Ceritasilat Novel Online

Naga Beracun 4

Eps 4 Naga Beracun - Kho Ping Hoo

Baca online Naga Beracun - Kho Ping Hoo

Cersil Naga Beracun - Kho Ping Hoo.

Mereka selalu menyambut kunjungannya dengan berbagai hadiah untuk menyenangkan hati panglima itu sehingga dia tidak akan mengganggu mereka dan menutup mata saja kalau terdapat kejanggalan atau kesalahan.

Keadaan seperti itu membuat Su-ciangkun menjadi kaya raya.

dan dia hidup sebagai bangsawan yang kaya raya di Lok-yang, dengan rumah gedung besar dan indah megah seperti istana, mempunyai seorang isteri dan belas an orang selir dan dayang.

Namun, seperti kebiasaan para pejabat yang suka melakukan tugas keliling ke luar kota dan luar daerah pada masa itu, Su-ciangkun yang biasanya hanya dikawal beberapa orang pembantunya dan tidak membawa keluarganya, dia selalu seperti seekor kucing kelaparan.

Harta benda dia sudah punya le bih dari cukup, dan semua hadiah dan sumbangan yang dite rimanya dari para pejabat daerah, akan diurus oleh para pembantunya.

Akan te tapi yang membuat dia kehausan adalah wanita!

Su-ciangkun seorang pria yang mata keranjang dan tidak pernah puas dengan isteri dan belasan orang selirnya.

Kalau dia sedang melakukan perjalanan ke luar kota Lok-yang, dia s elalu mencari sasaran dan korban untuk memuaskan hasrat dan gairahnya.

Wataknya inipun diketahui ole h para kepala daerah dan setiap kali dia datang, tentu para kepala daerah yang ingin menyenangkan hatinya, menyediakan wanita hiburan untuknya!

Akan te tapi, sekali ini Su-ciangkun merasa bosan dengan wanita hiburan.

Dia mengajak dua orang pembantunya yang juga merupakan pengawal dan pesuruhnya, untuk keluar dari rumah kepala daerah, makan di restoran dan tentu saja mencari kesempatan kalau kalau dapat berte mu dengan wanita yang menarik hatinya.

Dan kebetulan sekali, ketika mereka makan di rumah makan, Bi Lan masuk dan segera perwira ynng mata keranjang itu te rbetot semangatnya!

Matanya yang berminyak tak pernah melepaskan Bi Lan, diamatinya wanita itu, wajahnya dan seluruh tubuhnya.

Makin diamati, makin te rgila-gila.

Bahkan ketika Bi Lan makanpun, nampak begitu menggairahkan bagi Su-ciangkun.

"Apakah tai-ciangkun suka padanya?"

Bisik seorang pembantunya yang bermuka hitam dan dikenal dengan sebutan Lu-ciangkun.

"Agaknya dia wanita baik-baik, harus dilakukan pendekatan dengan halus,"

Kata pula Ji-ciangkun, pembantu lain yang matanya sipit. Su-ciangkun mengangguk-angguk dan meraba je nggotnya.

"Hebat, ia sungguh menarik. Aku akan berbahagia sekali kalau malam ini dapat membawanya ke kamarku."

"Apa sukarnya?"

Kata pembantu yang mukanya hitam.

"Beritahu saja kepala daerah, tentu dia akan dapat memaksa wanita ini menemani tai-ciangkun."

"Hussh, aku tidak mau ramai-ramai,"

Cela Su-ciangkun.

"Me malukan kalau sampai te rdengar umum kita membuat keributan di sini."

"Me mang sebaiknya kita membuat pendekatan. Kita undang ia ke sini atau kita yang mendatangi mejanya untuk belajar kenal. Kalau kita sudah mengetahui keadaannya, baru dilakukan penjajagan apakah kiranya ia dapat dibawa dengan cara halus tanpa paksaan,"

Kata Ji-clangkun si mata sipit. Su-ciangkun mengangguk setuju dengan cara itu.

"Sebaiknya engkau yang pergi mendekatinya dan bicara dengannya secara halus,"

Kata Su-ciangkun kepada pembantunya yang bermata sipit itu.

Pembantunya ini memang pandai bicara, tidak main kasar seperti rekannya yang bermuka hitam.

Ji-ciangkun mengangguk, lalu bangkit dan menghampiri meja Bi Lan yang kebetulan sudah selesai makan.

Me lihat ada orang menghampirinya, Bi Lan mengangkat muka memandang dan alisnya berkerut ketika melibat bahwa yang menghampirinya adalah seorang yang berpakaian perwira.

Akan tetapi, perwira yang bermata sipit itu bersikap hormat, mengangkat kedua tangan ke depan dada dan berkata dengan sikap yang sopan.

"Maafkan saya kalau mengganggu, nona. Bolehkah saya bicara sebentar?"

Bi Lan adalah seorang gadis kangouw yang tidak pemalu seperti gadis pingitan.

Ia sudah berpengalaman dan tabah, maka biarpun ada laki-laki yang tidak dikenalnya mendekat dan mengajak bicara, ia sama sekali tidak merasa sungkan atau kehilangan akal.

Ia mengangguk.

"Silakan, apa yang akan dibicarakan?"

Tanyanya.

Ji-ciangkun merasa mendapat hati.

Iapun melihat sepasang pedang yang berada di atas meja, dan dia menduga bahwa dia berhadapan dengan wanita kangouw.

Hal ini akan le bih memudahkan, jauh lebih mudah daripada kalau berhadapan dengan wanita yang pemalu.

Maka, dia lalu duduk di depan Bi Lan, terhalang meja.

"Perkenalkan, nona. Nama saya Ji Kun. Saya pembantu dari panglima yang duduk di sana itu. Beliau adalah Su-tai-ciangkun yang berkedudukan tinggi di kota raja, kaya raya dan bangsawan besar. Yang bermuka hitam itu adalah rekan saya, Lu-ciangkun. Kami bertiga bertugas ke luar kota raja dan sekarang menjadi tamu-tamu kehormatan dari kepala daerah di Peng-lu ini."

Kerut di antara kedua alis Bi Lan semakin dalam. Biarpun suaranya halus, namun mengandung te guran.

"Ji-ciangkun, apa artinya semua ini? Mengapa ciang-kun menceritakan semua itu kepadaku? Semua itu tidak ada hubungannya sedikitpun dengan aku. Katakan, apa maksud ciangkun menghampiriku dan bicara denganku? Apa yang perlu dibicarakan?"

Sikap te gas ini, walaupun dikeluarkan dengan suara le mbut, membuat Ji-ciangkun agak gugup juga.

Tadinya dia mengira bahwa wanita yang dihadapi nya akan bersikap dua macam, pertama, menerimanya dengan malu-malu kucing dan kedua dengan keras menolak.

Akan tetapi wanita ini demikian tenang dan tegas, sama sekali tidak merasa rendah diri walaupun berhadapan dengan seorang perwira tinggi!

"Maaf, nona.

Bolehkah kami mengetahui nama nona yang terhormat?"

Pertanyaan itu tidak pada te mpatnya.

Seorang laki-laki asing menanyakan nama gadis yang baru dijumpainya dan yang tidak dikenalnya.

Akan tetapi karena pertanyaan itu diajukan dengan kata-kata yang sopan, dan karena Bi Lan tidak begitu te rikat oleh sopan santun palsu, maka hal ini tidak menyinggung hatinya dan dengan tenang iapun memperkenalkan diri, apalagi mengingat bahwa orang itu te lah memperkenalkan diri, bahkan juga nama dua orang te mannya.

"Namaku Kwa Bi Lan. Kenapa ciangkun ingin tahu namaku?"

Ji-ciangkun te rsenyum le bar.

"Nona Kwa, bukankah sudah jamak kalau orang-orang yang saling berkenalan saling bertanya nama? Terus te rang saja, nona, aku diutus oleh atasanku, yaitu Su ciangkun yang duduk di sana itu bahwa beliau amat kagum kepadamu. Beliau ingin sekali berkenalan dan kalau nona tidak berkeberatan, nona dipersilakan datang dan duduk semeja dengan beliau, atau beliau yang akan datang ke sini.'' Bi Lan sudah merasa betapa dadanya mekar dan panas. Dengan cara yang sopan bagaimanapun juga, jelas bahwa undangan itu bermaksud mes um. Mukanya mulai merah dan alisnya berkerut. Melihat gelagat ini, Ji-ciangkun yang cukup berpengalaman segera melanjutkan kata-katanya.

"Harap nona jangan salah mengerti. Atasan kami itu, Su-ciangkun, selain menjadi panglima tinggi yang berkedudukan tinggi dan berkuasa besar, juga merupakan seorang jagoan istana, seorang ahli silat yang suka sekali berkenalan dengan orang-orang kang-ou w yang berilmu tinggi. Maka, melihat nona tadi masuk sambil membawa siang-kiam (s epasang pedang), beliau sudah te rtarik sekali dan ingin berbincang-bincang dengan nona mengenai dunia kangouw dan ilmu silat, terutama ilmu pedang karena beliau juga ahli silat pedang."

Memang cerdik sekali Ji-ciangkun itu.

De ngan ucapan seperti itu, tentu saja tidak ada alas an berniat kurang ajar, melainkan seorang ahli silat yang te rtarik kepadanya karena ia membawa pedang, bukan laki-laki kurang ajar te rtarik kepada kecantikan wanita dan berniat mesum!

"Ah, begitukah?

Su-ciangkun te rlalu merendahkan diri.

Aku hanya orang yang pernah belajar sedikit ilmu pedang, tidak ada apa-apa yang patut dibicarakan."

"Tapi, Kwa-lihiap (pendekar wanita Kwa). Kuharap li-hiap tidak menolak undangan Su-tai-ciangkun, karena menolak berarti memandang rendah kepada beliau. Kalau lihiap merasa sungkan, biarlah kami yang datang ke meja li-hiap. Berse diakah lihiap menerima kunjungan Su-tai-ciangkun ke sini?"

Bi Lan te rsudut dan tidak mampu menolak lagi. Pula, timbul keinginan hatinya untuk mengetahui, apa yang akan dikatakan seorang panglima besar kepadanya! Ia mengangguk dan berkata lirih.

"Silakan!"

Dan iapun duduk memangku Lan Lan yang bermain-main dengan sepasang sumpit bersih. Ji-ciangkun menghampiri atasannya dengan wajah berse ri, lalu berbisik lirih.

"Kwa-lihiap sudah setuju untuk menerima paduka di mejanya. Silakan, tai ciangkun!"

Su-ciangkun girang bukan main.

Dia menggunakan tangan kirinya untuk mengusap bibir, kumis dan je nggot agar nampak bersih, lalu menggosok-gosok kedua tangan.

Dari ucapan pembantunya tadi saja dia tahu bahwa gadis yang amat menarik hatinya itu adalah seorang wanita kangouw, maka disebut lihiap oleh Ji-ciangkun.!

Dia bangkit dan menghampiri meja Bi Lan di sudut, diikuti oleh kedua orang pembantunya.

Su-ciangkun yang sudah berpengalaman itu mengangkat kedua tangan di dada sebagai penghormatan.

"Kwa-lihiap maafkan kalau kami mengganggu."

"Su-ciangkun, silakan duduk dan jangan menyebut lihiap kepadaku karena aku belum tepat untuk dis ebut pendekar."

"Aih, lihiap merendahkan diri. Dari gerak-gerik lihiap saja aku sudah dapat menduga bahwa lihiap te ntu lihai sekali memainkan siang-kiam ini."

Dia duduk dan menunjuk ke arah sepasang pedang di atas meja.

"Siang-kiam ini hanya untuk penjagaan kalau-kalau di te ngah perjalanan aku berte mu dengan srigala atau harimau yang ganas, ciangkun."

"Kalau bole h aku mengetahui, lihiap dari perguruan manakah? Dan siapakah gurumu?"

Su-ciangkun pura-pura bicara te ntang ilmu silat, padahal di dalam hatinya dia tentu saja memandang rendah kepandaian seorang muda seperti Bi Lan yang usianya baru duapuluh tahun le bih itu, dan dia mendapatkan kesempatan untuk mengagumi kecantikan dan kemontokan tubuh wanita itu tanpa mendatangkan kesan kurang ajar.

Sebetulnya, Bi Lan tidak suka bicara te ntang dirinya, dan dia tidak suka pula berbincang-bincang dengan perwira yang tidak dikenalnya ini.

Akan te tapi karena tiga orang itu bersikap sopan, apalagi mereka bicara sebagai orang-orang dari dunia persilatan, ia merasa tidak enak juga kalau tidak menanggapi.

Terle bih lagi, ia tidak suka menyebut nama mendiang gurunya yang juga suaminya, maka dengan sederhana dan sambil lalu iapun menjawab.

"Aku pernah mempelajari sedikit ilmu silat dari seorang murid Siauw lim-pai......"

"Ah, kiranya seorang murid Siauw-lim pai yang gagah!"

Su-ciangkun berseru, pura-pura kaget dan diapun bangkit berdiri.

"Maafkan kalau kami bersikap kurang hormat, Kwa-lihiap.!"

Bi Lan juga bergegas membalas penghormatan itu.

"Su-ciangkun terlalu memuji. Aku hanya murid tingkat rendahan saja, mana bisa disamakan dengan ahli-ahli silat yang lihai dari Siauw-lim pai?"

"Harap Kwa-lihiap tidak terlalu merendah, dan tidak pula terlalu pelit untuk memberi petunjuk te ntang ilmu pedang kepadaku. Kupersilakan lihiap untuk singgah di te mpat kediaman kami dan memberi petunjuk ilmu pedang, dan untuk itu sebelumnya aku menghaturkan banyak te rima kasih."

Bi Lan te rkejut. Orang ini te rlalu jauh melangkah, pikirnya.

"Tapi aku... aku dan......anakku ini ingin beristirahat, besok pagi akan melanjutkan perjalanan......"

"Kami jemput dan antar dengan kereta, lihiap. Jangan khawatir, karena beliau ini tamu kehormatan dari kepala daerah,"

Kata Ji-ciangkun membujuk.

"Kwa-lihiap tentu tidak akan te ga menolak ajakan Su-tai-ciangkun, mengingat bahwa kita sama-sama dari dunia persilatan yang selalu menghargai orang lain yang ingin menguji ilmu silat."

Lu-ciangkun ikut pula membujuk. Bi Lan.menjadi serba salah. Melihat keraguan wanita itu, Su-ciangkun lalu membujuk lagi.

"Nona........eh, nyonya tidak perlu ragu-ragu. Kami mengundang lihiap dengan hormat, pula, lihiap berkunjung ke te mpat kami bersama puteri lihiap yang mungil ini. Bagi kita orang-orang kangouw, hal ini sudah wajar, bukan?"

Ji-ciangkun sudah berlari keluar mempersiapkan kereta dan akhirnya Bi Lan tidak dapat menolak lagi.

Bagaimanapun juga, perwira itu mengundang dengan sikap hormat, dan iapun tidak takut.

Mereka ini bukan perampok, bukan penjahat, melainkan orang-orang berpangkat, orang-orang bangsawan yang te rhormat.

Tidak mungkin mereka akan melakukan hal-hal yang tidak patut.

"Baiklah, akan tetapi sebentar saja, hanya untuk menguji ilmu pedang sebentar, karena aku harus segera kenbali ke kamar hotel untuk menidurkan anakku,"

Katanya dan iapun memondong Lan Lan, membawa pedang dan mengikuti Su-ciangkun dan dua orang pembantunya keluar dari rumah makan, naik ke kereta yang sudah disiapkan di depan, lalu pergi ke rumah kepala daerah.

Makin le ga rasa hati Bi Lan ketika melihat betapa di rumah kepala daerah kota Peng-lu, Su-ciangkun dan dua oran g pembantunya benar-benar disambut dengan segala kehormatan.

Dan sebagai tamu agung, agaknya Su-ciangkun tidak begitu mengindahkan kepala daerah yang menyambutnya dengan tubuh membungkuk-bungkuk!

Bahkan Su-ciangkun menyatakan bahwa dia tidak ingin diganggu karena dia hendak menjamu tamunya, yaitu Kwa lihiap!

Langsung saja Su-ciangkun bersama dua orang pembantunya memasuki bangunan sebelah kanan yang memang dikosongkan dan disediakan untuk tamu-tamu agung itu.

Ketika Su-ciangkun memerintahkan pelayan untuk mengeluarkan hidangan, Bi Lan mengerutkan alisnya dan menolak halus.

"Ciangkun sendiri melihat bahwa aku dan anakku baru saja makan di rumah makan itu, bagaimana mungkin kami dapat menerima hidangan makanan lagi?"

"Bukan hidangan makanan berat, lihiap, hanya makanan ringan dan terutama sekali anggur yang sedap dan le zat. Kepala daerah kota ini menyimpan anggur yang sudah tua dan enak sekali,"

Kata Su-ciangkun dan Bi Lan tidak membantah lagi.

Ia tidak begitu suka minum arak, akan te tapi kalau anggur itu tidak terlalu keras, boleh juga ia minum beberapa cawan.

Ji-ciangkun dan Lu ciangkun menyuruh pelayan menyingkirkan meja kursi di ruangan belakang yang luas itu, karena te mpat itu akan dijadikan te mpat mengadu ilmu pedang.

Ketika anggur dikeluarkan, benar saja anggur itu manis dan tidak te rlalu keras, namun halus dan tidak mencekik le her.

Bi Lan membatasi diri, hanya minum dua cawan.

"Sudah cukup, ciangkun. Sebaiknya mari kita cepat menguji ilmu pedang karena sungguh aku tidak dapat berlama-lama di sini. Anakku sudah kelihatan mengantuk."

Bi Lan memandang Lan Lan yang ia dudukkan di bangku panjang. Anak itu bermain-main dengan sebuah boneka pute ri yang dipakai sebagai hiasan di ruangan itu. Su-ciangkun te rtawa.

"Ha-ha, lihiap tergesa-gesa saja. Dan sungguh mati, lihiap, tadinya kami tidak mengira sama sekali bahwa anak yang manis ini adalah pute ri lihiap. Agaknya.....maaf lihiap belum cocok untuk menjadi seorang ibu. Sekali lagi maaf......"

Ucapan itu agak melanggar susila, akan tetapi karena berkali-kali perwira itu minta maaf, maka Bi Lan te rsenyum.

"Tidak apa, ciangkun. Mari kita mulai. Lan Lan, kau duduk dulu di sini, ya ? Ibu ingin latihan sebentar."

Lan Lan yang sudah mengantuk itu mengangkat muka memandang ibunya, lalu bertanya.

"Ibu akan berlatih pedang?"

Lan Lan sudah biasa melihat orang bersilat, dan ia paling senang kalau ayah atau ibunya berlatih silat pedang.

"Ha-ha-ha, ibunya pendekar wanita, anaknya yang masih sekecil ini sudah mengerti ilmu pedang. Tentu kepandaian lihiap hebat sekali!"

Su-ciangkun memuji, walaupun dalam hatinya tetap memandang rendah.

Semua ini dia lakukan hanya untuk beramah-tamah dan basa-basi saja, karena pada dasarnya, yang dia inginkan adalah tidur dengan wanita muda itu!

Bi Lan yang tidak ingin berlama-lama di te mpat itu, sudah meloncat ke tengah ruangan yang te lah dibersihkan itu, menjura ke arah tuan rumah dan berkata.

"Marilah, ciangkun, kita berlatih sebentar seperti yang ciangkun kehe ndaki agar aku tidak kemalaman membawa anakku ke rumah penginapan."

"Me ngapa lihiap tergesa-gesa? Bermalam di sinipun ada te mpatnya, bahkan lebih bersih dan nyaman dibandingkan rumah penginapan. Akan tetapi baiklah, aku ingin sekali mendapat petunjuk ilmu pedang darimu."

Setelah berkata demikian, sekali menggerakkan tubuh, Su-ciangkun te lah meloncat dan berada di depan wanita itu.

Ge rakannya cukup lincah, tanda bahwa dia memiliki ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang cukup baik.

Tanpa basa-basi lagi, Bi Lan mencabut s epasang pedangnya dan melihat cara wanita itu mencabut pedang saja tahulah Su-ciangkun bahwa wanita itu menggunakan pedang bukan sekedar untuk pamer.

Memang cara mencabut pedang itu saja sudah menunjukkan keahlian.

Maka diapun mencabut pedangnya yang berkilauan karena pedang itu adalah pemberian kaisar, merupakan sebatang pedang yang te rbuat dari baja yang baik sekali.

"Silakan, ciangkun."

"Aku adalah tuan rumah dan engkau tamuku, lihiap. Silakan lihiap menyerang lebih dulu."

"Maafkan aku, ciangkun. Lihat pedang.!"

Bi Lan membuka serangan dengan pedang kirinya yang meluncur ke depan menusuk dada, disusul pedang kanan menyambar dari atas membacok kepala dengan jurus Angin bertiup kilat menyambar yang gerakannya cepat dan mengandung te naga le mbut namun kuat.

"Bagus!"

Su Ki Seng yang mahir ilmu pedang campuran Butong-pai dan Kunlun pai, cepat mengelak dengan loncatan mundur sambil menangkis yang membacok dari atas.

Terdengar suara nyaring dan perwira itu terkejut.

Ketika pedangnya berte mu dengan pedang kanan wanita itu, dia merasa betapa lengannya tergetar!

Kekagetannya disusul kekaguman ketika Bi Lan memainkan sepasang pedangnya, wanita itu bukan saja memiliki sinkang yang kuat, akan tetapi juga ilmu pedangnya amat hebat!

Kalau tadinya Su-ciangkun kagum akan kecantikannya dan merindukan wanita ini karena berahi, kini terjadi perubahan besar dalam hatinya.

Dia adalah seorang bangsawan yang selalu bisa mendapatkan apa saja yang dia inginkan.

Kini, melihat bahwa wanita yang cantik ini memiliki ilmu silat yang amat lihai, diapun membayangkan betapa akan senangnya kalau wanita seperti ini dapat menjadi pengawal pribadinya!

Bukan lagi ingin memanfaatkan kecantikannya, melainkan kepandaiannya.

Kalau yang pertama untuk memuaskan gairah berahinya, yang terakhir ini untuk menjamin keamanan pribadinya.

"Trang-trang-singg........!"

Bunga api berpijar-pijar ketika Su-ciangkun memutar pedangnya menangkis sepasang pedang yang mendesaknya bagaikan dua ekor kumbang yang melayang-layang dan siap untuk menyengatnya itu.

"Bukan main! Ilmu pedang yang hebat.....!"

Dia berseru dan seruan ini merupakan is yarat kepada dua orang pembantunya.

Mereka memang sudah siap dan sejak tadi, mereka menonton pertandingan itu sambil mendekati Lan Lan.

Bi Lan ingin cepat menyudahi pertandingan itu, maka sengaja ia mengeluarkan seluruh kepandaian dan mengerahkan semua tenaga untuk mengalahkan perwira itu agar ia dapat segera pergi bersama Lan Lan meninggalkan te mpat itu.

Akan tetapi, Su-ciangkun te rnyata bukan orang le mah dan dapat menjaga diri dengan baik sehingga setelah lewat limapuluh jurus, ia hanya mampu mendesak dan tidak memberi kesempatan kepada lawan untuk membalas .

Tiba-tiba Su-ciangkun meloncat jauh ke belakang sambil berseru.

"Kwa-lihiap, tahan dulu!"

Bi Lan menghentikan gerakan pedangnya, berdiri te gak dan memandang kepada perwira itu sambil te rsenyum. Tentu perwira itu mengaku kalah dan ia akan segera pergi dari situ.

"Kwa-lihiap, ilmu pedangmu sungguh hebat. Aku kagum sekali dan te rimalah hormatku!"

Kata perwira itu dengan suara sungguh-sungguh, bahkan dia lalu mengangkat kedua tangan ke depan dada memberi hormat.

"Ah, Su-ciangkun te rlalu merendah. Ilmu pedangmu juga hebat dan te rima kasih bahwa engkau telah mengalah,"

Kata Bi Lan, menggunakan sikap dan bicara yang merendah dari para ahli persilatan yang saling menguji ilmu.

"Sekarang terpaksa aku berpamit, akan kembali ke kamar hotel bersama anakku, karena ia harus segera mengaso dan tidur."

"Kwa-lihiap, sekarang aku ingin berterus terang kepadamu. Kuharap engkau dan pute rimu suka bermalam saja di rumah kepala daerah ini, dan aku akan mengutus orang untuk mengambil barang-barangmu dari kamar hotel. Besok akan kuantar engkau ke kotaraja."

Bi Lan te rbelalak, lalu alisnya berkerut.

"Ciangkun, apa artinya ini? Apa maksudmu?"

"Kami membutuhkan seorang yang memiliki kepandaian sepertimu, lihiap. Percayalah, kalau engkau ikut dengan aku, engkau akan memperoleh kedudukan dan kemuliaan. Untuk langkah pertama, engkau menjadi pengawal pribadiku di gedungku, kemudian lambat laun aku akan memperkenalkan engkau kepada Pangeran Mahkota yang membutuhkan orang-orang pandai......."

"Tidak, aku tidak mau! Aku akan pergi dengan Lan Lan sekarang juga!"

Kata Bi Lan dan ia menengok ke arah Lan Lan., Wajahnya berubah dan ia marah sekali.

Dua orang perwira pembantu tadi telah berdiri di kanan kiri Lan Lan dengan pedang di tangan dan sikap mereka mengancam!

"Kwa-lihiap, ini merupakan perintah seorang petugas negara!"

Kata Ji-ciangkun membujuk.

"Lihiap boleh memberitahu di mana suami lihiap, dan kami akan mengundangnya pula. Keluargamu akan memperoleh kedudukan yang baik di istana."

Wajah Bi Lan menjadi merah mendengar suaminya disebut-sebut.

"Tidak, aku tidak ingin bekerja di kota raja!"

"Engkau tidak ada pilihan lain, lihiap. Ini perintah petugas negara!"

Kata Su-ciangkun dan pada saat itu, muncullah puluhan orang perajurit mengepung te mpat itu dengan senjata lengkap.

Kiranya dua orang pembantu Su-ciangkun tadi diam-diam te lah mengatur dan minta bantuan pasukan keamanan dari kepala daerah.

Bi Lan menjadi marah bukan main.

"Hemm, kalian menggunakan cara gerombolan penjahat saja! Kalau aku tidak mau, kalian mau apa?"

Su-ciangkun te rsenyum.

"I ni siasat pasukan, bukan sias at gerombolan, lihiap. Kalau engkau tetap menolak, terpaksa kami tangkap engkau dan pute rimu dan memaksamu menghadap yang berwenang di kota raja."

Pada saat itu, terdengar suara suling melengking.

Semua orang te rkejut, dan Bi Lan mengangkat muda dengan girang karena ia tahu bahwa kembali si peniup suling datang membantunya.

Ia sedang te rsudut dan tidak berdaya, sungguh amat membutuhkan bantuan.

"Minta seseorang bekerja tidak boleh menggunakan paksaan!"

Terdengar suara orang setelah lengking suling itu berhenti dan muncullah Can Hong San.

Begitu bayangannya berkelebat, tahu-tahu dia telah melayang ke arah Lan Lan dan dua orang perwira Lu dan Ji yang memegang pedang, siap menyambutnya dengan serangan.

Akan te tapi, demikian cepatnya gerakan suling di tangan Hong San sehingga tahu-tahu dua orang itu-pun roboh terkulai, te rtotok sulingnya dan di lain saat, Hong San telah memondong Lan Lan!

"Nona, mari kita pergi saja dari sini!"

Katanya.

"Akan tetapi ingat, jangan membunuh orang!"

Bi Lan te rsenyum.

Bukan main le ga rasa hatinya.

Ia sendiri tidak takut menghadapi pengepungan dan pengeroyokan itu, akan tetapi ia tadi sungguh tidak berdaya melihat Lan Lan ditodong dua orang perwira pembantu.

Ia tahu bahwa tidak mungkin dalam keadaan dikepung itu ia akan mampu membebaskan Lan Lan.

Dan te rnyata pemuda itu telah menyelamatkan Lan Lan, karena selain gerakannya amat cepat, juga orang tidak menduga bahwa pemuda itu datang-datang merampas Lan Lan dari todongan dua orang perwira.

Ia te rsenyum karena pemuda itu masih sempat mengingatkannya agar tidak membunuh orang.

Ketika melihat pemuda itu sudah membuka jalan dengan tendangan kakinya dan gerakan sulingnya, iapun segera meloncat ke dekat pemuda itu dan membantunya membuka jalan keluar dari gedung itu.

Hong San yang memondong Lan Lan sambil memainkan sulingnya, diam-diam merasa kagum sekali kepada Bi Lan.

Juga kagum kepada pute rinya, yaitu anak perempuan mungil yang berada di pondongannya itu, yang disangkanya te ntulah anak wanita cantik perkasa itu.

Betapa dia tidak akan kagum melihat Lan Lan yang baru berusia dua tahun lebih itu, sama sekali tidak nampak ketakutan.

Juga tidak menangis walaupun berada dalam pondongan orang yang tidak dikenalnya dan pemondongnya itu dikeroyok banyak orang!

Dan diapun kagum melihat ibu anak itu benar-benar tidak membunuh orang, hanya menggunakan pedangnya untuk membuat para pengeroyok melepaskan senjata, dan menendang atau menampar dengan tangan kiri, merobohkan para pengeroyok yang menghalang di depan akan tetapi sama sekali tidak membunuh orang, seperti yang dipes ankan tadi.

Karena ilmu kepandaian mereka memang tinggi, maka tidak sukar bagi mereka berdua untuk lolos dari kepungan, melarikan diri keluar dari rumah gedung kepala daerah.

Mereka tanpa banyak cakap lagi lari ke te mpat penginapan dan setelah Bi Lan mengambil buntalan pakaiannya dan membayar sewa kamar, ia dan Hong San segera keluar kota Peng-lu atas ajakan Hong San.

"Setelah peristiwa tadi, sungguh tidak aman bagi kita untuk tinggal di dalam kota ini,"

Demikian pemuda itu berkata.

"Me reka adalah perwira-perwira dari kota raja, dan menjadi tamu kepala daerah. Mereka tidak akan mau sudah begitu saja dan pasukan te ntu akan mencari kita di seluruh kota."

"Malam hampir tiba, lalu kami harus bermalam di mana? Lan Lan juga sudah mulai mengantuk,"

Kata Bi Lan yang menggendong buntalan pakaian di punggung dan memondong Lan Lan yang sudah melenggut karena kelelahan dan mengantuk.

"Di luar kota Peng-lu ini terdapat sebuah dusun dan aku pernah bermalam di rumah seorang petani miskin yang baik hati. Malam ini kita bermalam di sana dan besok pagi-pagi kita melanjutkan perjalanan menjauhi kota Peng-lu. Aku akan mencarikan kereta dan kuda untukmu, nona."

Mereka sudah berada di luar kota dan berjalan perlahan-lahan karena malam mulai tiba dan cuaca menjadi gelap hanya dite rangi bintang-bintang yang bertaburan di angkasa.

Tiba-tiba Bi Lan berhenti melangkah.

"Kenapa, nona?"

Hong San bertanya, juga berhenti.

Mereka berdiri di jalan raya yang diapit persawahan yang luas.

Sunyi sekali di tempat itu, dan yang terdengar hanyalah bunyi katak di sawah yang riuh rendah saling sahut seperti paduan suara yang kacau kalau diperhatikan, namun serasi dan 'hidup' kalau tidak diperhatikan.

"Kenapa berhenti, nona?"

"Kenapa engkau begini memperhatikan kami, begini baik kepada kami?"

Pertanyaan Bi Lan itu le mbut, namun suaranya mengandung tuntutan dan kecurigaan.

Baru saja timbul dalam pikiran Bi Lan betapa baiknya orang ini kepadanya.

Mengapa begitu baiknya?

Padahal mereka belum berkenalan.

Kalau hanya menolongnya dari kepungan penjahat, hal itu tidaklah aneh karena setiap pendekar tentu akan melakukannya.

Akan tetapi kebaikan orang ini sudah berle bihan, bukan saja menyelamatkannya dan mengajaknya melarikan diri dari kota Peng-lu, akan tetapi bahkan hendak menyediakan kuda dan kereta.!

Ini sudah melampaui batas dan menimbulkan kecurigaan.

Sejenak Hong San tertegun karena kaget mendengar pertanyaan yang dirasakannya seperti suatu serangan kilat itu.

Untung bahwa malam gelap menyembunyikan wajahnya.

Dia segera dapat menenangkan hatinya yang tadi khawatir kalau-kalau gadis ini mengetahui latar belakang kehidupannya.

Dia tertawa kecil dan berkata dengan suara halus.

"Aih, benar juga engkau, nona. Kita belum berkenalan, dan tentu saja nona curiga kepadaku. Nah, perkenalkan, aku Can Hong San......."

Dia berhenti lagi dan mencoba untuk menatap wajah cantik itu melalui kegelapan malam untuk melihat reaksi wanita itu ketika dia memperkenalkan namanya.

Akan te tapi sunyi saja dan tidak ada tanda bahwa wanita itu mengenal namanya, maka diapun melanjutkan dengan hati lega.

"Aku hidup sebatangkara di dunia ini bebas le pas seperti seekor burung di udara. Kebetulan saja di dalam perjalanan, aku bertemu denganmu, nona. Aku te rtarik dan kasihan ketika melihat engkau dikeroyok perampok. Dan kebetulan pula di Peng-lu aku melihat nona memasuki rumah makan itu. Kemudian melihat nona pergi bersama para perwira naik kereta. Aku merasa curiga dan membayangi, kemudian turun tangan membantumu. Nah, demikianlah, nona. Dan te ntang memperhatikanmu dan baik kepada kalian, ehh.......kenapa? Bukankah sudah seharusnya hidup ini saling tolong?"

"Tapi.......tapi.......kalau engkau hidup sebatangkara, bagaimana engkau demikian royal, hendak membeli kuda dan kereta untuk kami seperti seorang hartawan besar saja?"

Bi Lan menatap tajam, akan tetapi karena cuaca hanya remang-remang, te ntu saja ia tidak dapat melihat wajah pemuda itu dengan jelas.

"Oooooh, itukah?"

Hong San te rtawa.

"Pantas, saja engkau curiga, nona. Aku bukan seorang hartawan, bahkan rumahpun aku tidak punya. Akan tetapi sebulan yang lalu, aku menyelamatkan rombongan saudagar kaya dari serbuan para perampok. Mereka membawa barang dagangan yang banyak dan berharga sekali. Karena senangnya, mereka memaksaku menerima sekantung emas permata walaupun aku menolak dan tidak mengharapkan apa-apa. Melihat kerelaan dan kesungguhan hati mereka, agar tidak mengecewakan, aku menerimanya. Tadinya aku bingung, untuk apa harta itu bagiku, akan te tapi sekarang aku girang dapat menggunakan sebagian dari itu untuk membantumu. Engkau membawa anakmu yang masih kecil, maka sebaiknya kalau menggunakan kereta."

Lega rasa hati Bi Lan. Memang ia tidak mencurigai orang yang te lah dua kali menyelamatkannya dari ancaman bahaya, akan tetapi karena ia belum mengenal pemuda ini, ia harus berhati-hati.

"Kalau begitu, maafkanlah aku, tai hiap (pendekar besar), dan mari kita lanjutkan perjalanan ke dusun itu."

"Ehhhh? Engkau belum memperkenalkan dirimu, nona....."

Kata Hong San sambil mengejar ke depan.

"Nanti saja kita bicara lagi kalau sudah tiba di sana. Anak ini sudah tertidur."

Mereka melangkah, menuju ke dusun yang sudah kelihatan lampu-lampunya berkelap-kelip di kejauhan. Melihat wanita itu diam saja, Hong San merasa khawatir.

"Maaf, nona. Mungkin aku tadi keliru menyebut anak ini sebagai anakmu, mungkin ini adikmu atau keponakanmu.."

Dalam kegelapan itu Bi Lan tersenyum.

"Ini anakku, namanya Lan Lan."

Katanya singkat.

"Ah, maaf, kalau begini anda seorang nyonya, bukan nona.....! Kenapa nyonya melakukan perjalanan seorang diri bersama anak nyonya?"

"Sudahlah, nanti saja kita bicara."

Hong San maklum bahwa dia berhadapan dengan seorang wanita yang pendiam dan mungkin keras hati.

Maka diapun tidak mau banyak bicara lagi dan menjadi penunjuk jalan memasuki dusun itu dan menghampiri sebuah rumah kecil yang berdiri di ujung jalan dusun itu.

Dia mengetuk daun pintu sambil memanggil.

"Paman Gu, buka pintu, ini aku yang datang!"

Daun pintu dibuka dari dalam dan seorang laki-laki berusia limapuluhan tahun, berpakaian petani sederhana, menyambut mereka. Begitu melihat Hong San, dia tersenyum ramah.

"Aih, kiranya Can-kongcu (tuan muda Can) yang datang! Bersama siapakah nona ini? Dan dari mana malam-malam begini..........?"

"Paman Gu, ini adikku dan pute rinya. Aku akan menyewa kamar itu, bekas kamar anakmu itu, untuk adikku dan keponakanku ini tidur. Aku sendiri dapat tidur bersama paman di kamar paman."

"Ah, baiklah, kongcu. He mm, anak ini sudah pulas , sebaiknya cepat ditidurkan saja. Mari, nyonya muda, inilah bekas kamar anakku yang kini ikut suaminya. Tidurlah di sini bersama anakmu......"

Petani itu membukakan pintu sebuah kamar sederhana yang cukup bersih. -ooo0dw0ooo-

Jilid 10

"Aku pernah menyewa kamar ini selama seminggu. Tidurkanlah anakmu, di sini tenang."

Kata Hong San.

De ngan hati lega dan berterima kasih Bi Lan lalu memasuki kamar itu, menidurkan Lan Lan di atas pembaringan dan melepaskan buntalannya, meletakkannya di atas meja.

Setelah menyalakan sebatang lilin lagi untuk menambah penerangan di kamar itu, iapun keluar dari dalam kamar.

"Baik, kongcu, aku akan berusaha mendapatkan apa yang kaucari itu. Nah, aku akan pergi sekarang juga. Nyonya, beristirahatlah, saya hendak pergi dulu mencarikan kuda dan kereta yang dipesan kongcu."

Petani itu menjura ke arah Bi Lan, lalu keluar dari pondok, menutupkan daun pintunya dengan hati-hati dari luar.

Bi Lan kini duduk menghadapi meja bersama Hong San setelah pemuda itu mempersilakannya duduk.

Mereka saling berpandangan, dan keduanya kagum.

Di bawah sinar lampu yang remang-remang mereka saling mengagumi wajah masing-masing.

Hong San melihat betapa wajah yang bulat itu berkulit putih mulus, juga leher dan tangan itu.

Putih mulus yang wajar.

Hidung yang mancung kecil itu mungil dan mata itu bagaikan sepasang bintang, gemerlapan tajam.

Di lain pihak, Bi Lan juga kagum.

Pemuda yang usianya sekitar duapuluh tujuh tahun itu memang tampan dan gagah.

Pakaiannya seperti seorang sastrawan, sederhna namun bersih.

Caping lebar yang tadi dipergunakannya, kini te rgantung di dinding.

Wajah itu jantan.

Hidungnya mancung dan besar, matanya tajam agak terlalu hitam, dan bibirnya kemerahan seperti bibir wanita, akan te tapi lebih besar dan penuh gairah.

Kulitnya agak coklat dan wajah itu membayangkan ketampanan orang dari daerah barat.

Hal ini tidak aneh karena Can Hong San memang berdarah Nepal.

Ibu kandungnya seorang puteri Nepal!

"Nah, sekarang kuharap engkau suka memperkenalkan dirimu, nyonya, te ntu saja kalau engkau percaya kepadaku."

Bi Lan menarik napas panjang.

"Tentu saja aku percaya kepadamu, tai-hiap.. !"

"Nanti dulu, nyonya!"

Hong San menghentikan dengan mengangkat tangan kanan ke atas.

"Harap engkau tidak menyebut aku tai-hiap, sungguh hanya membuat aku merasa malu dan canggung!"

Lalu ia menatap tajam wajah yang manis itu.

"Maukah engkau menyebut aku toako (kakak) saja? Namaku Hong San dan aku sama sekali tidak suka disebut tai-hiap (pendekar besar), apa lagi oleh seorang wanita perkasa seperti nyonya."

Bi Lan te rsenyum.

"Hemm, engkau melarangku menyebutmu tai-hiap, akan tetapi engkau sendiri menyebut aku nyonya! Seharusnya aku menyebut tuan kepadamu, akan te tapi engkau ingin aku menyebut toako. Kalau aku menyebut kakak, apa sebutan seorang kakak terhadap adiknya?"

Hong San tertawa gembira. Biarpun tidak banyak bicara, te rnyata wanita ini dapat diajak berkelakar.

"Baiklah, aku akan menyebutmu moi-moi (adik perempuan). Aneh, seorang kakak tidak tahu nama adiknya!"

"Toako, namaku Bi Lan, Kwa Bi Lan."

"Hemmm, nama yang indah sekali!"

"Kiranya selain gagah perkasa, engkau juga seorang perayu, toako. Namaku biasa saja engkau katakan indah."

"Maaf, Lan-moi. Aku bukan bermaksud merayu, hanya........ah, sudahlah, aku hanya berkelakar, lanjutkan bicaramu."

"Bicara apa lagi? Sudah kuperkenalkan namaku. Aku Kwa Bi Lan dan ana kku itu, namanya Lan Lan."

"Dan siapa nama suamimu? Di mana te mpat tinggalmu dan kenapa engkau melakukan perjalanan berdua saja dengan anakmu yang masih kecil? Darimana dan hendak ke manakah engkau pergi, Lan-moi?"

Bi Lan melirik ke arah wajah pemuda itu, te rsenyum sedih. Orang ini demikian memperhatikan dirinya dan pertanyaannya datang seperti banjir saja.

"Toako, engkau ingin tnhu segalanya, akan tetapi engkau tidak mau menceritakan segalanya te ntang dirimu sendiri. Engkau hanya memperkenalkan namamu, dan akupun sudah membalas dengan memperkenalkan nama kami. Kalau ingin mendengar tentang keadaan dan keluargaku, tidakkah sepatutnya kalau seorang laki-laki lebih dahulu menceritakan tentang dirinya?"

"Ha-ha-ha, engkau tidak mau kalah, itu tandanya engkau belum percaya benar kepadaku. Baiklah, akan kuceritakan semua tentang diriku, akan tetapi tidak ada yang menarik tentang diriku. Aku berusia duapuluh tujuh tahun, aku hidup sebatangkara, belum pernah menikah, yatim piatu dan tidak mempunyai keluarga seorangpun. Aku tidak mempunyai te mpat tinggal yang te tap. Seorang kelana yang tidak mempunyai apa-apa. Guruku adalah ayahku sendiri yang sudah meninggal dunia, bernama Can Siok. Selama ini aku hanya mengembara, kemana saja hati dan kaki ini membawaku. Nah, hanya inilah cerita te ntang diriku, Lan-moi. Sama sekali tidak menarik, bukan?"

Bi Lan mendengarkan dengan heran.

Seorang pemuda yang begini tampan gagah, berilmu tinggi, usianya sudah sangat dewasa, kenapa hidup seorang diri saja dan tidak menikah?

Tentu seorang pendekar petualang ynng selalu ingin hidup bebas.!

"Eh?

Kenapa engkau diam saja, Lan-moi?

Aku sudah siap mendengarkan cerita tentang dirimu!"

Bi Lan menghela napas panjang.

"Kalau engkau mengatakan bahwa riwayatmu tidak menarik, sebaliknya riwayatku le bih buruk lagi, malah hanya menyedihkan saja."

"Yang sudah lalu hanya menjadi kenangan, Lan-moi, tidak ada gunan ya disedihkan lagi. Nah, ceritakanlah, aku ingin sekali mendengar agar perkenalan antara kita menjadi lebih akrab."

"Akupun hidup berdua saja dengan anakku Lan Lan. Sekarang inipun aku masih belum mempunyai te mpat tinggal yang te tap."

Bi Lan berhenti seolah-olah cerita tentang dirinya habis sekian saja.

"Tapi, suamimu.........?"

Hong San mendesak.

"Dan siapa pula gurumu, orang tuamu?"

"Kedua orang tuaku sudah lama meninggal dunia. Dan suamiku, dia juga guruku sendiri, dia sudah meninggal dunia........."

Mendengar suara yang mengandung duka itu, Hong San menarik napas panjang dan diam-diam dia menekan perasaan girangnya mendengar bahwa wanita ini adalah seorang janda!

"Aih, maafkan pertanyaanku tadi, Lan-moi.

Siapa kira, semuda ini engkau telah ditinggal mati suami dan hidup berdua saja dengan seorang pute ri.

Kalau boleh aku bertanya, siapakah nama mendiang suamimu?

Kalau dia menjadi gurumu, te ntu dia lihai sekali."

"Nama mendiang suami dan juga guruku adalah Liu Bhok Ki..........."

Hong San terbelalak dan dia demikian te rkejut sehingga bangkit berdiri dari kursinya.

"Dia......? Kau maksudkan Sin-tiauw (Si Rajawali Sakti) Liu Bhok Ki?"

Melihat kekagetan pemuda itu, Bi Lan tidak merasa heran. Nama besar mendiang suaminya memang amat te rkenal di dunia persilatan. Iapun mengangguk bangga.

"Aihhhh, pantas kalau begitu,"

Kata Hong San sambil duduk kembali dan memandang kagum.

"Pantas kalau engkau memiliki ilmu silat yang lihai. Kiranya murid dan juga is te ri Si Rajawali Sakti. Akan te tapi, maaf Lan-moi. Kulihat tadi dalam gerakan silatmu ada dasar ilmu silat Siauw-lim-pai."

"Penglihatanmu tajam sekali, toako dan ini membuktikan bahwa ilmu kepandaianmu sudah sangat tinggi. Memang, sebelum aku menjadi murid suamiku, a ku pernah mempelajari ilmu silat Siau-lim-pai."

"Hebat ...! Murid Siauw-lim-pai yang kemudian menjadi murid Si Rajawali Sakti! Aku girang sekali dapat berte mu dan berkenalan denganmu, Lan-moi! Lalu kemana engkau hendak pergi?"

Sampai lama Bi Lan berdiam diri.

Ia sendiri tidak dapat menjawab karena memang ia tidak tahu kemana ia akan pergi!

Ia telah menculik Lan Lan dan ia tidak berani kembali ke rumah suaminya di Kim-hong-san, karena tentu Si Han Beng dan Bu Giok Cu akan mencari anak mereka dan mengejarnya kesana!

Dan ia pasti tidak akan mampu mempertahankan kalau mereka itu merampas Lan Lan.

Ilmu kepandaian mereka terlampau tinggi baginya.

Melawan Bu Giok Cu saja ia tidak akan menang, apalagi melawan Si Han Beng dan lebih-le bih menghadapi mereka berdua!

Dan ia sudah jatuh cinta kepada anak itu yang kini menyebut ibu kepadanya.

Ia tidak mempunyai suatu tempat untuk pergi, maka pertanyaaan Hong San membuat ia bingung, tidak tahu bagaimana harus menjawab.

Kemudian ia te ringat kepada pamannya Lie Koan Tek.

Daripada tidak dapat menjawab, dia lalu berkata.

"Aku masih mempunyai seorang paman, saudara dari mendiang ibuku. Aku akan mencari pamanku itu, toako."

"Siapakah pamanmu itu?"

"Dia seorang tokoh Siauw-lim-pai namanya Lie Koan Tek."

"Lie Koan Tek.......?"

Hong San te rbelalak.

Terbayanglah kini ketika dia berte mpur melawan Lie Koan Tek, dikeroyok oleh Poa Liu Hwa isteri mendiang Kam Seng Hin ketua Hek-houw-pang, kemudian muncul seorang gadis perkasa dan...........Hong San te rbelalak.

"Ahhhhh........!!"

Dia meloncat dari tempat duduknya, bangkit berdiri dan memandang kepada Bi Lan dengan kaget.

Inilah gadis yang dulu membantu Lie Koan Tek dan Poa Liu Hwa!

"Ada apakah, toako?

Engkau kelihatan te rkejut sekali."

Hong Sen cepat mengerahkan te naga untuk menenangkan hatinya dan wajahnya yang tadi berubah agak pucat itu menjadi merah kembali.

Dia bukan terkejut mendengar nama Lie Koan Tek, melainkan terkejut ketika teringat bahwa gadis inilah yang dulu pernah membantu Lio Koan Tek mengeroyoknya.

Tak dapat dia membayangkan bagaimana akan sikap wanita ini kalau mengenalnya!

"Aku memang te rkejut mendengar nama pamanmu.

Tentu saja aku mengenal nama itu.

Yang mengejutkan adalah karena engkau hendak mencarinya.

Padahal menurut pendengaranku, pamanmu adalah seorang pelarian dan buruan pemerintah!

Kabarnya dia telah melarikan diri dari penjara, bahkan membantu gerakan pemberontak.

Bagaimana engkau akan mencari pamanmu yang sedang diburu pemerintah?"

Bi Lan menarik napas panjang. Tentu saja ia tahu akan hal itu dan kalau tadi ia mengatakan hendak mencari pamannya, hal itu dilakukan hanya agar dapat menjawab pertanyaan Hong San saja.

"Aku tahu akan hal itu, toako. Akan tetapi......aku tidak tahu lain tempat lagi yang dapat kuharapkan menjadi tempat tinggalku. Aku akan berkelana saja......."

Katanya sedih.

Hong San tersenyum.

Dia sudah mampu menguasai dirinya lagi.

Jelas bahwa Bi Lan tidak ingat kepadanya.

Pertemuan antara mereka hanya te rjadi sebentar saja, dan itupun dalam perte mpuran, sehingga wanita ini tidak mengenal dan tidak mengingatnya sama sekali.

Betapapun juga, dia harus berhati-hati dan ada sesuatu yang tidak nyaman rasanya di hati setelah dia mengetahui siapa wanita ini.

Kalau sampai Bi Lan mengenalnya.!

"Lan-moi, kalau engkau hidup seorang diri, kiranya tiada salahnya menjadi seorang pengelana seperti aku ini.

Akan tetapi ingat, engkau mempunyai seorang pute ri yang masih kecil.

Tidak mungkin akan mengajaknya berkelana tanpa tujuan?

Tidak baik bagi pendidikan puterimu."

"Aku mengerti, toako. Akan tetapi apa dayaku? Aku tidak tahu ke mana harus pergi."

He ning sejenak.

Hong San tidak mau tergesa-gesa.

Dia harus mengakui bahwa setelah kini wanita itu duduk di depannya, dekat dan di bawah sinar lampu sehingga dia dapat mengamati wajah itu dengan jelas.

Setelah wanita itu bicara, apalagi setelah mendengar bahwa wanita itu s eorang janda muda yang hidup sebatangkara, hatinya semakin te rtarik dan dia tahu bahwa sekali ini dia jatuh cinta!

Belum pernah perasaan seperti ini menguasai hatinya.

Bias anya terhadap wanita cantik, hanya berahinya yang timbul.

Akan te tapi sekali ini lain.

Dia ingin memiliki Bi Lan seluruhnya dan sepenuhnya, untuk selamanya.

Dia ingin menyenangkan hati wanita ini, membahagiakannya, dan dia ingin berdampingan selamanya!

Dia ingin membuat wajah yang manis ini selalu tersenyum dan cerah berseri.

Akan tetapi dia harus berhati-hati.

Kalau janda ini sampai dapat menje nguk dan mengetahui latar belakang kehidupannya!

Dia ngeri membayangkan akibatnya.

Tiba-tiba dia seperti dipaksa ole h sesuatu mengangkat mukanya menatap wanita itu.

Dan te rnyata wanita itupun sedang memandang kepadanya.

Agaknya pandang mata wanita itulah yang tadi menyentuh perasaannya dan membuatnya mengangkat muka memandang.

Dua pasang mata bertaut sejenak, lalu Bi Lan menundukkan mukanya.

"Lan-moi, apakah engkau percaya kepadaku?"

Tiba-tiba Hong San bertanya.

"Eh? Kenapa, toako? Tentu saja aku percaya padamu. Engkau adalah penolongku." 'Kita baru saja bertemu, engkau belum mengenal benar siapa diriku, dan orang macam apa adanya aku. Mungkin saja aku ini seorang penipu, seorang penjahat......"

"Aih, jangan mengada-ada, toako. Aku yakin bahwa engkau seorang yang baik budi, gagah perkasa, dan........."

"Belum te ntu, Lan-moi. Di dunia ini, di mana ada manusia sempurna tanpa salah? Akupun, sebagai manusia biasa, pernah melakukan kesalahan, pernah tersesat dan berdosa........"

"Sudahlah, toako. Apa sebetulnya yang hendak kaukatakan maka engkau bertanya apakah aku percaya kepadamu? Aku percaya.! N ah, lalu apa?"

Hong San menelan ludah.

Baru sekarang dia merasa begini gugup dan te gang!

"Begini, Lan-moi..

Biarpun kita baru saja saling berte mu secara kebetulan dan saling berkenalan, namun rasanya bagiku engkau seorang sahabat lama dan kita saling percaya.

Engkau dan puterimu hidup sebatangkara, dan akupun demikian.

Maukah engkau kalau aku mencarikan sebuah tempat tinggal untuk engkau dan anakmu di mana e ngkau akan hidup dengan tenang dan tenteram?"

Sejenak Bi Lan hanya memandang wajah pemuda itu. Sungguh luar biasa kalau ada kenalan baru hendak menolongnya seperti itu.! Ia merasa te rharu, akan tetapi juga heran.

"Can-toako, kita baru saja berkenalan dan engkau sudah bersikap begini baik kepada kami. Seorang anggota keluarga sendiri belum tentu sebaik engkau! Kenapa engkau begini baik kepada kami dan ingin mencarikan te mpat tinggal untuk kami? Ke napa, toako?"

Menghadapi sepasang mata yang bersinar tajam, yang memandangnya penuh selidik ini, Hong San tidak tahan menentang terlalu lama.

Dia khawatir kalau sinar mata itu akan mampu menje nguk dan melihat latar belakang kehidupannya yang lalu!

Dia lalu menunduk, menghela napas panjang beberapa kali sebelum menjawab dengun sukar.

"Kenapa aku ingin menolongmu? Ah kenapa, ya? Mungkin karena aku merasa kasihan sekali kepadamu dan kepada pute rimu, Lan-moi. Sejak kita saling jumpa ketika engkau dikeroyok perampok itu sudah timbul perasaan yang luar biasa dalam hatiku. Aku tidak berani mengatakan.......eh, cinta, itu akan terlalu lancang karena kita baru saja berkenalan. Akan tetapi, aku merasa kasihan dan ingin menolongmu, membantumu, membahagiakan engkau dan anakmu, Lan-moi. Maafkan kelancanganku ini......"

Sejenak Bi Lan berdiam diri, menundukkan mukanya yang menjadi merah sekali.

Ia meneliti perasaan sendiri, merasa kagum kepada laki-laki ini, kagum dan berte rima kasih.

Akan tetapi laki-laki ini menyinggung soal cinta dan untuk itu, ia harus menjenguk lebih dalam dan ini membutuhkan waktu untuk dapat menentukan.

"Toako, tidak perlu meminta maaf. Orang-orang seperti kita memang sebaiknya kalau berte rus te rang secara jujur,"

Katanya.

"Terima kasih, Lan-moi. Memang sebaiknya begitu, aku tadi hanya takut kalau sampai menyinggung perasaanmu. Aku tidak berani mengatakan cinta karena selama ini aku belum pernah jatuh cinta kepada seorang wanitapun. Banyak wanita yang menarik, akan te tapi belum pernah aku merasakan jatuh cinta. Akan tetapi yang je las, aku merasa kasihan dan sayang kepadamu. Terimalah uluran tanganku untuk membantumu, Lan-moi. Tentu saja, kalau engkau percaya kepadaku. Kalau e ngkau tidak percaya dan menyangka ada maksud te rtentu yang buruk dalam hatiku terhadap dirimu, tentu aku tidak akan berani memaksamu."

Kalaupun ada keraguan di hati Bi Lan, maka keraguan itu tentu akan lenyap setelah mendengar ucapan pemuda itu yang demikian "jujur"

Dan meyakinkan.

"Bagaimana aku berani menolak niat baikmu, toako? Apa lagi engkau tadi sudah menyuruh pemilik rumah ini mencarikan kuda dan kereta. Aku berte rima kasih dan menerima uluran tanganmu, akan tetapi dengan satu syarat, yaitu bahwa kalau kelak aku merasa tidak cocok dengan te mpat itu atau denganmu, aku akan membawa anakku pergi mengambil jalanku sendiri, dan harap engkau tidak menuduh aku tidak mengenal budi."

Hong San tertawa dengan gembira, wajahnya berseri.

"Tentu saja, Lan-moi. Tentu saja engkau bebas untuk menentukan langkahmu sendiri. Aku sudah merasa cukup bangga dan puas bahwa kau dapat mempercayaiku!"

Pemilik rumah itu datang memberi laporan bahwa ada seorang penduduk dusun yang mau menjual kudanya, adapun keretanya dapat dibeli di kota Peng-lu.

Karena pembelian mendadak dan te rgesa-gesa, tentu saja Hong San harus membayar hampir dua kali lipat harga umum.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali sebuah kereta meninggalkan dusun itu, dikusiri oleh Hong San.

Bi Lan dan Lan Lan duduk di dalam kereta yang dilarikan dengan cepat.

Mereka menuju ke kota raja!

-ooo0dw0ooo-"Akan tetapi, kenapa ke kota raja?

Apakah engkau mempunyai keluarga di sana, toako?

Ataukah sahabat?"

Bi Lan bertanya ketika malam itu mereka berhenti di sebuah dusun di luar kota raja Tiang-an.

"Di kota raja yang ramai kita dapat dengan mudah mencari rumah tinggal yang baik, Lan-moi. Juga daerah paling aman sekarang ini adalah di kota raja. Selain itu, di kota besar ini kita akan dapat mencari penghasilan dengan mudah. Aku sendiri dapat berdagang, atau juga mencoba untuk mendapatkan kedudukan."

Bi Lan diam saja.

Ia tidak dapat banyak memilih dan menyerahkan saja pada pemuda ini.

Sikap yang selalu sopan dan ramah dari pemuda ini memang membuat ia percaya sepenuhnya.

Akan tetapi ia masih ragu-ragu apakah ia dapat membalas kasih sayang pemuda itu kepadanya.

Ada sesuatu yang membuatnya ragu.

Pemuda ini seperti menyimpan suatu rahasia, dan kadang sikapnya aneh dan tidak wajar.

Juga, sepasang mata yang te rlalu hitam dari pemuda itu kadang-kadang membuatnya merasa ngeri.

Kadang-kadang ia seperti melihat sinar yang aneh, penuh kekejaman.

Kadang sinar yang dingin dan acuh, akan tetapi segera berubah lagi menjadi ramah, memancar dari sepasang mata itu.

"Lan-moi, sebelum kita memasuki kota raja, ada sesuatu yang perlu kau tahui dan aku memerlukan bantuanmu."

Setelah mereka agak lama berdiam diri Hong San bicara dengan suara halus dan lirih, seolah dia tidak ingin ada orang lain mendengar ucapannya.

Bi Lan mengerutkan alisnya dan mengangkat muka, memandang kepada pemuda itu.

Sinar mata pemuda itu nampak mengandung kecerdikan, akan tetapi juga kekhawatiran.

"Ada apakah, toako? Katakanlah, dan tentu s aja aku siap membantumu."

"Ketahuilah, Lan-moi, bahwa kerajaan Tang yang sekarang ini, yang baru tiga empat tahun berdiri, dahulunya merupakan pemberontak-pemberontak te rhadap Kerajaan Sui."

"Tentu saja,"

Kata Bi Lan.

"Setiap kerajaan atau pemerintahan baru yang merebut pemerintahan lama tadinya adalah pemberontak."

"Nah, ketika Panglima Li Si Bin memimpin pasukan pemberontak, aku pernah membantu pasukan Kerajaan Sui untuk menentang pemberontak. Akan tetapi pasukan pemerintah gagal dan kalah. Kaisar Yang Ti melarikan diri dan akupun meninggalkan pasukan pemerintah."

Bi Lan tidak merasa heran.

Dalam suasana perang saudara seperti itu, banyak orang te rlibat, dan diapun tahu bahwa banyak pendekar yang dahulu membantu Kerajaan Sui untuk melawan pemberontak yang kemudian memperole h kemenangan dan kini menjadi Kerajaan Tang yang baru."

"Lalu mengapa, toako? Hal itu adalah wajar saja."

"Akan tetapi, namaku telah dikenal oleh mereka, Lan-moi. Karena kini mereka yang berkuasa, maka te ntu akan ditangkap sebagai sisa pengikut kaisar lama, kalau mereka mengetahui bahwa aku berada di kota raja."

Bi Lan mengerutkan alisnya.

"Kalau sudah begitu, kenapa engkau malah mengajakku ke kota raja, toako?"

"Kurasa Panglima Li Si Bin dan ayahnya yang kini menjadi Kaisar Tang Kao Cu, hanya mengenal namaku saja, tidak pernah melihat orangnya. Kalau aku berganti nama, kiraku tidak akan ada yang tahu bahwa aku dahulu membantu kerajaan Sui untuk menentang mereka. Karena itu, aku mengharapkan bantuanmu Lan-moi, agar engkau memaklumi pergantian namaku. Aku akan menggunakan nama Siauw Can saja sehingga engkau masih tetap menyebutku Can-toako."

Bi Lan te rsenyum.

"Baik, toako. Nama baru itu sebetulnya tidak baru. Siauw Can berarti Can Muda, jadi engkau masih tetap mempergunakan nama keturunmu, hanya nama kecil Hong San s aja yang tidak kaupergunakan."

"Engkau benar, Lan-moi. Akan tetapi dengan menggunakan nama Siauw Can, orang akan menganggap bahwa nama keturunanku adalah Siauw, dan nama kecilku Can. De ngan demikian, akan aman, bukan?"

De mikianlah, pada keesokan harinya, pagi-pagi mereka meninggalkan dusun itu.

Seperti biasa, Hong San atau sekarang kita sebut saja Siauw Can menjadi kusir.

Bi Lan dan Lan Lan berada di dalam kereta.

Sengaja Bi Lan membuka tirai pintu agar dia dan Lan Lan dapat melihat keadaan di sepanjang jalan.

Makin mendekati pintu gerbang kota raja, semakin ramailah jalan raya itu.

Agaknya para penduduk dusun banyak yang membawa barang dagangan mereka, hasil sawah ladang dan hasil sungai ke pasar di kota raja.

Para petani yang memikul barang dagangan mereka atau yang mendorong dengan kereta, berbondong-bondong memasuki pintu gerbang selatan.

Banyak pula wanita dusun yang membawa barang dagangan, ada yang memikul, ada yang membawa keranjang.

Siauw Can menjalankan keretanya perlahan-lahan.

Jalan raya menuju ke kota raja itu cukup le bar, akan te tapi karena banyaknya orang yang lalu lalang berbondong-bondong, dia harus menjalankan keretanya dengan hati-hati.

Tiba-tiba nampak betapa orang-orang itu mempercepat jalan mereka, bahkan nampak te rgesa-gesa dan wajah mereka membayangkan ketakutan.

Melihat hal ini, Bi Lan berkata dari dalam kereta.

"Can-toako, apakah yang te rjadi? Orang-orang itu nampak ketakutan!"

Siauw Can membawa keretanya ke te pi jalan dan berhenti.

"Akupun tidak tahu mengapa, Lan-moi. Biar kutanyakan kepada mereka."

Dari atas keretanya Siauw Can lalu bertanya kepada seorang petani yang memikul ketelanya.

"Paman, apakah yang te rjadi? Kenapa kalian kelihatan ketakutan?"

Petani itu menengok, akan te tapi tidak menjawab, melainkan dengan telunjuk kirinya dia menuding ke arah depan dan melanjutkan perjalanannya dengan te rgesa-gesa.

Siauw Can dan Bi Lan memandang ke arah yang ditunjuk.

Mereka kini melihat serombongan orang, tujuh orang jumlahnya, berjalan melenggang sambil tertawa-tawa.

Mereka itu bukan orang Han, karena pakaian mereka berbeda.

Berjubah panjang dengan sepatu kulit yang tinggi, dan kepala merekapun te rtutup topi bulu.

Mereka adalah orang-orang Turki!

Di pinggang mereka tergantung golok melengkung.

Rata-rata mereka berwajah tampan dengan kumis melintang, usia antara tigapuluh sampai empat puluh tahun.

Seorang di antara mereka yang berusia empatpuluhan tahun, dengan codet atau bekas luka di pipi kanan, memegang sebatang cambuk hitam.

Agaknya mereka inilah yang menimbulkan suasana ketakutan karena semua orang yang menuju ke kota raja dan berpapasan dengan tujuh orang ini, semua lalu minggir dan bahkan menyeberang untuk mengambil sisi lain agar jangan sampai berpapasan dekat dengan tujuh orang itu.

Seorang petani yang membawa sepikul kentang, berhenti di dekat kereta.

Dia sudah tua, usianya sudah enampuluh tahun lebih.

Dia berhenti untuk menghapus keringatnya.

Seluruh tubuh atas yang tidak berbaju itu penuh keringat, juga wajah petani itu nampak gelisah.

Kesempatan ini dipergunakan oleh Siauw Can untuk turun dari atas kereta mendekati petani itu.

"Paman, kami bukan orang sini. Tolong beri tahu kenapa semua orang ketakutan melihat tujuh orang asing itu?"

Tanyanya. De ngan wajah ketakutan petani itu memandang kepada Siauw Can, kemudian menje nguk ke dalam kereta.

"Kalau begitu, sebaiknya kongcu cepat pergi dari sini, membawa kereta ini jauh-jauh. Mereka itu orang orang Turki yang sering membikin ribut, apalagi urusan wanita cantik!"

Dengan tergesa-gesa diapun cepat memikul dagangannya, menyeberang dan melanjutkan perjalanannya.

"Tar-tar-tarrr......"

Te rdengar bunyi cambuk meledak-ledak, disusul jerit suara wanita.

Siauw Can dan Bi Lan cepat mengangkat muka memandang.

Kiranya si codet pemegang cambuk tadi telah menggerakkan cambuk secara luar biasa sekali.

Cambuk itu menyambar-nyambar ke arah seorang wanita dusun, masih muda, antara duapuluh lima tahun usianya, dengan wajah sederhana.

Cambuk itu menyambar-nyambar tanpa melukai wanita itu, akan tetapi merobek-robek baju atasnya sehingga kini wanita itu menjerit-jerit dengan tubuh atas telanjang bulat!

Tentu saja ia menggunakan kedua le ngan untuk memeluk dadanya, berlari ketakutan sambil menangis.

Tujuh orang itu te rtawa bergelak melihat hal itu, seolah-olah melihat sesuatu yang lucu.

"Bedebah......!"

Bi Lan menyumpah dengan muka berubah merah sekali.

Kini mengertilah ia mengapa semua orang ketakutan melihat tujuh orang asing itu.

Kiranya mereka adalah orang-orang yang suka bertindak sewenang-wenang tanpa ada yang berani menentang.!

Iapun menduga bahwa wanita tadi memang hanya dihina saja, dibuat lelucon.

Andaikata wanita itu cantik, tentu akan lain jadinya dan ngeri ia membayangkan apa yang pernah dilakukan tujuh orang ini te rhadap wanita dusun yang cantik.

Bi Lan memaki sambil meloncat turun dari kereta.

Suaranya terdengar oleh tujuh orang itu dan mereka menengok.

Sejenak mereka itu te rtegun, tak mengira di te mpat itu akan melihat seorang wanita muda secantik itu turun dari kereta.

Kemudian, mereka bicara dan te rtawa-tawa.

Entah apa yang mereka bicarakan, Bi Lan tidak mengerti karena mereka mempergunakan Bahasa Turki.

Sambil tertawa-tawa tujuh orang itu menghampiri Bi Lan yang memondong Lan Lan.

Si codet, yang agaknya menjadi pemimpin rombongan orang Turki itu, kini menghadapi Bi Lan dan matanya yang bulat dan hitam itu seperti hendak menelan wanita di depannya bulat-bulat.

Agaknya mereka juga melihat bahwa wanita cantik itu bukan keluarga pejabat karena selain kereta itu kereta biasa, juga tidak ada pengawal, dan kusirnya seorang pemuda berpakaian biasa.

Kalau te rhadap keluarga pejabat, tentu mereka tidak akan berani bertindak sembarangan.

"Nona manis, dari mana dan hendak ke mana? Marilah kami menjadi pengantar dan pengawal nona!"

Katanya dengan logat yang aneh dan lucu.

"Heh-heh, nona boleh pilih di antara kami, siapa yang berkenan di hati nona? Pilih saja aku yang paling jantan di antara kami, ha-ha-hal"

Kata orang ke dua.

Orang ini memang nampak jantan, dengan kumis yang indah dan jenggot yang terpelihara rapi, tumbuh dari bawah te linga dengan lebat sekali!

"Kalian ini orang-orang biadab!

Kalian tadi menghina seorang wanita, dan sekarang berani mengganggu aku?

Agaknya kalian memang sudah bosan hidup, ya?

Anjing-anjing liar, pergilah sebelum aku menghajar kalian!"

Bi Lan masih menahan kesabarannya karena Siauw Can berkedip kepadanya minta agar ia bersabar.

Tentu saja ucapan Bi Lan membuat tujuh orang itu terbelalak.

Belum pernah ada orang, apa lagi wanita, berani menghina mereka, memaki mereka seperti itu!

Si codet memberi kesempatan kepada si brewok tadi dalam bahasa mereka, dan sambil menyeringai, memperlihatkan gigi yang putih berkilat si brewok melangkah maju mendekati Bi Lan.

Wanita ini maklum bahwa te ntu tujuh orang itu akan membuat ribut, maka ia lalu menyerahkan Lan Lan kepada Siauw Can.

"Can toako, tolong kau pondong dulu Lan Lan, aku akan menghajar anjing-anjing keparat ini!"

Melihat betapa wajah Bi Lan sudah menjadi merah s ekali dan sinar matanya mencorong, Siauw Can khawatir kalau-kalau Bi Lan melakukan pembunuhan sehingga akan menggegerkan kota raja.

Dia menerima Lan Lan dan berkata.

"Jangan lupa diri sampai membunuh, Lan-moi."

Bi Lan te rse nyum.

Biarpun ia marah sekali, akan te tapi iapun maklum bahwa melakukan pembunuhan di te mpat umum dekat kota raja te ntu akan mendatangkan keributan.

I a tidak ingin menjadi pengacau dan dimusuhi petugas keamanan kota raja.

Ia menggeleng.

"Jangan khawatir, toako."

Si brewok kini sudah makin mendekat.

"Nona manis, aku akan memaafkan kelancangan mulutmu tadi asal engkau mau menciumku."

"Enak saja!"

Tiba-tiba si codet membentak.

"Ia harus mencium kita bertujuh bergantian, baru kita mau memaafkannya.!"

Si brewok tertawa.

"Nah, kau dengar sendiri, manis. Memang sudah untungmu hari ini, akan diciumi tujuh orang laki-laki jantan perkasa, ha ha ha! Nah, aku akan menciummu le bih dahulu!"

Si brewok mengembangkan kedua le ngannya yang panjang, dan dari kanan kiri, kedua tangannya menyambar hendak merangkul tubuh Bi Lan.

"Wuuuuuttt.....!"

Si brewok merangkul dan rangkulan itu hanya mengenai te mpat kosong karena Bi Lan dengan kecepatan luar biasa telah dapat mengelak.

Si brewok membalik dan hendak menubruk lagi, akan te tapi Bi Lan mendahuluinya dengan loncatan ke depan dan kakinya menyambar.

"Ciumlah sepatuku ini........plokk!"

Ujung sepatu kiri Bi Lan menendang tepat mengenal hidung yang panjang besar dan melengkung itu.

Si brewok te rjengkang dan ketika dia bangkit kembali dia memegangi hidungnya yang bocor berdarah!

Si brewok ini menjadi korban kelancangannya sendiri.

Karena te rlalu memandang rendah Bi Lan yang disangkanya seorang wanita lemah yang hanya galak saja, maka hidungnya hampir pecah oleh tendangan wanita perkasa itu.

Tentu saja kawan-kawannya menjadi marah dan merekapun berte riak-te riak untuk berlomba untuk menangkap Bi Lan.

Hanya si codet yang masih berdiri saja dengan pecut diputar-putar dan matanya mengamati kawan-kawannya yang berlomba untuk menangkap Bi Lan.

Kalau wanita itu tertangkap, akan diikat dengan cambuknya dan dilarikan ke tempat tinggal mereka.

Wanita itu harus dihukum karena te lah berani menghina bahkan melukai si brewok.

Akan te tapi, ia te rbelalak dan baru menyadari bahwa Bi Lan bukan wanita biasa.

Biarpun dikeroyok lima orang yang rata-rata bertubuh tinggi besar, dapat bergerak cepat dan berte naga besar pula, namun wanita itu memiliki gerakan seperti seekor burung walet saja cepatnya, berkelebatan di antara lima orang pengeroyoknya.

Sambil mengelak mengandalkan kegesitan tubuhnya, Bi Lan yang marah kepada orang-orang kasar itu membagi-bagi tamparan dan te ndangan.

Lima orang Turki itu sebetulnya bukanlah orang-orang le mah.

Mereka adalah anggota pasukan Turki, pasukan pedang bengkok yang ganas dan kuat dalam perang.

Namun, mereka terlalu memandang rendah Bi Lan, dan juga sekali ini mereka bertemu dengan seorang lawan ahli silat tingkat tinggi yang lihai sekali.

Maka, dalam beberapa gebrakan saja merekapun te rkena tamparan atau tendangan, sehingga satu demi satu terpelanting.

"Tar-tar-tarrrr......!!"

Si codet yang marah sekali melihat anak buahnya dikalahkan seorang wanita muda, menggerakkan cambuk panjangnya.

Cambuk hitam itu terbuat dari kulit dan selain panjang, juga le mas dan kuat sekali.

Cambuk ini tadi telah mencabik-cabik baju seorang wanita dusun tanpa melukai kulitnya.

Hal itu menunjukkan bahwa si codet ini memang ahli dalam memainkan cambuk.

Bi Lan bersikap te nang.

Ketika ujung cambuk menyambar ke arah dadanya, ia menggeser kaki ke samping sehingga ujung cambuk itu luput.

Si codet menjadi semakin beringas.

Tangannya bergerak le bih kuat dan cepat.

Cambuknya kini menyambar-nyambar bagaikan seekor ular panjang yang hidup.

Bi Lan tetap mengandalkan kelincahan gerakan tubuhnya untuk berloncatan ke sana sini mengelak sambil memperhatikan gerakan cambuk.

Setelah ia melihat perubahan gerakan cambuk ketika menyusulkan serangan baru, dengan gerakan melengkung ke atas, ia lalu mengelak lagi dan pada saat cambuk itu melengkung ke atas untuk menyambung serangan yang luput, ia telah mendahului dan menggunakan tangan kanan menangkap ujung cambuk!

Bi Lan mengerahkan te naga mempertahankan ketika si codet menarik cambuknya.

De ngan kekuatan sin kang.

ujung cambuk itu seperti melekat pada tangannya dan dengan perhitungan yang te pat, tiba-tiba Bi Lan melepaskan cambuknya.

"Wuuutttt......tarr.......! Aduhhh...!"

Si codet berte riak kesakitan karena dagunya dicium ujung cambuknya sendiri dengan kuatnya sehingga te rluka dan berdarah!

Melihat ini, enam orang anak buahnya mencabut pedang bengkok mereka dan bersama si codet yang semakin marah mereka hendak mengeroyok Bi Lan dengan senjata di tangan.

"Serang, bunuh perempuan jahat ini!"

Si codet memberi aba-aba dan ia sendiripun sudah memutar cambuknya dengan kemarahan meluap-luap.

Luka di dagunya tidak ada artinya dibandingk luka di hatinya, karena dia merasa te rhina dan malu sekali dikalahkan seorang wanita muda, di depan umum pula.

Bi Lan sudah siap siaga.

Akan tetapi ketika tujuh orang itu mulai bergerak, tiba-tiba nampak bayangan berkelebat, didahului sinar menyilaukan mata.

Terdengar suara senjata beradu, berdeting dan enam batang pedang bengkok itupun terpental dan te rlepas dari tangan pemiliknya, sedangkan cambuk itupun te rle pas.

Tujuh orang itu te rhuyung ke belakang sambil memegangi tangan kanan yang te rasa nyeri karena sambaran sinar suling di tangan Siauw Can!

Pemuda ini tidak melukai mereka hanya menotok dengan ujung sulingnya, ke arah tangan kanan mereka sehingga mereka terpaksa melepaskan senjata mereka dan te rhuyung ke belakang dengan mata terbelalak kaget.

Lebih-lebih rasa kaget dan heran mereka ketika melihat bahwa yang membuat senjata mereka terlepas tadi adalah si kusir kereta, pemuda tampan itu yang tangan kirinya memondong anak perempuan kecil sedangkan tangan kanannya memegang sebatang suling!

Hanya dengan sulingnya, dan sambil memondong anak kecil, pemuda itu mampu membuat senjata mereka bertujuh terlepas!

Hal ini saja sudah membayangkan betapa lihainya pemuda ini.

Akan te tapi, tujuh orang Turki itu bukan hanya mengandalkan kekerasan dan kepandaian saja untuk memaksakan kemenangan, melainkan te rutama mengandalkan kedudukan mereka!

Biarpun mereka maklum bahwa mereka tidak akan mampu menang kalau berkelahi melawan wanita muda dan pemuda kusir yang lihai ini, namun mereka masih berani membentak.

"Kalian berani melawan kami, para anggota Pasukan Pedang Bengkok?"

Te riak si codet.

Pada saat itu, dari kelompok penonton yang memenuhi tempat itu, muncul seorang pria berusia limapuluhan tahun, berpakaian bangsawan.

Pria ini sejak tadi ikut pula menonton dengan kagum dari atas kudanya dan kini dia meloncat turun, membiarkan kudanya dipegangi kendalinya oleh seorang pengawal dan diapun maju menghampiri tujuh orang itu.

"Kalian ini selalu mendatangkan keributan!"

Te gurnya. Ketika si codet dan kawan-kawannya melihat bangsawan itu, mereka memberi hormat dengan membungkukkan tubuh.

"Poa-taijin (pembesar Poa)......!"

Kata si codet sambil memberi hormat ditiru semua anak buahnya. Pembesar yang bermata s ipit itu berkata dengan suara mengandung teguran.

"Kalian sungguh ceroboh, berani sekali mengganggu tai-hiap dan li-hiap ini! Tahukah kalian? Mereka ini adalah sanak keluarga dari Pangeran Tua Li yang baru tiba dari dusun!"

Tujuh orang Turki itu te rbelalak dan muka mereka berubah pucat. Si codet cepat memberi hormat kepada Siauw Can dan Bi Lan, kembali diikuti ole h keenam orang anak buahnya.

"Mohon ji-wi (kalian) sudi memaafkan kami yang tidak mengenal ji-wi maka bersikap kurang hormat."

Setelah berkata demikian, mereka bertujuh cepat memungut senjata mereka dan pergi dari situ dengan langkah lebar dan muka ditundukkan.

Melihat pembesar itu kini memandang kepada mereka sambil tersenyum ramah Siauw Can cepat memberi hormat dan berkata.

"Maafkan kami, tai-jin, akan tetapi kami tidak mengerti.."

Pembesar itu membuat gerakan dengan tangan menghentikan ucapan Siauw Can, lalu dia menoleh ke arah orang-orang yang masih berkerumun menonton di situ sambil membicarakan perkelahian tadi, memuji-muji Bi Lan dan Siauw Can.

"Hei, kalian menonton apa? Kami bukan tontonan, hayo pergi melanjutkan perjalanan dan pekerjaan kalian masing-masing!"

Mendengar bentakan seorang pembesar yang berpakaian mewah, para penonton itu menjadi takut dan merekapun bubar. Keadaan menjadi sunyi kembali dan pembesar itu mendekati Siauw Can.

"Tai-hiap, kalau kami tidak mencampuri, kalian te ntu akan dikeroyok oleh ratusan orang anggota pasukan Turki itu. Akan tetapi di sini bukan te mpat kita bicara. Marilah ikut dengan kami menghadap Pangeran Tua. Kalian tentu akan mendapatkan kedudukan yang pantas kalau suka membantu beliau."

Siauw Can saling pandang dengan Bi Lan.

Sungguh merupakan peristiwa yang amat kebetulan dan amat menguntungkan mereka.

Tanpa dicari, pekerjaan datang sendiri, bahkan mereka akan dihadapkan kepada seorang pangeran!

Dan Siauw Can sudah tahu siapa Pangeran Tua!

Adik kaisar!

Tentu mereka akan dapat memperoleh kedudukan yang amat baik!

"I ngat, demi keselamatan kalian!

Kalau kalian menolak dan melihat bahwa kalian bukan orang-orang Pangeran Tua, tentu orang-orang Turki itu tidak akan membiarkan kalian bebas dan kalian akan te rancam bahaya besar."

Kata pembesar itu ketika melihat keraguan pada wajah si wanita cantik. Siauw Can cepat memberi hormat.

"Tai-jin, terus te rang saja kami berdua hendak pergi ke kota raja memang untuk mencari pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan kami."

"Bagus! Kalau begitu cocok sekali. Kalian mencari pekerjaan dan Pangeran Tua memang sedang mencari orang-orang yang memiliki kepandaian silat tinggi seperti kalian. Marilah ikut dengan kami. Namaku Poa Kiu dan aku orang kepercayaan Pangeran Tua Li Siu Ti."

"Tai-jin maksudkan adik dari Sri Baginda Kaisar?"

Tanya Siauw Can dengan girang.

"Siapa lagi kalau bukan beliau yang disebut Pangeran Tua? Nah, mari kalian ikuti rombonganku memasuki kota raja, pasti aman."

Poa Tai-jin yang bernama Poa Kiu itu lalu menunggang kudanya, diikuti oleh enam orang pengawal dan Siauw Can cepat mengikuti dari belakang dengan keretanya.

Dari dalam kereta, Bi Lan bertanya kepada Siauw Can.

"Can-toako , siapa sih orang-orang asing itu? Kenapa mereka merajalela di kota raja dan kenapa pula Poa Tai-jin mendiamkan saja mereka, hanya menegur dan tidak mengambil tindakan?"

"Alh, kiranya engkau belum tahu duduknya persoalan, Lan-moi,"

Jawab Siauw Can lirih agar jangan terdengar orang lain.

"Pasukan Turki merupakan rekan dari pasukan yang digerakkan oleh Panglima atau Pangeran Mahkota Li Si Bin, sehingga berhasil menggulingkan Kerajaan Sui dan mendirikan Kerajaan Tang. Oleh karena itu, tentu saja orang-orang Turki itu menjadi besar kepala dan berani merajalela di sini. Mereka merasa telah berjas a pada pendirian Kerajaan Tang. Bahkan di antara tokoh-tokoh mereka banyak yang diangkat menjadi panglima dan pembesar-pembesar tinggi oleh Sribaginda Kaisar."

"Tapi......mengapa begitu? Mengapa para pendiri Kerajaan Tang itu bersekutu dengan orang-orang Turki?"

"Hal itu tidaklah aneh. Ketahuilah bahwa pemimpin pemberontak yang menggulingkan Kerajaan Sui adalah Li Si Bin yang kini menjadi panglima besar dan pangeran mahkota. Dan dia adalah seorang peranakan Turki. Ayahnya, yang sekarang menjadi Kaisar Tang Kao Cu adalah seorang Han, akan tetapi ibunya adalah seorang wanita Turki, yang kini menduduki jabatan Permaisuri Muda. Nah sebagai seorang peranakan Turki, te ntu saja hubungannya dengan bangsa Turki amat baik dan dia memang membutuhkan bantuan pasukan Turki untuk memenangkan perjuangannya menggulingkan Kerajaan Sui. Setelah berhasil, tentu saja bangsa Turki itu mendapat angin dan berani merajalela di sini."

De ngan singkat, di sepanjang perjalanan ke kota raja.

Siauw Can menceritakan keadaan keluarga kaisar yang diketahuinya dengan baik.

Dia menceritakan betapa yang paling berkuasa di kota raja adalah Panglima atau Pute ra Mahkota Li Si Bin, yang sebetulnya merupakan orang yang menjadi pemimpin besar dalam menggulingkan Kerajaan Sui.

Karena dia masih harus melakukan pene rtiban dan pembersihan, maka dia mengangkat ayahnya menjadi kaisar pertama Kerajaan Tang, yaitu kaisar yang sekarang berjuluk Kaisar Tang Kao Cu.

Adapun Putra Mahkota Li Si Bin sendiri menjadi Panglima besar dan dialah yang berhasil menundukkan semua pemberontak, melakukan penertiban di mana-mana.

Setelah Li Si Bin berhasil, tentu saja otomatis keluarga Li mendapat anugerah, menjadi keluarga kaisar!

Juga Li Si Bin tidak melupakan keluarga ibunya dari Turki dan banyak orang pandai dari Turki diberinya kedudukan untuk membantu lancarnya pemerintahan Tang yang baru.

Di antara para keluarga Li, yang paling menonjol kedudukann ya adalah adik kandung kais ar sendiri, atau paman dari Li Si Bin yang bernama Li Siu Ti.

Paman inipun sudah berjasa membantu perjuangannya, maka setelah mereka berhasil mendirikan Kerajaan Tang, Li Siu Ti menjadi Pangeran Tua yang menjadi penasihat kaisar, bahkan mengepalai para pangeran sebagai wakil kaisar.

"Demikianlah, Lan-moi. Sekarang kita diundang ke s ana! Kalau kita dapat bekerja kepada Pangeran Tua Li Siu Ti, berarti bintang kita sedang te rang! Dia merupakan orang yang paling berkuasa di istana, te ntu saja sesudah kaisar dan putera mahkota!"

Bi Lan ikut merasa gembira.

Iapun ingin mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya agar ia mendapatkan te mpat tinggal yang baik, serba bercukupan sehingga ia akan dapat mendidik Lan Lan dengan baik.

Ia sudah hampir lupa bahwa Lan Lan adalah puteri Si Han Beng dan Bu Giok Cu.

Ia merasa bahwa Lan Lan adalah anaknya sendiri dan segala yang ia lakukan adalah demi kepentingan Lan Lan yang amat disayangnya.

-ooo0dw0ooo-Ge dung itu besar dan indah.

Mungkin hanya kalah megahnya dengan istana kaisar saja.

Hal ini saja membuktikan kebesaran penghuninya.

Dan semua orang tahu belaka bahwa pemilik istana itu Pangeran Tua Li Siu Ti, adalah orang yang paling berkuasa sesudah kaisar dan putera mahkota atau panglima besar.

Pangeran Li Siu Ti, biarpun disebut Pangeran Tua sebagai tanda bahwa dia bukan pute ra kaisar, melainkan adiknya, belumlah tua benar.

Usianya sekitar empatpuluh lima tahun.

Tubuhnya tinggi besar dan gagah, matanya membayangkan kecerdikan dan kadang-kadang mulutnya memiliki senyum yang penuh rahasia.

Sejak dia kebagian kemuliaan menjadi Pangeran Tua dan diangkat menjadi penasihat kakaknya yang menjadi kaisar, Pangeran Li Siu Ti telah membuat banyak jasa.

Dia memang cerdik dan nasihatnya kepada kaisar selalu te pat.

Banyak membantu kelancaran jalannya roda pemerintahan dari Kerajaan Tang yang baru itu.

Pangeran Li Siu Ti mempunyai seorang isteri dan lima orang selir.

Akan tetapi, hanya dari selir ke dua saja dia mempunyai keturunan, yaitu seorang anak perempuan yang pada waktu itu teluh menjadi seorang gadis remaja berusia tujuhbelas tahun, bernama Li Ai Tin.

Puteri ini berwajah cantik, apalagi karena ia pandai dan suka bersole k.

Bentuk tubuhnya yang ramping padat juga menggairahkan, sehingga banyak pemuda di kalangan bangsawan te rgila-gila kepadanya.

Ketika rombongan Poa Kiu yang mengantar Siauw Can dan Bi Lan memasuki pekarangan yang luas dari gedung tempat tinggal Pangeran Tua, kedua orang ini melihat bahwa te mpat itu terjaga oleh pasukan keamanan.

Akan te tapi karena yang mengawal kereta adalah Poa Kiu yang dikenal oleh semua pengawal, maka kereta itu tidak ditahan dan dapat dijalankan sampai di bawah anak tangga beranda depan gedung itu.

Siauw Can dan Bi Lan diam-diam memperhatikan keadaaan te mpat itu dan melihat bahwa di antara para anggota pasukan penjaga tidak nampak seorangpun bangsa Turki.

Kepada kepala pengawal, Poa Kiu minta agar dikabarkan kepada Pangeran Tua bahwa dia mohon menghadap bersama dua orang tamu yang amat penting, guna dihadapkan kepada pangeran.

Kepala pengawal tahu bahwa Poa Kiu adalah orang kepercayaan dan tangan kanan sang pangeran, maka tanpa banyak tanya lagi dia lalu langsung saja masuk ke dalam untuk memberi laporan kepada majikannya.

Tak lama kemudian, kepala pengawal itu muncul kembali dan mempersilakan Poa Kiu dan dua orang tamu itu langsung saja memasuki ruangan tamu di bagian kanan bangunan.

Kalau tadi Bi Lan dan Siauw Can mengagumi pekarangan depan yang mempunyai taman amat indahnya, dan beranda depan yang luas dan dihias arca-arca singa dan naga, kini mereka menjadi makin kagum ketika memasuki lorong menuju ke ruangan tamu, didahului oleh kepala pengawal dan Poa Tai-jin.

Ge dung itu memang indah sekali.

Pot-pot tanaman bunga yang te rukir indah, dengan tanaman bunga yang langka didapat.

Guci-guci besar menghias sudut-sudut di sepanjang lorong, te mpat-tempat lampu yang beraneka bentuk dan warna.

Pilar-pilar yang te rukir, tirai-tirai sutera, permadani dan pada dinding te rgantung lukisan-lukisan dan tulisan huruf indah yang tak te rnilai harganya.

Ketika mereka memasuki kamar tamu, Pangeran Tua Li Siu Ti sudah duduk di situ, di atas s ebuah kursi yang berwarna merah.

Di kanan kiri dan belakangnya berdiri selosin pengawal pribadi.

Kepala pengawal itu menjatuhkan diri berlutut dengan kaki kiri dan memberi hormat.

Poa Kiu juga memberi hormat kepada atasannya dengan menjura dan membungkuk.

Melihat ini, Siauw Can dan Bi Lan juga mengangkat kedua tangan di depan dada dan membungkuk untuk memberi hormat.

De ngan tangannya.

Pangeran Li Siu Ti menyuruh kepala pengawal mundur, kemudian dia memandang kepada pembantu utamanya.

"Poa Kiu, siapakah dua orang muda ini dan kenapa engkau membawa mereka menghadapku?"

Dalam pertanyaan ini terkandung te guran karena agaknya sang pangeran kecewa.

Tadi kepala pengawal melaporkan bahwa Poa Kiu mohon menghadap bersama dua orang penting.!

Tidak tahunya hanya seorang pemuda sederhana dan seorang wanita muda yang memondong seorang anak perempuan!

"Ampun, pangeran,"

Kata Poa Kiu.

"Sekali ini saya membawa berita amat menggembirakan. Tanpa disengaja di tengah perjalanan, saya telah berte mu dengan dua orang pendekar ini yang tentu akan amat berguna bagi paduka. Mereka inilah orang-orang yang selama ini paduka cari, yang paduka butuh kan. Mereka berdua memiliki ilmu kepandain silat yang hebat."

Lalu Poa Kiu menceritakan kepada sang pangeran te ntang sepak te rjang Bi Lan dan Siauw Can ketika diganggu oleh tujuh orang Turki di jalan tadi.

Sang pangeran mendengarkan dengan penuh perhatian, akan tetapi dia mengerutkan alis mengamati dua orang itu.

Agaknya, sukar baginya untuk dapat mempercayai cerita itu.

Dua orang muda itu sama sekali tidak mengesankan sebagai orang-orang berilmu tingggi, apalagi wanita itu, yang masih muda, cantik dan kelihatan lemah le mbut.

Bagaimana mungkin dengan tangan kosong mampu mengalahkan tujuh orang Turki yang kuat-kuat itu?

Dan pemuda itu dengan sebatang suling saja mampu melucuti senjata tujuh orang Turki itu?

Tak masuk akal!

Akan te tapi pada saat itu, kepala pengawal datang menghadap dan melaporkan bahwa Raja Muda Baducin datang bertamu!

Mendengar nama ini, wajah Pangeran Li Siu Ti berseri dan dia mengerling ke arah Poa Kiu.

"Bagus! Agaknya ini ada hubungannya dengnn dua orang muda ini. Poa Kiu engkau ajak mereka keluar dari sini, tunggu di ruangan sebelah. N anti kalau aku memberi is yarat memanggil, kalian masuklah ke sini."

Kemudian pangeran itu memerintahkan kepala pengawal untuk mempersilakan Raja Muda Baducin untuk memasuki ruangan tamu.

Poa Kiu maklum akan apa yang dimaksudkan majikannya, maka diapun mengajak Siauw Can dan Bi Lan keluar melalui pintu s amping dan menunggu di ruangan sebelah.

Tak lama kemudian, masuklah tiga orang ke dalam ruangan tamu itu.

Yang menjadi tamu kehormatan adalah Raja Muda Baducin, seorang laki-laki bangsa Turki berusia limapuluhan tahun, bertubuh tinggi kurus.

Matanya le bar dan tajam sekali, hidungnya seperti paruh kakaktua, kumis dan jenggotnya terpelihara rapi dan kulitnya coklat mengarah hitam.

Pakaiannya mewah dan kepalanya tertutup sorban putih dari sutera, orang yang menemaninya selalu berada di belakangnya arah kanan kiri dan sekali pandang saja orang akan mengetahui bahwa mereka adalah dua orang saudara kembar.

Wajah mereka, bentuk tubuh mereka, bahkan pakaian mereka, serupa dan sukarlah membedakan yang satu dengan yang lain.

Usia mereka sekitar empat puluh tahun, pakaian mereka seperti pakaian perwira perang, dan di pinggang mereka tergantung pedang bengkok yang ujung dan gagangnya terhias emas permata.

Kumis mereka melintang panjang, melengkung ke atas , dan jenggot mereka dipotong agak pendek, membuat mereka tampak jantan dan kokoh kuat.

Apalagi keduanya memang bertubuh tinggi besar seperti raksasa, sehingga baru berte mu saja, orang akan merasa gentar.

Setelah saling bersalaman dan mempersilakan tamunya duduk; Raja Muda Baducin duduk di atas kursi dan dua orang kembar itu te tap saja berdiri di belakangnya, seperti juga selosin pengawal pribadi yang te tap berdiri di belakang Pangeran Li Siu Ti, Pangeran itu lalu berkata kepada kepala pengawal.

"Engkau boleh keluar dan sediakan minuman untuk pasukan pengawal Raja Muda!"

"Baik, Yang Mulia Pangeran!"

Kata kepala pengawal itu lalu keluar dari situ.

Seperti biasa, kepala para orang Turki itu te ntu saja datang dengan sepasukan pengawal yang tadi menanti di luar, sedangkan yang masuk hanya dia bersama dua orang pengawal pribadi yang setia.

Kalau saja orang melihat keadaan kedua "orang besar"

Ini beberapa tahun yang lalu, te ntu apa yang dilihatnya sekarang ini mirip dengan pertunjukan panggung sandiwara saja.

Baru beberapa tahun yang lalu, Pangeran Tua Li Siu Ti yang kini disebut yang mulia dan paduka yang mulia, hanyalah orang biasa saja, bahkan dari keluarga petani.

Akan tetapi begitu sekarang keluarganya berhasil meraih tahta kerajaan, dia menjadi seorang bangsawan tinggi yang dimuliakan orang.

Juga orang yang kini disebut Raja Muda Baducin, tadinya adalah seorang kepala gerombolan orang Turki yang te rmasuk golongan hitam atau sesat yang di negerinya dimusuhi sendiri oleh pemerintahnya.

Baducin dapat bersekutu dengan Li Si Bin dan membantu gerakan perwira muda itu s ehingga berhasil menggulingkan Kerajaan Sui.

Maka, sebagai balas jasa, setelah Li Si Bin berhasil, Baducin menerima anugerah, yaitu sebutan "raja muda"

Dan kedudukan yang mulia!

Dan kini dua orang yang berasal dari rakyat jelata ini, sekarang saling berhadapan seperti dua orang bangsawan tinggi, le ngkap dengan semua peralatan dan peraturannya.

Setelah gadis -gadis pelayan yang cantik datang menyuguhkan makanan dan minuman kepada tamu kehormatan itu, dan mereka berdua makan minum dengan gembira sambil memberi hormat dengan minum arak, barulah Pangeran Li Siu Ti menanyakan maksud kunjungan raja muda itu.

"Kunjungan paduka Raja Muda Baducin merupakan suatu kehormatan besar bagi kami, akan tetapi kunjungan yang mendadak ini agaknya membawa urusan penting. Atau hanya merupakan kunjungan is eng belaka untuk melepas rindu?"

Tanya sang pangeran dengan ramah. Raja Muda Baducin te rtawa bergelak sambil mengelus jenggotnya yang rapi.

"Ha-ha-ha, tepat sekali apa yang diduga oleh Paduka Pangeran Tua. Orang yang se lalu sibuk seperti kami ini mana ada kesempatan untuk membuang waktu hanya untuk iseng? Sesungguhnya kunjungan kami ini untuk mohon keterangan dari paduka te ntang peristiwa yang amat tidak menyenangkan hati kami."

"Hemm, peristiwa apakah itu? Harap paduka segera menceritakan kepada kami."

"Begini, pangeran. Pagi tadi, tujuh orang anggota Pasukan Pedang Bengkok sedang mengadakan patroli di luar pintu gerbang kota raja. Mereka melihat sebuah kereta dan karena curiga mereka menghentikan kereta itu untuk melakukan pemeriksaan. Akan te tapi penumpang kereta itu, seorang pemuda dan seorang wanita muda, membantah dan terjadi percekcokan dan perkelahian. Akan tetapi, ketika anak buah kami hendak memberi hukuman kepada orang-orang yang menghina itu, muncul pembantu paduka, yaitu Poa Kiu. Dia mencegah anak buah kami bertindak dengan mengatakan bahwa dua orang itu adalah sanak keluarga paduka yang datang dari dusun. Dan tadi, mata-mata kami mengetahui bahwa dua orang itu memang datang ke gedung ini! Nah, setelah mendapatkan laporan itu, kami bergegas datang berkunjung untuk mohon penjelasan agar tidak sampai te rjadi kesalah pahaman di antara kita."

Pangeran Li Siu Ti mengangguk-angguk dan te rsenyum.

Biarpun cerita yang didengarnya dari raja muda ini berbeda dengan yang didengarnya dari Poa Kiu, tentu saja dia lebih percaya kebenaran cerita pembantunya yang setia.

Dan diapun maklum bahwa tentu orang-orang Turki itu tidak berte rus terang kepada pimpinan mereka bahwa mereka telah dikalahkan pemuda dan wanita muda itu!

"Me mang benar apa yang paduka dengar itu, karena memang mereka adalah masih sanak keluarga dengan kami, walaupun masih jauh.

Mereka datang berkunjung untuk membantu pekerjaan kami.

Menurut cerita mereka, memang te rjadi kesalah-pahaman dengan tujuh orang anak buah paduka.

Akan te tapi, keributan itu tidak sampai berakibat jauh, tidak ada pihak yang te rluka parah atau tewas.

Maka, kami harap paduka menghabis kan saja urusan di antara anak buah kita itu."

Raja Muda Baducin itu te rtawa.

"Ha-ha-ha, kalau memang mereka itu sanak keluarga paduka, te ntu saja kami yang mohon maaf atas kelancangan anak buah kami. Hanya yang membuat kami merasa penasaran. Kabarnya kedua orang muda itu memiliki ilmu kepandaian yang tinggi sekali sehingga anak buah kami menjadi permainan mereka."

Pangeran Li Siu Ti te rsenyum bangga.

"Me mang kedua orang sanak jauh itu merupakan dua orang pendekar yang memiliki ilmu kepandaian silat yang tinggi!"

"Bagus, kalau begitu, ingin sekali kami berte mu dan berkenalan dengan mereka, dan dapat melihat dengan mata kepala sendiri dua orang muda, seorang pemuda dan seorang gadis , yang telah mampu mengalahkan tujuh orang anak buah pasukan Pedang Bengkok! Kalau mereka berada di sini, dapatkah kami berte mu dengan mereka, pangeran?"

"Tentu saja boleh! Bahkan mereka berduapun berada di sini, akan tetapi untuk menghormati paduka, kami memerintahkan mereka menyingkir ke ruangan lain."

Pangeran Li Siu Ti bertepuk tangan dan muncullah Poa Kiu diiringi Siauw Can dan Kwa Bi Lan yang memondong Lan Lan.

Anak itu sedang makan kembang gula dengan asyiknya.

Pangeran Tua segera memperkenalkan tamunya kepada dua orang muda itu, sedangkan Poa Kiu sudah menjura dengan sikap hormat.

"Tamu te rhormat kita ini adalah Raja Muda Baducin yang mengepalai semua pasukan Turki yang berada di sini, dan beliau ingin berkenalan dengan kalian berdua."

Bi Lan sendiri meragu, dan andaikata tidak ada Siauw Can di situ, belum tentu dia mau memberi hormat kepada orang itu.

Biarpun raja muda, ia adalah seorang Turki dan tadi pagi orang-orang Turki bersikap amat kasar dan menghina kepadanya.

Bagaimana ia dapat memberi hormat?

Akan te tapi, Siauw Can mendahuluinya dan pemuda ini member hormat dengan menjura, yang diturut pula oleh Bi Lan.

Sementara itu, melihat bahwa dua orang yang telah mengalahkan tujuh orang anak buahnya itu hanya seorang pemuda kerempeng dan seorang wanita muda cantik yang le mah le mbut, hati Raja Muda Baducin menjadi semakin penasaran.

"Aha, kiranya dua orang ini masih amat muda! Pantas saja lancang dan berani menghina tujuh orang anggota Pasukan Pedang Bengkok kami!"

Katanya. Mendengar ini, Siauw Can cepat menjawab.

"Paduka mendapat keterangan yang keliru. Kami berdua sama sekali tidak pernah menghina tujuh orang itu."

"Ho-ho-ho, kalian mengalahkan tujuh orang anggota Pedang Bengkok di jalan raya, disaksikan banyak orang kalian telah melucuti senjata pedang mereka dan memandang rendah mereka, bukankah itu penghinaan besar namanya! Kalau tidak muncul Poa Tai-jin, tentu telah terjadi perkelahian mati-matian!"

"Maafkan kami,"

Kata pula Siauw Can mengalah.

"Ha-ha-ha, kalau kami tidak memaafkan, apa kami mau berkunjung ke sini? Kami justru kagum kepada kalian dan kami ingin menyaksikan sendiri sampai di mana kelihaian kalian berdua! Nah, di sini ada dua orang pengawalku. Kalau kalian berdua mampu mengalahkan dua orang pengawalku ini, aku akan memberi selamat kepada Pangeran Tua yang beruntung sekali mendapatkan pembantu-pembantu yang amat lihai!"

Itu merupakan tantangan terbuka! Bi Lan sudah menjadi merah wajahnya, akan tetapi Siauw Can yang cerdik member hormat ke arah Pangeran Li Siu Ti yang sejak tadi hanya mendengarkan saja.

"Kami berdua telah bekerja di sini maka kami tidak dapat melakukan apapun tanpa perintah dari Paduka Pangeran Tua! Kami berdua menanti perintah!"

Pangeran Li Siu Ti tersenyum lebar.

Inilah kesempatan baginya untuk menguji kedua orang itu.

Akan tetapi Poa Kiu merasa khawatir.

Tentu saja dia sudah mengenal siapa dua orang pengawal pribadi Raja Muda Baducin ini.

Dua orang raksasa kembar itu merupakan orang-orang yang paling kuat dan paling lihai di antara semua orang Turki yang berada di kota raja.

Nama mereka Gondulam dan Gondalu, dua orang saudara kembar yang selain bertenaga gajah juga pandai ilmu gulat, pandai silat bahkan memiliki kekuatan sihir!

-ooo0dw0ooo-

Jilid 11

"Maaf, Paduka Raja Muda Baducin! Saya kira, urusan anak buah adalah urusan kecil, apa perlunya dibesarkan lagi? Biarlah lain hari kami akan mengirim obat kepada tujuh orang anggota pasukan Pedang Bengkok itu disertai maaf kedua orang muda ini."

"Aih, Poa Kiu, kenapa begitu? Kami yakin bahwa Raja Muda Baducin tidak mempunyai niat buruk. Beliau memang kagum kepada orang-orang lihai seperti juga kami. Oleh karena itu, pertandingan adu kepandaian ini menarik sekali."

Lalu dia menoleh kepada Siauw Can.

"Orang muda, beranikah kalian berdua menandingi kedua orang pengawal pribadi Raja Muda Baducin itu?"

"Kami hanya menanti perintah paduka,"

Jawab Siauw Can.

"Bagus! Kami perintahkan kepada kalian berdua untuk menandingi dua orang raksasa kembar itu mengadu ilmu kepandaian."

Kepada seorang di antara pengawalnya dia berkata.

"Cepat engkau ke ruangan berlatih dan persiapkan te mpat untuk mengadu kepandaian!"

Sambil te rtawa-tawa akan tetapi hati mereka sebetulnya panas, dua orang bangsawan itu berjalan berdampingan menuju ke ruangan latihan yang luas di sebelah belakang bangunan itu.

Mereka diikuti Poa Kiu, kemudian dua orang pengawal pribadi Bangsa Turki, lalu Siauw Can dan Bi Lan, baru duabelas orang pengawal pangeran itu mengawal bagian paling belakang.

Sebetulnya jarang sekali dua orang bangsawan itu saling berkunjung, bahkan tidak pernah.

Semua orang tahu belaka bahwa Pangeran Tua Li Siu Ti merupakan bangsawan yang tidak suka kepada orang Turki, seperti banyak pula pejabat dan bangsawan yang seperti dia.

Akan tetapi karena pasukan Turki itu merupakan rekan dari pasukan yang dipimpin Panglima besar Li Si Bin, te ntu saja dia tidak berani berterang menyatakan rasa tidak sukanya kepada Bangsa Turki.

Hanya di dalam hatinya saja dan dia tidak pernah bergaul dengan mereka, kecuali dalam perte muan resmi.

Hal ini diketahui pula oleh Raja Muda Baducin, maka kalau dia bersikap ramah, ini hanyalah basa basi belaka.

Di dalam hatinya, tentu saja dia juga amat tidak suka kepada adik kaisar yang anti Turki ini.

Mereka kini memasuki ruangan latihan yang luas itu.

Di sini bukan hanya untuk latihan para pengawal, akan tetapi j|uga kadang-kadang kalau sang pangeran mengadakan rapat rahasia dengan orang yang dipercayanya saja, tempat ini dipergunakan.

Tempat ini aman, tertutup dan te rjaga ketat oleh para pengawal sehingga orang luar jangan harap akan dapat mengintai, apa lagi masuk.

Setelah tiba di situ s ang pangeran dan sang raja muda segera duduk di kursi yang sudah disediakan, sedangkan para pengawal berjajar di belakang pangeran.

Juga di pintu terdapat prajurit yang berjaga.

Dua orang raksasa kembar itu agaknya sudah siap dan mereka menyeringai sambil memandang ke arah Siauw Can dan Bi Lan, calon lawan mereka.

Siauw Can segera memberi hormat kepada Pangeran Tua Li Siu Ti.

"Mohon maaf, pangeran. Saya mohon agar pertandingan ini diadakan satu lawan satu dan bergiliran, karena seorang di antara kami harus menjaga Lan Lan, anak kecil ini."

Mendengar ucapan Siauw Can itu, Bi Lan mengangguk setuju dan ia merasa girang sekali.

Memang, adanya Lan Lan merupakan kelemahan bagi pihaknya.

Ia belum tahu watak lawan.

Siapa tahu mereka menggunakan akal untuk mencapai kemenangan, misalnya dengan menangkap Lan Lan, seperti yang pernah dilakukan tiga orang perwira di kota Peng-lu itu.

Permohonan Siauw Can kepada pangeran itu memang penting sekali, karena dengan cara bergantian, maka Lan Lan terjaga dengan aman.

Pangeran Tua te rsenyum dan mengangguk.

"Tentu saja, di sini tidak ada istilah keroyokan. Kamipun ingin menikmati adu kepandaian ini, kalau satu lawani satu akan dapat kita ikuti dengan baik. Siapa di antara kalian yang akan maju lebih dahulu?"

Bi Lan menyerahkan Lan Lan kepada Siauw Can. Anak ini sudah biasa dengan Siauw Can, maka iapun mau saja dipangku pemuda itu dan Bi Lan lalu bangkit menghampiri pangeran.

"Saya yang akan maju lebih dulu, pangeran."

Pangeran Tua Li Si u Ti te rsenyum kagum.

Dia belum percaya betul bahwa wanita muda cantik yang mempunyai seorang anak ini memiliki ilmu kepandaian hebat dan akan mampu menandingi seorang di antara dua raksasa kembar itu.

Akan te tapi sikap wanita yang demikian te nang dan berani saja sudah mengundang kekagumannya.

Bagaimanapun juga, dalam hal keberanian, wanita ini jarang tandingannya, pikirnya.

Diapun mengangguk dan menole h kepada Raja Muda Baducin.

"Nah, jago kami sudah maju. Paduka akan mengajukan jago yang mana?"

Sebetulnya, tingkat kepandaian dua orang saudara kembar itu sama dan kelihaian mereka justru kalau mereka maju berdua.

Biarpun mempunyai dua badan, namun saudara kembar itu dapat bergerak seperti dikemudikan satu pikiran dan satu perasaan saja, dan hal ini yang membuat mereka sukar dikalahkan kalau maju berdua.

Namun, biarpun seorang diri, masing-masing juga merupakan lawan yang amat kuat.

Hanya bedanya, kalau Gondulam han ya suka akan kemuliaan, adik kembarnya, Gondalu, adalah seorang mata keranjang.

Maka, begitu melihat yang maju Bi Lan, wanita yang cantik manis itu, Gondalu mendahului saudara kembarnya dan melangkah maju memberi hormat kepada Raja Muda Baducin sambil berkata.

"Kalau paduka mengijinkan, hamba yang akan maju menandingi perempuan ini. Yang Mulia!"

Tentu saja Baducin mengenal watak Gondalu, maka dia te rse nyum dan mengelus kumisnya sambil mengangguk-angguk.

"berse nang-senanglah engkau, Gondalu!"

Katanya.

Gondalu melangkah maju menghampiri Bi Lan yang sudah siap berdiri di te ngah ruangan yang luas itu.

Ia bersikap waspada, berdiri dengan santai, akan tetapi seluruh syaraf di tubuhnya dalam keadaan siap siaga.

Ia tadi sengaja menanggalkan sepasang pedangnya dan menyerahkannya kepada Siauw Can sehingga melihat ini, sebelum melangkah maju Gondalu juga menanggalkan pedang bengkoknya dan menitipkannya kepada saudara kembarnya.

Hal ini atas isyarat Siauw Can yang tidak ingin kehadiran mereka yang pertama itu akan membuat lawan roboh terluka atau tewas sehingga akan terjadi permusuhan antara dua orang besar itu.

Gondalu yang juga tidak ingin membunuh lawan, senang-melihat wanita itu maju dengan tangan kosong.

Dengan bertanding tanpa senjata, le bih mudah baginya untuk menelikung dan menangkap wanita cantik itu, mengalahkannya tanpa melukai, akan tetapi dia akan dapat sepuasnya memegang-megang dan mengusap-usap!

Bagi orang biasa, melihat kedua orang yang akan bertanding itu berhadapan, te ntu akan merasa cemas terhadap Bi Lan.

Sungguh tidak sepadan lawa itu, amat berat sebelah!

Gondalu adalah seorang laki-laki raksasa yang tubuhnya berotot dan kokoh kekar seperti tugu batu!

Sedangkan Bi Lan seorang wanita muda yang tubuhnya ramping padat dan nampak le mah le mbut, tubuh yang membayangkan kehangatan dan kelembutan yang sepatutnya hanya menandingi kemesraan dan belaian, bukan kekerasan dan pukulan!

Mereka berdiri berhadapan dalam jarak dua meter.

Raksasa itu berdiri dengan punggung agak melengkung ke depan, le bar dan tinggi, seperti seekor beruang.

Kedua lengannya yang panjang itu te rgantung le pas sampai hampir mencapai lutut, dengan jari-jari tangan yang besar.

Ibu jari raksasa itu tentu tidak kalah besar dibandingkan pergelangan tangan Bi Lan!

Agaknya, sekali terkena cengkeraman jari-jari tangan itu tulang-tulang Bi Lan akan remuk-remuk.

Bi Lan hanya setinggi bawah pundak Gondalu dan biarpun mereka berdiri dalam jarak dua meter, hidung Bi Lan masih dapat menangkap bau yang apek dan mengingatkan ia akan bau di kandang kerbau!

"Heh-heh heh, sudah siapkah engkau, nona?"

Gondalu bertanya sambil menyeringai, kata-katanya te rdengar kaku dengan logat asingnya.

"Kalau sudah, seranglah dan perlihatkan kepandaianmu!"

"Pihakmu yang menantang, maka kamulah yang harus menyerang lebih dulu. Aku sudah siap!"

Jawab Bi Lan, sikapnya masih te nang saja dan santai, akan tetapi matanya tak pernah berkedip, mengikuti gerakan tubuh orang, te rutama kedua pundaknya karena semua gerakan penyerangan kedua tangan selalu didahului oleh gerakan pundak.

Juga pendengarannya dikerahkan agar dapat ia menangkap semua sambaran kaki lawan kalau melakukan penyerangan.

Hal ini penting sekali karena kadang-kadang, pendengaran mendahului penglihatan dalam mengikuti gerakan lawan.

"Heh-heh-heh, kau sambut ini, nona manis!"

Dan Gondalu sudah menerjang ke depan, kedua le ngannya yang panjang itu bergerak, yang kanan meluncur ke depan mencengkeram ke arah dada Bi Lan dan yang kiri menyambar dari atas untuk menjambak rambut wanita itu.

Jelas bahwa orang Turki ini tidak lagi bersikap sungkan, walaupun menghadapi lawan wanita, begitu menyerang, dia langsung mencengkeram ke arah dada, hal yang tidak akan dilakukan oleh seorang yang menjaga kesopanan te rhadap wanita.

Namun, Bi Lan menghadapinya dengan te nang.

Ia memang tidak pernah mengharapkan orang seperti raksasa ini akan mengenal sopan santun, maka serangannyapun tidak membuat ia te rkejut atau marah.

De ngan lembut dan tidak te rgesa-gesa ia melangkah mundur dan serangan kedua le ngan panjang itupun luput, akan tetapi Gondalu sudah melangkah maju.

Kalau Bi Lan melangkah mundur tiga langkah, maka raksasa ini dengan satu langkah saja sudah mendekati Bi Lan dan sekali ini, kedua tangannya yang kasar dengan jari-jari tangan terbuka, sudah menyambar dari kanan kiri untuk menangkap pinggang Bi Lan.

Kembali Bi Lan mengelak dengan lompatan ke kiri.

Ia belum berani lancang membalas karena ia harus mencari dulu kelemahan dari lawan, dan ia dapat menduga bahwa lawan belum benar-benar menyerangnya, hanya mengira ila seorang wanita le mah dan hendak mempermainkan saja.

Setelah dua kali tubrukannya luput, Gondalu mulai merasa penasaran.

Dia melihat gerakan wanita itu ketika mengelak, demikian ringan dan cepat, maka sebagai seorang yang banyak pengalaman berkelahi, dia dapat menduga bahwa wanita ini memiliki kegesitan yang membuat dia akan selalu gagal kalau menyerang dengan lemah dan berusaha menangkap saja.

Maka, setelah lima kali menubruk dan gagal, kini mulailah Gondalu melakukan penyerangan dengan sungguh-sungguh.

Dia mengeluarkan suara gerengan nyaring dan le ngan kirinya bergerak, mencengkeram dari kiri atas ke arah kepala lawan, sedangkan tangan kanannya mendorong dengan te lapak tangan ke arah perut.

Serangan ini hebat sekali dan dari sambaran anginnya, tahulah Bi Lan bahwa lawan mulai bersungguh-sungguh!

"Plak!

Plakk!"

Ia sengaja mundur sambil menangkis dengan kedua lengannya untuk mengukur te naga lawan.

Bi Lan merasa tubuhnya te rguncang!

Benarlah dugaannya bahwa mengadu te naga dengan lawan seperti ini amat berbahaya.

Ketika tangan itu menyambar selagi ia terguncang, ia sudah melompat ke atas dan kakinya mencuat, menendang ke arah muka lawan.!

Ge rakan ini amat cepat karena dilakukan ketika tubuh mencelat ke atas, seperti serangan kaki seekor burung rajawali!

"Uhhhh.........!"

Gondalu te rkejut dan cepat dia menarik tubuh atas ke belakang.

Nyaris mukanya te rcium sepatu!

Dan kini Bi Lan berjungkir balik tiga kali, turun ke atas lantai di belakang lawan.

Akan tetapi Gondalu sudah membalik sambil melakukan tendangan.

Kakinya yang panjang dan besar itu menyambar seperti sebuah balok yang besar, mendatangkan angin bersiut.

Bi Lan kembali melompat dan mengelak sehingga te ndangan itu hanya mengenai tempat kosong.

Marahlah Gondalu.

Lupa dia bahwa lawannya seorang wanita yang cantik mole k.

Lenyap semua keinginannya merangkul, memeluk, meraba dan mencolek.

De ngan beringas dia menyerang dan te rnyata raksasa ini memiliki gerakan silat yang amat ganas, dan tenaganya memang dahsyat.

Namun, tidak percuma beberapa tahun Bi Lan digemble ng ilmu ole h guru yang kemudian menjadi suaminya, yaitu mendiang Sin-tiauw (Rajawali Sakti) Liu Bhok Ki!

Tubuhnya berkelebatan bagaikan seekor burung rajawali, mengelak sambil membalas dengan serangan yang cepat sekali, dari kanan kiri, dari depan dan te rutama sekali dari atas.

Ia pasti membalas dengan serangan dari atas yang membuat Gondalu te rkejut dan berkali-kali dia nyaris te rkena tamparan atau te ndangan lawan.

Kini Raja Muda Baducin memandang bengong.

Pertandingan itu jelas memperlihatkan bahwa jagonya sama sekali tidak mampu mendesak lawan, dan pertandingan itu hebat sekali.

Bagaikan sekor beruang besar melawan seekor burung rajawali!

Beruang itu mencoba untuk menangkap dan menyerang dari bawah dan rajawali menyambar-nyambar dari atas.

Bukan main hebatnya wanita itu dan sekarang dia mengerti mengapa tujuh orang anggota pasukan Pedang Bengkok tidak mampu mengalahkan wanita itu.

Memang hebat!

Juga Gondulam menonton dengan penuh perhatian.

Dia melihat betapa saudara kembarnya itu tidak kalah dalam hal te naga dan memiliki daya serang yang lebih dahsyat dan ganas, akan tetapi saudaranya itu tidak berdaya karena lawan te rlampau gesit, te rlampau cepat gerakannya dengan keringanan tubuh yang mengagumkan.

Sukar memang menangkap atau menyerang lawan segesit itu, dan saudaranya itu berada dalam bahaya kalau dia tidak hati-hati.

Sementara itu, Pangeran Tua Li Siu Ti juga memandang bengong, akan te tapi bengong dan kagum di samping perasaan gembiranya.

Berulang kali dia memandang kepada Poa Kiu sambil mengangguk-angguk senang.

Memang pilihan orang kepercayaannya itu benar sekali!

Wanita ini hebat!

Kalau dia mempunyai pengawal keluarga seperti ini, tentu aman!

Dan puterinya, anak tunggalnya, Li Ai Yin yang akhir-akhir ini rewel ingin belajar silat, dapat berguru kepada wanita yang lihai ini!

Tiba-tiba dia melihat puterinya itu muncul di ambang pintu ruangan itu.

Para penjaga memberi hormat, akan tetapi gadis itu tidak memperhatikan, dan ia melangkah masuk, lalu berdiri bengong memandang ke arah pertandingan yang te ngah berlangsung.

Li Ai Yin adalah seorang dara berusia tujuhbelas tahun yang cantik, berkulit putih mulus dengan dandanan seorang pute ri, serba indah dan mewah pakaiannya.

Rambut digelung tinggi di atas kepala, dihiasi emas permata.

Juga te linga, leher, le ngan dan jari tangannya berhiaskan emas permata gemerlapan.

Gadis itu memiliki mata dan mulut yang manis dan genit menantang.

Kerling matanya tajam, senyumnya menantang dan ia memang memiliki daya tarik yang mempesona.

Karena pertandingan sedang berlangsung dan semua orang memperhatikan pertandingan itu.

Pangeran Tua Li Siu Ti juga diam saja tidak menegur puterinya yang nampak tertegun dan berdiri di dekat pintu.

Pertandingan itu kini sudah mencapai puncaknya.

Tigapuluh jurus telah lewat dan belum pernah satu kalipun Bi Lan terjamah jari tangan Gondalu atau ujung kakinya.

Gerakan wanita muda ini te rlalu cepat bagi Gondalu dan kini Bi Lan yakin bahwa kele mahan lawannya adalah pada gerakannya yang te rlalu lamban, karena berat badan dan karena kekakuan otot-otot yang dilatih te rlalu keras itu.

Gondalu memang berhasil memiliki tenaga otot sebesar gajah, akan tetapi hal ini membuat gerakannya menjadi kaku dan lamban.

Ia tahu pula bahwa lawan ini memiliki kekebalan, bahkan pernah ia menotok dengan jari tangan dan mengenai le her dan pundak, akan tetapi raksasa itu tidak banyak terpengaruh, hanya te rgetar sedikit akan tetapi tidak roboh!

Sukar agaknya merobohkan raksasa ini kalau tidak menggunakan akal, pikirnya.

Dari gurunya ia telah mendapat banyak petunjuk bagaimana menghadapi lawan yang tangguh, kebal dan sukar dilukai.

Bi Lan mempercepat gerakannya dalam ilmu silat Hui-tiauw-sin kun (Silat Sakti Rajawali Terbang) sehingga Gondalu terpaksa harus ikut berputar karena lawannya seperti terbang berputaran.

Gondalu menjadi pening juga karena gerakan lawan terlampau cepat.

Tiba-tiba dia melihat bayangan lawan meloncat ke atas dan ketika wanita itu menukik turun, kedua tangannya menyambar ke arah ubun-ubun kepala dan matanya.

"Huhh.......!! "

Gondalu menggereng dan kedua le ngannya diputar di depan kepala dan muka untuk melindungi bagian ini.

Dia memang kebal, akan te tapi matanya jelas tidak kebal, dan ubun-ubun kepalanya merupakan bagian yang amat berbahaya walaupun sudah dilindungi dengan kekebalan.

Jangankan te rluka, baru te rgetar keras atau terguncang saja sudah berbahaya.

Akan te tapi, secepat kilat Bi Lan mengurungkan serangannya dan tubuhnya meluncur ke bawah, memutar dan dari belakang, kedua kakinya menghantam ke arah kedua kaki lawan, te pat di belakang lutut!

"Bressss.........!!"

Betapapun kuat dan kebalnya tubuh Gondalu, akan tetapi dihantam dengan te ndangan mengandung sin-kang dan tepat mengenai belakang lutut, te ntu saja dia tidak mampu bertahan untuk berdiri lagi.

Kedua lututnya tertekuk dan diapun sudah jongkok dan berte kuk lutut.

Biarpun dia tidak roboh, akan tetapi sudah jatuh berlutut seperti itu sungguh merupakan bukti bahwa dia te lah kalah!

Kalau lawan menghendaki, ketika dia jatuh berlutut itu, te ntu lawan dapat menghabis inya dengan serangan maut ke arah kepalanya.

Bi Lan cepat memberi hormat kepada Pangeran Tua Li Siu Ti dan pangeran itu tersenyum gembira bukan main.

Tiba-tiba te rdengar te puk tangan yang nyaring.

Semua orang menengok ke pintu dan melihat betapa yang bertepuk tangan adalah puteri sang pangeran, semua orang, te rmasuk para perajurit yang berjaga, ikut pula bertepuk tangan.

Tepuk tangan Ai Yin dan ayahnya yang paling keras dan kedua orang inilah yang membuat semua orang berani ikut-ikut berte puk tangan, kecuali tentu saja Raja Muda Baducin dan dua orang pengawal pribadinya itu.

Gondalu merasa penasaran sekali dan beberapa kali dia memprotes, mengatakan dalam bahasanya sendiri kepada Raja Muda Baducin bahwa dia belum kalah karena belum roboh.

Akan tetapi agaknya Baducin tahu diri.

Dia tadi melihat betapa jagoannya memang tidak mampu berbuat banyak.

Wanita muda itu te rlalu cepat gerakannya sehingga jagoannya belum pernah berhasil menampar atau memukul lawan satu kalipun, sedangkan wanita itu sudah beberapa kali memukul dan menendang dengan te pat, walaupun tidak dapat merobohkan Gondalu yang kebal.

Maka diapun membentak Gondalu disuruh mundur.

Gondalu, dengan muka merah, lalu berdiri di belakang raja muda itu.

"Ayah, siapakah enci yang amat lihai ini? Ia hebat sekali!"

Ai Yin menghampiri ayahnya.

Ketika melihat Siauw Can memondong anak perempuan kecil dan Bi Lan yang dikagumi itu menghampiri pemuda itu dan kini menggantikan memondong Lan Lan, Ai Yin mengerutkan alisnya sambil memandang kepada Siauw Can dengan penuh perhatian.

"Dan dia ini siapa, ayah? Apakah suami dari enci ini dan anak itu puteri mereka ?"

"Ha-ha ha, wanita ini adalah pengawal keluarga kita yang baru, Ai Yin. Sudahlah, nanti saja kita bicara dan berkenalan dengan mereka. Sekarang masih ada sebuah pertandingan lagi. Duduklah di sini, kita nonton pertandingan yang te ntu akan le bih menarik lagi,"

Kata sang pangeran.

Ai Yin menghampiri ayahnya dan Siauw Can yang diam-diam memperhatikan, menelan ludah.

Tak disangkanya bahwa Pangeran Li Siu Ti mempunyai seorang pute ri yang demikian cantik jelitanya, dan ketika melangkah, dia menelan ludah.

Langkah dara itu mengandung le nggang yang menggairahkan dan memikat dan sebagai seorang laki-laki yang berpengalaman, tahulah dia bahwa dara itu memiliki watak yang menantang dan genit.

Langkah itu buatan, dan memang hebat, le mah gemulai dan menonjolkan lekuk-lengkung tubuhnya, dengan pinggul yang menari-nari di balik bayangan pakaiannya!

Dan dengan sikap amat manja Ai Yin duduk di samping ayahnya, te rsenyum-senyum anggun dan bangga karena ia yakin bahwa penampilannya, gaya dan le nggang tadi tentu akan membuat semua pria yang memandangnya menjadi mabok kepayang!

Apalagi pemuda yang tampan gagah itu!

Siauw Can kini maju dan memberi hormat kepada sang pangeran, otomatis juga kepada Ai Yin karena dara ini duduk di samping ayahnya.

De ngan memasang senyumnya yang paling menarik, dengan sepasang mata yang bersinar-sinar dengan sikap yang dibuat paling gagah, dia memberi hormat dan berkata.

"Kalau paduka mengijinkan, saya akan menghadapi tantangan jagoan raksasa ke dua dari Raja Muda Baducin."

"Perlihatkan kemampuanmu kalau kau ingin kami beri kedudukan yang tinggi,"

Kata sang pangeran. Siauw Can mengangguk dan ketika dengan sikap gagah dia membalik untuk menghampiri lawan, Ai Yin berseru.

"Heiiii! Ambilkan perhias an di sorban lawanmu itu untukku!"

Sang pangeran te rkejut, akan tetapi karena pute rinya sudah terlanjur bicara, diapun tak dapat berbuat sesuatu.

Mendengar ini, Siauw Can membalik memandang kepada pute ri itu dengan mata bersinar dan wajah berseri, bibirnya te rsenyum dan diapun menjura dengan dalam.

"Saya akan mentaati perintah paduka!"

Katanya dan te ntu saja Ai Yin yang manja itu menjadi girang, te rsenyum dan mengangguk.

Melihat ini, diam-diam Bi Lan merasa tidak enak.

Ia sama sekali tidak merasa cemburu, akan te tapii menganggap bahwa sikap Siauw Can berle bihan.

Pemuda itu akan menemui banyak kesukaran kalau bersikap seperti itu terhadap pute ri pangeran!

Balum juga memperole h kedudukan, sudah bersikap seperti itu, sikap yang jelas sekali menunjukkan bahwa pemuda itu te rgila-gila oleh kecantikan sang pute ri.

Atau mungkin juga oleh kedudukan pute ri itu, karena kalau hanya tertarik oleh kecantikannya, tidak mungkin.

Gadis itu masih terlalu muda, dan mempunyai sifat genit dan manja, dan mengenai kecantikannya, tidaklah te rlalu hebatt sehingga kiranya tidak akan cukup untuk membuat seorang seperti Siauw Can tergila-gila.

Siauw Can sudah berhadapan dengan Gondulam.

Tentu s aja jagoan ke dua lebih berhati-hati dari pada saudaranya setelah melihat apa yang dialami oleh Gondalu.

Dia sama sekali tidak, memandang rendah kepada lawannya, walaupun pemuda itu kelihatan kecil saja baginya.

Dia sudah tahu bahwa orang Han banyak yang memiliki ilmu silat aneh dan sama sekali tidak te rduga-duga, penuh rahasia.

Maka, sebelum maju dia telah mengerahkan kekuatan sihirnya, dibantu oleh saudara kembarnya, sehingga ketika dia melangkah maju, selain kedua le ngannya terisi kekuata sihir, juga bagi lawannya dia akan nampak mengerikan dan dahsyat!

Selain itu juga dia menggosok-gosok kedua telapak tangannya dan telapak kedua tangan itu mengeluarkan uap panas!

Begitu memandang wajah lawan dan melihat wajah itu menggiriskan Siauw Can maklum apa yang te rjadi!

Akan tetapi, dalam hatinya dia te rtawa.

Ia sendiri adalah pute ra dan murid mendiang Cui-beng Sai-kong (Kakek Muka Singa Pengejar Arwah), seorang yang ahli dalam hal ilmu hitam dan sihir.

Maka, biarpun tahu bahwa lawannya mengeluarkan ilmu sihir sehingga membuat wajahnya nampak menyeramkan.

Dia memejamkan kedua mata, berkemak-kemik lalu menggosok kedua matanya dengan telapak tangannya sendiri dan ketika dia membuka kembali matanya, wajah Gondulam nampak biasa saja!

Melihat kedua telapak tangan lawan mengeluarkan uap, Siauw Can segera menghimpun sin-kang dan menyalurkannya ke arah kedua tangannya.

"Sobat, tidak perlu menggunakan ilmu setan menakut-nakuti anak kecil. Aku sudah siap. Nah, majulah!"

Tantang Siauw Can sambil te rsenyum manis karena dia menghadap ke arah sang pute ri agar dara itu dapat melihat senyumnya. Dan Ai Yin memang melihat semua lagak pemuda itu. Ia berbisik kepada ayahnya.

"Ayah, orang itu hebat, ya?"

"Hemmm......"

Pangeran Tua Li Siu Ti mengerling kepadanya dengan alis berkerut.

Di lubuk hatinya dia merasa tidak senang kalau puterinya tertarik kepada pemuda pendekar itu atau kepada siapapun juga.

Baginya, hanya ada calon tunggal untuk pute rinya, yaitu ponakannya sendiri, sang pute ra mahkota atau panglima besar, Li Si Bin!

Dia tahu bahwa mereka masih saudara sepupu, sama-sama bermarga Li.

Akan tetapi pantangan menikah antara marga yang sama hanya berlaku untuk rakyat jelata.

Keluarga kaisar boleh melakukan apa saja tanpa ada pantangan, karena bukankah yang membuat peraturan dan hukum adalah keluarga kaisar pula?

Yang penting, Li Ai Yin, anak tunggalnya, harus menjadi isteri Li Si Bin dan kelak menjadi permaisuri, itu merupakan satu di antara cita-citanya!

Gondulam diam-diam te rkejut melihat sikap pemuda itu.

Jelas bahwa pemuda itu tidak te rpengaruh kekuatan sihirnya dan ini saja menunjukkan bahwa pemuda itu merupakan lawan yang tangguh.

"Huahhh.......!!"

Dia mengeluarkan teriakan parau dan tanpa membuang waktu lagi, Gondulam sudah melakukan serangan kilat.

Dia tidak mau meniru saudaranya yang tadi gagal.

Begitu menyerang, dia menggunakan gerakan cepat sambil mengerahkan seluruh te naga.

Menyerang dengan dahsyat sekali sehingga tulang-tulangnya mengeluarkan bunyi berkerotokan ketika kedua tangannya mencakar-cakar seperti kaki harimau.

Siauw Can juga maklum akan kehe batan lawan.

Akan te tapi, tingkat kepandaian Siauw Can jauh le bih tinggi daripada tingkat lawannya, Juga jauh le bih tinggi daripada tingkat kepandaian Bi Lan.

Maka, dengan berani dia menyambut dengan kedua tangannya pula.

"Dukk! Dess.........!"

Dua pasang tangan berte mu.

Sepasang lengan yang kokoh kuat dan besar dari Gondulam bertemu dengan lengan Siauw Can yang biasa saja besarnya, dan akibatnya, tubuh Gondulam te rhuyung ke belakang, sedangkan Siauw Can tetap tegak dan tersenyum mengejek.

"Mana tenagamu? Keluarkan semua tenaga dan kepandaianmu,"

Kata Siauw mengejek.

Ai Yin berte puk tangan, tepuk tangan tunggal di ruangan itu, akan tetapi dara itu tidak merasa janggal atau sungkan.

Dan diam-diam sang pangeran juga kagum kepada Siauw Can.

Pemuda itu dalam segebrakan saja membuat lawannya terhuyung.

Semua orang merasa heran, termasuk Raja Muda Baducin.

Hanya Bi Lan yang tidak merasa heran, karena biarpun belum dapat mengukur sampai di mana kehe batan Siauw Can, namun ia tahu bahwa pemuda itu memang lihai bukan main.

Gondulam menjadi marah sekali ketika diejek.

Dia mengeluarkan suara menggereng seperti binatang buas, lalu menyerang bertubi-tubi, mengeluarkan seluruh kepandaiannya.

Kedua tangannya itu kalau sampai dapat menangkap bagian tubuh Siauw Can, te ntu akan segera menggunakan ilmu gulatnya dan jangan harap Siauw Can akan mampu melepaskan dirinya lagi sebelum seluruh tulangnya patah-patah!

Akan tetapi, pemuda inipun bukan seorang bodoh.

Selain memiliki pengalaman bertumpuk, pernah menghadapi lawan-lawan yang jauh lebih lihai dan berbahaya dibandingkan raksasa itu.

Apa lagi sekarang dia sedang berlagak untuk memancing pujian dan kekaguman dari pute ri je lita itu!

Dia sengaja hendak mempermainkan lawannya!

De ngan gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang tinggi, dia sengaja mengelak dengan langkah-langkah aneh dan loncatan-loncatan gesit dan lucu.

Beberapa kali sengaja membiarkan tangan lawan menyentuhnya, akan tetapi segera dia mengelak sambil beberapa kali mencolek dan mendorong tubuh lawan.

Kalau dia mau, sejak tadi dia akan mampu merobohkan lawan.

Akan te tapi dia memang sengaja membuat pertandingan itu nampak seru!

Padahal, Gondulam sendiri tahu bahwa dia kalah jauh, akan te tapi karena pemuda itu mempermainkannya.

Ia menjadi marah sekali dan menyerang dengan dahsyat dan mati-matian, bahkan membabi buta.

"Brettt...........!"

Siauw Can merobek baju lawan ketika dia mencengkeram baju itu dari belakang, sehingga tubuh bagian atas lawan menjadi telanjang.

Kalau saja di situ tidak ada Bi Lan dan pute ri pangeran itu, tentu akan direnggutnya lepas pula celana lawan.

Kembali terdengar te puk tangan dari puteri itu yang berte puk tangan gembira.

Melihat ini, Bi Lan menjadi semakin khawatir.

Ia tahu bawa Siauw Can menjual lagak, dan tahu pula bahwa gadis itu adalah seorang dara remaja yang masih hijau dan memang berpenampilan genit.

Menghadapi seorang pemuda tampan gagah dan berpengalaman seperti Siauw Can, dara ingusan ini tentu amat mudah jatuh!

"Ambilkan perhiasan itu untukku!"

Kata pula Ai Yin di antara tepukannya.

"Baik, tuan pute ri!"

Biarpun dihujani serangan dari lawan yang semakin marah, Siauw Can masih mampu menjawab.

"Heiii, gajah bengkak! Tuan pute ri minta perhiasan sorbanmu, tidak cepat kau serahkan?"

Katanya dan tiba-tiba tangan kirinya dengan jari-jari terpentang menusuk ke arah mata Gondulam.

Ge rakan ini cepat dan tiba-tiba, membuat Gondulam terkejut.

Tentu saja dia tidak ingin matanya menjadi buta tertusuk jari-jari tangan itu.

Dia cepat menangkis , bahkan mencoba untuk menangkap tangan yang menusuk ke arah mata itu, sambil menarik tubuh atas ke belakang.

Akan tetapi, pada saat itu Siauw Can s udah meloncat ke atas, berjungkir balik dan tangannya menyambar ke arah sorban di kepala lawan.

Sebelum Gondulam dapat mengelak atau menangkis, perhiasan di sorbannya telah dapat dicabut oleh Siauw Can dan dengan membuat salto beberapa kali, tubuhnya sudah meluncur ke arah pangeran dan puterinya.

Siauw Can turun dan memberi hormat kepada Ai Yin sambil menyodorkan perhiasan itu kepada sang puteri.

"Terima kasih, engkau hebat!"

Kata Ai Yin sambil te rtawa. Siauw Can sudah meloncat lagi ke depan Gondulam yang kini berdiri dengan mata melotot dan muka berubah merah sekali.

"Srattt!"

Dia sudah mencabut pedang bengkoknya dan nampak sinar menyilaukan mata saking tajamnya pedang itu.

"Pemuda sombong, lawanlah pedangku kalau engkau berani!"

Tantangnya.

"Heiii, bagaimana ini, Raja Baducin? Bukankah paduka datang untuk menguji ilmu, bukan untuk menyuruh pengawal paduka membunuh orang? Kenapa menggunakan pedang?"

Sejak tadi wajah Raja Muda Baducin sudah muram dan marah.

Gondalu tadi telah kalah oleh Bi Lan, hal itu s aja sudah membuat dia kehilangan muka, membuat dia bermuram wajah.

Kini, jelas nampak pula betapa Gondulam menjadi permainan pemuda itu.

Sekali ini benar-benar dia menderita malu.

"Yang Mulia,"

Katanya dengan kata-kata tanpa senyum lagi.

"Gondulam hanya menantang untuk mengadu ilmu senjata. Kalau jagoan paduka itu takut, biarlah tidak perlu dilanjutkan."

Mendengar ini, Siauw Can yang ingin mencari muka, segera memberi hormat kepada sang pangeran.

"Maaf, Yang Mulia! Kalau raksasa ini menantang saya untuk mengadu senjata, biarlah akan saya layani dan paduka harap tidak merasa khawatir. Dia dan pedangnya bagi saya hanya seorang anak-anak yang memegang pisau mainan saja!"

Mendengar ini, Ai Yin bersorak.

"Horreee.....! Bagus sekali! Layani raksasa itu, orang gagah!"

Mendengar te riakan pute rinya, Pangeran Li Siu Ti merasa tidak enak terhadap tamunya. Maka diapun memesan.

"Baiklah, akan tetapi jangan sekali-kali membunuh orang!"

"Harap paduka jangan khawatir. Raksasa ini tidak akan mati, juga tidak mengeluarkan setetespun darah yang akan mengotori ruangan ini. Akan te tapi kalau sekedar benjol-benjol di kepala dan memar di badan, boleh, bukan?"

Semua orang tersenyum mendengar ini, pertanyaan yang lucu akan tetapi juga mengandung eje kan. Raja Muda Baducin berkata kepada Gondulam dalam bahasa mereka sendiri.

"Gondulam, jangan membikin malu. Kerahkan semua kemampuanmu!"

Melihat pemuda itu berdiri dengan tangan kosong di depan Gondulam yang sudah mencabut pedang, tiba-tiba Ai Yin turun dari te mpat duduknya dan dengan tangan diangkat ke atas ia berte riak.

"Berhenti! Ini tidak adil! Raksasa itu berpedang, kenapa jagoan tidak?"

Pangeran Li Siu Ti baru menyadari akan hal ini. Tadi dia te rlalu kagum dan girang melihat bahwa tanpa dis angka-sangka dia telah mendapatkan dua te naga yang hebat itu.

"Benar, dia harus menggunakan senjata!"

Te riaknya.

"Harap paduka jangan khawatir, saya sudah memiliki senjata. Inilah senjata saya!"

Kata Siauw Can dan dia mencabut sulingnya, lalu mendekatkan suling di mulut dan meniup sebuah lagu rakyat yang indah!

Tentu saja semua orang kembali tertawa.

Bagaimana orang menghadapi raksasa yang memiliki pedang bengkok yang setajam itu, menggunakan sebatang suling dan bahkan meniup suling itu dalam sebuah lagu?

Tentu saja Gondulam semakin marah .

Pemuda itu sungguh amat meremehkan dia.

''Bocah sombong, kaulihat pedangku!"

Bentaknya dan diapun sudah menerjang ke arah Siauw Can sambil menggerakkan peang bengkoknya membacok.

Pemuda itu masih enak-enak melanjutkan lagunya, seolah-olah tidak melihat ada pedang membacok ke arah lehernya!

"Iiihhhhh........!!"

Ai Yin menjerit saking ngerinya melihat pedang tajam itu mengeluarkan sinar dan menyambar ke arah le her pria yang dikaguminya.

Akan tetapi, begitu pedang menyambar dekat le her, Siauw Can meloncat dan bacokan itu luput, akan te tapi dia masih melanjutkan tiupan sulingnya, karena lagu tadi belum habis.

Hal ini buat Gondulam semakin marah.

Seolah-olah keluar uap dari hidung dan mulutnya ketika dia menyerang tadi, membacok dan menusuk bertubi-tubi.

Makin lama semakin ganas karena kemarahannya semakin menyala.

Siauw Can berloncatan ke sana sini, terus memainkan lagu dengan sulingnya sampai lagu itu selesai.

"Singggg........!"

Pedang menyambar dekat sekali dengan pahanya. Akan tetapi berbareng dengan habisnya lagu, suling itu bergerak menjadi sinar putih dan menangkis pedang itu.

"Tranggggg........!!"

Nampak bunga api berpijar dan Gondulam te rkejut setengah mati karena hampir saja pedang bengkoknya te rlepas dari pegangan ketika bertemu suling.

Dan kini dia yang repot mengelak dan memutar pedang melindungi tubuhnya karena suling telah berubah menjadi gulungan sinar yang mengelilingi tubuhnya, membuat matanya berkunang karena dia tidak tahu lagi ke arah mana ujung suling itu menotok.!

Dan semua tangkis annya tidak ada yang dapat menyentuh suling.

"Takkk!"

Tiba-tiba kepalanya terpukul oleh suling.

Biarpun dia kebal dan kepalanya masih te rlindung sorban, namun rasa nyeri menyengat kepalanya sampai menembus ke ulu hati!

Dia menjadi nekat dan mencoba untuk balas menyerang dengan pedangnya, menusuk sampai tiga kali.

"Trang-trang-trangg.......tokkk!"

Kembali kepalanya te rkena pukulan, kini di dekat tengkuk, membuat matanya berkunang. Sambil menggereng, Gondulam menyerang lagi membabi-buta, tidak lagi memperdulikan keselamatan diri.

"Tak-tok-tokk!"

Berturut-turut terdengar bunyi nyaring ini dan ujung suling sudah menghantam kepalanya, menotok tubuhnya di sana sini dan paling akhir, suling itu mencongkel sorbannya sehingga terlepas dari kepalanya yang ternyata botak hampir gundul.

Dan sebelum Gondulam tahu apa yang te rjadi, tiba-tiba saja tubuhnya le mas dan diapun jatuh te rduduk seolah kedua kakinya menjadi lumpuh.

Kiranya dia te lah terkena totokan yang ampuh, yang menembus kekebalannya sehingga biarpun hanya untuk sebentar, tetap dia tidak mampu mempertahankan diri dan jatuh terduduk.!

Siauw Can sudah melompat menjauhinya, menghadap sang pangeran dan pute rinya, memberi hormat dan Ai Yin menyambutnya dengan te puk tangan yang diikuti para pengawal sehingga riuh rendah.

Biarpun mukanya menjadi pucat saking marahnya, Gondulam harus mengakui kekalahannya.

Sorbannya terlepas, kepalanya yang botak itu jelas memperlihatkan benjolan-benjolan sebesar telur dan dia tadi telah jatuh.

Raja Muda Baducin bangkit dari te mpat duduknya, wajahnya sebentar pucat sebentar merah.

Kalau saja peristiwa ini terjadi bukan dengan Pangeran Li Siu Ti, dia te ntu dapat menerima kekalahan dua orang jagoannya.

Akan tapi di depan pangeran yang dia tahu tidak suka kepada orang Turki itu!

"Sudahlah, sekali ini aku mengaku kalah!

Pangeran, kami mohon diri, te rima kasih atas pelajaran yang kami terima di sini."

Pangeran Tua Li Siu Ti merasa tidak enak. Kalau raja muda ini mengadu kepada kaisar, tentu dia akan menerima teguran dari kakaknya, Kaisar Tang Kao Cu. Maka diapun cepat bangkit berdiri.

"Raja Muda Baducin, harap paduka maafkan kami dan pengawal kami. Marilah kita makan minum dan beri kesempatan kepada kami untuk menghaturkan maaf dalam perjamuan." 'Terima kasih, pangeran. Kami masih mempunyai banyak urusan. Biarlah lain kali saja."

Raja Muda Baducin diikuti dua orang raksasa kembar lalu keluar dari gedung itu, diantarkan oleh Pangeran Tua Li Siu Ti sampai ke pekarangan depan.

Raja Muda itu lalu menaiki keretanya dan diikuti rombongan pengawalnya, dia lalu meninggalkan tempat itu dengan hati yang panas!

Pangeran Li Siu Ti memanggil Siauw Can dan Bi Lan ke ruangan dalam dan mereka berkumpul semua di sana.

Pangeran Siu Ti, Poa Kiu, Li Ai Yin, Siauw Can dan Bi Lan ynng memangku Lan Lan.

Wajah pangeran itu berseri "Bagus!

Bagus!

Sekarang baru aku yakin dan kami menerima kalian bekerja di sini!

Akan tetapi, coba perkenalkan diri kalian kepadaku dan ceritakan riwayat kalian.

"Apakah kalian ini suami isteri dan ini anak kalian?"

Ai Yin bertanya sambil mengamati wajah Siauw Can dengan penuh kagum. Siauw Can menggeleng kepala.

"Bukan, tuan pute ri......"

"I hh, aku bukan puteri raja! Jangan sebut tuan pute ri, sebut saja nona, dan namaku Ai Yin, Li Ai Yin!"

"Maaf, siocia (nona). Begini, pangeran. Saya bernama Siauw Can dan ia bernama Kwa Bi Lan. Kami masih saudara misan. Saya hidup sebatangkara, tiada orang tua tiada saudara, Sedangkan adik misan Kwa Bi Lan inipun ditinggal mati suaminya. Ia seorang janda yang mempunyai seorang anak, yaitu Lan Lan ini."

"Hemm, anak yang manis. Siapa nama keluarganya?"

Tanya sang pangeran sambil memandang kepada ibu dan anak itu.

Karena Siauw Can sendiri tidak berani lancang memperkenalkan bahwa Bi Lan adalah is teri mendiang Sin-tiauw Liu Bhok Ki, maka diapun tidak mau menjawab dan membiarkan wanita itu sendiri yang menjawab.

"Nama keluarganya Liu, pangeran,"

Kata Bi Lan.

Memang ia sudah mengambil keputusan untuk merahasiakan bahwa Lan Lan sebenarnya adalah pute ri pendekar Si Han Beng dan bernama Si Hong Lan.

Ia menganggap Lan Lan anaknya sendiri, maka ia mengakui nama keluarganya sebagai Liu.

Pangeran Tua Li Siu Ti gembira sekali setelah mereka memperkenalkan diri.

"Kami senang sekali menerima kalian sebagai pengawal-pengawal di sini. Engkau, Siauw Can, engkau menjadi pengawal pribadiku dan aku akan menyerahkan tugas-tugas yang te rpenting kepadamu. Engkau boleh minta nasihat dari Poa Kiu dalam segala hal karena dialah tangan kananku, orang kepercayaanku. Selain dia, engkau tidak boleh mengadakan perundingan dengan orang lain."

"Terima kasih, Pangeran!"

Kata Siauw Can sambil memberi hormat dengan berlutut sebelah kaki.

"Bukan pengawalmu saja, ayah! Kalau aku sedang bepergian, akupun minta dikawal oleh Siauw Can, agar aku merasa aman!"

Li Ai Yin berkata dan matanya bersinar-sinar memandang kepada pemuda tampan dan gagah itu.

Siauw Can tahu diri dan pandai beraksi, dia hanya menunduk seperti seorang pemuda yang alim!

"Ai Yin, selain dia ada Kwa Bi Lan di sini.

Bi Lan, engkau kami te rima sebagai pengawal keluarga kami, engkau tinggal di sini bersama pute rimu, menjaga keamanan di rumah ini, mengawal keluarga kami kalau bepergian, dan juga kuangkat menjadi guru dari Ai Yin.

Ai Yin, bukankah engkau selalu ribut ingin mencari guru silat yang pandai.!

Nah, engkau boleh belajar dari Bi Lan.

Ai Yin memandang kepada Bi Lan, lalu menoleh ke arah Siauw Can, wajahnya berseri.

"Akan tetapi, akupun boleh minta petunjuk dari Siauw Can, bukan? Kulihat dia lebih lihai dari Bi Lan!"

Sementara itu Bi Lan memberi hormat kepada pangeran itu dan berte rima kasih.

Demikianlah, mulai hari itu Kwa Bi Lan dan Lan Lan mendapatkan sebuah kamar di bagian belakang istana itu, te mpat keputren.

Ia dihadapkan kepada isteri dan para selir pangeran, dan tentu saja ia dite rima dengan gembira oleh keluarga pangeran yang merasa te nte ram dengan adanya seorang pengawal wanita yang berilmu tinggi di te ngah-te ngah mereka.

Mereka akan dapat tidur le bih nyenyak sekarang.

Dan Lan Lan yang mungil dan lincah itupun, segera dapat menarik perasaan suka di antara para keluarga itu, apalagi karena Pangeran Tua Li Siu Ti tidak mempunyai anak lain kecuali Li Ai Yin yang kini sudah dewasa dan yang berwatak keras terhadap keluarga ayahnya.

Adapun Siauw Can juga mendapatkan sebuah kamar di bagian samping depan, di mana tinggal pula para perwira pasukan pengawal yang kini harus memandang Siauw Can sebagai atasan mereka!

Selain keluarga pangeran, semua pelayan dan pengawal menyebut Siauw Can dengan sebutan Siauw-taihiap (Pendekar besar Siauw) dan Bi Lan disebut li-hiap (pendekar wanita).

Diam diam Siauw Can merasa girang bukan main akan nasibnya yang amat baik.

Tanpa disangka-sangka, dengan mudah saja dia diangkat menjadi pengawal pribadi dan kepala pengawal dari Pangeran Tua!

Sungguh merupakan kedudukan yang amat tinggi dan memberi harapan dan masa depan yang amat cerah, karena dia tahu bahwa pangeran itu merupakan orang yang kekuasaannya besar, merupakan orang ke tiga setelah kaisar dan pute ra mahkota.

Dan di is tana pangeran itu te rdapat Li Ai Yin yang jelas merupakan wanita yang akan mudah dia dekati!

Siapa tahu, melalui gadis itu dia akan mendapatkan kedudukan yang le bih tinggi lagi dari pada sekarang.

Bi Lan sendiri juga girang dengan keadaannya.

Ia hidup se rba kecukupan.

Juga Lan Lan berada di antara keluarga yang baik.

Keluarga pangeran itu rata-rata ramah dan berpendidikan.

Ia sendiri tidak mempunyai banyak pekerjaan kecuali hanya bersikap waspada menjaga keamanan keluarga itu.

Isteri dan para selir pangeran semua bersikap manis kepadanya dan kepada Lan Lan.

Hanya satu hal yang membuat Bi Lan merasa tidak senang, yaitu sikap Li Ai Yin.

Memang, diakuinya bahwa gadis yang lincah dan genit itu bersikap cukup baik dan bersahabat dengannya, bahkan harus diakui bahwa gadis itu memiliki bakat yang cukup baik dalam ilmu silat.

Akan tetapi, gadis itu terlalu genit dan secara terbuka sering membicarakan Siauw Can dengannya.

Gadis itu jelas amat tertarik dan kagum kepada Siauw Can!

Gadis seperti ini akan mudah te rgelincir dan ia melihat bahaya mengancam gadis remaja yang amat genit ini.

Dan ia merasa menjadi tugas kewajibannya untuk mengamati gadis ini agar jangan sampai te rjerumus, walaupun ia belum menganggap Siauw Can seorang pria yang berwatak buruk.

Hanya saja, pernah ia melihat sinar mata Siauw Can menyala aneh ketika pemuda itu memandang Ai Yin, dan iapun merasa khawatir.

-ooo0dw0ooo-Beberapa hari kemudian, ketika Siauw Can duduk di pos penjagaan depan is tana, mengobrol dengan dua orang perwira pasukan pengawal, tiba-tiba terdengar derap kaki kuda dan seekor kuda besar dibalapkan penunggangnya memasuki halaman istana itu.

Tentu saja hal ini merupakan larangan dan semua penjaga sudah berloncatan, te rmasuk dua orang perwira yang sedang asyik mengobrol dan memberi keterangan tentang keadaan dan tugas-tugas di situ kepada Siauw Can.

Siauw Can sendiri mengangkat muka dan bersikap waspada.

Siapa tahu penunggang kuda itu akan membuat kerusuhan dan dia harus siap siaga.

Akan te tapi, betapa herannya ketika dia melihat para penjaga itu tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut menghadap si penunggang kuda yang sudah menghentikan kudanya di pekarangan.

Bahkan dua oran g perwira yang tadi bicara dengan dia, juga berlutut kepada penunggang kuda itu.

Siapakah penunggang kuda yang dihormati seperti itu oleh para penjaga?

Siauw Can mengamati penuh perhatian tanpa keluar dari pos penjaga.

Penunggang kuda itu adalah seorang laki-laki muda.

Usianya paling banyak duapuluh tiga tahun, akan tetapi dia bersikap anggun dan gagah, juga amat berwibawa.

Pakaiannya seperti seorang bangsawan muda, akan te tapi sederhana kalau dibandingkan dengan para pemuda bangsawan lainnya, dan biarpun pakaiannyya le bih mirip seorang pelajar, namun jelas bahwa gerakannya mengandung kekuatan besar.

Terutama sekali sepasang matanya, mencorong dan penuh wibawa, seperti mata naga saja!

"Selamat datang, Yang Mulia Pangeran!"

Kata kedua orang perwira itu sambil berlutut. Pemuda itu memandang kepada dua orang perwira yang berlutut itu sambil mengerutkan alisnya.

"Kalian perwira komandan pasukan pengawal di rumah paman pangeran ini?"

Suaranya tegas dan lantang.

"Benar, yang mulia!"

"Hemm, apakah kalian belum mendengar bahwa aku paling tidak suka melihat kele mahan para perajuritku? Setiap orang perajurit, termasuk kalian, kalau bertemu denganku, harus menghormat seperti perajurit menghormati atasannya, panglimanya!"

Mendengar ini dua orang perwira dan anak buah mereka cepat bangkit dan kini berlutut dengan sebelah kaki, melintangkan lengan ke depan dada dan menghormat secara militer!

"Selamat datang, Panglima Besar!"

Teriak mereka serentak.

Wajah yang gagah itu kehilangan kekerasannya dan bibirnya tersenyum, mengangguk se dikit.

Melihat dan mendengar semua in Siauw Can merasa betapa kedua kakinya gemetar.

Kiranya pemuda itu adalah Sang Putera Mahkota, juga Panglima Besar Li Si Bin.!

Inilah orangnya yang telah berhasil menggulingkan Kerajaan Sui, dan kemudian mengangkat ayahnya menjadi Kaisar Tang Kao Cu, sedangkan dia sendiri menjadi pute ra mahkota dan juga panglima besar!

Semua itu sudah didengarnya akan tetapi tidak pernah dia melihat tokoh ini, karena ketika kerajaan Sui jatuh, dia berada di penjara, kemudian dikeluarkan oleh Pangeran Cian Bu Ong dan menjadi pembantu pangeran Kerajaan Sui itu yang mencoba untuk melakukan pemberontakan terhadap kerajaan Tang yang baru namun gagal, Sete lah mengetahui bahwa pemuda itu adalah Pangeran Li Si Bin, Siauw Can cepat keluar dari dalam pos penjagaan, langsung dia menghadap pangeran itu dan berlutut dengan sebelah kaki seperti para perwira, memberi hormat dengan sigapnya.

"Panglima Besar!"

Serunya dengan sikap hormat dan siap.

Pangeran Li Si Bin memandang kepadanya dan sejenak Siauw Can merasa seolah-olah seluruh tubuhnya digerayangi sinar mata itu, membuat dia merasa ngeri dan bulu tengkuknya meremang.

Belum pernah dia berjumpa dengan orang yang memiliki wibawa sebesar ini!

"Hemm, engkau berpakaian seperti pelajar akan tetapi memberi hormat seperti seorang perwira militer!

Engkaukah yang bernama Siauw Can dan menjadi pengawal pribadi baru dari Paman Pangeran Tua?"

Diam-diam Siauw Can terkejut dan dia mencatat di dalam hatinya, bahwa selain wibawa yang amat besar, juga pute ra mahkota ini memiliki kecerdikan yang mungkin akan dapat membahayakan dirinya.

"Benar sekali, Yang mulia!"

Jawabnya.

"Perwira, rawat kudaku ini, beri rumput yang segar!"

Kata sang pangeran sambil menyerahkan kendali kuda ke perwira yang cepat meloncat berdiri dan menerima tugas itu.

"Minggirlah, jangan menghalangi jalan!"

Kata pangeran Li Si Bin dan dengan gerakan wajar, ketika dia melangkah maju hendak menuju ke beranda depan, dia mendorong ke arah Siauw Can yang masih berlutut dengan sebelah kaki.

Dan betapa kagetnya hati Siauw Can karena dari tangan pangeran itu menyambar hawa pukulan yang amat dahsyat, tanda bahwa pangeran mahkota ini memiliki kekuatan sin-kang yang hebat!

Dia menjadi serba salah.

Dia tahu bahwa pute ra mahkota itu tidak bermaksud menyerangnya, melainkan mungkin sekali hanya ingin mengujinya.

Dia tidak boleh menangkis sehingga membuat pangeran itu kesakitan, juga kalau dia mengelak begitu saja dan dorongan itu luput, berarti dia melakukan perlawanan.

Maka dia berpura-pura tidak tahu bahwa pangeran itu mendorongnya dengan kekuatan sin-kang.

Dia bahkan mengerahkan te naga membuat tubuhnya kaku dan ketika terdorong, tubuhnya terlempar dalam keadaan setengah berlutut dan turun lagi sampai tiga meter di belakangnya, dalam keadaan berlutut seperti tadi, seolah-olah dia adalah se buah arca yang dipindahkan Sedikitpun dia tidak te rguncang, dan keadaannya sama seperti tidak berubah!

Kalau pangeran itu telah memperlihatkan kekuatan yang dahsyat, sebaliknya Siauw Can memperlihatkan ilmu meringankan tubuh yang luar biasa pula!

Pangeran Li Si Bin memandang dan sinar kagum memancar sebentar saja dari matanya.

Dia mengangguk dua kali lalu melanjutkan langkahnya menuju beranda depan, dan meloncat masuk istana itu begitu saja seperti memasuki rumah sendiri.

Hal ini tidaklah aneh.

Pangeran Tua Li Siu Ti adalah adik kaisar, jadi pamannya sendiri dan dia sudah biasa keluar masuk ke rumah pamannya itu secara kekeluargaan.

Para penjaga pintu yang melihatnya, segera memberi hormat.

Mereka melihat betapa pangeran mahkota tadi menegur para perwira, maka merekapun tahu diri dan cepat berlutut dengan sebelah kaki dan memberi hormat secara milite r!

Siauw Can menarik napas panjang ketika ia bangkit berdiri.

Kagum bukan main.

De ngan hawa pukulannya, pangeran mahkota itu telah dapat membuat dia te rlempar sampai tiga meter!

Jelas bahwa pangeran ini diam-diam memiliki tenaga sin-kang yang amat kuat, dan mungkin memiliki ilmu kepandaian silat yang hebat pula, jauh lebih hebat dibandingkan dua orang raksasa kembar pengawal pribadi Raja Muda Baducin!

Dia harus berhati-hati terhadap pangeran ini yang selain berkuasa besar, juga lihai dan cerdik bukan main.

Dia mulai merasa khawatir karena darimana pangeran mahkota itu mengenalnya kalau tidak mendengar dari orang-orang Turki itu?

Keheranannya berkurang ketika dia ingat bahwa pute ra mahkota tadi, sejak mudanya telah memimpin pasukan besar yang berhasil menumbangkan Kerajaan Sui.

Seorang panglima besar seperti itu, sudah pasti memiliki ilmu kepandaian tinggi.

Seorang perwira yang melihat betapa tubuh Siauw Can tadi te rlempar sampai tiga meter, hanya menduga bahwa pengawal baru ini te lah dikalahkan oleh sang pangeran, maka dia menghampiri Siauw Can dan berkata.

"Taihiap, kepandaian Yang Mulia Panglima Besar memang seperti dewa saja!"

Ucapannya mengandung kebanggaan seolah hendak mengatakan bahwa bagaimanapun juga, pemuda ini masih kalah oleh junjungannya!

Siauw Can hanya te rsenyum, mengangguk dan diapun melangkah memasuki istana dengan kepada menunduk.

Sementara itu, di dalam taman bunga di sebelah belakang istana, taman bunga yang indah, di dekat kolam ikan emas, Ai Yin sedang berlatih ilmu silat, di bawah pimpinan Kwa Bi Lan.

Bi Lan memberi pelajaran dasar-dasar ilmu silat yang diambilnya dari ilmu silat Siauw-lim-pai, yaitu ilmu silat para pendeta yang semula diajarkan hanya untuk memperkuat dan menyehatkan badan, namun kemudian oleh para murid bukan pendeta, dikembangkan menjadi ilmu bela diri yang kokoh dan tangguh.

Ai Yin memang berbakat, dan tubuhnya le ntur.

Apa lagi ditambah orangnya memang genit, maka gerakan-gerakannya juga penuh gairah!

"Bhe-si (Kuda-kuda) itu kurang sempurna, siocia,"

Kata Kwa Bi Lan.

"Eh, Bukankah punggung harus lurus ke atas, kepala dikedikkan dengan pandang mata menatap ke depan lurus. Kedua tangan santai di kedua pinggang dengan kepala menelentang, dan kedua kaki dite kuk bersiku lurus dan kekuatan dipusatkan di te ngah-tengah?"

Bantah Ai Yin. Ia sedang membuat kuda-kuda yang disebut "menunggang kuda"

Dengan kedua kaki dite kuk menjadi siku, dipentang seperti orang menunggang kuda.

Ia sudah melatih kuda-kuda ini berhari-hari lamanya, seperti anjuran Bi Lan bahwa ilmu silat yang baik memiliki dasar kuda kuda yang kuat karena ibarat membuat bangunan, kuda-kuda merupakan tiangnya, maka harus kokoh kuat dan tidak bole h bosan berlatih.

Pada hari-hari pertama, seluruh tubuh Ai Yin terasa nyeri, terutama sekali di bagian betis dan belakang paha.

Untuk jongkok saja rasanya kaku dan nyeri.

Akan tetapi kini rasa nyeri sudah banyak berkurang dan mendengar kuda-kuda itu masih dikatakan kurang sempurna te ntu saja ia menjadi kecewa dan membantah.

"Me mang sudah tepat, siocia, hanya sedikit kesalahannya."

"Di bagian mana yang salah?"

Kwa Bi Lan te rse nyum geli.

"Di pinggul itu, te rlalu menonjol ke belakang!"

Sang pute ri berdiri dan cemberut.

"I hh! Tentu saja! Memang bukit pinggulku besar menonjol. Bagus, ya?"

Ia mengusap-usap pinggulnya dengan bangga.

Melihat ini, Bi Lan makin geli.

Memang pinggul pute ri itu indah dan montok membusung, akan tetapi ketika memasang kuda-kuda tadi, te rlalu ditonjolkan belakang!

"Me mang indah, siocia.

Akan tetapi dalam memasang kuda-kuda, haruslah punggung lurus benar.

Dari tengkuk sampai ke pinggul, jangan ditonjolkan pinggul itu terlalu ke belakang."

Ai Yin memasang kuda-kuda lagi, kini menarik sedikit tonjolan pinggulnya sehingga menjadi siku benar.

"Nah, bagus begitu. Kalau terlalu ditonjolkan ke belakang, perubahan gerakan kakimu bisa kaku dan te rlambat. Sekarang tirukan gerakanku. Ini merupakan jurus baru, siocia."

De ngan penuh perhatian Ai Yin meniru gerakan silat Bi Lan, sedangkan Lan Lan bermain-main dengan daun-daun kering yang rontok te rlanda angin.

Dengan tekun kedua orang wanita cantik ini berlatih silat sampai Ai Yin berkeringat, dan napasnya agak memburu sehingga ia menghentikan gerakannya.

Ia telah pandai memainkan belasan jurus ilmu silat yang indah dan tangguh.

"Bagus sekali!"

Terdengar seruan disusul tepuk tangan.

Ai Yin dan Bi Lan cepat membalikkan tubuh dan Bi Lan mengerutkan alis nya ketika melihat seorang pria muda te lah berdiri di situ.

Muncul dari balik sebatang pohon dan kini bertepuk tangan memuji.

Betapa kurang ajarnya laki-laki ini, pikirnya dan ia memandang dengan curiga, dan siap menghadapinya kalau orang ini hendak membuat keributan.

Akan tetapi, kalau tadinya ia mengira sang pute ri akan marah-marah, sebaliknya begitu melihat laki-laki yang bertepuk tangan memuji itu, Ai Yin tersenyum girang dan lari menghampiri.

"Aih, kiranya paduka yang datang, pangeran.! Kenapa tidak memberitahu lebih dulu agar kami dapat menyambut."

Dan Ai Yin cepat memberi hormat dengan sete ngah berlutut. Pemuda itu menyentuh pundak Ai Yin dan berkata.

"Bangkitlah, Ai Yin. Kita ini keluarga sendiri, mengapa harus memberi kabar lebih dulu? Dan aku girang sekali tadi tidak memberi kabar sehingga dapat melihat engkau berlatih silat. Engkau hebat! Kelak te ntu akan menjadi seorang wanita sakti. Ha-ha-ha kelak suamimu harus berhati-hati, jangan sampai membuat kesalahan padamu, bis a remuk kepalanya, ha-ha..!"

Ai Yin juga te rtawa gembira.

Bi Lan te rte gun.

Inikah putera mahkota yang juga menjadi panglima besar itu?

Inikah pute ra kaisar yang pernah ia dengar dari Siauw Can?

Bukan main!

Masih begini muda sudah dapat memimpin rakyat dan menggulingkan pemerintah Kerajaan Sui!

Bahkan mendiang suaminya pernah bicara tentang Li Si Bin sebagai seorang pemuda yang menerima petunjuk Tuhan sehingga mampu menggerakkan peran rakyat je lata!

Namanya berada di ujung bibir setiap orang yang memuji dan memujanya.

Inikah orangnya?

Pangeran itu sudah menggandeng tangan Ai Yin dan menghampirinya.

Melihat Kwa Bi Lan hanya berdiri te rte gun, Ai Yin segera berseru.

"Heii, enci Bi Lan. Cepat beri hormat. Ini adalah kakak sepupuku, yang mulia Pangeran Mahkota Li Si Bin, panglima besar yang namanya sudah menggetarkan seluruh kolong langit!"

Bi Lan cepat memberi hormat kepada pangeran itu, kemudian ia memondong Lan Lan dan berdiri dengan kepala tertunduk, karena pangeran itu mengamatinya dengan pandang mata tajam penuh silidik.

Mata itu!

Mencorong seperti mata naga, pikirnya dengan je rih.

Wibawanya luar biasa, membuat ia merasa dirinya menjadi kecil sekali.

"Engkaukah yang bernama Kwa Bi Lan dan kini menjadi pengawal keluarga di rumah pamanku?"

Tanya Pangeran Li Si Bin.

"Benar, pangeran,"

Jawab Bi Lan lirih, diam-diam merasa heran bahwa pangeran ini sudah mendengar pula tentang dia.

"Bukan hanya pengawal keluarga, pangeran. Akan te tapi juga menjadi guruku. Akan te tapi aku tidak mau menyebutnya subo (ibu guru). Lihat ia masih begitu muda dan cantik, bagaimana aku dapat menyebutnya subo? Enci Bi Lan, kau belum memberitahu, berapa sih usiamu?"

Bi Lan merasa canggung dan sungkan sekali.

Kalau mereka berada berdua saja, tentu semua pertanyaan pribadi dari Ai Yin akan dijawabnya dengan senang hati.

Akan tetapi kini pertanyaan te ntang umur ditanyakan di depan seorang pria, walaupun pria itu adalah pute ra mahkota dan panglima besar!

Betapapun juga, ia tidak berani untuk tidak menjawab, maklum akan kekerasan hati Ai Yin yang mudah te rtawa, mudah menangis dan mudah marah-marah itu.

"Duapuluh empat tahun, siocia,"

Jawabnya lirih sambil menundukkan mukanya.

"Sungguh membuat orang kagum.!"

Kata pangeran itu dengan suara lirih dan sungguh-sungguh, tidak bernada mengeluarkan pujian kosong atau merayu belaka.

"Seorang wanita semuda ini sudah dapat memiliki ilmu kepandaian yang tinggi dan mampu mengalahkan seorang jagoan seperti Gondalu! Sungguh paman pangeran beruntung sekali mendapatkan seorang pengawal keluarga seperti nyonya muda ini. Akan te tapi, sungguh menyedihkan dan mengharukan, wanita semuda ini telah menjadi seorang janda dengan seorang anak."

Berdebar rasa jantung dalam dada Bi Lan. Ucapan itu begitu jujur dan sempat membuat ia te rharu, akan te tapi ia tetap menunduk dan tidak menjawab, hanya mendekap Lan Lan ke dadanya.

"Pangeran belum melihat kakak sepupunya yang bernama Siauw Can. Dia le bih lihai lagi dan sekarang menjadi pengawal pribadi ayah!"

Kata Ai Yin.

"Aku sudah berte mu dengan dia di luar tadi,"

Kata Pangeran Li Si Bin, lalu dia kembali memandang kepada Bi Lan yang menunduk saja.

"Kwa Bi Lan, kulihat tadi engkau mengajarkan kuda-kuda dan jurus-jurus ilmu silat Siauw-lim-pai. Apakah engkau murid Siauw-lim-pai?"

Bi Lan te rkejut. Kiranya pangeran ini berpemandangan tajam dan pasti pandai ilmu silat maka dapat mengenal jurus-jurus Siauw-lim-pai. Tanpa mengangkat muka ia mengangguk.

"Benar, pangeran......" -ooo0dw0ooo-

Jilid 12

"Bi Lan, angkat mukamu dan pandanglah aku kalau bicara denganku. Aku tidak suka bicara dengan orang yang selalu menundukkan mukanya seperti orang yang menyembunyikan kesalahan."

Ucapan itupun bukan kata-kata yang mengandung kemarahan, akan tetapi mengandung perintah yang mutlak dan tidak mungkin dapat dibantah atau tidak ditaati. Bi Lan mengangkat muka memandang.

"Hamba pernah menjadi murid Siauw-lim-pai, pangeran...."

Katanya lirih, hamper tidak kuat menahan sinar mata mencorong seperti naga itu, yang memandang kepadanya dengan bersih dan jujur akan te tapi seperti hendak mengukur kedalaman isi hatinya.

"Hemm, sekarang ini jarang ada pendekar Siauw-lim-pai yang benar-benar memiliki kepandaian tinggi. Sungguh sayang. Kelaliman Kerajaan Sui telah menghancurkan Siauw-lim-pai, sehingga ketuanya membakar diri! Sekarang aku berte mu murid Siauw-lim-pai yang pandai. Bi Lan, coba kau perlihatkan ilmu silatmu dengan melayaniku beberapa jurus."

Setelah berkata demikian, Pangeran Li Si Bin sudah menuju ke te mpat tadi kedua orang wanita itu berlatih silat, yaitu di lapangan rumput yang luas dekat kolam ikan. Bi Lan menunduk lagi.

"Hamba.......hamba tidak berani, pangeran......"

Pangeran Li Si Bin mengerutkan alisnya.

"Ini perintah, Kwa Bi Lan!"

Ai Yin segera berkata.

"Enci Bi lan, ayah sendiri tidak akan membangkang te rhadap perintah pangeran Mahkota, apalagi engkau!"

Ia lalu menghampiri Bi Lan dan memondong Lan Lan.

"Kupangku dulu Lan Lan, kau layani pangeran!"

Bi Lan te rkejut.

Hampir ia lupa bahwa pangeran yang berada di depannya ini merupakan orang yang paling berkuasa di kerajaan Tang!

Bahkan menurut Siauw Can, kaisar sendiri, ayah pangeran ini, masih kalah besar kekuasaannya!

Maka ia cepat memberi hormat lalu bangkit dan menghampiri pangeran yang sudah berada dilapangan rumput.

Pangeran itu tersenyum senang.

"Nah, begitu sebaiknya, Bi Lan. Aku ingin melihat apakah engkau te pat untuk melatih pasukan pengawal wanita di is tana yang sedang kupersiapkan! Bah, kau maju dan seranglah aku, dan jangan sungkan atau takut. Keluarkan kepandaianmu agar aku dapat menilainya."

Tepat dugaannya.

Pangeran ini hendak menguji kepandaiannya dan mendengar bahwa pangeran ini ingin agar ia melatih pasukan pengawal di istana, jantungnya berdebar penuh ketegangan.

Ia akan menjadi pelatih di istana Kais ar!

Bukan main!

Tak pernah ia bermimpi untuk dapat memasuki istana Kaisar, apalagi menjadi pelatih di sana.

Ia melihat betapa pangeran itu s udah memasang kuda-kuda yang kokoh.

Kuda-kuda yang dikenalnya sebagai kuda-kuda ilmu silat aliran Kun-lun-pai, maka iapun cepat menyalurkan sin-kang ke arah kedua tangannya, kemudian menggeser kakinya maju, mengangkat kedua tangan ke depan dada sebagai penghormatan, kemudian berkata lembut.

"Maafkan hamba!"

"Mulailah!"

Pangeran Li SI Bin tampak gembira sekali melihat gerakan kaki dan tangan wanita itu yang biarpun nampak le mbut dan indah, namun mengandung tenaga sin-kang yang membuat s etiap gerakan itu Nampak mantap berisi.

Bi Lan tidak ragu-ragu lagi setelah melihat betapa pangeran itu memang seorang ahli silat.

I a menerjang maju dengan pukulan tangan te rbuka, dan mempergunakan jurus-jurus ilmu silat Siauw-lim-pai yang pernah dipelajarinya sebelum ia menjadi murid Sin-tiauw Liu Bhok Ki.

Tentu saja ia memilih jurus-jurus terampuh, dan karena ia telah memperoleh kemajuan dalam hal sin-kang dan gin-kang setelah belajar kepada Sin-Tiauw Liu Bhok Ki, te ntu saja gerakannya jauh lebih hebat dibandingkan sebelumnya.

Ge rakannya cepat dan setiap serangannya mengandung te naga yang kuat sekali.

Bi Lan menjadi kagum.

Kiranya pangeran itu benar lihai sekali, melampaui dugaannya.

Setiap serangannya dapat dielakkan atau ditangkis oleh pangeran itu, dan setiap kali lengan mereka berte mu, ia merasa betapa lengannya tergetar hebat!

Agaknya Pangeran Li Si Bin tidak main-main dalam menguji wanita itu.

Ia memang membutuhkan seorang pelatih yang baik untuk regu pengawalnya yang baru dibentuknya.

Dia sedang membentuk sebuah regu pengawal wanita, te rdiri dari para dayang, gadis -gadis muda pilihan untuk menjaga keamanan keluarga di dalam istana, sehingga tidak perlu menggunakan pengawal thai-kam (orang kebiri).

Memang banyak jagoan silat di istana, akan tetapi kalau dia menyuruh seorang jagoan untuk melatih dan menggebleng regu pengawal wanita itu, tentu akan te rjadi hal-hal yang tidak enak.

Dia tidak dapat menyalahkan para jagoan itu.

Siapa dapat bertahan diri menghadapi seregu dayang yang muda dan cantik-cantik itu?

Maka, sebaiknya mencari pelatih seorang wanita pula dan kalau Kwa Bi Lan ini mempunyai kepandaian tinggi seperti yang didengarnya, dia akan minta agar wanita ini menggembleng regunya itu.

Karena dia ingin mengukur Bi Lan, maka Pangeran Li Si Bin segera membalas serangan Bi Lan dengan serangan yang tak kalah hebatnya!

Bi Lan cepat mengelak dan mengandalkan kecapatan gerakannya untuk menghindarkan diri.

Akan te tapi pangeran itupun dapat begerak cepat mengimbangi kecepatannya, sehingga sejenak Bi Lan te rdesak dan main mundur sambil mengelak dan menangkis !

Karena pangeran itu te rus mendesak, tiba-tiba Bi Lan mengubah gerakannya dan tubuhnya mencelat ke udara lalu ia menukik dan menyambar bagaikan seekor burung rajawali.

Ia telah memainkan ilmu silat Hui-tiauw Sin-kun ( Silat sakti Rajawali terbang ), yang dipelajarinya dari mendiang suaminya!

Begitu ia menyerang dengan ilmu silat ini, keadaannya menjadi te rbalik!

Kini pangeran itu te rdesak dan berulang-ulang dia berseru kaget dan kagum.

De ngan serangan yang menyambar-nyambar seperti itu, pangeran Li Si Bin nampak bingung dan beberapa kali hampir saja tangan Bi Lan mengenai pundak dan dadanya.

Akan te tapi tentu saja wanita itu tidak berani melanjutkan serangannya dan selalu menarik kembali serangannya, apabila serangannya hampir mengenai sasaran.

"Cukup....!"

Pangeran Li Si Bin berseru dan Bi Lan meloncat mundur, merangkap kedua tangan memberi hormat.

"Harap paduka memaafkan hamba....."

"Wah, engkau memang hebat!"

Pangeran itu berseru.

"Akan tetapi, ilmu silatmu yang te rakhir tadi tentu bukan dari Siauw-lim-pai!"

"Maafkan hamba, karena paduka tadi mendes ak, te rpaksa hamba mempergunakan ilmu simpanan itu yang memang bukan dari Siauw-lim-pai."

Pangeran Li Si Bin mengerutkan alisnya.

Dia merasa penasaran karena sudah banyak dia mengenal ilmu silat, akan tetapi ilmu silat yang menyambar-nyambar dan membingungkannya seperti tadi belum pernah dilihatnya.

"Ilmu silat apakah itu?"

"Namanya Hui-tiauw Sin-kun."

"Hemm, memang pantas. Engkau menyambar-nyambar bagaikan burung rajawali saja. Dari siapa engkau mempelajari ilmu hebat itu, Bi Lan?"

"Dari.... mendiang suami hamba pangeran."

"Siapakah mendiang suamimu yang lihai itu?"

"Namanya Liu Bhok Ki...."

"Si Rajawali Sakti? Aih, pantas. Kiranya engkau isteri seorang pendekar besar. He mm, jadi engkau ini isterinya dan dia sudah meninggal dunia? Engkau janda pendekar itu dan itu......anakmu?"

Pangeran Li Si Bin menunjuk kepada Lan Lan.

"Benar, pangeran ."

Pada saat itu muncul Pangeran Tua Li Siu Ti sambil tertawa-tawa.

Biarpun dia paman dari pangeran muda ini, namun karena kedudukannya kalah tinggi, Pangeran Li Siu Ti lebih dulu member hormat kepada keponakannya.

"Pangeran, sudah lamakah dating berkunjung? Ai Yin, kenapa tidak member tahu kepadaku?"

"Kanda pangeran menguji kepandaian enci Bi Lan, ayah,"

Kata Ai Yin gembira dan bangga karena gurunya membuat pangeran itu kagum.

"Maaf, paman,"

Kata pangeran Li Si Bin.

"Saya mendengar tentang dua orang anda yang menjadi pengawal di sini. Saya kagum sekali setelah menguji kepandaian Kwa Bi Lan. Paman memang beruntung sekali mendapatkan dua orang muda itu sebagai pengawal pribadi. Setelah menguji Kwa Bi Lan, saya ingin mengajukan sebuah permintaan kepada paman, harap paman suka mengabulkannya."

Diam-diam pangeran Tua Li Siu Ti merasa khawatir.

Mungkinkah pute ra mahkota ini tertarik kepada Bi Lan dan ingin mengambilnya untuk tinggal dalam is tananya sendiri?

Kalau demikian halnya, dia akan kehilangan sekali.

Sukar mencari pengganti seorang wanita perkasa seperti Bi Lan.

Tentu saja dia tidak berani menyatakan kekhawatirannya ini.

Tidak demikian dengan Ai Yin.

Biarpun dia selalu bersikap ramah dan sopan penuh hormat kepada putera mahkota yang ia tahu memiliki kekuasaan tertinggi, akan tetapi gadis ini lebih berani dan terbuka, tidak se perti ayahnya.

Maka iapun segera berkata.

"Aihh, kanda pangeran, apakah paduka akan membawa enci Bi Lan pindah dari sini ke istana paduka? Lalu bagaimana dengan saya?"

Pangeran Li Si Bin te rsenyum.

"Tidak, Ai Yin, aku hanya ingin agar ia suka melatih pasukan dayang pengawal khusus di istana, setiap hari beberapa jam saja. Tentu saja kalau paman pangeran membole hkan dan terutama sekali kalau Bi Lan yang bersangkutan tidak berkeberatan."

Bi Lan te rbelalak.

Pangeran ini yang kekuasaannya demikian besar, ternyata masih bersikap demikian lunak!

Kalau ia tidak berkeberatan?

Sungguh sikap yang sama sekali tidak pernah disangkanya, dan sikap pangeran ini membuat Bi Lan semakin kagum dan suka sekali kepada pangeran muda yang rendah hati dan tidak sewenang-wenang itu.

"Aih, tentu saja saya setuju, pangeran!"

Kata Pangeran Tua Li Siu Ti dengan ramah.

"Bagus! Terima kasih, paman. Dan bagaimana dengan engkau Bi Lan? Maukah engkau membantuku melatih pasukan dayang agar mereka dapat menjadi pengawal yang dapat diandalkan? Setiap hari tiga atau empat jam saja dan untuk je rih payahmu itu, tentu saja kami akan memberi imbalan."

"Hamba akan mentaati perintah paduka, pangeran."

Kata Bi Lan dengan wajah berseri.

Entah bagaimana, ia merasa senang dapat bekerja kepada seorang pangeran seperti ini.!

"Baik, te rima kasih.

Mulai besok pagi, aku akan menyuruh je mput dengan kereta, setelah selesai melatih, engkau akan diantar kembali kesini dengan kereta.

Kalau anakmu itu tidak dapat berpisah darimu, boleh kau ajak ke istana."

Setelah berkata demikian, Pangeran Li Si Bin berpamit dari rumah pamannya dan iapun melangkah keluar, diantar oleh Pangeran tua Li Siu Ti sampai di depan istananya.

00000ooooo000 Betapa indahnya taman itu, seperti taman sorga dalam dongeng.

Matahari senja Nampak bulat merah redup, seperti sebuah lampu gantung yang besar dan bulat.

Matahari sudah hamper menyelesaikan tugasnya sehari penuh dan biarpun nampaknya tidak berkuasa dan bersinar lagi, namun bekas kekuasaannya masih nampak membakar langit.

Langit kebakaran, merah kuning dan ada garis -garis biru putih di sana-sini, adapula warna seperti lautan perak dihias awan putih le mbut begumpal-gumpal seperti sekawanan domba putih sedang berangkat pulang ke kandang.

Keindahan alam yang membuat hati te rasa nyaman, membuat orang ingin bersenandung.

Dan sesosok bayangan seorang pria menghampiri.

Bi Lan te rsenyum dan perasaan hangat mesar menyelubungi hatinya.

Betapa besar cinta kasihnya kepada suaminya!

Suaminya, Sin-tiauw Liu Bhok Ki menghampirinya dengan langkahnya yang te gap, dengan wajahnya yang jantan, dengan sinar matanya yang penuh kasih dan penuh kebijaksanaan, dengan senyumnya yang menenangkan hati.

Ketika suaminya mendekat sambil mengembangkan kedua lengan, iapun membiarkan dirinya tenggelam dalam pelukan mesra.

Bibir itu mengecup lehernya, panas.

Terasa betapa le hernya digigit dengan dengus penuh nafsu.

Suaminya tidak pernah berbuat hal seperti ini.

Suaminya selalu tenang dan tidak pernah dilanda gairah nafs u yang menggelora seperti ini.

'Thhh...!"

Ia merenggut dirinya le pas.

Baca Juga: Sepasang Pedang Iblis 4

Baca Juga: Kisah Si Bangau Putih 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert