Eps 10 Pusaka Gua Siluman - Kho Ping Hoo
Baca online Pusaka Gua Siluman - Kho Ping Hoo
Cersil Pusaka Gua Siluman - Kho Ping Hoo.
Perintahnya dan ia sendiri lalu menyerang Lee Ing dengan pukulannya yang hebat, penuh hawa beracun.
Lee Ing melompat menjauhi, sengaja memancing Tok-ong supaya bertempur dengan dia, jauh dari Han Sin.
Akan tetapi alangkah kagetnya ketika gadis itii dalam lompatannya tadi mendapat kenyataan bahwa kedua kakinya lemas dan tubuhnya lemah sekali.
Celaka, pikirnya.
Kenapa aku lupa (Lanjut ke
Jilid 27) Pusaka Gua Siluman (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 27 bahwa aku baru saja bangun dari sakit, malah sudah tiga hari tiga malam tidak makan?
Menghadapi musuh-musuh seperti Tok-ong dan kaki tangannya, memang kalau keadaannya biasa ia tidak gentar.
Akan tetapi sekarang tubuhnya lemas tenaganya berkurang banyak, bahkan ketika ia melirik, keadaan Han Sin lebih menyedihkan lagi!
Pemuda ini diserang-serentak oleh Kui Ek dan Mo Hun, malah Auwyang Tek juga turun tangan membantu.
Melawan satu di antara mereka saja bagi Han Sin sudah amat berat, apa lagi dikeroyok tiga.
Dan sekarang tubuhnya sedang amat lemah saking lelahnya.
Namun, berkat kegirangannya melihat Lee Ing hidup lagi, mendatangkan tenaga mijijat dalam diri Han Sin yang mengamuk bagaikan seekor naga kelaparan!
Perintah Kai Song Cinjin tadi berbunyi "tangkap", hal ini berani bahwa kakek itu tidak menghendaki lawan dibunuh, maka Kui Ek dan Mo Hun juga membatasi penyerangannya dan berusaha menawan Han Sin hidup-hidup.
Juga Auwyang Tek setuju sekali dengan perintah ini, maka iapun tidak mau melepaskan pukulan-pukulan maut.
Hal ini menguntungkan Han Sin yang melawan dengan nekat sehingga kipasnya sudah robek sana-sini bertemu dengan senjata lawan.
Namun sedikitpun semangatnya tidak menjadi kendor dan kelelahan serta kelaparannya malah membuat ia merasa tubuhnya ringan dan gerakannya gesit sekali.
Dalam pertempuran itu, karena tiga orang lawannya amat kuat dan mendesaknya terus-menerus, Han Sin sama sekali tidak sempat untuk memperhatikan lain hal, malah untuk melirik ke arah Lee Ing saja ia tidak sempat.
Maka ia baru tahu bahwa kekasihnya belum berhasil menangkan Tok-ong Ketika suara Lee Ing berkata nyaring.
"Sin-ko, lawan terus! Biar kita mati bersama di tempat ini.!"
Bukan kepalang kagetnya hati Han Sin mendengar seruan ini.
Cepat ia meloncat menjauhi tiga orang lawannya untuk menengok ke arah Lee Ing dan dapat dibayangkan betapa gelisah hatinya melihat Lee Ing sibuk bukan main menghadapi Tok-ong Kai Song Cinjin, sehingga gerakannya makin lemah dan hanya mampu mengelak saja dari pukulan-pukulan maut yang menyambar-nyambar laksana kilat dari kedua tangan Tok-ong.
"Tidak, Ing-moi! Kau larilah...! Setelah kau hidup kembali....!"
Han Sin terpaksa menghentikan kata-katanya karena tiga orang lawannya sudah datang lagi menyerang.
Mo Hun menggerakkan tangan kiri mencengkeram pundaknya.
Datangnya serangan ini demikian cepat sehingga tidak dapat dielakkan lagi Han Sin menangkis dengan kipasnya yang sudah risak.
Kipas kena dicengkeram oleh Mo Hun menjadi hancur berkeping-keping.
"Kau tidak boleh mati lagi ...! Larilah dan kelak kita tentu bertemu lagi. Ing-moi!"
Dalam suara Han Sin ini terkandung permohonan yang amat sangat dan pada saal itu Han Sin roboh terkena tendangan Auwyang Tek yang tepat me-tigetiai pahanya.
Melihat Ini, Lee Ing marah sekali.
Ingin ia menyerang Auwyang Tek, akan tetapi Tok-ong menghalanginya.
Gadis ini akhirnya harus mengakui kebenaran ucapan Han Sin tadi.
Kalau dia nekat mengamuk, keadaan tubuhnya yang belum kuat benar itu tentu akan menggagalkan usahanya dan ia akan mati dengan sia-sia di situ.
Han Sin tidak dibunuh, berarti masih ada harapan untuk menolongnya.
Lebih baik dia pergi dan memperkuat tubuhnya agar kelak dapat menolong Han Sin.
"Sin-ko... aku pergi dulu... Sin-ko....!"
Teriaknya mengandung isak tangis.
Alangkah buruk nasibnya.
Baru saja mendapatkan kenyataan siapa pemuda yang betul-betul mencintanya sekarang ia harus berpisah meninggalkan kekasihnya dalam keadaan demikian mengenaskan.
"Pergilah, Ing-moi.... selamat jalan....!"
Lee Ing tidak mau membuang waktu lagi.
Pedang Li-lian-kiam ia putar cepat menghalangi Tok-ong yang hendak mendesaknya, kemudian ia melompat sambil mengerahkan ginkangnya.
Beberapa buah jarum Toat-beng-ciam yang disambitkan oleh Tok-ong Kai Song Cinjin, tertangkis oleh sinar pedangnya dan tak seorangpun berani mencoba untuk menghalangi larinya gadis perkasa itu.
Tok-ong seorang diri tak berdaya mengejar dan sebentar saja Lee Ing sudah hilang dari tempat itu.
"Tolol semua!"
Tok-ong Kai Song Cinjih mengomel.
"Gadis itu sudah lemah dan kepandaiannya tidak seperti dulu, mengapa tidak dikurung sampai tertangkap?"
Terdengar suara ketawa nyaring dan Han Sin yang tertawa ini. Pemuda ini sudah berdiri lagi, terhuyung-huyung, akan tetapi mengangkat dadanya.
"Hayo, siapa mau bunuh aku? Ha-ha-ha, Ing-moi masih hidup dan kalian tidak sanggup menawannya. Ha-ha-ha, aku Liem Han Sin sudah merasa puas hidupku, dapat melihat Lee Ing selamat. Mau membunuh aku? Bunuhlah!"
Auwyang Tek marah bukan kepalang. Ia melangkah maju dan mengirim pukulan Hek-tok-ciang ke arah dada pemuda gagah itu.
"Plakk!"
Bukan Han Sin yang roboh melainkan Auwyang Tek yang terhuyung sambil berseru kaget.
Kiranya gurunya, Tok-ong Kai Song Cinjin yang tadi menangkis pukulannya itu.
la memandang heran dan gurunya memberi tanda dengan matanya supaya muridnya itu mendekat.
SetelaH dekat ia berbisik.
"Jangan bunuh dia. Kita bisa gunakan dia untuk memancing gadis itu, atau setidaknya untuk perisai kelak...."
Auwyang Tek mengangguk-angguk dan Han Sin lalu didorong-dorong dan digusur-gusur pergi dari situ menuju ke kota raja.
Di sepanjang ialan Han Sin tertawa dan kelihatan girang sekali.
Betapakah tidak?
Pemuda ini mencinta Lee Ing dengan sepenuh jiwanya, cinta murni yang membuat ia sudah merasa bahagia sekali kalau melihat gadis itu selamat.
Tadinya Lee Ing disangkanya meninggal dunia, dan sekarang hidup lagi, malah bebas dari gangguan Auwyang Tek sekaki tangannya.
Tentu saja ia girang, lupa akan tubuhnya yang sakit-sakit dan pemuda gagah ini bernyanyi-nyanyi!
Malah, ketika rombongan itu mengaso dan dia diberi makanan oleh penjaganya, tanpa malu dan tanpa ragu-ragu Han Sin makan dengan lahapnya dan semua orang melongo melihat pemuda ini makan banyak sekali!
Kelihatan puas, girang dan sama sekali tidak memperdulikan nasibnya sendiri.
Ia rela, serela-relanya berkorban apa saja, juga nyawanya, demi kebahagiaan Souw Lee Ing, dewi pujaan hatinya!
Setelah rombongan ini tiba di kota raja, baru mereka mendengar tentang penyerbuan-penyerbuan bala tentara dari utara di bawah pimpinan Pangeran Yung Lo yang memberontak.
Perang telah dimulai, Takutlah hati para durna dan cepat-cepat secara sembunyi-sembunyi mereka ini diam-diam mengumpulkan semua harta benda yang berhasil mereka keduk dengan jalan korup, untuk disimpan atau dipindahkan ke tempat aman.
Beginilah selalu watak orang-orang munafik dan kotor.
Dalam keadaan negara sedang jaya, kerjanya hanya mengumpulkan harta dengan jalan korup dan haram.
Apa bila negara terancam bahaya, bukannya cepat menggulung lengan baju untuk ikut berjuang, kalau perlu menyumbangkan segala yang ada padanya, baik harta rnaupun nyawa, akan tetapi sebaliknya lalu cepat-cepat menyembunyikan hartanya dan bersiap-siap untuk "angkat kaki"
Dan melarikan diri ke tempat aman.
Di antara orang macam begini termasuk Auwyang-taijin.
Sudah siang-siang Auwyang Peng, menteri durna ini, mengumpulkan harta bendanya dan diam diam menyuruh orang-orang kepercayaannya untuk menyelundupkan harta benda ini ke dusun kecil yang jauh dari kota, yaitu dusun Ki-chun di dekat pantai laut di Propinsi Cekiang.
Di dusun ini yang menjadi tempat kelahiran seorang selirnya yang terkasih, Auwyang-taijin sudah membuat rumah gedung dan di situ pula ia kelak hendak beristirahat dan mengundurkan diri apa bila waktunya tiba.
Tentu saja yang ia maksudkan dengan "waktunya"
Adalah apa bila kerajaan lemah yang ia kuasai bersama kawan-kawannya itu sudah tak dapat dipertahankan lagi.
Marah-marahlah Auwyang-taijin ketika ia mendengar laporan tentang gagalnya menangkap Souw Lee Ing yang tadinya sudah mati itu.
Menurut penuturan rombongan puteranya, ternyata bahwa gadis itu masih merupakan sebuah ancaman baginya.
''Kita harus tahan pemuda yang menjadi sahabat baiknya itu dan kelak kalau peperangan sudah selesai, kita bisa pancing dia datang untuk ditawan."
Kata-kata Auwyang-taijin ini disetujui oleh semua orang, maka Tok-ong lalu memberi perintah agar Liem Han Sin segera dimasukkan dalam tahanan dan dijaga kuat-kuat, akan tetapi juga tidak boleh diganggu atau dibunuh.
Ternyata bahwa kebencian Auwyang-taijin terhadap Souw Teng Wi dan puterinya, menyelamatkan Han Sin dari bahaya maut.
Kalau tidak ada Lee Ing, tentu orang-orang itu takkan mau banyak pusiug mengurus Han Sin, dibunuhnya dan habis perkara!
Memang Auwyang-taijin seorang yang licin dan cerdik.
Melihat bala tentara utara terus mendesak maju ke selatan, ia cepat-cepat menghadap persidangan para penasihat kaisar muda di mana dia sendiri memegang peranan penting dan mengusulkan agar supaya orang-orang kuat seperti Tok-ong Kai Song Cinjin dan lain-lain yang berada di bawah perintahnya, mendapat tugas menjaga dan menjamin keamanan di kota raja.
Panglima panglima lain yang dikirim ke utara untuk menyambut musuh, akan tetapi semua kaki tangannya tidak se-orangpun pergi kecuali mereka yang dianggap kurang penting.
Tentu saja dalam usulnya ini ia bersikap seolah-olah ia memperlihatkan bakti dan setianya kepada kerajaan sehingga ia sanggup mengerahkan semua kaki tangannya menjaga keselamatan ibu kota.
Akan tetapi sebenarnya bukan demikian.
Auwyang Peng tidak mau berpijah dari kaki tangannya dan mereka ini bukan bertugas melindungi kota raja, melainkan bertugas melindungi dia sekeluarga dan seharta-bendanya!
Demikianlah jadinya, karena pengaruhnya yang besar dan muslihatnya yang licin, kalau panglima lain berbondong-bondong dikirim ke garis depan untuk menghambat penyerbuan musuh, adalah Tok-ong Kai Song Cinjin, Toat beng-pian Mo Hun, Ma-thouw Koaituug Kui Ek.
dan Yokuto selalu mendampingi pembesar durna ini dan menjadi pelindung-pelindungnya.
Hanya Manimoko seorang yang oleh Auwyang-taijin "dikorbankan"
Dan dikirim ke garis depan.
Ini adalah karena Manimoko paling rendah kepandaiannya dan terlalu jujur.
Sementara itu, terus-menerus harta kekayaan Auwyang-taijin mengalir secara sembunyi ke dusun Ki-chun di Cekiang tanpa diketahui orang lain.
Tok ong Kai Song Ciujin sendiri yang mondar-mandir melakukan pengawalan agar pengiriman harta itu tidak diganggu orang.
Mari kita menengok keadaan di utara.
Bala tentara, di bawah bimbingan Raja Muda Yung Lo memang hebat dan kuat.
Hal ini bukan saja karena Raja Muda Yung Lo yang bijaksana itu mendapat simpati orang-orang cerdik pandai sehingga mendapat bantuan-bantuan mereka yang amat berharga.
terutama sekali karena kelaliman pemerintahan durna di selatan telah membuat rakyat tidak puas dan penyerbuan dari utara ke selatan itu mendapat sambutan hangat dari rakyat yang suka membantunya.
Perjuangan di manapun juga pasti akan berhasil baik apa bila didukung sepenuhnya oleh rakyat jelata.
Sebaliknya perjuangan yang bertujuan menentang dan menindas rakyat, betapapun kuat golongan yang mementingkan kesenangan diri sendiri ini, pada akhirnya pasti akan mengalami kehancuran, pasti akan ambruk.
Hal ini sudah berkali-kali terjadi dan merupakan kenyataan sejarah yang sudah berulang.
Banyak sekali orang-orang pandai, ahli-ahli pi^ir.ahlj-ahli perang, pengaiur-pengatur siasat dan ahli-ahli silat, membantu pergerakan Raja Muda Yung Lo ini.
Di antara mereka terdapat seorang tokoh besar yang kemudian menjadi amat terkenal dalam sejarah, yaitu Cheng Ho (The Ho) yang kelak memimpin armada besar mengarungi samudera luas mengadakan kontak dengan negara-negara di luar Tiongkok.
Selain Cheng Ho yang amat bijaksana dan pandai, di antaranya Cu Kong Sui, yang tadinya merupakan kawan seperjuangan Ciu Goan Ciang dan Souw Teng Wi, kemudian "menyeberang"
Kepada Raja Muda Yung Lo karena melihat keadaan di selatan yang dikuasai oleh para menteri durna.
Di samping semua itu, tak boleh dilupakan Pek-kong Sin kauw Siok Beng Hui yang gagah perkasa dan setia.
Semenjak perang dimulai, Siok Beng Hui selalu berada di garis depan dan dia merupakan seorang pemimpin barisan, yang amat diandalkan oleh Jenderal Cu Kong Sui sehingga pasukan di bawah pimpinan Siong Beng Hui ini menjadi pasukan penghubung yang selalu menjadi pembantu setiap kesatuan di front peperangan.
Karena pasukan ini yang sering kali langsung berhadapan dengan musuh, malah yang paling ditakuti dan diincar untuk dihancurkan oleh musuh, maka di sini pula dikumpulkan tenaga-tenaga sukarelawan terdiri dari orang-orang kang-ouw yang datang membantu pergerakan bala tentara dari Peking ini.
Bekas anggauta-anggauta Tiong-gi-pai di Sini pula tempatnya, di bawah bimbingan Kim-sim-kang-jiu Kwee Cun Oan.
Mereka ini semua suka berjuang di bawah komando Siok Beng Hui yang sudah mereka kenal baik.
Seperti telah dituturkan di bagian depan, putera tunggal Siok Hui, yaitu Siok Bun, setelah bertemu dengan kekasihnya dengan terbukanya rahasia Oei Siok Ho yang sebetulnya adalah seorang gadis jelita itu, lalu mengajak kekasihnya itu untuk cepat menuju ke utara.
Siok Ho selain teringat kepada Han Sin.
Berkali-kali gadis ini menangis dan berkata.
"Kasihan sekali saudara Han Sin. Entah bagaimana nasibnya terjatuh dalam tangan iblis-iblis itu.... kasihan jenazah adik Lee Ing..."
Siok Bun menarik napas panjang.
"Mereka itu orang-orang baik. Apa kau kira aku akan diam saja melihat jenazah Lee Ing dihina dan melihat sahabat seperti Han Sin itu ditawan musuh? Tidak, kalau saja aku tidak tahu betul bahwa tenagaku, tenaga kita berdua, dibutuhkan oleh perjuangan menumbangkan kekuasaan lalim di selatan, tentu aku akan berusaha menolongnya, biarpun untuk itu aku harus berkorban nyawa. Akan tetapi dalam keadaan seperti sekarang ini, lebih penting memikirkan perjuangan dari pada memikirkan perasaan pribadi."
"Kau betul. Memang aku tahu kau bijaksana dan seorang patriot sejati, seperti ayahmu, seperti ayah Lee Ing, seperti Han Sin. Akupun tidak mau ketinggalan, Bun-ko Mari kita percepat perjalanan agar kita dapat menggabung dengan kawan-kawan. Akan kubayangkan bahwa setiap orang musuh yang kurobohkan adalah kaki tangan Auwyang si jahanam!"
"Bagus, adikku sayang, bagus...."
Siok Bun memegang pundak kekasihnya dengan mesra.
"mari kita ganyang habis kaki tangan, manusia busuk Auwyang, dan hal itupun dapat diartikan sebagai pembalasan terhadap sakit hati saudara Han Sin dan Lee Ing. Lee Ing sudah meninggal dunia, kiranya bagi Han Sin tidak berapa lagi selisihnya antara mati dan hidup, malah menurut perasaanku, dia lebih senang kalau bisa pergi bersama Lee Ing...."
"Mengapa kau bisa bilang begitu?"
Tanya Siok Ho yang memandang heran.
"Mengapa tidak? Han Sin mencinta Lee Ing sepenuh jiwanya. Sekarang Lee Ing sudah tidak berada di dunia ini, apa artinya hidup bagi Han Sin?"
"Kasihan.... cinta kasihnya begitu murni...."
Kata Siok Ho dan dalam elahan napasnya terkandung isak terharu.
"Moi-moi,"
Siok Bun memegang lengan kekasihnya.
"Aku dapat merasakan apa yang terkandung dalam hati Han Sin. Andaikata aku berada dalam keadaannya, andaikata kau yang menjadi Lee Ing... kiraku... akupun akan menghadapi iblis-iblis itu dengan senyum di mulut, akan kuhadapi kematian dengan hati terbuka. Tentu saja jauh lebih senang mati menyusulmu dari pada hidup berpisah darimu...."
Siok Ho menjadi terharu dan untuk beberapa lama mereka saling pandang sambil berpegangan tangan, penuh cinta kasih yang mesra.
Tiba-tiba keduanya melepaskan pegangan dan cepat menyelinap ke belakang pohon-pohon ketika dari jauh terdengar suara derap kaki banyak kuda.
"Lebih baik kita berhati-hati dalain keadaan Seperti sekarang ini,"
Kata Siok Bun.
Tidak lama mereka menunggu.
Derap kaki kuda makin keras dan tak lama kemudian muncullah barisan berkuda terdiri dari seratus orang lebih.
Debu mengepul tinggi dan dari jauh saja sudah dapat dilihat bahwa mereka ini adalah barisan kerajaan yang berangkat ke utara untuk menghadapi serbuan musuh.
Melihat pakaian mereka dan bendera yang mereka pasang di depan, dapat dikenal bahwa mereka itu adalah pasukan kerajaan yang diperbantukan ke utara.
Beberapa orang panglima dengan baju perang yang gagah menunggang kuda di bagian depan dan di antara panglima ini nampak seorang pendek gemuk bundar yang segera dikenal oleh Siok Bun dan Siok Ho.
"Itu kaki tangan Auwyang Tek..."
Bisik Siok Bun.
Siok Ho mengangguk dan gadis ini sudah memegang pedangnya eraf-erat.
Menurut hatinya, ingin ia menyerbu dan merobohkan sebanyak mungkin musuh.
Akan tetapi Siok Bun yang dapat menduga getaran hati kekasihnya, memegang lengannya dan berbisik.
"Jumlah mereka banyak, selain Manimoko yang lihai itu masih ada beberapa orang panglima kerajaan yang tak boleh dipandang ringan. Lebih baik kita menyerang secara diam-diam dari sini.."
Setelah berkata demikian, Siok Bun mengeluarkan beberapa butir Ang-lian-ci (Biji Teratai Merah).
Pemuda ini sudah mewarisi kepandaian ibunya yang istimewa, yaitu menggunakan Ang lian-ci Sebagai senjata rahasia.
Melihat ini, Siok Ho juga mengambil beberapa butir batu kecil.
Dengan gerakan yang hampir berbareng, keduanya menimpuk ke depan.
Terdengar teriakan-teriakan mengaduh dan beberapa orang penunggang kuda yang berada di pinggir terjungkal.
Keadaan menjadi kacau.
Barisan berhenti dan para panglima sudah melompat turun dari kuda dan dengan lompatan-lompatan jauh mereka mencari penyerang tersembunyi yang sekaligus telah merobohkan enam orang anak buah barisan.
Akan tetapi, ketika mereka menjenguk ke belakang pohon-pohon di mana tadi ada dua orang muda bersembunyi, Siok Bun dan Siok Ho sudah pergi jauh dari tempat itu, pergi dengan hati puas menikmati hasil pertama dari perjuangan mereka.
Malam harinya, Siok Bun dan Siok Ho sudah tiba di dusun Kang-le-bun di tepi pantai Sungai Kuning.
Menurut kabar yang mereka dengar di sepanjang jalan, barisan-barisan dari Peking sudah mulai bergerak ke selatan dan peperangan-peperangan dahsyat terjadi di sebelah selatan Propinsi Shan-si dan Ho-pei, malah kabarnya ada barisan besar yang sedang menyerbu kota Tai-goan.
Kesibukan bala tentara selatan sudah terlihat ketika mereka tiba di Kang-le-bun.
Sebelum memasuki dusun yang sekaligus menjadi pusat penyeberangan Sungai Huang-ho, Siok Bun menyembunyikan senjatanya di balik baju dan berkata kepada kekasihnya.
"Jangan perlihatkan pedangmu kepada umum. Dalam keadaan begini lebih baik jangan menimbulkan kecurigaan musuh. Kita berada di daerah musuh dan sekali kita ketahuan, bisa celaka."
Siok Ho menurut dan menyembunyikan pedangnya di balik baju pula seperti yang dilakukan Siok Bun.
Akan tetapi, biarpun mereka sudah berlaku hati-hati sekali, tetap saja terjadi hal yang amat membahayakan keselamatan mereka.
Baru saja mereka memasuki dusun itu, dari belakang terdengar bentakan-bentakan menyuruh orang minggir dan dari selatan jalan mendatangi sepasukan berkuda terdiri dari ipipat puluh orang lebih, dikepalai oleh seorang panglima bermuka hitam bermata besar.
Tadinya, panglima ini yang menunggang kuda berbulu putih, hanya melirik sedikit ke arah Siok Ho dan Siok Bun, dan pasukannya sudah melewati dua orang muda itu.
Akan tetapi tiba-tiba terdengar aba-aba keras sekali dan pasukan itu berhenti.
Siok Bun dan kekasihnya yang tadinya sudah bernapas lega, menjadi kaget dan khawatir, akan tetapi mereka tetap tenang, pura-pura tidak tahu apa-apa dan berjalan terus.
"He, berhenti!"
Komandan pasukan bermuka hitam itu membentak sambil memutar kuda putih nya menghampiri dua orang muda itu.
Matanya yang besar itu berputaran, lalu memandang kepada Siok Ho secara kurang ajar, mulutnya menyeringai.
Komandan ini tadinya adalah seorang jagoan dari Shan-tung, pernah menjadi perampok akan tetapi akhir-akhir ini dapat menghambakan diri kepada seorang di antara para pembesar korup sehingga ia mencapai kedudukan lumayan, menjadi komandan pasukan!
Wataknya kasar, kejam dan sudah terkenal pengganggu wanita.
Namanya saja ia "berjuang"
Membela negara, akan tetapi di Sepanjang perjalanan anak buahnya menyaksikan perbuatan-perbuatannya yang kotor dan terkutuk.
Di mana saja terdapat gadis cantik, pasti diganggunya.
Penduduk dusun mana yang berani melawan, apa lagi melawan seorang komandan pasukan yang sedang "berjuang".
Siok Bun dan Siok Ho berdiri berdampingan menghadapi komandan muka hitam yang bernama Thio Sun itu.
"Ciangkun menghentikan kami ada apakah?"
Tanya Siok Bun sabar dan hormat, padahal hatinya mendongkol bukan main.
Tanpa menjawab pertanyaan ini, malah melirik sedikitpun tidak kepada Siok Bun, komandan muka hitam itu bertanya kepada Siok Ho dengan mulut tersenyum dan mata berseri penuh nafsu.
"Nona manis, kau hendak ke mana?"
"Hendak memasuki dusun Kang-le-bun Ini, lalu menyeberang..."
Jawab Siok Ho acuh tak acuh, menahan kemarahannya melihat pandang mata orang yang begitu kurang ajar.
"Hai, tak boleh menyeberang. Salah-salah kau bisa disangka mata-mata. Lebih baik hayo ikut ke pondokku, selain aman kaupun akan merasai kesenangan bersamaku!"
Terdengar beberapa orang anak buah pasukan itu tertawa.
"Ciangkun, aku sedang melakukan perjalanan dengan suamiku, harap jangan ganggu!"
Kata Siok Ho yang hampir tak dapat menahan kemarahannya.
Baiknya ia masih ingat bahwa dia dan Siok Bun berada di daerah musuh, maka untuk menyelamatkan diri terpaksa ia mengakui Siok Bun sebagai suaminya.
Muka Siok Bun menjadi merah mendengar ucapan ini, akan tetapi ia cepat-cepat menjura kepada Thio Sun sambil berkata.
"Harap tai-ciangkun suka maafkan kami suami isteri yang hendak melakukan perjalanan menyeberang sungai...."
Tadi mendengar bahwa nona manis itu adalah isteri pemuda itu, berkerut kening komandan itu dan jelas ia kelihatan kecewa.
Akan tetapi mana ia mau mengalah begitu saja?
"Kalian mau menyeberang?
Tentu mata-mata musuh!"
Bentaknya tegas.
"Harap ciangkun jangan salah sangka,"
Siok Bun cepat-cepat berkata.
"kami suami isteri hendak menyeberangi sungai di mana orang tua kami menjadi nelayan. Maksud kami hendak menyeberang ke selatan untuk mengungsi."
Ucapan Siok Bun lancar dan meyakinkan sehingga tidak ada alasan lagi bagi Thio Sun untuk bercuriga.
Akan tetapi dasar hidung belang tak tahu malu, la mendapat akal dan membentakkan perintah kepada anak buahnya.
"Geledah mereka!"
Sambil menyeringai beberapa orang serdadu melangkah maju, berebutan hendak menggeledah Siok Ho.
"Tunggu! Geledah anjing jantan ini, yang betina biar aku sendiri yang akan menggeledahnya!"
Bentak komandan itu pula sambil melompat menghampiri Siok Ho.
Pucatlah wajah Siok Ho saking marahnya.
Juga Siok Bun tidak melihat jalan keluar lagi.
Kalau sampai mereka menggeledah dan mendapatkan senjata-senjata yang tersembunyi di balik pakaian, tentu mereka berdua akan ditawan.
Apa lagi melihat komandan muka hitam itu mendekati Siok Ho dengan sikap kurang ajar sekali.
Namun Siok Bun masih kalah cepat oleh Siok Ho.
Gadis ini sudah tak dapat menahan kemarahannya lagi.
Begitu ia melihat komandan muka hitam itu bergerak maju dan tangannya hendak merabanya sambil menyeringai menjemukan, Siok Ho mengerahkan tenaga pada tangan kirinya, lalu menggerakkan tangannya itu dengan telapak tangan miring menghantam lambung Thio Sun si muka hitam dengan gerak tipu Tai-peng-tiam-cl (Garuda membuka Sayap).
Serangan ini bukan saja hebat sekali, juga tidak tersangka-sangka datangnya.
Thio Sun memekik mengerikan dan tubuhnya terjengkang ke belakang, la roboh dengan mata terbelalak, dari mulutnya mengalir darah segar, dan nyawanya putus tak lama kemudian!
Melihat ini, tahulah Siok Bun bahwa tidak ada Jalan mundur lagi.
Ia melihat berkelebatnya pedang yang sudah dicabut oleh Siok Ho, maka cepat ia menendang seorang serdadu yang terdekat sambil mencabut senjata kaitannya yang lihai.
Di lain saat ributlah tempat itu dan terjadi pertempuran kalang kabut.
Sebetulnya lebih merupakan amukan-amukan Siok Bun dan Siok Ho, sedangkan para serdadu menyusun pengepungan dengan cara yang simpang-siur karena mereka masih terkejut dengan terjadinya hal-hal yang berjalan cepat itu.
Banyak serdadu yang roboh bergelimpangan terkena sambaran pedang Siok Ho dan sin-kauw di tangan Siok Bun.
Dengan enaknya sepasang orang muda itu membabat dan merobohkan lawan.
Akan tetapi, sebentar saja tempat itu penuh dengan serdadu-serdadu musuh yang memburu keluar dari dusun itu dan tak lama kemudian Siok Bun dan Siok Ho sudah dikepung rapat sekali.
Kini bukan lagi serdadu-serdadu biasa yang mengeroyok, melainkan serdadu-serdadu pilihan dibantu beberapa orang komandan yang pandai ilmu Silat.
Bahkan di antara mereka kelihatan Manimoko ikut mengeroyok.
Siok Bun mulai kewalahan.
Dari pertemuan senjata, maklumlah ia bahwa para pengeroyoknya rata-rata memiliki kepandaian lumayan dan untuk melarikan diri dari kepungan yang rapat itu betul-betul sulit.
Enam orang pengeroyoknya membuat ia terpaksa berpisah dari Siok Ho sehingga ia tidak tahu lagi nasib apa yang menimpa kekasihnya itu.
Karena khawatir tentang diri Siok Ho, pemuda ini memutar sin-kauw di tangannya dan mengamuk hebat.
Dengan pukulan-pugulan dari ilmu silat warisan ayahnya, Pek-kong-sin-kaw-hoat, ia merobohkan dua orang komandan lagi.
Akan tetapi pada saat senjatanya menahan datangnya tusukan tombak dan babatan golok, tiba-tiba ia diringkus orang dari belakang dan di lain saat ia tak dapat bergerak lagi dalam ringkusan yang amat kuat itu.
Dua buah lengan yang kuat dan lemas bagaikan belitan-belitan ular menerkamnya.
Ternyata ia telah kena diringkus oleh Manimoko dengan ilmu gulat.
Senjatanya dirampas dan tubuhnya diikat.
Siok Bun tertawan, tak berdaya sama sekali.
Biarpun diri sendiri tertawan, namun Siok Bun lebih mengkhawatirkan keadaan Siok Ho.
Dia tidak perduli akan nasib sendiri dan biarpun agak sukar, ia menoleh ke kenan kiri mencari-cari di mana adanya Siok Ho, hatinya amat gelisah karena tidak melihat Siok Ho lagi, Tentu gadis itu sudah tertawan pula, pikirnya dengan gelisah.
"Bunuh, saja mata-mata pemberontak tnil"
Terdengar seruan para komandan. Siok Bun menghadapi ancaman ini dengan tabah. Memang ia tidak mengharapkan hidup lagi setelah tertawan.
"Jangan! Dia orang Tiong-gi-pai, malah putera Pek-kong Sin-kauw Siok Beng Hui. Orang penting lebih baik ditawan, pahala kita lebih besar!"
Kata seorang dengan suara asing.
Inilah suara Manimoko yang tentu saja ingin berjasa terhadap Auwyang-taijin yang tentu akan girang sekali melihat musuh besar tertawan.
Semua orang menyetujui ucapan orang Jepang ini, maka Siok Bun lalu diseret orang dan dilempar ke dalam sebuah kamar tahanan.
Pemuda ini makin gelisah karena tidak melihat adanya Siok Ho dan ia hanya bisa mengharapkan bahwa kekasihnya itu dapat melarikan diri.
Memang harapannya itu tidak sia-sia.
Ketika Siok Ho melihat datangnya bala bantuan musuh yang makin lama makin kuat, gadis yang cerdik ini maklum bahwa ia dan Siok Bun takkan dapat melawan lebih lama lagi.
Ia hendak mengajak kekasihnya melarikan diri, akan tetapi terlambat karena ia sudah terpaksa berpisah dari Siok Bun dan ia sendiri harus mencurahkan perhatiannya untuk melayani keroyokan para panglima musuh yang kuat-kuat.
Untung baginya, Manimoko tidak mengenalnya maka panglima-panglima musuh yang terpandai disuruh mengeroyok Siok Bun, sedangkan gadis ini sendiri yang dipandang ringan, dikeroyok oleh perwira-perwira rendahan.
Hal ini merupakan nasib baik bagi Siok Ho.
dengan permainan pedangnya yang hebat ditambah lagi dengan pukulan-pukulan Ang-sin-jiu tangan kirinya, ia berhasil merobohkan banyak pengeroyok, kemudian ia membuka jalan darah dan sempat melarikan diri.
Ia tadi melihat sekelebatan betapa Siok Bun ditawan musuh.
Hatinya khawatir dan sedih tercampur gelisah sekali, akan tetapi sebagal seorang cerdik, ia tidak mau menurutkan perasaan marah, tidak menyerbu secara nekat karena hal itu berarti membunuh diri belaka, la lebih baik melarikan diri, karena kalau dia selamat, masih banyak jalan untuk berdaya upaya menolong Siok Bun.
Kalau dia nekat menyerbu, tentu ia akan roboh atau tertawan pula.
Celakalah kalau mereka keduanya tertawan, siapa yang akan menolong?
Selagi Siok Ho mencari jalan bagajmana ia dapat menolong kekasihnya, Siok Bun dimasukkan kamar tahanan dalam keadaan terbelenggu kaki tangannya.
Kamar itu gelap sekali dan mula-mula Siok Bun tidak bisa melihat keadaan di sekitarnya.
Kemudian matanya menjadi biasa dan melihat bahwa kamar itu keadaannya remang-remang karena mendapat penerangan yang menerobos dari lubang kecil di atas pintu besi lubang hawa yang mencegah tawanan mati kehabisan napas.
Setelah ia memeriksa, ternyata selain dia, masih ada satu orang lain lagi di dalam kamar itu.
Orang itu kurus, kering dan meringkuk di sudut kamar seperti sudah mati.
Ketika Siok Bun memperhatikan pakaiannya, ia terkejut dan heran sekali karena orang itu berpakaian seperti seorang Panglima Kerajaan Beng, seperti yang dipakai oleh Auwyang Tek dan kaki tangannya.
Mengapa seorang perwira Beng-tiauw bisa meringkuk di dalam tahanan bersama dia?
Siok Bun mengira bahwa orang itu tentu telah mati dan hatinya merasa tidak enak sekali.
Dia boleh disiksa, boleh dibunuh, akan tetapi kalau dia diharuskan tinggal sekamar dengan sebuah mayat, benar-benar pihak musuh sudah keterlaluan sekali, sudah melanggar batas-batas kesusilaan dan perikemanusiaan.
Tiba-tiba "mayat'* itu terbatuk-batuk, begitu hebat ia batuk-batuk disusul keluhan-keluhan mengenaskan sehingga hati Siok Bun menjadi terharu dan amat kasihan karenanya.
Hanya seorang dengan watak budiman seperti Siok Bun saja yang masih dapat menaruh perasaan kasihan kepada orang lain sedangkan diri sendiri berada dalam keadaan seperti itu.
Karena kaki tangannya terikat kencang, Siok Bun menggelindingkan tubuhnya mendekati orang kurus kering itu, lalu bertanya.
"Sahabat, apakah kau sakit?"
Orang itu yang tadinya menyembunyikan muka di antara lututnya yang diangkat tinggi, kini mengangkat mukanya dan ternyata ia tidak dibelenggu seperti Siok Bun.
Agaknya ia terkejut karena tidak mengira di situ terdapat orang lain.
Ia merasa sudah mati atau hampir mati, maka pertanyaan yang keluar dari mulut orang lain mengagetkannya.
"Mereka menyiksaku.... menguburku hidup-hidup di sini.... mereka itu betul-betul keji dah jahat...!"
Akhirnya ia dapat berkata dan terbatuk-batuk lagi. Dari suara batuk ini saja Siok Bun dapat menaksir bahwa orang Itu memang takkan hidup lebih lama lagi.
"Mereka merampok harta rakyat dan negara, sesuka hati, menjadi penghianat, mengungsikan harta benda selagi negara terancam musuh. Aku yang mengambil sebuah mainan burung hong saja mereka siksa sampai begini..."
"Mereka siapa dan kau siapakah?"
Dalam keadaan biasa kiranya Siok Bun takkan sudi bercakap-cakap dengan seorang bekas perwira musuh yang agaknya telah mencuri dan dihukum.
Akan tetapi dalam keadaan seperti itu, seorang manusia lain, siapapun juga dia, menjadi kawan sependeritaan yang menarik hati.
"Siapa lagi kalau bukan Auwyang-taijin...."
Kemudian dengan suara perlahan diseling batuk-batuk yang makin menghebat, orang itu menuturkan keadaan dirinya.
Agaknya penuturan ini merupakah hiburan dan pesan terakhir baginya.
Ternyata bahwa orang ini bernama Giam Hoat, seorang perwira menengah yang menjadi kaki tangan Auwyang-taijin.
Ketika Auwyang-taijin mulai mengungsikan harta bendanya ke dusun Ki-chun, di antara orang-orang kepercayaan yang mengangkut harta benda di bawah pengawasan Tok-ong Kai Song Cinjin, perwira Giam Hoat inipun diikutsertakan.
Melihat harta benda yang amat banyak itu, timbul hati buruk dalam pikiran Giam Hoat.
la berhasil mencuri sebuah mainan burung hong terbuat dari pada emas bertahtakan intan, tak ternilai harganya.
Akan tetapi mana ia dapat terlepas dari pandang mata Tok-ong yang amat tajam?
la ditangkap dan menurut keputusan Auwyang-taijin yang tidak mau ramai-ramai dan membuka rahasia sendiri, ia lalu dikirim ke garis depan di bawah pengawasan Manimoko!
Tentu saja ini hanya alasan untuk dapat melenyapkannya, selain untuk menghukumnya juga untuk mencegah ia membuka mulut tentang harta benda yang diungsikan.
Demikianlah, setibanya di dusun Kang-le-bun, Manimoko yang membaca surat Auwyang-taijin lalu menangkapnya, menyiksanya dan memasukkannya dalam kamar tahanan yang merupakan kamar maut atau kuburan untuk orang hidup itu.
Keadaannya sudah hampir dilupakan orang dan dia sudah dianggap mati, maka Siok Bun juga dimasukkan ke situ karena orang menganggap tidak mungkin pemuda ini melarikan diri dari tempat tahanan yang kokoh kuat ini.
Mendengarkan penuturan Giam Hoat, Siok Bun menjadi gemas sekali.
Makin kelihatan olehnya macam apa adanya orang yang bernama Auwyang Peng dan anak buahnya.
Diam-diam ia girang juga karena dari mulut Giam Hoat, ia mengetahui ke mana Auwyang Peng hendak bersembunyi apabila perang sudah selesai dan kerajaan yang dibantunya sudah tumbang.
Biarpun keadaannya nampak seperti sudah tidak ada harapan lagi, namun Siok Bun pantang menyerah kepada nasib.
Baginya, nasib bukan urusannya, yang penting manusia hidup harus berdaya selama masih bernafas, la mulai mencari-cari dan akhirnya mendapatkan kokot pintu besi di sebelah dalam.
Lumayan, pikirnya, dan mulailah pemuda yang cerdik ini dengan amat telaten menggosok gosokkan belenggunya pada kokot pintu besi itu Memang bukan pekerjaan yang mudah, namun berkat kesabarannya, tenaganya dan semangatnya, menjelang malam ia sudah berhasil mematahkan belenggu tangannya Tinggal belenggu kakinya!
Akan tetapi, menjelang tengah malam Giam Hoat mengerang-erang, meronta-ronta dan menghembuskan nafas terakhir di dekat Siok Bun?
Pemuda ini merasa makin tidak enak.
Dia tidak berani menggedor pintu memberi tahu penjaga sebelum belenggunya patah semua.
Akan tetapi kalau para penjaga hendak mengambil mayat Giam Hoat dan melihat belenggunya terlepas, apakah ia takkan dikeroyok lagi?
Pemuda ini mengasah otaknya sambil tidak berhenti menggosok belenggu kakinya pada kokot sampai terasa panas kulit kakinya.
Belenggu kakinya lebih kuat dan besar dari pada belenggu tangannya.
Ia harus menggunakan waktu sehari semalam untuk menggosok itu.
Terpaksa ia menguatkan diri berada di kamar dengan mayat Giam Hoat selama itu, tanpa makan tanpa tidur terus bekerja menggosok-gosok belenggu pada kokot besi.
Akhirnya ia berhasil Belenggu kakinya patah pula.
Siok Bun yang sudah membuat siasat cepat-cepat membuka pakaiannya, juga menanggalkan pakaian Giam Hoat dan dengan tangan-tanpa gemetar saking tegangnya, ia bertukar pakaian dengan mayat itu.
Ia kini berpakaian seperti seorang perwira Beng, dan pakaiannya sendiri sudah dipakaikan pada tubuh mayat itu.
Juga belenggu tangan kakinya sudah ia rantaikan pada kaki tangan mayat itu yang ia dudukkan bersandar di sudut kamar yang paling jauh, seperti orang yang mengantuk atau kelelahan.
Ia sendiri lalu menggunakan debu di kamar itu dicampur ludahnya sendiri untuk mencoreng-moreng mukanya, kemudian ia merebahkan diri dan semalam itu ia tidur dengan enaknya.
Hal ini perlu sekali karena ia harus rnengumpulkan tenaga.
Pada keesokan harinya, ketika sinar matahari pagi sudah menembusi lubang hawa yang kecil itu.
Siok Bun berteriak teriak dari dalam kamar itu.
"Penjaga......! Bawa pergi dia ini.... dia sudah mati....!"
Seperti orang gila Siok Bun berteriak-teriak, membuat suaranya terdengar seperti orang ketakutan.
Tak lama kemudian sebuah muka menjenguk dari luar lubang itu, membuat kamar itu menjadi gelap karena jalan sinar satu-satunya tertutup oleh kepala itu.
"Ada apa kau menjerit-jerit?"
Bentak penjaga itu.
"Perwira ini sudah mati, apa kau tidak lihat? Bawa pergi mayatnya dari sini!"
Teriak Siok Bun ketakutan. Kepala perwira itu bergerak sedikit ke samping untuk memberi jalan kepada sinar matahari memasuki kamar tahanan itu. Ia mengintai dan melihat "mayat"
Perwira Giam Hoat itu membujur tertelungkup di atas lantai di tengah ruangan sedangkan tawanan baru itu duduk di sudut ketakutan.
"Ha-ha, orang Tiong-gi-pai, kalau dia sudah mampus biar menjadi kawanmu di situ sampai membusuk!"
Penjaga itu mengejek.
"Manusia busuk, tidak lekas-lekas memberi laporan kepada Panglima Manimoko? Awas, arwah mayat ini yang menjadi setan akan mencekik lehermu lebih dulu!"
Kata Siok Hun dengan hati-hati agar jangan terlihat orang itu bahwa bukan tubuh yang duduk di pojok itu yang bicara, melainkan "mayat"
Yang membujur di bawah.
Muka si penjaga itu menjadi pucat dan cepat-cepat ia pergi dari situ.
Tak lama kemudian muncul kepala yang bundar, kepala Manimoko.
Dialah yang berkuasa atas dua orang tawanan itu, karena dia adalah panglima yang dikirim ke garis depan Oleh Auwyang-taijin.
Manimoko tidak menghendaki Siok Bun mati di situ, hendak ia tunggu dulu keputusan Auwyang-taijin karena ia sudah menyuruh seorang utusan memberi laporan ke kota raja.
Sebelum keputusan Auwyang-taijin datang dan pahalanya dicatat, ia tidak mau membunuh Siok Bun.
Kini melihat bahwa Giam Hoat sudah mati, ia cepat memberi perintah supaya "bangkai anjing"
Itu dibuang saja ke sungai Huang-ho supaya dimakan setan sungai! "Dan beri makan kepada bocah she Siok itu supaya ia tidak mati kelaparan sebelum keputusan tiba dari selatan!"
Pesannya sambil meninggalkan tempat itu.
Tadi melalui lubang kecil ia sudah melihat betapa belenggu masih mengikat kaki dan lengan Siok Bun, maka ia tidak menaruh curiga dan tidak khawatir kalau-kalau pemuda itu terlepas selagi orang-orangnya mengangkat pergi mayat Giam Hoat.
Mayat itu sudah agak berbau.
Bau apak dan memuakkan keluar dari kamar tahanan, maka Manimoko tidak mau menanti sampai orang mengangkut mayat itu, demikian pula panglima-panglima lain tidak mau.
Bahkan empat orang serdadu yang menerima tugas ini, melakukannya sambil mengomel panjang pendek.
Hal ini tentu saja menguntungkan Siok Bun.
Kalau yang datang hanya empat orang serdadu biasa, mudah baginya untuk main sandiwara.
Akan sebaliknyalah kalau yang masuk itu panglima-panglima yang tinggi kepandaiannya.
Kalau demikian halnya, tentu ia akan berlaku nekat, memberontak dan mencoba melarikan diri.
Ketika melihat pintu dibuka dan yang masuk adalah empat orang serdadu penjaga, cepat Siok Bun menahan napas dan dengan Iweekangnya ia membuat tubuhnya kaku dan dingin, persis sebuah mayat yang sudah mati agak lama.
Para penjaga itu kelihatan jijik meraba kulit yang dingin itu.
Dengan kasar mereka menyeret kaki "mayat"
Itu, mengangkatnya ke atas sebuah alat pengangkut, lalu mengangkatnya keluar.
Sehelai tikar butut dipergunakan untuk menutupi muka mayat yang kotor itu.
Seorang penjaga lain melemparkan makanan dan sepoci minuman secara kasar kepada "Siok Bun"
Yang duduk menyandar di sudut kamar.
"Makanlah kalau kau tidak mau lekas-lekas mampus seperti mayat ini!"
Bentak penjaga itu mengejek, lalu menutup pintu kamar tahanan keras-keras. Sementara itu.
"mayat"
Yang sebetulnya adalah Siok Bun, telah diangkat cepat-cepat keluar dari kampung itu menuju ke tepi Sungai Huang-ho.
"Sialan benar, suruh mengangkut bangkai yang sudah bau, seorang di antara empat serdadu itu mengomel.
"Dasar perwira! Di masa hidupnya sudah banyak menyusahkan anak buah, memaki dan memukul, sekarang sudah mampus masih banyak tingkah. Menjemukan benar!"
"Kenapa kita harus berpayah-payah membawanya ke sungai? Jalanan ini sunyi, kita lempar saja bangkai anjing ini di pinggir jalan, lalu memaksa penduduk dan nelayan untuk mengangkatnya, bukankah lebih baik?"
Kata serdadu ke dua.
"Betul usul itu, mari lempar sajal"
Serentak empat orang serdadu itu melemparkan pikulan terisi mayat itu ke bawah.
Akan tetapi, alangkah kaget hati mereka sampai-sampai semangat mereka serasa terbang meninggalkan badan ketika mendadak "mayat"
Itu melompat dan jatuh dalam keadaan berdiri tegak menghadapi mereka dengan muka coreng moreng dan mata memandang seperti api bernyala nyala!
Orang tabah sekalipun akan bergidik ketakutan menghadapi hal yang hebat menyeramkan ini, apa lagi serdadu-serdadu yang pengecut itu.
Setelah terbelalak sampai sekian lamanya, baru mereka lari jatuh bangun, menjauhkan diri dari "mayat hidup"
Itu.
Akan tetapi, mana Siok Bun mau membiarkan mereka lari?
Pemuda ini melompat dan beberapa kali tangannya bergerak, empat orang serdadu itu roboh mampus setelah mengeluarkan pekik mengerikan.
Siok Bun membunuh mereka dengan maksud supaya siasatnya yang berhasil baik itu jangan terlalu cepat diketahui oleh musuh di dusun Kang-le bun.
Akan tetapi ia tidak memperhitungkan bahwa munculnya itu terlalu mengerikan sehingga serdadu-serdadu itu menjerit.
Hal ini cukup menarik perhatian para penjaga yang cepat memburu ke tempat itu.
Siok Bun sudah merampas sebatang pedang dan untuk melampiaskan kemarahannya, ia mengamuk hebat, merobohkan banyak orang serdadu musuh.
Akan tetapi ia terlalu banyak membuang tenaga, juga ia sudah lelah sekali karena dua hari menggosok-gosok belenggu dan tidak makan.
Apa lagi pada saat itu, beberapa orang panglima sudah datang menunggang kuda dan di antara mereka nampak Manimoko.
Semua orang tadinya terheran dan ngeri melihat Siok Bun, akan tetapi Manimoko mengenal pemuda itu dan tahu apa yang terjadi di dalam kamar tahanan.
"Dia bukan siluman. Dia pemuda she Siok itu. Tangkap! Bunuh!!"
Serunya sambil melompat turun dari kuda untuk ikut mengeroyok Siok Bun.
Siok Bun terdesak hebat.
Untuk melarikan diri sudah tidak mungkin lagi.
Baiknya selagi ia kepayahan, tiba-tiba terdengar bersiutnya puluhan batang anak panah yang merobohkan para serdadu dan disusul bentakan nyaring.
"Bun-ko, jangan takut, aku datang membantumu!"
Hampir saja Siok Bun tidak percaya akan pendengarannya sendiri.
Itulah suara Siok Ho.
Ketika ia menengok, benar saja.
Kekasihnya yang tercinta itu, dengan pakaian seperti seorang pemuda, Seperti dulu lagi, pemuda yang tampan sekali, memimpin serombongan nelayan terdiri dari belasan orang menyerbu dengan gagah beraninya.
Dari mana Siok Ho dapat mengumpulkan para nelayan yang gagah itu?
Seperti diketahui, Siok Ho berhasil melarikan diri.
Gadis ini gelisah sekali, akan tetapi ia bukanlah gadis sembarangan yang kerjanya hanya menangis apabila menghadapi bencana yang menimpanya.
Biarpun ia gelisah memikirkan nasib Siok Bun, akan tetapi ia tidak berhenti dalam kegelisahan belaka, melainkan mencari daya upaya untuk menolong kekasihnya.
Ia melarikan diri di sepanjang Sungai Huang-ho sampai ia tiba di sebuah dusun yang letaknya di barat dusun Kang-le-bun.
Beberapa orang nelayan yang melihat seorang gadis cantik berlari-larian, segera memapaki dan seorang di antara mereka yang sudah setengah tua, berkata dengan suara keren.
"Nona, kenapa kau berlari-larian seperti orang takut? Apakah ada anjing kerajaan selatan yang berlaku kurang ajar padamu? Jangan takut, kau sembunyilah ke dalam rumah kami, biar kami yang menghadapi mereka!"
Mendengar ucapan ini, Siok Ho terkejut, heran dan kagum.
Terkejut dan heran karena tidak mengira di tempat seperti itu terdapat nelayan-nelayan yang gagah, yang ikut pula merasakan penindasan kaum durna di kerajaan selatan dan karenanya ikut memberontak dalam batin.
Kebetulan sekali, pikirnya dengan perasaan kagum terhadap orang-orang dusun yang bodoh namun perkasa itu.
"Cuwi-enghiong, harap diketahui bahwa aku adaiah Ang-sin-jiu Oei Siok Ho, murid Kun-Iun-pai yang menjadi musuh besar kaum durna dan kaki tangannya di selatan. Aku adalah pendukung Tiong-gi-pai..."
Baru bicara sampai di sini saja para nelayan sudah merubungnya dan dari sana-sini orang memberi hormat. Makin besarlah hati Siok Ho.
"Kawan-kawan, kalau begitu kebetulan sekali kedatanganku ini. Agaknya Thian yang menuntunku ke sini. Dengarlah, baru saja aku melarikan diri dari kepungan anjing-anjing penindas kerajaan selatan. Seorang kawanku, tokoh Tiong-gi-pai, putera Pek-kong Sin kauw Siok Beng Hui, telah tertawan musuh. Kami berdua tadinya hendak menyeberang ke utara, hendak menggabungkan diri dengan bala tentara dari utara. Oleh karena itu, tolonglah kawan-kawan, mari ikut aku menyerbu dan berusaha menolong sahabatku itu.!"
Orang-orang Itu terkejut.
Memang, tak dapat disangkal pula bahwa mereka semua berfihak kepada bala tentara utara dan diam-diam sudah siap untuk kelak menggabungkan diri apa bila bala tentara Utara sudah menyeberang.
Sekarangpun mereka bersiap mengganggu musuh dengan cara bersembunyi.
Akan tetapi menyerbu terang-terangan?
"Lihiap, kita belasan orang ini mana mampu menyerbu Kang-le-bun yang terjaga kuat?
Kita hanya mengandalkan keberanian dan semangat, akan tetapi untuk menyerbu ke sana dibutuhkan tenaga orang-orang pandai.
Kami hanya akan mengantarkan nyawa sia-sia dan tak mungkin dapat menolong sahabatmu itu,"
Kata seorang nelayan tua.
"Pula, kita harus mendapat pimpinan seorang yang berilmu tinggi, baru dapat bergerak leluasa."
Kata seorang nelayan muda yang tentu saja memandang rendah kepada Siok Ho. Siok Ho maklum akan isi hati semua nelayan. Kalau tidak diberi hati, tentu saja mereka ini jerih.
"Kawan-kawan, aku bukannya hendak menyombongkan kepandaian, akan tetapi aku pernah belajar ilmu. Kalian ikut hanya untuk mengacaukan pertahanan dan mengalihkan perhatian musuh saja, akulah yang akan bertindak dan turun tangan menolong sahabatku. Harap kawan-kawan percaya dan boleh melihat buktinya! Coba lihat pohon itu. Cukup tinggi, bukan? Pedangku akan mampu membabat ujungnya sampai gundul. Lihat baik-baik"
Setelah berkata demikian.
Siok Ho menggunakan ginkangnya melompat tinggi, menangkap cabang pohon dan mengayun tubuhnya ke tempat yang lebih tinggi lagi.
Gerakannya demikian cepat dan ringannya sehingga sebentar saja ia sudah tiba di puncak pohon, pedangnya digerakkan membabat dan rontoklah ranting-ranting dan daun-daun pohon itu.
Dari bawah para nelayan menonton dengan mulut melongo.
Mereka hanya melihat berkelebatnya bayangan nona itu dan kemudian bagaikan seekor kupu-kupu besar nona itu beterbangan mengitari pohon dan....
sebentar saja pohon itu telah menjadi gundul puncaknya!
Sebelum mereka sempat mengikuti gerakan-gerakan Siok Ho, mereka melihat bayangan tubuh melayang turun dan tahu-tahu nona itu telah berdiri pula di depan mereka.
Bersoraklah para nelayan.
Bangkit semangat mereka menyaksikan kepandaian nona itu.
Serentak mereka menyatakan hendak ikut di bawah pimpinan nona yang kosen ini.
Demikianlah, Siok Ho lalu bertukar pakaian pria dan memimpin orang-orang itu.
Dia tidak mau berlaku sembrono, tidak mau turun tangan secara membuta dan mengorbankan jiwa para nelayan yang tidak berdosa.
Ia hendak menyerbu pada malam hari, melakukan perang gerilya.
Sudah ia rencanakan untuk menyuruh para nelayan menghujankan panah api Untuk membakar perkampungan pasukan selatan itu dan di dalam kepanikan itulah ia hendak bergerak.
Ia masih selalu menanti kesempatan baik dan ia bersama para nelayan bersembunyi di tepi sungai, menyamar sebagai nelayan-nelayan biasa yang mencari ikan.
Siapa sangka, terjadilah keanehan ketika seorang nelayan melaporkan kepadanya bahwa tak jauh dari pantai terdapat seorang laki-laki aneh yang dikeroyok hebat.
Siok Ho cepat membawa kawan-kawannya ke tempat itu dan telah dituturkan di bagian depan, orang aneh yang dikeroyok itu bukan lain adalah Siok Bun!
Tentu saja Siok Ho tadinya terheran-heran melihat Siok Bun berpakaian perwira Kerajaan Beng dan mukanya coreng moreng tidak karuan.
Akan tetapi, tanpa ragu-ragu lagi ia lalu menyerbu dan menyuruh kawan-kawannya melepaskan anak panah.
"Bun-ko, mundur dan lari.....!"
Siok Ho berseru ketika melihat fihak lawan terlampau kuat.
Juga ia memberi tanda supaya kawan-kawannya lari lebih dulu.
Hebat sekali sepak terjang para nelayan itu.
Biarpun mereka ini terdiri dari orang-orang kasar sederhana, namun mereka bertempur dengan nekat.
Dengan ragu-ragu dan kurang puas mereka mentaati isyarat Siok Ho supaya mundur dan melarikan diri.
Karena inilah maka di antara enam belas orang nelayan gagah perkasa itu yang hidup tinggal tujuh orang lagi, inipun luka-luka, sedangkan yang sembilan orang gugur dengan senjata di tangan!
Siok Bun dan Siok Ho berbasil melarikan diri, dibawa oleh tujuh orang nelayan yang sudah hafal akan daerah itu, pergi bersembunyi di dalam gua-gua rahasia di tepi sungai.
Di sini Siok Bun dan Siok Ho menghaturkan terima kasih kepada mereka, juga penyesalan karena mereka sampai roboh sembilan orang sebagai korban.
Akan tetapi para nelayan Itu menyatakan kegembiraan mereka bahwa mereka sudah mendapat kesempatan bertempur di bawah pimpinan orang-orang pandai.
Tiga hari tiga malam Siok Bun dan Siok Ho bersembunyi di gua-gua itu.
Siok Ho merawat dan mengobati mereka yang terluka dengan penuh perhatian.
la anggap mereka ini kawan-kawan baiknya sendiri dan memberi julukan Huang-ho Chit-tuap (Tujuh Pendekar Huang-ho) kepada tujuh orang nelayan yang masih hidup itu.
Selama tiga hari itu, baik Siok Bun maupun Siok Ho dengan segala senang hati memberi petunjuk-petunjuk ilmu silat, bahkan membuat gambaran-gambaran tentang pelajaran ilmu silat yang ditinggalkan kepada mereka.
Pada malam hari ke empat, dengan bantuan para nelayan, Siok Bun dan Siok Ho menyeberangi Sungai Huang-ho.
Penyeberangan dilakukan dengan selamat, dan menjelang fajar mereka mencapai tepi sungai sebelah utara.
Akan tetapi, begitu mereka mendarat, tahu-tahu mereka sudah dikepung pasukan musuh yang dikepalai oleh Manimoko sendiri!
Memang pasukan-pasukan Beng tidak berhasil mencari mereka, akan tetapi Manimoko tidak bodoh, la maklum bahwa kalau hendak lari sudah tentu sekali Siok Bun lari menyeberang ke utara di mana terdapat kawan-kawannya.
Oleh karena itu, ia lalu mendahului menyeberang dan setiap saat memasang penjagaan di tepi sungai sebelah utara untuk mengamat-amati gerak-gerik penyeberangan dua orang yang berhasil meloloskan diri itu.
Dugaannya tepat dan pada malam ke empat dua orang buronan itu betul saja menyeberang sehingga dapat disergap pada fajar hari itu.
"Ha-ha-ha, kalian bocah-bocah nakal hendak lari ke manakah?"
Tegur Manimoko sambil tertawa-tawa mengejek.
Siok Bun dan Siok Ho sambil bergandeng tangan berdiri tegak.
Tidak ada jalan lari bagi mereka.
Di belakang sungai, di depan dan kanan kiri sudah terkepung musuh yang siap sedia mengeroyok.
Dilihat dari sikap mereka yang mengepung, tahulah Siok Bun bahwa Manimoko sengaja mempergunakan pasukan pilihan terdiri dari Ahli-ahli silat yang lumayan.
"Tidak ada jalan lain, buka jalan darah!"
Bisiknya kepada Sok Ho. Gadis itu tentu saja tidak menjadi gentar.
"Kita hidup berdua mati bersama,"
Bisiknya kembali sambil menekan tangan Siok Bun.
Bisikan ini membangkitkan semangat Siok Bun dan cepat pemuda ini mencabut sebatang pedang rampasan.
Sayang, senjata kaitannya telah terampas sehingga terpaksa ia menggunakan pedang.
Juga Siok Ho Sudah melolos keluar pedangnya.
Dengan berdiri berdampingan dua orang muda ini siap-siap menghadapi keroyokan.
"Serbu...! Jangan kasih ampun, bunuh mereka!"
Bentak Manimoko yang sudah marah sekali.
Kini ia hendak membunuh saja dua orang itu, tak perlu membawa Siok Bun hidup-hidup, membawa kepalanya saja ke kota raja sudah cukup baik untuk mencari pahala.
Serbuan itu terjadi bagaikan gelombang Sungai Huang-ho sendiri.
Dari kanan kiri gemerlapan tombak, pedang dan golok menghujani dua orang muda itu.
Namun Siok Bun dan Siok Ho bukanlah makanan empuk.
Sekali mereka memutar pedang, semua serangan itu dapat disampok pergi dan pembalasan mereka sekaligus sudah merobohkan empat orang lawan dalam keadaan mandi darah!
Akan tetapi hal ini tidak membuat para pengeroyok menjadi jerih.
Mereka ini memang pasukan pilihan yang tidak takut mati.
Sambil memekik-mekik mereka menyerbu lagi di bawah pimpinan Manimoko yang kali ini juga mempergunakan sebatang pedang Jepang yang panjang, dipergunakan dengan kedua tangan seperti orang membacok babi.
Tenaganya besar sekali akan tetapi gerakannya sama sekali tak boleh dibilang gesit sehingga serangan-serangan Manimoko selalu mengenai angin kosong.
Betapapun juga, pengeroyokan sekian banyak orang itu membuat Siok Bun dan Siok Ho lambat laun menjadi lelah juga.
Apa lagi karena Siok Bun tidak menggunakan senjatanya yang biasa, yaitu sin-kauw.
Biarpun ia pernah mempelajari ilmu pedang dari ibunya, Ang-lian-ci Tan Sam Nio, namun keistimewaan pemuda ini adalah ilmu senjata kaitan warisan ayahnya.
Gerakan-gerakannya canggung dan biarpun ia sudah merobohkan banyak orang, sejam kemudian pundaknya terluka oleh tusukan tombak seorang pengeroyok.
Siok Ho kaget sekali melihat ini, pedangnya berkelebat dan penyerang yang melukai pundak Siok Bun itu menjerit roboh terkena pedang gadis itu.
"Apa lukamu berat, Bun-ko?"
Tanya gadis Itu yang sekelebatan melihat darah merah membasahi baju pemuda itu. Sambil menangkis golok dan tombak sekaligus, Siok Bun tertawa.
"Tidak apa-apa, mari kita bertahan terus sampai titik darah terakhir!"
Benar-benar hebat dua orang muda itu.
Mereka dikeroyok oleh puluhan orang musuh, malah Siok Bun sudah terluka dan Siok Ho sudah lelah sekali.
Akan tetapi tidak sedikitpun mereka gentar.
Akibat amukan mereka hebat sekali, sudah belasan orang lawan dibinasakan!
Tiba-tiba keadaan para pengeroyok menjadi kacau-balau.
Banyak yang roboh dan sebagian besar pula mundur ketakutan.
Yang roboh seperti diterjang seekor gajah mengamuk karena kelihatan beberapa orang perwira terlempar ke sana ke mari, malah Manimoko sendiripun tahu-tahu terlempar di dekat kaki Siok Bun yang cepat mengayun kaki dan tewaslah Manimoko oleh tendangan Siok Bun.
Ketika dua orang muda itu memandang, ternyata seorang-gadis cantik dengan kedua tangan kosong sedang mengamuk hebat sekali sambil memaki-maki.
"Anjing-anjing hina-dina, rasakan pembalasan nonamu!"
Baiknya para pengeroyok Siok Bun dan Siok Ho sudah mengundurkan diri karena gentar menghadapi amukan orang yang baru datang, kalau tidak tentu kedua orang muda ini bisa celaka.
Siok Bun dan Siok Ho ketika melihat orang yang datang mengamuk itu, menjadi pucat sekali dan berdiri bagaikan patung di tempatnya sehingga kalau ada musuh menyerang tentu akan celaka.
Mereka berdiri bengong memandang orang yang mengamuk itu seperti otang melihat setan di tengah hari!
"Lee Ing....!"
Akhirnya Siok Ho dapat mengeluarkan suara dari bibirnya yang pucat, sedangkan Siok Bun masih saja belum dapat bersuara.
Siapa orangnya yang tak akan menjadi kaget dan bingung seperti mereka kalau melihat orang yang tadinya sudah mati kini tiba-tiba muncul di depan mereka?
(Lanjut ke
Jilid 28) Pusaka Gua Siluman (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 28 Lee Ing mengerling ke arah mereka, wajahnya merah sekali ketika pandang matanya bertemu dengan Siok Ho yang masih berpakaian pria.
Ia menggerakkan tangan kanannya dan robohlah seorang perwira musuh yang berdiri jauh, paling sedikit empat meter dari padanya.
"Tidak lekas pergi mau tunggu apa lagi?"
Kata gadis itu yang memang Lee Ing adanya. Kemudian Lee Ing mendahului melompat jauh dan berkelebat menghilang. Siok Bun dan Siok Ho cepat melompat dan lari mengejar.
"Adik Lee Ing, tunggu.....!"
Siok Ho berseru dan di dalatn suaranya terkandung isak tangis.
Memang ia menjadi terharu bercampur heran dan girang melihat munculnya gadis yang tadinya sudah dianggap mati itu.
Mereka berdua terus mengejar sambil mengerahkan seluruh tenaga ginkang dan memanggil manggil nama Lee Ing.
Mereka khawatir takkan dapat mengejarnya, maklum betapa hebat kepandaian nona itu.
Setelah berlari-lari cepat tiga puluh li jauhnya dan memasuki hutan besar, barulah mereka melihat Lee Ing berdiri di pinggir lorong hutan, bersandar pada sebatang pohon besar.
Sukar sekali menduga isi pikiran gadis itu pada saat itu.
Ia diam saja dan seakan-akan tidak mengacuhkan dua orang muda yang datang berlari-lari menghampirinya.
"Adik Lee Ing...... betul-betul kaukah ini..... kau masih hidup...?"
Siok Ho serta-merta menubruk dan menangisi Lee Ing.
Tadinya Lee Ing memandang marah kepada Siok Ho karena ia masih merasa malu kepada diri sendiri kalau teringat betapa ia telah dapat dipermainkan oleh gadis ini.
Akan tetapi melihat sikap Siok Ho demikian sungguh-sungguh, dan memang dasar watak Lee Ing jujur dan gembira, tiba-tiba ia tersenyum lalu menggeleng-geleng kepala dan berkata dengan napas ditarik panjang.
"Sesungguhnya seorang tolol macam aku lebih patut kalau mampus saja,"
Ia mengangkat bangun Siok Ho yang tadinya berlutut memeluk kakinya.
"Enci Siok Ho, syukur engkau baik-baik saja."
Siok Ho gembira sekali mendengar suara Lee Ing seperti dulu lagi, la berdiri dan memeluk pinggang Lee Ing, memandang wajah yang cantik itu dengan kagum.
"Lagi-lagi kau muncul sebagai dewi penolong Adikku, kau yang sudah mati dapat muncul menolong kami, benar-benar kau seorang dewi kahyangan, tidak pantas menjadi manusia biasa seperti kami...."
Lee Ing mencubit dagu Siok Ho.
"Bisa saja kau memuji orang. Dasar kau anak nakal!"
Sementara itu, melihat sikap dua orang gadis itu begitu manis dan ramah, Siok Bun yang sejak tadi berdebar-debar tegang, sekarang menjadi tenang kembali.
Ia melangkah maju dan menjura dengan penuh hormat.
"Souw-siocia, sungguh girang hatiku melihat kau ternyata masih hidup. Lebih-lebih karena kau pula yang telah menolong kami. Terima kasih, nona dan... ke manakah perginya saudara Liem Han Sin? Aku sudah amat mengkhawatirkan keadaannya ketika ia dulu memanggul... peti matimu...."
Mendengar ini, Siok Ho juga dengan penuh perhatian memandang kepada Lee Ing.
Sebaliknya, Lee Ing nampak berduka sekali mendengar pertanyaan ini, ia tidak segera menjawab, melainkan menarik napas panjang lalu cepat sekali ia menghapus dua titik air mata yang menuruni pipinya yang agak pucat.
"Dia... dia telah ditawan musuh."
Siok Bun dan Siok Ho tidak kaget mendengar ini, karena memang melihat keadaan mereka dulu, mudah diduga bahwa memang sukar untuk melepaskan diri.
Akan tetapi tentu saja mereka juga ikut bingung dan berduka.
"Mengapa kau tidak menolongnya, adik Lee Ing? Dengan kepandaianmu. tentu kau dapat menolongnyal"
Kata Siok Ho. Lee Ing menarik napas panjang."
Penjagaan terlampau kuat.
Dia dibawa ke kota raja dan Tok-ong sendiri dengan kawan-kawannya menjaga siang malam.
Dalam keadaan perang seperti ini, kota raja terjaga kuat sekali.
Bagaimana aku dapat menerobos ke sana?
Andaikata dapat menerobos masuk, juga sukar untuk dapat menolongnya dan setelah dapat menolong juga, bagaimana kami berdua akan bisa meloloskan diri?"
Ketika mengucapkan kata-kata ini, Lee Ing nampak bingung dan berduka sekali. Siok Bun menjadi terharu dan dengan suara keras, dan sikap gagah ia lalu berkata.
"Nona Souw, jangan kau khawatir. Bala tentara utara sudah mulai menyerbu dan percayalah, perjuangan kami pasti akan menang. Akan kami hancur leburkan kaum penindas dan para kurcaci itu dan kalau bala tentara kami sudah memasuki Nan-king, tentu saudara Han Sin akan dapat dibebaskan."
"Betul, adik Lee Ing. Dalam masa perang seperti ini, sukar untuk mengurus soal-soal pribadi. Harap jangan kau mengira bahwa tadinya kami tidak ada niat menolong kau dan saudara Liem. Akan tetapi kami anggap bahwa perjuangan lebih penting. Marilah kau ikut kami ke utara, menggabungkan diri dengan pasukan-pasukan utara pembebas rakyat tertindas. Kelak kita bersama pasti akan menyerbu Nan-king dan jika Thian menaruh kasihan, tentu saudara Liem akan dapat dibebaskan pula."
Lee Ing menggeleng kepala dengan tegas.
"Tidak, aku tidak perduli dengan perang. Aku harus pergi menolong Sin-ko. Kalian pergilah memenuhi tugas kalian ke utara. Aku hanya minta sedikit petunjuk darimu, saudara Siok Bun."
"Petunjuk apakah gerangan yang nona butuhkan dariku? Tentu dengan girang akan kulaksanakan permintaanmu."
"Sin-ko ditahan di dalam kota raja. Aku tidak begitu hafal akan keadaan di sana. Kau yang sudah lama membantu ayahmu bekerja untuk negara, tentu kau tahu betul keadaan di sana. Menurut pendapatmu, di manakah kiranya Sin-ko ditahan?"
"Nona Souw, agaknya kau sudah pernah masuk ke sana akan tetapi tidak berhasil mencari saudara Han Sin?"
Siok Bun yang cerdik bertanya. Lee Ing mengangguk.
"Sudah dua kali dan selalu gagal aku mencari. Karena itulah maka aku sengaja pergi ke utara untuk bertanya kepada anggauta Tiong-gi-pai. Kebetulan bertemu dengan kau di sini."
Siok Bun menggeleng kepala.
"Memang tidak mudah mencari seorang tahanan di Nan-king, nona. Kota raja itu begitu besar, boleh dibilang semenjak para pembesar durna berkuasa, setiap orang pembesar mempunyai penjara sendiri-sendiri di mana mereka menahan atau menyiksa musuh-musuh pribadinya. Apa lagi Auwyang-taijin, dia mempunyai banyak sekali tempat rahasia. Kurasa saudara Han Sin ditahan oleh pembesar terkutuk itu dan... hee, nanti dulu, aku teringat akan perwira she Giam itu!"
Siok Ho dan Lee lng memandang penuh perhatian.
Memang kepada Siok Ho sendiripun Siok Bun belum sempat menuturkan pengalamannya di dalam kamar tahanan di mana ia bertukar tempat dengan mayat Giam Hoat.
Kini dengan singkat ia menuturkan pengalamannya, didengarkan oleh dua orang gadis itu dengan Kagum atas kecerdikannya.
"Nah, menurut penuturan Giam Hoat itu, Auwyang Peng dan kaki tangannya sedang menyembunyikan harta bendanya ke dusun Ki-chun yang terletak di dekat pantai laut di Propinsi Ce-kiang. Bukan hal yang tidak mungkin kalau saudara Han Sin disembunyikan di sana."
Lee Ing mengerutkan kening.
Ia masih ragu-ragu dengan dugaan ini.
Untuk apa Auwyang Peng menahan-nahan Han Sin?
Apa lagi dibawa jauh-jauh ke dusun itu?
la sudah dua kali menerobos kota raja dan mencari-cari, bahkan mencari berita kalau-kalau kekasihnya itu sudah dihukum mati.
Akan tetapi hasilnya sia-sia.
Tak seorangpun tahu di mana adanya Han Sin.
tidak ada yang tahu pula masih hidup ataukah sudah mati.
Hatinya sedih sekali dan tak terasa lagi ia menangis!
"Sudahlah, adik Lee Ing.
Jangan kau terlalu berduka.
Orang baik seperti Han Sin pasti diberkahi Thian.
Lebih baik kau ikut kami ke utara dan mari kita puaskan kemarahan kita terhadap musuh yang jahat.
Dengan begitu, selain membantu yang benar kaupun sudah membalaskan sakit hati saudara Han Sin."
Sambil terisak-isak Lee Ing menjawab.
"Dia., dia tidak memperdulikan keselamatan sendiri... dia sudah tersiksa setengah mati..., semua untuk membelaku..., bagaimana aku bisa tinggal diam saja melihat dia ditahan musuh....?"
"Saudara Han Sin adalah seorang gagah perkasa, seorang patriot sejati! Seperti juga mendiang ayahmu, dia tidak akan ragu-ragu mengorbankan nyawa untuk membela negara. Nona Souw, arwah ayahmu dan juga saudara Han Sin pasti akan tersenyum bangga kalau kaupun mengikuti jejak mereka, berjuang demi kebenaran, untuk membasmi kelaliman dan menolong negara dan rakyat dari kekuasaan para pembesar durna terkutuk macam Auwyang Peng!"
Kata-kata yang bersemangat dari Siok Bun ini menggores hati Lee Ing.
Gadis ini menghapus air matanya lalu tersenyum!
"Kalian benar.
Aku tak boleh terlalu lemah.
Mari enci Siok Ho, mari kita berjuang bahu-membahu.
Mari kita berlumba, bersaing, banyak-banyakan membasmi musuh!"
Siok Ho memeluknya terharu.
"Kau tidak lemah, adikku, kau gagah perkasa. Mana orang macam aku sanggup bersaing denganmu? Mari kita berangkat."
Demikianlah, dengan semangat baru, tiga orang muda itu melanjutkan perjalanan menuju ke utara untuk menggabungkan diri dengan pasukan-pasukan utara dan membantu perjuangan menumbangkan kekuasaan Kerajaan Beng yang bobrok akibat pengaruh pembesar-pembesar terkutuk.
Bala tentara di bawah pimpinan Raja Muda Yung Lo memang kuat sekali.
Akan tetapi ini bukan berarti bahwa dengan mudah saja pasukan-pasukan dari Peking ini dapat menguasai daerah selatan.
Tidak sama sekali.
Di setiap daerah dan kota mereka selalu menghadapi perlawanan kuat yang ulet dan terjadilah perang yang cukup ramai dan memakan waktu lama.
Memang kedudukan kaisar di Peking amat lemah, apa lagi semenjak Kaisar Beng pertama, yaitu Ciu Goan Ciang yang berjuluk Thai Cu, sudah meninggal dunia.
Kaisar muda, yaitu cucunya yang bernama Cien Wen Ti, boleh dibilang hanya merupakan boneka.
Sedangkan Ciu Goan Ciang sendiri, seorang bekas pejuang ulung dan kenamaan, pengusir kekuasaan Mongol, masih dapat dikelabui dan dipermainkan oleh para menteri durna, apa lagi kaisar muda ini.
Boleh dikatakan, apa saja yang disodorkan oleh menteri-menteri durna termasuk Auwyang Peng di depan kaisar muda, terus saja diteken tanpa banyak cekcok lagi!
Mau naikkan pajak?
Boleh!
Mau memaksa rakyat masuk serdadu?
Boleh!
Sayangnya keadaan yang amat buruk di kota raja selatan ini tidak banyak diketahui oleh gubernur-gubernur atau jenderal-jenderal yang bertugas menjaga di kota-kota besar.
Oleh karena itu, para pembesar itu masih saja setia terhadap Kerajaan Beng-tiauw dan mereka dengan ketulusan hati, dengan kesetiaan seorang patriot sejati terhadap negaranya, mereka ini menjaga wilayah masing-masing dengan kegigihan penuh, mempertahankan setiap jengkal tanah dengan pertaruhan nyawa.
Inilah sebabnya mengapa perang antara utara dan selatan ini terjadi ramai dan memakan waktu sampai bertahun-tahun.
Setelah kota Tai-goan jatuh, kota berikutnya yang amat kuat penjagaannya adalah kota An-yang, yang letaknya di ujung utara dari Propinsi Ho-nan.
Kota ini dikelilingi tembok tinggi yang amat kuat penjagaannya dan dijaga barisan yang dipimpin oleh seorang jenderal tua bernama Gan Lee Kong.
Gan Lee Kong ini biarpun usianya sudah enam puluh tahun lebih, namun terkenal sebagai seorang jenderal yang berwatak keras, berkepandaian tinggi, dan dahulu ia juga kawan seperjuangan dari Ciu Goan Ciang, Souw Teng Wi dan para patriot rakyat lainnya yang bersama-sama berjuang mengusir penjajah Mongol dari tanah air.
Di samping dirinya sendiri yang menjadi seorang ahli perang yang terkenal, juga Gan-goanswe (Jenderal Gan) mempunyai seorang putera yang terkenal ahli panah dan memiliki ilmu silat tinggi melebihi ayahnya.
Entah sudah berapa banyak panglima-panglima musuh yang roboh oleh Gan Kun, putera jenderal itu yang baru berusia dua puluh satu tahun, bertubuh tinggi besar seperti ayahnya, gagah dan tampan membuat banyak dara sering bermimpikan dia.
Akan tetapi tidak hanya kepandaian perang dan silat yang membuat benteng kota An-yang terkenal kuat, terutama sekali karena ayah dan anak itu memiliki siasat-siasat yang lihai, terkenal cerdik dan pandai menjalankan tipu muslihat dalam perang.
Semua keistimewaan yang dimiliki oleh panglima penjaga kota An yang ini sudah diketahui baik oleh pasukan-pasukan utara.
Oleh karena itu Panglima Cu Kong Sui sendiri menaruh perhatian besar.
Jenderal Gan Lee Kong adalah bekas kawan seperjuangannya dan ia merasa sayang kalau sampai jenderal itu menjadi korban membela kelaliman kekuasaan selatan.
Maka untuk menghadapi kota An-yang, Cu Kong Sui sengaja mengutus Pek-kong Sin-kauw Siok Beng Hui dan pasukan istimewanya untuk mengepung kota itu dan ia sendiri menulis surat pribadi untuk Gan Lee Kong.
"Sampaikan dulu suratku kepadanya sebelun kau memukul kota An-yang,"
Pesan Jenderal Cu Kong Sui kepada Siok Beng Hui.
Siok Beng Hui sendiri sudah mendengar akan nama besar Jenderal Gan Lee Kong, maka diam-diam iapun menaruh hati sayang kalau seorang bekas patriot rakyat yang di masa mudanya sudah banyak berjuang demi tanah air dan bangsa sekarang menjadi korban, diperalat oleh orang-orang macam Auwyang Peng dan para pembesar korup yang lain.
Setelah pasukan-pasukannya melakukan pengepungan terhadap kota An-yang, Siok Beng Hui lalu mengirim utusan menyerahkan surat Jenderal Cu Kong Sui kepada Panglima Gan Lee Kong.
Isi surat itu hanyalah bujukan Jenderal Cu Kong Sui kepada bekas rekannya agar tidak melakukan perlawanan sambil memperingatkan tentang keburukan pemerintah di selatan.
Jenderal Gan Lee Kong memukul meja depannya sampai remuk, membuat utusan itu kaget dan ketakutan.
Kemudian jenderal tua tinggi besar ini tertawa.
"Ha-ha-lia, Cu Kong Sui sudah tidak tahu lagi tentang bakti, tidak tahu lagi tentang setia dan tidak tahu tentang aturan. Bakti terhadap negara tiada batasnya, tanpa perhitungan salah atau betul. Kesetiaan terhadap pemerintah tak dapat dirobah pula dengan alasan apapun juga, tetap setia melakukan tugas sesuai dengan jabatannya adalah watak seorang jantan. Satu-satunya aturan bagi seorang panglima hanyalah menyerang atau bertahan, untuk apa ia mengajukan bujukan-bujukan lagi? Kalau bala tentaranya sudah berada di sini dan hendak menyerang, kami sudah siap sedia!"
Setelah berkata demikian, tanpa inemberi jawaban tertulis, dia mengusir utusan itu keluar dan utusan itu keluar dari benteng An-yang tanpa diganggu.
Siok Beng Hui menarik napas panjang dan diam diam memuji kesetiaan dan kegagahan Gan Lee Kong, tidak ada jalan lain baginya kecuali mencoba untuk menyerang kota itu.
Akan tetapi tidak mudah menyerbu kota ini.
Gan Lee Kong yang sudah banyak pengalamannya dalam perang, telah membuat benteng yang amat kokoh kuat.
Benteng ini letaknya agak tinggi, dikitari tembok yang tebal dan tinggi.
Selain ini, ada terowongan-terowongan yang menembus ke dalam tembok dan para perajurit yang melakukan penjagaan dapat memasang barisan baihok (barisan pendam).
Lima kali sudah Siok Beng Hui dan para perwira lain mencoba untuk melakukan serbuan dari beberapa jurusan, namun selalu gagal, malah banyak perajurit tewas menjadi korban.
Pertahanan benteng itu sungguh kuat sekali.
Para penyerbu tidak saja menghadapi hujan anak panah, malah jenderal tua yang lihai itu menjalankan siasat menghujani musuh dari atas tembok benteng dengan api, batu, malah menggunakan air panas!
Beberapa kali Siok Beng Hui yang menjadi marah menantang perang di depan benteng, akan tetapi sambil tertawa lebar terdengar suara Jenderal Gan Lee Kong dari atas tembok benteng.
"Ha-ha-ha, Siok Beng Hui. Kau bocah kemarin sore hendak menipu aku? Ha ha-ha! Kau mengandalkan besarnya pasukan dan banyaknya ahli-ahli silat yang membantumu maka kau menantang perang terbuka. Kalau kau ada kepandaian dan kekuatan, boleh gempur bentengku ini. Majulah! Apa pasukanmu sudah begitu pengecut hingga tidak berani lagi menyerbu?"
Panas hati Siok Beng Hui. Betapapun juga ia menantang, tetap saja Gan Lee Kong tidak mau melayaninya.
"Tua bangka!"
Gerutu Siok Beng Hui dengan hati mengkal.
Memang sukar untuk menggempur benteng yang amat kuat itu.
Tidak ada lain jalan baginya, kota itu harus dikurung terus sampai musuh kehabisan ransum.
Sebulan lebih pasukannya mengepung dan mematikan lalu lintas kota dengan luar tembok.
Kota itu praktis mati.
Akan tetapi anehnya, di dalam kota setiap malam terdengar suara musik, seakan-akan semua penduduk bersenang-senang dan tidak khawatir apa-apa!
Dan sama sekali belum nampak tanda-tanda bahwa kota itu akan kehabisan makanan.
Hal ini tidak mengherankan.
Sebelum bala tentara utara datang menyerang kota An-yang, Panglima Gan Lee Kong yang waspada itu sudah memenuhi semua gudang yang ada di kota itu dengan ransum kering.
Bahkan semua penduduk di kota dipaksa suruh menyimpan bahan makanan sehingga jangankan baru sebulan, biar dikepung setahun agaknya kota itu takkan kehabisan makanan!
Dua bulan kemudian Siok Beng Hui mengirim utusan untuk menawarkan supaya Gan Lee Kong menyerah, akan tetapi panglima tua itu marah-marah dan mengusir utusan itu dengan ucapan-ucapan mengejek dan memaki-maki.
Siok Beng Hui mulai habis kesabarannya.
Tidak ada jalan lain, kecuali harus menghujankan panah api ke dalam kota.
Tadinya dia kurang setuju dengan siasat ini karena maklum bahwa dengan jalan ini rumah-rumah di dalam kota akan terbakar dan ini berarti bahwa penduduk banyak yang menjadi korban.
Akan tetapi, karena sikap Gan Lee Kong yang tidak mau mengalah, terpaksa ia hendak menjalankan penyerangan, panah api di waktu malam.
Dan tepat pada senja harinya datanglah Lee Ing, Siok Bun, dan Siok Ho di markasnya.
Bukan main girangnya hati Siok Beng Hui karena bala bantuan ini, terutama Lee Ing, amat besar artinya.
Lagi pula ia makin girang melihat puteranya pulang membawa Siok Ho yang sekarang ternyata sudah "berubah"
Menjadi seorang gadis jelita dan agaknya saling menyinta dengan puteranya.
Ketika mendengar bahwa ayahnya hendak menghujankan panah api ke kota An-yang itu, Siok Bun mengerutkan kening tanda tidak setuju.
"Ayah, penduduk kota yang tidak berdosa mengapa harus dikorbankan? Apakah tidak ada jalan lain untuk mengalahkan Panglima Tua Gan Lee Kong?"
"Sukar sekali. Penjagaan dan bentengnya amat kuat, tak mungkin dapat digempur. Ditantang perang di tempat terbuka ia tidak mau. Benar-benar panglima tua yang ulet dan sukar dikalahkan,"
Kata Siok Beng Hui sambil menari k napas panjang.
Tiba-tiba penjaga melapor bahwa ada utusan dari markas besar Jenderal Cu Kong Sui datang.
Cepat Siok Beng Hui menerima utusan ini dan ternyata utusan itu membawa sepucuk surat dari The-taijin.
Siok Beng Hui berdebar hatinya.
The-taijin adalah The Ho, seorang cerdik pandai yang selalu membantu pergerakan Raja Muda Yung Lo, seorang yang berilmu tinggi.
Dengan tangan menggigil saking tegangnya ia membuka surat itu.
Ternyata bahwa keadaannya telah diketahui oleh Jenderal Cu Kong Sui dan jenderal ini bersama The Ho sendiri juga mengharapkan supaya panglima tua she Gan itu dikalahkan dengan siasat.
"Cari orang pandai,"
Demikian nasihat The-taijin.
"suruh menyelundup ke dalam kota, biarkan dirinya tertangkap, lalu buka rahasia bahwa kota akan dibumi-hanguskan. bujuk Gan supaya menggunakan siasat menangkap Siok Beng Hui, pergunakan perangkap seperti yang pernah dipergunakan oleh siasat Lauw Pi."
Siok Beng Hui mengangguk-angguk. Setelah membalas surat itu menyatakan terima kasih dan berjanji mentaati perintah, ia lalu mengadakan perundingan dengan Lee Ing, Siok Bun dan Siok Ho.
"Tidak mudah memasuki kota, kecuali kalau memiliki kepandaian tinggi,"
Kala Siok Beng Hui, matanya melirik Lee Ing karena orang tua ini merasa yakin bahwa hanya Lee Ing seorang yang akan mungkin menerobos kota itu mempergunakan kepandaiannya.
"Sayang tidak ada perajurit atau panglima yang setinggi itu kepandaiannya."
"Siok-lopek, kalau kau membutuhkan bantuanku, katakan saja. Aku bersedia membantumu,"
Kata Lee Ing yang tentu saja mengerti akan maksud kerlingan itu. Siok Beng Hui menarik napas panjang.
"Memang hanya dengan kepandaian seperti yang kau miliki itu saja orang akan dapat memasuki kota An-yang, akan tetapi sayang kau seorang wanita.."
"Apa salahnya?"
Lee Ing penasaran.
"Apakah wanita kalah harganya oleh lelaki?"
"Bukan begitu maksudku, nona Souw. Akan tetapi tugas ini memang tugas seorang pria. Dia harus memasuki kota, kemudian membiarkan dirinya ditangkap. Semua ini hanya siasat yang telah diatur oleh The-taijin, dan siasat yang diatur oleh The-taijin tak pernah meleset, apa lagi sudah diperhitungkan masak-masak berdasarkan pengetahuan luas dan sudah mengenal watak-watak Panglima Tua Gan Lee Kong."
Lee Ing melirik Siok Ho yang rnasih berpakaian pria. Ia mendapat pikiran bagus sekali.
"Dia ini,"
Ia menuding kepada Siok Ho.
"dulunya tak seorangpun tahu dia wanita. Akupun dapat menyamar menjadi pria seperti dia. Enci Ho, kau harus ajari aku bagaimana menyamar sebagai pria."
Siok Ho tersenyum dan Siok Beng Hui menepuk jidatnya.
"Mengapa tidak? Dengan menyamar sebagai pria, orang tidak mencurigaimu. Dan andaikata kau gagal, jika tua bangka she Gan itu tahu kau wanita, aku tanggung dia takkan membolehkan orang menganggumu. Aku sudah kenal betul wataknya."
Dengan bantuan Siok Ho, Lee Ing lalu menyamar sebagai seorang pria.
Lubang daun telinganya ditutup dengan semacam bedak kuning, alisnya ditambah tebal dan ketika keluar dari kamar, Lee Ing telah berubah menjadi seorang pemuda yang amal ganteng!
Siok Bun bertepuk tangan memuji dan Siok Beng Hui mengangguk-anggukkan kepala tanda puas.
Kemudian Lee Ing dengan penuh perhatian mendengarkan pesan-pesan dari Siok Beng Hui tentang siasat-siasat yang harus ia jalankan di dalam kota An-yang.
Setelah menitipkan Li-lian-kiam kepada Siok Ho, pada malam hari itu Lee Ing berangkat melakukan tugasnya.
Malam itu gelap sekali, keadaan yang amat baik dan tepat bagi Orang yang hendak menerobos memasuki benteng yang terjaga kuat.
Setelah melakukan pemeriksaan sambil menyusup di antara pohon-pohon di luar tembok kota, Lee Ing mendapat kenyataan bahwa penjagaan di benteng itu betul-betul amat kuat.
Pantas saja sekian lamanya Siok Beng Hui belum juga berhasil membobolkannya.
Biarpun malam itu gelap sekali, namun setiap sepuluh meter di atas tembok benteng itu digantungi lampu penerangan yang besar sehingga setiap percobaan orang luar untuk mencuri masuk dengan memanjat tembok, akan mudah terlihat dari tempat penjagaan dan tentu orang itu akan terpanah sebelum sampai di atas, Lee Ing tahu bahwa dengan ginkangnya, dibantu enjotan pada cabang pohon yang tumbuh di luar tembok, kiranya ia masih sanggup mencapai tembok.
Akan tetapi tentu ia ketahuan dan usahanya memasuki kota akan gagal kalau ia dikeroyok dan dihujani anak panah.
Terpaksa Lee Ing kembali ke markas Siok Beng Hui dan minta bantuan lima orang ahli panah yang pandai.
Dengan sembunyi, lima orang ini memasang anak panah dan atas isarat Lee Ing, mereka melepaskan anak panah-anak panah ke arah lampu-lampu di sepanjang tembok penjagaan bagian timur di mana banyak tumbuh pohon-pohon besar di luar tembok.
Lee Ing sendiri mempergunakan dua buah batu menyambit dua lampu penerangan.
Sekaligus tujuh buah lampu padam.
Geger di atas tembok dan seketika itu juga dari tembok hujan anak panah, batu dan air panas!
Sekiranya dalam keadaan gelap itu tentara-tentara utara mencoba memanjat tembok, tentu mereka ini akan mati terpanah, tertimpa batu atau tersiram air panas!
Hebat bukan main penjagaan di situ.
Lima orang ahli panah itu sesuai dengan rencana Lee Ing, cepat mundur sambil melepaskan anak-panah-anak panah gelap yang ternyata ada hasilnya pula, karena terdengar pekik kesakitan di atas tembok.
Penjagaan menjadi makin kuat, di atas tembok dipasangi lampu-lampu lagi.
Akan tetapi di sekeliling bawah dan luar tembok sunyi Saja!
Semua penjaga terheran-heran karena tak melihat seorangpun musuh di luar tembok.
Sama sekali mereka tidak tahu bahwa di dalam kegelapan dan keributan tadi, bagaikan seekor burung besar, Lee Ing sudah meloncat ke atas pohon, mengenjot dari cabang pohon ke atas tembok, terus menyelinap dan melompat ke dalam!
Kalau saja keadaan tidak sedang panik di dalam tembok, tentu perbuatannya akan kelihatan orang.
Memang ada penjaga-penjaga yang melihatnya, akan tetapi dalam keadaan seperti itu, ia dikira kawan mereka dan tak seorangpun memperdulikan apa yang terjadi di dalam, seluruh perhatian dicurahkan keluar tembok.
Memang cerdik sekali siasat Lee Ing ini dan menjelang pagi ia sudah tidur-tiduran di dalam sebuah gudang tua yang penuh gandum.
Pada keesokan harinya, sebelum ada orang membuka pintu gudang, ia sudah keluar lagi dari gudang itu melalui lubang di genteng, dan di lain saat, seorang pemuda ganteng sudah berjalan-jalan di antara orang banyak yang hilir mudik di dalam keramaian kota terkurung itu.
Benar-benar hebat sekali panglima tua menjaga semangat penduduk kota.
Dilihat dari dalam, kota itu seakan-akan tidak apa-apa, penduduknya masih bekerja seperti biasa dan tidak nampak kekhawatiran apa-apa.
Akan tetapi, di balik ini semua, Lee Ing dapat merasakan ketegangan yang mencekam hati para penduduk.
Yang mengagumkan adalah para penjaga dan tentara yang kelihatan berdisiplin, berwajah sungguh-sungguh dan penuh semangat, sama sekali tidak merupakan gangguan bagi penduduk kota seperti lajimnya dilakukan sebagian tentara.
Keadaan seperti ini saja sudah membuktikan bahwa pasukan-pasukan itu dipimpin oleh seorang yang pandai dan berwibawa.
Hebatnya kota yang terkurung selama dua bulan itu, hampir tiga bulan, masih belum memperlihatkan tanda-tanda kekurangan makan.
Malah masih ada rumah makan besar yang dibuka!
Hanya di situ agak sunyi.
Lee Ing tanpa ragu-ragu memasuki rumah makan dan memesan makanan dengan suara nyaring, la tidak tahu bahwa rumah makan ini merupakan siasat bagi Gan Lee Kong.
Panglima ini sengaja membuka restoran itu untuk menjaga kalau-kalau ada mata-mata musuh yang berhasil memasuki kota, untuk memperlihatkan kepada musuh bahwa biarpun dikurung kota ini masih belum membutuhkan bantuan ransum.
Biarpun Lee Ing tidak menduga akan hal ini, namun ia tahu bahwa memasuki rumah makan ini merupakan bahaya baginya, seakan-akan menonjolkan diri.
Akan tetapi ini memang ia sengaja karena sudah termasuk tugasnya untuk membiarkan diri diketahui kemudian menyerah supaya ditangkap dan dihadapkan kepada Gan Lee Kong!
Penjagaan kota An-yang memang kuat sekali.
Begitu Lee Ing memperlihatkan diri di jalan umum tadi ia sudah diikuti oleh lima orang secara berpencar.
Begitu ia muncul, mata yang tajam dari pada para petugas sudah taliu bahwa dia itu bukan penduduk An-yang maka diam-diam ia diikuti terus.
Lebih yakin lagi para mata-mata itu bahwa pemuda ganteng itu tentulah seorang mata-mata musuh ketika Lee Ing memasuki rumah makan itu, karena tidak mungkin kalau penduduk An-yang memasuki restoran itu begitu saja.
Biasanya yang memasuki restoran hanyalah petugas-petugas tinggi yang tidak sempat pulang makan karena kesibukan tugasnya!
Lee Ing dibiarkan makan sampai kenyang dan gadis inipun tahu bahwa diam diam telah ada dua belas orang memasuki restoran itu dan mereka sengaja berpencar menduduki bangku-bangku mengelilinginya.
Akan tetapi Lee Ing tenang-tenang saja, malah sambil makan ia iersenyum-senyum mengejek.
Setelah ia selesai makan sampai kenyang dan baru saja minum araknya, terdengar gemerincing suara senjata dan tahu-tahu dua belas orang itu sudah menghunus senjata mengurungnya!
"Kau ini orang mana dan bagaimana bisa masuk kota?
Hayo mengaku dan menyerah saja sebelum kami menggunakan kekerasan!"
Bentak salah seorang di antara mereka yang berkumis lebat. Dengan seenaknya Lee Ing menaruh kembali cawan araknya di atas meja, lalu melirik ke kanan, ke arah orang yang menegurnya tadi.
"Aku orang luar kota dan mengapa kalian masih bertanya bagaimana aku bisa masuk? Bu kankah kalian penjaganya? Salahmu sendiri tidak melihat aku memasuki An-yang!"
"Dia mata-mata, musuh! Tangkap! Bunuh!"
Teriak para penjaga itu dan golok pedang gemerlapan mengancam.
"Cring.... cring... cringggg....!"
Suara nyaring ini disusul pekik kesakitan dan semua orang mundur saking kagetnya.
Ternyata Lee Ing telah menyambar sumpit yang dipakainya makan tadi dari atas meja dan dengan tangkisan sumpit ini beberapa batang golok dan pedang kena dibikin terlepas dari pegangan para pengeroyok.
"Aku memang mata-mata utara!"
Katanya gagah dengan sikap menantang sambil menatap tajam orang-orang yang masih mengurungnya akan tetapi dari jarak agak jauh itu.
"Akan tetapi kalau aku berniat buruk, apa aku sudi makan di sini dan apakah aku tinggal diam saja tidak melakukan pengacauan? Apa sih sukarnya membunuh-bunuh orang macam kalian? Dengar baik-baik, aku datang dengan maksud baik, hendak menolong kota ini. Maka biarkan aku bertemu dengan Jenderal Gan Lee Kong!"
"Siapa percaya obrolan mata-mata musuh?"
Bentak pemimpin yang kumisan tadi dan kembali belasan orang itu maju mengeroyok. Malah ada kursi-kursi yang dilontarkan ke arah Lee Ing.
"Kalau tidak diberi hajaran kalian tidak kapok!"
Bentak Lee Ing dan tubuhnya berkelebat ke sana ke mari.
Di mana bayangannya sampai, terdengar pekik kesakitan, pedang atau golok jatuh dan orangnya berdiri kaku tertotok.
Sudah enam orang dibikin tak berdaya oleh Lee Ing dalam sekejap mata saja dan tiba-tiba terdengar bentakan keras.
"Para penjaga, mundur.!"
Orang-orang yang tadinya hiruk-pikuk dan sibuk menyerang Lee Ing, begitu mendengar bentakan yang berpengaruh ini.
seketika melompat mundur dan berdiri tegak penuh hormat dan taat di pinggir, memberi jalan kepada orang yang membentak tadi.
Lee Ing mengangkat muka dan melihat seorang pemuda tinggi tegap berwajah gagah, berpakaian seperti orang peperangan, berjalan masuk dengan langkah tegap.
Di tangan kiri pemuda gagah ini memegang sebatang busur dengan tali urat harimau, di punggungnya terikat tempat anak panahnya.
Di pinggang kiri tergantung sebatang pedang panjang dengan sarungnya yang terukir indah.
"Benar-benar seorang pemuda yang hebat, tampan dan gagah sekali. Akan tetapi yang lebih menarik perhatian Lee Ing adalah seorang tua yang berjalan di sebelah pemuda ini. Orangnya sudah tua, akan tetapi pakaian dan topinya berwarna merah! Seorang kakek tua dengan warna pakaian yang biasanya hanya disuka oleh gadis-gadis muda. Kakek tua ini seperti badut dan di pinggangnya tergantung sebuah kantong besar seperti yang biasa dibawa tukang-tukang obat. Biarpun kepada dua orang ini Lee Ing belum pernah bertemu, dan biarpun si pemuda itu jelas sekali kelihatan sebagai seorang gagah perkasa yang memiliki kepandaian tinggi, namun sekilas pandang saja tahulah Lee Ing bahwa ia harus lebih waspada dan hati-hati menghadapi kakek jubah merah seperti badut itu.
"Kau ini siapakah berani membikin ribut di Sini? Apa betul pengakuanmu tadi bahwa kau mata-mata dari utara? Jawab yang betul, sobat, hal ini tak boleh dibuat main-main!"
Kata pemuda gagah itu dengan halus tetapi keren.
"Aku bernama Hong, she Oei,"
Jawab Lee Ing secara sembarangan saja.
"Siapa orangnya yang main-main? Dibilang mata-mata utara, boleh juga karena memang aku baru saja keluar dari markas besar bala tentara yang mengurung kota ini. Dibilang bukan, juga boleh karena datangku ini sesungguhnya karena menaruh kasihan kepada penduduk kota An-yang dan berusaha menolong mereka. Akan tatapi tentang hal ini, aku hanya mau bicara sendiri dengan jenderal yang menguasai kota ini. Apakah kau jenderalnya?"
"Jenderal Gan Lee Kong adalah ayahku, aku Gan Kun. Tidak sembarang orang boleh menjumpai ayah. Kalau kau betul dari luar tembok, bagaimana kau bisa masuk?"
Lee Ing tersenyum dan pemuda ganteng itu harus kagum menyaksikan deretan gigi yang putih seperti mutiara.
"Malam tadi penjagaanmu dikacau, lampu-lampu padam dan hujan anak panah. Aku melompati tembok, siapa yang melihatku?"
Gan Kun mengerutkan keriing, diam-diam marah kepada para penjaganya.
Akan tetapi diapun ragu-ragu.
Betulkah pemuda remaja yang tubuhnya tak berapa besar, lebih patut disebut setengah kanak-kanak ini, memiliki kepandaian setinggi itu?
Tiba-tiba orang tua yang berjubah merah itu tertawa terkekeh.
"Anak ini lucu, tetapi harus diakui ketabahannya. Nyalinya besar sekali. Bocah, kepandaian apakah yang kau andalkan maka kau berani bersikap begini? Sekali saja Gan-ciangkun ini memberi tanda, tubuhmu akan hancur lebur di bawah ribuan senjata."
Lee Ing melirik dan maklum bahwa ucapan ini bukan gertak sambal.
Tempat itu sudah terkurung rapat dan memang tak mungkin baginya untuk dapat lolos dari ribuan orang tentara itu.
Akan tetapi ia berlaku tenang dan tersenyum.
"Kakek badut, kaulah yang lucu. Aku tidak mengandalkan kepandaian apa-apa karena aku tidak bermaksud buruk. Terus terang saja, aku kasihan kepada penduduk An-yang dan hendak menolong, akan tetapi hanya dengan Jenderal Gan Lee Kong aku mau bicara."
"Apa kau berniat menyerang ayah?"
Pemuda itu membentak dan busur di tangan kirinya sudah tergetar.
"Aku tidak bersenjata, menghadapi ayahmu dan kalian semua aku bisa berbuat apakah? Masa seperti aku ini bersikap seorang calon pembunuh? Kira-kira, dong!"
Kata Lee Ing setengah berkelakar sungguhpun hatinya gentar juga, takut kalau-kalau pemuda itu tetap mencurigainya dan mengeroyok.
Tidak saja tugasnya akan sia-sia, malah keadaannya akan berbahaya sekali.
Pemuda itu ragu-ragu, lalu menoleh kepada kakek itu.
Matanya meminta pendapatnya.
"Siapa sih badut tua ini?"
Lee Ing sengaja bertanya untuk memperlihatkan bahwa dia memang sedikitpun tidak gentar karena tidak bersalah.
"Dia ini pembantu kami, bernama Ang Sinshe"
Jawab Gan Kun yang lalu melanjutkan ucapannya untuk bertanya kepada kakek itu.
""Bagaimana, Ang Sinshe, apa yang harus dilakukan dengan bocah ini?"
Ang Sinshe terbatuk-batuk sebelum menjawab.
Dia, sejak kota An-yang dikepung sudah berada di situ membantu Gan Lee Kong.
Sebetulnya dia juga setengah hati membantu jenderal itu, akan tetapi karena kebetulan dia berada di An-yang ketika kota itu dikurung sehingga ia harus membantu pula kalau tidak ingin menjadi tahanan di kota itu pula karena ia menerima banyak hadiah dari Gan Lee Kong yang mengetahui bahwa Ang Sinshe adalah seorang sakti, maka kakek ini lalu menjadi pembantunya.
"Heh-heh-heh, orang muda berhati, naga. Akan tetapi sombong sekali... sombong sekali. Mana boleh sembarang orang saja mengadakan pertemuan dengan Gan-goanswe? Hendak kulihat apakah kau cukup berharga Untuk menghadap beliau."
Setelah berkata demikian, kakek jubah merah ini melangkah maju setindak, tangan kaitannya digerakkan ke depan dan...
lengan itu mulur terus hendak mencengkeram pundak Lee Ing!
Para tentara yang hadir di situ mengeluarkan seruan heran dan kagum.
Kakek itu berdiri dalam jarak antara dua meter dari pemuda mata-mata musuh itu, akan tetapi bagaimana tangan kurus kering itu bisa mulur seperti karet?
Lee Ing juga kaget, akan tetapi dia tidak heran.
Ilmu Seperti ini tidak sukar dipelajari dan diapun dapat kalau mau.
Dengan tenang ia miringkan pundaknya, tangan kirinya menyampok tangan lawan itu sambil berkata.
"Badut tua, tanganmu menjijikkan sekali!"
Bagi pandang mata orang-orang lain, tangkisan itu biasa saja seperti lumrahnya tangkisan ilmu silat.
Akan tetapi tidak demikian bagi Gan Kun dan terutama bagi Ang Sinshe sendiri.
Gan Kun sudah mengukur kepandaian Ang Sinshe dan maklum bahwa Iweekang yang dimiliki kakek itu, jarang ada orang sanggup menangkis serangannya.
Bila pemuda itu dapat menangkisnya berarti bahwa pemuda remaja ini benar-benar lihai.
Adapun Ang Sinshe diam-diam terkejut sekali karena dari tangkisan itu saja ia dapat mengetahui bahwa pemuda aneh ini memiliki Iweekang yang belum tentu kalah olehnya sendiri!
Ia mengangguk-angguk.
"Boleh, boleh. Dia pantas menghadap Gan-goanswe,"
Kata Ang Sinshe kepada Gan Kun. Putera jenderal itu lalu mempersilahkan Lee Ing berjalan di sampingnya.
"Marilah, saudara Oei Hong yang gagah, mari kuajak kau menghadap ayah."
Lee Ing hanya mengangguk dan tersenyum girang karena tugasnya berjalan dengan baik. Ang Sinshe berbisik di dekat telinga Gan Kun.
"Ciangkun, hati-hati. Bocah ini harus dijaga benar-benar jangan sampai ia melakukan sesuatu yang merugikan dan jangan sampai dapat lolos."
Gan Kun hanya mengangguk sambil melirik ke arah Lee Ing atau yang pada saat itu sudah berganti nama menjadi Oei Hong.
Akan tetapi Oei Hong diam saja, berjalan dengan kepala tunduk.
Padahal dia tadi mendengar jelas apa yang dibisikkan oleh Ang Sinshe.
juga biarpun kepalanya tunduk, sinar matanya menyambar ke sana ke mari, memeriksa kekuatan lawan dan melihat keadaan di sini.
Aku harus berhati-hati, pikirnya.
Ternyata di sini banyak orang pandai dan penjagaan sungguh kuat, Sekali gagal aku takkan dapat meloloskan diri.
Seperti juga terhadap Gan Kun, pertemuan pertama dengan Gan Lee Kong menimbulkan rasa kagum di hati Lee Ing.
Gan Lee Kong sudah berusia enam puluh tahun, akan tetapi tubuhnya masih tegap, tinggi besar dan sikapnya gagah seperti pahlawan besar Kwan Kong.
Seperti juga Gan Kun, jenderal ini selalu berpakaian perang.
Suaranya nyaring, bicaranya singkat berisi, seorang jantan sejati.
Setelah mendengarkan laporan singkat puteranya, ia memandang kepada Oei Hong yang duduk di depannya dengan sikap hormat akan tetapi tidak merendah, lalu berkata.
"Jadi namamu Oei Hong dari barisan Siok Beng Hui dan sengaja masuk ke sini hendak bicara dengan aku? Bicaralah!"
Menghadapi orang yang gagah dan sikap yang angker ini, Lee Ing tidak mau main-main. Ia berdiri lalu menjura dan berkata.
"Harap goanswe maafkan bahwa saya berani mencuri masuk ke kota ini. Sebetulnya, seperti sudah saya katakan kepada Gan-ciangkun, saya memasuki kota ini dengan maksud baik. Ada dua alasannya, pertama karena saya merasa kasihan melihat kehancuran kota dan kebinasaan penduduknya di depan mata. Ke dua, karena... karena saya ingin membalas sakit hati kepada Siok Beng Hui!"
Gan Lee Kong mengelus-elus jenggotnya yang masih hitam. Sebagai seorang panglima ulung, tentu saja ia tidak sembarangan percaya omongan orang yang baru dijumpai, apa lagi orang dari fihak musuh.
"Tak usah plintat-plintut dan banyak rahasia, coba terangkan apa maksudmu dengan alasan itu!"
Gan Lee kong membentak, suaranya keren sekali sehingga kalau yang dibentaknya itu bukan Lee Ing, kiranya sudah akan terbang sebagian besar semangatnya dan kalau orang berniat membohong, tentu akan lenyap keberaniannya.
Akan tetapi Lee Ing tetap tenang-tenang saja.
"Goanswe. alasan pertama adalah karena saya telah cekcok dengan Siok Beng Hui ketika saya memprotes niatnya membumihanguskan kota ini. Karena kau ditantang berperang di tempat terbuka tidak mau dan mereka tidak kuat membobolkan pertahanan benteng kota ini, maka Siok Beng Hui mengambil keputusan menghujani kota ini dengan panah berapi sampai seluruh kota semua termakan api!"
Gan Lee Kong menggebrak meja sehingga tergetar ruangan itu.
"Aku tidak takut! Mati mempertahankan kota adalah mati terhormat!"
"Sayang sekali saya harus menyatakan bahwa pikiranmu sempit dalam hal ini, goanswe,"
Kata Lee Ing dengan tabah.
"Kurang ajar!"
Gan Kun membentak marah dan sudah melangkah maju hendak menampar orang yang anggapnya tidak tahu adat itu. Ang Sinshe menyeringai dan maju pula.
"Apakah hamba harus pukul kepala bocah ini, goan-gwe?" . Akan tetapi Gan Lee Kong menggoyang tangan menyuruh mundur puteranya dan Ang Sinshe.
"Hanya"
Ada dua kemungkinan mengenai anak ini.
"kalau tidak miring otaknya tentu mempunyai keberanian yang luar biasa. Biarkan dia bicara. He bocah she Oei. coba kau jelaskan mengapa kau katakan pikiranku sempit."
"Pikiranmu dalam hal ini sama sempitnya dengan pikiran Siok Beng Hui! Kalian berdua hanya memikirkan bagaimana supaya menang atau kalah dalam perang. Memikirkan mati sebagai pahlawan."
"Tentu saja, goblok! Laki-laki sejati harus berpikiran demikian!"
"Boleh, boleh sekali untuk kau. atau Siok Beng Hui, atau puteramu ini karena kalian memang orang-orang peperangan. Akan tetapi apakah patut kalau harus mengorbankan nyawa dan keselamatan kota ini? Mereka-sama sekali tidak ingin perang, mereka malah benci. Apa lagi karena yang dibela adalah kekuasaan lalim dan buruk di selatan! Tidak! Tak boleh rakyat jelata harus menderita karena keluarga kaisar berebutan tahta kerajaan. Yang perang boleh perang karena memang itu tugasnya dan sudah diberi gaji, akan tetapi rakyat jangan diganggu."
Untuk sejenak Gan Lee Kong tertegun tak dapat menjawab, tiba-tiba ia berdiri dari tempat duduknya dan bertanya keras "Mengapa kau katakan ini semua? Apa maksudmu sebenarnya?"
"Maksudku menolong rakyat agar jangan menjadi korban, baik oleh sepak terjangmu maupun sepak terjang Siok Beng Hui. Harus dicegah jangan sampai-rumah-rumah rakyat dimakan api."
"Ha-ha, kau punya siasat? Coba katakan, apa yang harus kami lakukan untuk mencegah hal itu terjadi?"
"Jalan satu-satunya ialah kau menyatakan takluk dan menyerah..."
"Jahanam!"
Gan Lee Kong menyambar bangku dan melemparkannya kuat-kuat ke arah Lee Ing. Lee Ing menyampok dengan tangan kiri dan bangku itu hancur berantakan, Gan Lee Kong terkejut.
"Ahay kiranya kau berkepandaian. Tentu kau diutus oleh Siok Beng Hui untuk membujuk aku menyerah. Ha-ha-ha, alangkah bodohnya, alangkah gobloknya. Orang she Oei, selain tipu muslihatmu ini tidak berhasil, juga jangan harap kau bisa keluar dari sini. Kepung dan jangan biarkan dia lolos!"
Para pemimpin pasukan mengeluarkan aba-aba dan ribuan orang serdadu sudah membendung jalan keluar, tak mungkin bagi Lee Ing untuk pergi dari situ. Akan tetapi dia tetap tenang dan berkata.
"Gan-goanswe, kau keliru. Kalau aku diutus sebagai mata-mata, masa aku terus terang seperti ini? Tadi kukatakan bahwa kedatanganku dengan dua alasan. Alasan pertama sudah kuceritakan, alasan ke dua belum kau dengar."
"Bicaralah, bicaralah sepuasmu sebelum nyawamu melayang."
"Alasan ke dua adalah karena aku sakit hati kepada Siok Beng Hui, maka aku membuka rahasia ini. Bagiku tidak perduli apakah kau atau dia yang kalah. Akan tetapi hatiku sudah sakit sekali. Aku... aku memperebutkan seorang gadis dengan Siok Beng Hui dan aku...... aku kalah."
Wajah Oei Hong yang tampan itu menjadi merah.
"Hemmm...... hemmm.... lalu mengapa kau suruh aku takluk dan menyerah?"
"Belum habis siasatku kuceritakan. Kau menulis surat kepada Siok Beng Hui, menyatakan mau menyerah dan takluk kalau Siok Beng Hui sendiri suka datang minta maaf atas gangguannya terhadap kota ini. Dia tidak boleh membawa pengawal kecuali calon mantunya dan bujang-bujang pembawa barang antaran. Hanya dengan syarat ini kau mau menyerah."
Gan Lee Kong melengak.
"Kau...... kau suruh aku.... bermain curang? kau maksudkan kalau dia datang lalu... aku menahannya?"
Lee Ing mengangguk tersenyum.
"Goanswe, dalam ilmu perang bukankah selalu dipergunakan siasat-siasat? Kalau siasat itu dibandingkan dengan tipu muslihat, mana perbedaan antara curang dan tidak? Siok Beng Hui hendak menghujani rumah-rumah penduduk dengan api, bukankah itu lebih curang lagi?"
Gan Lee Kong mengelus-elus jenggotnya.
Memang ia juga amat khawatir mendengar kota itu akan dibumihanguskan dari luar.
Kalau terjadi demikian, memang ia tidak berdaya, rumah-rumah hangus, ransum terbakar habis dan keadaan menjadi kacau yang berarti dia akan kalah.
"Begitu mudah...apa kau kira Siok Beng Hui begitu tolol dan mempercayai suratku?"
"Mengapa tidak? Siok Beng Hui sudah kukenal baik dan aku tahu betul bahwa sebenarnya dia amat kagum kepadamu dan amat segan. Karena itu, aku percaya dengan penuh keyakinan bahwa suratmu yang dibawa oleh puteramu sendiri pasti akan dipercayainya."
Gan Lee Kong tidak menjawab lagi. Beberapa lama ia mengelus-elus jenggotnya.
"Biarkan aku berpikir.. Ang Sinshe, biarkan bocah she Oei ini bermalam di sini, jaga baik-baik, layani baik-baik akan tetapi jangan sampai dia lari. Eh, orang she Oei. Mengapa kau mengatur semua siasat ini untukku? Apa keuntunganmu?"
"Aku hanya menuntut sebuah hadiah, yaitu calon mantu Siok Beng Hiu, kalau sudah tiba di sini menjadi bagianku."
Gan Lee Kong menggeleng-geleng kepala.
"Kau... kau setan cilik!"
Akan tetapi Lee Ing hanya tersenyum lalu tinggalkan ruangan itu dengan tenang, diantar oleh Ang Sinshe menuju ke kamarnya yang sudah disediakan.
Setelah mengadakan perundingan masak-masak dengan puteranya dan pembantu-pembantunya, akhirnya Gan Lee Kong menjalankan siasat pemuda Oei Hong itu.
la menulis sepucuk surat dialamatkan kepada Siok Beng Hui, menyatakan bahwa karena ransumnya sudah mulai habis, terpaksa ia menyerah.
Akan tetapi, demikian tulisnya dengan nada angkuh, ia hanya mau menyerah kalau Siok Beng Hui sendiri datang menjemput ke dalam kota tanpa pengawal, kecuali anak mantunya sebagai pelayan dan beberapa orang bujang.
Demikianlah, pada keesokan harinya pintu gerbang kota dibuka sedikit dan seorang penunggang kuda membawa bendera putih menggebrak kudanya keluar dari pintu gerbang yang segera ditutup kembali.
Penunggang kuda ini adalah Gan Kun yang membawa surat ayahnya.
Setibanya dibarisan musuh, ia lalu dijemput dan diantarkan ke markas Siok Beng Hui.
Siok Beng Hui yang tahu bahwa pemuda gagah ini adalah putera jenderal Gan Lee Kong, menerimanya dengan ramah dan dapat dibayangkan betapa girang hati Siok Beng Hui membaca surat Jenderal Gan itu.
Tahulah ia bahwa tugas yang dijalankan oleh Lee Ing telah berhasil baik sekali.
Akan tetapi ia mengerutkan keningnya ketika membaca bagian yang minta supaya ia diantar oleh mantu perempuannya.
Ini tidak ada dalam rencana tugas Lee Ing, pikirnya, la tidak tahu bahwa Lee Ing sengaja mengatur demikian selain untuk mempertebal kepercayaan Jenderal Gan, juga untuk menambah kawan yang kuat.
"Baiklah, sampaikan kepada ayahmu yang terhormat bahwa siang nanti aku akan datang menjemputnya di dalam kota An yang. Kau boleh pulang lebih dulu,"
Jawabnya kepada Gan Kun yang segera membalapkan kudanya kembali ke kota.
Siok Beng Hui cepat mengatur persiapan dan merundingkan dengan Siok Bun, Siok Ho dan lain lain panglima.
Siok Bun dan beberapa orang panglima yang boleh diandalkan kepandaiannya, di antaranya sebagian besar anggauta Tiong-gi-pai menyamar sebagai pelayan yang membawa peti-peti terukir dan ditutup kain sutera seperti biasanya orang mengirim upeti, sedangkan Siok Ho berdandan indah untuk mengatarkan calon ayah mertuanya.
Demikianlah, menjelang tengah hari kembali pintu gerbang dibuka setelah para penjaga kota An yang melihat datangnya rombongan itu.
Tentu saja sebelumnya diadakan pengawasan teliti, akan tetapi Siok Beng Hui hanya diiringkan oleh seorang nona cantik dan di belakangnya, rombongan pelayan terdiri dari dua belas orang yang memikul barang-barang sumbangan dan mereka ini sama sekali tidak membawa senjata.
Keadaannya sama sekali tidak mencurigakan, maka Gan Lee Kong yang melakukan pengintaian sendiri dari atas memperbolehkan pintu gerbang dibuka.
Jenderal Gan Lee Kong menerima rombongan itu di dalam ruangan besar, di mana dengan angkernya ia duduk di atas kursi berpakaian lengkap dikawal puteranya dan Ang Sinshe serta beberapa orang panglima lainnya.
Oei Hong, pemuda yang mengatur siasat baginya, juga berada di luar ruangan untuk menyergap begitu ia memberi tanda.
"Aha, saudara Siok Beng Hui, selamat datang di An-yang!"
Demikian sambutan Jenderal Gan dengan suaranya yang nyaring.
"Mulai detik ini kau menjadi tawanan kami sebagai jaminan supaya pengepungan kota ini dibuka!"
Sambil berkata demikian ia meloloskan golok besarnya. Inilah isaratnya dan Gan Kun serta semua panglima juga mencabut senjata masing-masing. Siok Beng Hui pura-pura terkejut.
"Eh, Gan-goanswe mengapa bersikap begini? Kami datang memenuhi suratmu dan kami bermaksud baik. Lihat saja kami sudah membawa barang berharga untuk goanswe. Apapun yang dikehendaki goanswe biarlah aku lebih dulu menyelesaikan tugasku menyampaikan barang sumbangan."
Ia memberi tanda kepada para "pelayan"
Yang segera menurunkan pikulan dan membuka peti-peti itu. Oei Hong, pemuda yang tersenyum-senyum itu melangkah maju dan menarik tangan Siok Ho.
"Gan-goanswe. nona ini adalah kekasihku, sekarang sudah kembali kepadaku. Terima kasih atas bantuanmu!"
Gan L.ee Kong hanya tertawa saja dan membiarkan Oei Hong menarik tangan Siok Ho yang kelihatannya mandah saja dipeluk oleh "pemuda"
Itu.
Padahal diam-diam Siok Ho meloloskan dua batang pedang yang ia sembunyikan di bawah pakaiannya, sebatang adalah Li-lian-kiam dan yang sebatang lagi pedangnya sendiri.
Pada saat peti peti itu dibuka, terjadilah keributan yang mendadak dan yang tak tersangka-sangka sama sekali oleh Gan Lee Kong dan anak buahnya.
Bagaikan kilat cepatnya, para "pelayan"
Yang dua belas orang banyaknya itu masing-masing mengambil barang-barang dari dalam peti yang ternyata bukan lain adalah senjata-senjata mereka! "Celaka!"
Seru Gan Lee Kong, akan tetapi cepat sekali Lee Ing dan Siok Ho sudah melompat dengan pedang di tangan.
Lee Ing maklum bahwa yang paling berbahaya adalah Ang Sinshe, Gan Lee Kong, dan Gan Kun.
Maka ia cepat menggunakan.
Li-Han-kiam untuk menyerang Gan Lee Kong.
Jenderal ini menangkis cepat, namun tangan kiri Lee Ing sudah menotok dan merobohkannya.
Juga Siok Ho dan Siok Bun sudah menubruk Gan Kun dan membuatnya tidak berdaya.
Beberapa orang panglima maju, akan tetapi disambut anggauta-anggauta Tiong-gi-pai dan terjadi pertempuran hebat di dalam ruangan itu.
Ang Sinshe marah sekali, akan tetapi ia mendapat lawan Lee Ing yang mengerjakan pedangnya cepat sekali, membuat Ang Sinshe kewalahan.
Ujung lengan baju Ang Sinshe yang biasanya amat berbahaya itu kini tak banyak berdaya menghadapi gerakan pedang Lee Ing sehingga dalam belasan jurus saja sudah terbabat putus.
"Siok-twako, lekas buka pintu gerbang!"
Seru Lee Ing sambil mendesak Ang Sinshe, Seperti telah diatur dalam siasat mereka, Siok Bun diikuti Siok Ho dan yang lain-lain menyerbu keluar sambil berteriak-teriak.
"Jenderal Gan dan puteranya sudah tertangkap, tak perlu kalian melawan pula!"
Mereka berlari sambil merobohkan setiap penghalang dan tak lama kemudian mereka sudah mengamuk di belakang pintu gerbang.
Akhirnya mereka berhasil membuka pintu gerbang dan para pasukan yang sudah siap-siap di luar, melihat dibukanya pintu gerbang, dengan sorakan riuh menyerbu maju.
Terjadilah perang hebat.
Penjaga-penjaga di atas tembok mencoba menahan serbuan ini dengan anak panah dan batu, akan tetapi karena pintu gerbang sudah terbuka, para penyerang tidak mengenal takut.
Mereka terus menyerbu tanpa memperdulikan jatuhnya kawan-kawan dan akhirnya bobollah pertahanan kota An-yang.
Ang Sinshe akhirnya harus mengakui keunggulan Lee Ing.
Ia roboh dengan dada tertusuk pedang, napasnya empas-empis dan ia menggeletak bersama Jenderal Gan dan yang lain-lain.
Setelah Jenderal Gan dibebaskan totokannya oleh Lee Ing, ia memandang pemuda ini dengan mata mendelik.
"Jahanam pengecut! Tidak tahunya kau memang mata-mata Siok Beng Hui. Sayang aku sampai dapat tertipu oleh seorang iblis licik semacam kau."
"Gan-goanswe, dia itu adalah nona Souw Lee Ing, puteri tunggal Souw-taihiap. Dia hanya menjalankan tugas yang diatur oleh The-taijin,"
Kata Siok Beng Hui membela Lee Ing. Gan Lee Kong makin membelalakkan matanya, lalu menarik napas panjang.
"Yung Lo dibantu orang-orang pandai, bagaimana ia tidak akan berhasil? Aku sudah tua, tidak mampu menjalankan tugas dengan baik, hidup lebih lama lagi untuk apa?"
Setelah berkata demikian, jenderal tua ini menggigit sendiri lidahnya sampai putus dan ia roboh tak bernyawa lagi.
Gan Kun menggigit bibir menyaksikan peristiwa ini.
la tidak menangis, hanya air matanya mengalir turun dan mukanya menjadi pucat.
Karena jenderal dan puteranya berada dalam kekuasaan Siok Beng Hui dan kawan-kawannya, maka para panglima dan tentara musuh tidak berani lancang menyerang mereka yang berada di dalam ruangan itu.
Perang terjadi amat kejam dan cepat dan berakhir di sore hari.
Sebagian besar bala tentara penjaga An-yang tewas dan yang lain-lainnya kabur ke selatan atau ditawan.
Atas pertolongan Siok Beng Hui, kelak Gan Kun diampuni, malah diberi kedudukan oleh Kaisar Yung Lo yang tahu mempergunakan orang pandai.
Setelah selesai menduduki An-yang dan memulihkan keadaan di kota itu menjadi aman kembali, Siok Beng Hui memimpin pasukan-pasukannya terus menuju ke selatan.
Dalam serangan-serangan selanjurnya,jasa Souw Lee Ing amat besar, di samping bantuan Siok Bun dan Siok Ho.
Ternyata Lee Ing membuktikan dirinya sebagai seorang patriot wanita sejati, tidak kecewa menjadi puteri tunggal Souw Teng Wi, pahlawan rakyat yang terkenal itu.
Akan tetapi, sering kali Siok Ho mendapatkan gadis itu duduk termenung dan dua butir air mata membasahi pipinya.
Tahulah Siok Ho bahwa Lee Ing terkenang kepada Liem Han Sin dan gadis inipun ikut bersedih.
Waktu berjalan amat cepatnya.
Dua tahun terlewat semenjak perang dimulai.
Bala tentara Beng-tiauw yang mencoba mempertahankan kekuasaan lama, makin lama makin mundur dan serbuan bala tentara dari utara makin mendesak maju ke selatan.
Dalam sebuah pertempuran dahsyat antara dua pasukan yang bermusuhan, di antara para tawanan yang terluka hebat, Siok Beng Hui melihat seorang yang amat dikenalnya, yaitu bukan lain adalah Pek Ke Cui, orang bermuka seperti katak yang berpedang ular.
Seperti telah dituturkan di bagian depan, Pek Ke Cui adalah murid dari Im-kan Hek-mo dan dahulu bersama Gak Seng Cu murid Tok-pi Sin-kai, Pek Ke Cui ini pernah menyerang Siok Beng Hui kemudian dikalahkan oleh Lee Ing.
Berbeda dengan Gak Seng Cu yang tidak mau mencampuri perang, adalah Pek Ke Cui kena dibujuk oleh golongan selatan sehingga la ikut membantu.
Akhirnya ia terluka dan tertawan oleh pasukan Siok Beng Hui dan berhadapan dengan bekas kawan ini dalam keadaan terluka parah.
Dadanya (Lanjut ke
Jilid 29 -Tamat) Pusaka Gua Siluman (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 29 (Tamat) ditembusi anak panah dan pahanya hampir putus oleh sabetan pedang.
Napasnya Sudah empas-empis ketika ia diperiksa oleh Siok Beng Hui.
Siok Beng Hui juga telah diberi tahu oleh Siok Bun tentang Han Sin dan tentang kedukaan hati Lee Ing karena selalu memikirkan Han Sin.
Maka ketika melihat Pek Ke Cui, ia lalu bertanya.
"Saudara Pek, keadaanmu sudah payah. Sebelum kau meninggalkan dunia ini, mengingat akan hubungan guru-guru kita, maukah kau memberi keterangan sedikit kepadaku?"
Pek Ke Cui' menganggukkan kepalanya lalu berkata dengan suara lirih.
"Sudah banyak kesalahanku, yang terakhir kena bujuk, tidak tahunya pemerintah isinya barang-barang busuk, seperti menteri durna. Patut suhu marah-marah dan mencari-cariku.."
Ucapannya sudah setengah mengigau, tubuhnya panas sekali.
"Saudara Pek, kau yang datang dari kota raja selatan. Apakah kau tahu tentang diri seorang bernama Liem Han Sin, yang setahun yang lalu ditawan oleh kaki tangan Auwyang Peng?"
"Auwyang Peng..... manusia busuk... orang lain disuruh perang dia sendiri menyembunyikan harta bendanya, tahu-tahu sudah meletakkan jabatan pindah ke dusun.. pengecut busuk....."
"Tahukah kau di mana adanya orang bernama Liem Han Sin yang ditahannya?"
Siok Beng Hui mendesak.
Akan tetapi keadaan Pek Ke Cui sudah payah, ia hanya menggeleng-geleng kepala dan mengoceh tentang pembesar-pembesar korup di kota raja selatan.
Tak lama kemudian ia menghembuskan napas terakhir.
Malamnya Siok Beng Hui menceritakan kepada Lee Ing tentang pembicaraannya dengan Pek Ke Cui.
"Ternyata bangsat besar Auwyang Peng dan kaki tangannya sudah meninggalkan kota raja dan mengungsi ke dusun,"
Katanya.
"Tentu ke dusun Ki-chun, si pengecut itu!"
Kata Siok Bun gemas.
"Ke manapun juga dia pergi, akan tiba saatnya aku membalaskan dendam Kun-lun-pai kepada Tok-ong dan kawan-kawannya!"
Kata Siok Ho penuh dendam. Lee Ing diam saja, mengerutkan kening.
"Sayangnya dia tidak tahu tentang Liem-hiante..."
Kata pula Siok Beng Hui dengan hati-hati sekali agar jangan menyinggung perasaan Lee Ing. Juga kali ini Lee Ing diam saja. Tiba-tiba Siok Bun menepuk-nepuk pahanya dan kelihatan girang.
"Ah, mengapa aku sampai lupa? Setelah jahanam itu mengundurkan diri ke Ki-Chun, terbukalah jalan untuk menyerbu tempatnya dan membalas semua sakit hati! Nona Souw, dulu kau tidak berhasil menyerbu karena jahanam Auwyang itu masih tinggal di kota raja dan keadaan kota raja tentu saja terjaga kuat sekali dalam perang seperti ini. Sekarang dia sudah pindah ke Ki-chun, kita mendapat kesempatan baik. Siapa tahu kalau-kalau saudara Liem Han Sin juga ditahan di sana!"
Mendengar ucapan ini, baru tampak terbangun semangat Lee Ing. Akan tetapi ia masih ragu-ragu dan hanya bertanya.
"Apakah kau pikir begitu?"
"Tentu saja, tepat kata-kata Bun-ko tadi, adik Lee Ing,"
Kata Siok Ho girang.
"Mari kira bersama menyerbu ke sana, sudah gatal-gatal tanganku hendak memberi rasa kepada jahanam Auwyang itu."
"Aku juga akan menyertai kalian,"
Kala Siok Bun tanpa berpikir panjang karena merasa gembira. Lee Ing menoleh kepada Siok beng Hui dan berkata.
"Siok-lopek, bagaimana pendapatmu, kalau aku pergi ke selatan mencari jahanam Auwyang apakah kau tidak keberatan? Apakah tenagaku masih amat dibutuhkan di sini?"
Siok Beng Hui menarik napas panjang.
Tentu saja ia amat membutuhkan tenaga Lee Ing, akan tetapi iapun maklum bahwa gadis ini pergi bukan semata-mata hendak mencari Auwyang Peng dan kaki tangannya, melainkan terutama sekali hendak mencari Han Sin.
"Pergilah, anakku, pergilah kalau kau menghendaki demikian. Tentu saja bantuanmu di sini tak ternilai harganya, akan tetapi kau sudah cukup membantu, lagi pula pada waktu ini kita tidak menghadapi musuh tangguh. Kalau kau berniat ke selatan, berangkatlah sekalian kau selidiki keadaan musuh di sana!"
"Ayah, aku dan dia inipun ingin menyertai nona Souw,"
Kata Siok Bun menuding kepada kekasihnya. Siok Beng Hui mengerutkan keningnya.
"Sebetulnya tugasmu belum selesai, kalau semua pergi..."
Akan tetapi ia lalu memandang kepada calon mantunya dan akhirnya berkata.
"Baiklah, kalau kalian hendak pergi bersama nona Lee Ing, akupun tidak keberatan."
Lee Ing tidak banyak cakap pada malam hari tu, malah sore-sore ia sudah memasuki kamarnya dan tidur, akan tetapi ketika pada keesokan harinya semua orang mencarinya, nona itu ternyata sudah tidak berada lagi di dalam kamarnya.
Yang ada hanya tulisannya di atas sehelai surat yang ditujukan kepada Siok Bun dan Siok Ho.
Surat itu singkat saja,begini bunyinya.
"Biar aku pergi sendiri, kalian harus membantu Siok-lopek di sini. Sampai berjumpa kembali."
Demikianlah bunyi surat itu dan Siok Bun bersama kekasihnya hanya dapat saling pandang dan menarik napas panjang.
"Memang dia betul sekali. Perjuangan belum selesai. Kalau kita berdua pergi bersama Lee Ing, bagaimana dengan ayah? Dia memerlukan bantuan kita apa lagi setelah Lee Ing pergi."
Siok Ho hanya mengangguk, akan tetapi kemudian berkata lirih.
"Selain itu, mungkin Lee Ing menganggap bahwa kepandaian kita kurang tinggi. Memang, kalau di sana masih ada Tok-ong dan kawan-kawannya, kita takkan dapat membantu Lee Ing, malah merepotkan saja..."
Memang dugaan Siok Ho ini tepat sekali.
Lee Ing maklum betapa besar bahayanya melakukan perjalanan ke selatan, apa lagi mencari orang macam Auwyang Peng yang dilindungi oleh orang-orang pandai.
Kalau Siok Ho dan Siok Bun ikut, ia merasa kurang leluasa.
Lee Ing melakukan perjalanan lewat tengah malam menjelang fajar.
Ia mengenakan pakaian pria dan melakukan perjalanan cepat sekali, mengerahkan seluruh kepandaiannya dan andaikata ada orang yang melihat dia keluar malam hari itu, tentu orang itu tidak mengira bahwa bayangan yang berkelebat itu adalah bayangan orang.
Melakukan perjalanan pada waktu perang sedang hangat-hangatnya memang tidak mudah.
Apa lagi di daerah perbatasan.
Beberapa kali Lee Ing ditahan dan disangka mata-mata.
Akan tetapi berkat kepandaiannya, selalu ia dapat meloloskan diri dan setelah ia tiba di dekat Nan-king, dia tidak pernah mengalami gangguan lagi.
Apa lagi dia berpakaian pria dan kelihatan seperti seorang kongcu yang sedang melarikan diri ke selatan menjauhi perang.
Tidak ada orang yang mencurigainya.
Namun demikian, Lee Ing tidak berani coba-coba memasuki kota raja, karena berbeda dengan tempat-tempat lain, di kota raja dilakukan penjagaan amat keras dan setiap orang yang masuk ke kota raja tentu selalu diawasi dan dicurigai, kecuali mereka yang sudah dikenal dan mempunyai hubungan keluarga dengan penduduk kota.
Lee Ing mengambil jalan memutar, menyeberangi Sungai Huai dan Sungai Yang-ce dan mengambil jalan di sebelah barat An-hwei lalu membelok ke timur memasuki Propinsi Cekiang.
Karena sebelumnya ia sudah minta keterangan sejelasnya tentang letak dusun Ki-chun kepada Siok Beng Hui yang pembantunya banyak orang-orang selatan, maka kini Lee Ing tidak bingung-bingung lagi.
Hanya dua tiga kali ia bertanya jalan pada kaum tani dan akhirnya ia memasuki dusun Ki-chun.
Lee Ing berlaku hati-hati sekali, tidak langsung memasuki dusun itu di waktu siang, la bersembunyi di luar dusun dalam sebuah hutan, menanti datangnya malam.
Setelah malam tiba, ia memasuki dusun dengan jalan sembunyi.
Dengan cermat la memeriksa keadaan dusun itu.
Ternyata dusun itu cukup makmur, dengan penghasilan penduduknya dari dua sumber, yaitu menggarap tanah dan memungut hasil laut.
Banyak rumah besar di dusun Itu, akan tetapi di antaranya terdapat sebuah gedung baru yang seperti istana.
Berdebar hati Lee Ing ketika ia bersembunyi di tempat gelap memandangi gedung itu.
Kalau betul Auwyang Peng tinggal di dusun ini, tentu gedung inilah tempat tinggalnya, demikian pikirnya.
Akan tetapi ia tidak berani berlaku lancang.
Ia takkan mau menyerbu sebelum yakin benar bahwa rumah itu betul tempat tinggal musuhnya.
Cepat ia meninggalkan tempat itu, kembali ke dalam hutan lalu beristirahat di atas pohon.
Pada keesokan harinya, ia sengaja mencegat seorang petani tua yang lewat di pinggir hutan.
Tentu saja petani itu kaget melihat seorang pemuda asing di tempat itu.
"Lopek,"
Lee Ing memberi hormat.
"'harap lopek sudi menolongku. Aku datang dari An-hwei dan hendak mencari seorang pamanku yang kabarnya sudah mengungsi di dusun Ki-chun ini. Pamanku itu she Liok, apakah betul dia pindah ke sini?"
"She Liok...? Memang banyak orang pindah ke sini, pembesar-pembesar dan x hartawan-hartawan, akan tetapi kurasa tidak ada yang she Liok."
Kakek itu mengerutkan kening, berpikir-pikir.
"Betul, tidak ada yang she Liok, orang muda."
Lee Ing memperlihatkan muka kecewa.
"Sayang sekali. Pamanku itu pindah dari kota raja, kabarnya dengan banyak kawan-kawannya dari kota raja pula."
"Memang banyak pembesar-pembesar kota raja. Kalau begitu, lebih baik kau bertanya saja kepada mereka yang datang dari kota raja."
"Mereka itu siapa saja, lopek? Orang-orang She apa? Barangkali saja ada yang kukenal."
"Ada she Thio, ada she Gui, ada pula bekas menteri she Auwyang...."
"Nah, bekas menteri itu barangkali aku kenal. Bukankah dia bernama Auwyang Peng dan puteranya bernama Auwyang Tek?"
"Betul,"
Jawab kakek itu singkat dan keningnya berkerut seperti orang tak senang, la lalu menggerakkan kaki hendak pergi.
"Nanti dulu, lopek. Di mana rumah Auwyang-taijin itu?"
"Di mana lagi kalau bukan di istana paling indah itu....."
Jawab kakek itu sambil ngeluyur pergi.
Lee Ing girang sekali.
Tidak salah dugaannya, rumah gedung itulah tempat tinggal musuh besarnya.
Kelihatannya malam tadi sepi-sepi saja, akan tetapi ia harus berlaku hati-hati.
Siapa tahu kalau-kalau bekas menteri durna itu memasang perangkap dan bersiap sedia menanti penyerbuan musuh.
Kali ini ia tidak boleh gagal.
Kalau mereka tidak bisa mengeluarkan han Sin dalam keadaan sehat, mereka akan tahu rasa!
Sehari itu Lee Ing tidak mau memperlihatkan diri kepada Umum.
la bersembunyi saja di dalam hutan dan makan roti kering yang memang dibawanya sebelum ia memasuki dusun Ki-chun.
Setelah malam tiba dan keadaan menjadi gelap, barulah ia bertukar pakaian, la hendak terang-terangan menghadapi Auwyang-Taijin dan kaki tangannya, tidak perlu lagi menyamar, la hendak melunasi kontan semua hutang-pihutang dengan Auwyang Peng sekaki tangannya.
Harus selesai dan beres pada malam hari ini juga!
Kemudian mulailah ia memasuki dusun itu dan berjalan di dalam bayangan yang gelap.
Setelah tiba di depan gedung besar itu, ia menyelinap dan mempergunakan kepandaiannya untuk melompat ke atas pohon besar yang tumbuh di sebelah kiri gedung, la berjongkok di atas cabang pohon sambil mengintai.
Rumah itu diterangi banyak lampu, akan tetapi penerangan yang menyorot keluar dan ruangan belakang adalah penerangan yang paling besar, la menanti beberapa lama sambil melamun.
Terbayang semua pengalamannya dahulu, betapa ia diculik Mo Hun dan hampir celaka di tangan iblis itu.
Betapa ayahnya dibikin buta dan disiksa oleh Tok-ong Kai Song Cinjin.
Betapa jahatnya Auwyang Tek bersama kaki tangannya dan betapa kekasihnya, Liem Han Sin.
juga celaka di tangan kaki tangan menteri durna itu.
Teringat akan ini semua, Lee Ing menggigit bibirnya dan hatinya panas bukan main.
Tangan kanannya meraba-raba gagang pedang dan kalau orang melihat sinar matanya, tentu akan kaget dan takut.
Sinar mata itu seakan-akan mengeluarkan api.
seperti mata harimau di tempat gelap mencorong!
Menjelang malam, setelah suasana di sekeliling tempat itu sunyi benar, baru terdengar suara orang bercakap-cakap dan tertawa-tawa di sebelah belakang gedung itu, dan Lee Ing dapat menduga adanya beberapa orang yang sedang mengobrol di dalam ruangan yang paling terang.
Cepat ia melompat dari cabang pohon itu ke atas genteng, la amat berhati-hati, mengerahkan ginkangnya sehingga ketika kedua kakinya menginjak genteng, hanya menimbulkan suara tidak lebih berisik dari pada kalau ada sehelai daun kering rontok ke atas genteng itu.
Setelah tiba di atas genteng ruangan itu dan mengintai ke bawah, Lee Ing mengertak gigi dan matanya bersinar-sinar.
Lengkap semua musuh-musuhnya duduk menghadapi meja hidangan di dalam ruangan itu.
Auwyang Peng yang tinggi kurus duduk di kepala meja, pakaiannya mewah dan sikapnya masih seperti seorang menteri tulen.
Di kirinya duduk Auwyang Tek, pemuda pesolek yang masih kelihatan kesombongannya.
Di sebelah kanan bekas pembesar duduk Tok-ong Kai Song Cinjin, lalu Toat-beng-pian Mo Hun dan Ma-thouw koai-tung Kui Ek dan paling akhir Yokuto, hwesio dari Jepang itu.
Mereka semua menghadapi meja besar yang penuh hidangan.
Enam orang pelayan muda dan cantik-cantik melayani mereka.
Dari atas genteng saja Lee Ing sudah mencium bau arak wangi.
Semua nampak gembira sekali.
"Apakah perahu-perahunya sudah siap semua?"
Terdengar Auwyang Peng mengajukan pertanyaan kepada Yokuto di antara-gelak tawa mereka.
"Sudah, sudah siap. Sewaktu-waktu kalau taijin hendak berangkat, tinggal memasang layar saja,"
Jawab orang Jepang itu.
"Sebetulnya aku tidak senang harus bersembunyi di pulau kosong itu."
Kata pula Auwyang Peng.
"Tidak apa, ayah. Hanya untuk sementara waktu. Kalau perang sudah berakhir dan keadaan aman betul, kita bisa pindah lagi ke kota besar dan hidup tenteram. Sementara itu, dengan adanya suhu dan para locianpwe yang mengawani kita, siapa orangnya yang berani mengganggu?"
Kata Awyang Tek sambil minum araknya. Kau betul.. kau betul.... hayo tambah arak lagi, kita harus makan minum sepuasnya untuk mengantar keselamatan pelayaran kita besok pagi-pagi."
Lee Ing berdebar hatinya.
Tak salah lagi, pembesar korup ini tentu merasa kurang aman di dusun ini dan bersama kaki tangannya hendak bersembunyi ke seberang laut, ke pulau kosong, tentu saja membawa serta harta benda hasil korupsinya.
"Semua gara-gara gadis siluman itu, sampai-sampai terpaksa kita mesti menyembunyikan diri,"
Kata pula Auwyang Peng.
"Aaah, gadis seperti itu apa sih artinya?"
Yokuto menyombong.
"Kalau dia berani muncul, serahkan saja kepada pinceng, akan pinceng tangkap dan ikat seperti Orang mengikat ayam."
"Ha-ha-ha, tapi jangan dibunuh, Yokuto suhu, berikan padaku!"
Kata Auwyang Tek tanpa malu-malu lagi, biarpun ayahnya berada di situ. Lee Ing menggigit bibir, tak dapat ia menahan lagi kemarahannya.
"Brak!"
Genteng diinjaknya pecah dan ia melompat turun ke dalam ruangan itu, sengaja ia melompat turun di atas meja di depan mereka!
Tentu saja semua orang menjadi kaget setengah mati.
Auwyang Peng sampai menjadi pucat dan berteriak.
"Ayaaaaaa..!"
"Manusia-manusia anjing, aku Souw Lee Ing sudah datang hendak menuntut balas! Tok ong iblis gundul, kau mau maju satu-satu ataukah mukamu sudah begitu tebal untuk mengeroyokku?"
Tok-ong tak sempat menjawab.
Sebagai seorang tokoh besar tentu saja ia merasa malu mengeroyok dan untuk menghadapi Lee Ing iapun tidak takut, percaya penuh akan kepandaiannya sendiri yang selama ini terus ia latih dan tambah.
"He, anjing gundul kate, kau tadi hendak menangkap dan mengikatku seperti ayam. Hayo lekas lakukan, hendak menunggu apa lagi?"
Lee Ing menudingkan telunjuk ke arah hidung Yokuto.
Dihina seperti itu, Yokuto marah sekali.
Di Jepang dia terkenal sebagai seorang guru besar yang pandai ilmu silat dan ilmu tangkap (yudo).
Biarpun ia maklum bahwa Negara Tiongkok jauh lebih besar dari pada negerinya dan mempunyai banyak sekali orang pandai sehingga kepandaiannya sendiri tidak ada artinya, namun menghadapi seorang gadis muda seperti Lee Ing tentu saja ia tidak gentar.
Melihat gadis itu menudingkan telunjuk di depan hidungnya, secepat kilat ia lalu menyambar tangan gadis itu dan di lain saat pergelangan tangan Lee Ing telah digenggamnya erat erat!
Auwyang Tek berseru.
"Bagus!!"
Dan menjadi girang sekali.
Juga ayahnya, Auwyang Peng kelihatan gembira karena jagonya sudah dapat menangkap pergelangan tangan gadis musuhnya itu.
Tok-ong Kai Song Cinjin tersenyum dan kawan-kawannya juga nampak gembira.
Sebaliknya, enam orang pelayan itu dengan muka pucat dan tubuh gemetar cepat-cepat mengundurkan diri, berlari-lari di atas kaki-kaki mereka yang kecil itu ke sebelah belakang.
Akan tetapi, kalau tadi Yokuto dapat menangkap pergelangan tangan Lee Ing, bukanlah karena Yokuto terlalu cepat bagi Lee Ing.
Sesungguhnya adalah Lee Ing sendiri yang sengaja tidak mengelak malah menggunakan tangan yang diulur tadi sebagai umpan pancing.
Ketika Yokuto menangkap tangannya, ia menganggap pancingannya berhasil.
Dengan pengerahan Iweekangnya yang luar biasa, ia menyendal tangannya dengan gerakan mendadak dan...
tubuh Yokuto tertarik ke atas!
Yokuto memekik keras, akan tetapi dengan gaya indah Lee Ing sudah mengayun tubuh jago kate itu sehingga kepala yang gundul berada di bawah dan kakinya di atas.
Sebelum Yokuto sempat mempertahankan diri, Lee Ing sudah membanting tubuh itu dan..."cepp.....!!"
Kepala gundul itu tepat sekali masuk ke dalam kwali besi tempat bubur panas.
Lucu sekali keadaan jago Jepang itu.
Tinggal kaki dan tangannya saja bergerak-gerak, kepalanya tergodok ke dalam bubur panas.
"Setan!"
Auwyang Peng memukul-mukul meja dan Mo Hun sudah bangkit dari duduknya, menjura kepada Auwyang Peng sambil berkata.
"Taijin, ijinkan hamba menghajar siluman ini!"
Auwyang Peng mengangguk dan "tar tar-tar!"
Cambuk kelabang di tangan Mo Hun menjetar-jetar dan menyambar-nyambar ke arah Lee Ing yang masih berdiri di atas meja.
Lee Ing menendang tubuh Yokuto yang sudah berkelojotan dan..
tak dapat dicegah lagi tubuh itu menjadi korban pukulan-pukulan Toat-beng-pian (Cambuk Pencabut Nyawa) yang dipergunakan Mo Hun untuk menyerang.
Tanpa dapat menjerit lagi karena kepalanya terpendam dalam bubur, Yokuto terlempar dan roboh dengan tubuh rusak, dan tewas di saat itu juga.
"Iblis pemakan otak, kau ke sinilah kalau berani!"
Lee Ing mengejek sambil melompat turun dari atas meja.
Mo Hun memutar piannya dengan kemarahan meluap-luap, la sudah tahu akan kelihaian Lee Ing, akan tetapi ia masih mengandalkan kepandaiannya sendiri dan senjatanya yang jarang gagal, apa lagi di situ banyak teman-temannya, hatinya menjadi besar.
Dengan gerengan seperti seekor singa kelaparan, Mo Hun menubruk maju dan pian di tangannya itu sekaligus melakukan tiga macam serangan.
Pertama menghajar kepala disusul sabetan pada leher dan sodokan ke arah perut.
"Tak perlu kau berlagak dengan pianmul"
Lee Ing mengejek sambil menggerakkan tubuhnya dengan cara aneh ke kanan kiri dan semua serangan itu mengenai tempat kosong.
Sementara itu diam-diam Tok-ong Kai Song Cinjin sudah memberi isyarat kepada Kui Ek untuk maju membantu Mo Hun.
Kui Ek tidak berahi membantah Memang iapun merasa lebih tabah kalau mengeroyok, karena tahu bahwa kalau ia melawan seorang diri, tak mungkin ia menang.
Tanpa banyak cakap lagi ia melompat ke depan dan tongkatnya yang panjang itu mengimbangi permainan cambuk Mo Hun, merupakan serangan yang ampun dan berbahaya.
Lee Ing tidak mau membuang banyak waktu.
Dengan gerakan kilat sehingga tak dapat diikuti oleh pandangan mata, ia sudah mencabut Li-lian-kiam, pedangnya yang pendek dan tipis.
Tampak sinar terang berkelebatan ketika ia mainkan pedangnya itu untuk menghadapi cambuk Mo Hun dan tongkat Kui Ek.
Biarpun pedangnya hanya pendek dan tipis, namun berkat kegesitannya, sinar pedangnya melebar dan memanjang, tidak saja dapat menangkis semua serangan senjata dua orang lawannya, malah masih dapat mengurung dan membuat dua orang kosen itu kewalahan.
Yang hebat, sinar pedang itu di tangan Lee Ing sebentar mengandung hawa panas dan tiba-tiba berubah dan mengandung hawa dingin.
Inilah daya tenaga Im-kang dan Yang-kang yang dimajukan secara berganti-ganti untuk membuyarkan pengerahan tenaga lawan.
Hanya seorang yang sudah memiliki sin-kang (hawa sakti) dalam tubuh setinggi Lee Ing saja yang akan dapat mempergunakan dua macam hawa yang bertentangan itu sekehendak hatinya dan secara berganti-ganti.
Mo Hun dan Kui Ek, dua orang jago yang banyak pengalamannya dalam pertempuran, yang sudah membunuh entah berapa banyak musuh, sekarang menjadi bingung sekali menghadapi amukan Lee Ing, murid Gua Siluman itu.
Dalam jurus ke tiga puluh saja, ujung pedang Lee Ing sudah membabat putus ujung cambuk Mo Hun dan pundak Kui Ek sudah berdarah karena ""tercium"
Ujung sinar pedang Li-lian-kiam.
Patahlah semangat dua orang itu dan mereka mulai kacau gerakan-gerakan mereka.
Melihat ini, kecutlah hati Auwyang Peng.
Ia memberi isyarat kepada Tok-ong untuk maju.
Tok-ong di dalam hatinya girang, karena melihat permainan Lee Ing, iapun akan lebih merasa aman kalau maju bersama Kui Ek dan Mo Hun.
Akan tetapi untuk menutupi malunya, ia berkata keras-keras.
"Sebetulnya tak perlu mengeroyok, akan tetapi kalau taijin menghendaki, biarlah pinceng maju. Ji-wi sicu jangan kuatir, biar pinceng bantu tangkap siluman ini!"
Setelah berkata demikian, Tok-ong Kai Song Cinjin menerjang maju dengan kebutan di tangan kiri dan tasbeh di tangan kanan. Gerakannya hebat sekali, mendatangkan angin berputar-putar.
"Bagus, sekarang lengkap musuh-musuhku!"
Lee Ing berseru dan tiba-tiba tubuhnya lenyap terbungkus sinar pedangnya sendiri.
Gadis ini telah mengeluarkan ilmu silatnya yang paling hebat, yaitu bagian-bagian paling sukar dari ilmu silat warisan gurunya.
Saking cepatnya gerakan-gerakannya, kadang-kadang ia lenyap dan kadang-kadang ia kelihatan berdiri tak bergerak seperti pa-tung!
Benar-benar ilmu silat yang aneh sekali sehingga Tok-ong Kai Song Cinjin sendiri sampai menjadi bingung dan tidak dapat menduga perubahan-perubahan yang terjadi dalam gerak-gerik gadis itu.
Karena maklum bahwa tiga orang musuhnya ini tak boleh dipandang ringan, Lee Ing mengumpulkan semangatnya dan tiba-tiba ia mengeluarkan jeritan yang demikian nyaring dan aneh, jeritan yang seperti bukan keluar dari mulut seorang manusia, lebih patut keluar dari mulut seorang iblis.
Tok-ong Kai Song Cinjin cepat-cepat mengeluarkan auman seperti singa karena ia merasa kedua tangannya gemetar ketika mendengar jerit itu.
Kui Ek dan Mo Hun menjadi lumpuh seketika dan saat itu dipergunakan oleh Lee Ing untuk menggerakkan pedang dan tangan kirinya.
Dalam saat hampir bersamaan, leher Mo Hun putus oleh pedang Li-lian-kiam, kepalanya menggelinding di pojok dan dari lehernya muncrat darah segar, sedangkan Kui Ek roboh binasa dengan dada pecah terkena pukulan tangan kiri gadis itu yang menggunakan Iweekang sepenuhnya.
Bukan kepalang kagetnya hati Tok-ong Kai Song Cinjin melihat kejadian ini.
Tak tersangka-sangka sama sekali bahwa gadis itu dapat bergerak secepat itu.
la menjadi panik dan dalam keadaan terdesak, ujung pedang Li-lian-kiam sudah mendekati lehernya.
Tok-ong berseru keras dan menge-butkan lengan bajunya untuk menangkis.
"Brett!"
Ujung lengan bajunya terpotong oleh pedang dan masih saja ujung pedang itu menikam leher.
Cepat Tok-ong melempar diri ke belakang dan bergulingan menjauhi Lee Ing.
Pada waktu itu, Auwyang Peng yang melihat tewasnya Kui Ek dan Mo Hun, cepat pergi bersama puteranya hendak melarikan diri.
"Bangsat rendah, hendak lari ke mana?"
Lee Ing untuk sesaat tidak memperdulikan Tok-ong dan sebaliknya ia melompat cepat sekali mengejar Auwyang Peng dan Auwyang Tek yang hendak lari melalui pintu samping.
Gerakan Lee Ing cepat bukan main sehingga lompatannya tadi membuat ia melewati kepala dua orang itu dan tahu-tahu ia sudah berdiri di hadapan mereka.
Auwyang Peng menjadi pucat, sedangkan Auw-yang Tek yang melihat musuh besarnya sudah menghadang di depannya, menjadi nekat.
Dengan sepenuh tenaga ia menyerang Lee Ing dengan pukulan Hek-tok-ciang.
"Brett!"
Ujung lengan bajunya terpotong oleh pedang dan masih saja ujung pedang itu menikam leher.
"Plak! Plak!"
Lee Ing menyambut pukulan dua tangan itu dengan telapak tangannya.
Dua tangan bertemu dan akibatnya hebat.
Auwyang Tek terjengkang mundur dan dari mulutnya menyembur darah hitam.
Ia terkena pukulan Hek-tok tiang sendiri yang membalik ketika hawa pukulan itu terbentur dengan hawa pukulan Lee Ing yang jauh lebih kuat.
Auwyang Tek roboh dan tewas di saat itu juga, tewas Oleh pukulan Hek-tok-ciang yang sudah membinasakan entah berapa banyak orang itu.
Auwyang Peng memandang dengan mata terbelalak, kemudian tanpa malu-malu lagi pengecut ini menjatuhkan diri berlutut di depan Lee Ing.
"Nona... am.... ampunkan....... ampunkan aku yang sudah tua...!"
Hampir ia pingsan takutnya.
Sikapnya ini tidak membuat Lee Ing menjadi kasihan, malah sebaliknya membuat gadis itu makin benci dan jijik.
Sikap bekas menteri durna itu tiada ubahnya seekor cacing merayap rayap kepanasan.
"Bluk!"
Sebuah tendangan membuat Auwyang Peng terjengkang. Sambil menangis saking takutnya, ia merayap dan berlutut sambil mengangguk-anggukkan kepalanya seperti seorang penjilat di depan kaisar.
"Hayo katakan di mana adanya Liem Han Sin?"
Bentak Lee Ing dengan suara keren.
"Oohhh.... dia.... dia...."
Bekas pembesar itu tak dapat melanjutkan kata-katanya saking gagapnya dan pada saat itu lantai di bawahnya telah basah semua!
Benar-benar kelihatan sekali sifat pengecut yang amat hina dalam diri bekas pembesar koruptor bejat ini.
"Kauapakan dia? Hayo lekas bicara!"
Lee Ing membentak lagi sambil menodongkan pedangnya di leher Auwyang Peng.
"Tidak.... tidak kuapa-apakan... dia.... dia diculik orang sebulan yang lalu...... lenyap dari kamar tahanan..."
"Awas kalau kau bohong!"
"Ti... tidak...."
Pada saat itu, belasan batang anak panah menyambar ke arah Lee Ing. Gadis ini melompat ke atas dan.....
"cap-cap!"
Sedikitnya empat batang anak panah yang tadinya ditujukan kepada Lee Ing mendapatkan sasaran di tubuh Auhryang Peng!
Tentu saja bekas pembesar korup ini berkelojotan dan mampus tak lama kemudian.
Segala macam kemuliaan dan harta benda yang ia dapat dengan jalan korupsi dan menggencet rakyat, ternyata ia tinggalkan, tidak ia bawa serta ke neraka.
Ketika Lee Ing memandang, ternyata yang melepaskan anak panah adalah para tukang pukul atau penjaga keamanan yang memang dipelihara oleh Auwyang Peng untuk menjaga keamanannya di kampung itu.
Lee Ing marah sekaii.
Tubuhnya berkelebat dan tak lama kemudian terdengar pekik-pekik kesakitan dibarengi robohnya banyak orang penjaga.
Yang lain-lain melarikan diri cerai-berai di malam gelap itu.
Lee Ing celingukan, mencari-cari di mana adanya Tok-ong Kai Song Cinjin.
Ketika tadi ia mengejar Auwyang Peng dan Auwyang Tek, Tok ong secara licik dan diam-diam lalu melarikan diri, setelah menyuruh penjaga-penjaga menghujankan anak panah.
Lee Ing lalu menangkap seorang penjaga yang sudah terluka dan mengancamnya.
"Hayo katakan di mana adanya si gundul Tok-ong Kai Song Cinjin?"
"Ham..... hamba..... ti... tidak tahu....."
Penjaga itu berkata ketakutan. Pikiran Lee Ing berputar. Ia teringajt akan pembicaraan mereka tadi tentang perahu-perahu yang hendak membawa mereka ke pulau kosong.
"Hayo katakan di mana Auwyang Taijin menaruh perahu-perahunya yang hendak membawanya ke pulau!"
"Di... di pantai sebelah selatan... kira-kira tiga puluh li dari sini."
Lee Ing menendang penjaga itu lalu lari cepat-cepat menuju ke timur.
Menjelang pagi ia sampai di pantai laut, lalu ia berlari ke selatan di sepanjang pantai itu.
Benar saja, tak lama kemudian ia melihat ada lima buah perahu besar di pantai, siap untuk diberangkatkan.
Dan alangkah girangnya ketika ia melihat seorang berkepala gundul berada di sebuah perahu.
Tok-ohg Kai Song Cinjin berada di sana!
Ia mempercepat larinya.
Agaknya Kai Song Cinjin juga sudah melihat kedatangannya karena perahu yang ditumpanginya segera bergerak ke tengah.
Dengan bantuan tiga orang anak buah perahu, Kai Song Cinjin melarikan diri.
Kakek gundul itu tertawa bergelak ketika melihat Lee Ing marah-marah di pinggir pantai.
Akan tetapi Lee Ing tidak putus harapan, la melompat ke atas sebuah perahu yang kosong.
Biarpun belum berpengalaman benar, tetapi ia pernah menjalankan perahu bersama ayahnya ketika ia dan ayahnya dahulu merampas perahu bajak laut Sim Kang, la cepat mendayung perahu itu ketengah, lalu memasang layar.
Perahunya meluncur cepat dan ia memegang kemudi, mengerahkan perahunya mengejar perahu Kai Song Cinjin!
Akan tetapi Lee Ing kalah pengalaman.
Yang mengemudikan perahu di depan itu adalah tiga orang nelayan pandai, sedangkan dia tidak mempunyai pembantu dan cara ia memasang layar juga kurang sempurna.
Baiknya, perahunya itu kosong sedangkan perahu kai Song Cinjin membawa muatan berpeti-peti, muatan yang berat karena terisi barang-barang berharga seperti emas dan perak.
Karena inilah maka ia tidak tertinggal terlalu jauh.
Menjelang tengah hari, dua perahu yang berkejaran itu memasuki daerah yang berpulau.
Sebentar saja Lee Ing kehilangan jejak perahu di depan, la menjadi jengkel sekali, juga penasaran.
Sampai hampir senja ia berputaran di utara pulau-pulau itu, namun sia-sia saja.
Tidak kelihatan perahu Kai Song Cinjin!
Karena sudah lelah, ia lalu minggirkan perahunya mendekati sebuah pulau yang terbesar, pulau yang subur tanahnya karena di situ penuh dengan pohon-pohon hijau.
Ketika perahunya sudah menempel pantai, ia mengeluarkan seruan girang karena kini terlihatlah perahu Kai Song Cinjin, sudah diseret naik ke darat dan tertutup oleh pepohonan, pantas saja tidak kelihatan dari laut.
Cepat Lee Ing melompat dan lari cepat memasuki pulau berhutan itu..
Dan kembali ia tercengang karena dari jauh ia sudah mendengar orang bertempur.
Makin dekat ia makin jelas mendengar seruan-seruan mereka dan kagetlah ia ketika terdengar pula hawa pukulan yang membuat daun-daun pohon berkerosakan seperti ada angin besar.
Orang-orang pandai kiranya yang bertempur, pikirnya sambil mempercepat larinya.
Tiba-tiba ia berhenti dan memandang dengan bengong.
Ternyata Kai Song Cinjin sedang sibuk sekali melayani serangan dua orang kakek yang menyerangnya secara aneh karena kakek yang pertama buntung kedua lengannya sedangkan yang kedua buta kedua matanya!
Mereka itu bukan lain adalah Tok-pi Sin-kai dan Im-kan Hek-mo, dua orang tokoh besar persilatan yang dulu karena kalah olehnya lalu Tok-pi Sin-kai membuntungi lengan sendiri yang tinggal sebelah sedangkan Im-kan Hek-mo mencokel keluar kedua biji matanya!
Sekarang dua orang kakek itu menyerang Kai Song Cinjin dengan hebat sekali.
Lee Ing kagum bukan main melihat cara Tok-pi Sin-kai bertempur.
Biarpun kedua lengannya sudah buntung, hanya tinggal sebatas siku, namun dua lengan pendek ini masih dapat melakukan pukulan-pukulan hebat.
Dan Im-kan Hek-mo yang kedua matanya sudah berlubang besar dan kosong itu, seperti tidak buta saja, menyerang dengan gerakan leluasa sekali.
Celakalah Kai Song Cinjin karena terpaksa ia harus mengakui keunggulan dua orang kakek yang sudah menjadi penderita cacad itu!
Dia, tokoh besar Tibet selama ini jarang menemui tandingan, sekarang kewalahan menghadapi serangan-serangan dua orang kakek yang buta dan buntung!
"Sin-kai dan Hek-mo, jangan mendesak pin-ceng.
Kalau kalian mau, ambillah Semua harta di perahu itu!"
Kata Kai Song Cinjin terengah-engah kehabisan napas dan sudah lemas sekali.
"Ha-ha-ha, Tok-ong. Tempo hari kau mengandalkan keroyokan, maka dapat mengusir kami, sekarang rasakan pembalasan dua orang kakek cacad. Ha-ha!"
Tok-pi Sin-kai tertawa mengejek.
"Ji-wi locianpwe, jangan biarkan dia lolos!"
Teriak Lee Ing dari jauh sambil berlari mendekat. Mendengar suara ini. Tok-ong menjadi pucat sekali.
"Celaka."
Teriaknya dan saking kagetnya ia berlaku lambat sehingga tongkat ular di tangan Im-kan Hek-mo dengan keras menusuk lambungnya disusul oleh dua pukulan lengan buntung Tok-pi Sin-kai.
"Aduhhhh....I"
Tok-ong Kai Song Cinjin terhuyung-huyung.
Pada saat itu Lee Ing sudah datang dekat.
Melihat ini, Tok-ong saking takutnya lalu melompat jauh sekali menjauhi gadis itu, tanpa melihat lagi ke mana ia melompat.
Di lain saat terdengar jerit yang menyayat hati ketika tubuh Kai Song Cinjin yang sudah terluka berat itu meluncur ke dalam jurang yang amat dalam, untuk menemui maut dengan tubuh hancur tak berbekas lagi karena jurang itu dasarnya penuh batu-batu karang yang tajam meruncing!
Lee Ing menjenguk ke dalam jurang dan menarik napas panjang.
Habislah semua musuh-musuhnya, terbalaslah semua sakit hati.
Akan tetapi apa artinya semua itu kalau Han Sin tak dapat ia temukan?
Teringat akan kekasihnya itu yang tak mungkin dapat ia jumpai kembali karena semua orang yang dulu menawannya kini sudah mati semua.
Lee Ing menjatuhkan diri berlutut di atas tanah lalu menangis terisak-isak!
"Eh, eh.
musuh tewas kok malah menangis.
Aturan mana ini?"
Terdengar suara mencela di belakangnya, suara Tok-pi Sin-kai yang kecil nyaring.
"Nona, tangismu menyedihkan hatiku. Kenapa kau menangis? Coba kau ceritakan kepada kami. Tak pantas murid pandai dari Bu-Beng Sin-kun yang gagah perkasa menangis begini menyedihkan. apalagi sebagai puteri Souw Teng Wi. pantang menangis!"
Im-kan Hek-mo juga mencela dengan suaranya yang parau besar. Dicela begitu, makin hebat tangis Lee Ing. Ia merasa sengsara, nelangsa, dan terharu.
"Ji-wi locianpwe tidak tahu,"
Katanya terisak isak.
"mereka itu, Tok-ong dan kawan-kawannya yang jahat... mereka telah menangkap Sin ko...... sekarang mereka sudah mati semua, ke mana aku harus mencari Sin-ko....??"
"Ah, kiranya urusan yang kau tangisi hanya demikian sepele (sederhana), kalau hanya begitu saja, aku si buta masih dapat membantumu......"
Kata Im-kan Hek-mo. Mendengar ini Lee Ing melompat bangun dan memegang tangan Iblis Hitam Akhirat itu.
"Locianpwe, harap jangan main-main. Benarkah kau dapat memberi petunjuk di mana adanya Sin-ko?"
"Nanti dulu,"
Tok-pi Sin-kai mencela.
"nona Souw, apakah kau betul-betul cinta kepada Liem Han Sin?"
Saking tegang dan girang karena timbul harapan, Lee Ing sampai tidak memperhatikan bagaimana dua orang ini tahu bahwa yang ia panggil Sin-ko adalah Liem Han Sin.
Mukanya menjadi merah sekali mendengar pertanyaan Itu, akan tetapi tanpa ragu-ragu lagi ia menjawab.
"Dia adalah satu-satunya orang di dunia ini yang kuharapkan menjadi.... menjadi..... kawan selamanya...."
"Jadi kau mau berkorban apa saja demi keselamatannya?"
Tanya pula Tok-pi Sin-kai.
"Aku bersedia! Biar berkorban nyawa sekalipun,"
Jawab Lee Ing dengan isak ditahan.
"Bagus! Kalau begitu, kau ajarkan kepada kami pukulan-pukulan Bu-Beng Sin-kun yang terpenting, yang kau pakai mengalahkan kami tempo dulu. Kalau-kau meluluskan permintaan ini, baru kami hendak menjamin pertemuan kembali dengan Sin-komu itu."
Wajah Lee Ing berseri.
"Betulkah? Locianpwe, jangan permainkan aku seorang gadis sengsara. Betulkah itu?"
"Kami sudah tua bangka hampir mampus, perlu apa main-main? Hayo lekas kau buka rahasia ilmu Bu-Beng Sin-kun yang mengalahkan kami."
"Baik, perhatikan sungguh-sungguh."
Dengan jelas tanpa menyembunyikan sesuatu Lee Ing lalu bersilat, memberi petunjuk-petunjuk tentang ilmu silat peninggalan Bu-Beng Sin-kun yang ia pergunakan untuk mengalahkan dua orang tokoh itu.
Tok-pi Sin-kai memandang penuh perhatian.
Im-kan Hek-mo miringkan kepala untuk menangkap gerakan-gerakan itu dengan pendengarannya.
Sampai setengah hari ia memberi petunjuk-petunjuk kepada dua orang kakek itu.
Hari sudah terganti malam, akan tetapi dua orang kakek itu masih belum puas.
Silih berganti mereka mengajak Lee Ing bertanding setelah mereka mempelajari gerakan-gerakan itu.
Mula-mula mereka masih belum mampu mengalahkan Lee Ing, akan tetapi setelah berganti-ganti bertempur semalam suntuk, pada waktu fajar menyingsing akhirnya Lee Ing dapat mereka kalahkan!
"Sudah puaskah ji-wi sekarang?"
Tanya Lee Ing dengan lesu sambil merayap bangun dari tanah di mana ia tadi terjungkal. Tok-pi Sin-kai dan Im-kan Hek-mo tertawa bergelak-gelak.
"Ha-ha-ha, Bu-Beng Sin-kun, pada saat-saat terakhir kamilah yang lebih unggul."
"Ji-wi locianpwe, aku telah memenuhi kehendak ji-wi, sekarang harap ji-wi memenuhi janji,"
Kata Lee Ing penuh harapan. Ia mau melakukan segala permintaan dua orang kakek aneh itu karena memang merekalah harapannya terakhir untuk bertemu kembali dengan Han Sin.
"Boleh, boleh, akan tetapi kau harus berjanji dulu."
"Berjanji apa lagi?"
Tanya Lee Ing sambil memandang Im-kan Hek-mo yang berkata itu dengan tajam.
"Berjanji bahwa kelak kalau kau mempunyai putera, anakmu itu harus menjadi murid kami. Biar andaikata kami sudah mampus sebelum anakmu terlahir, kelak kau harus memberi tahu anakmu bahwa gurunya adalah Im-kan Hek-mo dan Tok-pi Sin-kai. Mengerti?"
Wajah I ee Ing menjadi makin merah.
Aneh-aneh saja dua orang kakek ini.
Sekarang ia tahu mengapa mereka memaksanya mengeluarkan ilmu silat yang mengalahkan mereka.
Kiranya dua orang ini masih saja berwatak tak mau kalah dan biarpun sudah mati kelak, ingin nama mereka menduduki tempat tertinggi!
Benar-benar pikiran kakek-kakek yang sudah berubah menjadi kanak-kanak lagi.
"Baiklah, aku berjanji."
"Nah, kalau begitu, kau masuklah ke dalam hutan ini, lurus saja sampai kau melihat sebuah bangunan kelenteng tua. Kau boleh tunggu di situ, kami pasti akan membawa Han Sin kepadamu."
Lee Ing tidak melihat lain pilihan lagi kecuali menurut.
Hatinya berdebar tidak karUan dan dengan patuh ia berjalan menerjang hutan itu.
Tiba-tiba datang angin ribut dan udara yang tadinya terang, matahari pagi yang sudah muncul tadi, sekarang menghilang lagi.
Udara tertutup mendung, pohon-pohon hutan doyong seperti hendak menimpa Lee Ing, akan tetapi gadis itu seperti dalam mimpi berjalan terus ke depan.
Akhirnya, betul saja ia melihat sebuah kelenteng tua di tengah hutan itu.
Debar jantungnya menghebat.
Apakah dua orang kakek itu tidak menipunya?
Betulkah mereka hendak datang membawa Han Sin padanya?
Ia menengok ke belakang.
akan tetapi belum kelihatan kakek itu mengejarnya.
Lee Ing ragu-ragu dan hatinya tidak enak.
Sampai berapa lama ia harus menunggu?
Udara makin gelap dan dua titik air membasahi pipi Lee Ing.
Air hujan?
Ataukah air mata?
Keduanya mungkin karena mendung sudah amat tebal dan hati Lee Ing sudah amat berduka.
Tiba-tiba ia mendengar tindakan kaki di belakangnya, dari rumah kelenteng itu datangnya.
Ia menengok dan....
seketika itu Lee lng berdiri kaku seperti patung.
Matanya terbelalak penuh air, bibirnya gemetar.
Tak salahkah penglihatannya?
Betulkah Liem Han Sin yang berdiri di depannya itu, dalam jarak kurang lebih lima meter?
Hujan-pun turun menyaingi air mata Lee Ing.
"Ing-moi....!"
Suara ini menerangi hati Lee Ing, lebih terang dari pada cahaya kilat yang menyambar pada saat itu.
"lng-moi....!!"
"Sin-ko.....! Kaukah ini.....? Sin-ko...!!"
Hampir terjungkal Lee Ing ketika kakinya tersaruksaruk berlari ke depan dengan kedua lengan terbuka. Pemuda itupun berlari maju dan di lain saat mereka sudah saling rangkul dan dekap.
"lng-moi.... akhirnya kita berkumpul kembali..."
Kata Han Sin dengan isak tertahan.
"Sin ko....."
Hanya demikian Lee Ing dapat berbisik, harinya penuh kebahagiaan, aman dan tenteram rasanya dalam pelukan sepasang lengan yang kuat dari pemuda pujaan hatinya ini.
Hujanturun dengan lebatnya dan dua orang muda yang sedang terlelap dalam kemesraan pertemuan mengharukan itu seperti tidak merasakan timpaan air hujan yang membuat mereka basah kuyup.
Tiba-tiba terdengar suara ketawa dari dalam pondok itu disusul suara Tok-pi Sin-kai.
"Han Sin bocah totol! Apa kau mau membiarkan calon isterimu yang terguncang hatinya itu masuk angin?"
Han Sin sadar.
Ia menggandeng tangan Lee Ing dan berlarilah keduanya sambil tertawa-tawa seperti dua orang anak kecil bermain-main dalam hujan, lari ke arah pondok untuk menghadap dua orang kakek itu yang sudah menanti di dalam pondok.
Setelah memasuki pondok, Han Sin dan Lee Ing menjatuhkan diri berlutut di depan Im-kan Hek-mo dan Tok-pi Sin-kai yang sudah duduk di atas kursi.
"Terima kasih atas pertolongan suhu berdua sehingga teecu dapat bertemu kembali dengan Ing-moi..."
Kata Han Sin terharu.
"Bodoh, bukan kami yang mempertemukan kalian, akan tetapi cinta kasih yang murni dan hati yang baik. Lagi pula, kami bukan gurumu lagi, akan tetapi kami adalah guru-guru dari puteramu kelak. Calori isterimu sudah menjanjikan hal ini kepada kami. Bukankah begitu, nona Souw?"
Han Sin memandang kekasihnya dengan heran akan tetapi Lee Ing hanya tersenyum malu-malu.
Kemudian berceritalah mereka.
Baru Lee Ing tahu bahwa sebetulnya Han Sin ditolong oleh dua orang kakek itu ketika mereka mengetahui bahwa pemuda murid Im-Yang-Thian-Cu itu ditahan oleh Tok-ong dan kawan-kawannya.
Sebulan yang lalu mereka melakukan penculikan atau pertolongan membebaskan Han Sin dari kamar tahanannya sehingga terjadi pertempuran yang hampir saja menewaskan mereka karena dikeroyok.
Mereka membawa Han Sin ke pulau kosong itu, sengaja hendak menanti datangnya Auwyang Peng yang mereka tahu hendak menyembunyikan hartanya di tempat itu.
"Kami merasa malu kepada Pek-kong-Sin-ciang Bu Kam Ki, maka untuk menebus dosa yang dulu, kami sengaja menolong Han Sin sekalian untuk mengambilnya sebagai murid,"
Kata Im-kan -Hek-mo.
"Akan tetapi sekarang tidak lagi, kami lebih suka menjadi guru-guru puteranya,"
Sambung Tok-pi Sin-kai.
Han Sin dan Lee Ing, atas petunjuk dua orang kakek sakti itu, mengangkut harta benda Auwyang Peng itu ke utara dan diserahkan kepada Siok Beng Hui untuk biaya penyerbuan.
Juga mereka, di samping Siok Bun dan Siok Ho yang girang bukan main melihat kedatangan mereka, berjuang bahu membahu dan dua pasang orang muda ini berjanji baru mau menikah setelah kekuasaan lalim di selatan sudah dapat ditumbangkan.
Akhirnya, setelah terjadi perang selama empat tahun, robohlah kekuasaan selatan dalam tahun 1403.
Raja Muda Yung Lo menjadi Kaisar Beng-tiauw dengan gelar Kaisar Ceng Tsi, naik tahta dan mengendalikan pemerintahan sampai dua puluh satu tahun lamanya.
Ibu kota dipindah ke Peking dan kota Nan-king merupakan ibu kota ke dua.
Rakyat mulai bernapas lega dan bergembira pula.
Terutama sekali dua pasang mempelai yang melakukan upacara pernikahan, yaitu Liem Han Sin dengan Souw Lee Ing dan Siok Bun dengan Oei Siok Ho, kebahagiaan mereka sukar dilukiskan lagi.
Dalam perayaan ini, hadir pula Haminto Losu, kakek dari Lee Ing yang sengaja datang dari utara untuk ikut bergembira minum arak wangi bagi keselamatan pernikahan cucunya yang tercinta.
Tidak ketinggalan Tok-pi Sin-kai dan lm-kan Hek-mo guru-guru putera Han Sin dan Lee Ing yang belum terlahir, mereka minum-minum arak sampai sepuasnya, ditemani oleh Bu Kam Ki yang memerlukan hadir pula.
Sekianlah, cerita PUSAKA GUA SILUMAN ini berakhir sampai di sini dengan catatan pengarang bahwa selama dunia masih berputar, keadilan Tuhan masih akan tetap berjalan.
Siapa jahat dia akan terhukum, siapa baik dia akan berjasa.
Masih belum terlambat selagi masih hidup bagi siapapun juga untuk menyadari akan hal ini, membuka mata menginsyafi kesesatan sendiri agar cepat mengatur langkah melalui jalan benar sebagai seorang manusia yang tahu akan kemanusiaannya, sebagai mahluk paling mulia di alam semesta ini!
T A M A T Percetakan & Penerbit CV GEMA Pelukis .
Yohanes H.
& Widodo DJVU .
Mukhdan & Dewi KZ di kangzusi.com Convert DJVU to text .
Abdul Gawi
Baca Juga: Dewi Sungai Kuning 3
Baca Juga: Pendekar Remaja 6