Eps 3 Naga Beracun - Kho Ping Hoo
Baca online Naga Beracun - Kho Ping Hoo
Cersil Naga Beracun - Kho Ping Hoo.
"Ha, aku tahu. Engkau te ntu lari dari rumah Cia Ma, bukan?"
Kata Acauw. Cin Cin tidak mampu membantah "
Benar, paman. Aku lari karena aku hendak mencari ibuku. Bebaskanlah aku, buntalan itu untuk kalian, akan tetapi jangan bawa aku kembali ke sana"
"Pelarian dari Cia Ma?"
Akew beseru.
"Celaka benar. Cia Ma memelihara jagoan-jagoan seperti He k-gu dan Pek gu, kalau mereka tahu aku yang mengambll buntalan ini, remuk kepalaku. Bagaimana baiknya ini."
"Jangan khawatir, te nang saja, Akew. Kita kembalikan anak ini kesana berikut buntalannya. Tentu kita akan mendapatkan hadiah yang mungkin tidak kalah bes arnya."
"Baiklah,"
Kata Akew agak kecewa karena tadinya dia sudah merasa beruntung sekali.
Dia tidak berani main-main te rhadap Cia Ma yang te rkenal galak dan memiliki banyak tukang pukul yang lihai dan kejam itu.
Mendengar percakapan kedua orang itu, Cin Cin menjadi putus asa dan timbul kemarahannya.
"Jahanam, kiranya kalian berdua juga hanya manusia-manusia keparat!"
Serunya dan iapun meloncat berdiri dan menyerang kalang kabut!
Dua orang laki-laki dewasa yang sudah biasa berkelahi dan menggunakan kekerasan itu, tentu saja memandang rendah anak berusia enam tahun.
Akan tetapi karena Cin Cin nekat, bergerak dengan ilmu silat sebisanya, mencampur gerakan itu dengan menendang, memukul, mencakar, bahkan menggigit, dua orang itu menjadi repot.
"Wah wah, anak ini seperti seekor anak harimau"
Te riak Akew, meringis karena lengannya kena dicakar sampai berdarah.
"Tangkap kedua le ngannya, biar kuikat dengan sabukku!"
Kata Acauw. Akew berhasil menangkap kedua pergelangan tangan Cin Cin dan Acauw mengikatnya dengan sabuk kain. Cin Cin ronta-ronta, menendang dan memaki.
"Lepaskan aku, kalian dua anjing kotor! Lepaskan, babi busuk!"
"Wah, wah, anak ini benar-benar seperti iblis kecil!"
Kata Acauw.
"Mari kita bawa setan kecil ini kepada Cia Ma"
De mikianlah, usaha Cin Cin melarikan diri gagal sama sekali.
Ketika Cia Ma menerimanya kembali dari dua orang je mbel itu, ia marah sekali kepada Cin Cin.
Juga ia berterima kasih kepada dua orang je mbel yang segera diberinya imbalan yang cukup memuaskan hati mereka.
"Buka bajunya, la harus menerima hukuman"
Kata Cia Ma dan ia sendiri yang mencambuki punggung Cin Cin sampai tangannya terasa letih dan anak itu terkulai pingsan dengan kulit punggung pecah-pecah.
Lalu ia menyuruh pembantunya mengambil obat dan setelah Cin Cin siuman, dengan tangannya sendiri Cia Ma mengobati dan mengoles obat yang mendatangkan rasa dingin dan nyaman di kulit punggung yang pecah-pecah itu.
Cin Cin tidak menangis, hanya meringis menahan sakit dan mendesis saja, atau menggigit bibirnya.
"Engkau ana k nakal, engkau tidak mee ngenal budi. Bukankah selama setahun aku selalu bersikap baikkepadamu? memberimu makan, pakaian dan mendatangkan guru-guru kesenian untuk mendidikmu. Akan te tapi apa balasanmu? Engkau malah hendak melarikan diri! Begitu tega engkau menyakitkan hati Cia Ma-ma!"
Bujuk Cia Ma dengan suara lembut.
Cin Cin adalah seorang anak yang cerdik Ia tahu bahwa percuma saja mempergunakan kekerasan.
Cia Ma mempunyai banyakk tukang pukul yang kuat dan kalau la melawan dengan kekerasan, akhirnya ia sendiri yang akan menderita, sayang bahwa Sui Su tidak berada lagi situ sehingga ia kehilangan seorang sahabat yang benar-benar menyayanginya.
Ia teringat akan nasihat Sui Su.
Akan le bih menguntungkan kalau ia pura-pura menurut dan patuh kepada Cia Ma sehingga selain memperoleh segala macam didikan dan kehidupan mewah.
Juga memperole h kebebasan.
"Akan tetapi, jangan sampai engkau masih berada disini kalau engkau sudah berusia empat belas tahun, sudah mulai dewasa. Karena setelah engkau berusia tlgabelas atau empatbelas tahun, engkau pasti akan dijual kepada laki-laki hidung belang menjadi permainan mereka dan menjadi sumber uang banyak bagi Cia Ma. Kalau engkau menolak, siksaan yang le bih hebat akan kau alami."
De mikian nasihat Sui Su ketika itu.
"Carilah kelengahanya, dan sebelum berusia tigabelas tahun, sedapat mungkin larilah dari neraka yang berselubung sorga ini."
Ia baru berusia enam tahun.
Masih banyak waktu untuk hidup layak dan bebas, pikirnya.
Maka, tiba-tiba Cin Cin menangis, hal yang biasanya tak pernah lakukan.
Tentu saja Cia Ma menjadi girang melihat "kelemahan"
Ini dan ia merangkulnya "Anak baik, kenapa menangis? Apa yang kau susahkan?"
Cin Cin menangis terisak-isak dan menyembunyikan mukanya di balik le ngan baju Cia Ma. Suaranya bercampur tangis ketika ia berkata.
"Nasibku yang buruk. .uh-uh huuuu...... ayah dibunuh orang, ibu diculik orang, dan disini aku dicambuki.......hu-huuu......"
Cia Ma merangkulnya semakin kuat dan mengelus rambutnya.
"Anak baik, kau kucambuki karena engkau melarikan diri. Kalau tidak begitu, aku sayang padamu. Bukankah selama ini aku tdak pernah memukul atau memakimu, akan tetapi amat sayang padamu?"
Cin Cin mengusap air matanya, dan mengangguk. Bukan main senangnya hati Cia Ma.
"Engkau berjanji tidak akan lari lagi?"
"Tidak, Cia Ma, aku menyesal. Tadi nya, karena rindu kepada ibuku, aku ingln mencari ibuku.......maafkan aku ..aku tidak akan lari lagi."
"Bagus! Engkau memang anak baik, anak cantik manis. Aku akan menyuruh orang-orangku untuk mencari kete rangan tentang ibumu. Dan engkau yang aman saja di sini, ya?"
De mikianlah, mulai hari ini, Cin Cin nampak taat dan penurut.
Ia bahkan tekun mempelajari ilmu baca-tulis, menyulam, menari, bernyanyi dan menabuh Suling dan yang-kim, bahkan bersajak.
Tentu saja Cia Ma menjadi girang bukan main karena makin te kun anak itu, makin pandai anak itu, ia melihat betapa tabungannya semakin gemuk dan kelak kaau sudah tiba saatnya, la tinggal memetik buahnya!
Tentu Cin Cin akan menjadi seorang gadis yang cantik je lita dan pandai sehingga harganyapun tentu akan amat mahal!
Keadaan itu berjalan dengan baiknya sampai dua tahun lagi sehingga sudah tiga tahun Cin Cin tinggal di rumah Cia Ma.
Ia semakin besar, menjadi seorang gadis cilik yang amat manis dan amat pandai.
Ia memang berbakat dalam kesenian sehingga selain pandai meniup suling menabuh yang-kim, Juga suaranya merdu kalau bernyanyi, dan tubuhnya le mah gemulai kalau menari.
Ia pandai pula bersajak, lancar membaca dan menulis.
Pendeknya, Jelas bahwa Kam Cin atau Cin Cin merupakan sekuntum bunga yang masih berkuncup namun sudah menjanjikan setangkai bunga yang akan mekar semerbak harum dan indah, lagi mahal harganya!
Pada suatu hari, rumah pelesir Cia menerima kunjungan seorang tamu agung.
Rumah pelesir Ang-hwa (Bunga Merah) itu dinyatakan tertutup untuk umum karena pada hari itu, seorang pembear yang menjabat kedudukan penting di kota raja Lok-yang datang berkunjung!
Sebelum pembesar itu datang, sudah le bih dulu utusannya datang memberiahu bahwa Coa Tai-Jin(Pembesar Coa) itu hendak berkunjung karena te rtarik oleh nama Ang-hwa sebagai rumah pelesir kota Ji-goan yang kabarnya memiliki bunga-bunga yang cantik menarik.
Cia Ma segera mengumpulkan gadis-gadis penghibur dari seluruh kota, rumahnya juga segera dibersihkan dihias seperti hendak menyambut seorang mempelai pria!
Bahkan Cin Cin suruh berpakaian yang paling indah dan di antara hiburan yang akan disajikan kepada Coa Tai-jin, diselipkan Cin Cin yang akan melakukan tarian dan nyanyiannya.
Sejak pagi, lima orang jagoan yang menjadi pengawal-pengawal Coa Tai-Jin Juga menjadi tukang pukulnya, sudah datang berkunjun g dan melakukan persiapan agar perjalanan majikan mereka ke tempat itu aman.
Dan setelah matahari naik tinggi, datanglah kereta yang membawa Coa TaJ-Jin, diiringi sepasukan pengawal terdiri dari selosin peraj rit, dipimpin ole h lima orang Jago itu.
Setelah turun dari kereta, te rnyata Coa Tai-jin yang disegani, di takuti dan dihormati itu hanyalah seorang laki laki berusia limapuluh tahun lebih yang kecil kurus seperti cecak kering karena te rlalu banyak menghisap madat dan berpelesir.
Menuruni tangga kereta saja dia harus dibantu tukang pukulnya agar tidak te rpeleset jatuh dan sambil te rsenyum "agung", senyum khas para pembesar yang merasa dirinya tinggi dan berkuasa, dia melangkah tertatih-tatih disambut oleh Cia Ma dan anak buahnya sambil berlutut!
' Ini tidak aneh karena Coa Tai-jin berpangkat jaksa tinggi dan masih kerabat keluarga kaisar!
De ngan lagak "murah hati"
Coa Tai-jin menggerakkan keduaa tangan menyuruh mereka semua bangkit, kemudian diapun memasuki rumah pelesir Ang-hwa, disambut asap dupa harum dan bunyi musik lirih yang menyemarakkan suasana.
Karena Cia Ma maklum benar bahwa, kunjungan seorang pejabat tinggi selalu mendatangkan kehormatan juga mendatangkan banyak uang baginya, maka ia berusaha sekuat te naga untuk menyenangkan tamunya.
Arak te rbaik, hidangan termahal, disuguhkan oleh gadis -gadis pilihan yang manis-manis.
Coa Tai-jin gembira sekali dikelilingi nona-nona cantik itu, apa lagi dia makan minum sambil menonton pertunjukan tarian dan nyanyian yang dilakukan oleh penar penari cantik.
Kesempatan ini dipergunakan untuk bermain mata dan melakukan pilihan-pilihan, siapa kiranya gadis gadis itu yang akan diminta untuk melayaninya sehari semalam di te mpat pelesir itu.
Setiap ada gadis yang dianggapnya menggetarkan perasaan hatinnya dia berbisik kepada seorang pengawal pribadinya sambil menunjuk gadis itu dengan pandang matanya.
Setelah selesal makan minum, sudah ada tujuh oranh gadis yang dipilihnya!
Tujuh orang gadis yang akan menghiburnya se hari semalam itu!
Cia Ma menggosok-gosok telapak kedua tangannya, menghitung hitung berapa kiranya akan dite rimanya dari pembesar itu untuk tujuh orang gadis nya!
Sedikitnya akan lima kali lipat harga biasa, belum termasuk hadiah pribadi.
Pertunjukan terakhir adalah tarian dan nyanyian yang harus dilakukan Cin Cin.
Dengan dandanan sebagai seorang dewi, gadis cilik ini benar-benar mempesona semua penontonnya, te rmasuk Coa Tai-jin!
Ia benar-benar seperti seorang dewi yang baru melayang turun dari kahyangan, tariannya demikian le mah mulai dan lembut, suara nyanyiannya dengan suara kanak-kanak itu masih bening dan merdu.
Jantung Coa Tai-jin bergetar dibuatnya!
Kini dia memberi isyarat kepada kepala pengawalnya untuk mendekat, lalu la berbisik-bisik sampai lama di telinga pengawalnya Itu.
Cia Ma te rsenyum makin le bar, mengira bahwa te ntu pembesar yang rakus akan wanita itu menambah lagi pilihannya, mungkin sampai sembilan atau sepuluh orang gadis yang diharuskan menghiburnya!
Akan tetapi, ketika kepala pengawal itu menghampirinya dan membisikkan pesan Tai-jin, wajah Cia Ma.
berubah "Apa ?"
Teriaknya dalam bisikan.
"Akan tetapi Cin Cin baru berusia delapan tahun! I a masih kanak-kanak! Bagaimana mungkin la dapat melayani yang mulia............?"
"Hushh, kenapa engkau sekarang begini tolol, Cia Ma?"
Kepala pengawal yang sudah mengenalnya itu mencela "Taijln ingin memindahkan tanaman, bunga yang manis Itu ke dalam taman bunganya sendiri, bukan untuk dipetik sekarang.
Kuncup itu belu mekar.
Taijin Juga tidak ingin memetiknya sekarang.
Kalau sudah ditanam di taman bunganya kelak kalau sudah mekar, setiap saat taijin dapat memetiknya.
Mengerti engkau?"
Tentu saja Cia Ma mengerti.
Kalau tadi ia berpura-pura, sikap ini hanya merupakan gaya untuk menaikkan harga "Tapi......Cin Cin adalah keponakanku sendiri!
Kubesarkan ia sejak kecil dan aku........aku amat sayang padanya.
Bagaimana yang mulia begitu te ga untuk memisahkannya darlku....."
Dan dari kedua mata Cia Ma benar-benar keluar air.mata.
Air mata buaya!
Memang Cia Ma pandai sekali bersandiwara.
Kepala pengawal itu adalah seorang kangouw yang berpengalaman.
Tentu saja tak mudah mengelabuhl orang seperti dia dan dia tahu bahwa bagi seorang manusia seperti Cia Ma, tidak ada lagi perasaan sayang kepada sesamanya, yang disayangnya hanyalah uang!
"Sudahlah, tak ptrlu banyak cakap, katakan saja, berapa harganya?"
Potongnya singkat. Cia Ma tidak berpura-pura lagi. Ia tahu sudah membawa dagangannya kepada harga puncak, tinggal menentukan saja berapa.
"Ahhh, kalau memang yang mulia sungguh-sungguh menginginkan keponakanku, biarlah akan kuhitung dulu malam Ini, berapa biaya yang sudah kukeluarkan selama bertahun-tahun ini untuk mendidiknya menjadi seorang calon gadis yang paling hebat di seluruh Ji-goan, bahkan mungkin tidak ada banding nya di seluruh negeri. Besok pagi-pagi akan kute ntukan berapa biaya yang sudah kukeluarkan itu."
Permintaan ini pantas dan kepala pengawal Itu menyampaikan dengan bisikan kepada Coa Tai-jin.
Pembesar Itu mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tesenyum sabar, dan leher kecil panjang Itu seperti akan patah ketika dia angguk-angguk seperti itu.
Yang penting baginya, Cia Ma menyetujui untuk "menjual"
Gadis cilik yang manis itu.
Soal berapa harganya, itu bukan soal baginya.
Setiap saat dia dapat mengambil uang yang dibutuhkannya, dari gudang hartanya yang berada di mana-mana.
Setiap orang hartawan di kota raja sekali saja melihat dia menggerakkan te lunjuknya, akan bergesa-gesa dan berlumba memenuhi kebutuhannya itu!
De mikianlah, sehari semalam itu Tai-jin berenang dalam lautan kesenangan, tenggelam dalam pemuasan nafsu.
Nafsu menyeret kita ke dalam kesenangan, membuat kita mabok dan lupa diri!
Kita lupa sama sekali karena telah mabok kesenangan, bahwa semua kesenangan bagaikan gelembung-gelembung yang beterbangan di udara.
Nampak indah menarik, seperti gelembung-gelembung air sabun.
Namun, hanya selewat saja, untuk disusul oleh pecahnya gelembung-gelembung itu yang mendatangkan percikan-percikan air sabun yang pahit dan getir!
Bagaikan langit dengan bumi perbedaan antara menikmati keadaan seadanya dan mengejar kenikmatan yang belum ada.
Yang pertama, yaitu menikmati kehidupan berarti mensyukuri apa saja yang kita dapatkan dalam kehidupan ini!
Selama hal yang kita alami dalam hidup ini merupakan rangkaian romantika kehidupann dan kalau kita menghadapinya dengan perasaan syukur, dengan perasaan seyakinnya bahwa kesemuanya itu adalah kehe ndak dan karenanya berkah dari Tuhan , maka apapun yang ada akan mendatangkan perasaan nikmat dan bahagia dalam hati sanubari kita!
Sebaliknya, pengejaran kesenangan timbul karena kita tidak puas dengan keadaan yang nyata, seadanya, dan pikiran kita membayangkan hal-hal yang belum ada.
Hal-hal yang belum ada.
Inilah yang kita namakan kesenangan!
Tidak puas dengan apa adanya dan membayangkan hal-hal yang belum ada ini menciptakan gelembung-gelembung itu.
Kalau sudah begini maka terjadilah kebalikan yang menyedihkan.
Semestinya, menurut kodrat, manusia menjadi majikan, menunggang kuda nafsu agar dapat melakukan perjalanan hidup, Sesuai kodrat.
Namun, kalau Sudah terjadi sebaliknya, kuda menunggangi majikan nafsu menunggangi manusia, akan celakalah!
Fungsi atau tugas hati akal pikir adalah untuk membantu manusia menanggulangl segala bentuk kesukaran dalam kehidupan, mendatangkan kecerdikan akal sehingga manusia dapat melindungi dirinya dari bahaya dan dapat bekerja untuk kelangsungan hidupnya.
Namun, hati akal pikiran yang sudah di cengkeram nafsu, sudah bergelimang nafsu, menjadi alat daya-daya rendah sehingga menyimpang dari pada tugasnya.
Bukan jadi alat yang baik dan bermanfaat, melainkan sebaliknya menjadi penggoda dengan bayangan-bayangan yang memikat hingga menyeret kita untuk mengejar Bayangan-bayangan itu.
Dan kalau kita sudah te rseret mengejar bayangan kesenangan, kita lupa diri, hati nurani kita tertutup dan segala hal mungkin kita lakukan untuk memperole h apa yang kita kejar-kejar itu.
Pengejaran kesenangan harta kekayaan memungkinkan kita lakukan korupsi, penipuan, pencurian, perampokan dan sebegainya untuk memperoleh harta yang kita kejar-kejar.
Pengejaran kesenangan sex memungkinkan kita melakukan perjinaan, pelacuran, perkosaan dan sebagainya untuk memperoleh kesenangan yang kita kejar-kejar, kesenangan yang kita bayangkan dapat datangkan oleh kekuasaan, kedudukan, memungkinkan kita untuk berebutan sehingga te rjadi pertentangan, persaingan bahkan perang!
Lalu, apakah kita harus menjauhkan dari dari kesenangan?
Menjauhkan diri PENGEJARAN KESENANGAN, memang benar.
Akan te tapi bukan berarti menjauhkan diri dari kenikmatan kehidupan dengan segala romantikanya Ini.
Kita dilahirkan dengan segala perle ngkapan yang memungkinkan kita menikmati kehidupan, bukan menjauhi kenikmatan kehidupan.
Buktinya, telinga kita dapat nikmati bunyi-bunyian merdu, mata kita dapat menikmati penglihatan-penglihatan yang Indah, hidung kita dapat menikmati keharuman-keharuman yang sedap, mulut kita dapat menikmati rasa asin manis, masam dan sebagalinya dalam makanan.
Kita hendak menikmati semua itu, karena itulah berkah Tuhan!
Kita berhak menikmati apa yang ada setiap saat, setiap detik.
Bahkan setiap tarikan napas akan te rasa nikmat s ekali kalau kita ingat bahwa setiap tarikan napas merupakan berkah Tuhan!
Apa saja yang ada merupakan sumber kenikmatan bagi orang mensyukuri kehe ndak Tuhan karena dalam segala hal, kalau Tuhan menghendaki, te rdapat berkah dan kenikmatan!
Ketika pada keesokan harinya Cia menyebutkan jumlah uang yang katanya te lah ia keluarkan sebagal biaya mendidik Cin Cin, dengan royal Coa Tai-jin membayarnya dengan tunai, bahkan menambahkan sejumlah hadiah yang melampaui bayangan Cia Ma sendiri.
Tentu saja wanita gendut Itu girang bukan main.
Kalau dihitung, selama tiga tahun mendidik Cin Cin, la menerima, keuntungan puluhan kali lipat!
Akan tetapi, segera kegirangan ini disusul kekecewaan dan kemarahan karena ketika ia membujuk anak perempuan itu, Cin Cin berkeras tidak mau dis erahkan kepada Coa Tai-jin.
"Anak tolol! Setiap anak perempuan di manapun akan berlumba untuk menjadi gadis pingitan di rumah seorang pembesar tinggi seperti Coa Tai-jin, dan egkau yang dipilih ole h beliau, berani menolak? Bodoh kau, Cin Cin. Engkau akan hidup mewah, mulia dan terhormat di sana. Apa lagi kalau kelak diangkat menjadi selir Coa Tai-jin, ada kemungkinan untuk menjadi nyonya besar!"
Cia Ma mencoba membujuk, akan tetapi bujukan ini salah alamat.
Bukannya te rtarik oleh bujukan itu, Cin Cin menjadi makin marah "Tidak, Cia Ma!
Aku tidak sudi menjadi budak belian, biar di rumah istana kaisar sekalipun.
Biar aku pergi saja dari sini kalau engkau tidak mau menerlmaku lagi!"
Diam-diam Cin Cin nyesal mengapa tidak dari kemarin melarikan diri.
Disangkanya, belum waktunya untuk melarikan diri, karena bukankah Sui Su pernah memesan kepadanya agar ia berhati-hati dan jangan tlnggal di situ setelah berusia tlgabelas tahun?
Kini usianya baru delapan tahun dan ia sudah akan dijual!
Ia tahu bahwa dirinya akan dijual kepada pembesar kurus kering yang semalam menonton.
Ia menari dengan mata melotot dan mulut menyeringai.
-ooo0dw0ooo-
Jilid 7
"Cin Cin. jangan membikin aku marah. Engkau memang anak yang tidak mengenal budi. Selama tiga tahun aku memperlakukan engkau seperti anak sendiri. Entah berapa banyaknya biaya yang kukeluarkan untuk keperluanmu. Dan sekarang, sebagai ibu yang baik, aku te lah mencarikan te mpat yang terhormat dan baik untukmu. Bahkan ibu kandungmu sendiri belum tentu akan mampu mencarikan tempat yang demikian mulia untukmu. Dan engkau berani menolak?"
"Terserah pendapatmu, Cia Ma. Pendeknya, aku tidak mau diserahkan kepada pembesar itu atau kepada siapapun. Kalau engkau sudah tidak mau aku tinggal di sini, biarlah aku pergi mencari ibuku."
Cin Cin bersikeras.
Cia Ma kini tidak berpura-pura lagi, tidak bersikap manis dan lembut seperti biasa.
Ia marah-marah dan percecokan itu segera te rdengar oleh Coa Tai-Jin yang segera memerintahkan pengawalnya untuk bersiap-siap meninggalkan te mpat pelesir itu.
Dia merasa malu kalau selagi dia berada di situ te rjadi percekcokan.
Pengawalnya segera mendatangi Cia Ma, menegurnya karena keributan itu.
"Tidak perlu ribut-ribut. Besok harus kauantarkan anak perempuan itu ke Lok-yang, ke gedung Coa Tai-Jin. Beliau tidak ingin mendengar ribut-ribut. Awas, kalau sampai gagal, engkau akan dihukum berat!"
Menggigil tubuh Cia Ma mendengar ancaman itu dan iapun mengangguk-angguk seperti ayam makan jagung.
Rombongan pembesar itu segera meninggalkan rumah pelesir Ang-hwa dan setelah rombongan pergi, Cia Ma mengeluarkan semua rasa hatinya yang panas dan penuh kemarahan te rhadap Cin Cin.
Ia mengurung gadis cilik itu di dalam kamarnya dan menyuruh tukang-tukang pukulnya untuk menjaga agar anak itu jangan sampai melarikan diri.
Kemudian, ia membuat persiapan, menyewa sebuah kereta dan mempersiapkan pasukan pengawal yang te rdiri dari sepuluh orang, dengan Hek-gu (Kerbau Hitam) dan Pe k-gu (Kerbau Putih) sebagai pemimpin.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Hek-gu dan Pek-gu memaksa Cin Cin yang sudah didandani sebagai seorang puteri naik ke dalam kereta.
Anak itu meronta dan melawan, akan tetapi dua orang tukang pukul itu meringkusnya dan memondongnya ke dalam kereta.
Karena khawatir anak itu memberontak terus, He k-gu lalu tinggal di dalam kereta, sedangkan Pek-gu yang memimpin pasukan te rdiri dari sepuluh orang tukang pukul itu.
Kereta lalu dijalankan, meninggalkan Cia Ma yang sambil senyum-senyum menghitung lagi uang yang ia te rima dari Coa Tai-Jin.
-ooo0dw0ooo-"Lepaskan aku!
Aku tidak sudi diberikan pembesar itu!"
Cin Cin mencoba untuk meloncat keluar dari dalam kereta, akan tetapi Hek-gu menangkap kedua le ngannya.
Anak itu meronta-ronta, akan te tapi apa dayanya seorang anak perempuan berusia delapan tahun menghadapi seorang tukang pukul yang kuat seperti Hek-gu.
Kedua lengan itu dipegang oleh tangan kiri dan tidak mampu meronta lagi, apa lagi melepaskan diri.
"Heran, setelah te rdidik selama tiga tahun engkau kelihatan seperti seorang gadis cilik yang le mah lembut dan pandai menari, te rnyata pada dasarnya masih liar,"
Kata Hek-gu dan karena tidak ingin selama dalam perjalanan harus menjaga anak itu dan meringkusnya te rus menerus, dia lalu mengeluarkan sabuk sutera dan mengikat kedua lengan anak itu dengan sabuk sutera.
"Nah, engkau tidak akan dapat meronta lagi sekarang,"
Katanya setelah mengikat pula kedua kaki Cin Cin dan mendorong anak itu terduduk di sudut bangku kereta.
Dia sendiri lalu mele ndut di sudut lain, merasa aman karena gadis cilik itu kini tidak dapat membuat ulah lagi.
N anti kalau sudah dekat kota raja, dia harus mele paskan ikatan kakai-tangan Cin Cin.
Tentu saja tidak berani dia menghadapkan gadis cilik itu dengan kaki tangan te rbelenggu kepada Coa Tai-Jin.
Setelah tiba di tepi selatan Sungai Huang-ho, perjalanan dilanjutkan dengan penyeberangan sungai itu, menggunakan perahu besar.
Cin Cin masih dibelenggu dan belenggu kedua tangannya baru dilepas kalau ia dipersilakan untuk makan dan minum.
Akan te tapi, anak itu selalu menolak, tidak mau makan atau minum walaupun kini ia diam saja, tidak memberontak lagi.
Anak ini maklum bahwa memberontak tidak ada artinya.
Ia harus mencari jalan untuk melarikan diri, mencari lowongan kesempatan setiap saat.
Di seberang utara, orang-orang yang disuruh oleh Cia Ma telah siap dengan sebuah kereta lain yang akan membawa Cin Cin dan pengawalnya ke kota raja.
Ketika malam tiba, rombongan itu bermalam di sebuah rumah penginapan di kota kecil seperti direncanakan.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali mereka berangkat lagi.
Perjalanan itu cukup jauh, memakan waktu tiga hari tiga malam.
Pada hari ke tiga, kereta berjalan cepat memasuki sebuah hutan di le reng bukit.
Cin Cin nampak te rtidur di sudut bangku kereta.
Kaki tangannya te tap terbelenggu.
He k-gu kini diganti oleh Pek-gu yang duduk di kereta, sedangkan Hek-gu menunggang kuda seperti pengawal lainnya.
Pek-gu yang merasa amat lelah, setelah kini mendapat kesempatan duduk di dalam kereta, apalagi melihat Cin Cin yang dijaganya nampak pulas , diapun merasa mengantuk sekali dan melenggut di sudut bangku yang lain.
Dia sama sekali tidak tahu betapa bulu mata anak perempuan itu mulai bergerak-gerak dan sepasang mata yang bening itu mengintai dari balik pelupuk mata yang direnggangkan!
Karena Cin Cin tidak lagi memperlihatkan sikap memberontak, dan nampak le lah sekali karena selama tiga hari ia hanya makan dua tiga kali saja, maka baik Hek-gu maupun Pek-gu menjadi le ngah.
Mereka menganggap bahwa kini gadis cilik itu telah menyerah dan menerima nasib.
Pula apa yang dapat dilakukan anak itu?
Melarikan diri jelas tidak mungkin!
Karena kelengahan ini, maka ikatan kedua kaki dan tangannya tidak sekuat dulu.
De ngan te kun dan sabar, Cin Cin berusaha membuka ikatan kedua kakinya dengan cara membungkuk dan menggunakan kedua tangannya.
Ia berhasil.
Ikatannya terlepas.
Untuk melepaskan ikatan kedua pergelangan tangan, tidak mungkin karena jari-jarinya tidak dapat mencapai simpul di pergelangan tangannya.
Yang penting kedua kakiku bebas, pikir anak itu.
Ia harus melarikan diri sebelum kereta tiba di te mpat ramai.
Apa lagi setelah memasuki kotaraja, tidak mungkin sama sekali melarikan diri.
Sekaranglah saatnya, pikirnya.
Kereta berada di jalan sunyi di tengah hutan dan kedua kakinya sudah bebas.
Ia melihat betapa Pek-gu tidur nyenyak, terbukti dari dengkurnya.
Cin Cin mengintai dari balik tirai kereta.
Hek-gu bersama empat orang pengawal menunggang kuda berada di depan kereta, sedangkan empat orang penjaga lain menunggang kuda di belakang kereta.
Kereta itu sendiri ditarik oleh dua ekor kuda, dikendalikan oleh seorang kusir.
Sekaranglah saatnya, pikir anak itu.
Sekarang atau te rlambat!
Ia menanti sampai kereta itu melambat karena harus mendaki sebuah jalan tanjakan di antara semak belukar dan pohon-pohon cemara.
De ngan cekatan Cin Cin lalu meloncat keluar dari kereta, dan karena kereta itu sedang berjalan lambat, ia dapat meloncat dengan mudah di sebelah kiri kereta.
Sebagai seorang anak yang dahulu pernah mempelajari dasar ilmu silat, loncatan itu tidak membuat Cin Cin terjatuh.
Ia dapat mengatur keseimbangan tubuhnya, dan begitu kedua kakinya menyentuh tanah, ia lalu lari menyusup ke balik semak belukar!
"Heii!
Anak itu lari.!
Kejar.....!"
Te riak para pengawal yang berada di bekang kereta.
Teriakan itu mengejutkan Hek-gu yang berada di depan kereta.
Pek-gu yang tadinya tertidur, kini te rbangun dan kagetlah dia ketika tidak melihat anak perempuan itu di depannya.
Diapun meloncat keluar dan bersama para pengawal, diapun melakukan pengejaran.
Karena anak itu mengambil jalan di antara semak dan pohon, sepuluh orang pengawal itupun berloncatan turun dari atas kuda mereka dan melakukan pengejaran sambil berte riak-te riak.
Mereka tentu saja memandang rendah kepada anak perempuan itu, dan menganggap hal itu seperti main-main saja.
Mereka mengejar sambil berte riak dan te rtawa-tawa, seperti sekawanan anjing serigala mengejar seekor domba!
Memang amat sukar bagi Cin Cia untuk dapat meloloskan diri dari kejaran sepuluh orang tukang pukul itu.
Dalam keadaan bias a sekalipun, ia pasti akan dapat tersusul dan ditangkap kembali.
Apa lagi kini ia lari dengan kedua tangan masih te rikat di depan tubuh sehingga hal ini tentu saja mengurangi kecepatan larinya, karena gerakannya menjadi canggung.
Beberapa kali ia te rjerembab, akan te tapi dengan nekat anak perempuan ini bangkit lagi dan lari sekuat tenaga.
Belum ada setengah mil Cin Cin melarikan diri, Pek-gu yang marah sekali karena anak perempuan itu melarikan diri ketika dia menjaganya di dalam kereta, telah dapat menangkap pundaknya dari belakang.
Cin Cin membalik dan memukulkan tangannya ke arah orang yang menangkapnya.
Akan tetapi, sekali menggerakkan tangan, Pek-gu telah menangkap pergelangan kedua tangan itu.
"Anak setan, kalau tidak ingat pesan Cia Ma, engkau sudah kupukul!"
Bentak Pek-gu marah dan diapun memanggul tubuh Cin Cin di atas pundaknya, pengawal lain mentertawakan Pek-gu, akan tetapi Hek-gu menegur kawannya.
"Apa kau ingin kehilangan kepalamu. Menjaga sampai tidak tahu anak itu lari."
"Kujamin sekarang ia tidak akan dapat lari lagi dariku, sampai kita tiba di kota raja."
Kata Pek-gu mendongkol bukan main kepada Cin Cin.
"Lepaskan aku! Kalian anjing-anjing busuk. Lepaskan aku atau bunuh saja aku.!"
Cin Cin berte riak-te riak, akan tetapi ia tidak dapat meronta lagi, kecuali menggeliat-geliat di atas pondongan pundak Pek-gu.
Sepuluh orang itu sambil tertawa-tawa berjalan kembali ke arah jalan di mana kereta itu masih menunggu.
Tiba-tiba te rdengar suara merdu tanpa kelihatan orangnya, suara seorang wanita.
"Anjing-anjing busuk, apakah kalian tuli? Ia minta dile paskan, apakah kalian tidak mendengarnya?"
Sepuluh orang itu te ntu saja te rkejut dan juga heran.
Mereka memandang ke kanan kiri dan tidak melihat seorangpun.
Di antara mereka sudah menjadi takut dan merasa seram karena menyangka bahwa yang bicara itu te ntu setan penunggu hutan!
Akan te tapi, Hek-gu dan Pek-gu adalah dua orang jagoan yang tidak mengenal takut.
Mereka sudah mencabut golok masing-masing dan Hek-gu membentak.
"Siapakah yang bicara tadi? Keluar perlihatkan dirimu kalau e ngkau memang manusia dan bukan setan!"
Tiba-tiba te rdengar suara ketawa lirih yang merdu dan nampak berkelebat bayangan putih dan tahu-tahu di situ telah berdiri seorang wanita yang cantik dan bertubuh ramping.
Sukar menaksir usia wanita ini, nampaknya tidak le bih dari tigapuluh tahun.
Rambutnya digelung seperti rambut pute ri bangsawan.
Pakaiannya dari sutera putih yang halus dan bersih.
Sebatang pedang te rgantung di punggung, dan pinggang yang ramping itu dililit sehelai cambuk hitam yang seperti ular.
Ia te rsenyum le bar, nampak deretan giginya berkilat putih, namun sepasang matanya mencorong dan mengandung keganasan yang mengerikan!
"Anak perempuan yang berani, mengapa engkau menjadi tawanan anjing-anjing busuk ini?"
Te rdengar ia bertanya kepada Cin Cin dan semua pengawal itu mengenal suaranya yang tadi te rdengar sebelum orangnya nampak.
Biarpun ia dipon dong dengan muka di punggung Pek-gu, Cin Cin dapat memutar le her dan melihat wanita cantik itu.
Sekali pandang saja ia dapat menduga bahwa wanita cantik itu tentulah seorang yang lihai, seperti ibu Thian Ki, Sim Lan Ci.
Maka, timbullah harapan baginya untuk dapat te rtolong dari tangan para tukang pukul ini.
"Bibi yang baik, kau tolonglah aku. Aku akan dijual kepada seorang pembesar di kota raja oleh anjing-anjing buduk ini!"
Wanita cantik itu bukanlah sembarang wanita.
Kalau saja He k-gu dan Pek-gu tahu dengan siapa mereka berhadapan tentu mereka akan lari tunggang-langgang.
Nama wanita itu, yaitu nama julukannya, sudah te rsohor di seluruh daerah timur, bahkan sampai ke kota raja.
Akan tetapi, wanita ini memang jarang muncul di dunia ramai, tidak mau sembarangan memperkenalkan diri.
Padahal ia merupakan seorang datuk sesat yang memiliki kepandaian yang tinggi.
Biarpun nampaknya baru berusia tigapuluhan tahun, namun sesungguhnya usianya sudah limapuluh tahun.
Ia terkenal dengan julukan Tung-hai Mo-li (I blis betina Laut Timur), dan namanya adalah Bhok Sui Lan.
Namanya demikian tersohor di bagian timur, sehingga semua orang kangouw mengenal nama itu dan takut kepadanya.
Oleh karena itu, ia hidup bagaikan seorang ratu di antara para tokoh kangouw, dan dari dunia sesat ia menerima sumbangan dan hadiah yang membuat hidupnya kecukupan sebagai orang wanita yang kaya raya.
Mendengar ucapan Cin Cin, Tung-hai Mo-li mengerutkan alisnya.
"Hei, anjing muka putih, engkau sudah mendengar ucapan anak itu? Lepaskan ia sekarang juga!"
"Bibi yang gagah, orang ini bukan anjing muka putih, melainkan Pek-gu (Kerbau Putih)."
Kata Cin Cin yang timbul keberaniannya.
"Hemm, dia le bih pantas menjadi anjing daripada kerbau,"
Kata pula wanita cantik itu.
Tentu saja Pek-gu marah sekali mendengar ejekan-ejekan itu.
Akan te tapi karena yang mengejek dan memakinya adalah seorang wanita cantik, sejak tadi ia bengong dan te rkagum kagum.
Kini ia melangkah maju dan berkata.
"Ha-ha,manis. Lebih baik engkau menjadi isteriku, daripada engkau mencampuri urusan kami. Sayang kalau kulitmu yang putih mulus itu sampai te rluka ole h golokku."
Sepasang mata itu mencorong.
"Engkau.. bangkai anjing!"
Bentaknya dan tiba-tiba tubuhnya berkelebat ke depan.
Melihat wanita itu menyerang dengan tangan kosong, Pek-gu memandang rendah.
Akan tetapi karena dia tidak ingin Cin Cin dirampas orang, hal yang akan membuat dia dua kali kehilangan anak yang dijaganya, dia mengelebatkan goloknya untuk membabat tangan wanita berpakaian putih itu, te ntu saja hanya dengan gerakan ancaman.
Akan te tapi, tiba-tiba saja tangan yang menggerakkan golok itu te rasa lumpuh, disambar jari tangan wanita itu dan di lain saat, entah secara bagaimana dia tidak tahu, karena gerakan wanita itu terlalu cepat baginya, tubuh Cin Cin sudah te rlepas dari atas pundaknya dan anak perempuan itu tahu-tahu telah berdiri di samping wanita baju putih itu!
Kini Pek-gu marah sekali.
Dia tidak perdull akan kecantikan wanita baju putih itu.
Diputarnya goloknya di kepala dan diapun berteriak.
"Kernbalikan anak itu kepadaku!"
"Bangkai anjing!"
Mo-1i (I blis betina) berseru le mbut dan ia bergerak maju memapak Pek-gu yang menyerang dengan bacokan golok.
Tangan yang kecil halus itu diangkat menyambut golok dengan begitu saja ia menangkap golok yang nyambar kepalanya.
Golok itu berhenti seperti te rsedot dan sebelum Pek-gu tahu apa yang terjadi, tangan kiri Mo-li sudah menampar dadanya.
"Plakk!"
Tamparan itu kelihatannya tidak keras, akan tetapi akibatnya hebat karena tubuh Pek-gu te rjengkang dan ia berkelojotan sebentar lalu te rdiam.
Tewas dan baju di dadanya seperti te rbakar dan nampak bekas te lapak tangan di sana!
Tentu saja Hek-gu te rkejut dan marah sekali, demikian pula kawan-kawannya.
Sembilan orang itu, dengan senjata masing-masing, sudah maju mengeroyok Mo-li.
Bagaikan seekor kupu-kupu menari-nari di antara bunga-bunga di taman, tubuh yang berpakaian putih itu berloncatan atau seperti beterbangan dan berturut-turut sembilan orang tukang pukul itu roboh tanpa mengeluarkan suara dan mereka tidak dapat bangun kembali karena setiap kali terkena pukulan, mereka roboh dan tewas!
Semua itu terjadi dalam waktu yang amat singkat sehingga Cin Cin memandang dengan bengong.
Kemudian, anak yang cerdik itu merasa yakin bahwa wanita berpakaian putih itu adalah seorang yang sakti, jauh le bih lihai dibandingkan bibi Sim Lan Ci yang pernah ia kagumi.
Ia cepat menghampiri wanita itu dan menjatuhkan diri berlutut di depan dua kaki wanita itu.
"Bibi, selain menghaturkan te rima kasih atas pertolonganmu, aku juga mohon sudilah bibi menerimaku sebagai murid bibi."
Tanpa menanti jawaban, langsung saja Cin Cin memberi hormat sambil berlutut sebagaimana layaknya seorang murid memberi hormat kepada gurunya.
"Hemm. kenapa sebelum kuterima kau sebagai murid, engkau sudah menghormatiku sebagai gurumu?"
"Karena aku yakin subo ( ibu guru pasti akan menerimaku sebagai murid ).!"
Mo-li mengerutkan alisnya.
"Eh, bagaimana e ngkau bisa yakin?"
"Subo telah bersusah payah menyelamatkan aku dari tangan anjing-anjing ini. Apa artinya pertolongan itu kalau subo tidak menerimaku sebagai murid. Semua jerih payah subo tadi akan sia-sia belaka. Karena itu, aku yakin bahwa subo te ntu menolongku untuk menerimaku sebagai murid."
Sepasang mata yang jeli itu te rbelalak, kemudian wajah cantik itu membayangkan senyum gembira.
Tung-hai Mo-li adalah seorang wanita aneh, seorang datuk sesat.
Maka, melihat watak anak perempuan yang tabah, lincah, pandai bicara dan ugal-ugalan ini, timbul rasa suka di hatinya.
Ia memang tidak pernah mau menerima murid, dan begitu bertemu dengan Cin Cin, melihat betapa anak perempuan yang tidak berdaya itu berani memaki-maki segerombolan pengawal yang kasar dan jahat, hatinya te rtarik dan ia merasa suka sekali.
Dan ucapan anak itu memang benar.
Kalau tidak te rtarik dan tidak suka kepada ana k itu, untuk apa ia turun tangan menbunuh sepuluh orang pengawal tadi?
Bias anya, ia tidak suka mencampuri urusan orang dan tidak perduli apakah ada kejahatan terjadi di depan hidungnya atau tidak, selama peristiwa itu tidak menyangkut dirinya!
"Siapakah engkau?
Dan kenapa engkau menjadi tawanan mereka ini?
Ceritakan semua, singkat saja.
Aku ingin mengetahui riwayatmu."
"Namaku Kam Cin, biasa disebut Cin Cin, usiaku sekarang delapan tahun. Tiga tahun yang lalu ayahku dibunuh penjahat, ibuku diculik penjahat, seluruh keluargaku dibasmi gerombolan penjahat. Seorang sute dari ayahku mendapat tugas untuk membawa aku pergi mengungsi, akan tetapi di kota Ji-goan, paman yang culas itu menjual aku kepada Cia Ma, pemilik rumah pelesir Ang-hwa. Di sana aku dipelihara dan dididik selama tiga tahun dan hari ini aku oleh Cia Ma dijual kepada seorang pembesar Coa di kota raja. Sepuluh orang ini mengawalku ke rumah pembes ar itu dan di te mpat ini, aku melihat kesempatan untuk melarikan diri."
Mo-li mendengarkan dengan kagum dan ia melihat sabuk sutera yang masih mengikat kedua tangan gadis kecil itu.
"Kenapa baru sekarang engkau melarikan diri dan sampai tiga tahun tinggal rumah kotor itu?"
Tanyanya ragu.
"Begini, bibi, eh. subo. Ketika aku oleh paman jahanam itu dijual kepada Cia Ma, aku sudah memberontak dan melawan, bahkan aku sempat melarikan diri. Akan tetapi aku tertangkap kembali dan aku lalu menggunakan sias at untuk menurut dan tidak memberontak. De ngan demikian. selain mendapatkan perlakukan wajar, aku diajar pula membaca, menulis dan lain kesenian, dan aku memperoleh kebebasan. Aku selalu mencari kesempatan baik. Siapa kira, nenek gendut itu menjualku kepada pembesar itu. Maka, dalam perjalanan aku nekat mencoba untuk melarikan diri."
Mo-li mengangguk-angguk.
Ia suka kepada anak ini, tertarik melihat sikapnya, akan tetapi ia tidak te rtarik mendengar riwayatnya, tidak ingin tahu siapa keluarga anak ini yang katanya dibasmi orang jahat.
"Baiklah, kalau engkau mau belajar dengan rajin, aku mau mengajarkan ilmuku kepadamu. Akan te tapi sekali saja engkau mengecewakan hatiku atau bermalas-malasan, engkau akan kubunuh!"
Diam-diam bergidik juga hati Cin Cin mendengar ancaman ini, dan ia yang menjadi pute ri ketua perkumpulan orang gagah He k-houw-pang dan banyak mendengar te ntang orang-orang kangouw yang aneh, dapat menduga bahwa wanita cantik ini te ntu seorang tokoh sesat.
"Baik, subo. Aku akan selalu mentaati perintah subo."
"Nah. majulah ke sini!"
Kata Mo-li dan begitu Cin Cin melangkah maju, tangannya bergerak.
Cin Cin hanya merasa ada renggutan pada tali yang mengikat kedua tnngannya dan tali sabuk sutera itupun putus!
Ia semakin kagum.
Gurunya itu tidak kelihatan menyentuh sabuk sutera itu, akan tetapi sabuk itu putus.
"Mari kita pergi!"
Kata pula Mo-li dengan singkat.
"Nanti dulu, subo."
"Ehh?"
Mo-li memandang dengan alis berkerut, matanya mencorong.
Kembali Cin Cin merasa ngeri.
Ia harus berhati-hati menghadapi gurunya ini.
Salah-salah sekali tangan gurunya bergerak, belum ia tahu apa yang te rjadi, ia sudah menggeletak dan tewas seperti sepuluh orang itu!
"Subo, di sana masih ada kusir kereta.
Apakah dia dibiarkan saja menjadi saksi semua ini?"
Ia menuding ke arah jalan di mana nampak sebuah kereta. Pada saat itu, terdengar suara dari kereta itu.
"Heiii! Kenapa lama amat menangkap anak itu? Kalian cepat kembali ke sini agar dapat melanjutkan perjalanan!"
Itulah suara kusir kereta.
"Mari kita ke s ana!"
Kata Mo-li sambil berlari ke arah jalan itu, diikuti ole h Cin Cin.
Kusir kereta memandang heran ketika melihat anak perempuan itu datang bersama seorang wanita cantik dan tidak nampak seorangpun di antara pengawal yang melakukan pengejaran tadi.
Ketika Mo-li tiba di depannya, kusir itu memandang heran dan kagum.
"Siapa engkau? Mana mereka dan apa yang terjadi ?"
Baru saja dia menutup mulutnya, dia te rpelanting roboh dari atas kereta, terjungkal dan te was seketika. De ngan tenang Mo-li berpaling kepada Cin Cin.
"Apakah masih ada lagi di antara mereka?"
Cin Cin menelan ludah.
Kalau sepuluh orang tadi roboh dibunuh, ia tidak merasa ngeri bahkan bersyukur karena mereka merupakan ancaman baginya.
Akan te tapi selama dalam perjalanan kusir kereta itu tidak pernah bersikap galak dan tingkah lakunya tidak seperti sepuluh orang tukang pukul itu.
Melihat dia dibunuh seperti itu oleh gurunya, mau tidak mau ia merasa ngeri juga.
Gurunya ini mengingatkan ia akan para penjahat yang mengamuk di He k-houw-pang.
Sekejam mereka, kalau tidak lebih kejam lagi malah.
Akan tetapi ia perlu mempelajari ilmu silat tinggi.
Kelak ia harus mencari para pembunuh ayahnya, dan mencari penjahat yang menculik ibunya.
Tanpa ilmu yang tinggi, ia hanya akan menjadi beban penghinaan orang lain.
Ia kelak juga harus mencari Lai Kun, untuk menghukumnya.
Mo-li memilih dua ekor kuda te rbaik di antara kuda-kuda yang berada di situ, kemudian mengajak muridnya naik kuda dan pergi dari situ.
Ia sama sekali tidak bicara, dan Cin Cin juga tidak bertanya apa-apa, hanya mengikuti gurunya.
-ooo0dw0ooo-The Siong Ki baru berusia enam tahun, akan tetapi dia seorang anak yang cerdik dan pemberani.
Dalam usia sekecil itu, dia telah kehilangan ayah ibunya.
Bahkan dalam keadaan putus asa ditinggalkan orang tuanya, harapannya timbul ketika dia berte mu Poa Liu Hwa, is tri pangcu (ketua) He k-houw pang dan dia diangkat murid oleh Poa Liu Hwa.
Akan tetapi, harapan itu hancur kembali ketika dia melihat betapa subo (ibu guru) itu bukan seorang wanita yang memiliki kepandaian tinggi.
Bahkan menghadapi musuhnya menjadi tidak berdaya, dan hal ini mengecewakan hatinya.
Apa lagi ketika muncul laki-laki tinggi besar bernama Lie Koan Tek itu, yang menurut keterangan dari pria muda tampan yang menyerang subonya, adalah pembunuh ayahnya, dia diam-diam segera meninggalkan te mpat subonya berkelahi.
Dia harus pergi, mencari guru yang le bih tangguh dan dia tahu ke mana harus mencari guru yang sakti.
Dia te ringat akan pendekar sakti Si Han Beng yang berjuluk Huang-ho Sin-liong (N aga Sakti Sungai Kuning), yang berte mpat tinggal di dusun Hong-cun di le mbah Huang-ho.
Dia tahu bahwa Kam Cin atau Cin Cin, pute ri subonya itu sendiri diantar oleh paman gurunya, Lai Kun untuk mengungsi ke Hong-cun dan menjadi murid pendekar sakti itu.
Dia akan menyusul ke sana dan dia akan mohon agar dite rima menjadi murid, bersama Cin Cin!
Untuk menjamin keselamatannya dalam perjalanan, Siong Ki sengaja membiarkan pakaiannya compang-camping seperti seorang anak je mbel.
Dengan demikian tidak ada orang yang suka mendekatinya apa lagi mengganggunya.
Gangguan orang lain selalu hanya karena yang diganggu memiliki kelebihan, yaitu keindahan pakaian dan uang, ketampanan atau kecantikan wajah, kepandaian dan sebagainya yang menimbulkan iri hati dalam hati orang lain.
Siapa yang akan mengganggu seorang anak jembel yang kotor, miskin, bodoh dan papa?
Padahal, Siong Ki menyimpan perak cukup banyak, bahkan sedikit emas, untuk bekal.
De ngan cara menghemat, juga tidak sampai ketahuan orang lain kalau dia membelanjakannya, dia dapat melakukan perjalan yang amat jauh itu dengan selamat.
Beberapa bulan kemudian, tibalah ia di lembah Huang-ho dan dengan bertanya-tanya, akhirnya dapat juga ia memperoleh keterangan di mana adanya dusun Hong-cun, te mpat tinggal pendekar sakti Si Han Beng itu.
Tentu saja ia cukup cerdik untuk tidak menyebut-nyebut nama pendekar itu, karena hal ini akan menimbulkan kecurigaan dan menarik perhatian orang.
Tentu mengherankan kalau seorang anak pengemis bertanya-tanya tentang seorang pendekar sakti seperti Huang-ho Sin-liong Si Han Beng itu!
Akhirnya, setelah melakukan perjalanan yang amat jauh dan lama karena dia mencari-cari dan bertanya-tanya sepanjang jalan, pada siang hari itu Siong Ki berhasil tiba di pekarangan depan rumah pendekar sakti Si Han Beng.
Tentu saja setelah tiba di dusun Hong-cun, amat mudah bagi Siong Ki mencari rumah besar itu.
Semua orang mengenal keluarga Si ini.
Si Han Beng adalah seorang pendekar sakti, walaupun dia dan keluarganya hidup se derhana sebagai petani di dusun itu.
Melihat keadaan keluarganya yang hidup sederhana, tentu tidak ada orang yang menyangka bahwa dia adalah Naga Sakti Sungai Huang-ho yang namanya pernah menggemparkan dunia kangouw, te rutama di sepanjang sungai besar itu.
Si Han Beng masih muda, baru dua puluh tujuh tahun usianya, namun dia sudah membuat nama besar dengan sepak te rjangnya yang gagah perkasa.
Tubuhnya tinggi besar dan gagah, wajahnya tampan dan sikapnya pendiam.
Pakaiannya sederhana seperti petani biasa.
Satu-satunya yang menunjukkan bahwa dia seorang pendekar sakti barangkali adalah matanya.
Mata itu mencorong seperti mata seekor seekor naga!
Dia telah mewarisi ilmu-ilmu dari Si Rajawali Sakti Liu Bhok Ki, dari Raja Pengemis Sin-ciang Kai-ong, dan terakhir sekali dari pertapa sakti Pek I Tojin.
Tidak mengherankan kalau Si Han Beng memiliki ilmu kepandaian yang bebat.
Isterinya juga seorang pendekar wanita yang tingkat kepandaiannya hampir menandingi suaminya.
Isterinya bernama Bu Giok Cu, baru berusia duapuluh lima tahun.
Wanita ini cantik jelita, lincah jenaka dan cerdik.
I a pernah mewaris i ilmu-ilmu yang dahsyat dan ganas dari Ban-tok Mo-li (Iblis Betina Selaksa Racun), kemudian digemble ng oleh Hek Bin Hwesio, seorang pendeta Siauw-Lim-pai yang suka mengembara dan yang memiliki ilmu kepandaian hebat.
Tiga tahun mereka menikah dan mereka mempunyai seorang anak perempuan yang mereka beri nama Si Hong Lan dengan panggilan sehari-hari Lan Lan.
Anak itu kini sudah dua tahun usianya.
Seorang anak yang sehat dan mungil.
De ngan jantung berdebar karena te gang, harap-harap cemas, Siong Ki berdiri di pekarangan rumah keluarga Si.
Dia mengharapkan akan melihat Kam Cin di situ.
Kalau saja Cin Cin yang lebih dahulu keluar dan melihatnya, tentu anak perempuan itu akan mengenalnya.
Karena mereka adalah kawan bermain sejak kecil.
Dan perjumpaan itu tentu akan memudahkan dia untuk menghadap pendekar sakti Si Han Beng, untuk mohon agar dite rima sebagai murid, seperti halnya Cin Cin.
Akan te tapi yang keluar adalah seorang laki-laki setengah tua yang berpakaian seperti pelayan.
Melihat seorang anak laki-laki berpakaian je mbel berdiri di pekarangan, laki-laki itu menghampiri dan mene gurnya.
"Mau apa engkau berdiri di s ini? Ayo cepat pergi, anak malas!"
Siong Ki mengamati orang itu.
Pasti bukan pendekar sakti Si Han Beng pikirnya.
Menurut cerita yang didenngarnya, pendekar besar itu belum ada tiga puluh tahun usianya, sedangkan pria ini sedikitnya tentu empatpuluh tahun.Dan te guran itu demikian kakunya, begitu berte mu, tanpa alasan dia dimaki sebagai anak malas.
"Paman, aku bukan anak pemalas,"
Ia membantah. Orang itu mendekat dan matanya memancarkan kemarahan.
"Apa? Engkau bukan anak pemalas? Lihat pakaianmu. Engkau seorang pengemis, bukan? Semua pengemis yang bertubuh sehat dan tidak cacat adalah pemalas! Tidak mau bekerja. Engkau te ntu bukan anak dusun ini, karena di sini tidak ada pengemis. Hayo cepat pergi, jangan berdiri saja di pekarangan ini. Lebih baik engkau segera keluar dari dusun ini karena takkan ada seorangpun suka memberi derma kepada seorang pemalas!"
Wajah Siong Ki berubah kemerahan.
Dia marah sekali, akan tetapi dia masih dapat menahan kesabarannya, karena tengingat bahwa dia telah berada di pekarangan rumah pendekar yang dia harapkan suka menerimanya sebagai murid.
"Paman, kuharap paman jangan menilai seseorang dari pakaiannya. Aku melakukan perjalanan jauh dan demi keamanan di dalam perjalanan, aku sengaja mengenakan pakaian yang butut agar disangka pengemis dan tidak diganggu orang. Aku bukan pemalas, dan tidak pernah minta-minta, paman. Kalau paman tidak percaya, ini masih ada sisa bekalku untuk biaya perjalananku."
Dia mengeluarkan kantung kecil di mana masih ada dua potong emas dan beberapa potong perak.
Ketika dia membuka kantong kecil itu dan memperlihatkan isinya orang itu te rcengang, akan tetapi pandang matanya terhadap Siong Ki berubah.
Kini penuh perhatian dan te rtarik.
"Hemm, anak yang aneh, siapakah kau dan mengapa pula engkau datang ke sini?"
"Panjang ceritanya, paman. Aku datang ke sini untuk menghadap tai-hiap (Pendekar bes ar) Si Han Beng. Kalau paman seorang di antara para penghuni rumah ini, kuharap paman suka memberitahukan kepada Si-taihiap bahwa aku mohon menghadap."
"Nanti dulu, tidak begitu mudah untuk berte mu dengan Si-taihiap, apalagi seorang anak kecil seperti engkau. Katakan dulu siapa namamu, dan dari mana engkau datang sehingga aku akan mempertimbangkan apakah sudah pantas kulaporkan kepadanya tentang kunjunganmu."
Kini tahulah Siong Ki bahwa orang ini adalah seorang pelayan, atau setidaknya seorang pembantu dari keluarga Si, maka giranglah hatinya dan diapun bersikap lebih ramah dan sopan.
"Paman yang baik, te rima kasih sebelumnya atas kebaikanmu. Namaku adalah The Siong Ki. Harap paman laporkan kepada Si Tai-hiap bahwa ayahku adalah murid He k-houw-pang, suheng dari ketua He k-houw-pang dan bahwa kedatanganku membawa berita yang amat penting te ntang He k-houw-pang. Kukira Si tai-hiap nanti sudi untuk menerimaku menghadap, paman."
Pembantu itu mengangguk-angguk.
"Aku pernah mendengar tentang Hek-houw-pang. Baik, akan kulaporkan kepada Taihiap. Kau tunggulah di sini, Siong Ki."
"Terima kasih, paman."
Pembantu itu masuk ke dalam melalui pintu samping dari mana tadi dia keluar dan Siong Ki menanti dengan jantung berdebar te gang.
Kalau Cin Cin sudah berada di situ, te ntu keluarga Si sudah mendengar te ntang malapetaka yang menimpa He k-houw-pang, dan namanya te ntu akan dikenal Cin Cin dan mereka te ntu akan menerimanya dengan baik.
Andaikata Cin Cin belum tiba di situ, hal yang tidak mungkin karena te ntu anak perempuan yang diantar oleh s usioknya Lai Kun, te ntu dapat melakukan perjalanan lebih cepat darinya, maka dengan mendengar nama Hek houw-pang, pendekar itu tentu akan tertarik pula dan suka menerimanya.
Dugaan Siong Ki memang benar.
Begitu Si Han Beng dan is terinya, Bu Giok Cu, mendengar laporan pembantu mereka bahwa di luar ada seorang anak laki-laki berusia enam tujuh tahun bernama The Siong Ki yang mengaku sebagai murid keponakan ketua He k-houw-pang, suami isteri pendekar itu segera keluar menyambut.
Bu Giok Cu menggendong putrinya, Lan Lan yang berusia dua tahun lebih.
Akan tetapi, suami isteri itu merasa heran ketika melihat bahwa yang berada di luar hanya seorang anak laki-laki yang melihat keadaan diri dan pakaiannya, je las seorang jembel atau pengemis kotor!
Pembantu mereka tadi tidak atau belum menceritakan keadaan anak itu.
Melihat munculnya seorang pria muda tinggi besar dan gagah yang pakaiannya sederhana seperti petani, bersama seorang wanita menggendong anak perempuan berusia dua tahun, dan wanita itu cantik dan bermata tajam, Siong Ki tidak merasa ragu lagi.
Tentu ini yang bernama Si Han Beng dan berjuluk Naga Sakti Sungai Huangho itu!
Tanpa ragu lagi ia lalu menghampiri dan menjatuhkan diri berlutut di depan suami isteri itu.
"Saya The Siong Ki menghaturkan hormat saya kepada Tai-hiap Si Han Beng berdua, dan mohon maaf kalau kedatangan saya ini mengganggu taihiap."
Si Han Beng dan Bu Giok Cu saling pandang.
Sikap anak ini je las menunjukkan bahwa dia bukan seorang jembel biasa.
''Anak baik, kami tidak mengenalmu.
Benarkah engkau dari He k-houw-pang?
Kalau benar demikian, mengapa engkau datang ke sini minta berjumpa dengan kami?"
Siong Ki masih berlutut.
"Taihiap ayah saya bernama The Ci Kok dan dia adalah suheng dari He k-houw-pang Pangcu Kam Seng Hin. Hek-houw-pang te rtimpa malapetaka, tentu taihiap berdua sudah mendengar akan hal itu dari adik Cin Cin."
Suami isteri itu saling pandang, kemudian Bu Giok Cu yang berkata.
"Apa maksudmu, Siong Ki? Siapa itu Cin Cin? Kami belum mendengar apa-apa te ntang Hek-houw-pang."
Suaminya cepat menambahkan.
"Siong mari kita masuk ke dalam dan kau ceritakan apa yang telah terjadi."
Bukan main girangnya hati Siong Ki.
Seperti telah digambarkannya, te rnyata suami isteri pendekar itu ramah.
Dia mengikuti mereka masuk ke dalam rumah yang cukup besar itu dan diam-diam dia merasa heran mengapa tidak nampak Cin Cin keluar menyambutnya.
Apa lagi tadi isteri pendekar itu mengatakan tidak mengenal Cin Cin.
Sungguh aneh!
Ini berarti bahwa Cin Cin belum tiba di tempat itu.
Mereka memasuki ruangan dalam dan Giok Cu menyuruh Siong Ki duduk lalu berkata.
"Engkau lapar dan ingin makan dulu sebelum bercerita?"
Suaminya mengangguk membenarkan karena diapun merasa kasihan kepada anak yang keadaannya seperti seorang anak jembel itu.
Wajah Siong Ki berubah merah dan diam-diam dia merasa mendongkol juga.
Akan tetapi dia dapat memaklumi.
Suami isteri ini te ntu menganggap dia telah menjadi pengemis yang te rlantar dan kelaparan.
"Terima kasih, tadi saya sudah membeli sarapan pagi sebelum berkunjung ke sini."
Mendengar ini, suami isteri itu kembali saling pandang. Seorang anak jembel membeli sarapan pagi? Ganjil sekali.! "Hemm, engkau mempunyai uang untuk membeli sarapan?"
Tanya Han Beng yang merasa heran.
De ngan tenang Siong Ki mengeluarkan lagi kantung kain dan membuka kantung itu memperlihatkan isinya.
Suami isteri itu terbelalak.
Emas dan perak dalam kantung itu memang cukup untuk membeli makanan selama berbulan-bulan.!
"Hemm, engkau mempunyai uang akan te tapi mengenakan pakaian jembel?
Siong Ki, apa artinya ini dan mengapa pula engkau meninggalkan He k-houw-pang dan melakukan perjalanan jauh sampai ke sini?"
"Taihiap, sebelum saya menjawab, harap beri tahukan lebih dulu kepada saya, apakah a dik Kam Cin, puteri susiok, yaitu ketua Hek-houw-pang, belum tiba di sini?"
Suami isteri itu menggeleng kepala, Si Han Beng memang tidak mempunyai hubungan dengan He k-houw-pang, akan te tapi karena dia merupakan adik angkat dari Coa Siang Lee, dan Siang Lee adalah keturunan keluarga Coa yang menjadi pimpinan He k-houw-pang, maka dia mengenal He k-houw-pang.
"Tidak ada dari He k-houw-pang yang datang ke sini sebelum engkau. Siong Ki duduklah yang baik dan ceritakan segala apa yang terjadi di Hek-houw-pang. Kaubilang tadi Hek-houw-pang te rtimpa malapetaka?"
Slong Ki lalu menceritakan semua peristiwa yang te rjadi, betapa Hek-houw-pang diserbu gerombolan pemberontak, anak buah pemberontak Cian Bu Ong, karena He k-houw-pang membantu pemerintahan kerajaan baru untuk mengamankan daerah.
"Dalam penyerbuan yang dilakukan oleh penjahat-penjahat yang berkepandaian tinggi itu, hampir semua anggota He k-houw-pang te rbasmi dan te was. Pangcu Kam Seng Hin sendiri tewas. Juga ayah saya, The Ci Kok, suheng dari pangcu, te was oleh gerombolan sehingga saya menjadi yatim-piatu karena ibu sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Di antara puluhan orang anggota He k-houw-pang yang te was, juga terdapat susiok (paman guru) Coa Siang Lee yang kebetulan datang bertamu bersama isteri dan pute ranya....."
"Ahhh.....!!"
Si Han Beng berseru kaget bukan main mendengar bahwa kakak angkatnya juga te was dalam perte mpuran ketika He k-houw-pang diserbu para pemberontak.
"Kanda Coa Siang Lee te was......? Bagaimana dengan isterinya, enci Sim Lan Ci dan pute ra mereka. Coa Thian Ki?"
"Me nurut kete rangan yang melihatnya, ibu dan anak itu diculik dan dilarikan penjahat."
"Ahhhh........!"
Si Han Beng semakin terkejut dan juga khawatir mendengar ini.
"Dan bagaimana dengan kakek Coa Song.......?"
"Kakek meninggal dunia karena duka dan sakit setelah terjadi peristiwa yang mendatangkan malapetaka bagi He k-houw-pang itu. Sebelum meninggal, kakek Coa Song berpesan agar cucunya, yaitu adik Kam Cin yang selamat dari pembasmian itu, diantar ke sini untuk berguru kepada ji-wi. Yang mengantarkan adik Cin Cin adalah susiok Lai Kun. Sungguh aneh sekali mengapa mereka belum juga tiba di sini, sedangkan saya yang berangkat beberapa hari kemudian dan melakukan perjalanan sukar dan lambat, bisa sampai di sini lebih dulu."
"Siong Ki, engkau yang sudah yatim piatu, mengapa engkau meninggalkan rumah orang tuamu di Ta-bun-cung dan bersusah payah datang ke te mpat ini yang sangat jauh?"
Si Han Beng bertanya sambil memandang tajam. Mendengar pertanyaan ini, Siong Ki tampak sedih sekali.
"Taihiap, tadinya saya ingin membunuh diri saja di depan makam ayah. Saya sudah putus asa, tidak mempunyai keluarga lagi, dan untuk membalas kematian ayah dan semua saudara He k-houw-pang, saya tidak memiliki kemampuan. Ketika saya berada di makam, tiba-tiba muncul bibi Poa Liu Hoa, yaitu isteri mendiang susiok Kam Seng Hin. Ia membujuk saya dan saya mau diangkat menjadi muridnya. Lalu kami pergi, hendak menyusul adik Cin Cin ke sini. Akan tetapi di te ngah perjalanan kami berte mu dengan perampok dan melihat bibi Poa Liu Hwa tidak mampu melawan para penjahat, saya pikir tidak ada gunanya menjadi muridnya. Maka, saya lalu melarikan diri dan seorang diri melakukan perjalanan ke sini. Agar aman dalam perjalanan, saya menyamar sebagai seorang pengemis, dan menggunakan uang peninggalan ayah, saya akhirnya dapat menghadap taihiap di sini."
Kembali suami isteri itu saling pandang.
Diam-diam mereka merasa kagum.
Seorang anak berusia enam tujuh tahun berani menempuh perjalanan sejauh itu seorang diri saja dan berhasil mencapai tujuan.
Ini membutuhkan keberanian dan keteguhan hati, besarnya semangat dan tahan uji.
Seorang anak yang baik.
"Dan apa maksudmu datang menghadap kami di sini?"
Tanya pula Han Beng.
Mendengar pertanyaan ini, Siong Ki tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Han Beng dan menangis.
Akan tetapi hanya sebentar dia menangis karena dia sudah dapat menguatkan hatinya lalu berkata.
"Saya mohon taihiap sudi menerima saya sebagai murid. Tujuan hidup saya hanya satu, yaitu kelak kalau sudah memiliki kepandaian, saya akan mencari para pembunuh ayah dan pembasmi He k-houw-pang untuk membalas dendam. Saya mau bekerja apa saja, menjadi pelayan, pembantu atau apa saja, asal taihiap sudi menerima saya menjadi murid."
Kembali suami isteri itu saling pandang.
Sebetulnya, mereka tidak mempunyai niat untuk menerima murid.
Mereka mengambil keputusan untuk mewariskan semua kepandaian mereka kelak kepada Lan Lan, puteri dan anak mereka satu-satunya, kecuali kalau kelak mereka mendapatkan anak lagi.
Mereka hanya akan menurunkan ilmu-ilmu mereka kepada anak-anak mereka.
Akan tetapi, melihat kesungguhan hati Siong Ki, dan mengingat akan nasib anak itu, hati Han Beng merasa tidak te ga untuk menolaknya.
Apa lagi, anak itu baik dan te guh hati, tabah dan kelak dapat menjadi pengasuh dan kawan bermain Lan Lan yang membutuhkan contoh anak lain yang le bih tua dan yang berwatak baik.
Maka diapun memberi isyarat dengan mata pada isterinya, kemudian berkata dengan suara yang tegas.
"The Siong Ki, melihat keadaanmu aku dapat menerimamu sebagai murid, hanya dengan beberapa syarat. Sanggupkah engkau memenuhi syarat-syarat itu, mentaatinya dan sanggup menerima hukumannya kalau melanggar?"
Dapat dibayangkan betapa besar rasa girang dalam hati anak itu. Dia lalu memberi hormat dengan membentur-benturkan dahinya di lantai.
"Teecu (murid) The Siong Ki bersumpah bahwa teecu akan mentaati semua perintah suhu akan memenuhi semua syarat yang suhu ajukan dan sanggup pula menerima hukumannya kalau kelak teecu melanggar."
Si Han Beng tersenyum. Wajahnya cerah. Anak ini tanpa diminta bahkan telah bersumpah. Hal ini membuktikan kesungguhan hatinya.
"Dengar baik-baik syaratku. Pertama semua ceritamu tentang keadaan dirimu tadi tidak bohong dan benar. Kedua, engkau harus belajar dengan rajin dan mentaati semua perintahku. Ke tiga, engkau tidak boleh mempergunakan ilmu silat yang kuajarkan kepadamu untuk berbuat jahat dan sewenang-wenang. Ke empat, engkau harus dapat menjadi teladan anak kami Si Hong Lan ini, menyayang dan mengasuhnya, dan kelak membantu dan melindunginya seperti adikmu sendiri. Nah, kalau engkau melanggar satu di antara empat syarat itu, kelak aku akan menghukummu dan mencabut semua ilmu darimu dengan membuatmu cacat seumur hidup!"
Tanpa ragu Siong Ki mengangguk."Teecu sanggup memenuhi semua syarat itu dan menanggung hukumannya kalau melanggar.!"
"Bagus! Mulai saat ini, aku adalah suhumu. Akan tetapi ingat, hanya aku yang menjadi gurumu. Isteriku tidak akan mengajarmu, dan engkau panggil bibi kepadanya, bukan subo (ibu guru)!"
"Baik, suhu."
Han Beng sengaja mengeluarkan janji itu, karena dia berhati-hati.
Kelak bagaimanapun juga, tingkat kepandaian anak-anaknya harus lebih tinggi daripada tingkat kepandaian muridnya.
Sehingga kalau dia dan is terinya sudah tidak ada, anak-anaknya akan mampu mengendalikan muridnya kalau-kalau dia menyeleweng.
Kalau dia seorang diri yang mengajarkan ilmu kepada Siong Ki sedangkan anak-anak mereka kelak menerima gemblengan dari dia dan isterinya maka tentu Siong Ki tidak akan mampu menandingi anak mereka yang menguasai ilmu gabungan mereka, biarpun andaikata Siong Ki memiliki bakat yang le bih baik.
Ilmu kepandaiannya dan ilmu kepandaian isterinya jauh berbeda, dari dua aliran yang sama sekali berbeda dan memiliki kehebatan masing-masing.
De mikianlah, mulai hari itu, Siong Ki menjadi murid Si Han Beng dan tinggal di rumah pendekar itu.
Dan dia memang merupakan seorang anak yang amat menyenangkan hati Si Han Beng dan Bu Giok Cu karena dia rajin bukan main.
Dia mau mengerjakan apa saja, membereskan rumah dan pekarangan, bekerja di sawah ladang, bahkan mengajak Lan Lan bermain.
Maka, Han Beng juga dengan sungguh hati mulai mengajarkan dasar-dasar ilmu silat kepada Siong Ki.
Tentang malapetaka yang menimpa He k-houw-pang Han Beng dan Giok Cu tidak dapat berbuat apa-apa.
Mereka ikut prihatin dan malam itu juga, Han Beng membuat sembahyang untuk arwah kakak angkatnya, Coa Siang Lee, dan mengundang pendeta dari kuil untuk mengatur upacaranya.
Hanya itu yang dapat dia lakukan.
-ooo0dw0ooo-Ketika Kerajaan Sui jatuh oleh pemberontakan Li Sie Bin dalam tahun 614 dan kaisar te rakhir Kerajaan Sui yang bernama Yang Ti melarikan diri ke daerah Yang-couw dan kemudian dibunuh oleh kaum pemberontak, maka Li Si Bin lalu mendirikan wangsa baru, yaitu kerajaan Tang.
Li Si Bin pula yang membujuk ayahn ya yang bernama Li Goan, untuk naik tahta menjadi kaisar pertama dari kerajaan baru Tang, dan berjuluk Kaisar Tang Kao Cu.
Ada dua hal yang menjadi tujuan dari siasat Li Si Bin mengangkat ayahnya sebagai kaisar ini.
Pertama, untuk darma-bakti kepada ayahnya dan hal seperti ini amat dihargai oleh rakyat dan kedua, dia akan dapat le bih memusatkan tenaga, waktu dan perhatiann untuk memimpin pasukannya menaklukkan seluruh daerah.
Kalau dia yang menjadi kaisar, te ntu dia tidak begitu leluasa melakukan perang terhadap para pemberontak yang mula-mula tidak mau mengakui kerajaan baru Tang sebagai yang dipertuan.
Akan tetapi, dengan ayahnya menjadi kaisar yang mengatur roda pemerintahan, sedangkan dia sendiri menjadi panglima besar yang menggerakkan aksi-aksi pembersihan, maka dia dapat bekerja sepenuh hati.
Siasat ini berhasil baik.
Dalam waktu beberapa tahun saja, seluruh wilayah kekuasaan yang tadinya dimiliki Kerajaan Sui, telah dapat direbutnya dan semua pemberontak atau sisa-sisa kekuatan yang masih setia te rhadap Kerajaan Sui yang sudah runtuh, atau kekuatan-kekuatan yang ingin berdiri sendiri dan tidak mau tunduk kepada kerajaan baru Tang, dapat dihancurkan dan ditundukkan.
Bahkan semua perlawanan yang dilakukan oleh Cian Bu Ong, bekas pangeran kerajaan Sui, dapat pula dilumpuhkan, Pangeran Cian Bu Ong kekurangan pendukung, maka tidak mungkin dia dapat melawan kekuatan pasukan besar Kerajaan Tang.
Akhirnya, Pangeran Cian Bu Ong te rpaksa melarikan diri dan menghentikan usahanya untuk menegakkan kembali kerajaan Sui.
Sim Lan Ci yang sudah kematian suaminya, ketika melihat bahwa Pangeran Cian Bu Ong benar-benar seorang pangeran yang setia kepada Kerajaan Sui dan berusaha menegakkan kembali kerajaan itu, membantu sekuat tenaga.
Sim Lan Ci merasa berhutang budi kepada pangeran ini, dan karena Pangeran Cian Bu Ong bersikap sopan dan baik kepadanya, bahkan bersikap menyayang kepada pute ranya, Coa Thian Ki yang diangkat menjadi murid pangeran itu, ikut pula melarikan diri mengungsi bersama sang Pangeran ke barat, ke daerah perbatasan Tibet di mana kekuasaan Kerajaan Tang tidaklah begitu kuat.
Pangeran Cian Bu Ong tinggal di sebuah lereng bukit dimana dia membangun sebuah rumah besaa dan hidup dengan aman.
Biarpun pangeran ini dapat hidup serba kecukupan karena dia membawa harta yang cukup banyak, namun setelah pindah ke daerah barat itu bersama Sim Lan Ci dan Thian Ki, setiap hari dia hanya te rmenung di dalam taman bunga yang dibuatnya sendiri.
Pangeran yang berusia limapuluh dua tahun ini setiap hari hanya membaca sajak sambil minum arak di taman, atau duduk melamun di ruangan belakang.
Tubuhnya yang tinggi besar itu mulai kurus, mukanya yang biasanya kemerahan menjadi agak pucat dan sinar matanya selalu redup.
Kekalahan yang dideritanya, dan mengingat akan runtuhnya Kerajaan Sui dan te rbasminya keluarga kaisar, juga terbunuhnya keluarganya sehingga kini hanya tinggal Cian Kui Eng seorang, anak perempuannya yang baru berusia empat tahun dan yang amat dekat dengan Sim Lan Ci.
Dia hidup kesepian dan patah semangat.
Sim Lan Ci merasa suka dan juga kasihan sekali kepada pangeran itu.
Kalau dibiarkan, ia khawatir pangeran itu akan jatuh sakit.
Padahal, waktu itu, ia sendiri seperti kapal kehilangan kemudi, dan hanya pangeran itu yang dipandangnya sebagai juru mudi dan pene ntu arah hidupnya.
Kini, melihat pangeran itu dalam keadaan seperti itu, te nggelam setiap hari dalam kedukaan, tentu saja ia merasa khawatir dan ikut berduka.
Pada suatu senja, ia tidak dapat menahan lagi hatinya ketika melihat Pangeran Cian Bu Ong kembali termenung dan duduk seperti arca di bangku dalam taman.
Bukan sedang menulis sajak, tidak pula bersamadhi atau membaca kitab, melainkan termenung seperti patung.
Bahkan pangeran yang memiliki kesaktian itu demikian te nggelam dalam renungannya sehingga tidak tahu bahwa Sim Lan Ci memasuki taman dan menghampirinya dengan langkah ringan.
Dalam usianya yang tigapuluh tahun le bih, Sim Lan Ci masih cantik, bahkan lebih cantik karena ia telah menjadi seorang wanita yang masak, digemble ng pengalaman manis dan pahit silih berganti.
Kalau dulu, sejak gadis ia suka mengenakan pakaian sutera hitam, kini kebiasaan itu diubahnya sejak suaminya tewas.
Ia kini selalu mengenakan pakaian dari sutera putih, seolah hendak berkabung selama hidupnya untuk kematian suaminya tercinta!
Ketika ia menghampiri Pangeran Cian Bu Ong dari samping, melihat wajah pangeran itu, ia merasa terharu.
Jarang ia dapat mengamati wajah pangeran itu, dan sekarang ia mendapatkan kesempatan, karena Pangeran itu seperti patung, tidak menengok sehingga ia berani mengamati wajah itu.
Wajah yang jantan, penuh daya tarik karena membayangkan kekuatan dan kewibawaan sekaligus kelembutan yang diperlunak lagi oleh garis -garis kedukaan.
Sudah lama dia membiarkan rambut dan kumis je nggotnya tidak te rpelihara awut-awutan, namun tidak mengurangi kejantanannya.
Seorang pria yang kuat, yang bersemangat, dan aneh, di samping ilmu kepandaian yang tinggi.
''Pangeran....."
Sim Lan Ci memanggil lirih, sambil berhenti dan berdiri dalam jarak tiga meter dari pangeran itu.
Pangeran Cian Bu Ong menoleh perlahan dan mencoba untuk tersenyum ketika melihat siapa yang memanggilnya.
"Ah, kiranya engkau, nyonya Sim,"
Katanya le mbut.
"Ada keperluan apakah engkau mencariku? Aku tidak ingin makan malam sekarang, engkau ajaklah Thian Ki dan Kui Eng untuk makan malam lebih dulu. Nanti kalau sudah lapar, aku akan makan sendiri."
Akan te tapi, Sim Lan Ci tidak pergi, masih berdiri di situ dan memandang kepada Pangeran Cian Bu Ong dengan hati te rharu dan merasa kasihan sekali.
Pangeran ini selalu bersikap sopan dan halus budi, bahkan selalu menyebutnya nyonya.
"Pangeran......"
Senyum itu getir sekali dan Cian Bu Ong mengangkat tangan kirinya ke atas seperti hendak menangkis .
"Nyonya yang baik, hentikanlah sebutan itu! Setiap kali aku mendengar sebutan pangeran hatiku seperti ditusuk rasanya. Tidak, aku bukan pangeran lagi. Sudah lama aku bukan pangeran, melainkan pemberontak bagi Kerajaan Tang yang baru, pemberontak yang gagal dan sekarang bahkan hanya menjadi seorang buruan, seorang pelarian......."
Sim Lan Ci merasa ikut pedih hatinya mendengar ucapan itu.
"Baiklah, kalau begitu saya akan menyebut Lo-cian-pwe......"
"Aih, jangan nyonya. Aku bukanlah seorang datuk atau tokoh bes ar di dunia persilatan."
"Kalau begitu, akan saya sebut Cian taihiap (pendekar besar Cian)........"
"Hemm, orang seperti aku ini mana pantas menjadi pendekar besar? Lebih senang hatiku kalau kausebut aku toako (kakak bes ar) saja."
"Baiklah, toako. Cian-toako, terimalah hormat adikmu."
Lan Ci memberi hormat dengan sikap hormat dan sungguh-sungguh.
Karena memberi hormat sambil menunduk, Lan Ci tidak melihat betapa wajah pria itu yang selama beberapa lama ini selalu suram tiba-tiba menjadi cerah berseri.
"Terima kasih, aku senang sekali mendengar sebutan toa-ko itu, nyonya Sim......."
"Aih, toako! Mana ada seorang toako menyebut nyonya kepada adiknya?"
Lan Ci cepat menegur sambil tersenyum.
Sepasang mata bekas pangeran itu terbelalak dan senyumnya berkembang menjadi tawa yang bergelak-gelak.
Dia bagaikan seorang yang te lah menemukan kembali semangatnya dan wanita muda itu memandang dengan hati te rharu dan penuh rasa senang.
"Sim Lan Ci, adikku yang baik. Sungguh aku berte rima kasih kepadamu, kau te lah mendatangkan kebahagiaan bes ar di dalam hatiku, Ci-moi (adik Ci) dan kuharap engkau tidak akan mencabut kembali harapan dan kebahagiaanku."
"Toako, akupun merasa berbahagia melihat toako dapat te rtawa gembira. Selama ini, aku ikut prihatin melihat keadaanmu yang selalu tenggelam dalam duka. Karena itu pula maka aku ingin menemuimu dan bicara denganmu ketika melihat engkau melamun di sini seperti setiap hari kaulakukan, toako. Aku nya ingin mengingatkan bahwa peris tiwa buruk yang menimpa diri kita, tidak perlu dan tidak ada gunanya kalau kita sedihkan setiap hari! Hidup memang merupakan permainan suka dan duka, kita harus menerima kedua hal itu dengan tabah dan lapang dada. Tentu engkau ingat pula akan keadaan diriku, pangeran......eh toako! Akupun kehilangan keluargaku, dan hidupku bersama Thian Ki sekarang hanya bersandar kepada kemuliaan hatimu belaka. Kalau engkau yang menjadi sandaran kami te nggelam dalam duka, bagaimana pula dengan hati kami. Kami akan kehilangan pegangan.."
Bekas pangeran itu menatap wajah Lan Ci.
Dua pasang mata berte mu pandang, melekat dan seperti hendak saling menjenguk is i hati masing-masing.
Sim Lan Ci melihat sinar kagum dan kelembutan yang mengharukan berpencar keluar dari mata yang tajam itu.
Baru sekarang ia melihat bekas pangeran itu memandang kepadanya seperti itu, seperti mata pria memandang wanita, dan sepasang pipinya berubah kemerahan yang membuat ia menundukkan mukanya.
"Moi-moi Sim Lan Ci, terima kasih......ah, terima kasih. Engkau te lah mengembalikan harapan dan semangatku untuk hidup. Engkau membuka mata hatiku bahwa hidupku masih berguna, karena masih ada orang-orang yang membutuhkan aku. Engkau dan anakmu........."
"Juga Kui Eng, toako."
Lan Ci melanjutkan.
"Juga manusia-manusia lain di dunia ini karena toako adalah seorang yang budiman dan dermawan. Tenaga dan kemampuanmu masih dibutuhkan banyak orang."
"Tidak, aku hanya mengutamakan engkau, anakmu dan anakku. Aku masih kalian butuhkan?"
"Tentu aaja, toako!"
Jawab Lan Ci cepat.
"Akupun membutuhkan kalian, te rutama engkau. Aku butuh perhatianmu, butuh sentuhan kasih sayang........ah moi-moi Sim Lan Ci, te rus te rang saja aku sayang kepada anakmu, dan kini tumbuh perasaan cinta di hatiku terhadapmu. Engkau te lah memulihkan semangatku, nah, sekarang aku meminangmu, Lan Ci. Maukah engkau menjadi iste riku?"
Sepasang mata Lan Ci te rbelalak, mukanya berubah pucat, lalu merah kembali.
Lamaran itu datangnya sekonyong-konyong, tak diduganya sama sekali seperti serangan yang amat dahsyat, mengerikan dan membuatnya sejenak bengong te rlongong, hanya menatap wajah bekas Pangeran itu tanpa mampu mengeluarkan suara jawaban!
Cian Bu Ong mengangguk-angguk dan te rsenyum.
"Aku dapat mengerti akan keheranan dan kekagetanmu, Ci-moi. N ampaknya tidak sopan dan tidak pada te mpatnya aku melamar seorang wanita yang baru saja ditinggal mati suaminya. Bahkan aku sendiri yang melamar juga baru sajaa ditinggal mati isteriku. Akan te tapi, kalau kita saling membutuhkan, apalagi halangannya? Anakmu kusayang seperti anakku sendiri, dan aku tahu bahwa engkau menyayang Kui Eng seperti anakmu sendiri. Adakah cara yang le bih baik daripada kita bergabung menjadi sebuah keluarga yang berbahagia?"
"Tapi......tapi pangeran.......eh, Cian-toako.......aku masih berkabung, bahkan toako juga........"
"Aku mengerti, moi-moi. Berkabung hanya merupakan tata-cara untuk memperlihatkan kepada umum bahwa kita berduka ditinggal mati orang te rcinta. Akan tetapi, berkabung yang sesungguhnya ada di dalam perasaan hati, bukan pakaian. Betapapun juga, aku memberi waktu kepadamu sampai setahun sejak ditinggal mati suamimu. Sekarang telah le wat beberapa bulan, tinggal dua bulan lagi. Nah, biarlah dua bulan kemudian, setelah setahun berkabung engkau memberi jawaban kepadaku. Sekarang, untuk sementara kita lupakan saja lamaranku itu! Aih, perutku te rasa lapar sekali sekarang, moi-moi, mari kita makan. Kaucari anak-anak kita, aku akan mandi dulu."
Bukan main girangnya hati Lan Ci.
Girang dan berte rima kasih.
Girang melihat pangeran itu kini mempunyai semangat dan gairah lagi, mengajak makan dan mau mandi, dan berte rima kasih bahwa pangeran itu memberi waktu dua bulan lagi kepadanya untuk berpikir-pikir dan mempertimbangkan te ntang lamaran itu.
Betapa bijaksananya!
Ia lalu lari meninggalkan taman dan pergi mencari Thian Ki dan Kui Eng.
Ia melihat mereka bermain-main di kebun belakang rumah.
Dilihatnya Thian Ki sedang turun dari sebatang pohon sedangkan Kui Eng berdiri di bawah pohon itu.
Karena ingin melihat bagaimana kedua orang anak itu bergaul, Lan Ci menyelinap ke balik semak dan mengintai.
Thian Ki turun dan membawa sebuah sarang burung yang kosong.
"Nah, kaulihat sendiri, Kui Eng. Seperti kukatakan tadi, sarang burung ini sudah kosong. Telurnya telah menetas dan anak burung itu sudah pandai te rbang,"
Kata Thian Ki kepada Kui Eng sambil memperlihatkan sarang burung kosong yang dibawanya turun dari pohon.
Kui Eng membanting-banting kakinya dan merengek manja.
Anak berusia empat tahun lebih itu memang manja sekali.
Thian Ki yang baru berusia enam tahun itu sudah pandai mengasuh Kui Eng, bahkan amat sayang kepada anak perempuan itu.
"Aih, jangan marah, adikku yang manis,"
Katanya sambil merangkul dan menuntunnya duduk di atas akar pohon.
"Lihat, biarpun sarang burung itu kosong, akan tetapi aku membawakan batu-batu sungai yang indah untukmu."
Ia mengeluarkan beberapa buah batu kecil yang berbentuk bulat dan warnanya mengkilap indah. Kui Eng yang tadinya merengek, menerima mainan itu dengan wajah cerah dan iapun merangkul Thian Ki.
"Suheng (kakak seperguruan), engkau baik sekali. Aku sayang padamu!" -ooo0dw0ooo-
Jilid 8 Thian Ki tersenyum.
Senang hatinya kalau anak itu bersikap manis kepadanya dan tidak rewel.
Dia menganggap Kui Eng bukan hanya sebagai pute ri suhunya, atau adik seperguruan, akan tetapi bahkan seperti adik kandung sendiri.
"Kui Eng. sumoiku yang manis. Katakan, di dunia ini siapa yang paling kausayang?"
Tanyanya, pertanyaan yang seringkali dia ajukan karena jawabannya amat menyenangkan hatinya. Kui Eng memegang tangan Thian Ki dan tertawa manja.
"Suheng nakal, sudah beberapa kali kukatakan, sudah tahu, masih terus bertanya."
"Biar hatiku merasa yakin bahwa pengakuanmu ini sejujurnya dan sebenarnya, sumoi."
"Yang paling kusayang adalah engkau, Suheng Coa Thian Ki."
Thian Ki menunduk dan mencium rambut kepala sumoinya.
"Sesudah aku, lalu siapa yang paling kausayang?"
"Sesudah engkau, aku sayang kepada ibu."
"Eh? Ibumu.......?"
"Kumaksudkan ibumu, bibi Sim Lan Ci. Kalau engkau menyebut ibu, kenapa aku harus menyebut bibi? Aku ingin menyebutnya ibu seperti engkau."
"Kenapa tidak? Engkau boleh menyebutnya ibu te ntu saja, sumoi!."
"Kalau aku menyebut ibu kepada ibumu, engkaupun harus menyebut ayah kepada ayahku."
Thian Ki menatap wajah anak perempuan itu dengan kaget.
"Ah, jangan begitu, sumoi. Bagaimana aku berani menyebut suhu dengan sebutan ayah?"
"Aku akan bilang kepada ayah. Kalau engkau tidak mau menyebut ayah kepada ayahku, a kupun tidak mau menyebut ibu kepada ibumu."
"Tentu saja aku mau, akan tetapi aku tidak berani. Ayahmu akan marah."
"Tidak, aku yang a kan bilang kepadanya!"
Lan Ci yang mengintai, menjadi merah sekali mukanya.
Kenapa ada peris tiwa te rjadi berturut-turut secara begitu kebetulan?
Pangeran Cian Bu Ong melamarnya untuk menjadi isterinya, dan sekarang ia melihat dan mendengar percakapan antara Thian Ki dan Kui Eng yang seolah-olah ingin menjadi saudara dan saling mengakui ibu dan ayah masing-masing sebagai orang tua sendiri!
Dia lalu muncul dan menghampiri kedua orang anak itu.
"I bu....!"
Thian Ki berseru girang, akan te tapi Kui Eng diam saja.
Padahal biasanya setiap kali berte mu Lan Ci ia berlari dan minta dipondong dengan manja.
Sekarang ia berdiri saja memandang dengan sikap ragu!
Thian Ki teringat.
"I bu, adik Kui Eng ingin menyebutmu ibu. Bolehkah?"
Lan Ci menghampiri Kui Eng dan berjongkok.
"Tentu saja boleh, memang aku selalu menganggapnya se bagai anakku sendiri."
Mendengar ini, wajah Kui Eng merekah gembira dan iapun merangkul le her Lan Ci dan mulutnya memanggil-manggil seperti orang yang merasa amat rindu.
"Ibu......ibu.......ibu....."
Basah kedua mata Lan Ci.
Dalam rangkulan dan dalam suara panggilan itu ia dapat merasakan benar betapa anak ini amat kehilangan ibu kandungnya!
Dan semua kerinduan, semua kasih sayang anak itu kini ditumpahkan kepadanya karena tidak ada lagi penampungnya.
"I bu, adik Kui Eng bilang bahwa yang paling disayangnya pertama adalah aku, dan ke dua ibu."
"I h, jangan begitu, anakku."
Lan Ci memondong dan menciumi Kui Eng.
"Orang pertama yang kau sayang seharusnya ayahmu."
"Tidak, ayah nomor tiga. Karena ayah jarang mengajakku bermain-main."
Pada saat itu, terdengar suara orang tertawa.
"Ha-ha-ha, menjadi orang ke tigapun sudah untung! Masih untung mendapat kasih sayang anakku!"
Muncullah Cian Bu Ong yang sudah mandi dan berganti pakaian baru.
Melihat ayahnya begitu gembira tidak seperti biasanya, Kui Eng merosot dari pondongan Lan Ci dan lari kepada ayahnya yang menyambutnya dan mengangkat lalu memondongnya.
"Ayah, aku ingin suheng Thian Ki menyebut ayah padamu. Ayah harus mau!"
Sepasang mata bekas pangeran itu te rbelalak, lalu memandang kepada Thian Ki dan kepada Lan Ci, kemudian dia te rtawa lagi.
"Ha-ha-ha, tentu saja aku mau."
"Dan aku menyebut ibu kepada bibi Lan Ci. Bolehkah, ayah?"
"Ehh? Siapa yang mengajarimu ini?"
Cian Bu Ong bertanya, pura-pura mengerutkan alisnya dan memandang kepada Lan Ci. Wanita ini balas memandang dengan wajah berubah merah.
"Tidak ada yang mengajarinya,"
Katanya lirih.
"I ni kehendakku sendiri, ayah."
Anak ini lalu turun dari pondongan ayahnya, menghampiri Thian Ki, memegang tangan Thian Ki dan menariknya menghampiri ayahnya.
"Suheng, ayah sudah memberi ijin engkau menyebutnya ayah!"
De ngan sikap takut-takut, Thian Ki lalu menjatuhkan diri berlutut di depan gurunya.
Kalau biasanya dia memberi hormat sambil menyebut suhu, kini dia menyebut ayah!
Cian Bu Ong mengangguk-angguk dan dia mengangkat muka.
Kembali dia berte mu pandang dengan Lan Ci.
"Thian Ki, engkau kesinilah!"
Kata Lan Ci, suaranya agak gemetar.
Ia adalah seorang wanita perkasa, bahkan dulu sebelum menjadi isteri Coa Siang Lee, sebagai pute ri Ban-tok Mo-li, ia tidak pernah mengenal artinya sopan santun.
Kini, timbul kegagahannya kembali dan ia menganggap bahwa tidak perlu bersembunyi di balik peraturan yang berpalsu-palsu.
Lebih baik berte rus te rang menyelesaikan permasalahan sekarang juga.
Thian Ki bangkit dan menghampiri ibunya, sedangkan Cian Bu Ong memondong pergi pute rinya.
"Thian Ki, biarpun engkau baru berusia enam tahun akan te tapi aku tidak menganggap engkau anak kecil lagi. Engkau sudah pandai mengambil kesimpulan dan keputusan, maka aku akan berte rus te rang kepadamu dan kuminta engkau memberi jawaban sekarang juga. Thian Ki, gurumu telah melamarku untuk menjadi isterinya. Nah, bagaimana pendapatmu?"
Cian Bu Ong memandang kagum.
Bukan main wanita itu!
Dan luar biasa pula puteranya!
Dia memondong pute rinya dan memandang dengan penuh perhatian dan hatinyapun te gang menanti jawaban Thian Ki, anak ajaib itu.
Thian Ki tidak kaget mendengar pertanyaan ibunya.
Dia mengangkat muka, memandang wajah ibunya, lalu menole h dan memandang wajah gurunya, dan diapun memandang ibunya lagi.
"Ibu, itu adalah urusan ibu dan suhu .....eh. ayah, maka hanya ayah dan ibu saja yang berhak memutuskan. Adapun aku..... aku hanya menyerahkan keputusannya kepada ibu saja, aku tidak berani dan tidak mau mencampuri urusan pribadi ibu."
Sungguh luar biasa jawaban itu, pikir Cian Bu Ong.
Se olah bukan keluar dari mulut s eorang anak berusia enam tahun, melainkan keluar dari mulut orang dewasa yang berpandangan luas.
''Akan te tapi hatiku tidak akan te nteram sebelum merasa yakin bahwa engkau tidak merasa keberatan dan menyetujuinya."
"Tentu saja aku tidak keberatan ibu dan kalau hal itu membahagiakan hati ibu, tentu saja aku setuju sepenuhnya."
Kedua pipi Lan Ci kembali menjadi merah sekali dan untuk mengatasi perasaan malu, ia berkata.
"Kalau begitu, kau beri hormat lagi kepada.....ayahmu itu Thian Ki."
Anak itu menurut. Dia menghampiri gurunya dan menjatuhkan diri berlutut.
"Ayah.....!"
Saat itu, Cian Bu Ong memandang ke arah Lan Ci.
Wanita itupun sedang memandangnya, ketika dua pasang mata berte mu pandang, Lan Ci mengangguk.
Itu sudah cukup sebagai jawaban bahwa ia mau menerima lamaran bekas pangeran itu!
Cian Bu Ong tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha, terima kasih, Tuhan! Terima kasih Tuhan, aku hidup kembali, ha-ha-ha aku hidup kembali!"
Dan tiba-tiba dia melemparkan tubuh Kui Eng ke udara, lalu tangan kanannya menyambar tubuh Thiaan Ki yang juga dilontarkan ke atas!
Ketika tubuh Kui Eng melayang turun, disambutnya dengan tangan kiri dan dilontarkannya lagi ke atas, lebih tinggi daripada tadi.
Demikian pula ketika tubuh Thian Ki meluncur turun, tubuh itu ditangkapnya dan dilontarkannya kembali ke atas.
Dua anak itu dibuat mainan seperti dua butir bola saja, makin lama semakin tinggi.
Setelah tadi mengangguk memberi tanda setuju dan menerima lamaran Cian Bu Ong, Sim Lan Ci memejamkan kedua matanya dan berbisik dalam hatinya.
"Coa Siang Lee, maafkan aku. Aku cinta padamu , akan te tapi engkau sudah tidak ada , dan aku kagum dan cinta kepadanya, maafkan aku kalau aku menyerahkan diriku kepada pria lain untuk menjadi iste rinya."
Akan te tapi je ritan Kui Eng membuat Lan Ci membuka matanya kembali.
Ia melihat betapa anak perempuan itu mulai merasa ngeri karena tubuhnya dilontarkan semakin tinggi oleh ayahnya.
Thian Ki diam saja bahkan diam-diam anak ini memperhatikan cara gurunya melontar tubuhnya.
Sim Lan Ci meloncat.
Tubuhnya melayang ke atas, menyambar tubuh Kui Eng yang dipondongnya dan iapun melayang turun kembali sambil memondong tubuh Kui Eng, menghadapi Cian Bu Ong dan menegur.
"Kui Eng sudah menjerit ketakutan, mengapa masih dilanjutkan juga? Apa kau ingin agar ana k kita ini kelak menjadi orang penakut?"
Cian Bu Ong sudah menangkap kembali tubuh Thian Ki dan dilepaskannya anak itu. Dia memandang kepada Lan Ci sambil te rsenyum le bar dan menggele ng kepalanya.
"Ya Tuhan, engkau sudah mulai berani melarang aku, ya?"
"Tentu saja,"
Jawab Lan Ci.
"Sebagai ibu akupun berhak mendidik dan melindungi anak kita!"
Mereka saling pandang, dan Cian Bu Ong te rtawa bergelak, nampak berbahagia kali dan Lan Ci terpaksa juga te rsenyum dan mengerling penuh te guran.
Melalui pandang mata saja mereka sudah dapat menangkap dan merasakan is i hati masing-masing dan hal seperti ini hanya dapat terjadi apabila dua hati telah saling kontak!
De mikianlah, dua bulan kemudian, setelah lewat setahun kematian Coa Siang Lee dan isteri Cian Bu Ong, mereka melangsungkan pernikahan yang sederhana, tidak dihadiri para bangsawan seperti layaknya seorang pangeran menikah.
Juga tidak dihadiri orang-orang kangouw seperti layaknya seorang tokoh kangouw seperti Sim Lan Ci menikah, melainkan hanya dihadiri penduduk dusun yang tinggal di sekitar pegunungan itu.
Sederhana namun amat meriah, dimeriahkan oleh kegembiraan Thian Ki dan Kui Eng, dan dihias senyum dan kerling mata penuh kasih sayang antara Sim Lan Ci dan Cian Bu Ong.
Dan sejak hari itu, Cian Bu Ong semakin rajin menggemble ng Thian Ki dan Kui Eng.
Dia tidak lagi memikirkan tentang kerajaan, akan tetapi dia ingin agar anak tiri dan anak kandungnya menjadi jago-jago paling tangguh di dunia persilatan sehingga namanya akan te rangkat.
Di samping itu, dia menemukan kemesraan dan kebahagiaan di samping isterinya yang te rnyata amat mencintainya.
Di lain pihak, Lan Ci juga merasakan kebahagiaan yang mendalam.
Suaminya yang sekarang jauh bedanya dengan suami pertamanya.
Suaminya yang sekarang adalah seorang yang jantan, yang matang dalam pengalaman.
Sehingga di samping sebagai suami yang mencinta, juga dari suaminya ini ia menerima bimbingan.
Sehingga kadang ia menganggap suaminya ini juga gurunya yang amat pandai dalam segala hal.
Ilmu silat yang dikuasai nyonya muda ini meningkat dengan cepatnya.
-ooo0dw0ooo-Perahu kecil itu meluncur dengan cepatnya di sepanjang te pi Sungai Huang-ho dan berhenti di luar dusun Hong-cun.
Gadis yang naik perahu seorang diri ini dapat mendayung dan mengendalikan perahu dengan gerakan tangkas, tanda bahwa ia sudah terbias a mengemudikan perahu.
Setelah perahu itu menepi di pantai, iapun melangkah keluar dan menarik perahu itu ke darat.
Cara ia menarik tali perahu dan berhasil membuat perahu itu naik, padahal pantai itu tidak te rlalu landai, membuktikan bahwa biarpun ia seorang wanita muda yang cantik dan nampak le mbut, ternyata ia miliki tenaga yang kuat.
Wanita itu masih muda, usianya sekitar duapuluh satu tahun lebih, berwajah bulat dan berkulit putih kemerahan.
Hidungnya mancung dan matanya tajam.
Wajah yang cantik dan manis.
Di punggungnya menempel dua batang pedang bersilang, dan di atas pedang itu terdapat buntalan kain sute ra kuning.
Dandanannya juga sederhana dan ringkas, semua ini menunjukkan bahwa ia seorang wanita kangouw yang suka melakukan perjalanan seorang diri dan mengandalkan ilmu kepandaian silat untuk melindung dirinya sendiri.
Biarpun usianya paling banyak baru duapuluh dua tahun, akan tetapi wanita itu bukan gadis lagi, melainkan seorang janda!
Ia adalah Kwa Bi Lan, yang baru saja ditinggal mati suaminya yang juga menjadi gurunya, yaitu Sin-tiauw Liu Bhok Ki, Si Rajawali Sakti!
Biarpun suaminya itu jauh le bih tua darinya, ketika ia menjadi isteri Liu Bhok Ki, suaminya yang juga gurunya itu sudah berusia enampuluh lima tahun dan ia sendiri baru sembianbelas tahun, namun Kwa Bi Lan amat mencinta suaminya.
Baginya, suaminya merupakan orang te rbaik di dunia ini.
Dahulunya ia adalah murid Si Rajawali Sakti, dan bahkan ole h gurunya itu ia dicalonkan jadi isteri murid gurunya yang pertama, yaitu Si Han Beng yang kini dijuluki Huang-ho Sin liong (Naga Sakti Sungai Kuning).
Akan te tapi Si Han Beng memilih wanita lain dan menikah dengan wanita lain itu.
Hal itu membuat gurunya marah, dan seolah hendak menebus kesalahan ini, melihat betapa Bi Lan hancur hatinya dan patah semangat, Liu Bhok Ki lalu mengambil murid itu sebagai isterinya.
Dia sendiri sudah menduda sejak puluhan tahun.
Dan Bi Lan menerima pinangan gurunya, bukan karena te rpaksa, melainkan karena ia merasa kagum, kasihan dan juga mencinta suhunya sebagai satu-satunya orang di dunia ini yang menyayanginya.
Tentu saja hal ini didorong pula oleh kepatahan hatinya karena Si Han Beng mengingkari janji dan menikah dengan gadis lain.
Sin-tiauw Liu Bhok Ki merasa marah dan sakit hati bukan main karena Si Han Beng tidak memenuhi pesannya itu.
Biarpun dia sudah menjadi suami Bi Lan namun hatinya masih tetap te rtusuk dan batinnya te rhimpit kemarahan te rhadap Si Han Beng.
Dia menjadi sakit-sakitan dan akhirnya, dalam rangkulan Bi Lan, dia menghembuskan napas terakhir sambil menyebut nama Si Han Beng dengan penuh kemarahan dan penyesalan.
Setelah suaminya yang juga gurunya meninggal dunia, perasaan hati Kwa Bi Lan dipenuhi dendam te rhadap Si Han Beng.
Pria itu yang membuat hidupnya menderita!
Kalau Si Han Beng tidak mengingkari janjinya dan menikah dengannya, te ntu Liu Bhok Ki tidak mati, demikian pikirnya.
Dan iapun tidak harus mengalami derita batin seperti ini, hidup sebatangkara ditinggal orang yang paling dicintanya.
Mula-mula ia menderita patah hati karena calon suaminya itu menikah dengan wanita lain.
Kemudian ia menderita kehancuran hati karena guru dan juga suaminya meninggal dunia.
Dan semua deritanya ini karena ulah Si Han Beng!
Ketika ia mendarat di tepi Sungai Kuning, di luar dusun Hong-cun, Bi Lan merasa hatinya tegang juga.
Setelah lama ragu-ragu dan lama pula mencari-cari, akhirnya tiba juga ia di kampung te mpat tinggal bekas tunangan yang kini dianggap sebagai musuh besarnya itu.
Ketika la berjalan memasuki dusun, ia melihat seorang laki-laki setengah tua memanggul cangkul, agaknya hendak pergi ke ladang.
Laki-laki itu memandang kepadanya dengan kagum dan heran, karena tidak biasa ada wanita kota yang cantik memasuki dusun yang aman te nteram itu.
Bi Lan menghampirinya dan tersenyum ramah.
"Maaf, paman. Dapatkah paman menunjukkan di mana rumah keluarga Si Han Beng?"
Pria itu terbelalak, heran bukan main melihat seorang wanita muda menyebut nama pendekar saktu itu begitu saja.
"Nona.....maksudkan........ rumah keluarga Si Tai-hiap (Pendekar Besar Si) yang berjuluk Huang-ho Sin-liong?"
De ngan girang Bi Lan mengangguk, akan te tapi juga hatinya berdebar.
Ia tahu bahwa orang yang dicarinya adalah seorang pendekar yang berilmu tinggi, bahkan tingkat kepandaiannya, menurut mendiang suaminya, le bih tinggi dari pada tingkat suaminya yang juga menjadi gurunya.
Kalau mendiang suaminya saja kalah pandai, apa lagi dia!
Akan tetapi ia sudah bertekat untuk membunuh Si Han Beng atau dibunuh olehnya.
"Benar, paman. Di mana rumahnya."
Pria itu menunjuk ke kiri.
"Di ujung jalan ini, yang mempunyai taman di depan rumah dan kebun di kanan kiri dan belakang. Cat pintu dan je ndelanya hijau."
"Terima kasih, paman."
Bi Lan memutar tubuh dan cepat menyusuri jalan itu.
Terbayang betapa ia akan berte mu dengan isteri Si Han Beng yang sudah ia ketahui bernama Bu Giok Cu dan yang memiliki ilmu kepandaian tinggi pula.
Hatinya terasa panas, entah karena iri atau cemburu.
Akan te tapi ia sama sekali tidak takut.
Memang ia sudah bertekad untuk mengadu nyawa.
Untuk apa hidup le bih lama lagi kalau ia sudah tidak mempunyai apa-apa di dunia ini, bahkan tidak ada seorangpun yang mencintanya?
Hidupnya tiada gunan ya lagi, le bih baik menyusul suaminya yang sayang kepadanya.
Tak lama kemudian wanita perkasa ini sudah menyelinap di balik pohon dan mengintai ke arah dua orang anak yang sedang berada di kebun samping.
Seorang anak laki-laki berusia enam tahun sedang mengasuh seorang anak perempuan yang usianya baru dua tahun le bih.
Anak laki-laki itu tampan dan bertubuh tinggi te gap.
Sedangkan anak perempuan itu, yang masih kecil, kelihatan lincah mungil dan manis sekali.
Anak laki-laki itu patut menjadi putera Si Han Beng, pikir Bi Lan sambil mengenang kembali wajah bekas tunangan yang kini dibencinya itu.
Akan te tapi tidak mungkin, bantahnya.
Si Han Beng menikah dengan gadis lain belum ada empat tahun dan anak laki-laki itu sedikitnya berusia enam tahun.
Kalau anak perempuan itu lebih pantas menjadi anak Si Han Beng.
Dua orang anak itu memang The Siong Ki dan Si Hong Lan.
Seperti kita ketahui, Siong Ki berhasil tiba di te mpat tinggal pendekar sakti Si Han Beng dan dite rima menjadi murid pendekar itu.
Siong Ki pandai membawa diri, pandai menyenangkan hati keluarga Si, bahkan dengan sabar dia mengasuh Si Hong Lan pute ri gurunya.
Diapun rajin bekerja, membersihkan rumah dan pekarangan dan melakukan segala macam pekerjaan membantu para pelayan sehingga para pelayanpun suka kepadanya.
Melihat kegiatan pemuda cilik ini, timbul perasaan suka pula di hati Si Han Beng dan diapun mulai melatih Siong Ki dengan dasar-dasar ilmu silat.
Pagi hari itu, setelah selesai menyapu pekarangan dan mengisi semua bak dengan air, Siong Ki sudah mengajak Hong Lan bermain-main di dalam kebun.
Matahari sudah naik tinggi.
Dia selalu diajar ilmu silat kalau matahari sudah mulai condong ke barat, setiap sore hari.
Dari pagi sampai siang, dia bekerja, kalau tidak mengasuh Hong Lan, tentu membantu pekerjaan rumah atau ladang.
Hong Lan juga suka sekali kepadanya, karena Siong Ki pandai menyenangkan hati anak itu.
Saat itu, Siong Ki memberi mainan sempritan yang dia buat dari daun bambu muda.
Hong Lan ikut meniup-niup sempritan sederhana itu dan kalau sempritan itu dapat ditiupnya sampai mengelukan bunyi, anak itu te rtawa-tawa dan berte riak-te riak gembira.
"Suheng baik. ... suheng baik......"berulang-ulang anak perempuan itu berseru.
"Engkau ju ga baik dan manis sekali, sumoi, tidak rewel."
Kata Siong Ki dan dari percakapan antara dua orang anak itu Bi Lan dapat menduga bahwa anak laki-laki itu te ntulah murid Si Han Beng dan anak perempuan itu tentu anaknya.
"Tidak mungkin kalau Han Beng mempunyai seorang murid yang usianya baru dua tahun."
Dan melihat wajah anak perempuan yang manis dan mungil itu, tiba-tiba menyelinap suatu keinginan di hati Bi Lan.
Mengapa tidak?
Kalau ia membalas dendam kepada Si Han Beng, kiranya tidak mungkin ia akan mampu mengalahkan pendekar itu dan is terinya, dan akhirnya ia yang akan mati konyol.
Walaupun ia sudah bertekad dan tidak takut mati, akan tetapi apa artinya kalau ia mati konyol?
Hanya akan membuat Si Han Beng dan isterinya menjadi semakin bebas dan senang saja, tidak lagi mengkhawatirkan pembalasan.
Dan ia seorang yang akan menderita.
Tidak, ia harus mengikuti pikiran yang menyelinap dalam benaknya tadi.
Ia harus membuat Si Han Beng dan isterinya menderita, setidaknya menderita batin.
Akan te tapi, sebelum itu, ia ingin melihat bagaimana sikap bekas tunangan itu kalau mendengar tentang kematian suhunya, atau suaminya!
Kwa Bi Lan bukanlah seorang wanita jahat, bahkan ia dahulu murid Siauw lim-pai yang berjiwa pendekar.
Apa lagi setelah menjadi murid dan is teri Rajawali Sakti Liu Bhok Ki, ia menjadi seorang wanita gagah.
Kalau ia membenci Han Beng dan ingin membunuhnya, hal itu terdorong oleh sakit hati dan duka, bukan watak yang jahat.
Maka, begitu melihat Hong Lan, anak yang manis dan lincah itu, seketika api dendam yang membuat ia ingin membunuh orang itu padam dengan sendirinya, bagaimana mungkin ia dapat membunuh orang tua anak kecil yang mungil itu?
Bukankah kalau ia membunuh orang tuanya, anak itu akan menjadi te rlantar dan menderita?
Itulah sebabnya, maka pikiran lain menyelinap ke dalam benaknya yang sama sekali mengubah niat hatinya semula.
Siong Ki tidak te rkejut melihat munculnya seorang wanita cantik yang tidak dikenalnya dari balik pohon, melainkan heran dan dia memandang le ngan sinar mata penuh pertanyaan.
Bi Lan tersenyum manis.
"Anak yang baik, apakah engkau murid Huang-ho Sin Liong Si Han Beng? Dan anak perempuan yang mungil ini pute rinya?"
Siong Ki adalah seorang anak yang cerdik. Dia tidak mengenal siapa wanita ini, tidak tahu apakah ini sahabat ataukah musuh gurunya. Oleh karena itu dia bersikap hati-hati walaupun sopan.
"Maafkan saya, enci. Akan tetapi siapakah enci?"
"Aku adalah sahabat baik dari Si Han Beng, namaku Kwa Bi Lan. Benarkah dugaanku tadi bahwa engkau murid dan ini anaknya?"
Karena wanita itu mengaku sahabat gurunya, dan te lah memperkenalkan diri, Siong Ki merasa tidak enak kalau tidak memperkenalkan diri. Dia mengangguk dan berkata dengan hormat.
"Maaf kalau saya bersikap kurang hormat karena tidak tahu bahwa enci adalah sahabat baik suhu. Memang benar saya Siong Ki adalah murid suhu dan sumoi Si Hong Lan ini adalah puterinya."
Pada saat itu, muncullah Si Han Beng dan Bu Giok Cu dari pintu samping rumah mereka.
Mereka memang sedang mencari pute ri mereka dan Siong Ki.
Melihat seorang wanita muda yang cantik berada pula di kebun mereka, suami isteri ini segera menghampiri dan memandang dengan heran.
"Siong Ki, siapakah nona ini...."
Tanya Han Beng sambil memandang Bi Lan dengan penuh selidik.
Sementara itu Bu Giok Cu juga sudah memondong pute rinya dan ikut mengamati Bi Lan dengan heran.
Sejak tadi Bi Lan memandang kepada suami isteri itu dan jantungnya berdebar te gang, hatinya te rasa panas.
Si Han Beng masih nampak gagah perkasa seperti dahulu, bertubuh tinggi besar dan wajahnya membayangkan kejantanan, sedangkan Bu Giok Cu juga masih nampak cantik je lita dan lincah seperti yang pernah dilihatnya dahulu ketika Giok Cu bersama Han Beng datang berkunjung ke rumah gurunya, mendiang Liu Bhok Ki sebelum ia menjadi isteri gurunya itu.
Entah kenapa, setelah bertemu dengan mereka.
Ia tidak mampu mengeluarkan kata-kata dan hanya memandang dengan hati dipenuhi iri.
Mereka demikian berbahagia.
Menjadi suami isteri dan sudah mempunyai seorang anak.
Begitu berbahagia, sedangkan ia ......
Han Beng segera menyadari bahwa sebagai tuan rumah dia harus menyambut orang asing sebagai tamunya dengan sikap hormat.
Maka diapun mengangkat dua tangan ke depan dada memberi hormat dan bertanya.
"Siapakah nona dan ada keperluan apakah berkunjung ke rumah kami?"
Bi Lan te rsenyum, senyum yang getir. Bahkan wajahnyapun tidak diingat lagi oleh laki-laki yang pernah ditunangkan dengannya itu! De ngan suara yang pahit iapun berkata.
"Lupa kepada adik seperguruan masih tidak mengapa, akan te tapi kalau sudah melupakan guru, itu sungguh keterlaluan."
"Nona, apa maksud ucapan nona itu?"
Han Beng bertanya, memandang tajam penuh selidik dan sikapnya serius. Juga Bu Giok Cu memandang tajam dan mulai bercuriga melihat sikap gadis cantik yang tidak dikenalnya itu.
"Suheng, benar-benarkah suheng sudah lupa kepadaku, dan kepada suhu kita?"
Sekali ini suara Bi Lan mengandung getaran is ak te rtahan, karena ia merasa sangat berduka dan kecewa.
"Ahhh! Bukankah engkau Kwa Bi Lan murid locian-pwe Liu Bok Ki itu?"
Tiba-tiba Bu Giok Cu berseru. Bi Lan memandang kepada wanita yang tadinya dianggap te lah merampas calon suaminya itu.
"Kiranya enci Bu Giok Cu masih teringat kepadaku."
"Sumoi Kwa Bi Lan .....! Ah, kiranya engkaukah ini? Kita dahulu hanya sempat bertemu sebentar saja, sumoi, hingga aku lupa lagi kepadamu. Maafkan aku."
Bi Lan mengerutkan alisnya.
"Perkenalan antara kita memang singkat, akan tetapi hubungan antara kita bukan tidak penting, suheng......"
"Aih, tentu saja. Kita saudara seperguruan....."
Kata Han Beng, belum ingat akan hubungan jodoh yang pernah dipesankan gurunya yang pertama itu. Bu Giok Cu ingat akan hal itu, maka ia pun cepat berkata.
"Adik Kwa Bi Lan te ntu datang membawa kabar penting. Tidak pantas kalau kita menyambutnya di kebun begini. Mari, adik Bi Lan, kita bicara di dalam."
"Ah, benar. Mari silakan, sumoi. Kita bicara di dalam. Siong Ki, kau ajak lagi sumoimu bermain-main di sini sebentar,"
Kata Han Beng dan Giok Cu lalu menyerahkan lagi Hong Lan kepada Siong Ki.
Suami is teri itu mempersilakan tamunya memasuki rumah dan mereka lalu duduk di dalam ruangan tamu yang sederhana namun cukup luas.
Sejenak mereka duduk berhadapan dan saling berpandangan.
Sebetulnya, Bi Lan tidak terlalu menyesal bahwa ia tidak menjadi isteri Han Beng.
Belum ada rasa cinta dalam hatinya terhadap pria ini, dahulupun yang ada han ya kekaguman.
Cintanya bahkan te rtuju kepada gurunya, mendiang Liu Bhok Ki.
Ia tidak putus cinta, melainkan merasa te rhina dan diremehkan, di samping pendekar ini menjadi biang keladi kesedihan Liu Bhok Ki sehingga suaminya itu meninggal dunia dalam keadaan penas aran dan berduka.
"Nah, adik Kwa Bi Lan. Setelah kami mengucapkan selamat datang, sekarang katakanlah, apa maksud kunjunganmu ini? Apakah membawa suatu kepentingan te rte ntu, ataukah hanya hendak berkunjung saja?"
Tanya Bu Giok Cu karena di dalam hatinya, wanita ini sudah merasa tidak enak.
Ia sudah mendengar dari suaminya bahwa dahulu, suaminya pernah dipesan oleh Sin-tiauw Liu Bhok Ki agar kelak menjadi jodoh Kwa Bi Lan, sumoi dari suaminya sendiri.
Akan tetapi kemudian Hek-bin Hwesio yang menjadi gurunya, dan Pek I Tojin guru suaminya menjodohkan ia dan suaminya.
Ia bahkan pernah mengingatkan suaminya agar mengabari Liu Bhok Ki, akan tetapi suaminya tidak mau karena merasa tidak enak harus menentang usul perjodohan guru pertamanya itu.
Kini, gadis yang dulu dijodohkan dengan suaminya itu tiba-tiba muncul!
Tentu saja ia merasa tidak enak sekali.
Mendengar pertanyaan Giok Cu, Bi Lan menghela napas panjang.
Kalau menurut apa yang dibayangkan sebelum ia bertemu dengan puteri mereka tadi, begitu bertemu Han Beng, ia akan memaki-makinya dan menantangnya, bahkan langsung saja menyerangnya untuk mengadu nyawa.
Akan te tapi sekarang, ia tidak bernapsu untuk mengadu nyawa, untuk mati, karena ia pasti mati kalau bertanding melawan mereka ini.
Ia ingin hidup untuk dapat mendengar dan melihat Han Beng menderita!
"Benar, sumoi.
Katakanlah, apa yang menjadi maksud kedatanganmu ini?
Apakah hanya berkunjung ataukah diutus oleh suhu?"
Hampir saja Bi Lan berteriak bahwa ia diutus oleh suhu mereka untuk mencabut nyawa Han Beng! Akan te tapi ia menahan kemarahannya, memandang kepada pria itu dan berkata lirih.
"Suheng kedatanganku ini hanya mempunyai satu maksud, yaitu aku ingin bercerita tentang suhu kepadamu."
Wajah Han Beng menjadi cerah berseri.
"Ah, akupun ingin sekali mendengar te ntang suhu. Ceritakanlah, sumoi, kuharap suhu dalam keadaan sehat dan baik-baik saja! Ceritakanlah."
Setelah menghela nafas beberapa kali, Bi Lan mulai bercerita.
"Suheng suhu telah mendengar akan pernikahanmu dengan enci Bu Giok Cu dan suheng sama sekali tidak memberi tahu suhu, apa lagi mengundangnya."
"Sudah kudesak agar dia mengundang locian-pwe Liu Bhok Ki, akan te tapi dia tidak mau!"
Bu Giok Cu berkata sambil memandang suaminya penuh teguran.
"Bukan tidak mau, akan te tapi tidak berani,"
Kata Han Beng, akan te tapi tiba-tiba dia menghentikan kata-katanya seperti orang yang merasa telah te rlalu banyak bicara.
"Kenapa, suheng?"
Bi Lan mendesak cepat.
"Kenapa suheng tidak berani memberitahu kepada suhu tentang pernikahan suheng?"
Han Beng tidak menjawab, hanya menoleh ke arah is terinya.
Tentu saja dia merasa sukar untuk menjawab pertanyaan itu, merasa sungkan te rhadap Bi Lan untuk menyebutkan alasannya.
Melihat keraguan Han Beng, Bi Lan berkata.
"Suheng, kalau Suheng ingin aku bicara sejujurnya te ntang suhu, maka sebaiknya kalau suheng juga bersikap terbuka dan jujur. Kalau suheng tidak berani bersikap terbuka, akupun tidak ingin bercerita apa-apa lagi."
Bu Giok Cu memandang kepada suaminya.
"Sebaiknya engkau bicara te rus te rang saja untuk menebus kesalahan sikapmu te rhadap gurumu. Tidak perlu sungkan lagi."
Han Beng mengangguk dan menarik napas panjang.
Dia merasa menyesal sekali mengapa dahulu dia tidak berte rus terang saja kepada gurunya bahwa dia mencintai Giok Cu dan tidak mau dijodohkan dengan gadis lain.
Akibatnya ketika dia menikah dengan Giok Cu, dia tidak berani mengabari gurunya, dan sekarangpun dia merasa sungkan untuk mengaku terus te rang kepada Bi Lan.
"'Baiklah, aku bicara te rus terang dan kuharap engkau tidak merasa te rsinggung, sumoi. Sebelumnya, maafkan aku kalau ceritaku menyinggung perasaanmu."
"Kalau engkau berterus terang, mengapa aku mesti tersinggung, suheng? Ceritakanlah."
"Aku tidak berani mengabari suhu, tidak berani mengundangnya, karena aku merasa bersalah kepada suhu. Dahulu, ketika aku bersama Giok Cu berkunjung ke te mpat kediaman suhu, dan bahkan berte mu dengan engkau di sana, ketika itu suhu bicara empat mata denganku dan suhu dalam kesempatan itu telah menjodohkan aku dengan engkau, sumoi. Dia berpesan agar kelak aku berjodoh denganmu. Nah, karena aku saling mencinta dengan Bu Giok Cu dan kemudian atas usul guru kami masing-masing, yaitu Hok-bin Hwesio dan Pek I Tojin, kami menikah dan teringat akan pesan suhu Liu Bhok Ki, aku merasa sungkan dan tidak berani memberi kabar. Aku telah bicara terus te rang, sumoi."
Bi Lan tidak heran mendengar keterangan itu, te ntu saja ia sudah tahu semuanya dan dapat menduganya.
Ia tidak merasa sakit hati karena ia ditolak oleh suhengnya yang mencinta gadis lain.
Ia sendiripun mencinta pria lain, yaitu gurunya sendiri.
Yang membuat ia menyesal adalah karena ulah suhengnya, maka gurunya yang juga suaminya itu menderita tekanan bathin sampai sakit-sakitan dan meninggal dunia dalam keadaan berduka.
"Bagus sekali, engkau te lah berterus te rang, suheng. Nah, akupun hendak bercerita sejujurnya kepadamu. Seperti kukatakan tadi, suhu telah mendengar pernikahanmu dengan enci Giok Cu tanpa mengundangnya, dan sejak itu, suhu sakit-sakitan karena merasa penasaran, menyesal dan berduka. Aku tahu akan semua itu karena suhu berte rus terang kepadaku. Suhu marah dan menyesal, suhu merasa sakit hati kepadamu, suheng!"
"Aih, suhu, teecu memang berdosa besar. Sumoi, tolonglah, kalau e ngkau pulang dan berte mu suhu, mintakan ampun adanya untukku .... ah, tidak, aku sendiri yang akan ke sana. Aku harus cepat pergi menghadap suhu dengan is teri dan anakku untuk mohon ampun."
"Tidak ada gunanya, suheng. Lebih baik suheng mendengarkan kelanjutan ceritaku. Melihat suhu demikian menderita, hatiku hancur dan aku merasa amat kasihan kepada suhu. Suhu telah kehilangan segalanya, demikian pula aku. Kami berdua tidak memiliki apa-apa lagi, tidak ada lagi seorangpun di dunia ini yang menyayangi kami. Timbul perasaan kasihan dan sayang dalam hatiku, dan akupun mengambil keputusan untuk menyerahkan diriku, hidupku, segalanya, untuk membahagiakan hati suhu. Dengan suka rela, bahkan dengan desakanku, kami menikah menjadi suami iste ri....."
Suami isteri itu s aling pandang nampak te rkejut bukan main.
"Sungguh suatu pengorbanan yang besar......"
Kata Giok Cu lirih.
"Sumoi, betapa mulia hatimu. Engkau begitu berbakti kepada suhu, sedang aku ..."
"Tidak ada pengorbanan! Tidak ada kemuliaan hati dan kebaktian. Aku menikah dengan suhu karena memang aku cinta kepadanya, dan dia cinta padaku. Kami menjadi suami isteri karena kami saling mencintai.!"
Bi Lan berkata dengan suara nyaring, setengah membentak sehingga mengejutkan suami isteri itu.
"Kalau begitu, biarlah kami mengucapkan selamat kepadamu atas pernikahan dengan suhu...!"
"Tunda dulu ucapan selamat itu sampai aku selesai menceritakan keadaan suhumu, suheng. Biarpun kami sudah menikah dan aku berusaha sekuat tenaga untuk menghiburnya dan mengusir kedukaan suamiku, akan tetapi usahaku sia-sia belaka. Guru dan suamiku itu masih tak mampu melupakanmu, dan sakit hatinya tak pernah mereda. Api sakit hati membakarnya, membuat dia sakit-sakitan dan akhirnya, dia tak kuat bertahan lagi setelah berbulan-bulan rebah dan menderlta sakit lahir batin, suamiku itu meninggal dunia........."
"Ahh.....!"
Giok Cu mengeluh..
"Suhuuu.....!"
Han Beng menutupi muka dengan kedua tangan dan dia te risak, tubuhnya te rguncang dan dari celah-celah jari tangannya mengalir keluar air matanya.
"Aih, suhu, teecu berdosa besar kepada suhu..........teecu .. .berdosa besar................"
Sebuah tangan dengan lembut menyentuh pundak Han Beng.
"Sudahlah, semua itu telah le wat, gurumu te lah tiada. Tidak ada gunanya disesali dan ditangisi. Kelak engkau dapat saja pergi mengunjungi makam gurumu dan mohon ampun di depan makamnya kalau engkau merasa bersalah kepadanya."
Hiburan dari isterinya ini menyadarkan Han Beng dan diapun menghapus air matanya.
Dengan dua mata merah dia memandang kepada Bi Lan dan melihat wanita muda itupun kini menunduk, tidak mengeluarkan suara tangisan, akan tetapi kedua pundak bergoyang dan air mata menetes-netes turun dari kedua pipinya.
"Aku .... aku dapat merasakan penderitaanmu, aku ikut berduka cita ...sumoi .... ataukah subo (ibu guru)..."
Kata Han Beng dengan terharu. Bi Lan menghapus air matanya dan menggeleng kepala, masih menunduk.
"Aku bukan apa-apamu lagi, bukan apa-apa. Bukan tunangan karena engkau sudah memilih wanita lain. Bukan sumoi karena telah menikah dengan guru kita. Bukan pula subo karena suamiku te lah tiada. Aku........aku hanya seorang yang sebatangkara, tidak mempunyai apa-apa dan siapa-siapa lagi.."
Giok Cu merasa kasihan sekali.
"Sungguh buruk nasibmu, sungguh kasihan sekali engkau, adik Bi Lan Aku tahu bagaimana perasaanmu. Kalau saja kami dapat melakukan sesuatu untukmu. Katakan saja, apa yang dapat kami lakukan untuk membantumu, mengurangi penderitaanmu?"
Bi Lan menggele ng kepala.
"Terima kasih, tidak ada yang dapat kalian lakukan untukku. Biarkan aku sendiri. Di dunia ini, tidak ada lagi orang yang dapat kucinta atau mencintaku, tidak ada siapa-siapa lagi. Aku hanya menanti datangnya saat aku menyusul suamiku. Dialah satu-satunya orang yang mencintaiku........"
Setelah berkata demikian, Bi Lan bangkit dari duduknya, kemudian tanpa pamit lagi ia melangkah keluar dari ruangan itu, te rus menuju keluar rumah.
Han Beng hendak mengejar, akan tetapi le ngannya dipegang is terinya.
Dia menoleh dan memandang is te rinya.
Giok Cu menggele ng kepala perlahan dan berbisik.
"I a benar. Tidak dapat kita melakukan apapun untuknya. Biar kan ia sendiri......"
Han Beng memejamkan matanya.
"Suhuuu ..!"
Keluhnya dan dia te ntu roboh kalau saja tidak cepat dirangkul oleh isterinya dan dia kembali menangis di pundak isterinya.
Malam itu, Han Beng dan Giok Cu tidak dapat tidur.
Hal ini te rutama sekali karena Han Beng te nggelam dalam duka dan penyesalan, dan akhirnya baru Han Beng te rhibur ketika isterinya menyetujui untuk mereka berdua bersama anak mereka pergi mengunjungi makam Si Rajawali Sakti, di mana Han Beng ingin bersembahyang bersama anak isterinya dan mohon ampun kepada guru pertamanya itu.
Mereka akan berangkat tiga hari lagi dan pada keesokan harinya, mereka telah membuat persiapan.
Karena waktu itu sedang musim panen, maka suami isteri itu hendak menyelesaikan dulu sisa panenan yang tinggal satu dua hari lagi, baru mereka akan berangkat.
Pada keesokan harinya, sejak pagi Han Beng dan Giok Cu sudah pergi meninggalkan rumah, pergi ke sawah untuk mengepalai dan mengatur mereka yang membantu panen.
Seperti biasa, Siong Ki setelah bekerja pagi, lalu mengasuh Hong Lan bermain-main di taman.
Keadaan sunyi di taman.
Semua orang dewasa pergi ke s awah ladang karena musim panen.
Siong Ki menurunkan Hong Lan duduk di atas rumput, dan dia sendiri duduk di dekat anak itu sambil menganyam rumput, membuatkan mainan untuk sumoinya.
Ketika Kwa Bi Lan muncul seperti kemarin, diapun tidak terkejut dan tidak merasa heran lagi.
Dari suhunya dia mendengar bahwa wanita muda yang cantik itu memang sahabat gurunya yang datang berkunjung.
Dia bahkan te rsenyum dan memberi hormat.
"Selamat pagi, enci."
Akan te tapi Bi Lan tidak memperdulikan Siong Ki.
I a menghampiri Hong Lan dan mengelus kepala anak itu dengan lembut dan mesra, dan pandang matanya yang ditujukan mengamati wajah anak perempuan itu penuh rasa kagum dan sayang.
Suaranyapun te rdengar halus ketika ia bertanya.
"Anak manis, siapakah namamu?"
Semua anak kecil mempunyai kepekaan yang tidak lagi dipunyai orang dewasa.
Kepekaan atau naluri ini adalah pembawaan jiwa yang masih belum terselubung nafsu.
Pada saat dilahirkan, anak manusia memiliki naluri ini, memiliki kepekaan karena jiwanya masih murni, bagaikan sinar pelita yang belum terselubung kotoran sehingga masih memancar keluar melalui panca indranya.
Kelak, kalau anak itu sudah mulai mempergunakan hati dan akal pikirannya, dan nafsu yang menjadi alat kebutuhan jasmaninya mulai mengambil alih kekuasaan atas diri manusia, maka kepekaan itu pudar.
Sinar pelita dari jiwa te rtutup nafsu dan orang hidup le bih mengandalkan hati akal pikirannya yang bergelimang nafsu menciptakan segala macam dosa dan kekacauan dalam kehidupan ini.
Makin pandai orang mempergunakan hati akal pikirannya, semakin keruh keadaan dunia, karena manusia dikendalikan nafsu yang sifatnya hanya mengejar kesenangan diri pribadi, sehingga te rjadilah tumbukan-tumbukan dan tabrakan kepentingan yang menimbulkan pertikaian, permusuhan, bahkan perang!
Pada saat membelai dan bicara kepada Hong Lan, maka anak itupun memandang kepada Bi Lan sambil tersenyum cerah menjawab dengan suaranya yang nyaring dan lucu.
"Namaku Si Hong Lan, bibi."
"Nama yang bagus, cocok dengan wajahmu yang manis. Hong Lan, mari kupondong dan kuberi mainan yang indah."
Hong Lan tidak membantah ketika digendong.
"Mainan apa, bibi?"
"Nanti kupetikkan bunga merah, kutangkapkan kupu-kupu kuning."
"Bibi baik, bibi baik sekali, suheng"
Hong Lan bersorak, akan tetapi Siong Ki mengerutkan alisnya. Dia belum mengenal benar siapa wanita cantik itu, karena merasa khawatir kalau Hong Lan diajak pergi bermain-main.
"Maaf, bibi. Sumoi Hong Lan belum kuberi sarapan pagi. Mari, sumoi, kita makan dulu ..."
Siong Ki menjulurkan kedua tangannya untuk mengambil sumoinya dari pondongan Bi Lan.
Akan tetapi sekali Bi Lan menggerakkan tangan kirinya menotok.
Siong Ki tak mampu bergerak dalam posisi berdiri dengan kedua tangan terjulur.
Bi Lan lalu berjongkok, tangan kiri memondong Hong Lan, dan tangan kanan dengan jari te lunjuk terjulur mencoret-coret di atas tanah di depan Siong Ki.
Kemudian, sambil memondong Hong Lan, ia berkelebat lenyap dari tempat itu, meninggalkan Siong Ki yang masih berdiri kaku seperti arca!
Tak lama kemudian, seorang pelayan keluar dan dia te rheran-heran melihat Siong Ki yang berdiri dengan tangan terjulur seperti patung, tak bergerak-gerak.
"Eh, engkau kenapa ?"
Tanyanya. Siong Ki tidak mampu menengok, akan tetapi dia masih dapat bicara walaupun, dengan kaku dan sukar.
"Cepat .... beritahu suhu .... cepat.... sumoi diculik orang..."
Sebagai pelayan suami isteri pendekar, pelayan itupun sudah tanggap dan dia segera lari mencari majikannya yang sedang sibuk mengatur orang-orang yang sedang panen.
Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati Si Han Beng dan Bu Giok Cu ketika mendengar laporan pelayan itu bahwa Siong Ki berdiri seperti patung tak mampu bergerak dan mengatakan bahwa Hong Lan diculik orang.
Mereka lalu berlari cepat, seperti berlomba pulang ke rumah.
Semua petani terkejut dan kagum bukan main melihat suami isteri yang mereka kenal sebagai sepasang pendekar namun yang tak pernah mereka lihat kepandaiannya itu, kini berlari seperti terbang saja meninggalkan sawah.
Baru sekarang mereka menyaksikan suami isteri itu memperlihatkan kepandaiannya yang luar biasa.
Suami isteri itu tiba di pekarangan rumah mereka dan setelah Han Beng membebaskan totokan yang membuat muridnya tak mampu bergerak, Siong Ki cepat menunjuk ke bawah, di depannya.
"I a meninggalkan tulisan di situ....."
Han Beng dan Giok Cu cepat membaca tulisan itu.
Huruf-hurufnya je las karena jari yang mencoret-coret di atas tanah itu menggunakan te naga sin-kang, sehingga tanah itu seperti dicoret dengan pensil baja saja.
Suheng Si Han Beng.
Engkau t el ah membuat aku berpis ah selamanya d ari orang yang kucinta.
Aku akan membuat engkau berpis ah sementar a d ari anak y ang kau sayang.
Aku b erhak menyayang d an disayang.
Aku s ayang Hong Lan d an ingin menikmati hidup bers amanya.
Setel ah beberapa tahun, aku akan mengembalikannya kepad amu.
Suheng, jangan kejar kami, karena terpaks a aku akan membunuh Hong Lan, lalu membunuh diri sendiri, Kwa Bi Lan.
"Aih, anakku........!"
Giok Cu menjadi pucat wajahnya setelah selesai membaca coretan tulisan di tanah itu.
"Aku harus mengejar iblis betina itu. ..!"
Ia hendak meloncat, akan tetapi tangannya dipegang suaminya.
"Tunggu dulu......apakah kau ingin ia membunuh anak kita? Aku yakin ia tidak menggertak kosong belaka,"
Kata Han Beng sambil menunjuk ke arah kalimat terakhir itu. Giok Cu membacanya lagi.
"Suheng, jangan kejar kami, karena te rpaksa aku akan membunuh Hong Lan, lalu membunuh diri sendiri."
"Ahhh .... tapi.... tapi.... bagaimana dengan anak kita ....?"
Suara wanita perkasa itu mengandung tangis karena ia merasa khawatir bukan main.
Han Beng merangkul is te rinya.
Wajahnya sendiri juga pucat dan diam-diam ia merasa menyesal bukan main, akan te tapi dia tidak bingung seperti isterinya.
"Giok Cu, aku yakin bahwa ia tidak akan mencelakai anak kita, akan tetapi kalau kita mengejarnya, pasti ia akan nekat. I a seorang yang sudah putus asa, dapat melakukan apa saja."
"Tapi .... tapi .... kenapa ia melakukan ini? Kenapa ia culik anakku?"
Han Beng menarik nafas panjang.
"Aku dapat memakluminya. Pertama, ia masih merasa bahwa akulah yang membuat ia sengsara, aku yang menyebabkan kematian suhu, orang yang dicintanya. Karena itu ia ingin membalas dendam, ingin membuatku merasakan penderitaan kehilangan orang yang kucinta, walaupun tidak selamanya seperti yang dijanjikannya, hanya untuk sementara. Dan selain itu, iapun haus kasih sayang. Ingin menyayang dan disayang. Dan agaknya da suka sekali pada anak kita, ia ingin mencurahkan kasih sayangnya kepada ana k kita, karena itu, jangan khawatir.."
"Jangan khawatir, kau bilang? Aku ibu Hong Lan! Anakku diculik orang, mungkin seorang iblis betina, dan kau bilang aku jangan khawatir?"
"Giok Cu, aku tahu siapa Kwa Bi Lan. Sebelum menjadi murid suhu Liu Bhok Ki, ia adalah murid Siauw-lim-pai. Kemudian digembleng oleh suhu Liu Bhok Ki bahkan menjadi isterinya. Ia bukan iblis betina, ia seorang wanita berjiwa pendekar. Aku yakin ia akan memegang janji dan akan mengembalikan anak kita dalam keadaan selamat."
Giok Cu memandang suaminya dengan alis berkerut.
"Enak saja engkau bicara membelanya! Ia menculik anak kita, ingat? Aku diharuskan berpisah dari anakku untuk beberapa tahun, dan aku harus tinggal diam saja? Aih, apakah engkau tidak dapat merasakan bagaimana penderitaan seorang ibu kalau dipisahkan dari anaknya yang baru berusia dua tahun lebih.!"
Han Beng menarik napas panjang dan menundukkan mukanya yang pucat.
"Aku mengaku bersalah, isteriku. Akulah yang menyebabkan semua ini, aku biang keladinya dan aku siap menerima hukuman apapun...."
Melihat suaminya begitu bersedih dan menyesal, meredalah kemarahan Giok Cu dan iapun merangkul pundak suaminya dan menangis di pundak oran g yang dicintainya itu.
"Lalu .... apa ... yang harus kita lakukan ....?"
Rintihnya memelas.
"Tidak ada yang dapat kita lakukan sementara ini kecuali .... menunggu dan pasrah kepada Tuhan. Kelak, kalau keadaan sudah mereda, kalau ia sudah tidak mengira kita akan mencarinya lagi, barulah aku akan berusaha menyelidiki di mana ia membawa anak kita, dan akan kuusahakan untuk merebutnya kembali tanpa membahayakan anak kita. Sementara ini, maafkan aku. Akulah yang menyebabkan engkau menderita batin...."
Akan tetapi.
Giok Cu sudah terhibur dan dapat mengerti kebenaran ucapan suaminya.
Memang berbahaya sekali kalau sekarang ia melakukan pengejaran.Wanita yang sudah putus asa itu tentu tidak akan ragu-ragu untu k membunuh Hong Lan lalu membunuh diri sendiri sebelum sempat merebut kembali anak itu!
Kalau sekarang ia dibiarkan pergi, setelah beberapa lama tentu wanita itu akan mengira bahwa mereka tidak lagi melakukan pengejaran dan akan menjadi lengah.
Nah, itulah saatnya mereka berusaha merebut kembali anak mereka.
Melihat kedukaan gurunya, Siong Ki lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Han Beng.
"Suhu, teecu yang bersalah tak mampu menjaga sumoi dengan baik. Kalau suhu mengijinkan, teecu akan pergi mencari sumoi sampai dapat dan membawanya kembali kepada suhu."
"Bangkitlah dan bekerjalah sepert biasa. Juga yang rajin berlatih silat. Jangan bicarakan dengan siapapun urusan hilangnya sumoimu. Engkau tidak bersalah, Siong Ki,"
Kata Han Beng dan diapun menggandeng is terinya, diajak masuk ke dalam rumah.
Sejak hari itu, suami isteri pendekar ini merasa hidup mereka tidak le ngkap lagi.
Mereka telah berusaha setelah lewat beberapa bulan untuk mencari anak mereka yang dilarikan Bi Lan, namun tidak berhasil.
Bi Lan menghilang tanpa meninggalkan jejak.
Tentu saja Bu Giok Cu menderita batin yang cukup hebat, merasa gelisah selalu.
Lebih-lebih Han Beng karena pendekar ini merasa bahwa ialah yang bersalah, dan dia menganggap hal ini sebagai hukuman dari mendiang gurunya.
Seringkali dia duduk melamun dan mengeluh.
Kenapa selama hidupnya gurunya itu, Sin-tiauw Liu Bhok Ki Si Rajawali Sakti, mengisi hidupnya dengan dendam dan pembalasan?
Mula-mula selama puluhan tahun, gurunya itu membalas dendamnya secara keji sekali terhadap is terinya dan kekasih isterinya karena penyelewengan isterinya.
Biarpun dirinya sudah membunuh mereka, dendamnya belum juga hilang dan dia masih "menyiksa"
Isteri dan kekasih isterinya itu dengan membiarkan kepala mereka selalu bersamanya!
Kini, gurunya yang sudah mati itupun melampiaskan dendamnya kepadanya karena kesalahannya tidak mentaati perintahnya menikah dengan Kwa Bi Lan.
Dan pembalasan dendam ini dilakukan mendiang suhunya melalui Bi Lan!
Mungkinkah Kwa Bi Lan setelah menjadi murid dan is teri Liu Bhok Ki, mewarisi pula watak pendendam yang hebat itu?
Karena tidak adanya Hong Lan, Han Beng menggemble ng The Siong Ki dengan sungguh-sungguh.
Dan anak ini memang berbakat baik sekali sehingga memperoleh kemajuan pesat.
-ooo0dw0ooo-Ke manakah perginya Kwa Bi Lan yang membawa lari Si Hong Lan sehingga setelah lewat beberapa bulan, suami isteri perkasa dari Hong-cun itu tidak berhasil menemukan jejaknya?
Mari kita ikut jejak Bi Lan setelah ia meninggalkan dusun Hong-cun sambil memondong Hong Lan.
Biarpun Kwa Bi Lan bersikap manis kepada Hong Lan, menghiburnya sepanjang jalan, bahkan membelikan pakaian dan mainan di toko, te tap saja Hong Lan mulai rewel ketika ia te ringat akan ayah bundanya dan merindukan mereka, juga merindukan Siong Ki.
Berulang kali ia rewel, menangis dan minta pulang.
Bi Lan yang tidak mempunyai pengalaman dengan anak-anak, berusaha semampunya untuk menghibur, namun Hong Lan tetap menangis.
Saking jengkel dan sedihnya, ketika pada suatu malam Hong Lan menangis terus di dalam kamar sebuah rumah penginapan, Bi Lan juga ikut menangis!
Dan sungguh aneh, begitu Bi Lan menangis, Hong Lan berhenti menangis!
Anak itu memandang Bi Lan yang menangis dengan kedua mata merah.
Sinar matanya penuh kehe ranan, bahkan mengandung iba.
"Bibi .... kenapa menangis ?"
Sungguh aneh, begitu mendengar anak itu berhenti menangis dan bertanya kepadanya mengapa ia menangis, Bi Lan makin mengguguk menangis, merangkul anak itu dan tangisnya menjadi tersedu-sedu!
Sudah terlalu lama ia tidak menangis, te rlalu lama memendam duka yang disembunyikan saja di dalam hatinya, tidak pernah mendapat kesempatan mengeluarkan duka nestapa yang menekan hatinya.
Kini ditanya mengapa ia menangis ole h suara kanak-kanak itu, ia menjadi demikian sedih, demikian te rharu sehingga ia terguguk se perti anak kecil!
Hong Lan semakin kasihan kepada wanita yang selama ini amat manis dan baik kepadanya, yang agaknya bahkan le bih baik dan le bih sayang padanya daripada ibunya sendiri.
Maka, melihat wanita ini mengguguk, iapun merangkul dan mencium pipi yang basah itu.
"Bibi, jangan menangis .... bibi, jangan menangis....."
Ia merengek, agak ketakutan melihat wanita itu menangis begitu sedihnya.
Mendengar ini, Bi Lan mengerahkan te naganya untuk menahan dan menghentikan tangisnya.
Ia mengangkat mukanya yang masih basah, dan ia memaksa tersenyum sambil memandang wajah anak itu yang juga masih basah.
"Tidak, aku tidak menangis, Hong Lan sayang, aku tidak menangis......lihat, aku sudah tertawa."
Hong Lan menatap wajah itu.
Wajah yang memelas sekali, nampaknya saja mulut itu te rsenyum ramah, akan tetapi dua matanya merah dan pipinya basah mata.
Tangis campur tawa yang mengharukan.
Namun, anak itu agaknya le ga begitu Bi Lan tidak mengguguk lagi.
De ngan jari tangannya yang kecil-kecil, Hong Lan mengusap bawah kedua mata Bi Lan.
"Bibi, kenapa tadi menangis?"
Hong Lan menciumnya penuh kasih sayang.
Ia dapat merasakan kehangatan kasih sayang anak itu kepadanya dan le bih dari pada itu, kehangatan rasa cinta kasihnya kepada anak itu!
Alangkah melegakan dan membahagiakan, dapat mencurahkan kasih sayang kepada seseorang, apa lagi kalau dibalasnya!
Dibalas atau tidak, mencurahkan kasih sayang ke seseorang merupakan kebahagiaan yang sejak kematian suaminya tak pernah ia rasakan lagi!
Dan kini, seluruh kerinduannya akan kasih sayang, baik memberi atau menerima, ia curahkan kepada Hong Lan!
"Anakku yang baik.
aku menangis karena melihat engkau menangis, aku bersedih kalau engkau menangis, Hong Lan."
"Aku tidak akan menangis lagi, bibi...."
Bi Lan menciumnya dan mendekap muka anak itu ke dadanya.
"Anakku .... kau anakku yang manis, kenapa kau tidak menyebut ibu kepadaku? Sebut aku ibu, Hong Lan ..."
"Tapi... engkau bukan ibuku ......"
Hong Lan memandang ragu. Bi Lan kembali menciumnya penuh kasih sayang.
"Anakku, mulai sekarang, aku jadi pengganti ibumu, juga pengganti ayahmu, pengganti suhengmu, pengganti segalanyanya. Sebut aku ibu dan engkau membuat aku senang sekali, Lan Lan!"
Hong Lan te rbelalak girang mendengar sebutan itu.
"Ibu juga memanggilku Lan Lan!"
Bi Lan te rse nyum.
"Tentu saja, dan akupun sekarang menjadi ibumu dan memanggilmu Lan Lan. Nah, kau mau bukan menjadi anakku dan menyebutku ibu?"
Lan Lan tersenyum dan mencium pipi wanita itu.
"Aku senang sekali, ibu."
Bi Lan mendekap ana k itu dan merasa berbahagia bukan main.
Dan sejak malam itu, benar saja Lan Lan tidak pernah rewel lagi.
Bahkan karena pandainya Bi Lan menghiburnya, dan mengajaknya melihat-lihat kota-kota yang ramai, pemandangan yang indah-indah, lambat laun Lan Lan mulai melupakan ayah, ibu dan suhengnya.
Mereka itu makin kabur seperti merupakan bayang-bayang dalam mimpi saja.
Sebulan setelah Bi Lan melarikan Lan Lan dari rumahnya, pada suatu siang jalanannya melalui sebuah hutan di tepi sungai.
Ia memang menuju ke barat untuk pulang ke Kim-hong-san, tempat tinggal mendiang suaminya, untuk hidup di sana berdua dengan Lan Lan.
Karena berjalan ke barat melawan arus air Sungai Huang ho, maka ia melakukan perjalanan lewat darat, menyusuri sepanjang pantai sungai yang amat le bar itu.
Dan siang itu, sambil memondong Lan Lan yang kini tidak rewel lagi, Bi Lan berjalan memasuki hutan di pantai sungai.
Tiba-tiba ia menghentikan langkahnya karena pendengarannya menangkap gerakan orang di belakangnya.
Ia menengok dengan cepat dan melihat bayangan orang berkelebat cepat sekali, menyelinap lenyap di antara pohon-pohon.
Ia tidak dapat melihat jelas karena gerakan orang itu cepat sekali, hanya tahu bahwa orang itu tentu seorang pria yang berpakaian serba biru.
Karena sampai beberapa lamanya ia menanti, tidak ada gerakan yang mencurigakan, iapun melanjutkan perjalanan.
Baru puluhan langkah ia berjalan, ia berhenti lagi karena te rdengar tiupan suling yang amat merdu.
Suara suling itu meliuk-liuk, turun naik dengan getaran halus.
Bi Lan memejamkan kedua matanya.
Suara suling itu demikian indah, melengking halus dan seperti menarik-narik jantungnya, dan tak terasa lagi dua titik air mata te rgenang di pelupuk matanya.
Tiupan suling itu demikian merdu, demikian indah, akan tetapi juga mengharukan seperti tangis sebuah hati yang merana.
Sepantasnya orang yang meniup suling seperti itu adalah seorang yang sedang dilanda duka, pikirnya.
Akan te tapi, sungguh mengherankan.
Siapa pula yang pandai meniup suling seperti itu di tengah hutan lebat yang sunyi ini?
Bi Lan melihat pula betapa Lan Lan juga memperhatikan suara itu.
"Ibu, suara apakah itu?"
"Itu suara suling, Lan Lan. Suara suling yang ditiup oleh seorang ahli, amat indahnya."
"Seperti ada yang menangis, ibu,"
Kata anak itu.
Betapa tajam dan peka perasaan anakku ini, pikir Bi Lan dengan bangga.
Memang tak salah lagi, peniup suling itu dilanda kesedihan dan tangis dari hatinya keluar melalui tiupan sulingnya.
Maka, iapun mempergunakan kepandaiann dan berlari cepat ke arah suara itu dan melihat si penyuling!
Jantungnya berdebar.
Seorang pemuda yang tampan berpakaian seperti seorang pelajar atau sastrawan, sedang duduk di bawah pohon dan meniup sulingnya.
Yang membuat ia berdebar bukan karena pemuda itu tampan sekali, wajahnya yang dilindungi caping le bar itu memiliki hidung yang besar mancung, dan bibir yang nampak sayu.
Yang membuat Bi Lan te rkejut adalah pakaian sasterawan muda itu.
Serba biru!
Ia te ringat akan orang yang tadi berkelebat di belakangnya.
Bagaimana kini tahu-tahu orang itu te lah berada jauh di depannya dan meniup suling?
Ia tidak melihat orang berlari melewatinya!
Kalau benar peniup suling ini orang yang tadi berkelebat di belakangnya, alangkah cepatnya orang itu dapat berada di situ.
Biarpun hatinya te rtarik, akan tetapi karena ia tidak mengenal orang itu, tidak sepantasnya kalau ia te rlalu lama memperhatikan seorang laki-laki asing, maka iapun berjalan terus meninggalkan te mpat itu sambil memondong Lan Lan yang te rus memandang ke arah si peniup suling yang agaknya juga tidak memperdulikan mereka, melainkan asyik meniup suling sambil menundukkan mukanya.
Sambil berjalan terus meninggalkan pemuda itu sampai suara sulingnya tidak te rdengar lagi, mau tidak mau Bi Lan masih terkenang kepada si peniup suling.
Harus diakuinya bahwa pria muda itu tampan sekali, dan nampaknya seperti seorang sasterawan muda yang le mah.
Akan tetapi, iapun tahu bahwa di dunia kang-ouw te rdapat banyak orang yang nampaknya le mah akan te tapi sesungguhnya memiliki kepandaian tinggi.
-ooo0dw0ooo-
Jilid 9 Mendiang gurunya yang juga suaminya pernah memesan agar dia berhati-hati dan tidak memandang rendah kepada empat macam orang, yaitu pertama wanita yang tampaknya le mah walaupun memiliki ilmu yang tinggi, ke dua kaum pendeta yang juga kelihatan lemah le mbut, ke tiga pengemis yang nampaknya saja lemah dan sengsara, dan ke e mpat sastrawan, karena mereka ini kadang-kadang menyembunyikan ilmu yang tinggi dan merupakan lawan yang amat berbahaya.
Yang amat mengesankan hatinya bukan ke tampanan pria itu, melainkan tiupan sulingnya.
Biarpun kini sudah tidak terdengar lagi suara sulingnya, namun masih terngiang di telinganya suara yang meliuk-liuk merdu dan mengharukan itu.
Lamunan Bi Lan dan kantuk Lan Lan dalam pondongannya terganggu ketika mendadak muncul sepuluh orang yang berloncatan dari balik batang pohon-pohon di kanan kiri jalan setapak itu.
Begitu melihat, Bi Lan mengerti bahwa ia berhadapan denagn gerombolan penjahat!
Sikap mereka saja sudah jelas menunjukkan bahwa mereka bukan orang baik-baik dan te rmasuk gerombolan yang suka memaksakan kehe ndak mengandalkan kekerasan.
Juga mereka semua itu menyeringai menjemukan dengan sepasang mata yang membayangkan kecabulan.
Seorang di antara mereka yang gendut dan segala-galanya bundar, kepalanya, hidungnya, matanya , bentuk mulutnya, perutnya, semua bundar, melangkah maju.
Sebatang golok besar te rgantung di pinggangnya dan sejenak dia mengamati wajah dan tubuh Bi Lan, kemudian te rtawa bergelak dengan girang.
"Ha-ha-ha, inilah orangnya yang pantas menjadi isteriku! Kawan-kawan, bagaimana pendapat kalian? Sudah patutkah perempuan ini kalau duduk bersanding denganku sebagai isteriku?"
Sembilan orang anak buahnya juga tertawa-tawa dan menyengir-nyengir dengan sikap ceriwis sekali.
"Sudah cocok sekali, toako! Akan tetapi hati-hati, ia membawa anak dan di punggungnya ada sepasang pedang!"
"Ha-ha-ha, anak inipun mungil sekali. Kalau anaknya, anak ini menjadi anak isteriku yang manis. Kalau adiknya, kebetulan! Dan tentang sepasang pedangnya, ha-ha-ha, itu hanya untuk menakut-nakuti orang saja. Bukankah begitu, manis?"
Dapat dibayangkan betapa marahn ya Bi Lan melihat sikap dan mendengar ucapan yang amat menghina itu.
Kalau saja ia tidak sedang memondong Lan Lan, te ntu ia sudah mengamuk dan membunuh semua orang itu.
Akan te tapi, ia memondong Lan Lan yang kini sudah te rbangun dari kantuknya.
Ia harus berhati-hati dan melindungi anak itu.
Maka ia menahan sabar, karena kemarahan hanya akan merugikan dirinya, mengurangi kewaspadaannya.
"Kalian adalah sepuluh laki-laki, kenapa begitu rendah menghadang dan mengganggu seorang wanita yang sedang melakukan perjalanan? Minggirlah, aku tidak ingin mencari keributan."
Katanya dengan nada suara yang dibikin setenang mungkin.
"Ha-ha-ha, manis. Siapa yang akan mengganggumu? Aku bahkan meminangmu. Aku ingin melamarmu menjadi isteriku, sayang. Marilah ikut baik-baik denganku dan kita merayakan hari perkawinan kita. Anakmu itu akan menjadi anakku juga,"
Kata si gendut dengan keramahan yang dibuat-buat.
"Aku tidak mau menikah denganmu atau dengan siapapun. Minggirlah!"
Kini dalam suara Bi Lan te rdengar bentakan.
"Nona manis , aku harus menjadi suamimu. Engkau mau atau tidak, harus menjadi isteriku. Nah, tinggal kaupilih saja. Engkau menurut dengan baik-baik atau ingin dipaksa?"
Kini si gendut mengancam.
"Sudah kuduga. Kalian te ntu segerombolan anjing yang suka mempergunakan kekerasan melakukan kejahatan! Majulah kalau engkau minta mati!"
Bentak Bi Lan dan ia menggunakan sabuk suteranya untuk menggendong Lan Lan di punggung se telah melolos sepasang pedangnya dan menggantungnya di pinggang.
Anak itu duduk di atas buntalan pakaian dan diikat dengan sabuk sutera yang biasanya menjadi senjata pula bagi Bi Lan.
Kini, kedua tangan wanita itu bebas, walaupun gerakannya te ntu saja kurang le luasa dengan adanya Lan Lan di punggungnya.
Yang membuatnya kagum, anak itu tidak menangis, tidak kelihatan takut walaupun menghadapi sepuluh orang laki-laki yang kelihatan beringas dan Kejam.
Pantas memang Lan Lan menjadi pute ri suami isteri pendekar besar.
"Ho-ho-ha-ha-ha! Perempuan ini bernyali juga! Aku makin te rgila-gila kepadanya!"
Kata si gendut.
"Aku paling je mu dengan kuda betina yang jinak, aku ingin yang liar seperti ini, ha-ha-ha!"
Dia masih tertawa ketika tubuhnya tiba-tiba menyerbu ke depan.
Sungguh merupakan serangan yang amat curang, menggunakan kesempatan selagi dia masih tertawa sehingga lawan akan menjadi le ngah.
Akan te tapi, Bi Lan sama sekali tidak le ngah.
Tidak percuma menjadi murid dan isteri Si Rajawali Sakti.
Dari suaminya itu ia telah mendapatkan ilmu silat yang tangguh dan kokoh kuat.
Begitu si gendut menubruk dengan kedua le ngan berkembang, seperti seekor beruang menyerang, tubuh Bi Lan sudah mengelak ke kiri dan kaki kanannya melakukan te ndangan ke arah perut gendut itu.
De mikian cepat geraka Bi Lan sehingga tendangan itu tidak mungkin dapat dielakkan atau ditangkis lagi oleh si gendut.
"Bukk...... ! Duuuuuuttt......!"
Perut itu ternyata kebal, akan tetapi karena tendangannya mengandung sin-kang yang kuat, tidak urung isi perutnya te rguncang dan tak te rtahankan lagi si gendut kelepasan membuang gas dengan bunyi kentut yang nyaring.
Mendengar suara kentut itu, Lan Lan berseru.
"I hhhh......kentut bau ...!"
Dan dengan lucunya, bukan pura-pura Lan Lan memijat hidungnya dengan tangan kiri.
Mau tidak mau, kawanan perampok itu tertawa geli, dan baru mereka berhenti tertawa ketika pimpinan mereka yang merasa perutnya agak mulas itu membentak mereka.
"Apa te rtawa! Hayo tangkap perempuan ini.! Awas, jangan lukai, aku tidak ingin pengantinan dengan mempelai yang luka-luka!"
Sembilan orang anak buah itu menerima perintah ini dengan gembira.
Siapa yang tidak ingin menangkap wanita cantik itu?
Biarpun akhirnya diserahkan kepada pimpinan mereka, setidaknya yang menangkapnya mempunyai kesempatan untuk merangkul, memeluk dan setidaknya mencolek tubuh yang montok itu!
Mereka maju dengan cepat seperti sekumpulan anjing memperebutkan tulang, berlomba untuk dapat menangkap Bi Lan.
Akan tetapi, kegembiraan mereka segera berubah menjadi te riakan-te riakan kesakitan ketika Bi Lan membagi-bagi tamparan dan te ndangan dengan cepat sebelum ada tangan yang mampu menyentuhnya.
Para pengeroyok itu berpelantingan te rhuyung dan biarpun tidak ada yang roboh dan te rluka parah, namun sedikitnya mereka menjadi gentar.
Ada yang pipinya bengkak membiru, bibirnya pecah atau perutnya mulas seketika karena usus buntunya te rcium ujung sepatu Bi Lan.
Ada yang te rpincang-pincang karena sambungan lututnya te rkena gajulan yang cukup kuat.
Melihat betapa sembilan orang anak buahnya mundur se mua, si gendut menjadi marah.
Dia lupa bahwa dia sendiri pun tadi te rkena te ndangan sampai terkentut-kentut walaupun perut gendutnya yang kebal membuat dia tidak jatuh dan memaki-maki anak buahnya.
"Kalian ini gentong-gentong kosong melompong yang tiada gunanya!"
Akan te tapi agaknya dia menyadari bahwa wanita itu ternyata bukan makanan empuk, maka dia menambahkan.
"Hayo keroyok, robohkan dengan senjata! Aku tidak perduli berpengantinan dengan mempelai luka!"
Para anak buahnya yang juga marah mencabut senjata mereka.
Ada yang bersenjata golok, ada yang memegang pedang, tombak dan lain-lain.
Dan mereka mengepung Bi Lan.
Bi Lan merasa khawatir.
Kalau ia tidak menggendong Lan Lan, tentu pengerokan orang-orang kasar itu tidak membuat ia gentar.
Kini ia khawatir akan keselamatan Lan Lan.
"Lan Lan, rangkul leher ibu kuat-kuat!"
Te riaknya sambil mencabut sepasang pedang yang te rgantung di pinggang. Anak itu memang tabah bukan main. Melihat "ibunya"
Berkelahi, ia tidak takut s ama sekali dan mendengar perintah ibunya, iapun cepat merangkulkan kedua le ngannya yang kecil ke leher Bi Lan.
Sepuluh orang perampok itu menyerang dan Bi Lan memutar kedua pedangnya.
Ge rakan pedangnya cepat dan juga mengandung tenaga sin-kang yang membuat setiap senjata lawan yang berte mu pedangnya terpental.
Semua perampok te rkejut dan mereka mengepung dan mengeroyok dengan hati-hati, maklum bahwa wanita cantik ini benar-benar amat lihai.
Namun, dengan adanya Lan Lan di gendongannya, te ntu saja Bi Lan menjadi kurang leluasa dan ia lebih mengutamakan perlindungan te rhadap anak itu sehingga daya serangnya berkurang.
Si perut gendut melihat hal ini dan diapun berte riak kepada teman-te mannya.
"Serang anak di gendongan itu!"
Bi Lan te rkejut.
Kini para pengeroyok menujukan serangan mereka ke arah punggungnya!
Tentu saja ia hanya dapat memutar sepasang pedang untuk membentuk benteng sinar yang menjadi perisai dan melindungi punggungnya dari sambaran senjata para pengeroyok!
Karena ia hanya bertahan, tidak berani le ngah untuk balas menyerang, ia segera terdesak!
Pada saat itu, terdengar suara halus namun lantang berwibawa.
"Nona, lemparkan anak itu kepadaku. Biar aku yang sementara menjaganya untukmu!"
Bi Lan melirik dan melihat bahwa yang berteriak itu adalah seorang pemuda tampan berpakaian biru bercaping le bar.
Pemuda peniup suling tadi!
Entah mengapa, ia percaya sepenuhnya kepada pemuda itu, dan memang Lan Lan te rancam bahaya, maka iapun memutar pedang kanannya, menggunakan tangan kiri untuk menurunkan Lan Lan dari gendongan.
"Lan Lan, engkau ikut paman itu dulu!"
Katanya dan sekali ia menggerakkan tangan kiri, anak itu dilemparkan ke arah pemuda peniup suling.
Dan hatinya le ga melihat betapa sigapnya pemuda itu menyambut Lan Lan yang mendarat dengan empuk dalam pondongannya.
"Nah, di sini lebih enak, kan? Kita nonton perte mpuran!"
Kata pemuda itu sambil menurunkan Lan Lan dan berdiri di situ, menggandeng tangan Lan Lan.
Biar pun tadi ia dilempar, Lan Lan tetap tabah dan sama sekali tidak berteriak, apa lagi menangis.
Setelah melihat Lan Lan berada dengan pemuda itu dan ia tidak lagi dibebani tugas melindungi Lan Lan, Bi Lan mengamuk.
Pedangnya menyambar-nyambar dahsyat dan dalam beberapa gebrakan saja, robohlah dua orang pengeroyok dengan pundak dan paha terluka parah.
"Aih, jangan bunuh mereka, nona..!"
Pemuda itu berkata dan tiba-tiba dia memondong tubuh Lan Lan.
Dia sendiri, dengan Lan Lan di pondongan, bergerak ke depan, kedua kakinya menyambar-nyambar dan setiap kali kakinya menyambar, seorang pengeroyok roboh!
Bi Lan merobohkan dua orang lagi, dan selebihnya, yang enam orang, roboh oleh tendangan kaki pemuda itu!
Bi Lan yang marah sekali, menggerakkan sepasang pedangnya hendak mengirim serangan maut membunuh sepuluh orang itu, akan tetapi pemuda itu sekali berkelebat sudah berdiri di depannya.
"Nona, jangan membunuh mereka!"
Bi Lan memandang tajam penuh selidik.
"Hem, kenapa? Bukankah mereka itu orang-orang jahat yang hanya membahayakan kehidupan orang-orang lain? Kalau tidak dibunuh, mereka tentu aka mencelakai orang lain."
Pemuda itu menarik napas panjang lalu menurunkan Lan Lan. Anak itupun menghampiri Bi Lan dan memegang tangan Bi Lan yang masih memegang pedang.
"Nona, kalau setiap orang yang melakukan kejahatan di dunia ini kaubunuh, kiraku tidak akan ada yang tinggal hidup. Adakah manusia yang tidak pernah melakukan kesalahan dalam hidupnya? Adakah manusia yang tidak berdosa?"
Bi Lan mengerutkan alisnya.
"Akan tetapi, tidak semua orang menjadi perampok, pengganggu wanita dan pembunuh!"
"Nona, manusia itu lemah lahir batin. Bukan hanya lahirnya saja, tubuhnya saja yang le mah dan suka diserang penyakit. Juga batinnya lemah dan suka sakit. Semua orang mengalami penyakit batin ini, hanya kadarnya saja yang berbeda, ada yang ringan dan ada yang berat. Orang yang menyeleweng dari kebenaran, yang menjadi penjahat, sebenarnya hanyalah orang yang sedang sakit batinnya. Orang yang sakit harus kita tolong, kita obati, yaitu kalau yang sakit badannya. Kalau yang sakit batinnya, kitapun harus menolong dengan obat berupa nasihat, atau kalau perlu ancaman. Akan te tapi, bukan lalu membunuhnya. Ingat, nona, orang sakit dapat sembuh, dan yang sehat dapat jatuh sakit. Orang yang berbuat jahat dapat sembuh, dan yang sekarang kelihatan baik-baik saja, sekali waktu dapat jatuh dan berbuat jahat. Semua orang pernah sakit, nona. Termasuk aku sendiri. Sakitku amat berat, dan mudah-mudahan s ekarang telah sembuh."
Ucapan itu berkesan di hati Bi Lan. Bahkan gurunya yang juga suaminya pernah mengakui bahwa gurunya itu dahulu juga pernah "s akit"
Parah, yaitu menderita sakit batin karena dendam.!
Ucapan pemuda berpakaian biru itu sungguh berkesan di hati dan tanpa cakap lagi ia lalu menyimpan kembali sepasang pedangnya, memondong Lan Lan dan membungkuk kepada pemuda itu.
"Me ngingat bahwa engkau te lah membantuku, biarlah aku menuruti nasihatmu dan tidak membasmi mereka. Terima kasih atas bantuanmu dan selamat tinggal."
Setelah berkata demikian, Bi Lan pergi meninggalkan tempat itu.
Pemuda itu masih berdiri seperti patung, te rsenyum-senyum seorang diri, dan dia seperti tidak melihat atau tidak perduli ketika sepuluh orang perampok itu tertatih-tatih meninggalkan te mpat itu dengan hati gentar.
Sampai lama pemuda itu berdiri, bahkan lalu menjatuhkan diri duduk di atas batu, te rmenung dan kadang menengok ke arah perginya Bi Lan.
Pemuda itu bukan orang sembarangan.
Dia memiliki ilmu kepandaian yang amat lihai karena dia bukan lain adalah Hong San!
Putera mendiang Cui-beng Sai kong datuk besar dunia hitam itu, seperti kita ketahui, tadinya membantu pemberontakan Pangeran Cian Bu Ong.
Akan tetapi karena semua gerakan bekas pangeran itu gagal, Cian Bu Ong membubarkan para pembantunya dan Can Hong San juga pergi meninggalkan bekas pangeran itu, merantau seorang diri membawa bekal banyak emas yang dite rimanya sebagai hadiah dari Pangeran Cian Bu Ong.
Berbulan lamanya Can Hong San berdiam di puncak bukit merenungi keadaan hidupnya.
Se gala usaha yang dilakukannya gagal belaka!
Hanya kepahitan dan kekalahan yang dideritanya.
Mulailah dia melihat bahwa jalan yang dite mpuhnya selama ini tidak menguntungkan, menuruti nafsu-nafsunya, hanya menyeretnya ke le mbah kegagalan belaka.
Timbul niatnya untuk mengubah jalan hidupnya untuk meninggalkan jalan sesat dan memilih jalan kebenaran.
Mungkin sebagai seorang pendekar, dia akan dapat memanfaatkan kepandaiannya dan mendapatkan nama besar yang harum!
Kalau kita mau membuka mata melihat kenyataan tanpa menilai, akan tampaklah dengan jelas bagaimana lihai, licin dan liciknya hati akal pikiran bekerja, hati akal pikiran yang sudah diperalat oleh nafsu-nafsu daya rendah.
Bagaimanapun pikiran berkiprah, s elalu tujuannya untuk mencari kesenangan dan menjauhi ketidaksenangan.
Keputusan apapun yang diambil oleh pikiran, selalu pasti mempunyai pamrih, yaitu demi kepentingan dan kesenangan diri sendiri.
Can Hong San sejak muda hidup bergelimang dosa, mengambil jalan sesat dan menjadi seorang yang te rbiasa melakukan segala macam bentuk kejahatan.
Semua ini hasil dari ulah hati akal pikiran yang bergelimang nafsu, yang sudah dicengkeram oleh nafsu daya rendah yang selalu mengejar kesenangan sehingga dalam pengejaran itu, Hong San tidak memperdulikan lagi caranya.
Cara apapun akan dite mpuhnya demi te rcapainya kesenangan yang dikejarnya.
Itulah pekerjaan nafsu daya rendah!
Kemudian, pikiran melihat betapa semua perbuatan jahatnya tidak menguntungkan, bahkan merugikan!
Maka, pikiran yang sudah bergelimang nafsu lalu mencari jalan lain.
Untuk menghindarkan akibat yang tidak menguntungkan, untuk dapat mencapai kesenangan melalui jalan dan cara lain, kini pikiran Hong San membujuknya untuk mengambil jalan yang berlawanan menjadi seorang pendekar!
Menjadi orang yang melakukan kebaikan, menentang kejahatan, yang te ntu saja dengan pamrih agar mencapai kesenangan dan keuntungan!
Jelaslah bahwa kebaikan yang disengaja, diatur dan direncanakan, bukanlah kebaikan lagi namanya.
Itu hanya hasil dari pikiran bergelimang nafsu.
Yang dinamakan perbuatan baik hanya dijadikan cara untuk mendapatkan kesenangan belaka.
Kebaikan yang direncanakan pikiran adalah kebaikan palsu, pura-pura.
Kalau ada orang yang "ingin menjadi orang baik", pada hakekatnya dia hanya ingin mendapatkan balas jas a atas kebaikannya itu.
Kebaikan atau kebajikan adalah suatu sifat dari perbuatan yang tidak 1agi terdorong nafsu daya rendah.
Perbuatan yang tidak didorong oleh pemikiran yang matang, melainkan perbuatan yang spontan, seketika karena terdorong kekuasaan yang murni dan suci, karena te rdorong oleh kasih sayang!
Kasih sayang bekerja selama pikiran sebagai si aku tidak muncul merajale la.
Kasih sayang berubah menjadi nafsu menyenangkan diri sendiri begitu si aku masuk dan campur tangan.
Aku ingin senang, aku ingin untung, aku tidak mau susah, aku tidak mau rugi, aku ingin....
aku ingin......aku ingin......demikianlah sifat nafsu dari daya-daya rendah yang mencengkeram dan mempengaruhi hati akal pikiran.
Oleh karena itu, keinginan hati akal pikiran untuk mengubah diri menjadi "orang baik"
Hanya tipuan belaka, bukan menjadi "orang baik"
Melainkan menjadi "orang senang melalui perbuatan baik"
Yang pada hakekatnya hanya membuat kita menjadi munafik!
Hati akal pikiran yang bergelimang nafsu tidak mungkin membersihkan diri sendiri!
Satu-satunya harapan hanyalah menyerah kepada Tuhan Maha Kasih!
Hanya kekuasaan Tuhan sajalah yang akan mampu mengubah seseorang, membersihkan batin seseorang, mengembalikannya ke jalan benar.
Kita hanya dapat mohon ampun, ..
mohon bimbingan, dan menyerah dengan sabar, ikhlas, dan tawakal kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Can Hong San tersenyum gembira.
Wajahnya cerah karena dia merasa memperoleh jalan yang baik.
Setelah mengambil keputusan untuk mengubah cara hidupnya, dia turun gunung dan kebetulan berte mu dengan Kwa Bi Lan yang menggendong seorang anak perempuan yang mungil.
Begitu bertemu, hati Hong San berdebar dan te rtarik sekali.
Bukan te rtarik yang menimbulkan nafsu berahi seperti yang sudah-sudah.
Wanita yang dijumpainya ini lain!
Memang cantik jelita dan menggairahkan, akan te tapi dia te rtarik bukan hanya karena itu.
Bukan gejolak berahi yang timbul di hatinya, melainkan kekaguman yang penuh pesona.
Menurut pandangannya, belum pernah selama hidupnya dia berjumpa dengan wanita yang dapat menarik dan mengguncang perasaan hatinya seperti wanita yang mukanya bulat, berkulit putih mulus, berhidung mancung dan bermata tajam itu.
Diam-diam Hong San mengikuti, bahkan lalu mendahuluinya dan sengaja meniup suling untuk menarik perhatian gadis itu.
Juga untuk menguji bagaimana sikap gadis itu.
Akan te tapi, gadis itu hanya melihat sebentar lalu melanjutkan perjalanan, acuh saja.
Hal ini membuat dia semakin kagum.
Gadis yang alim, pikirnya, bertata susila dan menjaga martabat dan kehormatan.
Dia membayangi lagi dari jauh.
Ketika dia melihat gadis yang menimbulkan rasa kagum luar biasa di hatinya itu dikeroyok sepuluh orang perampok, dia menjadi semakin kagum.
Kiranya gadis itu bukan saja cantik jelita dan memiliki harga diri yang tinggi, akan te tapi juga gagah perkasa dan memiliki ilmu silat yang cukup hebat!
Dia segera turun tangan membantu ketika melihat anak dalam gendongan itu te rancam bahaya, dan ketika dia melihat gadis itu hendak membunuh semua perampok, iapun cepat turun tangan mencegahnya dengan merobohkan para perampok dan membujuk gadis itu agar tidak membunuh mereka.
Semua ini dia lakukan dengan perhitungan, bukan karena dia merasa kasihan kepada sepuluh orang perampok rendah itu, melainkan karena dia ingin menjadi seorang "pendekar"
Dan ingin kelihatan baik budi di mata gadis yang dikaguminya itu.
Mulailah hati akal pikiran dengan cerdik dan liciknya membujuk Hong San menjadi seorang munafik!
Setelah Bi Lan pergi bersama Lan Lan, Hong San te rmenung.
Gadis hebat!
Dia betul-betul baru sekali ini merasa jatuh cinta, bukan jatuh berahi, melainkan jatuh cinta sungguh-sungguh.
Kalau saja dia dapat berdampingan selamanya dengan gadis itu, dapat menjadi suami isteri, membentuk rumah tangga berkeluarga!
Alangkah akan bahagianya.!
"I hh, khayal!"
Hong San mencela diri sendiri dan dia teringat bahwa sudah terlalu lama dia membiarkan gadis pujaan hatinya itu pergi.
Dia harus cepat mengejar kalau tidak mau kehilangan.
Sambil berlari Hong San merasa heran sendiri te rhadap perasaan hatinya.
Dia merasa seperti pernah berte mu dengan gadis itu, atau setidaknya pernah melihatnya!
Akan tetapi dia lupa lagi entah di mana.
Sudah te rlalu banyak dia berte mu gadis atau wanita muda yang cantik, maka dia tidak ingat lagi di mana dia berte mu dengan gadis itu.
Akan tetapi, yang membuat dia merasa pernah bertemu terutama sekali adanya permainan sepasang pedang itu!
Bi Lan melanjutkan perjalanan dengan cepat sambil menggendong Lan Lan yang tertidur.
Hari telah menjelang senja dan ia harus mendapatkan sebuah rumah penginapan, di kota, atau mondok di rumah penduduk dusun.
Juga keributan tadi membuat ia tidak dapat memberi makan kepada Lan Lan, maka sore hari ini mereka harus mencari makanan.
Ia merasa jengkel terhadap diri sendiri mengapa belum juga bayangan pemuda itu le nyap dari depan matanya.
Masih terus te rbayang wajahnya, te rngiang suaranya.
He ran, ia merasa pernah melihat pemuda itu, entah di mana dan kapan.
Bi Lan dan juga Hong San lupa bahwa mereka bukan saja pernah s aling berjumpa bahkan pernah saling serang!
Ketika Hong San berkelahi menghadapi pengeroyokan Lie Koan Tek dan Poa Liu Hwa, muncul Bi Lan yang membantu Lie Koan Tek, pamannya itu.
Memang hanya merupakan perkelahian singkat, karena Hong San tidak mau melayani pengeroyokan mereka bertiga dan segera melarikan diri begitu Bi Lan muncul dan membantu dua orang yang mengeroyoknya.
Matahari telah condong ke barat ketika Bi Lan memasuki kota Peng-lu di pantai selatan Huang-ho.
Kota di pantai Sungai Kuning ini cukup besar dan ramai, dan dengan mudah Bi Lan mendapatkan sebuah kamar di hotel yang cukup bersih.
Ia sudah membelikan pakaian untuk Lan Lan di kota yang dilewatinya beberapa hari yang lalu.
Setelah memandikan Lan Lan dan mengganti pakaian anak itu, dan ia sendiripun sudah mandi dan bertukar pakaian bersih, ia mengajak Lan Lan keluar dari rumah penginapan dan mencari rumah makan.
Kebetulan sekali tak jauh dari rumah penginupan itu te rdapat sebuah rumah makan yang tidak begitu penuh tamu.
Bi Lan memondong Lan Lan memasuki rumah makan itu disambut oleh seorang pelayan tua dengan ramah.
Bi Lan memilih di sudut yang kosong dan memesan makanan, nasi sayur dan minuman te h.
Tak lama kemudian, ia sudah menyuapi Lan Lan yang makan dengan lahapnya karena anak ini memang lapar, sejak pagi tadi belum makan.
Sambil menyuapi Lan Lan, Bi Lan juga makan.
Karena asyik makan sambil menyuapi Lan Lan, Bi Lan tidak tahu bahwa sejak tadi ada beberapa pasang mata memperhatikannya.
Tiga pasang mata mengamatinya secara langsung dari sebuah meja te rbesar di rumah makan itu, mata dari tiga orang yang berpakaian seperti perwira yang gagah dan gemerlapan.
Ada pula sepasang mata mengamatinya dari te mpat gelap di luar rumah makan, yaitu mata dari Can Hong San.
Pemuda ini tidak mau memasuki rumah makan karena dia tidak ingin dianggap membayangi gadis itu.
Baginya asal dapat melihat dan tahu di mana gadis itu berada sudah cukup.
Akan te tapi, Hong San juga tahu bahwa tiga orang berpakaian perwira tinggi itu mengamati si gadis dengan sinar mata seperti singa kelaparan.
Diapun memperhatikan mereka.
Seorang di antara mereka berusia kurang le bih limapuluh tahun, pakaian perwiranya dihias benang emas gemerlapan dan sarung pedang yang te rgantung di pinggangnya amat indah, seperti emas pula dan terukir, dengan gagang yang diukir kepala burung dan ada ronce-ronce benang sutera merah.
Dua orang lainnya berusia kurang le bih empatpuluh tahun, dan agaknya merupakan perwira-perwira yang pangkatnya le bih rendah.
Sikap merekapun merendah te rhadap perwira tinggi yang lebih tua.
Hong San memperhatikan perwira tinggi yang berusia limapuluh tahun itu.
Dari sikap dan pandang matanya saja diapun dapat menduga bahwa perwira itu seorang yang cerdik dan agaknya memiliki ilmu kepandaian tinggi, sedangkan dua orang pembantunya juga orang-orang yang berpakaian rapi dan bersikap gagah.
Perwira tinggi itu bertubuh tinggi, agak kurus dengan tulang pipi menonjol di bawah kanan kiri mata, hidungnya tinggi dan mulutnya yang le bar dengan bibir te bal membayangkan gairah yang besar.
Mulut itu sebagian tertutup kumis te bal yang berjuntai ke bawah di kanan kiri mulutnya.
Jenggotnya terpelihara rapi, digunting pendek.
Kepalanya memakai topi perwira yang dihias sulaman benang emas pula.
Tiga orang perwira itu sudah berada di dalam rumah makan ketika Bi Lan dan Lan Lan masuk ke situ, dan begitu wanita muda itu masuk, mereka sudah memandang dengan penuh perhatian.
Karena pimpinan mereka nampak te rtarik sekali, maka dua orang perwira pembantu itupun te rtarik dan mereka membicarakan Bi Lan sambil berbisik-bisik.
Mereka adalah tiga orang perwira yang datang dari Lok-yang Mereka merupakan perwira-perwira tinggi yang bertugas melakukan ins peksi ke daerah-daerah, dan ketika tiba di kota Peng-lu, mereka kemalaman, bermalam di rumah kepala daerah dan malamnya mereka keluar untuk jalan jalan dan membeli makanan.
Andaikata mereka memasuki rumah makan itu bersama kepala daerah, te ntu para karyawan rumah makan itu akan menyambut mereka dengan cara lain.
Akan tetapi, biarpun pangkat mereka lebih tinggi dari pada kepala daerah Peng-lu, akan tetapi tidak ada yang mengenal mereka, maka mereka dianggap seperti tamu saja dan hanya diberi meja besar di rumah makan itu karena penampilan mereka yang mewah dan berwibawa.
Perwira tinggi itu adalah seorang panglima bernama Su Ki Seng, terkenal dengan sebutan Su-ciangkun (perwira Su) dan dia memang terkenal sebagai seorang panglima yang pandai dan juga lihai.
Seluruh kepala daerah di wilayah Propinsi He -nan takut belaka kepadanya.
Panglima ini pandai menemukan kesalahan-kesalahan para kepala daerah dan karena dia berkuasa dan berpengaruh di kota raja, maka para kepala daerah tunduk kepadanya.
Baca Juga: Pendekar Buta 2
Baca Juga: Pedang Kayu Harum 1