Eps 7 Pusaka Gua Siluman - Kho Ping Hoo
Baca online Pusaka Gua Siluman - Kho Ping Hoo
Cersil Pusaka Gua Siluman - Kho Ping Hoo.
"Pek-kong-sin-ciang adalah pukulan mengandung racun yang amat berbahaya dan kiranya selain Bu-lohiap sendiri, tidak dapat diobati lagi. Bu-lohiap adalah seorang yang menjunjung tinggi patriot rakyat, oleh karena ini Liem-hiante sebagai anggauta Tiong-gi-pai kalau suka pergi kepadanya dan mintakan obat untuk kami, tentu akan dapat menolong nyawa kami. Han Sin mengangguk-agguk. Sekarang ia mengerti maksud tuan rumah ini. Dia disuruh menghadap Bu-lohiap (pendekar tua she Bu) untuk mintakan obat tiga orang ini! Pekerjaan yang mudah, pikirnya dan pula, setelah di sini terdapat pendekar tua she Bu yang jauh lebih lihai dari pada tiga orang ini, sungguh kebetulan sekali. Tanpa mereka mintapun ia ingin pergi menemui pendekar tua itu untuk menyampaikan pesan Tiong-gi-pai! Cepat ia menyanggupi permintaan Ciong Thai. Pada saat itu muncullah Souw Lee Ing seperti telah diceritakan di bagian depan. Mendengar penuturan Han Sin ini, Lee Ing mengangguk-angguk dan tahulah ia kini mengapa Han Sin bersikap demikian aneh.
"Ah, kiranya begitukah? Orang-orang itu memang menderita luka hebat dan tinggal menunggu mati, akan tetapi mengapa sikap mereka masih begitu angkuh dan aneh? Benar-benar memualkan perut!"
Akhirnya Lee Ing berkata.
"Nona Souw, memang demikianlah sikap orang orang kang-ouw, selalu aneh. Kalau mereka ini sudah demikian aneh, apa lagi orang tua she Bu itu. Oleh karena itu, aku yang bodoh merasa khawatir juga menghadapinya dan kalau seandainya kau sudi, aku sangat mengharapkan bantuanmu untuk menyertaiku mendatangi orang tua she Bu itu."
Suara Han Sinn terdengar penuh permohonan dan sinar matanya memandang penuh harap. Lee Ing tersenyum, lalu menarik napas panjang.
"Aku sendiri sih, tidak tertarik oleh urusan perang segala macam. Akan tetapi karena Tiong-gi-pai amat membela nama baik ayahku, pula mengingat persahabatan kita, biarlah kali ini aku menemanimu ke rumah orang she Bu itu. Apa. kau sudah tahu di mana rumahnya?"
Pada saat itu, Thio Sam dan Ho Kai Beng muncul membawa senjata masing-masing. Mereka datang dan berdiri tegak di depan Han Sin dan Lee Ing. Melihat mereka. Lee Ing tertawa mengejek dan berkata.
"Apa kalian muncul untuk menerima gebukan-gebukan lagi?"
"Tidak, nona. Kami diperintah untuk mengantar ji-wi ke rumah Bu-lohiap,"
Jawab Ho Kai Beng penuh hormat sambil menjura di depan Lee Ing.
Lenyap sikapnya yang keras tadi dan kini ia takluk betul-betul kepada Lee Ing.
Han Sin sendiri sampai heran melihat hal ini, karena ia tahu betul bahwa dua orang pembantu keluarga Ciong itu berkepandaian tinggi dan berwatak galak.
Akan tetapi mendengar kata-kata sindiran Lee Ing, ia dapat menduga bahwa mereka tentu sudah menerima hajaran dari nona ini.
Makin kagumlah ia terhadap Lee Ing yang belum ia ketahui sampai di mana kehebatan ilmu kepandaiannya.
"Mari kita pergi agar urusan lekas beres!"
Kata Lee Ing berdiri dari bangkunya..
Berangkatlah mereka keluar dari rumah itu dan dapat dibayangkan keanehan watak tuan rumah yang sama sekali tidak muncul untuk mengantar orang-orang yang hendak mencari obat guna menolong mereka!
Siapakah sebetulnya yang disebut Pck-kong-sin-ciang Bu-lohiap dan mengapa terjadi permusuhan antara dia dengan keluarga Ciong?
Mari kita melihat keadaan pendekar tua ini yang sebetulnya adalah seorang tokoh besar yang sangat terkenal di daerah selatan, merupakan seorang di antara tokoh-tokoh nomor satu di selatan.
Kurang lebih dua puluh lima li jauhnya dari Lembah Yang-ce-kiang itu, di sebelah utara Telaga Tung-ting, terdapat sebuah dusun nelayan dan di sinilah tempat tinggal Pek-kong-sin-ciang yang bernama Bu Kam Ki.
Tokoh ini memang seorang nelayan, hidup sebagai nelayan miskin, akan tetapi terkenal sebagai seorang sakti yang berwatak aneh.
Dia hidup di dusun itu bersama seorang anak gadisnya bernama Bu Lee Siang yang sudah berusia tujuhbelas tahun, seorang gadis remaja yang biarpun tidak berapa cantik, bertubuh langsing dan berkepandaian tinggi.
Selain anak perempuannya, juga di situ terdapat beberapa orang nelayan kasar yang menjadi pembantu dan pelayan.
Melihat keadaan mereka yang amat sederhana, orang takkan mengira bahwa kakek itu, juga anaknya, malah pelayan-pelayannya pula, adalah orang-orang berilmu silat tinggi yang sukar dicari bandingannya di wilayah itu.
Bu Kam Ki memang sengaja hidup sederhana setelah dahulu, belasan tahun yang lalu, ia gagal dalam usahanya mengguncangkan pemerintah Mongol yang ketika itu masih amat kuat.
Oleh karena memang ia berjiwa patriot, biarpun ia bersembunyi dari kejaran pemerintah Mongol, diam-diam ia selalu memperhatikan dan ketika pemerintah Mongol roboh, kakek ini mengadakan pesta besar di rumahnya, mengundang semua tetangganya!
Bu Lee Siang gadis berkepandaian tinggi yang semenjak kecilnya hidup sebagai seorang gadis nelayan, berjiwa sederhana dan tidak banyak tingkah.
Oleh karena itu ia menerima dengan senang hati ketika ayahnya mencalonkan ia sebagai isteri seorang pemuda nelayan pula bernama Lai Seng, seorang pemuda yang jujur dan cukup tampan.
Setelah hidup sederhana sebagai nelayan miskin.
Bu Kam Ki yang dahulunya amat terkenal di dunia kang-ouw, melihat betapa penghidupan rakyat kecil jauh lebih bersih dan murni dari pada penghidupan orang-orang kota dan bangsawan-bangsawan berikut pembesar-pembesarnya.
la maklum bahwa kalau puteri tunggalnya menjadi isteri seorang nelayan sederhana, puterinya itu akan mengalami hidup sederhana namun tenteram, damai, dan penuh kebahagiaan sejati.
Tidak seperti kehidupan wanita-wanita bangsawan dan kaya raya di kota-kota yang hidupnya tidak sewajarnya lagi, penuh kepalsuan dan nafsu duniawi.
Agaknya memang sudah takdirnya akan terjadi keributan, pada suatu hari nelayan muda Lai Seng yang sedang membetulkan jala di pinggir Telaga Tung-ling, tiba-tiba ditegur oleh suara halus seorang wanita.
"Aku mau menyewa perahumu berkeliling di telaga, bisakah kau mengantarkan dan sewanya berapa?"
Lai Seng mengangkat muka dan melihat seorang wanita cantik manis berpakaian indah berdiri tegak memandangnya dengan senyum dikulum dan kerling mata menyambar tajam.
Sekali pandang Lai Seng tahu bahwa wanita ini tentu orang kota, dapat dilihat dari bibirnya yang diberi cat merah dan alisnya yang ditambahi warna hitam, mungkin dengan angus dari pantat kwali.
"lni perahu nelayan untuk mencari ikan, nona, tidak disewakan. Bukan perahu pesiar,"
Jawab Lai Seng tidak acuh lagi sambil melanjutkan pekerjaannya menambal jala yang pecah.
"Apa salahnya? Mencari ikan berarti mencari uang, menyewakan perahu juga mendapat uang. Aku berani membayar lima tail untuk berputar-putar selama dua tiga jam. Setelah kau mengantarkan aku putar-putar, kau masih banyak waktu mencari ikan, bukan? Malah, kalau kau mau. kau boleh sekalian menjala ikan, aku ingin menonton. Wanita itu mengeluarkan uang lima tail dan melemparkannya di depan Lai Seng. Tergerak hati pemuda nelayan ini. Uang lima tail sungguh tidak mudah ia dapatkan. Dan lagi, kalau sambil mengantar wanita pesolek ini putar telaga ia masih boleh menjala ikan, lumayan juga, la perlu mendapatkan hasil lebih banyak, perlu mengumpulkan uang setelah hari pernikahannya makin mendekat, kurang lima bulan lagi.
"Jadilah, akan tetapi perahuku buruk, harap nona jangan menyesal dan mencela nanti."
Ia mengantongi uang itu lalu membersihkan perahunya.
Ketika ia mempersilahkan nona itu menaiki perahunya, ia melihat nona itu melompat dengan gerakan seperti burung walet saja ringannya.
Mengertilah ia sekarang mengapa nona ini melakukan perjalanan seorang diri.
Kiranya seorang wanita kang-ouw, yang memiliki kepandaian.
Ia tidak heran sama sekali karena dia sendiri juga banyak mendapat petunjuk tentang ilmu silat dari calon mertuanya, bahkan tunangannya adalah seorang gadis yang memiliki ilmu silat luar biasa tingginya.
Betul saja dugaannya ketika nona itu duduk di atas perahunya, ia melihat pedang tergantung di bawah baju.
Akan tetapi Lai Seng tidak curiga atau takut, karena biarpun ia seorang nelayan miskin, melihat pedang dan ilmu silat bukan hal baru baginya.
Siapakah wanita ini?
Bukan lain dia adalah Bu-eng-sin-kiam Giam Loan, isteri Ciong Thai yang amat genit dan cabul.
Wanita ini memang sering kali berpelesir ke tempat-tempat indah dan kadang-kadang ditemani oleh adik iparnya, Ciong Sek yang selain menjadi adik ipar juga menjadi kekasihnya.
Giam Loan dan Ciong Sek memang cocok sekali, seperti keranjang dengan sampahnya.
Mereka berpesiar dan kalau sudah merasa bosan satu kepada yang lain, lalu mencari jalan masing-masing, mencari hiburan sendiri-sendiri.
Demikianlah, selelah kenyang berpesiar berdua di Telaga Tung ting, kmi Ciong Sek pelesir di dalam sebuah perahu bersama dua orang wanita penyanyi, sedangkan Giam Loan keluyuran mencari korban baru.
Akhirnya ia melihat Lai Seng, pemuda nelayan yang beriubuh sehat kuat, kulitnya agak kecoklatan karena setiap hari terbakar matahari, pemuda sederhana yang cukup tampan sehingga menggerakkan hari Giam Loan yang kotor.
Tadinya perahu Lai Seng yang ditumpangi dan disewa oleh Giam Loan itu nampak bergerak tenang dan biasa saja, ke sana ke mari di antara perahu-perahu yang berada di telaga itu.
Akan tetapi, kurang lebih satu jam kemudian, terdengar ribut-ribut dari perahu itu.
Lai Seng berdiri di kepala perahu dan mengeluarkan suara keras.
"Tak tahu malu! Siapa sudi menurutkan kehendakmu yang kotor? Kau mau memaksa saja mengandalkan apa sih? Kau kira aku takut? Hayo kuantar kau mendarat dan minggat dari perahuku, uang kotormu boleh kau bawa lagi!"
Ternyata bahwa setelah berada di perahu, Giam Loan mencoba untuk membujuk pemuda nelayan itu, merayu dan memikatnya.
Akan tetapi kali ini ia bertemu dengan batu karang yang kuat.
Lai Seng menolak keras, mula-mula dengan halus dan bersifat mengingatkan agar wanita cabul itu tidak melanjutkan usahanya yang menjijikkan.
Akan tetapi ketika Giam Loan dengan tak tahu malu malah mengeluarkan ancaman bahwa kalau Lai Seng menolak akan dibunuhnya, Lai Seng tak dapat menahan kemarahannya lagi, la lalu memaki-maki dan cepat mendayung perahunya ke pinggir.
Dapat dibayangkan betapa malunya hati Giam Loan.
Akan tetapi ia menahan sabar karena maklum bahwa kalau bertempur di perahu, sekali pemuda itu melompat ke air dan menggulingkan perahu ia akan celaka.
Di darat ia boleh garang dan ganas, akan tetapi di dalam air tanpa diapa-apakan ia akan mati sendiri.
Lebih-lebih malunya ketika perahu sudah mendekati daratan, Giam Loan melihat Ciong Sek sudah berada disitu, tertawa-tawa gembira menunggunya setelah puas berpelesir dengan perempuan-perempuan tukang menyanyi di dalam perahu pesiar.
Giam Loan takut kalau-kalau Lai Seng pemuda nelayan itu akan membikin malu padanya di daratan maka begitu ia melompat turun setelah Lai Seng keluar lebih dulu, ia segera menyerang pemuda itu dengan pukulan keras.
Lai Seng pernah menerima sedikil pelajaran ilmu silat dari calon mertuanya, maka pukulan ini dapat ia hindarkan dengan elakan cepat, lalu ia memaki.
"Perempuan tak tahu malu...!"
Cong Sek yang melihat kekasihnya atau kakak iparnya berkelahi dengan tukang perahu, cepat menghampiri dengan lompatan-lompatan jauh.
"Anjing ini mencoba berlaku kurang ajar kepadaku!"
Kata Giam Loan mendahului.
Tentu saja Ciong Sek marah bukan main dan cepat menyerang.
Biarpun pernah dapat petunjuk dari seorang jago tua kang-ouw yang lihai, namun Lai Seng semenjak kecilnya tidak belajar silat, hanya setelah menjadi tunangan Bu Lee Siang saja ia belajar sedikit ilmu silat, itupun belum ada satu tahun.
Mana ia mampu menghadapi lawan pandai seperti Giam Loan atau Ciong Sek?
Dalam beberapa gebrakan saja ia sudah menjadi bulan-bulan pukulan Ciong Sek dan tendangan Giam Loan!
"Lekas berlutut dan minta ampun tujuh kali, baru aku takkan membunuhmu!"
Bentak Giam Loan yang sebetulnya tidak bermaksud membunuh pemuda ini, hanya ingin membalas dan membikin malu.
Akan tetapi Lai Seng adalah seorang pemuda jujur kasar yang berhati keras dan tak kenal takut.
Biarpun ia disiksa dan seluruh tubuhnya sakit-sakit, ia tidak sudi minta ampun, malah memaki-maki.
"Anjing buduk! Kau memang sudah bosan hidup!"
Bentak Ciong Sek yang mengirim pukulan dengan keras yang tepat mengenai kepala Lai Seng.
Pemuda nelayan ini terlempar lalu terpelanting dan roboh tak berkutik lagi, tewas!
Pada saat itu terdengar jeritan keras dan marah.
Seorang gadis muda berpakaian sederhana, agaknya gadis nelayan, bertubuh langsing dan gerakannya ringan sekali, datang berlari-lari.
Inilah Bu Lee Siang, gadis berusia tujuh belas tahun yang menjadi tunangan Lai Seng.
Inilah puteri tunggal Pek-kong-sin-ciang Bu Kam Ki.
Melihat tunangannya menggeletak dengan kepala pecah.
Bu Lee Siang marah bukan main.
"Jahanam laki perempuan dari manakah berani membunuh dia?"
Teriaknya dengan muka pucat saking marahnya. Ciong Sek si mata keranjang melihat gadis muda ini marah-marah, tersenyum sambil melangkah maju.
"Eh. nona, jangan galak-galak kau, kalau galak hilang manismu! Mari ikut saja dengan aku orang she Ciong untuk bersenang-senang!"
Sementara itu, Giam Loan yang tadi dihina dan dibikin malu, masih panas hatinya. Kini melihat ada seorang gadis nelayan datang-datang memaki, ia lalu bertolak pinggang dan berkata.
"Aku Bu-eng-sin-kiam Giam Loan yang membunuh anjing laki-laki, kau anjing betina apakah sudah bosan hidup pula?"
Dapat dibayangkan betapa marahnya hati Bu Lee Siang.
Ia menjerit nyaring dan maju menyerang sambil mencabut sebuah pisau pemotong ikan di tangan kiri.
Kepandaian Lee Siang hebat sekali dan ayahnya telah sengaja menciptakan semacam ilmu silat senjata yang luar biasa, yaitu dengan sebatang pembelek perut ikan dan sebuah jala kecil, sesuai dengan pekerjaan puterinya kelak sebagai isteri nelayan.
Tadinya Gam Loan dan Ciong Sek memandang ringan.
Apa sih yang perlu ditakuti dari seorang gadis nelayan saja?
Akan tetapi begitu gadis itu bergerak, pisaunya menyambar ke arah lambung Giam Loan dan jalanya terbuka menyambar kepala Ciong Sek, dua orang ini terkejut bukan main.
Dua senjata ini datangnya cepat dan kuat sekali, mendatangkan angin pukulan yang dahsyat.
Tak berani lagi Ciong Sek dan Giam Loan memandang rendah Mereka cepat melompat mundur agak jauh sambil mengeluarkan senjata masing-masing.
Giam Loan mencabut keluar sebatang pedang yang sinarnya kehijauan menandakan bahwa itu adalah sebatang pedang pusaka, sedangkan Ciong Sek mencabul keluar siang-kiam (pedang sepasang).
Namun Lee Siang sama sekali tidak menjadi gentar dan menyerbu terus dengan sepasang senjatanya yang dapat digerakkan secara istimewa.
Segera terjadi pertempuran yang hebat dan kembali dua orang itu terkejut karena mendapat kenyataan bahwa gadis nelayan ini benar benar hebat kepandaiannya.
Mereka mulai khawatir dan menduga-duga.
"Lekas beritahukan Bu-taihiap! Bu-lihiap bertempur dengan dua orang kota!"
Terdengar suara beberapa orang nelayan yang menonton pertempuran itu. Mendengar seruan ini, semangat Ciong Sek dan Giam Loan seperti terbang meninggalkan raga. Mereka menjadi pucat.
"Tahah dulu!"
Kata Ciong Sek.
"Apakah nona ini puteri Bu-lohiap?"
"Jahanam keparat! Aku Be Lee Siang, kau tunggulah nonamu membalas dendam ini!"
Bentak Lee Siang menyerang lagi.
"Akan tetapi kami tidak bermusuhan dengan keluarga Bu-lohiap! Maafkan, kami tidak mau melawan lebih lama lagi,"
Kata pula Ciong Sek sambil memberi isyarat kepada Giam Loan untuk menyimpan senjata.
"Kalian sudah membunuh dia, masih bilang tidak ada permusuhan?"
Bentak Lee Siang, hampir tak dapat menahan kemarahannya.
"Siapa.. siapakah dia.....?"
Giam Loan bertanya perlahan sambil memandang ke arah mayat Lai Seng.
Lee Siang tidak menjawab, sepasang senjatanya bergerak-gerak di tangannya, wajahnya pucat matanya bersinar-sinar.
Seorang nelayan tua mewakilinya menjawab pertanyaan Giam Loan itu.
"Dia Lai Seng, calon mantu Bu-lohiap!"
Kalau ada halilintar menyambar mereka, kiranya dua orang itu takkan begitu kaget seperti ketika mendengar jawaban ini.
"Celaka, kita kesalahan membunuh orang. Bu-siocia, perkara ini harus dibicarakan secara damai, kita... kita tidak bersalah..."
Kata Ciong Sek gugup. Akan tetapi Lee Siang sudah menyerang lagi. Ciong Sek melompat mundur dan berkata kepada Giam Loan.
"Kita pulang dulu, kelak damaikan urusan ini...!"
Dua orang itu cepat lari, dikejar oleh lee Siang.
Akan tetapi Ciong Sek dan Giam Loan sudah sampai di tempat kuda mereka yang segera mereka tunggangi dan kaburkan dari tempat berbahaya itu Lee Siang yang tidak mempunyai kuda tidak berdaya mengejar, lalu kembali dan menangisi mayat tunangnannya.
Sepasang alis putih itu bergerak-gerak naik turun, sepasang matanya mengeluarkan cahaya menakutkan.
Pek-kong-sin-ciang Bu Kam Ki mengangkat bangun puterinya dan berkata.
"Sudahlah, orang yang sudah mati takkan hidup lagi biar kau tangisi dengan air mata darah Mati hidup sudah ditentukan oleh Yang Maha Kuasa Aku tahu siapa Bu eng Sin-kiam itu, dia isteri Ciong Thai yang tinggalnya tidak jauh dari sini Iaki-laki muda itu mungkin adiknya. Aku akan menyusul ke sana."
"Aku ikut, ayah. Biar kuhancurkan kepala mereka!"
Lee Siang berkala penuh geram.
"Tak usah, jangan kau mengotorkan tanganmu dengan permusuhan. Percayalah, ayahmu akan membereskan urusan ini."
Pek-kong-sin-cang Bu Kam Ki yang sudah tua itu dapat menahan kesabarannya dan ia lalu pergi menyusul dua orang tadi pergi ke tempat tinggal jago lembah Sungai Yang-ce bagian barat, yaitu Sin-jiu Ciong Thai.
la pergi seorang diri tanpa membawa senjata.
Kedatangannya disambut oleh Ciong Thai sendiri bersama isteri dan adiknya.
Ciong Thai sudah diceritai oleh isterinya, tentu saja dengan bohong.
Giam Loan bercerita bagaimana Lai Seng mencoba untuk berlaku kurang ajar kepadanya, maka ia menegur dan mendampratnya, lalu Lai Seng malah marah memaki-maki sampai terjadi pertempuran.
"Kalian tentu sudah maklum apa keperluanku datang ke tempat ini,"
Kata Bu Kam Ki dengan suara perlahan namun membuat jantung tiga orang itu berdebar gelisah.
"Hayo ceritakan terus terang mengapa calon mantuku yang bodoh itu dibunuh."
"Bu-lohiap, aku... aku hanya membantu soso (kakak ipar). Melihat so-so dihina orang, tentu saja aku turun tangan, sama sekali tidak mengira bahwa dia itu calon mantumu.."
Kata Ciong Sek mendahului untuk membebaskan diri, karena sesungguhnya dialah yang memukul pemuda Lai Seng sampai mati. Bu Kam Ki menatap wajah Giam Loan dan berkata keren.
"Ceritakan yang jelas."
"Bu-lohiap, sesungguhnya pemuda itu yang bersalah. Aku menyewa perahunya dan minta dia mengantarku berpesiar di Telaga Tung-ting. Eh, tidak tahunya pemuda itu hendak berlaku kurang ajar padaku di tengah telaga. Tentu saja aku marah dan memakinya. Ia lalu marah pula, dan hendak menggunakan kekerasan. Kami bertengkar dan aku minta dia mendaratkan perahu. Sesampai di daratan, baru aku berani memukul dan memakinya. Dia melawan, lalu terjadi pertempuran sampai dia menemui ajalnya. Sungguh aku tidak pernah menyangka dia itu masih ada hubungan keluarga dengan kau orang tua, kalau aku tahu pasti takkan terjadi perkara itu. Malah aku tentu takkan menyewa perahunya. Sepasang mata tua itu menatap tajam seperti hendak menembus wajah Giam Loan dan menjenguk isi hatinya. Diam-diam Giam Loan berdebar dan mengkirik. Akan tetapi demi keselamatannya dan menjaga nama baiknya, ia menentang pandang mata kakek itu dengan berani seperti orang yang betul-betul tidak mempunyai kesalahan dalam perkara itu.
"Harap Bu-lohiap suka mempertimbangkan dengan baik-baik,"
Kata Sin-jiu Ciong Thai.
"isteriku dihina laki-laki yang tak dikenalnya menjadi marah sampai terjadi pertempuran dan laki-laki itu tewas. Hal ini sesungguhnya bukan kesalahan isteriku dan adikku membantu iparnya adalah kewajibannya untuk menjaga nama dan kehormatan keluarga. Hanya menyesal sekali yang terbunuh itu adalah pemuda calon mantumu. Untuk peristiwa ini benar-benar aku menyatakan menyesal sekali dan bersedia melakukan apa saja untuk meringankan kedukaan keluargamu."
Bu Kam Ki masih memandang tajam kepada Giam Loan, mengangguk angguk dan berkata.
"Hemmm, isterimu ini memang masih muda, cantik dan genit. Tidak amat mengherankan kalau ada orang muda tertarik oleh lagaknya. Akan tetapi.. Lai Seng itupun seorang pemuda yang tampan dan gagah, masih muda lagi. Kalau dibandingkan, dia menang banyak dari kau atau adikmu ini. Dalam perkara itu. siapa tahu apa yang terjadi sesungguhnya di tengah telaga? Hanya telaga bisa menjadi saksi, Aku sayang sekali tidak mau bertindak tanpa bukti-bukti terang. Yang sudah mati takkan kembali, perlu apa ditambah kematian yang tidak jelas sebab-sebabnya? Ciong Thai, perkara sudah menjadi begini. Kau sekeluarga menjaga keselamatan dan aku menjaga nama baik. Kalau kau. isterimu, dan adikmu suka datang bersembahyang di depan peti mati jenazah Lai Seng untuk minta ampun, kemudian berlutut di depan Lee Siang minta ampun pula, aku orang tua akan menghabiskan urusan sampai di sini saja."
Berat sekali permintaan ini bagi Sin-jiu Ciong Thai.
Diapun meragukan kebenaran cerita isterinya, akan tetapi oleh karena tidak ada bukti, dan pula memang ia harus pula menjaga nama baiknya sendiri, ia tentu membela isterinya.
Kalau sekarang kakek itu menyuruh dia sekeluarga minta-minta ampun, bukankah itu sama artinya dengan mengakui kesalahan di depan orang banyak?
"Permintaanmu terlampau berat, Bu-tohiap.
Ini menyangkut soal nama dan kehormatan, aku orang she Ciong mana bisa melakukannya?"
"Calon mantuku sudah mati, kalian yang membunuhnya. Aku yang mempunyai hak menuntut sesuatu, Kalau kalian tidak mau melakukan permintaanku dengan suka rela, terpaksa akan kulakukan paksaan,"
Jawab Pek-kong-sin-ciang Bu Kam Ki dengan suara keras dan tegas.
Nama besar Pek-kong-sin-ciang Bu Kam Ki sudah amat terkenal dan keluarga Ciong ini juga sudah lama mendengar nama ini, Akan tetapi Sin-jiu Ciong Thai juga bukan seorang biasa saja, ia sudah membuat nama besar di dunia persilatan, biarpun ia sudah mendengar tentang Pek-kong-sin-ciang yang hebat, namun ia sendiri juga terkenal akan ilmu silat tangan kosongnya dan memiliki beberapa pukulan ampuh, di antaranya yang amat ia andalkan adalah Tok-see-jiu (Tangan Pasir Beracun), semacam pukulan khusus yang selain mempergunakan tenaga lweekang, juga mengandung hawa beracun karena ketika melatihnya dulu tangannya dipakai menampari pasir panas beracun.
Selain dia sendiri, Ciong Thai juga maklum akan kelihaian isterinya sebagai ahli pedang Go bi-pai dan ketangguhan adiknya yang memiliki ilmu pedang pasangan yang tak boleh dibilang lemah.
Mengingat akan ini semua, tentu saja jawaban Bu Kam Ki itu memanaskan perutnya dan membuai ia tiba-tiba bersikap dingin dan kaku.
"Bu-lohiap. kau orang tua benar-benar agak keterlaluan terhadap kami. Kami tidak merasa bersalah, bagaimana kami mau disuruh berlutut minta ampun di depan umum? Kami menolak permintaanmu dengan halus, kau hendak menggunakan paksaan. Bagaimana kau bisa memaksa kami?"
Bu Kam Ki tertawa bergelak.
"Orang she Ciong, manusia seperti aku mana bisa disamakan dengan engkau? Biarpun aku hidup miskin seperti nelayan, akan tetapi namaku bersih tak pernah tercemar seperti namamu, juga nama Bu-eng-sin-kiam bukanlah nama yang bersih dan harumi Biarpun tidak bisa melihat bukti-buktinya, orang yang berurusan dengan isterimu sudah dapat disangka siapa yang salah. Kalau aku hendak menggunakan paksaan, kalian bisa membantah bagaimana lagikah?"
Ciong Thai melompat bangun.
"Bagus. Orang she Bu benar-benar sombong. Coba hendak kami lihat bagaimana kau bisa memaksa kami?"
Bu Kam Ki mengeluarkan suara ketawa menyeramkan, kemudian tubuhnya bergerak maju dan mulutnya membentak.
"Mau tahu? Lihatlah pukulanku!"
Ciong Thai, Giam Loan, dan Ciong Sek melihat sinar putih menyambar-nyambar ke arah mereka, hawanya panas sekali.
Mereka cepat mencabut senjata masing-masing sambil mengelak lalu menerjang maju.
Akan tetapi mereka disambut oleh hawa pukulan Pek-kong sin ciang yang amat hebat.
Baru melihat berkelebatnya sinar putih dan merasakan panasnya saja membuat mereka tak kuat menahan dan kacau gerakan-gerakan mereka.
Hampir bersamaan waktunya, Giam Loan roboh disusul Ciong Thai kemudian Ciong Sek.
Ketiganya telah terluka oleh pukulan Pek kong-sin ciang yang amat lihai.
Pukulan ini tak usah mengenai kulit lawan, langsung hawa pukulannya menembus kulit dan mengakibatkan luka mengandung racun yang amat berbahaya.
Bu Kam Ki tersenyum mengejek "Kalian hanya akan hidup lima hari lagi Dalam lima hari aku menanti kunjungan kalian untuk memenuhi permintaanku lagi.
Aku bukan seorang keji yang bisa mencabut nyawa orang begitu saja.
Kalau kalian suka memenuhi permintaanku, aku sanggup mengobati luka-luka kalian."
Setelah berkata demikian, kakek yang kosen itu meninggalkan mereka dalam keadaan luka hebat di sebelah tubuhnya.
Dari luar mereka tidak kelihatan terluka.
akan tetapi di sebelah dalam mereka menderita luka yang tak dapat disembuhkan lagi kecuali oleh pemukulnya.
Demikianlah, tiga orang itu bingung dan gelisah sekali.
Ciong Thai berkeras tidak mau melakukan permintaan Bu-lohiap karena memang dia tidak merasa bersalah.
Seorang tokoh besar seperti dia, masa untuk membela nyawa saja harus berlutut minta-minta ampun di depan umum sedangkan dia tidak merasa bersalah apa-apa?
Adapun Ciong Sek dan Giam Loan, tidak berani mereka melakukan hal ini di luar persetujuan Ciong Thai.
Kebetulan sekali Han Sin datang.
Ketika mendengar bahwa Han Sin itu murid Im-Yang Thian-Cu dan utusan Tiong-gi-pai, Ciong Thai timbul lagi harapannya dan minta tolong kepada pemuda ini supaya suka mintakan obat kepada Bu-lohiap, sebagai balasan janjinya kelak akan membantu gerakan Tiong-gi-pai.
Ia maklum bahwa Bu Kam Ki dahulunya seorang pejuang dan tentu kakek itu memandang tinggi sekali kepada orang-orang Tiong-gi-pai.
Seperti telah kita ketahui, Han Sin yang maklum akan beratnya tugas ini, mengingat bahwa kakek she Bu itu bukan seorang sembarangan, minta tolong kepada Lee Ing untuk membantunya.
Sebetulnya Lee Ing tidak suka kepada keluarga Ciong itu dan hendak mengajak pergi Han Sin meninggalkan tempat itu dan membiarkan mereka mampus karena luka-lukanya, akan tetapi Han Sin adalah seorang laki-laki sejati, selain ia harus memenuhi tugas sebagai utusan Tiong-gi-pai mencari bantuan.
juga ia sudah berjanji untuk coba membantu keluarga itu.
Andaikata Lee Ing tidak mau, tentu pemuda itu akan nekat pergi sendiri.
Mana Lee Ing tega membiarkan dia pergi sendiri?
Thio Sam dan Ho Kai Beng, dua orang murid atau kaki tangan Ciong Sek, sudah menjemput untuk mengantar Han Sin ke tempat tinggal Bu Kam Ki.
Berangkatlah mereka menunggang kuda yang sudah disediakan oleh tuan rumah.
Karena letak kampung dekat Telaga Tung-ting tempat tinggal Bu Kam Ki hanya terpisah dua puluh lima li, sebentar saja mereka telah memasuki kampung itu.
"Kita turun di sini dan berjalan kaki,"
Kata Han Sin yang segera diturut oleh dua orang kaki tangan Ciong Sek.
"Hemm, perlu apa sih pakai banyak peraturan? Seperti menghadap pembesar tinggi saja!"
Kata Lee Ing tak puas melihat sikap pemuda itu yang selalu menghormat Bu-lohiap.
"Bukan begitu, nona Souw. Aku datang untuk mintakan maaf dan mintakan obat, sudah sepatutnya aku menghormati tuan rumah, apa lagi keluarga Bu sedang berkabung,"
Jawab Han Sin merendah.
"Hemmm....."
Lee Ing tidak puas sekali melihat sikap Han Sin yang dianggapnya terlampau merendahkan diri dan terlampau lemah, la merasa heran mengapa pemuda yang menghadapi Tok-ong Kai Song Cinjin sedikitpun tak merasa gentar yang menghadapi bahaya maut dengan sikap jantan dan mengagumkan, sekarang untuk menolong nyawa tiga orang keluarga Ciong itu rela berlaku begini hormat dan merendah, sampai-sampai harus turun dari kuda begitu memasuki kampung tempat tinggal keluarga Bu!
"Kau mau berjalan kaki, sesukamulah.
Aku tidak mau turun dari kuda sebelum sampai tempatnya!"
Katanya singkat dan Han Sin juga tidak berani menyuruh turun karena pemuda itu mengajak Lee Ing dengan maksud supaya ia jangan sampai terpisah dari nona yang telah merampas hatinya ini, sama sekali ia tidak mengandalkan kelihaian gadis ini untuk memenuhi tugasnya.
Ia diam saja dan berjalan terus, diikuti oleh Thio Sam dan Ho Kai Beng yang juga berjalan kaki sambil menuntun tiga ekor kuda mereka.
Bu Kam Ki adalah seorang kakek yang amat disegani dan dihormati di dusunnya.
Kematian calon mantunya ternyata membuat dusun itu nampak sunyi karena semua penduduk ikut berkabung dan berbelasungkawa.
Kedatangan empat orang ini amat menarik perhatian, apa lagi karena keadaan mereka yang agak ganjil.
Yang wanita muda belia dan berwajah cantik jelita berseri-seri, menunggang kuda lambat-lambat dan di sebelahnya berjalan seorang pemuda tampan diikuti dua orang tinggi besar yang menuntun kuda.
Bu Kam Ki adalah seorang tokoh kang-ouw yang ternama.
Biarpun ia tidak aktip lagi di dunia kang-ouw dan hidup sederhana setengah tersembunyi, namun setiap orang kang-ouw yang lewat di tempat itu sudah tentu memerlukan mengunjunginya.
Oleh karena itu orang-orang dusun ini sudah biasa melihat tokoh kang-ouw yang aneh-aneh.
Kini menyaksikan keganjilan empat orang ini merekapun tidak berani membuka mulut.
Biarpun demikian, pandang mata mereka cukup membuat Lee Ing turun dari.
kudanya, menarik napas panjang lalu menuntun kudanya berjalan kaki di sebelah Han Sin.
Pemuda itu melirik, melihat gadis ini cemberut ia menjadi geli.
"Kenapa nona turun dari kuda?"
"Dasar kau yang menjadi gara-gara pakai banyak aturan turun dari kuda segala. Kau turun dan gentong-gentong nasi itupun turun, aku sendiri naik kuda mana patut? Pandang mata semua orang mencela dan menegurku!"
Han Sin menahan senyumnya dan diam-diam makin suka melihat gadis yang memiliki kepandaian yang tak dapat diukur sampai di mana tingginya akan tetapi yang wataknya masih kekanak-kanakan ini.
"Biarkan kami yang menuntun kudamu, nona. Tempatnya sudah dekat, itu di persimpangan jalan membelok ke kanan sedikit,"
Kata Ho Kai Beng dengan sikap hormat.
Dia dan Thio Sam maklum bahwa kali ini menghadapi keluarga Bu yang sudah mengalahkan guru mereka, mereka sendiri tidak berdaya dan hanya mengandalkan pemuda dan terutama nona yang lihai ini.
Betul saja, setelah tiba di jalan persimpangan, menoleh ke kanan sudah terlihat rumah keluarga Bu yang besar sederhana dan di situ sudah banyak orang yang sudah datang, maka Bu Kam Ki yang mengurus jenazahnya, malah kini ditaruh di dalam peti mati di rumahnya pula.
Hal ini sengaja ia lakukan, bukan hanya untuk menolong keluarga Lai yang miskin, juga untuk menanti kedatangan keluarga Ciong yang ia pastikan tentu akan datang kalau mereka masih ingin hidup.
Di depan rumah dipasangi kain putih dan asap hio mengebut terus keluar dari pintu.
Agaknya penduduk dusun cepat sekali melaporkan kedatangan empat orang ini kepada Bu-lohiap oleh karena sebelum tiba di rumah itu, Bu Kam Ki dan puterinya telah muncul dan menyambut jauh di luar rumah dengan sikap keren sekali.
Melihat Thio Sam dan Ho Kai Beng, Bu-lohiap mengenal mereka sebagai orang-orang keluarga Ciong maka ia berkata kepada puterinya.
"Dua orang tinggi besar itu orang-orangnya keluarga Ciong, agaknya mereka ini datang bukan dengan maksud baik."
Dengan kata-kata ini Bu-lohiap hendak memperingatkan puterinya supaya berhati-hati dan tidak bertindak secara sembrono.
Akan tetapi, begitu mendengar kata-kata ayahnya ini Bu Lee Siang sudah melompat maju, memandang kepada dua orang tinggi besar yang menuntun empat ekor kuda itu dan membentak.
"Kalian ini apakah datang mewakili keluarga Ciong?"
Thio Sam dan Ho Kai Beng kaget, lalu Thio Sam yang mengangkat tangan menjura dan berkata.
"Kami berdua hanya murid atau pesuruh."
"Setan, segala macam kantong nasi dikirim ke sini mau apa? Hayo lekas minggat dari sini, suruh guru atau majikan kalian sendiri datang ke sini!"
Thio Sam dan Ho Kai Beng adalah orang-orang kasar yang tidak bisa diperlakukan kasar, bahkan sudah biasa membentak-bentak orang.
Sekarang mereka dibentak-bentak dan dimaki-maki oleh seorang gadis yang menurut pandangan mereka amat sederhana, pakaiannya dari kain kasar putih, matanya kemerahan karena terlampau banyak menangis.
Gadis yang usianya belasan tahun ini saja berani membentak-bentak dan memaki mereka?
Kalau saja di situ tidak ada Bu-lohiap yang mereka tahu amat lihai karena sudah mengalahkan guru mereka, tentu mereka akan memaki gadis muda ini Thio Sam menjawab, suaranya kaku.
"Biarpun hanya murid, akan tetapi kami orang kepercayaan Ciong raihiap, dan..."
"Manusia tiada guna!"
Lee Siang membentak marah, kedua tangannya bergerak dan empat sinar putih menyambar seperti kilat ke depan.
Thio Sam dan Ho Kai Beng terkena, cepat mereka melompat ke samping untuk mengelak dari serangan inr.
Akan tetapi mereka kecele karena yang diserang oleh gadis ini bukan mereka melainkan empat ekor kuda yang segera roboh berkelojotan dan tewas tak lama kemudian.
Sebatang pek kong-ciam (Jarum sinarn putih) mengenainya.
Bukan main marahnya Thio Sam dan Ho Kai Beng.
Mereka meraba gagang senjata dan dengan muka merah Ho Kai Beng berkata.
"Nona, kau keterlaluan sekali. Kalau perlu kami dapat menjaga diri! Biarpun kami hanya murid dan pesuruh, namun telah puluhan tahun kami belajar ilmu silat, sebelum nona terlahir. Bagaimana nona berani menghina kami secara begini keterlaluan?"
Bu Lee Siang membanting-banting kakinya.
"Keluarga Ciong benar-benar harus mampus! Tidak saja tak mau datang sendiri minta ampun, malah menyuruh datang dua ekor babi bau yang mengoceh tidak karuan! Kalau kalian tidak mempunyai kepandaian, mengapa tidak lekas-lekas mencabut senjata itu? Hendak kulihat bagaimana caranya dua ekor monyet mainkan senjata!"
Dimaki babi dan monyet, dua orang yang biasanya berlaku sewenang-wenang mengandalkan kepandaiannya itu tentu saja tak dapat menahan kemarahan yang sudah memuncak.
Mereka melirik ke arah Bu-lohiap yang berdiri sambil memeluk kedua lengan dan sama sekali malah tidak memandang kepada mereka, melainkan memandang ke arah Han Sin dan Lee Ing yang berdiri di pinggiran.
Lee Ing tersenyum geli melihat pertunjukan itu, akan tetapi Han Sin mengerutkan kening tidak senang akan sikap dua orang kasar itu yang tak mau mengalah sebagai utusan yang membutuhkan pertolongan.
"Nona, kami hanya utusan dan tidak ingin mencari perkara. Akan tetapi kalau nona hendak menguji kami, silahkan,"
Jawab Thio Sam yang sudah mencabut sepasang gembolannya.
Dua orang ini tentu tidak akan bersikap demikian galak kalau saja mereka tidak yakin akan kelihaian Lee Ing yang datang bersama mereka.
Mereka ini memang tergolong orang-orang licik yang sudah memperhitungkan semua tindakan secara licik pula.
Menghadapi gadis nelayan dusun ini saja tentu mereka tidak takut dan andaikata kakek she Bu itu turun tangan, bukankah di situ ada pemuda dan gadis yang sudah sanggup hendak menolong majikan mereka?
Memang mereka ini menghendaki supaya obat untuk majikan mereka itu didapatkan dengan bertempur, bukan dengan jalan mengemis.
Sedikit banyak mereka juga merasa panas perut karena majikan mereka telah dilukai.
Di lain fihak, Bu Lee Siang berada dalam keadaan berkabung, hatinya sakit dan sedih kehilangan tunangannya secara demikian menyedihkan.
Tentu saja keadaan seperti itu.
Bu Lee Siang yang pada dasarnya sudah memiliki watak jujur dan keras hati itu, mudah sekali terbakar hatinya dan lebih-lebih lagi menghadapi dua orang utusan musuh-musuhnya.
ia menjadi berang dan tak dapat menahannya.
"Tikus-tikus busuk, jadi kalian minta dihajar? Pergunakan senjata itu baik-baik dan awas, lihat pukulanku!"
Setelah berkata demikian, Lee Siang lalu menerjang maju dengan serangannya, dua tangannya bergerak-gerak melakukan pukulan kilat, pertama ke arah kepala Thio Sam yang kedua kalinya ke arah lambung Ho Kai Beng.
Serangan-serangannya ini dilakukan dengan amat cepatnya.
Melihat puterinya mempergunakan Pek-kong-sin-ciang untuk menyerang dua orang lawannya.
Bu Kain Ki mengerutkan kening dan memperingatkan.
"Siang-ji, ingat mereka itu hanya pesuruh-pesuruh biasa, jangan bunuh mereka."
Lee Siang tidak menjawab, hanya melanjutkan serangannya yang dahsyat, akan tetapi ayahnya melihat bahwa puterinya itu tidak mempergunakan Pek-kong-sin-ciang lagi maka ia bernapas lega.
Sikap ayah dan anak ini mendatangkan rasa kagum dalam hati Souw Lee Ing dan Liem Han Sin.
Sekaligus memperlihatkan kegagahan dan watak kakek itu karena dalam peringatan itu kakek itu agaknya yakin bahwa dua orang itu bukan tandingan puterinya, padahal dua orang kepercayaan keluarga Ciong itupun bukannya orang-orang lemah.
Pula memperlihatkan bahwa sebetulnya kakek Bu bukannya orang kejam yang suka membunuh orang secara sembarangan.
Sementara itu, gadis she Bu itu sudah dikeroyok dua.
Ruyung dan gembolan menyambar-nyambar dahsyat, rupanya dua orang itu hendak menebus kekalahan majikan mereka dan "membalaskan dendam"
Kepada gadis she Bu ini.
Di samping itu, mereka merasa malu kalau sampai kalah.
Mengeroyok seorang gadis bertangan kosong, berdua dengan senjata saja sebetulnya sudah merupakan , hal yang menjatuhkan nama mereka.
Akan tetapi hal ini bukan kehendak mereka, adalah gadis itu yang sengaja menghina dan menantang.
Kalau sampai mereka berdua, laki-laki tinggi besar, kuat dan berkepandaian tinggi memegang senjata pula, mengeroyok seorang gadis dusun bertangan kosong sampai kalah, benar-benar mereka tak tahu harus ke mana menyimpan muka!
Tadinya dua orang ini hanya menggerakkan senjata secara main-main saja.
Maksud mereka hendak menakut-nakuti gadis galak ini dan akhirnya menjatuhkannya tanpa melukai berat apa lagi menewaskan.
Akan tetapi setelah belasan jurus, dua orang ini kaget bukan kepalang.
Untuk kedua kalinya dalam satu hari, mereka bertemu dengan seorang gadis muda yang hebat!
Jangan bilang mempermainkan atau mendesak, menjaga diri saja sudah sukar bukan main terhadap serangan-serangan Bu Lee Siang yang memiliki gerakan cepat seperti burung walet.
Yang hebat, hawa pukulan gadis itu saja sanggup menahan gerakan senjata mereka.
Pada jurus ke dua puluh, tiba-tiba Bu Lee Siang berseru.
"Pergilah!"
Dan tepat sekali ujung sepatu kirinya menendang tulang kering kaki kanan Ho Kai Beng.
Orang tinggi besar she Ho ini mengaduh aduh kesakitan.
Ia tidak mau melepaskan senjata gembolannya, akan tetapi rasa nyeri pada tulang kering kakinya membuat ia berjingkrakan atas kaki kiri, melompat-lompat dan mulutnya mengaduh-aduh.
"Aduh kakiku... kakiku..... aduuuuhhh.....!"
Tendangan yang dilakukan oleh Lee Siang tadi bukanlah tendangan biasa saja, melainkan tendangan lweekang yang telah mengenai jalan darah dan membikin tulang kering itu retak-retak!
Sungguh kasihan Ho Kai Beng yang berjingkrak-jingkrak karena sakitnya memang tak dapat ditahan lagi.
Selain kasihan juga kelihatan lucu seperti seekor monyet besar belajar dansa.
Hanya karena sedang dalam perkabungan saja penduduk dusun yang menyaksikan pemandangan ini tidak tertawa geli.
Akhirnya Ho Kai Beng tidak dapat menahan sakit lagi, menjatuhkan diri di pinggir jalan dan memijit-mijit kaki sambil menggigit bibir, air matanya bercucuran keluar!
Lee Ing merasa kasihan juga.
Gadis ini mengambil sebuah batu kecil dan menyambit.
"Tak!"
Kai Beng roboh tak berkutik, pingsan seperti orang tertidur, terkena totokan batu kecil itu.
Hal ini menolongnya karena sekarang ia tak usah menderita sakit lagi.
Pada saat itu, Thio Sam juga sudah roboh.
Bagian Thio Sam lebih berat sungguhpun rasa nyerinya tidak sehebat Ho Kai Beng.
Orang she Thio ini yang tadinya nekat memutar ruyungnya, melakukan serangan dahsyat ke arah kepala nona nelayan itu, disambut oleh Lee Siang dengan totokan ke arah pundak dan terdengar bunyi "krekk"
Ketika tulang pundaknya terlepas sambungannya! Thio Sam meringis dan ruyung itu terlepas dari pegangannya. Ia terbungkuk-bungkuk tanda menyerah kalah.
"Hayo minggat dari sini dan beritahukan majikanmu suruh datang merangkak sendiri ke sini!"
Bu Lee Siang membentak sambil mengancam dengan tangannya.
Dengan muka marah Thio Sam menoleh kepada Han Sin dan Lee Ing yang diam saja, hatinya mendongkol bukan main.
Akan tetapi ia dapat berbuat apakah?
Dengan menanggung rasa malu besar, Thio Sam menghampiri Ho Kai Beng dan memanggul kawannya yang masih pingsan itu di atas pundaknya yang tidak terluka lalu pergi meninggalkan tempat itu dengan langkah besar sambil menahan rasa sakit pada pundak yang terluka.
Bu Lee Siang kini menghadapi Han Sin dan Lee Ing, sikapnya masih galak dan setiap saat siap bertempur melawan musuh.
Matanya berapi-api ketika mengajukan pertanyaan.
"Kalau kalian ini siapa yang datang bersama dua ekor monyet tadi? Apakah kalian datang sebagai utusan keluarga Ciong?"
"Siang-ji, jangan kurang ajar terhadap tamul"
Terdengar kakek she Bu membentak anaknya.
Tidak percuma Bu Kam Ki menjadi seorang tokoh kang-ouw yang berpengalaman.
Sekali pandang saja ia dapat menduga bahwa pemuda tampan dan bersikap halus yang datang ini tentu bukan orang biasa, apa lagi tadi ia melihat gerakan tangan Lee Ing yang menotok pingsan Ho Kai Beng untuk membebaskan orang itu dari siksaan rasa nyeri.
Diam-diam ia kagum dan memuji watak gadis ini yang tidak tahan melihat orang tersiksa, biarpun bagi dia totokan menggunakan batu kecil seperti itu bukanlah hal yang amat mengherankan hatinya.
"Ji-wi siapakah dan keperluan apakah yang hendak disampaikan kepada kami?"
Tanya Bu Lohiap dengan sikap hormat akan tetapi suaranya juga tegas.
Bagaimanapun juga, ia menaruh hati curiga karena kedatangan dua orang muda ini bersama-sama dengan Thio Sam dan Ho Kai Beng, dua orang utusan keluarga Ciong yang tidak mau datang sendiri.
Han Sin cepat menjura dengan sikap hormat.
"Harap locianpwe sudi memaafkan kelancanganku yang datang tanpa diundang. Saya bernama Liem Han Sin dan kalau tidak salah, suhuku Im-yang Thian-cu pernah mengenal locianpwe dan memang betul saya datang sebagai utusan Ciong lo-enghiong."
Mendengar nama Im-yang Thian-cu tadi, wajah Bu-lohiap berseri akan tetapi segera menjadi muram kembali ketika mendengar bahwa murid Im-yang Thian-cu ini datang sebagai utusan Ciong Thai....!
"Im-yang Thian-cu biarpun seorang yang tidak mau perduli tentang segala macam urusan dunia, sedikitnya ia mampu membedakan mana orang baik mana buruk dan setiap perbuatannya tentu ditujukan untuk membantu kebaikan.
Akan tetapi mengapa hari ini muridnya bisa menjadi utusan manusia jahanam semacam Ciong Thai, adiknya dan isterinya?
Benar-benar mengherankan sekali , dan ingin aku melihat muka Im-yang Thian-cu kalau ia melihat muridnya melakukan hal ini.
Kakek itu menarik napas panjang, kemudian setelah melirik ke arah Lee Ing yang memandang acuh tak acuh itu, ia melanjutkan kata-katanya.
"Betapapun juga, mungkin ada dasar dan sebabnya kalau sampai kau menjadi utusannya. Kau diutus apa dan mengapa kau murid Im-yang Thian-cu sampai menjadi utusan mereka?"
"Saya menjadi utusan mereka untuk mohon locianpwe mengampuni mereka dan memberi obat penyembuh luka-luka mereka. Adapun dasar atau sebabnya maka saya suka menjadi utusan adalah dua macam. Pertama-tama oleh karena saya memang tidak tega melihat mereka terancam bahaya maut oleh luka-lukanya, padahal tidak usah mereka itu tewas kalau saja locianpwe sudi memberi obatnya. Ke dua, oleh karena saya sudah berjanji untuk memberi balasan jasa sebagai imbangan janji mereka kelak akan membantu pergerakan Tiong-gi-pai."
Bu Kam Ki nampak tertarik sekali.
"Apa kau bilang? Apa hubungan Tiong-gi-pai dengan ini semua? Kau orang muda menyebut-nyebut Tiong-gi-pai mempunyai hubungan apakah?"
"Saya yang muda dan bodoh sebetulnya diutus deh Tiong-gi-pai untuk mengadakan hubungan dan minta bantuan orang-orang gagah di selatan agar kelak apa bila tiba masanya Tiong-gi-pai membantu perjuangan Raja Muda Yung Lo, para orang gagah sudi turun tangan pula memberi bantuan. Ciong lo-enghiong sekeluarga sudah memberi kesanggupan untuk membantu asal saya suka menolong mereka mintakan obat penolong bagi mereka kepada locianpwe. Oleh karena itu, saya mengharap dengan sangat kebaikan hati locianpwe, selain kelak dapat membantui pula pergerakan kami, juga sudi memandang persahabatan mengampuni keluarga Ciong."
Tiba-tiba Bu Kam Ki berdongak dan tertawa bergelak dengan nyaring sekali.
Bu Lee Siang dan semua orang sampai terkejut dan memandang bengong.
Memang aneh sekali kakek ini.
Dalam keadaan berkabung, semenjak kemarin dulu selalu muram dan tak senang hati, bagaimana sekarang tiba-tiba saja tertawa terbahak-bahak seperti itu?
Han Sin sendiri menjadi bingung dan gelisah, tidak tahu apa yang menyebabkan kakek ini tertawa keras, padahal menurut anggapannya, ia bicara cukup sopan dan cukup cengli (menurut aturan pantas).
"Ha-ha-ha, kau pemuda bodoh barangkali sudah sinting. Aduh lucunya, dan ini dilakukan oleh murid Im yang Thian-cu pula! Ha-ha-ha, membikin perutku menjadi kaku dan mulas. Bocah tolol, mengapa Tiong-gi-pai mengutus seorang muda tolol seperti engkau? Tugas yang kau kerjakan ini terlalu berat dan sukar bagi seorang pemuda hijau seperti kau. Tak tahukah kau siapa adanya Ciong Thai dan manusia macam apa dia itu? Dia seorang tokoh golongan hek-to (jalan hitam atau jalan sesat)! Bagaimana dengan orang-orang macam mereka itu kau mengadakan persekutuan untuk membela nusa bangsa? Ha-ha-ha, benar lucu!"
Lee Ing tersenyum dan matanya yang menatap wajah Han Sin seakan-akan berkata menggoda.
"Nah, itu! Kena batunya sekarang!"
Akan tetapi Han Sin mengerutkan keningnya, menjura lalu menjawab, suaranya lantang dan tegas.
"Harap locianpwe jangan berpemandangan seperti itu, karena itu adalah pandangan yang amat sempit. Rakyat kecil menderita oleh karena yang berkuasa adalah menteri-menteri durna, boneka-boneka nafsu kemurkaan yang tidak segan-segan mencekik leher rakyat kecil. Menghadapi musuh rakyat ini, semua tenaga rakyat harus dihimpun, dipersatukan untuk melawannya. Dalam keadaan negara dikuasai oleh boneka-boneka ini, di mana rakyat hidup sengsara, kita harus menjauhkan segala permusuhan antara kita sendiri, tidak perduli dari golongan mana dan memiliki faham apa, harus bersatu padu untuk menghancurkan musuh rakyat."
Mendengar pemuda ini bicara penuh semangat berapi-api, Lee Ing kembali menjadi kagum, sungguhpun apa yang dibicarakan itu ia hampir tidak mengerti.
Bu Kam Ki juga kagum menyaksikan semangat pemuda tampan ini.
Akan tetapi ia menarik napas panjang dan berkata.
"Inilah salah satu sebab dari sekian banyaknya kegagalan-kegagalan dari perjuangan para patriot untuk membebaskan rakyat dari cengkeraman pembesar-pembesar lalim. Dulupun demikian keadaannya sampai kami gagal mengusir orang-orang Mongol. Orang muda, kau tahu apa tentang perjuangan maka berani bicara seperti itu? Ah, kalau saja kau tahu betapa banyaknya manusia-manusia palsu, kau akan merasa ngeri. Kalau saja semua berjalan menurut, teorimu tadi, alangkah mudahnya perjuangan! Akan tetapi sayang sekali tidak semudah itu, orang muda. Kau boleh mempercayai rakyat kecil sepenuhnya, kaum tani, nelayan, pekerja-pekerja biasa boleh kau percaya karena mereka itulah massa rakyat yang tertindas. Sudah tentu mereka akan bangkit kalau ada yang memimpin, sudah tentu mereka akan menghancurkan kekuasaan yang menindas dan sudah dapat dipastikan di dalam dada mereka berkobar api setia kawan karena senasib sependeritaan! (Lanjut ke
Jilid 19) Pusaka Gua Siluman (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 19 Akan tetapi orang-orang macam Ciong Thai?
Lebih selamat kalau kau tidak bawa-bawa dia!
Di mulutnya berkata putih, di hatinya berkeyakinan hitam!
Di mulutnya dia boleh jadi akan membantu Tiong-gi-pai atau perjuangan rakyat lainnya, akan tetapi yang begini ini amat berbahaya, suatu waktu akan tampak kepalanya dua!
Manusia semacam dia inilah yang tidak segan-segan untuk menjual bangsanya asal dia diberi kemuliaan,"
Bu Kam Ki berhenti untuk mengambil napas, dia tadi telah bicara penuh semangat pula.
Baru sekarang kelihatan keasliannya patriot tua ini, biasanya ia diam saja dan hidup seperti seorang nelayan miskin yang sederhana.
"Saya masih belum yakin betul akan kebenaran keterangan Iocianpwe tadi. Orang boleh jadi berbeda-beda wataknya boleh jadi berlainan golongannya, boleh jadi berlainan pula jalan hidupnya dan tak boleh disangkal lagi banyak yang mengambil jalan sesat. Akan tetapi dalam satu hal ini, yaitu demi kepentingan nusa bangsa. hanya ada satu tekad, satu kebaktian."
"Ho-ho-ho, lantunan kosong seorang patriot muda! Alangkah enaknya jalan perjuangan kalau begitu. Ketahuilah, perjuangan bangsa itu berliku-liku, banyak pula rintangannya. Adalah kewajiban setiap orang patriot sejati untuk memberantas rintangan-rintangan ini, apapun juga macamnya, oleh siapapun juga rintangan ini ditimbulkannya. Biarpun bangsa sendiri, kalau dia berhati palsu dan merintangi perjuangan, dia itu penghianat, dia itu musuh dan harus dibasmi habis-habis! Dan kau... kau percaya akan bantuan orang macam keluarga Ciong itu? Heran!"
"Bu-locianpwe, agaknya dalam hal ini pandangan kita berbeda. Akan tetapi atas nama Tiong-gi-pai, kami mohon juga dengan hormat bantuan lo-cianpwe kelak apa bila masanya tiba untuk meruntuhkan kekuasaan para durna yang mencekik leher rakyat."
"Hemm, sekali aku pernah gagal. Akan tetapi sudah lama aku mendengar tentang kelaliman para menteri durna. Sayang sekali Ciu-taihiap yang sekarang sudah menjadi kaisar, terjatuh ke dalam pengaruh mereka. Tanpa kau minta, kalau tenagaku mengijinkan dan kalau aku masih hidup, tentu aku akan suka sekali membantu rakyat."
Han Sin berseri wajahnya, menambah tampannya. Ia menjura sampai dalam menghaturkan terima kasihnya, kemudian berkata.
"Sekarang saya harap locianpwe juga berbaik hati untuk memberi ampun kepada keluarga Ciong dan memberi obat."
"Suruh mereka datang sendiri, mengapa harus engkau yang mintakan?"
Bu Lee Siang membentak. Matanya melotot tajam memandang Han Sin.
"Puteriku betul, orang muda. Keluarga Ciong harus datang sendiri dan obat itu hanya dapat ditebus dengan permintaan ampun sambil berlutut di depan peti mati Lai Seng,"
Kata Bu Kam Ki dengan suara tegas.
"Aku menjadi pesuruh dan aku bersedia untuk berlutut mintakan ampun bagi mereka,"
Kata Han Sin dengan suara tetap pula.
"Tidak bisa... tidak bisa...!"
Kata pula kakek itu tegas dan keningnya mulai berkerut tanda kesabarannya menipis.
"Orang akan memandang kami tak pandai memegang kata-kata sendiri. Keluarga Ciong sendiri harus datang dan kalau mereka minta bantuan orang lain, karena kami telah melukai mereka dengan pukulan, utusan mereka harus pula dapat menundukkan kami dengan pukulan pula!"
Inilah ucapan tantangan bahwa utusan keluarga Ciong baru bisa mendapatkan obat yang diminta kalau bisa mengalahkan Bu Kam Ki dan puterinya!
Tentu saja hal ini amat berat bagi Han Sin.
Keluarga Ciong bertiga saja tidak kuat melawan kakek ini seorang diri, apa lagi dia?
Melawan puterinya saja ia masih belum yakin benar apakah akan dapat menang.
Akan tetapi Han Sin, seperti dapat dilihat dari sikap dan kelakuannya, adalah seorang pemuda keras hati yang tidak akan mundur selangkah sebelum tugasnya terpenuhi.
Ia sudah berani menjadi utusan, maka ia harus berani membela tugasnya sampai berhasil.
Kalau perlu nyawanya boleh menjadi korban atau penebus.
Dalam tugas yang ia Hadapi sekarang ini, bukan sekali-kali ia menjadi pembela keluarga Ciong karena penasaran pribadi, melainkan ia menganggapnya sebagai kelanjutan tugasnya terhadap Tiong-gi-pai dan karenanya juga tugas terhadap rakyat, terhadap cita-cita orang gagah pembela rakyat.
Ciong Thai sudah menyanggupinya untuk kelak membantu pergerakan Tiong-gi-pai mengabdi raja muda di utara dan sebagai balas jasa, sudah sepatutnya kalau ia berjuang mencarikan obat bagi mereka.
Han Sin melangkah maju menghadapi kakek she Bu itu, sikapnya hormat akan tetapi sepasang mata yang tajam itu menyinarkan cahaya penuh ketabahan dan kejujuran.
"Bu-locianpwe, modal seorang pejuang adalah kejujuran, kenekatan dan keyakinan. Jujur dalam membela kewajibannya dan yakin akan kebenaran apa yang diperjuangkannya. Aku yang bodoh tidak memiliki kepandaian dan tentu saja tidak mungkin sekali aku dapat minta obat dari locianpwe mengandalkan ilmu pukulan. Akan tetapi aku mempunyai tiga syarat itu. maka aku tidak mundur sebelum locianpwe mempertimbangkan permintaanku untuk menolong nyawa keluarga Ciong."
Bu Kam Ki tersenyum dan ia mulai kagum melihat pemuda itu.
"Lihat, Siang-ji, beginilah aku ketika muda! He, orang muda, memang pendirian orang berbeda-beda. Akan tetapi seorang gagah memang tidak akan mundur untuk memegang teguh pendiriannya. Kau gagah dan berani, juga patut menjadi seorang pejuang. Sayang kau masih terlampau hijau, kurang pandai membedakan mana hijau mana merah, mana hitam mana putih. Biarpun sikapmu ini kuanggap gagah, tetap saja kau buta kalau hendak membela Ciong Thai dan mengajaknya bersekutu. Aku tetap kepada pendirianku, asal kau atau suruhan Ciong Thai sanggup mengalahkan aku dengan ilmu pukulan, dengan suka rela aku menyerahkan obat dan akan menghabiskan semua perkara."
"Kalau begitu, maafkan aku yang muda berlaku kurang ajar. Tentu saja aku bukan tandingan iocianpwe, akan tetapi menang atau kalah adalah hal yang sewajarnya, seperti mati atau hidup. Bagiku yang terpenting adalah kebenaran!"
Sambil berkata demikian, tanpa ragu-ragu dan sama sekali tidak takut, pemuda ini mencabut keluar kipas dan pitnya, sepasang senjata yang amat ia andalkan sebagai warisan gurunya.
Untuk kedua kalinya Lee Ing memandang kagum.
Pemuda ini benar-benar hebat.
Gagah berani dan bersemangat baja.
Seorang jantan yang jarang tandingannya.
Juga Bu Kam Ki kagum bukan main.
Dia sendiri dahulunya seorang pejuang yang gigih membela rakyat yang ditindas oleh penjajah, sekarang melihat seorang pemuda seperti Han Sin, tentu saja hatinya tergerak dan diam-diam ia membandingkan pemuda ini dengan Lai Seng yang telah tewas, kalau saja anaknya bisa menjadi isteri pemuda seperti ini atau lebih tepat lagi, Kalau saja ia bisa mempunyai seorang mantu seperti Han Sin!
"Orang muda, sebelum aku melayanimu, hendak aku bertanya.
Kalau aku kalah dalam pertandingan ini, sudah tentu obat kuberikan.
Akan tetapi bagaimana kalau kau yang kalah?"
"Kalau aku kalah, tiada jalan lain aku akan kembali kepada keluarga Ciong dan menyatakan terus terang akan kegagalanku. Betapapun juga, asal tugas sudah kulakukan dan kalau perlu kubela dengan nyawa, bagiku sudah cukup. Akan tetapi menyuruh aku kembali sebelum berusaha sedapatku, tak mungkin aku mau melakukannya,"
Jawab Han Sin. Tiba-tiba Bu Lee Siang yang sejak tadi mendengarkan saja percakapan antara ayahnya dan pemuda ganteng itu, menjadi tak sabar dan melompat maju.
"Bocah sombong! Kalau mau menjual kepandaian majulah siapa sih takut padamu?"
"Lee Siang, mundurlah,"
Ayahnya menegur.
"Liem-sicu ini hatinya demikian baiknya sampai mau menolong keluarga Ciong. Eh, orang muda, Ciong Thai menjanjikan untuk kelak membantu Tiong-gi-pai dan kau membalas jasanya dengan mati-matian minta obat dariku. Kalau sekarang aku dengan suka hati memberikan obat itu kepadamu, kemudian akupun minta balas jasa, maukah kau menolongku pula?"
Wajah kakek ini berseri dan sepasang matanya berkilat-kilat cerdik, agaknya ada pikiran yang amat baik memasuki otaknya. Liem Han Sin menjura dan menjawab, suaranya sungguh-sungguh.
"Bu-locianpwe, mengingat dan membalas budi adalah satu di antara kewajiban-kewajiban seorang kuncu (budiman). Biarpun aku tidak berani mengaku seorang baik, namun setidaknya aku selalu berusaha mengikuti jejak orang-orang baik. Kalau locianpwe sudi mengalah dan menolongku memberikan obat itu, sudah tentu aku bersedia untuk melakukan apa saja untuk membalas kebaikan locianpwe."
"Bagus, kulihat kau seorang yang baik, tentu keturunanmu juga merupakan tunas yang patut dipelihara. Aku akan memberikan obat itu kepadamu tanpa pertandingan, akan tetapi kau harus menyerahkan anakmu untuk menjadi muridku selama lima tahun "
Tiba-tiba terdengar suara Lee Ing tertawa geli dan wajah Han Sin menjadi merah sekali seperti kepiting direbus.
"Menyesal sekali, locianpwe. Aku.... aku tidak punya anak "
"Hi-hi, orang tua she Bu, kau ini benar lucu dan aneh. Dia seorang laki-laki mana bisa punya anak?"
Kata Lee Ing yang nakal sambil tertawa tawa menutupi mulut dengan saputangan. Melihat sikap Lee Ing yang wajar lucunya, bukan genit atau dibuat-buat, Bu Kam Ki mau tidak mau terpaksa tersenyum juga.
"Kau betul, nona Kumaksudkan isterimu dan anakmu juga. Kalau sekarang belum punya anak, berjanjilah kalau kelak isterimu melahirkan anak, anak itu harus diserahkan kepadaku mulai berusia sepuluh tahun sampai lima belas tahun."
Hampir tidak kedengaran saking perlahannya jawaban Han Sin.
"Locianpwe, aku tak berani berjanji karena..... karena aku belum mempunyai isteri."
"Eh, begitukah? Sayang sekali! Tapi tentu sudah bertunangan dan sebentar lagi akan menikah....."
"Juga belum!"
Jawab Han Sin cepat-cepat. Wajahnya tidak membayangkan sesuatu, namun di dalam hatinya kakek she Bu ini girang sekali. Syaratnya tadi hanya merupakan "jalan memutar"
Untuk mengetahui apakah pemuda mi sudah ber-isteri ataukah bertunangan.
Ternyata sekarang bahwa pemuda ini masih belum ada ikatan Kalau saja ia dapat menarik pemuda ini sebagai mantunya, akan puas dia dan perkara memberi cbat kepada keluarga Ciong merupakan hal yang tak penting lagi.
"Kalau begitu sukar,"
Katanya mengerutkan kening.
"Akan tetapi melihat kesungguhanmu hendak menolong mereka, juga mengingat bahwa kau adalah murid Im-yang Thian-cu yang kukenal baik, mengingat lagi bahwa kau adalah utusan Tiong-gi-pai yang berarti kawan seperjuangan, biarlah aku mengalah dan boleh kau membawa obatku untuk diberikan kepada mereka Adapun tentang balas jasa, aku hanya akan minta tolong darimu setelah kau memberikan obat itu kepada mereka. Berjanjilah untuk datang kembali ke sini dan akan memenuhi permintaanku dengan suka hati."
Dapat dibayangkan betapa girangnya hati Han Sin. Saking girang dan terima kasih, ia lalu menyimpan senjatanya dan menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu.
"Locianpwe berpemandangan luas, dan sudi mengalah, benar-benar menjadi bukti bahwa locianpwe seorang gagah yang berbudi luhur. Tentu saja saya akan memenuhi undangan locianpwe dan akan memenuhi segala permintaan locianpwe, suatu hal yang dapat saya lakukan mengingat kebodohan saya."
"Akupun takkan minta yang bukan-bukan atau yang tak dapat kau lakukan,"
Kata Bu Kam Ki.
Kemudian iapun memberikan tiga bungkus obat bubuk kepada Han Sin.
Pemuda ini menerimanya dengan girang, lalu berpamit mengundurkan diri.
Lee Ing diam saja, hanya mengikuti pemuda itu dan sekarang mereka terpaksa harus berjalan kaki karena kuda mereka sudah tewas oleh Bu Lee Siang.
"Nona Souw. semua ini adalah rejekimu. Tak kusangka akan semudah itu kesudahannya,"
Kata Han Sin girang sekali.
"Kau tolol....!"
Han Sin sampai meloncat karena ujung kakinya tertumbuk batu saking kagectnva mendengar ucapan ini.
"Apa....? Mengapa?"
Ia bertanya gagap, memandang wajah nona itu dengan muka merah. Lee Ing cemberut, benar-benar marah.
"Kau terlalu baik hati, karenanya tolol. Orang yang lemah dari terlalu baik hatinya suka melakukan perbuatan tolol. Baru satu kali bertemu dengan kakek tua bangka she Bu itu. begitu saja kau berjanji akan memenuhi sebala permintaannya. Hemm...!"
Han Sin tersenyum lega. Tadinya ia sudah khawatir sekali kalau kalau terjadi sesuatu yang hebat sampai nona itu perlu memakinya tolol. Kiranya hanya urusan itu saja.
"Nona Souw yang baik. Bukankah menolong sesama hidup adalah tugas utama orang gagah? Kau sendiri hanya pada lahirnya saja seperti yang tidak acuh akan tetapi bukankah kau sudah menolong nyawaku beberapa kali tanpa kuminta.? Ciong-enghiong minta tolong kepadaku maka aku berusaha menolongnya, sedangkan Bu-locianpwe juga minta tolong, tentu saja aku bersedia menolong. Jangankan diminta, kau yang tidak pernah dimintai tolong selalu bersiap sedia menolong sesamanya. Nona Souw, bukankah kaupun setali tiga uang, sama saja dengan aku dalam hal ini, malah lebih hebat lagi?"
"Tentu saja aku suka menolong orang. mengapa tidak? Akan tetapi tidak membina seperti kau! Aku menolong orang setelah melihat apa macam orangnya dan bagaimana duduk perkaranya. Tidak seperti kau. belum tahu apa yang akan diminta oleh tua bangka Bu. lebih dulu sudah berjanji memenuhinya."
"Jangan khawatir, nona. Bu locianpwe adalah seorang gagah perkasa yang ternama, tentu ia tak kan minta yang bukan-bukan."
"Hemm... kita sama lihat saja, hmmm, dia punya anak gadis..."
"Apa maksudmu, nona?"
Han Sin memandang heran.
Akan tetapi Lee Ing sudah melanjutkan perjalanannya, malah menggunakan ilmu lari cepat sehingga Han Sin terpaksa mengerahkan tenaga untuk mengimbangi kecepatan nona yang luar biasa itu.
"Dia punya anak gadis...."
Kembali Lee Ing bersungut-sungut "...anak gadis yang sudah menjadi janda kembang sebelum kawin... hemmm...!"
Han Sin merasa heran mengapa gadis ini membawa-bawa puteri Bu Kam Ki.
Akan tetapi melihat gadis itu cemberut dan kelihatannya tak senang hati, ia tidak berani bertanya-tanya lagi, tahu bahwa toh ia takkan mendapat penjelasan yang memuaskan.
Belum lama berdekatan dengan gadis ini, ia seperti telah mengenal baik wataknya yang aneh dan sulit dimengerti.
Ketika mereka tiba di rumah keluarga Ciong yang letaknya terpencil di tengah-tengah daerah berhutan, hari telah mulai gelap dan mereka mempercepat lari mereka ketika baru saja memasuki hutan pertama.
Untung mereka dapat sampai di rumah keluarga itu, karena tadinya dua orang muda-mudi ini kehilangan jalan di dalam hutan dan tidak tahu ke mana jurusan rumah Ciong Thai.
Sampai lama mereka berputar-putar di dalam hutan dan beberapa kali melompat naik ke atas pohon besar, namun tidak kelihatan sinar api dari rumah yang mereka pergunakan sebagai penunjuk jalan.
Tiba-tiba kelihatan api bernyala sebentar di jurusan kanan.
Mereka memburu ke arah tempat itu, akan tetapi kembali ada sinar api di depan, agak jauh.
"Barangkali kalau benar di dunia ini ada setan, itulah agaknya,"
Han Sin mengomel, mendongkol juga karena merasa dipermainkan oleh api itu.
"Hanya orang-orang sial bertemu dengan setan dan kalau benar itu setan, memang kita ini sedang sial!"
Kata Lee Ing dan di dalam suara gadis itu Han Sin mendengar suara hati gadis itu yang menimpakan kesalahannya kepadanya seakan-akan ia mendengar bisikan hati gadis itu mencelanya.
"Kau yang membawa sial, tahu?"
Diam-diam ia mengakui hal ini dan memang sudah sepatutnya gadis ini marah dan mendongkol kepadanya.
Kalau tidak karena dia.
tentu Lee Ing tidak akan bertemu dengan keluarga Ciong, takkan ikut ke rumah Bu Kam Ki dan tidak akan kehilangan jalan malam-malam di dalam hutan yang gelap lagi dingin Semuanya karena dia.
Karena dia??
"Nona Souw....."
"Eh, saudara Han Sin, kau kenapakah?"
Lee Ing terkejut dan heran mendengar suara pemuda itu tergetar. Sayang ia tidak dapat melihat wajah pemuda itu yang memandang ke arah dia dengan muka sebentar merah sebentar pucat.
"Nona Souw yang mulia, entah bagaimana aku kelak dapat membalas budimu. Biarlah di dalam penghidupan yang akan datang kelak aku menjelma menjadi kuda atau anjing untuk dapat melayanimu."
Pada masa itu, ucapan seperti kalimat terakhir ini memang sering digunakan orang di Tiongkok.
Orang-orang semua percaya akan kelak akan kembali (reincarnation) maka untuk menyatakan terima kasih atas hutang budi, orang berjanji kelak akan menjelma menjadi kuda atau anjing untuk membalas budi.
"Aku.... aku tidak butuh kuda, biar di lain penjelmaan sekalipun. Apa lagi di dalam hutan malam-malam gelap seperti ini. kuda untuk apa sih?"
Lee Ing berjenaka, sama sekali tidak tahu bahwa pemuda di depannya itu bicara dengan sepenuh hatinya dan dengan sungguh-sungguh sekali.
"Anjing juga tidak butuh?"
Tanya Han Sin penuh harap.
"Aku biasanya tidak suka anjing, biar di lain penjelmaan juga tidak suka, akan tetapi sekarang aku akan lebih merasa girang kalau kau berobah menjadi anjing karena binatang itu biasanya pandai sekali mencari jalan kalau kita kehilangan jalan. Eh, Liem twako, kau ini apa sudah kemasukan siluman di hutan ini? Kok bicara tentang anjing dan kuda segala macam. Lebih baik lekas kita berusaha mencari jalan keluar kalau tidak kita akan terpaksa bermalam di dalam hutan bergelap-gelap!"
"Nona Souw, kau mengganggap aku main-main. Biarlah aku bersumpah, dalam penghidupan sekarang aku akan bersetia kepadamu sampai mati, setia melebihi anjing atau kuda."
"Sudahlah, gelap-geap kau bicara aneh-aneh, membikin bulu tengkukku meremang semua. Lihat, tuh di sana nyala api yang nampak lagi."
Han Sin memandang ke depan dan benar saja, nyala api yang aneh itu nampak lagi.
Cepat mereka menuju ke tempat itu, nyala api itu maju terus dan mereka menjadi amat girang ketika mendapat kenyataan bahwa nyala api itu membawa mereka ke jalan atau lorong di hutan itu yang mereka lalui tadi ketika ke rumah Bu Kam Ki!
Setelah mengikuti nyala api itu beberapa lama, tiba-tiba apinya padam dan mereka mendapatkan kenyataan bahwa mereka telah berada di depan rumah keluarga Ciong.
Terhyata api tadi sengaja menjadi petunjuk jalan bagi mereka.
"Agaknya Ciong-enghiong sudah tahu bahwa kita berhasil maka dia sengaja memberi petunjuk jalan kepada kita,"
Kata Han Sin.
Lee Ing diam saja dan mengikuti pemuda itu memasuki halaman rumah.
Akan tetapi Han Sin menjadi ragu-ragu ketika di depan pintu ia disambut oleh Ciong Thai, Giam Loan, dan Ciong Sek yang berdiri dengan muka pucat dan lesu.
Dengan penuh gairah Ciong Thai bertanya.
"Bagaimana, Liem-hiante? Berhasilkah? Maukah Bu-lohiap menolong kami?"
"Bu lohiap telah demikian baik hati untuk menolong nyawa sam-wi (saudara bertiga) dan telah memberikan obat itu kepadaku."
Jawab Han Sin, agaknya tak senang hatinya karena orang yang ditolongnya itu datang-datang menanyakan kepentingan dan kebutuhan sendiri dan sama sekali tidak perduli orang lain yang setengah mati mencari obat.
"Bagus sekali! Aku sudah menduga kalau kau yang pergi pasti berhasil! Mana obat itu, Liem-hiante?"
Ciong Thai segera menghampiri Han Sin dengan wajah girang, juga Giam Loan melompat dekat sambil tersenyum senyum manis, sedangkan Ciong Sek tertawa lebar.
Ketiga orang yang tadinya muram seperti lampu kehabisan minyak sekarang berseri-seri mendapat tambahan minyak baru.
"lni obatnya."
Han Sin menyerahkan bungkusan tiga buah itu yang cepat diterima oleh Ciong Thai dan langsung dibagikan kepada isteri dan adiknya, seorang sebungkus.
Bukan main girangnya hati Ciong Thai, la merangkul Han Sin dan pemuda ini merasa betapa lehernya menjadi basah oleh air mata jago Lembah Yang ce ini.
Hati pemuda yang baik ini seketika menjadi lemas dan lenyaplah rasa mendongkolnya tadi, terganti rasa terharu.
"Thio Sam! Kai Beng, Lekas siapkan pesta penghormatan bagi Liecm-taihiap dan lihiap!"
Secara mendadak Ciong Thai menyebut taihiap (pendekar besar) kepada Han Sin dan lihiap (pendekar wanita) kepada Lee Ing, Kemudian ia menarik lengan Han Sin sedangkan Giam Loan menarik lengan Lee Ing.
diajak ke ruangan dalam yang lebih lebar dan diterangi oleh banyak lilin besar yang penuh hidangan!
Orang telah menanti kedatangan mereka dan siap menyambut dengan pesta!
Akan tetapi Lee Ing masih bersikap kaku, dengan sekali renggut saja ia telah melepaskan lengannya dari tarikan Giam Loan Akan tetapi nyonya muda itu tidak menjadi tak senang, malah sambil tersenyum ramah ia membungkuk-bungkuk mempersilahkan Lee Ing jalan dulu ke ruang dalam.
Karena melihat Han Sin telah berjalan masuk, terpaksa Lee Ing juga mengikutinya.
Kalau menurutkan perasaan hatinya, ia lebih suka segera meninggalkan rumah orang-orang ini pada malam itu juga, biar malam dingin gelap.
Entah mengapa, di dalam hatinya Lee Ing amat tidak suka kepada tiga orang ini, terutama sekali Giam Loan.
Akan tetapi, kejengkelannya berkurang ketika ia melihat Ciong Swi Kiat, bocah gundul mata gede itu sudah menanti di dalam ruangan itu, berdiri di sudut dengan sikap seperti seorang pelayan.
Kebalikan dari orang tuanya, bocah ini mendatangkan rasa kasihan dalam hati Lee Ing.
"Taihiap dan lihiap tentu lelah dan lapar setelah melakukan perjalanan jauh dan tugas berat, silahkan makan sekedarnya dan minum arak sebagai penghormatan dan ucapan terima kasih kami,"
Kata Ciong Thai mempersilahkan dua orang muda-mudi itu yang kini diperlakukan seperti dua orang tamu agung.
Sibuklah tuan rumah melayani dua orang itu dibantu oleh Thio Sam dan Ho Kai Beng yang sudah agak sembuh dari luka-lukanya.
Juga Ciong Swi Kiat tadinya bantu melayani, akan tetapi melihat anak itu kadang-kadang memandang ke arah masakan dengan mata melotot dan mulut komat kamit kadang-kadang menelan ludah, Lee Ing lalu menarik tangannya disuruh duduk ikut makan minum.
Ciong Thai hanya tersenyum saja melihat ini, akan tetapi mata Lee Ing yang tajam dapat melihat kilat mata kemarahan terpancar keluar dari sepasang mata Giam Loan yang biasanya genit dikerling ke arah Han Sin itu.
Dengan secara terbuka sekali nyonya muda yang genit itu melempar senyum dan kerling tajam, mengajak main mata kepada Han Sin.
Hal ini saja sudah mempertebal rasa tak suka dalam hati Lee Ing.
Dengan gaya dibuat-buat Ciong Sek menuangkan arak dari guci ke dalam cawan Han Sin dan Lee Ing, lalu berdiri menjura dan mengangkat cawannya sendiri setelah ia dengan sikap hormat memberikan cawan-cawan yang diisinya tadi kepada Han Sin dan Lee Ing.
"Ji-wi yang sudah menolong nyawa siauwte dari bahaya maut, harap sudi menerima penghormatan siauwte dengan secawan arak ini!"
Matanya menatap wajah Lee Ing dengan penuh kekaguman dan senyumnya senyum memikat, akan tetapi biarpun wajah pemuda ini tampan juga, dalam pandang mata Lee Ing yang membencinya nampak seperti muka monyet cengar-cengir.
"Sudah terlalu banyak aku minum,"
Katanya mencela dan hendak menolak akan tetapi melihat Han Sin tanpa ragu-ragu minum araknya, iapun lalu meneguknya habis. Arak yang disuguhkan oleh tuan rumah memang enak, manis dan harum.
"Akupun tidak mau ketinggalan. Ji-wi yang mulia harap sudi minum secawan arak penghormatanku!"
Kata Giam Loan sambil tersenyum-senyum, lalu cepat-cepat ia menuangkan arak dari sebuah guci putih ke dalam cawan Lee Ing dengan cepat, kemudian iapun menuangkan arak ke dalam cawan di depan Han Sin.
la mengambil cawan-cawan itu dan menyodorkan kepada Lee Ing dan Han Sin.
matanya basah memandang Han Sin dan bibirnya yang merah itu tersenyum memikat.
Ingin Lee Ing menampar cawan itu, akan tetapi sebagai tamu tentu saja ia dapat menahan hatinya, hanya menolak dan berkata.
"Sudah cukup, aku tidak mau minum lagi. Sekarang kau yang menawarkan arak, nanti tentu suamimu lagi! Apa orang kira kami ini gentong arak yang bisa begitu saja diisi arak sampai sepenuhnya?"
Kata Lee Ing setengah marah setengah berkelakar, dan tidak mau menerima cawan yang disodorkan oleh Giam Loan.
"Lihiap apakah tidak sudi menerima penghormatan sebagai tanda terima kasih dari seorang yang telah lihiap tolong nyawanya?"
Kata-kata ini dikeluarkan oleh Giam Loan dengan suara sedih dan mata nyonya muda ini telah pula menitikkan air mata. Namun Lee Ing tetap tidak mau menerima.
"Nona Souw, tak baik menolak penghormatan orang. Lagi pula, tambah satu dua cawan saja sih apa artinya? Hitung-hitung kita ikut merayakan keluarga Ciong yang hari ini terbebas dari kematian berkat kebaikan hati Bu-locianpwe."
Kata Han Sin yang sudah menerima cawannya. Lee Ing mengerutkan kening, lalu menyambar cawan itu dari tangan Giam Loan dan berkata kepada Han Sin.
"Biarlah aku sekali lagi menurut, akan tetapi setelah minum-minum arak sampai mabok kita harus segera melanjutkan perjalanan meninggalkan tempat ini. Kalau kau tidak mau kau boleh tinggal selamanya di sini, aku akan pergi sendiri!"
Han Sin terkejut.
Tidak mengira bahwa gadis itu akan marah sekali seperti itu.
Ia -tidak tahu betapa hati Lee Ing sudah panas melihat lagak Giam Loan yang genit dan melirik-lirik Han Sin sambil tersenyum tak tahu malu.
"Cici. mengapa memaksa nona ini minum Pek-in-ciu? Kalau dia tidak mau, sudahlah jangan dipaksa!"
Tiba-tiba terdengar Ciong Swi Kiat berkata.
"Tutup mulutmu!"
Giam Loan membentak.
"Swi Kiat, jangan mencampuri urusan orang tua!"
Ciong Thai juga menegur puteranya.
"Pek-in-ciu? Arak apakah ini?"
Tanya Lee Ing sambil bergantian memandang wajah tiga orang di depannya.
Lee Ing memang belum pernah mendengar tentang arak Pek-in-ciu (Arak Awan Putih).
Hatinya yang penuh kecurigaan merasa tidak enak, menyangka arak itu dicampuri racun.
Cepat tangan kirinya mencabut sebuah peniti perak dan dicelupkannya ke dalam cawan.
Akan tetapi peniti itu tidak berubah hitam, tanda bahwa di dalam arak tidak ada racunnya, juga arak itu baunya harum biasa saja.
Ciong Thai tertawa.
"Harap lihiap jangan curiga. Disebut Pek-in-ciu oleh karena kesempurnaan arak istimewa ini terdapat dari hawa awan putih. Membuatnya adalah menjemur arak ini di waktu udara terang dan awan putih memenuhi angkasa raya. Arak ini baik sekali dan sudah puluhan tahun usianya! Mari kita minum!"
Han Sin sudah mengangkat cawannya ke mulut, dan Lee Ing menjadi merah mukanya karena ia merasa malu juga sudah memperlihatkan keraguan dan kecurigaan.
Diapun sudah mengangkat cawannya.
akan tetapi tiba-tiba ia menunda lagi dan menoleh karena mendengar suara di jurusan jendela.
"Tahan, jangan diminum arak itu!"
Terdengar suara dari luar jendela dan muncullah kepala.... Bu kam Ki dari balik jendela. Wajah kakek itu nampak sungguh sungguh dan marah.
"Arak Pek-in-ciu akan membikin kalian mabok. Dasar orang-orang muda hijau mana bisa menghadapi bangsat-bangsat seperti keluarga Ciong?"
"Bu-locianpwe... arak ini tidak apa-apa..."
Kata Han Sin karena dia sendiri tadi melihat Lee Ing telah memeriksa arak itu.
"Bodoh, coba suruh Ciong Thai dan bininya minum arak iiu. Hayo!"
Akan tetapi di luar dugaan, ketika melihat munculnya orang tua ini.
Ciong Thai, Giam Loan, dan Ciong Sek sudah menuangkan bungkusan obat yang dibawa Han Sin tadi ke dalam cawan arak mereka lalu meminumnya sekali teguk.
Melihat ini, Lee Ing hendak menghalangi, kalau betul mereka hendak meracuninya tak pantas mereka diberi obat, pikirnya.
"Biarkan saja mereka minum obat!"
Bu Kam Ki mencegah melihat Lee Ing bergerak. Setelah minum obat, Ciong Thai tersenyum menghadapi Bu Kam Ki.
"Bu-lohiap benar-benar hendak membusukkan nama kami. Arak Pek-in-ciu memang arak keras dan mungkin sekali jiwi taihiap ini akan mabuk meminumnya. Akan tetapi apa salahnya itu? Mereka tidak akan binasa!"
Lee Ing sudah menaruh lagi cawan araknya ke atas meja.
Juga Han Sin mulai curiga, karena kalau hanya memberi hormat untuk pernyataan terima kasih, mengapa harus menggunakan arak yang dapat memabokkan orang?
la lalu teringat akan sinar mata Ciong Sek yang penuh gairah dan kecabulan kalau pemuda itu memandang kepada Lee Ing, dan diam-diam Han Sin mengeluarkan keringat dingin.
Benar-benarkah dia telah dikhianati oleh orang-orang yang telah ditolong nyawanya ini?
Betulkah ucapan Bu Kam Ki bahwa tiga orang ini bukanlah manusia-manusia yang patut ditolong dan dijadikan sekutu?
Sementara itu, mendengar omongan Ciong Thai, Bu Kam Ki tertawa bergelak.
Tubuhnya bergerak dan dengan ringannya ia telah melompat ke dalam ruangan itu.
"Ha-ha-ha, orang she Ciong! Puteramu yang kau sia-siakan ini jauh lebih berharga dari pada kau, maka dia tadi mencegah binimu menyuguhkan Pek in-ciu. Memang betul arak ini hanya memabokkan, akan tetapi apa kau kira aku tidak pernah mendengar bagaimana kalian menggunakannya? Berapa banyaknya gadis-gadis tak berdosa yang menjadi korban arakmu ini di tangan adikmu Ciong Sek? Dan berapa banyak pula pemuda-pemuda vang jatuh oleh binimu karena arak ini? Hemmm. Ciong Thai. kau ini mengaku gagah akan tetapi tak lain hanya seekor kura-kura yang bodoh, membiarkan adik dan bini rnencoreng arang di mukamu, melumuri kotoran pada namamu. Dengan menyuguhkan arak kepada dua orang muda ini, kalian hanya hendak menghormati? Ha-ha-ha, anak kecil seperti anakmu inipun sudah dapat mengerti maksud-maksud jahat adik dan binimu!"
Lee Ing marah bukan main.
Ia menyambar cawan itu dan sekali tangannya, bergerak, isinya telah muncrat menyerang muka tiga orang keluarga Ciong.
Hanya Ciong Thai yang dapal mengelak, sedangkan Giam Loan dan Ciong Sek yang tadi merasa terkejut dan takut, merasa muka mereka ditusuk-tusuk jarum ketika tetesan-tetesan arak itu nengenai kulit muka.
Mereka bertiga terkejut dan seperti mendapat komando.
mereka melompat dan melarikan diri dari pintu belakang.
Menghadapi seorang Bu Kam Ki atau seorang Souw Lee Ing saja mereka takkan menang.
apa lagi kalau kakek dan gadis ini maju bersama!
Lee Ing hendak mengejar, akan tetapi Bu Kam Ki mencegah.
"Tak perlu dikejar, nona. Merekapun akan mampus dalam tiga han lagi oleh pukulanku kemarin dulu. Obat yang dibawa dan diminum mereka tadi hanya bubuk gandum vang tidak ada artinya. Aku sudah dapat menduga bahwa mereka akan berlaku khianat maka aku sengaja diam-diam datang pula ke sini."
"Jadi tadipun kau orang tua vang memberi petunjuk jalan dengan nyala api?"
Tanya Lee Ing sambil tersenyum.
"Kau cerdik, lebih cerdik dari pada Liem-sicu ini."
Kakek itu tertawa bergelak.
"Bu-locianpwe, saya melakukan kewajiban dengan sungguh hati, datang menghadap locianpwe dengan penuh kejujuran hati, mengapa locianpwe menipu saya dengan memberikan obal palsu?"
Han Sin memprotes dengan kening berkerut. Pemuda ini wataknya gagah dan jujur, tentu saja tidak suka akan segala perbuatan yang tidak terus terang dan segala macam tipu-tipuan.
"Orang muda, hatimu terlalu baik, karenanya kadang-kadang lemah. Terhadap orang orang macam mereka, bagaimana kau suka memberi obat? Kecuali kalau mereka mau memenuhi syaratku. Sekarang, tinggal kau yang memenuhi janjimu untuk datang ke rumahku dan memenuhi permintaanku."
"Yang locianpwe maksudkan, datang ke rumah locianpwe?"
"Tentu, apa kau sudah melupakan janjimu?"
Han Sin diam saja, melirik ke arah Lee Ing.
Bagi dia sendiri, tentu saja ia tidak menaruh keberatan untuk mengunjungi rumah kakek itu, apa lagi dia memang sudah berjanji hendak mengunjunginya.
Akan tetapi mengajak Lee Ing sekali lagi keluyuran melalui hutan di tengah malam, benar-benar membuat hatinya tidak enak sekali.
"Kakek tua, kau cerewet benar, bawel seperti nenek-nenek!"
Lee Ing mencela, hatinya mendongkol.
"Masa sudah malam lagi gelap kau menyuruh kami melalui hutan belukar itu? Biarpun rumahmu tidak berapa jauh, setidaknya pada tengah malam baru akan sampai di sana. Kalau kau ada perlu dengan Liem-twako, katakan saja di sini apa sih salahnya?"
"Kau ini masih ada hubungan apakah dengan orang muda ini maka turut-turut mencampuri urusan?"
Kakek Bu itu membentak tak senang.
Ditegur begini, muka Lee Ing menjadi merah dan ia gelagapan, tak tahu bagaimana harus menjawab.
Memang kalau dipikir-pikir, ia sih tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan Liem Han Sin kecuali sebagai teman seperjalanan!
Melihat keadaan gadis ini serba salah dan gelagapan, Han Sin cepat menjawab pertanyaan ini.
"Bu-locianpwe, nona Souw hanyalah teman baik dan penolongku, tidak ada hubungan apa-apa. Akan tetapi karena nona Souw sudah banyak menolongku, tidak berani aku membikin dia repot lagi. Maka yang diusulkannya tadi memang betul, harap locianpwe suka menyampaikan di sini saja apa yang dapat saya lakukan untuk locianpwe."
Bu Kam Ki adalah seorang tokoh kang-ouw yang berwatak aneh, juga ia terlalu perduli akan aturan-aturan yang mengikat kebebasan seseorang.
Oleh karena itu, iapun tidak ragu-ragu dan tidak sungkan-sungkan lagi untuk menyampaikan niatnya dengan kata-kata.
"Liem Han Sin, kau murid Im-Yang Thian-Cu dan anggauta Tiong-gi pai, benar amat cocok dengan keluargaku. Oleh karena itu, mengingat akan pengutaraanmu tadi bahwa kau belum beristeri dan belum bertunangan, maka aku mengambil keputusan untuk menarik kau sebagai jodoh anak perempuanku. Bu Lee Siang."
Saking kaget dan bingungnya mendengar usul yang sama sekali tidak disangkanya ini, Han Sin sampai berdiri bengong tak dapat menjawab, hanya memandang bengong kepada kakek itu.
Tiba-tiba Lee Ing tertawa cekikikan, menutupi mulutnya dengan tangan akan tetapi tetap saja suara ketawanya membanjir keluar tak dapat dicegah lagi.
Han Sin menoleh dan kini memandang kepada Lee Ing, tidak bengong lagi melainkan penuh permohonan tolong dalam pandang matanya.
Juga Pek-kong-sin-ciang Bu Kam Ki menoleh dan memandang kepada gadis itu, akan tetapi dengan pandang mata marah.
"Hi-hi-hi, sudah kuduga... sudah kuduga...!"
Kata Lee Ing menahan ketawanya sambil memandang pemuda itu.
"Apa yang kau duga? Apa yang kau ketawai?"
Bu Kam Ki membentak marah kepada Lee Ing.
Sejak tadi Lee Ing selalu bersikap dan bicara kasar kepadanya, akan tetapi sebagai seorang tokoh besar dunia kang-ouw, ia sudah biasa dengan sikap yang aneh-aneh, maka ia tidak mengambil perduli.
Akan tetapi sekarang, ia berada dalam keadaan sungguh-sungguh dan ia merasa tidak senang kalau ada orang mentertawainya.
Kalau Bu Kam Ki tidak mengerti mengapa gadis itu tertawa.
adalah Han Sin yang sekarang teringat akan kata-kata yang keluar dari mulut gadis itu di dalam hutan, dalam gelap-gulita tadi tentang gadis dan janda kembang!
Memang benar gadis ini telah dapat menduga bahwa Bu Kam Ki tentu akan minta dia menerima pinangannya menjadi jodoh anaknya, gadis yang belum menikah akan tetapi sudah janda kembang itu karena ditinggal mati oleh tunangannya.
Bagaimana Lee Ing bisa tahu?
Benar-benar ajaib sekali gadis pujaannya, gadis yang sekaligus merampas hatinya, yang tiada keduanya di dunia ini.
Kawin dengan puteri Bu Kam Ki?
Tidak, biarpun dengan seorang bidadari dari kahyangan sekali, ia tak mau menikah setelah dalam hidupnya ia bertemu dengan seorang dara seperti Lee Ing!
Bukankah tadi di dalam gelap ia telah bersumpah akan bersetia sampai mati kepada Lee Ing?
Bagai mana dia bisa menikah dengan orang lain?
"Maaf, Bu-lecianpwe.
Bukannya saya tidak menghargai budi kecintaan dan kepercayaan locianpwe kepada saya, akan tetapi tentang perjodohan..."
Angin malam yang menerobos masuk dari jendela membuat lilin-lilin di dalam ruangan itu bergerak-gerak apinya sehingga wajah Bu Kam Ki sukar dilihat, tertutup bayangan yang bergerak-gerak.
Akan tetapi mendengar suaranya mudah diduga bahwa ia marah sekali.
Tadi ia sudah marah karena merasa ditertawai oleh Lee Ing, sebelum ia mendapat jawaban dari Lee Ing tentang apa yang diketawainya.
sekarang Han Sin secara terang-terangan menolak mentah-mentah pinangannya!
"Ingat janjimu, orang muda.."
"Saya masih ingat baik-baik locianpwe. Saya bersedia memenuhi permintaan locianpwe untuk urusan yang dapat saya lakukan, bukankah demikian? Dan perkara perjodohan, betul-betul saya tidak sanggup melakukan. Kalau urusan lain yang locianpwe minta, biar kerja keras dan jalan jauh kiranya masih akan dapat saya lakukan."
"Jangan plintat-plintut bicara di hadapanku, tahu? Bukankah tadi kau bilang bahwa kau belum punya isteri atau tunangan, berarti kau masih bebas? Sekarang, aku hendak menjodohkan kau dengan anakku, apa halangannya maka kau menolak? Hayo katakan apakah anakku kurang cantik? Kurang pandai?"
Benar-benar kakek itu sudah marah.
Mendengar ucapan ini, kembali Lee Ing tertawa kecil.
Sekali lagi naik darah dalam kepala Bu Kam Ki.
Kalau gadis itu tertawa di saat lain, masih tidak mengapa, akan tetapi pada saat itu benar-benar suara ketawa ini merupakan minyak bakar dalam api menyala.
"Kau ketawa lagi ada apakah, monyet betina?"
"Lutung tua. ketawa atau menangis tidak dikenakan pajak, siapa melarang? Kau yang ditolak pinanganmu boleh menangis sepuasmu, aku yang melihat kelucuan ini boleh ketawa sesukaku, kau mau apa? Orang lain yang menolak pinanganmu kok kau marah-marah kepadaku, apa kau sudah sinting?"
"Bocah sinting! Apa kau tidak tahu bicara dengan siapa, berani kurang ajar seperti itu?"
Bu Kam Ki melangkah maju, kedua lengannya sudah gemetar karena ia menahan-nahan nafsunya hendak memukul.
Kalau tidak ingat bahwa Lee Ing hanya seorang gadis muda yang sebaya dengan anaknya, tentu tadi-tadi ia sudah menjatuhkan tangan besi.
"Tua bangka!"
Suara Lee Ing sekarang juga terdengar sungguh-sungguh dan ketus sekali.
"Aku bicara dengan Pek-kong-sin-ciang Bu Kam Ki, seorang tua bangka yang mengaku-aku sebagai bekas pahlawan, bekas patriot bangsa pembela rakyat yang gagah perkasa dan budiman, akan tetapi ternyata setelah tua menjadi seorang yang tak tahu malu, mengandalkan kepandaian untuk menindas orang lain dan tidak saja menjatuhkan tangan maut kepada keluarga Ciong yang belum diketahui kesalahannya, akan tetapi juga memaksa seorang pemuda menjadi mantunya. Cih, tak tahu malu betul!"
Kemarahan hati Bu Kam Ki tak dapat ditahannya lagi.
Kalau yang memakinya itu seorang yang sederajat atau setingkat, kiranya ia yang biasanya berwatak jujur tentu akan mempertimbangkan ucapan itu.
Akan tetapi yang menegur dan memakinya sekarang hanya seorang gadis muda, ini penghinaan sebesar-besarnya!
"Bocah tak tahu aturan, kau agaknya sudah bosan hidup!"
Bu Kam Ki melompat maju hendak menyerang.
"Jangan, Bu locianpwe.....!"
Han Sin juga melompat, menghadang dan mencegah kakek itu turun tangan.
"Mengapa pula kau menahanku? Dia apamu?"
"Bu....bukan apa apa, dia... dia penolongku."
"Kalau begitu minggir! Dia boleh menolongmu, akan tetapi telah menghinaku!"
Secepat kilat Bu Kam Ki menerobos ke samping tubuh Han Sin, menerjang Lee Ing. Akan tetapi gadis itu sudah melompat mundur mencari tempat lega karena tempatnya tadi di dekat meja, sempit sekali.
"Jangan, locianpwe...!"
Han Sin mencegah lagi.
"Kau akan kalah...!"
Pemuda ini yang sudah menyaksikan kepandaian Lee Ing, tidak merasa ragu-ragu lagi bahwa gadis sakti ini tentu akan menang kalau sampai terjadi pertempuran, sungguhpun ia juga sudah dapat menduga akan kelihaian kakek ini.
Kata-kata terakhir ini begitu saja terloncat dari mulutnya seperti ketika Lee Ing hendak bertanding melawan Ciong Thai.
Di dalam hatinya sudah terdapat kepercayaan penuh bahwa gadis pujaannya ini memiliki kesaktian seperti Kwan Im Posat dan karenanya tidak terkalahkan!
Mendengar ini, mana Bu Kain Ki mau percaya?
Ia mengeluarkan suara ketawa dingin, lalu menerjang terus sambil memukul dengan Pek-kong-siu-ciang.
Diterangi cahaya api lilin, pukulan itu mendatangkan sinar putih yang menyilaukan ketika tangan itu meluncur seperti kilat menyambar ke arah tubuh Lee Ing.
Biarpun mewarisi kepandaian sangat tinggi.
Lee Ing hanya seorang gadis muda yang belum banyak pengalaman.
Apa lagi dia masih muda, darahnya masih panas dan keberaniannya berlebih-lebihan sampai ia kurang berhati-hati.
Biarpun dari nama julukan kakek ini ia dapat menduga bahwa lawannya adalah ahli dalam ilmu Iweekang dan memiliki ilmu pukulan yang berbahaya, namun menghadapi pukulan Pek-kong-sin-ciang ini ia tidak menjadi gentar sama sekali, malah iapun menggerakkan tangan kanan mendorong ke arah pukulan lawannya itu, sedangkan tangan kirinya dibengkokkan dengan aneh ke atas seperti bukan gerakan ilmu silat.
Padahal menurut ilmu silat yang ia pelajari dari Gua Siluman, gerakan ini adalah gerakan serangan yang amat lihai, disebut Si Gila Memuja Bulan!
"Werrr!
Werrr!"
Dua macam hawa pukulan dari dua orang itu menyambar dan saling bertemu dengan kekuatan yang dahsyat sekali.
Pek-kong-sin-ciang Bu Kam Ki melongo setelah ia dapat mengerahkan tenaga dalamnya untuk menahan keseimbangan tubuhnya yang menjadi terguncang oleh pertemuan tenaga yang hebat Sebagai seorang kang ouw yang ulung dan sudah banyak sekali pengalamannya, tentu saja sudah pernah ia bertemu dengan lawan tangguh, akan tetapi selama hidupnya baru sekali inilah ia bertemu dengan seorang gadis muda sebaya anaknya yang tidak saja dapat menahan pukulan jarak jauhnya Pek-kong-sin-ciang.
malah dapat membuat kedudukan kakinya terguncang!
Dan yang terutama sekali membuat ia melongo adalah melihat gerakan pukulan gadis itu yang amat aneh dan lucu, selama hidupnya belum pernah ia menyaksikannya.
Inilah yang hebat dan membuatnya tercengang, oleh karena Bu Kam Ki adalah seorang tokoh di dunia persilatan serba bisa.
Semenjak mudanya kakek ini tiada hentinya mempelajari ilmu silat maka boleh dibilang segala macam ilmu silat dan cabang yang manapun juga ia mahir, atau sedikitnya tentu ia dapat mengenalnya.
Akan tetapi ilmu pukulan yang diperlihatkan gadis tadi, dengan tangan kiri membengkok aneh ke atas, benar benar belum pernah ia melihatnya.
"Hemmm, kau boleh juga. Siapa namamu?"
"Namaku souw Lee Ing, kau kakek tua tanya-tanya nama ada apa sih?"
"Hush, kurang ajar kau! Apa kau kira dengan sedikit kepandaianmu kau bisa membikin aku takut? Lihat serangan!"
Kembali Bu Kam Ki menyerang, karena penasaran kini ia melakukan pukulan-pukulan berat, berganti-ganti dari jarak jauh dan dekat sehingga angin menyambar-nyambar dan terputar-putar ke arah gadis itu.
Setidaknya jauh lebih lihai dari pada tokoh-tokoh seperti Mo Hun atau Kui Ek kalau tak boleh dibilang setingkat dengan kepandaian Tok-ong Kai Song Cinjin.
Pukulan Pek-kong-sin-ciang benar-benar mengandung angin pukulan yang dahsyat.
Kalau di fihak Lee Ing kagum, di fihak Bu Kam Ki tak dapat dilukiskan lagi kekagetannya ketika melihat gadis itupun membuat beberapa gerakan aneh, terhuyung-huyung dan meloncat ke sana ke mari sambil menggerakkan kedua tangannya dengan kacau-balau.
Akan tetapi dari sepasang lengan gadis itu menyambar hawa pukulan yang demikian hebat sehingga semua pukulan, baik dari jarak jauh maupun jarak dekat, terpental kembali!
Lima pukulannya yang dilepas secara bertubi-tubi seperti menubruk benteng baja dan terpental kembali Inilah hebat!
Orang yang dapat menghadapi pukulan-pukulannya tadi seperti yang dilakukan oleh gadis ini, demikian mudah dan sederhana, kiranya jumlahnya dapat dihitung dengan jari tangan.
"Lihai juga! Bocah, kau murid siapakah?"
Tanya Bu Kam Ki dengan muka berobah merah karena pertanyaannya ini merupakan pengakuan bahwa ia tidak dapat mengenal permainan silat gadis itu. Sambil bertolak pinggang Lee Ing menjawab.
"Kakek ompong! Mau tahu guruku? Namanya Bu Beng (Tiada Nama), bertahta di Yu-beng-te-hu (Istana Akhirat) di kota Kui-bun-koan (Kota Iblis). Puas?"
Wajah Bu Kam Ki makin menjadi pucat saking marahnya.
Jelas gadis ini mempermainkannya dan terlalu memandang rendah kepadanya.
Tentu saja ia tidak tahu bahwa biarpun secara main-main, gadis itu telah membuat pengakuan, karena gurunya memang bernama Bu-Beng Sin-Kun dan tempat tinggalnya di dalam Gua Siluman.
"Yau-hu (siluman betina)! Kau benar-benar tidak memandang mata kepada Pek-kong-sin-ciang Bu Kam Ki. Kau jaga baik-baik pukulanku ini!"
Setelah berkata demikian, kakek itu menggerak-gerakkan kedua tangannya, diputar-putar di depan dada sampai semua pergelangan lengan mengeluarkan bunyi "kretek... kretek!"
Dan kulit lengannya nampak putih berminyak. Setelah itu ia lalu membanting kedua kakinya di atas lantai sambil berseru "aaahhhh!"
Dan.....
sepasang kakinya itu amblas ke dalam lantai sampai dua dim lebih.
Kemudian ia memandang tajam ke depan, siap melakukan pukulannya.
Inilah ilmu pukulan yang disebut Pek-in-ki-san (Awan Putih Naik Gunung) yang merupakan inti dari Ilmu Silat Pek-kong-sin-ciang ciptaannya sendiri.
Pek-in-ki-san ini merupakan serangan yang terdiri dari dua pukulan, pertama menghantam bagian bawah tubuh lawan sedemikian rupa sehingga jalan satu-satunya bagian lawan untuk menghindarkan diri hanya melompat ke atas.
Kemudian pukulan susulan, yaitu bagian "ki-san"
Atau naik gunung dilakukan dengan memukul ke arah lawan yang sedang meloncat.
Dalam keadaah meloncat tentu saja kedudukan lawan tidak kuat, sedangkan dua pukulan ini dilakukan dengan tenaga Pek-kong-sin-ciang maka dapat dibayangkan betapa dahsyat dan berbahayanya.
Namun reaksi yang diperlihatkan oleh Lee Ing di luar dugaan dan tidak kalah anehnya.
Melihat orang mengerahkan tenaga Iweekang sepenuhnya sampai lantai tempat kaki berpijak menjadi amblas ke bawah.
Lee Ing mengeluarkan suara ketawa aneh sekali dan..
gadis itu mendadak menjatuhkan diri, duduk di atas lantai dengan kedua kaki dilonjorkan ke depan, kemudian kedua tangannya ia sodorkan dalam sikap menyembah.
Kelihatannya memang aneh dan menggelikan, akan tetapi inilah gerakan yang disebut Si Gila Menyembah Matahari, suatu pecahan dari Ilmu Silat Si Gila Merindu peninggalan Bu-Beng Sin-Kun.
Dalam gerakan ini terkandung tenaga Iweekang yang dahsyat dan gaib.
Pek-kong-sin-ciang Bu Kam Ki ketika melakukan pukulan pertama tertumbuk kepada tenaga tak terlihat yang meniup dari gerakan dua tangan gadis yang menyembah itu sampai terpental kedua kepalan tangannya yang melakukan gerakan mendorong.
Ia kaget setengah mati bercampur rasa heran, akan tetapi melihat gadis itu kini berjungkir balik dengan kepala di bawah dan kaki di atas, kembali ia melakukan pukulan sebagai lanjutan pukulan pertama.
Kali ini pukulannya dilakukan agak ke atas, sedianya untuk memukul lawan yang melakukan pembelaan diri secara melompat.
Akan tetapi oleh karena pembelaan diri Lee Ing tadi lain dari pada yang lain, malah sekarang gadis itu berjungkir-balik, tentu saja pukulan ini menuju ke arah kedua kaki gadis itu yang menjulang ke atas seperti dua batang rebung (bambu muda).
Pukulan ini hebatnya bukan kepalang tidak kalah oleh yang pertama dan kaki orang lain pasti akan patah-patah atau remuk terkena hawa pukulan ini.
Lee Ing menggerak-gerakkan kedua kakinya seperti orang menendang bola, atau seperti anak bayi bermain-main dengan kaki.
Akan tetapi inipun bukan gerakan biasa karena dari kedua kakinya menyambar tendangan yang hebat.
Sekali lagi Bu Kam Ki terkejut dan pukulannya terpental, bahkan tubuhnya sampai doyong ke belakang hampir terpental!
la cepat melompat dan kiranya lantai yang tadi amblas sekarang makin dalam lubangnya sampai kakinya tadi amblas sebatas lutut.
Terdengar Lee Ing tertawa aneh sekali lagi dan gadis inipun melompat dan berdiri seperti biasa.
Bekas kedua tangannya menabok lantai tadi juga kelihatan berlubang kurang lebih satu dim dalamnya.
Ternyata hebat juga pengaruh pukulan Bu Kam Ki, akan tetapi kalau dilihat betapa lubang yang dibuat oleh kedua kaki kakek itu jauh lebih dalam, dapat dinilai bahwa dalam mengadu tenaga lweekang yang sakti tadi, ternyata gadis itu masih menang setingkat.
"Kau siluman wanita! Katakan dulu siapa gurumu, dari partai mana kau sebelum aku melanjutkan mengadu nyawa denganmu! Aku tidak akan malu-malu lagi untuk mengeluarkan seluruh kepandaianku melihat bahwa kau adalah seorang lawan setingkat."
Sejak tadi Han Sin berdiri bengong melihat pertandingan yang dalam pandangannya amat aneh itu, akan tetapi yang ia tahu merupakan pergulatan mati-matian maka dapat dibayangkan betapa gelisah hatinya.
Ingin ia mencegah pertandingan ini, kalau bisa ia akan menolong Lee Ing dan kalau perlu mengorbankan nyawanya untuk nona yang dicintainya ini, akan tetapi tentu saja ia merasa berat kalau syarat pertolongan itu dia harus menikah dengan gadis lain!
"Bu lo-enghiong, nona Souw adalah puteri tunggal Souw Teng Wi Taihiap!
Harap maafkan dan sudahi pertempuran ini!"
Akhirnya ia berteriak dengan hati gelisah sekali. Bu Kam Ki nampak kaget sekali mendengar ini seperti disengat kalajengking. Matanya terbelalak lebar kemudian tertawa terbahak-bahak.
"Ha-ha-ha-ha! Titian Maha Adil! Souw Teng Wi mempunyai puteri seperti ini, benar-benar ini kurnia Thian. Memang seorang pahlawan besar seperti dia patut sekali di anugerahi puteri segagah ini. Ha-ha-ha, nona muda, kalau belum bertempur belum saling mengenal, ini memang kebiasaan orang-orang gagah. Kenyataan bahwa kau memang bersalah dalam hal ini. Ayahmu seorang pahlawan bangsa yang tiada keduanya. Dan kau seorang gadis muda yang tiada keduanya pula di dunia ini. Kepandaianmu benar-benar hebat dan mengagumkan. Sudahlah, aku si tua bangka memang terlalu memikirkan kepentingan sendiri, terlalu ingin melihat anakku mendapat jodoh seorang pemuda gagah. Lamunan kosong belaka, tidak melihat kebodohan dan keburukan rupa anak sendiri. Sudah, Liem-sicu, maafkan saja aku orang tua yang sudah pikun. Soal perjodohan kucabut kembali, namun aku tetap kelak dapat kau harapkan bantuanku dalam perjuangan membantu Tiong-gi-pai, tentu saja kalau aku masih hidup pada waktu itu."
Setelah berkata demikian, sekali berkelebat Bu Kam Ki menghilang keluar dari rumah, lenyap ditelan gelap malam. Lee Ing menarik napas panjang.
"Hebat.... Bu-lohiap itu kepandaiannya tinggi dan lihai sekali. belum tentu kalah oleh Tok-ong Kai Song Cinjin."
"Menurut suhu, Pek-kong-sin-ciang memang merupakan seorang di antara tokoh besar yang sekarang sudah jarang sekali muncul. Malah suhu pernah berkata bahwa sekarang setelah Tok-ong memperlihatkan diri, ada harapan tokoh yang lain juga memperlihatkan diri. Masih ada dua orang tokoh lain yang tingkatnya kelas satu akan tetapi suhu sendiri belum pernah berjumpa, yang satu bernama Tok-pi Sin kai (Pengemis Sakti Tangan Satu) dan seorang lagi berjuluk Im-kau Hek-mo (Iblis Hitam dari Akhirat)! Mereka ini kata suhu adalah orang orang aneh yang sukar sekali diajak urusan."
Lee Ing tertarik sekali "Hemm, tak kusangka di dunia begitu banyak orang sakti."
"Betapapun saktinya, tiada yangm dapat mcelawanmu, nona Souw"
"Bisa saja kau memuji. Aku ini apa, sih? Eh, Liem twako, kau tadi mengapa menolak? Bukankah enak sekali ditarik mantu, gadisnya cantik dan lihai, mertuanya sakti. Mau pilih yang bagaimana lagi?"
Han Sin menghela nafas dan berkata sungguh-sungguh.
"Kau tahu, nona, jangankan baru puteri Bu lohiap, biar bidadari dari kahyangan sekalipun aku tetap akan menolak. Hati, cinta kasih....... bahkan jiwa ragaku sudah bukan milikku lagi, sudah kuserahkan untuk bersetia sampai mati... Lupakah kau akan sumpah dan janjiku di dalam hutan gelap tadi?"
Lee Ing meniup dengan mulutnya dan semua lilin di ruangan itu padam, keadaan menjadi gelap sekali, gelap gulita tidak kelihatan apa-apa.
"Hayo kita pergi, jangan mengacau yang bukan-bukan. Kita lanjutkan perjalanan, aku tidak senang di tempat ini."
"Malam-malam begini?"
"Biar malam! Sekarang sudah lewat tengah malam, sebentar lagi juga datang pagi yang terang."
"Baiklah, hanya aku khawatir kita akan kehilangan jalan lagi."
"Lebih baik aku bermalam di hutan dari pada di rumah ini. Hayo!"
Keluarlah dua muda-mudi itu dari rumah keluarga Ciong dan hal ini mudah dilakukan karena di luar rumah dipasangi lampu gantung.
Hati Han Sin makin melekat kepada gadis yang luar biasa itu, akan tetapi makin dipikir makin sedihlah dia karena tidak ada harapan.
Gadis ini demikian lihai dan sakti, dia mana ada harga menjadi sisihannya?
Paling-paling menjadi pengagumnya selama hidup.
Akan tetapi, mendapat kesempatan bersama menghadapi segala pengalaman berhaya, sudah merupakan hal yang amat membahagiakan hatinya.
Menjelang pagi mereka masih berada di dalam hutan.
Lembah Sungai Yang-ce di wilayah ini ternyata banyak hutannya, hutan yang besar dan liar.
Pagi itu hawanya dingin sekali menusuk tulang, namun bagi muda-mudi seperti Han Sin dan Lee Ing yang memiliki kepandaian tinggi, tentu saja serangan hawa dingin ini bukan apa-apa.
Dengan gembira mereka berjalan terus melalui sebuah lorong kecil yang jarang sekali dilalui manusia.
"Ada orang menggantung diri di sana!"
Tiba-tiba Han Sin berseru sambil menuding ke kiri.
Lee Ing menoleh dan benar saja, di sebelah kiri kelihatan seorang gadis menggantung lehernya sendiri dengan sehelai ikat pinggang sutera yang diikatkan pada dahan pohon besar yang tinggi.
"Hemmmm, seperti pernah kulihat mukanya,"
Kata Lee Ing sambil mengikuti Han Sin yang sudah melangkah maju ke jurusan itu.
"Benar, dia Bu Lee Siang!"
Kaget hati Han Sin. Benar saja gadis yang mengambil keputusan pendek itu adalah Lee Siang, puteri Bu Kam Ki.
"Dia masih hidup, mari kita tolong!"
Kata Han Sin. Lee Ing mengerutkan keningnya.
"Dia sudah mengambil keputusan sendiri, ditolong juga apa (Lanjut ke
Jilid 20) Pusaka Gua Siluman (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 20 artinya?
Kecuali kalau kau menikah dengan dia dan selalu berada di sampingnya, baru dia tidak ada kesempatan menggantung diri.
Kalau tidak, sekarang ditolong besok bisa menggantung leher sendiri lagi."
Akan tetapi Han Sin yang besar perikemanusiaannya itu tidak memperdulikan kata-kata Lee Ing dan cepat melompat ke atas, memutuskan ikat pinggang yang mengikat leher Lee Siang, kemudian tanpa sungkan-sungkan lagi ia memondong tubuh gadis itu ke bawah dan membaringkannya di atas rumput.
Pada kulit leher yang putih bersih itu nampak tanda merah bergurat bekas ikatan tali sutera.
Baiknya belum lama gadis ini menggantung diri, sebentar saja napasnya sudah mulai berjalan lagi.
Akan tetapi ketika Han Sin menengok, ternyata Lee Ing sudah pergi darin situ!
Lee Siang membuka matanya perlahan, nampak terheran lalu menoleh ke kanan kiri.
Ketika ia melihat Han Sin berjongkok di dekatnya, ia kaget sekali.
"Di....di mana aku....?"
Tanyanya lemah.
"Engkau masih hidup, nona. Harap tenang dan sabar, segala hal dapat diurus beres, mengapa mesti mengambil jalan gelap?"
Akan tetapi Lee Siang melompat kaget mendengar ini.
"Jadi kau.. kau yang menolongku? Setelah apa yang kau lakukan kepadaku.. setelah kau menghinaku, menghancurkan hatiku, mendatangkan malu besar sampai aku tak sanggup hidup lagi, sekarang kau masih hendak merintangi aku mengambil jalan gelap? Aku mampus kau perduli apa?"
Nona itu kelihatan marah sekali. Han Sin gelagapan disSrang dengan kata-kata ini.
"Eh-heii. nanti dulu, nona. Apakah kesalahanku? Aku menghina bagaimana dan mengapa membikin malu? Apa kau tidak keliru?"
"Orang berhati kejam! Kau masih berpura-pura lagi? Kau menolak pinangan ayah, berarti kau, menolak aku! Tanpa alasan pula! Dan ayah tidak berdaya memaksamu karena... karena siluman wanita itu....! Untuk apa aku hidup setelah menerima penghinaanmu ini tanpa dapat membalas?"
"Ah, kau keliru, nona. Aku sama sekali tidak menolak karena aku benci kepadamu atau kupandang rendah. Sama sekali bukan tidak ada alasan..
"Kau belum beristeri belum bertunangan, namun kau menolak!"
"Betul, akan tetapi jiwa ragaku sudah ada yang punya! Sungguhpun orang ini belum tentu mencintaiku, namun selama hidupku aku hanya mencinta seorang wanita saja."
Bu Lee Siang nampak tercengang.
"Eh, kenapa kau tidak memberi tahu ayah secara terus terang untuk mencegah ayah menggunakan paksaan yang memalukan? Apakah..... apakah wanita itu siluman betina yang datang bersamamu?"
Han Sin hanya mengangguk. Tiba-tiba Lee Siang mengeluarkan suara aneh, setengah tertawa setengah menangis, lalu pergi dari situ.
"Kalau begitu kau tidak menghinaku, aku tak perlu mati. Bukan kau saja laki-laki di dunia ini!"
Han Sin menarik napas panjang.
Untung gadis itu dapat sadar dan membatalkan niatnya yang buruk, la menoleh ke sana ke mari tetapi tetap saja tidak nampak Lee Ing.
Memang ada baiknya Lee Ing tidak berada di situ, pikirnya karena kalau tadi ada Lee Ing, kiranya tak semudah itu ia mengaku di depan puteri Bu Kam Ki bahwa ia hanya meminta Lee Ing seorang.
"Nona Souw....!"
Teriaknya memanggil. Tiada jawaban.
"Adik Lee Ing..!"
Ia memanggil lagi.
Tetap sunyi, tiada jawaban gadis itu, hanya kicau burung hutan yang menjawabnya.
Apa boleh buat, ia berjalan terus melanjutkan perjalanannya tadi, keluar dari hutan.
Setelah keluar dari hutan itu, ia melihat Lee Ing, berdiri menghadapi matahari pagi sambil bersilang tangan seperti sedang mandi cahaya matahari.
Gadis itu berdiri tegak dan membelakangi Han Sin.
"Nona Souw.....!*"
Han Sin berseru girang.
"Kusangka kau sudah pergi jauh dari sini."
Lee Ing memutar tubuhnya dan Han Sin melihat sepasang mata yang kemerahan, agaknya karena terlalu lama menghadapi matahari pagi, pikirnya.
"Bagaimana dengan Bu Lee Siang?"
Tanya Lee Ing dengan suara perlahan, berbeda dari biasanya. Agak tergetar dan terharu.
"Anak bodoh itu sudah pulang,"
Jawab Han Sin biasa. Tiba-tiba Lee Ing nampak marah.
"Sombong! Kenapa kau menyebut dia anak bodoh?"
Akan tetapi sebelum Han Sin menjawab, dia sudah berkata lagi cepat-cepat.
"Hayo kita melanjutkan perjalanan. Bukankah kau hendak ke Peking sekarang? Ataukah masih harus berputar-putar di sini?"
"Aku baru mendapat janji satu orang, yaitu Bu-lohiap, tentu ini belum berarti tugasku selesai. Aku harus terus ke barat lebih dulu sampai di Gunung Tai-Iiang-san, baru aku akan ke utara."
Di dalam hatinya Han Sin ingin mengajak nona itu, akan tetapi tentu saja bibirnya tidak berani mengucapkannya.
"Hemmmmm........."
Lee Ing berpikir-pikir.
"sebetulnya aku harus cepat-cepat ke utara mencari ayah. Akan tetapi, bertemu dengan orang-orang sakti itupun menarik hati sekali. Setelah sampai di sini, baik aku ikut sampai ke Tai-liang'-san."
Girang hati Han Sin.
"Bagus sekali, nona Souw. Aku harap saja kita akan dapat bertemu dengan seorang di antara dua tokoh yang kusebutkan tadi karena kata suhu mereka itu dahulu melenyapkan diri di wilayah Tai-Iiang-san."
Berangkatlah kedua orang ini ke barat, melalui jalan yang amat sukar dan liar.
Namun berkat kepandaian mereka yang tinggi, tentu saja perjalanan sukar itu mereka lakukan dengan mudah dan cepat.
Hanya Han Sin yang payah, harus selalu mengerahkan seluruh kepandaian untuk dapat mengimbangi kecepatan gerakan Lee Ing yang nampaknya berjalan biasa namun ringan dan cepat sekali majunya.
Mereka makin erat hubungannya.
Lee Ing adalah seorang gadis jenaka yang selalu bergembira, namun agak aneh wataknya dan kadang-kadang seperti orang sinting!
Ini adalah pengaruh yang ia dapat dari Gua Siluman.
Di lain fihak, Han Sin adalah seorang pemuda yang sifatnya sederhana, ramah-tamah, jujur dan selalu berpikiran baik dan sopan.
Mereka cocok sekali.
Yang membuat Han Sin merasa agak kecewa dan juga heran adalah pengetahuan Lee Ing tentang ilmu silat.
Kalau Han Sin mengajaknya bicara tentang ilmu silat, keterangan gadis yang berilmu tinggi itu amat kacau dan malah seperti ngawur kalau tidak boleh dikata bahwa tingkat pengetahuannya seperti tingkat seorang yang memiliki kepandaian ilmu silat tidak berapa tinggi.
Hal ini memang demikian, karena kepandaian silat dari Lee Ing adalah berkat pendidikan kong-kongnya, Haminto Losu, yang biarpun lihai namun dibandingkan dengan Han Sin masih terhitung rendah.
Adapun ilmu kesaktian yang kini dimiliki gadis itu adalah ilmu silat yang aneh, yang ia warisi dari manusia aneh pula sehingga dasar-dasarnya sudah jauh berlainan dengan ilmu silat-ilmu silat dari partai-partai seperti Kun-lun, Bu-tong, Go-bi, dan lain-lain yang mempunyai dasar yang sama, atau setidaknya hampir sealiran.
Yang berbeda hanya ilmu silat-ilmu silat dari golongan sia-pai atau penganut-penganut Mo-kauw yang merobah ilmu silat menjadi setengah ilmu sihir, merobah-ilmu seni penjagaan diri menjadi ilmu setan alat pembunuh!
Akan tetapi, ilmu silat yang dimiliki Lee Ing ini berbeda dari kedua-duanya!
Dikata seni penjagaan diri yang biasanya selain keteguhan juga diperlihatkan keindahan gerak tubuh, sama sekali bukan karena gerakan-gerakan yang diperlihatkan Lee Ing sama sekali tidak indah, kacau balau dan lucu seperti seorang gila menari-nari.
Dikatakan ilmu setan alat pembunuh dari Mo-kauw juga bukan, karena pukulan-pukulannya bersih tidak memperlihatkan segi-segi curang dan tidak mengandung hawa beracun.
Hati Han Sin sudah seratus prosen tunduk, ia mencinta Lee Ing sepenuh hati dan perasaannya.
Ini bukan rahasia lagi, malah biarpun ia selalu bersikap sopan dan tidak berani sembarangan menyatakan cinta, namun gerak-gerik dan sikap serta pandang matanya membuat Lee Ing siang-siang sudah tahu apa gerangan yang terjadi di dalam hati pemuda tampan itu.
Bagaimana dengan Lee Ing sendiri?
Sukar dijawab, malah Lee Ing sendiri juga tidak tahu.
Ia tertarik dan suka kepada Oei Siok Ho, pemuda y"ng amat ganteng dan memikat hatinya.
Hatinya berbisik bahwa ia mencinta Siok Ho.
Ia suka sekali kepada Han Sin, ini tidak dapat disangkal pula, akan tetapi di sana ada Siok Ho yang lebih dulu sudah merebut hatinya dan cintanya.
Andaikata tidak ada Siok Ho, mungkin sekali hatinya akan condong kepada Han Sin.
Tiga pekan telah lewat semenjak Han Sin dan Lee Ing melanjutkan perjalanan mereka ke barat.
Sikap dua orang muda ini satu kepada yang lain sudah tidak asing lagi, malah kini Lee Ing selalu menyebut pemuda itu Sin-ko (kakak Sin) sedangkan Han Sin menyebut pemudi itu Ing-moi (adik Ing).
Tentu saja sebutan ini adalah usul Lee Ing karena kalau tidak, Han sin masih selalu ragu-ragu dan tidak berani Untuk berlancang menyebut Ing-moi.
Biarpun di dalam sebutan ini tidak ada artinya apa-apa namun Han Sin sudah menjadi amat girang dan berbesar hati.
Memang tolol sekali orang yang sudah terpengaruh oleh cinta.
Diberi senyum sedikit, dikerling sekilas, sudah bukan main besar hatinya!
Mudah merasa bahagia, mudah pula merasa berduka, inilah sifat orang bercinta kasih.
Pada suatu malam bulan purnama, dua orang muda-mudi ini melanjutkan perjalanan mereka yang kini sudah jauh meninggalkan tanah datar lembah sungai dan sudah mulai memasuki daerah tinggi berbukit.
Malam itu memang indah.
Bulan penuh tidak ada angin, terang sejuk dan pemandangan amat indahnya.
Usul Lee Ing pula untuk melanjutkan perjalanan di waktu malam.
Han Sin sudah biasa sekarang dengan watak gadis yang kadang-kadang aneh ini.
la tidak banyak membantah, hanya menyatakan setuju dan melanjutkan perjalanan, tidak bermalam di dusun yang mereka lalui.
"Malam indah seperti ini aku tidak mau dikurung dalam rumah apek di bawah atap penuh tikus,"
Kata Lee Ing.
"Kalau kita lelah mengantuk, biar kita bermalam saja di atas rumput bawah pohon sambil menikmati cahaya bulan untuk memperkuat Im-kang dalam tubuh. Kepandaian Han Sin belum mencapai tingkat begitu tinggi sehingga dari cahaya bulan ia dapat memperkuat Im-kang. Hanya orang-orang yang sudah tinggi saja tingkat lweekangnya akan dapat melatih diri dan memperkuat Yang-kang dengan sinar matahari dan memperkuat lm-kang dengan cahaya bulan.
"Lihat, di sana itu ada asap, dan baunya sedap sampai ke sini.!"
Tiba-tiba Lee Ing berkata sambil menudingkan telunjuknya yang kecil runcing itu ke arah puncak sebuah bukit kecil.
"Heran,"
Kata Han Sin setelah menoleh.
"Terang di sana tidak ada dusunnya, tidak ada rumah orang. Bagaimana bisa ada asap dupa? Tentu dupa yang dibakar oleh pertapa."
"Mari kita melihat ke sana."
Ajak Lee Ing.
"Untuk apa kita mengganggu pertapa yang sedang menikmati cahaya bulan sambil membakar dupa dan berdoa? Itu dosa namanya, mengganggu pendeta yang mensucikan diri."
Lee Ing tersenyum dan Han Sin tertegun, kesima kagum.
Sering kali ia melihat gadis itu tersenyum, bahkan setiap gadis itu tersenyum ia selalu memperhatikan, akan tetapi belum pernah ia melihat Lee Ing tersenyum di bawah sinar bulan purnama.
Memang hebat sekali senyum gadis di bawah sinar bulan purnama, mempunyai pengaruh dan wibawa yang ajaib sekali.
Han Sin menjadi terpesona dan berdiri bengong seperti orang terkena hikmah.
"He, kau kenapa, Sin-ko....?"
Tanya Lee ing sambil menepuk pundaknya. Baru Han Sin sadar kembali dengan kaget lalu menjawab gugup-gagap.
"Aku, aku... tidak apa-apa... hanya melihat engkau..."
"Lain kali kalau memandang orang jangan seperti itu, mengerikan sekali."
Gadis itu mengomel.
"Kau tadi bilang yang di atas itu pendeta suci? Aku tidak percaya. Andaikata betul pendeta, dia tak bisa dibilang suci karena masih mempunyai keinginan besar untuk bersenang hati. Buktinya, hendak menikmati cahaya bulan dan harumnya dupa, dan semua itu dinikmatinya sendiri!"
"Lho, mengapa perbuatan itu kau jadikan ukuran bahwa dia tidak suci?"
Tanya Han Sin tak mengerti.
"Sudahlah, jangan-jangan kita nanti cekcok tentang pendeta suci atau tidak Jangan merusak suasana seindah ini dengan perdebatan,"
Kata Lee Ing yang segera membelok dan mulai mendaki bukit kecil itu.
Terpaksa Han Sin mengikuti dari belakang.
Memang dua orang muda-mudi ini seringkali berdebat mengukuhi kebenaran pendirian sendiri-sendiri.
Han Sin orangnya jujur, tentu saja ia tidak suka pura-pura yang dianggapnya keliru.
Akan tetapi kerap kali ia dibikin bingung dan tak mengerti oleh pendapat-pendapat Lee Ing yang aneh dan sukar dimengerti.
Makin dekat dengan puncak bukit itu.
makin keras baunya asap dupa menusuk hidung.
Lee Ing mempercepat pendakiannya dan Han Sin terpaksa juga mengikutinya terus.
Akhirnya sampai juga mereka di puncak dan terlihat oleh mereka tiga orang laki-laki setengah tua duduk bersila di atas tanah mengitari sebuah batu yang dipergunakan seperti meja, sedangkan di dekat mereka mengebul asap dupa itu yang ternyata amat keras dan harum baunya.
Seorang di antara mereka adalah seorang setengah tua yang bertopi batok (topinya berbentuk batok), seorang lagi tosu setengah tua yang memegang pedang dan orang ke tiga adalah seorang gemuk dengan muka bundar seperti muka kodok, memegang sebatang pedang bengkak-bengkok seperti tubuh ular.
"Dia Pek-kong-sin-kau Siok Beng Hui....!"
Han Sin berbisik sambil menudingkan jan telunjuknya.
"Yang bertopi batok itu?"
Bisik Lee Ing kembali.
Mereka berdua mengintai dari balik pohon dan mereka bersembunyi di balik pohon berhimpitan dan tanpa disengaja pundak Lee Ing mendesak dada Han Sin sedangkan rambutnya melambai mengusap hidung pemuda itu, membuat Han Sin untuk sejenak hampir kehilangan kesadarannya!
"Dialah pembantu dan utusan raja muda di utara,"
Kata Han Sin, suaranya agak gemetar karena hatinya masih dak-dik-duk dapat mencium rambut gadis itu tanpa disengaja.
"Heran mengapa dia berada di sini?"
Tentu saja Lee Ing sudah mengenal nama Siok Beng Hui.
Bukankah orang tua ini ayah pemuda Siok Bun, merah pipi Lee Ing.
Pemuda bertopi batok yang tampan itu juga amat baik kepadanya.
Ada tiga orang yang ketiganya baik sekali, pertama Siok Ho, ke dua Han Sin, dan ke tiga Siok Bun!
Tiga orang yang duduk seperti patung tak bergerak itu kini mulai bicara.
Yang bicara adalah si tosu yang memegang pedang, suaranya tegas dan penuh desakan, ditujukan kepada Siok Beng Hui.
"Siok Beng Hui, kita bertiga bertemu dan bicara secara laki-laki, disaksikan oleh cahaya bulan. Harum dupa sudah menjernihkan pikiran kita, maka pinto harap saja kau akan dapat mempertimbangkan permintaan kami secara mendalam."
"Sudah kupertimbangkan baik-baik, Gak Seng Cu. Dan jawabanku tetap tidak! Keselamatan Souw-taihiap menyangkut keadaan negara dan jangan dibandingkan dengan hubungan keluarga atau sahabat, bahkan dibandingkan dengan keselamatan nyawa lebih penting lagi."
"Siok Beng Hui, kauil ternyata masih keras kepala seperti di waktu muda, tidak dapat berpikir panjang. Kau tentu tahu bahwa kami tidak akan mengganggu keselamatan Souw Teng Wi.
"Tetap saja aku tak dapat memenuhi permintaanmu, Gak Seng Cu, terserah kepadamu!"
Jawab pula Siok Beng Hui, suaranya juga tetap. Tosu itu menarik napas panjang, sedangkan kawannya, si muka kodok, hanya mesam-mesem lucu.
"Siok Beng Hui, guru-guru kita bertiga adalah tokoh-tokoh besar di dunia puluhan tahun yang lalu dan selama itu tidak pernah ada permusuhan, Siapa yang tidak kenal gurumu, Pek-kong-sin-ciang Bu Kam Ki? Siapa tidak mengenal guru Pek Ke Cui ini, Im-kan Hek-mo? Juga guruku tidak kalah terkenalnya, semua orang kang-ouw pernah mendengar nama Tok-pi Sin-kai! Mereka bertiga itu dahulu menjagoi dan tak pernah dikalahkan orang kecuali untuk satu kali! Bukan rahasia lagi bagi kita bertiga bahwa guru-guru kita itu dahulu, di waktu mereka masih muda belia dan kuat perkasa, mereka bertiga secara mengeroyok telah dikalahkan oleh seorang gila yang sudah tua bangka bernama Bu-beng Sin-kun! Ilmu silat Bu-beng Sin-kun tidak ada yang menyamai keanehannya dan kita semua sudah mendengar dari guru-guru kita. Sekarang tak dapat disangkal lagi bahwa Souw Teng Wi mempelajari ilmu silat Bu-beng Sin-kun! Kita masih berpikiran waras, tidak akan menganggap Souw Teng Wi sebagai musuh, akan tetapi pinto dan Pek Ke Cui ini berhak mengetahui di mana Souw Teng Wi mempelajari ilmu silat musuh lama itu."
"Kau sudah menceritakan semua itu, Gak Seng Cu, dan aku sudah mengerti betul apa yang kalian kehendaki. Selain hendak mengetahui di mana Souw-taihiap mempelajari ilmu itu, juga kalian ingin sekali dapat mewarisi ilmu yang dulu pernah mengalahkan guru-guru kita, bukan? Akan tetapi, menyesal sekali, Souw-taihiap adalah seorang pahlawan besar, dia banyak diincar oleh para penghianat maka tempat tinggalnya dirahasiakan. Bahkan kepada kalian sendiripun terpaksa aku tak dapat membuka rahasia."
"Siok Beng Hui, kau terlalu! Guru-guru kita yang menjadi jagoan-jagoan kelas satu di dunia, saling tolong dan akur. Masa di antara kita harus melenyapkan tradisi baik itu? Apakah kami harus menggunakan kekerasan?"
Siok Beng Hui berdiri, sikapnya tenang namun tegas dan gagah.
"Kalian ini orang-orang tak tahu diri yang lupa akan keadaan. Memiliki kepandaian tidak dipergunakan untuk membela rakyat memperbaiki keadaan negara, masih mencari kepandaian terus, untuk apa? Rakyat sedang prihatin, kalian tidak membantu malah memikirkan kesenangan diri sendiri."
"Orang she Siok, kepandaianmu seberapakah, bicaramu begitu sombong? Kau menghina kami sama dengan menghina guru kami karena mencari tempat tinggal Bu-beng Sin-kun bukan hanya kehendak kami, melainkan kehendak guru-guru kami!"
Kata si muka kodok yang bernama Pek Ke Cui itu.
"Aha, begitukah? Jadi guru-guru kalian yang menyuruh? Betapapun juga, aku tetap menolak, tidak saja karena kedudukanku, juga mengingat bahwa suhu sendiri tentu takkan membiarkan aku berlaku khianat terhadap seorang pahlawan seperti Souw-taihiap!"
"Pek Ke Cui, manusia ini sudah terlalu mabok akan pangkat. Kita tangkap dan seret ke depan suhu-suhu kita, beres!"
Kata Gak Seng Cu, tosu yang memegang pedang itu.
"Jangan kira aku takuti"
Bentak Siok Beng Hui yang mencabut keluar sepasang senjatanya, yaitu kaitan yang berwarna putih.
"Tosu bau dan siluman kodok benar-benar tak tahu diri!"
Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan tahu-tahu Lee Ing sudah berdiri di hadapan mereka.
Jangankan Gak Seng Cu, Pek Ke Cui, dan Siok Beng Hui.
bahkan Han Sin sendiri yang berdiri dekat sekali dengan Lee Ing, tidak melihat kapan gadis itu bergerak, sekali berkelebat tahu-tahu sudah pindah tempat.
Tentu saja ketiga orang jago itu menjadi kaget dan terheran-heran sampai mereka melongo dan tidak melanjutkan pertempuran yang tadinya akan berlangsung.
Akan tetapi Gak Seng Cu dan Pek Ke Cui marah sekali karena mereka maklum sepenuhnya bahwa makian tadi ditujukan kepada mereka.
"Dari mana munculnya bocah perempuan siluman?"
Bentak Gak Seng Cu marah. Akan tetapi Lee Ing tidak memperdulikan mereka, sebaliknya ia menghadapi Siok Beng Hui, mengangkat kedua tangan memberi hormat dan berkata.
"Siok-lopek (uwa Siok), terimalah hormatku. Kau seorang gagah yang amat mengagumkan. Kau betul sekali, jangan hiraukan dua ekor kadal ini!"
Mau tak mau Siok Beng Hui tersenyum mendengar ucapan dan melihat sikap Lee Ing yang jenaka, namun tak dapat disangkal lagi cantik menarik dan penuh keberanian yang mengagumkan.
"Nona cilik, jangan kau main-main. Dua orang gagah ini tidak boleh kau permainkan begitu saja. Mereka lihai sekali dan mundurlah kau, biar aku menghadapi mereka untuk membereskan urusanku,"
Kata Siok Beng Hui halus. Akan tetapi kini Lee Ing sudah menghadapi dua orang lawan Siok Beng Hui itu, lalu menudingkan jari telunjuknya yang kecil sambil memaki.
"Eh, kadal-kadal kelaparan, dengarkan baik-baik. Kau hendak memaksa Pek-kong-sin-kauw Siok Beng Hui untuk menjadi pengkhianat. Mana dia mau? Seorang pahlawan atau ksatria tidak macam kalian ini, kadal dan kodok busuk. Kalian mencari-cari pahlawan Souw Teng Wi mau apa sih? Tak usah jauh-jauh kalian mencari, ini puterinya, Souw Lee Ing kalian hadapi. Hayo, kalian mau apa? Apa kau kira manusia-manusia tiada guna macam kalian ini bisa menggertak ayah? Cih, tidak tahu diri benar!"
Gak Seng Cu dan Pek Ke Cui menjadi bengong, tidak saja tertegun menyaksikan gadis ini bersikap sedemikian rupa terhadap mereka yang selama hidup belum pernah dihina orang seperti ini, juga karena kaget mendengar pengakuan bahwa gadis ini adalah puteri Souw Teng Wi.
Siok Beng Hui juga tak kurang-kurang kagetnya.
Baru satu kali ia melihat puteri sahabatnya itu, yakni ketika Lee Ing diculik oleh Toat-beng-pian Mo Hun.
Akan tetapi ketika itu belum jelas benar ia melihat Lee Ing maka sekarang ia menjadi pangling (lupa akan wajah seseorang yang dikenal).
"Kau puteri Souw-taihiap? Bagus! Minggirlah anak baik, biar aku menghadapi dua orang yang menyeleweng ini,"
Kata Siok Beng Hui, gembira bahwa ternyata puteri pahlawan itu masih hidup.
Hal ini tentu akan banyak membantu kemajuan pikiran Souw Teng Wi yang selama ini hidup tidak karuan jalan pikirannya, tetap seperti orang gila.
Dan ia merasa girang sekali bahwa puteri Souw-taihiap ternyata cantik jelita dan pemberani, sungguhpun agak terlalu berlebihan dalam menghadapi Gak Seng Cu dan Pek Ke Cui, kalau ia teringat betapa puteranya, Siok Bun agaknya cinta kepada gadis ini.
Sikap binal dan jenaka dari gadis ini mudah dirobah kelak, pikirnya.
Akan tetapi mana Lee Ing mau mundur atau minggir?
Dua orang ini sudah memandang rendah ayahnya hendak memaksa mengetahui tempat ayahnya untuk diculik kiranya, atau dipaksa menunjukkan tempat tinggal Bu-beng Sin-kun.
Mana ia bisa diam saja?
Mencari tempat Bu-beng sin-kun berarti mencari Gua Siluman dan memusuhi Bu-Beng Sin-kun sama halnya dengan memusuhi gurunya, dan karenanya juga memusuhi dia sendiri sebagai murid tunggal Bu beng sin-kun!
"Tidak, Siok-lopek.
Mereka telah berani menghina ayah, biar aku yang memberi hajaran kepada mereka."
Lee Ing mencabut pedangnya yang ia beri nama Li-lian-kiam untuk memperingati nama kekasih suhunya yang mati di dalam Gua Tengkorak Seperti main sulap saja ia melakukan ini karena tahu-tahu sebatang pedang tipis ringan telah berada di tangannya..
Bahkan tiga orang jago itu yang masing-masing memiliki kepandaian tinggi juga tidak dapat melihat dengan jelas bagaimana gadis itu mencabut pedangnya.
Han Sin saja yang tahu karena gadis itu pernah memperlihatkan Li-lian-kiam yang selalu digulung sebagai sabuk di pinggang gadis itu.
Tentu saja kalau diambil secara cepat membuat orang bingung karena tadinya tidak kelihatan.
Melihat betapa Siok Beng Hui masih ragu-ragu untuk membiarkan gadis semuda itu menghadapi dua orang lihai sepert Gak Seng Cu dan Pek Ke Cui, Han Sin berseru.
"Siok lo-enghiong harap jangan khawatir. Kepandaian nona Souw boleh diandalkan!"
Beng Hui menengok dan sekarang ia melihat Liem Han Sin muncul dari balik pohon.
Ia menjadi girang dan cepat mendekati pemuda itu, lalu bersama Han Sin memandang ke arah Lee Ing yang sudah menghadapi dua lawannya.
"Siok Beng Hui, tak malukah engkau, mengundurkan diri dan membiarkan seorang bocah perempuan mewakilimu merasakan kelihaian kami? Kalau kau takut penuhi saja permintaan kami dari pada harus lari bersembunyi di balik punggung wanita. Kami segan bertanding dengan bocah perempuan!"
Kata Gak Seng Cu, sedangkan Pek Ke Cui hanya menyeringai.
"Eh, tosu bau dan muka kodok, jangan banyak tingkah. Kalian sudah berani menghina ayah, mana tidak berani menghadapi tantangan puterinya? Ha-yo, aku menantang kalian mengadu kepandaian, kalau kalian takut, suruh guru-guru kalian kakek-kakek tak tahu diri yang mau mampus itu ke sini!"
"Nona Souw, harap jangan bicara seperti itu!"
Siok Beng Hui menegur, gelisah sekali mendengar nona itu lancang memaki-maki nama dua orang tokoh besar, guru dari Gak Seng Cu dan Pek Ke Cui.
"Guru-guru mereka adalah tokoh-tokoh besar di dunia kang-ouw...."
"Tak perduli. Mereka mencelakai ayah boleh maju kalau sudah bosan hidup!"
Sementara itu, Gak Seng Cu dan Pek Ke Cui tak dapat menahan marahnya lagi.
Akan tetapi untuk maju berbareng, mereka merasa malu.
Bahkan maju sendiri saja melawan seorang gadis muda sudah merupakan keganjilan memalukan.
Akan tetapi sikap dan kata-kata gadis itu benar-benar menyakiti hati dan tak boleh didiamkan begitu saja.
"Bocah bermulut lancang. Lekas pergi dari sini jangan banyak ribut!"
Bentak Gak Seng Cu sambil mengarahkan pedangnya ke arah Lee Ing untuk mengancam, sedangkan lengan baju tangan kirinya menyambar untuk mendorong roboh gadis itu dari samping.
Akan tetapi akibatnya aneh sekali.
Pedang Gak Seng Cu itu dengan kerasnya memukul pedang di tangan Lee Ing dengan maksud membuat pedang gadis itu terlepas, akan tetapi begitu bertemu, dua pedang itu saling tempel tak dapat dipisahkan lagi.
Gak Seng Cu merasa betapa semacam kekuatan penarik yang dahsyat keluar dari pedang lawan, membuat pedangnya melekat tak dapat dibetot kembali.
Sedangkan tangan kirinya yang mendorong tadi, tiba-tiba terpental oleh semacam hawa pukulan aneh sampai menjadi kaku rasanya dan ujung lengan bajunya pecah dan sobek-sobek!
"He, muka kodok.
Apa kau tidak berani?
Hayo kau maju sekalian kalau memang gurumu yang bernama Iblis Hitam Neraka Jahanam itu berkepandaian."
Ditantang begini dan melihat betapa kawannya bengong saja dengan pedang masih menempel pada pedang gadis cilik itu, Pek Ke Cui menjadi tak sabar lagi.
Disangkanya kawannya itu tidak bersungguh-sungguh.
"To-yu, mengapa kau sungkan-sungkan?"
Katanya dan pedangnya yang bentuknya seperti ular itu menyambar ke depan, sinarnya berkilauan terkena cahaya bulan, gerakannya cepat dan bertenaga.
Pedang ini tidak menyerang tubuh Lee Ing, melainkan menyambar ke arah pedang gadis itu pula untuk melepaskan pedang dari pegangan nona itu.
Seperti Gak Seng Cu, si muka kodok ini sebetulnya sungkan untuk bertanding dengan Lee Ing.
Mereka adalah tokoh-tokoh kang-ouw yang berkepandaian tinggi, masa disuruh bertanding melawan seorang nona muda?
Dan karena mereka memang bukan orang-orang jahat, maka mereka tidak mau melukai Lee Ing dan hanya berusaha mengusir dan menakuti gadis muda itu saja supaya pergi dari situ jangan menganggu lagi.
"Tak!"
Begitu pedang berbentuk ular itu bertemu dengan pedang Li-lian-kiam, kembali pedang itu menempel tak dapat terlepas lagi.
Pek Ke Cui mengerahkan tenaga untuk membetotnya, juga Gak Seng Cu berusaha keras dan mengerahkan Iweekang namun tetap saja pedang mereka tak dapat terlepas dari pedang Lee Ing!
Hal ini bukan hanya karena pedang gadis ini memang terbuat dari bahan yang mengandung besi semberani, melainkah terutama sekali oleh karena gadis itu memang sengaja menggunakan tenaga menyedot sehingga kekuatan semberani dari pedangnya menjadi berlipat ganda besarnya.
Hanya dua orang itu yang dapat mengalami betapa anehnya pertandingan ini, sedangkan Siok Beng Hui yang tidak mengalaminya, menjadi bengong dan tidak mengerti mengapa dua orang yang kepandaiannya setingkat dengan dia sendiri itu hanya berdiri dan berkutetan untuk membetot pedang Masing-masing.
Lee Ing juga bukan seorang gadis yang bodoh dan tak dapat membedakan orang.
Melihat bagaimana dua orang lawannya tadi tidak mau melakukan serangan hebat ke arah tubuhnya saja sudah Membuktikan bahwa dua orang itu sebetulnya bukan orang-orang jahat yang kejam maka iapun tidak mau berlaku kejam.
Selagi dua orang di kanan kirinya itu berusaha Melepaskan pedang masing-masing, Lee Ing mengerahkan tenaga pada pedangnya dan menarik.
Tak dapat ditahan lagi dua orang itu tertarik maju dan pada saat itu Lee Ing berseru keras.
"Lepas!"
Dan...
dua orang yang tiba-tiba pedangnya terlepas dari pedang Lee Ing itu tak dapat dicegah lagi terhuyung ke depan saling tabrak dengan kawan sendiri.
Baiknya mereka berlaku cepat, dua tangan kiri didorongkan maju.
Dada Gak Seng Cu terdorong oleh tangan kiri Pek Ke Cui sedangkan tangan kiri tosu itu mendorong kepala si muka kodok.
Keduanya terjengkang ke belakang namun tidak sampai jatuh!
"Ilmu siluman..."
Pek Ke Cui berkata perlahan -sambil mengelus-elus kepalanya yang terdorong oleh kawan sendiri tadi.
"Pek Ke Cui, lihat ilmunya yang aseli, agaknya dia belul anak Souw Teng Wi! Kebetulan sekali, kita tawan saja dia dan bawa kepada suhu!"
Kata Cak Seng Cu.
"Kau betul, toyu..."
Jawab kawannya dan pedang mereka berkelebat cepat sekali melakukan serangan dari dua jurusan.
Lee Ing tertawa gembira "Kalian mau menawan aku?
Hemmm.
diberi rasa sedikit masih belum kapok.
Lihat pedang!"
Di lain saat dua orang itu menjadi bingung dan Siok Beng Hui yang tadinva khawatir menjadi kagum sekali.
Gadis itu mainkan pedang seperti orang mabok, gerakannya tidak karuan dan lucu serta aneh sekali.
Akan tetapi dua orang lawannya menjadi bingung dan tidak tahu bagaimana harus menyerang dan menjaga diri.
Ke manapun juga mereka menyerang, pedang mereka selalu terpental kembali, sebaliknya setiap saat ujung pedang gadis itu mencari lowongan dan mengancam mereka dari semua jurusan!
Benar-benar ilmu pedang yang aneh bukan main, sinarnya mengisi yang lowong membuyarkan yang penuh.
"Hebat sekali puteri Souw taihiap..."
Kata Siok Beng Hui perlahan. Han Sin memandang bangga. Dia sudah tahu bahwa Lee Ing, seperti biasa, tentu akan menang. Kepercayaannya terhadap gadis itu sudah penuh.
"lng-moi pasti menang..."
Katanya perlahan, tanpa melepaskan pandang matanya dari pertempuran.
la tidak tahu betapa Siok Beng Hui menoleh kepadanya dengan kening berkerut, akan tetapi hanya sebentar karena jago tua inipun segera menonton jalannya penandingan lagi.
Pertandingan itu tidak memakan waktu lama.
Belum sampai dua puluh lima jurus, tiba-tiba terdengar seruan Lee Ing.
"Lepaskan pedang!!"
Pedangnya sendiri berubah menjadi sinar memanjang yang bergerak cepat sekali seperti cahaya kilat beterbangan dan tahu-tahu terdengar suar "traang-traangl"
Disusul terlemparnya pedang dari tangan Gak Seng Cu dan Pek Ke Cui.
Dua orang jago tua ini berdiri pucat.
Mereka maklum, sungguhpun dengan heran dan hampir tak dapat percaya, bahwa mereka bukanlah lawan gadis ini.
Kekalahan mereka bukan karena kebetulan saja, melainkan kekalahan mutlak yang tak dapat dibantah lagi.
Andaikata mereka kalah oleh Siok Beng Hui, hal ini masih tidak mengapa karena memang kalau dibandingkan dengan Siok Beng Hui kepandaian mereka seimbang, menang kalah bukan hal aneh.
Akan tetapi kalah oleh gadis semuda itu dengan secara begitu mudah lagi, benar-benar merupakan hal yang tak masuk di akal, karenanya benar-benar merendahkan sekali.
Dengan perasaan malu yang hampir tak tertahankan lagi, membuat mukanya sebentar pucat sebentar merah, Gak Seng Cu memungut pedangnya dan berkata.
"Nona kecil benar-benar lihai, telah mewarisi ilmu tinggi. Pinto Gak Seng Cu mengaku kalah."
La menjura lalu pergi diikuti oleh Pek Ke Cui yang juga sudah mengambil pedangnya dan tidak mengeluarkan perkataan apa-apa.
"Kalau masih penasaran, boleh mencari Souw Lee Ing jangan mencari ayah yang sudah tua!"
Lee Ing mengejek.
Gadis ini sebetulnya sembarangan mengejek, memang sengaja menantang menggunakan nama sendiri karena tadi ia mendapat kenyataan bahwa kepandaian mereka memang tinggi.
Andaikata ayahnya tak usah kalah terhadap mereka ini, akan tetapi kalau guru mereka yang datang, yang tingkahnya tentu sebanding dengan kepandaian Pek-kong-sin-ciang Bu Kam Ki, padahal ayahnya selain sudah tua, juga sudah cacad, sepasang matanya sudah buta, oleh karena inilah maka ia hendak mewakili ayahnya menghadapi mereka semua.
"Akan kami ingat nama itu...!"
Terdengar jawaban Gak Seng Cu dari tempat jauh. Ternyata mereka sudah hampir sampai di kaki buku. Demikian cepatnya ilmu lari mereka. Siok Beng Hui menghela napas panjang sambil menghampiri Lee Ing.
"Melihat gerakan mereka. dua orang tadi tak boleh dibilang mundur kepandaiannya. Akan tetapi dalam beberapa jurus saja kalah olehmu benar-benar membuat aku orang tua tak berguna, kagum sekali, nona Souw. Sungguh besar hatiku melihat bahwa Souw-taihiap mempunyai keturunan pandai seperti kau."
"Siok-lopek. di mana ayahku?"
Tanya Lee Ing cepat-cepat, la tahu bahwa jago tua she Siok mi tentu tahu di mana ayahnya berada. Siok Beng Hui nampak ragu, memandang ke kanan kiri, lalu berkata perlahan.
"Souw-taihiap berada di utara, kalau nona hendak mencarinya, pergilah ke Peking dan tanyakan kepada Bun-ji, dia akan membawa nona kepada Souw-taihiap."
"Bagus! Aku hendak menyusul ke sana!"
Lee Ing menoleh kepada Han Sin, tersenyum dan berkata.
"Sin-ko, terpaksa kita berpisah di sini. Aku tak dapat lagi menemani mencari jago-jago karena aku sudah tidak sabar lagi menanti, hendak buru-buru bertemu dengan ayah. Selamat berpisah, Sin-ko."
Setelah berkata demikian gadis itu memberi hormat kepada Siok Beng Hui dan Han Sin, kemudian sekali berkelebat ia lenyap, lari ke bawah bukit.
Han Sin kecewa sekali, akan tetapi apa yang dapat ia perbuat?
la merasa seakan-akan semangatnya copot dan meninggalkan raganya, ikut terbang melayang di samping gadis itu.
Tentu saja ia tidak berani sembarangan mencegah, apa lagi di situ ada Siok Beng Hui menjadi saksi, la hanya dapat mengangkat tangan kanannya melambai dengan hati perih dan muka pucat yang tidak kentara di bawah cahaya bulan itu.
Siok Beng Hui sengaja tidak memberitahukan tempat persembunyian Souw Teng Wi kepada Lee Ing oleh karena sebetulnya ia masih ragu-ragu apakah benar gadis ini puteri Souw Teng Wi.
Menurut cerita puteranya, puteri Souw Teng Wi yang bernama Souw Lee Ing tidak begitu tinggi ilmunya, mengapa sekarang tahu-tahu telah begini lihai?
Maka ia sengaja menyuruh gadis itu menjumpai Siok Bun di kota raja utara, karena Siok Bun yang akan mengenalnya sebagai puteri Souw Teng Wi atau bukan.
Kalau bukan dan ternyata palsu, tentu Siok Bun takkan mau menunjukkannya.
"Siok-Io-enghiong, bagaimana bisa sampai ke sini?"
Tanya Han Sin kepada Pek-kong-sin-kauw Siok Beng Hui yang baru sekarang ia ketahui adalah murid Bu Kam Ki.
"Hendak mencari suhu yang kabarnya berada di wilayah ini. Kau sendiri mengapa berada di sini? Aku sudah mendengar bahwa kawan-kawan Tiong-gi-pai mengungsi ke utara, malah ada beberapa orang sudah kujumpai, mengapa kau sendiri menyendiri di sini?"
"Aku justeru memenuhi tugas yang diserahkan kepadaku untuk menghubungi orang-orang gagah, minta bantuan mereka kelak untuk menjatuhkan boneka-boneka pemeras rakyat. Suhu lo-enghiong bukankah Pek-kong-sin-ciang Bu Kam Ki Locian-pwe?"
"Betul, kau tahu tempatnya?"
"Baru beberapa hari yang lalu aku pernah bertemu dengan beliau."
Han Sin lalu bercerita tentang keluarga Ciong dan keluarga Bu Kam Ki. Tentu saja ia tidak mau bicara tentang maksud perjodohan yang menimbulkan heboh itu. Girang sekali hati Siolk Beng Hui.
"Bagus, kalau begitu mari kau antar aku menemui suhu. Persiapan sudah dekat dan tadinya aku hendak minta bantuan kedua susiok, Tok-pi sin-kai dan Im-kan Hek-mo. Siapa kira mereka mempunyai pikiran yang bengkok, menyuruh murid mencari Souw-tai-hiap. Benar-benar menjengkelkan sekali! Fihak musuh sudah lama selalu berusaha mencari Souw-taihiap sekarang ditambah dua orang kakek itu, benar-benar sukar diurus. Baiknya ada nona Souw yang begitu lihai."
Karena maklum bahwa Siok Beng Hui adalah orang kepercayaan Raja Muda Yung Lo dan menjadi seorang yang dijunjung tinggi oleh Tiong-gi-pai, tentu saja Han Sin tidak berani menolak.
Pula apa alasannya kalau menolak?
Terpaksa ia berangkat dengan jago tua itu, ke timur kembali dan hatinya dak-dik-duk tidak enak kalau ia bayangkan bahwa ia harus bertemu muka lagi dengan Bu Kam Ki, terutama sekali dengan Bu Lee Siang!
Hatinya berat sekali karena baru tadi ia masih menikmati cahaya bulan purnama di samping Lee Ing sambil bersenda-gurau, sekarang ia harus berjalan di samping Siok Beng Hui, seorang setengah tua yang pendiam dan keren.
Benar-benar perobahan mendadak yang tidak menyenangkan hati sekali.
Lee Ing melakukan perjalanan secepat mungkin, mengerahkan semua kepandaian untuk berlari cepat dan hanya mengaso apa bila sudah lelah benar untuk tidur atau makan.
Biarpun hari sudah jauh malam, kalau fa belum lelah dan mengantuk benar, ia berjalan terus, la belum pernah melakukan perjalanan di daerah ini, akan tetapi maklum bahwa letak kota raja utara adalah di utara.
Akan tetapi, betapapun lihainya ilmu lari cepat Lee Ing, jarak yang ditempuhnya amat jauh.
Ia berada di daerah Propinsi Hu-nan dan untuk mencapai tempat tujuannva, ia harus melalui empat propinsi besar lagi, yaitu Ho-pek, Ho-nan, dan Ho-pei.
Ribuan mil ia harus tempuh dan banyak daerah yang masih liar dan sukar dilalui.
Hanya berkat kepandaian yang tinggi saja ia dapat maju terus dengan cepat.
Setelah melakukan perjalanan berpekan-pekan tanpa mengenal lelah saking rindunya hendak cepat-cepat bertemu dengan ayahnya, pada suatu pagi Lee Ing sudah tiba di tepi Sungai Huang-ho, sebelah utara kota Lok-yang.
Ketika ia tadi pagi-pagi sekali berangkat dari Lok-yang, ia lebih dulu makan bubur di sebuah warung kecil.
Pelayan warung itu menyatakan herannya bahwa sepagi itu ada seorang gadis membeli dan makan bubur.
"Kemarin juga pagi-pagi sekali ada serombongan orang makan bubur. Mereka itu orang-orang aneh, tetapi lihai. Nona lihat saja. Yang seorang dapat merayap tembok seperti cecak lalu mengecapkan tangannya di pian itu untuk main-main dengan kawan-kawannya yang jumlahnya lima orang. Orang-orang aneh akan tetapi mereka memberi hadiah secara royal sekali!"
Lee Ing tidak begitu memperhatikan dongeng pelayan ini, akan tetapi ketika matanya melirik ke arah pian yang ditunjuk, hampir saja ia berteriak, la melihat tanda tapak tangan hitam di atas pian itu.
Itulah tanda Hek-tok-ciang!
"Hemm.
siapakah badut yang main-main dengan cap buruk itu?"
Tanyanya memancing, pura-pura heran.
"Bukan badut, nona. Memang dia aneh, akan tetapi dia seorang kongcu (tuan muda) yang tampan dan berpakaian gagah sekali. Kawan-kawannya amat menghormatnya dan sikapnya seperti seorang berpangkat."
Lee Ing dapat menduga bahwa yang dimaksudkan itu tentulah Auwyang Tek.
Siapa lagi selain Auwyang Tek atau Tok-ong Kai Song Cinjin yang memberi tanda Hek-tok-ciang?
Hemm, pemuda itu sudah keluyuran sampai di sini, apa maksudnya?
Dan tanda itu, apakah bukan sengaja dipasang supaya orang melihatnya?
Tentu itulah tanda-tanda rahasia bagi crang-orang tertentu, ataukah untuk menakut-nakuti fihak lawan?
"Ke mana mereka pergi?"
Tanyanya sambil lalu seakan-akan untuk sekedar mengisi waktu sambil makan bubur.
"Mereka bicara tentang menggunakan perahu, tentu hendak menyeberangi Huang-ho, ke mana entah, mana aku-bisa tahu, nona?"
Demikianlah, setelah membayar tukang warung, Lee Ing melanjutkan perjalanannya dan dari Lok-yang ke sungai itu tidak berapa jauh maka sebentar saja ia sudah sampai di tepi sungai yang amat lebar itu.
Baiknya musim hujan belum tiba, kalau sudah, sukarlah menyeberangi Huang-ho yang sedang meluap dan mengamuk.
Para nelayan yang biasa menyewakan perahu segera merubungnya dan menawarkan perahu sendiri.
Hanya seorang nelayan tua yang menarik perhatian Lee Ing karena pujiannya.
"Perahuku sangat kuat dan boleh dipercaya, nona. Kalau tidak masa kemarin ada pembesar-pembesar menyewanya? Lima orang kuseberangkan sekaligus, apa lagi hanya seorang gadis seperti nona yang tentu ringan sekali. Percayalah, nona. Naik perahuku sama amannya dengan duduk di kursi dalam rumah nona sendiri."
Lee ing mengambil keputusan menyewa perahu nelayan tua ini.
"Jangan terima penumpang lain, biar kuborong saja. Kubayar biaya untuk lima orang."
Tentu saja kakek itu girang sekali dan cepat menyiapkan perahunya yang biarpun sudah tua namun masih kelihatan kuat seperti dia sendiri.
Dan dalam penyeberangan ini Lee Ing mendapat keterangan bahwa lima orang yang diduganya adalah Auwyang Tek dan kawan-kawannya itu telah menyeberang kemarin pagi dan terus menuju ke utara.
Setelah mendarat di sebelah utara sungai, Lee Ing melanjutkan perjalanannya dengan cepat untuk menyusul rombongan Auwyang Tek itu ke utara.
Di sepanjang perjalanan ia melihat tapak-tapak tangan hitam pada batang-batang pohon yang tinggi, pada batu-batu karang.
Ia tidak tahu apa maksud rombongan itu meninggalkan tanda-tanda Hek-tok-ciang ini, akan tetapi melihat gambar-gambar itu Lee Ing merasa sebal sekali dan untuk memuaskan hatinya, setiap kali melihat tanda itu, ia tentu menggunakan telunjuknya untuk mencoretnya dua kali kanan kiri sebagai tanda "mematikan"
Gambar tangan Hek-tok-ciang itu.
Dengan perjalanan cepat akhirnya dalam tiga hari ia sudah dapat menyusul rombongan itu.
Mereka sedang berdiri di puncak sebuah bukit yang bernama Bukit Tiga Menara Bukit itu bernama demikian oleh karena di puncaknya terdapat tiga buah batu karang yang amat tinggi, menjulang ke angkasa seperti tiga buah menara buatan alam.
Dari tempat pengintaiannya, Lee Ing melihat bahwa dugaannya memang tepat.
Auwyang Tek berada di tempat itu bersama empat orang kawannya.
Yang tiga orang adalah tiga orang hwesio tinggi kurus yang bentuk wajah dan badannya hampir sama, hanya warna kulit muka mereka saja yang berlainan.
Seorang bermuka hitam, ke dua bermuka kuning dan yang ke tiga mukanya merah sekali!
Benar-benar tiga orang hwesio aneh.
Dari pandangan mata mereka yang berkilat-kilat, Lee Ing dapat menduga bahwa mereka ini memang orang-orang pandai.
Adapun orang ke empat adalah seorang hwesio pula yang dikenal baik oleh Lee Ing, karena hwesio ini bukan lain adalah Bu Lek Hwesio yang dulu merampasnya dari kakeknya Haminto Losu kemudian "menjualnya"
Kepada Tiong-gi-pai dengan penukaran ilmu pedang dari Kwee Cun Gan!
Bagaimana Auwyang Tek bisa berada di tempat itu?
Ternyata kaki tangan Auwyang-taijin segera mengetahui bahwa para anggauta Tiong-gi-pai melarikan diri ke utara dan berusaha untuk mengadakan hubungan dengan orang-orang pandai untuk memusuhi fihak Auwyang-taijin.
Oleh karena ini, Tok-ong Kai Song Cinjin juga tidak tinggal diam.
Kawan-kawannya dibagi tugas, ada yang harus membasmi semua anggauta Tiong-gi-pai dan mengejar mereka ke utara, ada yang disuruh memanggil orang-orang pandai untuk dijadikan pembantu.
Tok-ong sendiri pergi ke Tibet untuk mencari saudara-saudaranya.
Sedangkan Auwyang Tek mendapat tugas pula mengamat-amati perbatasan utara dan selatan serta gerak-gerik Raja Muda Yung Lo, sekalian mencari kawan-kawan sehaluan.
Auwyang Tek adalah seorang pemuda sombong yang merasa diri sendiri terpandai, maka ke manapun ia pergi, ia mengobral dan meninggalkan tanda-tanda tapak tangan Hek-tok-ciang, tidak saja untuk memberi tanda kepada kawan-kawannya yang banyak disebar di daerah perbatasan, juga untuk menakuti para anggauta Tiong-gi-pai.
Maklum bahwa Souw Teng Wi merupakan pujaan kaum pemberontak dan mempunyai pengaruh besar, Auwyang Tek berusaha mencari tempat persembunyian ini.
Ia pikir bahwa sekali Souw Teng Wi dapat ditangkap, kiranya orang-orang yang mempunyai pikiran untuk memberontak akan menjadi kecil hatinya.
Maka ia sering kali muncul di Peking dan baginya mudah saja karena ia adalah putera Menteri Auwyang, selain itu tidak berani Raja Muda Yung Lo mengganggunya karena Auwyang Tek, dengan perantaraan ayahnya telah dapat memiliki sebuah tek pai (bambu bertulis tanda kuasa) dengan tugas kaisar.
Memeriksa dan meneliti tentang keamanan di dalam negeri!
Di dalam perjalanannya, ia bertemu dengan Bu Lek Hwesio.
Semenjak dulu, hwesio ini terkenal curang dan cerdik.
Tahu bahwa Auwyang Tek mencari Souw Teng Wi, hwesio licik ini menemuinya dan menyatakan bahwa ia dapat membantu Auwyang Tek mencari Souw Teng Wi, asal pemuda itu suka mengajak tiga orang kawan baiknya dan suka memberi hadiah besar dan janji pangkat apa bila usaha itu berhasil kelak.
Tentu saja Auwyang Tek menerimanya dengan gembira.
Adapun tiga orang kawan baik Bu Lek Hwesio ini adalah tiga orang hwesio yang sekarang bersama mereka melakukan perjalanan ke utara.
Mereka ini adalah tiga orang hwesio yang selama ini tidak terkenal karena mereka tak pernah muncul di dunia kang-ouw Akan tetapi sesungguhnya mereka memiliki ilmu kepandaian yang tinggi dan biarpun usia mereka sebaya dengan Bu Lek Hwesio, namun dalam hal tingkat mereka masih terhitung susiok (paman guru) dari Bu Lek Hwesio.
Ini saja sudah membuktikan bahwa tingkat kepandaian mereka memang sudah tinggi.
Demikianlah, bersama Bu Lek Hwesio dan tiga orang hwesio yang menyebut diri Hu-niu Sam-lojin (Tiga kakek dari Bukit Hu-niu) itu, Auwyang Tek segera berangkat lagi ke utara untuk mencari Souw Teng Wi sebagaimana telah dijanjikan oleh Bu Lek Hwesio yang sanggup mencarikan tempat persembunyian pahlawan yang dikejar-kejar dan dianggap pemberontak oleh Kerajaan Beng di Nan-king.
Dan pada hari itu mereka tiba di Bukit Tiga Menara tanpa mengetahui bahwa gerak-gerik mereka diawasi oleh sepasang mata bening tajam dari seorang gadis jelita, puteri dari Souw Teng Wi!
Melihat tiga batu karang yang berbentuk menara tinggi sekali itu, timbul kegembiraan hati Auwyang Tek dan ia ingin menguji kepandaian tiga orang susiok dari Bu Lek Hwesio yang mendengung-dengungkan kelihaian tiga orang hwesio itu.
Auwyang Tek mengeluarkan sehelai saputangan putih, lalu berkata.
"Aku ingin sekali memancangkan saputangan ini dengan tandaku di puncak menara batu karang ini. Apakah di antiara losuhu ada yang dapat memberi petunjuk kepadaku?"
Hwesio muka merah yang berjuluk Ang Bin Hosiang menjawab sambil berdongak ke atas.
"Dapat dilakukan dengan melompat tinggi."
Ia memang seorang ahli ginkang yang lihai. Ilmunya meringankan tubuh dan melompat sukar ditandingi dan hal ini sudah didengar oleh Auwyang Tek dari Bu Lek Hwesio, maka ia ingin sekali mengujinya.
"Akan tetapi mana bisa aku melompat setinggi itu! Apa losuhu bisa menolongku memancangkan saputangan ini di atas sana? Tak perlu di puncaknya sekali karena terlalu tinggi, takkan kelihatan orang dari bawah. Cukup di tempat sedikit di bawah puncak."
Auwyamg Tek bicara seolah-olah ia tidak sengaja menguji kepandaian orang, padahal tempat yang ia kehendaki, yaitu di bawah pncak, sudah merupakain tempat tinggi yang kiranya tak mungkin dicapai orang dengan melompat saja.
"Pinceng (aku) bisa melompat sedikit, akan tetapi entah bisa mencapai tempat setinggi itu atau tidak, baik dicoba saja.."
Jawab Ang Bin Hosiang.
Auwyang Tek girang sekali, cepat ia menempelkan telapak tangannya yang terbungkus sarung tangan itu ke tengah saputangan yang segera meninggalkan tanda tapak tangan menghitam.
Kain itu telah menjadi hangus di bagian gambar ini.
Benar-benar menunjukkan betapa hebat dan berbahaya adanya Hek-tok-ciang!
"Hek-tok-ciang memang hebat dan lihai sekali,"
Kata Ang Bin Hosiang memuji serta mengangguk-anggukkan kepalanya yang gundul kelimis.
Kemudian ia menerima saputangan itu dan memasang kuda-kuda, kemudian sambil berseru keras kedua kakinya mengenjot tanah dan tubuhnya melayang ke atas, berjungkir-balik lalu melayang lagi ke atas, demikian sampai tiga kali sehingga ia tiba di depan menara di bagian atas sekali dekat puncak.
Tangannya yang memegang saputangan itu bergerak ke depan secepat kilat dan saputangan itu telah menempel pada batu karang, pinggirnya amblas tertekan oleh tangan hwesio itu yang tubuhnya kini sudah melayang turun kembali seperti seekor burung besar tanpa sayap.
Auwyang Tek dan hwesio-hwesio yang lain bertepuk tangan memuji, dan di lereng bukit itu bergema suara tepuk tangan mereka.
Lee Ing sendiri bersembunyi sambil mengintai, diam-diam memuji karena perbuatan hwesio itu memang sukar sekali dilakukan dan tak sembarang orang dapat menirunya.
"Di puncak ini ada tiga batu karang seperti menara, baiknya ketiganya diberi tanda. Aku ingin, mengukir telapak tanganku di puncak menara ke dua, entah apakah Oei Bin Losuhu suka menolongku? Aku sendiri melompat takkan sampai, merayap naik aku sanggup sampai ke puncak, akan tetapi sambil merayap tentu saja tak mungkin aku dapat mengerahkan tenaga mengecap pada batu karang."
Hwesio muka kuning tersenyum dan tahulah dia bahwa pemuda putera menteri ini sebetulnya hendak menguji kepandaian dia dan saudara-saudaranya.
Ia mengangguk dan hwesio yang tidak biasa banyak bicara ini menjawab singkat.
"Mari kongcu pinceng bawa naik"
Setelah berkata demikian, ia berdiri di dekat batu karang ke dua dan memberi isyarat kepada Auwyang Tek untuk berdiri di atas pundaknya.
Auwyang Tek agak ragu-ragu karena mana mungkin orang merayap di atas batu karang itu sambil di pundaknya ditumpangi orang lain?
Membawa diri sendiri saja sudah amat payah dan harus memiliki Ilmu Pek-houw-yu-cong secara mahir.
Ilmu Pek-houw-yu-cong adalah ilmu merayap seperti cecak bermain-main di atas tembok.
Akan tetapi karena memang hendak menguji, tanpa berkata apa-apa ia lalu melompat ke atas pundak hwesio bermuka kuning itu.
Seperti juga saudaranya tadi, si muka kuning ini mengeluarkan seruan keras yang menggetarkan bukit, bahkan Auwyang Tek sendiri sampai merasa tubuhnya tergetar oleh seruan ini, kemudian hwesio itu mulai merayap naik dengan kedua kaki tangannya seperti cecak besar, dengan cepat sekali!
Hebat tenaga lweekang hwesio muka kuning ini.
Tanpa berkurang tenaganya, ia terus merayap naik ke atas sampai mencapai puncak menara ke dua itu.
"Berhenti di sini, losuhu!"
Kata Auwyang Tek yang cepat memukulkan telapak tangannya pada batu karang dengan menggunakan Hek-tok-ciang sampai batu karang itu berlubang dan tangannya meninggalkan bekas di situ.
"Turun ke bawah!"
Kata lagi Auwyang Tek dan hwesio muka kuning itu lalu merayap turun, lebih cepat dari pada tadi ketika naik.
Padahal dalam mempergunakan Ilmu Pek-houw-yu-cong ini, turunnya malah lebih sukar dari pada naiknya.
Karena merasa tidak enak dipanggul terus, sepuluh kaki sebelum mencapai tanah, Auwyang Tek sudah melompat turun, diikuti oleh hwesio muka kuning itu yang tiba di atas tanah kembali dalam keadaan biasa, hanya jidatnya berpeluh sedikit.
Kembali tepuk sorak menyambut demonstrasi kepandaian yang memang hebat ini.
Sekali lagi Lee Ing memuji dalam hati.
"Kepala-kepala gundul ini benat-benar tak boleh dipandang ringan,"
Pikirnya dalam hati dan ia mengeluh bahwa fihak Auwyang-taijin betul-betul mempunyai banyak tenaga kuat.
Hwesio ke tiga yang bermuka hitam, berjuluk Ouw Bin Hosiang, juga memperlihatkan kepandaiannya.
Kali ini ia mendemonstrasikan kemahirannya bermain piauw (senjata yang ditimpukkan).
Sehelai saputangan bercap jari tangan Hek-tok-ciang dilempar oleh Auwyang Tek ke udara, dan selagi saputangan itu melayang, Ouw Bin Hosiang menyusul dengan empat batang piauwnya berturut-turut.
Saputangan itu kena disambar piauw, melayang ke atas puncak batu karang ke tiga dan terpantek di puncak itu dengan rapinya.
Piauw itu telah menancap di empat ujung saputangan seperti dipasangkan orang.
Setelah demonstrasi ini disambut tempik-sorak pula, Auwyang Tek tertawa bergelak.
"Kepandaian sam-wi-losuhu (tiga bapak pendeta) benar mengagumkan. Dengan bantuan sam-wi-losuhu, pemberontak-pemberontak itu tentu lebih mudah dihancurkan I Ha-ha-ha-ha!"
Lima orang itu lalu melanjutkan perjalanan menuruni bukit sambil ketawa ketawa Hampir saja Lee Ing tak dapat menahan kesabarannya dan ingin ia melompat keluar memberi hajaran kepada Auwyang Tek yang amat dibencinya itu.
Akan tetapi ia dapat menahan perasaannya.
Tak perlu?
mencari permusuhan untuk urusan pribadi yang tidak ada artinya, demikian sering kali Han Sin memberi nasihat.
Boleh kita mengorbankan jiwa raga, akan tetapi itu hanya demi membela negara, rakyat, atau nama dan kehormatan.
Musuh besar yang telah menganiaya ayahnya adalah Tok-ong Kai Song Cinjin seorang.
Biarpun Auwyang Tek itu murid Tok-ong, namun pemuda ini tak pernah berurusan dengan ayahnya.
Lee Ing tersenyum seorang diri dan merasa heran mengapa ia sekarang bisa berpikir panjang seperti ini.
Gara-gara Han Sin, pikirnya.
Pemuda yang jujur dan berhati terlampau baik sehingga kadang-kadang amat lemahnya.
Apakah akupun ketularan menjadi lemah hati?
Lee Ing melompat keluar dari tempat pengintaiannya tadi, menghampiri batu karang pertama yang tinggi seperti menara itu.
Dari bawah nampak saputangan putih yang ada bekas jari tangan atau telapak tangan Auwyang Tek.
Hatinya panas.
"Hemmm, menempel benda itu sambil melompat ke atas bagiku apa sukarnya? Masa aku tidak bisa?"
Ia mengerahkan tenaga, kedua kakinya menotol tanah dan tubuhnya melayang ke atas.
Berbeda dengan gaya Ang Bin Hosiang yang tadi berpoksai (membuat salto) sampai tiga kali untuk mencapai puncak batu karang menara, kini Lee Ing menggerak-gerakkan kaki tangannya seperti orang berenang.
Aneh dan hebat, tiap kali kedua kakinya menjejak udara, tubuhnya mumbul makin tinggi.
Akhirnya gadis yang luar biasa mi dapat mencapai saputangan dengan tangannya.
Ia mengulur lengan kanan, menggunakan jari-jari tangannya menggurat dua kali dan....
di atas saputangan itu, tepat di atas cap tapak tangan, terdapat garis silang yang "mematikan"
Tapak tangan itu.
Lee Ing melayang turun lagi ke bawah dengan cara terjun, kepala di bawah kaki di atas.
Sebelum membentur tanah, ia membalik dan dapat berdiri tegak bagaikan seekor burung dara melayang turun saja ringannya.
Menghadapi batu karang ke dua, diapun meniru perbuatan Ouw Bin Hosiang, merayap naik dengan enak dan cepat sekali ke atas, setelah sampai di puncak, ia memukulkan tangannya pada permukaan batu karang di mana terdapat tapak tangan Auwyang Tek.
Permukaan batu karang itu hancur dan gambar tapak tangan itupun lenyap!
Puas hatinya lalu merayap turun lagi dengan kecepatan luar biasa.
Saputangan bergambar tapak tangan di puncak batu karang menara ke tiga ia pukul robek-robek (Lanjut ke
Jilid 21) Pusaka Gua Siluman (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 21 dengan sebuah batu dari bawah.
Juga dalam menimpuk, gadis ini menandingi kepandaian Ouw Bin Hosiang!
Setelah melakukan tiga perbuatan ini, Lee Ing tertawa girang, lalu berlari-lari turun gunung seperti seorang anak yang nakal.
Hatinya riang karena ia telah dapat merusak hasil kesombongan pemuda Auwyang Tek yang amat dibencinya itu.
Karena ia ingin cepat-cepat mencari ayahnya, maka ia tidak inemperdulikan lagi kepada rombongan ini, malah ia menyusul dan mendahului mereka tanpa terjadi bentrokan yang hanya akan menghambat perjalanan.
Karena selalu menghindarkan diri dari bentrokan-bentrokan dengan fihak lawan, malah tidak mau melayani gangguan-gangguan orang jahat di perjalanan yang mengira dia seorang gadis lemah atau makanan empuk, Lee Ing dapat melakukan perjalanan cepat sekali.
Setelah melakukan perjalanan lama sampai berpekan-pekan, akhirnya gadis ini sampai juga di kota raja utara, Peking.
Girang hatinya melihat daerahnya ini, bertemu muka dengan orang-orang utara, merasa berada di kampung halaman sendiri.
Hatinya berdebar kalau ia ingat bahwa ia telah dekat dengan ayahnya yang tercinta.
Memang jauh berbeda keadaan di selatan dan di utara.
Di utara, rakyat nampak hidup tenang, kaum tani yang bekerja di sawah nampak gembira.
Di setiap dusun yang dilalui Lee Ing nampak aman tenteram, dan wajah orang-orang kelihatan terang dan ramah, tanda bahwa mereka merasa puas dengan keadaan hidup mereka.
Keadaan di kota raja sendiri amat ramai, penuh dengan para pedagang yang datang dari luar daerah membawa dagangan mereka yang beraneka warna.
Kalau negara kuat rakyat hidup aman dan dapat mencurahkan seluruh perhatian kepada pekerjaan mereka dan perdagangan menjadi maju dan ramai, mendatangkan hasil berlimpah-limpah bagi semua orang, mendatangkan kemakmuran dan karena tidak ada yang kekurangan sandang pangan jarang muncul kejahatan.
Akan tetapi, sungguhpun di kota raja utara ini nampaknya ramai dan tenteram, bagi yang mengetahui, tempat ini penuh dengan mata-mata, baik mata-mata pemerintah Raja Muda Vung Lo, maupun mata-mata dari selatan yang dikirim oleh pemerintah Kerajaan Beng.
Lee Ing memasuki kota raja dengan wajah gembira dan kagum.
Bangunan-bangunan yang besar dan megah membuat ia bengong karena di selatan tidak ada ia melihat bangunan-bangunan seperti ini.
Memang mengenai bangunan, kota raja selatan kalah oleh bekas kota raja Bangsa Mongol ini.
Megah dan hebat.
Apa lagi sekarang, setelah Raja Muda Yung Lo yang berkuasa di situ, kota raja ini nampak makin makmur.
Kalau toh kelihatan pengemis-pengemis di kota raja ini, mereka ini adalah orang-orang malas yang terlalu terpengaruh oleh kebiasaan para pendeta hwesio yang suka berjalan minta-minta makanan dari rakyat seperti biasa mereka lakukan.
Karena ingin sekali mendapat makanan tanpa bekerja inilah menimbulkan adanya pengemis-pengemis di kota besar itu.
Jadi bukan timbul pengemis karena kurang pangan.
Memang ada orang-orang yang sudah demikian biasa dengan kehidupan mengemis sehingga bagi mereka inilah "pekerjaan"
Yang paling nikmat dan menyenangkan.
Lee Ing sedang enak berjalan mencari sebuah rumah penginapan ketika tiba-tiba seorang yang berpakaian pengemis menyeruduknya dari samping.
Pengemis itu terhuyung karena kakinya tertumbuk batu, akan tetapi mata Lee Ing yang tajam dapat mengenal gerakan orang dan tahu bahwa pengemis ini hanya pura-pura saja jatuh.
Ia cepat menggeser kakinya agar jangan kena tubruk, akan tetapi dari dua tangan pengemis itu menyambar angin yang membuat bajui Lee Ing tertiup menyingkap sehingga sekelebatan kelihatanlah pedang Li-Iian-kiam yang dililitkan di pinggangnya.
"Minta sedekah, nona..... kasihani seorang pengemis...."
Orang itu berkata seperti biasanya orang-orang macam dia. Lee Ing mendongkol.
"Pergi kau, jangan mencari-cari urusan dengan aku!"
Dengan marah gadis ini lalu membalikkan tubuh dan meninggalkan pengemis aneh itu Akan tetapi, dari jauh pengemis itu mengikutinya, sungguhpun hal ini ia lakukan seperti tidak disengaja.
Lee Ing tidak perdulikan dia lagi.
Melihat sebuah rumah penginapan yang kelihatan bersih dan rapi, Lee Ing lalu masuk memesan kamar.
Kebetulan sekali ia mendapatkan sebuah kamar di atas loteng.
Kamar itu kecil saja namun bersih menyenangkan.
Setelah memasuki kamar dan melihat dari jendela ke luar, kelihatan jalan raya di depan rumah penginapan itu dengan lalu-lintasnya berjalan hilir mudik di depan rumah penginapan, Lee Ing melihat lagi pengemis yang tadi berjalan terbongkok-bongkok.
Pengemis itu usianya belum begitu tua, paling banyak empat puluh tahun, bajunya compang-camping akan tetapi celananya masih baru.
Jalannya bongkok-bongkok seperti orang menderita penyakit tulang punggung, akan tetapi matanya tajam mengerling ke arah rumah penginapan.
Dengan hati sebal Lee Ing menurunkan tirai jendela.
Pelayan mengantar teh panas dan Lee Ing mulai bertanya.
"Lopek, aku mencari seorang tuan muda bernama Siok Bun, putera dari Pek-kong-sin-kauw Siok Beng Hui. Apakah kau tahu di mana dia tinggal?"
"Nona, di sini banyak sekali orang she Siok, bagaimana aku bisa tahu? Akan tetapi coba hendak kutanyakan kepada pengurus kepala, mungkin dia tahu." '"Kalau tidak tahu biarlah, aku akan mencari sendiri besok,"
Baca Juga: Naga Beracun 3
Baca Juga: Pendekar Pedang Pelangi 8