Eps 8 Si Bangau Merah - Kho Ping Hoo
Baca online Si Bangau Merah - Kho Ping Hoo
Cersil Si Bangau Merah - Kho Ping Hoo.
Kita pergunakan semua alat, anggauta tubuh, hati dan alat pikiran, kita gunakan demi kelangsungan hidup, demi mencukupi semua kebutuhan hidup.
Bukan demi meuruti bisikan nafsu angkara murka sehingga untuk mencapai tujuan kita menghalalkan semua cara, melainkan kita kerjakan semua alat demi kepentingan hidup di dunia ini.
Dan apa pun hasilnya, apa pun jadinya, dan peristiwa apa pun yang menimpa diri kita, Kita terima tanpa mengeluh!
Semua kehendak Tuhan jadilah!
Kita hanya dapat menyerah, kita hanya dapat menerima, dan kita wajib membantu pekerjaan kekuasaan Tuhan pada alam ini.
Kita tidak akan dapat memperoleh padi tanpa berusaha, walaupun Tuhan sudah menyediakan tanahnya, airnya, udaranya, sinar mataharinya, benihnya.
Kita harus membantu mengerjakan semua itu, mencangkul tanah, menanam benih, mengairi sawah, menuai, menjemur, menumbuk dan selanjutnya, sebelum hasilnya dapat menyambung kehidupan kita melalui makanan.
Sian Li tertawa dan ia mengeluarkan bungkusan roti, memberi isarat kepada suhengnya untuk makan dan minum air bekal mereka.
Melihat sumoinya tertawa lalu tersenyum-senyum sambil makan roti dan minum air, Sian Lun memandang heran.
"Eh, Sumoi, kenapa engkau tertawa dan tersenyum-senyum?"
Dia mengamati wajah yang kemerahan karena sinar matahari itu sehingga kedua pipinya di bawah mata yang agak menjendul itu menjadi merah sekali, mengamati bibir yang bergerak-gerak ketika makan roti.
Betapa manisnya wajah sumoinya!
Sian Li tersenyum dan sebelum menjawab, ia minum dulu air dari botol airnya.
"Tulisan ini yang membuat aku tertawa,"
Katanya sambil menunjuk ke arah lantai yang diukir huruf-huruf itu.
"Apanya yang lucu Sumoi? Huruf-huruf itu indah sekali, dan isinya menurut aku mengharukan dan menyedihkan, kenapa engkau malah tertawa?"
"Bukan karena lucu, Suheng, melainkan karena senang dan gembira. Tulisan ini menyadarkan aku betapa bahagianya diriku. Di tempat ini aku tidak kehausan dan kelaparan, bukankah saat ini aku jauh lebih berbahagia dibandingkan seorang yang kaya raya seperti raja namun kehausan dan tidak mempunyai air?"
"Engkau benar, Sumoi. Akan tetapi, andaikata yang menulis ini benar seorang raja, aku yakin dia tidak akan menulis seperti ini. Apa yang akan dilakukan seorang raja yang kehausan di tempat ini dan tidak mempunyai air? Tentu dia akan memerintahkan para pengawalnya untuk segera mencarikan air minum untuknya."
Sian Li mengangguk.
"Pendapatmu itu memang tepat, Suheng. Karena dia bukan raja, maka dia menulis seperti ini. Manusia memang siap melakukan apa saja, bersikap yang aneh-aneh, kalau sedang menghendaki sesuatu yang dibutuhkannya."
Sian Lun mengangguk.
"Manusia selalu dipermaihkan oleh keinginannya, padahal yang diinginkan di dunia ini selalu berubah-ubah dan banyak sekali macamnya. Seorang raja yang sakit mungkin mau menukar kerajaannya dengan kesehatan dan keselamatan nyawanya, akan tetapi dalam keadaan sehat, dia akan mempertahankan dan memperebutkan kedudukannya dengan taruhan nyawa!"
Setelah melepaskan lelah dan selesai makan roti dan minum air jernih, kedua orang muda itu melanjutkan perjalanan mereka.
Akan tetapi baru beberapa menit mereka melarikan kuda, tiba-tiba mereka mendengar derap kaki kuda dari belakang.
Sian Li yang berada di depan, menahan kudanya dan menoleh.
Terpaksa Sian Lun menahan kudanya pula dan mereka melihat serombongan orang berkuda membalapkan kuda mereka dari arah belakang dan melewati mereka.
Rombongan itu terdiri dari tujuh orang laki-laki yang berwajah bengis menyeramkan.
Ketika mengenal dua orang di antara mereka adalah Badhu dan Sagha, dua orang Nepal yang menjadi anak buah Lulung Lama, Sian Lun segera berkata kepada sumoinya.
"Sumoi, mari kita kejar mereka!"
Sian Li hendak membantah karena ia merasa tidak ada perlunya mengejar rombongan itu, akan tetapi karena Sian Lun sudah membalapkan kudanya, ia pun terpaksa melakukan pengejaran.
"Suheng, tahan dulu....!"
Serunya ketika ia dapat menyusul suhengnya. Sian Lun menahan kendali kudanya dan mereka berhenti.
"Suheng, untuk apa kita mengejar mereka?"
Tanyanya.
"Aih, bagaimana-kah engkau ini, Sumoi. Bukankah dua orang di antara mereka adalah mata-mata yang mengacau di Bhutan? Kita harus membantu Kerajaan Bhutan, bukan?"
"Hemm, Suheng. Kalau kita berada di Bhutan, tentu saja kita harus membantu Bhutan. Akan tetapi, menantang para mata-mata dan pengacau di Bhutan bukanlah tugas kita, apalagi kita sedang melakukan perjalanan menuju pulang. Selain itu, juga engkau harus ingat bahwa kini kita tidak berada di daerah Bhutan lagi, melakukan daerah Tibet."
Mendengar ucapan sumoinya, baru Sian Lun sadar bahwa dia telah terburu nafsu. Dia mengangguk maklum, lalu berkata.
"Betapapun juga, karena kita juga melakukan perjalanan searah dengan mereka tadi, tiada salahnya kalau kita diam-diam memperhatikan dan menyelidiki, apa yang hendak mereka lakukan. Setidaknya, kita dapat mencegah perbuatan mereka yang akan merugikan Bhutan, tanpa menunda perjalanan kita. Bagaimana pendapatmu, Sumoi?"
Gadis itu mengangguk.
"Tentu saja, Suheng. Aku pun hanya ingin mengingatkanmu agar kita berhati-hati. Perjalanan masih jauh dan kita tidak mengenal daerah ini."
Mereka melanjutkan perjalanan dan walaupun sudah tertinggal jauh oleh rombongan berkuda tadi, namun mereka masih dapat mengikuti jejak tujuh orang itu dengan mudah, apalagi liar karena memang rombongan itu menuju ke arah yang sama dengan perjalanan mereka.
Setelah matahari condong ke barat, menjelang senja, mereka tiba di daerah yang subur, bukit-bukit yang hijau dan mulai nampak anak sungai mengalir turun.
Segera nampak sebuah dusun yang besar, nampak genteng-genteng, rumah dari lereng, cukup banyak dan besar-besar rumah yang berada di dusun itu.
Juga jejak kaki kuda rombongan tadi menuju ke dusun itu.
Mereka lalu menuju ke dusun untuk melewatkan malam dan juga sekalian untuk melihat apa yang akan dilakukan rombongan Badhu dan Sagha, dua orang ahli silat Nepal yang sombong itu.
Dusun itu memang merupakan dusun yang besar dan ramai, terletak di tepi Sungai Yalu Cang-po atau Sungai Brahmaputra yang mengalir dari Pegunungan Himalaya menuju ke timur.
Nama dusun itu dusun Nam-ce.
Daerah itu memang luas, tanahnya subur karena dekat sungai, dan juga di sungai itu terdapat banyak ikan sehingga nampak banyak perahu nelayan di situ.
Selain ini, dusun Namce menjadi pelabuhan dan orang-orang yang melakukan perjalanan, ke timur, banyak yang mempergunakan perahu melalui sungai yang besar itu.
Biarpun hanya berupa rumah-rumah sederhana, namun di dusun Nam-ce terdapat beberapa buah rumah penginapan dan juga rumah makan yang menjual makanan sederhana.
Ada pula pedagang yang menjual bermacam barang keperluan sehari-hari.
Semua ini membuat dusun itu menjadi semakin ramai, dan terutama sekali karena lalu-lintas melalui sungai itulah yang mendatangkan kemakmuran kepada dusun Nam-ce.
Bahkan mereka yang datang dari Lha-sa, Ibu kota Tibet, yang hendak melakukan perjalanan ke timur, banyak yang melalui Sungai Brahmaputra.
Di sebelah selatan luar kota Lhasa terdapat sebuah sungai yang airnya menuju ke Sungai Brahmaputra di dekat Nam-ce, Maka banyak yang mempergunakan perahu dari Lha-sa ke Nam-ce, kemudian dari dusun pelahuhan ini melanjutkan perjalanan dengan perahu besar ke timur, mengikuti aliran air Sungai Brahmaputra.
Sian Lun dan Sian Li menyewa dua buah kamar di sebuah rumah penginapan yang kecil namun bersih dan tempatnya pun agak di pinggir dusun sehingga keadaan di situ tidaklah begitu ramai seperti di bagian tengah dusun, di mana terdapat sebuah pasar yang selalu ramai dikunjungi orang karena tempat ini merupakan pasar perdagangan.
Setelah membersihkan diri yang berlepotan debu dan berganti pakaian, Sian Li mengajak Sian Lun keluar dari rumah penginapan dan mencari kedai makanan.
Karena mereka berada di tempat asing, dan orang-orang di sekeliling mereka adalah orang-orang dari suku bangsa daerah itu, Hanya kadang saja nampak orang berpakaian seperti mereka, yaitu orang-orang Han yang hampir semua adalah pedagang.
Andaikata Sian Li mengenakan pakaian biasa, tentu dua orang muda ini tidak terlalu menarik perhatian, walaupun kecantikan Sian Li tentu membuat banyak pria melirik.
Akan tetapi, karena gadis itu selalu mengenakan pakaian yang warnanya kemerahan, baik polos maupun berkembang, maka tentu saja ia amat menyolok dan menjadi perhatian setiap orang.
Sian Li mengajak suhengnya untuk memasuki sebuah kedai makan yang berada di jalan yang agak sunyi.
Ketika mereka memasuki kedai, senja hampir terganti malam, cuaca mulai gelap dan kedai itu pun sudah diterangi lampu-lampu minyak yang tergantung dengan kap-kap lampu beraneka warna sehingga nampak terang dan meriah.
Seorang pelayan menyambut mereka dan mempersilakan mereka duduk.
Sian Li menyapu ruangan itu dengan sinar matanya.
Tidak terlalu banyak tamu di situ.
Seorang pria yang agaknya menurut pakaiannya adalah bangsa Han duduk di sudut sambil menundukkan muka.
Tiga orang bangsa Tibet duduk di tengah ruangan itu, dan masih ada beberapa orang lagi makan di meja sebelah kiri.
Tidak ada sepuluh orang tamu yang berada di ruangan itu.
Sian Li dan Sian Lun duduk di bagian kanan, sengaja Sian Li memilih bangku yang membuat ia duduk membelakangi para tamu itu.
Ia takkan merasa enak makan kalau menghadapi mata banyak laki-laki yang ditujukan kepadanya dengan sinar mata kurang ajar.
Sian Lun duduk berhadapan dengannya sehingga pemuda inilah yang menghadap ke tengah ruangan, dapat melihat para tamu.
Memang, seperti yang dilihatnya, sejak sumoinya memasuki ruangan rumah makan, semua tamu yang duduk di situ, kesemuanya pria, mengangkat muka dan melempar pandang mata kagum kepada Sian Li.
Pandang mata orang-orang itu seperti melekat pada Sian Li, dan biarpun sumoinya sudah duduk membelakangi mereka, tetap saja mereka itu selalu melirik ke arah gadis itu.
Kecuali seorang saja, yaitu orang Han yang duduk seorang diri di sudut belakang.
Orang itu makan sambil menundukkan muka, dan hanya mengangkat muka memandang sejenak ketika dia dan sumoinya tadi masuk, lalu menundukkan muka kembali, sedikit pun tidak menaruh perhatian lagi.
Setelah makanan yang dipesan datang, dua orang kakak beradik seperguruan itu lalu makan minum dan baru saja mereka selesai, Mereka mendengar suara banyak orang memasuki rumah makan.
Mereka menengok dan sinar mata mereka menjadi keras ketika mereka mengenal tujuh orang yang tadi mereka bayangi, yaitu Badhu dan Sagha bersama lima orang kawan mereka!
Sian Li tidak ingin mencari keributan di situ.
Ia hanya ingin menyelidiki, apa yang akan dilakukan dua orang anak buah Lulung Lama itu, akan tetapi tidak ingin bentrok secara langsung, apalagi ia tahu bahwa ia dan suhengnya berada di daerah pihak lawan, maka keadaan dapat berbahaya bagi mereka.
Ia memberi isarat kepada suhengnya, lalu menggapai pelayan yang segera mendekati mereka.
Pelayan lain sibuk melayani tujuh orang tamu yang baru masuk.
Sian Lun segera membayar harga makanan dan mereka berdua hendak keluar dari rumah makan itu.
Akan tetapi, tiba-tiba terdengar bentakan kasar.
"Heii, kalian berdua, tunggu dulu!"
Sian Li dan Sian Lun berhenti dan membalikkan tubuh.
Kiranya Badhu dan Sagha sudah berdiri menghadapi mereka, sedangkan lima orang kawan mereka masih duduk.
Dua orang Nepal itu lalu menghampiri Sian Li dan Sian Lun yang berdiri dengan tenang dan tegak.
"Hemm, kalian ini orang-orang Han yang sombong, mau apa berkeliaran di sini?"
Kata Badhu yang (Lanjut ke
Jilid 18) Si Bangau Merah (Seri ke 15 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 18 berperut gendut.
Sian Li mengerutkan alisnya dan memandang tajam, lalu mulutnya tersenyum mengejek.
Ia melihat betapa beberapa orang Tibet yang berada di situ memandang ke arah mereka.
"Bukan kami orang-orang Han yang sombong dan berkeliaran, karena kami akan kembali ke timur dan hanya lewat di sini. Akan tetapi kalianlah dua orang Nepal yang besar kepala, kalian berkeliaran di sini tentu hanya akan membikin kacau saja!"
Gadis ini memang cerdik.
Tadi mendengar seruan Badhu Si Gendut, para tamu orang-orang Tibet memandang kepada Sian Li dan Sian Lun dengan mata curiga.
Akan tetapi setelah gadis baju merah itu menjawab dengan suara lantang, pandang mata mereka berubah dan kini mereka memandang ke arah Badhu dan Sagha dengan alis berkerut.
Wajah Badhu menjadi kemerahan ketika dia mendengar jawaban Sian Li, dan dengan marah dia membentak.
"Gadis Han yang sombong, jangan bicara sembarangan!"
Sian Li tersenyum.
"Siapa bicara sembarangan, engkau atau aku? Coba kau sangkal, bukankah kalian sudah membikin kekacauan di Nepal, kemudian di Bhutan dan setelah gagal di sana, kalian hendak mengacau pula, di Tibet ini?"
Badhu menjadi makin marah.
"Perempuan sombong! Kau lihat saja pembalasan kami atas semua penghinaanmu!"
Setelah berkata demikian, dia memberi isarat kepada enam orang kawannya dan mereka pun keluar dari rumah makan itu tanpa memesan makanan!
Karena ia memang tidak ingin membikin ribut di rumah makan itu atau di dalam dusun itu, yang hanya akan menimbulkan kekacauan dan juga akan menjadi penghambat perjalanannya, maka Sian Li juga segera meninggalkan tempat itu dan mencegah suhengnya ketika Sian Lun yang nampaknya marah itu hendak melakukan pengejaran.
Setelah dua orang muda itu pergi, ramai para tamu membicarakan peristiwa kecil tadi dan semua orang merasa kagum dan memuji nona baju merah yang berani menentang orang-orang Nepal yang kelihatan kuat dan bengis tadi.
Hanya seorang di antara mereka yang tidak ikut bicara.
Dia adalah laki-laki yang tadi duduk di sudut belakang.
Dia tidak pernah bicara, hanya memanggil pelayan, membayar harga makanannya dan dia pun segera meninggalkan rumah makan tanpa mening-galkan kesan.
"Sumoi, kenapa Sumoi melarangku untuk mengejar mereka? Dua orang Nepal keparat itu pantas dihajar!"
Sian Lun menegur sumoinya ketika mereka tiba kembali di rumah penginapan mereka.
"Suheng, lupakah engkau bahwa kita ini bukan berada di Bhutan lagi, juga bukan di negara sendiri? Kita berada di Tibet, dan engkau tentu masih ingat bahwa dua orang Nepal itu adalah anak buah Lulung Lama, seorang tokoh yang menjadi pimpinan para Lama Jubah Hitam. Ini tempat mereka dan kalau terjadi keributan, tentu kita yang dianggap sebagai pengacau. Tadi pun aku masih untung dapat membalas serangan fitnah mereka sehingga orang-orang Tibet yang mendengarnya tidak memihak mereka.
"Ah, aku hanya khawatir kalau kita dianggap penakut dan tidak berani kepada mereka. Juga, sekarang ini kita yang diancam dan kita tidak tahu kapan mereka akan turun tangan mengganggu kita."
"Suheng, bukankah Guru kita, kakek Suma Ceng Liong dan isterinya, pernah memberitahu bahwa kita tidak boleh tergesa-gesa menurutkan nafsu kemarahan belaka? Bahkan kita diharuskan bersabar setiap menghadapi lawan, kita harus mempergunakan kecerdikan, bukan asal hantam saja! Tanpa ancaman mereka pun, kita harus waspada setiap saat karena bagi seorang pengembara, kita selalu dikelilingi kemungkinan adanya serangan bahaya. Nah, kita sekarang tidur saja dan besok pagi-pagi sekali kita harus sudah melanjutkan perjalanan."
Biarpun di dalam hatinya Sian Lun masih merasa penasaran dan marah kepada dua orang Nepal yang telah mengeluarkan kata-kata kasar dan kurang ajar terhadap sumoinya, namun alasan yang dikemukakan Sian Li amat kuat dan juga tepat, maka dia pun hanya mengangguk dan meraka memasuki kamar masing-masing.
Malam itu sunyi sekali di rumah penginapan di mana Sian Li dan Sian Lun menginap.
Lewat tengah malam, keadaan sudah amat sunyi dan dingin.
Petugas rumah penginapan yang berjaga malam ada dua orang dan mereka ini pun sudah meringkuk di meja pengurus, tertidur karena setelah lewat tengah malam, Tentu tidak akan ada tamu datang lagi.
Lima bayangan hitam itu menyelinap memasuki rumah penginapan melalui pagar tembok belakang dengan melompatinya.
Gerakan mereka ringan dan gesit sekali, menunjukkan bahwa lima orang ini adalah orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi.
Dengan menyusup seperti lima ekor kucing, tanpa mengeluarkan suara, lima orang ini akhirnya telah tiba di belakang kamar Sian Lun dan Sian Li yang berdampingan.
Mereka menghampiri jendela dalam dua kelompok, lalu mengintai ke dalam.
Gelap dan sunyi saja dalam kedua kamar itu.
Mereka itu adalah Badhu dan Sagha, diikuti tiga orang berkepala gundul berjubah hitam.
Tiga orang pendeta Lama Jubah Hitam!
Kiranya Badhu dan Sagha hendak memenuhi ancamannya dan sekali ini mereka tidak mau gagal.
Mereka maklum akan kelihaian dua orang muda itu, maka mereka berdua datang mengajak tiga orang tokoh Hek I Lama (Pendeta Lama Jubah Hitam) yang berilmu tinggi.
Tiga orang itu adalah para pembantu dari Lulung Lama dan memiliki ilmu kepandaian yang jauh lebih tinggi dibandingkan dua orang Nepal itu.
Mereka memang sudah membuat persiapan dan sudah mengatur rencana membagi tugas.
Anak buah mereka telah mencari keterangan di mana letak kamar pemuda dan gadis itu, dan kini mereka sudah siap melaksanakan rencana mereka.
Badhu dan seorang pendeta jubah hitam akan bertugas membius gadis berpakaian merah dengan meniupkan asap pembius ke dalam kamar, sedangkan Sagha dibantu dua orang pendeta jubah hitam akan menerjang masuk ke kamar pemuda Han itu dan membunuhnya!
Setelah memberi isarat, Badhu lalu menghampiri pintu kamar Sian Li, dan dibantu seorang pendeta baju hitam, dia menyusupkan sebuah pipa kecil ke dalam kamar itu melalui bawah pintu.
Pipa itu bersambung dengan sebuah kantung kulit yang menggembung.
Bersama temannya, Badhu lalu menekan-nekan kantung itu dan asap beracun tertiup masuk kamar melalui pipa.
Sementara itu, Sagha dan dua orang pendeta baju hitam, dengan memegang golok, mencokel jendela kamar itu.
Dengan mudah saja daun jendela terbuka dan tiga orang itu berloncatan memasuki kamar yang gelap.
Mereka menyalakan lilin dan kaget sekali ketika melihat betapa tempat tidur pemuda itu kosong, tidak ada orangnya!
Tentu saja Sagha dan dua orang pendeta jubah hitam itu berlompatan keluar lagi.
"Kamarnya kosong....!"
Kata Sagha kepada Badhu yang menjadi heran dan kaget bukan main.
Kalau kamar pemuda itu kosong, tentu kamar gadis itu kosong pula!
Ataukah Si Pemuda itu pindah ke kamar Si Gadis?
Badhu tersenyum, menyeringai dan berkata dengan suara mengejek.
"Tentu saja mereka tidur bersama dalam kamar ini! Siapa orangnya mau membiarkan nona merah yang cantik molek itu tidur kedinginan seorang diri?"
Mereka tertawa, walaupun suara tawa mereka ditahan agar tidak menimbul-kan kegaduhan.
"Mereka berdua tentu sudah terbius pingsan sekarang,"
Katanya lagi dengan girang.
Mereka terlalu memandang rendah kepada Sian Li dan Sian Lun.
Tidak percuma dua orang muda ini menjadi murid orang-orang sakti seperti Suma Ceng Liong dan isterinya, Kam Bi Eng.
Biarpun dua orang ini telah melakukan perjalanan jauh dan tubuh mereka terasa lelah, namun karena tadi bertemu dengan tujuh orang yang hendak membikin ribut di rumah makan, dan mendengar ancaman Si Gendut Badhu, maka suheng dan sumoi ini tidak tidur begitu saja.
Mereka beristirahat sambil duduk bersila sehingga biar tubuh mereka dapat beristirahat, Namun kewaspadaan mereka selalu menjaga keselamatan mereka.
Sedikit gerakan lima orang yang mendekati kamar mereka, biarpun tidak menimbulkan suara gaduh, cukup dapat mereka tangkap dengan pendengaran mereka.
Sian Li menjadi curiga dan ketika ia mengintai dari jendela kamarnya, ia melihat bayangan beberapa orang berkelebatan.
Tahulah ia bahwa ada penjahat yang datang.
Ia memang sudah siap siaga maka kamarnya berada dalam kegelapan.
Sebelum para penjahat itu melakukan sesuatu, ia sudah membuka jendela samping dan meloncat keluar, terus mengambil jalan memutar dan meloncat ke atas genteng.
Hampir ia bertubrukan dengan suhengnya di atas genteng!
Kiranya Sian Lun juga sudah dapat melihat para penjahat itu dan seperti juga Sian Li, dia keluar dari kamar dan meloncat ke atas genteng.
"Ada dua orang menghampiri kamarku Suheng,"
Katanya lirih.
"Dan kulihat tiga orang menghampiri kamarku,"
Kata pula Sian Lun.
Mereka berdua sudah mencabut pedang masing-masing dan kini mereka mengintai ke bawah.
Mereka melihat apa yang dilakukan lima orang itu, mendengar pula percakapan mereka yang mengira bahwa mereka berdua tidur sekamar!
Mendengar ini wajah Sian Li menjadi merah saking marahnya menerima tuduhan kotor tentang dirinya itu.
Juga wajah Sian Lun menjadi merah sekali karena tadi pun, seperti malam-malam yang lalu, dia sering bermimpi tidur sekamar dengan sumoinya yang telah mem-buatnya tergila-gila sejak sumoinya remaja!
Kini Sian Li sudah tidak mampu menahan kemarahannya lagi.
Ia melayang turun, diikuti suhengnya sambil berseru.
"Jahanam bermulut busuk!"
Lima orang yang masih tertawa-tawa itu terkejut bukan main ketika tiba-tiba ada dua bayangan orang melayang turun dari atas genteng dan tahu-tahu dua orang muda yang mereka kira sedang tidur bersama dalam kamar itu dan yang kini tentu telah roboh pingsan, kini telah berdiri di depan mereka dengan pedang di tangan.
"Gawat! Lari....!"
Teriak Badhu yang memimpin gerakan itu.
Mereka pun sudah berloncatan ke dalam kegelapan malam, lari ke arah belakang rumah penginapan di mana terdapat sebuah kebun yang cukup luas.
"Jahanam busuk, hendak lari ke mana kalian?"
Sian Lun berseru marah dan melakukan pengejaran.
"Hati-hati, Suheng!"
Teriak Sian Li yang juga ikut mengejar, merasa khawatir karena dari apa yang ia pelajari, sungguh berbahaya melakukan pengejaran terhadap penjahat yang lihai atau banyak jumlahnya di malam hari, apalagi di tempat yang tidak dikenal keadaannya.
Akan tetapi ternyata bahwa mereka jauh lebih unggul dalam ilmu meringankan tubuh sehingga sebentar saja, mereka dapat menyusul ketika lima orang penjahat itu tiba di dalam kebun.
Dan kini setelah tiba di tempat sepi, agaknya Badhu dan kawan-kawannya sudah siap siaga.
Mereka berlima sudah mencabut golok dan tetap dalam pembagian tugas seperti tadi, Badhu dan seorang pendeta jubah hitam menyambut Sian Li dengan golok mereka, sedangkan Sagha dan dua orang pendeta lain menyerang Sian Lun.
Terjadilah perkelahian yang mati-matian di dalam kebun itu, hanya diterangi oleh sinar bulan yang datang agak lambat.
Mereka lebih mengandalkan ketajaman pendengaran daripada penglihatan dan untunglah bahwa untuk ilmu ini, Sian Li dan Sian Lun telah mendapat gemblengan dari guru mereka.
Biarpun demikian, ketika senjata mereka bertemu dengan golok mereka yang berkepala gundul dan berjubah hitam, Sian Li dan Sian Lun terkejut karena mendapat kenyataan bahwa tenaga mereka itu amat kuat, jauh lebih kuat dibandingkan Badhu dan Sagha yang hanya mengandalkan tenaga kasar dari otot-otot yang terlatih.
Sian Li masih dapat mengimbangi pengeroyokan Badhu dan seorang pendeta jubah hitam.
Gadis ini mengamuk dan gerakannya yang indah mirip sekali dengan gerakan seekor burung bangau.
Bangau Merah!
Biarpun ia sudah menerima gemblengan berbagai ilmu silat tinggi dari Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng, Akan tetapi yang menjadi inti dari kepandaiannya adalah ilmu yang berdasarkan ilmu silat Pek-ho Sin-kun (Silat Bangau Putih) yang dipelajarinya dari ayahnya sendiri sebelum ia berguru kepada kakek dan neneknya.
Dan memang Suma Ceng Liong yang menghendaki agar gadis ini memperdalam ilmu warisan ayahnya itu, hanya kini ilmu silat itu dicampur dengan ilmu lain yang tinggi sehingga ilmu silat yang berdasarkan gerakan burung bangau itu kini menjadi aneh dan lihai, namun masih mengandung gerakan halus dari seekor bangau.
Yang repot adalah Sian Lun.
Tingkat kepandaian pemuda ini memang masih kalah dibandingkan sumoinya, dan kini dia dikeroyok tiga orang.
Kepandaian Sagha memang tidak ada artinya bagi Sian Lun, akan tetapi dua orang pendeta jubah hitam itu sungguh lihai bukan main.
Melawan seorang saja di antara mereka sudah merupakan lawan yang tangguh, apalagi ada dua orang seperti itu, ditambah dengan Sagha lagi.
Sian Lun hanya mampu memutar pedangnya, melindungi dirinya dari sambaran tiga batang golok para pengeroyoknya.
Tiba-tiba terjadi keanehan.
Lima orang pengeroyok itu berturut-turut mengeluarkan teriakan kesakitan dan senjata mereka terlepas dari tangan dan mereka itu lalu berlompatan jauh ke belakang dan melarikan diri dari Sian Li dan Sian Lun yang tentu saja menjadi bengong terheran-heran.
Mereka tidak merasa telah melukai para pengeroyok itu, akan tetapi mengapa mereka berlima itu melepaskan golok dan melarikan diri seperti orang ketakutan?
Sian Lun hendak melakukan pengejaran, akan tetapi Sian Li memegang tangan kirinya mencegah.
"Suheng, mereka itu merupakan lawan berat, berbahaya sekali kalau dikejar. Mari kita kembali ke kamar!"
Katanya.
"Tapi, apa yang telah terjadi? Kenapa mereka melepaskan senjata dan melarikan diri seperti orang ketakutan?"
Sian Li menggeleng kepalanya.
"Entahlah, Suheng, aku pun tidak mengerti. Telah terjadi keanehan malam ini, mungkin ada dewa yang menolong kita."
Mereka kembali ke rumah penginapan di mana telah berkumpul banyak orang.
Kegaduhan tadi membangunkan para tamu, juga para pelayan sehingga kini mereka berkerumun di depan kamar Sian Li dan kamar Sian Lun.
Ketika dua orang muda itu muncul, tentu saja mereka dihujani pertanyaan.
"Ada dua orang pencuri hendak memasuki kamar kami berdua,"
Kata Sian Lun.
"Mereka mempergunakan asap pembius. Harap kalian mundur semua, aku akan membuka jendela agar asap itu keluar. Awas, yang terkena asap itu dan menyedotnya, akan jatuh pingsan."
Ia lalu membuka daun jendela kamarnya, lalu pergi menjauhi kamar itu, demikian pula Sian Lun.
Dari dalam kamar itu membubung asap tipis yang tidak berapa banyak lagi karena tadi sebagian asap sudah keluar melalui celah-celah pintu, jendela dan atap.
Orang-orang menjauh dan memandang heran.
Akan tetapi, setelah mendengar bahwa pencuri-pencuri itu melarikan diri tanpa membawa barang curian, dikejar dua orang muda itu, pengurus rumah penginapan merasa lega dan para tamu pun berangsur kembali ke kamar masing-masing.
Tentu saja kini mereka tahu bahwa gadis berpakaian merah yang cantik dan pemuda tampan itu adalah dua orang pendekar!
Sementara itu, dari tempat gelap tak jauh dari situ, seorang laki-laki yang bersembunyi dalam gelap, meremas-remas jari tangan sendiri.
Pandang matanya penuh ketegangan, keraguan, juga keharuan, bibirnya berkemak-kemik bicara seorang diri dengan lirih.
"Benarkah ia? Ah, tidak mungkin. Kenapa ia berada di sini dan siapa pemuda itu? Benarkah ia Sian Li....? Tapi pakaian merah itu.... ah, benarkah ia Tan Sian Li....?"
Dengan wajah penuh keraguan dia masih bardiri termangu-mangu di tempat gelap itu sampai Sian Li dan Sian Lun memasuki kamar masing-masing dan tempat itu menjadi sunyi kembali.
Siapakah pria itu?
Dan apa pula yang telah terjadi ketika Sian Li dan Sian Lun dikeroyok lima orang lawan yang lihai tadi?
Mengapa mereka melarikan diri?
Kita ikuti perjalanan mereka selanjutnya.
Pada keesokan harinya pagi-pagi sekali Sian Lun dan Sian Li telah meninggalkan rumah penginapan dan menuntun kuda mereka ke pasar kuda yang selalu ramai di tempat itu.
Tentu saja dua ekor kuda tunggangan mereka menarik perhatian pembeli karena dua ekor binatang itu adalah kuda-kuda pilihan dari kandang kuda istana Bhutan!
Dengan mudah saja mereka mendapatkan pembeli yang berani membayar cukup mahal untuk dua ekor kuda itu.
Sian Li dan Sian Lun lalu menuju ke bandar sungai untuk menyewa sebuah perahu yang akan mereka tumpangi sampai ke belokan air Sungai Yalu-cangpo atau Sungai Brahmaputra yang membelok ke selatan.
Dari belokan itu, mereka akan mendarat dan melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki atau berkuda lagi menuju ke timur.
Seorang peranakan Han-Tibet yang mempunyai sebuah perahu yang sedang besarnya, menyanggupi perjalanan itu dengan upah yang cukup memadai.
Orang itu berusia kurang lebih lima puluh tahun kulitnya hangus kecoklatan karena setiap hari pekerjaannya sebagai nelayan membuat kulitnya setiap hari terbakar sinar matahari.
Kalau tidak karena logat bicaranya, tentu sukar dikenal bahwa dia peranakan Han.
Baik wajah dan pakaiannya sudah sepenuhnya orang Tibet.
Orangnya pendiam dan juga sopan, maka Sian Li memilih orang ini daripada pemilik perahu lain walau harus membayar lebih mahal.
Perjalanan dengan perahu itu cukup menyenangkan.
Perahunya kokoh dan baik imbangannya, tukang perahunya pendiam dan ahli mengemudikan perahu.
Air sungai pun tenang dan dalam karena waktu itu musim semi, tidak banyak hujan.
Pemandangan di tepi sungai juga amat indah, penuh pohon-pohonan menghijau, diseling bunga beraneka warna dan bentuk.
Kadang-kadang sungai itu melewati daerah yang diapit tebing bukit yang menjulang tinggi, kadang melalui ladang yang tanahnya landai dan datar.
Kalau malam tiba, Sian Li menyuruh tukang perahu menghentikan perahunya.
Mereka dapat mencoba untuk memancing ikan, menggunakan alat pancing milik tukang perahu dan betapa senangnya hati Sian Li kalau ia berhasil mendapatkan seekor ikan.
Mereka membakar ikan hasil pancingan mereka, makan ikan dengan arak ringan yang membuat dua orang muda itu merasa gembira sekali, Apalagi kalau bulan sudah muncul.
Duduk di kepala perahu sambil makan ikan bakar, bercakap-cakap di bawah sinar bulan purnama, dihembus angin malam yang lembut, bau daun ilalang di sekitar pantai, dan perahu bergoyang lembut seolah-olah membuat mereka seperti diayun-ayun, sungguh amat menyenangkan.
Dia romantis sekali.
Keadaan dan suasana itulah yang membuat sinar mata Sian Lun ketika dia memandang wajah sumoinya yang tertimpa sinar bulan, lain daripada biasanya.
Ketika mendadak suhengnya yang tadi bercakap-cakap dengan gembira itu kini diam saja, Sian Li merasakan suatu perubahan pada suhengnya yang membuatnya menatap wajah suhengnya.
Dan diam-diam ia terkejut.
Suhengnya memandang kepada-nya dengan aneh!
Sinar mata suhengnya itu!
Seolah-olah mata itu dengan lembutnya membelainya, kemudian berusaha untuk menjenguk isi hatinya.
Dan pandang mata itu mengandung sesuatu yang membuat jantungnya berdebar aneh, sepasang mata itu tak pernah berkedip.
"Heii, Suheng! Apa-apaan sih engkau ini?"
Teriaknya untuk menekan guncangan hatinya sendiri, memecahkan suasana yang membuatnya canggung itu.
"Kenapa, Sumoi?"
Kata Sian Lun dan suaranya pun berubah bagi Sian Li. Suara itu demikian lembut, seperti mengelusnya dan keluar dari dalam dada.
"Suheng, kenapa engkau memandangku seperti itu?"
Tegurnya.
Mereka dapat bicara dengan bebas karena tukang perahu telah tidur di tepi sungai, menggulung dirinya dalam selimutnya yang tebal.
Dalam keadaan masih terpesona, seperti tersihir oleh wajah yang nampak cantik jelita luar biasa ketika bermandikan sinar bulan itu.
Sian Lun masih belum sadar dan dia menjawab dengan suara penuh kagum dan penuh kasih sayang.
"Engkau... engkau begitu cantik jelita..."
Dalam keadaan biasa, pujian dari suhengnya itu tentu akan membuat Sian Li tertawa geli, akan tetapi sekarang, sigar mata suhengnya membuat wajahnya menjadi merah sekali ketika mendengar pujian itu.
Akan tetapi ia memaksa diri menekan perasaan aneh, rasa senang gembira dan bangga, dan ia pun memaksa diri untuk tertawa.
Ia membayangkan dirinya dan suhengnya yang telah berlatih bersama, bermain bersama sejak ia berusia dua belas tahun, ketika ia masih kanak-kanak, dan tiba-tiba suhengnya yang biasanya selalu bersikap sopan dan serius kepadanya, kini memuji kecantikannya.
Lucu!
"Hi-hi-hik, heh-heh....
kau lucu, suheng!
Kenapa mendadak saja engkau seperti ini?
Jangan-jangan engkau kemasukan setan sungai ini yang kabarnya keramat?
Kalau mau mengagumi kecantikan, tengoklah ke atas.
Lihat, bulan itulah yang cantik jelita penuh senyum."
Akan tetapi ucapan yang penuh kelakar itu tidak cukup kuat untuk menyeret Sian Lun turun kembali ke dalam keadaan seperti biasa yang wajar.
Dia masih terpesona!
"Tidak, Sumoi.
Kecantikan Sang Bulan tidak dapat disamakan dengan kecantikanmu!
Kecantikan bulan itu mati, akan tetapi engkau....
aih, Sumoi, tidak ada wanita di seluruh dunia ini yang dapat menyamai kecantikanmu!"
Kalau tadi Sian Li masih tersenyum-senyum manis, kini senyumnya menghilang dan alisnya berkerut khawatir.
Namun bagi Sian Lun, seperti juga semua laki-laki yang sudah jatuh cinta, perubahan wajah gadis itu sama sekali tidak mengubah hasil pandangannya.
Tersenyum tertawa, merengut atau menangis atau marah-marah, tetap saja cantik jelita!
Bagi hati yang sedang tergila-gila oleh cinta, wajah yang cemberut bahkan bertambah manis!
Sebaliknya, bagi hati yang diracuni benci, wajah yang tersenyum dianggap mengejek dan menyebalkan!
"Suheng, sadarlah!
Kita sudah bergaul sejak aku kecil, kita biasa berlatih bersama, bermain bersama.
Kenapa sekarang engkau bersikap begini?
Mengerikan!
Hentikan kelakarmu ini, atau aku akan benar-benar marah, Suheng!"
Katanya dan untuk menyadarkan suhengnya.
Sian Li memegang lengan pemuda itu dan mengguncang-nya agak keras.
Sian Lun baru menyadari ketidakwajaran sikapnya.
Dia menarik napas panjang seperti orang mengeluh.
"Maaf, Sumoi, maafkan sikapku tadi.... akan tetapi.... aku seperti mabok, Sumoi. Mabok oleh apa yang kulihat malam ini. Wajahmu disinari bulan purnama, rambutmu, matamu, hidung dan bibirmu.... ah, engkau memang cantik jelita, sumoi dan aku.... aku tak dapat menahan lagi rahasia hatiku, aku cinta padamu, Sumoi, aku cinta padamu...."
Sepasang mata yang indah itu terbelalak, pipi yang tadi kemerahan itu mendadak menjadi pucat, lalu merah lagi dan tiba-tiba saja Sian Li menggerakkan ke dua tangannya mendorong kedua pundak Sian Lun.
Pemuda itu terkejut, tidak mampu mengelak atau menangkis, dan tubuhnya terjengkang keluar dari perahu.
"Byuurrr....!"
Air muncrat tinggi dan tubuh Sian Lun tenggelam!
Tak lama kemudian, pemuda itu muncul kembali dan gelagapan.
Sian Lun bukan tak pandai renang, akan tetapi dia tadi terlampau kaget ketika tubuhnya didorong sumoinya keluar dari perahu, dan kini dia pun harus melawan arus air, kembali ke perahu.
"Peganglah ini!"
Kata Sian Li yang sudah menjulurkan dayung ke arah pemuda itu.
Setelah tadi mendorong tubuh suhengya sehingga terjatuh ke dalam air di luar perahu, Sian Li baru menyesali perbuatannya, dan melihat pemuda itu gelagapan, ia lalu menyambar dayung dsn menolong-nya naik.
Sian Lun naik ke perahu dengan pakaian basah kuyup, juga rambutnya basah kuyup.
Mereka berdiri berhadapan di kepala perahu, saling pandang.
Sian Li marasa kasihan juga melihat suhengnya yang basah kuyup dan nampak bersedih.
"Maafkan aku, Sumoi,"
Kata Sian Lun lirih. Hemmm, sudah didorong ke dalam air, malah minta maaf. Sian Li merasa semakin menyesal.
"Habis, engkau sih, Suheng, yang aneh-aneh. Aku tidak suka melihat dan mendengar engkau seperti tadi! Engkau Suhengku, kuanggap seperti kakak sendiri, dan aku.... aku masih terlalu muda untuk memikirkan soal cinta. Jangan sebut-sebut lagi soal itu. Dan kau juga maafkan aku yang tadi mendorongmu karena marah."
Sian Lun menundukkan mukanya.
Didorong ke air oleh Sian Li bukan apa-apa, Biar didorong seratus kali dia mau asal gadis yang membuatnya tergila-gila itu suka menerima cintanya.
Yang membuat hatinya terasa sedih sekali adalah ucapan sumoinya tadi.
Sumoinya tidak mau bicara tentang cinta dan menganggap dia seperti kakak sendiri!
Dia menundukkan mukanya dan memasuki bilik perahu untuk bertukar pakaian kering.
Sian Li memandang ke arah kain tirai yang menutup pintu bilik dengan hati iba.
Akan tetapi ia tidak berbohong dengan ucapannya tadi.
Selama ini ia menyayang Sian Lun sebagai suheng, atau sebagai kakak sendiri, sama sekali tak pernah terbayangkan memandang suhengnya itu sebagai seorang kekasih, sebagai seorang calon suami!
Lucu dan aneh rasanya kalau ia harus menjadi isteri suhengnya!
Ketika Sian Li sedang melamun, tiba-tiba perahu itu terguncang.
Ia terkejut dan menengok.
"Heiiii....!"
Teriaknya ketika melihat ada dua orang berpakaian hitam tiba-tiba saja meloncat dari air ke atas perahunya, dan sebuah perahu meluncur cepat menuju ke situ.
Tahulah ia bahwa ada orang jahat yang hendak mengganggunya, maka cepat ia menyambut kedua orang itu dengan serangan kakinya yang melakukan tendangan beruntun.
Tendangan-tendangan kaki Si Bangau Merah Tan Sian Li tidak boleh disamakan dengan tendangan kaki seorang gadis berusia tujuh belas tahun yang biasa saja.
Tendangan itu selain amat cepat datangnya, juga mengandung tenaga sin-kang, karena gerakan itu adalah menurut ilmu tendang sakti Soan-hong-twi (Tendangan Angin Puyuh) yang dipelajarinya dari Suma Ceng Liong!
Dua orang berpakaian hitam yang basah kuyup itu tidak sempat mengelak, hanya mampu menggerak-kan lengan menangkis sambil mengerahkan tenaga mereka.
"Dukk! Plakk!"
Tangkisan mereka yang disertai tenaga itu bahkan membuat tendangan itu semakin ampuh.
Tubuh mereka terlempar sampai beberapa meter dan mereka pun terjatuh ke air kembali.
Air muncrat lebih tinggi daripada ketika Sian Lun tercebur tadi!
Akan tetapi, dari tepi perahu yang lain telah berloncatan empat orang berpakaian hitam yang lain lagi.
Mereka membawa golok dan mereka sudah menerjang Sian Li dari belakang.
Gadis itu mendengar sambaran golok dan tubuhnya mencelat ke atas, berjungkir balik tiga kali dan ketika tubuhnya turun, ia telah meluncur dengan kepala di bawah, didahului sebatang pedang yang tadi sudah dibawanya loncat dan dicabut ketika tubuhnya berjungkir balik.
Sinar pedangnya meluncur dan menyambar ke arah tiga orang penyerangnya tadi.
Gerakannya bagaikan seekor burung bangau merah melayang turun dan paruh yang runcing di bawah, siap untuk mematuk!
Akan tetapi tiga orang itu ternyata lihai juga.
Mereka memutar golok untuk melindungi diri dari sinar pedang yang menyambar bagaikan kilat itu.
"Trang-trang-trang....!"
Karena tiga kali beradu senjata selagi tubuhnya masih di udara, terpaksa Sian Li berjungkir balik lagi agar jangan sampai terbanting jatuh.
Ia dapat turun ke atas perahu, akan tetapi terhuyung karena perahu itu terguncang oleh tenaga tiga orang itu.
Dan tiga orang itu, yang agaknya lebih biasa di atas perahu, yang bergoyang-goyang, sudah menerjang maju!
Tiba-tiba, Sian Lun yang sudah berganti pakaian dan mendengar suara gaduh di luar bilik perahu, sudah meloncat dan dengan pedang diputar dia menghadang terjangan tiga orang itu.
Terdengar bunyi berdentangan dan bunga api barpijar ketika pedang di tangan Sian Lun bertemu dengan tiga batang golok para pengeroyok yang ternyata cukup lihai itu.
Dan Sian Li tidak dapat membantu Sian Lun karena pada saat itu, dua orang lagi sudah meloncat naik dan mengeroyok Sian Li dengan golok mereka.
"Pendeta-pendeta busuk, munafik, jahat....!"
Sian Li marah sekali dan sambil memaki-maki, pedangnya digerakkan dengan dahsyat, membuat kedua orang pengeroyoknya itu terdesak.
Akan tetapi, pada saat itu, perahu berguncang keras dan miring!
Sian Lun masih sempat meloncat ke tepi sungai, akan tetapi Sian Li tidak sempat lagi kerena selain kedua orang lawannya sudah menyergapnya lagi selagi perahu miring dan hampir terbalik, juga dara ini berada di sisi perahu yang tiba-tiba miring ke bawah.
Ia mencoba untuk mempertahankan keseimbangan tubuhnya, akan tetapi dua batang golok menyambar kakinya.
Terpaksa Sian Li meloncat dan tak dapat dihindarkan lagi, ia tercebur ke dalam air!
Kepandaian Sian Li di air hanya biasa-biasa saja, hanya sekedar dapat berenang dan tidak sampai tenggelam, maka ketika dua orang penjahat yang sudah biasa bermain di air menyelam dan memegangi kedua kakinya, gadis ini tidak berdaya, meronta dan gelagapan sehingga akhirnya ia tertawan, kedua tangannya dibelenggu ke bela-kang dan ia diseret ke tepi sungai oleh empat orang!
Sementara itu, Sian Lun yang berhasil melompat ke daratan dan tidak sampat tercebur, masih dikepung oleh tiga orang lawan yang cukup tangguh.
Pemuda ini mengamuk dan sukarlah bagi tiga orang itu untuk mampu mendesaknya.
Akan tetapi ketika Sian Lun melihat becapa sumoinya tertawan, dia menjadi khawatir sekali dan juga marah.
"Lepaskan ia!"
Bentak-nya dan tiba-tiba saja tubuhnya sudah mencelat ke atas dan dia sudsh meninggalkan tiga orang pengepungnya, Langsung saja dia menyambar ke arah empat orang yang menawan Sian Li!
pedangnya diputar dan empat orang itu terkejut, cepat mereka menggerakkan golok untuk menangkis, lalu mengepung Sian Lun, Pemuda ini nekat.
Dia harus dapat menyelamatkan sumoinya.
Gerakan pedangnya amat hebat karena pemuda yang sudah marah dan nekat ini sudah memainkan Ilmu Pedang Koai-liong-kiam (Ilmu Pedang Naga Siluman) yang dipelajarinya dari subonya (ibu gurunya).
Pedangnya seperti berubah menjadi seekor naga mengamuk dan desing pedang seperti auman naga.
Empat orang lawannya terkejut dan terpaksa mundur berpencar.
Kesempatan itu dipergunakan oleh Sian Lun untuk mendekati sumoinya dan sekali menggerakkan pedang, tali pengikat pergelangan kedua tangan Sian Li terbabat putus.
"Awas, Suheng....!"
Teriak Sian Li ketika melihat betapa empat orang itu, ditambah tiga orang lagi, serentak menyerang Sian Lun dari belakang dan kanan kiri!
Sian Lun membalik sambil memutar pedang-nya, dan Sian Li menerjang orang yang merampas pedangnya dengan sebuah tendangan ke arah tangan yang memegang golok, dilanjutkan, tubrukan ke depan untuk merampas kembali pedangnya yang dipegang tangan kiri orang itu.
Tubrukannya berhasil ketika orang itu mengelak ke samping, dan di lain saat pedang itu telah dirampasnya kembali.
Akan tetapi, ketika Sian Lun menangkis, terlampau banyak golok menyerangnya sehingga sebuah di antara golok yang menyerangnya, ketika ditangkis putaran pedangnya, masih sempat melukai pundak kirinya sehingga baju di bagian pundak itu terobek berikut kulit pundak yang terluka dan berdarah.
"Suheng, kau terluka?"
Teriak Sian Li sambil memutar pedang membantu suhengnya.
"Tidak mengapa. Kita basmi manusia-manusia busuk ini!"
Bentak Sian Lun yang sudah marah sekali dan dengan penuh semangat dia juga memutar pedangnya, menyerang dengan dahsyat.
Kedua orang kakak beradik seperguruan itu mempergunakan ilmu-ilmu pedang yang amat hebat.
Sian Lun tetap memainkan Ilmu pedang Naga Siluman, sedangkan Sian Li kini memainkan Ilmu Pedang Suling Emas seperti yang ia pelajari dari neneknya, Kam Bi Eng!
Dua macam ilmu pedang ini memang merupakan ilmu-ilmu pedang yang dahsyat, dan Nenek Kam Bi Eng telah mewarisi ilmu-ilmu itu dari ayahnya, Kam Hong yang telah menggabungkan kedua ilmu itu menjadi satu.
Maka, ketika kedua orang muda ini memainkan dua macam ilmu itu, mereka merupakan pasangan yang amat kuat sehingga tujuh orang pengeroyok mereka kewalahan dan mereka pun berloncatan ke belakang dan melarikan diri ke dalam hutan gelap di tepi sungai.
"Jahanam, kalian hendak lari ke mana?"
Sian Lun melompat dan melakukan pengejaran.
"Suheng, jangan kejar!"
Sian Li berseru, akan tetapi suhengnya sudah berlari cepat dan tidak mau berhenti.
"Suheng, berbahaya kalau mengejar mereka!"
Kembali Sian Li berteriak.
Karena Sian Lun tidak menanggapi dan terus berlari, terpaksa ia pun berlari mengejar dengan hati khawatir sekali.
Hutan itu gelap dan cahaya bulan hanya menjadi sinar suram muram yang memasuki celah-celah daun dan ranting.
Makin gelap saja dan akhirnya Sian Li menjadi bingung karena ia kehilangan jejak tujuh orang itu, juga kehilangan jejak suhengnya.
Tadi ia masih dapat mendengar suara kaki mereka menginjak daun kering.
Akan tetapi kini, di sekelilingnya sunyi dan ia, tidak tahu harus mengejar ke mana.
Dengan hati-hati ia berjalan ke sana sini, berkeliaran tanpa arah di dalam hutan yang lebat itu, mengerahkan kekuatan mata dan telinga untuk mencari kembali jejak mereka.
Namun, usahanya sia-sia, bahkan untuk kembali ke tepi sungai tempat perahu tadi pun ia sudah tidak mengenal jalan lagi!
Terpaksa Sian Li menunggu sampai pagi.
Tidak lama ia menanti karena tak lama kemudian, sinar bulan semakin muram, sinar matahari mulai membakar langit di timur.
Setelah cuaca tidak gelap lagi, sudah remang-remang, Sian Li bangkit dari bawah pohon dan melanjut-kan pencariannya.
Ia merasa khawatir sekali.
Tiba-tiba ia mendengar teriakan suhengnya.
"Sumoi, pergilah jauh-jauh jangan ke sini!"
Mendengar suara ini, tentu saja Sian Li terkejut bukan main.
Ia seorang gadis yang cerdik, maka seruan suhengnya itu membuat ia sejenak termangu.
Ia tahu bahwa suhengnya tentu berada dalam bahaya, Dan suhengnya tidak menghendaki ia mendekat karena tentu ada bahaya mengancamnya pula kalau ia men-dekat!
Akan tetapi, bagaimana mungkin ia membiarkan saja suhengnya terancam bahaya?
Bagaimana mungkin ia pergi menjauh hanya karena ada bahaya mengancamnya setelah ia tahu bahwa suhengnya dalam bahaya?
Tidak, ia harus menolong suhengnya.
Terbayang ketika tadi dengan nekat dan mati-matian suhengnya menolongnya ketika ia tertawan, bahkan suhengnya sampai mengorbankan dirinya dan terluka pundak kirinya untuk menyelamatkan dirinya.
Ia harus menolong suhengnya, biarlah ia akan menghadapi bahaya apa pun!
Setelah mengambil keputusan tetap, dengan hati-hati namun cepat sekali Sian Li mempergunakan gin-kang (ilmu meringankan tubuh) dan berlari seperti terbang menuju ke arah suara tadi.
Suhengnya hanya mengeluarkan kalimat itu saja lalu keadaan kembali sunyi sehingga tentu saja hatinya menjadi semakin gelisah, meng-khawatirkan suhengnya.
Ia tidak berani memanggil, karena kalau ada musuh di sana, tentu akan dapat mendengar suaranya.
Kalau ia ingin menolong suhengnya, ia harus dapat mendekati tempat suhengnya itu dengan diam-diam dan tersembunyi.
Ia harus melihat keadaan dulu sebelum turun tangan.
Akan tetapi, betapa kagetnya ketika ia melihat dari balik batang pohon yang besar, suhengnya telah terbelenggu di bawah sebatang pohon besar, diikat pada pohon itu dan agaknya suhengnya pingsan atau tertotok karena lehernya terkulai dan kepalanya menunduk dalam.
Tali yang amat kuat membelit tubuhnya dari kaki ke dada, kedua lengan ke belakang, dan diikat kepada batang pohon itu!
Tidak nam-pak orang lain di sana!
Menurutkan dorongan hatinya, tentu saja ia ingin sekali melompat mendekati suhengnya dan membebaskannya dari ikatan itu, akan tetapi kecerdikannya membuat ia berpikir sebelum bergerak.
Mustahil kalau suhengnya ditangkap, dibelenggu lalu ditinggalkan saja di situ tanpa penjagaan, Tempat itu begitu sunyi, seolah tidak ada orang lain kcuali suhengnya.
Mustahil!
Ini tentu sebuah perangkap, sebuah jebakan, ia membayangkan, jebakan apa yang mungkin dipasang oleh pihak musuh.
Mereka dapat bersembunyi di balik pohon-pohon dan semak-semak, siap dengan anak panah atau senjata rahasia di tangan.
Kalau ia menghampiri suhengnya, tentu mereka akan menghujanan anak panah atau senjata rahasia.
Akan tetapi tidak mungkin, pikirnya.
Kalau mereka ingin membunuhnya, kenapa suhengnya yang sudah tertawan itu dibiarkan hidup?
Mereka tentu memasang jebakan untuk menangkapnya hidup-hidup atau jebakan atau perangkap apa yang mungkin mereka pasang?
Sebuah lubang di dekat tempat suhengnya diikat?
Lubang yang dtutupi rumput agar ia terjeblos ke dalam lubang kalau menghampiri suhengnya?
Atau mereka akan keluar dan mengepung tempat itu?
Sian Li mendapatkan perasaan yang aneh sekali.
Ia merasa seperti menjadi harimau yang dipancing dengan umpan!
Suhengnya menjadi kambingnya yang diikat di sana, untuk memancing munculnya Sang Harimau.
Apa pun yang akan terjadi, bagaimana nanti sajalah!
Yang paling penting, ia harus menolong suhengnya!
Ia akan berhati-hati, menjaga segala kemungkinan.
Ia akan memperhatikan sekelilingnya, juga memperhatikan tanah yang diinjaknya!
Dengan pedang terhunus di tangan kanan, dan sebatang tongkat dari cabang pohon yang dipatahkannya, ia melangkah keluar dari balik pohon, dengan hati-hati ia melangkah maju, mempergunakan tongkat yang dua meter panjangnya itu untuk meraba-raba dan menusuk-nusuk tanah di depannya sebelum ia melangkah.
Ia maju selangkah demi selangkah, tongkatnya meneliti tanah yang akan diinjak, matanya waspada meneliti keadaan sekeliling sehingga kalau ada ancaman datang dari sekelilingnya, ia tidak akan mudah dibokong.
Tinggal kurang lebih sepuluh meter lagi dari tempat Sian Lun diikat pada batang pohon.
Tiba-tiba ia berhenti melangkah.
Ujung tongkatnya menembus lapisan rumput!
Di bawah rumput itu ada lubang!
Ia menyelidiki dengan ujung tongkatnya.
Ada lubang bundar yang garis tengahnya tidak kurang dari satu setengah meter!
Lubang yang ditutup lapisan rumput.
Kalau ia melangkah atau berlari di atas lapisan rumput, tentu ia akan terjeblos ke bawah.
Tepat seperti yang diduganya!
Dengan pengerahan tenaga pada tongkatnya, ia mencokel lapisan rumput itu sampai lapisan penutup lubang itu terbuka semua!
Kini nampaklah lubang itu, yang dalamnya tidak kurang dari tiga meter!
Sekali terjeblos ke dalamnya, tentu ia akan sukar meloloskan diri, karena tentu mereka akan mengepung lubang dan mencegah ia melompat keluar lagi.
Sian Li tersenyum.
Untung ia bersikap hati-hati.
Dengan ujung tongkat terus meraba, ia melangkah lagi mengitari lubang dan tiba di depan suhengnya tanpa ada rintangan lain.
Agaknya hanya lubang itulah perangkap yang dipasang musuh.
Sekarang ia harus cepat membebaskan suhengnya.
"Suheng....!"
Ia mengguncang pundak suhengnya.
Akan tetapi suhengnya tetap lemas seperti tidur, atau pingsan, atau tertotok.
Ia harus lebih dulu melepaskan ikatan itu kalau ingin membebaskan suhengnya dari totokan.
Totokan yang melenyapkan semua tenaga itu harus dibebaskan dengan totokan dan urutan pada punggung, di pusat tenaga tengah pinggang.
Dengan pedangnya, Sian Li lalu membikin putus semua tali pengikat tubuh suhengnya.
Ia harus merangkul suhengnya agar tidak sampai tubuh itu terkulai jatuh.
Dan pada saat ia merangkul suhengnya itulah jala itu jatuh dari atas pohon!
Jala yang lebar, yang siap di atas pohon dan tali-talinya dipegangi beberapa orang yang tersembunyi.
Tali-tali dilepas dan jala itu pun jatuh menyelimuti Sian Li dan Sian Lun!
Sian Li terkejut bukan main.
Ia tidak menyangka akan datang serangan dari atas.
Ada beberapa hal yang membuat dara perkasa ini tidak dapat menghindarkan diri dari serangan jala.
Pertama, perhatiannya hanya ditujukan kepada suhengnya dan sekelilingnya.
Ke dua, baru saja ia menemukan perangkap lubang tertutup lapisan rumput itu sehingga ia menganggap telah terbebas dari ancaman bahaya jebakan dan membuatnya menjadi lengah, Dan ke tiga terutama sekali karena ia sedang merangkul suhengnya yang lemas untuk mencegah tubuh yang lemas itu terkulai jatuh.
Sian Li mencoba untuk melepaskan diri, meronta-ronta, akan tetapi segera muncul tujuh orang berpakaian hitam-hitam itu dan tali-tali jala ditarik semakin kuat sehingga ia dan suhengnya terbelit dan terbungkus jala menjadi satu sampai ia tidak mampu bergerak lagi.
Dengan mudah saja orang-orang berpakaian hitam itu meringkusnya dan mengikat tangan dan kakinya sebelum ia dikeluarkan dari dalam selimutan jala, demikian pula kaki dan tangan Sian Lun diikat pula.
Kemudian, sambil tertawa-tawa tujuh orang itu menaikkan tubuh kedua orang muda itu ke atas punggung kuda, menelungkup dan melintang, dan dipegangi orang yang menunggang kuda, dan mereka lalu pergi dari situ menunggang kuda, menuju ke timur.
Matahari telah naik tinggi ketika rombongan tujuh orang itu berhenti di depan sebuah bangunan yang berada di puncak sebuah bukit.
Tempat itu jauh dari dusun dan nampak sunyi, walaupun di kaki bukit tadi terdapat yang ditinggali orang-orang suku Tibet dan ada pula suku Miao.
Sian Lun sadar dan begitu membuka mata dan mendapat kenyataan bahwa dia berada di punggung kuda, menelungkup dan melintang di depan seorang laki-laki tinggi besar yang menunggang kuda itu, dia tahu bahwa dia dibawa pergi dan hatinya merasa lega.
Tentu sumoinya telah mendengar teriakannya tadi sebelum dia ditotok pingsan dan sumoinya tidak mau mendekati tempat yang sudah dipasangi jebakan berbahaya itu.
Biarlah, biar dia dibunuh sekalipun, asal sumoinya selamat, dia ikut girang.
"Suheng....!"
Sian Lun me-nengok ke kiri dan terkejut bukan main.
Dia terbelalak dan tidak mampu mengeluarkan suara.
Lehernya seperti dicekik dan dadanya seperti hendak meledak.
Kiranya Sian Li juga telah tertangkap seperti dia!
Diikat kaki tangannya, ditelungkupkan di punggung kuda dan sama sekali tidak berdaya.
Sungguh celaka!
Melihat wajah suhengnya menjadi pucat dan matanya terbelalak, Sian Li tersenyum!
"Suheng, kita belum mati!"
Katanya dan ucapan ini membesarkan hatinya.
Benar juga.
Mereka masih hidup dan selama mereka masih hidup, dia tidak boleh putus asa!
Kalau mereka ditawan dan tidak dibunuh, hal itu hanya berarti bahwa para penawan mereka tidak menghendaki kematian mereka.
Sementara ini, bahaya maut masih jauh dan masih ada harapan bagi mereka berdua untuk mencari jalan membebaskan diri.
Sian Li memberi isarat dengan kedipan mata lalu memejamkan matanya, dan Sian Lun mengerti, maka dia pun tidak mau bicara lagi.
Lebih baik mengumpulkan tenaga untuk bersiap-siaga, di mana ada kesempatan mereka akan membebaskan diri.
Rombongan itu memasuki pekarangan rumah, kemudian dua orang tawanan dipanggul masuk ke dalam rumah, dibawa ke dalam sebuah ruangan.
Di dalam rumah itu terdapat belasan orang, kesemuanya berkepala gundul dan mengenakan jubah hitam.
Kiranya tempat itu merupakan sarang Hek I Lama yang menjadi orang-orang buruan pemerintah Tibet!
Sian Lun dan Sian Li dimasukkan ke dalam kamar tahanan yang berdampingan, dipisahkan dinding terali besi yang kokoh kuat.
Mereka dapat saling lihat, akan tetapi dinding pemisah itu kuat bukan main.
Juga ruangan tahanan itu mempunyai pintu besar terbuat dari besi berterali yang kokoh, dikunci dari luar.
Ketika dimasukkan ke dalam ruangan tahanan, ikatan kedua kaki mereka dilepas dan kini hanya kedua tangan mereka saja yang masih terbelenggu ke belakang.
Setidaknya, mereka dapat bergerak, dapat berdiri atau duduk.
Mereka lalu duduk bersila, mengatur pernapasan.
Sian Liberpikir.
Ia melihat bahwa tujuh orang tadi sesungguhnya juga para anggauta Lama Jubah Hitam yang menyamar, Menutupi kepala gundul mereka dangan kain hitam dan pakaian mereka juga ringkas, tidak mengenakan jubah pendeta.
Jelas bahwa ia dan suhengnya tertawan oleh para pendeta Lama jubah hitam yang menurut keterangan dipimpin oleh Lulung Lama.
Pendeta Tibet itu merupakan pimpinan golongan pendeta Lama yang tidak sah, yang dimusuhi pemerintah Tibet sendiri, dan golongan ini telah bersekutu dengan gerombolan dari Nepal yang juga merupakan pemberontak di negaranya sendiri.
Mereka itu melakukan gerakan menghasut dan mengobarkan sikap anti pemerintah Ceng di Cina, dan agaknya mereka itu hendak melakukan gerakan pemberontakan di Cina dan kini sedang menyusun kekuatan.
Semua ini ia dengar dari Gangga Dewi ketika ia masih berada di Bhutan.
Akan tetapi kenapa Lama Jubah Hitam menawan ia dan suhengnya?
"Sumoi, kau baik-baik saja?"
Tiba-tiba suara Sian Lun ini menyadarkan Sian Li dari lamunannya.
Ia mengangkat muka memandang dan suhengnya telah berdiri di dekat jeruji pemisah kamar tahanan mereka.
Kedua tangan suhengnya juga masih terbelenggu.
Ikatan itu longgar saja, akan tetapi tidak mungkin dipatahkan, karena tali untuk mengikatnya adalah dari kulit yang amat kuat, yang dapat melentur sehingga tidak dapat dibikin putus.
"Aku tidak apa-apa, Suheng. Dan mereka tidak melukaimu?"
"Tidak, hanya menotok dan membius. Bahkan lukaku di pundak tahu-tahu telah kering dan mereka obati. Sungguh aneh, apa maksud mereka itu menawan kita?"
"Aku sendiri tidak tahu, Suheng. Akan tetapi mulai sekarang, engkau harus berhati-hati dan jangan terburu nafsu, dapat menahan diri melihat keadaan. Karena engkau terburu nafsu, maka telah berlaku sembrono sehingga kita tertawan."
"Maafkan aku, Sumoi. Memang aku ceroboh, semestinya aku tidak mengejar mereka. Akan tetapi engkau.... aku berterima kasih padamu, Sumoi. Engkau telah membelaku sehingga engkau sendiri tertawan."
Melihat pandang mata suhengnya itu penuh kasih dan keharuan, Sian Li menarik napas panjang.
"Sudahlah, tidak perlu disebut-sebut lagi. Kita adalah kakak beradik seperguruan, tentu saja saling bantu dan saling bela."
Tiba-tiba Sian Li memberi isarat dengan kedipan mata dan Sian Lun menghentikan percakapan, Membalikkan badan untuk memandang ke depan kamar tahanan itu, melalui jeruji di pintu besi.
Dia menahan kemarahannya ketika melihat seorang yang amat dikenalnya, yaitu penabuh tambur murid Lulung Lama yang lihai itu!
Ingin dia memaki, akan tetapi dia takut kalau dianggap ceroboh lagi oleh sumoinya, maka dia pun diam saja, hanya memandang dengan mata penuh kebencian, dan menyerahkan saja kepada sumoinya untuk menentukan sikap dan kalau perlu bicara.
Dia sudah mendapat keterangan bahwa pemuda ini adalah murid Lulung Lama, bernama Cu Ki Bok, seorang peranakan Han Tibet.
Karena dia pernah bertanding melawan pemuda yang tinggi tegap dan gagah ini, dia tahu bahwa murid Lulung Lama ini amat lihai.
"Selamat sore, Nona Tan Sian Li dan sobat Liem Sian Lun. Selamat bertemu kembali!"
Kata Cu Ki Bok sambil tersenyum dan kini sikapnya sungguh berbeda dengan ketika dia menyamar sebagai tukang tambur itu.
Kini sikapnya riang dan ramah, matanya bersinar-sinar dan bibirnya tersenyum sedangkan pakaiannya juga pesolek sehingga membuat dia nampak makin gagah dan tampan.
"Hemm, kiranya engkau pula yang mengatur semua kecurangan ini! Cu Ki Bok, kalau engkau memang gagah, mari kita bertanding sampai seorang di antara kami menggeletak menjadi mayat, bukan melakukan pengeroyokan dan perangkap yang curang! Engkau pengecut tak tahu malu!"
Sian Li memaki-maki. Yang dimaki-maki tersenyum saja.
"Kalau saja Suhu tidak mempunyai rencana lain denganmu, tentu aku akan suka sekali menyambut tantanganmu itu, Nona dengan taruhan bahwa kalau aku kalah, engkau boleh membunuhku, akan tetapi kalau aku menang, engkau harus menjadi isteriku."
Wajah Sian Li berubah merah sekali dan matanya memancarkan cahaya berapi saking marahnya.
"Huh, tak tahu malu! Siapa sudi menjadi jodohmu?, Engkau hanya seorang peranakan Han yang sudah lupa diri, suka menjadi budak orang Tibet dan Nepal, menjadi antek pemberontak!"
"Nona, kalau bukan engkau yang bicara, tentu sudah kurobek mulutmu! Coba ingat baik-baik, kalian ini bangsa apakah, Nona Sian Li dan Sobat Sian Lun? Kalian mengaku orang Han, mengaku penduduk aseli, bahkan mengaku sebagai pendekar-pendekar yang gagah perkasa. Akan tetapi apa yang kalian lakukan untuk negara dan bangsa kita yang terjajah oleh bangsa Mancu? Aku memang memberontak terhadap penjajahan orang Mancu, aku seorang patriot, seorang pahlawan sejati! Dan kalian masih memandang rendah dan memaki aku? Padahal, dengan sikap kalian yang tidak menentang pemerintah penjajah, berarti kalian sudah menjadi antek orang Mancu yang menjajah negara dan bangsa kita!"
Setelah berkata demikian, Cu Ki Bok meninggalkan tempat itu dengan cepat.
Sian Li saling pandang dengan suhengnya, ucapan pemuda tinggi tegap peranakan Han Tibet itu tadi seperti ujung pedang yang menusuk-nusuk jantung mereka karena tepat sekali mengenai sasaran, Mereka sudah seringkali mendengar dari guru mereka, Suma Ceng Liong dan Isterinya, bahwa mereka itu kini selalu prihatin melihat betapa tanah air dan bangsa dijajah oleh bangsa Mancu.
Bahkan Suma Ceng Liong mengakui bahwa di dalam darah keluarga Suma, yaitu keluarga keturunan Pendekar Super Sakti dari Pulau Es, mengalir pula darah Mancu!
Isteri Pendekar Super Sakti Suma Han adalah wanita-wanita Mancu.
Inilah sebabnya mengapa sampai sekarang, tidak ada keturunan keluarga Suma yang menentang pemerintah Mancu.
Padahal keluarga ini terkenal sebagai keluarga para pendekar yang gagah perkasa!
Dan sekarang, pemuda peranakan Han Tibet yang menawan mereka itu telah mencela mereka.
Salahkah mereka?
Benarkah pemuda peranakan Han Tibet itu?
Sian Li menjadi bingung dan termenung.
"Sumoi, jangan dengarkan dia,"
Terdengar Sian Lun berkata.
"Pahlawan macam apa dia itu? Menggunakan orang-orang Tibet dan Nepal, menawan kita secara curang dan pengecut. Seorang gagah sejati tidak akan melakukan perbuatan seperti itu. Jelas bahwa gerombolan itu jahat seperti apa yang dikatakan Bibi Gangga Dewi, mungkin kepatriotannya itu hanya sebagai kedok saja."
Sian Li memejamkan mata.
Memang, neneknya, Gangga Dewi sudah menceritakan tentang Hek I Lama, yaitu kelompok pendeta Lama Jubah Hitam yang dipimpin oleh Lulung Lama.
Kelompok pendeta ini telah melakukan penyelewengan.
Mula-mula, Lulung Lama adalah orang pendeta Lama Jubah Merah yang memiliki kedudukan cukup tinggi di antara para pendeta Lama di Tibet.
Akan tetapi dia melakukan pelanggaran, mengganggu wanita, bahkan melakukan perbuatan rendah dengan memperkosa wanita.
Kejahatan ini diketahui dan dia tidak dapat diampuni lagi, dikeluarkan dari kelompok Lama Jubah Merah di mana dia tadinya menjadi tokoh.
Lulung Lama merasa sakit hati dan dia pun lalu membentuk keiompok sendiri dengan mengenakan Jubah Hitam.
Baru warna Jubahnya saja sudah berarti bahwa dia tidak segan melakukan perbuatan jahat seperti golongan hitam!
Dia segera diikuti oleh golongan hitam di daerah Tibet yang menjadi anak buahnya.
Kemudian, Lulung Lama berkenalan dengan Pangeran Gulam Sing, yaitu pangeran dari Nepal yang menjadi orang buruan di negaranya karena dia melakukan pemberontakan.
Pangeran Gulam Sing juga mempunyai banyak anak buah.
Kedua orang tokoh sesat itu lalu bergabung membuat kekacauan di daerah Nepal, Bhutan dan Tibet, bahkan merencanakan pemu-pukan kekuatan untuk melakukan serbuan ke timur, menentang pemerintah Mancu dan menghasut orang-orang Han untuk bersekutu dengan mereka dan memberontak terhadap pemerintah Kerajaan Mancu dengan dalih kepatriotan!
"Mungkin engkau benar, Suheng.
Bagaimanapun juga, kita harus waspada dan berhati-hati.
Cu Ki Bok itu lihai dan gurunya lebih lihai lagi.
Ditambah dengan anak buah Hek I Lama yang rata-rata memiliki kepandaian tinggi, kita berada dalam bahaya."
Tempat tahanan mereka itu tidak pernah lowong dari penjagaan di luar ruangan.
Sedikitnya ada empat orang penjaga yang berada di luar ruangan itu, kesemuanya adalah anggauta Hek I Lama dengan ciri khas mereka, yaitu kepala gundul dan jubah hitam.
Mereka tidak pernah diganggu oleh para penjaga, bahkan secara teratur mereka mendapatkan makan dan minum yang layak, dimasukkan ke dalam melalui jeruji besi oleh penjaga, di atas sebuah baki.
Ada nasi, ada sayur, dan ada air teh.
Malam tiba dan di luar kamar tahanan itu dipasangi lampu minyak.
Ada dua buah lampu yang cukup terang.
Sian Li merasa tubuhnya segar dan sehat.
Ia dan suhengnya diperlakukan dengan baik.
Bahkan sore tadi, ia mendapat kesempatan untuk mandi, bertukar pakaian.
Dia dikawal ke tempat mandi yang berada di bagian belakang, dikawal empat orang dengan todongan golok, belenggu kedua langannya dilepas dan sebagai gantinya, kaki dan tangannya dipasangi rantai yang cukup membuat ia mampu bergerak untuk mandi, dan lain-lain.
Ia tidak begitu bodoh untuk memberontak atau melarikan diri walau kaki dan tangannya dirantai, Kalau ia mau, tentu saja itu merupakan kesempatan.
Namun, ia tahu pula bahwa usahanya itu tidak akan berhasil.
Terlalu banyak lawan yang tangguh di situ, dan pula, andaikata ia mampu melarikan diri, suhengnya masih tertinggal di sana.
Setelah ia membersihkan diri dan berganti pakaian, lalu tiba giliran Sian Lun.
"Suheng, jangan membuat ulah,"
Pesannya ketika pemuda itu digiring keluar.
Dan ia girang melihat suhengnya datang lagi dengan pakaian bersih dan wajah yang segar.
Mereka harus memberi kesempatan yang lebih baik agar keduanya dapat meloloskan diri.
Selagi Sian Li duduk bersila mengatur pernapasan untuk melatih sin-kang, ia mendengar percakapan empat orang penjaga di luar kamar tahanan itu.
Ia memperhatikan.
Siapa tahu dari percakapan itu ia dapat mengumpulkan keterangan yang penting.
"Heran, kenapa kita harus bersusah payah menjaga dua orang tahanan ini siang malam dan melayani mereka seperti tamu di rumah penginapan saja? Kenapa tidak dibunuh saja mereka agar tidak merepotkan?"
Terdengar seorang di antara mereka bicara.
"Hushh, bodoh kamu! Apa tidak melihat betapa cantiknya tawanan itu?"
Kata yang lain.
"Hemm, kalau muda dan cantik, lalu kenapa? Justeru semestinya dimanfaatkan untuk hiburan kita, bukan dijadikan tamu yang hanya merepotkan saja!"
Omel suara pertama.
"Aih, engkau lancang sekali! Untung tidak terdengar Thai-losu (Guru Besar) atau Cu Kongcu (Tuan Muda Cu). Kalau terdengar bisa diketuk kepalamu!"
Tegur suara ke tiga.
"Kita senasib sependeritaan, kalau bukan dengan kalian bertiga, mana aku berani sembarangan membuka mulut? Coba siapa berani membantah sejujurnya! Bukankah keluhanku tadi juga menjadi suara hati kalian?"
Kata orang pertama.
"Sudah, kalian tidak usah ribut-ribut."
Kata suara ke empat.
"Apa kalian tidak tahu urusan? Dua orang tawanan ini adalah pendekar-pendekar Han, tentu saja diperlakukan dengan baik oleh Thai-losu. Pula, agaknya Thai-losu ingin menyenangkan hati Pangeran Gulam Sing. Mereka berdua besok pagi datang ke sini dan engkau tahu sendiri selera pangeran itu terhadap wanita cantik."
Mereka berempat berbisik-bisik sambil tertawa.
Sian Li mendengarkan dengan alis berkerut dan hatinya menjadi tegang.
Bahaya besar mengancam dirinya!
Agaknya orang yang mereka sebut Thai-losu tadi adalah Lulung Lama, dan ia akan dihadiahkan kepada seorang pangeran yang bernama Gulam Sing, seorang pangeran Nepal yang haus wanita!
Tentu saja Sian Li merasa khawatir sekali.
Jelas bahwa pada malam hari ini, Lulung Lama tidak berada di tempat itu dan agaknya besok pagi baru akan tiba.
Yang berada di situ hanya anak buah Hek I Lama dan pemuda murid Lulung Lama itu.
Kalau saja ia dan suhengnya dapat keluar dari kamar tahanan dan mematahkan rantai, tentu mereka berdua akan dapat meloloskan diri!
Akan tetapi, bagaimana caranya?
Ia melirik ke arah suhengnya dan pemuda itu pun sedang duduk bersila dan menoleh kepadanya dengan wajah gelisah.
Tentu suhengnya tadi mendengar pula percakapan di luar kamar tahanan itu dan mengkhawatirkan dirinya yang akan dihadiahkan kepada Pangeran Gulam Sing!
Malam telah larut, agaknya sudah lewat tengah malam.
Ia melihat suhengnya dengan hati-hati menghampiri pintu, lalu kedua tangan suhengnya mencoba untuk merenggangkan jeruji pintu dari baja itu, ia sendiri pun segera mencoba usaha merenggangkan jeruji pintu.
Namun sia-sia.
Jeruji pintu dari baja itu terlampau kokoh.
Tiba-tiba empat orang penjaga yang tadi masih terdengar berbisik-bisik itu nampak membuat gaduh.
Seorang di antara mereka berseru lantang.
"Siapa itu....?"
Akan tetapi, tidak ada jawaban dan suasana menjadi sunyi sekali, bahkan empat orang penjaga itu tidak terdengar lagi suaranya maupun gerakannya.
Selagi Sian Li dan Sian Lun merasa heran dan tidak mengerti apa yang sesungguhnya terjadi, nampak sesosok bayangan orang berkelebat dan dua buah lampu penerangan di luar kamar tahanan itu mendadak padam.
Kini tempat itu hanya mendapat penerangan dari sinar lampu yang agak jauh sehingga remang-remang dan tidak jelas.
Sian Li melihat sesosok bayangan hitam itu berkelebat di luar pintu kamar tahanan Sian Lun, dan orang itu, yang mengenakan caping lebar menutupi mukanya, berbisik kepada pemuda itu.
"Tak perlu bertanya-tanya. Cepat dekatkan tanganmu ke sini."
Sian Lun segera mengerti bahwa orang itu datang untuk menolongnya, maka dia pun menghampiri pintu dan mendorongkan kedua tangannya yang dibelenggu.
Terdengar suara berkeretakan dan belenggu kedua tangan Sian Lun terlepas!
Bayangan itu menyerahkan dua batang pedang kepada Sian Lun dan berkata lagi.
"Cepat bebaskan sumoimu dan kalian lari dari sini!"
Sian Lun keluar dari kamar tahanan karena daun pintunya ternyata telah dibuka dan juga kamar tahanan Sian Li telah terbuka dan juga kamar tahanan telah terbuka daun pintunya.
Dia meloncat masuk ke dalam kamar tahanan sumoinya, dengan menggunakan pedang, dia membebaskan dara itu dari belenggu.
Dapat dibayangkan betapa girang dan juga heran hati kedua orang muda ini ketika mendapat kenyataan bahwa dua batang pedang yang diserahkan oleh orang itu adalah pedang mereka sendiri yang tadi dirampas oleh para anggauta Hek I Lama!
Mereka berloncatan keluar dari kamar tahanan, memegang pedang masing-masing dan mereka mencari-cari dengan mata mereka.
Penolong tadi telah lenyap tanpa meninggalkan bekas Mereka hanya melihat empat orang penjaga di luar kamar tahanan dan empat orang ini berada dalam keadaan aneh.
Ada yang sedang duduk, ada yang berjongkok, ada yang berdiri, bahkan ada yang sedang mencabut golok dan sikapnya seperti orang hendak meloncat.
Akan tetapi mereka semua tidak bergerak dan seperti telah berubah menjadi patung!
Tahulah Sian Li dan Sian Lun bahwa mereka telah menjadi korban totokan yang amat ampuh!
Mereka tidak mempedulikan empat orang penjaga itu dan berlari keluar dari situ, menuju ke lorong dari mana mereka dapat keluar melalui taman di samping rumah untuk kemudian meloncat pagar tembok.
Akan tetapi ketika mereka sudah keluar dari rumah dan tiba di dalam taman tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan nyaring.
"Tawanan lolos! Tawanan lolos!"
"Itu mereka di taman....!"
"Kepung....!"
Sian Li dan Sian Lun melihat belasan orang yang dipimpin oleh Cu Ki Bok sendiri melakukan pengejaran!
Mereka sudah siap untuk malawan mati-matian.
Tiba-tiba di belakang mereka ada suara orang.
"Cepat kalian lari meloncat tembok, biar aku yang menahan mereka!"
Orang bercaping itu lagi!
Karena keadaan mende-sak, dua orang muda itu tidak sempat bicara lagi.
Mereka mentaati petunjuk penolong itu dan dengan cepat mereka berlari ke pagar tembok dan meloncat ke atasnya.
Ketika tiba di atas pagar tembok, Sian Li sempat menengok dan ia memandang kagum.
Penolong mereka yang bercaping itu, seorang diri dan tanpa senjata, telah berhasil menghadang belasan orang yang dipimpin oleh Cu Ki Bok yang amat lihai itu!
Tubuh Si Caping itu berkelebatan seperti seekor burung walet menyambar-nyambar dan menghala-ngi setiap orang yang hendak melakukan pengejaran!
Dan setiap orang, bahkan Cu Ki Bok sendiri, terpental ke belakang begitu dihadang dan dihalangi orang bercaping itu!
"Mari cepat, Sumoi!"
Kata suhengnya dan Sian Li terpaksa cepat meloncat keluar dan bersama suhengnya ia pun melarikan diri meninggalkan tempat itu.
Namun, penglihatan tadi tak pernah dapat dilupakan.
Betapa lihainya kepandaian orang bercaping itu!
Setelah malam berganti pagi, baru kedua kakak beradik seperguruan itu menghentikan lari mereka.
Keduanya merasa amat lelah den mereka berhenti di luar sebuah dusun, melepas lelah.
Dusun itu mulai hidup.
Penghuninya mulai meninggalkan dusun, membawa alat pertani-an untuk mulai bekerja di sawah ladang.
"Suheng, kita telah ditolong oleh orang bercaping itu...."
Kata Sian Li, terharu karena tidak mengira (Lanjut ke
Jilid 19) Si Bangau Merah (Seri ke 15 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 19 bahwa mereka akan dapat lolos sedemikian mudahnya.
"Kita berhutang budi, bahkan mungkin hutang nyawa kepada orang itu, Sumoi,"
Kata pula Sian Lun, masih tertegun.
"Siapakah dia, Suheng? Apakah engkau dapat melihat mukanya?"
Sian Lun menggeleng kepala.
"Ketika dia menolong kita, kedua buah lampu itu padam dan cuaca terlalu gelap untuk dapat mengenal mukanya. Apalagi caping lebar itu menyembunyikan mukanya. Bahkan aku tidak tahu apakah dia itu muda atau tua, laki-laki atau wanita...."
"Dia jelas laki-laki, Suheng. Suaranya berat dan tubuhnya juga tegap seperti tubuh laki-laki. Sungguh sayang keadaan tidak mengijinkan kita untuk berkenalan dengan dia, Suheng. Sungguh tidak enak rasanya diselamatkan orang tanpa mengenal dia siapa, bahkan tidak melihat wajahnya sehingga selain kita tidak tahu siapa dia, juga kalau berjumpa kita tidak akan mengenalnya."
"Sudahlah, Sumoi. Bukankah Suhu dan Subo seringkali mengatakan bahwa di dunia ini banyak terdapat orang aneh dan lihai, dan bahwa para pendekar tidak pernah mau mengikat diri dengan dendam dan budi? Dia tentu seorang pendekar aneh yang tidak mau menanam budi, maka menolong secara sembunyi dan tidak memperkenalkan diri. Kita patut bersyukur bahwa kita telah terbebas dari bahaya maut, bahkan menerima kembali pedang kita, dalam keadaan sehat. Luka di pundakku juga sudah sembuh."
"Akan tetapi buntalan pakaian kita lenyap, dan juga bekal emas permata yang amat berharga dari Nenek Gangga Dewi, dirampas penjahat-penjahat itu! Padahal, kita perlu membeli pakaian pengganti dan untuk bekal dalam perjalanan."
Sian Lun meraba-raba bajunya dan mengeluarkan beberapa potong perak, dari saku bajunya.
"Ini masih ada beberapa potong perak dalam saku bajuku. Kita masih dapat membeli makanan untuk beberapa hari lamanya. Mengenai pakaian.... wah, terpaksa sementara ini tidak bisa ganti...."
Mereka melanjutkan perjalanan.
Peta perjalanan itu pun lenyap dan mereka memasuki dusun, untuk membeli makanan dan menanyakan jalan.
Sambil membeli makanan sederhana di sebuah kedai kecil, mereka mendapat keterangan dan ternyata mereka telah meninggalkan pantai Sungai Yalu-cangpo sejauh tiga puluh mil lebih!
Dan perjalanan melalui darat ke timur amat sukar karena melalui bukit-bukit, hutan-hutan dan daerah liar, di mana terdapat banyak bahaya.
Jalan raya yang biasa dipergunakan rombongan pedagang, masih belasan li jauhnya dari situ.
Menurut keterangan penduduk dusun itu, kalau hendak melakukan perjalanan ke timur, paling aman dan paling cepat adalah melalui Sungai Yalu-cangpo, maka mereka terpaksa harus kembali ke utara sampai ke tepi sungai, mempergunakan perahu.
"Aih, kita harus kembali lagi ke tepi sungai, Suheng. Akan tetapi, setelah tiba di sana, bagaimana kita dapat menyewa perahu kalau kita tidak mempunyai bekal uang lagi?"
"Bagaimana nanti sajalah, Sumoi."
Percakapan mereka terhenti ketika seorang anak laki-laki berusia lebih empat belas tahun menghampiri mereka.
Dengan suara lirih dan logat Tibet yang asing dia berkata.
"Saya disuruh seseorang untuk menyerahkan buntalan ini kepada Jiwi (Anda Berdua)."
Anak itu menyerahkan sebuah buntalan dan melihat buntalan itu, Sian Lun meloncat kaget dan girang.
Itu adalah buntalan pakaiannya yang dirampas oleh orang-orang.
Hek I Lama!
"Siapa yang menyuruh-mu?
Di mana dia sekarang?"
Anak itu menggeleng kepala.
"Aku tidak tahu dia siapa. Seorang yang memakai caping, mukanya tidak kelihatan jelas. Dia memberi aku sekeping perak dan menyuruh aku menyerahkan buntalan ini kepada seorang nona berbangsa Han yang berpakaian merah, dan yang berada di kedai ini. Setelah menyerahkan buntalan, dia pergi."
Sian Li membuka buntalan dan memeriksa.
Masih lengkap!
Bahkan buntalan terisi emas permata pemberian Gangga Dewi juga masih lengkap berada di situ!
Hampir ia bersorak saking gembiranya.
Ia mengikat lagi buntalannya di punggung lalu berkata.
"Aku akan mencari dia!"
"Tidak perlu, Sumoi. Tidak akan bisa kau temukan. Jelas bahwa dia sengaja tidak mau memperkenalkan diri dan tentu telah pergi jauh."
Sian Li memaklumi kebenaran ucapan suhengnya.
Orang itu jelas memiliki ilmu kepandaian yang tinggi dan kalau dia tidak menghenda-ki, tidak mungkin ia dapat mengejarnya.
"Sayang sekali. Aku ingin sekali bertemu dan berkenalan dengannya, Suheng, dan mengapa pula dia menolong kita secara sembunyi dan tidak mau bertemu dengan kita."
"Tentu ada sebabnya yang dia sendiri saja mengetahuinya, Sumoi. Kelak kalau dia menghendaki, tentu kita akan dapat bertemu dengannya. Sekarang, sebaiknya kalau kita mencari dan membeli kuda agar perjalanan ke pantai dapat dilakukan lebih cepat. Juga engkau perlu membelikan pakaian pengganti untukku. Penolong kita itu agaknya hanya memperhatikanmu dan mengambilkan buntalan pakaianmu sedangkan pakaianku tidak dia ambilkan."
Sian Lun tertawa, sama sekali tidak merasa iri kepada sumoinya.
Sian Li juga tertawa, akan tetapi entah mengapa, jantungnya berdebar mendengar bahwa penolong mereka itu agaknya amat memperhatikannya!
Dengan emas yang ada pada Sian Li, mudah saja mereka membeli dua ekor kuda yang baik dengan harga mahal, kemudian mereka pun sudah meninggalkan dusun itu, menunggang kuda menuju ke tepi Sungai Yalu-cangpo.
Peta perjalanan itu pun berada di dalam buntalan Sian Li sehingga kini mereka mendapat-kan petunjuk lagi.
Perjalanan mereka ke tepi sungai itu tidak mendapat gangguan dan dari seorang nelayan mereka bahkan mendapat petunjuk baru bahwa daripada naik perahu, Lebih cepat kalau mereka menunggang kuda saja, melalui jalan setapak menyusuri tepi sungai.
Mereka menurut petunjuk ini memang benar, jalan setapak itu cukup baik untuk dilalui kuda mereka dan perjalanan dapat di lakukan lebih cepat.
Ketika mereka melewati dusun yang cukup ramai, Sian Li membelikan pakaian pengganti untuk suhengnya.
Kini mereka melakukan perjalanan berkuda dengan perbekalan yang lengkap pula.
Untuk memberi kesempatan kepada kuda mereka beristirahat.
Sian Li dan Sian Lun berhenti mengaso di tepi sungai yang ditumbuhi banyak rumput gemuk.
Mereka membiarkan kuda mereka makan rumput dan beristirahat, dan mereka pun membuka buntalan perbekalan makanan dan air bersih.
Sambil makan, mereka bercakap-cakap, membicarakan pengalaman mereka.
"Suheng, ingatkah Sugeng ketika Badhu dan Sagha bersama tiga orang Lama Jubah Hitam itu menyerang kita di rumah penginapan itu?"
"Ya, kenapa?"
"Ketika mereka mengeroyok kita, tiba-tiba mereka melepaskan senjata dan mereka melarikan diri secara aneh karena kita tidak melukai mereka."
"Hemm, dan engkau mengatakan bahwa mungkin ada dewa yang menolong kita?"
"Sekarang aku tahu siapa dewa yang menolong kita itu!"
"Eh, benarkah? Siapa dia?"
"Tentu orang bercaping itu juga!"
Sian Lun menatap wajah sumoinya, lulu mengangguk-angguk.
"Mungkin sekali dugaanmu itu benar, Sumoi, akan tetapi tidak ada artinya karena kita pun belum tahu siapa orang bercaping itu."
Sian Li menghela napas panjang.
"Suheng, kalau sampai aku tidak dapat mengetahui siapa adanya orang itu, tentu akan selalu ada penyesalan dan ganjalan dalam hatiku."
Setelah kuda mereka makan kenyang dan nampak segar kembali, mereka melanjutkan perjalanan karena menurut petunjuk dalam peta yang dibuat oleh ahli di Bhutan, tidak jauh di sebelah depan terdapat sebuah dusun besar, tepat di belokan Sungai Yalu-cangpo yang menikung ke selatan.
Dari situ, mereka akan menyeberang dan meninggalkan lembah sungai itu, melanjutkan perjalanan ke timur.
Dua orang kakak beradik seperguruan itu memasuki dusun Cam-kong di tepi Sungai Yalu-cangpo yang berbelok ke selatan.
Sebuah dusun yang ramai karena dari sinilah para pedagang yang hendak mem-bawa barang dagangan ke selatan berkumpul dan mengirim barang mereka dengan perahu.
Sedangkan para pedagang yang membawa dagangan ke timur, dan datang dari barat, membongkar barang yang mereka bawa dengan perahu di dusun ini untuk kemudian melanjutkan perjalanan rombongan mereka ke timur melalui daratan.
Karena menjadi pusat persaingan para pedagang, maka dusun itu menjadi makmur dan ramai.
Dengan mudah Sian Li dan Sian Lun mendapatkan dua buah kamar di rumah penginapan yang juga membuka rumah makan di samping rumah penginapan.
Hiruk pikuk suara orang yang tiada hentinya memuat dan membongkar barang di dusun pelabuhan itu.
Ketika mereka memasuki rumah penginapan, mengikuti seorang pelayan yang menunjukkan dua buah kamar untuk mereka, kakak beradik itu melewati sebuah ruangan duduk di mana berkumpul tujuh orang yang melihat pakaiannya tentulah pedagang-pedagang berbangsa Han.
Mereka bercakap-cakap dengan santai dan mendengar logat bicara mereka, Sian Lun dan Sian Li segera tertarik sekali karena logat Shantung, seperti logat orang-orang di tempat tinggal Kakek Suma Ceng Liong yang sudah biasa mereka dengar.
Kiranya mereka adalah pedagang-pedagang dari bagian timur sekali, dan mereka merasa seperti bertemu dengan saudara-saudara dari kampung halaman sendiri!
Memang demikianlah perasaan hati hampir setiap orang yang berada di rantau.
Kalau kita berada di rantau orang, jauh dari kampung hala-man, apalagi kalau sedang merindukan kampung halaman, Mendengar logat bicara orang sekampung rasanya seperti bertemu dengan saudara sendiri dan segera timbul keakraban dalam hati.
Dahulu kalau berada di kampung halaman sendiri, logat itu sama sekali tidak mendatangkan kesan apa pun.
Kebetulan mereka mendapatkan dua buah kamar yang tidak berjauhan dari ruangan duduk itu, maka setelah memasuki kamar masing-masing, mereka dengan pendengaran mereka yang tajam terlatih, masih dapat menangkap percakapan tujuh orang Shantung itu.
Mereka segera menaruh perhatian karena mereka membicarakan soal keamanan daerah itu dan perjalanan dari tempat itu ke timur, per-jalanan yang akan mereka tempuh.
Mereka menceritakan pengalaman masing-masing dan menyebut-nyebut tentang adanya seorang pendekar yang mereka namakan Sin-ciang Tai-hiap (Pendekar Besar Tangan Sakti).
"Kalau tidak ada pendekar itu, mungkin hari ini aku tidak dapat bertemu dengan kalian di sini,"
Terdengar seorang di antara mereka bercerita.
"Terjadinya kurang lebih sebulan yang lalu. Perampok-perampok itu sungguh tidak mengenal peraturan umum. Rombongan kami sudah bersedia untuk memberi sumbangan yang cukup memadai. Akan tetapi mereka menginginkan yang bukan-bukan, bahkan hendak menculik puteri pedagang dari selatan itu. Tentu saja kami keberatan, apalagi ketika mereka hendak mengambil semua, gulungan sutera paling halus dan paling mahal. Bisa bangkrut kami kalau menuruti kehendak mereka. Dan mereka menjadi marah, lalu mengatakan mereka akan merampas semua barang, menculik gadis itu, dan membunuh kami semua!"
"Hemm, memang sekarang mulai tidak aman. Banyak gerombolan pengacau dari berbagai aliran, ada perampok, ada bajak sungai, bahkan ada pula gerombolan pemberontak dan ada katanya pasukan keamanan sendiri malah merampok dan mengganggu kami,"
Kata orang ke dua.
"Acun, lanjutkan ceritamu tadi. Setelah rombongan diancam, lalu bagaimana?"
Kata yang lain. Orang pertama yang bernama Acun melanjutkan.
"Tentu saja kami tidak menyerah begitu saja. Tidak percuma aku pernah belajar ilmu silat di kampung, dan di antara para anggauta rombongan kami terdapat beberapa orang yang cukup jagoan. Akan tetapi, ternyata kepala perampok itu lihai sekali. Aku sendiri belum terluka, akan tetapi kawan-kawanku sudah roboh. Pada saat kepala perampok merobohkan aku dengan tendangan dan goloknya menyambar ke arah leherku muncullah Pendekar Besar Tangan Sakti itu! Hem, dia bagaikan seorang malaikat yang turun dari langit!"
"Acun, ceritakan, bagaimana sepak terjangnya?"
Yang lain-lain juga mendesak Acun untuk melanjutkan ceritanya. Bahkan Sian Li dan Sian Lun di kamar masing-masing ikut mendengaran penuh perhatian.
"Kemunculannya mentakjubkan. Sudah lama aku mendengar tentang sepak terjangnya, akan tetapi baru sekali itu aku menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Bagaikan halilintar menyambar, dia nampak sebagai bayangan yang menyambar turun dan golok di tangan kepala perampok yang lihai itu terlempar dan tubuh kepala perampok itu terlempar sampai terguling-guling. Kemudian, bagaikan kilat, bayangan itu meluncur ke sana-sini dan semua senjata para perampok yang jumlahnya belasan orang itu terlempar dan mereka pun satu demi satu terjengkang dan terbanting roboh."
"Mampus perampok-perampok itu!"
Seru seorang pendengar.
"Mampus apa? Tidaklah engkau pernah mendengar bahwa Sin-ciang Tai-hiap itu tidak pernah melukai orang, apalagi membunuh? Perampok itu tidak ada yang terluka, hanya terkejut dan ketakutan saja. Memang sayang, kalau aku yang menjadi pendekar memiliki kesaktian seperti itu, sudah kusikat habis para penjahat itu, kubasmi dan kutumpas mereka!"
Kata Acun.
"Kenapa sih memotong-motong cerita itu, Acun, lanjutkan. Apa yang dilakukan pendekar sakti yang aneh itu?"
Tanya seorang.
"Dan bagaimana macamnya? Sudah tua ataukah masih muda?"
Tanya orang ke dua.
"Seperti biasa yang kita pernah dengar, dia menghilang begitu saja dan hanya suaranya terdengar dari dalam pohon yang lebat. Dia memberi peringatan dan nasehat kepada para perampok, menyadarkan mereka dengan kata-kata lembut. Dan tidak seorang pun di antara kami dapat melihat wajahnya. Gerakannya demikian cepat dan wajahnya terlindung caping lebar itu."
Mendengar ini, Sian Li dan Sian Lun tidak dapat menahan diri lagi.
Mereka tertarik karena maklum bahwa yang dimaksudkan Acun itu tentulah pendekar yang menjadi penolong mereka.
Keduanya keluar dari dalam kamar, saling pandang lalu menghampiri tujuh orang pedagang itu.
Para pedagang itu tentu saja memandang mereka dengan heran, juga kagum melihat pemuda tampan dan gadis cantik yang menghampiri mereka itu.
Sian Li cepat mengangkat kedua tangan depan dada memberi hormat dan berkata.
"Harap Cuwi (Anda Sekalian) suka memaafkan kami. Kami mendengar cerita Cuwi dan kami tertarik sekali karena kami pun mendapat pertolongan dari seorang pendekar bercaping yang tidak memperkenalkan dirinya kepada kami."
Mendengar logat bicara Sian Li, tujuh orang itu cepat bangkit berdiri dan membalas penghormatan Sian Li dan Sian Lun.
"Aih, agaknya Kongcu dan Siocia datang dari daerah Shantung seperti kami?"
Karena datang dari satu propinsi, walaupun tempat tinggal mereka terpisah jauh, mereka segera menjadi akrab.
"Paman tadi bercerita bahwa pendekar itu bercaping?"
Tanya Sian Li. Acun yang merasa girang mendapat pendengar seorang dara demikian cantiknya, dengan bersemangat menjawab.
"Ketika menolong kami, kami hanya melihat bayangannya berkelebatan dan dia mengenakan sebuah caping lebar yang menyembunyikan mukanya."
"Bagaimana bentuk badannya, Paman Acun?"
Tanya pula Sian Li dan orang itu semakin gembira disebut paman Acun secara demikian akrabnya.
"Tubuhnya sedang dan tegap, gerakannya halus namun cepat bukan main, dan dia tidak bersenjata, akan tetapi belasan batang golok itu runtuh dengan sendirinya. Dia seperti bukan manusia!"
Kata Acun.
"Pengalamanku dengan pendekar itu pun tidak kalah hebatnya!"
Terdengar seorang yang gendut berkata.
"Aku pun mempunyai pengalaman dengan pendekar Sin-ciang Tai-hiap itu!"
Kata pula orang ke tiga.
Wanita memang sejak jaman dahulu sampai sekarang, mempunyai wibawa yang luar biasa terhadap para pria.
Sekumpulan pria, baik mereka itu sudah tua maupun masih remaja, selalu akan berubah sikap mereka apa bila kedatangan seorang wanita, apalagi yang muda dan cantik jelita seperti Sian Li.
Amat menarik kalau memperhatikan sekelompok pria yang tadinya bercakap-cakap, lalu muncul wanita di antara mereka.
Mereka itu berubah sama sekali.
Gerak-geriknya, wajahnya, lirikan matanya, senyumnya, bahkan suaranya!
Mungkin yang bersangkutan sendiri tidak merasakan hal ini, akan tetapi kalau kita memperhatikan, kita akan dapat melihat perubahan itu dengan jelas sekali.
Mengingatkan kita kepada ayam-ayam jantan kalau bertemu ayam betina.
Ada saja ulahnya untuk menarik perhatian dan berlagak!
Lucu, menarik dan mengharukan mengenal diri kita sebagai pria ini, betapa pria menjadi lemah kalau sudah berhadapan dengan wanita.
Perbedaan dalam tingkah laku mungkin hanya tergantung dari watak masing-masing saja, ada yang nampak sekali, ada yang muncul lagak yang kurang ajar, ada yang pendiam.
Namun perubahan itu pasti ada, bahkan yang nampak acuh pun dibuat-buat dan tidak wajar.
Bermacam-macam pengalaman mereka akan tetapi pada dasarnya, mengenai Sin-ciang Tai-hiap, mereka mempunyai pengalaman yang sama.
Pendekar itu sama sekali tidak pernah dapat dikenal wajahnya, kalau turun tangan menolong orang dan menghadapi penjahat, dia bertindak cepat sekali tanpa memperlihatkan wajah, apalagi memperkenalkan nama.
Wajahnya kadang ditutup caping lebar, kadang juga tidak.
Dan yang aneh sekali, tidak pernah dia membunuh penjahat, bahkan melukai parah pun tidak pernah.
Semua penjahat diampuninya, diberi nasihat.
"Bagaimana mungkin dia akan berhasil,"
Kata Sian Lun.
"Penjahat harus dihadapi dengan kekerasan! Kalau hanya diampuni dan diberi nasihat, bagaimana mereka akan dapat sadar dan menjadi baik?"
"Belum tentu, Kongcu!"
Kata seorang di antara mereka, seorang pria tinggi kurus yang berusia enam puluh tahun.
"Biar dihadapi dengan kekerasan sekalipun, dihukum berat, belum tentu juga penjahat akan menjadi baik! Dan buktinya, menurut kabar dan ada pula kusaksikan sendiri, banyak penjahat menjadi baik dan sembuh dari penyakitnya yang membuat dia jahat setelah dia bertemu dengan Sin-ciang Tai-hiap dan mendapat nasihat dari pendekar aneh itu."
"Paman Liok, ceritakan pengalamanmu itu!"
Seorang di antara mereka berseru.
"Benar, Paman. Ceritakanlah, aku ingin sekali mendengarnya,"
Kata pula Sian Li. Tanpa diminta oleh gadis itu pun, dengan penuh gairah Kakek Liok memang ingin sekali bercerita agar dia menjadi pusat perhatian.
"Di perbatasan Secuan ada seorang penjahat besar yang biasa melakukan kejahatan apa pun tanpa mengenal takut. Dia mempunyai belasan orang anak buah. Aku sudah mendengar tentang kejahatan penjahat berjuluk Pek-mau-kwi (Iblis Rambut Putih) itu, yang usianya baru empat puluh tahun akan tetapi rambutnya sudah putih semua, Maka ketika aku melakukan perjalanan lewat daerah itu, aku memperkuat rombonganku dengan sepasukan piauw-su (pengawal) bangsa Miao yang terkenal gagah, berjumlah dua puluh orang. Akan tetapi, tetap saja di tengah jalan kami dihadang oleh gerombolan perampok yang dipimpin Pek-mau-kwi itu! Seperti biasa kalau bertemu dengan gerombolan perampok, kami juga sudah menawarkan sumbangan atau yang biasa disebut pajak jalan. Akan tetapi, berapa pun yang kami tawarkan, Pek-mau-kwi tidak mau menerimanya dan menghendaki kami menyerahkan setengah dari semua barang bawaan kami. Terjadilah pertempuran dan biarpun jumlah kami lebih banyak, tetap saja kami kewalahan. Agaknya kami tentu akan menjadi korban dan terbunuh semua kalau tidak muncul Sin-ciang Tai-hiap!"
"Dia juga bercaping, Paman?"
Tanya Sian Li, membayangkan orang bercaping yang pernah menolong ia dan suhengnya.
"Pendekar itu tidak bercaping, akan tetapi karena gerakannya cepat sekali dan rambutnya panjang riap-riapan menutupi mukanya, kami pun tidak mungkin dapat mengenali mukanya. Dia berkelebatan merobohkan semua perampok, bahkan ketika dia meloncat pergi, dia mengempit tubuh Pek-mau-kwi dan membawanya lenyap! Semua anak buah perampok lari ketakutan dan kami pun selamat."
"Lalu bagaimana dengan Pek-mau-kwi itu dan bagaimana Paman tahu bahwa nasihat dari pendekar itu berhasil?"
Tanya Sian Lun, tertarik sekali.
"Tidak ada yang tahu bagaimana nasib Pek-mau-kwi. Akan tetapi ketika beberapa bulan kemudian aku lewat di daerah itu, aku mendengar bahwa Pek-mau-kwi sudah cuci tangan, tidak lagi menjadi perampok, melainkan sekarang membuka perguruan silat dan hidup dari hasil pembayaran para muridnya. Aku mendengar bahwa dia menjadi orang baik dan tidak pernah lagi melakukan kejahatan. Bukankah itu hasil nasihat dari pendekar sakti itu?"
"Dan bagaimana pengalamannya dengan pendekar itu?"
Tanya Sian Li.
"Kabarnya, dia tidak pernah mau menceritakan kepada siapapun juga. Entah apa yang terjadi ketika dia ditangkap dan dilarikan Sin-ciang Tai-hiap."
Sian Li dan Sian Lun merasa semakin tertarik, apalagi karena mereka sendiri berhutang budi, bahkan nyawa kepada pendekar itu.
"Apakah di antara Cuwi (Anda Sekalian) ada yang mengetahui siapakah nama Sin-ciang Tai-hiap itu?"
Semua orang yang berada di situ menggeleng kepala.
Tidak pernah ada yang mendengar siapa nama pendekar aneh itu.
Jangankan namanya, wajahnya pun belum pernah dikenal orang karena sepak terjangnya cepat dan penuh rahasia.
Menurut cerita para pedagang yang sudah bertahun-tahun menjelajahi daerah itu untuk berdagang, nama Sin-ciang Tai-hiap baru muncul sekitar tiga empat tahun yang lalu.
Sebelum itu, tidak pernah ada orang mengenal nama julukan ini yang timbulnya juga di daerah itu, nama julukan yang diberikan oleh para pedagang yang pernah mendapatkan pertolongannya.
Sebelum empat tahun yang lalu, baik di daerah barat ini maupun di timur, orang tidak pernah mendengar namanya.
Setelah mende-ngarkan semua cerita yang kadang seperti dongeng saja dari para pedagang itu tentang Sin-ciang Tai-hiap, yang ia tahu tentu dibumbui dan dilebih-lebihkan.
Sian Li ingin mendengar dari mereka tentang orang-orang yang selama ini pernah ditentangnya.
"Apakah Cuwi (Anda Sekalian) dapat menceritakan tentang perkumpulan Hek I Lama?"
Tujuh orang pedagang itu serentak berdiam diri seperti jangkerik terpijak.
Mereka bukan hanya berdiam diri tak mengeluarkan suara, akan tetapi juga wajah mereka berubah dan mereka menengok ke kanan kiri, seolah ketakutan.
"Kenapa, Paman?"
Terbawa oleh sikap mereka, Sian Li mengajukan pertanyaan ini dengan berbisik pula.
Yang ditanya menggeleng kepala, lalu mengeluarkan kertas dan alat tulis, dan menulis dengan cepat di atas kertas itu, kemudian menyodor-kannya kepada Sian Li.
Gadis itu dan suhengnya segera membaca tulisan itu.
"Jangan bicara tentang itu, mata-matanya tersebar di mana-mana. Berbahaya sekali,"
Demikian bunyi tulisan dan Sian Li saling pandang dengan suhengnya.
Sian Li mendekati laki-laki yang menulis itu sambil menyerahkan kembali kertas tadi yang segera dirobek-robek oleh penulisnya.
Gadis itu berbisik.
"Kenapa, Paman? Apakah mereka jahat dan suka mengganggu?"
Orang itu menggeleng kepala, lalu menjawab dengan suara bisik-bisik pula.
"Mereka tidak pernah mengganggu kita, sebaliknya kita pun tidak boleh mencampuri urusan mereka. Penjahat Yang paling besar pun di daerah ini tidak ada yang berani mencampuri urusan mereka, berbahaya sekali. Di mana-mana mereka mempunyai kaki tangan. Sebaiknya kita bicara tentang hal lain saja."
Agaknya tujuh orang pedagang itu sudah merasa ketakutan, maka mereka pun bubaran memasuki kamar masing-masing.
Sian Li dan Sian Lun terpaksa juga kembali ke kamar masing-masing dan tidur.
Malam itu Sian Li bermimpi bertemu dengan pendekar bercaping karena sebelum pulas tiada hentinya ia mengenang pendekar yang amat mengagumkn hatinya itu.
Kini ia membenarkan akan cerita orang tuanya, juga Kakek Suma Ceng Liong bahwa di empat penjuru dunia penuh dengan orang-orang pandai, oleh karena itu, mereka berpesan agar ia tidak mengagungkan dan menyombongkan diri dan kepandaian sendiri.
Kini ternyatalah bahwa di daerah barat yang dianggapnya masih liar bahkan belum beradab itu terdapat pula orang sakti yang aneh, yang membuatnya kagum bukan main.
Pada keesokan harinya, setelah mandi dan sarapan pagi, ketika Sian Li dan Sian Lun sudah bersiap-siap meninggalkan rumah penginapan dan melanjutkan perjalanan, seorang laki-laki menghampiri mereka dan dengan sikap hormat dia menyerahkan sesampul surat kepada mereka.
Setelah sampul surat itu diterima Sian Li, pembawa surat itu memberi hormat dan pergi.
Sian Li cepat membuka sampul dan bersama Sian Lun mereka membaca surat yang ditulis dengan huruf-huruf yang gagah dan indah itu.."Harap Liem Tahiap dan Tan Lihiap suka memaafkan sikap anak buah kami.
Karena belum saling mengenal dengan baik maka terjadi kesalahpahaman.
Kalau Jiwi ingin mengetahui lebih baik siapa kami, kami mengundang Jiwi untuk menghadiri pesta pertemuan antara pejuang yang kami adakan sore nanti.
Kami akan menjemput Jiwi dengan kereta.
Kami bukan golongan jahat, melainkan pejuang-pejuang.
Keselamatan Jiwi kami jamin."
Pimpinan Hek I Lama "Hemm, jangan pedulikan surat dari mereka, Sumoi.
Jelas bahwa mereka itu orang-orang jahat dan berbahaya.
Kita pun baru saja kemarin lolos dari tawanan mereka dan hari ini mereka mengundang kita sebagai tamu?
Hemm, ini pasti jebakan belaka.
Lebih baik kita berangkat pergi saja meninggalkan tempat ini, Sumoi."
"Suheng, lupakah Suheng akan nasihat dan pesan guru-guru kita? Kita memang harus berhati-hati dan waspada, akan tetapi yang terlebih penting adalah bahwa kita tidak boleh bersikap penakut! Kita harus berani menghadapi kenyataan, betapa besar pun bahayanya, bukan saja menghadapi, akan tetapi juga menanggulangi dan mengatasi. Mereka mengirim surat undangan resmi, tidak mungkin merupakan jebakan. Mereka adalah perkumpulan yang besar, kiranya tidak akan meng-gunakan cara serendah itu. Kita memang tidak perlu bersekutu dengan mereka, akan tetapi juga tidak perlu mencampuri urusan mereka dan memusuhi, kecuali kalau mereka mengganggu kita."
"Jadi bagaimana sikapmu menghadapi undangan ini?"
"Aku akan menerimanya dan menghadiri undangan itu."
"Sumoi! Ingat, hal itu berbahaya sekali. Engkau seperti mengundang datangnya bahaya!"
"Aku tidak takut, Suheng. Mereka itu adalah orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Sebagai datuk ilmu silat yang lihai, sudah pasti para pimpinan Hek I Lama tidak akan begitu merendahkan diri dan mence-markan nama besar sendiri dengan perbuatan yang hina seperti menjebak orang-orang muda seperti kita. Pula, bukankah kita ini pergi meninggalkan rumah untuk meluaskan pengalaman dan menambah pengetahuan? Juga, kini kita mendapat kesempatan untuk mengetahui lebih banyak tentang Hek I Lama, kesempatan yang baik sekali karena kita diundang sebagai tamu! Kalau engkau merasa jerih, biarlah aku sendiri saja yang datang ke sana, Suheng."
Sian Li tidak mau mengeluarkan isi hati yang paling dalam, yaitu bahwa kalau terjadi apa-apa dengan dirinya di tempat Hek I Lama, ia mengharapkan munculnya lagi Sin-ciang Tai-hiap untuk menolongnya.
Ia harus bertemu lagi dengan pendekar itu, harus membuka rahasianya yang aneh, harus mengenal wajahnya dan namanya.
Kalau tidak, selama hidupnya ia akan tenggelam dalam penasaran.
Wajah Sian Lun menjadi merah ketika sumoinya mengatakan dia jerih.
"Sumoi, aku tidak mengkhawatir-kan diri sendiri, melainkan mengkhawatirkan keselamatanmu sendiri. Kalau engkau berkeras hendak pergi, tentu saja aku akan menemanimu."
Sian Li tersenyum menatap wajah suhengnya.
"Terima kasih, Suheng. Dan maafkanlah, bukan maksudku mengatakan engkau takut. Akan tetapi aku ingin sekali menghadiri undangan itu dan melihat siapa saja sebetulnya orang-orang itu dan apa maksud undangan mereka kepada kita."
Demikianlah, akhirnya Sian Lun terpaksa harus memenuhi kehendak Sian Li dan mereka menanti datangnya kereta yang akan menjemput mereka dengan hati berdebar penuh ketegangan.
Sian Li memang berjiwa petualang dan suasana yang mendebarkan hatinya itu melupakan suatu kenikmatan tertentu bagi seorang petualang.
Apalagi kalau ia membayangkan kemunginan munculnya Sin-ciang Tai-hiap!
Bahkan diam-diam ia mengharapkan terjadi sesuatu dengan dirinya agar pendekar aneh itu akan muncul kembali!
Di luar dugaan mereka, kereta itu muncul setelah lewat tengah hari, belum sore.
Sebagai seorang wanita, tentu saja Sian Li tidak mau pergi dalam keadaan belum mandi dan pakaian belum diganti, maka ia minta kepada kusir kereta yang datang menjemput agar menanti sebentar karena ia ingin mandi dan berganti pakaian lebih dahulu.
Sebaliknya, Sian Lun yang merasa tegang dan selalu diliputi kegelisahan, tidak sempat bertukar pakaian dan mandi.
Orang pergi menentang bahaya, untuk apa harus mandi dan berganti pakaian segala, pikirnya.
Dia malah menanti sumoinya di dekat kereta dan mencoba untuk memancing keterangan kepada kusir kereta.
Akan tetapi, kusir itu hanya menjawab "tidak tahu"
Atas segala pertanyaannya, dan hanya mengatakan bahwa dia bertugas menjemput mereka.
Akan tetapi, dari gerak gerik dan sinar matanya yang tajam membayang-kan kecerdikan.
Sian Lun dapat menduga bahwa kusir ini hanya berpura-pura tolol dan lemah saja.
Tentu dia seorang anggauta yang sudah dipercaya, dan yang memiliki ilmu kepandaian tangguh.
Akhirnya muncullah Sian Li dengan wajah dan tubuh segar, dengan pakaian bersih dan rambutnya ter-sanggul rapi.
Ia nampak segar dan cantik sekali, membuat hati Sian Lun menjadi semakin gelisah.
Kenapa sumoinya demikian mempercantik diri?
Mereka akan menjadi tamu orang-orang jahat!
Baru Cu Ki Bok, murid Lulung Ma itu saja jelas amat lihai dan pemuda itu mempunyai niat tidak senonoh terhadap diri Sian Li.
Juga dari percakapan yang didengarnya ketika mereka ditawan, dia mendengar betapa Sian Li akan dihadiahkan kepada orang yang disebut sebagai Pangeran Gulam Sing!
Dengan kecantikan seperti itu, sumoinya akan membuat orang-orang jahat itu menjadi semakin hijau!
Akan tetapi tentu saja dia tidak dapat berkata apa-apa dan mereka pun naik ke dalam kereta yang segera dijalankan oleh kusirnya dengan cepat meninggalkan kota itu.
Kereta itu meluncur keluar kota melalui pintu gerbang sebelah timur, kemudian mendaki sebuah bukit.
Berkali-kali Sian Lun bertanya kepada kusirnya, ke mana mereka akan dibawa pergi.
Akan tetapi kusir itu tidak pernah mau menjawab!
Ketika kereta memasuki sebuah hutan di lereng bukit itu, Sian Lun kehabisan sabarnya.
"Kusir keparat! Kalau tidak kau jawab, aku akan menghajarmu! Hayo katakan ke mana engkau akan membawa kami!"
Bentaknya dan dia sudah bergerak untuk menyerang kusir yang duduk di depan. Akan tetapi lengannya ditangkap Sian Li.
"Suheng, kenapa tidak sabar?"
Katanya sambil mengerutkan alisnya.
"Dia hanya petugas yang melaksanakan perintah. Tentu saja dia membawa kita kepada yang mengutusnya, yaitu Hek I Lama yang mengundang kita."
"Nona berkata benar dan kita sudah hampir tiba di tempat yang dituju,"
Kata kusir itu dan Sian Lun terpaksa menelan kemarahannya.
Dia merasa terlalu tegang sehingga mudah tersinggung dan marah.
Ternyata di tengah rimba itu terdapat tempat terbuka di mana berdiri sebuah rumah besar.
Dan suasananya di sana memang dalam keedaan pesta.
Banyak orang sedang membereskan ruangan depan rumah itu yang disambung dengan panggung di depan rumah, merupakan ruangan yang luas dan setengah terbuka.
Kursi-kursi yang diatur di situ rapi dan semua menghadap ke dalam, ke arah rumah di mana terdapat meja besar dan kursi-kursi yang mudah diduga menjadi tempat tuan rumah.
Dan pada saat itu, telah banyak orang berkumpul, bahkan di pihak tuan rumah telah duduk banyak pendeta yang berjubah hitam dan berkepala gundul.
Anak buah dari perkumpulan yang dipimpln para pendeta Lama berjubah hitam ini kesemuanya juga berpakaian serba hitam, dengan kain kepala warna hitam pula sehingga mereka nampak menyeramkan.
Sian Li dan Sian Lun menduga bahwa mereka yang hadir di sana dan tidak berpakaian hitam tentulah tamu-tamu seperti juga mereka.
Mereka melihat pula banyak orang Nepal yang bertubuh tinggi besar, bermuka brewok dan menutup kepala dengan sorban putih atau kuning.
Mereka melihat pula banyak orang mengenakan pakaian Han seperti mereka.
Ada pula yang memakai pakaian suku Miao, Hui, Kasak, dan Mongol.
Ketika kakak beradik seperguruan itu tiba di situ, mereka disambut dengan hormat dan hal ini dapat diketahui karena yang menyambut mereka adalah Lulung Lama sendiri bersama muridnya, Cu Ki Bok!
Dan setelah mereka dipersilakan duduk di rombongan orang-orang Han yang kemudian ternyata adalah orang-orang yang dianggap sebagai tokoh kang-ouw dan para pendekar, barulah Sian Li dan Sian Lun tahu bahwa Lulung Ma bukanlah pemimpin nomor satu dari perkumpulan Lama Jubah Hitam!
Selain dia, masih ada pula seorang suhengnya yang duduk di kursi terbesar.
Pendeta Lama ini juga berpakaian serba hitam dan dia sudah tua sekali, sedikitnya tujuh puluh lima tahun usianya dan kelihatan seperti seorang pemalas, hanya duduk saja bersandar dikursinya.
Agaknya yang aktip dalam pertemuan itu adalah Lulung Lama dan muridnya, yaitu Cu Ki Bok, peranakan Han Tibet itu.
Biarpun hatinya merasa panas dan marah melihat Cu Ki Bok yang menyambutnya bersama Lulung Lama, namun Sian Lun mena-han diri dan tidak memperlihatkan kemarahannya.
Adapun Sian Li bersikap tenang bahkan tersenyum-senyum sehingga diam-diam Cu Ki Bok merasa kagum bukan main.
Gadis itu selain cantik dan lincah, ternyata memiliki ketabahan yang mengagumkan hatinya.
Sian Li merasa semakin yakin bahwa pihak tuan rumah tidak akan mungkin berani melakukan kekerasan terhadap ia dan suhengnya, melihat bahwa pertemuan itu dihadiri demikian banyaknya orang dari berbagai golongan.
Tentu orang macam Lulung Lama tidak akan merendahkan diri yang hanya akan mencemarkan nama besarnya sendiri selagi di situ berkumpul banyak orang, dengan perbuatan yang curang dan pengecut.
Hal ini terbukti pula dengan sikap Cu Ki Bok yang sopan dan hormat, padahal baru kemarin pemuda murid tokoh Hek I Lama itu bersikap kasar dan tidak sopan.
Akan tetapi, Sian Li dan Sian Lun menjadi pusat perhatian para tamu ketika Lulung Ma dengan suara lantang memperkenalkan tamu baru ini kepada semua orang sebagai dua orang pendekar dari timur yang masih mempunyai hubungan erat dengan Puteri Gangga Dewi dari Kerajaan Bhutan.
Agaknya kini semua tamu sudah berkumpul dan senja mulai datang, lampu-lampu penerangan dinyalakan dan pesta pun dimulai.
Setelah Lulung Lama sebagai wakil pimpinan Hek I Lama menyuguhkan anggur sampai tiga keliling kepada para tamu dan mempersilakan para tamu makan kueh manis yang dihidangkan sebagai pembuka pesta.
Lulung Lama lalu bangkit berdiri dan dengan kedua tangan diangkat dia minta agar para tamu tidak berisik dan memberi perhatian kepadanya.
Agaknya bicaranya memang ditujukan kepada orang-orang Han yang menjadi tamu di situ, maka dia mempergunakan bahasa Han.
Para kelompok suku bangsa lain yang tidak paham bahasa Han, mendengarkan terjemahannya dari kawan-kawan mereka yang paham.
"Saudara sekalian, Cuwi (Anda Sekalian) yang gagah perkasa dari dunia kang-ouw di timur, kami dari Hek I Lama mengucapkan selamat datang dan terima kasih atas kehadiran Cuwi yang memenuhi undangan kami. Seperti Cuwi dapat melihatnya, di sini kami berkumpul, dihadiri pula oleh para sahabat dari Nepal terutama sebagai kawan seperjuangan kami, dan para sahabat dari suku Miao, Hui, Kasak dan Mongol yang tidak sudi melihat orang-orang Mancu merajalela dan hendak menguasai seluruh daratan. Cuwi kami undang mengadakan perundingan dan kami ajak untuk bekerja sama menentang pemerintah Kerajaan Ceng dari bangsa Mancu. Kalau kita semua bersatu, tentu bangsa Mancu akan depat kita kalahkan dan kita usir kembali ke asal mereka. Kami mengharapkan sambutan dari Cuwi yang kami hormati sebagai orang-orang gagah di dunia kang-ouw."
Lulung Ma memberi hormat lalu duduk kembali.
Sebelum dari golongan orang Han ada yang menjawab, Pangeran Gulam Sing sudah bangkit dari tempat duduknya di jajaran tuan rumah, di samping Lulung Lama dan dia pun bicara dengan suaranya yang lantang, dalam bahasa Nepal yang langsung diterjemahkan kalimat demi kalimat oleh seorang Han yang duduk di belakangnya.
"Saudara sekalian, kita ini terdiri dari berbagai suku dan bangsa, akan tetapi saat ini kita berkumpul sebagai saudara-saudara senasib sependeritaan dan seperjuangan! Kita sama-sama sengsara oleh kelaliman bangsa Mancu! Bangsa Mancu tidak saja menjajah seluruh daratan Cina, akan tetapi juga menindas daerah barat, menjajah Tibet, bahkan merupakan ancaman bagi negara tetangga di barat. Kami, Pangeran Gulam Sing, memimpin orang-orang gagah dari Nepal, siap untuk berjuang bersama dengan saudara sekalian untuk menentang pemerintah Mancu!"
Setelah berkata demikian, dibawah sambutan tepuk tangan, pangeran Nepal ini duduk kembali.
Dia seorang pangeran Nepal yang berkulit coklat kehitaman, Bertubuh tinggi besar, mukanya brewok dan tampan gagah jantan, matanya lebar dan sinarnya tajam, mulutnya selalu dibayangi senyum memikat.
Pangeran berusia kurang lebih empat puluh tahun ini memang seorang pria yang jantan dan ganteng sekali.
Di deretan depan dari para tamu golongan Han, nampak seorang wanita bangkit berdiri.
Sian Li dan Sian Lun sejak tadi sudah melihat bahwa di antara para tokoh kang-ouw terdapat beberapa orang wanita, dan yang menarik perhatian adalah adanya tiga orang wanita yang usianya antara dua puluh lima sampai tiga puluh tahun, ketiganya cantik menarik, berpakaian serba mencolok berwarna warni akan tetapi selalu dihias kembang teratai putih.
Kini, seorang di antara tiga wanita itu, yang tertua, usianya sekitar tiga puluh tahun, bangkit dan tentu saja ia menjadi pusat perhatian ketika ia bicara.
"Para pimpinan Hek I Lama, apakah aku boleh bicara sekarang?"
Tanyanya suaranya lantang akan tetapi merdu dan gayanya memikat, matanya bersinar-sinar tajam genit dan mulutnya tersenyum-senyum, pandang matanya menyambar-nyambar ke arah Pangeran Gulam Sing.
Lulung Lama segera bangkit dan memberi hormat.
"Omitohud! Pinceng sebagai wakil pimpinan Hek I Lama, berterima kasih sekali kalau Toa-nio yang datang sebagai utusan dan wakil Pek-lian-kauw memberi petunjuk kepada kami."
Tentu saja perhatian Sian Li dan Sian Lun menjadi semakin besar ketika mendengar ucapan Lulung Lama itu.
Kiranya tiga orang wanita cantik itu adalah orang-orang Pek-lian-kauw!
Mereka berdua sudah banyak mendengar tentang Pek-lian-kauw (Agama Teratai Putih), yaitu segolongan orang dengan agama yang aneh dan yang memiliki banyak tokoh lihai, dan mereka terkenal sebagai pemberontak-pemberontak yang gigih.
Namun sayang, biarpun mereka memberontak terhadap pemerintah penjajah, namun nama Pek-lian-kauw bukan nama yang bersih dan disuka rakyat, karena banyak di antara tokoh mereka suka melakukan segala macam kejahatan berkedok perjuangan juga agama mereka merupakan agama yang aneh, yang menyimpang dari induknya, yaitu Agama Buddha, dan banyak melakukan perbuatan sesat.
Inilah sebabnya mengapa Pek-lian-kauw selalu bergerak sendiri, tidak memperoleh dukungan para pendekar patriot, lebih dekat dengan tokoh-tokoh sesat di dunia kang-ouw.
"Kami Pek-lian Sam-li (Tiga Wanita Teratai Putih) telah menyerahkan surat kuasa sebagai wakil Pek-lian-kauw kepada pimpinan Hek I Lama. Kami diberi wewenang untuk menghadiri pertemuan ini, menyelidiki dan memutuskan apakah Pek-lian-kauw menganggap patut untuk bekerja sama dengan kalian, Pek-lian-kauw sejak dahulu menentang pemerintah penjajah dan kami adalah pejuang-pejuang yang pantang mundur. Maka, kami ingin mengetahui lebih dulu apakah kalian ini sungguh-sungguh hendak menentang pemerintah Mancu, sebelum kami menyatakan suka bekerja sama."
Kembali Ji Kui, wanita itu yang merupakan saudara paling tua dari mereka bertiga, mengerling ke arah Gulam Sing yang juga memandang kepada tiga orang wanita itu sambil tersenyum-senyum.
Gulam Sing ini terkenal sebagai seorang laki-laki yang selalu haus wanita, maka tentu saja kehadiran tiga orang tokoh Pek-lian-kauw itu sejak tadi sudah amat menarik perhatiannya.
"Ucapan Pek-lian Sam-li wakil Pek-lian-kauw itu benar!"
Tiba-tiba terdengar suara lantang dan ternyata yang bicara adalah seorang laki-laki berusia enam puluh tahun lebih yang pakaiannya penuh tambalan.
Dia adalah seorang tokoh dari dunia pengemis, bertubuh tinggi kurus dan bongkok, dan ketika dia bangkit berdiri, tangan kanannya memegang sebatang tongkat hitam.
"Kami harus tahu benar apakah yang hadir di sini sungguh-sungguh hendak menentang pemerintah Mancu. Sebelum tiba di sini, kami banyak mendengar dan kami merasa heran ketika ada berita bahwa pemerintah Tibet tidak menentang Kerajaan Ceng, bahkan kabarnya Dalai Lama sendiri mengakui pemerintahan penjajah Mancu. Juga kami mendengar bahwa pemerintah Nepal yang resmi tidak menentang penjajah Mancu. Maka, apa artinya gerakan yang diadakan oleh Hek I Lama dan Pangeran Gulam Sing? Sebelum kami menyatakan diri bergabung, kami harus mengetahui dulu dengan jelas seperti yang diucapkan wakil Pek-lian-kauw tadi."
Sehabis bicara, kakek pengemis itu duduk kembali dan suasana menjadi riuh karena orang-orang Han yang berkumpul di situ, banyak di antara mereka yang menyetujui pendapat kakek pengemis itu.
Sian Li memandang ke arah kakek itu dengan hati berdebar.
Ia mengenal kakek itu!
Nampaknya masih sama saja seperti dulu, kurang lebih lima tahun yang lalu.
Tentu saja ia tidak dapat melupakan kakek pengemis itu yang pernah merampasnya dari tangan Hek-bin-houw, bahkan kakek itu membunuh Hek-bin-houw.
Kakek itu adalah Hek-pang Sin-kai (Pengemis Sakti Tongkat Hitam) dan setelah membebaskan ia dari tangan Hek-bin-houw, kakek pengemis itu hendak mengajak-nya pergi untuk menjadi muridnya.
Akan tetapi, muncul Nenek Bu Ci Sian yang merampasnya.
Nenek sakti itu mengalahkan Hek-pang Sin-kai, bahkan melukai paha pengemisitu.
Ia ingat benar semua peristiwa itu dan kini ia memandang ke arah pengemis itu penuh perhatian.
Mendengar ucapan kakek pengemis itu, Dobhin Lama, Ketua Hek I Lama yang sejak tadi duduk melenggut saja, kini menegakkan tubuhnya dan membuka matanya.
Kemudian terdengar suaranya dan dia bicara tanpa bangkit berdiri.
"Siapa yang bicara itu tadi?"
"Kami adalah Hek-pang Sin-kai, Ketua Perkumpuian Pengemis Tongkat Hitam di selatan!"
Kata kakek itu dengan berani, akan tetapi begitu pendeta Lama yang kelihatan lemah itu mengangkat muka memandang kepadanya, begitu dua pasang pandang mata bertemu, kakek pengemis itu terkejut bukan main karena pandang matanya bertemu dengan dua sinar mencorong yang seperti menembus sampai ke jantungnya.
Dia tidak tahan memandang lebih lama dan cepat menundukkan mukanya.
"Omitohud, Ketua Hek-pang Kai-pang meragukan kami? Ketahuilah Sin-kai, biarpun Dalai Lama sendiri mengakui kekuasaan Kerajaan Mancu, akan tetapi kami golongan Hek I Lama tidak! Biar pemerintah Tibet tidak bergerak, akan tetapi kami akan bergerak dan kami yakin bahwa rakyat Tibet akan mendukung kami!"
Terdengar suara ketawa dan Pangeran Gulam Sing juga berkata dalam bahasa Nepal, diikuti kalimat demi kalimat oleh penterjemahnya.
"Ha-ha-ha-ha, agaknya Hek-pang Sin-kai ingin mengetahui keadaan orang lain dan menaruh kecurigaan. Terus terang saja, kami memang tidak sejalan dengan pemerintah kami yang berkuasa sekarang di Nepal. Raja terlalu lemah dan tidak berani menentang orang Mancu. Karena itu, kami bergerak sendiri tanpa persetujuan raja. Apa hubungannya urusan pribadi kami ini dengan perjuanganmu membebaskan tanah air dan bangsa dari tangan penjajah Mancu, Sin-kai?"
"Maaf, Pangeran. Tidak ada hubungannya apa-apa, hanya kami merasa heran melihat betapa negara Bhutan yang demikian kecil, tidak bergerak seperti Nepal, untuk menentang Mancu,"
Kata pengemis tua itu pula.
"Omitohud.... agaknya engkau tidak mengetahui keadaan Bhutan, Sin-kai!"
Terdengat Lulung Lama berkata.
"Tentu saja Bhutan tidak menentang Mancu, karena keluarga Kerajaan Bhutan masih ada hubungan darah dengan Mancu! Bahkan yang menjadi sesepuh sekarang di sana, Puteri Gangga Dewi, sekarang menikah dengan seorang keturunan Pendekar Super Sakti dari Pulau Es yang masih berdarah Mancu pula."
"Keluarga Pendekar Pulau Es bukan hanya berdarah Mancu, juga musuh-musuh yang selalu mengganggu kita!"
Terdengar teriakan beberapa orang tokoh kang-ouw yang hadir di situ.
"Tentu saja,"
Kata Lulung Ma pula.
"Keturunan Pendekar Super Sakti semua beribu Mancu, bahkan keluarga itu lalu berbesan dengan keluarga Naga Sakti Gurun Pasir. Kedua keluarga itu adalah pengkhianat-pengkhianat bangsa, antek-antek bangsa Mancu yang harus kita basmi!"
Sian Lun sudah bangkit berdiri dengan kedua tangan dikepal, Akan tetapi Sian Li segera menyentuh lengannya dan menarik pemuda itu duduk kembali sambil memberi isarat dengan gelengankepala.
Ia sendiri tentu saja juga marah mendengar betapa keluarga Pendekar Pulau Es dan Pendekar Gurun Pasir dijelek-jelekkan oleh mereka yang hadir.
Ia sendiri memiliki darah kedua keluarga itu!
Dari ibunya ia mewarisi darah kedua keluarga Kao keturunan Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir, sedangkan neneknya adalah keluarga Suma, keturunan Pendekar Super Sakti Pulau Es!
Sian Lun sendiri hanya marah karena keluarga gurunya, Suma Ceng Liong, dimusuhi mereka.
Dengan menahan kemarahan Sian Lun terpaksa berdiam diri menenuhi permintaan sumoinya.
Dia duduk cemberut dan kadang-kadang pandang matanya ke arah pihak tuan rumah bersinar penuh kemarahan.
"Sekarang kami tidak meragukan lagi kesungguhan hati para saudara untuk bekerja sama dengan kami untuk menghadapi Kerajaan Mancu di timur. Kami hanya menghendaki kesungguhan hati, jangan sampai kami dikecewakan lagi seperti yang telah terjadi dengan Thian-li-pang,"
Kata Ji Kui, orang pertama dari Pek-lian Sam-li.
Semua orang memandang kepada wanita itu.
Mereka yang hadir tahu belaka perkumpulan apakah Thian-li-pang itu.
Di samping Pek-lian-kauw, perkumpulan Thian-li-pang merupakan perkumpulan yang terkenal gigih menentang pemerintah Kerajaan Mancu, sejak pemerintah itu menguasai daratan Cina.
Bahkan kedua perkumpulan itu diketahui telah bekerja sama dengan baik sekali sehingga sering kali terjadi kekacauan di kota raja bahkan di istana, ditimbulkan oleh mereka berdua.
Kenapa sekarang tokoh Pek-lian-kauw itu menjelekkan Thian-li-pang yang dikatakan telah mengecewakan Peklian-kauw?
"Nanti dulu, Toanio,"
Kata Lulung Lama.
"Kami tidak mengerti apa yang kau maksudkan. Bukankah Thian-li-pang selalu berjuang menentang Mancu? Bukan-kah selama bertahun-tahun ini Thian-li-pang dikenal sebagai kawan seperjuangan Pek-lian-kauw?"
"Itu memang benar, dahulu. Akan tetapi sekarang, keadaan sudah lain sama sekali. Selama beberapa tahun ini, Thian-li-pang sudah berubah, sudah menyeleweng!"
"Benarkah itu, Nona?"
Tanya Hek-pang Sin-kai heran.
"Aku masih mendengar bahwa Thian-li-pang tetap berjuang melawan pemerintah penjajah Mancu, bahkan akhir-akhir ini gerakan mereka bertambah kuat."
"Huh, mereka itu orang-orang yang tidak mengenal budi, orang-orang yang tidak mempunyai perasaan setia kawan. Dahulu, kami dari Pek-lian-kauw yang membantu mereka, kami bekerja sama dengan baik. Akan tetapi sekarang, setelah Lauw Kang Hui yang menjadi ketua, mereka itu menjadi sombong, mereka memisahkan diri dan tidak mau mengakui lagi Pek-lian-kauw sebagai teman seperjuangan. Mereka berlagak pendekar dan suka menghina orang. Tidakkah itu amat mengecewakan? Kami tidak mau lagi kalau sampai kerja sama dengan kalian ini akhirnya kelak hanya akan merugikan dan mengecewakan kami seperti Thian-li-pang."
"Ha-ha-ha, jangan khawatir, Nona!"
Kata Pangeran Gulam Sing, dalam bahasa Han bercampur Nepal karena baru beberapa tahun dia mempelajari bahasa Han, sehingga ia selalu dikawal seorang penterjemah.
"Kami berjanji akan membantu Nona kelak memberi hajaran kepada Thian-li-pang yang sombong dan tidak mengenal setia kawan itu, ha-ha!"
Pangeran Nepal yang ganteng itu mengelus kumisnya yang melintang gagah dan matanya bersinar-sinar ditujukan kepada tiga orang wanita tokoh Pek-lian-kauw itu.
Tiga orang wanita muda itu tersenyum.
Ji Hwa, orang ke dua yang kulitnya putih mulus dan wajahnya cantik, tersenyum dan suaranya terdengar basah ketika bicara dengan suara mendesah.
"Pangeran, harap jangan pandang rendah Thian-li-pang. Disana banyak terdapat tokoh yang amat lihai!"
"Benar sekali kata Enci ke dua itu, Pangeran,"
Kata Ji Kim, wanita ke tiga yang selain jelita, juga lincah jenaka dan cerdik sekali.
"Ketuanya yang bernama Lauw Kang Hui itu memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi, sungguh tidak boleh dipandang ringan!"
Pangeran Gulam Sing tertawa dan nampaklah giginya yang putih dan kuat.
"Ha-ha-ha, kami tidak memandang rendah Nona-nona yang baik. Kami hanya menyatakan ingin membantu kalian menghadapi Thian-li-pang. Dan tentang kelihaian mereka, kita tidak perlu takut karena kita pun bukan orang-orang lemah. Aku sendiri pun, biar bodoh, mempunyai juga sedikit tenaga untuk disumbangkan membantu kalian dalam segala hal, ha ha!"
Setelah berkata demikian, pangeran yang tinggi besar dan bertubuh kokoh kuat itu, meng-hampiri sebuah arca singa besi yang berada di sudut ruangan itu.
Singa besi itu jelas amat berat dan sedikitnya membutuhkan tenaga sepuluh orang untuk mengangkatnya!
Akan tetapi, Pangeran Gulam Sing membungkuk, memegang benda itu dengan kedua tangannya dan sekali dia mengeluarkan suara bentakan nyaring, benda itu diangkatnya di atas kepala!
Tentu saja semua orang memandang dengan mata terbelalak penuh keheranan, kekagetan dan kekaguman.
Setelah pangeran itu menurunkan singa batu di tempatnya kembali dan hanya mukanya menjadi kemerahan dan napasnya agak memburu, semua orang bertepuk tangan memuji.
Memang jarang ada orang memiliki tenaga gajah seperti pangeran itu, Sian Li dan Sian Lun diam-diam terkejut juga tahulah mereka bahwa pangeran itu akan merupakan lawan yang tangguh dan berbahaya.
Tiga orang wanita Pek-lian-kauw itu pun menyambut dengan tepuk tangan dan mereka tersenyum-senyum gembira.
"Aihh kiranya Pangeran memiliki tenaga yang amat kuat, lebih kuat daripada kuda!"
Ji Kui memuji. Pangeran itu tertawa.
"Ha-ha-ha, untuk Nona bertiga, setiap saat kami siap untuk menggunakan tenaga kuda kami!"
Kini Lulung Lama bangkit berdiri dan memberi isarat agar semua orang tenang, kemudian dia berkata.
"Terima kasih, kami gembira sekali melihat bahwa saudara sekalian agaknya sudah siap untuk bekerja sama dengan kami. Masih adakah di antara para tamu yang ingin mengemukakan pendapatnya? Silakan!"
Lulung Lama sengaja memandang ke arah Sian Lun dan Sian Li.
Akan tetapi kembali Sian Li menyentuh lengan Sian Lun yang sudah gatal mulut untuk bicara itu.
Pada saat itu, seorang laki-laki Han berusia lima puluhan tahun, bertubuh tinggi kurus dengan muka kuning, bangkit dan bicara dengan suaranya yang tinggi seperti suara wanita.
"Bersatu untuk bekerja sama dalam perjuangan menentang pemerintah Mancu memang mudah dibicarakan, akan tetapi pelaksanaannya menentang pemerintah Mancu amatlah berbahaya dan sukar. Kaisar Kian Liong yang sekarang menjadi Kaisar telah berusaha mendekati dan menggandeng para tokoh pendekar di dunia persilatan sehingga mereka itu tidak mau menentang Kaisar, apalagi membantu usaha perjuangan untuk menumbangkan kekuasaan Mancu. Masih banyak sekarang ini para pendekar yang berubah menjadi penjilat penjajah Mancu. Dan selama para pendekar penjilat itu tidak dibasmi terlebih dahulu, tentu mereka akan menjadi penghalang perjuangan kita."
"Pendapat itu tepat dan benar sekali!"
Tiba-tiba Ji Kui berseru dengan lantang dan penuh semangat.
"Kalau tidak karena ulah para pendekar penjilat, terutama keturunan pendekar Pulau Es dan pendekar Gurun Pasir, tentu telah lama keluarga Kaisar dapat kami basmi! Beberapa tahun yang lalu. ketika Thian-li-pang masih bekerja sama dengan kami, kami telah berhasil mendekati Siang Hong-houw, bahkan putera Ketua Thian-li-pang dan Ang I Moli, seorang tokoh murid Pek-lian-kauw telah berhasil diselun-dupkan ke istana dan nyaris berhasil membunuh para pangeran kalau saja tidak digagalkan oleh Gangga Dewi dan suaminya, yaitu Suma Ciang Bun, cucu Pendekar Super Sakti Pulau Es! Jelaslah bahwa orang-orang dari keluarga Pulau Es dan Gurun Pasir merupakan penghalang besar bagi perjuangan kita!"
Lulung Lama tertawa dan dia bersama muridnya, Cu Ki Bok kini memandang ke arah Sian Lun dan Sian Li.
"Ha-ha, belum tentu, Toanio,"
Katanya.
"Belum tentu kalau semua keturunan kedua pendekar itu sudi menjadi antek dan penjilat penjajah Mancu. Di sini hadir pula dua orang muda gagah perkasa yang berhubungan dekat dengan Gangga Dewi. Kami tidak yakin bahwa mereka berdua ini sudi menjadi antek penjilat orang Mancu. Liem-sicu dan Tan-lihiap, bagaimana pendapat kalian?"
Tentu saja semua orang menoleh dan memandang kepada Sian Li dan Sian Lun yang diperkenalkan sebagai orang yang dekat dengan Gangga Dewi dan ada hubungan dengan keluarga Pulau Es dan Gurun Pasir itu.
Sian Lun yang sejak tadi sudah hampir tidak kuat menahan kemarahannya mendengar keluarga gurunya dimaki-maki, dan hanya menahan kemarahannya karena dilarang sumoinya, kini mendapat kesempatan dan dia pun meloncat berdiri dan mengepal tinju.
"Kami bukan penjilat pemerintah Mancu, juga kami bukan pemberontak-pemberontak yang berkedok perjuangan! Akan tetapi, aku sebagai murid keluarga Pulau Es, siap untuk menandingi siapa saja yang berani menghina keluarga Pulau Es!"
Setelah berkata demikian, tanpa mempedulikan sumoinya, dia sudah melompat ke tengah ruangan itu, di depan meja tuan rumah.
Melihat kenekatan suhengnya, tentu saja Sian Li merasa khawatir karena gadis ini maklum sepenuhnya bahwa di tempat itu berkumpul banyak lawan yang pandai sekali.
Maka, ia pun harus melindungi dan membela suhengnya dan ia pun sudah melompat ke dekat Sian Lun.
"Suheng berkata benar!"
Katanya.
"Kalian telah terlalu banyak memandang rendah dan menghina keluarga Pulau Es dan keluarga Gurun Pasir. Nah, ini aku keturunan kedua keluarga itu, siap untuk membela kehormatan dan nama kedua keluargaku itu, menandingi siapa saja yang berani menghina!"
Melihat munculnya pemuda dan gadis yang mengaku sebegai keluarga Pendekar Pulau Es dan Gurun Pasir, bahkan yang berani menantang, para tamu yang terdiri dari tokoh-tokoh kang-ouw yang sebagian besar mendendam kepada dua keluarga besar itu, segera menjadi gaduh.
"Bunuh pengkhianat!"
"Basmi keluarga Pulau Es dan Gurun Pasir"
"Tangkap mereka, tentu telah memata-matai kita!"
Teriakan-teriakan terdengar dan agaknya mereka semua sudah siap untuk mengeroyok Sian Lun dan Sian Li. Akan tetapi, terdengar seruan Gulam Sing.
"Lulung Lama, bagaimana kalau aku saja yang menghadapi nona cantik dan gagah ini? Bukankah ia yang pernah kau ceritakan kepadaku tempo hari?"
Lulung Lama menoleh kepada pangeran itu dan mengangguk.
"Baiklah, Pangeran. Memang sebaiknya seorang di antara kita yang maju. Memalukan kalau harus maju keroyokan,"
Katanya.
"Dan pemuda itu serahkan kepada kami untuk menangkapnya!"
Kata Pek-lian Sam-li dan ketiga orang wanita muda itu sudah berloncatan menghadapi Sian Lun dengan kerling yang memikat dan (Lanjut ke
Jilid 20) Si Bangau Merah (Seri ke 15 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 20 senyum yang manis. Melihat ini, Gulam Sing tertawa.
"Ha-ha-ha, tiga orang nona yang jelita! Pemuda itu hanya seorang, bagaimana kalian dapat membaginya? Bukankah sudah ada aku? Ha-ha!"
Pangeran yang mata keranjang ini tanpa malu-malu di depan banyak orang mengeluarkan ucapan yang mengandung arti tak senonoh itu.
"Pangeran, mari kita berlumba, siapa di antara kita yang dapat lebih dulu menangkap lawan, kami bertiga atau engkau, tanpa melukai!"
Tantang Ji Kui.
"Taruhannya, siapa kalah cepat harus menurut kehendak yang menang. Setuju?"
Melihat pandang mata penuh tantangan dan senyuman penuh ajakan itu, Pangeran Gulam Sing mengangguk.
"Setuju!"
Sian Li dan Sian Lun yang maklum bahwa mereka menghadapi lawan tangguh apalagi mereka berada di sarang musuh dan setiap saat mereka dapat menghadapi pengeroyokan, sudah mencabut pedang mereka.
"Pangeran sombong, majulah kalau ingin merasakan tajamnya pedangku!"
Sian Li membentak.
Pangeran itu tertawa dan mencabut sebatang golok yang bentuknya melengkung seperti bulan sabit.
Melihat lawan sudah siap siaga dengan golok di tangan, Sian Li sudah meloncat ke depan dan melakukan serangan yang dahsyat sakali.
"Tranggg....!"
Pangeran itu menangkis dengan babatan goloknya, dan biarpun Sian Li sudah maklum akan kuatnya tenaga lawan, ia tetap saja terkejut ketika pedang itu hampir terlepas dari pegangan tangannya.
Pedang itu terpental dan telapak tangannya yang berhasil menahan gagang pedang terasa panas.
Melihat ini, terdengar suara tawa di sana sini dan pangeran itu pun tertawa bergelak.
Sian Lun yang dihadapi Pek-lian Sam-li, biarpun mendongkol sekali karena lawan bersikap curang dan belum apa-apa sudah hendak mengeroyoknya, tidak mau banyak cakap lagi.
Tidak ada gunanya mencela dan memprotes orang-orang macam itu, apalagi tiga orang wanita ini adalah orang-orang Pek-lian-kauw.
Sambil membentak nyaring pedangnya sudah berkelebat menjadi gulungan sinar yang menyambar ke arah tiga orang wanita itu.
Pek-lian Sam-li juga telah mencabut pedang mereka dan mereka pun mengepung dengan bentuk barisan Segi Tiga, den ternyata gerakan mereka lincah sekali dan bagaikan tiga ekor kupu-kupu mengepung setangkai bunga, mereka berloncaten ke sana sini, membuat Sian Lun sukar sekali untuk dapat mengarahkan serangannya.
Sian Li juga segera terdesak karena ia tidak berani mengadu senjata.
Hal ini tentu saja membuat pangeran itu menang angin dan dia pun mendesak sambil tertawa-tawa karena dia ingin lebih dulu menangkap lawannya untuk mendahului Pek-lian Sam-li.
Dengan demikian, dia tidak hanya akan menguasai gadis cantik berpakaian merah ini, akan tetapi juga dia akan membuat tiga orang wanita genit itu membayar kekalahan mereka dengan mentaatinya!
Betapa akan senangnya dilayani empat orang wanita itu, pikirnya.
Akan tetapi, sementara itu Sian Lun juga sudah terdesak hebat oleh tiga pedang yang mengepungnya.
Tingkat kepandaian pemuda ini tidak jauh selisihnya dengan setiap orang dari Pek-lian Sam-li, maka kini dikeroyok tiga tentu saja dia menjadi kewalahan dan repot sekali melindungi tubuhnya dari sambaran tiga gulungan sinar pedang lawan.
Pada saat yang amat kritis bagi Sian Lun dan Sian Li, setiap saat mereka akan dapat tertangkap, tiba-tiba nampak bayangan berkelebat dan bagaikan seekor rajawali saja bayangan itu menyambar-nyambar, mula-mula ke arah Sian Li dan Gulam Sing yang sedang bertanding.
Baik Gulam Sing maupun Sian Li mengeluarkan seruan kaget ketika bayangan itu menggerakkan tangan dan mereka berdua terdorong ke belakang sampai tiga langkah!
Bayangan itu berkelebat ke arah Sian Lun yang dikeroyok tiga dan di sana bayangan itu berputaran dan juga Sian Lun dan tiga orang wanita pengeroyoknya terdorong ke belakang seperti diterjang angin badai.
Otomatis, mereka semua menghentikan serangan dan memandang kepada orang yang tahu-tahu telah berada di situ.
Sian Li hampir berteriak saking girangnya melihat seorang laki-laki yang tubuhnya sedang saja namun tegap, rambutnya panjang dibiarkan riap-riapan ke belakang dan sebagian menutupi muka, membantu tirai hitam yang bergantungan dari atas topi capingnya yang lebar.
Sukar melihat wajah orang itu, yang nampak hanya kilatan sepasang mata dari balik tirai dan rambut.
Pakaiannya sederhana saja seperti pakaian petani namun ringkas, dan dia tidak membawa senjata apa pun.
"Sin-ciang Tai-hiap....!"
Terdengar teriakan beberapa orang dan demikian pula teriakan hati Sian Li yang memandang penuh kagum, juga kini mendadak saja ia merasa aman begitu orang ini berada di situ.
Lenyap semua kekhawatirannya akan dikeroyok dan ditangkap oleh para pemberontak ini.
Lulung Lama mewakili suhengnya, Dobhin Lama yang sejak tadi hanya menonton saja.
Dengan langkah lebar dia menghampiri laki-laki bercaping lebar yang menyembunyikan mukanya itu dan dia mencoba untuk menembus tirai hitam dan rambut itu untuk mengamati wajahnya, lalu dia mengangkat kedua tangan depan dada dan memberi hormat.
"Omitohud....! Kiranya engkau adalah Sin-ciang Tai-hiap yang selama beberapa tahun ini membuat nama besar di daerah perbatasan Tibet ini? Selamat datang, Taihiap! Apakah engkau datang hendak menghadiri rapat pertemuan yang kami adakan ini?"
Pendekar bercaping itu membalas penghormatan tuan rumah dengan sikap sopan, lalu terdengar suaranya, lembut dan singkat.
"Lulung Lama, terserah dengan nama apa orang akan menyebutku. Aku datang bukan untuk menjadi tamu dalam pertemuan ini."
Lulung Lama mengerutkan alisnya.
"Sin-ciang Tai-hiap, pinceng (saya) yakin bahwa sebagai sama-sama tokoh dunia persilatan yang tahu akan peraturan dunia kang-ouw, engkau tentu maklum bahwa jalan kita bersimpang. Aku tidak pernah mencampuri urusanmu, dan demikian pula kami harap engkau tidak akan mencampuri dan mengacaukan urusan kami. Kalau engkau tidak datang untuk menghadiri pertemuan, lalu mengapa engkau menghentikan pertandingan tadi dan apa pula maksudmu datang berkunjung tanpa diundang ini?"
Lulung Lama bicara dengan nada tinggi hati, hal ini adalah karena dia sebagai tokoh besar Hek I Lama tentu saja tidak takut kepada pendekar rahasia ini walaupun sudah banyak dia mendengar tentang kelihaian Sin-ciang Tai-hiap, dan ke dua karena pada saat itu, dia berada di tempat sendiri, mempunyai banyak anak buah, ada pula suhengnya yang sakti dan banyak tamu yang dapat diandalkan.
Semua orang menaruh perhatian besar kepada pendatang aneh itu dan suasana menjadi sunyi senyap karena semua orang ingin mendengarkan bagaimana jawaban pendekar yang selama akhir-akhir ini amat terkenal namanya.
Pendekar aneh itu menggerakkan tubuhnya, memandang ke sekeliling, kemudian dia pun menjawab, suaranya masih lembut seperti tadi.
"Lulung Lama, aku tidak mencampuri urusan siapa pun. Kalau tadi aku melerai pertandingan adalah karena aku selain tidak suka melihat orang menyelesaikan persoalan melalui senjata, saling melukai dan saling membunuh. Kedatanganku ini untuk bertemu dan bicara dengan saudara Thong Nam, kepada suku Miao yang aku tahu berada di sini sebagai tamu. Biarkan aku bicara dengan dia, setelah selesai urusanku dengan dia, aku akan pergi dari sini."
Lulung Lama mengerutkan alisnya.
Bagaimanapun juga, Thong Nam adalah kepala suku Miao, seorang di antara sekutunya dan saat itu menjadi tamunya, maka sebagai tuan rumah dia harus dapat melindungi tamunya.
Akan tetapi, sebelum dia dapat berkata atau berbuat sesuatu, seorang di antara para tamu sudah bangkit berdiri dan berkata lantang dengan suara keras dan logatnya asing.
"Akulah Thong Nam kepala suku Miao. Biarpun telah mendengar nama Sin-ciang Tai-hiap, namun kami belum pernah berurusan dengannya. Sekarang engkau datang mencariku di sini, katakan apa perlunya engkau mencari aku, Sin-ciang Tai-hiap!"
Pendekar bercaping itu memutar tubuh ke kanan untuk memandang ke arah Si Pembicara.
Ternyata orang bernama Thong Nam itu bertubuh pendek dengan perut gendut, akan tetapi tubuhnya nampak kokoh kuat dan wajahnya yang bulat itu membayangkan ketinggian hati.
Tidak mengherankan kalau kepala suku Miao ini dengan lan-tang memperkenalkan diri, karena dia pun terkenal sebagai seorang jagoan di antara suku bangsanya.
Dia terkenal memiliki tenaga kuat ilmu gulat yang tak pernah terkalahkan, juga dia memiliki ilmu tendangan maut.
Selain itu, dia pun tahu bahwa di tempat itu, dia memiliki banyak kawan tangguh yang pasti akan membantunya kalau dia terancam bahaya.
Sejenak pendekar bercaping itu mengamati Si Pendek Gendut dan karena dia diam saja, semua orang menjadi semakin tegang.
"Thong Nam,"
Akhirnya terdengar dia berkata.
"Aku mencarimu untuk meminta kembali sebutir mutiara hitam darimu. Engkau tidak berhak memilikinya dan benda itu harus dikembalikan kepada pemiliknya."
Semua orang tidak mengerti tentang mutiara hitam, akan tetapi wajah Si Pendek Gendut itu berubah merah dan alisnya berkerut, nampak bahwa dia marah mendengar itu.
Otomatis tangan kirinya meraba ke arah dadanya, lalu dia berkata lantang.
"Sin-ciang, Tai-hiap! Mutiara Hitam itu adalah milikku, kuterima dari mendiang ayahku. Aku tidak mengambilnya dari orang lain!"
"Kalau begitu, saudara Thong Nam, ayahmu itulah yang telah mengambilnya. Mutiara Hitam itu milik orang lain, harap engkau suka berbesar hati untuk mengembalikannya kepadaku agar dapat kupenuhi pesan pemiliknya."
"Sin-ciang Tai-hiap, engkau sungguh terlalu mendesak. Orang lain boleh takut kepadamu, akan tetapi aku tidak! Dan menurut peraturan dunia kang-ouw, untuk memiliki sesuatu dari orang lain haruslah lebih dahulu mengalahkannya."
Baca Juga: Suling Emas 5
Baca Juga: Kisah Sepasang Rajawali 18