Ceritasilat Novel Online

Jodoh Si Mata Keranjang 3

Eps 3 Jodoh Si Mata Keranjang - Kho Ping Hoo

Baca online Jodoh Si Mata Keranjang - Kho Ping Hoo

Cersil Jodoh Si Mata Keranjang - Kho Ping Hoo.

"Aku tidak takut! Kita tunggu apa lagi? Sudah jelas mereka menawan kong-kong, ayah, ibu dan adik Kui Bu. Mereka mempengaruhi Gouw Susiok dan suheng ini, mereka menguasai Cin-ling-pai dan hendak menghancurkan Cin-lingpai, mengadu domba dengan partai-partai lain! Mari kau bantu aku menghancurkan dan membasmi gerombolan jahat ini, hay-ko!"

"Tenang dan ingatlah, Hong-moi. Ingat bahwa kong-kongmu, juga ayah dan ibumu, mereka bertiga adalah yang berkepandaian tinggi. Namun tetap saja mereka sampai tertawan! Tentu Pek-lian-kauw menggunakan akal busuk! Kita harus cerdik dan jangan sampai tertipu. Pula, andaikata kita sekarang menggunakan kekerasan, bagaimana engkau akan menghadapi para tokoh partai besar itu besok lusa?"

"Akan kuhancurkan gerombolan itu dan akan kupaksa mereka mengaku di depan para Lo-cian-pwe bahwa Pek-lian-kauw yang melakukan semua pembunuhan itu!"

"Hemm, mudah di bicarakan akan tetapi tidak mudah untuk dilaksanakan. Pek-lian-kauw merupakan perkumpulan yang jahat dan licik. Bagaimana kalau mereka itu sempat meloloskan diri? Tetap saja Cin-ling-pai yang akan di tuduh melakukan semua pembunuhan itu. Kita harus menangkap basah mereka, kita hadapi kelicikan mereka dengan siasat."

Kui Hong diam-diam tertegun.

Ia dapat melihat kebenaran ucapan kekasihnya.

Biarpun hatinya tidak sabar, terpaksa ia mengangguk.

"Lalu apa yang akan kita lakukan, Hay-ko? Aku khawatir sekali akan keselamatan keluargaku."

"Kita pergunakan Ciok Gun untuk memancing! Kalau tadinya Ciok Gun menjadi alat mereka, kini kita menyadarkan Ciok Gun hingga dia dapat membantu kita memancing mereka itu melanjutlan perbuatan mereka sampai besok lusa. Di depan para Lo-cian-pwe itu, kita telanjangi mereka, kita buka rahasia mereka sehingga mereka tidak sempat mengelak atau melarikan diri."

"Tapi, aku khawatir sekali akan nasib keluargaku!"

"Tidak perlu khawatir, Hong-moi. Mereka menawan keluargamu hanya dengan maksud agar keluargamu tidak sempat menghalangi rencana mereka."

"Tapi, bagaimana kalau nanti suheng Ciok Gun mereka kuasai lagi? Bisa hancur berantakan semua siasatmu!"

"Jangan khawatir, Hong-moi. Kalung batu kemala ini akan mampu melindunginya dari pengaruh sihir orang-orang Pek-lian-kauw."

Hay Hay mengeluarkan kalung itu lalu memasangnya di leher Ciok Gun, disembunyikan di balik bajunya.

"Terserah kepadamu, Hay-ko. Akan tetapi, hati-hati jangan sampai gagal. Ini menyangkut keselamatan kakek, ayah, ibu dan adikku, juga menyangkut nama baik Cin-ling-pai."

"Aku mengerti, Hong-moi, dan jangan khawatir."

Hay Hay lalu membebaskan totokan Ciok Gun.

Murid Cin-ling-pai ini telah dibebaskan dari belenggunya, dan setelah totokannya bebas, dia tersadar, membuka mata, memandang dengan heran wajah Hay Hay yang tidak di kenalnya.

Kemudian dia melirik ke kiri dan begitu melihat Kui Hong, dia cepat bangkit duduk dan memandang heran.

"Sumoi... eh, Pangcu! Di mana kita? Apa yang terjadi dan siapa... siapa saudara ini...?"

Lega rasa hati Kui Hong.

Dari sikap, pandang mata dan suaranya, jelas bahwa suhengnya telah kembali normal.

"Hemm, suheng Ciok Gun. Apakah engkau tidak ingat lagi apa yang telah kau lakukan selama ini sehingga engkau mencelakakan keluarga kong-kong dan membahayakan keadaan Cin-ling-pai?"

Tanya Kui Hong dengan suara penuh teguran.

Ditanya demikian, Ciok Gun termenung dan meraba-raba dahinya, mengingat-ingat.

seperti bayangan yang samar-samar, ada sebagian peristiwa yang diingatnya, terutama sekali kakek gurunya, uwa gurunya dan keluarga Cia Kui Bu yang kini meringkuk dalam tempat tahanan!

Dan begitu teringat akan keadaan dirinya, betapa dia tidak mampu menolak dan tunduk serta taat akan semua kehendak Tok-ciang Bi Moli yang hina, wajahnya berubah merah sekali.

"Pangcu, apakah yang telah terjadi? Seperti mimpi buruk saja... dalam mimpi itu aku melihat betapa kakek guru, juga ayah ibumu dan adikmu, menjadi tawanan dan aku... aku... mengapa aku membantu iblis betina dan kawan-kawannya itu? Apa yang sesungguhnya terjadi atas diriku?"

"Tenanglah, Ciok-toako (kakak Ciok), engkau hanya menjadi korban kekuatan sihir dan bius orang-orang Pek-lian-kauw,"

Kata Hay Hay menghiburnya. Ciok Gun memandang ke arah Hay Hay dengan alis berkerut.

"Siapakah engkau? Pangcu, apakah orang ini boleh dipercaya? Di Cin-ling-pai sekarang berkeliaran banyak orang jahat!"

Kui Hong makin maklum bahwa jalan pikiran suhengnya masih kacau.

"Ketahuilah, Suheng. Dia adalah Pendekar Tang Hay, sahabat baikku yang boleh di percaya. Bahkan engkau dapat pulih kembali pikiranmu karena pertolongannya. Dia yang mengusir pengaruh sihir dan pembius yang tadinya meracunimu, dan membuat engkau menjadi hamba dan alat dari iblis betina itu dan kawan-kawannya."

Mendengar ini, Ciok Gun segera memberi hormat kepada Hay Hay.

"Ah, maafkan aku, Taihiap (pendekar besar). Aku... aku masih bingung..."

"Toako, kau raba kalung yang kugantungkan di lehermu itu. Sembunyikan kalung itu baik-baik di balik bajumu. Mustika itu kupinjamkan kepadamu dan selama engkau mengenakan mustika itu sebagai kalungmu maka orang-orang Pek-lian-kauw itu tidak dapat mempengaruhimu dengan sihir lagi."

"Pek-lian-kauw...?"

Ciok Gun terkejut.

"Benar, suheng. Kita telah terancam oleh orang-orang Pek-lian-kauw. Seperti kau katakan tadi, ketika engkau masih dalam pengaruh sihir dan dicengkeram mereka, agaknya Pek-lian-kauw mengirim Pek-lian Sam-kwi dan Tok-ciang Bi Moli untuk mengacau Cin-ling-pai. Mereka datang ke sini dan entah dengan akal bagaimana mereka dapat menawan kong-kong, ayah, ibu dan adikku. Mereka dapat menguasaimu dengan bius dan sihir sehingga engkau menjadi alat mereka. Dan susiok Gouw Kian Sun mereka kuasai dengan jalan mengancam dia bahwa kalau dia tidak tunduk, maka keluarga Cia akan dibunuh!"

"Ah, aku ingat sekarang! Dalam mimpi buruk itu, aku... Aku membantu mereka. Aku yang memancing dan menjebak... ah, apa yang telah kulakukan? Benarkah semua itu terjadi? Aku... aku menjadi pengkhhianat, aku membantu orang jahat menangkapi orang-orang yang kuhormati dan kumuliakan?"

"Semua itu telah terjadi, diluar kesadaranmu karena engkau terbius dan tersihir, Suheng. Dan bukan itu saja. Orang-orang Pek-lian-kauw telah memaksa Gouw Susiok menikah dengan Su Bi Hwa itu, dan juga mengadu domba Cin-ling-pai. Mereka membunuh dan memperkosa murid-murid para tokoh partai besar dan menggunakan nama murid Cin-ling-pai..."

"Ah, benar...! Aku ingat sekarang! Aduh, Pangcu. Dosaku besar sekali. Aku mengaku berdosa, aku siap menerima hukuman. Hukumlah, bunuhlah aku, Pangcu. Dosaku tak dapat diampuni lagi..."

Dan Ciok Gun, orang yang biasanya tenang dan pemberani itu, kini menangis seperti anak kecil!

"Ciok-taoko, hentikan tangismu yang tidak ada gunanya itu,"

Kata Hay Hay.

"Engkau melakukan semua itu diluar kesadaranmu, oleh karena itu tidak perlu engkau menyesali perbuatanmu. Yang terpenting sekarang adalah melakukan sesuatu untuk menebus semua itu, untuk menyelamatkan keluarga Cia dan untuk menyelamatkan Cin-ling-pai dan menghancurkan para penjahat. Maukah engkau membantu kami?"

Ciok Gun mengusap air matanya dan dengan penuh semangat dia berkata.

"Tang Taihiap, aku siap mengorbankan nyawaku untuk menebus dosa, untuk menyelamatkan keluarga Cia dan Cin-ling-pai!"

"Bagus! Kalau begitu, dengarkan rencana kami baik-baik."

Mereka lalu berbisik-bisik mengatur rencana mereka seperti yang dikemukakan Hay Hay.

Mereka tidak lama berunding di situ karena Hay Hay dan Kui Hong segera pergi meninggalkan Ciok Gun agar jangan sampai pertemuan mereka itu diketahui oleh orang-orang Pek-lian-kauw.

Perhitungan Hay Hay memang tepat.

Tak lama setelah dia dan Kui Hong pergi, muncul Lan Hwa Cu, Siok Hwa Cu, Kim Hwa Cu dan Tok-ciang Bi Moli Su Bi Hwa di hutan itu.

Empat orang ini tadi berindap-indap memasuki hutan dan setelah mereka mengintai dan hanya melihat Ciok Gun seorang disitu, mereka segera berloncatan menghampiri.

Mereka melihat Ciok Gun dalam keadaan pingsan tertotok.

Dengan gelisah Su Bi Hwa lalu membebaskan totokan itu dan Ciok Gun siuman kembali.

Dia bangkit duduk dan memandang mereka dengan sikap biasa, siap menanti perintah!

Akan tetapi, Su Bi Hwa masih merasa khawatir dan curiga, maka ia memberi isyarat kedipan mata kepada tiga orang gurunya.

"Ciok Gun, berdirilah engkau!"

Tiba-tiba Lan Hwa Cu berseru dengan suara garang.

Bagaikan boneka hidup, Ciok Gun bangkit berdiri dengan tegak, wajahnya dingin, matanya tidak membayangkan perasaan dan sikapnya siap siaga.

Bi Hwa maju menghampirinya, lalu merangkulnya dan mencium pipinya.

Ciok Gun tetap tidak membuat gerakan melawan atau menyambut, seperti arca batu saja.

Lalu Bi Hwa melepaskan rangkulannya dan mengayun tangan.

"Plakk!"

Keras sekali tamparan itu dan akibatnya, tubuh Ciok Gun terhuyung.

Akan tetapi tetap saja dia tidak melawan, dan berdiri lagi dengan tegak.

Empat orang itu saling pandang dan mengangguk.

Lalu Bi Hwa memegang tangan Ciok Gun.

"Ciok Gun, duduklah dan ceritakan apa yang telah kaualami ketika engkau diajak pergi Cia Kui Hong tadi."

Mereka duduk diatas tanah berumput di bawah pohon dan Ciok gun bercerita dengan suara yang wajar, seperti biasa.

"Pangcu membawaku ke sini dan ia memaksaku mengaku. Kukatakan bahwa aku tidak tahu apa-apa, bahkan disini semua biasa dan wajar. Ia membujuk dan mengancam, bahkan menghajarku, akan tetapi aku tidak mengatakan sesuatu diluar kehendak kalian. Ia menyerangku, menotok dan karena ilmu kepandaiannya tinggi, aku tertotok dan dan tidak ingat apa-apa lagi."

Lan Hwa Cu mengangguk-angguk.

"Gadis itu memang lihai bukan main. Agaknya setelah merobohkan Ciok Gun, ia mencariku dan menyerangku. Ia berbahaya sekali."

"Sebaiknya kalau kita tangkap gadis itu juga,"

Kata Kim Hwa Cu.

"Ya, dan berikan ia kepadaku. Akan kubebaskan ia dari keliarannya!"

Kata Siok Hwa Cu sambil tersenyum kejam.

"Aih, sam-wi Suhu terlalu sembrono. Serahkan saja kepadaku."

"Ha-ha, Bi Hwa. Apakah engkau ditulari pengakit suheng Lan Hwa Cu? Dia seorang pria yang hanya suka kepada pria, tidak menyukai wanita. Apakah sekarang seleramu juga beralih kepada sesama wanita?"

Siok Hwa Cu mengejek.

"Bukan begitu maksudku, ji Suhu (guru ke dua). Cia Kui Hong itu lihai ilmu silatnya. Hal itu lebih baik lagi. Kalian tentu ingat bahwa lusa adalah hari yang dijanjikan Kui Hong kepada para pemimpin partai-partai persilatan besar itu. Tentu akan terjadi pertandingan hebat dan kalau mereka saling bertanding, berarti mereka akan kehilangan tenaga. Kalau sudah loyo semua, mudah bagi kita untuk membabat mereka. Bukankah begitu? Untung bahwa Ciok Gun masih teguh dan menjadi pembantu kita yang setia. Rencana kita dilanjutkan. Kita menanti sampai lusa dan selama dua hari ini, kita tinggal bersembunyi saja dan pesan kepada anak buah agar jangan melakukan sesuatu yang akan menggoncangkan keadaan. Cia Kui Hong pasti tidak akan menemukan apa-apa sampai esok lusa."

"Bagus, dengan anak buah kita, kita akan berjaga-jaga. Kalau mereka semua sudah saling serang dan menjadi lemah, kita turun tangan,"

Kata Lan Hwa Cu.

"Akan tetapi bagaimana dengan Ciok Gun? Kalau kita bertempur, tentu saja kami bertiga tidak dapat mengendalikannya."

Bi Hwa menoleh kepada Ciok Gun yang duduk seperti patung.

Selama berada di bawah pengaruh sihir tiga orang tosu itu, memang dia seperti boneka hidup dan hanya akan mengadakan reaksi kalau empat orang itu mengajaknya bicara.

"Ciok Gun!"

Kata Bi Hwa sambil memegang lengannya.

Ciok Gun menoleh dan memandang kepada Bi Hwa dengan pandang mata kosong.

"Apa yang dapat kulakukan untukmu, Moli?"

Tanyanya.

"Esok lusa kalau terjadi pertempuran, apa yang dapat kau lakukan untuk kami?"

"Aku akan membantu dengan taruhan nyawa!"

Katanya kaku.

"Membantu apa?"

"Apa saja! Kalau perlu, aku dapat menjaga para tawanan itu, atau membunuh mereka kalau kalian kehendaki,"

Kata pula Ciok Gun.

"Bagus!"

Tiba-tiba Lan Hwa Cu berkata.

"Memang sebaiknya dia diberi tugas untuk menjaga dan membunuh mereka semua kalau sampai usaha kita gagal. Mereka itu berbahaya dan kita tidak dapat mempercayakan kepada anak buah kita. Ciok Gun yang paling tepat dan dapat diandalkan untuk menjamin agar mereka tidak sampai dapat meloloskan diri."

Mereka semua bersepakat untuk mengatur siasat, yaitu membiarkan para tokoh partai persilatan besar memperebutkan kebenaran dan bentrok dengan Cin-ling-pai, apalagi kalau sampai gadis ketua Cin-ling-pai yang lihai itu terbunuh atau setidaknya terluka.

Kalau sudah sejauh itu, membebaskan keluarga Cia juga tidak mengapa, bahkan lebih baik karena para tokoh Cin-ling-pai itu pasti tidak tinggal diam dan permusuhan akan menjadi semakin menghebat.

Kalau sudah begitu, maka tugas mereka untuk mengadu domba dan menghancurkan Cin-ling-pai berhasil baik.

Akan tetapi, andaikata siasat mengadu domba itu gagal dan Cin-ling-pai tidak sampai bertempur melawan partai-partai lain, masih belum terlambat untuk membunuh para tawanan itu.

Dan untuk tugas ini, Ciok Gun yang telah menjadi seperti boneka hidup itu pasti akan mampu melaksanakannya dengan baik.

Asap beracun akan dapat disemprotkan dari luar kamar tahanan dan betapapun lihainya, keluarga Cia itu takkan mampu membela diri, apalagi melepaskan diri.

Hari yang telah dijanjikan Cia Kui Hong kepada para tokoh partai-partai besar itu pun tiba.

Pagi-pagi sekali, rombongan demi rombongan dari perkumpulan Bu-tong-pai, Kun-lun-pai, Go-bi-pai dan Siauw-lim-pai telah mendaki puncak dan menanti di pekarangan depan bangunan yang menjadi pusat perkumpulan Cin-ling-pai.

Sepuluh orang tokoh Go-bi-pai dipimpin oleh Poa Cin An.

Yang Tek Tosu memimpin lima orang tosu Kun-lun-pai.

Tiong Gi Cinjin memimpin tujuh orang Bu-tong-pai, sedangkan dari Siauw-lim-pai hanya dua orang saja, yaitu Thian Hok Hwesio dan Thian Ki Hwesio.

Wajah semua orang nampak tegang, juga banyak diantara para mereka yang nampak penasaran dan marah.

Cia Kui Hong juga sudah siap menyambut mereka.

Puluhan orang anak buah Cin-ling-pai sudah menerima perintah untuk berbaris rapi di kanan kiri sepanjang pekarang yang luas itu, Dan diberanda juga berdiri murid-murid yang tingkatnya lebih tinggi, dalam keadaan siap siaga, tinggal menunggu perintah ketua mereka.

Para anggauta Cin-ling-pai yang baru, yaitu anak buah Pek-lian-kauw yang diselundupkan Bi Hwa dan dijadikan anggauta Cin-ling-pai, berkelompok membentuk barisan pula di sebelah kanan kiri pekarangan, bercampur dengan para anggauta Cin-ling-pai yang aseli.

Kui Hong tahu akan hal ini dan ia pun diam saja, pura-pura tidak tahu.

Akan tetapi ia yakin bahwa seluruh anggauta Cin-ling-pai yang aseli mengenal dan mengetahui nama anggauta baru dan mana yang lama.

Selama dua hari itu, Bi Hwa bersikap ramah dan biasa, sama sekali tidak memperlihatkan sikap lain.

Hanya Gouw Kian Sun yang nampak gelisah dan tak menentu, sedangkan wajah Ciok Gun tetap dingin dan acuh.

Akan tetapi, pada pagi hari itu, Ciok Gun tidak nampak diantara para murid Cin-ling-pai.

Setelah para tamu berkumpul di pekarangan, terdengar suara canang dipukul di sebelah dalam dan daun pintu yang tinggi, lebar dan tebal itu dibuka dari dalam.

Semua tamu memandang ke arah pintu yang terbuka lebar itu dan dari dalam keluarlah Cia Kui Hong, di dampingi Gouw Kian Sun dan Su Bi Hwa.

Kui Hong nampak tenang saja, agung berwibawa.

Gouw Kian Sun kelihatan pucat, muram dan gelisah, sedangkan isterinya yang melangkah di sampingnya kelihatan tersenyum-senyum manis sekali, dengan sepasang mata yang lincah.

Setelah tiba di luar, Kui Hong memandang ke kanan kiri, ke arah anak buah Cin-ling-pai dan ia pun bertanya kepada mereka yang berdiri di beranda dan yang bersikap hormat kepadanya.

"Dimana suheng Ciok Gun? Kenapa aku tidak melihat dia di sini?"

Para anggauta Cin-ling-pai saling pandang dan tidak ada yang tahu.

Kui Hong mengerutkan alisnya dan ia pun menoleh kepada Gouw Kian Sun.

"Susiok, kenapa aku tidak melihat Ciok-suheng? Di mana dia?"

Kian Sun melirik ke arah isterinya dan dia nampak bingung. Bi Hwa dengan cepat berkata.

"Ah, apa engkau lupa? Pangcu, saya lihat tadi Ciok Gun rebah saja di kamarnya karena dia merasa tidak sehat, demam."

Kui Hong mengangguk-angguk.

"Ah, kiranya dia sakit."

Lalu dengan tenang ia melangkah terus menuruni beranda dan berhenti di ujung tangga menghadapi para tamu.

Ia mengangkat kedua tangan ke depan dada memberi hormat.

"Kiranya cu-wi Lo-cian-pwe (para orang tua gagah sekalian) telah berada di sini. Selamat datang dan selamat pagi kami ucapkan."

"Pangcu, sudah terlalu lama kami menanti. Kami telah memenuhi permintaan Pangcu untuk menanti lagi selama tiga hari. Nah, pagi ini kami datang menagih janji. Serahkan pembunuh puteriku itu kepada kami, dan kami tidak akan mengganggu Cin-ling-pai lebih lama lagi,"

Kata Poa Cin An.

"Kami juga minta diserahkannya pembunuh dari Gu Kay ek, murid kami!"

Kata Tiong Gi Cinjin tokoh Bu-tong-pai dengan suara galak.

"Serahkan para murid curang dari Cin-ling-pai kepada kami!"

Kata pula Yang Tek Tosu.

Hanya dua orang hwesio Siauw-lim-pai yang tidak mengeluarkan ucapan, akan tetapi merekapun memandang kepada Cia Kui Hong dengan sinar mata menuntut.

Tuntutan mereka itu mendatangkan kegaduhan karena semua anggauta rombongan itu mengeluarkan suara penasaran.

Cia Kui Hong mengangkat tangan ke atas.

"Harap cu-wi tenang dan dengarkan baik-baik keteranganku. Aku jamin bahwa mereka yang berdosa pasti akan kuserahkan kepada cu-wi!"

Mendengar ucapan ini, tentu saja semua orang tertarik dan mereka pun diam, memandang kepada gadis itu dengan sinar mata penuh harap.

"Cu-wi,"

Kui Hong berkata, suaranya lantang sekali.

"Tiga hari yang lalu ketika cu-wi menuntut, aku memang menjadi bingung dan tidak tahu apa yang harus kulakukan. Akan tetapi selama tiga hari ini aku melakukan penyelidikan dan semuanya kini sudah menjadi terang. Para pembunuh itu sudah berada di antara kita!"

Gouw Kian Sun memandang kepada gadis itu dengan sinar mata kaget dan heran, Su Bi Hwa mengerutkan alisnya.

Semua tokoh persilatan itu makin tegang.

"Ketahuilah, cu-wi yang terhormat. Tidak ada seorangpun diantara murid Cin-ling-pai yang melakukan perbuatan jahat, memperkosa dan membunuh itu. Kami Cin-ling-pai telah kebobolan! Empat orang tokoh Pek-lian-kauw bersama dua puluh orang anak buah mereka telah menyusup ke Cin-ling-pai dan menguasai pimpinan selagi aku pergi. Mereka menawan keluarga Cia dan mereka mengancam Gouw Susiok, juga membuat suheng Ciok Gun menjadi boneka hidup dengan bius dan sihir!"

Tentu saja ucapan ini membuat semua orang terkejut bukan main.

Wajah Su Bi Hwa berubah pucat, lalu kemerahan.

Kian Sun sendiri terbelalak memandang ketuanya, dan wajahnya pucat, sinar matanya penuh kegelisahan karena dia khawatir bahwa pembongkaran rahasia itu akan membahayakan keselamatan nyawa keluarga Cia.

Semua tamu terbelalak dan memandang tidak percaya, bahkan ada yang mengira bahwa gadis yang menjadi ketua Cin-ling-pai itu mencari alasan kosong untuk menghindarkan Cin-ling-pai dari tuduhan.

Para murid Cin-ling-pai juga terkejut dan saling pandang.

Dua puluh orang anak buah Pek-lian-kauw meraba gagang senjata mereka.

Suasana tegang dan menggelisahkan.

"Sudah kujanjikan akan menyerahkan mereka yang berdosa. Bukan hanya satu orang dua orang, melainkan dua puluh orang anak buah Pek-lian-kauw dengan empat orang pimpinan mereka!"

"Omitohud..., keterangan Cin-ling-pangcu terlalu aneh untuk dapat diterima bagitu saja, Pangcu, tunjukkan mana orang-orang Pek-lian-kauw yang mengacau itu!"

Kata Thian Hok Hwesio dari Siauw-lim-pai.

"Tiga orang tosu Pek-lian-kau yang terkenal dengan sebutan Pek-lian Sam-kwi sampai sekarang masih bersembunyi, akan tetapi Tok-ciang Bi Moli Su Bi Hwa sudah berada di sini! Ia memaksa susiok Gouw Kian Sun menjadi suaminya agar ia dapat mengendalikan Cin-ling-pai dari dalam! Inilah ia iblis betina itu!"

Melihat kenyataan betapa ketuanya sudah mengetahui segalanya, timbul bermacam perasaan di dada Gouw Kian Sun.

Dia merasa lega karena ketuanya sudah tahu, akan tetapi berbareng gelisah karena keselamatan keluarga Cia terancam.

Di samping itu, diapun merasa malu bahwa dia telah dijadikan alat dan terpaksa membantu iblis-iblis itu, dan merasa menyesal mengapa dia tidak dapat menghindarkan diri dari tekanan yang membuat dia berkhianat terhadap Cin-ling-pai.

Saking marahnya, tiba-tiba dia berteriak marah dan menyerang "isterinya"

Yang berdiri di sebelahnya.

"Tok-ciang Bi Moli, aku bersumpah untuk mengadu nyawa denganmu!"

Tok-ciang Bi Moli Su Bi Hwa sudah waspada.

Tadipun dia sudah tahu bahwa permainannya telah diketahui orang.

Akan tetapi ia masih tenang karena ia yakin bahwa keluarga Cia masih ada dalam kekuasaannya, ketua Cin-ling-pai dan semua anggautanya tidak akan berani melawannya.

Begitu melihat Kian Sun menyerangnya, karena ia sudah siap siaga sebelumnya, dengan mudah ia mengelak ke samping dan begitu kakinya menendang, dada Kian Sun tercium ujung sepatunya sehingga tokoh Cin-ling-pai ini hampir terjengkang!

Sebetulnya, dalam hal ilmu silat, tingkat Kian Sun seimbang dibandingkan iblis betiina itu dan dia tidak akan mudah di kalahkan.

Akan tetapi selama ini, Kian Sun menderita tekanan batin yang hebat, yang membuat dia lemah lahir batin sehingga gerakannya lambat dan kepekaannya berkurang.

Ketika dia dapat menguasai keseimbangannya dan hendak menyerang lagi, Tok-ciang Bi Moli sudah turun dari atas beranda itu, ke sebelah kiri dan ternyata ia telah berada dekat tiga orang tosu yang munculnya dengan tiba-tiba.

Melihat tiga orang gurunya sudah berada di situ, muncul dari tempat persembunyian mereka, Su Bi Hwa tertawa bergelak karena hatinya menjadi besar.

Suara ketawanya membuat semua orang memandang ngeri karena tawa itu mengandung kekejaman luar biasa.

"Ha-ha-ha-ha, kiranya Cin-ling-pai masih ada orang yang cerdik. Engkau memang cerdik sekali, Cia Kui Hong. Akan tetapi kecerdikanmu tidak ada gunanya!"

Kui Hong memang sengaja belum turun tangan dan membiarkan saja wanita iblis itu bergabung dengan tiga orang tosu yang sekarang baru dilihatnya.

Juga ia melihat betapa dua puluh orang anggauta baru Cin-ling-pai yang sesungguhnya adalah orang-orang Pek-lian-kauw kini telah memisahkan diri dan bergabung pula dengan empat orang pemimpin mereka.

Kui Hong tersenyum mengejek.

"Pek-lian Sam-kwi dan Tok-ciang Bi Moli! Kedok kalian telah terbuka, dan semua locianpwe yang berada di sini sekarang mengetahui siapa yang sesungguhnya melakukan semua kejahatan itu dan berusaha merusak nama baik Cin-ling-pai. Akan tetapi, kenapa kalian melakukan ini? Kenapa kalian berusaha menghancurkan Cin-ling-pai?"

Kembali Su Bi Hwa tertawa, (Lanjut ke

Jilid 07) Jodoh Si Mata Keranjang (Seri ke 11 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya .

Asmaraman S.

Kho Ping Hoo

Jilid 07

"Ha-ha-hi-hi-hik, kecerdikanmu masih picik, Pangcu! Sejak dahulu, semua pimpinan Cin-ling-pai selalu memusuhi Pek-lian-kauw. Entah berapa banyaknya anggauta kami yang tewas di tangan orang-orang Cin-ling-pai. Nenek moyangmu adalah musuh-musuh besar kami. Dan sekarang engkau masih bertanya kenapa kami memusuhi Cin-ling-pai?"

"Iblis betina busuk!"

Gouw Kian Sun kini membentak lagi.

"Engkau dan Pek-lian Sam-kwi harus kubasmi dari permukaan bumi ini!"

Dia pun sudah mencabut pedangnya.

"Jangan bergerak!"

Teriak wanita cantik itu.

"Ingat, kalau kami diserang, maka semua keluarga Cia akan mampus! Mereka masih berada di tangan kami, dan setiap saat kami dapat memerintahkan Ciok Gun untuk membunuh mereka! Ha-ha-ha, Pangcu. Kunci kemenangan terakhir masih berada didalam tanganku!"

Kini bukan saja Su Bi Hwa yang tertawa, juga tiga orang tosu Pek-lian-kauw itu tertawa karena mereka merasa yakin akan kemenangan mereka, mereka yang yakin bahwa dengan adanya kenyataan bahwa keluarga Cia masih mereka tawan, orang-orang Cin-ling-pai ini tidak akan berani menggunakan kekerasan terhadap mereka.

Mendengar ini, Kian Sun menahan gerakannya dan wajahnya menjadi pucat kembali.

Apakah mereka tetap masih tidak berdaya menghadapi orang-orang Pek-lian-kauw itu?

Akan tetapi, Kui Hong tersenyum lebar.

"Iblis-iblis busuk dari Pek-lian-kauw. Hari kematianmu telah tiba dan kalian masih berani bicara besar?"

Kui Hong menoleh ke kiri dan semua menengok, juga empat orang tokoh Pek-lian-kauw dan dua puluh orang anak buah mereka itu.

Dan muncullah Ciok Gun dengan pedang di tangan, bersama empat orang yang bukan lain adalah Cia Kong Liang, Cia Hui Song, Ceng Sui Cin, dan Cia Kui Bu!

Tentu saja semua tamu menjadi terheran-heran dan suasana menjadi berisik.

Hanya Kui Hong seorang tersenyum-senyum karena tentu saja ia telah mengetahui segalanya.

Ia bersama Hay Hay telah menjalankan siasat dengan tepat, dan dibantu oleh Ciok Gun dengan baik sekali.

Seperti yang direncanakan, Ciok Gun berhasil membujuk empat orang tokoh Pek-lian-kauw itu untuk menjaga para tawanan dan kalau perlu membunuh mereka!

Oleh karena itu, ketika semua orang Pek-lian-kauw hadir dalam pertemuan antara pimpinan Cin-ling-pai dan para wakil perkumpulan besar yang mendendam, Ciok Gun seorang tidak hadir karena dia bertugas menjaga para tawanan!

Setelah semua orang Pek-lian-kauw pada pagi hari itu pergi meninggalkan sarang rahasia mereka, meninggalkan Ciok Gun seorang diri saja di ruangan tahanan bawah tanah, Ciok Gun lalu membuka pintu tahanan dengan kunci yang dipegangnya.

Melihat masuknya Ciok Gun, kakek Cio Kong Liang yang tadinya duduk bersila dalam samadhi membuka matanya dan memandang kepada cucu murid itu dengan marah.

"Ciok Gun, murid murtad! Dosamu bertumpuk-tumpuk, tidak takutkah engkau menghadapi hukumanmu di neraka kelak?"

Kui Bu juga berdiri di depan Ciok Gun dengan kedua tangan terkepal dan mata mendelik.

"Ciok Gun, aku tidak mangakuimu sebagai suheng lagi! Engkau musuh besar kami, dan kelak kalau aku sudah besar, aku sendiri yang akan membunuhmu untuk membalaskan dendam ini!"

Ciok Gun memandang kepada anak itu dengan muka sedih, akan tetapi dia tidak menjawab ucapan mereka, melainkan diam sana dan dengan kuncinya, dia membuka tempat tahanan Cia Hui Song dan Ceng Sui Cin.

Tentu saja semua orang itu terkejut dan heran, akan tetapi sebelum mereka sempat berbuat atau berkata sesuatu, Ciok Gun menjatuhkan diri dan membentur-benturkan dahinya dilantai.

"Teecu Ciok Gun telah melakukan dosa besar tanpa teecu sadari. Akan tetapi sekarang teecu telah sadar dan teecu membantu sumoi Cia Kui Hong untuk membasmi orang-orang Pek-lian-kauw yang menimbulkan semua kekacauan ini. Harap Su-kong, Supek, Supek-bo dan Adik Kui Bu mengikuti saya dan bersikap sebagai tawanan saya, sesuai dengan rencana yang telah diatur oleh sumoi Cia Kui Hong."

Dia bangkit berdiri dan empat orang itu diam-diam girang bukan main.

Kiranya Kui Hong telah pulang dan menyelamatkan mereka dengan menyadarkan Ciok Gun.

Demikianlah, mereka yang "digiring"

Oleh Ciok Gun yang memegang pedang telah tiba di pekarangan markas Cin-ling-pai.

Melihat munculnya Ciok Gun yang menggiring empat tawanan itu, Su Bi Hwa dan tiga orang gurunya terkejut dan heran bukan main.

Juga mereka melihat bahaya besar karena kini para tokoh Cin-ling-pai telah keluar dari tahanan!

"Ciok Gun, kuperintahkan kau!

Bunuh empat orang tawanan itu dengan pedangmu!"

Teriak Su Bi Hwa dan tiga orang gurunya juga mengerahkan kekuatan sihir mereka untuk menguasai Ciok Gun.

Ciok Gun tidak memperlihatkan reaksi apa pun mendengar ucapan Su Bi Hwa, akan tetapi ia melangkah menghampiri Su Bi Hwa dengan kepala tetap ditundukkan.

Su Bi Hwa mengira bahwa Ciok Gun kurang dapat menangkap perintahnya, maka setelah Ciok Gun berada di depannya, ia berteriak lagi dengan suara melengking.

"Ciok Gun, pergunakan pedangmu...!"

"Baik, kupergunakan pedangku!"

Tiba-tiba Ciok Gun menjawab dan memotong perintah itu.

Pedangnya digunakan menusuk ke arah dada Su Bi Hwa!

Wanita ini terkejut bukan main!

Akan tetapi ia memang lihai, dan biarpun serangan itu amat tiba-tiba dan tidak tersangka-sangka datangnya, ia masih dapat melempar tubuh ke belakang, berjungkir balik dan terhindar dari tusukan pedang.

"Jahanam busuk kalian! Mampuslah!"

Ciok Gun membentak dan kini menyerang ke arah tiga orang tosu Pek-lian-lauw.

"Suheng, jangan...!"

Kui Hing berseru karena ia tahu betapa lihainya orang-orang Pek-lian-kauw itu.

Namun Ciok Gun yang merasa menyesal, sedih dan sakit hati sekali kepada orang-orang Pek-lian-kauw, tidak memperdulikan teriakan itu dan ia menyerang mati-matian.

Tiga orang tosu itu pun terkejut melihat kenyataan bahwa murid Cin-ling-pai yang tadinya telah menjadi robot bagi mereka, kini tidak mau mentaati perintah, bahkan menyerang mereka dengan dahsyat!

Tiga orang Pek-lian-kauw itu ini mengerti bahwa pengaruh sihir mereka terhadap Ciok Gun telah lenyap, entah bagaimana, dan tidak perlu lagi mencoba untuk menguasainya.

Maka, melihat Ciok Gun menyerang dengan pedang, mereka bertiga menggerakkan tangan menyambut.

Ada yang menangkis pedang dengan kebutan, dan ada pula yang menyerang.

"Tranggg... Dukkk...!"

Pedang di tangan Ciok Gun terlempar dan tubuh murid Cing-ling-pai itu pun terjengkang.

Darah muncrat dari mulutnya dan dengan sepasang mata mendelik memandang ke arah empat orang Pek-lian-kauw itu, Ciok Gun roboh dan tewas seketika.

Dua pukulan yang diterimanya dari Lan Hwa Cu dan Siok Hwa Cu selagi Kim Hwa Cu menangkis pedangnya, terlampau hebat bagi murid Cin-ling-pai itu dan nyawanya terengut seketika.

Melihat ini, marahlah Kui Hong.

Ia sendiri tidak menyangka bahwa Ciok Gun akan senekat itu.

Padahal menurut siasat yang telah direncanakannya bersama Hay Hay, Ciok Gun hanya bertugas pura-pura dalam keadaan masih terpengaruh sihir agar dia ditugaskan menjaga tawanan, kemudian pada pagi hari itu membawa para tawanan ke Cin-ling-pai untuk membuka kedok orang-orang Pek-lian-kauw.

Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Ciok Gun yang merasa berdosa dan menyesal, telah mengadu nyawa dan tewas di tangan tiga orang tosu Pek-lian-kauw yang lihai itu.

Sebelum ia melakukan sesuatu, tiga orang tosu Pek-lian-kauw itu telah mengangkat kedua tangan ke atas dan Siok Hwa Cu memimpin dua orang saudaranya, mengeluarkan suara memerintah yang mengandung getaran kuat sekali.

"Haiii, orang-orang Cin-ling-pai. Di sebelahmu terdapat musuh! Seranglah musuh terdekat sebelum kalian diserang!"

Terjadilah keanehan.

Para anggauta Cin-ling-pai tiba-tiba bergerak dan saling pukul!

Terjadi kekacauan dan pada saat itu, tiba-tiba terdengar suara orang yang tawa bergelombang, disusul suara yang nyaring melengking.

"Saudara-saudara Cin-ling-pai, jangan menyerang saudara sendiri!"

Dan para murid Cin-ling-pai kini terbelalak melihat bahwa mereka sedang berkelahi melawan saudara seperguruan sendiri.

Tentu saja mereka semua menghentikan gerakan dan memandang bingung.

Yang tertawa dan berteriak itu adalah Hay Hay.

Kini dia menghampiri tiga orang tosu dan Su Bi Hwa sambil tersenyum-senyum.

Pek-lian Sam-kwi terkejut sekali ketika mendengar suara ketawa itu dan melihat betapa pengaruh sihir mereka membuyar begitu pemuda yang memakai pakaian biru dan sebuah caping petani lebar itu muncul.

Melihat pemuda itu menghampiri mereka sambil tersenyum-senyum, Siok Hwa Cu yang berperut gendut menyambut dengan bentakan.

"Anjing dari mana berani datang menentang kami?"

Dia memberi isyarat kepada dua orang saudaranya dan tiga orang Pek-lian-kauw itu mengerahkan kekuatan sihir mereka, memandang wajah Hay Hay dan Siok Hwa Cu menunjuk ke arah muka pemuda itu sambil berseru nyaring.

"Engkau anjing yang baik, hayo merangkak dan menggonggong!"

Dalam suara ini terkandung getaran yang amat kuat karena bukan hanya tenaga Siok Hwa Cu seorang yang mendukung suara itu, melainkan tenaga sihir mereka bertiga dipersatukan.

Hay Hay merasa betapa kekuatan yang dahsyat memaksanya sehingga dia tidak dapat mempertahankan lagi dan dia pun jatuh berlutut dan berdiri dengan kaki dan tangannya seperti seekor anjing!

Melihat ini, Ceng Sui Cin marah bukan main.

Tahulah pendekar wanita yang galak ini bahwa tiga orang Pek-lian-kauw mempergunakan sihir.

Akan tetapi selagi dengan marah ia hendak ke depan untuk menyerang, lengannya disentuh Kui Hong yang sudah berdiri di dekatnya.

"Ibu, biarkan saja. Hay-koko akan sanggup melayani sihir mereka."

Ceng Sui Cin dan suaminya, Cia Hui Song, memandang puteri mereka dengan heran.

Puteri mereka menyebut Hay-koko dengan suara yang demikian mesra.

Dan merekapun ingin sekali melihat bagaimana pemuda bercaping lebar itu akan mampu menghadapi kekuatan sihir tiga orang Pek-lian-kauw!

Padahal kini pemuda itu telah merangkak seperti anjing.

Tang Hay atau biasa di sebut Hay Hay bukanlah pemuda biasa.

Bukan saja dia telah mewarisi ilmu-ilmu silat yang tinggi, akan tetapi juga dia pernah menjadi murid Pek Mau San-jin dan digembleng dengan ilmu sihir yang kuat sekali.

Biarpun demikian, andaikata kemudian dia tidak bertemu Song Lojin yang membuat semua ilmunya, baik silat maupun sihir, menjadi semakin matang, kiranya akan sulit baginya untuk dapat melawan kekuatan sihir gabungan dari Pek-lian Sam-kwi.

Kini, ketika merasa betapa dia hampir lumpuh dan sudah jatuh berlutut, bahkan ada dorongan kuat agar dia menggonggong seperti anjing, diapun teringat akan pelajaran yang diterimanya dari Song Lojin dalam keadaan seperti itu.

Dia meraba dan menekan tengah dahinya sambil memusatkan kekuatan batinnya, dan seketika dia pun pulih dan dapat mengatasi pengaruh yang menekannya.

Dan diapun, dalam keadaan masih merangkak, tertawa bergelak!

Suara ketawanya menggetarkan jantung semua orang.

"Ha-ha-ha-ha-ha! Kalian ini Pek-lian Sam-kwi dan juga Tok-ciang Bi Moli empat orang Pek-lian-kauw mengajak aku bermain menjadi anjing? Ha-ha-ha-ha-ha, memang kalian berempat bersemangat anjing! Mari kita bermain-main, kalau aku mengonggong, kalian mulailah saling berlumba memperebutkan anjing betina itu dan saling serang. Hayo, mulailah!"

Semua orang melihat betapa dalam keadaan masih berdiri dengan kaki tangan, Hay Hay mulai mengeluarkan suara seperti seekor anjing menggonggong.

Suaranya keras dan memang mirip anjing menggonggong!

"Hung-hung-haunggg...

huk-huk-hunggg...!"

Dan semua orang terbelalak.

Mereka melihat betapa Tok-ciang Bi Moli Su Bi Hwa dan tiga orang Pek-lian Sam-kwi itu tiba-tiba saja berlutut dan merangkak-rangkak seperti juga yang dilakukan Hay Hay!

Dan terjadilah hal yang aneh sekali.

Tiga orang tosu itu merangkak dan berloncatan hendak menerkam Su Bi Hwa yang menyalak-nyalak dan menyingkir, dan tiga orang tosu itu kini saling serang seperti tiga ekor anjing jantan memperebutkan anjing betina!

Dan Hay Hay terus menggonggong.

Makin keras gonggongannya, makin hebat pula tiga orang tosu itu saling serang, saling gigit sampai pakaian mereka koyak-koyak!

Sedangkan Su Bi Hwa merangkak-rangkak sambil menyalak-nyalak!

Sungguh merupakan penglihatan luar biasa sekali.

Jika ada tosu yang terkena gigitan lawan, dia pun menguik-nguik seperti anjing tulen yang kesakitan!

Kalau tadi semua orang nonton dengan heran, kini mereka mulai tertawa dan terpingkal-pingkal melihat peristiwa aneh yang lucu itu.

Setelah merasa cukup mempermainkan empat orang tokoh Pek-lian-kauw itu, Hay Hay meloncat berdiri dan dia pun tertawa.

Begitu dia menghentikan suara menggonggong seperi anjing, otomatis empat orang tokoh Pek-lian-kauw itu pun menghentikan gerakan mereka.

Su Bi Hwa melompat berdiri dengan muka pucat memandang ke arah Hay Hay.

Tiga orang tosu itu pun berloncatan berdiri.

Muka mereka merah sekali dan mereka berusaha untuk membereskan pakaian mereka yang koyak-koyak.

Ketiganya saling pandang, kemudian menghadapi Hay Hay dengan marah bukan main.

Mereka menyadari bahwa mereka berhadapan dengan seorang pemuda yang memiliki kekuatan sihir yang amat hebat sehingga mereka bertiga pun tidak mampu melawannya dan dibuat malu di depan banyak orang!

Tanpa banyak cakap lagi, Kim Hwa Cu yang bertubuh tinggi kurus dengan muka kuning itu telah mencabut senjatanya, yaitu sepasang pedang.

Gerakannya diikuti Siok Hwa Cu si perut gendut bertubuh pendek bermuka hitam itu yang mencabut sepasang golok besar, Lan Hwa Cu, orang pertama dari Pek-lian Sam-kwi, juga sudah mengeluarkan senjatanya, yaitu sabuk dan ujungnya bola dan bintang baja.

Sementara itu, Tok-ciang Bi Moli maklum bahwa keadaan pihaknya terancam bahaya.

Tidak ada lagi sandera, tidak ada lagi kekuatan sihir yang dapat di andalkan.

Kini merekalah yang terjepit dan terancam, dan satu-satunya jalan hanyalah membela diri dan mencoba untuk lolos dari tempat itu!

Maka, iapun sudah mencabut pedangnya, lalu meloncat ke depan Kui Hong sambil membentak nyaring.

"Cia Kui Hong, bagaimanapun juga, masih belum terlambat bagiku untuk membunuhmu sebagai ketua Cin-ling-pai!"

Berkata demikian, pedangnya sudah meluncur ke arah dada ketua Cin-ling-pai itu.

Kui Hong memang sudah siap siaga, maka ia pun tadi sudah mencabut sepasang pedangnya.

"Tranggg...!!"

Nampak bunga api berpijar dan Su Bi Hwa merasa betapa lengan tangannya bergetar hebat.

"Hemm, iblis betina. Engkaulah yang akan kukirim ke neraka, tempat yang cocok dan tepat untukmu!"

Kata Kui Hong dan ia pun melanjutkan dengan teriakan perintah kepada anak buahnya.

"Para murid Cin-ling-pai, cepat basmi gerombolan Pek-lian-kauw yang menyusup menjadi anggauta Cin-ling-pai!"

Para murid Cin-ling-pai yang jumlahnya lima puluh orang lebih itu segera berteraiak-teriak dan mereka menyerbu dua puluh orang anak buah Pek-lian-kauw yang tadinya mereka sangka sebagai anggauta-anggauta baru pilihan ketua dan isteri ketua!

Terjadilah pertempuran yang seru karena orang-orang Pek-lian-kauw yang menjadi anak buah Pek-lian Sam-kwi juga orang-orang yang lihai, dan mereka merasa sudah tersudut sehingga mereka melawan mati-matian.

Adapun Pek-lian Sam-kwi sendiri maju mengepung Hay Hay yang amat mereka benci karena mereka tadi dipermainkan dengan sihir menjadi tiga ekor anjing yang saling terkam.

Akan tetapi, nampak dua bayangan berkelebat dan Cia Hui Song bersama isterinya Ceng Sui Cin, sudah berada dekat Hay Hay dan masing-masing menyambut seorang lawan.

Cia Hui Song menghadapi Lan Hwa Cu, sedangkan Ceng Sui Cin menghadapi Kim Hwa Cu.

Suami isteri pendekar ini tidak mempergunakan senjata, akan tetapi mereka sama sekali tidak gentar menghadapi lawan yang memegang senjata.

Hay Hay sendiri sudah menyambut serangan Siok Hwa Cu si pendek gendut bermuka hitam.

Melihat betapa ternyata Cin-ling-pai tidak bersalah, dan yang melakukan semua pembunuhan, perkosaan dan semua perbuatan jahat adalah orang-orang Pek-lian-kauw yang menyusup ke dalam Cin-ling-pai, tentu saja para tokoh partai persilatan besar menjadi marah sekali.

Maka, begitu melihat para murid Cin-ling-pai menyerbu dua puluh orang gerombolan Pek-lian-kauw, tanpa diminta lagi, para tokoh itu segera mengamuk dan membantu orang-orang Cin-ling-pai, menyerang anggauta Pek-lian-kauw yang tentu saja menjadi semakin terdesak.

Tok-ciang Bi Moli menjadi gentar.

Baru sekarang ia bertemu tanding yang benar-benar membuat ia kewalahan.

Tak disangkanya sama sekali bahwa gadis muda yang menjadi lawannya itu memang lihai bukan main, dan pantas menjadi ketua Cin-ling-pai.

Kiranya Cia Kui Hong memiliki tingkat kepandaian yang jauh melampaui paman gurunya, yaitu Gouw Kian Sun.

sudah mati-matian Su Bi Hwa melakukan perlawanan, bahkan ia perkuat dengan kepandaian sihirnya, namun semua itu percuma saja.

Tidak ada serangannya yang mampu menembus benteng sinar hitam sepasang pedang di tangan ketua Cin-ling-pai itu.

Bahkan makin lama ia semakin terdesak.

Tadinya Su Bi Hwa mengharapkan bantuan tiga orang gurunya.

Akan tetapi ketika ia dapat melirik ke arah mereka, ia mendapat kenyataan yang amat mengejutkan dan mencemaskan.

Tiga orang gurunya itu, jagoan-jagoan Pek-lian-kauw tingkat dua, juga dalam keadaan terdesak seperti keadaannya sendiri.

Tidak mungkin mengharapkan bantuan mereka.

Su Bi Hwa adalah seorang gadis yang amat cerdik.

Dengan sekilas pandang saja ia sudah dapat mengetahui keadaan dan cepat ia sudah dapat mencari jalan keluar.

Su Bi Hwa kini hanya mampu memutar pedangnya untuk melindungi dirinya, terus main mundur atas desakan Kui Hong yang mengambil keputusan untuk membunuh wanita iblis yang amat berbahaya itu.

Ketika Kui Hong mendesak dengan babatan pedang kiri ke arah kaki disusul tusukan pedang kanan ke arah dada, Su Bi Hwa menghindar dengan loncatan ke atas lalu ke belakang.

Akan tetapi kakinya terpeleset dan iapun jatuh terpelanting.

Ia bergulingan dan tangan kirinya bergerak.

Jarum-jarum beracun meluncur ke arah Kui Hong.

Ketua Cin-ling-pai ini memutar pedang dan semua jarum itu runtuh.

Ia mengira bahwa iblis betina itu sudah tersudut dan ia hendak mendesak terus.

Tiba-tiba Kui Hong terkejut karena tahu-tahu Su Bi Hwa telah meloncat ke dekat Kui Bu dab anak itu sudah di tangkap dan dipanggulnya dengan tangan kiri!

Kiranya iblis betina itu tadi sengaja mundur-mundur mendekati anak itu.

Ayah dan ibu anak itu sedang bertanding melawan dua orang di antara Pek-lian Sam-kwi, dan kakek Cia Kong Liang juga ikut membantu para murid Cin-ling-pai mendesak dan menyerbu orang-orang Pek-lian-kauw.

Dalam keributan itu, tidak ada orang yang menjaga Cia Kui Bu karena semua orang mengira anak itu dalam keadaan aman.

Bukankah pihak musuh terdesak dan hanya tinggal menanti saat terbasmi saja?

"Kalau kau kejar, akan kubunuh anak ini!"

Kata Su Bi Hwa sambil meloncat hendak melarikan diri.

Kui Hong tertegun!

Dalam keadaan terancam seperti itu, ia tahu bahwa iblis betina itu bukan hanya menggertak kosong.

Tentu akan benar-benar dibunuhnya Kui Bu kalau ada yang berani menghalangi larinya.

Baru saja Su Bi Hwa yang memondong tubuh Kui Bu lari sejauh kurang lebih lima puluh meter, tiba-tiba dari balik semak belukar melompat sesosok bayangan yang menubruknya dan bayangan itu nekat merangkul pinggangnya sehingga terseret sampai beberapa meter.

"Lepaskan, keparat!"

Su Bi Hwa berseru, akan tetapi bayangan itu yang bukan lain adalah Gouw Kian Sun, sudah menangkap kedua lengannya dan menarik sekuat tenaga!

Karena tarikan ini, maka pondongan Su Bi Hwa terhadap Kui Bu terlepas.

Anak itu terjatuh dan anak yang sudah tahu akan bahaya itu sudah menggelundung lalu meloncat dan lari.

Dengan kemarahan meluap, Bi Hwa dapat melepaskan lengan kanannya dan sekali pedangnya berkelebat, tubuh Kian Sun terkulai mandi darah.

Sebelum Bi Hwa sempat mengejar Kui Bu, Kui Hong sudah datang menyambar tubuh adiknya itu dan melindunginya.

Akan tetapi kesempatan itu dipergunakan Su Bi Hwa untuk melarikan diri.

Kui Hong hendak mengejar, akan tetapi melihat keadaan Kian Sun, ia berhenti dan memeriksa.

Akan tetapi ia tahu bahwa Gouw Kian Sun tidak dapat diselamatkan lagi.

"Gouw Susiok..."

Katanya sedih.

"Pangcu... aku... aku berdosa... aku girang dapat menyelamatkan adikmu Kui Bu... maafkan aku... lebih baik aku mati..."

Katanya dengan sukar dan lehernya terkulai.

Gouw Kian Sun tewas.

Kui Hong merasa kasihan sekali.

Paman gurunya ini tidak bersalah.

Kalau Kian Sun terpaksa menuruti semua kehendak orang-orang Pek-lian-kauw, hal ini dilakukan hanya karena ingin menyelamatkan keluarga Cia yang sudah disandera.

Dan memang sebaiknya kalau susioknya tewas.

Itu merupakan jalan keluar terbaik.

Ia dapat membayangkan betapa kalau terus hidup, susioknya akan selalu menderita batin hebat sekali.

Bagaimanapun alasannya, tetap saja dimata orang luar dia dianggap pengkhianat dan pengecut.

Bahkan dia telah melangsungkan pernikahannya dengan Tok-ciang Bi Moli dan mengundang semua tokoh kang-ouw menjadi saksi!

Namanya akan tercemar.

Dia akan selalu ternoda aib yang memalukan.

Pertempuran itu tidak berlangsung terlalu lama.

Pek-lian Sam-kwi yang bertemu dengan lawan yang amat tangguh, seorang demi seorang makin terdesak hebat.

Dua puluh anggauta Pek-lian-kauw, tidak seorangpun mampu lolos!

Semua tewas ditangan para anggauta Cin-ling-pai yang dibantu oleh para tokoh perkumpulan besar.

Kim Hwa Cu yang ditandingi Ceng Sui Cin, sudah menderita luka-luka oleh tangan lawan.

Biarpun tidak memegang senjata, puteri Pendekar Sadis itu selalu menekan lawannya.

Karena ia menguasai Bu-eng Hui-teng, yaitu ilmu meringankan tubuh yang membuat tubuhnya ringan dan selincah burung walet, sepasang pedang Kim Hwa Cu tak dapat berbuat banyak.

Tubuh nyonya yang perkasa itu bagaikan bayangan saja, selalu luput disambar pedang.

Sebaliknya, karena cepatnya gerakan wanita itu, beberapa kali Kim Hwa Cu terkena tamparan yang amat kuat sehingga beberapa kali dia terpelanting.

Dia sudah mencoba mempergunakan kekuatan sihirnya, akan tetapi selalu gagal karena setiap kali dia menggunakan sihirnya, selalu pemuda bercaping itu membuyarkannya dengan suara atau tawanya.

Bahkan beberapa kali dia menyerang lawan dengan paku beracun, namun ini pun sia-sia karena Ceng Sui Cin selalu dapat mengelak.

Pedang kiri di tangan Kim Hwa Cu telah terlepas dan terlempar, dan karena maklum bahwa dia tidak akan dapat meloloskan diri, Kim Hwa Cu melawan dengan nekat, menggunakan pedang kanannya.

Tosu Pek-lian-kauw yang tinggi kurus ini memang lihai.

Selain pandai memainkan pedang pasangan, dia pun memiliki sin-kang yang dapat membuat lengannya mulur panjang.

Masih dibantu lagi dengan senjata rahasianya paku beracun yang berbahaya, juga ilmu sihirnya yang waktu itu sama sekali tidak dapat dia pergunakan karena dia kalah pengaruh oleh Hay Hay.

Mukanya yang kekuningan itu kini menjadi semakin kuning pucat karena bagaimanapun juga, dia mulai merasa gentar, takut akan ancaman bahaya maut di tangan nyonya yang cantik dan lihai itu.

Tadi, menggunakan sepasang pedang saja dia terdesak, apalagi sekarang pedangnya tinggal sebatang.

Dia terdesak terus dan main mundur.

Adapun Lan Hwa Cu, tosu tertua dari Pek-lian sam-kwi yang bertubuh tinggi besar seperti raksasa akan tetapi yang gerak-gerik dan suaranya seperti wanita itu, juga repot sekali ketika bertanding melawan Cia Hui Song.

Dia sudah menggunakan senjatanya yang berbahaya, yaitu sehelai sabuk sutera yang ujungnya dipasangi bola baja dan bintang baja.

Sabuknya menjadi bayangan bergulung-gulung dan dua ujungnya itu menjadi bola-bola dan bintang-bintang yang banyak, dan terdengar suara ebrsuitan ketika senjata itu menyambar-nyambar, namun lawannya adalah seorang pendekar yang sudah memiliki ilmu kepandaian yang matang.

Cia Hui Song bukan saja murid pewaris ilmu-ilmu yang ampuh dari Cin-ling-pai, akan tetapi juga semua ilmunya disempurnakan dan dimatangkan oleh gemblengan mendiang Siang-kiam Lo-jin, seorang di antara Delapan Dewa yang menjadi datuk di dunia persilatan puluhan tahun yang lalu.

Hui Song memiliki gin-kang yang hebat sehingga tubuhnya bagaikan bayangan saja ketika dihujani serangan.

Semua serangannya luput.

Akan tetapi, Hui Song maklum bahwa lawannya juga lihai dan senjata lawan itu berbahaya kalau hanya dilawan dengan tangan kosong.

Maka, ketika pada suatu saat, kedua ujung sabuk itu, yaitu bola dan bintang baja menyambar dari kanan kiri, dia melompat dengan lemparan tubuhke belakang, berpok-sai (bersalto) sampai lima kali ke belakang dan ketika turun kembali ke atas tanah, dia sudah menyambar sebatang senjata toya yang berada di atas tanah.

Banyak senjata berserakan di atas tanah, yaitu senjata-senjata dari mereka yang telah roboh dan tewas atau terluka berat.

Dengan toya ditangan, dia menyambut datangnya lawan yang sudah mengejar dan menyerang lagi.

Begitu dia menggerakkan toya melawan, Lan Hwa Cu menjadi terkejut.

Toya itu tidak takut akan sabuknya.

Bahkan ketika dia sengaja emlilitkan sabuknya pada toya lawan, toya yang terlilit itu terus saja meluncur ke depan menotok ke arah dadanya!

Dia terpaksa melepaskan lilitan sabuknya dan meloncat ke belakang.

Namun, kini dia terus terdesak oleh gerakan toya yang seolah-olah telah berubah menjadi seekor naga sakti itu.

Dia terdesak hebat, dan tak lama kemudian, punggungnya kena dihantam toya sehingga dia menjerit seperti wanita, jatuh bergulingan.

Akan tetapi karena memang dia kebal, dia dapat meloncat bangun dan menyerang mati-matian.

Tosu Pek-lian-kauw yang melawan Hay Hay adalah Siok Hwa Cu.

Tosu bertubuh gendut pendek bermuka hitam ini memang merupakan tosu paling lihai diantara Pek-lian Sam-kwi.

Biarpun tubuhnya gendut pendek seperti bola, namun dia dapat bergerak cepat dan selain pandai memainkan golok besar, dia juga mempunyai sin-kang yang amat dahsyat.

Kalau dia sudah berjongkok dan mengeluarkan sin-kangnya, tiada ubahnya seekor katak buduk yang besar dan begitu perutnya mengeluarkan bunyi berkoko, sambaran tangannya mengandung kekuatan yang kuat dan beracun!

Selain ini, dia pun amat kejam, senjata rahasianya adalah golok-golok kecil yang dinamakan huito (pisau terbang).

Masih ada lagi keistimewaannya, yaitu rambutnya.

Rambut yang sudah bercampur uban itu, yang biasanya digelung ke atas, dapat ie pergunakan sebagai senjata pecut yang berbahaya bagi lawan.

Dia seperti dua orang saudaranya, dia pun seorang ahli sihir.

Akan tetapi lawannya adalah Tang Hay atau Hay Hay yang dikenal sebagai Pendekar Mata Keranjang.

Pada waktu itu, Hay Hay telah memiliki tingkat kepandaian yang amat hebat dan tinggi.

Bukan hanya ilmu silatnya, akan tetapi juga dia memiliki ilmu sihir yang jauh lebih kuat dibandingkan tiga orang Pek-lian Sam-kwi digabung menjadi satu!

Tentu saja kini menghadapi Siok Hwa Cu seorang diri, Hay Hay dapat mempermainkan sesuka hatinya.

Andaikata dia dikeroyok tiga sekalipun, belum tentu dia kalah.

Apalagi satu lawann satu.

Ketika dia melihat keadaan pertempuran menguntungkan di pihak Cin-ling-pai, Hay Hay pun tidak segera merobohkan lawannya, bahkan mempermainkannya.

Apalagi ketika dia melihat bahwa kawanan Pek-lian-kauw sudah kocar-kacir, dan banyak anak buah Cin-ling-pai yang tidak lagi kebagian lawan dan hanya menjadi penonton, dia semakin mempermainkan lawannya.

"Heii, kodok buduk, kepandaianmu hanya segini saja, dan engkau sudah berani mencoba-coba mengacau Cin-ling-pai? Sungguh tak tahu diri. Hayo keluarkan semua kepandaianmu!"

Berulang kali Hay Hay mengejek sambil mengelak ke kiri dan ketika golok menyambar lewat, kakinya menendang ke arah perut yang gendut itu.

"Blukk!"

Dan Siok Hwa Cu terhuyung ke belakang, Hay Hay sengaja memegangi kaki kanannya yang menendang tadi, berjingkrak seperti orang kesakitan.

"Aduh, perutmu memang keras dan bau! Ihhh!"

Melihat kelucuan ini, para murid Cin-ling-pai tertawa-tawa.

Wajah Siok Hwa Cu menjadi merah kehitaman dan matanya yang besar itu semakin melotot menakutkan.

Dia maklum bahwa dia berhadapan dengan seorang pemuda yang amat lihai dan mempunyai kekuatan sihir yang hebat.

Maka, kini dia menggigit golok besarnya dan kedua tangannya sudah bergerak cepat.

Sinar-sinar kilat meluncur ke arah Hay Hay ketika belasan pisau terbang meluncur dan terbang ke arah tubuhnya, dari leher sampai kaki!

Kalau dia mau mengelak saja, belasan batang hui-to (pisau terbang) itu tentu tidak ada yang akan mengenai sasaran.

Akan tetapi dia khawatir kalau pisau-pisau itu akan mengambil korban orang-orang yang berada di belakangnya.

Maka, cepat Hay Hay mengambil topi capingnya yang lebar dan yang tergantung dipunggung.

Dengan caping besar itu dia membuat gerakan seperti sebuah perisai dan semua pisau terbang itu menancap pada capingnya!

"Wah, terima kasih atas sumbanganmu pisau-pisau ini, kodok buduk!

Semua pisau ini dapat kutukarkan sebuah caping yang lebih baik dan lebih baru."

Kembali semua orang tertawa memuji kelihaian Hay Hay dan si gendut pendek semakin marah.

Seluruh pisau terbangnya sudah dia pergunakan untuk menyerang dan jadang ada orang mampu menghindarkan diri dari serangan tiga belas pisau terbangnya itu.

Dan kini, semua pisau terbangnya hilang dan dilumpuhkan hanya oleh sebuah caping!

Dengan marah dia menggerakkan kepalanya dengan goyangan beberapa kali dan rambutnya yang digelung itu terlepas dan terurai.

Kini, dia menyerang lagi dengan golok besarnya, dan rambutnya ikut menyerang ketika dia menggerak-gerakkan kepalanya.

Serangan rambut itu tidak kalah bahayanya dengan serangan golok besar ditangannya.

Agaknya Siok Hwa Cu hendak mengamuk habis-habisan untuk memenangkan pertandingan ini.

Terkejut dan kagum juga Hay Hay ketika dia mengelak dari sambaran golok besar, tiba-tiba segumpal rambut menyambar dengan dahsyatnya ke arah lehernya!

Rambut yang penuh uban, kaku dan berbau apak!

Dia tahu bahwa senjata istimewa itu tidak boleh dipandang ringan, karena rambut itu agaknya menjadi senjata andalan lawan, kini rambut yang menyerangnya itu tiada ubahnya kawat-kawat baja yang berbahaya sekali.

Hay Hay melangkah mundur, akan tetapi gumpalan rambut itu mengejar terus dengan bertubi-tubi.

Ketika Hay Hay berusaha menangkap gulungan rambut itu sambil menangkis, rambut itu berubah lemas dan seperti ular saja telah membelit dan mengikat pergelangan tangannya.

Pada saat itu, golok besar menyambar ke arah lengannya yang sudah terbelit rambut.

"Hemmm...!"

Hay Hay menotok ke arah siku lengan yang memegang golok, lalu menarik tangan yang terlibat.

Hampir saja lengannya buntung!

Tahulah dia bahwa rambut itu berbahaya sekali.

"Ihh, kodok tua. Rambutmu apak menjijikkan!"

Katanya dan melihat banyak senjata berserakan diatas tanah, dia lalu menyambar sebatang pedang.

Golok menyambar lagi dan sengaja dia menyambut dengan pedang sebagai pancingan.

Benar saja, begitu pedang bertemu golok, rambut itu sudah menyambar lagi.

Hay Hay cepat memantulkan pedang yang bertemu golok dan memutar pergelangan tangannya yang memegang pedang sambil mencengkeram gumpalan rambut dengan tangan kiri.

"Brettt!"

Sebelum Siok Hwa Cu menyadari kesalahannya, rambutnya yang panjang telah terbabat pedang dan buntung!

Hay Hay mengangkat tinggi-tinggi gulungan rambut itu.

"Heiii, siapa mau membeli ekor babi?"

Dia menawarkan gumpalan rambut itu kepada para murid Cin-ling-pai yang menjadi penonton.

Semua orang menyambutnya dengan gelak tawa karena mereka semua merasa senang melihat pengacau yang dibenci itu kini menjadi permainan pemuda yang lihai itu.

Siok Hwa Cu hampir meledak saking marahnya ketika rambutnya dibuntungi lawan.

Dia menggerakkan golok besarnya membabat ke arah pinggang Hay Hay dengan marah sekali.

"Haiiii, sayang luput!"

Kata Hay Hay yang dengan lincahnya sudah melompat ke atas.

Siok Hw Cu mengejar dengan tanga goloknya membacok ke atas, akan tetapi Hay Hay menarik kedua kaki ke atas dengan menekuk lutut, kemudian ketika golok menyambar lewat di bawah kakinya, dia menurunkan kedua kaki di atas golok, seperti seekor burung hinggap diatas rating saja!

Semua orang menahan napas saking kagum dan juga khawatir.

Pemuda itu sungguh amat berani mempermainkan lawannya yang demikian berbahaya.

Melihat pemuda yang menjadi lawannya itu berdiri di atas goloknya, Siok Hwa Cu hampir tidak percaya.

Betapa beraninya lawan ini, dan betapa tinggi tingkat ilmunya meringankan tubuh.

Dia menggunakan tangan kirinya untuk mencengkeram ke arah kaki, akan tetapi kini Hay Hay melompat ke atas kepala si pendek gendut itu!

Semua orang merasa semakin kagum dan bertepuk tangan.

Mereka seolah-olah melihat pertunjukan akrobatik, bukan pertandingan silat lagi.

Sepasang mata Siok Hwa Cu terbelalak.

Kalau tidak merasa malu, tentu dia sudah menjerit-jerit karena kepalanya terasa nyeri bukan main, seperti ditindih batu yang beratnya ratusan kati!

Ketika dia menggerakkan golok besarnya untuk membacok ke arah dua kaki yang berada di atas kepalanya, tiba-tiba ujung sepatu Hay Hay menotok pundaknya dan lengan kanannya terasa lumpuh.

Hay Hay meloncat turun, berjungkir balik dan begitu dia menampar dengan tangan ke arah pergelangan tangan yang memegang golok, golok itu pun terlepas dan jatuh ke atas tanah.

Kembali semua orang bersorak dan tertawa.

Hay hay tersenyum dan menengok.

Dia melihat betapa Kui Hong sudah berdiri menganggur dan menonton disitu sambil tersenyum.

Juga para tokoh Cin-ling-pai berdiri dan menjadi penonton.

Kiranya pertempuran itu telah selesai dan agaknya orang-orang Cin-ling-pai sudah berhasil merobohkan semua musuh masing-masing.

Tinggal dia seorang yang menjadi tontonan!

Hay Hay memang berwatak gembira, jenaka dan nakal.

Sama sekali bukan karena kesombongan atau mencari pujian kalau dia mempermainkan lawannya, melainkan karena dia hendak menghukum orang yang dia tahu amat jahat seperti iblis ini, dan untuk memberi kegembiraan kepada orang-orang Cin-ling-pai yang telah dirugikan besar sekali oleh para tokoh Pek-lian-kauw ini.

Dia sama sekali tidak tahu betapa di antara para penonton, terdapat beberapa penonton yang memandangnya dengan alis berkerut.

Mereka itu adalah Cia Kong Liang, Cia Hui Song dan isterinya, Ceng Sui Cin.

Dalam pandangan mereka, pemuda yang tersenyum-senyum mempermainkan tosu Pek-lian-kauw itu sedang menjual lagak.

Akan tetapi karena jelas bahwa pemuda itu membantu Cin-ling-pai melawan musuh, tentu saja mereka merasa tidak enak untuk menghalanginya, hanya diam-diam mereka bertanya-tanya siapa kiranya pemuda bercaping yang lihai namun sombong itu.

Kui Hong yang sudah mengenal watak pemuda itu, hanya tersenyum saja melihat kenakalan Hay Hay.

Ia tahu benar bahwa perbuatan Hay Hay itu bukan untuk menyombongkan diri atau memamerkan kepandaian, melainkan untuk mempermainkan dan menghukum tosu Pek-lian-kauw itu agar hatinya puas dan agar orang-orang Cin-ling-pai yang sakit hati juga mendapat kepuasan.

Maka, ia pun diam saja dan hanya menonton.

Seluruh anak buah Pek-lian-kauw telah dapat dibasmi, dan satu-satunya orang yang lolos hanya Tok-ciang Bi Moli.

Kim Hwa Cu, tosu termuda dari Pek-lian Sam-kwi telah tewas di tangannya.

Demikian pula Lan Hwa Cu, tosu tertua, tewas di tangan suaminya.

Kini di antara tiga orang tokoh sesat Pek-lian-kauw itu tinggal seorang lagi, yaitu Siok Hwa Cu yang masih bertanding dengan Hay Hay.

Seluruh anggauta Cin-ling-pai yang sudah selesai bertempur kini juga menonton perkelahian yang lucu dan menarik itu.

Bahkan mereka yang terluka seperti mendapat hiburan segar.

Siok Hwa Cu juga maklum bahwa nyawanya terancam bahaya dan bahwa dia dipermainkan pemuda itu.

Senjata rahasianya telah habis, rambutnya juga sudah buntung dan kini golok besarnya terlepas dari tangan pula.

Dia hanya dapat mengandalkan sin-kangnya dan dalam keadaan putus asa dan marah dia menjadi nekat.

Dia merendahkan diri, berjongkok di depan Hay Hay.

Melihat ini, Hay Hay berseru sambil memencet hidung dengan tangan kananya.

"Hai, kodok buduk, kalau kau mau buang air besar jangan di sini! Kotor dan bau menjijikkan!"

Tentu saja para anggauta Cin-ling-pai tertawa mengejek mendengar itu dan muka Siok Hwa yang memang sudah hitam itu menjadi semkain hitam karena marahnya.

Apalagi melihat banyak anak buah Cin-ling-pai ikut-ikutan menutup hidung seperti apa yang dilakukan pemuda lawannya yang lihai itu.

"Jahanam sombong, engkau atau aku yang mati!"

Bentaknya dan ia mengerahkan seluruh tenaga sin-kangnya, perutnya yang gendut itu membengkak dan mengeluarkan suara berkokokan, kemudian tubuhnya seperti menggelundung maju dan kedua tangannya didorongkan lurus ke depan, ke arah Hay Hay.

"Kok-kok-kokk!"

Tosu gendut itu mengeluarkan bunyi dari perutnya melalui kerongkongan.

Hay Hay yang ingin mempermainkan lawan, juga meniru gerakan Siok Hwa Cu, dia juga berjongkok dengan pantat di tonjolkan kebelakang, bahkan agak digoyang-goynag, kedua tangan didorongkan ke depan dan dia pun mengeluarkan suara seperti lawannya.

"Kok-kok-kokk!"

Diam-diam Siok Hwa Cu terkejut karena mengira bahwa lawannya juga mampu memainkan ilmu pukulan katak seperti dia.

Akan tetapi pemandangan itu terasa lucu sekali oleh mereka yang nonton, seolah mereka melihat dua ekor katak raksasa sedang laga.

"Dukk!!"

Dua pasang telapak tangan saling bertemu dengan kekuatan dahsyat, dan akibatnya, tubuh Siok Hwa Cu terguling-guling ke belakang, sedangkan Hay Hay meloncat berdiri.

Tentu saja dia tidak pernah belajar ilmu katak seperti lawannya.

Tadi dia hanya main-main saja.

Akan tetapi diam-diam dia mengerahkan sin-kang untuk melawan serangan orang itu.

Dan karena memang tenaga sin-kangnya jauh lebih kuat, tentu saja tubuh Siok Hwa Cu yang terpental dan terguling-guling.

Kalau Hay Hay menghendaki, dalam adu sin-kang ini saja dia akan dapat membunuh lawannya.

Akan tetapi dia belum merasa puas, hendak mempermainkan lawan sampai lawan mengaku kalah atau menyerah.

"Hei, katak buduk. Berlututlah dan minta ampun seratus kali kepada Cin-ling-pai, baru aku akan menyerahkan kamu kepada pimpinan Cin-ling-pai!"

Akan tetapi Siok Hwa Cu sudah nekat.

Dia maklum bahwa kalau dia diserahkan kepada pimpinan Cin-ling-pai, sudah pasti dia akan dibunuh juga, mengingat bahwa kesalahannya terhadap Cin-ling-pai amat besar.

Daripada mati dihukum oleh para pimpinan Cin-ling-pai, lebih baik mati dalam perkelahian melawan pemuda lihai ini.

"Sampai mati pun aku tidak sudi minta ampun!"

Bentaknya dan kembali ia berjongkok dan mengerahkan seluruh tenaganya.

Kini dia hendak mengeluarkan ilmunya yang paling akhir dan paling diandalkan, yaitu mengerahkan seluruh sin-kangnya dan menyalurkannya ke arah kepalanya!

"Heii, mau berak lagi?"

Hay Hay mengejek dan banyak orang tertawa.

Kini tubuh pendek gendut itu lari menyeruduk ke depan, kepala lebih dulu seperti seekor kerbau mengamuk.

Hay Hay melihat serangan itu dan dia pun mengerti.

Lawannya hendak menggunakan kepala untuk menyerangnya!

Dia pun berdiri tegak dan menyambut terjangan lawan itu dengan perutnya!

"Capp!"

Kepala itu menusuk ke perut Hay Hay dan semua orang terbelalak khawatir akan keselamatan pemuda yang berani itu.

Biarpun tubuhnya gendut, akan tetapi kepala Siok Hwa Cu termasuk kecil dan kepala itu disedot masuk ke rongga perut Hay Hay.

Hay Hay menotok kedua pundaknya sehingga kedua tangannya lumpuh dan hanya tinggal kakinya saja yang bergerak-gerak.

Siok Hwa Cu merasa betapa kepalanya seperti masuk ke dalam lumpur yang mendidih panas!

"Pergilah!"

Hay Hay mengerahkan sin-kangnya dan menendang kepala itu dengan kekuatan perutnya.

Tubuh Siok Hwa Cu terlempar kebelakang dan terbangting keras ke atas tanah.

Tosu Pek-lian-kauw ini merasa betapa kepalanya nyeri bukan main, hampir meledak rasanya dan tahulah dia bahwa kalau dia lanjutkan perlawanannya, dia hanya akan menjadi permainan yang memalukan saja.

Dia mengerahkan sisa tenaganya kepada tangan kanannya sehingga tangan kanan itu dapat bergerak kembali dan tiba-tiba dia mencengkeram ke arah ubun-ubun kepalanya dengan sisa tenaga terakhir.

"Krekkk!"

Jari-jari tanganya masuk ke dalam kepalanya dan dia pun tewas seketika.

Banyak anak buah Cin-ling-pai bersorak memuji, dan Kui Hong menghampiri kekasihnya sambil tersenyum girang.

"Hay-ko, mari kuperkenalkan kau kepada keluargaku!"

Hay Hay juga tersenyum dan mengangguk.

Mereka lalu menghampiri Cia Kong Liang, Cia Hui Song dan Ceng Sui Cin yang berdiri menanti mereka.

Hay Hay sudah banyak mendengar akan kebesaran nama keluarga Cia dari Cin-ling-pai ini, maka begitu berhadapan, dia pun cepat mengangkat kedua tangan ke dada dan memberi hormat dengan sikap sopan dan wajah berseri.

"Saya telah banyak mendengar nama besar keluarga Cia dari Cin-ling-pai, sungguh beruntung sekali dan merupakan kehormatan besar hari ini saya dapat berhadapan dengan cu-wi (anda sekalian)."

Katanya.

"Kong-kong, Ayah dan Ibu, dia adalah sahabatku bernama Hay Hay. Hay-ko, perkenalkan ini kong-kong Cia Kong Liang, ayah Cia Hui Song dan ibu Ceng Sui Cin. Dan ini adikku Cia Kui Bu."

Kembali Hay Hay memberi hormat kepada tiga orang tua itu, yang dibalas mereka dengan sikap sederhana.

Kesan buruk akan cara Hay Hay mempermainkan lawan tadi masih membuat mereka enggan beramah tamah dengan pemuda itu.

Akan tetapi, pandang mata mereka cukup tajam untuk dapat melihat sikap Kui Hong yang amat mesra terhadap pemuda itu, maka mereka pun menahan diri dan tidak mengeluarkan kata-kata yang menyinggung.

Cia Hui Song hanya membalas penghormatan Hay Hay dan berkata tenang.

"Orang muda, engkau sungguh lihai dan terima kasih atas bantuanmu kepada kami."

"Ah, harap Paman tidak bersikap sungkan. Saya adalah sahabat baik adik Cia Kui Hong, dan biarpun andaikata orang-orang Pek-lian-kauw itu tidak mengacau disini, kalau bertemu dengan saya dimana pun tentu mereka akan saya tantang karena mereka selalu melakukan kejahatan-kejahatan."

"Ayah, Ibu, aku telah mengundang Hay-koko untuk bertamu ditempat kita untuk beberapa hari lamanya."

Suami isteri itu saling pandang dan Ceng Sui Cin yang menjawab.

"Baiklah, antar dia pulang dulu. Kami masih ingin mengatur anak buah untuk membersihkan tempat ini."

"Benar, Kui Hong. Kau pulanglah dulu bersama sahabatmu ini,"

Kata pula Hui Song.

Melihat sikap ayah ibunya, juga kakeknya yang agaknya tidak suka kepada Hay Hay, tentu saja Kui Hong merasa tidak enak hati.

Akan tetapi Hay Hay tetap gembira saja dan dua orang muda ini lalu mendahului keluarga Cia pulang ke rumah keluarga Cia yang berada dibagian belakang.

Markas Cin-ling-pai itu memang luas, dan yang menjadi tempat perkelahian tadi adalah bagian paling depan.

Para wakil dari Bu-tong-pai, Go-bi-pai, Kun-lun-pai dan Siauw-lim-pai tadi telah menjadi saksi dan mereka pun maklum akan apa yang terjadi.

Mereka tahu bahwa ternyata Cin-ling-pai dimasuki orang-orang Pek-lian-kauw yang setelah menawan keluarga Cia, lalu menggunakan nama Cin-ling-pai untuk mengadu domba antara Cin-ling-pai dan partai-partai persilatan besar.

Mereka tahu bahwa Cin-ling-pai tidak bersalah, maka tentu saja ketika terjadi keributan tadi, kemarahan mereka ditujukan kepada orang-orang Pek-lian-kauw dan mereka pun ikut pula membasmi anak buah Pek-lian-kauw.

Juga mereka ikut pula melihat sepak terjang Hay Hay dan melihat pertemuan antara Hay Hay dan keluarga Cia.

Karena merasa urusan itu bukan urusan mereka, maka mereka pun tidak mencampuri bicara dan diam saja.

Padahal, diantara mereka banyak yang mengenal Hay Hay.

Dua orang hwesio dari Siauw-lim-pai, yaitu Thian Hok Hwesio dan Thian Khi Hwesio, sudah mendengar tentang pemuda itu.

Bahkan Tiong Gi Cinjin, tokoh Bu-tong-pai itu, dahulu pernah bentrok dengan Hay Hay yang mereka kira jai-hoa-cat yang berjuluk Ang-hong-cu!

Biarpun akhirnya mereka tahu bahwa pemuda itu bukan Ang-hong-cu, namun diam-diam mereka merasa heran bagaimana putera penjahat besar itu dapat menjadi sahabat akrab dengan Cia Kui Hong, yang menjadi pangcu ketua Cin-ling-pai!

Cia Kong Liang, Cia Hui Song, dan Ceng Sui Cin memerintahkan anak buah mereka untuk menyingkirkan mayat-mayat musuh, mengurus pula mayat kawan-kawan sendiri dan merawat yang luka.

Kemudian mereka mengundang para tamu dari empat partai besar untuk minum bersama agar peristiwa tidak enak yang hampir saja membuat Cin-ling-pai bentrok dengan mereka itu dapat dihapuskan.

Karena merasa bahwa mereka pun telah salah kira dan memusuhi Cin-ling-pai yang sesungguhnya tidak bersalah, rombongan empat partai besar itu merasa sungkan.

Mereka menolak dengan halus dan minta diri untuk pulang ke tempat mereka masing-masing.

Keluarga Cia tidak dapat menahan mereka, hanya mohon maaf dan berterima kasih atas pengertian mereka.

Kemudian rombongan Bu-tong-pai yang merupakan rombongan terakhir berpamit.

Dalam kesempatan itu, Tiong Gi Cinjin berkata kepada Hui Song.

"Kami mengucapkan selamat kepada Cia-taihaip, bukan saja karena terbebas dari tangan orang-orang Pek-lian-kauw dan Cin-ling-pai telah dapat membersihkan namanya, akan tetapi terutama sekali karena Cia-Taihiap mempunyai seorang puteri yang demikian perkasa seperti Cia-pangcu (ketua Cia). Kalau tidak atas kebijaksanaan puteri Taihiap, dan dibantu oleh Pendekar Mata Keranjang, tentu kami semua juga masih salah duga."

"Pendekar Mata Keranjang? Siapa yang totiang maksudkan?"

Ceng Sui Cin bertanya sambil memandang dengan alis berkerut.

Tiong Gi Cinjin memandang kepada nyonya yang gagah perkasa itu.

"Apakah Lihiap belum mengetahuinya? Pemuda tadi..."

"Ah, kau maksudkan pemuda sahabat Kui Hong yang bernama Hay Hay tadi? Apakah totiang mengenal dia?"

Tanya Sui Cin.

"Tentu saja kami mengenal dia, semua orang mengenal dia. Bahkan kami rombongan Bu-tong-pai pernah mengejar-ngejarnya dan menyerangnya karena kami mengira bahwa yang memperkosa seorang murid Bu-tong-pai adalah dia yang tadinya kami kira Ang-hong-cu."

"Ang-hong-cu?"

Cia Hui Song bertanya dengan kaget.

"Kenapa menyangka dia Ang-hong-cu?"

"Maklumlah,"

Kata Tiong Gi Cinjin sambil menarik napas panjang.

"Sikapnya selalu merayu wanita dan dia dikenal sebagai seorang yang mata keranjang sehingga dijuluki Pendekar Mata Keranjang."

"Dan ternyata bahwa bukan dia jai-hwa-cat yang terkenal jahat itu?"

Tanya Sui Cin.

"Bukan dia, melainkan ayah kandungnya."

"Ahhh...?"

Suami isteru tokoh Cin-ling-pai itu terkejut bukan main mendengar ucapan itu.

"Dia... dia putera Ang-hong-cu?"

Ting Gi Cinjin mengangguk dan menghela napas.

Bukan maksudnya untuk memburukkan nama orang, akan tetapi bagaimanapun juga dia menganggap Hay Hay bukan pemuda yang baik dan pantas menjadi sahabat seorang gadis sehebat Cia Kui Hong.

Apalagi kalau diingat bahwa pemuda itu membikin orang-orang Bu-tong-pai malu karena tidak sanggup mengalahkannya dengan keroyokan.

"Ang-hong-cu bernama Tang Bun An, dan dia seorang di antara banyak anak-anaknya yang lahir dari para wanita yang diperkosanya. Namanya Tang Hay, dan dia tadinya disangka sebagai Ang-hong-cu. Baru dia dapat membersihkan namanya setelah dia berhasil menangkap mendiang Ang-hong-cu."

"Hemm, Ang-hong-cu sudah mati? Anaknya itu pula yang membunuh."

"Mereka berkelahi dengan seru sekali, ayah dan anak itu. Ang-hong-cu kalah dan membunuh diri. Sudahlah, Taihiap dan Lihiap, saya tidak enak membicarakan dia, apalagi karena bagaimanapun, dia dianggap sebagai seorang pendekar yang telah berjasa. Dia pernah membantu pemerintah membasmi gerombolan pemberontak, bersama dengan Cia-pangcu, puteri Taihiap. Selamat tinggal."

Tiong Gi Cinjin mengajak rombongannya meninggalkan tempat itu.

Sampai beberapa lamanya suami isteri itu termenung.

Bahkan Cia Kong Liang menjadi semakin tidak suka kepada pemuda itu.

"Pantas saja dia menjual lagak seperti itu!"

Gerutunya.

"Kiranya dia seorang mata keranjang, putera penjahat besar Ang-hong-cu!"

"Dan dia yang menangkap ayah kandungnya sendiri, menyebabkan ayahnya sendiri mati,"

Kata Hui Song.

"Tidak baik anak kita bergaul dengan orang seperti itu."

"Sudahlah, kita tidak perlu pusing-pusing. Nanti Kui Hong tentu dapat memberi penjelasan mengapa pemuda itu ikut datang ke sini bersamanya. Kurasa Kui Hong bukanlah seorang gadis bodoh yang mudah dirayu seorang mata keranjang,"

Kata Sui Cin.

Setelah selesai mengurus para anggauta Cin-ling-pai, mereka pun kembali ke dalam rumah mereka untuk menemui puteri mereka yang telah masuk lebih dahulu dengan Hay Hay.

"Untung ada engkau yang menggunakan sihirmu menguasai Ciok Gun, Hay-ko, kalau tidak, aku sendiri tidak akan tahu entah bagaimana aku dapat membongkar rahasia mereka dan memancing mereka. Sungguh Cin-ling-pai berhutang budi besar terhadapmu,"

Kata Kui Hong kepada kekasihnya ketika mereka duduk berhadapan di ruangan tamu rumah keluarga Cia.

Hay Hay tertawa dan menepuk punggung tangan gadis itu.

"Hushh, diantara kita mana pantas bicara tentang budi? Aku membantumu, hal itu sama saja dengan kalau engkau membantuku. Saling bantu antara kita adalah wajar sekali, bukan? Jangan katakan Cin-ling-pai hutang budi kepadaku."

"Kau tidak tahu, Hay-ko. Bagi kami keluarga Cia, Cin-ling-pai paling kami utamakan. Jatuh-bangunnya Cin-ling-pai merupakan jatuh-bangunnya kehidupan kami, setidaknya tekad itu merupakan sumpah bagi setiap anngauta kami yang menjadi pangcu seperti aku sekarang ini."

Wajah Hay Hay yang tadinya berseri itu kehilangan kegembiraannya, dan dia menatap tajam wajah kekasihnya.

"Akan tetapi, Hong-moi, kulihat semua sikap tokoh Cin-ling-pai, maafkan keterus teranganku ini, tidak menunjukkan seperti apa yang kau katakan itu."

Sinar mata gadis itu dengan tajam menyambar wajah Hay Hay.

"Apa yang kau maksudkan dengan ucapanmu itu, Hay-ko?"

"Mereka semua itu, dari kakekmu sampai ayah ibumu, juga wakil ketua Cin-ling-pai dan pembantunya, semua menyerah kepada orang-orang Pek-lian-kauw karena mendahulukan kepentingan keluarga. Bukankah demikan? Mereka tidak dapat melawan karena mengkhawatirkan keselamatan keluarga Cia yang telah tertawan. Nah, hal itu bagiku wajar saja. Bagaimanapun juga, setiap orang manusia akan mementingkan diri sendiri dan keluarganya lebih dahulu, baru mementingkan yang lain."

"Tidak! Kukatakan tadi bahwa sumpah itu hanya dilakukan oleh seorang ketua Cin-ling-pai. Ketika kakekku menjadi ketua dahulu, dia pun bersikap demikian. Juga ayahku. Sekarang, akulah yang bersumpah. Karena itu, aku seorang yang tidak mau tunduk kepada mereka, dan aku melawan, biarpun perlawananku itu membahayakan keluargaku. Untung engkau yang membantuku sehingga keluarga kami semua selamat dan Cin-ling-pai dapat pula dibersihkan dari para penyelundup itu."

Hay Hay mengerutkan alisnya.

Pendirian kekasihnya itu merupakan suatu segi yang asing baginya.

Akan tetapi dia menghibur dirinya dan sambil tersenyum berkata.

"Tentu saja engkau benar, Hong-moi. Akan tetapi, setelah kita menikah, tentu engkau akan melepaskan kedudukan ketua itu kepada orang lain sehingga tidak terikat lagi oleh kewajiban dan tugas yang berat."

Kui Hong menunduk dan menarik napas panjang.

"Tadinya aku pun tidak suka terikat, Hay-ko, maka aku pergi meninggalkan Cin-ling-pai dan menyerahkan tugas kepada susiok Gouw Kian Sun dan suheng Ciok Gun. Aku sendiri merantau untuk menambah pengalaman. Akan tetapi engkau lihat sendiri, apa yang terjadi dengan Cin-ling-pai. Aku merasa menyesal sekali dan aku melihat bahwa aku telah melalaikan kewajibanku. Maka, aku berjanji akan membela dan mengatur Cin-ling-pai sehingga menjadi kuat dan jaya kembali."

"Biarpun sudah menikah?"

"Apa salahnya setelah menikah tetap menjadi pangcu?"

"Dan suamimu... eh, aku?"

"Dengan sendirinya engkau menjadi Cin-ling-pai dan bantuanmu amat kami butuhkan, Hay-ko. Justeru dengan adanya engkau, maka aku menjadi besar hati dan yakin akan mampu membuat Cing-ling-pai kembali jaya seperti di jaman nenek-moyang dahulu."

Hay Hay tidak bicara lagi karena pada saat itu nampak rombongan keluarga Cia memasuki ruang tamu dimana mereka bercakap-cakap.

Akan tetapi di dalam hatinya dia merasa gelisah.

Dia sama sekali tidak setuju dengan pendapat dan keinginan hati kekasihnya.

Dia ingin bebas, biarpun sudah menikah dengan Kui Hong, dia ingin bersama isterinya bagaikan dua ekor burung terbang diangkasa luas.

Tidak terkurung dalam sangkar berupa Cin-ling-pai.

Karena kakek, ayah dan ibu Kui Hong memasuki ruangan itu, Hay Hay cepat bangkit berdiri dengan sikap hormat.

Diam-diam mengagumi keluarga kekasihnya itu.

Memang keluarga gagah perkasa, pantas namanya terkenal di dunia kang-ouw karena sepak terjang mereka yang keras namun selalu menjunjung kebenaran dan keadilan.

Cia Kong Liang adalah seorang kakek yang usianya sudah tujuh puluh tahun lebih, namun tubuhnya masih tegak, wajahnya keren berwibawa dan pandang matanya menusuk penuh ketabahan.

Cia Hui Song seorang pria berusia empat puluh empat tahun yang juga tampan dan gagah walaupun nampak lebih tua daripada usia sebenarnya dengan banyak garis-garis derita di dahinya.

Ibu dari Kui Hon, Ceng Sui Cin, berusia tiga puluh sembilan tahun, nampak penuh semangat dan sinar matanya jelas nampak kekerasan hati dan keberanian.

Dari sikap mereka saja sudah mudah diketahui bahwa mereka adalah orang-orang yang lihai.

Akan tetapi, Hay Hay merasa tidak enak melihat betapa mereka bertiga itu, terutama ibu Kui Hong yang menggandeng tangan anak laki-laki berusia lima tahun, memandang hanya sekilas kepadanya dengan mulut cemberut.

Kakek Cia Kong Liang bahkan sama sekali tidak memandangnya, hanya melewati saja pandang mata itu diatas kepalanya.

Hanya Cia Hui Song yang memandang kepadanya agak lama, namun bukan dengan sinar mata ramah, melainkan dengan sinar mata penuh selidik!

Sungguh bukan sikap orang-orang yang berterima kasih walau dia seujung rambutpun tidak mengharapkan terima kasih dari mereka.

Yang dia bantu adalah Kui Hong, gadis yang dikasihinya, bukan keluarhga Cia atau Cin-ling-pai.

Kui Hong juga agaknya menjadi curiga.

Tentu saja ia mengenal baik tiga orang tua itu dan merasa bahwa sikap mereka sungguh tidak seperti biasa, tidak semestinya, bahkan tidak pada tempatnya.

Mereka jelas mengacuhkan, bahkan meremehkan Hay Hay!

Biarpun hatinya merasa tidak enak, bahkan tidak senang melihat sikap orang tuanya, namun tentu saja Kui Hong tidak berani bertanya terang-terangan.

Disambutnya ibunya dan ia memondong adiknya, Cia Kui Bu dan mencium kedua pipi adiknya itu!

"Enci hebat!

Kata kong-kong, enci yang membebaskan kami.

Aih, kalau saja aku sudah besar dan selihai Enci, tentu akan kubasmi habis semua orang Pek-lian-kauw yang jahat itu!"

Kui Hong tersenyum bangga dan menurunkan adiknya, mengelus kepala adiknya.

"Kelak engkau tentu lebih lihai daripada aku. Ingat selalu bahwa engkau adalah calon ketua Cin-ling-pai yang hebat!"

Mendengar ini, Cia Kong Liang berkata.

"Mudah-mudahan saja kelak dia akan mampu mengangkat kembali nama Cin-ling-pai yang dirusak oleh para jahanam itu."

Kui Hong memandang kepada ayahnya.

"Ayah, apakah orang-orang dari empat partai itu sudah pergi? Mereka sungguh menjemukan. Kita sedang tertimpa malapetaka, mereka bahkan menghimpit kita dengan tuduhan-tuduhan berat!"

"Hemm, jangan engkau berkata begitu Kui Hong,"

Kata Hui Song dengan suara tegas.

"Mereka itu menjadi korban, bahkan ada yang tewas dan terluka di antara orang-orang tak berdosa itu. Karena mereka berada disini, dan yang melakukan menyamar sebagai murid kita, tentu saja tadinya mereka merasa yakin bahwa Cin-ling-pai yang melakukan kejahatan itu. Sungguh sial, Cin-ling-pai telah dinodai dan dicemarkan. Tugasmulah sebagai pangcu untuk mengangkat kembali nama baik Cin-ling-pai, membersihkannya dari noda dengan bertindak tegas dan keras terhadap semua murid dan anggauta."

"Nanti dulu,"

Kata Ceng Sui Cin sambil memandang kepada Hay Hay.

"Sungguh tidak sepatutnya bicara soal Cin-ling-pai di depan orang luar, padahal yang kita bicarakan adalah urusan pribadi Cin-ling-pai. Kui Hong, sahabatmu ini dari partai manakah, dan siapa pula nama selengkapnya, siapa gurunya dan orang tuanya?"

Biarpun pertanyaan itu ditujukan kepada Kui Hong, namun sinar mata nyonya itu menatap wajah Hay Hay yang penuh senyum kembali, sehingga Hay Hay merasa benar bahwa pertanyaan itu langsung ditujukan kepadanya.

Sui Cin sengaja bertanya untuk mengalihkan percakapan keluarga dan langsung saja bicara tentang pemuda yang mendatangkan perasaan tidak suka di hati mereka itu karena pemuda itu adalah putera seorang jai-hwa-cat besar!

Tentu saja sebagai seorang ibu, hatinya tidak suka dan khawatir melihat puterinya akrab dengan putera seorang penjahat yang demikian tersohor seperti Ang-hong-cu.

Kui Hong memandang ibunya, ia pun merasakan sesuatu yang tidak beres dalam sikap ibunya, ayahnya, dan juga kakeknya.

Hal ini membuat dia terheran-heran.

Bukankah jasa Hay Hay amat besar dalam menyelamatkan keluarga Cia tadi sehingga naka baik Cin-ling-pai dapat dibersihkan kembali?

Sepatutnya kalau ibunya, setidaknya, bersikap bersahabat dengan Hay Hay, bukan malah bersikap dingin dan seperti orang yang tidak menyukai kehadiran pemuda itu di Cin-ling-pai.

Ia tidak percaya bahwa orang tuanya mempunyai watak yang demikian tak kenal budi.

"Hay-ko, engkau jawablah sendiri pertanyaan ibu,"

Katanya dengan hati yang tidak puas.

Sengaja ia memperlihatkan sikap ini karena ia memang jengkel dan agar ayah ibunya, juga kakeknya tahu akan kejengkelannya itu.

Akan tetapi Hay Hay tenang saja, bahkan senyumnya tidak meninggalkan mulutnya.

Setelah memberi hormat kepada tiga orang tua itu yang kini juga mengambil tempat duduk menghadapinya, seperti panitia hakim yang sedang mengadilinya, diapun berkata dengan lembut.

"Saya mohon maaf kepada Kakek, Paman dan Bibi yang terhormat sebagai sesepuh Cin-ling-pai bahwa saya dengan lancang berani datang ke sini dan mencampuri urusan Cin-ling-pai."

"Hay-ko, engkau datang karena kuajak, dan kedatanganmu bahkan menjadi penyelamat keluarga Cia dan Cin-ling-pai. Bagaimana engkau malah minta maaf?"

Kui Hong berkata setengah berteriak karena hatinya merasa penasaran sekali.

"Kui Hong, kami hanya ingin mengenal pemuda ini lebih dekat, kenapa engkau mendadak bersikap begini kasar?"

Hui Song menegur puterinya.

Mendapatkan teguran ayahnya, wajah Kui Hong menjadi marah dan mulutnya cemberut.

"Ayahmu benar, Kui Hong. Aku hanya ingin mengetahui siapa gurunya, dan siapa pula orang tuanya. Bukankah ini wajar?"

Kata ibunya.

"Hemm, sikap kalian yang tidak wajar,"

Teriak hati Kui Hong.

Akan tetapi karena disitu terdapat Hay Hay, ia tidak ingin memperlihatkan perbantahan antara anak dan orang tua.

Hay Hay sejak tadi (Lanjut ke

Jilid 08) Jodoh Si Mata Keranjang (Seri ke 11 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya .

Asmaraman S.

Kho Ping Hoo

Jilid 08 masih tersenyum saja, walaupun disudut hatinya, dia pun merasa heran mengapa keluarga pendekar yang terkenal berbudi itu bersikap seperti itu, hal yang sesungguhnya amat janggal kalau diingat sejak kemunculannya disitu, dia hanya membantu keluarga itu.

"Kalau cu-wi (anda sekalian) ingin mengetahui siapa guru-guru saya, sesungguhnya saya belum pernah menyebut nama mereka kepada orang lain. Akan tetapi, mengingat bahwa keluarga cu-wi adalah keluarga pendekar besar, dan saya hanya memberi keterangan karena ditanya dan cu-wi menghendaki jawaban, maka biarlah sekali ini saya menyebut nama mereka..."

"Hay-ko, kita sudah berkenalan lama sekali, menghadapi segala macam pengalaman dan bahaya maut, namun aku belum pernah mendesakmu untuk mengatakan siapa guru-gurumu. Kalau memang nama mereka harus dirahasiakan, engkau tidak perlu memaksa diri untuk menceritakan kepada orang tuaku!"

Kembali Kui Hong berseru, hatinya mulai terasa pahit.

"Kui Hong, engkau ini kenapa sih?"

Tiba-tiba kakek Cia Kong Liang menegurnya.

"Ayah ibumu hanya ingin lebih mengenal sahabatmu yang kau ajak ke sini, hal itu kurasa wajar saja! Kenapa engkau seperti orang yang marah-marah?"

Kini Kui Hong tak mampu mengendalikan kemarahannya lagi.

Ia memang berwatak keras dan galak seperti ibunya, suka berterus terang.

"Kong-kong, siapakah yang aneh dan siapa yang tidak wajar? Hay-ko ini datang karena ku ajak, kemudian disini kami melihat hal yang tidak wajar, bahkan dia membantuku, dan terang terang saja, tanpa bantuannya, belum tentu aku akan mampu membereskan para penjahat itu dan membebaskan Cin-ling-pai dari malapetaka dengan mudah. Akan tetapi, apa yang kulihat sekarang? Sahabatku ini bukan disambut ramah, melainkan disambut dengan sikap yang tidak sepatutnya, seolah sahabatku ini baru saja melakukan kejahatan!"

Hui Song dan isterinya saling pandang, juga kakek Cia Kong Liang merasa canggung.

Mereka bertiga bukan tidak tahu bahwa sikap mereka terhadap pemuda itu memang tidak patut kalau mengingat bahwa pemuda itu telah menyelamatkan keluarga Cia dan Cin-ling-pai.

Akan tetapi, mendengar siapa adanya pemuda itu membuat mereka mengkhawatirkan hal yang mereka anggap tidak kalah pentingnya, yaitu masa depan Kui Hong yang berarti menyangkut pula nama baik Cin-ling-pai.

Melihat peledakan yang terjadi antara kekasihnya dan orang tua kekasihnya itu, tentu Hay Hay yang merasa paling tidak enak.

Dia cepat bangkit dan memberi hormat kepada semua orang, lalu berkata kepada Kui Hong.

"Hong-moi, kuminta dengan sangat agar engkau tidak menduga yang bukan-bukan. Biarlah saya memperkenalkan diri kepada orang tuamu, karena mereka berhak mengenalku sedalamnya. Nah, Kakek, Paman dan Bibi. Terus terang saya akui bahwa saya mempunyai empat orang guru. Yang pertama adalah suhu See-thian Lama atau Gobi San-jin, yang kedua adalah suhu Giu-sian Sin-kai, ketiga adalah suhu Pek Mau Sanjin, dan keempat suhu Song Lojin."

Mendengar disebutnya nama-nama itu, tiga orang tua itu terkejut bukan main.

Dua orang terdahulu adalah dua diantara Delapan Dewa.

Kemudian, biarpun nama Pek Mau Sanjin jarang dikenal orang, namun mereka pernah mendengar nama ini sebagai nama seorang aneh yang kabarnya hidup diantara awan-awan di pegunungan tinggi!

Juga nama Song Lojin hanya mereka kenal seperti nama tokoh dongeng saja.

Tidak aneh kalau pemuda ini memiliki ilmu kepandaian silat dan sihir yang demikian hebat.

Mereka kagum, namun kekaguman itu belum cukup kuat untuk mengusir perasaan tidak senang terhadap pemuda putera Ang-hong-cu itu.

"Kiranya guru-gurumu adalah tokoh-tokoh besar dunia persilatan yang namanya disebut-sebut seperti dalam dongeng. Mengagumkan sekali!"

Kata Ceng Sui Cin.

"Dan siapakah orang tuamu, orang muda? Apakah nama keluargamu?"

Hay Hay merasa betapa jangtungnya berdebar tegang.

Paling tidak enak kalau dia ditanya tentang orang tuanya.

Kalau orang lain yang bertanya, mudah saja dia menjawab bahwa dia tidak mempunyai orang tua lagi.

Akan tetapi sekali ini lain.

Yang bertanya adalah ayah dan ibu Cia Kui Hong, gadis yang dicintanya dan diharapkan menjadi isterinya.

Tentu saja orang tua gadis itu berhak mengetahui dengan jelas siapa ayah dan ibunya, walaupun mereka telah tiada.

Apakah akan dia katakan saja bahwa dia tidak berayah!

Kalau begitu, berarti dia anak haram!

Ah, tidak!

Bagaimanapun juga ayahnya, dia tidak akan mengingkarinya karena memang benar ayahnya adalah Tang Bun An, Si Kumbang Merah!

Lebih baik berterus terang, dari pada menyembunyikan dan kelak diketahui.

Akan lebih tidak enak akibatnya.

Lebih baik memasuki perjodohan dengan semua mata yang bersangkutan terbuka lebar, daripada dipejamkan seperti dalam mimpi dan kelak terkejut kalau sadar dan melihat kenyataan.

"Ayah dan ibu saya telah meninggal dunia,"

Katanya lirih, namun wajahnya masih nampak berseri.

Hui Song dan Sui Cin, juga kakek Cia Kong Liang, masih teringat akan keterangan Ting Gi Cinjin tokoh Bu-tong-pai bahwa ayah pemuda ini, Ang-hong-cu, memang telah tewas setelah roboh oleh puteranya ini!

Anak penjahat besar ini telah membunuh ayahnya sendiri!"

"Ah, jadi engkau sudah yatim piatu? Kasihan!"

Kata Ceng Sui Cin.

"Siapakah nama mendiang ayahmu? Barangkali kami pernah mendengar atau bahkan mengenalnya."

Kui Hong memandang khawatir.

Ia memang sudah mengkhawatirkan hal ini, akan tetapi tentu saja ia tiak dapat melarang kekasihnya memperkenalkan nama ayahnya.

"Nama ayah saya she Tang bernama Bun An,"

Kata Hay Hay dengan tabah, akan tetapi kini wajahnya serius dan senyumnya menghilang.

"Tang Bun An?"

Sui Cin tiba-tiba menoleh kepada puterinya.

"Kui Hong, aku mendengar tentang adik seperguruankmu Ling Ling... apakah Tang Bun An yang itu, ataukah orang lain?"

Kui Hong menegakkan kepalanya dan dengan tabah ia pun menjawab.

"Benar sekali, ibu. Tang Bun An adalah Ang-hong-cu (Si Kumbang Merah) itu, dan Hay-ko juga tahu tentang adik Ling Ling, bahkan tadinya Hay-ko yang dituduh..."

"Dan kami mendengar bahwa Ang-hong-cu telah di bunuh oleh Pendekar Mata Keranjang, putera kandungnya sendiri?"

Tanya Hui Song sambil memandang kepada Hay Hay.

"Benar sekali, Ayah! Walaupun tidak dibunuh sendiri, melainkan dikalahkan dan Ang-hong-cu membunuh diri sendiri. Dan yang disebut Pendekar Mata Keranjang itu adalah Tang Hay, atau Hay-koko inilah!"

Mendengar pengakuan Kui Hong, tiga orang tua itu menjadi heran bukan main.

Bukan heran mendengar siapa adanya pemuda itu karena memang mereka sudah mendengar sebelumnya, melainkan heran mengapa Kui Hong agaknya menganggap keadaan pemuda itu biasa saja untuk dijadikan sahabat!

Bahkan agaknya sahabat yang baik sekali.

"Kui Hong! Engkau tahu bahwa dia ini seorang mata keranjang, anak kandung Ang-hong-cu yang amat keji dan jahat itu? Dan kau bawa dia datang ke tempat kita ini? Apakah engkau sudah gila?"

Ceng Sui Cin membentak marah sekali kepada puterinya, kemarahan yang sejak tadi ditahan-tahannya, sekarang meledak karena ternyata puterinya sudah tahu akan keadaan pemuda itu.

"Ibu!"

Kui Hong yang tidak kalah hebatnya itu menjawab.

"Biarpun orang-orang yang tidak suka itu memberi julukan Pendekar Mata Keranjang kepadanya, akan tetapi Hay-ko bukanlah seorang penjahat cabul. Dia tidak boleh disamakan ayahnya, dan buktinya, dia malah menentang ayahnya dan yang menangkap ayahnya bahkan dia sendiri. Kalau ayahnya yang bersalah, kenapa Ibu menyeret pula anaknya?"

"Kui Hong... uhh...!!"

Sui Cin membanting kaki dan memondong tubuh Kui Bu, lalu pergi ke dalam meninggalkan ruangan itu.

Hui Song memandang anaknya dengan alis berkerut.

"Kui Hong, sudah benarkah sikapmu terhadap ibumu?"

Lalu dia mengangkat kedua tangan memberi hormat kepada Hay Hay dan berkata.

"Saudara muda Tang, maafkan kami, akan tetapi terpaksa kami tidak dapat menerima Saudara karena diantara kita terdapat perbedaan golongan."

"Ayahhh...! Dia ini tamuku, aku yang mengundangnya!"

Kembali Kui Hong membentak marah.

"Hemmm..."

Hui Song menahan kemarahannya yang dan mengepal tinju.

"Aku belum lupa bahwa engkaulah pangcu dari Cin-ling-pai, jadi engkau yang berhak menentukan!"

Setelah berkata demikian, Hui Song juga pergi kedalam menyusul isterinya.

Dia tidak peduli lagi ketika puterinya memanggilnya.

"Ayahhh...!!"

Melihat ayahnya terus masuk, Kui Hong berpaling kepada kakek Cia Kong Liang.

"Kong-kong...!!"

Kakek itu menarik napas panjang dan menggeleng kepala.

"Kui Hong, sekali ini engkaulah yang keliru. Pikirkan dulu baik-baik,"

Katanya dan dia pun pergi meninggalkan ruangan itu.

Kui Hong berdiri seperti patung, mukanya pucat sekali, napasnya terengah-engah, kedua tangan terkepal.

Suara Hay Hay menyeretnya kembali kepada kenyataan.

"Hong-moi, ucapan kakekmu benar. Ayah ibumu yang benar dan engkau yang keliru membelaku. Bagaimanapun juga, kenyataan adalah bahwa aku ini anak kandung Ang-hong-cu yang keji dan jahat, bahkan aku dilahirkan dari hasil perkosaan terhadap ibuku. Sedangkan engkau, engkau ini puteri keluarga Cia yang sudah turun temurun menjadi pemimpin Cin-ling-pai yang besar. Tentu saja engkau tidak boleh menyeret Cin-ling-pai sampai demikian rendahnya..."

"Hay-ko..., diam kau! Begitu tega engkau hendak merobek-robek perasaan hatiku dengan ucapan itu? Engkau tahu bagaimana perasaanku terhadapmu. Kita saling mencinta. Aku tahu akan keadaan dirimu dan aku tidak perduli akan keturunanmu. Mereka tidak berhak melarangku bergaul denganmu, bahkan menikah denganmu. Siapapun tidak berhak! Aku yang akan menentukan sendiri langkah hidupku!"

"Hong-moi, jangan begitu..."

"Hay-ko, katakan, apakah engkau cinta padaku?"

"Perlukah kukatakan lagi? Sudah berapa kali kunyatakan kepadamu? Tentu saja aku cinta padamu, Hong-moi, dan justeru karena cintaku maka aku tidak ingin melihat engkau menderita karena bertentangan dengan keluargamu..."

"Hay-ko, ini urusan keluargaku, engkau tidak dapat mencampuri. Biar kuselesaikan sendiri. Kau tunggu dulu di sini, aku harus bicara dengan mereka sampai tuntas!"

Setelah berkata demikian, dengan gesit Kui Hong lalu menyusul ayah, ibu dan kakeknya ke dalam.

Ia masih melihat pemuda itu menjatuhkan diri dengan lemas ke atas kursi dan belum pernah ia melihat wajah Hay Hay sepucat itu!

"Kui Hong!"

Suara Cia Hui Song kini mengandung kemarahan dan ketegasan.

"Di mana akal sehatmu? Tentu saja ayah ibumu tidak melarang engkau bergaul dengan orang-orang gagah sedunia, terutama dengan pendekar-pendekar yang budiman dan gagah perkasa. Akan tetapi bagaimana engkau dapat mengajak putera Ang-hong-cu ke sini? Biarpun dia sudah membantu kita, tetap saja kami tidak mungkin dapat menerimanya sebagai seorang tamu kehormatan, apalagi sahabat anak kita. Lebih-lebih lagi sebagai pilihan hatinya! Engkau tahu, nama Ang-hong-cu dikutuk orang gagah sedunia, dan engkau akrab dengannya?"

"Tapi, Ayah. Kami sudah saling mencinta! Bahkan dia kuajak datang ke sini untuk minta pertimbangan Ayah dan Ibu agar kami diperkenankan menjadi suami isteri!"

"Tidak...!"

Bentakan Hui Song dan Sui Cin hampir berbareng dan ini saja sudah cukup mejadi bukti bahwa suami isteri itu sependirian dalam hal ini, tidak setuju kalau puteri mereka berjodoh dengan anak Ang-hong-cu!

Kui Hong adalah seorang gadis berhati baja.

Makin ditentang, semakin panas hatinya dan semakin berani.

Ia menghadapi ayah ibunya dengan muka merah dan mata bersinar-sinar, walaupun agak basah.

"Sungguh aku tidak menyangka. Apakah ayah dan ibu berpendirian kolot. Apakah ayah dan ibu tidak menghargai kesucian dua hati yang saling mencinta? Apakah Ayah dan Ibu hendak menjodohkan aku dengan pria pilihan Ayah dan Ibu sendiri, tidak menghiraukan pilihan hatiku seolah-olah aku ini bukan manusia, melainkan seekor anjing atau sapi saja? Bukankah ayah dan ibu dahulu juga menikah atas dasar saling mencinta?"

Mendengar serangan pertanyaan dari puteri mereka itu, Hui Song dan Sui Cin saling pandang dan agak berkuranglah rasa marah dan penasaran mereka.

Hui Song lalu berkata, suaranya lebih tenang.

"Memang benar, Kui Hong. Ayah ibu menikah berdasarkan cinta. Akan tetapi, tidak ada latar belakang buruk antara ayah dan ibumu sehingga pernikahan kami pun tidak ada halangannya. Akan tetapi, engkau harus ingat bahwa Ang-hong-cu adalah seorang jai-hwa-cat yang amat jahat dan keji, entah sudah merusak berapa ratus orang wanita! Bahkan keluarga kita sendiri, Cia Ling, menjadi korbannya! Seluruh orang gagah mengutuknya dan..."

"Akan tetapi, Ayah. Aku tidak menikah dengan Ang-hong-cu, melainkan dengan Hay-koko!"

"Tapi dia adalah anak kandung Ang-hong-cu, Kui Hong!"

Bantah ibunya.

Kui Bu sudah disuruh masuk kekamar, tidak diperbolehkan ikut mendengarkan percakapan itu oleh ibunya.

"Dan bagaimana mungkin keluarga kita yang dihormati orang dapat berbesan dengan ang-hong-cu yang dikutuk semua orang?"

"Tapi, Ang-hong-cu sudah mati, Ibu! Yang jahat memang Ang-hong-cu, akan tetapi Hay-ko tidak jahat, bahkan dia seorang pendekar yang budiman dan gagah! Ingat, Ibu, Hay-ko tidak pernah minta dijadikan anak Ang-hong-cu! Bahkan sejak lahir dia belum pernah melihat muka Ang-hong-cu, sampai dia dewasa dan mencari Ang-hong-cu untuk membalaskan dendam ibunya yang diperkosa..."

Tiba-tiba Kui Hong menghentikan kata-katanya.

Karena emosi, ia sampai lupa dan bahkan membuka rahasia Hay Hay yang tadinya hendak disembunyikan dari orang tuanya itu.

"Ya Tuhan! Bahkan dia anak akibat perkosaan yang dilakukan Ang-hong-cu terhadap ibunya? Anak haram...?"

"Ibu! Ibu terlalu kejam kepadanya! Apa dosa Hay-ko dalam peristiwa terkutuk itu? Apa dosanya? Coba Ibu katakan, apa dosanya?"

Tentu saja Sui Cin tidak mampu menjawab, hanya menggeleng-geleng kepala.

"Jelas bahwa kami tidak mungkin dapat menyetujui engkau berjodoh dengan dia, Kui Hong. Ingat, engkau seorang pangcu dari Cin-ling-pai. Ingat akan sumpahmu? Engkau harus lebih mementingkan Cin-ling-pai daripada urusan pribadimu."

"Ayah, kalau aku menikah dengan Hay-koko, hal itu sama sekali tidak merugikan Cin-ling-pai, bahkan Cin-ling-pai akan mendapat tenaga bantuan orang yang memiliki kepandaian amat tinggi. Cin-ling-pai bahkan akan menjadi semakin maju dengan bantuan Hay-ko sebagai suamiku."

"Kui Hong, engkau lupa!"

Tiba-tiba kakek Cia Kong Liang berkata.

"Kalau begitu, lalu apa bedanya dengan Cin-ling-pai maju karena bantuan Pek-lian-kauw, misalnya? Orang-orang dunia kang-ouw akan mengatakan bahwa Cin-ling-pai menjadi kuat karena ada anak Ang-hong-cu menjadi anggauta pimpinan."

"Kami tidak menghendaki itu!"

Kata pula Hui Song.

Kui Hong diam saja, sejenak ia memejamkan mata sambil membiarkan dirinya jatuh ke atas kursi.

Ia tahu bahwa tidak mungkin lagi berbantahan dengan mereka ini.

Jelas bahwa apa pun alasan yang ia kemukakan, kakeknya, ayah dan ibunya tidak akan mau menyetujui perjodohannya dengan Hay Hay.

Apalagi kalau mereka menggunakan alasan Cin-ling-pai, tentu ia tidak lagi mampu bergerak.

Suasana menjadi lengang sekali ketika gadis itu berdiam diri.

Tiga orang tua itu memandang kepadanya dengan sinar mata mengandung kemarahan dan kekhawatiran.

Mereka semua mengenal Kui Hong sebagai seorang gadis yang keras hati dan sukar diduga apa yang akan dilakukan gadis itu.

Akhirnya Kui Hong berdiri dan memandang kepada tiga orang tua itu, mula-mula kepada ibunya, lalu ayahnya, akhirnya kakeknya.

"Baiklah, kalau begitu, aku akan mengundurkan diri dari Cin-ling-pai, aku tidak akan menjadi ketua Cin-ling-pai agar aku dapat menikah dengan suami pilihan hatiku sendiri. Aku akan memberi tahu kepada Hay-ko mengenai keputusanku ini."

Setelah berkata demikian ia lalu melangkah pergi meniggalkan ruangan itu.

"Kui Hong...!"

Sui Cin juga bangkit dan hendak mengejar, akan tetapi tangan suaminya menyentuh pundaknya.

"Jangan, tidak ada gunanya lagi,"

Kata suaminya.

Sui Cin mengerti dan ia pun hanya dapat melempar diri ke atas kursi dan menyembunyikan tangisnya di balik kedua tangannya.

Suasana menjadi sangat mencekam dan tiga orang tua itu tenggelam dalam duka dan kecewa.

Dengan muka dan hati masih panas Kui Hong melangkah ke dalam ruangan tamu di mana Hay Hay menunggu.

Akan tetapi, ketika ia tiba disana, ia tidak melihat Hay Hay yang tadi duduk di kursi.

Ia memandang ke kanan kiri, mencari-cari dengan pandang matanya sampai keluar ruangan.

Namun tidak nampak bayangan Hay Hay.

Ia mendekati meja dan kursi dimana tadi Hay Hay duduk dan melihat selembar kertas dilipat di atas meja.

Surat dari Hay Hay!

Dengan tangan gemetar dan jantung berdebar dibukanya lipatan surat dan dibacanya.

Adik Kui Hong tersayang, Kita harus melihat dua buah kenyataan yang membuat perjodohan kita tidak mungkin terjadi.

Pertama, keluargamu tidak setuju, aku menjadi suamimu, dan kedua, aku sendiri tidak suka terikat di Cin-ling-pai kalau menjadi suamimu.

Jangan menjadi anak tidak berbakti dan murid Cin-ling-pai yang murtad, Hong-moi.

Cinta kasih adalah antara dua buah hati, akan tetapi pernikahan sudah diatur oleh Tuhan!

Sudah kupertimbangkan.

Demi kebaikanmu, aku harus mundur.

Aku harus pergi dan jangan tanya ke mana aku pergi, sayang.

Aku sendiri tidak tahu kemana aku pergi.

Sekali lagi ingat, Hong-moi.

Jodoh di tangan Tuhan, maka kalau kita saling berjodoh, biar hari ini berpisah, kelak pasti akan bertemu kembali.

Salam dan doaku, Hay Hay "Hay-koko...!"

Kui Hong menggenggam surat itu dan menjatuhkan kepalanya di atas meja.

Kedua pundaknya berguncang dan walaupun tidak terdengar tangisnya, namun di bawah mukanya, meja menjadi semakin basah air mata.

Kakek Cia Kong Liang, Cia Hui Song dan Ceng Sui Cin beberapa lama kemudian ketika menyusul ke ruangan tamu, mendapatkan gadis itu dalam keadaan pingsan, duduk di kursi dengan kepala di atas meja, surat masih tergenggam di tangan.

Dengan hati-hati Sui Cin mengambil surat itu dan membacanya.

Beberapa butir air mata mengalir turun dari kedua mata nyonya ini.

Ia merasa kasihan sekali kepada Hay Hay dan Kui Hong, akan tetapi juga lega dan girang bahwa pemuda itu telah mengambil keputusan yang demikian bijaksana.

Sayang, pikirnya kalau saja bukan putera Ang-hong-cu, keluarga Cia, dan ia sendiri, pasti akan menerima pemuda itu dengan hati dan tangan terbuka!

Tubuh Kui Hong panas!

Ia terserang demam karena tekanan batin.

Kakek, ayah dan ibunya membujuk dan menghiburnya penuh dengan kata-dan perawatan penuh kasih sayang sehingga akhirnya, bagaimanapun juga, Kui Hong harus membenarkan pendapat dan keputusan kekasihnya.

Ia pulih kembali dan dalam hatinya berjanji akan mengurus Cin-ling-pai sebaiknya, dan tidak akan menikah dengan pria mana pun juga.

Kalau Tuhan menghendaki, kelak pasti ia akan bertemu kembali dengan Hay Hay dan kalau memang menjodohkan mereka, pasti terbuka jalan sehingga pertalian kasih sayang mereka dapat terjalin dalam pernikahan.

Belum pernah selama hidupnya Hay Hay mengalami perasaan seperti saat itu.

Kepalanya terasa berat, seluruh tubuhnya lemas, perasaan hatinya mengambang, tak menentu, dan ada sesuatu yang menekan dan menusuk, seperti himpitan berat yang sekaligus mendatangkan rasa nyeri di dada.

Pandang matanya hampa dan ia merasa betapa dia hidup di dunia yang teramat sunyi dan kosong, bahkan tidak ada artinya, hampa.

Wajahnya yang biasa berseri itu kini muram, senyum yang biasanya tak pernah meninggalkan bibirnya itu kini terganti tarikan mulut seperti orang yang sedang tersiksa nyeri yang amat hebat, sepasang mata yang biasanya bersinar-sinar dan mencorong itu kini bagaikan pelita kehabisan minyak yang hampir padam.

Rambut yang biasanya bersih dan tersisir rapi itu kini kusut dan kotor, juga pakaian yang biasanya rapi itu kini nampak kusut dan seudah perlu diganti.

Memang sudah dua hari Hay Hay tidak makan, tidak tidur, tidak berganti pakaian, tidak mandi.

Selama dua hari dua malam dia berjalan terus, jalan tanpa arah tertentu, asal kedua kakinya melangkah saja.

Banyak lembah bukit dan sawah ladang dilalui, hutan ditembusi, dan dia tidak tahu berada dimana, dari mana atau hendak ke mana.

Dia seperti seorang yang kehilangan ingatan, atau yang kehabisan semangat, kehilangan gairah hidup.

Sejak dia meninggalkan ruangan tamu di rumah keluarga Cia, keluar dari Cin-ling-san, keadaannya sudah seperti itu.

Hanya satu saja yang selalu teringat, selalu terbayang, selalu terngiang, yaitu bahwa dia harus berpisah dari Kui Hong!

Dan satu hal ii justeru membuat perasaan hatinya seperti di tusuk-tusuk.

Ingin dia menjerit, ingin dia menangis.

Ingin memprotes, namun dia tidak mampu melakukannya.

Dia harus meninggalkan kekasihnya.

Harus!

Hanya satu ini yang menjadi tekadnya.

Demi kebaikan Kui Hong.

Dia harus pergi meninggalkannya!

Setiap lambaian daun pohon tertiup angin, atau setiap kicau burung, apa saja yang dilihatnya, seolah-olah tahu akan keadaannya dan ikut berduka dengannya.

Ada pula perasaan bahwa setiap orang yang dijumpainya dalam perjalanan tanpa arah itu, seolah mengejeknya, menyorakinya!

Haus dan lapar membuat dia lemas dan hampir pingsan ketika dia menjatuhkan diri berlutut di tepi sebuah danau kecil yang jernih airnya.

Sejenak dia hanya berlutut saja, memejamkan kedua matanya, masih belum ada gairah untuk minum walaupun air berada didekatnya dan haus mencekik lehernya.

Dan ketika dia memejamkan kedua matanya, malah terbayang wajah Kui Hong.

Wajah yang demikian manisnya, mata yang memandangnya dengan pancaran kasih sayang yang demikian mendalam, dengan ujung bibir bergerak-gerak seolah hendak menyatakan kasih sayangnya dengan seribu satu bisikan.

"Hong-moi... aihhh, Hong-moi..."

Dan kini Hay Hay tidak mampu lagi menahan tangisnya.

Hanya sesenggukan, akan tetapi air matanya jatuh bagaikan hujan deras, menetes-netes, ke dalam air danau di depannya.

Makin dirasakan, semakin perih rasa hatinya dan semakin deras keluarnya air mata.

Belum pernah selama hidupnya dia menangis seperti ini!

Tiada hujan yang takkan mereda, tida tangis tanpa berhenti.

Setelah berlutut sambil menangis dan memejamkan mata selama hampir setengah jam, akhirnya mereda juga badai dan topan yang mengamuk di dalam perasaan hati Hay Hay.

Air matanya terkuras sudah, terkuras bersama air matanya.

Kalau awan mendung yang gelap sudah mencair menjadi air hujan dan jatuh, cuaca pun berubah terang.

Demikian pula, duka nestapa di hati kalau sudah mencair menjadi air mata dan tertumpah keluar, terasa ringan di hati yang tadinya amat tertekan itu.

Hay Hay tanpa sengaja atau disadari, menarik napas panjang.

Seolah-olah hawa udara yang sejuk itu mengalir memasuki paru-paru dan seluruh rongga-rongga kosong yang tadinya diisi hawa kedukaan.

Terasa nyaman dan nikmat sekali, melegakan.

Hay Hay membuka matanya, seolah baru bangun dari mimpi buruk.

Begitu membuka matanya, teringatlah dia akan segala yang terjadi.

Tentang Cin-ling-pai, keluarga Cia, tentang keadaannya selama dua hari dua malam setelah meninggalkan ruangan tamu rumah Kui Hong itu.

Dia menghela napas panjang, merasa heran mengapa dia sampai dapat bersikap seperti itu.

Dan dia menunduk.

Bayangan wajahnya nampak di air danau yang jernih seperti cermin itu.

Dia terkejut.

"Ehh? Kaukah itu, Hay Hay?"

Tanyanya kepada bayangannya.

Dia melihat ketika dia bertanya itu, bayangannya menggerak-gerakkan bibir yang nampak begitu pucat, kering dan dengan tarikan yang menyedihkan, betapa bayangan itu memiliki pandang mata yang seperti mayat hidup, wajah yang kotor dan muram, rambut awut-awutan, pakaian lusuh kototr.

"Ihh! Apa-apan sih kau ini, Hay Hay?"

Tegurnya kepada bayangannya.

Dan tiba-tiba dia membungkuk dan membenamkan kepalanya sendiri sampai ke leher ke dalam air!

Air yang dingin itu meresap ke seluruh kepalanya seperti menembus ke otak, mengusir semua kenangan masa lalu dan bayangan masa depan.

Yang terasa hanyalah dingin dan dingin, segar dan nyaman.

Ketika akhirnya dia mengangkat kembali mukanya dari dalam air, dia agak terengah-engah.

Air menetes-netes dari muka dan rambutnya ketika dia menunduk dan nampak bayangan mukanya yang kacau balau di permukaan air yang pecah.

"Engkau tolol, Hay Hay! Engkau membiarkan kepalamu terbenam dalam duka yang hampa. Lebih baik dibenamkan dalam air sejuk nyaman, ha-ha-ha!"

Dan kembali ia membenamkan kepalanya ke dalam air!

Hal ini berulang sampai beberapa kali, sampai napasnya terengah-engah ketika dia mengangkat kembali kepalanya keluar.

Akan tetapi dia kini telah sadar sepenuhnya.

Nampak benar segala sikapnya yang dianggapnya lucu dan bodoh.

Dia sudah mengambil keputusan untuk mundur dari Kui Hong, karena tahu bahwa hal itu yang sebaiknya bagi Kui Hong, gadis yang dicintanya.

Kenapa setelah mengambil keputusan yang dianggapnya sudah tepat itu, dia lalu menyiksa batin dengan penyesalan, kedukaan, kekecewaan dan kehilangan?

Kini dia duduk di tepi danau, melamun akan tetapi tidak berduka lagi.

Rambutnya sudah dia keringkan, masih terurai di pundak.

Dia bahkan sudah mandi dan berganti pakaian.

Kini dia tinggal menanti pakaian kotor yang dicucinya menjadi kering, dijermurnya di ranting pohon.

Sambil menanti, dia memutar otaknya untuk mengatur langkah hidup selanjutnya.

Kini dia dapat mengenang pengalaman pahit itu tanpa mengeluh, tanpa merasa sakit hati lagi.

Memang dia telah diremehkan keluarga Cia, namun kini, dengan pikiran jernih dan dingin, dia dapat melihat mengapa keluarga Cia meremehkan dirinya dan tidak menyetujui perjodohan antara dia dan Kui Hong.

Dan dia tidak dapat menyalahkan mereka.

Semua ini merupakan akibat daripada sebab yang diperbuat oleh ayah kandungnya, merupakan buah dari pohon yang ditanam oleh Ang-hong-cu.

Kui Hong adalah seorang pangcu yang terhormat yang mempunyai tugas berat, harus menjaga nama baik Cin-ling-pai.

Juga puteri suami isteri pendekar, tokoh Cin-ling-pai yang amat terkenal.

Semua anggauta keluarga Cia merupakan pendekar-pendekar besar, pendekar-pendekar gagah perkasa dan budiman yang selalu menentang kejahatan.

Bagaimana mungkin gadis seperti Kui Hong berjodoh dengan putera Ang-hong-cu, penjahat cabul yang ditentang, dibenci dan bahkan dikutuk oleh semua pendekar?

Hay Hay tertawa-tawa, mentertawakan kebodohannya sendiri.

Pikiran ini hanya alat, kenapa kita suka mempergunakannya untuk mengenangkan dan membayangkan hal-hal yang lalu dan yang akan datang, hanya untuk menimbulkan rasa duka dan ketakutan?

Kenapa kita tidak mempergunakan alat ini untuk hal-hal yang bermanfaat, sehingga melahirkan tindakan-tindakan yang bermanfaat pula?

"Ha-ha-ha, dasar otak udang kau, Hay Hay?"

Katanya sambil tertawa dan sekali lagi dia membenamkan kepalanya ke dalam air sampai ke lehernya!

Ketika dengan terengah-engah dia mengeluarkan lagi kepalanya dari dalam air, dengan rambut basah kuyup menutupi sebagian mukanya, dan air menetes-netes dari hidung dan dagunya, ia mendengar suara ketawa di belakangnya.

Suara tawa merdu seorang wanita!

Kalau saja dia tidak membenamkan kepalanya ke dalam air tadi, tentu dia akan tahu ketika wanita itu datang ke situ.

Akan tetapi, tadi kedua telinganya tertutup air sehingga tahu-tahu ada wanita di belakangnya tanpa dia ketahui.

Dia menengok dan memandang dengan mata terpentang lebar dan mulut ternganga.

Wanita itu makin geli tertawa, menutupi mulut dengan jari tangan akan tetapi celah-celah jari tangan masih memperlihatkan bibir yang merah, gigi berkilat putih dan rongga mulut yang merah dengan lidah yang jambon.

Hidung kecil mancung itu bergerak-gerak ketika ia tertawa.

Lucu sekali!

"Hi-hi-hik, lucunya...

heh-heh...

kau mirip kura-kura yang baru nongol dari dalam air, hi-hi-hi...!"

Hay Hay ikut tertawa dan menyingkap rambut yang menutupi mukanya.

Dengan kepala dan muka basah kuyup seperti itu, memang mungkin sekali dia nampak seperti kura-kura.

Ketika dia menyingkap rambutnya, wanita itu ternganga.

"Ihh..., kau... kau seorang pemuda yang tampan kiranya..."

Ia berkata lirih.

"Kusangka tadi seorang dari kampungku... maafkan,"

Akan tetapi kembali wanita itu tersenyum lebar dengan hati yang masih merasa geli.

"Nona, mengapa engkau mentertawaiku?"

Hay Hay bertanya.

"Engkau yang aneh. Kenapa engkau membenamkan kepalamu ke dalam air sampai lama benar? Itu namanya mandi bukan, mencuci muka juga bukan. Apa sih yang kau lakukan tadi?"

Hay Hay mengusap mukanya yang basah.

Kini mukanya tidak tertutup air, dan dia dapat memandang dengan jelas, dapat melihat sepenuhnya kepada wanita muda yang berdiri di depannya.

Seorang gadis yang belum dua puluh tahun usianya.

Pakaiannya memang sederhana seperti gadis dusun, akan tetapi wajahnya!

Wajah tanpa bedak gincu itu bagaikan setangkai bunga hutan yang amat indah segar seperi selalu mandi air embun.

Sejenak dia terpesona.

"Heiii! Kenapa diam saja, bengong seperti ikan? Kutanya apa yang kau lakukan tadi!"

Gadis itu berkata lagi, semakin geli.

Aduh, mana cantik manis masih lincah genit menggemaskan lagi!

"Aku tadi mengintai ikan!"

Jawabnya sambil tersenyum dan timbul kenakalannya melihat sikap yang wajar dan berani dari gadis dusun itu.

"Mengintai ikan?"

Sepasang mata yang indah itu melebar.

Hay Hay mengangguk, senyumnya semakin cerah dan lupalah dia sudah betapa sejam yang lalu dia masih tenggelam dalam duka!

Pikiran memang seperti ombak lautan, sebentar ke kanan sebentar ke kiri, menjadi permainan suka-duka yang ditimbulkan kenangan masa lalu dan bayangan masa depan.

"Ya, mengintai ikan yang sedang pacaran!"

Sepasang mata indah itu semakin melebar. Jeli dan indahnya! "Ikan... Pacaran? Ikan apa itu?"

Gadis itu bertanya, tertarik sekali akan tetapi juga tidak percaya.

"Entah ikan apa, akan tetapi yang betina cantik bukan main,"

Kata Hay Hay sambil mengamati gadis itu dari kepala sampai ke kaki.

"Ikan betina itu bertubuh ramping padat, mukanya cantik manis dengan sepasang mata bintang, hidungnya kecil mancung, mulutnya... hemmm, bibir kecil merah seperti mencibir, giginya putih mengkilap, dagunya runcing dan ada lesung di sebelah kiri mulutnya, lehernya panjang seperti tangkai bunga teratai, kulitnya putih halus mulus dan segar, sisiknya berwarna hijau muda, rambutnya dihias ukiran perak berbentuk bunga mawar..."

Gadis itu memandang ke arah bajunya yang hijau muda, tangannya meraba rambut dimana terdapat hiasan perak berbentuk mawar.

"Ehh? Seperti aku...?"

Tanyanya dan tahulah Hay Hay bahwa gadis manis ini agak bodoh.

"Bagaimana yang jantan?"

Tanya pula gadis itu.

Hay Hay tersenyum.

Sukar membayangkan gadis manis ini berpacaran dengan orang lain, kecuali dengan dia.

"Yang jantan? Aih, buruk sekali..."

"Kalau begitu ikan itu aku!"

Gadis itu berkata lagi.

Kini Hay Hay yang menjadi heran, akan tetapi sebelum dia berkata sesuatu, nampak seorang laki-laki berlari-larian menuju ke tempat mereka.

Dia mengangkat muka memandang dan gadis itu pun menoleh.

Ketika melihat laki-laki yang sudah lari mendekat itu, si gadis lalu menyongsongnya dan mereka pun bertemu dan berpelukan!

"Koko, engkau menyusul...?"

"Ya, akan kubantu engkau mencuci pakaian, Moi-moi!"

Kata laki-laki itu sambil merangkul leher.

Dan Hay Hay terbelalak.

Laki-laki itu seorang pemuda yang sebaya dengan dia, usianya sekitar dua puluh tahun, tubuhnya pendek sehingga kalah tinggi sedikit bila dibandingkan gadis itu, dan mukanya kehitaman, biarpun tidak buruk sekali akan tetapi jauh daripada tampan.

Cukup jelek dengan mata yang sipit sekali, hidung besar mekar, mulutnya juga lebar dengan bibir tebal.

Akan tetapi pakaiannya mentereng dan gerak-geriknya kuat namun lembut.

"Moi-moi, dengan siapa engkau bercakap-cakap tadi? Siapakah pemuda ini?"

Si pendek itu memandang kepada Hay Hay dengan heran, akan tetapi sedikit pun tidak kelihatan marah.

"Aih, dia?"

Wanita itu terkekeh genit.

"Dia lucu sekali, Koko. Dia tadi membenamkan kepala di air, katanya sedang mengintai ikan, hik-hik! Dan ikan betinanya seperti aku, jantannya seperti engkau, heh-heh!"

Mendengar ucapan gadis itu, mau tidak mau Hay Hay tertawa geli.

"Ha-ha-ha-ha, benar sekali...!"

Katanya.

Kini dia tahu bahwa gadis itu biarpun cantik manis sekali, akan tetapi juga bodoh!

Pria itu juga tersenyum.

"Hemm, kiranya engkau bertemu dengan seorang yang miring otaknya, Moi-moi. Mana ada orang mengintai ikan dan mana ada ikan mirip manusia? Tentu kepalanya panas maka dia membenamkan kepala di dalam air."

Kemudian dia menghampiri Hay Hay dan melihat sebuah batu besar didekatnya, pria itu lalu menggerakkan tangannya ke arah batu.

"Plakkk!"

Ketika tangan itu diangkatnya, di batu tadi nampak bekas telapak tangan yang tertinggal di batu, ada dua sentimeter dalamnya!

Kiranya pria itu memiliki tenaga yang cukup hebat, pikir Hay Hay kagum.

"Saudara yang baik,"

Kata pria itu dengan suara tenang dan sabar.

"Aku hanya ingin mengatakan bahwa amat merugikan diri sendiri kalau seorang pria suka mendekati isteri orang lain."

"Aku tidak mendekati... ohhh, kau mau katakan bahwa gadis ini isterimu?"

Hay Hay terbelalak. Pria pendek itu mengangguk.

"Ia isteriku, kami pengantin baru, belum ada sebulan kami menikah. Ia cantik manis sekali, bukan? Ia kembangnya kampung kami."

Hay Hay menutup mulutnya yang tadi ternganga, dan menelan ludah.

"Isterimu...? Sungguh tak kusangka... ia memang cantik jelita dan pantas menjadi kembang kampung, dan engkau... Hemmm..."

Hay Hay meraba dagunya dan tidak bermaksud menghina.

"terpaksa kukatakan bahwa engkau tidak terlalu tampan."

Pria itu tidak marah, bahkan tertawa sehingga nampak giginya yang besar-besar dan tidak rapi.

"Ha-ha-ha, katakan saja aku buruk rupa, sobat! Memang aku jelek dan ia cantik. Isteriku merupakan kembang di kampung kami, yang paling cantik. Dan ia telah memilih diriku, memilih yang paling baik!"

"Ehh? Kau mau bilang bahwa engkau yang paling tampan di dusunmu?"

Hay Hay bertanya, tidak percaya.

"Bukan paling tampan, akan tetapi paling baik! Aku pemuda yang paling kaya, paling terpelajar, paling pandai, paling kuat di dusun kami. Otakku paling terang. Dan isteriku ini gadis yang paling cantik pula di dusun. Keburukan rupaku tidak mengapa karena isteriku cantik, dan kebodohan isteriku juga tidak mengapa karena aku pandai. Nah, bukankah kami merupakan pasangan yang paling serasi? Kami pasti akan mempunyai anak-anak yang paling hebat!"

"Hemm, mengapa begitu?"

Hay Hay bertanya, menahan perasaan geli hatinya.

Orang ini memang agaknya pintar, walaupun terlalu menonjolkan bagian yang baik dari dirinya.

"Mengapa? Wah, engkau seperti isteriku, termasuk yang kurang cerdik sehingga tidak mampu menangkap inti sari pertanyaanku tadi. Sobat, tentu saja anak-anak kami yang paling hebat karena mereka akan mewarisi keelokan wajah isteriku dan mewarisi kecerdasan otak dariku, ha-ha-ha!"

Dan si pendek itu dengan tangan kirinya menyambar keranjang cucian isterinya, tangan kanan menggandeng isterinya dan berkata.

"Mari, isteriku yang tercinta, kita mencuci ditempat lain."

"Marilah, suamiku tersayang!"

Kata sang isteri bersikap manja.

Mereka pergi, bergandeng tangan mesra, diikuti pandang mata Hay Hay yang masih bengong.

Setelah mereka lenyap disebuah tikungan, barulah Hay Hay tertawa bergelak, bahkan tertawa sampai mengeluarkan air mata dan memegangi perutnya.

"Aduh, Hay Hay, lihat betapa lucunya di dunia ini! Dunia ini seperti panggung sandiwara dan manusia-manusia menjadi pelawaknya! Ha-ha-ha-ha..., pergilah semua duka nestapa, pergilah semua kecewa dan penasaran! Hidup ini masih terlalu indah untuk disusahkan, ha-ha-ha!"

Dan membayangkan kembali suami isteri yang aneh tadi, Hay Hay terus tertawa.

Apalagi ketika dia membayangkan mereka dengan anak-anak mereka, tawanya makin terbahak.

"Ha-ha-ha-he-he... anak-anak mereka... ha-ha-ha-ha, aduh, anak-anak mereka ternyata mewarisi wajah ayahnya dan otak ibunya! Ho-ho-ha-ha-ha...!"

Hay Hay terpingkal-pingkal sampai tubuhnya terlipat dan dia memegangi perutnya.

Akan tetapi wajah anak-anak yang seperti si pendek tadi dengan sinar mata bodoh terus membayanginya sehingga sukar baginya untuk menghentikan tawanya.

Wajah tampan Sim Ki Liong nampak muram dan alisnya berkerut ketika Mayang berkeras minta disediakan dua buah kamar kepada pelayan rumah penginapan dikota Wangsian disebelah utara tepi Sungai Yang-ce.

Seperti kita ketahui, dua orang muda ini meninggalkan pulau Teratai Merah dan sebelum mereka pergi ke tempat tinggal ibu dan guru Mayang diperbatasan Tibet, mereka akan lebih dahulu pergi ke Cin-ling-san untuk mencari Cia Kui Hong di Cin-ling-pai.

Cin-ling-pai masih cukup jauh, diutara karena pegunungan itu terletak ditapal batas Propinsi Se-cuan dan Sen-si.

Adapaun kota Wang-sian terletak dibagian utara Propinsi Se-cuan.

Sudah berkali-kali Ki Liong merasa kecewa karena gadis yang menjadi kekasihnya itu selalu minta disediakan kamar terpisah apabila mereka bermalam dirumah penginapan.

Sikap gadis ini mendatangkan dua pukulan baginya.

Pertama, keinginan untuk segera "memiliki"

Gadis itu menjadi tidak mungkin kalau dia selalu berpisah kamar.

Dan ke dua, sikap gadis itu jelas merupakan bukti bahwa kekasihnya tidak percaya kepadanya!

Tentu saja Ki Liong tidak mau bercekcok dan berbantahan di depan pelayan.

Setelah mereka diantarkan dan mendapatkan dua buah kamar yang bersebelahan, dan pelayan itu pergi, barulah Ki Liong menegur Mayang.

"Mayang, kenapa engkau sampai sekarang masih belum percaya kepadaku? Apa artinya dua kamar terpisah ini? Bukankah kita saling mencinta dan kita adalah calon suami isteri?"

Tegurnya marah.

"Baru calon, Liong-ko. Ingat, kita belum suami isteri, bagaimana mungkin harus sekamar?"

"Akan tetapi, asal kita tidak melakukan pelanggaran, apa salahnya?"

Ki Liong membantah.

"Bukan hanya itu yang harus dijaga, Liong-ko, akan tetapi terutama sekali pandangan dan dugaan orang. apa akan dikata orang kalau mereka tahu bahwa seorang pemuda dan seorang gadis yang bukan suami isteri menginap dalam satu kamar?"

"Perduli amat dengan pandangan dan kata orang, Mayang!"

"Mudah saja engkau berkata demikian karena engkau laki-laki, Liong-ko. Akan tetapi aku perempuan dan aku tidak ingin nama dan kehormatanku tercemar."

Melihat gadis itu sudah merah mukanya dan mulai marah, Ki Liong tersenyum dan menghela napas panjang.

"Baiklah, Mayang, mungkin engkau yang benar. Aku pun tidak mempunyai niat lain kecuali merasa bahwa lebih aman bagi kita kalau sekamar. Juga tidak bertemu semalam saja denganmu rasanya hati ini merasa kesepian dan rindu. Sudahlah, maafkan aku kalau aku bersalah."

Melihat sikap Ki Liong yang mengaku salah dan minta maaf, luluh kekerasan hati Mayang dan ia pun tersenyum lalu memegang tangan kekasihnya.

"Kau tahu, Ling-ko. Penolakanku hanya untuk kebaikan kita berdua. Sabarlah, kalau kita sudah menghadap ibu dan subo, kalau kita sudah menikah, tentu setiap saat kita berkumpul dan takkan berpisah lagi."

Ki Liong menggenggam tangan kekasihnya sejenak, lalu melepaskan dan mereka memasuki kamar masing-masing.

Pada saat itu, sepasang mata yang jeli memandang ke arah Ki Liong.

Sejak pemuda dan gadis itu memasuki rumah penginapan, pemilik sepasang mata jeli ini sudah mengikuti mereka.

Akan tetapi karena pemilik mata itu mengikuti gerak-gerik mereka, bahkan mendengarkan percakapan mereka di depan kamar Mayang sambil bersembunyi, Ki Liong dan Mayang tidak tahu bahwa ada orang memperhatikan mereka.

Setelah Ki Liong dan Mayang memasuki kamar masing-masing, pemilik mata jeli itu tersenyum dan mengangguk-angguk.

Menjelang tengah malam, Ki Liong yang sudah pulas terbangun oleh suara ketukan perlahan di jendela kamarnya.

Sebagai seorang ahli silat yang pandai, sedikit suara saja sudah cukup untuk membangunkannya.

Dan begitu terbangun dia pun sudah siap siaga, meloncat dengan cepat turun dari pembaringan dan tanpa mengeluarkan suara sedikit pun dia sudah mendekati jendela kamarnya yang tertutup, mendengarkan dengan penuh perhatian.

"Tik-tik-tik!"

Lirih saja ketukan itu.

Tentu pengetuknya menggunakan kuku jari tangan saja untuk mengetuk daun jendela kamarnya.

Karena pengetuk itu bersikap hati-hati dengan ketukan lirih seolah tidak ingin membuat gaduh.

Ki Liong mengira bahwa tentu Mayang sipengetuk itu, dan tentu terjadi sesuatu yang membuat kekasihnya itu curiga.

Cepat dia membuka daun jendela tanpa mengeluarkan suara dan begitu daun jendela dibuka dan dia pun siap menghadapi serangan kalau yang datang itu musuh.

Dia melihat bayangan berkelebat, bayangan yang ramping.

Tentu Mayang!

Bayangan itu meloncat menjauhi kamar dan menyelinap ke bagian yang gelap disudut taman diluar kamarnya itu.

Ki Liong cepat mengenakan sepatunya dan dia pun meloncat keluar dari jendela dengan gerakan seperti seekor burung saja, lalu dia berlari menuju ke tempat gelap itu, kini hampir yakin bahwa Mayang tentu menemukan sesuatu dan memanggil dia keluar.

Ketika dia tiba disudut gelap itu, bayangan itu muncul bahkan berdiri di bawah lampu gantung sehingga sinar lampu menerangi dirinya dan nampak wajah dan tubuhnya, cukup jelas.

Ki Liong terbelalak, kaget dan heran.

Bukan Mayang!

Walaupun tak kalah cantiknya!

Seorang wanita muda, namun jauh lebih dewasa daripada Mayang, usianya sekitar dua puluh lima tahun, berwajah lonjong manis dengan senyum memikat dan matanya tajam dengan kerling yang amat genit.

Wanita itu memiliki bentuk tubuh yang menggairahkan, dengan sikap menantang berdiri menanti dengan senyum dan kerling penuh arti.

Seorang wanita yang sudah matang!

Ki Liong menghampiri dan berdiri berhadapan.

Mereka saling pandang dan wanita itu mengamati Ki Liong seperti seorang pedagang kuda sedang mengamati dan menilai seekor kuda yang akan dibelinya.

"Nona, siapakah engkau dan mengapa pula mengetuk daun jendela kamarku?"

Tanya Ki Liong, suaranya lirih agar jangan sampai terdengar orang lain, terutama Mayang walaupun kini kamar gadis itu agak jauh dari situ.

Wanita itu tersenyum lebar sehingga nampak deretan gigi putih mengkilap yang menambah kecantikannya.

"Kiranya engkau seorang yang memiliki kepandaian hebat, seorang pendekar! Caramu melompat keluar dari kamarmu tadi..."

"Nona, siapakah engkau dan mengapa pula..."

Ki Liong mengulang pertanyaannya.

"Hi-hik, pendekar kesepian! Aku pun senasib denganmu. Aku pun merasa kesepian sekali. Sepi, dingin dan rindu!"

Kembali senyum dan kerlingnya memikat.

Ki Liong bukan seorang pemuda alim.

Sama sekali bukan.

Dia bahkan pernah menjadi hamba nafsu yang tidak pantang melakukan apa pun demi pemuas nafsunya.

Kini, menghadapi seorang wanita yang demikian cantik manis dan menggairahkan, yang menantang lagi, tentu saja jantungnya sudah berdebar tegang, membayangkan hal-hal yang amat menyenangkan.

Akan tetapi dia pura-pura tidak mengerti.

"Maksudmu bagaimana?"

"Hi-hik, orang muda yang ganteng. Kita dapat saling menolong mengusir kesepian masing-masing, saling menghangatkan dan saling mengobati hati rindu. Aku pun bermalam disini. Kamarku disana. Marilah kita bicara dikamarku!"

Wanita itu menunjuk ke kiri.

Akan tetapi biarpun gairahnya sudah bangkit oleh kecantikan wanita yang menantangnya itu, Ki Liong bukan orang yang ceroboh atau bodoh.

Dia selalu berhati-hati karena maklum bahwa dia mempunyai banyak musuh.

Dia tidak mengenal siapa wanita ini sehingga bahaya tetap saja mungkin mengancamnya.

Siapa tahu ini merupakan sebuah perangkap dan dia tidak begitu bodoh untuk memasuki perangkap hanya karena tertarik paras cantik dan sikap genit memikat.

"Nona, usulmu memang baik dan memikat. Kita dapat saling menghibur. Akan tetapi, kamarku lebih dekat. Maka, kalau benar engkau menghendaki dan jujur, mari kita bicara dikamarku saja."

Wanita itu tersenyum dan mengedipkan matanya.

"Tapi... kamar gadis Tibet itu berdampingan dengan kamarmu. Kalau ia mendengar..."

Ki Liong tersenyum.

"Perlukah kita membuat gaduh? Bicarapun dapat berbisik kalau mulut dan telinga kita saling berdekatan."

Dia pun mengedipkan matanya.

Wanita itu tertawa, tampa menutupi mulutnya dan hal ini memang tidak perlu.

Mulutnya amat menarik kalau ia tertawa.

Hanya ia menahan diri sehingga suara tawanya tidak nyaring.

Dan ia pun mengangguk.

"Mari kita berlumba siapa yang dapat masuk lebih dulu kekamarmu tanpa mengeluarkan suara gaduh sedikitpun!"

Kata wanita itu.

"Yang kalah harus menuruti semua permintaan yang menang."

Ki Liong tersenyum.

Kalah atau menang sama enaknya baginya, baik dia yang memerintah atau yang diperintah.

"Baik, silakan!"

Katanya, akan tetapi terkejutlah dia melihat wanita itu bergerak cepat sekali, seperti meluncur saja menuju ke kamarnya.

Dia pun cepat mengerahkan gin-kangnya mengejar, namun ketika dia meloncat ke dalam kamarnya melalui jendela yang terbuka, wanita itu rebah diatas pembaringan sambil tersenyum dan mengembangkan kedua lengannya.

"Nah, kau kalah. Sekarang kuperintahkan tutup dan palang daun jendela, lalu ke sinilah, aku kedinginan!"

Dengan patuh dan dengan senang hati Ki Liong mentaati perintah itu.

Mereka segera mendapat kenyataan yang amat menyenangkan hati mereka karena mereka itu bagaikan minyak bertemu api.

Ki Liong menemukan seorang wanita yang benar-benar menggairahkan, berpengalaman dan bagaikan bunga sudah mekar sepenuhnya, bagaikan buah sudah masak benar.

Di lain pihak, wanita itu pun dengan heran dan gembira menemukan seorang pemuda yang sama sekali tidak hijau seperti yang disangkanya semula, melainkan seorang laki-laki yang banyak pengalaman dan pandai menyenangkan hatinya.

Tidak mengherankan jika mereka segera menjadi amat mesra dan akrab, tidak seperti dua orang yang baru bertemu melainkan sebagai sepasang kekasih yang sudah saling berkasih-kasihan selama bertahun-tahun.

Keduanya pun menjadi semakin kagum ketika mereka saling menceritakan riwayat masing-masing dengan sejujurnya.

Keduanya dapat merasakan bahwa mereka masing-masing telah bertemu dengan orang yang dapat dipercaya sepenuhnya, orang yang memiliki kecocokan hati.

Wanita itu memperkenalkan dirinya.

Ia bukan lain adalah Tok-ciang Bi Moli (Iblis Betina Cantik Tangan Beracun) Su Bi Hwa!

Ketika Sim Ki Liong mendengar bahwa kekasihnya yang cantik manis dan pandai menyenangkan hatinya ini murid Pek-lian Sam-kwi, tahulah dia bahwa wanita ini memang seorang tokoh sesat yang berilmu tinggi, pantas sekali menjadi kekasihnya dan juga sekutunya.

Dia pun bercerita terus terang siapa dirinya.

Ketika mendengar bahwa pemuda ganteng itu adalah murid Pendekar Sadis di Pulau Teratai Merah, Su Bi Hwa terkejut bukan main sampai ia melompat turun dari atas pembaringan dan memandang pemuda itu dengan muka pucat dan mata terbelalak.

"Pen..., Pendekar Sadis...?"

Ia berseru dalam bisikan.

Siapa orangnya tidak gentar mendengar nama julukan itu?

Bahkan para datuk sesat sekalipun menjadi gentar kalau mendengar nama Pendekar Sadis.

Pendekar itu memang sekarang jarang meninggalkan pulaunya dan tidak pernah mencampuri urusan dunia persilatan.

Akan tetapi sekali dia keluar, kalau ada penjahat bentrok dengan dia, maka nasib penjahat itu akan mengerikan sekali.

Pendekar Sadis terkenal tak pernah dapat memberi ampun kepada musuhnya, dan dia bukan hanya membunuh, akan tetapi juga menyiksa lawannya sedemikian rupa sehingga para penjahat lain yang mendengarnya menjadi ngeri dan ketakutan.

Ki Liong tersenyum dan dia pun melompat turun, merangkul dan menarik Bi Hwa ke dalam pelukannya.

"Jangan takut, manis. Aku adalah muridnya, dan aku tidak sadis seperti guruku. Lihat, aku tidak sadis terhadap dirimu, bukan?"

Bi Hwa menghela napas panjang.

"Ihh, engkau sungguh mengejutkan hatiku, Ki Liong. Pantas engkau lihai bukan main. Kiranya engkau murid Pendekar Sadis."

"Bekas muridnya, Bi Hwa. Aku sudah diusir dari pulau Teratai Merah dan tidak diakui lagi sebagai murid."

Ki Liong lalu menceritakan tentang hubungannya yang terputus dari suhu dan subonya di pulau itu.

Tanpa malu-malu lagi dia menceritakan betapa dahulu dia melarikan diri sambil mencuri pedangmilik gurunya, akan tetapi kemudian dia mengembalikan pedang dengan maksud minta diampuni.

Akan tetapi, suhu dan subonya tidak mau mengampuninya.

"Hatiku sakit sekali, B Hwa. Akan tetapi apa yang dapat kulakukan? Mereka itu lihai bukan main. Dan memang sebetulnya aku pun tidak ingin sekali kembali ke sana dan hidup sebagai pertapa. Aku tidak akan kembali lagi ke sana!"

"Bagus, Ki Liong. Cocok sekali dengan aku! Aku pun tidak suka terikat seperti itu. Aku ingin bebas menikmati hidup ini. Aku senang sekali dapat bertemu dan berkenalan denganmu, bahkan kita menjadi sepasang kekasih yang cocok. Mari kita hidup bersama, kita mencari kesenangan sepuasnya, kita bertualang bersama!"

Bi Hwa merangkul.

Belum pernah selama hidupnya ia bertemu dengan seorang kekasih yang sehebat ini, juga yang ia tahu amat lihai.

Murid Pendekar Sadis!

Bayangkan!

"Aku pun senang sekali bertemu denganmu Bi Hwa.

Kita memang cocok dan hidup ini akan menggembirakan sekali kalau kita dapat selalu bersama-sama dan mengadakan petualang bersama.

Akan tetapi, aku mempunyai teman, bahkan ia tunanganku..."

"Hemm, gadis cantik peranakan Tibet itu?"

"Kau tahu?"

"Tentu saja. Sudah sejak tadi aku mengintai kalian. Aku pun merasa heran mengapa kalian tidak tidur sekamar. Hemm, agaknya tunanganmu itu menjaga kehormatannya dengan ketat, ya? Dan engkau bertunangan dengan gadis kuno seperti itu?"

"Hemm, terus terang saja, Bi Hwa. Aku mencinta Mayang, gadis itu. Dan ia bahkan pernah menyelamatkan nyawaku ketika aku terancam maut di tangan musuh. Aku cinta padanya, akan tetapi ia memang selalu menjauhkan diri, mengatakan bahwa ia hanya mau menyerahkan diri kalau kami sudah menikah. Itulah yang menyusahkan hatiku. Kalau saja ia bersikap seperti engkau ini, betapa akan bahagianya hatiku."

Tok-ciang Bi Moli Su Bi Hwa tertawa.

Ia adalah seorang wanita yang tidak lagi mengenal apa artinya cinta.

Sejak kecil ia digembleng tiga orang gurunya, yaitu Pek-lian Sam-kwi.

Dan sejak ia berusia lima belas tahun, tiga orang gurunya itu menggauli murid ini sehingga mulai saat itu, Bi Hwa menjadi murid dan juga kekasih tiga orang gurunya yang mesum akhlak itu.

Dan sejak itu pula, Bi Hwa menjadi seorang hamba nafsu, melampiaskan nafsunya kepada pria mana saja yang berkenan dihatinya.

Ia hanya mengenal nafsu berahi, sama sekali tidak mengenal apa artinya cinta!

Oleh karena itu, mendengar seorang rekan dalam dunia sesat seperti Sim Ki Liong mengaku jatuh cinta kepada seorang gadis, ia pun tertawa.

"Heh-heh-hi-hik, Ki Liong, engkau sungguh aneh. Kalau kekasihmu itu tidak mau kau dekati, apa sih sukarnya bagi orang sepandai engkau? Banyak jalan untuk dapat memaksanya menyerahkan diri kepadamu. Engkau dapat meringkus dan menotoknya, engkau dapat memberi minum obat bius atau perangsang kepadanya. Sekali ia sudah menyerahkan diri kepadamu, tentu selanjutnya ia akan menjadi penurut."

Ki Liong menggeleng kepalanya.

"Engkau tidak tahu gadis macam apa adanya Mayang! Pertama, ia juga lihai, murid Kim Mo Sian-kauw, dan biarpun aku mampu mengunggulinya dalam ilmu silat, namun tidak mudah menundukkan Mayang. Kedua, aku ingin ia menyerah dengan cintanya kepadaku seperti sekarang ini. Kalau aku memaksanya, ia tentu akan membenciku dan aku tidak menghendaki itu. Aku cinta padanya."

Bi Hwa mencium pipi pemuda itu.

"Disini ada aku yang dengan senang hati mau menyerahkan diri kepadamu dengan cinta, kenapa engkau masih menghendaki wanita lain? Apakah aku kurang hangat, kurang memuaskan?"

Ki Liong mencubit dagu yang manis itu.

"Engkau hebat, Bi Hwa. Akan tetapi, engkau lebih cocok menjadi kekasihku dan sekutuku, kita bertualang bersama, bercinta bersama, saling bantu dan saling bela. Akan tetapi aku ingin Mayang menjadi isteriku, aku ingin ia menjadi ibu dari anak-anakku."

"Ihh! Aku tidak mau menjadi ibu!"

Bi Hwa berkata genit.

"Itu hanya akan merusak keindahan tubuh dan membuat aku cepat tua!"

Ia tertawa-tawa.

"Kalau engkau benar-benar menganggap aku sebagai kekasih dan sekutu, dan selalu akan menyenangkan hatiku seperti sekarang ini, aku mempunyai cara untuk membuat ia menyerah kepadamu tanpa paksaan, melainkan dengan sukarela, Ki Liong."

Tentu saja Ki Liong merasa girang sekali.

"Kalau benar engkau mampu membuat Mayang menyerah kepadaku secara sukarela, aku akan semakin sayang kepadamu, Bi Hwa. Akan tetapi, bagaimana caranya? Ingat, hati Mayang keras sekali dan ia amat sukar ditundukkan."

"Hi-hi-hik, kau lihat saja nanti. Besok pagi, perkenalkan aku kepadanya. Katakan bahwa kita pernah berkenalan..."

Mereka lalu bisik-bisik mengatur siasat untuk membuat Mayang dapat menerima Bi Hwa sebagai seorang sahabat!

"Engkau tadi telah menceritakan riwayatmu, Ki Liong.

Akan tetapi, sekarang bersama Mayang, engkau hendak pergi kemanakah?"

"Aku sendiri bingung, Bi Hwa. Tadinya, setelah kami pergi dari Pulau Teratai Merah, Mayang mengajak aku pergi ke barat untuk minta restu ibunya dan gurunya agar kami dapat menikah. Akan tetapi aku tidak ingin melakukan perjalanan jauh dan sukar itu, maka kuusulkan kepadanya untuk mencari Cia Kui Hong di Cin-ling-pai agar Kui Hong memberi surat kepada guru-guruku di pulau Teratai Merah. Setelah kupikir-pikir, tidak enak juga. Sebetulnya, aku tidak ingin kembali kepada guru-guruku, hanya Mayang selalu mendesak."

"Ke Cin-ling-pai?"

Bi Hwa bergidik.

Baru saja ia meninggalkan Cin-ling-pai setelah gagal menguasai perkumpulan itu, bahkan ia nyaris tewas dan ketiga orang gurunya juga tewas oleh keluarga Cin-ling-pai.

"Pergi ke Cin-ling-pai sama saja dengan ular mencari penggebuk, Ki Liong. Justeru keluarga Cin-ling-pai adalah musuh besarku. Merekalah yang membunuh tiga orang guruku."

Ki Liong bangkit duduk dan mengangguk-angguk sambil mengerutkan alisnya.

"Terus terang saja, mereka pun tadinya musuh-musuhku. Cia Kui Hong, ketua Cin-ling-pai itu pun tadinya musuh besarku dan aku hampir saja tewas ditangannya kalau tidak ada Mayang yang menolongku. Aku pun tidak suka kepada mereka yang sombong."

"Kalau begitu, untuk apa pergi kesana? Lebih baik kalau kau pergi bersamaku ke kota raja. Bukankah kita akan bertualang, mencari keuntungan dan kesenangan, menikmati hidup ini? Nah, aku mempunyai rencana yang kalau berhasil akan membuat kita hidup mulia, terhormat, dan kaya raya."

"Aih, nampaknya menarik sekali. Apakah rencanamu itu, manis?"

Kembali mereka berbisik-bisik.

Malam itu mereka penuhi dengan mengatur siasat kerja sama dan membiarkan diri hanyut dalam gelombang nafsu berahi.

Dan pada keesokan harinya mereka telah menjadi sekutu yang saling mencinta dan mereka telah menemukan pasangan yang amat menyenangkan.

Setelah Mayang bangun dan mandi, ia ditemui Ki Liong yang juga sudah nampak segar walaupun matanya agak sayu karena kurang tidur dan lelah, dan pemuda itu mengajaknya sarapan di sebuah kedai bubur.

Di kedai inilah, ketika mereka sedang makan bubur, masuk seorang wanita cantik.

Setelah melihat ke kanan kiri mencari tempat kosong, wanita itu melihat Ki Liong dan Mayang dan ia pun berseru.

"Ki Liong...! Bukankah engkau Ki Liong...?"

Wanita itu bukan lain adalah Su Bi Hwa yang mulai (Lanjut ke

Jilid 09) Jodoh Si Mata Keranjang (Seri ke 11 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya .

Asmaraman S.

Kho Ping Hoo

Jilid 09 memainkan sandiwara yang sudah diaturkan semalam dengan Ki Liong.

Ki Liong dan Mayang terkejut dan mereka menengok.

Mayang merasa heran sekali melihat seorang wanita yang cantik manis, dengan pakaian yang mewah, pesolek, berdiri tak jauh di dalam kedai itu dan memandang kepada Ki Liong dengan senyum ramah.

Ki Liong bangkit berdiri dan dia pun mulai bersandiwara.

Dia memandang dengan ragu, lalu mengangkat kedua tangan depan dada dengan sikap hormat dan berkata.

"Maafkan aku, nona. Akan tetapi, siapakah nona?"

Mayang masih duduk, dan ia mengamati wanita itu dengan penuh selidik.

Melihat wanita cantik yang sinar mata dan senyumnya genit memikat itu, hatinya menaruh curiga dan ia merasa tidak enak hati.

Akan tetapi, wanita itu tersenyum ramah dan menekat.

Semerbak harum menyengat hidung Mayang ketika wanita itu mendekat, dan ia semakin tidak senang.

Ia memang tidak suka melihat wanita memakai minyak wangi sedemikian banyaknya sampai semerbak baunya.

"Ki Liong, benarkah engkau sudah lupa kepadaku? Ketika aku berusia sepuluh tahun, bukankah aku yang menjadi sahabatmu bermain-main di dusun, dan ketika engkau menjadi ketua Kim-lian-pang, kita juga pernah bertemu."

Sepasang mata Ki Liong bersinar, wajahnya perlahan-lahan berseri.

"Ah, engkau kiranya Bi Hwa! Ya, aku ingat, engkau tentu Bi Hwa!"

Bi Hwa tersenyum ramah.

"Bagus, akhirnya engkau ingat juga kepada sahabat lamamu! Engkau tampak agak kurus, Ki Liong dan ini... Eh, adik manis ini siapakah?"

"O ya, kuperkenalkan. Mayang, ini adalah Su Bi Hwa, seorang sahabat baikku sejak kami masih kanak-kanak. Sekarang ia telah menjadi wanita yang lihai sekali. Dan Bi Hwa sahabatku, perkenalkan, ini adalah Mayang, tunanganku."

"Tunangan? Ah, kionghi (selamat) kalau begitu! Kiranya engkau sudah bertunangan dan tentu tak lama lagi akan menikah."

Dengan ramah Bi Hwa memberi hormat dan dibalas oleh Mayang.

Bi Hwa dipersilakan duduk di meja mereka dan Ki Liong memesan bubur untuk tamu ini.

"Bagaimana engkau dapat berada di Wang-sian ini? Dimana engkau bermalam, Bi Hwa?"

"Di losmen Goat-likoan,"

Jawab Bi Hwa.

"Ah, kami juga bermalam disana!"

Kata Mayang. Bi Hwa memandang heran.

"Benarkah? Aih, kita selosmen akan tetapi tidak saling berjumpa!"

Mereka selesai makan dan melanjutkan percakapan di ruangan tamu losmen di mana mereka bermalam.

Dan Mayang segera dapat akrab dengan Bi Hwa.

Ia mendapat kenyataan bahwa Bi Hwa seorang wanita yang ramah sekali, pula luas pengetahuannya, dapat menceritakan hal-hal yang amat menarik.

Juga lenyaplah semua kecurigaannya karena sikap Ki Liong dan Bi Hwa sungguh akrab seperti dua orang sahabat lama.

Apalagi ia mendengar Bi Hwa mengaku bahwa ia seorang janda, bahwa suaminya sudah meninggal dunia di tangan orang-orang jahat dan ia sudah membalaskan kematian suaminya.

"Sejak itu, aku mengambil keputusan untuk tidak menikah lagi, Adik Mayang. Aku pujikan saja engkau dan Ki Liong akan menjadi suami isteri yang baik. Eh, ngomong-ngomong, kapan menikahnya? Jangan lupa mengundang aku."

Wajah Mayang berubah kemerahan ketika Ki Liong menjawab terus terang.

"Kalau aku sih ingin segera menikah, akan tetapi Mayang hendak minta restu ibunya dan gurunya lebih dulu. Akan tetapi ia memang benar, apalagi aku belum mempunyai pekerjaan yang tetap untuk membiayai kehidupan berumah tangga."

"Bagaimana mungkin aku dapat menikah di luar persetujuan ibu dan suboku?"

Kata Mayang membela diri karena ia maklum bahwa kekasihnya masih marah oleh penolakannya tinggal sekamar.

Bi Hwa tersenyum.

"Kalian berdua memang benar. Akan tetapi menurut pendapatku, alasan Ki Liong paling kuat. Orang berumah tangga membutuhkan biaya, dan kehidupan setiap hari pun tidak ringan. Seorang suami memang harus memiliki penghasilan yang tetap dan mantap. Ki Liong, kenapa engkau tidak mencari pekerjaan di kota raja? Dengan kepandaianmu, tentu tidak sukar bagimu untuk mendapatkan kedudukan yang tinggi."

"Bi Hwa, kau kira mudah begitu saja mendapatkan kedudukan di kota raja? Disana gudangnya orang pandai. Lebih banyak orangnya daripada jabatan yang diperebutkan. Tanpa adanya perantara yang berkuasa, mana mungkin mendapatkan pekerjaan yang baik?"

"Jangan khawatir, Ki Liong. Aku mempunyai seorang kenalan baik, seorang pejabat tinggi di kota raja, sahabat mendiang sauamiku dahulu. Kalau engkau memang membutuhkan pekerjaan, mari bersama dengan aku ke sana. Aku pun sedang pergi ke sana, juga untuk mencari pekerjaan yang sesuai dengan kemampuanku."

"Bagus sekali! Ah, bagaimana, Mayang? Ini kesempatan baik sekali! Mari kita ikut Bi Hwa ke kota raja mencari kedudukan yang baik."

"Tapi, bagaimana perjalanan kita menjadi tertunda-tunda?"

Mayang membantah.

"Pertama, kita akan pergi kebarat, ke rumah ibuku. Lalu engkau mengubahnya, engkau ingin lebih dulu bertemu enci Kui Hong di Cin-ling-pai, kemudian sekarang kembali kita mengubah perjalanan, ke kota raja!"

Mendengar ini, Bi Hwa mendekati Mayang dan menaruh tangannya di pundak gadis Tibet itu.

"Adik Mayang, kalau kita menghadapi beberapa pilihan, kita sebaiknya memilih yang paling penting lebih dahulu. Urusan menemui ketua Cin-ling-pai dan menemui ibu dan gurumu, biarpun penting, namun dapat ditunda karena mereka itu mempunyai tempat yang tetap dan tidak akan kemana-mana. Datang hari ini atau lain bulan pun sama saja. Akan tetapi, urusan pekerjaan lain lagi. Sekarang ada kesempatan yang amat baik. Aku akan menjadi perantara, ada kenalanku disana. Kalau ditunda lain kali, tanpa perantara, akan amat sukar mendapatkan kedudukan yang baik."

"Benar sekali, Mayang. Pula bagaimana mungkin aku berani menghadap ibumu dan mengajukan lamaran atas diriku kalau belum mempunyai pekerjaan apapun? Kalau ibumu atau subomu bertanya tentang pekerjaanku, bagaimana aku harus menjawab mereka?"

Ki Liong membujuk pula.

Dibujuk oleh dua orang itu yang sebelumnya memang sudah mengatur siasat, akhirnya Mayang terpaksa mengalah.

Alasan kedua orang itu terlalu kuat.

Pula, perlu apa tergesa-gesa mendapatkan persetujuan menikah.

Yang penting, Ki Liong sudah mengubah wataknya dan menjadi orang baik-baik, dan mereka berdua saling mencinta.

Iapun ingin merantau ke kota raja sebelum memasuki hidup berumah tangga yang akan mengikat ia di rumah sebagai ibu rumah tangga.

Kaisar Cia Ceng (1520-1566) dari Kerajaan Beng-tiauw adalah seorang kaisar yang sebetulnya tidak dapat dibilang bijaksana.

Dia bahkan lemah dan tentu akan menjadi permainan para penjilat yang menjadi pembesar di sekelilingnya kalau saja di dalam pemerintahannya tidak ada dua orang menteri yang pandai dan bijaksana.

Yang pertama adalah Menteri Yang Ting Hoo yang ahli siasat dan mengatur pemerintahan, sabar dan bijaksana.

Usia menteri ini lima puluh tiga tahun dan dia adalah merupakan orang kedua setelah menteri Cang Ku Ceng yang usianya lima puluh enam tahun.

Menteri Cang Ku Ceng merupakan menteri yang disegani kaisar dan untung bagi negara bahwa kaisar masih suka mendengar nasihat kedua orang menteri itu, terutama Menteri Cang Ku Ceng.

Menteri Cang Ku Ceng yang usianya lima puluh enam tahun itu masih nampak kokoh kuat.

Tinggi besar dan brewok, dengan tubuh tegap, namun sikapnya halus dan dia cerdik bukan main.

Kemajuan yang dicapai Kaisar Cia Ceng sebagian besar karena jasa Menteri Cang Ku Ceng.

Namun, Menteri Cang tidak pernah mau menonjolkan dirinya.

Dia menganggap bahwa semua hasi jerih payahnya itu merupakan tugas, merupakan kewajiban seorang pejabat pemerintahan.

Dia menghembakan diri demi rakyat, demi negara, demi kaisar.

Kalau ada penyelewengan di lingkungan istana, dia tidak segan-segan untuk menegur dan memperingatkan kaisar.

Hal ini pun dia anggap sebagai tugas seorang pejabat.

Bukan hanya menyenangkan hati kaisar saja tugas seorang pejabat, melainkan juga menjaga agar kaisar dan seluruh pembantunya melaksanakan tugas dengan baik dan adil.

Cang Taijin (Pembesar Cang) atau Menteri Cang ini hanya mempunyai seorang putera yang bernama Cang Sun.

Dari beberapa orang selirnya, dia hanya mempunyai seorang anak perempuan yang bernama Cang Hui.

Cang Sun berusia tiga puluh tahun, tampan dan lembut, seorang sastrawan yang pandai.

Sedangkan adik tirinya, Cang Hui, berusia delapan belas tahun, cantik manis dan lincah jenaka.

Pada waktu itu, biarpun usianya sudah tiga puluh tahun, Cang Sun belum menikah.

Menteri Cang dan isterinya sudah seringkali membujuk, namun Cang Sun selalu menolak.

Pernah Cang Sun jatuh cinta kepada pendekar wanita Cia Kui Hong yang membantu Menteri Cang mengamankan negara, akan tetapi pendekar wanita yang menjadi ketua Cin-ling-pai itu tidak membalas cinta kasih pemuda bangsawan itu karena ia sendiri sudah jatuh cinta kepada pendekar petualang Tang Hay yang dijuluki Pendekar Mata Keranjang.

Dan sejak kegagalan cinta itu, Cang Sun tidak pernah setuju untuk dinikahkan dengan gadis mana pun pilihan orang tuanya.

Padahal, banyak dara yang pandai dan cantik, lebih cantik dari Cia Kui Hong, yang dicalonkan menjadi isterinya, namun Cang Sun selalu menolak.

Hal ini membuat Menteri Cang dan isterinya kadang termenung dan berduka.

Pembesar ini terlalu bijaksana untuk memaksa puteranya.

Dia tahu bahwa untuk satu hal ini, yaitu pernikahan, amat tidak baik kalau digunakan paksaan.

Dia hendak memberi kebebasan memilih kepada puteranya.

Akan tetapi, usia puteranya sudah tiga puluh tahun dan nampaknya Cang Sun belum juga berminat untuk memilih seorang wanita sebagai jodohnya!

Dan menurut penyelidikannya melalui para petugas, di dalam pergaulannya, Cang Sun tidak pernah mendekati wanita, tidak pernah mengunjungi rumah pelesir.

Cang Taijin dan isterinya lalu berusaha untuk mendekatkan putera mereka itu kepada seorang gadis yang baik.

Mereka tentu saja merasa cemas.

Cang Sun merupakan putera tunggal, penyambung keturunan keluarga Cang!

Akhirnya mereka menemukan pilihan mereka.

Dara itu berusia delapan belas tahun dan bukan orang luar.

Namanya Tan Cin Nio, seorang gadis yang cantik jelita, manis, pendiam, pandai dan cerdas.

Juga ia masih saudara misan puteri mereka, jadi masih keponakan dari ibu Cang Hui yang menjadi selir Menteri Cang.

Ayah dan gadis itu tentu saja merasa bangga bahwa puteri mereka dipilih oleh Menteri Cang untuk dijodohkan, atau setidaknya, dicalonkan sebagai jodoh Cang Sun.

Maka, mereka menyetujui sepenuhnya ketika Menteri Cang dan selirnya minta agar Tan Cin Nio tinggal di rumah bangsawan itu.

Akan tetapi, biarpun Cin Nio dan Cang Hui segera akrab sekali karena mereka memang saudara misan, Cang Sun tidak kelihatan tertarik.

Biarpun demikian, Menteri Cang tidak putus asa dan selirnya selalu berusaha mendekatkan dua orang muda ini.

Bagi Cin Nio sendiri, tentu saja dalam sudut hatinya, Ia merasa setuju karena sejak kecil ia memang sudah kagum terhadap Cang Sun yang terkenal ganteng dan terpelajar, putera bangsawan yang berkedudukan tinggi dan kaya raya!

Namun, ia seorang gadis pendiam dan biarpun seringkali misannya, Cang Hui menggodanya, ia tidak pernah memperlihatkan rasa kagum dan harapannya terhadap pemuda bangsawan itu.

Cang Hui amat mengagumi Cia Kui Hong, pendekar wanita yang pernah membantu ayahnya membasmi para pemberontak, dan tadinya ia sudah merasa gembira mendengar bahwa ayahnya ingin mengambil pendekar wanita itu sebagai menantunya.

Akan tetapi, ia merasa kecewa sekali ketika Kui Hong menolak dan meninggalkan kota raja.

Ia merasa penasaran dan timbul keinginannya untuk belajar ilmu silat!

Ketika ia mengajukan permohonan kepada ayahnya, Menteri Cang yang bijaksana tertawa dan tidak keberatan.

Ilmu silat memang penting, pikirnya, biar untuk anak perempuan sekali pun.

Pertama, ilmu itu menyehatkan badan, ke dua, ilmu dapat dipergunakan untuk membela diri dari ancaman perbuatan jahat dan mendatangkan jiwa pendekar yang gagah dan membela kebenaran.

Dia bukan saja menyetujui, bahkan dia lalu memilih seorang diantara para panglimanya yang ahli silat, yaitu Panglima Coa yang usianya sudah enam puluh tahun, untuk menjadi guru silat bagi puterinya.

Kegembiraan Cang Hui bertambah ketika adik misannya, Tan Cin Nio, yang kini tinggal dirumah keluarganya, ternyata pernah belajar ilmu silat pula.

Dengan demikian, ia mempunyai teman untuk berlatih silat.

Hanya Cang Sun yang tidak suka belajar ilmu silat.

Dia bahkan mengejek adiknya yang suka belajar ilmu silat.

"Engkau ini anak perempuan untuk apa belajar ilmu silat dan bermain-main dengan pedang? Apakah engkau ingin menjadi perajurit, atau pembunuh?"

"Sun-koko (kakak Sun) jangan begitu! Aku belajar ilmu silat agar aku dapat menjaga diri. Kalau aku lemah, bagaimana aku dapat membela diri apabila diganggu orang jahat."

"Hemm, siapa akan berani mengganggu, Adikku? Ayah kita adalah seorang menteri, dan banyak perajurit yang siap untuk membela kita apa bila ada marabahaya datang. Juga disampingmu ada ayah, ada aku, ada para pengawal. Kelak kalau engkau sudah menikah, ada pengganti kami untuk menjagamu, yaitu suamimu."

Wajah dara itu berubah merah.

"Ihh, Sun-koko, apa-apaan engkau bicara tentang suami? Aku hanya ingin menjadi seorang wanita yang perkasa, seperti enci Kui Hong itu!"

Disebutnya nama pendekar wanita ini membuat Cang Sun mengerutkan alisnya dan dia pun tidak mau menggoda adiknya lagi, apalagi pada saat itu muncul Cin Nio yang mencari saudara misannya.

Cang Sun segera pergi meninggalkan dia orang gadis itu.

Cang Sun meninggalkan taman dimana dia bertemu dengan adiknya tadi dengan wajah muram.

Ucapan adiknya mengingatkan dia akan seorang gadis pendekar yang sesungguhnya merupakan wanita pertama yang pernah menjatuhkan hatinya, Cia Kui Hong!

Gadis yang selain cantik jelita dan memiliki daya tarik yang kuat sekali, juga seorang pendekar yang memiliki ilmu kepandaian yang hebat!

Dan dia pernah tergila-gila kepada Kui Hong.

Tadinya dia sudah merasa yakin bahwa gadis itu tentu akan menjadi isterinya.

Betapa senangnya mempunyai seorang isteri yang selihai itu, keamanan keluarganya akan terjamin keselamatannya!

Dia merasa yakin karena dia tahu bahwa dirinya dirindukan hampir semua gadis di kota raja.

Tentu Kui Hong juga akan menerima pinangannya.

Dia putera Menteri Cang yang terkenal.

Akan tetapi, ternyata ketika dia menyatakan cintanya, gadis pendekar itu dengan terang-terangan menolak cintanya, bahkan mengatakan bahwa gadis itu telah mempunyai seorang pilihan hatinya sendiri!

Cang Sun merasa terpukul dan sampai kini dia tidak pernah mau menerima bujukan orang tuanya untuk memilih seorang gadis sebagai isterinya.

Dianggapnya bahwa tidak ada gadis lain yang dapat menggantikan Kui Hong dalam hatinya, tidak ada gadis sehebat Kui Hong!

Ketika adiknya menyebut nama Kui Hong, dia merasa tertusuk hatinya, dan kenangan akan gadis pendekar itu membuat Cang Sun murung.

Dia lalu keluar dari taman, terus menuju ke halaman depan dan keluar dari halaman ke jalan raya.

Dia menyambut pemberian hormat para petugas jaga di depan dengan sikap acuh, lalu melangkah keluar tanpa tujuan.

Kakinya membawanya berjalan ke luar kota, dan dia tidak memperdulikan orang-oranga yang bersimpang jalan memberi hormat kepadanya.

Tidak perduli pula akan kerling dan pandang mata banyak mata wanita ditujukan kepadanya.

Pada waktu itu, Menteri Cang Ku Ceng bertugas di Nan-king, yaitu ibu kota ke dua setelah Peking.

Adapun Menteri Yang Ting Hoo yang bertugas di Peking.

Kaisar Cia Ceng mengerti bahwa dia hanya dapat percaya dan mengandalkan kebijaksanaan dua orang menteri setia inilah.

Maka dia sengaja membagi tugas kepada mereka.

Yang Ting Hoo yang lebih ahli dalam urusan ketentaraan bertugas di Peking, sedangkan Cang Ku Ceng yang ahli dalam urusan dalam negeri, juga pandai mengamankan para pejabat daerah yang suka memberontak, ditugaskan di Nan-king.

Karena tugas ini, Menteri Cang sekeluarga pindah ke Nan-king dimana dia memang mempunyai sebuah gedung yang disediakan pemerintah untuknya.

Di luar kota Nan-king disebelah selatan terdapat sebuah danau kecil, dan tempat ini merupakan tempat di mana Cang Sun seringkali menghibur diri.

Pemuda ini suka menyendiri, mendayung sebuah perahu kecil, membawa makanan dan arak, juga alat tulis untuk membuat sajak atau memainkan sebuah yang-kim (semacam gitar) sambil melamun di bagian danau yang sunyi.

Apalagi saat itu hatinya sedang gundah, teringat akan Kui Hong, maka begitu dia mendayung perahunya menuju ke bagian yang sunyi di danau itu, jauh dari perahu lain, dia membiarkan perahunya terapung-apung dan dia sendiri duduk melamun.

Dia tidak menulis sajak, tidak pula memukul yang-kim, melainkan hanya melamun dan membayangkan semua kenangan indah bersama Kui Hong ketika gadis pendekar itu tinggal di rumah orang tuanya di Peking, ketika Kui Hong membantu ayanya melakukan penyelidikan tentang kerusuhan yang terjadi di istana kaisar (baca Kisah Si Kumbang Merah).

Cang Sun sama sekali tidak tahu bahwa sejak dia keluar dari pekarangan rumah keluarganya, ada dua pasang mata mengikutinya sampai ke danau itu.

Bahkan ketika dia mendayung perahu kecilnya, sebuah perahu kecil lain tak lama kemudian mengikuti dari jauh.

Setiap gerak-gerik yang dilakukan Cang Sun diamati pendayung perahu lain itu, yang kini hanya seorang saja, sedangkan pemilik mata yang lain masih mengamatinya dari jauh, dari tepi danau.

Dia baru tahu setelah perahu kecil bercat hitam itu meluncur mendekati perahunya.

Dia menengok dan melihat ada seorang laki-laki yang mengenakan caping lebar di atas perahu itu.

Sama sekali dia tidak dapat melihat wajah orang itu yang tertutup caping sama sekali.

Setelah perahu itu menabrak perahunya sendiri, dia terkejut dan menegur marah.

"Heiiii...! Apa engkau tidak melihat ada perahu di depanmu? Kenapa engkau menabrak saja?"

Cang Sun menggunakan dayungnya untuk mengembalikan keseimbangan perahunya yang terguncang oleh tabrakan itu.

Orang bercaping itu mengangkat mukanya dan nampaklah kini wajah dibawah caping lebar.

Cang Sun terbelalak karena wajah itu tertutup kedok saputangan hitam!

Yang nampak hanya sepasang mata yang mencorong!

"Heiii!

Siapa engkau dan mau apa...!"

Belum habis ucapannya, orang berkedok itu telah meloncat dari perahunya ke atas perahu Cang Sun dan sebelum Cang Sun sempat berteriak, tangan orang itu bergerak dan Cang Sun tak mampu menggerakkan kaki tangannya lagi!

Dia telah tertotok dan sekali lagi tangan orang itu menyentuh leher Cang Sun, membuat pemuda bangsawan itu bukan saja tidak mampu menggerakkan kaki tangannya, bahkan tidak mampu mengeluarkan suara!

Dia hanya dapat memandang kepada orang berkedok itu dengan sinar mata terkejut, heran dan juga ketakutan.

Orang berkedok itu bicara dengan suara yang parau dan dalam sehingga aneh menyeramkan.

"Engkau kusandera. Hanya kalau ayahmu telah menyerahkan uang seribu tail kepadaku, engkau kubebaskan. Kalau dalam waktu sehari semalam uang itu tidak diserahkan kepadaku, aku akan menyiksamu sampai mati."

Tentu saja Cang Sun terkejut bukan main.

Dia memang penakut, dalam arti kata tidak menyukai kekerasan, akan tetapi sama sekali bukan pengecut!

Bagaimana ayahnya akan tahu bahwa dia diculik orang dan bagaimana pula akan dapat menebusnya?

Akan tetapi karena dia tidak mampu bergerak dan bersuara, maka dia pun diam saja.

Orang itu sudah mendayung perahunya, dan meninggalkan perahu orang itu yang berwarna hitam tadi.

Perahu di dayung cepat ke pantai oleh orang berkedok itu.

Dan di pantai itu telah menanti pemilik sepasang mata yang ke dua, yang bersembunyi di balik semak-semak.

Pantai itu memang bagian yang sunyi dan tidak nampak seorang pun manusia di situ.

Ketika perahu sudah tiba di dekat pantai, orang berkedok itu berdiri, mencengkeram punggung baju Cang Sun dan sekali tubuhnya bergerak, dia sudah melompat ke darat.

Gerakannya demikian ringan dan tangannya bergitu kuat sehingga Cang Sun mengerti bahwa dia terjatuh ke tangan orang yang lihai sekali, yang membawanya meloncat dari perahu ke darat seperti membawa benda yang amat ringan saja!

Akan tetapi begitu dia mendarat, terdengar bentakan merdu dan nyaring keluar dari balik semak-semak.

Baca Juga: Si Bangau Merah 8

Baca Juga: Suling Naga 3

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert