Eps 9 Si Bangau Merah - Kho Ping Hoo
Baca online Si Bangau Merah - Kho Ping Hoo
Cersil Si Bangau Merah - Kho Ping Hoo.
Kepala suku Miao itu lalu mengambil sesuatu dari balik bajunya, lalu menyerahkan sebuah mutiara hitam yang tadi dia pakai sebagai kalung kepada Lulung Lama.
"Losuhu, tolong simpan dulu benda ini, aku akan menandingi pendekar yang sombong ini!"
Setelah menyerahkan benda itu kepada Lulung Lama, Thong Nam lalu melompat ke depan pendekar bercaping lebar dengan sikap menantang.
Lulung Lama menerima benda itu, nampak tertarik dan segera dia mendekati suhengnya.
Dobhin Lama menerima benda itu dan mereka berdua mengamati benda itu sambil berbisik-bisik, pandang mata mereka bersinar-sinar.
Sementara itu, Thong Nam yang merasa diremehkan di depan banyak orang, tanpa banyak cakap lagi sudah menyerang pendekar bercaping itu dengan tubrukan ganas, seperti seekor biruang menubruk mangsanya.
Agaknya dia hendak mengandal-kan ilmu gulatnya untuk menangkap lawan, karena dia berkeyakinan bahwa sekali dia dapat menangkap lengan lawan, dia akan dapat membuatnya tidak berdaya dengan ringkusan atau bantingan.
Sin-ciang Tai-hiap agaknya tidak tahu akan keistimewaan Thong Nam, maka dia seperti acuh saja dan bahkan menangkis dengan pemutaran lengan kanan dari kiri ke kanan dan membiarkan lengannya itu tertang-kap lawan!
Tentu saja girang hati Thong Nam.
Begitu dia berhasil menangkap lengan kanan lawan, dia mempergunakan kedua tangannya, Menangkap dengan pengerahan tenaga yang tiba-tiba disentakkan dan dia hendak menekuk lengan itu ke belakang.
Sekali dia berhasil menekuk lengan itu ke belakang tubuh, dia akan dapat membuat lawan tidak berdaya dengan mendorong lengan yang tertekuk ke belakang itu ke atas!
Akan tetapi, betapa kagetnya ketika dia sama sekali tidak mampu menekuk lengan lawan itu, jangankan memuntir ke belakang, bahkan menekuk sikunya saja tidak mampu.
Lengan itu terasa olehnya seperti sebatang baja yang amat kuat.
Padahal, sebatang tongkat atau tombak baja pun akan dapat ditekuknya dengan mudah!
Tiba-tiba pendekar bercaping itu menggerakkan lengannya yang ditangkap dan sedang hendak ditekuk ke belakang dan....
Thong Nam tak mampu bertahan lagi.
Pegangan kedua tangannya terlepas dan dia pun terjengkang sampai beberapa meter jauhnya.
Thong Nam tidak terluka, hanya terkejut.
Dia bangkit kembali dan mukanya menjadi merah sekali.
Dia menjadi semakin penasaran dan marah, dan tanpa bicara lagi dia menerjang lawannya, sekali ini tidak ingin menangkap melainkan mengandalkan ilmu tendangannya yang memang hebat dan berbahaya.
Selain kedua kaki itu dapat bergerak cepat sekali, juga setiap tendangan mengandung tenaga yang amat kuat, apalagi kedua kaki itu memakai sepatu yang dilapis baja, bagian bawahnya memiliki tepi yang tajam dan ujungnya juga runcing.
Dengan gerakan yang tenang sekali, Sin-ciang Tai-hiap dapat menghindarkan sambaran dua buah kaki yang melakukan serangkaian tendangan bertubi-tubi.
Tubuh-nya hanya bergerak sedikit saja, namun cukup membuat tendangan itu hanya lewat di dekat tubuhnya.
"Hemm, sepatumu itu terlalu keji, Thong Nam,"
Kata pendekar itu lembut dan tiba-tiba saja, tubuh Thong Nam kembali terlempar dan terjengkang ke belakang, akan tetapi sekali ini kedua kakinya sudah telanjang karena sepasang sepatu itu tertinggal di kedua tangan pendekar bercaping itu!
Pendekar itu memeriksa sepasang sepatu yang istimewa itu, Kemudian jari-jari tangannya bergerak dan"
Lapisan besi di bawah sepatu itu sudah terlepas semua dan yang tinggal hanya sepasang sepatu kulit biasa.
Dia melemparkan sepasang sepatu itu kepada Thong Nam.
Kini wajah Thong Nam berubah pucat.
Dia mengenakan sepatunya yang menjadi sepatu biasa itu dan lenyaplah semua ketinggian hatinya.
Dia tahu benar bahwa pendekar itu sama sekali bukan lawannya dan kalau pendekar itu menghendaki, mungkin dia sekarang telah tewas, atau setidaknya terluka berat.
Sementara itu, Sian Lun yang tadi dihentikan pertandingannya, menjadi penasaran.
Juga diam-diam, seperti juga Sian Li, hatinya menjadi besar setelah muncul Sin-ciang Tai-hiap.
Dilihatnya betapa tiga orang wanita Pek-lian-kauw tadi pun masih berdiri dengan pedang di tangan, maka dia segera melangkah maju dan menudingkan telunjuknya ke arah mereka dan pihak tuan rumah.
"Kalian semua mengaku sebagai pejuang-pejuang patriot, akan tetapi sesungguhnya hanyalah penjahat-penjahat dan pemberontak-pemberontak yang berkedok perjuangan! Keluarga Pulau Es dan Gurun Pasir memang selalu menentang dan membasmi penjahat-penjahat seperti kalian!"
Melihat suhengnya sudah nekat seperti itu, Sian Li juga meloncat di dekatnya untuk membantu.
Melihat ini, Lulung Lama manjadi marah dan dia memberi perintah kepada anak buahnya.
"Tangkap dua orang muda kurang ajar ini!"
"Tahan!"
Sin-ciang Tai-hiap berseru ketika melihat banyak orang sudah bangkit dan siap menyerbu.
"Lulung Lama, urusanku dengan Thong Nam belum selesai. Mutiara Hitam belum diserahkan kembali kepadaku, dan tentang kedua orang muda ini, seyogianya kalau kalian membiarkan mereka pergi. Mereka adalah pendekar-pendekar gagah yang tidak ada hubungannya dengan segala macam pemberontakan."
Kini Dobhin Lama yang masih memegang mutiara hitam itu bangkit berdiri.
Tubuhnya nampak semakin kurus dan tinggi ketika dia berdiri dan dan memandang kepada Sin-ciang Tai-hiap.
"Hemm, Sin-ciang Tai-hiap. Biarpun engkau menyembunyikan wajahmu, akan tetapi kami tahu bahwa engkau adalah seorang yang masih muda. Mengagumkan sekali seorang yeng demikian muda telah memiliki ilmu kepandaian sepertimu. Alangkah sayangnya kalau kepandaian seperti itu tidak kau pergunakan untuk mencapai kemuliaan selagi engkau masih muda. Sin-ciang Tai-hiap, sebagai seorang Han, apakah engkau tidak prihatin melihat bangsa Mancu menjajah negara dan bangsamu? Marilah engkau bergabung dengan kami. Kami akan memberi kedudukan tinggi padamu, bahkan mungkin sekali kami akan mengangkatmu sebagai panglima besar."
Dengan sikap yang sopan, pendekar itu memberi hormat kepada Dobhin Lama kemudian suaranya terdengar lembut namun lantang dan tegas.
"Terima kasih atas uluran tanganmu, Dobhin Lama. Tentu saja aku merasa prihatin dengan adanya penjajahan bangsa Mancu, dan aku mengagumi usaha para patriot yang berjuang demi membebaskan tanah air dan bangsa dari cengkeraman penjajah Mancu. Akan tetapi, Losuhu, perjuangan bukan perjuangan murni lagi kalau didasari pamrih untuk kepentingan pribadi, pamrih untuk mendapat imbalan jasa bagi diri sendiri. Perjuangan yang benar adalah suatu ke-baktian terhadap tanah air dan bangsa, tanpa pamrih untuk pribadi. Kalau ada pamrih, maka perjuangan itu hanya menjadi suatu alat, suatu cara untuk mencapai keuntungan pribadi seperti kedudukan, kemu-liaan, harta dan segala kesenangan lain sebagai hasil dari kemenangan. Saudara sekalian yang berada di sini tentu dapat meneliti diri sendiri apakah perjuangan kalian itu murni ataukah hanya menjadi suatu cara saja untuk mengejar hasil kemenangan yang akan menyenangkan diri sendiri atau golongan sendiri?"
"Sin-ciang Tai-hiap, perlukah bicara dengan mereka ini?"
Tiba-tiba Sian Li berseru.
"Lihat saja siapa adanya mereka ini dan kita akan tahu macam, apa perjuangan mereka itu! Perkumpulan Lama Jubah Hitam adalah pemberontak terhadap pemerintah yang sah dari Tibet. Juga orang-orang Nepal yang bersekutu dengan mereka ini adalah orang-orang Nepal yang memberontak terhadap Kerajaan Nepal sendiri sehingga mereka itu menjadi buronan dan buruan dari kedua kerajaan itu! Dan lihat pula siapa lagi sekutu mereka! Pek-lian-kauw! Tak perlu berpanjang cerita lagi, mereka bukanlah pejuang-pejuang aseli, perjuangan itu hanya menjadi kedok untuk menutupi kejahatan mereka!"
"Tangkap mereka!"
Lulung Lama berteriak lagi dan dia menghadapi Sin-ciang Tai-hiap.
"Sin-ciang Tai-hiap, harap jangan mencampuri urusan kami! Atau terpaksa kami akan menentangmu!"
Pek-lian Sam-li berloncatan mengepung Sian Lun dan Ji Kui berkata kepada anak buah tuan rumah.
"Biarkan kami bertiga yang menangkap pemuda ini!"
Dan mereka pun sudah mengepung dan menyerang Sian Lun dengan pedang mereka.
"Gadis ini untukku, ha-ha-ha!"
Pangeran Gulam Sing juga membentak dan dia sudah menghadapi Sian Li dengan goloknya yang melengkung.
Kembali mereka bertempur, melanjutkan pertandingan tadi yang tertunda oleh kemunculan Sin-ciang Tai-hiap.
Sebelum Sin-ciang Tai-hiap dapat mencegah terjadinya pengeroyokan itu, dia sendiri sudah diserang oleh dua orang yang amat lihai, yaitu Cu Ki Bok dan gurunya, Lulung Lama!
Begitu pemuda peranakan Han Tibet itu meyerang dengan sabuk baja yang kedua ujungnya dipasangi pisau, tahulah pendekar bercaping lebar itu bahwa dia menghadapi seorang lawan yang tangguh.
Apalagi ketika Lulung Lama juga menyerang dengan senjatanya yang aneh, yaitu sepasang gelang roda besar yang warnanya keemasan dan tepinya bersirip tajam.
Dan pendekar itu pun memperlihatkan kelihaiannya.
Tubuhnya berkelebatan seperti seekor burung walet saja, beterbangan di antara gulungan sinar senjata kedua orang pengeroyoknya!
Akan tetapi, tepat seperti yang dikabarkan orang.
Sin-ciang Tai-hiap agaknya tidak mau melukai lawan, apalagi membunuhnya.
Inilah sebabnya mengapa sukar baginya untuk menundukkan dua orang pengeroyoknya yang memiliki kepandaian yang sudah tinggi tingkatnya.
Kalau saja dia mau melukai, tentu tidak akan lama pertandingan itu, karena dia tentu dapat merobohkan Cu Ki Bok maupun Lulung Lama!
Keadaan Sian Lun maupun Sian Li payah walaupun kedua orang muda ini melawan dengan gigih.
Sian Lun menghadapi tiga orang wanita tokoh Pek-lian-kauw yang sudah memiliki tingkat tinggi.
Tiga orang wanita itu merasa kagum bukan main.
Baru sekarang mereka berhadapan dengan seorang lawan muda yang mampu menahan pengeroyokan mereka bertiga!
Memang Sian Lun bukan merupakan, lawan yang lunak.
Dia telah digembleng oleh kedua orang gurunya, yaitu Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng.
Biarpun tidak seluruh ilmu kesaktian dari keluarga para pendekar Pulau Es dikuasainya, namun dia telah menguasai Hwi-yang Sin-kang den Soat-Im Sin-kang, kedua ilmu menggunakan tenaga sakti yang panas dan dingin, dan tentang ilmu pedang Liong-siauw Kiam-sut (Ilmu Pedang Suling Naga) yang diajarkan oleh Kam Bi Eng.
Pemuda ini memang belum mempunyai banyak pengalaman bertanding, akan tetapi karena dia menguasai ilmu pedang yang dahsyat dan memiliki gabungan tenaga sin-kang yang amat kuat, maka tiga orang wanita Pek-liankauw yang bermaksud menangkapnya hidup-hidup tanpa melukainya itu mengalami kesulitan.
Sian Li juga menghadapi lawan yang tangguh.
Seperti juga Sian Lun, gadis remaja ini telah menguasai ilmu yang hebat, bahkan ia masih lebih tangguh dibandingkan suhengnya itu karena gadis ini menguasai pula ilmu Pek-ho Sin-kun (Silat Sakti Bangau Putih) dari ayahnya.
Andaikata ia sudah memiliki banyak pengalaman bertanding, tentu ia akan mampu mengalahkan pangeran Nepal itu.
Akan tetapi karena ia kurang pengalaman menghadapi ilmu golok melengkung dari pangeran asing itu yang gerakan-gerakan-nya aneh sekali, ia menjadi agak bingung.
Biarpun demikian, karena pangeran Nepal itu pun tidak ingin melukainya dan ingin menangkapnya hidup-hidup, maka pangeran itu tidak mudah dapat menundukkan gadis itu.
Sian Lun yang memang sudah terdesak, dengan nekat memutar pedangnya dan sinar pedang yang bergulung-gulung itu bagaikan benteng baja yang amat kuat, membuat tiga orang tokah Pek-lian-kauw kagum dan juga penasaran.
Mereka saling memberi isarat dan masing-masing mengaluarkan sehelai saputangan merah.
Tanpa diduga-duga oleh Sian Lun, mereka mengebutkan saputangan merah ke arah pemuda itu.
Sian Lun memang kurang pengalaman, melihat uap tipis kemerahan itu dia tidak menyangka buruk.
Baru setelah dia mencium bau harum yang aneh dan matanya berkunang, kepalanya pening, setelah terlambat, dia tahu bahwa tiga orang pengeroyoknya itu menggunakan bubuk beracun.
"Iblis-iblis betina yang curang....!"
Dia berteriak dan memaksa diri untuk menyerang dengan nekat, akan tetapi kepalanya semakin pening dan dia pun terhuyung-huyung.
Ji Kui mengeluarkan suara ketawa mengejek dan sekali menggerakkan tangan menotok, Sian Lun terkulai dalam rangkulannya dan pemuda itu lemas tak mampu bergerak lagi.
Sian Li mendengar teriakan suhengnya dan cepat menengok.
Melihat suhengnya tertawan, ia menjadi marah dan tubuhnya bergerak cepat, bagaikan seekor burung bangau ia telah mengirim tujuh kali tusukan beruntun dengan pedangnya kepada Pangeran Gulam Sing.
Pangeran ini terkejut, merasa seperti menghadapi seekor burung besar.
Dia memutar golok dan melangkah mundur.
Akan tetapi kesempatan seperti itu dipergunakan oleh Sian Li untuk meloncat ke arah Sian Lun.
Melihat ini, tiga orang wanita Pek-lian-kauw terkejut dan marah, tangan kiri mereka bergerak ke arah Sian Li dan belasan batang jarum halus menyambar ke arah tubuh gadis yang sedang melayang ke arah mereka itu!
Sukar bagi Sian Li untuk dapat menghindarkan diri dari sambaran jarum karena pada saat itu ia sedang meloncat ke arah Sian Lun yang tertawan.
Dan Pangeran Gulam Sing juga mengejar dengan lompatan seperti seekor harimau yang menubruk, bukan sekedar melompat, melainkan juga mengge-rakkan kaki menendang!
Kedaan Sian Li sungguh berbahaya sekali.
Pada saat itu, Sin-ciang Tai-hiap yang melihat keadaan itu, Secepat kilat mengirim tendangan beruntun kepada dua orang pengeroyoknya.
Tendangan itu mendatangkan angin yang bersiutan sehingga Lulung Lama dan Cu Ki Bok terpaksa berloncatan ke belakang dan kesempatan ini dipergunakan olehnya untuk meloncat mendahului Sian Li untuk melindungi gadis itu dari sambaran Jarum-Jarum halus!
Sian Li yang mendengar gerakan kaki Pangeran Gulam Sing dari belakang, biarpun tubuhnya sedang di udara, dapat berjungkir balik dan pedangnya menyambar ke belakang.
Kalau kaki pangeran itu dilanjutkan menendang, tentu akan bertemu dengan pedangnya!
Akan tetapi pangeran itu juga berjungkir balik dan turun kembali.
Sedangkan Sin-ciang Tai-hiap dengan ujung lengan bajunya mengebut jarum-jarum halus itu sehingga runtuh dan dia pun sudah menyambar lengan kiri Sian Li dan berseru.
"Mari kita pergi!"
"Tidak, Suheng-ku....!"
Sian Li hendak meronta, akan tetapi tiba-tiba saja tubuhnya dibawa meloncat jauh oleh Sin-ciang Tai-hiap dan terpaksa ia pun ikut menggerakkan kaki berlari karena ia tidak mau terseret.
Cepat bukan main gerakan Sin-ciang Tai-hiap sehingga biarpun ia ingin meronta, tetap saja ia kalah kuat dan tidak berhasil melepaskan lengan kirinya yang terpegang.
Sian Li merasa penasaran sekali, akan tetapi karena ia tahu bahwa pendekar aneh ini sudah berulang kali menolongnya, ia pun tidak mau menyerang dengan pedangnya, hanya terpaksa ikut berlari dengan alis berkerut dan bersungut-sungut.
Kenapa pendekar ini mengajaknya berlari?
Suhengnya telah tertawan, dan sekarang ia disuruh melarikan diri!
Ia bukan seorang pengecut seperti itu!
Agaknya, orang-orang yang sedang mengadakan pertemuan itu merasa jerih juga kepada Sin-ciang Tai-hiap dan mereka tidak berani melakukan pengejaran.
Apalagi, mereka telah berhasil menawan seorang dan tawanan ini dapat menjamin mereka agar Sin-ciang Tai-hiap dan Tan Sian Li tidak akan berani meng-ganggu mereka lagi.
"Harap Sam-li jangan sampai melukai atau membunuh pemuda itu,"
Kata Lulung Lama.
"Dia masih berguna bagi kita, selain untuk jaminan, juga kalau kita dapat membujuk sandera ini sehingga dia takluk dan dapat membantu, hal itu amat menguntungkan."
Ji Kui yang merangkul Sian Lun yang tak sadarkan diri, mengelus dagu pemuda itu dan tersenyum sambil saling pandang dengan dua orang adiknya.
"Jangan khawatir, Losuhu. Kami pun tidak bermaksud mencelakai pemuda tampan ini. Bahkan kami akan membantu agar dia tunduk dan takluk kepada kita."
Ji Hwa, orang ke dua dari mereka, memandang kepada Pangeran Gulam Sing dan sambil tersenyum manis ia berkata.
"Pangeran, engkau telah kalah oleh kami. Mengakulah!"
Gulam Sing juga tersenyum.
"Ah, kalian memang cerdik, menggunakan bubuk racun itu. Sungguh aku kalah cerdik dan aku mengaku kalah. Perintahkan saja apa yang kalian kehendaki, aku tentu akan mentaati untuk membayar kekalahanku."
"Hi-hik, nanti saja kita bicarakan hal itu di kamar kami, Pangeran!"
Kata Ji Kim, wanita Pek-lian-kauw termuda.
Mereka bertiga tertawa dan pangeran Nepal itu pun tertawa bergelak.
Sudah diduganya.
Kalah atau menang, sama saja baginya, tetap akan menyenangkan.
"Pangeran, kenapa tadi tidak mempergunakan sihir untuk mengalahkan Tan Sian Li?"
Lulung Lama berkata kepada pangeran itu.
"Hemm, apa kau kira aku begitu bodoh?"
Pangeran itu balas bertanya.
"Sudah kucoba, akan tetapi gagal, tidak ada pengaruhnya sama sekali! Dan kenapa engkau pun tidak menggunakan sihir untuk menundukkan Sin-ciang Tai-hiap tadi?"
"Omitohud, kalau begitu sama saja. Pinceng juga sudah mencobanya, akan tetapi tidak ada hasilnya sama sekali,"
Kata Lulung Lama.
"Sungguh mengherankan. Kami pun sudah mencoba dengan sihir tadi sebelum menggunakan bubuk racun merah, akan tetapi kekuatan sihir kami seperti tenggelam ke dalam air saja!"
Kata pula Ji Kui. Kalau semua orang merasa heran, Dobhin Lama tertawa.
"Ha-ha-ha, kalian seperti anak-anak saja. Sudah jelas bahwa pengaruh sihir manjadi punah karena adanya Sin-ciang Tai-hiap di sini. Orang itu berbahaya sekali, maka kita harus berhati-hati. Kulihat tadi ketika dia melindungi gadis itu, ada jarum Pek-lian Sam-li yang mengenai pundak kirinya. Dia telah terluka jarum Pek-lian-tok-ciam!"
"Ah, benarkah itu, Losuhu?"
Ji Kui dan dua orang adiknya berseru girang.
"Kalau begitu, dia tentu tidak akan dapat lolos! Jarum kami mengandung racun yang sukar dilawan."
Jangan gembira dulu, Sam-li,"
Kata Dobhin Lama.
"Pinceng sudah mengenal baik jarum baracun Pek-tian-tok-ciam. Bukankah siapa yang terkena jarum itu tentu akan lumpuh seketika? Dan melihat betapa Sin-ciang Tai-hiap masih dapat melarikan diri, hal itu menunjukkan bahwa dia memang lihai bukan main. Belum tentu jarummu akan dapat membuat dia tak berdaya. Bagaimanapun juga kita harus berhati-hati dan suruh anak buah melakukan penjagaan ketat."
Mereka melanjutkan pertemuan itu untuk membicarakan gerakan mereka dan mengatur rencana dan membagi tugas kerja.
Sian Lun yang sudah tak berdaya itu diserahkan kepada Pek-lian Sam-Li untuk menjaga dan menundukkannya.
Tiga orang wanita itu dengan wajah berseri lalu mengajak Pangeran Gulam Sing dan memondong tubuh Sian Lun, pergi mengundurkan diri.
"Cukup, berhenti!"
Sian Li merenggutkan tangannya dan sekali ini ia berhasil.
Mereka berada di kaki bukit yang sunyi, dikelilingi hutan-hutan kecil dan rawa-rawa.
Orang yang bercaping lebar itu sekali ini tidak mempertahankan pegangannya dan melepaskan lengan kiri Sian Li.
Sian Li menghentikan langkahnya.
Matahari sudah condong ke barat, senja menjelang tiba.
Ia menghadapi laki-laki itu dengan alis berkerut.
"Kenapa engkau memaksaku berlari-lari, melarikan diri seperti pengecut-pengecut yang ketakutan?"
Dua kali Sian Li mengajukan pertanyaan ini dengan muka merah.
"Kenapa?"
Orang itu menghela napas panjang beberapa kali, kemudian terdengar suaranya yang lembut.
"Karena aku tidak ingin melihat engkau tewas di sana."
"Akan tetapi, aku tidak takut mati!"
Sian Li berkata dan membanting kakinya dengan marah.
Pendekar itu tidak menjawab, lalu melangkah pergi meninggalkan Sian Li.
Gadis itu hendak marah-marah, akan tetapi ia melihat betapa pendekar itu langkahnya gontai dan agak terhuyung.
Tentu saja ia menjadi heran dan mengikuti dari belakang.
Orang bercaping lebar itu menuju ke sebuah guha besar yang tertutup rumpun semak-semak berduri, dan agaknya sudah biasa dia berada di situ.
Ketika dia memasuki guha, Sian Li mengikuti dan ternyata guha itu terpelihara dan bersih, merupakan ruangan yang terlindung.
Begitu memasuki guha, pendekar aneh itu lalu duduk bersila, seolah tidak mempedulikan lagi kepada Sian Li.
Gadis ini tentu saja menjadi semakin marah.
Orang ini biarpun pernah beberapa kali menolongnya, akan tetapi sekali ini telah bertindak keterlaluan.
Sudah memaksa ia melarikan diri, sekarang malah mengacuhkannya sama sekali.
"Heiiii! Engkau ini ternyata hanyalah seorang pendekar yang mempunyai pikiran tidak senonoh!"
Bentaknya semakin marah.
Pendekar itu menggerakkan kepalanya yang tadi bertunduk, akan tetapi tidak langsung menghadapkan mukanya yang tertutup rambut dan tirai.
"Kenapa engkau menuduh demikian?"
Tanyanya, masih lembut dan penuh kesabaran.
"Buktinya, engkau hanya melarikan aku. Kalau memang hendak menolong, kenapa hanya aku yang kau tolong, dan meninggalkan Suheng di sana?"
"Dia sudah tertawan, kalau kubiarkan engkau akan tertawan pula."
"Aku tidak takut! Suheng telah ditawan, aku pun harus menolongnya, tidak peduli aku akan tertawan pula atau mati sekalipun!"
Sejenak orang itu tidak berkata-kata, kemudian terdengar suaranya lirih.
"Engkau tentu.... amat sayang kepada suhengmu itu."
"Tentu saja! Dia Suhengku, kalau bukan aku yang menolongnya, lalu siapa lagi?"
"Kalau engkau tadi tewas atau tertawan, lalu bagaimana engkau akan dapat menolong suhengmu?"
Ucapan itu menyadarkan Sian Li dan ia pun termangu. Sin-ciang Tai-hiap berkata lagi.
"Mereka terlalu banyak dan juga banyak orang lihai. Karena terpaksa aku mengajakmu melarikan diri dari sana agar kita dapat mengatur siasat untuk dapat menolong suhengmu...."
Ucapan itu tidak dilanjutkan, berhenti tiba-tiba dan pendekar itu menundukkan mukanya.
Sian Li masih curiga, apalagi melihat orang itu menghentikan ucapannya dengan tiba-tiba dan sikapnya seperti orang yang menyembunyikan sesuatu.
Ia tidak mengenal siapa orang ini, tidak tahu pula bagaimana wataknya.
Siapa tahu semua itu hanya siasat saja dan orang yang selalu menyembunyikan mukanya itu memang mempunyai niat yang tidak baik.
"Sudahlah, aku harus kembali ke sana sekarang juga untuk membebaskan Suheng!"
Katanya dan ia pun hendak meninggalkan tempat itu. Akan tetapi, pendekar bercaping itu sudah mendahuluinya bergerak dan menghadang di depannya.
"Jangan! Sekarang belum boleh...."
Benar saja dugaannya.
Orang ini mempunyai niat yang tidak baik, pikir Sian Li kecewa.
Sebelum ini, ia selalu mengenang Sin-ciang Tai-hiap yang pernah menolong ia dan suhengnya, membuat ia kagum dan ingin sekali bertemu.
Setelah jumpa, kekagumannya menghilang karena ulah pendekar itu yang amat mencurigakan, dan kini ia malah menjadi marah sekali.
"Siapa pun tidak boleh melarang aku menolong Suhengku!"
Bentaknya dan ia pun maju terus dan mendorong pendekar yang menghadang itu dengan tangan kirinya.
Tangan kirinya mengenai dada orang itu dan....
pendekar itu terdorong ke belakang, terhuyung lalu roboh!
Tentu saja Sian Li merasa heran dan terkejut bukan main.
Mengapa orang itu menjadi demikian lemah?
Ia cepat menghampiri dan keheranannya bertambah ketika melihat bahwa orang itu telah pingsan!
Wajahnya masih tertutup rambut dan tirai, akan tetapi napasnya terengah ketika ia menyentuh lengannya, terasa amat panas!
Sian Li menjadi khawatir sekali.
Sebagai murid Yok-sian Lo-kai yang sudah mempelajari ilmu pengobatan dari Dewa Obat itu, sekali pegang nadi orang itu tahulah ia bahwa tubuh orang itu telah keracunan secara hebat!
Racun yang berhawa panas, pikirnya dengan lega.
Kalau racun yang mengandung hawa panas, masih lebih mudah untuk diobati, dibandingkan racun berhawa dingin.
Jelas bahwa pendekar ini keracunan dan teringatlah ia ketika Sin-ciang Tai-hiap tadi membantunya.
Ia diserang jarum-jarum oleh Pek-lian Sam-li dan pendekar ini yang melompat dan meruntuhkan jarum-jarum itu dengan lengan bajunya, gerakan yang membuat ia kagum bukan main.
Jangan-jangan ada jarum yang mengenai tubuh pendekar ini.
Tangannya meraba-raba dan akhirnya ia tahu bahwa memang benar racun itu berpusat di pundak kirinya.
Tanpa ragu lagi Sian Li merobek baju di pundak kiri dan benar saja.
Ada bintik kehijauan di situ, kecil sekali dan ia pun tahu bahwa tentu jarum itu memasuki bagian tubuh itu dan meracuni darah.
Sebagai murid Yok-sian Lo-kai yang pandai, Sian Li tahu apa yang harus dilakukannya.
Lebih dahulu ia menotok jalan darah di sekitar pundak untuk mencegah menjalarnya racun, Kemudian dengan ujung pedangnya yang tajam ia menoreh bintik hijau itu sehingga kulit dan dagingnya terbuka dan ia mencokel keluar sebatang jarum hitam kehijauan.
Kemudian, ia menyedot luka itu dengan mulutnya, menghisap keluar darah yang keracunan, lalu menaruh obat bubuk pada luka di pundak.
Setelah itu, ia mengeluarkan jarum emas dan perak yang ia dapatkan dari Yok-sian Lo-kai dan melakukan pengobatan dengan tusuk jarum di beberapa bagian tubuh untuk memunahkan sisa hawa beracun yang mengeram di tubuh Sin-ciang Tai-hiap.
Kurang lebih setengah jam ia memberi pengobatan sampai ia merasa yakin benar bahwa pendekar itu telah terbebas dari racun.
Ia memulihkan jalan darah pendekar itu.
Pernapasannya mulai normal kembali dan tubuhnya tidak panas seperti tadi.
Melihat pendekar itu masih rebah telentang dalam keadaan tak sadar timbul keinginan hati Sian Li untuk melihat wajahnya.
Dia masih pingsan, apa salahnya kalau ia melihat wajahnya sebentar saja?
Orang ini selalu menyembunyikan muka.
Kenapa?
Cacatkah dia?
Atau ada rahasia lain?
Sekarang ia tahu bahwa tadi kecurigaannya tidak beralasan sama sekali.
Pendekar ini jauh daripada apa yang ia curigakan.
Sama sekali tidak mempunyai niat buruk, apalagi tak senonoh.
Pendekar tadi menderita luka beracun yang parah ketika tadi menolongnya.
Karena itulah maka pendekar itu memaksanya melarikan diri, karena kalau tidak, tentu mereka berdua sudah tertawan pula, atau terbunuh.
Dan memang benar.
Kelau pendekar itu tidak memaksanya melarikan diri, tentu mereka bertiga sudah tertawan dan tidak ada kesempatan sama sekali untuk menolong suhengnya.
Pendekar ini benar.
Ia yang terburu nafsu dan mencurigainya.
Apa salahnya memandang sebentar saja wajahnya yang penuh rahasia, mengambil kesempatan selagi dia belum siuman?
Dengan jari-jari tangan gemetar karena tegang dan juga diam-diam merasa malu kepada diri sendiri bahwa ia telah mencuri dan membuka rahasia orang Sian Li menyingkap tirai di depan muka itu, lalu menyingkap rambut yang terurai awut-awutan menutupi muka.
Ia melihat sebuah wajah yang tampan.
Muka itu berbentuk lonjong dengan dagu runcing dan ujung dagu berlekuk, alis yang tebal hitam dengan mata terpejam, dahinya lebar, hidung mancung dan bentuk muka yang amat dikenalnya.
Ia terbelalak, tak bergerak seperti patung, lalu bibirnya berbisik berulang-ulang, seolah tidak percaya kepada pandang matanya sendiri.
"Yo Han....? Suheng.... Kakak Yo Han....?"
Akan tetapi, ia membantah sendiri.
Tidak mungkin ini suhengnya yang selama bertahun-tahun dirindukannya itu.
Suhengnya itu selamanya tidak pernah suka berlatih silat.
Suhengnya itu amat baik kepadanya, seperti kakak kandungnya sendiri, akan tetapi sama sekali tidak pandai silat walaupun ayah ibunya berusaha untuk menggemblengnya.
Dan pendekar ini memiliki ilmu silat yang amat tinggi.
Akan tetapi wajah ini....!
Bagaimana mungkin ia bisa salah?
Wajah ini hampir tidak pernah meninggalkan lubuk hatinya.
Biarpun kini telah menjadi seorang laki-laki dewasa, namun bentuk muka itu tidak berubah.
Dahi itu, hidung mulut dan dagu itu!
Ah, ia teringat akan sesuatu.
Pernah ketika suhengnya ini mandi di sungai kecil dan bertelanjang tubuh bagian atas, ia melihat sebuah tahi lalat sebesar kedele di dada suhengnya itu, tepat di tengah ulu hatinya.
Semenjak itu, sering kali ia menggoda dan memperolok suhengnya dengan tahi lalat itu.
Dengan jari tangan menggigil Sian Li membuka kancing baju pendekar itu untuk melihat dadanya.
Ia membuka baju itu dan....
di sanalah, tepat di tengah ulu hati, bertengger tahi lalat itu.
"Kakak Yo Han....!"
Kini ia tidak ragu lagi dan ia merangkul, menangis!
Pendekar itu membuka mata dan melihat Sian Li menangis di atas dadanya, ia mendorongnya dengan halus dan bangkit duduk.
"Nona.... kau...."
Akan tetapi dia tidak melanjutkan ucapannya karena Sian Li sudah memandangnya dengan mata yang berlinangan air mata, akan tetapi mulut gadis itu tersenyum, sinar matanya penuh kebahagiaan.
"Han-suheng (Kakak Seperguruan Han), Han-koko (Kakanda Han), kenapa engkau bersikap begini terhadap aku? Benarkah engkau tidak mengenal aku lagi? Aku Sian Li, Tan Sian Li....!"
Akan tetapi Yo Han, yang selama beberapa tahun ini berkeliaran di perbatasan Tibet dan dijuluki Sin-ciang Tai-hiap oleh mereka yang pernah ditolongnya, tidak merasa heran.
Tentu saja dia sudah tahu atau dapat menduga siapa adanya gadis remaja berpakaian serba merah itu.
"Sian Li.... Sumoi...."
Katanya dan sinar matanya mengandung kasih sayang sedemikian mendalam sehingga Sian Li teringat akan masa lalu, ketika ia merasakan benar kasih sayang suhengnya ini kepadanya.
"Suheng....!"
Dan lupa akan segala, lupa bahwa ia bukan lagi kanak-kanak, ia menubruk dan merangkul Yo Han, menangis di dalam rangkulan pendekar itu!
Yo Han membiarkan saja dan mengelus rambut yang halus itu, maklum bahwa di saat seperti itu, Semua peraturan telah terlupakan, yang ada hanya peluapan perasaan.
Pada saat itu, dia tahu bahwa perasaan gembira, terharu dan bahagia meluap di hati Sian Li.
Dia sendiri pun merasa terharu dan tak terasa kedua matanya menjadi basah.
Betapa sering dia membayangkan dan mengenang Sian Li, dengan hati penuh kerinduan.
Hampir dia tidak dapat percaya akan tiba saat seperti sekarang ini, di mana dia merangkul Sian Li yang menangis di dadanya.
Setelah gejolak perasaan itu mereda, Yo Han mendorong kedua pundak gadis itu dengan lembut, bahkan memegang kedua pundak itu dan mengamati wajahnya sambil tersenyum.
Sepasang matanya mencorong sehingga diam-diam Sian Li terkejut dan kagum.
Kalau ada perubahan pada diri suhengnya ini, barangkali hanya pada sinar matanya itulah.
Ia pun membalas, mengamati wajah Yo Han.
"Aihh, adikku yang dulu begitu bengal tabah, keras hati dan pemberani, kenapa sekarang telah berubah menjadi seorang gadis yang cantik dan cengeng?"
Seketika sinar mata itu bernyala.
"Aku tidak cengeng! Aku menangis karena haru dan bahagia! Aih, Han-ko, selama ini engkau ke mana sajakah? Dan kenapa pula engkau tega meninggalkan aku sampai bertahun-tahun? Bagaimana pula engkau tahu-tahu telah menjadi seorang pendekar sakti dan berjuluk Sin-ciang Tai-hiap? Kenapa pula engkau selalu menyembunyikan muka dan tidak ingin dikenal orang? Apa pula yang menyebabkan engkau menjadi seorang petualang di daerah ini dan kenapa tidak kembali kepada kami?"
Diberondong pertanyaan-pertanyaan seperti itu, Yo Han tersenyum dan memandang wajah Sian Li penuh kasih sayang.
Sian Li masih cerewet, masih lucu seperti dulu!
"Panjang ceritanya, Li-moi.
Akan tetapi....
apakah engkau sudah melupakan suhengmu yang ditawan oleh gerombolan Lama Jubah Hitam?"
Sian Li seperti baru teringat kepada Sian Lun.
"Ah, engkau benar juga, Han-ko. Kita harus cepat menolong dan membebaskannya, sekarang juga!"
Yo Han mengangguk dan diam-diam hatinya merasa girang.
Adik seperguruan yang sejak kecil sudah dianggap seperti adiknya sendiri dan yang amat disayangnya ini ternyata merupakan seorang gadis gagah perkasa yang bertanggung jawab dan juga setia.
"Tidak akan ada gunanya kalau kita menyerbu ke sana sekarang. Malam hampir tiba dan selain di sana banyak terdapat orang lihai, juga penjagaan amat kuat dan dipasangi banyak jebakan berbahaya. Kita memang harus membebaskannya, akan tetapi tidak sekarang. Besok pagi aku akan berkunjung ke sana dan minta kepada Dobhin Lama, Ketua Lama Jubah Hitam, agar suhengmu dibebaskan.
"Tapi.... kenapa harus menanti sampai besok? Bagaimana kalau kita telambat dan terjadi apa-apa dengan Suheng? Mungkin saja dia dibunuh!"
"Jangan khawatir, Li-moi. Aku sudah tahu akan sepak terjang gerombolan Lama Jubah Hitam. Mereka tidak memusuhi para pendekar, bahkan ingin merangkul dan mengajak para pendekar bersekutu. Mereka membutuhkan kerja sama dan bantuan orang-orang pandai dalam usaha mereka merebut tahta kekuasaan di Tibet. Perjuangan melawan pemerintah Mancu hanya sebagai sarana untuk memperoleh dukungan para pendekar saja. Pada hakekatnya, yang terpenting bagi mereka adalah menguasai Tibet seperti juga orang-orang Nepal itu bercita-cita untuk merampas kekuasaan di Nepal dan mereka mencari sekutu agar kelak dapat membantu mereka. Jangan khawatir, suhengmu tidak akan dibunuh, mungkin bahkan dibujuk untuk bakerja sama dengan mereka."
Legalah rasa hati Sian Li.
Ia percaya sepenuhnya kepada Yo Han, bukan hanya percaya karena Yo Han adalah suhengnya yang sejak dahulu paling disayangnya dan dipercayainya, akan tetapi juga karena ia ingat bahwa sudah lama Yo Han bertualang di daerah ini dan tentu mengenal benar keadaannya sehingga keterangannya tadi pasti benar.
"Baiklah kalau begitu, aku menyerahkan kepadamu agar Suheng dapat bebas dari tangan mereka. Sekarang, herap kau ceritakan semua pengalamanmu sejak kita saling berpisah, Han-ko."
Yo Han merasa girang bahwa Sian Li menyebut dia koko (kakak), bukan suheng (kakak seperguruan) karena bagaimana-pun juga dia tidak pernah dengan sungguh-sunggguh belajar silat dari ayah ibu Sian Li.
"Memang sebaik-nya malam ini kita lewatkan dengan saling menceritakan pengalaman, Li-moi. Akan tetapi aku ingin tahu lebih dulu, bagaimana engkau dapat mengobati luka beracun di pundakku. Kurasakan racun itu cukup berbahaya dan kalau harus menggunakan kekuatan sendiri untuk mengusirnya dan menyembuhkan luka beracun itu, tentu akan menggunakan waktu sedikitnya sepuluh hari. Akan tetapi sekarang aku telah sembuh sama sekali! Bagaimana engkau dapat memiliki kepandaian pengobatan yang begini hebat?"
Biasanya, Sian Li tidak haus pujian, bahkan ia akan menganggap seorang pria merayu kalau memujinya.
Akan tetapi entah bagaimana sekali ini menerima pujian dari Yo Han, ia merasa amat girang dan bangga.
"Aku mempelajari ilmu pengobatan dari Yok-sian Lo-kai,"
Katanya sederhana untuk menyembunyikan rasa bangga dan senangnya.
"Ah, begitukah? Pantas saja kalau begitu. Aku sudah mendengar nama besar Dewa Obat itu. Dan kulihat ilmu silatmu juga hebat, agaknya engkau telah menguasai benar Pek-ho Sin-kun dari Suhu, akan tetapi aku melihat gerakan lain yang bukan dari ayah ibumu."
Sian Li mengangkat telunjuk kanan dan mengamangkannya kepada Yo Han.
"Nah, nah kau mau mengakali aku, ya? Engkau belum menceritakan sedikit juga tentang pengalamanmu dan engkau sudah memancing-mancing agar aku menceritakan segala tentang diriku."
Yo Han tertawa.
Sudah lama dia tidak pernah merasakan kegembiraan hati seperti saat itu.
Dan dia bersyukur kepada Tuhan bahwa dia dipertemukan dengan Sian Li di tempat yang sama sekali tidak pernah disangkanya ini dan melihat Sian Li telah menjadi seorang gadis yang cantik jelita, manis budi dan gagah perkasa.
Yo Han menceritakan pengalamannya dengan singkat saja.
"Setelah aku meninggalkan tempat tinggal orang tuamu di Ta-tung...."
"Nanti dulu, ceritakan dulu kenapa engkau meninggalkan aku, meninggalkan kami dan sampai selama ini tidak pernah kembali, Han-ko!"
Yo Han menatap wajah gadis itu dan menarik napas panjang.
Sekali lagi dia harus menghadapi suatu kenyataan dalam hidup ini, bahwa biarpun membohong adalah perbuatan tidak baik, namun ada waktunya perlu sekali orang membohong!
Membohong bukan dalam arti menipu demi keuntungan pribadi, melainkan membohong agar jangan sampai menyinggung atau menyakiti perasaan orang yang dibohonginya!
Kalau sekarang dia berterus terang bahwa dia meninggalkan keluarga gadis itu karena mendengar ayah ibu gadis itu menyatakan keinginan hati agar Sian Li jauh darinya, tentu cerita ini akan mengguncang perasaan Sian Li dan bukan hanya menyinggung, namun menyakitkan dan membingung-kan.
Maka, dia harus berbohong!
"Lupakah engkau, Li-moi?
Aku menggantikanmu menjadi tawanan Ang I Moli.
Aku sudah berjanji kepadanya bahwa kalau ia mengembalikan engkau kepada orang tuamu, aku akan menggantikanmu menjadi muridnya."
Lega rasa hati Yo Han setelah dia mulai memberi keterangan.
Bagaimanapun juga, dia tidaklah berbohong, hanya tidak berterus terang menceritakan keadaan selengkapnya.
Tentu saja Sian Li masih ingat akan semua itu.
Bahkan dahulu ketika Yo Han pergi, hampir setiap hari ia menangis dan menanyakannya, dan ia pun teringat akan pembelaan Yo Han kepadanya terhadap Ang I Moli.
"Han-ko, jadi engkau telah menjadi murid iblis betina itu?"
"Tidak, Li-moi. Ia jahat bukan main, jahat dan kejam. Aku tidak suka menjadi muridnya. Aku berhasil lolos darinya dan aku mendapatkan seorang guru di tempat rahasia. Guruku itu kini telah tiada, dan aku merantau ke sini adalah untuk memenuhi pesan terakhir guruku."
"Mencari mutiara hitam itu?"
"Benar, Li-moi. Benda mustika itu dahulu milik guruku yang hilang dicuri orang. Aku hanya ingin merampasnya kembali untuk memenuhi pesan mendiang Suhu."
"Dan engkau malang melintang di daerah barat ini sebagai Sin-ciang Tai-hiap?"
Yo-Han menarik napas panjang.
Selama bertahun-tahun dia berhasil menyimpan rahasia dirinya, akan tetapi, sekali ini rahasianya terbuka, bukan oleh orang lain, bahkan oleh Sian Li!
"Ternyata tidak mudah mencari mutiara hitam seperti yang menjadi pesan terakhir Suhu,"
Dia bercerita.
"Suhu hanya mengatakan bahwa benda pusaka itu berada di daerah barat ini. Sampai hampir lima tahun aku berkeliaran di sini, bahkan sudah menjelajah sampai ke daerah Tibet, namun belum berhasil. Dalam penjelajahan itu-lah aku bertemu dengan hal-hal yang menggerakkan hatiku untuk turun tangan menentang kejahatan. Aku tidak ingin dikenal orang, maka aku selalu menyembunyikan mukaku dan tidak memperkenalkan diri. Orang-orang memberi julukan Sin-ciang Tai-hiap. Aku membiarkan saja dan tidak ada seorang pun tahu bahwa akulah Sin-ciang Tai-hiap. Baru hari ini ada yang tahu, yaitu engkau Li-moi."
Sian Li tertawa dan suasana menjadl akrab sekali ketika dara itu tertawa.
Yo Han teringat akan masa lalu.
Suatu tawa Sian Li seperti bunyi musik merdu yang mendatangkan perasaan bahagia dalam hatinya.
Seperti tetesan air hujan pada hatinya yang selama ini seperti tanah kering.
Terasa demikian sejuk den segar dan dia pun tak dapat menahan timbulnya senyum lebar penuh kebahagiaan yang membuat wajahnya berseri.
"Hi-hi-hik, heh-heh, engkau ini sungguh aneh dan lucu, Han-ko. Engkau ingin menyembunyikan diri, tidak ingin dikenal orang, ataukah engkau bahkan ingin mempopulerkan julukanmu atau penyamaranmu itu? Dengan penyamaranmu itu, maka semakin terkenallah Sin-ciang Tai-hiap sebagai seorang pendekar yang rambutnya riap-riapan, bercaping yang ditutupi tirai! Sebaliknya, kalau engkau tidak menyamar lagi, tidak menyembunyikan diri, siapa yang akan tahu bahwa engkau adalah Sin-ciang Tai-hiap? Kenapa mesti menyamar lagi, Han-ko?"
Yo Han mengangguk-angguk.
"Engkau benar, Li-moi. Aku sudah begitu khawatir untuk dikenal orang maka aku bahkan membuat Sin-ciang Tai-hiap semakin terkenal karena dipenuhi rahasia. Mulai sekarang aku akan menanggalkan penyamaran sebagai Sin-ciang Tai-hiap, dan aku akan menjadi Yo Han biasa saja...."
Setelah berkata demikian, Yo Han yang sudah menanggalkan capingnya itu lalu menggelung rambutnya, tidak lagi dibiarkan riap-riapan.
Dia menggelung rambut, tidak dikuncirnya karena dia tidak senang harus mentaati peraturan pemerintah Mancu agar semua orang Han menguncir rambutnya.
Peraturan itu dianggapnya menghina.
"Tapi jangan dibuang caping itu, Han-ko. Pertama, benda itu memang berguna untuk melindungi kepalamu dari panas dan hujan, dan ke dua, siapa tahu kadang-kadang kau perlukan juga tokoh Sin-ciang Tai-hiap itu."
"Li-moi, sudah cukup aku menceritakan pengalamanku, sekarang kaulah yang harus menceritakan padaku keadaanmu. Semenjak kita saling berpisah. Engkau kini telah menjadi seorang gadis dewasa yang cantik jelita, lincah dan juga lihai ilmu silatnya. Tentu sekarang usiamu sudah dewasa, Li-moi."
"Ketika engkau pergi, usiaku empat tahun, Han-ko. Kita saling berpisah selama tiga belas tahun lebih, Jadi usiaku sekarang hampir delapan belas tahun. Aku belajar ilmu silat dari Ayah dan Ibu, kemudian aku menerima gemblengan dari Paman Kakek Suma Ceng Liong dan isterinya di dusun Hong-cun dekat kota Cin-an. Di sana aku bertemu dengan Suheng Liem Sian Lun, murid mereka. Selain itu, juga aku belajar ilmu pengobatan dari Yok-sian Lo-kai."
"Wah, engkau beruntung sekali, Li-moi, mendapat ilmu-ilmu dari banyak orang sakti. Akan tetapi bagaimana engkau dan suhengmu itu dapat berada di sini, amat jauh dari tempat tinggal orang tuamu?"
"Aku dan Suheng Sian Lun sedang dalam perjalanan pulang. Kami baru saja berkunjung ke Bhutan, Han-ko."
"Bhutan? Kenapa pergi ke tempat yang demikian jauh?"
Sian Li lalu bercerita tentang Gangga Dewi dan paman kakeknya Suma Ciang Bun, tentang perjalanan mereka yang jauh, juga tentang pengalamannya ketika bertemu dan bertentangan dengan Lulung Lama dan sekutunya.
Dua orang muda yang merasa amat berbahagia dalam pertemuan yang sama sekali tak pernah mereka sangka-sangka itu, bercakap-cakap sampai larut tengah malam.
Mereka makan malam secara amat sederhana sekali, dari persediaan makanan yang disimpan Yo Han di dalam guha.
Mereka saling menceritakan pengalaman masing-masing, menjawab semua pertanyaan.
Setelah lewat tengah malam, barulah mereka istirahat dan tidur saling mengetahui hampir semua keadaan diri masing-masing.
Hanya ada sebuah hal yang masih membuat Yo Han sangsi dan ragu, yaitu tentang hubungan batin aratara Sian Li dan suhengnya.
Mereka adalah kakak beradik seperguruan, akan tetapi apakah tidak lebih daripada itu?
Mereka adalah seorang pemuda dan seorang gadis tidak ada hubungan darah, dan keduanya tampan dan cantik, melakukan perjalanan berdua saja.
Tidak aneh kalau mereka itu saling mencinta, bahkan agaknya tidak wajar kalau tidak ada perasaan cinta di antara mereka.
Yo Han tidak berani bertanya akan hal itu, akan tetapi dia menduga bahwa Sian Li agaknya amat mencinta suhengnya itu.
Dan dia pun tidak akan merasa heran, suheng Sian Li itu memang seorang pemuda yang tampan dan gagah, sudah sepatutnya kalau menjadi jodoh Sian Li.
Hanya, dia merasa heran dan tidak enak mengapa hatinya menjadi pedih membayangkan kakak beradik seperguruan itu saling mencinta dan menjadi jodoh.
Bahkan bayangan ini menghantuinya, membuat dia gelisah dan tidak dapat pulas.
Baru setelah jauh lewat tengah malam, dia dapat mengusir gangguan itu dan tidur pulas.
Pada keesokan harinya, Yo Han menunjukkan kepada Sian Li anak sungai berair jernih yang mengalir tak jauh dari guha itu, di mana dara itu dapat membersihkan diri.
Mereka mandi bergantian dan dengan badan segar mereka sarapan pagi seadanya, hanya roti kering dan daging kering yang dihangatkan di atas api ungun, kemudian mereka meninggalkan guha.
"Kita harus menolong suheng, Han-ko,"
Kata Sian Li ketika mereka keluar dari hutan.
"Tentu saja, Li-moi."
Dia menepuk buntalan pakaiannya.
"Aku sudah mempersiapkan capingku. Kalau aku menghadapi para Lama, aku harus berperan sebagai Sin-ciang Tai-hiap. Aku akan minta dengan hormat kepada mereka untuk membebaskan suhengmu."
"Akan tetapi bagaimana mungkin, Han-ko? Bagaimana kalau mereka tidak menuruti permintaanmu?"
"Aku tidak pernah bermusuhan dengan para Lama itu, dan mereka adalah orang-orang yang menghargai kegagah-an. Kalau perlu, aku akan menantang mereka dengan taruhan bahwa kalau aku menang, mereka harus memenuhi permintaanku."
"Kalau kau kalah?"
"Hemm, kita harus bertanggung jawab dan tidak lari dari kenyataan, Li-moi. Kalau aku kalah, mereka boleh melakukan apa saja terhadap diriku."
"Tapi.... itu berbahaya sekali, Han-ko"
Yo Han tersenyum.
"Aku tahu, Limoi, sejak aku mempelajari ilmu silat, tahulah aku bahwa aku telah terjun ke dalam dunia kekerasan di mana terdapat penuh bahaya. Akan tetapi, hidup seperti apakah yang tidak berbahaya? Hidup itu sendiri Sudah merupakan suatu bahaya, Li-moi. Hidup adalah perjuangan, suatu perjuangan orang tiada hentinya melawan bahaya yang datang dari segala jurusan. Hidup merupakan suatu tantangan yang harus kita perjuangkan, kita hadapi, dan perjuangan itu adalah untuk mengatasi semua tantangan itu, semua bahaya itu!"
Sian Li mengerutkan alisnya dan saking tertarik, ia menghentikan langkahnya, memandang kepada pemuda itu.
"Eh? Apa maksudmu, Han-ko? Kehidupan seorang dari dunia persilatan seperti kita memang menghadapi banyak tantangan, banyak bahaya, akan tetapi kehidupan seorang biasa, apakah bahaya dan tantangannya?"
Yo Han tersenyum.
"Tiada bedanya, Li-moi. Apakah kehidupan seorang petani miskin itu tidak penuh tantangan yang harus mereka hadapi dan atasi tantangan itu dapat datang dari kemiskinannya, dari kesehatan yang terganggu, dari kesejahteraan keluarganya, dari kerukunan keluarganya. Orang dapat ditentang oleh kekurangan makan pakaian dan tempat tinggal, oleh gangguan kesehatan oleh percek-cokan rumah tangga, dan seribu satu tantangan lagi. Semua itu mau tidak mau, harus dihadapi dan diatasi, kita tidak mungkin dapat lari darinya, karena itulah isi kehidupan ini, urusan jasmani, urusan duniawi."
"Hemm, kalau orang kaya dan orang berpangkat tentu tidak menghadapi semua tantangan dan kesulitan...."
"Siapa bilang? Mereka pun dapat sakit, dapat cekcok dengan keluarga. Bahkan ditam-bah lagi. Orang kaya harus mempertahankan kekayaannya, menjaganya agar tidak berkurang atau lenyap, selalu khawatir akan kehilangan. Demikian pula orang berkedudukan selalu ingin mempertahan-kan kedudukannya, takut kehilangan. Pendeknya, selagi hidup sebagai manusia, kita tidak akan dapat bebas dari tantangan dan bahaya. Justeru itulah isi kehidupan, itulah romantikanya kehidupan. Dan menghadapi semua itu, berusaha mengatasinya. Perjuangannya melawan semua tantangan, itulah seninya, seni kehidupan! Betapa akan membosankan kalau hidup ini tidak ada tantangan yang harus ditanggulangi, dihadapi dan diatasi. Senang baru akan terasa senang kalau kita pernah merasakan susah. Kepuasan yang sebenarnya hanyalah terasa kalau kita pernah merasa kecewa. Bukankah begitu, Li-moi?"
Sian Li terbelalak, kemudian tertawa.
"Wah-wah-wah, bicaramu seperti seorang guru besar kebatinan saja, Han-ko. Menurut Ayah dan Ibuku, dahulu engkau tidak suka akan kekerasan, tidak suka belajar silat, akan tetapi sekarang malah menjadi seorang pendekar sakti dan bicaramu seperti seorang pendeta!"
"Li-moi, mengenai kehidupan, apakah hanya para pendeta saja yang harus mengetahuinya?
Kehidupan adalah kita sendiri, Li-moi.
Sudah sewajarnya, bahkan sepatutnya kalau setiap orang tahu dan mengerti akan kenyataan dalam hidup ini.
Sampai sekerang pun aku tidak suka akan kekerasan, Li-moi, karena aku tahu dan yakin benar bahwa kekerasan bukanlah cara terbaik untuk hidup.
Namun, menghadapi tantangan dalam kehidupan, sekali waktu kita membutuhkan juga kekuatan untuk menanggulanginya, dan seperti juga semua ilmu, ilmu silat pun amat berguna kalau saja dipergunakan melalui garis yang benar, bukan sebagai alat mengum-bar nafsu.
Nah, kurasa engkau pun tentu sudah mengerti akan semua itu, karena aku tahu bahwa orang tuamu adalah sepasang (Lanjut ke
Jilid 21) Si Bangau Merah (Seri ke 15 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 21 suaml isteri yang bijaksana.
Apalagi engkau telah digembleng oleh paman kakekmu dan isterinya, juga oleh seorang tokoh besar seperti Yok-sian Lo-kai."
Sian Li mengangguk-angguk kagum.
"Cara mereka bicara tidak jauh bedanya dengan apa yang kau katakan semua tadi, Han-ko...."
"Hemmm, ada orang-orang datang ke sini, Li-moi. Jangan katakan bahwa aku adalah Sin-ciang Tai-hiap...."
Sian Li mengangkat muka memandang ke depan dan benar saja.
Ada enam orang datang dengan langkah lebar.
Dari jauh saja, sudah nampak bahwa lima orang di antara mereka adalah para pendeta Lama Jubah Hitam, dapat dilihat dari kepala mereka yang gundul dan jubah hitam mereka yang lebar.
Yang seorang lagi adalah seorang pemuda.
Setelah mereka datang lebih dekat dan Sian Li mengenal siapa pemuda itu, wajahnya berubah merah dan ia menjadi marah.
Pemuda itu bukan lain adalah Cu Ki Bok murid Lulung Lama yang kurang ajar itu.
Dan lima orang gundul itu adalah lima orang anggauta Hek I Lama.
"Jahanam busuk! Akan kubunuh kalian!"
Sian Li sudah meraba gagang pedangnya, akan tetapi Yo Han menyentuh lengannya.
"Sabarlah, Li-moi, biarkan mereka mengatakan dulu apa maksud mereka mencari kita."
Kini Cu Ki Bok sudah tiba di depan mereka.
Pemuda yang tinggi tegap dan tampan gagah itu tersenyum, dan lima orang pendeta Lama yang berdiri di belakangnya, diam tak bergerak seperti patung.
"Selamat pagi, Nona Tan Sian Li. Senang sekali bertemu denganmu, karena Nona tentu akan dapat memberi tahu kepada kami di mana kami dapat bertemu dengan Sin-ciang Tai-hiap."
Sian Li tersenyum mengejek.
"Hemm, keparat busuk, andaikata aku tahu sekalipun tak akan sudi aku memberitahukan kepadamu!"
"Hemm, Nona jangan berlagak. Kalau tidak ada Sin-ciang Tai-hiap, apa kau kira akan mampu lepas dari tangan kami? Sekarang kami menginginkan Sin-ciang Tai-hiap, untuk menyampaikan pesan dari ketua kami. Katakan di mana aku dapat bertemu dengan dia, dan aku tidak akan mengganggumu lagi, melihat muka pendekar itu."
"Sobat, katakan saja kepada kami apa yang akan kau sampaikan kepada Sin-ciang Tai-hiap, dan kamilah yang akan menyampaikan kepadanya,"
Kata Yo Han dengan suara tenang dan lembut.
Cu Ki Bok memandang kepada Yo Han dengan alis berkerut, jelas bahwa dia memandang rendah kepada pemuda itu, tidak mengenalnya, akan tetapi merasa tidak senang karena pemuda ini berdua dengan gadis yang dirindukannya.
"Siapa kamu? Dan mengapa aku harus menyampaikan pesanku untuk Sin-ciang Tai-hiap kepada kamu?"
Sian Li marah sekali melihat sikap dan mendengar ucapan yang nadanya menghina dan memandang rendah itu.
Akan tetapi Yo Han tersenyum, girang bahwa kini dia dapat menghadapi orang tanpa menyembunyikan wajah aselinya dan orang itu tidak mengenalnya.
Benar juga pendapat Sian Li semalam.
Sin-ciang Tai-hiap yang harus dirahasiakan, bukan Yo Han!
"Namaku Yo Han, dan aku orang biasa saja, akan tetapi aku telah dipesan oleh Taihiap bahwa jika ada orang yang mencarinya, boleh menyampaikan kepada kami berdua.
Kalau engkau percaya kepada kami, nah, katakan apa yang kau ingin sampaikan kepadanya.
Kalau tidak percaya, sudahlah, kau cari saja sendiri."
Sian Li mengeluarkan suara tawa mengejek.
"Huh, mana pengecut ini berani mencari Sin-ciang Tai-hiap? Baru melihatnya saja, dia akan lari terbirit-birit!"
Lalu dilanjutkannya dengan nada suara marah.
"Kawanan srigala ini licik dan pengecut, beraninya hanya main keroyokan. Buktinya, Suheng ditawan karena keroyokan. Jahanam Cu Ki Bok, kalau kalian mengganggu Suhengku, aku akan membasmi kalian semua, tak seorang pun kubiarkan hidup!"
Mendengar ucapan yang keras itu, Cu Ki Bok tidak menjadi marah, bahkan dia tertawa geli.
"Ha-ha-ha, kau kira suhengmu itu kami ganggu, Nona? Nona masih saja salah sangka. Kami bukanlah penjahat. Kami adalah pejuang-pejuang yang bercita-cita mengusir penjajah Mancu. Kami membutuhkan kerja sama dengan para pendekar. Bukankah ketua kami tadinya juga menawarkan kerja sama dengan Nona dan suheng Nona itu? Dan sekarang suhengmu dengan suka rela membantu kami, dan dia hidup bersenang-senang. Hemm, suhengmu memang pandai mempergunakan kesempatan, aku sendiri sampai iri melihat dia bersenang-senang seperti itu...."
"Kau bohong!"
Sian Li membentak, akan tetapi diam-diam ia ingin sekali tahu kesenangan apa yang dimaksudkan oleh orang itu.
"Sudahlah, aku pun datang bukan untuk membicarakan urusan Liem Sian Lun. Aku diutus oleh ketua kami untuk bicara dengan Sin-ciang Tai-hiap. Kuharap saja dia akan muncul menemui kami."
"Orang macam engkau tidak berharga untuk bertemu dengan Sin-ciang Tai-hiap,"
Kata Sian Li.
"Sampaikan saja kepadaku atau kau boleh minggat dari sini."
Wajah Cu Ki Bok berubah merah.
Dia merasa direndahkan dan dihina oleh gadis itu, akan tetapi harus diakuinya bahwa dia memang merasa jerih untuk berhadapan dengan pendekar sakti itu.
"Baiklah, akan kusampaikan kepadamu, Nona Tan Sian Li, akan tetapi tidak kepada cacing tanah itu."
Cu Ki Bok menggerakkan kepala ke arah Yo Han dengan sikap amat merendahkan sehingga wajah Sian Li berubah, merah karena marahnya.
"Cu Ki Bok, kalau engkau menghina kami berdua, berarti engkau menghina Sin-ciang Tai-hiap karena Taihiap telah memberi kuasa kepada kami berdua untuk mewakilinya bicara dengan siapa saja! Nah, katakan kepada kami berdua apa keperluanmu tanpa menghina orang, atau aku akan mewakilinya membunuhmu di sini juga!"
Cu Ki Bok tidak gentar terhadap Sian Li, akan tetapi dia takut kalau Sin-ciang Tai-hiap muncul membantu nona itu.
"Baik, dengarlah pesan kami. Ketua kami, Dobhin Lama mengundang Sin-ciang Tai-hiap untuk mengadakan pertandingan adu ilmu...."
"Huh, dan kalian tentu akan menjebaknya dan mengeroyoknya dengan mengandalkan banyak orang, bukan?"
Sian Li mengejek. Ia sengaja memanaskan hati pihak lawan.
"Sama sekali tidak!"
Bantah Cu Ki Bok penasaran.
"Nona, engkau belum mengenal siapa adanya Supek (Uwa Guru) Dobhin Lama! Beliau adalah seorang tokoh besar di Tibet yang memiliki kedudukan tinggi. Tidak mungkin Supek mengguna-kan siasat. Supek telah lama mendengar akan nama besar Sin-ciang Tai-hiap dan kini ingin mengadu ilmu dengan Sin-ciang Tai-hiap. Kalau Sin-ciang Tai-hiap mampu menandingi Supek Dobhin Lama, maka mutiara hitam akan dikembalikan kepadanya."
"Hemm, tidak cukup dengan itu! Kalau dia dapat menga-lahkan Dobhin Lama, selain mutiara hitam diserahkan kepadanya, juga Suheng Liem Sian Lun harus di-bebaskan!"
Kata Sian Li.
"Kalau syarat ini tidak dijanjikan, aku tidak sudi menyampaikan kepadanya."
"Ha-ha-ha, sekarang juga dia sudah bebas, akan tetapi mana mungkin dia mau meninggalkan segala kesenangan itu? Akan tetapi baiklah, aku yang tanggung bahwa syarat ke dua itu dapat diterima dan disetujui oleh Supek. Kalau Supek kalah, Liem Sian Lun akan dibebaskan dan mutiara hitam akan diserah-kan kepada Sin-ciang Tai-hiap. Akan tetapi sebaliknya, kalau Supek yang menang, Sin-ciang Tai-hiap harus membantu perjuangan untuk menentang penjajah Mancu."
Tentu saja Sian Li tidak berani lancang menerima syarat itu, maka ia menoleh kepada Yo Han dan berkata.
"Han-ko, bagaimana pendapatmu? Biarpun Taihiap sudah menyerahkan keputusannya kepadaku, akan tetapi aku ingin tanya pendapatmu sebelum menerima syarat itu."
Yo Han mengangguk-angguk.
"Sin-ciang Tai-hiap adalah seorang pendekar yang menjunjung tinggi keadilan dan kebenaran. Bangsa Mancu menjajah, hal itu jelas tidak adil dan tidak benar, maka tentu saja dia tidak akan berkeberatan untuk menentang penjajah Mancu."
Sian Li mengangguk-angguk.
"Tepatsekali, aku pun berpikir demikian, Hanko. Nah, Cu Ki Bok, akan kusampaikan pesan itu kepada Sin-ciang Tai-hiap. Kuulangi taruhannya. Kalau dia menang, mutiara hitam harus diserahkan kepadanya dan Suhengku harus dibebaskan. Kalau Dobhin Lama yang menang, Sin-ciang Tai-hiap harus membantu perjuangan menentang penjajah Mancu. Kalau dia menerima tantangan itu, lalu kapan pertandingan itu diadakan dan di mana?"
Cu Ki Bok tersenyum.
"Dalam hal ini, Supek ingin memperlihatkan iktikad baiknya dan kejujurannya ketika mengajak Sin-ciang Tai-hiap untuk mengadu ilmu. Supek menyerahkan kepada Sin-ciang Tai-hiap untuk menentukan waktu dan tempat."
"Kalau begitu sekarang juga!"
SianLi berkata dengan cepat. Dara yang cerdik ini segera mengambil keputusan yang dianggapnya menguntungkan pihaknya.
"Dan tempatnya, di puncak bukit sebelah sana itu!"
Ia menunjuk ke arah bukit disebelah kiri.
Ia tahu bahwa tempat yang menjadi sarang Hek I Lama berada disebelah kanan, maka bukit itu tentu merupakan tempat bebas dari pengaruh kekuasaan Hek I Lama sehingga kalau diadakan pertandingan di sana, maka pihak musuh tidak akan sempat mengatur siasat untuk menjebak atau mengeroyok.
Cu Ki Bok memandang ke arah bukit itu dan mengangguk-angguk.
"Baiklah, Kami akan melapor kepada ketua kami. Sebentar lagi, menjelang tengah hari, tentu Supek telah berada di puncak bukit itu. Harap saja janji kalian bukan merupakan bual kosong belaka. Selamat tinggal!"
Cu Ki Bok lalu pergi dari situ diikuti lima orang pendeta Lama.
"Kenapa engkau memilih tempat pertandingan di puncak bukit itu, Li-moi?"
"Aku sengaja memilih tempat yang jauh dari mereka agar kita dapat mendahului mereka ketempat itu sehingga mereka tidak sempat membuat jebakan. Sebaiknya kalau kita sekarang juga pergi ke sana, Han-ko, untuk mengenal medan dan mempersiapkan diri."
Yo Han kagum.
Kiranya Sian Li, Si Bangau Merah yang dahulu sering digendongnya dan diajak bermain-main itu, kini telah menjadi seorang gadis yang cantik jelita, lihai, pemberani dan juga cerdik sekali.
Cara gadis itu tadi menghadapi Cu Ki Bok saja sudah menunjukkan kecerdikannya.
Diam-diam dia merasa bangga.
Mereka lalu berangkat mendaki bukit yang tadi ditunjuk oleh Sian Li.
Bukit itu ternyata merupakan sebuah bukit yang sunyi, penuh dengan hutan belukar dan tidak nampak ada dusun di atas bukit.
Dusun-dusun hanya terdapat di kaki bukit, begitu mereka mendaki ke atas, ternyata tidak terdapat dusun di lereng-lereng bukit itu yang penuh hutan liar belukar dan rawa-rawa.
Bahkan mendaki ke puncak pun tidak mudah walaupun bukit itu tidak terlalu besar.
Karena kini dia sudah berada di tempat di mana ditentukan adu kepandaian itu, untuk menjaga kalau-kalau ada pihak musuh yang melihatnya.
Yo Han sudah mengenakan caping berikut tirai sutera hitamnya, dan membiarkan rambutnya juga terlepas riap-riapan.
Akan tetapi, betapa heran mereka ketika tiba di puncak, mereka melihat sebuah pondok berdiri di situ!
Sebuah pondok kayu yang nampaknya masih baru, mungkin hanya beberapa bulan saja umurnya.
Kecil namun kokoh kuat.
Dan di belakang dan kanan kiri pondok itu nampak ditanami sayur-sayuran, di depan pondok, sebuah taman yang penuh bunga indah amat menyedapkan pandang mata.
Tentu saja Sian Li dan Yo Han tertegun sejenak dan saling pandang.
Sungguh diluar dugaan mereka bahwa di tempat sunyi itu terdapat pondok tempat tinggal orang!
Siapa orangnya yang tinggal di tempat sunyi seperti ini?
Tentu hanya pertapa atau pendeta yang sengaja mengasingkan diri dari dunia ramai.
Ketika dengan ragu-ragu mereka memasuki pelataran rumah itu yang merupakan sebuah taman dikelilingi pagar bambu, tiba-tiba terdengar bentakan halus suara wanita.
"Berhenti! Siapa kalian berani lancang memasuki pekarangan rumah orang tanpa diundang!"
Yo Han dan Sian Li berhenti, lalu memandang ke arah suara yang keluar dari pinggir pondok.
Ketika pemilik suara muncul, mereka memandang heran.
Wanita itu berusia lima puluh tahun lebih, namun masih nampak cantik manis.
Pakaiannya sederhana namun bersih dan ringkas, tubuhnya masih padat dan tegak, sikapnya gagah dan sebatang pedang yang tergantung di pinggang menunjukkan bahwa wanita ini seorang ahli silat yang tidak lemah.
Rambut panjang yang sudah dihias uban itu digelung ke atas, dengan hiasan tusuk sanggul dari perak berbentuk bunga seruni.
Wanita itu dengan alis berkerut dan sinar mata tajam menyelidik, mengamati Yo Han dan Sian Li.
Juga ia merasa heran melihat bahwa tamu-tamu yang tidak di undangnya itu seorang pemuda tampan bermata tajam mencorong, dan seorang gadis yang jelita.
Sian Li yang lincah jenaka itu sudah dapat menguasai keheranannya dan iapun tersenyum manis.
"Aih, Bibi ini manusia ataukah peri? Bibi kelihatan seperti seorang wanita setengah tua yang cantik dan gagah, agaknya memang seorang manusia dari darah daging. Akan tetapi kalau manusia, kenapa hidup dipuncak bukit yang amat sepi ini seorang diri?"
Wanita itu terbelalak dan matanya bersinar marah.
"Kau bocah lancang mulut!"
Wanita itu menggerakkan lengan bajunya dan tiba-tiba tubuhnya sudah meloncat dan melayang ke depan Sian Li.
Gerakannya demikian ringannya seperti terbang saja.
Begitu tiba di depan Sian Li, ia menggerakkan tangan menampar ke arah pundak gadisitu.
Tamparannya nampak lembut dan tidak mengandung tenaga, akan tetapi ada angin yang dingin menyambar ke arah pundak Sian Li.
Gadis ini terkejut, mengenal pukulan yang mengandung sin-kang (tenaga sakti) dingin.
Cepat ia pun mengelak dan sambaran tangan wanita itu luput.
Kini tangan kanan wanita itu menyambar dan kembali tangan itu menampar ke arah pundak kiri Sian Li.
Kalau tadi tangan kiri wanita itu mendatangkan angin yang dingin sekali, sekarang tangan kanannya yang menyambar itu membawa angin pukulan yang amat panas sehingga telapak tangan itu beruap!
Kembali Sian Li terkejut dan cepat ia menggeser kaki, menarik diri ke belakang sehingga pukulan ke dua itupun luput.
"Ehh....?"
Wanita itu nampak terkejut dan heran.
Tak disangkanya sama sekali bahwa gadis remaja yang lancang mulut itu mampu menghindarkan diri dari dua tamparannya yang hebat!
Ia merasa penasaran dan siap untuk menyerang sungguh-sungguh akan tetapi pada saat itu terdengar suara mencegahnya.
"Ibu, harap jangan pukul orang....!"
Wanita setengah tua itu terkejut dan membalikkan tubuh, dan ketika ia melihat seorang pemuda keluar dari pintu pondok, ia mengangkat kedua tangannya ke atas dan memandang penuh kekhawatiran.
"Ciang Hun, kenapa engkau bangun. Seharusnya engkau melanjutkan pengobatan dengan menghimpun hawa murni agar engkau sembuh benar!"
Pemuda itu tersenyum.
"Ibu, aku sudah sembuh."
Mendengar ini, wanita itu berlari menghampiri dan merangkul pundak pemuda itu dengan pandang mata yang membuat Sian Li terharu.
Pandang mata wanita itu terhadap puteranya sungguh penuh kasih sayang mendalam!
Wanita itu seorang ibu yang teramat besar kasih sayangnya kepada puteranya.
Ia pun seperti Yo Han, kini memperhatikan pemuda yang baru muncul dari dalam pondok itu.
Pemuda itu bertubuh tinggi besar dan tegap sehingga nampak gagah perkasa, namun wajahnya membayangkan kelembutan dan ketenangan.
Usianya sekitar dua puluh delapan tahun.
Pada saat itu, wajahnya agak pucat, wajah yang tampan dengan alis tebal dan hidung mancung besar.
Matanya seperti mata ibunya, jeli dan bersinar tajam.
Pemuda itu kini meng-hampiri Sian Li dan Yo Han.
Pandang matanya menyelidik, akan tetapi mulutnya tersenyum ramah dan dengan rendah hati dia mengangkat kedua tangan di depan dada sebagai penghormatan.
Tentu saja Yo Han segera membalasnya, dan Sian Li yang masih mendongkol karena tadi diserang secara membabi-buta, mengikuti Yo Han dengan setengah hati.
"Harap Jiwi (Anda Berdua) memaafkan ibuku yang menyambut Jiwi dengan sikap kasar. Hendaknya Jiwi ketahui bahwa disini banyak berkeliaran orang jahat, maka ibuku menjadi pemarah dan mencurigai semua orang. Kalau boleh kami mengetahui, siapakah Jiwi dan apa pula maksud kunjungan Jiwi kesini?"
Selain suaranya lembut, wajahnya cerah dan dihias senyum, juga kata-katanya teratur, tanda bahwa pemuda tinggi besar itu seorang yang terpelajar.
Yo Han segera merasa tertarik dan dia pun merasa sungkan sekali, ingat betapa dia dan Sian Li telah lancang memasuki pekarangan orang tanpa ijin.
Wanita, setengah tua itu tidak bersalah, apalagi agaknya ucapan jenaka dari Sian Li tadi agaknya membuat wanita yang sedang risau dan pemarah itu salah sangka atau salah tampa.
"Kamilah yang seharusnya minta maaf sobat,"
Kata Yo Han dengan sikap sopan.
"Kami telah lancang memasuki pekarangan ini, bukan dengan niat buruk dihati, melainkan karena keinginan tahu siapa penghuni rumah ditempat yang sunyi ini. Saya bernama Yo Han dan adik ini bernama Tan Sian Li."
Pemuda tinggi besar itu menerima perkenalan dengan ramah.
"Namaku Gak Ciang Hun, dan ini adalah ibuku. Baru beberapa bulan kami memilih tempat ini sebagai tempat tinggal yang baru. Kami kira tempat ini tenteram dan penuh kedamaian, siapa kira, baru sebulan yang lalu dikaki bukit kami bertemu dengan orang-orang jahat yang mengeroyok sehingga biarpun kami berhasil mengusi rmereka, aku menderita luka dan ibu menjadi pemarah, selalu mencurigai setiap orang asing."
"Apakah orang-orang jahat itu para Lama berjubah hitam, ataukah orang Nepal, atau pengemis-pengemis bertongkat hitam?"
Tanya Sian Li.
Gak Ciang Hun memandang kepada Sian Li dengan mata terbelalak lebar.
Baru sekarang dia memandang gadis itu sepenuhnya dan diam-diam dia merasa kagum dan terpesona.
Gadis ini bukan saja lincah jenaka, akan tetapi mampu menyambut dua kali pukulan ibunya, dan ternyata amat cantik jelita dan juga nampaknya cerdik bukan main.
"Nona, bagaimana Nona bisa mengetahuinya dengan tepat? Memang diantara para pengeroyok, terdapat tiga macam orang itu!"
"Tentu saja aku tahu!"
Kata Sian Li sambil tersenyum dan membusungkan dada yang sudah menonjol itu.
"Bahkan aku tahu lebih banyak lagi! Setidaknya, aku tahu bahwa Bibi Gak ini tentu pernah mem-pelajari ilmu Hui-yang Sin-kang dan Swat-im Sin-kang dari keluarga pendekar Pulau Es."
Wanita itu mengeluarkan seruan kaget dan dengan gerakan cepat sekali ia telah meloncat mendekati Sian Li, sepasang matanya seperti berapi ketika ia memandang kepada gadis itu.
"Hemm, bagaimana kau tahu tentang ilmu-ilmu dari Pulau Es? Hayo cepat katakan!"
Sian Li sendiri adalah seorang gadis yang galak dan pemberani. Ia tersenyum mengejek.
"Bibi, engkau terlalu galak! Aku bukan apa-apamu, kenapa main bentak saja? Kalap seperti ini sikapmu dalam bertanya, aku pun tidak jadi menjawab. Nah, kau mau apa?"
Sebelum ibunya marah-marah, pemuda tinggi besar itu cepat menengahi dan berkata.
"Harap Nona suka memaafkan Ibuku. Seperti kukatakan tadi, Ibu menjadi pemarah karena gangguan orang-orang jahat itu. Akan tetapi, sungguh kami berdua merasa terkejut dan heran sekali mendengar Nona mengenal ilmu-ilmu dari Pulau Es. Bagaimanakah Nona dapat mengetahui bahwa Ibuku mempelajari ilmu-ilmu Pulau Es?"
Sian Li tersenyum.
"Apa sukarnya? Ibumu tadi menamparku dengan Swat-im Sin-kang, kemudian tamparan kedua menggunakan tenaga Hui-yang Sin-kang. Setahuku, para murid pendekar Pulau Es tidaklah jahat dan galak, main bentak dan main pukul saja."
Mendengar ini, Gak Ciang Hun cepatmemberihormat."Kalau begitu, Nona adalah murid keluarga pendekar PulauEs?"
"Katakan dulu, dari siapakah ibumu mempelajari ilmu Pulau Es? Baru aku akan menerangkan tentang diriku,"
Kata Sian Li dengan sikap "jual mahal"
Untuk melepaskan kedongkolan hatinya karena tadi diserang dan dibentak-bentak oleh ibu pemuda itu.
"Nona Tan Sian Li, ketahuilah bahwa kami mem-pelajari ilmu keluarga Pulau Es dari mendiang kakek kami,"
Jawab Ciang Hun.
"Siapa nama mendiang kakekmu itu?"
"Mendiang kakek adalah Bu Beng Lokai (Pengemis Tua Tanpa Nama)."
Kini Sian Li terbelalak.
"Aihh....? Bukankah Locianpwe itu yang bernama GakBun Beng?"
Ia teringat akan cerita paman kakeknya, yaitu Suma Ceng Liong yang memperkenalkan nama para pendekar yang mempunyai hubungan dengan keluarga Pulau Es dan yang mewarisi ilmu-ilmu dari Pulau Es.
"Benar, Nona. Kedua orang Ayahku, Beng-san Sian-eng, juga telah meninggal dunia pula kurang lebih setahun yang lalu Setelah Ayah meninggal, Ibu tidak betah lagi tinggal di Beng-san, maka kami pergi meninggalkan Beng-san dan merantau sampai ke sini, lalu memilih tempat sunyi ini sebagai tempat tinggal sementara."
Kini Sian Li tidak berani main-main dan tidak berani bersikap galak lagi.
Ia mengangkat kedua tangan memberi hormat kepada wanita setengah tua yang masih cantik namun galak itu.
"Kalau begitu, maafkanlah aku, bibi yang baik. Kiranya bibi bukan orang lain dan di antara kita masih ada hubungan yang cukup dekat...."
"Hemm, cukuplah bermaaf-maafan ini,"
Kata Nyonya Gak atau Souw Hui Lan.
"Engkau sudah mengetahui Siapa kami, akan tetapi kami belum tahu siapa engkau dan apa hubunganmu dengan keluarga Pulau Es."
"Bibi, aku dapat dikatakan murid Pulau Es, akan tetapi juga keluarga Pulau Es. Nenekku bernama Suma Hui adalah cucu Pendekar Super Sakti dari Pulau Es, dan aku pun di ambil murid oleh Paman Kakekku sendiri, yaitu Kakek Suma Ceng Liong."
Wanita itu membelalakkan matanya dan wajah yang tadinya masam itu kini menjadi cerah berseri.
"Ahhh.... kiranya engkau cucu Enci Suma Hui dan bahkan murid pendekar benar Suma Ceng Liong? Kalau begitu, sama sekali tidak aneh kalau engkau mengenal dua tamparanku tadi! Engkau benar, kita masih ada ikatan yang dekat. Maafkan sikapku tadi, Sian Li. Kakakmu Ciang Hun benar, aku menjadi pemurung dan pemarah,bukan hanya karena sikap orang-orang jahat dikaki bukit, melainkan sejak kedua pamanmu meninggal dunia...."
Sian Li sudah mendengar dari paman kakeknya bahwa wanita ini bernama Souw Hui Lian dan menikah dengan dua orang suami, yaitu pendekar kembar Gak Jit Kong dan Gak Goat Kong, putera Gak Bun Beng.
"Sudahlah Bibi. Yang sudah meninggal tidak perlu disedihkan. Kita semua pun akan mengalaminya, dan kata Paman Kakek Suma Ceng Liong, kematian hanya merupakan perjalanan pulang yang abadi, setelah orang merantau di dunia yang penuh sengketa ini. Kalau Bibi terlalu bersusah hati, akibatnya hanya akan mengganggu kesehatan sendiri."
"Bukan main!"
Ciang Hun yang biasanya tenang dan lembut itu kini berseru dengan mata bersinar-sinar.
"Masih begini muda namun telah memiliki pengertian demikian mendalam tentang kematian. Dan siapakah saudara Yo Han ini? Apakah juga murid atau anggauta keluarga Pulau Es?"
"Ciang Hun, sekarang engkau yang kurang sopan. Kenapa dua orang tamu terhormat diajak bicara di pekarangan saja? Anak-anak yang baik, marilah kita bicara didalam pondok. Silakan masuk!"
Kata Nyonya Gak atau Souw Hui Lian.
Sian Li tertawa dan mereka pun memasuki pondok.
Siapakah ibu dan anak itu?
Nyonya itu dahulu bernama Souw Hui Lian, murid dari sepasang pendekar Gak Jit Kong dan Gak Goat Kong.
Kemudian, murid itu jatuh cinta kepada kedua orang gurunya, dan demikian sebaliknya, maka ia menjadi isteri kedua orang pendekar itu.
Dari perjodohan yang agak ganjil ini, yaitu seorang isteri dengan dua suami, lahirlah seorang anak laki-laki yang diberi nama Gak Ciang Hun.
Sepasang Pendekar Gak yang kemudian berjuluk Beng-san Sian-eng (Sepasang Pendekar dari Beng-san) itu adalah putera tunggal Gak Bun Beng, Seorang pendekar yang pernah digembleng oleh Pendekar Super Sakti sehingga mewarisi ilmu tenaga sakti dari Pulau Es, dan yang setelah tua berjuluk Bu Beng Lokai.
Pada akhir hayatnya, Bu Beng Lokai ini masih sempat mengoperkan tenaga sakti Hui-yang Sin-kang dan Swat-im Sin-kang kepada cucunya, yaitu Gak Ciang Hun yang kini telah menjadi seorang pemuda perkasa berusia dua puluh delapan tahun dan belum menikah.
Keluarga ini tinggal di Pegunungan Beng-san.
Setelah dua orang pendekar kembar itu meninggal dunia karena usia tua, Souw Hui Lian menjadi sedih sekali, tidak betah lagi tinggal di Beng-san dan mengajak puteranya merantau sampai ke barat, dan memilih bukit itu sebagai tempat tinggal.
Mereka kini duduk di dalam pondok, dimana terdapat bangku-bangku batu buatan Ciang Hun sendiri.
Sederhana namun kokoh.
"Nah, sekarang ceritakan tentang dirimu, Saudara Yo Han. Engkau she (bermarga) Yo, tentu bukan keluarga Pulau Es. Apakah murid Pulau Es pula?"
Yo Han menggeleng dan saling pandang dengan Sian Li. Gadis ini maklum akan perasaan hati Yo Han.
"Han-ko, Bibi Gak dan Kakak Ciang Hun ini bukan orang lain. Kurasa sebaiknya kalau engkau berterus terang saja, bahkan kita dapat saling bantu dengan mereka menghadapi gerombolan jahat itu."
Mendengar ucapan Sian Li Itu, Yo Han mengangguk-angguk.
Dia dikenal sebagai pendekar bertopeng atau yang selalu menyembunyikan muka dan disebut Sin-ciang Tai-hiap, bukan karena sengaja.
Dia merantau dan berkeliaran di daerah perbatasan Tibet ini karena menunaikan tugas, mentaati pesan mendiang gurunya, Kakek Ciu Lam Hok, yaitu mencari dan merampas kembali mustika mutiara hitam.
Karena bertahun-tahun dia tidak dapat menemukan pusaka itu, maka sepak terjangnya menentang kejahatan membuat nama Sin-ciang Tai-hiap terkenal.
Kalau mustika itu sudah dapat dirampasnya, tentu dia akan meninggalkan daerah itu dan Sin-ciang Tai-hiap pun akan lenyap bersama dia.
Terhadap orang orang segolongan sendiri, memang tidak perlu menyembunyikan rahasianya itu, apalagi saat ini dia sedang menghadapi ancaman musuh yang selain lihai, juga banyak jumlahnya dan mungkin mereka akan melakukan kecurangan.
Dia tidak khawatir akan diri sendiri, melainkan khawatir karena Sian Li terlibat.
Kalau ada dua orang Ibu dan anak ini yang juga berkepandaian tinggi dapat saling bantu dengan mereka, tentu keselamatan Sian Li lebih terjamin.
"Bibi dan Saudara Gak Ciang Hun, sesungguhnya saya tidak mempunyai hubungan sama sekali dengan keluarga Pulau Es yang terhormat dan yang berilmu tinggi. Akan tetapi di waktu saya kecil, saya pernah menerima pertolongan orangtua AdikTan Sian Li, bahkan saya yang sudah yatim piatu ditampung oleh mereka. Saya diaku sebagai murid, maka hubungan saya dengan Adik Sian Li seperti saudara saja."
Dia berhenti, tidak tahu harus menceritakan apalagi. Melihat ini, Sian Li membantunya.
"Kakak Yo Han ini tiga belas tahunyang lalu berpisah dariku, Bibi. Dia mengorbankan diri, menggantikan aku menjadi tawanan seorang iblis betina, dan sejak itu kami saling berpisah. Ketika itu usiaku baru empat tahun. Sekarang, tiga belas tahun kemudian, kita saling bertemu di tempat ini! Bukankah hal itu amat mengherankan dan membahagiakan?"
Souw Hui Lian mengangguk-angguk.
"Sungguh mengheran-kan sekali. Kalian yang keduanya datang dari timur, bagaimana dapat secara aneh saling jumpa di sini? Tentu menarik sekali ceritanya!"
"Nanti dulu, Ibu. Sebaiknya Saudara Yo Han menceritakan dulu siapa gurunya kalau bukan keluarga Pulau Es,"
Kata Ciang Hun.
"Ah,guru saya seorang yang tidak terkenal dan menyembunyikan diri, dan saya tidak dapat dibandingkan dengan para murid Pulau Es...."
Kata Yo Han merendah. Sikap ini membuat Sian Li mengerutkan alisnya.
"Bibi, Gak-toako (Kakak Gak) belum lama tinggal di sini, akan tetapi dalam perjalanan ke barat, kurasa pernah mendengar nama Sin-ciang Tai-hiap, bukan? Ataukah belum pernah?"
"Pendekar yang penuh rahasia itu, yang bersikap lembut terhadap para penjahat, yang menundukkan banyak tokoh dan datuk jahat itu? Kami pernah mendengarnya, dan tak mengetahui siapa sebetulnya pendekar itu karena selalu menyembunyikan mukanya dibalik tirai caping lebarnya,"
Kata Ciang Hun.
"Nah, inilah orangnya!"
Kata Sian Li dengan bangga sambil menunjuk kepada Yo Han. Pemuda ini mengerutkan alisnya dan mukanya berubah kemerahan.
"Saya tidak sengaja menggunakan nama julukan seperti itu...."
Katanya.
"Dan saya mohon Jiwi setelah mendengar pembukaan rahasia dari Adik Sian Li, akan menyimpannya sebagai rahasia. Saya tidak ingin dikenal sebagai Sin-ciang Tai-hiap."
Ibu dan anak itu tercengang.
Mereka sudah mendengar bahwa pendekar yang penuh rahasia itu memiliki kesaktian yang luar biasa, dan kini orangnya berada didepan mereka, seorang pemuda yang sederhana, ramah bahkan pemalu!
Kalau bukan Sian Li yang memberitahu, tentu mereka tidak akan percaya.
Ciang Hun cepat bangkit dan memberi hormat kepada Yo Han.
"Ah, kiranya kami berhadapan dengan seorang pendekar besar, maafkan kami dan terimalah hormatku, Taihiap!"
Yo Han cepat membalas.
"Gak-toako, harap jangan bersikap seperti itu kalau memang Jiwi (Kalian Berdua) menghendaki bersahabat dengan saya."
"Gak-toako, bersikaplah biasa saja. Biarpun Han-ko ini memiliki ilmu silat yang tinggi, namun dia tidak suka ditonjolkan. Itulah sebabnya dia menyembunyikan keadaan dirinya dan selalu menutupi muka dengan tirai caping dan rambut. Dan biarpun dia penentang kejahatan yang gigih, namun dia tidak suka akan kekerasan. Apalagi membunuh manusia, membunuh seekor ayam pun dia tidak tega!"
"Ih, Li-moi, jangan goda aku,"
Kata Yo Han. Ibu dan anak itu memandangpenuh kagum.
"Sekarang, ceritakan apa yang membawa kalian ke bukit ini, dan bagaimana kalian dapat saling jumpa di tempat terasing ini,"
Kata Nyonya Gak.
"Bibi, aku bersama seorang Suhengku, murid Paman Kakek Suma Ceng Liong bernama Sian Lun...."
"Ah, kakakmu?"
Tanya Ciang Hun.
"Bukan, Toako, biarpun namanya mirip. Dia bernama Liem Sian Lun dan menjadi suhengku. Kami berdua ikut Paman Kakek Suma Ciang Bun dan Nenek Gangga Dewi pergi ke Bhutan."
"Aku tahu Suma Ciang Bun, akan tetapi siapa Gangga Dewi?"
Tanya Nyonya Gak.
"Nenek Gangga Dewi adalah puteri mendiang Kakek Wan Tek Hoat dan Puteri Syanti Dewi."
Sian Li menjelaskan.
"Aihhh...! Kiranya begitu? Menarik sekali. Lalu, di mana sekarang suhengmu itu?"
"Inilah persoalan yang kami hadapi, Bibi Gak. Aku dan Suheng, dalam perjalanan dari Bhutan hendak kembali ketimur, bertemu dengan gerombolan persekutuan orang Nepal, orang-orang HekI Lama dan para anggauta pengemis tongkat hitam. Kami bentrok dengan mereka, dan Suheng tertawan. Kalau tidak muncul Sin-ciang Tai-hiap yang kemudian kukenal sebagai Han-ko ini, tentu aku pun telah mereka tawan."
"Wah, kalau begitu kita harus cepat menolong suhengmu itu! Kita harus membebaskannya dari tangan mereka!"
Seru Ciang Hun dan mendengar ini, diam-diam Yo Han merasa girang dan kagum. Gak Ciang Hun ini seorang pemuda yang gagah berani.
"Benar, kita harus cepat membebaskan suhengmu, Sian Li!"
Kata pula Nyonya Gak.
"Itulah persoalannya, Bibi,"
Kata Sian Li sambil menghela napas.
"Jumlah mereka banyak sekali, merupakan persekutuan, dan diantara para pimpinan Hek I Lama terdapat banyak orang yang berkepandaian tinggi."
Mendengar suara gadis itu penuh kegelisahan, Yo Han merasa iba dan dia semakin yakin bahwa gadis yang ketika kecil di asuhnya dan digendongnya ini agaknya memang jatuh cinta kepada suhengnya sendiri.
"Li-moi, jangan khawatir. Aku pasti akan berusaha sekuat tenaga untuk membebaskan suhengmu,"
Katanya dengan nada suara penuh keyakinan.
"Kebetulan kita dapat saling jumpa di sini,"
Kata pula Nyonya Gak.
"Mari kita serbu sarang mereka. Dengan tenaga kita berempat, kita paksa mereka membebaskan suhengmu itu, Sian Li."
"Terima kasih atas uluran tangan Bibi dan Gak-toako. Akan tetapi, Ketua Hek I Lama telah menantang Sin-ciang Tai-hiap untukmengadu ilmu dipuncak bukit ini, dengan taruhan bahwa kalau dia ka lah, dia akan membebaskan Suheng dan menyerahkan mutiara hitam milik guru Han-ko. Sebaliknya kalau Sin-ciang Tai-hiap kalah, dia harus membantu perjuangan gerombolan itu menentang penjajah Mancu."
"Ah, jadi mereka akan datang kepuncak ini?"
Tanya Ciang Hun.
"Benar,Toako. Han-koko memilih puncak ini untuk tempat mengadu kepandaian, tentu saja kami tidak tahu bahwa Bibi dan Toako berada di sini. Dan untukmenghadapi Ketua Hek I Lama, Han-koko akan menyamar sebagai Sin-ciang Tai-hiap."
"Kapan pertandingan itu di adakan?"
Tanya Nonya Gak.
"Hari ini juga. Kami sengaja mendahului mereka untuk melihat keadaan disini, jangan sampai kami terjebak dan terkepung."
Nyonya Gak bangkit dari bangkunya dan ia nampak penuh gairah dan semangat, seolah lenyap semua bayangan duka dan kemuraman dari wajahnya, bagaikan seorang pemimpin mengatur siasat.
Ia berkata kepada puteranya yang juga sudah bangkit berdiri dan siap siaga.
"Ciang Hun, cepat kau periksa keadaan sekeliling puncak dan persiapkan tangga tali yang kita buat itu di tepi jurang! Kau tahu apa yang harus kau lakukan!"
"Baik, Ibu!"
Kata Ciang Hun dan pemuda tinggi besar itu sekali melompat sudah keluar dari dalam pondok untuk melaksanakan perintah ibunya.
"Kita harus siap siaga, bukan hanya bagaimana harus melawan mereka, akan tetapi juga mempersiapkan diri agar dapat terhindar dari bahaya. Ciang Hun sudah membuat persiapan sehingga sewaktu-waktu kita dapat meloloskan diri dari bahaya,"
Wanita gagah itu menerangkan.
"Aih, Bibi Gak, kenapa begitu? Han-ko dan aku tidak akan melarikan diri! Memalukan sekali kalau harus melarikandiri, apalagi kita sudah berjanji bahwa ini sebuah pertandingan dengan taruhan. Yang ada bagi kami hanyalah kalah atau menang. Kalau menang, suheng akan di bebaskan dan mutiara hitam diberikan kepada Han-ko, kalau kalah, terpaksa kami harus memenuhi atau membayar kekalahan kita dengan menepati janji untukmembantu perjuangan melawan pemerintah penjajah Mancu."
Wanita itu terbelalak.
"Akan tetapi mana mungkin itu? Kalian adalah keturunan atau murid-murid pendekar sakti, kalian adalah pendekar yang harus menentang kejahatan. Bagaimana mungkin kalian akan bekerja sama dengan orang-orang jahat dan sesat itu? Bukankah hal itu berarti kalian akan mencemarkan nama baik leluhur dan guru-guru kalian?"
Sian Limenoleh kepada Yo Han.
"Bibi, Kakak Yo Han yang sudah menentukan syarat atau taruhan itu."
"Memang benar, Bibi yang baik. Akan tetapi taruhan saya adalah kalau saya kalah, saya akan membantu perjuangan melawan atau menentang penjajah Mancu bukan bekerjasama dalam hal melakukan kejahatan! Kalau mereka melakukan kejahatan dan saya mengetahuinya, tentu akan saya tentang kejahatan mereka itu! Dan saya kira, berjuang melawan penjajah Mancu bukanlah perbuatan jahat. Karena itulah saya menerima taruhan itu. Mereka hanya mengatakan membantu perjuangan menentang penjajah, bukan bekerja sama melakukan kejahatan."
Sian Li tersenyum.
"Bagus! Akupun memang berpendapat demikian, maka aku menyetujui taruhan itu. Nah, Bibi Gak, tidak ada permasalahan lagi dan tidak perlu lagi kita mempersiapkan diri untuk lari,bukan?"
"Hemm, kalian memang cerdik, akan tetapi kalian masih kurang pengalaman dan tidak cukup berhati-hati maka suhengmu sampai dapat tertawan. Di dalam dunia kang-ouw, kalian akan bertemu dengan orang-orang yang bukan saja lihai ilmu silatnya, akan tetapi juga cerdik dan licik bukan main, penuh tipu muslihat dan kecurangan. Menghadapi orang-orang macam ini, tidak dapat kalian hadapi hanya dengan mengandalkan ilmu silat saja. Harus kita hadapi dengan siasat pula."
"Akan tetapi, Bibi, bukankah pendapat itu bertentangan dengan kehormatan seorang pendekar yang menjunjung tinggi kebenaran, keadilan dan kegagahan? Seorang pendekar lebih baik tewas sebagai seekor harimau yang melawan dengan gagah berani daripada hidup sebagai se ekor babi yang menguik-nguik melarikan diri dengan pengecut! Kami akan menghadapi lawan sampai kalah atau mati, tidak akan melarikan diri. Bukankah begitu, Han-ko?"
"Memang benar begitu, Li-moi, akan tetapi sebaiknya dengarkan pendapat Bibi Gak yang terhormat ini,"
Kata Yo Han yang melihat betapa nyonya setengah tua itu memandang dengan sinar mata berkilat.
"Pendapatmu itu memang benar. Apa kau kira aku tidak memiliki kegagahan dan sudi melarikan diri seperti seekor anjing di gebuk atau, seekor babi yang hendak di sembelih? Engkau salah sangka, Sian Li. Kalau bertanding secara jantan dan gagah, memang seorang pendekar pantang melarikan diri dan akan melawan sampai kalah atau tewas. Akan tetapi, kalau pihak lawan menggunakan kecurangan, misalnya menjebakmu atau mengeroyokmu dengan jumlah yang besar dan tak mungkin kau tandingi, maka berlaku nekat melawan sampai mati hanya merupakan perbuatan tolol, akan mati konyol dan sama sekali bukan perbuatan gagah! Menyelamatkan diri dari ancaman lawan yang menggunakan kecurangan, bukan pertandingan jantan, menandakan kecerdikan, bukan ketakutan atau sikap pengecut. Engkau harus dapat membedakan kedua hal itu!"
Sian Li mengerutkan alisnya. Ia seorang gadis yang cerdik, maka tentu saja ia dapat mengerti, dan ia pun mengangguk-angguk.
"Ah, benar sekali pendapat Bibi itu. Menghadapi kecurangan musuh dengan nekat sampai mati, hanya menunjukkan ketololan dan juga kesombonganyang sia-sia belaka. Baiklah Bibi, terimakasih atas persiapan itu. Mudah-mudahan saja Ketua Hek I Lama tidak menggunakan kecurangan agar kita tidak perlu melarikan diri."
Sian Li teringat bahwa Yo Han juga mengajaknya melarikan diri ketika dikeroyok oleh gerombolan itu dan Yo Han terluka.
Andaikata mereka gagah-gagahan dan nekat melawan terus sampai mati, maka akan sia-sialah kegagahan mereka itu, mereka akan mati konyol dan suhengnya tentu tidak ada yang akan menolongnya lagi.
Tiba-tiba Ciang Hun masuk ke pondok dan wajahnya nampak tegang.
"Ibu, mereka sudah naik ke puncak!"
"Apa yang kau lihat?"
Tanya nyonya itu.
"Ada dua orang pendeta jubah hitam bersama seorang pemuda naik ke sini melalui jalan depan."
"Hanya itu? Kau tidak menyelidiki kemungkinan lain?"
"Dari jalan kiri dan jalan kanan nampak puluhan orang naik secara sembunyi dan menyusup-nyusup."
"Jahanam!"
Sian Li mengepal tinju.
"Ternyata mereka memang hendak melakukan kecurangan!"
Nyonya Gak bersikap tenang.
"Sudah kuduga demikian. Ingat, kalau mereka mulai memperlihatkan kecurangan, hendak mengeroyok dengan jumlah besar, kalian harus lari ke belakang pondok, lurus saja dan kalian akan tiba di tepi jurang. Di sana sudah terpasang tangga tali dan kita dapat melarikan diri dari situ tanpa dapat dikejar musuh. Sekarang biar Sin-ciang Tai-hiap yang keluar menandingi Ketua Hek I Lama sesuai dengan perjanjian. Kita bertiga akan turun tangan apabila mereka bersikap curang. Kita bersembunyi dalam pondok untuk membuat mereka terkejut dan kacau kalau kita muncul tiba-tiba nanti. Yo Han, kausambut mereka di pekarangan pondok di mana engkau tidak mungkin diserang secara menggelap."
Yo Han dan Sian Li kagum.
Nyonya Gak memang seorang kang-ouw yang berpengalaman.
Bersikap tenang dan dapat mengatur segalanya dengan teliti dan tegas.
Sementara itu, Yo Han sudah cepat mengurai rambut, mengenakan capingnya yang bertirai dan dia pun keluar dari pondok dengan langkah tenang, diikuti pandang mata penuh kagum dari ibu dan anak itu yang baru sekarang melihat kenyataan yang tadi membuat mereka hampir tidak dapat percaya.
Inilah Sin-ciang Tai-hiap yang namanya menggetarkan dunia perbatasan itu!
Yang datang menuju ke pondok itu dari arah depan adalah Dobhin Lama yang berjalan dibantu tongkatnya, Lulung Lama, dan Cu Ki Bok.
Biarpun Dobhin Lama berjalan dibantu tongkatnya yang panjang, namun ternyata mereka bertiga dapat tiba di pekarangan itu dengan cepat seolah mereka berlari saja!
Dengan sikap tenang,Yo Han yang kini telah menjadi Sin-ciang Tai-hiap berdiri di tengah pekarangan, menanti kedatangan tiga orang itu.
Biarpun dia sudah menyamar sebagai Sin-ciang Tai-hiap, Yo Han tidak melupakan sikapnya yang selalu sopan dan menghormati orang lain.
Apalagi yang muncul di depannya adalah Ketua Hek I Lama dan wakilnya, dua orang pendeta Lama yang sudah tua.
Dia menyambut dengan kedua tangan depan dada, mem beri hormat dan membungkuk.
"Selamat datang, Jiwi Locianpwe."
Dia hanya memberi hormat kepada dua orang pendeta tua itu, tidak kepada Cu Ki Bok yang berdiri dengan sikapnya yang angkuh!
Pemuda itu memandang ke arah pondok dan pandang matanya mencari-cari.
Yo Han tahu bahwa pemuda itu mencari Sian Li dan dirinya, karena tentu mengira bahwa dia adalah Sin-ciang Tai-hiap!
Lulung Lama yang memegang dua buah gelang atau rada besar bersirip dengan tangan kirinya, tertawa bergelak dan dialah yang mewakili suhengnya bicara.
"Ha-ha-ha-ha! Omitohud, kiranya Sin-ciang Tai-hiap, selain lihai ilmu silatnya, juga mengenal aturan. Kami akan merasa bangga dan senang sekali kalau dapat bekerja sama denganmu!"
"Nanti saja kita bicara tentang kerja sama, Locianpwe. Sekarang, kita bicara tentang tantangan Ketua Hek I Lama kepadaku. Siapakah yang akan maju memberi pelajaran kepada saya?"
Dia menatap ke arah wajah Dobhin Lama yang sudah tua itu.
Kakek tinggi kurus yang usianya sudah tujuh puluh lima tahun ini nampaknya saja lemah, Akan tetapi Yo Han dapat menduga bahwa diantara mereka semua, Ketua Hek I Lama inilah yang paling lihai sehingga dia harus berhati-hati kalau bertanding melawan kakek tua ini.
Dan yang paling licik tentu saja Lulung Lama dan muridnya itu.
Pandang mata Sin-ciang Tai-hiap yang nampak di balik tirai itu mencorong dan jelas kelihatan betapa Cu Ki Bok menjadi gentar.
Bahkan Lulung Lama yang sakti itu pun kelihatan tegang karena tokoh ini maklum bahwa menghadapi pendekar yang satu ini, dia tidak boleh memandang rendah sama sekali.
Andaikata dia tidak kalah sekalipun, kiranya tidak akan mudah baginya untuk mengalahkan pendekar itu, maka dia diam saja menanti perintah suhengnya.
Dobhin Lama yang tua ini memang ingin sekali menguji ilmu kepandaian Sin-ciang Tai-hiap.
Tantangan ini merupakan siasat dari Lulung Ma, dan dia menyetujui pertandingan itu, bahkan memesan agar sutenya itu jangan melakukan apa-apa sebelum dia berkesempatan menguji kepandaian Sin-ciang Tai-hiap.
Kini dia sudah berhadapan dengan pendekar aneh itu, dan timbul kegembiraannya.
Sudah bertahun-tahun, Dobhin Lama tidak pernah bertemu lawan yang dianggapnya cukup tangguh dan pantas menjadi lawannya.
Bertahun-tahun dia tidak pernah turun tangan sendiri, merasa dirinya terlalu pandai dan terlalu tinggi untuk melawan orang-orang yang dianggapnya tidak patut menjadi lawannya.
Dan kini, dia merasa gembira dan timbul semangatnya.
Pertandingan seperti ini, melawan musuh yang tangguh dan terkenal, membuat latihannya selama ini tidak sia-sia.
"Omitohud....!"
Dobhin Lama berseru, suaranya lirih dan gemetar seperti suara seorang kakek tua pikun yang lemah.
"Pinceng (Aku) yang menantangmu, Sin-ciang Tai-hiap. Nah, majulah dan mari kita main-main sebentar."
Yo Han melangkah maju mengha-dapi kakek bertongkat panjang itu dan dia pun memberi hormat.
"Merupakan suatu kehormatan besar sekali bagi saya, Locianpwe, untuk dapat menerima pelajaran darimu. Akan tetapi sebelum kita mulai, saya ingin mendengar dulu janji Locianpwe bahwa kalau saya berhasil menang dalam adu kepandaian ini, Locianpwe akan membebaskan Liem Sian Lun dan menyerahkan kembali mutiara hitam yang Locianpwe terima dari Thong Nam itu kepada saya."
"Heh-heh, tentu saja. Akan tetapi bagaimana kalau engkau yang kalah, orang muda?"
"Sesuai dengan janji, kalau saya kalah saya akan membantu perjuang-an menentang penjajah Mancu!"
"Bagus, janji seorang pendekar pasti dapat dipegang teguh dan diper-caya. Nah sekarang majulah, Sin-ciang Tai-hiap, pinceng ingin sekali membuktikan apakah kepandaian-mu sama tingginya dengan nama besarmu.."
Kakek itu berdiri tegak, tangan kiri tegak lurus dengan jari terbuka menempel miring di depan dahi, Lengan kanan menjepit tongkat panjangnya di bawah ketiak.
Yo Han tidak berani memandang rendah lawan.
Pernah dia mendengar dari Kakek Ciu Lam Hok bahwa tokoh-tokoh dari Tibet dapat menjadi lawan yang amat berbahaya karena kekuatan sihir mereka.
Dalam hal ilmu silat, tokoh-tokoh Tibet hanya mengandalkan tenaga sakti yang mengandung kekuatan sihir, sedangkan mengenai gerakan silatnya, tidak berapa hebat.
Gerakan tokoh Tibet tidaklah selincah ilmu silat dari timur.
Akan tetapi karena setiap gerakan mengandalkan sin-kang yang diperkuat oleh ilmu sihir, maka gerakan itu menjadi amat kuat dan berbahaya sekali.
Oleh karena itu, diam-diam dia pun menghimpun tenaga sakti yang pernah dipelajarinya dari ilmu Bu-kek-hoat-keng, yaitu ilmu kesaktian yang menjadi andalan mendiang gurunya.
Sesuai dengan wataknya, Yo Han tidak pernah mau mempergunakan senjata dari baja, karena dia tidak mau melukai orang, bahkan dia pantang membunuh orang.
Senjata pelindung diri hanya kaki tangan dan ilmu-ilmunya.
Namun, dengan menguasai Bu-kek-hoat-keng, memang dia tidak membutuhkan lagi segala macam senjata.
Tenaga sin-kang yang ditimbulkan oleh ilmu itu membuat tubuhnya, terutama kedua lengannya, menjadi kebal dan dapat menangkis senjata tajam yang bagaimana ampuh pun.
Tentu saja kekebalan ini hanya pada bagian tubuh di mana dia menyalurkan sin-kangnya.
Bagian yang tidak dilindungi sin-kang yang dia salurkan, tentu saja tidak kebal.
Kekebalannya bukan karena ilmu hitam, melainkan karena lindungan tenaga sakti dari dalam yang dikerahkan ke bagian tubuh itu.
"Locianpwe, saya sudah siap,"
Katanya dan dia pun berdiri dengan sikap tenang, kedua kaki terpentang dan tubuhnya agak miring menghadapi lawan, kedua tangan dirangkap seperti menyembah di depan dada kiri.
Inilah jurus yang oleh gurunya dinamakan jurus "Menyembah Tuhan dengan Hati Tulus".
"Sin-ciang Tai-hiap, pinceng hendak mempergunakan tongkat. Keluarkan senjatamu!"
Yo Han menggeleng kepala.
"Locian-pwe, senjata dibuat hanya untuk membunuh orang. Saya tidak ingin membunuh siapapun, dan untuk melindungi diri, Tuhan telah melengkapi tubuh saya ini dengan lengkap dan sempurna. Saya sudah siap, silakan Locianpwe."
"Omitohud, engkau seorang pendekar yang hebat, ataukah yang tinggi hati? Nah, pinceng telah mendengar ucapanmu. Sambut serangan pinceng ini!"
Kakek berjubah hitam itu mulai menggerakkan tongkat yang tadinya dijepit di bawah ketiak dan terdengarlah sambaran angin yang terdengung seperti ada ratusan ekor kumbang terbang menyerang!
Yo Han sudah menduga bahwa kakek itu tentu mengandalkan tenaga dan kekuatan sihir untuk menyerangnya, maka dia pun sudah siap siaga.
Tubuhnya bergerak ke kiri ketika kakinya digeser dan sambaran tongkat itu lewat dan luput, namun angin pukulannya yang menyambar terasa olehnya amat kuat dan mengandung hawa panas.
Dia harus menghormati lawannya yang sudah tua, yang pantas menjadi kakeknya Maka, Yo Han membiarkan Dobhin Lama menyerangnya sampai tiga kali tanpa membalas.
Serangan itu datang bertubi, makin lama semakin kuat dan berbahaya sekali.
Namun, Yo Han tetap hanya menggunakan kelincahan tubuhnya untuk mengelak.
Sambaran tongkat yang ke tiga kalinya hampir saja membuat dia terpelanting, karena hawa pukulan tongkat itu sedemikian kuatnya, membuat rambutnya yang panjang berkibar dan hampir saja capingnya yang lebar itu diterbangkan!
Dengan terhuyung Yo Han masih sempat memegang capingnya sehingga tidak sampai terbuka dan memperlihat-kan mukanya.
Setelah tiga kali serangannya dapat dielakkan lawan tanpa membalas, Dobhin Lama mengerutkan alisnya yang putih dan dia merasa penasaran.
Apakah pendekar muda ini berani meman-dang rendah kepadanya sehingga hanya mengalah saja, tidak membalas?
"Sin-ciang Tai-hiap, balaslah serangan pinceng!
Apakah engkau menganggap pinceng seorang lawan yang terlalu lemah bagimu?"
"Sama sekali tidak, Locianpwe. Kalau saya selama tiga jurus tidak melawan, hal itu saya lakukan untuk menghormati Locianpwe yang merupakan golongan jauh lebih tua dari pada saya. Sekarang saya akan membalas, Locianpwe."
"Bagus! Nah, sambutlah ini!"
Kakek itu kembali menyerang, tongkatnya mem-buat gerakan terputar, ujungnya membentuk lingkaran lebar, makin lama semakin cepat dan mengecil lalu ujung itu meluncur ke arah dada Yo Han!
Sekali ini Yo Han tidak mengelak, melainkan menggunakan ilmu Bu-kek-hoat-keng untuk memutar lengan kanan dan menangkis luncuran tongkat ke arah dadanya itu, ilmu ini adalah ilmu kesaktian yang amat hebat.
Satu diantara keampuhannya adalah hadirnya tenaga mujijat yang menolak semua hawa kebencian yang datang dari lawan, terkandung dalam sera-ngan lawan.
Betapa kuat dan tinggi ilmu lawan, kalau lawan menyerang dengan kandungan hati mem-benci, maka serangannya itu akan membalik dan mungkin mengenai diri sendiri!
"Plakkk!"
Tangkisan yang disertai tenaga sin-kang amat kuat itu ternyata tidak membuat tongkat itu membalik dan menye-rang pemiliknya sendiri dan ini merupakan bukti bahwa tidak ada kebencian terkandung dalam serangan itu!
Akan tetapi, akibat benturan kedua tenaga sakti membuat Yo Han terhuyung ke belakang, dan Dobhin Lama juga terdorong ke belakang beberapa langkah!
Keduanya saling pandang dengan kagum.
Bagi Dhobin Lama, baru sekarang ada seorang muda yang mampu menangkis tusukan tongkatnya tadi, dan bagi Yo Han, juga pendeta itu merupakan lawan yang paling tangguh yang pernah dilawannya.
Tangguh dan tidak ada kebencian di hatinya!
Diam-diam dia merasa girang dan diapun mengerahkan seluruh tenaga, mengeluarkan semua kepandaiannya untuk menandingi lawan yang hebat itu.
Pertandingan itu memang hebat bukan main.
Kadang berjalan cepat, kadang lambat.
Bumi di pekarangan itu tergetar, daun-daun pohon yang berada di dekat situ rontok.
Lulung Lama dan muridnya, Cu Ki Bok, menonton dengan mata terbelalak dan penuh kagum.
Mereka merasa beruntung bahwa mereka tadi tidak maju melawan Sin-ciang Tai-hiap, karena kalau hal itu terjadi, mereka pasti kalah.
Apalagi Cu Ki Bok, bahkan gurunya, Lulung Lama, Setelah menyaksikan pertandingan itu, maklum bahwa dia takkan menang melawan pendekar aneh yang amat lihai itu.
Makin lama, kedua orang yang bertanding itu menjadi semakin kagum kepada lawan.
Yo Han juga kagum bukan main.
Biarpun lawannya sudah tua sekali, akan tetapi semua serangan balasannya seperti membentur tembok baja yang amat kuat, yang sukar ditembus.
Mereka saling serang dan saling desak, namun tidak pernah dapat membobolkan benteng pertahanan lawan sehingga tanpa terasa lagi, seratus jurus lebih telah terlewat!
Dan selama itu, keduanya tidak pernah mengendurkan tenaga, karena siapa yang mengendur pasti akan kalah.
Karena semua jurus yang mereka mainkan tidak mampu menembus benteng pertahanan lawan, maka mereka kini tidak lagi mengandalkan jurus silat, melainkan lebih mengandalkan kekuatan sin-kang.
Akhirnya, keadaan usia menguntungkan Yo Han.
Kalau dia hanya merasa lelah saja, lawannya kini sudah mandi keringat dan napasnya agak terengah saking kehabisan tenaga.
Bahkan dari kepala yang tidak berambut itu sudah mengepul uap putih yang agak tebal, tanda bahwa tubuhnya telah menjadi panas sekali.
Maklum bahwa dirinya berada dalam bahaya kalau dilanjutkan, maka Dobhin Lama lalu mengeluarkan jurusnya yang paling hebat, yaitu Jurus Gunung Runtuh!
Dia mengeluarkan pekik yang dahsyat, tongkat-nya menyambar dari atas ke arah kepala Yo Han dengan tenaga sepenuhnya yang masih tersisa.
Melihat ini, Yo Han juga mengerahkan seluruh tenaganya, menangkis dengan kedua lengannya, mendorong ke atas.
Bertemulah tongkat dengan kedua lengan pendekar itu.
"Brakkkk....!"
Yo Han terhuyung, akan tetapi tongkat di tangan Dobhin Lama patah menjadi tiga potong!
Kakek itu nampak pucat dan dia menghela napas panjang sambil melempar potongan tongkatnya ke atas tanah.
"Omitohud....pinceng mengaku kalah....!"
Dia lalu duduk bersila di atas tanah, berkata kepada Lulung Lama.
"Sute.... bebaskan pemuda itu...."
Dia mengeluarkan sebuah kalung dari saku jubahnya kalung dengan mainan sebuah mutiara hitam dan melemparkan benda itu kepada Yo Han.
"Nah, terimalah mutiara hitam ini!"
Yo Han menerima sambaran mutiara hitam itu dan dia pun memberi hormat, hatinya merasa terharu dan juga kagum.
"Banyak terima kasih bahwa Locianpwe telah mengalah dan menepati janji."
Lulung Lama bertepuk tangan dan dari lereng bukit itu muncullah Sian Lun yang diiringkan dua orang pendeta Lama jubah hitam.
SianLun agaknya dalam keadaan tertotok dan dia dibimbing dua orang pendeta itu.
Lulung Lama lalu mendorong tubuh Sian Lun sehingga pemuda ini roboh tertelungkup.
Dari dalam pondok, muncul Sian Li yang dengan sekali lompatan berada didekat Yo Han.
Melihat munculnya sumoinya, Sian Lun berkata lirih.
"Sumoi, tolonglah aku...."
Sian Li menghampiri Sian Lun, berlutut dan meraba pundak suhengnya itu untuk memulihkan kesehatannya, membebaskannya dari totokan.
Akan tetapi pada saat itu, Sian Lun tiba-tiba saja menggerakkan tangan dan menotok jalan darah di punggung sumoinya!
Gerakkannya ini sama sekali tidak terduga oleh Sian Li sehingga gadis itu sama sekali tidak dapat menjaga dirinya.
Tahu-tahu ia sudah tertotok dan lemas, dan Sian Lun sudah merangkul pinggangnya dan membawanya meloncat ke belakang Lulung Lama dan Cu Ki Bok!
Dari dalam pondok, Nyonya Gak dan puteranya, Gak Ciang Hun, sejak tadi mengintai dan begitu melihat Sian Li ditangkap oleh suhengnya sendiri, seperti juga Yo Han, mereka tertegun heran.
Akan tetapi Nyonya Gak lalu meloncat keluar, diikuti puteranya.
"Sin-ciang Tai-hiap, mereka bertindak curang!"
Teriak nyonya itu.
Yo Han memang tertegun dan bingung melihat betapa Sian Lun tiba-tiba malah menangkap sumoinya.
Akan tetapi pada saat itu,muncullah puluhan orang dari depan, kanan dan kiri.
Mereka adalah para pendeta Lama Jubah hitam, dibantu oleh para anggauta pengemis tongkat hitam dan beberapa orang Nepal.
Bahkan nampak pula Badhu dan Sagha, dua orang Nepal yang kuat itu, bahkan muncul pula tiga orang (Lanjut ke
Jilid 22) Si Bangau Merah (Seri ke 15 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 22 wanita cantik dari Pek-lian-kauw, yaitu Pek-lian Sam-li yang lihai.
"Lulung Lama, kalian curang! Bebaskan mereka berdua itu!"
Yo Han berseru dan tubuhnya sudah berkelebat ke depan untuk menolong Sian Li dan Sian Lun, karena dia masih bingung dan mengira bahwa Sian Lun tentu dipaksa oleh mereka.
Akan tetapi, betapa kagetnya ketika dia melihat Sian Lun membawa Sian Li meloncat ke belakang para penyerbu dan lenyap.
Terpaksa dia menyambut pengeroyokan banyak orang itu, dibantu oleh Nyonya Gak dan Gak Ciang Bun yang sudah mengamuk.
"Locianpwe Dobhin Lama, apakah Locianpwe hendak melanggar janji sendiri?"
Teriak Yo Han penasaran.
Akan tetapi, Dobhin Lama yang duduk bersila dan memejamkan mata itu tidak menjawab, juga tidak bergerak.
Terpaksa Yo Han mengamuk, namun dia tidak membiarkan diri dikuasai dendam dan kemarahan.
Dia tetap hanya merobohkan para pengeroyok tanpa membunuh mereka.
Tidak seperti Nyonya Gak dan puteranya yang mengamuk dengan pedang mereka, menewaskan beberapa orang pengeroyok.
Akan tetapi, di pihak lawan terdapat banyak orang pandai, dan jumlah mereka semakin bertambah banyak sehingga bagaimanapun juga, tiga orang itu mulai terdesak.
"Mari kita pergi!"
Tiba-tiba Nyonya Gak berseru kepada puteranya dan Yo Han.
Yo Han maklum bahwa melanjutkan perkelahian tidak ada gunanya, bahkan amat berbahaya.
Padahal, dia harus dalam keadaan sehat dan selamat untuk dapat menolong Sian Li kemudian.
Kalau sekarang dia nekat sekalipun, belum tentu dia akan dapat menemukan Sian Li yang telah dilarikan Sian Lun.
Pula, dia belum tahu apa yang telah terjadi, dan mengapa Sian Lun bersikap seperti itu.
Siapa tahu itu merupakan siasat pemuda itu untuk menolong sumoinya.
Yang penting, dia harus menyelamatkan diri.
"Baik, Bibi Gak!"
Katanya dan dia pun membuka jalan dengan berkelebatan diantara para pengeroyok yang roboh satu demi satu.
Nyonya Gak dan puteranya juga memutar pedang sedemikian rupa sehingga tidak ada pengeroyok berani mendekati mereka.
Mereka berlari ke belakang pondok, dipimpin oleh Nyonya Gak dan benar seperti keterangannya tadi, mereka tiba di tepi jurang yang amat dalam sehingga tidak dapat dilihat dasarnya.
Nyonya Gak dan puteranya telah mengambil tangga-tangga tali dari balik semak belukar dan cepat memasang tangga-tangga tali itu, mengikatkan pada akar pohon di belakang semak di tepi jurang.
"Mari, kita lari melalui tangga ini! Yo Han, kau ikutilah aku!"
Kata Nyonya Gak, sedangkan Ciang Hun sudah menuruni tangga tali yang lain.Yo Han tidak mempunyai pilihan lain kecuali mengikuti Nyonya Gak menuruni tangga tali menuruni tebing jurang yang amat terjal dan dalam itu.
Tangga tali itu panjangnya ada dua puluh meter dan ternyata mereka mendarat di sebuah guha besar.
Setelah mereka bertiga tiba di guha, ibu dan anak itu segera menarik tangga-tangga tali itu dengan sentakan tiba-tiba yang membuat kaitan di ujung tangga pada akar pohon terlepas.
"Tidak ada seorang pun manusia yang dapat menuruni tebing ini tanpa tangga tali, kecuali kalau dia mampu terbang seperti burung,"
Kata Nyonya Gak.
"Dari guha ini terdapat jalan setapak melalui tepi tebing menuju ke lereng bukit. Jalan ini kami temukan dan kami buatkan lorong menembus guha sehingga kecuali kami berdua, tidak ada yang mengetahuinya."
Yo Han duduk di atas batu dalam guha, termenung.
"Akan tetapi, mereka menawan adik Tan Sian Li,"
Suaranya mengandung kekhawatiran. Ciang Hun berkata dengan suara marah.
"Tentu kita akan berusaha sekuat tenaga untuk menolongnya! Yang kuherankan, kenapa suheng dari adik Sian Li bersikap seperti itu? Jelas bahwa dia tadi berpura-pura ketika didorong dan tersungkur. Ketika adik Sian Li hendak menolongnya, dia malah menotoknya, dan menawannya. Apa artinya ini?"
Nyonya Gak juga berkata.
"Pemuda itu tidak dapat dipercaya! Yo Han, bagaimana sih hubungan Sian Li dengan suhengnya dan orang macam apa suheng nya itu?"
Yo Han menggeleng kepalanya.
"Saya sendiri belum mengenalnya dengan baik, Bibi. Ketika Li-moi dan suhengnya itu dikeroyok oleh persekutuan gerombolan itu, saya menolong mereka, akan tetapi hanya dapat melarikan Li-moi, sedangkan suheng-nya yang bernama Liem Sian Lun itu tertawan. Kalau mengingat bahwa pemuda itu adalah suheng Li-moi, murid dari Locianpwe Suma Ceng Liong, rasanya tidak mungkin kalau dia memiliki watak palsu dan jahat."
Nyonya Gak mengerutkan alisnya.
"Pasti ada sesuatu yang tidak beres dengan pemuda itu. Para pendeta Lama itu lihai dan di antara mereka banyak yang memiliki ilmu sihir. Siapa tahu pemuda itu berada di bawah pengaruh sihir."
"Bagaimanapun juga, saya harus cepat melakukan penyelidikan dan menolong mereka, terutama adik Tan Sian Li, Bibi."
"Yo Han, aku percaya bahwa engkau adalah seorang pendekar sakti yang memiliki kepandaian tinggi. Hal itu sudah kubuktikan tadi ketika engkau berhasil mengalahkan Ketua Hek I Lama,"
Kata Ciang Hun dengan kagum.
"Akan tetapi perlu kau ingat bahwa bagaimanapun juga, kepandaianmu ada batasnya. Bagaimana mungkin engkau akan melawan mereka yang memiliki anak buah sebanyak itu? Ibu dan aku akan membantumu, kalau perlu dengan taruhan nyawa, akan tetapi kita harus berhati-hati dan menggunakan siasat yang baik."
"Benar ucapan anakku, Yo Han. Menghadapi gerombolan yang demikian banyak, kita harus menggunakan siasat. Kalau hanya nekat, kita akhirnya tidak akan berhasil menolong Sian Lun dan Sian Li, sebaliknya malah tertawan atau tewas konyol,"
Kata Nyonya Gak.
"Saya akan minta bantuan beberapa tokoh kang-ouw di perbatasan yang telah sadar dan kini menjadi orang baik-baik. Mereka mempunyai banyak kawan dan saya yakin mereka suka membantu saya,"
Kata Yo Han.
Ibu dan anak itu memandang kagum.
Mereka sudah mendengarkan sepak terjang Sin-ciang Tai-hiap yang tidak pernah membunuh para penjahat, Melainkan menaklukkan mereka dan menasehati, dengan kasar maupun halus berhasil membuat banyak penjahat mengambil cara hidup yang sama sekali berubah, dari jalan sesat ke jalan yang benar.
Mereka lalu mengatur siasat, membagi tugas sebelum meninggalkan guha itu, melalui sebuah terowongan bawah tanah pendek yang dibuat oleh ibu dan anak itu.
Terowongan ini menembus ke lereng bukit melalui pintu rahasia yang dari luar nampak seperti batu besar biasa.
Apakah yang terjadi dengan diri Sian Lun?
Kenapa dia yang akan ditolong Sian Li, bersikap seperti itu, berbalik menotok dan menawan Sian Li, dan menghilang di antara para anak buah gerombolan?
Liem Sian Lun telah terjatuh ke tangan Pek-lian Sam-li!
Tiga orang wanita Pek-lian-kauw ini adalah tiga orang tokoh Pek-lian-kauw yang berwatak cabul.
Pek-lian Sam-li sudah terkenal sebagai kakak beradik yang genit, mata keranjang dan mesum.
Setiap kali bertemu dengan pria tampan mereka tidak pernah melewatkan kesempatan untuk merayunya bahkan kalau pria itu menolak, memaksanya.
Mereka selain lihai sekali ilmu silatnya, juga mereka pandai ilmu sihir, ahli racun sehingga dengan berbagai cara tidak ada pria yang akhirnya tidak tunduk kepada mereka.
Ketika mereka berhasil menawan Liem Sian Lun, tentu saja sudah terbakar gairah mereka untuk menguasai pemuda tampan dan gagah itu, apalagi mengingat bahwa pemuda itu adalah murid Pulau Es!
Mereka akan mendapat banyak keuntungan kalau berhasil menguasai pemuda ini.
Pertama, pemuda ini masih muda, baru berusia dua puluh tahun, seorang perjaka tulen, tampan dan bertubuh kuat.
Ke dua, dengan menundukkan pemuda itu, Berarti mereka dapat membalas semua dendam dan kebencian mereka terhadap musuh besar Pek-lian-kauw, yaitu para pendekar Pulau Es karena pemuda itu merupakan murid Pulau Es.
Dan ke tiga, mereka dapat menyenangkan hati sekutu mereka, yaitu para pendeta Lama jubah hitam yang hendak mengumpulkan orang-orang yang memiliki kepandaian silat tinggi seperti pemuda itu, karena setelah menguasai Sian Lun, tentu pemuda itu akan suka menjadi sekutu mereka pula.
Sian Lun pada dasarnya bukanlah seorang pemuda yang berhati teguh.
Semenjak dewasa, sudah seringkali dia termenung, membayangkan hal-hal yang menimbulkan berahinya.
Dia pun sudah seringkali memandang kepada sumoinya, Sian Li, dengan pandang mata penuh gairah berahi.
Apalagi setelah dia mendengar percakapan suhu dan subonya, yang ingin menjodohkan dia dengan SianLi, Seringkali dia membayangkan betapa senangnya kalau dia bermesraan dengan sumoinya yang cantik itu sebagai suami isteri!
Dia jatuh cinta kepada Sian Li, dan makin dibayangkan, semakin dalam dia tenggelam dalam cinta.
Bahkan sering kali terbawa dalam mimpi.
Ketika mereka melakukan perjalanan bersama, kalau saja dia tidak takut kepada sumoinya yang dalam hal ilmu kepandaian silat lebih tangguh darinya, tentu sudah dinyatakan perasaan hatinya itu dengan perbuatan.
Rasanya amat menyiksa baginya, seperti seorang kelaparan melihat makanan lezat tanpa boleh memakannya, atau seorang kehausan melihat air jernih tanpa boleh meminumnya.
Berkobarnya nafsu berahi yang sering kali menggodanya itu masih dapat dilawan dengan dua keyakinan, yaitu pertama bahwa menuruti nafsunya itu adalah tidak benar, Dan kedua menuruti nafsunya itu tentu dia akan celaka karena sumoinya yang cantik itu amat galak dan lihai!
Nafsu berahi, seperti segala macam nafsu yang dimiliki manusia, adalah sesuatu yang wajar, bahkan yang terbawa lahir, merupakan alat bagi manusia hidup di dunia.
Nafsu berahi merupakan sesuatu yang teramat penting, bahkan mutlak se bagai pendorong agar manusia tidak akan musna, agar dapat berkembang biak.
Segala macam ciptaan Tuhan yang terdapat di dunia ini, disertai nafsu seperti ini, yaitu nafsu yang mendorong bersatunya dua kelamin yang berlawanan untuk bersatu dan dari persatuan ini terciptalah manusia atau mahluk sejenis yang baru, yang dinamakan anak bagi manusia dan hewan, dinamakan buah bagi tumbuh-tumbuhan.
Anak menjadi manusia baru dan buah-buah menjadi calon bibit tumbuhan baru.
Tuhan Maha Kasih!
Di dalam nafsu berahi, disertakan rasa nikmat sehingga semua mahluk termasuk manusia terdorong untuk melakukan persatuan itu dengan suka rela.
Dan di dalam rasa nikmat inilah setan menyusup!
Rasa nikmat ini yang dijadikan alat oleh setan untuk menggoda manusia sehingga manusia menjadi lupa diri.
Karena mengejar perasaan nikmat itu maka bukan lagi manusia memperalat nafsu, melainkan terjadi kebalikannya, nafsu yang memperalat manusia!
Bukan manusia menjadi majikan daripada nafsu berahi, malah nafsu berahi yang menjadi majikan dan manusia menjadi budak nafsunya sendiri.
Dan kalau sudah begini, terjadilah perbuatan sesat atau perbuatan yang sifatnya merusak dan merugikan orang lain atau bahkan yang akibat panjangnya akan merusak dirinya sendiri.
Semua agama dan filsafat yang dicetuskan orang-orang budiman, pelajaran agama yang diwahyukan oleh Tuhan, semua bertujuan untuk mengingatkan manusia agar sadar akan bahayanya pengaruh nafsu sendiri dalam diri.
Namun, jarang ada orang yang mampu menguasai nafsunya sendiri, karena hati dan akal pikiran kita pun sudah dicengkeram nafsu sehingga usaha apapun yang klta lakukan, di situ terkandung keinginan nafsu.
Kenyataan ini dapat kita lihat buktinya dalam kehidupan ini, kalau kita melihat dan meneliti keadaan dirikita sendiri.
Betapa banyaknya kebiasaan-kebiasaan kecil atau besar yang kita lakukan, kita ketahui dan mengerti benar bahwa perbuatan itu tidak benar atau tidak baik, namun kita tidak berdaya untuk mengubahnya!
Kita tahu benar bahwa amarah itu tidak benar dan tidak baik, akan tetapi sekali kema-rahan muncul, kita tidak berdaya untuk mengatasinya dan kita terseret oleh kemarahan kita.
Demikian pula dengan permainan nafsu yang lain, keterikatan kita kepada benda, kepada makanan, kepada orang lain.
Semua itu menimbulkan kesenangan yang selalu dikejar-kejar nafsu, yang menjadi pemikat bagi kita sehingga sukarlah bagi kita untuk mengubahnya.
Nafsu merupakan pembawaan yang diikutsertakan ketika kita lahir, dan nafsu merupakan alat yang teramat penting bagi kehidupan kita.
Tanpa adanya nafsu, kita tidak akan dapat hidup seperti manusia yang wajar.
Namun, disamping kepentingannya yang mutlak, nafsu juga merupakan bahaya yang akan menyeret kita ke dalam kesesatan, yang akan men-jauhkan kita dari kewajiban utama manusia, yaitu mendekati Tuhan yang menciptakan kita dan seluruh keadaan di alam maya pada ini.
Nafsu penting bagi kita, akan tetapi juga berbahaya bagi kita.
Lalu bagaimana?
Sudah sejak jaman pra sejarah, Manusia sadar akan bahayanya nafsu, dan sejak itu manusia sudah berusaha untuk menalukkan nafsu, mengekang dan mengendalikan nafsu.
Ada yang dengan cara bertapa menjauhkan diri dari dunia ramai, ada yang dengan jalan menyiksa diri, dan seribu satu macam cara lagi.
Namun, semua cara itu adalah usaha hati dan akal pikiran, maka terjadilah pertentangan sendiri di dalam batin, tarik menarik antara keinginan, bersenang-senang menuruti gejolak nafsu, dan keinginan menolak gejolak nafsu karena sadar akan akibatnya yang akhirnya tidak menyenangkan.
Jelaslah bahwa pada dasarnya, di antara kedua keinginan itu sama, timbul dari hati akal pikiran yang sudah bergelimang nafsu, yaitu keinginan mengejar kesenangan, dan keinginan menjauhi kesusahan yang timbul karena pengejaran itu!
Dan pertempuran ini tidak ada habisnya selama kita hidup.
Kadang nafsu yang menang dan berkobar membakar, kadang nafsu dapat ditundukkan untuk sementara, seperti api di dalam sekam yang setiap waktu akan berkobar lagi.
Lalu apa yang dapat kita lakukan?
Kita tidak mungkin dapat menundukkan nafsu, karena "kita"
Inilah nafsu itu sendiri.
Kita adalah hati akal pikiran yang sudah bergelimang nafsu, maka apa pun yang kita usahakan, pada dasarnya hanya untuk mengabdi kepada nafsu, untuk pemuasan nafsu dengan segala cara, ada yang kasar, ada yang halus, bahkan ada cara yang dipulas seolah-olah cara itu bukan buatan nafsu.
Setan memang teramat licik dan pandai, penuh tipu muslihat dan memang sudah menjadi tugasnya untuk menggoda kita.
Kalau kita manusia hanya mengandalkan hati akal pikiran saja, takkan mungkin kita dapat mengalahkan setan!
Jalan satu-satunya hanyalah berpaling kepada Sang Maha Pencipta!
Hanya kekuasaan Tuhan sajalah yang akan dapat menundukkan segala yang ada yang nampak dan yang tidak nampak oleh mata kita, termasuk setan.
Betapa tidak?
Setan dan nafsu pun diciptakan oleh Tuhan!
Jalan satu-satunya bagi kita hanyalah menyerah kepada Tuhan Maha Kasih!
Menyerah tanpa syarat, menyerah dengan total, mutlak, menyerah dengan sabar, tawakal dan ikhlas.
Hanya kekuasaan Tuhan sajalah yang akan mampu membersihkan seluruh batin kita, hanya kekuasaan Tuhan saja yang akan mampu mengembalikan nafsu dalam tugas yang sebenarnya, yaitu menjadi abdi jiwa manusia, membantu kehidupan manusia di dunia dan tidak lagi majikan yang kejam, tidak lagi menjadi pemikat dan pembujuk yang menyeret kita ke dalam kesesatan.
Menyerah tanpa syarat, bukan "menyerah demi memperoleh sesuatu"
Karena kalau demikian halnya, maka yang dinamakan penyerahan ini pun hanya tipu muslihat dari nafsu belaka dan kita akan tetap berada dalam lingkaran setan permainan nafsu daya rendah!
Menyerah tanpa pamrih, dengan ikhlas dan tawakal saja!
Sian Lun yang masih, hijau itu, tidak kuat menghadapi rayuan tiga orang wanita cantik seperti Pek-lian Sam-li.
Apalagi tiga orang wanita cabul itu bukan sekedar merayu biasa.
Mereka pun mencampurkan racun pembius dan perangsang dalam minuman yang disuguhkan kepada Sian Lun, bahkan ditambah lagi dengan kekuatan sihir mereka!
Sian Lun jatuh dalam pelukan mereka.
Bahkan Pangeran Gulam Sing yang kini menjadi sahabat baik dan rekan pengumbar nafsu berahi dari tiga orang tokoh Pek-lian-kauw itu, Juga membantu dengan ilmu sihirnya, membuat Sian Lun menjadi kehilangan kesadaran sama sekali.
Pemuda itu benar benar runtuh dan kalau tadinya dia seperti seekor harimau jantan yang ganas, kini di tangan tiga orang wanita itu dia berubah menjadi seperti seekor domba jinak!
Dia merasa seolah-olah dia telah mendapatkan kebahagiaan hidup yang selama ini didambakan dan diimpikannya.
Dia percaya bahwa tiga orang wanita kakak beradik itu amat mencintanya dan memanjakannya sehingga dia dengan amat mudahnya melupakan Sian Li, gadis yang biarpun pernah membuatnya tergila-gila namun yang tak terjangkau olehnya itu!
Dalam waktu satu malam saja, Sian Lun telah berubah sama sekali.
Dia kini telah menyerah, dan di dalam pelukan tiga orang wanita itu, Dia bersumpah untuk bekerja sama dengan mereka, mentaati semua keinginan tiga orang wanita yang dianggapnya amat mencintanya dan yang dapat membuat dia seperti terbuai dalam kemesraan dan kenikmatan yang tanpa batas.
Dalam keadaan seperti ini, Pangeran Gulam Sing mendekatinya dan menjanjikan kedudukan tinggi, pangkat yang besar di Nepal kalau perjuangannya kelak berhasil!
Dan Sian Lun menganggap ini sebagai suatu cita-cita yang teramat besar dan mulia.
Demikianlah, ketika dia dalam keadaan terpengaruh sihir, diperintah oleh Pek-lian Sam-li untuk berpura-pura menjadi tawanan dan agar dia menawan sumoinya sendiri, dia melakukannya dengan rela dan senang hati.
Dia ingin membuat jasa untuk menyenangkan hati Pek-lian Sam-li dan juga para pimpinan Hek I Lama dan Pangeran Gulam Sing.
Sian Li tentu saja merasa terkejut bukan main, juga merasa heran ketika tiba-tiba suhengnya menotoknya.
Karena sama sekali tidak menyangka bahwa suhengnya yang hendak ditolongnya itu malah menotoknya, gadis itu dapat dirobohkan dengan mudah dan Sian Li hanya dapat merasa heran dan penasaran sekali ketika tubuhnya yang sudah lemas tak berdaya itu dipondong dan dilarikan Sian Lun.
Makin besar keheranan Sian Li ketika ia dibawa oleh suhengnya ke sarang Hek I Lama!
Dalam perjalanan tadi, ketika suhengnya melarikannya, ia masih diam saja karena mengira bahwa suhengnya tentu bermaksud menyelamatkannya, mengira bahwa suhengnya akan melarikannya ke tempat yang aman.
Akan tetapi, alangkah heran dan kagetnya ketika ia melihat Sian Lun membawanya masuk ke pintu gerbang sarang perkumpulan pendeta Lama Jubah hitam itu!
"Suheng, apa yang kau lakukan ini?"
Tanyanya dengan suara lemah karena totokan itu selain melumpuhkan kaki tangannya, juga membuatnya lemah sehingga untuk mengeluarkan suara pun tidak dapat keras.
"Diam sajalah, Sumoi. Semua ini kulakukan demi kebaikan kita,"
Jawab Sian Lun.
Anehnya, para pendeta Lama yang berada di situ, ketika melihat Sian Lun masuk memondong tubuh gadis yang lemas itu, hanya menonton saja, bahkan ada di antara mereka yang tersenyum atau menyeringai.
Dan agaknya Sian Lun sudah hafal akan tempat di situ.
Dia langsung saja membawa sumoinya ke sebuah kamar dan merebahkan tubuh gadis itu ke atas sebuah pembaringan dalam kamar itu.
Sian Li membelalakkan matanya ketika melihat suhengnya mengambil sehelai tali sutera dan mulai mengikat pergelangan kaki dan kedua tangannya.
"Suheng, apa yang kau lakukan ini?"
Kembali ia bertanya dan kini suaranya mulai menguat, tanda bahwa pengaruh totokan itu mulai mengendur, juga ia mulai dapat menggerakkan kaki tangan walaupun masih lemah.
Namun, ikatan tali sutera itu kuat bukan main dan ia pun tidak mampu melepaskan diri.
Sian Lun tidak menjawab, melain-kan melanjutkan pekerjaannya.
Setelah dia merasa yakin bahwa ikatan kaki tangan sumoinya itu kuat, barulah dia berkata, suaranya datar saja, seperti tanpa perasaan.
"Sumoi, terpaksa aku mengikat kaki tanganmu agar kalau sudah pulih dari totokan, engkau tidak melakukan kebodohan dan memberontak."
"Suheng, lepaskan aku! Sudah gilakah engkau? Apa artinya semua ini, Suheng?"
Pemuda itu menundukkan muka, tidak berani menentang pandang mata sumoinya dengan langsung!
Bagaimanapun juga, masih tertinggal kesan lama, dan dia merasa canggung dan salah tingkah, walaupun di dalam hatinya dia membenarkan tindakannya ini.
"Sumoi, tidak ada pilihan lagi bagi kita. Kita harus membantu perjuangan mereka menentang penjajah Mancu. Tidak percuma kita sejak kecil mempelajari ilmu silat kalau kita pergunakan untuk membela negara dan bangsa."
Sian Li membelalakkan matanya.
Kini totokan itu sudah pulih, jalan, darahnya telah normal kembali.
Akan tetapi tentu saja ia tidak mampu menggerakkan kaki tangannya yang terbelenggu.
Dicobanya mengerahkan tenaga untuk membikin putus belenggu pergelangan kaki tangan itu, namun sia-sia.
Sian Lun maklum bagaimana harus membuat sumoinya tidak berdaya.
Tali sutera itu lentur, tidak mudah dibikin putus.
Andaikata belenggu itu dari rantai baja yang tidak terlalu kuat saja, mungkin Sian Li dapat mematahkannya.
Akan tetapi tali sutera yang lentur?
Tidak mungkin dibikin putus, kecuali dengan senjata tajam.
Dan senjatanya juga sudah dilucuti suhengnya.
Pada saat itu, terdengar langkah kaki dan masuklah tiga orang wanita yang bukan lain adalah Pek-lian Sam-li, yaitu tiga kakak beradik tokoh Pek-lian-kauw.
Ji Kui yang hitam manis, yang paling tua, tersenyum dan menepuk pundak Sian Lun.
"Bagus, engkau telah berhasil baik, Sian Lun."
"Tentu saja berhasil, kalau tidak, percuma dia menjadi kekasihku,"
Kata pula Ji Hwa yang putih mulus, orang ke dua, dan dengan mesra ia lalu merangkul Sian Lun dan mencium pipi pemuda itu penuh gairah dan dengan sikap genit.
"Nih upah untuk kekasih yang gagah!"
Kata pula Ji Kim yang termuda, cantik jelita dan ia pun dengan sikap genit mencium Sian Lun pada bibirnya.
Sian Li terbelalak, akan tetapi gadis yang cerdik ini sekarang tahu atau dapat menduga apa yang kiranya telah terjadi.
Suhengnya telah jatuh ke tangan tiga orang wanita genit mesum ini.
Suhengnya yang selama ini sebagai murid paman kakeknya bagaikan seekor srigala berbulu domba, kini meninggalkan kulit domba dan nampaklah keasliannya!
Ia pun memandang kepada Sian Lun dengan mata melotot.
"Jahanam busuk! Liem Sian Lun, kiranya engkau hanyalah seorang murid murtad, seorang keparat berhati busuk yang selama ini berpura-pura menjadi pendekar! Phuh, muak aku melihat mukamu!"
Dan Sian Li membuang muka, tidak sudi lagi memandang wajah suhengnya yang merupakan pria pertama yang hampir menjatuhkan hatinya.
"Sian Lun, sudah jangan pedulikan bocah ingusan ini!"
Kata Ji Kui sambil menggandeng tangan Sian Lun.
"Biarkan saja Pangeran Gulam Sing yang menjinakkannya."
Tiga orang wanita itu terkekeh genit dan mereka bertiga menggandeng Sian Lun, diajak meninggalkan kamar.
Ketika Sian Li melirik ke arah pintu, ternyata kini nampak beberapa orang bertubuh tinggi hitam, orang-orang Nepal, berjaga di luar pintu kamar.
Sian Li berusaha sekuatnya untuk melepaskan ikatan pada pergelengan tangan dan kakinya, namun hasilnya sia-sia belaka.
Akhirnya, ia maklum bahwa usahanya itu hanya akan menghabiskan tenaga, maka ia pun diam saja, bahkan mengatur pernapasan untuk mengumpulkan tenaga dan ia termenung.
Hal yang amat menyakitkan hatinya adalah kalau ia teringat kepada Sian Lun.
Suhengnya telah menyeleweng!
Kalau paman kakeknya mendengar, tentu dia dan isterinya akan marah sekali.
Akan tetapi bagaimana mereka akan dapat mendengar akan hal ini?
Hanya ia seorang yang tahu dan dapat melaporkan, dan untuk itu ia harus dapat membebaskan diri.
Akan tetapi bagaimana?
Sian Li tidak merasa gentar, tidak merasa putus asa.
Sebagai seorang gadis yang cerdik, ia pun tahu bahwa gerombolan itu tidak ingin membunuhnya.
Kalau demikian halnya, tentu ia sudah sejak tadi dibunuh.
Tidak, mereka tidak akan membunuhnya, dan yang jelas, mereka akan membujuknya agar ia suka membantu mereka, bekerja sama dan menjadi sekutu mereka.
Seperti Sian Lun!
Akan tetapi ia tidak sudi!
Hanya ada satu hal yang membuat hatinya terasa cemas dan ngeri juga, yaitu ucapan tiga orang wanita Pek-lian-kauw tadi bahwa ia akan diserahkan kepada Pangeran Gulam Sing untuk dijinakkan!
Bergidik juga ia kalau teringat kepada pangeran Nepal itu.
Memang seorang pria yang tinggi besar, brewok dan gagah, nampak jantan.
Akan tetapi matanya sungguh menyeramkan, seperti mata seekor harimau kelaparan melihat domba!
Sian Li menghela napas panjang.
Ia tidak perlu membayangkan hal-hal yang tidak-tidak.
Membayangkan hal-hal mengerikan yang belum datang hanya akan menimbulkan rasa cemas saja.
Ia masih memiliki kemampuan untuk membela diri, dan di sana masih ada Yo Han!
Yo Han dibantu oleh Nyonya Gak dan juga Gak Ciang Hun.
Mereka bertiga adalah orang-orang sakti, tidak mungkin kalau sampai tertawan musuh.
Bukankah Bibi Gak telah meng-atur pelarian untuk mereka kalau bahaya mengancam?
Pula, ia percaya sepenuhnya kepada Yo Han!
Dobhin Lama sendiri yang demikian sakti masih tidak mampu menandinginya!
Sungguh mangherankan sekali kenyataan itu.
Yo Han, yang dahulu tidak pernah mau belajat silat, yang membenci kekerasan, kini tiba-tiba saja muncul sebagai Sin-ciang Tai-hiap yang demikian saktinya.
Terdengar suara laki-laki di depan pintu bicara dalam bahasa asing yang tidak dimengertinya dan beberapa orang Nepal itu mening-galkan pintu kamar.
Jantungnya berdebar tegang.
Apakah pangeran itu yang muncul?
Ketika orang itu berdiri di ambang pintu, ternyata bukan pangeran Nepal yang datang melainkan Cu Ki Bok, pemuda peranakan Han Tibet, murid Lulung Lama.
Pemuda yang tinggi tegap dan tampan itu berdiri di situ memandang kepadanya.
Sian Li yang menghadap ke arah pintu juga memandang kepadanya dengan sinar mata penuh kemarahan dan kebencian.
Pemuda itu tersenyum, melirik ke kanan kiri lalu melang-kah memasuki kamar dengan ringan dan cepat.
Dia duduk di tepi pembaringan lalu berbisik.
"Nona, dengarkan baik-baik dan jangan membantah. Dengar, engkau telah tertawan dan aku akan melepaskan ikatan tangan kakimu. Akan tetapi, engkau harus bersikap damai, tidak memberontak karena percuma saja kalau engkau hendak melarikan diri. Di sini terjaga kuat dan kami berjumlah banyak. Engkau tidak akan diganggu, dan aku bertugas mengawasimu. Nah, kalau engkau berjanji tidak akan memberontak atau lari, aku akan melepaskan ikatanmu. Maukah engkau berjanji?"
Sian Li mengerutkan alisnya.
Ia tahu akan benarnya ucapan pemuda itu, walaupun ia tidak dapat percaya sepenuhnya karena menduga bahwa sikap dan ucapan ini tentu sebuah tipu muslihat.
Ia harus berhati-hati.
Akan tetapi, tentu saja lebih baik kalau kaki tangannya tidak terikat.
Setidaknya ia dapat leluasa dan dapat membela diri lebih baik kalau terancam bahaya.
Melihat keraguan gadis itu, Cu Ki Bok melanjutkan bisikannya.
"Nona tentu mencurigaiku. Akan tetapi ingatlah, kalau Nona dalam keadaan terbelenggu, bagaimana engkau akan dapat membela diri kalau Pangeran Gulam Sing datang dan mengganggumu? Pula, dalam keadaan terbelenggu, bagaimana mungkin engkau akan membebaskan diri? Berjanjilah bahwa engkau tidak akan memberontak atau lari, dan aku akan melepaskan ikatan tangan kakimu dan kau akan diperlakukan sebagai seorang tamu terhormat."
Sian Li mengangguk.
"Aku berjanji, akan tetapi janjiku ini bukan berarti bahwa aku tidak akan membebaskan diri dan lari dari sini kalau ada kesempatan."
Cu Ki Bok memandang kagum.
Gadis ini terlalu gagah untuk berbohong, maka berjanji pun dengan terus terang karena tidak ingin melanggar janjinya sendiri.
Bukan main!
"Tentu saja, Nona.
Dan aku sendiri akan membantumu kalau kesempatan itu tiba.
Untuk itu engkau harus memperlihatkan sikap lunak agar para pimpinan percaya bahwa kau tidak akan memberontak dan lari."
Pemuda itu lalu melepaskan ikatan tali sutera dari kaki dan tangan gadis itu.
Sian Li bangkit duduk, mengurut-urut pergelangan tangan dan kakinya untuk memperlancar jalan darah sambil mengamati wajah Cu Ki Bok dengan tajam dan penuh selidik.
Karena merasa tidak enak bicara dengan pemuda itu selagi ia duduk di atas pembaringan, gadis itu lalu berpindah duduk di atas kursi yang terdapat di kamar itu.
"Cu Ki Bok, apa artinya ini?, Katakan terus terang, mengapa engkau menolongku? Dengan pamrih apakah? Kalau ini merupakan siasat busukmu, lebih baik aku mengamuk sekarang dan tewas di tangan kalian!"
"Sabar dan tenanglah, Nona. Percayalah, sekali ini aku tidak bersiasat. Apa perlunya bersiasat dan membebaskanmu dari belenggu kalau tadi engkau sudah tidak berdaya?"
"Lalu, kenapa engkau membebaskan aku dari ikatan kaki tanganku?"
Tentu saja Cu Ki Bok tidak berani menyatakan secara terang bahwa sejak pertama kali berjumpa, dia sudah jatuh hati kepada gadis muda perkasa ini.
Tak mungkin dia mengaku cinta begitu saja, karena selain hal itu mentertawakan, juga sudah pasti gadis itu tidak akan percaya dan menganggap dia merayu atau bersiasat.
"Ada dua hal yang memaksa aku tidak dapat membiarkan engkau tertawan dalam keadaan tersiksa dalam belenggu, Nona. Pertama, engkau seorang pendekar gagah perkasa, bukan penjahat, bahkan tenagamu dibutuhkan oleh rakyat untuk membebaskannya dari belenggu penjajahan. Kalau pun menjadi tawanan, engkau patut diperlakukan dengan hormat dan tidak dibelenggu seperti itu. Dan ke dua, terus terang saja aku merasa muak dan tidak suka melihat cara engkau ditawan oleh Liem Sian Lun."
Bagaimanapun juga, hati Sian Li masih merasa curiga dan ia tetap waspada terhadap pemuda tampan murid Lulung Ma itu.
"Apa yang terjadi dengan Liem Sian Lun? Kenapa dia bersikap seperti itu, berpihak kepada kalian dan mengkhianatiku?"
Cu Ki Bok menghela napas panjang.
"Ia bukan seorang jantan. Dia lemah dan bertekuk lutut terhadap rayuan Pek-lian Sam-li yang bekerja sama dengan Pangeran Gulam Sing. Berjuang menentang penjajah Mancu memang tugas seorang gagah dan boleh saja dia bergabung dengan kami untuk bersama-sama menentang penjajah Mancu. Akan tetapi dia bukan orang gagah, dia menakluk karena terbujuk rayuan tiga orang wanita itu."
"Hemmm, kau sendiri, orang baik-baikkah? Kenapa engkau menjadi antek para Lama dan juga bekerja sama dengan Pek-lian-kauw dan orang Nepal?"
"Aku murid Suhu Lulung Lama, tentu saja aku membantu Suhu. Kami memang pejuang, akan tetapi bukan penjahat. Kerja sama dengan Pek-lian-kauw dan orang Nepal hanya kerja sama di bidang menghadapi musuh, bukan untuk urusan lain. Aku tidak suka cara-cara pengecut dan curang."
Sian Li mengamati wajah pemuda itu dengan tajam penuh selidik, Ada benarnya pula ucapan pemuda itu.
Jujurkah dia dalam usahanya menolongnya?
Memang benar juga bahwa tidak ada gunanya mempergunakan muslihat.
Ia tadi sudah tidak berdaya.
Andaikata terdapat muslihat di balik pertolongan pemuda ini tentu hanya untuk menyenagkan hatinya agar ia mau bekerja sama, membantu mereka dalam perjuangan melawan penjajah Mancu.
Dan seperti juga Yo Han, ia tidak melihat sesuatu yang buruk dalam urusan membantu menentag pemerintah Mancu.
"Hemm, kalau begitu, sekarang aku menjadi tawanan, dan tidak boleh keluar dari tempat ini? Apakah aku boleh keluar dari kamar ini dan dengan bebas melihat-lihat keadaan di dalam sarang kalian ini?"
"Nona, akulah yang bertugas menjaga dan mengamatimu, dan aku sudah memberitahu kepada semua anggauta Hek I Lama agar engkau dibiarkan tinggal di sini dengan bebas, asal engkau tidak membikin ribut, tidak pula berusaha melarikan diri. Akulah yang bertanggung jawab atas dirimu, maka kalau Nona melarikan diri, berarti membikin susah padaku. Aku sudah berusaha menghindarkan dirimu dari keadaan yang tidak enak, maka kuharap engkau juga suka menjaga agar aku tidak sampai mendapat kesusahan karena engkau lari."
Sian Li mengangguk-angguk.
"Baiklah, Cu Ki Bok. Akan tetapi aku ingin bertemu dengan Liem Sian Lun, jahanam itu. Aku harus membuat perhitungan dengan dia!"
Sian Li mengepal tinju, marah sekali kalau teringat kepada suhengnya itu. Cu Ki Bok mengerutkan alisnya.
"Nona Sian Li, tentu saja kalau kebetulan engkau bertemu dengan suhengmu itu...."
"Dia bukan suhengku lagi! Mungkin aku akan membunuh jahanam itu kalau bertemu dengan dia!"
"Nah, itulah yang kurisaukan. Kalau Nona bertemu dan bicara dengan dia, hal itu masih tidak mengapa. Akan tetapi kalau sampai Nona menyerangnya, padahal kini Sian Lun telah menjadi sekutu kami, tentu semua orang akan membantunya dan Nona akan dipersalahkan. Oleh karena itu, mengingat bahwa urusan antara Nona dengan Sian Lun merupakan urusan pribadi, sebaiknya Nona bersabar hati dan menunggu sampai kelak setelah kalau kalian berada di luar lingkungan kami, barulah Nona dapat membuat perhitungan. Jangan di sini, Nona."
Sian Li mengangguk-angguk.
Benar juga, Pikirnya.
Sian Lun telah menjadi sekutu mereka.
Kalau ia menyerang Sian Lun, tentu mereka akan membantunya, bahkan pemuda di depannya ini tentu saja terpaksa harus berpihak kepada Sian Lun pula.
"Baiklah, aku tidak akan menyerangnya. Akan tetapi setidaknya ajaklah dia ke sini agar aku dapat bertanya sendiri kepadanya. Baru akan puas hatiku dan yakin bahwa dia benar-benar telah menyeleweng."
"Akan kuusahakan, Nona."
Pemuda itu lalu mengajak Sian Li keluar dari kamarnya.
Dan kini, dalam keadaan sadar dan tidak terbelenggu, gadis itu mendapat kesempatan mengamati keadaan di sarang Hek I Lama itu.
Tempat itu merupakan perkampungan besar dan di tengah-tengah terdapat bangunan induk yang bentuknya seperti kuil.
Bangunan induk itu besar sekali, sedangkan tempat dimana ia dikurung merupa-kan bangunan disebelah kiri bangunan induk.
Di dalam perkampungan itu terdapat banyak rumah-rumah yang bentuknya sama, dan itulah tempat tinggal para anggauta Hek I Lama.
Terdapat pula bangunan baru berupa pondok-pondok yang menjadi tempat tinggal para anggauta pasukan Nepal, juga tempat para tamu dari pengemis tongkat hitam.
Setelah keluar dari rumah tempat ia di tahan, Nampaklah oleh Sian Li betapa melarikan diri dari situ merupakan hal yang tidak mungkin.
Banyak sekali anggau-ta gerombolan itu berkeliaran, dan penjagaan juga diadakan dengan amat ketatnya.
Baru rumah di mana ia dikurung itu saja dijaga oleh sedikitnya dua puluh orang!
Tak mungkin ia dapat pergi tanpa diketahui dan sekali ketahuan, tentu ia akan dikeroyok puluhan, bahkan ratusan orang.
Cu Ki Bok berkata benar.
Bodoh sekali kalau ia berusaha melarikan diri.
Sebaiknya bersabar menanti kesempatan yang lebih baik.
Selama ia tidak diganggu, ia akan tinggal di situ, menanti kesempatan melarikan diri, atau menanti sampai munculnya Yo Han karena ia merasa yakin bahwa Yo Han pasti tidak akan membiarkan saja ia menjadi tawanan gerombolan.
Teringat akan Yo Han, Sian Li tersenyum.
Bekas suhengnya itu hebat bukan main!
"Kenapa Nona tersenyum?"
Tanya Cu Ki Bok dan ketika gadis itu memandang kepadanya, pemuda itu pun tersenyum.
"Senang melihat Nona gembira,"
Sambungnya.
"Tempat ini indah sekali, dan penjagaannya amat kuat. Engkau benar sekali, Ki Bok. Aku harus menanti dengan sabar dan tidak akan mencoba kebodohan melarikan diri. Dan kalau engkau beritikad baik, jangan sebut Nona kepadaku. Namaku Sian Li."
Wajah pemuda itu berseri.
Baca Juga: Pendekar Super Sakti 4
Baca Juga: Kisah Pendekar Bongkok 3