Eps 5 Naga Beracun - Kho Ping Hoo
Baca online Naga Beracun - Kho Ping Hoo
Cersil Naga Beracun - Kho Ping Hoo.
Bukan suaminya!
Dan ia tidak berada di dalam taman, di senja yang indah.
Ia berada di dalam kamarnya, di atas pembaringan dan yang tadinya muncul sebagai suaminya dalam mimpi, ternyata adalah Siauw Can atau Can Hong San!
Ia tadi bermimpi!
Dan kenyataannya, Can Hong San telah memasuki kamarnya seperti maling dan tadi telah memeluknya dan mengecup, menggigit le hernya dengan penuh nafsu.
"Kau.....!"
Bentaknya dengan lirih dan kini ia sudah meloncat turun dari atas pembaringan.
Wajahnya menjadi merah dan terasa panas sekali ketika melihat betapa kancing bajunya bagian atas terlepas sebagian.
Jari-jari tangannya cepat mengancingkan kembali baju itu dan matanya mencorong menatap wajah pemuda itu.
"Bi Lan ..Lan-moi.. ..engkau tahu betapa aku mencintaimu, Lan-moi..! Aku cinta padamu dan tidak tahan lagi,..Kuharap engkau tidak membuat aku terpaksa menggunakan paksaan...."
Bi Lan te ringat bahwa kepandaian pemuda ini jauh lebih tinggi darinya dan kalau pemuda ini menggunakan paksaan, mungkin ia tidak akan mampu menghindarkan diri dari penghinaan, dari perkosaan.
Cepat ia meloncat dan di lain saat, ia telah berada di dekat pembaringan kecil di sudut, di mana Lan Lan tertidur, dan sekali sambar, ia telah memondong anaknya yang masih tidur itu.
"Kalau engkau tidak segera pergi, aku akan berte riak dan melawan mati-matian, aku akan melaporkan kepada Pangeran Tua dan Pangeran Mahkota. Akan hancur semua pekerjaan kita selama ini!"
"Lan-moi, kenapa....? Bukankah selama ini aku baik kepadamu, selalu membantumu? Aku cinta padamu, dan aku percaya bahwa engkaupun cinta padaku."
"Cukup, pergilah atau aku akan berte riak!"
Kembali Bi Lan mengancam.
Hal ini sungguh tidak disangka sama sekali Can Hong San atau yang sekarang dikenal sebagai Siauw Can.
Tadinya dia merasa yakin bahwa kalau dia melakukan pendekatan, janda muda itu tentu akan menyambutnya dengan hangat.
Dari sikap janda itu, sinar matanya kalau memandangnya, senyumnya, semuanya menunjukkan bahwa janda itu kagum dan suka kepadanya.
Apalagi kalau diingat bahwa sejak pertemuan pertama, dia selalu menolong janda itu, bukan saja menyelamatkannya, juga selanjutnya membimbingnya sehingga mereka berdua dapat memperoleh kedudukan yang menyenangkan dan mulia di rumah Pangeran Tua, bahkan janda itu kini ditugaskan melatih pasukan dayang di istana!
Dia tahu betapa Bi Lan merasa berhutang budi kepadanya, oleh karena itu, kalau dia melakukan pendekatan, tentu Bi Lan akan menyambutnya dengan mesra.
Ketika tadi dia memperoleh kesempatan, berhasil menyelinap memasuki kamar janda itu, lalu merangkul, membelai dan mengecupnya, dalam keadaan setengah sadar Bi Lan menyambutnya dengan hangat.
Akan te tapi, kenapa sekarang keadaannya berubah sama sekali?
Tentu s aja dia merasa kecewa bukan main, kecewa, mendongkol dan menyesal.
Sia-sia saja semua kebaikan yang dilakukannya selama ini te rhadap Bi Lan.!
"Lan-moi, benarkah engkau menolak cintaku?
Engkau mengusirku?"
"Sudahlah, pergi cepat! Aku bukan menggertak saja!"
Bi Lan mencabut sepasang pedangnya yang te rgantung di dinding.
"Baik, aku pergi. Tak kusangka bahwa engkau adalah seorang perempuan yang tidak mengenal budi!"
"Dan aku tidak menyangka bahwa engkau hanyalah seekor binatang buas berbulu domba!"
Balas Bi Lan.
"Uhh!"
Siauw Can keluar dari dalam kamar itu melalui daun jendela, sepeti masuknya tadi.
Bi Lan menutupkan daun je ndela, merebahkan kembali Lan Lan, kemudian ia terhuyung dan menjatuhkan diri di atas pembaringannya.
Seluruh tubuhnya gemetar dan lemas, dan iapun tak dapat menahan diri lagi, menangis tanpa suara!
Betapa mengerikan bahaya yang tadi mengancam dirinya.
Kalau saja ia tidak bermimpi berte mu mendiang suaminya, kalau saja ia tidak sadar, betapa akan mudahnya te rjeblos, betapa akan mudahn ya menyeleweng dan menyerahkan dirinya kepada pemuda yang sesungguhnya amat dikagumi dan disukainya!
Dan kini ia menangis bukan karena marah, melainkan karena penyesalan melihat kenyataan yang amat pahit itu.
Siauw Can bukanlah pria seperti yang dibayangkannya semula!
Dan inilah yang membuatnya kini menangis.
Ia merasa kehilangan seorang sahabat baik, seorang yang selama ini dianggapnya seperti kakak sendiri.
Bahkan ia harus mengakui bahwa besar sekali kemungkinannya kelak ia akan menerima cinta kasih pemuda itu dengan hangat, dengan penuh harapan.
Akan te tapi kini semua telah musnah!
Semua telah hancur, karena perbuatan Siauw Can malam itu.
Ia kini merasa hidup seorang diri, dan tidak dapat mengandalkan siapapun.
Sementara itu, Siauw Can memasuki kamarnya dengan wajah muram.
Berulang kali dia mengenal tinju dan menyumpah-sumpah dalam hatinya.
Dia telah gagal sama sekali!
Kegagalan yang sama sekali tidak pernah dia bayangkan.
Dia memang sengaja hendak merayu Bi Lan, bahkan kalau perlu menggunakan paksaan untuk menggauli janda itu.
Sekali Bi Lan te lah menyerahkan dirinya, dia tidak akan kehilangan janda yang sesungguhnya te lah menjatuhkan hatinya itu.
Dia mencintai Bi Lan.
Inilah yang memusingkan dirinya.
Kalau tidak demikian halnya, te ntu dia tidak akan sekecewa ini.
Banyak wanita yang le bih cantik daripada Bi Lan bias dia dapatkan.
Akan te tapi dia mencintai Bi Lan dan tidak ingin kehilangan Bi Lan.
Tadinya, usahanya malam ini adalah untuk mengikat agar Bi Lan tidak akan terlepas lagi dari tangannya.
Dia merencanakan hal yang le bih besar.
Dia ingin mendekati Li Ai Yin!
Kalau dia berhasil mendapatkan dara bangsawan itu, membuatnya te rgila-gila, dan berhasil menjadi mantu Pangeran Tua, te ntu dia memperole h kemajuan yang hebat!
Dan biarpun hal itu tetjadi, kalau Bi Lan sudah berhasil dikuasainya, te ntu Bi Lan tidak dapat berbuat sesuatu!
Kelak dia menikah dengan Ai Yin, dan Bi Lan menjadi selirnya.
Betapa akan membahagiakan hatinya.
Wanita yang akan mengangkat derajatnya menjadi isterinya dan wanita yang dicintanya menjadi selirnya!
Akan te tapi, dia telah gagal sama sekali!
Bi Lan menolaknya, dan ancaman Bi Lan bisa berbahaya.
Tidak, selama dia tidak mengganggu lagi, Bi Lan juga tidak akan begitu bodoh untuk melaporkan apa-apa kepada Pangeran Tua maupun Putera Mahkota.
Laporan yang tidak ada buktinya!
Pula, kalau melaporkan peristiwa semalam, kedua orang bangsawan itupun tidak akan mencampuri, dan andaikata kedua bangsawan itu tidak suka kepadanya, te ntu Bi Lan akan terbawa pula.
Siauw Can merebahkan diri tanpa melepas sepatunya, rebah terlentang di atas pembaringannya sambil melamun.
Kini dia telah tahu akan segala rahasia Pangeran Tua.
Pangeran itu merupakan orang yang berambis i besar dan seorang pembenci Turki.
Dan dia sendiri telah menjadi orang kepercayaan Pangeran Tua Li Siu Ti, disamping Poa Kiu.
Baru kemarin dia menerima tugas yang amat berat, akan tetapi juga amat rahasia.
Tugas itu saja menunjukkan betapa Pangeran Li Siu Ti percaya sepenuhnya kepadanya.
Dan jantungnya masih berdebar te gang kalau dia mengenang kembali tugasnya itu, yang dilaksanakan dengan baiknya malam kemarin.
Sebelumnya dia sudah melakukan penyelidikan sehubungan dengan tugas rahasia itu dan dia tahu bahwa Gala Sing, pute ra Raja Baducin, pemuda berusia tigapuluh tahun yang tukang pelesir dan mata keranjang itu, malam itu berada di pondok indahnya di luar kota raja.
Se perti biasa, Gala Sing bersenang-senang di pondoknya itu, dijaga oleh seregu anak buahnya, tukang-tukang pukulnya.
Setelah membuat rencana dengan masak, seorang diri dia menyusup ke dalam istana bagian pute ri dan tidak terlalu sukar baginya untuk menangkap seorang selir kaisar, menotoknya sehingga tidak dapat bergerak dan tak mampu bersuara lagi.
De ngan kepandaiannya yang tinggi, Siauw Can berhasil memanggul selir yang dimasukkannya ke dalam kantung kain besar itu keluar dari te mbok is tana, bahkan membawanya keluar dari kotaraja, menuju ke pondok indah milik Gala Sing di lereng sebuah bukit kecil.
Ge gerlah istana di malam hari itu.!
Beberapa orang dayang yang melayani selir itu, hanya melihat bayangan hitam berkelebat, berkedok dan selir itu diculik si bayangan hitam.
Mereka menjerit dan para pengawal segera mencoba melakukan pencarian, namun sia-sia.
Bayangan itu telah menghilang bersama selir kaisar.
Mendengar ini, kaisar menjadi marah dan malam itu juga, kaisar memerintahkan pasukan keamanan untuk melakukan penggele dahan dan pencarian di seluruh kota raja.
N amun sia-sia saja hasilnya.
Dan pada keesokan harinya, yaitu pagi-pagi tadi, te rjadi kejadian yang le bih menghebohkan lagi.
Para pengawal Gala Sing, pagi itu menemukan majikan mereka, Gala Sing, sudah menggeletak di atas pembaringan dalam keadaan telanjang bulat dan mati!
Dadanya te rluka bekas tusukan pisau yang menembus jantungnya!
Dan di sampingnya, Nampak selir kaisar yang sudah mati dengan tangan kanan masih memegang pisau yang menancap di dadanya sendiri.
Seperti keadaan Gala Sing, selir inipun mati dalam keadaan te lanjang bulat.
Selain mereka berdua, di lantai juga te rdapat mayat lain, mayat seorang gadis penari yang malam itu dipanggil oleh Gala Sing untuk menemaninya bersenang-senang.
Juga penari ini tewas dengan tusukan di dada dan le her.
Para penyelidik dari kota raja segera berdatangan dan menurut pemeriksaan mereka, selir itu telah diperkosa.
Mudah saja diambil kesimpulan melihat keadaan di kamar itu.
Tentu selir itu diculik orang, dan dibawa ke kamar itu, diperkosa oleh Gala Sing.
Kemudian selir itu mendapat kesempatan untuk menyambar pisau, menusuk Gala Sing, juga membunuh penari yang mungkin membantu Gala Sing, kemudian untuk mencuci aib, membunuh diri sendiri.
Tidak ada kemungkian lain lagi, kecuali kesimpulan itu!
Siauw Can te rsenyum sendiri.
Dia telah bertindak cerdik sekali.
Tugas rahasia itu adalah agar Gala Sing dibunuh dan agar diatur supaya te rjadi bentrok antara pihak kaisar dan pihak Raja Muda Baducin.
Hanya itu tugasnya dan dia sendiri yang mengatur siasatnya.
Tentu saja dia yang menculik selir itu dan tanpa setahu para penjaga di luar pondok indah itu, dia berhasil membawa selir itu masuk.
Dia membunuh Gala Sing dan penari itu.
Dia pula yang memperkosa selir itu kemudian membunuhnya, akan te tapi semua itu diatur sedemikian rupa sehingga menimbulkan kesimpulan di atas tadi!
Dan benar saja.
Terjadi geger dan keadaan menjadi gawat.
Raja Muda Baducin marah-marah dan berduka sekali karena pute ra tersayang tewas.
Juga kaisar mencak-mencak karena selirnya diculik, diperkosa dan membunuh diri.
Hal itu dianggap suatu penghinaan besar sekali.
Dan Pangeran Tua Li Siu Ti merangkul pundaknya dengan girang bukan main.
"Tidak percuma engkau menjadi tangan kananku!"
Bisik pangeran itu setelah mendengar berita yang menghebohkan itu.
Dan sore tadi, Pangeran Li Siu Ti dipanggil oleh kaisar.
Tentu diadakan rapat atau perundingan yang serius sekali sehubungan dengan peristiwa itu sehingga sampai malam pangeran Tua belum juga kembali.
Dan kesempatan itu dia pergunakan untuk mendekati Bi Lan.
Namun sekali ini dia gagal!
Tidak mengapa, dia menghibur diri sendiri.
Bi Lan te ntu tidak akan berani menceritakan kepada siapapun juga.
Andaikan diceritakanpun, apa salahnya kalau dia menyatakan cintanya kepada seorang janda, walaupun janda itu diakuinya sebagai saudara misan?
Tentu Bi Lan akan dite rtawakan orang dan hal itu bahkan mendatangkan aib bagi dirinya sebagai janda muda!
Tidak, Bi Lan tidak akan membuka mulut.
Biarlah malam ini gagal, kelak masih banyak kesempatan dan masih banyak cara untuk membuat usahanya berhasil.
Sekarang dia harus mengatur langkah berikutnya, yaitu pendekatan te rhadap Li Ai Yin!
Siauw Can atau Can Hong San pernah menyesali semua pernuatannya yang sesat, dan ketika dia berte mu dengan Bi Lan, dia sedang berusaha untuk menjadi orang baik!
Dia ingin belajar menjadi orang baik.
Kebaikan adalah suatu keadaan batin, keadaan batin yang bersih dari pada pengaruh nafsu daya rendah.
Keadaan batin, yaitu akal pikiran yang sepenuhnya digerakkan oleh jiwa, dibimbing kekuasaan Tuhan Yang Maha Kas ih!
Belajar baik atau melatih kebaikan hanya akan membuahkan kemunafikan, karena kebaikan itu timbul dari keinginan.
Ingin Baik!
Dan keinginan baik ini tentu timbul pula ari keadaan.
Seperti Hong San.
Setelah dia hidup bergelimang kejahatan, dia mendapat kenyataan bahwa hidup secara itu tidak mendatangkan keuntungan, bahkan membuat dia selalu gagal dan sengsara.
Kegagalan hidup dan kesengsaraan yang diakibatkan oleh perbuatan jahatnya itulah yang menimbulkan keinginan di dalam hatinya, ingin menjadi orang baik!
Tentu saja pamrihnya adalah agar akibat perbuatan baik itu membuat dia berhasil dan senang dalam hidupnya.
Jadi, kebaikan itu bukanlah sasaran mutlak, melainkan hanya akan dipergunakan sebagai suatu cara untuk mencapai tujuannya, yaitu kesenangan.
Sasaran dari nafsu hanyalah s atu, yaitu kesenangan.!
Usaha seperti itu, yaitu belajar menjadi baik, berlatih menjadi baik, jelas masih merupakan hasil karya nafsu, karena sasarannya adalah kesenangan sebagai akibat kebaikannya.
Kalaupun orang menjadi baik karena itu, maka kebaikannya hanya merupakan kemunafikan belaka.
Kebaikan seperti itu hanya polesan, mudah luntur.
Karena yang diutamakan sasarannya, yaitu kesenangan, maka kebaikan yang hanya menjadi cadar itu dapat saja dengan mudah diganti dengan kebalikannya, yaitu kejahatan, asalkan sasarannya le bih cepat dapat dicapai, yaitu kesenangan.
Apakah kalau begitu kita tidak perlu belajar menjadi orang baik?
Siapa sesungguhnya yang mengajukan pertanyaan seperti itu?
Siapa yang ingin belajar menajdi orang baik?
Tentu saja pikiaran, dan pikiran kita telah bergelimang nafsu, telah dicengkeram oleh nafsu daya rendah.
De ngan keadaan seperti itu, apapun yang diusahakan pikiran selalu hanya demi kepentingan diri pribadi.
Dan ini memang menjadi tugas dari pikiaran.
Pikiran merupakan satu di antara alat yang membantu manusia agar hidupnya di dunia dapat dipertahankan dpat diatur.
Demikian pula dengan daya-daya rendah yang menyertai jiwa dalam kehidupannya sebagai manusia di dunia ini.
Daya-daya rendah itu memang disertakan kepada kita sebagai alat, sebagai pembantu.
Tanpa adanya nafsu-nafsu itu, kita tidak akan hidup sebagai manusia.
Akan tetapi, kalau sampai nafsu-nafsu yang semula ditugaskan menjadi pembantu kita itu dibiarkan meliar dan menjadi majikan, mencengkeram dan menguasai hati dan akal pikiran, maka kita akan diseret dan yang kita kejar hanyalah kesenangan-kesenangan duniawi yang membuat kita mabok dan tidak pantang melakukan hal-hal yang amat buruk.
Lalu bagaimana daya kita?
Kita hidup membutuhkan nafsu, akan tetapi nafsu juga yang menyeret kita ke dalam kegelapan.
Kitapun tidak dapat mengendalikan nafsu, karena kita yang ingin mengendalikan inipun dikemudikan nafsu!
Tidak ada kekuasaan di dunia ini yang akan dapat menguasai nafsu kecuali kekuasaan Sang Maha Pencipta.
Tuhan yang mencipta semua itu, dan hanya Tuhan pula yang akan dapat mengatur dan membereskan keadaan yang menyimpang dari kebenaran itu.
Kini manusia hanya tinggal menyerah!
Kita menyerah sepenuhnya dengan tawakal dan ikhlas kepada Tuhan Yang Maha Kuas, batin dan lahir.
Batinnya menyerah kepada Tuhan sebagai dasar yang kokoh, lahirnya kita berusaha dan berikhtiar agar selalu melalui jalan hidup yang benar.
De ngan demikian te rdapat keseimbangan lahir dan batin.
Doa dan kerja!
Yang dua ini harus selalu jalan bersama.
Hidup bagaikan naik perahu.
Doa merupakan kemudinya, kerja merupakan pendayungnya.
Tanpa kemudi perahu akan te rsesat.
Tanpa pendayung, perahu takkan maju.
Tanpa kerjas ama antara keduanya, perahu akan ditelan ombak.
-ooo0dw0ooo-"Sialan, semua siasat kita telah gagal akibat ulah Pangeran Li Si Bin keparat itu!"
Pangeran Tua Li Siu Ti berjalan mondar-mandir di ruangan rumahnya yang luas itu, wajahnya muram alisnya berkerut dan kedua tangannya dikepal.
Dia marah sekali.
Yang menjadi saksi ulahnya ini hanya dua orang saja, dua orang kepercayaannya, yaitu Poa Kiu dan Siauw Can!
Tentu s aja kalau orang lain mendengar ucapannya tadi, orang itu akan terkejut dan heran bukan main mendengar pembesar itu berani memaki Pangeran Li Si Bin!
Kemudian tiba-tiba pangeran tua itu menjatuhkan diri duduk di atas kursinya berhadapan dengan dua orang kepercayaannya dan berkata dengan te gas.
"Kalian berdualah yang kupercaya. Kalian harus menemukan cara bagiku, dan harus berhasil! Poa Kiu, pergunakan kecerdikanmu dan engkau Siauw Can, pergunakan kepandaian silatmu!"
Siauw Can saling pandang dengan Poa Kiu.
Siauw Can atau Can Hong San diam-diam merasa heran mengapa majikannya itu membenci benar orang-orang Turki dan mengapa pula hendak mengadu domba antara orang-orang Turki dengan kaisar.
"Harap paduka ceritakan dulu, kenapa paduka marah-marah? Bukankah tugas saya telah te rlaksana dengan baik?"
Tanya Siauw Can, penas aran.
"Poa Kiu, kauceritakan kepadanya."
Kata Pangeran Tua Li Siu Ti.
"Kauceritakan segalanya, kemudian kalian berunding dan nanti sampaikan usul-usul kalian kepadaku!"
Setelah berkata demikian, Li Siu Ti bangkit dan meninggalkan dua orang kepercayaannya itu berbicara berdua saja di ruangan tertutup itu.
"Sungguh heran, mengapa dia marah-marah?"
Tanya Siauw Can setelah pembesar itu pergi.
"Bukankah tu gasku sudah kulaksanakan dengan berhasil baik? Kenapa dia mengatakan siasat kita gagal karena ulah Pangeran Li Si Bin? Apa artinya itu?"
Poa Kiu menghela napas panjang.
Pangeran Tua Li Siu Ti sudah menceritakan segalanya kepadanya dan dia tahu bahwa Siauw Can dapat dipercaya.
Bukankah tadi pangeran tua itu menyuruh dia menceritakan segalanya kepada pemuda perkasa itu?
"Tugas yang kaulaksanakan dengan baik itu bertujuan mengadu domba antara orang-orang Turki dan Kaisar memang hamper berhasil.
Kaisar marah-marah karena selirnya diculik dan diperkosa dan dibunuh, dan raja Muda Baducin juga marah-marah karena pute ranya, Gala Sing, te rbunuh.
Memang keduanya sudah siap untuk saling menyalahkan dan kemungkinan besar te rjadi bentrokan dan permusuhan di antara mereka.
Akan tetapi muncullah Pangeran Li Si Bin dan pangeran ini mele rai, mengakurkan kembali Baducin dan Kaisar.
Dia mengatakan bahwa urusan pribadi tidak semestinya berkembang menjadi urusan Negara.
Dan dia menghibur kedua belah pihak, mengatakan bahwa penculik dan pemerkosa selir kaisar sudah terhukum dan te rbunuh, sebaliknya pembunuh Gala Sing juga sudah membunuh diri.
Keduanya sudah mati, semua dendam sudah te rbalas.
Nah, turun tangannya Pangeran Li Si Bin itulah yang membuat keributan mereda, dan baik Baducin maupun Kaisar sudah dapat menerima kenyataan dan tidak marah-marah lagi."
Siauw Can mengangguk-angguk.
Pantas saja Pangeran Li Siu Ti marah-marah karena memang semua je ruh payahnya itu sia-sia saja, tidak ada hasilnya.
Sudah sejak dia diterima menjadi pembantu pangeran Li Siu Ti, dia merasa heran mengapa majikannya yang adik kaisar itu nampaknya tidak suka kepada kaisar dan membenci orang Turki.
Kesempatan baik ini harus dia pergunakan untuk mengetahui dasar pemikiran dan perasaan majikannya, apalagi karena dia bercita-cita untuk dapat menjadi mantunya!
"Paman Poa,"
Kini sebagai rekan dia menyebut paman kepada pembesar itu.
"kalau boleh aku mengetahui, kenapa Pangeran Li Siu Ti membenci orang-orang Turki dan mengapa pula nampaknya tidak suka kepada Pangeran Li Si Bin?"
Poa Kiu mengangguk-angguk.
"Me mang sebaiknya kalau engkau mengetahui semuanya, Siauw Can, dan pangeran juga sudah memberi ijin kepadaku untu k menceritakannya kepadamu."
Pembesar itu lalu menceritakan semua keadaan dengan terus terang kepada Siauw Can.
Pangeran Tua Li Siu Ti merasa ikut berjasa ketika te rjadi gerakan menggulingkan Kerajaan Sui.
Ketika kakaknya, Li Goan, diangkat menjadi kaisar pertama Kerajaan Tang sebagai Kaisar Tang Kao Cu, Pangeran Li Siu Ti tentu saja mengharapkan agar kelak dia menjadi pengganti kakaknya, mengingat bahwa kakanya tidak mempunyai anak laki-laki dari permaisuri.
Akan tetapi, ketika Li SI Bin menjadi putera mahkota, mulailah dia merasa iri dan marah.
Li Si Bin hanyalah anak dari selir bangsa Turki!
Perasaan iri hati ini membuat ia membenci orang-orang Turki yang membantu Li Si Bin.
"Demikianlah Siauw Can. Pangeran Tua Li Siu Ti merasa bahwa dialah keturunan keluarga Li yang asli setelah kakaknya, dan Pangeran Li Si Bin hanyalah seorang berdarah Turki yang tidak pantas menjadi putera mahkota dan kelak menggantikan kedudukan kaisar. Karena orang-orang Turki itu mendukung Pangeran Li Si Bin, maka mereka perlu disingkirkan, dan untuk itulah engkau bertugas mengadu domba itu. AKan te tapi te rnyata siasat itu gagal, maka kita harus mencari siasat baru."
Siauw Can menganggu-angguk.
"Ah, kalau saja tahu lebih dahulu, tentu aku tidak menyetujui siasat mengadu domba itu. Bagaimana mungkin mereka diadu domba kalau Pangeran Li Si Bin berdarah Turki pula? Tentu dia akan selalu menentang perpecahan di antara mereka.! Sebaiknya diatur agar kedudukan pemerintahan menjadi lemah dengan jalan membujuk Kaisar dan Putera Mahkota agar te nggelam ke dalam kesenangan dan kurang memperhatikan pemerintahan. Dengan jalan demikian, para pejabat tinggi dan rakyat akan merasa tidak suka kepada kaisar. Kalau sudah begitu, baru ada kemungkinan menjatuhkan mereka. Sementara itu, Pangeran Li SIu Ti harus dapat mengangkat namanya agar popular di kalangan rakyat. Juga perlu mengumpulkan orang-orang pandai untuk membantu."
"Hemm, kiranya di samping lihai ilmu silatmu, juga engkau memiliki kecerdikan, Siauw Can. Engkau te lah dapat melihat cita-cita menjatuhkan kaisar dan putera mahkota, agar kedudukan kais ar dapat beliau kuasai. Dan kalau kita membantu sekuat tenaga, kita akan dapat menikmati hasilnya."
Siauw Can mengangguk-angguk.
Dalam keadaan seperti itu, dia harus menempel orang kurus bungkuk ini!
"Baik, paman Poa Kiu.
Aku akan membantumu sekuat tenagaku.
Bahkan semua usulku tadi anggap saja sebagai buah pikiranmu sendiri terhadap pangeran.
Engkauolah yang mengatur semuanya, aku yang melaksanakan.
Engkau menjadi otak pangeran, aku yang menjadi kaki tangannya.
Tentu kita harus saling bantu, bukan?"
Poa Kiu amat cerdik. Dia tahu bahwa a da udang di balik batu, maka dia harus mengetahui udang macam apa itu.
"Siauw Can, aku terima uluran tanganmu. N ah, jangan ragu, katakan bantuan apa yang dapat kuberikan padamu."
Siauw Can juga tidak kalah cerdiknya. Dia dapat menjenguk isi hati orang itu, maka diapun tidak merasa ragu lagi untuk membuka rahasia hatinya.
"Paman tentu mengerti bahwa seorang laki-laki harus dapat memperhitungkan dan menyesuaikan jalan pikiran dan perasaan hatinya. Nah. Terus te rang saja, hatiku tertarik oleh pute ri Li Ai Yin, dan aku jatuh cinta kepadanya. Aku yakin bahwa tidak sukar menjatuhkan hati pute ri itu. Kalau saja aku dapat menjadi suaminya, maka seiringlah jalannya perasaan dan pikiranku. Aku mendapatkan is teri yang te rcinta, juga aku mendapatkan mertua yang kita bantu agar kelak menjadi kaisar. Dengan demikian maka ikatan hubungan di antara kita dapat le bih erat lagi. Bukankah begitu, paman?"
Poa Kiu memandang kepada pemuda itu dengan kagum. Pemuda ini memang hebat. Tinggi ilmu silatnya, cerdik dan mempunyai ambisi yang bes ar! Dia menagangguk dan mengelus jenggotnya yang jarang.
"Semua itu memang baik sekali, Siauw Can. Akan te tapi dalam hubungan asmara ini, bagaimana aku dapat membantumu?"
Siauw Can te rsenyum.
"Urusanku dengan Ai Yin, te ntu tidak perlu dibantu, karena itu tergantung dari diriku sendiri. Akan tetapi setidaknya paman dapat membantu agar aku nampak berharga di mata pangeran, agar kelak tidak timbul te ntangan darinya kalau tiba saatnya aku melamar pute rinya."
"Ahhh, baiklah. Itu mudah sekali, Siauw Can. Tentu saja engkaupun harus memperlihatkan jasa-jas a yang lebih banyak lagi."
"Kalau kita berkerja sama, pasti kita berdua akan dapat membuat jasa, paman."
"Akan te tapi, bagaimana dengan nyonya muda Kwa Bi Lan, adik misanmu itu? Apakah ia akan suka bekerja sama dengan kita?"
"I a adalah seorang wanita dan ia belum tahu akan kerjas ama ini, ia belum tahu pula akan cita-cita pangeran. Menghadapi wanita haruslah berhati-hati dan tidak te rgesa-gesa. Biarlah semua ini kita rahasiakan dulu darinya dan perlahan-lahan aku akan membujuknya agar ia suka membantu kita. Serahkan saja ia kepadaku, aku akan berusaha untuk menundukkannya."
"Baik kalau begitu. Aku merasa agak khawatir. Pertama, ia seorang wanita yang lihai dan kedua, dan ini yang paling berbahaya, ia telah ditarik oleh Pangeran Li Si Bin untuk melatih pasukan dayang setiap hari. Ini berarti ia dekat dengan pute ra mahkota dan bisa berbahaya sekali..."
"Atau bisa menguntungkan sekali!"
Kata Siauw Can tersenyum.
"Kalau aku berhasil menundukkannya, bukankah kedekatannya dengan pute ra mahkota itu mendatangkan keuntungan besar? Ia dapat kita jadikan mata-mata yang dapat selalu mengamati gerak-gerik kaisar dan putera mahkota."
Poa Kiu tertawa girang.
"Ah, engkau benar dan engkau cerdik, Siauw Can. Engkau harus dapat menundukkan adik misanmu yang cantik dan janda itu!"
Dalam ucapan ini je las te rkandung dorongan yang sejalan dengan pikiran Siauw Can, yaitu bahwa dia harus dapat menundukkan Bi Lan lahir batin, yaitu lahirnya wanita itu harus jatuh ke dalam pelukannya, sehingga batinnya akan selalu taat akan semua kehendak dan perintahnya!
Dan pemuda yang cerdik ini sudah dapat menemukan cara yang amat baik dan yang pasti akan berhasil!
Akan te tapi dia tidak boleh tergesa-gesa.
Baru saja dia gagal mendekati Bi Land an membuat janda muda itu marah.
Dia harus pandai membawa diri, memperlihatkan penyesalannya agar kemarahan Bi Lan mereda dan wanita itu tidak menaruh kecurigaan kepadanya.
Setelah Pangeran Tua Li Siu Ti memasuki kembali ruangan itu, mereka bertiga lalu berbisik-bisik mengatur siasat.
Sebuah siasat yang diajukan Poa Kiu dan Siauw Can amat mengejutkan hati Pangeran Li Siu Ti.
Siasat itu adalah membunuh Putera Mahkota, Pangeran Li Si Bin.!
Wajah Pangeran Tua Li Siu Ti seketika menjadi pucat dan matanya te rbelalak memandang kepada dua orang kepercayaannya.
"Alangkah baiknya kalau dapat te rjadi! Akan tetapi mana mungkin! Li Si Bin seorang yang memiliki kepandaian tinggi, dia tangguh dan sukar dikalahkan! Selain itu, diapun mempunyai banyak pengawal pandai, dan selalu terjaga. Di belakangnya ada balate ntara seluruh kerajaan, ratusan ribu orang yang setiap saat siap melaksanakan perintahnya! Bagaimana mungkin menyingkirkannya? Kalau gagal dan ketahuan, ah, ngeri aku membayangkan a kibatnya! Tentu seluruh anggota keluarga kita, sampai ke para pelayan dan binatang peliharaan, akan dibasmi habis!"
"Harap paduka tidak khawatir,"
Kata Poa Kiu.
"Hamba berdua Siauw Can te lah merencanakan siasat yang baik dan halus. Siauw Can akan mempergunakan kepandaiannya dan kalau sampai berhasil siasat itu, maka Pangeran Li Si Bin akan te was tanpa ada yang tahu siapa pembunuhnya."
Mereka bertiga lalu berbisik-bisik dan nampaknya Pangeran Tua Li Siu Ti girang sekali. Dia nampak mengangguk-angguk dan te rsnyum-senyum mengelus jenggotnya dan berulang kali mulutnya berkata.
"Bagus........., bagus sekali...!"
Saking girang rasa hatinya, pangeran itu lalu menutup pembicaraan itu dengan sebuah pesta yang meriah, pesta antara mereka bertiga yang dihadiri pula ole h isteri dan lima orang selir pangeran itu, dan anak tunggalnya, yaitu Li Ai Yin, gadis cantik genit dan manja yang tidak malu-malu lagi memperlihatkan kekagumannya kepada Siauw Can.
Mereka makan minum sampai jauh malam dengan penuh kegembiraan dan peristiwa ini saja sudah membesarkan hati Siauw Can, karena dari Poa Kiu dia mendengar bahwa diajak makan bersama seluruh keluarga pangeran berarti bahwa dia telah dipercaya sepenuhnya, seperti halnya Poa Kiu sendiri.
o-ooo0dw0ooo-o De ngan penuh kesungguhan hati, Kwa Bi Lan mengajarkan ilmu silat kepada para dayang.
Para dayang ini merupakan gadis -gadis pilihan, bukan saja muda dan cantik, akan tetapi rata-rata memiliki kecerdikan dan tubuh yang se hat.
Mereka itu pandai dengan segala macam bentuk kesenian, pandai menari, bernyanyi, memainkan alat musik, membaca sajak.
Oleh karena itu tidak sukar bagi Bi Lan untuk mengajarkan ilmu silat kepada tigapuluh orang dayang-dayang is tana itu.
Ia mengajarkan dasar-dasar ilmu silat Siauw-lim-pai, kemudian, atas petunjuk Pangeran Li Si Bin, ia mengajarkan ilmu silat menggunakan senjata sabuk yang diambil dari Ilmu Hui-tiauw Sin-kun ( Silat sakti rajawali terbang ).
De ngan ilmu silat sabuk itu, dibentuklah Ang-kin-tin ( Barisan sabuk merah).
Ang-kin-tin ini bukan saja dapat memainkan sabuk sebagai senjata ampuh, akan te tapi mereka juga menggabungkan gerak silat itu dengan ilmu tarian yang mereka kuasai, sehingga kalau tidak dipergunakan untuk berkelahi, mereka itu dapat menggunakan sabuk merah mereka untuk menari-nari dengan indahnya.
Sabuk sutera merah panjang di tangan mereka dapat digerakkan membentuk bermacam-macam bunga bahkan huruf!
Pangeran Li Si Bin merasa girang bukan main melihat kemajuan para dayang, dan tugas Bi Lan melatih para dayang di is tana itu memberi kesempatan kepada mereka berdua untuk saling jumpa.
Pangeran Mahkota itu semakin kagum kepada Bi Lan, sebaliknya Bi Lan juga sangat kagum kepada pangeran yang tampan gagah perkasa dan manis budi ini.
Ia mendapatkan segala sifat jantan pada diri pute ra mahkota ini.
Pangeran itu dapat bersikap lemah lembut, ramah dan manis budi, akan tetapi kalau perlu, dia dapat pula bersikap keras dan tangan besi, sehingga selain disayang oleh semua orang, diapun disegani dan dihormati.
Kalau ada kesempatan kedua orang itu bercakap-cakap, dari percakapan ini saja tahulah Bi Lan bahwa pangeran itu seorang yang berjiwa pendekar, juga amat mencinta tanah air dan bangsa, mencintai rakyat dan ingin melakukan segalanya demi kebaikan rakyat.
Juga pangeran ini memiliki pengetahuan luas, bahkan dekat dan mengenal tokoh-tokoh kang-ouw dan datuk-datuk dunia persilatan.
Semenjak peristiwa yang amat mengecewakan hatinya malam itu, ketika Siauw Can berusaha untuk berbuat tidak senonoh kepadanya, le nyaplah semua perasaan suka dan kagum te rhadap pemuda itu.
Dan kini semua perasaan suka dan kagum itu beralih kepada Pangeran Li Si Bin!
Tentu saja ia tahu diri dan hanya tinggal mengagumi saja, tidak berani mengharapkan yang le bih daripada hubungan di antara mereka seperti sekarang.
Ia hanya seorang pekerja dan petugas, tiada bedanya dengan ratusan orang lain yang bekerja di lingkungan istana itu.
Sebelum te rjadi peristiwa di malam itu, ia memang pernah merasa suka dan kagum kepada Siauw Can, bahkan ia akan menerima dengan hati dan tangan terbuka, seandainya pemuda itu mengajaknya hidup bersama sebagai suami isteri.
Akan te tapi, semua harapan itu te lah hancur oleh perbuatan Siauw Can.
Kalau bukan Siauw Can yang melakukan perbuatan itu te rhadap dirinya, ia te ntu tidak akan mau sudah sebelum membunuh laki-laki itu.
Akan tetapi ia telah menganggap Siauw Can sebagai sahabat baik, dan pemuda itu telah minta maaf.
I a mau melupakan peristiwa itu, akan tetapi tentu saja semua perasaan sukanya te rhadap pemuda itu le nyap sudah.
Ia tahu bahwa Siauw Can mencintainya, akan tetapi pemuda itu menodai cintanya dengan perbuatan yang tidak senonoh.
Pagi itu, seperti biasa, Bi Lan melatih para dayang bersilat dengan sabuk sutera merah mereka.
Gerakan mereka sudah cukup baik dan tangkas, hanya masih kurang te naga.
Dengan teliti Bi Lan mengamati mereka dan dengan te kun member petunjuk-petunjuknya.
Dan pagi itu, pangeran Li Si Bin berkenan hadir dan dengan wajah berseri pangeran itu menonton.
Hatinya senang karena dia melihat kemajuan pesat pada para dayang, dan dia semakin kagum karena ketika Bi Lan memberi contoh kepada para dayang dengan bersilat sabuk sutera merah, janda muda itu nampak seperti seorang dewi yang turun dari kahyangan dan menari-nari!
Setelah Bi Lan selesai memberi contoh dan kini para dayang berlatih dengan giat, Pangeran Li Si Bin menggapai dan memberi isyarat kepada Bi Lan untuk mendekat.
Bi Lan menghampiri dan memberi hormat dengan setengah berlutut.
"Bangkit dan duduklah di sini,"
Kata pangeran itu dengan ramah sambil menunjuk kea rah sebuah bangku.
Bi Lan duduk di depan pangeran itu sambil menundukkan muka.
Biar pun mereka sudah sering bercakap dan berjumpa, tetap saja Bi Lan tidak sanggup berpandangan te rlalu lama dengan sepasang mata yang memiliki wibawa sedemikian kuatnya.
Ia selalu merasa seperti seorang anak kecil berhadapan dengan gurunya, dengan perasaan bersalah.
"Bi Lan, kalau engkau melatih pasukan dayang di sini, lalu bagaimana dengan anakmu?"
Diam-diam Bi Lan te rkejut karena sama sekali tidak pernah menyangka akan mendapat pertanyaan seperti itu.
Pangeran Li Si Bin menanyakan anaknya!
Segera te rbayanglah wajah Hong Lan.
Kalau ia bertugas di istana, dititipkannya Hong Lan kepada Cu-ma, pelayan wanita setengah tua tukang masak yang menjadi sahabat baiknya di istana pangeran Tua Li Siu Ti.
Cu-ma ini dahulunya pengasuh Ai Yin di waktu gadis ini masih kecil, dan sekarang menjadi tukang masak gadis itu untuk keperluan-keperluan kecil.
"Lan Lan hamba tinggalkan di is tana Pangeran Tua dalam asuhan Cu-ma, pangeran,"
Jawabnya.
"Lan Lan? He mm, bagus sekali nama panggilan itu. Siapa nama anakmu?"
"Namanya Hong Lan."
"Kalau begitu nama lengkapnya te ntu Liu Hong Lan, bukan? Mendiang suamimu yang berjuluk Si Rajawali Sakti itu bernama Liu Bhok Ki."
Bi Lan mengangguk membenarkan. Apapun yang te rjadi, ia akan tetap mengakui Lan Lan sebagai anaknya, dan te ntu saja nama keluarganya Liu, menurut nama keluarga mendiang suaminya.
"Bi Lan, kami merasa senang sekali dengan hasil tugasmu melatih para dayang. Untuk menyatakan te rima kasih kami, maka kami harap siang ini sebelum engkau kembali ke rumah paman Li Siu Ti, engkau suka kami ajak makan siang bersama kami. N anti kalau makan siang sudah siap, engkau akan diberi tahu."
Bi Lan merasa betapa jantungnya berdebar te gang.
Diajak makan siang bersama Pangeran Mahkota!
Sungguh merupakan suatu kehormatan yang amat luar biasa.
Tentu saja ia merasa canggung dan sungkan, akan tetapi untuk menolak, ia tidak berani.
Itu akan merupakan suatu penghinaan terhadap pangeran itu.
"Baik, Pangeran."
Katanya.
Setelah Pangeran Li Si Bin meninggalkan ruangan belajar silat itu, Bi Lan melamun dan akhirnya ia membubarkan para muridnya, karena ia tidak dapat memusatkan lagi perhatiannya.
Ia lalu pergi ke taman bunga yang amat luas di bagian belakang is tana.
Karena mendapat kepercayaan Putera Mahkota, apalagi karena semua petugas mengenalnya sebagai guru dan pelatih para dayang, Bi Lan sudah biasa berjalan-jalan di taman dan tidak ada seorangpun petugas yang melarangnya.
Perasaan hatinya terguncang oleh undangan makan siang Pangeran Li Si Bin.
Sampai lama dia te rmenung, duduk di te pi kolam ikan emans, agak te rlindung dan te rsembunyi di balik semak berbunga.
Tiba-tiba ia melihat berkelebatnya bayangan orang.
Sebagai seorang ahli silat yang sudah bertualang di dunia persilatan, sudah te rbiasa menghadapi bahaya, Bi Lan sudah waspada dan cepat ia menyelinap di balik semak dan mengintai.
Bayangan itu mencurigakan sekali.
Kalau orang itu seorang tukang kebun atau petugas istana, tentu gerakannya tidak se perti itu.
Orang itu berloncatan dari pohon ke pohon, bersembunyi, kadang berjongkok di balik semak, menuju ke dapur yang te rletak di bagian belakang bangunan yang menjadi ruangan makan.
Dari dapur, para petugas, yaitu para dayang dan para thai-kam (laki-laki kebiri) yang bertugas membawa hidangan ke kamar makan, akan melalui lorong pendek dari dapur ke ruangan makan yang je ndelanya menghadap ke taman itu.
Melihat bayangan itu menyelinap masuk ke dalam dapur melalui jendela dengan gerakan ringan, Bi Lan semakin curiga.
I a lalu mengintai ke dalam dapur melalui je ndela.
Agaknya hidangan sudah dikeluarkan dan dapur itu nampak sunyi.
Ia melihat orang tadi berdiri di dekat pintu.
Ia tidak mengenal laki-laki itu yang bertubuh gendut pendek, usianya kurang le bih tigapuluh tahun, wajahnya tampan dan kulit mukanya halus tanpa kumis dan jenggot.
Tak lama kemudian, dari pintu dapur masuklah seorang thai-kam yang biasa bertugas membawa hidangan dari dapur ke ruangan makan.
Ketika thai-kam itu melihat laki-laki itu, dia kelihatan terkejut.
Akan tetapi, si gendut itu sudah menangkap pergelangan tangan thai-kam itu dan bertanya dengan suara mendesis.
"Sudah kau hidangkan guci arak itu?"
"Sudah, akan tetapi kenapa engkau memaksa aku untuk menghidangkan guci arak yang itu? Aku tidak mengerti dan....................."
Pada saat itu, si gendut sudah menggerakkan tangannya dan sebatang pisau menancap ke dada thai-kam itu dan sebelum dia sempat mengeluarkan suara, si gendut sudah menotok lehernya, sehingga dia te rkulai roboh tanpa dapat bersuara lagi.
"Heiiii, apa yang kau lakukan itu?"
Bentak Bi Lan sambil membuka daun je ndela.
Akan tetapi, orang gendut itu tidak menjawab, bahkan cepat melompat bagaikan seekor rusa, melarikan diri keluar dari dapur itu ke dalam taman.
Melihat ini, Bi Lan segera lari mengejar dan dengan mudah saja ia dapat menyusul.
Orang gendut itu tiba-tiba membalik dan di tangannya sudah terdapat dua batang pisau seperti yang tadi dia pakai membunuh thai-kam di dapur.
Diapun cepat menggerakkan kedua pisau itu menyerang Bi Lan!
Akan tetapi betapa kuat dan cepat gerakan serangan kedua pisau itu, bagi Bi Lan masih te rlalu lambat, sehingga dengan amat mudahn ya ia mengelak mundur dan ketika sepasang pisau itu menyambar le wat dari kanan dan kiri, kakinya mencuat dan menendang kea rah lutut kiri penyerangnya.
Akan te tapi, ternyata penyerangnya itupun bukan orang lemah.
Dia mampu meloncat ke samping sehingga te ndangan itu luput, dan kembali dia menubruk ke depan, menggerakkan sepasang pisaunya dengan ganas.
Orang itu menyerang untuk membunuh, serangan orang yang nekat dan yang melihat bahwa jalan satu-s atunya baginya untuk dapat meloloskan diri hanya membunuh siapa saja yang menghalanginya.
"Pembunuh keparat!"
Bi Lan berseru marah dan tiba-tiba tubuhnya melayang ke atas dan bagaikan seekor burung rajawali menyambar, tubuhnya meluncur kea rah lawan dengan kedua tangan mencakar dan menampar.
Orang gendut itu berusaha untuk menyambut dengan sepasang pisaunya, akan te tapi kedua pundaknya sudah le bih dahulu kena dicakar dan ditampar sehingga sepasang senjata itu terlepas jatuh.
Ketika orang itu hendak melarikan diri, kembali tangan bi Lan bergerak, sekali ini kearah tengkuk dan orang itupun jatuh tersungkur!
Bi Lan menginjak punggungnya dan membentak.
"Hayo katakan, kenapa engkau membunuh thai-kam itu!"
Akan tetapi, tangan kiri si gendut itu memasukkan sesuatu ke dalam mulutnya sendiri dan diapun te rkulai.
Ketika Bi Lan memeriksanya, te rnyata dia telah mati dengan muka berubah menghitam.
Racun!
Teringat akan ini, berubah wajah Bi Lan.
Racun!
Dan si gendut ini agaknya menyuruh dengan paksa thai-kam tadi menghidangkan guci arak kepada Pangeran Mahkota!
Ketika para pengawal lari berdatangan mendengar keributan itu, Bi Lan berkata.
"Jaga mayat pembunuh ini!"
Dan diapun sudah melompat dan bagaikan te rbang secepatnya ia memasuki ruangan makan, dimana ia harus hadir atas undangan Pangeran Li Si Bin.
Akan tetapi saat itu ia sama sekali tidak teringat akan undangan makan siang itu, dan ia memasuki ruangan itu bukan untuk memenuhi undangan makan.
Begitu tiba di ambang pintu, dimana te rdapat sebuah meja yang menjadi te mpat persediaan cadangan mangkok dan sumpit, ia melihat pangeran itu yang dilayani para dayang,sedang mengangkat cawan arak ke mulutnya.
Celaka, pikir Bi Lan dan wajahnya pucat sekali.
Tidak ada waktu lagi untuk mencegah hal amat dikhawatirkannya, maka tangannya menyambar sebatang sumpit dari atas meja dan sekali tangan itu bergerak, sumpit melayang seperti anak panah ke arah pangeran.
"Sing.....trang....!"
Cawan yang bibirnya sudah menempel di bibir Pangeran Li Si Bin itu te rlempar dan is inya tumpah, muncrat ke mana-mana.
Akan tetapi pangeran bersikap tenang.
Dia menoleh ke arah Bi Lan, melihat betapa wajah wanita itu pucat sekali.
Sepasang mata pangeran itu mencorong, dan dia berkata dengan suara yang le mbut, namun berwibawa sekali sehingga te rasa oleh Bi Lan seperti pedang yang menembus jantungnya.
"Bi Lan, engkau kuundang makan siang dan aku sudah menantimu. Akan tetapi, engkau datang dan melakukan ini? Apa maksudmu?"
Tentu saja pangeran yang juga memiliki ilmu kepandaian silat tinggi itu dapat mengenal serangan untuk membunuhnya atau serangan untuk mencegahnya minum arak dari cawan tadi.
Kalau wanita itu menghendaki, tentu bukan sumpit yang disambitkan, melainkan senjata rahasia yang ampuh, dan bukan cawan di tangannya yang dijadikan sasaran, melainkan anggota tubuhnya yang mematikan.
Akan te tapi kalau demikian halnya, tentu diapun sudah mengelak atau menangkis .
Saking tegang, gelisah dan juga sungkan, Bi Lan menjatuhkan dirinya berlutut kepada pangeran itu.
Bias anya ia memberi hormat dengan membungkuk atau hanya berlutut dengan sebelah kaki saja.
"Ampunkan hamba, pangeran. Akan tetapi........arak itu.....arak itu mungkin sekali mengandung racun.!"
Katanya agak gagap karena te ntu saja ia sendiri belum yakin akan hal itu, hanya baru dugaan saja.
Sepasang mata yang mencorong itu te rbelalak.
Tanpa banyak cakap lagi Pangeran Li Si Bin yang sejak muda sudah bergaul dengan dunia kangouw dan mempunyai banyak pengalaman, lalu mengambil guci arak darimana tadi dia menuangkan arak ke dalam cawannya, menciumnya, lalu mengeluarkan sebuah mainan batu giok putih yang te rgantung di le her, mencelupkan batu kemala itu ke dalam arak.
Tak lama kemudian dia mengangkat lagi batu giok itu dan te rnyata warna putih itu berubah menjadi kehijauan.!
"Hemm, engkau benar Bi Lan.
Kalau kuminum arak dalam cawan tadi, mungkin aku sudah mati.
Racun ini kehijauan, tidak berbau dan tidak ada rasanya, amat berbahaya.
Akan tetapi, bagaimana engkau bisa mengetahui bahwa arak yang akan kuminum itu mengandung racun?
Bangkitlah, dan duduklah, ceritakan semuanya, Bi Lan."
Para dayang, tujuh orang banyaknya yang ditugaskan melayani pangeran yang akan makan siang dengan Bi Lan, saling pandang dengan wajah pucat s ekali.
Mereka ketakutan dan terkejut bukan main ketika melihat bahwa arak yang hamper saja diminum pangeran itu beracun!
Andaikan pangeran itu tadi meminumnya dan te was, mereka te ntu akan te rseret dan takkan diampuni lagi walaupun mereka sama sekali tidak tahu menahu akan arak beracun itu.
Merekapun nyaris te was dan baru saja lolos dari cengkeraman maut bersama pangeran Mahkota!
Bi Lan bangkit dan dengan langkah te nang menghampiri meja, lalu duduk menghadapi meja, berhadapan dengan pangeran itu yang menatapnya dengan penuh perhatian, akan te tapi dengan alis berkerut, karena dia belum tahu atau menduga apa yang sesungguhnya telah terjadi.
"Pangeran, tadi ketika hamba berjalan-jalan di taman, hamba melihat bayangan orang bergerak cepat memasuki dapur. Hamba merasa curiga dan membayanginya. Dia seorang laki-laki gendut dan di dapur, dia berbicara dengan seorang thai-kam. Thai-kam itu berkata mengapa dia harus menghidangkan guci arak itu kepada paduka. Tiba-tiba si gendut itu membunuh si thai-kam. Hamba te rkejut dan melompat masuk. Si gendut melarikan diri ke dalam taman dan hamba berhasil mengejarnya. Dia menyerang hamba dan hamba berhasil merobohkannya dan hendak menawannya. Akan te tapi dia membunuh diri dengan menelan racu. Lalu hamba te ringat akan ucapan thai-kam tadi, tentang guci arak yang dihidangkan pada paduka. Melihat si gendut itu ahli racun, hamba lalu menjadi curiga dan cepat hamba lari ke sini dan te rpaksa hamba melemparkan sumpit untuk mencegah paduka minum arak itu."
Kini pangeran itu mengangguk-angguk dan matanya mengeluarkan sinar kagum.
"Bi Lan, engkau sungguh hebat sekali, bukan saja engkau lihai dan cantik, akan tetapi engkau juga amat cerdik dan setia. Hanya kecerdikanmu yang tadi telah menyelamatkan nyawaku. Sungguh aku berhutang budi dan nyawa kepadamu, Bi Lan. Bagaimana kau dapat membalasnya? Terima kasih, Bi Lan."
Kalau tadi wajah Bi Lan pucat sekali karena te gang, cemas dan juga sungkan, kini wajah itu berubah kemerahan sehingga wajahnya menjadi semakin manis, dan dia tidak berani menentang pandang mata pangeran itu yang kini bersinar-sinar penuh kagum.
Melihat wanita yang dikaguminya itu menunduk dengan kedua pipi kemerahan, Pangeran Li Si Bin yang jarang tertarik wajah cantik itu, kini te rsenyum dan hatinya te rtarik sekali.
Dia tahu bahwa tidak mudah mendapatkan seorang wanita seperti Bi Lan ini.
Cantik jelita, masih muda, berkepandaian silat tinggi, cerdik dan setia!
Biarpun wanita ini telah menjadi janda dengan seorang anak, namun ia jauh le bih menarik daripada gadis yang manapun!
Mungkin karena merasa berhutang budi dan nyawa, saat itu sang pangeran te lah jatuh hati kepada Kwa Bi Lan!
"Me ngapa pangeran berkata demikian?
Hamba hanyalah melaksanakan tugas hamba, dan tidak ada yang perlu dipuji,"
Kata Bi Lan lirih tanpa berani mengangkat mukanya. -ooo0dw0ooo-
Jilid 13 Pangeran Li Si Bin tertawa lalu berkata kepada para dayang.
"Kalian melihat sendiri. Contohlah wanita ini! Nah. kalian singkirkan guci arak ini, tutup dan simpan untuk penyelidikan nanti. Ambil arak lain yang tidak te rlalu keras, dan anggur untuk Kwa lihiap (Pendekar Wanita Kwa). Bi Lan, mari kita makan siang, jangan sampai peristiwa tadi mengganggu makan siang kita."
Bi Lan mengangkat mukanya, memandang wajah pangeran itu, lalu matanya mengamati hidangan yang berada di atas meja, matanya membayangkan keraguan.
"Jangan khawatir, aku mempunyai batu kemala yang dapat kita pergunakan untuk menguji apakah ada masakan yang mengandung racun,"
Kata pangeran itu dan iapun mempergunakan batu kemala tadi, setelah membersihkannya, untuk menguji semua masakan.
Ternyata hanya arak dalam guci sajalah yang mengandung racun, maka mereka lalu makan minum dengan hati tenang.
Sambil makan dan minum, yang di layani ole h para dayang yang kini menjadi gembira sekali, dan dite mani Bi Lan yang sudah tidak sungkan atau canggung lagi, Pangeran Li Si Bin mengajak wanita itu bercakap-cakap.
Akan te tapi, tiba-tiba kepala pengawal, yaitu Siok-ciangkun mohon menghadap.
Maklum bahwa hal itu tentu ada hubungannya dengan yang diceritakan Bi Lan tadi, Pangeran Li Si Bin menyuruh panglima itu masuk.
Siok-ciangkun memberi hormat dengan berlutut sebelah kaki, melaporkan bahwa seorang thai-kam te rbunuh di dapur is tana, dan seorang laki-laki gendut yang te rnyata seorang bekas thai-kam istana yang dikeluarkan, kedapatan mati terbunuh pula di taman.
"Hemm, kami sudah tahu, ciangkun. Thai-kam itu dibunuh oleh laki-laki gendut, dan laki-laki itu membunuh diri menelan racun ketika ditangkap oleh Kwa-lihiap ini. Jangan perkenankan orang keluar masuk is tana hari ini. Aku sendiri yang akan memeriksa seluruh pelayan, thai-kam dan pengawal dalam istana. Kumpulkan mereka dan tak seorangpun boleh meninggalkan istana hari ini."
Setelah berkata demikian.
Pangeran Li Si Bin memberi isyarat kepada Siok-ciangkun untuk meninggalkan ruangan makan.
De ngan sikap te nang, dia lalu melanjutkan makan minum dan bercakap-cakap.
Sikap pangeran ini menambah kekaguman dalam hati Bi Lan.
Sungguh bukan sikap seorang pembesar yang sewenang-wenang ataupun cengeng, melainkan sikap seorang pendekar!
"Bi Lan, dahulu pernah aku mendengar nama besar Pendekar Rajawali Sakti yang kukagumi.
Dia seorang pendekar yang te rkenal dan sungguh merupakan suatu keberuntungan bahwa kini isteri pendekar itu mau membantu kami.
Kalau boleh kami ketahui, bagaimana semuda ini engkau sudah menjadi janda?
Apa yang menyebabkan kematian suamimu?"
Bi Lan tahu bahwa berhadapan dengan pangeran ini, tidak perlu menyembunyikan keadaan nya.
Juga beberapa orang dayang itu merupakan orang-orang kepercayaan, maka tidak ada salahnya kalau mereka hadir pula dalam percakapan ini, walaupun kini mereka nampak tidak mendengarkan percakapan itu.
"Suami hamba meninggal dunia karena sakit tua. pangeran,"
Jawabnya singkat.
"Karena tidak betah lagi tinggal di rumah, hamba lalu mengajak Lan Lan untuk pergi mengembara."
"Dan bagaimana dengan Siauw Can yang datang bersamamu di kota raja?"
Pangeran itu bertanya seperti sambil lalu, namun pandang matanya menyelidik.
Diam-diam Bi Lan te rkejut dan semakin kagum.
Pangeran ini tentu mempunyai banyak mata-mata yang te rsebar di seluruh kota raja, sehingga tidak aneh kalau dia sudah tahu pula tentang Siauw Can!
Jantungnya berdebar.
Tahu pulakah pangeran ini bahwa Siauw Can sesungguhnya adalah Can Hong San dan dahulu pernah membela Kerajaan Sui ketika digulingkan oleh pangeran ini dan pasukannya?
Bagaimanapun juga, ia dan Siauw Can telah memperkenalkan diri sebagai saudara misan kepada Pangeran Tua Li Siu Ti, maka iapun harus tetap berpegang kepada pengakuan itu.
"Dia adalah kakak misan hamba pangeran. Diapun ingin mencari pekerjaan, dan kami mengadakan perjalanan bersama ke kota raja."
Jawabnya singkat. Kini pandang mata pangeran itu semakin tajam penuh selidik sehingga kembali Bi Lan harus menundukkan mukanya.
"Bi Lan, apakah hanya itu hubunganmu dengan Siauw Can? Hanya saudara misan dan tidak ada hubungan lainnya?"
Bi Lan tidak berani mengangkat mukanya, dan kedua pipinya te rasa panas.
Terbayanglah peristiwa malam itu, di mana ulah Siauw Can menghapus semua perasaan suka dan kagumnya te rhadap pemuda itu.
Ia tidak berbohong kalau sekarang, ia menggelengkan kepala dengan te gas dan mengangkat muka menentang tatapan mata pangeran itu dengan berani dan berkata.
"Kami hanya datang bersama ke kota raja. Selain hubungan misan, tidak ada hubungan apapun di antara kami. Kenapa paduka bertanya demikian, pangeran?"
"Aku ingin memperoleh kepastian tentang dirimu, Bi Lan. Aku merasa kagum dan juga kasihan kepadamu, Bi Lan. Engkau hidup sebagai seorang janda, dan harus menjaga seorang anak, dan engkau masih begini muda,......."
Bi Lan te rsenyum.
Hampir lupa ia bahwa berhadapan dengan seorang pangeran, bahkan putra mahkota, calon kaisar, dan bahkan orang yang paling besar kekuasaannya di seluruh negeri, le bih besar dari pada kaisar sendiri.
Ucapan pangeran itu demikian wajar dan biasa, seperti ucapan seorang laki-laki biasa saja.
Ia menjadi semakin kagum.
"Maaf, pangeran, hamba yakin bahwa hamba le bih tua dari paduka. Usia hamba sudah duapuluh e mpat tahun........"
Pangeran Li Si Bin te rtawa, bebas dan bergelak sehingga wajahnya yang tampan dan gagah itu nampak kekanak-kana kan.
"Ha-ha-ha, bagaimanapun juga, aku merasa jauh lebih tua darimu, Bi Lan..!"
Mereka tidak bercakap-cakap lagi atau lebih te pat, pangeran itu tidak bicara lagi, maka Bi Lan juga tidak berani berkata apapun.
Mereka melanjutkan makan minum sampai selesai dan wajah pangeran itu cerah berseri.
Dia lalu bangkit berdiri.
"Aku harus mengadakan pemeriksaan sendiri dan melakukan pembersihan. Siapa tahu, di antara para pelayan dan pengawal di istana telah dikuasai pihak yang memusuhi kami."
Bi Lan bangkit dan memberi hormat sambil menghaturkan te rima kasih, berdiri menanti sampai sang pangeran meninggalkan ruangan makan itu sambil melemparkan senyum ramah kepadanya.
Seorang pangeran yang gagah perkasa, tampan, agung dan sopan, pikir wanita itu, te rbuai lamunan muluk ketika ia meninggalkan is tana, kembali ke istana Pangeran Tua Li Siu Ti dengan sebuah kereta yang te lah dipersiapkan untuk keperluannya setiap hari.
Begitu tiba di Istana Pangeran Tua, baru ia turun dari kereta, bukan hanya Lan Lan dalam pondongan pengasuh Cu-ma, akan te tapi juga nampak Siauw Can menyambutnya.
Wajah pemuda itu nampak te gang dan ketika Bi Lan memondong pute rinya yang dengan girang merangkulnya, Siauw Can bertanya, tidak memperdulikan ada Cu-ma di situ dan ada beberapa orang pengawal yang berjaga di depan Istana itu.
"Lan-moi, apakah yang te rjadi di istana! Engkau baru saja pulang dari sana, tentu mengetahui apa yang telah te rjadi!"
Pemuda itu nampak tegang. Bi Lan mengerutkan alisnya dan memandang kepada pemuda yang pernah menggerakkan hatinya akan tetapi yang kini amat dicurigainya itu.
"Bagaimana engkau tahu bahwa ada terjadi sesuatu di istana?"
Ia balas bertanya dan sinar matanya memandang penuh selidik. Melihat sinar mata Bi Lan, Siauw Can bersikap te nang.
"Aih, tentu saja aku tahu, Lan-moi. Baru saja Pangeran Tua dipanggil ke istana dengan pesan agar segera datang menghadap karena ada urusan yang teramat penting. Pangeran Tua sendiri yang berkata kepadaku bahwa panggilan itu tidak seperti biasanya, dan hal itu hanya berarti bahwa di istana telah terjadi sesuatu yang luar bias a. Nah, engkau baru saja datang dari istana, tentu mengetahui apa yang telah terjadi."
Kecurigaan hati Bi Lan menghilang.
Kiranya Pangeran Li Siu Ti telah dipanggil ke istana, tentu ada hubungannya dengan keinginan Pangeran Mahkota untuk melakukan pemeriksaan dan pembersihan terhadap para pelayan dan pengawal, semua petugas di istana.
Dan tidak aneh kalau Siauw Can menanyakan apa yang te lah terjadi di istana.
Ia tidak ingin urusan itu didengar orang lain, maka sambil memondong Lan Lan, iapun berkata singkat.
"Kita bicara di dalam saja."
Setelah mereka berada di ruangan dalam, mereka disambut oleh Li Ai Yin yang juga segera mengajukan pertanyaan kepada Bi Lan.
"Enci Bi Lan, apakah yang telah terjadi di Istana?"
Bi Lan menjatuhkan diri duduk di atas kursi dan merangkul pute rinya, lalu menarik napas panjang.
"Ada orang mencoba untuk meracuni Pangeran Mahkota......."
"I hhh.......!."
Ai Yin menjerit, matanya terbelalak dan mukanya pucat.
"Betapa mengerikan. Dan bagaimana keadaan kakanda pangeran?"
Dari sikap dan ucapan gadis bangsawan itu, Bi Lan tahu bahwa bagaimanapun juga, ada perasaan sayang di hati gadis itu terhadap kakak sepupunya.
"Jangan khawatir, nona. Beliau sehat-sehat saja karena arak beracun itu tidak sampai diminumnya."
"Lan-moi, bagaimana terjadinya? Siapa yang hendak meracuni Pangeran Mahkota dan bagaimana pula caranya, bagaimana pula usaha pembunuhan keji itu dapat digagalkan?"
Tanya Siauw Can ingin tahu sekali.
"Benar, enci Bi Lan. Ceritakanlah, apa yang sesungguhnya te rjadi? Akupun ingin tahu sekali."
Kata Ai Yin.
"Nanti kalau Pangeran Tua pulang, te ntu beliau dapat bercerita le bih jelas,"
Kata Bi Lan mengelak.
"Tidak, aku ingin mendengar dari sekarang, enci Bi Lan! Aku sudah tidak sabar menanti pulangnya ayah!"
Kata gadis bangsawan itu.
Bi Lan te rpaksa.
Bagaimanapun juga, Pangeran Tua te ntu akan mendengar segalanya dan kedua orang ini akan mendengarnya juga.
Kalau ia bertahan dan tidak mau menceritakan, tentu menimbulkan dugaan yang bukan-bukan.
Iapun menghela napas panjang.
"Siang tadi, ketika aku beristirahat dan berjalan-jalan seorang diri di taman bunga is tana, aku melihat bayangan orang ke dapur is tana. Aku menjadi curiga dan membayangi. Dia seorang gendut yang berte mu dengan seorang thai-kam di dapur. Aku mendengar thai-kam itu menegur si gendut mengapa ia harus memberikan guci arak itu kepada Pangeran Mahkota. Si gendut lalu membunuh thai-kam itu. Tentu saja aku mengejarnya, dia lari ke dalam taman dan aku berhasil merobohkannya. Ketika aku hendak menangkapnya, dia menelan racun dan mati seketika. Aku mengkhawatirkan kesehatan Pangeran Mahkota, maka cepat aku memasuki ruangan makan. Ketika melihat pangeran hendak minum arak dari sebuah guci, aku te ringat akan ucapan thai-kam yang te rbunuh dan kusambit cawan di tangan pangeran itu dengan sumpit. Ketika diperiksa, arak itu memang beracun!"
Ai Yin merangkul Bi Lan.
"Aih, engkau hebat, enci Bi Lan. Engkau pantas menjadi guruku. Wah, namamu te ntu akan tersohor di istana, aku ikut bangga karena engkau guruku. Dan telah menyelamatkan nyawa kakanda pangeran! Bukan main!"
Gadis itu girang sekali.
Karena ia dirangkul.
Bi Lan te rhalang dan tidak melihat perubahan pada wajah Siauw Can.
-ooo0dw0ooo-"Hemm, bagaimanapun baiknya siasat itu, te rnyata telah gagal dan bagaimana kalau thai-kam dan bekas thai-kam itu dapat te rtangkap hidup-hiup?
Tak dapat aku membayangkan akibatnya.
Kalian berdua harus bekerja lebih baik dan hati-hati!"
Pangeran Tua Li Siu Ti mengomel panjang-pendek di dalam kamar perte muan yang te rtutup rapat itu.
Mereka bertiga, Pangeran Tua Li Siu Ti, Poa Kiu, dan Siauw Can, membicarakan te ntang usaha pembunuhan terhadap Pangeran Li Si Bin yang gagal.
Usaha pembunuhan itu memang hasil siasat Poa Kiu dan Siauw Can.
Siauw Can mengepal tinju.
"Pangeran, kalau tidak karena ulah Bi Lan, kalau tidak kebetulan Bi Lan berada di sana, tentu sekarang ini Pangeran Mahkota telah tewas.!"
"Bagaimana juga, harap paduka tidak menjadi khawatir. Hamba telah berlaku amat hati-hati. Andaikata bekas thai-kam itu tertangkap hidup-hiduppun, dia tidak akan tahu siapa yang memberi banyak uang emas kepadanya dan yang menyurur dia menyelundupkan arak beracun ke is tana. Juga, dia telah kami ancam tanpa dia mengenal kami, bahwa kalau dia tertawan, dia harus membunuh diri dengan racun. Kalau tidak, maka seluruh keluarganya di dusun akan kami bunuh. Dan te rnyata ancaman itu cukup ampuh. Buktinya, dia memilih membunuh diri dari pada tertawan, sedangkan keluarganya di dusun dapat menikmati hidup berkecupan dengan upah yang te lah kami berikan kepadanya."
Sang pangeran mengangguk-angguk dan wajahnya yang tadinya diliputi kegelisanan kini menjadi terang kembali, sikapnya menjadi te nang, lalu dia duduk berhadapan dengan dua orang kepercayaannya.
"Lalu, apa yang dapat kita lakukan selanjutnya?"
"Harap paduka jangan tergesa-gesa. Kegagalan itu membuat Pangeran Mahkota menjadi waspada. Bahkan kabarnya para petugas di is tana akan dipilih dengan seksama dan penjagaan diperketat. Tidak mungkinlah dalam waktu dekat ini menyelundupkan orang ke dalam is tana. Kita harus nanti saat yang te pat dan kesempatan yang baik, pangeran."
"Hemm, engkau memang benar, Poa Kiu. Aku sebagai penasihat kaisar, tadi juga menasehati agar para petugas diganti dan dilakukan pemilihan yang cermat. Hal itu untuk menjauhkan diriku dari persangkaan. Akupun menasehatkan kepada kaisar agar mayat kedua orang itu digantung di pintu gerbang agar semua rakyat melihatnya dan agar tidak ada yang berani lagi melakukan percobaan pembunuhan di is tana. Akan tetapi, sampai kapan kita harus menanti kesempatan?"
"Pangeran, usaha membunuh Pangeran Mahkota, untuk sementara ini harus ditangguhkan. Hal ini selain amat sukar, juga amat berbahaya bagi selamatan paduka sendiri. Kita harus mencari cara lain yang lebih halus."
"Cara lain yang bagaimana?"
Tanya Pangeran Tua tak sabar.
"Misalnya, dengan usaha agar Pangeran Mahkota mendapat nama buruk dan dikecam rakyat sebagai seorang pemuda yang tidak pantas kelak menggantikan ayahnya menjadi kaisar. Menonjolkan bahwa dia hanyalah keturunan darah Turki, dan kalau mungkin, kita usahakan agar Permaisuri bentrok dengan Pangeran Mahkota, atau setidaknya ada te rjadi pertentangan di antara mereka......". Pangeran Tua mengangguk-angguk.
"Sias at ini baik sekali dan perlahan-lahan boleh kau cari jalannya untuk melaksanakannya. Akan te tapi aku sendiri sama sekali tidak boleh tersangkut, karena aku adalah penasihat kaisar, bahkan kalau perlu, andaikata sampai terjadi kebocoran, aku tidak segan-segan untuk menasehatkan menghukum mereka yang mengacau di istana! Nah, engkau harus berhati-hati sekali, Poa Kiu. Jangan sampai rahasiamu terbongkar dan te rpaksa aku harus menasehatkan kaisar agar menjatuhkan hukuman seberatnya kepadamu dan keluargamu!"
Poa Kiu bergidik.
"Hamba mengerti, Pangeran. Yang pertama adalah keselamatan paduka tidak te rsangkut, dan ke dua barulah berhasilnya siasat itu."
"Bagus kalau engkau sudah mengerti. Engkau boleh bekerja sama dengan Siauw Can. Dan bagaimana dengan engkau sendiri, Siauw Can? Apakah kau memiliki siasat lain, kecuali yang sudah dikemukakan Poa Kiu?"
"Hamba masih mempunyai satu harapan untuk melenyapkan Pangeran Mahkota, pangeran..."
"Hushhhhh! Engkau akan memancing bahaya bagi kita? Tadi sudah dibicarakan bahwa untuk sementara waktu ini, tidak mungkin sias at itu dilaksanakan. Siapa yang akan mampu menembus benteng pertahanan para pengawal di istana?"
"Hamba sendiri tidak dapat, akan te tapi ada orang yang dapat, pangeran."
"Siapakah dia?"
"I a adalah adik misan hamba sendiri, Bi Lan."
Sepasang mata yang cerdik dan licik dari Pangeran Tua Li Siu Ti nampak berseri. Seketika iapun dapat melihat kemungkinan itu.
"Ah, engkau benar.! Setiap hari Bi Lan memasuki is tana, tentu saja ia tidak dicurigai, apa lagi baru saja ia yang menyelamatkan nyawa Pangeran Mahkota. Akan tetapi apakah ia mau membantu?"
Pangeran Tua mengerutkan alisnya, ragu-ragu karena dia sudah melihat sikap Bi Lan. Wanita itu keras hati dan agaknya sukar ditundukkan.
"Kita harus bekerja dengan tenang dan hati-hati, pangeran. Memang adik misan hamba itu keras kepala dan keras hati. Akan tetapi hamba akan membujuknya perlahan-lahan agar ia mau membantu."
Biarpun mulutnya berkata demikian, di dalam, hatinya Siauw Can yakin benar bahwa Bi Lan tidak mungkin mau kalau disuruh mencelakai Putera Mahkota, apa lagi membunuhnya.
Kalau dia berani berjanji Kepada Pangeran Tua Li Siu Ti, itu adalah karena dia hendak mempergunakan cara lain untuk memaksa Bi Lan suka bekerja sama.!
Ada Poa Kiu yang dapat membantunya.
Dengan kerja sama yang baik, te ntu mereka berdua akan mampu menundukkan Bi Lan dan kalau wanita itu sudah mau bekerja sama, membinasakan pangeran Li Si Bin bukan merupakan hal yang mustahil lagi.
o-ooo0dw0ooo-o 'Terlalu!
Sungguh keterlaluan sekali!
Orang-orang Turki mencoreng muka kita dengan kotoran, mencemarkan kehormatan keluarga dan menghina kita dan paduka membiarkan begitu saja?
Apakah Baducin dan anak buahnya yang biadab itu tidak akan mente rtawakan paduka?
Selir paduka di culik, diperkosa dan dibunuh, dan paduka hanya diam mengelus dada saja!
Apakah karena permaisuri muda orang Turki, lalu paduka membiarkan saja keluarga kita diinjak-injak kehormatannya?"
Permaisuri itu berkata dengan nada suara yang penas aran dan kesedihan, sambil menggunakan sapu tangan menghapus air mata yang jatuh berderai.!
Kaisar Tang Kao Cu duduk dengan wajah muram, alisnya berkerut dan berulang kali dia menghela napas panjang.
"Tenanglah dan jangan menuruti perasaan saja. Bukankah Gala Sing, pute ra Raja Muda Baducin yang berdosa itu telah menerima hukumannya dan te was?"
"Apakah cukup dengan itu? Tentu orang-orang Turki itu akan berpendapat bahwa semua wanita dalam istana ini boleh saja diganggu dan dihina, kalau te rtangkap mungkin dibunuh, akan te tapi kalau tidak? Mereka semua akan menertawakan keluarga istana!"
Kata pula sang permaisuri dengan marah. Kaisar Tang Kao Cu kehilangan kesabarannya dan memandang kepada permaisurinya dan bertanya kaku.
"Habis, kalau menurut pendapatmu, kita harus berbuat apa te rhadap mereka?"
"Me reka adalah orang-orang biadab, orang-orang asing yang sepantasnya diusir semua dari negara kita. Perintahkan mereka pulang ke negara mereka sendiri dan jangan lagi memperbolehkan mereka berada di kota raja!"
"Akan te tapi, hal itu tidak mungkin!. Engkau tahu bahwa Pangeran Mahkota Li Si Bin amat membutuhkan bantuan mereka untuk menundukkan para pemberontak yang masih mengacau di sana sini. Dan engkau te ntu tahu pula bahwa merekalah yang membantu kita menggulingkan Kerajaan Sui. Li Si Bin sendiri yang minta kepada kami untuk le bih mementingkan urusan negara daripada urusan pribadi.Dan di antara kami dan Raja Muda Baducin te lah berdamai, saling memaafkan."
"Paduka telah dipengaruhi orang-orang Turki.! Aihh, nasib kami sungguh celaka, dapat dihina oleh orang-orang biadab tanpa kami dapat berdaya sama sekali."
Permais uri menangis.
Kaisar Tang Kao Cu menjadi je ngkel dan dia meninggalkan permaisurinya.
Dia tahu bahwa permaisurinya itu bagaimanapun juga adalah seorang wanita yang tidak lepas dari pengaruh cemburu.
Karena permaisuri tidak mempunyai pute ra, dan dia mengangkat ibu Li Si Bin, seorang wanita Turki, sebagai permaisuri muda, bahkan sebagai ibu kandung pute ra mahkota, maka te ntu saja permais uri merasa tersisihkan dan merasa diancam kedudukann ya.
Dia sendiri tadinya memang marah bukan main kepada Raja Muda Baducin, pemimpin orang-orang Turki karena selirnya diculik, diperkosa dan sampai membunuh diri, oleh putera Baducin.
Akan te tapi, pute ranya, Pangeran Li Si Bin membujuknya dan menyadarkannya.
Dan biarpun dia seorang ayah, biar dia yang menjadi kaisar, namun dia tahu bahwa dia tidak mungkin dapat membantah pute ranya itu.
Puteranya yang menjadi panglima besar, pute ranya yang berhasil memimpin pasukan menggulingkan kerajaan Sui, bahkan pute ranya yang mengangkat dia menjadi kaisar.!
Sejak percakapan itu terjadi, permaisuri mulai diracuni dendam kebencian te rhadap Pangeran Mahkota Li Si Bin, anak tirinya yang dianggapnya keturunan bangsa biadab!
Dan dengan sendirinya iapun menerima dengan hati terhibur ketika adik suaminya.
Pangeran Li Siu Ti, mendekatinya.
Pangeran Li Siu Ti adalah adik kaisar, dan karena keduanya sama-sama tidak suka kepada Pangeran Mahkota yang berdarah Turki itu tentu saja mereka merasa saling cocok dan hal ini memudahkan Pangeran Li Siu Ti untuk menyelundupkan seorang thai-kam baru sebagai pelayan di istana bagian pute ri, tentu saja mereka dengan bantuan Permaisuri yang tidak tahu bahwa thai-kam baru yang diusulkan Pangeran Li Siu Ti itu bertugas sebagai mata-mata di dalam istana.!
Bukan itu saja usaha yang dilakukan oleh Pangeran Li Siu Ti yang menugaskan Poa Kiu dan Siauw Can untuk mengatur segala macam siasat demi tercapainya tujuannya, yaitu merusak nama baik Pangeran Mahkota atau kalau mungkin membunuhnya,agar kelak mahkota dapat te rjatuh ke tangan Pangeran Li Siu Ti.!
Seperti juga keadaan hati akal pikiran setiap orang di dunia ini, juga Pangeran Li Siu Ti, Poa Kiu maupun Siauw Can, sama sekali tidak merasa bahwa mereka telah melakukan perbuatan yang tidak baik.
Setiap manusia akan selalu membenarkan tindakan mereka, selama tindakan itu bertujuan baik bagi diri sendiri.
Hati dan akal pikiran yang sudah bergelimang nafsu selalu mementingkan pamrih dalam setiap perbuatan, pamrih untuk keuntungan dan kesenangan diri sendiri, dan setiap kali hati nurani mencela dan menegur perbuatan itu, maka hati dan akal pikiran akan menjadi pembela yang gigih dan cerdik, selalu akan mencari alasan-alasan kuat untuk membenarkan tindakan mereka.
Pangeran Li Siu Ti tidak pernah merasa bahwa perbuatannya itu didorong oleh iri dan keinginan untuk berkuasa, melainkan menganggap sebagai perbuatan yang baik karena dia menganggap bahwa Li Si Bin tidak pantas menjadi calon kaisar.
Seorang berdarah Turki tidak patut menjadi kaisar dan dialah yang lebih berhak dan le bih pantas.
Poa Kiu juga menganggap semua tindakannya benar karena hal itu menunjukkan bahwa ia adalah seorang pembantu yang setia.
Juga Siauw Can menganggap dirinya benar karena dia ingin memperoleh kedudukan yang baik dan wajarlah kalau dia membantu Pangeran Li Siu Ti yang dianggapnya akan dapat menariknya ke tingkat yang tinggi.
Hanya ada sebuah hal yang selalu meresahkan hati Siauw Can, yaitu mengenal Kwa Bi Lan.
Diam-diam dia harus mengakui bahwa dia te lah jatuh cinta kepada Bi Lan.
Kalau malam itu dia berusaha menggauli Bi Lan, bukan semata-mata karena ia tidak mampu mengendalikan nafsu berahinya.
Sama sekali bukan.
Dia mencinta Bi Lan dan ingin memperisteri wanita itu.
Akan tetapi, kemudian setelah dia melihat Ai Yin, akal pikirannya bekerja dan dia melihat betapa cita-citanya akan dapat te rcapai kalau dia dapat memperisteri Ai Yin!
Dia akan menjadi mantu Pangeran Tua yang kelak mungkin akan menjadi kaisar!
Dia ingin memperisteri Ai Yin karena ingin memperoleh kedudukan tinggi, berbeda dengan keinginannya memperisteri Bi Lan karena memang mencinta janda itu.
Maka, diapun ingin menjadi suami Ai Yin akan te tapi tidak ingin kehilangan Bi Lan, dan dia berusaha menggauli janda itu karena sekali janda itu telah menyerahkan diri kepadanya, te ntu takkan dapat terlepas lagi dan dia akan mengambil Bi Lan sebagai is teri ke dua!
Akan tetapi, Bi Lan menolak, bahkan marah-marah dan sejak itu, sikap Bi Lan dingin te rhadapnya.
Ini yang amat meresahkan hati Siauw Can.
Sekarang, sesuai dengan rencana yang diatur bersama Poa Kiu, bukan hanya cinta yang mendorong Siauw Can untuk memiliki Bi Lan, melainkan juga untuk dapat memperalat janda itu yang kini mendapatkan kepercayaan dari Pangeran Li Si Bin dan setiap hari memasuki istana kaisar.
Siauw Can mulai mendekati Bi Lan dan dengan wajah penuh penyesalan, dengan suara menggetar sedih dia membujuk Bi Lan pada suatu sore, ketika mendapatkan kesempatan bicara empat mata dengan janda muda itu.
"Lan-moi, kenapa engkau masih nampak marah kepadaku? Sudah berkali-kali aku minta maaf kepadamu. Lan-moi, aku memang bersalah malam itu. Akan te tapi ketahuilah bahwa aku cinta padamu, aku rindu padamu dan malam itu aku tidak dapat menahan diri sehingga melakukan hal yang tidak se patutnya kulakukan. Aku minta maaf, Lan-moi."
Bi Lan menarik napas panjang.
Sebetulnya, ia pernah tertarik kepada pemuda ini dan betapa akan mudahn ya membalas cintanya.
Akan te tapi, peristiwa malam itu sungguh telah menyapu bersih semua perasaannya terhadap Siauw Can!
Biarpun demikian, ia tidak dapat merasa benci kepada pemuda ini, karena iapun dapat memakluminya sekarang.
Ia te ringat akan semua kebaikan Siauw Can, teringat betapa pemuda itulah yang mengajaknya ke kota raja sehingga kini ia mendapatkan pekerjaan yang baik dan terhormat.
Semua penghuni istana kaisar bahkan menghormatinya karena ia telah menjadi orang kepercayaan Pangeran Mahkota.
Semua itu dapat te rjadi karena Siauw Can yang mengajaknya ke kota raja.
Kalau ia tidak bertemu dengan pemuda itu, entah bagaimana keadaannya sekarang.
"Can-toako, aku sudah melupakan peristiwa itu. Aku memaafkanmu, akan te tapi kuminta mulai saat ini, engkau jangan lagi bicara tentang cinta padaku. Aku hanya akan menjadi muak dan te ringat akan peristiwa itu lagi saja. Kita hanya sahabat, toako, dan untuk membalas semua kebaikanmu, aku berjanji tidak akan membuka rahasia dirimu kepada siapapun juga."
Hanya itulah yang dapat dihasilkan Siauw Can biarpun dia sudah mencoba untuk bersikap manis, le mbut, merendah bahkan merengek terhadap Bi Lan.
Agaknya janda itu sudah menutup pintu hatinya terhadap cintanya!
Sikap Bi Lan ini, selain mengecewakan hati Siauw Can karena cintanya ditolak, juga membuat dia bingung.
Dia harus dapat memperalat Bi Lan demi membuat jasa besar kepada Pangeran Tua.
Diapun merundingkan hal ini dengan Poa Kiu, mengatur siasat.
Siauw Can juga tak pernah lalai memperhatikan Ai Yin.
Sejak semula dia sudah berusaha mendekati gadis bangsawan itu dan dia mengerahkan segala daya untuk menaklukkan hati gadis itu.
Dia memang tampan, lincah dan pandai bicara.
Apalagi karena dia mendapatkan kesempatan.
Ai Yin bukan hanya belajar ilmu silat dari Bi Lan, akan tetapi juga seringkali meminta petunjuk darinya dan setiap kali Bi Lan pergi ke istana untuk melatih para dayang is tana, Siauw Can selalu mempergunakan kesempatan ini untuk memberi petunjuk kepada Ai Yin.
Dengan sendirinya, pergaulan mereka menjadi akrab dan gadis bangsawan yang kurang pengalaman itu, yang memiliki pembawaan manja dan genit, tentu saja mudah runtuh ole h seorang pria yang berpengalaman seperti Siauw Can.
Pemuda ini bukan saja mempergunakan ketampanan dan kegagahannya untuk menarik perhatian, bahkan dia mempergunakan kekuatan sihirnya yang pernah dia pelajari dari mendiang ayahnya.
Terhadap seorang yang memiliki tenaga sakti sekuat Bi Lan, kekuatan sihirnya itu tidak akan bermanfaat.
Akan te tapi terhadap Ai Yin, guna-guna sihir yang dipergunakan Siauw Can te ntu saja amat ampuh!
Siauw Can bersikap hati-hati dan le mbut, tidak mau mempergunakan kekerasan, tidak mau te rse ret oleh nafsunya sendiri yang bahkan mungkin dapat menggagalkan usahanya.
Dia harus dapat memikat Ai Yin dan mendapatkan gadis itu sebagai isterinya secara te rhormat, dapat diterima dengan baik oleh gadis itu dan keluarganya.
Maka diapun berperan sebagai seorang pemuda yang sungguh jatuh cinta, yang sopan dan menghormati gadis yang dicintanya!
Ketika dia pada suatu pagi, setelah memberi petunjuk ilmu silat kepada Ai Yin, melihat kesempatan baik, diapun mendekati Ai Yin yang duduk di atas bangku dalam ruangan berlatih silat itu.
Gadis itu tampak segar, kedua pipinya kemerahan, napasnya agak terengah, dahi dan le hernya basah oleh keringat setelah tadi berlatih silat dan menggunakan te naga.
Ia tersenyum, cerah dan menyusut keringat dengan saputangan sambil memandang kepada Siauw Can dengan wajah berseri.
"Bagaimana pendapatmu, toako? Sudah majukah gerakanku?"
Ai Yin memanggil pemuda itu toako (kakak) menirukan Bi Lan. Dia tidak senang kalau disebut taihiap (pendekar besar), maka Ai Yin menyebutnya toako yang menyenangkan kedua pihak.
"Baik sekali, nona. Engkau memang berbakat, gerakanmu cukup cekatan, cukup kuat, cepat dan indah. Bahkan gerakanmu le bih indah dibandingkan gerakan Lan-moi."
Ai Yin tertawa dan ketika mulutnya terbuka, nampak rongga mulut yang merah dan deretan gigi yang putih dan rapi.
"Hi-hik. engkau memuji te rlalu tinggi, toako. Mana mungkin gerakanku le bih indah dibandingkan gerakan enci Lan? Engkau merayu, ya?"
Siauw Can te rsenyum, akan te tapi lalu berkata dengan serius.
"Sungguh mati, aku berani bersumpah, nona. Aku tidak merayu, dan bukan memuji kosong, hanya berkata sesungguhnya. Tentu saja engkau tidak dapat menyamai kelihaian Lan-moi, akan te tapi dalam keindahan gerakan, nona jauh lebih hebat. Kalau nona bermain silat, gerakanmu seperti seorang bidadari sedang menari, gerakan kaki tangan dan badanmu.........."
Wanita mana di dunia ini yang hatinya tidak runtuh menghadapi pujian, apa lagi kalau pujian itu keluar dari mulut seorang pria muda tampan?
Bahkan andaikata ia tahu bahwa pujian itu hanya rayuan gombal sekalipun, hati wanita itu akan berkembang dan penuh rasa senang dan bangga.!
Agaknya memang sudah pembawaan alam, berlaku untuk mahluk apapun juga, betina selalu suka sekali dipuji dan pria selalu suka sekali memuji.!
Percaya atau tidak bahwa pujian Siauw Can itu benar, tetap saja hati Ai Yin menjadi senang bukan main dan tawanya lepas dan gembira.
"Jangan bohong kau, Can-toako! Enci Lan seringkali menegurku, mengatakan bahwa yang membuat gerakanku kaku adalah badanku, ehh......pinggulku, katanya te rlalu menonjol ke belakang!"
Siauw Can membelalakkan matanya dan berkata dengan nada penuh penasaran.
"Ah, Lan-moi te rlalu kejam untuk mencelamu. Hem, menurut penglihatankku, justeru pinggulmu amat indah bentuknya dan membuat gerakanmu nampak serasi dan menawan!"
Kembali Ai Yin te rsenyum, akan te tapi sekali ini ia mengerling genit dan kedua pipinya agak kemerahan.
Siauw Can yang sudah berpengalaman dapat melihat bahwa gadis itu sudah mulai te rpikat.
Dia mengenal batas dan tidak melanjutkan rayuannya karena hal itu akan menimbulkan kecurigaan.
Dia bersikap biasa kembali dan dengan sopan dia mulai pula memberi petunjuk-petunjuk sehingga gadis itu kehilangan rasa canggungnya.
Akan te tapi diam-diam benih yang ditanam Siauw Can mulai tumbuh, dan sepasang mata yang manja itu mulai memandang Siauw Can bukan hanya karena kagum akan kepandaiannya, akan tetapi juga dengan perhatian yang lain, perhatian seorang gadis remaja yang mulai tertarik kepada seorang pria yang menyenangkan hatinya, yang pandai mengelus perasaannya.
Jerat mulai dipasang untuk menangkap kelinci muda yang belum berpengalaman itu, perangkap mulai dipasang te rhadap burung yang baru belajar terbang.
Sikap Siauw Can yang mulai berubah, rayuan-rayuan maut berupa pujian-pujian dengan suara le mbut, pandang mata yang je las membayangkan berahi, senyum-senyum penuh pikatan, membuat Ai Yin maklum bahwa pemuda yang selama ini dianggapnya sebagai seorang pendekar yang membantu ayahnya itu cinta kepadanya!
Hal ini merupakan pengalaman baru bagi gadis bangsawan ini, membuat ia kadang suka melamun dalam kamarnya.
Ia mulai gelisah dan akhirnya, pada suatu kesempatan ia berdua saja dengan Bi Lan, ia mengaku te rus terang kepada pendekar wanita yang menjadi sahabat dan gurunya itu.!
"Enci Bi Lan, aku ingin membicarakan sesuatu, akan te tapi engkau harus berjanji dulu padaku bahwa engkau akan merahasiakan semuanya ini dan juga bahwa engkau tidak akan merasa te rsinggung.!"
Bi Lan memandang gadis itu dengan sinar mata penuh selidik.
Ia mengenal Ai Yin sebagai seorang dara remaja yang cantik, genit dan manja.
Akan tetapi yang memiliki dasar watak yang baik, yang akrab pula dengan saudara sepupunya, yaitu Pangeran Mahkota Li Si Bin.
Iapun merasa sayang kepada Ai Yin, sungguhpun ia tahu bahwa gadis itu sebagai murid tidaklah memuaskan karena tidak memiliki bakat ilmu silat.
"Baik, nona, aku berjanji tidak akan merasa te rsinggung dan akan merahasiakan apa yang akan kaubicarakan,"
Jawabnya sambil tersenyum, merasa seperti menghadapi seorang anak-anak yang manja. Setelah bersangsi sebentar, dengan kedua pipi berubah merah, Ai Yin lalu bertata.
"Enci Lan, kakak mis anmu itu......"
Diam-diam Bi Lan te rkejut.
Ada apa dengan Siauw Can?
Jantungnya berdebar.
Jangan-jangan pemuda itu mengulang lagi perbuatannya seperti yang pernah dilakukan kepadanya pada malam itu, dan kini yang didekatinya adalah gadis bangsawan ini.
"Can-toako? Kenapa dengan dia?"
Tanyanya cepat. Melihat Bi Lan terkejut. Ai Yin tersenyum dan menggeleng kepala.
"Tidak apa-apa. enci. Hanya dia.......dia agaknya jatuh cinta padaku.."
Dara itu menundukkan mukanya dengan malu-malu dan Bi Lan te rbelalak.
Hemm, kiranya Siauw Can kini mengalihkan perhatian dan perasaannya kepada gadis bangsawan yang usianya baru tujuhbelas tahun ini.!
Akan te tapi, agaknya Ai Yin juga dapat menerima perasaan pemuda itu.
Kalau tidak demikian, tentu akan berbeda sikapnya.
Tentu dara itu akan marah-marah, tidak bersikap malu-malu seperti ini.
Sikap malu-malu menghadapi pernyataan cinta seorang pria sama artinya dengan menyambut pernyataan itu dengan senang hati.
Dara ini telah terpikat dan jatuh hati pula kepada Siauw Can!
Akan tetapi, apa salahnya?
Siauw Can adalah seorang pemuda yang baik.
Tampan dan gagah, dan menjadi orang kepercayaan Pangeran Tua, ayah gadis ini.
Ia tidak melihat suatu cacat pada diri Siauw Can, kecuali peristiwa malam itu yang telah dapat ia maklumi.
"Siocia (nona), dia tidak melakukan sesuatu yang tidak semestinya kepadamu, bukan?"
Bi Lan memancing dan gadis itu cepat menggeleng kepala dan mengangkat muka memandangnya.
"Tidak, dia amat baik kepadaku, enci."
"Hemm, kalau begitu.......kenapa kauceritakan hal ini kepadaku?"
Wajah Ai Yin menjadi semakin merah.
"Aku... .aku bingung, enci, aku........aku takut karena belum pernah aku merasakan seperti ini. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, aku ingin bertanya kepadamu, bagaimana pendapatmu te ntang pemuda yang menjadi kakak misanmu itu?"
Bi Lan te rharu.
Sukar baginya membayangkan bagaimana akan rasanya andaikata pernyataan dan pertanyaan Ai Yin itu diajukan kepadanya sebelum terjadi peristiwa malam itu.!
Ia sendiri tadinya menyukai Siauw Can.
Akan te tapi sekarang, yang ada dalam hatinya hanya perasaan haru.
Dara bangsawan itu demikian percaya kepadanya sehingga menanyakan urusan yang demikian pribadi kepadanya.
Bi Lan menegang tangan Ai Yin dan dengan suara gemetar karena haru iapun berkata.
"Nona, sepanjang yang kuketahui, Can-toako adalah seorang laki-laki yang gagah perkasa dan berjiwa pendekar. Bagiku dia cukup gagah dan baik. Tentu saja aku tidak mengenalnya lebih dalam karena kamipun baru berte mu beberapa bulan yang lalu. Nona, apakah.........engkau juga cinta padanya?"
Kembali Ai Yin menanduk, ia memang genit dan manja, juga lincah, akan te tapi sekali ini dalam urusan cinta, ia berubah menjadi pemalu! Ia menggeleng kepala.
"Aku tidak tahu, enci. Aku memang kagum padanya, dan suka padanya, dan segala hal pada dirinya menarik hatiku, membuat aku selalu ingat dan kadang tak dapat tidur........"
Bi Lan te rsenyum. Itu tandanya cinta, walaupun mungkin cinta remaja! "Nona, apakah engkau mengharapkan nas ihat dariku?"
Ai Yin mengangkat muka dan memandang Bi Lan dengan mata penuh harap.
"Benar sekali, enci Lan. Aku sedang bingung dan ragu, bagaimana baiknya menghadapi urusan ini?"
"Pernahkah dia secara terang-terangan menyatakan bahwa dia cinta padamu, nona?"
"Terang-terangan memang belum, akan te tapi gerak-geriknya, sinar matanya, suaranya, pujian-pujiannya, semua itu sudah jelas. Agaknya diapun merasa ragu dan bimbang, takut untuk mengatakannya."
"Hem, kalau begitu, kautunggu saja sampai ia berkata terus terang, nona. Dia seorang gagah, kurasa dia akan berani berte rus terang kalau memang dia cinta padamu. Dan kalau dia sudah menyatakan cintanya, jawablah saja bahwa kalau benar dia mencintamu, dia harus berani melamarmu kepada orang tuamu."
"Aih, mana dia berani, enci?"
"Biar itu menjadi ujian baginya, nona. Kalau memang dia mencintamu, kenapa tidak berani! Jangankan hanya melamar kepada orang tuamu, kalau dia benar mencinta, biar menyeberangi lautan api umpamanya, te ntu akan dia lakukan. Bukankah begitu?"
Wajah gadis itu berseri-seri.
Betapa senangnya kalau mempunyai seorang calon suami yang demikian besar cintanya sampai mau menyeberangi lautan api!
Setelah bicara dengan Bi Lan, makin besar rasa hati Ai Yin dan diapun kini tidak ragu-ragu lagi, sudah bertekad untuk menerima cinta kasih pemuda itu.
Kalau saja Bi Lan tahu!
Kalau saja ia mengenal siapa sebenarnya Siauw Can atau Can Hong San.
Tentu ia akan dengan te gas mencegah puteri bangsawan itu te rgelincir dan te rjebak ke dalam perangkap!
-ooo0dw0ooo-Beberapa bulan kemudian.
Seperti yang dinasehatkan Bi Lan, ketika pada suatu hari Siauw Can memberanikan diri mengaku cintanya kepada Ai Yin, gadis bangsawan itu menjawab bahwa untuk membuktikan cintanya, Siauw Can harus melamarnya pada ayahnya!
Siauw Can terbelalak mendengar ini dan dia nampak gelis ah.
"Akan tetapi, bagaimana mungkin itu, nona? Bagaimana aku akan berani melamarmu? Ayahmu adalah Pangeran Tua, majikanku, dan aku sendiri sebatangkara, tiada orang tua lagi. Aku tidak mempunyai wakil dan........."
"Cukup alas an itu, toako!"
Li Ai Yin memotong marah.
"Kau bilang bahwa engkau mencintaku. Akan te tapi baru kusuruh mengajukan pinangan saja engkau tidak berani! Bagaimana aku dapat mempercayaimu?"
Kata Ai Yin yang segera pergi meninggalkan pemuda itu.
Siauw Can te rmenung dan menjadi serba salah.
Tadinya dia ingin memikat dulu gadis bangsawan itu sampai menjadi kekasihnya, baru perlahahan-lahan mengatur perjodohan.
Siapa kira, gadis ini langsung saja minta dibuktikan cintanya dengan mengajukan lamaran!
Sekarang menjadi serba salah.
Tidak memenuhi permintaan Ai Yin tentu gadis itu akan marah dan menganggap cintanya hanya pura-pura.
Memenuhi permintaan, dia merasa takut!
Karena bingung, diapun lari menjumpai Poa Kiu dan minta nasihat rekan yang le bih tua itu.
Mendengar kete rangan Siauw Can, Poa Kiu yang kurus bongkok mengelus je nggotnya dan mengangguk-angguk.
"Hemm, jadi nona Ai Yin jatuh cinta padamu dan minta agar ia dilamar? Betapa baik nasibmu, Siauw Can. Baiklah, aku akan menjadi walimu dan akan kuajukan lamaran kepada Pangeran. Mudah-mudahan saja beliau dapat menerima pinanganmu."
"Akan tetapi kuharap paman berhati-hati, jangan sampai beliau marah kepada kita......"
Kata Siauw Can dengan lega walaupun kekhawatirannya masih membuatnya gelisah.
De mikianlah, dengan hati-hati Poa Kiu menghadap Pangeran Li Siu Ti dan melaporkan te ntang hubungan asmara antara Siauw Can dan Ai Yin, dan tentang keinginan hati Siauw Can untuk mengajukan pinangan, akan tetapi pemuda itu takut-takut.
Pangeran Tua Li Siu Ti tidak marah.
Dia memang suka kepada pemuda itu, akan te tapi menerima seorang pemuda biasa sebagai mantu merupakan hal yang harus diimbali dengan jas a yang besar di pihak Siauw Can.
Maka, diapun mengajukan syarat, bahwa apabila Siauw Can berhasil membunuh atau setidaknya melukai Pangeran Mahkota Li Si Bin, barulah dia akan menerima pinangan pemuda itu.
Mendengar ini, Siauw Can segera mencari akal dan mengatur siasat, dibantu oleh Poa Kiu yang mengharapkan bahwa apabila kelak Siauw Can menjadi mantu Pangeran Li Siu Ti, tentu pemuda itu tidak akan melupakan jas anya dan diapun akan ikut te rangkat naik derajat dan kedudukann ya.
Bi Lan sama sekali tidak tahu akan persekutuan yang dikepalai Pangeran Tua Li Siu Ti.
Baginya, pangeran itu adalah adik kaisar yang berkedudukan tinggi karena menjadi penas ihat kaisar.
Sama sekali ia tidak pernah bermimpi bahwa pangeran itu mempunyai cita-cita untuk kelak menjadi kaisar dan untuk cita-cita ini, dia sanggup melakukan apa saja.
Apa lagi karena hubungannya dengan Ai Yin amat akrabnya, sedangkan gadis bangsawan itu biarpun genit dan manja, dinilainya seorang yang berbudi baik, bahkan amat sayang dan hormat kepada Pangeran Mahkota.
Ia tidak tahu betapa cita-cita Pangeran Tua Li Siu Ti itu bahkan mengancam dirinya, karena ia dekat dengan Pangeran Li Si Bin dan dapat keluar masuk is tana setiap hari tanpa dicurigai dan dengan bebas pula.
Pada suatu hari, ketika seperti biasa ia berada di istana untuk melaksanakan tugasnya melatih silat kepada para dayang, seorang pengawal memberi tahu kepadanya bahwa ada dua orang perajurit pengawal dari istana Pangeran Tua datang minta berte mu dengannya untuk menyampaikan berita yang amat penting.
Tentu saja Bi Lan menjadi heran mendengar ini.
akan tetapi ia cepat keluar untuk menemui dua orang perajurit itu.
Mereka nampak gugup dan ketakutan, dan begitu bertemu dengan Bi Lan, seorang di antara mereka berkata dengan cemas.
"Celaka, Kwa-lihiap! Nona kecil Lan Lan telah hilang.........!"
Sepasang mata itu terbelalak.
"Apa? Bukankah ia diasuh oleh Cu-ma?"
"Kami dapatkan Cu-ma duduk di bangku taman dalam keadaan tak sadar, dan nona kecil tidak ada. Sudah kami cari kemana-mana tidak berhasil."
Mendengar ini, tanpa banyak cakap lagi Bi Lan segera berlari meninggalkan pintu gerbang is tana, membuat para penjaga di pintu gerbang te rheran-heran dan te ntu saja mereka segera bertanya kepada dua orang perajurit yang datang dari istana Pangeran Tua itu.
Dua orang perajurit inipun menceritakan tentang hilangnya Lan Lan, pute ri Kwa Bi Lan.
Segera tersebarlah berita itu dari mulut ke mulut dan sebentar saja berita itu sampai ke telinga Pangeran Mahkota Li Si Bin.
Pangeran yang menaruh perhatian kepada Bi Lan ini merasa khawatir dan diapun segera bergegas pergi berkunjung ke istana Pangeran Tua.
Sementara itu, bagaikan terbang cepatnya, tanpa memperdulikan orang-orang yang dijumpai dalam perjalanan, yang memandang dengan heran dan kaget ketika mereka melihat bayangan berkelebat saking cepatnya dan tak lama kemudian ia sudah tiba di istana Pangeran Tua.
Ia disambut oleh para penjaga dan pelayan, dan segera ia diantar ke kamar Cu-ma, wanita pengasuh yang biasanya mengasuh Lan Lan setiap kali ia pergi ke istana kaisar.
Mereka telah mengangkat tubuh Cu dan membaringkannya ke dalam kamar pelayan itu sendiri.
Bi lan segera memeriksa dan melihat Cu-ma berada dalam keadaan tidak dapat bergerak dan tak dapat berbicara.
Ia telah ditotok secara lihai!
Bi Lan cepat menotok beberapa jalan darah di tubuh Cu-ma dan akhirnya wanita setengah tua itu dapat bergerak dan menangis.
"Cu-ma, apa yang te lah te rjadi? Di mana Lan Lan?"
Bi Lan bertanya, suaranya tegas dan keras.
"Hentikan tangismu dan ceritakan yang jelas!"
Sambil menahan tangis dan masih nampak gugup, Cu-ma bercerita bahwa tadi seperti biasa, setelah Bi Lan berangkat ke istana, ia mengajak Lan Lan bermain di dalam taman bunga.
Kebetulan musim bunga te lah tiba dan taman istana itu indah sekali.
Bunga beraneka warna dan bentuk sedang mekar dan keharuman semerbak di taman itu.
Cu-ma membiarkan Lan Lan bermain-main di atas rumput dan dia mengawasi sambil duduk di atas bangku.
"Saya tidak tahu apa yang te rjadi, lihiap. Tiba-tiba saja ada bayangan berkelebat dan sebelum saya dapat berbuat sesuatu, tubuh saya tak dapat digerakkan lagi dan saya tidak dapat mengeluarkan suara. Akan tetapi saya masih dapat melihat betapa bayangan itu menyambar tubuh nona kecil Lan Lan dan membawanya pergi seperti te rbang cepatnya."
Pada saat itu, Ai Yin datang berlari memasuki kamar itu dan ia duduk di te pi pembaringan Cu-ma, memegang tangan Bi Lan dan wajah gadis ini pun tegang.
"Aku juga ikut mencari kemana-mana, akan te tapi tidak berhasil, enci Bi Lan."
Katanya dengan wajah cemas.
"Tenanglah, nona, dan biar aku mencari keterangan dulu dari Cu-ma,"
Kata Bi Lan. Iapun merasa gelisah, akan te tapi sikapnya te nang.
"Cu-ma, bagaimana bentuk wajah dan tubuh bayangan itu?"
"Saya tidak sempat melihat wajahnya, lihiap. Pakaiannya serba hitam, dan saya yang tidak mampu bergerak, hanya sempat melihat tubuh belakangnya saja. Rambutnya dibungkus kain kepala warna hitam pula, dan bentuk tubuhnya sedang."
"Laki-laki atau wanita melihat bentuk tubuhnya itu?"
"Bentuk tubuh itu sedang saja, bisa laki laki dan bisa juga wanita."
"Dia tidak mengeluarkan kata-kata?"
"Tidak, Lihiap."
"Apakah Lan Lan tidak menangis ketika dilarikan orang itu?"
"Saya tidak mendengar nona kecil menangis. Semua berlangsung demikian cepatnya....."
Cuma menangis lagi.
"Enci Lan, siapa kira-kira yang berani menculik Lan Lan? Apakah engkau mempunyai musuh?"
Bi Lan hanya menggeleng kepalanya dan tiba-tiba ia bertanya kepada gadis bangsawan itu.
"Nona, di mana kakak misanku Siauw Can?"
Dalam keadaaan seperti itu, semua orang patut dicurigai, pikir Bi Lan.
Ia tidak mempunyai alas an untuk mencurigai Siauw Can, akan tetapi kenapa pemuda itu tidak nampak, padahal seluruh isi rumah nampak bingung karena lenyapnya Lan Lan diculik orang.
"Dia? Sejak pagi tadi dia pergi mengawal ayah keluar rumah. Dia tidak tahu bahwa Lan Lan diculik orang. Juga ayah belum tahu karena mereka belum pulang. Enci Lan, kau harus dapat menemukan kembali Lan Lan dan menangkap penjahat yang menculiknya!"
Sebelum Bi lan menjawab, te rdengar suara gaduh para pelayan yang berlutut memberi hormat dan muncullah Pangeran Li Si Bin.
"Bi Lan, kami mendengar putrimu diculik orang! Apa yang sesungguhnya terjadi?"
Tanya pangeran itu. Bi Lan tidak kehilangan ketenangannya dan bersama Ai Yin ia memberi hormat kepada pangeran itu.
"Kakanda Pangeran, paduka harus menolong Lan Lan......."
Ai Yin segera berkata.
"Tenanglah, Ai Yin dan biarkan Bi Lan menceritakan apa yang te rjadi,"
Kata pangeran itu dengan sikap te nang dan dia sudah duduk di sebuah kursi dalam kamar pelayan itu.
Bi Lan menceritakan semua yang te rjadi dengan sejelasnya kepada Pangeran Li Si Bin.
Setelah mendengar apa yang te rjadi, pangeran itu menjadi marah sekali.
"Jangan khawatir, Bi Lan. Sekarang juga aku akan mengerahkan seluruh pasukan keamanan untuk mencari anakmu itu dan engkau boleh menghentikan dulu tugasmu mengajar di istana dan mencari anakmu sampai dapat."
Pangeran itu lalu meninggalkan istana Pangeran Tua memanggil panglimanya dan memerintahkan agar panglima itu mengerahkan pasukan mencari anak yang hilang itu.
Segera para perajurit berjaga di semua pintu gerbang, melakukan pencarian dan penggele dahan, bahkan menangkapi orang-orang yang dicurigai.
Belum pernah terjadi keributan seperti itu hanya karena hilangnya seorang anak kecil, yang melibatkan seluruh perajurit pasukan keamanan!
Bi Lan sendiri tidak tinggal diam.
Ia mencari ke mana-mana, namun tidak menemukan je jak Lan Lan.
Akhirnya ia te rmenung di dalam kamarnya seorang diri saja.
Mulailah ia menduga bahwa besar sekali kemungkinan kini Lan Lan berada bersama ayah ibunya!
Ayah dan ibu Lan Lan, Si Han Beng dan Bu Giok Cu, a dalah sepasang suami isteri pendekar yang amat lihai, memiliki ilmu kepandaian silat yang tinggi sekali.
Siapa lagi yang akan menculik Lan Lan kalau bukan mereka?
Mungkin ibu anak itu yang datang untuk mengambil kembali pute rinya.
Kalau benar mereka yang datang mengambil kembali pute ri mereka, iapun tidak dapat berbuat sesuatu.
Kalau dulu ia mampu melarikan Lan Lan hal itu hanya karena suami isteri itu tidak tahu dan suami isteri itu te ntu saja tidak berani sembarangan mengejarnya karena takut kalau ia melaksanakannya ancamannya, yaitu akan membunuh Lan Lan kalau mereka mengejar.
Bi Lan menarik napas panjang.
Ia telah terlanjur cinta kepada anak itu dan dianggapnya sebagai anak sendiri.
Bahkan kepada Pangeran Mahkota saja ia mengakui Lan Lan sebagai pute rinya.
Biarpun kini Pangeran Li Si Bin yang mempunyai kekuasaan besar itu membantunya, tidak mungkin kalau ia minta bantuan pangeran itu untuk merampas Lan Lan dari ayah ibunya sendiri!
Hal itu berarti ia harus membuka rahasianya bahwa selama ini ia membohongi semua orang, membohongi sang pangeran bahwa Lan Lan bukan anaknya sendiri melainkan anak curian!
Lewat tengah hari, Pangeran Tua Li Siu Ti dan para pengawal yang dipimpin Siauw Can pulang.
Begitu mendengar tentang terculiknya Lan Lan, Siauw Can segera mencari Bi Lan di kamarnya.
"Lan-moi, apa yang te lah terjadi? Aku mendengar Lan Lan diculik orang! Benarkah ini?"
Bi Lan mengamati wajah pemuda itu dan ia mengangguk "Pagi tadi, ketika aku sedang berada di istana, dan Lan Lan diasuh Cu-ma di taman, ada bayangan orang menotok roboh Cu-ma dan membawa lari Lan Lan."
"Ah, keparat! Kalau aku berada di rumah, tak mungkin hal ini terjadi! Akan kubekuk le her penculik jahanam itu, Lan-moi. Percayalah, aku akan mencari dan menemukan kembali anakmu!"
Bi Lan menggele ng kepala dan menghela napas.
"Sudah kucari ke mana-mana akan te tapi tidak ada je jaknya, Can-toako. Bahkan Pangeran Mahkota juga sudah mengerahkan pasukan untuk mencarinya. Penculik itu agaknya lihai sekali. Dia dan Lan Lan seperti menghilang saja......"
Wajah Bi Lan nampak berduka sekali karena ia hampir yakin bahwa Lan Lan te ntu diambil kembali oleh orang tuanya dan kalau hal itu terjadi, berarti kehilangan Lan Lan untuk selamanya.
Dan tiba-tiba saja ia merasa amat kesepian.
Melihat wanita itu hampir menangis, Siauw Can menghiburnya.
"Aku akan membantumu, Lan-moi. Betapapun lihainya, kalau engkau dan aku maju bersama, mustahil kita tidak akan mampu mengalahkannya merebut kembali anakmu."
Pada saat itu Pangeran Tua Li Siu Ti datang dan berada di luar kamar Bi Lan. Wanita itu cepat keluar dan memberi hormat.
"Aku ikut merasa menyesal sekali mendengar anakmu diculik orang, Bi Lan. Ah, kalau tahu akan muncul bencana, te ntu aku tidak mengajak Siauw Can pergi hingga dia berada di rumah dan akan mampu mencegah te rjadinya penculikan itu. Para penjaga yang tidak becus itu! Akan kuhukum mereka yang bertugas pagi tadi. Mereka lalai sehingga tidak tahu ada penjahat masuk dan menculik anakmu!"
"Harap paduka tidak menyalahkan para penjaga, Pangeran. Penculik itu memiliki kepandaian tinggi sehingga tidak akan sukar baginya untuk menyelinap masuk dan melarikan Lan Lan keluar tanpa diketahui para penjaga. Dari cara dia menotok Cu-ma, dan betapa dia mampu bersembunyi dan meloloskan diri dari pengejaran dan pencarian pasukan keamanan yang dikerahkan Pangeran Mahkota, saya tahu bahwa dia lihai bukan main,"
Kata Bi Lan yang tidak ingin para penjaga disalahkan.
Karena andaikata ia sendiri menjadi penculiknya, iapun akan mampu melakukan hal itu tanpa diketahui para penjaga.
Sekarang ia sama sekali tidak dapat mencurigai Siauw Can.
Sudah jelas dari penjelasan Pangeran Li Siu Ti bahwa ketika peristiwa terjadi, Siauw Can sedang mengawal dan menemani pangeran itu.
Akan te tapi agaknya memang tidak perlu mencurigai orang lain.
Ia hampir yakin bahwa pelaku penculikan itu pasti orang tua Lan Lan sendiri.Hanya mereka yang berkepentingan untuk merampas kembali Lan Lan.
Kalau orang lain, untuk apa menculik Lan Lan, menempuh bahaya besar menculik anak kecil dari Istana Pangeran Tua."
Kini hati Bi Lan sudah mulai tenang.
Kalau yang menculik Lan Lan itu orang tua anak itu sendrri, ia tidak perlu lagi mengkhawatirkan keadaan Lan Lan.
Akan te tapi, makin dikenang, semakin sedih hatinya dan ia merasa kehilangan.
Malam ini ia tidak mampu tidur, gelis ah di atas pembaringan, apa lagi kalau ia melihat pembaringan yang ditidurinya itu kosong, tidak nampak lagi Lan Lan yang lucu di sebelahnya.
Bunyi lirih di atas kamarnya membuat ia waspada.
Ketika ada benda putih meluncur dari atas langit-langit kamar, ia cepat bangkit, mengenakan sepatu dan membuka je ndela, lalu melihat keluar, langsung saja ia melayang ke arah atas genteng untuk mencari orang yang meluncurkan benda ke dalam kamarnya.
Akan tetapi setelah berada di atas genting, ia tidak melihat bayangan seorangpun.
Betapa cepat gerakan orang itu.
Ia mandang ke s ekeliling, sunyi dan tidak ada sesuatu yang mencurigakan.
Atap istana itu sunyi lengang, dan bintang-bintang berkeredepan di angkasa.
Sayang tidak dapat ditanya, karena pasti bintang-bintang itu tadi tahu siapa yang berada di atas kamarnya.
Ia membetulkan letak genteng yang dibuka orang, lalu te ringat akan benda putih yang dilemparkan ke dalam kamarnya dan ia meloncat turun, kembali ke dalam kamarnya tanpa menimbulkan kegaduhan.
Setelah memasuki kamarnya, Bi Lan menyalakan lampu penerangan sehingga kamarnya menjadi terang.
Ia melihat sebuah bungkusan di atas lantai.
Kertas putih yang ada tulis annya membungkus suatu, kecil saja, setengah kepalan tangannya, dengan hati-hati ia mengambil bungkusan itu.
Bungkusan diatur se demikian rupa sehingga tanpa membukanya, ia dapat membaca tulisan di kertas pembungkusnya.
"Kalau dalam waktu tiga hari Putera Mahkota belum juga te was dengan racun ini, Lan Lan akan dikembalikan sebagai mayat!"
Bi Lan terbelalak, kedua tangannya menggi gil.
Ia meletakkan bungkusan itu ke atas meja.
Memandanginya dengan jijik seperti memandang seekor ular berbis a yang amat berbahaya.
Lan Lan te rnyata diculik orang yang hendak memaksanya membunuh Pangeran Li Si Bin dengan racun dalam bungkusan itu!
Jelas bahwa ini tentu ada hubungannya dengan bekas thai-kam gendut yang pernah mencoba untuk meracuni pute ra mahkota.
Dan thai-kam itu membunuh diri, maka yang berdiri di belakangnya, yang menyuruhnya meracuni pute ra mahkota, tentulah orang yang amat ditakutinya.
Dan kini agaknya orang yang menginginkan kematian pangeran Li Si Bin itu hendak mempergunakan ia untuk membunuhnya.
De ngan cara yang teramat keji dan licik, yaitu menculik Lan Lan dan mengancam nyawa ana k itu yang harus ditukar dengan nyawa Pangeran Li Si Bini.!
Ini merupakan pemerasan yang teramat hina dan kotor.
De ngan jari-jari tangan gemetar Bi Lan membuka bungkusan dan benar saja, di dalamnya te rdapat bubuk putih yang sama sekali tidak berbau akan te tapi ia dapat menduga bahwa te ntu benda itu merupakan racun yang amat berbahaya.
Ia membungkusnya kembali, lalu duduk te rmenung memandangi bungkusan racun itu.
Ia menjadi bingung dan panik.
Ia dihadapkan pada ancaman yang amat merisaukan hatinya.
Ia harus memilih.
Berat mana?
Li Si Bin atau Lan Lan?
Tentu saja ia tidak ingin melihat keduanya te rbunuh, ia mencinta Lan Lan, menganggap anak itu seperti anaknya sendiri.
Akan tetapi ia juga............mencinta Pangeran Li Si Bin!
Ia bersedia mempertaruhkan nyawanya sendiri untuk kedua orang ini.
Dan sekarang, ia diharuskan memilih antara keduanya.
Membunuh Pangeran Li Si Bin atau melihat Lan Lan dibunuh!
"Jahanam keparat busuk!"
Bi Lan menepuk ujung meja di depannya sehingga remuk dan ia bangkit, mengepal tinju.
Kalau saja penculik Lan Lan itu berada di situ, te ntu akan diserangnya, diremukkan kepalanya, dipatahkan tulang le hernya!
Karena tidak ada orang yang dapat ia jadikan sasaran kemarahannya, Bi Lan lalu melempar diri ke atas pembaringan dan menangis.!
Sejak kematian suaminya, baru sekarang ia menangis dalam arti kata yang sesungguhnya.
Menangis karena ia merasa betapa nelangsa hatinya, betapa sunyi hidupnya, betapa ia membutuhkan seorang yang dekat dengannya, yang mencintanya dan dicintanya.
Ia tadinya sudah mendapatkan cinta itu dalam diri Lan Lan, akan tetapi kini pada saat ia menemukan lagi cinta yang le bih sempurna, dalam diri pute ra mahkota, kedua orang yang amat dicintanya itu te rancam bahaya maut.
Seorang di antara mereka harus mati.
Dan lebih hebat lagi, mati di tangannya!
Apa yang harus ia lakukan?
Tiga hari tidaklah lama dan bagaimana ia dapat mengatasi keadaan ini!
Hampir saja ia menengok kepada Siauw Can, akan tetapi mengingat perbuatan Siauw Can kepadanya di malam itu, ia bergidik.
Jangan-jangan kalau dimintai tolong, Siauw Can bahkan akan mengajukan syarat yang membuat ia akan menjadi semakin bingung, dan belum te ntu Siauw Can akan mampu menolongnya.
Apakah demi keselamatan Lan Lan ia harus membunuh pute ra mahkota dengan racun itu?
Ah, tidak, tidak!!
"Aduh, pangeran, apa yang harus hamba lakukan..........!?"
Bi Lan menangis di depan Pangeran Li Si Bin yang memandang dengan mata te rbelalak kepada wanita yang berlutut di depan kakinya itu.
Sikap seperti itu sungguh tak pernah dapat dibayangkannya.
Bi Lan yang biasanya demikian gagah perkasa, kini menangis dan berlutut di depan kakinya seperti seorang wanita le mah yang cengeng.!
Akan te tapi timbul kekhawatiran juga di hati pangeran ini.
Kalau sampai seorang wanita gagah perkasa seperti Bi Lan bersikap selemah itu tentu ada sebab yang amat hebat.
"Bi Lan, tenanglah dan ceritakan, apa yang te lah terjadi sehingga engkau yang biasanya gagah perkasa bersikap selemah ini?"
"Silakan paduka membacanya sendiri, pangeran."
Bi Lan menyerahkan bungkusan itu dengan tangan gemetar kepada Putera Mahkota.
Pangeran Li Si Bin yang masih merasa heran itu menerima bungkusan dan membaca tulisannya.
Wajahnya berubah agak pucat dan dia menaruh bungkusan itu ke atas meja, lalu memandang kepada wanita yang masih berlutut dengan muka ditundukkan, masih terisak menangis itu.
"Bi Lan, engkau te ntu amat mencinta Lan Lan, pute rimu itu, bukan?"
Bi Lan mengangkat mukanya yang pucat dan air mata masih mengalir membasahi kedua pipinya.
"Pangeran, sungguhpun Lan Lan hanya anak angkat hamba, namun hamba mencintanya seperti anak kandung hamba sendiri."
Pangeran itu membelalakkan mata. Ini kenyataan baru yang mencengangkan hatinya te ntang wanita ini.
"Anak angkat? Jadi ia bukan anak kandung Rajawali Sakti, mendiang suamimu?"
Bi Lan menggele ng kepala.
"Ia adalah anak angkat hamba, pangeran. Akan tetapi hamba mencintainya dan hamba siap mempertaruhkan nyawa hamba untuk menyelamatkannya."
"Hemm, kalau begitu, Bi Lan, kenapa engkau membawa surat dan racun ini kepadaku? Untuk menyelamatkan anak angkatmu itu, kenapa tidak kau lakukan saja perintah dalam surat itu.?" -ooo0dw0ooo-
Jilid 14
"Pangeran...........aihhh, pangeran..., kenapa paduka berkata demikian? Hamba diharuskan membunuh paduka dengan racun? Lebih baik hamba yang mati!"
Pangeran Li Si Bin memandang dengan mulut te rsenyum dan wajah berseri, pandang matanya le mbut dan mes ra.
"Bi Lan, engkau mempertaruhkan nyawamu untuk keselamatan Lan Lan karena engkau mencintanya, lalu engkau le bih baik mati daripada membunuhku untuk menyelamatkan Lan Lan. Apakah ini berarti bahwa engkaupun cinta padaku?"
Dalam kebingungan dan kegelisahannya, Bi Lan te rsipu.
"Pangeran, mana hamba...berani...?"
Ia te rgagap dan pada saat itu Pangeran Li Si Bin sudah membungkuk, merangkul pundaknya dan menariknya bangkit berdiri, lalu pangeran itu mendekap wajahnya dalam rangkulan.
Bi Lan menyerah saja dan sejenak ia menangis di dada pangeran itu.
Pangeran Li Si Bin membiarkannya sejenak, lalu dituntunnya Bi Lan dan disuruhnya duduk di kursi berhadapan dengan dia.
"Duduklah, dan te nangkan hatimu. Sejak berte mu, akupun sudah amat kagum kepadamu, dan sejak engkau menyelamatkan aku dari racun yang disuguhkan bekas thai-kam itu, aku sudah jatuh cinta padamu, Bi Lan. Nah, setelah kita mengetahui perasaan hati masing-masing, mari kita bicara te ntang Lan Lan dan ancaman si penculik. Jangan khawatir, aku mempunyai akal untuk menyelamatkan puterimu itu."
Pangeran Li Si Bin mengajak Bi Lan memasuki kamar yang aman, tidak akan te rdengar orang lain percakapan mereka dan di te mpat ini mereka berbicara dengan serius.
Bi Lan mendengarkan siasat yang diatur oleh pangeran itu.
Pangeran Li Si Bin adalah seorang panglima, seorang ahli siasat yang pandai, maka menghadapi ancaman surat itupun dia bersikap tenang dan dingin, dan menemukan cara untuk menanggulangi dan mengatasinya.
Hati Bi Lan le ga bukan main setelah ia keluar dari istana pada sore hari itu.
Bukan saja ia telah mendapatkan ketenangan karena siasat yang diatur oleh pute ra mahkota, akan tetapi juga ada sinar kebahagiaan di pancaran matanya, karena pengakuan pute ra mahkota yang juga mencintanya!
Suasana di istana tercekam kegelisahan.
Betapa tidak?
Putra mahkota, juga panglima besar, Pangeran Li Si Bin, jatuh sakit parah.!
Sambil berbisik-bisik semua penghuni istana membicarakannya.
Terpetik berita dari tabib yang menangani perawatan putera mahkota bahwa pangeran itu telah keracunan hebat dan sukar disembuhkan.
Bahkan Kaisar dan permais uri, juga para selir menjadi gelisah.
Hanya tiga orang saja yang tahu bahwa putera mahkota hanya pura-pura sakit!
Memang, dia pucat sekali dan nampak sakit berat, akan tetapi semua itu akibat obat yang diberikan tabib kepadanya.
Hanya Pangeran Li Si Bin, Bi Lan, dan sang tabib kepercayaan sajalah, yang tahu bahwa putera mahkota sebenarnya tidak menderita penyakit apapun juga.
Dia sehat-sehat saja.
Akan tetapi selain mereka bertiga, semua orang percaya bahwa pute ra mahkota sakit berat, keracunan dan bahkan agaknya tidak dapat disembuhkan lagi!
Pada malam hari ke tiga, ketika Pangeran Li Si Bin rebah seperti orang pingsan, dengan muka pucat sekali, ditunggui tabib yang tidak memperkenankan orang lain mendekat, masuklah seorang thai-kam yang berlutut di ambang pintu itu.
Tabib Song yang tua dan te rkenal pandai itu mengerutkan alisnya dan memandang thai-kam itu.
"Hemm, mau apa engkau masuk ke sini? Jangan mengganggu sang pangeran!"
"Maafkan hamba, Tabib Mulia,"
Kata thai-kam (orang kebiri) itu dengan suara gemetar.
"Hamba diutus oleh Permaisuri untuk menengok keadaan Putera Mahkota."
"Keadaannya gawat dan jangan diganggu!"
Kata pula tabib itu dan di ambang pintu, para pengawal sudah siap dengan tombak dan pedang mereka untuk mengusir thai-kam itu kalau menerima perintah dari tabib.
Dalam keadaan seperti itu, kaisar sendiri yang memberi kekuasaan sepenuhnya kepada tabib untuk menjaga dan merawat pute ra mahkota, dan siapapun harus tunduk kepada sang tabib.
"Maafkan hamba........akan tetapi Sang Permaisuri mengutus hamba untuk melihat keadaan Pangeran dan menanyakan bagaimana keadaannya, apakah masih ada harapan........ampun, hamba hanya utusan........"
Dan thai-kam itu merangkak mendekat.
Tabib yang sudah menjalankan siasat seperti yang diatur oleh pute ra mahkota sendiri membiarkan thai-kam itu mendekat dan membiarkan thai-kam itu mengangkat muka memandang kepada sang pangeran yang rebah te rlentang seperti mayat.
"Hemm, kalau begitu laporkan kepada Hong houw (Permais uri) bahwa keadaan Pute ra Mahkota amat gawat. Lihat saja, wajahnya semakin pucat dan kebiruan, itu tanda bahwa racunnya masih bekerja dan biarpun aku sudah berusaha memberi obat penawar, tetap saja hawa beracun itu tidak dapat diusir semua. Ludahnya berwarna hitam dan matanya merah, napasnya te rengah. Laporkan kepada Sang Permaisuri bahwa agaknya pute ra mahkota tidak dapat te rtolong lagi, mungkin tinggal satu dua hari lagi........"
Thai kam itu menahan tangisnya, lalu mengundurkan diri dari kamar itu.
Dia te risak ketika keluar dan mele wati penjaga yang mengawal di luar pintu kamar, sehingga semua orang menganggap dia seorang thai-kam yang setia dan mencitai pute ra mahkota sehingga tidak dapat menahan kesedihannya ketika menjenguk dan melihat keadaan sang pangeran yang sedang sakit payah itu.
Mulai malam itu, tiada seorangpun diperbolehkan memasuki kamar itu yang selalu ditutup, dengan alasan bahwa keadaan penyakit sang pangeran s udah terlalu gawat, sehingga sama sekali tidak boleh diganggu.
Hanya tabib itu saja yang diperbolehkan menjaga di dalam kamar, sedangkan di luar kamar, penjagaan pengawal diperketat.
Sementara itu, Bi Lan setiap hari menangis di istana Pangeran Li Siu Ti.
Pangeran Tua inipun hanya pada hari pertama pute ra mahkota jatuh sakit saja diperbolehkan menengok.
Siauw Can beberapa kali datang untuk menghibur Bi Lan dan bertanya mengapa wanita itu demikian berduka.
De ngan singkat Bi Lan berkata.
"Bagaimana aku tidak akan berduka? Lan Lan diculik penjahat, dan kini Putera Mahkota yang kuharapkan dapat membantuku mencari Lan Lan, jatuh sakit........."
Bi Lan menangis sambil menundukkan mukanya dan ia tidak melihat betapa Siauw Can te rsenyum puas.
"Masih ada aku di sini, Lan-moi. Akulah yang akan membantumu mencari Lan Lan sampai dapat."
"Kalau benar begitu, pergilah dan cari Lan Lan, bukan bicara saja di sini. Pergi dan jangan ganggu aku."
Siauw Can meninggalkannya dan Bi Lan cepat menghentikan tangisnya.
Ia hanya menangis kalau ada orang lain melihatnya, karena tangisnya ini hanya merupakan pelaksanaan siasat yang diatur oleh pute ra mahkota.
Sekarang sudah hari ke tiga dan ia harus siap-siaga karena orang yang menculik Lan Lan te ntu akan mengembalikan Lan Lan setelah mendengar bahwa sang pangeran menderita sakit keracunan hebat.
Tidak sukar baginya untuk menangis, karena bagaimanapun juga ia memang bersedih karena Lan Lan diculik.
Dan sekarnag ia sudah siap siaga untuk menangkap penculik itu kalau Lan Lan dikembalikan.
Akan tetapi, sampai malam tiba, tidak ada berita dari penculik itu.
Bi Lan sudah hampir putus asa ketika tiba-tiba ia mendengar suara Lan Lan memanggilnya dari arah belakang, dari taman.
"I bu.......! Ibu........!"
"Lan Lan..........!!"
Bi Lan meloncat keluar dari kamarnya dan seperti te rbang memasuki taman.
Benar saja, ia menemukan Lan Lan di te ngah taman, dalam keadaan sehat.!
Ia menyambar tubuh Lan Lan, dipondongnya dan didekapnya, diciuminya dan kembali Bi Lan tak dapat menahan banjirnya air mata, air mata kebahagiaan.
Ia sendiri merasa heran mengapa setelah ia jatuh cinta, begini mudah ia menangis!
Ia membawa Lan Lan ke kamarnya, menutup pintu kamar dan dengan lembut dan penuh rasa sayang, ia menanyai Lan Lan kemana saja ia pergi selama tiga hari itu.
Lan Lan adalah s eorang anak yang usianya baru tiga tahun, masih belum dapat memberi keterangan dengan je las.
Ia hanya mengatakan bahwa ia ditempatkan dalam sebuah kamar, diberi banyak barang-barang mainan, dilayani oleh seorang laki laki yang baik hati.
Bi Lan te ntu saja tidak dapat mengharapkan keterangan jelas siapa penculik anak itu, dan te ntu anak itu ditotok ketika diculik dan dikembalikan sehingga tidak tahu apa-apa.
De ngan hati-hati Bi Lan menjaga Lan Lan malam itu di kamarnya dan pada keesokan harinya, pagi-pagi ia sudah memondong Lan Lan keluar dari istana Pangeran Tua, menuju ke istana kaisar.!
Karena ia dikenal baik sebagai guru silat yang melatih para dayang di istana, dengan mudah ia diperbolehkan masuk dan langsung saja Bi Lan menju ke kamar di mana Putera Mahkota "dirawat"
Oleh tabib. Dan dapat dibayangkan betapa gembiranya hati Pangeran Li Si Bin ketika melihat Bi Lan datang sambil memondong Lan Lan yang dalam keadaan sehat dan selamat! Dan berakhirlah "penyakit"
Putera mahkota itu pada hari itu juga.
Seluruh penghuni istana menjadi gembira bukan main.
Demikian pula kaisar ketika mendengari bahwa pute ranya te lah sembuh sama sekali.
Yang mendapatkan jas a besar adalah Tabib Song tentu saja.
Dia dianggap berjas a telah dapat mengobati dan menyembuhkan putera mahkota!
Pada hari itu juga.
Bi Lan ditahan di istana atas kehe ndak pute ra mahkota.
De ngan alasan bahwa Bi Lan diangkat menjadi pengawal pribadi Putera Mahkota, maka wanita itu bersama puterinya tidak perlu lagi kembali ke istana Pangera Tua, bahkan barang-barangnya lalu diminta agar diantar ke istana!
Bukan itu s aja.
Bahkan tak lama kemudian Putera Mahkota secara berte rang mengangkat Bi Lan menjadi selirnya, merangkap pengawal pribadi!
Karena ibunya menjadi selir pangeran, tentu saja dengan sendirinya Lan Lan juga menjadi seorang "puteri"!
-ooo0dw0ooo-"Tabib Song keparat itu!"
Pangeran Li Siu Ti mondar-mandir di dalam kamarnya, kadang mengepal tinju dan wajahnya.muram. Hatinya kecewa bukan main mendengar bahwa Putera Mahkota telah sembuh dari sakitnya.
"Bagaimana mungkin.? Padahal, menurut keterangan thai kam Ciu, keadaan pangeran Li Si Bin sudah parah sekali, sudah sekarat. Bagaimana tiba-tiba dapat menjadi sembuh?"
Poa Kiu dan Siauw Can yang berada di kamar itu, saling pandang dan mereka berdua juga merasa kecewa dan heran.
Mereka sudah mengembalikan Lan Lan kepada Bi Lan karena mereka sudah merasa yakin bahwa pute ra mahkota pasti akan mati.
Mereka menganggap bahwa Bi Lan te rpaksa harus mentaati bunyi surat, yaitu meracuni Pangeran Li Si Bin untuk menyelamatkan nyawa Lan Lan.
Mereka sudah percaya sepenuhnya bahwa usaha itu berhasil dan kini tahu-tahu pangeran itu sembuh, dan Bi Lan ditarik ke istana menjadi pengawal pribadi.!
"Jangan-jangan adik misanmu itu yang berkhianat,"
Kata Pangeran Tua kepada Siauw Can atau Can Hong San.
"Buktinya. Pute ra Mahkota tidak te was dan setelah Lan Lan dikembalikan, ia segera membawa Lan Lan ke istana dan diangkat menjadi pengawal pribadi."
"Saya kira tidak demikian, pangeran."
Kata Hong San.
"Banyak saksinya bahwa pute ra mahkota benar-benar keracunan, bahkan banyak yang melihat dia sakit payah, hampir mati. Tentu tabib sial itu telah menemukan obat penawar yang amat mujarab. Tentang diangkatnya Bi Lan menjadi pengawal pribadi, hal itupun tidak aneh. Pangeran Li Si Bin agaknya suka kepada Bi Lan dan sudah lama Bi Lan te lah diberi tugas untuk melatih para dayang."
"Keterangan Siauw Can memang benar, pangeran. Kalau s aja tabib Song tidak menemukan obat yang ampuh, te ntu usaha itu berhasil baik dan te ntu sekarang pute ra mahkota telah tewas. Bagaimanapun juga, Siauw Can telah membuat jas a dan dapat dikatakan bahwa tugasnya mengusahakan kematian Pangeran Li Si Bin telah dilaksanakan dengan baik."
Pangeran Tua Li Siu Ti mengangguk-angguk dan mengelus jenggotnya.
Dia tahu apa maksud ucapan kedua orang pembantu utamanya itu.
Tentu mengenai hubungan pembantu muda yang tampan dan pandai ini dengan puterinya, Ai Yin.
"Aku mengerti, dan akupun tidak akan menyalahi janji. Agaknya engkau dengan Ai Yln sudah saling mencinta, Siauw Can. Baiklah, engkau akan kujodohkan dengan Ai Yin dan pertunangannya akan segera diumumkan setelah engkau berhasil dengan sebuah tugas lagi yang amat penting, akan tetapi tidak begitu sukar bagimu."
Di dalam hatinya, Can Hong San merasa gembira sekali, akan tetapi juga mendongkol, te rcapai cita-citanya menjadi mantu seorang pangeran yang memiliki kekuasaan besar!
Akan tetapi kembali dia diserahi tugas, itulah yang membuat dia mendongkol.
"Harap paduka katakan saja, apa tugas itu.Akan saya laksanakan dengan baik, pangeran."
"Engkau harus cepat menyingkirkan thai-kam Ciu. Dia harus mati secepatnya!"
"Akan tetapi, kenapa, pangeran? Bukankah ia telah berhasil diselundupkan dan amat berguna bagi paduka sebagai mata-mata di sana?"
Tanya Poa Kiu terkejut, karena dia yang mengusulkan diselundupkannya thai-kam itu ke istana.
"Saya mengerti maksud paduka."
Kata Hong San, sambil menoleh kepada Poa Kiu dengan senyum memandang rendah.
"Paman Poa, lupakah paman bahwa kita menyuruh thai-kam Ciu untuk menyelidiki keadaan Pangeran Li Si Bin pada hari ketiga? Dia berhasil melihat keadaan pute ra mahkota, dan siapa tahu, perbuatannya itu akan dilaporkan oleh Tabib Song dan Putera Mahkota akan merasa curiga kepadanya. Padahal, dialah satu-tunya orang yang mengetahui rahasia kita dan dapat membocorkannya."
"Akan tetapi, tidak mungkin dia mengkhianati kita,"
Kata pula Poa Kiu.
"Siauw Can benar,"
Kata Pangeran Tua.
"Poa Kiu, lupakah engkau akan kamar siksaan dimana setiap orang, betapapun kuat dan setianya, akan mengakui segala perbuatannya kalau dia disiksa? Kurasa thai-kam Ciu tidak terkecuali. Kalau dia dicurigai, lalu ditangkap dan disiksa, pasti dia tidak tahan dan akan mengaku, membongkar semua rahasia kita."
Wajah Poa Kiu menjadi pucat.
"Kalau begitu......... kalau begitu..........."
"Jangan khawatir , Paman Poa. Aku akan menghabis inya sekarang juga. Serahkan saja urusan ini kepadaku, pasti beres!"
Senanglah hati Pangeran Tua Li Siu Ti.
"Jangan sekarang, Siauw Can. Kita harus menunggu sampai keadaan menjadi tenang. Tunggu tiga empat hari, setelah semua te nang baru engkau turun tangan melenyapkan thai-kam Ciu. Dan setelan tugas itu berhasil, pertunanganmu dengan Ai Yin akan kurayakan."
Bukan main senangnya hati Can Hong San. Dia segera menemui Li Ai Yin dan pada malam itu dia berhasil mengajak Ai Yin bicara berdua saja di dalam taman.
"Yin-moi,"
Sejak Ai Yin menyambut cintanya Hong San selalu menyebutnya Yin moi (dinda Yin) dan hanya menyebut nona kalau berada di depan keluarga pangeran tua itu.
"Mulai hari ini, kita telah bertunangan!"
Dia lalu menceritakan janji ayah gadis itu. Ai Yin tersenyum senang dan membiarkan ke dua tangannya dipegang oleh pemuda yang dikaguminya itu.
"Kenapa te rjadi perubahan yang tiba tiba ini, Can ko? Bukankah ayah masih prihatin dengan peris tiwa di is tana, dimana kakanda pangeran mahkota hampir saja te was keracunan? Dan Lan Lan juga menjadi korban penculikan, untung sudah dikembalikan. Kemudian, kepergian enci Bi Lan yang demikian tiba-tiba, pindah ke istana. Semua ini membuat aku bingung. Akan te tapi ayah malah hendak membuat pesta pertunangan."
"Aih, jadi engkau sudah tahu?"
Tanya Hong San gembira. Gadis itu mengangguk dan mengerling manja.
"Tentu saja. Kaukira ayah akan merahasiakan? Dia sudah memberitahukan dan menanyakan kepadaku, minta persetujuanku untuk ditunangkan denganmu."
"Dan bagaimana jawabanmu, Yin-moi?"
Wajah itu berseri, kedua pipinya berubah merah dan senyumnya genit manja, tangannya mencubit le ngan Hong San.
"Kaukira bagaimana jawabanku?"
"Ha, te ntu jawabanmu begini............!"
Hong San lalu maju merangkul dan mencium pute ri pangeran itu.
Ai Yin tertawa manja dan malu, akan te tapi karena ia sudah mendengar sendiri betapa ayahnya menyetujui pemuda ini menjadi calon suaminya, iapun tidak menolak.
Akan te tapi ketika Hong San berbuat te rlalu berani, iapun mendorong muka pemuda itu.
"Hemm, apa yang kau lakukan ini.!"
Can Hong San adalah putera mendiang Cui beng Sai-kong dan biarpun tidak sekuat mendiang ayahnya, dia telah menguasai ilmu sihir.
Melihat betapa gadis bangsawan itu menolaknya, diapun merasa penasaran.
Kalau saja dia tidak ditolak Bi Lan, te ntu diapun tidak bermaksud untuk menggauli Li Ai Yin sebelum mereka menjadi suami isteri, karena dia ingin menjadi mantu pangeran secara te rhormat.
Akan tetapi, dia telah dikecewakan Bi Lan, maka gejolak nafsunya hendak dia puaskan dengan gadis bangsawan yang oleh ayahnya te lah diserahkan kepadanya itu.
Dia memegang kedua pundak gadis itu dengan lembut, menatap wajahnya dengan tajam dan suaranya mengandung getaran kuat.
"Li Ai Yin, pandanglah aku baik-baik! Lihatlah betapa besar kasihku kepadamu dan engkau akan menyerah, tunduk dan menuruti semua kemauanku. Aku cinta padamu, Ai Yin dan engkaupun cinta padaku................"
Ai Yin terbelalak, kemudian iapun menjadi le mas dan iapun berte kuk lutut dan tidak te rdapat perlawanan sedikitpun lagi dalam hatinya.
Ia menurut saja segala kehendak Hong San yang te rus merayunya, menurut dan menyerah saja ketika ia digandeng dan dituntun memasuki kamarnya.
-ooo0dw0ooo-Empat hari kemudian.
Masih dalam rangka siasat Pangeran Li Si Bin, keadaan di is tana seolah-olah telah tenang kembali.
Tidak ada bekas ketegangan sebagai akibat sakitnya pute ra mahkota yang kabarnya keracunan he bat itu.
Sang pangeran melarang siapa saja bicara tentang hal itu, dan Bi Lan juga tidak memperlihatkan kecurigaan apapun.
Wanita itu secara resmi diangkat menjadi pengawal pribadi putera mahkota sehingga tidak ada seorangpun yang menduga hal yang bukan-bukan kalau melihat wanita cantik dan perkasa ini berduaan saja dengan pute ra mahkota, bercakap-cakap dengan akrab sekali.
Tadinya memang pute ra mahkota hanya menginginkan Bi Lan menjadi pengawal pribadinya, akan te tapi karena masing-masing mengetahui akan isi hatinya, tahu bahwa mereka saling mengagumi dan saling mencinta, maka tidaklah mengherankan kalau kemudian putera mahkota akan mengangkat Bi Lan menjadi seorang selir terkasih.
Bi Lan tahu diri.
Ia hanya seorang wanita biasa, bahkan seorang janda yang sudah yatim piatu.
Dibandingkan dengan pute ra mahkota, ia bagaikan seekor burung gagak bersanding dengan burung Hong.
Oleh karena itu, dengan hati penuh penyerahan, penuh pengabdian dan cinta kasih, ia menyerahkan diri dengan segala kerendahan hatinya, rela untuk dijadikan selir merangkap pengawal pribadi.
Karena tugasnya sebagai pengawal inilah, ia jauh lebih dekat dan le bih sering berdekatan dengan pute ra mahkota dibandingkan selir lainnya, kemudian.
Dan iapun sudah merasa berbahagia sekali kalau berada di dekat pria yang dijunjungnya dan dicintanya itu.
Menjadi kelanjutan siasat mereka kalau Bi Lan bersikap seolah sudah melupakan peris tiwa penculikan pute rinya dan jatuh sakitnya pute ra mahkota.
Akan te tapi sesungguhnya, ia tidak pernah lengah sebentarpun.
I a selalu waspada dan memperhatikan setiap orang yang berada di dalam istana, memperhatikan setiap kejadian yang sekecil apapun, dan diam-diam mencurigai setiap orang.!
Ketekunan dan ketelitiannya itu akhirnya berhasil.
Pada suatu malam, secara sembunyi Bi lan meronda ke bagian belakang daerah keputren.
Ia sudah diceritakan oleh pute ra mahkota tentang sikap thai-kam Ciu yang dahulu diutus permaisuri untuk menengoknya ketika dia sakit atau lebih te pat berpura-pura sakit.
Malam ini, Bi Lan sengaja mencari thai-kam itu untuk menyelidiki keadaan dirinya.
Sore tadi ia melihat thai-kam itu seperti orang gelisah, wajahnya pucat, rambut dan pakaiannya kusut dan ketika berjumpa dengannya, orang itu menunduk, pura-pura tidak melihat dan tampak gugup.
Ketika ia menyelinap mendekati tempat tinggal para thai-kam, tiba-tiba ia melihat thai-kam Ciu membuka pintu dan keluar menuju ke taman dengan sikap hati-hati sekali.
Bi Lan membayangi dari jauh agar jangan sampai terlihat.
Karena inilah, maka ketika memasuki taman, ia kehilangan bayangan thai-kam Ciu.
Selagi ia kebingungan, mencari-cari kemana perginya orang yang dicurigainya itu, tiba-tiba ia mendengar suara orang mengaduh-aduh dan suara sambaran senjata tajam berdesing.
Cepat Bi Lan melompat dan lari ke arah suara itu dan ia masih sempat melihat seseorang diserang orang lain dengan sebatang pedang.
Orang yang diserang itu agaknya sudah te rluka, akan tetapi masih berusaha mengelak dan berloncatan ke s ana-sini, akan tetapi ketika Bi Lan muncul, penyerang itu berhasil menusukkan pedangnya lagi dan orang itupun roboh.
"Heiii, tahan senjata!."
Bentak Bi Lan dan si penyerang itu agaknya te rkejut, menarik kembali pedangnya dan meloncat jauh, lenyap dalam kegelapan malam.
Sinar lampu pene rangan taman itu agak jauh dan sinarnya hanya remang-remang saja mencapai tempat itu, namun cukup bagi Bi Lan untuk melihat bahwa korban itu berpakaian sebagai seorang thai-kam dan ketika ia berjongkok untuk memeriksanya, ia terkejut ketika mengenalnya sebagai thai-kam Ciu yang dicurigai oleh pute ra mahkota!
Orang itu sudah payah, luka tusukan pedang membuat tubuhnya berle potan darah dan napasnya tinggal satu-satu.
Ia harus bertindak cepat sebelum terlambat.
Ditotoknya beberapa bagian tubuh orang itu dan iapun bertanya.
"Cepat katakan siapa pembunuhmu dan apa hubungannya dengan penculik anakku dan musuh putera mahkota!"
Karena totokan-totokan itu, thai-kam Ciu dapat mengerahkan tenaga te rakhir dan dengan suara penuh penyesalan dan rasa penas aran, diapun berkata.
"Semua diatur oleh Pangeran Tua.......dibantu Poa Kiu dan Siauw Can........"
Kemudian bibirnya hanya bergerak-gerak tanpa mengeluarkan suara dan tak lama kemudian diapun te rkulai, te was.
Akan tetapi keterangan itu sudah cukup bagi Bi Lan.
Keterangan yang membuat kedua kakinya gemetar dan tubuhnya le mas, yang membuat ia sampai lama tidak mampu bangkit berdiri, te rmangu-mangu.
Pangeran Tua Li Siu Ti?
Dan Siauw Can..........?
Kini mengertilah ia, walaupun ia masih te rkejut karena sama sekali tidak pernah mengira bahwa semua peris tiwa itu diatur oleh orang-orang yang selama ini dianggapnya baik dan dipercaya sepenuhnya.
Yang membuat hatinya sakit seperti ditusuk adalah Siauw Can..
Pemuda yang dianggapnya se bagai seorang pendekar itu, bahkan yang pernah dikagumi dan dicintanya, telah menculik Lan Lan dan hendak memaksanya untuk membunuh pute ra mahkota!
Ia dapat menduga bahwa te ntu Siauw Can diperalat oleh Pangeran Tua, akan tetapi kenapa pemuda yang katanya mencintanya itu mau melakukan perbuatan keji dengan menculik Lan Lan dan memaksanya membunuh pute ra mahkota, sungguh membuatnya penas aran bukan main.
Ingin rasanya saat itu juga ia lari mencari Siauw Can atau Can Hong San untuk memaki dan menyerangnya.
Akan tetapi ia teringat bahwa pemuda itu adalah seorang lawan yang amat tangguh, apalagi te ntu dia akan dibantu oleh anak buah Pangeran Tua.
Tidak, urusan ini terlalu besar untuk ia tangani sendiri.
Cepat ia meninggalkan taman dan malam itu juga ia mencari Pangeran Li Si Bin.
Pangeran Li Si Bin tidak terkejut mendengar laporan Bi Lan.
Memang pangeran ini pernah mempunyai kecurigaan te rhadap pamannya, Pangeran Tua, hanya karena belum ada bukti maka dia tidak dapat melakukan sesuatu.
Kini tahulah dia akan rahasia itu dan pada malam itu juga dia memanggil para panglima yang membantunya dan pasukan khusus dikerahkan.
Tanpa membuang waktu lagi Pangeran Li Si Bin sendiri, dibantu para panglimanya dan tidak ketinggalan Bi Lan sendiri, lalu menyerbu ke istana Pangeran Tua Li Siu Ti.
Ge gerlah di kota raja.
Terjadi pertempuran yang hanya pendek saja karena Pangeran Li Siu Ti sama sekali tidak mengira bahwa malam itu akan terjadi penyerbuan besar-besaran yang dilakukan oleh pasukan istimewa yang dipimpin sendiri oleh pute ra mahkota!
Dan penyerbuan itupun sudah direstui kaisar yang malam itu juga mendengar laporan pute ranya.
Mereka yang berani melakukan perlawanan segera dibabat roboh dan yang lain cepat melempar senjata dan menjatuhkan diri berlutut.
Pangeran Li Siu Ti sekeluarga ditangkap.
Akan te tapi, dengan hati yang le ga Bi Lan mendengar bahwa Ai Yin lolos dari penangkapan.
Disamping kelegaan hatinya, juga ia merasa penas aran karena Can Hong San juga lolos.
Kiranya pemuda inilah yang melarikan Ai Yin dan Bi Lan dapat menduga bahwa bayangan yang dilihatnya membunuh thai-kam Ciu tentulah Can Hong San.
Pemuda itu tentu sudah merasa khawatir melihat perbuatannya ketahuan, sudah dapat menduga bahwa mungkin saja Bi Lan akan melapor dan thaikam Ciu membuka rahasia.
Hong San te ntu sudah dapat menduga kemungkinan datangnya serbuan dari pute ra mahkota, maka begitu tiba di istana Pangeran Tua, dia segera mengajak Ai Yin pergi dan tidak lupa membawa barang-barang berharga dari is tana itu.
Ketika Ai Yin mendesak dan minta keterangan kepadanya, Can Hong San tidak mau mengaku dan setengah memaksa gadis yang te lah ditunangkan dengannya itu meninggalkan istana secepatnya, bahkan malam itu juga mereka kabur keluar dari pintu gerbang kotaraja, menunggang dua ekor kuda pilihan.
Keluarga Pangeran Tua Li Siu Ti ditangkap dan dipenjara, kemudian setelah diadili, pangeran itu dijatuhi hukuman mati sedangkan keluarganya dihukum buang.
Setelah terjadi peristiwa itu, Bi Lan makin disayang dan dipercaya oleh Pangeran Li Si Bin dan iapun menyerah dengan senang hati ketika pute ra mahkota itu mengangkatnya sebagai selir te rkasih dan te rpercaya.
De ngan sendirinya Lan Lan yang kini diaku sebagai pute ri sang pangeran dengan nama menjadi Li Hong Lan, mendapat perlakuan sebagai seorang pute ri dan pendidikan dan perawatannya diserahkan kepada para ahli yang di is tana bertugas untuk mendidik para pute ri yang masih kecil.
-ooo0dw0ooo-Anak laki-laki itu berusia kurang le bih duabelas tahun, namun tubuhnya tinggi tegap seperti orang dewasa saja.
Juga wajahnya yang tampan itu nampak dewasa, dengan mata yang tajam mencorong penuh pengertian, mulut yang membayangkan keteguhan hati dan ketabahan.
Kalau ada ahli silat melihatnya pada saat dia berlatih itu, tentu ahli silat itu akan terkagum-kagum.
Anak berusia duabelas tahun itu berlatih silat di atas bambu-bambu runcing yang ditanam di tanah setinggi satu meter.
Kedua kakinya bertelanjang dan dengan kedua kaki bertelanjang itu dia bersilat di atas bambu-bambu yang runcing.
Ge rakannya demikian gesit dan tangkas, kedua kakinya yang melangkah ke kanan kiri, depan belakang, bahkan kadang melompati sebatang bambu runcing dan hinggap di atas bambu runcing berikutnya, tak pernah meleset.
Orang akan merasa ngeri karena sekali terpeleset, anak itu akan te rjatuh dan bambu-bambu runcing akan menyambut perut dan dadanya atau punggungnya.
Dan mengingat betapa kedua kaki te lanjang itu berloncatan di atas bambu-bambu runcing, sungguh mengerikan dan sekaligus mengagumkan.
Tak jauh dari situ, di bawah pohon yang tumbuh di belakang sebuah pondok baru, duduk seorang pria tua yang tinggi besar bermuka kemerahan dan je nggotnya panjang.
Pria berusia sekitar lima puluh delapan tahun itu masih nampak gagah dan berwibawa.
Dari wajah dan sikapnya mudah diduga bahwa dia bukan orang sembarangan.
Dia mengelus jenggotnya dan mulutnya te rsenyum, kepalanya mengangguk-angguk melihat kelincahan anak laki-laki remaja yang berlatih silat itu.
Dari gerakan-gerakannya saja, jelas nampak bahwa anak itu memang memiliki bakat yang bes ar sekali.
Ge rakannya demikian lentur dan indah, tidak kaku dan setiap gerakan mengandung te naga yang tepat penggunaannya, tidak berlebihan juga tidak lemah.
Pria tinggi bes ar itu adalah bekas Pangeran Cian Bu Ong!
Selama beberapa tahun ini, semenjak Kerajaan Sui jatuh diganti Kerajaan Tang, kurang le bih sembilan tahun yang lalu, Cian Bu Ong berusaha untuk menegakkan kembali Kerajaan Sui yang te lah jatuh.
Namun semua usahanya gagal, bahkan dia yang oleh Kerajaan Tang dianggap pemberontak, menjadi orang buruan.
Hidupnya tidak aman, karena dia dikejar-kejar oleh pasukan Tang.
Terutama sekali karena yang menjadi panglima adalah pute ra mahkota sendiri, yaitu Pangeran Li Si Bin yang amat cerdik dan pandai, Cian Bu Ong harus menjadi pelarian yang tidak dapat tinggal terlalu lama di suatu tempat.
Setelah dia berte mu dengan Sim Lan Ci yang kemudian menjadi isterinya, barulah dia menghentikan usahanya untuk memberontak.
Namun, bersama Sim Lan Ci dan putera janda itu, Coa Thian Ki, dan juga pute rinya sendiri, Cian Kui Eng, dia harus selalu berpindah-pindah tempat tinggal, khawatir kalau je jaknya ditemukan para penyelidik Ke rajaan Tang.
Cian Bu Ong menganggap Thian Ki sebagai pute ranya sendiri.
Dia amat mencinta Sim Lan Ci yang te lah menjadi isterinya dan dia sayang pula kepada Thian Ki karena dia tidak mempunyai anak laki-laki.
Anaknya yang tunggal dengan isteri pertama yang te was oleh pasukan Tang adalah seorang perempuan, yaitu Cian Kui Eng yang kini berusia sebelas tahun.
Cian Bu Ong menggemble ng kedua orang anak itu, bahkan dia lebih te kun mengajarkan ilmu-ilmunya kepada Thian Ki, karena selain anak ini memiliki bakat yang lebih besar dibandingkan Kui Eng, akan tetapi juga bekas pangeran itu memiliki cita-cita tinggi te rhadap Thia Ki.
Dia mengharapkan anak tiri yang sudah dianggap anaknya sendiri itu kelak dapat menjadi orang besar, kalau mungkin di kalangan pemerintahan, kalau tidakpun menjadi tokoh besar di dunia persilatan, agar dapat mengangkat kembali namanya yang te lah jatuh bersama runtuhnya Kerajaan Sui.
Baru setelah panglima besar dan pute ra mahkota, yaitu Pangeran Li Si Bin yang menjadi tokoh utama Kerajaan Tang menggantikan ayahnya dan menjadi kaisar (tahun 627) Cian Bu Ong dapat hidup te nang bersama is terinya dan kedua orang anaknya, di sebuah dusun kecil yang te rletak di te mpat yang amat indah pemandangan alamnya, yaitu di te pi Sungai Huang-ho, di kaki Kim San (Bukit Emas).
Setelah Pangeran Li Si Bin menjadi kaisar dan berjuluk Tang Tai Cung, kais ar ini lebih banyak memperhatikan urusan pemerintahan, tidak lagi memikirkan pemberontak-pemberontak buronan yang sudah kehilangan pasukan, seperti halnya Cian Bu Ong yang dianggap tidak berbahaya lagi.
Di dusun Ke-cung itu, yang penduduknya hanya puluhan keluarga saja dan semua adalah petani dan nelayan sederhana, Cian Bu Ong mendirikan sebuah rumah besar dan hidup te nang dan tenteram bersama Sim Lan Ci dan kedua orang anak mereka, yaitu Thian Ki dan Kui Eng.
Pada pagi hari itu, Thian Ki sudah berlatih silat di bawah pengawasan Cian Bu Ong, ayah tirinya, juga gurunya.
Dulu, ketika dia masih hidup bersama ayah kandungnya, mendiang Coa Siang Lee, ayah dan ibunya selalu menekankan perasaan tidak suka akan ilmu silat dan penggunaan kekerasan sehingga biarpun dia menjadi anak suami isteri yang pandai ilmu silat, Thian Ki sendiri tidak pernah mempelajari ilmu silat.
Akan tetapi, tanpa diketahui ayah ibunya, neneknya, yaitu Lo Nikouw yang dahulu terkenal dengan julukan Ban-tok Mo-li, telah menggemble ng tubuhnya dengan ramuan racun, sehingga tanpa disadarinya sendiri, Thian Ki telah menjadi seorang tok-tong (anak beracun).
Di luar kehe ndaknya sendiri, dia telah melakukan hal-hal yang akan menggemparkan dunia kangouw kalau diketahui orang, yaitu dia te lah membunuh atau le bih te pat lagi menyebabkan kematian tokoh-tokoh kangouw yang amat lihai seperti Kui bwe Houw Gan Lui, si golok gergaji Thio Ki Lok, pegulat Turki Gulana.
Mereka semua te was keracunan karena berani menyerang dan menyentuh tubuh Thian Ki yang sudah penuh dengan hawa beracun yang amat kuat itu!
Semula, karena melihat tok-tong inilah maka Cian Bu Ong tertarik.
Dia ingin memiliki anak beracun itu untuk membantu gerakannya dan usahanya menegakkan kembali Kerajaan Sui.
Akan tetapi setelah dia menikah dengan ibu anak itu, dan melihat bahwa cita-citanya itu tidak akan mungkin te rlaksana karena Kerajaan Tang yang baru semakin kuat, dan untuk berjuang menumbangkan pemerintahan dia harus mempunyai pasukan yang besar sekali, hal yang tidak mungkin dimilikinya, maka diapun membuang cita-cita itu.
Kini dia menggemble ng Thian Ki dengan cita-cita lain.
Dia ingin anak tirinya yang juga muridnya itu kelak menjadi orang penting, berkedudukan tinggi atau menjadi seorang jagoan nomor satu di dunia kangouw, pendeknya dia ingin agar Thian Ki kelak dapat menjadi te rkenal dan karenanya akan mengangkat tinggi nama besar Pangeran Cian Bu Ong.
Oleh karena itu, maka dia menggemble ng Thian Ki dengan amat te kunnya.
Anak itu sendiri sekarang juga rajin berlatih dan suka sekali mempelajari ilmu silat.
Hal ini merupakan perubahan yang amat besar.
Selain ibunya, Sim Lan Ci sekarang tidak lagi melarangnya belajar silat, bahkan ibu inipun mengajarkan ilmu-ilmunya sendiri, juga karena pengalaman-pengalaman yang sudah-sudah merupakan pelajaran bagi Thian Ki, bahwa memiliki kekuatan dan kepandaian silat amat perlu baginya, untuk dapat membela diri dalam hidup ini.
Terlalu banyak orang jahat berkeliaran di bumi ini dan amat sukarlah mengharapkan perlindungan dari orang lain.
Dalam usia duabelas tahun, Thian Ki sudah mampu berlatih silat di atas bambu-bambu runcing.
Hal ini sungguh mengagumkan sekali.
Tanpa memiliki ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang tinggi, sungguh amat berbahaya latihan seperti itu.
Namun, Thian Ki sudah dapat berloncatan dengan cekatan di atas bambu-bambu runcing itu.
Tentu saja hal ini amat menggembirakan hati Pangeran Cian Bu Ong.
Dia sendiri mengakui bahwa dalam usia semuda itu, dia tidak dapat mencapai tingkat seperti yang dimiliki Thian Ki sekarang ini.
Dia merasa bangga dan girang sekali melihat kemajuan Thian Ki.
Puterinya sendiri, Kui Eng.
juga tekun dan cerdas, akan te tapi dibandingkan Thian Ki, anak itu kalah jauh.
Apalagi kalau diingat bahwa tubuh Thian Ki beracun, dan keadaan ini saja sudah amat berbahaya bagi lawannya.
Lawan yang amat lihai sekalipun akan dapat te was sendiri kalau berani menyentuh tubuh tok-tong, si anak beracun itu.
Cian Bu Ong yang bercita-cita tinggi itu bahkan telah memilihkan sebuah nama julukan bagi anak tiri dan muridnya, yaitu Tok-liong (Naga Beracun)!
"Thian Ki."
Kata bekas pangeran itu berulang kali.
"Namamu yang biasa adalah Thian Ki, Cian Thian Ki,"
Dia memberi tekanan kepada nama keluarga Cian itu.
Dia mengakui Thian Ki sebagai anak sendiri, maka dia menekankan kepada anak itu dan ibunya agar menggunakan she (nama keluarga) Cian!
"Akan tetapi, di dunia kangouw, tidak perlu engkau memperkenalkan diri sebagai Cian Thian Ki, melainkan Tok-liong-eng (Pendekar Naga Beracun), ha-ha ha.!"
Karena ucapan itu berulang-ulang dikatakan gurunya yang juga ayahnya karena dia menyebut ayah kepada gurunya itu, maka sebutan Tok-liong (Naga Beracun) itu mendatangkan kesan di hati Thian Ki dan setelah beberapa tahun dia menganggap Tok-liong sebagai namanya yang ke dua.
Apalagi ayah tiri dan ibunya sendiri sering menyebut Tok-liong kepadanya.
Baru beberapa bulan Cian Bu Ong tinggal di dusun Ke-cung itu.
Setelah mendengar bahwa Kaisar Tang Kao Cu diganti oleh Pangeran Li Si Bin yang kini menjadi Kaisar Tang Tai Cung, baru ia merasa aman dan tinggal di dusun le mbah sungai yang indah itu.
Penduduk dusun menyambut keluarga ini dengan gembira.
Mereka tidak mengenal siapa keluarga ini dan Cian Bu Ong sudah mengubah namanya menjadi Cian Bu saja.
Penduduk hanya menduga bahwa Cian Bu adalah seorang hartawan atau pejabat yang te lah mengundurkan diri dan mencari tempat tinggal yang tenang di dusun itu.
Karena keluarga baru ini selain kaya juga ringan tangaa membantu penduduk, maka keluarga ini disambut dengan baik dan Cian Bu dikenal sebagai hartawan Cian, bahkan beberapa bulan kemudian, melihat dia seorang yang kaya dan pandai, luas pengetahuannya dan suka menolong penduduk, puluhan keluarga penghuni dusun Ke-cung segera mengangkatnya menjadi ketua dusun.
De mi keamanan, Cian Bu menerima pengangkatan itu, walaupun dalam hatinya dia te rsenyum pahit.
Dia, pangeran adik kaisar te rakhir Kerajaan Sui yang bercita-cita menegakkan kembali Kerajaan Sui dimana dia yang akan menjadi kaisar barunya, kini hanya diangkat menjadi ketua dusun.!
Inipun dusun yang kecil sekali dan pengangkatan itupun tidak res mi dari pemerintahan.
Karena rumah dan pekarangan berikut sebuah kebun dan taman yang luas milik keluarga Cian itu dikelilingi pagar dinding yang tinggi, maka tak seorangpun pernah melihat kalau keluarga itu berlatih silat.
Tiga orang pelayan keluarga ini adalah bekas anak buah yang setia dari bekas pangeran itu, dan mereka maklum bahwa mereka tidak boleh membuka rahasia majikan mereka kepada siapapun juga.
Selagi Thian Ki berlatih, kini tidak lagi di atas bambu-bambu runcing melainkan di atas tanah di mana dia bersilat dengan amat cepat dan kuatnya, tiba-tiba seorang anak perempuan berusia sebelas tahun datang berlari-lari.
Melihat Thian Ki masih bersilat dengan tangan kosong, dengan baju dilepas sehingga tubuh atasnya telanjang dan berkilauan karena keringat, anak perempuan itu mengeluarkan bentakan nyaring dan iapun melompat dengan sigapnya mendekati Thian Ki dan langsung saja menyerangnya dengan jari tangan menotok ke arah tubuh Thian Ki, menyerang jalan-jalan darah secara cepat sekali.!
Thian Ki cepat mengelak ke sana sini, lalu meloncat jauh ke belakang.
Ketika anak itu yang bukan lain adalah Cian Kui Eng, hendak mengejar dan mendesak, ayahnya membentak.
"Kui Eng, berhenti!"
Anak perempuan itu berhenti menyerang, menoleh kepada ayahnya dan iapun membanting-banting kaki dan merajuk.
"Aihhh, ayah, aku ingin berlatih dengan kakak Thian Ki, selalu tidak boleh.!"
Anak berusia sebelas tahun itu berwajah manis dan bertubuh ramping.
Matanya tajam dan galak, mulutnya yang cemberut itu menjadi pemanis yang utama dari wajahnya yang bulat telur.
Rambutnya agak keriting, membuat rambut itu nampak tebal.
"Kui Eng, sudah berulang kali kukatakan kepadamu. Engkau tidak boleh berlatih dengan kakakmu. Itu berbahaya sekali!"
Kata Cian Bu Ong, atau yang nama barunya Cian Bu saja itu. Pada saat itu, Sim Lan Ci muncul dan mendengar percakapan itu, iapun lari menghampiri dan merangkul Kui Eng yang bersungut-s ungut.
"Kui Eng, engkau sudah seringkali kuberi tahu agar jangan berlatih dengan kakakmu. Engkau te ntu tahu bahwa kakakmu adalah seorang yang berbahaya, karena disebut Naga Beracun. Dia seorang tok-tong."
Dalam usianya yang hampir empatpuluh tahun, Sim Lan Ci masih nampak cantik.
Hal ini adalah karena selama menjadi isteri Cian Bu Ong, ia merasa hidupnya berbahagia walaupun ia ikut melarikan diri dan bersembunyi bersama suaminyi selama tujuh tahun ini.
Cian Bu amat mencintanya juga ia mencinta Kui Eng seperti mencinta Thian Ki anak kandungnya.
Suaminya seorang yang amat baik, bahkan jauh le bih sakti dari pada suaminya yang pertama, dan juga berwibawa dan jantan.
"I bu, kenapa sih toako disebut Tok-liong (Naga Beracun), dan apa sih artinya tok-tong?"
"Dia disebut tok-tong karena tubuhnya mengandung hawa beracun yang amat kuat, Kui Eng. Beradu tangan dengan dia, bahkan menyentuh tubuhnya pun kalau kebetulan hawa beracun itu bekerja, orang akan mati seketika."
"Tapi.....kenapa toako bisa seperti .itu?"
Suami isteri itu saling pandang.
Sudah tiba saatnya mereka memberi tahu anak-anak mereka akan kejadian yang sebenarnya te ntang diri Thian Ki.
Bahkan anak itu sendiri belum tahu dengan jelas.
Melihat pandang mata isterinya, Cian Bu menghela napas panjang dan mengangguk, lalu dia duduk di atas bangku di taman itu.
"I bu, akupun ingin sekali mengetahui mengapa tubuhku jadi beracun? Ibu dan ayah tidak pernah mau menceritakan,"
Kata pula Thian Ki yang memakai kembali bajunya dan mendekati ibunya.
Sejak berusia lima tahun, dia dipesan oleh ibunya agar berhati-hati kalau bermain-main dengan Kui Eng, agar dia tidak mengerahkan tenaga dan sekali-kali tidak boleh berlatih silat dengan adiknya itu.
Biarpun perintah ibunya itu tentu saja membuat dia tidak dapat bergembira dan bermain-main sebebasnya dengan adiknya, namun dia selalu mentaati karena dia sendiri tahu bahwa dalam dirinya te rdapat rahasia aneh.
Sudah dia melihat sendiri beberapa orang yang amat lihai ilmu silatnya tewas ketika menyerangnya, te was ketika digigitnya, bahkan te was ketika mencengkeramnya.
Sim Lan Ci menarik napas panjang, lalu menggandeng tangan kedua anaknya, diajaknya duduk di bangku dekat suaminya.
Kemudia ia mulai bercerita.
"Thian Ki dan Kui Eng, ingat baik-baik apa yang akan kuceritakan ini agar kelak tidak sampai terjadi sesuatu pada diri kalian. Thian Ki, engkau telah menjadi seorang tok-tong. Di dalam tubuhmu te rdapat racun yang amat hebat, seluruh darahmu mengandung racun, juga tubuhmu penuh dengan hawa beracun yang dapat membunuh siapa saja, bahkan orang-orang seperti aku dan ayahmu dapat saja terbunuh oleh racun di tubuhmu itu."
"Wah, hebat kalau begitu! Ibu, kalau kakak Thian Ki mempunyai tubuh sehebat itu, kenapa aku tidak? Ibu dan ayah, jadikanlah aku seperti dia, aku ingin mempunyai tubuh beracun seperti itu agar dapat kubasmi semua orang jahat di dunia ini!"
"I h, Kui Eng, enak saja kau bicara!"
Thian Ki menegur adiknya.
"Apa sih senangnya punya tubuh beracun? Lihat saja aku. Aku ingin bermain-main denganmu, berlatih silat denganmu tidak bisa! Kalau racun di tubuhku ini dapat le nyap, aku akan berbahagia sekali!"
"I bu, kenapa kakak Thian Ki menjadi Tok-tong? Bagaimana te rjadinya!"
Tanya pula Kui Eng, tidak perduli akan keluhan kakaknya.
"Semua ini gara-gara nenekmu, Lo Nikouw. ..."
"Aih, nenek Lo N ikouw. Ibu dari ibu yang jarang ibu ceritakan itu? Bagaimana nenek bisa menjadi gara-gara keadaan toako ibu?"
"I buku, nenek kalian itu adalah seorang ahli racun yang tiada keduanya di empat penjuru sehingga ia dikenal sebagai Ban-tok Mo-li (Iblis Betina Selaksa Racun).........."
"I hhhh! Julukannya mengerikan benar!"
Seru Kui Eng.
"Julukannya itu adalah ketika ia belum menjadi seorang nikouw, Kui Eng. Sekarang ia dikenal sebagai Lo Nikouw yang pekerjaannya hanya berdoa. Nenek kalian itulah yang diluar tahuku telah membuat Thian Ki menjadi tok-tong, dengan cara merendam tubuh Thian Ki ketika masih kecil ke dalam ramuan obat beracun. Aku mengetahui hal itu setelah terlambat."
"Aih, kenapa nenek begitu jahat terhadap Thian Ki, Ibu?"
Kui Eng berseru dengan penasaran.
"Hush, jangan berkata begitu, Kui Eng!"
Tiba-tiba Cian Bu yang se jak tadi hanya mendengarkan saja, berseru kepada pute rinya.
"Nenekmu melakukan hal itu justeru karena ia menyayang Thian Ki. Ia ingin membuat Thian Ki menjadi orang yang tak te rkalahkan, dan dalam hal ini, ia te lah banyak membantu dan usahanya itu berhasil. Kalau bukan seorang ahli yang amat pandai, bagaimana mungkin ia dapat membuat cucunya menjadi tok-tong? Orang lain yang tubuhnya mengandung racun seperti Thian Ki, takkan mampu bertahan hidup lagi. Ne nekmu itu memang hebat!"
"Akan tetapi aku tidak suka menjadi tok-tong! Aku tidak ingin menjadi orang yang tak te rkalahkan!"
Teriak Thian Ki.
"Aih, toako. Kenapa engkau begitu bodoh. Sepantasnya engkau berte rima kasih kepada nenek. Kalau aku yang menjadi seperti engkau, wah, aku akan merasa bangga dan senang sekali. Akan kukalahkan seluruh jagoan di dunia ini! Ibu, bawa aku kepada nenek biar aku juga dijadikan seorang anak beracun.!"
"Hemm, kaukira mudah menjadikan seseorang beracun seperti itu? Hanya anak yang masih kecil dan berbakat saja yang akan mampu hidup menjadi anak beracun. Engkau sudah besar, Kui Eng, tidak mungkin menjadi anak beracun lagi. Baru Thian Ki saja menjadi tok-tong kami sudah bingung, masa engkau ingin menjadi anak beracun lagi!"
Kata Sim Lan Ci.
Sementara itu, Cian Bu menghela napas panjang.
Dia mencita-citakan Thian Ki kelak menjadi seorang jagoan nomor satu di dunia.
Thian Ki telah menjadi tok-tong, berbakat baik dan te lah digemble ngnya dengan sungguh sungguh, akan tetapi ternyata anak itu tidak suka menjadi jagoan seperti yang dia idamkan.
Kalau saja Thian Ki mempunyai semangat seperti yang diucapkan Kui Eng tadi!
Thian Ki berwatak lemah, terlalu baik, tidak suka akan kekerasan, tidak ingin menjadi jagoan tak terkalahkan, padahal dia memiliki kemampuan untuk itu.
Sebaliknya semangat Kui Eng berkobar-kobar.
"I bu, kenapa nenek memperlakukan aku seperti ini? Aku juga ingin berte mu dengan nenek, akan kuminta agar dia melenyapkan racun dari tubuhku!"
Kata Thian Ki.
"Tidak semudah itu, Thian Ki. Racun itu te lah menjadi satu dengan darahmu, biar nenekmu sendiri tidak akan dapat melenyapkannya. Hanya satu cara saja......"
Wanita cantik itu menghentikan kata-katanya, menyadari bahwa ia te lah terlanjur bicara. Thian Ki segera menyambar kesempatan itu.
"I bu, katakan. Apa caranya akan kute mpuh segala cara untuk membuat aku menjadi manusia biasa. Katakanlah, apa cara yang satu-satunya itu?"
Karena sudah terlanjur bicara. Sim Lan Ci memandang suaminya, lalu berkata.
"Caranya hanya menularkan racun itu kepada orang lain. Sedikitnya kepada sepuluh orang dan mereka itu akan te was. Biarpun setiap orang hanya menerima sepersepuluh bagian saja, cukup untuk membuat ia tewas. N ah, setelah menewaskan belasan orang, barulah ada kemungkinan racun itu akan le nyap dari tubuhmu."
Mendengar ini, Thian Ki termenung dan wajahnya dibayangi kedukaan.
"Kalau begitu.....selama hidupku sampai mati.........aku tidak akan dapat melenyapkan racun keparat ini dari tubuhku......."
Ucapan ini saja menyatakan bahwa ia tidak suka membunuh orang, biar hal itu demi keselamatan diri sendiri. Melihat ini, Cian Bu lalu menghibur.
"Sebetulnya tidak perlu dilenyapkan, apa lagi kalau caranya demikian sulit. Asalkan Thian Ki dapat menguasai racun itu, dapat menekannya sehingga racun itu tidak bekerja, kecuali hanya kalau di perlukan saja, maka tentu dia akan hidup seperi orang biasa. Hanya pada saat tertentu saja dia dapat mengerahkan kekuatan racun itu. Sayang, sudah kucoba, namun aku belum menemukan caranya untuk mengajar dia dapat mengendalikan hawa beracun itu."
Mendengar ini, Thian Ki memandang ibunya "I bu, dapatkah nenek mengajariku agar aku dapat menguasai racun ini?
Biarpun tidak dapat le nyap, kalau aku dapat menguasainya seperti dikatakan ayah, sudah lumayan........"
Sim Lan Ci mengerutkan alis nya.
Sudah tujuh tahun lebih ia meninggalkan ibunya yang berada di kuil Thian ho-tong di luar dusun Mo-kim-cung.
Bahkan rumahnyapun ia tinggalkan.
Sejak ia dan almarhum suaminya, Coa Siang Lee meninggalkan dusun Mo-kim cung berkunjung ke pusat He k-houw-pang di dusun Ta-bun-cung, yaitu te mpat tinggal keluarga almarhum suaminya, ia tidak pernah lagi kembali ke Mo-kim cung.
Terlalu banyak peris tiwa terjadi sejak ia dan suami pertamanya itu meninggalkan Mo-kim-cung.
Di He k-houw-pang itulah te rjadinya malapetaka yang membuat suaminya tewas dan ia bersama Thian Ki ikut Cian Bu Ong dan kemudian bahkan menjadi isteri bekas pangeran itu yang kini bernama Cian Bu.
Tujuh tahun le bih te lah le wat dari kini percakapan te ntang ibunya membuat ia teringat akan semua itu.
"Bagaimana, ibu?"
Thian Ki mendesak ketika melihat ibunya te rmenung.
"Aku masih ingat, nenek adalah seorang nikouw yang ramah dan baik budi, selalu bersikap baik kepadaku. Beliau tentu akan suka menolongku, ibu."
Wanita itu menghela napas panjang.
"Tidak tahulah, Thian Ki. Aku memang pernah mempelajari ilmu-ilmu dari ibuku te ntang ilmu-ilmu pukulan beracun, akan te tapi aku tidak pernah diajari ilmu membuat seseorang menjadi tok-tong, juga tidak tahu menahu tentang cara menguasai hawa beracun dalam tubuh. Ilmu pukulan beracun memang han ya timbul hawa beracun itu kalau ilmu itu dipergunakan untuk berkelahi, kalau pengerahan tenaga sakti dilakukan dengan cara te rtentu disamping latihan yang menggunakan racun. Akan te tapi racun yang sudah menjadi satu dengan darah seperti yang kaualaml, biasanya hanya membuat orang itu mati. Engkau sebaliknya hidup dengan sehat dan kuat, dan racun itu bekerja di luar kehe ndakmu. Aku tidak tahu.........."
"Kalau begitu, kenapa tidak ke sana saja.? Kita semua pergi ke s ana mencari ibumu, minta agar ia suka mengajari Thian Ki menguasai racun di dalam dirinya, dan kita sekalian berpesiar ke timur. Anak-anak ini perlu mendapatkan pengalaman, juga aku ingin sekali melihat keadaan di sana sekarang ini. Tentu ramai sekali."
Sim Lan Ci te rkejut, akan tetapi juga wajahnya berseri gembira sekali.
"Benarkah.......? Tidak.........tidak akan ada halangannyakah?"
Ia memandang suaminya dengan khawatir.
Suaminya pernah menjadi seorang buruan pemerintah, kalau sekarang mereka menuju ke timur, bukankah itu sama saja dengan ular mencari pemukul?
Cian Bu menggeleng kepala dan meraba je nggotnya yang dipotong pendek.
Dia mengerti apa yang dimaksudkan is terinya, dan diapun te rsenyum yakin akan dirinya sendiri bahwa keadaannya sudah berubah sama sekali.
Dahulu dia bertubuh tinggi besar dengan jenggot panjang dan pakaian bangsawan.
Akan te tapi sekarang, biarpun dia masih tinggi besar, namun perutnya agak gendut, dan je nggotnya pendek.
Juga dia mengenakan pakaian biasa, pakaian seorang petani kaya.
Juga rambut di kepalanya dibiarkan tidak te rtutup, digelung ke atas, tidak pernah memakai penutup kepala yang biasa dipakai para bangsawan.
Pula, sejak lama tidak pernah ada pasukan yang mencarinya, dan setelah Pangeran Li Si Bin menjadi kaisar, dia merasa lebih aman.
"Tidak akan ada halangan. Hari kita pergi mengunjungi ibumu dan mudah-mudahan saja ia akan dapat membimbing Thian Ki sehingga dia dapat menguasai hawa beracun di dalam tubuhnya."
Mendengar bahwa ayah ibunya akan mengajak ia dan kakaknya pesiar ke timur, ke kota-kota besar yang ramai, Kui Eng bersorak gembira.
Anak perempuan berusia sebelas tahun itu kadang-kadang masih amat kekanak-kanakan.
Ia meloncat-loncat dan merangkul Thian Ki.
"Kita pesiar......! Horee, kita pesiar. Toako, alangkah senangnya dan ini semua jasamu!"
Ia merangkul le her Thian Ki sehingga mukanya hampir melekat ke muka pemuda remaja itu.
Biarpun sejak kecil sudah biasa dia bermain main dengan Kui Eng, akan te tapi kini dia menyadari bahwa Kui Eng sudah mulai besar, bukan anak kecil lagi dan dia tahu benar bahwa Kui Eng bukan apa-apa dengan dia, berbeda ayah berbeda ibu.
Maka rangkulan yang demikian akrab dan mes ranya membuat Thian Ki menjadi tersipu dan mukanya kemerahan, akan te tapi dia tidak berani melarang adiknya.
"Eh, Kui Eng, engkau seperti anak kecil saja. Bagaimana bisa menjadi jasaku?"
Tanyanya. Kui Eng melepaskan rangkulannya.
"Tentu saja! Kalau engkau tidak menjadi tok-tong, kalau ayah dan ibu tidak menghendaki engkau dibimbing nenek, belum tentu kita pesiar ke timur."
Thian Ki tertawa.
Ayah dan ibu merekapun te rtawa.
Dan beberapa hari kemudian keluarga inipun meninggalkan dusun Ke-cung, menunggang empat ekor kuda menuju ke timur.
Perjalanan pada masa itu amatlah sukar.
Tidak mungkin menggunakan kereta yang besar karena harus melalui bukit-bukit, kadang harus menyeberangi sungai.
Akan tetapi keluarga itu adalah orang-orang yang sudah te rbias a dengan kehidupan di alam te rbuka, pandai pula menunggang kuda dan berkat latihan ilmu silat membuat tubuh mereka kuat dan kebal te rhadap serangan angin, hawa dingin atau panas.
Juga tidak mudah le lah.
Perjalanan yang sukar itu bahkan membuat mereka bergembira sekali, te rutama Kui Eng yang selalu bercanda dan gadis cilik yang lincah ini membuat kakaknya, ayah dan ibunya, selalu merasa gembira.
Sebelum berangkat, dengan sungguh-sungguh Cian Bu memesan kepada isteri dan kedua orang anaknya agar tidak memperlihatkan bahwa mereka adalah keluarga yang pandai ilmu silat.
"Kalau orang-orang tahu bahwa kita adalah keluarga ahli silat, hal itu hanya akan mendatangkan kecurigaan dan perhatian saja, membuat perjalanan kita mengalami banyak gangguan dan menjadi tidak leluasa lagi."
Demikian dia mengakhiri pesannya.
"Tapi, bagaimana kalau kita diganggu orang, ayah? Apakah kita harus diam saja, membiarkan kita diganggu? Bagaimana kalau ada perampok?"
Kui Eng yang selalu membantah kalau dianggapnya pesan siapa saja tidak te pat itu bertanya dan diam-diam Thian Ki menyetujui pertanyaan itu walaupun dia sendiri tidak akan berani menyangkal seperti itu.
Cian Bu te rsenyum.
Dia mengenal baik watak pute rinya itu, watak yang disukainya, cocok dengan dia.
Tak pernah menyembunyikan sesuatu yang membuat hati penas aran.
"Ha-ha-ha, kalau te rjadi seperti yang kaukatakan itu, diamlah saja, bersabarlah, dan serahkan saja kepadaku untuk mengatasinya. Mengerti."
"Me ngerti, ayah,"
Kata Kui Eng, akan tetapi alisnya berkerut.
"Eh, kenapa engkau masih saja cemberut, Kui Eng."
Tanya ibunya.
"Habis, pesan ayah ini aneh sih! Bagaimana kita harus diam dan bersabar saja kalau ada orang jahat mengganggu. Kenapa sih kita harus berpura-pura tak berdaya, penakut dan lemah."
Cian Bu menjadi bingung untuk menjawab, akan tetapi isterinya yang cerdik segera membantu suaminya.
"Kui Eng, ketahuilah bahwa ayah dan ibumu dahulu adalah ahli-ahli silat yang suka bertualang dan karenanya, kami telah merobohkan banyak lawan dan karena itu tentu saja banyak yang merasa dendam dan akan memusuhi kita. Dari pada banyak halangan di perjalanan yang hanya akan menyulitkan dan melelahkan, lebih baik tidak ada yang mengenal kita sehingga kita dapat berpesiar dengan gembira dan dapat cepat tiba di tempa tinggal nenekmu. Nah, mengertikah engkau?"
Kui Eng mengangguk-angguk dan alas an itu le bih dapat dite rimanya.
I a hanya tidak suka kalau akan dianggap penakut menghadapi gangguan orang jahat.
Akan tetapi kalau hanya untuk menjaga agar perjalanan mereka dapat lancar, maka ia pun dapat menerimanya.!
Perjalanan dilakukan dengan gembira, tidak te rgesa-gesa, bahkan kalau mereka mele wati daerah yang indah, mereka berhenti untuk menikmat keindahan daerah itu.
Juga kalau melewati kota yang ramai, mereka berhenti dan bermalam sampai dua tiga malam untuk memberi kesempatan kepada anak-anak mereka, terutama sekali Kui Eng, untuk bersenang senang.
Kui Eng memang belum pernah melihat barang-barang yang dianggapnya amat indah menarik yang te rdapat di kota-kota besar.
Tidak demikian dengan Thian Ki.
Ketika meninggalkan rumah bersama ayah ibunya, dia sudah berusia lima tahun lebih dan dia sudah melalui banyak kota.
Juga mengenai alas an yang disembunyikan Cian Bu dari Kui Eng, dia le bih tahu.
Dia sudah tahu bahwa ayah tirinya adalah seorang bekas pangeran yang pernah dicari-cari pasukan pemerintah.
Ayahnya yang berilmu tinggi tentu saja tidak takut menghadapi gangguan penjahat, namun khawatir kalau sampai dikenal oleh pasukan pemerintah karena hal itu pasti akan mendatangkan kesukaran bear, bahkan bahaya besar.
Sikap mereka yang bersahaja, sebagai keluarga biasa yang sedang melakukan perjalanan, memang tidak menarik perhatian orang.
Pakaian mereka sederhana dan tidak nampak memakai perhiasan mahal, juga tidak membawa banyak barang kecuali buntalan pakaian.
Juga Sim Lan Ci biarpun masih cantik, namun ia sudah setengah tua, hampir empatpuluh tahun usianya, sedangkan Kui Eng juga masih te rlalu kecil untuk menarik perhatian laki-laki mata keranjang.
Semua ini membuat perjalanan mereka menjadi aman, tidak pernah diganggu orang.
Baca Juga: Cinta Bernoda Darah 10
Baca Juga: Kisah Sepasang Rajawali 16