Eps 7 Rajawali Emas - Kho Ping Hoo
Baca online Rajawali Emas - Kho Ping Hoo
Cersil Rajawali Emas - Kho Ping Hoo.
"Pangeran, semenjak nenek moyang kita dahulu, bangsa kita selalu memegang teguh peraturan dan kesopanan. Dua orang keponakanku ini masih mempunyai orang tua, maka kiranya untuk urusan ini sebaiknya kalau Paduka berurusan dengan Ayah Bunda mereka seperti lazimnya. Sekarang, karena kami bertiga mempunyai tugas yang penting dan perjalanan masih jauh, perkenankanlah kami mengundurkan diri dan keluar dari sini."
"Ha-ha-ha, Saudara Kun Hong benar-benar mengagumkan, hafal akan segala pelajaran filsafat dan ujar-ujar kuno. Aku sama sekali tidak melanggar peraturan, karena bukankah kau ini paman dari mereka? Seorang paman, dalam hal ini, boleh menjadi wakil dan pengganti orang tua, karena itu, dihadapanmu aku mengajukan pinangan untuk menjadikan dua orang nona ini sebagai selir-selirku yang terkasih. Adapun kau sendiri, sesuai dengan bakat dan kepintaranmu, kuangkat menjadi pembesar yang mengurus perpustakaan Istana!"
Tujuh orang jagoan itu mengeluarkan seruan kagum dan mereka segera mejura kepada Kun Hong sambil bersuara saling tunjang.
"Kionghi, kionghi (selamat)! Begini muda sudah menerima anugerah pangkat yang tinggi. Juga kionghi kepada dua orang Lihiap ini!"
Akan tetapi Kun Hong cepat mengangkat kedua tangan dan menggoyang-goyangnya tanda bahwa ia menolak kesemuanya itu.
Juga Li Eng dan Hui Cu sudah hampir tak dapat menahah kemarahan mereka.
Mereka merasa terhina sekali oleh sikap Pangeran ini yang begitu mau menang sendiri, mengambil orang sebagai selirnya tanpa bertanya, baik kepada yang bersangkutan maupun kepada orang tuanya.
Apakah dikiranya mereka itu seperti lima orang wanita tadi, dan dianggap sebagai perempuan murahan belaka?
"Terpaksa saya tidak dapat menerima semua itu, Pangeran.
Pertama, saya yang muda mana berani mewakili orang tua mereka?
Apalagi dalam soal perjodohan.
Sama sekali saya tidak berani!
Ke dua, saya merasa amat bodoh dari tidak terpelajar, bagaimana saya berani menerima kedudukan dari Paduka?
Tidak, sungguhpun saya berterima kasih sekali, namun terpaksa saya menolak dan harapan saya hanya perkenan Paduka agar kami bertiga dapat pergi dari sini."
Merah wajah Pangeran Mahkota Kian Bun Ti.
Selama hidupnya baru kali ini ia menghadapi orang-orangnya yang tidak lekas-lekas berlutut menghaturkan terima kasih setelah ia beri anugerah seperti itu.
Wanita mana yang tidak ingin, bahkan saling berebut untuk menjadi selir terkasih dari Pangeran Kian Bun Ti yang terkenal muda, tampan, halus budi, dan calon Kaisar?
Laki-laki mana yang tidak ingin menjadi pembesar dan kedudukannya diberi sendiri oleh Pangeran Mahkota?
Akan tetapi, pandang matanya tidak buta, pendengarannya tidak tuli, kali ini benar-benar dua orang dara muda, yang hendak diambil menjadi selirnya itu malah berdiri dengan muka marah sedangkan orang yang hendak diangkatnya menjadi pembesar perpustakaan malah menampik!
Saking heran, marah dan kecewanya, Pangeran ini hanya berdiri dengan muka merah dan mata terbelalak.
Seorang di antara tujuh jagoan pengawal Pangeran itu melompat maju, dan orang ini usianya sudah lewat lima puluh tahun, mukanya merah dan matanya jelas membayangkan bahwa dia adalah seorang pemarah dan sombong.
Dia inilah yang terkenal dengan julukan Sin-Toa-To (Golok Besar Sakti) bernama Liong Ki Nam.
Di daerah Selatan namanya sudah amat terkenal dan ilmu goloknya memang hebat, boleh dibilang belum pernah ia menemui tandingan.
Watak orang ini memang paling berangasan dari teman-temannya, maka melihat sikap tiga orang muda dan mendengar jawaban Kun Hong tadi, ia segera memaki.
"Bocah! Kau diberi hati makin melonjak, Pangeran telah berlaku baik hati dan menghormat, kau malah makin besar kepala. Kau berani membantah perintah Pangeran, berarti memberontak! Apakah kau sudah bosan hidup?"
Sementara itu, Pangeran Kian Bun Ti nampak kesal, lalu berkata kepada tujuh orang jagoannya.
"Harap para busu membereskan ini, aku menanti kabar."
Tanpa menoleh lagi kepada Kun Hong atau kepada dua orang dara remaja itu, Pangeran ini membalikkan tubuh dan dengan langkah yang membayangkan keagungan seorang calon Kaisar, Pangeran ini memasuki rumah gedung.
Setelah Pangeran itu pergi, Tosu rambut panjang, Thian It Tosu, mendekati Kun Hong dan berkata dengan suara halus.
"Orang muda, harap kau pikirkan baik-baik dan jangan membawa kemauan sendiri yang tidak wajar. Ingatlah, semua orang muda, bahkan yang tua-tua sekalipun, di seluruh negeri akan mengiri kalau melihat peruntunganmu yang amat bagus ini. Kau diangkat menjadi pembesar dalam Istana dan dua orang keponakanmu dapat merebut hati Pangeran Mahkota. Siapa tahu kelak kalau Pangeran telah menjadi Kaisar, dua orang keponakanmu itu akan tetap menjadi kekasih, tentu kau akan diangkat menjadi menteri!"
Kun Hong tersenyum lemah dan menggerakkan kepala.
"Tidak bisa, Totiang. Sama sekali aku tidak bermaksud membantah Pangeran, apalagi memberontak. Akan tetapi sungguh-sungguh aku tidak bisa menerima jabatan karena aku memang tidak suka menjadi pembesar. Adapun tentang persoalan jodoh, kedua orang keponakanku ini mempunyai orang tua-orang tua, bagaimana aku berani melancangi mereka?"
"Eh, bocah goblok. Kau masih berkepala batu?"
Sin-Toa To-Liong Ki Nam lagi-lagi membentak dengan mata melotot.
"Tidak usah banyak cerewet, pilih mana. Kau dan dua orang nona ini menurut dan menerima kemuliaan ataukah kalian ditangkap dan dijebloskan dalam penjara, mungkin dihukum penggal kepala!"
Tentu saja Kun Hong tidak takut mendengar ancaman maut ini.
Baginya, tidak ada di dunia ini sesuatu yang dapat menimbulkan takut dalam hatinya asalkan ia yakin akan kebenarannya.
Dan dalam hal ini ia sama sekali tidak merasa telah melakukan sesuatu kesalahan.
Ia menarik napas panjang dan berkata.
"Belum pernah aku mendengar tentang pinangan dan pemberian anugerah yang bersifat paksaan. Baru saja dua orang keponakanku telah menolong pangeran dari bahaya maut akibat penyerangan dua orang jahat, akan tetapi sekarang dua orang keponakanku hendak dipaksa menjadi selir dengan ancaman hukuman penjara kalau tidak mau menurut. Benar-benar di tempat yang mewah ini tidak dikenal lagi kebenaran dan keadilan!"
Tujuh orang jagoan itu tertawa, agaknya geli mendengar ucapan ini, Malah Thian It Tosu lalu berkata.
"Orang muda, kau benar-benar seperti katak dalam tempurung, berlagak pintar akan tetapi bodoh. Kau tidak tahu sampai di mana kekuasaan Pangeran Mahkota. Beliau adalah calon Kaisar tahukah kau? Mana bisa orang jahat sembarangan hendak menyerang dan membunuh beliau? Kau kira kedua keponakanmu tadi menolong Pangeran dari penyerangan orang jahat? Ha-ha. Sebenarnya hanya karena Pangeran yang suka melihat dua orang gadis ini, ingin menguji sampai di mana tinggi kepandaian kedua Nona ini."
Tosu itu bertepuk tangan dan dari luar berlari datang dua orang yang lalu menjatuhkan diri berlutut di depan tujuh orang jagoan itu.
Ketika Kun Hong dan dua orang keponakannya memandang, mereka ini kaget sekali karena mengenal bahwa dua orang yang baru datang ini bukan lain adalah...
dua orang "Penjahat"
Yang tadi menyerang Pangeran dan dihajar oleh Li Eng dan Hui Cu!
Kun Hong bengong, dan tahulah ia sekarang bahwa kiranya Pangeran hanya ingin menguji kepandaian dua orang keponakannya.
Selagi ia kebingungan mengingat urusan sulit yang dihadapinya, terdengar Li Eng membentak keras dan mencabut pedangnya.
"Aturan mana semua ini? Biar Pangeran sekalipun, tidak boleh memaksa orang lain sesuka hatinya. Kami tidak sudi menuruti kehendak Pangeran, habis kalian ini mau apa?"
Dengan gagah gadis ini berdiri tegak dengan pedang di tangan kanan dan sabuk Sutera di tangan kiri, memasang kuda-kuda dan perbuatannya ini segera diturut oleh Hui Cu.
"Li Eng, jangan..."
Kun Hong mencegah.
"Paman Hong, betapapun baik dan sabar hati orang, tak mungkih bisa memenuhi kehendakmu, mau dan diperhina oleh orang lain. Kita menolak paksaan mereka dan kalau mereka hendak menggunakan kekerasan, boleh dilihat. Orang-orang dari Hoa-San-Pai bukanlah sebangsa pengecut yang takut mati demi membela kebenaran!"
Suara Lie Eng penuh semangat dan baru kali ini terhadap Kun Hong ia bicara keras dan sungguh-sungguh.
"Kalian tidak boleh membunuh orang!"
Kata pula Kun Hong ketika melihat dua orang dara remaja itu sudah siap dengan pedang mereka dan tujuh orang jagoan itupun tampaknya sudah siap untuk turun tangan.
"Kalau orang lain hendak mencelakakan kita, masa kita harus diam saja? Kalau orang lain hendak membunuh kita, masa kita harus mandah saja?"
Kata pula Li Eng penasaran.
"Lebih baik dibunuh daripada membunuh!"
Kun Hong tetap membantah.
Sementara itu, tujuh orang jagoan itu saling pandang dan mereka ini rata-rata memandang rendah kepada Li Eng dan Hui Cu.
Harus diketahui bahwa tujuh orang ini adalah tokoh-tokoh besar yang memiliki ilmu kepandaian tinggi.
Mereka bukanlah jago-jago biasa macam dua orang yang tadi pura-pura menyerang Pangeran, melainkan tokoh-tokoh yang benar-benar termasuk ahli silat kelas tinggi.
Tiat-Jiu Souw Ki yang bermuka hitam dan tinggi besar adalah seorang Bajak tungal yang dahulu namanya malah lebih tenar daripada nama Ho-Hai Sam-Ong, tiga Raja Bajak di Huang Ho itu.
Sesuai dengan nama.
julukannya, Tiat-jiu berarti Kepalan Besi, tenaga luar dari tubuhnya hebat sekali, kepalan tangannya juga sekeras besi sehingga orang kata sekali pukul ia mampu membikin remuk kepala seekor Harimau.
Di samping kedahsyatan pukulan tangannya ini, iapun seorang ahli bermain silat Ruyung dengan Ruyung bajanya yang besar dan berat.
Thian It Tosu adalah seorang Tosu yang tingkatnya sudah tinggi di perkumpulan Ngo-Lian-Kauw, boleh dibilang merupakan tangan kanan dari Ketua Ngo-Lian-Kauwcu Kim-Thouw Thian-Li.
Thian-It Tosu ini selain ilmu silatnya tinggi, tenaga dalam di tubuhnya amat kuat, juga sebagai seorang Tosu ia mahir ilmu sihir dari Ngo-Lian-Kauw.
Semenjak dahulu (baca cerita Raja Pedang) perkumpulan Ngo-Lian-Kauw ini memang selalu mencari kesempatan baik untuk menempel pihak yang menang, merupakan perkumpulan yang bersifat plin-plan.
Sekarang, melihat betapa Pangeran Kian Bun Ti merupakan satu-satunya orang terkuat untuk menjadi calon pengganti Kaisar, perkumpulan ini tidak menyia-nyiakan kesempatan, lalu menempel Pangeran ini malah Thian It Tosu sendiri sebagai tokoh besar Ngo-Lian-Kauw masuk menjadi pengawal Pangeran Kian Bun Ti.
Orang ke tiga dan ke empat dari tujuh jagoan Istana ini adalah sepasang saudara kembar dari Ho-pak.
Dua orang yang usianya empat puluh lima tahun ini mempunyai muka yang sama bentuknya sehingga orang luar akan sukar untuk membedakan mereka kalau saja muka mereka tidak berbeda warnanya.
Bu Sek, yang tua bermuka kuning sedangkan Bu Tai yang ke dua, bermuka merah.
Mereka berdua ini terkenal dengan sebutan Ho-Pak Siang-Sai (Sepasang Singa dari Ho-pak) dan ilmu pedang mereka amat terkenal sebagai ilmu pedang warisan dari keluarga Bu yang sudah turun-temurun menjadi panglima perang.
Apalagi kalau sepasang saudara kembar ini maju bersama, ilmu pedang mereka menjadi ilmu pedang pasangan yang amat sukar dilawan, karena sebagai saudara kembar, mereka tidak saja memiliki persamaan dalam segala gerak-gerik, juga mereka mempunyai hubungan rasa yang amat erat sehingga permainan ilmu pedang mereka dapat digabung menjadi satu seolah-olah hanya seorang saja yang mainkan dua buah pedang.
Orang kelima adalah seorang kakek yang memegang sebuah tongkat bengkok, tongkat hitam yang terbuat dari kayu yang aneh dan kelihatan seperti sebatang tongkat pengemis.
Kakek ini pendiam dan kelihatan selalu seperti orang yang kurang semangat dan mengantuk, sama sekali tidak patut kalau disebut seorang jagoan.
Usianya sudah enam puluh lima tahun lebih.
Akan tetapi jangan dikira bahwa dia itu kurang bersemangat atau lemah.
Kalau orang mendengar namanya, apalagi orang-orang kang-ouw tentu akan kaget setengah mati karena dia ini bukan lain adalah Bhong Lo-Koai yang terkenal disebut Koai-Tung (Tongkat Gila).
Ilmu tongkatnya, untuk bagian tenggara tidak ada yang dapat menandingi!
Orang keenam adalah orang yang paling berangasan dan sombong, yaitu si ahli golok Sin-Toa To-Liong Ki Nam.
Usianya sudah lima puluh tahun akan tetapi ia terkenal pemarah dan bertenaga besar.
Juga dia ini memiliki ilmu golok tunggal yang tidak dikenal asal-usulnya.
Dahulunya Sin-Toa To-Liong Ki Nam ini adalah seorang guru silat bayaran.
Akan tetapi ternyata ia hanya memeras uang dari orang-orang kaya dan tidak pernah menurunkan ilmunya yang terkenal, yaitu ilmu goloknya.
Ia hanya menurunkan ilmu silat pasaran saja sehingga tak pernah ia mempunyai murid yang berarti.
Betapapun juga, tidak ada orang berani mengganggu murid-muridnya itu, karena biarpun si murid ini tidak memiliki kepandaian berarti, sebaliknya Liong Ki Nam ini betul-betul seorang yang tangguh dan kosen, sukar dikalahkan.
Akhirnya ia ditarik oleh Pangeran Kian Bun Ti dan dijadikan pengawal.
(Lanjut ke
Jilid 18) Rajawali Emas (Seri ke 02 -Serial Raja Pedang) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 18 Orang ke tujuh adalah orang yang paling kuat, usianya sudah enam puluh tahun lebih dan dialah yang paling aneh di antara tujuh jagoan ini.
Orangnya tinggi kurus, sudah tua tapi pakaiannya selalu serba merah!
Melihat mukanya yang terus-menerus tersenyum-senyum dan kalau bicara lucu, orang lain takkan menyangka bahwa dia seorang tokoh yang dihormati di Istana.
Kiranya lebih patut kalau ia dianggap orang yang miring otaknya.
Akan tetapi kalau ada yang mendengar namanya, yaitu Ang-Moko (Setan Merah), orang akan bergidik mengingat akan kekejaman orang ini yang dapat membunuh orang sambil tersenyum-senyum seperti, orang menyembelih ayam saja!
Jangan dikira bahwa Ang-Moko ini tidak lihai dan kalah oleh enam orang yang lain itu.
Biarpun ia tidak pernah kelihatan membawa senjata namun ilmu kepandaiannya ternyata malah paling tinggi di antara mereka yang berada di situ.
Dan dalam hal kekejaman dan ketenaran namanya dia hanyalah di bawah tokoh-tokoh seperti Song-Bun-Kwi, Siauw-Ong-Kwi, Swi Lek Hosiang dan Hek-Hwa Kui-Bo, yaitu empat besar di dunia persilatan!
Demikianlah kedaan tujuh orang pengawal atau pembantu Pangeran Kian Bun Ti, maka juga tidaklah terlalu mengherankan apabila mereka ini sebagai tokoh tua memandang rendah kepada Li Eng dan Hui Cu yang masih belum ada nama.
Kemenangan dua orang dara ini atas diri dua orang yang tadi pura-pura menyerang Pangeran, tidaklah berkesan apa-apa kepada mereka karena tingkat kepandaian dua orang inipun hanya patut menjadi murid mereka.
Mendengar ucapan Li Eng dan melihat sikap dua orang gadis yang menantang itu, Sin-Toa To-Liong Ki Nam yang berangasan itu tak dapat menahannya lagi.
Ia melangkah maju dan membentak.
"Bocah cilik, kalian sombong sekali! Lebih baik lekas kau berlutut dan mentaati perintah Pangeran, jangan sampai membuat guru besarmu ini marah dan kehabisan kesabaran, lalu turun tangan kepadamu."
Li Eng adalah seorang yang juga memiliki kekerasan hati. Dengan mata berkilat ia memandang Liong Ki Nam, lalu mengeluarkan dengus mengejek dan berkata.
"Keledai sombong! Keluarkan golok babimu itu, kutanggung dalam beberapa jurus kau akan minta ampun kepadaku!"
Berdiri alis Liong Ki Nam.
"Keparat, gadis liar! Kau tidak tahu siapa aku? Akulah Sin-Toa To-Liong, Ki Nam! Golok saktiku ini kalau sudah kucabut harus membikin melayang jiwa orang, dan kau berani menyebutnya golok babi?"
"Hi-hik, mungkin untuk menyembelih babi juga kurang tajam. Entah kalau untuk memotong leher ayam. Eh, manusia sombong, tentu sudah banyak jiwa ayam kau bikin melayang dengan golokmu itu, ya? Asal jangan ayam tetangga masih boleh juga,"
Li Eng melampiaskan kemarahannya dengan cara mengejek dan menghina.
"Setan perempuan!!"
Tampak sinar berkelebat disusul gulungan sinar itu menyambar ke arah Li Eng.
Kiranya dengan amat cepat Si Golok Sakti ini sudah mencabut senjatanya dan membacok ke arah Li Eng.
Memang gerakannya hebat dan luar biasa cepatnya, namun kini ia menghadapi.
Li Eng dara perkasa yang sudah mewarisi ilmu sakti dari Im-Kan-Kok (Lembah Akhirat).
"Trang! Tar-tar"
Bunga api berpijar dan terpaksa Si Golok Sakti meloncat ke ke belakang untuk menghindari serangan ujung sabuk Sutera hitam itu.
Sebaliknya diam-diam Li Eng terkejut sekali karena telapak tangarnya terasa menggetar ketika ujung sabuk Suteranya menangkis golok lawan tadi.
Ia maklum bahwa lawan ini benar-benar tak boleh dibuat main-main.
Namun ia masih mengejek.
"Hi-hik, kenapa mundur? takutkah?"
Di pihak Sin-Toa To-Liong Ki Nam yang sudah banyak pengalaman, iapun terkejut karena mendapat kenyataan bahwa dara remaja ini benar-benar lihai, tidak saja dapat menangkis serangan goloknya, malah dapat membalas dengan serangan sabuk Sutera hitam yang aneh itu.
Namun tentu saja ia tidak takut.
Ia mengeluarkan suara menggereng ketika mendengar ejekan ini, lalu ia membentak.
"Siluman betina, kau tunggu golokku menamatkan riwayatmu!"
Goloknya diputar-putar di atas kepala, berubah menjadi gulungan sinar mengerikan yang mengeluarkan suara mendesing-desing.
Tiba-tiba sebatang sinar hitam berkelebat memasuki gulungan sinar putih itu dan terdengar Liong Ki Nam berseru tertahan disusul loncatannya ke belakang dan ia berjungkir-balik lalu memandang kepada Bhong Lo-koai yang sudah berdiri di depannya bersandarkan tongkat hitam, matanya penuh pertanyaan dan teguran mengapa temannya ini tadi menahannya.
"Liong-Kauwsu, sudah seringkali aku beri tahu bahwa amatlah tidak baik menurutkan nafsu amarah, membuat orang lupa diri. Kaupun tadi tak mampu mengendalikan kemarahan sampai kau lupa bahwa yang hendak kau serang itu adalah Siuli-Siuli pilihan Pangeran. Andaikata kau dapat membunuh mereka, apakah yang akan dikatakan kelak oleh Pangeran?"
Muka yang merah dari Liong Ki Nam tiba-tiba berubah pucat dan ingatlah ia bahwa tadi ia telah menurutkan nafsu dan sama sekali tidak ingat bahwa hampir saja ia mencelakai dirinya sendiri.
Memang, sudah jelas bahwa Pangeran tergila-gila kepada dua orang gadis manis ini dan Pangeran menyerahkan persoalan ini, yaitu agar supaya dua orang gadis ini dapat menjadi selir-selir terkasih.
Kalau sampai dia salah tangan membunuh mereka bukankah ia akan mendapat marah dari Pangeran?
Bukan tak mungkin karena mengecewakan dan menyusahkan hati Pangeran, lehernya sendiri akan terpenggal tanpa ia mampu mempertahankannya lagi.
Karena ini ia cepat mundur, menyimpan goloknya dan tidak berani berkata apa-apa lagi.
Sementara itu Bhong Lo-Kai sudah melangkah maju.
Tongkatnya yang hitam dan buruk itu bergerak perlahan ke arah Li Eng dan Hui Cu.
Dua orang gadis ini adalah ahli-ahli silat tinggi tak dapat ditipu dengan gerakan yang kelihatannya lemah dan lembut ini.
Segera keduanya mengangkat pedang menangkis.
Dua batang pedang di tangan gadis itu bertemu dengan tongkat dan...
tanpa mengeluarkan suara dua batang pedang itu menempel pada tongkat, tak dapat dilepaskan lagi seperti dua batang jarum menempel pada besi sembrani yang amat kuat.
"Nona berdua, lebih baik menyerah saja. Tiada gunanya memberontak terhadap perintah Pangeran, kalian akan berdosa besar,"
Kata kakek aneh itu, matanya yang sipit itu makin meram.
Diam-diam kakek ini mengerahkan seluruh tenaga Lweekangnya, karena selain ia harus menempel sepasang pedang dua orang gadis itu, juga ia berusaha menarik dan merampasnya.
Alangkah kagetnya ketika ia menghadapi perlawanan tenaga Lweekang yang juga tidak lemah, apalagi dari pihak Li Eng.
Demikianlah, biarpun tampaknya tiga orang ini tidak bergerak dengan senjata mereka saling tempel, sebetulnya mereka sedang mengadu hawa sakti dalam tubuh untuk mencapai kemenangan.
Li Eng tak dapat menahan kemarahannya lagi.
Orang-orang ini menganggap dia orang apakah maka berani main gila?
Dengan seruan nyaring dan merdu tangan kirinya bergerak dan sinar hitam menyambar ke arah leher Bhong Lo-koai.
Cepat sekali sambaran ini dan dengan jitu mengarah jalan darah yang amat berbahaya bagi keselamatan kakek itu.
Bong Lo-koai mengeluarkan seruan tertahan saking kaget dan marahnya.
Tiba-tiba tongkatnya melepaskan tempelannya pada dua batang pedang, bergerak menangkis sabuk Sutera itu.
Ia mengalami kekagetan hebat namun berhasil menyelamatkan diri.
Adapun Li Eng terkejut ketika merasa betapa sabuk Suteranya terbetot dan lengannya kesemutan ketika tongkat itu menangkisnya.
Malah Hui Cu terhuyung sedikit ketika pedangnya terlepas dari tempelan tongkat.
Ini saja sudah membuktikan bahwa tenaga Lweekang dari kakek ini luar biasa.
Kini maklumlah Li Eng dan Hui Cu bahwa mereka berdua menghadapi lawan-lawan tangguh.
Baru dua orang itu saja, Sin-Toa To-Liong Ki Nam dan terutama kakek ini, Bhong Lo-koai, memiliki kepandaian yang tinggi, malah Li Eng dapat menduga bahwa tingkat dua orang ini lebih tinggi dari tingkat Hui Cu, dan agaknya kakek aneh ini bukan merupakan lawan ringan baginya.
Apalagi kalau tujuh orang itu semua maju, siapa tahu di antara mereka malah ada yang lebih lihai dari Bhong Lo-koai.
Akan tetapi urusan ini menyangkut kehormatan mereka, tak mungkin mereka menyerah menjadi selir Pangeran!
Biar mereka harus mempertaruhkan nyawa, mereka akan melawan sekuat tenaga.
Dengan mata berkilat-kilat Li Eng dan Hui Cu memasang kuda-kuda dan Lie Eng berteriak marah.
"Anjing-anjing penjilat! Majulah kalian, majulah semua. Jangan harap kami akan menyerah sebelum leher kami putus!"
Ang-Moko, yaitu seorang di antara para jagoan, yang tertua dan yang sejak tadi hanya tersenyum saja, kini berkata.
"Kalau kalian tidak berhasil menawan dua ekor kuda betina liar ini, tidak saja Pangeran akan marah kepada kalian, juga nama kalian akan menjadi rusak. Masa tua bangka-tua bangka seperti kalian tidak mampu menangkap dua ekor kuda betina yang muda ini? Heh-heh-heh, memalukan sekali!"
"He, Ang-Moko kakek tua! Kau hanya membuka mulut saja tapi tidak mau turun tangan. Habis apa kerjamu di sini?"
Teriak Souw Ki kasar. Ang-Moko tertawa lagi terpingkal-pingkal.
"Aku suka mengurus pekerjaan besar, bukan segala macam usaha menangkap kuda betina yang liar. Kau lebih patut untuk pekerjaan macam ini."
"Sudahlah, untuk apa melayani kegilaan Ang-Moko?"
Kata Sin-Toa To-Liong Ki Nam.
"Kita beramai tangkap dan tawan dua orang gadis ini, tangkap hidup-hidup jangan sampai lolos atau terluka."
Enam orang itu memasang kuda-kuda, adapun Ang-Moko hanya menonton sambil tertawa-tawa.
"Paman Hong, kalau aku mati di sini, tolong sampaikan kepada Ayah dan ibu bahwa anaknya mati sebagai seorang gagah!"
Kata Li Eng tanpa mengalihkan perhatiannya kepada para jagoan yang sudah siap hendak menerjangnya itu.
"Sampaikan hormatku kepada Ayah ibuku, Hong Susiok,"
Kata Hui Cu, berbeda dengan Li Eng suaranya agak terharu dan sungguh-sungguh.
Kun Hong gelisah sekali, seperti diremas rasa hatinya.
Ia tak kuasa mencegah pertempuran yang pasti akan berlangsung hebat ini, karena ia maklum bahwa dua orang keponakannya itu sudah tentu lebih baik berjuang sampai mati daripada menyerah menjadi selir Pangeran mata keranjang itu.
Akan tetapi tidak benar ini, pikirnya.
Melawan pemerintah, sama pula memberontak.
Biarpun tidak salah, dunia akan mengecapnya sebagai pemberontak dan pengkhianat dan hal ini akan menyeret nama baik seluruh keluarga.
Tak boleh ia membiarkan dua orang keponakannya itu melakukan dosa seperti ini.
Dikumpulkannya tenaga batinnya yang gelisah, dipusatkan hawa sakti di tubuhnya, semua ditarik ke pusat pandangan mata lalu ia membentak.
"Li Eng dan Hui Cu! Simpan pedangmu dan jangan melawan."
Ketika ia berteriak demikian itu, para jagoan, sudah mulai bergerak maju mengeroyok Li Eng dan Hui Cu.
Suara beradunya senjata sudah terdengar bertubi-tubi dan tubuh kedua orang gadis itu sudah lenyap terbungkus gulungan sinar pedang mereka sendiri.
Namun begitu teriakan ini terdengar, dua orang gadis itu melompat ke dekat Kun Hong seperti ditarik oleh tenaga gaib.
"Baiklah, Paman Hong,"
Kata keduanya seperti dari satu mulut dan berbareng pula keduanya menyimpan pedang dan berdiri tegak menghadapi para jagoan itu yang saling pandang dan merasa terheran-heran.
Hanya dua orang gadis itu saja yang merasakan betapa hebat dan ampuhnya pengaruh suara Kun Hong tadi, suara yang tak mungkin terbantah oleh mereka, suara yang harus mereka turut dan taati karena seakan-akan adalah suara dari hati mereka sendiri yang melumpuhkan seluruh daya kemauan.
Kun Hong sendiri sama sekali tidak tahu bahwa dalam keadaan yang tegang dan menggelisahkan tadi, ia telah mempergunakan tenaga batin dari ilmu Hoat-Sut yang ia baca dari kitab pemberian Sin-Eng-Cu Lui Bok sehingga ia telah "menyihir"
Dua orang keponakannya sendiri sehingga dua orang dara itu menuruti perintah tanpa syarat lagi!
"Ha-ha-ha, bagus sekali!
Kiranya tidak keliru Pangeran memilih kau sebagai pengurus perpustakaan.
Agaknya kau tidak sebodoh yang kami kira,"
Kata Thian It Tosu.
"Memang jauh lebih baik menyerah dan hidup penuh kemuliaan di sini daripada melawan kekuasaan Pangeran karena akan membuang nyawa sia-sia belaka."
"Kami bertiga menyerah untuk ditawan, bukan menyerah untuk menerima kedudukan,"
Jawab Kun Hong dengan suara dingin. Kembali tujuh orang itu saling pandang lalu Thian It Tosu mengangkat pundak.
"Kalian orang-orang aneh, tapi urusan kami sudah selesai, biarlah selanjutnya Tan-Taijin yang akan mengurus kalian. Serahkan senjata!"
Li Eng dan Hui Cu tidak melawan ketika pedang mereka dan sabuk Sutera Li Eng dilucuti, sedangkan pedang di pinggang Kun Hong tidak ada yang menganggap karena memang tidak ada yang tahu.
Siapakah orangnya dapat menduga bahwa pemuda yang lemah ini membawa-bawa pedang?
Mereka ditahan dalam tempat terpisah dan sebelum berpisah, Kun Hong berkata kepada dua orang gadis itu.
"Jangan kuatir, aku akan berdaya upaya untuk menginsyafkan Pangeran agar kita dibebaskan kembali. Kita tidak berdosa. Jangan kalian menggunakan kekerasan. Percayalah, orang yang benar pasti dilindungi Tuhan Yang Maha Adil."
Akan tetapi alangkah kaget hati Kun Hong ketika tiba-tiba Ang-Moko dan Bhong Lo-koai bergerak ke depan menggerakkan tangan menyerang dua orang gadis itu.
Karena Li Eng dan Hui Cu sama sekali tidak mengira akan datangnya serangan mendadak ini, mereka tak dapat mengelak dan roboh lemas dalam keadaan tertotok.
Kiranya dua orang jagoan tua ini telah saling memberi tanda-tanda dan karena mereka tidak ingin melihat dua orang gadis yang kosen ini akan menimbulkan kerewelan lagi, keduanya turun tangan menotok jalan darah mereka.
"He, apa yang kalian lakukan?"
Kun Hong berteriak-teriak.
"Akan kulaporkan ini, kalian akan dihukum! Kami sudah menyerah, kenapa kalian merobohkan dua orang keponakanku? jahat sekali kalian..."
Akan tetapi tujuh orang itu tidak mempedulikannya lagi, malah ia segera diseret ke lain jurusan sedangkan dua orang gadis yang sudah lemas tidak berdaya lagi itu dibawa ke tempat lain.
Percuma saja Kun Hong berteriak-teriak sampai suaranya serak.
Ia dilempar ke dalam sebuah kamar kosong yang berjendela kecil beruji besi.
Hanya ada sebuah bangku panjang dan sebliah meja kecil di kamar ini, selebihnya kosong.
Dengan hati risau Kun Hong melempar diri ke atas bangku dan dengan gelisah memikirkan nasib kedua orang keponakannya.
Pembesar yang oleh Kaisar dikuasai untuk mengatur semua urusan yang timbul dan terjadi di lingkungan Istana, adalah Tan-Taijin.
Tan-Taijin ini orang yang berwatak jujur dan setia, orangnya tinggi besar seperti raksasa dan mempunyai wibawa besar.
Kiranya para pembaca masih ingat akan tokoh cerita ini yang bernama Tan Hok, pemimpin kaum Pek-Lian-Pai yang amat berjasa terhadap perjuangan.
Malah dalam pergolakan belasan tahun yang lalu ketika para bekas pejuang saling brebutan kedudukan malah ada yang memberontak kepada Kaisar, kembali Tan Hok ini memperlihatkan jasanya dan menolong Kaisar dari serbuan kaum petualang yang hendak merebut kekuasaan.
Akhirnya,Tan Hok yang tubuhnya tinggi besar dan gagah ini diangkat oleh Kaisar menjadi pengawal pribadinya dan kemudian malah diberi pangkat untuk mengurus segala persoalan yang terjadi di lingkungan Istana.
Karena ini maka Tan Hok yang sekarang disebut Tan-Taijin ini mempunyai pengaruh yang amat besar, semua kata-katanya.
dipercaya oleh Kaisar dan sebagai seorang jujur dan keras hati, ia ditakuti dan disegani kerabat Istana.
Seperti telah kita ketahui dalam bagian depan dari cerita ini, antara Tan Hok dan Tan Beng San terdapat pertalian persahabatan yang amat erat, malah pendekar sakti Tan Beng San menganggap raksasa ini sebagai kakak angkatnya.
Oleh karena inilah maka semenjak Tan Beng San bersama Isterinya, Cia Li Cu, tinggal di Thai-San, kedua orang gagah ini seringkali mengadakan hubungan.
Tan-Taijin seringkali pergi mengunjungi Thai-San, malah sudah beberapa kali Tan Beng San sekeluarganya berkunjung ke Kota Raja dan bermalam di gedung Tan-Taijin, Karena Tan-Taijin sendiri yang menikah dengan seorang gadis Kota Raja tidak mempunyai keturunan, maka seringkali puteri tunggal Tan Beng San tinggal di situ sampai berbulan-bulan.
Malah atas anjurannya, juga karena sayangnya Ayah Bundanya, puteri tunggal ini mempelajari segala kerajinan tangan wanita di Kota Raja sehingga selain mewarisi ilmu silat sakti dari Ayah ibunya, gadis inipun memiliki kepandaian puteri-puteri Istana seperti sastra, menyulam, bermain musik, bermain catur dan lain-lain.
Urusan Kun Hong dan dua orang keponakannyapun otomatis terjatuh ke dalam tangan Tan-Taijin, karena urusan itu merupakan urusan dalam.
Para jagoan sudah maklum akan kelihaian Tan-Taijin dalam menyelesaikan urusan yang sulit-sulit, maka setelah menjebloskan Kun Hong ke dalam penjara di dalam Istana dan memasukkan dua orang gadis itu ke dalam kamar para selir Pangeran, mereka lalu melaporkannya kepada Tan-Taijin.
Mula-mula Tan-Taijin mengomel ketika mendengar bahwa secara mendadak Pangeran Mahkota mengangkat seorang pemuda menjadi pengurus perpustakaan dan dua orang gadis begitu saja menjadi selir.
Watak orang muda omelnya, segala tergesa-gesa menurutkan nafsu hati.
tetapi ia segera tertarik sekali mendengar bahwa "Pemuda kepala batu"
Yang menolak anugerah besar ini ternyata adalah seorang dari Hoa-San-Pai, demikian pula dua orang gadis yang katanya menolak pula anugerah Pangeran.
Tadinya iapun hampir tak dapat percaya kalau ada dua orang gadis muda yang menolak diangkat sebagai selir Pangeran Mahkota, akan tetapi setelah ia mendengar bahwa dua orang dara remaja itu adalah orang-orang Hoa-San-Pai, ketidak percayaannya berubah dan ia tertarik sekali.
Ia cukup mengenal pendekar-pendekar wanita yang tidak boleh disamakan dengan wanita-wanita biasa.
Kalau yang menolak anugerah tertinggi itu adalah pendekar-pendekar wanita dari Hoa-San-Pai, hal itu bukanlah hal yang aneh.
Dia harus dapat mengurus hal ini, mengatasinya dan mencari jalan pemecahannya yang baik.
Karena ia mendengar bahwa pemuda yang diangkat menjadi pengurus perpustakaan itu adalah paman dari kedua gadis tadi, maka ia segera memberi perintah agar supaya pemuda bandel itu malam itu juga diantar ke gedungnya, akan ditemui dan diperiksa.
Diam-diam ia menduga-duga siapakah pemuda ini dan putera siapa karena ia mengenal semua tokoh Hoa-San-Pai.
Sebagai seorang tawanan, biarpun orang-orang tahu bahwa dia seorang laki-laki yang lemah, kedua tangan Kun Hong dibelenggu ketika orang membawanya menghadap Tan-Taijin di ruangan tengah.
Waktu itu hari sudah gelap dan di ruangan itu dipasangi lampu yang amat terang.
Tan-Taijin sendiri duduk menghadapi meja besar dalam pakaian kebesaran karena ia sedang memeriksa seorang tahanan.
Amat gagahlah pembesar ini dalam pakaiannya yang mentereng seperti Kwan Kong saja.
Benar-benar berwibawa setiap orang pesakitan tentu akan tunduk dan takut kalau diperiksa oleh seorang seperti Tan-Taijin ini.
Melihat seorang pemuda kurus dan tampak lemah digiring masuk, Tan-Taijin merasa kecewa.
Tak patut pemuda ini menjadi murid Hoa-San-Pai.
Tadinya ia menduga akan bertemu dengan seorang pemuda yang gagah perkasa, seorang kesatria keturunan pendekar besar.
Akan tetapi pemuda itu mempunyai keistimewaan pada matanya, yang mengingatkan Tan-Taijin kepada sahabat dan saudara yang tercinta, pendekar besar Tan Beng San Si Raja Pedang!
Banyak persamaan antara mata kedua orang itu, pikirnya, begitu tajam, begitu cemerlang dan berani menentang segala.
Setelah pemuda itu berlutut di depan meja, Tan-Taijin memberi isyarat kepada dua orang pengawal untuk meninggalkan ruangan itu.
Ia ingin bicara empat mata dengan pemuda ini, ingin melakukan pemeriksaan mendalam tanpa disaksikan orang lain.
Sejenak ia melihat kepala yang menunduk itu, lalu terdengar suaranya yang besar, tetap dan nyaring.
"Orang muda, kau berdirilah!"
Kun Hong bangkit berdiri dan mereka berpandangan.
Sejenak sinar mata mereka saling mengukur, saling menentang, kemudian meragu dan masing-masing seperti sadar bahwa mereka berhadapan dengan seorang lawan yang tidak mudah menyerah kalah.
"Orang muda, siapakah namamu, dari mana asalmu dan mengapa kau sampai ke Kota Raja sehingga menjadi seorang tahanan. Ceritakan semua dari awal sejelasnya, siapa tahu dari pengakuanmu itu aku akan dapat membebaskanmu."
Suara Tan-Taijin jelas, lambat, keras dan sekata demi sekata berkesan dalam hati Kun Hong.
Namun, ketika pemuda ini tadi melihat pakaian yang indah mentereng, ruangan yang serem dan sikap yang agung dari pembesar yang memeriksanya, diam-diam ia mengeluh dan tidak dapat banyak mengharapkan keadilan.
Mendengar pertanyaan yang sekaligus mencakup seluruh persoalan yang harus ia ceritakan itu, Kun Hong menjawab singkat tanpa mengangkat muka yang menunduk memandang lantai.
"Nama saya Kwa Kun Hong berasal dari Hoa-San, tidak sengaja sampai ke Kota Raja karena bersama dua orang keponakanku hanya hendak melihat-lihat saja. Kebetulan terdengar oleh Pangeran dan kami menerima undangan, Siapa tahu, Pangeran hendak memaksa kedua keponakan saya menjadi selirnya dan saya menjadi pengurus perpustakaan. Kami tidak mau dan ditahan."
Melihat sikap pemuda yang tenang-tenang dan sama sekali tidak takut ini, diam-diam Tan-Taijin kagum juga.
Apa lagi mendengar nama keturunan pemuda ini Kwa.
Pernah apakah dengan Kwa Tin Siong?
Pada saat itu, pintu di sebelah dalam terbuka dan muncullah seorang pemuda yang tampan sekali, dengan sepasang mata bersinar-sinar seperti bintang.
Kun Hong sejenak terbelalak kagum, akan tetapi segera timbul ketidak senangannya karena ia melihat bahwa pemuda yang tampan itu ternyata hanya pemuda pesolek yang terlalu halus gerak-geriknya.
Sebaliknya pemuda tampan itu seakan-akan tidak melihat kehadiran Kun Hong yang berdiri dengan kedua tangan terbelenggu, langsung berkata kepada Tan-Taijin.
"Pek-Hu (uwa), kau tolonglah... aku, mendengar ada dua orang gadis muda jelita dari Hoa-San-Pai ditahan dan hendak dipaksa menjadi selir oleh Pangeran!"
Tan-Taijin dengan gerak matanya memberi isyarat bahwa di situ ada orang lain. Pemuda itu mencari dan melihat Kun Hong, maka ia segera melanjutkan.
"Pangeran sudah terlalu banyak selir-selirnya? Yang sudah punya banyak ingin tembah terus, aku yang belum punya seorangpun tidak kebagian!"
Makin muak perasaan Kun Hong terhadap pemuda tampan itu, maka ia memandang dengan mata melotot, terang-terangan ia menyatakan kemarahannya.
Pemuda itu balas memandang, mengerutkan alisnya dan bertanya.
"Ah, kiranya aku mengganggu Pek-Hu. Bajingan apakah yang Pek-Hu periksa malam-malam begini? Apakah dia tukang colong ayam Istana? Ataukah tukang copet? Jangan-jangan dia maling kuda, kabarnya banyak kuda hilang secara aneh dari kandang Istana. Tapi dia tidak patut menjadi pencuri kuda, pantasnya menjadi maling ayam!"
Terang bahwa pemuda ini sengaja menghina Kun Hong yang melotot marah itu.
Begitu pemuda tampan itu muncul wajah Tan-Taijin yang tadinya bersungguh-sungguh berubah terang berseri.
Ia segera menggerakkan tangannya dan berkata.
"Kau duduklah, Tan-ji (Anak Tan) dan justeru dua gadis yang kau bicarakan itu ada hubungannya dengan orang ini. Kau duduk dan dengarlah."
Pemuda itu duduk tak jauh dari meja, duduk di atas bangku dan menumpangkan paha kiri ke atas paha kanannya, dengan sikap angkuh memandang Kun Hong yang menjadi makin gemas.
Tiba-tiba pemuda itu tampak terkejut, turun dari bangku, menghampiri Kun Hong dan begitu tangannya bergerak ia telah mengambil pedang di balik baju Kun Hong.
"Ih, dia menyembunyikan pedang, Pek-Hu!"
Katanya memperlihatkan pedang itu.
Diam-diam Kun Hong terkejut dan kecewa.
Tadinya ia sudah merasa girang bahwa tidak ada orang menaruh curiga kepadanya.
Kiranya pemuda ini yang dapat melihat pedangnya, malah kini pedang itu dirampasnya.
Kening pembesar itu berkerut.
"Hemmm, menurut laporan kau seorang pemuda sastrawan yang lemah mengapa kau menyembunyikan pedang?"
Kini marahlah Kun Hong. Ia menentang pandang mata pembesar itu dan menjawab.
"Pedang tetap pedang, benda yang tidak berdosa. Tergantung tangan yang memegangnya. Pedang itu adalah pemberian orang suci kepadaku, kenapa takkan kubawa? Tapi sama sekali bukan untuk... membunuh orang atau untuk beraksi seperti dia itu!"
Matanya memandang pemuda yang kini sudah mencabut pedang itu dari sarungnya dan memegang serta memandanginya seperti seorang ahli!
"Hemmm, sebuah Po-Kiam (pedang pusaka) yang baik.
Eh, dari mana dia mencuri pusaka ini?"
Pemuda tampan itu menoleh dan pandang matanya tajam penuh selidik, mengiris jantung, bukan karena keindahannya melainkan karena penghinaannya yang bagi Kun Hong terasa amat perih.
Saking marahnya Kun Hong sampai tak dapat mengeluarkan suara.
Ia sendiri merasa heran mengapa terhadap pemuda pesolek yang terlalu tampan ini ia mudah sekali tersinggung dan marah, padahal biasanya ia tenang dan sabar saja menghadapi segala sesuatu.
Ketika bertemu pandang, sengaja ia membuang muka seperti orang melihat binatang yang menjijikkan.
Sementara itu, Tan-Taijin tidak begitu heran melihat Kun Hong menyembunyikan pedang di balik jubahnya.
Sebagai seorang murid Hoa-San-Pai sudah tentu saja soal membawa pedang bukan merupakan soal aneh lagi.
Yang aneh hanya karena pemuda ini tidak pandai ilmu silat, mengapa membawa pedang segala!
"Kwa Kun Hong"
Kata pula pembesar itu dengan suara keren.
"Pangeran Mahkota begitu baik kepadamu, belum kenal sudah diundang, diadakan pesta, kemudian malah kau diberi anugerah pangkat. Mengapa kau menolaknya? Penolakanmu itu berarti kau tidak kenal budi, berarti kau tidak menghormat putera Kaisar, dan tidak taat. Padahal aku mendengar laporan bahwa kau menerima ketika diangkat menjadi ketua perkumpulan pengemis, mengapa sekarang kau malah menolak ketika diberi kedudukan betul-betul oleh Pangeran Mahkota. Bukankah itu menunjukkan bahwa kau tidak setia kepada junjungan dan punya hati memberontak?"
"Eh-eh, orang macam ini jadi Raja pengemis?"
Lagi-lagi terdengar pemuda tampan itu yang membuat kedua telinga Kun Hong serasa dibakar.
Ia mengangkat muka, berdiri tegak dan suaranya menggeledek ketika menjawab pembesar itu, jawaban yang diselimuti kemarahannya yang bangkit karena sikap dan kata-kata Si Pemuda Tampan tadi.
"Taijin, saya ingin bicara terus terang, kalau menyinggung harap Taijin suka maafkan atau hukum, terserah, Setelah melihat keadaan di dalam Istana-Istana kerajaan, melihat kerajaan, melihat pembesar-pembesar Istana, selaksa kali saya lebih suka menjadi ketua pengemis jembel daripada menjadi pembesar di Istana! Menjadi ketua pengemis setidaknya masih mengingat akan nasib para pengemis, biarpun tampaknya hina namun merupakan pekerjaan mulia. Akan tetapi sebaliknya, orang-orang yang menyebut diri sendiri pembesar, yang hidup bergelimang dengan kemewahan, kemuliaan, dan kesenangan, apakah jasa mereka terhadap rakyat jelata? Pembesar-pembesar seperti Taijin ini, yang amat banyak jumlahnya di Kota Raja, pernahkah memikirkan nasib si kecil? Pernahkah mimpi bahwa kalau Taijin sedang tidur nyenyak di dalam gedung Istana indah, ratusan ribu rakyat di gunung-gunung kedinginan karena dinding gubuk bobrok dan atap daun bocor? Kalau Taijin sedang makan masakan Kota Raja yang enak dan lezat, ingatkah akan ratusan ribu rakyat yang mengerang kelaparan, bahkan ada yang mati karena perutnya kosong? Kalau setiap pagi dan sore berganti pakaian-pakaian indah dan mempersolek diri seperti Tuan Muda ini, pernahkah ingat akan ratusan ribu rakyat yang telanjang dan kedinginan? Padahal..."
Sampai di sini Kun Hong menarik napas panjang, lalu disambungnya lebih bersemangat lagi.
"Padahal kalau tidak ada rakyat, takkan ada Raja, takkan ada pembesar seperti Taijin ini, takkan ada Istana-Istana indah ini. Hemmm, sudah banyak kubaca tentang manusia-manusia yang menyebut diri sendiri pemimpin dan pembesar seperti Taijin dan sebangsanya. Di waktu perang? Ah, ada rakyat yang maju! Di waktu banjir? Musim kering panjang? Ada rakyat yang menanggulangi. Tapi kalau sudah mabuk penghidupan mewah dan enak rakyat dilupakan!"
Saking kaget, heran dan kagumnya, wajah Tan-Taijin berubah-ubah dan wajah pemuda tampan itu kini menjadi merah sekali. Melihat wajah pembesar itu, Kun Hong makin bersemangat.
"Ah, Taijin terheran? Ha-ha, aku berani bertaruh bahwa orang seperti Taijin ini tak pernah keluar dari Kota Raja, setiap hari hanya mencium bau masakan sedap, melihat wanita cantik dan memakai pakaian indah. Coba Taijin tengok ke dusun-dusun, ke gunung-gunung, ke pinggir-pinggir laut, tengoklah kehidupan rakyat kecil di sana. Mungkin Taijin akan terbuka mata dan tidak berani lagi menari-nari di atas kemelaratan rakyat, berlaku sewenang-wenang, menangkap orang-orang tak berdosa, merampas gadis-gadis begitu saja..."
"Tutup mulutmu! Kau tak tahu dengan siapa kau bicara!"
Tiba-tiba pemuda tampan itu melompat maju dan "Plak! Plak!"
Kedua pipi Kun Hong ditamparnya kanan kiri. Mata pemuda tampan itu berapi-api, marah sekali ia rupanya.
"Jangan, Tan-ji...! Mundurlah... betapapun juga, dia bicara tentang kenyataan, tentang kebenaran dan keadilan!"
"Tapi ia kurang ajar, Pek-Hu. Ah, muak perutku melihatnya!"
Pemuda tampan itu dengan marah lalu meninggalkan ruangan.
Tan-Taijin lalu bangkit dari bangkunya dan maju melepaskan belenggu tangan Kun Hong.
Pemuda ini tidak merasa girang atau heran, hanya mengangkat kedua tangan mengusap kedua pipinya yang masih ada tanda lima jari merah bekas ditampar tadi.
Panas tamparan tadi, tapi lebih panas lagi hatinya.
"Huh, laki-laki macam apa dia? pesolek dan galak, seperti banci saja!"
Gerutu Kun Hong dengan hati mengkal. Tan-Taijin tersenyum ketika berkata.
"Kau maafkanlah dia, dia itu masih seperti anak kecil saja, Kwa-Sicu, semua omonganmu tadi memang tepat, akan tetapi kau hanya tahu ekor tak melihat kepalanya, tahu satu tidak tahu dua. Kau mengaku dari Hoa-San dan she Kwa, sebetulnya kau masih ada hubungan apakah dengan Ketua Hoa-San-Pai, Kwa Tin Siong Taihiap?"
"Saya... anaknya..."
Jawab Kun Hong agak gagap, sama sekali tidak mengira bahwa agaknya pembesar ini mengenal Ayahnya.
"Ha-ha-ha, sudah kuduga!"
Kata Tan-Taijin girang, kemudian ia mengelus jenggot dan menarik napas panjang.
"Kau bersemangat seperti Ayahmu. Hemm, tapi sebagai putra Ketua Hoa-San-Pai, bagaimana kau tidak pandai ilmu silat? Tapi, hal itu bukan urusanku. Sekarang tentang dua orang gadis itu, kau bilang mereka itu adalah keponakanmu. Kalau begitu..."
Pembesar itu mengingat-ingat.
"Apakah mereka itu keturunan dari Saudara Thio Ki ataukah Saudara Kui Lok!"
Makin heranlah Kun Hong. Kiranya pembesar ini banyak mengenal keluarga Hoa-San-Pai! "Dugaan Taijin tidak keliru, Li Eng adalah puteri Paman Kui Lok, sedangkan Hui Cu adalah puteri Paman Thio Ki,"
Katanya tepat dan kini ia mulai memperhatikan wajah yang tampan dan gagah dari pembesar bertubuh raksasa itu. Bukan main kagetnya hati Tan-Taijin.
"Ah, aku harus cepat membebaskan mereka! Kwa Kun Hong, ketahuilah, aku adalah sahabat baik dari Ayahmu dan semua orang Hoa-San-Pai, bahkan sahabat seperjuangan. Sekarang terpaksa kau berdiam dulu dalam kamar tahanan, aku perlu pergi ke Istana Kembang membebaskan dua orang gadis itu."
Kun Hong girang sekali akan tetapi sebelum ia sempat menyatakan terima kasihnya, pembesar itu menepuk tangan dan masuklah beberapa orang pengawal.
"Antarkan kembali pemuda ini ke dalam kamar tahanan, akan tetapi jangan dibelenggu dan perlakukan sebagai tamuku!"
Para pengawal itu memberi hormat dan dengan halus Kun Hong digandeng pergi dari ruangan itu.
Dengan sudut matanya Kun Hong berusaha mencari pemuda tampan yang tadi menampar pipinya, akan tetapi tidak terlihat dan diam-diam ia berjanji kelak akan membalas tamparan ini.
Baru kali ini bisa timbul dendam di hati Kun Hong, suatu hal yang baginya sendiri teramat aneh.
Tergesa-gesa Tan-Taijin malam hari itu juga pergi menuju ke Istana Kembang dengan maksud membebaskan Li Eng dan Hui Cu dari tahanan.
Ia kuatir sekali kalau-kalau kedatangannya terlambat.
Kalau sampai dua orang gadis itu diganggu oleh Pangeran, hal ini akan mempunyai akibat yang hebat sekali.
Mereka adalah putera-puteri tokoh Hoa-San-Pai, kalau terjadi hal ini berarti Pangeran telah menodai nama baik Hoa-San-Pai.
Tidak saja pihak Hoa-San-Pai tentu takkan dapat menerimanya, bahkan dunia kang-ouw akan geger karenanya, terutama sekali saudara angkatnya, Si Raja Pedang Tan Beng San yang mempunyai hubungan erat dengan Hoa-San-Pai, tentu akan menyesal bukan main, Paling perlu ia membebaskan dua orang gadis itu dulu, baru pada keesokan harinya ia boleh bicara dengan Pangeran Mahkota.
Kalau ia menceritakan keadaan yang sebenarnya dan tentang jasa-jasa Hoa-San-Pai, kiranya Pangeran takkan menyesal dengan dibebaskannya dua orang gadis itu.
Andaikata Pangeran tetap menyesal, ia dapat mempergunakan pengaruh Kaisar untuk meredakannya atau kalau perlu, demi kepentingan ini, ia rela mengundurkan diri, kembali ke dusun.
Kata-kata Kun Hong tadi membangkitkan semangatnya, membuat ia terkenang akan keadaan dahulu dan diam-diam ia harus mengaku bahwa selama bertahun-tahun ia hidup di Istana, memang hampir terlupa olehnya bahwa rakyat hingga sekarang masih banyak yang menderita!
Akan tetapi, setibanya ia di Istana Kembang, ternyata kedatangannya telah terlambat!
Bukan terjadi seperti yang ia kuatirkan.
Pangeran Mahkota tidak sempat mengganggu dua orang gadis itu karena belum datang malam itu, masih di Istana.
Akan tetapi terjadi lain hal yang hebat, yaitu, dua orang gadis itu telah berhasil melarikan diri dan seluruh penghuni Istana Kembang itu, dua orang selir Pangeran yang bertugas membujuk dua orang gadis itu, empat orang pelayan wanita yang bertugas melayani, dan lima orang perajurit pengawal yang tinggi juga kepandaiannya, semua telah tewas!
Dua orang gadis Hoa-San-Pai itu lenyap dan sebelas orang manusia terbunuh.
Istana Kembang yang indah, yang biasanya menjadi tempat peristirahatan Pangeran, sekarang menjadi tempat menyeramkan dengan darah berceceran dan mayat bergelimpangan!
Tan-Taijin kaget sekali, membanting-banting kedua kaki.
Ia menyesal mengapa Pangeran begitu gegabah, bermain kasar terhadap murid-murid Hoa-San-Pai, juga ia menyesal sekali mengapa dua orang gadis itu setelah berhasil melarikan diri, berlaku begini ganas dan kejam?
Cepat ia melakukan pemeriksaan dan sebentar saja para jagoan dari Istana berdatangan ketika mendengar peristiwa hebat itu.
Sebetulnya apakah yang telah terjadi?
Seperti telah kita ketahui, karena sama sekali tidak menyangka akan diserang dan juga karena memang kepandaian Ang-Moko dan Bong Lo-Kai amat tinggi, Li Eng dan Hui Cu secara tiba-tiba tertotok roboh dan mereka ini sama sekali tidak melawan ketika dibawa ke dalam Istana Kembang dan ditahan di dalam sebuah kamar yang indah dan mewah.
Sebelum meninggalkan dua orang gadis tawanan ini kepada dua orang selir Pangeran yang diserahi tugas untuk membujuk halus, lebih dulu mengikat tangan nona itu agar kalau nanti kembali dari totokan, takkan mengamuk.
Kemudian para jagoan meninggalkan Istana Kembang untuk memberi laporan kepada Pangeran yang tadi pulang terlebih dulu.
Pada malam hari itu, selagi Tan-Taijin memeriksa Kun Hong dan Pangeran Mahkota dengan girang mendengarkan laporan para jagoannya bahwa dua orang dara remaja yang dirindukannya itu telah tertawan, terjadilah hal yang hebat di Istana Kembang itu.
Sesosok bayangan berjalan lambat memasuki pekarangan Istana itu.
Orang ini sudah tua, tubuhnya tinggi besar dan kokoh kekar, jalannya sempoyongan dan tenggorokannya mengeluarkan suara meringik-ringik atau merintih-rintih seperti orang menangis.
Akan tetapi mulutnya terdengar menggerutu.
"Anak murid Hoa-San-Pai? Ha, anak murid Hoa-San-Pai..."
Lima orang perajurit pengawal yang bertugas menjaga Istana Kembang di malam itu, terheran-heran melihat datangnya seorang kakek berpakaian putih di situ.
Mereka mengira bahwa tentulah seorang pengemis gila, maka seorang di antaranya segera membentak.
"Hee! Kakek gila, keluar kau"
Akan tetapi kakek berpakaian putih ini seperti tidak mendengar bentakannya, terus melanjutkan perjalanannya melewati pekarangan menuju ke pintu depan.
Tentu saja lima orang pengawal itu menjadi marah dan juga curiga.
Dengan gerakan cepat mereka melompat dan tahu-tahu mereka sudah berdiri menghadang di depan kakek itu.
"He, Kakek! Apa kehendakmu dan siapa kau?"
Tegur seorang di antara mereka dengan sikap mengancam. Kakek itu tetap tidak mengacuhkan mereka, memandangpun tidak, hanya menggumam.
"Anak murid Hoa-San-Pai..."
Lima orang itu makin curiga dan mereka sudah meraba gagang golok dan pedang. Jangan-jangan orang ini adalah teman gadis-gadis yang ditahan dan hendak merampasnya, pikir mereka.
"Siapa kau? Jangan main-main di sini, orang gila. Keluar atau kau akan merasakan tajamnya golokku!"
Seru seorang di antara mereka sambil mencabut goloknya.
empat orang yang lain juga sudah mencabut senjata masing-masing.
Namun kakek itu agaknya benar-benar gila.
Ringik tangis di tenggorokannya masih terdengar terus dan bibirnya tiada hentinya berkata.
"Serahkan padaku anak murid Hoa-San-Pai..."
Sementara itu kedua kakinya masih terus melangkah ke arah pintu, agaknya hendak memaksa memasuki Istana itu.
"Orang gila sudah bosan hidup!"
Teriak para pengawal marah dan berbareng mereka menggerakkan senjata, ada yang menusuk paha, ada yang membacok pundak, pendeknya mereka hendak merobohkan kakek itu tanpa membunuhnya.
Akan tetapi semua bacokan itu mengenai angin belaka, padahal kakek itu kelihatannya tidak mengelak sama sekali!
Para pengawal itu terkejut bukan main dan mereka sadar bahwa orang gila ini bukanlah orang sembarangan.
Namun kesadaran mereka terlambat karena dengan sekali renggut saja kakek itu telah mencabut sebatang pohon bunga di depan Istana, tercabut berikut akar-akarnya pohon sebesar paha orang itu, kemudian tanpa banyak cakap lagi ia menghajar lima orang pengawal dengan pohon ini!
Lima orang pengawal itu mencoba sedapat mungkin untuk menangkis atau mengelak, meloncat ke sana ke mari, namun sia-sia belaka, Tak sampai lima menit mereka semua telah roboh dengan kepala pecah dan tulang-tulang patah tanpa nyawa lagi!
Setelah merobohkan lima orang ini, kakek gila tadi melemparkan batang pohon secara sembarangan, lalu berjalan terus dengan langkah lebar ke pintu.
Pintu itu terpalang dari depan, namun sekali dorong daun pintu yang tebal itu terbuka, palangnya patah-patah dan sambil mengomel panjang pendek dan ringik tangis masih terdengar, kakek ini melangkah masuk.
Dua orang pelayan wanita muncul dengan kaget dari dalam.
Mereka menjerit ngeri ketika melihat seorang kakek aneh berjalan masuk dan daun pintu telah roboh dan pecah.
Kakek itu agaknya marah mendengar jeritan mereka.
Tangannya bergerak ke arah mereka dan pelayan itu roboh terjungkal, mati tanpa dapat bersambat lagi.
Lalu kakek ini melangkah terus.
"Anak murid Hoa-San-Pai, mana anak murid Hoa-San-Pai?"
Demikian terdengar ia bicara perlahan.
Semua pintu kamar dibukanya dan ia mencari terus sampai ke kamar di sebelah belakang.
Pada saat itu, dua orang selir Pangeran dengan lagak genit dan centil sekali tengah membujuk Li Eng dan Hui Cu yang terbelenggu di atas pembaringan.
Mereka membujuk-bujuk agar supaya dua orang gadis itu menurut saja menjadi selir Pangeran, Malah tanpa malu-malu lagi dua orang wanita yang sudah tidak mengenal lagi kesusilaan ini menceritakan hal-hal yang tak patut didengar telinga sopan, memuji-muji Pangeran yang muda dan tampan itu dan betapa senangnya menjadi selirnya.
Mula-mula Li Eng dan Hui Cu memaki-maki, akan tetapi lama-lama mereka lelah sendiri dan meramkan mata, sama sekali tidak mau melihat atau mendengar lagi.
Kalau saja tangan mereka tidak terbelenggu, pasti sekali pukul mereka merobohkan dua orang yang tak tahu malu ini.
Sementara itu, dua orang pelayan wanita juga berada di dalam kamar untuk melayani dua orang selir tadi.
Tiba-tiba pintu kamar itu terdorong dari luar, terbuka dan masuklah Si Kakek tadi.
Dua orang selir Pangeran itu bukanlah wanita-wanita lemah, mereka melompat dan menyambar pedang masing-masing.
"Siapa kau...?"
Belum habis gema suara ini, dua orang selir itu telah terlempar dan kepala mereka terbentur tembok, pecah dan tewaslah mereka.
Diam-diam kaget sekali hati Li Eng dan Hui Cu melihat betapa dengan gerakan kedua tangannya, kakek ini melakukan pukulan jarak jauh yang mampu membinasakan dua orang selir itu.
Adapun dua orang pelayan yang menjadi ketakutan segera menjerit-jerit.
Akan tetapi dua kali tendangan menamatkan hidup mereka.
Sekaligus kakek ini telah membunuh empat orang di dalam kamar itu, dua orang di luar kamar dan lima orang di luar rumah.
Kemudian ia menghampiri Li Eng dan Hui Cu, memandang sejenak lalu terdengar ia berkata.
"Anak murid Hoa-San-Pai...?"
Li Eng dari Hui Cu tidak tahu siapa kakek ini dan apa gerangan maksudnya dengan perbuatannya yang mengerikan itu, tidak tahu pula apa maksudnya bertanya tentang anak murid Hoa-San-Pai.
Akan tetapi karena dapat menduga bahwa kakek itu tentulah seorang tokoh luar biasa di dunia kang-ouw dan tentu mengenal baik Hoa-San-Pai, Li Eng yang lebih tabah itu menjawab.
"Benar, Lo-Cianpwe, kami berdua adalah murid Hoa-San-Pai..."
Tiba-tiba kakek itu menggerakkan kedua tangan dan lain saat tubuh Li Eng dan Hui Cu telah dipanggulnya di kanan kiri atas pundaknya, Kemudian bagaikan terbang ia berlari keluar dari Istana yang penghuninya telah dibunuhnya semua itu!
Ketika Kota Raja geger dan pintu pintu gerbang Kota Raja sudah ditutup dan dijaga keras, kakek ini telah lama meninggalkan Kota Raja dengan memanggul dua tubuh gadis itu.
Ia berlari terus secepat angin menembus gelap malam dan menjelang tengah malam tibalah ia di sebuah hutan, langsung memasuki hutan itu dan menuju ke sebuah kelenteng, kuno yang sudah kosong.
Ia masuk di ruangan belakang kelenteng itu yang ternyata bersih.
Melihat betapa di dalam gelap ia dapat bergerak leluasa, dapat diduga bahwa ia sudah hafal akan tempat ini.
Sambil meringik-ringik terus ia melepaskan dua tubuh dara itu ke atas lantai secara kasar, mulutnya tiada hentinya berbisik.
"Anak murid Hoa-San-Pai... hemm, anak murid Hoa-San-Pai..."
Li Eng dan Hui Cu sudah terbebas dari totokan dan kini mereka berusaha melepaskan belenggu yang mengikat kedua tangan mereka.
Tentu saja mereka dapat menggerakkan kaki dan andaikata menghadapi seorang biasa saja, dengan kaki mereka dua orang dara perkasa ini sanggup merobohkannya.
Akan tetapi kini mereka menghadapi seorang kakek aneh yang saktl, tentu saja mereka tidak berani berlaku sembrono menyerang dengan kaki saja!
Mereka mendapat kenyataan bahwa lantai itu licin dan bersih, dan mereka menduga-duga apa yang akan dilakukan oleh kakek itu terhadap diri mereka, tiba-tiba terdengar bunyi benda-benda nyaring dan terjadilah api.
Tak lama kemudian ruangan itu menjadi terang oleh sebatang lilin yang dipasang oleh kakek itu di atas sebuah meja sembahyang yang sudah butut.
Ngeri juga hati dua orang gadis itu melihat wajah kakek yang tua dan menyeramkan tadi tersinar cahaya lilin.
Kakek itu kini tertawa terkekeh-kekeh sambil memandang mereka.
"Heh-heh-heh-heh! Anak-anak murid Hoa-San-Pai! Muda-muda dan cantik, tapi semua anak murid Hoa-San-Pai genit-genit, cabul dan tidak tahu malu!"
"Kakek tua bangka gila!"
Li Eng tak dapat menahan kemarahannya mendengar kata-kata yang amat menghina nama baik Hoa-San-Pai ini.
"Mulutmu kotor, kau manusia ataukah iblis? Kami orang-orang Hoa-San-Pai selalu memegang tinggi kesopanan dan pribudi kebijaksanaan, jangan sembarangan kau menuduh!"
Kakek itu tertegun kaget mendengar suara ini dan melihat sikap Li Eng yang berani. Akan tetapi hanya sebentar karena ia terkekeh kembali.
"Heh-heh-heh! Sama saja semua. Kelihatannya memang sopan-sopan, lagaknya seperti pendekar-pendekar, akan tetapi begitu dekat laki-laki lalu menjadi cabul. Mempunyai anak di luar pernikahan, coba bilang, apakah itu tidak cabul dan tak tahu malu?"
"Keparat! tua bangka! Lepaskan belenggu ini dan mari kita bertanding untuk membela pendirian kita. Kau akan mampus di tanganku untuk menebus ucapanmu yang menghina Hoa-San-Pai!"
Kata pula Li Eng.
"Heh-heh-heh, hendak kulihat kau akan mampu berbuat apa nanti. Tapi nanti, kau harus mengalami penghinaan lebih dulu. Semua wanita Hoa-San-Pai harus mengalami penghinaan, sesuai dengan watak Hoa-San-Pai yang hina"
Ucapan ini disusul gerakan tangannya menyambar ke arah tubuh Li Eng.
"Brettt!"
Baju yang menempel di tubuh Li Eng bagian atas hancur berkeping-keping dan bertaburan seperti daun-daun kering tertiup angin, Li Eng menjerit dan cepat menggunakan kaki menggulingkan tubuh sehingga yang hancur hanya pakaian bagian pundak dan leher saja, akan tetapi cukup banyak sehingga membuat tubuh atasnya setengah telanjang.
Mula-mula ia memaki-maki marah, akan tetapi makiannya berubah menjadi jerit mengerikan ketika ia melihat kakek itu mendekatinya dengan muka seperti iblis dan dari pandangan matanya jelas tampak nafsu untuk menghina, untuk membikin malu dan merendahkan dua orang gadis itu.
Sementara itu, Hui Cu sudah bangkit berdiri dan memandang dengan muka pucat.
Gadis ini belum diganggu, mungkin karena sejak tadi ia diam saja, tidak seperti Li Eng yang memaki-maki sehingga agaknya kemarahan kakek aneh itu ditumpahkan kepada Li Eng semua.
Melihat kakek itu seperti gila, Li Eng menjadi nekat.
Ia maklum bahwa akan sia-sia membujuk kakek ini agar tidak melakukan hal-hal yang tidak patut.
Ketika kakek itu bergerak maju hendak mencengkeramnya, Li Eng secepat kilat mengangkat kaki kanan menendang.
Tendangannya hebat dan cepat, yang diarah adalah pusar tempat yang paling berbahaya.
Namun, sambil terkekeh-kekeh kakek itu menangkis ke bawah dengan tangan kiri sedangkan tangan kanannya menjangkau ke depan.
Li Eng membuang dirinya ke belakang, bergulingan untuk menghindarkan diri dari serangan kakek itu.
"Heh-heh-heh, anak murid Hoa-San-Pai, kau hendak lari ke mana?"
Katanya sambil mengejar terus.
Pada saat itu, dari belakangnya menyanbar angin tendangan Hui Cu yang tidak bisa berdiam diri saja melihat Li Eng terancam.
Namun tubuh Hui Cu malah terpental dan gadis ini roboh terguling ketika tangan yang amat kuat menangkis kakinya.
"Enci Cu, lari...!"
Tiba-tiba lilin di atas meja padam, ternyata Li Eng telah mempergunakan kesempatan ketika Hui Cu menyerang kakek itu tadi untuk melompat ke dekat meja dan meniup padam lilin di atas meja, kemudian ia berteriak mengajak Hui Cu lari.
Hui Cu maklum bahwa usaha itu tidak banyak harapannya, namun itulah jalan satu-satunya, yakni mencoba untuk melarikan dir ke dalam hutan yang lebat itu.
Iapun lalu meloncat berdiri dan secepat kilat ia lari menerobos pintu, keluar kelenteng.
Dua orang gadis itu lari tersaruk-saruk, dan jatuh bangun di dalam gelap, akan tetapi akhirnya mereka sampai juga di luar kelenteng dan ternyata keadaan di situ tidak segelap di dalam karena bulan sudah muncul.
Namun, alangkah mendongkol, gelisah dan kecewanya mereka ketika mereka tiba di luar kelenteng, kakek tadi sudah berada di situ pula, berdiri tegak sambil terkekeh-kekeh mengejek.
Entah kapan kakek itu keluar, dan hal ini saja menambah bukti betapa saktinya kakek aneh yang seperti orang gila ini.
"Lo-Cianpwe, harap kau jangan menganggu kami,"
Tiba-tiba Hui Cu yang sejak tadi diam saja kini mengeluarkan suara, menurutkan pikirannya yang mendapatkan sebuah akal.
"Kami sedang dalam perjalanan menuju ke Thai-San untuk memberi hormat kepada paman kami Raja Pedang Tan Beng San. Harap kau orang tua memandang muka Paman Tan Beng San dan suka membebaskan kami berdua!"
Hui Cu mendapatkan akal ini untuk membawa nama Tan Beng San yang tentu saja dikenal semua tokoh persilatan, agar kakek itu menjadi sungkan dan mundur.
Siapa kira, mendengar kata-kata ini kakek itu menjadi makin menggila.
Ia membanting-banting kakinya dan berteriak.
"Tan Beng San si keparat jahanam? Mana dia biar kuhancurkan kepalanya, seperti ini!"
Ia menghantam ke kiri dan sebatang pohon sebesar paha orang segera tumbang dengan sekali pukul. Kemudian ia terkekeh-kekeh lebih menyeramkan.
"Kau keponakan Tan Beng San? Heh-heh-heh kebetulan sekali, kau harus merasai bagaimana dihina dan disakiti orang!"
Kalau tadi ia menumpahkan kemarahannya kepada Li Eng yang memaki-makinya kini ia mulai menubruk ke arah Hui Cu.
Gadis ini terkejut dan mengelak ke kiri, akan tetapi karena kedua tangannya terbelenggu, ia terhuyung-huyung, dan cengkeraman kakek itu mengenai tali rambutnya sehingga rambutnya terlepas, terurai ke atas pundaknya.
Sambil terkekeh-kekeh kakek itu menubruk lagi namun kini Li Eng maju menolong Hui Cu, mengirim tendangan berantai dari belakang.
Betapapun lihainya gadis ini, dengan kedua tangan terbelenggu ke belakang, keseimbangan tubuhnya sukar diatur maka tendangan berantai yang mestinya cepat dan dahsyat itu menjadi kurang daya serangan.
Apalagi yang diserang adalah seorang kakek yang sakti.
Dengan sedikit miringkan tubuhnya dan membabat dengan tangan kiri, tubuh Li Eng kena dibikin terpelanting dan untuk sekian kalinya gadis ini rebah mencium tanah!
Kakek itu kini melangkah perlahan mendekati Hui Cu yang sudah berdiri dengan tubuh gemetar saking lelah dan gelisahnya.
Ia sudah mengambil keputusan nekat, kalau tidak dapat menghindarkan diri dari kakek gila ini, ia akan menyerang dengan kepalanya untuk membunuh atau terbunuh!
Pada saat yang amat berbahaya bagi Hui Cu ini, tiba-tiba berkelebat bayangan hitam disusul bentakan keras.
"Kakek jahat, pergilah!"
Bayangan itu menyambar ke arah kakek itu.
"Dukk!"
Dua tangan bertemu dan keduanya terhuyung ke belakang, disusul seruan kaget bayangan itu dan seruan heran Si Kakek tadi.
Agaknya pertemuan kedua tangan itu membuat mereka kaget karena ternyata bahwa lawan amatlah tangguh.
Kembali bayangan itu dengan gerakan yang cepat sekali menyambar, tangan kiri menghantam akan tetapi segera disusul tangan kanan yang memukul sedangkan tangan kanan kiri ditarik pulang.
"Plak! Plak!"
Kembali keduanya terhuyung hampir roboh karena telah saling bertukar pukulan.
Pukulan bayangan itu mengenai sasaran tetapi pada saat yang sama Si Kakek berhasil pula memukulnya!
Bayangan itu di samping kekagetannya, marah.
Terdengar ia mengeluarkan bunyi melengking keras lalu tubuhnya berkelebat menyerang kakek itu dengan dahsyat sekali.
Kakek itupun tidak tinggal diam, menggereng dan menyambut serangan ini, malah kemudian kakek ini mengeluarkan suara melengking juga seperti orang menangis.
Dua lengkingan aneh bercampur menjadi satu dan Hui Cu cepat mengerahkan Lweekangnya untuk menahan guncangan pada jantungnya.
Demikian pula Li Eng segera maklum bahwa dua orang itu adalah ahli-ahli Lweekeh yang amat tinggi kepandaiannya.
Tiba-tiba terdengar bunyi melengking dari jauh, lengking meninggi seperti tangisan, persis lengking yang keluar dari tenggorokan kakek itu.
"Ha, anak baik, lekas datang!"
Kakek itu berseru girang.
Bayangan yang melawan kakek itu tampak gelisah, lalu menyerang dahsyat lagi.
Serangan yang amat aneh, kedua lengan memukul, tubuh menerjang seperti terbang dan kedua kakinya menendang di udara.
Kakek itu berteriak keras dan menghadapi terjangan ini dengan keempat kaki tangannya pula.
Akibatnya kakek ini terguling karena ia terkena sebuah pukulan dan sebuah tendangan, sebaliknya bayangan itupun terhuyung karena pukulan keras Si Kakek.
Namun bayangan itu tidak memberi kesempatan lagi, cepat ia menyambut Hui Cu.
pada pinggangnya dan membawa pergi gadis ini seperti Burung terbang cepatnya.
Kakek itu yang agaknya maklum pula akan kelihaian lawan yang telah menculik atau merampas seorang tawanannya, tidak mengejar, sebaliknya, ia lalu menangkap Li Eng dan menyeret gadis ini kembali ke dalam kelenteng.
Setelah melempar gadis itu ke atas lantai, ia menyalakan lilin yang tadi padam.
Kemudian ia berbalik memandang Li Eng yang sudah bangkit berdiri kembali, sikapnya mengancam dan katanya dengan suara parau.
"Kau anak murid Hoa-San-Pai sekarang kau akan merasai penghinaan sebesarnya, setelah itu kau mampus!"
Ia melangkah mendekat, Li Eng melejit dan hendak lari namun sekali sambar tangan gadis itu telah dipegangnya, Li Eng mengangkat kaki menendang, namun tidak mengenai sasaran.
Gadis ini tak dapat melepaskan diri lagi, menjerit dan meronta.
"Kong-kong (Kakek), apa yang kau lakukan ini??"
Tiba-tiba terdengar suara nyaring sekali dan tahu-tahu seorang pemuda gagah telah berdiri di dalam kamar itu.
Kakek itu melepaskan tubuh Li Eng yang menjadi lemas dan terpelanting saking lelah dan ngerinya tadi, kemudian kakek itu tertawa dan berkata.
"Akupun muak dan sebal karena terpaksa harus melakukan perbuatan ini. Kalau saja dia bukan anak murid Hoa-San-Pai, tentu sekali pukul kubikin remuk kepalanya, habis perkara. Tapi dia anak murid Hoa-San-Pai. Ha-ha-ha, Kong Bu, kau tahu apa artinya itu. Anak murid Hoa-San-Pai, terutama yang perempuan, semua adalah orang-orang hina. Pembunuh ibumu! Uh-uh, satu persatu harus dibasmi, dihina lebih dulu baru dibelek dadanya dikeluarkan jantungnya."
Pemuda itu melangkah maju, memandang kepada Li Eng lebih tajam penuh perhatian, kemudian ia mendengus penuh kebencian.
"Hemm, Kong-kong, seperti dia inikah anak murid Hoa-San-Pai pembunuh mendiang ibuku?"
"Ya ya, seperti ini. Cantik menarik, muda belia, lihai ilmu silatnya, tapi berhati palsu dan berwatak hina. Kong Bu, kau sudah datang, kebetulan sekali. Kuserahkan dia kepadamu, lakukanlah sesukamu terhadap dia, kau boleh hina dia, permainkan dia, kemudian bunuhlah. Aku akan mengejar yang seorang lagi, yang tadi dirampas orang lain. Nah, aku pergi... heh-heh, kebetulan kau datang, aku... aku muak dan sebal kalau harus menyentuh wanita... aku sudah tua."
Sekali berkelebat kakek itu sudah meluncur lewat dan lenyap.
"Kong-kong di mana kita dapat bertemu kembali?"
Dari jauh terdengar jawaban sayup-sayup.
"Di Thai-San..."
Siapakah kakek aneh dan sakti ini dan siapa pula pemuda yang menjadi cucunya bernama Kong Bu?
Kiranya pembaca yang sudah dapat menduga siapa adanya kakek itu.
Dia bukan lain adalah Song-Bun-Kwi Kwee Lun Si Setan Berkabung, tokoh nomor satu di dunia barat, seorang sakti yang berwatak aneh sekali dan kadang-kadang bisa bersikap kejam melebihi iblis.
Adapun pemuda gagah dan tampan bernama Kong Bu itu bukan lain adalah anak dari Kwee Bi Goat dan Tan Beng San.
Seperti telah diceritakan di bagian depan dari cerita ini, bayi itu dibawa lari Song-Bun-Kwi dan dipeliharanya baik-baik, diajar ilmu silat sehingga menjadi seorang pemuda yang tinggi ilmu silatnya.
Tentu saja mudah diketahui sebabnya mengapa Song-Bun-Kwi bersikap sedemikian kejamnya terhadap Li Eng dan Hui Cu.
Secara kebetulan sekali Song-Bun-Kwi sedang berada di Kota Raja dan ia mendengar dari para pengemis bahwa ada dua orang gadis anak murid Hoa-San-Pai diundang oleh Pangeran Mahkota.
Di dalam hati Song-Bun-Kwi, semenjak ia kematian anaknya, timbul dendam yang hebat terhadap Hoa-San-Pai.
Bukankah Kwa Hong yang menyebabkan kematian anaknya itu anak murid Hoa-San-Pai?
Oleh karena inilah, begltu mendengar tentang dua orang gadis anak murid Hoa-San-Pai di Kota Raja, ia menggunakan kesempatan ini untuk menawan dua orang gadis itu untuk dihina dan dibunuh sebagai pembalasan dendamnya terhadap Hoa-San-Pai!
Memang jalan pikiran seorang seperti Song-Bun-Kwi amat aneh dan kadang-kadang lebih ganas dari iblis sendiri.
Kong Bu semenjak kecil hidup bersama Song-Bun-Kwi, tentu saja iapun mempunyai watak aneh seperti kakeknya.
Namun pada dasarnya ia tidak mempunyai watak kejam seperti Song-Bun-Kwi, malah agak pendiam seperti ibunya, keras hati pula.
Semenjak kecil pemuda ini dijejali rasa dendam oleh kakeknya, diceritakan bahwa ibunya yang tercinta mati karena kekejian anak murid Hoa-San-Pai.
Diceritai pula bahwa Ayahnya bernama Tan Beng San telah meninggalkan ibunya, karena tergoda oleh Siluman cantik murid Hoa-San-Pai, sehingga ibunya "makan hati"
Dan meninggal dunia. Ditanamkan bibit kebencian dan dendam sejak kecil sehingga pemuda ini mau tidak mau membenci apa-apa yang "Berbau"
Hoa-San-Pai, malah selalu ditekan oleh kong-kongnya, bahwa kelak ia harus dapat membalaskan sakit hati ibunya dengan jalan membunuh Ayahnya yang berdosa terhadap ibunya!
Demikianlah, kini Kong Bu dihadapkan dengan seorang gadis Hoa-San-Pai.
Di bawah penerangan api lilin, dia menatap wajah Li Eng yang kini perlahan-lahan bangkit berdiri dan balas memandangnya.
Bukan main cantik jelitanya gadis ini.
Pakaian sebelah atas yang koyak-koyak sebagian itu menambah hebatnya daya tarik sehingga Kong Bu tak kuat memandang lebih lama lagi.
Kong Bu membuang muka dan merasa betapa bulu tengkuknya berdiri, meremang dan terasa dingin pada tulang punggungnya.
Cantik jelita, muda belia, lihai ilmu silatnya, tapi berhati palsu dan berwatak hina.
Kata-kata kakeknya ini berkumandang dalam telinganya dan kembali Kong Bu bergidik.
Sifat Siluman betina, iblis dalam tubuh seorang wanita cantik.
Banyak sudah ia melihat wanita cantik, terutama kalau ia diajak kakeknya menyusup ke dalam Istana untuk sekedar melihat-lihat atau mencuri makanan.
Akan tetapi harus diakui bahwa belum pernah selama hidupnya ia berhadapan atau melihat seorang gadis seperti ini!
Dan kakeknya sudah menahan gadis ini, sekarang memberikan kepada dia.
Dia boleh membuat sesuka hatinya terhadap gadis ini dan kemudian membunuhnya.
Dia boleh menghinanya, mempermainkannya, hemm, apakah maksud kakeknya?
Sungguhpun pikiran Kong Bu tidak sampat ke situ, namun perasaannya membuat ia dapat menduga, penghinaan apakah yang paling hebat bagi seorang gadis.
Melihat baju yang koyak-koyak itu, yang memperlihatkan sebagian dari kulit yang halus, jantungnya berdebar tidak karuan membuat ia membuang muka dan tidak berani lagi memandang kulit di balik baju koyak itu.
Di lain pihak, Li Eng merasa agak lega karena ia terlepas dari ancaman yang lebih mengerikan daripada maut di tangan kakek gila tadi.
Malah ia mendapatkan harapan untuk terlepas pula dari tangan pemuda ini.
Tak mungkin pemuda ini selihai kakek tadi.
Kalau saja ada kesempatan bagiku, pikir Li Eng dan pandang matanya mengukur-ukur sementara kedua (Lanjut ke
Jilid 19) Rajawali Emas (Seri ke 02 -Serial Raja Pedang) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 19 kakinya menegang, siap mengirim tendangan yang mematikan.
Tapi bagaimana kalau tendangannya tak berhasil?
Li Eng ragu-ragu.
Kalau saja kedua tanganku bebas.
Ataukah lebih baik ia merayu pemuda ini dan membujuknya agar suka membuka belenggunya?
Kalau sudah bebas kedua tangannya, kiranya takkan sukar membunuhnya!
Tapi pikiran ini membuat mukanya menjadi merah dan jantungnya berdebar.
Sampai mati sekalipun tak mungkin ia dapat melakukan pekerjaan itu, membujuk rayu seorang laki-laki!
Ia teringat kepada pamannya, Kwa Kun Hong.
Biarpun lemah, pamannya itu cerdik.
Apa yang akan dilakukan pamannya dalam keadaan begini?
Apakah masih terus hendak mengalah saja?
Ah, bagaimana nasib pamannya?
Bagaimana pula nasib Hui Cu yang tadi dilarikan oleh seorang laki-laki yang luar biasa pula?
Aku harus bebas dulu, baru dapat menolong Enci Cu dan Paman Hong, pikirnya.
Tiba-tiba Li Eng berseru keras dan kaki kanannya melayang menendang pusar pemuda yang sedang berdiri bengong, Li Eng menahan seruannya ketika kakinya bertemu dengan benda yang keras sekali, tapi tubuh Kong Bu terlempar seperti tertiup angin, terbanting pada dinding dan terpelanting jatuh.
Akan tetapi seperti karet saja, ia sudah berdiri lagi dan memandang kepada Li Eng dengan alis terangkat.
Ia tidak apa-apa.
Celaka, Li Eng mengeluh dalam batin, kiranya pemuda ini tidak kalah lihainya dari kakek tadi.
Tendangannya tepat sekali, akan tetapi pemuda itu hanya terlempar, luka sedikitpun tidak, malah kelihatannya tidak merasa sakit.
Kini pemuda itu berjalan lambat-lambat menghampiri, dengan mata memandang tajam dan alisnya yang tebal itu bergerak-gerak.
"Kenapa kau menendangku? Benar-benar kau berhati curang, kenapa kau menendangku?"
Li Eng tertegun. Biarpun sama lihai, pemuda itu agaknya tidak seliar kakek tadi, sungguhpun sama pula anehnya. Pertanyaan yang aneh pula, bagaimana ia bisa menjawab? "Hemmm,"
Katanya dengan nada mengejek dan mengumpulkan semangat agar jangan kelihatan rasa takut dan gelisahnya.
"kenapa aku menendangmu? jawab dulu, kenapa kau menawanku?"
Kening pemuda itu makin berkerut.
"Karena kau anak murid Hoa-San-Pai, yang cantik, muda belia, lihai, tapi berhati palsu dan berwatak hina. Orang yang membikin celaka ibuku adalah anak murid Hoa-San-Pai seperti kau. Maka sekarang kau harus mati setelah mengalami siksaan dan hinaan lebih dulu."
Terbelalak mata Li Eng.
Ancaman penghinaan lebih hebat dari maut baginya.
Biarpun ia sendiri belum mengerti benar penghinaan apa yang dimaksudkan, namun seperti juga keadaan pemuda itu sendiri, gadis ini dengan perasaannya dapat menduga-duga yang membuat ia ketakutan dan ngeri setengah mati.
"Kau... kau pengecut besar!"
Tiba-tlba Li Eng berteriak dalam kengerian dan kebingungannya.
Makiannya ini ternyata tepat mengenai sasaran, memukul kelemahan pemuda itu.
Mendengar makian pengecut, Kong Bu meloncat dengan kedua tangan dikepal keras dan matanya seakan-akan hendak membakar diri Li Eng.
Ia akan menerima dan dapat menahan dimaki apa saja, akan tetapi makian pengecut merupakan pantangan baginya.
Dalam anggapannya, tidak ada sifat yang lebih rendah dari sifat pengecut!
"Apa kau bilang?
Pengecut?
Aku...pengecut?"
Suaranya gemetar saking marahnya.
"Buktikan... setan kau, hayo buktikan kalau aku... pengecut!"
Li Eng yang cerdik itu menahan gejolak hatinya yang girang karena akalnya berhasil. Ia sengaja menjebikan bibirnya dengan lagak mengejek dan menghina.
"Seorang laki-laki yang mengganggap diri sendiri gagah, beraninya berlagak hanya kalau menghadapi lawan wanita yang dibelenggu kedua tangannya. Huh andaikata aku tidak terbelenggu, kiranya kau sudah lari jatuh bangun ketakutan. Apalagi namanya kalau bukan pengecut paling rendah!"
Kong Bu tak dapat menahan kemarahannya lagi.
Ia mengeluarkan suara melengking tinggi yang membuat Li Eng kaget dan serem.
Tiba-tiba pemuda ini mendekatinya, menggerakkan kedua tangan dan...
belenggu yang mengikat Li Eng putus menjadi beberapa potong!
"Nah, putus sudah!
Kau tidak terbelenggu lagi.
Hayo, kau mau apa sekarang?
Setan betina, tarik kembali makianmu pengecut tadi.
Setan, kau menghinaku, ya?
Hayo tarik kembali kata-kata pengecut tadi!"
Saking girangnya bebas, Li Eng untuk sejenak tak dapat menjawab, hanya menggosok-gosok pergelangan kedua tangan yang masih kaku-kaku untuk memulihkan jalan darahnya.
Matanya bersinar-sinar, mulutnya tersenyum manis, timbul kembali keberaniannya dan kepercayaan kepada diri sendiri.
"Sudah bebas kedua tanganku! Eh, kau belum juga lari jatuh bangun?"
"Tidak sudi! Mengapa harus lari? Aku bukan pengecut! Hayo katakan, aku bukan pengecut!"
Teriak Kong Bu makin marah. Li Eng memandang dengan senyum ejekan yang amat menyakitkan hati pemuda itu.
"Apa? Kau tidak mau lari? Larilah, aku takkan mengejarmu sebagai upahmu sudah membebaskan tanganku dari belenggu."
"Tidak sudi!!"
"Ah, kalau begitu ternyata kau sudah bosan hidup. Terpaksa kedua tanganku mengantar nyawamu ke neraka!"
Li Eng cepat sekali menerjang maju dengan kedua tangannya memukul, susul-menyusul ke arah pelipis dan lambung.
Kong Bu yang marah sekali cepat menangkis kedua pukulan itu dan balas menyerang dengan sama keras dan dahsyatnya.
Tadinya Li Eng memandang rendah dan mengejek sedangkan Kong Bu juga memandang rendah dan marah-marah.
Akan tetapi makin lama mereka bertempur, makin lenyaplah perasaan merendahkan lawan, lenyap pula rasa mengejek dan marah, terganti oleh rasa keheranan besar dan sedikit kekaguman.
Ternyata bahwa keduanya sama tangguhnya, atau hanya sedikit selisihnya!
Kong Bu sama sekali tak pernah menyangka bahwa gadis ini demikian hebat ilmu silatnya, memiliki gerakan yang cepat bukan makin seperti Burung walet saja sehingga kadang-kadang matanya berkunang.
Di lain pihak, biarpun maklum bahwa pemuda itu bukan orang lemah, namun sama sekali di luar sangkaan Li Eng bahwa ternyata pemuda itu memiliki ilmu silat yang aneh, yang dapat mengimbangi Hoa-San Kun-Hoat, malah memiliki tenaga dahsyat sehingga lengannya sakit-sakit dan panas tiap kali mereka beradu tangan.
Mulailah ia merasa menyesal mengapa ia tidak bersenjata.
Dengan pedang di tangan, kiranya ia takkan terdesak seperti ini.
Mulailah nona yang cerdik ini mencari akal.
Ketika terdapat kesempatan baik, Li Eng berseru keras dan kedua kakinya bergerak dengan Ilmu Tendangan Soan-Hong-Tui (Tendangan Angin Puyuh), yang merupakan tendangan berantai dengan kedua kaki seperti kitiran angin.
Yang dijadikan sasaran adalah pusar lawan.
Menghadapi tendangan berantai yang amat berbahaya ini, Kong Bu berseru keras dan melompat mundur.
Kesempatan inilah yang dipergunakan oleh Li Eng untuk melompat ke dekat meja dan menendang meja itu terbalik.
Seketika keadaan menjadi gelap pekat karena lilin di atas meja itu terlempar dan apinya padam.
Inilah yang dihendaki oleh Li Eng.
Ia memiliki pendengaran tajam dan Lweekang yang sudah tinggi maka ia hendak mengandalkan dua kelebihan ini untuk melawan Kong Bu di dalam gelap!
Akan tetapi, sekali lagi ia kecele.
Pemuda ini berseru keras.
"Kau hendak lari ke mana?"
Dan dari angin gerakannya tahulah Li Eng bahwa pemuda itu menerjang ke arahnya seakan-akan memiliki mata yang dapat menembus kegelapan.
Terpaksa ia mengerahkan ketajaman pendengarannya untuk menghadapi serbuan malam gelap ini.
Kembali mereka bertempur, kini di dalam gelap dan ternyata malah makin seru dari tadi.
Karena keadaan gelap sama sekali, kedua orang muda yang berilmu tinggi itu bertempur hanya mengandalkan ketajaman pendengaran dan kegesitan gerakan saja.
Makin lama makin terasa oleh Kong Bu akan kelihaian dara itu dan diam-diam ia merasa heran bagaimana kakeknya dapat menangkap gadis selihai ini dengan mudah.
Apalagi berdua dengan gadis lain yang tidak ia ketahui sampai di mana tinggi kepandaiannya.
Kalau dilihat keadaannya sekarang agaknya biarpun kakeknya sendiri, belum tentu dapat mengalahkan gadis ini dengan mudah.
Dengan penasaran sekali Kong Bu menggereng dan mengeluarkan ilmu yang paling ia andalkan, yaitu Yang-Sin-Hoat.
Ilmu ini adalah inti ilmu Yang-Sin Kiam-Sut yang dahulu didapatkan oleh Song-Bun-Kwi dan telah diturunkan kepada pemuda ini.
Yang-Sin-Hoat mengandalkan tenaga kasar dan ketika pemuda ini mainkan Yang-Sin-Hoat, Li Eng menjadi kewalahan.
Sebagai seorang wanita, oleh kedua orang tuanya Li Eng dilatih ilmu-ilmu yang berdasarkan kehalusan, disesuaikan dengan keadaan tubuh dan sifat wanita.
Maka ketika tadi lawannya menggunakan Lweekang, ia masih dapat melayani dengan baik.
Sekarang, begitu lawannya berkelahi secara kasar dan keras, di mana pertemuan tenaga, mungkin dapat mematahkan tulang dan melecetkan kulit, Li Eng menjadi sibuk sekali.
Ia mencari kesempatan dan begitu terdapat lowongan gadis ini melompat keluar dari kamar terus lari keluar dari kelenteng.
"He, kau hendak lari ke mana?"
Kong Bu mengejar dengan lompatan keras sekali sehingga sekaligus ia dapat menyusul Li Eng.
Dengan lompatan yang cepat sekali ini ia telah menubruk tubuh Li Eng dari belakang.
Segera ia menggunakan kedua lengan untuk menangkapnya dan dua orang itu terguling roboh di luar kelenteng, bergumul di atas tanah.
Namun Li Eng kalah tenaga, juga ia disikap dari belakang dengan mendadak, maka ia tidak berdaya dan Kong Bu berhasil menotok punggungnya, membuat gadis itu lemas tak dapat menggerakkan kaki tangannya lagi.
Kong Bu melepaskan Li Eng dan bangkit berdiri, mengatur napas.
Ia terengah-engah dan lelah, juga tubuhnya sakit di sana-sini.
Harus diakui bahwa baru kali inilah ia betul-betul berkelahi melawan seorang yang amat tangguh, Sekali lagi ia memandang ke arah di mana Li Eng rebah miring tak bergerak, di bawah sinar bulan seperti seorang gadis sedang tidur saja, ataukah seekor Harimau betina sedang mendekam?
"Gadis liar!"
Gerutunya sambil mengelus lehernya yang mengeluarkan darah, terluka oleh kuku-kuku tangan Li Eng ketika bergumul tadi.
Ia lari mengambil tali pengikat tangan Li Eng, keluar lagi dan setelah menyambung-nyambung tali yang kuat itu, ia membelenggu lagi kedua tangan Li Eng.
Setelah itu ia membebaskan totokannya dan membentak.
"Hayo bangun berdiri!"
Begitu terbebas dari totokan, dengan marah, meluap-luap Li Eng meloncat bangun dan langsung kedua kakinya yang bebas itu mengirim tendangan berantai!
Kong Bu kaget dan dengan gugup ia mengelak ke sana ke mari karena tendangan-tendangan itu betul-betul mengarah bagian tubuh yang berbahaya dan mematikan.
Akhirnya ia dapat menyambar kaki kiri Li Eng dan sekali dorong tubuh Li Eng roboh lagi.
"Gadis liar!"
Lagi-lagi ia memaki. Li Eng sudah meloncat bangun lagi, berdiri tegak, kepala dikedikkan, mata berapi-api, gigi digeget, marah memenuhi dadanya.
"Hayo jalan, ikut denganku!"
Kata Kong Bu lagi.
"Tidak sudi! Mau bunuh boleh bunuh!"
Balas Li Eng, tak kalah ketus.
"Kepala batu!"
Kong Bu memaki lagi dan tiba-tiba sebelum Li Eng sampai menduga apa yang akan dilakukannya, pemuda ini menubruk ke depan, langsung menangkap kedua kaki gadis itu dan mengangkat tubuhnya, terus dipanggul di atas pundaknya.
Li Eng meronta-ronta, menendang-nendang, akan tetapi karena kedua tangannya diikat dan kedua kakinya dipeluk keras-keras oleh pemuda yang besar sekali tenaganya itu, ia tidak berhasil melepaskan dirinya.
Akan tetapi, dengan menggerak-gerakkan tubuhnya bagian atas, mulutnya berhasil mendekati pundak dan dengan gemas ia menggigit pundak pemuda itu.
"Aduh... perempuan liar!"
Kong Bu terpaksa melepaskan tubuh Li Eng yang terpelanting ke atas tanah.
Pemuda ini memegangi dan mengusap-usap pundaknya yang luka berdarah dan bajunya robek tertembus gigi yang kecil-kecil putih akan tetapi kuat bukan main itu.
Sakit sekali pundaknya, perih dan panas.
Dengan marah ia maju lagi, mengangkat tangan hendak memukul pecah kepala Li Eng, akan tetapi entah bagaimana, ketika bertemu pandang dengan sepasang mata yang berapi-api dan penuh keberanian itu, kepalannya berubah menjadi totokan dan kembali Li Eng telah tertotok jalan darahnya, lemas dan tak dapat bergerak lagi.
"Hemmm, perempuan liar. Anak murid Hoa-San-Pai, cantik jelita, muda belia, lihai tapi berhati palsu dan berwatak hina. Kau harus disiksa dulu sebelum dibiarkan mati. Keparat, rasakan kau nanti!"
Ia lalu mengangkat tubuh Li Eng yang sekarang tidak mampu meronta lagi itu, lalu memanggulnya. Tiba-tiba ia berseru.
"Ihhhh!"
Dan melepaskan tubuh Li Eng yang untuk kesekian kalinya lagi-lagi terbanting di atas tanah.
Apa yang membuat pemuda itu berseru kegelian dan melepaskan tubuh gadis itu?
Li Eng sendiri tidak mengerti.
Sebetulnya adalah karena ketika memanggul, kebetulan sekali sebagian pundak Li Eng yang tak tertutup bajunya yang sudah koyak-koyak itu menumpang pada pundak dan leher Kong Bu, tepat di bagian baju yang robek oleh gigitan Li Eng tadi.
Sentuhan kulit halus hangat pada kulit leher dan pundaknya itulah yang membuat Kong Bu kaget dan geli tubuhnya serasa dimasuki aliran listrik yang membuat ia menggigil dan seketika membanting tubuh Li Eng ke atas tanah.
Pemuda itu kini berdiri dengan leher terasa tebal dan tengkuknya berdiri semua.
Akan tetapi mukanya terasa panas dan jantungnya berdebar keras.
Perlahan-lahan dilepasnya baju luarnya, lalu diselimutkan pada tubuh atas Li Eng.
Setelah melihat bahwa pundak gadis itu yang telanjang telah tertutup rapat, barulah ia membungkuk dan memanggul gadis itu kembali, dibawa lari secepatnya dari tempat itu, memasuki hutan.
Sementara itu, tanpa terasa selama dua orang ini ribut-ribut tadi, malam telah terganti fajar dan ketika Kong Bu memanggul Li Eng berlari-lari, ayam hutan mulai berkokok.
Namun pemuda itu berlari terus, menuju ke arah tertentu.
Pemuda itu tidak berkata apa-apa, juga Li Eng tidak mengeluarkan suara, sungguhpun kemarahan gadis itu membuat kedua matanya meneteskan air mata.
Ia tidak takut, hanya marah dan penasaran mengapa ia tidak mampu mengalahkan laki-laki gila ini.
Tiba-tiba terdengar suitan saling sahut di dalam hutan itu.
Cuaca mulai remang-remang karena dalam hutan penuh embun yang dingin menyusupi tulang-tulang.
Tak lama kemudian suara suitan makin sering dan makin keras.
Ketika tiba di dalam hutan yang penuh pohon-pohon besar, mendadak berlompatan belasan orang dari balik batang pohon dan Kong Bu terkurung oleh enam belas orang laki-laki yang tinggi besar, bercambang bauk dan membawa senjata tajam.
Melihat sikap mereka yang kasar, mudah diduga bahwa mereka tentulah sebangsa perampok.
Kong Bu tidak menjadi gugup, ia menurunkan tubuh Li Eng setelah terlebih dulu membebaskan totokannya pada punggung gadis itu.
Tadinya saking marah dan lelahnya, Li Eng hampir pulas dalam panggulan pemuda itu, sekarang ia kaget dan sadar ketika merasa tubuhnya terguling di atas tanah.
Cepat ia menggerakkan kaki dan girang mendapat kenyataan bahwa ia tidak lemas tertotok lagi, maka ia meloncat berdiri.
Ia terheran-heran melihat belasan orang laki-laki kasar itu berdiri di situ dengan menyeringai dan sikap mengancam.
"Kalian menghadang perjalananku ada keperluan apa?"
Kong Bu membentak, alisnya yang tebal menghitam itu berkerut tanda kesal hati menghadapi gangguan ini.
Seorang di antara mereka, yang paling tinggi, melangkah maju dan tertawa bergelak sambil memandang ke arah Li Eng yang berdiri dengan kedua tangan terbelenggu.
"Ha-ha-ha, kiranya saudara seorang ahli pemetik bunga! Wah, kawan-kawan, kita kecele kali ini!"
Belasan laki-laki itu mengeluarkan suara kecewa, akan tetapi ada yang tertawa-tawa dan memuji-muji kecantikan Li Eng.
"Sebetulnya kalian ini mau apakah?"
Kong Bu membentak lagi, tak senang hatinya mendengar pujian-pujian tentang kecantikan Li Eng, dan lebih tak senang lagi melihat sikap mereka yang ceriwis terhadap gadis tawanannya.
"Hai, saudara muda, karena sealiran, kami takkan mengganggumu. Kau boleh pergi melanjutkan perjalananmu akan tetapi kau tinggalkan bunga ini untuk kami, hitung-hitung tanda mata dan tanda persahabatan,"
Kata pula pemimpin gerombolan itu sambil tertawa-tawa dan memandang kepada Li Eng dengan mata berminyak.
"Apa maksudmu? Bunga apa yang kau minta?"
Kong Bu yang belum mengerti itu membentak lagi.
"Aih-aih... kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu!"
Seorang perampok berolok-olok.
"Tentu saja perempuan ini yang ditinggal."
Baru saja sampai di sini ia bicara, tiba-tiba tubuhnya terlempar jauh, terbanting ke atas tanah dan tidak dapat bangun kembali.
Bukan main marahnya para perampok ketika melihat orang muda yang mereka sangka lemah itu sekali tangkap sanggup melemparkan kawan tadi.
Apalagi kepalanya, dengan marah berteriak.
"Kawan-kawan, bunuh anjing jantan ini, biar aku tangkap yang betina!"
Terjadilah pengeroyokan yang hebat.
Akan tetapi, alangkah kaget hati para pengeroyok ini ketika pemuda itu menggerakkan kaki tangan, empat orang perampok roboh dan mengaduh-aduh.
Lebih-lebih kekagetan mereka ketika melihat kepala mereka begitu mendekati gadis yang terbelenggu itu tiba-tiba tertendang dadanya oleh gadis itu dan roboh sambil memuntahkan darah segar.
Tidak berhenti sampai di situ saja, gadis terbelenggu ini menggerak-gerakkan kedua kakinya dan sebentar saja empat orang perampok roboh pula tak dapat bangun kembali.
Juga Kong Bu yang sudah marah menghajar para perampok itu.
Sebentar saja beberapa orang roboh lagi.
Mereka bagaikan rombongan laron mengeroyok api lilin.
Setelah lebih setengah jumlah mereka roboh, yang lain lalu melarikan diri menyelinap di antara gerombolan pohon.
Kong Bu tidak mempedulikan mereka, lalu memandang kepada Li Eng.
Sejenak ia bengong terlongong, menatap wajah gadis itu yang juga memandang kepadanya dengan mata terbelalak.
Aduh hebatnya mata itu, demikian kesan pertama di hati Kong Bu.
Malam tadi ia tidak dapat melihat wajah Li Eng dengan terang, tidak sejelas sekarang.
Wajah yang luar biasa dan terutama matanya, seperti sepasang bintang pagi.
Tapi ia teringat lagi akan kenyataan bahwa gadis ini adalah anak murid Hoa-San-Pai, maka kemarahannya timbul pula.
Apalagi kalau teringat betapa dengan susah payah ia mengalahkan gadis ini malam tadi, malah masih perih dan panas pundaknya yang digigit.
Sebaliknya, Li Eng juga tercengang ketika menyaksikan wajah yang tampan dan ganteng, yang sama sekali jauh berlainan dengan wajah kakek semalam tadi, ataupun dengan wajah para perampok tadi.
Pemuda ini benar-benar gagah, mukanya lebar bulat, matanya jeli, alisnya hitam tebal, mulutnya membayangkan kekerasan hati.
Tapi kalau ia teringat akan perlakuan pemuda ini kepadanya, hatinya marah dan mendongkol bukan main.
Dan dia sudah dipanggul setengah malaman oleh pemuda ini!
Tiba-tiba Lie Eng merasa mukanya panas dan ia berkata keras.
"Aku tidak sudi kau... pondong lagi!"
Merah kedua pipi Kong Bu, dan dengan ketus pula ia menjawab.
"Siapa sudi memondongmu? Kalau kau tidak rewel dan mau jalan sendiri, akupun tidak sudi memanggulmu!"
Sejenak keduanya diam saling pandang penuh kemarahan.
Kong Bu marah mengapa gadis ini begini kasar dan galak, andaikata sikapnya halus dan penurut, agaknya ia takkan tega memperlakukannya seperti ini.
Li Eng marah mengapa pemuda seperti itu bersikap sombong dan memandang rendah kepadanya.
Andaikata tidak demikian sikap pemuda itu tentu ia akan menerangkan bahwa mereka mempunyai musuh yang sama, yaitu Kwa Hong.
Ia merasa yakin bahwa yang membuat pemuda ini dan kakek itu membenci anak murid Hoa-San-Pai terutama yang perempuan, tentulah Kwa Hong.
"Kau hendak memaksaku pergi ke mana?"
"Akan kau lihat sendiri nanti!"
"Akan kau apakan aku?"
"Hemm, kau akan lihat sendiri!"
"Iblis kau! Kalau hendak bunuh aku, bunuhlah. Siapa takut mampus?"
"Terlalu enak kalau kau dibunuh begitu saja. Kata kakek, anak murid Hoa-San-Pai terutama yang perempuan adalah Siluman-Siluman jahat, harus disiksa dan dipermainkan dulu sebelum dibunuh."
"Kakekmu gila!"
"Mungkin, tapi tidak palsu dan hina seperti murid perempuan Hoa-San-Pai yang menggoda Ayahku dan membunuh ibuku!"
"Ah, kau juga gila!"
Kong Bu memandang dengan mata berapi, kemudian ia balas memaki.
"Kau juga seorang gadis gila!"
"Kau hanya bisa meniru-niru!"
"Tidak, kau memang gila. Gadis normal tentu akan menangis dan minta ampun, tidak seperti kau yang begini nekat menantang maut."
"Aku tidak takut!"
"Ha, ingin kumelihat nanti apakah betul-betul kau tidak mengenal takut."
"Mau kau apakan aku?"
Kong Bu tersenyum dan karena ingin ia melihat gadis ini membayangkan ketakutan pada wajah yang cantik dan selalu menantang penuh keberanian itu, ia segera berkata.
"Aku hendak melepaskan kau di tempat yang penuh dengan anjing-anjing hutan, biar kau dikeroyok anjing hutan!"
Namun keinginan hatinya tidak terpenuhi, malah gadis itu menjebikan bibirnya yang merah sambil mengejek.
"Phuhh, siapa percaya omongan kosongmu? Anjing kaki dua seperti kau tidak takut, apalagi segala macam anjing hutan!"
Kong Bu kalah bicara, lalu berkata marah.
"Sudah jangan cerewet! Hayo jalan ikut denganku!"
"Tidak sudi!"
Li Eng berjebir lagi.
"Kepala batu!"
Kong Bu menerjang maju, disambut tendangan oleh Li Eng.
Untuk kesekian kalinya dua orang ini saling serang, Li Eng berusaha merobohkan dengan tendangan-tendangannya yang dahsyat, sedangkan Kong Bu berusaha merobohkan gadis itu untuk dapat dipanggulnya seperti malam tadi.
Tentu saja dengan kedua tangan terbelenggu dan tubuhnya lemas dan lelah, Li Eng tak dapat melakukan perlawanan berarti dan akhirnya ia kena diringkus kedua kakinya, diangkat dan dipanggul oleh Kong Bu yang berlari cepat.
Li Eng memaki-maki, meronta-ronta dan mencoba untuk menggigit lagi, namun Kong Bu tidak pedulikan semua itu dan lari secepatnya menuju ke tengah hutan.
Akhirnya berhenti di sebuah lereng dan berkata.
"Nah, kau lihat ke bawah!"
Li Eng yang masih dipanggul itu melirik ke bawah.
Di depannya terdapat sebuah lembah yang curam dan di dalam lembah itu tampaklah puluhan ekor anjing yang berkeliaran.
Mereka nampak buas dan begitu melihat dua orang di atas lereng, mereka menggonggong dan menyalak dengan muka ganas.
Ngeri juga hati Li Eng, akan tetapi ia mengeraskan hati dan berkata.
"Aku tidak takut!"
Kong Bu mengeluarkan suara ketawa geli, hatinya kecewa kenapa gadis ini belum juga menyerah kalah dan mengaku takut.
Dengan mendongkol ia menurunkan Li Eng, menotok jalan darahnya sehingga gadis itu lemas kaki tangannya.
Kemudian ia menggunakan sebuah pedang memutuskan tali belenggu kedua tangan Li Eng.
"Aku tidak sudi membunuhmu dengan kedua tangan sendiri, karena aku bukanlah pembunuh murahan. Akupun tidak sudi menghina dan mempermainkanmu seperti yang dimaksudkan Kakek, karena aku bukanlah seorang manusia rendah dan hina. Akan tetapi karena kau seorang anak murid Hoa-San-Pai, untuk membalas sakit hati mendiang ibuku, kau akan kulempar ke dalam lembah itu. Kau boleh melawan anjing-anjing itu, kalau kau menang dan dapat naik kembali dengan selamat, aku takkan mengganggumu."
Tanpa memberi kesempatan kepada gadis yang pandai bicara itu untuk menjawab, Kong Bu menggerakkan kedua tangannya, yang kanan menotok punggung membebaskan aliran jalan darah, yang kiri mendorong tubuh gadis itu ke dalam lembah yang curam itu.
Tanpa dapat menahan diri lagi Li Eng terdorong ke bawah.
Tubuhnya melayang ke tempat yang dalamnya lima enam meter itu.
Segera ia dapat menguasai diri dan cepat mengatur keseimbangan tubuhnya, berjungkir balik dan dapat turun ke dasar lembah daiam keadaan berdiri.
Suara hiruk-pikuk binatang-binatang itu menyambut kedatangannya.
Puluhan ekor anjing liar yang bermata merah dengan lidah terjulur keluar segera mengurungnya, menggonggong dan memperlihatkan gigi dan taring yang runcing mengerikan.
Gadis itu menyedot napas dalam-dalam, mengumpulkan semangat dan tenaga, mengusir rasa jijik dan takut, kemudian ia mendahului anjing-anjing itu, menendang dan memukul.
Makin berisiklah keadaan di lembah itu, Ada anjing yang terpukul mati seketika, hanya dapat berkelojotan sebentar, ada yang berkuik-kuik, ada yang meraung-raung dan anjing-anjing yang lain semua menggonggong dan menyalak marah.
Mereka ini lalu menyerang dan mengeroyok Li Eng.
Namun dengan gagahnya gadis ini mengamuk, tangan dan kakinya bergerak-gerak, mengelak ke sana ke mari sambil memukul, menendang lalu meloncat.
Di atas tebing di lereng itu, Kong Bu berdiri tegak menonton.
Mula-mula mulutnya tersenyum mengejek dan matanya membayangkan kekerasan hatinya.
Akan tetapi ketika ia menyaksikan sepak terjang Li Eng, senyumnya menghilang dan matanya berubah membayangkan kekaguman besar.
Bukan main gadis ini, pikirnya.
Belum pernah selama hidupnya ia melihat seorang gadis sedemikian gagah beraninya, jangankan melihat malah mimpipun belum pernah, Sukarlah, malah tak mungkin kiranya membayangkan seorang dara yang seperti ini hebatnya!
Dadanya berdebar dan kini ia memandang penuh perhatian.
Betapapun gagah dan lihainya Li Eng, gadis itu semalam suntuk tidak tidur, pula tubuhnya amat lelah dan berkali-kali ia harus mengerahkan tenaga menghadapi Kong Bu.
Kini dikeroyok puluhan ekor anjing yang liar itu, perlahan-lahan ia kehabisan tenaga dan berkuranglah kegesitannya.
Sudah lebih dua belas ekor anjing menggeletak menjadi bangkai oleh pukulan dan tendangannya, namun yang mengeroyoknya masih berpuluh-puluh!
Pukulannya kini mulai kurang keras, gerakannya lemah dan limbung.
Namun sedikitpun juga semangatnya tidak pernah berkurang, dan tidak sedikitpun juga ia nampak takut atau bingung.
Tiba-tiba lima ekor anjing menyerang dengan serentak, menubruk dari kanan kiri dan depan, Li Eng melompat mundur untuk menghindarkan diri.
Malang baginya, kebetulan sekali di sebelah belakangnya ada seekor anjing pula sehingga kakinya terhalang dan ia terjengkang ke belakang.
Serempak lebih dari sepuluh ekor anjing menubruknya dengan moncong terbuka lebar!
Wajab Kong Bu menjadi pucat seketika, akan tetapi ia kagum bukan main ketika gadis itu dengan kegesitan luar biasa telah menggulingkan tubuhnya cepat-cepat ke kiri terus melompat berdiri.
Namun ia tak dapat menghindarkan dengan seekor anjing dari sebelah belakang yang menubruk kakinya dan menggigit betisnya, Kain celana di bagian betis robek berikut kulit betisnya.
Li Eng menjerit tertahan, membalikkan tubuh dan sekali tangan kanannya menghantam pecahlah kepala anjing itu!
Demikian hebat marahnya sehingga seketika timbul kembali tenaganya.
Namun kini ia merasa kakinya yang tergigit tadi kaku dan sakit-sakit.
Sekilas ia mengerling ke atas dan melihat pemuda itu masih berdiri tegak.
Kemarahannya bangkit, sampai mati ia tidak akan memperlihatkan rasa takut takkan mau menyerah, biarlah pemuda gila itu terbuka matanya bahwa dia adalah seorang dara berdarah pendekar sejati.
Ia melawan terus, memukul menendang, namun pandang matanya mulai berkurang, tubuhnya terhuyung-huyung kepalanya pening.
Ia masih dapat melihat berkelebatnya sesosok bayangan orang diikuti sinar pedang yang membabati anjing-anjing yang mengeroyoknya, kemudian Li Eng mengeluh dan roboh pingsan!
Dalam keadaan setengah sadar Li Eng merasa seolah-olah dunia terbakar di sekelilingnya.
Warna merah dan kuning menyelubungi dirinya, dan suara gonggongan anjing terngiang-ngiang di telinganya.
Kemudian ia melihat kepala-kepala banyak anjing liar dengan moncong terbuka hendak menggigitnya.
Ia merasa ngeri sekali, kemudian kepala-kepala anjing ini menyuram, terganti kepala seorang pemuda yang gagah dan ganteng.
"Kenapa kau begini benci kepadaku...?"
Li Eng berbisik, hatinya sakit sekali.
"Diamlah..."
Ia tiba-tiba mendengar suara perlahan.
"diamlah, biar kuhisap keluar racun anjing itu. Siapa tahu anjing tadi gila..."
Lalu ia merasa amat sakit pada betis kaki kirinya.
Li Eng membuka mata dan ternyata ia sedang rebah tertelungkup di bawah sebatang pohon, beralaskan rumput hijau yang amat sedap dan segar.
Ia menggerakkan lehernya dan melihat...
pemuda "gila"
Itu duduk di dekatnya, mengangkat kaki kirinya dan... menyedot betisnya yang terasa panas dan sakit..."
"Kurang ajar kau! Lepaskan kakiku, lepaskan!"
Li Eng berteriak keras sekali, meremang semua bulu di badannya ketika mendapat kenyataan kakinya telah telanjang sampai ke lutut dan betapa betisnya di "cium"
Oleh mulut pemuda itu. Kong Bu, pemuda itu, menunda pekerjaannya, menoleh dengan kening berkerut.
"Rewel benar kau!"
Bentaknya.
"Kalau anjing yang menggigit betismu tadi gila, sebentar lagi kau juga menjadi gila, tahukah kau? Aku sedang berusaha untuk menyedot keluar racun dari luka di betismu, mengapa kau banyak cerewet?"
Li Eng terkejut, takut, dan juga heran, Alangkah ngerinya kalau betul ucapan itu, dan dia menjadi gila!
Akan tetapi benar-benar amat mengherankan mengapa pemuda ini menolongnya keluar dari lembah, malah sekarang hendak mengobatinya?
"Biarkan aku duduk menyandar pohon, tak enak tertelungkup begini..."
Akhirnya ia berkata.
"Sesukamulah, tapi kalau terlalu lama penyedotan racun kau tunda, aku tidak tanggung lagi kalau kau menjadi gila, lebih gila daripada anjing yang menggigitmu."
Li Eng menarik kakinya dan duduk, menyandarkan pipi pada batang pohon itu.
Ia melonjorkan kakinya dan melihat bahwa betis kaki kirinya luka agak parah bekas gigitan anjing.
Rasa ngeri menyelinap dalam hatinya.
"Apakah... apakah anjing yang menggigitku tadi gila?"
Tanyanya perlahan, tanpa memandang pemuda itu.
"Mudah-mudahan tidak, tapi siapa tahu. Anjing-anjing hutan itu liar, hampir semua seperti gila,"
Jawab pemuda itu.
"Cara pengobatan satu-satunya harus menyedot racun keluar dari luka itu."
Setelah berkata demikian, tanpa minta ijin lagi ia lalu mengulangi usahanya tadi, membungkukkan badan, mendekatkan mulut kepada kaki Li Eng yang sudah diangkatnya, kemudian ia menempelkan mulutnya pada luka itu dan menghisapnya.
Li Eng meramkan kedua matanya, mukanya merah padam.
Celaka, ia telah menerima penghinaan yang hebat dan terus-menerus dari pemuda ini.
Ia dikalahkan dalam pertempuran, itu penghinaan pertama, kemudian ia dimaki-maki, itu penghinaan ke dua, lalu ia dipanggul sebagai tawanan, penghinaan ke tiga.
Kemudian ia dilempar ke dalam lembah anjing hutan, itu penghinaan ke empat dari sekarang ini, penghinaan ke lima, yang paling hebat!
Pemuda itu secara kurang ajar sekali telah menyentuh betis kakinya, memegangnya, tidak begitu saja, malah...
dicucupnya betis kakinya dengan mulut.
Inilah penghinaan yang tak dapat diampuni lagi.
Ia membuka kedua matanya.
Melihat pemuda itu membungkuk dengan penuh perhatian dan pengerahan tenaga Lweekang menyedot luka untuk mengeluarkan racun, tiba-tiba Li Eng menggerakkan tangan kanannya dipukulkan ke arah tengkuk Kong Bu dengan jari tangan terbuka.
"Bukk!"
Tanpa dapat bersambat lagi pemuda itu roboh terguling dalam keadaan pingsan!
Pukulan Li Eng hebat sekali dan tidak dapat ditangkis oleh pemuda itu yang sama sekali tak pernah menyangka dirinya akan diserang ini.
Li Eng meloncat bangun, meringis karena betis kaki kirinya terasa perih sekali, namun ditahannya.
Cepat ia menotok punggung Kong Bu untuk mencegah pemuda itu bergerak kalau siuman nanti, kemudian ia mencari akar pohon yang kuat dan lemas untuk dipergunakan sebagai belenggu.
Dengan akar pohon ini ia membelenggu tangan Kong Bu ke belakang, setelah ini membebaskan pemuda itu dari totokan dan dengan merobek sedikit tali pingggangnya yang panjang ia membalut luka betisnya.
Tak lama kemudian Kong Bu siuman dari pingsannya.
Ia cepat meloncat berdiri akan tetapi sebuah tendangan membuat ia terjungkal lagi.
Ia rebah miring dan mengangkat kepala memandang kepada gadis yang berdiri sambil tersenyum mengejek amat manisnya itu.
Lenyaplah kebingungan dan keheranan Kong Bu dan mengertilah ia kini mengapa ia tadi pingsan dan mengapa pula kedua tangannya terbelenggu.
"Kenapa...?"
Kong Bu menahan kembali pertanyaannya karena dari senyum dan sinar mata itu ia sudah mendapat jawaban sejelasnya.
"Hi-hik, ada ubi ada talas, ada budi ada balas!"
Kata Li Eng, suaranya bening karena setelah sekarang bebas dan malah dapat membalas pulih kembali kejenakaan dan keriangannya.
Berbeda dengan sikap Li Eng ketika ditawan, sekarang Kong Bu hanya memandang dengan kagum.
Entah bagaimana.
Setelah Li Eng tidak galak dan pemarah seperti ketika menjadi tawanan, setelah gadis itu mendapatkan kembali sifat pribadinya yang lucu jenaka, dalam pandang matanya gadis itu menjadi bertambah manis dan jelita.
"Kau boleh bunuh aku. Memang aku patut dibunuh karena kebodohanku, bisa saja diakall oleh seorang gadis liar macam kau. Hemmm, betul Kakek, gadis Hoa-San-Pai mana boleh dipercaya? Aku kurang hati-hati. Bunuhlah."
"Enak saja dibunuh! Pemuda sombong dan gila seperti kau harus mengalami siksaan dan penghinaan lebih dulu sebelum dibunuh!"
Kong Bu tak dapat berkata apa-apa lagi karena ia maklum bahwa gadis ini tentu akan terus meniru kata-katanya, ketika masih menjadi tawanannya.
"Sudahlah, kau boleh lempar aku ke lembah itu biar dikeroyok anjing gila,"
Katanya. Li Eng menjebikan bibirnya, luar biasa manisnya dalam pandangan Kong Bu.
"Huh, kau mau akali aku, ya? Biar digigit kakimu lalu biar aku menolongmu?"
"Habis, apa yang hendak kau lakukan dengan diriku?"
Li Eng meloncat bangun.
"Hayo, bangun berdiri, dan ikut aku!"
Kini tiba-tiba giliran Kong Bu untuk mempermainkan gadis itu, seperti ia dipermainkan ketika menawannya.
"Aku tidak sudi!"
Jawabnya dan baru kali ini pemuda itu memperlihatkan senyumnya, senyum mengejek dan menggoda.
Wajah yang tampan itu kelihatan berseri terang ketika tersenyum, lenyap sama sekali bayangan watak keras dan aneh.
Li Eng menggigit bibir dan membanting kaki.
"Kau tidak mau turut perintahku?"
Kong Bu menggeleng kepala.
"Aku tidak sudi ikut kau, hendak kulihat kau mau apa?"
Celaka, pikir Li Eng dan wajahnya tiba-tiba menjadi merah sekali ketika pandang matanya bertemu dengan mata pemuda itu.
Dari sinar mata pemuda itu ia dapat membaca pikiran orang.
Kiranya pemuda itu hendak melihat apakah dia juga akan memanggulnya!
"Awas, akupun bisa menggigit pundakmu!"
Kong Bu sengaja mengejek sambil tersenyum.
Li Eng makin merah mukanya.
Setan alas, sudah menjadi tawanan masih bisa mempermainkannya.
Ia lupa betapa ketika ia sendiri menjadi tawanan, iapun tiada sudahnya mengejek dan memaki pemuda itu.
"Kau kira aku akan sudi memanggulmu? Cih, tak punya malu!"
Li Eng lalu menggunakan akar yang panjang dan kuat, diikatkan pada pinggang pemuda itu dan...
ia menyeret pemuda itu pergi dari situ!
Kong Bu adalah seorang yang memiliki kepandaian tinggi.
Diseret seperti itu ia enak-enak saja telentang dengan mata merem-melek, kelihatan keenakan sekali.
"Kau akan membawaku ke mana?"
Beberapa kali ia mengajukan pertanyaan ini karena pertanyaan itu diulang-ulang, akhirnya Li Eng dengan gemas menjawab.
"Aku bukan seorang gila seperti engkau dan kakekmu. Karena kau menghina dan memusuhi Hoa-San-Pai, aku akan membawamu sebagai tawanan ke Hoa-San-Pai, biar Supek yang akan memberi keputusan apakah kau harus dilempar ke jurang ataukah digantung di pohon pek!"
"Ha-ha-ha-ha, bocah sombong, jangan kau hendak membodohi aku,"
Kata Kong Bu yang masih diseret-seret.
"Hoa-San-Pai bukan di sebelah sana letaknya, kau mengambil arah yang bertentangan."
"Huh, aku bukan pembohong seperti kau. Aku mempunyai urusan ke Thai-San lebih dulu, mungkin di Thai-San kau sudah bisa mendapat pengadilan dari Paman Tan Beng San."
Pemuda itu nampak terkejut sekali.
"Ke... ke Thai-San...?"
"Sudahlah, jangan banyak cerewet! Pendeknya kau sekarang menjadi tawananku, kalau kakekmu atau teman-temanmu tidak melepaskan Enci Hui Cu yang tertawan, kaupun takkan kulepaskan. Kalau kalian mengganggu Enci Hui Cu, awas kau, takkan kuampuni lagi!"
Kali ini Kong Bu benar-benar kelihataan gelisah.
Ia tidak tahu siapakah itu Hui Cu dan siapa pula yang menawannya, menurut kakeknya, seorang gadis lain dirampas orang dan kakeknya sedang mengejar orang itu.
Maka ia diam saja dan membiarkan dirinya diseret-seret sepanjang jalan.
Kita tinggalkan dulu Li Eng dan Kong Bu, dua orang muda yang sama-sama berwatak aneh dan berhati keras itu bersitegang di sepanjang jalan, saling mengejek, saling menawan dan marilah kita mengikuti kisah Hui Cu yang pada malam hari itu dirampas oleh seorang tak terkenal, sesosok bayangan yang amat lihai sehingga mampu merampas gadis ini dari tangan Kakek Song-Bun-Kwi yang sakti.
Bayangan lihai yang sanggup menggempur Song-Bun-Kwi dan merampas Hui Cu itu ternyata adalah seorang pemuda tampan yang selalu tersenyum-senyum bibirnya, matanya lebar dan tajam pandangannya, hidungnya mancung dan membayangkan kejujuran dan kekerasan hati.
Tubuhnya tinggi semampai, gerak-geriknya gagah membayangkan tenaga yang kuat.
Siapakah dia?
Kita sudah mengenalnya.
Dia ini bukan lain adalah Tan Sin Lee, putera dari Kwa Hong!
Seperti kita ketahui, Sin Lee turun dari puncak Lu-Liang-San, turun gunung untuk melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya oleh ibunya.
Ia disuruh mencari musuh-musuh ibunya, disuruh membunuh mereka itu dan disuruh pula menangkap dan menyeret Tan Beng San ke Lu-Liang-San, ke depan kaki ibunya.
Dan di dalam hatinya Sin Lee tidak dapat menerima tugas membunuh-bunuhi orang yang tidak bermusuhan dengannya itu, akan tetapi ia berjanji untuk memenuhi permintaan ibunya dan menyeret Tan Beng San ke Lu-Liang-San.
Dalam perjalanannya, orang muda ini tertarik pula untuk melihat keadaan Kota Raja Selatan yang tersohor indah dan ramai.
Dan kebetulan sekali pada malam hari itu, dia melihat seorang kakek tinggi besar berlari secepat terbang sambil mengempit tubuh dua orang wanita muda.
Kakek ini adalah Song-Bun-Kwi yang berhasil merampas Hui Cu dan Li Eng dari dalam Istana Kembang.
Diam-diam Sin Lee menjadi penasaran dan mengikuti dari belakang.
Ia kaget sekali ketika melihat betapa larinya kakek itu cepat sekali, tanda bahwa kakek itu memiliki kepandaian tinggi.
Ia tidak berani gegabah turun tangan karena selain maklum bahwa kakek itu tentu seorang berilmu tinggi, juga ia tidak tahu urusan mereka, tidak tahu siapa salah siapa benar.
Oleh karena inilah maka ia terus secara diam-diam mengikuti dari jauh dan mengintai ketika kakek itu masuk ke dalam kelenteng.
Ketika ia mendengar kata-kata kakek itu bahwa dua orang gadis ini adalah anak murid Hoa-San-Pai, Sin Lee makin kaget dan menaruh perhatian.
Kata ibunya, kongkongnya kakeknya adalah ketua dari Hoa-San-Pai!
Jadi dua orang gadis ini adalah anak murid dari kakeknya!
Kagum dia ketika menyaksikan keberanian dua orang gadis itu menghadapi kakek ini yang ia tidak tahu siapa adanya.
Keheranan Sin Lee makin meningkat ketika ia melihat dua orang itu nekat melarikan diri keluar kelenteng dikejar oleh kakek itu dan mendengar ucapan Hui Cu yang hendak membujuk kakek itu agar jangan mengganggu mereka karena mereka adalah keponakan-keponakan dari Tan Beng San dan hendak pergi ke Thai-San!
Mendengar ini, Sin Lee mendapat pikiran baik sekali.
Ia harus menolong dua orang gadis itu karena mereka adalah anak murid Hoa-San-Pai, berarti anak murid kakeknya pula, Dan selain itu, mereka itu bisa menjadi perantara agar ia dapat naik ke Thai-San tanpa banyak rintangan, mencari Tan Beng San dan menangkapnya!
Inikah sebabnya maka tanpa ragu-ragu lagi Sin Lee menyerang kakek itu dan alangkah heran dan kagetnya ketika ia mendapat kenyataan bahwa kakek itu ternyata memiliki kepandaian yang hebat sekali.
Ia menjadi gembira dan sekiranya ia tidak mempunyai maksud menolong dua orang gadis itu, ingin ia menguji kepandaiannya dan melawan kakek itu sampai puas.
Akan tetapi keinginannya ini buyar ketika ia mendengar suara melengking dari jauh dan tahu bahwa kakek ini mempunyai pembantu yang sama lihainya, maka cepat ia menyambar Hui Cu dan dibawa lari dari tempat itu.
Daripada tidak menolong sama sekali, lumayan juga dapat menolong seorang di antara kedua murid Hoa-San-Pai itu.
Hui Cu mengalami kekagetannya ketika tahu-tahu ia dibawa lari seperti terbang oleh seorang laki-laki yang tidak ia lihat mukanya karena keadaan gelap.
Ia tidak tahu apakah orang ini lawan ataukah kawan, namun dalam pondongan orang ini ia sama sekali tak dapat bergerak.
Sin Lee berlari terus cepat-cepat karena ia tidak ingin kakek itu bersama pembantunya mengejarnya.
Andaikata ia tidak hendak menolong orang, tentu saja ia tidak takut, akan tetapi dengan adanya gadis yang ditolongnya ini, tentu takkan leluasa ia bergerak dan akhirnya gadis inipun akan tertawan pula.
Sampai malam terganti pagi Sin Lee masih terus berlari keluar hutan.
Ketika Hui Cu mendapat kesempatan memandang wajah pemondongnya di antara kesuraman cuaca fajar, gadis ini melihat wajah seorang pemuda yang gagah dan tampan.
Hatinya berdebar penuh kekuatiran, terutama sekali kalau ia teringat akan nasib Li Eng di tengah kakek yang menyeramkan itu.
"Kau siapakah. Kawan ataukah lawan? Ke mana kau membawaku pergi?"
Akhirnya ia tak dapat menguasai hatinya, bertanya.
Sin Lee juga kaget.
Ia tadi berlari sambil termenung memikirkan apa yang telah ia lakukan.
Selama hidup baru kali ini ia memondong wanita, jangankan memondong, biasanya bercakap-cakap atau berdekatanpun belum pernah!
Benar-benar pengalaman yang membikin ia bingung dan mendebarkan jantungnya.
Ia sampai kaget mendengar suara halus di pinggir kepalanya itu yang menyeret ia kembali kepada kesadarannya.
Segera ia, berhenti berlari dan menurunkan gadis itu dari pondongannya, lalu memandang dengan muka merah.
Dadanya makin berdebar tidak karuan ketika ia menatap wajah yang cantik manis, penuh ketenangan dan keberanian, apalagi ketika ia bertemu pandang dengan sepasang mata bening yang memandang kepadanya penuh selidik, seakan-akan sinar mata gadis itu mampu menembus dada menjenguk isi hati.
"Eh... maaf... aku bukanlah kawan bukan pula lawan. Tapi... aku harus menyelamatkan Nona dari tangan kakek iblis itu,"
Katanya agak gugup. Hui Cu cepat mengangkat kedua tangan memberi hormat.
"Banyak terima kasih atas pertolongan Saudara, akan tetapi... ah, mengapa Saudara kepalang-tanggung menolong kami? Apa artinya aku dapat bebas kalau adikku masih di sana? Sekali lagi terima kasih dan selamat tinggal."
Hui Cu lalu membalikkan tubuhnya dan lari kembali ke arah hutan.
"Eh, Nona... mau ke manakah kau?"
"Ke mana lagi kalau tidak kembali ke sana? Aku harus menolong adikku!"
Jawab Hui Cu tanpa mengurangi kecepatannya berlari. Pemuda itu melompat dan cepat mengejarnya. Mereka kini lari berendeng.
"Apa kau gila? Kakek itu lihai sekali, kau akan ditawannya kembali."
"Jangankan ditawan, biar harus berkorban nyawa, aku rela untuk menolong adikku. Kami berdua berangkat bersama, harus pulang bersama atau mati bersama."
Sinar mata pemuda itu membayangkan kekaguman besar.
"Kau hebat, Nona. Inilah namanya setia kawan. Dan ilmu lari cepatmupun boleh juga."
Senang hati Hui Cu dipuji oleh pemuda penolongnya yang ia tahu amat tinggi kepandaiannya itu.
"Ah, mana bisa dibandingkan dengan kau?"
Ia melirik, justeru Sin Leepun mengerling.
Dua pasang mata bertemu dalam kerlingan, dua buah mulut tersenyum dan sekaligus dua buah muka para remaja itu menjadi merah, jantung mereka berdetak liar.
Mereka berlari terus tanpa mengeluarkan kata-kata lagi.
"Eh, kemana jalannya? Aku bingung, tidak ingat lagi..."
Kata Hui Cu. Malam tadi ia dipondong, tentu saja tidak tahu jalan. Pemuda itu tersenyum lalu berkata singkat.
"Kau ikutilah aku!"
Lalu ia membelok dan memasuki hutan.
Sin Lee sengaja tidak mau mengambil jalan semalam karena ia masih kuatir kalau-kalau bertemu dengan para pengejarnya.
Ia kuatir kalau-kalau gadis yang luar biasa ini akan tertawan pula oleh lawan-lawan yang amat sakti itu.
Namun ia mengambil jalan yang terdekat menuju ke tengah hutan di mana terdapat kelenteng tua itu, Ketika kelenteng itu sudah tampak, Sin Lee menahan Hui Cu.
"Nona, kau bersembunyilah di sini. Biar aku pergi menyelidiki ke sana dan kalau ada kesempatan, akan kucoba rampas adikmu itu."
Hui Cu maklum bahwa kepandaiannya masih jauh untuk dapat membantu penolongnya ini melawan kakek yang sakti itu, maka ia mengangguk dan memandang kepada Sin Lee dengan mesra, penuh pernyataan syukur dan terima kasih.
Jantung pemuda ini serasa berloncatan ketika ia melihat pandang mata itu, dan dengan hati senang sekali mulailah ia menyelinap dan menyusup ke dalam semak-semak, berloncatan di antara pohon-pohon mendekati kelenteng.
Dari jauh Hui Cu memandang dengan kagum karena gerakan Sin Lee memang luar biasa sekali gesitnya, kadang-kadang pemuda itu melayang ke atas pohon seperti seekor Burung garuda saja sikapnya.
Tak lama kemudian, Sin Lee sudah kembali ke depan Hui Cu.
Wajah pemuda ini kelihatan kecewa dan suaranya membayangkan kekecewaan pula ketika ia berkata.
"Nona, aku tidak melihat seorangpun di antara mereka di sana. Kelenteng itu kosong sama sekali."
Wajah Hui Cu seketika menjadi pucat dan dengan isak tertahan gadis ini melompat dan lari menuju kelenteng itu, diikuti dari belakang oleh Sin Lee.
Hui Cu menyerbu ke dalam kelenteng, mencari ke depan, ke belakang sambil memanggil-manggil nama Li Eng, namun sia-sia belaka, di situ sunyi tidak terdapat orang yang dicarinya, bahkan bekasnyapun tidak nampak.
"Eng-moi... aduh Eng-moi... bagaimana nasibmu...?"
Hui Cu menjatuhkan diri terduduk di atas lantai dan menutupi muka.
Ia tidak menangis keras-keras, namun dari pundaknya yang bergoyang-goyang dan dari celah-celah jari tangan yang membasah tahulah Sin Lee bahwa gadis ini menangis sedih sekali.
Akhirnya Hui Cu dapat menguasai perasaannya dan ia bangun berdiri, mengeringkan air mata yang membasahi pipinya, memandang kepada Sin Lee dengan sedih lalu berkata sambil membanting kaki.
"Celaka sekali, kemana aku harus mencari Eng-moi? Ah, kalau dia sampai kena celaka, bagaimana aku harus bicara dengan Paman dan Bibi?"
Sin Lee mengerutkan keningnya tanda bahwa ia ikut berpikir keras.
Ia mengandung maksud hati hendak mempergunakan anak murid Hoa-San-Pai yang mengaku sebagai keponakan Tan Beng San ini untuk memaksa musuh besar ibunya itu memenuhi permintaannya, yaitu pergi menghadap ibunya di Lu-Liang-San.
Diam-diam ia tadinya hendak menjadikan gadis ini sebagai tawanannya untuk memaksa Tan Beng San.
Akan tetapi satelah ia melihat wajah Hui Cu dan melihat keadaan gadis ini, entah bagaimana timbul perasaan kasihan dalam hatinya.
"Nona, menyesal sekali malam tadi aku tidak mampu menolong adikmu. Jadi dia itu anak pamanmu? Hemm, agaknya dia dibawa pergi oleh kakek Siluman itu. Kalau kau bisa beritahukan kepadaku siapa adanya kakek iblis itu, kiranya aku suka untuk membantumu mengejarnya dan merampas kembali adik misanmu. Siapakah kakek itu?"
"Aku sendiri tidak tahu."
Hui Cu menarik napas panjang, bingung sekali tampaknya.
"Ah... benar-benar nasib kami buruk Paman Hong masih belum kuketahui bagaimana nasibnya di tangan Pangeran jahat itu, sekarang Adik Eng terculik oleh kakek iblis pula..."
"Paman Hong siapakah?"
Karena Sin Lee, dianggapnya satu-satunya orang yang pada saat itu boleh ia ajak bicara, dengan singkat Hui Cu lalu menceritakan pengalamannya, yaitu semenjak ia dan Li Eng turun dari Hoa-San dengan tujuan pergi ke Thai-San menghadiri pesta upacara pendirian Partai Thai-San-Pai, mewakili Hoa-San-Pai.
Kemudian di tengah jalan bertemu dengan Kwa Kun Hong, paman seperguruan mereka dan melanjutkan perjalanan dengan singgah ke Kota Raja.
Diceritakannya pula undangan Pangeran Kian Bun Ti yang mengakibatkan mereka ditahan karena menolak pemberian anugerah.
"Aku dan Adik Eng dipisahkan dari Paman Hong, kemudian pada malam hari itu kakek iblis merampas kami dari tempat tahanan di Istana Kembang, lalu kakek itu membawa kami ke kelenteng ini. kemudian kau datang menolongku."
Sin Lee tertarik sekali, terutama mendengar tentang maksud gadis ini pergi ke Thai-San untuk memberi selamat kepada Tan Beng San.
Ingin ia bertanya lebih jelas tentang ini, akan tetapi Sin Lee adalah seorang yang cerdik.
Ia tidak mau mengutarakan rahasia hatinya dan ia berkata heran.
"Aneh sekali kakek iblis itu. Mengapa dia begitu benci kepada kau dan adik misanmu, Nona? Apakah di antara dia dan kalian ada permusuhan?"
Hui Cu menggeleng kepalanya, akan tetapi entah bagaimana, ia menaruh kepercayaan besar kepada pemuda yang telah menolongnya ini, maka ia berkata secara terus terang.
"Melihat sikap dan mendengar bicaranya, dia amat membenci Hoa-San-Pai, apalagi anak murid Hoa-San-Pai yang wanita. Agaknya kakek itu mengandung sakit hati yang hebat sekali terhadap seorang wanita anak murid Hoa-San-Pai."
Ia mengangguk-angguk untuk meyakinkan dugaannya. Jantung Sin Lee berdebar.
"Siapakah dia anak murid wanita Hoa-San-Pai yang dapat membuat sakit hati seorang kakek begitu lihai?"
"Aku sendiripun tidak tahu, akan tetapi aku dapat menduga... hemmm, tidak bisa lain, kalau ada tokoh kang-ouw seperti kakek itu bisa sakit hati terhadap murid wanita Hoa-San-Pai, tentulah... dia siapa lagi?"
"Dia... siapakah, Nona? Atau... barangkali sebagai orang luar aku tidak berhak mengetahui?"
Mendengar suara pemuda itu mengandung kekecewaan, hati Hui Cu menjadi tak enak. Tidak apa diberi tahu, pikirnya.
"Menurut dugaanku, murid wanita yang banyak musuhnya dari Hoa-San-Pai adalah bibi guruku sendiri, namanya Hong, she Kwa, entah di mana sekarang..."
Sin Lee menjadi pucat sekali mukanya, cepat-cepat ia membungkuk dan pura-pura membersihkan sepatunya yang penuh lumpur. Ketika ia mengangkat lagi tubuhnya, mukanya menjadi merah sekali.
"Apakah... apakah bibi gurumu itu... dahulunya amat jahat maka banyak musuhnya?"
Ia bertanya, suaranya biasa akan tetapi perlahan sekali.
"Banyak orang bilang, begitu, tapi ibuku tidak! Kata Ibu, Bibi Kwa Hong itulah yang telah menyelamatkan nyawa Ibu dan aku ketika dalam kandungannya, dan kata Ibu, Bibi Kwa Hong jadi berubah perangainya karena patah hati, entah apa maksudnya Ibu tidak mau menceritakan kepadaku."
Sunyi sesaat, dan suara Sin Lee makin perlahan ketika ia bertanya, sambil lalu saja.
"Jadi kau tidak membencinya?"
"Ah, tidak...! Malah aku kasihan kepada Bibi Kwa Hong dan ingin sekali aku bertemu dengannya. Kata Ibu, Bibi Kwa Hong orangnya lincah gembira seperti Adik Eng dan cantik sekali."
Gadis itu tidak tahu bahwa ucapannya ini membuat hati Sin Lee girang bukan main! Mana dia tahu bahwa orang yang dibicarakan itu, Kwa Hong, adalah ibu dari pemuda yang sekarang berada di depannya.
"Nona, percayalah, aku Sin Lee akan berusaha menemukan kembali adik misanmu Nona Li Eng itu dan aku... aku sekarang dapat menduga siapa adanya kakek iblis itu. Hemmm, kalau saja aku tahu sebelumnya bahwa dia adalah iblis itu, takkan kutinggalkan dia sebelum berhasil membunuhnya. Kiranya ia benar-benar jahat sekali."
"Kau... kau tahu siapa kakek itu?"
"Aku dapat menduga, kalau tidak salah dialah yang berjuluk Song-Bun-Kwi."
"Ah, dia...?"
Wajah Hui Cu menjadi pucat.
"Pernah Ibu bercerita kepadaku tentang dia... dia tokoh besar puluhan tahun yang lalu. Benarkah dia itu Song-Bun-Kwi?"
"Kiraku tidak keliru dugaanku. Nona, bolehkah aku mengetahui namamu?"
Pandang mata Hui Cu menunduk. Pemuda ini benar-benar amat baik, sopan dan ramah, tapi juga agak aneh sikapnya.
"Aku Hui Cu, she Thio. Kau sendiri she apakah?"
"Aku she Tiauw, Tiauw Sin Lee."
Ia sengaja menggunakan she (nama keturunan) Tiauw yang berarti Rajawali karena setelah gadis ini tahu soal ibunya, ia tidak berani memakai she Kwa atau she Tan agar gadis ini tidak mencurigainya.
"Sekarang apa yang hendak kau lakukan, Nona? Apakah kau hendak melanjutkan perjalananmu ke Thai-San?"
Hui Cu menggeleng kepala.
"Mana bisa aku pergi ke sana kalau Paman Hong masih ditahan di Kota Raja? Aku harus berusaha membebaskan Paman Hong dari tahanan."
"Dalam ceritamu tadi kau bilang bahwa pamanmu Kwa Kun Hong itu adalah putera tunggal Ketua Hoa-San-Pai, Kakek gurumu. Tentu ia lihai sekali, bagaimana ia bisa tertawan?"
Hui Cu menarik napas panjang.
"Kau tidak tahu tentang Paman Hong. Dia itu orang aneh sekali, biarpun dia itu putera Ketua Hoa-San-(Lanjut ke
Jilid 20) Rajawali Emas (Seri ke 02 -Serial Raja Pedang) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 20 Pai, namun sedikitpun ia tidak pandai ilmu silat, malah tidak pernah belajar ilmu silat.
Ia adalah ahli dalam ilmu kesusastraan, akan tetapi keberaniannya luar biasa melebihi jago silat yang manapun juga."
Lalu ia menceritakan betapa Kun Hong berani menolak anugerah Pangeran, malah menceritakan betapa pemuda yang tidak pandai ilmu silat itu menggegerkan pemilihan ketua Hwa-I Kai-Pang dan malah diangkat menjadi ketua perkumpulan pengemis yang berpengaruh itu!
Sin Lee mendengarkan dengan penuh keheranan dan kekaguman.
"Hebat pamanmu itu, ingin sekali aku bertemu dan bercakap-cakap dengan dia. Marilah kita tolong dia keluar dari tahanan, Nona. Akan tetapi karena kau sudah banyak dikenal, tentu munculmu di Kota Raja akan mendatangkan keributan dan kesukaran, maka kurasa lebih baik kau bersembunyi di luar tembok kota dan biarlah aku seorang diri pergi menyelidiki keadaan pamanmu itu. Kalau mungkin aku akan turun tangan, kalau sekiranya sukar, kita berdua bisa bergerak malam nanti. Hui Cu girang sekali.
"Saudara Tiauw, kau benar-benar telah melepas budi banyak kepadaku. Kau baik hati sekali dan ilmu silatmu amat lihai. Tidak tahu kau ini murid siapa dan dari golongan manakah?"
Sin Lee tersenyum.
"Tak usah sungkan, Nona. Sudah semestinya manusia saling menolong dalam kesukaran dan sudah menjadi kewajibanku untuk menentang yang jahat membela yang tertindas. Adapun ilmu silatku yang masih dangkal ini kupelajari dari ibuku sendiri, bukan dari golongan manapun juga. Harap kau jangan memuji terlalu tinggi."
Demikianlah keduanya lalu meninggalkan kelenteng rtu menuju ke Kota Raja.
Inilah sebabnya Song-Bun-Kwi tidak dapat mengejar mereka karena kakek itu tentu saja sama sekali tak pernah mengira bahwa dua orang itu malah kembali ke kelenteng mengambil jalan lain kemudian malah pergi Kota Raja!
Ditemani Sin Lee yang gagah perkasa sopan terhadap dirinya.
Hui Cu menjadi besar hati dan ia hampir merasa yakin bahwa kalau pemuda ini mau membantunya, pasti pamannya akan dapat dibebaskannya dan agaknya soal Li Eng juga akan dapat dibereskan.
Pada saat itu Hui Cu sedang diliputi kekuatiran hebat, kuatir memikirkan nasib Kun Hong.
Oleh karena inilah maka ia tidak dapat merasa terlalu sungkan berduaan dengan Sin Lee pemuda kenalan baru itu.
Andaikata ia tidak sedang menghadapi dua perkara yang menggerogoti hatinya ini, kiranya ia akan merasa sungkan dan malu mengadakan perjalanan berdua saja dengan seorang pemuda asing.
Setibanya di luar tembok Kota Raja, Hui Cu lalu bersembunyi di suatu tempat dan Sin Lee meninggalkannya, masuk seorang diri ke Kota Raja.
Segera ia mencari keterangan dan kabar untuk mengetahui di mana ditahannya pemuda Hoa-San-Pai bernama Kwa Kun Hong itu.
Akan tetapi keterangan yang ia dapatkan membuat ia terkejut dan juga bingung.
Keterangan apakah yang ia dapat?
Tidak hanya dari satu dua orang.
Malah ia sengaja menangkap seorang pengawal Istana dan dl tempat tersembunyi ia mengancam pengawal itu untuk mengaku dan memberi keterangan tentang Kwa Kun Hong.
Dan keterangan pengawal ini sama dengan keterangan yang ia dapat di luaran, yaitu bahwa pemuda Hoa-San-Pai yang ditahan karena berani membangkang terhadap perintah Pangeran Mahkota itu telah ditolong oleh...
setan dan lenyap tak berbekas!
"Hanya setan yang dapat menolong dia secara itu,"
Demikian keterangan yang ia dapat.
"Pemuda itu tahu-tahu lenyap dari dalam kamar tahananan dan sebagai gantinya Pangeran Mahkota sendiri yang berada di situ, yang marah-marah kepada penjaga minta dibebaskan. Setelah para penjaga membuka pintu, Pangeran Mahkota keluar dan memerintahkan semua penjaga masuk dalam kamar tahanan lalu dikunci dari luar. Nah, bukankah itu aneh? Padahal Pangeran Mahkota berada di dalam Istananya, tak pernah keluar, apalagi ke kamar tahanan. Masa pemuda itu bisa berubah menjadi Pangeran? Hanya setan yang dapat menolongnya seperti itu."
Hui Cu juga bengong terlongong mendengar cerita Sin Lee atas hasil penyelidikahnya ini.
"Heran sekali, mana bisa terjadi begitu? Paman Hong memang aneh dan berani, akan tetapi ia sama sekali tidak mempunyai kepandaian silat. Siapa gerangan yang telah menolongnya? Kalau memang ada seorang sakti menolongnya, mengapa caranya seaneh itu?"
Sin Lee tersenyum.
"Berita ini tidak bohong, aku malah mendapatkan keterangan dari seorang pengawal Istana yang kutangkap. Setan atau bukan, sudah terang pamanmu ditolong dan sudah tidak ditahan lagi. Sekarang, apa kehendakmu, Nona?"
"Semua ini aneh sekali. Adik Eng berada di tangan seorang sakti, juga Paman Hong kalau dibawa oleh penolongnya, berarti dia berada di tangan orang yang sakti dan aneh. Kupikir lebih baik aku ke Thai-San menjumpai Paman Tan Beng San yang oleh Ayah ibuku dianggap orang terpandai di dunia ini. Kalau tidak Paman Tan Beng San yang menolong, siapa lagi?"
Ucapan gadis ini menimbulkan perasaan campur aduk di hati Sin Lee.
Ia girang karena memang itulah kehendaknya, dapat pergi ke Thai-San bersama gadis ini yang hendak ia pergunakan sebagai alat untuk memaksa agar Tan Beng San mau menghadap ibunya.
Akan tetapi ia juga tak senang mendengar betapa gadis ini memuji Tan Beng San musuh besar ibunya itu sebagai "orang terpandai di dunia."
Huh, ingin ia membuktikan sendiri sampai di mana kelihaian Tan Beng San itu.
"Baiklah kalau begitu, Nona Thio. Mari kuantar kau ke Thai-San."
Merah wajah Hui Cu. Kalau begini sudah keterlaluan, pikirnya.
"Ah, Saudara Tiauw, mana aku berani membikin kau repot? Budimu sudah terlalu besar bagiku, tak usah kau tambah lagi dengan mengantar aku ke Thai-San. Kau membikin aku menjadi malu saja."
Sin Lee tersenyum, diam-diam ia makin kagum akan sikap gadis ini. Sederhana, tenang, tabah, dan bicaranya sungguh-sungguh tanpa dibuat-buat serta memiliki pandangan jauh.
"Nona, sama sekali bukan begitu. Mana kau merepotkan aku kalau aku sendiripun hendak pergi ke sana? Aku memang hendak mengunjungi Thai-San, hendak melihat upacara dan hendak bertemu dengan Bu-Tek Kiam-Ong Tan Beng San yang namanya malah lebih tinggi daripada puncak Gunung Thai-San itu."
Dalam kata-kata terakhir ini terkandung ejekan.
"Betulkah begitu?"
Hui Cu berkata girang.
"Kalau memang begitu, tentu saja aku... senang sekali dapat melakukan perjalanan bersama denganmu, Saudara Tiauw."
Sin Lee menjura dan tersenyum.
"Syukur sekali kau sudi, Nona. inilah jawaban yang amat kuharapkan."
Demikianlah, dua orang muda itu melakukan perjalanan bersama menuju ke Thai-San.
Mula-mula Hui Cu memang merasa agak tidak enak dan likat harus melakukan perjalanan bersama seorang pemuda yang bukan kerabatnya, akan tetapi berkat sikap Sin Lee yang sopan dan memang pemuda ini wataknya riang gembira, akhirnya lenyap ketidak enakan hati gadis itu dan mereka bergaul seperti sahabat-sahabat lama.
Sekarang kita perlu menyelidiki tentang keadaan Kun Hong.
Betulkah pemuda ini telah ditolong setan atau ditolong seorang sakti?
Seperti telah kita ketahui, Kun Hong diperiksa oleh Tan-Taijin yang dahulu adalah sahabat baik tokoh-tokoh Hoa-San-Pai dan karenanya merasa suka dan simpati kepada putera Ketua Hoa-San-Pai ini.
Karena Tan-Taijin ingin sekali menolong, dua orang gadis murid Hoa-San-Pai itu dari cengkeraman Pangeran Mahkota, maka ia menyuruh para pengawal menahan kembali Kun Hong dalam penjara dengan pesan agar Kun Hong diperlakukan sebagai tamu.
Betapapun juga, para pengawal yang tidak mau mengambil resiko terlalu besar tentu saja tidak membiarkan Kun Hong bebas.
Pemuda ini tidak dibelenggu, akan tetapi dimasukkan kamar tahanan yang terkunci dari luar dan pemuda ini kelihatan dari luar melalui sebuah jendela yang dipalangi ruji-ruji besi.
Setelah dimasukkan lagi ke dalam kamar tahanan.
Kun Hong merenung.
Celaka, pikirnya, sama sekali ia tidak sangka akan begini berlarut-larut urusan itu.
Ia memikirkan nasib dua orang keponakannya.
Bagaimana kalau pangeran mata keranjang itu mempergunakan kekuasaannya dan melakukan paksaan?
Ah, dialah yang bertanggung jawab atas keselamatan dua orang keponakannya.
Bukankah mereka itu hanya dua orang gadis muda dan bukankah dia menjadi pamannya?
Celaka, semua adalah salahku.
Seandainya mereka tidak bertemu dengan aku, kiranya mereka takkan mengalami nasib seperti sekarang ini.
Ah, bagaimanapun juga aku harus menolong mereka, menolong mereka bebas dari cengkeraman Pangeran Mahkota.
Harus!
Aku harus menolong mereka.
Tapi, bagaimana caranya?
Ketika seorang pengawal membuka pintu kamarnya membawa satu baki penuh dengan hidangan yang lezat, teringatlah Kun Hong peristiwa dengan Sin-Eng-Cu Lui Bok yang dahulu menyihirnya sehingga roti kering berubah menjadi roti lunak dan air tawar berubah menjadi arak!
Mengapa tidak ia coba kepandaian ini?
Sudah lama ia mempelajari ilmu menguasai semangat yang kitabnya ia terima dari kakek sakti itu.
Belum pernah ia mencobanya, akan tetapi sekarang menghadapi malapetaka yang mengancam kedua orang keponakannya, terpaksa harus ia coba dalam usahanya menolong mereka.
"Orang muda, silakan makan. Masih baik nasibmu bahwa Tan-Taijin memerintahkan supaya kau diperlakukan dengan baik, kalau tidak, hemm... jangan harap bisa mendapat hidangan seperti ini,"
Kata pengawal itu yang merasa mendongkol juga, karena biasanya kalau ada seorang tahanan, ia dan teman-temannya mendapat kesempatan untuk memeras tahanan itu sehingga keluarga si tahanan mengeluarkan "uang arak"
Agar si tahanan diperlakukan baik-baik.
Terhadap Kun Hong mereka tidak bisa memeras, karena takut kepada Tan-Taijin.
Kun Hong tiba-tiba bangkit berdiri dari bangkunya dan membentak sambil memandang tajam.
"He, pengawal terhadap aku, Pangeran Mahkota, kau berani bersikap kurang ajar? Apa kau minta dihukum mati?"
Pengawal itu kaget, memandang dan...
matanya terbelalak dan mulutnya ternganga.
Yang berdiri di depannya bukanlah pemuda itu tadi, melainkan Pangeran Mahkota yang memandang marah.
Cepat-cepat ia menjatuhkan diri berlutut.
"Ini... ah, bagaimana... hamba mohon beribu ampun..."
Katanya gagap dengan seluruh tubuh menggigil ketakutan.
Girang sekali hati Kun Hong ketika melihat percobaan ilmunya itu berhasil.
Ia telah berhasil menguasai semangat dan pikiran pengawal ini dengan pengaruh ilmunya.
"Lekas panggil semua pengawal ke sini. Cepat!"
Bentaknya.
Pengawal itu mengangguk-angguk lalu merangkak mundur, keluar dari kamar itu dan berlari-lari memanggil teman-temannya.
Sementara itu Kun Hong mengerahkan seluruh kekuatan ilmunya untuk menguasai belasan orang pengawal yang memasuki kamar tahanan itu.
Mereka semua menjatuhkan diri berlutut di dalam kamar itu, seperti pengawal tadi mereka mohon ampun!
"Karena orang muda itu tidak bersalah, aku telah membebaskannya.
Kalian ceroboh benar, sampai masukku dan keluarnya orang muda itu tidak melihat.
Hemm!
kalian harus dihukum,"
Bentaknya. Belasan orang itu mengangguk-angguk minta ampun. Takut bukan main hati mereka karena Pangeran Mahkota terkenal bengis terhadap para pengawal.
"Sementara kalian tinggal di kamar ini, jangan keluar. Berikan kuncinya!"
Pengawal yang mengantar makanan tadi cepat merangkak maju dan menyerahkan kunci kamar itu.
Kun Hong menyambarnya, terus berjalan keluar dengan tenangnya dan mengunci pintu kamar tahanan itu dari luar.
Kemudian, seperti orang berjalan keluar dari rumahnya sendiri, dia keluar dari rumah tahanan itu tanpa ada yang merintanginya karena semua pengawal sudah ia keram dalam kamar tahanan.
Ia berjalan terus di jalan besar, bercampur dengan orang banyak dan pergi menuju ke Istana Kembang.
Akan tetapi alangkah susah hatinya ketika ia mendengar peristiwa hebat yang menjadi buah bibir penduduk Kota Raja, yaitu tentang seorang kakek yang menyerbu Istana Kembang, membunuhi para pengawal dan seisi Istana, dan menculik pergi dua orang keponakannya.
Ia bingung dan tidak tahu siapakah kakek itu, penolongkah atau penjahatkah?
Kalau dilihat bahwa dua orang keponakannya dibebaskan dari Istana, berarti menolong, akan tetapi kalau diingat bahwa kakek itu amat kejam, membunuhi semua pengawal dan pelayan, benar-benar mengerikan sekali, seperti bukan perbuatan manusia.
Ke mana aku harus mencari mereka?
Ke mana gerangan kakek iblis itu membawa pergi Li Eng dan Hui Cu?
Benar-benar gelisah hati Kun Hong memikirkan nasib dua orang keponakannya itu dan menyesallah ia mengapa ia mengajak mereka menerima undangan Pangeran Mahkota.
Alangkah gembira tadinya mereka bertiga melakukan perjalanan, dan sekarang, gara-gara pangeran mata keranjang, mereka berpisah dan ia tidak tahu harus menyusul ke mana.
Ke mana lagi kalau tidak ke Thai-San, pikirnya, Li Eng dan Hui Cu bermaksud hendak pergi ke Thai-San.
Bukan tidak mungkin setelah ditolong oleh kakek itu, mereka melanjutkan perjalanan ke Thai-San.
Hanya satu hal yang membuat ia ragu-ragu, kalau dua orang gadis itu selamat, mengapa mereka itu tidak berusaha menolongnya?
Ia merasa yakin bahwa dua orang keponakannya itu pasti tidak akan meninggalkannya begitu saja.
Tidak ada lain jalan lagi bagiku, pikirnya, selain melanjutkan perjalanan ke Thai-San.
Syukur kalau di sana aku dapat berjumpa dengan mereka, kalau tidak, aku akan minta pertolongan Paman Tan Beng San untuk menggunakan kekuatannya sebagai tokoh besar dunia persilatan, untuk mencari dan menolong Li Eng dan Li Cu.
Setelah mendapat keterangan tentang jurusan jalan menuju ke Thai-San, Kun Hong tidak mau membuang waktu lagi, langsung ia melakukan perjalanan secepatnya menuju ke Thai-San.
Sekarang ia melakukan perjalanan seorang diri, maka ia melakukan perjalanan cepat.
Keindahan pemandangan di tengah jalan tidak terasa indah lagi karena hatinya terganggu oleh persoalan hilangnya Li Eng dan Hui Cu yang masih belum ia ketahui nasibnya.
Tanpa ia sadari, Kun Hong sekarang telah memiliki tubuh yang amat kuat dan dapat melakukan perjalanan dengan cepat.
Hatinya risau kalau ia teringat akan pengalaman-pengalamannya di Kota Raja.
Menguatirkan keadaan Li Eng dan Hui Cu, juga kecewa dan mendongkol sekali kalau ia teringat akan pedang Ang-Hong-Kiam yang dirampas oleh pemuda pesolek yang kurang ajar di rumah Tan-Taijin itu.
Kalau saja ia tidak ingin cepat-cepat ke Thai-San untuk mencari kalau-kalau dua orang keponakannya selamat berada di sana, tentu ia akan mencari pemuda tampan yang menampar pipinya itu di rumah Tan-Taijin untuk ia minta kembali pedangnya.
Biarlah, sepulangnya dari Thai-San, kalau semua urusan ini sudah beres, dia pasti akan mencari pemuda itu di rumah Tan-Taijin dan dengan baik ia akan minta kembali pedangnya, kalau tidak diberikan, terpaksa ia akan menggunakan kekerasan.
Pedang itu adalah pemberian dari gurunya Bu Beng Cu, dan biarpun ia tidak suka membawa-bawa apalagi menggunakan pedang, ia tahu bahwa pedang itu benda pusaka dan akan ia berikan kepada Ayahnya.
Ketika ia mulai memasuki sebuah hutan yang besar dan penuh ditumbuhi pohon-pohon raksasa, tiba-tiba dari jauh ia melihat tiga bayangan orang berlari cepat sekali.
Semenjak mengalami hal-hal yang pahit di Kota Raja, Kun Hong menjadi hati-hati.
Cepat ia menyelinap ke belakang sebatang pohon besar dan mengintai.
Tiga orang itu makin dekat dan berdebarlah hati Kun Hong ketika mengenal mereka sebagai tiga orang di antara tujuh jagoan Istana pengawal Pangeran Mahkota!
Ia mengingat-ingat tujuh orang jagoan yang pernah diperkenalkan kepadanya dan tahu bahwa yang sekarang berlari cepat memasuki hutan itu adalah Tiat-Jiu Souw Ki Si Tangan Besi yang bertubuh tinggi besar dan bermuka hitam bersama sepasang saudara kembar Ho-Pak Siang-Sai (Sepasang Singa dari Ho-pak.
Setelah mereka lewat, Kun Hong diam-diam mengikuti mereka dari belakang, menyelinap di antara pepohonan.
Mereka itu adalah kaki tangan Pangeran Mahkota, sangat boleh jadi kedatangannya ini ada hubungannya dengan dua orang keponakannya.
Heran hati Kun Hong ketika ia mengikuti tiga orang itu sampai di tengah hutan ia melihat sebuah sungai besar dan di pinggir sungai itu di antara pohon-pohon tampak bangunan tembok.
Kiranya di tempat terpencil ini terdapat bangunan yang amat berbeda dengan dusun-dusun biasa, pikirnya.
Ia mengikuti terus, ketika tiga orang itu berhenti di depan sebuah jembatan, iapun berhenti, bersembunyi dan mengintai.
Ternyata bahwa bangunan-bangunan yang besar-besar berjumlah lima terkurung pagar tembok yang tlnggi dan di sekeliling pagar tembok itu terdapat anak sungai yang agaknya menjadi cabang sungai besar yang mengalir di sebelah Utara dusun ini.
Jalan dari darat menuju ke dalam dusun hanya dihubungkan oleh jembatan kecil itu, jembatan yang bentuknya seperti bunga teratai, terbuat dari kayu berukir indah dan di atas jembatan ini terdapat belasan orang penjaga yang berpakaian seperti Pendeta Agama To.
Kun Hong memperhatikan dan menduga-duga.
Apakah dusun itu merupakan sekumpulan kuil besar dari para Tosu.
Akan tetapi, biasanya Tosu-Tosu kuil pegangannya hanya kitab-kitab, tasbeh dan paling-paling kipas atau kebutan, kenapa belasan orang Tosu yang menjaga di jembatan itu tubuhnya tegap-tegap dan semua membawa senjata pedang atau golok?
Tiga orang pengawal Pangeran itu berdiri di mulut jembatan dan agaknya mereka tidak diperkenankan masuk.
Kun Hong mendengar suara Tiat-Jiu Souw Ki yang parau dan keras.
"He, para Tosu Ngo-Lian-Kauw! Kalian menganggap kami orang apakah? Bukalah mata dan telingamu baik-baik, aku adalah Tiat-Jiu Souw Ki dan dua orang temanku lni adalah Ho-Pak Siang-Sai! Kami mana bisa bicarakan urusan dengan kalian? Hayo lekas kalian beritahukan kepada Ngo-Lian-Kauwcu (Ketua Perkumpulan Agama Lima Teratai), bahwa kami, bertiga adalah utusan-utusan Pangeran Mahkota, perlu ketemu dan bicara dengan Toat-Beng Yok-Mo!"
Jelas sekali kelihatan para Tosu itu kaget dan gentar, juga Kun Hong ketika mendengar disebutnya nama Yok-Mo, menjadi kaget dan heran.
Apakah kakek itu berdua di tempat ini?
"Ah, kiranya para busu Istana utusan Pangeran Mahkota yang datang.
Harap Sam-wi (Tuan Bertiga) sudi menanti sebentar, kami hendak melaporkan kepada Kauwcu (Ketua Agama) tentang maksud kedatangan Sam-wi,"
Kata para Tosu itu dengan sikap berubah hormat sekali.
Tiat-Jiu Souw Ki dan dua orang temannya kelihatan tidak puas dan uring-uringan, akan tetapi karena mengindahkan nama besar dari Ngo-Lian-Kauw, mereka menanti di ujung jembatan dengan tidak sabar.
Tak lama kemudian terdengar bunyi seruling ditiup orang, banyak sekali sehingga suaranya amat nyaring dan meriah.
Dari pintu di ujung jembatan sebelah dalam itu muncullah pasukan terdiri dari dua puluh orang wanita yang berpakaian lima warna dan di kepala masing-masing anggauta pasukan terhias bunga-bunga teratai.
Rata-rata para wanita ini cantik dan usianya takkan lebih dari tiga puluh tahun.
Setiap anggauta pasukan memegang pedang telanjang yang melintang di depan dada, nampak gagah dan berpengaruh sekali.
Di tengah pasukan ini berjalan seorang wanita tua.
Umurnya takkan kurang dari lima puluh tahun, namun mukanya yang memang cantik itu masih dibedaki dan diberi merah-merah, pakaiannya mewah sekali, di punggungnya tergantung pedang dan pinggangnya diikat sehelai sabuk merah.
Inilah Ketua Ngo-Lian-Kauw, Ngo-Lian-Kauwcu yang berjuluk Kim-Thouw Thian-Li (Dewi Kepala Emas) yang amat terkenal di dunia kang-ouw.
Di sebelahnya berjalan seorang kakek bongkok, umurnya sudah tua sekali, mulutnya yang selalu melongo itu sudah ompong semua.sedangkan matanya besar sebelah.
Kakek ini memegang sebatang tongkat hitam yang bengkak-bengkok.
Inilah dia Toat-Beng Yok-Mo yang beberapa tahun terakhir ini mempunyai hubungan erat dengan Ketua Ngo-Lian-Kauw.
"Sungguh merupakan penghormatan besar sekali tempat kami yang buruk ini mendapat kuhjungan Sam-wi Busu dari Istana. Entah ada urusan apakah sampai Pangeran Mahkota mengutus Sam-wi datang ke sini?"
Terdengar Kim-Thouw Thian-Li bertanya, suaranya jelas menyatakan kebanggaan hatinya, Tiga orang jagoan Istana itu cukup mengenal siapa wanita di depan mereka itu.
Bukan tergolong tokoh baik, malah dahulu terkenal pembela Kaisar Mongol dan dalam pemberontakan para pembesar belasan tahun yang lalu wanita inipun ikut campur.
Pendeknya dalam perkara yang buruk-buruk sudah terlalu sering wanita ini mengotorkan tangannya.
Oleh karena itu dengan suara keras dan angkuh Souw Ki berkata.
"Kami bertiga memang utusan Pangeran Mahkota, akan tetapi Pangeran Mahkota sama sekali tidak mempunyai urusan apa-apa dengan Ngo-Lian-Kauw dan tidak mengutus kami pergi ke sini, melainkan mengutus kami menyelidiki seorang kakek yang telah mengacau di Istana Kembang."
Kim-Thouw Thian-Li merasa juga akan keangkuhan pengawal Istana itu yang tidak memandang mata kepada Ngo-Lian-Kauw, maka mukanya menjadi merah dan ia bertanya dengan nada mengejek.
"Kalau memang tidak ada urusan dengan Ngo-Lian-Kauw, mengapa Sam-wi Busu mencapaikan diri datang ke sini? Urusan di Istana sudah tentu saja kami tidak bisa membantumu."
Tiat-jiauw Souw Ki adalah seorang bekas bajak, wataknya keras dan kasar, tidak takut kepada siapapun juga karena ia mengandalkan kedudukan dan mengandalkan teman-temannya.
"Kamipun tidak membutuhkan bantuan Ngo-Lian-Kauw. Akan tetapi kakek yang berani mengacau Istana Kembang, yang kami ketahui hanya seorang saja yang tinggal di Ngo-Lian-Kauw. Eh Toat-Beng Yok-Mo, mengaku sajalah, bukankah kau yang main-main di Istana Kembang? Kalau betul, kau menyerahlah kami tangkap, dan kembalikan dua orang gadis yang kau culik."
Mata Yok-Mo yang besar sebelah itu menjadi makin besar sebelah, yang besar jadi melotot? dan yang kecil sampai meram, mulutnya mengeluarkan bunyi.
"Heh-heh-heh"
Tiada hentinya. Bu Sek, yang pertama dari Ho-Pak Sian-Sai, tak sabar berkata.
"Seorang laki-laki harus, berani mempertanggung-jawabkan perbuatannya. Sudah berani mengacau Istana Kembang masa takut mengakui?"
Tiba-tiba Yok-Mo tertawa bergelak.
"He-he-he, lucunya! Di sinipun tidak kekurangan gadis-gadis yang cantik manis, kenapa harus menculik ke Istana? Harap kalian jangan main-main dengan seorang tua seperti aku!"
Souw Ki saling pandang dengan sepasang saudara kembar itu, lalu Si Tangan Besi berkata.
"Bagaimana kami dapat meyakininya bahwa kau tidak melakukan perbuatan itu, Toat-Beng Yok-Mo?"
"Heh-heh-heh, urusan menculik tentu ada buktinya. Kalian bertiga boleh mencari, apakah benar dua orang gadis itu berada di sini, heh-heh-heh!"
Sebetulnya Yok-Mo sudah marah sekali dan kalau menurutkan perasaan hatinya, ingin ia turun tangan memberi hajaran kepada tiga orang ini.
Akan tetapi mengingat bahwa mereka adalah utusan Pangeran Mahkota, tentu saja ia tidak berani bertindak sembrono, maklum akan hebatnya pengaruh pangeran itu yang tentu akan membuat hidupnya tidak aman lagi kalau ia sampai mengadakan permusuhan.
"Baiklah, kami akan melakukan penggeledahan di Ngo-Lian-Kauw. Kalau betul-betul tidak terdapat dua orang gadis yang kami cari, untuk sementara kami akan mencabut tuduhan kami,"
Setelah berkata demikian Souw Ki lalu mengajak dua orang temannya untuk menyeberangi jembatan itu.
Akan tetapi tiba-tiba Kim-Thouw Thian-Li memberi tanda dan pasukan wanita yang mengawalnya tadi bergerak memenuhi jembatan, menghadang tiga orang busu ini.
"Hemm, apa artinya ini?"
Souw Ki membentak sambil menoleh kepada Kim-Thouw Thian-Li. Wanita ini tertawa, masih genit suara ketawanya dan masih terbayang kecantikan wajah nenek yang sudah tua ini.
"Tiat-Jiu Souw Ki dan Ho-Pak Sian-Sai! Sudah lama aku mendengar nama besar kalian sebagai tiga di antara tujuh orang jagoan Istana yang amat terkenal. Sebaliknya kiraku kalian bertiga juga sudah mendengar nama, Ngo-Lian-Kauw yang selamanya tidak akan mengijinkan orang luar masuk tanpa persetujuanku. Andaikata kalian membawa surat perintah Pangeran Mahkota, sudah tentu saja kami sebagai rakyat tidak akan berani membangkang, karena bukan maksud kami akan rnemberontak terhadap pemerintah. Akan tetapi, kalian datang tanpa surat perintah, siapa tahu kalau kalian hanya mengandalkan kepandaian sendiri dan nama Pangeran untuk menghina kami? Bicara tentang kepandaian, kaiian mengandalkan apakah hendak melanggar larangan Ngo-Lian-Kauw?"
Tiat-Jiu Souw Ki adalah seorang tokoh yang terkenal dengan kekuatannya sehingga tangannya dianggap sebagai tangan besi.
Juga permainan senjata Ruyung bajanya amat terkenal, senjata yang sesuai dengan tenaganya yang besar.
Mendengar ejekan Ketua Ngo-Lian-Kauw ini, mukanya yang hitam menjadi makin gelap.
Ia menghampiri sebuah singa-singaan batu di sebelah kiri jembatan, lalu berkata.
"Singa-singaan batu ini mengandalkan kekerasannya, akan tetapi aku mengandalkan apakah? Tidak lain mengandalkan tanganku ini!"
Tangan kanannya bergerak memukul perlahan dan kepala singa batu itu remuk berhamburan. Sauw Ki tertawa bergelak.
"Ha-ha, hanya kelihatannya saja keras singa batu ini, kiranya begini lunak!"
"Saudara Souw, setelah kami berdua datang, sepasang singa batu ini memang tidak berhak berdiri lagi. Tapi kenapa kau hanya melenyapkan kepalanya?"
Kata Bu Sek, seorang di antara Ho-Pak Siang-Sai yang bermuka kuning dan karenanya berjuluk Ui-Bin-Sai (Singa Muka Kuning).
Adiknya, Bu Tai yang berjuluk Ang-Bin-Sai (Singa Muka Merah) juga tertawa dan berkata.
"Sungguh tak enak melihat Souw-Twa-Ko menghancurkan singa-singa batu. Bagi yang tidak tahu dikiranya Souw-Twa-Ko menghina kami!"
Dua orang saudara kembar itu menggerakkan tubuhnya, tiba-tiba tampak sinar pedang berkelebat, sebuah ke sebelah kiri jembatan, satu lagi ke sebelah kanannya dan tahu-tahu terdengar suara keras dan singa batu yang sudah pecah kepalanya tadi tahu-tahu terguling roboh, sedangkan yang berada di sebelah kanan jembatan juga roboh terbabat pedang.
Gerakan pedang sepasang saudara kembar ini cepat dan hanya kelihatan sinar pedangnya saja, dapat diduga bahwa ilmu pedang mereka memang hebat.
"Bagus, bagus! Tiga orang busu dari Pangeran Mahkota benar-benar hebat dan gagah, sudah menang melawan dua ekor singa batu, heh-heh-heh!"
Toat-Beng Yok-Mo tertawa, setengah mengejek.
Akan tetapi Kim-Thouw Thian-Li menjadi merah mukanya saking menahan marah.
Kalau bukan utusan Pangeran yang melakukan pengrusakan terhadap hiasan jembatannya, tentu ia langsung sudah turun tangan sendiri memberi hajaran.
"Yok-Mo, kalau kami belum menggeledah ke dalam, bagaimana kami bisa merasa yakin bahwa kau tidak bersalah?"
Souw Ki berkata nyaring, namun Kakek Setan Obat itu hanya tertawa ha-ha he-he saja.
"Souw-Busu, Toat-Beng Yok-Mo hanya tamuku dan yang bertanggung jawab tentang tempat ini adalah aku. Ketahuilah bahwa tidak sembarang orang boleh memasuki tempat kami, kecuali orang yang dianggap cukup berharga dan gagah. Kalau Sam-wi Busu sanggup melewati lapisan Ngo-Lian-Tin kami yang ada tiga buah, biarlah kami anggap Sam-wi cukup berharga dan gagah untuk memasuki tempat kami."
Kim-Thouw Thian-Li memberi isyarat dengan tangannya dan para pengawalnya tadi segera bergerak.
Lima belas orang di antara para pengawalnya dengan pedang di tangan lalu berpencaran menjadi tiga kelompok, masing-masing terdiri dari lima orang, sekelompok menjaga di kepala jembatan, sekelompok kanan kiri.
Mereka berdiri berjajar, sekelompok lima orang.
Souw Ki saling pandang dengan dua orang saudara kembar itu, lalu tertawa.
"Kim-Thouw Thian-Li, kau benar-benar memandang rendah kepada kami. Kalau kami tidak memperlihatkan kepandaian, tentu kau tidak dapat mengenal kelihaian kami!"
Kata Souw Ki sambil mengeluarkan Ruyung bajanya yang berat.
"Bu-Siang-Te, hayo kita gempur Ngo-Lian-Tin ini. tidak perlu kita sungkan-sungkan lagi!"
Bu Sek dan Bu Tai juga mencabut pedang mereka, lalu masing-masing melompat menghadapi sekelompok Ngo-Lian-Tin.
Ngo-Lian-Tin (Barisan Lima Teratai) ini adalah ciptaan Kim-Thouw Thian-Li sendiri, sebuah barisan terdiri dari lima orang wanita yang gerak-geriknya diambil dasarnya dari Ngo-Heng-Tin, lima orang wanita yang cukup tinggi ilmu pedangnya dilatih untuk bergerak saling bantu dengan cara yang amat berbahaya bagi lawan.
Tiga orang busu ini cepat menggerakan senjata mereka dan masing-masing menyerbu sekelompok Ngo-Lian-Tin.
Ruyung baja ditangan Souw Ki mengeluarkan angin ketika ia memutarnya dan menerjang lima orang wanita cantik yang cepat menggunakan pedang untuk menghadapinya dalam bentuk Ngo-Lian-Tin itu.
Kaget juga jagoan Istana ini ketika seorang anggauta Ngo-Lian-Tin yang diserangnya sama sekali tidak mengelak, hanya mengangkat pedang menangkis, akan tetapi empat batang pedang lain dari empat jurusan membarengi gerakannya menyerang empat bagian berbahaya dari tubuhnya.
Terpaksa ia menarik kembali senjatanya dan menangkis serangan-serangan itu dengan memutarkan Ruyung sekuat tenaga.
Empat orang wanita itu mengeluarkan seruan tertahan karena hampir saja pedang mereka terlempar dari tangan, begitu hebat tenaga Si Tangan Besi ini.
Souw Ki maklum bahwa kalau ia menyerang seorang lawan, yang empat tentu akan membarengi serangannya sehingga dasar Ngo-Lian-Tin ini adalah mengorbankan seorang anggauta untuk mengalahkan lawan.
Tentu saja ia tidak mau dan ia segera mengerahkan tenaganya memutar Ruyungnya, mengambil keuntungan dari tenaganya yang besar untuk mengadu senjata dengan lima batang pedang itu.
Usahanya itu berhasil baik karena lima orang wanita yang menjadi lawannya terdesak mundur sampai ke tengah jembatan!
Juga sepasang saudara kembar she Bu itu ternyata memiliki ilmu pedang yang hebat dan cepat sehingga kelompok Ngo-Lian-Tin yang mengeroyok mereka tak dapat Mengimbanginya.
Terdengar jerit susul-menyusul ketika beberapa orang wanita, anggauta Ngo-Lian-Tin terluka oleh pedang mereka disusul Souw Ki yang berhasil menendang dua orang pengeroyoknya masuk ke dalam anak sungai!
Tingkat kepandaian para busu yang menjadi tangan kanan Pangeran Mahkota ini benar-benar tak boleh dipandang rendah.
Sampai pucat muka Kim-Thouw Thian-Li saking malu dan marahnya.
Akan tetapi apa yang dapat ia lakukan?
Ia sudah berjanji bahwa kalau tiga orang itu dapat mengalahkan Ngo-Lian-Tin, mereka diperbolehkan masuk ke dalam untuk melakukan penggeledahan, Sebagai Ketua Ngo-Lian-Kauw tentu saja ia tidak suka menjilat ludah sendiri.
Ia memberi isyarat dengan tepukan tangan dan sisa barisan Ngo-Lian-Tin itu yang tahu bahwa mereka takkan dapat menang, cepat mengundurkan diri.
Souw Ki tertawa bergelak dan bersama kedua Saudara Bu ia lalu menyeberangi jembatan memasuki lima bangunan berbentuk bunga teratai itu.
Mereka melakukan penggeledahan, memasuki semua kamar dan ruangan, akan tetapi tentu saja mereka tidak bisa mendapatkan dua orang gadis pilihan Pangeran yang terculik pada malam itu, karena memang bukan Yok-Mo penculiknya.
Tiga orang itu menjadi kecewa sekali karena tadinya mereka menduga keras bahwa satu-satunya kakek yang selihai itu, yang berani mengacau Istana Kembang siapa lagi kalau bukan kakek ini?
Apalagi kalau dipikir bahwa Yok-Mo menjadi "Teman baik"
Ketua Ngo-Lian-Kauw yang dahulu pernah memusuhi Kaisar.
Sementara itu, Kun Hong yang bersembunyi sambil mengintai, melihat betapa jagoan-jagoan Istana itu mencurigai Yok-Mo, diam-diam juga ikut menjadi curiga.
Ia cukup mengenal Yok-Mo yang berwatak palsu, bukan tidak mungkin kakek ini yang menculik Li Eng dan Hui Cu!
Maka ia menanti hasil penyelidikan tiga orang jagoan itu dengan hati berdebar.
Iapun ikut kecewa ketika tiga orang itu keluar dengan tangan kosong, dan wajah muram, Yok-Mo terkekeh-kekeh mentertawakan lalu berkata.
"Heh-heh-heh, apakah kalian menemukan dua orang gadis itu?"
Souw Ki makin marah ketika ditertawakan.
"Kakek jahat! Siapa tahu kalau kau sembunyikan dua orang gadis itu di tempat lain?"
"Heh-heh, kewajibanmulah untuk mencari dan menemukannya andaikata benar kusembunyikan."
Souw Ki dan kedua orang Saudara Bu marah, akan tetapi karena tidak ada bukti, mereka tidak dapat berbuat apa-apa.
Mereka hendak pergi, akan tetapi Kim-Thouw Thian-Li menggerakkan kakinya dan tahu-tahu tubuhnya melayang ke depan tiga orang itu, menghadang.
Mulut Ketua Ngo-Lian-Kauw ini tersenyum mengejek.
"Hemm, kalian sewenang-wenang datang merusak hiasan jembatan, lalu memasuki tempat tinggal kami dengan fitnah jahat. Setelah semua itu, apakah kalian hendak pergi begitu saja?"
"Kim-Thouw Thian-Li, setelah Ngo-Lian-Tin yang kau ajukan itu dapat kami hancurkan, apakah kau masih belum puas?"
Souw Ki mengejek sambil melintangkan Ruyungnya di depan dada.
"Justeru karena Sam-wi Busu telah memecahkan Ngo-Lian-Tin, aku yang bodoh ingin sekali berkenalan dengan kelihaian Sam-wi. Bukan sekali-kali Ngo-Lian-Kauw hendak memandang rendah kepada Pangeran Mahkota, akan tetapi ini adalah urusan mengenai pribadi kita, tidak tahu apakah Sam-wi Busu sudi memberi petunjuk?"
Biarpun kata-kata ini sifatnya halus, namun mengandung tantangan.
Orang seperti Tiat-Jiu Souw Ki yang semenjak mudanya mengumbar nafsu berkelahi, tidak mau.
mengalah dan selalu menganggap diri sendiri paling jagoan, mana bisa menghadapi tantangan tanpa melayaninya?
Ia tertawa bergelak lalu berkata.
"Kim-Thow Thian-Li! Sudah lama aku mendengar namamu yang amat tenar.Tentu saja akupun ingin sekali merasai kelihaianmu dan urusan di antara kita ini tiada sangkut-pautnya dengan Pangeran. Setelah kami bertindak sebagai utusan, sekarang kami akan bertindak atas nama diri pribadi kami sendiri. Kalau kau ada kepandaian, boleh memberi petunjuk"
Kim-Thouw Thian-Li mendengus lalu tangannya bergerak, tahu-tahu tangan kanan sudah memegang pedang dan tangan kiri memegang sehelai sabuk berwarna merah.
"Tiat-Jiu Souw Ki, ingin aku berkenalan dengan Ruyung bajamu yang ganas!"
Sambli berkata demikian, pedangnya berubah menjadi sinar ketika bergerak menusuk ke arah dada Souw Ki.
Orang tinggi besar ini tidak berani memandang remeh karena iapun sudah mendengar bahwa Ketua Ngo-Lian-Kauw ini adalah seorang wanita yang ganas dan dahsyat sekali sepak-terjangnya.
Cepat ia menggeser kaki ke kiri sambil menyabetkan Ruyungnya ke arah sinar pedang untuk menangkis.
Akan tetapi, sinar pedang itu ditahannya dan sebagai gantinya, tangan kiri wanita itu bergerak dan sinar merah melayang-layang menotok ke arah ulu hati Souw Ki.
Jangan dipandang rendah sabuk merah ditangan kiri Kim-Thouw Thian-Li ini.
Biarpun hanya sehelai kain halus, namun, ditangan wanita ini berubah menjadi senjata yang amat ampuh, yang ujungnya mampu, merobek jalan darah lawan dan karena lemasnya maka lebih berbahaya dan sukar dilawan dari sebatang pedang!
Souw Ki mengeluarkan, seruan panjang, Ruyungnya diputar menjadi benteng baja melindungi dirinya sehingga totokan ujung sabuk Sutera inipun dapat ditangkisnya.
Baca Juga: Jodoh Si Mata Keranjang 3
Baca Juga: Kisah Pendekar Bongkok 4