai-tung Kui Ek!
Tongkat kepala burung di tangannya menyambar hebat dan terpaksa Siok Ho melayaninya dan meninggalkan Han Sin seorang diri menghadapi Mo Hun.
Baik Siok Ho maupun Han Sin adalah orang-orang muda gemblengan yang berkepandaian tinggi, bersemangat besar dan sedikitpun tak kenal takut.
Akan tetapi menghadapi dua orang lawan yang memang tingkat kepandaiannya lebih tinggi, lambat-laun mereka terdesak hebat.
Namun, berkat kegigihan mereka tidak akan mudah bagi Mo Hun dan Kui Ek untuk cepat-cepat menjatuhkan mereka.
Baiknya Auwyang Tek dan kaki tangannya yang lain sudah lebih dulu meninggalkan Ta-pie-san.
Auwyang Tek sengaja pergi untuk cepat-cepat mengumpulkan bantuan, terutama sekali memanggil Tok-ong Kai Song Cinjin.
Pemuda ini girang sekali mendapat kenyataan bahwa Souw Teng Wi berada di situ, malah bersama puterinya dan di situ berkumpul orang-orang pandai yang membela Tiong-gi-pai.
Kalau fihaknya mempunyai kekuatan besar, berarti sekaligus ia akan dapat menumpas semua musuh-musuh itu.
Maka ia cepat pergi dan meninggalkan Mo Hun dan Kui Ek menjaga di situ untuk mengawasi gerak-gerik musuh.
Dalam tempat persembunyiannya, Mo Hun dan Kui Ek yang tidak berani bergerak sembarangan ini, dapat melihat betapa tokoh-tokoh besar yang tadinya berada di gunung itu telah turun gunung.
Mereka juga telah menangkap seorang anggauta Hoa-lian-pai yang pulang ke kampung dan dari orang ini mereka mendengar keadaan di atas.
Bahwa Souw Teng Wi telah tewas, bahwa nona Souw sedang menderita sakit hebat dan di atas puncak hanya dijaga oleh tiga orang pemuda, yaitu Liem Han Sin, Oei Siok Ho, dan Siok Bun.
Girang hati dua orang tokoh ini dan mereka mulai berani memperlihatkan diri.
Tiga orang muda itu tidak mereka takuti, hanya mereka masih segan-segan untuk mengganggu Souw Lee Ing, biarpun gadis itu masih dalam keadaan sakit.
Malah Mo Hun telah kumat pula gilanya dan ia mulai membunuhi anak buah Hoa-lian-pai dan keluarga mereka yang menjemput mereka yang hendak pulang ke kampung.
Siapa kira baru saja membunuh beberapa orang muncul Han Sin dan Siok Ho yang menyerangnya.
Akan tetapi, dibantu oleh Kui Ek, si pemakan otak itu dapat mendesak lawan dan ia terkekeh-kekeh girang sambil sengaja membunyikan piannya menjeletar-Jeletar untuk menipiskan semangat lawan.
Suara pian ini yang terdengar oleh Siok Bun dan begitu pemuda gagah ini sampai di situ, tanpa membuang waktu lagi ia lalu memutar senjatanya dan menyerbu membantu Han Sin dan Siok Ho.
Kedatangan pemuda gagah ini menambah api semangat Han Sin dan Siok Ho yang cepat mengerahkan seluruh kepandaian untuk mendesak lawan.
Di lain fihak, Mo Hun dan Kui Ek menjadi kecut hatinya.
Menjatuhkan dua orang pemuda perkasa itu saja sudah sukar, sekarang ditambah lagi dengan seorang pemuda putera Pek-kong-Sin-kauw Siok Beng Hui yang sudah mereka ketahui kelihaiannya.
Biarpun mereka belum tentu kalah oleh keroyokan tiga orang lawan muda itu, akan tetapi mereka takut kalau-kalau Lee Ing muncul pula.
Kui Ek mengeluarkan siulan rahasia dan di lain Saat dia dan Mo Hun sudah melancarkan serangan hebat sekali.
Selagi tiga orang pemuda itu melompat mundur, dua orang kaki tangan Auwyang Tek itu cepat membalikkan tubuh dan melarikan diri.
"Kejar iblis-iblis itu!"
Han Sin berseru keras dan marah.
"Jangan....!"
Kata Siok Bun.
"Liem-heng, Oei-te..... dengarlah baik-baik. Baru saja aku bercakap-cakap dengan nona Souw Lee Ing dan... dan..... dia...."
Han Sin memegang pundaknya dan mengguncang-guncangnya sambil berseru dengan wajah pucat.
"Dia kenapa....? Hayo bilang dia kenapa?"
Juga Siok Ho menjadi pucat akan tetapi ia masih lebih sabar dari pada Han Sin.
"Entahlah...... tadinya aku bercakap-cakap dengan dia....... lalu, lalu dia aneh sekali seperti tak beres ingatannya.."
Han Sin tidak menanti sampai Siok Bun habis bercerita. Dengan keluhan "Ing-moi.....!"
Meloncatlah ia dan berlari secepatnya mendaki puncak. Siok Ho dan Siok Bun cepat mengikutinya.
"Aneh, apakah dia mendadak menjadi gila?"
Di tengah jalan Siok Ho bertanya kepada Siok Bun.
"Entahlah, akan tetapi kata-kata dan sikapnya seperti... mengingatkan aku akan ayahnya, Souw-taihiap...."
Jawab Siok Bun terharu.
"Kasihan...."
Komentar Siok Ho dan kalau saja Siok Bun tidak begitu bingung memikirkan Lee Ing, tentu ia akan merasa aneh sekali mengapa Siok Ho menghadapi malapetaka yang menimpa gadis itu demikian ringan saja.
Tiga orang muda yang berlari cepat itu telah tiba di bangunan Hoa-Iian-pai dan alangkah kaget hati mereka ketika anak-anak murid Hoa-Iian-pai semua menangis dan nampak bingung!
"Ada apa......?
Mana nona Souw......?"
Tanya Han Sin seperti orang gila, mukanya pucat sekali dan suaranya menggigil ketika bertanya. Murid-murid Hoa-Iian-pai yang tinggal belasan Orang itu sambil menangis dan tak dapat menjawab menudingkan telunjuknya ke arah kamar Lee Ing, lalu menangis lagi makin keras.
"Celaka.....!"
Han Sin berseru sambil melompat, terus dibayangi oleh Siok Bun dan Oei Siok Ho.
Karena menyangka ada kejadian hebat, tiga orang muda ini masing-masing mencabut senjatanya, Siap menghadapi segala kemungkinan.
Setelah tiba di depan kamar Lee Ing, mereka mendapatkan di dalam kamar itupun anak-anak murid Hoa-Iian-pai menangis dan menyebut-nyebut nama Lee Ing!
Seketika lemas tubuh Han Sin.
sepasang senjatanya segera ia simpan dan dengan kedua kaki gemetar ia memasuki kamar.
Ia berdiri tegak mematung di ambang pintu, membuat Siok Ho dan Siok Bun cepat-cepat melongok dari sampingnya.
Pada saat dua oranag muda ini melihat pemandangan di dalam kamar, Han Siri melompat maju, meraba tangan Lee Ing yang terlentang kaku di atas petrbaringan, mengguncang-guncang tangan itu samb i memanggil-manggil seperti gila.
"Ing-moi....! lng-moi....! lng-moi.....!"
Kemudian pemuda ini roboh tertentang, pingsan!
Siok Bun dan Siok Ho melompat ke depan menolong Han Sin, kemudian mereka mendekati tubuh Lee Ing.
Tanpa ragu-ragu lagi Siok Ho memeriksa dada dan nadi Lee Ing.
Kemudian dengan muka pucat ia menoleh kepada Siok Bun dan berkata lirih.
"Dia sudah tidak ada lagi..I"
Naik sedu-sedan di tenggorokan Siok Bun dan Siok Ho malah sudah tak dapat menahan lagi air matanya yang sudah bercucuran turun membasahi pipinya, malah dia terisak-isak menangis memeluki tubuh Lee Ing!
Pemandangan yang amat mengharukan di dalam kamar itu.
Empat orang anak murid Hoa lian-pai menangis.
Siok Ho terisak-isak, Siok Bun berdiri seperti patung, dan Han Sin masih pingsan.
Memang peristiwa ini amat mengejutkan, dan amat tidak disangka-sangka.
Dapat dibayangkan betapa hebat guncangan batin yang diderita tiga orang muda itu, melihat Lee Ing secara.
tiba-tiba saja sudah terlentang di atas pembaringannya dalam keadaan tak bernyawa lagi!
Lee Ing sudah mati tanpa sebab-sebab yang mereka ketahui.
"Bagaimana terjadinya hal ini? Siapa yang melihat lebih dulu?"
Siok Ho yang dapat menguasai ketenangan lebih dulu dari pada kawan-kawannya, bertanya kepada murid-murid Hoa-lian-pai yang tadi menangisi Lee Ing.
Sedangkan Siok Bun sibuk merawat dan mencoba membikin Han Sin yang masih pingsan itu siuman kembali.
Seorang anak murid Hoa-lian-pai yang setengah tua lalu bercerita.
Tadinya ia mendengar nona Souw menangis di kamarnya.
Ia tidak berani mengganggu dan masuk sendiri, maka dipanggilnya tiga orang kawannya, diajak menghibur hati nona yang mereka sangka menangis karena teringat akan ayahnya.
Akan tetapi ketika mereka berempat memasuki kamar itu, mereka mendapatkan Lee Ing sudah terlentang tak bergerak di atas tempat tidur.
"Kami dapati dia sudah.... meninggal dunia dan hanya meninggalkan tulisan aneh di dinding itu..."
Katanya sebagai penutup penuturannya dan menuding ke dinding.
Siok Ho menoleh ke arah yang ditunjuk.
Baru terlihat olehnya huruf-huruf kecil yang digurat di tembok dengan jari.
Hanya Lee Ing yang dapat menulis macam ini, menggunakan Iweekang menggurat tembok dengan jari telunjuknya yang mungil.
Huruf-huruf itu singkat saja bunyinya, begini.
BIARKAN PETI MATIKU TERBUKA SAMPAI TIGA HARI TIGA MALAM.
Siok Ho terheran, akan tetapi terharu sekali.
Kata-kata dalam tulisan itu makin meyakinkan, seolah-olah hendak mengingatkan mereka semua bahwa gadis itu telah mati.
Disentuhnya pundak Siok Bun dan pemuda inipun membaca tulisan itu.
"Nona Souw yang malang......."
Bisiknya terharu.
"kasihan sekali......... masih begitu muda."
Setelah nona yang diperebutkan itu meninggal dunia, ternyata bahwa di antara ketiga orang muda itu, Siok Ho yang paling tabah menghadapi malapetaka ini.
Han Sin seperti orang linglung, hanya termenung dan air matanya bercucuran turun, tanpa dapat mengeluarkan kata-kata, hanya kadang-kadang menatap wajah gadis pujaannya itu yang seperti sedang tidur pulas saja nampaknya.
Atas pimpinan Siok Ho, para anak murid Hoa-lian-pai merawai jenazah itu, kemudian jenazah Lee Ing dimasukkan ke dalam sebuah peti.
Tentu saja tiga orang muda itu mentaati pesan terakhir Hari Lee Ing, setelah jenazah dimasukkan peti, peti itu dibiarkan terbuka saja tidak ditutup.
Meja sembahyang dipasang di depan peti dan sekali lagi Hoa lian-pai di puncak Bukit Ta-pie-san itu berkabung.
Han Sin seperti gila Tak pernah sedetikpun ia meninggalkan peti mati itu.
Air matanya tentu menitik turun lagi tiap kali, ia memandang wajah Lee Ing di dalam peti mati.
"Ing-moi.... kalau aku tidak takut disebut pengecut yang takut menderita, tentu aku akan mengikutimu.... mulai sekarang aku bersumpah takkan membela diri dengan senjata-senjataku, biar aku cepat tewas dan berkumpul denganmu......... Ing-moi... kasihan sekali kau pergi seorang diri, bawalah kipas dan pitku ini, untuk bekal. untuk penambah senjatamu....."
Ucapan yang dikeluarkan terputus-putus ini mengharukan hati Siok Bun dan Siok Ho.
Terdengar Siok Ho terisak-isak menangis sedangkan Siok Bun meramkan mata, tidak tahan menyaksikan Iceadaan Han Sin yang membelai-belai rambut jenazah Lee Ing sambil menangis.
"Tepat dugaanku...."
Terdengar Siok Ho berkata.
"di depan Lee Ing sudah kunyatakan bahwa hanya saudara Han Sin yang patut menjadi sisihannya...."
Mendengar ini, Siok Bun mengangguk-angguk.
"Kalau kau berkata demikian, maka tentu saja hal itu betul."
Kemudian Siok Bun menaruh tangannya di atas Han Sin sambit berkata.
"Liem-heng, harap kau tenangkan dan kuatkan hatimu. Mati hidup berada di tangan Thian, bagaimana kita manusia bisa menentangnya? Biarpun kematian nona Souw amat aneh, akan tetapi kurasa ia terlalu menyedihkan kematian ayahnya. Dia sudah bebas dari pada penderitaan, sudah jangan kau terlampau bersedih.."
"Tidak...!"
Han Sin membantah, suaranya gemetar dan serak.
"tak mungkin orang dengan hati seperti Ing-moi akan mati karena sedih. Aku tahu benar..... aku dapat merasainya, dia mati bukan karena sedih, mungkin karena kecewa! Mungkin seorang di antara kita yang menimbulkannya....!"
Setelah berkata demikian, ia memandang kepada Siok Ho, sinar matanya penuh kebencian!
Siok Ho terkejut menyaksikan pandang mata ini dan melamgkah mundur dua tindak.
Melihat ini, Siok Bun berkata tak senang kepada Han Sin.
"Saudaraku yang baik, pikiranmu menjadi gelap karena kedukaan hatimu. Harap saja kau dapat menjernihkan pikiran dan jangan menduga yang bukan-bukan."
Karena berada di depan jenazah Lee Ing, Siok Ho diam saja tidak mau melayani sikap Han Sin yang ketus dan penuh sangkaan buruk terhadap dirinya itu.
Perkabungan dilangsungkan dalam suasana sunyi.
Sekarang nampak jelas sekali siapa di antara tiga orang itu yang paling berat menderita setelah Lee Ing meninggal dunia.
Bukan lain Han Sin adanya.
Siok Bun memang berduka dan kasihan sekali kepada Lee Ing, namun ia dapat membatasi kedukaannya dan hanya di waktu siang saja ia ikut menjaga di dekat peti mati Lee Ing.
Siok Ho malah sering kali bersembunyi di dalam kamarnya dan agaknya pemuda ini menangisi kematian Lee Ing secara sembunyi karena kalau tidak berada di kamarnya, anggauta Hoa-lian-pai mendengar isak tangisnya.
Dan di depan peti mati Lee Ing sepasang matanya kelihatan merah membendul.
Akan tetapi Han Sin tak pernah bergeser dari peti mati Lee Ing.
Malah tak pernah duduk, selalu berdiri di dekat peti mati, bibirnya bergerak-gerak seorang diri dan air matanya entah sudah berapa banyak menetes turun mengenai muka mayat gadis itu.
Benar-benar keadaannya amat mengharukan sekali dan dua hari kemudian Han Sin sudah kelihatan kurus sedangkan mukanya demikian pucat menyaingi kepucatan muka mayat di depannya.
Pada malam ke tiga, peti mati Lee Ing masih belum ditutup karena sesuai dengan pesan gadis itu, pada keesokan harinya baru tiga hari tiga malam dan baru boleh ditutup peti itu.
Karena lelah menjaga terus-terusan, orang-orang sudah tidur semua.
Tidak kelihatan Siok Bun maupun Siok Ho, juga para anak murid Hoa-lian-pai sudah pergi mengaso.
Hanya Han Sin yang masih berdiri di dekat peti mati.
Tubuhnya lesu, kakinya gemetaran, namun pemuda ini menguatkan diri, tidak mau pergi dari samping peti itu.
Matanya sudah membendul dan membengkak, namun melihat wajah Lee Ing dan mengingat bahwa besok pagi peti itu akan ditutup sehingga ia takkan melihat lagi wajah itu selamanya, membuat air matanya mengucur turun membasahi pipi dan jidat mayat itu.
Karena matanya bengkak-bengkak dan air mata menutup pandangannya, Han Sin tidak melihat sama sekali betapa sudah beberapa lama pelupuk mata mayat itu bergerak-gerak, kemudian perlahan-lahan mata itu terbuka sedikit.
Tidak terlihat olehnya betapa mata itu kemudian melirik ke kanan kiri dan mata itu meneteskan air mata ketika pipi dan jidat mayat itu disiram air mata Han Sin untuk ke sekian kalinya.
Akan tetapi air mata itu bercampur dengan air mata Han Sin sehingga orang takkan menyangka bahwa mayat itu mengucurkan air mata dari matanya!
Pada saat itu terdengar tindakan kaki dan Siok Ho muncul di ambang pintu.
"Liem-twako..... kau... belum mau mengaso ...?"
Tanya Siok Ho, suaranya penuh welas asih, penuh kemenyesalan dan ia kasihan sekali kepada Han Sin.
Baru kali ini selama hidupnya ia melihat cinta kasih yang demikian besar dan hebat seperti cinta kasih Han Sin terhadap Lee Ing.
Han Sin hanya menengok sebentar, lalu tundukkan mukanya tidak menjawab.
Akan tetapi, melihat betapa dadanya yang bidang itu turun naik bergelombang, menandakan bahwa pemuda ini marah sekali melihat kehadiran Siok Ho di situ.
"Liem-twako.... aku.... aku menyesal sekali .... biarpun aku tidak sengaja, sama sekali tidak mempunyai keinginan melihat Lee Ing menderita... namun...... sedikit banyak aku merasa bersalah membuat Lee Ing kebingungan...... membuat ia kecewa...."
"Tutup mulut! Pergi kau dari sini dan jangan ganggu kami!"
Bentak Han Sin dengan kemarahan meluap-luap.
"Maafkan aku, Liem-twako....... kau selalu salah faham.... aku sebetulnya telah menyatakan di depan Lee Ing bahwa kaulah jodohnya dan aku...."
"Diam! Setelah di waktu dia hidup kau membujuk-rayunya dengan kata-katamu yang manis palsu, apakah sekarang setelah dia mati kau masih hendak menggunakan kata-kata palsu dan halus untuk menipu kami? Bujuk rayumu membuat Lee Ing tergila-gila, membuat ia tidak dapat melihat bahwa kau adalah seorang pemuda palsu dan mata keranjang.... dan... dan..... aahh, pergilah sebelum aku tak dapat menahan sabar dan membunuhmu!"
"Liem Han Sin!"
Siok Ho menjadi marah.
"Kau ini siapakah begini keterlaluan, berani bersikap kasar kepadaku? Aku datang untuk menghiburmu, untuk menyatakan penyesalan, tidak tahunya kau hanya menghina dan memaki!"
"Habis kau mau apa? Lebih baik kau kubunuh atau aku terbunuh, sama baiknya agar Lee Ing tidak kesunyian!"
Setelah berkata demikian, dengan tangan kosong Han Sin menerkam maju dengan penyerangan maut yang hebat sekali.
Siok Ho cepat mengelak dan di dalam ruangan itu, di depan peti mati Lee Ing yang terbuka, tentu akan terjadi pertempuran mati-matian kalau pada saat itu Siok Bun tidak muncul.
Siok Bun cepat memegang lengan Han Sin dan menegur.
"Liem-heng. kau selalu bersikap kasar terhadap Oei-te. Liem-heng, di depan peti mati nona Souw kau masih berani berlaku seperti ini? Benar-benar kau terlalu mendesak Oei-te yang tidak bersalah apa-apa."
"Orang she Siok! Kau selalu membela keparat ini. Kalau kau tidak rela melihat aku menghajar keparat mata keranjang ini, kau sekalian majulah, jangan kira aku Han Sin takut mati! Untuk membela nama baik Lee Ing, jangankan harus mati, api neraka sekalipun akan kuterjang! Hayo. majulah kalian kalau laki-laki sejati!"
Han Sin yang sudah nekat itu memasang kuda-kuda, siap mehempur dua orang bekas sahabat yang kini ia pandang sebagai biang keladi kematian Lee Ing. Mendengar Siok Ho dimaki-maki, Siok Bun marah sekali.
"Liem-heng, kau benar keterlaluan sekali. Kau kira aku tadi tidak mendengar kata-kata Oei-te yang begitu halus dan merendah? Kau selalu mau menang sendiri, seakan-akan di dunia ini hanya kau seorang laki-laki sejati!"
"Jangan banyak cerewet! Kalau mau membela dia, majulah sekalian!"
"Kau kira aku takut?"
Siok Bun sudah melangkah maju, akan tetapi Siok Ho menarik lengannya dari belakang dan... Siok Ho menangis tersedu-sedu! "Jangan berkelahi.... jangan.... ahhh.... aku..."
Pemuda ini tak dapat melanjutkan kata-katanya dan menangis tersedu-sedu sambil memegangi Siok Bun.
Baik Siok Bun maupun Han Sin menjadi bengong memandang Siok Ho, karena kini tangisnya demikian aneh.
Seperti tangis wanita!
"Apa.....
apa artinya ini..?"
Han Sin membentak marah. Siok Ho mengangkat muka memandangnya.
"Orang she Liem! Kau benar-benar terlalu sekali. Kau iri hati dan cemburu secara luar biasa sehingga matamu seperti buta, tidak melihat bahwa kau tidak patut menuduhku membujuk Lee Ing. Buka matamu baik-baik dan lihat aku, masih beranikah kau menuduh aku sebagai pembujuk Lee Ing...?"
Sekali renggut Siok Ho melepaskan pengikat kepalanya dan terurailah rambut yang panjang, halus dan bergelombang.
Rambut wanita yang indah sekali.
Digosoknya alis matanya dan lenyaplah alis mata yang tadinya tebal gagah, berubah menjadi alis yang kecil hitam panjang, alis wanita yang indah bentuknya!
Siok Ho lalu menghampiri peti mati, lalu mencium pipi Lee Ing sambil berbisik.
"Adik Lee Ing, kau ampuni aku.."
Lalu ia menjatuhkan diri di lantai sambil menangis. Siok Ho.
"pemuda"
Tampan, anak murid Kun-lun-pai yang gagah perkasa itu, kini duduk bersimpuh dan menangis seperti seorang gadis cengeng!
Siok Bun yang semenjak tadi berdiri pucat dengan tubuh menggigil seperti orang terserang panas dingin demam malaria, kini maju dan dengan hati-hati sekali menyentuh pundaknya.
"Oei-te (adik laki-laki Oei) ... eh, moi-moi (adik perempuan)..kau....kau jangan menangis. Siok Ho tidak malu-malu lagi menangkap tangan di pundaknya itu dan menempelkan di pipinya pada tangan itu.
"Bun-ko.... kau.... kau selalu membelaku... kau... kau tadinya mencintaku sebagai Siok Ho pria, bukan?"
"Betul.."
Jawab Siok Bun dengan muka merah.
"Dan sekarang.......masih cintakah kau kepadaku..................?"
Siok Bun mengangkatnya bangun dan menariknya keluar dari ruangan itu.
"Lebih dari yang sudah-sudah, moi-moi..... cintaku lebih dari yang sudah-sudah. Mari kuajak kau turun gunung, menyusul ayah, ingin kuperkenalkan kau kepada ayah bundaku...."
Sambil bergandengan dan berpelukan pasangan yang bahagia ini lalu pergi malam itu juga turun dari Ta-pie-san setelah mengucapkan kata-kata hiburan dan selamat tinggal kepada Han Sin.
Tak seorangpun di antara tiga orang-orang muda itu tadi melihat betapa "mayat"
Lee Ing membuka mata dan menyaksikan adegan aneh dari Siok Ho yang pianhoa (malih rupa) dari pemuda menjadi gadis itu. Tak seorangpun melihat betapa Lee Ing yang baru saja "bangun"
Dari kematian, menyaksikan peristiwa itu menjadi sedemikian kaget sampai-sampai ia roboh pingsan lagi di dalam peti matinya!
Sepeninggal dua orang itu, Han Sin duduk melamun di dekat peti mati Lee Ing.
Ia merasa malu sekali terhadap Siok Ho, malu kepada diri sendiri dan malu kepada Lee Ing.
Ingin ia mati saja bersama gadis itu.
Tiba-tiba ia mendengar suara anak-anak murid Hoa-lian-pai menjerit-jerit di pagi hari berikutnya dan tak lama kemudian masuklah beberapa orang di dalam ruangan itu.
Ketika dengan tenang Han Sin mengangkat muka, ternyata bahwa yang berada di depannya adalah...
Tok-ong Kai Song Cinjin sendiri bersama Auwyang Tek, Kui Ek, dan Mo Hun!
Di belakang mereka masih terdapat seregu pasukan terdiri dari tiga puluh orang.
"Aha, bocah she Souw juga sudah mampus, ya?"
Kata Kai Song Cinjin sambil menghampiri peti mati.
"Jangan ganggu dia!"
Seru Han Sin sambil menghadang di jalan.
"Dia sudah mati, jangan diganggu. Aku akan menuruti segala kehendakmu asal dia jangan diganggu!"
Menyaksikan pemuda nekat itu dalam keadaan amat mengharukan membela jenazah kekasihnya, Kai Song Cinjin melangkah mundur.
"Bunuh saja dia!"
Kata Mo Hun sambil tertawa ha-hah-he-heh.
"Jangan, suruh dia bawakan peti mati itu ke kota raja agar kita dapat membuktikan kematian puteri pemberontak she Souw dan sekalian menawan dia!"
Kala Auwyang Tek. Usul ini diterima baik oleh Tok-ong Kai Song Cinjin.
"Orang muda, kau mendengar sendiri. Kau mau memanggulkan peti itu ke kota raja?"
"Apa saja akan kulakukan asal jangan ganggu dia!"
Kata Han Sin dengan sikap tegas.
Demikianlah, dengan tenaga terakhir, Han Sin memanggul peti mati berisi jenazah kekasihnya itu dan digiring oleh rombongan Tok-ong Kai Song Cinjin ke kota raja.
Di sepanjang perjalanan ia diganggu dan dihina, akan tetapi dia diam saja.
Pendeknya asal jangan jenazah Lee Ing yang diganggu, Han Sin dapat menerimanya.
Pemuda ini hendak mempergunakan sisa hidupnya untuk melindungi mayat kekasihnya.
Memang di dunia ini banyak terjadi hal-hal aneh.
Apa lagi hal-hal yang disebabkan oleh cinta kasih, memang aneh, kadang-kadang sukar dipercaya dan lucu.
Ada pula yang amat mengharukan seperti cinta kasih yang terkandung dalam dada Han Sin terhadap Lee Ing.
Dia terlampau gagah untuk membunuh diri, akan tetapi terlampau besar cintanya untuk meninggalkan jenazah kekasihnya begitu saja.
Ia sudah mengambil keputUsan nekat.
Selama jenazah gadis itu tidak diganggu, ia akan menyerah dan akan menanti dirinya dibunuh lawan agar ia dapat bersatu dengan Lee Ing di alam baka.
Akan tetapi kalau ada yang berani mengganggu jenazah itu, ia akan memberontak dan akan menggunakan nyawanya sebagai taruhan dalam membela dan melindungi jenazah itu!
Apakah benar-benar Lee Ing sudah mati?
Tadi kita melihat betapa "mayat"
Itu membuka matanya dan menitikkan air mata melihat keadaan Han Sin, kemudian "mayat"
Itu menyaksikan adegan aneh dari Siok Ho sampai-sampai ia kaget dan jatuh pingsan.
Memang.
Lee Ing sebetulnya belum mati!
Ketika gadis ini mengalami kebingungan pikiran, ia teringat akan nasib Li Lian gadis kekasih gurunya, Bu-Beng Sin-kun, gadis yang rangkanya ia temukan di dalam Gua Siluman.
Li Lian juga menjadi korban cinta kasih tak sampai.
Keadaannya hampir sama dengan Li Lian, malah lebih hebat lagi.
Kalau Li Lian hanya berdiri di antara dua orang pria, adalah dia berdiri di antara tiga orang pemuda pilihan!
Teringat akan Li Lian mengingatkan ia kepada obat yang dibungkus kain merah, obat MATI DUA HARI buatan suhunya, buatan Bu-Beng Sin-Kun yang sedianya untuk diminum Li Lian guna membuktikan siapa di antara dua orang pria itu yang mencinta Li Lian.
Sekarang obat itu berada di tangannya.
Mengapa ia tidak mempergunakannya untuk membuktikan siapa sebetulnya di antara tiga orang pemuda itu yang betul-betul mencinta?
Keputusan nekat ini dilakukan oleh Lee Ing dan setelah minum racun hebat itu, Lee Ing berada dalam keadaan pingsan yang amat berat sehingga kalau diperiksa, ia seperti sudah mati saja.
Dua hari dua malam ia berada dalam keadaan seperti mati.
Pesan yang ditulisnya di atas tembok agar supaya peti matinya dibiarkan terbuka selama tiga hari tiga malam menjadi bukti, kuat sekali bahwa gadis ini sama sekali bukan sudah bosan hidup.
Ia meninggalkan pesan itu karena ia benar-benar takut kalau-kalau orang terus saja menguburnya sehinga ia akan betul-betul mati kehabisan napas.
Kebetulan sekali ketika ia siuman kembali dari "kematiannya"
Itu, ia melihat bahwa di tengah malam itu hanya Han Sin seorang yang menjaganya dan melihat pemuda ini begitu menyedihkan keadaannya, tak terasa lagi ia menitikkan air mata dan merasa amat terharu.
Kini tahulah ia bahwa orang yang benar-benar mencintanya adalah Liem Han Sin.
Dan lebih kuat lagi keyakinannya ini ketika muncul Siok Ho.
la girang, juga terharu.
Memang, kalau di sana tidak ada bayangan Siok Ho yang tampan, ia tidak meragukan hatinya sendiri yang sudah jatuh cinta kepada Han Sin.
Akan tetapi, kebangkitannya dari "kematian sementara"
Itu masih melemaskan tubuhnya dan jiwanya juga masih tertekan oleh peristiwa-peristiwa yang ia alami.
Oleh karena inilah ketika Siok Ho membuka rahasianya, ia menjadi begitu kaget, heran dan malu kepada diri sendiri sehingga kembali ia jatuh pingsan.
Demikianlah, gadis perkasa ini sama sekali tidak tahu bahwa sampai saat itu, Han Sin tetap setia dan mencinta kepadanya sehingga pemuda ini rela menyerah kepada Auwyang Tek hanya untuk menjaga jangan sampai "mayatnya"
Diganggu.
Dengan tubuh lemas karena tiga hari tidak makan, ditambah pula oleh kedukaannya, pemuda yang keras hati ini memanggul peti mati itu hati-hati sekali, tidak memperdulikan ejekan-ejekan yang dikeluarkan oleh Auwyang Tek dan anak buahnya, la tidak mengharapkan pertolongan dari fihak siapapun juga, karena apa sih artinya tertolong?
Paling-paling dia akan bisa hidup terus, hidup penuh kedukaan dan kesunyian tanpa Lee Ing. .
MunculnyaAuwyangTek dan Tok-ong Kai Song Cinjin bukanlah hal yang kebetulan saja.
Seperti sudah dituturkan di bagian depan, melihat bahwa keadaan musuh terlampau kuat, setelah membakar bangunan Hoa-lian-pai, Auwyang Tek lalu melarikan diri untuk mencari bala bantuan, la meninggalkan Mo Hun dan Kui Ek untuk mengamat-amati icmpai itu.
Kebetulan sekali bertemu di tengah jalan dengan Kai Song Cinjin yang ternyata telah tiba di kota raja dan menyusul rombongannya, ketika tokoh Tibet ini mendengar bahwa majikan mudanya menyerbu ke Hoa-lian-pai untuk merampas Souw Teng Wi.
Dengan girang Auwyang Tek cepat-cepat membawa Tok-ong Kai Song Cinjin dan rombongan ke Ta-pie-san akan tetapi dengan kecewa mendengar bahwa Souw Teng Wi sudah meninggal dan sudah dikubur.
Kekecewaannya terobat ketika ia mendengar bahwa puteri Souw Teng Wi masih berada di situ bersama tiga orang pemuda tokoh Hong-gi-pai.
Demikianlah, ketika tiba di situ ternyata mereka mendapatkan Souw Lee Ing sudah "mati"
Dan Liem Han Sin menjaganya sehingga mudah saja Auwyang Tek menggiring Han Sin membawa jenazah puteri Souw Teng Wi ke kota raja.
Siok Bun dan Siok Ho meninggalkan Ta-pie-san dalam keadaan bahagia sekali.
Sepasang merpati ini bergandengan tangan, kadang-kadang saling pandang dan merahlah muka Siok Ho yang kini sudah mengenakan pakaian wanita sehingga ia menjadi seorang wanita yang cantik jelita.
"Moi-moi, kau ini bisa saja menggoda orang-orang. Sungguh mati aku tidak mengira bahwa pemuda perkasa dari Kun-lun itu adalah seorang gadis jelita!"
Siok Ho menjebi.
"Dasar kau yang bodoh. Perasaan dan hatimu lebih pintar rupanya maka kau bisa jatuh cinta. Mana ada laki-laki jatuh cinta kepada seorang pria?"
Siok Bun menampar kepala sendiri sampai topi baloknya terjatuh dan sambil tertawa-tawa ia memungutnya dan memakainya lagi.
"Memang bodoh! Tapi aku benar-benar tidak mengerti mengapa kau bersikap seakan-akan kau mencinta Lee Ing?"
Siok Ho tersenyum manis dan kembali ia mencela.
"(Lagi-lagi pertanyaan ini menyatakan bahwa kau tidaklah cerdas. Hati siapakah yang akan merasa aman melihat kau jatuh bangun terhadap Lee Ing? Bukan kusalahkan engkau karena gadis seperti dia siapakah takkan mencinta...?"
Siok Ho menarik napas, kasihan ketika teringat kepada Lee Ing.
Siok Bun membelalakkan matanya karena heran, akan tetapi setelah mengerti akan maksud kata-kata itu ia menjadi begitu girang sehingga ia merangkul leher Siok Ho.
"Jadi kau sengaja menyaingi aku agar supaya kau dapat menjauhkan aku dari Lee Ing? Kau cemburu dan takut aku direbut olehnya?"
"Hush, enak saja kau menyombongkan diri."
Siok Ho merenggut dirinya dari pelukan Siok Bun.
"Siapa sih perduli kau direbut oleh siapapun juga?"
Begitulah, sepasang, merpati itu bercakap-cakap dengan penuh kebahagiaan diseling sendau gurau.
Saking bahagianya, pada saat itu mereka sampai lupa tentang Lee Ing yang sudah mati dan Han Sin yang mereka tinggalkan.
Hati mereka penuh madu asmara, dunia ini milik mereka dan selain diri mereka berdua, di luar mereka segala apa tidak masuk hitungan lagi!
Dalam penuturannya kepada Siok Bun, gadis ini menceritakan bahwa dia berpakaian pria adalah atas pesan gurunya, Swan Thai Couwsu guru besar Kun-lun-pai.
Swan Thai Couwsu yang sudah terluka oleh Tok-ong Kai Song Cinjin, tidak melihat orang lain lagi yang cukup berbakat untuk mewarisi kepandaiannya, maka ia menurunkan ilmu-ilmunya kepada gadis cilik itu.
Sebelum meninggal dunia Swan Thai Couwsu memesan kepada muridnya ini agar supaya menyembunyikan keadaan sebenarnya dan berpakaian sebagai pria agar lebih mudah melakukan tugas, terutama membalaskan dendam kepada musuh-musuh besarnya, yaitu Kai Song Cinjin dan kawan-kawannya.
Selagi kedua orang muda ini berjalan lambat karena asyik bercakap-cakap, mereka melihat rombongan orang dari kaki bukit.
Cepat mereka menjadi siap siaga lagi dan bersembunyi.
Kaget hati mereka ketika melihat bahwa rombongan itu dipimpin oleh Kai Song Cinjin dan Auwyang Tek dan barisan ini mendaki ke arah bangunan Hoa-lian-pai.
Siok Bun dan Siok Ho gelisah sekali, teringat akan keadaan Han Sin yang berada seorang diri di atas menjaga jenazah Lee Ing.
Akan tetapi apa daya mereka.
Mereka berdua, malah bertiga dengan Han Sin sekalipun, tidak ada artinya kalau melawan musuh yang amat tangguh ini.
Dengan hati penuh kekhawatiran mereka bersembunyi terus, melihat gerak-gerik musuh.
Kegelisahan mereka terbukti ketika tak lama kemudian mereka melihat Han Sin memanggul peti mati Lee Ing dan digiring turun gunung!
Siok Ho menggertak giginya saking marahnya melihat musuh-musuh besar ini mempermainkan Han Sin.
"Bedebah! Adik Lee Ing sudah mati masih hendak mereka tawan!"
Menurut hatinya, ingin ia menyerbu. Akan tetapi Siok Bun melarangnya.
"Apa artinya bagi Han Sin kalau kita berdua mengurbankan nyawa dengan sia-sia belaka? Kita berdua takkan dapat melawan Tok-ong. Lebih baik kita cepat pergi mencari bantuan untuk menolongnya."
Akhirnya, Siok Ho menurut bujukan kekasihnya ini karena memang harus ia akui bahwa kalau dia dan Siok Bun menerjang, hal itu sama saja dengan membunuh diri dan Han Sin tetap saja takkan tertolong.
Memang jauh lebih baik berusaha mencarikan bala bantuan untuk menolong Han Sin selagi mereka masih hidup.
Demikianlah, dengan cepat keduanya meninggalkan tempat itu dan sekarang mereka tidak mau bersendau gurau lagi, tidak ada kesempatan untuk bermesra-mesraan karena mereka sedang melakukan tugas yang amat penting.
Sementara itu, terjadi hal yang amat hebat di perbatasan utara.
Hal yang amat menggembirakan Siok Bun dan Siok Ho ketika mereka mendengarnya dari penduduk yang pergi mengungsi.
Perang telah dimulai!
Bala tentara Raja Muda Yung Lo telah mulai menyerbu ke selatan untuk memberi hajaran dan menumbangkan kekuasaan kaisar yang menjadi boneka para menteri durna!
Memang sudah amat lama Raja Muda Yung Lo merasa tidak senang ketika mengetahui betapa ayahnya, Thai Cu yang dahulunya terkenal sebagai pahlawan Ciu Goan Ciang, dapat dipengaruhi oleh para menteri durna sehingga rakyat menderita sekali di daerah selatan.
Akan tetapi ia tidak berani berterang menentang hal ini selama ayahnya masih hidup.
Kemudian, setelah Ciu Goan Ciang meninggal dunia, yang diangkat sebagai kaisar menggantikan dia adalah Hui Ti atau Cian Wen Ti, yakni cucu dari Ciu Goan Ciang, putera dari anak sulungnya yang telah meninggal dunia lebih dulu.
Hal ini adalah sesuai dengan bujukan para menteri durna yang hendak mempertahankan kedudukan dan kekuasaan mereka atas Kaisar Muda Hui Ti ini.
Mendengar akan hal ini, marahlah Raja Muda Yung Lo yang pada waktu itu memimpin pertahanan di utara, yaitu di Peking.
Dia adalah putera ke empat dari kaisar, kalau dia masih hidup, mengapa pengganti kaisar adalah keponakannya?
Dia lebih berhak dan tahu bahwa hal ini tentulah berkat usaha kaum ningrat dan durna di ibu kola selatan itu.
Serentak Yung Lo memimpin barisannya dan memberontak.
Diserangnya daerah selatan dan terjadi perang saudara karena perebutan takhta.
Raja Muda Yung Lo sudah lama memperkuat barisannya dan dia mendapat banyak bantuan dari rakyat dan orang-orang gagah yang sebagian besar merasa tidak senang melihat kekuasaan menteri-menteri durna Nan-king.
Penyerbuan dari utara ini mendapat bantuan besar sekali dengan adanya pemberontak pemberontak di selatan yang diatur oleh orang-orang kang-ouw, sebagian besar adalah para petani di bawah pimpinan bekas anggauta-anggauta Tiong-gi-pai atau orang orang gagah yang sudah dilindungi oleh Tiong gi-pai.
Pasukan-pasukan dari utara itu maju pesat dan di mana-mana mereka mengalahkan barisan barisan Kerajaan Beng.
Pasukan-pasukan Beng memang tidak terlatih Setelah Ciu Goan Ciang berhasil memimpin rakyat mengusir penjajah Mongol dan menjadi kaisar, ia terjatuh ke dalam kekuasaan iiicnicu menteri-menteri durna yang pandai membujuk sehingga kaisar ini tidak begitu memikirkan keadaan tentaranya.
Tentara-tentara yang tak pernah terlatih, bahkan kerjanya malah mengganggu rakyat dan korup, mana mempunyai kekuatan?
Selain tidak terlatih, juga semangat berperang mereka kecil sehingga di mana-mana perlawanan mereka terhadap bala tentara Yung Lo selalu dipatahkan.
Dalam keadaan seribut itu, tentu saia Siok Bun dan Siok Ho tidak berhasil mencari bantuan untuk menolong Han Sin.
Orang-orang gagah sibuk memimpin pasukan-pasukan sendiri untuk membantu pergerakan Raja Muda Yung Lo, mana ada kesempatan untuk mengurus persoalan satu orang saja?
Pada saat seperti itu.
urusan pribadi tidak masuk hitungan dan memang tidak mudah untuk menolong tawanan yang sudah dibawa ke kota raja dan pembawanya adalah Tok-ong Kai-Song Cinjin dan para pembantunya!
Siok Bun juga seorang pemuda keturunan pahlawan.
Tentu saja lapun maklum bahwa dalam saat seperti itu, yang paling penting adalah membantu perjuangan, maka ia lalu mengajak Siok Ho untuk mencegat barisan yang dipimpin oleh ayahnya, kemudian mereka berdua menggabungkan diri dan merupakan tenaga-tenaga yang dahsyat dan mencelakakan musuh.
Perang berjalan terus dan makin lama pasukan-pasukau Pangeran Yung Lo makin mendesak ke selatan sungguhpun mereka harus melalui kota-kota dan benteng-benteng yang terjaga kuat dan sukar dirobohkan.
Diam-diam Siok Bun dan Siok Ho sudah melepaskan harapan untuk dapat menolong Han Sinu.
Akan tetapi, pada saat seperti itu, kematian seorang pendekar bukan apa apa, malah merupakan hal yang patut dibanggakan.
Kebanggaan pahlawan-pahlawan rakyat yang benar-benar berjiwa pahlawan yang berjuang membela tanah air dan bangsa tanpa pamrih hanya ada dua macam, pertama mengakhiri perjuangan dengan kemenangan mutlak, ke dua gugur di medan perang dalam menghadapi ibu pertiwi.
Lee Ing tadinya tak bergerak, seperti mayat dalam peti matinya yang tidak tertutup, perlahan-lahan membuka matanya.
Ia membuka kedua matanya perlahan, mengejap-ngejapkan mata karena silau terserang cahaya matahari.
Untuk sejenak Lee Ing terheran dan bingung, tidak tahu di mana ia berada.
Kemudian terasa olehnya bahwa ia berada di dalam peti dan peti itu dipondong orang!
Ia sedang diangkat orang dalam peti mati!
Sekarang teringatlah ia!
Teringat semuanya dan pertama-tama yang diingatnya adalah Han Sin.
Di mana pemuda itu?
Kemudian ia teringat akan peristiwa yang terjadi di depan matanya tentang Siok Ho yang malih rupa menjadi seorang gadis.
Lee Ing menahan tangisnya, dengan hati-hati ia memasang telinga mendengarkan suara orang-orang yang ia tahu banyak berada di bawahnya.
Orang-orang yang tertawa-tawa.
Kemudian ia mendengar suara yang amat dikenalnya, suara Auwyang Tek!
Suara itu tadinya tertawa mengejek lalu berkata.
"Orang she Liem! Banyak aku melihat pemuda jatuh cinta, akan tetapi baru sekarang ini aku melihat pemuda yang menjadi gila karena cintanya! Orang hanya bisa mencinta seorang gadis yang hidup, akan tetapi kau masih mencinta seorang gadis yang sudah mampus. Ha-ha-ha! Kau rela mengurbankan keselamatan, rela menyiksa diri, untuk sebuah mayat. Heran sekali!"
Berdebar jantung Lee Ing mendengar Ucapan ini.
Tak salah lagi, tentu Han Sin telah menjadi seorang tawanan dan berada di antara mereka!
Apakah Siok Bun dan Siok Ho juga tertawan?
Kemudian ia mendengar suara Han Sin dan debar jantungnya makin menghebat ketika ia mendengar suara itu tepat di bawah petinya.
Jadi Han Sin orangnya yang memondong peti matinya?
Apa-apaankah ini?
"Auwyang Tek, aku telah menjadi tawananmu hanya untuk mencegah orang-orangmu mengganggu jenazah Ing moi.
Setelah aku menjadi tawananmu, kau mau apakan padaku, terserah, mau bunuh boleh.
Akan tetapi jangan sekali-kali kau menghina Ing-moi yang sudah tidak ada di dunia lagi!"
Ucapan ini terdengar tegas dan tabah, membuat Lee Ing tak dapat tertahan lagi mencucurkan air matanya.
Ah, alangkah hebat cinta kasih pemuda ini kepadanya.
Sampai ia mati sekalipun cinta kasih Han Sin tidak pernah berkurang, bahkan pemuda itu agaknya sudah bosan hidup maka menyerah saja kepada Auwvang lek!
"Ha-ha-ha, siapa sudi mengganggu mayat?
Kalau dia masih hidup, mungkin ada harganya mengganggu gadis manis itu.
Akan tetapi sekarang ia telah menjadi mayat dan aku membawanya hanya untuk memperlihatkan kepada pembesar-pembesar di kota raja bahwa Souw Teng Wi si pengkhianat dan puterinya sudah mampus.
Adapun kau....
ha-ha-ha, kau akan digantung di alun-alun sebagai contoh bagi para pemberontak!"
"Aku tidak takut!"
Bentak Mau Sin dengan gagah.
Lee Ing menangis karena girang dan bangga.
Benar-benar pemuda Ini patut menjadi pujaannya selama hidupnya.
Han Sin...
jangan takut, takkan ada orang dapat mengganggumu, pikir gadis ini sambil mengumpulkan tenaga.
la merasa betapa Han Sin terhuyung huyung jalannya dan hatinya kecut sekali.
Maklumlah dia bahwa pemuda itu mungkin terluka atau setidaknya keadaannya Iemah sekali, la menjadi pucat ketika teringat bahwa boleh jadi sekali pemuda itu tidak makan tidak tidur selama tiga hari tiga malam ini!
Dan dia sendiri juga masih lemah akibat "mati"
Selama tiga hari tiga malam itu.
Ia meraba pinggangnya dan untung, pedang Li-lian-kiam masih di situ.
Rupa-rupanya pedang itu tidak membahayakan bagi Tok-ong maka tidak diambilnya.
Memang, siapa sih yang mengira seorang "mayat"
Dapat mempergunakan pedang?
Ketika Lee Ing meraba-raba, ia mendapatkan juga kipas dan pit, sepasang senjata Han Sin.
la terheran dan tidak mengerti mengapa pemuda itu menaruh senjata-senjatanya di dalam peti mati.
Lee Ing tidak bertindak sembrono.
Dengan pengerahan tenaga sinkang ia berhasil melubangi peti mati yang tidak berapa tebal itu lalu mengintai keluar.
Dilihatnya Tok-ong Kai Song Cinjin berjalan di muka bersama Auwyang Tek, Kui Ek dan Mo Hun.
Di belakang nampak sepasukan tentara mengiringkan, bersenjata lengkap.
Dan Han Sin kelihaian pucat sekali, kakinya gemetaran dan jalannya terhuyung-huyung, memanggul peti mati sampai terbongkok bongkok karena lelah, akan tetapi dengan kedua lengan mengerahkan tenaga seadanya pemuda ini menjaga jangan sampai peti mati ini terguling!
"Sin-ko..."
Lee Ing mengigit bibir melihat keadaan pemuda ini.
Seluruh urat di tubuhnya menegang dan ia bersiap-siap untuk menerjang ke luar.
Pedang Li-lian-kiam sudah digenggamnya erat-erat di tangan kanan sedangkan tangan kiri memegang kipas dan pif, senjata Han Sin.
la bermaksud melompat keluar dan menyerahkan senjata-senjata itu kepada Han Sin agar pemuda itu dapat menjaga diri semeniara ia mengamuk.
Akan tetapi Han Sin sudah terlampau lemah.
Hanya dengan pengerahan tenaga terakhir dan semangatnya yang membaja ditambah cinta kasihnya yang amat besar terhadap Lee Ing membuat ia masih dapat mempertahankan diri agar peti mati itu jangan sampai terguling jatuh dari panggulannya.
Akan tetapi jalannya makin terhuyung dan ia sudah membongkok-bongkok, ditertawai oleh Auw-yang Tek dan anak buahnya.
"Ha-ha-ha, Liem Han Sin. Mana kegagahan mu? Begini saja macamnya murid dari Im-yang Thian-cu? Ha-ha ha, apa tidak lebih baik kau mampus di sini saja dan kita membawa kepalamu dan kepala kekasihmu?"
"Tidak.....!"
Han Sin berkata terengah-engah dan peluhnya memenuhi mukanya, la khawatir sekali kalau ancaman itu dilaksanakan, dia tidak ingin melihat mayat Lee Ing dipenggal lehernya.
"Kau boleh bunuh aku, boleh penggal kepalaku boleh hancurkan tubuhku, akan tetapi... kau sudah berjanji tak akan mengganggu tubuh Ing-moi... Auwyang Tek, berlakulah sebagai manusia untuk kali ini saja dan biarkan aku lebih dulu mengubur jenazah Ing-moi sebagaimana layaknya..."
Tok-ong Kai Sou Cinjin memberi tanda dengan matanya kepada Auwyang Tek, lalu kakek ini berkata, suaranya nyaring berpengaruh.
"Bocah she L iem, jangan kau mengoceh tentang perikemanusiaan. di antara dua fihak yang bermusuhan mana ada perikemanusiaan? Kecuali kalau kau suka berlutut dan mengangguk-anggukkan kepalamu di atas tanah tiga belas kali, mohon ampun atas dosa dosamu, baru kami akan pertimbangkan permintaanmu itu."
Auwyang Tek hanya tersenyum karena dengan isarat matanya tadi ia tahu bahwa suhunya melakukan hal itu hanya untuk merendahkan dan mempermainkan Han Sin.
Pemuda ini pernah dengan lancang dan sombong menghadapi Kai Song Cinjin di atas luitai (panggung adu silat), biarpun kalah akan tetapi pemuda itu pada umumnya dianggap gagah perkasa dan tabah.
Sekarang sebagai pembalasan atas kelancangannya itu, Kai Song Cinjin hendak menghinanya.
Tentu saja kalau Han Sin sudah berlutut seperti yang dimintanya, permintaan pemuda itu takkan diluluskan.
Sementara itu, Lee Ing yang sudah bersiap melompat mendengar permintaan Kai Song Cinjin ini menggigil tubuhnya saking marah.
Han Sin telah dihina secara luar biasa.
Akan tetapi gadis ini menahan diri.
Ini merupakan satu ujian pula bagi Han Sin.
Ia sudah percaya penuh akan kegagahan pemuda itu, akan tetapi sekarang kegagahan itu diuji pada puncaknya.
Kalau Han Sin sudi berlutut minta ampun, biarpun mintakan ampun untuknya, tetap saja Lee Ing akan merasa tak senang.
Beginilah watak orang-orang gagah yang menjunjung kegagahan di tempat teratas.
Ia bernapas lega ketika mendengar jawaban Han Sin yang ketus dan tegas.
"Kai Song Cinjin, kau seorang tokoh besar di dunia persilatan apakah tidak tahu harganya kehormatan bagi seorang gagah? Harganya hanya ditebus dengan nyawa! Kehormatanku tak boleh kau beli dengan apapun juga. Disuruh berlutut minta ampun? Lebih baik aku mati sekarang juga dan arwah Lee Ing tentu akan mengampunkan aku yang tidak dapat membela jenazahnya lebih lama lagi karena kau desak secara keterlaluan!"
Tiba-tiba peti mati itu bergerak dan terdengar suara yang membuat semua orang di situ, tidak terkecuali Han Sin, terkejut bukan kepalang seolah-olah suara dari angkasa raya, suara dewi kahyangan.
"Bagus, Sin-ko. Mari kita lawan iblis-iblis ini!"
Sebelum semua orang sempat bergerak, Lee Ing.
sudah melompat keluar dan memberikan kipas dan pit kepada Han Sin yang berdiri melongo.
Akan tetapi pemuda itu menjadi begitu girang dan tercengang sampai-sampai ia tak dapat segera bergerak kalau saja Lei Ing tidak cepat menaruh sepasang senjata ke dalam tangannya, lalu menepuk-nepuk pundak pemuda itu dengan amat mesra.
"Terima kasih atas cintamu, Sin-ko..."
Katanya sambil tersenyum dan dengan mata berlinang. Bangkit semangat Han Sin. Ia seperti orang yang mendapatkan semangat dan kehidupan baru.
"Ing-moi... ya Thian Yang Maha Adil... terima kasih... kau masih hidup...!"
Katanya terengah-engah setengah menangis! Sementara itu, Kai Song Cinjin merasa ditipu.
"Kepung! Tangkap!"
Baca Juga: Pedang Sinar Emas 15
Baca Juga: Rajawali Emas 5