Eps 6 Pendekar Remaja - Kho Ping Hoo
Baca online Pendekar Remaja - Kho Ping Hoo
Cersil Pendekar Remaja - Kho Ping Hoo.
Berkali-kali Lo Sian memijit-mijit kepalanya seakan-akan hendak membantu urat-urat syarafnya bekerja kembali, dan tiba-tiba ia berkata keras.
"Ah... yang teringat olehku hanya Lie Kong Sian...! Lie Tai-hiap itu telah... mati! Benar, Lie Kong Siang telah tewas... ah, hanya itu yang teringat olehku. Lie Kong Sian telah tewas!"
Dan Sin-kai Lo Sian lalu menggunakan kedua tangannya untuk menutupi mukanya lalu ia menangis tersedu-sedu!
Lili hendak menghampirinya, akan tepati dicegah oleh Thian Kek Hwesio, maka gadis itu hanya bertanya.
"Suhu, kaumaksudkan bahwa Lie-supek telah meninggal dunia??"
Suaranya terdengar gemetar, karena gadis ini seringkali mendengar dari ayah-bundanya bahwa Lie Kong Sian adalah suami dari Ang I Niocu dan bahwa pendekar besar she Lie itu adalah suheng dari ayahnya.
Lo Sian mengangguk-angguk dan menahan tangis.
"Benar, dia telah meninggat dunia. Lie Kong Sian yang gagah perkasa, yang berbudi mulia, telah mati...!"
Pada saat itu, terdengar bentakan hebat dari atas dan nampak berkelebat bayangan orang yang maju menerkam tubuh Lo Sian dari atas!
"Pengemis gila!
Jangan kau mengacau dengan omongan bohong!
Ayahku tidak meninggal dunia!"
Bayangan itu ternyata adalah Lie Siong.
Dengan hati tidak karuan rasa karena kaget dan tidak percaya, pemuda ini yang semenjak tadi mengintai dari atas genteng, lalu menubruk hendak menangkap Lo Sian.
Ia melompat dengan gerakan yang disebut Harimau Menubruk Kambing dan langsung jari tangan kanannya meluncur hendak menotok pundak Lo Sian.
"Suhu, awas serangan!"
Lili berseru kaget dan baiknya Lo Sian masih belum kehilangan kegesitannya.
Ia cepat memutar tubuh dan miringkan pundak, menarik kaki kanan ke belakang dan dengan demikian ia terluput dari totokan itu.
Sebelum Lie Siong menyerangnya lebih lanjut, Lili telah berkelebat dan berdiri menghadapi pemuda itu.
"Hem, kiranya kau!"
Seru gadis itu sambil mencibirkan bibirnya ketika ia mengenal bahwa pemuda ini adalah pemuda yang tadi bertempur dengan dia.
"Kau datang mau apakah?"
"Suhumu yang gila ini telah bicara tidak karuan dan ia telah menghina ayah ketika menyatakan bahwa ayah telah mati! Ayah masih hidup di Pulau Pek-le-to dengan sehat, bagaimana ia berani mengatakan bahwa ayah telah mati?"
"Siapa bilang bahwa ayahmu mati, anak muda?"
Lo Sian berkata dengan sabar.
"Yang mati adalah Lie Kong Sian, bukan ayahmu..."
"Orang gila! Lie Kong Sian adalah ayahku!"
Sambil berkata demikian, Lie Siong kembali maju hendak menyerang Lo Sian.
Sementara itu, Lili memandang dengan bengong.
Tak disangkanya sama sekali bahwa pemuda ini adalah putera Lie Kong Sian, yang berarti putera Ang I Niocu pula!
Timbul kegembiraannya tercampur kekecewaan.
Ia gembira dapat bertemu dengan putera Ang I Niocu yang sudah seringkali disebut-sebut ayah bundanya, akan tetapi ia kecewa karena tadi melihat pemuda itu mempermainkan seorang gadis cantik!
Juga di dalam hatinya timbul niat hendak menguji kepandaian putera Ang I Niocu ini.
Maka tanpa banyak cakap, ketika melihat betapa pemuda itu hendak menyerang Lo Sian, Lili lalu bergerak maju menangkis pukulan itu.
Sepasang lengan tangan beradu keras dan keduanya terhuyung mundur tiga langkah.
"Bagus, gadis liar!"
Lie Siong membentak.
"Agaknya kau masih belum mau mengaku kalah."
"Aku mengaku kalah? Terhadap engkau?? Hemm, bercerminlah dulu, manusia sombong. Kau mengaku putera pendekar besar Lie Kong Sian? Siapa sudi percaya? Putera Ang I Niocu tak mungkin sesombong engkau dan mata keranjang pula. Hah, tak tahu malu!"
Terbelalak mata Lie Siong memandang kepada Lili. Bagaimana gadis ini seakan-akan mengenal keadaan ayah-bundanya? "Kau siapakah?"
Ia mengulang lagi pertanyaannya yang diajukan siang tadi, akan tetapi kembali Lill mengejek dengan bibirnya yang manis.
"Apa kaukira dengan mengaku putera Ang I Niocu, kau akan dapat menipuku untuk memperkenalkan nama? Hah, manusia rendah, biar kucoba dulu sampai di mana sih kepandaianmu!"
Setelah berkata demikian Lili lalu mencabut keluar pedang Liong-coan-kiam yang tajam.
"Bagus, gadis liar! Aku pun ingin sekali menyaksikan sampai di mana kepandaianmu maka kau berani membuka mulut besar!"
Lie Siong juga mengeluarkan pedangnya yang aneh, yaitu Sin-liong-kiam.
Maka tanpa dapat dicegah lagi kedua orang muda ini melanjutkan pertempuran mereka yang siang tadi dilakukan dengan mati-matian!
Lili memiliki Ilmu Pedang Liong-cu Kiam-hoat yang luar biasa, ilmu pedang yang berdasarkan limu Pedang Daun Bambu ciptaan ayahnya, maka tentu saja ilmu pedangnya ini hebat bukan main.
Begitu gadis ini menggerakkan pedangnya maka berkelebatlah bayangan merah dari pakaiannya, dan pedangnya berubah menjadi segulung sinar pedang yang putih menyilaukan mata!
Baik Lo Sian yang berdiri di sudut ruangan yang luas itu, maupun Thian Kek Hwesio yang masih tetap duduk di bangku dengan sikap tenang, terpesona menyaksikan ilmu pedang yang hebat ini.
Bahkan Thian Kek Hwesio biarpun tidak pandai ilmu silat akan tetapi yang sudah banyak sekali menyaksikan kepandaian orang-orang berilmu tinggi, menjadi kagum sekali dan berkali-kali menyebut nama Buddha.
"Omitohud! Alangkah hebatnya limu pedang ini!"
Akan tetapi, ketika Lie Siong juga menggerakkan tubuh dan pedangnya, silaulah mata mereka berdua memandang.
Tubuh Lie Siong berubah menjadi bayangan putih, sedangkan pedangnya menjadi segulung sinar keemasan yang cukup hebat menyilaukan pandangan mata.
Begitu kedua sinar itu bertemu, terdengarlah suara nyaring dari beradunya kedua pedang dan berpijarlah bunga api yang indah sekali.
Makin lama makin cepat kedua orang muda itu menggerakkan senjata mereka sehingga gulungan pedang berwarna putih dan kuning emas itu menjadi satu, bergulung-gulung saling membelit seakan-akan ada dua ekor naga sakti yang sedang bertempur seru.
Api lilin di atas meja yang terdapat di ruang itu bergerak-gerak hampir padam karena tiupan angin senjata mereka berdua.
Thian Kek Hwesio saking gembiranya dapat menyaksikan permainan pedang ini, lalu bangkit berdiri, mengambil tiga batang lilin lagi dan memasangnya semua di atas meja.
Di dalam penerangan tiga batang lilin tambahan ini, makin indahlah nampaknya sinar pedang kedua orang muda keturunan orang-orang pandai itu.
Diam-diam kedua orang muda itu terkejut sekali.
Baik Lili maupun Lie Song amat kagum menyaksikan kehebatan kepandaian lawan.
Kini Lili diam-diam percaya bahwa pemuda ini tentulah putera Ang I Niocu, oleh karena ia mengenal Ilmu Pedang Ngo-lau-hoan-kiam-hwat dari Ang I Niocu yang pernah diturunkan oleh ayahnya, bahkan ayahnya pun pernah mernberi penjelasan kepadanya tentang ilmu pedang itu.
Kalau diadakan perbandingan, memang ilmu pedang dari Lili masih menang lihai, akan tetapi dalam hal gin-kang dan tenaga lwee-kang, ia agaknya masih kalah latihan.
Sebaliknya, Lie Siong menjadi makin kagum melihat ilmu pedang yang dimainkan oleh lawannya.
Benar-benar ilmu pedang yang belum pernah disaksikannya selama hidupnya.
Ibunya pernah memberitahukan kepadanya tentang ilmu pedang ciptaan Pendekar Bodoh yang amat lihai dan agaknya inilah ilmu pedang itu!
Apakah gadis ini puteri Pendekar Bodoh?
Ia menduga-duga dengan hati berdebar-debar dan makin tertariklah hatinya kepada gadis yang cantik jelita, manis, dan juga galak ini.
Ia diam-diam harus mengakui bahwa ilmu pedang yang dimainkan oleh gadis itu amat luar biasa perubahannya dan beberapa kali hampir saja ia menjadi korban.
Akan tetapi, yang membuat hatinya berdebar aneh, adalah cara Liti mainkan ilmu pedangnya.
Ia setengah dapat menduga bahwa kalau lawannya mau, tentu ia sudah dirobohkannya!
Akan tetapi tiap kali ujung pedang lawannya yang tajam itu telah mendekati tubuhnya, tiba-tiba gerakan pedang diubah sedemikian rupa sehingga tidak melukainya!
Ia menjadi marah, malu dan penasaran sekali.
Sambil mengertak giginya, Lie Siong yang berwatak keras dan tidak mau kalah ini lalu memutar pedangnya, mengirim totokan-totokan dengan lidah pedang naga dan menusuk dengan tanduk pedang naganya, berusaha untuk membalas setiap serangan dengan pembalasan tak kalah lihainya.
Telah tiga empat kali lawannya "mengampuni"nya dengan merubah jalan pedangnya, maka ia pun ingin sekali mendesak lawannya dan kemudian memberi kesempatan pula kepada lawannya untuk melepaskan diri dari ancaman pedangnya.
Akan tetapi bagaimana ia dapat mendesak lawan yang mainkan ilmu pedang sehebat itu?
Ia tidak diberi kesempatan sama sekali bahkan pedang Lili makin mengurungnya sehingga gulungan sinar kuning keemasan kini makin mengecil, sebaliknya gulungan sinar pedang yang putih makin membesar dan menghebat gerakannya.
Lebih hebat lagi ketika Lili mengeluarkan suara ketawa mengejek dan tahu-tahu tangan kiri gadis itu mengeluarkan sebuah kipas yang kecil dan indah.
Lie Siong tadinya merasa heran dan mengira bahwa gadis itu hendak mempermainkannya dan menyombongkan diri dengan melayaninya sambil mengebut-ngebut kipas.
Tidak tahunya begitu kipas itu mengebut, ia hampir berseru karena kaget dan heran.
Angin kipas itu menyambar dan membuat lidah pedang naganya terbentur kembali, disusul dengan pukulan kipas yang mempergunakan ujung gagangnya untuk menotok pundaknya.
Lie Siong benar-benar merasa terkejut.
Tak pernah disangkanya bahwa gadis lawannya itu sedemikian lihainya.
Baru ilmu pedangnya saja sudah demikian hebat dan sukar baginya untuk mengalahkannya, apalagi sekarang setelah gadis itu mempergunakan sebuah kipas pula yang juga luar biasa.
Siapakah gadis ini?
Dengan pedang dan kipasnya, Lili makin mengurung dan gadis ini menjadi bangga karena dapat mendesak pemuda itu.
Ia akan menceritakan kepada ayah bundanya betapa ia telah dapat mengalahkan putera dari Ang I Niocu!
Dan tentu saja ia tidak mau melukai pemuda itu karena kini ia merasa yakin bahwa pemuda ini tentulah putera dari Ang I Niocu.
Ia hanya ingin mendesak dan memaksa pemuda itu mengakui keunggulannya.
Akan tetapi, Lili sama sekali tidak tahu bahwa Lie Siong adalah seorang pemuda yang keras hati seperti ibunya dan tidak nanti pemuda ini mau mengaku kalah begitu saja!
Rasa penasaran dan malu membuat Lie Siong menjadi marah dan nekad.
Ia pikir bahwa kalau ia terlalu mengarahkan perhatian dan kepandaiannya pada penjagaan diri terhadap desakan gadis yang lihai itu, tentu ia takkan mampu membalas.
Maka ia lalu memilih jalan nekad.
Biarlah aku dirobohkan dan tewas, pikirnya, asal saja aku dapat membalasnya!
Setelah berpikir demikian, ia lalu mencari kesempatan baik.
Pada saat itu, tiba-tiba Lili menyerangnya dengan kedua senjata secara berbareng.
Pedang Liong-coan-kiam meluncur cepat ke arah tenggorokannya dan kipas itu kini tertutup, dipergunakan untuk menotok lambungnya!
Serangan berganda yang amat berbahaya dan agaknya sukar untuk ditangkis atau dielakkan lagi.
Akan tetapi, Lie Siong tidak mau mempedulikan dua senjata lawan yang mengancam dirinya ini, sebaliknya ia lalu mempergunakan Sin-liong-kiam untuk menyapu kedua kaki Lili!
Pikirnya, kalau senjata-senjata lawannya diteruskan, tentu sedikitnya ia akan dapat mematahkan sebuah kaki lawan!
Lili merasa terkejut sekali.
Tak pernah disangkanya bahwa lawannya mengambil jalan nekad seperti itu!
Ia berseru keras dan kedua kakinya melompat ke atas.
Dengan sendirinya kipasnya tidak mengenai sasaran dan pedangnya yang tak dapat ditariknya kembali itu tidak mengenai leher lawan, akan tetapi menyerempet pundak kanan Lie Siong!
Lie Siong merasa betapa pundaknya menjadi perih dan sakit sekali dan melihat darah mengalir dari pundaknya.
Akan tetapi ia tidak mempedulikan hal ini dan ketika pedangnya dapat dielakkan oleh kaki Lili yang melompat ke atas, ia lalu menggerakkan pedang itu sehingga lidah dari pedang naga itu dengan gerakan yang amat tidak terduga telah melibat sepatu kiri di kaki Lili!
Gadis itu terkejut dan hendak menarik kakinya, akan tetapi pada saat ia menggerakkan kaki kirinya, Lie Siong membetot dan sepatu kiri itu terlepas dari kaki Lili dan masih terlibat oleh lidah pedang naga itu!
"Bangsat!
Kembalikan sepatuku!"
Lili berseru keras, akan tetapi Lie Siong yang merasa telah dapat membalas hinaan yang diterimanya dalam pertempuran itu, yaitu hinaan yang berupa "pengampunan"
Berkali-kali dari desakan pedang, segera membawa sepatu itu dan melompat keluar dari situ.
Lili hendak mengejar, akan tetapi tanpa sepatu, kaki kirinya terasa sakit sekali menginjak lantai yang kasar.
Pada saat itu, dari luar rumah kuil itu terdengar seruan Lie Siong.
"Kau harus membayar penghinaan dan kesombonganmu dengan sepatumu! Tidak mudah mendapatkan sepatu yang masih dipakai dari puteri Pendekar Bodoh yang ternyata tolol dan bodoh melebihi ayahnya dan sombong pula!"
Lili hampir menangis saking jengkelnya dan melompat keluar.
"Kubunuh kau, bangsat rendah!"
Makinya, akan tetapi begitu kakinya menginjak batu-batu tajam, ia mengeluh, melompat kembali ke ruang itu, duduk di atas sebuah bangku dan...
menangis!
Thian Kek Hwesio lalu menghampiri Lili dan menghiburnya.
"Nona Sie, mengapa kau menangis? Bukankah kau telah dapat mengusirnya?"
"Ia... manusia kurang ajar itu... ia telah membawa pergi sebuah sepatuku!"
Jawab Lili masih menangis.
Sesungguhnya, kejadian perampasan sepatu tadi amat cepatnya sehingga mata Thian Kek Hwesio yang tidak terlatih itu sama sekali tidak melihatnya.
Kini ia memandang ke arah kaki kiri Lili dan ia berseru kaget.
"Omitohud...! Bagaimana ada laki-laki yang begitu kurang ajar? Nona Sie, betulkah kata-katamu tadi bahwa dia adalah putera Ang I Niocu? Pinceng pernah mendengar nama Ang I Niocu yang terkenal sekali."
Akan tetapi Lili tak dapat menjawab, hanya melanjutkan tangisnya.
Hatinya mangkel sekali dan ingin ia dapat menusuk dada pemuda itu dengan pedangnya!
"Aku tidak tahu siapa Ang I Niocu dan siapa pula pemuda itu, akan tetapi ilmu kepandaiannya memang hebat,"
Tiba-tiba Lo Sian berkata.
"Aku masih ingat kepada Lie Kong Sian dan agaknya pemuda itu memang patut menjadi putera Lie Kong Sian. Ilmu sitatnya tinggi dan tadi ia merampas sepatumu hanya untuk membalas penghinaan yang berkali-kali kaulakukan kepadanya."
Thian Kek Hwesio memandang heran kepada pembicara ini.
"Eh, Sicu, apa rnaksudmu? Mengapa kau menyatakan bahwa Nona Sie telah menghinanya berkali-kali?"
Lo Sian yang telah waras pikirannya dan memiliki pemandangan yang lebih awas dari Thian Kek Hwesio berkata tenang.
"Lo-suhu, di dalam pertempuran tadi, Nona ini memang selalu menjadi pendesak dan lebih lihai kepandaiannya. Akan tetapi Nona ini sengaja tidak mau melukai dan merobohkan lawan, selalu memberi ampun dan menarik kembali serangannya pada saat pedangnya akan mengenai sasaran. Di dalam sebuah pibu, tentu saja hal ini dianggap gerakan yang amat menghina dan merendahkan lawan. Bagi seorang gagah, lebih baik dirobohkan daripada diberi ampun dan diberi kesempatan melepaskan diri dari ancaman senjata!"
Merahlah wajah Lili setelah mendengar ucapan Lo Sian ini.
Tak disangkanya bahwa suhunya masih bermata setajam itu dan dapat melihat semua gerakannya!
Akan tetapi, hwesio gendut itu menggeleng-geleng kepala dan menghela napas berkati-kali.
"Kalian ini orang-orang dunia persilatan benar-benar aneh sekali! Untung pinceng tak pernah mempelajari ilmu silat, karena kalau pinceng dulu mempelajarinya, entah sudah berapa kali pinceng harus berkelahi seperti binatang buas!"
Terpaksa Lili menerima pemberian Thian Kek Hwesio yaitu sepasang sepatu hwesio yang besar.
Ia memotong dan menjahit lagi sepatu itu, dikecilkan untuk dapat dipakai oleh sepasang kakinya yang kecil mungil.
Kemudian ia membujuk kepada Lo Sian untuk ikut dengan dia ke rumah ayah-bundanya di Shaning.
"Aku tidak kenal siapa adanya ayahmu yang bernama Pendekar Bodoh itu, akan tetapi oleh karena aku yakin bahwa dulu tentu aku pernah mengenalmu dan tahu bahwa kau adalah seorang yang mulia, maka biarlah aku ikut dengan kau, Nona."
"Suhu, mengapa kau menyebutku nona saja? Sungguh tidak enak bagiku. Sebutlah saja namaku seperti dulu, yaitu Lili!"
Kata Lili cemberut.
Lo Sian tersenyum.
Air mukanya mulai berseri dan bercahaya seakan-akan kehidupan baru memasuki tubuhnya.
Ia merasa gembira dapat melihat kejenakaan, kemanjaan, dan kegagahan nona ini, maka ia lalu menjawab.
"Baiklah, Lili, sungguhpun aku sama sekali tidak mengerti mengapa kau menyebutku Suhu, padahal kalau melihat kepandaianmu, lebih patut akulah yang menjadi muridmu!"
Demikianlah, setelah menanti sampai tiga hari akan tetapi tidak melihat kedatangan Hong Beng dan Goat Lan, Lili menjadi hilang sabar dan ia mengajak Lo Sian menuju ke Shaning kembali ke rumah orang tuanya.
Di sepanjang jalan tiada hentinya ia menuturkan hal-hal yang terjadi di waktu dahulu kepada Lo Sian, namun, Sin-kai Lo Sian mendengar ini sebagai hal yang baru sama sekali dan ia tidak ingat apa-apa melainkan kematian Lie Kong Sian!
Ini pun tak ia ketahui sebab-sebabnya.
Lupalah ia akan nama-nama seperti Ban Sai Cinjin, Hok Ti Hwesio, Mo-kai Nyo Tiang Le dan yang lain-lain.
*** Mengapa Hong Beng dan Goat Lan yang ditunggu-tunggu oleh Lili tak juga datang menyusul ke kota Ki-ciu seperti yang mereka janjikan?
Marilah kita ikuti pengalaman mereka.
Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, kedua orang muda ini menuju ke kota Ta-liong untuk memenuhi undangan pibu yang diterima oleh Hong Beng dari kelima ketua dari Hektung Kai-pang.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Hong Beng bersama Goat Lan sudah menuju ke tempat terbuka di mana kemarin harinya Hong Beng telah menolong Lo Sian dari keroyokan para anggauta Hek-tung Kai-pang.
Ternyata ketika mereka tiba di tempat itu, di situ telah berkumpul puluhan orang pengemis anggauta Hek-tung Kai-pang dan semua orang itu telah membuat lingkaran.
Di tengah-tengah lingkaran, nampak sebuah meja butut dan beberapa buah bangku butut pula.
Di belakang meja, lima orang nampak menduduki lima buah bangku, duduk berjajar bagaikan arca batu.
Kelima orang ini bukan lain adalah lima orang ketua dari Hek-tung Kai-pang yang sesungguhnya bukanlah saudara-saudara sekandung melainkan saudara-saudara angkat yang telah bersumpah sehidup semati.
Selain daripada ini, mereka juga merupakan saudara seperguruan, karena kelimanya adalah murid dari Hek-tung Kai-ong, pencipta dari Hek-tung Kai-pang dan ilmu tongkat hitam yang amat lihai.
Lima orang ketua ini kesemuanya berpakaian tambal-tambalan dan usia mereka antara empat puluh sampal lima puluh tahun.
Setelah mengangkat saudara menjadi ketua dari Hek-tung Kai-pang, mereka telah menggunakan nama baru dengan she (nama keturunan) Hek pula yaitu Hek Liong, Hek Houw, Hek Pa, Hek Kwi dan Hek Sai.
Semenjak kelima saudara ini menemukan buku pelajaran silat dari guru mereka yang telah meninggal dunia, dan bersama-sama melatih lagi Ilmu Tongkat Hek-tung-hoat dari kitab ini, kepandaian mereka meningkat tinggi sekali dan tiap kali ada pemilihan pengurus baru tak seorang pun dapat mengalahkan mereka!
Baru menghadapi seorang di antara mereka saja sudah amat berat apalagi kalau menghadapi mereka berlima sekaligus!
Betapapun juga, Perkumpulan Pengemis Tongkat Hitam ini mendapat nama baik di kalangan kang-ouw.
Juga Ngo-hek-pangcu (Lima Ketua Hek) ini tidak tercela namanya, karena selama memegang pimpinan, mereka berlaku adil dan juga melakukan perbuatan-perbuatan gagah.
Akan tetapi, tentu saja sebagai ketua-ketua dari perkumpulan seperti Hek-tung Kai-pang yang amat terkenal, mereka juga mempunyai keangkuhan.
Ketika mereka tiba di Ta-liong dari kota raja dan mendengar bahwa anak buah mereka yaitu para kepala ranting dan cabang yang berkumpul di situ, telah dihajar oleh seorang pemuda yang membela seorang pengemis golongan lain yang datang mengacau, mereka menjadi penasaran sekali.
Maka diutuslah anak buah mereka untuk menantang pibu kepada pemuda itu.
Kini, pagi-pagi sekali Ngo-hek-pangcu telah bersiap sedia menanti kedatangan orang yang ditantangnya.
Melihat kedatangan dua orang muda, seorang pemuda tampan dan gagah bersama seorang gadis cantik jelita, maka kelima orang pangcu ini merasa heran dan juga diam-diam mereka merasa kagum.
Inikah orangnya yang telah dapat mengocar-ngacirkan para pemimpin ranting?
Hampir tak dapat dipercaya!
Namun, sebagai orang-orang kango-uw yang ulung, mereka tidak berani memperlihatkan sikap memandang rendah dan segera mereka bangun berdiri ketika melihat Hong Beng dan Goat Lan menghampiri mereka.
"Maafkan kami, sahabat muda yang gagah. Kami sebagai pengemis-pengemis hina dina dan miskin tentu saja tidak dapat menyambut kedatanganmu sebagai mana layaknya seorang tamu agung dihormati,"
Kata Hek Liong, ketua yang paling tua di antara kelima orang itu. Merahlah telinga Hong Beng mendengar ucapan dan melihat sikap ini. Ia merasa betapa "tuan rumah"
Ini terlalu berlebih-lebihan merendahkan diri dan mengangkatnya sebagai tamu agung. Akan tetapi Hong Beng memang berwatak sabar dan tenang, maka ia menjawab sambil menjura pula.
"Akulah yang minta maaf, Pangcu (Ketua)! Aku sebagai orang luar yang masih hijau dan bodoh, berani datang mengganggu kesenanganmu. Memang serba sukarlah kedudukanku, Pangcu. Tidak datang memenuhi panggilanmu, tentu akan mengecewakan hati Ngo-wi yang gagah, sebaliknya memenuhi undangan, berarti mengganggu rapat ini!"
Mendengar ucapan yang panjang lebar ini, serta melihat sikap pemuda yang amat tenang itu, kelima ketua itu diam-diam makin mengindahkan sikap Hong Beng.
Pemuda dengan sikap seperti ini tak boleh dipandang ringan, pikir mereka.
"Dan bolehkah kiranya kami bertanya, dengan keperluan apakah Nona ini ikut datang ke sini!"
Goat Lan tersenyum dan dengan jenaka sekali ia tersenyum lalu menjura sambil menjawab.
"Ngo-wi Pangcu (Lima Tuan Ketua), aku adalah seorang perantau yang menjadi sahabat baik orang muda ini. Mendengar sahabat baikku ini mendapat undangan dari perkumpulan Hektung Kai-pang, hatiku amat tertarik sekali. Aku bersama kedua suhuku, Sin Kong Tianglo dan Im-yang Giok-cu, telah seringkali mengunjungi orang-orang besar di dunia kang-ouw, mengunjungi perkumpulan-perkumpulan orang gagah di dunia ini yang banyak macamnya. Akan tetapi, sungguh aku belum pernah bertemu dengan Perkumpulan Hek-tung Kai-pang yang sudah amat tersohor di empat penjuru ini!"
Goat Lan sengaja memperkenalkan diri sebagai murid Sin Kong Tianglo dan Im-yang Giok-cu, karena ia mengharapkan nama-nama kedua orang gurunya dapat melemahkan hati kelima orang pangcu itu sehingga permusuhan dapat dicegah.
Memang gadis yang cantik ini tepat sekali perhitungannya, karena mendengar nama kedua orang tokoh persilatan yang tinggi dan tersohor namanya ini, kelima orang pangcu itu lalu berdiri dari tempat duduk mereka dan menjura ke arah Goat Lan.
"Ah, sungguh mata kami seperti buta saja, tidak melihat Gunung Thai-san menjulang di depan mata! Silakan duduk, Li-hiap (Pendekar Wanita), dan perkenalkan nama kami kelima pangcu dari Hektung Kai-pang."
Kelima orang raja pengemis itu lalu memperkenalkan nama mereka seorang demi seorang.
Hong Beng juga memperkenalkan nama demikian pula Goat Lan.
Berbeda dengan Goat Lan, Hong Beng tidak mau menceritakan siapa gurunya dan siapa pula orang tuanya.
Ia ingin melihat bagaimana sikap raja-raja pengemis itu.
Akan tetapi setelah mempersilakan kedua orang tamunya itu mengambil tempat duduk, agaknya kelima orang ketua Hek-tung Kai-pang itu tidak mempedulikan mereka lagi dan melayani orang-orang yang mulai datang, dan diantara para pendatang baru itu, nampak pula tiga orang pengemis yang membawa tongkat berbentuk ular.
Mereka ini adalah ketua-ketua dari Coa-tung Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Tongkat Ular) dari timur yang juga besar pengaruhnya.
Selain tiga orang ketua Coa-tung Kaipang ini, nampak juga seorang tosu tinggi kurus, dan seorang laki-laki setengah tua yang rambutnya dikuncir panjang ke belakang dan memakai topi bundar sikapnya kasar dan berlagak.
Tosu ini adalah seorang ahli silat yang bernama Beng Beng Tojin, seorang tokoh Bu-tong-san yang suka merantau.
Adapun orang bertopi bundar itu adalah seorang kasar yang terkenal sebagai ahli gwa-kang (tenaga kasar) dan ahli tiam-hoat (menotok jalan darah).
Namanya Cong Tan dan julukannya It-ci-sin-kang (Si Jari Tangan Lihai).
Kelima saudara Hek yang menjadi ketua dari Hek-tung Kai-pang itu menyambut kedatangan lima orang ini dengan penuh penghormatan pula, akan tetapi mereka tidak dipersilakan duduk seperti Hong Beng dan Goat Lan.
Hong Beng dan Goat Lan saling pandang dan keduanya merasa heran mengapa tuan rumah tidak mempedulikan mereka lagi, dan bagaimanakah dengan pibu yang diajukan oleh kelima orang ketua itu?
Bagi Hong Beng dan Goat Lan, memang mereka mengharapkan agar supaya tidak terjadi salah paham atau permusuhan, akan tetapi mereka pun, terutama Hong Beng takkan merasa puas sebelum mencoba kepandaian kelima orang tokoh Hek-tung Kai-pang yang terkenal itu.
Setelah menyambut tamu-tamu yang baru datang, Hek Liong, saudara tertua dari kelima orang itu, lalu berkata dengan suara keras kepada para pemimpin Hek-tung Kai-pang yang hadir di situ.
"Kawan-kawan sekalian! Sebagaimana telah ditentukan kemarin, maka pemilihan ketua akan dilakukan hari ini. Oleh karena hari ini sudah tiba waktunya bagi kami yang sudah memenuhi tugas sebagai ketua, maka dengan ini kami menyatakan turun dari kedudukan ketua untuk menghadapi pemilihan baru. Nah, silakan kawan-kawan yang mempunyai calon untuk mengajukan calonnya!"
Ramailah suara para anggauta perkumpulan pengemis itu setelah ketua mereka membuka rapat istimewa itu.
Ternyata bahwa kelima orang tamu yang datang itu, yaitu ketiga ketua Coa-tung Kai-pang, Beng Beng Tojin, dan Cong Tan, datang atas kehendak mereka sendiri dengan maksud untuk mencoba merobohkan ketua lama untuk menduduki kedudukan ketua baru dari Hek-tung Kaiang.
Semua yang hadir dengan suara bulat memilih kelima saudara Hek sebagai ketua lagi.
"Kami memilih Ngo-hek-pangcu tetap menjadi ketua kami!"
Seru suara para hadirin dengan serentak.
Mendengar seruan para anggauta Hektung Kai-pang ini, ketiga ketua Coatung Kai-pang itu segera berdiri dengan senyum mengejek.
Mereka ini adalah ketua tingkat dua dari Coa-tung Kai-pang, dan usia mereka baru tiga puluh tahun lebih.
Sikap mereka amat tinggi dan memandang rendah sedangkan mulut mereka sclalu tersenyum seolah-olah menghadapi perkumpulan yang jauh lebih kecil daripada perkumpulan mereka sendiri.
Juga pakaian tambal-tambalan yang mereka pakai berbeda dengan pakaian para pemimpin Hek-tung Kaipang, karena biarpun pakaian mereka penuh tambalan, namun baik pakaian dasar maupun tambalannya amat bersih!
"Cu-wi sekalian,"
Kata yang tertua di antara mereka, yaitu seorang bertubuh tinggi besar bermuka hitam.
"kami adalah anggauta-anggauta dewan pimpinan dari Coa-tung Kai-pang di timur yang mewakili perkumpulan kami. Kedatangan kami ini membawa maksud yang amat mulia. Menurut hasil perundingan dewan pengurus kami, maka sungguh tidak layak apabila di negeri ini terdapat terlatu banyak perkumpulan seperti yang kita sekalian dirikan. Mungkin Cu-wi sekalian sudah mendengar bahwa Hwa-i Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Baju Kembang) dari Secuan, Lo-kai Hwekoan (Rumah Perkumpulan Pengemis Tua) dari Santung, keduanya telah menggabungkan diri dan melebur perkumpulan mereka menjadi cabang dari perkumpulan kami Coa-tung Kai-pang yang terbesar dan jaya! Oleh karena itu, maka kedatangan kami ini merupakan wakil daripada perkumpulan kami untuk minta Cu-wi sekalian menginsyafi hal ini dan melebur perkumpulan Hek-tung Kai-pang menjadi cabang pula dari Coa-tung Kai-pang kami!"
Ucapan ini menyatakan betapa sombongnya Si Muka Hitam itu.
Kalau ia dengan suara membujuk minta agar supaya Perkumpulan Tongkat Hitam itu suka menggabungkan diri dengan Perkumpulan Tongkat Ular, ini masih dapat diterima.
Akan tetapi ia mempergunakan ucapan agar supaya Perkumpulan Pengemis Tongkat Hitam insaf dan melebur diri menjadi cabang Coa-tung Kai-pang!
Sungguh tidak melihat muka para pemimpin Hek-tung Kai-pang!
Dengan wajah berubah merah, Hek Pa seorang ketiga dari kelima Ketua Hek-tung Kai-pang, bangkit berdiri dan menudingkan jari tangan kirinya kepada ketiga orang tamu itu sambil berkata.
"Orang-orang Coa-tung Kai-pang sombong amat! Siapakah yang tidak mendengar bahwa Hwa-i Kai-pang dan Lo-kai Hweekoan menggabungkan diri karena kalian paksa dengan kekerasan? Dan siapa pula yang tidak mendengar bahwa Coa-tung Kai-pang mempunyai banyak anggautanya yang melakukan pelanggaran dan kejahatan, tidak patut sebagai perkumpulan pengemis pendekar? Orang lain boleh kalian gertak, akan tetapi kami para pengurus Hek-tung Kai-pang tak gentar menghadapi tongkat ularmu!"
Para pengemis tongkat hitam yang berjumlah empat putuh orang lebih itu ketika mendengar ucapan Sam-pangcu (Ketua ke Tiga), serentak berseru,"Betul! Usirlah orang-orang Coa-tung Kai-pang ini!"
Dan dengan tongkat hitam diangkat tinggi-tinggi mereka maju mengurung! Akan tetapi ketiga orang pemimpin Coa-tung Kai-pang itu masih saja bersikap tenang bahkan kini senyum mereka melebar sombong.
"Hemm, begitukah kegagahan Hek-tung Kai-pang? Hendak mengandalkan jumlah besar mengeroyok kami tiga orang? Alangkah rendah dan pengecutnya!"
Mendengar ejekan ini, Hek Liong lalu berdiri dan dengan gerak tangannya ia minta kepada semua anak buahnya untuk mundur.
Setelah keadaan menjadi reda, ia lalu menghadapi Si Tinggi Besar itu sambil menantang.
"Dengarlah, kawan! Kami seluruh anggauta dan pengurus Hek-tung Kai-pang, tidak mau menerima usulmu untuk menggabungkan perkumpulan kami dengan perkumpulanmu. Habis, kau mau apa?"
"Hek-pangcu,"
Kata Si Muka Hitam yang tinggi besar itu.
"lupakah kau bahwa hari ini adalah hari pemilihan pengurus baru perkumpulanmu? Aku mendengar bahwa siapa yang dapat mengalahkan Hek-tung-hwat, dialah yang berhak menjadi pangcu dari Hek-tung Kai-pang. Nah, kami bertiga hendak mencoba-coba kelihaian Ilmu Tongkat Hek-tung-hwat!"
"Bagus!"
Tiba-tiba Beng Beng Tojin melangkah maju.
"Inilah baru ucapan orang gagah. Untuk apa bertengkar mulut seperti wanita? Aturan harus dijalankan dan dipegang teguh. Kedatangan pinto juga ingin menguji kehebatan Hek-tung-hwat dan kalau pinto beruntung, pinto akan merasa senang menjadi pangcu!"
"Aku pun datang untuk mencoba peruntungan menjadi ketua perkumpulan ini!"
Tiba-tiba It-ci-sin-kang Cong Tan menyela.
Diam-diam Hong Beng dan Goat Lan saling pandang dengan geli dan heran.
Bagaimanakah ada orang-orang yang memperebutkan kedudukan sebagai ketua perkumpulan para pengemis?
Apakah enaknya menjadi ketua pengemis?
Adapun kelima orang ketua Hek-tung Kai-pang ketika mendengar ucapan ini, lalu berdiri merupakan sebuah barisan dan Hek Liong sebagai orang tertua berkata keras.
"Bagus sekali! Kalian semua telah mendengar pilihan para pemimpin cabang bahwa kami berlima masih tetap dikehendaki memimpin Hek-tung Kai-pang. Nah, siapa yang menyatakan tidak setuju boleh maju ke muka!"
Melihat sikap kelima orang yang maju bersama ini, Beng Beng Tojin mengerutkan kening dan berkata lemah.
"Apa...? Kalian berlima maju berbareng?"
Juga It-ci-sin-kang CongTan memperlihatkan rasa gentarnya.
"Ah, ini tidak adil!"
Katanya. Hek Liong tersenyum mengejek.
"Ketahuilah bahwa kami berlima adalah saudara seperguruan yang sudah bersumpah sehidup semati, senasib sependeritaan. Dan kalian mendengar sendiri bahwa yang diangkat menjadi pangcu adalah kami berlima, maka andaikata seorang di antara kalian ada yang dapat mengalahkan aku masih ada empat orang saudaraku yang harus dikalahkan pula. Oleh karena itu, kami merupakan sekelompok yang tak dapat dipisah-pisahkan. Terserah siapa yang ingin merobohkan kami, boleh maju. Yang merasa takut tak usah mencari penyakit!"
Tiga orang pemimpin Coa-tung Kai-pang itu tadinya memandang kepada Beng Beng Tojin dan Cong Tan dengan senyum menghina, akan tetapi tiba-tiba Si Muka Hitam itu mendapat akal baik.
Ia dan kawan-kawannya hanya tiga orang sedangkan pihak lawan ada lima orang, belum ditambah oleh para pemimpin-pemimpin cabang Hek-tung Kai-pang yang nampaknya berpihak kepada lima orang ketua mereka.
Mengapa dalam keadaan kalah tenaga ini ia tidak menarik tangan kedua orang ini?
"Ji-wi Eng-hiong,"
Katanya kepada tosu dan orang bertopi bundar itu.
"Ji-wi jauh-jauh sudah datang ke sini dan biarpun antara Ji-wi dengan kami bertiga tidak ada hubungan, namun maksud kedatangan kita di sini adalah sama. Sekarang dengan secara licik tuan rumah hendak maju berlima, mengapa kita tidak bergabung saja sehingga kita pun menjadi lima orang? Kalau kita menang, percayalah bahwa kami bertiga tidak akan berlaku curang seperti tuan rumah dan kita kelak boleh menentukan siapa diantara kita yang cakap menjadi ketua!"
Tosu dan orang bertopi itu saling pandang, kemudian mengangguk-anggukkan kepala.
"Bagus, memang demikianlah baru adil!"
Sementara itu, kelima orang she Hek itu dapat mengerti kecerdikan pihak Coa-tung Kaipang, namun mereka tidak takut.
"Baiklah, lekas kalian memperlihatkan kepandaian, banyak bicara tiada guna!"
Setelah berkata demikian, dengan otomatis ia dan kawan-kawannya lalu berpencar dan membentuk sebuah barisan segi lima.
"Hayo serang!"
Kata Si Muka Hitam, pemuka dari pemimpin Coa-tung Kai-pang sambil menggerakkan tongkat ularnya.
Beng Beng Tojin tertawa bergelak dan mengeluarkan senjatanya yang istimewa yaitu sepasang sumpit gading yang panjang dan berujung runcing, sedangkan It-ci-sin-kang Cong Tan lalu mengeluarkan senjatanya yang berupa golok.
Dengan berbareng, kelima orang tamu ini menyerang pihak Hek-tung Kai-pang.
Indah sekali gerakan kelima saudara Hek itu, mereka menyambut lawan-lawannya.
Tubuh mereka bergerak secara teratur dan begitu tongkat hitam mereka menangkis mereka lalu menggerakkan kaki dengan gerakan yang sama dan dengan teratur sekali mereka lalu menyerang lawan di sebelah kiri masing-masing, bukan lawan yang rnenyerang tadi!
"Moi-moi,"
Kata Hong Beng perlahan kepada Goat Lan yang duduk di sebelah kanannya.
"perhatikan baik-baik. Lima saudara Hek itu menggunakan barisan yang teratur sekali."
Goat Lan mengangguk sambil memandang penuh perhatian.
"Memang dugaanmu tepat, Koko. Mereka tidak mau melayani lawan yang menyerang, sebaliknya menyerang orang di sebelah kiri sehingga pihak lawan menjadi kacau mereka pecah perhatiannya. Lihat, benar-benar mereka lihai dan sukar dilawan! Biarpun lima orang melawan lima, namun pihak lawan selalu akan merasa terkurung dan terkeroyok!"
"Aku pernah mendengar dari Suhu tentang Ilmu Tongkat Hek-tung-hwat, dan melihat pergerakan barisan mereka, kalau tidak salah mereka itu mempergunakan barisan yang hampir sama dengan Ngo-bun-tin."
"Apakah ada persamaannya dengan Ngo-heng-tin (Barisan Lima Anasir)?"
Tanya Goat Lan sambil menonton pertempuran yang kini berjalan seru itu.
"Tidak sama,"
Jawab Hong Beng.
"Ngo-bun-tin (Barisan Lima Pintu) mempunyai lima pintu, yaitu Thian-bun (Pintu Langit), Tee-bun (Pintu Bumi), Hai-bun (Pintu Laut), Hong-bun (Pintu Angin) dan In-bun (Pintu Awan). Kedudukan mereka kuat sekali karena tiap kali seorang di antara mereka diserang dan menangkis, maka kawan di sebelah kanan atau kirinya lalu maju menyerang lawan yang menyerangnya itu, dengan demikian penyerangan lawan tak dapat diputuskan."
Kedua orang muda itu lalu memperhatikan jalannya pertempuran.
Ternyata bahwa Ilmu Tongkat Hek-tung-hwat memang hebat sekali.
Tongkat hitam di tangan kelima orang itu bergerak bagaikan seekor naga hitam yang mengamuk dan tiap kali tongkat mereka beradu dengan senjata lawan, tentu terjadi benturan yang amat keras dan jelas nampak bahwa tenaga kelima ketua Hek-tung Kai-pang itu masih menang setingkat.
Kecuali apabila yang ditangkis itu golok di tangan It-ci-sin-kang Cong Tan, karena ternyata bahwa Si Jari Lihai ini benar-benar kuat sekali tenaganya.
Hampir saja karena kurang hati-hati, tongkat di tangan Hek Sai saudara termuda dari lima ketua itu, terlepas dari pegangan ketika ia menangkis golok Cong Tan!
"Ngo-hek-pangcu tentu akan menang,"
Kata Goat Lan setelah menonton pertempuran yang sudah berjalan dua puluh jurus lebih itu.
"Memang, kepandaian pihak tamu belum dapat menyamai kelihaian tuan rumah, akan tetapi kulihat Ilmu Tongkat Coa-tung-hwat tidak kalah lihai daripada Hek-tung-hwat, hanya gerakan tiga orang itu masih kurang sempurna. Mereka itu hanya tokoh-tokoh kedua saja, kalau ketua-ketua dari Coa-tung Kai-pang tentu akan hebat sekali permainan tongkatnya,"
Kata Hong Beng.
Memang kedua orang muda ini memiliki pandangan yang amat tajam dan awas, hal ini mungkin karena kepandaian mereka masih jauh lebih tinggi tingkatnya daripada kepandaian mereka yang sedang bertempur.
Tepat seperti yang mereka duga, kelima orang ketua Hektung Kai-pang mulai mendesak lawan mereka dan yang pertama kali terkena pukulan adalah It-ci-sin-kang Cong Tan.
Pada satu saat yang amat tepat, yaitu ketika goloknya menyambar ke arah leher Hek Kwi, orang ke empat dari Ngo-pangcu ini lalu menangkis dan menggunaan tongkat hitamnya untuk menempel golok.
Hal ini dapat terjadi oleh karena dalam tangkisan ini ia menggunakan gerakan coan (memutar) sehingga Cong Tan merasa sukar untuk menarik kembali goloknya.
Pada saat itu, bagaikan telah diatur sebelumnya tongkat hitam Hek Pa te1ah meluncur dan menotok pundak Cong Tan pada jalan darah Keng-hin-hiat!
Cong Tan memekik kesakitan dan merasa betapa seluruh tubuhnya terlepas dari pegangan dan sekali Hek Kwi menendang, tubuhnya terlempar keluar dari kalangan pertempuran dan tak dapat bergerak pula!
Tak lama setelah Cong Tan roboh, kembali Beng Beng Tojin menjadi korban di tangan Hek Liong, saudara yang paling lihai ilmu tongkatnya.
Pada saat Hek Liong menusukkan tongkatnya ke dada tosu itu, Beng Beng Tojin lalu menggerakkan sepasang sumpit gadingnya untuk menjepit dan menggunting tongkat lawan.
Jepitan sumpitnya ini amat keras, disertai tenaga lwee-kang yang hebat, akan tetapi ternyata bahwa ia masih kalah tenaga.
Hek Liong membuat tongkatnya tergetar dalam tangannya dan begitu tongkat tadi bergetar keras, maka jepitan itu dengan sendirinya terlepas, akan tetapi tongkat itu masih terus bergetar di antara kedua sumpit itu sehingga Beng Beng Tosu tidak berani sembarangan menarik sumpitnya karena takut kalau-kalau ia kalah cepat dan kalau-kalau tongkat itu akan mendahuluinya dengan serangan hebat.
Akan tetapi, pada saat itu, Hek Houw yang sudah menduduki Tee-bun (Pintu Bumi) dengan cepat mengirim tusukan dengan tongkatnya ke arah lambungnya.
Beng Beng Tojin menjatuhkan diri ke belakang dan "bret!"
Jubahnya yang lebar itu tertusuk tongkat dan robek lebar sekali, sedangkan kulit pahanya ikut pula robek dan terluka!
Masih untung baginya bahwa kedua saudara Hek ini tidak bermaksud mencelakakannya dan tidak mengejarnya dengan serangan lain.
Tosu ini melompat ke belakang, mengebut-ngebutkan bajunya dengan muka merah, lalu berkata.
"Pinto mengaku kalah!"
Kemudian tubuhnya berkelebat cepat dan lenyap dari situ!
Kini tinggallah ketiga orang pemimpin Coa-tung Kai-pang yang melakukan perlawanan hebat dan mati-matian.
Memang betul seperti yang dikatakan oleh Hong Beng tadi.
Ilmu tongkat mereka benar-benar lihai dan ganas sekali.
Tongkat berbentuk ular di tangan mereka itu nampak seakan-akan hidup dan tongkat itu seperti ular aseli yang bergerak-gerak dan gerakan amat tak terduga-duga.
Namun, tadi dibantu oleh orang lain yang cukup tinggi kepandaiannya, mereka masih tak dapat mengalahkan kelima ketua Hek-tung Kai-pang, apalagi sekarang mereka yang hanya bertiga itu terkurung oleh lima orang lawannya yang tangguh.
Mereka terdesak hebat, dan terkurung rapat sehingga mereka hanya dapat memutar tongkat mereka mempertahankan diri tanpa diberi kesempatan membalas serangan.
Ketika Hong Beng dan Goat Lan mengerling ke arah para anggauta Hek-tung Kai-pang, pada wajah mereka terbayang kegembiraan besar melihat kemenangan ketua mereka, akan tetapi tak seorang pun yang menggetarkan suara maupun gerakan.
Wajah mereka tetap tegang dan siap siaga seperti tadi sehingga diam-diam kedua orang muda ini menjadi kagum.
Hal ini membuktikan pula bahwa Hek-tung Kai-pang memang betul merupakan perkumpulan yang berdisiplin baik.
Tiga orang pemimpin Coa-tung Kai-pang yang sudah amat terdesak itu makin lama makin lemah gerakan tongkat mereka.
Memang harus dipuji keuletan mereka karena sebegitu lama belum juga kelima orang lawan mereka dapat merobohkan mereka.
Pertahanan mereka kuat sekali.
Tiba-tiba Si Muka Hitam berseru keras.
"Robohkan mereka!"
Dan komando ini diikuti oleh gerakan mereka menuju ke arah para lawan dengan tongkat mereka dan tiba-tiba dari kepala tongkat itu menyambar keluar senjata rahasia yang berwarna hitam! "Celaka, Koko!"
Seru Goat Lan yang hendak melompat, akan tetapi tiba-tiba lengannya dipegang oleh Hong Beng.
"Tenanglah, Moi-moi,"
Kata pemuda itu.
Karena amat tegang, maka Hong Beng tanpa disadarinya pula telah memegang lengan tunangannya dan ketika Goat Lan merasa betapa lengannya dipegang tak dilepaskan pula, tiba-tiba mukanya berubah merah sekali!
"Koko, lepaskan,"
Bisiknya.
"tak malukah dilihat orang?"
Barulah Hong Beng sadar bahwa semenjak tadi ia telah memegang lengan orang yang berkulit halus dan hangat itu, maka dengan muka kemerahan dan mulut tersenyum malu-malu ia lalu melepaskan lengan tunangannya.
Sepasang mata mereka bertemu untuk saat pendek, karena keduanya segera melihat ke tempat orang-orang bertempur.
Ternyata bahwa dari sikap kedua orang muda tadi, Hong Beng lebih tenang dan ketenangannya ini membuat pandangannya lebih awas daripada Goat Lan.
Goat Lan yang merasa tegang dan kuatir, mengira bahwa ketua-ketua Hek-tung Kai-pang akan terkena celaka, akan tetapi Hong Beng yang melihat sikap Ngo-hek-pangcu itu maklum bahwa mereka telah siap dan tidak akan mudah diserang dengan senjata rahasia begitu saja.
Memang betul, ketika kelima orang ketua she Hek itu melihat benda-benda hitam menyambar, serentak mereka mendekam ke bawah dan dengan gerakan yang berbareng bagaikan telah diatur lebih dulu, tongkat-tongkat mereka menyapu ke arah kaki ketiga lawan itu.
Terdengar suara bak-buk dah terjungkallah tiga orang pemimpin Coa-tung Kai-pang itu!
Tulang kaki mereka telah terpukul hebat dan biarpun tenaga lwee-kang mereka telah mencegah tulang kaki itu remuk, namun pukulan itu cukup keras sehingga untuk beberapa lama mereka takkan dapat bangun karena tulang kaki mereka terasa sakit dan linu sekali.
Senjata rahasia yang keluar dari tongkat mereka tadi adalah jarum-jarum berbisa yang amat berbahaya!
Setelah dapat berdiri lagi, ketiga orang itu lalu memungut tongkat ular yang tadi terlepas dari pegangan, kemudian mereka berkata kepada tuan rumah.
"Kami telah menerima kalah, akan tetapi harap kalian siap menghadapi pembalasan ketua-ketua kami!"
Setelah demikian, dengan terpincang-pincang ketiga orang itu lalu pergi dari situ.
Barulah terdengar sorak-sorai dari para anggauta Hek-tung Kai-pang karena kemenangan mutlak dari ketua-ketua mereka ini.
Akan tetapi Hek Liong lalu mengangkat tangan memberi tanda kepada mereka agar supaya diam.
"Kawan-kawan,"
Katanya dengan wajah muram.
"hari ini adalah hari yang sial bagi kita, tak boleh kita bersuka-ria karenanya. Ketahuilah bahwa baru tiga orang dari Coa-tung Kai-pang tadi saja sudah demikian lihai, padahal mereka itu adalah orang-orang bertingkat dua. Kalau ketua mereka yang datang, belum tentu kami berlima akan kuat menghadapinya. Sekarang karena kekalahan mereka tadi, pihak Coa-tung Kai-pang tentu tak akan tinggal diam. Oleh karena itu, kita harus berjaga-jaga dan betapapun juga daripada harus tunduk kepada Coa-tung Kai-pang yang jahat, lebih baik kita hancur lebur!"
"Setuju! Setuju!"
Terdengar jawaban para pengemis yang bersemangat gagah itu. Kemudian, Hek Liong berpaling kepada Hong Beng dan dengan suara keren ia berkata.
"Orang muda, tadi kami tidak berani menantangmu oleh karena kami tadi untuk sementara meletakkan jabatan. Setelah sekarang kami diangkat kembali, maka menjadi kewajiban kamilah untuk menegurmu! Kau kemarin telah melukai orang-orang kami dan setelah kau melihat kelihaian kami tadi, apakah kau tidak lekas-lekas minta maaf? Ketahuilah, bahwa kami bukanlah orang-orang yang suka menaruh dendam, asal saja kau suka minta maaf, kami akan memandang muka Li-hiap murid Sin Kong Tianglo yang menjadi sahabatmu ini untuk memaafkan kau dan melupakan segala peristiwa kemarin."
Mendengar ucapan yang mengandung sedikit kebanggaan atas kemenangan tadi, Hong Beng tersenyum.
Akan tetapi ia tidak menjawab, sebaliknya, ia menunjuk ke arah tubuh It-ci-sinkang Cong Tan yang masih rebah di atas tanah tak bergerak.
"Eh, Hek-pangcu, apakah kau lupa orang itu? Apakah kau akan membiarkan ia mati di situ?"
Barulah Hek Liong dan adik-adiknya teringat akan Cong Tan yang tadi telah terkena totokan, maka cepat mereka menghampiri Cong Tan.
"Pergilah kau dari sini!"
Kata Hek Liong sambil menepuk pundak orang itu.
Akan tetapi, alangkah kagetnya ketika ia melihat betapa tubuh Cong Tan masih saja kaku tak dapat bergerak dengan mata melotot!
Ia mengira bahwa tepukannya untuk membebaskan totokannya sendiri tadi kurang tepat, maka ia menepuk lagi, bahkan mengurut urat pundak bekas lawan itu.
Akan tetapi sia-sia belaka, tubuh Cong Tan tetap kaku tak dapat bergerak.
Lima orang ketua Hek-tung Kai-pang itu menjadi terheran-heran dan seorang demi seorang mereka turun tangan untuk membebaskan Cong Tan dari pengaruh totokan.
Namun percuma saja, tak seorang pun di antara mereka dapat menolong.
"Celaka!"
Terdengar Hek Liong berkata.
"Yang terkena totokan adalah jalan darahnya Keng-hin-hiat, kalau tidak dapat dilepaskan ia akan mati dalam waktu setengah hari!"
Tiba-tiba terdengar angin menyambar dan ketika lima orang itu menengok, ternyata Goat Lan telah melompat ke tempat itu.
Gadis ini amat tertarik melihat keadaan yang aneh itu, dan sebagai seorang ahli pengobatan murid Sin Kong Tianglo, tentu saja ia amat tertarik dan ingin menyaksikan dengan mata sendiri.
"Ngo-wi harap mundur dan biarkan aku memeriksanya!"
Kata gadis ini dan kelima orang ketua Hek-tung Kai-pang itu lalu melangkah mundur karena mereka maklum bahwa dara jelita ini adalah seorang ahli pengobatan yang amat terkenal di dunia kang-ouw.
Goat Lan segera berjongkok dan memeriksa keadaan tubuh Cong Tan yang masih kaku.
Beberapa kali ia memijit pundak yang tertotok itu dan akhirnya ia tersenyum, lalu berkata kepada para ketua yang masih merubungnya dengan muka heran.
"Ngo-wi Pangcu, ketahuilah bahwa orang ini pernah meyakinkan Ilmu Pi-ki-hu-Nat (Menutup Hawa Melindungi Jalan Darah), akan tetapi pelajaran yang dilatihnya itu belum sempurna benar. Ia telah mempelajari ilmu itu di bagian penggunaan hawa tubuh untuk membuyarkan totokan pada jalan darah. Maka ketika tadi tertotok roboh, ia telah berusaha mengumpulkan hawa tubuhnya untuk membuka totokan itu, akan tetapi oleh karena ia belum paham betul, maka penggunaannya salah, tidak diatur bersama dengan pernapasannya. Karena itu maka sekarang hawa itu berkumpul di pundaknya, menutup jalan darahnya yang masih tertotok sehingga ketika Ngo-wi mencoba melepaskannya, tentu saja terhalang oleh hawa tubuh yang berkumpul ini!"
Setelah berkata demikian, Goat Lan lalu mencabut tusuk kondenya dari perak dan dengan gerakan cepat sekali ia menusukkan ujung tusuk kondenya yang runcing itu pada pundak Cong Tan yang tertotok.
"Aduuuh...!"
It-ci-sin-kang Cong Tan pulih kembali. Orang ini lalu bangun berdiri, memandang kepada Goat Lan dengan mata melotot lalu memaki.
"Perempuan kurang ajar! Kau telah melukai dan mempermainkan aku dalam keadaan aku tidak berdaya! Kau harus menebus kekurangajaranmu itu!"
Sambil berkata demikian Cong Tan yang galak segera menyerang Goat Lan dengan jari tangan terbuka, menotok dada gadis itu!
Goat Lan sempat melompat ke belakang sambil memandang heran.
Kelima orang ketua dari Hek-tung Kai-pang itu menjadi marah dan mendongkol sekali.
Ditolong orang tidak berterima kasih, bahkan lalu menyerang penolongnya, aturan manakah ini?
Akan tetapi melihat gerakan mereka, Goat Lan tersenyum dan berkata.
"Biarlah Ngo-wi Pangcu, biar ia melepaskan kemarahannya kepadaku!"
Terpaksa kelima orang she Hek itu lalu mundur, membiarkan Goat Lan menghadapi It-ci-sinkang Cong Tan yang marah-marah.
Memang Cong Tan tadi merasa mendongkol dan malu sekali karena ia yang tadinya menyombongkan kepandaiannya dan hendak merebut kedudukan pangcu dari Hek-tung Kai-pang, baru beberapa jurus saja sudah tertotok seperti arca bergelimpangan!
Dan ketika Goat Lan menolongnya, ia sebetulnya sama sekali tidak mengerti bahwa dirinya ditolong dan dikiranya bahwa nona itu mempermainkannya dan sengaja melukai pundaknya, maka ia menjadi makin marah sekali.
Untuk melampiaskan kemendongkolannya kepada para ketua Hek-tung Kai-pang, ia tidak berani karena merasa tidak dapat menang, maka kini ia sengaja hendak memperlihatkan kepandaiannya dengan menyerang gadis ini.
Mustahil ia akan kalah menghadapi seorang gadis muda seperti ini?
"Rasakanlah pembalasan dari It-ci-sin-kang Cong Tan!"
Serunya sambil menyerbu Goat Lan yang berdiri dengan tenang itu.
Cong Tan memang bertenaga besar, ia ahli tenaga gwa-kang dan setiap hari berlatih diri di rumahnya dengan mengangkat dan mempermainkan batu-batu besar yang beratnya ratusan kati, juga ia telah metatih jari-jari tangannya sehingga jari-jari tangan itu dapat memukul hancur batu!
Yang hebat adalah dua jari tangan kanan dan kirinya, yaitu telunjuk dan jari tengah, karena ia bersilat dengan jari-jari ini terbuka, digunakan untuk menotok jalan darah lawan!
Akan tetapi, segera ia mendapat kenyataan bahwa bertempur melawan gadis cantik jelita yang mengeluarkan bau harum seperti kembang ini, sama halnya dengan bertempur melawan bayangannya sendiri di waktu terang bulan.
Ke mana juga ia menubruk dan menyerang, selalu yang tertangkap dan terpukul olehnya hanyalah angin belaka!
Ia laksana seekor kerbau gila yang menyerang kain merah yang diikatkan di depan tanduknya.
Menubruk sana menyerang sini, selalu mengenai angin.
Goat Lan sambil tersenyum-senyum mempermainkan orang ini.
Hitung-hitung latihan, pikirnya!
Tiga puluh jurus telah lewat dengan cepat dan karena setiap pukulan yang dikeluarkan oleh Cong Tan disertai tenaga gwa-kang yang besar, maka setelah menyerang tiga puluh jurus, tubuh orang ini telah basah kuyup oleh peluhnya sendiri.
Hong Beng menonton pertempuran itu dengan tersenyum simpul dan ia merasa geli melihat lagak Cong Tan, juga ia diam-diam menggelengkan kepalanya melihat kejenakaan tunangannya yang mempermainkan orang besar itu.
Adapun kelima orang ketua she Hek itu berdiri menonton sambil membelalakkan mata.
Baru sekarang mereka menyaksikan gin-kang yang luar biasa lihainya.
Hampir mereka tak dapat percaya betapa dengan hanya mengandalkan keringanan tubuh nona itu dapat menghindarkan seluruh penyerangan Cong Tan.
Tiba-tiba terdengar seruan nyaring dari Goat Lan dan tubuhnya lenyap dari pandangan mata lawannya.
Karuan saja Cong Tan menjadi terkejut sekali.
Terdengar suara tertawa di sebelah belakang dan telinganya mendapat sentilan yang keras sehingga tcrasa pedas sekali.
Cepat ia mengayun kedua tangan ke belakang, memukul lawannya yang ternyata sudah berada di belakangnya itu.
Akan tetapi, hanya nampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu gadis itu telah berada di belakangnya pula, kini mengirim tendangan perlahan ke arah punggungnya sehingga ia merasa tulang punggungnya sakit sekali hampir patah-patah!
Demikianlah, dengan mengeluarkan gin-kangnya yang paling tinggi, Goat Lan melompat-lompat dan membuat lawannya berputar mengejar angin!
Akhirnya saking jengkel, pening dan lelah, It-ci-sin-kang Cong Tan Si Jari Lihai tak dapat mempertahankan dirinya lagi.
Bumi yang dipijaknya serasa berputar-putar, matanya melihat ribuan bintang menari-nari dan robohlah dia bagaikan orang mabuk!
Setelah peningnya lenyap, tanpa mempedulikan suara tertawa yang riuh dari para pengemis Tongkat Hitam, It-ci-sin-kang Cong Tan lalu melompat dan berlari bagaikan seekor anjing terkena pukulan.
Kini kelima orang ketua Hek-tung Kai-pang itu kembali menghadapi Hong Beng, dan Hek Liong berkata.
"Bagaimana, orang muda? Sebagaimana telah kukatakan tadi sebelum ada gangguan dari si sombong itu, diantara kami Hek-tung Kai-pang dan kau orang muda she Sie tidak ada permusuhan sesuatu. Akan tetapi, kau telah menghina kami dan melukai beberapa orang anggauta kami, maka kami harap kau suka minta maaf agar kami tidak terpaksa melanjutkan pertikaian kecil yang tidak ada artinya ini."
"Maaf, Pangcu,"
Jawab Hong Beng dengan tenang sekali.
"Aku bersedia minta maaf andaikata kedatanganku ini dianggap lancang dan mencampuri urusan kalian. Akan tetapi, untuk satu hal itu, sukarlah bagiku untuk minta maaf. Ketahuilah Pangcu, kemarin ketika aku datang ke tempat ini, aku melihat kawan-kawanmu telah mengeroyok seorang pendekar budiman sehingga tentu saja aku tidak dapat membiarkan begitu saja satu orang dikeroyok sedemikian rupa oleh kawan-kawanmu. Dalam hal ini, kawan-kawanmulah yang bersalah dan sudah sepatutnya kalau kawan-kawanmu itu yang minta maaf kepada pendekar yang sedang menderita sakit itu!"
Hek Liong mengerutkan keningnya, tanda bahwa ia tidak puas mendengar jawaban ini.
"Saudara Sie! Kami dapat menerima ucapanmu tadi. Menurut penuturan kawan-kawan kami, orang gila kemarin itu telah mengacau dan menghina kawan-kawan kami, dan dia dikeroyok oleh karena kepandaiannya lebih tinggi daripada kepandaian kawan-kawan kami. Kau sebagai orang luar, telah membantu sepihak tanpa melihat dulu sebab-sebab pertempuran. Maka sekarang, karena kau telah datang ke sini dan untuk mempertahankan nama dan kehormatan kami, kami ingin sekali menerima pelajaran darimu!"
Sambil tersenyum tenang Hong Beng bangun berdiri dari tempat duduknya.
Memang inilah maksud kedatangannya, untuk mencoba kepandaian kelima orang ketua itu.
Memang mungkin juga ia mencegah pibu ini dengan memberi penjelasan dan memperkenalkan siapa adanya pengemis yang dianggap gila itu.
Akan tetapi ia bersabar dulu dan sebelum memperkenalkan Lo Sian, ia hendak lebih dulu merasai bagaimana lihainya kelima orang pangcu itu.
"Pangcu,"
Katanya dengan mulut masih tersenyum.
"aku sudah datang dan menurut kata-kata orang perkenalan akan menjadi lebih erat setelah dua pihak mengadu tenaga dan mengukur kepandaian masing-masing. Sebelum kita melanjutkan percakapan kita, marilah kita main-main sebentar!"
Lima orang ketua dari Hek-tung Kai-pang itu lalu berdiri dan siap menanti di lapangan pertempuran yang tadi.
Semua pengemis lalu mengurung lapangan itu dan memilih tempat duduk, dengan wajah tenang akan tetapi sinar mata gembira mereka siap menonton pertandingan ilmu silat yang ramai!
Para ketua mereka tadi telah memperlihatkan kepandaian mereka, dan pemuda yang tampan itu sudah menyaksikannya pula, akan tetapi sekarang pemuda itu berani menghadapi lima orang ketua itu, mudah saja diduga oleh para pengemis yang kesemuanya memiliki ilmu silat itu bahwa pemuda ini tentulah memiliki kepandaian tinggi!
Adapun Goat Lan yang tadipun telah menyaksikan kepandaian lima orang ketua Hek-tung Kai-pang itu, merasa ragu-ragu apakah Hong Beng akan dapat menandingi mereka.
Biarpun gadis ini tidak ragu-ragu lagi akan kelihaian tunangannya, akan tetapi menghadapi lima orang ketua itu pun bukanlah hal yang ringan.
Betapapun juga, lima orang ketua itu telah merasa jerih kepadanya, dan kalau ia ikut mencampuri urusan ini, tentu akan berkurang kegagahan dan kejantanan Hong Beng dalam pandangan mata mereka.
Maka ia diam saja, duduk sambil tersenyum manis.
"Silakan, Ngo-wi Pangcu, terserah kepada Ngo-wi apakah hendak menyerang dengan bertangan kosong ataukah dengan senjata!"
Kata Hong Beng dengan sikapnya yang tenang.
"Kami adalah tuan rumah,"
Jawab Hek Liong.
"dan kau adalah tamu kami. Sudah sepatutnya kalau tuan rumah melayani kehendak tamu. Silakan kau saja yang menentukan, Sie-enghiong, kami hanya melayani saja."
Hong Beng berpikir cepat.
Dalam hal pibu, orang tidak boleh berlaku sungkan-sungkan, apalagi menghadapi keroyokan lima orang seperti Ngo-hengte ketua Hek-tung Kai-pang ini.
Kalau ia menghadapi mereka mengandalkan tangan kosong, biarpun ia tidak takut dan merasa yakin takkan kalah, namun selain agak sukar mengalahkan mereka, juga ia tidak dapat memperlihatkan kelihaian ilmu tongkatnya.
Ia tahu bahwa kelima orang ketua Hek-tung Kaipang ini mengandalkan kehebatan ilmu tongkat mereka maka jalan yang paling tepat untuk membuat mereka tunduk betul-betul adalah mengalahkan Ilmu Tongkat Hek-tung-hwat mereka dengan ilmu tongkat pula.
Hong Beng lalu membungkuk dan mengambil sebatang cabang kering yang besarnya hanya selengan orang dan panjangnya dua kaki lebih, kemudian sambil menjura ia berkata.
"Siauwte telah mendengar tentang kehebatan Hek-tung-hwat, dan karena kebetulan sekali siauwte pernah mempelajari sedikit ilmu tongkat yang masih amat rendah, maka siauwte akan merasa gembira dan berterima kasih sekali apabila dapat menambah pengetahuan ilmu tongkat dan menerima sedikit pelajaran ilmu tongkat dari Ngo-wi untuk membuka mata siauwte!"
Hek Liong dan kawan-kawannya saling pandang dengan heran dan tersenyum.
Mereka menganggap pemuda ini terlalu lancang dan terlalu berani.
Ia telah diberi kesempatan untuk memilih, mengapa memilih hendak mengadu ilmu tongkat?
Pemuda ini terang mencari penyakit, pikir mereka.
Hek Liong yang berpikiran adil, lalu berkata.
"Sie-enghiong, karena kau hanya memegang sebuah tongkat kayu yang kecil dan lemah, kami merasa malu untuk maju berbareng. Biarlah aku seorang saja yang mencoba dan main-main sebentar dengan ilmu tongkat itu."
Panaslah hati Hong Beng mendengar ucapan ini. Terang sekali bahwa ia dipandang ringan sekali oleh ketua ini. Maka sambil tersenyum ia berkata manis, akan tetapi mengandung tantangan.
"Pangcu, sudah kudengar tadi bahwa untuk menghadapi ketua dari Hek-tung Kai-pang, orang harus menghadapi kelimanya sekaligus. Oleh karena adanya ketentuan itu, mana siauwte berani melanggarnya? Harap saja Ngo-wi tidak berlaku sungkan-sungkan dan persilakan maju berbareng, karena bukankah siauwte dianggap sebagai tamu yang harus dilayani oleh semua tuan rumah?"
"Hemm, jangan anggap kami keterlaluan, orang muda, kau sendiri yang minta kami maju berbareng!"
Seru Hek Liong dengan mendongkol.
Nyata sekali bahwa pemuda ini tidak mau menerima kebaikannya.
Kepandaian apakah yang diandalkan sehingga anak muda ini berani bersikap sombong?
Ia lalu memberi tanda kepada empat orang adiknya dan berbareng mereka mengeluarkan tongkat hitam mereka.
"Awas serangan!"
Seru Hek Liong dan bagaikan lima ekor ular hitam, tongkat di tangan kelima orang ketua itu lalu menyambar ke arah tubuh Hong Beng dari lima jurusan.
Cepat dan kuat sekali gerakan serangan tongkat-tongkat itu sehingga angin menyambar ke arah Hong Beng dari segala jurusan.
Akan tetapi, dengan memutar cabangnya, sekaligus Hong Beng telah dapat menangkis sehingga tongkat-tongkat hitam itu terpental kembali.
Barulah kelima orang ketua yang tadinya memandang rendah itu menjadi terkejut sekali.
Mereka merasa betapa dari cabang kecil di tangan pemuda itu yang membentur tongkat-tongkat hitam mereka, seorang demi seorang merasa betapa telapak tangan mereka seperti digurat pisau tajam rasanya!
Setelah dapat menduga bahwa pemuda itu bukanlah orang sembarangan, Hek Liong lalu berseru keras dan ia memutar-mutar tongkat hitamnya sedemikian rupa sehingga lenyaplah tongkat itu, berubah menjadi segulung sinar hitam yang mengerikan dan dahsyat sekali datangnya.
Juga keempat saudaranya tidak mau kalah, mengikuti gerakan kakak mereka ini dan sebentar lagi nampaklah lima gulungan sinar hitam bagaikan lima ekor naga sakti menyerang dan mengurung tubuh Hong Beng!
"Bagus, lihai sekali Hek-tung-hwat!"
Terdengar pemuda itu berseru, dan belum juga habis ucapannya itu, tiba-tiba lenyaplah tubuhnya, terbungkus oleh sinar putih kehijauan dari tongkat cabangnya yang diputar secara luar biasa sekali!
Semua pengemis anggauta Hek-tung Kai-pang menahan napas dan hampir tidak percaya kepada mata sendiri.
Kalau mereka sudah biasa melihat gerakan tongkat-tongkat hitam pangcu mereka, kini mereka melihat gulungan sinar yang lebih hebat lagi.
Lebih panjang, lebar dan mendatangkan angin keras sehingga semua pengemis yarig duduk di atas tanah mengelilingi tempat adu kepandaian itu, merasa muka mereka tertiup oleh angin yang dingin sekali!
Pakaian mereka berkibar-kibar dan yang aneh sekali adalah hawa yang keluar dari sinar putih kehijauan itu karena sebentar terasa dingin sekali dan sebentar pula terganti oleh hawa yang panas!
Inilah Ngo-heng-tung-hwat yang mengeluarkan hawa-hawa Im dan Yang, ilmu tongkat warisan dari Pok Pok Sianjin yang dimainkan oleh Hong Beng dengan hebatnya, karena pemuda ini memang hendak menundukkan lima orang ketua Perkumpulan Pengemis Tongkat Hitam yang tadinya memandang rendah kepadanya!
Kalau tadi ketika merasakan tangkisan tongkat ranting di tangan Hong Beng, kelima orang ketua itu merasa terkejut, adalah sekarang mereka tidak saja menjadi kaget, akan tetapi merasa amat terheran-heran!
Seujung rambut pun mereka tak pernah mengira bahwa pemuda itu selihai ini dan tak pernah pula bermimpi bahwa di dunia ini ada ilmu tongkat sehebat ini!
Mereka berusaha untuk memperhebat gerakan tongkat mereka, mengurung dan menyerbu bayangan Hong Beng dengan tenaga sepenuhnya, akan tetapi tiap kali tongkat mereka terbentur oleh sinar putih kehijauan itu, tongkat mereka kembali memukul diri sendiri!
Sampai empat puluh jurus lebih Hong Beng hanya mempertahankan dirinya saja, dan tidak membalas sama sekali.
Akan tetapi, tetap saja lima orang lawannya tidak berdaya sama sekali dan tidak pernah dapat menyentuhnya dengan senjata mereka.
Setelah Hong Beng merasa puas memperlihatkan kehebatan Ngo-heng-tung-hwat tiba-tiba ia lalu merubah gerakan tongkatnya dan mulai mainkan Pat-kwa-tung-hwat.
Lebih hebat lagilah akibatnya!
Karena pemuda itu bersilat dengan gerakan kaki atau kedudukan sesuai dengan pat-kwa (segi delapan), maka kelima orang lawannya itu seakan-akan menghadapi delapan orang pemuda!
Bukan mereka berlima yang mengurung, bahkan kini mereka merasa seperti terkurung oleh delapan orang!
Mereka terkejut sekali dan gerakan mereka menjadi kacau balau.
Nampaknya lawan muda itu berada di depan akan tetapi baru saja mau diserang, dari belakang telah menyambar angin cabang dari pemuda itu, seakan-akan pemuda itu dapat memecah dirinya menjadi delapan orang!
Kini para pengemis yang menonton sudah melupakan peraturan saking kagumnya.
Mereka bergerak dan memuji dengan kata-kata keras, bahkan Goat Lan sendiri setelah menyaksikan ilmu tongka tunangannya, menjadi bengong!
Ia merasa bangga sekali dan diam-diam ia mengakui bahwa kalau tunangannya itu mau bermain sungguh-sungguh, sepasang tombak bambu runcing sekalipun belum tentu akan dapat mengalahkannya!
"Sie-enghiong, bukalah mata kami dengan seranganmu!"
Hek Liong berkata keras karena tidak pernah melihat serangan pemuda itu. Ia merasa amat penasaran dan hendak melihat bagaimana hebatnya pemuda itu kalau menyerang.
"Maafkan, Pangcu!"
Terdengar Hong Beng berseru dan tersusullah seruan ini oleh teriakan kelima orang ketua itu dan terdengar suara keras.
Tahu-tahu lima batang tongkat hitam itu terlepas dari pegangan masing-masing dan melayang ke atas!
Mereka cepat melompat mundur, dan melihat dengan melongo betapa Hong Beng menggerakkan tongkatnya ke atas, diputar sedemikian rupa sehingga ia dapat mengelilingi kelima batang tongkat hitam itu.
"menangkap"
Lima batang tongkat itu dengan putaran cabangnya sehingga tongkat-tongkat itu terkumpul menjadi satu dan ketika ia mengeluarkan tangan kiri ke depan, lima tongkat hitam itu telah berada dalam pegangannya.
Sambil tersenyum dan menjura, ia maju memberikan tongkat-tongkat itu kepada pemiliknya!
Untuk beberapa lama, kelima orang ketua Hek-tung Kai-pang itu memandang pemuda ini dengan bengong, masih belum dapat mempercayai pengalaman mereka sendiri.
Akan tetapi, tiba-tiba Hek Liong lalu menjatuhkan diri berlutut di depan pemuda itu, diikuti oleh keempat orang adiknya!
Terdengar sorak-sorai para pengemis dan kelima orang ketua itu memimpin orang-orangnya berseru ramai.
"Hidup pangcu (ketua) yang baru! Hidup Sie-pangcu yang gagah!"
Bukan main kagetnya Hong Beng mendengar ucapan ini dan melihat betapa semua pengemis berlutut mengelilingi dirinya! "Eh-eh, apa-apaan ini? Kuharap kalian tidak main-main dengan aku!"
Katanya gagap dengan muka berubah merah, karena ia maklum bahwa ia telah dipilih dan diangkat oleh mereka menjadi pangcu! Akan tetapi Hek Liong yang berlutut berkata dengan suara penuh permohonan.
"Kami harap Tai-hiap jangan menolak. Dengan sejujurnya kami mengangkat Taihiap menjadi pangcu kami, karena selain Tai-hiap seorang, tidak ada orang di dunia ini yang patut menjadi pemimpin kami! Harap Tai-hiap sudi memperkenalkan diri, siapakah sebetulnya Tai-hiap ini dan murid orang sakti dari mana!"
Hong Beng menjadi serba salah.
Melihat ketulusan hati mereka, untuk menolak begitu saja ia tidak tega, akan tetapi kalau diterima, bagaimana ia bisa menjadi pemimpin rombongan pengemis?
Ia memandang ke arah tunangannya, dan dengan senyum lebar yang menambah keayuan dan tahu-tahu ia telah melompat kedekat Hong Beng.
"Mereka bersungguh-sungguh, tidak baik menolak maksud jujur dari perkumpulan Hek-tung Kai-pang yang terkenal gagah dan budiman ini!"
Katanya.
Sorak-sorai gembira menyambut ucapan gadis ini dan Hong Beng merasa seakan-akan tubuhnya terbenam makin dalam lagi.
Tidak ada harapan untuk keluar setelah tunangannya sendiri bahkan menghendaki dia menjadi pemimpin pengemis.
"Baiklah, baiklah, harap kalian semua suka bangun berdiri. Hal pertama yang tidak kusukai ialah agar supaya aku jangan terlalu dipuji-puji dan disanjung-sanjung. Aku bukan seorang raja, dan kalau aku mau menerima jabatan ketua, ini hanya terpaksa karena melihat kebaikan perkumpulan ini."
Semua orang berdiri dengan sikap hormat dan diam, menanti ucapan ketua baru itu selanjutnya.
"Aku maklum bahwa kalian mengharapkan bantuanku untuk menghadapi bahaya yang mungkin datang dari pihak Coa-tung Kai-pang,"
Kata pemuda yang cerdik ini.
"Dan aku menerima pengangkatan ini hanya saja dengan beberapa macam syaratnya."
"Silakan Pangcu mengemukakan syarat-syarat itu, kami sekalian tentu saja bersedia mematuhinya, karena setiap syarat dan usul pangcu kami, merupakan perintah yang akan kami jalankan dengan taruhan nyawa kami!"
Terharulah hati Hong Beng mendengar ucapan ini. Ia menghela napas panjang dan berkata.
"Tentu kalian harus mengetahui keadaanku. Biarlah aku berterus terang kepada kalian, karena kita adalah orang-orang sendiri, orang-orang sehaluan yang bertujuan memberantas dan membasmi kejahatan! Aku, Sie Hong Beng, adalah putera dari pendekar besar Sie Cin Hai atau Pendekar Bodoh!"
Semua pengemis, terutama sekali Ngo-hengte, menahan napas dan bukan main terkejutnya serta girangnya hati mereka.
Kalau tadi mereka berlima masih merasa penasaran karena kalah sedemikian mudahnya oleh pemuda ini, kini rasa penasaran itu lenyap sama sekali.
Pantas saja pemuda itu lihai karena tidak tahunya dia adalah putera dari Pendekar Bodoh yang namanya telah menggemparkan kolong langit!
"Suhuku yang mengajar ilmu tongkat adalah Pok Pok Sianjin, tokoh terbesar dari barat!"
Kembali semua orang tertegun.
"Nona ini tadi telah memperkenalkan diri sebagai murid-murid Sin Kong Tianglo dan Im-yang Giok-cu, akan tetapi tentu kalian belum tahu bahwa dia sebenarnya adalah puteri dari pendekar besar Kwee An di Tiang-an. Dan perlu pula kuberitahukan bahwa dia adalah... tunanganku!"
Merahlah wajah Goat Lan mendengar keterangan ini. Ingin ia mencubit tunangannya itu yang dianggapnya berlebihan telah memperkenalkan dirinya pula.
"Nah, setelah kalian mengenal keadaan kami, sekarang akan kukemukakan syarat-syaratku. Biarpun aku menerima jabatan ketua, namun tidak mungkin bagiku untuk selalu berada di tempat perkumpulan kalian ini. Aku mengangkat kelima Saudara Hek sebagai wakil. Segala sesuatu mengenai perkumpulan kuserahkan kepada mereka berlima untuk mengurus. Dan aku pun tidak mau menurut kebiasaan kalian, tidak mau memakai pakaian sebagai pengemis. Akan tetapi, aku telah menerima jabatan ini, bersumpah hendak membela dan melindungi Hek-tung Kai-pang dan bertanggung jawab apabila ada sesuatu yang mengancam dan yang mengganggu perkumpulan kita!"
Ramailah sorak-sorai para pengemis mendengar kesanggupan ini.
Inilah yang mereka harapkan.
Dengan adanya pemuda putera Pendekar Bodoh ini menjadi ketua mereka, mereka tidak takut menghadapi penjahat yang bagaimanapun juga.
Juga mereka kini tidak kuatir lagi akan serbuan atau gangguan Coa-tung Kai-pang!
Kemudian Hek Liong berkata kepada Hong Beng.
"Pangcu, kami mempersilakan Pangcu dan Li-hiap untuk datang ke tempat pertemuan kita yang kita sebut Istana Pengemis untuk merayakan pengangkatan ini, juga untuk mengesahkannya!"
Beramai-ramai semua pengemis itu lalu mengiringkan Hong Beng dan Goat Lan menuju ke sebuah hutan di sebelah utara tempat itu.
Hutan ini besar sekali dan ketika tiba di tengah hutan, Hong Beng dan tunangannya melihat sebuah kuil kuno yang baru saja diperbaiki.
Biarpun dari luar nampak sangat miskin, akan tetapi huruf-huruf yang dipasang di luar kuil amat gagah dan angker.
Huruf-huruf itu berbunyi .
Istana Pengemis HEK TUNG KAI PANG.
Ketika kedua orang muda itu diarak masuk, Hong Beng dan Goat Lan terkejut sekali karena di sebelah dalam sungguh amat berbeda dengan keadaan di luar.
Di situ amat indah dan mewah.
Meja dan kursi serta perabot-perabot lain terdiri dari barang-barang mahal, terukir indah dan serba baru!
Benar-benar patut menjadi perabot dan isi ruang sebuah istana kaisar!
Tahulah kini Hong Beng dan Goat Lan mengapa banyak yang berhati serakah ingin menduduki jabatan ketua dari perkumpulan pengemis ini.
Tidak tahunya keadaan mereka begitu kaya raya.
Memang sesungguhnya para pengemis itu yang hidupnya hanya bekerja mengemis dan juga menerima upah dari pekerjaan kasar atau membantu orang menjaga keamanan, selalu mengumpulkan hasil pekerjaan mereka dan menyerahkannya kepada pusat sehingga dapatlah dibangun isi istana yang mewah ini.
Selain perabot-perabot yang indah itu, ternyata banyak pula terdapat harta simpanan yang besar jumlahnya.
Setelah bercakap-cakap lebih mendalam, tahulah kedua orang muda itu bahwa harta benda itu bukannya disimpan begitu saja, akan tetapi dipergunakan untuk menolong rakyat miskin dengan jalan menderma dan lain-lain.
Maka makin kagumlah mereka terhadap perkumpulan pengemis ini dan makin yakinlah hati Hong Beng bahwa menjadi ketua perkumpulan macam ini sekali-kali bukanlah hal yang merendahkan namanya!
Ketika mereka duduk bercakap-cakap, masuklah pengemis-pengemis yang masih muda, yaitu anggauta-anggauta yang ditugaskan untuk mengeluarkan hidangan dan kembali Hong Beng dan Goat Lan tercengang karena hidangan yang dikeluarkan adalah hidangan-hidangan yang mewah dan mahal, sedangkan araknyapun adalah arak Hangciu yang lezat dan harum, bukan arak sembarang arak.
Pesta berjalan dengan meriah sekali dan kedua orang muda itu mendapat kenyataan bahwa para pengemis itu makan hidangan mereka dengan cara yang amat beraturan dan sopan.
Benar-benar mengagumkan sekali!
Pada saat pesta berjalan ramai, tiba-tiba dari luar pintu terdengar suara bentakan parau dan keras.
"Hek-tung Kai-pang Pangcu, sambutlah kami!"
Belum lenyap gema suara itu, orangnya telah melayang masuk dan tahu-tahu di tengah ruangan itu berdiri dua orang pengemis tua yang berpakaian tambal-tambalan akan tetapi bersih sekali dan mereka memegang tongkat ular!
Ternyata mereka ini adalah dua orang pengurus Coa-tung Kai-pang tingkat satu!
Coa-tung Kai-pang mempunyai banyak sekali pengurus, dan pengurus yang bertingkat satu saja ada tujuh orang, dan mereka ini adalah murid dari seorang tosu tua yang menjabat kedudukan pemimpin besar dan bernama Coa Ong Lojin.
Adapun dua orang pengurus tingkat satu yang datang ini bernama Kim Coa Jin dan Bhok Coa Jin.
Mereka ini mendapat laporan dari tiga orang pemimpir Coa-tung Kai-pang yang telah roboh di tangan Ngo-hengte dari Hek-tung Kai-pang pagi tadi.
Dengan marah Kim Coa Jin dan Bhok Coa Jin lalu mendatangi istana pengemis di dalam hutan itu dengan maksud untuk merobohkan lima orang ketuanya.
Dengan tindakan kaki berlagak sekali dua orang tua itu sambil menggerak-gerakkan tongkat ular di tangannya menghampiri meja Hek Liong dan adik-adiknya yang duduk di sebelah kiri Hong Beng dan Goat Lan.
Kim Coa Jin tertawa bergelak di depan lima orang pengurus Hektung Kai-pang itu lalu berkata.
"Pangcu-pangcu dari Hek-tung Kai-pang benar-benar tidak memandang mata kepada kami dari Coa-tung Kai-pang. Mengadakan perjamuan minum arak sedemikiah ramainya sama sekali tidak mengundang! Ha-ha, benar-benar tidak memandang mata kepada orang segolongan Hek Liong maklum bahwa dua orang tua ini memang datang hendak membuat ribut dan melihat sikap mereka yang kasar ia tidak mau membiarkan pangcunya yang baru untuk menghadapinya, maka ia sendiri lalu berdiri bersama empat orang adiknya, menjura sebagai penghormatan sambil berkata.
"Maaf, Ji-wi datang tanpa kami ketahui sehingga tidak siang-siang mengatur penyambutan. Silakan duduk dan minum arak kami yang murah!"
Sambil berkata demikian Hek Liong lalu mengeluarkan dua buah cawan dan mengisi sendiri cawan-cawan itu sampai penuh dengan arak harum.
"Ha-ha-ha-ha!"
Bhok Coa Jin tertawa bergelak, lain dengan gerakan cepat sekali ia mengulur tongkat ularnya sambil berkata.
"Biarlah tongkatku mencoba dulu bagamana rasanya arakmu!"
Sambil berkata demikian, sekali tongkatnya bergerak ke depan, kedua cawan arak yang disuguhkan itu terguling di atas meja dan araknya tumpah membasahi meja!
Kemudian ujung tongkatnya yang berkepala ular itu meluncur memasuki mulut guci, dari mulut guci itu keluarlah uap hijau bergulung ke atas!
"Ha-ha-ha!
Arakmu cukup baik!"
Kata Bhok Coa Jin kepada lima orang pengurus Hek-tung Kai-pang itu.
"Marilah kita minum arak dari guci yang telah dicoba isinya oleh tongkatku tadi!"
Tanpa diketahui oleh orang lain, Goat Lan membisikkan sesuatu kepada Hong Beng sambil memberikan tiga buah pel merah kepada tunangannya itu.
Hong Beng lalu berdiri dan mendahului kelima saudara Hek itu berkata kepada dua orang tamu yang aneh ini.
"Ji-wi Lo-kai (Dua Tuan Pengemis Tua), melihat dari tongkatmu, aku dapat menduga bahwa kalian tentulah pengurus-pengurus dari Coa-tung Kai-pang! Pertunjukanmu tadi lucu sekali dan kebetulan aku adalah seorang yang paling doyan arak beruap! Marilah aku menemani kau berdua minum arak!"
Sambil berkata demikian, tanpa menanti jawaban tamunya, Hong Beng mengambil guci arak tadi dan mengisikan arak ke dalam cawan-cawan tamunya yang tadi terguling, juga ia mengisi cawannya sendiri sampai penuh.
Semua orang melihat betapa arak yang keluar dari guci itu telah berwarna hijau, padahal tadinya berwarna kemerahan!
Lima orang pengurus Hek-tung Kai-pang menjadi pucat karena mereka maklum bahwa arak itu telah dicampuri racun!
"Arak itu beracun!"
Seru Hek Liong marah.
"Ha-ha-ha! Ternyata ketua dari Hek tung Kai-pang berhati pengecut! Kalah oleh orang muda berhati tabah dan gagah ini!"
Kata Kim Coa Jin sambil tertawa bergelak-gelak.
"Siapakah pemuda ini yang menantang kami minum arak? Kami tidak sudi minum arak dengan segala orang tak ternama!"
Makin marahlah Hek Liong mendengar ucapan ini.
"Bukalah matamu baik-baik karena kau berhadapan dengan pangcu kami yang baru!"
Kim Coa Jin dan Bhok Coa Jin melengak dengan heran.
Kini mereka memandang kepada Hong Beng dengan penuh perhatian.
Kemudian mereka menjura ke arah Hong Beng sebagai penghormatan yang dibalas oleh Hong Beng dengan sepatutnya.
"Tidak tahu siapakah nama Pangcu yang terhormat?"
Tanya Kim Coa Jin.
"Siauwte bernama Sie Hong Beng dan secara kebetulan saja siauwte dipilih menjadi pangcu dari Hek-tung Kai-pang yang mulia. Tidak tahu siapakah Ji-wi dan ada keperluan apakah dua orang penting dari Coa-tung Kai-pang datang ke sini?"
"Hemm, kami adalah pengurus-pengurus Coa-tung Kai-pang, namaku Kim Coa Jin dan ini adalah adikku Bhok Coa Jin. Kami tidak tahu bahwa Hek-tung Kai-pang telah berganti pengurus. Bagus, bagus, kami harap saja biarpun kau masih muda, akan tetapi sudah terbuka pikiranmu untuk menggabungkan perkumpulanmu yang kecil ini kepada Coa-tung Kai-pang yang besar sehingga tak perlu ada pertikaian lagi."
"Ji-wi Lo-kai, hal itu tak mungkin dilakukan. Setiap perkumpulan mempunyai tujuan sendiri-sendiri, dan biarlah kita melakukan tugas masing-masing tanpa saling mengganggu, bukankah dengan demikian akan lebih baik lagi dan tidak ada pertikaian? Aku akan memberi nasihat kepada semua anggauta perkumpulan kami agar jangan mengganggu perkumpulanmu, dan sebaliknya aku mengharap pula dari pihakmu ada kebijaksanaan seperti itu."
Tiba-tiba Kim Coa Jin tertawa bergelak dengan suara menghina dan memandang rendah sekali.
"Pangcti, kau ternyata masih hijau seperti usiamu. Marilah kita minum arak hijau ini untuk menambah pengalamanmu. Beranikati kau?"
"Mengapa tidak berani?"
Kata Hong Beng yang sudah menelan tiga butir pel ang-tan pemberian tunangannya tadi.
Ia percaya penuh akan kelihaian tunangannya yang paham betul akan segala macam racun dan pengobatannya, maka ketika tadi Goat Lan menyerahkan pel itu sambil berbisik bahwa itulah pel penawar dan penolak racun hijau, ia segera menelannya dan bertindak seperti yang dituturkan di atas.
Kini ia mengangkat cawan araknya, diturut pula oleh dua orang tamu itu yang memandangnya dengan mata heran akan tetapi mulut tersenyum mengejek.
Mereka lalu minum arak itu.
Sekali tenggak saja arak hijau itu lenyap dalam perut Hong Beng.
Sekarang barulah dua orang pengemis tua itu terheran-heran.
Biasanya, racun hijau yang dimasukkan di dalam arak itu amat keras.
Jangankan menghabiskan secawan, baru minum beberapa tetes saja cukup untuk membakar isi perut orang dan membinasakannya seketika itu juga.
Akan tetapi, pemuda yang tampan dan tenang ini setelah minum secawan tidak kelihatan terpengaruh sama sekali, seakan-akan arak itu tidak ada apa-apanya!
Mereka menjadi penasaran dan Kim Coa Jin sendiri kini memasukkan kepala tongkatnya ke dalam guci, menambah racun itu dan menuangkan isi guci ke dalam tiga cawan yang sudah kosong, memenuhinya kembali.
"Kau kuat minum secawan lagi, Pangcu?"
Tanyanya menantang. Hong Beng tersenyum.
"Mengapa tidak kuat? Marilah kita minum untuk kesejahteraan Hektung Kai-pang!"
Kembali mereka minum dan sekali lagi Kim Coa Jin dan Bhok Coa Jin saling pandang dengan heran. Jangankan menjadi mabuk atau roboh binasa, merah pun tidak muka pemuda tampan itu.
"Secawan lagi, Ji-wi Lokai?"
Kini Hong Beng yang menantang!
Kedua orang pengemis tua itu menjadi bingung.
Obat penawar yang tadinya sudah mereka telan hanya cukup kuat untuk menolak racun dua cawan arak, kalau harus minum secawan lagi, mungkin mereka takkan kuat menahan dan akan roboh binasa dengan isi perut terbakar!
"Cukup, cukup, Pangcu!"
Kata Kim Coa Jin sambil menggerakkan tongkat ularnya.
"Sudah terbuka mata kami bahwa biarpun masih muda, ternyata kau adalah seorang yang kuat minum. Tidak tahu apakah ilmu tongkatmu sekuat tenaga minummu!"
Pada saat itu, Hek Liong melangkah maju menghadap Hong Beng dan menyerahkan sebatang tongkat hitam dengan sikap menghormat sekali.
Tongkat ini baru saja ia ambil dari dalam sebuah kamar dan ternyata bahwa tongkat ini luar biasa sekali.
Memang warnanya hitam seperti tongkat-tongkat yang dipegang oleh semua anggauta Hek-tung Kai-pang, akan tetapi tongkat ini mengeluarkan cahaya mengkilap dan ternyata dapat digulung.
"Tongkat ini adalah peninggalan sucouw kami Hek-tung Kai-ong. Sudah berpuluh tahun tidak ada orang yang dapat mempergunakan tongkat lemas ini, maka sekarang kami serahkan kepada Pangcu!"
Hong Beng menerima tongkat itu dengan girang dan ketika ia memegang tongkat itu, ia merasa kagum dan juga girang sekali.
Ternyata bahwa senjata luar biasa ini terbuat dari logam yang amat kuat dan merupakan sebatang tongkat pusaka yang ampuh sekali.
Ia segera turun dari tempat duduknya dan menghadapi dua orang tamunya itu dengan sikap tenang.
"Ji-wi Lo-kai, kami telah maklum bahwa kalian dari Coa-tung Kai-pang ingin sekali memperlebar pengaruhmu, akan tetapi caramu ini benar-benar kurang sempurna. Apa kaukira bahwa di kolong langit ini tidak ada orang-orang yang lebih pandai daripada pemimpin-pemimpin Coa-tung Kai-pang? Tanpa kusengaja, aku yang muda dan bodoh telah terpilih menjadi pemimpin Hek-tung Kai-pang, betapapun juga, aku akan membela perkumpulan ini dengan tongkat yang telah dipercayakan kepadaku. Nah, silakan Ji-wi maju mencoba kekerasan tongkat ini!"
Kim Coa Jin biarpun merasa amat kagum melihat betapa orang muda ini dapat minum racun dari tongkat ularnya tanpa akibat sesuatu, tetap saja ia masih memandang rendah kepada Hong Beng.
Tak mungkin pemuda ini memiliki kepandaian silat yang dapat mengimbangi kepandaiannya sendiri.
Dia dan Bhok Coa Jin adalah dua orang diantara tujuh orang Pengemis Tongkat Ular tingkat satu.
Kepandaian mereka ini sudah amat tinggi, karena mereka adalah murid-murid yang menerima pelajaran langsung dari Coa Ong Lojin, datuk dari Coa-tung Kai-pang!
Mereka telah mewarisi delapan puluh bagian dari ilmu silat dan ilmu tongkat dan telah bertahun-tahun mereka merantau di seluruh permukaan bumi Tiongkok.
Oleh karena memandang rendah dan tidak ingin disebut licik, Kim Coa Jin berkata kepada Bhok Coa Jin "Sute, harap kau berdiri di pinggir saja dan biar aku sendiri yang mencoba kekuatan pangcu muda ini!"
Ucapannya ini dikeluarkan dengan mulut tersenyum.
Bhok Coa Jin juga tersenyum, lalu ia menancapkar tongkat ularnya di atas lantai dan duduk di atas tongkat itu!
Demonstrasi kekuatan lwee-kang ini saja sudah hebat sekali, karena lantai itu amat keras namun dapat tertusuk oleh tongkat itu seakan-akan lantai itu terdiri dari tanah lumpur belaka!
"Silakan, Suheng, aku hendak menonton saja,"
Katanya.
"Nah, Sie-pangcu, marilah kita mulai!"
Kata Kim Coa Jin menantang.
"Majulah Kim-lokai. Sebagai tamu kau turun tangan lebih dulu,"
Jawab Hong Beng sambil memegang tongkat hitamnya dengan cara sembarangan saja.
Ia memegang kepala tongkatnya dan tongkat itu tergantung lurus ke bawah, seperti seorang kakek yang meminjam tenaga tongkat untuk membantunya menunjang tubuhnya yang sudah lemah.
Bagi orang yang tidak tahu, tentu mengira bahwa pemuda ini tidak pandai ilmu silat dan bahwa caranya memasang kuda-kuda itu tidak ada artinya sama sekali.
Akan tetapi ketika Kim Coa Jin melihat cara Hong Beng memegang tongkat, hatinya tertegun.
Itulah kuda-kuda yang disebut Dewa Bumi Menangkap Ular, semacam kuda-kuda yang tidak sembarang orang berani menggunakan untuk memulai sebuah pertempuran, karena kuda-kuda seperti ini amat sukar dibuka dan dikembangkan.
"Awas serangan!"
Serunya dan Kim Coa Jin cepat menyerang dengan hebat.
Ia sengaja menyerang dengan gerakan yang paling hebat dan lihai, karena ia hendak merobohkan ketua Hek-tung Kaipang ini dengan sekali gerakan saja!
Tongkat ularnya dengan cepat bagaikan anak panah terlepas dari busurnya menusuk ke arah dada Hong Beng, sedangkan tangan kirinya tidak tinggal diam, melainkan meluncur pula di belakang tongkatnya untuk mengirim pukulan susulan yang dilakukan dengan tenaga lwee-kang sehingga angin pukulan ini saja sudah cukup untuk merobohkan lawan!
Akan tetapi Hong Beng dengan gerakan Hek-hong-koan-goat (Bianglala Hitam Menutup Bulan) menggerakkan tongkat hitamnya dengan putaran cepat sekali.
Ketika tongkatnya bertemu dengan tongkat ular lawannya, kedua tongkat itu menempel dan tongkat ular itu ikut pula terputar karena pemuda yang lihai ini telah menggerakkan khi-kangnya untuk "menyedot"
Dan menempel senjata lawan.
Karena kedua tongkat itu terputar cepat di depan mereka, otomatis pukulan tangan kiri pengemis tua itu tertolak kembali!
Kim Coa Jin mengerahkan tenaganya untuk membetot kembali tongkatnya dari tempelan tongkat hitam lawannya akan tetapi ternyata tongkatnya seakan-akan telah berakar pada tongkat Hong Beng.
Ia merasa penasaran sekali dan sambil mengerahkan seluruh tenaganya ia berseru keras sekali dan tiba-tiba tubuhnya terjengkang ke belakang dan hampir saja ia jatuh ketika secara mendadak Hong Beng melepaskan tempelannya!
Bukan main kagetnya Kim Coa Jin merasai kelihaian pangcu muda dari Hek-tung Kai-pang ini.
Sambil menggereng bagaikan seekor harimau terluka ia lalu menerjang maju, memutar tongkatnya dengan hebat bagaikan angin puyuh dan kini benar-benar ia mengeluarkan ilmu tongkatnya yang lihai, karena ia sudah maklum sepenuhnya bahwa pemuda itu bukanlah orang sembarangan, melainkan murid orang pandai!
Akan tetapi Hong Beng tetap saja berlaku tenang.
Dengan puas dan girang sekali ia mendapat kenyataan bahwa tongkat hitam yang lemas di tangannya itu benar-benar merupakan senjata istimewa.
Biarpun tongkat itu lemas, akan tetapi dapat menerima saluran tenaga khi-kang dengan baik sekali, sehingga tidak kalah "enaknya"
Dipakai daripada sebatang ranting kecil!
Ia lalu mainkan Ngo-heng-tung-hwat dan melayani lawannya dengan gerakan yang membuat lawannya menjadi pening kepala.
Ngo-heng-tung-hwat adalah semacam ilmu silat yang mengambil sari dari lima anasir atau lima sifat, bisa sekuat baja, selemah air, sepanas api!
Juga gerakan tubuh Hong Beng yang lincah dan gesit membuat tubuhnya lenyap dari pandangan mata, terbungkus oleh gulungan sinar tongkat yang menghitam!
Kim Coa Jin sebagai tokoh tingkat satu dari Coa-tung Kai-pang, tentu saja memiliki ilmu silat yang sudah amat tinggi, akan tetapi harus ia akui bahwa selama hidupnya, baru sekarang ia bertemu dengan tandingan yang demikian tangguhnya.
Ilmu Tongkat Coa-tung-hwat bukantah ilmu silat sembarangan saja, dan mempunyai sifat-sifat tersendiri yang amat kuat dan berbahaya.
Gaya Ilmu Tongkat Coa-tung-hwat ini amat ganas dan kejam serta memiliki tipu-tipu yang licik dan berbahaya sekali karena ilmu ini tercipta diantara jalan hitam, diantara orang-orang yang memiliki pikiran dan tabiat yang kurang baik.
Tongkat yang berbentuk ular itu saja memiliki bagian-bagian rahasia sehingga dapat mengeluarkan senjata-senjata rahasia berupa jarum-jarum berbisa.
Bahkan dari mulut ular itu, apabila dikehendaki oleh pemakainya, dapat mengeluarkan semacam uap berbisa dan berbahaya sekali.
Hong Beng sengaja tidak mau melukai Kim Coa Jin dan hanya mendesaknya dengan ilmu tongkat yang memang lebih tinggi tingkatnya.
Pemuda ini biarpun masih muda dan mempunyai darah panas namun ia memang cerdik sekali, dan ia maklum bahwa kalau ia sampai melukai orang ini, maka permusuhan antara kedua partai pengemis akan menjadi semakin mendalam.
Pihak Coa-tung Kai-pang tentu akan menjadi makin sakit hati dan menaruh dendam hati yang maha berat.
Ia ingin menghindarkan hal ini, maka ia hanya mendesak lawannya dengan tongkat hitamnya, berusaha untuk mengalahkan Kim Coa Jin dengan serangan-serangan yang tidak membahayakan jiwanya.
Bhok Coa Jin yang menonton pertandingan itu, menjadi marah dan penasaran sekali.
Bhok Coa Jin memiliki watak yang lebih berangasan dan keras daripada suhengnya.
Melihat betapa suhengnya tak dapat menangkan pemuda itu bahkan terdesak hebat sekali, tiba-tiba ia berseru keras dan membantu suhengnya menyerang Hong Beng.
"Pengemis curang, perlahan dulu!"
Tiba-tiba terdengar bentakan merdu dan tahu-tahu tongkat yang diputar oleh Bhok Coa Jin itu terpental mundur karena tertangkis oleh sebatang tongkat bambu runcing yang digerakkan secara luar biasa.
Bhok Coa Jin terkejut dan lebih-lebih kagetnya ketika ia melihat bahwa yang menangkis tongkatnya itu adalah nona cantik yang tadi ia lihat duduk di dekat Hong Beng.
"Bocah kurang ajar!"
Seru pengemis tua ini dengan marah.
"Siapakah kau, berani sekali menghalangi Bhok Coa Jin?"
"Hemm, agaknya kau terlalu sombong dan menganggap diri sendiri paling hebat,"
Goat Lan menyindir.
"Kau mau tahu siapa aku? Namaku Kwee Goat Lan dan kalau lain orang takut mendengar namamu, aku bahkan merasa muak karena nama besarmu itu sama sekali tidak sesuai dengan sifatmu yang pengecut!"
"Kurang ajar!"
Bhok Coa Jin memaki dan tongkatnya meluncur cepat mengarah tenggorokan nona itu, akan tetapi cepat sekali sepasang tongkat bambu runcing di tangan gadis itu bergerak dan menjepit tongkat ular Bhok Coa Jin sehingga tidak dapat dicabut kembali.
Betapapun Bhok Coa Jin membetot tongkatnya, tetap saja tongkatnya itu bagaikan terjepit oleh dua potong besi yang kuat sekali.
Barulah ia merasa amat terkejut dan heran.
Bagaimana gadis muda ini dapat memiliki tenaga yang demikian hebatnya?
Juga Goat Lan merasa gemas sekali terhadap pengemis tua yang berangasan dan kasar ini.
Ia sudah menggerakkan sepasang bambu runcingnya yang lihai ketika Hong Beng berkata mencegahnya.
"Lan-moi, jangan layani dia. Biarkan dia mengeroyokku agar mereka tahu kelihaian Hektung Kai-pang!"
Biarpun hatinya mendongkol dan tidak puas, Goat Lan maklum akan maksud ucapan tunangannya ini dan ia melompat mundur.
Ia tahu kalau ia turun tangan, maka hal ini akan mengurangi keangkeran Hek-tung Kai-pang.
Sebaliknya, diam-diam Bhok Coa Jin merasa lega melihat gadis yang lihai itu melompat mundur.
Tak banyak cakap lagi ia lalu menyerbu dan menyerang Hong Beng, membantu suhengnya.
Kalau sekiranya keadaan Hong Beng berbahaya apabila dikeroyok dua, tentu betapapun juga Goat Lan akan memaksa turun tangan.
Akan tetapi ia maklum bahwa menghadapi dua orang pengemis Coa-tung Kai-pang itu, tunangannya takkan kalah karena kepandaian Hong Beng masih lebih tinggi tingkatnya.
Ia lalu duduk kembali dan menonton dengan sikap tenang.
Sebaliknya, para anggauta Hek-tung Kai-pang merasa kuatir juga melihat betapa ketua mereka dikeroyok dua oleh lawan-lawan yang amat tangguh itu.
Menghadapi keroyokan dua orang lawan yang tak boleh dipandang ringan itu, Hong Beng memperlihatkan kehebatan ilmu tongkatnya.
Ia segera merubah gerakan tongkat hitamnya dan kini ia mainkan Ilmu Tongkat Pat-kwa-tung-hwat yang gerakannya jauh lebih cepat daripada Ngo-heng-tung-hwat.
Sebentar saja, seperti halnya lima saudara Hek ketika menghadapi pemuda ini, dua orang pengurus Coa-tung Kai-pang ini menjadi pening dan pandangan mata mereka menjadi kabur.
Mereka merasa heran dan juga penasaran sekali karena selama hidup mereka, belum pernah mereka menyaksikan ilmu tongkat seperti itu.
Ilmu Tongcat Hek-tung-hwat pernah mereka lihat, akan tetapi ilmu silat tongkat yang dimainkan oleh ketua baru dari Hek-tung Kai-pang ini benar-benar tidak mereka kenal.
Sebaliknya, bagi Hong Beng tidak mudah untuk mengalahkan kedua lawannya tanpa menggunakan serangan kilat yang sedikitnya akan melukai mereka, maka terpaksa, biarpun ia tidak ingin melukai kedua lawan ini, ia harus memperlihatkan kepandaiannya.
Sekali ia mengerahkan tenaga, maka terdengar suara keras sekali dan dua batang tongkat ular itu patah di tengah-tengah.
Berbareng dengan patahnya kedua tongkat itu, dari dalam tongkat menyembur keluar banyak sekali jarum hitam ke arah Hong Beng.
Akan tetapi pemuda ini dengan mudah saja lalu memukul semua sinar hitam itu dengan tongkatnya dan sebagai pembalasan, dua kali tongkatnya bergerak ke bawah dan kedua orang lawannya itu terjungkal tanpa dapat mengelak lagi!
Untung bahwa Hong Beng hanya mempergunakan sedikit tenaga, karena kalau pemuda ini berlaku kejam, biarpun kedua orang pengemis tua itu memiliki kekebalan, mereka tentu akan patah-patah tulang kakinya.
Kini mereka hanya merasa kedua kaki mereka sakit sekali dan untuk beberapa lama mereka tak dapat berdiri.
Mereka hanya duduk memandang dengan mata terbelalak, lebih merasa heran daripada merasa marah.
"Kau... kau siapakah? Dan ilmu sihir apakah yang kaupergunakan untuk merobohkan kami?"
Akhirnya Kim Coa Jin dapat berkata sambil merangkak mencoba bangun. Demikian pula Bhok Coa Jin dengan muka meringis menahan sakit mencoba untuk bangun berdiri.
"Sudah kukatakan bahwa namaku Sie Hong Beng dan aku telah diangkat menjadi pangcu dari Hek-tung Kai-pang!"
Jawab Hong Beng sederhana.
"Kalian datang dan roboh bukan karena kehendak kami, akan tetapi kalian sendiri yang mencari penyakit. Harap jangan kalian persalahkan kami."
Akan tetapi jawaban ini tidak memuaskan hati mereka, dan Hek Liong yang juga merasa tidak puas mendengar jawaban pangcunya, lalu berdiri dan berkata dengan suara lantang.
"Bukalah matamu baik-baik, kalian orang-orang Coa-tung Kai-pang! Pangcu kami adalah putera dari Pendekar Bodoh dan murid dari Pok Pok Sianjin! Dan pendekar wanita yang kalian pandang rendah ini, dia adalah tunangan pangcu kami yang gagah dan Li-hiap adalah murid dari Sin Kong Tianglo dan Im-yang Giok-cu! Apakah keterangan ini masih belum cukup?"
Pucatlah muka kedua orang pengemis tua itu ketika mendengar nama-nama besar dari para pahlawan dan tokoh dunia persilatan itu. Akhirnya Kim Coa Jin menarik napas panjang dan berkata.
"Dasar nasib kami yang sial, bertemu dengan keturunan Pendekar Bodoh! Buah yang jatuh takkan menggelinding jauh dari pohonnya!"
Setelah berkata demikian, dengan terpincang-pincang Kim Coa Jin dan Bhok Coa Jin meninggalkan tempat itu.
"Tahan...!"
Seru Hong Beng dan tubuhnya berkelebat mendahului kedua orang itu. Ia kini berdiri menghadapi mereka sambil bertolak pinggang dan matanya memandang tajam penuh ancaman.
"Apa maksud kata-katamu tadi? Apa maksudmu berkata bahwa buah takkan jatuh menggelinding jauh dari pohonnya?"
Kim Coa Jin tersenyum mengejek "Watak anak takkan berbeda jauh dengan bapaknya.
Suhuku pernah menceritakan bahwa Pendekar Bodoh adalah seorang yang selalu mencampuri urusan orang lain, seorang yang selalu turun tangan dan bertindak sewenang-wenang mengandalkan kepandaiannya.
Dan kau agaknya tidak berbeda jauh dengan ayahmu itu!"
"Siapakah suhumu?"
Tanya Hong Beng.
"Suhu kami adalah pendiri dari Coa-tung Kai-pang, yang bernama Coa Ong Lojin!"
Sambil berkata demikian Kim Coa Jin memandang tajam karena mengharapkan pemuda itu akan menjadi terkejut mendengar nama suhunya.
Akan tetapi ternyata Hong Beng menerima keterangan ini dengan dingin saja, sungguhpun ia pernah mendengar nama orang tua yang sakti itu.
"Pernahkah suhumu bentrok dengan ayahku?"
"Belum, belum pernah. Akan tetapi Suhu telah cukup banyak mendengar dari kawan-kawannya, dan Suhu ingin sekali bertemu dengan ayahmu untuk melihat sampai di mana sih kepandaiannya maka dia dan puteranya sesombong ini!"
Tiba-tiba muka Hong Beng menjadi merah sekali, tanda bahwa ia marah.
"Jahanam berlidah busuk!"
Makinya sehingga Goat Lan yang sudah berdiri di dekatnya menjadi terkejut, karena tak disangkanya sama sekali bahwa tunangannya yang lemah lembut dan sopan santun ini sekarang begitu marah sampai memaki orang.
"Kau pandai benar memutar balik duduknya perkara! Pantas saja kau menjadi pengurus Perkumpulan Tongkat Ular karena watakmu seperti ular, lidahmu berbisa. Kalian yang datang mengacau di perkumpulan kami akan tetapi kalian yang menuduh kami suka mencampuri urusan orang lain! Memang ayahku suka mencampuri urusan orang lain, urusan orang jahat macam engkau yang suka mengganggu orang, dan hal seperti itu tentu saja ayahku dan aku takkan tinggal diam memeluk tangan!"
Hampir saja Hong Beng mengangkat tangan menjatuhkan pukulan, kalau saja Goat Lan tidak menyentuh pundak sambil memandangnya dengan senyum menghibur.
Pemuda ini menjadi marah sekali karena mendengar ayahnya dicela oleh dua orang jahat seperti Kim Coa Jin dan Bhok Coa Jin.
Kedua orang pengemis dari Coa-tung Kai-pang itu lalu pergi dengan muka pucat dan tidak berani menengok lagi.
Goat Lan menghibur tunangannya dengan kata-kata yang halus.
"Sudahlah, Koko, untuk apa mencurahkan kemarahan terhadap orang-orang macam itu? Mereka sudah dikalahkan dan tentu mereka sudah merasa kapok."
"Mudah-mudahan begitu,"
Jawab Hong Beng.
"Akan tetapi aku masih merasa kuatir kalau-kalau mereka akan datang lagi bersama kawan-kawan mereka untuk mengganggu Hek-tung Kai-pang."
"Kalau begitu, lebih baik kita menanti sampai beberapa hari di sini, untuk menjaga keselamatan perkumpulan. Memang sudah menjadi kewajibanmu untuk melindunginya dari serangan orang-orang jahat. Biarlah mereka mendatangkan suhu mereka, aku pun sudah pernah mendengar nama Coa Ong Lojin yang terkenal jahat. Betapapun lihainya, kita pasti akan dapat mengalahkannya."
Demikianlah, kedua orang muda ini terpaksa menunda keberangkatan mereka dan menjaga di tempat itu bersama para pengurus Hek-tung Kai-pang sampai sepekan lamanya.
Dan ini pulalah sebabnya maka mereka tidak cepat menyusul Lili dan Lo Sian yang pergi ke rumah Thian Kek Hwesio sehingga setelah menanti tiga hari lamanya, Lili menjadi hilang sabar dan mengajak bekas suhunya itu ke Shaning, ke rumah orang tuanya sebagaimana telah dituturkan di bagian depan.
*** Betapapun Lili berusaha untuk membantu ingatan Lo Sian ia tetap gagal, karena Lo Sian benar-benar tidak ingat apa-apa lagi.
"Suhu, kau bernama Lo Sian dan berjuluk Sin-kai (Pengemis Sakti), cobalah kau ingat-ingat lagi, Suhu. Aku bernama Sie Hong Li atau Lili yang dulu pernah kautolong dari tangan Bouw Hun Ti. Tidak ingatkah kau kepada suhengmu Mo-kai Nyo Tiang Le?"
Untuk kesekian kalinya dalam perjalanannya menuju ke Shaning, Lili berkata kepada bekas suhunya. Lo Sian hanya menggeleng kepalanya dengan wajah sedih.
"Sesungguhnya, telah hampir setiap malam aku mencoba mengerahkan ingatanku, akan tetapi tidak, ada gunanya. Ingatanku akan hal-hal yang lalu seperti sebuah gua yang hitam pekat. Memang, namamu dan juga namaku sendiri terdengar tidak asing bagi telingaku, akan tetapi aku benar-benar telah lupa. Baiklah, mulai sekarang aku bernama Lo Sian lagi dan kau bernama Lili, akan tetapi jangan kau suruh aku mengingat-ingat akan hal yang lalu. Aku tidak sanggup, anak baik."
Akan tetapi, jalan pikiran Lo Sian masih biasa dan baik sekali.
Pertimbangannya masih sempurna, mencerminkan wataknya yang budiman dan gagah perkasa.
Pada suatu hari, ketika mereka sedang melanjutkan perjalanan menuju ke kota Shaning mereka melihat sebuah makam yang dibangun indah sekali di pinggir jalan.
Besarnya makam itu seperti rumah orang, merupakan bangunan gedung yang indah dan mahal.
Lo Sian nampaknya amat tertarik dan kagum.
Ia berdiri di depan makam itu sambil memandang ke dalam seperti seorang yang terpesona.
"Suhu, coba kauingat-ingat, makam siapakah ini?"
Bagaikan bicara kepada diri sendiri, Lo Sian berkata perlahan.
"Sudah pasti bukan makam Lie Kong Sian... bukan, bukan makam Lie Kong Sian!"
Lili memandang dengan terharu.
"Suhu, benar-benarkah Lie-supek telah meninggal dunia?"
Lo Sian mengangguk pasti.
"Memang sudah meninggal dunia dan agaknya aku akan mengenal kalau melihat makamnya. Akan tetapi entah di mana, entah bagaimana macamnya, hanya aku merasa yakin akan mengenal makamnya. Dia sudah mati... tak salah lagi..."
Bicara tentang kematian Lie Kong Sian, Lo Sian nampaknya sedih sekali dan Lili lalu terbayang kepada pemuda tampan yang telah merampas sepatunya sehingga mukanya tak terasa pula berubah menjadi merah sekali.
"Sesungguhnya, makam siapakah begini mewah dan mendapat penghormatan sebesar ini dari rakyat?"
Tanya Lo Sian sambil membaca papan-papan pujian dan kain-kain berisi sajak yang bagus-bagus, juga kepada tempat hio (dupa) yang agaknya dibakari dupa setiap hari.
Lili menarik napas panjang.
Kalau suhunya tidak mengenal makam ini, benar-benar ia sudah lupa segala.
Siapakah yang tidak mengenal makam Jenderal Ho, pahlawan besar yang gagah perkasa dan yang telah mengorbankan nyawa untuk kejayaan negara dan bangsa?
"Suhu, masa kau tidak ingat kepada makam Jenderal Ho ini?"
Lo Sian menggeleng kepala.
"Tidak, sama sekali tidak ingat lagi. Siapakah Jenderal Ho yang kausebutkan tadi?"
"Jenderal Ho adalah seorang pahlawan yang gagah perkasa. Dulu ketika bala tentara Mongol menyerang pedalaman Tiongkok dan hampir saja dapat membobolkan pertahanan, Jenderal Ho inilah yang berhasil memukul musuh mundur sampai keluar dari Tembok Besar. Juga ketika terjadi pemberontakan di selatan sehingga kedudukan Kaisar sudah terjepit, kembali Jenderal Ho dan pasukannya yang berjasa besar dan berhasil memukul hancur para pemberontak."
"Dan bagaimana ia sampai meninggal dunia?"
"Ia gugur dalam peperangan ketika pasukan kerajaan menyerang ke timur. Biarpun ia telah terluka hebat di dalam peperangan itu, ia masih sanggup untuk memimpin pasukannya dan mengatur barisan sambil duduk di atas tandu dan ia menghembuskan napas terakhir di atas tandu itu pula! Karena jasa-jasanya terhadap negara inilah maka namanya terkenal di seluruh negeri dan semua rakyat tidak ada yang tidak mengenal namanya. Inilah makamnya. Suhu, apakah kita akan masuk untuk memberi penghormatan kepada makam Jenderal Ho yang besar? Di dalam terdapat orang yang menyediakan dupa."
Akan tetapi Lo Sian menggelengkan kepalanya dengan keras dan berkata setelah menghela napas panjang.
"Tidak perlu, aku tidak suka melihat kepalsuan ini!"
Lili memandang suhunya dengan mata terbelalak.
"Apa maksudmu, Suhu? Palsu? Apanya yang palsu?"
"Penghormatan ini, makam ini, semua adalah pemujaan dan pujian palsu belaka. Duduklah, Lili, dan biarlah aku membuka pikiranmu yang masih hijau menghadapi segala kepalsuan dunia."
Mereka lalu duduk di atas bangku batu yang banyak terdapat di depan makam besar itu.
"Sebelum aku membentangkan pendapat dan pandanganku, lebih dulu jawablah, apakah kau pernah melihat makam-makam besar yang dihormati seperti ini untuk para perajurit-perajurit biasa yang gugur dalam peperangan membela negara?"
Lili memandang bodoh dan menggeleng kepalanya.
"Belum pernah Suhu, yang dihormati selalu adalah makam orang-orang besar, menteri-menteri, jenderal-jenderal, dan panglima-panglima besar."
"Nah, itulah yang kukatakan palsu! Jenderal Ho ini dihormati, dipuji-puji karena katanya ia berjasa terhadap negara, bahwa ia telah mengorbankan nyawanya demi kepentingan negara. Bahkan orang-orang yang katanya besar, biarpun tak usah mengorbankan nyawa dalam peperangan, tetap saja makamnya dipuji-puji, namanya dihormati dan dicatat dalam sejarah sampai ribuan tahun! Apakah jasa perajurit kecil itu kalah besarnya? Bukankah mereka itu pun mengorbankan nyawanya, bahkan maju di garis pertempuran terdepan, gugur lebih dulu daripada para pemimpinnya yang hanya mengatur siasat pertempuran dari belakang? Apakah mereka ini tidak jauh lebih berani, gagah, dan berjasa daripada jenderal-jenderal itu? Namun, bagaimana nasib mereka? Mana makam mereka? Dan bagaimana keadaan keluarga mereka yang ditinggalkan? Tak seorang pun mengingat lagi kepada mereka! Nah, inilah yang kukatakan tidak adil dan palsu! Orang hanya pandai mengingat yang besar-besar selalu melupakan yang kecil. Padahal, tanpa yang kecil-kecil, yang besar tidak ada artinya lagi. Apakah dayanya para pembesar tanpa rakyatnya? Apakah artinya jenderal-jenderal tanpa perajurit-perajuritnya?"
Lili tertegun mendengar ucapan suhunya ini, akan tetapi sebagai anak Pendekar Bodoh yang banyak mendengar tentang filsafat, ia tidak mau menyerah begitu saja dan masih membantah.
"Akan tetapi Suhu, sebaliknya, apakah artinya perajurit-perajurit dalam barisan tanpa pemimpin yang mengatur siasat peperangan? Apakah artinya rakyat tanpa pemimpin yang pandai?"
Lo Sian mengangguk-angguk.
"Memang, ada isinya juga kata-katamu tadi. Memang keduanya perlu sekali, keduanya merupakan dwitunggal yang tak dapat dipisah-pisahkan. Betapapun juga, lebih penting anak buahnya daripada kepalanya. Tanpa jenderal, sepasukan perajurit masih merupakan kekuatan hebat, tanpa pemimpin, rakyat masih merupakan massa yang kuat! Sebaliknya, tanpa pasukan, jenderal hanya seorang yang tak berdaya menghadapi lawan. Tanpa rakyat, pemimpin hilang sifatnya sebagai pemimpin. Oleh karena kukatakan tadi bahwa keduanya merupakan dwitunggal yang tak dapat dipisah-pisahkan, mengapa orang hanya menghormati pemimpinnya saja tanpa mengingat anak buahnya?"
Mendengar ucapan suhunya yang panjang lebar ini, diam-diam Lili merasa girang sekali, oleh karena ia kini merasa yakin bahwa biarpun telah kehilangan ingatannya dan lupa akan peristiwa yang terjadi pada waktu yang lalu, ternyata suhunya ini masih mempunyai pikiran sehat dan pandangan yang mengagumkan.
Setelah bicara panjang lebar kepada Lili, Lo Sian lalu bangkit berdiri dan menghampiri tembok yang mengelilingi makam itu.
Ia mengerahkan lwee-kangnya dan dengan jari-jari telunjuknya ia mencoret-coret tembok itu, menulis beberapa buah huruf yang artinya seperti berikut, Jenderal Ho menerima penghormatan berkat pasukannya yang gagah perkasa.
Siapa yang melihat makam ini harus mengingat akan jasa dari setiap orang perajurit tak dikenal dalam pasukannya!
Biarpun ia hanya menggurat-gurat tembok yang keras itu dengan jari telunjuknya saja, namun bagaikan sepotong besi kuat, jari itu menggores tembok sampai dalam dan tulisan itu tidak dapat dihapus lagi!
Orang-orang yang lewat di tempat itu ketika melihat kejadian ini, lalu maju melihat dan mereka mengeluarkan pujian melihat kekuatan jari telunjuk kakek itu.
Tiba-tiba terdengar suara amat nyaring dan keras.
"Bagus, tulisan yang gagah sekali!"
Ketika Lili dan Lo Sian menengok, ternyata di antara penonton itu muncullah seorang pemuda berpakaian sebagai seorang panglima.
Orangnya masih muda, tubuhnya tegap dan mukanya tampan dan gagah.
Dengan matanya yang tajam bersinar menatap Lili dan Lo Sian, orang ini menjura dengan penuh penghormatan kepada Lo Sian dan Lili.
Lili melihat dengan herannya betapa semua orang yang melihat panglima muda ini, lalu mundur sambil membungkuk-bungkuk, tanda bahwa panglima muda ini bukan orang sembarangan dan mempunyai pengaruh yang besar.
Ia merasa segan untuk membalas penghormatan itu, akan tetapi melihat suhunya menjura dengan hormat, terpaksa ia mengangkat kedua tangan memberi hormat pula.
"Siauwte adalah Kam Liong, dan sebagai seorang panglima dari kerajaan, siauwte amat tertarik melihat tulisan Lo-enghiong itu. Tidak tahu siapakah gerangan Lo-enghiong yang bersemangat gagah dan berwatak jujur ini? Dan bolehkah kiranya siauwte mengetahui pula siapakah Siocia ini, murid ataukah puterinya?"
Ucapan Kam Liong terdengar jujur dan tegas, seperti biasa ucapan seorang perajurit, dan Lo Sian memandang kepada pemuda ini dengan mata gembira.
Ia dapat menduga bahwa pemuda ini memiliki kegagahan dan kejujuran hati.
Sebagaimana para pembaca tentu masih ingat, Kam Liong ini adalah putera tunggal dari panglima besar Kam Hong Sin, dan Kam Liong pernah bertemu dan mengukur kepandaian dengan Lie Siong ketika Lie Siong menolong Lilani dan Kam Liong menjadi tamu dari keluarga bangsawan Gui.
"Terima kasih atas keramahanmu, Kam-ciangkun,"
Kata Lo Sian.
"kami hanyalah orang-orang biasa, namaku Lo Sian dan dia ini adalah muridku bernama Sie Hong Li, puteri dari pendekar Bodoh,"
"Suhu...!"
Lili menegur suhunya karena ia tidak suka dirinya diperkenalkan kepada seorang pemuda asing.
Akan tetapi Lo Sian berpemandangan lain.
Memang tidak ada gunanya memperkenalkan diri kepada orang yang berwatak buruk, akan tetapi ia melihat pemuda ini biarpun mempunyai kedudukan tinggi, namun peramah dan sopan, maka tiada salahnya memperkenalkan diri mereka.
Mendengar nama Lo Sian, wajah Kam Liong tidak berubah, akan tetapi ketika mendengar bahwa gadis cantik jelita itu adalah puteri Pendekar Bodoh, sikapnya berubah sama sekali.
Ia menjadi makin menghormat dan cepat menjura kepada mereka berdua.
"Ah, tidak tahunya siauwte berhadapan dengan puteri dari Sie Tai-hiap yang terkenal! Kalau begitu, kita bukanlah orang luar! Ayahku, Kam Hong Sin sudah kenal baik dengan ayahmu, Nona. Bolehkah aku bertanya, di mana sekarang tempat tinggal ayahmu yang terhormat?"
Terpaksa Lili menjawab.
"Ayah kini tinggal di kota Shaning."
"Siauwte harap Lo-enghiong dan Nona sudilah mampir di kota raja, siauwte akan merasa gembira dan terhormat sekali dapat menjadi tuan rumah."
"Terima kasih, Kam-ciangkun. Maafkan kami tidak dapat pergi ke kota raja, karena kami hendak melanjutkan perjalanan menuju ke kota Shaning,"
Jawab Lo Sian.
"Ah, sayang sekali siauwte tidak dapat mengawal Ji-wi (Anda berdua) ke Shaning, akan tetapi biarlah lain kali siauwte mengunjungi Sie Tai-hiap untuk menghaturkan hormat."
Maka berpisahlah mereka, Kam Liong kembali ke kota raja sedangkan Lili dan Lo Sian melanjutkan perjalanan ke kota Shaning. Di tengah perjalanan, Lo Sian berkata kepada Lili.
"Pemuda itu gagah dan baik sekali. Aku percaya dia tentu memiliki ilmu kepandaian yang tinggi."
"Ayahnya memang berkepandaian tinggi, Suhu. Teecu pernah mendengar dari Ayah dan Ibu bahwa Kam Hong Sin adalah seorang panglima yang memiliki ilmu silat tinggi dan dulu pernah bertemu dengan kedua orang tuaku."
Gadis ini sambil berjalan lalu menuturkan kepada suhunya dengan singkat tentang pengalaman orang tuanya di waktu muda, ketika bertemu dengan ayah panglima muda itu.
(Hal ini dituturkan dengan jelas dan menarik dalam cerita Pendekar Bodoh).
Tiba-tiba terdengar bunyi derap kaki kuda yang dilarikan cepat sekali dari belakang.
Seorang perwira tua yang menunggang kuda itu ketika tiba di dekat mereka lalu melompat turun dan bertanya.
"Apakah kau yang bernama Lo Sian?"
Lo Sian dan Lili menjadi heran.
"Betul,"
Jawab Lo Sian.
"Ada keperluan apakah kau mencariku?"
Perwira itu menyerahkan sepucuk surat yang tertutup kepadanya sambil melirik ke arah Lili.
"Aku diperintah oleh Kam-ciangkun untuk menyerahkan surat ini kepada seorang nona yang berjalan bersama dengan orang tua yang bernama Lo Sian. Kurasa kaulah Nona itu."
Lili tidak mau menerima surat itu, dan Lo Sian yang menerimanya.
Setelah memberikan surat itu, perwira ini lalu melompat ke atas kudanya kembali dan tanpa memberi kesempatan kedua orang itu bicara, ia telah membalapkan kudanya kembali.
Memang demikianlah perintah komandannya, hanya menyampaikan surat lalu segera meninggalkan mereka lagi.
"Kurang ajar sekali panglima muda itu!"
Kata Lili dengan muka merah.
"Apa maksudnya memberi surat kepadaku? Aku tidak sudi membacanya!"
"Jangan terburu nafsu, Lili. Tak baik menuduh orang sebelum melihat buktinya. Kaubacalah dulu surat ini, baru kemudian kita dapat melihat orang macam apakah adanya panglima muda she Kam itu,"
Kata Lo Sian.
Dengan mulut cemberut dan muka merah Lili membuka sampul surat itu dengan kasar dan membaca surat yang singkat itu.
Nona Sie, Aku pernah bertemu dengan kakakmu dan karena dia menewaskan putera bangsawan, Gui Kongcu, kini dia menjadi buruan pemerintah.
Aku sebagai panglima tentu saja harus melakukan tugas ini, sungguhpun aku bersimpati kepada kakakmu itu.
Suruh dia berhati-hati apabila bertemu dengan perwira-perwira kerajaan.
Yang tetap menghormat orang tuamu, Kam Liong Setelah membaca surat ini, berubahlah wajah Lili dan ia menjadi termenung.
Perbuatan apakah yang telah dilakukan oleh kakaknya?
Yang dimaksud oleh Kam Liong ini tentulah Hong Beng, akan tetapi mengapa ketika bertemu, Hong Beng tidak bercerita sesuatu tentang pembunuhan seorang bernama Gui Kongcu?
"Surat apakah itu, Lili?"
Pertanyaan Lo Sian ini menyadarkan Lili dari lamunannya. Ia tidak menjawab, hanya menyerahkan surat kepada bekas suhunya. Lo Sian membacanya dan kemudian berkata.
"Aku tidak tahu siapa kakakmu, akan tetapi dari bunyi surat ini saja dapat diambil kesimpulan bahwa pemuda she Kam itu memang benar orang baik hati."
Akan tetapi Lili tidak menjawab karena ia masih merasa heran.
Apakah perwira muda itu tidak membohong?
"Teecu sendiri tidak tahu apakah isi surat ini tidak bohong, Suhu.
Akan tetapi biarlah, kakakku Hong Beng mana takut menghadapi ancaman dari para perwira kerajaan?
Mari kita melanjutkan perjalanan kita, Shaning tidak jauh lagi."
Dua hari kemudian pada senja hari mereka tiba di kota Lianing, hanya beberapa puluh li lagi dari kota Shaning.
Di luar kota Lianing ini, di luar barisan hutan di lereng bukit terdapat banyak kuil-kuil kuno yang sudah kosong, karena sudah banyak yang rusak.
Pada siang hari, banyak pelancong datang untuk melihat-lihat kuil kuno ini dan mengagumi seni ukir dan sajak-sajak kuno yang banyak ditulis di tembok kuil.
Akan, tetapi pada malam harinya, tempat ini amat sunyi, karena selain gelap juga nampaknya angker menakutkan.
Akan tetapi Lo Sian lebih menyukai tempat seperti ini untuk bermalam daripada hotel yang ramai.
Maka, malam hari itu mereka lalu bermalam di kuil ini untuk menanti lewatnya malam dan untuk melanjutkan perjalanan pada keesokan harinya.
Pada saat mereka menuju ke kuil itu di waktu hari telah mulai menggelap tiba-tiba di luar hutan itu berkelebat bayangan orang.
Lili yang merasa curiga melihat gerakan bayangan yang cepat ini, segera mengejar.
Akan, tetapi ketika ia tiba di luar hutan, bayangan itu sudah lenyap.
"Hemm, bayangan itu gerakannya menunjukkan bahwa dia adalah seorang berilmu tinggi. Malam hari ini kita harus berlaku hati-hati, Lili,"
Kata Lo Sian.
Akan tetapi gadis yang tabah sekali ini hanya tersenyum dan sama sekali tidak merasa takut, sungguhpun gerakan orang tadi membuat ia kagum.
Mereka memilih kuil yang bersih di mana terdapat sebuah kamar.
Lili memakai kamar ini sebagai tempat bermalam dan ia merebahkan diri di atas sebuah pembaringan batu yang kasar.
Adapun Lo Sian memilih ruang belakang sebelum pergi ke kuil itu.
Agaknya kekuatiran Lo Sian tidak terbukti karena sampai tengah malam tidak terjadi sesuatu.
Akan tetapi, pada saat Lili dan Lo Sian sudah hampir pulas, tiba-tiba terdengar suara perlahan dari atas genteng dan tahu-tahu bayangan hitam yang gerakannya ringan sekali melayang turun di ruangan belakang di mana Lo Sian membaringkan tubuhnya.
Pada waktu itu, bulan telah muncul dan ruang itu yang tidak tertutup genteng, nampak agak terang oleh cahaya bulan yang dingin.
Pendengaran Lo Sian masih amat tajam dan begitu ia mendengar suara ini, lenyaplah kantuknya dan ia segera bangun dan duduk memandang tajam.
Untuk sesaat bayangan itu tidak bergerak, terdengar sedu sedan di kerongkongannya dan tiba-tiba bayangan itu menjatuhkan diri berlutut di depan Lo Sian sambil berkata perlahan.
"Suhuuu..., ampunkan teecu yang tidak kenal budi..."
Tentu saja Lo Sian menjadi terkejut dan heran sekali. Ia berdiri bengong untuk beberapa lamanya, kemudian baru ia dapat berkata gagap.
"Eh, eh, nanti dulu. Kau siapakah dan mengapa menyebut Suhu kepadaku? Aku Lo Sian tidak mempunyai murid kecuali Lili yang mengaku sebagai muridku!"
Sambil berkata demikian, ia melangkah maju dan memandang wajah orang itu dengan penuh perhatian.
Orang itu adalah seorang pemuda yang berwajah tampan, akan tetapi benar-benar Lo Sian tidak ingat lagi siapa gerangan yang datang mengaku guru kepadanya itu.
"Sudah sepatutnya Suhu tidak sudi mengaku murid kepada teecu,"
Pemuda itu berkata dengan suara sedih sekali.
"teecu telah Suhu tolong dan lepaskan dari bahaya maut, lalu menerima budi Suhu yang amat besar. Akan tetapi teecu..."
Kembali terdengar sedu sedan di kerongkongan pemuda itu.
"Sabar dulu, orang muda. Bukan aku tidak sudi mengaku murid kepadamu, akan tetapi sesungguhnya aku tidak kenal siapa kau ini."
"Suhu, teecu adalah Kam Seng, anak yang dulu Suhu tolong di sebuah kelenteng dan kemudian menjadi murid Suhu. Lupakah Suhu kepada teecu yang bodoh?"
Akan tetapi tentu saja Lo Sian yang sudah kehilangan ingatannya itu tidak mengenalnya. Tiba-tiba terdengar bentakan dan tubuh Lili berkelebat masuk dengan pedang Liong-coan-kiam di tangan.
"Bangsat rendah, kau berani datang ke sini?"
Secepat kilat pedangnya menusuk ke arah tubuh Kam Seng yang masih berlutut tidak bergerak itu!
Untung pada saat itu juga Lo Sian bergerak maju dan mencegah sehingga terpaksa Lili menahan tusukannya.
Akan tetapi sebetulnya cegahan Lo Sian itu kurang perlu, karena pada saat itu, tubuh Kam Seng telah mencelat ke arah pintu dan menghilang di dalam gelap.
Hanya terdengar suaranya dari luar.
"Aku tak dapat melawanmu, Lili, tak dapat membencimu! Betapapun benciku kepada ayahmu, aku tak dapat memusuhimu, kau tahu akan hal ini..."
"Bangsat rendah jangan lari!"
Lili membentak marah dan ia pun lalu melompat keluar mengejar.
Akan tetapi di luar tidak terlihat bayangan Kam Seng lagi.
Diam-diam Lili merasa penasaran dan juga heran mengapa kini gin-kang dari pemuda itu jauh lebih hebat daripada dahulu.
Ketika ia kembali ke ruangan itu, terpaksa ia menuturkan kepada Lo Sian tentang Song Kam Seng, putera dari Song Kun yang tewas di tangan ayahnya.
Ia menuturkan pula betapa dulu Kam Seng telah ditolong oleh Lo Sian.
Pengemis Sakti ini menarik napas panjang dan berkata.
"Sayang dia menaruh hati dendam kepada ayahmu, Lili. Melihat betapa pemuda itu masih ingat kepadamu dan tidak melupakan budi, ia terhitung seorang yang masih memiliki pribudi."
Lili tidak menjawab, akan tetapi kepalanya terasa panas sekali kalau ia teringat betapa pemuda itu dulu pernah menciumnya!
Betapapun juga, agaknya ia tidak akan sampai hati membunuh Kam Seng, kalau diingat bahwa pemuda itu pernah pula membebaskannya dari kematian dan hinaan di dalam kuil Ban Sai Cinjin.
Memang pemuda itu adalah Song Kam Seng yang kini telah menjadi murid Wi Kong Siansu.
Semenjak kekalahannya terhadap Lili dan juga terhadap Lie Siong, pemuda ini merasa prihatin sekali.
Ia lalu mengajukan permohonan kepada suhunya untuk menurunkan ilmu silat yang lebih tinggi dan bertekun mempelajari segala macam ilmu silat dari Wi Kong Siansu.
Tidak heran apabila ia mendapat kemajuan yang amat pesatnya.
Pada waktu ia sedang mengikuti suhunya melakukan perantauan, dan biarpun ia tidak berkata sesuatu, namun ia merasa berdebar ketika mendengar bahwa suhunya hendak pergi ke Shaning mencari Pendekar Bodoh!
Ketika tiba di kota Lianing dan suhunya mengadakan pertemuan dengan kawan-kawan lama, ia lalu berjalan-jalan seorang diri dan melihat Lili dengan gurunya dalam kota itu.
Tentu saja ia menjadi terkejut sekali dan hatinya terharu ketika ia melihat kedua orang itu.
Teringatlah ia ketika dulu Lili masih kecil bersama Lo Sian pula untuk menolongnya dari ancaman pisau Hok Ti Hwesio di kuil dalam rimba milik Ban Sai Cinjin.
Diam-diam ia mengikuti mereka dan menahan nafsu hatinya untuk menjumpai suhunya itu.
Ia kuatir kalau-kalau Lili akan menyerangnya, maka menanti sampai tengah malam barulah ia masuk ke dalam kuil menjumpai suhunya.
Tidak tahunya suhunya telah lupa sama sekali kepadanya dan hampir saja ia menjadi korban pedang Lili!
Pada keesokan harinya, Lili mengajak suhunya melanjutkan perjalanan mereka.
Mereka mampir dulu di kota Lianing untuk makan pagi.
Ketika mereka memasuki sebuah rumah makan, tiba-tiba wajah gadis itu berubah dan tak terasa pula ia memegang tangan suhunya.
Lo Sian juga menengok dan ia melihat pemuda yang malam tadi mendatangi kuil telah duduk menghadap meja dengan tiga orang lain.
Kam Seng duduk bersama Wi Kong Siansu dan dua orang lain, dua orang setengah tua yang nampak gagah, yang seorang berhadapan dengan Wi Kong Siansu memakai sebuah topi dan sikapnya nampak sombong sekali.
Orang ke dua bertubuh pendek dan bermuka buruk seperti seekor monyet.
Song Kam Seng juga terkejut sekali ketika melihat Lili dan Lo Sian memasuki rumah makan itu.
Untuk sesaat matanya bertemu dengan mata Lili dan pemuda itu mengerutkan keningnya dengan hati penuh kekuatiran.
Ia kuatir sekali kalau-kalau gadis itu akan bentrok dengan Wi Kong Siansu, karena ia maklum bahwa kepandaian Lili masih kalah jika dibandingkan dengan kepandaian gurunya.
Akan tetapi Lili yang tabah sekali tidak mempedulikan Wi Kong Siansu, bahkan dengan tenahgnya lalu mencari meja yang masih kosong.
Meja satu-satunya yang kosong adalah meja yang berada dekat meja Wi Kong Siansu itu.
Akan tetapi, dengan langkah tenang dan gagah Lili mengajak suhunya duduk menghadapi meja itu!
Wi Kong Siansu seakan-akan tidak mengetahui kedatangan nona yang pernah merasakan kelihaian totokannya, dan ia sedang bercakap-cakap dengan orang yang bertopi.
Nampaknya mereka sedang berdebat tentang sesuatu.
Orang bertopi itu adalah seorang jago silat dari Santung, seorang ahli gwa-kang yang memiliki tenaga gajah.
Namanya Can Po Gan, dan orang yang bertubuh kecil dan bermuka buruk itu adalah adiknya bernama Can Po Tin.
Sungguhpun ia kecil dan buruk, akan tetapi kelirulah kalau orang memandang rendah kepadanya, karena ilmu kepandaiannya bahkan lebih lihai daripada kakaknya.
Apa pula Can Po Tin terkenal memiliki kecerdikan dan kelicinan yang luar biasa sehingga di kalangan kang-ouw ia diberi nama poyokan Si Belut!
Secara kebetulan sekali, di kota ini mereka bertemu dengan Wi Kong Siansu yang telah mereka kenal dan mereka kagumi, maka mereka lalu bercakap-cakap dengan asyiknya di restoran itu.
Biarpun matanya tidak memandang ke arah meja di mana Wi Kong Siansu, Song Kam Seng, dan kedua orang sudara Can itu bercakap-cakap, namun Lili tertarik juga akan percakapan mereka dan mendengarkan sambil minum air teh yang dipesannva dari pelayan.
Ketika Lo Sian memandang kepadanya dengan mata bertanya, Lili lalu mencelupkan telunjuknya ke dalam cawan tehnya, dan menggunakan jari telunjuk yang basah itu untuk menulis huruf-huruf di atas meja agar Lo Sian dapat membacanya.
Ia menulis nama Wi Kong Siansu.
Terkejutlah Lo Sian membaca nama ini karena telah beberapa kali Lili bercerita kepadanya tentang tosu ini yang amat tinggi kepandaiannya dan yang diakui oleh Lili bahwa ia pernah roboh oleh totokan tosu itu!
Juga Lili pernah menceritakan bahwa Wi Kong Siansu ini adalah suheng dari Ban Sai Cinjin yang terkenal jahat.
Diam-diam ia juga memperhatikan orang-orang itu dan mendengarkan percakapan mereka.
"Wi Kong Totiang berkata benar, Twako,"
Terdengar Si Kecil Buruk berkata kepada kakaknya yang nampak tidak percaya.
"Betapapun besarnya tenaga gwa-kang, akan celakalah kalau menghadapi seorang ahli lwee-keh, karena tenaga kasar itu hanya akan terbuang sia-sia."
"Betapapun juga sukar untuk dapat dipercaya!"
Membantah Can Po Gan sambil memandang kepada Wi Kong Siansu.
"Aku lebih percaya bahwa tingkat kepandaian seseoranglah yang menentukan kemenangan. Tentu saja, kalau misalnya aku menghadapi Wi Kong Totiang yang tingkatnya lebih tinggi dariku, aku pasti akan kalah, tak peduli Wi Kong Totiang mempergunakan gwa-kang maupun lwee-kang. Akan tetapi kalau menghadapi orang setingkat, biarpun ia ahli lwee-keh, agaknya belum tentu aku akan kalah!"
Adiknya, Tan Po Tin tertawa dan Lili merasa bulu tengkuknya meremang mendengar suara ketawa yang tinggi kecil seperti suara ketawa seorang perempuan itu.
Orang yang suara bicaranya demikian parau dan besar bagaimana bisa tertawa seperti itu?
"Twako, kau tidak tahu.
Kalau kau menghadapi seorang yang ilmu kepandaian dan tenaga lwee-kangnya seperti Pendekar Bodoh, tenagamu yang besar takkan ada gunanya lagi."
Marahlah Can Po Gan mendengar ini.
"Hemm, ingin sekali aku mencoba tenaga lwee-kang dari Pendekar Bodoh itu yang banyak didengung-dengungkan orang! Hendak kulihat apakah tenaganya ada selaksa kati!"
Wi Kong Siansu tersenyum.
"Pengharapanmu akan terkabul, Can-sicu. Akan tetapi sebelum kau bertemu dengan dia, lebih baik kau berhati-hati dan jangan terlampau mengandalkan tenagamu. Dengan ilmu silatmu Hui-houw-ciang-hwat (Ilmu Silat Pukulan Harimau Terbang) agaknya kau masih akan dapat menghadapinya, akan tetapi kalau kau mengandalkan tenagamu, kau keliru. Ketahuilah bahwa di antara ahli-ahli lwee-keh ada yang menyatakan bahwa tenaga gwa-kang amat lemahnya sehingga tak dapat menarik putus sehelai rambut. Dan kata-kata ini memang ada betulnya!"
"Totiang, mengapa kau pun memandang amat rendahnya kepada tenaga orang? Hendak kusaksikan sendiri kebenaran kata-kata sombong ini."
Kini Can Po Gan yang berangasan menjadi marah dan penasaran sekali.
"Kau ingin bukti? Nah, mari kita buktikan agar dapat menambah pengalaman dan kau bisa berlaku hati-hati,"
Jawab Wi Kong Siansu yang segera mencabut sehelai rambut jenggotnva yang panjang. Ia memegang rambut itu pada ujungnya dan berkata.
"Can-sicu, coba kau tarik rambut ini dan kita sama-sama lihat apakah kau dapat menarik putus rambut ini!"
Can Po Gan tertawa keras dan ia segera menjepit ujung rambut itu dengan jari telunjuk dan ibu jarinya.
"Awas, Totiang, sekali tarik saja, akan putuslah rambut ini."
Katanya dan ia mengerahkan tenaganya menarik.
Akan tetapi sungguh heran!
Ketika ditarik, rambut itu tidak menjadi putus, hanya mulur sedikit.
Ia menambah tenaganya dan tahu-tahu rambut yang terjepit di antara kedua jarinya itu terlepas, akan tetapi tidak putus!
Kembali terdengar suara ketawa yang kecil aneh dari Can Po Tin.
"Ingat, Twako. Rambut itu mempunyai tenaga lemas, apalagi berada di dalam tangan Wi Kong Tosu! Mana kau bisa memutuskannya?"
"Rambut itu terlalu licin!"
Kata Can Po Gan penasaran.
"Kalau tidak terlepas, tentu aku akan dapat memutuskannya!"
"Boleh kaucoba sekali lagi, Can-sicu,"
Kata Wi Kong Siansu.
Kembali Can Po Gan memegang ujung rambut itu dan mulai menariknya.
Rambut itu menegang sehingga menjadi makin kecil.
Lili yang tadi mendengar nama ayahnya disebut-sebut, menjadi mendongkol sekali.
Ia maklum bahwa Wi Kong Siansu pasti telah melihatnya, karena mustahil seorang berkepandaian tinggi seperti tosu itu tidak melihatnya yang duduk demikian dekat.
Melihat betapa tosu itu tidak pernah mempedulikannya, bahkan berani bercakap-cakap membicarakan ayahnya, tanda bahwa pendeta itu tidak memandang mata kepadanya, membuat gadis ini marah sekali.
Ia tidak merasa takut sedikitpun juga, biarpun ia maklum akan kelihaian Wi Kong Siansu.
Melihat pertapa itu bersama orang bertopi itu kembali mendemonstrasikan tenaga lwee-kang dan gwa-kang, Lili lalu mengambil sebuah uang mas dari saku bajunya dan memegang uang itu diantara jari-jari tangan kirinya.
Ia menanti dan melihat ke arah Wi Kong Siansu yang masih saja mengadu tenaga melalui rambut itu dengan Can Po Gan.
Setelah dilihatnya bahwa rambut itu telah menjadi tegang dan kecil akan tetapi tetap saja tidak dapat putus, tiba-tiba Lili lalu menggunakan jari tangannya menyentil uang emas di tangannya itu.
"Ting...!!"
Nyaring sekali suara ini ketika uang emas itu terkena sentilannya dan terlempar ke udara.
"Ah...!"
Wi Kong Siansu dan Can Po Gan berseru kaget karena ketika terdengar suara yang nyaring itu, rambut yang mereka tarik telah putus dengan tiba-tiba sekali.
Tadinya Can Po Gan mengira bahwa ia telah menang dalam pertandingan ini, akan tetapi ia merasa heran sekali ketika melihat Wi Kong Siansu dan adiknya, Can Po Tin, tidak memandang kepadanya dengan kagum, sebaliknya menengok dan memandang ke arah meja di sebelah kirinya dan anehnya, pandang mata Wi Kong Siansu nampak marah.
Ia pun lalu menengok dan baru kali ini Can Po Gan melihat wajah Lo Sian yang kebetulan juga sedang memandang kepadanya.
"Sin-kai Lo Sian!"
Can Po Gan berseru ketika ia melihat dan mengenal kakek pengemis ini.
Akan tetapi tentu saja Lo Sian tidak mengenalnya dan mendengar namanya disebut, ia memandang dengan tajam.
Sementara itu, Wi Kong Siansu telah bangkit berdiri dan berkata kepada Lili.
"Hemm, puteri Pendekar Bodoh, kau sungguh lancang dan jail seperti ayahmu! Akan tetapi aku harus menyatakan kagum atas ketabahan hatimu. Apakah kau masih belum mengaku kalah terhadapku?"
Lili tetap duduk di bangkunya ketika ia menjawab dengan suara dingin.
"Wi Kong Siansu, menang dan menang adalah dua macam hal yang jauh berlainan! Menang dengan mutlak adalah kemenangan yang dicapai dengan cara jujur dan berterang. Ada pula kemenangan yang dicapai dengan kecurangan dan dengan jalan pengeroyokan. Kemenanganmu terhadap aku dulu adalah kemenangan yang kedua ini. Siapa mau mengaku kalah terhadap kau? Seperti juga tadi, kaukatakan rambut jenggotmu itu tidak dapat putus, bukankah dengan suara uang emasku saja sudah dapat terputus? Apakah hal ini boleh dianggap kau telah kalah pula terhadapku?"
"Bocah bermulut lincah! Apakah kau datang ini sengaja hendak memancing pertempuran dengan pinto?"
Wi Kong Siansu bertanya penasaran.
"Tidak ada yang memancing pertempuran. Aku masuk ke dalam rumah makan umum untuk makan, apa salahnya dan siapa berhak melarangku?"
"Akan tetapi, mengapa kau berlancang tangan memutuskan rambutku dengan suara uangmu?"
Wi Kong Siansu makin penasaran.
"Siapa pula menyuruh kalian membawa-bawa nama ayahku dalam percakapanmu?"
Balas Lili. Tiba-tiba Wi Kong Siansu tertawa bergelak.
"Betul pandai! Aku mengaku kalah berdebat dengan engkau. Bagus, tolong kau sampaikan kepada ayahmu, bahwa kalau dia berani, aku mengundangnya untuk menentukan siapa yang lebih unggul, kelak pada musim semi tahun depan di puncak Thai-san! Kalau dia tidak datang, akan kuanggap bahwa Pendekar Bodoh hanya namanya saja yang besar, akan tetapi nyalinya kecil!"
"Siapa takut kepadamu?"
Kata Lili marah.
"Jangan kata Ayah, aku sendiri pun tidak takut dan akan datang pada waktu itu!"
Wi Kong Siansu duduk kembali, tidak mau mempedulikan lagi kepada Lili.
Akan tetapi, kedua saudara Can itu memandang dengan penuh penasaran.
Bagaimana seorang tokoh besar seperti Wi Kong Siansu dapat bercakap-cakap dengan seorang gadis muda seakan-akan bicara dengan orang yang sama tinggi kedudukannya dalam kepandaian silat?
Pula, Can Po Gan yang mendengar bahwa gadis ini adalah puteri Pendekar Bodoh, dan bahwa putusnya rambut tadi adalah disebabkan oleh gadis itu yang membunyikan uang emas dengan nyaringnya, ia menjadi amat penasaran.
Ia memandang dengan senyum mengejek dan berkata.
"Jadi inikah puteri Pendekar Bodoh? Eh, Nona, kau duduk semeja dengan Sinkai Lo Sian, apamukah dia?"
Tanya Can Po Gan dengan kasar dan menyeringai.
"Dia adalah Suhuku, kau mau apa tanya-tanya?"
Lili yang tabah itu balas bertanya dengan kasar.
Tidak saja kedua saudara Can itu yang terheran, bahkan Wi Kong Siansu juga tertegun mendengar ucapan ini.
Ia pernah melihat Lo Sian dan sudah mendengar akan kepandaian Pengemis Sakti ini, akan tetapi kalau dibandingkan dengan kepandaian gadis puteri Pendekar Bodoh itu, Si Pengemis Sakti akan kalah jauh!
Hanya Kam Seng seorang yang menundukkan mukanya, diam-diam mengagumi Lili yang masih terus mengaku guru kepada Lo Sian sungguhpun gadis itu kini telah memiliki kepandaian yang jauh lebih tinggi daripada Lo Sian!
Terdengar suara ketawa yang menyeramkan dari Can Po Tin ketika ia mendengar ini.
"Sinkai Lo Sian, benar-benarkah Nona ini muridmu? Dan muridmu sudah berani berlaku kurang ajar terhadap Wi Kong Siansu, kaudiamkan saja? Alangkah kurang ajar dan tak tahu adat kau ini!"
Akan tetapi dengan tenang Lo Sian menjawab dengan suaranya yang dalam.
"Kalian ini siapakah? Aku tidak kenal dengan Ji-wi (Tuan Berdua), mengapa Jiwi hendak menggangguku?"
Mendengar jawaban ini, kedua saudara Can itu melengak. Akhirnya Can Po Gan yang berangasan itu lalu bangkit berdiri dan dengan langkah lebar ia menghampiri Lo Sian.
"Pengemis jembel! Kau berpura-pura tidak mengenal kami? Dulu kami pernah mengampuni jiwa anjingmu dan sekarang kau masih berani berlaku demikian kurang ajar dan tidak memandang mata? Agaknya kau minta dihajar lagi!"
Sambil berkata demikian, tangan kanan orang berangasan ini melayang dari atas dan memukul lengan tangan Lo Sian yang diletakkan di atas meja. Lo Sian cepat menarik lengannya dan "brakk!!"
Kepalan angan Can Po Gan yang keras itu bagaikan palu baja menimpa meja sehingga tembus!
Cawan air teh di depan Lili melayang ke atas dengan cepat karena getaran meja itu sehingga kalau tidak cepat-cepat Lili menangkapnya, tentu isinya akan tumpah.
Gadis ini menjadi marah sekali dan cepat ia berdiri, sementara itu Lo Sian sudah melompat ke belakang untuk menghindarkan diri dari serangan selanjutnya.
"Buaya darat!"
Lili memaki sambil memandang dengan mata berapi.
"Kepandaian macam itu saja kaupamerkan di sini? Apakah kau tukang jual obat kuat?"
Can Po Gan memandang kepada Lili dan senyum mengejek menghias bibirnya yang tebal.
"Apa kau tidak takut melihat tanganku ini?"
Ia mengacungkan kepalan tangan kanannya yang kini menjadi kemerah-merahan.
Melihat cahaya merah yang menjalar di sepanjang lengan tangan yang besar itu diam-diam Lili terkejut dan mengetahui bahwa lengan tangan itu memiliki kekuatan Ang-see-jiu yang berbahaya.
Akan tetapi ia tidak takut, bahkan ia lalu membuka telapak tangannya, mengulurkan ke depan dan berkata.
"Siapa sih takut kepada lengan tangan kasar berbulu macam itu? Gunanya paling banyak hanya untuk memukul meja atau menakut-nakuti orang."
"Bocah bermulut lancang! Kepalamu pun akan tertembus terkena pukulanku,"
Kata Can Po Gan. Lili tersenyum dingin.
"Begitukah? Coba kautembuskan telapak tanganku ini, kalau dapat membuat aku merasa sakit, aku mau berlutut di depan kakimu dan mengangkat kau sebagai Sucouw (Kakek Guru)!"
"Kau menantang!"
"Beranikah kau memukul tanganku?"
"Siapa takut? Awas, kuhancurkan tanganmu yang kecil halus!"
Setelah berkata demikian, Can Po Gan telah melakukan pukulan keras ke arah telapak tangan Lili yang diperlihatkan kepadanya.
Tanpa dapat terlihat oleh orang lain, karena gerakannya cepat sekali, tangan gadis itu bergeser sedikit dan jari telunjuknya menyentil dengan cepat dan keras ketika lengah tangan lawannya itu meluncur lewat menyerempet telapak tangannya.
"Aduh...!"
Can Po Gan menarik kembali lengannya, akan tetapi ia tidak dapat menggerakkan lengan tangan kirinya yang kini telah menjadi kaku seperti sepotong kayu itu!
Ternyata ketika tadi dia memukul, dari gerakan anginnya saja Lili sudah dapat mengelak sedikit tanpa menggerakkan lengan, hanya menggerakkan pergelangan tangannya, kemudian ia telah melakukan sentilan jari telunjuk untuk menotok jalan darah pada pergelangan siku lawannya!
"Jangan main-main terhadap gadis itu Sicu!"
Kata Wi Kong Siansu yang sudah melangkah maju dengan beberapa kali urutan serta tepukan, totokan itu dapat dibebaskan dari lengan tangan Can Po Gan.
Akan tetapi Can Po Gan dan Can Po Tin sudah menjadi marah sekali dan mereka lalu mencabut golok masing-masing, siap maju menggempur Lili.
Akan tetapi, sambil mengeluarkan seruan nyaring, tubuh Lili mencelat ke atas meja dan kini ia telah berdiri di atas meja dengan tangan memegang sebatang pedang yang berkilauan saking tajamnya, yakni pedang Liong-coan-kiam!
"Kalian mau mencari mampus?
Boleh, boleh, majulah!"
Tantangnya dengan sikap gagah sekali.
Melihat ini, kedua saudara Can itu menjadi gentar juga.
Sesungguhnya, kekalahan Can Po Gan tadi bukan karena ilmu kepandaiannya jauh di bawah tingkat kepandaian Lili, akan tetapi terjadi oleh karena kurang hati-hatinya dan kesembronoannya juga karena tadinya ia memandang rendah.
Sekarang melihat ketabahan dan kekerasan gadis itu, apalagi mengingat bahwa gadis itu adalah puteri Pendekar Bodoh setidaknya mereka menjadi ragu-ragu.
Wi Kong Siansu lalu maju pula dan mencegah mereka.
"Ji-wi Can-sicu, tak perlu membikin ribut di sini. Kelak saja pada permulaan musim semi tahun depan, kita mempunyai kesempatan banyak untuk mengadu tenaga dengan Nona ini."
"Baiklah, kami akan menanti datangnya saat itu dengan hati tidak sabar,"
Kata Can Po Gan sambil duduk kembali dan menyimpan senjatanya.
Adapun Lili ketika melihat sikap lawannya ini, juga tidak mau mendesak lebih lanjut, karena gadis ini bukan tidak tahu bahwa kalau sampai terjadi pertempuran dan Wi Kong Siansu turun tangan, sukar sekali bagi dia dan suhunya untuk mencapai kemenangan.
Lili melompat turun, menyimpan pedangnya dan memberi ganti kerugian kepada pelayan restoran, kemudian ia mengajak suhunya untuk cepat-cepat meninggalkan tempat itu, karena kini dia menjadi perhatian semua orang yang tadi menyaksikan peristiwa itu.
"Jangan lupa sampaikan undanganku kepada ayahmu!"
Wi Kong Siansu masih berseru keras ketika Lili dan Lo Sian sudah tiba di luar restoran.
Gadis itu tidak menjawab karena ia merasa mendongkol sekali.
Terang-terangan ayahnya ditantang oleh tosu itu dan ia merasa penasaran sekali tidak dapat menghadapi tosu itu sekarang juga!
Ketika tiba di Shaning dan memasuki rumah keluarga Sie, Lo Sian disambut oleh Cin Hai dan Lin Lin dengan penuh penghormatan.
Kedua suami-isteri pendekar ini merasa amat berterima kasih kepada Lo Sian dan mereka menyambutnya sebagai seorang penolong besar.
Sebaliknya Lo Sian merasa amat canggung dan juga kagum, melihat sepasang suami isteri yang namanya telah terkenal di seluruh penjuru bumi Tiongkok, akan tetapi yang ternyata bersikap ramah tamah dan sederhana, juga, suami-isteri itu amat tampan dan cantik.
Ketika mendengar penuturan Lili tentang keadaan Lo Sian, Cin Hai dan Lin Lin mengerutkan keningnya.
Apalagi kelika mereka mendengar bahwa Lo Sian merasa pasti akan kematian Lie Kong Sian, kedua orang ini menjadi amat berduka.
"Tidak dapatkah kau mengingat di mana dan bagaimana Lie-suheng menemui kematiannya?"
Tanya Cin Hai, akan tetapi Lo Sian menggeleng kepalanya.
"Menyesal sekali, Tai-hiap. Ingatanku sudah lenyap sama sekali, dan aku sendiri pun tidak tahu mengapa aku berhal seperti ini. Sudah kucoba untuk mengerahkan ingatan, akan tetapi hasilnya nihil belaka. Hanya dapat kurasakan dan agaknya sudah terukir dalam-dalam di hatiku bahwa Lie Kong Sian Tai-hiap telah tewas, entah dengan cara bagaimana dan di mana, yang sudah pasti menurut perasaan hatiku, tewas dalam cara yang amat mengerikan!"
"Suhu sudah lupa segala macam peristiwa yang lalu, Ayah. Bahkan nama sendiri pun dia telah lupa. Akan tetapi ketika aku menjumpai Suhu dalam keadaan lupa ingatan dan rusak pikiran, Suhu berseru-seru ketakutan dan mengucapkan kata-kata 'pemakan jantung', entah apa yang dimaksudkan."
Mendengar kata-kata ini, wajah Lo Sian berubah agak pucat dan ia menghela napas berkali-kali.
"Ucapan ini sudah seringkali membuatku tak dapat tidur. Aku sendiri merasa bahwa dalam ucapan ini terkandung hal yang amat hebat, akan tetapi sayang sekali, aku tak dapat mengingatnya lagi."
Cin Hai dan Lin Lin merasa kasihan melihat keadaan penolong puterinya ini dan tahu bahwa orang ini perlu beristirahat dan mendapatkan hiburan.
Maka ia merasa girang sekali mendengar keinginan Lili untuk menahan suhunya tinggal di situ.
Mereka menyatakan persetujuan mereka, bahkan mereka setengah memaksa Lo Sian untuk tinggal di situ, sehingga lenyaplah keraguan dan kesungkanan dari hati Lo Sian.
Semenjak saat itu, ia tinggal bersama Pendekar Bodoh dan menempati kamar bekas tempat tinggal Yousuf yang masih dibiarkan kosong.
Ketika Cin Hai dan isterinya mendengar penuturan Lili tentang Wi Kong Siansu yang menantang mereka untuk mengadu kepandaian di puncak Thai-san pada musim semi tahun depan, Cin Hai hanya tersenyum saja dan berkata tenang.
"Wi Kong Siansu seperti anak kecil saja. Betapapun juga, undangan macam ini tak boleh tidak harus disambut dengan gembira."
Sebaliknya, Lin Lin berkata dengan muka merah.
"Pendeta sombong! Kalau memang dia merasa penasaran dan hendak mencoba kepandaian, mengapa dia tidak terus datang saja sekarang? Siapa yang takut menghadapinya?"
Mendengar percakapan suami-isteri ini, Lo Sian menjadi kagum sekali.
Sikap Pendekar Bodoh demikian tenang dan tabah sebagaimana layaknya sikap seorang pendekar besar yang telah luas sekali pengetahuannya.
Dan sikap dari Lin Lin demikian gagahnya, mengingatkan Lo Sian kepada watak Lili.
"Menurut pendapatku yang bodoh, seorang yang mengundang pibu dengan menyebutkan waktu dan tempat tertentup harus dihadapi dengan hati-hati. Kalau Wi Kong Siansu telah menetapkan waktu tahun depan dan mengambil tempat di puncak Thai-san, tentulah dia telah merencanakan hal ini dengan semasak-masaknya dan takkan mengherankan apabila Tai-hiap kelak tidak hanya akan bertemu dengan dia seorang, melainkan dengan orang-orang lain yang lihai."
Cin Hai mengangguk-angguk dan Lin Lin segera berkata dengan wajah berseri.
"Lo-twako, mendengar bicaramu aku teringat kepada mendiang ayah angkatku! Kau sama benar dengan ayah, hati-hati dan jauh pandangan."
Sebentar saja Lo Sian merasa cocok dan suka sekali dengan sepasang pendekar besar itu yang menyebutnya twako (kakak tertua), sedangkan Lili lalu menyebutnya twa-pek (uwa).
Hong Beng dan Goat Lan setelah menjaga di Istana Pengemis, menanti kalau-kalau pihak Coa-tung Kai-pang datang membikin pembalasan, ternyata tidak terjadi sesuatu.
Oleh karena itu, Hong Beng lalu minta diri dari kelima saudara Hek, dan berangkatlah bersama tunangannya menyusul Lili ke kota Kiciu, tempat tinggal Thian Kek Hwesio, ahli pengobatan di kuil Siauw-lim-si itu.
Thian Kek Hwesio menerimanya dengan girang karena memang sudah lama ia kenal dan mengagumi Goat Lan, murid tersayang dari sahabat baiknya, Sin Kong Tianglo.
Ia merasa makin gembira ketika mendengar betapa Goat Lan telah berhasil mendapatkan To-hio-giok-ko obat satu-satunya untuk penyakit putera kaisar.
Ketika Goat Lan menyatakan terus terang bahwa ia hendak ke Tiang-an dulu untuk mengambil kitab Thian-te Ban-yo Pit-kip untuk mempelajari cara mempergunakan dua macam obat itu, Thian Kek Hwesio segera berkata.
"Tidak usah, Nona. Tak perlu kau membuang waktu untuk mengambil jalan memutar. Penyakit putera kaisar sudah payah sekali dan kalau kau tidak cepat-cepat pergi ke kota raja dan mengobatinya, mungkin kau akan terlambat dan pengharapan mendiang sahabat baikku akan sia-sia belaka."
Terkejut Goat Lan ketika ia mendengar ucapan ini.
"Habis bagaimana baiknya, Losuhu? Aku tidak tahu apa macamnya penyakit yang diderita oleh Pangeran Muda itu dan tidak tahu cara bagaimana harus mempergunakan obat yang langka ini."
"Jangan kuatir, pinceng pernah mendengar keterangan dari sabahat baikku gurumu itu. Baiklah kubentangkan sedikit agar lebih jelas bagimu. Penyakit yang diderita oleh Pangeran Mahkota ini adalah semacam penyakit di dalam usus besar. Menurut gurumu, usus besar itu terluka hebat dan di situ terdapat bisul yang sudah pecah dan menjadi semacam luka yang makin lama makin menghebat. Oleh karena itulah, maka Pangeran Muda itu selalu mengeluarkan kotoran darah dan tubuhnya lemas, perutnya terasa sakit. Kalau kau sudah menghadap Hong-siang (Kaisar) dan Hong-houw (Permaisuri) dan dibawa ke tempat si sakit, kau lebih dulu harus memberinya Giok-ko (Buah Mutiara) sebuah untuk dimakan mentah-mentah. Giok-ko ini khasiatnya untuk membersihkan darah sehingga daya penolak luka di dalam itu akan menjadi kuat. Kemudian, To-bio (Daun Golok) itu boleh kau rebus dengan air sampai airnya tinggal satu bagian, lalu berikan untuk diminum. Daun ini sarinya manjur sekali untuk mengeringkan lukanya. Setelah tiga hari berturut-turut kau memberi obat To-hio-giok-ko kepada Pangeran, selanjutnya dapat kaulakukan pengobatan dengan obat-obat penguat tubuh, pembersih darah seperti biasa, bahkan amat baik kalau kau mempergunakan juga tiam-hoat (ilmu totok) untuk melancarkan jalan darah!"
Setelah mendapat keterangan demikian, Goat Lan lalu minta diri untuk segera menuju ke kota raja. Kepada Hong Beng ia berkata setelah keluar dari kuil itu.
"Koko, kau mendengar sendiri bahwa aku harus segera ke kota raja untuk mengobati putera Kaisar, demi menjaga dan menjunjung nama baik dan nama kehormatan mendiang Suhu Sin Kong Tianglo. Apakah kau hendak menyusul Lili, ataukah...?"
Goat Lan tak dapat melanjutkan kata-katanya karena sesungguhnya hatinya masih ingin sekali melakukan perjalanan dengan tunangan yang gagah berani dan tampan ini.
Tentu saja sebagai seorang gadis yang sopan dan tinggi hati, ia tidak dapat menyatakan suara hatinya.
Seperti halnya Goat Lan, biarpun ia seorang laki-laki namun Hong Beng juga masih sungkan dan malu-malu.
Ia pun tidak pandai menyatakan perasaan hatinya melalui bibirnya, maka dengan muka merah ia menjawab.
"Lan-moi, sebetulnya aku pun ingin sekali ke kota raja, dan... dan aku kuatir kalau-kalau para tokoh kang-ouw yang merasa iri hati terhadap mendiang suhumu, akan datang mengganggu dan menghalangimu mengobati putera Kaisar."
"Aku pun berpikir demikian, Koko. Bukan tak mungkin sekarang telah banyak yang mengincar gerak-gerikku."
"Biarlah aku mengawanimu sampai selesai tugasmu ini, Moi-moi, tetapi... kalau kau tidak keberatan."
"Mengapa keberatan?"
Goat Lan memandang kepada tunangannya yang kebetulan juga menatap wajahnya.
Dua pasang mata kembali bertemu untuk kesekian kalinya dan keduanya menundukkan muka dengan wajah merah dan bibir tersenyum.
Tak perlu lagi kata-kata pada saat seperti itu.
Mereka telah saling mendengar seribu satu ucapan yang keluar dari hati masing-masing.
"Hayo kita berangkat!"
Akhirnya Hong Beng memecahkan kesunyian yang menekan dan membuat mereka merasa canggung.
Keduanya lalu berlari cepat menuju ke kota raja.
Memang kekuatiran kedua orang muda ini betul-betul terjadi.
Di dalam kota raja terdapat komplotan yang siap sedia menghalangi semua usaha mengobati Pangeran yang sedang rebah menderita sakit yang amat berat.
Mereka ini dikepalai oleh seorang selir kaisar yang juga mempunyai putera dan yang mengharapkan agar puteranya kelak yang menggantikan kedudukan kaisar apabila pangeran itu meninggal dunia karena sakitnya.
Selir kaisar inilah yang mengharapkan kematian putera Kaisar, dan ia telah mempercayakan semua urusan ini untuk dilaksanakan kepada seorang pembesar tinggi yang menjadi kepala pengawal istana bernama Bu Kwan Ji yang sebenarnya telah lama mempunyai hubungan gelap dengan selir kaisar itu!
Bu Kwan Ji adalah seorang yang pandai ilmu silat, termasuk perwira kelas satu di kota raja, dan mempunyai banyak kawan sepaham terdiri dari para perwira bayangkari yang tinggi ilmu silatnya.
Para kawan-kawannya maklum akan keadaan Bu Kwan Ji yang dikasihi oleh Kaisar dan selirnya, dan bahwa Bu Kwan Ji mempunyai banyak harapan bagus di masa depan.
Maka tentu saja mereka suka membantu agar kelak ikut pula merasakan kesenangan.
Rombongan pengkhianat ini lalu minta bantuan pula dari tiga orang tabib yang paling terkenal di kota raja.
Mereka mengadakan hubungan dan Bu Kwan Ji menjanjikan upah besar dan pembagian keuntungan apabila kelak ia dapat menduduki kursi tinggi.
Memang harta benda dan pangkat dapat memabukkan manusia dan dapat membutakan mata batin manusia.
Tiga orang tabib itu bukanlah orang sembarangan, bahkan ilmu silat dan ilmu pengobatan mereka sudah amat terkenal di kalangan kang-ouw.
Yang seorang bernama Ang Lok Cu, seorang pendeta dan pertapa yang terkenal dari Bukit Kun-lun-san.
Orang ke dua dan ke tiga adalah dua orang hwesio gundul, kakak beradik seperguruan yang tinggi ilmu silat dan ilmu pengobatan mereka.
Mereka ini bernama Cu Tong Hwesio dan Cu Siang Hwesio.
Kedua orang hwesio ini dulu pernah belajar ilmu pengobatan dari Thian Kek Hwesio, akan tetapi setelah dapat menduga bahwa dua orang hwesio ini bukanlah orang-orang yang berhati teguh dan suci, Thian Kek Hwesio menghentikan pelajaran mereka.
Adapun Ang Lok Cu adalah murid dari seorang tosu perantau yang ahli dalam ilmu pengobatan.
Tadinya, tiga orang pendeta ini datang ke kota raja untuk mencoba kepandaian mereka mengobati putera Kaisar, akan tetapi mereka tidak berhasil.
Kemudian mereka mendengar tentang kesanggupan Sin Kong Tianglo, maka mereka menjadi iri hati dan bersama beberapa orang tokoh kang-ouw mereka menjumpai Sin Kong Tianglo dan memperolok-olokannya dan memanaskan hati Sin Kong Tianglo sehingga kakek sakti ini pergi mencari obatnya lalu menjumpai kematian di daerah dingin itu.
Ketika Bu Kwan Ji mendengar tentang kekecewaan dan iri hati dari tiga orang pendeta ini, maka ia lalu datang menghubunginya dan kini ketiga orang pendeta ini menerima tugas untuk mencegah pengobatan untuk putera Kaisar ini.
Melalui selir Kaisar, Bu Kwan Ji berhasil membuat Kaisar mengangkat ketiga orang pendeta itu menjadi tabib-tabib penjaga putera Kaisar, dan mereka inilah yang berhak memeriksa obat-obat yang hendak diminumkan kepada yang sakit.
Dengan demikian, maka bukanlah tugas yang ringan bagi Goat Lan untuk mengobati putera Kaisar itu, karena menghadapi segerombolan serigala kejam tanpa diketahuinya lebih dulu di mana serigala-serigala itu bersembunyi.
Baiknya dia dan Hong Beng sudah dapat menduga lebih dulu bahwa tugasnya ini tentu akan mengalami halangan pihak yang memusuhinya.
Halangan pertama dijumpai oleh Goat Lan dan Hong Beng ketika mereka telah datang di kota raja dan hendak menghadap Kaisar.
Yang menerima adalah kepala bayangkari yang juga telah menjadi kaki tangan Bu Kwan Ji, maka tidak mudah bagi kedua orang muda ini untuk menghadap Hong-siang (Kaisar).
Mereka dibawa masuk ke dalam sebuah kantor besar di mana duduk Bu Kwan Ji yang memeriksa mereka.
"Kalian ini dari manakah dan dari siapakah kalian membawa obat untuk putera Kaisar?"
Tanya Bu Kwan Ji dengan pandangan mata tajam.
Mendengar pertanyaan yang kasar ini, Goat Lan mengerutkan keningnya.
Akan tetapi Hong Beng yang tahu akan kekerasan hati Goat Lan, mewakili tunangannya menjawab.
"Kami mewakili Yok-ong (Raja Obat) Sin Kong Tianglo, membawa obat penyembuh penyakit Pangeran. Harap saja Ciangkun sudi membawa kami menghadap kepada Hong-siang atau langsung membawa kami kepada yang sakit agar supaya pengobatan tidak terlambat."
"Mudah saja kau bicara hendak mengobati Pangeran!"
Tiba-tiba Bu Kwan Ji membentak marah.
"Aku sudah bosan mendengar ocehan segala macam tukang obat. Sudah ratusan ahli pengobatan yang tua-tua dan berpengalaman tidak berhasil menyembuhkan Beliau, kalian ini orang-orang muda berani sekali membawa obat palsu. Apakah kalian tidak menyayangi jiwa sendiri? Awas, pengobatan yang tidak berhasil akan membuat kalian ditangkap dan menerima hukuman berat!"
Goat Lan menjadi mendongkol sekali dan cahaya berapi telah timbul pada sepasang matanya.
Ingin sekali ia maju dan menampar mulut perwira ini, akan tetapi kembali Hong Beng yang menyabarkannya karena pemuda ini telah berkata pula kepada Bu Kwan Ji.
"Maaf, Ciangkun. Kami datang dengan maksud menolong. Dulu Yok-ong telah berjanji hendak menyembuhkan penyakit putera Kaisar, dan kini muridnya ini telah datang membawa obat itu. Berilah kami kesempatan untuk menolong nyawa putera Kaisar yang sakit."
"Hemm, benarkah kau murid dari Yok-ong Sin Kong Tianglo?"
Tanya Bu Kwan Ji kepada Goat Lan.
"Dan kau sudah mendapatkan obat yang manjur untuk mengobati penyakit putera Kaisar."
"Benar!"
Jawab Goat Lan singkat.
"Kalau begitu, kautinggalkan obat itu kepadaku agar aku dapat memberi perintah kepada tabib-tabib istana untuk meminumkan obat itu kepada Pangeran."
"Tidak bisa demikian!"
Goat Lan berkata gemas.
"Obat itu tidak boleh diminumkan oleh orang lain, harus aku sendiri yang mengobatinya."
"Kalau begitu, pergilah kalian dari sini!"
Bu Kwan Ji menggebrak meja. Mendengar ucapan ini, Goat Lan bangkit berdiri dari tempat duduknya.
"Bagus! Macam apakah perwira seperti kau ini? Kau kira kami takut kepadamu? Kami datang hendak menolong putera Kaisar dan kau sengaja mengusir kami? Kalau kami melaporkan hal ini kepada Hong-siang, aku kuatir kau takkan dapat mempertahankan pangkatmu lagi!"
Bu Kwan Ji memandang tajam dan melihat sikap kedua orang muda yang gagah ini, hatinya menjadi ragu-ragu.
"Pulanglah dan besok kalian boleh datang kembali. Aku harus melaporkan hal ini kepada Kaisar lebih dulu. Aku hanya menjalankan tugas, karena siapa tahu kalau ada yang datang berpura-pura membawa obat akan tetapi sebenarnya hendak meracuni Pangeran!"
Dengan mendongkol Goat Lan dan Hong Beng terpaksa keluar dari situ, karena mereka mau tak mau harus membenarkan pula ucapan ini.
Memang Bu Kwan Ji orangnya cerdik sekali.
Melihat keadaan kedua orang muda itu dan mendengar bahwa nona itu adalah murid Sin Kong Tianglo yang sakti, ia tidak berani berlaku sembrono.
Ia menyuruh kedua orang muda itu pulang dulu untuk mencari kesempatan mengatur siasat.
Ketika Goat Lan dan Hong Beng keluar dari situ, mereka melihat tiga orang perwira menyusul mereka dan berjalan mengikuti mereka.
"Kalian mau apa?"
Goat Lan membentak marah.
"Oleh karena Ji-wi hendak mengobati putera Kaisar, maka kami disuruh mengikuti Ji-wi dan mencari tahu di mana Jiwi bermalam, agar mudah memanggil apabila ada perintah dari Kaisar untuk memanggil Ji-wi menghadap,"
Jawab seorang perwira itu. Hong Beng dan Goat Lan tak dapat membantah dan setelah mereka mendapat kamar dalam sebuah hotel, ketiga orang perwira itu pergi meninggalkan mereka.
"Malam ini kita harus berhati-hati,"
Kata Hong Beng kepada Goat Lan.
"Siapa tahu kalau-kalau ada penjahat datang mengganggu. Ayah seringkali bercerita tentang penjahat-penjahat yang pandai di kota raja."
Goat Lan mengangguk dan masuk ke dalam kamarnya setelah makan malam.
Hong Beng juga duduk di dalam kamarnya, duduk bersila di atas ranjang, tidak mau tidur, dan hanya beristirahat sambil bersamadhi.
Menjelang tengah malam, baik Hong Beng maupun Goat Lan yang duduk pula bersamadhi, dapat mendengar gerakan kaki beberapa orang yang amat ringan dan halus di atas genteng hotel.
Kedua orang muda itu tersenyum dan dengan penuh perhatian keduanya memasang telinga untuk mengikuti gerak-gerik orang di atas genteng.
Mereka berdua sudah memiliki pendengaran yang amat tajam, maka dengan mudah dapat menduga bahwa yang datang adalah tiga orang yang ilmu gin-kangnya cukup tinggi.
Kedua orang muda itu tidak bergerak, menanti sampai ketiga orang penjahat malam itu turun dari atas genteng.
Akan tetapi sungguh mengherankan karena mereka bertiga itu tidak turun, hanya berjalan hilir mudik beberapa kali seperti orang-orang yang merasa ragu-ragu.
Tiba-tiba terdengar bunyi genteng digeser, baik di atas kamar Hong Beng maupun di atas kamar Goat Lan.
Kedua orang muda itu dengan urat saraf tegang menanti datangnya senjata rahasia, mereka tidak takut sama sekali.
Hendak mereka lihat bagaimana penjahat-penjahat itu akan bertindak terhadap mereka di dalam kamar yang gelap itu.
Hong Beng sudah siap-siap dengan hati-hati sekali.
Ia mempunyai dua dugaan, yaitu penjahat itu akan menyerang dengan senjata rahasia dengan ngawur, atau akan melompat turun ke dalam kamarnya dari atas genteng.
Dan tiba-tiba dari atas melayang turun benda kecil, akan tetapi jauh dari tempat ia berdiri di sudut kamar.
Ia hampir tertawa melihat ketololan penjahat itu, akan tetapi alangkah kagetnya ketika benda itu jatuh di lantai, nampak asap mengebul.
Ia hendak melompat keluar melalui jendela, akan tetapi tiba-tiba ia mencium bau yang amat wangi dan robohlah Hong Beng terguling dalam keadaan pingsan!
Ternyata bahwa asap itu adalah asap yang mengandung obat memabukkan yang luar biasa kerasnya.
Goat Lan mengalami peristiwa yang sama.
Sebuah benda juga jatuh di dalam kamarnya dan mengeluarkan asap.
Akan tetapi, sebagai murid Sin Kong Tianglo yang berjuluk Raja Obat atau Raja Tabib, gadis ini selalu mengantongi penolak racun.
Begitu ia melihat benda itu mengeluarkan asap ia telah menjadi curiga dan cepat ia memasukkan tiga buah pel merah ke dalam mulutnya, sehingga ketika ia mencium bau wangi itu, ia tidak jatuh pingsan, sungguhpun ia merasa agak pening juga.
"Bangsat curang!"
Ia memaki dan cepat tubuhnya melayang ke atas melalui jendela kamarnya.
Ia melihat bayangan dua orang hwesio di atas genteng, maka langsung ia menyerang dengan bambu runcingnya.
Kedua orang hwesio itu bukan lain adalah Cu Tong Hwesio dan Cu Siang Hwesio.
Mereka ini datang bersama Ang Lok Cu setelah mendapat kabar dari Bu Kwan Ji bahwa murid Sin Kong Tianglo telah datang membawa obat untuk putera Kaisar.
Mereka hendak mendahului kedua orang muda itu dan mencuri obat yang dibawanya.
Ang Lok Cu yang mempunyai julukan Ngo-tok Lo-kai (Setan Tua Lima Racun) lalu mengeluarkan asap beracunnya yang lihai untuk membuat kedua orang muda itu pingsan agar memudahkan pekerjaan mereka.
Setelah mendengar Hong Beng roboh di dalam kamarnya, Ang Lok Cu lalu melayang turun ke dalam kamar pemuda itu, sedangkan kedua hwesio kawannya itu masih menanti untuk mendengarkan suara robohnya gadis di dalam kamar lain.
Akan tetapi alangkah kagetnya kedua orang hwesio jahat itu ketika mendengar suara angin dan makian Goat Lan.
Mereka lebih terkejut lagi ketika melihat betapa dengan gerakan yang luar biasa cepatnya gadis cantik itu telah menyerang mereka dengan sepasang bambu runcing yang menotok ke arah dada mereka.
Cu Tong Hwesio dan Cu Siang Hwesio cepat mengelak sambil mencabut pedang mereka, akan tetapi Cu Siang Hwesio kurang cepat gerakannya sehingga satu tendangan susulan dari Goat Lan membuat ia menjerit kesakitan dan tubuhnya terguling di atas genteng.
"Lihai sekali!"
Seru Cu Tong Hwesio dan tanpa membuang waktu lagi, melihat gadis itu benar-benar hebat sepak-terjangnya, lalu hwesio ini menyambar tangan adiknya dan membawanya melompat turun dari atas genteng dengan gerakan cepat sekali.
Goat Lan tidak mau mengejar karena ia merasa kuatir akan keadaan tunangannya.
Ia cepat melompat turun dan sekali tendang saja jendela kamar Hong Beng terbuka.
Asap yang wangi keluar dari jendela itu.
Goat Lan masih dapat melihat berkelebatnya sesosok tubuh manusia keluar dari kamar tunangannya melalui lubang di atas genteng.
Akan tetapi ia tidak mau mengejar, terus menghampiri ke dalam kamar dan cepat mencari tunangannya.
Ternyata bahwa tosu yang memasuki kamar Hong Beng itu telah menyalakan lilin dan telah memeriksa buntalan pakaian Hong Beng.
Goat Lan yang melihat tubuh tunangannya menggeletak di atas lantai, menjadi pucat.
Cepat ia mengangkat tubuh tunangannya itu ke atas pembaringan dan tanpa sungkan-sungkan lagi ia memeriksa.
Ia menarik napas lega ketika mendapat kenyataan bahwa tunangannya tidak menderita sesuatu, hanya pingsan akibat asap yang memabukkan tadi.
Dengan pertolongan air teh yang tersedia di atas meja, ia dapat membikin Hong Beng siuman dari pingsannya.
Hong Beng merasa malu sekali karena telah menjadi korban penjahat, akan tetapi Goat Lan lalu mengeluarkan beberapa butir pel dan memberikan itu kepada tunangannya.
"Aku yang kurang hati-hati,"
Katanya menghibur.
"seharusnya aku memberi beberapa butir obat penolak ini kepadamu untuk penjagaan. Yang datang tadi adalah orang-orang yang cukup pandai, sungguhpun bukan merupakan lawan yang harus ditakuti."
Kemudian Goat Lan menceritakan bahwa yang datang adalah dua orang hwesio dan seorang tosu.
"Aku tidak dapat melihat jelas wajah mereka,"
Kata gadis gagah ini.
"apalagi yang memasuki kamarmu. Hanya kulihat ia adalah seorang berpakaian seperti tosu. Aku hanya berhasil menendang roboh seorang hwesio, sayang bahwa mereka telah dapat melarikan diri. Gerakan mereka cukup cepat dan ringan sekali."
"Sudah terang bahwa maksud kedatangan mereka itu untuk mencuri dan mencari obat yang kaubawa,"
Kata Hong Beng.
"Agaknya mereka itu bukan kaki tangan perwira yang galak tadi."
"Kukira juga bukan,"
Jawab Goat Lan, mungkin sekali mereka adalah ahli-ahli obat yang iri hati kepada mendiang Suhu, dan hendak merampas obat agar supaya nama Suhu tetap tercemar."
"Dugaanmu betul. Melihat asap beracun tadi, tentulah mereka itu memiliki kepandaian tentang obat-obatan. Mungkin juga mereka hendak mencuri obat agar mereka dapat mengobati putera Kaisar dan merekalah yang akan berjasa."
Baca Juga: Cinta Bernoda Darah 6
Baca Juga: Sepasang Pedang Iblis 8