Ceritasilat Novel Online

Rajawali Emas 6

Eps 6 Rajawali Emas - Kho Ping Hoo

Baca online Rajawali Emas - Kho Ping Hoo

Cersil Rajawali Emas - Kho Ping Hoo.

"Coa Lo-Kai, terima kasih atas kesetiaanmu ini. Akan tetapi urusan ini benar-benar adalah urusan pribadiku dan kali ini terpaksa aku harus menebus sifatku yang pengecut, yang selalu kupertahankan belasan tahun lamanya. Ya... aku telah bersikap pengecut sehingga belasan tahun aku menyembunyikan nama dan paling akhir aku menggunakan nama Hwa-I Lo-Kai. Dahulu... hemmm, sekarang tiba saatnya aku meninggalkan sikap pengecut dan membuka rahasiaku sendiri, dahulu aku bernama Sin-Chio (Tombak Sakti) The Kok."

Semua pengemis dan yang hadir di situ, terutama kaum tuanya tercengang mendengar nama ini.

Belasan tahun yang lalu nama Sin-Chio The Kok amatlah terkenal sebagai seorang perampok tunggal yang memiliki kepandaian tinggi.

Kabarnya ilmu tombaknya belum pernah terkalahkan sehingga ia dijuluki orang Sin-Chio (Tombak Sakti).

Setelah mendengar siapa adanya Hwa-I Lo-Kai, semua orang menjadi berisik, ada yang merasa kecewa bahwa Hwa-I Kai-Pang ternyata dipimpin oleh seorang bekas perampok.

Akan tetapi ada suara yang membantah dengan pernyataan bahwa biarpun seorang perampok, nama The Kok tetap bersih sebagai perampok budiman yang tidak sembarang merampok orang.

Yang menjadi sasaran dan korbannya adalah pembesar-pembesar jahat dan hartawan-hartawan kikir, malah kabarnya hasil perampokannya selalu ia bagi-bagikan kepada rakyat yang miskin.

Hwa-I Lo-Kai atau Sin-Chio The Kok mengangkat tangannya dan suara berisik segera sirap.

"Nah, sekarang saudara sekalian tahu siapa saya dan saya sendiri merasa tidak pantas menjadi Ketua Hwa-I Kai-Pang. Bukan karena saya bekas perampok, akan tetapi terutama sekali karena saya seorang pengecut yang karena takut menghadapi musuh lalu bersembunyi di balik nama palsu. Sekarang musuh besarku sudah mengetahui dan hendak menuntut balas, karena inilah aku akan meninggalkan Hwa-I Kai-Pang untuk membereskan perhitungan dengan dia dan sebelum aku pergi, aku ingin melihat bahwa perkumpulan kita mendapatkan seorang ketua baru yang tepat."

Beng Lo-Kai yang gemuk pendek segera berdiri dan dengan senyum yang tak pernah meninggalkan bibirnya ia berkata.

"Memang tepat sekali apa yang dikatakan oleh Pangcu (Ketua). Harap Pangcu segera tetapkan saja calon-calon pengganti Pangcu agar pemilihan dapat dilakukan segera."

"Siapa lagi yang kucalonkan kecuali kalian bertiga pembantu-pembantuku? Kalian bertigalah calon-calon ketua dan pemilihannya siapa di antara kalian bertiga terserah kepara para anggauta,"

Jawab Ketua itu.

"Saya tidak setuju...!"

Coa Lo-Kai kembali berkata dengan suaranya yang nyaring.

"Setetah kita ketahui bahwa ketua kita adalah Sin-Chio The Kok, seharusnya kita bangga mempunyai seorang ketua yang gagah perkasa dan terkenal sebagai seorang yang budiman. Biarpun sekarang Lo-Kai menghadapi urusan itu dan saya percaya Lo-Kai akan dapat mengatasinya dengan baik. Setelah itu, bukankah Lo-Kai dapat kembali memimpin perkumpulan kita?"

"Heh, Coa Lo-Kai banyak cerewet!"

Terdengar suaranya yang parau dan seperti kaleng dipukul dan pembicara ini adalah Sun Lo-Kai yang sudah berdiri dan memandang tajam.

"Apakah kau hendak membangkang terhadap perintah Pangcu? Lupakah kau apa hukumannya apabila seorang anggauta membangkang terhadap perintah?"

Pengemis tinggi besar itu membalikkan tubuhnya dan menatap wajah Sun Lo-Kai dengan mata berapi.

"Ho-ho, Sun Lo-Kai, tak usah kau mengingatkan Aku sendiri tahu bahwa tugasku meneliti dan menghukum para anggauta yang menyeleweng, tentu aku maklum akan aturan-aturan di perkumpulan kita. Kalau ketua kita memerintah kepadaku untuk melaksanakan sebuah tugas, biarpun harus mempertaruhkah nyawa, aku tidak akan mundur. Akan tetapi sekarang ini lain lagi. Pangcu kita hendak pergi meninggalkan kita dan menunjuk seorang di antara kita untuk menjadi ketua. Aku tidak setuju sama sekali memilih ketua baru selama Lo-Kai masih hidup! Sun Lo-Kai, agaknya kau sudah terlalu mengilar untuk memperoleh kursi ketua?"

Sepasang mata dari pengemis bongkok ini bersinar dan bercahaya.

"Hemm, Pangcu mencalonkan kita bertiga, bukan hanya aku. Kau sendiri pun, kalau kau mampu membuktikan bahwa kau lebih gagah dan pandai dari aku dan Beng Lo-Kai, kau boleh menjadi ketua."

"Aku tidak sudi selama Lo-Kai masih ada, aku tidak sudi menjadi ketua dan tidak sudi membiarkan seorang di antara kamu menjadi Ketua Hwa-I Kai-Pang. Apalagi seorang seperti kau!"

Coa Lo-Kai menudingkan telunjuknya ke arah muka Sun Lo-Kai sehingga pengemis bongkok ini menjadi merah sekali.

"Berani kau menghinaku di depan banyak orang?"

"Aku tidak menghina, melainkan bicara sejujurnya. Kau tahu aku suka berterus terang dan akupun terus terang saja menyatakan bahwa aku tidak suka melihat dan mendengar kau berhubungan erat dengan golongan merah dan hijau."

"Kau keparat, kau menuduh yang bukan-bukan. Apakah kau mengajak berkelahi?"

Sun Lo-Kai sudah tak dapat menahan kemarahannya lagi.

"Berkelahi atau apa saja masa aku takut?"

Coa Lo-Kai juga marah. Dua orang ini sudah saling berhadapan dan saling mendekat, siap hendak menggunakan kekerasan.

"Coa Lo-Kai, Sun Lo-Kai, sudahlah. Tak perlu ribut-ribut!"

Hwa-I Lo-Kai berseru untuk melerai mereka.

"Biarlah, Lo-Kai, biar kuberi hajaran kepada si Bongkok ini!"

Coa Lo-Kai berkata keras.

"Pengemis busuk, kaulah yang akan mampus di tanganku!"

Sun Lo-Kai yang tidak pandai bicara itu mendengus.

Adapun para anggauta Hwa-I Kai-Pang yang berada di situ memang sudah terpecah-pecah dalam pemilihan ketua, ada yang pro Coa Lo-Kai, ada yang pro Sun Lo-Kai.

Melihat dua orang jagoan mereka itu sudah saling berhadapan, mereka menjadi tegang dan terdengar seruan-seruan kedua pihak untuk memberi semangat kepada jagoan mereka.

Keadaan menjadi berisik sekali sehingga suara Hwa-I Lo-Kai hendak mencegah pertarungan itu tidak terdengar nyata.

Dua orang pengemis tua itu sekarang sudah saling serang.

Mula-mula Sun Lo-Kai yang membuka serangan.

Dia seorang ahli Cu-See-Ciang, yaitu kedua tangannya telah digembleng dan diperkeras dengan latihan mencacah pasir panas.

Ia bersilat dengan kedua tangan terbuka, dengan jari-jari lurus dan ibu jari ditekuk ke dalam sehingga kedua tangannya itu seakan-akan sepasang golok yang diserangkan dengan bacokan atau tusukan maut, Di lain pihak, Coa Lo-Kai adalah seorang ahli Gwakang, tenaganya seperti Gajah, gerakannya tenang.

Kalau sambaran tangan Sun Lo-Kai seperti sambaran golok yang tajam, adalah sambaran kepalan tangan Coa Lo-Kai yang besar itu seperti sambaran toya baja yang keras dan berat.

Keduanya adalah ahli-ahli silat yang kemudian mendapat latihan dari Hwa-I Lo-Kai, maka biarpun mereka memiliki keistimewaan masing-masing, boleh dibilang tingkat mereka seimbang.

Para pengemis yang menonton pertempuran ini, menjadi, tegang dan gembira, dari sana sini terdengar seruan-seruan memihak.

Hwa-I Lo-Kai menjadi bingung, Tentu saja mudah baginya untuk datang memisah, akan tetapi apa gunanya?

Sekali mereka menanam bibit kebencian satu kepada yang lain, hal itu takkan mudah dipadamkan.

Biarlah mereka menentukan siapa yang lebih kuat, malah ini merupakan saringan pula untuk memilih seorang ketua baru.

Ia hanya berdiri dengan kedua lengan di belakang, namun siap setiap saat apabila seorang diantara kedua pembantunya itu terancam bahaya maut, tentu ia akan turun tangan mencegah.

Pada saat dua orang itu sedang saling gempur dengan ramainya, tiba-tiba dari jauh terdengar orang berteriak-teriak, nyaring menusuk telinga semua orang.

"Heii... dua orang pengemis tua saling tempur memperebutkan apa sih?"

Karena suara ini hebat dan nyaring semua orang menengok, bahkan Coa Lo-Kai dan Sun Lo-Kai juga otomatis berhenti untuk melihat siapa orangnya yang berteriak demikian nyaringnya itu.

Dari jauh tampak dua orang berjalan menuju ke tempat itu Yang di depan adalah seorang pemuda tampan yang pakaiannya sama lapuknya dengan pakaiannya para pengemis sungguhpun potongan pakaian itu seperti pakaian seorang pemuda terpelajar.

Pemuda inilah yang berteriak sambil melambai-lambaikan tangannya tidak keruan seperti orang gendeng.

Adapun orang yang berjalan di sampingnya, agak terbelakang, adalah seorang kakek tua sekali, terbongkok-bongkok jalannya, pakaiannya juga compang-camping, dengan tangan memegang tongkat (Lanjut ke

Jilid 15) Rajawali Emas (Seri ke 02 -Serial Raja Pedang) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 15 yang diperlukannya untuk membantu ia berjalan.

Siapakah dua orang ini?

Pemuda itu bukan lain orang adalah Kwa Kun Hong!

Seperti kita ketahui, pemuda ini telah turun dari puncak Bukit Kepala Naga, kenapa dia bisa berada di sini dan datang bersama seorang kakek pengemis tua renta itu?

Baiklah kita mengikuti perjalanannya sebentar semenjak pemuda ini meninggalkan Bukit Kepala Naga dan sampai ke tempat ini, yaitu di kaki Pegunungan Ta-Pie-San, pusat dari perkumpulan Hwa-I Kai-Pang.

Telah dituturkan di bagian depan betapa Kun Hong meninggalkan Bukit Kepala Naga dengan maksud mencari dusun untuk bertanya kepada orang ini di mana arah perjalanan menuju ke Hoa-San.

Memang tak lama kemudian ia bertemu dengan penduduk dusun, akan tetapi penduduk dusun yang jarang meninggalkan kampung halaman itu, mana ada yang tahu tentang Hoa-San?

Keterangan yang didapat oleh Kun Hong sama sekali tidak mendekatkannya dengan tempat tinggalnya, malah membuat ia tersesat makin jauh dari Hoa-San.

Akhirnya ia mendengar bahwa ia sudah tiba di daerah Kota Raja Selatan (Nan-King).

Ia tertegun ketika mendengar dari orang yang mengetahui bahwa ia salah jalan dan malah menjauhi Hoa-San.

Akan tetapi sebaliknya ia gembira ketika mendengar bahwa ia telah berada di Kota Raja.

Setelah ia berada di tempat yang dekat dengan Kota Raja, apa salahnya untuk sekalian melihat-lihat keadaan Kota Raja?

Sudah lama ia mendengar tentang Kota Raja yang hanya dapat ia lihat dalam alam mimpi saja.

Sekarang, tanpa disengaja ia mendekati Kota Raja, sudah tentu ia tidak akan melewatkan kesempatan sebaik ini.

Ketika Kun Hong melanjutkan perjalanannya menuju ke Kota Raja, ia melalui Pegunungan Ta-Pie-San.

Setelah turun naik lereng bukit, ia merasa lelah dan mengaso di bawah sebatang pohon besar yang tumbuh di lereng gunung.

Pemandangan indah, hawa amat nyaman.

Kun Hong lalu menuruni jurang kecil di mana terdapat air terjun yang kecil akan tetapi amat jernih airnya.

Dengan sedap dan segar ia minum air itu, lalu mencuci muka, tangan, dan kakinya.

Setelah merasa tubuhnya segar kembali, perutnya menggeliat minta isi.

Kun Hong kembali ke bawah pohon dan mengeluarkan bekalnya roti kering yang ia terima dari seorang Hwesio sebuah kelenteng tua yang amat baik hati, di mana ia semalam menginap.

Terpaksa ia menunda tangannya yang sudah mengantar roti kering ke mulutnya, ia kaget dan terheran-heran mengapa di tempat sesunyi itu terdengar suara orang.

Orang itu bicara dengan keras suaranya terbawa angin, sayup-sayup sampai tidak dapat ia tangkap artinya.

Akan tetapi kenapa tidak pernah, ada suara lain yang menjawabnya?

Biasanya orang bercakap-cakap tentu sedikitnya membutuhkan dua orang.

Suara itu makin jelas dan kini tertangkap oleh telinga Kun Hong, suara orang mencari sesuatu!

"Ah, di manakah dia?

Haaa, boleh jadi inilah!

Ya betul, inilah agaknya yang kucari-cari puluhan tahun sampai sampai saat ini.

Tak salah lagi..., tapi betulkah ini dia?

Jangan-jangan aku salah duga kecele lagi..."

Tergerak hati Kun Hong.

Suara agak menggetar, dan dapat diduga pembicaranya tentu seorang yang sudah tua.

Ia menyimpan kembali roti keringnya, berdiri dan berjalan menuju arah suara tadi.

Setelah ia melalui sebuah gundukan batu karang, tampaklah olehnya seorang kakek berpakaian compang-camping, berdiri dengan tongkat tertekan tangan seakan-akan tongkat itulah yang membantu ia berdiri, tangan kiri ditaruh melintang di kening untuk melindungi kedua mata tuanya dari sinar matahari, dan menoleh kian ke mari memandangi tamasya alam di bawah gunung.

Ataukah sedang mencari sesuatu?

Segera timbul welas dalam hati Kun Hong melihat kakek yang amat tua ini.

Tubuhnya kurus, tinggal kulit dan tulang, pakaiannya sudah tak patut disebut pakaian lagi, hanya robekan-robekan kain menutupi tubuh di sana-sini, sepatunya sudah bolong sehingga tampak beberapa buah jari kaki tersembul keluar dari pinggir sepatu.

Aduh kasihan, pikir Kun Hong.

Sudah begini tua mengapa pergi susah payah ke gunung yang tidak mudah dilalui jalannya?

Begitu kurus, tentu sudah berhari-hari tidak makan.

"Kakek yang baik, kau sudah begini tua dan lemah mengapa sampai di tempat seperti ini? Kau sedang mencari apakah, Kek?"

Tanyanya sambil maju mendekat.

"Ya, aku memang mencari sesuatu,"

Jawab kakek itu tanpa menoleh kepada Si Penanya.

"Mencari apakah yang hilang? Di mana hilangnya? Biarlah kubantu kau mencarinya,"

Kata Kun Hong dengan ramah dan dengan suara mengandung hiburan yang membesarkan hati.

"Heh... tidak ada yang hilang... tapi sudah puluhan tahun aku mencarinya..."

Tiba-tiba ia menoleh dan terkejutlah Kun Hong ketika bertemu pandang dengan sepasang mata yang luar biasa tajamnya seakan-akan menembus sampai ke dalam dadanya.

Tak kuat Kun Hong menatap sepasang mata yang hebat itu, terpaksa ia menundukkan pandang matanya.

"Kau bilang kau hendak bantu aku mencarinya? Huh, betulkah itu? Aku yang sudah puluhan tahun mencari belum juga bertemu. Tapi... hemmm, mungkin sekali ini aku akan dapat bertemu dengannya!"

Kata-kata ini penuh semangat dan kakek itu berdongak memandang ke atas.

Otomatis Kun Hong juga mendongakkan kepalanya, akan tetapi di atas sana tidak ada apa-apa, kecuali mega-mega putih berarak di angkasa.

Celaka, pikirnya, kasihan benar kakek ini, agaknya dia sudah miring otaknya!

Kun Hong menggeleng-geleng kepalanya, lalu memegang tangan kakek itu, menuntunnya perlahan menuju ke bawah pohon.

"Kakek yang baik, marilah kita beristirahat di tempat yang teduh sana, aku mempunyai beberapa potong roti kering, marilah kita makah bersama,"

Bujuknya.

Kakek itu sejenak memandang kepadanya dengan heran tapi menurut saja ketika dituntun ke bawah pohon.

Malah ia segera ikut Kun Hong duduk di bawah pohon itu dan menerima pemberian roti kering dari Kun Hong yang dimakannya lambat-lambat.

"Orang muda, jarang ada orang semacam kau ini di jaman yang sulit ini... hemm, senang juga bertemu dengan orang macam kau di tempat sunyi."

Kun Hong memadang penuh perhatian dan sekarang ia merasa yakin bahwa tak mungkin kakek ini miring otaknya. Mungkin hanya karena berwatak aneh saja maka kelihatan seperti orang tidak waras pikirannya.

"Akupun merasa gembira dapat berjumpa dengan kau di sini kakek yang baik. Sebetulnya, siapakah yang kau cari itu? Benda ataukah manusia? Aku akan merasa girang kalau kau segera dapat bertemu dengannya, Kek."

Kakek itu tiba-tiba tampak gembira dan wajahnya berseri-seri.

"Ya, betul sekali, pasti aku akan dapat bertemu dengannya setelah aku membunuh manusia she The itu!"

Ia nampak bersemangat dan gembira, tidak melihat betapa muka Kun Horng sekilas menjadi pucat dan kembali menjadi merah.

"Waaahhh... jangan, Kek. Tidak boleh kau membunuh orang biar dia itu she The atau she apa pun!"

Kini kakek itu menatap tajam wajah Kun Hong, agaknya marah. Roti kering yang baru dimakan separuh itu lalu dilemparkannya ke atas tanah.

"Siapa bilang tidak boleh? Dia itu musuh besarku, dia telah membunuh muridku yang tercinta. Belasan tahun aku mengejar-ngejarnya, mencari-carinya akhirnya aku tahu bahwa dia telah berganti nama... ha-ha-ha... berganti nama menjadi Hwa-I Lo-Kai ketua perkumpulan Hwa-I Kai-Pang. Ha-ha-ha, manusia she The, ke manapun kau bersembunyi, pasti akan terpegang kau olehku."

"Kau salah, Kek. Betapapun juga, tidak boleh membunuh orang. Berdosa sekali perbuatan itu, dan manusia takkan terlepas dari hukum karma, kecuali kalau dengan budi kebaikan dia melepaskan diri dari hukum, karma yang lalu, barulah dia itu seorang manusia yang bebas dan mulia."

"Uahhh, kau anak kecil tahu apa? Aku hendak membunuh orang she The itu sekali-kali bukan hanya karena dia telah membunuh muridku. Aku membunuhnya karena aku hendak mencari kebahagiaan, kau tahu? Tak pernah aku dapat menemukan kebahagiaan, seluruh dunia kujelajahi, perbuatan apapun kulakukan, samadhi, bertapa, menyiksa diri, tapi kebahagiaan belum pernah dapat kumiliki. Orang bilang harta benda mendatangkan kebahagiaan? Phuah! Omong kosongnya seorang kepala angin. Kau lihat ini? Emas murni. Bahhh, jemu aku melihatnya karena mengingatkan aku akan manusia kepala angin yang menyatakan bahwa kebahagiaan dapat dicapai kalau memiliki harta benda sebanyaknya!"

Setelah berkata demikian kakek itu mengeluarkan sebongkah emas murni yang berkilauan, lalu ia melempar emas murni itu jauh ke dalam jurang yang tak mungkin dapat didatangi manusia!

Kun Hong mendengarkan dengan tenang dan sabar, lalu mengangguk-angguk, tidak heran melihat orang membuang sebongkah emas yang berharga itu.

"Kau betul, Kek. Memang kebahagiaan tidak dapat dimiliki melalui emas itu."

"Bagus, kau sependapat, kalau kau menyayangkan emas tadi, kaupun akan kulempar ke dalam jurang itu!"

Kakek aneh itu berkata lagi.

"Ada pula orang tolol bilang bahwa kalau memiliki kesaktian sehingga tak terkalahkan orang lain, barulah memiliki kebahagiaan. Uhhh, si goblok. Apa artinya kepandaian tinggi? hemm, apakah ini yang dianggap dapat membahagiakan manusia?"

Kakek itu menoleh ke kiri, tangan kirinya meremas dan batu hitam itu bagaikan tanah lempung saja dalam tangannya, sekali remas hancur lebur!

"Apakah ini yang dapat mendatangkan bahagia?

Celaka, si manusia sombong.

Kalau penyakit datang, usia lanjut menggerayang, kematian menjangkau, bisa apakah dia dengan, ilmu saktinya?

Ha-ha-ha, pikiran katak dalam tempurung!"

Diam-diam Kun Hong terkejut dan sama sekali tidak mengira bahwa kakek yang ia anggap hampir mati kelaparan ini, ternyata adalah seorang yang memiliki kepandaian sedemikian hebatnya.

Sekali remas saja batu hitam hancur lebur, wah, hampir ia tidak percaya kalau tidak melihat sendiri.

Akan tetapi ia lebih tertarik oleh filsafat yang terkandung dalam ucapan Si Kakek itu, maka ia lalu mengangguk-angguk kembali dan membenarkan.

"Kembali kau benar, Kek. Kebahagiaan memang tidak terletak dalam ilmu kepandaian atau kesaktian."

"Juga tidak dalam kedudukan dan pangkat kemuliaan dan harta?"

"Betul tidak dalam kedudukan dan pangkat"

"He-he-he, kau pintar juga, orang muda. Kaisar-Kaisar di jaman dahulu kurang begaimana hebatnya? Kedudukannya setinggi langit, dianggap putera Tuhan, pangkatnya nomor satu di dunia, mulia dan dihormat semua orang, kekayaannya berlimpah, tapi mana ada Kaisar yang tak pernah maran-marah, jengkel, bermusuh-musuhan dan selalu terancam keselamatannya? Mana ada Kaisar yang telah memiliki kebahagiaan di samping segala yang dimilikinya itu?"

"Mungkin kau betul, kakek yang baik. Mungkin mereka yang berlimpahan dengan harta dan kemuliaan dunia, malah tidak memiliki kebahagiaan, akan tetapi agaknya kau sendiripun sedang mencari kebahagiaan. Kenapa kau tadi katakan bahwa kau akan bahagia kalau kau sudah dapat membunuh seorang she The? Bagaimana ini? Harap kau jelaskan, Kek,"

Agar hatiku tidak mengandung penasaran.

"Heh-heh-heh, kau baik, biarlah kujelaskan. Puluhan tahun aku mencari tapi tidak dapat menemukan kebahagiaan. Selain itu, akupun mencari musuh besarku, yaitu The Kok yang telah membunuh muridku. Sekarang aku sudah mendapatkan tempat persembunyian The Kok. Nah, timbullah dalam hatiku bahwa agaknya yang menjadi penghalang kebahagiaanku adalah karena aku belum berhasil membalaskan sakit hatiku. Kalau aku sudah berhasil membunuh si manusia she The itu, sudah pasti aku akan dapat menemukan kebahagiaan. Ha-ha-ha, orang muda yang baik, yang pintar, bukankah betul pendapatku ini?"

Kun Hong mengerutkan keningnya, menarik napas panjang lalu menggeleng-geleng kepalanya.

"Sayang sekali, Kek. Terpaksa aku tidak dapat membenarkan pendapatmu itu. Menurut perkiraanku, apabila kau sudah berhasil membunuh orang she The yang kau maksudkan itu, kau malah makin jauh dari kebahagiaan yang kau cari. Hal ini aku merasa yakin sekali, seyakin kenyataan bahwa kau berhadapan dengan aku di saat ini,"

Di waktu bicara, Kun Hong mengerutkan kening, matanya menatap tajam dan suaranya begitu sungguh-sungguh. Mula-mula kakek itu melengak heran, lalu merah mukanya dan ia menenjadi marah sekali.

"Hati-hati kalau bicara orang muda. Jangan-jangan kau malah akan kubunuh lebih dulu, sebelum membunuh The Kok."

"Apa boleh buat kau bermaksud begitu, Kek, Akan tetapi kalau demikian makin tebal keyakinanku bahwa kau selama hidupmu takkan dapat menemui kebahagiaan."

"Keparat kau kurang ajar sekali akan tetapi... hemmm, kau juga aneh dan bukan main beraninya. He, orang muda yang bernyali Naga bermulut wanita, apa alasanmu bahwa orang membunuh orang, akan menjauhkannya dari kebahagiaan?"

"Aku yakin akan hal ini, Kek. Apalagi setelah aku membaca tulisan yang ditinggalkan oleh Suhuku, betapa dia merana dan menderita hebat sekali karena terlampau banyak membunuh orang, biarpun yang dibunuhnya itu menurut anggapannya adalah orang-orang jahat belaka. Kau hendak membunuh The Kok, katakanlah bahwa menurut anggapanmu, dia membunuh muridmu dan dia itu jahat. Akan tetapi apakah demikian pula dengan anggapan sahabat-sahabatnya, sanak keluarganya, gurunya, muridnya, orang tua dan anak-anaknya? Ketika muridmu dibunuhnya, kau menjadi sakit hati. Kalau kau sekarang membunuhnya, apakah kau kira mereka-mereka yang dekat dengan dia tidak akan sakit hati? Kau tentu akan dicari-cari oleh mereka, musuh-musuhmu makin banyak dan hidupmu tidak tenteram lagi! Kalau sudah begitu, mana bisa kau bilang bahwa kau sudah menemui kebahagiaan?"

Kakek itu tertegun, memandang aneh, matanya agak dipejamkan, tampak memutar otak. Tiba-tiba ia membelalakkan matanya memandang tajam dan bertanya.

"Orang muda, kau murid siapakah? Siapa itu gurumu yang meninggalkan pesan penyesalannya karena banyak membunuh orang?"

"Aku sendiri belum pernah bertemu dengan Suhuku, hanya membaca kitabnya dan peninggalan tulisan-tulisannya, dia menuliskan namanya sebagai Bu Beng Cu, aku hanya sempat bertemu dengan Burung Rajawali Emas, agaknya binatang peliharaannya."

"Dia...? Bu Beng Cu...? Kau muridnya??"

Kakek itu terkejut sekali dan kedua tangannya memegang pundak Kun Hong.

Pemuda ini merasa betapa pundaknya seakan-akan ditindih gunung, merasa seakan-akan tulang-tulangnya remuk dan patah-patah.

Ia mengempos semangat dan hawa murni mengalir dari pusarnya menuju ke pundak sehingga penderitaannya berkurang banyak.

"Heh, kau bilang muridnya? Bohong kau! Sedikit kepandaianmu ini mana membolehkan kau mengaku sebagai muridnya? Dia itu Suhengku (Kakak Seperguruan), kau tahu? Kalau betul kau telah mewarisi tulisan-tulisan harap kau jejaskan bagaimana bunyi peninggalannya itu!"

Kun Hong mendongkol sekali, akan tetapi ia menyabarkan hatinya.

Ia tahu bahwa ia berhadapan dengan seorang sakti yang berwatak aneh dan kiranya soal membunuh orang bukanlah soal baru bagi kakek ini.

Akan tetapi ia tidak takut dan malah ia mengambil keputusan untuk sedapat mungkin menyadarkan kakek itu agar tidak sampai membunuh orang!

"Percaya atau tidak terserah.

Aku masih hafal akan tulisan peninggalan Lo-Cianpwe itu, begini.

Telah bertumpuk dosaku.

Ratusan orang telah kubunuh dengan anggapan bahwa perbuatan itu baik karena yang kubunuh adalah orang-orang yang kuanggap jahat.

Anggapan yang sesat!

Aku yang tidak bisa memberi kehidupan bagaimana aku berhak mengakhiri kehidupan?

Aku berdosa!

Mengandalkan kepandaian untuk membunuh sesama manusia, betapapun jahatnya si manusia itu, bukanlah berbuatan baik, melainkan perbuatan jahat pula.

Nah, begitulah tulisan peninggalan Lo-Cianpwe Bu Beng Cu, Kek."

Kakek itu terlongong kembali, tiba-tiba ia berkata.

"Keluarkan pedangmu itu, hendak kulhat apakah benar pedang Suhengku!"

Kun Hong kaget sekali.

Bagaimana kakek ini bisa tahu akan pedangnya yang ia sembunyikan di balik jubahnya itu?

Ia tidak membantah, lalu mengeluarkan pedangnya yang selama dalam perjalanan ia sembunyikan itu.

Kakek itu menerima pedang, menghunusnya dan tiba-tiba ia menangis terisak-isak!

"Ah...

Ang-Hong-Kiam...

Ang-Hong-Kiam...

ah, Twa-Suheng...

jadi kau benar-benar telah mati lebih dulu dan...

meninggalkan pesan melalui mulut bocah ini..."

"Agaknya betul dugaanmu itu, Lo-Cianpwe,"

Kata Kun Hong yang sekarang menyebut Lo-Cianpwe karena tahu bahwa kakek ini sebetulnya adalah seorang berilmu yang wataknya aneh sekali.

"Kiranya Lo-Cianpwe Bu Beng Cu sengaja meninggalkan pesan itu untukmu. Kau lihat sendiri, setelah membunuh ratusan orang, Lo-Cianpwe Bu Beng Cu merasa berdosa dan menyesal, maka kalau kau tadi menyatakan bahwa dengan membunuh si orang The Kok kau akan menemukan kebahagiaan, alangkah jauhnya menyeleweng dari kebenaran!"

Sepasang mata kakek itu tidak mengucurkan air mata lagi, kini memandang?

kepada Kun Hong penuh kebingungan, tangannya gemetar mengembalikan pedang.

Kun Hong menerima pedangnya dan menyimpannya kembali.

"Kau betul... orang muda yang aneh, kau benar sekali. Ah... selamanya Suhengku itu memang bijaksana... agaknya kau mewarisi kebijaksanaannya... memang aku bodoh, Suheng sudah kakek-kakek ketika aku masih menjelang dewasa. Orang muda yang baik, kau sebagai wakil Suheng, lekas kau katakan kepadaku ke mana aku harus mencari kebahagiaan!"

Kun Hong kaget sekali.

Dia seorang pemuda yang masih hijau, pengetahuannya tentang filsafat kehidupan hanya diperolehnya dari membaca kitab-kitab kuno yang ia selaraskan dengan suara hati nuraninya sendiri.

Bagaimana dia bisa menerangkan kakek yang hendak mencari kebahagiaan ini?

Akan tetapi dia bertekad untuk mencegah kakek ini melakukan pembunuhan, maka ia akan mencobanya.

"Lo-Cianpwe, aku mau bicara tentang kebahagiaan kalau kau suka berjanji bahwa kau takkan membunuh orang bernama The Kok itu."

"Baik... baik... setelah mendengar pesan Suheng, aku sendiri ngeri untuk membunuh orang. Aku berjanji mulai sekarang aku takkan mau membunuh orang lagi. Tapi kau harus segera memberitahukan kepadaku ke mana aku harus mencari kebahagiaan."

Lega hati Kun Hong.

Betapapun juga, kakek ini adalah seorang Cianpwe, tak mungkin mau menarik kembali janjinya atau melanggarnya.

Dengan demikian berarti dia telah dapat membatalkan niat orang untuk membunuh.

Tentang pendapatnya mengenai kebahagiaan, adalah menurut jalan pikirannya, sesuai pula dengan hati nuraninya yang disesuaikan dengan ilmu kebatinan yang ia baca dari kitab-kitab filsafat kuno.

"Menurut pendapatku, Lo-Cianpwe. Kebahagiaan hidup itu tidak dapat dikejar, karena bagaimanapun orang mengejar-ngejarnya, takkan mungkin dia dapat menemukannya. Bahagia tak dapat dicari-cari..."

"Apa kau kata? Kebahagiaan tak dapat dikejar, tak dapat dicari, kalau begitu kebahagiaan itu tidak ada? Jangan kau main-main!"

Berkerut kening Kun Hong, tanda bahwa dia sedang mempergunakan penjelasan tentang persoalan yang mengandung filsafat hidup dan sulit itu.

"Lo-Cianpwe, bukan maksudku mengatakan bahwa kebahagiaan itu tidak ada. Kebahagiaan memang ada. Akan tetapi jangan keliru menafsirkan apa sebetulnya kebahagiaan itu. Banyak sekali orang tertipu oleh kesenangan dan menganggap bahwa kesenangan itulah kebahagiaan. Yang dapat dikejar dan dapat dicari adalah kesenangan, bukan kebahagiaan. Adapun kesenangan itu bukan lain adalah pemuasan nafsu jasmani dan nafsu perasaan. Kesenangan duniawi adalah pemuasan kehendak yang terdorong oleh nafsu semata. Contohnya keinginan Lo-Cianpwe tadi hendak membunuh The Kok, bukan lain adalah karena dorongan kehendak memuaskan nafsu dendam dan andaikata hal itu terjadi, kiranya akan dapat merasai kesenangan karena nafsu dendam itu dipuaskan. Akan tetapi orang lupa bahwa kesenangan mernpunyai saudara kembar yang bernama kesusahan. Di mana kesenangan berada, di situ akan muncul pula saudara kembarnya, yaitu kesusahan. Apabila orang, mencari kesenangan, memang dia akan mendapatkannya, namun sifat kesenangan hanyalah sementara saja. Rasa senang akan segera lenyap dan kalau sudah begitu, muncullah kesusahan dan ia akan kecewa karena segera ternyata bahwa kesenangan yang dicari-carinya itu setelah dapat ternyata tidaklah begitu menyenangkan, apalagi membahagiakan. Siapa mencari dia akan kecewa, karena yang dicarinya itu hanyalah kehendak dari nafsunya, bukanlah kebutuhan jiwanya,"

Sampai berkeringat, kening pemuda itu karena pengerahan otaknya yang diperas untuk menerangkan hal yang amat gawat ini.

Akan tetapi hasilnya hebat, Muka kakek itu mula-mula membayangkan keharuan, kemudian matanya membelalak dan wajahnya berseri-seri.

"Aduh, kau hebat..., kau orang muda luar biasa... teruskanlah, teruskanlah uraianmu yang menarik ini.. Kau bicara tentang kesenangan dunia, sekarang bagaimana dengan kebahagiaan yang ajaib itu? Aku sendiri telah tertipu dan mengacau-balaukan kesenangan dengan kebahagiaan. Orang muda yang hebat, apakah kebahagiaan itu dan mengapa tidak boleh dikejar dan dicari?"

"Lo-Cianpwe, maafkan kalau aku yang muda bodoh ini lancang berani bicara tentang hal yang pelik ini."

"Tidak apa, tidak apa, teruskanlah..."

"Lebih dulu aku akan mengulangi sajak yang pernah kubaca, hasil karya seorang pujangga kuno yang tidak diketahui namanya, begini sajak itu. Kebahagiaan seperti bayangan serasa tergenggam di jari tanpa bekas kau lari tak dikejar mendekati dikejar kau menjauhi memang kau bayanganku tak pernah berpisah dariku bagaimana orang dapat mengejar bayangan sendiri? "Demikianlah, Lo-Cianpwe. Kebahagiaan adalah keadaan, memang ada, yaitu sudah ada dalam diri setiap makhluk, setiap yang mengejarnya dia tersesat jauh karena memang tidak dapat dan tidak semestinya dikejar. Kebahagiaan adalah keadaan jiwa seseorang yang sudah sadar akan keadaan hidupnya, yang sadar bahwa ada yang menghidupkannya. Kebahagiaan adalah keadaan jiwa seseorang yang tenang tenteram damai dan tahu bahwa segala sesuatu yang menimpa dirinya adalah kehendak Tuhan. Oleh karena itu ia dapat menerima dengan hati Ikhlas, tak dapat kecewa, tak dapat berduka, adanya hanya puas dan dapat menikmati kekuasaan Tuhan yang dilimpahkan atas dirinya, baik kekuasaan yang mendatangkan rasa tidak enak ataupun yang sebaliknya bagi badan dan pikiran. Hanya manusia yang sadar akan kekuasaan Tuhan, dapat menerima segala yang terjadi atas dirinya dengan penuh penyerahan, dengan tunduk, taat dan menganggap segala peristiwa, baik yang dianggap menyenangkan atau menyusahkan oleh badan dan pikiran serta perasaannya, sebagai berkah Tuhan, manusia seperti itulah yang berhasil menemukan kebahagiaan yang memang sudah berada dalam dirinya. Karena menghadapi keadaan yang bagaimanapun juga, ia akan tetap tenang, tenteram dan menerima dengan hati tulus ikhlas, dan kepercayaannya akan kekuasaan Tuhan takkan tergoyah. Nah, hanya sekian saja pendapatku, Lo-Cianpwe, sekali lagi maaf kalau kau anggap tidak cocok dengan pendapat Lo-Cianpwe."

Kakek itu merangkul Kun Hong.

"Ah, anak yang baik... kau telah membuka mataku yang buta! Kau benar sekali... anak yang baik, coba kau terangkan, kalau ada orang membunuh muridku, mengapa aku tidak boleh membunuhnya juga sebagai hukumannya?"

"Menurut pendapatku, pendirian itu keliru, Lo-Cianpwe. Lo-Cianpwe sendiri mengakui bahwa membunuh murid Lo-Cianpwe adalah perbuatan jahat, dan sudah menjadi anggapan umum bahwa membunuh sesama manusia adalah perbuatan jahat. Kalau kita sudah tahu bahwa membunuh itu jahat, mengapa justeru untuk menghadapi kejahatan membunuh kitapun harus berlaku jahat dan membunuh pula? Kalau sudah terjadi bunuh-membunuh, bagaimana kita dapat membedakan mana yang jahat mana yang baik, mana yang benar mana yang salah? Memang sudah menjadi kewajiban kita untuk menegakkan keadilan dan kebenaran, dan untuk itu manusia sudah mengadakan hukum bagi yang jahat. Kalau ada yang melakukan pembunuhan, tangkaplah dan hadapkan kepada yang berwajib yang mengurus tentang hukuman bagi si jahat dengan mengadakan pengadilan ciptaan manusia. Akan tetapi menghukumnya sendiri dengan jalan membunuh? Ah, Lo-Cianpwe, hendak kutanyakan kepada Lo-Cianpwe, apa perbedaannya dalam soal kejahatan antara pembunuhan yang dilakukan The Kok terhadap murid Lo-Cianpwe dengan pembunuhan yang akan dilakukan oleh Lo-Cianpwe terhadap The Kok?"

Kakek itu merenung sejenak.

"Bedanya, karena kalau aku membunuhnya, aku mempunyai alasan untuk membalaskan sakit hati muridku."

"Ah, Lo-Cianpwe, setiap orang manusia di dunia ini sudah pasti mempunyai alasan untuk perbuatannya. Ada akibat pasti bersebab. Apakah kiranya orang yang bernama The Kok itu ketika membunuh murid Lo-Cianpwe juga tidak mempunyai alasan? Kiraku pasti ada alasannya. Betapapun juga, dia bersalah besar ketika membunuh muridmu dan bagiku, dia telah melakukan perbuatan jahat. Kalau Lo-Cianpwe membunuhnya pula, apapun alasan yang Lo-Cianpwe ajukan, perbuatan membunuh itu tak dapat tidak juga termasuk perbuatan jahat. Dan kebahagiaan tidak mungkin dicapai dengan melalui perbuatan jahat. Di samping penyerahan akan kekuasaan Tuhan, juga setiap tindakan dalam hidup haruslah menjauhi kejahatan dan memupuk kebaikan sebanyak mungkin. Inilah yang dinamakan menyesuaikan diri dengan sifat alam. Adakah alam pernah menuntun sesuatu demi kesenangannya sendiri? Tidak pernah, alam dan segala isinya selalu memberi kebaikan kepada siapa saja tanpa pernah minta dan menuntut. Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang, tiada yang dikecualikan, berkah-Nya melimpah-limpah seperti aliran Sungai Kuning yang tak pernah kering, akan tetapi, pernahkah Tuhan menuntut dan minta sesuatu dari kita? Alam merupakan cermin kecil dari sifat Maha Pengasih dan Penyayang itu. Lihatlah pohon berbuah itu, Lo-Cianpwe. Tanpa diminta ia memberikan segala-galanya, batangnya, daunnya, bunganya, buahnya kepada siapa saja yang membutuhkan. Ia memberikan dengan segala keikhlasan tanpa diminta, segala kenikmatan kepada yang dapat menikmatinya. Akan tetapi, pernahkah pohon itu minta sesuatu, menuntut sesuatu dari siapapun juga? Ah, alangkah akan indahnya dunia ini kalau manusia dapat memetik pelajaran dari sikap pohon buah itu, di mana manusia hanya mengenal pemupukan kebaikan dari sifat alam tanpa menuntut kesenangan bagi diri sendiri."

"Ah... kau betul, Anakku... kau betul sekali... ha-ha-ha-ha, Lui Bok, kau dijuluki orang Sin-Eng-Cu (Garuda Sakti), tapi kau goblok dan patut berguru kepada bocah ini!"

Ia menepuk-nepuk kepalanya sendiri dan kelihatan girang sekali.

"Eh orang muda, kau masih murid keponakanku sendiri, tapi aku patut menjadi murid mu. Siapakah namamu?"

"Aku bernama Kwa Kun Hong, Lo-Cianpwe. Aku sangat mengharapkan banyak petunjuk dari Lo-Cianpwe."

"Heran sekali... kau menjadi pewaris kitab peninggalan Suhengku, tapi kenapa kau tidak memiliki kepandaian silat sebaliknya malah menjadi ahli filsafat? Kun Hong, coba kau bersilat dari pelajaran dalam kitab yang kau hafal itu, hendak kulihat."

Merah muka Kun Hong.

"Ah, sesungguhnya Lo-Cianpwe, aku hanya menghafal saja akan tetapi aku tidak dapat bersilat."

"Hee...?? Habis untuk apa kau menghafal kitab itu?"

"Menurut pendapatku, ilmu silat yang diwariskan dalam kitab Suhu itu, hanya untuk menjaga diri agar jangan sampai dicelakakan orang. Akan tetapi kalau hendak dipergunakan untuk memukul orang... ah, aku tidak sudi melakukannya, Lo-Cianpwe.."

Kembali kakek itu melengak, lalu mengangguk-angguk. Tiba-tiba ia berseru.

"Aku akan menyerangmu dan kalau kau, terkena pukulanku, mungkin kau akan mati!"

Cepat sekali, tidak sesuai dengan tubuhnya yang kelihatan lemah itu, kakek ini lalu maju memukul dengan pukulan kilat.

Kun Hong kaget sekali dan otomatis kedua kakinya melangkah dengan langkah ajaib yang ia pelajari dari kitab, kedua lengannya bergerak-gerak sebagai imbangan tubuhnya dan...

pukulan itu tidak mengenai tubuhnya.

Kakek itu mengeluarkan seruan aneh dan menyerang terus, makin lama makin cepat dan keras.

Kun Hong terpaksa terus melangkah ke sana ke mari, langkah-langkahnya ganjil dan kacau, namun sampai sepuluh jurus kakek,itu hanya memukul angin belaka.

Tiba-tiba ia berhenti dan bertepuk tangan.

"Bagus... bagus...! Inilah agaknya Kim-Tiauw-Kun yang dahulu hendak diciptakan oleh Suheng berdasarkan Im-Yang Bu-Tek Cin-Keng! Hebat... hebat!"

Ia merangkul lagi Kun Hong diajak duduk bawah pohon.

"Mana roti keringmu tadi? Keluarkan aku lapar sekali!"

Girang hati Kun Hong.

Memang masih ada ia menyimpan roti kering dalam buntalannya, lalu ia mengeluarkan roti-roti kering itu dan memberikan kepada kakek aneh yang menyebut namanya Sin-Eng-Cu Lui Bok ini..

"Silakan makan, Lo-Cianpwe, tapi hanya roti kering yang keras dan tengik."

"Heh-heh-heh, jangan kau merendah, Kun Hong. Rotimu begini empuk, harum, masih hangat dan di dalamnya diberi cacahan daging yang begini gurih, kau katakan roti kering tengik? Ha-ha-ha benar-benar kau merendah. Bukan main sedapnya roti ini!"

Tiba-tiba Kun Hong terbelalak matanya.

Mimpikah dia?

Roti kering yang tadinya keras dan memang agak tengik yang dipegangnya, sekarang kenapa sudah berubah sama sekali?

Roti itu menjadi roti yang besar dan empuk, benar-benar masih hangat dan berbau harum malah ketika ia melihat bagian yang sudah ia gigit, tampak cacahan daging matang yang benar-benar gurih!

"Eh..., ini...

ini...

bagaimanakah ini?

Mengapa bisa begini, Lo-Cianpwe...?"

Tanyanya gagap saking herannya.

"Ha-ha-ha! Biarpun kesenangan bukan termasuk kebahagiaan sejati, namun kesenanganpun anugerah Tuhan dan kita berhak menikmatinya, bukan? Nah, marilah kita menikmati roti yang enak ini!"

"Memang benar, Lo-Cianpwe. Tapi... tapi... bagaimana ini...? Kenapa roti keringku bisa berubah?"

"Tak usah tanya-tanya, nanti kuberi penjelasan. Makan dulu."

Keduanya lalu makan dan Kun Hong harus mengakui bahwa selama ini belum pernah ia makan roti seenak itu.

"Wah, habis makan roti tidak ada minuman. Kalau saja ada arak baik di sini, alangkah sedapnya."

Melihat kakek itu agaknya kesereten (Bhs.

Jawa=makanan mengganjal di kerongkongan), Kun Hong menjadi kasihan dan segera ia berlari mencari air mancur dan menyendok air menggunakan daun yang lebar.

Dibawanya air itu ke bawah pohon.

"Heh-heh-heh, kau betul-betul hebat. Orang ingin minum arak kau datang membawa arak wangi dalam cawan perak. Ha-ha-ha!"

"Ah, Lo-Cianpwe, hanya air biasa dalam daun, mana ada arak?"

Kun Hong tertawa dan memandang daun di tangannya yang penuh air.

Akan tetapi tiba-tiba ia berteriak kaget dan heran karena yang berada di tangannya benar-benar adalah arak dalam cawan perak yang indah.

"Eh, bagaimana pula ini...? Lo-Cianpwe, apakah aku sudah gila? Ataukah aku sedang mimpi...??"

Teriaknya terkejut.

"Ha-ha-ha, minumlah, nikmatilah kesenangan untuk lidah dan mulut kita. Nanti kuceritakan,"

Kata kakek itu sambil menenggak arak dalam cawannya. Terpaksa Kun Hong juga minum araknya dan ternyata, betul seperti dikatakan kakek itu, arak di dalam cawannya amat harum dan enak.

"Kau lihat baik-baik, yang di dalam tanganmu itu hanya daun biasa,"

Kun Hong melihat dan... betul saja, cawan yang kosong tadi sudah berubah pula menjadi daun yang tadi, tanpa ia ketahui.

"Ini... kau main sulap, Lo-Cianpwe,"

Katanya tertawa.

"Kau sudah menggirangkan hatiku, Kun Hong. Maka aku harus membikin senang sedikit hatimu. Ketahuilah, yang kuperlihatkan tadi adalah ilmu yang disebut menguasai pikiran orang lain (semacam hypnotisme). Memang amat berbahaya memiliki ilmu ini dan sebagian orang yang tidak mengerti akan menganggapnya sebagai Hoat-Sut (ilmu sihir) yang jahat, semacam ilmu hitam. Akan tetapi anggapan itu keliru. Ilmu kepandaian tidak ada yang jahat. Hitam atau putihnya, jahat ataupun baiknya, tergantung dari si pemilik ilmu itu sendiri. Hoat-Sut (menguasai pikiran orang) ini kalau dimiliki oleh orang yang berjiwa bersih, tentu akan banyak mendatangkan kebaikan seperti yang baru saja kuperlihatkan. Bukankah makan roti kering dan minum air tawar tidak begitu sedap? Dan bukankah menambah kenikmatan setelah ingatanmu kukuasai sehingga kau menganggapnya sebagai roti enak dan arak wangi? Nah, untuk segala petunjukmu tadi tentang kebahagiaan, aku harus membalas. Kau adalah ahli membaca kitab, nah, ilmu ini terdapat dalam kitab ini. Kau baca dan pelajarilah, tentu kelak berguna untukmu. Ilmu yang kuperlihatkan tadi baru sepersepuluhnya saja dari isi kitab ini."

Ia mengeluarkan sebuah kitab yang sudah lapuk dan Kun Hong menerimanya dengan pernyataan terima kasih. Tentu saja ia girang sekali mendapat hadiah kitab istimewa itu.

"Sekarang, marilah kau ikut denganku, Kun Hong. Ikutlah dengan aku pergi ke kaki gunung ini untuk menjumpai The Kok yang sekarang menjadi Ketua Hwa-I Kai-Pang."

Kun Hong terkejut dan memandang.

"Lo-Cianpwe, kau tidak..."

Kakek itu tertawa dan menggelengkan kepalanya.

"Jangan kuatir. Sudah lenyap semua nafsuku untuk membunuh orang. Aku harus menemuinya. Ha-ha-Ha! kau benar. Dia telah membunuh muridku, biarlah kesadarannya sendiri yang akan menghukumnya."

Kakek itu lalu berdiri dan mengajak Kun Hong turun gunung.

Demikianlah kisah pertemuan Kun Hong dengan Sin-Eng-Cu Lui Bok dan seperti telah diceritakan di bagian depan, Kun Hong dan Sin-Eng-Cu Lui Bok.

telah tiba di tempat para pengemis Hwa-I Kai-Pang.

Dari jauh Kun Hong melihat ribut-ribut di antara pengemis yang memenuhi pekarangan depan rumah perkumpulan itu dan ia mendapat keterangan dari pengemis yang dijumpainya bahwa dua orang pembantu ketua sedang ribut hendak bertempur dalam perebutan kedudukan ketua.

Kun Hong merasa kuatir sekali dan ia dari jauh segera berteriak-teriak.

"Heeiii..., berhenti... dua orang pengemis tua saling pukul memperebutkan apa sih?"

Semua pengemis dan para tamu yang hadir di tempat pertemuan itu terkejut dan segera menengok.

Bahkan dua orang pembantu ketua yang sedang bertempur itupun menghentikan perkelahian mereka dan menengok karena suara teriakan itu benar-benar nyaring dan mengejutkan semua orang.

Sementara itu, Kun Hong sudah mendahului Sin-Eng-Cu Lui Bok, memasuki gelanggang pertempuran menghadapi Coa Lo-Kai dan Sun Lo-Kai yang memandangnya dengan heran.

"Ji-Wi Lo-Enghiong, kenapa saling hantam sendiri? Aku mendengar bahwa Ji-Wi memperebutkan kedudukan Ketua Hwa-I Kai-Pang. Kalau tidak salah Hwa-I Kai-Pang adalah perkumpulan pengemis, kenapa yang hendak menjadi ketuanya menggunakan kekerasan? Apakah hendak menjadi ketua perkumpulan tukang pukul? Benar-benar salah sekali."

Coa Lo-Kai memandang dengan mata terbelalak marah.

"Kau ini bocah kurang ajar datang dari mana dan apa urusanmu dengan kami?"

Beng Lo-Kai pengemis tua gemuk pendek yang semenjak tadi hanya diam saja melihat dua orang temannya saling serang, sekarang berdiri dan dengan marah membentak.

"Bocah tak tahu adat! Kau ini datang-datang mengacau, kau disuruh Kai-Pang dari manakah?"

Diserang bentakan-bentakan ini, Kun Hong tenang saja akan tetapi sebelum ia menjawab, kakek pengemis tua yang berdiri di situ, Hwa-I Lo-Kai, berseru keras.

"Bagus sekali, Sin-Eng-Cu Lui Bok! Kau akhirnya datang juga mencariku. Akan tetapi, kuharap kau tidak membawa Hwa-I Kai-Pang ke dalam urusan pribadi kita berdua. Kau tunggulah aku menyelesaikan dulu pemilihan ketua baru, setelah itu aku siap untuk mati di tanganmu!"

Semua mata sekarang menengok dan memandang ke arah kakek yang memasuki tempat itu yang bukan lain adalah Sin-Eng-Cu Lui Bok.

"Heh-heh-heh, Sin-Chio The Kok. Tak nyana orang gagah seperti engkau ternyata wataknya pengecut, berani berbuat tidak berani bertanggung jawab dan kasihan sekali kau melarikan diri dan bersembunyi sampai belasan tahun."

Kakek ini terkekeh-kekeh menertawakan.

Muka Sin-Chio The Kok atau Hwa-I Lo-Kai menjadi merah sekali.

Ia merasa malu dikatakan pengecut di depan begitu banyak orang dan namanya tentu akan menjadi buah tertawaan di dunia kang-ouw.

Maka cepat ia menjawab dengan suara keras.

"He, Sin-Eng-Cu Liu Bok, dengarlah baik-baik. Memang perbuatanku melarikan diri dan bersembunyi darimu itu adalah perbuatan pengecut, akan tetapi adalah sebab-sebabnya. Secara kebetulan aku bermusuhan dengan muridmu ketika aku merampok seorang pembesar korup dan muridmu itu membela pembesar tadi, Terjadi pertempuran antara kami dan dalam pertempuran itu ia tewas di ujung tombakku. Celakanya, setelah ia tewas, barulah aku mendengar bahwa dia adalah murid Sin-Eng-Cu Lui Bok. Hatiku menyesal bukan main. Telah puluhan tahun aku kagum dan menjunjung tinggi nama pendekar besar Sin-Eng-Cu Lui Bok. Sekarang aku telah membunuh muridnya. Aku menyesal dan ada dua hal yang menyebabkan aku melarikan dan menyembunyikan diri. Pertama, karena aku maklum bahwa aku takkan menang, ke dua dan ini sebetulnya yang terberat bagiku, aku tidak mungkin dapat bertanding sebagai musuh dengan pendekar yang sejak lama kukagumi dan kujunjung tinggi sebagai seorang pendekar budiman. Itulah Sin-Eng-Cu, yang menyebabkan aku menebalkan muka melarikan diri dan bersembunyi. Akan tetapi hukum karma tak dapat dihindarkan manusia, agaknya Thian yang menuntunmu sampai ke sini sehingga kau dapat menantang padaku dan agaknya memang Tuhan hendak menghabisi nyawaku sekarang juga. Hanya permintaanku, biarkanlah aku menyelesaikan lebih dulu pemilihan ketua Hwa-I Kai-Pang setelah itu terserah kepadamu, aku tidak takut mati karena aku memang sudah cukup tua, Sin-Eng-Cu."

Lega hati Sin-Chio The Kok setelah mengeluarkan isi hatinya yang juga didengar oleh semua orang itu, akan tetapi Sin-Eng-Cu Lui Bok hanya tertawa-tawa saja dan diam-diam hati kakek inipun girang bahwa dia sebelumnya bertemu dengan Kun Hong.

Kalau sampai dia membunuh orang yang segagah ini memang sayang sekali.

Apalagi iapun maklum bahwa muridnya telah membela orang yang terkenal sebagai seorang pembesar korup dan sewenang-wenang, sungguhpun pembesar itu adalah paman muridnya.

Akan tetapi Coa Lo-Kai yang amat setia kepada Hwa-I Lo-Kai, ketika mendengar bahwa kakek tua renta yang kelihatan kurus kering itu adalah musuh besar ketuanya, segera membentak marah.

"Kau tua bangka berani menghina pangcu kami! Rasakan tanganku!"

Coa Lo-Kai menerjang dan langsung menyerang.

"Coa Lo-Kai, jangan...!"

Sin-Chio The Kok atau Hwa-I Lo-Kai mencegah, namun terlambat sudah.

Coa Lo-Kai sudah menyerang dengan hebat, malah mempergunakan pedangnya.

Semua orang melihat betapa pedang di tangan Coa Lo-Kai itu menyambar ganas dan agaknya kakek yang diserangnya itu sama sekali tidak bergerak, akan tetapi entah bagaimana, tahu-tahu terdengar pedang berkerontangan di atas lantai dan tubuh Coa Lo-Kai terlempar ke belakang.

Padahal kakek itu hanya mengangkat sedikit tongkatnya yang butut!

Ketika dilihat ternyata Coa Lo-Kai yang merintih-rintih itu patah tulang lengannya!

Sin-Chio The Kok terkejut sekali.

Bukan main hebatnya kepandaian dari Sin-Eng-Cu Lui Bok ini.

Ia cepat menjura dan berkata.

"Pembantuku telah tak tahu diri menyerangmu, akulah yang mintakan maaf dan harap Sin-Eng-Cu suka bersabar menanti sampai aku selesai mengadakan pemilihan ketua."

Sin-Eng-Cu Lui Bok tertawa dan hanya berkata.

"Silakan..., silakan..."

Kun Hong melangkah maju dan menjura kepada Ketua Hwa-I Kai-Pang itu.

"Tidak tahunya Lo-Cianpwe ini yang bernama Sin-Chio The Kok dan sekarang menjadi Ketua Hwa-I Kai-Pang. Pangcu, aku kebetulan datang bersama Susiok Sin-Eng-Cu mendengar bahwa di sini hendak diadakan pemilihan ketua baru. Kenapa kau membiarkan saja orang-orangmu berebutan kedudukan ketua? Kalau kau sendiri yang menjadi ketuanya, perlu apa diganti lagi? Kulihat kau seorang yang berjiwa gagah, kenapa hendak mundur? Kalau perkumpulan yang bertujuan memperbaiki nasib orang-orang jembel yang sengsara ini terjatuh ke dalam tangan ketua tukang berkelahi, bukankah akan celaka?"

"Ha, betul sekali omonganmu, Siauw-Kongcu!"

Tiba-tiba Coa Lo-Kai yang sudah berdiri lagi dengan tangan dibalut berkata keras.

"Memang Pangcu tidak perlu diganti lagi!"

"Pangcu, kalau terpaksa dilakukan penggantian ketua, kurasa satu-satunya orang yang patut menggantimu adalah orang tua tinggi besar ini,"

Kun Hong menudingkan telunjuknya ke arah Coa Lo-Kai.

"Dia jujur dan setia sekali kepadamu."

Memang biarpun masih muda, pandangan mata Kun Hong amat mendalam dan sekali melihat saja ia tahu bahwa Coa Lo-Kai adalah seorang yang setia dan jujur, sama sekali tidak memiliki pamrih untuk memperebutkan kedudukan, terbukti dari pembelaannya kepada ketuanya dan menyerang Sin-Eng-Cu tadi, kemudian kata-katanya sekarang.

Diam-diam Hwa-I Lo-Kai kagum memandang Kun Hong.

Bocah ini benar-benar luar biasa dan ucapannya seperti orang yang sudah matang pengalamannya saja.

Kalau bocah ini menyebut Susiok (Paman Guru) kepada Sin-Eng-Cu, tentulah dia memiliki kepandaian hebat pula.

Pada saat itu, Sun Lo-Kai dan Beng Lo-Kai sudah siap mendekati Kun Hong.

Sun Lo-Kai berseru marah.

"Untuk apa mendengarkan omongan bocah gila itu? Usir saja dia dari sini, mengacaukan pemilihan ketua!"

"Betul, Pangcu. Bocah ini mencampuri urusan kita. He, bocah tak tahu aturan, lebih baik kau tutup mulutmu dan pergi dari sini. Kalau tidak, mulutmu akan kuhancurkan dengan kepalanku!"

"Ji-Wi Lo-Kai jangan kurang ajar terhadap tamu!"

Hwa-I Lo-Kai cepat mencegah karena ia merasa tidak enak sekali terhadap Sin-Eng-Cu. Kun Hong tersenyum dan Sin-Eng-Cu hanya tersenyum-senyum saja.

"Pang-cu, apakah dua orang ini juga pembantu-pembantumu? Alangkah jauh bedanya dengan Coa Lo-Kai."

"Eh, orang muda, kau tadi datang-datang melawan kami bertempur untuk menentukan kemenangan. Ada hak apakah kau mencampuri urusan Hwa-I Kai-Pang?"

Bentak, Sun Lo-Kai. Kini Kun Hong bicara dengan muka sungguh-sunggu.

"Lo-Kai, aku mendengar bahwa perkumpulan ini adalah perkumpulan Hwa-I Kai-Pang dan perkumpulan pengemis tentu bertujuan untuk menolong para pengemis dan memperbaiki nasib mereka. Akan tetapi mengapa untuk menentukan seorang ketua harus memilih yang pandai ilmu silat dan kalian tadi saling gempur sendiri? Apakah Hwa-I Kai-Pang mau dijadikan perkumpulan tukang pukul?"

"Kau mengaku keponakan Sin-Eng-Cu, tapi omongan apa yang kau keluarkan ini?"

Sun Lo-Kai membentak, makin marah.

"Kalau ketua kita seorang yang lemah, mana bisa memimpin Hwa-I Kai-Pang?"

"Ah, salah sama sekali!"

Kun Hong berseru penasaran.

"Apakah hanya seorang tukang pukul saja yang dapat memimpin? Memimpin dengan cara, kekerasan dan kekuatan sama sekali tidak baik."

Kini Beng Lo-Kai juga mendekati Kun Hong.

"Kau anak kecil bicara besar! Kalau seorang pemimpin tidak memiliki ilmu silat tinggi dan menggunakan kekerasan, mana bisa para anggauta dipimpin dan mana mereka bisa menaati ketuanya?"

KunHong mengalihkan pandangnya kepada pengemis tua gemuk pendek ini.

"Inilah sebabnya kukatakan salah. Memimpin dengan kekerasan mengandalkan kepandaian silat memang bisa membikin anggautanya taat, akan tetapi taat karena terpaksa! Bukan taat yang timbul dari hati sejujurnya, melainkan taat untuk menjilat. Seharusnya kalian mempunyai seorang ketua yang bijaksana, yang betul-betul dapat mengatur sehingga di antara para pengemis tidak saling gempur, dapat menuntun mereka ke arah kejujuran, kesetiaan dan jalan benar sehingga mereka dapat menemukan kembali lapangan pekerjaan yang terhormat."

Tiba-tiba terdengar suara ketawa yang membuat semua orang menengok karena yang tertawa terkekeh-kekeh ini adalah Sin-Eng-Cu Lui Bok yang kini semua orang di situ tahu sebagai musuh besar Ketua Hwa-I Kai-Pang.

"Heh-heh-heh, Sin-Chio The Kok, kalau benar-benar sayang kepada perkumpulanmu, kalau kau ingin melihat perkumpulanmu menjadi maju dan sempurna, kau angkatlah Kwa Kun Hong ini menjadi ketua menggantikanmu!"

Merah muka Ketua Hwa-I Kai-Pang itu dan ia memandang tajam.

"Sin-Eng-Cu, apakah selain datang hendak mengambil nyawaku kaupun bermaksud merampas kedudukan Kai-Pang untuk murid keponakanmu?"

Pertanyaan ini keras dan pedas dan para anggauta Hwa-I Kai-Pang juga menjadi berisik.

"Ho-ho-ho, setelah berkumpul dengan orang-orang jahat kau makin tersesat, Sin-Chio The Kok. Memang tadinya ketika aku mengabarkan kedatanganku kepadamu, sudah bulat dalam hatiku untuk membunuhmu, membalaskan muridku yang kau bunuh dahulu. Akan tetapi ketahuilah, setelah aku bertemu dengan murid keponakanku yang hebat ini, sekaligus dia bisa mengusir niatku itu dari otakku! Aku tidak ingin membunuhmu lagi, The Kok. Ha-ha-ha, benar dia ini, kau sudah cukup tersiksa akibat perbuatanmu sendiri. Biarpun dia ini murid keponakanku, dalam hal kebijaksanaan aku boleh berguru kepadanya. Karena itu, kalau dia yang menjadi ketua, aku tanggung Hwa-I Kai-Pang akan menjadi perkumpulan yang besar dan maju, dan anak buahmu ini sebentar saja akan berubah menjadi manusia-manusia benar. Tidak seperti kalau kau atau pengemis-pengemis bangkotan ini yang menjadi ketua, para pengemis diajar silat, kelak dari pengemis berubah menjadi perampok. Heh-heh-heh!"

Kaget bukan main hati The Kok mendengar ini.

Ada perasaan lega, girang, terharu dan juga malu.

Ia menoleh dan memandang kepada Kun Hong yang masih berdiri tegak dengan sikap tenang sekali.

Jadi bocah yang sikapnya aneh ini malah telah menolong nyawanya dari ancaman Sin-Eng-Cu!

Ia tadinya sudah maklum bahwa ia pasti akan tewas di tangan Sin-Eng-Cu karena dalam hal ilmu silat, ia jauh di bawah tingkat kakek itu.

Sekarang Sin-Eng-Cu malah mengusulkan supaya pemuda yang bernama Kwa Kun Hong ini menjadi ketua Hwa-I Kai-Pang.

"Sin-Eng-Cu, kau mengaku dia sebagai murid keponakanmu, sebetulnya pemuda ini murid siapakah?"

Tanyanya, agak meragu. Kakek kurus itu tertawa lagi.

"Ha-ha-ha, jangan bicara tentang ilmu silat dengan Kun Hong, karena mungkin dia tidak akan mampu dan suka membunuh seekor kucing pun, akan tetapi dia ini murid Suhengku, gurunya adalah mendiang Bu Beng Cu."

Tidak ada yang mengenal Bu Beng Cu, juga Sin-Chio The Kok tak pernah mendengarnya.

Akan tetapi kalau pemuda ini murid Suheng dari Sin-Eng-Cu, sudah dapat dipastikan kepandaiannya tinggi juga.

Persoalan Ketua Hwa-I Kai-Pang bukanlah hal yang remeh, untuk memilih ketua harus dipilih orang yang betul-betul tepat.

Bagaimana ia bisa menerima seorang pemuda yang sama sekali belum ia ketahui keadaannya ini untuk memimpin anggauta.

Hwa-I Kai-Pang yang ratusan orang jumlahnya?

Selagi ia ragu-ragu, Beng Lo-Kai dan Sun Lo-Kai sudah tak dapat menahan kemarahannya lagi.

Beng Lo-Kai berkata kepada Kun Hong.

"Bocah ini mau menjadi ketua kami? Ha-ha-ha, boleh saja asalkan dia mampu mengalahkan aku!"

"Juga harus bisa merobohkan aku, baru berhak menjadi ketua!"

Kata Sun Lo-Kai sambil menggeser kaki mendekati.

Melihat ini, tiba-tiba Sin-Chio The Kok mendapatkan pikiran amat bagus.

Dua orang pembantunya ini memang tepat untuk menguji kepandaian pemuda itu.

Maka ia berkata kepada Sin-Eng-Cu.

"Kalau pemuda ini berani menghadapi Beng Lo-Kai dan Sun Lo-Kai serta mengalahkan mereka, aku menerimanya menjadi ketua Hwa-I Kai-Pang menggantikan aku. Memang betul bahwa untuk membimbing para anggauta tak perlu dipergunakan ilmu silat, akan tetapi tanpa memiliki kepandaian tinggi, mana mampu menjaga keamanan perkumpulan dan mana bisa menghalau segala orang-orang jahat?"

"Orang muda, kau dengar sendiri. Ketua kami sudah mengijinkan kami berdua menghadapimu. Hayo kau robohkanlah kami!"

Kata Beng Lo-Kai dengan sikap mengejek dan terdengarlah suara tertawa para pengemis pengikut kedua orang pembantu ini. Kun Hong mengerutkan alisnya dan menggelengkan kepala.

"Aku tidak pernah berkelahi dan akupun tidak mau berkelahi. Aku bukanlah tukang pukul!"

Ucapan ini memancing datangnya tertawaan lagi di kalangan anggauta Hwa-I Kai-Pang.

Perkumpulan ini mengutamakan ilmu silat dan kegagahan, malah semua orang anggautanya mempelajari ilmu silat.

Bagaimana sekarang hendak mengangkat seorang pemuda lemah seperti itu sebagai ketua?

Kun Hong tidak peduli akan suara tertawa dan ejekan yang dilontarkan kepadanya, akan tetapi Sin-Eng-Cu menjadi merah mukanya.

"Eh, Kun Hong, kau memalukan aku saja. Apakah kau takut menghadapi dua orang pengemis busuk ini?"

Sepasang mata Kun Hong berkilat dia adalah keturunan seorang pendekar besar, ibunyapun seorang pendekar wanita, darah kesatria mengalir di tubuhnya dan bagi keluarganya, kata-kata takut tidak terdapat dalam kamus.

"Aku tidak takut kepada siapapun juga, aku hanya takut kalau-kalau aku akan menyimpang dari kebenaran."

Jawaban Kun Hon ini adalah ucapan kuno yang pernah ia baca dalam kitab-kitabnya.

"Ha-ha-ha, bocah sombong, kalau kau tidak takut, hayo lawan kami berdua!"

Beng Lo-Kai berkata lagi. Karena maklum bahwa Kun Hong tak mungkin mau menyerang orang, Sin-Eng-Cu lalu berkata kepada dua orang pembantu ketua itu.

"Heh, dua orang jembel busuk, terhadap dua orang badut seperti kalian yang jauh lebih rendah tingkatnya, murid keponakanku mana mau turun tangan? Jangan kalian hanya petentang-petenteng menjual lagak, kalau ada kepandaian, hayo kalian boleh menyerang. Sun Lo-Kai orangnya cerdik. Kalau kakek ini mencampuri dan turun tangan tentu mereka akan kalah. Tadi sudah terbukti betapa hebatnya kepandaian kakek ini ketika merobohkan Coa Lo-Kai. Malah Hwa-I Lo-Kai sendiri kelihatan takut kepada kakek ini. Ia lalu tertawa dan berkata.

"Sin-Eng-Cu Lui Bok adalah seorang Lo-Cianpwe yang tingkatnya lebih tinggi dari kami yang bodoh. Kalau Lo-Cianpwe maju membantu bocah ini nanti, kami tentu akan kalah akan tetapi bukan kami yang akan menjadi buah tertawaan dunia kang-ouw."

Sin-Eng-Cu memandang dengan mata melotot.

"Monyet kau. Kalau aku memang berkehendak merobohkan manusia-manusia monyet macam kau, perlu apa aku banyak cerewet lagi? Kalian boleh serang dia, biarpun dia sampai terpukul mampus oleh kalian, aku tidak akan membantunya. Dengar janjiku ini!"

Lega dan girang hati Sun Lo-Kai mendengar ini.

Ia sudah berhasll membakar hati kakek itu dan sekarang ia dan Beng Lo-Kai tidak usah takut akan turun tangannya kakek yang lihai itu.

Mereka berdua memberi isyarat dengan pandang mata, lalu berbareng mereka menyerang Kun Hong sambil berkata.

"Bocah sombong, awas, kalau sakit atau mati jangan persalahkan kami!"

Selama hidupnya Kun Hong belum pernah berkelahi.

Kini menghadapi dua orang yang tiba-tiba menyerangnya dengan pukulan-pukulan hebat, ia menjadi kaget dan gugup.

Akan tetapi dengan beberapa langkah saja ia sudah dapat menghindarkan diri dari penyerangan dua orang itu.

Dalam pandangannya, penyerangan dua orang ini amat lambat dan mudah dikelit.

Rajawali Emas kalau sedang melatihnya jauh lebih gesit dan berbahaya.

Oleh karena itu, dengan tenang-tenang dan mudah Kun Hong berhasil mengelakkan semua serangan yang datang bertubi-tubi dari dua orang pengemis lihai tadi.

Bagi semua orang, kecuali Sin-Eng-Cua lui Bok, gerakan-gerakan Kun Hong tidak karuan dan kacau-balau, kelihatan seperti orang ketakutan dan beberapa kali hendak roboh, terhuyung-huyung, kadang-kadang berjongkok, berdiri, berlari kecil, malah kadang-kadang merangkak.

Akan tetapi semua serangan selalu mengenai tempat kosong, menyentuh ujung bajunyapun tidak dapat.

Makin lama para pengemis yang menonton menjadi makin tegang dan kemudian bersorak-sorak karena perkelahian yang tidak seimbang itu memang amat lucu.

Kun Hong seperti seekor tikus yang dikejar dan diperebutkan dua ekor kucing, ditubruk sini nyelinap sana, diterkam sana mengelak ke sini.

Tak seorangpun menganggap bahwa pemuda itu pandai ilmu silat karena gerakan-gerakan yang kacau balau dan tidak teratur itu mana bisa disebut.

ilmu silat?

Bagi mereka, dianggapnya bahwa Kun Hong ketakutan dan kebingungan dan bahwa dua orang Lo-Kai itu memang sengaja tidak mau melukainya atau hendak mempermainkannya terlebih dulu.

Tak seorangpun tahu bahwa diam-diam dua kakek pengemis itu kaget dan heran bukan main, tengkuk mereka terasa dingin dan bulunya pada berdiri.

Hampir mereka itu tak dapat mempercayai kalau tidak mereka hadapi sendiri.

Siapa tidak menjadi seram kalau sudah mengeluarkan seluruh kepandaian untuk memukul roboh pemuda lemah ini, akan tetapi tak perah mengenai sasaran?

Padahal tampaknya pukulan-pukulan, dan tendangan-tendangan sudah tepat, namun heran sekali, begitu tiba pada sasaran, mendadak yang dijadikan sasaran sudah berpindah tempat.

Maka kedua orang pengemis ini setelah lewat lima puluh jurus, menjadi pucat dan penuh keringat.

Selain Sin-Eng-Cu yang diam-diam mengagumi Kim-Tiauw-Kun ciptaan Suhengnya, juga Sin-Chio The Kok memandang dengan mata terbelalak.

Iapun bingung dan merasa heran, apalagi kalau melihat gerakan Kun Hong begitu kacau-balau seperti orang mabuk.

Akan tetapi karena memang tingkat kepandaian The Kok sudah tinggi, makin lama makin teranglah baginya bahwa gerakan atau langkah-langkah kaki Kun Hong itu biarpun kelihatan kacau, sebenarnya adalah langkah-langkah ajaib yang luar biasa sekali.

Begitu ia memperhatikan langkah-langkah itu, terasa matanya berkunang dan kepalanya pening.

Ia terkejut dan cepat mengumpulkan Lweekang untuk menahan kepusingan.

Ia mengerahkan tenaga untuk memperhatikan terus, akan tetapi akhirnya ia harus mengalah, harus mengalihkah perhatiannya.

Langkah itu demikian ajaib dan luar biasa sehingga kalau ia paksa, mungkin akan membuat ia jatuh pingsan!

Ketua Hwa-I Kai-Pang ini maklum bahwa pemuda aneh itu benar-benar telah mewarisi ilmu yang ajaib dan tahu bahwa kedua orang pembantunya tentu akan menderita celaka kalau dilanjutkan, maka ia bermaksud nnenghentikan pertempuran itu.

Akan tetapi sebelum ia membuka mulut, tiba-tiba berkelebat bayangan orang yang gesit sekali dibarengi bentakan halus.

"Dua orang tua bangka tak tahu malu berani kau menghina pamanku?"

Gerakan bayangan ini gesit sekali, berbareng menyambar sinar hitam dan tahu-tahu Beng Lo-Kai dan Sun Lo-Kai terhuyung-huyung ke belakang!

Ketika semua orang memperhatikan, bayangan itu adalah seorang gadis yang cantik dan gagah, yang memegang sehelai sabuk hitam yang tadi ia pergunakan untuk menyerang dua orang itu sehingga mereka terhuyung-huyung kebelakang.

Pada saat berikutnya, kembali berkelebat bayangan orang dan seorang gadis lain yang juga cantik manis sudah berdiri disitu dengan sikap gagah.

Beng Lo-Kai dan Sun Lo-Kai kaget sekali, akan tetapi mereka menjadi marah ketika mendapat kenyataan bahwa yang menyerang mereka tadi hanyalah seorang gadis muda.

Berbareng mereka mencabut pedang dan siap menerjang dua orang gadis itu.

Gadis yang memegang Sutera hitam itu tersenyum mengejek, sedangkan gadis kedua juga tiba-tiba menggerakkan tangan dan tahu-tahu sebatang pedang tipis tajam telah berada di tangannya.

"Hi-hik, kalian ini dua ekor keledai tua apakah sudah bosan hidup? Cu-Cici (Kakak Cu), mari kita basmi dua ekor keledai yang sudah berani kurang ajar terhadap Paman Hong ini!"

Kun Hong segera mengenal gadis pertama, seorang gadis lincah jenaka dan cantik yang bermata seperti bintang pagi.

Teringatlah ia ketika ia dahulu dikerek oleh gadis ini ke atas pohon mempergunakan sabuk Sutera hitam itu.

"Eh... eh... kau... anak nakal... jangan berkelahi!"

Katanya mencegah. Sementara itu, Hwa-I Lo-Kai juga mernbentak kedua orang pembantunya.

"Beng Lo-Kai dan Sun Lo-Kai, harap kalian mundur dan simpan senjata!"

Suaranya berpengaruh dan tegas sehingga dua orang pembantunya yang masih penasaran itu tidak berani membantah lagi, dengan (Lanjut ke

Jilid 16) Rajawali Emas (Seri ke 02 -Serial Raja Pedang) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 16 muka keruh mereka segera mundur.

Sementara itu, Kun Hong memandang kepada gadis-gadis itu, memandang heran dan keningnya berkerut.

Ia mengenal gadis pertama yang dalam anggapannya adalah seorang gadis yang berwatak nakal dan jahat, suka berkelahi dan kejam.

Ia merasa kuatir kalau-kalau kedatangan gadis ini lagi-lagi akan mendatangkan bencana, bunuh membunuh antara sesama manusia seperti yang ia saksikan di Hoa-San dahulu itu.

Akan tetapi ia jaga heran mengapa gadis itu tadi menyebutnya sebagai pamannya!

"Eh, Nona yang nakal, bagaimana kau sampai tersesat ke tempat ini dan sejak kapan aku menjadi pamanmu?"

Tegurnya dengan suara galak.

Gadis itu yang bukan lain adalah Kui Li Eng, berseri mukanya, matanya bercahaya jenaka dan ia tidak menjawab, melainkan ia menoleh kepada gadis ke dua yang bukan lain adalah Thio Hui Cu.

"Cu-Cici, benar tidak ceritaku? Paman Hong ini orangnya lucu, aneh dan keberaniannya membuat aku terheran-heran. Seorang yang tidak memiliki kepandaian silat, berani merantau sampai ke sini, malah baru saja kita lihat tadi dia dikejar-kejar dua ekor keledai, tapi sedikitpun tidak takut. Agaknya disamping kelucuan dan keanehannya, diapun memiliki nyawa rangkap."

Hui Cu yang alim dan pendiam menyembunyikan senyumnya, hanya sekilas berani menatap wajah Kun Hong, lalu mengalihkan pandangnya.

"Hee, jangan kau memperolok aku! Kau belum menjawab pertanyaanku. Sejak kapan dan berdasarkan apa kau mengaku sebagai, keponakanku?"

Senyum Li Eng melebar, membuat wajahnya yang jelita itu makin manis dan ramah. Akan tetapi di balik keramahan dan kejenakaannya tersembunyi sifat nakal yang terpancar keluar dari sepasang matanya.

"Paman Hong yang tercinta..."

"Hush...!"

Merah muka Kun Hong.

"Bicara yang benar jangan berolok-olok!"

"Kau memang pamanku sejak aku lahir dan berdasarkan kenyataan bahwa Ayahmu adalah kakek guruku. Kau anaknya, kalau bukan pamanku habis apaku? Bukan hanya aku, malah Cici Hui Cu inipun keponakanmu, karena dia adalah anak tunggal dari Supek (Uwa Guru) Thio Ki."

Kun Hong sampai meloncat-loncat saking kaget, heran, dan bingungnya.

"Apa kau bilang? Mana bisa Suko (kakak Seperguruan) Thian Beng Tosu mempunyai anak?"

Li Eng terkikik sambil menutupi mulutnya.

"Tentu saja yang beranak bukan Supek melainkan Isterinya, hi-hi-hik."

Hui Cu tak dapat menahan geli hatinya, ditutupnya mulutnya yang kecil dengan tangan kanan.

"Ih, Eng-moi, jangan bicara tidak karuan."

Juga muka Kun Hong tampak bodoh, matanya terbelalak lebar.

Ia benar-benar tidak mengerti.

Memang banyak hal yang tidak ia mengerti, di antaranya adalah tentang riwayat sukonya itu, tidak tahu sama sekali bahwa sukonya yang dahulu bernama Thio Ki itu pernah punya Isteri.

"Jangan kau main-main! Apakah sepeninggalku dari Hoa-San Suko telah menikah?"

Kembali Li Eng menoleh kepada Hui Cu.

"Kau lihat, Cici. Alangkah lucunya. Di samping lucu aneh dan berani, juga ininya... kurang sekali."

Ia menunjuk ke arah dahinya yang halus untuk menyindirkan tentang kebodohan Kun Hong.

"Paman Hong, nanti kalau sudah pulang, kau akan mendengar sendiri semuanya. Pendeknya, Cici Cu ini adalah anak tunggal dari Supek Thian Beng Tosu."

Bukan main girangnya hati Kun Hong.

Dia memang masih mempunyai sifat kekanak-kanakan di samping pengetahuannya yang mendalam tentang iimu kebatinan dan filsafat yang membuatnya kadang-kadang bicara seperti seorang kakek-kakek.

Mendengar ini, saking girangnya ia melompat ke depan memegang pundak Hui Cu.

Dipandangnya muka nona itu dan berkatalah dia kegirangan.

"Aduh senangnya...! Aku mempunyai keponakan dan tahu-tahu sudah begini besar, begini... eh, cantik dan manisnya, Kau bernama Hui Cu? Tentu namamu Hui Cu... tapi kenapa kau tidak mirip Suko? Ah? tentu mirip ibumu."

Memang watak Kun Hong aneh bukan main.

Dalam keadaan seperti itu, tentu orang-orang akan menganggap ia gendeng atau setidaknya kurang ajar, padahal semua itu timbul dari lubuk hatinya yang benar-benar menjadi girang bukan main.

Karuan saja Hui Cu yang alim, pendiam dan pemalu menjadi merah mukanya, dan ia hanya tersenyum sedikit, memandang sekilas lalu tunduk dengan telinga merah, apalagi diketawai oleh Li Eng dan malah mendengar suara ketawa dari banyak pengemis yang hadir di situ.

"Iih, Paman Hong. Kau bikin aku mengiri. Aku bisa marah, lho! Bukan hanya Enci Cu keponakanmu, akupun keponakanmu, apa kau lupa?"

Kun Hong melepaskan pegangannya pada kedua pundak Hui Cu, lalu memandang Li Eng, keningnya berkerut.

"Dia ini puteri Suko, tentu saja seperti keponakanku sendiri. Tapi kau ini, kau bocah nakal, kau anak siapa berani mengaku sebagai keponakanku?"

Li Eng cemberut.

"Sudahlah, kalau kau tidak mau mengakui Ayah Bundaku, sudahlah...! Memang orang macam aku mana patut menjadi keponakanmu?"

Hui Cu merangkul Li Eng.

"Adik Eng, jangan ngambek. Eh, Paman Hong, sesungguhnya Eng-moi adalah keponakanmu karena dia adalah puteri tunggal dari Bibi Thio Bwee dan Paman Kui Lok yang sekarang sudah berkumpul di Hoa-San-Pai."

"Begitukah?"

Kun Hong sampai berteriak keras saking girangnya, lalu ia menyambar tangan Li Eng, ditariknya dan seperti gila ia menari-nari sambil menggandeng tangan gadis itu mengelilingi lapangan.

"Bagus, kau puteri mereka? Ha, ha, mereka jadinya masih hidup dan sudah kembali ke Hoa-San-Pai? Aduh senangnya!"

"Hish... apa-apaan kau ini, Paman Hong?"

Li Eng menjadi malu juga karena ia dipaksa menari-nari tidak karuan.

"Dilihat banyak orang, apa tidak malu? Hayo kita pergi dari sini, kembali ke Hoa-San. Sukong mengharap-harap kembalimu."

Kun Hong melepaskan gandengannya.

"Akupun hendak kembali, apalagi sekarang setelah semua berada di sana."

Kun Hong lalu menoleh kepada Sin-Eng-Cu Lui Bok yang sejak tadi hanya melihat dan mendengarkan sambil tersenyum-senyum gembira. Terhadap kakek ini Kun Hong menjura dan berkata.

"Susiok, perkenankan Teecu pergi, karena Teecu harus kembali ke Hoa-San."

Sin-Eng-Cu Lui Bok tersenyum dan berkata.

"Pulanglah, Kun Hong dan berbahagialah kau. Akupun akan mencapai kebahagiaan di puncak Bukit Kepala Naga, mendekati mendiang Suheng yang bijaksana."

Setelah berkata demikian, Sin-Eng-Cu Lui Bok berjalan membungkuk-bungkuk sambil memutar-mutar tongkatnya, biarpun kelihatannya jalan seenaknya, namun sebentar saja ia sudah lenyap dari pandangan mata.

Kun Hong berpaling kepada Hwa-I Lo-Kai dan menjura.

"Pangcu, harap maafkan kalau kedatanganku ini mengganggu urusanmu. Setelah Susiok pergi, urusan antara dia dan Pangcu sudah habis, perkara pemilihan ketua terserah kepadamu."

Ia menoleh kepada Li Eng dan Hui Cu dan berkata gembira.

"Hayo, anak-anak! Hui Cu dan... eh, kau yang nakal siapa namamu?"

Dua orang gadis itu menutupi mulut dengan geli melihat sikap Kun Hong yang lucu dan tolol ini.

"Paman Hong, namaku Kui Li Eng, jangan lupa lagi!"

"Hayo kita pergi dari sini!"

Kata lagi Kun Hong. Akan tetapi Hwa-I Lo-Kai segera melangkah maju dan menjura sambil berkata.

"Nanti dulu, Siauw-Sicu. Aku atas nama Hwa-I Kai-Pang menerima usul Lo-Cianpwe Lui Bok tadi untuk menyerahkan Hwa-I Kai-Pang ke dalam bimbinganmu. Aku mengangkat kau sebagai ketua baru dari Hwa-I Kai-Pang!"

Sin-Chio The Kok atau Hwa-I Lo-Kai adalah seorang yang amat luas pandangannya.

Memang ia bercita-cita membuat perkumpulan Hwa-I Kai-Pang menjadi perkumpulan yang kuat dan sekarang ia melihat ke sempatan yang amat baik untuk memperkuat perkumpulannya itu.

Pemuda ini terang adalah seorang luar biasa, sungguhpun kelihatannya tidak memiliki kepandaian ilmu silat, namun memiliki pribadi tinggi dan pengetahuan luas.

Apalagi yang mengusulkan supaya pemuda ini diangkat menjadi ketua adalah seorang tokoh besar, yaitu Sin-Eng-Cu Lui Bok yang ternyata masih Susiok pemuda ini.

Sekarang, melihat sepak terjang dua orang gadis itu, jelas bahwa pemuda ini selain murid keponakan Sin-Eng-Cu Lui Bok, kiranya masih mempunyai hubungan erat dengan Hoa-San-Pai.

Kalau Hwa-I Kai-Pang dapat mengangkat pemuda ini menjadi ketua, bukankah berarti bersekutu dengan Sin-Eng-Cu dan Hoa-San-Pai sehingga menjadi amat kuat?

Di lain pihak, Kun Hong gelagapan dan bingung setengah mati mendengar ucapan kakek itu.

Ia mengangkat tangan dan menggerak-gerakkan tangannya tanda menolak.

"Tidak bisa... tidak bisa, Pangcu. Aku yang bodoh mana bisa menjadi Ketua Hwa-I Kai-Pang?"

Pada saat itu terdengar suara Coa Lo-Kai yang keras dan kasar.

"Saudara-saudara para anggauta Hwa-I Kai-Pang yang masih setia kepada Hwa-I Lo-Kai, hayo kita lekas berlutut memberi hormat kepada pangcu yang baru!"

Pengemis tinggi besar itu segera menjatuhkan diri berlutut di depan Kun Hong, di belakangnya banyak sekali para pengemis ikut berlutut.

Hanya beberapa orang pengemis yang berpihak kepada Beng Lo-Kai dan Sun Lo-Kai tidak mau berlutut, hanya memandang kepada dua orang pemimpin mereka yang berdiri dengan muka merah.

Kun Hong makin gugup, apalagi ketika melihat Hwa-I Lo-Kai sendiri menjura dan mengangguk-angguk berkali-kali.

Ketika ia memandang kepada Coa Lo-Kai yang memelopori para anggauta itu, ia melihat wajah pengemis tua ini berpeluh, dan jelas, kelihatan ia menderita rasa sakit yang hebat, sedangkan lengan pergelangan membengkak.

Teringatlah ia betapa dalam membela ketuanya, pengemis ini tadi terluka oleh Sin-Eng-Cu Lui Bok.

Ia segera memberi isyarat dengan tangannya, berkata.

"Lo-Kai, kau ke sinilah!"

Dengan sikap hormat dan juga terheran-heran Coa Lo-Kai bangkit dan menghampiri Kun Hong, Pemuda ini tanpa ragu-ragu lagi lalu memegang lengan kanan Coa Lo-Kai.

Beberapa kali memijat saja tahulah Kun Hong bahwa tulang lengan itu tidak patah, melainkan terlepas sambungannya.

Memang semenjak ia membaca kitab pelajaran ilmu pengobatan dari Toat-Beng Yok-Mo, pengetahuannya tentang luka dalam dari segala macam penyakit menjadi luar biasa sekali.

"Untung Susiok tadi masih menaruh kasihan kepadamu,"

Katanya perlahan.

"Lain kali jangan kau memandang rendah orang seperti dia, Lo-Kai."

Ia memijat sana menotok sini dan sebentar saja sambungan tulang pergelangan itu telah baik kembali dan lengan itu mengempis lagi.

"Masukkan tanganmu yang ini ke dalam saku dan jangan digerak-gerakkan selama sehari semalam. Tentu akan sembuh kembali."

Tidak hanya Coa Lo-Kai yang kegirangan dan terheran-heran, namun semua orang di situ terheran-heran, termasuk Li Eng dan Hui Cu.

"Terima kasih banyak atas pertolongan Pangcu,"

Kata Coa Lo-Kai sambil melangkah mundur.

"Aku bukan ketuamu, ketuamu adalah Hwa-I Lo-Kai itulah,"

Kata Kun Hong.

"Tidak, kaulah Pangcu yang baru, Siauw-Sicu. Dan inilah tanda ketua, harap kau sudi menerimanya dariku."

Hwa-I Lo-Kai lalu mengeluarkan sebatang tongkat kecil yang berlukiskan kembang-kembang indah, diangsurkan kepada Kun Hong. Tentu saja Kun Hong tidak mau menerimanya.

"Jangan, Pangcu. Aku tidak berani menerimanya. Kau tetaplah menjadi Pangcu atau pilihlah di antara pembantumu. Aku akan pulang ke Hoa-San."

Berkerut kening Hwa-I Lo-Kai dan wajah kakek ini menjadi pucat.

"Sicu, ada satu peraturan yang kami pegang keras, yaitu apabila kami dihina, kami harus mempertahankan nyawa untuk menebus hinaan. Penolakanmu terhadap pemilihan ketua merupakan penghinaan bagi kami. Akan tetapi, karena kau adalah seorang mulia dan budiman yang telah menolong nyawaku dari ancaman mati di tangan Sin-Eng-Cu, bagaimana aku dapat berbuat dosa terhadapmu? Karena itu, apabila kau tetap menolak untuk menerima tawaran kami menjadi Pangcu dari Hwa-I Kai-Pang, aku tua bangka akan membunuh diri di depan kakimu untuk menebus penghinaan ini dan selanjutnya tentang Hwa-I Kai-Pang kuserahkan kepadamu!"

Setelah berkata demikian, kakek itu mencabut pedangnya, siap untuk melakukan pembunuhan diri.

"Heeiii, jangan...!"

Kun Hong maju dan memegang lengan Ketua itu yang memegang pedang.

"Sabarlah, Pangcu... wah, bagaimana ini baiknya? Kau tidak boleh membunuh diri!"

"Kalau Sicu menolak, terpaksa aku membunuh diri menebus penghinaan."

Kun Hong memutar otaknya dan pemuda yang cerdik ini sudah mendapat jalan.

"Baiklah... baiklah, kau simpan dulu pedangmu."

Dengan muka girang Hwa-I Kai-Pang menyimpan pedangnya dan memberikan tongkat kecil itu.

Terpaksa Kun Hong menerimanya dan para pengemis anggauta Hwa-I Kai-Pang bersorak girang, kecuali mereka yang tidak setuju.

"Begini Hwa-I Lo-Kai. Setelah aku menjadi ketua, tentu semua anggauta Hwa-I Kai-Pang, termasuk kau sendiri, akan taat dan menurut perintahku, bukan?"

"Tentu saja, biarpun disuruh menyerbu ke dalam lautan api, kami akan taat terhadap perintah pangcu"

Kata Hwa-I Lo-Kai penuh semangat.

"Nah, bagus! Sekarang perintahku yang pertama. Aku mengangkat kau menjadi Ji-pangcu (ketua ke dua) yang mewakili aku memimpin Hwa-I Kai-Pang jika aku tidak berada di sini. Kau boleh memilih pembantu sendiri, dan selama aku tidak berada di sini, kaulah yang menjadi wakilku dengan kuasa sepenuhnya. Sekarang aku mempunyai keperluan penting sekali, harus kembali ke Hoa-San, maka kaulah yang menjadi wakilku untuk sementara."

Semua orang tahu belaka bahwa ini adalah akal pemuda itu, akan tetapi karena merupakan perintah, tentu saja tidak ada yang berani membantah.

"Tentu saja Lo-Kai taat terhadap perintah Pangcu, akan tetapi harap saja Pangcu tidak menganggap ini sebagai main-main dan jangan menegakan kami Hwa-I Kai-Pang,"

Kata kakek itu. Li Eng adalah seorang gadis yang banyak pengertiannya tentang kang-ouw, maka ia segera berkata kepada Hwa-I Lo-Kai.

"Lo-Kai, harap kau maklumi keadaan Pamanku ini. Ketahuilah, dia adalah putera tunggal dari Ketua Hoa-San-Pai, sebelum menerima ijin Ayahnya, mana dia berani berdiam di sini menjadi ketua Hwa-I Kai-Pang?"

Hwa-I Lo-Kai nampak terkejut.

Memang sama sekali ia tidak menduga bahwa pemuda ini adalah putera Ketua Hoa-San-Pai!

Akan tetapi Kun Hong sudah menerima tongkat dan sudah menjadi Ketua Hwa-I Kai-Pang, maka diam-diam ia menjadi makin girang.

"Ah, kiranya Pangcu kita yang baru adalah putera Hoa-San-Pai Ciang-bunjin! Tentu saja perintah Pangcu kami taati dan kami harap saja setelah tiba di Hoa-San dengan selamat, lain kali Pangcu memerlukan membuang waktu untuk menengok keadaan kami."

Kun Hong girang.

Ia menganggap bahwa akalnya berhasil.

Hanya namanya saja menjadi ketua, apa salahnya?

Ia mengangguk-angguk dan tersenyum.

Akan tetapi dengan marah Beng Lo-Kai dan Sun Lo-Kai melompat maju.

Beng Lo-Kai dan Sun Lo-Kai ini tadinya masih tidak berani banyak tingkah ketika Sin-Eng-Cu Lui Bok masih berada di situ karena maklum akan kelihaian kakek itu.

Akan tetapi sekarang setelah kakek itu pergi, mereka tidak takut lagi, lebih-lebih karena memang mereka ini mempunyai pendukung-pendukung di belakang mereka.

"Tidak adil sekali keputusan ini!"

Seru Sun Lo-Kai.

"Aku tidak setuju kalau ketua baru dipilih orang luar!"

Seru Beng Lo-Kai.

"Kalau Pangcu hendak mengundurkan diri, seharusnya yang menjadi calon adalah kami bertiga Lo-Kai, dan di antara kami bertiga dipilih yang paling cakap untuk menjadi ketua baru. Kenapa sekarang memilih seorang bocah luar yang masih ingusan? Aku tidak setuju akan keputusan ini!"

Kata pula Sun Lo-Kai.

"Betul sekali ucapan Sun Lo-Kai. Akupun tidak mau terima, kalau bocah tolol ini dapat memecahkan dadaku, baru aku mau mengakui Ketua Hwa-I Kai-Pang! "Eh, bocah sombong, hayo maju dan lawanlah aku!"

Beng Lo-Kai menantang.

"Hayo, perlihatkan kegagahanmu, kalau kau memang laki-laki!"

Tantang pula Sun Lo-Kai dan dua orang kakek itu sudah mencabut pedang masing-masing.

"Aku tidak bisa berkelahi, juga tidak mau berkelahi, Ji-Wi Lo-Kai harap sabar dan mundur karena mulai sekarang Ji-Wi kuanggap bukan pengurus Hwa-I Kai-Pang lagi. Aku tidak mau melihat pengurus atau anggauta Hwa-I Kai-Pang yang suka berkelahi dan kelihatan sekali hasratnya untuk memperebutkan pangkat dan kedudukan. Ji-Wi akan memberi contoh yang buruk kepada para anggauta. Harap Ji-Wi mundur."

Bukan main marahnya Beng Lo-Kai. Terang-terangan mereka dipecat! "Kau... kau...!"

Beng Lo-Kai hendak memaki akan tetapi saking marahnya tidak ada kata-kata keluar dari mulutnya, sedangkan Sun Lo-Kai maju dengan sikap mengancam. Hwa-I Lo-Kai membentak.

"Beng Lo-Kai dan Sun Lo-Kai, kalian sudah mendengar perintah Pangcu. Mulai saat ini kalian bukan pembantu pengurus dan dikeluarkan dari keanggautaan. Lepaskan tali-tali putih dari pinggang kalian."

Muka dua orang pengemis itu menjadi pucat saking marahnya, tanpa berkata sesuatu mereka melepaskan ikat pinggang putih tujuh helai dari pinggang masing-masing, kemudian dengan suara lantang mereka berkata kepada Kun Hong.

"Kami sekarang sebagai orang luar menantang kepada ketua baru dari Hwa-I Kai-Pang untuk mengadu kepandaian. Kalau tidak berani, maka ketua baru dari Hwa-I Kai-Pang hanyalah seorang pengecut hina..."

Yang mengeluarkan kata-kata ini adalah Beng Lo-Kai dan terpaksa ia berhenti karena tiba-tiba Hui Cu sudah berdiri di depannya dengan pedang di tangan.

"Keparat bermulut kotor!"

Gadis ini membentak dengan suara nyaring dan mata berapi-api.

"Manusia, tak tahu diri, pamanku sengaja mengalah kepadamu akan tetapi malah membuat kepalamu membesar dan mulutmu melebar. Siapa sih yang takut kepada manusia macammu? Biar ada sepuluh orang macam kau, majulah semua dan tidak usah Paman Hong menggerakkan tangan biar yang sepuluh itu dilawan oleh aku seorang!"

"Hi-hik!"

Li Eng mengeluarkan suara ketawa ditahan.

"Biasanya Enci Cu pendiam dan penyabar, sekarang mendadak pintar memaki dan mudah marah!"

Kun Hong yang kuatir kalau-kalau keponakannya mencari gara-gara, segera maju dan berkata kepada Hui Cu.

"Hui Cu, jangan kau sembarangan membunuh orang. Aku larang kau membunuh orang!!"

Hui Cu mengerling sekilas ke arah Kun Hong sambil menjawab.

"Paman Hong, yang begini ini sebetulnya tak patut disebut orang dan kalau tidak dibunuh hanya akan mengotori dunia. Akan tetapi karena kau melarang, baiklah, aku takkan membunuhnya, cukup membikin dia bertobat."

Tentu saja Beng Lo-Kai menjadi makin marah.

Orang bicara seenaknya saja tentang dirinya, seakan-akan dia ini seekor tikus saja.

Dan yang bicara hanya seorang gadis muda yang lebih patut disebut kanak-kanak.

Ia mengeluarkan suara menggereng.

"Ketua baru benar pengecut! Tidak berani maju sendiri mengandalkan wanita..."

"Plakk!"

Entah bagaimana, tahu-tahu tangan kiri Hui Cu telah menampar pipi kanan Beng Lo-Kai, membuat kakek ini sempoyongan dan meraba pipinya yang sudah menjadi bengkak.

Matanya melotot, mukanya merah dan napasnya berat, tanda bahwa kemarahannya sudah memuncak.

Saking marahnya ia sampai tidak memperhitungkan bahwa dengan gerakannya tadi Hui Cu sudah memperlihatkan kelihaiannya.

"Hi-hik, Enci Cu. Kalau kau nanti tidak mencuci tanganmu dengan air panas, aku tidak mau menyentuh tangan kirimu yang berbau keledai!"

Li Eng berkata dan terdengarlah suara ketawa di sana-sini, terutama dari pihak para anggauta yang tldak suka kepada Beng Lo-Kai.

Memang Li Eng seorang gadis yang berwatak nakal dan pandai bicara.

Beng Lo-Kai yang sudah tak dapat menahan kemarahannya lagi itu, sudah menerjang Hui Cu dengan serangan pedangnya.

Hui Cu cepat meloncat ke tengah pelataran dan kakek itu mengejarnya.

Di sinilah Hui Cu memperlihatkan kepandaiannya.

Dengan gerakan yang amat indah ia mainkan pedangnya sehingga Kun Hong yang melihat menjadi melongo.

Sebagai putera pendekar, tentu saja ia seringkali melihat orang bermain pedang, akan tetapi belum pernah ia melihat permainan pedang yang begini indahnya, seperti orang menari saja.

Beng Lo-Kai juga bermain pedang, akan tetapi dibandingkan dengan permainan Hui Cu, permainan pedangnya jelek sekali sehingga mereka merupakan pasangan penari pedang yang tidak seimbang.

Hampir lupa Kun Hong bahwa dua orang itu sama sekali bukannya sedang menari, melainkan sedang saling serang dan bahwa dua pedang yang berkelebat itu sebetulnya sedang mengarah nyawa!

Memang indah gerakan pedang Hui Cu.

Hal ini tidak aneh kalau diingat bahwa ibunya, Lee Giok, adalah murid dari Bu-Tek Kiam-Ong Cia Hui Gan dan biarpun ia belum mewarisi seluruhnya ilmu Pedang Sian-Li Kiam-Sut yang hebat dan indah, sedikit banyak ia telah mewarisi gayanya yang indah seperti orang menari.

Dan tentu saja Lee Giok menurunkan seluruh ilmu pedang dan kepandaiannya kepada puterinya ini.

Begitu bergerak, Li Eng yang jauh lebih tinggi tingkat ilmu pedangnya itu maklum bahwa Hui Cu takkan kalah maka iapun lalu menghampiri Sun Lo-Kai dan menudingkan telunjuknya ke arah hidung pengemis yang agak bongkok itu.

"Apa kau juga ingin menantang pamanku? Kalau betul, kau boleh keluarkan pedangmu dan menyerangku. Aku akan melayanimu dengan sabuk Suteraku ini. Berani tidak kau?"

Kata-katanya bernada mengejek sekali sehingga pengemis tua yang bongkok itu menjadi marah.

Biarpun tua dan bongkok, Sun Lo-Kai mempunyai watak mata keranjang.

Menghadapi seorang gadis muda yang cantik jelita seperti Li Eng, belum apa-apa hatinya sudah berdebar tidak karuan.

"Li Eng, kaupun tidak boleh membunuh orang!"

Dengan hati kecut dan penuh kekuatiran Kun Hong membentak ke arah Li Eng. Ia sudah tahu akan kenakalan dan keganasan gadis itu, maka ia benar-benar kuatir kalau-kalau "keponakan"

Ini akan menimbulkan kekacauan dan membunuh orang. Li Eng membalikkan tubuhnya dan membungkuk ke arah Kun Hong dengan lagak seperti seorang hamba terhadap Rajanya sambil berkata.

"Hamba mentaati perintah Paduka Paman Raja!"

Akan tetapi Kun Hong tidak dapat menerima kelakar ini, malah membelalakkan matanya dan berseru kaget.

"Li Eng, awas belakangmu!"

Pada saat Li Eng membelakanginya, Sun Lo-Kai sudah menerjang maju menusukkan pedangnya ke punggung gadis itu.

Hwa-I Lo-Kai membentak marah dan kaget menyaksikan ini, juga semua orang kaget sekali dan mengira bahwa tusukan yang cepat dan hebat ini pasti akan menewaskan Li Eng.

Tapi orang yang dikuatirkan enak saja.

Tanpa menoleh Li Eng menggerakkan tangannya dan seperti ada mata tajam di belakang tubuhnya, sabuk Sutera hitam di tangannya menyambar ke belakang dan menangkis tusukan pedang itu.

Para pengemis bersorak gembira menyaksikan kehebatan gadis lincah ini.

Apalagi ketika Li Eng dengan gerakan yang amat lincahnya telah berputar dan kini sabuk Sutera hitam itu berkelebat, mengeluarkan bunyi seperti cambuk dan bertubi-tubi menyerang semua bagian tubuh yang berbahaya dari Sun Lo-Kai!

Pertempuran terbagi menjadi dua bagian.

Akan tetapi baik Beng Lo-Kai maupun Sun Lo-Kai berada di pihak yang terdesak hebat.

Juga Beng Lo-Kai amat payah menghadapi permainan pedang Hui Cu, yang indah namun mempunyai daya serang yang amat ganas itu.

Yang paling celaka adalah Sun Lo-Kai karena semenjak Li Eng menghadapinya, ia sama sekali tidak dapat balas menyerang, melainkan harus menangkis dan mengelak karena kedua ujung sabuk hitam itu bagaikan ular-ular hidup menyambar-nyambar cepat sekali.

Akhirnya sabuk itu membelit jari-jari tangan kanannya dan sekali renggut pedangnya terlepas dari tangannya, jatuh ke atas tanah.

Tidak berhenti sampai di situ saja, ujung-ujung sabuk itu terus memecutinya ke muka, leher, dan dadanya.

Sun Lo-Kai berteriak-teriak kesakitan dan berloncatan sambil mundur, akan tetapi sabuk itu mengejarnya terus.

Bahkan ketika ia membalikkan tubuh hendak keluar dari lapangan pertempuran, ujung sabuk itu mengeluarkan bunyi.

"Tar-tar-tar!"

Melecuti pantatnya, membuat ia berjingkrak-jingkrak kesakitan! Dan pada saat itupun Beng Lo-Kai terluka lengan kanannya sehingga pedangnya terlempar pula.

"Li Eng, Hui Cu, sudah cukup, mundurlah!"

Kun Hong membentak, kuatir kalau-kalau kedua orang gadis itu akan turun tangan terus dan membunuh orang.

Sambil tertawa-tawa Li Eng menarik kembali sabuknya dan Hui Cu juga tidak menyerang terus, membiarkan lawannya mundur dengan muka merah padam kemalu-maluan.

Terdengar seruan-seruan memuji dari para pengemis dan tahulah mereka bahwa dua orang gadis keponakan "ketua baru"

Itu benar-benar lihai sekaii, apalagi gadis lincah yang bersenjata sabuk hitam.

"Hwa-I Lok-Kai mengandalkan tenaga dari luar menghina anak buah sendiri, benar-benar bagus!"

Terdengar beberapa suara orang dan ternyata yang mengeluarkan suara ini adalah para pemimpin perkumpulan pengemis baju hijau dan baju merah.

"Saudara-saudara, kita golongan pengemis harus diketuai oleh pengemis pula, mana bisa dipimpin oleh seorang sastrawan muda jembel? Yang tidak puas dengan pimpinan Hwa-I Kai-Pang, boleh datang ke tempat kami. Pintu kami terbuka lebar-lebar untuk saudara sekalian!"

Hwa-I Lo-Kai tidak menjawab, hanya memandang dengan mata tajam ke arah para rombongan tamu yang berangsur-angsur bergerak meninggalkan tempat itu tanpa pamit lagi.

Yang membikin hatinya panas dan kecewa adalah ketika ia melihat Beng Lo-Kai, diikuti oleh banyak pengemis Hwa-I Kai-Pang, pergi pula meninggalkan tempat itu untuk menggabung kepada perkumpuan-perkumpulan lain.

"Hwa-I Lo-Kai harap jangan berduka,"

Kata Kun Hong yang dapat melihat keadaan hati orang dan dapat menduga pula apa sebabnya.

"Dua orang Lo-Kai itu memang mempunyai hati yang bengkok terhadap Hwa-I Kai-Pang. Karena mereka tidak mempunyai harapan untuk menjadi ketua di sini, mereka pergi ke perkumpulan lain. Biarlah, orang-orang yang tidak setia kepada perkumpulan sendiri, berarti mempunyai watak yang tidak jujur dan lebih baik kalau perkumpulan ini dijauhi orang-orang seperti itu. Sekarang aku minta diri, Lo-Kai, karena aku harus pulang ke Hoa-San."

Hwa-I Lo-Kai dan Coa Lo-Kai membujuk agar Kun Hong dan dua orang gadis itu suka tinggal di situ beberapa hari lagi akan tetapi Kun Hong tetap menolaknya.

Akhirnya Hwa-I Lo-Kai terpaksa melepaskan mereka pergi setelah memberi bekal roti kering, potongan perak dan tiga ekor kuda yang bagus kepada ketua baru bersama dua orang keponakannya itu.

Baru saja tiga orang muda itu sampai di luar dusun menunggangi kuda mereka, tiba-tiba Kun Hong memberi tanda berhenti.

Hui Cu dan Li Eng segera menahan kuda masing-masing.

"Hui Cu, Li Eng, mari kita turun. Aku tidak suka menunggang kuda,"

Kata Kun Hong. Dua orang gadis itu saling pandang dengan heran. Li Eng tentu saja segera membantah.

"Paman Hong ini bagaimana sih? Perjalanan kita amat jauh, menunggang kuda saja belum tentu bisa sampai tiga empat bulan. Sudah ada kuda pada kita, bagaimana sekarang hendak turun lagi?"

"Kau anak kecil tahu apa?"

Kun Hong membentak.

"Tiga ekor kuda ini harganya tentu tidak murah. Hwa-I Kai-Pang lebih membutuhkannya daripada kita. Kita masih muda, mempunyai sepasang kaki dan bisa berjalan, kalau perlu bisa lari. Kuda ini kita kembalikan saja."

"Ah, Susiok (Paman Guru) aneh sekali... orang sudah memberikan kepada kita, kenapa hendak dikembalikan? Kalau memang tidak suka, kenapa tadi tidak ditolak saja?"

Lagi-lagi Li Eng membantah dengan bibir cemberut.

Akan tetapi Kun Hong tidak mempedulikan protes gadis lincah itu dan kebetulan sekali dari depan tampak seorang pengemis baju kembang lewat di jalan itu.

Kun Hong segera memanggiinya dan pengemis ini segera datang dengan membungkuk-bungkuk memberi hormat karena iapun mengenal ketua baru ini bersama dua orang keponakannya yang lihai.

"Pangcu hendak memerintah apakah?"

Tanyanya.

"Lo-Kai, kau tuntunlah tiga ekor kuda ini dan kembalikan kepada Hwa-I Lo-Kai, katakan bahwa kami bertiga hendak melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki saja. Nah, cepat bawalah."

Sejenak pengemis itu terlongong, akan tetapi ia tidak berani membantah lalu dituntunnya tiga ekor kuda itu kembali ke tempat semula, yaitu di kaki Pegunungan Ta-Pie-San.

Adapun Kun Hong mengajak dua orang keponakannya melanjutkan perjalanan.

"Li Eng, kau jangan cemberut saja. Kau memang rewel, tidak seperti Hui Cu yang pendiam dan manis,"

Kata Kun Hong. Makin meruncing bibir Li Eng.

"Kau memang tidak tahu disayang orang! Aku rewel dan cerewet bukan untuk diriku sendiri. Bagi aku dan Cici Hui Cu, jalan kaki apa sukarnya? Kami memiliki ilmu berlari cepat dan kiranya tidak akan kalah cepat dengan larinya kuda. Akan tetapi bagaimana dengan kau, Paman Hong? Kau tentu tidak kuat berjalan jauh, lagi pula jalanmu perlahan-lahan. Perjalanan kita masih jauh sekali, kalau menuruti kau berjalan seperti siput, sampai bertahun-tahun kita takkan bisa pulang ke Hoa-San!"

Kun Hong tersenyum menggoda.

"Biar sampai sepuluh tahun, melakukan perjalanan bersama kalian berdua aku takkan menjadi bosan."

"Iihhh, dasar..."

Li Eng melerok. Hui Cu yang sejak tadi diam saja sekarang berkata kepada Kun Hong tanpa berani memandang wajah pemuda itu.

"Paman agaknya belum tahu bahwa kita tidak akan menuju ke Hoa-San karena kami berdua memang diberi tugas oleh Sukong untuk pergi ke Thai-San."

"Heee...?? Ke Thai-San? Bukankah Thai-San itu tempat tinggal pendekar sakti Tan Beng San Taihiap yang dipuji-puji oleh Ayah dan katanya menjadi Raja Pedang?"

Kun Hong bertanya dengan tercengang.

"Kalau dia Raja, kaupun Raja, Paman Hong,"

Kata Li Eng sudah gembira kembali dari kecewanya kehilangan kuda.

"Cuma bedanya, kalau Tan Beng San Taihiap itu Raja Pedang, kau adalah Raja pengemis!"

Senang hati Kun Hong melihat gadis lincah itu tidak marah lagi karena kehilangan kuda.

"Bagus, bagus, kaupun hanya menjadi keponakan Raja pengemis, Li Eng, jangan main-main lekas ceritakan betulkah kita akan ke Thai-San dan ada keperluan apakah Ayah menyuruh kalian ke sana?"

Li Eng menjura dengan tubuh membungkuk dalam.

"Baiklah, Paman Raja. Hamba tidak berani main-main lagi. Hamba berdua diperintah pergi ke Thai-San untuk melihat apakah benar Sang Puteri dari Raja Pedang betul-betul cantik jelita dan gagah perkasa seperti yang disohorkan orang dan kalau betul begitu, hamba berdua disuruh... eh, melamar untuk Paduka Paman Raja."

"Iihh, Adik Eng! Terlalu sekali kau mempermainkan Susiok!"

Hui Cu menegur. Li, Eng tersenyum lebar dan memandang kepada Kun Hong sambil berkata.

"Apa salahnya, Cu-Cici? Kalau bukan pamannya yang baik, yang sabar, yang budiman dan bijaksana, masa aku berani menggoda dan main-main. Betul tidak, Susiok?"

Pandang matanya dan senyumnya menjadi amat manja sehingga tak mungkin orang dapat marah kepada gadis remaja yang menggemaskan dan lucu ini.

Untuk sejenak Kun Hong melongo memandang tingkah Li Eng yang amat menarik hatinya ini.

Kemudian ia menarik napas panjang dan berkata.

"Sudahlah, memang sejak dahulu Li Eng suka menggoda orang. Hui Cu, coba kau ceritakan dengan jelas apa maksud kalian ke Thai-San."

Sambil berjalan perlahan Hui Cu bercerita.

"Sukong mendapat kabar bahwa Tan-Taihiap di Thai-San-Pai hendak meresmikan pendirian Thai-San-Pai sebagai perkumpulan persilatan baru di dunia kang-ouw. Peresmian ini disertai pesta dan banyak tokoh-tokoh di dunia kang-ouw diundang. Sukong sendiri tidak bisa pergi, maka mengutus kami berdua pergi ke Thai-San dan menyampaikan selamat serta barang sumbangan. Karena waktunya masih lama, kami berdua sengaja mengambil jalan ini dengan maksud melihat-lihat di Kota Raja lebih dulu. Siapa kira di sini bertemu dengan Susiok."

"Dicari-cari setengah mampus ke mana-mana tidak bisa bertemu, sampai Sukong menjadi berkuatir sekali. Hampir dua tahun Susiok pergi tak berbekas, kamipun sudah beberapa kali mencari ke segala penjuru dunia tanpa hasil. Eh, sekarang tahu-tahu nongol di sini!"

Li Eng berkata sambil menggeleng-geleng kepalanya.

"Siapa tidak menjadi gemas?"

Kun Hong kelihatan gembira bukan main.

"Bagus, bagus!"

Ia bertepuk tangan.

"Akupun hendak ikut ke Thai-San. Dan kebetulan sekali, aku juga memang ingin melihat-lihat Kota Raja, sekarang ada kalian berdua menjadi teman, wah, senang sekali!"

"Tapi kita tidak boleh terlalu lama di Kota Raja, Susiok. Jangan sampai kita terlambat tiba di Thai-San,"

Kata Hui Cu mengingatkan. Gadis ini jarang bicara dan kalau sudah bicara selalu serius, tidak pernah main-main seperti Li Eng yang jenaka. Kun Hong mengerutkan keningnya.

"Berapa jauhnya sih Thai-San dari sini?"

"Kalau jalan kaki biasa sedikitnya satu bulan baru sampai,"

Jawab Hui Cu.

"Kalau kami berlari cepat, seminggu juga sampai,"

Sambung Li Eng.

"Tapi Paman Hong mana bisa lari cepat?"

"Ah, begitu dekat? Sehari juga sampai kalau naik Kim-Tiauw..."

Tiba-tiba Kun Hong menghentikan kata-katanya karena teringat bahwa ia telah bicara terlanjur.

Saking kagetnya ia menutupi mulut dengan tangan sendiri.

Dua orang gadis itu memandang heran, malah Li Eng tidak main-main lagi, melainkan memandang tajam penuh selidik.

"Apa maksudmu, Susiok? Kau bilang tadi menunggang Kim-Tiauw? Apakah kau bertemu dengan Rajawali Emas?"

Tanya Hui Cu, mukanya berubah. Li Eng memegang tangan Kun Hong.

"Paman Hong, di mana kau melihat Rajawali Emas? Di mana? Lekas beritahukan, di mana ada Burung itu, tentu ada dia!"

Kun Hong menyesal sekali mengapa ia membuka rahasianya. Akan tetapi karena sudah terlanjur, apa boleh buat.

"Pantas kalian terheran-heran, Memang di dunia ini tidak ada keduanya Burung Rajawali seindah itu, dengan bulunya berkilauan kuning keemasan dan sepasang matanya seperti kumala. Kalian tahu, malah Burung Rajawali Emas itu memakai kalung mutiara yang indah!"

"Di mana dia? Di mana...?"

Dua orang gadis itu bertanya mendesak, nampaknya tidak sabar lagi.

Hal ini tidak mengherankan kalau keduanya memang sudah mendengar tentang Kwa Hong dan Rajawali Emasnya dan mereka menganggap Kwa Hong sebagai musuh besar yang telah menghina dan menyusahkan kedua orang tua mereka.

"Aaah, kalian ini anak-anak perempuan. Baru mendengar tentang mutiara indah saja sudah begini ribut. Apa kalian kira akan dapat dengan mudah saja mengambil kalung mutiara itu? Rajawali Emas itu hebat sekali, bahkan Toat-Beng Yok-Mo saja tidak mampu menandinginya."

Dua orang gadis itu saling pandang lagi, nampak terheran.

"Paman Hong, apakah kau bertemu pula dengan Toat-Beng Yok-Mo? Dan setelah bertemu dengan Rajawali Emas, tentu kau telah bertemu pula dengan... iblis betina itu?"

Tanya Hui Cu, suaranya sungguh-sungguh.

"Iblis apa? Aku tidak pernah bertemu dengan iblis, iblis betina maupun iblis jantan,"

Jawab Kun Hong, heran mendengar pertanyaan Hui Cu ini.

"Hong-Susiok, ceritakanlah semua pengalamanmu itu, ceritakan tentang pertemuanmu dengan Rajawali Emas, Aku ingin sekali mendengarnya,"

Kata pula Li Eng sambil menggandeng tangan kanan pemuda, itu.

"Kalian ingin mendengar? Baik, Hui Cu, ke sinilah dekat-dekat!"

Ia menggunakan tangan kirinya untuk menggandeng tangan Hui Cu sehingga mereka bertiga berjalan perlahan sambil bergandengan tangan.

Kun Hong merasa gembira sekali dan dianggapnya bahwa dua orang keponakannya ini benar-benar menyenangkan dan amat manis budi.

Dahulu ia pernah benci dan gemas terhadap kenakalan Li Eng, akan tetapi setelah berdekatan, mana bisa orang membenci dara remaja itu?

"Ketika dulu aku meninggalkan Hoa-San, aku sudah mengambil keputusan tidak akan kembali ke sana karena aku benci sekali melihat bunuh-bunuhan yang terjadi di sana.

Sekarangpun aku benci melihat pembunuhan, kalau kalian membunuh orang, akupun akan membenci kalian.

Di tengah perjalanan aku bertemu dengan Toat-Beng Yok-Mo yang terluka hebat, hampir mati."

"Hi-hik, dia boleh mampus karena racun tongkatnya sendiri dan terluka di dua tempat oleh Ayah ibumu"

Kata Li Eng. Mengkal hati Kun Hong diingatkan bahwa Ayah Bundanya telah melukai, malah banyak membunuh orang.

"Keadaannya amat menderita dan ia minta tolong kepadaku untuk mengantarkannya pulang ke lembah Sungai Huai. Karena kasihan, aku lalu memenuhi permintaannya dan menggendongnya sepanjang jalan berpekan-pekan lamanya."

Li Eng tertawa.

"Ayah ibunya yang melukai, anaknya yang menolong malah menggendongnya sepanjang jalan, benar-benar lucu. Masih untung kau tidak dibunuhnya, Paman Hong. Hebat sekali, iblis macam Toat-Beng Yok-Mo ditolong, malah digendong-gendong!"

Akan tetapi Hui Cu diam saja dan... diam-diam gadis ini merasa terharu dan kagum sekali akan pribadi pemuda yang menjadi paman gurunya ini.

"Lalu bagaimana kau bisa bertemu dengan Rajawali Emas, Paman Hong?"

Tanyanya untuk menghentikan komentar Li Eng.

"Setelah kami tiba di dekat tempat tujuan, dalam sebuah hutan Toat-Beng Yok-Mo minta diturunkan dan ternyata ia sembuh kembali dan kuat."

"Hi-hik, memang ia sebetulnya tidak usah digendong. Tentu saja ia kuat karena memang ia hanya mempergunakanmu sebagai perisai dan kau tentu akan dibunuhnya di tempat itu,"

Kata pula Li Eng.

"Eh, bagaimana kau bisa tahu?"

Kun Hong terheran-heran.

"Hanya orang tolol saja yang tidak tahu!"

Jawab Li Eng.

"Namanya saja sudah Toat-Beng Yok-Mo tukang mencabut nyawa. Dia terluka dan harus pergi jauh dari Hoa-San. Paman adalah putera Ketua Hoa-San-Pai, tentu saja dapat dijadikan perisai yang amat baik. Hemm, lagi-lagi harus kukatakan bahwa untung sekali Paman tidak sampai dibunuhnya."

"Eh, Adik Eng. Apakah kau berani mengatakan bahwa Susiok adalah seorang tolol?"

Hui Cu menegur. Li Eng pura-pura tidak mendengar jelas.

"Berani mengatakan Susiok apa?"

"Bahwa Susiok adalah seorang tolol?"

Hui Cu menjelaskan.

"Hi-hi-hik, kau mendengar sendiri, Paman Hong. Dua kali Cici Hui Cu memakimu sebagai orang tolol, bukan aku, lho!"

"Heee, kau memutar balikkan omongan!"

Hui Cu memprotes akan tetapi Li Eng hanya tertawa-tawa saja. Kun Hong yang dipermainkan ini sama sekali tidak merasa dirinya dipermainkan, hanya tersenyum saja.

"Kalau pada saat itu tidak muncul Rajawali Emas, kiranya akupun akan dibunuh oleh Toat-Beng Yok-Mo seperti yang dikatakan oleh Li Eng tadi,"

Ia melanjutkan ceritanya.

"Entah dari mana datangnya, seekor Burung Rajawali Emas yang besar dan hebat sekali menyambar turun dan menerkam seekor kelinci. Melihat Burung itu, Toat-Beng Yok-Mo lalu menyerangnya dan berusaha menangkapnya, akan tetapi berkali-kali Toat-Beng Yok-Mo roboh oleh Burung itu, malah akhirnya kakek itu roboh pingsan oleh hantaman sayap Burung."

Dua orang gadis remaja itu saling pandang, malah Li Eng menjulurkan lidahnya yang kecil merah itu keluar dari mulutnya tanda kagum dan terkejut.

Kalau orang seperti Toat-Beng Yok-Mo dapat dikalahkan sedemikian mudahnya, alangkah lihainya Burung itu.

Apalagi pemiliknya!

"Kemudian Rajawali Emas itu menyambarku dan membawaku jauh sekali, ke puncak sebuah gunung yang tak kuketahui namanya.

Di sana, dalam sebuah gua, aku hidup bersama Burung itu sampai satu setengah tahun lamanya."

Li Eng memandang tajam dan tidak mau main-main lagi.

"Paman Hong, apakah kau tidak bertemu dengan pemilik Burung, dengan iblis wanita itu?"

"Aku tidak tahu apa yang kau maksudkan, Li Eng. Aku tidak melihat seorangpun manusia hidup di sana. Kemudian setelah aku mengenal Burung itu baik-baik dan ia mengerti kata-kataku, setelah satu setengah tahun, aku menyuruh dia mengantarkan aku turun karena aku tidak bisa turun sendiri dari tempat yang curam dan berbahaya itu. Nah, setelah tiba di bawah gunung, Burung itu terbang kembali ke puncak dan aku hendak kembali ke Hoa-San. Celakanya, aku sesat jalan dan sampai ke sini, karena sudah dekat Kota Raja, aku bermaksud melihat-lihat Kota Raja lebih dulu. Di sini aku bertemu dengan Sin-Eng-Cu Lui Bok yang mengakui aku sebagai murid keponakannya lalu aku terlibat dalam urusan Hwa-I Kai-Pang sampai kalian berdua muncul."

Kun Hong sengaja tidak mau bercerita tentang kitab-kitab yang ia baca, malah ada empat buah kitab yang ia bawa dalam saku bajunya, yaitu tiga buah kitab milik Toat-Beng Yok-Mo dan sebuah kitab pelajaran Hoat-Sut dari Sin-Eng-Cu Lui Bok.

Demikianlah, tiga orang muda itu melakukan perjalanan dengan penuh kegembiraan, terutama sekali yang membuat mereka selalu bergembira adalah sifat Li Eng yang amat jenaka dan lincah.

Sementara itu, dengan amat tekunnya Kun Hong mempergunakan setiap kesempatan waktu untuk membalik-balik lembaran kitab pemberian Sin-Eng-Cu Lui Bok dan makin banyak ia membaca, makin tertariklah hatinya.

Secara diam-diam mulailah dia berlatih diri mempelajari ilmu yang amat aneh dan ajaib, yang erat hubungannya dengan ilmu batin karena ilmu ini hanya dapat dilakukan dengan pengerahan tenaga murni dan hawa sakti dalam tubuh.

Dengan petunjuk-petunjuk yang berada dalam kitab ini, makin teranglah bagi Kun Hong tentang rahasia samadhi dan mengatur napas, dan memperkuat daya sakti dalam tubuhnya.

Semua ini ia latih di luar sepengetahuan dua orang gadis remaja itu yang selalu yakin bahwa paman mereka adalah seorang pemuda yang tampan, berwatak halus, berbudi, dan buta ilmu silat.

Semenjak pemberontak-pernberontak dibasmi belasan tahun yang lalu keadaan, di Kota Raja aman dan tenteram.

Namun hal ini hanya berjalan beberapa tahun saja, karena kini timbullah persaingan baru yang lebih ganas.

Persaingan antara putera-putera Kaisar termasuk keluarganya yang tentu saja merindukan singgasana untuk menggantikan Kaisar yang sudah tua.

Mulailah para pangeran itu saling bermusuhan dalam usaha mereka menarik hati Kaisar agar mereka dijadikan calon pengganti Kaisar.

Demikian hebat persaingan ini yang kadang-kadang tidak dilakukan secara diam-diam melainkan secara terbuka, sehingga masing-masing mempunyai jagoan-jagoan sendiri.

Persaingan mencapai puncaknya ketika Putera Mahkota, yaitu putera sulung dari Kaisar, telah tewas menjadi korban persaingan itu.

Tak seorangpun tahu siapa pembunuhnya dan dengan apa dibunuhnya.

Namun ahli silat tinggi maklum bahwa Putera Mahkota ini dibunuh oleh seorang ahli silat yang memiliki kepandaian luar biasa.

Seperti juga halnya dengan Kaisar-Kaisar lain atau hampir semua pemimpin dan pembesar yang menduduki kemuliaan dan memegang kekuasaan, Kaisar Thai-itsu juga mempunyai banyak Isteri sehingga anaknyapun banyak pula.

Hal ini membingungkan hatinya siapakah yang harus ia pilih menjadi Putera Mahkota setelah putera sulungnya meninggal dunia.

Ia maklum akan persaingan dan permusuhan di antara putera-puteranya, selir-selirnya dan keluarganya.

Maka karena Kaisarpun dapat menduga bahwa putera sulungnya itu terbunuh orang, ia menjatuhkan pilihannya kepada anak dari putera sulungnya itu yang bernama Hui Ti atau Kian Bun Ti menjadi pengganti Putera Mahkota.

Hui Ti atau Kian Bun Ti ini adalah cucu Kaisar.

Pada waktu itu Kian Bun Ti ini telah menjadi seorang pemuda yang tampan dan cerdik bukan main.

Ia maklum akan bahayanya kedudukannya, maklum bahwa banyak paman-paman pangeran lain merasa iri hati akan kedudukannya.

Maka dengan amat pandainya Kian Bun Ti mendekati Kaisar, berhasil menguasai hati dan kasih sayang kakeknya ini.

Adalah atas bujukan pemuda cerdik inilah maka seorang pamannya yang dianggap paling berbahaya, yaitu Pangeran Yung Lo yang jujur dan keras, oleh Kaisar dihalau dari Kota Raja, diberi tugas pertahanan di utara, di Kota Raja lama, Peking.

Memang pada waktu itu tiada hentinya bangsa Morngol, Mancu, dan lain-lain suku bangsa dari Utara selalu berusaha menyerang Kerajaan Beng yang baru ini.

Pangeran Yung Lo tentu saja mentaati perintah dan berangkatlah dia ke Utara menjalankan tugas berat ini.

Biarpun telah berhasil menghalau saingannya yang paling berbahaya, namun Kian Bun Ti masih belum lega karena ia maklum bahwa yang melihat kepadanya dengan mata penuh dengki masih banyak sekali.

Maka iapun lalu mengumpulkan orang-orang pandai untuk menjaga dirinya, bahkan dia sendiri mempelajari ilmu silat.

Di samping kesukaannya mendekati ahli-ahli silat dan jagoan-jagoan, Pangeran yang masih muda inipun terkenal sebagai seorang yang tak boleh melihat wanita cantik.

Entah berapa banyaknya wanita-wanita cantik dan muda, jatuh hati dan menjadi korbannya, tertarik oleh ketampanannya atau kedudukannya maupun harta bendanya.

Memang wanita manakah yang takkan tertarik oleh seorang pemuda yang tampan, cerdik, malah seorang pangeran calon Kaisar pula?

Di dalam usahanya untuk menguasai keadaan dunia kang-ouw, Pangeran ini tidak segan-segan untuk mempergunakan perkumpulan-perkumpulan seperti Hek Kai-Pang (Pengemis Hitam) dari mana ia bisa mendapatkan sumber berita tentang gerakan orang-orang kang-ouw sehingga ia dapat tahu siapa yang menjadi jagoan-jagoan baru dari para saingannya.

Pangeran Kian Bun Ti menjadi tertarik sekali ketika ia menerima laporan dari beberapa orang anggauta perkumpulan pengemis yang menjadi kaki tangan dan penyelidiknya tentang dua orang gadis cantik jelita anak murid Hoa-San-Pai yang menggegerkan pertemuan dari Hwa-I Kai-Pang.

Pangeran ini tidak hanya tertarik oleh kecantikan dua orang dara remaja itu, melainkan terutama sekali tertarik oleh cerita tentang kehebatan ilmu silat mereka.

Diam-diam ia mempunyai maksud hati yang baik sekali, maksud hati yang menjadi perpaduan dari seleranya terhadap dara ayu dan kebutuhannya akan pengawal yang lihai.

Cepat ia memanggil beberapa orang kepercayaannya dan membagi-bagi perintah.

Sementara itu, Kun Hong dan dua orang dara remaja telah memasuki Kota Raja dengan gembira.

Tiga orang muda yang semenjak kecilnya bertempat tinggal di pegunungan yang sunyi ini sekarang berjalan perlahan di atas jalan raya dengan mata terbelalak dan mulut tiada hentinya mengeluarkan seruan-seruan kagum dan memuji ketika mereka menyaksikan gedung-gedung terukir indah dl sepanjang jalan.

Apalagi Li Eng yang amat lincah itu, ia amat bergembira dan berlari ke kanan kiri mendekati setiap penglihatan yang baru dan asing baginya.

Setiap ada bangunan indah dan besar ia berdiri terlongong di depannya, dan benda-benda yang diperdagangkan di sepanjang jalan dalam toko-tokopun tak lepas dari perhatiannya.

Hui Cu yang lebih pendiam dan alim hanya merupakan, pengikut saja dan biarpun gadis ini juga amat kagum dan terheran-heran, namun ia dapat menekan perasaannya dan hanya tampak bibirnya yang kecil mungil mengulum senyum dan sepasang matanya bersinar-sinar menambah indah wajah yang berseri itu.

Pada waktu itu, orang-orang wanita berada di atas jalan raya bukanlah hal aneh.

Banyak wanita berjalan di atas jalan raya, akan tetapi semua itu, adalah wanita-wanita pekerja kasar dan pedagang kecil, pendeknya wanita yang agak tua atau yang agak buruk rupa.

Puteri-puteri bangsawan yang cantik-cantik hanya menampakkan diri di atas jalan raya dalam kendaraan tertutup.

Memang ada kalanya wanita-wanita kang-ouw, anak-anak penjual obat keliling memperlihatkan ilmu silat pasaran, tampak berjalan-jalan namun hal ini jarang terjadi.

Oleh karena itu, ketika dua orang dara remaja ini memasuki Kota Raja, di sepanjang jalan mereka menjadi tontonan orang, terutama laki-laki muda dan tua yang tidak hanya mengagumi kecantikan dua orang gadis itu, akan tetapi terutama sekali mengagumi sikap mereka berdua yang begitu bebas.

Dua orang gadis ini mudah saja menimbulkan dugaan bahwa mereka adalah gadis-gadis kang-ouw yang berkepandaian silat, terbukti dari pedang yang tergantung di pinggang mereka.

Mudah juga diduga bahwa mereka berdua tentulah memiliki ilmu silat yang lihai, kalau tidak demikian, bagaimana dua orang gadis remaja yang begitu cantik jelita bisa melakukan perjalanan dengan aman dan selamat sampai ke Kota Raja?

Kecantikan mereka yang luar biasa itu tentu akan menjadi sebab kemalangan mereka, tentu mereka telah ditahan dan diambil oleh orang-orang jahat.

Karena dugaan inilah maka biarpun banyak mata laki-laki melotot dan mulut tersenyum-senyum, sejauh itu belum ada yang berani sembrono mengeluarkan kata-kata teguran atau godaan.

Yang mengherankan banyak orang adalah Kun Hong, Pemuda ini pakaiannya seperti seorang Siucai, seorang terpelajar, akan tetapi pakaian itu sudah lapuk sehingga menimbulkan dugaan bahwa dia tentulah seorang terpelajar yang tidak lulus ujian dan jatuh miskin seperti banyak terdapat pada masa itu.

Yang mengherankan orang, mengapa seorang Siucai miskin seperti ini berjalan bersama dua orang dara remaja kang-ouw?

Biasanya gadis-gadis kang-ouw yang cantik seperti ini tentu melakukan perjalanan, dengan laki-laki yang hebat pula yang luar biasa, aneh, atau yang gagah perkasa.

Kenapa sekarang pengiringnya hanya seorang Siucai jembel yang hanya tersenyum-senyum, berjalan perlahan seperti kehabisan tenaga?

Lebih-lebih herannya orang-orang yang dekat dengan mereka ketika mendengar Li Eng dengan lincahnya menyebut Siucai muda itu "Paman."

Heran sekali, usianya sepantar mengapa disebut paman?

Kalau dua orang dara itu mengagumi keindahan, ukir-ukiran, bangunan, benda-benda aneh yang diperdagangkan orang, apalagi melihat Sutera-Sutera beraneka warna yang halus dan mahal, adalah Kun Hong kembang-kempis hidungnya dan berkeruyukan perutnya karena mencium bau masakan yang gurih dan sedap keluar dari banyak rumah makan di sepanjang jalan.

Bau sedap dari bau masakan daging, bawang dan bumbu-bumbu menusuk hidungnya, membuat semua itu tidak seindah mangkok berisi masakan yang mengebul panas-panas di atas meja!

Akan tetapi pemuda ini menekan seleranya, maklum bahwa tak mungkin ia dapat membeli masakan-masakan yang mahal itu.

Kalau Li Eng tidak ada perhatian lain kecuali terhadap barang-barang indah dan bangunan-bangunan megah yang tak pernah dilihatnya itu, adalah Hui Cu yang pendiam dan selalu tanpa diketahui orang lain memperhatikan pamannya, segera dapat menduga bahwa pamannya itu merasa lapar dan ingin makan.

Ia lalu menyentuh tangan Li Eng dan berbisik di dekat telinganya.

Li Eng tersenyum, menoleh kepada Kun Hong yang tidak tahu apa yang dibicarakan antara dua orang gadis itu.

"Paman Hong, apakah kau lapar dan ingin makan?"

Tiba-tiba Li Eng yang tak pernah menaruh hati sungkan-sungkan itu bertanya.

"Apa...? Betul... eh, tidak apa..."

Kun Hong gagap karena pertanyaan yang tiba-tiba itu memang cocok sekali dengan pikirannya. Li Eng segera menyambar tangannya dan digandeng menuju ke sebuah rumah makan.

"Kalau lapar kenapa diam saja? Di sini banyak rumah makan, boleh kita pilih masakan yang enak!"

"Hush, jangan main-main."

Kun Hong menahan.

"Aku tidak punya uang, mana berani masuk rumah makan?"

"Untuk apa uang? Kita tak usah beli, bisa minta,"

Kata lagi Li Eng.

"Ihh, memalukan!"

Kun Hong mencela. Li Eng tertawa ditahan.

"Hi-hik, kau lihat, Enci Hui Cu! Tidakkah aneh bukan main paman kita ini? Paman Hong, kau ini seorang Kai-Ong (raja pengemis) kok malu minta-minta?"

Digoda begini oleh Li Eng, gemas juga hati Kun Hong.

"Sudah jangan terlalu menggoda orang kau, bocah nakal. Kujewer telingamu nanti!"

Li Eng hanya tertawa manja dan Hui Cu berkata.

"Susiok, harap jangan kuatir, kami membawa bekal uang dan andaikata kurang, aku masih mempunyai gelang emas, dapat kita jual."

Berbeda dengan Li Eng, suara nona ini sungguh-sungguh dan sama sekali tidak bermain-main.

"Nah, punya keponakan yang begini mencintai seperti Enci Cu, kau takut apa, Susiok?"

Lagi-lagi Li Eng menggoda dan kali ini ia benar-benar menerima cubitan, bukan dari Kun Hong, melainkan dari Hui Cu sehingga ia menjerit mengaduh-aduh.

Wajah Kun Hong sama merahnya dengan wajah Hui Cu.

Ia merasa tidak enak sekali dengan godaan Li Eng itu, maka ia segera berkata dengan lagak seorang tua.

"Sudahlah, di tengah jalan jangan bergurau-gurau. Tidak patut dilihat orang!"

Kemudian ditambahnya.

"Kalau memang kalian membawa uang, mari kita makan di rumah makan itu."

Tiga orang muda ini memasuki rumah makan yang besar dan mewah, juga kelihatan menarik sekali karena pintu, jendela dan meja bangkunya dicat merah dan kuning.

Melihat tiga orang muda ini memasuki rumah makan, pelayan kepala menyambutnya sendiri, terbungkuk-bungkuk menyambut dengan seluruh muka bulat itu tersenyum lebar.

"Silakan... silakan Sam-wi (Tuan Bertiga) masuk. Selamat datang dan silakan Sam-wi takkan kecewa memasuki rumah makan kami yang tersohor di seluruh negeri!"

Kalau Li Eng dan Hui Cu menerima, sambutan yang amat menghormati ini dengan anggukan kepala angkuh, adalah Kun Hong yang menjadi sibuk membalas penghormatan orang.

Ia melihat pelayan kepala ini orangnya gemuk, pakaiannya bersih dan rapi sekali, maka ketika ia melirik ke arah pakaiannya sendiri, ia menjadi malu dan sungkan.

Pakaiannya lapuk dan kotor seperti pakaian jembel, bagaimana ia merasa enak hati menerima sambutan penghormatan sedemikian dari pengurus rumah makan ini?

Setelah ketiganya memilih sebuah meja di sudut dan mengambil tempat duduk, pelayan kepala ini seperti seekor Burung kakatua nerocos terus.

"Sam-wi hendak menikmati apa? Arak wangi dari Selatan, arak buah dari Tung-To, atau arak ketan dari pantai? Kami ada masakan-masakan istimewa, khusus untuk Sam-wi. Daging Naga di tim, jantung hati Burung sorga goreng setengah matang, kepala Burung Hong dipanggang bumbu merah, kaki gajah masak sayur, buntut singa masak jamur, atau masih banyak macamnya."

Tiga orang itu saling pandang, Li Eng dan Hui Cu hanya tersenyum-senyum untuk menutupi perasaan malu karena semua nama masakan itu merupakan nama asing dan baru bagi mereka.

Akan tetapi Kun Hong tanpa (Lanjut ke

Jilid 17) Rajawali Emas (Seri ke 02 -Serial Raja Pedang) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 17 menyembunyikan keheranannya, mendengarkan dengan mata terbelalak dan mulut melongo.

Tidak main-mainkah pelayan ini?

Bagaimana orang bisa memasak daging naga, jantung Burung sorga, Burung Hong, gajah, singa dan lain-lain itu?

Dia sampai menjadi bingung dan tak dapat memilih.

Bagaimana ia harus memilih antara masakan yang memang selama hidupnya baru kali ini ia dengar namanya itu?

"Kalau Sam-wi sukar memilih, biarlah kami sediakan semua yang ada agar Sam-wi dapat makan seenaknya."

Pelayan kepala itu lalu mengundurkan diri dan tak lama kemudian berdatanganlah pelayan-pelayan, ada yang membawa arak, ada yang mengantarkan mangkok dan cawan, ada yang mulai mengeluarkan masakan-masakan panas.

Para tamu lain yang berada di situ memandang heran.

Bagi orang kota ini, tidaklah aneh kalau ada orang memborong masakan-masakan mahal, akan tetapi kecantikan serta kebebasan dua orang dara remaja itu ditambah keadaan Kun Hong yang seperti jembel, benar-benar mendatangkan keheranan.

"Aku rela menghabiskan semua uang bekalku untuk dapat makan daging naga, Burung Hong dan lain-lain binatang aneh itu,"

Bisik Li Eng. Hui Cu mengangguk.

"Selama hidupku baru kali ini aku menjumpai masakan yang aneh. Untuk merasai daging Naga akupun rela mengorbankan gelangku."

Hanya Kun Hong yang bengong terlongong, setengah tidak percaya akan masakan yang aneh-aneh itu.

Tak lama kemudian masakan yang berbau lezat dan sedap gurih telah tersedia di atas meja.

Dengan selera besar tiga orang muda yang memang sudah lapar sekali ini mulai makan.

Li Eng menggunakan Sumpit menjumputi daging dari setiap masakan untuk dicoba rasanya.

Ia terkikik lalu berkata.

"Kurang ajar pelayan itu. Yang begini disebut daging ditim? Aku pernah makan daging ular kembang. Dan ini? Burung sorga apa? Ini kan hati Burung dara dan kepala Burung Hong? Setan, ini hanya kepala ayam biasa. Kaki gajah? hi-hik, kaki babi dan buntut singa ini tentulah buntut kambing!"

Hui Cu juga tertawa kecil.

"Tak salah kata-katamu, Adik Eng. Akan tetapi harus diakui bahwa masakan ini bumbunya lengkap dan enak sekali."

Kun Hong juga tidak sungkan-sungkan menggasak makanan-makanan lezat itu. Mendengar percakapan dua orang dara itu ia memberi komentar.

"Memang penggantian nama-nama itu hanya siasat untuk menarik perhatian tamu, apalagi yang datang dari luar Kota Raja."

"Tapi dia kurang ajar berani menipu kami,"

Kata Li Eng.

"Awas, orang itu patut dipukul kepalanya. Kita tak usah bayar!"

"Hush, omongan apa yang kau keluarkan itu, Li Eng?"

Kun Hong membentak.

"Jangan kau mencari gara-gara. Apa tidak malu sudah makan membayar pukulan? Tidak boleh kau begitu!"

Li Eng bersungut-sungut.

"Biarlah gelangku ini untuk bayar,"

Kata Hui Cu.

"Tentu aku akan bayar, tapi juga akan kumaki karena dia telah menipu kita,"

Kata pula Li Eng yang segera memberi isarat kepada pelayan kepala yang memandang dari jauh.

Dengan terbungkuk-bungkuk pelayan kepala ini datang menghampiri.

Mukanya berseri dan mulutnya segera berkata.

"Tidakkah Sam-wi puas dengan masakan kami?"

"He, muka babi! Kau anggap aku ini orang apa? Berani kau mempermainkan kami dan membohong. Daging ular kau katakan daging naga, Burung dara kau katakan Burung sorga dan ayam biasa kau sebut Burung Hong. Mana ada kaki gajah? Kaki babi. Kau benar-benar muka babi berani mempermainkan kami, apakah kau sudah bosan hidup?"

Muka yang tadinya berseri-seri itu tiba-tiba berubah pucat.

Ia cepat menjatuhkan diri berlutut di depan tiga orang muda itu dan suaranya yang gemetar sukar sekali.

ditangkap maksudnya.

Namun Li Eng dapat mendengar bahwa orang itu minta-minta ampun dan mohon supaya jangan dilaporkan kepada Thaicu (Pangeran).

Kun Hong dan dua orang gadis itu terheran-heran.

Jelas bahwa pelayan kepala ini bukan takut kepada mereka, melainkan takut kalau-kalau mereka melaporkannya kepada Thaicu.

"Mana Siauwte berani menghina tamu-tamu dari Thaicu? Memang nama masakan itu begitu..."

Demikian antara lain kata-kata Si Pelayan Gemuk ini.

"Hemm, kau menyebut-nyebut Thaicu segala? Siapa itu?"

Akhirnya Kun Hong bertanya karena ia dapat menduga bahwa tentu terjadi kesalah pahaman.

Pada saat itu, dari luar masuklah dua orang yang berpakaian indah dan penutup kepalanya menandakan bahwa mereka adalah orang-orang berpangkat.

Semua pelayan memberi hormat kepada dua orang yang datang ini dan ketika mereka berdua berhadapan dengan Kun Hong, Li Eng, dan Hui Cu yang juga memandang dengan penuh perhatian, dua orang ini membungkuk-bungkuk dengan sikap menghormat.

"Sam-wi yang terhormat dipersilakan datang ke Istana Kembang di mana Putera Mahkota sudah menanti. Kendaraan tamu siap menanti di luar."

Karuan saja Kun Hong dan dua orang dara itu terlongong heran dan tidak mengerti.

"Apakah yang kalian maksudkan?"

Tanya Kun Hong.

"Kami tidak mempunyai hubungan dan janji-janji dengan siapapun juga, tidak mengenal Putera Mahkota..."

Dua orang tua itu membungkuk lagi.

"Thaicu amat tertarik kepada Sam-wi dan mulai saat beliau mendengar tentang Sam-wi, beliau menganggap Sam-wi sebagai tamu."

Li Eng segera berkata kepada Kun Hong..

"Paman Hong, lebih baik kita lekas pergi dari tempat ini, di sini banyak yang aneh-aneh dan membingungkan."

Ia lalu mengeluarkan uang bekalnya dan bertanya kepada pelayan kepala.

"Lekas hitung, berapa kami harus bayar makanan palsu ini."

Pelayan ini buru-buru menggerakkan tangannya menolak.

"Ah, bagaimana Sio-cia (Nona) hendak membayar? Semua sudah terbayar lunas, malah berikut persennya, semua sudah beres oleh Thaicu."

Tiga orang muda itu kembali melengak.

Lagi-lagi orang menyebut Thaicu.

Kenapa Putera Mahkota begitu memperhatikan mereka.

Sejak kapankah mereka kenal dengan Putera Mahkota?

"Li Eng, Putera Mahkota telah berlaku baik kepada kita, tidak seharusnya kita menolak kebaikan orang.

Dia menghendaki kita datang ke Istana Kembang, bukankah kau tadi menyatakan keinginanmu untuk dapat kesempatan melihat keadaan Istana dari dalam?

Nah, kesempatan ini sekarang tiba, kenapa kita tidak menerimanya?"

"Pendapat yang bijaksana sekali!"

Seorang di antara dua pembesar itu berkata girang.

"Marilah, Kongcu dan Ji-Wi Siocia (Nona Berdua), mari menggunakan kendaraan yang sudah menanti di luar rumah makan."

Kun Hong mengajak dua orang keponakannya keluar dan benar saja, sebuah kereta yang amat indah dengan dua ekor kuda telah menanti di depan.

Seorang di antara dua pembesar itu membukakan pintunya dan mempersilakan tiga orang "Tamu agung"

Itu memasuki kereta.

Tanpa ragu-ragu lagi Kun Hong naik dan diikuti oleh dua orang gadis yang masih ragu-ragu dan hanya terpaksa menurut karena didahului oleh paman mereka.

Andaikata tidak ada Kun Hong di situ, sudah pasti Li Eng dan Hui Cu tidak akan sudi menerima undangan orang.

Setelah mereka semua duduk di dalam kereta, dua orang "Pembesar"

Itu segera mengambil tempat kusir dan orang ke dua di belakang.

Kiranya mereka itu adalah kusir kereta dan keneknya!

Merah muka Kun Hong kalau teringat betapa tadi di dalam rumah makan ia mengira bahwa mereka adalah dua orang "Pembesar"

Dari Istana.

Kiranya hanya kusir dan keneknya!

Malu ia kalau melirik kearah pakaiannya sendiri yang patut membuat ia disebut orang jembel.

Di dalam kereta yang serba indah dan bersih itu, tiga orang muda ini duduk saling berpandangan dan sampai lama tidak membuka mulut.

Betapapun tenangnya, hati Kun Hong berdebar juga kalau mengingat bahwa dia akan berhadapan dengan Putera Mahkota!

Apalagi dua orang gadis itu yang tampak gelisah sekali.

"Paman Hong,"

Akhirnya Li Eng berkata dengan suara berbisik.

"Mengapa kau menerima undangan ini? Jangan-jangan orang bermaksud buruk dan jahat terhadap kita..."

"Jangan curiga yang bukan-bukan, Li Eng. Tempat ini adalah Kota Raja dan sudah tentu saja Kaisar sekeluarganya adalah tuan rumah. Kalau Putera Mahkota mengundang kita, berarti kita sebagai tamu diundang tuan rumah dan kehormatan besar ini sekali-kali tidak baik kalau kita tolak. Pula, apa buruknya kalau kita mendapat kesempatan bertemu dan bercakap-cakap dengan Putera Mahkota, dan berkesempatan pula melihat-lihat keadaan kota dalam Istana Kembang? Ah, kelak tentu kalian akan bercerita banyak di rumah tentang pengalaman ini."

Li Eng dan Hui Cu tidak berkata-kata lagi, terbenam dalam lamunan masing-masing.

Memang menegangkan hati sekali perjalanan ini bagi mereka, akan tetapi juga mereka berdua merasa bahwa perjalanan ini amat berbahaya dan mencurigakan.

Persamaan pendapat ini hanya mereka utarakan dengan pertukaran pandang mata.

Hanya Kun Hong yang duduk enak-enak, nampaknya ayem dan tenang saja, malah sepasang matanya yang tajam itu bersinar-sinar gembira.

Istana Kembang berada di lingkungan Istana yang paling pinggir, termasuk pinggir kota yang sunyi.

Di sekitar Istana itu penuh hutan-hutan yang ditanami banyak pohon-pohon yang indah, pohon-pohon buah dan pohon-pohon kembang.

Di sekeliling Istana merupakan taman bunga yang besar dan luas, di mana ditanam segala macam bunga.

Di sana-sini terdapat empang ikan yang selain menjadi tempat peliharaan ikan-ikan emas yang indah-indah, juga menjadi tempat tumbuhnya bunga teratai yang berwarna-warni.

Kereta berhenti di depan gedung yang tidak begitu besar, akan tetapi bentuknya mungil dan seluruh bagian bangunan ini penuh dengan hasil-hasil seni ukir dan seni lukis.

Begitu turun dari kereta, tiga orang muda asal pegunungan ini berdiri ternganga.

Istana dan keindahan sekitarnya bagi mereka begitu aneh dan begitu indah yang biasanya hanya dapat mereka bayangkan dalam alam mimpi saja.

Beberapa orang pelayan yang pakaiannya juga seperti pembesar-pembesar datang menyambut.

"Sudah sejak tadi Putera Mahkota menanti kedatangan Sam-wi yang terhormat. Sam-wi (Tuan Bertiga) dipersilakan langsung menuju ke ruangan istirahat di mana Thaicu sudah menanti,"

Begitulah kata mereka dan seperti dalam mimpi tiga orang muda itu mengikuti para pelayan menuju ke pintu depan Istana.

Begitu memasuki pintu ini, tiga orang muda itu tiada habisnya mengagumi segala keindahan yang terdapat di situ.

Lukisan-lukisan kuno, ukir-ukiran yang menghias ruangan dalam, perabot-perabot yang terbuat dari kayu harum, Sutera-Sutera yang berkilauan, batu-batu kemala dalam bentuk hiasan-hiasan, permadani halus yang menghias dinding dan lantai.

Bukan main!

Li Eng yang biasanya bebas dan tak mau tunduk itu kini merasa dirinya kecil sehingga tanpa ia sadari lagi berpegang erat-erat pada lengan kanan Kun Hong.

Malah Hui Cu yang biasanya agak pemalu dan masih sungkan-sungkan bersikap terlalu intim terhadap pamannya, kinipun tanpa ia sadari lagi menggandeng tangan kiri Kun Hong.

Sungguh sikap tiga orang muda ini seperti tiga ekor kelinci memasuki gua macan!

Hanya Kun Hong yang biarpun tampak kagum sekali, masih dapat bersikap tenang, sedikitpun tidak ada perasaan takut seperti yang terdapat dalam pikiran dua orang dara remaja itu.

Di setiap lorong atau ruangan baru berganti pelayan yang bertugas mengantar mereka, Istana itu dari luar tampaknya kecil mungil, akan tetapi setelah dimasuki ternyata luas dan ruangan istirahat yang dimaksudkan itu ternyata jauh juga dari pintu depan.

Kiranya berada di sebelah belakang, merupakan ruangan terbuka dengan atap berbentuk payung besar, tanpa dinding sehingga kelihatannya seperti dikelilingi kembang-kembang.

Di empernya terdapat empang ikan yang lebar dan di tengah-tengahnya terdapat air mancur yang keluar dari mulut seekor Naga batu.

Benar-benar ruangan istirahat ini indah dan berhawa sejuk, tepat menjadi tempat beristirahat menghilangkan lelah.

Seorang laki-laki muda duduk menghadapi empang, kelihatannya melamun.

Usianya sebaya Kun Hong, tampan dan pakaiannya indah sekali, terbuat dari Sutera berlukiskan Burung Hong.

Topinya juga aneh dan bersulamkan gambar naga, akan tetapi agaknya pemuda itu sedang kurang gembira sehingga rambutnya yang hitam keluar dari bawah topi didiamkannya saja.

"Yang Mulia, tiga orang tamu yang dinanti-nantikan sudah datang menghadap!"

Seorang pelayan melapor sambil menjatuhkan diri berlutut. Pelayan lian sebelum berlutut berbisik kepada Kun Hong bertiga.

"Harap Sam-wi berlutut memberi hormat."

Akan tetapi Kun Hong, apalagi Li, Eng juga Hui Cu, tidak mengerti akan bisikan ini, dan hanya memberi hormat seperti biasa mereka memberi hormat kepada orang lain yang sebaya usianya, yaitu dengan membungkuk dan mengangkat kedua tangan ke dada.

Orang muda itu cepat bangkit dari duduknya dan gerakannya cepat sekali sehingga Hui Cu dan Li Eng segera dapat menduga bahwa orang itu tentu memiliki kepandaian ilmu silat yang lumayan juga.

Setelah berhadapan, ternyata bahwa orang muda itu lebih berwajah gagah daripada tampan.

Terutama sepasang matanya membuat orang tak berani menentang pandang matanya lama-lama, penuh wibawa dan gerak-geriknya agung dan hal ini mungkin ia biasakan untuk disesuaikan dengan kedudukannya, Putera Mahkota!

Inilah dia Kian Bun Ti, Putera Mahkota yang sebetulnya adalah cucu dari Kaisar, putera dari mendiang Putera Mahkota atau putera sulung dari Kaisar.

Berdebar keras hati Li Eng dan Hui Cu ketika melihat betapa sepasang mata yang agak lebar itu memandang kepada mereka penuh perhatian, lalu terpancar sinar kagum dari mata itu sebelum mulutnya tersenyum dan suaranya terdengar ramah.

"Ah, Taihiap yang menjadi Sin-Kai Pangcu (Ketua Perkumpulan pengemis baru) dan kedua Lihiap (Pendekar Wanita)! Girang sekali hatiku Sam-wi suka datang bercakap-cakap!"

Ia melangkah maju dan pandang matanya bergantian menelan wajah Li Eng dan Hui Cu.

Kemudian ia menoleh kepada pelayan dan berkata dengan suara yang jauh berbeda, yaitu suara memerintah yang berpengaruh dan angker.

"Sediakan arak Sian-Ciu (Arak Dewa) dan daging kering, kemudian enyahlah dari sini, beri tahu para Cianpwe, supaya menunggu dan tidak boleh menghadap sebelum dipanggil!"

Pelayan-pelayan itu sambil merangkak mengundurkan diri dan tak lama kemudian mereka datang membawa hidangan yang diminta, lalu mengundurkan diri lagi.

Pangeran Kian Bun Ti dengan ramah lalu mempersilakan tiga orang muda itu mengambil tempat duduk di dekat empang.

Sikapnya yang ramah, budi bahasanya yang manis mengusir rasa sungkan dari tiga orang itu.

Malah Li Eng dengan cepat menguasai kembali kelincahan dan kebebasannya.

"Aduh, indahnya ikan-ikan ini... Enci Cu, kau lihat yang di sudut itu... yang di sana itu... hi-hi, seperti ada jenggotnya!"

Ia menarik tangan Hui Cu dan menuding-nuding dengan telunjuknya yang kecil runcing.

Pangeran Kian Bun Ti memandang kagum kepada dua orang gadis itu, terutama kepada Li Eng.

Ia mendengar bahwa dua orang gadis itu memiliki kepandaian ilmu silat yang hebat.

Tadi begitu bertemu, ia sudah heran bukan main karena sama sekali di luar dugaannya bahwa dua orang wanita kang-ouw yang menjadi "Jagoan"

Ternyata adalah dua orang dara remaja yang begini manis cantik jelita dengan bentuk tubuh yang tidak kalah oleh puteri-puteri Istana.

Apalagi sekarang, melihat mereka tertawa-tawa senang melihat ikan-ikan dengan sikap bebas dan sewajarnya, jauh bedanya dengan sikap puteri-puteri Istana atau selir-selirnya, benar-benar menggugah rasa sayang di hati Pangeran ini.

Akan tetapi diam-diam ia meragukan dan sangsi apakah benar-benar dua orang dara remaja jelita ini memiliki kepandaian ilmu silat yang tinggi?

Rasa-rasanya tidak mungkin kalau melihat kehalusan sifat mereka dan usia mereka yang masih amat muda, Pangeran mahkota ini lalu mengalihkan perhatiannya kepada Kun Hong.

Seorang pemuda sederhana yang halus budi dan bersikap sopan, begitu penilaiannya.

Akan tetapi ketika Pangeran ini mengajak tamunya bicara tentang ketatanegaraan, ia kecewa karena ternyata bahwa pemuda aneh yang telah dipilih sebagai ketua baru dari perkumpulan Hwa-I Kai-Pang yang baru itu, ternyata sama sekali buta politik kenegaraan dan kata-katanya penuh mengandung inti dari filsafat dan kebatinan sebagai penuntun manusia ke arah kebajikan.

Hemm, orang muda yang berbakat menjadi pendeta, pikirnya kecewa.

Orang seperti ini sama sekali tiada gunanya bagiku, demikian Pangeran Mahkota itu berkata kepada dirinya sendiri.

Perhatiannya lalu diarahkan kembali kepada Li Eng dan Hui Cu yang masih mengagumi keindahan kembang-kembang, ikan-ikan dan arca serta ukiran indah yang menghias taman.

"Pangcu, apakah kedua orang Lihiap itu benar-benar keponakanmu? Kau masih begini muda, tidak akan jauh selisihnya usiamu dengan mereka, bagaimana bisa menjadi paman mereka?"

Akhirnya Pangeran itu bertanya kepada Kun Hong.

Pemuda ini sebetulnya merasa kurang enak mendapat sebutan pangcu itu, akan tetapi karena memang kenyataannya ia sudah menerima kedudukan ketua Hwa-I Kai-Pang, ia tidak dapat membantah.

Mendengar pertanyaan ini, Kun Hong tersenyum.

"Bukan keponakan dalam hubungan keluarga, Pangeran, melainkan dalam hubungan perguruan. Ayah saya adalah Supek (uwa guru) dari Ayah ibu mereka, oleh karena itulah maka saya terhitung sebagai paman guru mereka."

Pangeran Mahkota itu mengangguk-angguk.

"Kalau begitu, Pangcu sebagai putera Ketua Hoa-San-Pai dan sebagai paman dari kedua orang Lihiap ini, tentu memiliki ilmu silat yang tinggi sekali."

Li Eng dan Hui Cu yang kini sudah duduk kembali di dekat Kun Hong, menahan senyum mereka mendengar ucapan ini. Kun Hong sendiri menjadi merah mukanya ketika ia menjawab.

"Ah, saya seorang yang bodoh mana tahu akan ilmu silat? Ayah dan Ibupun melarang saya belajar ilmu silat semenjak kecil. Berbeda dengan kedua orang keponakanku ini, sedikit-sedikit mereka mengerti ilmu silat, Pangeran."

Pangeran Kian Bun Ti memandang kepada dua orang dara itu.

Li Eng menentang pandang mata itu dengan sinar mata terbuka dan berani, sebaliknya, Hui Cu hanya membalas tenang-tenang kemudian menundukkan pandang matanya.

"Alangkah senangnya memiliki kepandaian silat tinggi seperti Ji-Wi Siocia ini dan alangkah akan merasa aman di hati kalau mempunyai teman seperti Ji-Wi Lihiap,"

Demikian kata Pangeran itu penuh kekaguman dan sepasang matanya memancarkan cahaya ganjil.

Namun Li Eng masih terlalu muda dan tidak ada pengalaman sehingga pandang mata seperti ini dianggapnya bukan apa-apa.

Hui Cu lebih tajam dan perasa sehingga gadis ini berdebar-debar dan tidak berani lagi menentang pandang mata Pangeran muda itu.

"Ah, Pangeran terlalu memuji!"

Li Eng malah berani membantah.

"Sedikit ilmu silat seperti yang kami miliki ini apakah artinya dibandingkan dengan keadaan Pangeran? Tinggal di tempat begini indah, terjaga oleh penjaga yang kuat, tidak ada setanpun berani mengganggu!"

"Ha-ha-ha, Nona pintar sekali bicara!"

Pangeran itu gelak terbahak.

"Kau sama sekali tidak tahu betapa kedudukan seorang pangeran tidaklah seenak orang sangka. Bahaya selalu mengancam dari kanan kiri, nyawa selalu dalam bahaya. Karena itulah tadi aku mengatakan betapa akan senang dan amannya kalau dapat selalu berteman dengan Nona berdua yang pandai ilmu silat dan yang tentu akan dapat menghalau setiap orang jahat yang datang hendak mengambil nyawaku!"

Kun Hong mengerutkan keningnya, di dalam hatinya ia tidak senang mendengar ucapan yang mengandung maksud hati seorang pria terhadap wanita ini.

Namun ia tidak mau sembarangan mengeluarkan ketidak senangannya, apalagi karena Li Eng dan Hui Cu agaknya sama sekali tidak dapat menangkap maksud sebenarnya yang bersembunyi di balik pujian-pujian Pangeran itu.

Pada saat itu terdengar bentakan keras.

"Hendak kami lihat siapa akan dapat membelamu, Pangeran! Kematianmu sudah di depan mata, siaplah!"

Dan tahu-tahu dua orang laki-laki setengah tua dengan gerakan ringan dan cepat sekali telah melayang ke tempat itu, masing-masing tangan mereka memegang sebatang pedang dan langsung mereka itu menerjang Pangeran Kian Bun Ti.

"Celaka...!"

Pangeran itu menjadi pucat dan ketakutan.

"Bangsat hina jangan menjual lagak!"

Tiba-tiba tampak bayangan berkelebat dan Li Eng sudah melompat ke depan, diikuti oleh Hui Cu yang juga sudah mencabut pedangnya.

Terdengar suara nyaring ketika dua pasang pedang itu bertemu di udara dan dua orang laki-kaki itu berteriak kaget sambil melangkah mundur satu tindak.

"Li Eng, Hui Cu, jangan membunuh orang!"

Kun Hong dalam kagetnya berteriak kepada dua orang keponakannya itu.

Sementara itu, dua orang itu sudah menerjang maju, sekarang sasaran mereka bukanlah Pangeran Kian Bun Ti yang sudah lari bersembunyi di belakang pilar.

Penyerang yang seorang, bertubuh pendek berkepala besar, dilayani oleh Hui Cu karena Li Eng sudah mendahuluinya menerjang orang ke dua kurus kering berusia lima puluh tahun lebih, Li Eng yang bermata tajam, begitu melihat gerakan dua orang ini ketika menyerang Pangeran tadi segera dapat tahu bahwa orang ke dua yang kurus kering inilah yang terlihai di antara keduanya maka ia mendahului Hui Cu memapaki orang ini.

Memang tidak salah dugaan Li Eng.

Orang kurus kering itu selain lihai dan cepat ilmu pedangnya, juga memiliki tenaga Lweekang yang tinggi sehingga pedang di tangannya itu tergetar-getar mengeluarkan hawa pukulan yang dahsyat.

Pedangnya berkelebat seperti Burung elang menyambar-nyambar menjadi gulungan sinar putih, tangan kirinya tidak hanya dipergunakan untuk mengimbangi gerakan pedang di tangan kanan, malah kadang-kadang masih membantu serangan pedang dengan melancarkan pukulan-pukulan dengan telapak tangan yang mengandung tenaga dalam yang berhawa panas!

Pendeknya, orang ini adalah ahli silat kelas tinggi yang hanya dapat digolongkan dengan tingkat para busu pengawal pribadi Kaisar.

Namun kali ini ia ketemu batunya dalam menghadapi Li Eng.

Dengan jurus-jurus gerakan Tian-Mo Po-In (Payung Kilat Menyapu Awan) dari Hoa-San-Pai gadis ini memapaki gulungan sinar pedang lawannya sehingga gulungan sinar pedang itu menjadi buyar dan kacau.

Adapun pukulan-pukulan lawan dengan tangan kirinya itu dapat ia elakkan dengan mengandalkan kegesitannya.

"Eh, kenapa gerakan Tian-Mo Po-In begini hebat?"

Tiba-tiba laki-laki itu berseru keras.

"Jurus ini adalah jurus Hoa-San Kiam-Hoat yang paling hebat, tapi kenapa begini aneh? Ayaaa!"

Ia berseru makin kaget ketika pedang gadis itu hampir saja menusuk lehernya kalau ia tidak lekas-lekas membuang diri ke belakang.

Aneh sekali sikap lawan ini, pikir Li Eng.

Agaknya mengenal baik ilmu pedang Hoa-San-Pai, akan tetapi mengapa berkata keras-keras seperti hendak memberitahukan kepada seseorang?

Dengan gemas Li Eng lalu merubah ilmu pedangnya dan menyerang dengan dahsyat.

Kembali orang itu berteriak keras sambil memutar pedang untuk menjaga diri.

"Eh, Hoa-San Kiam-Hoat mengapa begini ganas? Kau campur dengan ilmu pedang dari manakah? Kau murid siapa?"

Panas juga perut Li Eng mendengar betapa orang ini agaknya mengenal baik ilmu pedangnya. Sambil mengirim tusukan bertubi-tubi ia berseru.

"Orang macam kau perlu apa bicara tentang ilmu silat Hoa-San-Pai? Kalau memang gagah, kau hadapi ini!"

Tiba-tiba sinar hitam berkelebat dari tangan kirinya dan ternyata Li Eng sudah mengeluarkan sabuk Sutera hitamnya dan kini pedang dan Sutera hitam itu menyambar-nyambar dahsyat sekali, mengurung lawan itu dari segala penjuru!

Orang itu lagi-lagi mengeluarkan seruan kaget, masih mencoba untuk menyebutkan satu demi satu semua jurus yang dimainkan Li Eng, akan tetapi akhirnya ia tidak dapat membuka mulut lagi karena sibuk menghadapi serangan yang membuat ia harus memeras tenaga dan kepandaian untuk melindungi tubuhnya.

Sementara itu, lawan yang menghadapi Hui Cu juga berteriak-teriak.

"Bocah ini ilmu pedangnya Hoa-San Kiam-Hoat tidak berapa tinggi, akan tetapi ilmu pedang apa ini yang begini indah?"

"Tak usah banyak mulut, terimalah ini!"

Hui Cu membentak dan menyerang lebih hebat lagi. Namun orang itu ternyata memiliki kepandaian yang tinggi juga sehingga ia mampu menangkis dan membalas. Malah ia masih terus berkata keras-keras.

"Eh, mengingatkan aku akan ilmu pedang dari Bu-Tek Kiam-Ong! He, bocah, kau pernah apa dengan Bu-Tek Kiam-Ong Cia Hui Gan?"

Disebutnya nama guru ibunya itu, Hui Cu kaget juga akan tetapi tanpa menjawab ia menyerang terus bertubi-tubi dengan ilmu pedangnya yang amat indah.

"Hebat... hebat...!"

Orang itu lagi-lagi memuji dan terpaksa berlaku hati-hati karena menghadapi dara remaja yang lihai ini ia maklum tak boleh sikap sembrono.

Adapun Kun Hong yang bangun berdiri dan menonton dari pojok, maklum bahwa Li Eng dengan mudah akan dapat mengalahkan lawannya sedangkan Hui Cu juga seimbang kepandaiannya dengan lawan yang seorang lagi.

Tanpa ia sadari Kun Hong sudah memiliki pengertian mendalam tentang ilmu silat dan terutama sekali Hoa-San Kiam-Hoat pernah dibacanya sampai tamat.

Ia juga melihat betapa gerakan-gerakan Li Eng amat berbeda dengan ilmu yang dibacanya, lebih ganas dan juga aneh.

Sedangkan ilmu pedang yang dimainkan oleh Hui Cu adalah Hoa-San Kiam-Hoat yang bercampur dengan ilmu pedang yang indah gerakan-gerakannya.

Betapapun juga, melihat gerakan kaki gadis ini ia terheran-heran karena ia merasa pernah mengenal gerakan-gerakan ini.

Tiada hentinya pemuda ini berseru penuh kekuatiran.

"Li Eng! Hui Cu! Hati-hati jangan kalian membunuh orang!"

Ia sama sekali tidak menguatirkan keselamatan dua orang.

keponakannya itu karena di luar kesadarannya ia telah dapat mengikuti pertandingan itu dan melakukan penilaian, akan tetapi ia amat kuatir kalau-kalau dua orang keponakannya itu melakukan pembunuhan, perbuatan yang amat dibencinya.

Pangeran Kian Bun Ti dengan mata berseri-seri memperhatikan dua orang gadis yang amat lihai itu, akan tetapi keningnya berkerut sebentar ketika ia menyaksikan sikap Kun Hong.

Pikirnya.

"Orang muda itu cerdik luar biasa, aneh dan baik budinya, tentu jujur dan setia. Akan tetapi sayang, hatinya lemah. Mana bisa aku memakai orang seperti ini?"

Biarpun wataknya jenaka dan nakal, namun entah bagaimana, Li Eng amat taat kepada pamannya atau lebih tepat lagi, ia tidak mau membikin marah atau susah kepada Kun Hong.

Kalau menurut wataknya, orang yang jahat datang menyerang Pangeran ini patut ia bunuh kedua-duanya.

Akan tetapi mendengar suara Kun Hong dan mengingat akan watak yang amat aneh dari pamannya ini, ia lalu memperhebat permainan sabuk Suteranya sedangkan pedangnya hanya ia pakai untuk menangkis atau mengancam saja.

Akhirnya lawannya tak dapat menahan lagi, terdengar bunyi "Tar-tar-tar!"

Dengan nyaring bertubi-tubi dan orang itu memekik kesakitan, pedangnya terlepas dan ia meloncat tinggi lalu berjungkir-balik ke belakang.

Muka, lengan dan leher luka-luka bekas cambukan sabuk Sutera sedangkan beberapa bagian bajunya pecah-pecah.

"Si-Te, lari!"

Teriaknya kepada temannya.

Akan tetapi temannyapun amat bingung karena sedang didesak hebat oleh Hui Cu.

Biarpun ia dapat mempertahankan diri, namun ia sama sekali tidak dapat mendesak gadis yang ilmu pedangnya indah dan lihai itu.

"Enci Cu, kata Paman tidak boleh dia dibunuh. Biarkan aku membagi hadiah kepadanya!"

Kata Li Eng sambil tertawa-tawa tanpa mengejar lawannya yang sudah kalah. Sebaliknya sabuk Suteranya menyambar dan kini yang dijadikan bulan-bulanan adalah lawan Hui Cu.

"Tar-tar-tar!"

Orang inipun menjerit dan pedang terlepas, muka dan badannya babak-belur dimakan cambuk.

Karena Hui Cu tidak menyerangnya lagi dan gadis nakal itu hanya mempergunakan sabuk Sutera untuk menghajarnya, ia lalu melompat jauh mengikuti temannya yang sudah lari terlebih dulu, meloncat pagar taman dan menghilang.

"Hebat! Bagus sekali...!!"

Pangeran Kian Bun Ti bertepuk tangan memuji sambil keluar dari belakang pilar, terus menghampiri Li Eng dan Hui Cu yang masih memegang pedang di tangan.

Ia mengangguk-angguk dan berkata dengan wajah berseri.

"Nona berdua telah menyelamatkan nyawaku, entah dengan jalan apa aku dapat membalas budi kalian!"

Dua orang dara remaja itu hanya tersenyum dan wajah mereka juga berseri girang.

Mereka tidak saja telah menolong tuan rumah yang amat ramah, akan tetapi lebih dari itu, telah menolong Pangeran, Pangeran Mahkota lagi!

Akan tetapi Kun Hong mengerutkan kening!

Perasaannya yang halus dan tajam dapat menangkap nada tersembunyi di dalam kata-kata itu tadi.

Segera ia maju dan menjura kepada Pangeran Kian Bun Ti sambil berkata.

"Harap Pangeran jangan berkata demikian. Sudah semestinya kalau dua orang keponakan saya membela Pangeran dari penyerangan orang-orang jahat tadi. Dua orang keponakan saya tidak menanam budi dan Paduka tidak perlu berterima kasih."

Pangeran Kian Bun Ti menatap pandang mata pemuda ini dan untuk sejenak keduanya berpandangan, seakan-akan hendak menjenguk isi hati masing-masing dan seperti orang "mengukur tenaga,"

Pangeran itu hendak marah, dadanya sudah panas, akan tetapi ia menekan perasaannya lalu bertepuk tangan tiga kali. Sambil tersenyum ia berkata.

"Kegagahan dua orang Nona ini yang amat hebat sepatutnya dihormati dengan pesta dan perkenalan dengan para pembantuku."

Selagi tiga orang muda itu terheran-heran dan tidak mengerti, dari pintu dalam tiba-tiba bermunculan beberapa orang, setelah berkumpul semua ternyata mereka berjumlah tujuh orang.

Ada yang berpakaian seperti pendeta, ada yang bertubuh gagah tinggi besar, ada pula yang lemah-lembut, akan tetapi semua orang ini segera memberi hormat kepada Pangeran Mahkota dengan cara masing-masing.

Melihat bahwa semua membawa senjata di pinggang atau di punggung, dapat diduga bahwa tujuh orang ini tentulah orang-orang yang pandai ilmu silat.

Pangeran Kian Bun Ti memperkenalkan tujuh orang pembantunya itu dan menyebut nama mereka, akan tetapi Kun Hong dan dua orang keponakannya tidak memperhatikan biarpun mereka menjura dengan hormat.

Hati dua orang dara itu mulai tak senang karena pandang mata tujuh orang ini mengandung sikap kurang ajar.

"Ha-ha-ha, kalian lihatlah. Dua orang Nona inilah baru patut disebut pendekar wanita yang gagah perkasa dan cantik jelita! Pernahkah kalian melihat dua orang dara remaja sehebat ini? Dengan tangkas dan mudahnya mereka berdua berhasil mengusir dua orang jagoan lari tunggang-langgang!"

Seorang di antara mereka yang bertubuh tinggi besar bermuka hitam dan tadi diperkenalkan sebagai Souw Ki berjuluk Tiat-Jiu Busu (Jagoan Tangan Besi), tersenyum ketika ia berkata.

"Pilihan Paduka tepat sekali, Pangeran. Hamba menghaturkan selamat!"

"Ha-ha-ha! Benar-benar menggirangkan hati, Pangeran. Dengan adanya dua orang Siuli (puteri-puteri Istana) segagah ini, Pinto dan teman-teman tidak akan begitu kuatir lagi apabila tidak sedang berada dekat Paduka!"

Orang yang tertawa-tawa ini adalah seorang berpakaian Pendeta Tosu berambut panjang yang tadi diperkenalkan dengan nama Thian It Tosu.

Ia mengelus-elus jenggotnya yang panjang pula sambil memandang kepada Li Eng dan Hui Cu dengan mata berkedip-kedip seperti seorang yang mengajak bermain mata.

Bukan main sebalnya hati dua orang dara itu melihat kakek ini beraksi seperti monyet mencium terasi.

Sebelum Li Eng dan Hui Cu mengerluarkan suara untuk mengatakan kesebalan hati mereka, tiba-tiba terdengar suara berisik dan dari pintu yang menembus ke dalam gedung mungil itu berlari-larian keluar lima orang wanita muda yang cantik-cantik.

Wanita-wanita ini masih muda, tidak akan lebih dari dua puluh lima tahun usianya dan pakaian mereka benar-benar membuat Li Eng dan Hui Cu memandang bengong.

Pakaiannya itu mencolok sekali, terbuat dari Sutera halus tipis sehingga samar-samar tampak pakaian dalam mereka yang berwarna-warni.

Selain tipis membayang, juga amat ketat menempel pada tubuh mereka.

Mereka ini rata-rata cantik jelita, ditambah dengan hiasan dan riasan pada muka dengan warna menghitam dan pemerah, kelima orang wanita muda ini semua memegang sebatang pedang terhunus yang mengkilap saking tajamnya!

Munculnya lima orang wanita cantik berlenggang genit ini membuat tujuh orang tokoh jagoan itu tersenyum-senyum dan melirik-lirik.

Sementara itu, Pangeran Kian Bun Ti segera menegur, juga dengan senyum.

"Eh-eh, kalian ini Lima Macan Cantik datang-datang membawa pedang telanjang mau apakah?"

Seorang yang agaknya tertua di antara mereka berlima, menjawab dengan sikap manja dan genit kepada Pangeran Mahkota itu.

"Hamba berlima mendengar bahwa Paduka menerima dua orang baru yang dibanggakan berkepandaian tinggi. Karena selama ini kami berlima yang menjadi selir-selir pengawal, maka diterimanya selir pengawal baru, kami ingin sekali mengukur kepandaian mereka."

Setelah berkata demikian, dia dan empat orang temannya menoleh dan memandang kepada Li Eng dan Hui Cu dengan pandang mata tajam dan marah.

Pangeran Mahkota itu tertawa bergelak, juga tujuh orang pembantunya tertawa.

Mengertilah mereka bahwa Lima Macan Cantik ini ternyata menjadi cemburu dan iri hati setelah mendengar perihal dua orang pendekar wanita itu.

"Ha-ha-ha, biarpun kalian cukup lihai, tak mungkin kalian dapat menangkan dua orang Nona perkasa ini."

Kata-kata ini bagi lima orang wanita itu merupakan ijin, maka cepat mereka bergerak menghadapi Li Eng dan Hui Cu yang berdiri berdampingan dan yang memandang dan mendengarkan semua ini dengan kening berkerut.

Ketika lima orang wanita yang indah-indah pakaiannya itu menghampiri mereka, keduanya juga balas memandang tajam penuh selidik.

Mereka berdua harus mengakui bahwa lima orang ini benar-benar cantik dan bergaya lembut tapi angkuh seperti lagak puteri-puteri bangsawan.

Setelah berdiri sejajar di depan dua orang gadis ini dengan pedang melintang di depan dada, yang tertua menudingkan telunjuk tangan kiri kepada mereka berdua sambil membentak.

"Dua bocah dari gunung, kalian mengandalkan apakah berani memikat perhatian Pangeran? Coba kalian hadapi pedang kami!"

Li Eng dan Hui Cu saling pandang. Gilakah perempuan ini? Siapa yang memikat perhatian Pangeran? Sementara itu, Kun Hong sudah melangkah maju dan menjura ke depan lima orang wanita itu.

"Ngo-wi Toanio (Nyonya Besar Berlima), harap sudi bersabar dan tidak salah duga. Dua orang keponakanku ini sama sekali tidak hendak memikat perhatian siapa-siapa dan kami percaya penuh bahwa Ngo-wi tentu paling cantik dan paling pandai. Dua orang keponakanku tidak berani melawan Ngo-wi..."

Li Eng dan Hui Cu tidak senang sekali mendengar kata-kata paman mereka yang amat merendah ini, akan tetapi lima orang wanita-wanita itu jelas kelihatan bangga dan juga girang.

Akan tetapi, untuk menyatakan bahwa mereka berlima bukanlah wanita yang boleh dipermainkan, yang tertua segera menudingkan ujung pedangnya ke arah Kun Hong sambil membentak.

"Kau ini Siucai jembel tak tahu aturan! Apa kau kira kami berlima ini adalah perempuan-perempuan sembarangan yang boleh diajak bicara oleh segala macam laki-laki seperti kau? Untuk dosamu ini seharusnya kupenggal kepalamu, akan tetapi karena Pangeran terkenal sebagai seorang besar yang budiman dan pengampun, biarlah kupotong telingamu yang kiri agar kau tahu bahwa kami tidak boleh dibuat main-main!"

Setelah berkata demikian, pedang ditangannya berkelebat ke arah telinga kiri Kun Hong.

Pemuda ini di dalam hatinya terkejut sekali akan sikap yang berlebihan dari wanita-wanita ini.

Terpaksa ia melangkah mundur terhuyung-huyung menurutkan gerak langkah ajaib.

Wanita itu makin penasaran karena sabetannya luput, cepat ia melangkah maju dan mengayunkan pedangnya lagi ke arah telinga kiri Kun Hong.

Pemuda ini tetap terhuyung-huyung ke belakang dan sabetan-sabetan pedang itu tak pernah mengenai telinganya.

"Toanio, telinga adalah alat untuk mendengar, mana boleh dipotong?"

Kata Kun Hong, Suaranya tetap tenang-tenang saja dan inilah yang lucu karena suaranya demikian tenang, akan tetapi ia terhuyung-huyung dan kelihatan gerak-geriknya seperti kebingungan.

Memang, bagi yang tidak tahu, gerak langkah ajaib dari Kim-Tiauw-Kun memang merupakan gerakan orang ketakutan atau kebingungan.

Maka tertawalah tujuh orang jagoan yang berdiri di situ.

Mendengar suara ketawa ini, wanita itu salah duga, mengira bahwa dialah yang ditertawai, maka naiklah darahnya.

Kini pedangnya tidak hanya ditujukan untuk memotong telinga dari Kun Hong, malah dipergunakan untuk menyerang membabi-buta untuk merobohkan pemuda itu.

Kelihatannya makin repotlah Kun Hong, terjengkang-jengkang dan terhuyung-huyung, namun tak pernah tersentuh pedang yang menyambar-nyambar itu.

"Tranggg!"

Wanita itu memekik kaget dan melompat ke belakang, tangannya terasa gemetar dan sakit. Kiranya Hui Cu sudah berdiri menghadapinya dengan pedang ditangan dan dengan sikap marah.

"Perempuan tak tahu malu! Berani kau menghina pamanku yang tak bersalah apa-apa?"

Wanita itu hanya sebentar saja kaget, lalu ia tersenyum sambil menoleh kepada empat orang temannya.

"Adik-adik, lihatlah baik-baik. Perempuan ini mengakui keparat itu sebagai pamannya, Hi-hi, siapa orangnya dapat dibohongi begitu saja? Orang muda itu usianya tidaklah tua, sebaya dengannya, juga biarpun jembel dan kotor, mukanya tidaklah buruk bagi seorang laki-laki. Hemm-hemm, bocah gunung, bilang saja dia itu kekasihmu, kami akan percaya sepenuhnya, jangan bilang pamanmu."

"Tutup mulutmu yang kotor!"

Hui Cu yang memang tak pandai bicara itu memaki, matanya yang bening berkilat bercahaya akan tetapi kedua pipinya merah karena jengah.

"Adik-adik, mari kita beramai hajar bocah gunung ini!"

Wanita itu berseru dan berlima mereka siap menerjang Hui Cu dengan pedang mereka. Gerakan mereka cukup kuat dan pasangan kuda-kuda mereka ternyata serupa, tanda bahwa mereka adalah sealiran.

"Bagus, kalian sudah bosan hidup!"

Hui Cu menggetarkan pedang di tangannya, akan tetapi tiba-tiba di belakangnya Kun Hong membentak.

"Hui Cu, tahan! Mundurlah dan simpan pedangmu, Li Eng, kaulah yang maju menghadapi kelima orang nyonya besar ini, akan tetapi ingat, jangan sekali-kali membunuh orang!"

Hui Cu kecewa akan tetapi ia tidak berani membantah kehendak pamannya, dengan mata berkilat ia menarik kembali pedangnya, menyimpannya dan melangkah mundur.

Li Eng sambil tersenyum-senyurn menggantikannya maju dan gadis lincah jenaka ini maklumlah sudah tahu apa maksud pamannya menyuruh dia menggantikan Hui Cu.

Memang sesungguhnya melihat Hui Cu yang sudah marah sekali itu, Kun Hong menjadi kuatir kalau-kalau Hui Cu salah tangan membunuh orang.

Apalagi dalam sebuah pertempuran yang ramai, sukarlah untuk mengalahkan lawan tanpa membunuh.

Berbeda dengan Li Eng yang ia tahu memiliki kepandaian jauh lebih tinggi dari Hui Cu.

Apalagi Li Eng memiliki senjata istimewa, yaitu sabuk Sutera yang lemas maka lebih mudahlah bagi Li Eng untuk mengalahkan lawannya tanpa membunuhnya.

Anehnya, melihat pertempuran yang akan pecah ini, baik Pangeran Kian Bun Ti maupun tujuh orang jagoannya sama sekali tidak mencampurinya.

Malah mereka berdiri menonton dengan wajah berseri, seakan-akan yang terjadi di depan mereka adalah sebuah adegan sandiwara yang menyenangkan dan menarik.

Hal ini saja menimbulkan kerut di kening Kun Hong dan pemuda ini mengambil keputusan bahwa kalau Li Eng sudah berhasil mengalahkan lima orang wanita galak itu, ia cepat-cepat minta pamit dan mengajak dua orang keponakannya meninggalkan tempat ini, malah harus cepat-cepat meninggalkan Kota Raja dengan segalanya yang serba aneh.

Li Eng yang dapat menangkap maksud hati pamannya, dengan gerakan tenang sekali meloloskan sabuk Suteranya yang hitam panjang, menggulungnya di tangan kanan.

Dengan senyum dikulum dan mata berseri ia memandang kepada lima orang puteri di depannya itu, menatap seorang demi seorang, lalu berkata dengan suaranya yang nyaring dan mengandung ejekan.

"Eh, lima orang nenek Siluman betina, sungguh kau tak tahu diri. Kalau tidak paman kami yang menaruh kasihan, bukankah sekarang kalian berlima sudah menjadi bangkai di bawah pedang enci-ku?"

Li Eng memang berani bersikap demikian karena ia sudah tahu pasti bahwa lima orang ini bukanlah lawan Hui Cu, apalagi lawan dia.

Dari gerakan orang pertama ketika menyerang Kun Hong tadi saja tahulah dia bahwa lima orang wanita ini hanya lagaknya saja hebat, pada hakekatnya tidak memiliki kepandaian berarti.

Dimaki sebagai nenek dan Siluman betina, karuan saja lima orang selir Pangeran itu menjadi marah bukan main.

Tanpa banyak cakap lagi mereka berlima menerjang maju sambil menggerakkan pedang menyerang Li Eng.

Li Eng tidak mau berlaku sungkan lagi.

Kedua tangannya bergerak, sinar hitam berkelebat dan terdengarlah bunyi.

"Tar-tar-tar-tar!"

Berulang kali.

Lima orang pengeroyoknya itu belum pernah selama hidupnya mengalami pertempuran seperti ini.

Mereka merasa seakan-akan ada petir menyambar-nyambar di atas kepala dan berturut-turut lima batang pedang melayang jauh terlepas dari pegangan lima orang wanita itu.

Li Eng menggerakkan sabuk Suteranya yang menyambar-nyambar dari atas ke bawah mengeluarkan bunyi melecuti muka dan tubuh kelima orang pengeroyoknya.

"Tar-tar-tar-tar-tar!"

Lima orang wanita itu menjerit-jerit, perih dan sakit kulit yang terkena cambukan, lalu sambil menutupi muka dengan tangan, mereka lari meninggalkan tempat itu kembali ke dalam.

Amat lucu melihat mereka lari dikejar sabuk Sutera yang masih sempat mencambuki tubuh belakang mereka, membuat mereka memindahkan tangan dari muka ke tubuh belakang yang sakit semua dihajar cambuk!

"Cukup, Li Eng!"

Kun Hong berteriak dan Li Eng menyimpan kembali sabuknya, lalu berdiri di dekat pemuda ini.

"Harap Paduka memaafkan keponakanku."

Kun Hong menjura.

"Dan perkenankan kami bertiga mohon diri, hendak melanjutkan perjalanan."

Pangeran Kian Bun Ti menggerak-gerakkan tangan, lalu tertawa.

"Ah, Saudara Kun Hong apakah marah karena peristiwa tadi? Mereka berlima hanyalah selir-selirku yang bodoh, yang merasa diri sendiri pintar. Kalau mereka tadi bersikap kurang ajar, biarlah sekarang juga kusuruh masukkan ke dalam penjara."

Mendengar ini terkejutlah Kun Hong.

"Ah, tidak... tidak... mereka tidak apa-apa, Pangeran. Tak usah dihukum..."

"Baiklah, dan untuk menebus kelancangan mereka, biarlah mulai sekarang mereka berlima menjadi pelayan dua orang keponakanmu ini."

Pucat muka Kun Hong sedangkan Hui Cu dan Li Eng saling pandang, masih belum mengerti apakah sebetulnya maksud hati dan kehendak Pangeran yang tampan dan selalu tersenyum-senyum itu.

Lagi-lagi Kun Hong menjura dan bicara sepertl orang yang belum mengerti akan maksud pangeran itu.

"Banyak terima kasih atas anugerah Paduka kepada dua orang keponakan saya, juga terima kasih atas penyambutan serta kehormatan besar yang kami bertiga telah menerima dari Paduka. Akan tetapi terpaksa kami bertiga mohon diri, Pangeran. Perjalanan kami masih jauh dan harus kami lanjutkan sekarang juga."

"Perjalanan itu boleh dibatalkan atau ditunda!"

Suara Pangeran itu kini terdengar sungguh-sungguh dan ketus.

"Saudara Kun Hong, mulai saat ini aku mengangkat Li Eng sebagai selir pertama dan Hui Cu sebagai selir ke dua dan kedudukan mereka merangkap sebagai selir pengawal pribadiku!"

Baru sekaranglah dua orang dara remaja itu tahu akan maksud hati Pangeran itu.

Muka mereka otomatis menjadi merah seperti udang direbus, mata mereka berkilat saking marah dan jengah, keduanya tanpa terasa telah meraba gagang pedang, Dengan dahi berkerut-kerut saking gelisah dan bingungnya, Kun Hong menjura berulang-ulang kepada Pangeran Mahkota itu, lalu bertanya.

Baca Juga: Pusaka Pulau Es 6

Baca Juga: Mutiara Hitam 12

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert