Ceritasilat Novel Online

Rajawali Emas 5

Eps 5 Rajawali Emas - Kho Ping Hoo

Baca online Rajawali Emas - Kho Ping Hoo

Cersil Rajawali Emas - Kho Ping Hoo.

Bibirnya tertutup tapi mulutnya bergerak-gerak seakan-akan giginya menggigit-gigit sesuatu dan kebiasaan ini membuat ia nampak makin manis saja.

Bukan kepalang kemarahan Kun Hong.

"Kau... kau patut dihajar!"

Tangannya diangkat lalu digerakkan menampar pipi gadis itu.

Li Eng dengan enaknya menundukkan kepalanya sehingga tamparan itu mengenai angin saja dan...

tubuh Kun Hong terguling dari atas cabang.

Dalam kemarahannya tadi ia sampai lupa kalau ia duduk di atas cabang pohon, maka ia berani menampar sekuat tenaga.

Karena tamparannya tidak mengenai sasaran, maka ia terpelanting dan jatuh!

Tubuh Kun Hong tiba-tiba terhenti di tengah udara, dan ia merasa pinggangnya dilibat Sutera hitam, lalu perlahan-lahan ia dikerek naik, bukan di cabang yang tadi, melainkan di sebuah cabang yang berada paling tinggi di pohon itu.

Di situlah ia didudukkan, di atas cabang yang kecil sehingga cabang itu melengkung dan bergoyang-goyang ketika ia duduk diatasnya.

Li Eng sambil tertawa turun lagi dan duduk di atas cabang besar yang tadi, jauh di bawah Kun Hong.

"Hee..., turunkan aku...!"

Kun Hong berteriak-teriak sambil memeluk ranting-ranting di dekatnya.

Bukan main ngerinya melihat ke bawah, begitu tinggi tempatnya dan cabang itu bergoyang-goyang keras.

Li Eng menoleh ke atas, tersenyum mengejek.

"Diamlah jangan berteriak-teriak, dan lebih baik nonton pertunjukan hebat di bawah. Kalau kali ini kau banyak bergerak dan jatuh, aku malas untuk menolongmu lagi."

Menghadapi gadis yang nakal itu, Kun Hong yang biasanya pandai berdebat dan tak mau kalah, menjadi diam dan memeluk cabang kuat-kuat sambil memandang ke bawah.

Apa yang dilihatnya di bawah membuat ia makin ngeri.

Ia melihat betapa kedua pihak, yaitu pihak Hoa-San-Pai dan pihak Bhe Lam dan teman-temannya, sudah mulai bertempur merupakan perang kecil.

Ternyata bahwa Kui Tosu dan Lai Tosu tak dapat menandingi permainan tongkat Yok-Mo yang luar biasa dan amat ganas itu.

Kakek ompong bongkok ini biarpun dikeroyok dua oleh Kui Tosu dan Lai Tosu yang memiliki tingkat ilmu pedang yang tinggi, tidak menjadi gugup.

Terutama sekali ia mengandalkan kepada tongkat hitamnya yang benar-benar membuat dua orang Tosu itu agak jerih dan ngeri mengingat akan keampuhan racun yang berada dalam tongkat itu.

Makin lama makin terdesaklah Kui Tosu dan Lai Tosu.

Melihat keadaan demikian itu, hati Kwa Tin Siong menjadi tidak enak sekali.

Memang harus diakui bahwa dua orang Tosu ini bertempur untuk membalas kematian saudara mereka, dan tidak ada hubungannya dengan Hoa-San-Pai.

Akan tetapi maksud kedatangan mereka mula-mula adalah untuk membantu Hoa-San-Pai sungguhpun tadi ia meragukan akan maksud-maksud tersembunyi lain yang masih belum terbukti.

Andai kata tiga orang Tosu tua itu tidak datang ke Hoa-San-Pai di saat Hoa-San-Pai didatangi musuh-musuh, sudah pasti mereka takkan menemui kesulitan, Bu Tosu tak akan tewas dan kedua orang Tosu itu tidak akan bertempur melawan Yok-Mo yang lihai itu.

Namun, Kwa Tin Siong tetap merasa enggan untuk mencampuri pertempuran ini.

Dia adalah seorang Ketua Hoa-San-Pai, maka untuk menjaga nama baik Hoa-San-Pai, segala sepak terjangnya ia perhitungkan betul.

Pada saat ia meragu, tiba-tiba Hek-Houw Bhe Lam sambil tertawa melangkah, maju menghadapi Thian Beng Tosu dan berkata.

"Thio Ki, biarpun kau sudah menyamar sebagai Tosu, jangan kira kau akan terlepas dari tanganku!"

"Bhe Lam, sungguh sayang sekali bahwa selama belasan tahun ini kau masih belum mau kembali ke jalan benar. Pinto tidak menyamar, memang Pinto sekarang bukan Thio Ki lagi melainkan Thian Beng Tosu dan kalau kau masih saja menaruh dendam atas hukuman yang jatuh kepadamu ketika kau melakukan kejahatan dahulu, majulah. Kali ini Pinto takkan memberi ampun lagi kepadamu."

"Ha-ha-ha, keledai busuk yang sombong. Kematian sudah di depan mata masih hendak berlagak lagi?"

Hek-Houw Bhe Lam meloloskan golok besarnya dan segera maju menerjang.

Thian Beng Tosu juga sudah mencabut pedangnya dan dua orang musuh lama ini segera bertanding.

Melihat betapa pihak lawan sudah mulai menyerang, Kwa Tin Siong membuang keraguannya dan segera ia berseru keras.

"Toat-Beng Yok-Mo, sebagai seorang tokoh besar tidak seharusnya kau mengacau Hoa-San-Pai. Aku yang bertanggung jawab di sini, tidak bisa membiarkan kau menyebar kematian!"

Dengan Hoa-San Po-Kiam di tangannya ia lalu melompat ke gelanggang pertempuran, membantu Kui Tosu dan Lai Tosu yang sudah terdesak hebat oleh tongkat hitam di tangan Yok-Mo itu.

Makin hebatlah pertandingan itu dan Toat-Beng Yok-Mo tetap melayani tiga orang lawannya sambil terkekeh-kekeh.

Kim-Thouw Thian-Li sudah mencabut pedangnya dan di lain saat ia sudah dihadapi oleh Liem Sian Hwa yang juga sudah memegang pedang telanjang.

Dua orang musuh besar ini saling berhadapan dan saling memandang penuh kebencian.

Memang semenjak dahulu Sian Hwa amat membenci Ketua Ngo-Lian-Kauw ini.

Wanita inilah yang mendatangkan segala penderitaan bagi dia dan Hoa-San-Pai, yaitu Kwee Sin murid Kun-Lun-Pai (baca cerita Raja Pedang).

Gara-gara wanita ini pula maka ia dan Suaminya yaitu Kwa Tin Siong bekas Suhengnya, lari dari Hoa-San-Pai dan Suaminya itu sampai terbabat putus tangan kirinya.

Sekarang wanita ini berani datang lagi mengacau Hoa-San-Pai, mengacau penghidupannya yang sudah belasan tahun dalam ketenteraman.

Dapat dibayangkan betapa kemarahan dan kebenciannya memuncak.

"Siluman betina dari Ngo-Lian-Kauw, hari ini aku Liem Sian Hwa harus mengadu nyawa denganmu!"

"Hemmm, perempuan tak tahu malu, kebetulan sekali kalau kau sudah bosan hidup. Majulah, aku akan mengantarmu ke neraka!"

Kim-Thouw Thian-Li mengejek.

Sian Hwa berseru keras dan pedangnya berkelebat menyerang ditangkis oleh Kim-Thouw Thian-Li.

Merekapun segera terlibat dalam pertempuran dahsyat yang mati-matian.

Sementara itu, tanpa dikomando lagi, para Tosu Hoa-San-Pai sudah maju menyerang tiga puluh orang pengikut Bhe Lam dan terjadilah perang kecil yang diikuti teriakan-teriakan sehingga keadaan di puncak Hoa-San-Pai yang biasanya tenang dan damai itu sekarang menjadi kacau dan gaduh.

Dalam hal ini Hek-Houw Bhe Lam salah hitung.

Ia masih mengira bahwa Tosu Hoa-San-Pai adalah Tosu-Tosu yang hanya pandai membaca kitab saja.

Ia tidak tahu akan perubahan di Hoa-San-Pai semenjak Kwa Tin Siong menjadi ketua.

Sekarang, jauh berbeda dengan dahulu, setiap orang Tosu Hoa-San-Pai adalah ahli-ahli silat yang tekun melatih diri sehingga rata-rata mereka memiliki kepandaian yang lumayan.

Apalagi jumlah mereka jauh lebih banyak daripada anak buah Bhe Lam sehingga anak buahnya itu setiap orang harus melawan sedikitnya tiga orang Tosu!

Memang, kalau melihat para pemimpinnya, Bhe Lam sudah memperhitungkan masak-masak bahwa tokoh-tokoh yang menyertainya akan mampu mengalahkan para pimpinan Hoa-San-Pai.

Akan tetapi, dalam hal anak buahnya, benar-benar ia salah hitung.

Anak buahnya memang para perampok yang kejam dan yang sudah biasa menghadapi pertempuran, akan tetapi berhadapan dengan jumlah banyak, apalagi yang memiliki ilmu silat Hoa-San-Pai aseli, anak buahnya tak dapat berkutik.

Sebentar saja korban di pihaknya bergelimpangan!

Toat-Beng Yok-Mo tidak saja hebat sekali dalam ilmu pengobatan, juga ilmu silatnya bukan main tingginya.

Hal ini tidaklah aneh kalau diingat bahwa ia masih keturunan langsung daripada Yok-ong (Raja Obat) yang pernah menggemparkan dunia kang-ouw ratusan tahun yang lalu.

Biarpun dikeroyok tiga, ia masih dapat mengimbangi permainan tiga orang lawannya, malah dengan tongkatnya ia mampu mendesak Kui Tosu dan Lai Tosu.

Baiknya Kwa Tin Siong tadi segera maju dan terhadap pedang Ketua Hoa-San-Pai ini ia tidak berani main-main.

Ilmu pedang Hoa-San-Pai yang dimainkan Kwa Tin Siong benar-benar telah mencapai tingkat tinggi sehingga mengganggu pergerakannya.

Apalagi pedang itu adalah pedang Hoa-San Po-Kiam yang ampuh.

Pertandingan antara Thian Beng Tosu dan Hek-Houw Bhe Lam juga ramai sekali.

Boleh dibilang kepandaian dua orang ini berimbang karena selama ini Bhe Lam sudah memperdalam ilmu kepandaiannya.

Si Macan Hitam itu mainkan goloknya dengan ilmu golok dari Utara yang mengandalkan tenaga, maka sekarang dilayani dengan ilmu pedang Hoa-San-Pai yang mengandalkan tenaga halus dan kecepatan, pertempuran ini ramai sekali dan seimbang.

Sinar golok pedang bergulung-gulung menyilaukan mata dan di antara siutan desing kedua senjata ini terdengar seruan-seruan dan bentakan Hek-Houw Bhe Lam.

Sementara itu, di lain bagian, Kim-Thouw Thian-Li mendesak Liem Sian Hwa dengan hebat.

Ketua Ngo-Lian-Kauw ini seperti biasa bersenjatakan sebatang golok dan sehelai selampai merah.

Ilmu pedang Liem Sian Hwa cepat dan ganas, gerakan tubuhnya ringan bagaikan Burung menyambar-nyambar.

Memang tidak mengecewakan nyonya ini mempunyai julukan Kiam-Eng-Cu (Bayangan Pedang) karena permainan pedangnya demikian cepat sehingga sinar pedang itu bergulung-gulung menelan lenyap bayangannya sendiri.

Akan tetapi menghadapi Kim-Thouw Thian-Li, ia menemukan tandingan yang berat, Tingkat kepandaian Ketua Ngo-Lian-Kauw ini memang lebih tinggi dari padanya, Apalagi setelah Kim-Thouw Thian-Li mewarisi ilmu pedang Thai-Yang, biarpun hanya beberapa jurus dari gurunya, Hek-Hwa Kui-Bo.

Di samping ini, ilmu pedangnya Ngo-Lian Kiam-Sut yang dibantu dengan sambaran-sambaran selampai merahnya, benar-benar amat lihai dan berbahaya.

Setelah mengerahkan seluruh kepandaiannya, baru Sian Hwa dapat mengimbanginya, namun tetap saja pihak lawan lebih sering melancarkan serangan daripadanya.

Pada suatu saat, secara aneh selampai merah itu menyambar dan melibat pedang Sian Hwa.

Terjadilah tarik menarik dan dalam saat berbahaya ini, golok di tangan kanan Kim-Thouw Thian-Li menyambar ke arah leher Sian Hwa!

Bingung sekali Sian Hwa menghadapi ini.

Pedangnya belum dapat ia lepaskan dari libatan selampai dan serangan golok itu tak mungkin ia elakkan tanpa meloncat mundur.

Apakah ia harus melepaskan pedangnya?

Selagi ia kebingungan, tiba-tiba Kim-Thouw Thian-Li menjerit.

"Keparat curang!"

Dan Ketua Ngo-Lian-Kauw ini menarik kembali golok dan selampainya sambil melangkah mundur.

Ternyata dari atas pohon menyambar sebutir buah mentah yang tepat menghantam jalan darah di dekat sikunya sehingga ia merasa tangannya lumpuh.

Itulah perbuatan Li Eng yang tertawa-tawa di atas pohon sambil menonton jalannya pertandingan.

Tadi ketika ia melihat keadaan Sian Hwa terancam bahaya, ia segera turun tangan dan membantu.

Baik Sian Hwa maupun Kim-Thouw Thian-Li tahu akan campur tangan gadis di atas pohon itu, karena tadipun mereka sudah melihat kelihaian gadis aneh itu yang menolong Kun Hong dari serangan Bhe Lam menggunakan sambitan serupa.

"Siluman cilik, apa kau sudah bosan hidup?"

Kim-Thouw Thian-Li memaki sambil mengacung-acungkan goloknya ke arah Li Eng di atas pohon.

"Hi-hi, Siluman besar, kau sudah tua tentu kau akan mati lebih dulu daripadaku!"

Jawab Li Eng dan sekaligus kedua tangannya diayun ke depan, maka puluhan butir buah mentah itu menyambar ke arah delapan belas jalan darah di tubuh Kim-thouw.

Ketua Ngo-Lian-Kauw ini kaget sekali dan cepat memutar goloknya menangkis, namun masih ada tiga butir "senjata rahasia"

Ini mengenai tubuhnya.

Baiknya buah itu biarpun masih mentah tidak berapa keras dan Lweekangnya sendiri sudah amat kuat maka ia tidak terluka parah, hanya merasa gemetar dan lumpuh di bagian yang kena sambit.

Pada saat itu, Sian Hwa tidak mau menyia-nyiakan waktu dan kesempatan ini, bagaikan seekor Burung walet ia menerjang maju, pedangnya berkelebatan menyilaukan mata.

Kim-Thouw Thian-Li berusaha menangkis, namun meleset tangkisannya karena pada saat itu ia masih belum dapat menguasai dirinya karena sambitan Li Eng tadi.

Pedang di tangan Sian Hwa bagaikan kilat menyambar menusuk lehernya.

Ia membuang diri ke belakang sambil miringkan tubuhnya bagian atas sehingga pedang itu tidak mengenai leher melainkan menyambar pundaknya.

Kim-Thouw Thian-Li menjerit kesakitan, pundaknya tertusuk pedang.

Cepat ia melompat berjungkir-balik ke belakang lalu...

melarikan diri secepatnya dengan pundak bercucuran darah!

Liem Sian Hwa hendak mengejar, akan tetapi pada saat itu ia mendengar pekik mengerikan dan ketika ia menengok ke arah gelanggang pertempuran, ternyata Kui Tosu terkena tusukan tongkat Toat-Beng Yok-Mo sehingga tubuhnya menjadi hangus, Sedangkan di saat berikutnya Lai Tosu terkena hantaman tangan kiri kakek bongkok yang lihai itu sehingga pecah kepalanya dan tewas pula di saat itu juga!

Bukan main hebatnya kepandaian Yok-Mo yang merobohkan dua orang lawannya dalam keadaan tertawa-tawa.

Terkejut hati Liem Sian-Hwa.

Ia membatalkan niatnya mengejar Kim-Thouw Thian-Li dan cepat ia melompat dekat Suaminya lalu langsung mengeroyok Yok-Mo.

Kalau tadi dibantu dua orang Tosu tua itu saja Suaminya tidak mampu mengalahkan Yok-Mo, apalagi sekarang seorang diri.

Karena inilah maka Sian Hwa lalu membantu Suaminya dan Suami Isteri ini dengan mati-matian lalu mengeroyok Yok-Mo yang masih saja tertawa-tawa melayani mereka.

Baru setelah melihat Sian Hwa menerjangnya, kakek bongkok itu nampak kaget.

"Eh, eh... mana Isteriku?"

"Sudah terluka pundaknya dan kabur. Sekarang giliranmu untuk mampus!"

Bentak Sian Hwa.

Ucapan ini membuat Yok-Mo marah sekali.

Dengan seruan seram seperti teriakan binatang buas ia menerjang dengan tongkatnya yang hebat, kini ia tidak tertawa-tawa lagi, dan gerakan tongkatnya benar-benar luar biasa sekali membuat Suami Isteri itu terdesak hebat.

Pertempuran antara anak buah Hek-Houw Bhe Lam dan para Tosu Hoa-San-Pai tidak berlangsung lama.

Karena kalah banyak dan juga para Tosu Hoa-San-Pai sekarang rata-rata pandai ilmu silat, Sebentar saja tiga puluh orang pengikut Bhe Lam itu roboh semua, tewas atau terluka, Tak seorangpun berhasil melarikan diri.

Melihat keadaan ini, apalagi tadi melihat Kim-Thouw Thian-Li sudah melarikan diri, hati Bhe Lam menjadi keder juga dan karena itu permainan goloknya menjadi kacau-balau.

Kesempatan ini dipergunakan oleh Thian Beng Tosu untuk mempercepat permainan pedangnya dan dengan serangan miring dari samping kiri setelah memancing dengan sebuah tendangan, ia berhasil melukai lengan kanan Bhe Lam.

Kepala rampok ini terluka parah, berteriak marah dan menyambitnya Piauw dengan tangan kirinya ke depan.

Thian Beng Tosu cepat membuang diri ke kanan dan dua buah senjata rahasia Piauw meluncur lewat dekat lehernya.

Ketika ia memperbaiki kembali posisinya, ternyata lawannya sudah lari jauh.

"Hek-Houw, kau hendak lari ke mana?"

Thian Beng Tosu cepat melompat dan mengejar musuh besarnya itu.

Adapun Kun Hong yang menyaksikan dengan mata kepala sendiri pembunuhan besar-besaran yang terjadi dalam pertempuran ini, mukanya menjadi pucat, napasnya sesak dan matanya melotot lebar.

"Celaka... celaka... bagaimana Hoa-San-Pai bisa menjadi begini...?"

Berulang-ulang ia berseru dengan ngeri dan panik.

Sekarang yang bertempur di bawah hanya tinggal kedua orang tuanya yang mengeroyok Toat-Beng Yok-Mo.

Melihat betapa semua teman kakek bongkok itu tewas atau terluka dan ada yang lari, Kun Hong menjadi kasihan sekali.

Peristiwa hebat yang ia saksikan di bawah itu sama sekali tak pernah terduga dapat terjadi.

Ia yang selalu belajar tentang kebajikan, tentang Ketuhanan dan perikemanusiaan, tentu saja mimpipun belum pernah melihat manusia saling bunuh seperti ini.

Semua ini membuat ia lupa akan ketakutan berada di atas cabang kecil di tempat begitu tinggi.

Ia melihat gadis nakal itu masih saja duduk dengan kedua kaki tergantung dan tertawa-tawa.

Ia teringat bahwa gadis itu memiliki kepandaian yang aneh.

Maka cepat Kun Hong melorot turun dari cabang yang didudukinya dan tanpa takut sedikitpun ia melalui cabang-cabang mendekati Li Eng.

Gadis itu sampai kaget ketika tahu-tahu pemuda itu berada di dekatnya.

"Eh, kau berani turun?"

Tanyanya heran.

"Kau... kau tolonglah aku... kau turunlah dan pergunakan kepandaianmu untuk melerai mereka. Jangan biarkan Ayah ibu membunuh orang atau terbunuh..."

Gadis itu tersenyum lebar sehingga kelihatan deretan giginya putih mengkilap dan teratur rapi seperti mutiara berderet.

"Jadi kau ini anak mereka? Anak Ketua Hoa-San-Pai? Kok aneh benar, orang-orang Hoa-San-Pai itu biarpun kepandaiannya tidak tinggi tapi cukup bersemangat dan gagah, kenapa anaknya keluar tikus seperti kau?"

"Kau mau menolong tidak?"

Tanya Kun Hong gemas. Gadis itu menggeleng kepala.

"Ketua Hoa-San-Pai she Kwa adalah orang yang harus kubunuh juga kakek bongkok itu aku tidak suka, kenapa aku harus melerai mereka? Biarlah mereka saling bunuh. Hi-hik!"

Kun Hong tahu bahwa dia tidak dapat memaksa gadis itu, maka ia lalu melorot turun dengan susah payah dari pohon itu, ditertawai oleh gadis yang menggodanya.

"Hi-hik, kau seperti anak monyet menuruni pohon!"

Kun Hong tidak pedulikan lagi padanya, setelah tiba di bawah ia lalu lari menghampiri medan pertempuran.

Ia bergidik ketika ia berlari melalui mayat-mayat manusia yang menggeletak di kanan kiri, ngerinya bukan main.

"Ayah... Ibu... sudahlah, jangan berkelahi lagi... sudah terlalu banyak korban...!"

Teriaknya berulang-ulang sambil mendekati pertempuran yang sedang hebat-hebatnya itu.

"Kun Hong, pergi...!!"

Ibunya berteriak kaget melihat puteranya berani mendekati tempat itu. Akan tetapi. Kun Hong nekat dan makin dekat.

"Jangan bunuh orang lagi, Ibu... ah, celaka sekali... bagaimana Hoa-San menjadi tempat penyembelihan manusia...?"

Kun Hong hampir menangis. Akan tetapi pada saat itu Ayahnya berseru.

"Pergi kau...!"

Dan sebuah tendangan membuat Kun Hong terpelanting sejauh lima meter lebih.

Ayahnya telah menendangnya!

Biarpun ia tidak merasa sakit, tapi Kun Hong merangkak bangun dengan mata terpentang lebar.

Bagaimana Ayahnya sudah berubah begitu ganas?

Dia sendiri malah ditendangnya!

Tentu saja pemuda ini sama sekali tidak tahu bahwa dengan mendekati tempat pertempuran itu, nyawanya berada di dalam bahaya karena gerakan tongkat Yok-Mo dan pedang Ayah serta ibunya mengandung tenaga Lweekang yang hawa pukulannya saja akan, cukup membuat Kun Hong tewas.

Tidak tahu pula ia bahwa tendangan Ayahnya tadi adalah usaha untuk menjauhkan dia dari tempat berbahaya itu.

Kebetulan sekali Kun Hong terpelanting dekat tumpukan mayat para anak buah perampok.

Ia melihat mayat-mayat itu dalam keadaan luka hebat, malah ada di antaranya yang belum mati, terluka parah dan mengaduh-aduh.

Darah berceceran di mana-mana.

Kun Hong merasa hendak muntah melihat itu semua.

Ia lalu bangkit berdiri, memegangi kepalanya sambil mengeluh.

"Keji... kejam sekali... ah, tak sudi aku melihatnya...,"

Ia lalu lari tersaruk meninggalkan Puncak Hoa-San.

Sementara itu, Toat-Beng Yok-Mo terus mendesak Suami Isteri itu dengan tongkat hitamnya.

Makin lama makin beratlah bagi Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa.

Ternyata baik dalam tenaga Lweekang, apalagi dalam ilmu silat, kakek bongkok itu masih setingkat lebih tinggi daripada mereka.

Apalagi setelah Toat-Beng Yok-Mo mendengar tentang terlukanya Kim-Thouw Thian-Li, ia menjadi marah bukan main sehingga gerakan-gerakan tongkatnya mengandung ancaman maut karena digerakkan dengan penuh nafsu membalas dendam dan membunuh.

Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa repot sekali menghadapi amukan kakek bongkok itu.

Mereka maklum bahwa jika pertandingan ini dilanjutkan, mereka tentu akan celaka.

Anak buah Hoa-San-Pai tidak ada yang berani mencoba untuk membantu tanpa menerima perintah ketua mereka.

Selain ini, mereka juga tidak berani sembarangan mendekati pertempuran yang demikian dahsyatnya, karena maklum bahwa kepandaian mereka masih jauh di bawah tingkat mereka yang sedang bertanding.

Namun demikian, jika Kwa Tin Siong mau mengeluarkan perintah, para murid Hoa-San-Pai tentu tidak akan ragu-ragu dan takut-takut untuk menyerbu dan biarpun di antara mereka tentu banyak yang roboh binasa, Kakek bongkok itu sendiri sudah pasti takkan kuat menghadapi pengeroyokan demikian banyak orang.

Akan tetapi, Kwa Tin Siong adalah seorang yang berjiwa gagah.

Mana mungkin ia mau mengeluarkan perintah kepada para muridnya untuk melakukan pengeroyokan?

Di dalam hukum persilatan, mengandalkan banyak teman untuk mengeroyok adalah perbuatan hina yang akan menjatuhkan nama baik.

Sedangkan nama baik bagi seorang gagah lebih berharga daripada selembar nyawa.

Karena inilah maka baik Kwa Tin Siong maupun Isterinya, biarpun sudah terdesak hebat dan berada dalam ancaman maut, mereka tidak mau membuka mulut minta bantuan para murid Hoa-San-Pai dan melawan mati-matian.

Pada saat itu terdengar teriakan dari atas pohon.

"He, kakek bongkok buruk! Ketua Hoa-San-Pai masih ada urusan dengan aku, tak boleh kau membunuhnya!"

Suara ini adalah suara Li Eng yang segera dapat mengetahui bahwa Suami Isteri Ketua Hoa-San-Pai itu tidak akan menang melawan Si Kakek Bongkok yang mengerikan dan amat lihai itu.

Kedua langannya segera bekerja, menyambit-nyambitkan buah mentah dari pohon yang ia duduki cabangnya itu.

Sambitan gadis ini bukan main-main, tak boleh dipandang ringan karena dilakukan dengan pengerahan tenaga Lweekang yang luar biasa.

Sambitannya susul-menyusul dan biarpun kakek bongkok itu dikeroyok dua oleh Suami isieri Hoa-San-Pai sehingga tubuh ketiga orang itu berkelebatan dan berloncatan ke sana ke mari, namun sambitan-sambitan Li Eng selalu tepat menuju sasarannya, yaitu bagian-bagian lemah dan jalan-jalan darah di tubuh Toat-Beng Yok-Mo!

Akan tetapi alangkah kaget hati Li Eng ketika melihat bahwa semua buah mentah yang ia sambitkan itu, jatuh runtuh berserakan begitu mengenai tubuh Toat-Beng Yok-Mo.

"Siluman cilik, tunggu saja kau, akan datang giliranmu nanti!"

Yok-Mo membentak dengan nada mengejek sambil memperhebat tekanan tongkat hitamnya kepada Suami Isteri yang sudah mandi keringat dan sudah mulai kehabisan tenaga itu.

Li Eng memutar otaknya.

Ia dapat menduga bahwa tentu kakek itu memiliki daya kekebalan yang dapat menutup jalan darah yang terkena sambitan maka tidak terluka oleh sambitannya.

Ia segera berseru nyaring mentertawakan.

"Hee, kakek ompong! Kau hendak menyombongkan kepandaianmu, ya? Baiklah, matamu yang besar sebelah itu amat tidak menyenangkan hatiku, hendak ku bikin meram semua!"

Kembali kedua tangan Li Eng bergerak dan bagaikan peluru-peluru besi buah-buah mentah itu meluncur susul-menyusul, kini yang dijadikan sasaran adalah mata yang besar sebelah di muka Toat-Beng Yok-Mo!

Kali ini terdengar Tok-mo berseru marah sekali.

Betapapun saktinya, tak mungkin manusia dapat membikin sepasang biji matanya kebal!

Dan ia maklum bahwa satu kali saja matanya terkena sambitan itu, ia akan menjadi buta.

Repot juga tangan kirinya bergerak-gerak menyampok runtuh "senjata-senjata rahasia"

Yang tiada habisnya menyerang matanya itu.

Tentu saja perhatiannya menjadi terpecah, malah boleh dibilang sebagian besar ditujukan untuk menyelamatkan kedua matanya dari serangan hebat dari atas pohon itu.

Oleh karena inilah maka Kwa Tin Siong dan Isterinya mendapatkan "Angin baru,"

Melihat kekosongan-kekosongan dan kelemahan-kelemahan pada lawan, maka mereka tidak menyia-nyiakan kesempatan baik ini dan segera menghujankan serangan-serangan maut.

"Ceppp!"

Ujung pedang di tangan Liem Sian Hwa menancap di pundak kiri Yok-Mo.

Terdengar raungan mengerikan, tangan kiri Yok-Mo mencengkeram ke depan dan...

ujung pedang Sian Hwa patah.

Akan tetapi, sekali lagi Yok-Mo meraung hebat ketika pedang Kwa Tin Siong menusuk lambungnya.

Cepat ia miringkan tubuh dan tongkat hitamnya menghantam pedang itu.

Bukan main kagetnya Kwa Tin Siong dan Sian Hwa.

Tangkisan tongkat hitam itu hampir saja membuat pedang Hoa-San Po-Kiam terlempar dari tangannya.

Kwa Tin Siong melompat mundur dan terhuyung-huyung, sedangkan Sian Hwa melompat mundur sambil melihat pedangnya yang sudah buntung.

Bukan main hebatnya kakek tua itu, biarpun terluka di pundak dan lambung, namun masih demikian hebatnya sehingga hampir Kwa Tin Siong Suami Isteri celaka.

"Aduh, keparat...!"

Yok-Mo menjerit ketika pinggir mata kirinya tersambar buah mentah.

"Hi-hi-hik, Siluman tua, sekarang matanya keduanya sipit, tidak besar sebelah lagi, tapi lebih menjijikkan...!"

Li Eng menggoda.

Kemarahan Yok-Mo tak tertahankan lagi.

Ia telah menderita dua luka tusukan oleh Suami Isteri Hoa-San-Pai, dan luka di pinggir mata oleh gadis nakal di atas pohon itu.

Semua ini adalah gara-gara gadis di pohon itu, maka kemarahannya segera tertumpah kepada Li Eng.

"Siluman cilik, kau harus mampus sekarang!"

Tubuhnya dienjot dan dengan cepat sekali ia telah melayang naik ke atas pohon sambil memutar tongkatnya karena ia hendak membunuh gadis itu dengah sekali serang untuk melampiaskan kemarahan hatinya.

"Celaka... kita harus bantu dia..."

Kata Kwa Tin Siong kepada Sian Hwa.

Isterinya mengangguk menyetujui karena kedua Suami Isteri ini maklum bahwa tadi mereka telah ditolong dan dibantu oleh sambitan-sambitan gadis itu.

Bagaikan sepasang Burung garuda, kedua Suami Isteri ini meloncat dan menerjang Yok-Mo dari belakang.

"Krakkk... bruuuukk!"

Cabang yang tadi dipakai duduk Li Eng menjadi patah dan tumbang oleh pukulan tongkat hitam Yok-Mo.

Akan tetapi Li Eng tidak ikut jatuh karena gadis itu tanpa diketahui penyerangnya telah berada di cabang yang lebih tinggi lagi.

"Hi-hik, kakek bongkok ompong, aku di sini!"

Akan tetapi Yok-Mo terpaksa sekarang melayani Suami Isteri yang ternyata sudah mengejar dan menyerangnya.

"Hei, kakek bongkok tak tahu malu, apa kau sudah menyerah dan tidak berani mengejarku? Hi-hik, beranimu hanya terhadap Suami Isteri yang tiada guna itu. Dan kalian, Suami Isteri Ketua Hoa-San-Pai she Kwa, jangan begitu tak tahu malu. Aku tidak minta bantuan kalian, tahu?"

Mendengar ini, Yok-Mo mengeluarkan Seruan marah dan kembali ia meloncat keatas dengan tongkat hitam diputar. Li Eng sudah siap menanti malah sempat berteriak.

"Manusia she Kwa jangan bantu aku, aku tidak sudi!"

Ucapan ini tentu saja membuat Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa membatalkan niat mereka membantu dan membuat mereka marah juga malu.

Terpaksa mereka lalu berdiri di tengah lapangan sambil menonton.

Kembali terdengar suara hiruk-pikuk dan cabang-cabang serta ranting-ranting pohon besar itu susul-menyusul patah dan tumbang karena hantaman tongkat Yok-Mo.

Akan tetapi, cepat dan ringan seperti seekor Burung Li Eng sudah berpindah-pindah cabang sehingga dalam waktu yang tidak begitu lama pohon itu sudah menjadi pohon gundul, tinggal batangnya.

Kemana perginya Li Eng?

Gadis yang lihai ini ternyata sudah melompat jauh dan telah berada di sebuah pohon lain yang lebih besar dan tinggi.

"Hi-hi-hik, Toat-Beng Yok-Mo. Benar-benarkah engkau hendak mencabut nyawaku? Aku berani mempertaruhkan kepalamu bahwa kau takkan mampu?"

Digoda seperti ini, Yok-Mo kehilangan kewaspadaannya, menjadi makin marah dan dengan ketekadan bulat untuk membunuh Li Eng, ia melompat juga mengejar ke arah pohon itu.

Akan tetapi, bukan main kagetnya ketika tiba-tiba ada sinar hitam meluncur memapaki tubuh yang masih terapung di udara dalam lompatannya tadi.

Benda itu bagaikan seekor ular hidup yang besar dan panjang, telah mematuk ke arah leher, dada dan pusarnya dengan gerakan bertubi-tubi dan berganti-ganti.

Kalau dia tidak sedang meloncat tentu dengan mudah ia akan menghadapi serangan macam itu, akan tetapi celakanya tubuhnya sedang di udara.

Ia memutar tongkatnya untuk menangkis, akan tetapi tiba-tiba sinar hitam yang ternyata adalah sehelai Sutera itu telah melibat-libat tongkat di tangannya.

Yang hebat, Sutera itu seperti hidup saja karena dengan tenaga terbagi-bagi sekarang membetot-betot tongkat hitamnya dengan kekuatan yang mengagetkan.

Karena Yok-Mo memaksa diri mempertahankan tongkatnya agar jangan sampai dirampas lawan, maka kekuatan lompatannya menjadi patah setengah jalan dan sekarang tubuhnya mulai jatuh ke bawah.

Ia masih memegangi tongkatnya.

yang terlibat Sutera, maka sekarang ia jadi menggantung pada tongkatnya!

"He-he, Yok-Mo, kau seperti seekor laba-laba besar hendak bertelur!"

Li Eng mengejek sambil menarik-narik Suteranya sehingga tubuh kakek itupun ikut "menari-nari"

Di bawah gantungan.

"Siluman cilik, akan kubetot jantungmu, akan kukorek otakmu, kujadikan bahan obat Jin-Sin-Tan!"

Yok-Mo memaki-maki dan mengancam, kemudian ia merambat ke atas melalui tongkatnya.

Sebentar kemudian ia telah berhasil menyambar sabuk hitam itu, melepaskan tongkatnya dan dengan sikap liar mengerikan ia mulai merayap naik melalui sabuk hitam, makin mendekati tempat Li Eng duduk, yaitu di sebuah cabang besar.

"Hemmm, bocah liar itu mencari penyakit!"

Gumam Kwa Tin Siong.

Ia sebetulnya tidak ingin melihat gadis yang aneh dan pandai ilmu silat Hoa-San-Pai itu celaka di tangan Yok-Mo, akan tetapi karena bocah itu sendiri melarang ia membantu, tentu saja ia malu untuk turun tangan.

"Melihat sikapnya, iapun tentu bukan murid orang baik,"

Kata Liem Sian Hwa.

"Akan tetapi dia demikian cantik dan muda, kasihan kalau sampai mengorbankan nyawa di tangan Yok-Mo. Apalagi disengaja maupun tidak dia tadi telah menolong kita. Tunggu saja, kalau dia terancam, tidak peduli dia tidak suka dibantu, kita turun tangan."

Kwa Tin Siong menyetujui usui Isterinya ini, maka mereka lalu siap-siap di bawah pohon untuk membantu sewaktu-waktu gadis itu terancam bahaya di tangan Yok-Mo yang mukanya sudah merah hitam saking marahnya itu.

"Monyet tua, kau mau buah mentah? "Nih, makan!"

Dan menghujanlah buah-buah mentah ke arah tubuh dan muka Yok-Mo.

Karena sambaran buah-buah itu sebagian besar ditujukan ke arah kedua matanya, terpaksa Yok-Mo menundukkan muka, meramkan mata dan menutup jalan-jalan darah yang berbahaya agar jangan sampai tertotok oleh sambitan-sambitan itu.

Sementara itu ia merambat terus ke atas, makin mendekati Li Eng.

Ia merasa betapa luka-luka di pundak dan lambungnya mengucurkan darah dan merasa sakit sekali, akan tetapi dengan mengeraskan hati kakek yang sudah marah karena dipermainkan Li Eng ini terus mengerahkan tenaga merayap ke atas.

Hampir ia mencapai tempat Li Eng dan ia sudah mengangkat tongkat hitamnya untuk menyerang gadis itu.

Tiba-tiba tubuh Yok-Mo meluncur ke bawah dan baru berhenti setelah ia hampir menyentuh tanah.

Yok-Mo memaki-maki kiranya Sutera hitam itu diulur oleh Li Eng!

Sambil memaki-maki Yok-Mo merayap lagi, merambat ke atas dengan cepat sekali.

Sebaliknya, Li Eng juga memaki-maki, mengejek sambil menyambit muka kakek itu dengan buah-buah mentah.

Biarpun kakek itu kebal dan tidak terluka oleh sambitan-sambitan itu, namun ia sedikitnya merasa mukanya sakit dan pedas.

Ia mempercepat rambatannya ke atas dan sebentar saja ia sudah mendekati Li Eng lagi.

Akan tetapi...

tiba-tiba tubuhnya meluncur turun lagi sampai dekat tanah.

Sambil memutar tongkatnya melindungi muka dari sambitan buah.

Yok-Mo memandang dan dengan girang ia melihat bahwa kini gadis itu memegangi ujung Sutera hitam.

Hal ini berarti bahwa Sutera yang panjang itu sudah habis dan takkan dapat diulur lagi.

"Keparat cilik, kau hendak lari ke mana sekarang?"

Teriaknya sambil merambat lagi ke atas dengan cepat.

"Keparat gede!"

Li Eng balas memaki.

"Aku tidak lari ke mana-mana, kaulah yang jangan lari."

Dan begitu tubuh kakek itu sudah sampai di atas, gadis yang nakal ini sekaligus melepaskan Sutera yang dipegangnya.

Tak dapat dihindarkan lagi tubuh kakek itu jatuh ke bawah!

Baiknya ia memang lihai sekali sehingga jatuhnya enak saja dengan kedua kaki di atas tanah.

Akan tetapi, bukan main herannya Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa ketika melihat betapa tiba-tiba kakek itu berteriak-teriak kesakitan, melepaskan tongkatnya, memandang kepada kedua tangannya yang sudah menjadi hitam dan...

sambil menjerit-jerit kakek itu lalu lari secepatnya meninggalkan puncak Hoa-San-Pai, diiringi suara ketawa nyaring gadis itu yang cepat-cepat melompat ke bawah.

"Hi-hi-hik, termakan racunmu sendiri kau sekarang!"

Katanya puas sambil menggulung kembali sabuk Suteranya.

Tahulah sekarang Kwa Tin Siong dan isterinya bahwa tadi ketika sabuk melibat tongkat, sabuk itu telah terkena racun yang keluar dari ujung tongkat dan ketika kakek itu merambat melalui sabuk otomatis kedua tangannya terkena racun hebat dari tongkat itu.

Tidak mengherankan jika, kedua tangannya itu menjadi hangus dan kakek itu melarikan diri ketakutan.

Mengingat bahwa gadis itu telah menyelamatkan nyawanya, Kwa Tin Siong lalu berkata dengan nada menghormat.

"Gadis yang gagah perkasa, telah kau sengaja atau tidak, akan tetapi kau tadi telah menyelamatkan nyawa kami Suami Isteri. Terimalah ucapan terima kasihku kepadamu."

Gadis itu menjebikan bibirnya.

"Siapa menyelamatkan siapa? Kakek itu sudah berani mengotori Im-Kan-Kok, tidak kubunuh juga sudah untung. Kau ini orang she Kwa yang menjadi Ketua Hoa-San-Pai, sekarang juga kau harus menyerahkan pedang Hoa-San Po-Kiam itu kepadaku berikut kepalamu."

Sambil berkata demikian ia melangkah maju dengan sikap tenang.

Kwa Tin Siong yang lebih merasa heran daripada marah.

Sudah tentu ada sebab-sebab yang aneh kalau anak ini sampai memusuhinya, tak mungkin memusuhi tanpa sebab.

"Nanti dulu, kalau kau betul-betul datang hendak memusuhiku, hal itu adalah wajar asal ada alasannya yang kuat. Kau jelaskanlah mengapa kau hendak merampas Hoa-San Po-Kiam dan hendak membunuhku? Apa sebabnya?"

"Apa sebabnya kau tak perlu tahu. Pendeknya aku harus merampas kembali Hoa-San Po-Kiam dan membunuh Ketua Hoa-San-Pai she Kwa! Hayo majulah dan serahkan pedang dan kepalamu, aku sudah hilang sabar!"

Kwa Tin Siong orangnya memang berwatak sabar, akan tetapi tidak demikian dengan Liem Sian Hwa.

Nyonya ini menjadi marah bukan main, tak dapat ia menahan perasaan hatinya yang terbakar ketika ia mendengar orang menghina Suaminya.

Cepat ia mencabut pedangnya yang sudah buntung ujungnya tadi dan membentak.

"Siluman cilik, enak saja kau bicara! Siluman macam kau tidak bisa diajak bicara baik-baik. Kalau memang kedatanganmu hendak memusuhi kami, kau matilah dan lawan pedangku!"

Li Eng tertawa mengejek dan memandang pedang buntung itu.

"Hi-hik, dengan pedang itu kau hendak melawanku? Ah sedangkan ilmu pedangmu Hoa-San Kiam-Sut saja baru kau pelajari setengah-setengah, matang tidak mentah tidak, bagaimana kau hendak melawanku mempergunakan pedang buntung? Bibi yang cantik, aku hanya ingin mengambil kepala orang she Kwa. Kalau kau ingin mencoba kepandaianmu yang masih setengah matang, kau... majulah!"

Sampai pucat wajah Liem Sian mendengar ejekan ini.

Dia adalah seorang tokoh Hoa-San-Pai, boleh dibilang menjadi orang ke dua sesudah Suaminya, Ia sudah mempelajari ilmu silat Hoa-San-Pai semenjak ia kecil dan untuk kehebatan ilmu pedangnya ia malah sudah menggemparkan dunia kang-ouw dan mendapat julukan Kiam-Eng-Cu (Bayangan Pedang).

Masa sekarang ia dihina oleh seorang bocah cilik yang menyatakan bahwa ilmu pedangnya Hoa-San Kiam-Sut matang tidak mentahpun tidak?

Biarpun ia hanya berpedang buntung, namun ia masih sanggup untuk menghadapi lawan yang tangguh.

"Bocah setan, kau benar-benar terlalu sombong. Keluarkan senjatamu dan mari kau boleh merasakan ilmu pedangku yang mentah tidak matangpun tidak ini!"

Tantangnya.

"Untuk menghadapi kau dan pedang buntungmu cukup dengan tangan kosong "Sombong, lihat pedang!"

Sian Hwa tidak dapat menahan kemarahannya lagi dan pedangnya segera bergerak menyerang.

Dengan gerakan cepat sekali sehingga sinar pedangnya bergulung-gulung, ia mengirim tiga kali tikaman berantai dengan jurus Lian-Cu Sam-Kiam.

"Hemmm, Lian-Cu Sam-Kiam yang baik sekali. Sayang tidak ada isinya!"

Li Eng mengejek dan cepat mengelak.

Karena ia tahu benar agaknya akan perubahan gerak dari jurus ini, maka dengan mudah ia dapat menyelamatkan diri.

Sian Hwa merubah gerakannya, mengirim bacokan dari kanan kiri sambil mempergunakan kecepatannya.

"Aha, Hun-In Toan-San (Awan Melintang Putuskan Gunung)! Juga tidak mengandung inti sari, masih mentahl"

Lagi-lagi Li Eng mengelak dan mengejek.

Sian Hwa makin marah, juga diam terkejut sekali karana semua serangannya selalu dikenal oleh lawan.

Dalam penyerangan-penyerangan berikutnya baru saja ia bergerak gadis cilik itu sudah menyebutkan jurus dan malah mengelak dengan gerakan-gerakan dan langkah-langkah dari ilmu silat Hoa-San-Pai aseli.

"Tahan dulu!"

Tiba-tiba Kwa Tin Siong maju, melerai yang sedang bertempur setelah pertempuran itu berjalan puluhan jurus.

Ketua Hoa-San-Pai, ini menjadi curiga karena tadi ia melihat dengan jelas betapa ilmu silat gadis itu betul-betul aseli Hoa-San Kun-Hoat, akan tetapi dimainkannya demikian aneh dan hebat.

"Nona kau sebetulnya murid siapakah?"

Juga Sian Hwa di samping kemarahan dan kegemasan karena penasaran, merasa heran sekali.

Belum pernah selama hidupnya ia bertemu dengan lawan yang begini muda tapi begini hebat ilmu silatnya, apalagi ilmu silat dari Hoa-San-Pai pula!

Li Eng tersenyum mengejek.

"Murid siapa juga kau peduli apakah? Pendeknya, kau harus menyerahkan Po-Kiam dari Hoa-San-Pai berikut kepalamu. Kau tidak berhak menjadi Ketua Hoa-San-Pai!"

Kwa Tin Siong mencabut pedangnya, pedang Hoa-San Po-Kiam, lalu melangkah maju.

"Nah, ini pedangnya dan ini kepalaku, kau boleh ambil kalau kau bisa."

Ia menjadi marah juga melihat sikap gadis yang bandel dan nekat ini dan ia ingin mencoba sendiri kepandaian gadis itu.

Setelah Suhunya meninggal, yaitu Lian Bu Tojin, kiranya tidak berlebihan kalau dia menganggap bahwa ahli silat Hoa-San-Pai yang paling tinggi ilmunya pada saat itu adalah dia sendiri.

Kalau gadis inipun ahli ilmu silat Hoa-San-Pai, mana mungkin lebih tinggi tingkatnya daripada dia sendiri?

"Bagus, kau kehendaki kekerasan?

Awas!"

Li Eng menggerakkan tangannya mencengkeram ke arah pedang dan kakinya menyapu dengan kecepatan kilat.

Namun Kwa Tin Siong melangkah mundur dan pedang berkelebat membacok tangan gadis itu.

Li Eng menarik tangannya, meloncat ke kiri dan kembali menyerang dengan maksud hendak merampas pedang.

Kini tubuhnya bergerak-gerak cepat, kadang-kadang melakukan pukulan yang amat cepat dan berbahaya, lain saat ia berusaha merampas pedang dari tangan Kwa Tin Siong.

Akan tetapi, kali ini ia betul-betul menghadapi seorang ahli silat yang sudah matang oleh pengalaman, juga yang memiliki tenaga dalam kuat sekali.

Sampai lima puluh jurus belum juga ia berhasil merampas pedang.

Di lain pihak, diam-diam Kwa Tin Siong makin terheran-heran.

Harus ia akui bahwa ilmu silatnya sendiri kalau dibandingkan dengan ilmu silat gadis itu, ia jauh lebih ahli, juga lebih matang.

Akan tetapi ada sesuatu yang aneh pada ilmu silat yang dimainkan gadis cilik ini, gerakan-gerakannya mengandung daya serang yang hebat sekali, yang tak ada pada ilmu silat aseli Hoa-San Kun-Hoat.

"He, Nona kecil, apakah kau pernah belajar pada Supek Lian Ti Tojin?"

Tiba-tiba Kwa Tin Siong bertanya karena ia mendapat dugaan yang aneh.

"Aku adalah murid Ayah ibu sendiri, sudahlah jangan banyak cakap, lihat dalam beberapa jurus aku akan merampas pedangmu!"

Tiba-tiba benda hitam panjang seperti ular hidup menyambar ke arah muka Kwa Tin Siong yang menjadi kaget bukan main.

Cepat Ketua Hoa-San-Pai ini menyabet dengan pedangnya sambil mengerahkan tenaga untuk membabat putus benda itu.

Akan tetapi alangkah kagetnya ketika benda itu tiba-tiba malah melibat pedangnya dan tak dapat dilepaskan lagi.

Ia mengerahkan tenaga menarik dan gadis itupun menahan sehingga keduanya saling betot.

Kiranya benda itu adalah Sutera hitam yang dipakai mengerek tubuh Yok-Mo dan Sekarang sudah berada lagi di tangan gadis aneh itu.

Melihat keadaan Suaminya dalam bahaya, Sian Hwa tidak dapat tinggal diam saja.

Sambil berseru keras ia menggerakkan pedang buntungnya dan menerjang Li Eng.

Gadis ini tertawa.

"Bagus, kalian boleh maju bersama-sama!"

Sabuk Sutera hitam terlepas dan ia lalu bersilat dengan senjata aneh ini, sekarang dikeroyok dua!

Pada waktu itu, tingkat kepandaian Suami Isteri ini sudah amat tinggi dan kiranya tidak sembarang lawan dapat mengalahkan mereka.

Mereka merupakan pasangan yang amat hebat dengan ilmu pedang mereka.

Akan tetapi ternyata keduanya tidak mampu mendesak Li Eng, sungguhpun gadis ini harus mengaku bahwa kini ia menghadapi dua lawan yang amat tangguh.

Gadis itu mainkan senjatanya yang aneh secara cepat dan yang hebat sekali adalah bahwa ilmu silatnya tak salah lagi adalah ilmu silat Hoa-San Kun-Hoat!

Benar-benar amat penasaran bagi Kwa Tin Siong dan Isterinya yang merupakan tokoh-tokoh pertama dari Hoa-San-Pai, sekarang tak berdaya menghadapi seorang gadis yang juga mainkan ilmu silat Hoa-San-Pai, padahal gadis itu hanya bersenjatakan sehelai sabuk Sutera!

Makin lama pertempuran itu berjalan makin seru dan akhirnya menjadi pertandingan mati-matian.

Pada suatu saat, Kwa Tin Siong dan Sian Hwa menerjang sedemikian hebatnya, dan dalam waktu yang sama sehingga tak mungkin dapat dielakkan lagi oleh gadis itu.

Li Eng kaget dan berseru keras, tubuhnya mencelat ke belakang dan sabuk Suteranya berkibar, seperti kilat menyambar cepat sekali dan seperti kupu-kupu melayang indahnya, kedua ujung sabuk itu tahu-tahu telah membelit kedua pedang di tangan Kwa Tin Siong dan Sian Hwa yang mengancamnya.

Gadis ini memegangi sabuk di tengah-tengah dan berada agak jauh sehingga Suami Isteri itu tak dapat menyerangnya lagi dengan tangan kiri karena mereka tidak suka mengambil risiko pedang mereka terampas.

Ketiganya berdiri memasang kuda-kuda, mengerahkan tenaga dan terjadilah adu tenaga memperebutkan pedang.

Li Eng mulai berpeluh.

Tak kuat ia dikeroyok, dua dalam adu tenaga ini.

Wajahnya agak pucat.

Kalau ia melepaskan libatan sabuknya, ia dapat terluka di dalam tubuhnya.

Ia bertekad, akan tetapi kedudukannya mulai bergerak dan terseret ke depan sedikit demi sedikit.

Keringat dingin mulai membasahi jidat yang halus itu.

Akan tetapi sepasang mata yang jeli dan bening itu sama sekali tidak memperlihatkan rasa takut sedikitpun juga.

"Li Eng, jangan kurang ajar!"

Terdengar bentakan suara wanita.

"Kwa-Supek, maafkan anakku yang nakal!"

Terdengar pula suara seorang laki-laki.

Dua suara ini disusul dengan berkelebatnya dua sosok bayangan yang tahu-tahu sudah tiba di tempat pertempuran dan langsung bayangan laki-laki itu maju menengah.

Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa merasa betapa tenaga mereka yang tadi dipersatukan untuk mempertahankan pedang masing-masing itu seperti terlolos dan mencair, lenyap tak tentu sebabnya dan tahu-tahu pedang mereka telah terlepas dari libatan sabuk Sutera yang juga sudah ditarik kembali oleh Li Eng.

Ketika Suami Isteri ini memandang, dapat dibayangkan betapa heran, kaget dan girangnya hati mereka karena yang sekarang berdiri di depan mereka ini bukan lain adalah Kui Lok dan Thio Bwee, dua orang anak murid Hoa-San-Pai yang dahulu lenyap setelah terusir oleh Kwa Hong!

Kui Lok segera menjatuhkan diri berlutut di depan paman guru dan bibi gurunya, sedangkan Thio Bwee juga cepat menyeret tangan Li Eng kemudian ia sendiri bersama gadis itupun berlutut di depan Suami Isteri Ketua Hoa-San-Pai.

Para Tosu Hoa-San-Pai yang juga mengenal Kui Lok dan Thio Bwee, menjadi gempar dan terdengar seruan-seruan gembira serta isak tertahan.

Memang mengharukan sekali pertemuan itu.

Kwa Tin Siong segera memeluk Kui Lok sedangkan Liem Sian Hwa merangkul Thio Bwee.

Mereka bertangisan.

Hanya Li Eng gadis nakal itu yang sekarang berdiri bingung memandang kedua orang tuanya yang berpelukan sambil bertangisan dengan dua orang Ketua Hoa-San-Pai yang baru saja bertanding mati-matian dengannya.

"Ayah, Ibu... dia ini adalah Ketua Hoa-San-Pai she Kwa!"

Akhirnya ia tak dapat menahan lagi hatinya, menegur Ayah Bundanya.

Ibunya, Thio Bwee telah dapat menetapkan hatinya dan melepaskan pelukan Liem Sian Hwa, bibi gurunya.

Ia memandang kepada puterinya dengan mata penuh teguran lalu berkata.

"Li Eng, tanpa perkenan Ayahmu, mengapa kau berani lancang sampai ke sini dan mengacau Hoa-San-Pai?"

Kemudian nyonya ini memandang ke sekeliling, ke arah mayat-mayat manusia yang amat banyak, lalu suaranya makin bengis.

"Kau telah mengacau dan membunuh orang-orang ini?"

"Aku... tidak, tidak, Ibu. Aku tidak membunuh siapa-siapa!"

Li Eng menjawab cepat dan ketakutan, apalagi ketika melihat Ayahnyapun memandangnya dengan wajah bengis.

"Aku... aku keluar dari tempat kita dan aku melihat serombongan orang-orang di Im-Kan-Kok yang bicara tentang maksud mereka menyerbu Hoa-San-Pai. Karena mereka bicara tentang Ketua Hoa-San-Pai pula, hatiku jadi tertarik dan aku lalu datang ke sini untuk merampas kembali Hoa-San Po-Kiam dari Ketua Hoa-San-Pai dan membunuh orang she Kwa ini. Bukankah orang she Kwa ini yang Ayah ibu katakan jahat dan merusak Hoa-San-Pai?"

"Anak tolol, sama sekali bukan! Dia ini adalah paman guruku, dan yang itu adalah bibi guruku, juga paman guru dan bibi guru ibumu. Jadi kau masih terhitung cucu murid mereka. Hayo lekas berlutut dan minta ampun!"

Kata Kui Lok. Li Eng kaget sekali dan cepat ia menjatuhkan diri berlutut.

"Kakek dan Nenek guru, aku Kui Li Eng mohon ampun..."

Liem Sian Hwa menubruk cucu muridnya itu dan memeluknya.

"Tak kusangka aku mempunyai cucu murid begini hebat..."

Katanya girang. Kwa Tin Siong menarik napas panjang.

"Sudahlah... sekarang aku tahu siapa yang ia maksudkan orang she Kwa itu. Tentu Kwa Hong bukan?"

Kui Lok dan Thio Bwee hanya mengangguk. Pada saat itu terdengar suara berseru, suara wanita.

"Supek...!"

Orang memandang dan melihat orang berlari cepat ke puncak itu.

Mereka ini bukan lain adalah Thian-Beng Tosu bersama dua orang wanita, yang seorang setengah tua dan yang kedua seorang gadis yang cantik dan berpakaian sederhana.

Melihat wanita setengah tua itu, Liem Sian Hwa segera lari memapaki dan mereka berangkulan.

"Lee Giok... kau benar-benar telah membuat Suamimu hidup menderita!"

Memang benar, wanita itu bukan lain adalah Lee Giok, Isteri dari Thio Ki atau Thian Beng Tosu.

Dan gadis cantik sederhana itu adalah puterinya!

Bagaimana mereka bisa muncul di saat itu bersama Thian Beng Tosu?

Untuk mengetahui hal ini mari kita mengikuti perjalanan Thian Beng Tosu beberapa saat yang lalu.

Telah diceritakan bagaimana Thian Beng Tosu berhasil mendesak musuh lamanya, yaitu Hek-Houw Bhe Lam.

Kepala rampok ini melarikan diri dikejar oleh Thian Beng Tosu dan kejar-mengejar ini membawa mereka turun dari puncak, tiba di hutan tak jauh dari Im-Kan-Kok.

Bhe Lam sudah terluka pangkal lengannya, tapi larinya masih cepat sekali.

Betapapun juga, karena Thian Beng Tosu lebih biasa di tempat itu, setibanya di dalam hutan ini ia tersusul dan Tosu Hoa-San-Pai ini membentak.

"Hek-Houw, percuma saja kau lari. Kejahatanmu sudah melampaui takaran, hari ini kau harus tewas di tanganku!"

Hek-Houw Bhe Lam yang tahu bahwa tak mungkin ia dapat lari lagi mendadak membalikkan tubuhnya dan tangan kirinya bergerak.

Belasan buah senjata Piauw melayang ke arah lawannya.

Namun Thian Beng Tosu sudah menduga akan hal ini, cepat memutar pedangnya menangkis.

Pada saat itu Hek-Houw Bhe Lam bersuit ketika ia mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk menghadapi lawannya.

Dengan perlahan tapi tentu Tian Beng Tosu mendesak penjahat itu.

Akan tetapi tiba-tiba terdengar suitan dari dalam hutan dan tak lama kemudian muncullah tiga orang tinggi besar yang segera menerjangnya dengan golok di tangan.

Mereka ini adalah orang-orang yang sengaja disuruh menjaga di situ oleh kepala rampok ini dan tadi ia memang sengaja memancing Thian Beng Tosu memasuki hutan ini agar ia bisa mendapatkan bantuan tiga orang temannya.

Setelah tiga orang itu mengeroyok, keadaan menjadi terbalik.

Kini Tosu inilah yang terdesak dan dihujani serangan dari kanan kiri, depan dan belakang.

Ia mulai sibuk dan terpaksa hanya dapat mempertahankan dirinya tanpa mampu balas menyerang.

Keadaannya benar-benar berbahaya sekali dan Hek-Houw Bhe Lam mulai mengejek dan mentertawakan.

Akan tetapi tiba-tlba terdengar bentakan nyaring dan seorang gadis muda yang cantik manis dengan sederhana, diikuti oleh seorang wanita setengah tua yang berpakaian seperti seorang pertapa tahu-tahu muncul dari balik pepohonan dan langsung kedua orang wanita itu menerjang empat orang penjahat tadi.

Hebat sekali permainan pedang gadis sederhana itu, akan tetapi lebih hebat permainan silat wanita pertapa yang hanya memegang sebatang ranting kecil.

Dalam beberapa gebrakan saja empat orang penjahat itu telah terjungkal dalam keadaan terluka.

Gadis itu dengan gemas menggerakkan pedang hendak membunuh Hek-Houw Bhe Lam, akan tetapi tiba-tiba Thian Beng Tosu berseru.

"Jangan bunuh!"

Gadis itu menahan pedangnya dan memandang kepada Tosu Hoa-San-Pai ini dengan sinar mata penuh keharuan.

Sebaliknya Thian Beng Tosu dan wanita pertapa ini berdiri seperti patung dan saling pandang seperti terkena pesona.

"Lee Giok... kau Lee Giok..."

Bibir Thian Beng Tosu bergerak-gerak mengeluarkan bisikan.

Wanita pertapa itu meramkan kedua..

matanya dan menitiklah air mata di atas kedua pipinya yang masih segar kemerahan.

Memang benar dia adalah Lee Giok, Isteri Thian Beng Tosu!

"Dan dia ini...?"

Lagi-lagi Thian Beng Tosu berkata perlahan sekali menoleh ke arah gadis yang cantik gagah perkasa itu.

"dia Hui Cu... anak kita..."

Terdengar wanita pertapa itu berkata. Mendengar ini, gadis itu yang bernama Thio Hui Cu, segera menjatuhkan diri berlutut di depan Thian Beng Tosu sambil berkata.

"Ayah...!"

Tosu ini membungkuk dan meraba kepala anaknya, air matanya bercucuran, kemudian ia menarik bangun anaknya, memandangi sampai lama sekali lalu berdongak ke atas dan berkata.

"Siancai... Tuhan Maha Adil... siapa sangka aku akan dapat bertemu dengan kalian dalam keadaan selamat? Ya Tuhan, terima kasih atas kemurahan-Mu..."

Setelah keharuan mereka mereda, Lee Giok berkata.

"Dia ini... bukankah dia penjahat Bhe Lam yang dahulu itu?"

Baru sekarang Thian Beng Tosu teringat akan empat orang penjahat yang masih berada di situ karena tidak berani melarikan diri.

"Betul, dan mereka inilah yang menjadi lantaran pertemuan kita. Karena itu, biarlah kita ampunkan mereka.

"Bhe Lam, sekali lagi kami mengampunimu, harap saja kau dapat sadar dan insyaf bahwa menyimpang dari jalan kebenaran bukanlah hal yang akan dapat menyelamatkan dirimu. Nah, pergilah dan semoga Thian akan memberi bimbingan kepada jiwamu."

Dengan malu sekali, juga bersyukur karena kembali dia diampuni, Bhe Lam dan teman-temannya pergi terpincang-pincang.

Setelah mereka pergi, Suami Isteri dan anak mereka ini saling berpandangan, penuh kebahagiaan dan penuh keharuan.

"Kau... selama ini di manakah? Kenapa tidak kembali ke Hoa-San mencariku?"

Dalam pertanyaan yang halus ini sama sekali tidak terkandung suara penyesalan, namun cukup membuat Lee Giok kembali (Lanjut ke

Jilid 13) Rajawali Emas (Seri ke 02 -Serial Raja Pedang) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 13 mengucurkan air mata.

"Bagaimana aku berani? Aku... aku... telah ternoda oleh si jahat Giam Kin. Baiknya ada Adik Hong yang menolongku... dan aku lari ke sini, aku... aku bersembunyi dalam hutan, bertapa... dan mendidik anak kita ini... aku telah mengambil keputusan tidak akan mengganggumu kecuali kau yang mendapatkan aku. Siapa duga... kau bertempur dengan mereka itu dan... dan... ah, kenapa kau sekarang telah menjadi Tosu?"

Thian Beng Tosu tersenyum, lalu dengan penuh kebahagiaan ia memegang tangan Isterinya di tangan kanan, tangan Hui Ci di tangan kiri.

"Dan kau sendiri? Kaupun menjadi seorang tokouw (Pendeta perempuan). Bagus sekali! Ternyata bukan aku saja yang sudah menemukan jalan benar, juga kau, Isteriku Lee Giok, sekarang tinggal kita mendoakan saja demi kebahagiaan hidup anak kita. Marilah ikut aku ke puncak menemui Supek. Tahukah kau bahwa sekarang yang menjadi ketua adalah Supek Kwa Tin Siong?"

Dengan penuh kegembiraan Thian Beng Tosu bersama anak dan Isterinya lalu menuju ke Puncak Hoa-San dan di tengah perjalanan mereka saling menceritakan pengalaman mereka yang pahit dan penuh penderitaan.

Dapat dibayangkan betapa kebahagiaan ini menjadi makin berlimpah ketika mereka tiba di tempat pertempuran tadi melihat bahwa Kui Lok dan Thio Bwee berada pula di situ, malah Li Eng gadis nakal yang lihai itu ternyata adalah puteri mereka!

Hujan tangis terjadi ketika Thian Beng Tosu muncul bersama Lee Giok dan Hui Cu.

Segera Kwa Tin Siong memerintahkan para murid untuk mengurus mayat-mayat itu dan merawat mereka yang terluka.

Dia sendiri dengan perasaan duka bercampur suka ria mengajak para murid Hoa-San-Pai itu masuk ke dalam kuil.

Akan tetapi tiba-tiba Liem Sian Hwa berkata dengan kaget.

"Eh, di mana Kun Hong?"

Beberapa orang Tosu menjawab bahwa mereka tadi melihat Kun Hong lari pergi dari tempat itu, turun dari puncak.

Ketika para Tosu hendak mencegah dan memberi tahu bahwa mungkin ada orang jahat di lereng gunung, Kun Hong malah marah-marah dan membentak mereka.

"Jangan bicara padaku, kalian semua juga jahat, pembunuh-pembunuh kejam. Aku tidak sudi lagi tinggal di sini!"

Tentu saja Liem Sian Hwa berkuatir sekali, akan tetapi Kwa Tin Siong yang sekarang merasa betapa puteranya itu amat lemah dan tak dapat dibandingkan dengan Li Eng atau Hui Cu yang biarpun merupakan anak-anak perempuan namun memiliki kegagahan, segera berkata.

"Biarkanlah, memang sudah tiba waktunya bagi dia untuk meluaskan pengalaman ke bawah gunung. Kalau sudah banyak menghadapi kesukaran, baru ia menjadi dewasa dan dia tentu akan kembali ke sini."

Iapun mencegah dan menghibur Isterinya yang tadinya bermaksud untuk mengejar dan mencari puteranya.

Sian Hwa sendiri karena merasa malu kalau harus memperlihatkan kelemahan puteranya dan juga kelemahannya sendiri yang terlalu menguatirkan seorang anak laki-laki, terpaksa menurut walaupun hatinya penuh kegelisahan.

Mereka semua lalu masuk ke dalam kuil dan menceritakan pengalaman masing-masing.

Yang membuat Ketua Hoa-San-Pai ini girang dan bangga sekali adalah ketika ia mendengar bahwa Kui Lok dan Thio Bwee kini telah mewarisi ilmu kepandaian yang ditinggalkan oleh Lian Ti Tojin sehingga tingkat kepandaian dua orang murid keponakan ini jauh melampaui tingkatnya sendiri.

Hal ini berarti memperkuat kedudukan Hoa-San-Pai.

Keluarga besar keturunan Lian Bu Tojin ini sekarang telah berkumpul di Hoa-San-Pai dan dengan adanya mereka, kiranya tidak akan ada sembarang orang berani mengacau Hoa-San-Pai lagi.

Hati Kun Hong penuh kedukaan dan kemarahan.

Sama sekali di luar dugaannya bahwa Ayah Bundanya, juga para Tosu Hoa-San-Pai yang setiap hari belajar tentang kebajikan, sekarang berubah menjadi pembunuh-pembunuh yang amat kejam menurut pendapatnya.

Puluhan orang manusia dibunuh di puncak Hoa-San.

"Aku tidak mau melihat mereka lagi, aku tidak sudi lagi kembali ke Hoa-San-Pai!"

Demikian hatinya menjerit penuh kengerian ketika terbayang di depan matanya mayat-mayat manusia menggeletak tumpang-tindih itu.

Celaka, pikirnya, ibunya dan semua Tosu Hoa-San-Pai tentu akan ditangkap dan dimasukkan penjara!

Biarpun ia, tidak pernah belajar ilmu silat, namun Kun Hong memang pada dasarnya memiliki tubuh yang sehat kuat dan berkat kemauannya yang luar biasa kokoh kuatnya, ia tidak merasakan kelelahan kedua kakinya.

Ia berlari terus menuruni puncak.

Maksudnya hendak mencari dusun terdekat untuk menemui kepala dusun dan melaporkan tentang pertempuran di puncak itu, Biarlah yang berwajib yang mengurusnya, tapi ia tidak akan kembali ke sana, pikirnya.

Tiba-tiba ia melihat orang berjalan terhuyung-huyung, mengeluh lalu roboh tak jauh dari tempat ia berdiri.

Cepat Kun Hong lari menghampiri dan kagetlah ia ketika melihat bahwa orang itu bukah lain adalah Toat-Beng Yok-Mo, kakek bongkok yang tadi ia lihat mengamuk di Puncak Hoa-San.

Hatinya memang penuh welas asih, melihat kakek itu luka-luka di pundak dan lambung, mengucurkan darah, ia segera berlutut dan bertanya.

"Toat-Beng Yok-Mo, kau kenapakah?"

Kakek itu mengeluh dan membuka matanya, kelihatan kesakitan sekali. Ketika ia melihat Kun Hong, sekejap ia kelihatan kaget, akan tetapi kemudian terheran-heran.

"Lekas... tolong kau ambilkan Bumbung (tabung bambu) dalam buntalanku di punggung ini... lekas... dan hati-hati, jangan menyentuh tanganku..."

Katanya dengan suara terengah-engah.

Kun Hong melihat ke arah kedua tangan kakek itu dan bergidik ngeri.

Kedua tangan kakek itu telah hitam seperti hangus terbakar dan teringatlah ia akan racun hebat yang mengakibatkan kematian Tosu Hoa-San-Pai dan kemudian karena dipegang oleh Bu Tosu mengakibatkan hal yang amat mengerikan.

Ingin ia lari pergi menjauhi kakek yang seperti iblis ini, akan tetapi melihat orang tua itu terluka dan berada dalam keadaan payah sekali, hatinya tidak tega.

Ia lalu menurunkan bungkusan dari punggung kakek itu dan membukanya.

Di antara bungkusan-bungkusan obat dan pakaian, ia mengambil sebatang bambu besar dan pendek yang disumbat kayu dan tabung itu diberi lubang untuk hawa, seperti tempat jengkerik akan tetapi tabung itu besar.

"Inikah Bumbung itu?"

Tanyanya.

"Betul, buka sumbatnya dan keluarkan isinya. Hati-hati, katak putih hijau ini jangan sampai terlepas. Kau peganglah erat-erat!"

Toat-Beng Yok-Mo berkata tergesa-gesa dan sinar kegembiraan terpancar keluar dari sepasang matanya yang tadi sayu dan penuh kegelisahan "Katak?"

Kun Hong terheran-heran sambil membuka sumbatnya dan tiba-tiba seekor katak yang besar dan berkulit seperti salju meloncat keluar dari tabung itu.

"Wah, terlepas...!"

Kata Kun Hong.

"Goblok kau! Celaka..., lekas tangkap jangan sampai hilang. Kalau dia hilang aku mati...!"

Mendengar ucapan ini Kun Hong menjadi pucat, lalu ia mengejar katak itu sampai jatuh bangun.

Ini urusan nyawa orang, pikirnya.

Katak itu tidak begitu cepat gerakannya, akan tetapi selambat-lambatnya katak, pandai melompat sehingga tiap kali Kun Hong menubruk, katak itu melompat membuat pemuda itu terpaksa mengejar lagi dan menubruk lagi sampai jatuh bangun dan pakaiannya kotor semua.

Akan tetapi akhirnya dapat juga ia menangkap katak itu.

Biarpun pakaiannya kotor semua dan kedua lengannya babak-belur tertusuk duri, namun Kun Hong girang sekali karena dapat menangkap kembali katak itu yang segera dibawanya lari kepada Toat-Beng Yok-Mo.

"Sudah dapat kutangkap kembali, Yok-Mo,"

Katanya girang. Keadaan Toat-Beng Yok-Mo makin payah, napasnya terengah-engah.

"Lekas... dekatkan mulutku katak itu..."

Kedua tangan yang hangus itu dapat digerakkan lagi.

Kun Hong mendekatkan katak itu ke mulut Yok-Mo dengan heran karena tidak tahu apa yang dimaksudkan, akan tetapi alangkah herannya ketika ia melihat kakek itu membuka mulut dan...

menggigit kaki belakang katak itu sampai mengucurkan darah yang lalu dihisap!

"Eh..., eh, kau makan katak hidup ini?"

Teriaknya heran dan mencoba untuk menarik katak itu. Akan tetapi tiba-tiba kaki Yok-Mo bergerak menendang dan tubuh Kun Hong mencelat jauh. Pemuda ini merayap bangun dan bersungut-sungut.

"Kau memang jahat! Katak tidak berdosa kau gigit dan kau menendangku!"

Akan tetapi ia melihat keanehan setelah kakek itu minum darah katak.

Kedua tangannya yang tadinya hangus itu cepat sekali pulih kembali dan lenyaplah warna hitam tadi.

Tak lama kemudian kakek itu mengambil katak dari mulutnya, memasukkannya kembali ke dalam tabung dan...

tertidurlah kakek itu mengorok enak sekali!

Kun Hong adalah seorang yang cerdik.

Melihat ini tahulah ia bahwa darah katak itu adalah obat yang amat mujarab bagi racun hitam.

Ia ingin sekali bertanya karena merasa tertarik bukan main.

Akan tetapi karena kakek itu tertidur nyenyak, ia tidak mau mengganggunya dan perhatiannya segera tertarik oleh tiga

Jilid kitab yang terletak di dalam bungkusan kakek itu yang masih terbuka.

Segera ia mendekati lalu mengambil buku-buku itu.

Ternyata adalah kitab-kitab pengobatan.

Kitab pertama berjudul "SELAKSA MACAM OBAT,"

Kitab ke dua berjudul "SELAKSA MACAM CARA PENGOBATAN"

Dan yang ke tiga berjudul "RAHASIA PEREDARAN DARAH DALAM TUBUH"

Kun Hong adalah seorang kutu buku.

Melihat kitab sama dengan seorang kelaparan melihat roti.

Dengan lahapnya ia lalu membuka kitab-kitab itu dan membacanya.

Yang dibukanya adalah kitab rahasia tentang peredaran darah dalam tubuh.

Biarpun pusing kepalanya membaca huruf-huruf kuno dengan gambar tentang perjalanan darah disertai ribuan macam istilah yang asing baginya namun karena nafsunya membaca amat luar biasa, ia memaksa diri membaca terus.

Setengah hari Yok-Mo tidur nyenyak dan setengah hari pula Kun Hong membaca kitab itu.

Sekarang ia mengerti bahwa peredaran darah erat sekali hubungannya dengan pernapasan dan bahwa pernapasan menjadi sumber dari tenaga dalam di tubuh manusia.

Asyik sekali ia membaca dan mulai banyaklah hal-hal menarik dalam kitab itu terutama yang mengenai pengertian tentang keadaan tubuh yang berhubungan dengan cara pengobatan.

"Aduh... keparat... pundak dan lambungku panas sekali..."

Tiba-tiba suara ini membangunkannya dari alam mimpi yang amat menarik hati.

Akan tetapi ia segera mengerti bahwa yang mengeluh itu adalah Toat-Beng Yok-Mo, maka ia tidak mempedulikan dan melanjutkan bacaannya.

"Uh... uhh... sakit dan panas... heee! Jangan baca kitab-kitabku!"

Kun Hong menutup buku itu dan meletakkannya dalam bungkusan, lalu menoleh. Kakek itu masih rebah telentang nampak lemah dan kesakitan. Ia cepat menghampiri.

"Bagaimana, Yok-Mo? Sudah sembuhkah tanganmu?"

Tiba-tiba tangan kakek itu bergerak dan tahu-tahu pergelangan tangan Kun Hong sudah dicengkeram erat-erat.

Pemuda ini merasa tangannya kesakitan, mencoba untuk melepaskan cengkeraman itu namun tak berhasil.

"Eh, kau ini ada apakah? Lepaskan tanganku!"

"Tak boleh kau membaca kitab-kitabku!"

"Baca saja apa salahnya, sih? Kalau kau tidak membolehkannya, akupun tidak memaksa. Hemm, tanganmu panas sekali, lepaskan aku."

Yok-Mo melepaskan pegangannya, mengeluh lagi dan berkata dengan napas sesak.

"Luka-lukaku... mengakibatkan demam panas... lekas kau carikan daun pohon sari darah, akar buah ular dan cacing hitam..."

Kun Hong menjadi bingung.

"Ke mana aku mencari? Dan yang bagaimanakah macamnya daun dan akar serta cacing yang kau sebutkan itu?"

"Ah... benar juga... kau mana tahu? Celaka..., selain demam aku pun... banyak kehilangan darah... ah, kau tolonglah aku, orang muda..."

Kun Hong merasa kasihan sekali. Ia meraba jidat kakek itu dan ternyata panas sekali.

"Ah, Yok-Mo, aku benar-benar ingin sekali menolongmu. Akan tetapi bagaimana caranya? Mencarikan obat-obat yang kau sebutkan tadi aku tentu mau, akan tetapi aku tidak tahu..."

"Tak usah mencari... kau antarkan saja aku... ke tempat tinggalku... di sana terdapat segala obat yang kubutuhkan..."

"Mengantar kau kembali ke tempat tinggalmu? Tentu, boleh saja. Mari kuantar kau..."

Jawab Kun Hong cepat.

Tentu saja pemuda yang berwatak jujur ini tidak tahu akan maksud kakek itu sebenarnya.

Toat-Beng Yok-Mo maklum bahwa dalam keadaan terluka seperti sekarang ini, kalau sampai ia bertemu dengan musuh-musuhnya, dalam hal ini orang-orang Hoa-San-Pai, tentu ia akan celaka dan tidak dapat melakukan perlawanan.

Dengan membawa Kun Hong di dekatnya, ia dapat rnempergunakan pemuda ini sebagai jaminan untuk keselamatannya!

"Kau baik sekali...

uhhh...

uhhh..."

Ia mencoba berdiri akan tetapi merasa pusing dan terguling kembali.

"Bagaimana? Apakah kau tidak bisa jalan...?"

Tanya Kun Hong kuatir dan penuh perasaan iba.

Sebagai seorang cerdik yang sudah banyak pengalaman, Toat-Beng Yok-Mo sudah dapat menyelami watak Kun Hong, maka kembali ia sengaja mengeluh dan mengaduh untuk memperdalam perasaan iba di hati pemuda itu.

Kemudian dengan suara bisik-bisik seperti orang yang amat payah keadaannya ia berkata.

"Aku... aku tidak bisa jalan... berdiripun tidak kuat... ah, anak yang baik... kalau kau kasihan kepada aku orang tua... kau gendonglah aku..."

Kun Hong benar-benar sudah tergerak hatinya dan merasa amat kasihan kepada kakek itu.

"Baiklah, Yok-Mo, kau akan kugendong."

Ia lalu membungkus kembali bawaan kakek itu, mengikatnya di punggung Toat-Beng Yok-Mo, setelah itu lalu menggendong kakek ini di punggungnya sendiri dan berjalan ke arah yang ditunjuk oleh Toat-Beng Yok-Mo!

Kun Hong bertubuh kuat dan bertenaga besar, maka menggendong tubuh yang kecil kering dan tua itu tidaklah sukar baginya.

Akan tetapi karena ia tidak terlatih dan tidak biasa bekerja berat, perjalanan mereka ini berlangsung lambat sekali dan sering kali terpaksa beristirahat.

Diam-diam Toat-Beng Yok-Mo terheran-heran mengapa Ketua Hoa-San-Pai yang gagah itu mempunyai seorang putera yang begini tidak ada gunanya.

Karena ia membutuhkan bantuan Kun Hong untuk menggendongnya dan dijadikan jaminan akan keselamatannya, maka di waktu istirahat ini ia mengajar Kun Hong cara berduduk diam (bersamadhi), mengatur pernapasan untuk memperkuat daya tahan tubuhnya sehingga membuat pemuda ini lebih tahan berjalan jauh.

"Toat-Beng Yok-Mo, aku sudah membaca kitab-kitabmu biarpun hanya sedikit dan aku tertarik sekali. Baik sekali memiliki kepandaian untuk mengobati orang sakit. Kalau kau suka mengajarku dalam ilmu pengobatan, aku suka menjadi muridmu."

Diam-diam kakek ini menyeringai.

Ia sudah mengambil keputusan untuk membawa kepandaiannya sampai mati, tidak akan ia turunkan kepada siapapun juga.

Kecuali kalau ada murid yang suka berjanji bahwa murid itu akan membunuh setiap orang yang sudah diobatinya.

Akan tetapi ia tahu pula bahwa pemuda ini tak mungkin mau menerima syarat itu, maka ia berpura-pura.

"Kau anak baik sekali, tentu saja aku suka menerima kau menjadi muridku. Dan kau tahu, pelajaran samadhi dan mengatur napas yang kuajarkan ini adalah tingkat pertama dari ilmu pengobatan. Maka kau berlatihlah baik-baik setiap kali kita beristirahat."

Karena kurang pengalaman, Kun Hong mempercayai omongan ini dan betul saja ia berlatih giat sekali di waktu beristirahat dan di waktu malam, Ia sama sekali tidak tahu bahwa kakek itu melatih ia samadhi dan mengatur pernapasan agar badannya kuat dan tahan lebih lama melakukan perjalanan jauh itu sambil menggendong!

Baiknya kakek itu ternyata mempunyai simpanan banyak emas dalam buntalan sehingga untuk makan dan menyewa rumah penginapan bukan soal yang sulit lagi bagi mereka.

Sebetulnya, dengan makan obat yang dibeli di kota yang mereka lalui, kakek itu sudah banyak mendingan sakitnya dan sudah kuat berjalan lagi.

Akan tetapi, kesehatannya belum pulih semua dan andaikata ia bertemu lawan tangguh, ia masih belum sanggup melawan.

Maka untuk membuat Kun Hong sungkan meninggalkannya, ia berpura-pura masih tidak kuat jalan dan membiarkan pemuda itu terus menggendongnya sepanjang jalan!

Pada suatu hari, menjelang tengah hari yang panas terik, Kun Hong dan Yok-Mo beristirahat di sebuah hutan yang amat liar.

Mereka sudah tiba di daerah lembah Sungai Huai di mana banyak sekali terdapat hutan-hutan lebat dan gunung-gunung yang masih liar.

Daerah ini sudah dekat dengan tempat tinggal Toat-Beng Yok-Mo, yaitu di pusat gerombolan Ngo-Lian-Kauw yang dikepalai oleh Kim-Thouw Thian-Li.

Karena merasa bahwa ia sudah berada dl daerah sendiri dan kiranya sekarang tak mungkin orang-orang Hoa-San-Pai dapat mengejarnya, Yok-Mo mengambil keputusan untuk mencabut nyawa pemuda yang selama ini mengantar dan menggendongnya.

Ia tidak memerlukan lagi pemuda ini, baik sebagai pengantar maupun sebagai jaminan.

Sesungguhnya dalam beberapa hari ini ia sudah merasa bosan sekali digendong oleh pemuda yang tidak dapat berjalan cepat itu.

Andaikata ia melakukan perjalanan sendiri, dengan ilmunya berlari cepat, kiranya ia sudah sampai di rumahnya.

Semata-mata untuk menjamin keselamatannya belaka ia terpaksa membiarkan dirinya digendong oleh Kun Hong.

Melihat betapa pemuda ini sekarang tekun duduk bersila, mengumpulkan panca inderanya dan mengatur pernapasan, kakek ini tersenyum menyeringai.

Diam-diam ia harus mengakui bahwa pemuda ini sesungguhnya memiliki tulang bersih dan bakat yang amat baik, pula amat cerdas sehingga sekali membaca atau mendengar sudah hafal dan takkan melupakannya lagi.

"He, Kun Hong... bangunlah jangan tidur saja!"

Ia menegur. Kun Hong membuka matanya dan terheran-heran melihat kakek itu duduk bersandar pohon seperti biasanya sambii tensenyum-senyum aneh.

"Yok-Mo, aku tidak tidur, melainkan melatih samadhi seperti biasa. Latihan ini baik sekali, aku merasa sehat dan kuat semenjak berlatih. Kitabmu itu benar-benar mengandung pelajaran pengobatan yang luar biasa."

"Heh-heh-heh, apa kau ingin membaca lagi?"

Wajah Kun Hong nampak kecewa.

"Semenjak pertemuan kita dahulu kau sudah tahu jelas bahwa tidak ada keinginan lain padaku kecuali membaca tiga kitabmu itu. Tapi kau selalu melarang."

"Heh-heh-heh, kau benar-benar ingin membacanya? Kun Hong, kau sudah melepas budi kepadaku, merawat dan mengantarkan, aku sampai di sini. Kalau sekarang aku membolehkan kau membaca ketiga kitabku, apakah aku boleh menganggap budimu itu sudah terbalas dan sudah lunas?"

Kun Hong memang seorang yang berwatak polos dan bersih.

Ia menolong kakek itu tanpa pamrih apa-apa, tanpa mengharap balasan malah sama sekali tidak ada ingatan dalam hatinya bahwa ia telah melepas budi kepada orang.

Mendengar kakek itu membolehkan ia membaca kitab-kitab itu, ia menjadi girang sekali dan berkata.

"Terima kasih, Yok-Mo, kau baik sekali!"

Tanpa mempedulikan yang lain-lain lagi ia lalu membuka buntalan yang ditaruh di bawah pohon, mengeluarkan tiga kitab itu dan segera ia mulai membaca.

Belum lama ia membaca, tiba-tiba terdengar suara melengking tinggi yang menggetarkan isi hutan itu.

Kun Hong terkejut sekali dan lebih-lebih herannya ketika ia melihat kakek bongkok itu sudah berdiri dengan tongkat di tangan, memandang ke depan dengan mata terbelalak.

Keheranannya ini bercampur rasa girang karena kalau kakek itu sudah dapat berdiri, berarti kesehatannya sudah mulai pulih.

Akan tetapi segera ia kaget sekali melihat cahaya kuning emas menyambar turun dari atas, tak jauh dari tempat itu.

Seekor Burung yang amat besar meluncur turun untuk menyusup ke dalam semak-semak, Akan tetapi Burung itu cepat sekali gerakannya, dan tahu-tahu kelinci itu sudah dapat dicengkeramnya.

Akan tetapi sebelum Burung itu dapat terbang kembali, dengan satu kali melompat saja Toat-Beng Yok-Mo sudah berada di dekatnya.

"Rajawali Emas! Bagus sekali... aku harus menangkap Burung ini!"

Sambil berkata demikian kakek itu menerjang dengan kedua tangan terpentang, siap menangkap Burung besar itu.

Akan tetapi alangkah kagetnya ketika Burung itu tiba-tiba menggerakkan sayap kanannya menghantam ke arah kepalanya.

Yok-Mo cepat mengelak akan tetapi tahu-tahu tubuhnya sudah terpukul oleh sayap kiri Burung itu yang ternyata menggunakan cara penyerangan aneh sehingga kelihatannya sayap kanan yang menampar, tidak tahunya sayap kiri yang betul betul bergerak.

Akan tetapi Yok-Mo adalah seorang yang memiliki kepandaian tinggi.

Pukulan itu membuat tubuhnya terpental akan tetapi tidak melukainya.

Ia cepat meloncat bangun dan sepasang matanya bersinar-sinar.

"Hebat...! Inilah Kim-Tiauw (Rajawali Emas) yang jarang bandingannya! Jantung dan otaknya akan menjadi bahan obat kuat yang mujijat!"

Ia melompat lagi dan kembali ia menyerang.

Burung itu agaknya marah dan anehnya, ia tidak mau terbang pergi.

Malah kini ia melepaskan bangkai kelinci tadi dan tegak, seperti seorang pendekar siap menghadapi datangnya penyerangan lawan.

Toat-Beng Yok-Mo dengan hati-hati sekali menerjang maju, siap untuk mencengkeram leher Burung itu sambil memperhatikan gerakan binatang ini, agar jangan tertipu seperti tadi.

Ia sengaja memukul ke arah dada Burung dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya mencengkeram ke arah leher.

Hebat sekali serangannya ini.

Akan tetapi kembali ia melengak ketika melihat betapa dengan langkah-langkah kaki yang amat aneh, diikuti gerakan kedua sayapnya, Burung itu telah dapat mengelakkan kedua serangannya ini dengan amat mudahnya.

Malah bukan hanya mengelak, Burung itu dengan kecepatan yang luar biasa telah menggerakkan kepala mematuk mata kiri Toat-Beng Yok-Mo!

"Celaka...!"

Yok-Mo cepat melompat ke kanan.

Gerakannya belum cepat karena kesehatannya memang belum pulih benar-benar.

Kagetnya bukan kepalang melihat penyerangan yang lebih dahsyat daripada tusukan pedang itu.

Akan tetapi, sekali lagi ia tertipu karena begitu ia melompat ke kanan, Burung itu menarik kembali kepalanya dan kaki kirinya bergerak ke depan menendang.

Sekali lagi tubuh kakek itu terlempar, malah bergulingan seperti seekor trenggiling!

Hebatnya, gerakan kaki Burung itu persis tendangan kaki manusia, dan digerakkan dengan cepat dan mengandung tenaga amat kuat.

Yok-Mo mengeluh dan merangkak bangun, bermacam perasaan mengaduk di hatinya ketika ia memandang kepada Burung itu dengan mata terbelalak.

Heran, kaget dan marah sekali.

Sudah bertahun-tahun ia ingin mendapatkan seekor Burung seperti ini, Burung Rajawali Emas yang jarang sekali terdapat di dunia ini dan hanya muncul dalam dongeng-dongeng kuno.

Menurut pengetahuannya tentang ilmu pengobatan, jantung Burung Rajawali Emas dapat dibuat menjadi obat penguat tubuh yang luar biasa sedangkan otak Burung itu dapat dibuat menjadi bahan obat terhadap bermacam-macam luka berbisa.

Sekarang, tak terduga-duga olehnya, ia bertemu Burung ini, akan tetapi siapa sangka bahwa Burung Ini ternyata bukanlah Burung biasa, gerakan-gerakannya hebat sekali seperti seorang ahli silat kelas tinggi!

Betapapun juga, Yok-Mo menjadi penasaran.

Ia masih belum mau kalah.

Mungkin karena tubuhnya belum pulih benar maka tenaganya berkurang dan kecepatannyapun tidak seperti biasa sehingga dua kali ia dibikin roboh oleh Burung itu.

Sekarang ia telah mengeluarkan tongkatnya, tongkat hitam yang selama ini ia sembunyikan saja di balik bajunya.

Dengan kemarahan meluap kakek ini lalu melompat maju dan menyerang Burung itu dengan tongkat hitamnya.

Aneh sekali, Burung itu agaknya tahu akan keampuhan tongkat hitam itu.

Ia mengeluarkan bunyi melengking lalu terbang dan dari atas ia menyambar kepala Toat-Beng Yok-Mo.

Kakek ini sudah siap sedia, cepat mengelak dan membalas dengan tusukan tongkatnya.

Burung itu ternyata gentar menghadapi tongkat sehingga serangannya selalu gagal karena ia harus mengelak dari sambaran tongkat yang ampuh itu.

Pertempuran itu menjadi seru sekali, Burung itu menang gesit akan tetapi dengan mengandalkan tongkatnya yang ditakuti lawannya, Yok-Mo dapat mempertahankan dirinya malah dapat balas menyerang dengan hebat.

Sementara itu, semenjak tadi Kun Hong melongo.

Kagumnya bukan main melihat Burung yang indah sekali, dengan bulu berwarna mengkilap kuning keemasan itu.

Segera ia merasa suka dan sayang kepada binatang itu.

Lebih-lebih kagumnya ketika ia melihat betapa Burung itu dengan mudahnya dapat membuat Toat-Beng Yok-Mo yang berkepandaian tinggi itu terguling-guling.

Pemuda ini sebetulnya mempunyai rasa kagum dan suka akan kegagahan sungguhpun ia benci sekali akan pembunuhan dan penyiksaan.

Baginya, kegagahan seharusnya dipergunakan untuk menegakkan keadilan tanpa melakukan pembunuhan, cukup dengan mengalahkan yang jahat dan memaksanya kembali ke jalan benar.

Melihat Burung indah itu mengalahkan Yok-Mo, ia kagum sekali.

Akan tetapi kekagumannya itu berubah menjadi kekuatiran besar ketika Yok-Mo mengeluarkan tongkatnya yang mengerikan dan terjadi pertempuran seru antara dua lawan yang memiliki gerakan cepat membuat ia bingung memandangnya itu.

Karena tadi terpesona oleh keindahan Burung dan sekarang menjadi bingung menyaksikan pertempuran mati-matian itu, tanpa disengaja tiga

Jilid kitab yang dipegangnya itu ia masukkan daiam saku bajunya yang lebar.

Ia lalu berdiri dan menyambar tabung bambu terisi katak putih.

Hanya itulah yang akan dapat mengobati luka mengerikan yang diakibatkan oleh tongkat hitam itu, pikirnya.

Sambil membawa tabung itu ia berlari sambil berteriak.

"Jangan bunuh Burung itu! Yok-Mo, sayang sekali kalau sampai ia terluka...!"

Setelah dekat dengan tempat pertempuran, Kun Hong makin suka dan kagum melihat Burung itu yang memang amat indah.

Juga ia melihat adanya sebuah kalung mutiara tergantung di leher Burung itu.

Maka tahulah ia bahwa Burung ini tentulah ada yang punya, tentu Burung peliharaan orang.

"Yok-Mo, jangan bunuh dia, tentu ada pemiliknya. Lihat kalung itu!"

Tentu saja Toat-Beng Yok-Mo juga sudah melihat kalung mutiara besar-besar yang tergantung di leher Burung itu.

Akan tetapi sudah tentu saja ia tidak ambil peduli.

Ada yang punya atau tidak, Burung ini harus ia tangkap, ia bunuh untuk diambil jantung dan otaknya.

Ia memperhebat permainan tongkatnya dan makin lama ia bersilat, ia merasa bahwa kekuatannya mulai pulih kembali.

Burung itupun mulai menjadi marah sekali.

Apalagi ketika ia meiihat Kun Hong datang berlari-lari, dianggapnya bahwa tentu ia akan dikeroyok.

Ia memekik keras dan menerjang Yok-Mo dengan serbuan yang dahsyat sekali.

Yok-Mo juga kaget, tak menduga bahwa Burung itu dapat melakukan serangan demikian hebatnya.

Dalam kegugupannya melihat sepasang sayap berikut sepasang cakar dan sebuah paruh yang kuat dan runcing itu sekaligus menyerangnya, Yok-Mo memutar tongkatnya, melindungi diri.

Namun secara aneh sekali cakar kiri Burung itu dapat menyelinap di antara gulungan sinar tongkatnya dan mencengkeram ke arah muka Yok-Mo.

"Mati aku...!"

Yok-Mo berteriak kaget dan ia menjadi nekat.

Ia menarik tongkatnya itu lalu ia tusukkan ke arah kaki berkuku runcing mengerikan yang hendak mencengkeram mukanya.

Tepat sekali ujung tongkatnya menusuk telapak kaki Burung itu, akan tetapi pada saat itu sayap kanan Burung itu menghantam kepala dan pundaknya.

"Blukkk!"

Tubuh Toat-Beng Yok-Mo terlempar jauh dan kakek ini roboh pingsan.

Bukan main hebatnya hantaman sayap tadi yang akan dapat menghancurkan kepala seekor Harimau.

Burung itu menjerit-jerit kesakitan dan anehnya, kaki kirinya menjadi putih sekali seperti kaki mati.

Dalam kesakitan itu ia menjadi makin marah dan segera ia melompat ke arah tubuh Yok-Mo.

"Hee... jangan... dia sudah kalah, jangan kau serang lagi!"

Kun Hong berteriak mencegah sambil menghadang di antara Yok-Mo dan Burung itu.

Kebetulan sekali tadi tubuh Yok-Mo terlempar ke arahnya sehingga ia dapat mendahului Burung itu dan menghadang di tengah jalan sambil mengacungkan tabung bambu untuk menakuti.

Akan tetapi Burung itu mana takut terhadap Kun Hong?

Ia memekik keras dan menerjang.

Sebelum Kun Hong tahu apa yang terjadi, ia merasa tubuhnya melayang ke atas dan kiranya baju di punggungnya telah dicengkeram oleh kaki-kanan Burung itu dan dibawa terbang tinggi!

Dulu, di waktu ia dikerek oleh Li Eng ke atas sebatang pohon tinggi, ia sudah ketakutan sekali, sekarang ia dibawa terbang jauh lebih tinggi lagi di atas pohon-pohon yang paling tinggi, bagaimana ia tidak akan ketakutan setengah mati?

Melihat pohon-pohon di bawahnya makin lama makin kecil, Kun Hong berteriak-teriak.

"Heee... lepaskan aku... eh, jangan lepas jangan lepas! Kau... turunkanlah aku, Burung yang baik..."

Akan tetapi jawaban Burung itu hanya memekik-mekik marah dan kesakitan.

Mendengar ini, Kun Hong teringat bahwa Burung itu terluka kaki kirinya.

Ia memandang dan melihat betapa kaki kiri Burung itu berubah putih semua, seputih kukunya.

Ia teringat akan tabung yang masih dipegangnya.

Cepat ia membuka sumbat tabung itu dan berkata.

"Kau terluka tongkat Yok-Mo, lekas kau minumlah sedikit darah katak putih di dalam tabung ini..."

Baru saja ia berkata demikian, ia melihat bayangan putih melompat keluar dari dalam tabung Kun Hong kaget sekali sampai tabung kosong itu terlepas dari tangannya.

"Celaka... ia terlepas lagi..."

Akan tetapi Burung itu segera berbunyi nyaring dan tubuhnya menyambar ke depan sampai Kun Hong merasa matanya berkunang karena tubuhnya sendiripun terbawa melayang cepat ke depan.

Dengan paruhnya yang runcing dan terbuka lebar, Burung itu mematuk katak yang melompat keluar dari dalam tabung tadi, kemudian langsung menelannya sehingga binatang kecil itu lenyap ke dalam perutnya!

Kembali ia melengking girang sampai berkali-kali dan tiba-tiba ia melepaskan, cengkeramannya pada baju Kun Hong.

Tentu saja setelah dilepaskan, tubuh pemuda ini melayang ke bawah dengan kecepatan yang membuat ia merasa makin ketakutan.

"Waah...!"

Teriaknya ketika makin lama makin cepatlah tubuhnya meluncur ke bawah, disambut pohon-pohon yang makin membesar dan kelihatan mengerikan sekali.

Tiba-tiba Kun Hong yang sudah setengah pingsan itu merasa tubuhnya terapung lagi ke atas, tertahan luncurannya ke bawah tadi.

Kiranya Burung itu sudah menangkapnya lagi dan mencengkeram bajunya dengan tepat.

Kemudian perlahan-lahan Burung itu melayang turun dan sesampainya di atas tanah ia melepaskan Kun Hong.

Kun Hong yang tadinya sudah ketakutan dan tidak mengharapkan akan dapat hidup lagi, serta merta memeluk Burung itu.

"Kim-Tiauw-Heng (Kakak Rajawali Emas) yang baik, kau telah menolong nyawaku. Terima kasih!"

Ia menjura ke depan Burung itu seakan-akan ia berhadapan dengan seorang manusia!

Aneh sekali, Burung itu mengeluarkan bunyi menCicit dan...

segera berlutut dan mendekam di depan Kun Hong.

Ketika pemuda ini dengan terheran-heran melihat dengan teliti, ternyata bahwa kaki kiri Burung itu sudah pulih menjadi merah seperti sediakala.

Ia menengok ke kanan kiri mencari-cari, akan tetapi ternyata Toat-Beng Yok-Mo sudah lenyap bersama tongkat dan buntalan pakaiannya.

"Dia sudah dapat berjalan sendiri, kenapa selama ini menipu?"

Gemas juga kalau ia teringat betapa setiap hari ia harus menggendong kakek itu yang sebetulnya malah lebih kuat dari padanya.

"Kim-Tiauw-Heng, kau datang dari manakah? Aku suka sekali kepadamu, kau baik dan mengenal budi orang, tidak seperti Toat-Beng Yok-Mo yang hati dan pikirannya penuh terisi kehendak jahat. Kim-Tiauw-Heng, kau tentu milik seorang gagah, siapakah pemilikmu dan di mana tempat tinggalmu?"

Burung itu mengeluarkan bunyi menCicit lagi, kemudian ia maju mendekati Kun Hong, dengan lehernya yang berbulu halus dan hangat itu ia membelai leher Kun Hong, kemudian ia berlutut dan menyelinapkan kepalanya di bawah kedua kaki pemuda itu dari belakang, Dengan begini Kun Hong duduk di atas punggungnya, lalu Burung itu menggerakkan kedua sayapnya membawa Kun Hong terbang lagi!

"Heee...

bagaimana ini...

aduh, aku bisa jatuh...!

Kun Hong panik lagi dan ketakutan.

Akan tetapi karena Burung itu terbang perlahan dan tubuhnya sama sekali tidak bergoyang, Kun Hong akhirnya dapat duduk dengan enak dan ia mulai menyesuaikan malah ia segera berpegang kepada kalung yang melingkari leher Burung itu.

Makin lama Burung itu terbang makin tinggi, berputaran di atas hutan itu dan makin memuncak pula ketakutan Kun Hong.

Akan tetapi segera ia tertarik oleh pemandangan di bawah dan tak terasa lagi mulutnya berseru kegirangan.

"Aduh... bagus sekali, alangkah indahnya pemandangan alam di bawah itu. Hee, hati-hati Kim-Tiauw-Heng, jangan sampai aku jatuh!"

Demikianlah, diantara rasa takut dan rasa girang dan kagum melihat keindahan pemandangan di bawah.

Kun Hong tak berdaya membiarkan dirinya dibawa terbang oleh Burung Rajawali Emas yang aneh itu.

Mudah saja menduga Burung apakah yang telah membawa terbang Kun Hong itu.

Memang dugaan Toat-Beng Yok-Mo tidak keliru bahwa di dunia ini tidak ada dicari keduanya Burung seperti itu.

Burung itu bukan lain adalah Burung Rajawali Emas sakti, yang pernah kita kenal sebagai Burung tunggangan Kwa Hong, juga Burung yang secara tidak langsung menjadi guru dari Kwa Hong.

Seperti telah kita ketahui bahwa tujuh belas tahun yang lalu ketika Kwa Hong untuk penghabisan kali mendatangi Hoa-San-Pai dan hendak membunuh Thio Ki, dia bertemu muka dengan Ayahnya, Kwa Tin Siong sehingga hampir saja ia tewas karena membiarkan dirinya diserang oleh Ayahnya yang marah itu.

Burung Rajawali Emas menolongnya dan membawanya pergi, kembali ke tempat ia semula tinggal, yaitu di puncak Pegunungan Lu-Liang-San.

Semenjak itu, ia tidak berani lagi memperlihatkan mukanya di dunia ramai.

Ketika ia pergi ke Hoa-San itu, iapun meninggalkan puteranya yang baru berusia setahun itu dalam asuhan seorang inang pengasuh yang ia dapatkan dari penduduk di kaki Gunung Lu-Liang-San.

Semenjak saat itu, Kwa Hong berdiam di Lu-Liang-San, jauh dari keramaian dunia dan agaknya sudah tidak mau mengurus lagi persoalan duniawi.

Seluruh perhatiannya ia tumpahkan kepada puteranya yang ia beri nama Sin Lee.

Betapapun juga, wanita ini belum juga dapat melupakan cinta kasih terhadap Beng San berikut perasaan iri hati dan cemburu terhadap wanita yang telah berhasil menjadi Isteri kekasihnya itu.

Oleh karena ini pula ia tekun mendidik puteranya itu yang semenjak kecil sudah ia latih dengan ilmu silat sehingga semenjak kecilnya Sin Lee menjadi seorang anak laki-laki yang bertubuh kuat dan bertenaga besar.

Sudah menjadi sifat pembawaan bahwa anak laki-laki lebih nakal daripada anak-anak perempuan karena anak laki-laki pada umumnya lebih bandel dan lebih berani.

Kenakalan anak laki-laki dapat dikendalikan oleh perhatian orang tuanya yang mendidik dan menuntun agar kebandelan dan keberanian ini menjurus kepada kebenaran.

Akan tetapi Kwa Hong yang seorang diri tanpa Suami mendidik anaknya, hanya mencurahkan perhatian kepada ilmu silat saja, malah terlalu memanjakan puteranya.

Hal inilah kiranya yang menjadi sebab sehingga Sin Lee menjadi seorang anak yang luar biasa nakalnya, luar biasa berani dan nekatnya.

Tidak ada orang di dunia ini yang ditakutinya, dan satu-satunya orang yang kiranya akan ia takuti, yaitu ibunya, terlalu menyayangnya sehingga ia menjadi seorang anak yang tak kenal takut lagi.

Anak yang masih kecil ini kalau tidak bermain-main dengan Burung Rajawali Emas, tentu pergi jauh ke bawah gunung dan bermain-main dengan anak-anak penduduk di situ.

Dan sebentar saja semua anak takut kepadanya karena siapa yang tidak mau menuruti kehendaknya tentu dipukulnya.

Bahkan setelah ia berusia sepuluh tahun, tak seorangpun laki-laki dewasa berani menentangnya.

Kalau ada yang menentang, biar orang tua akan ia pukul.

Mula-mula, ketika ia masih belum kuat benar, orang-orang itu takut mengganggunya karena takut kepada Toanio (Nyonya besar) yang tinggal di puncak.

Setelah Sin Lee menjadi seorang anak yang benar-benar memiliki kepandaian silat yang hebat, orang-orang takut kepadanya karena memang takut dipukuli oleh anak yang luar biasa itu.

Sudah terlalu sering Sin Lee membuat gara-gara.

Kalau tidak memukul orang tentu menyerang kampung lain yang belum dikenalnya, memaksa orang-orang kampung itu mengakui dia sebagai "jagoan cllik"

Yang tak terkalahkan!

Pada suatu hari ia malah membikin ribut di sebuah kelenteng yang berada di kaki gunung sebelah Timur.

Kelenteng tua, ini hanya ditinggal oleh lima orang Hwesio dan menjadi tempat sembahyang para penduduk kampung di sekitar kaki Gunung Lu-Liang-San.

Lima orang Hwesio ini hidup dengan aman dan tenteram, setiap hari bekerja di ladang menanam sayur-sayuran untuk bahan makan mereka dan melayani setiap keperluan bersembahyang dari penduduk.

Karena tidak ada pekerjaan lain, maka tanaman sayuran mereka terpelihara baik dan ladang sayuran Hwesio-Hwesio itu terkenal sebagai ladang sayuran yang paling subur dah menghasilkan sayur-sayuran pilihan.

Pada suatu hati yang cerah, seorang Hwesio tinggi besar tengah bekerja di ladang sayur itu dengan wajah berseru gembira.

Betapa tidak?

Ladang itu ditumbuhi sayur bermacam-macam yang amat subur, juga buah labu yang sudah dekat masanya dipetik, besar-besar dan gemuk-gemuk menyenangkan.

Hwesio itu bekerja mencabuti rumput liar yang mengganggu kesuburan tanaman.

Tiba-tiba serombongan anak-anak antara berusia sepuluh sampai tiga belas tahun, semua laki-laki, muncul dari lereng gunung.

Jumlah mereka ada lima belas orang dan kelihatannya nakal-nakal.

Setelah dekat dengan ladang itu, terdengar mereka berteriak-teriak.

"Lo-suhu, minta labunya!"

"Lo-suhu, berilah kami seorang satu!"

Simpang siur anak-anak itu berteriak-teriak sambil tertawa-tawa. Hwesio tinggi besar itu bangkit berdiri menoleh dan dengan muka sabar ia tersenyum lalu menjawab.

"Belum waktunya, anak-anak. Labu-labu ini belum waktunya dipetik.. Nanti apabila Pinceng panen labu, tentu selebihnya Pinceng bagi-bagikan kepada orang tua kalian, sudahlah, main-main ke sana, jangan mengganggu Pinceng sedang bekerja."

Seperti telah diatur sebelumnya, anak-anak itu segera berteriak-teriak.

"Hwesio pelit!"

"Hwesio medit, kikir!"

Hwesio itu diam saja, tidak ambil peduli dan bekerja lagi mencabuti rumput-rumput liar. Anak-anak itu makin berani, malah ada yang memaki-makinya.

"Kalau malam babi-babi hutan mengambil labu kau diam saja, tapi kalau kami yang minta tidak diberi. Dasar Hwesio busuk!"

Terdengar suara seorang anak. Hwesio itu kembali berdiri dan keningnya berkerut ketika ia memandang kumpulan anak-anak nakal itu.

"Hemmm, karena mereka itu babi hutan termasuk golongan binatang maka mereka tidak mengenal aturan dan makan apa saja yang ada karena mereka lapar, Akan tetapi kalian adalah anak manusia, mengerti aturan. Apakah kalian mau Pinceng samakan dengan anak-anak babi hutan?"

"Ah.. Hwesio pelit. Banyak alasan untuk menutupi kepelitannya!"

Anak-anak itu ribut-ribut lagi, mengejek dan memaki.

Sesabar-sabarnya orang, menghadapi ejekan dan makian anak-anak ini memang merupakan ujian berat dan jarang sekali ada orang mampu mempertahankan kesabarannya.

Hwesio itu mulai membelalakkan kedua matanya.

Akan tetapi ia masih ingat akan kesabaran, maka tanyanya.

"Anak-anak, kalian minta labu untuk apakah? Apakah kalian lapar dan hendak memakannya?"

"Aku mau yang Bundar untuk main bola!"

"Aku yang panjang untuk bikin kereta!"

Hwesio itu menjadi marah.

"Enak saja kalian bicara! Pinceng menanam sayur dan labu untuk bahan makan, bukan untuk main-main. Hayo kalian pergi, tidak boleh minta labu!"

Kembali anak-anak itu memaki-maki dan Hwesio itu tidak mempedulikan lagi, malah melanjutkan pekerjaannya, sekarang ke ladang sayur-sayuran untuk memeriksa kalau-kalau sayur-sayurnya dihinggapi ulat.

Kesempatan ini?

dipergunakan oleh anak-anak nakal itu untuk menyerbu ladang dan mengambil labu yang besar-besar.

"Eh, anak-anak nakal, kalian tiada bedanya dengan babi hutan!"

Hwesio itu melompat dan menampar anak-anak yang dekat dengannya. Anak-anak itu berteriak-teriak, ada yang menangis dan mereka berserabutan lari.

"Kalian perlu dihajar agar kelak tidak menjadi manusia-manusia berwatak babi hutan!"

Hwesio itu masih memaki sambil menempiling anak-anak yang terdekat. Pada saat itu, sesosok bayangan berkelebat di belakangnya dibarengi bentakan suara anak-anak.

"Hwesio gundul, berani kau memukuli teman-temanku?"

Hwesio itu kaget sekali akan tetapi ia tidak sempat membalikkan tubuhnya karena tiba-tiba bayangan yang ternyata adalah Sin Lee anak berusia sepuluh tahun itu sudah menampar kepalanya yang gundul.

Biarpun hanya tamparan seorang anak kecil, namun karena, tamparan itu menggunakan gerakan ilmu silat dan tangan anak itu semenjak kecil sudah terlatih, Hwesio ini menjadi pening dan terhuyung-huyung lalu roboh tertelungkup.

Sin Lee berseru girang dan menindih tubuh Hwesio yang tertelungkup di atas tanah itu dan memukulinya.

Malah ia berteriak-teriak.

"Kawan-kawan, hayo kalian hajar Hwesio ini!"

Anak-anak yang tadi lari berserabutan, sekarang dengan girang lalu datang dan dengan tangan-tangan kecil mereka anak-anak itu memukuli tubuh dan kepala Hwesio tadi!

Tentu saja Hwesio yang bertubuh kuat dan memiliki kepandaian silat itu tidak merasakan pukulan anak-anak itu, akan tetapi pukulan yang jatuh oleh tangan Sin Lee benar-benar membuat ia luka-luka parah juga sehingga membuat ia pingsan.

"Omitohud... anak-anak, jangan nakal!"

Tiba-tiba terdengar bentakan halus dan seorang Hwesio tua menggerakkan kedua lengan bajunya ke arah anak-anak yang memukuli Hwesio tinggi besar tadi.

Lima orang anak terlempar dan jatuh bergulingan.

Mereka menangis, lalu semua orang anak itu berlari pergi.

Hwesio tua itu terheran-heran melihat seorang anak kecil tidak bergeming oleh sambaran lengan bajunya tadi, malah sekarang sudah meloncat bangun dan berdiri tegak di depannya dengan mata bersinar-sinar marah!

"Hwesio tua!

berani kau memukul teman-temanku?

Tidak malukah kau?

Aturan mana yang membolehkan orang tua seperti kau ini memukul anak-anak kecil?"

Diam-diam Hwesio tua itu tertegun.

Ucapan anak nakal berusia antara sepuluh tahun ini tidak patut keluar dari mulut seorang anak sekecil ini.

Dan melihat keadaan muridnya yang pingsan itu sudah dapat diduga bahwa tentulah anak ini yang merobohkannya.

Diam-diam ia heran dan kagum.

Kalau anak sekecil ini dapat mengeluarkan kata-kata seperti itu, apalagi dapat merobohkan muridnya, sudah dapat dipastikan bahwa anak ini bukanlah anak sembarangan dan kalau bukan putera tentulah murid seorang pandai.

Maka berhati-hatilah kakek itu dan sambil tersenyum sabar ia bertanya.

"Eh, anak yang baik, kalau kau bilang bahwa seorang kakek seperti Pinceng memberi penghajaran kepada anak-anak nakal tidak menurut aturan, apakah kau dan teman-temanmu menyerang dan memukul seorang Hwesio sampai pingsan ini juga termasuk aturan benar?"

"Tentu saja benar! Dia ini tidak mau memberi labu kepada anak-anak dan ketika anak-anak mengambil sendiri, dia pukul."

Kembali Hwesio tua itu melengak.

Memang amat tidak patut anak-anak kecil itu mengeroyok dan memukuli muridnya, akan tetapi lebih keterlaluan lagi kalau muridnya itu yang sudah menjadi Hwesio, berurusan dengan anak-anak kecil saja tidak mampu menahan nafsu dan menggunakan tangan memukul ia menarik napas panjang memandang muridnya.

Sebagai seorang ahli silat yang sudah matang kepandaiannya, ia mengerti bahwa biarpun mukanya matang biru dan kepalanya benjol-benjol, muridnya itu hanya terluka di luar saja dan tidak berbahaya.

"Sudahlah, kalau betul murid Pinceng ini yang salah, Pinceng yang memintakan maaf. Kau pergilah."

"Tidak bisa!"

Sin Lee nembantah.

"Kaupun tadi sudah menggunakan kepandaianmu memukul teman-temanku. Kau mengandalkan kegagahan sendiri, apa kau kira aku takut?"

Merah muka kakek itu. Anak ini benar-benar aneh dan liar silatnya.

"Hemm... hemmm... kalau begitu kau mau apakah?"

"Aku harus balas memukulmu."

"Begitu? Kau benar-benar nekat. Nah, kau boleh coba pukul kalau bisa, anak bandel."

Sin Lee mengeluarkan pekik nyaring dan tubuhnya seperti seekor Burung saja menerjang maju, kedua kepalannya yang kecil memukul bertubi-tubi dari kanan kiri, sukar diketahui yang mana yang betul-betul memukul dan sementara itu, kedua kakinya menendang-nendang.

"Omitohud..."

Hwesio tua itu menyebut nama Buddha saking kagum dan heran serta kagetnya.

Akan tetapi sekali mengibaskan ujung lengan bajunya saja tubuh Sin Lee terguling seperti tertiup angin puyuh.

Sebentar Sin Lee nanar, tapi ia segera merangkak bangun dan kembali ia menyerang, malah lebih hebat daripada tadi.

Akan tetapi kembali ia terguling, lebih hebat lagi.

Beberapa kali ia bangun dan menyerang lagi, akan tetapi makin keras ia menyerang, makin keras pula ia roboh sehingga akhirnya ia menyerah.

Ia maklum bahwa ia tidak mampu menandingi kakek tua itu, maka tanpa banyak cakap lagi ia bangun lagi setelah agak lama ia nanar, membalikkan tubuh dan pergi dari situ.

"Hee... anak yang aneh, kau tunggu dulu, aku hendak bicara denganmu!"

Hwesio tua itu mengejar. Tiba-tiba Sin Lee membalikkan tubuh, sikapnya angkuh dan matanya berapi.

"Aku sudah kalah, kenapa kau banyak cerewet lagi?"

Setelah berkata demikian ia mengeluarkan bunyi melengking keras.

Pada saat itu juga dari udara terdengar bunyi lengking yang lebih nyaring lagi dan seekor Burung menyambar turun seperti kilat menyambar.

Sin Lee meloncat ke atas punggung Burung itu yang segera terbang meninggi, meninggalkan kakek tua itu yang berdiri terlongong di bawah.

"Omitohud... apakah itu yang oleh orang-orang disebut Kim-Tiauw milik orang sakti yang dipanggil Toanio dan anak itu, kiranya puteranya... benarkah di dunia ada hal seaneh dan sehebat ini...? Ia menarik nafas berulang-ulang dan diam-diam ia menguatirkan bahwa kelak di dunia kang-ouw pasti akan muncul seorang tokoh luar biasa, yaitu bocah tadi semoga ia tidak tersesat..."

Demikian doanya.

Betapapun juga nakalnya, Sin Lee memiliki watak gagah yang jarang terdapat dalam diri anak kecil berusia sepuluh tahun, Contohnya, kekalahan terhadap Hwesio tua itu sama sekali tidak ia beritahukan kepada ibunya.

Ia tidak mendendam malah tidak ada dalam pikirannya sama sekali pada waktu itu untuk minta bantuan Burungnya.

Juga ia tidak mau minta ibunya supaya membalaskan kekalahannya.

Banyak sekali kenakalan dilakukan oleh Sin Lee, akan tetapi semenjak kekalahannya oleh kakek itu, ia mendapatkan pengalaman pahit sekali.

Belum pernah ia mengalami kekalahan dalam perkelahian, maka semenjak ia kalah oleh kakek tua itu, ia makin tekun belajar ilmu silat dari ibunya.

Tentu saja Kwa Hong yang tidak menyangka sesuatu, menjadi gembira sekali dan menurunkan seluruh kepandaiannya.

Watak keras yang dulu dimiliki Kwa Hong kiranya menurun pula kepada Sin Lee, malah lebih hebat lagi.

Ketika ia berusia enam belas tahun, Sin Lee melakukan perbuatan yang amat merugikan dia sendiri dan ibunya.

Sudah menjadi kebiasaan binatang peliharaan, sekali-kali tentu ingin bebas lepas tak terganggu.

Demikian pula Burung Rajawali Emas, biarpun kelihatan amat setia kepada Kwa Hong dan Sin Lee, namun adakalanya Burung ini terbang pergi sampai beberapa hari tidak kembali.

Mungkin Burung ini terbang pergi mencari teman-temannya, atau mungkin juga mencari mangsa di tempat-tempat jauh.

Ini hanya dugaan Kwa Hong dan Sin Lee saja.

Padahal sebenarnya Burung itu seringkali pergi ke tempat asalnya, yaitu di puncak sebuah gunung yang tak pernah didatangi manusia, tempat di mana ia tinggal sebelum ia bertemu dengan Kwa Hong dan kemudian dipeliharanya.

Pada suatu hari, seperti sudah sering kali tejadi, Sin Lee marah-marah karena Rajawali itu tidak pulang.

Sudah hampir sebulan Rajawali itu tidak pulang dan telah payah Sin Lee mencari ke dalam hutan-hutan, bersuit-suit memanggil tanpa ada jawaban.

Pemuda berusia enam belas tahun ini sampai tak enak makan tak enak tidur memikirkan Burungnya.

Dan ia menjadi marah bukan main ketika pada suatu pagi, Burung itu datang!

"Keparat, kau benar-benar menggemaskan!"

Kata Sin Lee yang menyambut kedatangan Burungnya.

Tanpa banyak pikir lagi ia lalu...

mencabuti bulu sayap Burung itu.

Bukan sekali-kali ia bermaksud untuk menyiksa, melainkan saking marahnya ia bermaksud untuk menghukum Burung itu agar Burung itu tidak mampu terbang lagi.

Burung adalah seekor binatang biasa, Kalau ia dibaiki tentu ia akan membalas kebaikan itu dengan kesetiaan.

Akan tetapi kalau ia disakiti, siapapun yang melakukannya tentu akan dilawannya.

Sekali dua kali bulunya dicabut ia diam saja hanya memekik-mekik, akan tetapi setelah Sin Lee terus saja mencabuti bulunya, ia menjadi marah dan menampar.

Pemuda itu yang tidak menduga akan ditampar, terlempar tubuhnya.

"Setan, kau menantang berkelahi?"

Bagi Sin Lee, siapapun yang menantangnya berkelahi pasti akan ia layani. Kemarahannya memuncak ketika Burung yang ia anggap bersalah dan hendak ia hukum itu malah menyerangnya.

"Kita lihat siapa yang akan menang! Kalau aku kalah. aku tidak akan mencabuti bulumu, akan tetapi kalau kau yang kalah, tidak hanya sayapmu, malah ekormu akan kucabut habis untuk hukumanmu!"

Kemudian ia menerjang maju, menyerang Burungnya.

Sudah menjadi kebiasaan Kwa Hong di waktu Sin Lee masih kecil untuk melatih anaknya itu bertempur melawan Rajawali akan tetapi dalam latihan ini Rajawali Emas tidak bertempur sungguh-sungguh.

Betapapun juga, makin besar anak itu, makin hebat kepandaiannya dan akhirnya dalam setiap latihan, akhirnya Burung itulah yang kalah.

Sin Leepun tidak mau menyakitinya, apalagi membunuhnya, cukup ia dianggap menang kalau ia dapat menangkap leher Burung dalam kempitannya membuat Burung itu tak mampu bergerak lagi.

Akan tetapi sekarang keduanya berhadapan sebagai lawan yang sungguh-sungguh hendak bertempur, Sin Lee dalam kemarahannya hendak menghukum Burung yang dianggapnya jahat itu, sebaliknya Burung itu dengan nalurinya merasa bahwa pemuda ini hendak berbuat jahat kepadanya, hendak menyakitinya, maka iapun tidak mau main-main lagi.

Melihat penyerangan hebat dari Sin Lee, Burung Rajawali Emas itupun cepat mengelak dan mengibaskan sayapnya.

Biarpun Burung itu sudah termasuk berusia tua, namun tenaganya tidak berkurang semenjak dahulu.

Kibasan sayapnya memiliki tenaga ratusan kati.

Sin Lee yang melihat tamparan sayap inipun maklum bahwa Burungnya tidak main-main, maka ia menjadi makin marah, cepat tubuhnya berkelebat mengelak dan dengan keras ia memukul kepala binatang itu.

Gerakan Rajawali Emas tetap gesit, serangan itu dapat ia elakkan pula dan dibalasnya dengan tendangannya yang biasanya hebat sekali.

Namun Sin Lee yang sudah hafal akan semua gerakan Burungnya, dapat menghindar.

Terjadilah pertandingan yang bukan main serunya.

Tubuh Burung dan manusia itu berkelebatan sampai tidak kelihatan lagi, hanya tampak gulungan sinar kuning emas dan bayangan-bayangan yang menjadi satu.

Debu mengebul tinggi dan daun-daun pohon di dekat tempat pertandingan itu bergerak-gerak seperti tertiup angin, malah daun-daun yang sudah menguning pada rontok berhamburan.

Sejam lebih mereka bertempur akhirnya Burung itu harus mengakui keunggulan Sin Lee.

Dua kali dadanya terkena pukulan dan segenggam bulunya di leher telah copot oleh cengkeraman pemuda itu.

Sambil mengeluarkan keluhan panjang Burung itu lalu terbang pergi.

Ia tidak mau turun kembali, biarpun dipanggil dan dimaki-maki oleh Sin Lee, Kwa Hong menyesal bukan main setelah mendengar tentang pertempuran ini dan mendapat kenyataan bahwa sekali ini Burung Rajawali itu benar-benar tidak mau pulang ke Lu-Liang-San.

Akan tetapi Sin Lee tidak pernah memperlihatkan rasa sesalnya.

"Kalau dia tidak mau lagi ikut kita, mengapa kita harus menyesal? Biarlah dia tidak kembali lagi, tidak apa."

"Lee-ji, kenapa kau berkata begini? Burung itu sudah belasan tahun ikut dengan aku, aku sayang padanya dan... ah, bukankah kalau ada dia mudah sekali kita hendak pergi ke mana-mana? Dia adalah seekor binatang tunggangan yang jarang ada keduanya di dunia ini."

"Aku masih memiliki kedua kakiku, kalau tidak ada dia, aku dapat pergi ke mana saja dengan jalan kaki. Ibu, bukankah ibu seringkali mengatakan bahwa hidup di dunia ini terutama sekali harus mengandalkan diri sendiri dan tidak boleh bersandar kepada orang lain?"

Kwa Hong telalu menyayang puteranya maka iapun tidak tega untuk memarahinya.

Diam-diam ia girang karena anaknya ini ternyata mendapatkan kemajuan pesat sehingga Burung Rajawali Emas yang tidak mudah dikalahkan orang itu akhirnya kalah juga menghadapi puteranya.

Maka ia lalu lebih tekun menggembleng Sin Lee sehingga akhirnya dia sendiri dengan pedang di tangan kanan dan cambuk anak panah di tangan kiri tidak mampu menandingi pedang puteranya, lebih dari lima puluh jurus!

Usia Sin Lee sudah delapan belas tahun ketika Kwa Hong membuka rahasia hatinya yang terpendam selama belasan tahun ini.

"Lee-ji puteraku sayang, kau sekarang sudah mewarisi semua kepandaian ibumu, dan kau sudah terlalu besar untuk tinggal terus di puncak gunung ini. Sudah tiba waktunya kau harus turun gunung memperluas pengetahuan dan... mencari jodoh."

"Aku tidak inginkan jodoh!"

Sin Lee memotong cepat dengan kedua pipinya kemerahan.

Ibunya memandang penuh kasih dengan mata berseri-seri dan tersenyum.

Alangkah tampan puteranya, melampaui Beng San!

Teringat Beng San, jantungnya berdebaran dan terbayanglah semua peristiwa yang lalu dan perasaannya menjadi panas.

"Dengar, puteraku, Kau dulu sering kali menanyakan Ayahmu dan kujawab bahwa Ayahmu telah mati. Itu memang benar, akan tetapi baru sekarang hendak kuceritakan kepadamu sebab kematian Ayahmu."

Sin Lee segera memandang ibunya dan mendengarkan penuh perhatian. Sejak kecil ia merasa berduka dan kecewa sekali mendengar bahwa Ayahnya telah mati.

"Apakah sebab kematian Ayahku, Ibu?"

Tanyanya mendesak, Kwa Hong menarik napas panjang berulang-ulang, agaknya berat ia hendak mengeluarkan kata-kata. Akhirnya ia bicara dengan suara serak.

"Anakku..., Ayahmu she Tan jadi namamu Tan Sin Lee. Adapun kematian Ayahmu tidak sewajarnya, melainkan dibunuh orang."

Tldak ada reaksi apa-apa pada pemuda itu.

Memang Sin Lee aneh orangnya.

Ia tidak bisa menaruh hati dendam karena selama ia hidup di gunung itu ia tidak pernah menghadapi sesuatu dan segala peristiwa yang menimpa siapapun juga ia anggap sudah sewajarnya, pasti ada sebab menjadikan peristiwa itu, Umpamanya ketika ia kalah oleh Hwesio tua, ia anggap hal itu terjadi karena ia memang kalah pandai dan habis perkara.

Ia tidak menaruh dendam.

Sekarang, mendengar Ayahnya mati dibunuh orang, otomatis ia menganggap bahwa Ayahnya dibunuh karena kalah dalam pertempuran, jadi menurut pendapatnya, Ayahnya yang bersalah mengapa sampai kalah!.

"Banyak orang yang membunuh Ayahmu. Pertama-tama adalah seorang laki-laki bernama... Tan Beng San!"

Ia berhenti sebentar, dan menahan air matanya, memandang puteranya. Sin Lee kelihatan mengerutkan keningnya terheran.

"Diapun she Tan, Ibu? Bukankah orang yang sama shenya itu berarti masih keluarga?"

"Tidak... tidak... banyak orang she nya sama tapi bukan apa-apa,"

Jawab Kwa Hong cepat.

"Hemmm, lalu siapa lagi, Ibu?"

"Orang ke dua adalah seorang wanita bernama Cia Li Cu, Isteri dari Tan Beng San itu."

Ia memang sudah mendengar bahwa Beng San telah menikah dengan Li Cu, maka ia menyebut nama wanita yang dibencinya karena iri hati dan cemburu ini.

"Adapun orang ke tiga... dia adalah Song-Bun-Kwi Kwee Lun. Nah, tiga orang itulah yang telah membunuh Ayahmu dan yang membuat ibumu hidup menderita. Kau harus mencari mereka, kau bunuhlah Cia Li Cu dan Song-Bun-Kwi. Kwee Lun, tapi... kau jangan bunuh Tan Beng San, kau tangkap (Lanjut ke

Jilid 14) Rajawali Emas (Seri ke 02 -Serial Raja Pedang) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 14 saja dan kau seret dia ke sini!"

Sin Lee memandang ibunya dengan mata membelalaki.

"Kenapa, Ibu? Kenapa aku harus membunuh mereka? Mereka tidak mempunyai urusan apa-apa denganku."

Kwa Hong balas memandang dengan marah.

"Apa? Kau tidak mau mewakili ibumu membalas sakit hati? Percuma sajakah aku mempunyai seorang anak laki-laki seperti kau, hidup menderita untukmu dan menurunkan semua kepandaianku untukmu?"

Sin Lee cepat-cepat memeluk ibunya yang telah menangis.

"Sudahlah, Ibu. Sama sekali bukan begitu maksudku. Aku hanya menyatakan isi hatiku bahwa aku tidak mempunyai permusuhan dengan mereka. Akan tetapi kalau Ibu memerintah anakmu ini, biarpun harus melawan Naga berapi akan kujalani. Terangkanlah maksud Ibu bagaimana, anak akan segera melaksanakan semua kehendakmu."

Dengan terharu dan girang Kwa Hong memeluk puteranya, lalu berkata dengan sungguh-sungguh.

"Tugas yang kuserahkan kepadamu ini bukanlah tugas ringan, Anakku. Tiga orang yang kusebut-sebut tadi adalah orang-orang yang memiliki kepandaian luar biasa tingginya. Song-Bun-Kwi Kwee Lun adalah seorang kakek sakti yang kepandaiannya dahsyat, terkenal dengan ilmu pedangnya Yang-Sin Kiam-Sut dan suling tangisnya yang dapat melumpuhkan semangat lawan. Dahulu, Song-Bun-Kwi Kwee Lun ini adalah tokoh nomor satu dari barat. Nah, kau harus cari orang ini di puncak Min-San, bunuhlah dia karena dia telah menjadi sebab rusaknya kehidupan ibumu."

Sambil berkata demikian, dengan gemas Kwa Hong mengenangkan Bi Goat yang dianggap telah merampas cinta kasih Beng San.

Sekarang Bi Goat sudah meninggal dunia, maka ia anggap sudah semestinya kalau ia menyuruh puteranya membunuh kakek itu.

Padahal ia mempunyai maksud lain dengan perintah ini.

Ia tahu bahwa putera Bi Goat diambil oleh Song-Bun-Kwi maka mencari kakek itu berarti mencari putera Bi Goat dan Beng San!

"Kalau kau sudah bertemu dengan kakek itu, selain dia kau harus pula membinasakan seorang pemuda sebaya engkau yang menjadi cucunya atau putera seorang wanita bernama Bi Goat."

Sin Lee mengerutkan keningnya, di dalam hatinya sebetulnya ia tidak setuju dengan tugas membunuh-bunuhi orang yang sama sekali tak dikenalnya itu.

Akan tetapi ia tidak mau mengecewakan hati ibunya, orang yang amat dikasihinya itu.

"Hemmm, jadi kakek itu tinggal di Min-San, Ibu? Lalu yang lain-lain itu tinggal di mana?"

"Orang yang harus kau bunuh lagi adalah Cia Li Cu. Kau harus berhati-hati kalau berhadapan dengan dia ini. Dia adalah murid mendiang Raja Pedang. Ilmu pedangnya hebat sekali. Dia tinggal di Thai-San bersama... orang ke tiga itu, yang bernama Tan Beng San."

"Jadi Cia Li Cu itu Isteri dari Tan Beng San?"

Tanya Sin Lee.

"Eh, hem... betul. Cia Li Cu harus kau bunuh. Kemudian kau seret Tan Beng San itu ke sini, kau hadapkan padaku. Ingat betul, jangan kau bunuh dia itu, boleh kau lukai kalau dia melawan, akan tetapi jangan sekali-kali kau bunuh. Aku yang hendak membunuhnya, dengan kedua tanganku sendiri!"

Melihat pandang mata dan gerakan tangan ibunya, diam-diam Sin Lee terkejut sekali.

"Ibu, kenapa kau amat membenci Tan Beng San ini?"

Sampai lama Kwa Hong tak dapat menjawab dan mata yang tadinya bersinar ganas dan liar itu perlahan-lahan melunak dan air matanya hampir menitik turun.

Cepat-cepat ia mengusap kedua matanya dan berkata perlahan.

"Dia itulah yang menghancurkan hidupku, memaksa ibumu ini hidup menyendiri di puncak gunung ini. Kau harus berhasil menangkap dia, tak peduli apapun yang terjadi. Dia harus kau tangkap, kau seret ke sini, Anakku..."

Suaranya ibunya yang penuh permohonan ini membanjirkan perasaan haru dan kasihan dalam dada Sin Lee.

Diam-diam ia mengambil keputusan untuk memenuhi permintaan ibunya ini, apapun yang akan terjadi dengan dirinya.

"Ibu, agaknya aku akan berhasil menangkapnya dan menyeretnya ke depan kakimu. Tapi... dia itu orang macam apakah?"

Kwa Hong menarik napas panjang.

"Kau tidak boleh memandang rendah Song-Bun-Kwi Kwee Lun, kau harus berhati-hati terhadap Cia Li Cu. Akan tetapi menghadapi orang ini, Anakku... aku benar-benar sangsi apakah kau akan dapat melawannya. Dia itulah sesungguhnya Raja Pedang, ilmu pedang dan ilmu silatnya luar biasa sekali, belum pernah aku melihat dia dikalahkan orang. Dia hebat... dia hebat..."

Kwa Hong merenung, wajahnya agak berseri, bangkit kembali cinta kasihnya kalau ia merenungkan bekas kekasihnya itu.

"Dia laki-laki hebat..."

Kembali ia berkata dan kali ini dengan keluhan.

Panas hati Sin Lee mendengar ini.

Biasanya ibunya hanya menganggap bahwa dialah orang yang paling pandai di dunia ini, sekarang ibunya memuji seorang musuh!

"Ibu, aku bersumpah akan menyeret Tan Beng San itu ke depan kakimu.

Kalau belum terjadi hal ini, aku bersumpah takkan kembali ke sini."

Sin Lee cepat berkemas, membawa pedang pusaka pemberian ibunya, membuntal pakaian dan membawa beberapa potong emas, lalu turun gunung.

Kwa Hong mengantar puteranya sampai di lereng gunung dan membekalinya banyak nasihat dan memesannya agar berhati-hati.

Kun Hong dibawa terbang jauh sekali oleh Rajawali Emas, Burung ajaib ini semenjak meninggalkan Lu-Liang-San tidak mau kembali lagi dan selama itu ia terbang dan tinggal di tempatnya yang lama, yaitu di puncak sebuah bukit yang tak pernah didatangi manusia.

Kadang-kadang ia meninggalkan tempatnya ini dan tidak seperti dulu ketika masih dipelihara oleh Kwa Hong, sekarang ia bebas lepas dan pergi ke mana saja ia suka.

Kebetulan sekali ia bertemu dengan Kun Hong.

Binatang ini memang amat mengenal budi orang.

Sekali saja orang melepas budi kepadanya, ia tentu akan membalasnya dengan penuh kesetiaan.

Akan tetapi sebaliknya, kalau ia disakiti, iapun akan membenci yang menyakitinya.

Tanpa disengaja Kun Hong telah memberi katak putih yang segera dikenal oleh Burung ajaib ini dan ditelan, maka selamatlah ia dari racun hebat yang melukai kakinya.

Pertolongan ini membuat ia amat suka dan setia kepada Kun Hong dan sekarang ia hendak membawa pemuda itu terbang ke tempat tinggalnya, di puncak sebuah bukit yang di jaman dahulu dikenal sebagai Bukit Kepala Naga.

Puncak ini disebut Kepala Naga karena bentuknya dilihat dari Barat memang menyerupai bentuk kepala naga.

Kun Hong tidak tahu ke mana ia akan dibawa oleh Burung itu.

Anehnya, pada waktu tengah hari dan malam, Burung itu selalu berhenti di sebuah hutan dan tanpa diminta lagi lalu mencarikan buah-buahan yang segar dan enak untuk pemuda itu.

Tentu saja Kun Hong girang sekali mendapatkan kawan yang baik, apalagi selamanya ia tidak pernah turun gunung, sekarang begitu turun gunung ia mengalami hal-hal yang amat aneh.

Biarpun Ayahnya adalah Kwa Tin Siong dan juga menjadi Ayah Kwa Hong, namun Kun Hong belum pernah diceritakan tentang kakak perempuannya lain ibu itu, maka iapun tidak pernah mendengar tentang adanya Rajawali Emas.

Para Tosu Hoa-San-Pai yang sudah dipesan keras oleh Kwa Tin Siong, tidak ada yang pernah bercerita tentang peristiwa yang mencemarkan nama baik Ketua Hoa-San-Pai itu.

Andaikata ia pernah mendengar tentang Kwa Hong yang datang menyerbu Hoa-San-Pai naik Rajawali Emas, kiranya pemuda ini akan dapat mengenal Burung itu.

Setelah lewat lima hari, sampailah Burung Rajawali Emas itu ke puncak gunung Kepala Naga.

Ia menukik ke bawah dan Kun Hong merangkul leher Burung, mencengkeram kalung mutiara itu sambil meramkan matanya.

Ia merasa ngeri sekali melihat betapa dia dan Burung itu meluncur turun, seakan-akan hendak tertumbuk kepada jurang-jurang dan batu-batu yang menanti di bawah, jurang-jurang menganga seperti mulut Harimau dan batu-batu meruncing seperti ujung pedang dan golok.

Setelah Burung itu hinggap di atas tanah barulah ia berani membuka kedua matanya.

Alangkah herannya ketika ia melihat bahwa Burung Rajawali itu telah berdiri di depan sebuah gua yang bentuknya seperti mulut naga.

Gua batu itu amat lebar dan dalam, letaknya di depan jurang yang sangat terjal sehingga kalau bukan Burung yang pandai terbang, manusia biasa kiranya tak mungkin dapat mendatangi tempat ini.

Pemandangan alam dari tempat itu, dari depan gua, amat indahnya, seakan-akan dunia terletak di bawah kaki gua, Kun Hong segera melompat turun dari punggung Rajawali.

Ia mendekati gua, akan tetapi tidak berani masuk karena ia merasa seakan-akan ia berdiri di depan tempat tinggal seseorang sehingga ia tidak berani masuk begitu saja tanpa perkenan si pemilik tempat tinggal!

Akan tetapi tiba-tiba Burung itu mengeluarkan bunyi perlahan dan dari belakangnya Burung itu mendorong punggungnya perlahan-lahan, seakan-akan hendak menyuruh pemuda itu memasuki gua.

Karena kemudian dapat menduga bahwa tak mungkin di dalam gua yang letaknya demikian sukar dapat didiami, manusia Kun Hong lalu memasukinya.

Ia terheran-heran melihat bahwa di dalam gua itu terbagi menjadi tiga, yaitu bagian depan dan di sebelah dalam terdapat dua buah ruangan tertutup.

Pintunya juga merupakan pintu batu akan tetapi bentuknya jelas adalah buatan manusia!

Dengan hati berdebar-debar ia mendorong pintu batu di sebelah kiri.

Akan tetapi betapapun ia mengerahkan tenaga, pintu batu itu bergerak sedikitpun tidak!

Tiba-tiba terdengar Burung itu bersuara di belakangnya, kemudian dengan sayap kanannya Burung itu mendorong perlahan dan...

pintu batu itu terbuka!

"Tiauw-Ko, kau benar-benar kuat sekali!"

Kun Hong memuji dan makin berdebar hatinya ketika ia melangkah masuk.

"Lo-Cianpwe (sebutan untuk orang tua pandai) atau arwahnya yang mulia, harap sudi mengampuni kelancanganku ini."

Katanya dengan bisikan perlahan dan mulailah ia merasa serem karena di dalam kamar batu ini ia melihat sebuah meja sembahyang!

Tempat lilin yang amat kuno terletak di kanan kiri ujung meja dan di atas dua tempat lilin ini masih tertancap dua batang lliin merah.

Lilin-lilin itu tidak menyala, akan tetapi lilin yang meleleh bekas terbakar masih kelihatan seakan-akan baru saja dipadamkan.

Ketika Kun Hong mendekati, tampak nyata olehnya bahwa lilin sudah lama sekali tidak dinyalakan orang, buktinya di atasnya terdapat banyak sarang laba-laba.

Di tengah-tengah meja kelihatan sebuah kitab yang tebal dan sudah tua sekali.

Melihat sebuah kitab kuno, bukan main girangnya hati Kun Hong.

Ingin segera menyambar kitab itu untuk dibacanya, akan tetapi karena semenjak kecil ia dijejali pelajaran dan tata-susila, ia tidak berani melakukan hal itu.

Karena keinginannya melihat buku itu amat keras, ia segera menjatuhkan dirinya berlutut di depan meja sembahyang lalu berkata keras-keras.

"Lo-Cianpwe pemilik kitab di atas meja, harap sudi memberi perkenan kepada Teecu untuk mengambilnya dan membaca isinya."

Berkali-kali ia mengucapkan kata-kata ini sambil membentur-benturkan jidatnya kepada lantai untuk memberi hormat kepada pemilik kitab yang tidak diketahuinya siapa dan yang ia tidak tahu masih hidup ataukah sudah mati itu.

Ketika ia berlutut dan mengangguk-anggukkan kepalanya di atas lantai depan meja sembahyang itu, matanya melihat ukiran-ukiran huruf kecil-kecil di bawah meja.

Ukiran huruf-huruf itu demikian kecilnya sehingga kalau orang tidak mengangguk-anggukkan kepala sampai jidatnya menyentuh lantai kiranya takkan dapat melihatnya.

Tidak akan ada huruf-huruf yang terlewat begitu saja oleh sepasang mata Kun Hong yang selalu haus akan bacaan, apalagi kalau huruf-huruf itu berada di tempat yang begitu aneh dan goresan huruf-huruf itu amat indahnya.

Ia segera membacanya, Dapat masuk berarti jodoh.

Dapat membaca berarti tahu sopan dan murid yang baik.

Untuk ambil kitab singkirkan anak-anak panah di bawah meja.

Setelah hafal kitab baru ambil pedang di kamar samadhi.

Beberapa kali Kun Hong membaca tulisan kecil-kecil itu dan ia merasa seakan-akan surat itu ditujukan kepadanya!

Setelah jelas akan pesan dalam surat berukir yang aneh itu, ia lalu melongok ke bawah meja dan betul saja, di bawah meja itu tersembunyi tiga batang anak panah yang dipasangi per sehingga kalau ada orang mengambil kitab di atas meja itu, per akan menggerakkan tiga batang anak panah tadi yang tentu akan tertendang dan menyerang orang yang berdiri di depan meja.

Karena anak-anak panah itu akan menyerang dari bawah meja, kiranya tak mungkin orang akan dapat menghindarkan penyerangan gelap yang amat dekat ini.

Kun Hong bergidik dan cepat-cepat ia mengulur tangan mengambil tiga batang anak panah itu.

Tercium bau yang harum dan di ujung tiga batang anak panah itu berwarna hijau.

Pemuda ini dapat menduga bahwa ujung anak panah itu tentu diberi racun yang amat berbahaya.

Dengan jijik ia lalu menaruh tiga batang anak panah itu di atas meja, lalu ia memberi hormat lagi sambil berkata.

"Terima kasih atas kepercayaan dan petunjuk Lo-Cianpwe."

Ia lalu mengulur tangan mengambil kitab kuno itu dari tengah meja dan pada saat itu terdengarlah jepretan per di bawah meja.

Biarpun sudah dapat menduga akan hal ini dan sudah yakin bahwa anak panah itu telah ia singkirkan, namun kaget jugalah Kun Hong mendengar jepretan ini.

Dilihatnya bahwa di bawah kitab tadilah yang menghubungkan per-per itu sehingga apabila kitab diambil per-per itu bekerja di bawah meja.

Ah, kalau tadi ia berlaku lancang dan terus saja mengambil kitab itu sudah dapat dipastikan bahwa berbareng pada saat terdengar suara menjepret, ia akan roboh telentang dengan tiga anak panah tertancap di perutnya!

Dengan kitab di tangan, Kun Hong cepat-cepat memberi hormat lalu keluar dari kamar itu.

Ternyata setibanya di ruangan depan, Rajawali Emas telah menantinya dan Burung ini telah memperoleh banyak sekali buah-buahan, malah di antaranya terdapat seekor kelinci yang sudah mati.

"Aduh, kau mendapatkan kelinci gemuk? Sayang, Tiauw-Ko, bagaimana kita akan dapat memakannya?"

Burung itu lalu mendorong Kun Hong ke pojok ruangan di mana terdapat sebuah batu halus rata berbentuk meja.

Di situ bertumpuk rumput-rumput kering dan dengan paruhnya Burung luar biasa ini mengambil sedikit rumput kering, di taruhnya di atas meja.

Kemudian ia menggerakkan kepalanya, paruhnya runcing dan keras seperti baja itu memukul pinggir meja dan...

bunga api berpijar.

Kun Hong girang sekali dan pemuda yang cerdik ini segera dapat menangkap maksud si Burung.

Ia cepat mengambil rumput kering lagi dan menaruh dekat pinggiran meja.

Beberapa kali Burung itu memukul batu itu dengan paruhnya dan akhirnya bunga api menyentuh rumput kering dan terbakarlah rumput itu.

Dengan cara demikian Kun Hong dapat membuat api unggun dan dapat memanggang daging kelinci.

Setelah makan kenyang, pemuda itu mulai membuka-buka lembaran kitab kuno tadi.

Pada lembar pertama terdapat tulisan dengan huruf-huruf besar yang berbunyi.

SALINAN IM YANG BU TEK CIN KENG.

Karena ia tidak tahu apa itu artinya Im-Yang Bu-Tek Cin-Keng.

Kun Hong membuka lembaran ke dua dan segera ia amat tertarik membaca tulisan yang bersifat keluhan dan penjelasan.

Tulisan itu berbunyi demikian.

"Telah bertumpuk dosaku. Ratusan orang telah kubunuh dengan anggapan bahwa perbuatan itu baik karena yang kubunuh adalah orang-orang yang kuanggap jahat, Anggapan yang sesat! Aku tidak bisa memberi kehidupan bagaimana aku berhak mengakhiri kehidupan? Aku berdosa! Mengandalkan kepandaian untuk membunuh sesama manusia, betapapun jahat si manusia itu, bukanlah perbuatan baik, melainkan perbuatan jahat pula."

Sampai di sini Kun Hong menarik napas panjang lalu mengangguk-angguk.

Betul sekali Lo-Cianpwe ini, soal mati dan hidup manusia bukanlah urusan manusia, melainkan Yang Maha Kuasa.

Membunuh orang lain, bukankah melancangi dan mendahului Tuhan itu namanya?

Sayang, agaknya Lo-Cianpwe ini baru sadar setelah melakukan pembunuhan ratusan kali.

Ia membaca terus tulisan yang merupakan permulaan isi kitab itu.

"Im-Yang Bu-Tek Cin-Keng adalah kitab yang mengandung pelajaran ilmu silat sakti, tiada keduanya di dunia ini. Orang macam aku mana dapat menyalinnya? Pengertianku terbatas dan salinanku tentu banyak menyeleweng. Karena itu aku hanya menyalin apa yang kuketahui saja dan kucampur dengan gerakan-gerakan Burungku Rajawali Emas. Karena itu maka ilmu dalam kitab ini kuberi nama Kim-Tiauw-Kun (Ilmu Silat Rajawali Emas). Muridku yang membaca kitab ini harus bersumpah dalam hatinya bahwa ke satu dia tidak boleh membunuh sesama manusia dengan alasan apapun juga. Ke dua dia tidak boleh mempergunakan ilmu ini untuk menyerang orang. Ke tiga ilmu Kim-Tiauw-Kun ini hanya untuk membela diri dari serangan orang, dan hanya terbatas untuk mengalahkan lawan saja"

Kun Hong makin tertarik.

"Bagus,"

Pikirnya.

"Inilah ilmu yang baik sekali. Aku sendiri paling benci melihat pembunuhan antara sesama manusia. Kalau aku dapat mempelajari ilmu ini, kiranya aku akan mampu mencegah orang-orang berkepandaian main hakim sendiri membunuhi orang sesuka hati. Kalau ada orang jahat, gunakan kepandaian untuk mengalahkannya dan menangkapnya untuk diserahkan kepada yang berwajib agar dijatuhi hukuman. Bagus sekali! Lo-Cianpwe, Teecu bersumpah akan memenuhi semua syarat itu."

Semenjak saat itu, dengan tekun Kun Hong membaca kitab yang berisi pelajaran ilmu silat sakti itu.

Sama sekali ia tidak pernah menduga bahwa secara tak sengaja atau sadar ia telah mewarisi ilmu silat yang bukan main hebatnya, yang hanya setaraf dengan Im-Yang Sin-Hoat karena dari satu sumber.

Ia tidak tahu pula siapa gurunya, siapa penulis kitab itu yang hanya menandai dengan tiga buah huruf berbunyi Bu Beng Cu yang artinya TIADA NAMA!

Di samping membaca kitab Kim-Tiauw-Kun ini, tidak lupa Kun Hong yang dengan girang mendapat kenyataan bahwa tiga buah kitab milik Yok-Mo masih berada di saku jubahnya, membaca pula tiga buah kitab pengobatan itu.

Pengetahuannya tentang perjalanan darah yang secara lengkap tertulis di dalam kitab Yok-Mo, memperlancar pengertiannya terrhadap isi kitab Kim-Tiauw-Kun.

Kun Hong memang memiliki kecerdasan luar biasa.

Dalam waktu setahun lebih saja ia sudah mampu membaca habis empat buah kitab itu, tidak hanya membaca habis, malah sudah dapat menghafalnya di luar kepala!

Tentu saja, ilmu silat tidak dapat disamakan dengan ilmu pengobatan yang cukup dihafal, melainkan harus dilatih dalam praktek.

Karena di dalam kitab Kim-Tiauw-Kun itu terdapat peringatan bahwa si murid harus betul-betul menyempurnakan latihan gerakan kaki, Maka Kun Hong juga melatih dirinya dalam pergerakan ini, dalam langkah-langkah ajaib yang kadang-kadang membuat kepalanya pening dan mau muntah-muntah.

Baiknya kalau ia sedang bergerak seperti itu, Burung Rajawali tentu dengan mengeluarkan suara girang mendekatinya dan bergerak-gerak persis seperti langkah-langkah dalam pelajaran itu, sengaja memberi contoh kepadanya!

Bukan main girangnya hati Kun Hong dan mulai saat itu ia selalu berlatih bersama Burung Rajawali Emas.

Orang yang menamakan dirinya Bu Beng Cu dan yang menyalin ilmu silat itu, sebenarnya adalah seorang sakti yang menyembunyikan dirinya di tempat ini karena merasa menyesal sekali akan pembunuhan-pembunuhan terhadap orang-orang jahat yang banyak ia lakukan.

Bu Beng Cu ini telah mewarisi sebagian dari ilmu silat yang terdapat dalam kitab Im-Yang Bu-Tek Cin-Keng.

Setelah tua dan menyesali perbuatannya, Bu Beng Cu membawa Burung peliharaannya ke puncak Gunung Kepala Naga ini, menyembunyikan diri dan menuliskan sari dan pokok dari semua ilmu yang ia punyai.

Kemudian ia meninggal dunia di tempat itu, hanya ditemani Burungnya yang setia.

Tentu saja setelah majikannya meninggal, Burung itu merasa kesepian dan akhirnya ia terbang dari tempat itu sampai ia berjumpa dengan Kwa Hong dan dipelihara oleh Kwa Hong.

Betapapun juga, Burung ini mempunyai perasaan atau naluri yang tajam.

Agaknya ia maklum bahwa Kwa Hong dan puteranya Sin Lee, bukanlah orang yang memiliki budi luhur maka ia tidak membawa mereka mengunjungi gua di puncak Gunung Kepala Naga itu.

Baru setelah ia bertemu dengan Kun Hong, segera perasaan atau nalurinya menyatakan kepadanya bahwa pemuda inilah yang paling tepat untuk dihadapkan kepada peninggalan majikan tuanya.

Waktu setengah tahun bukanlah waktu lama untuk orang yang belajar.

Akan tetapi, satu setengah tahun di dalam gua di puncak gunung yang tak pernah dikunjungi manusia, benar-benar membuat Kun Hong berubah menjadi manusia lain!

Tidak saja dalam ilmu langkah ajaib itu ia sudah hafal benar sehingga dalam latihan-latihannya, Burung Rajawali itu betapapun menyerangnya dengan hebat tak pernah dapat menyentuh ujung bajunya, akan tetapi juga dalam pengertiannya tentang pengobatan, membuat ia seakan-akan terbuka mata batinnya akan diri manusia.

Dari pelajaran ini ia seakan-akan lebih mengenal dirinya sendiri, lebih mengenal manusia pada umumnya, tidak hanya lahiriah, akan tetapi mendalam sampai ke jalan darahnya, sampai kepada alat-alat terkecil dalam tubuh.

Semua pengertian baru ini ia gabungkan dengan pelajaran yang banyak ia dapatkan dahulu tentang kebatinan, tentang kehidupan, sehingga pemuda yang baru berusia dua puluh tahun ini sekarang memiliki pandangan yang amat tajam tentang diri manusia.

Setelah ia hafal benar akan isi kitab Kim-Tiauw-Kun, barulah Kun Hong berani menghampiri pintu kamar ke dua di dalam gua itu.

Seperti pintu pertama, pintu ke dua inipun terbuat dari batu yang tebal dan berat.

Akan tetapi, alangkah jauh bedanya dengan satu setengah tahun yang lalu, dengan sekali dorong saja Kun Hong dapat membuka daun pintu yang tebal itu!

Sama sekali ia tidak menjadi girang atau bangga dengan hal ini, karena sesungguhnya ia sudah tidak ingat lagi betapa dahulu tanpa bantuan Rajawali Emas, tak mungkin ia dapat membuka pintu ini.

Semua ini adalah hasil dari latihannya dalam samadhi dan pernapasan, sesuai dengan petunjuk dalam kitab Kim-Tiauw-Kun itu.

Tenaga dalamnya telah bangkit dan bergerak tanpa ia sadari.

Hawa sakti dalam tubuh telah ada dalam diri tiap manusia, hanya saja hawa ini seakan-akan tertidur karena semenjak kecil sampai mati tua, sebagian besar manusia di dunia ini kerjanya hanya mengumbar hawa nafsunya belaka.

Kun Hong yang sudah mengangkat sebelah kaki untuk melangkah memasuki kamar ke dua itu, tiba-tiba menahan kakinya karena mendengar Burung Rajawali yang berdiri di belakangnya mengeluarkan suara aneh sekali.

Seakan-akan Burung itu bersusah hati dan menangis.

Ketika ia menengok ke belakang, Burung itu menggeleng-gelengkan kepala beberapa kali lalu mencoba untuk menggigit baju Kun Hong dan menariknya mundur.

"Jangan Tiauw-Ko. Bagaimanapun juga aku harus memasuki kamar ini, sesuai dengan petunjuk Lo-Cianpwe setelah aku hafal akan isi kitab, aku boleh masuk dan mengambil pedang. Bukan sekali-kali karena aku ingin sekali memiliki pedang, ah, bukan, Tiauw-Ko. Bagiku, sebatang pedang apa artinya? Untuk apa pula? Hanya karena Lo-Cianpwe sudah memesan, mana aku berani membangkang?"

Setelah berkata demikian dan menghindarkan diri dari gigitan patuk Burung itu, dengan tabah Kun Hong melangkah memasuki kamar yang agak gelap itu.

Begitu masuk ia tertegun dan memandang dengan mata terbelalak ke depan.

Di ujung kamar itu terdapat sebuah kursi batu dan di atas kursi batu ini duduk sebuah...

kerangka manusia!

Tengkorak manusia ini masih utuh dan sepasang lubang bekas mata itu seakan-akan sedang memandang kepadanya.

Tangan kanan kerangka ini mencengkeram sebatang pedang yang bersinar kemerahan.

Dari kaget Kun Hong berbalik menjadi terharu.

Inikah kiranya Bu Beng Cu, gurunya yang meninggalkan kitab itu?

Tanpa ragu-ragu lagi Kun Hong melangkah maju lagi dan menjatuhkan dirinya berlutut di depan kerangka itu.

"Lo-Cianpwe, alangkah buruknya nasibmu, sampai meninggalpun tidak ada yang menguburmu..."

Ia terpaksa menghentikan kata-katanya karena tiba-tiba lantai yang diinjaknya bergoyang-goyang keras.

Cepat ia meloncat bangun dan tiba-tiba dari sebelah kanannya menyambar anak panah!

Kun Hong cepat menggeser kakinya, menarik tubuh untuk menghindarkan diri dari ancaman maut itu.

Akan tetapi terdengar lagi suara "ser-ser-ser!"

Dan banyak anak panah menyambarnya dari empat jurusan, sementara itu lantai masih bergoyang-goyang.

Kun Hong maklum bahwa keadaannya berbahaya sekali.

Ia memusatkan pikiran dan kedua kakinya cepat bergerak-gerak dalam langkah ajaib, tubuhnya bergerak-gerak dalam Ilmu Silat Kim-Tiauw-Kun.

Sedikitnya ada lima puluh batang anak panah yang terus-menerus menyambar, akan tetapi setelah pemuda ini melakukan gerak langkah ajaib, Semua penyerangan itu sama sekali tidak menyentuhnya.

Setelah anak panah habis menyambar, lantai berhenti sendiri dan yang terlihat hanyalah puluhan batang anak panah berserakan di atas lantai.

Kun Hong tidak mengerti apa maksudnya penyerangan itu, siapa yang menyerang dan mengapa lantai bergoyang-goyang, Akan tetapi karena ia memasuki kamar ini atas pesan Lo-Cianpwe untuk mengambil pedang, ia melangkah maju terus dengan hati-hati sekali.

Dengan halus ia menarik pedang itu dari dalam tangan kerangka itu, akan tetapi alangkah kagetnya ketika tiba-tiba kerangka yang tadinya duduk itu menjadi runtuh dan terlepaslah tulang-tulang rangka itu berjatuhan ke atas lantai pula.

Tengkoraknya menggelinding sampai ke tengah kamar.

Di antara tulang-tulang ini, melayang sehelai kain kuning yang ternyata ada tulisannya begini.

KALAU KAU TERLUKA ATAU MATI.

TIDAK PATUT MENJADI PEWARIS KIM-TIAUW-KUN.

Setelah membawa tulisan itu, tersenyumlah Kun Hong.

Kiranya semua itu merupakan ujian baginya.

Lo-Cianpwe Bu Beng Cu yang aneh dan sakti ini telah mengatur sebelum tiba ajalnya, membuat semua alat rahasia itu agar setelah ia mati, ia masih dapat menguji calon muridnya, baik menguji pribudinya seperti yang terdapat di bawah meja sembahyang, juga menguji kepandaiannya setelah mempelajari ilmu silat itu.

Benar-benar seorang manusia hebat.

Pantas saja Burung Rajawali tadi seakan-akan hendak mencegahnya memasuki kamar, agaknya Burung itu sudah tahu akan bahaya ujian ini dan hendak mencegahnya memasuki, kamar itu.

Sebagai seorang yang memiliki pribudi luhur, tidak tegalah hati Kun Hong melihat kerangka orang sakti itu berserakan di dalam kamar.

Ia lalu mengumpulkan kerangka itu dan dengan khidmat dibawanya kerangka itu keluar, lalu digalinya lubang di ruangan depan menggunakan pedang itu lalu dikuburnya kerangka tadi.

Selama ia melakukan semua ini, Burung Rajawali Emas mengeluarkan suara keluhan seperti orang berkabung dan menangis!

Kun Hong lalu berkata kepada Burung itu.

"Tiauw-Ko, sekarang sudah tiba waktunya aku harus pergi dari tempat ini. Kitab ini kutinggalkan di tempat semula karena aku sudah membaca semua isinya. Adapun pedang yang indah ini, karena telah diberikan kepadaku oleh mendiang Lo-Cianpwe, akan kubawa dan kuserahkan kepada Ayah yang amat suka akan pedang-pedang pusaka."

Pemuda itu mengembalikan kitab Kim-Tiauw-Kun di atas meja sembahyang, sedangkan tiga buah kitab lain milik Yok-Mo ia kantongi kembali karena ia hendak mengembalikan kitab itu kepada pemiliknya.

Pedang indah itu ia masukkan ke dalam sarung pedang yang sederhana dan yang ia temukan juga di kamar ke dua, lalu ia ikat di pinggang, ditutupi jubahnya.

Pakaian pemuda ini sudah lapuk dan berlubang di sana-sini, maklum sudah setahun setengah ia tidak pernah berganti pakaian.

Kim-Tiauw agaknya maklum bahwa pemuda itu hendak pergi.

Ia kelihatan berduka akan tetapi karena tak dapat bicara, ia hanya mengeluarkan suara menCicit seperti Burung kecil.

"Nah, Tiauw-Ko, tolonglah kau antarkan aku turun dari puncak ini,"

Kata Kun Hong setelah untuk penghabisan kali ia memberi hormat kepada kuburan kerangka Bu Beng Cu.

Burung itu lalu mendekam di depan Kun Hong.

Pemuda ini segera meloncat ke atas punggungnya dan sekali lagi pemuda ini mengalami "Terbang"

Di angkasa.

Ia masih merasa ngeri seperti dulu, akan tetapi entah bagaimana, setelah satu setengah tahun ia melatih diri di gua itu, ia merasa hatinya lebih tenang dan tabah.

Dengan gembira ia sekali lagi menyaksikan pemandangan alam yang amat luar biasa dilihat dari angkasa, dari atas punggung Burung raksasa itu.

Akan tetapi, pengalaman hebat ini tidak lama ia rasakan karena Burung itu segera melayang turun ke bawah kaki gunung, lalu hinggap di atas tanah.

Ia mengeluarkan suara melengking yang tidak diketahui artinya oleh Kun Hong.

Akan tetapi pemuda ini segera meloncat turun.

"Tiauw-Ko, kenapa hanya sampai di sini? Kalau bisa, tolong antarkan aku kembali ke Hoa-San."

Burung itu kembali mengeluarkan suara melengking tinggi, lalu Burung itu mengangguk di depan Kun Hong tiga kali, setelah itu ia pentang kedua sayapnya dan... terbang naik lagi ke puncak.

"Ah, jadi dia tidak mau ikut dan hendak kembali ke sana? Baiklah, aku harus melanjutkan perjalanan ini dengan jalan kaki."

Kun Hong tidak menjadi kecewa, malah ia berterima kasih sekali kepada Burung itu. Sebetulnya kalau boleh ia tidak ingin berpisah dari sahabatnya yang baik itu.

"Kim-Tiauw-Ko, terima kasih atas semua kebaikanmu!"

Ia berteriak ke arah Burung yang sudah terbang meninggi.

Ia kaget dan terheran sendiri ketika suaranya itu mendatangkan gema di empat penjuru, amat nyaring teriakannya.

Semua ini adalah berkat kemajuannya dalam latihan-latihan sehingga tanpa disadarinya, ia telah memiliki tenaga Khikang yang tinggi, Setelah Burung itu lenyap, baru Kun Hong melanjutkan perjalanannya.

Ia tidak mengenal jalan, maka ia jalan ke mana saja yang ia rasa senang dengan harapan untuk tiba di sebuah dusun, berjumpa orang dan menanyakan jalan ke Hoa-San.

Memang tadinya ia merasa tak senang kalau mengenang akan pembunuhan di Hoa-San dan tidak ada keinginan kembali, akan tetapi betapapun juga ia merasa rindu kepada orang tuanya dan ingin bertemu dengan mereka untuk menceritakan pengalamannya yang hebat.

Sudah menjadi kenyataan semenjak dunia berkembang, di dalam hidup menderita sengsara, manusia akan mencari Tuhan karena sudah kehabisan akal dan tidak berdaya untuk memperbaiki hidupnya yang penuh penderitaan itu.

Berpalinglah manusia yang menderita sengsara, mencari-cari Kekuasaan Tertinggi yang tadinya terlupa olehnya dikala ia tidak berada dalam penderitaan hidup.

Sebaliknya, diwaktu menikmati hidup penuh kesenangan dan kecukupan, manusia sama sekali lupa akan Tuhannya, lupa bahwa segala kesenangan yang dapat ia rasa pada hakekatnya adalah rahmat dari Tuhan.

Manusia dalam mabuk kesenangan menjadi sombong, mabuk kemenangan dan kemuliaan duniawi, merasa seakan-akan semua hasil gemilang itu adalah hasil kepandaiannya sendiri.

Manusia yang sedang ditimpa kesengsaraan suka mencari kesalahan sendiri yang menyebabkan ia menderita, Suka mengakui kesalahannya dan bertobat, berjanji takkan mengulangi perbuatannya yang sesat.

Sebaliknya, di dalam mabuk kemuliaan, manusia hanya bisa menyalahkan orang lain mengira bahwa dirinya sendiri yang benar dan karena kebenarannya itulah maka ia dapat hidup dalam kemuliaan.

Alangkah bodohnya manusia, alangkah pelupa dan mudah mabuk oleh kesenangan duniawi!

Lupa sudah bahwa segala apa yang dipisah-pisahkan manusia dan diberi istilah kesenangan atau kesengsaraan itu adalah sesuatu yang sifatnya sementara belaka.

Baik kesenangan dan kesengsaraan yang sebetulnya bukanlah merupakan sifat dari sesuatu keadaan, melainkan lebih merupakan pendapat menurut selera seorang, takkan abadi dan tidak merupakan hal yang sementara terasa, malahan umurnya amat pendek, sependek umur manusia di dunia ini.

Baik mereka yang mabuk kemenangan di waktu usahanya berhasil gemilang, maupun mereka yang putus asa dan nelangsa di waktu mengalami derita kekalahan, Mereka ini adalah manusia-manusia yang bodoh dan, mau membiarkan dirinya diombang-ambingkan dan dipermainkan oleh perasaannya sendiri.

Bahagialah orang yang selalu berpegang kepada kebenaran, yang selalu waspada akan langkah hidupnya sendiri agar tidak menyeleweng dari kebenaran, dan dalam pada itu selalu mendasarkan segala sesuatu yang menimpa dirinya, baik itu menyenangkan badan maupun sebaliknya, sebagai kehendak daripada Tuhan seru sekalian alam, Tuhan yang menentukan segalanya, yang tak dapat diubah oleh kekuasaan manapun juga di dunia ini.

Jika diadakan perbandingan, jauh lebih bahagia mereka yang tertimpa kesengsaraan hidup dan membuat mereka berpaling mencari Tuhannya, Daripada mereka yang hidup bergelimang dalam kemewahan dan membuat mereka lupa akan Tuhannya.

Demikian pula dengan Kaisar dan para pembesar Kerajaan Beng.

Pada mulanya, dalam perjuangan mereka mengusir penjajahan Mongol dari tanah air, mereka berpegang kepada kebenaran jiwa, mereka penuh oleh sifat patriotisme, sepak terjang dalam perjuangan hanya didasarkan untuk membebaskan rakyat dari belenggu penjajahan.

Dalam keadaan seperti itu mereka yakin sepenuhnya akan kebenaran mereka, dan yakin bahwa manusia dalam kebenaran sepak terjang hidupnya selalu akan diridhoi oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.

Namun, sungguh menyedihkan, setelah usaha perjuangan mereka berhasil, terjadilah hal yang agaknya merupakan penyakit turunan bagi manusia.

Terjadilah perebutan kemuliaan.

Lebih menyedihkan lagi, setelah mereka yang berhasil dalam perebutan ini menduduki tempat tinggi dan mengenyam kemuliaan, mereka lalu mabuk!

Banyak di antara pembesar, sampai Kaisar sendiri, yang dahulunya terkenal sebagai pejuang-pejuang patriotik, setelah mendapat kemuliaan dan kebesaran, lalu lupa akan kebenaran.

Mereka dirangsang oleh nafsu-nafsu mereka sendiri.

Ada yang tamak akan harta benda, kerjanya hanya mengumpulkan harta dengan jalan yang tidak halal, melakukan korupsi besar-besaran tanpa menghiraukan sedikitpun nasib rakyat jelata yang dahulunya mereka bela dengan perjuangan mati-matian.

Ada yang menurutkan nafsu binatang saja, tanpa mengenal malu mengumpulkan wanita-wanita muda dan cantik untuk mereka jadikan alat pengumbar nafsu.

Banyaklah macamnya maksiat yang dilakukan oleh orang-orang mabuk kemulian duniawi ini.

Akibat dari semua ini, pemerintah yang dipimpin oleh bangsa sendiri tetap saja tidak dapat mengangkat rakyat jelata dari kemiskinan dan kesengsaraan hidup.

Tetap saja rakyat yang dijadikan sapi perahan, diperas keringat dan darahnya oleh pemimpin-pemimpin kecil, di lain pihak pemimpin-pemimpin kecil ini diperas oleh atasan mereka, dan si atasan ini diperas lagi oleh atasannya yang lebih tinggi kedudukannya.

Sogok dan fitnah merajalela dan kebenaran yang berlaku bukanlah kebenaran sejati karena siapa yang beruang, dialah yang menang.

Semenjak penjajah Mongol terusir dan Ciu Goan Ciang menjadi Kaisar, rakyat tetap saja masih menderita.

Penyerbuan-penyerbuan yang dilakukan oleh bangsa Mongol dari utara, Pemberontak-pemberontak dari suku bangsa kecil di Barat dan utara, gangguan bajak-bajak laut bangsa Jepang, menambah beban hidup rakyat yang sudah menderita.

Seperti tercatat dalam sejarah, di mana tidak atau belum ada kemakmuran dalam kehidupan rakyat jelata, di situ tentulah muncul rasa penasaran, dan kembali yang kuat merajalela dan pada umumnya lalu berlakulah hukum rimba, siapa kuat dia menang.

Orang-orang jahat bermunculan, mengganas sewenang-wenang karena pembesar-pembesar dan alat-alat pemerintah hanya rnengurus isi kantongnya sendiri.

Karena banyaknya orang-orang jahat, maka di sana-sini timbullah kelompok-kelompok atau gerombolan-gerombolan yang rnempunyai wilayah sendiri-sendiri.

Dan hal ini tentu saja mengakibatkan permusuhan dan persaingan di antara golongan ini.

Syukurlah bahwa masih banyak terdapat orang-orang gagah yang tidak sudi ikut memperebutkan kedudukan dan kemuliaan untuk diri sendiri.

Banyak di antara para bekas pejuang yang masih terbuka mata batinnya, dapat melihat betapa tersesatnya mereka yang mabuk kemuliaan itu, dan mereka orang-orang gagah sejati ini tetap hidup di antara rakyat jelata, tidak segan-segan untuk mencari nafkah dengan pekerjaan kasar, bahkan ada yang hidup hanya mengandalkan belas kasihan orang!

Makin lama makin banyaklah orang-orang yang hidupnya seperti pengemis.

Sudah tentu saja sebagian besar di antara mereka ini adalah orang-orang malas dan karena makin lama jumlahnya makin banyak mulailah orang jahat mengincar mereka yang dianggap sebagai golongan tesendiri yang bukan tidak kuat.

Dimasukinyalah kelompok ini dan didirikan perkumpulan-perkumpulan pengemis!

Celakanya, Kai-Pang (perkumpulan pengemis) ini dibentuk atas prakarsa orang-orang yang memang jahat sehingga pendirian ini sama sekali bukan diadakan untuk usaha perbaikan nasib orang-orang gelandangan itu, sama sekali bukan.

Memang, ada juga manfaatnya bagi keadaan hidup para pengemis ini, namun dengan cara yang tiada bedanya dengan penjahat.

Dengan adanya perkumpulan-perkumpulan ini, para pengemis lalu diharuskan mentaati peraturan perkumpulan, hasil mengemis harus dikumpulkan dan tidak boleh dipakai sendiri, sebaliknya soal makan mereka dijamin oleh perkumpulan.

Melihat para pengemis yang bergabung ini, tidak ada yang berani menolak permintaan mereka, karena hal ini bisa mengakibatkan si penolak itu celaka, dianiaya dan dirampok hartanya!

Jadi tegasnya, cara para pengemis dari Kai-Pang-Kai-Pang itu bekerja hanya tampaknya saja mengulurkan tangan minta sedekah, akan tetapi pada hakekatnya sama dengan perampok yang datang mengacungkan golok!

Mula-mula memang penduduk setiap kota dan para pembesar dan petugas, berusaha membasmi Kai-Pang-Kai-Pang ini.

Akan tetapi, karena para pengemis itu sudah bercampuran dengan para penjahat yang merasa lebih aman bersembunyi di antara kaum jembel itu, usaha ini sia-sia belaka.

Apalagi setelah organisasi pengemis itu makin meluas sehingga di setiap tempat ada cabangnya, kemudian para pengurus pengemis terdiri dari ahli-ahli silat yang berkepandaian tinggi, petugas-petugas keamanan menjadi tak berdaya.

Seperti dikatakan tadi, syukur bahwa tidak semua manusia di dunia ini berpikiran cupat dan berwatak remeh.

Orang-orang gagah yang melihat adanya gejala-gejala tak baik ini, yang berarti akan menambahi beban rakyat jelata karena pemerasan para perampok-perampok berpakaian pengemis ini, segera turun tangan.

Ada yang secara langsung mempergunakan kekerasan menentang para Kai-Pang ini.

Namun akhirnya mereka itu dikeroyok dan kalah, malah ada yang tewas.

Ada yang menentang secara diam-diam, menanti saat baik, kemudian mereka ini malah memasuki Kai-Pang-Kai-Pang itu, menjadi anggauta dengan maksud untuk membelokkan kejahatan para pengemis ke arah kebaikan.

Demikianlah, jangan kira bahwa semua anggauta Kai-Pang itu jahat karena di dalamnya banyak terdapat orang-orang gagah yang senantiasa menanti saat baik untuk menggulingkan kedudukan ketua masing-masing sehingga jika pimpinan terjatuh ke dalam tangan orang-orang yang tidak jahat ini, sudah tentu perkumpulan itu akan dibawa ke jalan benar.

Karena hai ini terjadi selama penjajah jatuh, jadi dua puluh tahunan, maka sekarang sudah banyaklah perkumpulan pengemis yang dipimpin oleh ketua-ketua yang baik sehingga perkumpulan ini benar-benar merupakan perkumpulan untuk memperbaiki nasib para anggauta.

Di dalam Kai-Pang yang bersih ini diadakan latihan-latihan semacam sekolah, di mana para anggautanya diajar untuk memiliki sesuatu kepandaian tertentu, misalnya pertukangan dan lain-lain.

Sesudah itu mereka itu diharuskan mencari pekerjaan sebagai sumber nafkah dan setelah mendapatkan pekerjaan sudah tentu mereka ini tidak lagi diperbolehkan mengemis dan tidak lagi menjadi anggauta biarpun masih ada hubungan persaudaraan.

Nah, demikianlah keadaan di waktu itu, di satu pihak Kai-Pang-Kai-Pang yang dipimpin oleh orang-orang jahat masih mengganas, Di lain pihak ada Kai-Pang-Kai-Pang yang bersih sehingga terkenallah sebutan Pek Kai-Pang (Perkumpulan Pengemis Putih) dan Hek Kai-Pang (Perkumpulan Pengemis Hitam).

Sudah tentu Pek Kai-Pang adalah golongan yang baik sedangkan Hek Kai-Pang golongan yang jahat.

Dan karena ada dua golongan yang berlainan sifatnya, tak dapat dicegah lagi adanya persaingan dan permusuhan di antara dua golongan ini sehingga sering kali terjadi pertempuran-pertempuran dan pertumpahan-perturnpahan darah.

Di antara Pek Kai-Pang, yang paling terkenal dan kuat adalah perkumpulan pengemis Hwa-I Kai-Pang (Perkumpulan Pengemis Baju Kembang).

Perkumpulan pengemis ini memiliki anak buah paling banyak dan karena ketuanya seorang yang memiliki kepandaian tinggi dan pengurusnya juga mendapat latihan ilmu silat tinggi, Maka banyak Kai-Pang lain yang tunduk kepada Hwa-I Kai-Pang.

Pusat perkumpulan ini di kaki Gunung Ta-Pie-San, sebelah Barat Kota Raja Nan-King.

Adapun ketuanya adalah seorang kakek gagah perkasa yang usianya sudah tinggi sekali namun memiliki kepandaian yang hebat.

Kakek pengemis ini tidak pernah memperkenalkan namanya, dan hanya mengaku berjuluk Hwa-I Lo-Kai (Pengemis Tua Berbaju Kembang).

Setelah para pengemis berkali-kali ditolong oleh kakek ini yang berkepandaian tinggi, maka ia lalu diangkat menjadi ketua dan perkumpulan yang dipimpinnya lalu diberi nama Hwa-I Kai-Pang.

Semua anggauta Hwa-I Kai-Pang selalu memakai baju berkembang, biarpun sudah lapuk atau penuh tambalan!

Pada suatu hari terjadilah berita yang menggemparkan "Dunia Pengemis"

Itu.

Pengemis mana yang takkan kaget mendengar berita bahwa Ketua Hwa-I Kai-Pang hendak mengundurkan diri dan di pusat perkumpulan itu hendak diadakan pemilihan pengurus baru?

Hal itu menjadi bahan percakapan yang ramai, tidak saja di antara para pengemis, bahkan boleh dibilang juga di antara para orang gagah di dunia kang-ouw karena sebagai perkumpulan besar, Hwa-I Kai-Pang mengundang para orang gagah untuk menjadi saksi dalam pemilihan ketua baru ini.

Menjelang datangnya hari pemilihan ketua, keadaan di sekitar kaki Gunung Ta-Pie-San menjadi ramai.

Banyak tokoh-tokoh perkumpulan pengemis dari daerah lain datang dengan pakaian mereka yang beraneka ragam dan macam.

Kalau melihat banyak pengemis dari berbagai aliran berkumpul di tempat yang luas itu, benar-benar mereka itu seperti bukan pengemis-pengemis, melainkan anak buah dari pasukan-pasukan!

Biarpun pakaian mereka itu tambal-tambalan, ada pula yang sudah lapuk, namun warnanya seragam.

Ada yang serba hitam, ada yang serba merah, ada yang putih, hijau, biru dan banyak lagi macam warnanya.

Para anggauta Hwa-I Kai-Pang tentu saja berbaju kembang semua!

Mereka yang sudah datang bertanya-tanya mengapa Hwa-I Lo-Kai hendak mengundurkan diri dan mencari penggantinya.

Akan tetapi tak seorangpun dapat menjawab pertanyaan ini, bahkan para anggauta Hwa-I Kai-Pang sendirian tidak ada yang dapat memberi keterangan.

Hwa-I Kai-Pang atau Perkumpulan Pengemis Baju Kembang pada waktu itu sudah merupakan perkumpulan yang besar, mungkin terbesar di antara perkumpulan pengemis yang ada di daerah itu.

Malah dapat dikatakan bahwa perkumpulan ini paling makmur, memiliki rumah pertemuan yang besar dengan perabot-perabot rumah yang lengkap, mempunyai ruangan tempat para, pengemis cilik belajar sesuatu pekerjaan dan lain-lain.

Hal ini adalah karena sepak terjang perkumpulan ini yang betul-betul merupakan perkumpulan sosial hendak memberi bimbingan kepada kaum gelandangan itu agar dapat hidup lebih baik dan terangkat nasibnya, telah menarik hati banyak dermawan yang banyak memberi sumbangan-sumbangan kepada Hwa-I Kai-Pang.

Tidak hanya dalam soal usaha memperbaiki nasib para pengemis, juga dalam organisasi sendiri, makin lama perkumpulan ini menjadi makin kuat.

Makin banyak saja pemuda yang tinggi ilmu silatnya dan ini boleh dibilang semua telah menjadi murid Hwa-I Lo-Kai.

Tentu saja para pengurus ini tadinya memang sudah memiliki kepandaian dari macam-macam aliran, akan tetapi setelah mereka menggabungkan diri di Hwa-I Kai-Pang, dan menyaksikan sendiri betapa tingginya ilmu silat ketuanya, mereka lalu minta diberi pelajaran ilmu silat.

Ketua Hwa-I Kai-Pang ini selalu suka menurunkan kepandaiannya dan ia mengajarkan beberapa ilmu pukulan yang ia sesuaikan dengan watak dan keadaan jasmani si murid.

Makin lama makin banyaklah anggauta Hwa-I Kai-Pang yang mendapatkan kemajuan hebat dalam kepandaian ilmu silat mereka.

Malah kemudian hampir tidak ada seorangpun anggauta pengurus yang tidak berilmu tinggi.

Hwa-I Lo-Kai sendiri maklum bahwa di antara perkumpulan pengemis yang amat banyak itu, tidak jarang merupakan perkumpulan pengemis palsu yang sesungguhnya lebih patut disebut perkumpulan penjahat.

Juga ia tahu betapa perkumpulan-perkumpulan jahat ini mengandalkan kekerasan, tidak hanya melakukan pemerasan terhadap penduduk, juga kadang-kadang berani menindas perkumpulan lain yang lebih lemah.

Karena itu, kakek ini melihat betapa pentingnya bagi perkumpulan yang dipegangnya untuk memperkuat diri dengan pengurus-pengurus yang pandai ilmu silat.

Ini pulalah yang membuat ia lalu mulai mengadakan susunan dalam pengurusnya, membagi-bagi tugas sesuai dengan kemampuan dan kepandaian mereka.

Untuk membedakan tingkat kepandaian ilmu silat, ia mengadakan percobaan lalu memberi tanda tingkat pada para muridnya itu.

Tanda tingkat ini merupakan tali ikat pinggang berwarna putih dari serat biasa.

Makin banyak tali ini mengikat pinggang seorang pengemis Hwa-I Kai-Pang, makin tinggilah tingkat ilmu silatnya.

Di antara para pengurus dan pembantu ketua itu, rata-rata hanya memiliki empat helai ikat pinggang.

Jumlahnya ada dua puluh orang lebih.

Yang memiliki lebih dari empat helai amat jarang.

Yang paling tinggi tingkatnya di antara mereka hanya tiga orang.

Mereka ini telah mempunyai tujuh helai tali putih yang mengikat pinggang mereka.

Tiga orang inilah yang dalam segala hal mewakili Hwa-I Lo-Kai dan mereka boleh dibilang sudah memegang seluruh urusan perkumpulan itu sebagai wakil ketua.

Mereka adalah Coa Lo-Kai, Beng Lo-Kai, dan Sun Lo-Kai.

Lo-Kai artinya "Pengemis tua"

Akan tetapi sebutan ini dalam perkumpulan itu berarti menghormat, karena yang berhak menyebut diri Lo-Kai hanyalah ketua mereka dan tiga orang tangan kanan inilah!

Jadi panggilan Lo-Kai ini seakan-akan merupakan panggilan penghormatan seperti lajimnya sebutan "Yang Mulia"

Dan "Paduka"!

Memang dalam perkumpulan yang aneh ini banyak terdapat aturan dan hal-hal aneh pula.

Sudah dapat dibayangkan bahwa kalau Hwa-I Lo-Kai mengundurkan diri, calon penggantinya tentulah seorang di antara tiga kakek ini.

Hal ini tidak hanya menjadi pendapat para anggauta, malah juga pendapat orang-orang luar dan juga demikianlah kata hati tiga orang itu sendiri.

Oleh karena itu, diam-diam seperti ada persaingan di antara mereka dan secara diam-diam pula tiga orang pembantu ini mendekati para anggauta dan sedapat mungkin menarik sebanyak-banyaknya sahabat agar mendukungnya dalam "Pemilihan umum"

Itu nanti.

Sudah bukan hal aneh lagi apabila mereka ini menjanjikan hal-hal yang muluk-muluk kepada para anggauta yang suka memilihnya.

Pagi hari pada waktu pemilihan, di pekarangan yang amat luas di depan rumah pertemuan Hwa-I Kai-Pang, para anggauta sudah berkumpul.

Pengemis-pengemis berpakaian baju kembang yang tidak kurang dari seratus orang jumlahnya duduk di belakang ketua dan para pengurus mereka.

Adapun para tamu merupakan kelompok-kelompok yang duduk di atas tanah juga, menghadap tuan rumah.

Ada kelompok pengemis berpakaian hijau, merah, hitam, putih dan lain-lain yang dipimpin oleh ketua atau wakil masing-masing.

Uniknya, pertemuan ini sama sekali tidak dilengkapi kursi, bangku ataupun meja dan semua yang hadir duduk begitu saja di atas tanah, ada yang bersila, ada yang berjongkok.

Hwa-I Lo-Kai tampak duduk bersila sambil meramkan mata.

Dia adalah seorang kakek yang usianya sudah delapan puluh tahun lebih, bertubuh tinggi kurus, rambutnya yang panjang tidak terawat, pakaiannya berkembang sederhana, terdapat tiga tambalan di pundak dan dada.

Pinggangnya diikat dengan tali putih terbuat dari Sutera.

Di pinggang kiri tergantung sebuah guci arak dari perak dan ia tidak kelihatan membawa senjata, Di sebelah kanannya duduklah tiga orang pembantunya yang terkenal, yaitu Coa Lo-Kai yang bertubuh tinggi besar bermata lebar dan gerak-geriknya kasar.

Beng Lo-Kai orangnya gemuk pendek berkulit kuning bermata sipit, tersenyum-senyum gembira.

Sun Lo-Kai orangnya kecil agak bongkok, matanya tajam bergerak ke sana ke mari.

Tiga orang pembantu ini semua memakai baju berkembang dengan ikat pinggang tali putih tujuh helai membelit pinggang.

Berbeda dengan Sang Ketua, ketiga orang ini masing-masing memanggul sebatang pedang di punggungnya.

Para pembantu lain yang lebih rendah tingkatnya, yaitu yang bertali pinggang enam ada dua orang, yang bertali pinggang lima ada tujuh orang dan sebelas orang bertali pinggang empat duduk di sebelah kiri ketua ini dengan sikap menghormat.

Keadaan di situ cukup ramai.

Biarpun semua orang sudah duduk di atas tanah tak seorangpun kelihatan berdiri, namun mereka saling bicara perlahan, ada yang berbisik-bisik sehingga tempat itu menjadi berisik juga.

Akhirnya Hwa-I Lo-Kai membuka kedua matanya, memandang ke kanan kiri lalu ia mengangkat tangan kanannya ke atas.

Siraplah suara berisik dan semua orang memandangnya dengan penuh perhatian.

"Saudara para tamu sekalian dan saudara-saudaraku anggauta Hwa-I Kai-Pang yang tercinta. Tak kepada seorangpun pernah kuberi tahu, bahkan para pembantuku juga tidak, mengapa secara mendadak aku hendak meninggalkan Hwa-I Kai-Pang dan menyerahkan pimpinan kepada seorang saudara. Sekarang, terus terang saja untuk menghilangkan dugaan yang bukan-bukan, aku jelaskan bahwa aku mempunyai seorang musuh pribadi..."

Kembali keadaan menjadi berisik, terutama di kalangan anggauta Hwa-I Kai-Pang yang banyak mengeluarkan suara marah.

Kalau ada musuh, mengapa harus meninggalkan kedudukan?

Apakah takut?

Hwa-I Kai-Pang amat kuat, siapa berani mengganggu ketuanya?

Kembali Hwa-I Lo-Kai mengangkat tangannya memberi isyarat supaya semua orang jangan berisik.

"Urusan ini adalah urusan pribadiku, dan hari ini adalah hari janji kami berdua untuk membuat perhitungan terakhir. Aku tidak suka membawa-bawa perkumpulan ke dalam urusan pribadi, juga aku tidak mau menyeret musuh pribadiku menjadi musuh perkumpulan. Biarlah hal ini kuselesaikan sendiri sebagai urusan pribadi yang tak boleh orang lain mencampurinya. Nah, sekarang lega hatiku karena saudara semua sudah mendengar penjelasanku. Sekarang, marilah kita semua memilih seorang ketua baru yang tepat, yang kiranya akan dapat memimpin saudara-saudara sekalian lebih baik dari yang telah kulakukan."

Kembali para anggauta Hwa-I Kai-Pang menjadi berisik karena mereka saling berbisik dan banyak terdengar suara-suara tidak setuju.

Malah tiba-tiba terdengar suara yang nyaring dari Coa Lo-Kai, yang bicara dengan sepasang mata lebar membelalak.

"Saya tidak setuju dengan uraian Lo-Kai! Selama saya membantu Lo-Kai, tidak pernah satu kalipun saya ragu-ragu dan membangkang terhadap perintah, akan tetapi sekali ini terpaksa saya tidak setuju! Lo-Kai tidak saja menjadi ketua, bahkan menjadi pendiri dari Hwa-I Kai-Pang. Oleh karena itu segala urusan Hwa-I Kai-Pang adalah urusan Lo-Kai, sebaliknya urusan Lo-Kai berarti juga urusan semua anggauta Hwa-I Kai-Pang! Kita semua sudah bersumpah, susah sama dipikul, senang sama dinikmati. Mana ada aturan sekarang Lo-Kai hendak meniggalkan kita hanya karena ada urusan pribadi? Kalau ada musuh Lo-Kai, katakan saja siapa dan di mana, saya Coa Lo-Kai takkan mundur untuk mewakili Lo-Kai, biarpun nyawaku yang tak berharga ini akan melayang karenanya!"

Setelah berkata demikian, pengemis tinggi besar yang usianya belum ada lima puluh itu meloncat berdiri, tegak siap sedia dengan mata memandang ke sana ke mari seolah-olah hendak mencari musuh pribadi ketuanya.

Hwa-I Lo-Kai menarik napas panjang dan menggelengkan kepalanya.

Baca Juga: Kisah Para Pendekar Pulau Es 13

Baca Juga: Bu Kek Siansu 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert