Ceritasilat Novel Online

Si Bangau Merah 10

Eps 10 Si Bangau Merah - Kho Ping Hoo

Baca online Si Bangau Merah - Kho Ping Hoo

Cersil Si Bangau Merah - Kho Ping Hoo.

"Aku tahu bahwa engkau adalah gadis yang selain gagah perkasa dan cerdik, juga berhati mulia, Nona.... eh, Sian Li. Sungguh aku akan merasa bahagia sekali kalau akhirnya akan dapat menjauhkanmu dari bencana dan ancaman bahaya. Nah, sekarang engkau akan kutinggalkan. Akan tetapi sekali lagi kuperingatkan, jangan mencoba untuk membuat keributan. Nona.... eh, kau akan selalu diawasi, Sian Li. Dan seperti kukatakan tadi, aku yang diserahi tugas menjagamu dan bertanggung jawab."

Sian Li mengangguk tegas.

"Baik Ki Bok. Dan aku sudah berjanji, bukan? Aku tidak akan suka melanggar janjiku sendiri."

Ki Bok tersenyum dan pergi meninggalkannya.

Hemm, pemuda itu semakin tampan kalau tersenyum, pikir Sian Li.

Sayang pemuda sebaik itu berada di tengah orang-orang Hek I Lama, tempat yang sungguh tidak sesuai dengan dirinya.

Dan ia teringat betapa Ki Bok juga telah menguasai ilmu kepandaian silat yang tangguh.

Sian Li berjalan-jalan, dan kemana pun ia pergi di dalam kampung para pendeta Lama itu, ia tahu bahwa semua mata mengamatinya.

Ia selalu dibayangi secara diam-diam.

Ketika ia tiba di pintu gerbang, satu-satunya pintu gerbang di perkampungan itu, ia melihat betapa di situ terdapat puluhan orang penjaga!

Dan perkampungan itu dikelilingi pagar tembok yang tinggi, bahkan di sudut-sudutnya terdapat menara di mana terdapat penjaga pula.

Seperti benteng saja.

Belum lagi perondaan yang ia lihat dilakukan pasukan kecil Hek I Lama.

Sukarlah untuk dapat melarikan diri dari perkampungan itu, dan agaknya lebih sukar lagi untuk menyusup masuk!

Biarpun demikian, ia yakin bahwa Yo Han akan dapat menyerbu masuk dan menemukan dirinya.

Benar seperti dikatakan Ki Bok, kemana pun ia pergi, sampai ke pintu gerbang pun, Tidak ada orang yang melarangnya, namun makin dekat dengan pintu gerbang, semakin banyak orang membayangi dan mengamatinya.

Agaknya semua anggauta Hek I Lama sudah mendapat perintah untuk mengamatinya akan tetapi tanpa mengganggu-nya.

Diam-diam ia bersukur dan berterima kasih kepada Cu Ki Bok.

Akan tetapi karena teringat betapa ia ditipu Sian Lun, bahkan lalu dibelenggu oleh bekas suhengnya itu, ia amat membenci Sian Lun.

Ia berusaha untuk menemui bekas suheng itu, sekarang ia tidak sudi lagi mengaku suheng kepadanya, namun usahanya sia-sia saja.

Ia sampai pula di pemondokan para orang Nepal, dan cepat-cepat meninggalkan tempat itu lagi ketika melihat betapa mata orang-orang Nepal itu memandang kepadanya seperti sekumpulan srigala memandang seekor domba muda yang gemuk.

Juga ia merasa jijik ketika melihat sekelompok anggauta pengemis tongkat hitam yang berpakaian butut dan dekil, kotor sekali dan jorok.

Dengan berindap-indap ia kini menghampiri bangunan yang berbentuk kuil.

Baru tiba di pekarangan saja sudah mendengar suara orang berdoa, diiringi ketukan kayu berirama.

Dan ketika ia tiba di ambang pintu gerbang masuk, nampak asap tebal mengepul tebal dari ruangan depan yang menjadi ruangan sembahyang seperti pada kuil-kuil biasa.

Kiranya bangunan induk ini di bagian depannya memang merupakan kuil yang luas dengan ruangan sembahyang yang mewah.

Dan di tempat ini, penjagaan lebih ketat lagi walaupun penjaganya tidak tampak berjaga, melainkan para pendeta yang bertugas di situ.

Ia dibiarkan masuk ke ruangan ke dua di belakang ruangan sembahyang dan ternyata ruangan ini lebih luas lagi.

Yang membuat ia terkejut adalah ketika ia melihat sebuah peti mati berada di tengah ruangan ini, lengkap dengan meja sembahyang dan dikelilingi pendeta-pendeta Lama yang berdoa.

Ada orang mati di sini!

Dan setelah ia menjenguk ke dalam, baru ia tahu mengapa tadi dalam perjalanan berkeliaran di perkampungan itu, ia tidak bertemu dengan tokoh-tokoh persekutuan itu.

Kiranya mereka samua berkumpul di ruangan ini, agaknya melayat yang mati!

Dan semua orang itu agaknya tidak mempeduli-kan Sian Li yang berada di luar pintu.

Dengan terang-terangan Sian Li memandang ke arah kelompok yang duduk di ruangan itu.

Ia melihat mereka lengkap semua!

Lulung Lama, Cu Ki Bok, Hek-pang Sin-kai ketua perkumpulan Pengemis Tongkat Hitam, Pangeran Gulam Sing dengan dua orang jagoannya yaitu Badhu dan Sagha, Ada pula Pek-lian Sam-li bersama Liem Sian Lun yang duduk di tengah-tengah antara mereka.

Ia melihat lagi ke arah peti mati besar itu.

Aih!

Semua orang melayat dan Dobhin Lama tidak nampak di antara mereka.

Siapa lagi kalau bukan ketua para Lama Jubah Hitam itu yang berada di dalam peti mati?

Tentu kakek tua renta itu tewas satelah bertanding melawan Yo Han!

Ia melihat Sian Lun mengangkat muka memandang kepadanya, akan tetapi suhengnya itu menunduk kembali.

Sian Li ingin menghampiri bekas suheng itu, memaki-makinya, atau menyeretnya dan menyerangnya.

Akan tatapi ia teringat akan janjinya kepada Ki Bok dan pada saat itu, ia melihat Ki Bok juga memandang kepadanya.

Bahkan pemuda itu lalu bangkit, dan dengan tenang menghampirinya, keluar dari pintu dan berkata dengan suara lirih "Harap jangan memasuki ruangan berkabung ini, Sian Li.

Kecuali kalau angkau ingin melayat."

"Dobhin Lama?"

Tanya Sian Li, juga berbisik sambil memandang ke arah peti mati. Ki Bok mengangguk.

"Supek sudah terlalu tua. Pertandingan dengan Sin-cing Tai-hiap menghabiskan tenaga-nya. Dia meninggal karena kehabisan tenaga dan napas, tidak terluka. Pendekar aneh itu terlalu lihai baginya...."

Diam-diam Sian Li merasa bangga dan girang bukan main. Akan tetapi diam saja, lalu melirik ke arah Sian Lun yang masih menunduk, dan berkata.

"Aku masih ingin bicara dengan jahanam itu."

Ki Bok mengangguk.

"Akan kuusahakan, akan tetapi tidak sekarang. Setelah selesai pengurusan jenasah Supek. Engkau tidak hendak melayat dan duduk di dalam?"

Sian Li menggeleng kepala.

Untuk apa masuk ka ruangan itu dia melihat Sian Lun di antara tiga wanita cabul itu?

Ia khawatir tidak akan dapat menahan hatinya untuk tidak menyerang bekas suheng itu.

Pula, tidak perlu berkabung terhadap kematian Ketua Hek I Lama yang menyebabkan Sian Lun tersesat dan ia sendiri tertawan.

Ia lalu meninggalkan ruangan itu, keluar lagi.

Senja telah mendatang, dan lampu-lampu penerangan mulai dipasang di perkampungan itu.

Sian Li kembali ke kamarnya dan seorang pelayan wanita setengah tua menyerahkan pakaian pengganti kepadanya, juga mempersiapkan air untuk mandi.

Sian Li merasa senang.

Ternyata Ki Bok memegang janjinya.

Ia diperlakukan seperti seorang tamu terhormat, dilayani semua keperluannya walaupun diam-diam ia tidak pernah dilepaskan dari pengamatan tajam.

Kepada pelayan itu ia pun dapat memesan semua keperluannya, minta disediakan makan malam.

Bagaimana-pun juga, Sian Li tetap berhati-hati, memeriksa semua makanan dan minuman lebih dahulu sebelum memakan dan meminumnya.

Penerangan dalam kamarnya juga cukup terang dan suasana cukup menyenangkan.

Malam itu sore-sore bulan sudah muncul.

Udara cerah dan langit bersih, bulan tiga perempat menyinarkan cahaya lembut.

Sian Li tidak betah berada di kamarnya.

Ia keluar dan berjalan-jalan di taman bunga dalam perkampungan itu.

Sebuah taman yang cukup luas dan terpelihara baik-baik.

Agaknya, para pendeta Lama ini bukanlah orang-orang kasar, melainkan suka pula akan kedamaian dan keindahan.

Agaknya para tokoh masih berada di ruangan berkabung, dari mana terdengar doa-doa untuk si mati.

Sian Li melihat banyak pula penjaga di taman itu, bahkan ia dapat menduga bahwa begitu ia memasuki taman, maka tempat itu telah dikepung para anggauta Hek I Lama yang bertugas mengamatinya.

Ia menduga-duga apakah Ki Bok juga ikut mengamatinya, ataukah pemuda itu sudah begitu percaya kepadanya sehingga ikut berkabung di ruangan itu.

Di dekat empang ikan emas terdapat bangku-bangku yang dilindungi atap.

Sian Li duduk di satu, termenung.

Bulan menari-nari di air yang digerakkan perlahan oleh ikan-ikan yang berkejaran.

Ia teringat akan Yo Han dan kembali bibirnya tersenyum, senang sekali mengingat pemuda itu, orang yang ketika ia masih kecil paling disayangnya.

Dan sekarang setelah mereka kembali saling berjumpa dalam keadaan sudah sama dewasa, ia tidak tahu!

Yang jelas, penyelewengan Sian Lun hanya membuat ia marah, tidak membuat ia bersedih.

Diam-diam ia malah merasa gembira bahwa hal ini membuktikan bahwa biarpun tadinya ia sayang kepada Sian Lun, kesayangan itu adalah keakraban antara kakak beradik seperguruan yang selalu ingin akrab dalam pergaulan, dalam latihan bersama.

Ia tidak pernah mencinta Sian Lun!

Dan Yo Han?

Ia tidak tahu, yang jelas, ia merasa bangga, kagum dan juga senang sekali dapat bertemu kembali dengan Yo Han!

Yo Han takkan membiarkan ia terancam bahaya!

Ia yakin bahwa pemuda itu pasti akan datang menyelamatkannya.

Ia teringat betapa sejak kecil, ketika ia baru berusia empat tahun, dan Yo Han juga hanya seorang anak remaja yang lemah, Yo Han sudah berani membelanya mati-matian, bahkan mempertaruhkan keselamatan dirinya sendiri dengan menukar dirinya menjadi tawanan iblis betina Ang I Moli.

Yo Han pasti akan menolongnya!

Kini ia mencoba mengenang kembali apa yang dapat diingatnya ketika ia masih kecil, ketika Yo Han masih menjadi murid ayah ibunya.

Samar-samar masih teringat olehnya betapa dahulu ia sering digendong Yo Han, diajak bermain-main, dihibur dan selalu disenangkan hatinya.

"Nona, alangkah cantiknya engkau....!"

Tentu saja Sian Li terkejut dan serentak sadar dari lamunan ketika tiba-tiba mendengar kata-kata pujian yang lembut itu.

Ia meloncat berdiri dan membalik karena suara itu tadi datang dari belakang dan ia berhadapan dengan pria tinggi besar gagah perkasa itu.

Pangeran Gulam Sing!

Kalau saja ia tidak ingat akan janjinya kepada Cu Ki Bok, tentu Sian Li sudah menerjang dan menyerang pangeran Nepal yang dibencinya ini.

"Mau apa engkau? Pergi, aku tidak ingin bicara denganmu!"

Bentanya, lalu ia duduk kembali, membelakangi pangeran itu.

"Aduh, alangkah cantiknya! Marah-Marah semakin cantik jelita. Bukan main!"

Kata-kata itu diucapkan dalam bahasa Han yang patah-patah sehingga terdengar lucu, namun cukup membuat kedua pipi Sian Li menjadi merah oleh perasaan malu dan marah.

"Manusia biadab! Jangan mencari perkara, atau aku akan kehilangan kesabaran dan akan membunuhmu!"

Sian Li membentak lagi, kini memutar duduknya menghadapi pangeran itu dangan air mata barapi.

Wajahnya tertimpa sinar bulan dan nampak cantik bukan main, Pangeran itu mengerutkan alisnya.

Sebelum bangsa Han dijajah Mancu, memang Kerajaan Beng menganggap orang asing adalah bangsa biadab.

Maka tentu saja Pangeran Gulam Sing merasa dihina sekali.

Akan tetapi dia malah tertawa, suara tawanya bening dan aneh.

"Nona Tan Sian Li, aku seorang pangeran! Pandanglah wajahku baik-baik, aku seorang pangeran Nepal, bukan bangsa biadab. Seluruh bangsa Nepal kalau melihatku, menghormati dan memuliakan aku, bahkan tidak mampu bergerak. Engkau juga, Nona! Pandang aku baik-baik, aku seorang pangeran dan engkau harus tunduk kepadaku!"

Pangeran tinggi besar itu kini melangkah maju menghampiri Sian Li, Gadis itu hendak meloncat bangun, akan tetapi aneh, ia tidak mampu menggerakkan tubuhnya!

Terngiang di dalam telinganya perintah pangeran itu bahwa ia harus tunduk dan tidak mampu bergerak.

Ia mencoba untuk mengerahkan tenaga sin-kangnya pada saat pangeran itu sudah memegang kedua tangannya dan menariknya bangkit berdiri.

Di lain saat, ia sudah didekap dalam pelukan kedua lengan yang panjang dan besar itu, dan iamencium bau keharuman yang aneh keluar dari dada pangeran itu, di mana wajahnye didekap rapat.

"Pangeran, lepaskan nona itu!"

Tiba-tiba terdengar bentakan halus dan Pangeran Gulam Sing terkejut, lalu menoleh. Kiranya Cu Ki Bok yang membentak itu.

"Nona Tan Sian Li, mundurlah engkau!"

Sungguh aneh, baru sakarang Sian Li dapat bergerak, seolah tenaga tak nampak yang tadi mampengaruhinya telah lenyap.

Tahulah ia bahwa ia tadi dipengaruhi sihir pangeran Nepal itu, dan agaknya Cu Ki Bok yang membebaskannya dari pengaruh sihir.

"Pangeran Iblis! Keparat busuk engkau!"

Ia pun membentak dan ia sudah menerjang dan menyerang Pangeran Gulam Sing.

Pengeran itu mengelak dengan loncatan ke belakang dan ketika Sian Li hendak menyerang lagi, Ki Bok telah menghadang di depannya.

"Sian Li, ingat akan janjimu. Jangan membuat keributan di sini!"

Sian Li teringat dan ia pun menahan diri, mukanya merah dan matanya masih berkilat. Sementara itu, Pangeran Gulam Sing tertawa.

"Ha-ha-ha, saudara Cu Ki Bok, engkau malah membela Si Bangau Merah ini? Sungguh aneh sekali!"

"Pangeran."

Kata Cu Ki Bok dan suaranya mengandung kemarahan.

"Kalau Ketua Hek I Lama mendengar akan apa yang kau lakukan ini, tentu beliau akan menjadi tidak senang."

"Hem, Ketua Hek I Lama sudah mati, petinya juga belum diangkat dan ruangan berkabung!"

Kata pangeran itu membantah.

"Pangeran! Engkau tentu tahu bahwa wakil ketua adalah guruku, Lulung Lama dan setelah kini Supek Dobhin Lama meninggal dunia, gurukulah yang menjadi ketua! Nona Tan Sian Li ini menjadi tamu yang dihormati, dan Ketua Hek I Lama yang menugaskan aku untuk menjaganya. Kuharap Pangeran tidak membuat keributan di sini dan bersikap sebagai tamu dan sahabat yang baik."

"Aku protes!"

Pangeran itu marah-marah.

"Saudara Liem Sian Lun dan ketiga Pek-lian Sam-li telah berjanji akan menghadiahkan gadis ini kepadaku, dan sekarang engkau hendak menghalangiku! Beginikah sikap seorang sahabat?"

"Pangeran, lupakah Pangeran siapa Liem Sian Lun dan Pek-lian Sam-li? Mereka pun hanya tamu-tamu dari Hek I Lama seperti juga engkau. Nona ini adalah seorang tawanan kami, dan yang berhak memutuskan mengenai dirinya adalah ketua kami. Ketua kami menganggap Nona ini seorang pendekar wanita gagah perkasa yang patut diajak bekerja sama berjuang menentang orang Mancu. Bagaimana mungkin para tamu seperti Liem Sian Lun dan Pek-lian Sam-li dapat menghadiahkan Nona ini kepadamu? Mereka tidak berhak!"

"Orang muda, berani engkau bersikap seperti ini terhadap aku? Bagaimana kalau aku memaksa untuk memiliki gadis ini?"

Sepasang mata pemuda itu berkilat.

Dia meraba pinggangnya di mana terdapat sabuk bajanya yang kedua ujungnya dipasangi pisau, senjatanya yang ampuh dan dia berkata dengan tegas.

"Pangeran, aku adalah utusan Ketua Hek I Lama dan aku melaksanakan tugas yang diperintahkan untuk menjaga Nona ini. Kalau ada yang berani mengganggunya, berarti dia melanggar peraturan di sini dan aku akan menghadapinya sebagai wakil ketua Hek I Lama!"

"Bocah sombong....!"

Akan tetapi pada saat itu, entah dari mana datangnya, nampak beberapa orang pendeta Lama Jubah hitam bermunculan.

Mereka hanya berdiri memandang, akan tetapi sikap mereka jelas siap untuk membantu Cu Ki Bok.

Melihat ini, Pangeran Gulam Sing sadar bahwa dia berada di tempat orang sebagai tamu.

Dia memandang kepada Sian Li dan mengepal tinju.

Daging lunak yang sudah berada di depan bibir, terpaksa harus dia lepaskan!

Dengan bersungut-sungut, memaki-maki dalam bahasanya sendiri, dia pun meninggalkan taman itu.

Beberapa orang pendeta Lama itu pun, seperti bayangan-bayangan saja, lenyap dari dalam taman.

Tahulah Sian Li bahwa andaikata Cu Ki Bok tidak berada di situ pun, para pendeta Lama itu tentu akan melihat ulah Pangeran Gulam Sing dan mereka akan turun tangan membantunya dan melapor kepada Cu Ki Bok.

Betapapun juga, ia berterima kasih kepada pemuda ini dan ia bergidik kalau teringat betapa tadi ia didekap oleh pangeran Nepal yang tinggi besar itu tanpa mampu berkutik!

Sian Li mulai percaya kepada Cu Ki Bok bahwa pemuda murid Lulung Lama ini memang benar-benar hendak melindunginya.

"Ki Bok, terima kasih atas pertolonganmu tadi. Apa yang telah terjadi denganku tadi? Kenapa aku tidak mampu bergerak! Apakah jahanam itu mempergunakan sihir?"

"Benar, Sian Li. Maafkan, aku agak terlambat. Akan tetapi, seperti kau lihat tadi, selalu ada beberapa orang anggauta Hek I Lama yang membayangimu sehingga engkau selalu aman. Para anggauta tadi tidak mengira bahwa pangeran itu akan menggunakan sihir."

"Kalau begitu, engkau pun ahli sihir. Ki Bok?"

Tanya Sian Li dan pemuda itu tersenyum, merasa girang bukan main melihat sikap gadis itu terhadapnya kini berubah, tidak lagi angkuh dan ketus seperti sebelumnya, kini nampak ramah bersahabat!

"Sian Li, engkau tahu bahwa aku murid Suhu Lulung Lama, murid seorang tokoh pendeta Lama.

Oleh karena itu, selain ilmu silat, aku pun mempelajari ilmu-ilmu keagamaan dan juga ilmu kebatinan sehingga tidak aneh kalau aku pun mempelajari ilmu sihir."

"Hemm, kata orang tuaku dan juga paman kakek yang menjadi guruku, ilmu sihir dapat membuat orang menjadi sesat. Kenapa engkau mempelajarl ilmu seperti itu, Ki Bok?"

Pemuda itu tertawa.

"Aihh, engkau ini yang aneh sekali, Sian Li. Engkau sendiri masih keturunan keluarga para Pendekar Pulau Es, bahkan juga pendekar Gurun Pasir! Padahal, menurut yang kudengar, dahulu Pendekar Super Sakti Pulau Es adalah seorang sakti yang selain hebat ilmu silatnya, juga ahli dalam ilmu sihir!"

Sian Li tersenyum.

"Memang engkau benar, akan tetapi menurut orang tuaku, mempelajari ilmu sihir amatlah berbahaya karena ilmu seperti itu condong untuk menyeret orangnya kepada kesesatan."

Pemuda itu kini duduk di bangku, berhadapan dengan Sian Li yang juga sudah duduk.

"Segala macam ilmu mengandung daya tarik yang dapat menyesatkan orang, Sian Li. Ilmu apapun juga membuat orang merasa lebih pandai daripada orang lain, dan ada kecondongan mempergunakan ilmu yang dikuasainya itu untuk berkuasa atau mencari pengaruh atas orang-orang lain. Ilmunya sendiri tidak baik atau pun buruk. Baik buruknya tergantung dari dia yang mempergunakannya. Betapa baik pun sebuah ilmu, kalau dipergunakan untuk mencelakai orang lain ilmu itu menjadi jahat. Sebaliknya, ilmu yang dianggap jahat, kalau dipergunakan untuk menolong orang lain, akan menjadi ilmu yang baik. Bukankah begitu?"

Sian Li pernah mendengar ini, maka ia pun mengangguk dan kini pandangannya terhadap pemuda itu sama sekali berubah.

Ia tidak tahu benar bahwa semua agama di dunia ini mengajarkan orang agar hidup bijaksana dan baik.

Pelajaran agama yang dipelajari Ki Bok dari pendeta Lama, tentu saja juga mengatakan yang baik-baik.

Kalau terjadi kejahatan dilakukan orang beragama, maka hal itu berarti bahwa orang itu telah menyeleweng daripada pelajaran agamanya sendiri.

Tidak ada agama di dunia ini yang mengajarkan orang untuk menjadi jahat.

Justeru yang dinamakan agama adalah pelajaran tentang budi pekerti, mengajarkan orang untuk menjadi manusia yang baik dan berguna bagi manusia lain.

Cu Ki Bok yang sejak kecil menjadi murid pendeta Lama, tentu saja juga membaca kitab-kitab agama yang pada hakekatnya tiada bedanya dengan kitab-kitab agama lain, yaitu menuntun manusia ke arah jalan hidup yang benar.

"Sebenarnya, oleh orang tuaku dan paman kakekku, aku pun telah menerima latihan kekuatan batin yang dimaksudkan menolak pengaruh sihir. Akan tetapi, tadi aku sama sekali tidak mengira bahwa pangeran Nepal itu akan mempergunakan sehingga aku menjadi lengah. Ki Bok, apakah kau kira Sian Lun juga terpengaruh sihir?"

Tiba-tiba timbul dugaan ini dalam pikiran Sian Li. Ki Bok menarik napas panjang.

"Mungkin saja, akan tetapi yang jelas suhengmu itu seorang pria yang lemah dan mudah dirayu. Sungguh sayang sekali karena sesungguhnya dia memiliki ilmu kepandaian yang tinggi. Kalau dia bekerja sama dengan kami untuk menentang penjajah Mancu, hal itu baik-baik saja. Akan tetapi aku khawatir kalau dia sampai terseret oleh Pek-lian-kauw, melakukan hal-hal yang tidak patut."

Hening sejenak. Kemudian Sian Li mengangkat muka memandang pemuda itu.

"Ki Bok, engkau kini kuanggap sebagai seorang sahabat. Aku percaya kepadamu. Katakanlah, apa maksud gurumu dengan menahanku di sini? Berterus terang sajalah agar hatiku tidak menjadi ragu kepadamu."

"Mudah sekali diduga, Sian Li. Engkau tahu bahwa Hek I Lama sedang menyusun kekuatan...."

"Hemm, untuk memberontak kepada pemerintah Dalai Lama di Tibet?"

"Benar, akan tetapi selain hal itu merupakan urusan dalam para pendeta Lama, juga satu di antara sebabnya kerena pemerintah Tibet mengakui kekuasaan pemerintah Mancu. Nah, Hek I Lama dianggap memberontak karena tidak menyetujui hal itu. Karenanya, Hek I Lama yang kini dipimpin oleh Suhu Lulung Lama menyusun kekuatan dan mengharapkan bantuan orang-orang kuat, untuk bersama-sama menentang penjajah Mancu, juga untuk menentang pemerintah Tibet yang mau menjadi taklukan orang Mancu."

"Jadi aku ditahan untuk dibujuk agar mau bekerja sama dengan Hek I Lama?"

"Begitulah. Suhu mengha-rapkan engkau akan membantu pula. Bukankah penjajah Mancu merupakan penjajah yang menindas bangsa kita? Aku sendiri pun mempunyai darah Han, Sian Li. Aku akan merasa gembira sekali kalau engkau suka bekerja sama dengan kami."

"Dan bagaimana kalau aku menolak kerja sama? Apakah aku akan dibunuhnya?"

Cu Ki bok mengerutkan alisnya dan menggeleng kepala keras-keras.

"Suhu tidak akan memaksa orang untuk bekerja sama. Paksaan itu akhirnya hanya akan merugikan kami sendiri, karena orang yang dipaksa bekerja sama akhirnya mudah saja menjadi pengkhianat. Tidak, engkau tidak akan dipaksa. Andaikata ada yang akan memaksa atau mengganggumu, demi Tuhan, aku akan membelamu dengan taruhan nyawaku, Sian Li!"

Pemuda itu bicara penuh semangat, membuat Sian Li terheran dan ia menatap wajah pemuda itu penuh selidik.

Namun, sinar bulan tidak cukup terang sehingga tidak melihat betapa wajah pemuda itu berubah kemerahan.

"Akan tetapi.... kenapakah, Ki Bok? Kenapa engkau hendak membelaku seperti itu? Kenapa engkau begini baik kepadaku? Padahal, bukankah sejak pertama kali saling bertemu, kita berhadapan sebagai musuh?"

Pemuda itu menggeleng kepala.

"Hanya salah paham, Sian Li, hanya karena saling memperebutkan kebenaran masing-masing. Sudahlah, sebaiknya engkau kembali ke dalam kamarmu untuk beristirahat. Besok, setelah jenazah Supek diperabukan, mungkin Suhu akan bicara denganmu tentang ajakan bekerja sama itu."

"Apa yang harus kujawab?"

"Sudah kukatakan, kalau engkau suka bekerja sama, aku akan merasa berbahagia sekali, Sian Li."

"Kalau aku menolak?"

Pemuda itu menghela napas panjang.

"Aku akan merasa kecewa sekali. Akan tetapi tentu saja terserah. kepadamu, dan aku yang akan membantumu agar dapat pergi dari sini dalam keadaan bebas dan aman."

Tentu saja hati Sian Li menjadi girang bukan main.

"Sungguh mati, amat sukar menilai keadaan hati atau watak aseli seseorang,"

Katanya.

"Tadinya kukira engkau seorang yang amat jahat, Ki Bok, tidak tahunya engkau adalah seorang yang berhati mulia. Sebaliknya, suhengku yang kunilai sebaik-baiknya orang, ternyata malah seorang manusia yang budinya rendah!"

Pemuda itu tersenyum.

"Karena itu, jangan tergesa-gesa menilai seseorang, Sian Li. Yang hari ini kau nilai baik, mungkin besok akan kau cela, sebaliknya yang kemarin kau cela, hari ini akan kau puji. Mungkin kalau hari ini aku kau nilai baik, besok lusa akan kau nilai jahat lagi, siapa tahu?"

Sian Li tertawa.

"Aku mengerti, Ki Bok. Penilaian seseorang tergantung daripada kepentingan si penilai, kalau (Lanjut ke

Jilid 23) Si Bangau Merah (Seri ke 15 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 23 diuntungkan, tentu menilai baik, kalau dirugikan, akan menilai buruk.

Akan tetapi, juga tergantung kepada orang yang dinilai.

Setiap perbuatan baik tentu mendatangkan kekaguman, dan perbuatan buruk mendatangkan celaan.

Bukankah demikan?"

"Engkau memang cerdik, Sian Li. Nah kau bersabar dan tenanglah saja, dan harap menjaga diri agar jangan sampai terpancing keributan sebelum Suhu Lulung Lama bicara denganmu. Selamat malam dan selamat tidur."

Sian Li yang sudah bangkit, tersenyum.

"Selamat bermimpi, Ki Bok."

Mereka berpisah dan Sian Li sama sekali tidak mengira bahwa ucapannya tadi sungguh terjadi.

Ia mengatakan selamat bermimpi hanya untuk berkelakar, tidak tahunya malam itu Ki Bok benar-benar bermimpi semalam suntuk, mimpi bertemu dengannya dan berkasih sayang dengannya!

Gak Ciang Hun, ibunya, dan Yo Han bekerja dengan cepat.

Yo Han segera menghubungi para tokoh di perbatasan yang pernah disadarkannya, sedangkan Nyonya Gak dan puteranya pergi menghadap para pendeta Lama dan pasukan pemerintah yang berada di benteng daerah perbatasan tak jauh dari tempat itu.

Panglima yang menjadi komandan pasukan Tibet itu menerima laporan Gak Ciang Hun dan ibunya.

Dia segera berunding dengan para pendeta Lama.

Tentu saja mereka sudah mendengar akan adanya gerakan Hek I Lama, akan tetapi karena gerombolan itu tidak melakukan kekacauan, pasukan pemerin-tah pun tadinya mendiamkan saja.

Bagaimanapun juga para pimpinan Hek I Lama dahulunya adalah tokoh-tokoh pendeta Lama yang terkenal.

Akan tetapi, ketika mendengar laporan Gak Ciang Hun dan ibunya bahwa gerombolan pendeta Lama jubah hitam itu kini bersekutu dengan orang-orang Nepal yang menjadi pelarian dari negara mereka, Juga bersekutu dengan kaum pengemis sesat dan orang-orang Pek-lian-kauw, komandan itu merasa khawatir dan dia pun cepat mengerahkan pasukan, siap untuk melakukan penyerbuan terhadap gerombolan yang kini merupakan persekutuan besar dan hendak melakukan pemberontakan terhadap pemerintah Tibet itu.

Sementara itu, para tokoh sesat yang kini telah sadar akibat kebijaksanaan Sin-ciang Tai-hiap, ketika pandekar aneh itu minta bantuan mereka tentu saja mereka menjadi gembira dan mereka seakan berlumba untuk membuktikan bahwa kini mereka bukanlah penjahat-penjahat lagi, melainkan orang-orang gagah yang siap mengganyang pemberontak dan penjahat yang mengganggu ketenteraman.

Setelah menerima kesanggupan para tokoh kang-ouw itu, Yo Han yang ketika menemui mereka mengenakan capingnya yang menyembunyi-kan mukanya dan mengurai rambut, cepat kembali ke bukit yang dijadikan sarang Hek I Lama.

Dia pun menanggalkan penyamarannya dan ketika dia muncul di depan pintu gerbang yang seperti benteng itu, dia sudah menjadi seorang pemuda biasa, bukan lagi pendekar yang selalu menyembunyikan mukanya itu.

Yo Han maklum bahwa dia tidak perlu menyamar kalau ingin memasuki perkampungan yang menjadi sarang gerombolan itu dengan aman.

Pemuda murid Lulung Lama itu pernah melihat dia bersama Sian Li, pernah pula bicara dengan dia.

Oleh karena itu, ketika para penjaga pintu gerbang menghadang dan membentaknya, dia pun berkata dengan suara tenang.

"Aku bernama Yo Han, dan aku ingin bertemu dengan saudara Cu Ki Bok. Aku sudah mengenalnya."

Yo Han dipersilakan menunggu dan dua orang penjaga lalu berlari masuk untuk memberi kabar kepada Cu Ki Bok.

Selama dua hari ini, sejak jenazah Dobhin Lama diperabukan, ketua baru mereka, Lulung Lama, memerintahkan agar penjagaan diperketat dan semua anggauta Hek I Lama diharuskan bersiap siaga.

Lulung Lama maklum bahwa Sin-ciang Tai-hiap tentu tidak akan tinggal diam dan akan datang menyerbu untuk membebaskan Tan Sian Li.

Oleh karena ingin memancing munculnya Sin-ciang Tai-hiap inilah maka dia memerintahkan agar gadis itu tetap menjadi tawanan, walaupun diperlakukan dengan baik.

Dia sudah membujuk agar gadis itu suka membantu perjuangannya, dengan harapan kalau gadis itu mau bekerja sama seperti halnya Sian Lun, mungkin Sin-ciang Tai-hiap akan mau pula membantunya.

Dan mengingat bahwa gadis itu dan suhengnya adalah murid keluarga Pulau Es, maka kalau mereka bekerja sama dengan perkumpulannya, tentu lebih mudah menarik tokoh-tokoh kang-ouw untuk bekerja sama pula.

Ketika dua orang penjaga itu melapor bahwa ada orang bernama Yo Han mencarinya, Cu Ki Bok yang sudah lupa lagi akan nama itu, menduga-duga siapa orang yang mencarinya di tempat itu.

Apalagi nama orang itu menunjukkan bahwa dia tentu orang Han.

Dia sedang bingung memikirkan Sian Li.

Gurunya tidak berhasil membujuk gadis itu untuk bekerja sama.

Sian Li selalu menolak, dengan halus maupun kasar.

Akan tetapi gurunya tetap belum mau membebaskan Sian Li.

Menurut gurunya, gadis itu sengaja di tahan untuk memancing datangnya Sin-ciang Tai-hiap.

Agaknya Lulung Lama masih penasaran dan belum puas kalau belum mendapatkan bantuan pendekar aneh itu.

Sian Li juga bertahan, tidak mau bekerja sama.

Ia selalu mencari kesempatan untuk dapat meloloskan diri, dan harapan satu-satunya hanya pada Cu Ki Bok yang selama ini bersikap baik dan tidak mencurigakan.

Kemarin, ketika ia kebetulan bertemu dengan Sian Lun di taman bunga, ia tidak mampu mengendalikan kemarahannya.

"Keparat busuk, penghianat jahanam!"

Bentaknya.

"Orang macam engkau layak mampus!"

Dan Sian Li langsung saja menyerang bekas suhengnya itu dengan penuh kebencian.

Saking dahsyatnya serangan gadis itu, biarpun Sian Lun sudah menangkis, tetap saja dia terhuyung ke belakang.

"Sumoi, nanti dulu....!"

Teriaknya.

"Siapa sumoimu? Aku tidak sudi menjadi sumoi seorang pengkhianat jahanam!"

Dan Sian Li sudah menyerang lagi, mengerahkan tenaganya dan kembali Sian Lun terhuyung ke belakang.

"Sumoi....!"

Sian Li tidak memberi kesempatan kepada bekas suhengnya untuk banyak cakap lagi karena ia sudah menerjang lagi, dengan serangan-serangan yang dimaksudkan untuk membunuh!

Ia bukan hanya membenci Sian Lun karena telah mengkhianatinya, membantu pihak musuh untuk mencurangi dan menangkapnya, akan tetapi juga karena ia mendengar dan melihat sendiri betapa bekas suheng itu telah bermain gila dengan tiga orang wanita cabul dari Pek-lian-kauw!

Pada saat Sian Lun terhuyung dan Sian Li terus mendesaknya, dan berhasil menendang paha Sian Lun sehingga pemuda itu terpelanting, tiba-tiba muncul Pek-lian Sam-li yang segera turun tangan membantu Sian Lun dan mengeroyok Sian Li!

Melihat munculnya tiga orang wanita yang memang dibencinya ini, Sian Li menjadi semakin marah dan ia pun mengamuk.

Akan tetapi, tiga orang wanita itu juga memiliki ilmu kepandaian yang hebat, apalagi mereka maju bertiga sehingga begitu mereka membalas dan mendesak, Sian Li mulai terdesak mundur.

"Tahan! Jangan berkelahi!"

Tiba-tiba muncul Cu Ki Bok melerai.

"Sam-li, ajak Sian Lun manyingkir,"

Katanya.

Tiga orang tokoh Pek-lian-kauw itu tidak berani membantah.

Mereka tahu bahwa Ki Bok adalah seorang pemuda yang berdisiplin dan setelah kini Lulung Lama menjadi Ketua Hek I Lama, maka pemuda itu berarti menjadi wakilnya.

Mereka bertiga lalu menggandeng tangan Sian Lun dan diajak pergi dari situ.

Sementara itu, Ki Bok menghampiri Sian Li dan menghiburnya.

"Sian Li, apa gunanya membuat ribut dengan bekas suhengmu itu? Kalau engkau sudah tidak menyukai-nya dan tidak mau berhubungan dengannya, lebih baik kau diamkan saja dia. Membikin ribut di sini sungguh tidak menguntungkan dirimu, dan pula, jangan-jangan orang akan menganggap engkau...."

"Menganggap aku kenapa?"

Sian Li mendesak, mukanya masih kemerahan karena marah.

"Maaf, mungkin saja orang akan menganggap engkau cemburu melihat keakrabannya dengan Pek-lian Sam-li...."

"Gila! Akan kuhancurkan mulut orang yang menganggap aku cemburu! Siapa yang cemburu? Biar dia menggandeng seratus orang perempuan, apa peduliku? Biar dia mampus! Yang membuat aku marah adalah karena dia adalah murid paman kakekku. Kalau guru-gurunya mengetahui akan kelakuannya, tentu dia pun akan mereka hukum berat!"

"Sudahlah, kelak dapat saja engkau membuat laporan kepada guru-gurumu, atau boleh saja engkau menghukum dia, akan tetapi kalau kalian sudah tidak berada di sini. Kalau engkau membuat ribut di sini, tentu aku akan ikut repot menanggung akibatnya."

Demikian-lah, sampai hari itu, Lulung Lama belum memberi keputusan mengenai diri Sian Li.

Dan Ki Bok sedang menimbang-nimbang dan mencari jalan terbaik untuk membebaskan gadis itu.

Dia jatuh cinta kepada Sian Li, akan tetapi kalau gadis itu tidak mau bekerja sama dengan Hek I Lama, terpaksa mereka harus berpisah dan dia harus mencarikan jalan terbaik agar gadis itu dapat keluar dari perkampungan yang menjadi pusat Hek I Lama itu secara aman.

Ketika dua orang penjaga melapor tentang munculnya seorang bernama Yo Han mencarinya, Ki Bok segera menuju ke pintu gerbang.

Begitu melihat Yo Han, teringatlah dia akan pemuda yang dia temui bersama Sian Li tempo hari.

Pemuda yang menjadi perantara menyampaikan tantangan mendiang Dobhin Lama kepada Sin-ciang Tai-hiap.

Alisnya berkerut karena pertemuan ini sungguh mengejutkan hatinya, akan tetapi dia pun diam-diam merasa girang dan menaruh harapan untuk dapat mengadakan hubungan dengan Sin-ciang Tai-hiap melalui "perantara"

Ini.

"Kiranya saudara Yo Han yang datang berkunjung! Selamat datang, dan benarkah bahwa engkau hendak bicara dengan aku?"

Tanya Ki Bok. Yo Han memberi hormat.

"Benar sekali, dan saya datang untuk bicara tentang nona Tan Sian Li."

"Silakan masuk, saudara Yo Han, kita bicara di dalam,"

Ajak Ki Bok, mempersi-lahkan tamunya untuk memasuki pondok penjagaan di dekat pintu gerbang.

Dengan lagak seorang yang jujur dan tidak curiga, Yo Han melangkah masuk mengikuti pemuda tinggi tegap yang tampan gagah itu, dan mereka lalu duduk berhadapan di atas bangku, di dalam pondok atau gardu penjagaan.

Ki Bok sudah memberi isyarat kepada para petugas jaga untuk menjauhi gardu agar mereka berdua dapat bicara dengan leluasa tanpa terdengar orang lain.

Karena pemuda itu merupakan seorang tokoh penting dalam perkumpulan Lama Jubah Hitam, maka para petugas menghormatinya dan mentaati perintahnya.

"Saudara Yo Han, selamat datang dan aku girang sekali menerima kunjunganmu ini. Angin baik apakah yang membawamu ke sini? Diam-diam Yo Han mendongkol akan tetapi juga waspada sekali. Pemuda di depannya ini sudah dia kenal ilmunya, dan ternyata selain lihai, juga cerdik dan licin bagaikan ular, pendai bersikap manis budi seperti ini. Yo Han mengerutkan alisnya.

"Aku datang karena diutus oleh Sin-ciang Tai-hiap,"

Katanya sengaja berhenti, untuk melihat tanggapan orang itu.

Wajah Ki Bok nampak berseri mendengar disebutnya pendekar itu.

Agaknya harapannya akan semakin besar dan kesempatan semakin terbuka untuk dapat mengajak pendekar sakti itu bekerja sama.

"Aih, sungguh merupakan kehormatan sekali dan terima kasih atas perhatian Sin-ciang Tai-hiap yang kami kagumi."

Sudahlah tidak perlu bersandiwara,"

Kata Yo Han.

"Tai-hiap marah sekali karena kecurangan kalian. Tidak kami sangka bahwa Hek I Lama, perkumpulan besar yang terhormat itu dapat melanggar janji dan melakukan kelicik-an dan kecurangan. Bukankah janjinya sebelum bertanding, kalau ketua kalian kalah oleh Tai-hiap, maka Sian Lun akan dibebaskan dan mutiara hitam akan dikembalikan. Mutiara itu memang telah dikembali-kan kepada Tai-hiap, akan tetapi kenapa Sian Lun tidak dibebaskan, sebaliknya adikku Sian Li malah ditangkap pula? Pantaskah hal securang itu dilakukan oleh orang-orang Hek I Lama yang gagah? Sepatutnya hanya dilakukan orang-orang pengecut, bukan anggauta perkumpulan pejuang yang menganggap dirinya pahlawan."

Ki Bok tidak marah mendengar umpat caci ini dan hal ini saja sudah membuktikan bahwa dia memang cerdik dan mampu mengendalikan perasaan hatinya.

Dia malah tersenyum ramah.

"Harap tenang dan bersabarlah, saudara Yo Han, atau lebih baik kusebut Yo-toako (Kakak Yo) saja karena tadi engkau mengatakan bahwa engkau adalah kakak Nona Sian Li. Benarkah itu?"

Yo Han mengangguk.

"Aku adalah kakak misan Tan Sian Li,"

Jawabnya.

Dia tidak berterus terang, akan tetapi juga tidak terlalu membohong, karena bukankah dia termasuk kakak dari gadis itu, walaupun bukan kakak misan melainkan kakak seperguruan?

Dia juga merasa seperti anak sendiri dari orang tua gadis itu, maka sepatutnya saja kalau dia mengaku gadis itu sebagai adiknya.

"Bagus, kalau begitu aku dapat bicara terus terang. Sesungguhnya, Sian Lun telah setuju untuk membantu perjuangan kami melawan orang-orang Mancu. Oleh karena itu, dia sengaja menawan sumoinya agar suka pula bekerja sama dengan kami. Sekarang, Nona Sian Li menjadi tamu kami, bukan tawanan dan diperlakukan dengan baik dan terhormat. Kami menunggu sampai Nona Sian Li juga menyetujui sikap suhengnya, dan mau pula bekerja sama dengan kami. Bahkan kami mengharapkan agar engkau suka menyampaikan himbauan kami kepada Sin-ciang Tai-hiap untuk bergabung dengan kami, bersama-sama menentang penjajah, Mancu."

"Hemm, aku tidak tahu apakah Taihiap suka menerima ajakan itu atau tidak. Yang jelas, dia marah sekali karena janji yang merupakan taruhan pertandingan itu dilanggar. Pula, bagaimana aku dapat percaya bahwa adikku Sian Li diperlakukan dengan baik di sini sebelum aku bertemu dengannya dan melihat sendiri?"

"Engkau ingin bertemu dengan adikmu itu, Yo-toako? Baik, baik, tentu saja engkau boleh dan dapat bertemu dengannya. Akan tetapi tentu saja kita harus lebih dahulu menghadap Suhu dan minta persetujuannya."

"Menghadap ketua kalian Dobhin Lama?"

"Tidak, menghadap Suhu Lulung Lama,"

Jawab Ki Bok singkat.

Yo Han merasa heran akan tetapi diam saja tidak bertanya lagi dan dia mengikuti Cu Ki Bok yang mengajaknya memasuki perkampungan itu.

Di rumah induk, dia dibawa Lulung Lama di ruangan depan rumah besar itu dan di situ Yo Han tidak saja melihat Lulung Lama akan tetapi juga para tokoh lain di tengah ruangan depan itu terletak sebuah peti mati.

Diam-diam Yo Han terkejut.

Kini mengertilah dia mengapa dia diajak menghadap Lulung Lama, bukan Dobhin Lama.

Kiranya ketua perkumpulan Hek I Lama itu telah meninggal dunia!

Padahal, kemarin masih bertanding dengan dia.

Kalau begitu, agaknya kakek yang sudah tua renta itu terlalu memaksa diri mengerahkan tenaga ketika bertanding sehingga tubuh yang sudah tua itu kehabisan tenaga dan tewas.

Mungkin ketika dia duduk bersila ketika selesai bertanding kemarin, dan diam saja melihat kecurangan anak buahnya yang mengeroyok, kakek itu sudah tewas.

Kalau benar demikian, bukan Dobhin Lama yang curang, melainkan Lulung Lama dan anak buahnya.

Juga penangkapan atas diri Sian Li tentu diatur oleh Lulung Lama, karena buktinya ketika Dobhin Lama merasa kalah, kakek tua itu mengembalikan mutiara hitam dan menyuruh Lulung Lama membebaskan Sian Lun.

"Siapa ,yang meninggal dunia itu?"

Tanya Yo Han, pura-pura terkejut dan tidak tahu.

"Dia adalah ketua kami...."

"Dobhin Lama yang bertanding melawan Sin-ciang Tai-hiap?"

Yo Han bertanya.

Cu Ki Bok mengangguk dan kesempatan ini dipergunakan oleh Yo Han untuk cepat menghampiri peti mati dan berlutut di depan peti mati sambil mengeluarkan kata-kata yang bernada sedih penuh penyesalan.

"Losuhu, maafkan saya. Sungguh saya menyesal sekali bahwa Losuhu tewas karena pertandingan melawan Sin-ciang Tai-hiap. Bagaimanapun, saya merasa menyesal karena saya yang menjadi perantara. Akan tetapi, Tai-hiap tidak sengaja melukai Losuhu, Tai-hiap tidak pernah mau membunuh lawan. Sayangnya, setelah Losuhu tidak ada, anak buah Losuhu berbuat curang, tidak menepati janji. Bukan saja Sian Lun tidak dibebaskan, bahkan adikku Sian Li ditawan. Losuhu, saya menyesal sekali. Andaikata Losuhu tidak meninggal, tentu adik saya tidak ditawan...."

Sementara itu, Ki Bok telah mendekati gurunya dan menerangkan siapa adanya pemuda yang berlutut di depan peti mati itu.

Setelah mendengar keterangan muridnya, Lulung Lama bangkit dan menghampiri Yo Han.

"Saudara Yo, bangkitlah. Mati hidup berada di tangan Tuhan dan tidak ada yang perlu disesalkan. Juga kami tidak melanggar janji. Ketahuilah bahwa Liem Sian Lun dengan sukarela berada di sini, bukan kami tawan. Dia memang sudah sadar dan ingin berjuang bersama kami menentang penjajah Mancu. Dialah yang menghendaki agar sumoinya ikut pula membantu perjuangan kami yang suci. Maka, tidak salah kiranya kalau engkau suka membujuk Sin-ciang Tai-hiap agar suka bekerja sama pula dengan kami."

Yo Han bangkit dan memberi hormat kepada Lulung Lama, lalu berkata dengan suara mengandung pena-saran.

"Saya datang sebagai utusan Tai-hiap yang menuntut agar Liem Sian Lun dan adikku Tan Sian Li dibebaskan dari sini, sesuai perjanjian."

"Omitohud, sudah pinceng katakan bahwa kami tidak menawan Liem Sian Lun dan...."

"Bagaimana saya dapat percaya kalau tidak bertemu sendiri dengan adik saya?"

Lulung Lama yang sudah mendengar penjelasan muridnya, tersenyum dan mengangguk.

"Baiklah, saudara Yo Han. Engkau boleh bertemu dengan adikmu itu. Ki Bok, antarkan dia bertemu dengan Nona Tan Sian Li."

Cu Ki Bok, mengajak Yo Han meninggalkan ruangan itu.

Yo Han girang bahwa mereka itu agaknya sama sekali tidak pernah mengira bahwa dialah sebenarnya Sin-ciang Tai-hiap.

Kini Ki Bok mengajaknya ke bagian belakang perkampungan yang luas itu dan akhirnya dia melihat Sian Li yang duduk seorang diri di ruangan depan sebuah pondok.

Ketika tadi diajak pergi ke tempat itu, diam-diam Yo Han memperhatikan dan dia tahu bahwa di tempat itu terdapat banyak sekali orang yang diam-diam melakukan penjagaan sehingga untuk mengajak Sian Li dan Sian Lun melarikan diri dari tempat itu bukan merupakan pekerjaan yang mudah.

Dia juga tadi melihat bahwa di ruangan perkabungan terdapat banyak sekali orang yang tentu memiliki ilmu kepandaian tinggi.

Dia melihat pula orang-orang Nepal yang bertubuh tinggi besar, orang-orang Han yang melihat pakaian mereka mudah diduga bahwa mereka adalah orang-orang Pek-lian-kauw.

Ketika Sian Li yang sedang termenung memikirkan sikap Sian Lun yang aneh, berubah sama sekali dan menjadi seperti boneka yang memuakkan di bawah pengaruh Pek-lian Sam-li, melihat ada orang datang menghampirinya, ia mengangkat muka.

Ia girang melihat Cu Ki Bok yang amat baik kepadanya itu, akan tetapi ketika ia melihat orang ke dua, ia terbelalak saking kagetnya.

Sama sekali tidak disangkanya bah-wa Yo Han akan muncul begitu saja, secara terang-terangan, di tempat itu.

Karena ia tidak tahu bagai-mana maksud Yo Han dengan kemunculannya, maka ia pun tidak berani lancang membuka suara dan hanya memandang dengan mata terbelalak.

"Li-moi, sukur engkau dalam keadaan selamat dan sehat!"

Teriak Yo Han sambil menghampiri dan memegang kedua tangan gadis itu.

Melihat sikap Yo Han yang wajar saja Sian Li merasa lega, apalagi ia pun percaya bahwa Cu Ki Bok adalah seorang pemuda yang baik dan yang ingin menolongnya.

"Han-ko, bagaimana engkau bisa datang ke sini?"

"Aku menjadi utusan Sin-ciang Tai-hiap untuk menyampaikan tuntutan kepada Hek I Lama agar engkau dan suhengmu itu dibebaskan, Li-moi. Mereka mengatakan bahwa Sian Lun dan engkau mau bekerja sama dengan mereka dan tidak ditahan, maka aku minta agar dapat melihat dengan mata sendiri dan dapat bicara denganmu."

"Aku memang diperlakukan dengan baik di sini, Koko, sebagai tamu. Adapun Suheng...."

Ia ragu-ragu untuk melanjutkan kata-katanya. Yo Han memotong dan berkata kepada Cu Ki Bok, suaranya mengandung penasaran.

"Aku menuntut agar adikku dibebaskan sekarang juga. Kalau tidak, aku tidak akan pergi dari sini, aku harus menemani adik misanku ini!"

Ki Bok tersenyum.

"Yo-toako, engkau melihat sendiri bahwa Nona Tan Sian Li dalam keadaan sehat dan selamat. Sebaiknya kalian bicara berdua di sini, untuk membuktikan bahwa kalian di sini diberi kebebasan dan bukan menjadi tahanan."

Setelah berkata demikian, Ki Bok meninggalkan mereka berdua di ruangan depan pondok itu.

Setelah Ki Bok pergi, Sian Li berkata "Han-ko, duduklah.

Kau tahu, Cu Ki Bok itu ternyata baik sekali.

Dia bersung-guh-sungguh hendak menolongku,"

Ia lalu menceritakan tentang pertolongan Ki Bok ketika ia hendak dinodai pangeran Nepal.

Setelah menceritakan pengalamannya sejak ia ditangkap oleh suhengnya sendiri ia bertanya.

"Akan tetapi kenapa engkau malah muncul di sini secara berterang, Han-ko? Bagaimana kalau mereka tahu siapa sebenarnya engkau?"

"Aku sengaja masuk ke sini agar dapat membantu nanti kalau orang-orang kang-ouw yang sudah ku-hubungi datang menyerbu. Kita sendiri tidak mungkin dapat melawan mereka yang banyak jumlahnya. Aku sudah minta bantuan orang-orang kang-ouw, sedangkan saudara Gak Ciang Hun dan ibunya melapor kepada para pendeta Lama dan pasukan pemerintah di Tibet tentang usaha pemberontakan Lulung Lama. Dan bagaimana kabarnya dengan suhengmu? Di mana dia sekarang?"

Mendengar pertanyaan ini, wajah Sian Li berubah muram dan ia mengepal tinju tangannya.

"Dia telah tersesat, menyeleweng dan kalau ada kesempatan akan kuhajar dia!"

Yo Han terkejut.

"Li-moi, apa yang terjadi?"

"Hah, jahanam keparat itu, pengkhianat busuk itu, dia telah merendahkan diri menjadi antek mereka, dia terbujuk oleh perempuan-perempuan hina Pek-lian-kauw, dan dia malah menipuku, menangkapku ketika aku hendak menolongnya."

Melihat gadis itu seperti akan menangis, Yo Han dapat menduga betapa sakit rasa hati gadis itu.

Tentu Sian Li mencinta suhengnya dan kini amat kecewa melihat ulah suhengnya.

"Li-moi, bagaimana watak dan sikap suhengmu selama ini, sebelum dia tertawan gerombolan ini?"

Sian Li mengerutkan alisnya.

"Selama ini dia baik, setia dan membelaku. Akan tetapi agaknya dia telah tergila-gila kepada Pek-lian Sam-li, dan agaknya demi perempuan-perempuan itu, dia tidak segan untuk mengkhianatiku."

Muka Sian Li merah sekali dan jelas bahwa dia menahan diri agar tidak menangis karena ia memang merasa penasaran dan kecewa bukan main kalau mengenang sikap Sian Lun kepadanya.

Yo Han merasa kasihan kepada gadis itu.

"Li-moi, jangan khawatir, aku pasti akan berusaha sekuat tenaga untuk membebaskan dia."

Sepasang mata itu terbelalak.

"Apa maksudmu? Untuk apa bersusah payah memikirkan dia? Dia tidak minta dibebaskan.... hemmm, aku hanya ingin menghajarnya, membunuhnya!"

"Li-moi, tenang dan bersabarlah. Ada sesuatu yang aneh dengan sikap suhengmu itu. Kalau biasanya dia berwatak baik, maka sikapnya sekarang ini tidak wajar. Aku menduga bahwa dia tentu berada di bawah pengaruh sihir. Ingat, para pendeta Lama, orang-orang Pek-lian-kauw dan orang-orang Nepal adalah ahli-ahli sihir yang pandai."

Sian Li termenung dan menundukkan kepalanya.

Ia pun sudah menduga akan hal itu, akan tetapi bagaimanapun hatinya tetap merasa panas dan tidak senang melihat sikap Sian Lun yang demikian akrab dan mesra terhadap tiga orang wanita Pek-lian-kauw itu.

Wajahnya menjadi semakin merah karena sekarang ia teringat akan ucapan Cu Ki Bok bahwa sikapnya itu dapat disangka orang sebagai tanda bahwa ia cemburu.

Cemburukah ia terhadap Pek-lian Sam-li yang demikian mesra dengan Sian Lun?

Bagaimanapun juga, tentu saja ia merasa tidak enak, Sian Lun telah dianggapnya sebagai suhengnya yang baik dan setia, bahkan ia tahu bahwa suhengnya itu jatuh cinta kepadanya.

Baik ia membalas cinta itu ataukah tidak, tetap saja hatinya tidak enak sekali melihat betapa suhengnya menjadi kekasih tiga orang Pek-lian-kauw dan telah mengkhianatinya.

"Ingatlah, Li-moi, engkau tadi menceritakan bahwa engkau juga terkena pengaruh sihir pangeran Nepal itu dan untung ada Cu Ki Bok yang menolongmu. Nah, kuat dugaanku bahwa demikian pula halnya suhengmu itu. Karena pengaruh sihir, dia mau melaku-kan apa saja. Kita lihat saja nanti kalau dia sudah sadar dan tidak lagi terpengaruh sihir mereka."

"Kapankah penyerbuan itu akan terjadi?"

Tanya Sian Li yang mulai ragu-ragu tentang keadaan suhengnya walaupun ia yakin bahwa setelah melihat sikap Sian Lun, kiranya tidak akan mungkin lagi baginya untuk membalas cinta pemuda itu.

"Menurut perhitungan, malam ini mereka akan datang mengepung tempat ini dan menyerbu. Kita harus membantu dari dalam untuk membebaskan suhengmu dari cengkeraman mereka, baru melarikan diri keluar ketika penyerbuan terjadi."

Mereka menghentikan percakapan ketika nampak Cu Ki Bok datang menghampiri ke arah mereka.

"Dia orang baik Han-ko. Kurasa hanya dialah yang mempunyai landasan bersih dalam perjuangan melawan orang-orang Mancu."

"Akan tetapi bukankah dia murid Lulung Lama?"

"Benar, akan tetapi dia mengatakan bahwa andaikata aku tidak mau bekerja sama dengan mereka, dia tetap akan mencarikan jalan agar aku dapat lolos dari tempat ini."

"Hemm, agaknya dia cinta padamu, Li-moi."

Sian Li mengerutkan alisnya.

"Entahlah, akan tetapi aku yakin dia orang baik."

Percakapan terpaksa dihentikan karena Ki Bok yang berjalan santai menghampiri mereka telah tiba di situ. Dia tersenyum ramah.

"Bagaimana, Yo-toako. Sudah yakinkah engkau sekarang bahwa kami tidak menganggap adikmu sebagai tawanan melainkan sebagai tamu?"

Yo Han bangkit berdiri dan memandang marah.

"Biarpun diperlakukan dengan baik dan dianggap sebagai tamu, tetap saja adikku ini adalah tamu yang dipaksa dan ditahan di sini. Aku menuntut agar adikku dibebaskan sekarang juga dan ikut dengan aku pergi. Kalau tidak, terpaksa aku akan tinggal di sini menemaninya!"

Melihat sikap ini, Ki Bok lalu mendekati Yo Han dan berkata dengan suara perlahan.

"Yo-toako, apakah adikmu belum menceritakan semua? Sebaiknya engkau tidak membuat keributan karena kalau terjadi hal itu, aku sendiri tidak akan dapat melindungimu. Ketahuilah bahwa perkumpulan kami adalah pejuang-pejuang yang gigih dan kalau ada yang menentang akan dibunuh. Suhu sedang mengharapkan agar Sian Li suka bekerja sama membantu perjuangan, demikian pula Sin-ciang Tai-hiap. Andaikata Sian Li tidak maupun, tidak perlu menggunakan kekerasan dan percayalah, aku yang akan menjamin bahwa Sian Li akan dapat lolos dari sini dengan selamat."

Yo Han memandang penuh selidik.

"Hemm, engkau adalah seorang tokoh di sini, bagaimana engkau hendak melindungi Li-moi? Apa maksudmu melindunginya mati-matian? Tanpa sebab yang jelas bagai-mana kami berdua dapat mempercayaimu?"

"Han-ko, aku percaya padanya. Dia sudah membuktikan-nya!"

Kata Sian Li yang merasa tidak enak terhadap Ki Bok.

"Justeru perlindungannya itu patut dicurigai, Li-moi. Bukankah dia seorang di antara mereka yang memusuhi engkau dan suhengmu? Tanpa alasan yang kuat, bagaimana mungkin dia melindungimu tanpa pamrih yang buruk?"

Mendengar ucapan Yo Han itu, Ki Bok segera berkata dengan terus terang.

"Baiklah, Yo-toako, aku membuat pengakuan. Aku bersedia melakukan apa pun untuk Sian Li dengan taruhan nyawaku karena aku jatuh cinta padanya."

"Ki Bok....!"

Sian Li berseru kaget dan memandang wajah pemuda peranakan Tibet itu.

Tadinya ia hanya menganggap Ki Bok seorang yang baik sekali kepadanya, sama sekali tidak pernah menyangka bahwa pemuda itu jatuh cinta padanya.

Dan kini pemuda itu membuat pengakuan sedemikian jujurnya di depan Yo Han!

Cu Ki Bok menghela napas panjang sambil memandang kepada gadis itu.

"Maafkan aku, Sian Li. Terpaksa aku harus berterus terang. Aku merasa kagum dan jatuh cinta padamu, dan tidak peduli apakah engkau akan membalas cintaku, tidak peduli apakah akan menerima atau menolak ajakan kerja sama, tetap saja aku harus membebaskanmu. Karena itu, kuharap kalian berdua bersabar dan tidak membuat keributan. Aku akan mencarikan kesempatan sebaik dan seamannya untuk kalian."

Yo Han mengangguk-angguk.

"Kalau begitu, aku akan tinggal di sini menemani Li-moi, harap saudara Cu Ki Bok menyampaikan kepada pimpinan di sini."

"Baik, Yo-toako, aku akan melaporkan kepada Suhu,"

Kata Ki Bok yang segera meninggalkan mereka.

Ketika melihat para penjaga mendekat, dia berbisik kepada mereka agar melakukan penjagaan yang ketat, dan juga memberitahu bahwa Yo Han adalah kakak misan Sian Li yang tinggal di situ pula untuk menemani adiknya.

Di pondok itu memang terdapat dua buah kamar, maka Yo Han dapat menempati kamar yang ke dua.

Akan tetapi setelah Ki Bok pergi, Yo Han dan Sian Li yang sejak tadi diam termenung, masih bercakap-cakap di ruangan depan.

"Kiranya dia jatuh cinta padamu, Li-moi,"

Kata Yo Han melihat gadis itu termenung saja. Sian Li menarik napas panjang.

"Sungguh sama sekali tidak pernah aku memikirkan hal itu, tak pernah menduganya. Begitu beraninya mengaku cinta!"

Wajah gadis itu berubah kemerahan.

"Jangan marah kepadanya, Li-moi. Aku bahkan kagum, karena dia seorang laki-laki yang jantan, gagah dan jujur. Sekarang yang penting kita harus mencari di mana adanya suhengmu. Aku ingin bertemu dengannya dan kalau mungkin akan kusadarkan dia dari pengaruh sihir."

"Bagaimana kalau dia tidak terpengaruh sihir, melainkan kalau dia memang menyeleweng dan tersesat, Han-ko? Menurut keterangan Ki Bok, Suheng memang telah terpikat oleh Pek-lian Sam-li."

Di dalam suara gadis itu masih terkandung kemarahan terhadap Sian Lun.

"Kalau memang demikian, aku akan berusaha untuk me-nyadarkan dan mengingatkannya agar kembali ke jalan benar. Bagaimanapun juga dia adalah suhengmu dan perlu diingatkan kalau dia tergoda, Li-moi."

"Terserah kepadamu, Han-ko. Akan tetapi, kita harus berhati-hati sekali karena biarpun aku kelihatan bebas namun setiap gerak-gerikku diamati dan sedikit saja mereka itu curiga, tentu mereka akan mengepung dan mengeroyok kita. Aku mengkhawatirkan keselamatanmu, Han-ko, karena kalau mereka tahu bahwa engkau adalah Sin-ciang Tai-hiap, tentu mereka tidak akan memberi ampun. Engkau telah membunuh Dobhin Lama."

Yo Han menggeleng kepala.

"Aku tidak membunuhnya. Ketika kami bertanding, biarpun aku dapat mematahkan tongkatnya, akan tetapi aku tidak melukainya. Dia tewas karena usianya yang sudah tua, dan agaknya dia telah terlalu memaksa diri sehingga kehabisan tenaga. Tentu saja aku akan berlaku hati-hati sekali untuk menyelidiki suhengmu. Sebabaiknya engkau gambarkan keadaan perkampungan ini dan di mana aku dapat mencari Sian Lun."

Mereka berbisik-bisik dan Sian Li memberi gambaran tentang perkampungan di situ.

Setelah mendapat keterangan jelas, mereka lalu memasuki pondok.

Perkampungan di dalam rimba itu terdiri dari beberapa buah bangunan yang cukup besar dan perkampungan itu dikelilingi pagar bambu runcing dan dijaga ketat.

Yo Han termenung di dalam kamarnya, memikirkan jalan baik untuk dapat menyelamatkan Sian Li dan Sian Lun.

Pemuda ini merasa prihatin sekali.

Dia maklum bahwa serbuan orang-orang kang-ouw dan terutama sekali para pendeta Lama dan pasukan Tibet akan menimbulkan perang atau pertempuran mati-matian di tempat itu.

Dia membayangkan dengan hati sedih bahwa pertempuran itu tentu akan mengakibatkan tewasnya banyak orang.

Dia sendiri tidak pernah mau menggunakan ilmu kepandaiannya untuk membunuh orang lain.

Dia tidak pernah menilai jahat kepada orang lain karena dia maklum bahwa seorang yang dianggap jahat dan melakukan perbuatan yang jahat, sebetulnya hanya orang yang sedang menderita penyakit saja.

Orang yang menyeleweng daripada kebenaran adalah orang sakit.

Bukan badannya yang sakit, melain-kan batinnya.

Akan tetapi, seperti juga penyakit badan, penyakit batin ini suatu waktu akan dapat sembuh.

Sedangkan orang yang sehat batinnya, sekali waktu mungkin saja jatuh sakit.

Setiap orang mengakui bahwa tidak ada seorang pun manusia yang sempurna.

Yang sempurna hanyalah Tuhan.

Setiap orang manusia sudah pasti mempunyai kesalahan, setiap orang manusia berdosa.

Dan kita sendiri, setiap orang dari kita, juga seorang manusia, karenanya kita masing-masing ini adalah orang berdosa dan bersalah.

Oleh karena itu, pantaskah kita mencela orang lain yang bersalah?

Orang itu sama saja dengan kita, hanya macam kesalahan atau meacam dosanya saja yang berbeda, ada yang kadarnya besar ada yang kecil.

Akan tetapi, kita ini senasib sependeritaan, takkan dapat lepas daripada kesalahan, daripada dosa.

Seyogianya kalau melihat orang lain berdosa, kita membantunya dengan petunjuk dan peringatan, seperti melihat orang lain sakit, sepatutnya kita memberi obat dan hiburan.

Jangan melihat orang lain terperosok ke dalam lumpur, malah kita injak kepalanya!

Uluran tangan untuk menariknya keluar dari lumpur merupakan kewajiban luhur.

Yo Han teringat kembali akan ancaman pertempuran.

Dia menghela napas panjang.

Apa yang dapat dia lakukan?

Di dunia ini penuh dengan perang.

Perang merupakan korban api besar yang timbul dari percikan api kecil.

Dimulai dari konflik atau pertentangan dalam batin setiap orang manusia sendiri.

Konflik yang timbul karena adanya keinginan-keinginan yang tak ada habisnya.

Konflik dalam batin sendiri ini mencuat keluar menimbulkan konflik antar pribadi, karena bentrokan kepentingan, bentrokan keinginan, saling berebut kebenaran, berebut keenakan sendiri.

Konflik-konflik antar pribadi ini dapat membengkak menjadi konflik antar keluarga, antar golongan, kemudian berkobar menjadi konflik antar bangsa dan antar negara yang menimbulkan perang.

Yo Han sudah memesan kepada para orang kang-ouw untuk membantunya membebaskan Sian Lun dan Sian Li, dan dia sudah minta kepada mereka agar jangan membunuh dan setelah kedua orang muda itu dapat diselamatkan, agar para orang kang-ouw tidak mencampuri perang yang terjadi antara pasukan Tibet dan para pemberontak.

Dia sendiri pun tidak akan ikut campur dengan pertempuran itu.

Dia hanya ingin melindungi Sian Li dan Sian Lun agar dapat lolos dari tempat itu dengan selamat.

Setelah Ki Bok melaporkan tentang Yo Han yang berkunjung sebagai utusan Sin-ciang Tai-hiap dan sekarang pemuda itu tidak mau pergi karena menuntut di bebaskannya Sian Li, Lulung Lama segera memanggil semua pimpinan dan pembantunya untuk meng-adakan perundingan.

Mereka semua berkumpul di bangunan induk, di ruangan yang luas di mana selalu dipergunakan untuk mengadakan pertemuan.

Mereka semua berkumpul dan karena waktu itu sedang terjadi perkabungan kematian Dobhin Lama, maka seluruh pimpinan dan pembantu yang tadinya bertugas di luar, sudah berkumpul pula untuk berkabung.

Lengkaplah mereka yang kini berada di ruangan itu.

Lulung Lama yang ditemani muridnya, Cu Ki Bok, duduk di kursi pimpinan.

Belasan orang pendeta Lama jubah hitam yang menjadi pembantu-pembantunya hadir pula.

Gulam Sing, Pangeran dari Nepal itu pun hadir bersama para pembantunya, termasuk Badhu dan Sagha.

Dari pihak Pek-lian-kauw, hadir selain Pek-lian Sam-li, juga tiga orang tosu Pek-lian-kauw yang datang melayat.

Hek-pang Sin-kai juga hadir bersama empat orang rekannya.

Jumlah mereka yang berada di ruangan itu tidak kurang dari empat puluh orang.

Di dekat Pek-lian Sam-li duduk pula Liem Sian Lun.

Wajah tampan Sian Lun yang biasanya cerah itu kini nampak agak muram.

Kerut merut di antara kedua alisnya, pandang matanya yang sayu, mulutnya yang agak cemberut itu menggambarkan betapa dia tidak tenang dan tidak senang.

Pek-lian Sam-li agaknya salah perhitungan terhadap pemuda ini.

Memang dalam kesempatan pertama, Sian Lun yang masih hijau dalam hal pengalaman itu mudah mereka rayu dan mereka jatuhkan.

Sian Lun dibakar nafsunya sendiri.

Apalagi tiga orang wanita Pek-lian-auw itu menggunakan kekuatan sihir.

Pemuda itu bertekuk lutut dan melakukan apa saja yang mereka kehendaki.

Bahkan dia mentaati ketika mereka menyuruh dia menawan sumoinya sendiri, wanita pertama yang pernah menjatuhkan hatinya!

Dan dia bahkan menganggap perbuatan itu sebagai bagian dari perjuangan mereka, karena para pimpinan itu menghendaki agar dia menawan dan membujuk Sian Li sehingga gadis itu mau pula membantu perjuangan mereka.

Kesalahan perhitungan Pek-lian Sam-li adalah bahwa mereka mengira Sian Lun sudah benar-benar setia kepada mereka, Mengira bahwa mereka telah dapat menundukkan pemuda itu dengan kecantikan mereka sehingga mereka menjadi lengah dan tidak lagi menggunakan kekuatan sihir untuk menguasai Sian Lun.

Dan dalam keadaan sadar sepenuhnya inilah dia mulai merasa menyesal.

Nafsu bagaikan gelembung sabun.

Kesenangan yang didatangkannya hanya selewat saja, disusul kebosanan karena nafsu mendorong kita mengejar yang baru, yang belum kita miliki.

Kita dipermainkan nafsu seperti anak kecil dipermainkan mainan-mainan.

Mainan lama yang dahulunya amat disenangi, mendatangkan bosan dan diganti mainan baru yang mengasyikkan.

Daya tarik tiga orang wanita Pek-lian-kauw itu berkurang kekuatannya sehingga Sian Lun mulai dapat melihat betapa perbuatannya selama ini amat memalukan.

Dia telah membiarkan dirinya menjadi boneka, menjadi permainan tiga orang wanita itu.

Bahkan dia begitu buta sehingga tidak melihat bahwa dia diperalat.

Dia mau saja melakukan penipuan untuk menawan Sian Li secara amat curang.

Padahal dia amat mencinta sumoinya itu.

Dia merasa malu, malu kepada Sian Li, malu kepada diri sendiri dan kalau dia membayangkan betapa guru-gurunya akan mendengar tentang dirinya, betapa kedua orang gurunya yang sudah melepas budi besar kepadanya, yang menganggap dia seperti anak sendiri, akan merasa berduka, kecewa dan menyesal, ingin Sian Lun menjerit-jerit dan menangis.

Namun, semua telah terlambat.

Dia telah mengkhianati sumoinya.

Perjuangan menentang penjajah Mancu memang baik, dan setiap orang pendekar sepatutnya bangga kalau membantu perjuangan membebaskan rakyat dan tanah air dari cengkeraman penjajah Mancu.

Akan tetapi, bagaimana mungkin perjuangan itu dapat melalui jalan yang benar kalau dipimpin orang-orang sesat seperti Pek-lian Sam-li dari Pek-lian-kauw, para pem-berontak Nepal dan pemberontak Tibet?

Malam tadi, biarpun ada Pek-lian Sam-li yang menemaninya, dia tidak dapat tidur memikirkan Sian Li.

Dia merasa bersalah kepada sumoinya itu dan merasa menyesal sekali.

Dia harus dapat membebaskan sumoinya, dan sudah mengambil keputusan untuk minta kepada Lulung Lama agar Sian Li dibiarkan bebas.

Kalau permintaannya ditolak, dia pun akan menyatakan tidak mau lagi membantu mereka!

Dan sore hari ini, Lulung Lama memanggil semua sekutunya untuk meng-adakan pertemuan di ruangan luas itu.

Setelah memberi salam kepada semua orang, Lulung Lama berkata dengan suara lantang.

"Kita sudah mengadakan persiapan dan penjagaan untuk menyambut datangnya Sin-ciang Tai-hiap yang pasti akan datang ke sini untuk membebaskan Nona Tan Sian Li. Akan tetapi sampai hari ini, dia tidak muncul dan mengirim utusan untuk menuntut agar nona itu kita bebaskan. Padahal, seperti kalian ketahui, kita menghendaki agar Nona Tan Sian Li dan juga kalau mungkin Sin-ciang Tai-hiap sendiri, suka bekerja sama dengan kita menentang penjajah Mancu. Kalau dia tidak mau kita tidak dapat membebaskan Nona Tan Sian Li karena ia sudah mengetahui semua rahasia pergerakan kita. Bagaimana pendapat anda sekalian?"

Pangeran Gulam Sing, melalui penterjemahnya, berkata.

"Siapakah utusan Sin-ciang Tai-hiap itu? Di mana dia sekarang? Seharusnya dia itu ditangkap ketika datang ke sini."

"Suhu, biar teecu (saya) yang menjelaskan, karena teecu mengetahui dengan jelas,"

Kata Cu Ki Bok kepada Lulung Lama yang mengangguk setuju. Setelah mendapatkan persetujuan gurunya. Ki Bok memberi keterangan.

"Utusan itu bernama Yo Han dan dia adalah kakak misan Nona Tan Sian Li. Dia pula yang menjadi perantara ketika aku mengajukan tantangan kepada Sin-ciang Tai-hiap untuk bertanding melawan ketua kita mendiang Dobhin Lama. Ketika dia mendengar bahwa kita tidak akan membebaskan Nona Tan Sian Li, Yo Han berkeras tidak mau pergi dan hendak menemani Nona Tan Sian Li di sini. Sekarang, dia masih berada di sini, di pondok yang menjadi tempat tinggal nona itu. Aku sudah memesan kepada para penjaga agar melakukan pengawasan yang ketat."

Gulam Sing yang masih merasa penasaran karena dia gagal memperkosa Sian Li, berkata.

"Kalau begitu, Yo Han itu dan juga gadis itu harus dihadapkan ke sini sekarang juga! Kita paksa nona itu bekerja sama, dan kita paksa utusan itu untuk membujuk Sin-ciang Tai-hiap agar mau datang ke sini dan bekerja sama pula. Kalau mereka tidak mau, kita bunuh saja mereka!"

Karena pendapat ini dianggap benar, demi keselamatan dan kepentingan mereka agar rahasia persekutuan mereka tidak sampai terbongkar, semua orang mengangguk setuju.

Juga Lulung Lama mengangguk-angguk.

Tentu saja Cu Ki Bok menjadi khawatir sekali.

Dia tahu bahwa akan sukar bahkan hampir tidak mungkin membujuk Sian Li agar mau bekerja sama.

Nasib gadis itu terancam bahaya maut.

Dan mungkin saja untuk menyenangkan hati Pangeran Gulam Sing, sekutu yang dianggap kuat dan dapat diandalkan itu, gurunya akan menyerahkan Tan Sian Li kepadanya.

Dapat dia membayangkan betapa ngerinya nasib gadis yang dicintanya itu kalau terjatuh ke tangan Gulam Sing.

Akan tetapi sebelum dia sempat menemukan kata-kata untuk membantah dan membela Sian Li, tiba-tiba Sian Lun sudah bangkit berdiri.

"Losuhu, biar aku yang memanggil mereka ke sini!"

Tanpa menanti jawaban, Sian Lun sudah melangkah cepat, keluar dari ruangan itu.

Cu Ki Bok sudah tahu bahwa Sian Lun telah mengkhianati Sian Li dia amat dibenci gadis itu.

Kalau Sian Lun yang memanggil Sian Li dan Yo Han, tentu akan terjadi keributan, apa-lagi dia tidak suka dan tidak percaya kepada pemuda yang mudah begitu saja terjatuh ke dalam bujuk rayu tiga orang wanita seperti Pek-lian Sam-li.

"Dia tidak semestinya pergi. Dia belum dapat dipercaya benar!"

Serunya.

"Ha-ha-ha, biarlah aku yang memanggil mereka!"

Kata Pangeran Gulam Sing yang segera berlari keluar, diikuti oleh Badhu, Sagha dan beberapa orang pembantunya.

Pek-lian Sam-li yang juga mengkhawatirkan Sian Lun yang kini tidak lagi mereka pengaruhi dengan sihir, bangkit dan berdiri keluar pula.

Setelah mereka semua tiba di luar, ternyata Sian Lun telah tidak nampak.

Agaknya pemuda itu berlari cepat meninggalkan tempat itu.

Segera mereka semua melakukan pengejaran ke tempat pemondokan Sian Li.

Melihat para pimpinan yang tadi mengadakan pertemuan rapat itu kini berlarian ke arah pondok tawanan, para petugas yang melakukan penjagaan menjadi terkejut dan mereka pun mengikuti dari belakang.

Sian Lun memang berlari secepatnya ke pondok di mana Sian Li berada.

Dia sudah mengambil keputusan nekat.

Dia harus membebaskan Sian Li.

Kalau dia berterus terang kepada Lulung Lama, tak mungkin permintaannya akan dikabulkan.

Tadi dia sudah mendengar sendiri rencana mereka.

Kalau Sian Li tidak mau menyerah dan bekerja sama, mereka akan membunuhnya agar gadis itu tidak membocorkan rahasia persekutuan mereka.

Tidak ada jalan lain.

Dia harus segera membebaskan Sian Li atau memberi kesempatan kepada Sian Li untuk melarikan diri selagi ada kesempatan, selagi para pimpinan yang lihai mengadakan pertemuan di ruangan itu.

Dia akan melindunginya, menjadi perisai, kalau perlu mempertaruhkan nyawa menghadapi para penjaga yang mengejar agar Sian Li dapat lari.

Dia sudah melakukan dosa besar dan dia harus menebusnya sekarang juga selagi masih ada kesempatan.

Sian Li dan Yo Han terkejut ketika mereka mendengar orang mendorong pintu pondok terbuka dan ketika mereka berdua keluar dari dalam kamar masing-masing, mereka melihat Sian Lun dengan wajah pucat telah berada di situ.

"Hemm, jahanam busuk, mau apa engkau ke sini!"

Bentak Sian Li, seketika kemarahannya berkobar begitu ia melihat Sian Lun. Bahkan ia sudah bergerak maju hendak menyerang pemuda itu.

"Li-moi, jangan terburu nafsu, dengarkan dulu apa kehendaknya,"

Yo Han mencegah dan menghampiri mereka.

Sian Lun memandang Yo Han, tidak mengenal pemuda itu akan tetapi dia dapat menduga bahwa tentu pemuda ini yang tadi dibicarakan sebagai utusan Sin-ciang Tai-hiap.

Dia tidak peduli dan memandang kembali kepada Sian Li.

"Sumoi, cepat. Engkau larilah sekarang juga, biar aku yang akan menghadapi para pengejar. Cepat, selagi para pimpinan sedang mengadakan rapat pertemuan di bangunan induk. Cepat, mereka akan membunuhmu kalau engkau tidak mau membantu mereka. Aku telah bersalah, Sumoi, akan tetapi biarlah kesempatan terakhir ini kupergunakan untuk menebus dosa. Cepat larilah engkau dari tempat ini, Sumoi."

Melihat sikap dan mendengar ucapan suhengnya itu, Sian Li tertegun.

Ia masih sangsi.

Benarkah suhengnya itu telah sadar dan hendak menolongnya?

Ataukah ini pun hanya siasat busuk belaka?

Agaknya Sian Lun maklum pula akan kesangsian sumoinya.

"Lihat, Sumoi. Aku telah membunuh empat orang penjaga di depan. Engkau larilah melalui pintu belakang, langsung ke pagar bambu sebelah selatan dan lolos dari sana. Kalau ada yang mengejar, biar aku yang akan menghadapi mereka."

Sian Li berlari ke depan dan ia melihat betapa empat orang penjaga di situ telah menggeletak mandi darah.

Diam-diam ia terkejut.

Kiranya Sian Lun benar-benar tidak membual.

Ia menoleh kepada Yo Han untuk minta pendapatnya.

Yo Han juga sejenak tertegun melihat perubahan tiba-tiba pada diri Sian Lun itu.

Akan tetapi, Yo Han segera dapat menduga bahwa tentu kini Sian Lun telah sadar, menyesal dan ingin menebus dosanya!

Maka dia pun diam-diam merasa girang sekali.

"Kalau memang hendak meloloskan diri, marilah kita bertiga lari bersama selagi ada kesempatan!"

Kata Yo Han.

Akan tetapi pada saat itu, rombongan para pimpinan yang tadi melakukan pengejaran telah tiba pula di depan pondok, dipimpin oleh Pangeran Gulam Sing dan tiga orang Pek-lian Sam-li.

Melihat ini, Sian Lun terkejut dan dia pun cepat berkata.

"Sumoi, pergilah ke belakang. Cepat!"

Dan dia sendiri sudah melompat keluar untuk menyambut para pengejar.

Dia tahu bahwa bicara dengan mereka tidak ada gunanya lagi.

Dia telah membunuh empat orang penjaga.

Tentu mereka tidak akan meng-ampuninya, apalagi melihat dia berusaha membantu Sian Li melarikan diri.

Dengan pedang di tangan dia pun menyerbu ke arah Pangeran Gulam Sing yang berada paling depan.

"Kalian hendak memberontak?"

Pek-lian Sam-li membiarkan pemuda bekas kekasihnya itu dihadapi Gulam Sing yang mereka yakin akan mampu menundukkan pemuda itu.

Mereka sudah meloncat ke depan Sian Li dan Yo Han, diikuti oleh para pimpinan lain.

Sian Li sudah siap untuk melawan walaupun ia tidak memegang senjata.

Akan tetapi Yo Han maklum behwa keadaan mereka tidak menguntungkan.

Kini agaknya terpaksa dia harus mem-buka rahasianya.

Dia harus melindungi Sian Li walaupun agaknya sudah terlambat untuk melindungi Sian Lun.

Jarak di antara mereka terlalu jauh dan kalau dia meloncat untuk melindungi pemuda itu, berarti dia harus meninggalkan Sian Li dan hal ini berbahaya sekali.

Karena mereka berpisah, maka dia tidak mungkin dapat melindungi keduanya dan tentu saja dia lebih memberatkan Sian Li daripada pemuda itu.

Dia pun sudah siap membela Sian Li dan dia sudah melangkah maju untuk menghadapi pengeroyokan orang-orang lihai dari persekutuan pemberontak itu.

Sementara itu, tanpa mengeluarkan kata apa pun.

Sian Lun sudah menyerang Gulam Sing dengan pedangnya.

Kalau tadinya dia memandang Gulam Sing sebagai rekan, keduanya menjadi kekasih Pek-lian Sam-li, kini dia memandangnya sebagai musuh dan serangan-serangan yang dilancarkan Sian Lun adalah serangan maut yang dimaksudkan untuk mem-bunuh.

Namun, Gulam Sing ternyata lihai sekali.

Tingkat kepandaian pangeran Nepal ini memang lebih tinggi dibandingkan Sian Lun.

Dia menggunakan golok melengkung untuk membendung gelombang serangan pedang Sian Lun dan setiap kali golok bertemu pedang, Sian Lun merasakan tangannya tergetar dan pedangnya terpental.

Dia kalah tenaga dan sebentar saja dia mulai terdesak hebat.

"Kalian hendak melarikan diri? Jangan harap dapat keluar dari sini dalam keadaan bernyawa!"

Kata Ji Kui sambil tersenyum mengejek, kemudian, setelah memberi isarat kepada dua orang adiknya Ji Kui yang sudah mengerahkan kekuatan sihir dibantu dua orang adiknya, membentak nyaring.

"Tan Sian Li dan Yo Han pandanglah kami dan kalian berdua harus mentaati perintah kami! Berlututlah kalian! Hayo, berlutut!"

Sian Li merasa ada kekuatan aneh yang seperti hendak menariknya untuk menjatuhkan diri berlutut.

Akan tetapi karena ia sudah siap siaga sebelumnya, ia dapat mengerahkan sin-kang dan melawan.

Tiba-tiba saja kekuatan aneh yang menariknya itu lenyap seperti disapu angin dan tiga orang wanita Pek-lian-kauw itu mengeluarkan suara terkejut dan heran.

Mereka agak terhuyung ke belakang dan terengah-engah.

Pengerahan tenaga sihir mereka.

membalik dan menghantam isi dada mereka sendiri!

Kini mereka siap untuk menyerang, dan ketiganya sudah mencabut pedang.

Gerakan itu diikuti oleh kawan-kawannya yang sudah mengepung Yo Han dan Sian Li, akan tetapi sebelum para pengepung itu bergerak menyerang, tiba-tiba terdengar bentakan.

"Tahan semua senjata!"

Pek-lian Sam-li menengok dan mereka melihat bahwa yang membentak itu adalah Cu Ki Bok.

Tiga orang wanita ini diam-diam merasa tidak suka kepada pemuda ini.

Pertama mereka tidak mampu mempermainkan Ki Bok, dan ke dua mereka tidak berani menentangnya mengingat bahwa Ki Bok adalah murid dan kepercayaan Lulung Lama.

"Cu-enghiong (Orang Gagah Cu), dua orang ini jelas hendak melarikan diri, kenapa engkau melarang kami membunuhnya? Mereka hendak memberontak!"

Kata Ji Kim.

"Itu fitnah belaka,"

Kata Ki Bok.

"Suhu membutuhkan bantuan mereka, juga bantuan Sin-ciang Tai-hiap. Bagaimana kalian dapat lancang membunuh mereka? Pula, mereka sama sekali tidak melarikan diri. Liem Sian Lun itu yang hendak berkhianat."

"Empat orang penjaga telah mereka bunuh!"

Kata Ji Kui.

"Tidak mungkin. Lihat, Nona Tan Sian Li dan saudara Yo Han ini sama sekali tidak memegang senjata, dan empat orang penjaga itu jelas tewas karena bacokan dan tusukan pedang. Yang memegang pedang hanyalah Sian Lun, jadi dialah yang membunuh para penjaga, bukan dua orang tamu ini. Atas nama Suhu, aku melarang kalian mengganggunya. Suhu perlu bicara dengan mereka."

Sikap Cu Ki Bok keras dan tegas sehingga para anak buah Hek I Lama tidak berani melanggar, juga para tamu tentu saja tidak berani menentang tuan rumah.

Apalagi karena apa yang dikemukakan pemuda itu memang benar.

Empat orang penjaga itu tewas karena terluka pedang, sedangkan dua orang itu sama sekali tidak memegang senjata.

"Suheng....!"

Tiba-tiba Sian Li berseru, terbelalak dan ia pun meloncat dari situ.

Ternyata Sian Lun telah terkena tendangan Gulam Sing yang disusul bacokan golok melengkung.

Baco-kan itu merobek perutnya dan pemuda itu roboh sambil kedua tangan menekan perutnya yang terluka parah untuk menahan agar isi perutnya tidak terburai keluar!

Pangeran Gulam Sing tertawa bergelak dengan bangga sambil membersihkan goloknya, dan Sian Li sudah berlutut di dekat tubuh suhengnya.

Sian Lun mendekap perut dan darah membasahi seluruh tubuhnya.

Akan tetapi dia masih sempat me-mandang Sian Li dan berkata lemah.

"Sumoi, kau maafkanlah.... aku.... dan mintakan ampun untukku.... dari Suhu dan Subo.... aku.... aku berdosa...."

Kepala itu terkulai, kedua tangan terlepas dari perut dan ususnya terburai.

"Suheng....!"

Sian Li menjerit ngeri melihat keadaan suhengnya, dan ia pun melompat berdiri, membalik dan menghadapi Pangeran Gulam Sing dengan mata melotot dan muka merah.

"Kau.... kau.... jahanam busuk.... kau telah membunuhnya!"

Lian ia pun menerjang dengan nekat, menggunakan tangan kosong sambil mengerahkan sin-kang dingin dari Pulau Es.

Sambil tertawa dan memandang ringan, pangeran Nepal itu menangkis dan hendak menangkap kedua tangan gadis itu.

Dia terlalu memandang rendah, tidak tahu bahwa dalam serangan itu, Sian Li mengerahkan seluruh tenaga Swat-im Sin-kang dari Pulau Es.

Maka, begitu dua pasang tangan bertemu, Pangeran Gulam Sing terdorong ke belakang dan dia pun menggigil kedinginan!

Dia terkejut setengah mati dan terpaksa dia melempar tubuh ke belakang dan bergulingan agar tidak menerima serangan susulan lawan.

Akan tetapi hal itu tidak perlu karena Yo Han sudah berada di dekat Sian Li, menyabarkan gadis itu.

"Hentikan seranganmu, Li-moi. Serahkan saja urusan ini kepada Sin-ciang Tai-hiap."

Ucapan itu selain dapat menyabarkan Sian Li, juga membuat para pengepung menjadi gentar karena Yo Han menyebut-nyebut nama Sin-ciang Tai-hiap yang tentu akan marah sekali karena Sian Lun telah dibunuh.

Sian Li kembali menghampiri mayat suhengnya dan menangis.

Ki Bok cepat mendekatinya.

"Sudahlah Sian Li, tidak ada gunanya lagi ditangisi. Aku akan menyuruh orang-orangku untuk mengurus jenazah suhengmu baik-baik dan memperabukan jenazah itu agar abunya dapat kau bawa kalau kau menghendakinya. Sebaiknya engkau dan Yo-toako berdiam saja di pondokmu malam ini dan jangan keluar."

Sian Li meng-angguk dan merasa berterima kasih sekali.

Kalau tidak ada Ki Bok, mungkin ia dan Yo Han juga sudah dikeroyok banyak orang dan entah bagaimana akibatnya.

Agaknya, murid Lulung Lama ini memang benar-benar jujur dan hendak menolongnya, tentu saja tidak berani berterang karena kalau hal itu diketahui Lulung Lama, tentu dia sendiri akan celaka dan dianggap sebagai seorang pengkhianat.

Yo Han agaknya mengerti akan keadaan Ki Bok, maka dia pun mengajak Sian Li memasuki kembali pondok mereka.

Peristiwa kematian Sian Lun itu tentu saja.

menimbulkan perubahan pada rencana yang tadi telah diputuskan, yaitu untuk menghadapkan Sian Li dan Yo Han dan minta mereka menentukan sikap.

Bagaimanapun juga, Sin-ciang Tai-hiap yang pernah mengadu ilmu melawan Dobhin Lama menuntut dibebaskannya Sian Lun dan kini pemuda itu telah tewas.

Tentu akan terjadi hal yang lebih gawat, maka atas permintaan Ki Bok, Lulung Lama menunda keputusan itu.

Penjagaan diperkuat karena mereka khawatir kalau Sin-ciang Tai-hiap telah mendengar akan kematian Sian Lun itu dan akan datang menyerbu malam itu.

Sementara itu, di dalam pondok Sian Li masih duduk termenung, wajahnya agak pucat dan kedua matanya berlinang air mata.

Biar pun tadinya ia marah dan membenci Sian Lun yang mengkhianatinya dan melihat suhengnya itu bermain gila dengan tiga orang wanita Pek-lian-kauw, namun pada akhir hidupnya suhengnya itu telah bersikap gagah, bahkan telah mengorbankan nyawa sendiri demi membelanya.

Sian Lun telah bertekad untuk membebaskannya dengan pengorbanan nyawanya.

Walaupun usaha membebaskannya itu gagal karena keburu ketahuan para tokoh persekutuan itu, namun tidak urung nyawanya menjadi korban.

Pada akhir hidupnya, Sian Lun telah menebus kesalahannya dengan perbuatan gagah dan membuktikan cintanya kepadanya.

Terkenanglah ia akan masa lalunya, ketika ia dan Sian Lun masih sama-sama belajar ilmu di bawah pimpinan Kakek Suma Ceng Liong dan isterinya, selama lima tahun lebih.

Teringatlah ia betapa Sian Lun selalu bersikap manis dan baik kepadanya, betapa Sian Lun selalu menyayangnya dan teringat akan semua ini, air matanya runtuh kembali.

"Suheng...!"

Ia mengeluh. Yo Han menghampirinya dan duduk di depannya, terhalang meja.

"Li-moi, tidak ada gunanya menangisi kematian Sian Lun. Bagaimanapun juga, dia tewas sebagai seorang pendekar yang gagah dan tidak mengecewakan!"

Sian Li mengusap air matanya dan menghela napas.

"Dia patut dikasihani, Han-ko."

Yo Han mengangguk.

"Sudah kuduga. Kesesatannya tentu tidak wajar. Dia masih terlalu muda dan kurang pengalaman sehingga mudah saja dikuasai musuh dengan ilmu sihir. Akan tetapi dia telah menebus kesalahannya, telah menghapus dosanya dengan darah dan dia.... dia ternyata amat mencintamu, Li-moi."

Sian Li mengangguk.

Teringat akan pengalamannya di perahu dengan Sian Lun, ketika pemuda itu menyatakan cinta kepadanya dan ia mendorong suhengnya sehingga tercebur di air!

"Memang Suheng pernah menyatakan cinta kepadaku, akan tetapi aku menolaknya karena aku menyayanginya sebagai kakak seperguruan, tidak lebih daripada itu."

Yo Han menarik napas panjang, melihat kenyataan yang membuat nuraninya mencela diri sendiri.

Kenapa hatinya merasa senang mendengar bahwa Sian Li tidak membalas cinta kasih Sian Lun?

"Kita harus waspada malam ini.

Kalau tidak meleset perhitunganku, malam inilah penyerbuan itu akan terjadi.

Karena Sian Lun sudah tidak ada, kini kita hanya mencari kesempatan untuk melarikan diri saja dari tempat ini.

Aku tidak ingin terlibat dalam pertempuran antara persekutuan ini melawan pasukan Tibet.

Mengertikah engkau, Li-moi?"

Gadis itu mengerutkan alisnya.

"Akan tetapi, aku harus membunuh pangeran Nepal jahanam itu, Han-ko!"

Yo Han menatap tajam wajah Sian Li.

"Kenapa harus, Li-moi?" (Lanjut ke

Jilid 24) Si Bangau Merah (Seri ke 15 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 24

"Pertama, dia pernah hampir memperkosaku, dan untung ada Cu Ki Bok yang menolongku. Ke dua, dia telah membunuh Suheng. Tidak pantaskah kalau aku membalas dendam dan membunuhnya?"

"Li-moi, siapakah kita ini maka boleh membunuh sesama manusia begitu saja? Li-moi, kita mempelajari ilmu bukan untuk menjadi pembunuh. Kurasa ayah ibumu sendiri, juga guru-gurumu tentu telah memberita-hu akan kebenaran itu. Kita sebagai manusia tidak berhak untuk membunuh manusia lain, dengan alasan apapun juga."

"Tapi, Han-ko. Bukankah dia juga telah membunuh Suheng? Bukankah dia hampir memperkosaku dan hal-hal itu saja membuktikan betapa jahatnya dia? Dia layak dihukum, dibunuh agar jangan menambah kejahatannya lagi dan mengganggu orang lain."

Yo Han menggeleng kepalanya.

"Katakanlah dia jahat dan dia telah membunuh suhengmu. Kalau kita membalas dan membunuhnya, lalu apa bedanya antara dia dengan kita?"

"Jelas bedanya, Han-ko! Kita membunuhnya untuk membe-rantas kejahatan sedangkan dia membunuh Suheng untuk melakukan kejahatan...."

"Tidak begitu, Li-moi. Kalau kita tanya kepadanya, tentu dia memiliki alasan yang cukup kuat mengapa dia membunuh suhengmu. Setiap orang yang melakukan sesuatu tentu akan mempunyai alasan untuk membela diri. Padahal yang mendorong pembunuhan adalah sama, yaitu balas dendam, kebencian dan permusuhan. Kalau engkau hendak membunuhnya, maka jelas dasarnya adalah dendam kebencian."

"Aih, sekarang aku mengerti mengapa Ayah dan Ibu mengatakan engkau seorang yang baik hati akan tetapi aneh, Hanko."

"Apa yang dikatakan ayah ibumu tentang diriku?"

Yo Han ingin sekali mendengarnya.

"Ayah dan Ibu pernah bercerita kepadaku bahwa engkau memiliki bakat ilmu silat yang luar biasa, akan tetapi anehnya, engkau sama sekali tidak mau mempelajari ilmu silat karena engkau selalu berpendapat bahwa ilmu silat adalah ilmu memukul dan membunuh orang. Sekarang, setelah engkau memiliki ilmu kepan-daian yang tinggi, engkau pantang membunuh orang, betapapun jahatnya orang itu. Aku sudah men-dengar sepak terjangmu sebagai Sin-ciang Tai-hiap. Han-ko, kalau begitu, untuk apa engkau mempelajari ilmu silat sampai begitu tinggi?"

"Untuk apa? Selain untuk membela diri dari ancaman bahaya, untuk menyehatkan dan menguatkan tubuh, untuk menguasai gerakan yang mengandung seni tari yang indah, juga kepandaian itu dapat kupergunakan untuk menolong orang lain yang terancam bahaya. Bahkan dengan kepandaian ini dapat kita pakai untuk menekan orang tersesat agar mereka kembali ke jalan yang benar. Bagaikan obat bagi orang sakit, obat yang keras namun manjur, ilmu silat dapat kita pergunakan menyembuhkan orang sakit batin sehingga dia jera menjadi penjahat dan kembali ke jalan benar."

Sampai beberapa lamanya, Sian Li berdiam diri, memikirkan apa yang dikatakan Yo Han, lalu ia menghela napas panjang.

"Kalau begitu, dalam pertemuan nanti, aku tidak boleh mencari Gulam Sing dan tidak boleh menyerangnya?"

"Dia lihai sekali, Li-moi."

"Aku tidak takut, dan aku tidak gentar biar terancam maut melawannya!"

Kata gadis itu dengan sikap gagah. Yo Han tersenyum.

"Aku percaya, Limoi. Dan aku pun tidak akan membiarkan engkau menghadapi dia seorang diri. Akan tetapi, ingatlah bahwa dia akan memimpin orang-orangnya untuk melawan pasukan Tibet. Kalau kita ikut bertempur berarti kita telah terlibat dalam perang antara mereka. Padahal, aku minta bantuan orang-orang kang-ouw hanya agar kita mendapat kesempatan untuk melarikan diri saja, bukan untuk bertempur dan saling bunuh."

"Jadi berarti.... aku harus membiarkan saja Gulam Sing itu melakukan kejahatan tanpa dihukum?"

"Li-moi, tidak ada perbuatan tanpa akibat yang menimpa Si Pembuat sendiri. Tidak ada orang yang tidak menuai dan memakan hasil tanamannya sendiri. Tuhan Maha Adil, Li-moi. Ingatlah, seorang yang berjiwa pendekar pantang untuk mendendam, katena perbuatan apa pun yang didasari dendam dan kebencian, maka perbuatan itu sudah pasti sesat dan jahat. Kita menentang perbuatan jahat, tanpa dendam kebencian kepada orang yang melakukan kejahatan itu. Sekali engkau menurutkan perasaan hati dalam tindakanmu, maka engkau akan melakukan hal yang bagi orang lain akan dianggap jahat pula. Musuh yang paling berbaha-ya bukan terdapat di luar diri kita, melainkan di dalam diri sendiri. Musuh itu adalah kalau nafsu sudah merajalela di dalam hati akal pikiran."

"Aihh, aku menjadi pening, Han-ko. Terserah kepadamu sajalah. Aku ingat bahwa Ayah dan Ibu meng-anggap engkau seorang yang berbudi mulia, karena itu, apa pun yang kau katakan tentu benar."

Dua orang ini sama sekali tidak mengira bahwa pada saat itu, para pimpinan gerombolan itu pun sedang bersiap siaga, dan mereka pun mengadakan pertemuan dan membicarakan kematian Sian Lun dan akibatnya.

"Biarlah Sin-ciang Tai-hiap datang kalau dia marah karena aku membunuh pemuda itu,"

Kata Pangeran Gulam Sing.

"Aku tidak takut kepadanya. Dan kita begini banyak. Kalau kita maju bersama menghadapinya, apakah seorang saja dia akan mampu mengalahkan kita?"

"Ada satu hal yang aneh sekali dan membuat kami berpikir-pikir,"

Kata Ji Kui, orang tertua dari Pek-lian Sam-li.

"Apakah yang kau maksudkan?"

Lulung Lama bertanya karena suara wanita itu terdengar penuh rahasia dan penuh kesungguhan. Semua orang memandang kepadanya.

"Tentu kalian telah melihat sendiri betapa kami bertiga mempergunakan kekuatan sihir untuk memaksa Sian Li dan Yo Han berlutut kepada kami. Akan tetapi, mereka berdua sama sekali tidak jatuh berlutut, bahkan kami terhuyung oleh pukulan tenaga kami yang membalik Bukanlah ini aneh sekali?"

"Apanya yang aneh?"

Kata Lulung Lama mendongkol.

"Gadis itu adalah keturunan keluarga Pendekar Pulau Es dan Naga Gurun Pasir. Kalau ia dapat menolak kekuatan sihir kalian, tidak dapat dibilang aneh."

Melihat Ketua Hek I Lama yang baru itu marah-marah.

Pek-lian Sam-li berdiam diri.

Juga semua orang diam.

Suasana menjadi sunyi sampai tiba-tiba Pangeran Gulam Sing menggebrak meja.

"Memang aneh!"

Katanya melalui penterjemahnya.

"Aku mengenal kekuatan sihir Pek-lian Sam-li, cukup kuat bahkan lebih kuat daripada kekuatan sihirku. Tidak mungkin nona itu akan dapat bertahan menghadapi serangan sihir mereka, apalagi menolak dan membuat tenaga mereka membalik. Menghadapi sihirku saja, ia tidak tahan dan tunduk...."

Dia menoleh kepada Cu Ki Bok, teringat betapa dia sudah hampir berhasil menguasai Sian Li akan tetapi muncul pemuda itu yang menggagalkannya.

"Itulah yang membuat kami berpikir-pikir,"

Kata Ji Kui yang mendapat angin oleh pertanyaan Gulam Sing itu.

"Kami pun tahu akan kemampuan gadis itu. Jelas bukan ia yang menolak kekuatan sihir kami, akan tetapi Yo Han, kakak misannya itu."

"Hemmm, rasanya tidak mungkin,"

Kata Cu Ki Bok, Yo Han itu hanya utusan Sin-ciang Tai-hiap, dan sepanjang pengetahuanku, dia seorang pemuda yang lemah dan...."

"Kami sudah mempertimbangkan semua itu dan kami hampir merasa yakin bahwa Yo Han itu adalah Sin-ciang Tai-hiap sendiri!"

Kata pula Ji Kui dan sekali ini semua orang terlonjak saking kaget hati mereka.

"Omitohud....! Apa maksudmu? Dia.... dia Sin-ciang Tai-hiap?"

Teriak Lulung Lama.

"Kami hampir yakin akan hal itu,"

Kata Ji Kui pula sambil menoleh ke arah Pangeran Gulam Sing.

"Pangeran, ingatkah engkau betapa mudahnya engkau menundukkan Sian Li dengan sihirmu? Rasanya tidak mungkin kalau sekarang ia bukan saja mampu bertahan terhadap pengaruh sihir kami, bahkan membuat tenaga kami membalik. Jelaslah bahwa yang memiliki kekuatan dahsyat itu tentu pemuda bernama Yo Han itu. Siapa di antara kita yang sudah membuktikan sendiri bahwa pemuda itu lemah? Dan biarpun selama ini Sin-ciang Tai-hiap menutupi mukanya, dan biarpun mungkin suaranya yang diubah, akan tetapi bentuk tubuhnya serupa benar dengan Yo Han itu. Kalau dia pemuda biasa yang lemah, bagaimana dia dapat bersikap sedemikian beraninya, bukan saja mengunjungi adik misannya di sini, bahkan minta ditahan pula di sini dengan alasan menemani gadis itu! Hemm, siapa lagi dia kalau bukan Sin-ciang Tai-hiap?"

"Omitohud....! Kalau begitu, celaka, kita telah kebobolan! Ki Bok, bagaimana hal ini sampai dapat terjadi?"

Lulung Lama menegur muridnya.

Wajah Cu Ki Bok berubah, matanya terbelalak.

Pendapat Pek-lian Sam-li itu masuk diakal dan dia sendiri pun baru sekarang menyadari kemungkinan itu.

Yo Han adalah Sin-ciang Tai-hiap!

Kenapa dia tidak memikirkan kemungkinan itu?

Biasanya dia amat cerdik dan tidak mudah ditipu.

Inilah akibatnya kalau dia tergila-gila!

Karena dia mencinta Sian Li, dia tidak ingat apa-apa lagi kecuali untuk melindungi gadis itu.

Dia bangkit berdiri.

"Suhu, kalau benar demikian, teecu yang akan menangkap Yo Han itu!"

Dan dia pun berlari keluar. Akan tetapi di luar dia masih mendengar teriakan-teriakan mereka yang berada di dalam.

"Kalau dia Sin-ciang Tai-hiap, kita harus menyerbu beramai-ramai, sekarang juga!"

Terdengar teriakan suhunya.

Ki Bok maklum bahwa inilah saatnya dia harus bertindak cepat.

Dia harus menyelamatkan Sian Li terlebih dahulu.

Mengenai Yo Han, kalau benar dia Sin-ciang Tai-hiap dan tidak mau bekerja sama, dia sendiri akan membantu untuk mengeroyok dan membunuh pendekar yang berbahaya itu.

Akan tetapi, yang terpenting baginya, sekarang juga sebelum terlambat dia harus menyingkirkan Sian Li dari situ, harus dapat membiarkan gadis itu lolos.

Dia tidak tahu betapa ketika semua orang menyerbu keluar, Ji Kui, orang pertama dari Pek-lian Sam-li, mendekati Lulung Lama dan membisikkan sesuatu yang mem-buat Lulung Lama mengerutkan alisnya dan nampak terkejut dan marah.

Ki Bok mengerahkan seluruh kepandaiannya, berloncatan dengan cepat sekali dan dia mengetuk daun pintu pondok di mana Sian Li dan Yo Han tinggal.

Enam orang petugas jaga segera menghampirinya dari tempat penjagaan, Juga ada belasan orang muncul dari tempat persembunyian.

Ternyata pondok itu dijaga ketat sehingga kalau penghuninya hendak melarikan diri, maka tentu usaha itu akan ketahuan.

Akan tetapi ketika para petugas itu mengenal Ki Bok, mereka memberi hormat dan segera mundur kembali setelah Ki Bok memberi isarat.

Sian Li dan Yo Han tidak tidur.

Mereka di kamar masing-masing duduk bersila dan meng-himpun tenaga, menanti datangnya saat penyerbuan seperti yang diharapkan Yo Han.

Ketika mereka mendengar ketukan pada daun pintu depan, keduanya yang memang selalu siap siaga, segera keluar dari dalam kamar.

Yo Han memberi isarat kepada Sian Li untuk membuka daun pintu sedangkan dia menyelinap kembali ke dalam kamarnya.

Sian Li maklum bahwa Yo Han ingin mengintai apa yang akan terjadi.

"Siapa di luar?"

Sian Li bertanya dari balik daun pintu.

"Sian Li, ini aku, Ki Bok. Cepat buka ada urusan penting sekali,"

Terdengar suara Ki Bok berbisik dari luar pintu.

Mendenger ini, Sian Li cepat membuka daun pintu.

Ki Bok masuk dan memandang ke sekeliling, wajahnya cemas.

"Ki Bok, ada apakah? Apa yang terjadi?"

Tanya Sian Li, memandang tajam.

"Di mana Yo-toako?"

Tanyanya lirih. Sian Li menoleh ke arah kamar Yo Han.

"Dia masih tidur, ada apakah?"

"Sian Li, keadaan gawat. Mereka hendak datang memaksamu bekerja sama dan kalau engkau menolak, mereka akan membunuhmu. Aku.... aku tidak mungkin dapat menolongmu, tidak mungkin mencegah mereka. Sekarang, kau ambillah keputusan, Sian Li. Maukah engkau membantu kami dan bekerja sama dengan kami?"

Sian Li mengerutkan alisnya.

"Engkau sudah tahu akan watakku, Ki Bok. Aku tidak mau bekerja sama dengan siapapun juga."

"Kalau begitu, Sian Li, engkau harus cepat lari, sekarang juga. Mari kubantu engkau lolos dari sini. Cepat, mereka akan mengejar kita!"

Ki Bok menyambar tangan Sian Li.

"Kita melalui jalan belakang!"

Akan tetapi Sian Li merenggutkan tangannya hingga terlepas.

"Aku akan bertanya kepada Han-ko lebih dulu,"

Katanya. Pada saat itu, terdengar suara gaduh di luar pondok, suara banyak orang datang ke tempat itu. Wajah Ki Bok berubah.

"Celaka, mereka sudah datang. Sian Li mari cepat kita lari!"

Pada saat Sian Li meragu, Yo Han muncul dari dalam kamarnya.

"Pergilah menyelamatkan diri, Li-moi, biar aku yang akan menghadapi mereka dan menghadang mereka yang akan mengejarmu."

Tadinya Yo Han sudah siap untuk mengajak Sian Li melarikan diri begitu penyerbuan tiba dan mempergunakan kesempatan selagi terjadi pertempuran sehingga mereka dapat meloloskan diri tanpa harus menghadapi pengeroyokan banyak orang pandai.

Akan tetapi agaknya kini keadaan berubah.

Sebelum serbuan itu tiba, keselamatan Sian Li terancam.

"Tidak Han-ko. Aku akan tinggal di sini membantumu menghadapi mereka,"

Kata Sian Li.

"Li-moi, jangan bodoh! Musuh terlampau banyak Larilah dulu, aku akan meng-halangi mereka dan nanti akan menyusulmu. Saudara Ki Bok, kalau benar engkau mencintainya, cepat selamatkan adikku itu!"

Setelah berkata demikian, Yo Han berlari keluar sambil cepat mengenakan caping lebarnya yang tadi dia lipat dan sembunyikan di balik baju ketika dia memasuki perkampungan itu.

Caping lebar yang bertirai itu menyembunyikan mukanya.

Ki Bok mencabut sabuk baja yang kedua ujungnya berpisau, lalu menodongkan sebatang pisaunya ke punggung Sian Li sambil berkata.

"Engkau pura-pura menjadi tawananku agar lebih mudah mengelabuhi mereka!"

Bisiknya.

Tangan kanan menodongkan pisau, tangan kiri memegang pergelangan tangan Sian Li.

Gadis itu maklum.

Ia tidak dapat membantah lagi karena Yo Han telah berlari keluar dan ia mengerti akan maksud Ki Bok.

Biarpun hatinya amat mengkhawatirkan keselamatan Yo Han, namun ia harus mentaati keinginan Yo Han.

Kalau ia membangkang dan nekat melawan, tentu hal itu bahkan membuat Yo Han harus repot melindunginya.

Maka, ia pun menurut saja ketika Ki Bok menariknya melarikan diri keluar dari pondok itu melalui jendela kamar Yo Han yang berada di sudut belakang.

Ketika mereka meloncat keluar dari rumah itu, mereka melihat betapa dibelakang rumah itu pun sudah penuh dengan anak buah Hek I Lama yang memegang senjata.

Melihat Cu Ki Bok, mereka tertegun, akan tetapi pemuda itu dengan tenang segera berkata.

"Kalian kepung dan jaga rumah ini, jangan biarkan siapapun keluar. Aku harus cepat mengamankan tawanan ini agar jangan sampai lolos!"

Setelah berkata demikian, dengan sikap kasar dia menarik lengan Sian Li sambil menodongkan pisaunya ke tengkuk gadis itu.

Para anak buah perkumpul-an pendeta Lama yang memberontak terhadap Tibet itu saling pandang, akan tetapi mereka tidak berani mencegah Cu Ki Bok, Apalagi mereka masih belum tahu apa artinya semua keributan itu.

Mereka hanya melihat para pimpinan berlari menyerbu ke rumah pondok itu dari depan dan mereka mendapat perintah untuk mengepung pondok itu.

Mereka hanya mendengar bahwa Sin-ciang Tai-hiap sudah menyelundup ke sarang mereka.

Hal ini saja sudah cukup membuat mereka tegang.

Siapa yang tidak akan merasa gentar mendengar bahwa Sin-ciang Tai-hiap, pendekar yang sudah mengalahkan dan mengakibatkan tewasnya Dobhin Lama itu berada diantara mereka?

Sin-ciang Tai-hiap atau Yo Han telah membuka daun pintu depan pondok itu, tepat pada saat semua orang yang tadi lari dari bangunan induk itu ke situ telah tiba di depan pondok.

Banyak anak buah Hek I Lama memegang obor sehingga tempat itu menjadi terang.

Suara berisik mereka itu seketika lenyap dan mereka orang diam, bahkan ada yang menahan napas saking tegang dan juga jerih.

Mereka melihat pria bercaping lebar yang mukanya tersembunyi di balik tirai caping itu berdiri tegak di depan pintu, menentang mereka.

Sosok tubuh yang mendatangkan ketegangan dan kegentaran itu sebetulnya biasa saja.

Tubuh yang sedang dan tegap, dengan pakaian sederhana pula, tidak memegang senjata apa pun.

Rambut hitam panjang terurai lepas.

Mukanya sama sekali tidak nampak, akan tetapi sepasang mata di balik tirai tipis itu seperti mencorong menembus tirai tertimpa sinar obor yang bergerak-gerak.

Sosok tubuh yang tidak mengesankan, akan tetapi karena semua orang tahu bahwa pendekar ini baru saja menyebabkan Dobhin Lama tewas, maka mereka menjadi gentar.

Dari balik tirainya, Yo Han melihat bahwa pondok itu telah di datangi sedikitnya tiga puluh orang dan masih ada puluhan orang anak buah Hek I Lama berada di belakang rombongan itu.

Dia melihat Pangeran Nepal Gulam Sing bersama Badhu dan Sagha, juga beberapa orang tosu Pek-lian-kauw, Hek-pang Sin-kai dan anak buahnya, beberapa Pendeta Lama yang agaknya menjadi pimpinan.

Akan tetapi dia tidak melihat adanya Lulung Lama, juga tidak melihat Pek-lian Sam-li.

Dia tahu bahwa dia berhadapan dengan lawan yang amat berbahaya karena selain mereka itu rata-rata memiliki kepandaian tinggi, memiliki pula ilmu sihir dan ahli menggunakan racun, juga mereka berjumlah banyak.

Kiranya tidak mungkin dia seorang diri saja akan mampu mengalahkan mereka.

Akan tetapi, kalau Sian Li sudah lolos, agaknya bukan tidak mungkin baginya untuk melarikan dan meloloskan diri dari kepungan mereka.

"Omitohud.... kiranya Sin-ciang Tai-hiap yang terkenal itu tidak datang melalui pintu gerbang depan seperti seorang gagah, melainkan secara curang menyelundup masuk seperti maling!"

Kata seorang pendeta Lama, seorang diantara para pembantu Lulung Lama sambil memegang sebatang tongkat pendeta berkepala naga yang lebih panjang dari pada tubuhnya yang tinggi.

"Losuhu, siapa yang curang agaknya perlu diteliti lebih jauh, aku ataukah perkumpulan Hek I Lama yang terdiri dari pendeta-pendeta yang sudah selayaknya bersikap jujur, adil dan mengharamkan perbuatan sesat. Ketua kalian, Dobhin Lama, telah menantangku untuk mengadu ilmu dengan taruhan bahwa kalau dia kalah, dia akan mengembalikan mutiara hitam dan membebaskan Liem Sian Lun. Kami bertanding dan Tuhan membimbingku sehingga ketua kalian kalah. Dobhin Lama telah dengan gagah mengakui kekalahan dan mengembalikan mutiara hitam, akan tetapi kalian tidak membebaskan Liem Sian Lun, bahkan secara curang sekali menawan Tan Sian Li. Nah, siapa yang curang?"

Tiba-tiba Gulam Sing mencabut goloknya yang melengkung, mengangkat goloknya itu tinggi di atas kepalanya dan dia pun setelah mendengar ucapan Yo Han melalui penterjemahnya, berteriak dalam bahasanya sendiri.

"Sin-ciang Tai-hiap, engkau ini manusia sombong! Engkau telah mengalahkan Dobhin Lama, akan tetapi hal itu terjadi karena dia sudah tua dan kehabisan tenaga. Kini engkau berani lancang menyusup ke sini seperti pencuri, jangan harap akan dapat keluar lagi hidup-hidup!"

Ketika ucapan itu hendak diterjemahkan, Yo Han mendahului.

"Aku mengerti apa yang kaukatakan, Pangeran Gulam Sing. Dan aku mengerti pula mengapa engkau dan gerombolanmu keluar dari Nepal sebagai orang-orang pemberontak pelarian. Kini engkau bergabung dengan Lama Jubah Hitam yang juga memberontak terhadap pemerintah Tibet, tentu hanya untuk mencari kawan saja agar kelak dapat membalas budi dan membantumu memberontak terhadap pemerintah Nepal!"

"Sin-ciang Tai-hiap, mati hidupmu di tangan kami dan engkau masih membuka mulut besar? Kepung dan keroyok!"

Teriak seorang pemimpin Hek I Lama dan Pangeran Nepal itu sudah mendahului dengan serangan golok melengkung yang amat tajam itu, disusul rekan-rekannya sehingga dalam beberapa detik saja hujan senjata telah menyerang ke arah tubuh Yo Han.

Yo Han maklum bahwa dia diserang oleh banyak orang pandai, maka dia mengerahkan gin-kangnya dan tubuhnya berkelebat begaikan seekor burung walet cepatnya, berloncatan dan mengelak dari hujan senjata yang menyambar dari segenap penjuru itu.

Dia harus memberi waktu kepada Sian Li untuk dapat lolos terlebih dahulu sebelum dia sendiri melarikan diri.

Sebaliknya dia memancing datangnya semua tokoh di tempat itu agar pelarian Sian Li dapat berjalan lancar.

Sian Lun telah tewas dan tidak perlu di-pikirkan lagi.

Sambil berloncatan mengelak, kaki tangannya bergerak dengan tamparan dan tendangan.

Beberapa orang pengeroyok terpelanting.

Usahanya memang berhasil.

Semua tokoh yang dirinya memiliki kepandaian yang tinggi saja yang hanya mengepung dengan senjata di tangan, tanpa berani lancang ikut mengeroyok.

Akan tetapi Yo Han tetap merasa khawatir karena belum juga nampak Lulung Lama dan Pek-Sian Sam-Li ikut mengeroyok.

Dia khawatir kalau-kalau empat orang yang paling lihai itu menjadi penghalang bagi lolosnya Sian Li yang tadi dibantu oleh Cu Ki Bok.

Kekhawatiran Yo Han itu memang terbukti benar, Cu Ki Bok, berhasil membawa Sian Li lari sampai ke dekat pagar bambu runcing dan tidak pernah ada penjaga yang berani menghalanginya.

Mereka berhenti di bawah pagar bambu runcing.

"Nah, engkau loncatlah ke atas dan cepat tinggalkan tempat ini, Sian Li,"

Kata Cu Ki Bok, suaranya agak gemetar. Sian Li memegang tangan pemuda itu. Ia dapat mendengar getaran suara itu dan ia pun terharu.

"Akan tetapi bagaimana dengan engkau sendiri, Ki Bok? Mereka akan tahu bahwa engkau telah membebaskan aku, dan tentu engkau akan celaka...."

Ki Bok tersenyum dan menggeleng kepala.

"Aku cukup penting bagi perjuangan Suhu dan kawan-kawan. Kesalahanku itu kecil saja karena engkau bukanlah orang Mancu, bukan musuh penting. Sudahlah, aku dapat menjaga diriku sendiri, Sian Li kau pergilah....!"

Sian Li melepaskan pegangan tangannya, melangkah ke arah pagar bambu, akan tetapi terhenti lagi dan menengok.

"Ki Bok...."

Ia meragu.

"Ada apa lagi, Sian Li. Cepat-cepatlah, jangan sampai mereka datang mengejar."

"Aku hanya ingin minta maaf padamu...."

"Minta maaf? Untuk apa?"

Ki Bok memandang heran.

"Engkau begitu mencintaiku dan sudah kau buktikan dengan pertolongan ini, akan tetapi aku....aku tidak dapat membalas cintamu. Maafkan aku, Ki Bok."

Cu Ki Bok tertawa, namun suara ketawanya sumbang.

"Sudah nasibku Sian Li, cinta tak dapat bertepuk sebelah tangan. Engkau tidak bersalah. Cinta tidak dapat dipaksakan, hanya aku yang tidak tahu diri. Nah, pergilah dan jangan pikirkan aku lagi...."

Tiba-tiba mereka melihat beberapa bayangan berkelebat dan Ki Bok terbelalak ketika melihat bahwa gurunya, Lulung Lama, ketiga Pek-Lian Sam-li dan belasan orang pembantu mereka telah mengepung tempat itu!

"Omitohud, tidak kusangka bahwa muridku yang paling kupercaya, sekarang bahkan meng-khianatiku!

Sungguh seperti memelihara anak harimau, ketika kecil dan lemah dirawat dan dipelihara, setelah besar dan kuat hendak menubruk pemeliharanya sendiri.

Engkau murid murtad!"

"Suhu, teecu hendak membebaskan Nona Tan Sian Li karena ia tidak bersalah, dan karena teecu tidak tega melihat ia celaka. Suhu, ia bukan musuh kita, dan membebaskannya tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan perjuangan kita. Bagaimana Suhu dapat mengatakan bahwa teecu murtad dan pengkhianat? Suhu, kalau Suhu menghendaki agar perjuangan kita mendapat dukungan para pendekar di dunia kang-ouw, sebaiknya Suhu membebaskan Nona ini."

Terdengar suara tawa merdu, disambung suara Ji Kim, orang ke tiga Pek-lian Sam-liyang cantik manis dan lincah.

"Hi-hik, apakah Losuhu masih belum mengerti? Muridmu itu telah tergila-gila kepada gadis ini, dan orang yang tergila-gila seperti dia itu mau berbuat apa saja untuk orang yang dicintainya. Kalau perlu melawan guru sendiri demi membela wanita yang dicintainya, heh-heh!"

"Benar sekali, Losuhu. Muridmu ini tidak ada harganya sama sekali, bahkan berbahaya karena sewaktu-waktu dia dapat mengkhianati kita,"

Kata Ji Kui. Cu Ki Bok marah sekali dan menudingkan telunjuk kirinya ke arah muka tiga orang wanita itu.

"Pek-Lian Sam-li, kalian ini hanya tamu akan tetapi tidak tahu diri! Aku tahu mengapa kalian membenciku, karena aku tidak sudi melayani rayuan kalian, bukan? Kalian sungguh menjemukan, kalian perempuan-perempuan hina yang berkedok pejuang!"

"Ki Bok tutup mulutmu!"

Lulung Lama membentak. Sian Li yang sejak tadi mendengarkan saja, kini melangkah maju dan ia pun berseru nyaring.

"Ucapan Ki Bok benar! Tiga orang wanita jalang ini tak tahu malu! Ki bok seribu kali lebih berharga daripada mereka ini, Losuhu."

"Hi-hik, engkau sudah mau mampus masih banyak lagak!"

Bentak Ji kui, dan bersama adiknya ia sudah menyerang ke arah Sian Li.

Gadis berpakaian merah ini, bergerak cepat, mengelak dan biarpun ia ber-tangan kosong, ia membalas dengan serangan yang dahsyat.

"Ki Bok, pinceng tidak mungkin dapat membiarkan engkau kelak mengkhianatiku. Nah, terimalah hukumanku ini!"

Pendeta Lama itu mener-jang kedepan dan menghantam dengan tangan kanan ke arah kepala murid sendiri.

"Suhu....!"

Ki Bok berseru dan cepat melempar tubuhnya ke belakang.

Biarpun dia sudah mengelak cepat, namun angin pukulan itu masih menyambar dahsyat dan tubuhnya terjengkang dan terguling-guling sampai lima meter lebih.

"Ki Bok....! Losuhu engkau tidak boleh membunuhnya!"

Sian Li berteriak, akan tetapi tiga orang wanita Pek-lian-kauw itu sudah menyerangnya dari tiga penjuru dan biarpun ia dapat menangkis dan mengelak, tetap saja ia terhuyung ke belakang.

Seorang penjaga yang memegang pedang menyam-butnya dengann tusukan pedangnya, Sian Li adalah seorang gadis gemblengan.

Biarpun ia kurang pengalaman dan ilmu-ilmunya belum masak benar, namun ia telah mewarisi ilmu-ilmu hebat.

Ketika ada angin tusukan pedang menyambar tubuh bagian iga dari samping, Ia masih dapat menekuk tubuhnya sehingga pedang lewat dekat iganya, dan kakinya menendang, pergelangan tangan yang memegang pedang itu terkena sambaran ujung kakinya.

Tangannya juga cepat merenggut dan pedang itu sudah berpindah ke tangannya!

Begitu memegang pedang, senjata menyambar dan penyerangnya tadi pun roboh oleh pedangnya sendiri.

Dengan pedang di tangan, Sian Li mengamuk, memainkan Liong-siauw Kiam-sut dengan pedang rampasan itu.

Namun Pek-lian Sam-li yang juga sudah menggunakan pedang, mengepung dan megeroyoknya, membuat Sian Li tak mungkin lagi dapat mendekati Ki Bok lagi.

Pemuda itu bangkit berdiri setelah tadi terguling-guling, hanya untuk melihat suhunya sudah berdiri di depannya, kini dengan sepasang senjata gelang roda besar di kedua tangan, matanya mencorong marah, penuh nafsu membunuh.

"Suhu, ampunkan teecu...."

Cu Ki Bok meratap.

Dia tidak takut mati konyol di tangan gurunya sendiri, hanya untuk kesalahan sekecil itu.

Kalau diingat betapa sejak kecil dia diperlakukan dengan baik oleh Lulung Ma, sungguh penasaran kalau sekarang terancam maut di tangan orang yang selama ini dianggap sebagai pengganti orang tuanya, yang menyayang dan disayangnya.

Agaknya Lulung Lama juga tidak tega untuk membunuh pemuda yang selama ini menjadi tumpuan harapan dan yang disayangnya, selama ini setia kepadanya itu, maka dia nampak ragu-ragu.

"Losuhu, ingat, dia agaknya pun berbaik dengan Sin-ciang Tai-hiap. Dia berbahaya, seperti musuh dalam selimut!"

Teriak Ji Kim yang merasa kecewa dan sakit hati karena selamanya baru sekali ia dan encinya ditolak pria, yaitu ketika mereka gagal merayu Ki Bok.

Mendengar teriakan ini bangkit kembali kemarahan Lulung Lama.

Memang muridnya ini yang menerima Yo Han.

"Mampuslah....!"

Bentaknya dan dia pun menye-rang dengan sepasang rodanya.

Ki Bok terkejut bukan main, berusaha untuk mengelak.

Dia tetap tidak mau melawan gurunya dan hanya mengandalkan kegesitan tubuhnya untuk menghindarkan diri dari cengkeraman maut.

Namun, tingkat kepandaiannya masih kalah jauh dibandingkan gurunya, maka sebuah tendangan kaki Lulung Lama mencium lutut kanannya dan dia pun terpelanting.

"Sian Li, larilah... cepat....!"

Dia masih sempat berteriak sebelum sebuah roda di tangan kiri Lulung Lama menghantam kepalanya dan pemuda itu tewas seketika.

Lulung Lama berdiri seperti patung, memandang ke arah pemuda yang kepalanya retak dan tewas itu, dan baru dia merasa menyesal bukan main.

"Ki Bok.... omitohud.... apa yang kulakukan ini? Ki Bok...."

Dia mengeluh.

Seolah menjawab kata-katanya, terdengar sorak-sorai riuh sekali dan nampak obor-obor dinyalakan di luar pagar bambu kemudian terdengar suara hiruk pikuk ketika pagar bambu yang mengelilingi perkampungan itu dijebol orang dari luar.

Perkampungan itu diserbu orang dari luar.

Dapat dibayangkan betapa kaget rasa hati Lulung Lama ketika pagar itu jebol, dia melihat banyak pendeta Lama diantara para penyerbu yang terdiri dari pasukan Tibet!

"Celaka....!"

Serunya, maklum bahwa sarangnya diserbu oleh pasukan pemerintah Tibet bersama anak buah Dalai Lama.

Dia pun cepat lari ke bangunan induk untuk memimpin anak buahnya mengadakan perlawanan.

Akan tetapi, dengan kaget Lulung Lama melihat bahwa para penyerbu bukan hanya pasukan Tibet dan para pendeta Lama saja yang menyerbu, melainkan juga puluhan orang Kang-ouw.

Orang-orang kang-ouw itu kini membantu Yo Han yang dikeroyok dan yang tadi mengamuk.

Maklumlah Lulung Lama bahwa dia harus melawan mati-matian, maka sambil mengeluarkan teriakan menantang, dia sudah menyerbu ke arah Yo Han yang kini dia ketahui adalah Sin-ciang Tai-hiap sendiri.

Yo Han menyambut senjata roda di tangan Lulung Lama dan terjadilah perkelahian hebat diantara mereka.

Sementara itu, ketika melihat serbuan pasukan Tibet dan para pendeta Lama, juga orang-orang kang-ouw, Sian Li menjadi girang sekali dan ia tidak jadi melarikan diri.

Bahkan ia lalu menggunakan suling emasnya yang tadi ia terima kembali dari Cu Ki Bok untuk membantu para penyerbu, mengamuk dan mencari-cari Pangeran Gulam Sing yang amat dibencinya untuk membalas kematian suhengnya.

Gadis ini menerima sebuah suling berselaput emas dari Kam Bi Eng, Nenek yang menggemblengnya dan biarpun ia juga pandai memainkan pedang namun ia lebih suka kalau memegang suling ini sebagai senjatanya.

Akhirnya Sian Li menemukan orang yang dicari-carinya.

Ternyata Pangeran Gulam Sing yang tinggi besar brewok dan gagah perkasa itu, dengan senjata yang mengerikan, yaitu golok melengkung yang amat tajam, sedang bertanding malawan Gak Ciang Hun dan ibunya.

Pangeran Nepal itu memang tangguh, dan terutama sekali dia memiliki tenaga raksasa yang membuat Ciang Hun dan ibunya kewalahan.

Setiap kali senjata ibu dan anak itu bertemu dengan golok melengkung, tentu pedang mereka terpental.

Hanya setelah Ciang Hun mengerahkan tenaga Sin-kangnya, barulah dia berani beradu senjata, akan tetapi ibunya tidak berani mengadu senjata secara langsung, hanya mempergunakan kecepatan gerakannya untuk mengeroyok.

"Pangeran jahanam!"

Sian Li berseru dan sekali lompat, tubuhnya menjadi bayangan merah dan suling emasnya mengeluarkan bunyi melengking ketika ia menotok ke arah leher pangeran yang tinggi besar itu.

"Ha-ha-ha, Si Bangau Merah datang. Bagus, mari kita main-main sebentar, nona manis!"

Kata pangeran itu dalam bahasa yang patah-patah.

Goloknya digerakkan dengan pengerahan tenaga, dihantamkan ke arah suling emas yang menusuk lehernya, dengan maksud agar senjata di tangan nona pakaian merah itu terpental dan lepas.

Akan tetapi Sian Li bukan seorang gadis bodohh.

Ia sudah tahu bahwa lawannya ini memiliki tenaga yang amat besar, maka ia menarik kembali sulingnya dan secepat kilat, sulingnya yang lepas dari tangkisan lawan itu sudah menotok ke arah ulu hati lawan!

Pada saat yang bersamaan, Gak Ciang Hun dan ibunya, Souw Hui Lian atau Nyonya Gak, telah menyerang pula dengana pedang mereka dari kanan kiri.

Melihat dirinya diserang ole tiga orang lawan yang tidak boleh dipandang ringan, Pangeran Gulam Sing mengeluarkan bentakan nyaring, bentakan yang mengandung kekuatan sihir dan tiga orang lawan itu tergetar seperti kehilangan tenaga dan di lain saat, Kaki Pangeran Nepal itu sudah merobohkan Nyonya Gak dengan tedangannya yang mengenai paha.

Goloknya menyambar ke arah Gak Ciang Hun yang masih sempat melempar diri ke belakang sehingga serangan itu luput, dan tangan kiri pangeran Nepal itu mencengkeram ke arah kepala Sian Li!

Gadis ini terkejut.

Tadi ketika Pangeran Nepal itu mengeluarkan bentakan, ia pun tergetar dan seperti kehilangan tenaga sehingga tusukan sulingnya gagal, dan kini tiba-tiba lengan yang panjang itu telah terjulur cepat dan tangan yang besar itu sudah mencengkeram ke arah kepalanya!

Sian Li cepat miringkan kepala mengelak, dan tangan itu terus menyambar dan mencengkeram ke arah pundak kirinya dan terdengar pangeran itu tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha, Nona merah, akhirnya engkau jatuh juga ke tanganku....eh....!"

Dia terkejut karena tiba-tiba saja cengkeraman tangannya itu tertolak ke belakang oleh tenaga dahsyat dari sinar emas yang menyambar ke arah tangannya itu.

Dia cepat meloncat ke belakang dan ketika dia mengangkat muka,dia melihat bahwa di situ telah berdiri seorang laki-laki yang usianya sudah lima puluh tahun lebih, berpakaian sederhana.

Melihat pria ini sama sekali tidak mengesankan, akan tetapi sepasang matanya mencorong penuh wibawa.

Pria itu memandang kepada Sian Li yang tadi terkejut dan juga lega bahwa ada orang yang menyelamatkannya dan terdengar dia berkata.

"Nona, biarlah aku yang menghadapi orang Nepal ini."

Pangeran Gulam Sing yang menjadi marah tidak memberi kesempatan kepada lawan yang tangguh itu untuk banyak bicara.

Dengan geram dia sudah mengeluarkan bentakan nyaring disertai kekuatan sihirnya sambil menggerakkan golok melengkung untuk menyerang.

Akan tetapi pria itu bersikap tenang saja, agaknya sama sekali tidak terpengaruh oleh bentakan itu dan dia sudah mencabut kembali sebatang suling dari ikat pinggangnya.

Suling itu terbuat dari kayu, akan tetapi mengkilap sepeti emas, dan ketika dia gerakkan, maka terdengar suara melengking seolah suling itu ditiup orang.

Dan golok melengkung itu tertolak keras ketika bertemu suling, membuat Pangeran Gulam Sing menjadi terkejut.

Dia pun mengamuk dan menyerang membabi buta, dilayani oleh pria yang sederhana itu.

Sian Li, Nyonya Gak,dan Ciang Hun memandang kagum.

Terutama sekali Sian Li yang kini melongo dan terheran-heran.

Ia dapat melihat dengan jelas bahwa suling itu dimainkan oleh Si Pria tiada bedanya sama sekali dengan permainannya sendiri, itulah Liong-siauw-kiam-sut (ilmu Pedang Suling Naga)!

Dimainkan dengan perlahan saja, akan tetapi anehnya, golok melengkung itu sama sekali tidak mampu banyak berlagak lagi setelah berhadapan dengan permainan suling pria itu!

Sian Li teringat akan neneknya, yaitu Kam Bi Eng, istri kakek Suma Ceng Liong.

Seperti itulah kalau Nenek Kam Bi Eng memainkan sulingnya!

Dan biarpun ia sendiri telah digembleng nenek itu dan telah menguasai Liong-siauw-kiam-sut, namun tentu saja tingkatnya masih jauh.

Mungkin ia telah menguasai gerakannya, namun "isinya"

Belum matang sehingga tenaga yang dikandung dalam gerakannya masih belum begitu kuat.

Akan tetapi, Sian Li tak sempat banyak melamun kaarena seperti juga Ciang Hun dan ibunya, ia sudah harus berkelahi lagi dengan anak buah Pangeran Gulam Sing, yatu orang-orang Nepal yang juga terpaksa harus menggerak-kan senjata menyambut para penyerbu.

Terjadilah pertempuran hebat di malam itu.

Pria yang baru tiba itu memang hebat.

Pangeran Gulam Sing yang gagah perkasa itu pun tidak mampu menandinginya.

Belum juga lima puluh jurus, setelah Pangeran Nepal itu mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya, dia sudah terdesak dan terhimpit oleh gulungan sinar suling di tangan orang itu.

Maklum bahwa dia tidak akan mampu mengalahkan lawan ini, tiba-tiba Pangeran Gulam Sing mengelu-arkan teriakan nyaring dan kakinya yang panjang dan besar itu melakukan tendangan-tendangannya yang ampuh sekali.

Kedua kaki itu bertubi-tubi melakukan tendangan, menyambar dari bawah ke atas, dari kanan kiri dan mendatangkan angin yang menyambar-nyambar.

Namun, lawannya agaknya tidak menjadi terkejut melihat ilmu tendangan yang amat dahsyat itu.

Tubuhnya mencelat ke atas dan setelah berjungkir balik, dia pun meluncur turun dan didahului oleh sinar sulingnya, menyambut tendangan kaki Gulam Sing!

"Tukk!

Tukk!"

Gulam Sing terjengkang, kedua kakinya roboh.

Saat itu dipergunakan oleh Sian Li yang sejak tadi mengamati jalannya perkelahian itu sambil menjaga diri dari serangan anak buah Gulam Sing, untuk meloncat ke dekat Gulam Sing.

Sulingnya menyambar dan sebelum Pangeran Nepal itu sempat mengelak, suling di tangan Sian Li telah menotok tengkuknya dari samping dan pangeran Nepal itu pun terkulai.

"Awaaas....!"

Pria itu cepat menyambar lengan Sian Li dan ditariknya.

Untung dia bertindak cepat karena saat itu, dalam keadaan sekarat Gulam Sing masih mampu melontarkan goloknya ke arah Sian Li.

Demikian kuat dan cepatnya lemparan golok itu sehingga andaikata Sian Li tidak ditarik orang tadi, tentu dara ini akan menjadi korban sambaran golok.

Melihat robohnya Gulam Sing.

Anak buahnya menjadi panik dan mereka lari cerai berai, disambut oleh pasukan Tibet.

"Gak-twako dan Bibi, mari kita bantu Han-ko!"

Kata Sian Li dan ia pun menghadapi pria itu sambil memberi hormat.

"Paman yang gagah perkasa, terima kasih atas pertolonganmu. Kalau Paman suka, kami harap Paman suka membantu kami sampai selesai!"

"Pria itu tersenyum.

"Aku hanya kebetulan lewat dan mendengar keributan disini, aku datang dan melihat engkau tadi terancam, Nona. Mari, aku ikut di belakang kalian."

Sian Li, Ciang Hun, Nyonya Gak dan diikuti pria itu lalu mencari Yo Han.

Sementara itu, Yo Han yang tadi bertanding melawan Lulung Lama, tidak menggunakan waktu terlalu lama.

Biarpun Lulung Lama dibantu oleh Pek-lian Sam-li namun Yo Han dapat mendesak mereka dengan gerakan yang aneh.

Dia menggunakan ilmu Bu-kek-hoat-keng dan begitu empat orang lawannya menyerangnya, mereka itu bahkan terjengkang sendiri.

Makin hebat mereka menyerang, semakin kuat pula mereka tertolak dan terbanting!

Memang ilmu yang diwarisi oleh Yo Han dari mendiang Kekek Ciu Lam Hok ini merupakan ilmu yang luar biasa.

Ilmu ini dapat menghimpun tenaga sakti yang mengandung daya tolak luar biasa sehingga setiap orang penyerang apalagi kalau hatinya dibakar kebencian dan kemarahan, Tentu akan terpukul sendiri oleh serangannya yang membalik.

Pada saat itu, para pendeta Lama telah berdatangan dan melihat Lulung Lama terjengkang berkali-kali setiap menyerang Yo Han, para pendeta Lama itu lalu menubruk dan meringkus pemberontak itu.

Akan tetapi terhadap Pek-lian Sam-li, baru pendeta Lama dan pasukan tidak memberi ampun.

Tiga orang wanita ini dikeroyok dan di bawah hujan senjata, mereka pun tewas.

Demikian pula dua orang pembantu Gulam Sing, yaitu Badhu dan Sagha, juga para tosu Pek-lian-lauw yang menjadi kawan-kawan Pek-lian Sam-li semua tewas.

Ketika Yo Han melihat Sian Li, Ciang Hun dan Nyonya Gak, juga seorang pria sederhana datang hendak membantunya, dia yang sedang meneriaki para orang kang-ouw untuk menghentikan pertempuran, segera berkata kepada mereka.

"Mari kita tinggalkan tempat ini. Kita tidak perlu mencampuri pertempuran antara pasukan Tibet yang menangkapi para pemberontak."

Orang-orang kang-ouw itu lalu meninggalkan tempat itu, lari cerai berai setelah mendengar perintah dari Sin-ciang Tai-hiap yang mereka taati.

Adapun Sian Li, Ciang Hun dan ibunya, juga pria itu, segera mengikuti Yo Han melarikan diri keluar dari kancah pertempuran itu dan mereka menuruni bukit itu.

Setelah mereka tiba di kaki bukit, malam mulai berganti pagi dan mereka berhenti di tempat sunyi untuk istirahat.

Kesempatan ini dipergunakan oleh Sian Li untuk sekali lagi menghaturkan terima kasih kepada pria yang telah menolongnya.

"Paman, terima kasih atas bantuan Paman. Kalau tidak ada Paman, mungkin aku telah menjadi korban golok Pangeran Gulam Sing yang lihai."

Ia mengamati wajah pria itu dengan kagum dan heran sekali, permainan senjata suling dari Paman sedemikian hebatnya, padahal gerakannya serupa benar dengan permainanku.

"Kalau boleh aku mengetahui, siapa nama Paman yang terhormat?"

Tiba-tiba Nyonya Gak berkata.

"Sian Li, apakah engkau tidak pernah mendengar tentang pendekar sakti yang berjuluk Suling Naga? Aku berani bertaruh bahwa kita semua kini berhadapan dengan pendekar Suling Naga yang bernama Sim Houw. Benarkah dugaanku itu, saudara yang gagah perkasa?"

Mendengar itu, pria yang sederhana itu lalu mengangkat ke dua tangan depan dada memberi hormat kepada Souw Hui Lian atau Nyonya Gak.

"Toanio mempunyai penglihatan tajam dan pandangan luas. Saya yang rendah memang bernama Sim Houw. Kalau boleh saya mengenal, siapakah Toanio dan siapa pula orang-orang muda yang gagah perkasa ini?"

Mendengar bahwa pria itu bernama Sim Houw yang berjuluk Pendekar Suling Naga, Sian Li mengeluarkan seruan girang dan cepat ia lalu memberi hormat.

"Aihhh, kiranya Locianpwe yang nama besarnya sudah sering kudengar dari Bibi Nenek Kam Bi Eng!"

Kini Sim Houw tersenyum lebar.

"Aha, kiranya engkau menguasai Liong-siauw-kiam-sut dari Sumoi Kam Bi Eng! Nona baju merah, siapakah engkau dan siapa pula orang tuamu?"

Sim Houw memandang dengan wajah berseri karena hatinya girang bukan main.

"Locianpwe, kita semua berada diantara orang sendiri. Mungkin Locianpwe tidak mengenal Ayahku. Ayahku bernama Tan Sin Hong....!"

"Ayahnya berjuluk Pek-ho-eng (Pendekar Bangau Putih), murid Istana Gurun Pasir!"

Kata nyonya Gak gembira.

"Hebat!"

Sim Houw berseru girang.

"Kiranya ayahmu pendekar yang namanya terkenal itu. Sungguh girang sekali aku dapat bertemu denganmu, Nona baju merah!"

"Locianpwe, namaku Sian Li. Tan Sian Li. Adapun ibuku bernama Kao Hong Li...."

"She Kao....? Apa hubungannya dengan bekas Panglima Kao Cin Liong di Pao-teng?"

"Dia adalah Kakekku!"

Sian Li berseru gembira.

Sim Houw tertawa bergelak, bukan main girang rasa hatinya.

Tiba-tiba dia mengambil sulingnya dan meniup suling kayu berbentuk naga itu dan terdengarlah suara suling yang melengking-lengking, merdu dan halus, akan tetapi mengandung getaran yang amat kuat sehingga menimbulkan gelombang suara yang mencapai tempat jauh.

Dan tiba-tiba terdengar suara suling yang lebih lembut dan melengking tinggi, walaupun tidak sekuat suara suling yang ditiup oleh Sim Houw, namun cukup jelas terdengar dari tempat itu.

Suara suling yang menjawab itu dengan cepat terdengar semakin dekat dan tak lama kemudian, muncullah seorang wanita cantik.

Wanita itu berusia empat puluh tahun, namun nampak manis dan jauh lebih muda, matanya membayangkan kelincahan dan kejenakaan, juga kecerdikan.

"Aih, aku sudah mulai tidak sabar menunggumu dan disini ternyata terdapat banyak orang. Siapakah mereka ini?"

Tanya wanita itu sambil memandang kepada semua orang satu demi satu.

"Lihatlah, Nona baju merah ini adalah puteri dari Pendekar Bangau Putih, dan ibunya adalah puteri bekas panglima Cin Liong. Juga, ia telah menguasai Liong-siauw-kiam-sut yang dipelajarinya dari Sumoi Kam Bi Eng. Hebat tidak?"

Kata Sim Houw kepada wanita itu yang bukan lain adalah isterinya yang bernama Can Bi Lan.

Can Bi Lan yang berwatak jenaka dan gembira itu segera maju dan memegang lengan Sian Li.

"Aih, betapa gagahnya kau! Siapa namamu, Nona merah?"

Gembira sekali hati Sian Li bertemu dengan suami isteri yang namanya pernah ia dengar dari Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng itu.

"Bibi yang gagah dan cantik. Namaku Tan Sian Li dan orang memberi julukan kepadaku Si Bangau Merah!"

"Si Bangau Merah? Puteri Pendekar Bangau Putih? Heh-heh, sungguh tepat sekali, Sian Li, siapakah orang-orang yang lain ini? Perkenalkan mereka kepadaku."

"Aku sendiri pun belum sempat berkenalan dengan yang lain,"

Kata Sim Houw kepada isterinya.

Pertama-tama saya harap Toanio suka memperkenalkan diri.

Agaknya Toanio mengenal keadaan keluarga kami, akan tetapi kami tidak tahu siapa Toanio."

"Kukira Paman dan Bibi tentu mengenal Bibi Gak. Suaminya adalah mendiang Beng-san Sian-eng. Dan ini adalah puteranya Gak Ciang Hun."

"Aih, kiranya isterinya sepasang Locianpwe kembar, Sepasang Garuda dari Beng-san?"

Seru Sim Houw.

"Maafkan kalau kami bersikap kurang hormat."

Juga Can Bi Lan mem-beri hormat kepada Nyonya Gak yang cepat membalas penghormatan itu, diturut oleh puteranya.

"Dan siapakah pemuda ini? Sepintas lalu tadi aku melihat betapa hebatnya dia ketika melawan pengeroyokan lawan yang lihai. Aku yakin dia ini pun bukan orang sembarangan!"

Kata Sim Houw sambil memandang kepada Yo Han yang sejak tadi diam saja.

Akan tetapi diam-diam Yo Han mengamati wajah Can Bi Lan.

Pernah dia mendengar cerita mendiang ibunya ketika dia masih kecil tentang seorang Sumoi dari ibunya yang berjuluk Siauw Kwi (Setan Cilik).

Mendiang ibunya sendiri pernah manjadi seorang tokoh sesat berjuluk Bi Kwi (Setan Cantik), dan Sumoi dari ibunya itu kalau tidak salah ingat bernama Can Bi Lan.

Wanita ini adalah Sumoi dari mendiang ibunya!

Sian Li yang merasa bangga dan suka pamer segera memperkenalkan Yo Han "Pernahkah Paman dan Bibi dalam perantauan kalian mendengar nama besar Sin-ciang Tai-hiap di daerah ini?

Nah, inilah orangnya.

Namanya Yo Han!"

"Tentu saja kami pernah mendengarnya!"

Kata Can Bi Lan kagum.

"Seorang pendekar yang tidak pernah membunuh, seorang pendekar budiman yang menalukkan orang-orang jahat dan menyadarkan mereka. Masih begini muda? Sungguh tak kusangka!"

"Sin-ciang Tai-hiap, engkau masih begini muda sudah membuat nama besar. Tentu gurumu seorang yang sakti dan terkenal sekali!"

Kata Sim Houw.

"Dan ayah ibumu tentu juga tokoh-tokoh dunia persilatan!"

Sambung Can Bi Lan. Yo Han memberi hormat kepada suami isteri itu dan kemudian berkata kepada Can Bi Lan.

"Bibi Guru, teecu Yo Han menghaturkan hormat. Mendiang Ibu adalah Ciong Siu Kwi...."

"Aihhh....!"

Bi Lan berseru dan matanya terbelalak memandang kepada pemuda itu.

"Suci....? Aku mendengar bahwa Suci menikah dengan seorang pemuda sederhana she Yo.... dan mereka tewas sebagai orang-orang gagah di tangan para pemberontak. Kiranya engkau.... ah, engkau keponakanku....!"

Bi Lan maju dan memegang kedua tangan pemuda itu, penuh rasa kagum dan juga bangga.

"Sukurlah, akhirnya Suci meninggalkan seorang keturunan yang begini gagah perkasa dan berjiwa pendekar! Aku ikut merasa bangga, Yo Han!"

Rombongan itu lalu duduk di atas akar dan batu, bercakap-cakap dengan gembira, saling menceritakan pengalaman masing-masing.

Karena mereka adalah orang-orang segolongan, bahkan diantara mereka masih ada hubungan, baik kekeluargaan maupun perguruan, maka tentu saja suasana menjadi akrab sekali.

Nyonya Gak atau Souw Hui Lin menceritakan betapa kedua orang suaminya, Si kembar Gak jit Kong dan Gak Goat Kong yang dikenal dengan julukan Beng-san Sian-eng, telah meninggal dunia dan ia hidup berdua dengan putera tunggalnya yaitu Gak Ciang Hun yang ini sudah berusia dua puluh delapan tahun.

"Pertemuan dengan kalian semua membuat aku terkenang kembali ke kampung halaman,"

Kata Nyonya Gak sambil menghela mapas panjang.

"Semenjak kematian suamiku, aku mengajak Ciang Hun merantau, karena aku merasa hidupku kosong. Ternyata aku hanya mengejar bayangan belaka. Kelahiran dan kematian merupakan kodrat Tuhan yang tidak dapat dimengerti oleh kita. Kita hanya menerima dan menjalani saja, tidak kuasa mengatur, maka kematian merupakan hal wajar yang tidak perlu disedihkan terus menerus. Aku sudah mengambil keputusan untuk pulang ke Beng-san."

Gak Ciang Hun memandang kepada ibunya dengan mata bersinar dan wajah berseri.

Selama ini dia menghibur hati ibunya yang menjadi berduka sekali karena kematian kedua orang ayahnya, namun betapa pun dia membujuk, ibunya tidak mau kembali ke Beng-san yang katanya hanya akan membuat ia berduka dan teringat kepada ayah-ayahnya.

Akan tetapi sekarang, ibunya sudah menyadari dan bahkan ingin kembali.

Tentu saja Ciang Hun menjadi girang bukan main.

Kalau ibunya sudah mau kembali ke Beng-san, tentu dia dapat memikirkan untuk berumah tangga, tidak seperti sekarang ini, selama hampir dua tahun hanya merantau ke sana sini tanpa tempat tinggal yang tetap.

"Bagaimana dengan engkau, Sian Li?"

Tanya Can Bi Lan kepada gadis itu.

Sian Li bercerita tentang pengalamannya, betapa ia bersama mendiang Sian Lun yang menjadi suhengnya meninggalkan rumah Suma Ceng Liong untuk pergi ber-kunjung ke Bhutan bersama Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi.

Betapa kemudian ia dan suhengnya bertemu dengan Lulung Lama sehingga mengalami banyak hal yang hebat.

"Dan di mana sekarang suhengmu itu?"

Tanya Sim Houw.

Sian Li mengerutkan alisnya dan memandang kepada Yo Han.

Berat rasa hatinya untuk menceritakan penyelewengan yang dilakukan suhengnya itu, apalagi mengingat bahwa dalam saat terakhir hidupnya, Sian Lun telah menyadari kesesatannya dan bahkan mengorban-kan nyawa untuknya.

Melihat gadis itu memandang kepadanya seperti orang minta bantuan, Yo Han lalu menjawab untuknya.

"Sayang sekali, dalam pertentangan menghadapi persekutuan pemberontak itu, Liem Sian Lun telah tewas di tangan para pimpinan penjahat yang lihai."

Gak Ciang Hun dan ibunya menunduk.

Mereka dapat menduga bahwa suheng dari Si Bangau Merah itu telah menyeleweng, namun mereka tidak ingin mencampuri urusan itu dan diam saja.

Sim Houw menghela napas panjang.

"Memang demikianlah resiko menjadi seorang pendekar yang membela kebenaran dan keadilan. Kalau pihak penjahat lebih kuat, mungkin saja seorang pendekar akan mengorbankan nyawanya, mati muda. Akan tetapi kematian seperti itu tidaklah sia-sia, karena dia mati dalam membela kebenaran, dia seorang pahlawan kemanu-siaan."

"Lalu sekarang engkau hendak pergi ke mana Sian Li?"

Tanya Can Bi Lan yang kelihatan amat sayang kepada gadis berpakaian merah itu.

"Aku ingin segera pulang ke rumah Paman Suma Ceng Liong, Bibi, karena sudah lama meninggalkan dusun Hong-cun. Ayah dan Ibu tentu akan merasa khawatir kalau mereka datang menjemputku dan aku belum pulang. Dan Han-ko akan ikut denganku karena dia pun sudah merasa rindu kepada Ayah Ibuku."

Mereka semua memandang kepada Yo Han dan pemuda ini mengangguk membenarkan.

"Kasihan kalau adik Sian Li harus pulang seorang diri, padahal ketika pergi ia bersama mendiang suhengnya. Selain itu, saya ingin bertemu dengan ayah ibunya, yaitu guru-guru saya yang pertama."

"Paman dan Bibi sendiri hendak pergi ke manakah?"

Sian Li bertanya kepada suami isteri itu.

Dan mereka semua merasa heran karena pertanyaan itu agaknya membuat suami isteri itu seperti termenung, bahkan ada bayangan kesedihan meliputi wajah mereka.

Akan tetapi Can Bi Lan memiliki dasar watak yang lincah dan gembira, maka ia tidak membiarkan wajahnya muram terlalu lama.

Segera ia tersenyum lagi dan setelah menghela napas panjang, ia lalu berkata.

"Biarlah kami ceritakan keadaan kami karena kalian bukan orang luar, melainkan masih terhitung anggauta keluarga sendiri. Mungkin kalian sudah mendengar tentang nama kami, akan tetapi tentu merasa heran mengapa selama ini kami berdua tidak pernah memperlihatkan diri, bahkan seperti mengasingkan diri dari dunia persilatan. Sesunguhnya ada musibah besar menimpa keluarga kami. Terjadinya kurang lebih dua puluh tahun lalu. Ketika itu, anak tunggal kami, seorang anak perempuan yang baru berusia tiga tahun, telah lenyap dari rumah kami."

"Ahhh....!"

Mereka yang mendengarkan cerita itu berseru kaget.

"Apakah sampai sekarang belum juga dapat ditemukan, Bibi?"

Tanya Sian Li. Can Bi Lan menggeleng kepala sambil menghela napas.

"Adik Bi Lan, bagaimana mungkin peristiwa seperti itu dapat menimpa suami isteri yang sakti seperti kalian? Apa yang telah terjadi dengan puterimu?"

Tanya Nyonya Gak dengan terkejut, penasaran dan heran.

Sukar membayangkan ada orang berani menculik puteri dari suami isteri Pendekar Suling Naga!

Bi Lan kembal menghela napas.

"Ketika itu, anak kami Sim Hui Eng yang baru berusia tiga tahun diasuh oleh seorang pelayan di taman belakang rumah dan tiba-tiba kami mendengar jeritan pelayan kami di taman belakang. Kami cepat lari ke sana dan mendapatkan pelayan kami telah tewas tanpa luka. Setelah kami memeriksa dengan teliti, ternyata ia telah tewas oleh tepukan pada ubun-ubun kepalanya yang merusak isi kepala tanpa menimbulkan luka, dan anak kami lenyap tanpa bekas. Di atas tanah terdapat tulisan yang mungkin sudah ditulis lebih dahulu, yang menyatakan bahwa kalau kami melakukan pengejaran, anak kami akan dibunuhnya seperti orang itu membunuh pelayan kami."

Bi Lan menghentikan ceritanya dan memejamkan mata, agaknya masih ngeri membayangkan apa yang terjadi pada diri anaknya.

"Terkutuk! Bibi, siapakah pelaku yang jahat itu?"

Gak Ciang Hun berseru marah.

Kini Sim Houw yang menjawab, suaranya tetap tenang walaupun terdengar jelas bahwa pendekar ini pun menahan kesedihan hatinya.

"Kami sampai sekarang belum dapat menduga siapa pelakunya. Kami berdua dengan sangat hati-hati melakukan pencarian, takut kalau ancamannya itu dilaksanakan penculik itu. Namun, ternyata orang itu memang lihai bukan main karena sampai sekarang, dua puluh tahun telah lewat dan kami berdua belum juga berhasil menemukan Hui Eng. Kami tidak tahu pria atau wanita yang menculik anak kami itu, apa lagi namanya. Semua masih gelap bagi kami. Namun kami menduga bahwa perbuatan ini tentu merupakan balas dendam. Di waktu muda kami banyak menentang para tokoh sesat dan tentu mereka itu ada diantaranya yang mendendam kepada kami. Akan tetapi karena banyak sekali tokoh sesat yang pernah kami tentang, kami tidak tahu benar siapa penculik itu. Kami sudah menyelidiki di seluruh penjuru, sampai ke tempat ini, namun tidak pernah berhasil."

Suami isteri itu menunduk dan jelas bahwa mereka menderita tekanan batin yang amat hebat.

"Luar biasa!"

Sian Li berseru.

"Kenapa sama benar dengan yang telah terjadi padaku?"

"Paman dan Bibi, ketika aku masih kecil, berusia empat tahun, aku pun diculik orang dari taman! Akan tetapi untung ada Han-ko ini, kalau tidak, mungkin nasibku sama dengan puteri Paman dan Bibi, sampai sekarang tidak dapat bertemu lagi dengan orang tuaku!"

Sim Houw dan Bi Lan memandang kaget dan heran.

"Siapa yang menculikmu ketika itu?"

Tanya mereka hampir berbareng karena tentu saja mereka merasa tertarik mendengar terjadinya peristiwa yang serupa dengan apa yang terjadi pada diri anak mereka.

"Yang menculik aku adalah Ang I Moli Tee Kui Cu, puteri dari mendiang Tee Kok dari Yunan, ketua Ang I Mo-pang. Akan tetapi Ang I Moli juga menjadi tokoh Pek-lian-kauw dan sekarang ia telah mati dihukum pemerintah karena bersekutu dengan pemberontak. Nah, ketika aku diculik, Han-koko (Lanjut ke

Jilid 25 -Tamat) Si Bangau Merah (Seri ke 15 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 25 (Tamat) masih tinggal bersama orang tuaku dan dia inilah yang membebaskan aku dari tangan Ang I Moli dengan menggantikan aku dengan dirinya sendiri."

"Aih, Li-moi. Ketika engkau diculik, engkau sedang bermain-main denganku, maka aku merasa bertanggungjawab,"

Kata Yo Han ketika semua mata memandang kepadanya dengan kagum. Cerita Sian Li itu membuat suami isteri itu saling pandang dan berpikir.

"Hemmm, kami kira memang ada persamaannya. Tentu penculik itu juga mendendam kepada orang tuamu,"

Kata Sim Houw.

"Akan tetapi, kami tidak berhasil menemukan kembali anak kami, padahal kini ia tentu telah berusia dua puluh tiga tahun dan kami tidak tahu apa yang telah terjadi dengannya."

"Yang membuat hatiku terasa hancur kalau membayangkan adalah keadaannya yang tidak menentu itu. Kami akan merasa lebih bersedih kalau ia sampai dibawa sesat oleh penculiknya, lebih sedih daripada kalau andaikata ia sudah terbunuh,"

Kata Bi Lan dan nyonya ini nampak berduka sekali. Yo Han yang sejak tadi mendengarkan merasa iba sekali.

"Maaf, Paman dan Bibi, peristiwa itu telah berlalu selama dua puluh tahun. Kini puteri Jiwi (Kalian) tentu sudah merupakan seorang gadis dewasa berusia dua puluh tiga tahun. Namanya pun mungkin sudah diganti nama baru oleh penculiknya. Bagaimana Paman dan Bibi akan dapat mengenalnya andaikata bertemu dengannya, apalagi kalau ia menggunakan nama baru?"

Baca Juga: Kisah Pendekar Bongkok 10

Baca Juga: Cinta Bernoda Darah 12

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert