Eps 6 Naga Beracun - Kho Ping Hoo
Baca online Naga Beracun - Kho Ping Hoo
Cersil Naga Beracun - Kho Ping Hoo.
Pada suatu sore, mereka memasuki kota Wu-han yang besar, kota terbesar yang pernah mereka lalui.
Tempat yang mereka tuju adalah kuil Thian-ho-tang yang te rletak di luar dusun Mo-kim-cung, di le reng Coa-san (Bukit Ular).
Tempat itu tidak jauh lagi dari Wuhan, hanya perjalanan sehari lagi saja dengan kuda.
Mereka memasuki kota Wuhan dan karena kuda mereka sudah lelah, mereka sendiripun perlu beristirahat dan hari sudah menjelang senja, Cian Bu lalu menyewa dua buah kamar untuk mereka.
Sebuah kamar untuk dia dan Thian Ki, sebuah kamar lain untuk Kui Eng dan ibunya.
Setelah mendapatkan kamar, mereka mandi dan berganti pakaian bersih.
Kemudian Cian Bu mengajak keluarganya makan malam di sebuah rumah makan yang paling besar di kota itu.
Rumah makan ini te lah ada sejak dia masih menjadi pangeran, hanya sekarang yang mengelola adalan anak dari pemilik dahulu yang sudah meninggal dunia.
Ada di antara pelayan tua yang masih diingat oleh Cian, Bu.
a kan tetapi tentu saja mereka itu tidak mengenalnya karena dahulu dia adalah seorang pangeran yang kalau datang berkereta, dengan pakaian mewah, diiringkan pengawal dan sekarang dia hanya seorang laki-laki yang membawa anak iste rinya makan di situ.
Cian Bu masin ingat masakan apa yang istimewa dari rumah makan ini.
Dia memesan masakan-masakan itu dan merekapun makan dengan gembira.
Apalagi Kui Eng, anak ini gembira bukan main karena merasakan masakan-masakan yang luar biasa, baru dan lezat baginya.
Sejak tadi, Cian Bu dan is terinya sudah melihat adanya dua orang laki-laki yang duduk di ruangan rumah makan itu, di sudut terpisah dua meja dari te mpat duduk mereka.
Dua orang laki-laki ini te ntu akan luput dari perhatian mereka kalau saja dua orang itu tidak memperlihatkan sikap yang mencurigakan.
Sejak tadi dua orang itu memperhatikan mereka, terutama sekali memperhatikan Kui Eng yang makan minum dengan gembira.
Mereka adalah dua orang laki-laki yang berusia kurang le bih tigapuluh tahun.
Yang seorang bertubuh tinggi kurus dengan muka meruncing seperti muka kuda, sedangkan orang ke dua bertubuh tinggi besar dengan muka bopeng bekas cacar, mereka memperhatikan Kui Eng lalu berbisik-bisik sambil terus melirik ke arah Kui Eng yang kebetulan duduknya menghadap mereka.
Sebagai suami isteri yang sudah berpengalaman, sikap kedua orang itu amat mencurigakan.
Mereka berdua tahu bahwa di dunia kangouw, di dalam dunia sesat terdapat orang-orang yang keji dan aneh, orang-orang yang mempunyai selera rendah yang amat mes um.
Ada penjahat cabul yang suka menculik dan mempermainkan gadis-gadis cilik, adapula bahkan yang suka menculik pemuda-pemuda remaja!
Memang jarang sekali manusia macam ini, akan tetapi kenyataannya memang ada dan suami isteri itu dalam petualangannya dahulu pernah bertemu dengan manusia seperti itu.
Maka kini melihat sikap mereka ketika memandang ke arah Kui Eng, cukup membuat mereka waspada.
Setelah selesai makan dan membayar harga makanan dan minuman, Cian Bu mengajak isterinya untuk berpesiar ke sebuah taman rakyat yang berada di pinggir kota.
Taman itu cukup indah dan te rpelihara baik-baik.
Di tengah taman itu terdapat pula sebuah danau kecil yang cukup untuk dipakai berperahu oleh anak-anak yang berkunjung ke te mpat itu.
Malam ini suasana di situ cukup ramai karena selain lampu-lampu pene rangan berupa le nte ra beraneka warna yang menerangi tempat itu, te rdapat pula bulan yang hampir purnama.
Kui Eng berte riak-teriak gembira ketika memasuki taman dan ia mendahului kakak dan orang tuanya, masuk lebih dulu sambil setengah berlari.
Ayah dan ibunya hanya tersenyum saja, membiarkan pute ri mereka itu bergembira.
Thian Ki mempercepat langkahnya untuk menemani adiknya, akan te tapi dia yang merasa sudah besar malu untuk berlari-lari seperti Kui Eng.
Anak perempuan itu berteriak kegirangan menghampiri sebuah kolam ikan di mana terdapat bunga-bunga te ratai dan ikan-ikan emas.
Ditimpa sinar bulan dan sinar le ntera yang dipasang di te pi kolam, memang bunga te ratai dan ikan-ikan itu nampak indah sekali.
"Wah, ikan-ikan beraneka warna. Lihat itu, ada yang putih, kuning, merah.......indah sekali!"
Kui Eng berte riak-teriak, ia tidak tahu bahwa ada dua orang pria menghampirinya dan seorang di antara mereka, yang bertubuh tinggi kurus dengan muka seperti kuda menyentuh lengannya. -ooo0dw0ooo-
Jilid 15
"Me mang indah dan cantik sekali, nona kecil. Seperti engkau........"
Kui Eng menengok dan alisnya berkerut.
Ia masih belum tahu bahwa ucapan itu mengandung kekurang-ajaran, akan te tapi ia tidak suka le ngannya disentuh jari-jari tangan yang panjang itu.
Kalau dalam keadaan biasa, tentu ia sudah mendamprat orang itu, akan te tapi ia teringat akan pesan ayahnya dan iapun menarik lengannya yang te rpegang.
"Aku tidak bicara denganmu,"
Katanya ketus dan iapun menjauhkan diri beberapa langkah. Si muka kuda menyeringai.
"Aih, galaknya, akan te tapi bertambah manis. Jangan marah, anak manis."
Kini tangan itu bergerak mengusap ke arah dagu dan pipi Kui Eng.
Tentu saja Kui Eng marah sekali, akan tetapi ia masih menahan sabar.
Ia miringkan kepalanya sehingga hanya dagunya saja tersentuh dan ia melangkah mundur lagi.
"Jangan sentuh aku.!"
Katanya, masih menahan sabar. Si muka kuda itu mengira bahwa Kui Eng ketakutan, maka iapun menjulurkan kedua tangannya lagi.
"Jangan takut, sayang, aku tidak akan menyakitimu. Marilah ikut dengan kami."
Dan tiba-tiba saja si muka kuda itu sudah menangkap le ngan kiri Kui Eng.
Anak yang tidak menyangka-nyangka ini, dan pula tidak ingin menggunakan kekerasan, tiba-tiba sudah ditarik dan berada dalam pondongan si muka kuda.!
Kui Eng memiliki dasar watak yang keras, galak dan tak mengenal takut.
Kalau sejak tadi ia hanya bersabar saja hal itu adalah karena ia mengingat pesan ayahnya.
Akan tetapi, kesabarannya te rbatas sekali.
Begitu merasa dirinya dipondong dan pemondongnya menggerakkan kaki hendak lari, ia menjadi marah bukan main!
"Heii, jangan larikan adikku!"
Thian Ki berte riak, akan te tapi diapun ragu untuk turun tangan, mengingat pesan ayahnya.
"Jahanam kau.! Anjing kau.!"
Kui Eng memaki dan tangan kirinya menjambak rambut si muka kuda, tangan kanannya menampar.
"Plakk! Aduuuhh........!"
Si muka kuda merasa kepalanya seperti dihantam palu godam sehingga pondongannya te rlepas.
Kui Eng sudah meloncat turun.
Si Muka kuda marah bukan main.
Pipi kirinya bengkak oleh tamparan tadi dan dia kini menghampiri Kui Eng dengan mata berapi.
Juga kawannya yang tinggi besar bermuka bopeng menghampiri dari lain jurusan.
"Bocah setan binal!"
Si muka kuda menubruk.
Akan te tapi sekarang Kui Eng sudah naik pitam.
De ngan gesit ia mengelak, menggeser tubuh ke kiri dan begitu si muka kuda menerkam luput, kakinya menendang dua kali beruntun dengan cepat sekali dan tubuh si muka kuda te rlempar ke dalam air kolam!
"Byuuuuuurr....!"
Si tinggi besar terbelalak, lalu menerkam dengan marah.
Kui Eng mengelak lagi.
Akan tetapi si tinggi besar ini rupanya menyadari bahwa anak perempuan remaja itu bukan anak biasa, melainkan memiliki gerakan silat yang cepat, iapun membalik dan kakinya yang besar dan panjang itu mencuat, melakukan te ndangan.
Sungguh keji sekali, seorang laki-laki tinggi besar seperti itu menendang seorang anak perempuan berusia sebelas tahun.
Kalau tendangan itu mengenai sasaran, tentu tubuh Kui Eng akan terlempar jauh dan mungkin akan te was seketika.
Namun, sejak kecil Kui Eng te lah menerima gemblengan seorang sakti seperti ayahnya sendiri, juga ia dilatih oleh ibunya yang lihai pula.
Tendangan yang amat kuat dan cepat itu dengan mudah dapat ia elakkan, kemudian ia membalik dan kakinya menendang belakang lutut kanan lawan.
"Plakk?"
Dan tanpa dapat dicegah lagi, si tinggi besar yang belakang lututnya dite ndang itu te rpaksa jatuh berlutut dengan kaki kanannya.
Pada saat itu, kaki kanan Kui Eng menggantikan kaki kiri, menyambar dan te pat mengenai pelipis kiri si tinggi besar bermuka bopeng.
"Plaak........!"
Si tinggi besar mengeluh dan tubuhnya te rpelanting.
Kui Eng tidak berhenti sampai di situ saja.
Ia mengejar dan kembali kakinya menendang, dua kali te ndangan dan tubuh si tinggi besar juga terlempar ke dalam kolam menyusul te mannya!
Pada saat itu, Cian Bu dan Sim Lan Ci sudah tiba pula di situ, demikian pula mereka yang sedang berada di dalam taman, datang berlari-larian ketika mendengar ada perkelahian di dekat kolam ikan.
Cian Bu sudah menangkap tangan pute rinya dan ditariknya dari situ, diajak pergi diikuti oleh Sim Lan Ci dan Thian Ki.
Mereka berempat tidak berkata sesuatu, dan semua orang yang tiba di tepi kolam, memandang ke arah dua orang yang masih berada di dalam kolam itu.
Kemudian orang jadi geger ketika dua orang itu tidak keluar dari dalam kolam dan ketika diperiksa, te rnyata mereka telah te was.!
Ada luka sebesar kuku ibu jari tangan di dahi mereka dan darah mengucur dari luka itu.
Agaknya mereka tewas seketika!
Tidak ada seorangpun di antara mereka tahu apa yang te lah terjadi.
Yang tadi berada di dekat situ hanya melihat betapa dua orang yang tewas di kolam itu tadi menyerang seorang anak perempuan yang kini telah le nyap entah ke mana.
Mereka yang tadi kebetulan dekat melihat betapa anak perempuan itu hanya mengelak ke sana sini kemudian menendang-nendang dan dua orang itu te rlempar ke dalam kolam.
Akan tetapi, mustahil kalau te ndangan anak perempuan itu dapat menimbulkan luka di dahi yang menewaskan kedua orang yang nampaknya kuat dan jagoan itu.
Cian Bu dan keluarganya tiba kembali di rumah penginapan dan mereka berempat berkumpul di kamar yang dite mpati Sim Lan Ci dan Kui Eng.
Setelah tiba di dalam kamar itu, barulah mereka saling pandang dan Thian Ki yang sejak tadi menahan-nahan perasaannya, segera berkata kepada ayahnya sambil menatap tajam wajah orang tua itu.
"Ayah, kenapa ayah membunuh mereka?"
Mendengar ini, Kui Eng te rkejut dan anak perempuan itupun memutar tubuh memandang ayahnya.
"Benarkah ayah te lah membunuh mereka? Bagus! Mereka memang layak dibunuh. Mereka dua orang yang jahat sekali.!"
Wajah anak perempuan itu kelihatan girang bukan main.
"Kui Eng, jangan sekejam itu.! Thian Ki menegur adiknya.
"Mereka itu memang jahat karena hendak mengganggumu, akan te tapi kalau kita bunuh mereka bukankah itu lebih jahat lagi namanya?"
"Thian Ki, engkau melihatnya?"
Cian Bu bertanya dan pandang matanya kagum.
Tak disangkanya sama sekali bahwa anak itu akan melihat perbuatannya tadi, padahal dia hampir yakin bahwa yang tahu hanyalah dia dan isterinya saja.
Tempat itu gelap dan gerakannya amat cepat, juga benda yang dipergunakan untuk membunuh itu terlalu kecil untuk dapat dilihat orang ketika meluncur cepat ke arah dua orang di kolam itu.
Akan te tapi Thian Ki mengetahuinya!
Ini saja membuktikan bahwa anaknya yang juga muridnya ini memang berbakat sekali dan telah memiliki ketajaman pandang mata yang melebihi ahli silat biasa.
Bahkan Kui Eng saja yang tingkat kepandaiannya tidak berbeda jauh dibandingkan Thian Ki, tidak dapat melihatnya.
"Aku hanya melihat berkelebatnya dua sinar hitam kecil ke arah mereka, dan melihat mereka te was, akan tetapi aku tidak tahu siapa yang membunuh mereka dengan sambitan itu, tidak tahu pula benda apa yang membunuh mereka. Akan tetapi setelah aku melihat baju ayah, tahulah aku bahwa ayah yang te lah membunuh mereka. Ada dua buah kancing baju ayah yang hilang."
Cian Bu menunduk dan melihat kancing bajunya, demikian pula isterinya dan Kui Eng.
"Aih, kiranya ayah membunuh mereka dengan dua buah kancing baju ayah? He mm, sayang kancingnya, ayah. Penjahat seperti mereka lebih pantas dibunuh memakai batu saja!"
Kata Kui Eng.
"Akan tetapi, demikian besarkah dosa mereka sehingga mereka itu harus dibunuh?"
Thian Ki bertanya lagi, penuh rasa penasaran.
Selama tujuh tahun ini, dia tahu benar bahwa ayahnya adalah seorang gagah perkasa dan tidak pernah membunuh orang lain.
Akan te tapi kenapa sekarang begitu ringan tangan membunuh dua orang yang walaupun bersalah, namun kesalahannya belum cukup hebat untuk dihukum mati?
"Thian Ki, masihkah engkau belum mengerti.
Ayahmu te rpaksa membunuh mereka agar mereka tidak akan menyiarkan berita te ntang keluarga kita,"
Kata Sim Lan Ci.
"Tapi......tapi mengapa....."
"Thian Ki, engkau tadi melihat sendiri betapa adikmu te lah mengalahkan dua orang itu melempar mereka ke kolam. Hal ini merupakan peristiwa luar biasa bagi mereka dan mereka tentu akan menyiarkan berita tentang Kui Eng kepada mum dan hal ini tentu akan menarik perhatian orang. Orang-orang akan te rtarik dan ingin tahu siapa anak perempuan yang mampu mengalahkan dua orang jagoan itu dan siapa pula orang tuanya, gurunya. Dan kalau sudah begitu, perjalanan kita tidak akan menyenangkan lagi, bahkan penuh bahaya dan kehidupan kita tidak dapat tenang lagi."
"Ah, lagi-lagi akulah yang bersalah!"
Kui Eng berkata dengan alis berkerut.
"Kalau saja aku tidak melempar mereka ke dalam kolam! Ayah sudah memesan agar aku bersabar dan mengalah, akan tetapi bagaimana aku dapat mengalah kalau mereka hendak menculikku?"
Sim Lan Ci merangkul pute rinya "Engkau tidak bersalah, Kui Eng.
Perlawananmu tadi memang sudah tepat.
Kesabaran te ntu ada batasnya.
Memang agaknya sudah seharusnya begini.
Thian Ki, ayahmu membunuh mereka bukan karena perbuatan mereka tadi, melainkan untuk menyelamatkan keluarga kita dari ancaman bahaya.
Kuharap engkau dapat mengerti."
Thian Ki menundukkan mukanya.
"Aku mengerti, ibu. Ayah, maafkan aku."
Akan te tapi di dalam hatinya, te tap saja anak ini merasa penas aran dan tidak senang karena dianggapnya perbuatan ayahnya itu te rlalu kejam, mudah saja membunuh orang walaupun dengan dalih demi keselamatan keluarga mereka.
Bahaya itu kan belum datang mengancam?
Ayahnya amat tidak menghargai nyawa ocang lain!
Betapapun juga, te pat seperti dikatakan Cian Bu.
Setelah dua orang itu tewas tanpa ada orang lain mengetahui sebabnya, perjalanan mereka tidak mendapat gangguan lagi.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Cian Bu dan keluarganya sudah meninggalkan kota Wuhan, melanjutkan perjalanan menuju ke dusun Mo-kim-cung yang merupakan sebuah dusun kecil di kaki Bukit Ular.
Sim Lan Ci segera mengajak keluarganya menuju ke rumahnya yang tujuh tahun yang lalu ia tinggalkan dalam pengawasan seorang pembantu wanita yang sudah lama bekerja pada mereka.
Tentu saja ia juga memesan kepada ibunya, yaitu Lo Nikouw di kuil Thian-ho-tang di luar dusun agar mengamat-amati rumahnya selama ia dan suaminya pergi.
Ketika pada senja hari itu mereka tiba depan rumah Lan Ci, mereka melihat sebuah rumah yang kotor tidak te rawat, jendela dan daun pintunya te rtutup rapat-rapat, bahkan gelangan daun pintu dirantai dari luar, tanda bahwa rumah itu kosong.
Lan Ci te rmangu-mangu melihat betapa pekarangan yang dahulu dirawatnya baik-baik dan penuh bunga itu kini menjadi kotor dan buruk.
Juga rumah itu kotor dan banyak genteng yang pecah dan te mboknya sudah penuh jamur kehijauan.
Seperti rumah hantu!.
Thian Ki juga berdiri te rmangu di depan rumah itu.
Terbayanglah dalam ingatannya ketika tujuh tahun yang lalu dia hidup di tempat ini.
Masih te ringat semua keadaan di luar dan di dalam rumah.
Betapa senangnya dia dahulu memanjat pohon di samping rumah itu atau berlari-larian dan bermain dengan teman-teman sedusun.
Dia pernah jatuh di sebelah kanan rumah itu, di selokan kecil yang dibuat ayahnya untuk mengalirkan air ke taman bunga.
Dan sekarang, keadaan di pekarangan dan taman itu amat menyedihkan.
Juga rumah itu nampak demikian tua dan kotor.
Semua ini membuat dia teringat kepada ayahnya.
Ayahnya demikian le mbut dan baik dan tak te rasa ke dua mata Thian Ki menjadi basah.
Sim Lan Ci sudah menghampiri rumah tetangga te rdekat.
Suami isteri petani tua itu menyambutnya di depan pintu dan mereka segera mengenal Sim Lan Ci yang bersama suaminya memang amat dikenal di dusun itu sebagai orang-orang yang suka menolong.
Dari tetangganya ini Lan Ci mendengar betapa pembantu yang diserahi tugas menjaga rumah telah pulang ke dusunnya sendiri karena te rlalu lama majikannya tidak pulang.
Rumah beserta isinya oleh pelayan itu diserahkan kepada Lo Nikouw yang menutup rumah itu.
"Apakah Lo Nikouw masih tinggal di kuil Thian-ho-tang?"
Tanya Lan Ci dengan hati terharu.
Suami isteri itu mengangguk.
Sim Lan Ci lalu mengucapkan te rima kasih dan bersama keluarganya ia lalu pergi ke luar dusun, ke kuil Thian-ho-tang itu.
Senja telah lewat dan cuaca sudah remang ketika mereka tiba di luar kuil Thian-ho-tang.
Kuil ini kecil saja, berdiri terpencil di te mpat yang sunyi.
Akan tetapi dari luar nampak bahwa kuil itu sudah dipasangi lampu-lampu dan bahkan meja sembahyang di ruangan depan juga dipasangi lilin.
Namun suasana di kuil itu nampak sunyi sekali seolah tidak ada penghuninya.
Agaknya ibu masih juga tinggal menyendiri di kuil ini, pikir Sim Lan Ci dan iapun berjalan paling depan ketika mereka memasuki kuil.
"Berhenti!"
Tiba-tiba terdengar suara lembut dari dalam kuil.
Suara itu le mbut namun berwibawa dan Lan Ci menahan langkahnya, diikuti oleh suaminya dan dua orang anak mereka.
Mereka berhenti di ruangan depan, di depan meja sembahyang.
"Siapakah tamu yang memasuki kuil ini? Beritahukan dulu nama kalian dan apa perlunya datang berkunjung."
Suara itu kembali te rdengar lembut berwibawa dan biarpun singkat, tidak terdengar galak.
"I bu, aku Lan Ci, anakmu datang berkunjung,"
Kata Sim Lan Ci dan betapapun keras hati wanita ini, tetap saja ia terharu dan suaranya agak gemetar. Hening sejenak di dalam kuil. Kemudian suara itu terdengar lagi, masih lembut berwibawa.
"Omitohud......semoga hamba dibebaskan daripada keterikatan! Pin-ni (aku) tidak mempunyai anak. Anak tunggal pin-ni sudah bertahun-tahun meninggalkan pin-ni tanpa kabar, pin-ni menganggap ia sudah mati......."
"Nenek...........!"
Thian Ki berseru.
"Omitohud......kau......kau........Thian Ki cucuku!?"
Dari dalam muncullah seorang nenek.
Ia sudah tua, sedikitnya tujuhpuluh lima tahun usianya, dan mukanya sudah te rhias keriput, terutama di kanan kiri kedua matanya dan di s ekitar mulutnya.
Akan te tapi tubuhnya masih te gak dan gesit, sinar matanya masih tajam, pakaiannya bersih dan tangan kanannya memegang sebuah kebutan, tangan kiri memegang seuntai tas beh.
Sepasang mata itu ditujukan ke arah Thian Ki, lalu ia menyelipkan kebutan di pinggang, mengantungi tas behnya dan mengembangkan kedua lengannya.
"Thian Ki cucuku............!"
"Nenek..........!"
Thian Ki lari menghampiri dan nenek itu merangkulnya.
Biarpun usianya baru duabelas tahun, tubuh Thian Ki sudah hampir sama dengan neneknya.
Dan Nikouw yang kepalanya gundul licin itu menangis, lalu berulang-ulang menyebut nama Sang Buddha.
"Cucuku.......ah. Thian Ki, betapa rinduku kepadamu. Omitohud....... semoga diampuni kelemahanku ini....."
Kemudian ia te ringat dan mengangkat muka, memandang kepada Sim Lan Ci yang berdiri tak jauh di depannya.
Sejenak pandang mata nenek itu mengamati Lan Ci, kemudian te rdengar suaranya yang lembut namun kering dan tegas.
"Betapa kejamnya engkau! Engkau memisahkan Thian Ki dari pin-ni., pergi tanpa memberi kabar lama sekali sampai bertahun-tahun. Engkau menyiksa hati pin-ni. Begitukah cara seorang anak membalas budi orang tua.!"
"I bu, ibu tidak tahu apa yang te lah terjadi menimpa diri kami. Ibu sendiri amat te ga, membuat Thian Ki menjadi seorang tok-tong. Ibu telah merusak hidupnya, dan ibu masih dapat mencela aku kejam.?"
"Omitohud.....siapa bilang aku kejam? Pin-ni menggemble ngnya menjadi tok-tong agar kelak tidak ada orang yang berani mengganggunya, agar dia dapat menjadi orang gagah yang tak te rkalahkan kelak, agar dia merajai di dunia persilatan dan mengangkat nama besar orang-orang yang menurunkannya. Neneknya pernah menjadi Ban-tok Mo-li, sudah sepantasnya kalau dia menjadi tok-tong."
"Tapi, ibu. Biar pun tidak disengaja, dalam usianya yang baru lima enam tahun dia sudah membunuh banyak orang dengan racun yang berada di tubuhnya!"
Te riak Lan Ci yang kini menjadi marah karena teringat akan keadaan pute ranya.
"Lihat, dia sampai tidak berani sembarangan menyentuh orang lain, takut kalau sampai membunuhnya. Bukankah ini berarti ibu menyiksanya!?"
"Omitohud, semua itu salahmu sendiri, Lan Ci. Kenapa engkau memisahkannya dari pin-ni. Pin-ni belum selesai dengan cucuku ini. Akan pin-ni bimbing dia dan latih dia sehingga racun di tubuhnya hanya akan menjadi senjata kalau diperlukan."
"Bagus sekali kalau begitu. Sudah kukatakan bahwa hanya yang membuat dia menjadi tok-tong sajalah yang akan mampu membimbing dia menguasai dirinya."
Kata Cian Bu dengan girang mendengar ucapan nenek itu. Lo Nikouw mengangkat muka memandang kepada Cian Bu. Sepasang matanya mencorong ketika ia mengamati pria itu penuh selidik, lalu ia bertanya.
"Siapa orang ini?"
Thian Ki yang menjawab cepat.
"Nenek, dia adalah guruku, juga a yahku!."
Kini pandang mata nenek itu terbelalak dan ketika ia menoleh ke arah puterinya yang tadi merasa canggung untuk menjawab.
"Ayahmu......? Apa artinya ini?"
Kini Lan Ci sudah dapat menenangkan hatinya dan iapun menghampiri ibunya dan berkata dengan suara tenang.
"Ibu, dengarlah baik-baik. Ketika kami pergi ke Ta-bun-cung tujuh tahun yang lalu dan berada di markas Hek-houw-pang, di sana terjadi penyerbuan.........musuh-musuh Hek-houw-pang. Tentu saja kami membela dan dalam perte mpuran itu, Coa Siang Lee tewas, di samping ketua He k houw-pang dan banyak tokohnya. Pihak musuh amat kuatnya. Aku sendiri bersama Thian Ki te rtawan musuh dan tentu kami berdua akan celaka atau setidaknya akan menderita kesengsaraan kalau saja kami tidak ditolong oleh...........dia yang kemudian menjadi suamiku! Dia sendiri......seluruh keluarganya, is terinya, semua juga tewas di tangan pasukan pemerintah, dia sendirian, dan aku........kemudian kami menikah."
Lo Nikouw mengerutkan alisnya.
Yang membuat ia tidak suka bukan karena pute rinya menikah dengan laki-laki tinggi besar bermuka merah ini.
Baginya, tidak perduli ia siapa yang menjadi suami Lan Ci.
Akan tetapi ia tidak senang mendengar bahwa Thian Ki menjadi murid pria ini!
"Tidak perduli dia menjadi suamimu, akan tetapi bagaimana dia berani lancang menjadi guru Thian Ki?
Harus pin-ni lihat dulu apakah pantas dia menjadi guru cucuku!"
Berkata demikian nenek itu melepaskan Thian Ki dan sekali kakinya bergerak, seperti memakai sepatu roda saja dengan ringan ia telah bergeser ke depan Cian Bu dan tangannya sudah mencabut kebutannya.
"Sambutlah ini.!"
Tangannya bergerak, te rdengar suaara angin menyambar bersiut dan nampak sinar putih bergulung-gulung ketika kebutan berbulu putih itu menyambar ke arah tubuh Cian Bu dan ujungnya telah mematuk-matuk, merupakan totokan totokan yang amat cepat dan kuat sehingga berbahaya sekali bagi yang diserang.
Sim Lan Ci te rkejut bukan main, akan te tapi ia percaya sepenuhnya kepada suaminya.
Dia tahu bahwa tingkat kepandaian suaminya tidak kalah dibandingkan ibunya, dan ia sudah menceritakan kepada suaminya tentang keadaan ibunya, tentang ilmu-ilmu yang mengandung racun berbahaya sehingga suaminya tentu akan berhati-hati dan mampu menjaga diri.
Dan ia percaya pula bahwa suaminya te ntu tidak akan mencelakai ibunya.
Sementara itu, Thian Ki dan Kui Eng hanya menonton.
Akan tetapi, kalau Thian Ki hanya bingung melihat ayahnya dan neneknya bertanding, Kui Eng berdiri dengan muka berubah pucat dan bukan dua orang yang bertanding itu yang dipandang, melainkan pandang matanya bergantian menatap wajah Sim Lan Ci dan Thian Ki.
Ketika ibu kandungnya te was di tangan pasukan yang mengeroyok, ia masih te rlalu kecil untuk mengingatnya.
Yang diingatnya adalah bahwa ibunya adalah Sim Lan Ci, ayahnya adalah Cian Bu dan Thian Ki adalah kakaknya.
Itu saja.
Akan te tapi percakapan tadi membuat ia pusing tujuh keliling!
Agaknya ayahnya berte mu dengan ibunya setelah ibunya menjadi janda dan telah mempunyai anak, yaitu Thian Ki.
Dan se perti yang didengarnya tadi, ayahnya juga kematian isterinya.
Lalu ia sendiri siapa?
Anak siapa?
Ia anak bawaan ibunya ataukah bawaan ayahnya?
Membayangkan bahwa ia hanya anak tiri dari satu di antara kedua orang itu, ingin ia menjerit-jerit dan wajahnya menjadi pucat.
Sambaran kebutan ke arah jalan darah di tubuh Cian Bu dapat dielakkan dengan loncatan belakang.
Akan te tapi agaknya nenek itu masih belum puas, ia meloncat ke depan, menyerang lagi dan kini le bih hebat serangannya.
Suara kebutannya sampai mencicit mengerikan ketika bulu-bulu kebutan itu meluncur dengan cepat sekali.
Cian Bu maklum bahwa nenek itu hanya menguji.
Akan tetapi ujian yang dilakukan seorang bekas datuk sesat seperti Ban-tok Mo-li ini bukan sembarangan ujian.
Kalau dia tidak hati-hati, bisa saja ujian itu berakhir dengan kematiannya.
Dia dapat menduga pula bahwa ujung bulu-bulu kebutan itu tentulah mengandung racun.
Maka, untuk mengakhiri ujian itu, dia harus memperlihatkan kepandaiannya.
Diam diam dia mengerahkan sin-kang dan membuat te lapak tangannya panas seperti api membara dan ketika kebutan menyambar le wat karena dia mengelak, dia cepat menangkap ujung kebutan itu dengan tangan.
"Plakk!"
Ujung kebutan dapat ditangkap.
Lo Nikouw menarik kebutannya dan Cian Bu mempertahankan.
Sejenak tarik-menarik.
Lo Nikouw te rsenyum karena mengira bahwa lawannya te ntu akan keracunan ketika telapak tangannya mencengkeram dan menggenggam bulu-bulu kebutannya.
Akan te tapi ia te rbelalak karena ujung kebutan itu mengeluarkan asap dan iapun hampir te rjengkang karena bulu kebutannya tiba-tiba putus dan ujungnya hangus seperti terbakar dalam genggaman tangan lawan.
Cian bu membersihkan telapak tangannya yang penuh abu hitam, lalu mengangkat kedua tangan di depan dada.
"Ilmu kepandaian lo-cian-pwe Ban-tok Mo-li memang hebat sekali. Saya mengaku kalah."
Kalau Cian Bu bersikap hormat dan mengalah, hal ini semata-mata karena cintanya kepada Lan Ci, karena dia berhadapan dengan ibu kandung isterinya te rcinta itu.
Andaikata tidak demikian, te ntu dia akan bersikap bahkan bertindak lain.
Dahulu dia merupakan seorang pangeran yang angkuh dan tinggi hati!
Wajah Lo Nikouw berubah kemerahan, akan tapi hatinya mulai suka melihat pria yang lihai itu merendahkan diri dan bersikap hormat kepadanya.
Ini merupakan seorang mantu yang hebat, pikirnya, dan sungguh tidak mengecewakan mempunyai seorang mantu yang tingkat kepandaiannya tidak kalah olehnya.!
Jauh lebih hebat dari pada Coa Siang Lee yang dipandangnya rendah.
"Omitohud.......siapakah engkau sebenarnya?"
Sim Lan Ci yang merasa girang melihat suaminya mampu membuat ibunya tunduk, mendahului suaminya dengan suara bangga.
"I bu, namanya Cian Bu, dahulu dia bernama Pangeran Cian Bu Ong!"
Nenek itu membelalakkan matanya.
"Omitohud,.........kiranya Pangeran Cian Bu Ong yang te rkenal itu! Ah, pin-ni sudah sejak dahulu mendengar nama besar pangeran!"
Cian Bu membungkuk.
"Harap ibu jangan terlalu memuji. Sekarang saya bukan pangeran lagi, melainkan orang biasa yang bernama Cian Bu."
Mendengar bekas pangeran itu menyebutnya ibu tanpa ragu-ragu lagi, hati nenek ini menjadi semakin senang dan bangga.
Seorang pangeran, biarpun hanya bekas, menyebutnya ibu!
"Hemm, kiranya suamimu se orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, Lan Ci,"
Katanya dan suaranya te rhadap pute rinya kini lembut ramah.
"Baik sekali kalau Thian Ki menjadi muridnya. Akan tetapi sudah ada dia sebagai gurunya kenapa kalian bawa lagi Thian Ki kepada pin-ni?"
"I bu, kami amat khawatir terhadap keadaan Thian Ki. Kalau dia mengerahkan sedikit saja te naga, maka tubuhnya mengandung racun yang mematikan. Kalau hal ini dibiarkan, bisa suatu saat tanpa disengaja dia akan membunuh aku, adiknya atau siapa saja,"
Kata Lan Ci.
"Kami tidak tahu bagaimana harus mengajarnya agar dia dapat menguasai dan mengendalikan hawa beracun itu, apa lagi melenyapkannya. Saya sendiri tidak berani coba-coba, takut kalau-kalau keliru bahkan membahayakan nyawanya sendiri.! Oleh karena itu, tidak ada lain jalan bagi kami kecuali membawanya ke sini,"
Kata Cian Bu.
Nenek itu tersenyum le bar."Omitohud, akhirnya cucuku dikembalikan juga kepada pin-ni.
Baik, pin-ni akan membimbingnya agar dia dapat menguasai dirinya, dapat mengendalikan hawa beracun itu, dengan syarat bahwa dia harus ditinggalkan sendiri di sini bersama pin-ni untuk waktu satu sampai dua tahun!
Tinggalkan dia di sini, setelah selesai pelajarannya, kelak pin-ni akan mengantarkan dia pulang ke rumah kalian."
Suami isteri itu s aling pandang, kemudian Cian Bu bertanya kepada Thian Ki.
"Thian Ki, bagaimana pendapatmu? Maukah engkau kami tinggalkan di sini seperti yang dikehendaki nenekmu?"
Thian Ki mengangguk.
"Tentu saja aku mau, ayah. Aku ingin te rbebas dari siksaan ini."
"Nenek, akupun ingin dijadikan tok-li (perempuan beracun)! Jadikan aku anak beracun seperti toako!"
Tiba-tiba Kui Eng berlari mendekati nenek itu dan memegang tangannya. Lo Nikouw memandang anak perempuan itu.
"Hemm, inikah anakmu dengan suamimu yang sekarang, Lan Ci?"
Lalu ia mengerutkan alisnya.
"Tapi, kalian baru menikah tujuh tahun dan anak ini sedikitnya berusia sepuluh tahun."
"Nek, usiaku sudah sebelas tahun. Aku pasti bukan ana k mereka, entah anak siapa aku ini,"
Kata Kui Eng dan tiba-tiba saja ia menangis seperti air yang membanjir karena tanggulnya bobol.
"Kui Eng. jangan bicara tidak karuan.!"
Bentak Cian Bu.
"Engkau masih kecil ketika ibu kandungmu te rbunuh, dan sejak itu engkau menjadi anak ibumu yang sekarang. Apakah ibumu ini kurang menyayangmu?"
Kui Eng menoleh ke arah ibunya dan melihat betapa Sim Lan Ci memandangnya dengan sinar mata sedih, iapun lari menghampiri dan merangkul ibunya.
Ibu dan anak itu saling berangkulan karena terasa benar dalam hati mereka betapa mereka sejak dahulu saling mencinta.
"Omitohud......, dua orang dengan anak masing masing telah menjadi satu keluarga yang rukun dan saling menyayang. Pin-ni ikut merasa girang. Dan seperti yang pin-ni katakan tadi tinggalkan Thian Ki di sini dan kalau sudah selesai pelajarannya, pin-ni akan antarkan dia pulang."
"Aku ikut kakak Thian Ki!"
Kui Eng merengek kepada ibunya.
"Tidak, Kui Eng. Kalau engkau tinggal pula di sini, lalu bagaimana ayah dan ibumu.? Tentu akan amat kesepian di rumah."
"Aku ingin ikut toako!"
Anak perempuan itu membantah.
"Kui Eng, engkau bukan anak kecil lagi! Engkau telah menjadi seorang gadis cilik dan pelajaranmu belum selesai. Masih banyak yang harus kaupelajari dariku. Pula, tidak baik seorang gadis hidup menyendiri jauh orang tua,"
Kata ayahnya.
"Ayah, aku tidak menyendiri, akan tetapi bersama kakakku! Apa salahnya?"
"Hemm, engkau sudah hampir dewasa, tentu engkau tahu bahwa biarpun kalian saling menyayang sebagai kakak dan adik, akan tetapi tidak ada hubungan darah di antara kalian. Bagamana akan kata orang kalau tahu akan hal itu? Engkau harus pulang bersama kami. Kakakmu tinggal di sini untuk mempelajari ilmu mengendalikan racun, berarti sama dengan berobat agar dia dapat hidup normal."
Diingatkan demikian, Kui Eng memandang pada Thian Ki dan sekarang pandangannya berubah.!
Thian Ki bukan kakaknya!
Bahkan kakak tiripun bukan, berlainan ayah berlainan ibu.
Orang lain!
"Eng-moi (adik Eng), kau pulanglah bersama ayah dan ibu.
Kelak akupun akan pulang setelah latihanku di sini selesai,"
Kata Thian Ki membantu ayah ibunya membujuk. Kui Eng cemberut dan tidak menangis lagi. Ia membanting kakinya ketika bangkit berdiri.
"Baiklah, baiklah! Engkau tidak senang kalau aku ikut denganmu, ya? Aku memang bukan adikmu, bukan apa-apa........."
"Kui Eng, bagaimanapun ju ga, Thian Ki adalah suhengmu!"
Ayahnya memperingatkan.
Setelah dibujuk-bujuk dan dihibur-hibur barulah Kui Eng mengalah.
Keluarga itu tinggal di kuil Thian-ho-tang selama tiga hari dan kesempatan itu dipergunakan oleh Lan Ci untuk menjual rumah dan tanahnya, mengangkut prabot rumah yang dikehendaki ibunya ke kuil itu.
Ketika suami isteri itu dan Kui Eng hendak pergi meninggalkan kuil dan pulang, Lan Ci dan Cian Bu meninggalkan uang yang cukup untuk keperluan Lo Nikouw dan Thian Ki yang akan tinggal di situ selama kurang le bih dua tahun.
Kemudian mereka bertiga berangkat pergi, diantar oleh Lo Nikouw dan Thian Ki sampai di kaki bukit.
-ooo0dw0ooo-Dari pute rinya, Lo Nikouw sudah mendengar semua tentang pengalaman pute rinya dan cucunya semenjak meninggalkan dusun Mo-kin-cung.
Ia juga sudah mendengar betapa cucunya membunuh beberapa orang tanpa disengaja, karena racun di tubuhnya bekerja ketika orang-orang itu menyerangnya.
Setelah tiba di rumah, ia memeriksa tubuh cucunya, bukan saja memeriksa jalan darah, menggigit sedikit rambut kepalanya, juga mengeluarkan sedikit darah dengan tusukan jarum.
Setelah memeriksa, ia mengangguk-angguk.
"Bagus, engkau telah benar-benar menjadi seorang tok-tong. Ayah ibumu memberi juluk Tok-liong (Naga Beracun), memang tepat sekali. Kalau engkau kelak memiliki kepandaian tinggi, engkau menjadi gagah perkasa seperti seekor naga, dan engkau menjadi semakin hebat karena naga itu beracun.! Akan te rkabul idaman hatiku, terkabul pula cita-cita ayahmu Cian Bu yang gagah perkasa itu, karena engkau akan menjadi seorang gagah yang tidak terkalahkan!"
"Akan tetapi aku tidak ingin membunuh orang, nek.! Lebih baik bersihkan saja tubuhku dari racun itu. Singkirkan semua hawa beracun karena aku tidak suka menjadi tok-tong, tidak suka jadi naga beracun."
Dia menatap wajah neneknya dan melanjutkan.
"Aku tidak suka menjadi seorang jahat, nek. Apakah nenek yang te lah menjadi pendeta ini menghendaki aku kelak menjadi seorang pembunuh yang jahat?"
"Omitohud......te ntu s aja tidak, Thian Ki. Dahulu di waktu muda, memang pin-ni seorang pembunuh yang tiada duanya lagi, heh-heh. Pin-ni dijuluki Ban-tok Mo-li dan tidak ada seorangpun tokoh kangouw yang tidak mengenal nama pin-ni! Akan tetapi, pin-ni juga sudah merasakan akibatnya. Perbuatan jahat, lambat atau cepat, pasti akan menghasilkan buahnya yang te ramat pahit. Pin-ni telah menyadari semua itu, pin-ni telah bertobat dan mohon ampun dari Yang Maha Pengampun. Kalau pin-ni sengaja membuat tubuhmu menjadi beracun, hal itu pin-ni lakukan bukan dengan maksud agar engkau menjadi jahat, melainkan agar engkau menjadi seorang pendekar yang tak te rkalahkan. Di dunia ini terdapat banyak sekali orang jahat yang pandai dan amat berbahaya, Thian Ki."
"Aih, nenekku yang baik. Hampir aku tidak percaya bahwa engkau dahulu adalah seorang datuk sesat yang berjuluk Ban-tok Mo-li! Jahat sekalikah engkau ketika muda, ne k?"
"Omitohud, semoga Tuhan mengampuniku. Bukan jahat lagi, cucuku. Lebih daripada yang jahat. Tidak ada kejahatan yang tidak pernah kulakukan! Thian Ki menghela napas panjang dan menggelengkan kepalanya. Tentu saja sukar baginya membayangkan neneknya yang kini demikian penuh kelembutan dan keramahan, pernah menjadi seorang iblis betina yang kejam. Bukankah ayah dan ibunya dahulu juga mendidiknya menjadi orang yang baik dan menjauhi kekerasan? Baru setelah ibunya menikah dengan ayah tirinya yang sekarang ini dia mengenal ilmu silat di bawah gemblengan ayah tirinya.
"Nek, kalau nenek dahulu menjadi tokoh sesat, kalau begitu.......tentu musuh nenek terdiri dari para pendekar dan tokoh persilatan yang baik? Begitukah?"
"Omitohud........tentu saja........ tentu saja begitu. Kalau pin-ni dulu jahat, tentu saja musuh-musuh pin-ni adalah tokoh tokoh yang baik. Itu sudah sewajarnya, bukan? Akan te tapi pin-ni dulu, tidak mengenal apa itu baik atau buruk. Pendeknya siapa saja yang tidak sependapat dengan pin-ni, te ntu menjadi musuh pin-ni tidak perduli dia itu pendekar budiman ataukah perampok jahat! Musuh pin-ni sudah tak te rhitung banyaknya. Terima kasih Tuhan bahwa pin-ni sekarang telah menjadi nikouw, sehingga tidak ada bekas musuh yang masih ingat dan mengenal pin-ni, sudahlah. Thian Ki. Pendeknya, engkau tidak boleh menjadi orang jahat. Engkau harus menjadi seorang pendekar yang tak te rkalahkan, menjadi jagoan nomor satu yang selain menjunjung tinggi nama keluarga, juga dengan perbuatan gagah dan benar akan dapat sedikitnya mengurangi kekotoran yang menempel pada nama nenekmu ini. N ah, sekarang engkau harus bekerja keras, berlatih untuk dapat menguasai hawa beracun yang berada di dalam tubuhmu."
"Akan tetapi, nek. Kalau mungkin, aku ingin sekali agar aku tidak lagi menjadi tok-tong, agar darahku tidak beracun, agar hawa beracun yang berada dalam tubuhku le nyap, karena aku tidak ingin orang lain menjadi korban karena racun yang berada dalam tubuhku."
Nenek itu menghela napas panjang dan menggelengkan kepala.
"Omitohud, dengan susah payah pin-ni membuat engkau menjadi tok-tong dengan maksud agar engkau menjadi jagoan nomor satu di dunia, menjadi seorang pendekar tak te rkalahkan, dan engkau minta agar engkau pulih kembali menjadi anak biasa? Tidak mungkin, Thian Ki, kecuali kalau ada sedikitnya sepuluh orang yang menyedot racun itu dari tubuhmu. Akan tetapi itu berarti bahwa engkau akan mengorbankan nyawa sepuluh orang."
"Aku tidak mau kalau begitu, nek! Lebih baik racun itu membunuhku dari pada harus membunuh sepuluh orang!"
"Akupun tidak menghendaki demikian, cucuku. Oleh karena itu, aku akan mengajarkan cara agar engkau menguasai racun itu di tubuhmu, sehingga engkau dapat membuat racun itu mengendap dan tidak membahayakan orang lain. Setelah engkau dapat menguasainya, racun itu baru bekerja setelah engkau mengerahkan tenagamu. Akan tetapi engkau tidak boleh menikah, Thian Ki, karena setiap kali engkau menikah, isterimu itu akan mati keracunan dan merupakan orang pertama yang akan menyedot racun dari tubuhmu."
"Nek, apakah tidak ada jalan lain untuk membebaskan aku dari racun ini?"
"Hanya dengan bantuan orang yang sakti, cucuku. Yang memiliki sin-kang yang sudah sempurna bahkan yang le bih kuat daripada ayah tirimu yang tangguh itu. Dan di dunia ini, orang seperti yang kumaksudkan itu jarang dapat dijumpai. Seingatku hanya ada dua orang saja yang mungkin sekali dapat membantumu. Mereka adalah Pek I Tojin, tosu pertapa dari Thaisan dan ke dua adalah Hek Bin Hwesio, hwesio perantau di pegunungan Himalaya. Akan te tapi, siapa yang dapat mencari dua orang sakti seperti itu? Mereka seperti dewa dan andaikata dapat jumpa sekalipun, belum te ntu mereka mau mencampuri urusan dunia."
"Wah, susah benar kalau begitu mencari mereka, nek. Akan tetapi kelak aku akan mencari mereka. Apakah mereka tidak mempunyai murid-murid yang sekiranya telah mewarisi ilmu-ilmu mereka, nek?"
"Setahuku, murid paling baik dan te rkenal dari Pek I Tojin adalah Huangho Sin-liong (Naga Sakti Sungai Kuning) Si Han Beng. sedangkan murid te rbaik dari He k Bin Hwesio adalah isteri pendekar itu, yang bernama Bu Giok Cu. Nama suami isteri ini terkenal sekali, terutama di sepanjang le mbah sungai Huang-ho. Dan mereka tinggal pula di te pi sungai Huang-ho, di sebuah dusun yang disebut Hong-cun. Akan tetapi, pin-ni tidak yakin apakah mereka berdua itu akan dapat menolongmu, atau akan mau melakukannya. Pin-ni kira hanya Pek I Tojin atau Hek Bin Hwesio saja yang akan mampu melakukannya."
Diam-diam Thian Ki mencatat nama orang-orang yang disebut oleh neneknya.
Mulai hari itu diapun berlatih dengan te kun di bawah bimbingan neneknya, berlatih untuk menguasai hawa beracun yang menguasai tubuhnya.
Setelah berlatih yang sebagian besar adalah latihan samadhi dan pernapasan, barulah Thian Ki mengerti mengapa neneknya minta dia tinggal satu dua tahun di situ.
Ternyata latihan menguasai hawa beracun itu tidaklah mudah.!
Dan salah sedikit saja akan membahayakan dirinya sendiri.
Racun di tubuhnya itu akan dapat mendatangkan akibat sampingan yang hebat, seperti rusaknya jantungnya atau bahkan rusaknya is i kepalanya.
Dia dapat menjadi gila, lemah atau bahkan tewas.
Hawa beracun yang berada di tubuhnya, bahkan yang sudah mengalir di darahnya, yang membuat rambut dan kukunya, bahkan ludahnya, mengandung racun yang dapat mematikan orang lain, bagaikan ular berbisa yang liar dan yang tidak dapat keluar dari tubuhnya.
Karena neneknya tidak mampu mengeluarkan racun itu, maka ular liar itu harus dapat ditundukkan dan dijinakkan, sehingga biarpun berada di dalam tubuhnya, namun dia dapat mengatur agar kalau tidak diperlukan, ular liar berupa racun itu dapat "tidur"
Di dalam pusarnya. Thian Ki yang ingin membuat dirinya tidak "berbahaya"
Seperti yang sudah, berlatih dengan te kun sekali, sehingga le wat satu setengah tahun dia sudah berhasil dan mampu menguasai hawa beracun di dalam tubuhnya.
Hawa beracun itu sudah jinak dan berdiam di pusarnya.
Dalam keadaan hawa itu tertidur, dia dapat melakukan apa saja tanpa mengusik hawa beracun itu, kecuali te ntu saja menggunakan sin-kang.
Kalau dia mengerahkan te naga dalam, maka otomatis hawa beracun tidur itu akan bangkit dan menerobos keluar melalui gerakannya yang mengandung te naga dalam, te ntu saja akibatnya akan membahayakan nyawa lawan.
Kalau dia mengerahkan tenaga sin-kang untuk menggugah hawa beracun itu, maka hawa beracun itu akan menyebar di seluruh tubuhnya dan jangankan pukulannya, baru rambut, kuku, dan ludahnya saja mengandung racun yang cukup untuk membunuh orang.
Sekali gores dengan kukunya saja, kalau kulit orang terluka dan berdarah, maka racun dari kukunya akan membunuh orang itu.
"Sudah cukup, cucuku,"
Nenek itu terkekeh gembira.
"Omitohud......betapa senangnya hatiku. Engkau memang berbakat sekali, Thian Ki. Belum dua tahun engkau telah mampu menguasai hawa beracun di tubuhmu. Engkau sekarang baru te pat berjuluk Tok-liong (Naga Beracun). Besok kuantar engkau pulang, aku ingin mengunjungi ibumu dan mantuku yang gagah perkasa."
Tentu saja Thian Ki juga girang mendengar ini. Dia sudah merasa rindu kepada ibunya, kepada ayah tirinya dan terutama kepada Cian Kui Eng.
"Aku juga senang sekali, nek dan te rima kasih atas bimbinganmu. Aku senang sekali bahwa kini aku tidak takut lagi bergaul dengan sumoi, dan tidak takut pula untuk melayaninya berlatih silat."
Nikouw tua itu mengangguk-angguk dan merangkap kedua tangan di depan dada, menarik napas panjang dan matanya dipejamkan, mukanya dite ngeadahkan.
"Omitohud, semoga Sang Buddha akan memberi bimbingan kepada cucuku sehingga kelak dia akan dapat mencuci bersih nama neneknya.Thian Ki, ingat! Jangan sekali-kali engkau mempergunakan hawa beracun di tubuhmu untuk perbuatan jahat! Biarpun tubuhmu beracun, namun hatimu haruslah bersih dari pada segala kejahatan."
"Aku mengerti, nek."
Nenek dan cucunya ini berkemas, siap untuk berangkat besok pagi-pagi meninggalkan Mo-kin-cung menuju ke te mpat tinggal Cian Bu Ong atau sekarang sekarang kita kenal dengan nama baru, yaitu Cian Bu yang tinggal sebagai hartawan, dermawan dan kepala dusun Ke -cung di kaki Bukit Emas.
Sore hari itu Thian Ki membantu neneknya membersihkan kuil.
Nenek itu ingin agar kuil itu bersih sebelum ditinggalkan, karena selama beberapa hari kuil itu akan ditinggalkan dan tidak ada yang akan membersihkannya.
Selagi mereka asyik membersihkan kuil, tiba-tiba mereka mendengar suara banyak orang di luar kuil.
"Omitohud, siapa yang berkunjung ke kuil sore-sore begini?"
Kata Lo Nikouw lirih.
Ia hampir tidak pernah kedatangan tamu kecuali orang-orang dusun yang datang untuk minta obat atau minta berkah atau mau sembahyang.
Akan tetapi, pada saat itu, terdengar teriakan dari luar yang amat mengejutkan hati Thian Ki.
"I blis betina, keluarlah untuk menerima hukuman.!"
De ngan mata terbelalak Thian Ki memandang kepada neneknya. Nikouw tua itupun terkejut, namun sikapnya te nang saja, bahkan bibirnya te rsenyum.
"Omitohud, agaknya serapat-rapatnya bungkusan barang busuk, akhirnya akan te rcium juga baunya. Thian Ki, engkau tinggallah saja di sini dan jangan keluar, biar pin-ni yang menghadapi mereka. Ingat, apapun yang te rjadi, engkau harus pulang ke rumah orang tuamu. Mengerti?"
De ngan jantung masih berdebar te gang Thian Ki mengangguk.
Nenek itupun melangkah keluar dan sikapnya sungguh te nang, senyumnya tak pernah meninggalkan wajahnya yang nampak jauh le bih muda daripada usia sebenarnya.
Nenek berusia enampuluh enam tahun itu nampak seperti berusia empat puluh tahun saja,dan kepalanya yang gundul itu nampak kulitnya putih bersih dan mengkilap.
Dahulu, ketika ia masih muda dan bernama Phang Bi Cu berjuluk Ban-tok Mo-li (Iblis Betina Selaksa Racun), selain tubuhnya beracun dan ia memiliki banyak macam pukulan beracun, juga ia selalu membawa kipas dan kebutan yang menyembunyikan pedang.
Akan te tapi sekarang, semenjak menjadi nikouw, ia tidak pernah lagi membawa senjata apapun.
De ngan jantung berdebar tegang, Thian Ki cepat menyelinap ke depan dan dia mengintai dari balik je ndela depan.
Dia melihat neneknya keluar dengan langkah tenang dan wajah berseri, dan dengan hati khawatir dia melihat bahwa di luar telah berdiri sepuluh orang laki-laki yang rata-rata nampak gagah dan marah.
Mereka te rdiri dari orang-orang yang usianya empatpuluh tahun ke atas, ada yang berpakaian seperti seorang tosu ada pula hwes io dan ada yang berpakaian seperti orang dari dunia persilatan.
Rata-rata mereka membawa senjata.
Ketika Lo Nikouw keluar dan berte mu dengan sepuluh orang itu, mereka nampak terkejut dan juga meragu.
Akan te tapi hwesio yang bermuka merah dan usianya kurang le bih limapuluh tahun, sudah melintangkan sebatang toya hitam di depan dada lalu memutar toya dan menancapkan toya di depan kakinya.
"Omitohud, biar engkau sudah menyamar sebagai nikouw sekalipun tidak ada gunanya. Ban-tok Mo-li. Kami akhirnya dapat menemukan te mpat persembunyianmu dan dapat menuntut balas atas kejahatanmu.!"
"Siancai.....! Ban-tok Mo-li sudah menumpuk dosa terlampau banyak. Biar menjadi nikouw sampai seribu kali, bagaimana mungkin dapat mencuci bersih dosa-dosanya?"
Kata tosu yang usianya juga sekitar limapuluh tahun.
Ada dua orang hwes io dan dua orang tosu di situ, mereka ini sudah siap menyerang dan sinar mata mereka memandang penuh kebencian kepada Lo Nikouw.
Adapun enam orang yang lain, yang berpakaian sebagai orang-orang kang-ouw, juga tidak kalah galaknya.
Mereka te rbagi menjadi dua golongan, masing-masing tiga orang.
Yang tiga orang berpakaian serba hijau, sedangkan tiga orang yang lain, yang mengenakan baju putih dengan celana bermacam warna, mempunyai gambar seekor naga melingkar di dada mereka.
"Ban-tok Mo-li, kami dari Pulau Hiu datang untuk mencabut nyawamu!"
Kata seorang dari mereka yang berpakaian hijau.
"Ban-tok Mo-li, le bih baik engkau menyerah kepada kami untuk kami seret ke hadapan majikan kami di Bukit Naga!"
Kata seorang di antara mereka yang memakai tanda gambar naga di dada.
Menghadapi sepuluh orang yang kelihatan marah dan penuh kebencian itu, Lo Nikouw te rsenyum ramah dan sikapnya masih tetap te nang.
Hal ini membuat Thian Ki yang mengintai dari dalam merasa heran.
Kalau neneknya bekas seorang datuk yang amat jahat, bagaimana mungkin dapat bersikap se sabar dan setenang itu?
Dia sendiri yang sejak kecil digembleng orang tuanya agar tidak suka akan kekerasan, kini hampir tidak dapat menahan kemarahannya melihat dan mendengar sikap sepuluh orang itu yang memaki-maki neneknya dan mengancam hendak membunuhnya.
"Omitohud, kalau kalian berenam haus darah, pin-ni masih dapat mengerti. Akan tetapi mengapa dua orang hwes io dan dua orang tosu juga dapat haus darah seperti kalian berempat?"
Tanyanya sambil memandang kepada empat orang pendeta itu.
"Ban-tok Mo-li, ketahuilah bahwa pin-to berdua adalah tokoh-tokoh dari Kun-lun-pai yang datang untuk membasmimu,"
Kata seorang tosu.
"Omitohud, biarpun kepalamu gundul dan engkau mengenakan jubah nikouw, tidak akan dapat mengelabui pin-ceng berdua. Pinceng adalah murid Siauw-lim-pai dari daerah selatan. Mendengar akan kejahatanmu, pin-ceng merasa berkewajiban untuk ikut membasmi."
Lo Nikouw tersenyum.
"Hemm, kalian berempat bukanlah pendeta-pendeta yang baik.! Kalian hanya budak-budak nafsu amarah dan dendam kebencian seperti yang lain, sehingga percuma saja kalian mengenakan jubah pendeta. Ketahuilah oleh kalian bersama bahwa Ban-tok Mo-li sudah tidak ada lagi, s udah mati. Pin-ni adalah Lo Nikouw."
"Ha-ha-ha. Ban-tok Mo-li, engkau seperti seekor harimau yang mengenakan bulu domba.! Kami sudah menyelidiki dan yakin bahwa engkau adalah Ban-tok Mo-li. Apakah engkau yang dahulu te rkenal jahat dan keji, sekarang te lah berubah menjadi seorang pengecut yang tidak berani mempertanggung-jawabkan semua perbuatannya?"
"Omitohud....."
Lo Nikouw merangkap kedua le ngan di depan dada, memejamkan kedua matanya.
"Ban-tok Mo-li Phang Bi Cu sudah lama mati. Pin-ni adalah Lo Nikouw dan kalau kematian pin-ni dapat meringankan dosa Ban tok Mo-li, pin-ni siap untuk berkorban,"
Setelah berkata demikian, Nikouw tua itu lalu duduk bersila di atas tanah pekarangan kuil itu dengan kedua tangan masih dirangkap di depan dada, tubuh te gak dan mata terpejam seperti sebuah arca.
Sepuluh orang itu kini mengepung dan mereka sudah mencabut senjata masing-masing.
Thian Ki yang mengintai di dalam, te rbelalak dan mukanya berubah pucat.
Apa yang harus dia lakukan?
Membela neneknya?
Bukankah neneknya te lah menceritakan bahwa neneknya dahulu seorang yang te ramat jahat, yang te lah membunuh banyak orang tak berdosa, yang te lah melakukan kejahatan apapun saja.
Dan kalau sepuluh orang itu datang membalas dendam atau menghukum kejahatannya, perlukah neneknya dibela?
Ibunya berulang kali mengatakan bahwa membela orang jahat sama saja dengan membela kejahatannya dan menjadi penjahat pula!
Dan tanpa menggunakan hawa beracun di tubuhnya, diapun belum tentu akan mampu melawan dan menandingi orang itu.
Menggunakan hawa beracun berarti membunuh mereka!
Tidak, dia tidak mau menjadi pembunuh, apalagi sepuluh orang yang memusuhi neneknya itu tentu saja orang-orang dari golongan bersih yang menentang neneknya sebagai sumber kejahatan.
Tidak, dia tidak boleh membela.
Akan tetapi, neneknya seorang sakti, tidak mungkin dapat dibunuh begitu saja!
Biarpun kelihatan duduk bersila dan memejamkan mata, dia tahu benar bahwa sekali neneknya bergerak, te ntu akan ada lawan yang roboh dan te was keracunan!
De mikianlah pula pendapat sepuluh orang itu.
Mereka adalah orang-orang kang-ouw yang sudah berpengalaman dan rata-rata memiliki ilmu kepandaian tinggi.
Di antara mereka ada yang pernah mengenal Ban-tok Mo-li dan tahu benar akan kelihaian iblis betina itu, dan yang belum pernah bertemu juga sudah banyak mendengar akan kelihaian Iblis Betina Selaksa Racun ini.
Maka, mereka tidak berani turun tangan dengan lancang.
"Hati-hati, kalau ia menyebar racun, kita dapat celaka semua."
Kata seorang di antara mereka.
Sampai lama, sepuluh orang itu hanya melangkah dengan hati-hati, mengelilingi Lo Nikouw yang masih duduk bersila tak bergerak sedikitpun.
Wajahnya masih cerah dihias senyum dan ia nampak sabar dan te nang, sedikitpun tidak nampak bayangan rasa takut di wajahnya.
Setelah belasan kali mengelilingi nikouw itu dan tidak ada reaksi apapun, timbul keberanian di hati seorang di antara anak buah Pulau Hiu.
Dia seorang laki-laki berusia empatpuluh tahun yang bertubuh tinggi besar dan nampak kokoh kuat, di tangannya nampak sebatang tombak pengait yang biasa dipergunakan nelayan untuk menangkap ikan besar.
"Biar kucoba dulu dengan ini, baru kita semua turun tangan,"
Katanya sambil mengangkat tombaknya ke atas kepala.
Semua orang memandang dan mengangguk, yang berada di bagian belakang Lo Nikouw segera lari ke samping agar tidak menjadi sasaran tombak berkait.
Anak buah Pulau Hiu itu lalu mengerahkan tenaganya dan dari jarak tidak le bih dari enam meter dia melontarkan tombaknya ke arah dada Lo N ikouw.!
Bias anya, kalau dia menombak ikan besar, jarak antara dia dan sasarannya sampai belasan meter, dan tombak itu gagangnya diikat dengan tali pula.
Sekarang, jaraknya hanya enam meter dan tidak ada tali, maka dapat dibayangkan betapa hebatnya luncuran tombak yang dilontarkannya.
"Singgg........cappppp......!"
Tombak itu menancap dan mene mbus dada Lo Nikouw.! "Omitohud........!"
Dari mulut Lo Nikouw keluar seruan le mah dan tubuhnya yang bersila te rjengkang, akan te tapi tidak te rus telentang karena tubuh itu te rtahan ujung tombak yang sompai menembus punggungnya!
Melihat ini, sembilan orang yang lain tercengang, akan te tapi juga timbul keberanian di hati mereka dan sembilan macam senjata turun bagaikan hujan menimpa tubuh yang sudah sekarat itu.
Dalam sekejap mata, tubuh Lo Nikouw yang sama sekali tidak melawan itu telah menjadi onggokan daging dan tulang yang berle potan darah.!
Lehernya putus dan kepalanya menggelinding tak jauh dari onggokan daging itu.
Lo Nikouw te was te rcincang tanpa melakukan perlawanan sedikitpun juga.
Thian Ki terbelalak dan tak dapat bertahan lagi.
Dia mengeluh dan te rkulai pingsan di belakang je ndela.
Dia tidak tahu betapa sepuluh orang kangouw itu memasuki kuil, mencari-cari dan melihat dia te rkulai pingsan, mereka tidak mengganggunya.
Juga kuil itu tidak dirusak.
Agaknya mereka mencari kalau-kalau te rdapat te man atau anak buah Ban-tok Mo-li yang kini menjadi Lo Nikouw itu.
Akan tetapi mereka tidak menemukan siapapun kecuali seorang anak laki-laki yang pingsan.
Mereka lalu pergi dengan hati bertanya-tanya dan mulai merasa ragu dan menyesal.
Benarkah yang mereka bunuh tadi Ban-tok Mo-li?
Bagaimana kalau nikouw itu bukan Ban-tok Mo-li melainkan seorang pendeta wanita yang le mah dan suci?
Meremang bulu tengkuk mereka kalau mereka membayangkan kemungkinan ini.!
Senja telah lewat dan malam mulai tiba ketika Thian Ki siuman dari pingsannya.
Begitu siuman, dia te ringat akan peristiwa tadi.
Bukan mimpi, pikirnya dan dia tidak sedang tidur.
Dia menggeletak di atas lantai di balik jendela.!
Dia cepat melompat berdiri dan melihat keluar remang-remang di luar, hampir gelap, akan tetapi ia masih dapat melihat onggokan daging dan kepala neneknya tak jauh dari situ!
"Nenek.......!"
Dia berteriak dan melompat keluar dari je ndela, lari ke pekarangan.
"Nenek.......!"
Dia berteriak lagi dan menubruk kepala itu, kepala neneknya yang matanya masih te rpejam dan mulutnya masih tersenyum!
Dia mengambll kepala itu memegang dengan kedua tangan, dilihatnya baik-baik.
Kepala neneknya!
De ngan leher putus dan berlepotan darah.
Neneknya.!
"Nenek.........!"
Dia mendekap kepala itu dan menangis, membawa kepala itu ke depan onggokan daging bekas tubuh neneknya, mendekap kepala sambil berlutut dan menangis terisak-isak.
Terbayang semua peristiwa tadi, betapa neneknya dihujani senjata, dicincang tanpa melawan sedikitpun.
Dia tidak perduli akan dinginnya hawa malam yang mulai tiba bersama semilirnya angin dan munculnya bintang-bintang di langit.
Dia berlutut sambil menangis dan setelah lebih dari sejam menangis sehingga air matanya kering, dia masih berlutut mendekap kepala neneknya dan te rmenung teringat akan kehidupan bersama neneknya selama satu setengah tahun ini.
Dan te ringatlah dia akan pesan neneknya beberapa bulan yang lalu, seolah-olah neneknya sudah mendapat firasat ia akan meninggal dunia tak lama lagi.
"Cucuku yang pin-ni sayang, engkaulah satu-satunya orang yang kucinta, Thian Ki. Dan kepadamulah pin-ni meninggalkan pesan ini. Kalau kelak pin-ni meninggal dunia, bakarlah jasma pin-ni menjadi abu, kemudian bagi menjadi empat abuku. Seperempat bagian kuburlah di dalam tanah, seperempat lagi hanyutkan ke lautan, seperempat lagi taburkan dari puncak bukit biar te rbawa angin, dan yang seperempat lagi le mparkan ke unggun besar biar ditelan api lagi sampai habis. Ketika itu, dia merasa heran dan bertanya mengapa neneknya meninggalkan pesan seperti itu dan apa maksudnya. Neneknya lalu menjelaskan maksud dan pesannya itu. Ia mengatakan bahwa tubuh manusia te rdiri dari empat unsur dan ia ingin tubuhnya dikembalikan ke asalnya, yaitu kepada api, air, angin dan tanah. Dan agar pelaksanaannya mudah, maka ia minta jenazahnya agar dibakar menjadi abu sehingga akan mudah bagi Thian Ki mengembalikan abu itu kepada api, air, angin dan tanah. Teringat akan pesan neneknya itu, Thian Ki menghentikan renungannya dan diapun dengan penuh hormat dan hati-hati meletakkan kepala neneknya di atas onggokan daging. Dia masuk ke kuil, mengambil sehelai selimut neneknya, dan kembali ke pekarangan sambil membawa obor. Setelah menancapkan gagang obor di tanah sehingga pekarangan itu cukup te rang, dia lalu mengumpulkan onggo kan dating dan tulang bersama kepala itu ke atas selimut dan dibungkusnya baik-baik. Kemudian dia mengumpulkan kayu kering, ditumpuknya kayu-kayu kering itu menjadi tumpukan setinggi hampir sama dengan tinggi tubuhnya, menyiramnya dengan minyak, kemudian mengambil sebuah kotak dari kuil, memasukkan buntalan daging dan kepala ke dalam kotak dan dibakarnyalah tumpukan kayu itu. Thian Ki berlutut menghadap api unggun membakar sis a jenazah neneknya. Kemudian dia duduk bersila, menanti sampai tumpukan kayu, peti dan isinya te rbakar habis. Pembakaran je nazah itu memakan waktu sampai setengah malam. Lewat tengah malam barulah api padam. Thian Ki tetap duk bersila di pekarangan itu, di dekat tumpukan abu, sampai pagi. Dia ingin mengumpulkan abu neneknya setelah malam le wat, karena pekerjaan itu harus dilakukan di waktu terang cuaca. Setelah matahari pagi muncul, barulah Thian Ki mengambil sehelai selimut lain, dan mulailah dia membongkar tumpukan abu. Mudah saja membedakan abu je nazah neneknya dengan abu kayu dan petinya, karena abu je nazah itu lembut, putih dan berat. Dikumpulkannya abu itu dan dibuntalnya dalam selimut dengan mata merah karena dia tidak dapat menahan keharuan hatinya.
"Nek, orang sedunia boleh menganggap nenek jahat, akan tetapi aku yakin bahwa nenek tidak jahat atau setidaknya nenek sudah menebus semua kesesatan nenek. Mereka itulah yang jahat, mereka yang menganggap diri mereka bersih dan baik, yang menjatuhkan hukuman kepada mereka yang dianggap jahat, tidak memperdulikan niat baik mereka yang ingin kembali ke jalan benar. Nek, engkau akan selalu kukenang sebagai seorang manusia baik, gagah perkasa dan menghadapi kematian dengan senyum pasrah kepada Tuhan."
Thian Ki tidak pernah dapat melupakan senyum di wajah kepala neneknya yang te rpis ah dari badannya itu.
Senyum pasrah!
Setelah semua abu je nazah terkumpul di selimut, diapun pergi meninggalkan kuil, membawa buntalan pakaian dan untaian terisi abu jenazah.
Dia harus memenuhi pesan neneknya.
Akan te tapi dia te ringat kepada ibunya.
Bagaimanapun juga dia harus membawa abu je nazah itu kepada ibunya le bih dahulu.
Kasihan ibunya yang tidak tahu akan nasib neneknya.
Setelah mendapat perkenan ibunya, baru dia akan memenuhi pesan neneknya.
De ngan hati penuh duka dia lalu berangkat meninggalkan tempat itu, menuju ke dusun Ke-cung.
Tentu saja kedatangan Thian Ki yang membawa cerita menyedihkan te ntang kematian Lo Nikouw disambut tangis ole h Sim Lan Ci.
Wanita ini mendekap buntalan abu je nazah dan menangis te rsedu-sedu.
Bagaimanapun juga, Lo Nikouw adalah ibu kandungnya.
Cian Bu yang amat mencinta isterinya.
menepuk-nepuk pundak is terinya dan berkata dengan suaranya yang tenang dan dalam.
"Sudahlah, isteriku. Ibumu sudah meninggal dunia sebagai seorang pendeta tulen, penuh kesabaran, penuh kepasrahan. Engkau sepatutnya bangga karena ibumu, walaupun dahulu pernah menjadi datuk sesat, kini telah meninggal sebagai seorang yang tidak lagi diperhamba nafsunya. Kita sembahyangi saja dengan khidmat, mendoakan agar arwahnya dite rima dan ampuni Tuhan, sebelum abu itu dikembalikan ke asalnya seperti yang dipes annya kepada Thian Ki."
Mereka mengatur meja sembahyang, menaruh abu di atas meja, lalu mengadakan upacara sembahyang.
Sementara itu Kui Eng mendekati Thian Ki dan minta kepada suhengnya ini untuk menceritakan kembali sejelasnya tentang kematian Lo N ikouw.
Kini gadis cilik itu telah berusia hampir sebelas tahun, dan sikapnya te rhadap Thian Ki masih manis dan ramah seperti dahulu, hanya bedanya, ada sikap malu-malu bahkan kadang canggung kalau Thian Ki kebetulan menatap agak te rlalu lama.
Thian Ki sendiri sudah berusia empatbelas tahun dan dia memang amat menyayang adiknya ini, yang sejak kecil dia tahu bukan adiknya sendiri, bukan pula adik tiri, melainkan orang lain atau kalau adikpun, adik seperguruan.
"Suheng, apakah engkau sudah berhasil melenyapkan racun dari tubuhmu? Apakah sekarang kukumu masih mengandung racun?"
Setelah mendengar cerita ulang tentang Lo N ikouw, Kui Eng bertanya mememandang ke arah tangan Thian Ki.
Thian Ki te rsenyum dan tahu bahwa ibunya, juga ayah tirinya juga memperhatikan, agaknya menanti jawaban darinya.
Tadi dia belum sempat bercerita tentang dirinya sendiri karena sibuk menceritakan peristiwa yang menimpa neneknya.
Dia memandang kepada ibunya, ayah tirinya kemudian kepada sumoinya dan berkata sambil te rsenyum.
"Nenek telah menggemblengku setiap hari dan akhirnya aku dapat menguasai hawa beracun di tubuhku, sumoi. Akan te tapi, nenek tidak dapat mengusahakan le nyapnya hawa beracun dari tubuhku, apa lagi ia memang tidak menghendaki hal itu te rjadi."
Sepasang mata yang tajam dan je li itu te rbuka le bar, bibir yang merah dan berbentuk indah itu merekah dalam senyum setelah sejak tadi tak pernah senyum untuk ikut berkabung atas kematian Lo Nikouw.
"Aihh, kalau begitu, mulai sekarang kita dapat berlatih silat tanpa khawatir aku akan menjadi korban keracunan tubuhmu?"
Thian Ki mengangguk sambil tersenyum.
"Kalau sekedar berlatih saja tidak mengapa, sumoi.
Akan tetapi tidak boleh mempergunakan sin-kang karena kalau aku mengerahkan te naga dalam, hawa beracun itu dapat bekerja dan te ntu akan membahayakan dirimu."
"Bagus, ha ha ha, bagus sekali!"
Kata Cian Bu sambil tertawa gembira.
"Kalau mulai sekarang engkau memperdalam latihanmu sehingga engkau dapat menguasai semua ilmu simpananku, maka beberapa tahun lagi saja, tidak akan mudah mencari orang di dunia ini yang akan mampu mengalahkanmu, Thian Ki! Ha-ha, aku akan merasa bangga sekali.!"
Akan te tapi Sim Lan Ci tidak kelihatan segembira suaminya. Alisnya berkerut dan ia berkata dengan suara yang terdengar menegur suaminya.
"Apakah dalam hidup ini, hanya nama besar saja yang terutama? Apakah Thian Ki selama hidupnya harus menjadi seorang manusia beracun, hanya mencari nama besar di dunia persilatan dan dia tidak berhak untuk membentuk rumah tangga, tidak berhak untuk menikah dan mendapat keturunan?"
Suaminya tidak mampu menjawab, akan te tapi Kui Eng yang lincah itu cepat berseru
"Aihhh, kenapa tidak boleh, ibu?
Apa salahnya kalau suheng menikah?
Bukankah dia kini sudah mampu menguasai hawa beracun di tubuhnya?"
Lan Ci menghela napas panjang. Ia tadi lupa bahwa di situ terdapat pute ri tirinya. Akan tetapi mengingat bahwa Kui Eng sudah menjelang dewasa, iapun berkata dengan hati-hati.
"Kui Eng, kakakmu ini hanya mampu menguasai hawa beracun sehingga kalau dia tidak mempergunakan sin-kang, racun itu dapat mengendap dan tidak bekerja. Akan tetapi, dia sama sekali tidak boleh menikah sebelum hawa beracun itu bersih dari tubuhnya, karena kalau dia melakukan hal itu isterinya akan keracunan dan lambat laun akan mati keracunan." -ooo0dw0ooo-
Jilid 16
"I hh....."
Kui Eng menatap wajah suhengnya dengan mata terbelalak, lalu berkata kepada ayahnya.
"Ayah, kalau begitu, sungguh kejam! Ayah harus berusaha untuk membersihkan tubuh suheng dari racun itu!"
Cian Bu menarik napas panjang. Kini diapun mulai melihat betapa ambisinya itu tanpa dia sadari mengancam kebahagian hidup Thian Ki yang dia sayang seperti anak sendiri.
"Memang, untuk mencapai sesuatu yang puncak, kadang-kadang kita harus berkorban. Kui Eng, biarpun ayahmu te lah mempelajari banyak ilmu yang tinggi, akan tetapi mengenai racun, aku masih kalah ahli dibandingkan ibumu. Kalau mendiang nenekmu saja yang mampu membuat Thian Ki menjadi tok-tong tidak mampu membersihkan racun itu dari tubuh Thian Ki, bagaimana aku akan mampu melakukannya? Tidak, aku tidak mampu melakukannya."
Thian Ki melamun, ingat akan pengakuan neneknya dan dia merasa perlu menyampaikan penyesalan neneknya itu kepada ibunya dan ayah tirinya.
"Pernah nenek menyatakan kepadaku yang menurut nenek merupakan penyesalan yang te rlambat dan karena itu tidak ada gunanya."
"Ceritakan, apa yang ibu katakan kepadamu Thian Ki,"
Kata ibunya dan Cian Bu juga mengangguk-angguk kepadanya, menyetujui permintaan iste rinya.
"Nenek mengatakan bahwa kini ia melihat kesalahannya. Apa yang te rjadi pada diriku adalah akibat daripada mengejar suatu segi saja dari kehidupan ini. Kehidupan ini, menurut nenek merupakan kesatuan dari banyak hal yang kesemuanya penting, yang kesemuanya menuntut kita untuk memperhatikan dan memenuhinya. Menurut nenek, banyak hal itu, te rmasuk makan, pakaian, te mpat tinggal dan segala benda keperluan hidup lainnya, juga kedudukan dan nama baik, kesehatan dan sebagainya. Menurut nenek, semua itu perlu untuk dilaksanakan agar kesemuanya dapat maju dengan baik, berimbang. Kalau kita hanya mementingkan yang satu dan melupakan yang lain, maka akibatnya hanya merugikan kita sendiri. Nenek hanya mementingkan nama besar, ingin menjadikan aku sebagai tok-tong yang kelak akan dapat menjadi jagoan nomor satu yang akan mengangkat namanya pula. Karena terlalu mementingkan hal ini, ne nek melupakan yang lain, sehingga akhirnya aku menjadi korban."
Kui Eng tidak mengerti apa yang te rsembunyi dalam ucapan itu, akan tetapi Lan Ci dan Cian Bu mengerti.
Mereka mengangguk-angguk dan te rutama sekali Cian Bu bekas pangeran itu mengerti benar apa yang dimaksudkan oleh nenek Lo Nikouw.
Dia sudah mengalamainya sendiri.
Pernah dia mengejar cita-cita menegakkan kembali kerajaan Sui yang sudah runtuh dan untuk itu, dia melupakan segala hal lain, sehingga akhirnya, demi pengejaran cita-cita itu, dia mengorbankan segalanya, bahkan keluarganya te rbasmi habis.
Betapa banyaknya manusia di dunia ini yang melakukan kesalahan yang sama seperti yang pernah dia lakukan, yang pernah dilakukan Lo Nikouw.
Orang mengejar dan saling memperebukan harta, seolah harta itulah kepentingan mutlak bagi hidupnya,s ehingga orang lupa diri, melakukan hal-hal buruk dan jahat, lupa bahwa harta itu pada suatu saat akan terasa tidak ada artinya sama sekali.
Betapapun kayanya seseorang, kalau dia dilanda sakit parah, maka harta tidak akan menarik lagi baginya, yang le bih menarik adalah kesehatan badannya, sehingga dia akan bersiap mengorbankan seluruh hartanya demi kesembuhannya.
Demikian pula dengan orang yang mencapai kedudukan te rtinggi yang pada mulanya amat dipentingkan, sehingga dia melupakan yang lain, mendapatkan kedudukan itu dengan jalan memperebutkannya dengan manusia yang lain, kalau perlu saling bunuh membunuh.
Pada akhirnya, suatu saat dia akan mendapat kenyataan pahit, bahwa kedudukan yang tadinya diperebutkan dengan taruhan nyawa itu tidak membahagiakan hatinya, bahkan mungkin menyesengsarakan.
Betapa banyaknya hartawan kaya raya yang tidak pernah merasa puas akan apa yang dimilikinya, selalu merasa kurang, bahkan ada perasaan khawatir kalau-kalau harta miliknya akan berkurang dan habis.
Membayangkan dirinya ditinggalkan seluruh hartanya, menjadi orang miskin, merupakan bayangan kesengsaraan yang amat hebat baginya.
Banyak pula pejabat tinggi yang memiliki kedudukan yang mulia, disanjung dipuja dan dihormati, pada suatu saat akan jatuh dan nama yang tadinya dis anjung-sanjung berbalik dicaci maki.
Andaikata tidak demikian, sedikitnya dia selalu gelisah, khawatir kehilangan kedudukann ya dan membayangkan kehilangan kedudukan itu merupakan bayangan kesengsaraan yang amat hebat baginya.
"Thian Ki, apakah mendiang ibu tidak meninggalkan pesan kepadamu, tidak memberi tahu bagaimana caranya agar engkau dapat te rbebas dari racun di tubuhmu? Apakah di dunia ini tidak ada obatnya dan tidak ada orang yang akan mampu membersihkan racun dari tubuhmu itu?"
Tanya Lan Ci yang menoleh dan memandang ke arah meja sembahyang dimana abu je nazah ibunya berada. Mendengar pertanyaan ibunya itu, Thian Ki menghela napas panjang.
"Hal itu sudah kutanyakan kepada nenek, ibu.. dan nenek mengatakan bahwa di dunia ini jarang ada orang yang cukup kuat untuk dapat mengusir racun dari tubuhku dan nenek hanya mengenal dua orang yang mungkin saja dapat, karena mereka adalah orang-orang yang sakti."
"Siapa mereka, Thian Ki ?"
Tanya ibunya penuh harap.
"Seorang bernama Pek I Tojin dari Thai-san dan seorang lagi bernama He k Bin Hwesio dari Himalaya."
"Ahh! Dua nama besar yang sudah sejak dahulu kukagumi, bahkan pernah aku ingin sekali berte mu dengan mereka untuk bicara soal ilmu silat dan kalau mungkin saling mengukur dan menguji ilmu kepandaian!"
Seru Cian Bu.
"Dan menurut keterangan mendiang nenek, dua tokoh sakti itu mempunyai murid. Pek I Tojin mempunyai murid bernama Si Han Beng berjuluk Huang-ho Sin-liong dan He k Bin Hwesio mempunyai murid bernama Bu Giok Cu, is te ri dari Naga Sakti Sungai Kuning itu."
"Aih, apakah engkau tidak ingat kepada pendekar itu, Thian Ki?"
Lan Ci bertanya. Thian Ki mengangguk.
"Tentu saja aku tidak lupa kepada paman Si Han Beng, ibu. Aku masih ingat kepadanya. Bukankah dia kakak angkat dari mendiang ayah?"
"Aha, jadi Naga Sakti Sungai Kuning yang te rkenal itu adalah murid Pek I Tojin dan isterinya murid He k Bin Hwesio? Dan le bih lagi, pendekar itu adalah kakak angkat mendiang suamimu?"
Tanya Cian Bu kepada Lan Ci.
"Kenapa aku tidak pernah mendengar akan hal itu?"
Sim Lan Ci memandang kepada suaminya dan menarik napas panjang.
"Coa Siang Lee sudah meninggal dunia, aku tidak ingin membicarakannya lagi, tidak ingin mengenang masa lalu. Karena itulah aku tidak pernah bercerita tentang persaudaraan itu."
Suaminya mengangguk dan te rsenyum ramah. Pengakuan itu saja sudah membuktikan bahwa isterinya tidak ingin menyinggung perasaannya dengan bercerita tentang suaminya yang pertama.
"Kalau begitu, masih ada harapan bagimu Thian Ki. Engkau berlatih dengan tekun. Kalau sudah matang ilmu kepandaianmu, kelak engkau dapat mencari kedua orang sakti itu untuk minta bantuan mereka, dan kiranya engkau dapat bertanya kepada N aga Sakti Sungai Kuning dimana adanya kedua orang sakti itu berada."
"Baik, ayah.."
Kata Thian Ki.
"Juga untuk melaksanakan pesan te rakhir nenekmu, sebaiknya dilakukan kelak saja kalau engkau sudah selesai belajar dan melakukan perjalanan. Sementara ini, biarlah abu je nazah nenekmu kita rawat dan kita sembahyangi agar ibumu mendapat kesempatan untuk berbakti."
Lan Ci setuju sekali dengan usul suaminya itu.
"Suheng, kelak aku akan membantumu mencari orang-orang sakti itu agar engkau dapat disembuhkan!"
Tiba-tiba Kui Eng berkata.
"Ayah dan ibu, boleh bukan kelak aku ikut suheng dan membantunya?"
Suami isteri itu saling pandang. Lan Ci hanya mengangguk, akan te tapi Cian Bu berkata.
"Me rantau di dunia kangouw merupakan perjalanan yang amat berbahaya, oleh karena itu engkau harus berlatih dengan giat, Kui Eng. Hanya kalau engkau kuanggap cukup kuat dan cukup pandai, aku akan membolehkan engkau membantu suhengmu. Kalau engkau malas sehingga engkau kurang kuat, le bih baik engkau berdiam di rumah yang aman."
Gadis cilik itu bangkit berdiri dan menghadapi ayahnya dengan alis berkerut dan mata bersinar-sinar.
"Wah, ayah te rlalu memandang rendah padaku! Lihat saja, aku pasti tidak kalah melawan suheng!"
Cian Bu dan is terinya tersenyum, juga Thian Ki te rsenyum dan berkata.
"Engkau memang pandai, sumoi, kalau engkau berlatih dengan sungguh-sungguh, mana mungkin aku akan dapat menandingimu?"
De mikianlah mulai hari itu, Thian Ki dan Kui Eng seperti berlomba dan bersaing dalam mempelajari ilmu-ilmu dari Cian Bu sehingga mereka memperole h kemajuan pesat sekali.
oo-ooo0dw0ooo-o Pagi itu akan nampak biasa saja bagi para nelayan dan mereka yang tinggal di pantai laut karena merupakan pemandangan yang berulang-ulang mereka lihat.
Betapa indahnya sesuatu, kalau setiap hari dilihat, apalagi kalau dimiliki, maka keindahan itu akan semakin memudar, bahkan aklhirnya lenyap tak terasakan lagi.
Hal ini dirasakan oleh mereka yang tinggal di tepi pantai.
Orang yang datang dari pedalaman, dari darat, begitu tiba di pantai akan mengagumi keindahan pemandangan lautan dengan takjub, akan te tapi para nelayan akan mendengarkan dengan heran, karena bagi mereka, tidak terasa lagi adanya keindahan itu!
Sebaliknya, kalau nelayan yang biasa hidup di lautan dan di pantai-pantai sunyi itu datang ke kota, mereka akan te rkagum-kagum melihat keramaian kota.
Padahal bagi orang kota, keramaian kota yang dianggap indah oleh sang nelayan itu bahkan sebaliknya akan dianggap mengganggu!
Hanya bagi batin yang bebas dan bersih daripada gambar-gambar yang diukir ingatan sajalah yang akan dapat melihat segala sesuatu sebagai baru, dapat menikmati keindahan setiap hari, setiap saat.
Pagi itu matahari amat cerahnya, muncul di permukaan air laut sebelah timur, tak te rhalang segumpal awanpun, membentuk garis emas di permukaan laut yang masih tenang.
Suara air laut bermain di pantai, berdesir di atas pasir, menggelegar garang pada batu karang, bergulung-gulung dan susul-menyusul, meninggalkan suara dahsyat disusul suara gemerisik yang makin melemah sampai pada titik sunyi hening.
Sejenak saja, karena sudah datang bergulung lagi ombak baru yang membawa pula suara gemuruh.
Setiap kali ombak itu baru, tak pernah sama dengan yang sudah atau yang akan datang menyusul.
Air yang dihempaskan pada batu karang menimbulkan uap dan ketika te rte mbus sinar matahari yang mulai menguat, membentuk pelangi le mah.
Para nelayan sudah berdatangan pagi tadi sebelum matahari te rbit, dan kini pantai itu ditinggalkan orang.
Hanya nampak perahu-perahu diseret jauh ke pantai.
Pasir pantai nampak lembut dan halus diusap air berulang kali, putih keabu-abuan.
Setiap kali air tipis mendarat, pasir itu menjadi basah, akan tetapi air itu cepat diserap dan pasir nampak kering kembali.
Kalau ada saat itu ada orang yang kebetulan melihatnya, tentu orang itu akan mengira bahwa pagi hari itu, dengan sinar matahari pagi sebagai tangga, telah turun seorang dewi kahyangan yang kini bermain-main di tepi pantai!
Dari jauh, hanya nampak bentuk tubuh yang amat indah, yang sempurna le kuk le ngkungnya, dan pakaian yang basah dan menempel ketat itu membuat ia nampak dari jauh seperti telanjang.
Kedua kaki nan panjang, pinggangnya ramping, pinggulnya menggunung dan dadanya membukit kembar.
Rambutnya te rurai le pas di belakang punggung, sampai ke pinggul.
Sungguh, pantasnya ia seorang dewi kahyangan atau seorang pute ri ratu lautan!
Sebenarnya ia manusia biasa, seorang dara yang memang memiliki bentuk tubuh yang indah.
Bagaikan setangkai bunga sedang mekar, usianya sekitar sembilanbelas tahun.
Ia berpakaian lengkap walaupun dari sutera tipis, dan karena pakaian itu basah, maka pakaian itu menempel ketat di tubuhnya.
Wajahnya manis, dan ia berlari-lari di sepanjang pantai, membiarkan ombak menjilat tubuhnya sampai ke paha.
Ia tertawa-tawa seorang diri, dan suara tawanya le nyap dite lan gemuruh ombak.
Wajahnya manis, kulitnya putih mulus dan kemerahan karena sinar matahari, matanya bersinar-sinar penuh kegembiraan.
Ketika ombak yang besar, yang datang setiap lima enam kali sekali, diseling ombak-ombak yang kecil, dara itu berteriak gembira dan iapun menyongsong datangnya ombak yang tingginya tidak kurang dari lima mete r itu dan begitu ombak datang menggulung dirinya, iapun meloncat dan menerjang ombak bagaikan seekor ikan lumba-lumba!
Tubuhnya le nyap dite lan ombak dan sampai ombak itu memecah dan menipis di pantai, agak jauh ke darat sampai mendekati perahu-perahu yang diikat di darat, dara itu tidak nampak lagi!
Kalau ada yang melihat peristiwa itu terjadi, te ntu akan menahan napas dan khawatir sekali, mengira bahwa dara itu te ntu tenggelam, terseret ombak ke te ngah atau mungkin juga dite rkam ikan hiu!
Semua orang tentu akan menduga demikian, mengingat bahwa lama sekali dara itu tidak muncul lagi.
Manusia biasa saja tidak mungkin dapat menyelam sampai selama itu.
Kalau gadis itu manusia biasa, tentu ia dite rkam hiu atau te nggelam atau mati, atau kalau ia masih hidup, berarti ia bukan manusia, melainkan dewi laut!
Kemudian, dari arah tengah, seperti seekor ikan saja, dara itu nampak berenang ke te pi.
Cepat sekali renangnya, meluncur tanpa mengeluarkan bunyi, seperti ikan lumba-lumba asli.
Dan nampak riang gembira, te rtawa-tawa dan bermain dengan air.
Ombak besar datang dari belakangnya, mendorongnya sehingga renangnya semakin cepat.
Akhirnya, ombak menerkamnya ke atas pasir, di air yang hanya sedalam lutut.
Iapun akhirnya meninggalkan air, tiba di pasir yang kering, agak te rengah dan sambil tertawa iapun menjatuhkan diri ke atas pasir dan te rlentang.
Kedua kakinya te rpentang, kedua le ngannya te rkembang di atas kepala, wajahnya segar, rambutnya riap-riapan, sebagian menutup dada dan sebagian menutup muka membelit leher.
Bukan main cantiknya.
Manis , jelita menggairahkan!
Sinar matahari yang mulai menguning cahayanya itu mendatangkan rasa hangat yang amat nyaman.
Dan angin semilir, angin yang juga hangat, membuat dara itu terlena oleh kantuk dan tak lama kemudian iapun sudah tertidur.
Mulutnya masih setengah terbuka seperti orang te rsenyum, napasnya le mbut dan panjang, dada yang membusung itu turun naik.
Dara yang tidur pulas di bawah sinar matahari pagi itu sama sekali tidak tahu betapa ada sebuah perahu hijau datang bersama ombak dari te ngah, menuju ke pantai itu.
Jelas bukan perahu nelayan, karena semua nelayan sudah pulang pagi-pagi tadi seperti biasanya, dan dara itupun tahu akan kebiasaan itu.
Ia tahu bahwa saat itu tidak akan ada nelayan di pantai, maka ia dapat berenang dengan bebas tanpa dilihat siapapun.
Dan model perahu hijau itupun berbeda dengan perahu nelayan yang mempunyai bentuk agak le bar, karena para nelayan membutuhkan ruangan untuk te mpat hasil tangkapan mereka.
Perahu hijau itu sempit dan panjang meruncing, dibantu kayu atau bambu runcing di kanan kirinya, dan mempunyai tiang layar.
Layarnya yang ju ga berwarna hijau telah digulung, dan kini enam orang penumpang perahu mendayung perahu mereka dengan gerakan te ratur, berirama dan kuat sekali, membuat perahu mereka meluncur cepat ke pantai.
Dara itu masih enak tidur terlentang ketika enam orang itu menyeret perahu mereka ke darat, bahkan ketika mereka menahan seruan kaget , heran dan kagum, kemudian mereka berenam berdiri mengepung dara yang masih tidur te rlentang dengan pandang mata seperti singa kehausan melahap seluruh tubuh yang terlentang itu, ia masih tetap tidur dengan napas yang le mbut.
"Bukan main cantiknya...................!"
"Manis sekali !"
"Tubuhnya....................amboiiiii........!"
"Tak kusangka di dusun pantai ini terdapat gadis sejelita ini."
"Wah, kalau semua perempuan di pantai ini secantik dia, untung kita!"
"Mari kita undi, siapa yang berhak menjadi orang pertama!"
Orang pertama dari mereka, yang bertubuh tinggi kurus seperti cicak kering, akan tetapi kumisnya melintang panjang dengan kedua ujung berjuntai ke bawah, segera berkata.
"Hushh, apakah kalian mencari penyakit? Siapa orangnya yang tidak mengilar melihatnya, akan te tapi kita tidak boleh mencari penyakit. Kalau ada yang melihat kita lalu semua penduduk keluar, kita akan celaka, bahkan mungkin akan pergi dengan tangan hampa."
"Habis bagaimana? Bukankah kita datang ke sini untuk menyelidiki keadaan? Dan ini.......si jelita ini, adalah hadiah untuk kita!"
"Tolol!"
Bentak si cicak kering.
"Kita hanya menyelidik dan ternyata melihat perahu-perahu para nelayan itu, dusun ini cukup makmur untuk menjadi mangsa kita. Dan agaknya banyak pula te rdapat perempuan cantik. Yang ini kita tangkap dan kita bawa pulang untuk oleh-oleh. Tentu majikan kita akan senang sekali, apalagi majikan muda kita. Kita perlu membawa teman-teman yang cukup banyak untuk menyerbu. Lihat, perahu mereka lebih dari duapuluh buah banyaknya, te ntu sedikitnya ada seratus orang laki-laki muda di sini. Terlampau berat bagi kita berenam untuk menghadapi mereka. Nah, mari kita tangkap dan bawa anak ayam ini ke perahu!"
Bagaikan menerima komando, enam orang ini seperti berubah menjadi enam ekor anjing pemburu menghadapi domba betina muda yang gemuk!
Mereka berenam seperti berlomba, menubruk ke arah gadis yang te lentang tidur itu, ingin lebih dahulu mendekap dan meringkusnya, merasakan kehangatan tubuh yang molek.
"Bress....!"
Enam orang itu berteriak-teriak kaget karena dara yang mereka tubruk itu tiba-tiba saja menghilang!
Mereka tadi melihat jelas betapa gadis itu masih tidur te rlentang, dan ketika mereka menubruk dari semua jurusan tampak bayangan berkelebat dan mereka saling tubruk, saling beradu kepala dan tangan dan gadis itu telah le nyap!
Selagi mereka kaget dan heran, te rdengar suara tawa renyah dan mereka cepat berloncatan berdiri, memutar tubuh menghadapi orang tertawa.
Kiranya gadis itu telah berdiri sambil bertolak pinggang dan te rtawa bebas.
Tidak seperti gadis dusun atau kota biasa yang kalau te rtawa tidak berani mengeluarkan suara, bahkan tidak berani kelihatan giginya, gadis ini tertawa te rkekeh membuka mulut dengan bebas sehingga nampak sepasang bibirnya merekah, memperlihatkan rongga mulut yang merah tua dan gusi merah muda di te ngah deretan gigi yang putih rapih seperti mutiara diatur.
"Heh-heh-heh, lucu sekali! Kalian ini siapakah? Pakaian kalian serba hijau, kalian bukan orang sini. Mau apa kalian datang ke sini dan mengganggu aku yang sedang tidur lelap?"
Enam orang itu saling pandang.
Sedang tidur lelap kenapa ketika ditubruk dapat le nyap?
Manusiakah gadis ini?
Atau dewi penjaga lautan?
Akan te tapi si cicak kering yang merasa dia bersama lima rekannya dan merasa bahwa dia menjadi pemimpin rombongan itu, mengusir keraguan hatinya.
Dia melangkah maju ke depan.
"Nona, kami memang bukan orang sini. Kami datang karena melihat nona yang demikian cantik seperti bidadari. Kami ingin nona ikut bersama kami!"
Si cicak kering sudah memberi is yarat kepada te man-temannya untuk mengepung.
Akan tetapi gadis itu s ama sekali tidak kelihatan gentar, seolah-olah keenam orang laki-laki yang sikapnya seperti serigala itu dianggapnya sebagai anjing-anjing yang jinak saja.
Dara itu tersenyum dan mengangguk-angguk.
"Aih, begitukah? Kalian hendak mengajak aku kemana? Siapakah kalian? Perkenalkan diri dulu agar aku dapat mempertimbangkan apakah aku akan memenuhi undangan kalian atau tidak."
Melihat sikap gadis itu yang ramah dan tidak marah, enam orang laki-laki itu merasa senang sekali.
Si cicak kering yang merasa dirinya paling unggul di antara te man-temannya karena memang dia yang bertugas sebagai pimpinan, membusungkan dadanya.
Akan te tapi karena dada itu memang kerempeng dan tipis, dibusungkan bukan nampak besar, melainkan melengkung seperti batang kangkung.
"Nona yang cantik, ketahuilah bahwa kami adalah orang-orang gagah penghuni Pulau Hiu! Nona kami undang untuk berkunjung ke pulau kami dan berkenalan dengan majikan kami. Majikan muda kami, Siangkoan Kongcu (Tuan muda Siangkoan) adalah seorang pemuda yang gagah, ganteng, tampan dan kaya raya, tentu akan dapat menghargai seorang cantik jelita seperti nona."
Sepasang mata yang je li itu nampak bersinar-sinar.
"Pulau Hiu? Baru sekarang aku mendengarnya! Majikannya she Siangkoan? Dimana sih letaknya pulau itu?"
Kini gadis itu menerawang ke arah lautan seperti hendak mencari di mana letaknya pulau itu.
"Tidak jauh dari sini, nona. Hanya pelayaran setengah hari menuju ke utara. Pulau Hiu kami te rletak di seberang pantai Shantung."
"Setengah hari? Kalau begitu pulang pergi hanya sehari dan sore nanti aku dapat pulang kesini?"
Gadis itu dalam bicarapun demikian polosnya seperti juga ketika te rtawa, dan juga tanpa malu-malu di depan enam orang pria itu, walaupun pakaiannya yang tipis dan ketat itu kini berkibar te rtiup angin laut sehingga bentuk tubuhnya te rcetak jelas.
Enam orang itu saling pandang dan tertawa.
Dalam hati mereka menertawakan gadis yang mereka anggap dusun dan tolol itu.
Tentu saja kalau gadis itu sudah mereka bawa, ia tidak akan kembali ke te mpat ini, pikir mereka.
"Tentu saja, sore nanti engkau dapat pulang nona manis,"
Kata pula si cicak kering, lalu ia mengerling ke arah lima orang te man-te mannya yang tersenyum-senyum.
"Kalau begitu, aku mau ikut!"
Gadis itu berkata dan suaranya seperti bersorak gembira.
"Aku ingin melihat Pulau Hiu. Apakah disana banyak ikan hiunya?"
"Banyak, nona!"
Jawab seorang di antara mereka.
"Ada hiu berkaki dua......"
"Hiu berkaki dua?"
Gadis itu terbelalak dan semua orang tertawa.
"Aih, temanku ini hanya berkelakar, nona,"
Kata si cicak kering.
"Yang dia maksudkan adalah hiu yang mempunyai sirip besar-besar dan gemuk."
Gadis itu berte puk tangan.
"Aku suka sekali sirip hiu! Enak sekali, apalagi kalau dimasak dengan jahe!"
Ia menjulurkan lidahnya yang merah segar, menjilati bibir bawah.
Enam orang itu menelan ludah dan kalamenjing mereka naik turun.
Saking te rpesona penuh gairah, mereka sampai tidak merasa aneh bahwa gadis pantai ini pernah makan makanan sirip hiu yang hanya menjadi makanan para hartawan kaya karena mahalnya.
"Mari kita berangkat nona. Jangan sampai engkau nanti kemalaman kalau pulang."
Kata si cicak kering sambil menggandeng tangan gadis itu.
Gadis jelita itu tidak menolak,dan ia te rsenyum-senyum melihat enam orang itu mendorong perahu ke air.
Tak lama kemudian, ia sudah duduk di perahu yang didayung enam orang itu ke te ngah, melewati gelombang besar.
Dapat dibayangkan betapa gembiranya enam orang itu melihat korban mereka menyerah sedemikian mudahnya.
Terlalu mudah!
Dan gadis itu terlalu cantik untuk membuat mereka dapat menahan diri.
Mulailah mereka mengeluarkan kata-kata tidak senonoh, bahkan si cicak kering yang menjadi pimpinan, kini melepaskan dayung karena perahu itu mulai didorong layar yang sudah dikembangkan dan diapun duduk di dekat nona itu, merapat.
"Nona manis, siapakah namamu?"
Tanya si cicak kering, mukanya sedemikian dekatnya sehingga gadis itu mengerutkan alisnya, karena dari mulut si cicak kering itu mengeluarkan bau busuk seperti bangkai.
"I hh, kalau bicara jangan dekat-dekat!"
Gadis itu menegur dan menggeser pinggulnya menjauh.
"Heh-heh-heh, aku tidak akan mengganggumu, nona manis. Engkau akan kami hadiahkan kepada kongcu, akan te tapi sebelum tiba di pulau, kita duduk merapat begini kan hangat dan lebih enak?"
Mendengar ucapan itu, lima rekannya te rtawa bergelak.
"Kalau bicara dekat-dekat kenapa sih, manis?"
Gadis itu menggunakan tangan menutupi hidungnya.
"Mulutmu bau bangkai!"
Meledak lima orang itu te rtawa, dan si cicak kering te rbelalak, mukanya berubah merah sekali.
Belum pernah selama hidupnya dia menerima penghinaan seperti itu, apalagi dari seorang gadis muda!
"Nona, mulutmu lancang sekali, untuk itu kau harus dihukum.
Hayo kau cium aku dengan mulutmu itu pada mulutku.
Kalau engkau tidak mau, kami tidak akan membawamu kepada majikan kami, melainkan akan kami makan sendiri di perahu ini, kemudian engkau akan kami le mparkan ke air agar menjadi makanan hiu!"
Berkata demikian , si cicak kering menjulurkan kedua tangannya merangkul gadis itu dan hendak memaksakan ciuman.
Akan te tapi, tiba-tiba gadis itu mengeluarkan suara tawa nyaring, ia bangkit berdiri dan dengan gerakan yang luar biasa cepatnya, ia telah menyambar kedua tangan si cicak kering yang hendak menangkapnya dan sekali ia membuat gerakan melontarkan tubuh si cicak kering itu terlempar ke atas tiang layar!
Si cicak kering berte riak kaget dan ketakutan, akan te tapi dia dapat menjangkau ujung tiang layar dan memeluk tiang itu dengan era-erat, sehingga dari bawah dia kelihatan seperti seekor kera!
Melihat ini, lima orang rekannya te rbelalak, akan te tapi gadis itu, seperti seorang anak kecil yang nakal, menghampiri tiang layar dan dengan tangan kirinya ia mendorong dan mengguncang tiang layar itu.
Sungguh hebat, tiang itu te rguncang keras dan tubuh si cicak kering tentu saja ikut terguncang keras dan akhirnya dia tidak dapat bertahan lagi, tubuhnya te rlepas dari ujung tiang layar dan terlempar ke luar perahu.
"Byurr.......!"
Tubuhnya dite lan gelombang lautan.
Kini kelima orang anak buah Pulau Hiu itu te rkejut dan juga marah.
Barulah mereka menyadari bahwa gadis yang kelihatan bloon ini te rnyata memiliki ilmu kepandaian tinggi dan berte naga kuat.
Mereka serentak menyerang untuk menangkap dan meringkus.
Akan te tapi, sambil te rtawa-tawa, gadis itu kini menggerakkan kaki tangannya dan lima orang itu disambar tamparan dan te ndangan, tubuh mereka terlempar keluar perahu dan satu demi satu tercebur ke dalam lautan!
"He-he-he-he, kiranya kalian hanya tikus-tikus lautan!"
Gadis itu berte puk tangan dengan girang, lalu memegang kemudi layar, hendak mengarahkan perahu untuk meluncur kembali ke pantai yang sudah nampak jauh dari situ.
Akan tetapi, tiba-tiba perahu itu terguncang lalu miring dan rebah, layarnya menyentuh air!
Akan tetapi gadis itu sama sekali tidak menjadi kaget atau takut, bahkan ia te rtawa.
"Heh-heh, kalian hendak main-main di air, ya? Boleh, boleh!"
Dan iapun meloncat dari perahu yang miring itu ke dalam air.
Enam orang itu adalah anak buah Pulau Hiu, bajak-bajak laut yang te ntu saja merupakan ahli-ahli renang yang pandai.
Melihat gadis itu berani meloncat ke air, hati mereka girang sekali.
Terutama si cicak kering yang ingin membalas dendam, tubuhnya meluncur cepat ke arah gadis itu.
Ingin ia menangkap, meringkus dan menyeret gadis itu ke dalam air agar kehabis an napas dan menyerah.
Akan tetapi, ketika dia tiba di dekat gadis dan menerkam, tiba-tiba saja gadis itu le nyap.
Persis seperti ketika dite rkam di darat tadi.
Hanya bedanya, kalau tadi gadis itu menggunakan gerakan kilat meloncat ke atas menghindar dari te rkaman enam orang, kini ia menyelam ke bawah dan lenyap!
Dan tiba-tiba si cicak kering terbelalak, akan tetapi dia tidak sempat berteriak karena tubuhnya sudah lenyap terseret ke bawah seperti diseret ikan hiu.
Memang tadinya diapun menyangka demikian ketika tiba-tiba kedua kakinya ada yang menangkap dan dia te rseret ke bawah.
Akan tetapi di dalam air dia melihat bahwa yang menangkap kakinya a dalah gadis tadi!
Gadis itu ternyata dapat bergerak seperti ikan di dalam air, rambutnya te rlepas dari sanggul dan kini riap-riapan.
Sungguh ia seperti dongeng ikan duyung yang membuat si cicak kering merasa ngeri.
Dicobanya untuk melepaskan kedua kakinya, namun sia-sia dan dia te rpaksa harus menahan pernapasannya.
Tentu saja dia kuat menahan napas di air karena te rlatih, akan te tapi ternyata dia terus diseret ke bawah dan batas waktunya sudah melampaui ketahannya.
Gadis itu seolah-olah berubah menjadi ikan yang tidak perlu bernapas di permukaan air!
Mulailah si cicak kering gelagapan.
Dia masih melihat tubuh teman-temannya meluncur dan mengejarnya, tentu hendak menolongnya.
Akan tetapi gadis itu tiba-tiba menyeretnya naik ke atas sampai kepalanya tersembul di atas.
Si cicak kering megap-megap, seperti ikan yang dilempar ke darat, dadanya seperti akan pecah rasanya dan pada saat itu tubuhnya sudah te rayun dan diputar-putar seperti gasing!
Dara itu masih memegang kedua kakinya dan kini tubuhnya diputar di atas air, seolah-olah tubuhnya itu hanya seringan sepotong kayu saja.
Kemudian gadis itu melepaskan pegangan pada kedua kakinya dan tubuh si cicak kering melayang sampai amat jauh, jatuh terbanting ke air lagi dalam keadaan nanar dan hampir pingsan.
Kini kelima orang itupun mengeroyok.
Terjadi perkelahian di air yang tidak seimbang dan tidak lama.
Gadis itu sungguh luar biasa, mampu bergerak di air seperti ikan, sukar ditangkap.
Sebaliknya tamparan-tamparannya membuat lima orang itu gelagapan, bahkan ada yang pingsan dan te nggelam.
Akhirnya, para pengeroyok itu tidak ada yang berani mendekat, sibuk hendak menolong teman yang pingsan te nggelam.
Gadis itu sendiri sambil te rkekeh lalu menyambar sebatang dayung yang te rapung, memukul ke arah tiang layar perahu.
Terdengar suara keras dan tiang itupun patah!
Kemudian, dengan te naga yang luar biasa, ia membalikkan perahu dan meloncat ke dalam perahu, mendayung perahu itu ke pantai meninggalkan enam orang yang masih te rapung-apung dipermainkan gelombang lautan.
Mereka dapat mendengar suara tawa merdu gadis itu, akan tetapi bagi pendengaran mereka, sama sekali tidak merdu menyenangkan, melainkan mengerikan.
Mereka merasa seolah-olah baru berjumpa dengan iblis lautan yang amat ganas!
Setelah tiba di pantai, gadis itu menyeret perahu hijau ke darat.
Tiba-tiba nampak sesosok bayangan putih berkelebat dan di situ telah berdiri seorang wanita yang berpakaian serba putih dari sutera halus.
Wanita ini sudah berumur enampuluh tahun lebih, akan tetapi ia masih langsing, sehingga orang akan mengira bahwa usianya baru sekitar empatpuluh tahun saja.
Ia berdiri tegak memandang kepada gadis itu yang kini menghadapi wanita itu sambil tersenyum gembira.
"Subo, aku mendapatkan sebuah perahu milik enam orang yang kutinggalkan di sana,"
Katanya sambil menunjuk ke tengah lautan.
Wanita itu mengerutkan alisnya.
Ia cantik akan tetapi sikapnya dingin, bahkan wajahnya seperti diliputi mendung, tidak secerah wajah muridnya.
Kalau ada orang kangouw melihatnya, tentu orang itu akan terkejut ketakutan, karena wanita itu bukanlah wanita sembarangan.
Ia adalah seorang datuk persilatan yang amat lihai dan berwatak aneh, tidak berpihak kepada yang baik maupun yang buruk.
Bukan golongan putih, maupun hitam, pendekar maupun penjahat.
Ia terkenal sebagai datuk di timur, dan di sepanjang pantai, namanya sudah banyak dikenal orang kangouw, dan ditakuti, walaupun ia jaran g mau mencampuri urusan orang kangouw di daerah itu.
Wanita ini bukan lain adalah Tung-hai Mo-li (Iblis betina laut Timur) Bhok Sui Lan!
Dan gadis jelita yang lincah dan ugal-ugalan itu bukan lain adalah Cin Cin atau Kam Cin.
Seperti kita ketahui, empat belas tahun yang lalu, ketika ia berusia lima tahun, Cin Cin mengalami malapetaka.
Ayah kandungnya, yaitu Kam Seng Hin, ketua Hek-houw-pang, tewas ketika Cian Bu Ong mengutus para pembantunya menyerbu.
Kemudian Cin Cin atau nama le ngkapnya Kam Cin dikirim ke dusun Hong-cun, te mpat tinggal Pendekar Naga Sakti Sungai Kuning Si Han Beng, agar menjadi murid pendekar itu.
Ia diantarkan ole h susiok (paman gurunya) bernama Lai Kun.
Akan te tapi dalam perjalanan, Lai Kun menyeleweng, menjual murid keponakan itu kepada seorang mucikari!
Cin Cin yang ayahnya te lah te was dan ibunya dilarikan penyerbu dusun mereka, jatuh ke tangan mucikari.
Kemudian, setelah beberapa tahun lamanya tinggal di situ dan dipelihara oleh sang mucikari untuk dipersiapkan menjadi seorang pelacur, Cin Cin melarikan diri, dikejar oleh para jagoan rumah pelesir itu dan akhirnya Cin Cin ditolong oleh Tung-hai Mo-li yang membunuh semua pengejar itu, kemudian mengambil Cin Cin sebagai muridnya.
Tung-hai Mo-li Bhok Sui Lan mengajak Cin Cin ke pantai Laut Kuning dan menurunkan semua kepandaiannya kepada murid te rsayang itu.
Bahkan ilmu di air ia ajarkan, sehingga Cin Cin kini telah menjadi seorang dara berusia sembilanbelas tahun yang amat lihai, baik ilmu silatnya, tenaga sin-kangnya dan ilmunya bermain di air.
Cin Cin cantik manis, jelita dan menggairahkan.
Akan tetapi selain ilmu-ilmu yang ia warisi dari Tung-hai Mo-li, ia juga mewarisi wataknya yang aneh!
Watak yang acuh terhadap orang lain, hidup seenaknya, semaunya, tidak te rikat oleh segala macam norma dan peraturan umum!
Bahkan seperti juga subonya Cin Cin jarang bergaul dengan orang lain.
Para gadis di pedusunan pantai yang dijumpainya dan dikenalinya, tak lama kemudian menghindar karena mereka semua merasa takut dan segan kepada Cin Cin, bukan hanya karena Cin Cin berwatak aneh, akan tetapi juga karena gadis ini memiliki kelihaian yang menggiriskan hati.
Pernah ada tiga pemuda dusun yang jatuh hati kepadanya, memperlihatkan sikap manis dan seperti biasa, tiga orang pemuda itu memperlihatkan sikap berani, merayu dan memikat.
Bagi gadis lain, kalau memang ia tidak suka, tentu ia akan menolak dan menghindar saja.
Akan tetapi Cin Cin tidak sama dengan gadis-gadis lain.
Ia merasa diremehkan, marah dan iapun mematahkan kaki tangan tiga orang pemuda itu dan meninggalkan mereka merintih-rintih di tepi jalan!
Bukan han ya satu kali itu Cin Cin menghajar laki-laki yang te rlalu berani dan dianggapnya kurang ajar kepadanya.
Ada pula yang te was karena laki-laki itu tidak sopan dan berusaha merangkulnya.
Sekali tangan Cin Cin menampar dan mengenai pelipisnya, laki-laki itu roboh dan nyawanya melayang!
Akan tetapi, kalau ia tidak marah dan hatinya sedang gembira, Cin Cin dapat bersikap ramah kepada siapa saja.
Ia memang pada dasarnya memiliki watak lincah je naka dan gembira, hanya menjadi aneh karena dididik oleh seorang datuk wanita yang aneh.
Dan selama ini, Cin Cin tidak pernah lupa bahwa ia adalah pute ri ketua Hek-houw-pang yang te was di tangan orang-orang yang menyerbu perkampungan He k-houw-pang, bahkan ibunya diculik oleh penyerbu.
Diam-diam ia sudah mengambil keputusan bahwa akan dicarinya pembunuh ayahnya dan penculik ibunya, dan ia hanya menanti ijin dari subonya.
Biarpun wataknya ugal-ugalan, keras dan berani, namun te rhadap subonya, Tung-hai Mo-li Bhok Sui Lan, Cin Cin bersikap le mbut, taat dan menyayang.
Hal ini bukan saja karena ia berhutang budi, dan karena gurunya memang menyayang kepadanya, dan bersikap baik saja, akan te tapi terutama sekali karena ia tahu benar bahwa subonya adalah seorang wanita yang menderita kesengsaraan batin yang hebat.
Ia sendiri tidak tahu mengapa, karena subonya tidak pernah mau bercerita dan mengatakan belum waktunya bercerita, akan tetapi seringkali ia melihat subonya dengan diam-diam sedang menangis dan merintih sampai semalam suntuk!
Dan ia tahu pula bahwa subonya tidak mempunyai keluarga seorangpun, hidup sebatang kara dan agaknya tidak pernah menikah atau sudah cerai.
Maka, ia merasa iba kepada subonya, dan karena perasaan inilah ia ingin membalas budi subonya dengan menyenangkan hatinya, yaitu dengan jalan mentaati semua perintahnya.
Mendengar ucapan muridnya, Tung-hai Mo-li Bhok Sui Lan mendekati perahu itu dan mengamatinya.
Ketika ia melihat perahu itu bercat hijau dan ada ukiran berbentuk ikan hiu di kepala perahu, ia mengerutkan alisnya.
"Hemm, Kalau begitu tidak keliru dugaanku perahu ini milik Pulai Hiu."
"Aihh, subo tahu? Memang benar milik Pulau Hiu, subo. enam orang pemiliknya adalah anak buah Pulau Hiu!"
Seru Cin Cin heran.
Mendengar ini, Tung-hai Mo-li lalu duduk di ujung perahu yang kering, memandang ke arah lautan yang tadi ditunjuk muridnya.
Tidak kelihatan apa-apa kecuali gelombang besar dan buih di puncak ombak, lalu ia menatap wajah muridnya dan berkata.
"Cin Cin, ceritakan apa yang te rjadi antara engkau dan enam orang dari Pulau Hiu itu."
Cin Cin lalu menceritakan dengan sikap lincah je naka tentang pertemuannya dnegan enam orang itu, betapa mereka mengajaknya ke Pulau Hiu dan betapa mereka mengganggunya sehingga ia marah dan melempar-lemparkan mereka ke air dan ia kembali membawa perahu mereka.
Setelah Cin Cin menyelesaikan ceritanya, Tung-hai Mo-li menarik napas panjang.
"Hemm, sejak dahulu memang orang-orang Pulau Hiu merupakan bajak-bajak laut. Aku tidak pernah mencampuri pekerjaan mereka, akan tetapi kenapa sekarang mereka berani mengganggu penduduk di daratan? Kunjungan mereka ke daerah ini sudah pasti mengandung maksud te rtentu. Agaknya tua Bangka Siangkoan Bok itu sama sekali tidak pernah bermimpi bahwa anak buahnya akan berte mu dengan murid Tung-hai Mo-li!"
"Subo, siapakah Siangkoan Bok itu? Dan orang-orang macam apakah yang menghuni Pulau Hiu? Aku mendengar mereka bicara te ntang Siangkoan Kongcu, majikan muda Pulau Hiu. Agaknya subo sudah mengenal mereka."
"Majikan Pulau Hiu bernama Siangkoan Bok, seorang kakek yang kini tentu sudah tua sekali, tidak kurang dari tujuhpuluh lima tahun usianya. Dia hidup sebagai majikan Pulau Hiu di seberang pantai daerah Shantung itu, sebagai seorang hartawan yang kaya raya, juga kekuasaannya besar karena dia menjadi datuk dari para bajak laut di Lautan Kuning. Anak buahnya banyak, di antaranya te ntu s aja enam orang yang kau jumpai itu. Sebetulnya Siangkoan Bok sendiri tidak melakukan pembajakan dan anak buahnya juga tidak, akan te tapi karena dia merupakan datuk bajak laut dan anak buahnya merupakan bekas para bajak, te ntu saja kaang-kadang merekapun menjadi gatal tangan dan melakukan pembajakan."
"Hemm, kiranya hanya bajak-bajak laut yang hina,"
Cin Cin mencibirkan bibirnya yang merah.
"Kalau tahu mereka bajak, tadi tentu sudah kubunuh semua. Dan siapakah yang mereka sebut Siangkoan Kongcu, subo?"
Gurunya menggele ng kepala.
"Setahuku, dahulu memang ada pute ra Siangkoan Bok bernama Siangkon Tek. Akan te tapi dia sudah tewas. Tentu yang disebut Siangkoan Kongcu itu pute ranya yang lain, karena kabarnya Siangkoan Bok mempunyai banyak is te ri yang cantik, dan mungkin saja dia mempunyai banyak keturunan."
"Hemm, aku ingin sekali berkunjung ke pulau Hiu, subo. Akan kuobrak-abrik pulau bajak itu!"
Tung-hai Mo-li mengerutkan alis nya dan matanya mencorong ketika ia menatap wajah muridnya. Melihat ini, Cin Cin terkejut dan mendekati subonya, duduk di perahu dan memegang tangan subonya.
"Maaf, subo. Kenapa subo kelihatan marah?"
"Engkau ini mencari gara-gara saja! Apa perlunya mencari perkara dengan pulau Hiu? Engkau mempunyai tugas lain yang jauh lebih penting!"
Wajah Cin Cin berseri dan matanya bersinar-sinar.
"Subo! Apakah subo maksudkan sudah tiba saatnya aku boleh melaksanakan tugasku itu? Tentu saja aku tidak akan pernah lupa. Aku akan ke dusun Ta-bun-cung, ke He k-houw-pang dan menyelidiki siapa pembunuh ayahku, siapa pula yang menculik ibuku. Aku akan mencari ibuku, aku akan membunuh para penyerbu Ta-bun-cung itu, aku...."
Cin Cin menghentikan ucapannya ketika melihat gurunya mengangkat tangan memberi is yarat agar ia diam. Ia melihat gurunya masih mengerutkan alis dan kelihatan tidak senang.
"Cin Cin, engkau hanya memikirkan dirimu sendiri saja. Engkau sedikitpun tidak pernah memikirkan kebutuhanku."
Cin Cin merangkul gurunya. Memang hubungannya dengan gurunya se perti anak dengan ibunya saja, mesra dan akrab, tidak berhormat-hormat seperti murid te rhadap guru lain.
"Subo, maafkanlah aku. Tentu saja aku memikirkan, bahkan mementingkan kebutuhan subo. Katakan, apa yang dapat kulakukan untukmu, subo? Tentu perintah subo akan kulaksanakan lebih dulu, setelah itu, barulah aku akan mengurus diriku sendiri."
"Nah, begitu baru muri dku yang baik,"
Kata Tung-hai Mo-li dan iapun merangkul le her muridnya dan mencium kedua pipinya.
Cin Cin balas mencium dan dalam jarak dekat itu ia dapat melihat betapa wajah subonya masih amat cantik, kedua pipinya halus dan putih kemerahan tanpa bedak dan pemerah.
"Aih, subo cantik sekali. Kenapa secantik ini subo tidak menikah?"
Ditanya demikian, Tung-hai Mo-li melepaskan rangkulannya dan ia menarik napas panjang.
"I nilah salah satu di antara hal yang kuminta engkau membalaskan untukku, Cin Cin. Aku hidup menderita dan tidak pernah mau mendekati pria sejak muda karena ulah seorang laki-laki!"
Cin Cin memandang heran.
Bagaimana mungkin ada laki-laki yang berulah sehingga menghancurkan hati subonya?
Kenapa subonya tidak membunuh saja laki-laki itu dan membiarkan dirinya tenggelam dalam duka?
"Subo, siapakah dia dan apa yang te lah dia lakukan?
Ceritakan kepadaku, subo.
Aku berjanji akan melaksanakan segala perintah subo dan akan kubalaskan semua sakit hati subo."
"Ada dua orang yang kuingin e ngkau mencarinya dan membunuh mereka untuk aku. Dan untuk itu, dengarkan dulu ringkasan riwayat hidupku."
Cin Cin mendengarkan penuh perhatian. Selama sepuluh tahun lebih ia hidup bersama subonya dan belum pernah ia mendengar riwayat subonya. Agaknya subonya mempunyai riwayat yang menyedihkan.
"Ceritakan, subo,"
Katanya lirih sambil mengamati wajah subonya. Mereka duduk di atas perahu hijau itu, di pantai yang sunyi. Matahari sudah naik agak tinggi, menyinarkan cahayanya yang hangat menggigit.
"Mari kita duduk di bawah pohon di sana, lebih te duh di sana,"
Kata Tung-hai Mo-li dan mereka lalu meninggalkan perahu, duduk di bawah pohon yang agak jauh dari pantai, duduk berhadapan di atas akar pohon itu yang menonjol di permukaan tanah.
"Sejak kecil aku sudah yatim piatu,"
Tung-hai Mo-li memulai dengan riwayatnya.
Cin Cin te rtegun.
Ia sendiri sudah kehilangan ayah, akan tetapi mungkin ibunya masih hidup.
Dibandingkan dengan subonya, ia masih lebih beruntung!
"Sejak kecil sebatangkara dan merantau sebagai pengemis.
Untung berte mu dengan seorang pengemis tua yang mau membimbingku.
A ku mulai belajar ilmu silat dengan giat sekali.
Berganti-ganti guru sampai aku dewasa.
Kemudian aku bertemu dengan seorang guru yang pandai dan bersama seorang suhengku, aku belajar silat darinya.
Suhengku itu bernama Can Siok dan setelah tua dia berjuluk Cui-beng Sai-kong.
Akan te tapi, setelah aku dewasa dan merantau seorang diri dengan bekal kepandaian yang cukup, aku berpisah dari suheng, pada waktu guru kami meninggal dunia.
Kami mengambil jalan masing-masing dan nasib membawaku ke kotaraja."
Tung-hai Mo-li berhenti sebentar dan mengingat-ingat.
"Sejak kecil subo sudah menderita,"
Komentar Cin Cin. Lupa bahwa nasibnya sendiripun tidak le bih baik.
"Di kotaraja itulah aku bertemu seorang pangeran. Dia gagah perkasa dan memiliki ilmu silat yang hebat. Kami saling tertarik dan akhirnya kami saling jatuh cinta....."
Tung-hai Mo-li menghela napas panjang dan Cin Cin mengamati wajah subonya sambil te rsenyum.
Tentu subonya amat cantik ketika gadis , dan sudah sepantasnya kalau subonya itu jatuh cinta dengan seorang pangeran.!
"Aih, te ntu pangeran itu gagah dan tampan sekali, maka subo sampai jatuh cinta padanya,"
Kata Cin Cin tanpa sungkan-sungkan lagi.
"Subo menikah....?"
Tung-hai Mo-li te rsenyum dan baru sekarang ia melihat subonya tersenyum! Bukan main manis nya kalau tersenyum, akan tetapi hanya sebentar saja karena senyum itu berubah pahit.
"Pangeran itu mempunyai cita-cita yang amat besar. Dia adalah adik kaisar , dan ia bercita-cita kelak akan menggantikan kakaknya menjadi kaisar. Karena itu, dia tidak mau mengambil aku, seorang wanita biasa, bahkan seorang wanita kangouw menjadi isterinya yang sah! Dia harus menjaga nama, dan dia bahkan akan menikah dengan seorang pute ri. Aku hanya akan dijadikan selir..."
"Hemm, lalu bagaimana, subo?"
"Tentu saja aku tidak sudi! Kami sudah saling bersumpah dan aku........aku telah menyerahkan diri. Dia sudah berjanji akan mengambilku sebagai isterinya, tidak tahunya hanya akan dijadikan selir. Aku tidak mau dan aku meninggalkan dia!"
Wajah yang masih cantik itu nampak berduka sekali dan ia memejamkan mata.
Cin Cin mengerutkan alisnya.
Betapa besar cinta kasih subonya kepada pangeran itu, pikirnya.
Buktinya, sampai sekarang, subonya sama sekali tidak mau berjalan lagi dengan pria lain!
"Subo, apakah subo mendendam sakit hati kepada pangeran ini?
Apakah aku harus mencari dia dan membalaskan sakit hati subo?"
Tung-hai Mo-li membuka mata dan mengangguk.
"Puluhan tahun aku memperdalam ilmu dengan harapan pada suatu hari, murid yang kuwaris i ilmu-ilmuku akan dapat mewakili aku untuk membalas sakit hati yang kuderita selama puluhan tahun ini, dan engkaulah orangnya yang kuharapkan akan dapat membuat aku mati dengan mata terpejam, Cin Cin."
"Akan te tapi, subo dengan kepandaian yang subo miliki, apa sukarnya bagi subo untuk membunuh orang itu? Kenapa subo menanti sampai puluhan tahun dan membiarkan hati menderita dendam selama itu?"
Wanita itu menggeleng-gelengkan kepala dan menghela napas panjang.
"Biarpun dia juga bukan orang le mah, bahkan ketika kami saling berpibu dia lebih tangguh dariku, akan tetapi aku te rus dengan giat memperdalam ilmuku dan mungkin sekarang aku dapat menandingi dan mengalahkannya. Akan te tapi, aku sudah tua dan..........aku kuatir, kalau aku berhadapan dengan dia, hatiku akan menjadi lemah dan usaha membalas dendamku tidak akan te rlaksana. Oleh karena itulah aku menggemble ngmu mati-matian, Cin Cin."
"Aku akan mencari pangeran itu dan membunuhnya, subo. Siapa namanya dan dimana aku dapat mencarinya?"
"Namanya Pangeran Cian Bu Ong, dahulu dia adik kaisar Kerjaan Sui. Akan tetapi kerajaan Sui telah jatuh dan diganti kerajaan Tang. Setelah kerajaan Sui jatuh, aku mendengar dia beberapa kali mengusahakan pemberontakan untuk mendirikan kembali kerajaan Sui, akan tetapi semua usahanya gagal. Aku te lah menyelidiki dan bertanya-tanya, dan mendengar bahwa dia suka kelihatan di sepanjang lembah sungai Kuning. Ke le mbah itulah engkau dapat mencarinya. Dia seorang laki-laki yang bertubuh tinggi besar, gagah sekali, mukanya kemerahan. Dia sekarang kalau masih hidup te ntu sudah tua pula, karena dia le bih tua setahun dariku. Sekarang usianya tentu sudah enampuluh lima tahun le bih."
"Aku akan mencarinya, subo. Dan siapakah orang kedua yang harus kucari ?"
"Dia bukan musuh pribadiku. Akan te tapi, hatiku sakit karena dia telah membunuh suhengku, padahal dia itu adalah putera suhengku sendiri. Anak durhaka itu harus dihukum dan dibunuh. Suhengku itu amat sayang kepadaku, bahkan dialah yang le bih banyak membimbingku dahulu dan dia menganggap aku seperti adik kandungnya sendiri. Suhengku itu bernama Can Siok dan dahulu berjuluk Cui-beng Sai-kong dan seperti telah kuceritakan tadi, sejak dewasa kami saling berpisah mengambil jalan sendiri-sendiri. Hanya se waktu-waktu saja kami saling jumpa, aku mengunjunginya atau dia mencariku. Dia menemukan agama baru, yaitu menyembah Thian-te Kwi-ong dan dia memiliki ilmu sihir yang hebat. Suhengku mempunyai seorang pute ra yang bernama Can Hong San, dari isterinya yang berasal dari pute ri Nepal. Dan anak durhaka itu pada suatu hari membunuh ayah kandungnya sendiri. Aku merasa sedih sekali mendengar nasib suheng dna kuminta engkau kelak mencari Can Hong San dan membunuhnya!"
"Di mana aku dapat mencari Can Hong San itu, subo?"
"Entahlah, aku sendiri tidak tahu dimana dia berada. Akan tetapi kau ingat saja namanya dan karena dia seorang tokoh sesat, kukira namanya dikenal oleh dunia kangouw dan engkau kelak dapat melakukan penyelidikan."
Tung-hai Mo-li berhenti sebentar, lalu mengeluarkan seuntai kalung mutiara yang amat indahnya.
"Kau bawa ini dan kalau engkau berte mu dengan Pangeran Cian Bu Ong, berikan ini kepadanya dengan pesan dariku, bahwa dia harus menukar kalung ini dengan nyawanya, seperti yang pernah dia janjikan kepadaku dahulu. Mutiara-mutiara ini kudapatkan sendiri dengan menyelam di lautan yang paling dalam, memilih yang te rbaik dan menguntainya menjadi kalung untuk kuserahkan kepada pria yang kucinta itu. Dia menerima dengan gembira dan berjanji bahwa kalung itu akan disimpannya dan disayangnya seperti nyawanya sendiri. Akan tetapi, ketika dia hendak meninggalkan aku, dia mengembalikan kalung ini kepadaku................"
Kedua mata Tung-hai Mo-li menjadi merah dan basah dengan air mata.
Ia membalikkan tubuh dan membelakangi Cin Cin yang menerima kalung mutiara itu, agaknya ia tidak ingin dilihat menangis dan ketika membalikkan tubuh itu, ia menghapus air matanya.
"Nah, itulah pesanku kepadamu, Cin Cin. Maukah engkau berjanji bahwa engkau akan menunaikan tugas-tugas itu?"
Tanya Tung-hai Mo-li yang sudah menghadapi lagi muridnya. Cin Cin mengalungkan kalung mutiara itu di le hernya.
"Subo, aku berjanji akan mencari dan membunuh Pangeran Cian Bu Ong dan Can Hong San!"
Katanya dengan penuh semangat.
Tung-hai Mo-li bangkit berdiri, wajahnya nampak le ga dan berseri.
Ia lalu melepaskan tali pengikat sarung pedangnya dari punggungnya, menyerahkan pedang dan sarungnya itu kepada Cin Cin.
"Nah, kau te rimalah Koai-liong-kiam ini, Cin Cin. Aku ingin engkau membunuh mereka dengan pedang ini. Akan te tapi jangan sekali-kali mengurangi kewaspadaan, Cin Cin. Dua orang itu bukan merupakan lawan yang ringan. Akan te tapi aku yakin bahwa kalau engkau menggunakan pedang ini dan mengerahkan seluruh te naga dan kepandaianmu, engkau akan berhasil."
"Baiklah subo. Aku akan melaksanakan perintah subo dan mudah-mudahan saja aku akan berhasil dan tidak mengecewakan subo."
"Aku percaya padamu, Cin Cin, dan berhati-hatilah. Engkau tentu masih ingat akan nama para tokoh di dunia persilatan yang pernah kuceritakan kepadamu. Jangan memandang rendah lawan, dan jangan mencari perkara. Bersikaplah seperti murid te rkasih seorang datuk, tidak seperti perempuan petualang yang mengandalkan kepandaian lalu bersikap congkak dan menyebar bibit permusuhan dimana-mana."
Cin Cin merangkul gurunya.
"Aku mengerti subo. Dan kapan aku harus berangkat?"
"Hari ini juga. Mari kita pulang, engkau cepat berkemas dan hari ini juga meninggalkan rumah kita."
Mereka lalu bergandengan tangan menuju ke sebuah rumah yang berdiri te rpencil di luar dusun nelayan, tak jauh dari pantai.
Mereka jalan bergandengan tangan seperti kakak beradik saja, tidak seperti guru dan murid dan melihat dari belakang, takkan ada yang menduga bahwa seorang di antara mereka adalah seorang wanita yang usianya sudah enampuluh tahun lebih!
"Berhasil atau tidak, dalam waktu setahun engkau sudah harus kembali ke sini,"
Demikian pesan Tung-hai Mo-li ketika mengantar muridnya pergi sampai ke luar daerah perbukitan di sepanjang pantai itu.
Ketika gadis itu dengan pedang di pinggang dan buntalan pakaian di pundak meninggalkannya, Tung-hai Mo-li te rmenung, betapa semangatnya seperti terbawa pergi, ia mencintai gadis itu seperti anaknya sendiri.
Cin Cin yang melangkah dengan cepat juga tidak ingin terlihat menangis oleh gurunya.
Ketika ia meninggalkan gurunya, ia merasa begitu sedih dan kasihan kepada gurunya yang amat disayangnya itu.
Biarpun gurunya seorang datuk, namun te rhadap dirinya, Tung-hai Mo-li amat baik dan menyayangnya, maka dianggapnya gurunya seperti pengganti orang tuanya.
Bagaimanapun ju ga, ia masih ingat bahwa ia adalah puteri ketua Hek-houw-pang, perkumpulan orang-orang gagah, maka te ntu saja ia tidak boleh menjadi seorang yang jahat.
Gadis itu melangkah tanpa menoleh lagi, menuju ke utara, ke sungai Huang-ho (Sungai Kuning).
Untuk mencari Pangeran Cian Bu Ong, subonya hanya memberitahu bahwa bekas pangeran itu tinggal di lembah Sungai Kuning.
oo-ooo0dw0ooo-o Dusun Ta-bun-cung sekarang nampak ramai dan makmur.
Hal ini adalah berkat perkumpulan He k-houw-pang yang kini te lah berdiri kembali setelah dihancurkan oleh para penyerbu utusan Pangeran Cian Bu Ong kurang le bih empatbelas tahun yang lalu.
Ketika malam itu terjadi penyerbuan, banyak tokoh Hek-houw-pang yang te was.
Ketika itu ketuanya, Kam Seng Hin, tewas.
Juga sutenya yang bernama The Ci Kok, disamping banyak lagi anggota He k-houw-pang.
Bahkan kakek Coa Song, sesepuh Hek-houw-pang, meninggal dunia karena kaget dan berduka melihat hancurnya Hek-houw-pang.
Cucunya yang sudah lama meninggalkan He k-houw-pang, yaitu Coa Siang Lee, yang kebetulan berada di situ ketika perkumpulan itu diserbu, juga te was pula ketika membela Hek-houw-pang.
Lebih hebat lagi, isteri ketua Kam Seng Hin, yaitu Coa Liu Hwa diculik penjahat, demikian pula isteri Coa Siang Lee, yaitu Sim Lan Ci, lenyap bersama pute ranya Coa Thian Ki.
Keluarga Hek-houw-pang cerai berai tidak keruan, bahkan sejak terjadi penyerbuan malam itu sampai matinya kakek Coa Song, He k-houw-pang boleh dibilang telah mati.
Para anggotanya tidak berani lagi bergerak, apalagi karena sudah tidak ada yang memimpin.
Akan te tapi, beberapa bulan kemudian, muncullah Lai Kun, seorang di antara para sute dari mendiang ketua He k-houw-pang.
Lai Kun adalah sute termuda dari Kam Se ng Hin dan dialah yang mendapat tugas untuk mengantar Kam Cin, pute ri ketua itu ke Hong-cun, agar pute ri ketua itu menjadi murid Pendekar Naga Sakti Sungai Kuning.
Dia bercerita kepada para rekannya bahwa di sepanjang jalan Kam Cin atau Cin CIn menangis, menyatakan tidak mau pergi ke Hong-cun, akan tetapi mengajak paman gurunya itu untuk mencari ibunya yang hilang diculik penyerbu.
"Aku dapat mencegah ia lari dan membujuknya. Akan te tapi pada suatu malam, kami diserbu gerombolan perampok. Ketika aku melawan pengeroyokan perampok itulah Cin Cin melarikan diri dan le nyap. Aku sudah mencari sampai berbulan-bulan tanpa hasil, akhirnya aku pulang,"
Demikian Lai Kun bercerita.
Tentu saja cerita itu bohong, karena seperti yang kita ketahui, dia telah menjual Cin Cin ke rumah pelacuran!
Sebagai saudara muda ketua He k-houw-pang yang sudah te was, Lai Kun berhak menggantikannya.
Dia berusaha mengumpulkan para anggota He k-houw-pang, kemudian perlahan-lahan dia memimpin para anggotanya untuk membangun kembali He k-houw-pang.
Dia berhasil mengumpulkan kurang lebih limapuluh orang, dan mulai mendirikan perusahaan pengawalan barang dengan bendera Hek-houw-pang.
Mulailah perkumpulan itu berkembang dan mendapat kepercayaan.
Apalagi ketika pejabat daerah melapor ke kotaraja tentang Hek-houw-pang, perkumpulan yang dengan gigih membela pemerintah Tang, sehingga dibasmi oleh anak buah pemberontak Pangeran Cian Bu Ong, maka peristiwa itu masuk dalam catatan petugas di istana.
Ketika Pangeran Li Si Bin, tujuh tahun kemudian menggantikan kedudukan ayahnya menjadi kasisar Tang Tai Cung, dia memeriksa semua catatan itu dan mendengar te ntang Hek-how-pang, kaisar inipun segera mengambil kebijaksanaan.
Kaisar berkenan memberi hadiah kepada He k-houw-pang, melalui pembesar daerah dan Hek-houw-pang menerima bangunan baru yang besar di Ta-bun-cung, juga menerima hadiah kereta untuk pekerjaan mengawal barang, disamping dua losin e kor kuda pilihan, uang dan terutama sekali, nama baik.
Peristiwa itu membuat nama Hek-houw-pang semakin te rkenal dan dipercaya pedagang.
Siapa yang tidak percaya kepada perkumpulan yang telah mendapat pengakuan dan hadiah dari kaisar sendiri?
De mikianlah, dusun Ta-bun-cung ikut menjadi makmur berkat perkembangan He k-houw-pang.
Dan Lai Kun, ketua baru He k-houw-pang, berusaha keras untuk membuat perkumpulan itu semakin maju.
Dia kini menjadi seorang ketua yang te rhormat dan te rkenal.
Dan sejak dia menjadi ketua Hek-houw-pang, Lai Kun menikah dan kini mempunyai dua orang anak laki-laki berusia sepuluh dan delapan tahun.
Dia hidup terhormat, kecukupan, berbahagia dengan keluarga.
Kalaupun kadang-kadang dia te ringat kepada Cin Cin dan diam-diam dia menyesali perbuatannya, dia cepat mengusir kenangan itu sebagai sebuah mimpi buruk yang amat mengganggunya.
Tak seorangpun tahu akan peristiwa itu dan Cin Cin sudah dianggap le nyap atau mati oleh semua anggota Hek-houw-pang, walaupun kadang-kadang Lai Kun te rmenung dan ada perasaan khawatir apabila dia teringat kepada Cin Cin.
Empat belas tahun telah lewat sejak peristiwa pembasmian Hek-houw-pang dan kini dusun Ta-bun-cung sudah berubah banyak.
Banyak terdapat toko dan kedai makan minum dan para penghuninya yang dahulu sebagian besar hanyalah petani-petani miskin yang pakaian dan rumahnya butut, kini pakaian mereka jauh lebih baik, karena penghasilan mereka baik.
Perdaganganpun mulai ramai dan semua orang memuji ketua Hek-houw-pang yang kini dipanggil Lai-pangcu (Ketua Lai).
Bahkan Lai Kun diangkat sebagai ketua atau kepala dusun Ta-bun-cung oleh penduduk.
Pada suatu senja, Lai-pangcu bersama isterinya, seorang wanita penghuni dusun itu juga yang berwajah cantik, duduk minum-minum sambil menikmati makan kecil di serambi depan.
Dua orang pute ra mereka sehat-sehat dan sebagai pute ra ketua Hek-houw-pang, te ntu saja dua orang anak laki-laki itu dilatih ilmu silat.
Akan tetapi karena ayah mereka menghendaki agar kelak mereka dapat menduduki pangkat, keduanya juga diharuskan mempelajari ilmu baca tulis secara mendalam.
Untuk itu, Lai-pangcu sengaja mendatangkan seorang sasterawan dari kota untuk mengajar kedua orang pute ranya.
Hari mulai gelap dan seorang pelayan menyalakan lampu-lampu di rumah, juga lampu te mbok yang berada di serambi depan, di mana keluarga itu sedang minum teh.
Pelayan itu tidak berani berlama di situ, setelah menyalakan lampu segera ia masuk kembali karena tidak ingin mengganggu majikannya sekeluarga yang sedang santai.
Isteri Lai Kun seorang wanita yang le mbut dan kedua pute ranya juga merupakan anak-anak yang pandai dan patuh.
Lai Kun merasa berbahagia sekali.
Dia kini telah berusia limapuluh empat, tubuhnya yang dahulu kurus itu kini telah berubah gemuk, sehingga hidungnya yang dulu nampak besar karena mukanya kurus, sekarang kelihatan serasi.
"Ayah, ada tamu....................!"
Seorang pute ranya menuding ke pintu pagar.
Lai Kun dan isterinya memandang dan benar saja, di dalam cuaca yang remang-remang itu nampak seorang wanita yang bertubuh ramping memasuki pekarangan le wat pintu pagar dan kini melangkah dengan tenang menghampiri serambi di mana mereka duduk.
Lai Kun cepat bangkit, diikuti isterinya.
-ooo0dw0ooo-
Jilid 17
"Lai-suheng ( Kakak seperguruan Lai )....."
Wanita itu berkata lembut, berdiri di bawah serambi.
Kalau saja cuaca tidak remang-remang, te ntu akan nampak betapa wajah Lai Kun seketika menjadi pucat sekali.
Tentu saja dia segera mengenal wanita itu yang bukan lain adalah Coa Liu Hwa.
Isteri mendiang suhengnya, Kam Seng Hin, ketua Hek-houw-pang dan yang membuat dia gelisah adalah karena mengingat bahwa wanita itu adalah ibu kandung Cin Cin.
Segera ia mengambil keputusan nekat.
Sekali melompat, dia telah berada di pekarangan, di depan wanita itu.
"Siapa kau! Aku tidak mempunyai sumoi sepertimu!"
Katanya galak.
"Suheng, benarkah engkau tidak mengenal aku?"
Tanya wanita itu mendekat.
"Ah, engkau te ntu penjahat yang mengaku-aku saudara. enyahlah dari sini!"
Teriak Lai Kun dan dia sudah menerjang dengan pukulan ke arah le her Coa Liu Hwa! Pukulannya keras karena ketua He k-houw-pang ini ingin sekali pukul merobohkan orang yang dianggapnya berbahaya itu.
"I hh.......!"
Coa Liu Hwa menggeser kakinya dengan tenang, tangan kirinya menangkis.
"Dukk!"
Tangan Lai Kun terpental, membuat ketua Hek-houw-pang ini te rkejut bukan main.
Akan te tapi ia mengirim pukulan lagi bertubi-tubi.
Agaknya dia berusaha keras untuk merobohkan lawan dengan serangkaian pukulan.
Dia ingat benar bahwa sumoinya atau pute ri gurunya ini dahulu kalah jauh dalam hal ilmu silat, apalagi te naga darinya.
Maka dia merasa yakin bahwa serangkaian pukulan yang dilakukan ini pasti akan merobohkan Coa Liu Hwa, karena dia menggunakan jurus dari ilmu silat Hek-houw-pang yang paling diandalkan dan ampuh.
Akan te tapi, wanita itu dengan sigapnya menangkis dan mengelak, gerakannya ringan dan mantap, kemudian pada menjelang akhir rangkaian serangan itu, tiba-tiba saja tangan kiri wanita itu meluncur dan jari tangannya menotok pada pundaknya.
Lai Kun hanya merasa tubuhnya kesemutan dan tidak mampu bergerak lagi.
Dia telah ditotok secara luar biasa ole h sumoinya yang dahulu kalah jauh olehnya itu!
Coa Liu Hwa tersenyum dan dengan sikap ramah ia lalu menepuk-nepuk pundak Lai kun.
"Lai-suheng, pandanglah baik-baik siapa aku? Mustahil engkau sudah lupa padaku?"
Begitu pundaknya dite puk-tepuk Lai Kun dapat bergerak lagi!
Dia terbelalak dan maklum bahwa sumoinya tidak berniat buruk te rhadap dirinya, bahkan tidak ingin membikin malu.
Pada saat itu, isterinya sudah menghampiri dan menegur suaminya.
"Kenapa engkau marah-marah dan menyambut tamu dengan serangan? Biarkan ia bicara dan memperkenalkan diri, menceritakan apa keperluannya mengunjungi kita."
Liu Hwa memandang kepada wanita itu, lalu kepada dua orang ana k laki-laki yang masih duduk di kursi.
"Aih, bukankah engkau ini Ci Nio, puteri kusir Ci Hoat? Ci Nio, tidak ingat lagikah engkau padaku?"
Isteri Lai Kun yang bernama Ci Nio itu mengamati, kemudian dengan kaget dan gembira dia berseru.
"Bukankah engkau bibi Coa Liu Hwa?"
Kepada suaminya ia berte riak.
"Ini bibi Coa Liu Hwa, ibu Cin Cin!"
Tentu saja Lai Kun sudah tahu.
Karena dia mengenal Liu Hwa, maka dia tadi menyerangnya.
Dia teringat akan perbuatannya te rhadap pute ri wanita ini.
Dia telah menjual Cin Cin kepada rumah pelesir, dan karena takut dan mengira kedatangan bekas sumoinya ini tentu akan menuntut, maka dia tadi mendahului dengan serangkaian serangan.
Kini, melihat betapa sumoinya telah menjadi orang yang lihai, diapun pura-pura baru mengenalnya.
"Aih, kiranya Coa-sumoi..........!"
Te riaknya, matanya memancarkan kehe ranan.
"Silakan, sumoi, silakan duduk........"
Lai-pangcu tampak gugup . Liu Hwa tersenyum.
"Nanti dulu, aku tidak sendirian!"katanya dan ia menoleh, lalu mengangkat lengan kiri ke atas memberi is yarat. Tak lama kemudian, dari luar pagar muncullah seorang laki-laki yang gagah perkasa. Laki-laki itu berusia enampuluh tahun, namun masih nampak gagah, bertubuh tinggi besar dan tegap, mukanya dihias cambang bauk yang rapi.
"Lai-suheng, ini adalah..........suamiku, namanya Lie Koan Tek!"
Liu Hwa memperkenalkan, lalu kepada suaminya ia berkata.
"Ini adalah su-heng Lai Kun yang s ekarang menjadi pang-cu baru dari He k-houw-pang. Dan mereka adalah.....anak dan isterimu bukan, s uheng?"
Lai Kun mengangguk-angguk dan cepat dia dan isterinya membalas penghormatan suami Liu Hwa.
"Saudara........Lie Koan Tek.........aku seperti...........pernah mendengar nama itu...."
Kata Lai Kun yang masih gugup dan tegang hatinya. Liu Hwa tersenyum mengangguk.
"Suamiku adalah Lie Koan Tek yang kau maksudkan itu, suheng, tokoh Siau-lim-pai yang terkenal.
"Ah, maaf, maaf.! Kami bersikap kurang hormat...."
Kata Lai Kun, gentar bukan main.
Kini tahulah dia mengapa tadi dia kalah oleh sumoinya yang dahulu dia yakin tidak akan mampu menandinginya.
Kiranya sumoinya telah menjadi isteri pendekar yang terkenal itu.!
"Harap jangan sungkan, Lai pangcu,"
Kata Lie Koan Tek.
"Mari, silakan duduk. Aku harus memberi tahu kepada semua anggota Hek-houw-pang. Kedatanganmu harus disambut meriah, sumoi."
"Jangan, suheng! Aku datang bukan untuk itu, melainkan ada keperluan pribadi,"
Kata Liu Hwa dan ia bersama suaminya lalu mengambil tempat duduk.
"Aku memang sengaja datang di malam hari begini agar tidak perlu kalian ramai-ramai menyambut dan setelah mendapat kete rangan yang kuperlukan darimu, aku akan segera pergi dari sini.."
"Keperluan pribadi apakah, sumoi? Katakanlah, te ntu kani akan membantumu sekuat tenaga."
Dalam hatinya tentu saja Lai Kun sudah dapat menduga apa yang akan ditanyakan wanita itu, akan tetapi dia pura-pura bertanya dan diam-diam dia bersiap mengatur jawaban.
"Aku hanya ingin bertanya padamu te ntang anakku Cin Cin. Bukankah Lai-s uheng yang dulu mengantarnya untuk berguru kepada toa-ko (Kakak) Si Han Beng, Naga Sakti Sungai Kuning di dusun Hong-Cun?"
Kalau saja Lai Kun belum siap dan belum memperhitungkan bahwa tamunya te ntu akan bertanya demikian, mungkin dia akan terkejut dan bingung karena akan merasa ditodong dengan pertanyaan itu.
Akan tetapi dia bersikap te nang.
Tidak ada orang tahu te ntang peristiwa antara dia dan Cin Cin itu, dan ketika dia pulang dahulu, dia sudah menceritakan kepada semua orang tentang Cin Cin.
Kini dengan sikap tenang dia menghela napas panjang..
"Sudah sejak dahulu aku mengkhawatirkan bahwa pada suatu hari, engkau akan bertanya seperti ini kepadaku, sumoi, dan aku te rpaksa harus menjawab dan memberitahukan berita yang tidak menyenangkan kepadamu."
"Lai-suheng, apa yang te rjadi? Ceritakanlah!"
Desak Liu Hwa, wajahnya berubah dan hatinya merasa tidak enak.
"Seperti sudah berulang kali kuceritakan pada semua anggota He k-houw-pang, aku mentaati pesan mendiang suhu Coa Song untuk mengantar Cin Cin ke Hong-cun. Perjalanan kami tadinya lancar walaupun di sepanjang perjalanan Cin Cin rewel tidak mau diajak ke Hong-cun, akan te tapi mendesak aku agar mencarimu, sumoi. Aku tidak tahu harus mencarimu ke mana, maka aku membujuknya mengatakan bahwa kami akan mencarimu. Tentu saja aku terus menuju ke Hong-cun. Akan tetapi, di dalam perjalanan itu, kami dihadang gerombolan perampok. Aku melakukan perlawanan mati-matian dan akhirnya berhasil merobohkan beberapa orang perampok dan lainnya melarikan diri. Akan tetapi Cin Cin yang tadinya menonton di bawah pohon, tahu-tahu telah lenyap. Tentu ia melarikan diri karena memang tidak mau kuajak ke Hong-cun dan sempatan itu agaknya ia pergunakan untuk melarikan diri. Aku mencarinya sampai berbulan-bulan, namun sayang, aku tidak dapat menemukan jejaknya. Terpaksa, dengan hati sedih aku kembali ke sini dan menceritakan hal itu kepada para anggota Hek-houw-pang."
Sejak tadi Liu Hwa tidak pernah mengganggu cerita Lai Kun, hanya mendengarkan saja dengan hati yang sedih.
Selama ini, sejak menjadi isteri Lie Koan Tek dan hidup berbahagia dengan suaminya yang amat menyayanginya, ia menghibur hatinya dengan anggapan bahwa tentu pute rinya, Kam Cin, telah menjadi murid Huang-ho Sin-liong Si Han Beng dan menjadi seorang gadis yang pandai.
Siapa kira, mendengar cerita Lai Kun, semua angan-angannya itu membuyar, diganti kedukaan dan kekhawatiran.
"Cin Cin anakku......."
Liu Hwa mengeluh, akan tetapi ia mengeraskan hatimya dan tidak menangis, apa lagi ketika merasa betapa tangannya di pegang suaminya.
"Sumoi, maafkan aku telah gagal mengantar Cin Cin ke Hong-cun......."
Kata Lai Kun, nada suaranya menyesal.
"Bukan salahmu, suheng. Akan tetapi, katakan siapa perampok itu, atau siapa pemimpinnya."
"Aku tidak tahu, mereka tidak memperkenalkan nama, sumoi."
"Hemm, kalau begitu, di mana te rjadinya?"
Menghadapi pertanyaan tiba-tiba ini, Lai Kun agak te rkejut dan dengan suara ragu dia menjawab. ."Di.....kota........eh, Lok-yang,... ya di Lok-yang."
Hampir saja dalam kegugupannya dia menyebut kota Ji-goan, di mana Cin Cin dia jual ke rumah pelesir!
Untung dia te ringat dan masih sempat menyebut Lok-yang, kota besar di seberang sungai Kuning sebelah selatan.
Liu Hwa bangkit berdiri dan berkata kepada suaminya.
"Mari kita pergi,"
Dan kepada Lai Kun ia berkata.
"Lai-suheng, kami akan pergi. Terima kasih atas keteranganmu. Mudah-mudahan engkau akan baik-baik menjaga Hek-houw-pang, jangan sampai ada anak buah yang melakukan penyelewengan. Aku sudah mendengar semua te ntang He k-houw-pang yang menerima anugerah dari kaisar, dan aku berterima kasih kepadamu atas pimpinanmu yang baik."
"Sumoi, engkau hendak pergi ke manakah? Apakah engkau dan suamimu tidak tinggal saja di sini dan membantu Hek-houw-pang?"
Kata Lai Kun.
"Terima kasih, suheng. Aku tidak mungkin tinggal di sini, aku harus ikut suamiku. Nah, selamat tinggal."
Liu Hwa dan suaminya memberi hormat yang dibalas oleh Lai Kun dan isterinya, kemudian mereka berdua melangkah keluar dan menghilang di kegelapan malam.
Sampai lama Lai Kun berdiri te rte gun, memandang ke dalam kegelapan, ke arah mereka pergi dan pikirannya melamun jauh.
Timbul penyesalan besar dalam hatinya kalau ia te ringat akan perbuatannya menjual Cin Cin kepada rumah pelesir dahulu.
Kenapa tadi dia menyebut Lok-yang?
Lok-yang dekat dengan Ji-goan, dan bagaimana kalau Liu Hwa melakukan penyelidikan ke sana dan bertemu Cin Cin?
Lai Kun menyesal bukan main.
Pada dasarnya dia bukan orang jahat.
Kalau dulu dia menjual Cin Cin adalah karena Cin Cin rewel dan membuat perjalanan itu melelahkan.
Juga dia te ringat pada Sui Su.
pelacur yang mampu menghiburnya ketika hatinya sedang risau.
Dia bukan berniat jahat terhadap Cin Cin, melainkan dia ingin terbebas dari keadaan yang menjengkelkan hatinya.
Nafsu daya rendah adalah setan yang selalu mempengaruhi hati akal pikiran kita.
Nafsu daya rendah yang diikut-sertakan kepada kita ketika kita dilahirkan sebagai manusia, pada hakekatnya diberikan sebagai anugerah, agar dapat membantu kita dalam kehidupan kita sebagai manusia di dunia.
Akan te tapi, daya rendah berusaha sekuatnya untuk menguasai kita, menjadi nafsu yang mencengkeram dan memutar balikkan keadaan sehingga bukan lagi kita menjadi majikan dan daya rendah menjadi hamba atau alat, sebaliknya kita yang menjadi budak, diperalat oleh nafsu.
Setan ini memang licik bukan main sehingga akal pikiran kita dibikin buta.
Kadang kesadaran dalam diri, hati nurani kita, memperingatkan kita akan suatu perbuatan yang tidak baik, tidak benar.
Namun nafsu daya rendah yang memperole h keuntungan dari perbuatan itu, yaitu untuk melampias kan kehendak nafsu, dengan cerdiknya menjadi pokrol untuk membela perbuatan itu, untuk membenarkan perbuatan itu.
Bisikan-bisikan berupa alas an-alasan yang nampaknya te pat dan kuat dihembuskan nafsu ke dalam pertimbangan kita bahwa perbuatan itu benar atau tidak salah, atau kesalahan terpaksa dan sebagainya lagi.
Tidak ada seorangpun manusia yang benar-benar TIDAK TAHU, bahwa perbuatannya jahat dan tidak benar, namun dia tidak memiliki kemampuan dan kekuatan untuk mencegah perbuatannya sendiri!
Demikian kuatnya nafsu mencengkeram kita.
Setiap pencuri pasti tahu bahwa mencuri itu tidak baik.
Setiap pembunuh pasti tahu bahwa membunuh itu berdosa besar, dan masih banyak macam kejahatan di dunia ini yang dilakukan orang, dan semua orang yang melakukannya pasti tahu bahwa perbuatannya itu tidak baik, tidak benar atau berdosa, namun tetap saja dilakukannya!
Kenapa demikian?
Karena nafsu telah mencengkeram seluruh dirinya, hati akal pikirannya, sehingga suara hati nurani menjadi lemah, tenggelam ke dalam suara setan yang membela dan membenarkan perbuatan itu dengan seribu satu macam alasan.
Setiap orang pasti merasakan hal ini.
Penyesalan selalu datang kalau akibat buruk datang menimpa.
Dan setan membisikkan lagi cara-cara untuk menyelamatkan diri, dengan cara apapun juga.!
Banyak di antara kita yang mendengar bis ikan hati nuraninya sendiri dan menyesali perbuatannya, ingin menaklukkan nafsu-nafsunya.
Namun selalu saja gagal.
Mengapa demikian?
Karena YANG INGIN menaklukkan nafsu itu bukan lain adalah NAFSU ITU SENDIRI!
Yang ingin bertobat karena perbuatan dosa adalah si pembuat dosa itu sendiri, dengan dasar bahwa perbuatannya itu mendatangkan malapetaka bagi dirinya dan dia ingin te rbebas dari malapetaka itu.
Perbuatan dosa itu dilakukan karena dorongan nafsu ingin senang, dan penyesalan, lalu keinginan bertobat itupun didorong nafs u yang ingin senang karena terhindar dari akibat yang tidak menyenangkan.!
Lingkaran setan ini terjadi setiap hari dan setiap saat dalam diri kita.
Maka, terjadilah pengulangan.
Hari ini berbuat salah, besok menyesal dan bertobat.
Besok lalu berbuat salah lagi, bertobat dan menyesal lagi.
De mikian seterusnya karena lingkaran setan itu berputar te rus.
Nafsu tidak mungkin dimatikan, tidak mungkin dibuang dari diri kita, karena kalau hal itu dilakukan, kita akan mati, atau kita tidak akan menjadi manusia lagi.
Nafsu daya rendah mutlak perlu bagi kehidupan kita, seperti api pada motor, seperti kuda pada kereta.
Segala kemajuan hidup duniawi adalah karena jasa nafsu yang bekerja sama dengan hati akal pikiran.
Namun, segala macam kejahatan yang kita lakukan pun akibat dorongan nafsu daya rendah.
Lalu kalau begitu bagaimana?
Nafsu penting bagi kehidupan kita, akan tetapi nafsu juga menyeret kita ke dalam perbuatan dosa!
Hidup ini baru sesuai dengan kodratnya kalau nafsu menjadi alat kita, bukan kita menjadi alat nafsu.
Nafsu harus kembali kepada tempat, kedudukan dan fungsinya yang semula, yaitu menjadi budak atau alat kita!
Tapi bagaimana?
Kalau usaha kita menundukkan nafsu juga merupakan usaha nafsu, lalu siapa ang akan dapat mengembalikan nafsu pada te mpatnya semula?
Hanya Yang Menciptakannya!
Hanya kekuasaan Tuhan sajalah yang akan dapat mengatur itu, membebaskan kita dari cengkeraman nafsu.
Dan kekuasaan Tuhan bekerja kalau kita menyerah dengan seluruh jiwa raga kita, menyerah dengan penuh keikhlasan, ketawakalan, kesabaran.
Tuhan Maha Pencipta, Maha Kuasa dan Maha Bijaksana.
Tuhan mengetahui apa yang yang te rbaik untu k kita.
Tuhan mengetahui apa yang berada di dalam lubuk hati kita.
Kalau kita menyerah dengan seluruh jiwa raga kita, maka kekuasaan Tuhan akan bekerja mutlak!
Dan tidak ada hal yang tidak mungkin bagi kekuasaan Tuhan.
Menyerah!
Kata yang sederhana, mudah diucapkan dan mudah dimengerti.
Namun, tidaklah begitu mudah untuk dilaksanakan.
Kalau penyerahan itu masih merupakan penyerahan dari hati akal pikiran, maka di situ terkandung nafsu dan penyerahan seperti itu sudah pasti berpamrih pula!
Menyerah agar begini agar begitu, pendeknya agar mendapatkan keuntungan atau kesenangan, agar menghindarkan kerugian atau kesusahan.
Ini bukan penyerahan namanya, melainkan usaha nafsu untuk mendapatkan sesuatu, dan penyerahan hanya dijadikan alat atau cara saja.
Dan kalau nafsu yang berusaha, maka pasti syaitan yang datang.
Penyerahan dalam hal ini adalah penyerahan tanpa pamrih te rtentu.
Penyerahan berarti mati di depan Tuhan, dan kekuasaan Tuhan yang membangkitkan kita kembali.
Sebagai manusia lain, bukan pula budak syaitan nafsu, melainkan hamba Tuhan!
Kalau sudah begini, maka tidak ada masalah lagi, karena apapun yang te rjadi pada diri kita, sudah dikehendaki Tuhan dan tidak perlu dipermasalahkan lagi.
Tidak akan ada keluhan keluar dari batin kita, yang ada hanyalah puji syukur kepadaN ya.
Penyesalan yang dirasakan Lai Kun hanya penyesalan karena kini dia merasakan akibat dari perbuatannya, yang menimbulkan perasaan takut.
Penyesalan macam ini seperti orang yang memberi kompres dingin kepada luka untuk menghilangkan rasa nyeri akibat luka itu, tanpa dapat menyembuhkan luka itu sendiri.
Lai Kun tidak berani mengakui kesalahannya te rhadap siapapun, te rhadap is terinya tidak, apalagi te rhadap Coa Liu Hwa ibu Cin Cin.
Dia menyimpannya sebagai rahasia pribadinya, dan justru inilah yang membuat dia selalu merasa gelisah.
Andaikata di depan Liu Hwa dia berani berte rus terang mengakui kesalahannya, dengan siap menanggung segala akibat daripada perbuatannya, bertanggung jawab, maka te ntu kegelisahannya tidak akan ada lagi.
o-ooo0dw0ooo-Gadis yang cantik jelita itu berdiri di tepi sungai Kuning yang luas seperti anak lautan.
Perutnya te rasa lapar sekali dan ketika ia berdiri di tempat sunyi itu sambil termenung, agak kesal karena tidak nampak perumahan di situ, apalagi penjual makanan, ia melihat meluncurnya beberapa ekor ikan bersisik kuning dan merah di te pi sungai.
Matanya segera bersinar-sinar, wajahnya gembira dan lidahnya yang merah te rjulur ke luar menjilati bibirnya yang merah basah.
Ia mengilar melihat ikan-ikan itu, karena ia mengenal bahwa ikan itu semacam ikan emas yang amat lezat dagingnya.
Perutnya sedang lapar, di situ tidak ada orang, tidak ada penjual makanan, akan tetapi ada ikan yang gemuk dan gurih dagingnya berenang lewat seperti mengeje k dan menggodanya!
Tidak ada pancing, tidak ada jala, tidak ada benda untuk menangkap ikan itu.
Cin Cin, gadis jelita itu, menengok ke kanan kiri dan belakang.
Tidak nampak orang di situ.
Sunyi dan jauh dari keramaian orang, juga di atas air itu tidak nampak perahu.
Hanya nampak layar perahu-perahu yang jauh di sana, perahu para nelayan mencari ikan.
Hari sudah menjelang senja, tak lama lagi hari akan menjadi gelap sehingga akan semakin sukar mencari makanan.
Ia tidak mau melewati malam itu dengan perut tersiksa lapar.
Dan iapun perlu membersihkan diri setelah hari itu melakukan perjalanan jauh yang melelahkan dan kulit tubuhnya penuh debu yang bercampur keringat mendatangkan rasa gerah dan le kat.
Setelah yakin di situ tidak ada orang lain, tanpa ragu lagi Cin Cin menanggalkan pakaiannya satu demi satu dan ditumpuknya pakaian itu di balik semak-semak.
Iapun berte lanjang bulat, meloncat ke dalam air dengan luncuran seperti seekor ikan lumba-lumba!
Tidak banyak air muncrat dan tidak menimbulkan banyak suara ketika tubuhnya menusuk dan masuk ke dalam air dengan kedua le ngan dan kepala lebih dahulu.
Cin Cin memang memiliki keahlian renang bermain dalam air seperti seekor ikan.
Mungkin seperti dialah ikan duyung yang te rkenal dalam dongeng itu.
Rambutnya tadi dile pas dari sanggul dan rambut itu te rurai panjang, lebat dan le mbut.
Ia menyelam dan tak lama kemudian ia sudah berhasil menangkap dua ekor ikan sebesar le ngannya sendiri, seekor bersisik kuning dan seekor bersisik kemerahan, keduanya dengan perut berwarna putih.
Ikan-ikan yang gemuk berdaging te bal.!
Dibawanya dua ekor ikan itu ke darat dan dibiarkan menggele par di balik semak, lalu iapun masuk lagi ke air dan mandi.
Betapa sejuk dan segarnya air itu.
Lenyap semua rasa lelah dan gerah.
Terasa nyaman, bersih dan segar.
Iapun menggosok-gosok kulit tubuhnya sambil duduk di atas batu yang menonjol keluar dari air, dan dengan sendirinya mulutnya bersenandung lirih.
Kalau tubuh te rasa nyaman dan hati akal pikiran tidak dibebani persoalan, maka akan timbul perasaan bahagia yang membuat orang condong untuk bersenandung!
De mikianlah agaknya yang mendorong orang untuk bersenandung di waktu mandi.
Keseimbangan rasa nyaman tubuh dan rasa te nang batin ini mendatangkan keseimbangan yang membuat hidup di saat itu terasa nikmat.
Cin Cin sama sekali tidak menyadari bahwa ada sepasang mata yang mengamatinya dari balik batu besar.
Mata seorang pria, seorang pemuda yang sebaya dengannya, seorang pemuda yang tampan dan bertubuh te gap.
Mula-mula ketika mendengar suara senandung, pemuda itu tertarik dan berindap menghampiri.
Setelah dia melihat apa yang bersenandung itu, seorang gadis bertelanjang bulat duduk di atas batu dan membersihkan tubuh dengan menggosok-gosoknya, dengan rambut yang panjang te rurai, sebagian menutupi dadanya menyembunyikan sepasang bukit dada dan warna rambut yang hitam membuat kulit tubuh itu nampak semakin putih mulus, wajah yang manis dan riang.
Pemuda itu terbelalak, kemudian mukanya menjadi kemerahan dan diapun te rpesona.
Bukan gairah nafsu yang te rbayang dalam pandang matanya, melainkan keheranan dan ketakjuban, seperti seseorang melihat mahluk lain dari luar angkasa, seperti seorang melihat bidadari mandi di tepi sungai.
Memang, gadis itu seperti mahluk aneh bagi pemuda itu karena selama hidupnya, baru sekali ini ia melihat seorang gadis dewasa berurai rambut dan berte lanjang bulat seperti itu!
Karena selama ini, biarpun usianya sudah duapuluh satu tahun, tidak pernah te rlintas dalam benaknya hal-yang ada hubungannya dengan birahi, maka dia tidak melihat hal-hal yang menimbulkan rangsangan nafsu birahi, dan pandang matanya penuh dengan pesona dan keheranan, terpesona karena penglihatan itu amat indah baginya, juga amat mengherankan.
Saking heran dan te rpesona, pemuda itu lupa diri untuk bersembunyi dengan hati-hati.
Dia kini berdiri dan nampak dari dada ke atas di baik batu itu, tidak tahu bahwa yang diintainya adalah seorang gadis yang memiliki ketajaman dan kepekaan rasa dan pandangan yang lain daripada orang lain.
Pandang mata yang penuh perhatian dan perasaan memiliki getaran yang kuat sekali, apa lagi bagi seorang sepeka Cin Cin perasaannya.
Ia merasakan getaran itu yang membuatnya menengok dan.........dua pasang mata berte mu pandang.
Sekilas saja karena kepala pemuda yang tadi nongol di balik batu lenyap lagi dan Cin Cin juga tidak memperlihatkan suatu sikap yang menunjukkan bahwa ia telah melihat adanya seorang pengintai.
Ia menekan kemarahannya, dan dengan tenang gadis itu turun ke air, sekali lagi membiarkan kegerahan dan keletihan larut bersama debu di tubuh te rbawa air, dan iapun berenang ke balik semak, mengenakan pakaiannya dan menggelung rambutnya sejadinya saja agar cepat.
Namun dari balik semak ia memperhatikan dan tahu bahwa si pengintai itu masih berada di balik batu bes ar.
Awas, engkau, laki-laki kurang ajar, gumamnya dalam hati.
Setelah semua pakaian bersih yang diambilnya dari buntalan dipakainya, juga sepatunya, tiba-tiba saja tubuhnya meloncat dan seperti seekor burung garuda tubuhnya melayang ke balik batu besar.
Dapat dibayangkan betapa kaget rasa hati pemuda yang tadi mengintai.
Sama sekali tidak disangkanya bahwa gadis yang tadi disangka bidadari atau ikan duyung atau mahluk dari dunia lain, dapat meloncat seperti terbang dan tahu-tahu telah berdiri di depannya dalam pakaian lengkap walaupun agak acak-acakan karena te rburu-buru dan rambutnya yang digelung sederhana itu masih meneteskan air.
Wajah yang masih agak basah itu segar kemerahan, akan tetapi sepasang mata yang jeli itu mencorong penuh kemarahan.
"Laki-laki kurang ajar! Berani engkau mengintai orang mandi, ya? Apakah nyawamu rangkap? Ah engkau sudah bosan hidup?"
Aduh manisnya, aduh galaknya!
Demikian keluh pemuda itu, tidak kelihatan takut melainkan malu-malu dan mukanya juga menjadi kemerahan.
Dia mengangkat ke dua tangan ke depan dada memberi hormat, matanya yang tajam bersinar itu menatap wajah Cin Cin dengan lembut dan penuh penyesalan.
"Harap nona suka memaafkan saya. Saya kebetulan lewat dan mendengar suara senandung tadi membuat saya tertarik dan ingin melihat siapa yang bersenandung, tidak menyangka sama sekali bahwa ada seorang gadis sedang mandi di sana. Sekali lagi, maafkan kelancangan saya, nona."
Sikap pemuda itu lembut dan sopan, dan di dalam suaranya te rkandung penyesalan yang tidak dibuat-buat.
Akan tetapi ia masih merasa penas aran.
Laki-laki ini sudah melihat ia bertelanjang bulat.
Tidak mungkin hal seperti itu dibiarkan saja hanya dengan maaf!
Alangkah enaknya!
"Hem, kebetulan lewat dan kebetulan melihat.
Mengapa engkau tadi memandang dengan melotot?"
Tanyanya dengan suara bengis . Pemuda itu menjadi semakin gugup dan wajahnya semakin merah.
"Aku.........saya.......eh.. Aku tadi.......te rkejut dan heran, terpesona karena mengira ada........."
"Ada apa? Aku bukan setan, bukan iblis, bukan siluman? Hayo katakan, kaukira ada a pa?"
Kembali Cin Cin membentak.
".......tadinya kukira nona.......ehh, seorang bidadari dari kahyangan............."
Cin Cin terbelalak, mengira pemuda itu berolok-olok, akan tetapi melihat pandang mata yang jujur itu nampaknya sungguh sungguh dan entah mengapa.
tiba-tiba saja hatinya merasa senang sekali.
Entah senang karena wajah yang tampan dan simpatik itu, entah karena sinar mata yang tajam bersinar itu, ataukah karena pujian itu.
Pujian tidak langsung.
Ia disangka bidadari kahyangan!
Hati siapa tidak akan te rasa ayem te nte ram, gembira bangga, menggembung seperti katak te rkejut, kalau disangka bidadari?
Bidadari adalah mahluk wanita yang cantik jelita, sakti dan bijaksana Akan te tapi kegembiraan itu hanya menyelinap di hati Cin Cin dan hanya mencuat keluar melalui sinar matanya saja.
Mulutnya masih dicemberutkan.
"Hemm, enak saja engkau mengintai orang mandi, lalu minta maaf begitu saja. Engkau yang enak, aku yang muak. Lain kali engkau akan memukul orang, menghina orang, atau membunuh orang lalu minta maaf dan sudah, ya? Enaknya!"
Aduh.
galak benar, pikir pemuda itu.
Dia menahan senyumnya karena maklum bahwa senyum geli hatinya akan dapat disalah-tafsirkan pula, disangka senyum mente rtawakan.
Bis a lebih runyam lagi.
Kembali dia mengangkat kedua tangan memberi hormat.
"Maaf........"
"Sudahlah, jangan berulang kali memberi hormat merangkap kedua tangan di depan dada lalu membungkuk-bungkuk. Memangnya sekarang ini hari sincia (tahun baru) untuk saling memberi selamat.! Memangnya aku ini sedang merayakan sesuatu, maka engkau te rus-terusan memberi salam? Katakan saja apa maumu, jangan banyak maaf segala. Sebelum kau minta, maafku kepadamu sudah habis!"
Pemuda itu terbelalak, namun hatinya tertarik sekali.
Selama hidupnya dia tidak banyak bergaul dengan gadis -gadis cantik, dan biarpun ada gadis cantik yang juga galak, akan tetapi agaknya tidak segalak dan sebengal yang satu ini.
"Baiklah, aku tidak lagi minta maaf. A kan tetapi, aku sudah merasa bersalah dan apa yang harus kulakukan sekarang?"
Tanyanya, sikap dan nada suaranya merendah.
"Engkau harus dihukum!"
Suaranya begitu mantap seperti seorang hakim mengetukkan palu pada keputusan sidang pengadilan menjatuhkan hukuman pada pesakitan.
"Baik, aku sudah bersalah dan aku siap menerima hukumannya,"
Kata pemuda itu dan sikapnya yang te nang mulai menarik hati dan mengejutkan Cin Cin.
"Orang bilang, hutang uang membayar uang, utang budi membayar budi. I tu baru adil namanya. Engkau tadi melihat aku mandi, sekarang hukumannya harus kaute bus dengan keadaan yang sama. Engkau mandi dan aku yang melihatnya!"
Setelah berkata demikian, dengan gerakan yang cepat sekali Cin Cin sudah menangkap pergelangan tangan pemuda itu dan mendorongnya ke sungai.
Pemuda itu terkejut, agaknya tidak melawan dan tubuhnya terlempar ke air.
"Byuuur........!"
Air muncrat tinggi ketika pemuda itu terbanting ke air dengan pinggul te rlebih dahulu.
Cin Cin te rtawa terkekeh-kekeh melihat pemuda itu gelagapan, tenggelam lalu muncul dan menyemburkan air dari mulutnya.
Ia kini nampak seperti seorang anak kecil menerima mainan baru, demikian gembira dan wajahnya berseri-seri segar.
"Nah, rasakan kamu! Mandilah sepuasnya sampai bersih!"
Katanya dan sekali berkelebat Cin Cin sudah lenyap dari te pi sungai itu. Tinggal pemuda itu yang berenang ke te pi bersungut-s ungut.
"Sialan!"
Katanya kepada diri sendiri sambil memandang ke bekas tempat gadis itu tadi berdiri, lalu diapun berenang ke batu yang tadi diduduki Cin Cin, naik dan duduk di situ. Pakaian dan rambutnya basah kuyup.
"Sial hari ini berte mu dengan........bidadari cantik manis akan tetapi galaknya seperti setan!"
Dia melepaskan tekukan rambutnya dan memeras air dari rambutnya, akan te tapi air itu malah menyiram ke bajunya.
"Huh, kepalang basah!"
Katanya lagi dan diapun memandang ke kanan kiri.
Sunyi, ia menanggalkan pakaiannya yang basah, juga sepatunya, memeras baju dan celana, menuangkan air keluar sepatunya dan merentangkan baju, celana dan sepatunya di atas batu.
De ngan bertelanjang bulat diapun kini mandi sekalian sambil menanti pakaian dan sepatunya te rtiup angin dan agak kering.
Dan dia menemukan kenyataan betapa segarnya mandi di situ.
Gadis itu benar.!
Memang menyenangkan sekali air di s itu.
Dasarnya berbatu dan berpasir, dan airnya cukup je rnih.
Tempatnya sunyi sepi.
Setelah merasa agak dingin, dia berenang kembali ke batu tadi, baik ke atas batu dan meraih pakaian hendak dipakainya sambil berdiri di atas batu, bertelanjang bulat.
Tiba-tiba matanya melihat sebuah buntalan di dekat semak-semak, dan setumpuk pakaian.
Gadis itu!
Benar saja, te rdengar suara cekikikan tawanya dan tiba-tiba gadis itu muncul di balik semak-semak.
Memang tadi Cin Cin sudah pergi, akan tetapi ia te ringat bahwa buntalan dan pakaiannya yang kotor masih berada di balik se mak-semak, maka ia kembali ke situ untuk mengambilnya.
Kebetulan ketika ia datang melihat pemuda yang tadi dilemparkannya ke sungai kini berdiri bertelanjang bulat di atas batu yang tadi, sehingga ia melihat semuanya.
Ia terbelalak, terkejut, terheran, akan tetapi juga geli maka tertawalah ia.
"Heiii, engkau......??"
Pemuda itu melepaskan bajunya dan menggunakan kedua tangan menutupi bawah pusarnya, mukanya menjadi panas karena malu.
"Jangan melihat aku!"
Gadis itu masih tertawa cekikikan, lalu mengambil buntalan dan pakaiannya, memandang lagi kepada pemuda itu sambil tersenyum nakal.
"Siapa yang melihatmu? Aku datang kembali untuk mengambil pakaianku yang te rtinggal, bukan untuk mengintaimu. Akan te tapi kebetulan begini, ini namanya adil, hutangmu lunas sudah! Hi-hi-hik, engkau ....jelek amat, seperti............monyet... hi-hik!"
Dan Cin Cin meloncat pergi bersama pakaiannya.
Pemuda itu menghela napas panjang.
Ketika tadi dia tergesa-gesa menggunakan kedua tangan menutupi bawah pusar, dia melepaskan baju yang dipegangnya dan baju itu te rjatuh ke air dan hanyut.
Entah di mana sekarang.
Terpaksa dia hanya mengenakan celana dan sepatunya saja, lalu pergi dari situ tanpa memakai baju, mengomel panjang pendek.
"Huh, ia bilang adil. Padahal aku mengatakan ia seperti bidadari dan ia sebaliknya menyebut aku seperti monyet! Sialan!" -ooo0dw0ooo-Cin Cin berhenti di bawah sebatang pohon, membereskan pakaian yang tadi dipakai secara te rgesa-gesa, menyanggul lagi rambutnya dan dihias tusuk sanggul perak, mengambil kalung mutiara yang indah dari buntalan pakaiannya, memakai kalung itu, kemudian mengeluarkan pula Koai-Liong-kiam (Pedang Naga Siluman) dari buntalan dan menggantungkan pedang itu di punggungnya, mengambil buntalan pakaian dan menggendongnya pula, kemudian dengan cepat ia melanjutkan perjalanannya ke sebuah dusun di te pi sungai yang tadi di lihatnya dari jauh sinar lampu-lampu dusun itu. Melihat sebuah rumah kecil sederhana di te pi dusun dan seorang wanita setengah tua di depan rumah, di atas bangku bambu, Cin Cin segera menghampiri dan dengan sikap ramah dan sopan ia bertanya.
"Bibi, aku seorang pejalan yang kemalaman di sini. Apakah engkau dapat menunjukkan te mpat di mana aku boleh menumpang untuk malam ini? Aku bersedia membayar uang sewanya semalam."
Wanita itu berusia limapuluh tahun lebih akan tetapi nampaknya sudah le bih tua, agak bongkok dan je las ia miskin.
"Nona mau membayar sewa? Aih, nona, aku akan senang sekali engkau menumpang di sini dan memberi sekedar uang kepadaku.........aku amat membutuhkan itu......"
Cin Cin mengerutkan alisnya. Rumah itu hanya gubuk kecil dan sederhana, te ntu bukan merupakan te mpat yang enak untuk bermalam. Akan te tapi, kalau wanita itu membutuhkan uang.
"Bibi, dengan siapa engkau tinggal di sini?"
Wajah itu nampak sedih sekali. Di bawah sinar lampu gantung kecil, wajah itu nampak penuh kerut merut.
"Aku seorang janda, nona. Anakku hanya seorang, laki-laki, akan tetapi put-hauw (durhaka), sudah lima tahun pergi ke kota mencari pekerjaan, sampai sekarang tidak pernah pulang, tidak pernah memberi kabar. Aih, dasar nasibku yang amat buruk......."
Wajah Cin Cin berseri.
"Engkau hanya tinggal seorang diri di sini? Kalau begitu, aku suka bermalam di sini. Jangan khawatir, aku akan memberi uang sewa yang cukup banyak, bi bi."
Wanita itu menjadi gembira.
"Aih, terima kasih, nona. Silakan masuk. Biarpun je lek, rumah ini kujaga bersih dan tempat tidur anakku juga selalu kubersihkan walau tidak pernah dipakai. Siapa tahu sekali waktu, pada saat yang baik, dia pulang!"
Cin Cin dan wanita itu memasuki rumah gubuk dan benar seperti yang dikatakan nenek itu.
Biarpun kecil, dan jelek, akan tetapi dalam rumah itu rapi dan bersih.
Sebuah rumah dengan perabot murahan namun te rawat dan bersih, jauh lebih menyenangkan daripada perabot rumah mewah dalam gedung besar yang tidak te rawat dan kotor.
Begitu memasuki rumah, Cin Cin merasa senang, Gubuk itu memiliki dua buah kamar yang kecil dan ia memperoleh kamar putera wanita itu, kamar kecil namun te rawat dan bersih pula.
Alas tempat tidur sudah ada tambalannya, akan te tapi bersih sekali.
Legalah hatinya dan dalam hati ia berjanji besok pagi akan memberi uang yang le bih banyak daripada uang sewa kamar hotel besar kepada wanita itu.
"Nah, di sinilah kamarmu, nona. Kalau mau tinggal di sini berapa lamapun aku akan merasa senang sekali, selain mendapatkan uang sekedarnya juga mendapatkan te man dalam hidupku yang kesepian ini. Silakan beristirahat, nona, aku akan membuatkan minuman te h dan..........eh, makanan malam sekedarnya........"
Melihat keraguan itu, Cin Cin segera mengeluarkan sepotong perak dan memberikannya kepada wanita itu.
"Bibi, ini untuk berbelanja membeli hidangan makan malam, eh, kalau ada........ aku ingin sekali makan daging ikan emas kuning dan merah."
Katanya, teringat akan dua ekor ikan yang ditangkapnya dan yang tertinggal di te pi sungai karena perjumpaannya dengan pemuda pengintai itu.
Dan ketika wanita itu pergi sambil membungkuk-bungkuk senang menerima uangnya.
Cin Cin tak dapat menahan kekeh gelinya membayangkan kembali pemuda yang berdiri di atas batu, bertelanjang bulat.
Akan tetapi tak lama kemudian, kekehnya te rpecahkan oleh pikirannya.
Aneh, bayangan pemuda itu selalu te rbayang dan ia tidak mampu menggusirnya, te rutama sekali pandang matanya yang begitu tajam.
Setelah makan hidangan nasi dan masak ikan yang disuguhkan nyonya rumah, Cin Cin secara iseng bertanya.
"Bibi, apakah engkau mengenal seorang pangeran yang tinggal di sekitar le mbah Huang-ho?"
Wanita itu membelalakkan mata dan te rsenyum geli sehingga nampak mulutnya yang ompong.
"Walah, engkau aneh sekali, nona! Aku ini hanya seorang perempuan dusun yang bodoh dan miskin, bagaimana mungkin mengenal seorang pangeran? Wah, melihatpun belum pernah. Apakah nona mengenal seorang pangeran? Pangeran sungguhan? Hebat sekali! Siapa namanya, nona?"
Cin Cin memang tidak mengharapkan mendapat keterangan dari wanita itu.
Ia tadipun bertanya secara iseng saja.
Siapa tahu wanita itu demikian gembira mendengar pertanyaan te ntang pangeran.
Sambil lalu iapun menjawab tanpa mengharapkan apa-apa.
"Namanya Pangeran Cian Bu Ong."
Ia seperti menjawab kepada diri sendiri agar tidak melupakan nama yang dipesan oleh gurunya itu. Ia melanjutkan keterangan yang ia dengar dari gurunya. seperti menghafal.
"Orangnya gagah, tinggi besar, mukanya kemerahan, usianya enampuluh lebih........"
"Ehhh? Nanti dulu nona. Di sini tidak pernah ada pangeran, akan tetapi cung-cu ( kepala dusun ) kami. Cian-wangwe (hartawan Cian) mirip yang kauceritakan itu. Tinggi besar, gagah, muka kemerahan dan usianya enampuluh tahun lebih."
Tentu saja Cin Cin menjadi tertarik dan ia mengamati wajah wanita itu penuh selidik.
"Hartawan Cian? Dari mana dia datang? Apakah selama ini dia memang penduduk dusun ini?"
Baca Juga: Kemelut Kerajaan Mancu 5
Baca Juga: Pedang Naga Kemala 4