Ceritasilat Novel Online

Naga Beracun 7

Eps 7 Naga Beracun - Kho Ping Hoo

Baca online Naga Beracun - Kho Ping Hoo

Cersil Naga Beracun - Kho Ping Hoo.

"Tidak, nona. Dia pendatang baru, kaya raya dan dermawan. Kami semua suka kepadanya dan menghor matinya, bahkan akupun sudah sering menerima bantuan darinya. Karena itu kami semua memilih dia menjadi kepala dusun. Dia she Cian dan namanya......hemm, kalau tidak salah Bu. Ya, Cian Bu.. , akan tetapi lebih terkenal dengan sebutan Cian-wangwe (hartawan Cian) atau Cian cungcu ( Lurah-Cian)."

"Cian Bu.........??"

Berdebar rasa jantung Cin Cin.

Besar sekali kemungkinannya.

Mengapa begitu kebetulan?

Yang dicarinya pangeran Cian Bu Ong dan di sini ia mendengar tentang lurah Cian Bu yang keadaannya mirip pangeran yang dicari.

"Bagaimana keadaan keluarganya?"

Ia mencari tahu lebih lanjut karena timbul harapannya sekarang untuk menemukan musuh besar gurunya.

"Keluarganya amat baik, nona. Isterinya jauh le bih muda, sekitar empatpuluh lima tahun lebih sedikit, cantik jelita dan manis budi, pakaiannya selalu serba hitam. Mereka mempunyai dua orang anak yang te lah dewasa, seorang pemuda dan adiknya, seorang gadis . Tampan dan cantik, juga baik budi."

"Engkau yakin benar lurah Cian Bu itu bukan bekas pangeran?"

Tanya Cin Cin seperti kepada diri sendiri. Tentang isteri dan anak-anak orang itu ia tidak tertarik.

"Bagaimana aku tahu, nona? Keluarga Cian itu pindah ke dusun ini sebagai keluarga hartawan, membangun rumah besar dan bersikap baik kepada kami semua, suka menolong orang, baik dengan barang ataupun dengan pengobatan. Mereka pandai mengobati orang sakit."

Keterangan ini semakin menarik hati Cin Cin.

Besar kemungkinan keluarga itu ahli silat yang pandai mengobati, hal itu tidak aneh.

Dan kalau orang she Cian itu memang ahli silat, maka dugaannya semakin kuat bahwa dia adalah bekas pengeran yang dicarinya.

"Apakah mereka pandai ilmu silat?"

Ia bertanya lagi.

"Ilmu silat? Mana aku tahu, nona? Puteranya yang kami sebut Cian Kongcu (tuan muda Cian) dan Cian Siocia (Nona muda Cian) kelihatan sehat dan gagah, entah mereka bisa silat atau tidak, aku idak tahu."

Keterangan itu cukup bagi Cin Cin.

"Di mana rumah mereka, bibi?"

"Mudah sekali dicari. Di ujung dusun sebelah barat ini, dan rumah mereka adalah satu-satunya gedung bes ar yang berada di dusun ini."

Cin Cin tidak bertanya lagi.

Ia membantu wanita itu mencuci mangkok piring biarpun nyonya rumah mencegahnya, lalu ia membersihkan mulut dan memasuki kamar, merebahkan diri seperti orang hendak tidur.

Nyonya rumah itu yang menyangka ia te ntu lelah, membiarkannya tidur dan ia sendiripun memasuki kamarnya.

Tentu saja Cin Cin tidak tidur.

Keterangan wanita itu tentang lurah Cian Bu amat menarik hatinya dan ia mengambil keputusan untuk menyelidik.

Kalau lurah itu bukan Pangeran Cian Bu Ong pun tidak mengapa, akan te tapi kalau benar orang yang dicarinya, alangkah beruntungnya.

Tak disangkanya akan demikian mudahnya mencari orang yang oleh gurunya hanya dikatakan tinggal di sekitar lembah Huang-ho.

Padahal lembah itu panjang dan luasnya tak te rukur lagi.

Apalagi hanya setahun, biar lima tahunpun belun tentu ia akan mampu menemukan orangnya!

Wanita pemilik gubuk itu belum tidur ketika Cin Cin keluar dari kamarnya.

Ketika ia bertanya, Cin Cin menjawab bahwa ia ingin berjalan-jalan sebentar.

Wanita itupun tidak bertanya lagi dan Cin Cin keluar dari rumah kecil itu dan berjalan-jalan di jalan dusun yang lumayan baiknya.

Agaknya dusun itu memang sebuah dusun yang maju, mungkin berkat bimbingan kepala dusunnya itu.

Jalan-jalan di situ rata dan bersih, rumah-rumahnya walaupun rumah dusun, seperti rumah wanita yang ditumpanginya tadi, nampak bersih pula, dengan ruangan yang te ratur.

Memang sesungguhnyalah, semua mahluk itu membutuhkan bimbingan seorang pemimpin.

Masyarakat tanpa pemimpin akan menjadi kacau balau, seperti juga segala kelompok binatang hutan pasti mempunyai pemimpinnya.

Bukankan Maha Pencipta, Tuhan Yang Maha Kasih, juga sekaligus menjadi Pemimpin Agung seluruh ciptaannyaa?

Dusun itu cukup besar, dengan lampu pene rangan sederhana di depan setiap rumah sehingga jalan itu tidak gelap benar.

Di langit banyak bintang.

Malam itu amat indah dengan hawa udara yang sejuk.

Tanah di lembah Huang-ho memang terkenal subur dan pohon-pohonan, tanam-tanaman di dusun itu nampak subur pula.

Ada beberapa kedai minuman dan kedai penjual segala macam keperluan sehari-hari yang masih buka.

Akan te tapi lalu lintas sudah sepi.

Memang di dusun kurang sekali adanya hiburan malam, tontonan dan keramaian malam seperti di kota, maka penduduk dusun jarang yang bergadang di luar rumah.

Seperti yang dite rangkan pemilik gubuk tadi, mudah saja mencari rumah lurah Cian tanpa bertanya-tanya.

Setelah menyusuri jalan ke barat dan tiba di ujung dusun, nampaklah sebuah gedung.

Kalau di kota, gedung itu termasuk sedang saja, akan tetapi di dusun itu nampak megah dan mewah.

Tidak baik mengganggu kedamaian dusun ini, pikir Cin Cin.

Bagaimana kalau lurah itu bukan pangeran yang dicarinya?

Melihat betapa pene rangan di depan gedung itu masih te rang, dan ada seorang gadis nampak duduk seorang diri di situ, Cin Cin mengambil keputusan untuk berkunjung secara baik-baik saja.

Kalau kemudian ia bertemu muka dengan lurah Cian dan mendapat keterangan bahwa benar dia orang yang dicarinya, baru dia akan turun tangan membunuhnya seperti pesan gurunya.

Kalau te rnyata bukan pangeran yang dicarinya, kunjungannya te ntu tidak akan mendatangkan keributan dan gangguan.

Ketika Cin Cin memasuki pekarangan yang juga menjadi taman bunga yang indah dan sunyi itu, gadis yang duduk melamun di atas kursi, di ruang depan, mengangkat muka dan segera bangkit berdiri ketika melihat ada orang memasuki pekarangan.

Setelah berdiri, nampak oleh Cin Cin betapa gadis itu memiliki tubuh yang ramping padat, dan wajahnya manis sekali.

Cara ia bangkit dari te mpat duduknya dan berdiri menunjukkan bahwa gadis itu memiliki gerakan yang gesit dan berte naga, mungkin bukan ahli silat lihai, akan tetapi setidaknya bukan seorang gadis yang lemah, pikir Cin Cin yang memandang penuh perhatian.

Gadis itu adalah Cian Kui Eng.

Ia sedang duduk melamun, memikirkan ulah suhengnya yang tadinya ia anggap sebagai kakak kandungnya itu.

Biarpun kini ia tahu bahwa kakaknya, Thian Ki, bukan kakak kandung, bahkan bukan kakak tiri, dan le bih tepat disebut suheng (kakak seperguruan), namun karena sejak kecil ia sudah menyebut koko (kakak), maka sampai sekarangpun ia masih menyebutnya koko.

Sore tadi ulah kakaknya itu amat aneh.

Dia pulang hanya memakai celana dan sepatu tanpa baju!

De ngan bertelanjang dada Thian Ki pulang sambil menenteng dua ekor ikan emas kuning dan merah yang gemuk.!

Tentu saja ia dan ibunya, atau le bih te pat lagi ibu tirinya yang menyambut kedatangan Thian Ki itu menjadi te rheran-heran dan bertanya kenapa pemuda itu pulang berte lanjang dada dan membawa dua ekor ikan.

Dan jawaban kakaknya membuat ia te tap merasa aneh sampai sekarang.

Kakaknya menjawab, dengan muka menunduk dan tidak lancar bahwa kakaknya melihat dua ekor ikan itu, lalu membuka baju, te rjun dan menangkap dua ekor ikan itu.

Akan te tapi ketika dia mengejar dua ekor ikan itu, bajunya terbawa angin, jatuh ke air sungai dan hanyut tanpa dia ketahui.

Jawaban yang dianggapnya janggal karena selamanya belum pernah Thian Ki mengejar-ngejar ikan sampai te rjun ke sungai!

Dan cara kakaknya menjawab juga tidak lancar, seperti orang berbohong, padahal kakaknya tidak pernah membohong.!

Ibunya bersikap tidak curiga bahkan te rtawa geli, akan tetapi senang melihat dua ekor ikan yang gemuk itu, yang segera dibawa ibunya ke dapur.

Dan tadi kakaknya menyusul ayahnya yang pergi ke dusun lain untuk mengadakan rapat mengenai para nelayan sungai dengan kepala-kepala dusun yang lain, dan sampai sekarang belum pulang.

Ia menanti mereka di serambi depan sambil duduk melamun ketika muncul seorang gadis memasuki pekarangan rumahnya.

Kui Eng mengerutkan alisnya ketika melihat bahwa gadis cantik yang menghampirinya itu membawa pedang di punggungnya.

Jelas gadis ini bukan gadis dusun, dan melihat pedang itu, tentu ia seorang wanita kang-ouw, pikirnya.

Hal ini sesungguhnya tidak te rlalu aneh baginya, mengingat bahwa ayahnya dan ibunya adalah orang-orang yang pandai ilmu silat, seperti juga ia sendiri dan kakaknya.

Akan te tapi mengapa tamu ini datang malam-malam?

"Selamat malam, apakah engkau ini yang disebut Cian Siocia?"

Tamu itu bertanya.

Melihat sikap tamunya yang terbuka dan ramah, lenyap perasaan tidak senang dari hati Kui Eng.

Gadis ini juga memiliki watak yang lincah jenaka dan te rbuka, walaupun ia juga tabah, berani dan kadang galak.

"Benar, aku Cian Kui Eng. Enci siapa dan apa keperluanmu berkunjung ke rumah kami?"

He mm, gadis ini tidak kampungan, pikir Cin Cin.

Terbuka dan jujur, dan sama sekali tidak pemalu.

Lebih pantas seorang gadis kangouw!

Tebal dugaannya bahwa ia datang ke alamat tepat.

I apun menjawab sejujurnya.

"Orang memanggil aku Cin Cin, dan aku datang ke sini untuk mencari ayahmu. Bukankah dia she Cian?"

"Tentu saja dia she Cian. Engkau tahu aku disebut Cian Siocia (nona muda Cian), siapa lagi she (nama keturunan) ayahku kalau bukan Cian. Mau apa sih engkau malam-malam begini datang mencari ayah?"

He mm, ia mulai curiga dan mulai kasar, pikir Cin Cin, hatinya juga mulai panas.

Kalau betul ayah gadis ini musuh besar gurunya, berarti gadis inipun boleh dianggap musuh!

"Kedatanganku ini ada urusan penting dengan ayahmu dan tidak dapat kukatakan kepada orang lain biar engkau ini pute rinya sekalipun.

Bukankah nama ayahmu Cian Bu......?"

"Benar, ayahku lurah di dusun ini!"

Jawab Kui Eng agak ketus karena sang tamu tidak mau memberitahukan keperluannya datang berkunjung.

"Dan dia dahulu seorang pangeran bernama Cian Bu Ong bukan?"

Tanya Cin Cin tiba-tiba dan dengan pandang mata menusuk penuh selidik.

Kembali Kui Eng mengerutkan alisnya.

Ayah ibunya sudah berulang kali melarang ia bicara te ntang ayahnya sebagai Pangeran Cian Bu Ong, karena hal itu berbahaya sekali, dapat membuat ayahnya ditangkap oleh pemerintah sebagai seorang buronan atau bekas pemberontak!

"Hai, Cin Cin, apa perlunya engkau bertanya-tanya tentang keadaan ayahku?

Dia boleh jadi ini atau itu, apa hubungannya denganmu dan engkau mau apa?

Ayahku adalah ayahku, lurah dusun ini dan engkau atau siapa saja tidak berhak untuk bertanya-tanya tentang urusan pribadinya.!

Mau apa engkau sebenarnya?"

Kini Kui Eng bertolak pinggang, matanya melotot.

"Nona Cian yang manis , kalau ayahmu itu benar Pangeran Cian Bu Ong, aku datang untuk membunuhnya!"

Kata Cin Cin, tidak kalah bengisnya.

"Heii! Enak saja engkau membuka mulutmu yang lancang.! Apa kaukira setelah engkau membawa-bawa pedang, engkau dapat menakut-nakuti aku seperti anak kecil saja? Baik ayahku seorang lurah, pangeran atau raja sekalipun, engkau tidak patut mengancamnya seperti itu. Mungkin engkau seorang gila. Pergi dari sini atau aku akan menampar mulutmu biar rontok semua gigimu!"

Cin Cin adalah seorang wanita yang keras hati. Mendengar ucapan ini, te ntu saja perutnya terasa panas.

"Cian Kui Eng, sombong amat engkau. Engkau tidak tahu berhadapan dengan siapa!"

"Engkau yang sombong! Engkaupun tidak tahu nonamu ini orang macam apa! Habis kau mau apa?"

Bentak Kui Eng.

"Engkau juga mau apa kalau aku akan membunuh Pangeran Cian Bu Ong?"

"Kau mau membunuh pangeran atau raja bukan urusanku, akan te tapi kalau engkau menghina ayahku, engkau akan mampus di tanganku."

"Heh-heh, nona cilik, hendak kulihat bagaimana engkau akan membikin aku mampus!"

Tantang Cin Cin.

Kui Eng menggerakkan kakinya dan tu buhnya meluncur ke depan Cin Cin.

Kini kedua orang itu saling berhadapan dalam jarak dua mete r, saling melotot dengan muka merah dan dari hidung mereka mengembus uap panas.

"Pergi kau, kalau tidak, terpaksa aku akan memukulmu!"

"Jangan banyak mulut, pukullah kalau berani!"

Tantang Cin Cin.

"Sombong, lihat pukulanku!"

Kui Eng memberi peringatan dan iapun maju menyerang dengan tamparan tangan kiri.

Tangan itu menyambar cepat dan kuat sekali ke arah muka Cin Cin.

Melihat betapa tamparan itu membawa angin pukulan yang dahsyat, maklumlah bahwa ia menghadapi seorang lawan yang tidak boleh dipandang ringan, Cin Cin cepat menarik tubuh ke belakang sehingga tamparaan itu mengenai angin kosong.

Akan tetapi kaki kanan Kui Eng sudah menyambar pula dengan tendangan maut ke arah perutnya!

"Hemm, ganas juga engkau!"

Seru Cin Cin dan iapun terpaksa meloncat ke samping untuk menghindarkan diri dari tendangan itu.

Iapun segera membalas, melangkah maju sambil mendorong ke arah dada lawan.

Akan tetapi, te rnyata lawannya itu memiliki gerakan yang tidak kalah gesitnya, sehingga dorongannya itupun hanya mengenai angin kosong.

Kembali Kui Eng sudah menyerang dari samping sebagai balasan, tangannya mencengkeram ke arah pundak kiri Cin Cin.

Karena ingin menguji tenaga lawan, Cin Cin memutar le ngan menangkis sambil mengerahkan te naga saktinya.

"Dukkk!"

Dua buah le ngan yang kecil mungil berkulit halus, namun yang keduanya mengandung te naga dalam yang amat kuat itu berte mu dan keduanya terpental ke belakang!

Mereka saling pandang dengan mata te rbelalak, karena kini keduanya menyadari bahwa lawan benar-benar tangguh dan mereka memiliki tenaga sin-kang yang seimbang!

Kembali mereka saling hantam dan saling te ndang bagaikan dua ekor singa betina mengamuk.

Sebetulnya, kalau dibuat perbandingan, Cin Cin masih lebih menang setingkat.

Biarpun keduanya digemble ng oleh guru yang sakti, namun ketika kecilnya, Kui Eng yang merasa menjadi puteri pangeran, agak manja dan kadang malas berlatih.

Berbeda dengan Cin Cin yang mengandung sakit hati karena kehancuran keluarganya, ia berlatih dengan tekun sekali untuk dapat membalas dendamnya.

Akan te tapi, menghadapi Kui Eng, Cin Cin tidak mau menghabis kan seluruh tenaga dan kepandaiannya.

Ia tidak ingin membunuh Kui Eng, karena belum mengetahui dengan pasti apakah ia berada di te mpat musuh besar gurunya ataukah tidak.

I a belum yakin benar apakah ayah lawannya ini Pangeran Cian Bu Ong atau hanya seorang lurah kaya yang bernama Cian Bu saja.

Sebaliknya, melihat orang mengancam ayahnya, Kui Eng menjadi marah sekali dan ia mengerahkan seluruh kepandaian dan te naganya sehingga keadaan mereka menjadi berimbang.

Biarpun demikian, karena memang kalah tingkat.

setelah lewat tigapuluh jurus, mulailah Kui Eng te rdesak mundur.

Pada saat itu, dari dalam rumah bermunculan para pembantu rumah tangga dan mereka segera lari ke dalam untuk melapor kepada nyonya majikan mereka.

Sim Lan Ci berlari keluar sambil membawa pedangnya, yaitu pedang Cui-mo Hek-kiam (Pedang Hitam Pemburu Iblis)!

Melihat puterinya te rdesak oleh seorang gadis cantik lain yang memiliki serangan ganas dan kuat, ia terkejut.

Kepandaian pute rinya sudah hebat, dan jarang ada orang mampu menandinginya, akan tetapi kini ia melihat jelas betapa pute ri tirinya itu te rdesak oleh lawannya.

"Tahan dulu, hentikan perkelahian ini!"

Te riaknya sambil meloncat ke depan dan melihat pute rinya terancam sebuah tamparan lawan, iapun menangkis tamparan itu.

"Plak!"

Keduanya terkejut karena keduanya merasa betapa lengan te rgetar hebat.

Mengertilah Sim Lan Ci mengapa pute rinya te rdesak.

Gadis ini memang lihai sekali dan merupakan seorang lawan tangguh.

Di lain pihak, melihat bayangan berkelebat dan seorang wanita setengah tua cantik jelita menangkis tamparannya membuat lengannya te rgetar hebat, Cin Cin juga meloncat ke belakang dan memandang penuh perhatian.

Ia sudah mendengar keterangan dari pemilik rumah yang ditumpangi bahwa lurah Cian Bu memiliki seorang isteri cantik yang selalu berpakaian hitam.

Iapun dapat menduga bahwa te ntu wanita ini isteri sang lurah dan ibu dari gadis ramping yang menjadi lawannya tadi.

Makin kuat dugaannya bahwa ia tidak tiba di alamat yang keliru.

Pasti mereka ini keluarga Pangeran Cian Bu Ong karena gurunya memesan agar ia berhati-hati karena Pangeran Cian Bu Ong memiliki ilmu kepandaian tinggi.

Dan te rnyata keluarganya, isteri dan puterinya, juga amat lihai.

Akan te tapi, melihat wajah wanita berpakaian serba hitam itu, ia te rte gun.

I a merasa mengenal wanita ini!

Ya, ia mengenalnya dengan baik karena wanita ini dan suaminya dan pute ranya menjadi tamu yang amat menarik perhatian dan yang disambut dengan meriah oleh seluruh keluarga He k-houw-pang!

De ngan melongo Cin Cin mengamati nyonya berpakaian hitam itu, mengingat-ingat.

Tak salah lagi pikirnya.

Wanita ini adalah bibinya sendiri, isteri dari pamannya yang bernama Coa Siang Lee, saudara sepupu ibunya sendiri yang bernama Coa Liu Hwa.

Dan ia ingat benar bahwa wanita ini bernama Sim Lan Ci, dan pute ra mereka bernama Coa Thian Ki.

Akan tetapi....kenapa ia berada di sini dan menjadi keluarga lurah Cian Bu atau mungkin Pangeran Cian Bu Ong?

Di lain pihak, Sim Lan Ci juga mengingat-ingat karena merasa sudah mengenal gadis itu, akan tetapi lupa di mana dan kapan.

Hanya wajah gadis cantik itu adalah wajah yang tidak asing baginya.

"Nona, kenapa engkau menyerang pute riku? Kui Eng, kenapa engkau berkelahi dengan nona ini?"

Tanya Sim Lan Ci kepada mereka berdua.

"I bu, Iblis betina ini datang menghina ayah! Ia hendak membunuh ayah!"

Teriak Kui Eng marah sekali.

Tentu saja Sim Lan Ci menjadi terkejut bukan main.

Sebagai seorang wanita yang banyak pengalamannya di dunia kangouw, iapun dapat menduga bahwa te ntu gadis ini mempunyai alasan yang kuat maka berani datang untuk membunuh suaminya!

Dan alasan itu pasti ada hubungannya dengan pangeran Cian Bu Ong, karena selama menjadi lurah Cian Bu, suaminya tidak mempunyai musuh besar.

"Nona, kenapa nona hendak membunuh suamiku, lurah Cian Bu di dusun ini?"

Ia bertanya, sengaja menekankan kepada sebutan lurah.

"Lurah.......?"

Kata Cin Cin meragu.

"Nyonya, aku datang bukan hendak membunuh lurah Cian Bu atau siapapun, melainkan hendak bertanya apakah lurah Cian Bu itu Pangeran Cian Bu Ong. Kalau dia Pangeran Cian Bu Ong. aku akan membunuhnya dan siapapun ju ga tidak dapat menghalangiku!"

Sim Lan Ci memandang dengan mata te rbelalak. Akan te tapi ia dapat menguasai guncangan dan debaran jantungnya dan bersikap te nang.

"Nona, siapakah engkau sebenarnya?"

Ia mengamati wajah itu.

"Aku seperti pernah mengenalmu."

"Aku juga. Bibi mirip benar dengan seorang wanita yang kukenal baik, sama wajah, pakaian dan suaranya, seperti Bibi Sim Lan Ci."

Wajah Sim Lan Ci berubah pucat.

"Jadi kau.. .. siapakah kau......."

"I bu, namanya Cin Cin,"

Kata Kui Eng cepat.

"Cin Cin......? Engkau pute ri ketua He k-hou-pang? Engkau.......Kam Cin?"

"Benar! Aih, tidak kusangka dapat berte mu dengan bibi di sini. Akan tetapi aku menghadapi urusan genting, bibi. Tolonglah bibi beritahu sebenarnya siapa lurah Cian Bu itu. Benarkah dia Pangeran Cian Bu Ong?"

Tanya Cin Cin dan matanya mencorong, menatap tajam wajah wanita itu penuh selidik.

"Tapi kenapa......?"

Ucapan Sim Lan Ci ini dipotong suara lain.

"Apakah yang te rjadi di sini? Siapakah ia ini dan.......ohhh.......!"

Pemuda itu terkejut ketika Cin Cin menoleh dan memandang kepadanya. Gadis yang dilihatnya berte lanjang bulat di te pi sungai itu! Cin Cin tersenyum mengejek ketika melihat Thian Ki.

"Hemm, kiranya engkau monyet jelek berada di sini pula. Mau apa kau mencampuri urusan kami!"

"Koko, ia datang hendak membunuh ayah!"

Te riak Kui Eng.

"Ehhnh.......?"

Thian Ki terkejut sekali.

"Thian Ki, nona ini adalah Kam Cin puteri ketua He k-houw-pang, saudara misanmu sendiri!"

Kata Sim Lan Ci.

"Cin Cin..........??"

"Thian Ki.........??"

Teriakan Thian Ki dan Cin Cin hampir berbareng dan mereka saling pandang, lalu perlahan-lahan muka keduanya berubah kemerahan karena mereka te ringat betapa mereka pernah saling melihat dalam keadaan telanjang bulat, teringat akan peristiwa di tepi Huang-ho.

"Cin Cin, engkau tidak bole h membunuh ayah!"

"Ayah? Bukankah ayahmu, paman Coa Siang Lee, telah tewas ketika He k-houw-pang diserbu gerombolan?"

"Yang kumaksudkan......dia.......... ayah tiriku..........."

Kata Thian Ki, mukanya merah.

Cin Cin mengerutkan alisnya dan menoleh, memandang kepada Sim Lan Ci yang menundukkan muka.

Peristiwa ini sama sekali tak pernah disangkanya datangnya begitu tiba-tiba dan ia dihadapkan kepada kenangan masa lalu!

Cin Cin mengangguk-angguk dan senyumnya sinis.

"Hemm, mengerti aku sekarang. Kiranya setelah ditinggal mati paman Coa Siang Lee, bibi Sim Lan Ci te lah menikah lagi dengan.........lurah Cian Bu......atau Pangeran Cian Bu Ong si pemberontak?"

"Cin Cin.....!"

Teriak Thian Ki, sedih melihat ibunya dicaci.

"I blis betina busuk!"

Bentak Kui Eng marah. Cin Cin menoleh kepada Thian Ki.

"Engkau hendak membela ayah tirimu? Kalau begitu, benar makianku bahwa engkau monyet buruk. Majulah!"

Dan Cin Cin sudah memasang kuda-kuda. siap menghadapi pengeroyokan tiga orang itu.

"Tahan........!"

Terdengar bentakan dan suara ini demikian berpengaruh sehingga mengejutkan hati Cin Cin.

Gadis itu cepat melangkah mundur lalu menghadapi orang yang datang dari sebelah kanannya.

Dan dia melihat seorang laki-laki tinggi besar, berjenggot panjang rapi, berwajah merah dan usianya te ntu mendekati tujuhpuluh tahun, namun masih nampak gagah perkasa dan kokoh seperti batu karang.

Tidak ragu lagi hatinya bahwa dia te ntu berhadapan dengan Pangeran Cian Bu Ong, karena laki-laki ini di waktu mudanya te ntulah ganteng dan gagah perkasa sehingga tidak mengherankan kalau gurunya jatuh cinta.

Tidak mungkin ada seorang lurah memiliki wibawa seperti ini.

-ooo0dw0ooo-

Jilid 18

"Nona, aku sudah mendengar bahwa engkau mencari Pangeran Cian Bu Ong untuk membunuhnya. Nah katakan, kenapa engkau hendak membunuh Pangeran Cian Bu Ong, apa kesalahannya kepadamu?"

Cin Cin menatap tajam wajah yang jantan itu dan bertanya.

"Apakah engkau Pangeran Cian Bu Ong?"

Pangeran Cian Bu Ong tersenyum.

"Aku bukan seorang pengecut. Kalau aku menyembunyikan nama dari umum, hal itu hanya agar keluargaku dapat hidup dengan te nteram. Akan tetapi kalau ada yang memusuhiku secara pribadi, aku tidak akan lari bersembunyi atau mengelak. Aku memang bekas Pangeran Cian Bu Ong. Nah, katakan kenapa engkau hendak membunuhku.!"

Cin Cin melepaskan kalung mutiara dari le hernya, lalu melemparkan kalung itu ke arah Cian Bu Ong sambil berseru.

"Cian Bu Ong, lihat benda ini dan engkau akan tahu mengapa aku hendak membunuhmu!"

Tentu saja ia menyambitkan kalung itu dengan pengerahan te naga sin-kang sehingga yang nampak hanya sinar putih berkilau menyambar ke arah muka pria tua itu.

Namun, dengan te nang saja Cian Bu Ong menyambut benda itu, walaupun di dalam hatinya diam-diam dia terkejut mendapat kenyataan betapa kuatnya sambitan ketika benda itu disambutnya.

Dan ketika dia melihat benda itu, sebuah untaian kalung dari mutiara yang besar-besar dan indah, matanya terbelalak.

"Sui Lan.........!"

Gumamnya seperti dalam mimpi dan te rbayanglah semua pengalaman hidupnya di waktu dia masih muda.

Dia pernah bertemu de ngan seorang gadis yang mendatangkan rasa kagum dalam hatinya, bukan hanya oleh kecantikannya yang luar biasa, akan te tapi juga karena gadis itu memiliki ilmu kepandaian silat yang cukup tinggi disamping ilmunya bermain dalam air.

Gadis itupun kagum kepadanya dan mereka saling jatuh cinta.

Demikian besar cinta gadis itu kepadanya sehingga gadis itu menyelam ke dalam lautan yang berbahaya, mengumpulkan banyak mutiara pilihan dan membuat kalung dari untaian mutiara yang amat berharga, lalu memberikan kalung itu kepadanya sebagai tanda cinta!

De mikian te rharu hatinya oleh hadiah ini sehingga dia pernah mengatakan bahwa dia akan menghargai kalung itu seperti nyawanya sendiri.

Mereka saling jatuh cinta, bahkan gadis yang bernama Bhok Sui Lan itu sudah menyerahkan diri kepadanya.

Hal ini saja sebetulnya sudah mendatangkan sedikit kekecewaan di dalam hatinya.

Betapa mudahnya Sui Lan menyerahkan diri kepadanya, walaupun hal itu dianggapnya sebagai pernyataan cinta kasih yang tulus.

Mereka memang sudah bersepakat untuk menikah.

Akan tetapi kemudian dia mendengar bahwa Bhok Sui Lan adalah s eorang gadis kang-ouw yang termasuk golongan sesat, atau golongan hitam.

Gadis itu datang dari keluarga para tokoh sesat yang te rkenal, dari golongan manusia yang berwatak iblis.

Tidak pernah mau mengenal peraturan dan selalu mendatangkan kekacauan dengan perbuatan mereka yang te ramat keji dan jahat.

Hal ini membuat dia memaksa hatinya yang mencinta untuk meninggalkan dan melupakan Sui Lan dan diapun menikah dengan gadis lain.

Dia adalah seorang pangeran yang bercita-cita tinggi, kalau mungkin dapat menggantikan kedudukan kaisar.

Bagaimana mungkin seorang calon kaisar menikah dengan seorang gadis golongan sesat yang jahat?

Hal itu tentu akan mencemarkan seluruh nama keluarga Kerajaan Sui!

Dia mengembalikan kalung mutiara itu kepada Sui Lan, kemudian meninggalkan gadis itu dan diapun tidak takut menghadapi Sui Lan walaupun gadis itu lihai karena tingkat kepandaiannya le bih tinggi.

Pula dia seorang pangeran yang memiliki banyak jagoan dan banyak pengawal sehingga gadis itu sama sekali tidak akan mampu berbuat sesuatu untuk mengganggunya.

Dia sudah hampir melupakan Sui Lan karena hal itu sudah terjadi puluhan tahun yang lalu.

Dan hari ini, tiba-tiba saja seorang gadis datang mengembalikan kalung itu kepadanya dan mengatakan hendak membunuhnya!

Dia mengamati kalung itu, menyebut nama bekas kekasihnya dan mengangkat muka lagi memandang kepada Cin Cin, gadis itu te rsenyum mengejek.

"Nona, apa hubunganmu dengan Sui Lan? Bukan Bhok Sui Lan sekarang telah terkenal dengan julukan Tung-hai Mo-li (Iblis Betina Lautan Timur )?"

Tanyanya, suaranya masih te nang walaupun hatinya terasa te gang.

"Bagus kalau engkau masih ingat nama subo Bhok Sui Lan! Aku adalah muridnya dan ia mengutusku untuk menukar kalung itu dengan nyawamu."

Mendengar ini, Kui Eng membentak.

"Perempuan iblis, siapa takut padamu? Ibu, koko, mari kita basmi siluman jahat ini!"

Akan te tapi Cian Bu Ong mengangkat tangan atas.

"Kalian tidak boleh mencampuri. Ini adalah urusan pribadiku, urusan ketika aku masih muda dan kalian belum ada bersamaku."

Mendengar ucapan bekas pangeran itu, Sim Lan Ci, Thian Ki dan Kui Eng tidak berani bicara lagi, hanya menjadi penonton yang berhati tegang. Cian Bu Ong lalu berkata kepada Cin Cin, suaranya berwibawa.

"Nona, aku memang ada urusan dengan gurumu. Kalau ia mendendam kepadaku kenapa bukan ia sendiri yang datang membuat perhitungan denganku di sini? Kenapa harus engkau, seorang gadis muda yang mencari keributan di sini?"

"Cian Bu Ong, hal itu adalah urusan antara kami guru dan murid. Aku mewakili subo untuk membalas dendam ini. Aku bukan orang yang suka cari keributan dan tidak suka membuat kekacauan. Juga aku bukan seorang yang curang. Kalau engkau tidak menghendaki keributan di dusunmu ini, dan agar engkau dapat bersiap-siap menghadapiku , biarlah kuberi waktu sampai besok sore. Setelah matahari condong ke barat, aku menantimu untuk membuat perhitungan di luar dusun sebelah barat di te pi sungai. Nah, selamat malam!"

Setelah berkata demikian, Cin Cin membalikkan tubuhnya meninggalkan pekarangan itu dengan langkah gagah.

Kui Eng yang merasa penasaran sudah melangkah maju hendak mengejar, akan te tapi le ngannya dipegang oleh ayahnya.

"Jangan kejar, biarkan ia pergi."

Sim Lan Ci yang sejak tadi hanya menjadi penonton dan pendengar, mengerutkan alisnya dan kini iapun bertanya kepada suaminya.

"Sebenarnya siapa sih itu Tung-hai Mo li Bhok Sui Lan dan mengapa ia mengirim muridnya untuk menukar kalung mutiara itu dengan nyawamu?"

Lurah Cian Bu atau bekas Pangeran Cian Bu Ong itu menghela napas panjang. Sambil mempermainkan kalung mutiara itu diapun berkata.

"Mari kita masuk ke dalam dan akan kuceritakan semua kepada kalian, agar kalian tahu apa yang te lah terjadi dan mengapa hari ini terjadi peristiwa yang membuat kalian semua merasa heran dan penasaran itu."

Mereka berempat masuk ke dalam rumah dan di ruangan dalam, duduk mengelilingi meja besar, bekas pangeran itu menceritakan riwayatnya dengan Bhok Sui Lan. Sebagai penutup ceritanya dia berkata.

"Me mang tadinya kami saling mencinta, bahkan kami sudah bersepakat untuk menikah. Akan te tapi setelah aku tahu latar belakang kehidupannya, bagaimana mungkin aku yang ketika itu seorang Pangeran yang mendambakan kedudukan sebagai kaisar dapat menikah dengan seorang gadis dari keluarga para tokoh sesat yang amat jahat dan yang namanya sudah te rcemar? Aku mengembalikan kalung pemberiannya ini dan mengucapkan selamat berpisah. Tidak kusangka selama ini ia menyimpan dendam padaku."

Karena urusan cinta gagal itu terjadi ketika suaminya masih muda dahulu, jauh sebelum berte mu dengannya, maka Sim Lan Ci juga tidak merasa te rsinggung. Ia hanya ikut menyesal dan bertanya.

"Kalau memang ia mendendam, kenapa tidak sejak dahulu ia membalas dendamnya kepadamu?"

Cian Bu te rsenyum.

"Tentu saja ia tidak berani. Selain ketika itu ilmunya tidak akan menang melawanku, juga sebaqai pangeran te ntu saja aku mempunyai banyak pengawal yang pandai."

"Tapi sekarang?"

Tanya isterinya. Cian Bu menghela napas panjang.

"Entahlah, tetapi melihat gerakan gadis tadi, jelas kini Tung-hai Mo-li te ntu telah memperdalam kepandaiannya. Tadi kulihat engkau dan Thian Ki seperti telah mengenalnya, benarkah?"

"Benar, kami mengenalnya. Ia bernama Kam Cin dan biasa dipanggil Cin Cin. Ia puteri ketua Hek-houw-pang yang te was pula ketika terjadi penyerbuan malam itu......."

Sim Lan Ci teringat akan keterlibatan suaminya dalam penyerbuan itu dan menahan ucapannya.

"Tapi kenapa tiba-tiba ia muncul sebagai murid Tung-hai Mo-li?"

Tanya Cian Bu sambil mengerutkan alisnya yang te bal.

Bagaimanapun juga, ayah gadis itu, ketua Hek-houw-pang, te was oleh lima orang anak buahnya.

Kalau gadis itu mengetahuinya, bukan untuk subonya saja ia datang hendak membunuhnya, juga te ntu untuk membalas kematian ayahnya!

"Kami juga tidak mengerti.

Ketika aku kembali ke dusun Ta-bun-cung dulu itu, kami mendengar bahwa Cin Cin diantar oleh susioknya (paman gurunya) untuk menjadi murid Huang-ho Sin-liong (Naga Sakti Sungai Kuning) Si Han Beng.

Entah bagaimana kini tiba-tiba saja ia muncul sebagai murid Tung-hai Mo-li."

Bekas pangeran itu mengangguk-angguk dan meraba dagunya yang ditumbuhi je nggot yang te rawat rapi.

Kalau gadis itu murid Huang-ho Sin-liong tidak aneh kalau ia lihai sekali.

Akan te tapi ia mengakui Tung-hai Mo-li sebagai gurunya.

"Bagaimanapun juga, aku melihat bahwa gadis itu memiliki watak yang gagah. Buktinya, ia memberi waktu kepadaku untuk bersiap sampai besok sore."

"Engkau hendak menandinginya?"

Tanya isterinya khawatir.

"Engkau khawatir aku kalah?"

Sim Lan Ci menggeleng kepala. Ia maklum akan kemampuan suaminya dan ia tadi sudah melihat kelihaian Cin Cin. Bagaimanapun juga, sukar dapat dipercaya kalau gadis itu akan mampu mengalahkan suaminya.

"Aku justeru khawatir engkau membunuhnya hingga permusuhan akan menjadi semakin parah padahal, biarpun agak jauh, te tap saja ia masih keponakanku dan saudara misan Thian Ki."

Cian Bu te rsenyum.

"Engkau kira aku ini orang macam apa hendak membunuh seorang gadis muda yang menjadi lawanku? Jangan khawatir, aku tidak akan mencelakainya. Kalau memang Sui Lan hendak membalas dendam kepadaku, ia harus datang sendiri. Tidak menyuruh orang lain."

Diam-diam bekas pangeran ini merasa terharu karena dia mengenal betul watak Sui Lan.

Wanita itu bukan seorang penakut, bahkan sangat pemberani.

Kalau ia mengutus muridnya, hal itu pasti bukan karena ia takut maju sendiri.

Satu-satunya sebab yang dapat menyebabkan Sui Lan tidak datang sendiri adalah bahwa ia masih mencintanya!

Sui Lan agaknya tidak pernah melupakannya, menaruh dendam akan tetapi tidak mau turun tangan sendiri karena agaknya yakin bahwa kalau berhadapan muka, Sui Lan tidak akan te ga mencelakainya karena masih mencintanya.

Kalam itu, Cian Bu tidur nyenyak, sedikitpun agaknya tidak memikirkan te ntang tantangan Cin Cin untuk membuat perhitungan besok sore.

Akan tetapi sebaliknya, Sim Lan Ci dan Thian Ki tidak dapat tidur, merasa gelisah membayangkan apa yang akan te rjadi esok.

Ketika malam itu Sim Lan Ci menyelinap dari dari dalam kamarnya, meninggalkan suaminya yang sedang tidur nyenyak, ia mendapatkan pute ranya duduk te rmenung seorang diri di ruangan belakang.

Melihat ibunya.

Thian Ki segera menyambut dengan pertanyaan.

"Kenapa ibu belum tidur?"

"Kulihat engkaupun belum tidur masih melamun di sini, Thian Ki. Agaknya pikiran kita sama. Engkau juga memikirkan Cin Cin, bukan?"

"Benar, ibu. Aku khawatir sekali membayangkan apa yang akan te rjadi besok sore."

"Thian Ki, tadi agaknya Cin Cin te lah mengenalmu. Mengapa ia memakimu sebagai monyet jelek?"

Wajah Thian Ki berubah kemerahan. Tentu saja dia merasa malu untuk menceritakan peristiwa itu kepada ibunya, dan dia tidak tahu harus menjawab bagaimana s ehingga dia menunduk saja.

"Thian Ki, apakah ada kaitannya dengan ketika engkau pulang bertelanjang dada membawa dua ekor ikan itu?"

Thian Ki mengeluh dalam hatinya.

Ibunya adalah seorang wanita yang cerdik sekali, bagaimanapun sukar untuk membohonginya.

Dia harus menceritakan pertemuannya dengan Cin Cin, te ntu saja tanpa menyebut dan menyinggung te ntang dia dan Cin Cin saling melihat masing-masing bertelanjang bulat!

"Benar, ibu.

Akan te tapi ketika kami saling jumpa di te pi sungai itu, kami tidak saling mengenal.

Ketika itu aku hendak mandi dan sudah membuka baju, ketika aku melihat dua ekor ikan itu menggelepar di balik semak.

Aku menangkap dua ekor ikan itu.

Tidak tahunya, ia muncul dan marah-marah, mengatakan bahwa aku hendak mencuri ikan miliknya.

Lalu sebagai gantinya, ia dengan marah membuang bajuku yang sudah kutanggalkan ke tengah sungai sampai hanyut, lalu ia memaki aku monyet jelek dan pergi."

Terpaksa Thian Ki berbohong dan mengubah kejadian yang sebenarnya kepada ibunya, karena bagaimanapun tentu saja dia merasa malu untuk bicara terus terang tentang ketelanjangan itu.

Ibunya mendengarkan penuh perhatian dan menarik napas panjang.

"Hemm, ia masih lincah, je naka dan pemberani seperti dahulu, hanya kini bertambah galak dan lihai. Thian Ki, bagaimanapun juga, kita harus mencegah te rjadinya perkelahian antara ia dan ayahmu."

"Akan tetapi bagaimana caranya, ibu? Ayah sudah mengatakan bahwa itu urusan pribadinya dan kita tidak boleh mencampuri. Ayah benar dan aku tidak berani untuk membujuknya."

"Engkau harus dapat membujuk Cin Cin agar membatalkan perkelahiannya dengan ayahmu. Kalau aku yang membujuk, kurang baik. Engkaulah yang le bih dekat dengannya, karena ayahmu adalah saudara sepupu ibunya. Engkau bujuklah ia agar tidak melanjutkan kehendaknya menantang ayahmu."

Thian Ki membayangkan Cin Cin yang demikian galak te rhadap dirinya dan diam-diam dia merasa je rih juga.

Gadis itu demikian galak seperti harimau betina.

Akan tetapi, ketika itu Cin Cin belum mengetahui bahwa dia adalah Thian Ki.

Mungkin kini sikapnya berubah le bih lunak, mengingat betapa dulu, ketika dia menjadi tamu keluarga gadis itu bersama ayah ibunya, mereka adalah saudara misan yang bersahabat karib.

"Baiklah, ibu. Akan kucoba besok. Akan kucari Cin Cin sebelum ayah pergi ke sana menyambut tantangannya."

Setelah bicara dengan Thian Ki, agak le galah hati Sim Lan Ci dan wanita inipun kembali ke kamarnya dan tidur di samping suaminya.

Thian Ki juga memasuki kamarnya dan semalam itu dia gelisah, membayangkan perte muannya dengan Cin Cin dan mencari-cari cara dan jalan untuk membujuk gadis itu tanpa dapat menemukan cara te rbaik sampai akhirnya dia kelelahan dan tertidur menjelang pagi.

Sejak tengah hari.

Thian Ki sudah berkeliaran di sepanjang tepi sungai sebelah barat sungai Kuning untuk mencari Cin Cin.

Dia sama sekali tidak menduga bahwa gadis itu semalam tidur di rumah milik janda miskin di ujung dusun, dan gadis yang berhati-hati itu tidak mau keluar dari rumah sebelum matahari mulai condong ke barat.

Ketika siang hari itu Thian Ki tiba di tepi sungai tentu s aja dia tidak dapat menemukan Cin Cin yang masih berada di rumah kecil itu bersama wanita pemilik rumah, bahkan masak-masak bersama wanita itu yang merasa suka sekali kepada gadis itu.

Sambil masak berdua di dapur, wanita yang mulai merasa suka sekali kepada Cin Cin berkata.

"Nona, kalau aku boleh bertanya, apakah nona sudah..........eh, sudah menikah atau bertunangan? Maafkan pertanyaanku, aku tidak bermaksud untuk bersikap kurang ajar."

"Ah, tidak mengapa, bibi. Aku belum menikah, juga tidak bertunangan. Kenapa sih bibi menanyakan hal itu? Apakah bibi ingin mengambilku sebagai mantu untuk dijodohkan dengan pute ramu yang pergi tak pernah memberi kabar itu?"

Wanita itu te rsipu.

"Aih, nona harap jangan mengolok-olok. Orang seperti kami ini mana pantas untuk menarik nona menjadi anggota keluarga? Bukan itu maksudku tadi, aku kagum dan suka kepadamu, dan aku hanya ingin tahu saja. Kalau seorang gadis seperti nona ini, paling tidak harus berjodoh dengan seorang pemuda yang pilihan, seperti.......seperti misalnya Cian Kongcu itu."

"Cian Kongcu..........?"

"Maksudku, putera lurah kami itu.........."

Cin Cin teringat dan te rbayanglah wajah Thian Ki, bukan hanya wajahnya, melainkan seluruh tubuh pemuda yang pernah dilihatnya telanjang bulat itu dan iapun te rtawa.

"Monyet.......monyet jelek itu."

Kini wanita itu yang memandang dengan mata te rbelalak.

"Monyet jelek? N ona, putera lurah Cian amat tampan dan gagah, juga manis budi walaupun agak pendiam."

"Sudahlah, bibi, jangan bicara te ntang orang lain. Masakannya sudah matang dan perutku sudah lapar. Mari kita makan."

De mikianlah, ketika matahari sudah condong ke barat dan Cin Cin meninggalkan rumah kecil itu menuju ke te pi sungai di luar dusun, ucapan wanita itu te rngiang lagi di telinganya dan diapun melangkah sambil melamun.

Teringatlah kenangan lama, ketika Thian Ki bersama ayah ibunya menjadi tamu orang tuanya.

Betapa orangtuanya dan seluruh keluarga He k-houw-pang menghormati para tamu itu, dan betapa ia dan Thian Ki telah bersahabat baik.

Kemudian, teringat pula ia akan perte muannya dengan pemuda itu di te pi sungai dan mau tak mau ia tersenyum geli.

Akan te tapi hanya sebentar karena ia segera te ringat lagi bahwa kini Thian Ki yang dulu bukan lagi Thian Ki yang sekarang.

Sekarang dia adalah anak tiri Cian Bu Ong, musuh besar gurunya yang harus dibunuhnya!

Heran ia memikirkan bagaimana ibu Thian Ki yang ditinggal mati suaminya itu kini tahu-tahu telah menjadi isteri bekas pangeran itu.

"Cin Cin........."

Gadis itu terkejut dan sadar dari lamunannya, menahan langkahnya dan tahu-tahu Thian Ki telah berada di depannya.

Ia mengerutkan alis, heran dan juga penas aran karena yang ia nantikan adalah Cian Bu Ong, bukan Thian Ki.

"Hemrn, kiranya engkau. Mau apa engkau menghadangku?"

Tanyanya dengan sikap dan suara yang ketus. Thian Ki melangkah maju mendekat.

"Cin Cin, aku adalah Thian Ki, saudara misan dan sahabatmu......"

Cin Cin mundur dua langkah.

"Jangan mendekat.! Engkau bukan lagi Thian Ki putera paman Coa Siang Lee, melainkan Thian Ki anak musuh besarku Cian Bu Ong!"

Sedih sekali hati Thian Ki melihat sikap mendengar ucapan itu.

"Cin Cin, bersikaplah adil. Memang benar bahwa ibuku telah menjadi janda dan kini telah menjadi isteri bekas pangeran Cian Bu Ong, akan tetapi hal itu tidak berarti bahwa ibu dan aku menjadi musuhmu. Pula, engkau sendiri tidak mempunyai permusuhan apapun dengan ayah tiriku itu. Cin Cin, dengarlah baik-baik, urusan antara ayah tiriku dan gurumu, urusan itu adalah urusan pribadi, urusan mereka berdua, tidak ada hubungann ya dengan kita. Mereka dahulu saling mencinta, akan tetapi kemudian ayah tiriku te rpaksa meninggalkannya, dan sama sekali bukan kesalahan ayah tiriku........"

Cin Cin melotot dan mukanya kemerahan,sinar matanya berkilat.

"Huh, kalian laki-laki memang mau enaknya sendiri saja! Guruku di waktu gadis telah menyerahkan segala-galanya kepada Cian Bu Ong, mencintanya dengan seluruh jiwa raganya. Akan tetapi Cian Bu Ong malah meninggalkannya dan menikah dengan gadis lain. Apa ini bukan perbuatan yang khianat dan hina? Guruku sejak itu hidup merana, tidak pernah menikah lagi. Tidak pernah berdekatan lagi dengan laki-laki lain, seluruh sisa hidupnya dipergunakan untuk memperdalam ilmu agar kelak dapat membalas dendam kepada Cian Bu Ong. Dan sekarang engkau, anak tiri Cian Bu Ong, mengatakan bahwa dia tidak bersalah. Apakah guruku yang disia-siakan itu yang salah? Jawab!"

Diberondong serangan kata-kata itu, Thian Ki agak gelagapan juga.

Dia memang seorang yang tidak begitu pandai bicara, bahkan condong pendiam.

Kalau kini dia dapat mengeluarkan banyak kata-kata, hal itu adalah karena rasa khawatirnya, bukan terhadap ayah tirinya yang dia tahu seorang sakti, melainkan terhadap Cin Cin.

"Gurumu juga tidak bersalah, Cin Cin. Akan tetapi ayah tiriku juga tidak bersalah. Mereka, sebagai dua orang kekasih, mereka telah menjadi korban keadaan. Mereka memang saling mencinta dan sudah bermaksud untuk menjadi suami isteri. Akan te tapi kemudian Pangeran Cian Bu Ong mendapat kenyataan bahwa kekasihnya itu adalah seorang anggota keluarga tokoh-tokoh sesat yang te rsohor karena kejahatan dan kekejaman mereka. Sebagai seorang pangeran yang bercita-cita menjadi kaisar, te ntu saja Pangeran Cian Bu Ong tidak ingin mencemarkan nama keluarga kerajaan dengan menikahi kekasihnya itu, maka te rpaksa dia meninggalkannya."

"Alasan kosong! Buktinya dia sekarang tidak menjadi kaisar, malah menjadi lurah saja, dan berganti nama pula.! Thian Ki, jangan engkau mencampuri urusanku. Apapun alas annya, Cian Bu Ong te lah menghancurkan kehidupan guruku, dan guruku mengutus aku untuk membunuhnya, maka hal itu akan kulakukan dan siapapun tidak boleh menghalangiku!"

"Cin Cin, jangan kaulanjutkan niatmu yang sia-sia itu.........."

"Apa? Engkau berani melarangku? Engkau hendak membela ayah tirimu itu ya?"

"Bukan membela, Cin Cin. Dia tidak perlu dibela. Aku mencegah perkelahian ini karena aku tidak ingin melihat engkau cedera atau tewas. Ayah tiriku itu seorang yang sakti, Cin Cin. Engkau bukan lawannya."

Ucapan ini bagaikan minyak disiramkan kepada api, membuat Cin Cin menjadi semakin marah.

"Kaukira aku takut? Untuk membela guruku, aku akan mempertaruhkan nyawaku! Dan aku hendak melihat sampai dimana kehebatan laki-laki yang telah merusaak kehidupan guruku itu! Jangan engkau mencampuri.!"

Cin Cin bertolak pinggang menghadapi Thian-Ki dengan sikap marah sekali.

"Kenapa dia tidak datang? Apakah Cian Bu Ong hanya seorang pengecut yang mengirim putera tirinya untuk membujuk agar aku mau mundur?"

Thian Ki tidak menjawab, bahkan mundur beberapa langkah karena dia tahu bahwa ayah tirinya sudah berada di situ.

"Nona. aku sudah berada di sini!"

Terdengar suara Cian Bu Ong yang berwibawa dan te nang. Kemudian dia berkata kepada Thian Ki.

"Thian Ki, sudah kukatakan bahwa ini urusan pribadi, engkau tak boleh mencampuri."

"Maafkan saya, ayah,"

Kata Thian Ki dengan hati te rpukul dan dia hanya berdiri menjadi penonton, jantungnya berdebar tegang.

"Bagus engkau sudah datang, Cian Bu Ong!"

Kata Cin Cin.

"Maaf, aku tidak tahu bahwa Thian Ki telah mendahuluiku. Nah, aku sudah siap sekarang, nona."

"Singgg........!!"

Nampak sinar berkilauan ketika gadis itu mencabut Koai-liong-kiam dari sarung pedang. Pedang pusaka yang ampuh itu merupakan sebatang pedang yang tajam dan bentuknya seperti seekor naga.

"Cian Bu Ong, keluarkan senjatamu!"

Bentak Cin Cin dan dengan gagahnya dan ia sudah memasang kuda-kuda dengan pedang di tangan.

Cian Bu Ong tetap bersikap tenang.

Teringat dia kepada bekas kekasihnya, Bhok Sui Lan yang dulu juga merupakan seorang yang lihai mempergunakan pedang, bahkan diapun te ringat bahwa itu adalah pedang milik kekasihnya sehingga dia tidak ragu lagi bahwa gadis ini memang murid bekas kekasihnya itu.

"Hemm, Koai-liong-kiam. Ingin aku melihat sampai di mana kemajuan Sui Lan melalui muridnya. Aku tidak perlu mempergunakan senjata, nona. Mulailah, aku sudah siap sedia."

"Kalau begitu, bersiaplah untuk mampus di tanganku!"

Teriak Cin Cin dan iapun menyerang dengan pedangnya, menerjang bagaikan angin badai mengamuk.

Ge rakan pedangnya memang dahsyat bukan main.

Gadis ini maklum bahwa ia menghadapi lawan yang tangguh dan lihai sekali, maka begitu menyerang ia telah memainkan ilmu pedang Koay-liong-kiam-sut (Ilmu Pedang Naga Siluman) yang dahsyat.

Cian Bu Ong mengenal ilmu pedang ini, akan tetapi diapun tahu bahwa ilmu pedang itu selama puluhan tahun ini tentu telah diperhebat oleh Bhok Sui Lan, maka diapun tidak memandang rendah dan cepat menggerakkan kedua tangannya.

Lengan bajunya yang le bar itu menyambar-nyambar mengeluarkan angin kuat dan agaknya kedua lengan baju yang panjang dan lebar itulah yang dipergunakan Cian Bu Ong untuk menghadapi pedang lawan.

Thian Ki yang masih berdiri di situ sebagai penonton, melihat dengan jantung berdebar penuh ketegangan.

Dia melihat bahwa Cin Cin memang hebat bukan main, apalagi dengan pedangnya yang ampuh itu.

Pantas kalau Kui Eng tidak mampu menandinginya.

Dia sendiripun agaknya tidak akan mudah menang.

Cin Cin telah menjadi seorang gadis yang hebat sekali ilmu silatnya, juga galak dan ganas!

Akan te tapi, dia juga melihat gerakan ayah tirinya dan mulailah dia merasa khawatir.

Betapapun hebat ilmu pedang gadis itu, namun te rnyata dalam hal te naga sin-kang, dia masih kalah setingkat oleh Cian Bu Ong.

Setiap kali ujung pedang berte mu ujung le ngan baju, pedang itu te rpental dan nampak gadis itu seperti orang te rkejut.

Hanya kelincahan gadis itu yang membuat mereka menjadi seimbang, karena tentu saja Cian Bu yang sudah tua tidak mampu menyamai kecepatan gerakan gadis semuda dan selincah Cin Cin.

Akan tetapi ada satu hal yang membuat hati Thian Ki merasa lega, dan juga heran.

Dia maklum bahwa kalau Cian Bu Ong menghendaki, dengan kelebihan tenaga sin-kangnya, dia akan mampu mendesak bahkan merobohkan lawannya.

Akan te tapi te rnyata bekas pangeran itu tidak melakukan hal itu.

Ini hanya membuktikan bahwa Cian Bu Ong te lah sengaja mengalah!

Dan sikap mengalah ini hanya mempunyai satu arti, yaitu bahwa ayah tirinya itu masih mempunyai perasaan cinta terhadap guru Cin Cin, yaitu Tung-hai Mo-li Bhok Sui Lan!

Atau setidaknya, ayah tirinya menyadari kesalahannya te rhadap Bhok Sui Lan maka sekarang sengaja mengalah terhadap muridnya.

Cin Cin yang merasa penasaran sekali tidak mampu mendesak lawannya yang bertangan kosong itu dengan pedangnya, tiba-tiba mengeluarkan bentakan nyaring dan melengking, tubuhnya berputar cepat sekali dan pedangnya digetarkan, ujung pedang menjadi banyak dan bertubi-tubi menusuk ke arah bagian-bagian paling berbahaya dari tu buh lawan.

Sekali saja ujung pedang itu berhasil mengenai sasaran, tentu Cian Bu Ong, betapapun lihainya, akan roboh dan te was!

Melihat ini, timbul pula kekhawatiran dalam hati Thian Ki.

Serangan gadis itu teramat berbahaya walaupun dengan serangan itu Cin Cin membuka pula pertahanannya, kalau ayah tirinya te rus mengalah, serangan itu dapat mencelakakannya .

Akan te tapi, ia tidak dapat turun tangan mencampuri karena selain dia tidak ingin menyinggung hati ayah tirinya.

juga dia tidak ingin membikin marah hati Cin Cin.

Gadis itu tidaklah jahat walaupun telah menjadi murid seorang tokoh sesat.

Ia hanya taat dan setia kepada gurunya, dan kini berte kad membunuh Cian Bu Ong demi gurunya, bukan karena dendam pribadi.

Kebenciannya te rnadap Cian Bu Ong juga hal yang sewajarnya karena sebagai seorang wanita, tentu saja ia tidak senang mendengar gurunya menderita dalam hidupnya karena disia-siakan oleh bekas kekasihnya.

Karena desakan serangan bertubi-tubi itu, tubuh Cian Bu Ong te rjengkang, akan te tapi bagai binatang trenggiling, dia bergulingan ke kiri dan sambil meloncat, diapun menggerakkan kedua le ngan bajunya, diputar bagaikan dua buah kitiran menyambar ke arah gulungan sinar pedang.

"Plakkk!"

Keras sekali ujung le ngan baju itu bergerak, yang satu menahan ujung pedang, yang lain menotok ke arah pergelangan tangan Cin Cin.

Tak dapat dicegah lagi, tangan kanan Cin Cin yang seperti lumpuh seketika itu melepaskan pedangnya, akan te tapi gadis yang lihai itu masih sempat menggerakkan kakinya menendang ke arah dada lawan.

Pandang mata Thian Ki yang terlatih menangkap gerakan kaki ini dan melihat pula betapa ayah tirinya masih sempat menghindar kalau ia kehe ndaki.

Namun bekas pangeran itu agaknya memang sengaja memperlambat gerakannya dan dadanya masih te rkena te ndangan itu.

"Dukk!"

Tubuh Cian Bu Ong te rjengkang dan te rbanting keras. Dia bangkit duduk, meringis kesakitan akan tetapi tersenyum dan berkata.

"Kiamsut (ilmu pedang) yang hebat...........!"

Akan te tapi tiba-tiba gadis itu meloncat dan menyambar pedangnya yang tadi terlepas dan secepat kilat ia menyerang Cian Bu Ong yang masih duduk dan belum bangkit berdiri itu.

Bekas pangeran itu terkejut, sama sekali tidak pernah menyangka bahwa gadis itu sedemikian ganasnya, menyerang ia yang sudah terkena tendangan.

"Plakk!"

Lengan tangan Cin Cin yang memegang pedang dite puk dari samping dan gadis terkejut bukan main karena merasa betapa seluruh le ngannya tergetar dan dengan sendirinya tusukan pedangnya ke arah Cian Bu Ong itu menyamping dan tidak mengenai sasaran.

Ketika ia menengok, ia melihat bahwa yang menghalanginya adalah Thian Ki.

Matanya melotot dan kedua pipinya menjadi kemerahan.

"Coa Thian Ki! Engkau berani menghalangi aku membunuh musuh bes arku!"

Bentaknya.

"Sabar dan te nanglah, Cin Cin. Tidak tahukah engkau betapa tadi ayah telah bersikap mengalah kepadamu? Kalau dia menghendaki, tentu engkau tadi telah dirobohkan. Dia sudah mengalah, bahkan menerima te ndanganmu dengan sengaja. Mengapa engkau begini nekat untuk menyerang selagi dia belum siap?"

"Tidak perduli! Dia atau aku yang harus mati di sini, dan kalau engkau membelanya, berarti engkau menjadi musuh besarku dan harus mati pula!"

Setelah membentak demikian, Cin Cin menggunakan pedangnya menyerang Thian Ki dengan ganasnya.!

Tentu saja Thian Ki tidak ingin menjadi mangsa pedang di tangan Cin Cin yang sedang marah itu.

Dia mengelak dan te rpaksa balas menyerang karena kalau tidak, te ntu dia tidak mampu bertahan terus.

Diapun menggunakan ilmu silat yang sama seperti dimainkan ayah tirinya tadi, dan menggunakan kedua ujung le ngan baju untuk senjata.

Walaupun kedua ujung le ngan bajunya tidak selebar lengan baju ayah tirinya, namun Thian Ki memiliki gerakan yang lebih cepat.

Pula, dia memiliki te naga sin-kang yang amat kuat pula, bahkan le bih kuat dari ayah tirinya berkat kemampuannya menguasai hawa beracun yang ada di dalam tubuhnya, ilmu yang dia dapatkan dari mendiang Lo Nikouw atau yang dahulunya adalah Ban-tok Mo-li Phang Bi Cu, neneknya.

Diam-diam Cin Cin terkejut bukan main.

Dalam kemarahannya tadi melihat Thian Ki membela ayah tirinya, ia kecewa dan penasaran sekali dan hendak membunuh siapa saja yang membela musuh besarnya.

Tidak disangkanya sama sekali bahwa Thian Ki te rnyata tak kalah lihainya dibandingkan Cian Bu Ong!

Dia te rkejut, heran dan kagum, akan te tapi kemarahan dan rasa penas arannya memuncak.

Ia mengeluarkan seluruh kepandaiannya, dan mengerahkan seluruh te naga, menggunakan ilmu pedang Koai-liong-kiamsut yang memang dahsyat itu.

Diam-diam Thian Ki mengeluh dalam hatinya.

Gadis ini memang tangguh bukan main dan sukar memang menundukkannya tanpa meruntuhkan pedangnya.

Kalau dia membuat pedang itu terlepas, hal itu te ntu akan membuat Cin Cin menjadi semakin marah.

Akan te tapi kalau tidak demikian, bagaimana mungkin menundukkan gadis yang lihai dan ganas ini?

Satu-satunya jalan adalah mencontoh ayah tirinya tadi.

Menjatuhkan pedang dari tangan Cin Cin dan membiarkan dirinya te rkena tendangannya yang lihai.

Kalau dia mengerahkan sin-kang, tentu te ndangan itu tidak akan melukainya, seperti yang dilakukan ayah tirinya tadi.

"Haiiiiitttt..........!"

Cin Cin menyerang semakin ganas.

"Cukup, Cin Cin!"

Thian Ki membentak dan tiba-tiba saja kedua ujung lengan bajunya menangkap dan membelit ujung pedang, lalu tangan kirinya meluncur keluar dari ujung le ngan baju dan menotok jalan darah di bawah siku lengan gadis itu.

"I hhh...............!"

Untuk ke dua kalinya te rpaksa Cin Cin melepaskan pedangnya, akan tetapi dengan kemarahan meluap, dan dengan nekat tangan kirinya bergerak mencengkeram ke arah le her di atas pundak kanan Thian Ki.

Serangan itu demikian tiba-tiba sehingga mengejutkan Thian Ki yang tadinya mengharapkan gadis itu akan menendangnya seperti yang dilakukannya kepada Cian Bu Ong.

Ia cepat menarik tubuh atas ke belakang namun Cin Cin sudah menguasai ilmu yang membuat le ngannya dapat memanjang beberapa inci, sehingga biarpun tangannya tidak dapat mencapai le her, masih mampu mencengkeram pundak kanan Thian Ki.

Kelima jari tangannya berubah seperti baja dan kuku-kuku tangannya mencengkeram bagai lima batang pisau tajam runcing, lima jari tangan kiri itu menancap dan masuk ke dalam daging di pundak Thian Ki.

"Ahhh............!"

Thian Ki terkejut setengah mati, bukan karena luka di pundaknya, melainkan karena secara otomatis, tanpa dapat dicegah lagi, hawa beracun di tubuhnya bekerja menyambut jari-jari tangan yang memasuki daging pundaknya itu.

"Aihhhhhhh............!"

Cin Cin menjerit cepat menarik kembali tangan kirinya dan ia te rbelalak memandang kepada tangan kirinya yang te lah menghitam seluruh jari tangannya.

Kemudian te rbelalak pula ia memandang kepada Thian Ki.

"Kau.......kau...........!"

Wajah Thian Ki berubah pucat sekali ketika memandang ke arah tangan kiri gadis itu.

Dia tahu bahwa nyawa Cin Cin te rancam bahaya maut.

Hawa beracun yang ditanamkan oleh mendiang neneknya ke dalam tubuhnya adalah racun yang amat dahsyat, bahkan belum dapat ditemukan pemunahnya.

Hawa beracun yang membuat ke lima jari tangan Cin Cin menghitam itu akan menjalar terus ke atas daan kalau s udah sampai ke jantung, gadis itu tak akan dapat diselamatkan lagi.

Jalan satu-satunya hanyalah........, Thian Ki tidak sempat banyak berpikir lagi.

Yang terpenting saat itu adalah menyelamatkan nyawa Cin Cin.

Secepat kilat dia menyambar pedang Cin Cin yang tadi terlepas dan berada di atas tanah, bagaikan kilat pedang itu menyambar ke arah tangan Cin Cin yang kini memegang le ngan kirinya dengan tangan kanan sambil terbelalak.

"Singgg......crakkk!"

Te pat sekali pedang itu membabat ke arah pergelangan tangan kiri Cin Cin dan tangan itupun buntung sebatas pergelang tangan tangan.

"Aduhhhhhh..........!"

Cin Cin te rpelanting, akan tetapi ia cepat bangkit kembali, memandang lengan kirinya yang buntung sebatas pergelangan dengan mata terbuka lebar.

"Cin Cin......maafkan aku......maafkan aku....!"

Thian Ki berkata seperti meratap dan seperti orang jijik dia membuang pedang itu ke tas tanah kembali.

Pedang yang baru saja membuntungi pergelangan tangan kiri Cin Cin menancap di atas tanah, gagangnya bergoyang-goyang seperti mengejek.

"Nona, biar kuobati luka di lenganmu......."

Cian Bu Ong berkata pula s ambil menghampiri Cin Cin.

"Jangan mendekat!"

Cin Cin berteriak, suaranya bercampur is ak dan biarpun ia tidak menangis, akan tetapi air mata bercucuran dari kedua matanya.

Ia menggunakan jari tangan kanannya untuk menotok jalan darah di dekat siku dan memijit bagian jalan darah dekat pergelangan yang buntung untuk menghentikan darah keluar dari luka.

Kemudian ia mencabut pedang yang menancap di atas tanah, menyarungkan pedangnya kembali, mengambil sehelai saputangan dan dengan tangan te rlindung saputangan, ia memungut tangan kirinya yang buntung menghitam itu.

Semua ini dilakukannya dengan amat te nang sehingga mengerikan bagi Thian Ki.

Setelah menyimpan buntalan tangan hitam ia menatap tajam wajah Thian Ki.

"Coa Thian Ki, akan tiba saatnya engkau membayar untuk semua ini!"

"Cin Cin, maafkan aku.......aku tidak sengaja..........."

Namun Cin Cin tidak memperdulikannya dan kini memandang kepada Cian Bu Ong.

"Cian Bu Ong sekali ini aku mengaku kalah. Akan tetapi kelak aku masih akan menebus kekalahan ini. Sebelum kau mati untuk membayar dosamu te rhadap subo, aku tidak akan berhenti berusaha."

Setelah berkata demikian, sekali loncat gadis itu le nyap dari situ.

"Aahhhhh.......Cin Cin......!"

Thian Ki menjatuhkan diri berlutut dan menutupi mukanya.

Ia tidak menangis, akan te tapi dia merasa ngeri membayangkan peristiwa tadi sehingga ia menutup muka seolah dia tidak ingin melihat kenangannya, ia sama sekali tidak memperdulikan pundaknya yang terluka dan bercucuran darah.

"Sudahlah, Thian Ki. Semua itu telah terjadi dan aku tahu bahwa engkau tidak bersalah. Gadis itu buntung tangannya karena ulahnya sendiri. Hanya satu hal yang membuat aku menyesal. Bhok Sui Lan te ntu akan semakin benci dan dendam kepaku. Dan aku menyesal mengapa engkau tidak menurut pemintaanku agar tidak mencampuri urusan ini."

"Maaf, ayah. Akan tetapi melihat ayah tadi te rancam, bagaimana aku dapat tinggal diam saja?"

Kakek yang masih nampak gagah itu te rsenyum dan menghela napas.

"Memang karmaku yang buruk. Segala yang kusentuh selalu gagal. Kalau saja tadi tidak ada engkau dan aku te was di tangan gadis itu, segalanya akan selesai dan beres, tiada dendam mendendam dan hutang piutang lagi. Akan tetapi sekarang, dendam bertumpuk."

Kakek itu menggeleng-geleng kepalanya lalu menghampiri Thian Ki, menotok sekitar pundak untuk menghentikan darah keluar, dan mengeluarkan obat bubuk dari sakunya.

Setelah mengobati luka di pundak putera tirinya, Cian Bu Ong tanpa banyak cakap lagi lalu berjalan pulang, diikuti dari belakang oleh Thian Ki yang berjalan sambil menundukkan mukanya dan tidak mengeluarkan kata-kata pula.

Kedua orang ini te nggelam dalam renungan mereka sendiri, renungan yang menyedihkan.

-ooo0dw0ooo-Puteri Li Hong Lan amat terkenal dan disuka semua orang di lingkungan Istana.

Bahkan selir kaisar, para dayang, dan permaisuri sendiri suka kepadanya.

Gadis yang berusia delapanbelas tahun ini memang pandai membawa diri.

Ia cantik jelita, dengan wajah bulat telur, dagu meruncing dan kulit putih kemerahan.

Sepasang pipinya, terutama bibirnya, selalu merah tanpa menggunakan alat kecantikan.

Rambutnya hitam panjang berombak.

Alisnya seperti dilukis, sepasang matanya seperti sepasang bintang kejora, hidungnya mancung te rutama sekali mulutnya teramat manis, dengan bibir merah basah dan terhias lesung pipi di kanan kiri.

Kalau bibir itu te rsenyum, mata dan seluruh bagian wajah itu seperti membayangkan senyun pula, cerah, je naka dan lincah.

Bukan hanya wajahnya yang cantik jelita, juga gadis itu memiliki bentuk tubuh yang mempesona dengan lekuk le ngkung sempurna dan menggairahkan.

Semua kecantikan ini menjadi semakin cemerlang karena iapun memiliki otak yang sehat dan cerdas sehingga setelah berusia delapanbelas tahun.

Li Hong Lan te rkenal sebagai seorang gadis yang menguasai ilmu silat tinggi, juga ilmu sastra yang mendalam, ahli pula dalam segala kesenian, ahli menari, memainkan yang-kim dan meniup suling.

Dan kalau bernyanyi, suaranya juga merdu.

Pendeknya Li Hong Lan merupakan kebanggaan Istana, merupakan kebanggaan Kaisar Tang Tai Cung, yaitu julukan Pangeran Li Si Bin (627 -649) setelah ia menjadi kaisar.

Ibunya, yang sesungguhnya bukan apa-apanya, yaitu Kwa Bi Lan, telah belasan tahun menjadi selir Kaisar Tang Tai Cung, semenjak kaisar ini masih menjadi pangeran.

Kaisar Tang Tai Cung mencinta selirnya ini, yang selain menjadi selir, juga menjadi pengawal pribadinya.

Akan tetapi ada satu hal saja yang mengecewakan hati Kaisar Tang Tai Cung, yaitu bahwa Kwa Bi Lan sendiri tidak menurunkan anak untuknya.

Memang Bi Lan membawa Hong Lan, akan tetapi gadis yang menjadi pute ri Istana yang membanggakan ini, bagaimanapun juga bukan anaknya sendiri, bahkan bukan pula anak kandung Kwa Bi Lan!

Setelah belasan tahun tinggal sebagai selir kaisar di istana, kini Kwa Bi Lan telah berusia empatpuluh tahun, dan Kaisar Tang Tai Cung juga sebaya.

Wanita ini tidak lagi bertugas sebagai pengawal pribadi karena kedudukannya adalah selir kaisar yang tadinya te rkasih dan te rpandang.

Akan te tapi telah beberapa bulan ini terjadi perubahan besar dalam kehidupannya sebagai seorang selir.

Kwa Bi Lan menjadi selir kais ar yang dahulunya masih pangeran, bukan karena te rtarik oleh kedudukan seorang pangeran mahkota, seperti hampir semua selir dan dayang kaisar, melainkan karena dengan kesungguhan hati ia jatuh cinta kepada Pangeran Li Si Bin yang kini menjadi Kais ar Tang Tai Cung.

Ia bertemu dan saling jatuh cinta dengan Pangeran Li Si Bin setelah ia menjadi seorang janda tanpa anak, hanya membawa Hong Lan sebagai anak angkat.

Maka, iapun tidak terlalu mengharapkan kedudukan atau kemuliaan, melainkan mengharapkan kasih sayang dari pria yang dicintanya dan yang kini menjadi suaminya.

Iapun maklum bahwa suaminya adalah seorang pangeran mahkota dan kini menjadi seorang kaisar, maka betapapun perih rasa hatinya melihat suaminya memiliki sejumlah selir, dayang di samping seorang permaisuri, iapun menahan diri dan pasrah karena maklum bahwa kehidupan seorang kaisar tentu saja tidak dapat disamakan dengan pria biasa yang menjadi suami.

Tidak mungkin ia memonopoli kasih sayang Kaisar Tang Tai Cung, harus membagi kasih pria itu dengan selir dan dayang yang banyak jumlahnya, juga harus bersabar kalau suaminya itu sibuk dengan urusan pemerintahan sehingga jarang dapat dekat dengannya.

Akan te tapi, telah berbulan-bulan lamanya kaisar seolah lupa kepadanya!

Ia merasa disia-siakan.

Kaisar tidak pernah datang ke kamarnya, tidak pernah berkunjung, bahkan kalau berte mupun seolah kaisar tidak melihatnya!

Ia amat merindukan orang yang dicintanya, namun kaisar agaknya telah lupa kepadanya.

Pada malam hari itu, Kwa Bi Lan duduk seorang diri di pendapa tempat tinggalnya yang cukup indah menyenangkan, le ngkap dengan perabot rumah yang serba indah.

Namun, keindahan segala macam benda itu tidak lagi terasa indah olehnya.

Keindahan memang hanya dapat dirasakan kalau barang itu masih baru dimilikinya.

Kalau sudah menjadi miliknya, maka akan timbul kebosanan!

Apakah iapun han ya dianggap sebagai benda yang membosankan oleh suaminya, sang kaisar?

Ia teringat akan mendiang suaminya yang pertama, yang juga menjadi gurunya, yaitu mendiang Sin tiauw (Rajawali Sakti) Liu Bhok Ki.

Dan mengenang pria ini, walaupun pria ini jauh le bih tua darinya, suami pertama ini berusia enampuluh tahun lebih dan ia sendiri baru duapuluh tahun dan ketika menjadi is teri pria itu ia masih seorang gadis , namun kini terkenanglah ia betapa besar kasih sayang suami pertama itu kepada dirinya.

Kas ih sayang yang dirasakannya sampai suami itu meninggal dunia.

Terkenang akan suami pertama itu, dan teringat akan dirinya yang kini seperti dilupakan oleh suaminya yang ke dua, yaitu sang kaisar, Kwa Bi Lan tak dapat menahan kesedihannya lagi dan air mata menuruni kedua pipinya yang masih nampak segar dan halus.

Wanita ini memang masih cantik jelita dalam usianya yang sudah mendekati empatpuluh tahun itu.

Akan tetapi ia segera menahan hatinya dan menghapus air matanya.

Tidak baik kalau sampai terlihat ole h dayang, apalagi oleh puterinya.

Sebagai selir seorang kaisar sungguh akan memalukan sekali kalau memperlihatkan kedukaan ketika kaisar lama tidak datang berkunjung.

Nasib seperti ini, ia tahu diderita oleh semua selir kaisar!

Tiba-tiba kesunyian malam yang syahdu itu dipecahkan suara yang-kim yang dimainkan oleh jari-jari tangan yang amat pandai.

Suara yang-kim itu berdenting-denting naik turun, kemudian diikuti suara nyanyian yang merdu.

Tahulah ia bahwa yang memainkan yang-kim sambil bernyanyi itu adalah Hong Lan, dan secercah senyum menghias bibir wanita itu.

Untung ada Hong-Lan di sampingnya!

Gadis yang te lah dianggap sebagai anak kandungnya sendiri itulah yang selalu memberinya semangat hidup untuk menghadapi segala macam kepahitan.

Dan iapun mendengarkan nyanyian itu penuh perhatian.

Akan te tapi, semakin didengarkan, perlahan-lahan air matanya semakin banyak bercucuran.

Puterinya itu menyanyikan lagu yang amat sedih, lagu seorang isteri yang ditinggal mati suaminya!

Mengapa begini kebetulan?

Suara nyanyian itu bahkan kini menyayat-nyayat hatinya yang sudah te rluka, perih dan pedih rasanya dan iapun menjatuhkan diri di atas pembaringan, menelungkup dan menyembunyikan mukanya pada bantal.

Kwa Bi Lan tidak tahu bahwa suara yang-kim dan nyanyian itu sudah lama berhenti, tidak tahu pula bahwa Hong Lan memasuki kamarnya dengan langkah ringan sehingga tidak menimbulkan suara.

"I bu, tidak biasanya ibu sudah tidur sebelum larut malam. Apakah ibu tidak sehat?"

Gadis itu duduk di te pi pembaringan dan menyentuh pundak ibunya yang rebah menelungkup.

Kwa Bi Lan te rkejut, berusaha untuk mengusap sisa air matanya sebelum bangkit duduk.

Akan tetapi wajahnya yang pucat, pipinya yang basah dan sepasang matanya yang merah agak membengkak membuat Hong Lan te rkejut bukan main.

Gadis itu segera merangkul ibunya.

"Aih, ibu menangis? Kenapakah, ibu? Belum pernah aku melihat ibu menangis!"

Hong Lan terkejut dan juga heran.

"Apakah ibu sakit?"

Bi Lan te rsenyum dan menggele ng kepala. Akan tetapi senyumnya pahit sekali.

"Tidak, anakku. Ibu tidak sakit.........."

"Kalau begitu ibu berduka? Kenapa, ibu?"

Bi Lan sudah mampu menguasai dirinya.

"Lan Lan, aku tadi terharu mendengar permainan yang-kim dan suara nyanyianmu, lagu itu sedih sekali dan tak te rasa ibu menangis."

Hong Lan menciumi pipi ibunya yang masih basah.

"Ibu sudah sering mendengar aku menyanyikan lagu itu dan biasanya ibu tidak apa-apa. Ibu, aku tahu mengapa ibu bersedih. Tentu karena ayahanda kais ar, bukan? Aku sudah cukup dewasa, ibu dan aku mengetahui kehidupan selir-selir. Bukan hanya ibu saja yang menderita kesepian seperti sekarang ini. Banyak sudah para bibi selir lainnya yang mengeluh kepadaku tentang kesepian mereka karena ayahanda tidak pernah datang lagi mengunjungi mereka. Ibu, sudah beberapa bulan ini sribaginda tidak datang berkunjung. Karena itu ibu merasa berduka, bukan?"

Bi Lan menundukkan mukanya. Percuma saja membantah dan berpura-pura. Anaknya ini te rlampau cerdik untuk dapat dibohongi begitu saja. Ia menghela napas panjang lalu berkata membela.

"Ayahmu terlalu sibuk, Hong Lan. Beliau bertanggung jawab atas semua urusan pemerintahan yang amat banyak........"

"Aku tahu, ibu. Banyak tugas dan banyak is te ri! Dahulu, paling lama dua tiga hari sekali ayahanda datang dan bermalam di sini. Sekarang berbulan-bulan sudah beliau tidak pernah nampak, tidak pernah menjenguk ibu."

Bi Lan merangkul anaknya.

"Terimalah keadaan ini dengan hati lapang, anakku. Memang beginilah kehidupan seorang selir seperti ibumu. Sribaginda masih termasuk seorang suami yang baik, karena kita selalu dicukupi segala kebutuhan kita, bukan?"

"I nilah salahnya, ibu. Para wanita yang menjadi selir raja selalu menerima keadaan, menerima nasib. Beginilah jadinya. Sekali waktu, kalau kebetulan aku bertemu ayahanda, akan kuingatkan beliau bahwa ibu menanti beliau di sini dengan hati setia dan berduka."

"Eihh, jangan, Lan Lan! Beliau akan marah kepadamu!"

Melihat kekhawatiran ibunya, Lan Lan te rsenyum dan mengangguk.

"Baiklah, aku tidak akan bicara sekarang, untuk sementara ini aku akan menahan diri, akan tetapi ibu juga tidak boleh menangis dan berduka lagi,"

Katanya manja.

Kwa Bi Lan tersenyum dan menciumi kedua pipi anaknya.

Terima kasih kepada Tuhan, pikirnya, bahwa aku mempunyai Hong Lan.

Andaikata tidak ada anaknya ini, ia tahu bahwa ia pasti tidak kan betah lagi tinggal di istana.

"Lihat, ibumu sudah tidak bersedih lagi, kan? Mari kita latihan silat!"

Bi Lan meloncat turun dari pembaringan, menarik tangan anaknya dan keduanya berlari-lari sambil tertawa ke ruangan berlatih silat yang memang te rdapat di te mpat tinggal ibu dan anak ini.

Tak lama kemudian, ibu dan anak ini sudah berlatih silat, bertangan kosong, lalu bertanding pedang dan diam-diam Kwa Bi Lan merasa gembira dan bangga, juga kagum karena ia mendapat kenyataan bahwa pute rinya itu kini sudah maju sekali.

Ia sendiri sukar mengalahkannya.

Hal ini adalah karena Hong Lan pandai membujuk para jagoan is tana untuk menurunkan satu dua ilmu silat mereka yang paling tangguh kepadanya.

Dan Bi Lan sendiri juga menggembleng pute rinya ini dan menurunkan seluruh ilmu yang dimilikinya kepada Hong Lan.

Para dayang dan pembantu yang kebetulan melihat ibu dan anaknya itu berlatih silat di waktu malam seperti itu, hanya menggeleng-geleng kepala dengan heran dan kagum.

Kaisar Tang Tai Cung adalah seorang manusia biasa, seorang pria dengan segala kelebihan dan kekurangannya seperti orang lain, dengan kelemahannya.

Ketika mudanya, semangat untuk berjuang membesarkan Kerajaan Tang membuat dia hanya memperhatikan urusan negara, dan nampaknya tidak begitu te rtarik akan segala macam kesenangan!

Akan te tapi, setelah dia menjadi kaisar dan keadaan pemerintahannya lancar, mulailah semangat yang tadinya dikerahkan untuk perjuangan itu mencari sasaran lain, yaitu melampiaskan nafsu mencari kesenangan.

Kemewahan dia sudah mempunyai berlimpahan, kehormatan, kemuliaan dan kekuasaan sudah berada di tangannya.

Kebutuhan manusia te rbatas sekali, akan tetapi keinginan yang didorong oleh nafsu angkara murka membuat seseorang tak pernah puas dengan apa yang dimilikinya.

Mulailah dia tergoda oleh nafsu berahinya sendiri.

Selirnya yang banyak mulai membosankan, demikian pula para dayangnya yang setiap saat dengan senang hati siap untuk melayani segala kehendaknya.

Nafsu yang dituruti dan dimanjakan tidak pernah menjadi kenyang, tidak pernah merasa puas, bahkan semakin banyak tuntutannya.

De mikian pula dengan nafsu yang mencengkeram diri Tang Tai Cung.

Dia selalu haus akan wajah wanita yang baru, sehingga entah sudah berapa banyak gadis yang menjadi kekasihnya hanya untuk waktu sebulan dua bulan saja, lalu dia mulai mencari yang lain.

Seperti biasa, di dekat orang yang berkuasa besar, selalu merangkak banyak kaum penjilat yang ingin membonceng kekuasaannya, dengan cara menjilat dan menyenangkan hati atasannya, te ntu saja demi keuntungan pribadinya.

De mikian pula dengan Kais ar Tang Tai Cung.

Banyak pejabat tinggi, terutama para thaikam (pelayan pria kebiri) yang mempergunakan kesempatan itu untuk menyenangkan hati sang kaisar, dengan mencarikan gadis -gadis cantik dari daerah-daerah.

Dan pada masa itu, tidak ada seorangpun gadis yang tidak dengan hati gembira menerima pengangkatan menjadi dayang di istana!

Menjadi dayang berarti derajat mereka naik beberapa tingkat, apalagi kalau sampai dapat menyenangkan hati kaisar dan diambil selir!

Ada harapan kelak menjadi permais uri.

Satu di antara dayang istana yang dimasukkan oleh para penjilat itu, dan memasukkan seorang gadis inipun berarti menerima hadiah yang tidak sedikit dari orang tua si gadis , yang mau menyerahkan seluruh milik mereka, asal anak gadis mereka diterima menjadi dayang, adalah seorang dari dusun yang bernama Bu Couw Hwa.

Ia sudah mempersiapkan diri menjadi dayang.

Usianya baru enambelas tahun, bagaikan setangkai bunga yang sedang mekarnya, memiliki wajah cantik manis dan bentuk tubuh yang sedang mekar, te rutama sekali pinggulnya yang berbentuk indah dan bes ar, dan ia sudah mempersiapkan diri dengan segala tata-cara tentang sikap dan kelakuan seorang dayang istana yang baik.

Bahkan ia mempelajari segala macam kesenian dan cara-cara untuk menyenangkan hati seorang pria junjungannya.

Akan te tapi ketika ia berhasil dimasukkan ke dalam is tana, terlalu banyak saingan te rdapat di istana.

Terlalu banyak dayang is tana yang cantik-cantik sehingga Bu Couw Hwa merasa kecil dan rendah diri.

Bagaimana mungkin ia, seorang dara desa, mampu bersaing melawan sekian banyaknya dayang cantik untuk menawan perhatian dan hati Kaisar?

Apalagi begitu tiba di situ, ia sudah melihat kenyataan betapa setiap orang thai-kam dan petugas di situ amat haus akan sogokan.

Tanpa menyogok sana sini, tidak mungkin ia mampu mendekati Kais ar!

Bahkan ia mendapatkan tugas yang paling rendah, yaitu dayang pembersih kamar mandi dan kakus milik kaisar!

Couw Hwa menerima pekerjaan ini dengan hati sabar.

I a menanti kesempatan yang baik dan mulai melakukan pendekatan dengan para thai-kam yang dekat dengan kaisar.

Sampai harus habis semua perhiasan dan bekalnya, juga gajinya yang ia tabung, untuk menyenangkan hati para thai-kam.

Gadis yang amat cerdik ini, yang menjadi dayang bukan sekedar mencari pekerjaan, melainkan untuk mencapai tujuan atau cita-citanya yang amat muluk, mengatur siasat dengan rapi dan licin.

Setelah dapat mendekati thai-kam, maka dengan bantuan para thai-kam, pada suatu senja thai-kam yang bertugas memberi is yarat kepada Bu Couw Hwa.

Gadis ini cepat memperhalus wajahnya dengan bedak tipis, menggosok mukanya dengan handuk yang dibasahi air panas, menggosok keras-keras sehingga kedua pipinya menjadi kemerahan dan berbau harum oleh air yang dicampuri air mawar, mengenakan baju yang agak longgar di bagian dada, sehingga kalau ia membungkuk, orang akan dapat melihat bukit dadanya yang menonjol le mbut.

Rambutnya yang hitam berombak itu dibiarkan agak kusut, te rutama di bagian dahi sehingga anak rambut yang halus sekali melingkar-lingkar di dahi, di pelipis, dan di belakang te linga, melingkar-lingkar halus seperti benang sutera yang kekeringan.

Setelah itu, cepat ia mendahului masuk ke kamar mandi pada saat para thai-kam memberi is yarat bahwa kaisar berkenan mempergunakan kamar mandi itu.

Seperti tidak disengaja, gadis itu terkejut ketika selagi ia membersihkan kamar mandi, kaisar muncul di pintu kamar mandi.

"Aihh.......banswe-ban-banswe......"

Serunya lirih sambil menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Kaisar Tang Tai Cung.

Kaisar yang usianya sudah kurang le bih empatpuluh tahun itu te rsenyum melihat seorang dayang sedang membersihkan kamar mandi.

Dia membiarkan dayang itu berlutut dan diapun membuang air kecil di te mpat yang disediakan untuk itu, tidak perduli betapa dayang itu masih berlutut di situ dan biarpun tidak melihatnya, setidaknya suara air kencingnya terdengar.

Setelah selesai, Kais ar Tang Tai Cung membereskan celananya dan membalikkan tubuh.

Dayang itu masih berlutut di situ dengan muka menunduk, takut dan malu-malu.

"Heii kau, ambilkan air untuk aku mencuci tangan,"

Perintahnya.

Bu Couw Hwa dengan jantung berdebar te gang segera mengambil sepanci air harum.

Inilah kesempatan yang dinanti-nantinya selama ini, sejak menginjakkan kaki di lantai istana.

Harus ia pergunakan baik-baik, pikir hati kecilnya yang cerdik.

Dengan jalan berjongkok ia menghampiri Kaisar yang masih berdiri, lalu berlutut dan mengangkat panci air itu ke atas kepala, mukanya tetap menunduk, akan tetapi matanya melirik ke arah dadanya.

Bagus, pikirnya, karena ia mengangkat kedua tangannya yang memegang panci air, baju di dadanya te rbuka dengan le bar dan memperlibatkan dua le ngkung bukit dadanya yang indah.

Kaisar Tang Tai Cung mencuci tangannya dengan menunduk.

Tentu saja, dengan sendirinya, pandang matanya berte mu dengan sepasang bukit yang menonjol dan nampak di balik baju yang te rbuka sedikit itu.

"Angkat mukamu, aku ingin melihatmu,"

Kata Kaisar Tang Tai Cung yang mulai te rtarik.

Dengan gaya yang sudah lama dilatihnya.

Bu Couw Hwa mengangkat mukanya, muka yang amat manis, senyum malu-malu yang memperlihatkan lesung pipinya, dengan mata yang mengerling ke atas, bibir yang akan terbuka menantang, cuping hidung yang berkembang kempis, lalu ia menunduk kembali, maklum bahwa penglihatan sekilas itu akan jauh le bih memikat daripada kalau ia berlama-lama membiarkan sang kaisar menatap wajahnya.

Darah tersirap ke kepala dan gairah sang Kaisarpun timbul.

"Siapa namamu, kenapa aku tidak pernah melihat dayang secantik engkau di sini.?"

"Ampun, Sri baginda. Hamba selalu bertugas di sini, dan hamba tidak berani memperlihatkan diri tanpa diperintah."

Suara gadis itupun sudah diatur dan dilatih lama, maka te rdengar merdu dan juga menyenangkan.

Sang kaisar yang sudah te rpikat itu mengambil panci dari kedua tangan Bu Couw Hwa, meletakkan panci itu ke atas meja dan ia memegang kedua tangan gadis itu dan ditariknya untuk berdiri.

Bentuk tubuh yang indah itu, dengan le kuk le ngkung menggairah kan, dilalap pandang matanya, dan hidungnya ju ga mencium keharuman yang khas keluar dari rambut dan dada dayang itu.

Tanpa banyak upacara lagi, tanpa banyak cakap lagi.

Kais ar Tang Tai Cung yang telah menjadi hamba nafsu berahinya, merangkul Bu Couw Hwa dan menuntunnya ke dipan yang memang menjadi perle ngkapan kamar mandi yang luas itu dan di situlah tercapai apa yang diidamkam hati Bu Couw Hwa, te rlaksana semua yang te lah dicitakan, yaitu ia berhasil memikat hati kaisar dan menyerahkan tubuhnya melayani kaisar demi memperoleh kedudukan yang tinggi.

Setelah terjadi peristiwa itu, wajah Bu Couw Hwa selalu berseri penuh kegembiraan, pandang matanya bersinar-sinar penuh harapan.

Pasti akan te rcapai seperti yang direncanakan, yaitu ia yang telah menyerahkan diri melayani sang kaisar, akan segera diangkat menjadi seorang di antara selir yang berjumlah tujuhpuluh dua itu, menggantikan seorang di antara para selir yang akan dipersilakan mundur, dan kalau sudah menjadi seorang selir, maka semakin dekat lagi tujuan yang menjadi cita-cita terakhir, yaitu menjadi permaisuri ke tiga, ke dua atau pertama!

Apalagi kalau ia dapat melahirkan seorang putera!

Cita-cita adalah kata yang halus dan indah yang artinya tidak lain hanyalah keinginan!

Dan keinginan manusia tidak pernah ada batasnya, makin diberi semakin mekar berkembang, karena keinginan adalah ulah nafsu daya rendah.

Keinginan adalah pengejaran akan sesuatu yang belum dimilikinya.

Pengejaran seperti ini biasanya hanya mempunyai dua akibat.

Kalau te rcapai, sebentar saja apa yang dikejarnya mati-matian itu akan membosankan dan sama sekali tidak mendatangkan kebahagiaan seperti yang dibayangkan semula dan kalau tidak te rcapai, timbullah kekecewaan dan kedukaan.

Sesuatu yang belum dimilikinya yang dikejar-kejar, selalu dibayangkan sebagai sesuatu yang amat indah, sesuatu yang akan mendatangkan kebahagiaan.

Akan tetapi setelah sesuatu itu dapat dimiliki, maka memudarlah bayangan-bayangan yang muluk akan keindahan dan kebahagiaan itu, karena nafsu daya rendah sudah mendorong lagi kepada kita untuk mengejar sesuatu yang lain, yang belum kita miliki.

-ooo0dw0ooo-

Jilid 19 Karena itu, berbahagialah orang yang dapat menikmati apa yang telah dimilikinya.

Tidak te rseret nafsu daya rendah yang tiada putusnya menarik kita untuk selalu mengejar sesuatu yang belum kita miliki, membuat kita menjadi angkara murka dan tidak pernah merasa puas dengan apa yang ada.

Kalau sudah begini, hiduppun merupakan penderitaan, kekecewaan, kebosanan, yang takkan berhenti.

Orang yang kaya raya, yang sebelum kaya membayangkan betapa akan bahagianya setelah dia dapat menjadi kaya, mulai menderita karena kekayaannya.

Bermacam masalah yang meresahkan, membingungkan dan menyedihkan timbul karena adanya kekayaan yang berlimpah.

Orang yang berpendidikan tinggi, yang berpengetahuanpun tidak sebahagia seperti yang dibayangkan ketika dia sedang mengejar ilmu pengetahuan itu.

Dia seperti terhimpit oleh ilmu pengetahuannya sendiri.

Demikian pula orang yang berkedudukan.

Tadinya kedudukan dianggap sebagai sarana utama untuk mencapai kebahagiaan, akan tetapi setelah kedudukan diperolehnya, justeru kedudukannya itulah yang menjadi penghalang bagi kebahagiaannya.

Kita te rbelenggu oleh apa yang kita kejar, karena kita diperhamba oleh apa yang kita kejar sendiri.

Bu Couw Hwa segera merasakan kepahitan oleh kenyataan bahwa jalan hidupnya tidaklah semulus seperti yang ia citakan.

Ia hanya mendapatkan sedikit perubahan dari peris tiwa dalam kamar mandi itu.

Ia dipindahkan dari kedudukan pembersih kamar mandi menjadi dayang sebelah dalam.

Akan te tapi, kenaikan kedudukan ini tidak ada artinya baginya.

Kini hanya diketahui semua penghuni bagian pute ri itu bahwa ia adalah seorang di antara dayang yang pernah mendapat "kehormatan"

Melayani kaisar!

Itu saja.

Hanya beberapa kali saja ia dipanggil untuk melayani kaisar di tempat tidurnya.

Setelah itu, Kaisar Tang Tai Cung seolah melupakannya!

Dan yang lebih menggelisahkan hatinya, selama beberapa kali melayani kaisar itu, ia tidak berhasil mengandung.

Akan te tapi, Bu Couw Hwa adalah seorang wanita yang sejak kecil memiliki hati yang keras dan semangat yang besar.

Ia tidak pernah turun semangat, bahkan segala kegagalan dianggapnya sebagai pupuk bagi semangatnya untuk mencapai apa yang dicitakannya.

Kalau perlu, ia berani menempuh segala cara dan jalan demi tercapainya cita-citanya.

Setelah melihat betapa Kaisar Tang Tai Cung yang pembosan itu acuh saja te rhadap dirinya, iapun mencari sasaran lain.

Banyak memang pria yang dapat dijadikan sasaran olehnya.

Para pengawal atau komandan pengawal, bahkan pejabat-pejabat tinggi yang dekat dengan kaisar dan sering bertemu dengannya.

Namun, ia bukanlah seorang wanita yang mudah puas.

Cita-citanya setinggi langit.

Segala macam pria yang berkedudukan tinggi itu tidak ada artinya baginya.

Ia harus mencapai puncaknya!

Orang ke dua setelah Kaisar Tang Tai Cung yang dianggapnya akan mampu mengangkatnya ke te mpat tertinggi, adalah Pangeran Li Hong, putera mahkota!

Pangeran ini berusia duapuluh tahun, tentu saja jauh lebih menarik daripada ayahnya, Kaisar Tang Tai Cung yang sudah berusia empatpuluh tahun.

Kembali Bu Couw Hwa mengatur siasat.

Sebagai seorang dayang yang dipercaya membersihkan kamar-kamar, te ntu saja banyak kesempatan baginya untu k menyambar barang-barang berharga yang berserakan dan tidak pernah diteliti oleh para permais uri dan selir.

Mudah saja bagi Bu Couw Hwa untuk mencuri barang-barang perhiasan berharga dan benda-benda ini ia pergunakan untuk mendekati para thai-kam.

De ngan menyogok sana sini akhirnya para thai-kam dapat mengatur suatu pertemuan yang seolah-olah tidak disengaja antara ia dan Pangeran Mahkota Li Hong di dalam taman.

Pada suatu malam te rang bulan, ketika Pangeran Mahkota Li Hong sedang berjalan-jalan seorang diri di taman besar istana, hanya ditemani dua orang thai-kam kepercayaan, tiba-tiba ia mendengar suara yang-kim (s iter) yang nyaring.

Lalu suara itu disusul kemerduan suara seorang wanita yang bernyanyi.

Mendengar ini, Pangeran Li Hong menghentikan langkahnya dan mendengarkan.

Nyanyian itu amat terkenal, nyanyian rakyat yang menceritakan tentang seekor burung merak yang merindukan seekor burung dewata, betapa sang merak merasa rendah diri dan buruk dibandingkan sang burung dewata, namun betapa rindunya untuk berdekatan dengan raja burung itu.

Entah karena is i nyanyian itu atau merdunya suara dan yang-kim atau karena malam te rang bulan di taman mendengar nyanyian itu merupakan perpaduan yang amat indah, namun pangeran yang masih muda itu merasa tertarik dan kagum se kali.

"Siapa yang bernyanyi itu?"

Tanyanya sambil memandang ke arah sebuah pondok kecil mungil yang berada di dalam taman, darimana suara itu te rdengar.

Tentu saja dua orang thai-kam itu tahu siapa pemilik suara itu, karena merekalah yang mengatur perte muan ini, akan tetapi mereka tidak mau mengaku dan mengatakan bahwa mungkin seorang dua oran g dayang yang sedang bertugas di situ membersihkan pondok yang menjadi te mpat peristirahatan para puteri.

"Akan te tapi itu hanya dugaan hamba saja pangeran,"

Kata pula orang kedua.

"s etahu kami tidak ada dayang is tana yang memiliki suara semerdu itu dan keahlian memainkan yang-kim seindah itu."

Tentu saja hati sang pangeran menjadi semakin te rtarik, maka ketika dua orang thai-kam itu mengajak dia untuk mengintai melalui belakang pondok, diapun tersenyum dan mengikuti mereka.

Semua ini memang sudah diatur oleh Bu Couw Hwa dan dua orang thai-kam itu.

Ketika sang pangeran bersama dua orang thai-kam mengintai melalui pondok belakang, mereka melihat seorang gadis cantik jelita sedang duduk seorang diri memainkan yang-kim karena nyanyian itu telah selesai.

Gadis itu cantik manis dan jari-jari tangannya yang le ntik bergerak menari-nari dengan indahnya di atas yang-kim, mukanya agak diangkat seolah gadis itu sedang memandang bulan di langit dengan mata yang redup sayu, dengan mulut yang setengah terbuka.

Bukan main indahnya penglihatan itu.

Melihat seorang gadis cantik jelita bermain yang-kim, di taman bunga dalam te rang bulan, sungguh suatu keindahan seperti yang te rkandung dalam sajak yang indah.

Hati sang pangeran seketika terpikat.

Suasana itu mendatangkan ketentraman dan kelembutan yang penuh damai, menimbulkan gairah romantika yang syahdu dan darah mudanya bergejolak.

Melihat bahwa gadis itu mengenakan pakaian seperti seorang dayang, maka keberanian sang pangeran meningkat.

Kalau wanita itu seorang selir ayahnya, te ntu saja dia tidak akan berani menggodanya.

Akan te tapi seorang dayang hanyalah seorang pelayan, walaupun banyak selir berasal dari dayang.

Bersama dua orang thai-kam yang di percayanya itu, diapun memasuki pondok itu dari pintu belakang dan menghampiri gadis yang masih memainkan yang-kim lirih-lirih sambil melamun.

"Nona, suaramu indah sekali."

Pangeran Li Hong memuji setelah berada dekat di belakang gadis itu.

De ngan permainan sandiwara yang baik sekali, gadis itu mele paskan yang-kimnya saking kaget, memutar tubuhnya, te rbelalak dan membuka mulut secara manis sekali, mengangkat kedua tangan ke atas, lupa bahwa baju depannya setengah terbuka sehingga nampak sebagian dadanya yang mulus dan putih, lalu menjatuhkan diri berlutut.

"Yang mulia Pangeran......, hamba.... hamba mohon maaf......hamba tidak tahu akan kehadiran paduka.... hamba siap menerima hukuman mati.."

Katanya dengan suara yang merdu dan seperti orang yang ketakutan, suaranya berdesah dan berbisik.

Pangeran Li Hong tertawa, semakin kagum karena setelah berada dekat, dia melihat bahwa gadis ini memang cantik sekali dan keharuman khas keluar dari tubuhnya.

Padahal gadis ini baru selesai bekerja agaknya, setelah membersihkan pondok itu dan beris tirahat, tentu tidak mempersiapkan diri, tidak mempersolek diri.

Bajunyapun setengah te rbuka dan rambutnya kusut.

Sama sekali dia tidak pernah mimpi bahwa kekusutan pada diri Bu Couw Hwa itu adalah kekusutan "teratur".

"Ha-ha-ha, nona, jangan takut. Engkau tidak bersalah apa-apa, aku tadi hanya te rtarik oleh suaramu yang merdu dan permainan yang-kimmu yang indah. Aku ingin mendengar le bih banyak. Mainkanlah yang-kim itu dan bernyanyilah untukku."

"Aiih, ampunkan hamba, pangeran. Bagaima hamba berani memperdengarkan suara hamba yang parau dan permainan yang-kim hamba yang ngawur? Hamba hanya seorang dayang......."

"Jangan merendahkan dirimu, eh, siapa namamu?"

Bukan main girangnya rasa hati Bu Couw Hwa. Perhatian dari pangeran itu menunjukkan bahwa siasatnya mulai berhasil. Umpannya mulai disambar kakap! "Nama hamba Bu Couw Hwa, pangeran."

"Bagus, Couw Hwa, atau kusebut saja engkau Hwa Hwa!"

Pangeran itu tertawa lagi, girang karena wajah gadis itu demikian cerah dan ramah sehingga menimbulkan suasana yang gembira. Dia lalu memerintahkan kedua orang thai-kam.

"Cepat ambilkan arak dan makanan, aku ingin makan malam di sini. Hwa Hwa, maukah engkau melayaniku makan malam di s ini?"

"Mau? Aiiih, pangeran. Hamba merasa seperti kejatuhan bintang, mendapat kehormatan besar sekali. Tentu saja hamba suka sekali. Biar hamba bersihkan dulu meja dan dan hamba ganti dengan kain penutup yang baru!"

Dengan gerakan lincah, le nggang yang membuat pinggulnya yang bulat besar seperti menari-nari, gadis itu mengerjakan persiapan untuk makan malam sang pangeran.

Setiap gerak geriknya diikuti pandang mata pangeran muda itu yang menjadi semakin te rpesona.

"Aku harus dapat menaikkan harga diriku,"

Demikian sambil membersihkan dan merapikan meja, gadis itu berpikir.

"Kalau kujual murah, te ntu akhirnya sebentar saja dia akan lupa padaku."

Bu Couw Hwa memang cerdik luar biasa.

Ia mempergunakan siasat memikat pangeran mahkota bukan sekedar merupakan petualangan cinta belaka.

Sama sekali tidak!

Ia memiliki tujuan yang le bih inggi lagi, mempunyai cita-cita yang muluk.

Usahanya te rhadap Kaisar gagal setengah jalan, maka kini ia menempuh jalan lain, melalui Pangeran Mahkota!

Tak lama kemudian, pangeran itu makan minum di dalam kamar, dilayani Bu Couw Hwa, kemudian gadis itupun beberapa kali memainkan yang-kim dan bernyanyi, bahkan mengajak pangeran itu bercakap-cakap tentang seni suara dan seni sastra, karena iapun pandai membuat sajak atau syair berpasangan yang mengandung makna dalam.

Mendengar bahwa usia gadis itu baru menjelang tujuhbelas tahun, sang pangeran menjadi semakin kagum.

Akan te tapi ketika dia mulai memperlihatkan gejolak berahinya, dengan le mbut Bu Couw Hwa menolaknya.

Dengan halus dan le mbut.!

Tentu saja sang pangeran menjadi penas aran bukan main.

Penolakan yang halus itu sama sekali tidak membuatnya marah, bahkan membuat berahinya semakin berkobar seperti api disiram minyak.

Wanita muda itu tetap bersikap manis, bersikap amat menyayang dan hormat sehingga sang pangeran merasa dimanja.

De ngan sikapnya, Bu Couw Hwa jelas menyatakan perasaan hatinya yang jatuh cinta kepada junjungan itu.

Kerling matanya, senyumnya, gerakan tubuhnya, suaranya, semua jelas membayangkan bahwa ia mencinta sang pangeran.

Akan tetapi kalau pangeran itu hendak menyentuhnya, ia dengan halus dan sopan menjauhkan diri dan pandang matanya nampak sayu dan sedih.!

Ia seperti jinak-jinak merpati yang membuat pangeran menjadi semakin terpikat.

Akhirnya setelah jelas bahwa wanita itu tidak bersedia melayaninya bercinta, sang pangeran meninggalkan te mpat itu, diantar senyum dan kerling penuh kasih ole h Bu Couw Hwa.

Dalam perjalanan kembali ke tempat tinggalnya sendiri itulah sang pangeran menyatakan keheranannya.

"I a begitu dekat, akan te tapi begitu jauh,"

Ratap pangeran itu kepada dua orang kepercayaannya.

"I a seperti menantang, akan tetapi selalu menghindar. Ia jelas mencintaku, akan te tapi tak ingin kujamah. Mengapa begitu, seolah ia menyiksaku?"

Dua orang thai-kam itu saling lirik dan te rsenyum, diam-diam kagum sekali kepada gadis itu.

Seorang wanita muda yang luar biasa, seperti minuman arak yang amat baik, le mbut memabokkan, akan te tapi tidak te rasa oleh yang mabok.

Tepat seperti yang telah diatur oleh Bu Couw Hwa yang te lah menyogok mereka dengan banyak benda berharga, mereka lalu berkata bahwa dayang itu pernah menjadi dayang kesayangan Kaisar, bahkan telah beberapa kali mendapat kehormatan melayani kaisar.

"Mungkin karena ia tidak ingin membuat paduka melakukan kesalahan, maka ia sengaja menahan diri dan menghindar, yany mulia,"

Kata mereka.

"Ahh......begitukah? Sungguh ia seorang wanita yang baik dan le mbut hati, setia dan juga tidak ingin melihat aku melakukan kesalahan. Akan tetapi ia hanya seorang dayang, belum diangkat menjadi selir ayahanda kaisar, bukan?"

"Demikianlah, yang mulia. Ia masih belum menjadi selir yang sah."

"Kalau begitu, ia masih seorang dayang, dan bukan suatu pelanggaran dosa kalau terjadi hubungan antara kami,"

Pangeran yang sudah te rgila-gila itu membela diri.

"Me mang sesungguhnya demikian, pangeran. Apa lagi yang mulia Sribaginda te rlalu sibuk sehingga hampir melupakannya, karena itulah maka ia tadi menyanyikan lagu kerinduan. Paduka dapat menduga, siapa yang disebut sebagai burung Hong yang dirindukannya?"

"Siapa lagi kalau bukan Sribaginda?"

Dua orang thai-kam itu tersenyum.

"Yang mulia Pangeran, ia menjadi kekasih Sribaginda hanya selama beberapa kali saja dan menurut keterangannya hal itupun te rjadi selagi Sribaginda dalam keadaan te rlalu banyak minum anggur, sehingga pertama kalinya terjadi di kamar mandi di mana Bu Couw Hwa bertugas membersihkan kamar mandi. Tidak, bukan Yang Mulia Sribaginda Kaisar yang dimaksudkan sebagai burung Hong yang dirindukannya dalam nyanyian tadi, melainkan paduka."

"Ehh? Bagaimana engkau bisa tahu?"

Pangeran itu bertanya, curiga.

"Yang Mulia, pernah ketika bertemu dengan hamba, ia mengatakan bahwa betapa bahagianya hamba menjadi pelayan paduka, selalu dekat dengan paduka. Nah, bukankah itu suatu bukti bahwa diam-diam ia memuja paduka? Pula, bukankah nama burung itu sama dengan nama paduka?"

Bukan main girangnya hati Pangeran Li Hong mendengar ini.

Dan selanjutnya, atas bantuan dua orang thai-kam itu yang mengharapkan banyak hadiah, diaturlah pertemuan-pertemuan selanjutnya antara Pangeran Li Hong dan Bu Couw Hwa.

Bu Cou w Hwa cerdik luar biasa.

Ia bersikap jatuh cinta dan te rgila-gila kepada sang pangeran.

Akan te tapi, ia mohon agar hubungan itu dirahasiakan, katanya untuk menjaga agar jangan sampai kaisar mendengar dan akan menyalahkan mereka.

Juga dari kedua thai-kam itu ia menerima ramuan obat untuk mencegah agar dalam hubungannya dengan sang pangeran, ia tidak sampai hamil.

Ia memikat dan mengikat cinta kasih sang pangeran, dan untuk itu ia bersikap cerdik sekali.

Ia sengaja menjual mahal, sengaja tidak selalu memenuhi permintaan sang pangeran untuk mengadakan perte muan, dengan berbagai alasan yang masuk akal.

Hal ini ia lakukan untuk membuat sang pangeran tetap rindu kepadanya.

Setelah semalam melayani dengan seluruh kemampuannya untuk membuat sang pangeran mabok kepayang, ia s elalu menjauhkan diri sampai berminggu-minggu.

Hal ini membuat Pangeran Li Hong yang masih muda itu benar-benar menjadi te rgila-gila.

Bu Couw Hwa mulai membuat ikatan-ikatan, seperti seekor laba-laba menjaring seekor belalang, dengan benang-benang halus lembut namun kokoh kuat sehingga sang belalang tidak merasa bahwa ia masuk ke dalam perangkap!

-ooo0dw0ooo-"Sudahlah, Thian Ki.

Engkau tidak salah.

Gadis itu yang mencari gara-gara sendiri.

Kalau ia tidak berniat membunuhmu dan mencengkeram pundakmu, te ntu ia tidak akan keracunan dan kalau engkau membuntungi pergelangan tangannya, hal itu kaulakukan justru untuk menyelamatkan nyawanya dari kematian.

Kenapa engkau menyesali diri seperti ini, berhari-hari tidak mau makan minum sampai tubuhmu menjadi kurus kering, wajahmu pucat dan engkau seperti seorang yang kehilangan semangatnya?"

Tegur ibunya, Sim Lan Ci yang te lah mendengar semua te ntang pertandingan antara suaminya dan Kam Cin, kemudian tentang Kam Cin menyerang pute ranya sehingga gadis itu keracunan dan pergelangan tangannya dibuntungi pute ranya untuk menyelamatkan nyawa gadis itu.

Thian Ki tidak menjawab, hanya menundukkan mukanya.

Sejak peristiwa itu, dia tidak pernah dapat melupakan bayangan Cin Cin dengan tangan kirinya yang buntung, tak dapat melupakan betapa dia yang membuntungi tangan gadis itu, dan selalu wajah Cin Cin ketika memandang kepadanya untuk yang te rakhir kali membayanginya sampai ke dalam mimpi.

Hal ini membuat dia merasa menyesal bukan main.

Apalagi kalau dia teringat ketika pernah bersama ayah bundanya menjadi tamu di rumah Cin Cin.

Kedukaan ini membuat dia lupa makan lupa tidur.

"Selain engkau tidak bersalah, Cin Cin itu jahat bukan main, koko! Kenapa orang seperti itu koko ingat terus? Ia telah menghina kita, ia telah berniat membunuh ayah, bahkan membunuhmu. Apakan engkau takut kalau ia mendendam kepadamu karena engkau membuntungi tangannya? Jangan takut, aku akan membantumu membasminya kalau ia berani mencoba untuk membalas dendam!"

Kata Kui Eng dengan hati panas.

Entah bagaimana ia sendiri tidak tahu, setelah ia mengetahui bahwa ia bukan anak kandung Sim Lan Ci, tidak mempunyai hubungan keluarga atau darah dengan Thian Ki, pandangannya te rhadap pemuda itu berubah sama sekali.

Sejak kecil ia memang amat sayang kepada kakaknya ini, akan tetapi sekarang, setelah mengetahui bahwa Thian Ki bukan apa-apa melainkan orang lain, kesayangannya sebagai adik te rhadap kakak kandung berubah menjadi cinta kasih seorang wanita terhadap pria!

Maka, melihat Thian Ki begitu murung dan berduka karena seorang gadis lain, apa lagi gadis itu musuh besar ayah kandungnya, ia merasa cemburu dan marah.

Thian Ki memandang adiknya sejenak, lalu menunduk lagi dan menghela napas panjang, dia tidak menjawab.

Dia menyadari bahwa dia tidak bersalah tentang buntungnya tangan Cin Cin, namun betapapun juga, buntungnya tangan itu adalah karena dia.

Gadis itu keracunan karena tubuhnya beracun dan biarpun dia menyelamatkan nyawa gadis itu dengan membuntungi tangannya, tetap saja dialah yang membuntungi tangan itu!

Dan dia tidak mungkin dapat melupakan sinar mata dan tarikan wajah Cin Cin ketika gadis itu memandang kepada le ngannya yang buntung dengan mata terbelalak dan mulut ternganga!

"Thian Ki, aku merasa kecewa dan malu melihat sikapmu ini!"

Tiba-tiba terdengar suara Cian Bu Ong yang menggele gar dan penuh kewibawaan.

"Sikapmu ini hanya pantas dimiliki seorang laki-laki yang lemah dan cengeng! Segalanya sudah te rjadi dan sebagai laki-laki yang gagah engkau harus berani menghadapi kenyataan, harus berani bertanggung-jawab atas semua yang te lah kaulakukan! Engkau tidak pantas disebut orang gagah kalau bersikap seperti ini, memalukan saja. Pada hal, sekarang engkau te lah selesai belajar dan sudah tiba saatnya engkau te rjun ke dunia persilatan sebagai seorang pendekar, sebagai seorang gagah agar tidak sia-sia semua pelajaran yang telah kaupelajari selama ini. Agar tidak sia-sia engkau hidup sebagai seorang manusia di dunia ini."

Ucapan Cian Bu Ong itu seperti sengat lebah, seperti siraman air dingin, membuat Thian Ki te rsadar.

Dia mengangkat mukanya yang pucat dan memandang kepada ayah tirinya, juga gurunya, dan diapun menjatuhkan diri berlutut di depan ayah tirinya dan ibunya, kedua matanya basah, akan tetapi dia tidak menangis.

"Ayah, ibu, maafkan aku yang le mah ini. Semua kata-kata ayah, ibu dan adik Kui Eng benar. Sekarang aku menyadari bahwa sikapku ini sungguh sikap seorang pengecut yang hendak melarikan diri dari kenyataan hidup. Maafkan aku."

Ibunya, Sim Lan Ci, memaklumi apa yang te rdapat di hati puteranya, maka iapun merangkul pute ranya dengan hati terharu.

Sejak kecil, ia sendiri dan mendiang suaminya, Coa Siang Lee, yang mendidik anak ini agar menjauhkan diri dari segala kekerasan, sengaja tidak mengajarkan ilmu silat bahkan menanamkan dalam hatinya agar menjauhi kekerasan.

Akan tetapi ia dijadikan seorang tok tong (anak beracun) oleh mendiang neneknya yang bermaksud agar sang cucu kelak menjadi seorang jagoan tanpa tanding!

Karena sudah terlanjur memiliki tubuh beracun, sehingga di luar kehendaknya beberapa orang tokoh dunia persilatan te was ketika mencoba untuk membunuh dan menyerangnya, maka kemudian setelah menjadi putera tiri Cian Bu Ong, Thian Ki belajar ilmu silat tinggi.

Namun, ia tahu bahwa di dasar hati Thian Ki masih te rdapat kelembutan itu.

Dia tidak ingin melukai orang, apa lagi membunuhnya.

Dan kini, secara terpaksa dia membuntungi tangan Cin Cin, seorang gadis yang pernah akrab dengannya ketika masih sama-sama kecil.

"Sudahlah, anakku. Bangkitlah dan jangan lagi membiarkan dirimu te nggelam dalam penyesalan dan kedukaan. Ayahmu benar. Engkau seorang laki-laki yang seharusnya bersikap gagah dan jantan,"

Kata ibu ini. Thian Ki bangkit dan duduk kembali. Ketika dia mengangkat muka memandang ayah tirinya, ibunya dan Kui Eng, matanya sudah mengeluarkan sinar, tidak lagi muram dan layu seperti sebelumnya.

"Yang terpenting adalah pengamatan diri, Thian Ki. Carilah dalam dirimu sendiri dan lihat kenyataan apa yang te lah terjadi. Kalau dalam peristiwa itu engkau merasa bahwa engkau telah melakukan kesalahan, maka engkau harus berte kad untuk mengubah kesalahan itu dan tidak mengulanginya kelak. Sebaliknya, kalau engkau tidak merasa melakukan suatu kesalahan, jangan engkau takut menghadapi segala akibatnya. Dalam peristiwa yang telah terjadi itu, aku tidak melihat kesalahan dalam tindakanmu Akan te tapi andaikata akibatnya tidak menguntungkan, andaikata gadis itu mendendam kepadamu, engkau harus berani menghadapi kenyataan itu dengan modal utama, yaitu keyakinan bahwa engkau tidak melakukan kesalahan. Itu saja!"

Thian Ki mengangguk-angguk.

Terbayang semua peristiwa itu.

Mula-mula dia turun tangan untuk mencegah Cin Cin membunuh ayah tirinya, yang tadinya sudah mengalah terhadap gadis itu.

Tentu saja perbuatannya ini tidak salah karena tidak mengandung niat buruk di hatinya ketika dia menyelamatkan ayahnya.

Akan tetapi Cin Cin bahkan menyerangnya.

Diapun hanya membela diri, sama sekali tidak bermaksud untuk melukai gadis itu.

Akan tetapi kenyataannya menjadi lain dari yang dia kehe ndaki.

Gadis itu mencengkeram pundaknya, dan di luar kesadarannya, tanpa disengaja karena otomatis hawa beracun di tubuhnya bergerak tak te rkendali untuk melindungi pundak yang dicengkeram, tangan Cin Cin keracunan.

Racun itu akan menjalar dan menewaskan Cin Cin, tanpa ada obat yang akan mampu menolongnya.

Oleh karena itu, dia cepat membuntungi tangan beracun itu demi keselamatan nyawa Cin Cin.

Memang tidak ada kebencian mendorong semua perbuatannya itu.

Hanya nasib yang menentukan demikian.

Sudah digariskan.

Sudah menjadi kehendak Tuhan.

Dia harus berani menghadapi segala akibatnya.

Dia teringat akan sikap ayah tirinya.

Ayah tirinya menghadapi pula akibat dari perbuatannya ketika muda, yaitu mengenai urusan pribadinya dengan Tung-hai Mo-li Bhok Sui lan.

Dan kini ayah tirinya menanggung akibatnya.

Akan te tapi dengan sikap yang gagah, tidak ingin melibatkan keluarganya.

Semua akibat ditanggungnya sendiri, tanpa memperlihatkan penyesalan atau kecengengan.

Sesal dan duka hanya mendatangkan kekeruhan pikiran dan hati, sama sekali tidak ada manfaatnya, sama sekali tidak akan dapat mengubah keadaan.

Dia bahkan harus bertindak te gas untuk meluruskan yang bengkok, menjernihkan yang keruh.

Dia harus dapat menemukan Cin Cin dan memberi penjelasan.

Sukur kalau gadis itu dapat melihat kenyataan, kalau tidakpun dia harus berani menghadapi apa saja yang akan menjadi akibat dari peris tiwa itu.

Memang segala sesuatu Tuhan yang menentukan akan tetapi dia harus berikhtiar, harus berusaha ke arah kebaikan dan melalui jalan kebenaran.

"Terima kasih, ayah. Kini aku mengerti benar dan harap ayah suka memberi tahu apa yang harus kulakukan selanjutnya."

Wajah bekas pangeran itu berseri. Thian Ki memang bukan keturunannya, bukan darah dagingnya, namun dia merasa sayang kepada anak ini, menaruh harapan besar dalam diri anak ini.

"Engkau sudah selesai belajar, Thian Ki. Pada saat ini, semua ilmuku sudah kuberikan kepadamu. Dalam hal ilmu silat, engkau sudah setingkat denganku, hanya mungkin kalah pengalaman s aja. Akan te tapi kekalahan itu dapat kau tutup dengan keadaan dirimu yang mengandung hawa beracun. Kalau kita berkelahi benar-benar, aku sendiri tidak akan mampu mengalahkanmu. Nah, sekarang untuk apa engkau yang sudah dewasa ini menghabis kan waktu sia-sia saja di tempat ini? Terjunlah ke dunia kang-ouw, perlihatkan dirimu sebagai seorang manusia yang berguna, bagi diri sendiri, bagi orang lain, bagi masyarakat, bagi rakyat."

"Jadilah seorang pendekar yang berbudi baik, anakku. Kau bela yang le mah te rtindas, kau te ntang yang kuat dan jahat, akan tetapi ingat, jangan sekali-kali engkau te rlibat dalam urusan pemerintah, jangan te rlibat dalam urusan pemberontakan,"

Kata ibunya yang mengerling ke arah suaminya. Cian Bu Ong tidak merasa tersinggung, bahkan te rsenyum le bar dan menghela napas dalam-dalam.

"I bumu benar, Thian Ki. Dahulu aku dikuasai nafsu yang membuat aku bercita-cita te rlalu muluk, tidak mau melihat kenyataan bahwa Kerajaan Sui telah runtuh dan Kerajaan Tang telah bangkit dan lahir menjadi penggantinya. Tidak ada yang kekal di dunia ini. Kerajaan demi Kerajaan bangkit dan jatuh, seperti juga manusia, satu demi satu lahir dan mati. Tidak mungkin menentang garis yang sudah ditentukan oleh Thian (Tuhan). Usahaku melakukan pemberontakan terhadap Kerajaan baru Tang hanya mendatangkan malapetaka bagi keluargaku, bagi aku sendiri dan banyak orang lain. Biarlah keadaanku itu menjadi contoh bagimu."

"Thian Ki, engkau te ntu masih ingat akan pesan nenekmu, bukan? Nah, jangan lupa, dalam perantauanmu mencari pengalaman, pergilah engkau ke dusun Hong-cun di tepi Sungai Kuning, te mui kakak-angkat mendiang ayah kandungmu, yaitu Huang-ho Sin-liong (Naga Sakti Sungai Kuning) Si Han Beng dan isterinya yang bernama Bu Giok Cu. Dari merekalah engkau akan dapat memperoleh keterangan di mana adanya Pek I Tojin dan He k Bin Hwesio, dua orang yang akan mampu membebaskanmu dari hawa beracun di tubuhmu. Atau mungkin juga suami isteri itu akan mau dan mampu menolongmu."

"Baik, ibu, akan kuperhatikan pesan ibu."

"Nah, sebaiknya engkau berkemas dan siap untuk segera berangkat meluaskan pengalamanmu, Thian Ki,"

Kata pula ayah tirinya.

"Aku akan ikut pergi merantau bersama kakak Thian Ki!"

Tiba-tiba Kui Eng berkata. Suami is teri itu saling pandang dan Sim Lan Ci cepat berkata.

"Aih, tidak mungkin engkau melakukan perjalanan bersama Thian Ki, Kui Eng!"

Kui Eng mengangkat muka memandang wajah ibu tirinya, lalu wajah ayahnya dan melihat betapa ayahnya menggele ng kepala. Kui Eng mengerutkan alisnya, cemberut dan berkata.

"Hemm, aku mengerti apa yang dipikirkan ayah dan ibu! Aku sudah berusia duapuluh tahun dan aku mengerti bahwa tidak pantas bagi seorang gadis melakukan perjalanan berdua saja dengan seorang pemuda, apalagi kalau mereka itu bukan saudara sekandung. Akan te tapi, ayah dan ibu. Bukankah sejak kecil aku sudah menganggap koko sebagai kakak kandungku sendiri? Semua orangpun.menganggap kami berdua kakak beradik, maka apa salahnya melakukan perjalanan berdua?"

Sim Lan Ci yang merasa bahwa gadis itu bukan pute ri kandungnya, merasa tidak berdaya dan iapun hanya memandang kepada suaminya, menyerahkan keputusannya kepada suaminya.

Cian Bu On menggele ng kepalanya dan suaranya te gas ketika akhirnya dia berkata.

"Kui Eng, engkau tidak boleh pergi mengikuti kakakmu. Dia hendak meluaskan pengalamannya dan te rutama sekali, hendak mencari penawar hawa beracun di tubuhnya. Apalagi, dengan adanya rencana kami, ayah ibumu, maka makin tidak boleh kalian'melakukan perjalanan berdua."

Kui Eng masih mengerutkan alisnya.

"Aih, ayah sungguh aneh. Rencana apa yang menyebabkan aku tidak boleh pergi bersama koko?"

Suami isteri itu kembali saling pandang.

Mereka berdua sudah sepakat untuk menjodohkan kedua orang anak mereka itu.

Hanya ada hal yang membuat mereka sangsi dan sampai sekarang, setelah Thian Ki berusia duapuluh s atu tahun dan Kui Eng berusia duapuluh tahun, mereka belum dapat memberi tahu mereka, karena keadaan Thian Ki.

Dalam keadaan bertubuh seperti itu, penuh dengan hawa beracun, mereka tahu bahwa Thian Ki tidak boleh mendekati wanita.

Siapapun yang berhubungan sebagai suami isteri dengan dia, pasti akan tewas!

Kini, Kui Eng sudah dewasa benar, bagaimanapun juga, gadis itu dan juga Thian Ki harus diberitahu.

Bagi Kui Eng, agar gadis itu tahu bahwa ia sudah mempunyai calon suami, dan bagi Thian Ki, hal itu tentu akan menjadi pendorong agar dia cepat mencari orang yang dapat membersihkan hawa beracun dari tubuhnya.

Setelah saling pandang dengan is terinya dan mendapat isyarat persetujuannya, Cian Bu Ong dengan suara mantap berkata.

"Rencana kami adalah untuk menjodohkan kalian menjadi suami isteri."

He ning sejenak, kehe ningan yang mencekam karena kedua orang muda itu terkejut bukan main mendengar keputusan yang keluar dari mulut Cian Bu Ong itu.

Terlalu tiba-tiba datangnya, merupakan kejutan yang tak pernah mereka duga.

Bagi Kui Eng, merupakan kejutan yang menyusup ke jantung dan tulang sumsumnya, karena diam-diam ia memang sudah jatuh cinta sebagai seorang wanita terhadap seorang pria kepada pemuda yang selama ini ia anggap sebagai kakak kandungnya itu.

Akan tetapi, karena iapun sama sekali tidak menyangka bahwa ayah dan ibunya merencanakan perjodohan itu, iapun terkejut dan sejenak ia te rtegun, lalu wajahnya yang manis itu berubah menjadi merah sekali.

Tanpa dapat ditahan lagi, ia menoleh memandang kepada Thian Ki dan kebetulan pemuda itupun menoleh kepadanya.

Sejenak dua pasang mata berte mu pandang dan segalanya nampak berobah dalam pandang mata mereka setelah mendengar keputusan itu.

Kui Eng tidak dapat menahan lagi dan menunduk dengan wajah makin memerah sampai ke lehernya, sedangkan Thian Ki juga menundukkan mukanya yang menjadi merah.

"Aiih, ayah..........!"

Kui Eng yang menjadi salah tingkah itu merasa tidak kuat untuk berada disitu le bih lama saking malunya.

Sambil mengeluarkan suara yang te rdengar seperti setengah tawa dan setengah isak, iapun melompat pergi meninggalkan ruangan itu, memasuki kamarnya sendiri.

Tinggal Thian Ki yang masih duduk menundukkan mukanya di depan ayah dan ibunya, seperti orang bingung dan tidak tahu harus berkata apa.

"Thian Ki, bagaimana pendapatmu dengan keputusan ayahmu?"

Tiba-tiba ibunya bertanya untuk menuntun kembali pemuda itu ke dalam ketenangan!

Thian Ki mengangkat muka memandang ibunya, lalu ayahnya, kemudian dia menghela napas panjang.

Selama ini, belum pernah masuk dalam gagasannya te ntang diri Kui Eng, apalagi sebagai calon isteri.

Bahkan belum pernah dia memikirkan wanita, tahu bahwa dia sama sekali tidak boleh berdekatan dengan wanita.

Mendengar bahwa dia ditunangkan dengan Kui Eng membuat dia te rkejut dan heran, juga bingung mengapa ayah ibunya mengambil keputusan seperti itu.

Dia memang sayang kepada Kui Eng, amat sayang kepadanya.

Namun, kasih sayangnya itu adalah kasih sayang seorang kakak kepada adiknya.

Dia sudah tahu bahwa Kui Eng bukan adik tiri, bukan pula adik sendiri, melainkan orang lain, tidak ada hubungan darah sama sekali, akan tetapi karena mereka berdua bergaul sejak kecil, maka dia sudah te rlanjur mencinta Kui Eng sebagai adiknya.

"I bu, bagaimana mungkin ini? Tubuhku......"

"Tubuhmu dapat dibersihkan dari racun asal engkau dapat memperole h pertolongan pamanmu Naga Sakti Sungai Kuning, Thian Ki,"

Ibunya memotong.

"Tentu saja pernikahanmu dengan Kui Eng baru akan kami rayakan dan res mikan setelah engkau te rbebas dari hawa beracun itu."

"Aku sendiri akan ikut berusaha mencarikan obat bagimu, Thian Ki. Aku mendengar bahwa di daerah perbatasan sebelah barat, di pegunungan Himalaya terdapat semacam rumput merah yang dinamakan Swe-hiat-ang-cio (Rumput Merah Pencuci Darah) dan yang dapat membersihkan tubuh dari segala macam pengaruh racun. Aku akan mencarinya di sana, sedangkan engkau mencari dan mengunjungi Naga Sakti Sungai Kuning."

"Akan tetapi, ayah dan ibu. Bukan hanya itu yang yang menjadi pikiranku. Semua orang te lah menganggap bahwa aku dan Eng-moi adalah kakak beradik, bagaimana mungkin kami berjodoh? Apa nanti pendapat dan anggapan orang-orang kalau mendengar hal itu!"

Cian Bu Ong te rtawa bergelak dan memandang kepada is terinya.

"Ha-ha-ha, betapa sama benar bantahanmu itu dengan bantahan ibumu. Lama kami memperbincangkan hal ini dan pendapat ibumu sama pula dengan apa yang kau katakan tadi. Akan tetapi akhirnya ibumu menyadari. Kuharap engkau akan dapat menyadari pula, Thian Ki. Kehidupan kita adalah milik kita pribadi, tidak ada sangkut pautnya dengan orang lain. Hidup kita tidak dapat kita gantungkan kepada pendapat orang lain, Thian Ki."

"Maaf, ayah. Memang benar demikian, akan tetapi mungkinkah kita hidup tanpa memperdulikan anggapan umum? Kita hidup di masyarakat, ayah, bagaimana mungkin kita mengabaikan pendapat dan peraturan umum. Kalau umum menganggap aku dan Eng-moi kakak beradik, lalu mereka mendengar bahwa kami menjadi suami isteri, bukankah hal itu akan aib yang menodai nama baik keluarga kita semua?"

"Ha-ha-ha, terlampau picik pandangan itu, Thian Ki. Pendapat dan hukum yang berlaku pada masyarakat tentu saja berdasarkan kenyataan, jadi kenyataan inilah yang harus kita pegang. Bagaimana kenyataannya antara engkau dan adikmu? Kalian bukan saudara, tidak ada hubungan darah sama sekali. Itulah kenyataannya! Kalau umum berpendapat lain, itu adalah kesalahan mereka sendiri. Apakah kalau umum berpendapat keliru, kitapun harus ikut-ikutan dan menganggap benar saja kekeliruan mereka itu? Tidak, Thian Ki. Yang te rpenting bagi kita adalah bahwa kita harus memiliki pendirian. Kalau kita memang benar, dan hal ini tidak dapat kita berbohong kepada diri sendiri, maka kita tidak perlu takut akan pendapat umum. Andaikata seluruh dunia menudingmu sebagai pencuri, hal itu adalah masalah mereka asalkan engkau tidak pernah mencuri. Sebaliknya, andaikata tak seorangpun mengetahui bahwa engkau mencuri, namun itu menjadi masalahmu kalau engkau benar-benar melakukan pencurian. Mengertikah engkau, Thian Ki?"

"Aku mengerti, ayah. Akan tetapi, pendapat umum te ntang kami ini bukan fitnah, melainkan timbul karena selama ini aku dan Eng-moi bergaul sebagai kakak beradik. Jadi kalau mereka menganggap kami kakak beradik, itu bukan kesalahan mereka."

Kembali Cian Bu Ong te rtawa.

"Hal itu mudah saja diubah. Mulai sekarang, engkau jangan menyebut ayah kepadaku, melainkan suhu (guru). Dan sebaliknya, Kui Eng menyebut ibumu bukan lagi ibu, melainkan subo (Ibu guru). Kenyataannya memang demikian, bukan? Engkau adalah muridku, dan Kui Eng juga banyak menerima pelajaran dari subonya. Dan mulai sekarang, umum akan kami beritahu bahwa kalian bukan kakak beradik. Nah, beres, bukan?"

Thian Ki tidak dapat membantah lagi.

Memang ayahnya atau suhunya itu benar.

Yang penting adalah kenyataannya, bukan dugaan atau sangkaan orang, Betapapun juga, dia masih nanar.

Kui Eng menjadi tunangannya dan kelak menjadi isterinya?

Sukar sekali membayangkan hal ini te rjadi dan mulai detik itu, te rjadi perubahan besar dalam pandangannya terhadap Kui Eng.

"Sekarang berkemaslah, Thian Ki. Engkau harus pergi mengunjungi pamanmu Si Han Beng di Hong-cun. Makin cepat engkau te rbebas dari racun itu semakin baik,"

Kata ibunya.

"Kapan engkau akan berangkat?"

Tanya ayahnya atau yang mulai sekarang harus dia sebut sebagai gurunya.

"Teecu akan berangkat secepatnya, besok pagi-pagi, suhu."

Kata Thian Ki tanpa ragu menyebut guru kepada orang yang selama ini disebutnya sebagai ayah.

Cian Bu Ong te rtawa girang.

Sebutan ini menunjukkan betapa taatnya pemuda ini, juga menandakan bahwa pemuda ini menerima usul dia dan isterinya.

"Bagus, aku girang sekali, Thian Ki. Engkaulah muridku yang amat membesarkan hatiku."

"Terima kasih, suhu."

"Mari aku membantumu berkemas, Thian Ki,"

Kata ibunya.

Ibu dan ana k itu lalu memasuki kamar Thian Ki, mempersiapkan keberangkatan pemuda itu untuk merantau.

Selain mempersiapkan buntalan pakaian dan uang secukupnya, juga ibu itu membekali banyak nasihat kepada pute ranya, menceritakan tentang para tokoh dunia kangouw, te ntang peraturan orang-orang kangouw dan memesan agar dia berhati-hati.

"Engkau harus berhati-hati dan waspada te rhadap tiga macam orang, ana kku. Mereka kelihatan sebagai orang-orang yang le mah, namun kalau mereka sudah berkepandaian, mereka merupakan lawan-lawan yang amat berbahaya. Mereka adalah para pengemis, para pendeta dan para sastrawan, baik pria maupun wanita. Jangan sekali-kali memandang rendah kepada orang-orang yang nampaknya le mah. Orang-orang yang bertubuh kokoh kuat biasanya mengandalkan kekuatan mereka dan lawan macam ini mudah ditanggulangi. Akan te tapi orang-orang yang kelihatan le mah tadi dapat mengalahkan kekuatan otot dan tulang."

De mikian antara lain ibu itu berpesan kepada puteranya.

"Saya masih ingat akan semua pesan ibu dan suhu, ibu. Harap ibu jangan khawatir karena ibupun tahu bahwa aku tidak suka bermusuhan."

"Kalau engkau berhasil bertemu dengan pamanmu Si Han Beng dan bibimu Bu Giok Cu, sampaikan salam ibumu dan engkau boleh menceritakan semua keadaan ibumu semenjak ditinggal mati ayahmu. Mereka adalah pendekar-pendekar yang gagah perkasa dan budiman dan dari mereka engkau akan dapat menerima banyak petunjuk."

Sejak memasuki kamarnya, Kui Eng tidak pernah kelihatan lagi oleh Thian Ki, seolah gadis itu sengaja menghindar darinya.

Hal ini meresahkan hati Thian Ki.

Dia merasa seolah dialah yang menjadi sebab gadis itu merasa canggung dan malu.

Bagaimanapun juga, tidak mungkin dia dapat pergi sebelum berpamit kepada gadis yang disayangnya sejak mereka masih kanak-kanak itu.

Kalau dia membayangkan kembali semua itu, ketika mereka masih kanak-kanak, ketika mereka bermain bersama, berlatih silat bersama, bahkan ketika Kui Eng suka marah dan manja, dan dia selalu mengalah sebagai seorang kakak yang menyayang, menjaga dan melindunginya, memang sukar sekali membayangkan kelak mereka menjadi suami iste ri!

Bahkan ketika keluarga itu makan malam, Kui Eng tidak muncul dan menurut ibunya, Kui Eng merasa lelah dan makan di dalam kamarnya dilayani pembantu dan tidak meninggalkan kamarnya.

Cian Bu Ong hanya te rtawa senang mendengar ini karena sikap Kui Eng itu dianggapnya bahwa gadis itu malu-malu kepada Thian Ki dan sikap malu-malu seorang gadis kepada calon suaminya diartikan bahwa Kui Eng tidak menolak dan suka menjadi calon isteri Thian Ki.

Akan te tapi Thian Ki sendiri merasa khawatir walaupun hal ini tidak diucapkannya.

Sim Lan Ci tahu akan isi hati puteranya walaupun pemuda itu tidak mengucapkan sesuatu.

Maka, pada malam hari itu, ia mengetuk pintu kamar pute ranya.

Ketika Thian Ki membuka daun pintu dan melihat ibunya yang datang berkunjung, dia hendak bicara, akan tetapi Sim Lan Ci memberi is yarat agar pute ranya tidak mengeluarkan suara, lalu la berbisik.

"Kalau engkau ingin menemui Kui Eng dan berpamit, cepat pergilah ke kebun belakang."

Setelah berbisik demikian, ibu ini kembali ke kamarnya.

Kebun belakang itu sunyi, namun cuaca amat indahnya karena bulan sudah berada di atas kepala dan langit bersih.

Sinar bulan yang le mbut menyapu permukaan bumi dan bermain-main pada daun-daun pohon, mendatangkan perpaduan yang manis antara cahaya lembut dan bayang-bayang kelabu.

Kui Eng duduk di atas bangku panjang, melamun dan menengadah memandangi bulan yang dite mani beberapa buah bintang yang suram di sana-sini.

"Eng-moi......."

Thian Ki yang menghampiri dari belakang itu kini berdiri sekitar empat mete r dari te mpat gadis itu duduk, memanggil lirih agar degup jantungnya yang menggetarkan suaranya tidak kentara.

Kui Eng tidak merasa kaget dan ia menoleh, berkata lirih.

"Koko........?"

Lalu menundukkan mukanya.

Thian Ki merasa aneh.

Biasanya, Kui Eng adalah seorang gadis yang lincah, je naka, berani dan galak.

Akan te tapi sekarang menjadi begitu jinak dan malu-malu?

Diapun membayangkan gadis itu seperti biasanya, seperti adiknya dan dengan hati ringan dia mendekati, lalu duduk di ujung bangku seperti biasa kalau mereka duduk di situ bersama-sama.

"Eng-moi, engkau kenapakah'"

Thian Ki bertanya.

"Engkau tidak enak badan dan lelah?"

Kui Eng mengerling dari bawah karena mukanya masih menunduk, jari-jari tangannya utak-atik memilin ujung bajunya.

"Siapa bilang?"

"I bu,"

Kata Thian Ki.

"Dan engkau besok akan pergi pagi-pagi, koko?"

"Benar, siapa bilang?"

"I bu.....eh, maksudku subo, ibumu........"

Kata gadis itu maka tahulah Thian Ki bahwa ibunya telah memberitahukan segalanya, juga bahwa mulai saat itu Kui Eng harus menyebut subo kepada ibunya.

"Dan ia pula yang memberitahu bahwa engkau nampak gelis ah dan ingin sekali berte mu denganku. Benarkah?"

Kini Kui Eng mengangkat muka memandang. Dua pasang mata berte mu dan keduanya merasa aneh sekali, seperti saling berhadapan dengan seorang yang asing dan baru pertama kali dijumpai dan dikenal.

"Benar, Eng-moi."

"Kenapa? Mau apa engkau ingin berte mu denganku?"

"Kui Eng, bagaimana aku dapat pergi sebelum pamit darimu Eng-moi, kenapa sejak ayah........ eh, suhu mengumumkan perjodohan kita, engkau lalu bersembunyi dan tidak mau berte mu denganku? Eng-moi, aku akan merasa susah sekali kalau persoalan itu membuat engkau marah dan tidak suka kepadaku."

"Aku tidak marah, juga bukan tidak suka kepadamu."

"Lalu kenapa engkau seperti menjauhkan diri sejak tadi, Eng-moi. Dan kalau ibu tidak memberi tahu, agaknya engkau tidak akan keluar. Ibu pula yang memberi tahu bahwa engkau berada di sini maka aku datang menemuimu."

Kui Eng kembali menunduk dan di bawah sinar bulan yang le mbut kuning kehijauan, nampak perubahan pada warna muka gadis itu.

"Kenapa, Eng-moi?"

Thian Ki mendesak. Pertanyaan ini dijawab dengan pertanyaan pula oleh Kui Eng."

Koko, katakanlah apakah engkau sayang kepadaku?"

Kalau saja pertanyaan ini diajukan Kui Eng kemarin, tentu Thian Ki akan menyambutnya dengan tawa dan menggoda.

Sekarang, te rdengarnya demikian aneh pertanyaan itu.!

Akan tetapi, Thian Ki menenangkan hatinya yang te rguncang dan berdebar, lalu tersenyum.

"Tentu saja, Eng-moi. Aku sangat sayang kepadamu."

"Engkau sayang kepadaku setelah apa yang dikatakan oleh ayah tadi?"

Kini gadis itu kembali mengangkat muka dan sinar matanya seperti hendak menembus keremangan cuaca dan menembus dada Thian Ki menjenguk isi hatinya.

"Tentu saja, Eng-moi. Bagiku, menjadi calon jodohmu atau bukan, aku tetap sayang kepadamu. Di dunia ini hanya ada tiga orang yang kusayang, yaitu ibuku, suhu, dan engkaulah."

"Dan Cin Cin?"

Tiba-tiba gadis itu bertanya. Thian Ki terkeiut dan juga heran.

"Cin Cin? Ah, kau maksudkan Kam Cin itu? Aku hanya kasihan kepadanya, Eng-moi. Kenapa engkau sebut dia?"

"Aku hanya bertanya."

"Tidak, aku tidak menyayang orang lain seperti sayangku kepada kalian bertiga."

"Sayangmu kepadaku masih seperti yang sudah sudah?"

"Tentu."

"Seperti sayangnya seorang kakak kepada adiknya."

"Eh, ya, tentu......."

"Dan engkau tidak cinta padaku?"

Kalau saja Thian Ki bercermin pada saat itu dan melihat wajahnya sendiri, te ntu dia akan melihat betapa wajahnya nampak bodoh dan tolol saat itu.

Matanya te rbuka le bar dan kosong, mulutnya te rnganga dan wajahnya seperti wajah seorang anak kecil yang ditanya tentang soal hitungan yang sulit.

"Ehh........ohh......apa sih bedanya antara sayang dan cinta? Aku jadi bingung, Eng-moi."

Kui Eng mengerutkan alisnya dan wajahnya nampak kecewa sekali.

Mulutnya cemberut.

Ia sendiri tidak mengerti, karena iapun tidak mempunyai pengalaman.

Hanya terasa benar oleh kewanitaannya bahwa besar sekali bedanya antara kedua perasaan dalam hatinya terhadap Thian Ki sebelum dan sesudah ia mendengar bahwa pemuda itu bukanlah kakak kandungnya, bahkan bukan pula kakak tirinya, melainkan orang lain yang tidak ada hubungan darah sama sekali.

Sejak itulah ia memandang Thian Ki dengan mata dan hati yang berubah, dan kesayangannya sebagai adikpun berubah pula.

Kalau tadinya ia membayangkan Thian Ki sebagai seorang kakak yang baik dan dapat diandalkan, sesudah itu ia selalu membayangkan Thian Ki dengan jantung berdebar, mulai ia memperhatikan dan menemukan ketampanan dan kejantanan dalam diri pemuda itu.!

Cinta kasih asmara memang aneh.

Jelas jauh bedanya antara cinta antara kakak beradik dengan cinta antara seorang wanita dan seorang pria.

Cinta antara pria dan wanita adalah cinta asmara, cinta yang mengandung berahi satu kepada yang lain, berbeda dengan cinta seorang adik wanita te rhadap kakak prianya yang jauh dari perasaan berahi.

Hal ini memang sudah merupakan pembawaan, merupakan anugerah dari Tuhan yang disertakan kepada setiap orang manusia, pria maupun wanita.

N afsu atau gairah berahi memang ada pada setiap orang, bahkan pada setiap mahluk, karena nafsu berahi itu mutlak penting bagi kelangsungan hidup setiap mahluk itu sendiri.

Nafsu berahi yang mendorong dua mahluk berlainan jenis untuk saling te rtarik, saling mendekati, kemudian,saling mencinta.

Nafsu berahi mendorong seorang pria dan seorang wanita untuk bersatu sehingga dari persatuan ini te rlahir keturunan dan perkembangan-biakan pun tidak akan terputus.

Tidak demikian dengan cinta antara pria dari wanita yang menjadi saudara kandung.

Kalaupun timbul gairah berahi di antara keduanya, maka jelas bahwa hal itu tidaklah wajar bagi manusia, tidak semestinya dan kalau dilanggar te ntu akan menimbulkan akibat-akibat yang tidak baik.

N afsu, dalam bentuk apapun juga, kalau sudah menguasai manusia, tentu akan menyeret manusia ke dalam perbuatan-perbuatan yang tidak wajar dan tidak benar.

Di samping semua daya rendah yang menimbulkan nafsu, pada manusia disertakan pula akal budi.

Akal budi inilah yang membuat kita dapat mengerti mana yang benar mana yang salah, mana yang baik mana yang buruk.

Akal budi ini yang membuat manusia menjadi mahluk yang paling tinggi derajatnya di antara segala mahluk di dunia ini, juga menjadi mahluk yang paling kuat dan paling kuasa.

Tanpa akal budi, manusia akan menjadi mahluk yang paling le mah, kita tidak akan menang melawan seekor kucing sekalipun, karena kucing masih memiliki taring dan kuku tajam.

Apalagi melawan binatang yang le bih kuat dan le bih besar.

Kitapun tanpa akal budi akan mudah sakit dan mati karena kita tidak akan mempunyai te mpat dan pakaian untuk berlindung.

Akal budi bekerja sama dengan nafsu daya rendah yang menjadi pendorongnya, memungkinkan kita membuat s egala macam benda keperluan hidup kita di dunia ini, memungkinkan kita menikmati hidup ini.

Akal budi pula yang membuat kita dapat membedakan segala sesuatu, mempertimbangkan segala sesuatu, dan akal budi yang melahirkan Ilmu-Ilmu, peradaban, kebudayaan dan lain sebagainya yang menjadi isi kehidupan manusia.

"Kalau engkau cinta padaku, koko, engkau tentu tidak akan meninggalkan aku, engkau tentu tidak akan suka berpisah dariku,"

Kata Kui Eng dengan suara lirih.

"Itukah sebabnya mengapa engkau murung dan ingin ikut pergi denganku?"

Tanya Thian Ki. Kui Eng mengangguk.

"Sejak aku mendengar bahwa di antara kita tidak ada hubungan darah sama sekali, aku.....aku tidak ingin berpisah darimu, koko. Dan itu pula yang membuat aku....... merasa benci kepada Cin Cin. Aku tidak ingin engkau mengasihi gadis lain, memikirkan gadis lain, melindungi gadis lain. Aku hanya ingin engkau untukku seorang.............."

Thian Ki tertegun.

Itukah cinta?

Dia tidak mengerti.

Dia belum merasakan hal yang seperti dirasakan oleh Kui Eng te rhadap dirinya.

Belum te rasa olehnya keinginan agar Kui Eng tak pernah berpisah darinya, atau agar Kui Eng menjadi miliknya, hanya untuk dia seorang.

Barangkali belum bersemi apa yang dinamakan cinta itu di hatinya terhadap Kui Eng.

Atau barangkali dia yang bodoh.

Bagaimanapun juga, dia harus dapat menjawab dan memberi alasan, karena pandang mata Kui Eng te tap menuntut agar dia menjawab, apakah dia juga mencinta Kui Eng seperti yang dirasakan gadis itu kepadanya.

"Eng-moi, engkau te ntu tahu bahwa aku pergi untuk meluaskan pengetahuan dan menambah pengalaman. Juga aku perlu sekali mencari adik angkat mendiang ayahku, yaitu Naga Sakti Sungai Kuning, paman Si Han Beng, untuk minta tolong agar hawa beracun di tubuhku dapat dipunahkan. Engkau te ntu sudah tahu pula bahwa selama hawa beracun ini tidak lenyap dari tubuhku, aku tidak bolen menikah. Oleh karena itu, sebelum keadaanku ini te rtolong, aku sama sekali tidak dapat memikirkan tentang perjodohan."

Kui Eng mengangguk, lalu menundukkan mukanya, menyembunyikan kekecewaan dan kesedihan yang membayang di mukanya.

"Aku mengerti, koko. Jadi, engkau akan pergi? Kapan engkau akan pergi?"

"Aku sudah berkemas, siap berangkat, besok pagi-pagi."

"Besok pagi-pagi? Ahh......!"

Kui Eng te rkejut.

"Aku akan merasa kesepian sekali, koko. Ketika engkau kami tinggalkan di rumah nenekmu dahulu itu dan kita saling berpisah hampir dua tahun, aku merasa tersiksa setengah mati. Dan sekarang, engkau yang akan meninggalkan aku, dan aku tidak boleh ikut denganmu......"

Suara gadis itu menjadi gemetar seperti akan menangis.

"Eng moi, aku tidak akan lama pergi. Setelah berhasil, aku pasti akan segera kembali."

"Engkau tidak akan melupakan aku, bukan? Engkau berjanji tidak akan melupakan aku?"

Thian Ki tersenyum dan memegang pundak gadis itu, seperti yang sudah-sudah kalau dia menghibur gadis ini.

"Jangan khawatir, aku tidak akan pernah melupakanmu."

Kui Eng te risak, bangkit lalu berlari meninggalkan Thian Ki yang masih sempat mendengar ia te risak.

Sampai lama pemuda ini duduk di atas bangku, berulang kali menghela napas panjang.

Kini dia yakin bahwa Kui Eng mencintanya, dan mengharapkan kelak menjadi isterinya!

Dia merasa bangga dan senang, akan tetapi juga bingung dan ragu.

Dia merasa senang dan bangga dicinta seorang gadis hebat seperti Kui Eng, akan tetapi adakah perasaan cinta yang sama dalam hatinya terhadap Kui Eng?

Dia sudah te rlanjur menyayangnya seperti seorang adik!

-ooo0dw0ooo-Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Thian Ki sudah berpamit kepada ibunya dan suhunya.

Kedua orang tua itupun pagi-pagi sekali sudah bangun, karena mereka hendak melihat Thian Ki pergi.

Thian KI menggendong sebuah buntalan yang cukup besar, terisi pakaian dan uang, di punggungnya.

Pemuda ini tidak pernah membawa senjata walaupun dia telah mempelajari cara menggunakan delapanbelas macam senjata dengan mahir.

Suhu dan ibunya duduk di beranda ketika pemuda itu berpamit.

Dia menjatuhkan diri berlutut di depan kaki kedua orang tua itu, mohon diri dan mohon doa restu.

De ngan kedua mata basah, Sim Lan Ci mengelus kepala pute ranya.

Kini baru ia menyadari bahwa pute ranya telah menjadi seorang pemuda dewasa, telah menjadi seorang pria yang gagah dan yang siap untuk terjun ke dalam dunia ramai seorang diri, siap untuk mandiri dan sudah dibekali kepandaian yang hebat.

Dia tidak merasa khawatir.

Puteranya kini menjadi seorang yang amat lihai, jauh le bih lihai dibandingkan ia sendiri, atau mendiang ayah pemuda itu.

Mungkin kini telah memillki kepandaian setingkat dengan gurunya.

"Thian Ki, doa restuku selalu menyertaimu. Engkau berhati-hatilah, nak. Jangan sekali-kali engkau takabur. Walaupun engkau kini te lah menguasai banyak ilmu silat yang cukup untuk membela diri, namun ingatlah selalu bahwa di dunia ini terdapat banyak sekali orang jahat yang selain amat lihai, juga suka mempergunakan sias at yang curang dan licik. Jangan menonjolkan diri dan mencari permusuhan. Aku doakan semoga engkau dapat berte mu dengan pamanmu Si Han Beng. Syukurlah kalau dia dapat mengobatimu sampai engkau te rbebas dari racun, karena kalau engkau te rpaksa harus mencari Pek I Tojin atau He k Bin Hwesio pekerjaan itu sungguh amar sukar. Ke dua orang sakti itu bagaikan dewa, sukar dicari bayangannya. Dan jangan lupa singgah di dusun Ta-bun-cung mengunjungi keluarga Coa yang memimpin He k-houw-pang, menengok keadaan keluarga mendiang ayah kandungmu."

"Baik, ibu. Semua nasihat dan pesan ibu akan kulaksanakan,"

Jawab Thian Ki.

"Semua pesan ibumu memang harus kautaati, Thian Ki. Engkau te ntu masih ingat akan nama-nama dan keadaan para tokoh di dunia persilatan seperti yang pernah kuceritakan kepadamu,"

Kata Cian Bu Ong.

"Engkau boleh merantau untuk meluaskan pengalaman dan menambah pengetahuan, akan tetapi ada satu hal yang aku ingin engkau lakukan untukku."

Selama menjadi putera tiri dan murid bekas pangeran itu, belum pernah Cian Bu Ong menyuruh Thian Ki melaksanakan suatu tugas te rtentu, maka kini mendengar ini, Thian Ki merasa girang sekali.

"Katakanlah, suhu. Apakah yang harus kulakukan untuk suhu?"

Biarpun masih agak merasa janggal dan kaku, Thian Ki mulai memanggil bekas pangeran itu dengan sebutan suhu, tidak lagi ayah seperti yang sudah, memenuhi permintaan Cian Bu Ong yang menjodohkannya dengan Cian Kui Eng.

"Hanya ada satu pekerjaan yang ingin kulihat engkau melakukannya untukku, akan te tapi pekerjaan ini cukup berbahaya, Thian Ki. Ketahuilah, dahulu ketika aku masih menjadi seorang pangeran, aku mempunyai banyak pusaka. Akan te tapi di antara semua pusaka itu, yang paling kusayangi adalah sebatang pedang yang disebut Liong-cu-kiam (Pedang Mustika Naga). Ketika terjadi perang dan kota raja diserbu, semua benda pusaka milikku itu terampas musuh. Aku te lah mendengar bahwa pedangku Liong-cu-kiam itu kini berada di gudang pusaka is tana kaisar, menjadi satu di antara benda-benda pusaka rampasan. Nah, aku minta agar engkau singgah di kota raja, mencoba untuk mengambil kembali pedangku Liong-cu-kiam itu dari gudang pusaka di kota raja."

"Aih, akan tetapi itu berbahaya sekali!"

Kata Sim Lan Ci cemas.

Suaminya tersenyum.

Kalau saja bukan isterinya te rcinta yang mengatakan demikian, mungkin bekas pangeran ini akan marah.

Seruan itu sama saja dengan memandang rendah muridnya, anak tirinya bahkan calon mantunya!

"Thian Ki bukan kanak-kana k lagi dan aku yakin dia akan mampu melakukannya.

Kalau saja aku sendiri tidak dikenal ole h banyak orang di kota raja, agaknya te ntu aku sendiri yang akan mengambil benda pusakaku itu."

"Suhu, aku akan melaksanakan pesan suhu itu. Ibu, harap jangan khawatir. Aku akan berhati hati sekali karena aku tahu bahwa di kota raja, apalagi di gudang pusaka, te ntu penjagaannya kuat sekali."

Setelah menerima pesan dan nasehat kedua orang tua itu, Thian ki berangkat.

Kedua orang tua itupun berpesan wanti-wanti agar perantauannya ini paling lama dua tahun, dia harus pulang.

Sebetulnya, hati Thian Ki agak berat untuk berangkat karena dia belum melihat Kui Eng keluar menemuinya.

Kenapa gadis itu tidak keluar dan melihat dia berangkat?

Apakah Kui Eng marah kepadanya karena dia hendak pergi meninggalkannya?

Untuk bertanya kepada ibunya atau gurunya te ntu saja dia merasa malu, karena kini Kui Eng bukan lagi sebagai adiknya, melainkan tunangannya, calon iste rinya.

Ketika dengan hati agak berat dia meninggalkan dusun dan keluar dari pintu gerbang dusun itu, hari masih pagi sekali dan cuaca masih agak remang, hawanya dingin dan suasana masih amat sunyi karena para penduduk dusun belum berangkat ke sawah ladang mereka.

Tiba-tiba wajahnya berseri ketika ia melihat sesosok bayangan berdiri menghadang perjalanannya, di luar dusun itu.

"Eng-moi.........!!"

Dia berseru sambil melangkah cepat menghampiri gadis itu yang berdiri di tengah jalan.

"Eng-moi, pantas saja sejak tadi aku tidak melihat engkau muncul dari kamarmu. Kiranya engkau malah s udah berada di sini!"

Gadis itu te rsenyum.

Memang manis sekali Kui Eng.

Sepagi itu, biarpun belum mandi, belum bersolek, rambutnya masih kusut, demikian pula pakaiannya belum diganti yang baru, namun kecantikannya nampak le bih asli, tanpa bedak tanpa gincu.

"Koko, apakah engkau mengharapkan aku keluar menemuimu?"

"Tentu saja. Bukankah aku akan pergi? Hatiku merasa tidak enak sekali tadi, terpaksa meninggalkan rumah sebelum sempat berpamit denganmu yang kukira masih tidur."

Hati Kui Eng merasa gembira bukan main.

"Koko Thian Ki, tahukah engkau bahwa malam tadi aku tidak pernah tidur barang sekejappun? Dan tadi, le wat tengah malam, aku sudah turun dari pembaringan dan diam-diam aku sibuk di dapur."

"Lewat tengah malam sibuk di dapur? Untuk apa?"

Tanya Thian Ki heran.

"Untuk membuat ini!"

Katanya dan gadis itu memperlihatkan bungkusan-bungkusan kepada Thian Ki, wajahnya tersipu namun berse ri gembira.

"Aku menyembelih ayam dan menggorengnya, memasaknya seperti kesukaanmu, dan memanggang roti......untuk bekalmu di jalan, koko. Turunkanlah buntalanmu itu agar kumasukkan bungkusan ini ke dalam buntalanmu."

De ngan hati terharu Thian Ki menurunkan buntalan pakaiannya dan menyerahkannya kepada Kui Eng.

Gadis itu membuka buntalan, menaruh bungkusan makanan ke dalam buntalan dan tiba-tiba ia berkata dengan suara yang sedih.

"Koko, engkau akan pergi merantau seorang diri. Bagaimana kalau pakaianmu kotor dan robek-robek? Siapa yang akan mencuci pakaianmu dan menjahit yang robek? Aih, kalau aku boleh pergi bersamamu, te ntu aku yang akan mencuci pakaianmu, memasakkan makanan untukmu, dan menjahit pakaianmu yang robek."

Thian Ki menerima kembali buntalan pakaiannya dan menalikan di punggungnya seperti tadi.

Tercium olehnya bau masakan daging ayam yang sedap, dan te rasa betapa bungkusan makanan yang kini berada dalam buntalan di punggungnya itu masih hangat.

"Eng-moi, engkau baik sekali. Terima kasih atas kebaikanmu ini, Eng-moi. Aku pergi takkan lama. Ibu dan suhu memesan agar paling lama a ku pergi dua tahun, harus sudah pulang."

"Dua tahun? Aih, lama amat, koko! Aku.....lalu aku bagaimana............?"

Mendengar suara gadis itu tergetar seperti hendak menangis, Thian Ki yang tidak ingin diantar tangis segera berkata sambil tersenyum.

"Aih adik yang manis, mana kelincahanmu yang biasa? Engkau biasanya lincah jenaka dan tidak cengeng............"

"Akupun tidak cengeng!"

Kui Eng berkata dan membalikkan tubuh, berdiri membelakangi Thian Ki.

"Koko, engkau berangkatlah, pergilah!"

"Eng-moi, jagalah ibu dan suhu baik-baik selama aku tidak berada di rumah. Nah, Eng-moi, aku pergi sekarang. Selamat tinggal."

Kui Eng tidak menjawab, bahkan tidak lagi menengok.

Karena mengira bahwa gadis itu tidak mau melihat dia pergi, Thian Ki melangkah meninggalkannya.

Akan te tapi baru lima langkah, dia berhenti dan membalikkan tubuhnya.

Dia mendengar tangis tertahan dan ketika dia menengok, dia melihat gadis itu menangis, mencoba untuk tidak bersuara, akan te tapi kedua pundaknya bergoyang-goyang, kepalanya menunduk dan kedua tangannya menutupi mukanya.

-ooo0dw0ooo-

Jilid 20

"Eng-moi..........!"

Thian Ki sekali loncat telah berada di dekat gadis itu dan menyentuh pundaknya.

"Kenapa engkau menangis......?"

Suara Thian Ki terdengar lembut penuh getaran kasih sayang.

"Koko . ... !"

Kui Eng membalik dan merangkul.

Bagaikan tanggul pecah, tangisnya mengguguk dan ia menempelkan mukanya di dada Thian Ki, kedua le ngannya melingkari pinggang.

Ia tidak mampu mengeluarkan kata-kata, hanya menangis seperti anak kecil.

Thian Ki membiarkan saja gadis itu menangis sepuasnya, karena dia tahu bahwa tangis merupakan obat paling ampuh untuk melarutkan segala macam rasa penasaran, kecewa ataupun duka.

Dia merasa betapa dia amat iba dan menyayang gadis ini.

Rasa ibanya le bih banyak disebabkan karena dia melihat betapa gadis ini amat mencintanya, namun dia sendiri belum yakin apakah ada cinta seperti itu di hatinya terhadap Kui Eng.

Dia tidak merasakan desakan nafsu berahi terhadap Kui Eng.

Tidak ada hasrat untuk mendekat, dan mencumbunya.

Yang ada hanyalah perasaan iba dan ingin menghiburnya agar tidak berduka.

"Tenanglah, Eng-moi. Kuatkan hatimu dan hentikan tangismu."

Setelah tangis gadis itu agak mereda, Thian Ki berbisik, membujuknya dan tangannya mengelus rambut kepala yang bersandar di dadanya itu. Bajunya di bagian dada te rasa basah oleh air mata gadis itu.

"Koko.....aku......aku ingin ikut......"

Akhirnya gadis itu dapat berbisik. Hampir Thian Ki tertawa. Sungguh Kui Eng masih separti kanak-kanak saja. Kanak kanak yang manja, pikirnya.

"Aih, Eng-moi. Hal itu tidak mungkin kita lakukan. Suhu dan ibu te ntu akan marah kepada kita."

"Aku takut kehilangan engkau, koko.........aku tidak akan dapat hidup tanpa engkau di sisiku..."

Thian Ki memejamkan matanya. Hatinya terharu sekali. Demikian besarkah cinta hati Kui Eng kepadanya? Dia merasa seperti berdosa kalau tidak membalas cinta kasih yang demikian besarnya.

"Eng-moi, aku pergi bukan untuk selamanya. Aku pergi untuk melaksanakan tugas yang diberikan suhu kepadaku. Aku pergi mencari obat, untuk menyembuhkan diriku. Engkau tinggallah di rumah. Kalau aku pulang kelak, aku sudah berhasil mendapatkan Liong-cu-kiam dan sudah sembuh dari cengkeraman hawa beracun."

Teringat akan keadaan tubuh Thian Ki, Kui Eng dapat menenangkan hatinya.

Ia masih mendekap tubuh pemuda itu, menengadah dan dengan air mata masih membasahi pipi dan mata yang kemerahan oleh tangis, ia menatap wajah pemuda yang dicintainya itu.

"Koko......aku akan menunggumu di rumah... semoga engkau berhasil......"

Kedua lengannya melepaskan rangkulan di pinggang, dan iapun melangkah mundur sampai tiga langkah. Thian Ki memandang dengan perasaan iba dan sayang.

"Aku pergi, Eng-moi. Jagalah s ubu dan ibu baik-baik."

Thian Ki lalu membalik dan melangkah dengan cepatnya meninggalkan Kui Eng yang masih berdiri seperti patung.

Baru setelah bayangan Thian Ki le nyap di sebuah tikungan jauh di depan, Kui Eng menghela napas panjang, menghapus sisa air mata di pipinya, lalu pulang dengan langkah gontai.

Sepekan kemudian, setelah Thian Ki pergi, Cian Bu Ong dan Sim Lan Ci berkemas untuk melakukan perjalanan jauh.

Melihat ayah ibunya berkemas, Kui Eng tentu saja ingin ikut, namun selalu dilarang oleh ayahnya.

Bahkan ketika ia merengek kepada Sim Lan Ci yang kini dipanggil subo olehnya, wanita itu menghiburnya dengan le mbut.

"Kui Eng, kami pergi untuk mencarikan obat bagi Thian Ki. Obat itu hanya te rdapat di pegunungan Himalaya, yaitu Swe-hiat-ang-cio (Rumput Merah Pencuci Darah). Perjalanan ini jauh sekali dan sulit, namun aku yakin ayahmu dan aku akan mampu mendapatkan rumput merah itu. Engkau jagalah di rumah, Kui Eng. Siapa tahu, sebelum kami kembali, Thian Ki yang lebih dulu pulang. Kalau engkau ikut pula dengan kami, bagaimana kalau Thian Ki pulang?"

Akhirnya, karena bujukan ayahnya dan subonya, Kui Eng mau ditinggalkan walaupun ia selalu cemberut.

Suami isteri itupun berangkat meninggalkan dusun, menuju ke barat, ke pegunungan Himalaya untuk mencarikan obat pemunah racun yang amat langka itu.

Akan te tapi, orang yang memiliki watak lincah je naka dan penuh semangat seperti Kui Eng, bagaimana mungkin tahan untuk hidup seorang diri saja di rumah mereka?

Apalagi seluruh penghuni dusun itu kini menganggap ia sebagai pengganti ayahnya dan selalu melapor kepadanya kalau te rjadi hal-hal yang menyulitkan.

Seolah ia yang menggantikan ayahnya menjadi kepala dusun!

Hanya satu bulan saja ia dapat bertahan.

Setelah hatinya tidak dapat menahannya lagi, ia mengumpulkan para pemuka dan sesepuh dusun itu, meninggalkan pesan bahwa ia akan pergi menyusul Thian Ki dan menyerahkan kepengurusan dusun itu kepada mereka.

Juga ia menyerahkan perawatan rumah keluarganya kepada para pelayan.

Setelah itu, Kui Eng meninggalkan dusun, menggendong sebuah buntalan pakaian dan bekal uang yang cukup.

Ia ingin mencari Thian Ki.!

-ooo0dw0ooo-"Suhu dan bibi, te cu (murid) te lah menerima budi yang berlimpah dari ji-wi (anda berdua).

Sampai matipun teecu tidak akan melupakan budi itu dan kalau teecu tidak sempat membalasnya, teecu hanya berdoa semoga Tuhan yang akan membalas budi kebaikan ji-wi kepada teecu."

Pemuda berusia duapuluh dua tahun itu bertubuh tinggi te gap, wajahnya tampan dan dari pakaian dan bentuk rambutnya, juga kuku jari tangannya, dapat diketahui bahwa dia seorang pemuda yang pandai menjaga diri, nampak rapi dan anggun, walaupun pakaiannya te rbuat dari kain yang sederhana.

Terutama sepasang mata pemuda itu yang membayangkan bahwa dia bukan pemuda biasa.

Sepasang matanya bersinar tajam dan kadang mencorong seperti mata seekor naga dalam dongeng, dan pembawaannya le mbut dan sopan.

Hanya ada satu hal yang membuat orang berhati-hati menghadapinya, yaitu senyumnya.

Mulut yang bentuknya bagus itu selalu dibayangi senyum yang sinis, seperti orang yang selalu mengejek orang lain, selalu memandang rendah orang lain.

Pemuda itu memang bukan pemuda biasa.

Dia adalah murid pendekar sakti Si Han Beng yang berjuluk Huang-ho Sin-liong (Naga Sakti Sungai Kuning).

Dia bernama The Siong Ki, murid tunggal pendekar besar itu.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, The Siong Ki adalah putera mendiang The Ci Kok, seorang anggota Hek houw pang yang ikut te was ketika perkumpulan itu diserbu oleh kaki tangan Pangeran Cian Bu Ong, yang menganggap He k-houw-pang sebagai musuh, karena perkumpulan itu membantu kerajaan baru Tang.

The Siong Ki kemudian pergi mencari Huang-ho Sin-liong Si Han Beng yang tinggal di dusun Hong-cun tepi sungai Huang-ho dan menjadi murid pendekar bes ar ini.

Seperti kita ketahui, Si Han Beng dan is terinya, Bu Giok Cu yang dalam hal ilmu kepandaiannya sedikit di bawah tingkat suaminya, memiliki seorang anak saja, yaitu Si Hong Lan.

Akan te tapi dalam usia dua tahun, anak mereka itu diculik dan dilarikan oleh Kwa Bi Lan, janda mendiang Sin-tiauw Liu Bhok Ki dengan ancaman bahwa kalau suami isteri itu mencari anak mereka, anak itu akan dibunuhnya.

Semenjak kehilangan anak mereka itulah, Si Han Beng dan is terinya mencurahkan perhatian mereka kepada The Siong Ki.

Anak laki-laki yang menjadi murid mereka ini memang seorang yang pandai membawa diri, rajin dan taat sehingga mereka menyayanginya.

Bahkan kalau tadinya Bu Giok Cu tidak mau mengajar silat kepadanya, hanya Si Han Beng yang mengajarnya, karena suami isteri itu tidak ingin murid ini kelak lebih pandai daripada anak mereka, s etelah Si Hong Lan diculik orang, maka Bu Giok Cu akhirnya juga menurunkan beberapa ilmu pukulan yang khas kepada murid suaminya itu.

Hanya saja, mentaati perintah gurunya pada saat dia diangkat murid, Siong Ki sampai sekarang tidak berani menyebut subo (ibu guru) kepada Bu Giok Cu, melainkan menyebutnya bibi.

Sebutan kepada suami iste ri itu bukan suhu dan subo melainkan suhu dan bibi.

Siong Ki memang pandai membawa diri.

Selalu sopan, halus dan bukan saja dalam ilmu silat, bahkan ketika diajar ilmu kesusasteraan, diapun rajin dan berbakat sekali.

Karena sikapnya yang selalu baik itulah maka dua orang gurunya semakin sayang kepadanya, dan diam-diam menaruh harapan agar kelak murid mereka itu yang akan mampu mempertemukan mereka dengan anak mereka kembali.

Pagi hari itu, suami isteri pendekar itu memanggil murid mereka menghadap dan mereka menyatakan bahwa sudah tiba saatnya bagi Siong Ki untuk te rjun ke dalam dunia ramai dan memanfaatkan semua ilmu yang pernah dipelajarinya dari kedua orang suami isteri itu.

Setelah mendengar pernyataan kedua orang gurunya itu, Siong Ki sambil berlutut menyatakan te rima kasihnya dengan kata-kata seperti tadi.

Mendengar ucapan murid mereka, suami isteri itu saling pandang dan wajah mereka berseri.

Pemuda itu memang pandai menyenangkan hati mereka, selalu bersikap sopan penurut dan juga halus tutur sapanya.

"Siong Ki, antara guru dan murid tidak a da yang dinamakan hutang budi. Sudah menjadi kewajibanku sebagai gurumu untu k mendidikmu sebaik mungkin, dan sudah menjadi kewajibanmu sebagai muridku untuk mentaati semua petunjuk dan pesanku. Ingat, kami mengajarkan ilmu silat kepadamu bukan dengan maksud agar engkau menjadi kuat untuk membalas dendam. Apa yang te rjadi menimpa keluarga He k-houw-pang adalah akibat dari adanya perang saudara, te rgantinya dinasti Kerajaan Sui menjadi Kerajaan Tang."

"Teecu mengerti, suhu. Sudah sering suhu dan bibi menasihatkan teecu agar tidak memikirkan lagi tentang akibat perang saudara yang mendatangkan malapetaka kepada keluarga He k houw pang. Teecu tidak mendendam kepada siapapun, akan tetapi bagaimana teecu dapat mendiamkan saja kalau mendengar seorang tokoh Siauw-lim-pai yang merupakan aliran persilatan paling besar dan te rkenal mempunyai tokoh-tokoh pendekar perkasa dan budiman, melakukan perbuatan jahat, membantu pemberontak menyerbu Hek-houw-pang dan menyebar maut kepada orang-orang yang tidak berdosa?"

Suami isteri itu saling pandang.

Mereka teringat akan cerita murid mereka ketika pertama kali datang kepada mereka.

Anak itu menceritakan te ntang malapetaka yang menimpa keluarga He k-houw-pang, dan menceritakan pula pendengarannya bahwa yang melakukan penyerbuan dan pembunuhan di dusun Ta-bun-cung itu, antara lain adalah pendekar Siauw-lim-pai yang bernama Lie Koan Tek.

"Siong Ki, ketahuilah bahwa engkau harus dapat membedakan antara orang yang sengaja berbuat jahat dan melakukan pembunuhan karena demi kepentingan pribadinya, seperti para perampok, penindas dan sebagainya yang memang merupakan orang-orang jahat, dan orang yang te rpaksa melakukah perte mpuran dan mungkin pembunuhan yang te rjadi dalam perang. Kami mengenal siapa pendekar Lie Koan Tek itu. Dia seorang pendekar besar, dan kami tidak pernah mendengar dia melakukan kejahatan, bahkan selalu menentang kejahatan. Kalau dia sampai ikut menyerbu dan mungkin saja membunuh ayahmu yang melakukan perlawanan, hal itu terjadi dalam perte mpuran yang te rkendali oleh pemberontakan, oleh perang, bukan karena urusan pribadi. Kalau dendam berlarut-larut dibiarkan merajalela dan menguasai hati manusia, mungkin sekarang ini tidak ada orang yang tidak mendendam kepada orang atau bangsa lain. Dalam perang, sejak dahulu, entah berapa juta orang yang tewas. Kalau semua keturunan mereka mendendam, betapa dunia ini akan penuh dengan dendam."

"Suhu, apakah kalau begitu membunuh banyak orang dalam perang tidak merupakan dosa? Teecu seringkali merasa heran mengapa kalau di waktu perang, seseorang membunuhi banyak sekali orang yang tidak dikenalnya sama sekali, yang tidak mempunyai urusan pribadi dengan dia, orang itu bahkan dipuji sebagai pahlawan yang gagah perkasa. Sebaliknya di luar perang, kalau ada orang membunuh orang lain, biar dengan alasan yang kuat sekalipun, karena urusan pribadi, orang itu dikutuk, ditangkap dan dijatuhi hukuman? Berbedakah membunuh dalam perang dengan membunuh di luar perang?"

Si Han Beng te rsenyum dan mengangguk-angguk, ia sendiri dahulu sudah sering memikirkan hal ini dan berbincang dengan banyak orang cerdik pandai dan bijaksana mengenai perang.

"Pembunuhan adalah tetap pembunuhan, dalam bentuk apapun dan dalam keadaan apapun, Siong Ki. Perang antar golongan, antar bangsa hanya merupakan pembesaran, perluasan dan perkembangan daripada perang dalam diri pribadi dan antar manusia. Urusan pribadi berkembang menjadi urusan golongan, urusan antar bangsa dan selanjutnya. Manusia dikuasai nafsu dan nafsu dengan liciknya, dengan berbagai tipu muslihat, membuat manusia mengejar tujuan dengan menghalalkan segala cara. Perang merupakan suatu cara untuk mencapai sesuatu. Ada yang berperang untuk meluaskan daerah kekuasaan, perang untuk memaksakan kehe ndak demi keuntungan negaranya, perang untuk mempertahankan kehormatan dan harga diri, perang untuk membela diri dari serangan musuh, dan masih banyak lagi. Namun, semua alasan itu mengakibatkan malapetaka yang amat menyedihkan, yaitu membuat manusia menjadi buas, saling bunuh. Dalam perang, seorang perajurit hanya mengenal dua hal, dibunuh atau membunuh. Tentu saja setiap orang tidak ingin dibunuh, walaupun untuk itu harus membunuh! Dan itu sudah menjadi tugas seorang perajurit atau seorang yang berpihak pada suatu golongan atau pemerintahan. Nah, jelas sekali perbedaan sifatnya dari pembunuhan karena urusan pribadi, bukan? Pembunuhan dalam perang melibatkan seluruh pemerintahan dan negara, maka tidak ada hukumannya. Kalau si pembunuh dihukum, te ntu pemerintahnya yang dihukum, karena pemerintah yang menyuruh dia berperang dan membunuh, padahal yang membuat dan melaksanakan hukum adalah pemerintah sendiri. Sedangkan membunuh di luar perang, berarti karena urusan pribadi dan melanggar hukum pemerintah."

Siong Ki mengangguk-angguk mengerti.

"Harap suhu dan bibi jangan khawatir. Teecu tidak mendendam kepada Lie Koan Tek, melainkan hanya penas aran mengapa seorang pendekar diperalat oleh pemberontak. Teecu akan melakukan penyelidikan. Kalau memang benar dia bukan orang jahat, dan seorang pendekar, tentu teecu tidak akan mengganggunya. Akan te tapi kalau dia penjahat, sudah menjadi kewajiban teecu untuk membasminya."

Si Han Beng tersenyum.

"Bukan hanya Lie Koan Tek seorang yang harus kaute ntang, melainkan semua bentuk kejahatan. Akan tetapi jangan mencari musuh, jangan te rlalu usil. Tidak mungkin engkau seorang diri hendak membasmi semua kejahatan, karena di dunia ini, jauh lebih banyak te rdapat orang jahat dari pada yang baik. Kejahatan memang sudah menjadi sebagian dari keadaan manusia. Engkau sudah banyak mendengar tentang itu dari kami, Siong Ki. Mudah-mudahan saja engkau akan menjadi seorang pendekar yang tidak akan memalukan kami sebagai gurumu."

"Teecu akan selalu mengingat semua petunjuk dan nasehat suhu dan bibi,"

Kata Siong Ki.

"Siong Ki, ada satu hal yang kami ingin engkau melakukannya untuk kami,"

Kata Bu Giok Cu tiba-tiba.

Siong Ki mengangkat muka memandang wajah isteri suhunya itu.

Wajahnya berseri dan pandang matanya penuh s emangat.

Dia akan merasa girang sekali kalau dapat melakukan sesuatu untuk guru dan bibinya.

"Teecu akan melakukan segalanya untuk suhu dan bibi, biarpun untu k itu te ecu harus mempertaruhkan nyawa teecu!"

"Kami ingin engkau mencari dan menemukan kembali adikmu Lan Lan!"

Kata wanita itu dan pandang matanya berubah menjadi sayu.

"Bibi, hal itu tidak pernah te ecu lupakan! Sejak sumoi (adik seperguruan) Hong Lan diculik, teecu selalu ingat kepadanya dan sebetulnya, sejak dulu teecu sudah mempunyai te kad untuk mencarinya sampai dapat dan mengajaknya kembali kepada suhu dan bibi!"

Suara pemuda itu penuh semangat, sehingga menggembirakan hati suami isteri itu.

"Teecu tidak akan pernah melupakan wanita penculik bernama Kwa Bi Lan itu!"

"Siong Ki, engkau hanya kami tugaskan mencari Lan Lan, bukan untuk memusuhi Kwa Bi Lan. Ingat, engkau tidak boleh memusuhinya."

"Maaf, suhu. Akan tetapi sikap suhu dan bibi sungguh amat aneh. Sudah je las bahwa Kwa Bi Lan mendatangkan kedukaan dalam kehidupan suhu berdua. Ia sudah menculik adik Lan Lan sejak ia berusia dua tahun sampai sekarang. Akan tetapi, suhu dan bibi yang memiliki ilmu kepandaian tinggi tidak pernah melakukan pengejaran dan pencarian, dan sekarang, setelah teecu hendak mencarinya, suhu memesan agar teecu tidak memusuhi penculik itu. Bukankah ia sudah melakukan hal yang amat jahat, suhu?"

"Hemm, engkau tidak tahu, Siong Ki. Kwa Bi Lan itu adalah murid Siaw-lim-pai pula, dan ia adalah isteri guruku yang pertama. Ia masih keponakan dari pendekar Siauw-lim-pai Lie Koan Tek yang kau sebut-sebut tadi. Ia seorang pendekar wanita yang gagah perkasa, sama sekali bukan penjahat. Kalau ia membawa pergi Lan Lan, hal itu ia lakukan bukan karena ia jahat, melainkan persoalan pribadi antara ia dan aku yang tidak perlu diketahui orang lain. Nah, sekarang berjanjilah bahwa engkau akan mencari Lan Lan sampai dapat kaute mukan, kemudian mengusahakan agar ia dapat kauajak pulang, tanpa mengganggu dan memusuhi Kwa Bi Lan."

Siong Ki menundukkan mukanya.

"Baiklah, suhu dan bibi, teecu berjanji akan menemukan sumoi Hong Lan dan mengajaknya pulang tanpa memusuhi Kwa Bi Lan. Sebelum itu, teecu hendak berkunjung dulu ke Ta-bun-cung. mengunjungi keluarga He k-houw-pang dan bersembahyang di makam ibu dan ayah."

"Me mang seharusnya begitu,"

Kata Si Han Beng.

"Engkaupun harus tahu bahwa He k-houw-pang adalah perkumpulan orang gagah. Ole h karena itu, mengingat bahwa mendiang ayahmu adalah murid dan tokoh He k-houw-pang pula, maka sudah sepantasnya kalau e ngkaupun ikut membantu dan mendorong kemajuan He k-houw-pang agar nama keluarga Hek-houw-pang terangkat."

"Siong Ki, kau bawalah pedangku Seng-kang-kiam (Pedang Baja Bintang) ini. Pedangku ini sudah membuat banyak jas a ketika aku masih merantau di dunia kang-ouw. Bawalah pedangku ini untuk membantumu mencari Lan Lan sampai dapat dan kelak kembalikan pedang ini kepadaku bersama Lan Lan,"

Kata Bu Giok Cu sambil menyerahkan sebatang pedang dengan sarung dan gagang yang terukir indah.

Siong Ki terkejut dan girang.

Tentu saja dia mengenal pedang isteri gurunya itu.

Sebatang pedang pusaka yang amat ampuh walaupun pedang itu tidak tajam.

Pedang itu tumpul karena sukar untuk menajamkan baja yang berasal dari bintang itu.

Namun, segala macam senjata dari logam apapun tidak ada yang mampu menandingi baja bintang itu dalam hal kekuatannya.

Dia menerima pedang itu dengan sikap menghormat.

Kemudian, setelah menerima banyak nasehat dari Si Han Beng dan Bu Giok Cu, membawa pula bekal uang dan pakaian dalam buntalan kain kuning, berangkatlah Siong Ki meninggalkan dusun Hong-cun.

Siong Ki yang enambelas tahun yang lalu datang sebagai anak berusia enam tahun yang berpakaian compang-camping, kini meninggalkan dusun itu sebagai seorang pemuda tinggi te gap dan tampan gagah, berpakaian sederhana namun rapi, melangkah dengan te gap meninggalkan te mpat di mana selama belas an tahun dia dibesarkan.

Di sepanjang jalan, setiap orang yang dijumpainya menyapanya dengan hormat dan dibalas dengan ramah oleh pemuda itu.

Semua penghuni dusun itu sudah mendengar belaka bahwa pemuda yang mereka kagumi itu kini meninggalkan dusun untuk pergi merantau.

-ooo0dw0ooo-Dusun Ta-bun-cung kini menjadi dusun yang besar dan ramai seperti sebuah kota saja.

Hal ini berkat kemajuan yang dicapai He k-houw-pang di bawah pimpinan Lai Kun.

Hek houw-pang telah mempunyai perusahaan pengawal barang yang bergerak dari kota-kota yang berdekatan ke seluruh kota, baik yang berjarak dekat maupun jauh.

Dan berkat adanya surat penghargaan dari Kaisar, maka boleh dibilang pengawalan mereka tidak pernah ada yang berani mengganggu.

Kini dusun itu menjadi ramai karena didatangi banyak pedagang yang hendak mengirim barang melalui pengawalan He k-houw-pang.

Sebagai pangkalan pengiriman barang, maka dusun itu kini membangun, banyak sudah didirikan rumah penginapan dan rumah makan, disamping toko-toko sehingga dusun yang tadinya sunyi itu kini menjadi sebuah kota.

Lai Kun adalah seorang murid He k-houw-pang yang beruntung.

Ketika te rjadi malapetaka menimpa Hek-houw-pang, dia sendiri belum berkeluarga dan diapun dapat meloloskan diri tidak menjadi korban serbuan anak buah Pangeran Cian Bu Ong.

Kini, setelah dia diangkat menjadi ketua He k-houw-pang dan berhasil membuat perkumpulan itu maju pesat, diapun tidak melupakan keluarga pimpinan He k-houw-pang yang telah terbasmi pemberontak.

Dia membangun tanah kuburan menjadi indah dan bersih, dan diapun te rkenal dermawan, siap menolong warga dusun yang sedang ditimpa kesulitan hidup, sehingga bukan saja Hek-houw-pang yang te rkenal maju, juga nama Lai Kun sebagai ketuanya menjadi harum dan dihormati orang.

Pada suatu sore, di tanah kuburan yang sunyi itu nampak seorang gadis bersimpuh di depan sebuah makam.

Gadis itu tidak menangis, hanya duduk bersimpuh seperti dalam samadhi, sampai le bih dari sejam lamanya.

Ia seorang gadis yang amat cantik, dan tubuhnya diselimuti jubah luar yang lebar dan panjang, menutupi leher dan kedua pundaknya, sehingga kedua tangannya tidak nampak.

Baca Juga: Siluman Gua Tengkorak 2

Baca Juga: Pedang Sinar Emas 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert