Eps 2 Jodoh Si Mata Keranjang - Kho Ping Hoo
Baca online Jodoh Si Mata Keranjang - Kho Ping Hoo
Cersil Jodoh Si Mata Keranjang - Kho Ping Hoo.
"Ia jujur dan terus terang, tidak seperti kamu yang licik dan curang!"
Biarpun ia masih marah sekali, namun kini nenek Toan Kim Hong merasa ragu untuk membunuh Ki Liong.
Kalau benar seperti dugaannya bahwa Mayang terlalu jujur untuk berbohong, maka Kui Hong memang sudah memaafkan Ki Liong.
Padahal, minggatnya Ki Liong dari pulau itu dan membawa pergi pusaka Gin-hwa-kiam, adalah karena gara-gara Kui Hong.
Ki Liong tergila-gila kepada Kui Hong dan berani menggodanya, bahkan berniat cabul.
Kui Hong menolak dan karena dia ditegur dan merasa malu, maka Ki Liong melarikan diri.
Kesalahannya yang terbesar adalah oleh peristiwa Kui Hong.
Kalau kini Kui Hong sendiri sudah dapat memaafkan Ki Liong, bagaimana mereka yang pernah menjadi guru pemuda itu berkeras hendak membunuhnya?
Ia menyerahkan saja kepada suaminya yang ia tahu amat bijaksana dan dapat mengambil keputusan tepat.
"Ki Liong, kami belum dapat menerima keterangan itu begitu saja. Kami belum tahu apakah benar engkau telah bertaubat, dan apakah benar Kui Hong telah memaafkanmu. Kami baru akan percaya dan mempertimbangkan apakah kami dapat mengampunimu kalau engkau dapat membawa bukti dari Kui Hong. Sukur kalau Kui Hong dapat datang sendiri memberi keterangan kepada kami. Kalau tidak, sedikitnya harus ada surat tulisan cucu kami itu. Nah, kami sudah cukup lama bicara. Pergilah kalian berdua sebelum kami mengubah keputusan kami!"
Mayang hendak membantah, akan tetapi Ki Liong memegang tangannya dan menarik gadis itu untuk berlutut.
Mayang terpaksa berlutut pula di samping Ki Liong.
"Teecu menghaturkan banyak terima kasih atas budi kecintaan suhu dan subo yang sudah mengampuni kami. Karena sudah jelas perintah suhu, teecu mohon diri untuk melaksanakan perintah itu. Teecu akan mencari nona Cia Kui Hong dan mendapatkan bukti darinya."
Kakek dan nenek itu hanya membuat gerakan seperti mengibaskan tangan dan tubuh kedua orang muda itu seperti disambar angin yang amat kuat, membuat mereka terguling-guling sampai jauh.
Ketika mereka berdua akhirnya dapat bangkit, dua orang kakek dan nenek itu telah lenyap dari situ!
"Aih, betapa kejamnya...!"
Mayang berseru lirih, akan tetapi Ki Liong sudah menyambar lengan gadis itu dan ditariknya, diajak lari meninggalkan hutan itu menuruni bukit menuju ke pantai di mana dia menyimpan perahunya tadi.
"Ssttt, diamlah, Mayang dan jangan bicara lagi. Masih untung kita dapat meninggalkan pulau ini dalam keadaan hidup dan sehat. Suhu dan subo telah mengampuniku, memberi kesempatan kepadaku. Kita patut bersukur."
"Hemm, ke mana kita akan pergi sekarang?"
Tanya Mayang. Ki Liong memanggul perahunya.
"Persiapkan cambukmu untuk menghalau ikan-ikan hiu itu. Kita berlayar lagi, menuju ke darat, kemudian kita mencari nona Cia Kui Hong."
Mayang mengikuti pemuda itu melangkah dari batu ke batu sambil bersungut-sungut.
"Kita Harus bersusah payah lagi mencari enci Kui Hong! Padahal dari sini kita dapat langsung ke barat menemui ibuku dan suboku untuk membicarakan urusan kita."
"Kita lewati tempat berbahaya ini dulu, nanti kita bicara lagi tentang itu, Mayang."
Seperti ketika mendarat, mereka melalui bagian yang lebih dalam di mana ikan-ikan hiu hilir mudik, siap menyambar kaki mereka di antara batu-batu karang.
Kini, karena hatinya mendongkol, Mayang mengamuk dengan cambuknya.
Ia menyerang sepenuh tenaga sehingga sirip hiu yang terkena cambuknya pun patah dan lecet-lecet.
Karena ada ikan yang berdarah terkena cambuknya itu, terjadilah perkelahian antara mereka sendiri.
Hiu yang terluka menjadi sasaran serangan ikan-ikan ganas itu dan air laut di sekitar batu-batu itu pun menjadi merah!
Mayang bergidik sendiri karena merasa ngeri ketika mereka sudah menurunkan perahu dan mulai mendayung perahu ke tengah.
Setelah Ki Liong memasang layar kecil dan perahu meluncur cepat, barulah mereka dapat duduk santai dan bercakap-cakap.
"Mayang, sebelum kita menemukan nona Kui Hong dan mendapat bukti darinya, hatiku belum merasa tenteram. Bagaimana hatiku dapat tenteram sebelum aku diterima kembali oleh suhu dan subo, setidaknya aku tidak akan dimusuhi? Tentang urusan kita dengan ibumu dan subomu, perlu apa kau khawatirkan? Bukankah kita memang sudah menjadi calon jodoh masing-masing? Kita saling mencinta dan itu sudah lebih dari cukup, Mayang. Kita dapat segera menjadi suami isteri, kalau engkau menghendaki. Kita dapat minta seorang pendeta di kuil untuk menikahkan kita."
Mayang cemberut.
"Tidak! Sampai mati pun aku tidak sudi menikah sebelum mendapat restu dari ibu dan subo! Aku adalah puteri ibu, dan aku adalah murid subo. Sebagai anak dan murid aku harus berbakti kepada ibu dan subo. Tanpa restu mereka, bagaimana aku dapat menjadi isteri orang? Ayahku yang sudah tewas itu boleh menjadi jai-hwa-cat (penjahat cabul), akan tetapi aku tidak sudi menjadi seorang wanita yang melanggar tata susila! Kita harus menikah dengan restu ibu dan suboku, baru aku suka menjadi isterimu, Liong-ko."
"Akan tetapi kita saling mencinta, Mayang! Tidak ada halangan apa pun lagi yang..."
"Liong-ko! Kita ini manusia, bukan binatang. Kita mengenal hukum, peraturan, kebiasaan umum, tata susila. Dan perjodohan belum kuat benar kalau hanya didasari cinta semata! Kita pun tidak tahu apa cinta itu, apakah abadi atau tidak. Harus disertai pula ikatan hukum dan peraturan, terutama tidak meninggalkan kebaktian terhadap orang tua kita. Dan engkau sendiri, bagaimana, Liong-ko? Engkau tidak pernah menceritakan tentang orang tuamu."
"Ayah ibuku telah tiada, Mayang."
"Ah, kasihan engkau, Liong-ko. Baiklah, kita mencari enci Kui Hong lebih dulu. Setelah itu, baru kita pergi ke Ning-ling-san."
Mereka melanjutkan pelayaran dan gadis itu melihat betapa kini terjadi perubahan dalam sikap Ki Liong.
Pemuda itu nampak banyak melamun dan seperti orang yang berduka.
Ia hanya menduga bahwa tentu pemuda itu teringat akan orang tuanya, dan juga menyesali semua kesesatannya yang lalu.
Maka ia pun mendiamkannya saja.
"Ciok Gun...!"
Gouw Kian Sun berseru dengan mata terbelalak.
Pada saat itu, hatinya diliputi kekagetan, keheranan dan juga kekhawatiran, walaupun ada juga perasaan girang melihat munculnya murid kepercayaan itu.
Ciok Gun bukan saja merupakan murid Cin-ling-pai di bawah pimpinannya sendiri, akan tetapi juga telah ia tarik sebagai pembantu utamanya dalam mengurus Cin-ling-pai selama dia mewakili ketua Cin-ling-pai, yaitu Cia Kui Hong yang sedang pergi merantau.
Tentu saja dia terkejut karena murid inilah yang pertama kali menghilang bersama dua orang murid Cin-ling-pai lainnya ketika pergi berburu.
Dan sebelum mereka dapat ditemukan, kakek Cia Kong Liang dan cucu yang masih kecil, yaitu Cia Kui Bu, telah menghilang pula.
Bahkan peristiwa aneh itu disusul dengan lenyapnya Cia Hui Song dan isterinya, Ceng Sui Cin ketika suami isteri itu berturut-turut pergi mencari putera dan ayah mereka.
Dia telah mengerahkan anak buah Cin-ling-pai untuk mencari jejak mereka yang hilang secara aneh, namun belum juga berhasil dan malam ini, selagi dia berada di kamarnya, daum jendela kamarnya diketuk orang perlahan-lahan dari luar .
"Siapa...?"
Gouw Kian Sun bertanya dari dalam.
Semenjak peristiwa lenyapnya tokoh-tokoh penting Cin-ling-pai, dia selalu merasa curiga dan khawatir.
Tentu saja ketukan di jendela itu membuat dia curiga.
Kalau ada murid Cin-ling-pai yang perlu bicara dengan dia, tentu akan mengetuk daun pintu, bukan jendela!
Dan di tengah malam pula!
"Teecu datang, suhu, harap dibukai jendela!"
Hampir Kian Sun tidak percaya akan pendengarannya sendiri.
Dia lalu membuka jendela kamarnya dan sesosok bayangan melompat masuk ke dalam kamarnya.
Tentu saja dia terkejut, heran, khawatir dan juga girang ketika melihat bahwa bayangan itu bukan lain adalah Ciok Gun, murid yang dicari-cari selama ini.
"Ciok Gun, engkau? Apa... apa yang terjadi?"
Tanyanya gagap dan bingung.
Ciok Gun memberi isyarat kepada suhunya agar tidak membuat gaduh dan dia pun bicara dengan suara lirih.
"Suhu, harap jangan berisik. Teecu tahu di mana adanya su-kong Cia Kong Liang, supek Cia Hui Song, supek-bo Ceng Sui Cin, dan juga adik Cia Kui Bu. Akan tetapi jangan membuat ribut. Marilah, Suhu, teecu antarkan suhu melihat mereka."
Dapat dibayangkan betapa kaget dan girangnya rasa hati Kian Sun mendengar berita yang menggembirakan ini.
Akan tetapi dia juga merasa heran dan bingung mengapa pembantu yang sangat dipercayanya ini bersikap demikian aneh dan penuh rahasia.
Akan tetapi kegembiraannya untuk segera melihat gurunya dan suhengnya, dia pun mengangguk dan keduanya lalu berloncatan keluar dari jendela kamar itu, menutupkan daun jendela dari luar, Kemudian Gouw Kian Sun mengikuti muridnya menyusup keluar dari perkampungan Cin-ling-pai.
Malam telah larut, bahkan lewat tengah malam, maka para penjaga dan peronda hanya berkumpul di gerdu penjagaan dan membuat api unggun melawan hawa dingin.
Dengan mudah guru dan murid yang merupakan orang pertama dan kedua di Cin-ling-pai pada waktu itu, keluar dari perkampungan dan Gouw Kian Sun terus mengikuti muridnya yang berlari-lari menuju ke sebuah bukit.
Dapat dibayangkan betapa kaget dan heran rasa hati Kian Sun ketika muridnya membawa dia ke depan sebuah bangunan besar yang tersembunyi di tengah hutan di lereng bukit itu.
Setahu dia, di situ tidak ada bangunannya!
Dia hendak bertanya, akan tetapi Ciok Gun sudah membisikinya.
"Hati-hati, suhu, jangan mengeluarkan suara. lkuti saja teecu..."
Biarpun hatinya merasa tidak enak melihat sikap muridnya, yang kini penuh rahasia itu, dia pun mengikuti saja ketika Ciok Gun mengajaknya memasuki bangunan itu dengan menyelinap melalui sebuah pintu kecil di dalam kebun atau pekarangan samping.
Tak lama kemudian, muridnya sudah mengajaknya mengintai dari lubang dan dia melihat betapa gurunya, Cia Kong Liang, sedang tidur nyenyak bersama cucu gurunya, yaitu Cia Kui Bu.
Jelas bahwa keduanya sehat dan sedang tidur nyenyak di dalam kamar tahanan yang kokoh kuat dengan pintu berjendela dan beruji baja itu.
Dan di sebelah sana, dia melihat pula suhengnya, Cia Hui Song, juga tidur pulas di dalam sebuah kamar tahanan lain, sedang di kamar ke tiga dia tnelihat Ceng Sui Cin juga tertidur pulas.
Setelah memandang semua itu dengan mata terbelalak, Kian Sun menoleh dan memandang kepada muridnya.
"Ciok Gun, apa artinya semua ini? Mengapa mereka di sini dan apa yang telah teriadi?"
Saking khawatirnya, dia bicara agak keras.
Ciok Gun memberi isyarat agar gurunya suka mengikutinya meninggalkan tempat itu dan menuju ke ruangan lain di dalam rumah itu.
"Mari kita temui orang yang menawan mereka, Suhu."
Kata Ciok Gun yang berjalan cepat memasuki sebuah ruangan lain di bagian depan.
Ruangan ini luas dan terang dan ketika Kian Sun melangkah masuk mengikuti muridnya, dia melihat seorang wanita cantik dan tiga orang pria setengah tua berpakaian pendeta sedarig duduk di situ, agaknya memang sedang menanti kehadirannya.
Dan suatu hal yang aneh terjadi, Ciok Gun muridnya yang setia dan paling dipercaya itu tanpa ragu-ragu melangkah dan berdiri di belakang empat orang itu dan sikapnya seperti menanti perintah!
"Selamat datang dan selamat malam, Gouw Pang-cu (Ketua Gouw)!
Maafkan kelambatan kami menyambut wakil ketua Cin-ling-pai yang terhormat.
Silakan duduk, Gouw Pangcu!"
Gouw Kian Sun memandang heran dan gugup, akan tetapi melihat sikap mereka ramah, dia pun terpaksa menyambut dengan hormat dan dia duduk di atas kursi yang sudah disediakan menghadapi mereka berempat.
Sejenak dia memperhatikan mereka.
Wanita itu usianya masih muda, tidak akan (Lanjut ke
Jilid 04) Jodoh Si Mata Keranjang (Seri ke 11 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya .
Asmaraman S.
Kho Ping Hoo
Jilid 04 lebih dari dua puluh lima tahun.
Wajahnya cantik manis, matanya bersinar-sinar, lincah gembira, senyumnya selalu menghias mulut, bentuk tubuhnya padat dan indah.
Tiga orang pria berpakaian pendeta itu seperti tosu (pendeta agama To), usia mereka antara lima puluh sampai enam puluh tahun, sikap mereka angkuh dan dingin, dan mereka diam saja, agaknya memang gadis itu yang menjadi juru pembicara.
"Maafkan saya kalau saya terpaksa mengaku bahwa saya tidak mengenal kalian. Siapakah kalian dan apakah artinya semua ini?"
Kata Gouw Kian Sun sambil memandang tajam.
Wanita itu yang bukan lain adalah Tok-ciang Bi Mo-li Su Bi Hwa, tersenyum.
Manis sekali ketika mulutnya tersenyum, seperti sekuntum bunga merekah dan nampak kilatan gigi yang berderet rapi dan putih.
"Kami tidak akan merahasiakan diri kami, Pancu. Namaku Su Bi Hwa dan golongan kita mengenalku sebagai Tok-ciang Bi Mo-Ii."
Gouw Kian Sun mengerutkan alisnya.
Dia belum pemah mendengar nama dan julukan ini, akan tetapi mengingat akan arti julukan Tok-ciang Bi Moli (Iblis Betina Cantik Bertangan Racun) itu saja sudah, diduga bahwa gadis ini adalah seorang wanita golongan sesat yang lihai.
Akan tetapi Kian Sun adalah seorang tokoh Cin-ling-pai yang sudah berpengalaman, maka dia mengangkat tangan ke depan dada sambil berkata.
"Ah, kiranya Tok-ciang Bi Moli yang terkenal. Sudah lama mendengar nama besar itu dan mengaguminya."
"Dan mereka ini adalah guru-guruku, bemama Lan Hwa Cu, Siok Hwa Cu dan Kim Hwa Cu, terkenal dengan julukan mereka Pek-lian Sam-kwi."
Kini Gouw Kian Sun benar-benar terkejut.
Kiranya dia berhadapan dengan orang-orang Pek-lian-kauw!
"Hemm, seingatku, Cin-ling-pai tidak pemah berurusan dengan pihak Pek-lian-kauw.
Sekarang kalian datang ke wilayah kami, sesungguhnya ada keperluan apakah?"
"Hi-hik, ternyata Gouw Pangcu adalah seorang laki-laki yang gagah perkasa dan berpengalaman. Sungguh mengherankan kalau seorang gagah seperti pangcu ini sampai sekarang belum juga menikah."
Kian Sun mengerutkan alisnya.
Agaknya orang-orang Pek-lian-kauw ini telah menyelidiki keadaan Cin-ling-pai sehingga tahu akan keadaannya pula.
Sungguh banyak yang aneh dia temui di sini.
Para tokoh Cin-ling-pai, bahkan suhengnya Cia Hui Song dan isterinya, keduanya memilki ilmu kepandaian tinggi, berada dalam kamar-kamar tahanan itu.
Muridnya, Ciok Gun bersikap demikian anehnya, tentu muridnya itu yang menceritakan semua tentang Cin-ling-pai.
Kian Sun menjadi marah sekali kepada muridnya itu.
Ciok Gun yang digemblengnya menjadi seorang pendekar yang gagah itu kini mengkhianati Cin-ling-pai?
Rasanya tidak masuk akal.
"Ciok Gun, ke sini engkau dan ceritakan padaku apa artinya semua ini!"
Bentaknya kepada Ciok Gun.
Akan tetapi yang dibentaknya itu sedikit pun tidak memperlihatkan tanggapan, bergerak pun tidak, berkedip pun tidak, hanya menunduk dan tetap berdiri di belakang empat orang Pek-lian-kauw itu.
"Moli, katakan saja terus terang, apa yang kalian kehendaki dariku?"
Akhirnya dia membentak marah melihat muridnya sama sekali tidak menjawabnya.
"Hi-hik, Ciok Gun, ini hanya akan bicara atau bertindak kalau mendengar perintahku! Gouw Kian Sun, dengarlah keinginan kami. Kami datang ini untuk mengulurkan tangan kepadamu dan menawarkan kerja sama dengan Cin-ling-pai."
Kin Sun bangkit berdiri, wajahnya berubah merah.
"Cin-ling-pai bekerja sama dengan Pek-lian-kauw? Tidak mungkin! Lebih baik aku mati daripada harus bekerja sama dengan Pek-lian-kauw yang sesat!"
Bi Hwa tertawa.
"Hi-hik, sudah kuduga engkau akan menjawab demikian, Gouw Kian Sun. Akan tetapi kami tidak menghendaki engkau mati. Engkau perlu hidup untuk bekerja sama dengan kami dan engkau harus mentaati kami."
"Tidak sudi!"
"Hi-hi-hik, bagaimana engkau bisa bilang tidak sudi? Engkau tidak mempunyai pilihan kecuali hanya dua, yaitu pertama, engkau taat kepada kami, suka bekerja sama dan semuanya akan selamat. Dan engkau pilih yang ke dua, yaitu kalau engkau menolak, berarti engkau membunuh kakek Cia Kong Liang, Cia Hui Song dan Ceng Sui Cin, juga anak mereka Cia Kui Bu. Engkau membunuh mereka melalui penolakanmu terhadap uluran tangan kami. Nah, kau pilih yang mana?"
"Aku pilih mati!"
Gouw Kian Sun membentak dan dia pun sudah menerjang ke arah wanita cantik itu.
Karena dia dapat menduga betapa lihainya empat orang itu, maka begitu menyerang Bi Hwa, dia sudah mempergunakan Thai-kek Sin-kun dan mengerahkan seluruh tenaga sin-kangnya dalam hantamannya.
"Brakkkk!"
Kursi yang tadi diduduki Bi Hwa hancur berkeping-keping, akan tetapi wanita itu sendiri tidak terkena pukulan karena dengan gesitnya ia sudah meloncat meninggalkan kursinya ketika hantaman itu tiba.
Kim Hwa Cu, tosu termuda di antara Pek-lian Sam-kwi, yang bertubuh tinggi kurus dengan muka kuning, sekali bergerak sudah meloncat ke depan Kian Sun.
Dia tersenyum mengejek dan mengelus jenggotnya.
"Gouw Kian Sun, kami peringatkan agar engkau sebaiknya menyerah saja agar semua tokoh Cin-ling-pai selamat. Kami hanya ingin mempergunakan nama Cin-ling-pai saja, untuk mencapai maksud tujuan kami."
"Tosu Pek-lian-kauw keparat!"
Kian Sun membentak saking marahnya dan dengan nekat dia pun sudah menyerang tosu itu dengan pukulan tangannya, kini dia mengerahkan tenaga dan mainkan ilmu Thian-te sin-ciang yang amat kuat.
"He-he, ini Thian-te sin-ciang lumayan juga!"
Kim Hwa Cu tertawa mengejek dan dia pun dengan berani menyambut pukulan kedua itangan wakil ketua Cin-ling-pai yang didorongkan ke arah dadanya itu dengan keduactangan pula.
"Desss...!"
Dua pasang tangan bertemu dengan dahsyatnya dan akibatnya, Kian Sun terdorong ke belakang dan terhuyung, sedangkan Kim Hwa Cu juga mundur dua langkah.
Dari pertemuan tenaga ini saja dapat diketahui bahwa dalam hal tenaga sin-kang, Kim Hwa Cu masih menang sedikit.
Tentu saja Kian Sun menjadi terkejut bukan main karena baru menghadapi seorang tosu saja, dia sudah kalah tenaga.
Dan tadi pun serangannya terhadap gadis cantik itu gagal, tanda bahwa gadis itu memiliki gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang hebat pula.
Tahulah dia bahwa dia tidak akan menang melawan empat orang itu.
Namun dia adalah wakil ketua Cin-ling-pai dan karena pada waktu itu ketua Cin-ling-pai tidak ada, maka yang bertanggung jawab sepenuhnya terhadapCin-ling-pai adalah dia.
Bagaimana mungkin dia akan menyerah kepada perkumpulan sesat macam Pek-lian-kauw dan suka diajak bekerja sama?
Hal itu tentu akan mencemarkan nama baik Cin-ling-pai dan dia yakin bahwa ketuanya, Cia Kui Hong, pasti tidak akan, setuju.
Maka, dia pun menjadi nekat dan tanpa memperdulikan kehebatan lawan, dia sudah menubruk maju lagi.
Kini, Siok Hwa Cu yang maju menangkisnya dan tiba-tiba saja terdengar bentakan suara nyaring seperti suara wanita dari arah belakangnya.
Kian Sun membalik, mengira bahwa gadis tadi yang menyerangnya.
Akan tetapi ternyata yang berteriak seperti wanita tadi adalah tosu paling tua, yaitu Lan Hwa Cu.
Kian Sun berusaha mengelak, akan tetapi tetap saja kakinya terkena sapuan dan dia pun terpelanting.
Sebelum dia dapat bangkit, ujung sebatang pedang sudah menempel di lehernya!
Pedang itu dipegang oleh Bi Hwa yang memandang kepadanya sambil tersenyum mengejek.
"Hi-hik, bagaimana engkau akan mampu melawan kami, Gouw Kian Sun? Sedangkan gurumu dan suhengmu, juga puteri Pendekar Sadis, telah dapat kami tawan. Apalagi kamu!"
"Bunuh saja aku!"
Bentak Kian Sun.
"Manusia tolol. Apa gunanya kami membunuhmu? Tidak ada untungnya bagi kami, juga tidak ada manfaatnya bagi dirimu. Kalau engkau mati, engkau tidak dapat menyelamatkan nyawa para tokoh Cin-ling-pai itu. sebaliknya kalau engkau hidup, mereka pun akan tetap hidup."
Kian mengerutkan alisnya yang tebal.
"Maksudmu?"
"Gouw Kian Sun, kalau engkau menolak tawaran kami untuk bekerja sama, maka mereka yang kini menjadi tawanan kami akan kami bunuh! Dan engkaulah yang membuat mereka terpaksa harus kami bunuh itu! Sebaliknya, kalau engkau menyambut uluran tangan kami untuk, bekerja sama, mereka akan selamat dan akan kami perlakukan seperti sekarang ini, menjadi tamu-tamu kami yang terhormat dan kami takkan mengganggu selembar rambut pun dari mereka. Bagaimana?"
Bi Hwa menarik pedangnya dan meloncat ke belakang.
"Sekarang duduklah, dan mari kita bicara dengan kepala dingin."
Kian Sun bangkit berdiri akan tetapi tidak mau duduk.
Dia tahu bahwa melawan pun tidak ada gunanya.
Dia tidak takut mati, akan tetapi mengingat akan nasib empat orang yang berada di dalam tahanan itu, dia harus memikirkan keadaan mereka.
"Engkau membual, Mo-li! Tidak mungkin kalian akan mampu membunuh mereka!"
Katanya mencoba, karena bagaimanapun juga,dia tidak percaya kalau gurunya, suhengnya dan isteri suhengnya itu kalah oleh empat orang Pek-lian-kauw ini.
"Hi-hik, untuk apa kami membual? Buktinya, mereka kini menjadi tawanan kami, bukan? Dan apa sukarnya membunuh mereka? Di setiap kamar tahanan itu terdapat pipa-pipa penyalur asap pembius. Kalau kami meniupkan asap pembius dari luar, mereka semua akan pingsan terbius dan tidak ada ilmu silat yang akan mampu menolak serangan asap pembius! Nah, engkau ingin melihat mereka mati konyolkarena kebodohan dan kekerasan kepalamu?"
Kian Sun menjadi lemas.
Dia bukan seorang yang bodoh atau ceroboh.
Dia tahu bahwa dia berada di tangan orang-orang yang amat licik.
Dia tidak mengkhawatirkan diri sendiri.
Dibunuh pada saat itu pun dia tidak akan menyesal kalau pengorbanan itu demi nama baik Cin-ling-pai.
Akan tetapi bagaimana mungkin dia membiarkan mereka ini membunuh gurunya, suhengnya, isteri suhengnya dan putera suhengnya?
Tiba-tiba dia teringat kepada Ciok Gun.
Muridnya itu biasanya setia sekali, juga berjiwa pendekar.
Ingin dia dapat menarik Ciok Gun agar dapat membantunya menghadapi orang-orang Pek-lian-kauw yang curang ini.
Tiba-tiba dia menoleh ke arah Ciok Gun yang masih berdiri mematung di belakang empat orang itu.
"Ciok Gun, di mana Teng Sin dan Koo Ham?"
Teriaknya untuk memancing perhatian muridnya itu.
Akan tetapi, seperti juga tadi, Ciok Gun diam saja, tidak menjawab, juga tidak menoleh, melainkan berdiri dengan muka ditundukkan seperti patung!
"Hi-hi-hik, biar engkau berteriak sampai suaramu habis, dia tidak akan sudi mendengarnya, Gouw Kian Sun.
Hanya aku seorang yang akan ditaatinya.
Engkau belum percaya?
Nah, engkau lihatlah baik-baik."
Wanita itu bangkit dari tempat duduknya, menghampiri Ciok Gun dan mengusap leher pemuda itu dengan tangan kirinya, gerakannya mesra sekali seperti orang membelai, dan ia pun berkata dengan suara yang lembut merayu.
"Ciok Gun, kekasihku yang tampan, Gouw Kian Sun itu tidak mau tunduk kepadaku. Kau hajarlah dia!"
Kini Ciok Gun mengangkat mukanya dan menoleh ke arah gurunya, dan sinar matanya penuh kemarahan, alisnya berkerut dan tiba-tiba dia melompat ke arah Kian Sun dan langsung saja menyerang dengan tamparan tangan kiri ke arah muka, gurunya sendlri!
Tentu saja Kian Sun terkejut bukan main.
Dia bangkit berdiri dan mengangkat lengan menangkis tamparan itu sambil mengerahkan tenaganya untuk membuat muridnya itu terdorong jatuh.
"Dukk...!"
Dua buah lengan bertemu keras dengan sekali dan hampir saja Kian Sun mengeluarkan teriakan saking kagetnya.
Muridnya itu sama sekali tidak terdorong jatuh, dan dia merasa betapa kekuatan pada lengan tangan muridnya itu besar sekali, tidak kalah oleh tenaganya sendiri!
Ciok Gun sudah membuat gerakan hendak menyerang lagi dan Kian Sun juga sudah siap melawan muridnya sendiri, akan tetapi pada saat itu, terdengar suara lembut Bi Hwa.
"Ciok Gun, sudah cukup. Engkau mundurlah dan berdiri di tempat semula, siap menanti perintahku!"
Dan Ciok Gun tidak memperdulikan lagi kepada Kian Sun, melainkan melangkah ke belakang tempat duduk empat orang itu.
Bi Hwa sudah duduk pula di sebuah kursi yang baru karena kursi yang pertama kali didudukinya telah hancur oleh pukulan Kian Sun tadi.
"Ciok Gun! Kau... kau...!"
Kian Sun menjatuhkan dirinya di atas kursi, seluruh tubuhnya terasa lemas.
Dia tahu bahwa keadaan muridnya itu tidak wajar dan teringatlah dia bahwa Pek-lian-kauw mempunyai banyak ahli sihir dan ahli racun.
Tentu Ciok Gun telah dibius dan diberi racun yang membuat dia seperti patung atau mayat hidup yang hanya mentaati perintah dari orang yang menguasainya..
"Sudahlah, Gouw Pangcu. Engkau telah menyaksikan kelihaian kami. Tidak ada gunanya engkau melawan. Kalau engkau hendak menyelamatkan Cin-ling-pai dan seluruh tokohnya, engkau harus mau bekerja sama dengan kami dan harus memenuhi semua permintaan kami. Teng Sin dan Koo Ham, dua orang murid Cin-ling-pai itu, tidak ada gunanya dan telah kami bunuh. Dan seluruh nyawa semua anggauta Cin-ling-pai berada di tanganmu. Kalau engkau menolak, bukan hanya engkau dan para tawanan kami itu yang akan kami bunuh, juga seluruh murid Cin-ling-pai akan kami basmi, tiada seorang pun yang akan selamat!"
"Kalian iblis-iblis keji! Demi keselamatan suhu dan keluarga suheng, baik aku menurut dan menyerah. Akan tetapi ingat, aku tidak sudi membantu kalian melakukan perbuatan jahat. Ingat, daripada kami orang-orang Cin-ling-pai dipaksa melakukan perbuatan jahat, lebih baik kami mati semua!"
"Aiiih, Gouw Pangcu. Kami adalah orang baik-baik, mana mungkin menyuruh engkau berbuat jahat? Jangan khawatir, kami tidak akan minta engkau melakukan kejahatan."
"Cepat katakan, apa yang harus kulakukan untuk kalian?"
"Sederhana saja, Pangcu. Pertama, engkau cepat umumkan dan kirim undangan kepada para ketua semua perkumpulan dan partai persilatan besar untuk menghadiri pemikahanmu pada tanggal satu bulan depan."
Gouw Kian Sun terbelalak, memandang kepada gadis cantik itu dengan ragu.
Gilakah gadis ini, pikirnya.
Tanggal satu kurang beberapa hari lagi dan akan diadakan pesta pemikahannya?
"Moli!
Apa pula artinya semua ini?
Siapa yang akan menikah?
Aku kurang mengerti."
"Engkau yang akan menikah, Pangcu."
Kini Kian Sun benar-benar kaget sehingga dia menjadi bengong tanpa dapat mengeluarkan kata-kata.
"Menikah dengan aku, Pangcu!"
Kata pula Bi Hwa, sambil terkekeh genit.
"Aahhh...?? Aku... menikah dengan... dengan kau? Apa artinya ini? Kita... kita tidak... eh, maksudku aku tidak..."
"Hi-hik, jangan bingung, Pangcu. Kau lihat bukankah aku seorang gadis muda yang cantik molek? Tidak banggakah engkau menjadi suamiku? Hemm, ribuan orang pria di dunia ini merindukanku, bermimpi untuk menjadi kekasihku, apalagi suamiku. Dan engkau kelihatan begitu bingung? Hi-hik!"
"Bukan begitu, akan tetapi aku... kita... bagaimana mungkin kita dapat menjadi suami isteri?"
Kini berubah sikap Bi Hwa, tidak lagi tersenyum manis seperti tadi.
Senyumnya berubah dingin dan mengejek.
"Gouw Kian Sun, engkau masih ingin membangkang? Perintah yang begini menyenangkan hendak kau tolak? Ini bukan perintah melakukan kejahatan! Aku ingin menjadi isterimu, atau lebih tepat lagi aku ingin menjadi nyonya ketua Cin-ling-pai! Dan untuk perayaan pesta pemikahan, aku minta engkau mengundang ketua-ketua partai persilatan besar di empat penjuru. Jangan banyak membantah lagi kalau ingin aku tidak menjadi naik darah dan membunuh seorang di antara tawananku!"
Diingatkan tentang tawanan itu, wajah Kian Sun seketika berubah pucat.
Dia maklum bahwa dia sama sekali tidak berdaya.
Kalau saja keselamatan nyawa keluarga Cia tidak terancam, tentu dia tidak sudi menyerah dan akan melawan sampai mati!
Kini dia merasa tidak berdaya sama sekali.
Hatinya memberontak untuk mentaati perintah iblis betina ini, akan tetapi dia tidak dapat membangkang, demi keselamatan keluarga Cia yang dihormatinya.
"Baiklah, aku bersedia melakukan apa yang kau minta."
Akhirnya dia berkata sambil menarik napas panjang.
Bi Hwa tersenyum manis lagi, bahkan mendekatkan tubuhnya pada Kian Sun dan pandang matanya genit.
"Kalau engkau sudah menjadi suamiku dan bersikap baik dan penurut, aku akan benar-benar melayanimu sebagai isteri dan engkau akan berbahagia sekali."
Kian Sun diam saja, walaupun hatinya merasa marah bukan main.
Sampai berusia empat puluh dua, dia masih membujang, belum menikah karena dia belum menemukan seorang gadis yang dianggapnya baik.
Bagaimana mungkin sekarang dia merendahkan diri sedemikian rupa dengan menjadi suami seorang wanita iblis macam Tok-ciang Bi Moli ini?
Para tokoh kang-ouw partai persilatan merasa heran juga ketika menerima undangan Cin-ling-pai yang hendak merayakan pernikahan wakil ketuanya.
Mereka tahu bahwa Cin-ling-pai kini diketuai oleh seorang gadis, akan tetapi yang kini menikah bukanlah gadis itu, melinkan wakil ketua yang bemama Gouw Kian Sun.
Nama Gouw Kian Sun tidak dikenal oleh para tokoh kang-ouw, tidak seperti nama Cia Kui Hong, gadis yang kini menjadi ketua Cin-ling-pai.
Akan tetapi karena memandang nama besar Cin-ling-pai, walaupun undangan itu amat tiba-tiba dan waktunya mendesak, hampir semua perkumpulan mengirim wakil atau utusan, ada pula ketua yang datang sendiri.
Biarpun bukan ketua pusat dari perkumpulan-perkumpulan besar yang hadir, melainkan hanya ketua-ketua cabang dan utusan-utusan pusat, namun lengkap jugalah para undangan datang berkunjung.
Bahkan karena terdapat undangan yang jauh, maka dua hari sebelum hari perayaan, sudah banyak rombongan utusan perkumpulan silat yahg temama berdatangan.
Di antara mereka terdapat wakil-wakil dari Siauw-lim-pai, Bu-tong-pai, Kun-lun-pai dan Go-bi-pai.
Sesuai dengan perintah Bi Hwa, Gouw Kian Sun yang tidak berdaya itu telah menyuruh para murid Cin-ling-pai membangun pondok-pondok darurat untuk para tamu.
Pondok-pondok darurat itu tersebar di sekitar perkampungan Cin-ling-pai di dekat puncak Cin-ling-san yang luas itu.
Para tamu yang berdatangan itu menjadi semakin herah ketika mereka hanya disambut oleh wakil ketua Cin-ling-pai atau calon pengantin pria yang ditemani oleh Giok Gun dan beberapa orang miurid Cin-ling-pai.
Tidak nampak keluarga Cia yang merupakaan keluarga pimpinan Cin-ling-pai turun-temurun itu.
Menurut keterangan Gouw Kian Sun atas pertanyaan para tamu, ketua Cin-ling-pai sedang merantau, pendekar Cia Hui Song dan isterinya sedang berkunjung ke pulau Teratai Merah, dan kakek Cia Kong Liang juga tidak berada di Cin-ling-pai.
Akan tetapi karena mereka itu menghormati nama besar Cin-ling-pai, biarpun merasa heran dan juga kecewa, rombongan dari berbagai partai persilatan itu menempati pondok masing-masing dan sebelum hari perayaan tiba, mereka menikmati pemandangan alam yang indah dan hawa udara yang jemih sejuk dari pegunungan Cin-ling-pai.
Rombongan Bu-tong-pai terdiri dari tujuh orang, dipinpim oleh Tiong Gi Cin-jin, tokoh tingkat dua dari Bu-tong-pai yang usianya sudah enam puluh dua tahun.
Enam orang yang lain adalah murid-muridnya yang berusia dari dua puluh lima sampai empat puluh tahun dan para murid itu merupakan murid-murid yang pandai dari Bu-tong-pai dan terkenal sebagai pendekar-pendekar yang gagah.
Rombongan Bu-tong-pai ini mendapatkan sebuah pondok besar di sebelah barat, di antara pohon-pohon cemara.
Seperti juga para tamu dari berbagai perkumpulan silat, rombongan Bu-tong-pai ini datang lebih awal dua hari, sehingga selama dua hari dua malam mereka akan tinggal di situ sampai hari perayaan tiba.
Tidak jauh dari pondok tempat tinggal para utusan Bu-tong-pai ini terdapat pondok lain yang juga cukup besar.
Kedua pondok itu hanya dipisahkan oleh sebuah kebun besar di mana selain pohon-pohon buah juga terdapat taman bunga yang indah.
Pondok ke dua ini hanya ditempati empat orang utusan dari Go-bi-pai, tiga orang murid pria yang usianya dari empat puluh sampai lima puluh tahun, dan seorang murid wanita yang masih gadis, berusia delapan belas tahun.
Tiga orang pria itu merupakan murid-murid kelas dua dari Go-bi-pai, sedangkan gadis itu adalah puteri seorang di antara mereka yang menjadi memimpin rombongan.
Ayah gadis itu bemama Poa Cin An, berusia lima puluh tahun dan sebagai seorang tokoh kelas dua di Go-bi-pai, tentu saja ilmu silatnya lihai, terutama permainan siang-kiam (sepasang pedang) dari ilmu pedang Go-bi-kiam-sut.
Puterinya bemama Poa Liu In, seorang gadis berusia delapan belas tahun yang berwajah manis dan bersikap lembut.
Di sebelah timur, juga hanya terpisah kebun besar, terdapat pondok untuk para utusan dari Siauw-lim-pai yang terdiri dari dua orang hwesio tingkat dua, yaitu Thian Hok Hwesio dan Thian Khi Hwesio, dua orang hwesio kurang lebih enam puluh tahun yang bersikap lembut dan ramah.
Di sekitar pondok darurat itu, tinggal pula utusan dari Kun-lun-pai yang berjumlah empat orang.
Tiga orang murid kelas dua dan paman guru mereka, seorang tosu yang bemama Yang Tek Tosu berusia lima puluh tahun dan bertubuh jangkung kering.
Masih banyak lagi para utusan perkumpulan lain yang tinggal di pondok-pondok darurat, akan tetapi yang merupakan tamu kehormatan di antaranya adalah utusan dari empat perkumpulan besar itu.
Pada keesokan harinya setelah mereka datang, pagi-pagi sekali, masih remang-remang dan hawa dingin sekali, di belakang pondok yang dijadikan tempat bermalam para utusan Go-bi-pai, nampak seorang gadis sedang berlatih silat.
Gadis itu adalah Poa Liu In, puteri Poa Cin An yang memimpin rombongan Go-bi-pai.
Mula-mula ia berlatih silat tangan kosong.
Gerakannya cepat dan pukulannya mantap.
Memang ia seorang gadis yang berbakat dan sejak kecil digembleng oleh ayahnya yang menjadi tokoh tingkat dua Go-bi-pai, bahkan kini mengepalai cabang Go-bi-pai yang berada di Lembah Sungai Han, masih merupakan bagian kaki Cin-ling-pai.
Ilmu silat tangan kosong yang dimainkan gadis itu selain cepat dan mantap, juga amat indah.
Apalagi dimainkan oleh seorang gadis manis yang memiliki bentuk tubuh seindah tubuh Liu In, mana nampak seperti seorang dewi sedang menari saja.
Liu In berlatih sungguh-sungguh sehingga dari kepala yang rambutnya hitam panjang itu mengepul uap.
Hawa udara sangat dingin sedang tubuhnya menjadi panas karena latihan itu maka kepalanya mengepulkan uap putih, menambah keindahan latihan silat tangan kosong yang seperti tarian itu.
Setelah selesai, ia pun mencabut pedangnya, pedang pasangan dan mulailah ia melanjutkan latihannya dengan latihan ilmu pedang Gobi Kiam-sut.
Ia mainkan sepasang pedangnya dengan cepat, makin lama semakin cepat sehingga lenyaplah bentuk kedua pedang itu.
Yang nampak hanya gulungan dua sinar seperti dua ekor naga bermain-main di antara tubuh yang padat dan langsing itu.
Juga dalam latihan ilmu pedang ini, Liu In bermain sungguh-sungguh, mengerahkan semua tenaga dan memusatkan perhatiannya sehingga kini lebih banyak lagi uap putih mengepul ke atas dari kepalanya.
Ketika akhirnya ia menghentikan latihan pedangnya, nampak kini muka dan lehernya basah oleh keringat, dan dadanya yang membusung itu naik turun, nafasnya agak memburu.
Liu In lalu meletakkan pedangnya di atas tanah.
Ia sendiri lalu memilih tanah yang kering, lalu duduk bersila untuk memulihkan tenaga dan mengatur pemafasan.
Sungguh nyaman sekali rasanya, sehabis berlatih, badannya panas dan jantungnya berdebar, kini duduk melakukan latihan pemapasan seperti itu.
Setelah napasnya normal kembali dan kelelahannya menghilang, ia pun melanjutkannya dengan siulian.
Pada saat ia mengosongkan pikirannya itulah, tiba-tiba terdengar bisikan suara yang mengandung wibawa amat kuatnya.
"Poa Liu In, betapa nyamannya rasa tubuhmu dan hawa udara sejuk membuatmu mengantuk. Engkau mengantuk dan tertidur..."
Liu In terkejut dan ia mencoba untuk melawan perintah itu yang dianggapnya tidak wajar.
Tidak mungkin ayahnya memerintahkan seperti itu.
Ia hendak menoleh dan menolak akan tetapi sungguh aneh.
Kepalanya seperti penuh dengan suara itu yang memaksanya untuk tidur, yang menekankan bahwa ia mengantuk, dan ia tidak mampu menoleh, bahkan tidak mampu bergerak, dan akhirnya ia pun menyerah.
Ia tertidur dalam keadaan masih bersila!
Karena tidurnya adalah tidur tidak wajar, maka ia pun sama sekali tidak terjaga ketika ada bayangan berkelebat di belakangnya.
Dengan gerakan yang amat cepat bayangan itu menggerakkan tangan menotok tengkuk gadis itu yang terkulai pingsan, Kemudian bayangan itu mengangkat dan memondong tubuh yang sudah terkulai lemas itu dan membawanya pergi dari situ.
Bayangan yang memondong tubuh Liu In yang pingsan itu menyelinap masuk ke dalam sebuah pondok darurat yang belum dipakai tamu dan yang berdiri agak terpencil di dekat hutan sebelah barat.
Tak seorang pun melihat bayangan itu memondong Liu In ke dalam pondok.
Dan tidak ada seorang pun yang tahu apa yang terjadi di dalam pondok itu.
Hari masih terlalu pagi dan udara terlampau dingin sehingga orang segan untuk keluar dari pondok.
Matahari telah mulai mengeluarkan sinarnya yang lembut namun sudah, mendatangkan kehangatan ketika Liu In mengeluarkan keluhan lirih dan menggerakkan tubuhnya, membuka kedua matanya.
Pada saat itu ia mendengar suara yang masuk dari luar tempat itu.
"Gadis Go-bi-pai yang sombong, memamerkan kepandaianmu yang tidak seberapa itu di Cin-ling-pai? Ha-ha! Kalau engkau mau tahu siapa aku, ingat saja orang she Lui murid Cin-ling-pai!"
Liu In terkejut bukan main dan meloncat turun dari atas dipan, hanya untuk menahan jeritnya dan matanya terbelalak mendapatkan kenyataan bahwa tubuhnya telanjang bulat!
Pakaiannya berada di atas dipan itu.
Ia menyambarnya dan cepat mengenakan kembali pakaiannya, wajahnya pucat karena ia kini sadar benar apa yang telah terjadi menimpa dirinya.
Ia telah diperkosa orang selagi pingsan atau tidur!
Akan tetapi ia segera ingat bahwa tadi ia berlatih silat dan duduk bersila.
Kini tahu-tahu telah berada di dalam sebuah pondok.
Tentu ia telah ditotok dan pingsan!
Setelah mengenakan kembali pakaiannya secepatnya, ia meloncat keluar mendorong daun pintu pondok itu dan ia berdiri tertegun.
Ia melihat beberapa orang pria muda murid-murid Cin-ling-pai hilir mudik, dan melihat rombongan para tamu sedang berjalan-jalan, menikmati cahaya matahari pagi yang hangat.
Ia tentu saja tidak berani ribut-ribut.
Bagaimana ia berani membuat ribut kepada para murid Cin-ling-pai itu?
Tentu berarti ia kan melumuri dirinya dengan aib, mengaku bahwa ia baru saja diperkosa orang!
Hatinya seperti ditusuk-tusuk rasanya dan ingin ia menjerit, ingin ia menangis, akan tetapi melihat semakin banyak otang berjalan-jalan, ia pun menahan perasaannya.
"Liu In...!"
Tiba-tiba terdengar suara ayahnya menegur.
Ia menoleh dan melihat ayahnya bersama dua orang susioknya.
Mereka agaknya bukan hanya berjalan-jalan biasa, melainkan sedang mencarinya karena ayahnya membawa pula siang-kiamnya yang tadi ia pergunakan untuk berlatih silat.
Melihat puterinya berdiri dengan tubuh kelihatan lunglai dan wajahnya pucat sekali, tentu saja Poa Cin An terkejut bukan main dan merasa amat khawatir.
"Liu In, ke mana saja engkau tadi? Apa yang terjadi?"
Poa Cin An dan dua orang sutenya cepat menghampiri Liu In.
Begitu ayahnya berada di depannya, Liu In tidak dapat menahan kehancuran hatinya lagi.
"Ayah...!"
Ia menubruk ayahnya dan menangis di dada ayahnya.
"Ehhh? Apa yang terjadi? Ada apakah, Liu In?"
Tanya Poa Cin An.
Melihat betapa semua orang kini memandang ke arah mereka dengan pandang mata heran dan hanya tidak berani bertanya karena rombongan Go-bi-pai tentu saja disegani orang, dua orang sute dari Poa Cin An lalu memberi isarat kepada suheng mereka.
"Mari kita pulang ke pondok dan bicara di sana."
Biarpun ia sedang menangis, mendengar ucapan itu, Liu In mengangguk lemah dan mereka pun berjalan menuju ke pondok mereka.
Liu In menahan rasa nyeri di tubuh dan hatinya.
Setelah mereka tiba di pondok mereka, Liu In tak dapat lagi menahah kesedihannya.
Ia lari memasuki kamarnya, membanting diri di atas pembaringan dan menangis tersedu-sedu.
Air matanya membanjir bagaikah air bah mengalir keluar dari bendungan yang pecah.
Poa Cin An mengerutkan alisnya, memberi isarat kepada dua orang sutenya agar tinggal di luar dan dia sendiri lalu memasuki kamar puterinya, menutupkan kembali daun pintu kamar itu.
Dia melihat puterinya menangis terisak-isak sambil menyembunyikan mukanya di bantal, menelungkup dan tubuhnya terguncang-guncang.
Dia duduk di tepi pembaringan, menyentuh pundak puterinya.
"Liu In, ke mana perginya sifatmu yang gagah sebagai pendekar? Kenapa engkau menjadi cengeng dan menangis seperti anak kecil? Apakah yang terjadi? Katakan padaku, ceritakan kepada ayahmu."
Liu In melanjutkan tangisnya sampai akhirnya dapat menguasai hatinya, ia bangkit duduk, akan tetapi kedua tangannya masih menutup mukanya dan dengan suara hampir tidak terdengar ia berkata.
"Ayah... aku... aku... diperkosa orang..."
Bagaikan dipatuk ular, Poa Cin An yang biasanya tenang itu melompat dari tepi pembaringan, berdiri dengan mata terbelalak dan mukanya berubah merah sekali.
"Apa? Siapa? Hayo ceritakan, apa yang terjadi!"
Kini suaranya penuh dengan api yang berkobar karena harga diri dan kehormatannya tertusuk.
Dengan kedua tangan masih menutupi mukanya, Liu In menceritakan pengalamannya, betapa tadi pagi-pagi sekali ia berlatih silat, kemudian ketika ia sedang melakukan latihan siu-lian (samadhi), ia tertidur dan ketika ia terbangun atau siuman kembali, ia mendapatkan dirinya berada di dalam pondok kosong dan telah diperkosa orang.
"Siapa? Siapa dia? Cepat katakan!"
"Ayah, aku tidak tahu. Ketika hal itu terjadi, aku dalam keadaan pingsan, sama sekali tidak sadar. Ketika aku siuman, aku sendirian saja di pondok itu dan aku mendengar suara orang laki-laki mengaku bahwa dia yang melakukan perbuatan itu adalah seorang murid Cin-ling-pai yang she (bermarga) Lui..."
"Keparat jahanam! Noda ini harus dicuci dengan darah!"
Poa Cin An berteriak dan dia meloncat keluar dari dalam kamar pondok itu.
Dua orang sutenya terkejut dan menyambutnya dengan kaget dan heran.
"Suheng, ada apakah?"
"Keparat Cin-ling-pai...!"
Poa Cin An terengah-engah dan matanya mencorong penuh kemarahan, amat mengejutkan dua orang adik seperguruannya.
Tiba-tiba terdengar suara gedobrakan di dalam kamar Liu In dan disusul rintihan gadis itu.
"...ayaahhh..."
Tiga orang tokoh Go-bi-pai itu lari memasuki kamar dan...
Poa Cin An berteriak parau dan menubruk tubuh puterinya yang sudah menggeletak di atas lantai dengan kedua pedangnya menembus dada dan perut!
Darah membanjiri lantai di mana gadis itu rebah miring.
"Liu In...!"
Poa Cin An hanya dapat merangkul puterinya, maklum bahwa dengan dada dan perut ditembusi kedua pedang itu, mustahil untuk dapat menyelamatkan nyawa anaknya.
Liu In masih dapat memandang ayahnya dan bibirnya bergerak-gerak, terdengar suaranya lemah dan lirih.
"...aku malu... ayah... balaskan..."
Dan lehernya terkulai, nyawanya melayang.
"Liu In...!"
Ayah itu menubruk lagi jenazah puterinya.
Poa Cin An seorang tokoh Go-bi-pai, seorang pendekar yang keras hati, namun sekali ini dia menangis seperti anak kecil!
Anaknya hanya tunggal dan kini tewas sedemikian menyedihkan di depan matanya.
Diperkosa orang kemudian membunuh diri!
"Cin-ling-pai keparat!
Tenaglah, anakku, aku akan membalaskan dendam setinggi langit ini!"
Teriaknya dan dia pun meloncat bangun, menyambar sepasang pedangnya yang tadi dia lempar di atas meja ketika dia melihat keadaan puterinya.
Akan tetapi, dua orang sutenya cepat menangkap lengannya.
"Suheng, tahan dulu...!"
Poa Cin An rnemandang kedua orang sutenya dengan mata merah dan mendelik, kedua pipinya masih basah.
"Apa? Kalian hendak menghalangiku? Sepatutnya kalian membantuku!"
"Tentu saja kami akan membantumu, Suheng. Andaikata Suheng tidak menuntut balas pun, kami berdua akan mempertaruhkan nyawa untuk membalas penghinaan ini! Bukan hanya puterimu yang dihina, bukan hanya Suheng, melainkan Go-bi-pai! Akan tetapi, kita harus tenang, Suheng. Apakah Suheng ingin agar seluruh dunia tahu akan aib yang menimpa diri puterimu? Tidak kasihankah Suheng kepada puterimu, setidaknya, kepada namanya?"
Poa Cin An tercengang, lalu menunduk, lalu mengguguk.
Sejenak dia tidak mampu bicara, lalu mengangguk-angguk dan menenangkan hatinya dengan tarikan napas panjang.
"Kalian benar, Sute. Maafkan aku...! Hampir aku tidak dapat menguasai hati dan menyiarkan noda yang mencemarkan nama baik anakku. Aih, Liu In, sungguh malang nasibmu, anakku. Akan tetapi jangan khawatir, ayahmu akan menuntut balas. Jahanam itu akan kubuhuh, kepalanya akan kupakai bersembahyang di depan jenazahmu atau makammu! Jangan khawatir, anakku..."
Setelah dia mengangkat jenazah puterinya dan membaringkannya di atas dipan, mencabut sepasang pedang itu dan menyelimuti jenazah, mereka bertiga lalu keluar dari pondok dan dengan langkah lebar dan muka tegang mereka menuju ke bangunan pusat Cin-ling-pai.
Di pintu gerbang depan mereka disambut oleh beberapa orang murid Cin-ling-pai yang sedang bertugas jaga.
Para murid Cin-ling-pai ini memandang heran melihat sikap tiga orang tamu yang mereka kenal dan mereka hormati sebagai tiga orang di antara para tamu kehormatan, wakil-wakil dari Go-bi-pai.
Akan tetapi mereka menyambut dengan ramah.
"Selamat pagi, Sam-wi Lo-cian-pwe (Tiga orang tua gagah). Ada keperluan apakah sam-wi datang berkunjung pagi ini?"
"Laporkan kepada Gouw-pangcu (Ketua Gouw) bahwa kami ingin bertemu dan bicara dengan dia. Cepat!"
Bentak Poa Cin An dengan sikap bengis dan marah sehingga mengejutkan tujuh orang murid Cin-ling-pai itu.
Pemimpin para murid yang bertugas jaga itu memberi hormat dan tetap menjawab dengan sikap sopan dan ramah.
"Lo-cian-pwe, saat ini Gouw pancu sedang sibuk menerima kunjungan para wakil Kun-lun-pai dan Bu-tong-pai. Mereka baru saja masuk dan diterima oleh pangcu di ruangan tamu."
"Kalau para utusan Kun-lun-pai dan Bu-tong-pai dapat diterima, mengapa kami dari Go-bi-pai tidak? Antarkan kami bertemu dengan dia, atau kami akan masuk sendiri!"
Kata pula Poa Cin An.
"Sabarlah, Lo-cian-pwe. Kami bukan menolak atau menghalangi, hanya kalau sam-wi masuk sekarang, pangcu kami akan menjadi sibuk sekali dan sebaiknya kalau sam-wi menanti sebentar..."
"Tidak, kami harus masuk sekarang dan bertemu sekarang juga!"
Para murid itu terkejut.
Tadi pun mereka sudah dikejutkan oleh sikap para pimpinan Kun-lun-pai yang juga nampak marah, disusul utusan Bu-tong-pai yang juga nampak marah, dari sekarang orang-orang Go-bi-pai ini benar-benar marah sekali.
Apa yang telah terjadi?
Mereka tidak berani membantah lagi dan mengantarkan tiga orang ini menuju ke ruangan tamu yang amat besar itu.
Ketika memasuki ruangan itu, tiga orang tokoh Go-bi-pai itu melihat bahwa Tiong Gi Cin-jin pemimpin rombongan Bu-tong-pai bersama enam orang murid Bu-tong-pai telah duduk berjajar di situ, demikian pula Yang Tek Tosu bersama tiga orang murid keponakannya, dua di antaranya nampak luka-luka dan dibalut di bagian leher dan dahi.
Juga tiga orang tokoh Go-pi-pai itu melihat betapa wajah mereka semua itu nampak tegang dan marah sehingga mudah diduga bahwa pasti telah terjadi hal-hal yang hebat, seperti yang juga mereka alami.
Kiranya wakil ketua Cin-ling-pai, yaitu Gouw Kian Sun, belum keluar, menyambut dan para tamu itu baru dipersilakan menanti di ruangan tamu.
Hal ini agak mengherankan karena wakil ketua itu tentu sibuk sekali karena dia adalah calon pengantin.
Karena mereka sendiri pun sedang tegang dan marah, maka mereka hanya mengangguk saia kepada dua rombongan terdahulu, kemudian mereka duduk pula di sebelah kiri, menanti munculnya GouW Kian Suh.
Akhirnya, orang yang dinahti-nanti, itu pun muhcul dengan sikap tenang dan wajah yang tidak membayangkan kesalahan.
Sebagai calon pengantin, pakaiannya baru dan dia nampak gagah.
Dia ditemani oleh Ciok Gun, murid Cin-ling-pai yahg pandai dan setia, dan yang menjadi, pembantu utama wakil ketua Gouw Kian Sun.
Pria jangkung ini pun nampak tenang saja ketika memasuki ruangan itu.
Melihat para tamu bangkit berdiri dengan sikap marah, Gouw Pangcu memandang heran, akan tetapi dengan ramah dia pun menghampiri kursinya, memberi hormat dan mempersilakan para tamunya duduk kembali.
Poa Cin An sudah ingin sekali meneriakkan rasa penasarannya kepada pimpinan Cin-ling-pai itu, akan tettapi bagaimanapun juga, dia adalah seorang wakil perkumpulan besar yang mengenal aturan, maka sebagai rombongan yang datang terakhir, dia harus bersabar dan mengalah, membiarkan dua rombongan tamu yang datang terlebih dahulu bicara dengan tuan rumah.
"Selamat pagi para Lo-cian-pwe yang terhormat!"
Gouw Kian Sun dengan ramah.
Walaupun dia sendiri menghadapi urusan Cin-ling-pai yang amat rumit dan membuat dia selalu gelisah, namun di depan para tamu kehormatan ini dia dapat memperlihatkan sikap ramah.
"Kami harap cu-wi (anda sekalian) dapat beristirahat dengan senang di pondok-pondok yang kami sediakan dan maafkan kalau ada kekurangan..."
"Kami datang bukan untuk bicara tentang itu!"
Tiba-tiba Yang Tek Tosu pemimpin utusan Bu-tong-pai berkata dengan wajah keruh.
Gouw Kian Sun terkejut dan diam-diam dia menjadi semakin gelisah, tidak dapat menduga atau membayangkan apa yang telah terjadi, akan tetapi diam-diam dia melirik ke arah Ciok Gun, murid yang dia tahu kini telah menjadi mayat hidup dan menjadi kaki tangan dari orang-orang Pek-lian-kauw di luar kesadarannya itu.
Kalau terjadi sesuatu Ciok Gun ini mengetahuinya, pikirnya.
Akan tetapi wajah Ciok Gun tetap dingin dan dia duduk membungkam mulut dan matanya pun memandang kosong saja!
Selagi dia hendak bertanya kepada tosu Bu-tong-pai itu, tiba-tiba terdengar suara dari luar ruangan.
""Omitohud...! Siapa kira Cin-ling-pai menjadi begini?"
Dan muncullah Thian Hok Hwesio, dua orang tokoh Siauw-lim-pai yang juga menjadi tamu itu.
Ketika mereka masuk dan melihat betapa rombongan dari tiga perguruan besar sudah berkumpul di situ pula, Thian Hok Hwesio yang tadi bicara menoleh kepada sutenya dan dia pun mengelus jenggotnya yang panjang.
"Omitohud..., kiranya semua orang telah berkumpul di sini?"
Kian Sun segera bangkit berdiri, diikuti oleh Ciok Gun dan Kian Sun memberi hormat kepada dua orang hwesio itu.
"Ji-wi Lo-suhu (Dua orang pendeta tua), selamat pagi dan kebetulan sekali ji-wi datang karena agaknya ada yang perlu dibicarakan yang kami belum mengetahui. Silakan ji-wi duduk."
Dua orang hwesio itu membalas penghormatan Gouw Pangcu dan mereka pun duduk.
Agaknya Gouw Pangcu merasa lega dengan hadirnya dua orang hwesio Siauw-lim-pai ini yang dia tahu pasti akan bertindak adil dan tidak suka menggunakan kekerasan.
Agaknya Yang Tek Tosu yang tadi sudah mulai bicara karena rombongannya yang datang lebih dahulu, kemudian bicaranya terhenti dengan munculnya dua orang hwesio itu, kini tidak dapat menahan lagi kemarahannya.
Dia bangkit berdiri dengan muka merah dan tubuhnya yang jangkung kurus itu agaknya nampak semakin jangkung.
"Gouw Pangcu, kami datang bukan untuk beramah-tamah atau berbasa-basi. Lihat saja keadaan dua orang murid keponakan pinto (aku) ini dan kiranya tidak perlu lagi Pangcu berpura-pura!"
Gouw Kian Sun memandang ke arah dua orang murid Kun-lun-pai yang luka-luka di leher dan dahi itu dan dia kembali memandang kepada Yang Tek Tosu yang masih berdiri.
"Saya melihat bahwa mereka itu menderita luka-luka di leher dan dahi. Akan tetapi, sungguh mati saya tidak tahu mengapa begitu, to-tiang (bapak pendeta). Apakah yang telah terjadi?"
Yang Tek Tosu menahan kemarahannya dan kini dia berjalan mondar-mandir, gerak-geriknya diikuti oleh pandang mata semua yang hadir, kecuali Ciok Gun yang nampaknya tenang-tenang saja, tidak terkejut dan gelisah seperti Kian Sun.
"Mungkin saja Gouw Pangcu tidak mengetahui apa yang terjadi. Kami sendiri hampir tidak percaya kalau saja kedua orang murid keponakan ini tidak mengalami sendiri. Sejak dahulu Cin-ling-pai terkenal sebagai perguruan besar yang memiliki murid-murid pendekar. Akan tetapi siapa tahu sekarang mempunyai murid-murid yang nyeleweng, jahat dan curang!"
Kian Sun bangkit berdiri.
Mukanya menjadi merah.
Dia seorang tokoh Cin-ling-pai yang amat setia dan juga dia sedikit pun tidak mengira bahwa ada murid Cin-ling-pai yang akan berani berbuat jahat.
Bahkan dia pun sudah mendapat janji dari Tok-ciang Bi Moli yang menguasai dirinya bahwa wanita itu dan sekutunya tidak akan melakukan hal-hal yang merusak nama baik Cin-ling-pai.
Maka, mendengar tuduhan Yang Tek Tosu, tentu saja dia menjadi terkejut dan juga marah.
"Harap Totiang tidak menuduh yang tidak ada buktinya. Penyelewengan dan kejahatan apakah yang telah dilakukan murid kami? Tunjukkan buktinya dan siapa orangnya, pasti kami akan mengambil tindakan dan memberi hukuman kalau memang benar!"
Katanya dengan suara lantang.
"Gouw-pangcu! Setelah melihat keadaan dua orang murid keponakanku, masih minta bukti lagi?"
Dia menoleh kepada dua orang yang menderita luka-luka itu dan memberi perintah.
"Kalian ceritakan apa yang telah kalian alami semalam!"
Dua orang murid Kun-lun-pai itu mengangguk dan seorang di antara mereka yang lukanya tidak terlalu parah bercerita.
Kiranya malam tadi, karena iseng saja, mereka meninggalkan pondok dan bahkan keluar dari perkampungan Cin-lihg-pai.
Ketika mereka keluar, malam belum gelap benar.
Mereka pergi ke perkampungan di lereng bukit, di mana terdapat beberapa dusun.
Dua orang murid Kun-lun-pai itu adalah murid biasa, bukan tosu (pendeta To), maka mereka pergi ke dusun itu untuk bermain-main dan membeli makanan.
Malam telah agak gelap ketika mereka mengambil keputusan untuk kembali ke perkampungan Cin-lihg-pai.
Akan tetapi setiba mereka di luar dusun di mana mereka bermain-main tadi, mereka mendengar jerit tangis seorang wanita.
Mereka cepat mengejar dan melihat lima orang laki-laki muda sedang menarik-narik seorang gadis dusun.
Sebagai pendekar-pendekar Kun-lun-pai, tentu saja dua orang itu segera turun tangan menegur.
Akan tetapi, lima orang itu tanpa banyak cakap lagi memaki.
Seorang di antara mereka mengatakan bahwa sebagai tamu, dua orang itu tidak sepatutnya mencampuri urusan murid-murid Cin-ling-pai.
Terjadi perkelahian dan karena dua orang itu dikeroyok, maka mereka menderita luka-luka di leher dan dahi.
Mereka melawan terus dan akhirnya terpaksa melarikan diri karena lima orang yang mengaku murid Cin-ling-pai itu agaknya berkeras hendak membunuh mereka.
Untung mereka dapat melepaskan diri dan lari sampai ke perkampungan Cin-ling-pai dan malam itu mereka mendapatkan pengobatan dari paman guru mereka, yaitu Yang Tek Tosu.
Karena kebijaksanaannya, Yang Tek Tosu tidak mau membikin ribut di malam hari itu, menanti sampai keesokan harinya barulah pagi-pagi dia membawa dua orang murid keponakan yang luka-luka itu untuk mengadu dan memrotes kepada pimpinan Cin-ling-pai.
"Nah, Pangcu mendengar sendiri. Apakah patut kelakuan murid-murid Cin-ling-pai itu? Mereka berlima hendak memaksa dan memperkosa seorang gadis dusun! Begitukah kelakuan para pendekar Cin-ling-pai? Ketika dua orang murid keponakanku menegur, mereka berdua malah dikeroyok secara pengecut. Kami minta pertanggungan jawab Gouw Pangcu sebagai pimpinan Cin-ling-pai saat ini!"
Sebelum Gouw Kian Sun yang memandang terbelalak saking kaget dan herannya mendengarkan penuturan murid Kun-lun-pai itu, terdengar Tiong Gi Cinjin pimpinan rombongan Bu-tong-pai berseru dengan suaranya yang lantang.
"Perbuatan mengeroyok dua orang murid Kun-lun-pai oleh lima orang itu masih belum berapa hebat, karena akibatnya hanya melukai dua orang murid Kun-lun-pai. Yang lebih hebat lagi adalah apa yang dialami oleh muridku sendiri! Muridku telah dikeroyok dan dibunuh oleh belasan orang murid Cin-ling-pai!"
Semua orang terkejut, terutama sekali Gouw Kian Sun.
"Tidak mungkin! Bagaimana mungkin murid-murid Cin-ling-pai membunuh tamu mereka sendiri?"
"Hemm, Gouw Pangcu. Selama hidupku, aku tidak pernah berbohong! Aku tidak akan sembarangan menuduh kalau tidak ada buktinya. Mau bukti? Datanglah ke pondok kami dan lihatlah sendiri. Jenazah muridku, Gu Kay Ek, sampai sekarang masih rebah di atas dipan dan masih hangat!"
Saking kagetnya, Kian Sun bangkit berdiri dari tempat duduknya dan hendak pergi menyaksikan sendiri bahwa ada murid Bu-tong-pai yang tewas akibat pengeroyokan murid-murid Cin-ling-pai.
Akan tetapi pada saat itu, Poa Cin An bangkit berdiri dan sekali menggerakkan tubuhnya, dia sudah meloncat dan berdiri di depan Gouw Kian Sun, menghadang kepergian wakil ketua Cing-ling-pai itu.
"Gouw Pangcu, jangan pergi dulu! Kun-lun-pai hanya menderita luka-luka kedua muridnya, Bu-tong-pai menderita kematian seorang murid yang dikeroyok. Akan tetapi aku, aku orang Go-bi-pai yang selama hidupku tidak pernah menganggap Cin-ling-pai sebagai musuh, pagi hari tadi telah menderita yang teramat hebat dan noda ini hanya dapat ditebus dengan darah!"
Wajah Kian Sun menjadi agak pucat.
Dia tahu bahwa Poa Cin An, tokoh kelas dua dari Go-bi-pai ini, datang bersama dua orang sutenya dan puterinya, seorang gadis muda yang cantik.
Dan sekarang, tokoh ini hanya muncul dengan dua orang sutenya, tanpa puterinya!
Dan dia bicara tentang noda yang harus ditebus dengan darah!
"Lo-cian-pwe...
apa...
apa pula yang telah terjadi?"
Tanya Kian Sun dan suaranya terdengar penuh kegelisahan.
"Apa yang terjadi? Puteriku, Poa Liu In, pagi tadi selagi berlatih sendirian dan sedang bersiulian, telah ditotok orang, dalam keadaan pingsan dibawa ke sebuah pondok kosong dan diperkosa! Dan sekarang, Gouw Pangcu juga tidak percaya dan minta bukti? Lihat, tubuh puteriku juga masih hangat walaupun nyawanya telah melayang, ditembusi dua batang pedangnya sendiri yang ia pergunakan untuk membunuh diri! Pangcu, kalau engkau tidak menyerahkan pelaku perbuatan terkutuk itu, jangan salahkan kalau Go-bi-pai akan membasmi Cin-ling-pai!"
Wajah Gouw Kian Sun menjadi pucat sekali.
Sungguh mimpi pun tidak pernah dia bahwa murid-murid Cin-ling-pai dapat melakukan semua perbuatan yang dituduhkan oleh tiga orang pimpinan rombongan tiga perguruan besar itu.
Otomatis, seperti orang mencari pembela, dia menoleh ke arah dua orang hwesio Siauw-lim-pai.
"Omitohud...!"
Kata Thian Hok Hwesio.
"Tadinya pinceng (aku) mengira bahwa orang Cin-ling-pai telah menjadi kurang ajar dan suka menghina orang, tidak tahunya telah terjadi perbuatan-perbuatan yang begitu jahatnya. Hemm, apakah artinya semua ini, Gouw Pangcu?"
"Maaf, Lo-suhu. Apakah juga terjadi sesuatu yang membuat Losuhu menjadi marah?"
Tanya Gouw Kian Sun, semakin tidak enak perasaan hatinya dan dia seperti mendapat firasat yang amat tidak baik.
"Omitohud, pinceng berdua menerima hidangan yang terdiri dari segala macam daging, juga arak. Sedangkan yang mengantar hidangan itu adalah murid-murid perempuan Cin-ling-pai yang genit-genit pula. Bukankah itu berarti suatu penghinaan yang disengaja untuk merendahkan pinceng berdua?"
"Aih, mana mungkin begitu? Kami sudah mempersiapkan masakan ciak-jai (masakan bebas daging) untuk para Losuhu dan para Totiang!"
"Hemm, Gouw Pangcu. Arak dan masakan itu masih berada di pondok kami, belum tersentuh. Apakah Pangcu tidak percaya dan ingin melihat sendiri?"
Kian Sun menjadi lemas.
Bagaimana dia dapat tidak mempercayai mereka?
Mereka yang kematian murid, kematian anak, adalah tokoh-tokoh besar dari perguruan yang terkenal.
Mereka pasti tidak berbohong.
Akan tetapi, kalau untuk percaya begitu saja, dia pun masih ragu-ragu karena selama dia menjadi murid Cin-ling-pai sampai sekarang, belum pernah ada murid Cin-ling-pai yang melakukan perbuatan jahat seperti itu.
Cin-ling-pai memegang keras peraturan, dan setiap murid yang melanggar peraturan sedikit saja pasti dihukum berat.
Apalagi sampai melakukan penghinaan kepada tamu, bahkan pembunuhan dan perkosaan!
"Cu-wi Lo-cian-pwe, bagaimana kami dapat tidak mempercayai keterangan cu-wi (anda sekalian)?
Akan tetapi, beritahulah kepada kami siapa saja pelaku-pelaku kejahatan itu di antara murid kami, pasti akan kami tangkap sekarang juga!"
"Mereka yang mengeroyok dan melukai kami tidak pernah menyebutkan nama mereka."
Kata dua orang murid Kun-lun-pai itu.
"Muridku Gu Kay Ek sebelum menghembuskan napas terakhir sudah pinto tanyai, akan tetapi dia mengatakan bahwa para pengeroyoknya hanya mengaku murid-murid Cin-ling-pai, tidak ada yang menyebut namanya."
Kata pula Tiong Gi Cin-jin dari Bu-tong-pai.
"Murid Cin-ling-pai jahanam yang melakukan perbuatan terkutuk kepada puteriku mengaku bermarga Lui!"
Kata poa Cin An.
"Serahkan jahanam she Lui itu kepadaku, Pangcu. Aku harus membawa kepalanya untuk dipakai sembahyang di depan jenazah atau makam puteriku!"
Kian Sun mengerutkan alisnya.
"She Lui? Akan tetapi, rasanya tidak ada yang she Lui di antara murid Cin-ling-pai..."
"Maaf, Suhu. Teecu melapor. Pagi tadi teecu melihat dua orang murid yang mengganggu seorang gadis dusun. Teecu tegur dan ketika hendak menangkapnya untuk diseret ke depan Suhu agar menerima hukuman, mereka melarikan diri."
Tiba-tiba Ciok Gun berkata, suaranya tenang namun jelas terdengar oleh semua yang berada di ruangan itu.
Kian Sun terbelalak memandang kepada muridnya itu.
"Ciok Gun! Apa maksudmu? Apa artinya keteranganmu itu? Siapa dua orang murid itu?"
"Mereka itu Lui Ti dan Ji Kun, dua orang murid seangkatan teecu, hanya mereka lebih muda beberapa tahun."
"Gouw Pangcu, jelas bahwa engkau hendak melindungi murid yang bersalah, ya? Tadi kau mengatakan bahwa tidak ada yang she Lui, sekarang muncul yang bernama Lui Ti!"
Kata Poa Cin An.
"Tentu dia yang telah melakukannya. Cepat Pangcu tangkap dan serahkan dia kepada kami!"
Kian Sun merasa kepalanya pening.
Tentu saja dia meragukan sekali keterangan yang keluar dari mulut Ciok Gun, muridnya yang kini telah menjadi seperti mayat hidup yang dikuasai oleh Pek-lian-kauw!
Di dalam hatinya timbul dugaan bahwa semua peristiwa itu pasti didalangi oleh Pek-lian-kauw!
Akan tetapi mengapa mereka itu melakukan semua ini?
Ah, dia tahu sekarang!
Kiranya Pek-lian-kauw yang hendak menguasai Cin-ling-pai adalah suatu siasat untuk mengadu domba!
Antara Cin-ling-pai dengan perguruan-perguruan besar lainnya.
Jantungnya berdebar keras.
Otaknya dikerjakan.
Kalau begitu, setelah pertentangan memuncak, tentu mereka akan membebaskan keluarga Cia, perlunya agar keluarga Cia mempertahankan Cin-ling-pai dari amukan para pimpinan perguruan lain itu.
Akan tetapi apa yang dapat dia lakukan sekarang?
Membuka rahasia itu?
Semakin merugikan.
Pertama, tentu para tamu tidak percaya, karena buktinya, dia yang masih duduk sebagai pimpinan di Cin-ling-pai.
Dan ke dua, kalau dia membuka rahasia yang belum tentu dipercaya oleh para tamu itu, tentu keselamatan seluruh keluarga Cia terancam.
Kalau siasat mereka gagal, tentu orang-orang Pek-lian-kauw takkan segan-segan melanggar janji dan membunuh semua keluarga Cia yahg sudah dipenjarakan itu.
Dia menarik napas panjang.
Dia harus mampu mengulur waktu, mencari kesempatan untuk menyampaikan semua itu kepada gurunya,dan kepada suhengnya, Cia Hui Song.
"Cu-wi Lo-cian-pwe harap jangan khawatir. Kami akan menyelidiki dengan teliti dan akan mengerahkan seluruh anggauta kami untuk menangkapi mereka yang bersalah. Kami berjanji. Sekarang kami ingin melihat semua korban sebagai bukti. Dua orang murid Kun-lun-pai sudah kami lihat bahwa mereka memang luka-luka!,"
Gouw Kian Sun diiringkan oleh Ciok Gun, bersama semua rombongan tamu itu lalu meninggalkan kamar tamu dan pertama-tama mereka berkunjung ke pondok Bu-tong-pai.
Di sini mereka melihat Gu Kay Ek, murid dari Tiong Gi Cin-jin, telah menjadi mayat dengan tubuh penuh luka, rebah telentang di atas pembaringan.
Kemudian mereka semua menyaksikan jenazah Poa Lui In, murid Go-bi-pai dan yang terakhir mereka semua menyaksikan hidangan daging dan arak di pondok kedua hwesio utama utusan Siauw-lim-pai.
Setelah menyaksikan sendiri, Gouw Kian Sun kembali lagi ke ruang tamu Cin-ling-pai, diikuti oleh mereka yang kini penuh semangat untuk menuntut balas.
Kembali mereka duduk di ruangan tamu yang luas itu dan wajah Gouw Kian Sun muram sekali.
Dia telah menyaksikan sendiri kebenaraan semua yang laporan dan tuntutan para tamunya yang terhormat.
Diam-diam dia merasa khawatir sekali, bukan mengkhawatirkan keselamatan diri sendiri, melainkan khawatir akan nama baik Cin-ling-pai.
Kini dia dapat menduganya dan hampir yakin bahwa memang inilah yang dikehendaki Pek-lian-kauw, yaitu mengadu domba antara Cin-ling-pai dengan paraperguruan besar!
Buktinya, yang terkena musibah hanyalah empat perguruan besar sehingga mereka semua merasa pehasaran kepada Cin-ling-pai.
sedangkan para tamu lain, tamu biasa, tidak mengalami gangguan apa pun.
Kini para tamu yang sudah duduk semua memandang kepada Gouw Kian Sun, dengan sinar mata penuh tuntutan.
Wakil ketua Cih-ling-pai itu, yang sejak beberapa pekan ini telah kehilangan bobot banyak sekali sehingga nampak pucat dan kurus, berulang-ulang menghela hapas panjang.
Kemudian dia mengangkat mukanya yang sejak kembalinya dari pemeriksaan tadi menunduk saja memandang kepada semua tamu.
"Cu-wi Lo-cian-pwe dan Eng-hiong (pendekar), saya telah melihat sendiri bukti dari semua yang cu-wi ceritakan. Saya tidak dapat menyangkal lagi bahwa memang cu-wi mendapatkan gangguan-gangguan hebat di Cin-ling-pai. Akan tetapi, sekarang ini saya belum dapat mepangkap murid-murid Cin-ling-pai yang berdosa, dan saya akan menyelidikinya dengan teliti. Pula, terdapat kemungkinan bahwa ada yang sengaja hendak merusak nama baik Cin-ling-pai, karena bagaimanapun juga, rasanya tidak masuk di akal kalau murid-murid Cin-ling-pai melakukan kejahatan sekeji itu."
"Bagus!"
Poa Cin An bangkit dan berseru keras.
"Jadi setelah menyaksikan dengan mata sendiri jenazah puteriku, Gouw Pangcu masih hendak melmdungi murid Cin-ling-pai? Sekarang juga kami menuntut agar jahanam she Lui murid Cin-ling-pai itu ditangkap dan diserahkan kepada kami! Akan kami penggal lehernya agar kepalanya dapat kami pakai menyembahyangi jenazah Liu In!"
"Benar sekali itu!"
Teriak pula Tiong Gi Cin-jin.
"Semua murid Cin-ling-pai harus dipaksa mengaku, kalau perlu disiksa, siapa yang telah membunuh Gu Kay Ek murid pinto (aku) dan harus menerima hukuman yang adil!"
"Sian-cai! Apa yang dikatakan para wakil Go-bi-pai dan Bu-tong-pai itu benar sekali!"
Kata Yang TeK Tosu "Penghinaan ini harus dibayar lunas!
Kalau pemimpin Cin-ling-pai hendak mengelak, akan kami hajar semua murid Cin-ling-pai untuk mengaku!"
Berkata demikian, Yang Tek Tosu yang sudah marah sekali itu meloncat dari atas bangkunya dan berdiri dengan dua tangan terkepal.
"Totiang, tahan bicaramu itu!"
Tiba-tiba Ciok Gun membentak dan dia pun sudah melompat dan berdiri di depan Yang Tek Tosu.
"Ingat bahwa engkau adalah seorang tamu yang tidak layak bersikap sembarangan dan seenaknya saja!"
Melihat ini, Gouw Kian Sun terkjut dan heran, juga amat gelisah.
Dia terkejut melihat sikap muridnya itu, dan juga heran karena muridnya ini memiliki watak yang pendiam, akan tetapi sekarang jadi pandai bicara!
Dan dia pun tahu bahwa muridnya ini "dikendalikan"
Oleh orang-orang Pek-lian-kauw, agaknya sengaja untuk memperuncing keadaan yang sudah gawat itu.
Yang Tek Tosu sudah marah sekali, dan mendengar ucapan Ciok Gun, dia pun membentak.
"Memang pinto seorang tamu seperti yang lain, akan tetapi ingat, kami adalah tamu-tamu yang diundang, tamu terhormat, bukan tamu liar! Sepatutnya kalau tuan rumah menghormati kami, bukan malah menghina dan membunuh. Apakah Cin-ling-pai kini berubah menjadi perkumpulan pembunuh dan penjahat keji?"
"Totiang, engkau sungguh menghina kami!"
Bentak Ciok Gun.
"Sudah kami katakan bahwa kami hendak menyelidiki urusan ini, tapi Totiang mendesak. Kalau saat ini kami belum dapat menyerahkan mereka yang bersalah, habis Totiang mau apa? Akan menghajar kami? Hemm, aku khawatir Totiang tidak ada kemampuan untuk itu!"
"Jahanam kau!"
Yang Tek Tosu yang sudah marah sekali kehilangan kesabarannya lagi dan dia pun mendorongkan tangan kanannya ke arah dada Ciok Gun, dengan niat untuk membuat orang muda itu terpelanting agar dapat berurusan sendiri dengan wakil ketua Cin-ling-pai yang pada waktu itu memrupakan orang pertama di Cin-ling-pai.
Akan tetapi, Ciok Gun tidak mengelak, bahkan dia pun mendorongkan tangan kanannya menyambut pukulan itu.
Dua buah tangan yang jari-jarinya terbuka bertemu dengan kuatnya.
"Dessss...!!"
Ciok Gun terdorong mundur dua langkah, akan tetapi juga Yang Tek Tosu terdorong ke belakang dua langkah pula.
Diam-diam Kian Sun terkejut.
Yang Tek Tosu adalah tokoh tingkat dua di Kun-lun-pai, akan tetapi pukulan tangan kosong yang mengandung sin-kang amat kuat itu dapat ditahan bahkan diimbangi oleh muridnya!
Juga Yang Tek Tosu terkejut dan semakin marah.
"Siapakah engkau?"
Bentaknya. (Lanjut ke
Jilid 05) Jodoh Si Mata Keranjang (Seri ke 11 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya .
Asmaraman S.
Kho Ping Hoo
Jilid 05
"Namaku Ciok Gun dan aku pembantu utama suhu. Yang menjadi wakil ketua Cin-ling-pai. Kalau perlu, aku dapat mewakili suhu menghadapi siapa saja yang hendak menggahggu Cin-ling-pai!"
Tentu saja diam-diam semua orang terkejut.
Tak mereka sangka bahwa wakil ketua Cin-ling-pai demikian lihainya sehingga muridnya saja mampu mengimbangi tenaga tokoh tingkat dua dari Kun-lun-pai!
"Ciok Gun, jangan kurang ajar!"
Tiba-tiba Gouw Kian Sun tidak dapat menahan dirinya lagi dan dia meloncat ke depan, Ciok Gun membalik dan kini guru dan murid itu berdiri berhadapan.
Mula-mula Ciok Gun memperlihatkan sikap melawan, akan tetapi tiba-tiba saja, seperti ada yang membisikinya, dia mundur dan duduk kembali.
Gouw Kian Sun kini berdiri di tengah ruangan itu, dan dia mengangkat kedua tangan memberi hormat kepada semua tamu.
"Saya mengerti akan kemarahan cu-wi (anda sekalian). Karena tidak mungkin bagi saya untuk cepat-cepat dapat menangkap para murid yang melakukan perbuatan keji itu, biarlah saya sebagai pimpinan Cin-ping-pai yang bertanggung jawab. Nah, cu-wi majulah dan hukumlah saya, saya tidak akan melawan. Saya mewakili dan menanggung dosa semua murid Cin-ling-pai!"
Gouw Kian Sun memang sudah nekat.
Nama baik Cin-ling-pai berada di ambang kehancuran.
Permusuhan dengan perguruan-perguruan besar akan meledak, dan semua keluarga Cia masih berada dalam cengkeraman Pek-lian-kauw.
Dia tidak mampu berbuat apa-apa untuk menghindarkan keluarga Cia dari malapetaka!
Maka, dia pun hendak mengorbankan diri saking putus asa.
Sikapnya ini diterima salah oleh Yang Tek Tosu, Tiong Gi Cinjin dan Poa Cin An.
Mereka menganggap bahwa sikap ini berarti melindungi para murid yang telah melakukan kejahatan besar.
Mereka semua mengenal Cia Kong Liang sebagai ketua Cin-ling-pai yang keras dan adil, juga mengenal puteranya yang pernahmenjadi ketua Cin-ling-pai pula, yaitu Cia Hui Song yang gagah perkasa dan berjiwa pendekar.
Jelas kalau ada kedua orang itu, tidak ada murid Cin-ling-pai berani melakukan kejahatan.
Akan tetapi sekarang, yang menjadi pimpinan adalah Gouw Kian Sun dan terjadilah semua kejahatan itu.
Agaknya Gouw Kian Sun ini pun bukan orang baik-baik!
"Bagus, kalau murid-muridnya jahat dan keji, tentu ketuanya lebih jahat lagi dan memang pantas dihukum mati!"
Bentak Yang Tek Tosu.
Juga Tiong Gi Cin-jin dan Poa Cin An sudah maju, siap untuk menyerang Gouw Kian Sun.
"Omitohud, harap saudara sekalian suka menahan diri, jangan menuruti nafsu amarah dan dendam."
Tiba-tiba Thian Hok Hwesio berseru dan bersama sutenya, Thian Khi Hwesio, dia sudah melangkah maju melerai.
Yang Tek Tosu memandang kepada dua orang hwesio itu dengan sinar mata yang masih diliputi kemarahan.
"Hemm, sahabat-sahabat dari siauw-lim-pai mempunyai petunjuk yang bagaimana?"
Ucapan ini bukan hanya mengandung pertanyaan, akan tetapi juga celaan mengapa dua orang hwesio yang juga mengalami penghinaan itu maju melerai.
"Omitohud, pinceng (aku) tidak menyalahkan kalau cu-wi marah-marah dan hendak menuntut balas. Akan tetapi harap diingat bahwa saat ini, para tokoh besar Cin-ling-pai, yaitu keluarga Cia, tidak ada yang berada di sini. Dan bagaimanapun juga, jelas bahwa semua kejahatan dilakukan oleh para murid Cin-ling-pai, bukan oleh Gouw Pangcu. Biarpun dia harus bertanggung jawab, akan tetapi kita harus memberi waktu kepadanya. Kita tidak bisa memaksanya untuk sekarang juga melunasi hutang itu. Apalagi kita sebagai tamu harus ingat bahwa Gouw Pangcu menghadapi hari pernikahannya besok. Sungguh tidak tepat kalau kita harus mengeruhkan tempat ini dengan pembalasan dendam. Urusan ini dapat diselesaikan kapan pun juga. Maka, sebaiknya kalau kita memberi waktu kepada Gouw Pangcu untuk menangkapi murid-muridnya yang berdosa selama satu bulan. Biarlah dia melaksanakan pernikahannya dulu dan mengerahkan murid-muridnya untuk menagkapi mereka yang berdosa. Sebulan lagi, tanggal satu bulan depan, kita datang ke sini untuk minta pertanggungan jawab Gouw Pangcu. Pinceng harap cu-wi setuju dengan usul pinceng ini, karena pinceng percaya bahwacu-wi adalah orang-orang bijaksana. Bagaimanapun juga Gouw-pangcu tidak akan dapat lari dari kita, bukan?"
Tiong Gi Cinjin, Poa Cin An, Yang Tek Tosu dan kawan-kawan mereka saling pandang, berbisik dan akhirnya mereka semua terpaksa menyetujui usul itu.
Kalau mereka dapat membunuh Gouw Pangcu sekali pun, hal ini belum berarti membalaskan kematian murid dan puteri mereka.
Dan memang semua peristiwa ini terjadi di luar tahu sang ketua, maka tentu membutuhkan waktu untuk membongkarnya dan menangkap yang bersalah!
Selam itu mereka juga harus mengurus jenazah Poa Liu In dan Gu Kay Ek.
"Baik, sebulan lagi kami balik ke sini!"
Kata Tiong Gi Cinjin yang mengajak murid-murid untuk meninggalkan tempat itu.
"Gouw Pangcu, sebulan lagi aku datang menerima pembunuh puteriku!"
Kata pula Poa Cin An yang juga mengajak murid-murld Go-bi-pai yang lain untuk pergi.
"Kami pun akan kembali sebulan lagi. Mari kita pergi!"
Kata Yang Tek Tosu kepada murid keponakannya.
Kini tinggal dua orang hwesio itu yang berada di situ.
Gouw Kian Sun yang masih berdiri seperti patung, kini menghadapi dua orang hwesio itu.
Dia memberi hormat dan berkata.
"Terima kasih atas bantuan ji-wi Lo-suhu sehingga saya masih hidup sampai sekarang."
"Omitohud, tidak ada pertolongan, karena sebulan lagi Pangcu harus menghadapi mereka, juga kami sebulan lagi akan datang. Kalau benar Cin-ling-pai menyeleweng, kami harus menentangnya, dan kami ingin bertemu dengan keluarga Cia untuk minta penjelasan."
Dua orang hwesio itu juga meninggalkan tempat itu dan pada hari itu juga, rombongan dari empat perguruan besar ini meninggalkan Cin-ling-pai, membawa jenazah murid masing-masing.
Gouw Kian Sun menghadapi Su Bi Hwa di dalam kamar itu dengan muka merah dan mata melotot karena marahnya.
Mereka hanya berdua saja dan Bi Hwa menghadapi Kian Sun dengan senyum dan kerling yang genit sekali.
Kian Sun melotot dengan marah dan menudingkan telunjuknya ke arah Bi Hwa.
"Moli, kenapa kau lakukan ini semua? Kenapa?"
Bi Hwa mendekat dan menyentuh lengan pria itu dengan gaya yang manja dan genit.
"Suamiku yang baik, apa yang telah kulakukan? Ingat, besok kita menikah, jangan kau marah-marah, sayangku."
"Tak usah berpura-pura. Aku tahu engkaulah yang telah mendatangkan malapetaka itu, engkau yang menyuruh orang-orangmu memperkosa dan membunuh, dan mengaku sebagai murid-murid Cin-ling-pai! Para murid Cin-ling-pai yang aseli tidak akan sudi melakukan perbuatan terkutuk itu!"
"Gouw Kian Sun, ingat bahwa engkau akan mentaati semua perintahku kalau kau ingin melihat keluarga Cia selamat. Dan kami pun tidak mengganggu Cin-ling-pai, kenapa engkau ribut-ribut?"
Kini Bi Hwa bersikap dingin dan mengancam.
"Akan tetapi engkau telah melakukan hal yang amat merusak! Engkau menjerumuskan Cin-ling-pai sehingga akan dimusuhi oleh banyak pihak. Nama baik Cin-ling-pai akan tercemar!"
Wanita itu tersenyum lebar sehingga nampak deretan giginya yang rapi dan putih.
"Hi-hik, suamiku yang gagah. Kenapa takut? Ada kami di sini!,"
"Tidak! Tidak! Kau bunuh saja aku, Moli. Aku sudah tidak tahan lagi!"
"Hemm, tidak usah banyak tingkah lagi, Kian Sun. Keluarga Cia yang kami bunuh kalau kau bertingkah, bukan engkau. Engkau akan menjadi suamiku, ingat?"
"Aku tidak sudi menikah, biar kau paksa dan kau bunuh pun, aku tidak sudi menikah denganmu!"
"Plakkk!"
Tangan Bi Hwa bergerak dan pipi Kian Sun sudah ditamparnya, membuat wakil ketua Cin-ling-pai yang tidak menduga-duga itu kena ditampar dan dia pun terhuyung ke belakang.
"Hemm, Gouw Kian Sun. Ingat, kau sudah menyebar undangan kepada semua tokoh persilatan. Kalau engkau batalkan pernikahan kita, bukankah engkau sendiri yang akan mencemarkan namamu dan nama Cin-Iing-pai, sehingga Cin-ling-pai dan pemimpinnya akan menjadi bahan ejekan dan tertawaan dunia persilatan?"
Wanita itu tertawa dan bagi Kian Sun, dia melihat sebuah wajah yang mengerikan, seperti wajah iblis sendiri.
Padahal dalam keadaan biasa, atau terlihat oleh mata umum, Su Bi Hwa adalah seorang wanita yang cantik dan memiliki daya tarik yang besar dan kuat.
Mendengar ucapan itu, Kian Sun merasa tubuhnya menjadi lemas seketika dan merasa tidak berdaya.
Dia pun menjatuhkan diri di atas kursi dan memandang kepada wanita itu dengan gelisah.
"Moli, engkau memang sungguh jahat seperti iblis! Karena engkau sudah mencengkeram aku, maka sebaiknya engkau katakanlah apa yang akan kau lakukan selanjutnya dan mengapa pula kau lakukan semua ini?"
"Engkau tidak perlu tahu mengapa aku melakukan semua itu, akan tetapi kau boleh mengetahui apa yang selanjutnya kami lakukan dengan harapan engkau tidak akan banyak bertingkah kalau engkau ingin melihat keluarga Cia selamat semua. Besok, pernikahan kita langsungkan dengan meriah, dan demi menjaga baik nama Cin-ling-pai, engkau harus memperlihatkan wajah gembira, tidak muram."
"Hemm... lalu bagaimana tanggal satu bulan depan?"
"Aha, kau takut akan kedatangan empat perguruan besar itu?"
"Tentu mereka akan mengirim wakil-wakil yang tangguh, bahkan mungkin ketua mereka sendiri yang akan muncul! Bagaimana aku akanmenghadapi mereka?"
"Haa-ha, tidak perlu takut. Ada kami yang akan menghadapi mereka."
Diam-diam Kian Sun merasa girang.
Iblis betina ini dan kawan-kawannya, yaitu orang-orang Pek-Iian-kauw, akan menghadapi para utusan empat perguruan besar.
Tentu iblis betina ini dan kawan-kawannya akan dapat dibunuh!
"Kalau begitu bagus sekali!
Aku mengharapkan bantuanmu untuk menghadapi mereka1 Moli."
Katanya girang. Wanita itu tersenyum mengejek.
"Hai, jangan mimpi, Kian Sun! Jangan salah sangka. Aku hendak menghadapi mereka sebagai isterimu, ingat?"
Wajah yang tadinya gembira dan penuh harapan, menjadi muram lagi.
Kalau iblis betina ini menentang para utusan itu sebagai isterinya, berarti makin celaka lagi bagi nama baik Cin-ling-pai!
"Sudahlah!
Biar aku mati di tangan mereka!"
Katanya menarik napas panjang.
"Jangan cemas, suamiku sayang. Serahkan saja kepada isterimu ini dan semua akan berjalan dengan beres."
Kata pula Bi Hwa dan wanita itu menjatuhkan diri di atas pangkuan Kian Sun.
Pria ini tidak mampu berbuat apa-apa.
Selain dia tahu bahwa dia tidak bisa mengalahkan wanita ini dengan mudah, juga andaikata dia mampu membunuhnya, di sana masih ada tiga orang guru wanita ini yang lebih lihai lagi, yang setiap waktu akan dapat membunuh seluruh keluarga Cia yang menjadi tawanan mereka.
Dia pun lalu menyerah saja, menyerahkan segalanya kepada Tuhah.
Bagaimanapun juga, dia hanya mengharapkan agar keluarga gurunya semua selamat, juga agar nama baik Cin-ling-pai tidak sampai tercemar.
Untuk semua itu, kalau perlu dia siap mengorbankan nyawanya sendiri.
Pada keesokan hariliya, pernikahan itu dirayakan dengan, meriah dan semua tamu memuji kecantikan pengantin wanita yang mereka memberi selamat kepada Gouw Pangcu yang dikatakan beruntung sekali, dalam usianya yang sudah empat puluh dua tahun mendapatkan jodoh seorang gadis yang masih muda dan amat cantik itu!
Tak seorang pun di antara para tamu, tentu saja bukan tamu yang menjadi kaki tangan dan bahkan orang-orang Pek-lian-kauw yang menyamar sebagai tamu, tahu bahwa di balik wajah cantik jelita dan bentuk tubuh yang menggairahkan itu bersembunyi iblis sendiri yang amat keji, jahat dan kejam!
Setelah Bi Hwa secara sah menjadi isterinya, terjadilah perubahan besar-besaran di Cin-ling-pai!
Belasan orang murid Cin-ling-pai lenyap secara aneh tanpa meninggalkan bekas, dan kini Bi Hwa menerima lebih dari dua puluh orang anggauta Cin-Ung-pai baru yang bukan lain hanyalah anak buah Pek-lian-kauw yang menyelundup dan diterima sebagai anggauta baru Cin-ling-pai.
Tentu saja Kian Sun menjadi gelisah bukan main.
Dia tidak tahu apa yang terjadi dengan murid-murid Cin-ling-pai yang lenyap, dan yang lenyap itu adalah murid-murid Cin-ling-pai pilihan yang setia kepada Cin-ling-pai!
Dia merasa dikepung musuh, tidak mempunyai seorang pun yang dapat diajak bicara dan dimintai bantuan.
Bahkan Bi Hwa mengancam jika dia menghubungi seorang murid Cin-ling-pai dan bicara mencurigakan, maka murid itu akan dibunuh.
Maka, Kian Sun sama sekaLi tidak berdaya.
Ciok Gun yang menjadi seperti mayat hidup itu oleh Bi Hwa ditugaskan untuk memata-matainya, sehingga setiap gerak-geriknya, kalau tidak bersama Bi Hwa, tentu di amati oleh Ciok Gun yang kini menjadi orang yang sama sekali tidak dapat dia percaya itu.
Kalau dia menuntut agar keluarga Cia dibebaskan seperti yang dijanjikan Bi Hwa, selalu wanita itu mengatakan urusannya di Cin-ling-pai belum selesai.
"Tunggu sampai tanggal satu bulan depan. Sesudah itu, tentu keluarga gurumu itu akan kami bebaskan,"
Kata Su Bi Hwa.
Akan tetapi wanita ini tidak menolak kalau Kin Sun minta agar dia membuktikan dan menyaksikan sendiri bahwa keluarga gurunya masih selamat.
Melalui lubang, mengintai dan melihat dengan hati lega bahwa kakek Cia Kong Liang, suhehgnya Cia Hui Song dan isteri suhengnya, Ceng Sui Cin, dan putera mereka, Cia Kui Bu, memang dalam keadaan sehat.
Bahkan tiga orang tokoh Cin-ling-pai itu nampak bersiulian, mungkin untuk mengumpulkan tenaga dan menjaga kesehatan tubuh mereka.
Waktu berjalan dengan amat cepatnya dan tanggal satu yang ditunggu-tunggu itu pun tibalah!
Sejak tiga hari yang lalu Kian Sun sudah amat gelisah, tidak enak makan tidak nyenyak tidur, menanti hari itu dengan hati tegang.
Dia bukan tegang akan ancarnan terhadap dirinya, melainkan merasa tegang akan nasib keluarga Cia dan juga nasib nama dan kehormatan Cin-ling-pai.
Dia sendiri tidak tahu apa yang dapat dia lakukan kecuali mentaati perintah Bi Hwa yang kini telah menjadi "isterinya."
Pagi-pagi sekali Bi Hwa telah menyuruh Kian Sun memanggil semua anggauta Cin-ling-pai hadir dan Kian Sun tahu banwa di antara mereka, sedikitnya ada dua puluh orang anggauta baru yang tentu saja merupakan anak buah Bi Hwa yang diselundupkan!
Dia pun seperti telah dipesan oleh Bi Hwa yang saat itu juga berdiri di samping kanannya sedangkan Ciok Gun berdiri di samping kirinya, memesan kepada semua anak buah untuk bersiap-siap dengan senjata mereka dan ikut menyambut tamu.
"Akan tetapi, kalian dilarang untuk bergerak, kecuali kalau ada perintah dariku!"
Kian Sun menutup pesannya dan penutup pesannya itu keluar dari hatinya sendiri, bukan seperti yang dikehendaki Bi Hwa.
Akan tetapi wanita itu hanya mengangguk-angguk saja.
Sebelum matahari nampak, para murid Cin-ling-pai sudah siap siaga, dengan senjata tergantung di pinggang, mereka membentuk barisan yang berjajar dari pintu gerbang sampai ke depan bangunan induk yang menjadi pusat perkumpulan Cin-ling-pai.
Sisanya membentuk barisan di belakang sang wakil ketua.
Gouw Kian Sun yang selalu didampingi isterinya, Su Bi Hwa, dan pembantu utamanya, Ciok Gun, sudah duduk di ruangan depan, menanti datangnya tamu.
Tidak lama mereka menanti.
Rombongan tamu-tamu itu datang.
Dan kiranya mereka Itu seperti sudah berjanji lebih dahulu, datang bersama-sama.
Rombongan Go-bi-pai yang kini terdiri dari sepuluh orang, tetap dipimin oleh Poa Cin An, rombongan Bu-tong-pai terdiri dari tujuh orang dipimpin oleh Tong Gi Cin-jin, rombongan Kun-lun-pai terdiri dari lima orang tosu dipimpin oleh Yang Tek Tosu, dan rombongan dari Siauw-lim-pai, masih tetap dua orang saja, yaitu Thian Hok Hwesio dan Thian Khi Hwesio.
Mereka memang merupakan rombongan-rombongan tersendiri dan berkelompok, Namun mereka datang pada waktu yang sama dan berbondong mereka memasuki pintu gerbang yang di kanan kirinya terjaga oleh murid-murid Cin-ling-pai yang berdiri di kanan kiri seperti menyambut datangnya tamu agung.
Setelah rombongan tiba di pelataran yang luas dari rumah induk Cin-ling-pai, mereka berhenti dan dari dalam keluarlah Gouw Kian Sun yang didampingi Su Bi Hwa di sebelah kanannya dan Ciok Gun di sebelah kirihya.
Wajah Kian Sun nampak agak pucat dan alisnya berkerut, akan tetapi isterinya Su Bi Hwa, tersenyum dan wajahnya cerah dan nampak cantik sekali.
Di sebelah kiri wakil ketua itu, Ciok Gun berdiri seperti patung yang wajahnya dingin.
Gouw Kian Sun berhenti dianak tangga teratas, lalu mengangkat kedua tangan memberi hormat kepada semua tamu yang berkelompok, berdiri dengan tegak di pelataran itu.
"Selamat datang, cu-wi telah datang memenuhi janji dan terima kasih atas waktu yang diberikan kepada saya selama satu bulan..."
"Gouw Pangcu, cukup tak perlu berpanjang lebar!"
Bentak Poa Cin An tak sabar.
"Kami telah memberi waktu satu bulan. Cepat keluarkan jahanam she Lui itu untuk kupakai bersembahyang depan makam puteriku!"
"Pinto juga minta agar para pembunuh murid pinto diserahkan kepada pinto!"
Kata Tiong Gi Cinjin.
"Benar! Mereka yang mengeroyok dan melukai murid Kun-lun-pai juga harus cepat diserahkan sekarang juga!"
Kata pula Yang Tek Tosu penuh semangat.
"Omitohud! Gouw Pangcu, apakah para murid Cin-ling-pai. yang telah melakukan penghinaan terhadap pinceng berdua sudah diberi hukuman?"
Tanya pula Thian Hok Hwesio.
Kembali Kian Sun mengangkat kedua tangan ke depan dada memberi hormat.
Wajahnya semakin muram, akan tetapi tidak ada jalan lain baginya kecuali bersikap dan bicara seperti yang telah dipesankan Bi Hwa kepadanya.
"Harap cu-wi sudi memaafkan saya. Kalau ada murid Cin-ling-pai yarig bersalah, dia pasti dihukum. Pelaksanaan hukum itu hanya kami yang berhak melakukan, dan urusan para murid Cin-ling-pai adalah urusan dalam kami sendiri. Harap cu-wi tidak mencampuri dan percayalah kepada kami. Kami pasti akan menghukum murid-murid kami yang bersalah."
"Omongan apa itu? Keluarkan mereka yang bersalah! Setidaknya, kami ingin melihat dia yang membunuh murid pinto!"
Kata Tiong Gi Cinjin yang galak.
"Aku pun ingin melihat macamnya dia yang telah menyebabkan kematian anakku!"
Poa Cin An juga berseru marah.
"Keluarkan mereka yang bersalah!"
Yang Tek Tosu juga berkata dan anggauta semua rombongan mengacung-acungkan tangan menuntut agar para murid Cin-ling-pai yang bersalah dikeluarkan di situ.
"Omitohud!"
Thian Hok Hwesio berseru lantang, namun amat lembut.
"Apakah Gouw Pangcu masih hendak melindungi mereka yang bersalah walaupun murid sendiri?"
Kini Bi Hwa yang melihat "Suaminya"
Tidak mampu bicara lagi, mengangkat kedua tangan depan dada lalu bersuara nyaring karena ia menggunakan tenaga khi-kang.
"Cu-wi adalah orang-orang gagah di dunia persilatan, mengapa hendak menggunakan tekanan kepada suamiku yang tidak berdaya? Cu-wi tentu tahu bahwa suamiku hanyalah seorang wakil ketua. Sebaiknya cu-wi menanti sampai ketua Cin-ling-pai datang, yaitu keluarga Cia yang sejak turun-temurun telah menjadi ketua Cin-ling-pai. Harap jangan mendesak suamiku!."
Sejenak semua orang diam karena dari suaranya saja mereka tahu bahwa isteri Gouw Pangcu ini juga pandai ilmu silat.
Dan ucapannya itu agaknya masuk di akal dan beralasan.
Juga para murid Cin-ling-pai yang aseli menganggap bahwa isteri Gouw Pangcu itu ternyata setia pula terhadap Cin-ling-pai!
Akan tetapi, seperti sudah diduga sebelumnya oleh Bi Hwa yang cerdik, para pemimpin rombongan itu, terutama rombongan Go-bi-pai dan Bu-tong-pai yang kematian murid mereka, tidak mau menerima alasan itu begitu saja.
"Kami sudah memberi waktu sebulan! Pembunuh anakku harus diserahkan sekarang juga!"
Teriak Poa Cin An.
"Benar, kami pun menuntut agar pembunuh murid pinto diseret ke sini sekarang. Yang bertanggung jawab adalah Gouw Pangcu, bukan para tokoh pimpinan Cin-ling-pai yang waktu itu tidak berada di sini!"
Diam-diam Bi Hwa girang sekali karena semua berjalan sesuai dengan rencananya.
"Hemm, cu-wi terlalu mendesak. Sebagai wakil ketua, suamiku tentu saja tidak berani mendahului ketua dan pelaksanaan hukum terhadap para murid menanti sampai ketua datang. Kalau suamiku tidak dapat menyerahkan murid-murid Cin-ling-pai, cu-wi hendak melakukan tindakan apakah?"
Pancingan ini segera mendapat sambutan, mula-mula dari Poa Cin An sendiri.
"Aku menuntut agar pembunuh anakku diseret ke sini dan diserahkan kepadaku. Kalau tidak, terpaksa kami akan membunuh semua murid Cin-ling-pai karena pembunuh anakku tentu seorang di antara mereka!"
"Benar sekali! Kami pun akan bertindak, membasmi Cin-ling-pai yang menyeleweng!"
Tadi Kian Sun sudah memesan kepada para murid Cin-ling-pai agar jangan bergerak sebelum dia perintahkan, akan tetapi tiba-tiba saja, belasan orang murid Cin-ling-pai sudah menghunus pedang dan mereka berlompatan ke depan.
Melihat ini, Kian Sun terkejut sekali dan beberapa kali dia membentak agar para murid itu mundur.
Akan tetapi, mereka tidak mau mundur bahkan maju dan bersikap hendak menyerang rombongan para tamu yang tentu saja menjadi marah dan mereka pun siap untuk melawan.
Bi Hwa tersenyum.
Inilah yang ia kehendaki dan memang ia yang memesan kepada anak buahnya yang diselundupkan menjadi anggauta Cin-ling-pai untuk mendahului menyerang para tamu.
Kalau nanti terjadi pertempuran, dan akibatnya banyak murid Cin-ling-pai tentu tewas, bahkan Kian Sun juga akan ia usahakan supaya tewas, baru ia akan membebaskan keluarga Cia!
Dan kalau melihat betapa Cin-ling-pai dibasmi oleh orang-orang dari empat perguruan besar itu, pasti keluarga Cia tidak akan mau sudah begitu saja dan akan terjadilah permusuhan yang semakin hebat.
Inilah yang dikendaki para pimpinan Pek-lian-kauw.
Sudah terlalu sering para pendekar Cin-ling-pai, juga keluarga Cia, membikin rugi Pek-lian-kauw di mana-mana, menentang dan menjatuhkan banyak tokoh Pek-lian-kauw.
Melihat para murid Cin-ling-pai maju dan bersikap menantang, para murid rombongan tamu utu pun berlompatan maju dan terjadilah perkelahian yang hebat.
Pada saat itu, nampak bayangan berkelebat disusul seruan nyaring melengking.
"Tahan semua senjata! Aku ketua Cin-ling-pai datang dan dengarkan dulu kata-kataku!"
Melihat seorang gadis berusia kurang lebih dua puluh satu tahun muncul begitu tiba-tiba dengan suara yang amat nyaring, semua orang terkejut.
Rombongan tamu yang tadinya sudah mulai bertempur, ketika mendengar teriakan ini, berlompatan ke belakang menghentikan serangan mereka.
Akan tetapi, belasan orang murid Cin-ling-pai masih belum mau berhenti bergerak, bahkan karena gadis itu menghalangi mereka, kini lima orang di antara mereka menggerakkan pedang menyerang gadis itu!
Gadis itu bukan lain adalah Cia Kui Hong.
Melihat lima orang yang nampaknya seperti orang-orang Cin-ling-pai menyerangnya dengan pedang, ia menjadi kaget, heran dan juga marah sekali.
Gadis itu bergerak cepat laksana burung walet, tubuhnya berkelebatan di antara sinar pedang lima orang itu dan begitu kaki tangannya bergerak cepat, lima orang itu berpelantingan ke kanan kiri dan mengaduh-aduh sambil meringis kesakitan dan pedang mereka pun terlempar.
Kui Hong melihat betapa masih ada belasan orang yang agaknya hendak menyerangnya, akan tetapi pada saat itu terdengar suara wanita.
"Hentikan perkelahian!"
Dan belasan orang itu pun berloncatan mundur, berbaur dengan para murid Cin-ling-pai yang lain.
Kui Hong cepat menoleh dan melihat bahwa yang membentak tadi adalah seorang wanita cantik yang berdiri di sebelah kanan susioknya atau juga wakilnya, yaitu Gouw Kian Sun.
Kian Sun cepat memberi hormat kepada murid keponakan itu, karena biarpun tingkatnya lebih muda, Kui Hong adalah ketua Cin-ling-pai.
"Pangcu baru pulang?"
Katanya dan suaranya menggetar karena ada keharuan, kegembiraan dan juga kegelisahan terkandung dalam suaranya itu.
"Susiok, apa artinya semua ini? Siapa wanita itu?"
Kui Hong menuding kepada Bi Hwa yang tersenyum manis.
"Ia... ia ini... adalah... isteriku pangcu."
"Isterimu...?? Hemm, dan siapa pula orang-orang yang menyerangku ini?"
"Mereka... para murid Cin-ling-pai..."
Kui Hong melangkah maju dan lima orang itu yang melihat betapa kini para murid Cin-ling-pai menjatuhkan diri berlutut ke arah gadis itu dan menyebut "pangcu", juga berlutut dan mereka ketakutan melihat ketua itu melangkah mendekati mereka.
"Murid-murid Cin-ling-pai? Kenapa aku tidak pernah melihat mereka? Dan kalau murid-murid Cin-ling-pai, mengapa menyerang aku, ketua mereka sendiri? Apakah kalian sudah gila semua?"
Kui Hong marah bukan main.
"Maafkan mereka, Pangcu. Mereka adalah anggauta-anggauta baru, maka belum mengenal Pangcu."
Bi Hwa sambil mengangkat kedua tangan memberi hormat kepada Kui Hong.
Akan tetapi, dengan alis berkerut Kui Hong tidak menanggapinya, sebaliknya gadis perkasa ini meloncat ke atas serambi dan berdiri di depan Kian Sun, lalu membalikkan tubuh membelakangi wakilnya itu, menghadapi rombongan para tamu.
Ia agak terkejut ketika mengenal para tokoh itu.
Dengan terheran-heran ia memandang kepada mereka, lalu wajahnya yang tadinya muram itu menjadi cerah, dan ia mengangkat kedua tangan ke depan dada, memberi hormat kepada mereka.
"Aih, kiranya ji-wi Lo-suhu (kedua guru tua) Thian Hok Hwesio dan Thian Khi Hwesio dari Siauw-lim-pai, To-tiang (sebutan pendeta To) Ting Gi Cin-jin dari Bu-tong-pai, Totiang Yang Tek Tosu dari Kun-lun-pai dan juga Lo-eng-hiong (orang tua gagah) Poa Cin An dari Go-bi-pai yang hadir! Selamat bertemu dan selamat datang, cu-wi Lo-cian-pwe (para orang tua gagah) dan maafkan Cin-ling-pai yang telah bersikap tidak selayaknya terhadap cu-wi. Sebenarnya, apakah yang terjadi? Nampaknya cu-wi marah dan menuntut sesuatu!"
"Omitohud...! Cia-Lihiap (pendekar wanita Cia), sudah lama pinceng mengenal keluarga Cia sebagai pimpinan Cin-ling-pai yang gagah perkasa dan berwatak pendekar. Akan tetapi, apa yang terjadi sebulan yang lalu sungguh mengejutkan hati pinceng."
Kata Thian Hok Hwesio.
"Losuhu, apa yang telah terjadi?"
"Omitohud, tanyakan saja kepada mereka dari Go-bi-pai, Bu-tong-pai, dan Kun-lun-pai. Pinceng berdua sesungguhnya lebih sebagai saksi saja karena yang kami alami tidaklah ada artinya."
"Poa Lo-enghiong, apakah yang telah terjadi dengan Go-bi-pai di sini sebulan yang lalu?"
Poa Cin An mengepal tinju.
"Aihhhh... sungguh membuat orang bisa mati penasaran! Sebulan yang lalu kami datang ke sini dengan rombongan sebagai tamu atas undangan Gouw Pangcu yang akan melangsungkan pernikahannya. Akan tetapi pada pagi hari itu, sehari sebelum hari pernikahan dilangsungkan, terjadi sesuatu yang merupakan aib dan juga menghina kami, aib dan penghinaan yang hanya dapat ditebus oleh darah pelakunya!"
Kui Hong terkejut.
"Lo-enghiong, katakanlah, apa yang telah terjadi?"
Poa Cin An menarik napas panjang.
"Puteriku yang bernama Poa Liu In, telah ditangkap seorang murid Cin-ling-pai she Lui, dibawa ke pondok dan diperkosa! Lui In lalu membunuh diri setelah menceritakan malapetaka itu kepadaku. Nah, katakan, nona... eh, Pangcu, tidak pantaskah kalau aku menuntut agar jahanam she Lui itu diserahkan kepada kami?"
Tentu saja Kui Hong terkejut bukan main.
Kalau bukan seorang tokoh Go-bi-pai yang dikenalnya sebagai seorang yang gagah perkasa itu yang bicara, tentu ia akan marah dan tidak percaya sama sekali, menganggap ucapan itu sebagai fitnah keji.
Sejenak ia terbelalak dan tidak mampu mengeluarkan kata-kata saking terkejut dan herannya.
"Cia-Lihiap, bukan kekejian itu saja yang dilakukan murid Cin-ling-pai, akan tetapi juga murid pinto yang bernama Gu Kay Ek telah mereka keroyok sehingga tewas ketika berada di sini sebagai anggauta rombongan kami, sebagai tamu yang seharusnya disambut dengan baik. Kami datang memenuhi undangan Gouw Pangcu, mengingat akan nama besar keluarga Cia dan Cin-ling-pai. Siapa kira, baru sehari tiba di sini, kami kehilangan seorang anggauta kami yang dibunuh oleh murid-murid Cin-ling-pai! Dan sekarang kami datang menuntut Cin-ling-pai menyerahkan pembunuh-pembunuh itu setelah kami memberi waktu satu bulan kepada Gouw Pangcu."
Kui Hong kini menjadi bingung.
Murid-murid Cin-ling-pai memperkosa seorang tamu wanita dan mengeroyok sampai mati seorang tamu lain?
Sungguh tak masuk di akal!
Selamanya, sejak ia lahir di situ, sampai sekarang ia berusia dua puluh satu tahun, belum pernah ia mendengar ada murid Cin-ling-pai berani melakukan kejahatan seperti itu!
Makin besar keinginan tahunya dan ia pun menahan desakan dalam hati untuk minta keterangan dari susioknya, Gouw Kian Sun yang bertanggung jawab selama kepergiannya.
Ia harus mendengar keterangan semua pihak selengkapnya.
"Dan apa yang terjadi dengan rombongan Kun-lun-pai, Totiang?"
Tanyanya sambil memandang kepada Yang Tek Tosu.
"Siancai...! Kami selalu menganggap Cin-ling-pai sebuah perguruan yang dipimpin oleh orang-orang bijaksana. Akan tetapi sekarang ternyata telah berubah sama sekali pandangan kami. Dua orang murid Kun-lun-pai ketika menjadi tamu di sini, dikeroyok oleh banyak murid Cin-ling-pai sehingga luka-luka."
"Dan bagaimana dengan rombongan Siauw-lim-pai, Lo-suhu?"
Tanya Kui Hong kepada dua orang hwesio itu.
"Omitohud, sebetulnya, apa yang menimpa pinceng berdua tidak perlu pinceng ributkan. Akan tetapi karena Lihiap ingin tahu, baiklah pinceng ceritakan apa yang telah terjadi sebulan yang lalu ketika pinceng bersama sute Thian Khi Hwesio menjadi tamu di sini. Malam pertama kami berada di sini, kami disuguhi hidangan masakan daging dan arak, bahkan yang membawa hidangan adalah wanita-wanita yang genit dan tidak sopan. Biarpun urusan kecil, namun pinceng yakin bahwa kalau Lihiap berada di sini, hal yang aneh itu tidak akan mungkin terjadi."
Mendengar ini bagaikan akan meledak rasanya dada Kui Hong.
Ia membalik dan kini ia memandang kepada Gouw Kian Sun yang menundukkan mukanya yang pucat.
"Gouw Susiok, engkau sebagai wakilku, engkau bertanggung jawab selagi aku pergi. Nah, katakan, benarkah semua laporan para Lo-cian-pwe tadi?"
Kian Sun mengangkat mukanya yang pucat.
Ingin ia berteriak bahwa semua itu dilakukan oleh orang-orang Pek-lian-kauw yang kini menguasai Cin-ling-pai.
Akan tetapi dia tidak berani melakukan hal ini, tidak mampu, karena dia harus menjaga keselamatan keluarga Cia!
Maka dia begitu bingung sekali.
Melihat suaminya menjadi bingung dan tidak mempu menjawab, Bi Hwa lalu memegang lengannya dan mengguncangnya.
"Sun-ko, mengapa engkau diam saja? Koko, ceritakanlah saja kepada pangcu apa yang selama sebulan ini membuat engkau bingung karena engkau tidak berhasil menangkap..."
"Diam!"
Kui Hong membentak.
Dalam keadaan seperti ini, ketika Cin-ling-pai berada dalam bahaya, ia dapat bersikap keras terhadap siapa pun juga.
"Susiok, jangan seperti anak kecil! Ceritakan apa yang terjadi!"
Dibentak seperti itu, Bi Hwa mundur dan nampak gemetar, walaupun di dalam hatinya ia marah sekali kepada Kui Hong.
Akan tetapi wanita cerdik ini tahu bahwa Kui Hong adalah seorang yang keras hati dan lihai bukan main.
Menghadapi lawan seperti ini, harus menggunakan muslihat dan kelembutan, tidak boleh dengan kekerasan.
"Maafkan saya, saya hanya ingin membantu suami..."
Katanya lirih.
"Pangcu, saya memang telah menyaksikan sendiri dan semua laporan itu memang benar. Akan tetapi, selama sebulan ini saya telah gagal menemukan mereka yang bertanggung jawab, gagal menemukan mereka yang telah melakukan semua kejahatan itu."
Kui Hong mengerutkan alisnya, menatap tajam penuh selidik ke arah muka Kian Sun yang ditundukkan.
Tidak biasanya susioknya ini bersikap selemah ini.
Ia mengerling ke arah Bi Hwa, wanita cantik yang menjadi isteri susioknya.
Wanita itu memandang kepada suaminya dengan pandang mata penuh kekhawatiran.
Kemudian, pandang matanya menatap wajah Ciok Gun dan ia pun teringat bahwa Ciok Gun merupakan murid dan pembantu utama Gouw Kian Sun, yang boleh dipercaya akan kesetiaannya.
"Suheng Ciok Gun!"
Tiba-tiba ia membentak.
"Engkau menjadi pembantu utama susiok. Apa saja yang kau kerjakan? Apakah engkau tidak ikut melakukan penyelidikan dan sama sekali tidak menemukan tanda-tanda siapa kiranya yang melakukan perbuatan keji itu?"
Ciok Gun mengangkat muka memandang Kui Hong dan gadis ini diam-diam terkejut bukan main.
Wajah itu!
Ia mengenal Ciok Gun dengan baik, karena selama ini Ciok Gun amat sayang kepadanya.
Akan tetapi wajah ini!
Memang wajah Ciok Gun, akan tetapi wajah itu demikian dingin, seperti topeng saja, dan dia tidak menemukan lagi keramahan dan pandang mata sayang mata wajah itu.
"Maaf, Pancu. Saya pun tidak menemukan apa-apa."
Jawab Ciok Gun dengan suara kaku dan dingin.
Ini juga bukan suara Ciok Gun yang dahulu!
Diam-diam Kui Hong bergidik ngeri.
Pasti telah terjadi sesuatu yang hebat, sesuatu yang belum dapat ia duga apa, akan tetapi sesuatu yang membuat sikap Gouw Kian Sun dan Ciok Gun seperti itu!
Lalu ia teringat kepada kakeknya, karena ibu dan ayahnya tentu masih berada di pulau Teratai Merah.
"Gouw susiok, apa kata kong-kong menghadapi semua peristiwa ini?"
Mendengar pertanyaan ini, wajah Kian Sun menjadi semakin pucat.
Dia mengangkat muka memandang kepada gadis itu dan menggeleng kepalanya.
"Suhu tidak ada... beliau... beliau meninggalkan Cin-ling-pai dan hanya mengatakan bahwa beliau ingin berjalan-jalan... eh, merantau..."
Berdebar rasa jantung Kui Hong.
Kakeknya itu biasanya hanya berdiam saja di kamar, seperti pertapa.
Kenapa mendadak pergi meninggalkan Cin-ling-pai yang sedang kosong?
Sungguh amat mencurigakan.
Akan tetapi, saat ini para tamu sedang menanti dengan tidak sabar, maka ia pun cepat menghadap ke arah para tamu.
"Cu-wi sudah mendengar sendiri keterangan wakilku. Ada sesuatu di balik semua ini. Aku berjanji kepada cu-wi untuk membongkar rahasia ini dan menangkap semua pelaku kejahatan itu dan menyerahkan kepada cu-wi. Kuharap cu-wi suka melihat mukaku dan suka menanti selama tiga hari. Dalam waktu tiga hari tiga malam, aku akan melakukan penyelidikan dan setelah tiga hari kemudian, silakan cu-wi datang lagi ke sini!"
Para pimpinan rombongan itu nampak tidak puas.
Mereka sudah memberi waktu satu bulan dan sekarang harus menanti lagi?
Agaknya, Thian Hok Hwesio dari Siauw-lim-pai yang selama, ini menjadi sahabat baik keluarga Cia, melihat hal ini dan dia pun bertanya dengan suara lembut namun terdengar oleh semua orang.
"Cia Lihiap, pinceng ingin sekali tahu. Bagaimana kalau lewat tiga hari Lihiap juga tidak berhasil menangkap penjahat-penjahat itu, seperti halnya Gouw Pangcu?"
Semua orang setuju sekali dengan pertanyaan itu dan mereka mengangguk-angguk dan semua orang menanti jawaban gadis itu.
"Losuhu tentu sudah mengenal akan watak kami sebagai pimpinan Cin-ling-pai sejak turun-temurun, kami adalah orang-orang yang bertanggung jawab! Kalau dalam waktu tiga hari aku masih juga tidak berhasil menangkap mereka yang bersalah, maka wakil ketua Cin-ling-pai Gouw Kian Sun dan pembantu utamanya, Ciok Gun, harus bertanggung jawab dan aku akan menyerahkan mereka kepada cu-wi untuk diadili!"
Semua orang saling pandang dan akhirnya mereka setuju.
Dengan wajah masih penasaran empat rombongan perguruan besar itu meninggalkan Cin-ling-pai dan menuruni puncak itu.
Mereka tidak mau lagi tinggal di Cin-ling-pai, tidak mau bersahabat dengan Cin-ling-pai sebelum urusan itu menjadi terang dan yang salah menerima hukuman yang adil.
"Pangcu baru datang sudah menghadapi urusan yang menjengkelkan. Harap Pangcu beristirahat dan akan lebih baik kalau kita bicara saja di dalam. Bagaimana pendapat Pancu?"
Kata Su Bi Hwa dengan ramah.
Kui Hong mengangguk dan melangkah masuk, diam-diam mencatat bahwa wanita cantik ini mempunyai dua kemungkian.
Memang ia pandai membawa diri dan mencintai suaminya, atau ia seorang yang cerdik dan berbahaya sekali, yang mempunyai rahasia di balik keramahannya.
Kui Hong merasa yakin bahwa semua rahasia itu agaknya tersembunyi di dalam hati tiga orang ini.
Gouw Kian Sun, Ciok Gun, dan isteri Gouw Kian Sun ini.
Entah rahasia apa, ia belum bisa menduganya.
Akan tetapi ia mengambil keputusan bahwa dalam tiga hari ini ia harus dapat membongkarnya, karena agaknya rahasia tentang peristiwa aneh yang terjadi di Cin-ling-pai, yaitu dilaporkannya kejahatan yang katanya dilakukan oleh para murid Cin-ling-pai, berada di tangan tiga orang ini!
Mereka masuk ke dalam dan dengan penuh keramahan Su Bi Hwa mempersilakan Kui Hong memasuki kamarnya yang selama ini ia rawat baik-baik.
Selama sebulan tinggal di situ, memang Bi Hwa merawat rumah itu dengan baik sehingga semua perabot rumah nampak bersih, lantaipun bersih dan semua teratur rapi.
Akan tetapi hanya sebentar saja Kui Hong memasuki kamarnya, hanya untuk menyimpan buntalan pakaiannya dan untuk berganti pakaian.
Setelah itu, ia termenung.
Sejak ia tiba di kaki Pegunungan Cin-ling-san, hatinya sudah merasa tidak enak dan hal ini ia katakan kepada Hay Hay.
Cia Kui Hong, gadis perkasa itu, biarpun menjadi ketua Cin-ling-pai, namun pekerjaan itu tidak disukainya.
Ia suka merantau dan bertualang.
Petualangannya yang terakhir adalah ketika bersama para pendekar ia membantu pemerintah menyerbu perkumpulan Ho-han-pang (Perkumpulan Patriot) yang sesungguhnya hanya merupakan perkumpulan yang dipimpin oleh orang-orang sesat, diketuai oleh Tang Bun An yang terkenal dengan julukan Ang-hoa-cu (Si Kumbang Merah) sebagai seorang jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga) yang amat terkenal di dunia kang-ouw.
Dalam perjuangan ini ia bertemu lagi dengan seorang pendekar yang diam-diam memang telah merebut kasih di hatinya, yaitu Tang Hay.
Sebetulnya, pendekar ini adalah putera kandung mendiang Ang-hong-cu Tang Bun An sendiri, namun berbeda dengan Si Kumbang Merah, Tang Hay atau lebih dikenal dengan nama Hay Hay berwatak pendekar.
Hanya ada satu hal yang kadang membuat hati Kui Hong panas dan cemburu, yaitu watak Hay Hay yang mata keranjang sehingga dia dijuluki orang Pendekar Mata Keranjang!
Walaupun sikap ini hanya lahiriah saja, yaitu tidak pernah Hay Hay sungguh-sungguh menggauli wanita, melainkan terdorong oleh rasa sukanya kepada wanita yang cantik, namun tetap saja dia dianggap sebagai seorang laki-laki mata keranjang, dan sudah seringkali hati Kui Hong yang mencintanya menjadi panas karenanya.
Setelah berhasil membasmi gerombolan Ho-han-pang, Tang Hay dan Cia Kui Hong menemukan kenyataan bahwa mereka saling mencinta.
Mereka pun saling mengaku dan keduanya merasa bahagia sekali.
Itulah sebabnya mengapa kini Hay Hay melakukan perjalanan bersama Kui Hong, karena Kui Hong memang mengajaknya ke Cin-ling-pai untuk, memperkenalkan kekasihnya itu kepada ayah ibunya dan kakeknya.
Dan di dalam perjalanan yang memakan waktu tidak kurang dari sebulan ini, Kui Hong mendapat kenyataan bahwa biarpun sikapnya yang mata keranjang pernah membuat kekasihnya itu dituduh menjadi pemerkosa wanita, namun sikap Hay Hay kepadanya tidak pernah melewati atau melanggar batas kesusilaan.
Hal ini membuat ia merasa semakin berbahagia, dan cintanya menjadi semakin mantap.
Pada pagi hari itu, ketika mereka tiba di dusun di lereng bukit Cin-ling-pai, mereka bertemu dengan seorang gadis dusun yang ditemani ayah ibunya, sedang menuruni lereng itu.
Akan tetapi, begitu melihat Kui Hong dan Hay Hay, tiga orang itu terkejut lalu lari ketakutan melalui jalan setapak itu.
Bahkan gadis dusun itu sampai tersaruk-saruk saking takutnya.
Tentu saja hal ini menimbulkan kecurigaan hati Kui Hong.
Bersama Hay Hay ia lalu melakukan pengejaran dan hanya dengan beberapa loncatan saja dua orang muda perkasa ini dapat menyusul bahkan mereka meloncat ke depan mereka, menghadang.
Begitu melihat Kui Hong dan Hay Hay berkelebat dan menghadang di depan mereka, ayah ibu dan anak itu menjadi semakin terkejut dan mereka bertiga menjatuhkan diri berlutut dengan tubuh gemetar.
"Cia Siocia (Nona Cia), maafkan kami... ah, ampunkan kami dan jangan bunuh kami..."
Tentu saja Kui Hong terkejut dan heran mendengar ini.
Ia dikenal oleh semua penduduk dusun-dusun di sekitar Cin-ling-pai dan dipanggil Nona Cia sejak kecil.
Akan tetapi orang ini yang juga mengenalnya, mengapa begini ketakutan!.
"Paman, apa kau kira aku ini seorang pembunuh?"
"Ha-ha-ha, kalian ini lucu. Nona Cia ini disuruh membunuh tikuspun tidak tega!"
Hay Hay tertawa geli melihat kekasihnya dianggap pembunuh kejam.
Akan tetapi, kini tiga orang itu memandang kepadanya dan kembali laki-laki itu meratap.
"Cia Siocia, ampunkanlah kami. Anak kami hanya seorang ini saja, jangan biarkan dia memperkosa anak kami..."
Kini ayah itu menuding ke arah Hay Hay dan tentu saja kini Hay Hay yang terbelalak memandang kepada mereka.
Akan tetapi segera dia dapat menguasai dirinya dan kembali dia tertawa.
"Aih, jangan main-main, Paman! Apa kau kira aku ini tukang perkosa? Biarpun anakmu ini memang manis sekali, akan tetapi aku tidak pernah memperkosa wanita!"
Kata Hay Hay.
Kui Hong mengerutkan alisnya dan sekali ia menggerakkan tangan, dia sudah menarik lengan ayah itu sehingga bangkit berdiri dengan paksa.
"Hayo ceritakan apa yang terjadi sehingga kalian bersikap begini. Kalian ini hendak pergi ke manakah dan mengapa begini ketakutan, menuduh kami pembunuh dan pemerkosa?"
Melihat sikap Kui Hong, agaknya ayah ibu dan anak itu menjadi heran.
Mereka saling pandang dan sungguh aneh, setelah Kui Hong marah-marah, malah mereka kelihatan lega dan tidak begitu ketakutan lagi.
"Agaknya siocia baru pulang dan tidak tahu apa yang terjadi di sini? Aih, maafkan kami, Cia Siocia. Kami hendak melarikan diri karena akhir-akhir ini terjadi banyak kejahatan di sini, terutama sekali kejahatan memperkosa dan membunuh gadis-gadis dusun. Sudah kurang lebih satu bulan kejahatan itu merajalela dan para pelakunya adalah para murid Cin-ling-pai..."
"Heiiiiit...??"
Tentu saja Kui Hong terkejut bukan main.
Tanpa banyak bertanya lagi, ia lalu menarik tangan Hay Hay dan diajaknya lari cepat menuju ke puncak, ke perkampungan Cin-ling-pai.
Setelah tiba di luar perkampungan Cin-ling-pai, mereka melihat rombongan Siauw-lim-pai, Go-bi-pai, Kun-lun-pai dan Bu-tong-pai memasuki pintu gapura.
Kui Hong mengajak Hay Hay untuk bersembunyi dan mengintai.
Setelah melihat sikap para anggauta rombongan, ia berbisik kepada pemuda itu.
"Hay-ko, pasti terjadi hal yang luar biasa di Cin-ling-pai. Mungkin ada bahaya besar. Sabaiknya kita berpencar. Aku menyelidiki dari dalam dan engkau dari luar. Mereka tidak mengenalmu. Nanti diam-diam kita mengadakan pertemuan di sini."
Hay Hay mengangguk, mengerti akan maksud kekasihnya.
Memang, kekasihnya adalah ketua Cin-ling-pai, maka persoalan Cin-ling-pai harus ia tangani sendiri.
Sedangkan dia hanya "orang luar", tidak baik kalau mencampuri urusan Cin-ling-pai dan dia kan melakukan pengintaian secara sembunyi saja untuk membantu Kui Hong.
Tak lama kemudian, terjadilah ketegangan antara para rombongan tamu dan para anak buah Cin-ling-pai sehingga timbul perkelahian.
Akan tetapi, melihat ini, Kui Hong segera berbisik kepada Hay Hay.
"Aku harus bertindak. Kau tunggu saja, aku pasti akan mencarimu di sini, atau di dalam hutan sana."
Ia menuding ke arah lereng berhutan.
Tanpa menanti jawaban, karena takut kalau perkelahian itu menjadi berlarut-larut, Kui Hong meloncat, lari dan ia berhasil menghentikan perkelahian itu sebelum jatuh korban.
Demikianlah, ketika mendengar tuduhan para wakil empat perguruan besar itu, tentu saja Kui Hong menjadi semakin terkejut dah terheran-heran.
Kini ditambah lagi dengan kenyataan bahwa kong-kongnya (kakeknya) pergi meninggalkan Cin-ling-pai, dan susioknya, Gouw Kian Sun yang menjadi wakil ketua, tiba-tiba saja menikah tanpa setahu keluarga Cia.
Ia tidak membiarkan lamunannya berlarut-larut, dan cepat ia keluar dari kamar, lalu memanggil susioknya untuk bicara di ruangan dalam.
Gouw Kian Sun muncul dari dalam kamarnya, diikuti isterinya, dan tak lama kemudian Ciok Gun juga muncul dari belakang.
Memang Kui Hong ingin bicara dengan tiga orang ini, maka ia memberi isyarat kepada mereka untuk menutup pintu dan jendela, kemudian mengajak mereka duduk menghadapi meja besar.
"Pangcu, sebelum bicara, sebaiknya kuhidangkan dulu makanan dan minuman yang sudah saya sediakan. Begitu tadi Pangcu pulang, saya sudah menyuruh siapkan dan tentu sekarang sudah selesai. Biar saya sendiri yang membawa hidangan itu ke sini."
Kata Bi Hwa dengan ramah dan sebelum Kui Hong menjawab, wanita itu sudah pergi meninggalkan ruangan itu, tidak lupa untuk menutupkan kembali daun pintu dari luar.
Kini tinggal Kian Sun dan Ciok Gun saja yang berada di kamar itu dengannya.
Kesempatan ini dipergunakan oleh Kui Hong.
"Ciok-suheng dan Gouw-susiok, sebenarnya apakah yang telah terjadi di sini? Sekarang hanya ada kita bertiga. Nah, ceritakanlah sejujurnya kepadaku!"
Suara Kui Hong mengandung perintah dan ketegasan.
Juga sepasang mata yang tajam dari Kui Hong memandang penuh selidik kepada dua orang itu.
Ia melihat betapa Kian Sun nampak gugup dan gelisah, akan tetapi Ciok Gun nampak tenang saja, bahkan wajahnya tidak membayangkan perasaan apa pun.
Dingin!
"Bagaimana, Gouw Susiok?
Apakah engkau takut akan sesuatu yang menekanmu?
Katakanlah!"
Kian Sun mengangkat, muka, memandang kepada gadis itu, lalu menunduk kembali.
"Tidak ada apa-apa kecuali yang sudah kau ketahui, Pangcu. Memang terjadi hal-hal itu, akan tetapi aku telah gagal melakukan penyelidikan. Tidak ada bukti bahwa murid-murid kita melakukannya."
"Hemm, dan engkau, Ciok Suheng?"
Ciok Gun mengangkat mukanya dan kembali Kui Hong merasa ngeri.
Wajah suhengnya ini seperti kedok!
"Aku pun tahu, Pancu.
Aku sudah membantu sedapat mungkin melakukan penyelidikan, akan tetapi tidak berhasil menangkap pelaku-pelaku itu."
Kui Hong bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mondar-mandir di ruangan itu.
Hemm, tidak mungkin, pikirnya.
Sungguh aneh!
Yang ia rasakan aneh bukan peristiwa itu sendiri, melainkan sikap dua orang ini!
Diam-diam, sambil berjalan hilir-mudik seperti orang sedang berpikir, dikerlingnya dua orang itu dan ia melihat betapa Kian Sun masih menunduk dengan gelisah, dan Ciok Gun tetap tenang saja seperti patung!
"Susiok!"
Tiba-tiba saja ia menepuk pundak paman gurunya itu.
"Ehh...? Ahh... ada... ada apakah, Pangcu?"
"Jelas bahwa susioknya itu terkejut dan gugup sekali ketika tiba-tiba ia panggil dengan bentakan.
"Susiok, katakan siapakah wanita yang menjadi isterimu itu?"
Akan tetapi kini Kian Sun sudah tenang kembali.
Dia yakin bahwa keselamatan keluarga Cia yang menjadi tawanan berada di dalam tangannya.
"Aih, isteriku itu? Ia bernama Su Bi Hwa."
"Dari mana ia datang dan bagaimana bisa menjadi isterimu?"
Seperti seorang hakim yang melakukan penyelidikan, Kui Hong mengajukan pertanyaan dengan suara tegas dan pandang mata penuh selidik.
"Ia datang dari sebelah selatan pegunungan Cin-ling-san. Ayah dan ibunya tewas oleh gerombolan perampok dan ketika ia tiba di lereng Cin-ling-san, pada suatu siang aku melihat ia hendak membunuh diri. Aku melihat dan menolongnya. Kami berkenalan dan aku kasihan kepadanya. Kemudian kami menikah..."
Tentu saja cerita ini sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh Bi Hwa yang sudah mempersiapkan jawaban untuk setiap pertanyaan yang mungkin dilontarkan ketua Cin-ling-pai itu.
Tadi pun, dengan dalih mempersiapkan makanan dan minuman, Bi Hwa sengaja meninggalkan ruangan itu untuk memberi kesempatan kepada Kui Hong untuk "memeriksa"
Suaminya.
Ia tidak khawatir kalau Kian Sun akan mengkhianatinya.
Wakil ketua itu sudah tunduk kepadanya karena keselamatan keluarga Cia harus dia lindungi.
Pula, di sana terdapat Ciok Gun yang menjadi mata-mata yang setia.
Pemuda itu sudah menjadi seperti mayat hidup yang akan menuruti semua petunjuknya karena pengaruh sihir dan racun, juga pengaruh rayuan dan rangsangan yang diberikan Bi Hwa kepadanya!
Kui Hong memutar otaknya.
Tentu saja ia tidak dapat menelan mentah-mentah keterangan dari Kian Sun itu.
Akan tetapi, andaikata Kian Sun berbohong, apa alasannya?
Susioknya ini merupakan seorang murid Cin-ling-pai yang gagah perkasa dan amat setia, maka ia percaya kepada susioknya itu untuk mewakilinya menjadi ketua Cin-ling-pai.
Tiba-tiba ia menggerakkan tangannya dengan gerakan menyerang ke arah Ciok Gun!
Jari tangannya menusuk dengan serangan totokan ke arah pundak kanan suhengnya itu, merupakan sebuah jurus dari ilmu silat San-in-kun-hoat (Ilmu Silat Awan Gunung), satu diantara ilmu-ilmu Cin-ling-pai.
Kui Hong tahu benar bahwa suhengnya itu merupakan seorang ahli dalam ilmu ini, maka ia sengaja menyerang dengan ilmu itu untuk membuat suhengnya terkejut.
Akan tetapi diserang secara tiba-tiba itu, Ciok Gun sama sekali tidak kelihatan gugup atau heran.
Dengan tenang saja dia miringkan tubuh sambil menangkis dan meloncat dari kursinya.
Tangkisan itu terasa kuat sekali oleh Kui Hong dan ketika ia memandang kepada Ciok Gun yang kini sudah berdiri, pemuda itu sama sekali tidak terkejut atau penasaran, hanya memandang kepadanya dengan wajah dingin.
"Pangcu, mengapa menyerangku?"
Pertanyaan itu diajukan, akan tetapi sikap kaki tangan Ciok Gun menunjukkan bahwa dia siap untuk berkelahi!
Hal ini tidak lepas dari pengamatan Kui Hong.
"Aku hanya ingin bertanya, Suheng. Dengan adanya Suheng membantu Gouw Susiok, bagaimana rnungkin kalian sampai tidak mampu membongkar rahasia ini? Banyak murid Cin-ling-pai dituduh memperkosa dan membunuh, mengeroyok dan menghina para tamu kehormatan dan kalian sama sekali tidak mampu menangkap seorang pun di antara mereka? Rasanya mustahil sekali ini!"
"Pangcu, kami sudah berusaha sekuat tenaga namun gagal."
Kata Ciok Gun. Pada saat itu, Bi Hwa masuk sambil membawa hidangan yang masih panas.
"Pangcu, masakan sudah siap. Mari, silakan, Pangcu. Selagi masih panas, silakan makan minum dulu. Pangcu habis melakukan perjalanan jauh, tentu lapar."
Dan ia melirik kepada suaminya dan kepada Ciok Gun.
"Mari kalian temani Pangcu makan."
Dengan ramah wanita ini mengatur hidangan di atas meja.
Ia pura-pura tidak tahu betapa sejak tadi Kui Hong mengamatinya dengan penuh perhatian dan penuh selidik.
Melihat betapa baik Kui Hong maupun suaminya dan Ciok Gun kelihatan tegang dan tidak gembira, Bi Hwa menghampiri suaminya.
"Eh, kenapa kalian nampak bingung? Silakan makan minum, baru bicara lagi."
Kian Sun terpaksa menjawab.
"Kami sedang membicarakan ancaman tiga hari mendatang dan..."
"Aih, sun-ko, kenapa murung? Setelah pangcu pulang, apalagi yang ditakutkan? Engkau pernah bercerita bahwa pangcu, biarpun terhitung murid keponakanmu, memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi. Kalau orang-orang yang tidak tahu aturan itu berani mengacau Cin-ling-pai dan menuduh yang bukan-bukan lalu hendak menyerang, tentu pangcu akan sanggup mengalahkan mereka."
"Pangcu!"
Kata Ciok Gun penuh semangat.
"Para utusan itu memang keterlaluan. Mereka hanya menuduh, akan tetapi kami tidak dapat menemukan buktinya. Memang ada murid mereka yang tewas, akan tetapi apa buktinya bahwa murid-murid Cin-ling-pai yang melakukannya? Kalau mereka mendesak, biar aku yang akan melawan sekuat tenaga!"
Kui Hong tersenyum dan waspada.
Dari ucapannya tadi, ia tahu bahwa isteri Gouw Kian Sun itu seorang wanita yang amat cerdik, walaupun nampaknya halus dan ramah.
"Ciok Gun Suheng, engkau tidak boleh bertindak tanpa perintahku! Sudahlah, kita bicarakan lagi nanti, aku ingin beristirahat."
Kata Kui Hong, dan ia membalik hendak pergi ke kamamya sendiri.
"Aih, Pangcu. Apakah engkau tidak makan dulu? Sudah kuhidangkan semua ini..."
Kui Hong menghadapi wanita itu dengan sinar matanya mencorong penuh selidik.
"Enci,"
Katanya dengan suara tegas.
"Engkau bukan murid Cin-ling-pai maka tidak perlu menyebut aku pangcu. Namaku Kui Hong, Cia Kui Hong, dan pada saat ini aku tidak lapar. Terima kasih atas keramahanmu. Aku hendak beristirahat di kamarku dan menenangkan pikiran. Aku tidak mau diganggu siapa pun!"
Kui Hong meninggalkan ruangan itu, akan tetapi setelah tiba di luar ruangan itu, ia menyelinap ke balik pilar untuk mendengarkan apa yang dibicarakan tiga orang di dalam itu.
"Ahhh, ia marah sekali,"
Kui Hong mendengar suara Kian Sun, suara yang mengandung kedukaan dan kekhawatiran.
"Sudahlah, biarkan ia yang memikirkan hal itu. Ia ketua Cin-ling-pai. Yang penting, engkau tidak bersalah dan tidak ada bukti bahwa murid-murid Cin-ling-pai melakukan semua itu."
Terdengar suara Bi Hwa yang halus merdu, seolah menghibur suaminya.
"Benar, Suhu. Kalau mereka datang menyerang, ada pangcu di sini. Dan kita dapat mengerahkan seluruh murid Cin-ling-pai untuk melawan mereka. Aku sendiri akan menghadapi mereka dengan mati-matian!"
Terdengar suara Ciok Gun.
Ketika mereka itu tidak bicara lagi dan terdengar langkah kaki mereka hendak meninggalkan ruangan, Kui Hong menyelinap dan pergi ke kamarnya.
Ia tidak tahu betapa Bi Hwa memberi isyarat dengan telunjuk di depan mulut kepada Kian Sun dan Ciok Gun agar mereka tidak bicara lagi!
Setelah memasuki kamarnya, Kui Hong mengunci semua daun pintu dan jendela kamarnya, kemudian ia duduk termenung di atas kursi.
Ia yakin bahwa rahasia semua peristiwa itu pasti berada di tangan Kian Sun, Ciok Gun dan Bi Hwa.
Dia orang murid Cin-ling-pai itu nampak tidak wajar, tidak seperti biasa yang sudah dikenalnya.
Kian Sun nampak seperti orang yang tertekan dan menderita duka dan kegelisahan.
Ciok Gun nampak begitu dingin dan penuh perhitungan, seolah-olah kepribadiannya telah berubah sama sekali.
Dan wanita itu, walaupun kelihatan cantik dan ramah, namun ia dapat menduga bahwa di balik keramahannya itu tersembunyi kecerdikan luar biasa.
Yang amat mengherankan adalah Ciok Gun.
Dia berubah sama sekali!
Ada apakah ini?
Pengaruh apakah?
Sihir?
Sihir!
Ah, mengapa tidak?
Mungkin sekali dan membayangkan kemungkinan penggunaan sihir, segera ia teringat kepada Hay Hay.
Tentu Hay Hay dapat membantunya memecahkan rahasia yang mengancam nama dan kehormatan Cin-ling-pai ini.
Kui Hong lalu mengangkat muka, memandang ke langit-langit kamarnya penuh perhatian.
Kemudian, sekali ia meloncat ke atas, tubuhnya melayang naik dan dengan tangan kiri menangkap balok melintang, ia bergantung di sana dan memeriksa sebatang paku besar yang menancap di balok itu sepetti paku penyambung antara dua balok.
Ia meneliti, paku itu dan sekelilingnya masih diliputi debu, tidak ada tanda pernah dijamah orang.
Ia lalu mendorong paku itu dengan jari tangannya sambil mengerahkan tenaga.
Lantai di bawah pembaringan di kamar itu bergeser dan terbuka sebuah lubang di bawah pembaringan itu, yang tidak nampak dari luar.
Kui Hong meloncat turun, merangkak ke bawah pembaringan dan memasuki lubang itu.
Ternyata di bawah lubang terdapat terowongan bawah tanah.
Ia menggerakkan kembali lantai di bawah pembaringan dengan menarik besi panjang di dalam terowongan dan lantai itu pun pulih kembali menutupi lubang.
Lubang ini merupakan terowongan rahasia yang hanya diketahui oleh keluarga Cia saja, tidak ada murid lain yang mengetahuinya.
Sambil meraba-raba, Kui Hong merangkak di dalam terowongan kecil itu dan kurang lebih dua ratus meter kemudian, terowongan itu menembus sebuah retakan lebar yang tertutup batu di tebing gunung.
Ia menggunakan sin-kangnya mendorong batu itu sehingga bergeser dan keluar dari lubang retakan, kemudian dari luar ia mendorong kembali batu itu sehingga menutupi lubang.
Batu itu sendiri tertutup oleh semak belukar sehingga tidak mungkin ada orang luar dapat menggunakan terowongan rahasia itu, selain harus mengenal rahasianya, juga harus memiliki tenaga sin-kang untuk menggeser batu besar.
Setelah mengintai dari balik semak-semak di depan pintu besar dan tidak melihat seorang pun manusia, Kui Hong melompat keluar dan ia melangkah ke tepi hutan.
Beberapa kali ia menengok dan memandang ke sekeliling, untuk melihat apakah ada orang yang membayanginya, namun tempat itu sepi dan tidak nampak orang lain.
Biarpun demikian, Kui Hong yang sudah memiliki banyak pengalaman dalam petualangannya di dunia persilatan, begitu tiba di hutan lalu memilih pohon yang besar dan tinggi, melompat ke atas dan bersembunyi di puncak pohon rindang itu, memandang ke sekeliling.
Dari puncak pohon ini ia dapat melihat sekelliling sampai agak jauh sehingga kalau ada orang yang membayanginya, biarpun dalam jarak jauh, tentu akan dapat dilihatnya.
Ia amat hati-hati karena ia menghadapi urusan besar, bahkan bahaya besar yang mengancam Cin-ling-pai.
Tiba-tiba ada bayangan berkelebat.
Bagaikan seekor burung garuda, bayangan itu meluncur ke arah pohon di mana Kui Hong bersembunyi.
Tentu saja Kui Hong terkejut bukan main dan ia sudah siap menghadapi lawan yang lihai.
Akan tetapi, wajahnya yang tadinya tegang berubah cerah ketika ia mengenal siapa bayangan itu.
Bukan lain adalah Hay Hay!
"Ihh, kau mengagetkan orang saja!"
Tegurnya cemberut, akan tetapi pandang matanya tertawa. (Lanjut ke
Jilid 06) Jodoh Si Mata Keranjang (Seri ke 11 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya .
Asmaraman S.
Kho Ping Hoo
Jilid 06
"Bagaimana hasilnya? Uhh, orang-orang Cin-ling-pai itu sungguh aneh. Bagaimana para murid itu bahkan berani menyerangmu?"
Kui Hong menarik napas panjang.
"Aihh, panjang ceritanya. Yang lebih aneh lagi, pada saat tidak ada seorangpun keluarga Cia di Cin-ling-pai, tahu-tahu mendadak Gouw-susiok telah menikah!"
Dan Kui Hong menceritakan semua pengalamannya tadi. Hay Hay mendengarkan penuh perhatian.
"Tentu ada sesuatu yang mereka rahasiakan,"
Dia menanggapi. Kui Hong mengangguk.
"Yang mencurigakan hatiku ada tiga orang. Pertama adalah Gouw-susiok sendiri. Dia yang biasanya pendiam dan tenang, setia dan bijaksana, kenapa sikapnya seperti orang yang selalu dalam ketakutan dan kebingungan, seolah-olah terhimpit sesuatu. Kemudian isterinya itu, wanita muda yang cantik. Bagaimana ia bisa muncul tiba-tiba dan menjadi isteri Gouw-susiok? Alasan yang susiok yang menceritakan pertemuan di antara mereka meragukan. Dan wanita itu, biarpun cantik, halus dan ramah, namun jelas pandang matanya membayangkan kecerdikan yang luar biasa. Wanita itu bisa berbahaya!"
"Aku sudah melihatnya dari pengintaian. Biarpun agak jauh, aku dapat melihat bahwa ia memang cantik menarik. Terutama sekali mulutnya..."
Kui Hong mengerutkan alis dan memandang kepada kekasihnya dengan cemberut.
"Kenapa mulutnya?"
"Mulutnya memiliki bentuk yang menggairahkan, mulut itu pasti pandai merayu."
"Huh, kalau melihat perempuan, yang kau perhatikan hanya kecantikannya saja, ya? Dasar mata keranjang!"
Kui Hong memeruncing bibirnya. Hay Hay tersenyum.
"Bukan begitu, Hong-moi. Akan tetapi dari wajah seseorang, kita dapat menjenguk isi hati dan wataknya. Dan wajah cantik seperti yang menjadi isteri susiokmu itu, dapat mencerminkan kecerdikan dan kelicikan yang berbahaya sekali. Wajah itu tidak dapat dipercaya."
Kui Hong tidak cemberut lagi.
"Engkau benar. Aku yakin pasti ada sesuatu di balik ini semua, dan yang tahu rahasianya hanya tiga orang itu. Gouw-suisok kelihatan begitu berduka dan gelisah juga amat lemah, tidak seperti biasanya. Dan yang aneh sekali adalah suheng Ciok Gun. Sekarang dia berubah menjadi manusia berwajah topeng, begitu dingin, seperti mayat hidup sehingga beberapa kali bulu tengkukku berdiri kalau kami bertemu pandang."
Hay Hay tertawa.
"Aih, aku belum pernah melihat bagaimana bulu tengkukmu berdiri, Hong-moi. Kulihat di tengkukmu sebelah atas hanya ada anak rambut dan bulu yang halus sekali, begitu lembut, bagaimana bisa berdiri...?"
Merasa betapa tengkuknya diraba oleh jari tangan Hay Hay, Kui Hong menggelinjang dan melengak mundur.
"Ihh! Aku bicara serius, engkau hanya main-main dan merayu!"
Ia merajuk.
"Kalau engkau serius, aku malah tigarius, Hong-moi!"
Hay Hay berkelakar.
"Aku juga bersungguh-sungguh keika memuji tengkukmu, bukan main-main. Nah, sekarang katakan, apa yang akan kau lakukan, atau apa yang harus kulakukan?"
"Justeru aku ingin engkau membantuku mencari jalan keluar, Hay-ko. Aku memberi waktu tiga hari kepada para Lo-cian-pwendari partai-partai besar itu. Sebelum tiba batas waktu itu, aku harus sudah dapat menangkap biang keladi semua peristiwa yang memburukkan nama baik Cin-ling-pai ini."
"Hemm, menurut ceritamu tadi, agaknya suhengmu bernama Ciok Gun itu yang paling mencurigakan. Agaknya sikapnya dingin, wajahnya yang membuatmu ngeri seperti kedok itu sama sekali tidak wajar. Mungkin dia telah dikuasai sihir atau racun oleh orang-orang yang sengaja hendak mempergunakan dia."
"Aku pikir demikian pula, Gouw-susiok agaknya ditekan, maka dia gelisah dan berduka. Dan suheng Ciok Gun agaknya berada dalam kekuasaan pengaruh yang aneh dan jahat."
"Kurasa tidak ada lain jalan kecuali mencoba untuk mengorek rahasia dari pengakuan mereka. Kau cobalah dulu agar susiokmu itu mau mengaku. Tentu saja sebaiknya kalau kau ajak dia bicara empat mata. Kemudian, kalau tidak berhasil, bujuklah agar engkau dapat membawa Ciok Gun itu keluar dari Cin-ling-pai dan kau ajak ke sini. Biar aku yang menghadapinya."
Mereka mengadakan perundingan dan mengatur siasat.
Kemudian, Kui Hong meninggalkan Hay Hay dan kembali ke lereng Cin-ling-pai melalui jalan terowongan yang menembus sampai kedalam kamarnya.
Tidak sukar bagi Cia Kui Hong untuk mengajak Gouw Kian Sun bicara empat mata dengannya.
Sengaja ia mengajak susioknya itu bicara ketika mereka bersama Bi Hwa dan Ciok Gun selesai makan siang.
Ia hendak melihat bagaimana sikap dua orang itu.
"Susiok, aku ingin bicara empat mata denganmu. Ada hal yang amat penting ingin kubicarakan denganmu. Marilah kita masuk ke kamar belakang, dan kita bicara berdua saja."
Diam-diam Kui Hong melirik ke arah Bi Hwa dan Ciok Gun untuk melihat sikap mereka.
Ciok Gun nampak tenang dan dingin saja seolah-olah ucapannya itu tidak mengandung arti sama sekali.
Sedangkan Bi Hwa malah tersenyum maklum.
"Kenapa kalian tidak bicara saja di ruangan ini? Biarlah kami yang akan pergi meninggalkan kalian disini. Mari, Ciok Gun, kita keluar. Pangcu hendak bicara dengan suhumu."
Ciok Gun membantu isteri suhunya membawa keluar mangkuk piring yang habis dipergunakan makan siang dan tak lama kemudian, Kui Hong sudah duduk berdua saja dengan Gouw Kian Sun.
Setelah ia merasa yakin bahwa tidak ada orang lain yang mengintai dan mendengarkan percakapan mereka, Kui Hong bersikap sungguh-sungguh.
Ia duduk berhadapan dengan susioknya dan berkata dengan nada suara tegas dan sepasang matanya memandang penuh selidik.
"Nah, sekarang kita hanya berdua saja disini, susiok. Tidak ada orang lain yang mendengarkan."
Kian Sun nampak gelisah, bahkan terang-terangan dia menoleh ke sekeliling seolah ada yang ditakutinya.
Melihat ini, Kui Hong menjadi tidak sabar lagi.
"Gouw Susiok! Pandanglah aku! Kenapa engkau menjadi begini? Engkau telah mengenal aku sejak aku masih kecil, dan aku tahu bahwa susiok adalah seorang pendekar sejati yang gagah perkasa. Sekarang engkau menjadi seorang penakut, ini tentu ada sebabnya! Susiok, engkau tahu bahwa aku dapat mengatasi semua persoalan, kuat menghadapi lawan yang manapun. Kenapa tidak berterus terang? Tidak ada orang lain yang melihat kita. Katakan siapa yang kau takuti dan apa sebenarnya yang telah terjadi dengan Cin-ling-pai?"
Gatal-gatal rasanya lidah Kian Sun.
alangkah mudahnya untuk membuat pengakuan dan alangkah lega hatinya kalau dia lakukan itu.
Dia akan merasa bebas dari tekanan yang amat menghimpit perasaannya.
Akan tetapi diapun tahu bahwa nyawa gurunya, kakek Cia Kong Liang, juga nyawa suhengnya dan isteri serta putera suhengnya, tergantung dari sikapnya saat ini.
Kalau dia membuka rahasia itu kepada Kui Hong, empat orang yang amat disayangd dan dihormatinya itu tentu akan dibunuh tanpa dia dapat mencegahnya sama sekali!
Tidak, dia lebih suka mengorbankan dirinya daripada mereka mati konyol.
Betapa dia ingin bebas dari semua ini.
Dapat saja dia membunuh diri, akan tetapi hal itu pun tidak akan menolong mereka.
Maka, dia semakin menjadi bingung dan gelisah, kemudian mengeraskan hatinya dan berkata dengan suara nyaring dan tegas, dengan maksud agar pendiriannya itu dapat di dengar Bi Hwa dan kawan-kawannya.
"Aku tidak takut apa-apa, Pangcu. Tidak ada apa-apa yang janggal di sini!"
Kui Hong marah sekali dan ia membanting-banting kaki kananya.
Kian Sun yang sudah mengenal baik watak dan kebiasaan murid keponakan yang amat lihai ini maklum bahwa Kui Hong marah sekali kepadanya.
Gadis yang amat lihai dan cerdik ini tentu telah dapat menduga bahwa telah terjadi sesuatu yang hebat di Cin-ling-pai!
"Engkau bohong, Susiok!
Sungguh aku tidak mengerti, bagaimana seorang seperti engkau, yang dipercaya oleh Kong-kong, di percaya ayah, lalu kupercaya, dapat berbohong kepadaku dan mengkhianati Cin-ling-pai di mana engkau tinggal dan mendapatkan segalanya sejak kau kecil sampai sekarang!"
Pucat sekali wajah Gouw Kian Sun mendengar umpatan ini.
"Tidak, sama sekali tidak. Sungguh mati, aku tidak berkhianat kepada Cin-ling-pai, Pangcu. Kalau Pangcu tetap menuduhku, biarlah Pangcu jatuhkan hukuman mati kepadaku, dan aku dengan rela akan menyerahkan nyawaku!"
Kian Sun lalu berlutut di depan Kui Hong dan menundukkan kepala, menyerah!
Sikap susioknya ini membuat Kui Hong tertegun!
Bukan begini sikap orang yang ketakutan.
Paman gurunya ini tetap gagah dan tidak takut mati!
Akan tetapi, kenapa tidak mau berterus terang kepadanya?
Tentu ada sesuatu yang memaksanya bersikap seperti itu dan jelas bahwa susioknya bersikap seperti bukan karena takut ancaman terhadap dirinya sendiri.
Pada saat itu, Su Bi Hwa dan Ciok Gun bergegas memasuki ruangan itu dan mereka menjatuhkan diri berlutut menghadap Kui Hong.
"Pangcu, harap ampunkan suamiku!"
Kata wanita itu.
"Pangcu, suhu tidak bersalah apa-apa, harap Pangcu suka memberi ampun,"
Kata pula Ciok Gun. Munculnya dua orang ini membuat Kui Hong semakin marah.
"Bagus!"
Bentaknya.
"Kalian mengintai?"
"Tidak, Pangcu. Sama sekali tidak."
Kata Su Bi Hwa dengan suara sungguh-sungguh.
"Akan tetapi suara Pangcu dan suami saya begitu nyaringnya sehingga terdengar dari luar dan mendengar suami saya hendak menyerahkan nyawa, saya terkejut dan nekat masuk. Harap Pangcu suka memaafkan seorang isteri yang mengkhawatirkan keselamatan suaminya."
Tiba-tiba Kui Hong bergerak ke depan dan tangannya menyambar ke arah kepala wanita itu.
Tentu saja ia hanya menguji, bukan menyerang sesungguhnya walaupun gerakannya yang cepat tidak menimbulkan keraguan.
Dan serangannya luput ketika wanita itu membuang diri ke samping lalu melompat berdiri.
"Hemm, engkau pandai silat?"
Tanya Kui Hong sambil memandang tajam penuh selidik.
Su Bi Hwa baru menyadari bahwa ketua Cin-ling-pai itu hanya mengujinya, maka cepat ia memberi hormat.
"Saya, pernah mempelajari sedikit ilmu silat, Pangcu."
"Hemm, bagus. Hendak kulihat sampai dimana kehebatanmu!"
Bentak Kui Hong.
"Maaf, Pangcu. Saya tidak berani melawan. Kalau tadi saya mengelak, hal itu hanya karena saya terkejut."
Kata Bi Hwa yang maklum bahwa ketua itu hanya ingin mengujinya.
Kini ia menunduk dan tidak mau melawan.
Watak Kui Hong yang gagah melarang ia menyerang orang yang tidak mau melawan.
Ia mengerutkan alisnya.
Agaknya sukarlah membongkar rahasia itu melalui Gouw Kian Sun dan Bi Hwa.
Tinggal seorang lagi, yaitu Ciok Gun.
"Suheng Ciok Gun apakah engkau masih mengakui aku sebagai ketua Cin-ling-pai?"
Tiba-tiba ia bertanya kepada Ciok Gun yang masih berlutut. Ciok Gun mengangkat muka memandang.
"Tentu saja Pangcu."
"Dan engkau siap mentaati semua perintahku sebagai ketuamu?"
"Ya, tentu saja,"
Jawab Ciok Gun dengan singkat dan dengan sikap tenang dan muka dingin.
"Kalau begitu, mari engkau ikut denganku dan jangan bertanya kemana kita pergi dan apa keperluannya. Mari!"
Ciok Gun nampak meragu dan mengerutkan alisnya.
Pada saat itu, selagi dia bingung karena perintah ketua itu demikian tiba-tiba dan dia belum "diisi"
Mengenai hal ini, Su Bi Hwa yang berdiri didekatnya berkata lembut.
"Ciok Gun, ketua telah memberi perintah. Tunggu apa lagi? Taatilah perintahnya!"
Mendengar ini, Ciok Gun bangkit dengan cepat dan tentu saja hal ini tidak terlewat begitu saja oleh perhatian Kui Hong.
Diam-diam ia mencatat betapa taatnya Ciok Gun terhadap ucapan wanita cantik itu!
Akan tetapi karena tidak ada bukti sesuatu yang mencurigakan, dan ucapan itu seperti bujukan halus agar murid suaminya itu mentaati perintah ketua, sikap yang wajar sekali, Kui Hong juga tidak dapat berbuat sesuatu.
"Mari kita pergi!"
Katanya dan iapun keluar dari dalam rumah itu, diikuti oleh Ciok Gun.
Kui Hong berlari cepat keluar dari Cin-ling-pai, menuruni puncak menuju ke lereng bukit dimana terdapat sebuah hutan.
Di hutan itulah ia berjanji untuk bertemu dengan Hay Hay.
Akan tetapi sambil menunggu munculnya Hay Hay, ia ingin mencoba untuk memaksa suhengnya itu mengaku.
Maka, setelah tiba di dalam hutan, ia pun berhenti dan Ciok Gun juga berhenti.
Mereka berhadapan.
Ciok Gun berdiri dengan sikapnya yang terlalu tenang dan dingin, menundukkan mukanya dengan sikap menanti.
"Nah, Suheng. Sekarang kita berada di tengah hutan, hanya berdua saja. Katakan, apa yang kau ketahui tentang segala peristiwa yang terjadi di Cin-ling-pai? Siapakah orang-orang yang mengatur semua ini? Siapa yang membuat Gouw Kian Sun ketakutan, dan siapa yang melempar fitnah kepada Cin-ling-pai dengan melakukan semua perbuatan keji terhadap para tokoh partai besar itu?"
Sikap Ciok Gun masih tenang saja, dan wajahnya dingin, sedikit pun tidak membayangkan sikap bersalah ketika dia menjawab.
"Aku tidak tahu, Pangcu. Aku tidak tahu apa-apa."
Kui Hong mengerutkan alisnya.
Sekarang baginya tinggal Ciok Gun ini satu-satunya harapan untuk membongkar rahasia itu.
Ia harus memaksa orang ini untuk membuka rahasia.
Maka, iapun lalu membentaknya.
"Suheng, apakah aku harus menggunakan kekerasan?"
Sepasang mata itu menatapnya dan Kui Hong terkejut.
Mata itu sama sekali tidak memancarkan perasaan, seperti orang mati.
"Terserah kepadamu!"
Jawaban itu pun sama sekali tidak mencerminkan sikap Ciok Gun yang dahulu selalu sayang dan hormat kepadanya.
"Bagus! Kau sambut ini!"
Bentak Kui Hong yang segera menyerang dengan cepat, menotok ke arah pundak Ciok Gun.
Namun, dengan gerakan sigap, Ciok Gun mengelak sambil membalas serangan dengan cengkeraman ke arah perut Kui Hong.
Serangan ini merupakan serangan maut yang amat berbahaya!
Ini pun luar biasa!
Bagaimana mungkin suhengnya itu mendadak membalas dengan serangan maut terhadap dirinya?
Kui Hong meloncat ke belakang dan maju lagi mengirim serangan bertubi-tubi.
Ia ingin cepat menotok roboh suhengnya itu agar dapat membujuk dan kalau perlu memaksanya membuka rahasia yang ia yakin diketahui suhengnya itu.
Akan tetapi ia terkejut dan merasa heran sekali melihat kenyataan bahwa ternyata Ciook Gun dapat menandinginya dengan baik!
Padahal ia tahu benar bahwa ilmu kepandaiannya jauh lebih tinggi dibandingkan suhengnya itu.
Demikian cepatkah dia memperoleh kemajuan?
Ia merasa penasaran bukan main!
Setelah lewat tiga puluh jurus dan ia belum mampu merobohkan Ciok Gun, Kui Hong semakin penasaran.
Hal ini sudah tidak mungkin sama sekali!
Cepat ia mengubah gerakannya dan dengan tubuh merendah, ia lalu mengerahkan tenaga dan mengeluarkan bentakan dahsyat sambil memukul dengan dorongan kedua tangan.
Itulah sebuah jurus dari Hok-liong Sin-ciang (Tangan Sakti Menaklukan Naga).
Ilmu silat dahsyat yang pernah ia pelajari dari kakeknya, Pendekar Sadis Ceng Thian Sin di pulau Teratai Merah.
Angin dahsyat menyambar ke arah Ciok Gun yang menyambutnya dengan kedua tangan di dorongkan ke depan.
"Desss...!"
Akibatnya, tubuh Ciok Gun terjengkang dan bergulingan.
Kui Hong meloncat ke depan mengejar untuk melihat keadaan suhengnya.
Akan tetapi alangkah heran dan kagetnya ketika tubuh yang sudah terkena sambaran hawa pukulan Hok-liong Sin-ciang itu, yang setidaknya tentu akan pingsan, tiba-tiba meloncat bangun dan sudah menyambutnya dengan serangan lagi!
"Ehhh...?"
Kui Hong yang lincah dapat mengelak ke kiri dan matanya terbelalak.
Ini sama sekali tidak mungkin!
Bagaimana suhengnya yang roboh di landa hawa pukulan Hok-liong Sin-ciang tidak menderita apapun dan begitu roboh dapat bangun kembali dan menyerangnya dengan dahsyat?
Ia pun mengeluarkan kepandaiannya, bersilat dengan amat cepat karena ia memainkan Pat-thong-sin-kun yang membuat tubuhnya berkelebatan di delapan penjuru dan tangannya tiba-tiba meluncur dan mengirim totokan yang tepat mengenai jalan darah di punggung lawan.
"Tukk!"
Tubuh Ciok Gun terkulai roboh.
Akan tetapi kembali Kui Hong terbelalak karena begitu roboh, Ciok Gun yang terkena totokannya itu sudah bangkit kembali!
Suhengnya itu seperti tidak merasakan akibat totokannya!
"Wah, dia lihai sekali!"
Tiba-tiba terdengar suara Hay Hay dan pemuda itu sudah berhadapan dengan Ciok Gun.
Ciok Gun nampak bingung ketika melihat munculnya seorang pemuda tampan berpakaian biru yang matanya mencorong dan tersenyum-senyum.
"Siapa kau?"
Bentak Ciok Gun sambil siap untuk menyerang.
Hay Hay tertawa dan diam-diam sudah mengerahkan kekuatan sihirnya, memandang kepada Ciok Gun, lalu bertolak pinggang dan menudingkan telunjuknya ke muka murid Cin-ling-pai itu.
"Ha-ha-ha, Ciok Gun, apakah engkau lupa kepada kakekmu? Aku kakekmu! Hayo engkau memberi hormat dan berlutut kepadaku!"
Seketika Ciok Gun nampak bingung. Dia terbelalak memandang kepada Hay Hay dan menggagap.
"Ehh...? Apa kau bilang? Kakekku... engkau kakekku...?"
Dan kini terjadi hal yang mengejutkan dan mengherankan hati Hay Hay.
Ciok Gun hanya sebentar saja nampak bingung, lalu tiba-tiba menyerangnya dengan geraman seperti seekor binatang buas.
Murid Cin-ling-pai itu tidak terpengaruh sihirnya!
Dan serangannya sungguh liar berbahaya!
Akan tetapi, tentu saja Hay Hay dapat menghadapi serangan itu dengan mudah.
Tingkat ilmu kepandaiannya jauh lebih tinggi, maka begitu melihat Ciok Gun menyerang dengan cengkeraman kedua tangan ke arah leher dan perutnya, diapun menggeser kakinya, tubuhnya miring dan serangan itu luput.
Kemudian dari samping, dia menyapu kedua kaki lawan.
Tak dapat dihindarkan lagi, tubuh Ciok Gun terpelanting!
Sebelum dia dapat bangkit, Hay Hay sudah membentaknya dengan pengerahan sihirnya.
"Ciok Gun, rebah dan engkau tidak mampu bangun kembali!"
Suaranya mengandung kekuatan yang amat dahsyat, amat berpengaruh sehingga sejenak Ciok Gun hanya terbelalak, tidak mampu bangkit.
Akan tetapi, hanya sebentar ia terpengaruh, karena dia segera bangkit kembali walaupun dengan susah payah.
Seolah dia bersitegang diantara dua kekuatan yang tidak tampak, yang satu memaksa dan menekannya agar rebah terus, yang kedua mendorongnya agar bangkit dan menyerang!
Melihat ini, Hay Hay dapat merasakan getaran yang kuat, yang melawan kekuatan sihirnya.
Maka diapun berkata kepada Kui Hong.
"Hong-moi, cepat kau cari orang yang menguasainya dengan sihir. Tak jauh dari sini...!"
Hay Hay menyambut bangkitnya Ciok Gun dengan totokan yang membuat tubuh murid Cin-ling-pai itu terkulai kembali.
Karena maklum tubuh Ciok Gun sudah memiliki kekebalan yang tidak wajar, dan pengaruh totokannya itu hanya sebentar saja, Hay Hay lalu cepat menelikung kedua tangan Ciok Gun ke belakang dan mengikat kedua pergelangan tangan dengan sehelai sabuk sutera yang kuat.
Juga kedua kakinya diikat sehingga kini, biarpun pengaruh totokan sudah membuyar kembali, Ciok Gun tidak mampu bergerak, hanya mengeluarkan suara menggereng dan mencoba meronta sambil matanya melotot memandang ke arah Hay Hay.
Beberapa kali Hay Hay mengerahkan kekuatan sihirnya untuk menaklukkan semangat perlawanan pada diri Ciok gun akan tetapi hanya sebentar orang itu tunduk, lalu melawan kembali dan bersikap liar.
Jelas bahwa ada kekuatan rahasia yang mengendalikan Ciok Gun!
Sementara itu, begitu mendengar seruan Hay Hay, Kui Hong segera berkelebat lenyap di antara pohon-pohon di hutan itu.
Ia maklum apa yang dikatakan kekasihnya itu.
Tentu ada orang ketiga yang bersembunyi dan mengendalikan Ciok Gun dengan ilmu sihirnya.
Dan tentu orang itu biang keladi semua kejadian yang penuh rahasia di Cin-ling-pai!
Kiranya ketika ia tadi memasuki hutan mengajak Ciok Gun, ada orang yang membayanginya.
Tadi pun ia sudah waspada selalu menyelidiki keadaan sekeliling, namun tidak menemukan sesuatu.
Hal itu saja menunjukkan bahwa kalau memang benar ada orang yang membayanginya, tentu orang itu lihai sekali, sehingga iatidak dapat melihat atau mendengarnya.
Setelah mencari-cari di sekitar tempat itu, akhirnya ia menemukan apa yang dicarinya!
Seorang tosu bertubuh tinggi besar, usianya kurang lebih enam puluh tahun, rambut di gelung ke atas dan mengenakan jubah pendeta, sedang duduk bersila seorang diri diatas petak rumput diantara pohon-pohon.
Tosu itu sedang dalam samadhi, matanya dipejamkan, mulutnya berkemal-kemil dan telunjuk tangan kanannya mencorat-coret tanah di depannya.
Ada beberapa batang hio (dupa biting) mengepulkan asap di samping kirinya.
"Pendeta palsu! Kiranya engkau yang mengacau di Cin-ling-pai!"
Seru Kui Hong dengan marah.
Sekali pandang saja ia merasa yakin bahwa pendeta inilah yang mempengeruhi Ciok Gun.
Pendeta itu bukan lain adalah Lan Hwa Cu, seorang diantara tiga orang pendeta Pek-lian-kauw yang terkenal dengan julukan Pek-lian Sam-kwi (Tiga Iblis Pek-lian-kauw) yang bersama Tok-ciang Bi Moli Su Bi Hwa bertugas untuk mengadu domba para tokoh partai besar dengan Cin-ling-pai.
Tentu saja dia terkejut bukan main mendengar bentakan itu.
Ketika tadi Ciok Gun di ajak pergi, Su Bi Hwa cepat memberi tahu kepada tiga orang suhunya dan Lan Hwa Cu segera membayangi ketua Cin-ling-pai yang mengajak Ciok Gun keluar itu.
Dengan kepandaiannya yang tinggi, Lan Hwa Cu berhasil membayangi Kui Hong tanpa diketahui.
Dia tahu bahwa Ciok Gun telah menjadi mereka.
Murid Cin-ling-pai yang tadinya setia itu telah dicekoki racun pembius dan telah dikuasainya dengan ilmu sihir sehingga selain tubuh Ciok Gun menjadi kebal, juga dia dapat dikendalikan dari jauh dengan kekuatan sihir.
Biarpun Lan Hwa Cu sudah percaya bahwa Ciok Gun telah menjadi seperti boneka hidup yang akan setia sampai mati kepada Pek-lian Sam-kwi dan Su Bi Hwa, namun dia tetap merasa khawatir.
Karena itu, setelah melihat Kui Hong berhenti di tengah hutan, diapun memilih tempat tersembunyi dan cepat duduk bersila untuk menguasai Ciok Gun sepenuhnya dengan sihirnya.
Karena bantuannya inilah maka Ciok Gun menjadi makin kuat, sehingga sukar ditundukkan oleh sihir Hay Hay!
Ketika Lan Hwa Cu mendengar bentakan itu, dia cepat membuka mata dan memandang dan terkejutlah dia melihat Cia Kui Hong telah berdiri di depannya, dalam jarak empat lima meter dan gadis itu nampak begitu anggun dan berwibawa, bertolak pinggang dan memandang kepadanya dengan sepasang mata mencorong seperti mata naga!
Maklum bahwa keadaannya telah ketahuan orang, diapun mengambil keputusan cepat.
Gadis ini harus dibunuhnya, atau ditawannya.
Kalau tidak, semua usaha kelompoknya terancam bahaya kegagalan.
"Haiiiiiiittttt...!!"
Dia meloncat berdiri dan tangan kirinya terayun.
Serangkum sinar menyambar ke arah Kui Hong.
Gadis ini maklum bahwa ia diserang senjata rahasia jarum.
Ia sendiri adalah ahli senjata rahasia jarum yang dipelajarinya dari neneknya, maka tentu saja dengan mudah ia dapat mengelak dengan loncatan ke samping dan tangan kirinya juga digerakkan dan nampak sinar merah menyambar ke arah lawan!
Lan Hwa Cu terkejut bukan main.
Dengan mengebutkan ujung lengan bajunya yang lebar dan panjang, dia mampu meruntuhkan semua jarum merah itu dan yang membuat dia terkejut adalah melihat kelihaian wanita muda itu.
Bukan saja mampu mengelak dari serangan jarumnya, bahkan membalas dengan jarum yang lebih hebat, karena ketika dia mengebutkan ujung lengan bajunya tadi, dia mencium bau harum yang kuat, tanda bahwa jarum-jarum merah itu mengandung racun yang ampuh!
Maklum bahwa lawannya lihai, Lan Hwa Cu yang merupakan tokoh kelas dua dari Pek-lian-kauw yang biasanya memandang rendah lawan, segera melompat ke depan dan sabuknya yang panjang dengan kedua ujungnya dipasangi bola dan bintang saja, sudah menyambar-nyambar dengan ganasnya.
Karena ingin tahu siapa lawannya, Kui Hong kembali mengelak dengan loncatan ke belakang.
Ia menudingkan telunjuk tangan kirinya.
"Tahan senjata! Totiang katakan dulu siapa engkau dan mengapa pula menyerangku!"
Akan tetapi, tentu saja Lan Hwa Cu tidak mau banyak bicara lagi.
Dari pertanyaan itu, tahulah dia bahwa ketua Cin-ling-pai ini hanya menduga saja bahwa dia yang mengacau di Cin-ling-pai.
Gadis itu belum mengenalnya dan belum tahu apa yang sesungguhnya terjadi di Cin-ling-pai.
Karena itu, tentu saja dia tidak akan membongkar rahasia Pek-lian-kauw dan dia pun sudah menyerang lagi dengan ganasnya, menggunakan sabuknya.
Ujung bola dan bintang bajaitu beterbangan menyambar-nyambar dalam serangan yang dahsyat sehingga Kui Hong terpaksa berloncatan ke sana-sini untuk menghindarkan diri dari sambaran maut itu.
Gadis sakti itupun terkejut karena dari sambaran senjata itu, ia pun dapat mengukur tenaga lawan dan tahu bahwa lawannya ini selain pandai ilmu sihir, juga memiliki ilmu silat yang tinggi dan tenaga yang kuat.
Maka, ia pun cepat mencabut sepasang pedangnya.
Begitu sepasang pedang itu tercabut, nampaklah sinar-sinar hitam yang menyilaukan mata.
Lan Hwa Cu terkejut.
Itulah Hok-mo Siang-kiam (Sepasang Pedang Penakluk Iblis) yang amat ampuh.
Tanpa disadarinya, pendeta itu mengeluarkan seruan tinggi seperti jerit seorang wanita, Kui Hong terheran karena suara pendeta itu sungguh seperti jerit seorang wanita!
Akan tetapi karena lawan terus menyerangnya, ia pun menggerakkan sepasang pedangnya, menangkis dan balas menyerang.
"Singgg...!"
Bintang baja itu menyambar ke arah pelipis kiri Kui Hong dengan gerakan melingkar dan menyerong dari atas.
Serangan ini berbahaya sekali.
Namun, Kui Hong adalah seorang gadis pendekar yang telah matang ilmunya.
Bukan saja ia telah mewarisi ilmu-ilmu yang hebat dari ayah ibunya yang juga merupakan sepasang suami isteri pendekar, bahkan gadis ini telah digembleng oleh kakek dan neneknya, yaitu Pendekar Sadis dan isterinya yang sakti di pulau Teratai Merah.
Tingkat kepandaian Kui Hong kini bahkan telah melampaui tingkat kepandaian ayahnya dan ibunya!
Ketika bintang baja itu menyambar ke arah pelipisnya, Kui Hong menggerakkan pedang di tangan kiri, mencoba untuk membabat putus sabuk itu.
Akan tetapi, sabuk itu tidak terbabat putus, bahkan melibat pedang dan ujungnya masih menyambar sehingga kini bintang baja itu menyambar ke arah mukanya.
Kui Hong menarik kepalanya ke belakang dan pada saat itu, bola baja di ujung kedua sabuk lawan menyambar ke arah perutnya!
Bukan main lihainya tosu itu.
Akan tetapi, Kui Hong tidak menjadi gugup.
Ia menggerakkan pedang kanannya membacok ke arah bola baja, sedangkan pedang kirinya masih terlibat sabuk.
"Trangggg...!!"
Bola baja itu terpental dan Lan Hwa Cu kembali mengeluarkan jerit wanita karena tangannya terasa panas sekali dan bola baja itu hampir saja mengenai kepalanya sendiri.
Terpaksa dia meloncat kebelakang dan melepaskan libatan sabuknya.
Melihat lawannya meloncat ke belakang, Kui Hong yang sudah penasaran itu mengejar dan sepasang pedangnya berubah menjadi dua gulungan sinar hitam yang dahsyat sekali, bagaikan dua ekor naga hitam mengamuk!
Lan Hwa Cu menangkis dan membalas, namun menghadapi gelombang serangan sepasang pedang hitam yang ampuh itu, dia merasa kewalahan juga.
Permainan pedang ketua Cin-ling-pai itu amatlah hebatnya sehingga kalau dia terus melawan, besar kemungkinan dia akan terancam bahaya maut.
Kembali ujung pedang kanan di tangan Kui Hong sudah meluncur dan hampir saja mengenai pundaknya, Lan Hwa Cu melompat ke belakang dan ketika tangan kirinya terayun, terdengar ledakan dan tampak asap hitam mengepul tebal.
Kui Hong meloncat ke belakang, khawatir kalau-kalau asap itu beracun.
Ketika ia berloncatan mengitari asap itu, ternyata lawannya sudah lenyap.
Kui Hong tidak mengejar karena maklum bahwa selain hal itu sia-sia karena ia tidak tahu ke arah mana lawan pergi, juga amat berbahaya dan ia ingin melihat bagaimana hasilnya Hay Hay menguasai Ciok Gun.
Ia pun cepat lari ke tempat tadi ia meninggalkan Ciok Gun.
Lega hatinya melihat betapa Ciok gun sudah dapat dikuasai Hay Hay, sudah rebab dengan kaki tangan terbelenggu.
Melihat Ciok Gun seperti orang pingsan, ia berkata.
"Hay-ko, cepat sadarkan dia agar terbebas dari pengaruh jahat dan dapat menceritakan semua rahasia kepada kita."
"Nanti dulu, Hong-moi. Justeru dalam keadaan terbius dan tersihir, dia akan dapat menceritakan segala rahasia kepada kita. Kalau dia sadar, mungkin dia melupakan segalanya."
Setelah berkata demikian, Hay Hay lalu menotok pundak dan tengkuk Ciok Gun.
Murid Cin-ling-pai itu mengeluh dan membuka mata.
Pada saat itu, Hay Hay sudah mengerahkan tenaga sihirnya, memandang wajah Ciok Gun dan suaranya terdengar penuh wibawa ketika dia berkata.
"Ciok Gun, engkau selalu mentaati kami! Engkau membantu kami menghadapi orang-orang Cin-ling-pai. Ingat?"
Ciok Gun sejenak memandang kepada Hay Hay seperti orang kehilangan semangat, akan tetapi kemudian dia mengangguk.
"Aku... aku ingat..."
Ciok Gun seperti termenung, lalu terdengar jawabannya lirih.
"Pek-lian Sam-kwi... aku harus taat kepada Pek-lian sam-kwi..."
Kui Hong mengepal tinjunya.
Kiranya Pek-lian-kauw yang menjadi biang keladinya!
Kini tahulah ia bahwa tosu yang lihai tadi adalah orang Pek-lian-kauw tentu seorang di antara Pek-lian Sam-kwi, tiga iblis dari Pek-lian-kauw yang sudah pernah di dengar namanya akan tetapi belum pernah dijumpainya itu.
"Siapa lagi selain Pek-lian Sam-kwi? Hayo jawab sesungguhnya!"
"Tok-ciang Bi Moli..."
"Ah, Su Bi Hwa itu?"
Tanya Kui Hong.
Mendengar pertanyaan ini, Ciok Gun tidak menjawab.
Dalam keadaan seperti itu, dia hanya mengenal satu suara saja, yaitu suara orang yang mengguasainya lewat kekuatan sihir dan pada saat itu, Hay Hay yang menguasai setelah pengaruh sihir para tosu Pek-lian-kauw menipis.
Tadi Lan Hwa Cu masih mengendalikan Ciok Gun, maka sukar bagi Hay Hay untuk menguasainya.
Hal ini adalah karena sudah terlalu lama dan mendalam Ciok Gun di cengkeram dalam kekuasaan sihir para tosu Pek-lian-kauw itu.
Kini, setelah Lan Hwa Cu diganggu Kui Hong dan terpaksa melarikan diri, cengkeraman itu mengendur dan dalam keadaan lemah ini, dengan mudah Hay Hay dapat menguasai Ciok Gun.
"Ciok Gun, katakan siapa nama Tok-ciang Bi Moli itu!"
Kata Hay Hay dengan suara mengandung perintah.
"Namanya Su Bi Hwa..."
Tentu saja Kui Hong menjadi semakin marah.
Kiranya isteri Gouw Kian Sun itu berjuluk Tok-ciang Bi Moli dan merupakan seorang di antara gerombolan yang mengacau di Cin-ling-pai.
"Ciok Gun, engkau tahu tentang mengapa Gouw Kian Sun begitu taat kepada Tok-ciang Bi Moli Su BI Hwa dan mau menerimanya sebagai isteri? Ceritakan semua dengan jelas!"
Kini Ciok Gun sepenuhnya sudah berada dalam kekuasaan Hay Hay, maka tanpa ragu lagi dia pun menjawab dengan lancar.
"Keluarga Cia ditawan oleh orang-orang Pek-lian-kauw. Kalau suhu Gouw Kian Sun menolak, keluarga itu akan di bunuh."
Pucat wajah Kui Hong mendengar ini.
"Siapa yang ditawan? Siapa?"
Kembali Ciok Gun tidak menjawab dan kelihatan bingung.
"Ciok Gun,"
Kata Hay Hay.
"Katakan siapa saja yang di tawan orang Pek-lian-kauw."
"Kakek guru Cia Kong Liang, su-pek (uwa guru) Cia Hui Song, supek-bo Ceng Sui Cin dan putera mereka, Cia Kui Bu..."
"Keparat jahanam...!!!"
Kui Hong berseru karena terkejut dan marah bukan main.
Kakeknya, ayah ibunya dan adiknya telah ditawan oleh orang-orang Pek-lian-kauw!
Kiranya susioknya, Gouw Kian Sun, menjadi lemah tak berdaya dan terpaksa menurut saja kemauan orang-orang Pek-lian-kauw karena mereka mengancam akan membunuh keluarga Cia!
Orang-orang Pek-lian-kauw menekan Kian Sun dengan ancaman, dan menguasai Ciok Gun dengan bius dan sihir!
Jelas mereka akan menghancurkan Cin-ling-pai dan mengadu domba dengan partai-partai besar di dunia persilatan!
Sekali memerintahkan Ciok Gun untuk tidur, murid Cin-ling-pai yang sepenuhnya sudah dikuasai Hay Hay itupun pulas.
"Kita harus membebaskan ayah dan ibu sekarang juga, dan kita basmi orang-orang Pek-lian-kauw itu!"
Bentak Kui Hong dengan muka yang menjadi kemerahan saking marahnya.
"Tenangkan hatimu, Hong-moi. Menghadapi orang-orang Pek-lian-kauw yang licik dan curang, penuh tipu muslihat, kita harus cerdik dan menggunakan siasat."
Baca Juga: Jodoh Rajawali 6
Baca Juga: Sepasang Pedang Iblis 14