Eps 8 Naga Beracun - Kho Ping Hoo
Baca online Naga Beracun - Kho Ping Hoo
Cersil Naga Beracun - Kho Ping Hoo.
Hanya wajahnya saja yang nampak, kulit mukanya putih mulus kemerahan dilatar belakangi rambut hitam dan jubah yang kebiruan.
Sebuah buntalan dengan kain hijau terletak di dekatnya.
Dari buntalan ini saja mudah diduga bahwa ia te ntulah bukan penduduk Ta-bun-cung, melainkan pendatang dari yang membawa bekal pakaian dalam buntalan itu.
Setelah senja tiba dan matahari sudah condong jauh ke barat, gadis itu bergerak bangkit dan berbisik di depan makam itu.
"Ayah, te nangkan dirimu, ayah, aku akan mencari ibu sampai dapat......"
Lalu ia meninggalkan makam, menjinjing buntalan kain hijau dan memasuki jalan raya yang ramai di dusun Ta-bun-cung itu.
Tak lama kemudian, nampak gadis itu sudah duduk di dalam sebuah rumah makan besar yang berada di te pi jalan raya.
Lampu-lampu gantung sudah dinyalakan dan ruangan rumah makan itu cukup te rang.
Juga ruangan itu luas, te rdapat belasan meja dikelilingi bangku.
Namun, hari masih terlalu sore untuk makan malam dan sudah te rlalu sore untuk makan siang sehingga tidak banyak dikunjungi tamu.
Hanya ada tiga meja yang dihadapi tamu, meja pertama adalah meja gadis itu yang berada di paling ujung sebelah dalam, lalu meja ke dua dihadapi dua orang laki-laki setengah tua yang nampaknya adalah pedagang-pedagang pendatang dari luar kota, sedangkan meja ke tiga dihadapi empat orang laki-laki muda berusia antara duapuluh lima sampai tigapuluh tahun.
Mereka berempat itu sudah berada di sana ketika gadis bermantel biru itu masuk, dan sejak gadis itu masuk, tingkah empat orang muda itu menjadi berbeda.
Agaknya sudah menjadi sifat atau watak semua kaum pria di seluruh dunia ini.
Setiap kali ada serombongan pria berkumpul, lalu muncul wanita, apalagi kalau wanita itu cantik, maka terjadilah perubahan yang aneh pada rombongan pria itu.
Kalau kita mengamati tanpa melibatkan diri sebagai orang luar, maka kita akan melihat perubahan yang aneh dan lucu.
Pandang mata, gerak-gerik, bahkan suara serombongan pria itu akan berbeda sama sekali dengan ketika tadi mereka bercakap-cakap se belum ada wanita cantik yang muncul.
Begitu ada wanita muncul, maka gerak-gerik, pandang mata dan suara mereka itu menjadi tidak wajar lagi, dibuat-buat atau setidak-tidaknya ada suatu lagak te rte ntu yang mungkin tidak mereka sadari sendiri.
Tanpa mereka sengaja, pandang mata mereka selalu melirik ke arah si wanita seperti tertarik ole h sembrani, senyum mereka semakin sering dan suara mereka meninggi menuntut perhatian.
Kalau kita meneliti keadaan setiap mahkluk jantan, melihat lagak setiap jantan kalau melihat betina, maka rasa aneh itu akan le nyap.
Agaknya memang begitulah pembawaan sifat jantan kalau melihat betina.
Sebaliknya, walaupun le bih halus dan tidak kentara, ada perasaan timbal balik bagi si betina kalau diperhatikan pria.
Sang jantan terdorong untuk menggoda dan memuji, sang betina condong untuk ingin digoda dan dipuji, asalkan sifatnya sopan dan tidak kurang ajar.
Bahkan pria yang wataknya alim sekalipun, tak dapat te rbebas sama sekali dan biarpun dengan sikap yang alim, dia menentang gejolak perasaannya sendiri, tetap saja sang mata ingin melirik dan sang mulut ingin te rsenyum segagah-gagahnya!
Empat orang pemuda itu agaknya memiliki keberanian yang lebih, atau juga memang mereka itu te rbiasa mengganggu wanita dengan cara yang tidak sopan.
Dan lingkunganpun mempengaruhi pembawaan setiap pria.
Kalau seorang di antara empat pemuda itu berada di situ s eorang diri saja, kiranya belum te ntu dia akan berani menganggu, atau andaikata dia tertarikpun tentu akan membatasi diri dengan kerling dan senyun memikat saja.
Akan te tapi, sekali seorang pemuda berkumpul dengan kawan-kawannya, keberaniannya akan meningkat berlipat ganda.
Semakin banyak jumlah kawan, s emakin beranilah dan agaknya keberanian mereka digabungkan dan dipergunakan oleh mereka!
"Aduh, bukan main cantiknya!"
"Hemmn, kulit mukanya begitu putih, halus mulus, apalagi bagian badan yang lain!"
"Kalau aku, yang paling hebat adalah matanya. Seperti sepasang bintang kejora!"
"Tidak, hidungnya le bih hebat. Lihat, kecil mancung dan lucu!"
"Salah semua. Lihat bibirnya! Merah segar tanpa gincu. Betapa nikmatnya kalau diciumi."
Bermacam-macam ucapan empat orang pemuda itu.
Jelas ditujukan kepada gadis itu karena secara te rang-terangan dan menantang mereka memandang ke arah gadis itu.
Sikap dan tingkah laku mereka, ucapan mereka, sempat membuat dua orang tamu setengah tua yang duduk di ruangan itu geleng-geleng kepala, akan tetapi mereka tidak berani mencampuri.
Tentu saja gadis itu tahu akan itu semua.
Akan tetapi sikapnya dingin saja, acuh dan seola'h-olah tidak melihat dan tidak mendengar sesuatu.
Bahkan pandang matanya biasa saja, tetap tenang ketika pelayan menghampirinya untuk menerima pesanan makanan.
Iapun hanya memesan nasi dan dua macam sayuran, tidak memesan arak melainkan minuman ringan dari buah.
Setelah pelayan menerima pesanan dan pergi, iapun duduk diam seperti melamun, kedua tangan te tap bersembunyi di dalam jubah luar dan buntalan kain hijau itu kini terletak di atas meja.
Kalau hanya ada seorang saja di antara para pemuda itu yang berakal sehat, tentu sikap diam dari gadis itu membuat mereka mundur.
Seorang laki-laki yang sendirian, kalaupun berani mengganggu wanita, kalau didiamkan saja dan tidak ditanggapi, diapun akan mundur.
Akan tetapi, empat orang pemuda itu agaknya malah semakin penasaran.
Mereka adalah pemuda-pemuda yang ganteng dan kaya, biasanya hampir tidak pernah ada wanita yang tidak merasa bangga kalau mereka puji dan dekati.
Akan tetapi gadis yang satu ini demikian dingin dan menganggap mereka seperti empat ekor lalat saja!
Sikap ini sungguh membuat mereka penas aran sekali.
Kalau gadis itu memperlihatkan sikap marah atau malu, atau memaki mereka dengan kata-kata, dengan pandang mata melotot, dengan cemberut, hal itu sudah akan memuaskan hati mereka, merupakan hasil kenakalan mereka.
Akan tetapi didiamkan saja seperti itu, dilirikpun tidak, membuat mereka merasa diri kecil tak berarti.
"Hai, jangan-jangan si cantik ini tuli!"
"Atau mungkin juga gagu."
"Aduh sayang sekali kalau begitu. Cantik-cantik gagu dan tuli."
"Aih, gagu dan tuli juga tidak apa-apa, malah asyik tidak usah banyak bicara."
Mereka mengganggu te rus dan sama sekali tidak diperdulikan gadis itu sampai makanan yang dipesan gadis itu tiba.
Pelayan menaruh semua pesanan ke atas meja dan mempersilakan gadis itu makan dengan sikap sopan seperti biasa, karena semua pelayan di situ diharuskan bersikap sopan kepada semua langganan dengan ancaman dipecat kalau berlaku tidak patut.
Gadis itu mengangguk, dan tanpa memperdulikan empat orang pemuda yang te rus menggodanya dengan pandang mata dan kata-kata, ia mengeluarkan kedua le ngannya dari balik jubah untuk mulai makan.
Empat orang pemuda itu te rbelalak ketika melihat betapa lengan kiri gadis cantik itu buntung sebatas pergelangan.
Lengan kiri itu tidak mempunyai tangan dan ujung le ngan itu dibalut kain putih yang bersih, nampak tersembul sedikit dari le ngan baju!
"Wah, tangannya buntung!"
"Aduh sayang........begitu cantik manis tangan kirinya buntung!"
"Wah, kalau ia tuli, gagu dan buntung, cacatnya te rlalu banyak!"
"Aihhh, ia tetap cantik manis, dan dengan satu tanganpun ia akan dapat membelaiku!"
Gadis itu memang buntung tangan kirinya, ia adalah Kam Cin atau Cin Cin, gadis murid Tung-hai Mo-li Bhok Sui Lan.
Seperti telah diceritakan di bagian depan, gadis ini mendapat tugas dari gurunya untuk mencari dan membunuh Cian Bu Ong.
Ia memang telah dapat menemukan musuh besar gurunya itu, namun ia gagal membunuh Cian Bu Ong, bahkan ia dikalahkan.
Ketika Thian Ki mencampuri, ia menyerang Thian Ki dan mencengkeram pundak Thian Ki dengan tangan kirinya.
Ternyata cengkeraraman ini bahkan membuat tangan kirinya keracunan hebat dan Thian Ki lalu membabat putus tangannya itu.
Rasa nyeri di le ngannya tidaklah sehebat rasa nyeri di hatinya.
Ia dikalahkan Cian Bu Ong, dikalahkan Thian Ki bahkan kehilangan tangan kiri yang menjadi buntung.
Sakit sekali rasa hatinya dan ia merasa malu untuk pulang menemui gurunya, malu untuk menceritakan kekalahannya.
Tidak, ia tidak akan merengek kepada gurunya.
Dia harus membuat persiapan sendiri, untuk menuntut balas, sekali ini bukan hanya untuk menuntut dendam gurunya, melainkan dirinya sendiri pula.
Ia akan menantang Cian Bu Ong sebagai wakil gurunya, dan akan menantang Thian Ki untuk diri sendiri.
Demikianlah, dengan le ngan buntung dan hati terluka, gadis itu pergi ke dusun Ta-bun-cung, bukan hanya untuk bersembahyang di depan kuburan ayahnya, a kan tetapi juga untuk mendengar tentang ibunya, untuk berkunjung kepada semua warga Hek-houw-pang dan terutama sekali untuk pergi mencari keterangan tentang paman gurunya, Lai Kun.
Ia masih.mempunyai perhitungan besar dengan paman gurunya yang pernah menipunya dan menjualnya kepada rumah pelacuran di kota Ji-goan itu!
Inilah sebabnya mengapa pada sore hari ini Cin Cin muncul di tanah kuburan dusun Ta-bun-cung, kemudian makan di rumah makan itu sebelum berkunjung ke Hek-houw-pang.
Ia merasa kagum dan te rheran-heran melihat dusunnya yang dulu sepi itu kini menjadi sebuah kota yang ramai.
Tadi ketika menghadapi empat orang pemuda yang menggodanya, ia tidak perduli dan diam saja.
Akan te tapi, kini mereka menyinggung te ntang buntungnya tangan kirinya!
Mereka telah menyentuh kehormatan dirinya!
Cin Cin meletakkan sumpitnya dan menoleh ke arah kiri, ke arah meja dimana empat orang pemuda itu masih tertawa-tawa memandang dan menggodanya.
Melihat gadis cantik itu menoleh dan memandang kepada mereka, empat orang itu semakin gembira dan memberi tanda dengan kedipan mata ke arah Cin Cin, lagak mereka kurang ajar sekali.
"Kalian jahanam-jahanam kecil! Pergilah dan jangan menggangguku atau te rpaksa aku akan menghajar kalian!"
Kata Cin Cin dengan suara dingin dan sikap tenang, namun sepasang matanya mencorong.
Dimaki dengan suara keras oleh gadis buntung itu, tentu saja empat orang pemuda itu menjadi marah.
Dua orang tamu dan juga para pelayan mendengar betapa mereka dimaki, dan hal ini sungguh merendahkan nama mereka.
Si hidung bengkok yang agaknya menjadi pimpinan mereka, segera bangkit berdiri dan menyeringai.
"Heh-heh, nona buntung tapi manis. Jangan bicara sembarangan. Kami adalah para anggota He k-houw-pang yang te rkenal di seluruh penjuru dunia. Kami bahkan musuh para jahanam yang jahat!"
Pemuda ke dua yang berkumis tipis menyeringai pula.
"Nona manis, kami hanya ingin bersahabat denganmu. Mari kita bersenang-senang, nona. Kami akan menyuguhkan makanan enak dan engkau akan minta apa saja, tentu kami penuhi asal engkau bersikap manis kepada kami, ha-ha-ha! Tiga orang te mannya juga te rtawa karena mereka semua sudah setengah mabok. Mendengar bahwa mereka anak buah Hek-houw-pang, Cin Cin menjadi semakin marah.
"Empat orang bajingan kecil macam kalian ini mengaku anggota He k-houw-pang? Kalian tidak pantas menjadi murid Hek-houw-pang, pantasnya menjadi anggota gerombolan penjahat kecil! Pergilah sebelum habis kesabaranku!"
Empat orang itupun menjadi marah karena malu.
Mendengar makian yang dilontarkan gadis itu kepada mereka.
Mereka segera bangkit dan menghampiri meja Cin Cin, mengurung meja itu dengan mulut menyeringai dan bau arak.
Si hidung bengkok berkata sambil mendekatkan mukanya pada wajah gadis itu.
"Engkau berani menghina kami murid-murid He k-houw-pang! Kalau engkau tidak minta maaf dan memberi ciuman kepada kami masing-masing satu kali, engkau tidak bole h pergi dari tempat ini!"
"Jahanam, sudah kuperingatkan kalian!"
Cin Cin membentak dan tanpa bangkit berdiri, tangannya yang kanan bergerak dan tu buhnya dicondongkan ke arah mereka.
Cepat sekali tangan itu bergerak empat kali dan terdengar suara tamparan keras yang membuat empat orang itu te rpelanting dengan pipi membengkak merah!
Tentu saja mereka menjadi semakin marah dan penas aran.
Mereka adalah jagoan-jagoan Hek-houw-pang, dan begitu mudahnya mereka kena ditampar sampai te rpelanting.
Mereka berempat adalah anggota-anggota baru dari He k-houw-pang, maka tidak saling mengenal dengan Cin Cin, apalagi karena Cin Cin baru berusia lima tahun ketika meninggalkan dusun itu.
Dengan marah sekali mereka mencabut sebatang pis au belati yang selalu te rselip di pinggang mereka.
Melihat ini, pengurus rumah makan segera menghampiri dan memberi hormat.
"Harap saudara sekalian jangan membikin ribut di rumah makan kami dan suka memaafkan nona ini. Atau kalau hendak berkelahi, harap keluar dari sini......"
"Apa kau bilang? Engkau hendak mencampuri dan membela perempuan jahat ini? Ia tentu seorang penjahat yang sengaja hendak mengacau di sini. Kami harus menangkapnya dan menyeretnya ke Hek-houw-pang untuk diperiksa oleh pimpinan kami!"
Bentak si hidung bengkok. Kemudian dia memandang kepada Cin Cin dan membentak marah.
"Bocah sombong, cepat engkau menyerah untuk kami tangkap sebelum kami te rpaksa mempergunakan senjata dan melukaimu!"
"Kita buntungi saja tangan kanannya agar ia tidak suka menampari orang lagi!"
Kata orang ke dua, disambut geraman setuju oleh yang lain.
Mereka mendesak maju dengan sikap mengancam dan muka beringas.
Pengurus rumah makan menjadi ketakutan dan diapun mundur, berkelompok dengan pelayan yang memandang dengan hati tegang dan takut kalau-kalau gadis tamu itu akan kehilang tangan yang tinggal satu itu.
Cin Cin bangkit berdiri.
Nampak tubuh yang langsing dan kini baru pertama kalinya mulutnya te rsenyum, senyum sinis sekali.
Bangkit semangatnya yang tadinya hampir padam karena kegagalannya membalas dendam, bahkan ia kehilangan kirinya dan kini bangkit kegembiraannya hendak memberi hajaran kepada empat orang tak tahu diri ini.
"Bagus, kalau kalian ingin merasakan bagaimana kalau kehilangan sebelah tangan, majulah!"
Ditantang demikian, empat orang itu marah dan merekapun menyerang dengan pisau mereka.
Nampak empat sinar berkilauan ketika empat orang pemuda itu menggerakkan pisau.
Mereka seperti hendak berebut dulu untuk membuntungi tangan kanan gadis yang telah menghina mereka di te mpat umum.
Bayangan Cin Cin berkelebatan di antara sambaran empat batang pisau dan tiba-tiba saja ia berhasil merampas sebatang pisau, kemudian dengan gerakan yang luar biasa cepatnya, pisaunya menyambar-nyambar tanpa dapat ditangkis atau dielakkan empat orang pemuda itu.
Mereka berteriak keras satu demi satu dan te rhuyung ke belakang, tangan kanan memegangi le ngan kiri yang telah buntung pada pergelangan tangan itu!
Darah bercucuran dan empat buah tangan menggeletak di atas lantai!
Empat orang itu mengaduh-aduh dan mereka yang melihat peristiwa itu merasa ngeri.
Ternyata dalam waktu yang amat singkat, gadis itu telah membuntungi tangan kiri empat orang pemuda itu.
"Nah, tidak cepat pergi? Apakah kalian minta dibuntungi le her kalian?"
Bentak Cin Cin sambil melempar pisau rampasannya ke atas meja dan menancap sampai ke gagangnya di meja bekas meja mereka itu.
Empat orang pemuda itu kini menjadi ketakutan dan kesakitan.
Baru sekarang mereka menyadari bahwa mereka berhadapan dengan gadis buntung yang memiliki ilmu kepandaian he bat bukan main.
Mereka telah kehilangan tangan kiri dan tentu saja mereka menjadi berduka dan marah sekali.
Mereka lalu lari keluar untuk melapor kepada pimpinan mereka agar membalaskan dendam mereka kepada gadis itu.
Cin Cin berseru."Heei, jangan lupa bawa tangan kalian yang kotor ini!"
Ia menendang empat kali dan empat buah tangan itu melayang keluar ke arah empat orang pemuda yang berlari keluar.
Bahkan dua tangan di antaranya te pat mengenai kepala dua orang pemuda.
Mereka cepat memungut empat buah tangan itu, tidak tahu tangan siapa yang mereka pungut, lalu melarikan diri tanpa berani menoleh lagi.
"Heei, pelayan! Bersihkan lantai itu!"
Kata Cin Cin kepada para pelayan dan ketika para pelayan membersihkan lantai dari darah, gadis itupun melanjutkan makan minum dengan sikap te nang, seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu di tempat itu.
Ia bahkan mengeluarkan sebuah benda kering menghitam dari saku jubahnya, memandang benda itu dan te rsenyum mengangguk-angguk.
"Jangan khawatir, akan banyak te manmu. Setiap orang yang berani kurang ajar kepadaku, akan kubuntungi tangan kirinya agar engkau tidak merasa kesepian lagi."
Setelah berkata demikian, Cin Cin mengantungi kembali benda itu, yang te rnyata adalah tangan yang sudah kering menghitam.
Tangan kirinya!
Kini ia makan minum dengan wajah berseri sehingga nampak semakin cantik.
Agaknya peris tiwa tadi membuat Cin Cin lupa akan keadaan tangan kirinya yang buntung, seperti seorang yang tadinya merasa sengsara karena kehilangan suatu benda yang amat disayangnya, kini menjadi terhibur melihat banyak orang kehilangan seperti dirinya.
Dua orang setengah tua yang tadi juga makan di situ, masih duduk te rtegun menghadapi meja mereka.
Mereka telah menyaksikan peristiwa hebat.!
Karena tegang sekali, mereka tadi seperti te rpukau tak mampu meninggalkan meja mereka, seperti dipaksa untuk menjadi penonton.
Juga pengurus rumah makan dan tujuh orang pelayannya.
Mereka tadi juga berkelompok dan menyaksikan dengan je las apa yang te lah terjadi.
Ada pula beberapa orang yang berada di depan rumah makan menjadi penonton, yaitu beberapa orang yang tadinya hendak makan dan tidak jadi masuk melihat keributan di dalam, dan beberapa orang lagi yang kebetulan le wat dan te rtarik oleh keributan itu.
Setelah empat orang pemuda itu pergi membawa tangan buntung mereka, para penonton itu berbisik-bisik membicarakan peristiwa hebat itu.
Mereka semua merasa heran, kagum dan juga khawatir.
Tentu ada ekornya peris tiwa hebat itu dan mereka semua enggan meninggalkan te mpat itu, ingin sekali melihat apa yang akan te rjadi selanjutnya sebagai akibat dari perkelahian tadi.
Cin Cin yang tidak perduli dan te nang seperti tak pernah te rjadi sesuatu, telah selesai makan dan ia menengok, lalu memberi isyarat memanggil pelayan.
Segera pengurus rumah makan sendiri yang datang dite mani seorang pelayan.
Pengurus rumah makan itu te rbongkok-bongkok dengan sikap hormat dan takut-takut.
"Berapa yang harus kubayar?"
Tanya Cin Cin sambil lalu, tidak memperdulikan sikap kedua orang itu yang terlalu menghormat. Pengurus rumah makan itu tersenyum dan membungkuk-bungkuk, menggerakkan tangan menolak.
"Tidak usah, nona. Tidak perlu nona membayar.."
Cin Cin mengerutkan alisnya.
"Aku sudah makan dan minum, dan harus kubayar. Apa kau kira aku tidak mempunyai uang dan tidak mampu membayar?"
Pengurus rumah makan itu te rkejut dan wajahnya yang tadinya merah itu berubah pucat dan ia cepat menggerakkan tangan menyangkal.
"Tidak...tidak sama sekali, nona. Saya yakin bahwa nona mampu membayar, akan te tapi......Kami senang sekali nona sudi makan minum di sini. Kami merasa terhormat dan tidak usah nona membayar harga makanan yang tidak berapa banyak itu."
Sepasang mata itu berkilat.
"Aku tidak pernah mengemis makanan. Hayo katakan berapa aku harus membayar, atau aku dapat menjadi marah!"
Ge metar kedua lutut pengurus rumah makan itu dan cepat-cepat dia menyebutkan jumlah yang menjadi harga makanan.
Sambil te rsenyum Cin Cin mengeluarkan uang sejumlah itu dan membayarnya.
Ketika ia he ndak keluar dari tempat itu, menyambar buntalan hijaunya dan menjinjingnya dengan memasukkan le ngan kiri yang buntung ke dalam ikatan buntalan yang longgar.
Akan te tapi, baru saja ia melangkah dua tindak, tiba-tiba ia berhenti karena dari luar muncul seorang laki-laki berusia limapuluhan tahun diikuti empat orang pemuda yang ia buntungi tangan kirinya tadi.
Lengan buntung para pemuda itu kini te lah dibalut dan biarpun wajah mereka masih pucat, namun agaknya mereka telah diobati dan tidak terlalu menderita lagi.
Cin Cin mengangkat muka memandang laki-laki itu.
Ia segera mengenalnya.
Pria itu adalah seorang sute (adik seperguruan) dari mendiang ayahnya.
Ayahnya, mendiang Kam Seng Hin, dahulu adalah ketua He k-houw-pang, dibantu banyak saudara seperguruan.
Ketika terjadi penyerbuan musuh yang menewaskan banyak murid He k-houw-pang agaknya Thio Pa ini tidak ikut te was.
Biar usianya sudah kurang le bih limapuluh tahun, namun Cin Cin masih mengenal wajahnya.
Ketika ia pergi enambelas tahun yang lalu, wajah Thio Pa ini sudah seperti itu, hanya yang agak berubah warna rambutnya saja.
Dahulu hitam dan kini bercampur uban.
Akan tetapi melihat Thio Pa memandang kepadanya dengan alis berkerut dan wajah bengis, mata bersinar-sinar dan sedikitpun tidak nampak mengenalnya, Cin Cin juga tidak memperlihatkan tanda bahwa ia mengenal orang itu.
Ingin ia melihat bagaimana sikap Thio Pa, seorang yang dahulu ia kenal sebagai seorang yang gagah dan jujur.
"I nikah gadis kejam itu?"
Te rdengar dia bertanya kepada empat orang pemuda tadi, tanpa menoleh karena pandang matanya mengamati Cin Cin penuh perhatian, seolah merasa heran sekali bagaimana seorang gadis seperti ini mampu membuntungi tangan empat orang pemuda anggota Hek-houw-pang tadi.
"Benar, suhu.! Inilah iblis betina itu!"
Serempak empat orang pemuda itu berseru. Thio Pa melangkah maju menghampiri Cin Cin yang berdiri dengan sikap te nang. Mereka kini berhadapan dalam jarak dua meter.
"Nona, engkau masih begini muda, akan te tapi mengapa begitu kejam? Engkau membuntungi tangan kiri empat orang muri dku, membuat mereka cacat seumur hidup. Kenapa engkau melakukan kekejaman itu, nona?"
Cin Cin tersenyum mengejek, kiranya empat orang pemuda itu murid paman Thio Pa, pikirnya. Tentu mereka telah memutar balikkan kenyataan dalam laporan mereka kepada guru mereka.
"Me ngapa? He mm, mengapa tidak kau tanya sendiri saja kepada empat orang muridmu yang baik ini? Tidak kubuntungi le her mereka saja sudah te rlalu untung bagi mereka. Empat orang muridmu ini agaknya tidak pernah kau ajar, mereka amat kurang ajar dan menggangguku!"
Thio Pa menoleh kepada empat orang muridnya dengan alis berkerut dan suaranya terdengar galak ketika dia bertanya.
"Benarkah itu? Kalian telah mengganggunya?"
"Tidak benar, suhu!"
Kata si hidung bengkok.
"Teecu berempat hanya ingin belajar kenal, tapi ia marah-marah dan menyerang kami!"
Tiga orang saudaranya membenarkan ucapan si hidung bengkok itu.
"I a malah menghina Hek-houw-pang, suhu!"
Kata murid ke dua.
"Suhu, ia tentu tokoh sesat yang ingin membalas kepada He k-houw-pang dan sengaja mengacau di sini!"
Kata yang lain.
"Sudahlah."
Kata Cin Cin.
"Kukatakan bahwa mereka patut dihajar. Aku sudah membuntungi tangan mereka sebagai hajaran, habis engkau mau apa?"
Ia sengaja menantang untuk melihat apa yang akan dilakukan Thio Pa.
"Nona, kami dari Hek-houw-pang selamanya tidak pernah melakukan kejahatan. Kami bahkan selalu menentang kejahatan! Kalau empat orang murid kami ini ingin berkenalan dengan nona, hal ini sudahlah wajar karena mereka adalah orang-orang muda dan nona adalah seorang wajah baru di sini. Andaikata nona tidak senang diajak berkenalan, nona bole h menolak, akan tetapi kenapa begitu kejam membuntungi tangan mereka?"
"Hem, guru kencing berdiri, murid kencing berlari! Engkau te ntu saja membela murid-muridmu yang jahat dan tidak sopan. Sudahlah, kalau engkau hendak membela murid-muridmu dan ingin dibuntungi tangan kirimu, majulah!"
Namun Thio Pa masih menahan diri.
"Nona, waktu ini ketua kami sedang mengadakan pesta ulang tahun dan mengundang banyak sahabat di dunia persilatan. Kami tidak ingin membuat keributan. Kami hanya ingin mengetahui apa yang te rjadi dan kalau memang kami bersalah, kami siap untuk mengakui kesalahan. Karena itu kami mengharap nona juga bersikap jujur dan bertanggung jawab. Nona mengatakan bahwa murid-murid kami yang bersalah, akan tetapi mana bukti dan saksinya? Yang ada, nona telah membuntungi tangan mereka, itu merupakan bukti kekejaman nona."
"Kami yang menjadi saksinya!"
Tiba-tiba te rdengar seruan dua orang tamu restoran yang sejak tadi duduk di meja mereka. Kini mereka bangkit berdiri. Mendengar ini, Thio Pa cepat menghampiri mereka.
"Siapakah ji-wi (anda berdua) dan bagaimana ji-wi berani menjadi saksi?"
"Kami adalah pedagang yang kebetulan makan di sini dan kami tadi melihat semua apa yang te lah te rjadi. Sebelum nona ini masuk, di sana sudah duduk empat orang pemuda itu yang minum-minum arak sampai setengah mabok. Lalu nona itu masuk, memesan makanan. Akan tetapi, empat orang pemuda itu mulai menggoda dan mengganggunya dengan kata-kata yang tidak sopan dan kurang ajar. Ketika gadis itu menegur, empat orang pemuda itu lalu menghampiri mejanya dan semakin kurang ajar. Kami melihat betapa empat orang pemuda itu ditampar oleh nona itu. Mereka menjadi semakin marah, masing-masing mencabut pisau dan mengepung nona itu, lalu menyerang. Nona itu membela diri dan akibatnya, empat orang pemuda itu buntung tangannya."
Mendengar ini, Thio Pa mengerutkan alisnya dan memutar tubuh memandang kepada empat orang muridnya.
"Benarkah apa yang dikatakan tamu ini?"
"Bohong, suhu! Mereka itu bohong! Mungkin mereka adalah sekutu iblis betina itu."
Empat orang pemuda itu dengan tegas menyangkal.
Thio Pa kini menengok ke arah sekelompok pengurus dan pelayan rumah makan, lalu menggapai ke arah mereka.
Biarpun takut-takut, seorang pengurus dan tujuh orang pelayan itu menghampiri.
"Apakah kalian semua tadi melihat apa yang telah terjadi di sini?"
Tanya Thio Pa. Delapan orang itu mengangguk dan si pengutus rumah makan mewakili anak buahnya menjawab.
"Kami semua melihat dengan jelas, Thio-enghiong orang gagah Thio."
"Bagus! Nah, kalau begitu ceritakan, benarkah apa yang dikatakan dua orang pedagang tamu tadi? Jangan takut kepada siapapun, akan te tapi bersikaplah jujur dan tidak berpihak."
De ngan suara yang te gas pengurus rumah makan yang juga merasa tidak senang dengan sikap empat orang pemuda tadi, menjawab.
"Semua yang diceritakan tadi benar, Thio enghiong. Kami sendiripun tadi merasa heran mengapa ada murid He k-houw-pang yang bersikap seperti itu. Mereka mengganggu dan mereka yang menyerang nona ini, nona ini hanya membela diri."
Sepasang mata Thio Pa terbalalak dan mukanya berubah merah sekali. Dia memutar tubuh menghadapi empat orang muridnya, merasa malu dan marah bukan main.
"Keparat kalian! Apa yang dapat kalian katakan sekarang?"
Bentaknya, suaranya menggelegar saking marahnya.
Empat orang pemuda itu yang kini merasa tidak mungkin dapat menyangkal lagi menjatuhkan diri berlutut dan si hidung bengkok mewakili saudara-saudaranya, merengek minta ampun.
"Suhu. ampunkan te ecu berempat.......teecu berempat.......dalam keadaan mabok dan.."
"Cukup! Mulai saat ini, kalian bukan muridku lagi. Mulai detik ini kalian bukan anggota He k-houw-pang lagi. Kalian dipecat dan harus pergi meninggalkan Ta-bun-cung! Awas, kalau kalian memperlihatkan diri di dusun ini, aku sendiri yang akan membunuh kalian!"
Setelah berkata demikian, tubuhnya bergerak, kakinya menendang empat kali dan tubuh empat orang pemuda itu te rlempar keluar dari rumah makan itu.
Mereka tidak berani membantah, cepat merangkak pergi dan selanjutnya membawa barang-barang mereka keluar dari dusun Ta-bun-cung pada hari itu juga, tidak berani lagi muncul di sana.
Melihat sepak terjang Thio Pa, diam-diam Cin Cin merasa girang bukan main.
Akan te tapi dengan te nang ia hanya berdiri memandang tanpa memperlihatkan perasaan girangnya ketika Thio Pa menghadapinya dan tokoh Hek-houw-pang itu memberi hormat kepadanya.
"Nona, semua sudah jelas sekarang. Pihak kami yang bersalah dan aku mewakili He k-houw-pang mohon maaf kepada nona atas sikap yang tidak benar dari bekas murid-murid kami tadi."
Cin Cin menggerakkan tangan kanannya keluar dari balik jubah.
"Sudahlah, aku merasa girang bahwa He k-houw-pang mempunyai seorang tokoh sepertimu."
Ia lalu melangkah keluar dari te mpat tu, tanpa memperdulikan lagi kepada Thio Pa yang juga tidak berani berkata apa-apa lagi karena orang inipun merasa malu atas sikapnya yang tadi bengis membela empat orang muridnya yang te lah menodai nama baik Hek-houw-pang.
Cin Cin lalu pergi mencari kamar di rumah penginapan.
Mendengar bahwa besok Hek-houw-pang a kan mengadakan pesta, ia menunda niatnya untuk berkunjung malam ini.
Sebaiknya datang besok pada saat diadakan pesta agar ia dapat berte mu dengan seluruh keluarga Hek-houw-pang dan yang te rpenting, ia akan mencari Lai Kun, paman gurunya juga yang pernah mengantarnya ke Hong-cun akan tetapi di tengah perjalanan telah menjualnya kepada sebuah rumah pelacuran!
He k-houw-pang memang sedang mengadakan pesta pada keesokan harinya.
Rumah perkumpulan yang mempunyai gedung besar dan megah sebagai hadiah dari pemerintah, dihias dan sejak pagi para anggota Hek-houw-pang sudah ramai menyambut datangnya para tamu yang berbondong-bondong datang dari luar dusun.
Para anggota He k-houw-pang berpakaian gagah, dengan gambar harimau hitam kecil di dada, yang merupakan pakaian seragam resmi dan diharuskan pemakaiannya dalam kesempatan itu.
Namun, di dalam hati, mereka itu mengalami ketegangan karena berita te ntang empat orang murid He k-houw-pang yang dalam keadaan mabok mengganggu seorang gadis pendekar yang berkunjung ke dusun itu sehingga mereka berempat kehilangan tangan kiri, kemudian betapa mereka yang kebetulan menjadi murid-murid Thio Pa, ketika melapor kepada guru mereka, tidak dibela bahkan dite ndang dan diusir dari Hek-houw-pang.
tidak diakui sebagai murid dan anggota He k-houw-pang, bahkan dilarang untuk muncul di dusun mereka!
Sungguh merupakan peristiwa yang amat mengejutkan hati mereka, menyadarkan mereka kembali bahwa bagaimanapun juga, para tokoh He k-houw-pang masih memegang tata tertib dengan ketat dan keras.
Banyak macam orang berdatangan sebagai tamu, sebagian besar te ntu saja para tokoh persilatan, wakil-wakil dari partai persilatan, perguruan silat, para perusahaan pengiriman barang yang memiliki jagoan-jagoan.
Juga hadir pula para pejabat dari kota-kota yang berdekatan, karena para pejabat tahu belaka bahwa Hek-houw-pang merupakan perkumpulan yang sudah berjas a te rhadap pemerintah, sehingga Kaisar sendiri berkenan memberi hadiah.
Juga para pedagang besar yang menjadi langganan Hek-houw-pang datang pula untuk mengucapkan selamat hari ulang tahun dan tentu saja mereka membawa bingkis an-bingkis an yang berharga.
Lai Kun yang menjadi ketua He k-houw-pang menyambut para tamu dengan sikap gembira.
Dia yang dulu bertubuh kurus kini le bih tegap, nampak gagah dengan pakaian rapi dan sikap yang anggun berwibawa, sikap seorang ketua perkumpulan besar yang disegani kawan ditakuti lawan.
Di atas kursinya yang dihias indah, dia duduk diapit para saudara seperguruannya te rmasuk Thio Pa, dan keluarga mereka duduk di belakang mereka.
Dibantu para sutenya, Lai Kun menyambut setiap orang tamu yang datang memberi hormat dan mengucapkan selamat atas ulang tahun He k-houw-pang, dan beberapa orang murid sibuk menerima bingkis an dan ada yang menuliskannya di atas daftar yang dipersiapkan.
Ketika seorang pemuda berusia duapuluh dua tahun yang bertubuh tinggi te gap, berwajah tampan gagah dengan pakaian sederhana, sikap halus dan sopan, datang memberi hormat kepada Lai Kun, ketua ini dan para sutenya menyambut dengan pandang mata penuh perhatian karena mereka tidak mengenal pemuda ini.
"Lai-susiok...!"
Ketika pemuda itu menyebut ketua He k-houw-pang seperti itu, semua orang memandang heran.
"Sobat muda, siapakah engkau dan mengapa menyebutku susiok (paman guru)? Ras anya kami tidak mengenalmu."
Lai Kun menoleh kepada.para sutenya dan merekapun menggeleng kepala, sebagai tanda bahwa mereka tidak mengenal pemuda gagah itu.
Pemuda itu tersenyum dan wajahnya nampak le mbut walaupun senyumnya seperti mengejek.
"Lai-susiok dan para paman lain tidak mengenalku. Tidak aneh karena memang kita telah saling berpisah selama enambelas tahun. Para paman yang terhormat, aku adalah The Siong Ki!"
Nama inipun belum membongkar ingatan mereka dan Siong Ki cepat menambahkan.
"Me ndiang ayah adalah The Ci Kok."
"Ahhh..........!"
Kini semua orang teringat, bahkan beberapa orang pemuda sebaya Siong Ki berlompatan ke depan dan merangkul Siong Ki karena mereka kini mengenal pemuda itu sebagai sahabat bermain sebelum terjadi malapetaka menimpa keluarga Hek-houw-pang.
Lai Kun sendiri juga te rsenyum girang dan merangkul Siong Ki.
"Aih, kiranya engkau pute ra suheng (kakak seperguruan) The Ci Kok! Tentu saja kami semua lupa. Engkau yang dahulu masih kecil kini telah menjadi seorang pemuda dewasa yang gagah dan tampan!"
Tentu saja hujan pertanyaan menimpa Siong Ki dari seluruh keluarga pimpinan He k-houw-pang, akan te tapi karena para tamu masih berdatangan, mereka tidak leluasa bicara dan akhirnya Lai Kun mengatakan bahwa Siong Ki dipersilakan duduk dulu dan nanti saja kalau pesta sudah selesai, mereka akan bicara saling menceritakan pengalaman.
Sebagai anggota keluarga pimpinan He k-houw-pang, Siong Ki mendapat kehormatan duduk di belakang deretan para pimpinan, yaitu te mpat duduk keluarga para tokoh He k-houw-pang.
Ketika mengalirnya para tamu sudah mulai berkurang, tiba-tiba muncul seorang gadis yang bukan lain adalah Cin Cin!
Melihat gadis yang kedua le ngannya te rtutup jubah le bar itu, Thio Pa te rkejut dan dia menyentuh lengan Lai Kun sambil berbisik.
"Itulah gadis yang kuceritakan semalam."
Lai Kun dan para tokoh He k-houw-pang yang lain mendengar bisikan ini dan te ntu saja mereka memandang penuh perhatian.
Gadis yang masih muda dan cantik ini kemarin sore telah menyebabkan empat orang murid He k-houw-pang menjadi buntung le ngan kirinya, bahkan dipecat dari keanggotaan Hek-houw-pang!
Kiranya gadis inipun seorang tamu!
Akan tetapi gadis itu tidak memberi hormat kepada ketua He k-houw-pang seperti yang dilakukan para tamu lain, bahkan ia berdiri te gak di depan Lai-pangcu (ketua Lai) sambil memandang tajam, lalu ia menyingkap jubah luarnya sehing nampak kedua le ngannya.
Lai Kun dan para tokoh He k-houw-pang te rtegun melihat lengan kiri yang buntung sebatas pergelangan itu.
Lai Kun yang tadinya merasa pernah mengenal gadis ini, ketika melihat tangan yang buntung itu, segera merasa yakin bahwa dia tidak pernah mengenalnya.
Belum pernah dia mengenal seorang gadis yang bunting tangan kirinya.
Karena melihat gadis itu berdiri diam saja, Lai Kun mengalah dan dia yang bangkit berdiri dan mengangkat kedua tangan ke depan dada.
"Selamat datang di Hek-houw-pang, nona. Kalau boleh kami mengetahui, siapakah nama nona dan nona mewakili partai atau perkumpulan mana? Harap memperkenalkan diri agar kami semua mengenal nona."
Akan tetapi Cin Cin sama sekali tidak membalas penghormatan itu sehingga hal ini tentu saja membuat para tokoh Hek-houw-pang mengerutkan alis.
Betapa sombongnya gadis ini.
Pangcu mereka sudah mengalah dan lebih dahulu memberi hormat akan te tapi gadis itu tidak mau membalas penghormatannya.
Betapa tinggi hati!
"Aku datang dari jauh dan te lah lama mendengar nama besar Hek-houw-pang, maka kebetulan sekarang le wat di sini dan mendengar He k houw-pang mengadakan pesta ulang tahun.
Aku ingin sekali berte mu dengan ketua Hek-houw-pang!"
Lai Kun memandang heran.
"Akulah ketua He k houw-pang, nona.Namaku Lai Kun. Mengapa nona mencari ketua Hek-houw-pang?"
"Aku datang membawa hadiah yang amat berharga untuk ketua He k-houw-pang. Akan tetapi mengingat akan nama besar Hek-houw-pang, aku ingin sekali berkenalan lebih dahulu dengan kelihaian ketuanya, baru aku akan memperkenalkan diri dan menyerahkan hadiah sumbanganku."
Mendengar ini, Lai Kun yang sudah bersabar sejak tadi itu terpaksa mengerutkan alisnya.
"Nona, kami sudah mendengar akan kesalahan sikap bekas murid kami sebanyak empat orang te rhadap nona. Akan tetapi nona telah menghajar mereka dan sute kami Thio Pa sudah pula menghukum mereka dan mengusir mereka. Harap nona suka memandang He k-houw-pang dan menghabis kan urusan itu, mengingat bahwa yang bersalah sudah menerima hukuman mereka." 'Tidak, pangcu. Walaupun tidak ada peris tiwa itu, tetap saja aku ingin mengenal kelihaian ketua He k-houw-pang. Aku hanya ingin menguji kepandaian, bukan hendak membunuhmu, apakah engkau takut?"
Ini merupakan tantangan sekaligus penghinaan yang gawat.!
Ketua He k-houw-pang dikatakan takut melawan seorang gadis yang buntung tangan kirinya!
Apalagi tantangan itu hanya untuk menguji kepandaian, bukan perkelahian mati-matian!
Untuk menutupi kemarahannya, Lai Kun te rtawa.
"Ha-ha-ha, kalau nona bermaksud meramaikan pesta kami, kenapa tidak nona sendiri saja memperlihatkan ilmu silatmu untuk menambah kegembiraan?" -ooo0dw0ooo-
Jilid 21
"Pangcu, aku datang bukan untuk memamerkan kepandaianku, melainkan untuk membuktikan apakah benar He k-houw-pang dipimpin oleh orang yang berilmu tinggi, sehingga menjadi sebuah perkumpulan yang kuat dan terkenal. Kalau s udah membuktikan sendiri, barulah aku percaya dan aku mau menyerahkan bingkis an kepada Hek-houw-pang untuk menghormatinya."
Ia berhenti sebentar, lalu memandang ke sekeliling, ke arah semua tamu yang kini mulai memperhatikan kemunculan gadis yang bicara keras te rhadap ketua Hek-houw-pang itu.
"Tentu saja ada kecualinya, yaitu kalau pangcu takut melawanku, te rpaksa aku pergi dan akan mengabarkan bahwa He k-houw-pang dipimpin oleh seorang pengecut."
"Pangcu, biarkan aku yang menghadapinya!"
Te riak beberapa orang tokoh He k-houw-pang merasa penasaran dan marah mendengar ketua mereka ditantang dan dianggap pengecut oleh seorang gadis yang buntung tangan kirinya.
Akan tetapi Lai Kun mengangkat tangan memberi isyarat kepada mereka untuk duduk kembali.
Pada waktu itu, Thio Pa bangkit dan menghampiri Cin Cin, sambil mengangkat kedua tangan memberi hormat dan berkata dengan suara lantang.
"Nona, kalau nona mendendam terhadap empat orang anggota He k-houw-pang kemarin itu, maka akulah yang bertanggung jawab karena mereka itu adalah murid-muridku. Pangcu tidak tahu menahu te ntang itu. Oleh karena itu, harap nona jangan mengganggu pangcu yang se dang merayakan ulang tahun perkumpulan kami. Kalau nona hendak menguji biarlah aku Thio Pa yang maju melayani nona! Pangcu kami adalah suhengku, maka kalau nona dapat mengalahkan aku, sama saja dengan dapat mengalahkan suheng "
Cin Cin memandang kepada laki-laki setengah tua itu dan tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Paman Thio Pa, aku sudah tahu bahwa engkau seorang laki-laki sejati yang gagah perkasa dan patut menjadi pimpinan Hek-houw-pang. Akan tetapi aku belum tahu sampai di mana kehe batan pangcu dari He k-houw-pang. Ketahuilah semua yang mendengarkan ucapanku ini, aku sama sekali bukan menantang pangcu He k-houw-pang karena urusan empat orang yang kurang ajar itu. Tidak, aku menantang pangcu untuk melihat sampai di mana kepandaiannya, setelah itu baru aku akan memperkenalkan diri."
Karena berkali-kali ditantang oleh gadis itu, di depan banyak orang pula, apalagi gadis itu mengatakan banwa kalau dia tidak berani berarti dia seorang pengecut, bangkit juga kemarahan di hati Lai Kun.
"Nona, sungguh engkau te rlalu mendesak. Karena engkau datang sebagai tamu, maka tidak baik kalau tuan rumah menolak permintaan tamu. Baiklah, mari kita bermain-main sebentar untuk memeriahkan pesta perkumpulan kami."
Cin Cin sudah melompat ke atas panggung yang sengaja didirikan di ruangan te mpat pesta itu.
Panggung ini sedianya untuk pertunjukan tarian dan nyanyian, dan para pemusik sudah bersiap-siap dengan alat musik mereka, bahkan tadi sudah sempat memperdengarkan lagu-lagu merdu namun belum ada yang menari atau menyanyi karena saatnya belum tiba.
Melihat betapa panggung itu akan dijadikan tempat pi-bu (pertandingan silat) maka para pemusik cepat-cepat turun melalui tangga.
Cin Cin berdiri di tengah panggung yang kosong itu dan dengan suara lantang, te rdengar oleh semua tamu yang kini memandang dengan hati te gang, ia berkata.
"Pangcu dari He k-houw-pang, ingin sekali aku membuktikan sendiri kehebatan pemimpin Hek-houw-pang yang terkenal!"
Lai Kun sudah menjadi marah.
Anak perempuan itu te rlalu sombong, sama sekali tidak memandang kepada He k-houw-pang, bahkan lagaknya meremehkan dia.
Kalau dia tidak melayani, tentu namanya sebagai ketua Hek-houw-pang akan menjadi buah tertawaan orang-orang dunia persilatan.
"Nona, kami datang memenuhi tantanganmu!"serunya lantang dan tubuhnya melayang ke atas panggung pula. Kini mereka sudah saling berhadapan dan melihat senyum dan pandang mata gadis cantik itu, kembali Lai Kun mendapat perasaan seolah dia tidak asing dengan gadis ini. Akan te tapi begitu melihat tangan kiri yang buntung itu, diapun membantah lagi perasaannya sendiri dan yakin bahwa dia tidak pernah mengenal seorang gadis yang buntung tangan kirinya. Diapun sudah siap siaga, berdiri di depan gadis itu dengan sikap berwibawa seorang ketua perkumpulan besar. Melihat gadis itu kini menaruh buntalan kain hijau di sudut panggung, dan melihat betapa buntalan itu menonjol panjang, Lai Kun dapat menduga bahwa gadis itu menyimpan sebatang pedang dalam buntalannya. Maka, sebagai sikap seorang yang tingkatnya jauh le bih tinggi, diapun bertanya.
"Nona, dalam pi-bu ini, apakah nona hendak menggunakan senjata? Silakan keluarkan pedangmu kalau nona menghendaki demikian, akan kuhadapi dengan tangan kosong saja."
Ucapannya le mbut namun lantang dan te rdengar oleh semua orang. Tentu saja ucapan ini dimaksudkan untuk membalik pandangan rendah dari gadis itu te rhadap dirinya.
"Pangcu, sudah kukatakan tadi bahwa aku hanya ingin melihat sampai di mana kelihaianmu. Aku tidak ingin membunuhmu, kenapa harus menggunakan senjata? Sebaliknya, kalau pangcu ingin membalaskan empat orang murid He k-houw-pang yang kuhajar kemarin, silakan kalau hendak menggunakan pedang. Aku tidak takut menghadapi senjatamu dengan tangan kosong!"
Betapa sombongnya!
Bahkan tangannyapun hanya tinggal sebuah, akan te tapi gadis itu menantang untuk menghadapi senjata ketua Hek-houw-pang dengan sebelah tangan saja!
Wajah Lai Kun berubah kemerahan.
Gadis ini te rnyata memiliki mulut yang tajam pula, pandai bicara sehingga dia merasa tersudut.
Maklum bahwa kalau saling serang dengan kata-kata dia akan te rdesak dan kalah, Lai Kun lalu berseru dengan nyaring dan berwibawa.
"N ona, kita sudah saling berhadapan di sini. Nah, kalau engkau hendak menantang bertanding, maju dan mulailah!"
Cin Cin tersenyum gembira.
Inilah saatnya yang ia tunggu-tunggu, inilah saat pelaksanaan, inilah dendam yang te lah menekan batinnya selama bertahun-tahun.
Tak disangkanya sama sekali bahwa Lai Kun kini telah menjadi ketua Hek-houw-pang, menggantikan ayahnya yang te lah tewas, sungguh tidak berhak orang itu menjadi ketua He k-houw-pang.
Pertama, karena dia bukan keturun keluarga Coa yang menjadi pendiri dan pimpinan He k-houw-pang.
Ayahnya adalah mantu dari keluarga Coa.
Dan kedua, orang seperti Lai Kun ini tidak pantas memimpin Hek-houw-pang.
Dia seorang pengecut dan berwatak rendah, tega menjual keponakan yang dipercayakan ke rumah pelacuran!
"Bagus, bersiaplah engkau, Lai Kun!"
Te riak gadis ini mengejutkan semua orang karena tiba-tiba saja gadis itu tidak menyebut pangcu lagi, melainkan nama ketua itu begitu saja.
Tentu saja Lai Kun marah bukan main, maka melihat gadis itu menampar dengan tangan kanan, diapun mengerahkan semua te naga sin-kangnya untuk menangkis .
Maksudnya sekali tangkis dia akan membuat gadis terpelanting karena kalah tenaga.
"Dukkkl!"
Dua buah lengan itu bertemu de ngan kerasnya dan akibatnya bukan Cin Cin yang te rpelanting, melainkan Lai Kun yang terpental dan te rhuyung karena kuda-kudanya tidak kuat menahan gempuran tenaga dahsyat dari lengan kecil gadis itu!
"Ahh............!"
Tentu saja Lai Kun te rkejut bukan main dan para pimpinan Hek-houw-pang juga para tamu mengira bahwa ketua itu mengalah dan tidak mengerahkan seluruh tenaganya.
Lai Kun benar-benar te rkejut karena maklum bahwa dia kalah jauh dalam hal te naga sin-kang.
Karena tahu bahwa lawannya ternyata amat kuat, Lai Kun cepat menggerakkan tubuhnya dan melakukan penyerangan dengan sungguh-sungguh.
Tentu s aja dia segera memainkan silat andalan perkumpulannya, yaitu He k-houw-kun (Silat Macan Hitam) yang menjadi ciri khas dan nama dari perkumpulan itu.
Gerakannya kuat dan ganas, seperti seekor harimau hitam yang buas.
Namun, dibandingkan Cin Cin, tingkat kepandaian ketua ini masih terlalu jauh di bawahnya.
De ngan mudah saja Cin Cin menghindarkan diri dari serangkaian serangan bertubi itu, bahkan setiap kali ia menangkis , tubuh Lai Kun terpental dan te rgetar.
Baru delapan jurus saja, tiba-tiba tubuh Lai Kun te rjengkang oleh sebuah tendangan kaki kiri Cin Cin yang secara aneh melayang dari samping mengenai dadanya.
"Dessss..........bukkk!"
Pinggul ketua He k-ouw-pang itu te rbanting keras ke atas panggung dan te rdengar seruan-seruan kaget.
Karena malu, Lai Kun menahan rasa nyeri dan cepat meloncat bangun dan menyerang lagi dengan nekat.
Dia telah dihina di depan orang banyak.
Sebagai ketua He k-houw-pang, dia roboh dalam waktu kurang dari sepuluh jurus!
Maka, dia menyerang mati-matian.
Baru tiga jurus dia menyerang, sebuah tamparan tangan kanan Cin Cin kembali membuat dia te rpelanting keras dan sejenak tidak mampu bangkit karena kepalanya te rasa pening oleh tamparan yang mengenai le hernya tadi.
Dia menjadi semakin marah dan penasaran.
Lebih baik mati daripada dihina seperti ini, tekadnya dan setelah nanarnya hilang, dia meloncat dan menyerang lagi dengan nekat, hanya untuk roboh te rjengkang kembali karena disambut te ndangan Cin Cin.
Tiga kali ketua itu roboh dan Cin Cin berdiri tegak dengan tenang dan senyum simpul.
"Begini sajakah kepandaian ketua He k-houw-pang? Kalau begini, engkau tidak pantas menjadi ketua He k-houw-pang, Lai Kun!"
Terdengar gadis itu berseru yang membuat marah para pimpinan He k-houw-pang, juga membuat heran para tamu yang hadir.
Para sute dari ketua itu menjadi bingung.
Mereka maklum bahwa kalau ketua itu sendiri dibuat permainan ole h gadis itu, apalagi mereka, pasti bukan tandingan gadis buntung itu.
Dan untuk melakukan pengeroyokan, tentu s aja hal itu akan membuat hancur nama besar Hek-houw-pang, maka mereka hanya dapat memandang dengan muka pucat.
Lai Kun yang merasa terhina sekali, menjadi nekat dan dia ingin melawan sampai mati!
Maka dia merangkak bangun dan biarpun tubuhnya masih te rhuyung, dia berusaha keras untuk menyerang lagi, walau pandang matanya berkunang.
Dia menerjang membabi buta dan sambil tersenyum mengejek Cin Cin sudah siap menyambutnya dengan te ndangan.
Akan te tapi tiba-tiba berkelebat bayangan orang dan tubuh Lai Kun yang tadinya te rhuyung dan siap menerima te ndangan itu te rtarik ke belakang sehingga te ndangan Cin Cin luput.
"Ehh........?"
Lai Kun memandang dan te rnyata yang menarik le ngannya ke belakang sehingga luput dari te ndangan lawan adalah pemuda yang baru tiba, yaitu Siong Ki.! Merasa dirinya dikeroyok, marahlah Cin Cin.
"Bagus, ketua Hek-houw pang curang dan hanya berani mengeroyok, terpaksa kuberi hajaran!"
Ia menampar dengan gerakan kilat ke arah muka Lai Kun, akan tetapi Siong Ki tidak membiarkan saja gadis yang dianggapnya liar itu memukul paman gurunya.
Diapun menangkis dan karena tadi dia melihat betapa lihainya gadis itu, ketika menangkis diapun mengerahkan te naga sin-kangnya.
"Dukk! "
Keduanya terkejut karena merasa betapa kuatnya tenaga masing-masing dan mereka merasa tangan mereka tergetar hebat. Mereka saling pandang dengan mata mencorong.
"Hemm, orang orang He k-houw-pang hanya pandai menggunakan pengeroyokan. Akan te tapi aku tidak takut! Siapakah engkau dan mengapa engkau mencampuri urusanku dengan ketua He k-houw-pang yang hendak mengadu ilmu?"
Bentak Cin Cin marah. Siong Ki mengerutkan alisnya.
"Nona, semua orang juga tahu bahwa ketua He k-houw-pang telah mengalah kepadamu. Kenapa engkau sebagai tamu begitu tidak tahu diri dan mendesaknya terus? Begitukah kelakuan seorang gagah?"
Dia menghardik marah. Lai Kun telah dapat menguasai dirinya.
"Siong Ki, mundurlah dan biarlah aku yang menghadapi nona ini."
Bagaimanapun juga, sebagai ketua Hek-houw-pang dia harus bertanggung jawab dan kalau dia mengandalkan murid keponakannya ini, berarti dia takut.
Sementara itu ketika Cin Cin mendengar Lai Kun menyebut nama pemuda tinggi tegap dan tampan yang memiliki tenaga sin-kang yang jauh le bih kuat daripada te naga Lai Kun, ia terbelalak.
Siong Ki!
Sahabatnya bermain-main sejak mereka berdua masih sama-sama kecil.
Ia ingat betul.
The Siong Ki ini adalah pute ra supenya.
The Ci Kok, seorang di antara tokoh He khouw-pang yang juga gugur dalam penyerbuan musuh.
The Ci Kok adalah saudara seperguruan dan sahabat baik ayahnya, dan ia sendiri adalah sahabat baik Siong Ki ketika masih kecil.
"Hem, kiranya engkau The Siong Ki? Bagus sekali! Siong Ki, tidak malukah engkau te rhadap arwah ayahmu, mendiang supek The Ci Kok? Engkau kini membantu seorang pengecut besar yang jahat, yang entah dengan cara bagaimana telah dapat menjadi ketua Hek-houw-pang! Lai Kun adalah seorang yang curang, kejam dan jahat! Karena ucapan ini dikeluarkan dengan suara lantang sekali, maka semua orang mendengarnya, dan kini Siong Ki te rbelalak memandang wajah yang cantik itu. Mata itu! Mulut itu! "Kau.......kau......Cin Cin.......!"
Katanya gagap saking terkejut dan herannya.
"Kam Cin.............!"
"Cin Cin...........!"
Te rdengar seruan-seruan dari mulut para tokoh lama He k-houw-pang yang kini mengenal pute ri mendiang Kam Seng Hin yang dahulu menjadi ketua Hek-houw-pang.
Sementara itu, wajah Lai Kun berubah pucat bagaikan mayat ketika diapun kini mengenal Cin Cin.!
Cin Cin pantas saja kalau gadis itu amat membencinya!
Kedua kakinya menggigil dan jantungnya berdebar penuh rasa malu dan takut.
"Cin Cin, kenapa engkau menuduh sekeji itu?"
Siong Ki berteriak membantah.
"Akupun baru tiba, baru sekarang sempat pulang ke sini dan aku melihat betapa Hek-houw-pang memperoleh kemajuan pesat di bawah pimpinan paman guru Lai Kun! Kenapa engkau datang-datang menghina dan mencaci-maki susiok Lai Kun? Kenapa? Engkau dahulu tidak seperti ini. Cin Cin!"
Gadis itu memandang wajah Siong Ki dan te rsenyum mengejek.
"Kenapa? He mm, kenapa engkau tidak tanya saja kepada yang bersangkutan? Lai Kun memang nampak berhasil, akan te tapi sebetulnya dia hanya menari-nari di atas mayat para tokoh He k-houw-pang, te rmasuk mayat ayahmu sendiri! Dia seorang pengecut, keji dan jahat dan bahkan bukan saja tidak pantas menjadi ketua Hek-houw-pang, bahkan menjadi anggota Hek-houw-pang pun dia tidak pantas!"
"Cin Cin, apa alasanmu menuduh sekeji itu?"
Siong Ki berseru penasaran.
"Siong Ki, akupun sudah mendengar akan kemajuan Hek-houw-pang. Akan te tapi, kenapa pemerintah membantunya, dan banyak pihak mendukung dan mengagumi He k-houw-pang? Karena perjuangan para pimpinan He k-houw-pang yang dahulu. Lai Kun sendiri, apa sih jasanya? Dia hanya menemukan hadiah jas a mereka yang gugur! Dia telah menipu kalian, dia orang jahat!"
"Nanti dulu, Cin Cin. Engkau masih mengenalku, bukan.? Ketika engkau masih kecil, aku sering menggodamu."
Thio Pa juga berseru sambil menghampiri gadis itu.
"Tentu saja aku mengenalmu, paman Thio Pa!"
Kata Cln Cin.
"Sejak malam tadi aku sudah mengenalmu. Engkau seorang di antara sute mendiang ayahku yang baik dan jujur, dan engkaulah yang jauh lebih pantas menjadi ketua He k-houw-pang daripada si jahat ini!"
Cin Cin menudingkan te lunjuknya kepada Lai Kun yang sejak tadi menundukkan muka saja.
"Cin Cin, keponakanku yang baik. Engkau kini telah menjadi seorang gadis dewasa yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Kami seluruh warga He k-houw-pang merasa gembira dan bangga, anakku. Akan te tapi, kenapa engkau bersikap begini te rhadap suheng Lai Kun? Apa alas annya maka engkau memaki dan mengatakan dia jahat?"
Kini Cin Cin memandang ke sekeliling, lalu berkata dengan suara meninggi.
"Semua orang yang memiliki telinga, dengarkanlah keteranganku ini. Lihat ini dia yang mengaku diri sebagai ketua He k-houw-pang, yang te rpandang oleh seluruh manusia sebagai orang yang berjas a dan gagah berani dan budiman, lihat baik-baik. Dimana kegagahannya? Lihat, dia hanya menunduk. He ii, Lai Kun, coba kau mengangkat mukamu dan pandanglah dunia, lalu katakan te rus te rang apa yang telah kau lakukan dahulu!"
Semua orang kini memandang kepada Lai Kun, te rmasuk isteri dan kedua orang pute ranya yang wajahnya sebentar pucat sebentar merah dan semua orang te rheren-heran.
Lai Kun tetap menunduk, mukanya pucat sekali, nampak lunglai.
"Cin Cin, demi Tuhan, apa yang telah dia lakukan maka engkau menghinanya seperti ini?"
Siong Ki hampir tidak sabar lagi melihat betapa gadis itu menyiksa Lai Kun dengan sikap dan kata-katanya. Cin Cin tidak memperdulikan Siong Ki, lalu berseru lagi.
"Dia terlalu pengecut untuk mengakui perbuatannya. Paman Thio Pa, coba katakan, apa yang diceritakan oleh Lai Kun kepada kalian semua te ntang diriku, ketika enambelas tahun yang lalu dia mengantarku untuk menjadi murid Hung-ho Sin-liong Si Han Beng?"
Biarpun bingung dan ragu, te rpaksa Thio Pa menjawab.
"Lai-suheng mengatakan bahwa ketika dia mengantarmu ke sana, di Lok-yang kalian diserbu perampok. Lai-suheng melawan para perampok dan engkau melarikan diri. Setelah berhari-hari dicari tidak dia temukan, maka dia kembali ke sini dan engkau menghilang."
"Hemm, sudah kuduga. Sekarang dengarlah kalian semua baik-baik. Lai Kun memang mengantarku menuju ke Hong-cun, akan tetapi ketika tiba kota Ji-goan, dia bersekongkol dengan seorang pelacur dan dia telah menjual aku pada seorang mucikari, menjual aku ke rumah pelacuran di Ji-goan!"
Terdengar seruan-seruan kaget, heran dan tidak percaya. Siong Ki sendiri terbelalak memandang kepada Lai Kun. demikian pula para tokoh Hek-houw-pang yang lain. Akan te tapi Lai Kun tetap menunduk.
"Dia telah menjual aku dan kalau saja aku tidak menggunakan akalku sendiri, kemudian ditolong oleh guruku yang sakti, tentu kini aku telah menjadi seorang pelacur hina atau sudah membunuh diri! Nah, sekarang aku tidak membunuhnya, hanya menelanjangi perbuatan kotor dan rendah itu dalam kesempatan ini, apakah orang masih mengatakan bahwa aku kejam?"
Terdengar tangis isteri Lai Kun, dan semua orang memandang kepada Lai Kun dengan alis berkerut.
Kam Cin atau Cin Cin adalah puteri mendiang Coa Seng Hin, ketua Hek-houw-pang, dan ia merupakan keturunan dari keluarga Coa, walaupun sebagai cucu luar.
Dan ia telah dijual kepada rumah pelacuran oleh Lai Kun, orang yang mereka anggap te rhormat dan pantas menjadi pimpinan mereka itu.
Pandang mata begitu banyak orang kepadanya, dirasakan seperti ujung ratusan pedang yang menodongnya dan membuatnya tersudut.
Lai Kun sudah lama menyesali perbuatannya itu, namun dia tidak berani menceritakannya kepada siapapun, tidak berani mengakui perbuatannya.
Kini, semua itu terbongkar dan dia tidak mungkin dapat mengelak, tak mungkin dapat menyangkal karena Cin Cin sendiri telah berdiri di situ sebagai seorang gadis yang memiliki ilmu kepandaian amat tinggi.
Hukuman ini terlampau berat baginya, lebih berat daripada hukuman mati sekalipun.
N amanya telah hancur.
Kehormatannya telah lenyap dan dari seorang ketua yang disegani, dihormati semua orang, kini dia menjadi seorang pengkhianat dan pengecut yang akan dipandang rendah selamanya.
"Aku telah berdosa...........!!"
Tiba-tiba ia berte riak, tangannya bergerak dan diapun roboh dengan jari-jari tangan kanan menancap di kepalanya sendiri.
Isterinya dan dua orang anaknya menje rit dan menubruk tubuh yang sudah menjadi mayat itu karena Lai Kun te was seketika.
Tentu saja pesta itu menjadi bubar.
Para tamu merasa sungkan dan ikut prihatin, lalu mereka membubarkan diri, bahkan tidak sempat berpamit karena bingung siapa yang harus dipamiti dalam keadaan seperti itu.
Seluruh Hek-houw-pang berkabung, bukan hanya karena kematian Lai Kun, akan te tapi te rutama sekali karena te rbongkarnya perbuatan ketua He k-houw-pang itu sungguh merupakan tamparan bagi He k-houw-pang, mencemarkan nama baik perkumpulan itu.
Karena menjadi murid Tung-hai Mo-li yang berwatak dingin dan keras, maka pada lahirnya Cin Cin kadang bersikap dingin dan juga te gas, bahkan dapat menjadi ganas.
Namun di dasar batinnya sebetulnya ia memiliki perasaan yang halus dan mudah merasa iba kepada orang lain.
Ketika ia disambut oleh para tokoh Hek-houw-pang dengan baik dan hormat sebagai seorang anak hilang yang kini pulang, apalagi mengingat ia adalah keturunan te rakhir dari keluarga Coa dan telah memiliki ilmu kepandaian tinggi, Cin Cin menanggapi dengan tenang dan dingin saja.
Akan tetapi ia merasa iba kepada isteri Lai Kun dan kedua orang puteranya yang belum dewasa.
Melihat wanita itu bersama kedua orang pute ranya menangisi jenazah Lai Kun, ia menghampiri mereka.
Semua orang memandang cemas, khawatir kalau-kalau gadis itu akan melampias kan dendamnya pada keluarga Lai Kun.
Juga is teri Lai Kun memandang dengan ketakutan ketika melihat Cin Cin mendekatinya.
Akan tetapi Cin Cin menyentuh pundaknya dan berkata.
"Bibi, maafkanlah aku. Bukan maksudku menyusahkan hati bibi yang tidak kukenal, juga kedua orang adik ini. Bukan pula maksudku membuat paman Lai Kun membunuh diri, aku hanya ingin membalas perlakuannya yang amat keji terhadap diriku dahulu."
Wanita itu memandang dengan mata basah sinar matanya memandang heran akan te tapi disusul keharuan.
"Aku.........aku.......tahu memang suamiku yang bersalah. Tak kusangka dia sekeji itu......aih, tak kusangka sama sekali.. Mudah-mudahan kelak aku dapat mendidik kedua orang pute raku agar tidak memiliki watak seperti ayah mereka......."
Perkabungan atas kematian Lai Kun itu merupakan pula penyambutan atas pulangnya Cin Cin dan Siong Ki.
Terutama Cin Cin yang boleh dibilang menjadi nona rumah di Hek-houw-pang mengingat ia adalah keturunan keluarga pimpinan He k-houw-pang.
Akan tetapi, karena ia sendiri merasa rikuh telah menjadi sebab sehingga He k-houw-pang berkabung, Cin Cin tidak mau lama tinggal di situ.
"Para paman, bibi dan saudara-saudara di He k-houw-pang. Aku tidak dapat tinggal lama di sini."
"Akan tetapi, engkau belum lama tiba, belum sempat kita bicara. Kami ingin sekali mendengar pengalamanmu sejak pergi dari sini!"
Kata seorang wanita tua yang dahulu sering mengasuh Cin Cin.
"Cin Cin, kami semua sudah sepakat untuk mengangkat engkau menjadi ketua baru He k-houw-pang,"
Kata pula Thio Pa.
"Benar sekali kata-kata susiok Thio Pa. Cin Cin,"
Kata pula Siong Ki.
"Engkau yang paling te pat menjadi ketua He k-houw-pang. Selain engkau memang keturunan dari para pimpinan Hek-houw-pang, juga engkau memiliki ilmu kepandaian tinggi. Di bawah pimpinanmu, te ntu He k-houw-pang akan menjadi semakin kuat."
Semua orang menyatakan setuju, akan tetapi Cin Cin menggeleng kepala dan memandang kepada Siong Ki.
"Siong Ki , tidak perlu engkau memujiku seolah engkau sendiri tidak memiliki kemampuan. Padahal, melihat dari tangkis anmu tadi saja, aku tahu bahwa engkau kini te lah menjadi seorang yang amat lihai. Belum tentu aku akan mampu mengalahkanmu. Siapakah gurumu, Siong Ki."
"Guruku adalah beliau yang tadinya akan menjadi gurumu, Cin Cin, yaitu Huang-ho Sin-liong."
"Aihhh .!"
Mata yang indah itu te rbelalak.
"Sungguh beruntung engkau, dan betapa malangnya aku. Aku yang dikirim ke sana hampir celaka dan gagal menjadi muridnya, sedangkan engkau malah menjadi muridnya. Pantas engkau hebat. Paman Thio Pa, ada calon ketua Hek-houw-pang yang hebat di sini. The Siong Ki inilah yang paling te pat menjadi ketua. Aku sendiri akan pergi sekarang juga."
"Cin Cin, kenapa te rgesa-gesa? Engkau hendak pergi ke manakah?"
"Aku hendak mencari ibuku. Apakah ada yang tahu di mana sekarang ibu berada?"
"Ah, Ibumu? Beliau telah menjadi guruku yang pertama sekali.. ."kata Siong Ki. Mendengar ini Cin Cin memandang heran.
"Gurumu?"
"Benar Cin Cin. Bahkan aku te lah mengikuti ibumu yang hendak mencarimu. Akan tetapi dalam perjalanan, kami diserang penjahat dan berpisah. Aku te rlunta-lunta dan teringat akan Huang-ho Sin liong, maka aku melakukan perjalanan yang jauh itu dan akhirnya berhasil sampai ke Hong-cun dan dite rima sebagai murid."
"Tahukah engkau di mana ibu sekarang?"
Siong Ki menggeleng kepala.
"Cin Cin, ibumu telah menikah lagi kata Thio Pa dengan suara lirih dan berhati-hati. Namun, tetap saja Cin Cin terkejut bukan main, wajahnya berubah kemerahan dan ia membalikkan tubuh menghadapi Thio Pa dan memandang dengan sinar mata penuh selidik.
"Me nikah......? Di ... dimana ibu sekarang?"
Tanyanya dengan suaranya terdengar lirih. Thio Pa menggeleng kepalanya.
"Ibumu dan suaminya pernah datang ke sini dan mencarimu, akan tetapi mereka tidak mengatakan dimana mereka tinggal. Juga hanya sebentar saja mereka datang menemui mendiang suheng Lai Kun,"
Kata Thio Pa singkat dan agaknya dia juga merasa tidak enak hati untuk membicarakan ibu gadis itu yang telah menikah lagi.
Suasana menjadi hening, semua orang te rdiam karena mereka semua maklum betapa berita itu te ntu mendatangkan perasaan yang amat tidak enak dalam hati gadis yang perkasa itu.
Juga tidak seorangpun berani bertanya mengapa tangan kiri Cin Cin buntung.
Mereka semua merasa jerih dan takut te rhadap gadis yang ganas dan amat lihai itu.
Sejenak Cin Cin termenung, te nggelam dalam lamunan.
Ia membayangkan betapa ibunya yang selama ini dirindukannya, kini telah bersanding dengan seorang pria lain, bukan ayahnya yang telah tewas.
Pria lain!
Dan mungkin telah mempunyai anak-anak lain pula!
Sukar baginya untuk dapat menerima kenyataan pahit ini.
Hatinya terasa panas, iapun memandang kepada Thio Pa, sinar matanya mencorong tajam penuh selidik sehingga menggetarkan hati orang yang dipandangnya.
"Paman Thio Pa, katakan, siapakah suami ibu itu?"
Biarpun hatinya merasa tidak enak, te rpaksa Thio Pa mengaku.
"Suaminya yang baru adalah seorang pendekar Siauw-lim-pai bernama Lie Koan Tek!"
"Ahhh.......!"
Seruan ini hampir berbareng keluar dari mulut Siong Ki dan Cin Cin.
Biarpun hampir sama bunyinya, namun seruan itu dikeluarkan oleh dua hati yang berlainan perasaannya.
Siong Ki te rkejut bukan main mendengar nama Lie Koan Tek yang dianggap sebagai seorang pendekar yang menyeleweng, karena telah membantu pemberontak menyerbu Hek-houw-pang, orang yang te lah membunuh ayahnya, dan sekarang malah menjadi suami Coa Liu Hwa, bekas isteri ketua Hek-houw-pang yang te was!
Adapun Cin Cin te rkejut karena iapun sudah mendengar nama pendekar ini.
Bagaimana ibunya tiba-tiba dapat menjadi isteri pendekar Siauw-lim pai itu?
Kalau sudah diketahui bahwa ibunya menjadi isteri pendekar itu, agaknya tidak te rlalu sukar untuk mencarinya karena nama besar pendekar itu membuat dia mudah dicari dan ditemukan.
Karena iapun merasa tidak enak dan bahkan canggung dan malu mendengar ibunya menikah lagi, Cin Cin tidak mau banyak bicara lagi.
Cin Cin lalu berkata singkat.
"Selamat tinggal, aku mau pergi sekarang!"
Dan iapun melompat keluar dan tubuhnya berkelebat lenyap dari situ, diiringi pandang mata kagum dari semua orang.
"Paman dan bibi, akupun harus pergi sekarang,"
Kata Siong Ki dan ucapan ini mengejutkan semua orang.
"Eh, nanti dulu, Siong Ki. Kenapa engkaupun ikut-ikutan hendak pergi? Kami belum mendengar semua pengalamanmu......"
Kata Thio Pa.
"Sebaiknya engkau tinggal di sini dan menjadi ketua He k-houw-pang,"
Kata pula seorang paman lain.
"Terima kasih, akan tetapi aku masih mempunyai tugas penting dari suhu. Kelak, kalau semua urusanku telah beres, aku akan datang lagi. Selamat tinggal!"
Pemuda itupun berkelebat dan le nyap dari situ.
Orang-orang He k-houw-pang menghela napas panjang.
Dua orang muda yang belasan tahun meninggalkan Hek-houw-pang, telah kembali sebagai orang-orang yang amat lihai, yang sedianya akan dapat memperkuat Hek-houw-pang dengan menjadi ketua.
Akan te tapi, mereka pergi lagi dan tak dapat dicegah.
Akhirnya, setelah semua urusan perkabungan penguburan je nazah Lai Kun selesai, mereka mengadakan perundingan di antara mereka sendiri dan karena Thio Pa merupakan saudara tertua, maka Thio Pa dipilih menjadi ketua Hek-houw-pang menggantikan Lai Kun yang telah tewas.
-ooo0dw0ooo-"Bibi, harap jangan khawatir.
Cin-taijin (pembesar Cin) yang kumaksudkan ini adalah seorang pejabat tinggi dan penting di Lok-yang.
berkuasa dan kaya raya.
Yang mengutusku adalah Cin hu-jin (nyonya Cin), isterinya yang tertua.
Keluarga itu membutuhkan pembantu wanita yang bersih dan rajin, dan aku melihat pute rimu Alian dan Akim itu te pat untuk menjadi pembantu di sana.
Pembantu wanita di keluarga itu hampir sama dengan dayang di is tana kaisar, akan hidup mewah dan te rhormat,"
Demikian antara lain bujukan seorang wanita berusia tigapuluhan tahun kepada seorang ibu di dusun itu.
Ibu itu berusia limapuluhan tahun, seorang janda yang mempunyai dua orang puteri yang sudah menjelang dewasa.
Alian berusia tujuhbelas tahun, sedangkan adi knya, A kim berusia limabelas tahun.
Sebagai gadis -gadis dusun, kakak beradik ini sederhana dan polos.
Namun, mereka memiliki kulit yang bersih dan putih, dengan wajah yang segar bagaikan bunga mawar te rsiram embun pagi dan tubuh yang padat dan kuat karena te rbiasa bekerja berat sejak kecil.
Biarpun sederhana, namun bentuk wajah mereka manis dan kalau saja mereka mengenakan pakaian yang bersih dan indah, wajah mereka dirias, tentu mereka akan menjadi gadis-gadis yang menarik hati.
"Akan tetapi, toanio. Aku hidup menjanda, miskin dan hanya mempunyai dua orang anak itu. Kalau mereka semua pergi, lalu dengan siapa aku hidup? Memang aku ingin melihat mereka senang dan berkecukupan, akan te tapi seorang saja dari mereka, toanio. Yang seorang boleh kauajak bekerja pada pembesar itu, dan yang kecil biar tinggal di rumah menemaniku."
"Aku membutuhkan dua orang bibi. Bukankah kalau mereka pergi berdua, berarti mereka tidak akan kesepian dan ada temannya? Bibi jangan khawatir, kalau mereka pergi, bibi dapat membayar seorang pembantu.........."
"Aihhh, toanio sungguh bicara yang bukan-bukan. Untuk makan sendiri saja sulit, bagaimana dapat membayar pembantu?"
"Kalau dua orang anak bibi bekerja di Lok-yang, bibi tidak akan menjadi miskin lagi. Lihat, Cin hujin telah menyuruh aku meninggalkan uang untuk dua orang puterimu, dan dengan uang ini, engkau dapat hidup dan membayar pembantu selama satu tahun. Dan sebelum uang ini habis, kedua orang anakmu te ntu sudah pulang, karena setiap tahun baru mereka diperbolehkan pulang, membawa pakaian dan uang untu k bibi. Dan tahun baru tinggal tujuh bulan lagi."
Wanita yang berpakaian mewah itu mengeluarkan sebuah kantung dan membuka kantung itu sehingga nampak beberapa potong uang perak yang berkilauan.
Wanita berpakaian mewah dan pesolek itu mengaku sebagai Lu-toanio (nyonya Lu) utusan keluarga pembesar dari kota Lok-yang yang datang ke dusun itu untuk mencari pembantu wanita.
Ia membutuhkan banyak gadis pembantu dan dengan dua orang pute ri wanita tua itu, ia telah berhasil mengumpulkan delapan orang gadis dusun yang berusia antara empatbelas sampai tujuhbelas tahun.
Akhirnya, setelah dibujuk dan diberi uang yang cukup banyak bagi orang miskin seperti janda itu, ibu Alian dan Akim menyetujui.
Pada hari itu juga, Alian dan Akim bersama enam orang gadis lain dari dusun yang berdekatan di daerah itu, dibawa ke Lok-yang dengan sebuah kereta besar yang ditarik empat ekor kuda.
Akan te tapi, di luar pengetahuan delapan orang gadis dusun yang tidak pernah pergi jauh, bahkan tidak pernah meninggalkan dusun mereka, kereta itu tidak menuju ke Lok-yang, melainkan membelok ke kota Ji-goan, tak jauh dari Lok-yang.
Ketika kereta memasuki pintu gerbang kota Ji-goan, kebetulan seorang gadis cantik berdiri di situ.
Ia memandang ke arah kereta yang memasuki pintu gerbang dengan perlahan itu dengan sikap acuh.
Gadis ini adalah Kam Cin atau Cin Cin.
Setelah meninggalkan Hek-houw-pang, ia pergi untuk mencari ibunya yang kabarnya kini telah menjadi isteri dari Lie Koan Tek, seorang tokoh besar dari Siauw-lim-pai.
Ia masih bingung menerima berita itu.
Ia merasa sukar untuk dapat menerima atau mengerti mengapa ibunya menikah lagi, walaupun berita bahwa ibunya menikah dengan pendekar Siauw-lim-pai membuat ia merasa bangga juga.
Ia harus dapat mencari ibunya dan berte mu dengan ibunya agar ibunya dapat memberi penjelasan akan pernikahannya lagi yang membuat ia bingung itu.
Cin Cin tadinya hanya merasa heran melihat kereta itu te rsingkap tirainya dan ternyata penumpangnya adalah banyak gadis dusun yang manis-manis dan masih remaja.
Akan tetapi ketika ia mendengar percakapan yang didengarnya ketika kereta lewat perlahan, ia tertarik.
"Lu-toanio, apakah kita sudah tiba di kota Lok-yang?"
Ia mendengar seorang di antara gadis-gadis itu bertanya.
"Benar, manis. Ini kota Lok-yang, kalian semua akan senang tinggal di kota ini."
Jawab seorang wanita yang pesole k dan berpakaian mewah itu.
Delapan orang gadis itu nampak bergembira dan mereka memuji-muji apa saja yang kelihatan di te pi jalan kota Ji-goan itu, rumah-rumah yang megah dan besar, toko-toko dan pakaian orang-orang yang berlalu lalang.
Mendengar percakapan itu, te ntu saja hati Cin Cin segera merasa tertarik sekali dan ia memandang ke arah kereta penuh perhatian, bahkan ia lalu berjalan mengikuti kereta itu yang bergerak perlahan memasuki kota.
Jelas bahwa delapan orang gadis itu adalah gadis -gadis dusun yang sederhana dan bodoh, akan tetapi mereka itu manis-manis dan amatlah aneh melihat gadis-gadis dusun sederhana dan manis itu naik sebuah kereta mewah, ditemani seorang wanita pesolek dan cantik genit yang usianya sekitar tigapuluh tahun.
Jelas bahwa gadis -gadis itu belum pernah melihat kota Ji-goan, akan tetapi kenapa mereka mengira Ji-goan adalah Lok-yang dan yang agaknya wanita pesolek itu menipu mereka?
Teringatlah Cin Cin akan sepak-terjang para penjahat yang memancing gadis -gadis dusun ke kota untuk kemudian dipaksa menjadi pelacur.
Mengingat ini, Cin Cin te rkenang kembali kepada pengalamannya ketika kecil, dan hatinya terasa panas.
Memang ia pergi ke Ji-goan untuk mencari Cia Ma, mucikari gembrot yang dulu pernah menahannya setelah membelinya dari mendiang Lai Kun.
Karena menduga bahwa para gadis dusun itu te ntu te rtipu dan te rancam bahaya, maka Cin Cin te rus membayangi kereta itu dan jantungnya berdebar te gang, juga wajahnya menjadi merah karena marah ketika ia melihat kereta itu berhenti di pekarangan sebuah rumah bercat merah.
Itulah rumah pelesir Ang-hwa (Bunga Merah) di mana ia dahulu disekap ketika ia dijual oleh paman guru Lai Kun, kepada nenek gembrot Cia Ma.
De ngan hati-hati agar jangan ketahuan, Cin Cin menyelinap masuk ke pekarangan itu dan bersembunyi di belakang pohon, mengintai.
Ia melihat betapa wanita pesolek itu turun dan menyuruh delapan orang gadis itu turun pula.
"Apakah ini rumah Cin-taijin (Pembesar Cin)?"
Te rdengar seorang gadis bertanya.
"Atau barangkali ini rumah, Kiu-wan-gwe (Hartawan Kiu di mana aku akan bekerja?"
Para gadis itu bertanya-tanya apakah mereka tiba di rumah di mana mereka dijanjikan untuk bekerja. Wanita pesolek itu tertawa.
"Aih, kenapa te rgesa-gesa? Ini adalah rumah penampungan. Apakah pantas kalau aku menghadapkan kalian ke majikan-majikan kalian dalam keadaan begini? Kalian harus belajar dulu bagaimana harus bersikap dan bekerja di rumah majikan kalian masing-masing, dan juga kalian harus mengenakan pakaian yang baru dan baik, harus merias diri agar jangan kelihatan kotor dan dusun."
Para gadis itu kelihatan girang, lalu mereka digiring masuk ke dalam rumah besar yang amat dikenal oleh Cin Cin itu.
Sambil menahan kemarahannya, Cin Cin lalu muncul dari balik batang pohon itu dan berjalan menuju ke ruangan depan.
Segera muncul empat orang laki-laki tinggi besar yang bersikap galak, akan te tapi tersenyum-senyum ketika melihat bahwa yang datang adalah seorang gadis cantik se kali, yang menyembunyikan tangan kirinya ke dalam saku jubahnya yang lebar.
"Heii, nona manis, berhenti! Siapakah engkau dan mau apa datang ke tempat ini?"
"Apakah engkau dipesan ole h Cia Ma untuk melayani seorang hartawan?"
Cin Cin dapat menduga bahwa empat orang ini te ntulah tukang-tukang pukul yang bekerja pada Cia-ma.
Dahulu ketika gurunya menolongnya, gurunya telah membunuh dua orang tu kang pukul berjuluk He k-gu (Kerbau Hitam) dan Pek-gu (Kerbau Putih) juga kusir kereta.
Empat orang yang usianya sekitar tigapuluh tahun ini tentu tukang-tukang pukul baru yang tidak pernah dikenalnya.
Cin Cin sudah dapat menekan kedukaannya karena kehilangan tangan kiri, dan kini ia sudah dapat lagi menguasai dirinya dan mendapatkan kembali sifatnya yang periang, je naka, pemberani dan pandai bicara.
Melihat sikap empat orang jagoan tukang pukul itu, iapun tersenyum manis.
"Namaku Kam Cin dan aku ingin berte mu dengan Cia Ma karena ada urusan penting sekali hendak kubicarakan,"
Kata Cin Cin.
Empat orang itu saling pandang.
Nona ini tentu seorang pelacur kelas tinggi, pikir mereka.
Tidak ada seorangpun di antara anak buah Cia Ma dapat menandingi kecantikan gadis ini.
Wajahnya yang manis demikian segar, bagaikan setangkai bunga yang baru mekar dan segar oleh air embun.
Tidak seperti para anak buah Cia Ma yang bagaikan bunga-bunga sudah layu walaupun usia mereka masih muda-muda, wajah mereka yang cantik itu rata-rata agak pucat, pandang mata mereka kosong sayu tanpa semangat, senyum mereka palsu dibuat-buat.
Mereka tidak berani te rlalu kurang ajar karena seorang pelacur yang laris dan mempunyai hubungan dengan para hartawan dan bangsawan dapat menjadi musuh yang amat berbahaya.
Seorang di antara mereka lalu masuk ke dalam untuk melapor kepada Cia Ma.
Mendapat laporan bahwa ada seorang gadis cantik jelita mencarinya dengan keperluan penting, Cia Ma tentu saja tertarik sekali.
Sejak muda, dagangannya adalah wanita cantik, maka mendengar ada seorang gadis cantik jelita datang berkunjung, ia melihat seolah keuntungan besar yang datang mengunjunginya.
Cin Cin hampir tidak mengenal nenek yang keluar terbongkok-bongkok, didampingi wanita cantik pesolek yang tadi mengantar delapan orang gadis dusun.
Nenek itu memang wajahnya seperti Cia Ma yang dahulu, akan tetapi kalau dulu Cia Ma bertubuh gendut dan sehat, kini tubuhnya nampak kurus dan kelihatan tua sekali.
Memang usianya kini sekitar enampuluh tiga tahun, akan tetapi ia kelihatan jauh le bih tua, tubuhnya bongkok dan wajahnya yang keriputan itu nampak menyedihkan.
Cin Cin mengerutkan alis nya dan merasa kecewa.
Orang yang pernah menyiksanya dan yang dibencinya itu kini menjadi seorang nenek.yang tak berdaya, le mah dan agaknya menderita!
"Engkaukah Cia Ma yang dahulu gendut itu!
Pemilik rumah pelesir Ang-hwa ini?"
Cin Cin bertanya dengan ragu.
Cia Ma agaknya tidak kuat berdiri teralu lama.
Ia lalu duduk di atas kursi diikuti oleh wanita cantik yang duduk di sebelahnya, dan wanita cantik itu yang berkata kepada Cin Cin.
"Nona, silakan duduk."
Cin Cin duduk dan masih menyembunyikan tangan kiri ke dalam lipatan jubahnya, di mana pedangnya juga tersembunyi.
"Aku datang mencari Cia Ma. Katakanlah, nek, apakah benar engkau ini Cia Ma pemilik rumah pelesir Ang-hwa?"
Cin Cin mengulang kembali.
"Cia Ma yang kukenal dahulu bertubuh gendut."
Kini Cia Ma bicara dan begitu ia mengeluarkan kata-kata. Cin Cin tidak ragu lagi bahwa ia memang berhadapan dengan wanita yang dicarinya.
"Nona, siapakah engkau? Ras anya aku belum pernah mengenalmu, dan aku memang benar Cia Ma pemilik rumah pelesir ini. Memang dahulu aku gemuk sekali, akan tetapi sekarang aku sudah tua, lemah dan berpenyakitan. Tentang rumah pelesir ini, sesungguhnya, sejak setahun yang lalu aku hanya..."
"Jangan bicara te ntang itu!"
Tiba-tiba wanita cantik yang duduk di sebelahnya berkata.
Diam-diam Cin Cin merasa heran sekali karena wanita cantik itu bicara dengan menghardik.
Kalau ia merupakan pembantu Cia Ma, tidak mungkin berani menghardik seperti itu.
Dan Cia Ma kelihatan takut te rhadapnya, setelah dihardik, menghentikan kata-katanya dan menundukkan mukanya yang kelihatan takut dan sedih.
"Cia Ma, lupakah engkau kepadaku? Tigabelas tahun yang lalu aku pernah tinggal di sini, ketika itu aku suka ikut dalam pertunjukan menari dan bernyanyi. Lupakah engkau kepada Cin Cin!"
Sepasang mata yang sayup itu terbelalak dan mulutnya te rnganga, lalu nenek itu berkata sambil mengamati wajah Cin Cin penuh perhatian.
"Cin Cin.......? Ah. benar, engkau Cin Cin, yang.......melarikan diri dulu itu......."
"Benar, Cia Ma, aku Cin Cin yang dulu itu!"
Kata Cin Cin, tersenyum mengejek melihat nenek itu kini memandang kepadanya dengan mata te rbelalak ketakutan.
"Mau.......mau apa engkau datang ke sini.......?"
Nenek itu bertanya, suaranya gemetar karena ia te ringat betapa anak ini tiga belas tahun yang lalu melarikan diri dan membunuh dua orang kepercayaannya, yaitu Pek-gu dan Hek-gu, bahkan membunuh kusir kereta dan melarikan keretanya.
Dan karena gadis ini pula, ia harus berurusan dengan pejabat tinggi yang telah membeli Cin Cin dan hampir saja ia dijebloskan ke penjara kalau saja ia tidak menguras hartanya untuk melakukan penyogokan sehingga bebas dari hukuman.
"Engkau tahu bahwa aku mempunyai banyak perhitungan denganmu, Cia Ma. Akan te tapi sebelum kita bicara tentang itu, aku ingin bertanya le bih dulu tentang delapan gadis dusun yang baru saja dibawa masuk ke sini. Siapa mereka dan mau diapakan mereka itu? Dipaksa menjadi pelacur seperti yang biasa kau lakukan dahulu?"
Cia Ma mengerutkan alisnya.
"Cin Cin, perlu apa engkau bertanya tentang itu? Apakah engkau ingin melanjutkan pekerjaanmu dahulu dan tinggal disini?"
Wajah Cin Cin berubah merah.
"Cia Ma, engkau kerbau betina tua busuk! Kalau tidak melihat engkau kini telah menjadi lemah dan hampir mati, te ntu sudah kutampar sampai hancur mulutmu yang busuk itu!"
"Heii, bocah sombong! Kau kira dirimu ini siapa, berani bersikap seperti ini disini? Kalau kau ingin menjadi pelacur di sini, bersikaplah yang baik. Kalau tidak, lalu perduli apa engkau dengan rumah pelesir Bunga Merah ini?"
Bentak wanita pesolek yang duduk di dekat Cia Ma dan kini iapun bangkit berdiri dan sikapnya angkuh bukan main. Cin Cin te rsenyum.
"Siapa pula engkau? Aku bicara dengan Cia Ma, bukan dengan pelacur tua macam engkau!"
"Keparat, akulah pengurus te mpat ini!"
Wanita itu membentak marah karena dimaki pelacur tua.
"Aha, begitukah kiranya? Cia Ma, engkau sudah te rlalu tua dan menyerahkan kekuasaan ke orang yang le bih muda? Apakah ini anakmu, muridmu, adikmu? He ii, pelacur tua, apakah engkau yang sudah tidak laku kemudian menggantikan Cia Ma sebagai mucikari? Engkau tadi mencari dan menipu gadis -gadis dusun untuk kaupaksa menjadi pelacur?"
"Bukan urusanmu!"
Bentak wanita itu.
"Tentu saja urusanku. Aku akan mengobrak-abrik te mpat maksiat, neraka bagi para gadis ini!"
Cin Cin membentak.
"Berani kau!"
Wanita pesolek itu membentak dan iapun sudah bergerak ke depan dan melompati meja menyerang Cin Cin dengan gerakan yang cukup tangkas.
Diam-diam Cin Cin merasa heran.
Kiranya perempuan pesolek yang kini menggantikan Cia Ma adalah seorang yang tidak le mah, melainkan seorang yang memiliki silat cukup baik.
Akan te tapi tentu saja tidak ada artinya bagi Cin Cin.
Melihat perempuan itu menerjang sambil meloncat, kedua tangan membentuk cakar untuk mencakar muka, ia memutar tubuh dan begitu tubuh penyerangnya meluncur le wat, tangan kanannya bergerak menjambak rambut wanita itu, lalu tubuh itu ia putar-putar sampai si pemilik rambut menje rit-jerit kesakitan dan ketakutan.
"Lepaskan aku.......aihh, lepaskan aku.....!"
Perempuan itu menjerit-jerit karena tidak berdaya dan merasa ngeri tubuhnya diputar-putar seperti gasing itu.
"Baik, kule paskan kau!"
Kata Cin-cin dan ia melepaskan jambakan tangannya pada rambut itu dan tubuh perempuan itupun melayang dan membentur dinding ruangan depan itu.
"Brakkkk......!"
Iapun te rkulai dan pingsan Melihat ini, empat orang tukang pukul tadi menjadi marah sekali dan tanpa diperintah lagi sudah mencabut golok masing-masing dan mengepung Cin Cin.
Sementara itu, Cia Ma hanya memandang dengan wajah pucat, akan tetapi tidak seperti dulu, kini ia tidak nampak galak, bahkan ia bangkit dan mundur ketakutan sampai tubuhnya merapat di sudut ruangan itu.
Sikap nenek ini membuat Cin Cin berkurang kemarahannya te rhadap Cia Ma.
Sebetulnya ia datang untuk menghajar Cia Ma dan anak buahn ya, untuk membasmi rumah pelesir yang merupakan neraka bagi banyak gadis muda itu.
Akan tetapi, kini sikap Cia Ma seperti orang yang te rtekan, bahkan ia takut menghadapi wanita cantik yang pingsan itu.
Kini banyak wanita cantik keluar dan terbelalak melihat Cin Cin berdiri dikepung empat orang tukang pukul yang nampak bengis.
Ada pula beberapa orang laki-laki yang menjadi tamu rumah pelesir itu.
Juga bermunculan empat orang tukang pukul lagi yang merasa heran, mengapa empat orang rekan mereka, dengan golok di tangan mengepung seorang wanita cantik..."Apa yang te rjadi?"
Tanya seorang tukang pukul bermuka hitam yang menjadi kepala dari semua tukang pukul di situ.
"I a telah memukul Kui-toanio (Nyonya Besar Kui),"
Kata seorang di antara empat pengepung itu.
"Hehhh, kalian memalukan saja. Masa menghadapi seorang gadis saja kalian harus menggunakan golok? Aku tidak ingin melihat pembunuhan dan te rlibat perkara. Hayo simpan golok kalian dan kujadikan perlombaan. Gadis ini memang perlu di hajar. Siapa di antara kalian semua yang dapat menangkapnya akan kumintakan hadiah kepada Siocia."
Mendengar ucapan ini, tujuh orang tukang pukul anak buah si muka hitam tertawa-tawa dan maju mengepung, bahkan tiga orang tamu yang melihat betapa cantik jelitanya gadis yang hendak ditangkap, ikut-ikutan pula maju untuk sekedar mencoba untuk dapat menangkap dan merangkul gadis cantik itu.
Cin Cin berdiri dengan sikap tenang saja.
Begitu dua orang menerjang maju untuk menangkapnya, kakinya bergerak dua kali menyambut dan tubuh dua orang itu te rje ngkang!
Yang lain-lain menjadi te rkejut dan penasaran.
Serentak mereka maju berlomba untuk menangkap gadis yang masih nampak te nang itu.
Melihat pandang mata dan sikap mereka yang kurang ajar, Cin Cin menjadi marah.
I a terpaksa mengeluarkan tangan kirinya dari balik lipatan jubahnya dan kini ia menghadapi pengeroyokan banyak oran g dengan gerakan kaki tangannya.
Ia membagi-bagi pukulan dan te ndangan, akan tetapi membatasi tenaganya karena ia tidak ingin membunuh orang, apalagi mengingat bahwa orang-orang ini hanyalah antek-antek pemilik rumah pelesir itu.
Begitu cepat gerakan tubuh Cin Cin sehingga para pengeroyoknya tidak melihat tubuhnya, hanya melihat bayangan menyambar-nyambar dan merekapun roboh te rpelanting dan dalam waktu beberapa detik saja, mereka semua sudah roboh malang melintang dalam ruangan itu, membuat meja kursi berserakan.
Para pelacur menjerit-jerit, para tamu juga te rbelalak heran melihat betapa seorang gadis cantik dapat merobohkan demikian banyaknya pengeroyok.
Si muka hitam, kepala tukang pukul itu, menjadi penasaran dan marah sekali.
Kalau tadi dia melarang anak buahnya mengeroyok Cin Cin dengan golok, kini dia sendiri mencabut goloknya dan matanya te rbelalak melihat bahwa gadis itu te rnyata tidak mempunyai tangan kiri.
Tangan kirinya buntung sebatas pergelangan tangan dan ujung le ngan yang buntung itu dibalut kain putih bersih.
"Gadis buntung, apa maksudmu membuat kekacauan di sini!"
Bentaknya sambil mengamangkan goloknya.
"Me mbasmi manusia-manusia iblis macam engkau!"
Jawab Cin Cin.
Mendengar ini, si muka hitam marah dan diapun sudah menyerang dengan bacokan goloknya.
Namun, dengan mudah Cin Cin miringkan tubuh mengelak dan pada saat golok menyambar le wat.
Jari-jari tangan kanannya menusuk ke arah iga lawan.
"Krekk!"
Dua batang tulang iga patah-patah'dan si muka hitam terpelanting roboh, mengaduh-aduh mendekap iganya dan tak dapat bangkit kembali, sedangkan goloknya yang te rpental sudah disambar oleh tangan kanan Cin Cin!
Tujuh orang tukang pukul yang tadi berpelantingan, kini sudah mengeroyok Cin Cin dengan golok mereka.
Cin Cin memutar goloknya, nampak gulungan sinar dan para pengeroyoknya mengaduh-aduh, golok mereka terpental dan mereka terpaksa mundur karena le ngan kanan mereka luka berdarah oleh sambaran sinar golok di tangan Cin Cin.
"Mundur semua!"
Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan Cin Cin mengangkat muka memandang.
Ia terheran melihat seorang wanita yang sukar ditaksir berapa usianya.
Penampilannya amat berwibawa dan matang, akan tetapi wajahnya yang cantik pesolek itu masih nampak muda, seperti tak jauh bedanya dengan usianya sendiri.
Wanita itu kelihatannya baru berusia paling banyak dua puluh lima tahun, wajahnya lonjong dan manis sekali, dengan kulit putih mulus dan sepasang mata jeli dan senyum yang genit.
Tubuhnya ramping padat yang sengaja ditonjolkan di balik pakaian yang te rbuat dari sutera tipis dan ketat.
Ketika jubahnya yang longgar dan le bar itu te rsingkap, bukan hanya nampak pinggangnya yang ramping dan tubuhnya yang padat, juga nampak sebatang golok kecil te rselip di pinggangnya, menunjukkan bahwa wanita cantik ini jelas bukan seorang wanita le mah.
Wanita itupun kini berdiri berhadapan dengan Cin Cin dan mengamati Cin Cin penuh perhatian dari rambut sampai ke kaki dan agak lama pandang matanya te rhenti di ujung le ngan kiri Cin Cin yang buntung.
Kedua orang wanita itu s aling pandang bagaikan dua ekor singa betina yang siap bertarung dan kini saling mempelajari dan saling menilai dengan pandang mata berkilat.
Para tukang pukul, para pelacur dan para tamu menjauhkan diri dan menonton dengan hati te gang.
Kemudian, wanita cantik itu bertanya, suaranya te rdengar nyaring dan merdu, namun mengandung penuh ejekan dan memandang rendah.
"Bocah buntung, siapakah engkau? Wajahmu cukup cantik, tubumu cukup indah, juga usiamu masih muda. Kalau saja tangan kirimu tidak buntung, te ntu kami menerima engkau bekerja di sini!"
Mendengar ini, Cin Cin yang merasa heran bagaimana muncul seorang wanita seperti ini di rumah pelesir itu, teringat akan sikap Cia Ma yang ketakutan, lalu ia menjawab, suaranya ringan dan je naka seperti biasa yang memang menjadi wataknya, disertai senyum manis .
"Namaku Kam Cin dan aku datang untuk membebaskan para gadis dusun yang dijebak di sini, juga untuk membasmi tempat maksiat yang merupakan neraka bagi para gadis muda ini. Dan siapakah engkau? Apakah engkau seorang di antara para pelacur di sini?"
Terdengar seruan-seruan kaget dari mereka yang menonton dari te mpat aman, bahkan ada seorang tukang pukul berkata.
"Perempuan buntung itu mencari mati!"
Akan tetapi, Cin Cin bersikap te nang dan memandang kepada wanita itu dengan senyum dan pandang mata mengejek untuk membalas sikap congkaknya tadi.
Dan ia kagum melihat betapa wanita itu sama sekali tidak memperlihatkan perasaan apapun, hanya matanya berkilat dan senyumnya semakin genit.
"Bocah buntung, sungguh engkau sombong, seperti seekor burung yang baru belajar te rbang! Ketahuilah bahwa aku yang dis ebut di dunia kang-ouw sebagai Bi Tok Siocia (Nona Racun Cantik)!"
Ia berhenti sebentar untuk melihat tanggapan gadis buntung itu dan ia memandang heran melihat betapa gadis buntung itu sama sekali tidak kaget mendengar nama julukannya yang dianggapnya telah amat terkenal dan menggetarkan dunia persilatan itu.
Dengan penasaran ia cepat menambahkan.
"Ayahku adalah majikan Liong-san (Bukit Naga), datuk besar Ouw kok Sian!"
Kini ia bukan saja merasa heran, juga penasaran karena gadis buntung inipun sama sekali tidak terkesan oleh nama ayahnya.
Sebetulnya Cin Cin pernah mendengar nama datuk itu dari gurunya.
Biarpun ia belum pernah mendengar nama Bi Tok Siocia, namun dari gurunya ia pernah mendengar tentang nama para datuk perslatan, juga te ntang Ouw Kok Sian, datuk yang menguasai daerah pegunungan Liong-san.
Akan te tapi ia sengaja tidak memperlihatkan sikap mengenalnya, sehingga membuat wanita cantik itu semakin penasaran.
Andaikata gadis buntung itu tidak mengenalnya, hal itu masih pantas karena ia belum lama merajalela di dunia persilatan.
Akan tetapi nama besar ayahnya!
Kalau gadis buntung ini tidak mengenal nama ayahnya, hal ini hanya membuktikan bahwa si buntung ini bukan orang kang-ouw dan tidak mempunyai pengalaman sama sekali dalam dunia persilatan.
Tentu saja disamping penas aran, iapun semakin memandang rendah.
"Kam Cin, engkau bocah lancang dan tak tahu diri!"
Bentak Bi Tok Siocia.
"Cepat engkau berlutut minta ampun, dan aku hanya akan menghukum dengan bekerja di sini selama satu bulan. Kalau tidak, te rpaksa aku akan membuntungi tanganmu yang satu lagi!"
"Bi Tok Siocia, terus terang saja, aku datang untuk berurusan dengan Cia Ma. Kenapa engkau mencampuri, bahkan seolah-olah engkau yang berkuasa di sini? Apakah sekarang Cia Ma sudah pensiun dan yang menjadi mucikari baru adalah engkau!"
"Aku penguasa di sini dan engkau tidak perlu tahu! Hayo cepat berlutut atau aku akan menyuruh orang-orangku untuk menangkapmu dan membuntungi tangan kananmu!"
Cin Cin melirik. Kini delapan orang tukang pukul yang tadi sudah siap dengan golok mereka, bahkan ditambah dua orang lagi yang nampak bengis. Ia te rsenyum.
"Mereka itukah orang-orangmu? Kalau mereka berani maju hendak membuntungi tangan kananku, jangan salahkan aku kalau tangan mereka sendiri yang akan buntung!"
Bi Tok Siocia memberi isyarat kepada anak buahnya.
"Siapa yang dapat membuntungi tangan kanannya, akan kuberi hadlah besar!"
Mendengar ini, serentak sepuluh orang laki-laki yang sudah te rbiasa mempergunakan kekuatan dan kekerasan untuk memaksakan kehendak mereka itu, menyerang dengan golok mereka te rhadap Cin Cin.
De ngan sikap te nang, mulut masih tersenyum Cin Cin memungut kembali golok rampasannya yang tadi ia lepaskan ke atas lantai dan begitu ia menggerakkan golok itu, nampak sekali lagi gulungan sinar berkilauan yang membuat para pengeroyoknya te rkejut dan bingung, karena bayangan gadis itu lenyap terbungkus gulungan sinar golok.
Kemudian, te rdengar je rit mengaduh, disusul golok-golok beterbangan, darah muncrat dan potongan tangan-tangan jatuh ke lantai.
Dalam waktu berapa menit saja, sepuluh orang pengeroyok itu telah mengaduh-aduh, tangan kiri memegangi tangan kanan yang telah buntung sebatas pergelangan, persis seperti tangan Cin Cin, hanya mereka itu kehilangan tangan kanan.!
Cin Cin menghadap ke arah Bi Tok Siocia, melempar golok rampasannya ke atas lantai dan berkata dengan nada mengejek.
"Sudah kukatakan, siapa hendak membuntungi tanganku, berarti akan kehilangan tangannya sendiri!"
Bukan main marahn ya hati Bi Tok Siocia, akan tetapi diam-diam iapun terkejut.
Dari gerakan golok gadis buntung itu, ia dapat melihat bahwa gadis itu memang lihai sekali dan memiliki gerakan yang amat ganas dan dahsyat.
"Bocah sombong! Engkau dari partai mana dan siapa gurumu?'' Cin Cin tersenyum mengejek.
"Aku tidak berpartai, dan siapa guruku tidak perlu kau kenal. Guruku te rlalu mulia untuk dikenal oleh seorang seperti engkau!"
"Keparat busuk, engkau sombong dan sudah bosan hidup!"
Iapun mencabut sepasang goloknya yang tipis dan kecil, namun berkilauan saking tajamnya.
"Hayo keluarkan senjatamu!"
Ia membentak sambil memutar sepasang goloknya sehingga nampak dua gulungan sinar yang berbelit-belit dan menyambar-nyambar.
Cin Cin maklum bahwa lawannya tidak boleh disamakan dengan para pengeroyok tadi, maka iapun menggerakkan tangan kanannya ke balik jubahnya dan nampaklah sebatang pedang yang berkilauan dan bentuknya seperti naga.
Melihat Cin Cin sudah mencabut sebatang pedang, wanita cantik itu mengeluarkan seruan nyaring dan iapun sudah menyerang dengan ganasnya.
Cin Cin menggerakkan pedangnya menyambut dan segera di ruangan depan itu terjadi pertandingan yang membuat semua orang tertegun dengan hati penuh ketegangan.
Bayangan dua orang wanita itu tidak dapat te rlihat ole h mereka karena saking cepatnya gerakan mereka.
Bayangan merah terbungkus gulungan sinar pedang dan golok sehingga sukar dibedakan di antara mereka.
Para pengeroyok yang kehilangan tangan kanan itu saling membalut di antara mereka dan masih te rdengar mereka merintih dan mengeluh.
Tentu saja tak seorangpun di antara mereka berani maju lagi.
Kini, Bi Tok Siocia benar-benar te rkejut!
Tak disangkanya sama sekali bahwa gadis buntung yang tidak mengenal namanya, dan agaknya tidak pula mengenal nama ayahnya, yang nampaknya belum berpengalaman di dunia kangouw, ternyata memiliki ilmu kepandaian yang demikian hebatnya!
Bukan hanya ilmu pedangnya ganas dan dahsyat, dan te naga sin-kang gadis buntung itu bahkan te rlalu kuat baginya, juga pedang di tangan gadis itu mengingatkan ia akan seorang tokoh yang pernah ia dengar dari ayahnya.
"Tranggg.......! Cringgg......!"
Sepasang golok itu berte mu pedang dan tubuh Bi Tok Siocia meloncat ke belakang.
"Tahan!"
Serunya nyaring.
"Apa hubunganmu dengan Tung-hai Mo-li?"
"Hem, sudah kukatakan, engkau tidak berhak untuk mengenal nama suboku!"
Wajah Bi Tok Siocia berubah.
"Aih, kalau engkau murid Tung-hai Mo-li, berarti kita segolongan. Kita tidak semestinya bermusuhan!"
Cin Cin tersenyum mengeje k.
"Siapapun yang menipu dan menje bak gadis -gadis dusun untuk dijadikan pelacur, tentu akan kumusuhi!"
Bi Tok Siocia menggerakkan kedua pundaknya dan menyimpan sepasang goloknya.
"Terserah, aku tidak ingin mencampuri lagi. Subomu kenal baik ayah, kalau aku memusuhimu, tentu ayah akan marah kepadaku,"
Katanya dan sekali ia meloncat.
Bi Tok Siocia lenyap dari situ, entah ke mana.
Melihat betapa pemimpin mereka melarikan diri, para tukang pukul yang kehilangan tangan kanan itu serentak menjatuhkan diri berlutut dengan muka pucat, takut kalau mereka akan dibunuh gadis buntung yang amat lihai itu.
"Lihiap, ampunkan kami......"
Kata si muka hitam mewakili teman-te mannya.
"Pergilah kalian, dan ingat. Kalau lain kali aku melihat seorang yang buntung tangan kanannya melakukan kejahatan, akan kubuntungi pula le hernya!"
Mendengar ucapan ini, sepuluh orang tukang pukul itu lalu lari meninggalkan tempat itu, meninggalkan golok dan tangan mereka yang berserakan di lantai.
Cia Ma yang tadi juga menyaksikan semua itu, kini te rgopoh-gopoh menghampiri Cin Cin dan menjatuhkan diri berlutut di depan Cin Cin sambil menangis.
"Aih, tidak kusangka........engkau, Cin Cin......engkau telah menolongku."
Cin Cin mengerutkan alisnya.
"Cia Ma, aku kesini bukan untuk menolongmu, melainkan untuk menghajarmu! Engkau manusia jahat, siapa yang ingin menolongmu?"
Nenek itu menangis.
"Tapi..........tapi...engkau telah mengusir iblis-iblis itu dari sini"
Cin Cin maklum bahwa te ntu telah terjadi sesuatu di sini.
"Suruh bersihkan ruangan ini, baru kita bicara."
Cia Ma cepat memanggil para pelayan dan memerintahkan mereka membersihkan te mpat itu dan ia sendiri mengajak Cin Cin untuk duduk dan bicara di dalam.
Setelah mereka duduk di dalam, Cin Cin berkata, suaranya ketus karena ia masih tak senang mengingat akan semua pengalamannya dahulu dengan nenek ini.
"Nah, sekarang ceritakan apa yang te rjadi dan mengapa perempuan tadi berada di sini menguasai te mpat ini."
"Terjadinya sudah setahun yang lalu. Pada suatu hari, perempuan yang minta disebut Siocia itu datang ke sini dan memaksa aku menyerahkan rumah ini dan semua isinya kepadanya. Ia bahkan membunuh para pembantuku, dan menyiksaku, memperlakukan aku sebagai seorang tahanan, bahkan kadang memukuliku......"
Dan nenek itu menangis lagi.
Cin Cin tersenyum di dalam hatinya.
Kini ia mengerti.
Kiranya Bi Tok Siocia, iblis betina itu, telah mengambil alih kekuasaan di tempat ini demi keuntungannya sendiri.
Hal itu berarti bahwa Cia Ma te rhukum dan te rsiksa.
Sebelum ia turun tangan, nenek ini sudah menderita siksaan dari orang lain yang lebih jahat lagi.
-ooo0dw0ooo-
Jilid 22
"Hemm, kalau saja tidak te rjadi hal itu kepadamu, te ntu sekarang ini engkau yang kubuntungi le ngannya, bukan anak buah perempuan itu!"
Hardiknya. Wajah nenek itu menjadi pucat dan iapun menjatuhkan diri berlutut lagi di depan kaki Cin Cin.
"Maafkan aku.....li-hiap, maafkan aku. Memang aku dahulu bersalah kepadamu .... akan te tapi .....orang telah menjual dirimu kepadaku......maafkan aku....."
Ia menangis lagi.
"Bangkit dan duduklah! Sekarang dengar baik-baik. Kau panggil ke sini semua gadis yang ditahan di sini, juga para pelacur yang menjadi anak buahmu. Suruh mereka berkumpul sekarang juga di sini. Cepat!"
Bergegas nenek itu terseok dan te rbongkok masuk ke dalam dan tak lama kemudian ia muncul kembali, diikuti ole h limabelas orang gadis manis yang berpakaian sebagai gadis dusun dan sepuluh orang gadis yang pesolek dan berpakaian indah.
Agaknya para penghuni rumah pelesir itu sudah mendengar akan peris tiwa hebat terjadi di situ, maka begitu berhadapan dengan Cin Cin yang masih duduk dengan te nangnya, limabelas orang gadis dusun itu serentak menjatuhkan diri berlutut di depan Cin Cin sambil menangis dan mohon pertolongannya.
Cin Cin mengangkat kedua tangannya.
"Bangkitlah kalian semua dan jangan menangis. Sekarang coba kalian ceritakan, seorang demi seorang, bagaimana kalian dapat berada di tempat ini."
Merekapun bercerita bahwa mereka dibujuk oleh anak buah Nyonya Lu dan kadang oleh nyonya cantik itu sendiri, untuk diberi pekerjaan pada seorang hartawan atau bangsawan.
Orang tua mereka dan mereka te rbujuk dan mau dibawa pergi, dan tidak tahunya mereka ditahan di rumah ini dan di paksa untuk menjadi calon pelacur.
Mereka diancam bahwa kalau tidak menurut, mereka akan disiksa bahkan diancam akan dilaporkan kepada yang berwajib karena menipu, dengan tuduhan bahwa mereka dan orang tua mereka telah memiliki hutang yang banyak.
"Cia Ma, sekarang keluarkan semua harta milikmu, kirim pulang semua gadis ini ke dusun masing-masing dan bekali uang sekucupnya. Laksanakan hari ini juga!"
Kata Cin Cin.
Kemudian Cin Cin juga bertanya kepada sepuluh orang gadis yang te lah menjadi pelacur di te mpat itu.
Mereka yang ingin melanjutkan pekerjaan mereka sebagai pelacur tanpa dipaksa siapapun, ia tidak ambil perduli.
Akan tetapi di antara mereka yang ingin terlepas dari cengkeraman mucikari dan ingin pulang, iapun memerintahkan Cia Ma untuk mengirim mereka pulang ke dusun masing-masing dan dibekali uang sekucupnya.
Cin Cin sendiri yang mengatur pemberian bekal uang, dan melihat bahwa Cia Ma benar-benar melaksanakan perintahnya.
Tentu saja para gadis itu menjadi girang bukan main dan berterima kasih.
Setelah semua itu dilaksanakan dan Cin Cin tinggal di situ untuk mengawasi pelaksanaan sampai menginap semalam, ia memanggil Cia Ma yang nampak le su dan le mas karena semua harta miliknya dibagi-bagi dan diberikan sebagai bekal kepada para gadis yang dipulangkan ke dusun masing-masing.
"Cia Ma, engkau sudah tua, dan dengan sisa hartamu, engkau dapat hidup menganggur sampai mati. Mulai hari ini, tutup rumah pelesir ini. Kalau lain hari aku lewat di sini dan melihat bahwa rumah pelesir ini masih kaubuka dan engkau menyeret gadis -gadis dusun menjadi pelacur, menjadi sumber keuntunganmu dengan memaksa mereka menggunakan berbagai cara, aku akan membakar rumahmu ini dan kule mparkan engkau hidup-hidup dalam kobaran apinya!"
Sambil menangis Cia Ma berjanji, bersumpah dan sekali ini ia tidak bermain-main.
Baru saja ia te rhindar dari malapetaka.
Selama setahun, semenjak kekuasaannya dirampas Bi Tok Siocia, ia hidup bagaikan orang hukuman, sengsara dan te rsiksa.
Dan kini melihat betapa Cin Cin yang biar tangan kirinya buntung kini menjadi seorang pendekar wanita yang demikian sakti, yang membuntungi tangan sepuluh orang tukang pukul, bahkan berhasil mengusir Bi Tok Siocia, mengeluarkan ancaman seperti itu, ia bergidik dan benar-benar takut dan ngeri.
Ia bertobat.
Setelah membereskan urusan di rumah pelesir Ang-hwa di mana ia dahulu pernah tinggal, dalam sehari membasmi rumah pelesir itu dan mengubahnya menjadi sebuah rumah tinggal janda tua Cia Ma yang tidak lagi mau melakukan pekerjaan hina seperti semula, Cin Cin meninggalkan kota Ji-goan dan pergi ke Lok-yang.
Ia ingin mencari ibunya dulu sampai dapat ia te mukan.
Kini ia dapat mencari lebih mudah setelah mengetahui bahwa ibunya telah menjadi isteri Lie Koan Tek, pendekar Siauw-lim-pai yang cukup te rkenal itu.
Setelah bertemu dengan ibunya, baru ia akan kembali kepada subonya, Tung-hai Mo-li Bhok Sui Lan, untuk melaporkan kegagalannya membunuh Pangeran Cian Bu Ong seperti yang dipesankan gurunya, iapun belum dapat menemukan musuh gurunya yang ke dua, yaitu Can Hong San yang membunuh suheng dari subonya yang bernama Can Siok.
Sebetulnya ia merasa malu untuk bertemu subonya.
Pertama ia belum dapat menemukan Can Hong San, pembunuh ayahnya sendiri, yaitu Can Siok suheng subonya.
Ke dua, ia gagal untuk membunuh Pangeran Cian Bu Ong, bahkan kehilangan sebelah tangannya dalam usahanya itu.
Akan te tapi bagaimanapun ju ga, kalau ia sudah dapat berte mu ibunya, ia harus melapor kepada subonya.
-ooo0dw0ooo-Berita tentang rumah pelesir Ang-hwa di kota Ji-goan itu segera te rsiar dengan cepat luas.
Dalam berita itu dikabarkan bahwa rumah pelesir itu diserbu seorang gadis cantik yang bertangan buntung, namun lihai bukan main dan bahwa rumah pelesir itu dibubarkan dan semua gadis nya dipulangkan oleh pendekar wanita itu.
Berita ini te ntu saja menggemparkan, karena belum pernah te rjadi seorang pendekar wanita mencampuri urusan rumah pelesir dan membebaskan para pelacur!
Berita itu tersiar cepat dan luas sampai ke kota Lok-yang.
Sejak te rsiarnya berita itu, rumah-rumah pelesir di berbagai kota yang berdekatan te rutama di Lok-yang di mana te rdapat banyak rumah pelesir, menambah jumlah tukang pukul mereka untuk menjaga kemungkinan kalau kalau te mpat merekapun akan diserbu oleh pendekar wanita tangan buntung itu.
Tidak ada yang tahu siapa nama pendekar wanita itu, karena berita itu hanya mengabarkan bahwa pendekar ini buntung tangan kirinya.
Sepasang suami isteri yang bermalam di sebuah hotel di kota Lok-yang, mendengar pula akan berta itu.
Mereka merasa te rtarik dan pada sore itu mereka bercakap-cakap di kamar mereka, membicarakan berita yang cukup menggemparkan itu.
"Sungguh aneh sekali berita itu, kita harus menyelidikinya!"
Berulang-ulang sang suami berkata kepada is terinya, sambil mondar-mandir menggendong kedua tangan di belakang pinggulnya.
Isterinya mengikuti gerakan dan langkah suaminya dengan pandang matanya, lalu te rsenyum geli dan bertanya.
"Sejak mendengar berita itu, engkau nampak gelisah dan selalu memikirkannya. Apa sih yang aneh dengan berita itu?"
Suami itu tinggi besar dan gagah, brewokan namun rapi, usianya enampuluh tahun lebih akan tetapi masih nampak kokoh dan gagah.
Dia bukan lain adalah Lie Koan Tek, pendekar Siauw-lim-pay bersama isterinya, yaitu Coa Liu Hwa yang kini telah berusia empatpuluh enam tahun, namun masih tetap cantik.
Mereka berdua memang sedang berada di Lok-yang setelah menemui Lai Kun dan mendengar bahwa ketika Lai Kun mengantarkan anak Coa Liu Hwa, yaitu Kam Cin, ke rumah Huang-ho Sin liong Si Han Beng, di dalam perjalanan dekat Lok-yang, anak itu hilang, mungkin terbawa para perampo k.
"Apakah engkau tidak merasa aneh? Mana pernah ada seorang pendekar wanita menyerbu rumah pelesir dan membebaskan para pelacur? Seolah ia tidak mempunyai pekerjaan lain saja. Bias anya, mendekati rumah begituan saja merupakan pantang bagi seorang pendekar wanita yang menjaga nama baiknya. Pula, kabarnya pendekar wanita yang buntung tangan kirinya itu lihai sekali, kabarnya malah ia telah mengalahkan Bi Tok Siocia yang tadinya menguasai rumah pelacuran itu. Ini menarik sekali!"
"Siapa sih Bi Tok Siocia itu?"
Tanya Coa Liu Hwa.
"Seorang tokoh sesat yang belum lama muncul. Akan te tapi kabarnya ia adalah pute ra atau murid dari datuk besar di Liong-san, yaitu Ouw Kok Sian."
"Aihh, sama sekali tidak ada hubungannya dengan kita,"
Kata wanita itu.
"Nanti dulu, jangan te rgesa mengatakan tidak ada hubungann ya. Aku yakin bahwa kalau sampai ada seorang pendekar wanita yang demikian lihai mengamuk di rumah pelesir, hal itu tentu berarti bahwa ia mempunyai urusan dengan tempat itu, berarti ia marah dan membenci te mpat itu. Kemudian, kita teringat bahwa anakmu hilang di sekitar daerah ini. Nah, bukankah menarik sekali untuk menyelidiki siapa pendekar wanita itu?"
Coa Liu Hwa terbelalak dan suaranya gemetar ketika ia bertanya.
"Kau pikir ia itu Cin Cin... ?"
Suaminya menggeleng kepala.
"Aku tidak menduga sejauh itu. akan tetapi setidaknya, peristiwa itu menarik sekali dan siapa tahu pendekar wanita itu mempunyai hubungan atau mengetahui dimana adanya anakmu yang hilang."
"Kalau begitu, mari kita cari ia sekarang juga!"
Mendengar ini, Lie Koan Tek te rsenyum, dan diam-diam ia merasa kasihan kepada isterinya yang te lah kehilangan pute rinya dan amat merindukannya.
"Sekarang sudah malam, ke mana kita akan mencarinya? Besok saja pagi-pagi kita berangkat melakukan penyelidikan. Kurasa, tidak begitu sukar untuk mencari seorang gadis cantik yang tangan kirinya buntung."
Coa Liu Hwa menyetujui, akan tetapi malam itu ia gelisah tak dapat tidur karena memikirkan pute rinya.
Apalagi ketika ia membayangkan betapa pute rinya itu kini buntung tangan kirinya!
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali suami isteri ini sudah meninggalkan rumah penginapan.
Mereka hendak pergi ke kota Ji-goan di mana te rjadi peristiwa di rumah pelesir Ang-hwa seperti yang mereka dengar beritanya itu dan hendak memulai pencarian mereka dari sana.
Pagi itu suasana di jalan raya masih sunyi, dan ketika mereka berjalan sampai di pintu gerbang, hanya ada beberapa orang berlalu-lalang melalui pintu gerbang sebelah selatan.
Tiba-tiba Lie Koan Tek merasa betapa tangannya dipegang is terinya dan jari tangan isterinya mencengkeram tangannya kuat-kuat.
Hampir dia berte riak kaget, akan tetapi ketika dia memandang isterinya, dia melihat Lui Hwa te rbelalak memandang ke depan.
Dia cepat ikut pula memandang dan te rnyata yang menarik perhatian isterinya adalah seorang gadis yang berjalan perlahan memasuki pintu gerbang itu.
Seorang gadis yang cantik manis, akan te tapi yang pada hari yang sunyi itu berjalan seorang diri dengan langkah perlahan dan muka ditundukkan tanpa memperdulikan keadaan sekeliling, seolah ia sedang te nggelam dalam lamunan.
Memang sejak ia kehilangan tangannya yang dibuntungi Thian Ki, walaupun ia te lah dapat mengatasi kedukaannya, namun Cin Cin yang tadinya tidak pernah melamun dan yang selalu berwatak riang je naka dan lincah itu, kini seringkali termenung seorang diri.
I a tadinya merasa amat benci dan mendendam kepada Thian Ki.
Yang teringat hanya bahwa pemuda itu telah membuntungi tangan kirinya.
Akan te tapi kemudian, setelah panasnya hati yang mengeruhkan pikirannya mereda dan ia mempertimbangkannya, iapun menyadari bahwa Thian Ki bukan sengaja membuntungi tangan kirinya, melainkan te rpaksa melakukan hal itu untuk menyelamatkan nyawanya.
Thian Ki adalah seorang tok-tong (anak beracun)!
Tubuhnya beracun, sehingga siapapun yang menyerangnya, akan menyerang tubuh yang beracun dan menjadi keracunan.
Ketika tangan kirinya mencengkeram pundak Thian Ki, hawa beracun memasuki tangannya dan agaknya racun itu sedemikian jahatnya sehingga tidak mungkin dapat dilenyapkan dari tangannya.
Kalau Thian Ki tidak cepat membuntungi tangan kirinya, racun itu akan menjalar naik dan kalau sampai ke jantungnya, iapun pasti akan tewas.
Masih terbayang wajah Thian Ki yang pucat dan matanya yang penuh kedukaan setelah membuntungi tangan kirinya itu!
Anehnya, sejak itu, tak pernah ia mampu melupakan Thian Ki!
Mula-mula, wajah pemuda itu selalu teringat olehnya dengan perasaan mengandung benci, namun lambat laun, kebencian itu semakin berkurang oleh pengertian.
Suami is teri Lie Koan Tek dan Coa Liu Hwa memandang kepada gadis itu penuh perhatian, te rutama sekali Liu Hwa.
Ketika mereka melihat gadis itu berjalan sambil menundukkan muka seperti sedang tenggelam dalam renungan, tangan kirinya dimasukkan dalam saku jubahnya, mereka hampir yakin bahwa inilah gadis pendekar yang mereka cari itu.
Kalau bukan gadis pendekar tangan kiri buntung, mengapa gadis itu menyembunyikan tangan kirinya ke dalam saku jubahnya?
"Bagaimana?
Apakah wajahnya.......!?"
Tanya Lie Koan Tek berbisik. Isterinya menggeleng kepala ragu.
"Entahlah, sudah enambelas tahun aku tidak berte mu dengannya. Bagaimana aku dapat mengenalnya? Ketika itu, usianya baru lima tahun......."
Melihat kesedihan membayang pada wajah isterinya, Lie Koan Tek lalu memegang tangan isterinya dan berkata.
"Mari kita bayangi gadis itu!"
Isterinya hanya mengangguk dan merekapun memasuki kembali kota Lok-yang, diam-diam membayangi gadis itu dengan hati penuh keraguan.
Sebetulnya, setelah apa yang ia lakukan di kota Ji-goan, hati Cin Cin sedikit banyak merasa puas.
Bukan saja ia telah memberi hukuman kepada Cia Ma seperti yang telah ia inginkan, bahkan yang le bih memuaskan hatinya, ia dapat membebaskan banyak gadis dusun sebelum te rlambat, dapat menghajar para tukang pukul, dan terutamasekali, ia dapat menyadarkan kembali Cia Ma sehingga nenek itu bertobat dan akan mene bus dosa dengan mengubah jalan hidupnya.
Biarpun Cia Ma pernah menahannya dan bahkan pernah memukulinya, akan te tapi harus ia akui bahwa Cia Ma juga pernah bersikap lembut dan ramah kepadanya.
Ia diberi pakaian indah, ia dipaksa untuk belajar kesenian, menari dan bernyanyi, sungguhpun semua itu diberikan kepadanya, agar harganya naik di mata calon pembelinya!
Urusannya dengan Cia Ma yang selama ia belajar ilmu, menjadi satu di antara dendamnya, telah beres.
Kini tinggal mencari ibunya, baru setelah itu, ia akan mencari Coa Hong San untuk melaksanakan perintah subonya, atau kembali kepadanya untuk melaporkan tentang kegagalannya membunuh Pangeran Cian Bu Ong.
Ia telah melakukan perjalanan semalam suntuk dari Ji-goan menuju ke Lok-yang.
Kini ia merasa lelah dan juga perutnya te rasa lapar.
Ketika ia memasuki kota Lok-yang yang masih sepi, tibatiba hidungnya dis ambar bau sedap masakan.
Ia menoleh dan melihat sebuah rumah makan kecil di te pi jalan.
Agaknya dari sanalah datangnya uap yang sedap tadi.
Rasa laparnya semakin menggila ketika sedap masakan menyerang hidungnya dan iapun segera menghampiri rumah makan itu.
Pelayan tunggal di rumah makan itu menghampiri ketika Cin Cin duduk di bangku menghadapi meja.
"Nona hendak makan apakah?"
Tanyanya sambil membersihkan meja itu dengan kain yang selalu disampirkan di pundaknya.
Sikapnya sederhana dan sopan, maka hati Cin Cin juga merasa senang.
Seringkali ia harus mulai menghadapi makanan di rumah makan dengan hati jengkel karena sikap pelayannya yang genit dan kurang ajar.
"Aku ingin makan bubur ayam dan minum panas yang tidak terlalu pahit,"
Katanya.
Pelayan itu mengangguk dan memesankan makanan itu kepada tukang masak, kemudian dia bergegas menyambut tamu lain yang duduk di sebelah luar, yaitu Lie Koan Tek dan Coa Liu Hwa.
Karena memang bubur ayam di Lo-yang te rkenal le zat, suami isteri itupun memesan bubur ayam dan air the.
Cin Cin yang bersikap acuh te rhadap sekelilingnya, tidak tahu bahwa sejak memasuki kota Lok-yang, suami is teri itu selalu membayanginya, bahkan kini duduk tak jauh darinya, di sebelah luar sedangkan ia duduk di sebelah dalam rumah makan itu.
Ketika pelayan menghidangkan pesanannya, Cin bertanya.
"Apakah kalian menyewakan kamar di sini?"
Pada waktu itu, biasanya rumah makan juga menyewakan kamar-kamar, semacam losmen kecil.
"Ah, kebetulan sekali, masih ada kamar kosong di loteng, nona."
"Bagus, suruh bersihkan sebuah kamar di loteng untukku. Aku akan tinggal di sini beberapa hari,"
Katanya sambil mulai makan bubur ayam yang masih mengepul panas.
Lie Koan Tek dan is terinya mendengar gadis itu memesan kamar, dan merekapun mulai makan bubur ayam.
Mereka melihat pelayan tadi menghampiri si gadis dan mengatakan bahwa kamar telah siap, yaitu kamar nomor dua di loteng.
Lie Koan Tek dan is terinya kini merasa yakin bahwa gadis itulah yang membuat geger di kota Ji-goan.
Kini, setelah mulai makan, Cin Cin mengeluarkan lengan kirinya yang buntung sehingga semua orang dapat melihat bahwa lengan kirinya buntung dan ujung le ngan itu dibalut kain putih bersih.
Dan agaknya bukan hanya Lie Koan Tek dan isterinya yang melihat kenyataan itu.
Beberapa orang yang sedang sarapan di rumah makan saling berbisik.
N amun gadis itu acuh saja dan melanjutkan sarapannya.
Coa Liu Hwa mengamati gadis itu.
Mulut dan matanya seperti Cin Cin, pikirnya.
Akan tetapi Cin Cin tidak buntung le ngannya, dan kalau gadis itu pute rinya, maka te lah terjadi perubahan yang luar biasa.
Hatinya perih rasanya ketika melihat betapa gadis itu menggunakan sendok menyuapi mulut sendiri dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya kini disembunyikan di bawah meja.
Empat orang laki-laki yang baru saja memasuki rumah makan itu dan kebetulan melihat Cin Cin mengeluarkan lengan buntungnya, nampak te rkejut.
Mereka adalah Lok-yang Su-liong (Empat Naga dari Lok-yang), yaitu empat orang saudara jagoan yang boleh dibilang menguasai daerah Lok-yang, menjadi orang yang dianggap kepala di antara semua golongan hitam.
Seluruh tempat maksiat, rumah pelesir, rumah judi, bahkan perusahaan keamanan di kota itu selalu memberi upeti kepadanya, akan tetapi, semenjak munculnya Bi Tok Sio cia, kekuasaan mereka tertekan dan mereka berempat juga ditundukkan oleh iblis betina itu sehingga mereka menjadi pembantu-pembantu Bi Tok Sio cia.
Kini, mendengar bahwa Bi Tok Siocia dikalahkan seorang pendekar dan melarikan diri, empat orang jagoan ini merasa mendapatkan kekuasaan mereka kembali dan pagi hari itu, mereka memulai dengan pesta merayakan kembalinya kekuasaan mereka itu dengan sarapan pagi di rumah makan.
Ketika mereka duduk, kebetulan hidangan untuk Cin Cin dikeluarkan pelayan dan gadis itu te rpaksa mengeluarkan le ngan kirinya yang buntung dan yang tadinya ia sembunyikan saja di saku jubahnya.
Dapat dibayangkan betapa kaget rasa hati empat orang jagoan itu Baru semalam mereka mendengar bahwa Bi Tok Siocia dipaksa melarikan diri oleh seorang gadis pendekar yang buntung le ngan kirinya, kini di rumah makan itu, mereka melihat seorang gadis yang lengan kirinya buntung sedang makan bubur ayam!
Timbul perasaan khawatir di hati empat orang jagoan itu.
Jangan-jangan gadis itu seperti juga Bi Tok Siocia, hendak menguasai semua rumah pelesir dan rumah perjudian!
Jangan-jangan mereka berempat kembali hanya akan menjadi pembantu saja.
Melihat betapa gadis itu sederhana saja seorang diri, bertangan sebelah buntung, tidak mempunyai banyak anak buah seperti halnya Bi Tok Siocia, maka empat orang itu memandang rendah dan sengaja hendak mencari gara-gara agar gadis itu merasa takut dan segera pergi dari kota Lok-yang, tidak lagi merupakan ancaman baginya.
"Heii, twako, kabarnya ada gadis berle ngan buntung yang hendak menjagoi di daerah kita. Benarkah itu?"
Tanya seorang di antara mereka pada orang pertama dari Lok-yang Su-liong, yaitu seorang berusia limapuluhan tahun yang bertubuh jangkung kurus seperti pemadatan.
Dua orang rekannya mengeluarkan suara tawa dari hidung secara mengejek dan mereka semua melirik ke arah Cin Cin yang masih makan bubur dengan te nangnya.
"Kabarnya ia seorang pendekar!"
Kata orang ke dua.
"Kalau ia benar pendekar, sebaiknya jangan te rlalu lama berada di sini."
"Belum te ntu pendekar. Siapa tahu kalau ia hanya seorang tokoh lain yang ingin merajai di rumah ini,"
Kata pula orang ke tiga. Kini si jangkung mengeluarkan suara dan suaranya memang serasi dengan tubuhnya yang jangkung kurus. Suaranya kecil seperti suara wanita.
"Hemm, kalau ia ingin menjagoi, berarti ia belum mendengar nama Lok-yang Su-liong! Kalau ia cerdik, sebaiknya ia tidak mencampuri urusan dunia kang-ouw di sini, karena ia te ntu akan berhadapan dengan kita dan dengan banyak saudara kita yang lain."
Lie Koan Tek dan Coa Liu Hwa saling pandang, mereka berdua maklum benar bahwa empat orang jagoan itu sedang mencari gara-gara terhadap gadis le ngan buntung yang masih makan dengan sikap tenang dan santai itu.
Mereka mengambil keputusan untuk menjadi penonton saja karena mungkin dalam percakapan antara gadis itu dan empat orang berandal ini akan terungkap siapa adanya gadis itu, benar ia Cin Cin seperti yang mereka duga ataukah bukan.
Mereka pura-pura tidak melihat dan melanjutkan makan bubur, akan tetapi diam-diam menaruh perhatian terhadap gadis itu.
Tentu saja Cin Cin maklum bahwa dirinya yang dimaksud dalam percakapan orang itu, akan te tapi ia tidak mau mencari perkara, ia ingat akan pesan subonya bahwa ia tidak boleh mencari perkara dan membuat permusuhan.
Ia tidak mengenal mereka dan ia dapat menduga bahwa mungkin mereka adalah pimpinan penjahat di kota Lok-yang ini yang sudah mendengar akan sepak-terjangnya di rumah pelesir Ang-hwa di kota Ji-goan.
Ia tidak perduli karena andaikata ia tidak ada hubungan dengan Cia Ma atau andaikata ia tidak melihat delapan orang gadis dusun dalam kereta, iapun tidak akan usil mencari perkara dengan rumah pelesir itu Iapun mengambil keputusan untuk diam saja tidak menanggapi mereka, asalkan mereka tidak mengganggunya, baik dengan omongan maupun dengan perbuatan.
Akan tetapi, Lok-yang Su-liong adalah tokoh-tokoh sesat, maka seperti para tokoh sesat lainnya, watak mereka sombong.
Mereka sudah te rbiasa memaksakan kehendak dengan kekerasan, dan apabila orang tidak melawan mereka, mereka anggap bahwa orang itu takut terhadap mereka!
Kini, melihat betapa gadis lengan buntung itu diam saja, melirikpun tidak, mereka mempunyai dua macam dugaan.
Pertama, gadis itu bukan pendekar wanita yang telah mengusir Bi Tok Siocia, dan ke dua, kalau benar ia pendekar wanita itu, tentu merasa jerih untuk berlagak di kota Lok-yang dan takut terhadap mereka!
Sementara itu, Lie Koan Tek dan Coa Liu Hwa diam-diam merasa mendongkol sekali melihat sikap empat orang itu.
Mereka belum yakin bahwa gadis itu adalah orang yang mereka cari, akan tetapi melihat gadis itu diam saja dan empat orang itu mengeluarkan ejekan-ejekan, tentu s aja mereka berpihak kepada si gadis le ngan buntung.
Bahkan Liu Hwa merasa amat penasaran.
Gadis itu tadi menunduk saja, seperti tenggelam dalam lamunan penuh duka, maka tidak pernah memperhatikan keadaan sekelilingnya.
Tentu gadis itu belum melihatnya.
Kalau gadis itu memang benar anaknya, te ntu akan mengenalnya.
Bagai seorang wanita yang sudah menjadi ibu seperti dirinya, waktu enambelas tahun tidak akan mendatangkan banyak perubahan, berbeda dengan perbedaan antara seorang kanak-kanak berusia lima tahun yang kini menjadi seorang gadis berusia dua puluh satu tahun!
Ia tentu tidak banyak berubah dan Cin Cin pasti akan mengenalnya.
"Eh, twako! Jangan-jangan pendekar wanita buntung itu juga gagu atau tuli, ha-ha-ha!"
Seorang di antara empat jagoan itu mengeluarkan ucapan yang nyaring dan penuh ejekan, jelas ditujukan kepada gadis buntung itu karena mereka berempat memandang ke arah gadis itu sambil tertawa-tawa.
Andaikata gadis itu bukan pute rinya sekalipun, sikap empat orang ini cukup membuat hati Coa Liu Hwa menjadi panas dan marah.
Sebelum dicegah suaminya yang ia tahu amat sabar dan tenang, dari te mpat duduknya iapun berkata dengan nada suara lantang.
"Bubur ayam di rumah makan ini enak dan air te hnya juga sedap, hanya sayang sekali ada empat ekor lalat besar yang bau busuk dan suaranya memualkan perutku! Dan ada empat ekor cacing mengaku naga, sungguh menje mukan sekali!"
Lie Koan Tek terkejut akan tetapi tidak mampu mencegah isterinya yang sudah bicara dengan suara dan nada keras itu.
Juga Cin Cin terkejut, bukan saja oleh kata-kata itu, melainkan terutama sekali ole h suara itu.
Ia masih mengenal suara itu dan iapun melirik.
Hampir saja ia melonjak dari te mpat duduknya ketika ia mengerling dan melihat wanita yang duduk di luar itu.
Akan tetapi, melihat wanita itu duduk dengan seorang pria berusia enampuluhan tahun yang tinggi bes ar berewok dan amat gagah perkasa, iapun menahan diri dan pura-pura tidak mengenal.
Ibunya!
Jelas ia tidak ragu lagi.
Wanita itu adalah ibunya dan pria yang duduk di sebelahnya itu siapa lagi kalau bukan pendekar Siauw-lim-pai yang bernama Lie Koan Tek, yang kini menjadi suami ibunya.!
Perasaan haru dan gembira dalam hati Cin Cin segera tertutup oleh rasa sesal dan cemburu.
Semenjak dusun Ta-bun-cung di mana perkumpulan He k-houw-pang diserbu penjahat sehingga ayahnya, Kam Seng Hin, ketua Hek-houw-pang te was, ibunya entah pergi ke mana.
Kemudian, ia sendiri menderita kehidupan yang amat pahit dan hampir saja celaka di tangan Cia Ma!
Kalau tidak bertemu dengan Tung-hai Mo-li, mungkin ia kini telah dipaksa menjadi pelacur!
Ia hidup menderita, dan ibunya!
Ibunya yang kematian suami itu bahkan telah menggandeng seorang pria baru, suami baru!
Ia menderita sengsara dan ibunya malah bersenang-senang.
Kemarahan ini yang membuat Cin Cin diam saja, pura-pura tidak mengenal ibunya sendiri.
Padahal sebelum pertemuan ini, ia amat merindukan ibunya.
Empat orang jagoan itu serentak bangkit dari te mpat duduk mereka dan memutar tubuh memandang ke arah wanita yang berani mengeluarkan kata-kata seperti itu terhadap mereka.
Dan mereka melihat wanita yang setengah tua, sudah mendekati limapuluh tahun namun masih cantik dan gagah, duduk memandang kepada mereka dengan senyum mengejek, sedangkan di dekat wanita itu duduk seorang laki-laki gagah perkasa yang na mpak tenang dan masih makan bubur ayamnya.
Sebaliknya, wanita itu memandang kepada mereka dengan bibir te rsenyum mengejek mata menantang!
Coa Liu Hwa merasa kecewa sekali karena tadi ia memperhatikan ke arah gadis buntung dan melihat betapa gadis itu mengerling kepadanya.
Akan tetapi, gadis itu te nang saja dan agaknya sama sekali tidak mengenalnya!
Kalau begitu, gadis bukan Cin Cin, bukan puterinya!
I ngin ia menangis rasanya, begitu kecewa dan penasaran.
Maka rasa penas aran ini ia tumpahkan kepada empat orang itu, tidak perduli betapa suaminya mencegahnya dengan pandang mata.
"Heii, kalian empat orang sialan! Mau apa engkau melotot dan memandang kepadaku? Apakah kalian menantang?"
Tentu saja Lie Koan Tek te rkejut bukan main.
Bias anya, is terinya agak pendiam dan tidak suka mencari perkara.
Dia dapat menduga tentu isterinya bersikap seperti itu untuk memancing perhatian gadis buntung itu.
Diapun melihat betapa gadis itu bersikap acuh saja.
Padahal kalau benar gadis itu pute ri isterinya, te ntu kini telah mengenal ibu kandungnya.
Si jangkung kurus yang menjadi orang pertama dari Lok-yang Su-Liong, tak dapat menahan kemarahannya yang berkobar sejak pertama kali Liu Hwa bicara tadi.
"Heii, nyonya! Apakah engkau menghina kami Lok-yang Sui-liong? Siapakah engkau berani bersikap begini kurang ajar kepada kami?"
Liu Hwa juga bangkit berdiri dan bertolak pinggang, sikap yang sungguh aneh dan asing bagi Lie Koan Tek, akan tetapi diapun dapat menduga bahwa perubahan sikap isterinya ini semata-mata ingin menarik perhatian gadis itu.
"Hemm, kalian berjuluk demikian besar, Empat ekor Naga Lok-yang, akan te tapi sikap kalian menghina orang seperti cacing-cacing tanah saja! Seolah-olah di dunia ini tidak ada orang berani kepada kalian. Aku seorang murid He k-houw-pang sama sekali tidak takut!"
Biarpun ia bicara kepada empat orang itu, ketika mengatakan bahwa ia murid He k-houw-pang, ia melirik ke arah gadis buntung itu, akan te tapi gadis itupun masih tetap duduk dengan tenang.
"Perempuan sombong!"
Seorang di antara Lok-yang Su-liong membentak. Dia berusia empatpuluh tahun, bertubuh pendek gendut dan merupakan orang te rmuda di antara mereka, juga wataknya mata keranjang.
"Kalau saja engkau duapuluh tahun lebih muda, te ntu akan kuhukum dengan menemaniku selama beberapa malam, ha-ha-ha!"
Tiga orang kawann ya juga tertawa-tawa. Kini Lie Koan Tek bangkit berdiri dan memandang ke arah empat orang itu.
"Sudah lama aku mendengar nama Lok-yang Su-liong sebagai penjahat-penjahat kecil di kota Lok-yang yang suka berbuat jahat. Kiranya, kalian selain jahat juga pengecut dan beraninya hanya menghina wanita-wanita saja, walaupun isteriku ini kalau kubiarkan te ntu akan dapat membunuh kalian dengan mudahnya!"
Empat orang itu kini meninggalkan meja mereka dan dengan sikap mengancam mereka menghampiri suami is teri itu.
Si tinggi kurus menudingkan te lunjuknya kepada Liu Hwa dan menghardik kepada Lie Koan Tek.
"Isterimu ini yang le bih dahulu menghina kami! Tidak tahukah kalian bahwa kami Lok-yang Sui-liong adalah pimpinan semua tokoh kangouw di daerah ini? Isterimu yang bersikap tidak patut!"
"Kalian sendiri menghina seorang gadis dan masih berani menuduh aku yang menghina orang?"
Bentak Liu Hwa penuh semangat.
Kini ia melihat betapa gadis buntung itu memutar tubuh memperhatikan mereka, akan tetapi ketika pandang matanya berte mu dengan pandang mata gadis yang disangka pute rinya itu, gadis itu mengalihkan pandang matanya.!
"Kalau isteriku telah bersikap kasar, harap dimaafkan, akan te tapi kami harap agar su-wi berempat juga tidak mengganggu orang lain lagi."
"Hemm, lagakmu seperti seorang pendekar! Siapa sih engkau?"
Bentak si tinggi kurus kepada Lie Koan Tek.
"Sejak dahulu sampai sekarang namaku Lie Koan Tek. Aku bukan pendekar, akan te tapi kalau ada orang bertindak sewenang-wenang, sudah menjadi kewajibanku untuk mene ntangnya."
Pada saat itu pemilik rumah makan datang te rgopoh-gopoh dan memberi hormat kepada empat orang itu dengan tubuh dite kuk hampir patah.
"Cuwi-eng-hiong (Orang gagah sekalian) mohon ampun dan tidak berkelahi di sini, agar tempat kami tidak menjadi rusak dan porak-poranda."
Si tinggi kurus mendengus. Baginya ju ga tidak enak berkelahi di situ, karena penuh dengan meja kursi, membuat dia dan tiga orang saudaranya tidak leluasa bergerak.
"Huh, jangan khawatir. Sediakan saja masakan is timewa untuk kami berempat pesta nanti setelah kami memberi hajaran kepada orang ini."
Kemudian dia menghadapi Lie Koan Tek lagi dan berkata.
"Namamu Lie Koan Tek? Pernah aku mendengar nama Lie Koan Tek tokoh Siauw-lim-pai. Engkaukah orangnya?"
"Aku memang murid Siauw-lim-pai bernama Lie Koan Tek,"
Kata pendekar itu dengan sikap tenang.
"Bagus! Sudah lama ju ga kami mendengar nama Lie Koan Tek sebagai seorang yang gatal tangan dan suka usil mencampuri urusan orang lain. Mari kita keluar kalau memang engkau berani melawan kami!"
Tantang si tinggi kurus dengan cerdik karena dia sengaja menantang dengan sebutan kami, berarti mereka berempat yang menantang, bukan dia seorang.
Empat orang itu hendak melangkah keluar, akan te tapi pada saat itu te rdengar bentakan halus.
"Siapa di antara empat Lok-yang Su-liong yang tadi menyebut-nyebut tentang tangan buntung?"
Yang bicara itu adalah Cin Cin dan semua orang menengok dan memandang kepadanya.
Gadis itu masih duduk dan memegang sepasang sumpit bambunya, agaknya sudah selesai makan dan tadi menggunakan sepasang sumpit di tangan kanan untuk makan kacang.
"Aku yang mengatakan!"
Kata orang muda yang perutnya gendut.
"Aku juga. Habis kau mau apa?"
Kata pula orang ke tiga yang matanya sipit hampir terpejam.
"Mulutmu busuk!"
Bentak gadis itu dan sekali tangan kanannya bergerak, sepasang sumpit itu meluncur bagaikan anak panah.
De mikian cepatnya luncuran sumpit itu sehingga biarpun kedua orang itu berusaha mengelak, tetap saja masing-masing jadi korban sumpit yang menembus dari pipi sebelah ke pipi yang lain!
Sumpit itu seperti ditusukkan dari pipi, menembus rongga mulut dan keluar dari pipi yang lain!
Tentu saja kedua orang itu terkejut, kesakitan dan mengeluarkan suara aneh karena mereka tidak mampu menggerakkan mulut yang sudah ditusuk sumpit.
Hendak dicabut, takut kalau te rlalu nyeri, didiamkan saja juga sakit.!
Orang pertama yang tinggi kurus cepat maju dan dua kali tangannya bergerak, dia sudah mencabut sepasang sumpit itu dari pipi dua orang adik seperguruannya.
Dua orang yang te rluka itu menggunakan kedua tangan menutupi pipi yang berlubang dan mengucurkan darah.
Si tinggi kurus dan orang ke dua yang pipinya te rdapat tanda luka codet, sudah mencabut pedang masing-masing.
Akan tetapi sebelum mereka meloncat untuk menyerang gadis buntung itu, Lie Koan Tek dan is terinya sudah mencabut senjata mereka pula.
Lie Koan Tek melolos rantai baja yang dijadikan sabuk, sedangkan isterinya mencabut pedang.
Melihat sepasang suami iste ri itu menghadang di depan mereka, si tinggi kurus dan si codet maju menyerang.
Lie Koan Tek dan Coa Liu Hwa menyambut dengan senjata mereka dan terjadilah perkelahian di ruangan makan itu.
Namun, te rnyata dua orang jagoan itu sama sekali bukan lawan Lie Koan Tek dan Coa Liu Hwa yang semenjak menjadi isteri pendekar Siauw-lim-pai itu telah mendapatkan kemajuan pesat dalam ilmu silat.
Belum juga sepuluh jurus, rantai baja di tangan Lie Koan Tek telah merobohkan lawan, dengan tulang kaki patah dan tak mampu bangkit kembali.
Beberapa jurus kemudian, isterinya juga dapat membuat lawan te rpelanting dengan luka bacokan pada pundak kirinya.
Empat orang Lok-yang Su-liong itu tanpa banyak cakap lagi lalu melarikan diri, keluar dari rumah makan sambil terhuyung dan saling bantu, te rutama sekali si tinggi kurus yang patah tulang kakinya, te rpaksa harus diseret dan te rpincang-pincang.
Lie Koan Tek menghampiri pemilik rumah makan.
"Berapa kerugianmu akibat perkelahian tadi , akan kuganti."
"Tidak perlu.......tidak usah, taihiap. Akan tetapi kami khawatir sekali karena Lok-yang Su-liong itu mempunyai kawan yang banyak ju mlahnya. Bagaimana kalau mereka datang membalas dendam?"
"Jangan takut. Kami akan melindungimu."
"Sobat, tahukah engkau di mana nona yang tadi duduk makan di sana?"
Tiba-tiba Liu Hwa bertanya kepada pengurus rumah makan itu karena tidak melihat lagi adanya gadis yang disangka pute rinya itu.
"Nona itu.....? Ia tentu kembali ke kamarnya karena ia tadi memesan kamar di loteng untuk bermalam."
"Kamipun akan bermalam di sini,"
Kata Koan Tek cepat.
"Nomor berapa kamar nona tadi? Kami ingin bicara dengannya."
"Kamar nomor dua di lote ng, taihiap."
Pengurus itu lalu mempersilakan suami isteri yang amat dihormatinya karena telah berhasil mengusir Lok-yang Su-liong yang ditakuti, untuk naik ke loteng dan mereka mendapatkan sebuah kamar te rbesar di loteng itu, yaitu kamar nomor lima, terpis ah tiga kamar dari kamar nomor dua yang dihuni ole h Cin Cin.
Memang benar perkiraan pengurus rumah makan tadi.
Ketika suami isteri itu menyambut serangan penjahat itu, Cin Cin maklum bahwa mereka tidak merlukan bantuan, maka diam-diam ia menyelinap dan meninggalkan ruangan itu, naik ke loteng dan masuk ke dalam kamarnya.
Di kamarnya, ia duduk te rmenung di te pi pembaringan, kedua matanya basah namun ia menahan tangisnya.
Ia merasa dadanya sesak dan juga panas sekali.
Tidak salah lagi.
Wanita itu adalah ibunya, ibu kandungnya yang selama belasan tahun ini dirindukannya, yang seringkali membuat ia menangis seorang diri s ambil memeluk guling.
Akan te tapi, kalau tadinya ia membayangkan perte muan yang mengharukan dan membahagiakan dengan ibunya, sama-sama menangis dan mengenang ayahnya, kini ibunya muncul bersama seorang pria yang sama sekali asing baginya, akan tetapi yang telah menjadi pengganti ayahnya!
Cin Cin menangis tanpa suara.
Terjadi pergolakan hebat di dadanya, antara sayang dan benci, antara rindu dan kecewa, antara keinginan kuat untuk merangkul ibunya dan menjauhkan diri dari ibunya!
Hanya satu hal yang membuat hatinya agak te rhibur.
Ibunya nampak sehat dan gembira, juga nampak cantik seperti dahulu.
Dan ibunya juga bersikap sebagai seorang pendekar wanita yang berani menentang kejahatan.
Demikian pula suami ibunya, atau ayah tirinya, ternyata memperlihatkan sikap seorang pendekar perkasa yang terkenal sebagai tokoh Siauw-lim-pai.
Tidak, ia tidak akan menemui ibunya sebelum perasaan yang tidak menentu berkecamuk di hati nya.
Selama hatinya masih te rasa kacau dan penuh pertentangan, ia tidak akan memperlihatkan diri kepada ibunya.
Akan te tapi, setelah kini berte mu, untuk meninggalkan ibunya ia tidak sanggup.
Maka, iapun mengambil keputusan untuk pindah dari situ, untuk membayangi dan mengikuti perjalanan ibu dan ayah tirinya itu secara diam-diam, sampai tiba saatnya ia merasa yakin untuk bertemu dengan ibunya.
De mikianlah, percuma saja suami iste ri isteri itu mengamati kamar Cin Cin sampai sehari penuh, Tidak pernah mereka melihat gadis itu keluar kamar, bahkan sampai malampun mereka tidak melihatnya.
Mereka tidak berani mengganggu malam itu.
Bagaimanapun juga, kini sudah menipis dugaan mereka bahwa gadis itu adalah Cin Cin.
Gadis itu memang lihai bukan main.
Sepasang sumpit yang disambitkan saja demikian tepat menembusi pipi dua orang lawan.
Akan te tapi, kalau gadis itu benar Cin Cin, sudah pasti ia akan mengenal ibunya.
Tidak, gadis itu pasti bukan Cin Cin dan hal ini membuat hati Liu Hwa kecewa bukan main.
Akan te tapi ia dan suaminya masih mempunyai harapan untuk berkenalan dengan gadis itu dan siapa tahu gadis perkasa itu dapat memberi petunjuk di mana adanya gadis yang mereka cari.
Baru pada keesokan harinya, pagi-pagi mereka berani menghampiri kamar nomor dua dan mengetuk pintunya.
Tidak ada jawaban.
Sampai diperkuat ketukannya, te tap saja tidak ada jawaban.
Seorang pelayan menghampiri mereka dan berkata.
"Tidak ada gunan ya ji-wi (kalian) mengetuk pintu itu. Biar digedor sampai bagaimanapun tidak akan ada yang membukanya karena kamar itu kosong."
"Ehh? Kosong? Bukankah kemarin ditinggali nona........"
"Nona yang buntung tangan kirinya itu, toanio? Memang benar, akan tetapi malam tadi ia membuat perhitungan, membayar semua sewa kamar dan harga makanan, lalu pergi dengan cepat."
Suami isteri itu terkejut.
"Ke mana ia pergi?"
Liu Hwa bertanya akan tetapi pelayan itu menggeleng kepala.
Tentu saja suami isteri itu merasa menyesal sekali mengapa tidak kemarin saja mereka mengunjungi nona itu.
Sekarang ia telah pergi dan kemana mereka harus mencarinya?
"Kita ke kota Ji-goan saja, kita menyelidiki ke sana, siapa tahu terdapat je jak anakmu disana."
Lie Koan Tek menghibur isterinya yang kelihatan kecewa sekali.
Setelah membayar semua perhitungan, suami isteri itu bergegas meninggalkan kota Lok-yang dan menuju ke sungai Huang-ho untuk menyeberang ke kota Ji-goan yang te rletak di sebelah utara Huang-ho.
Akan te tapi, ketika mereka tiba di jalan dekat hutan di lembah sungai Huang-ho, tiba-tiba muncul seorang pemuda yang agaknya sengaja menghadang di depan mereka.
"Harap ji-wi berhenti sebentar, aku ingin bicara,"
Kata pemuda itu.
Sikapnya cukup sopan akan tetapi suaranya te rdengar dingin dan kaku seolah menyembunyikan kemarahan.
Suami isteri itu memandang heran.
Pemuda itu berusia sekitar duapuluh dua tahun, tubuhnya tinggi te gap, wajahnya tampan, matanya tajam mencorong dan dagunya te bal, bibirnya mengandung senyuman sinis dan telinganya agak kecil dan pakaiannya sederhana namun bersih dan rapi.
"Orang muda, siapakah engkau dan ada keperluan apakah yang ingin kaubicarakan dengan kami?"
Lie Koan Tek bertanya. Pendekar ini cukup berpengalaman dan dia dapat menduga bahwa pemuda yang menghadang ini pasti bukan pemuda sembarangan.
"Bukankah paman yang bernama Lie Koan Tek, pendekar Siauw-lim-pai?"
Tanya pemuda itu yang bukan lain adalah The Siong Ki, murid Naga Sakti Sungai Kuning Si Han Beng!
Seperti telah kita ketahui, Siong Ki berkunjung ke pusat He k-houw-pang dan di sana dia bahkan berte mu dengan Cin Cin.
Akan tetapi seperti juga Cin Cin, dia menolak ketika hendak diangkat menjadi ketua Hek-houw-pang.
Dia meninggalkan He k-houw-pang untuk melaksanakan tugas yang diberikan gurunya kepadanya, yaitu mencari Bi Lan yang telah menculik puteri suhunya.
Suhu dan subonya memang sudah berpesan kepadanya agar dia tidak sembarangan membalas dendam kepada Lie Koan Tek, melainkan diharuskan melakukan penyelidikan lebih mendalam tentang kematian ayahnya.
Diapun tidak bermaksud membunuh Lie Koan Tek, akan tetapi ingin bicara te ntang kematian ayahnya, dan diapun teringat akan keterangan gurunya bahwa Bi Lan adalah keponakan Lie Koan Tek, maka besar kemungkinan pendekar Siauw-lim-pai ini dapat memberitahu kepadanya di mana adanya Kwa Bi Lan.
De mikianlah, ketika dia mendengar berita te ntang keributan yang dilakukan pendekar wanita tangan kiri buntung di Ji-goan, dia dapat menduga bahwa pendekar itu te ntulah Cin Cin.
Dia tertarik dan mengikuti jejak Cin Cin sampai ke Lok-yang dan di sana dia melihat Lie Koan Tek dan bibi-gurunya, Coa Liu Hwa.
Tentu saja dia menjadi girang sekali dan segera dia menanti saat baik untuk berte mu dengan mereka.
Itulah sebabnya, ketika melihat suami isteri itu keluar dari Lok yang, dia mendahului menghadang di tempat sunyi itu.
"Benar, namaku Lie Koan Tek. Siapakah, e ngkau orang muda?"
"Nanti dulu! Aku.......seperti mengenal pemuda ini!"
Kata Coa Liu Hwa sambil mengamati wajah yang tampan itu.
"Bibi benar. Aku adalah The Siong Ki, pute ra mendiang ayah The C i Kok. Pernah aku ikut bibi menjadi murid, akan tetapi aku lalu pergi. Akan tetapi bukan itu yang penting.. Aku ingin bicara dengan paman Lie Koan Tek!"
Kembali suaranya te rdengar dingin.
"Siong Ki.......ah, benar engkau Siong Ki.......! Engkau sudah dewasa se karang......"
"Hemm, orang muda. Apa yang akan kaubicarakan dengan aku?"
Lie Koan Tek bertanya.
"Paman, aku hanya ingin bertanya apakah benar engkau yang dahulu te lah membunuh ayahku, yaitu The Ci Kok seorang murid He k-houw-pang? Jawab sejujurnya, paman. Benarkah engkau yang membunuhnya?"
Lie Koan Tek mengerutkan alisnya.
Pertanyaan itu mengingatkannya kembali akan peristiwa yang amat tidak enak itu.
Ketika itu, secara te rpaksa karena dibebaskan dari penjara oleh Cian Bu Ong, dia menjadi pembantu Cian Bu Ong dan dia ikut pula menyerbu dusun Ta-bun-cung di mana He k-houw-pang dimusuhi Cian Bu Ong karena tidak mau bersekutu untuk memberontak te rhadap pemerintah.
Kalau dia te ringat akan peristiwa itu, dia merasa menyesal bukan main walaupun dalam penyerbuan itu, tidak seperti yang lain, dia sama sekali tidak melakukan pembunuhan, hanya merobohkan saja para anggota He k-houw-pang tanpa membunuh.
De ngan tegas dia menggeleng kepalanya.
"Tidak, aku tidak membunuh ayahmu, aku tidak membunuh siapapun dari Hek-houw-pang.!"
Jawaban itu memanaskan hati Siong Ki.
"Paman, engkau dikenal sebagai pendekar Siauw-lim-pai yang gagah perkasa, kenapa tidak berani menanggung akibat dari perbuatan sendiri dan hendak mengingkari perbuatan sendiri? Bukankah paman juga ikut membantu gerombolan yang menyerbu He k-houw-pang? Bahkan paman te lah merampas pula bibi Coa Liu Hwa, is teri ketua Hek-houw-pang menjadi isteri paman sekarang?"
"Siong Ki!"
Coa Liu Hwa membentak marah.
"Sebaiknya kalau bibi tidak mencampuri karena hal ini hanya akan mendatangkan rasa malu saja kepada bibi sendiri. Aku bicara dengan seorang di antara para penyerbu He k-houw-pang dan menghendaki jawaban sejujurnya dari Lie Koan Tek!"
"Orang muda, jangan engkau bersikap kasar te rhadap isteriku. Ia tidak bersalah, dan tentang penyerbuan ke He k-houw-pang itu, aku tidak menyangkal. Akan te tapi, aku hanya merobohkan saja para pengeroyok dan sama sekali tidak membunuh orang. Aku hanya te rpaksa menyerang He k-houw-pang karena......."
"Cukup! Biarpun engkau tidak membunuh ayahku dan tidak membunuh seorangpun dari He k-houw-pang, namun engkau mengaku sudah ikut menyerbu dan merobohkan anak buah Hek-houw-pang. Nah, sekarang aku, keturunan murid He k-houw-pang, menantangmu untuk mengadu kepandaian. Hendak kulihat sampai di mana kepandaian orang yang pernah mengacaukan He k-houw-pang dan mendatangkan malapetaka kepada seluruh anggota He k-houw-pang, bahkan kini secara tak bermalu telah memperisteri bekas isteri ketuanya. Cabutlah senjatamu, Lie Koan Tek!"
Siong Ki mencabut pedangnya dan tampaklah sebatang pedang yang tua dan tumpul, namun mengandung sinar yang dingin redup seperti sinar bintang.
Itulah Seng-kang-kiam (Pedang Baja Bintang) yang ampuh, milik Bu Giok Cu yang dititipkannya kepada murid itu untuk dipakai mencari Si Hong Lan yang le nyap diculik Kwa Bi Lan.
Bagaimanapun juga, Lie Koan Tek adalah seorang pendekar yang gagah perkasa.
Dia tidak ingin mengingkari perbuatannya sendiri.
Memang dia ikut menyerbu He k-houw-pang.
Dia kini harus mempertanggung-jawabkan perbuatannya itu.
Juga dia ditantang, sebagai seorang pendekar, te ntu saja pantang mundur kalau ditantang.
"Baiklah, orang muda. Aku tidak akan lari dari tanggung-jawab!"
Katanya dan diapun sudah melolos sabuk rantai bajanya dan bersiap.
"Siong Ki, jangan.........!!"
Coa Liu Hwa mencoba untuk mencegah.
"Bibi sudah mengkhianati Hek-houw-pang, harap jangan ikut campur!"
Kata pemuda itu dengan suara ketus.
"Orang muda, engkau te rlalu menghina isteriku!"
Lie Koan Tek berseru marah.
"Kalau engkau hendak menyerangku, majulah!"
Siong Ki segera menggerakkan pedangnya menyerang dan begitu dia menyerang, Lie Koan Tek te rkejut karena serangan itu selain cepat bagaikan kilat menyambar, juga mendatangkan hawa yang amat kuat.
Dia memutar sabuk rantai bajanya menangkis sambil mengerahkan tenaga pula.
"Tranggg!!!"
Pertemuan antara pedang tumpul dan rantai baja itu sedemikian kuatnya sehingga menggetarkan tubuh Liu Hwa yang menonton dengan cemas, dan ia melihat betapa suaminya te rhuyung ke belakang, sedangkan pemuda itu tetap te gak.
Ini saja sudah menunjukkan bahwa dalam hal tenaga sin-kang, pemuda itu le bih kuat!
Juga Lie Koan Tek memaklumi hal ini, maka dia bersikap hati-hati.
Siong Ki merasa mendapat angin.
Dia tersenyum mengejek.
"Lie Koan Tek, kalau dulu engkau tidak membunuh orang-orang He k-houw-pang, sekarangpun, melihat muka bibi Liu Hwa, aku tidak akan membunuhmu, hanya akan memberi hajaran kepadamu sebagai hukuman!"
Setelah berkata demikian dia menyerang dengan dahsyat dan bertubi-tubi.
Pedangnya lenyap menjadi gulungan sinar yang berkilauan.
Lie Koan Tek juga menggerakkan rantai baja itu untuk membentuk bente ng perlawanan yang kokoh, karena dia maklum bahwa mengnadapi pedang yang ampuh dan ilmu pedang hebat itu, dia akan cepat roboh kalau membalas.
Melihat suaminya terdesak dan te rancam, Liu Hwa tidak mungkin dapat berdiam diri saja.
Iapun mencabut pedangnya menerjang ke depan sambil berte riak.
"Siong Ki, engkau tidak boleh menghina suamiku!"
Siong Ki memutar pedangnya menangkis dan mengejek.
"Bagus, sekarang pengkhianatanmu sudah lengkap, bibi Liu Hwa, dan biarlah aku mewakili arwah suamimu untuk memberi pelajaran kepadamu pula!"
Pedangnya bergerak cepat secara luar biasa sekali dan terdengar Liu Hwa berseru kesakitan lalu te rhuyung ke belakang karena pangkal le ngan kanannya te rluka oleh ujung pedang lawan.
Melihat isterinya te rluka, Lie Koan Tek lalu memutar rantai bajanya menyerang dengan dahsyat sehingga terpaksa Siong Ki menangkis sambil mundur dan tersenyum mengejek.
"Biarlah hari ini orang-orang yang berdosa menerima hukumannya!"
Katanya dan kembali pedangnya bergerak luar bias a sekali, membuat Lie Koan Tek menjadi bingung dan biarpun dia sudah memutar rantai bajanya dengan cepat, tetap saja pundaknya te rkena ujung pedang lawan dan dia te rhuyung dan pundak kirinya berdarah.
Siong Ki tertawa.
"Ha-ha-ha, kalian rasakan sekarang! Lie Koan Tek dan engkau bibi Liu kalau kalian mau mengakui kesalahan kalian di hadapanku, aku akan mengampuni kalian dan membebaskan kalian. Akan te tapi kalau kalian tidak mengakui kesalahan, te rpaksa aku akan memberi hajaran lebih keras lagi."
Suami isteri itu saling pandang. Bagi oran g yang menghargai kegagahan seperti mereka, merendahkan diri dan kehormatan merupakan pantangan. Hampir berbareng mereka berseru.
"Kami tidak sudi!"
Wajah Siong Ki menjadi merah saking marahnya.
"Hemm, orang-orang tak bermalu masih mempertahankan kehormatan? Kalau begitu, biar kuberi pelajaran yang lebih pahit lagi. Siapkan senjata kalian!"
Suami isteri itu telah berdiri berdampingan dengan senjata di tangan, siap untuk melawan sampai mati.
"Hyaaaaatttt........!"
Tubuh Siong Ki menerjang dahsyat dan pedangnya menyambar bagaikan kilat.
"Tranggg.......!!"
Siong Ki terkejut setengah mati ketika pedangnya berte mu dengan sebatang pedang yang mengeluarkan sinar kehijauan mengandung hawa dingin.
Ketika dia meloncat ke belakang karena merasa tangannya te rgetar hebat dan memandang, te rnyata yang menangkis pedangnya tadi adalah Cin Cin!
"Kau.......?"
Akan tetapi Cin Cin tidak memberi kesempatan lagi kepada Siong Ki untuk bicara, karena ia segera menyerang dengan dahsyat bukan main, sehingga terpaksa Siong Ki harus memutar pedangnya untuk melindungi dirinya.
Serangan yang dilakukan Cin Cin amat hebatnya dan setiap kali mereka beradu pedang, Siong Ki merasa betapa seluruh lengannya tergetar hebat.
Dia melompat agak jauh ke belakang.
"Aku.....aku tidak ingin berkelahi denganmu, aku hanya akan memberi pelajaran....."
Kembali Siong Ki tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena begitu tangan kiri Cin Cin bergerak, belasan batang jarum yang bersinar menyambar ke arah tubuh pemuda itu.
Siong Ki te rkejut dan cepat melompat jauh ke kiri.
Kalau Cin Cin maju membela ibunya dan dia dikeroyok tiga, sudah pasti dia akan terancam bahaya.
Melawan Cin Cin seorangpun belum tentu dia menang, maka mengingat bahwa dia telah melukai Lie Koan Tek dan Coa Liu Hwa, yang te ntu akan membuat Cin Cin marah sekali, dia lalu meloncat jauh dan melarikan diri!
Cin Cin tidak mengejarnya, hanya berdiri mematung, memandang ke arah perginya pemuda itu membelakangi suami isteri itu dengan sikap acuh.
Coa Liu Hwa dan suaminya saling pandang, kemudian Liu Hwa yang kini timbul pula harapan dan dugaannya bahwa gadis itu adalah pute rinya, segera menghampiri dan menegur dengan suara gemetar.
"Kau.....kau.....Kam Cin? Cin Cin.....?"
Mendengar suara ibunya memanggilnya, Cin Cin merasa jantungnya seperti diremas.
Betapa inginnya menubruk dan merangkul ibunya yang selama ini amat dirindukannya, akan tetapi di situ ada Lie Koan Tek dan ia masih merasa penasaran.
De ngan perlahan ia memutar tubuh menghadapi ibunya, mukanya menjadi pucat akan tetapi sikapnya masih dingin dan ia hanya menatap wajah ibunya, tanpa menjawab dan tanpa memperlihatkan gejolak perasaannya.
Liu Hwa yang kini tidak ragu lagi bahwa gadis ini adalah pute rinya yang hilang, berkata lagi, suaranya bercampur is ak.
".. ..Cin Cin......lupakah engkau kepadaku? Lupakah.........engkau pada.......ibumu.....? Aku ibumu......"
"Bukan! Engkau bukan ibuku!"
Cin Cin berseru dengan suara lantang seperti berte riak, karena suaranya itu memang langsung keluar dari perasaan hatinya.
"Cin Cin! Engkau pasti Cin Cin anakku! Aku ibumu, anakku....."
Liu Hwa berkata dengan air mata bercucuran, namun ia masih belum berani mendekat, karena sebelum gadis itu mengaku bahwa ia benar Cin Cin, tentu s aja ia belum yakin benar.
"Hemm, kalau benar engkau ini ibuku, kenapa engkau membiarkan anakmu hidup te rlantar sendiri sampai belasan tahun, sedangkan engkau sendiri bersenang-senang dan enak-enakan menikah lagi dengan seorang laki-laki lain? Mana ada seorang ibu seperti itu? Melupakan suami yang te was melupakan anak yang hilang, sebaliknya bersenang-senang sendiri?"
Liu Hwa yang mendengar ucapan penuh penyesalan itu, merasa betapa dadanya seperti ditusuk-tusuk, ia hanya dapat membelalakkan mata memandang kepada anaknya dengan air mata bercucuran.
Melihat ini, Lie Koan Tek maju dan berkata dengan suara tegas.
"Nona, engkau tidak berhak bicara seperti itu kepada isteriku!"
Kini Cin Cin menoleh kepadanya dan te rsenyum mengejek.
"Bagus! Engkau merasa dirimu besar karena engkau te rkenal sebagai seorang tokoh Siauw-lim-pai dan bersikap gagah? Huh, menurut pendengaranku tadi, engkau ikut menyerbu Hek-houw-pang dan ikut membasmi He k-houw-pang, kemudian engkau membunuh ketua He k-houw-pang dan melarikan is terinya, lalu memaksa isteri ketua Hek-houw-pang menjadi isterimu! Dan sekarang engkau masih gagah-gagahan berlagak membelanya? Pendekar macam apa engkau ini?"
"Cin Cin......ahhh.......Cin Cin.......jangan berkata demikian....."
Liu Hwa menje rit, terkulai dan pingsan dalam rangkulan suaminya yang cepat meloncat mendekatinya. Lie Koan Tek memondong tubuh yang pingsan itu, meenoleh kepada Cin Cin dan bertanya.
"Beginikah sikap seorang anak yang baik, membalas budi seorang ibu kandung dengan sikap sekejam ini? Kalau ia sampai mati, maka engkaulah pembunuh ibu sendiri!"
Setelah berkata demikian, Koan Tek membawa isterinya ke bawah sebatang pohon di mana tumbuh rumput tebal dan merebahkan tubuh Liu Hwa di atas rumput, lalu menotok beberapa jalan darah dan mengelus te ngkuknya.
Liu Hwa kini bernapas le mbut dan te ratur, agaknya ia tertidur.
Ketika Lie Koan Tek melihat gadis itu mengikutinya dan kini duduk di atas akar pohon sambil memandang isterinya dengan bingung, diapun bertanya dengan suara kaku.
"Kenapa engkau mendekat? Apakah engkau masih penas aran dan hendak membunuh aku dan isteriku? Silakan kalau begitu."
Akan te tapi, melihat ibunya roboh pingsan agaknya semua kemarahannya le nyap atau setidaknya mereda dari hati Cin Cin.
Ingin ia menubruk dan menangisi ibunya, akan tetapi panasnya hati membuat ia masih menahan perasaannya dan ia memandang kepada Lie Koan Tek.
"Me ngingat namamu yang besar sebagai pendekar Siauw-lim-pai, demi kehormatan Siauw-lim-pai, ceritakanlah apa yang te lah terjadi dan mengapa pula ibuku sampai dapat menjadi isterimu!"
Koan Tek maklum bahwa semua harus diceritakan kepada gadis ini untuk mengobati hati itu yang agaknya terluka hebat.
Sambil duduk di atas rumput, berhadapan dengan gadis bertangan kiri buntung itu, Koan Tek menceritakan keadaan dirinya.
"Nona, engkau te ntu sudah mendengar akan malapetaka yang menimpa Siauw-lim-pai belasan tahun yang lalu, bukan? Kuil kami dibakar dan Siauw-lim-pai dibasmi pasukan pemerintah, ketika itu masih Kerajaan Su. Nah, hampir semua anggota Siauw-lim-pai te was, hanya aku beberapa orang saudara yang lolos. Akan tetapi aku menjadi orang buruan dan akhirnya aku te rtangkap dan menjadi orang hukuman."
Cin Cin mengangguk-angguk, hatinya te rtarik karena ia memang sudah mendengar kisah pembasmian Siauw-lim-pai oleh pemerintah Kerajaan Sui.
"Ketika Kerajaan Sui jatuh, seorang pangeran membebaskan aku dan beberapa orang hukuman lain, dengan syarat bahwa kami yang dibebaskan harus menjadi para pembantunya. Karena ingin bebas, kami setuju. Kemudian Kerajaan Sui yang jatuh diganti oleh Kerajaan Tang. Pangeran yang menjadi majikan kami itu lalu mengadakan gerakan pemberontakan te rhadap kerajaan baru dan kami membantunya. Namun usaha itu gagal. Ketika pangeran itu membujuk He k-houw-pang untuk bersekutu dengannya, Hek-houw-pang menolak dan demikianlah kami disuruh menyerbu He k-houw-pang. Aku sendiri tidak setuju dengan gerakan itu, maka aku han ya membela diri ketika dikeroyok orang-orang He k-houw-pang, merobohkan pengeroyok tanpa membunuh siapapun. Nona boleh percaya atau tidak, akan tetapi sesungguhnya demikianlah. Ketika melihat isteri ketua Hek-houw-pang te rancam dan tentu akan te was seperti suaminya, aku merasa kasihan dan aku lalu melarikannya agar ia tidak sampai te was seperti yang lain."
Cin Cin mendengus.
"Huh, kenapa engkau menolongnya dan membiarkan orang-orang lain te rbunuh? Tentu engkau tertarik oleh kecantikannya bukan?"
Wajah Koan Tek berubah kemerahan.
"Aku tidak perlu menyangkal. Memang aku te rtarik oleh kecantikannya, walaupun aku belum pernah menikah dan tidak pernah tertarik oleh kecantikan wanita. Akan tetapi, hal itu belum kusadari sebelumnya, dan aku melarikannya karena dengan demikian para pembantu pangeran itu te ntu tidak akan melarangku dan mengira bahwa aku te rtarik oleh wanita itu dan sengaja melarikannya. Padahal, aku melakukan hal itu agar aku te rhindar dari keharusan melawan orang-orang yang kutahu tidak bersalah. Nah, setelah aku melarikannya, membawanya ke te mpat aman, kemudian aku melepaskannya. Kami berpisah, akan tetapi aku merasa kasihan dan tidak te ga lalu membayanginya. Ternyata kekhawatiranku te rbukti. I a te rtawan kepala gerombolan dan nyaris diperkosa. Untung bahwa aku masih membayanginya, maka aku berhasil membunuh kepala gerombolan."
Cin Cin mendengarkan saja, belum percaya sepenuhnya sambil membayangkan keadaan ibunya ketika itu.
Melihat gadis itu mendengarkan penuh perhatian tanpa bicara, Koan Tek menghela napas panjang.
Dia tidak akan menyalahkan kalau gadis itu tida k percaya kepadanya.
Akan tetapi dia sudah mengambil keputusan untuk menceritakan semuanya dengan sejujurnya, sesuai dengan wataknya.
"Ketika ibumu berkunjung ke Ta-bun-cung, ia mendengar bahwa suaminya te lah te was di samping banyak tokoh Hek-houw-pang lainnya, dan iapun mendengar bahwa engkau diantar seorang sute suaminya pergi mencari pendekar sakti Si Han Heng di dusun Hong-cun. Maka, iapun meninggalkan dusun dan di tengah perjalanan ia bertemu dengan seorang di antara rekanku, anak buah sang pangeran dan tentu ia akan te rtawan atau terbunuh kalau saja aku tidak datang menyelamatkannya pula. Aku lalu mengantarkannya untuk mencari pute rinya dan demikianlah, kami saling jatuh cinta dan kami menikah."
"Cin Cin......"
Dua orang itu menengok dan te rnyata Coa Liu Hwa baru saja terbangun dari tidur dan ia bangkit duduk, lalu menangis ketika melihat Cin Cin masih duduk di situ berhadapan dengan suaminya.
"Cin Cin, engkau masih belum mengakui aku sebagai ibumu......?"
Wanita itu meratap sambil memandang gadis itu dengan sinar mata penuh harap.
"Ceritakanlah dulu riwayatmu sampai engkau menikah dengan paman ini dan tidak memperdulikan aku,"
Kata Cin Cin, kemarahannya sudah tinggal sedikit setelah mendengar keterangan Lie Koan Tek, hanya tinggal perasaan penas aran saja.
"Cin Cin, ketika te rjadi serbuan gerombolan di Ta-bun-cung, seperti semua orang Hek-houw-pang, di samping ayahmu, akupun melakukan perlawanan mati-matian. Akan te tapi pihak kita jauh kalah kuat. Ayahmu tewas dan masih banyak lagi, para murid He k-houw-pang hampir habis, bahkan Coa Siang Lee yang menjadi tamu kehormatan. Aku sendri tentu akan tewas kalau saja aku tidak ditangkap oleh dia ini dan dilarikan keluar dari dusun."
"Hemm, dan dia merupakan seorang di antara para penyerbu dan pembasmi He k-houw-pang!"
Cela Cin Cin.
"Dia sudah menceritakan segalanya, Cin Cin. Dia te rpaksa melakukan itu, akan tetapi dia tidak membunuh siapapun. Bahkan penyerbuan di He k-houw-pang itu yang membuat dia lalu nekat meninggalkan pangeran pemberontak itu. Aku juga merasa sungkan dan tidak ingin berte mu lagi dengannya. Ketika aku berkunjung ke dusun kita dan bersembahyang, aku melihat Siong Ki yang kehilangan orang tuanya, dan dia minta agar menjadi muridku dan ikut denganku. Aku mengajak dia meninggalkan dusun melalui arah lain agar jangan berte mu dia. Akan te tapi, kami berdua berte mu dengan seorang di antara para penyerbu dan aku te ntu akan celaka kalau s aja dia ini tidak muncul dan menolongku. Dalam perkelahian itu, Siong Ki melarikan diri dan tak pernah kulihat lagi sampai tadi muncul dan hendak membunuh dia."
"Dan engkau sama sekali tidak perduli kepadaku!"
Cin Cin bertanya, penasaran sekali. -ooo0dw0ooo-
Jilid 23
"Cin Cin, aku mendengar bahwa engkau diantar oleh sute Lai Kun untuk berguru kepada pendekar sakti Si Han Beng. Tentu saja hatiku lega dan setuju sekali. Akan tetapi, beberapa bulan yang lalu, aku dan suamiku berkunjung ke Ta-bun-cung, te rnyata Lai Kun te lah menjadi ketua Hek-houw-pang dan menurut dia, engkau hilang di daerah Lok-yang ini. Tentu saja aku merasa sedih dan kami berdua segera mencari dan menyelidiki jejakmu di daerah ini. Untung kami mendengar te ntang peristiwa di Ji-goan, betapa seorang gadis membasmi rumah pelesir dan kami curiga, lalu kami mencari ke Lok yang dan berte mu denganmu di jalan. Kami lalu membayangimu, melihat engkau diganggu orang-orang di rumah makan itu."
Cin Cin menundukkan mukanya.
Kini ia mengerti semuanya dan ia sudah mempertimbangkan keadaan ibunya.
Ibunya tidak dapat disalahkan, bahkan beruntung ibunya dapat berjodoh dengan seorang pendekar seperti Lie Koan Tek.
Mengingat akan sikapnya ketika berte mu dengan ibunya, betapa ia bersikap kasar dan marah, ia merasa menyesal sekali dan hatinya te rtusuk keharuan, membuat kedua matanya basah.
Melihat gadis itu hanya menunduk, Liu Hwa mendekati.
"Cin Cin........kau......kau..., suka memaafkan ibumu.......?"
Cin Cin mengangkat mukanya. Wajahnya dan kedua matanya basah air mata yang kini menetes turun.
"I bu............!"
"Cin Cin anakku..............!"
Dua orang wanita itu saling tubruk dan berangkulan, bertangisan.
Lie Koan Tek te rsenyum akan te tapi dia menggunakan punggung tangan untuk menghapus dua titik air mata, air mata kebahagiaan karena tadinya dia khawatir sekali kalau Cin Cin tetap tidak mengakui ibunya dan hal itu pasti akan menghancurkan hati is terinya dan akan menyiksanya selama hidup.
Ibu dan anak itu bertangisan dan semua kekerasan yang dibentuk ole h gurunya selama belasan tahun mencair dalam hati Cin Cin dan iapun menangis sampai mengguguk di pangkuan ibunya.
Seluruh kerinduan yang bertumpuk selama ini tercurah keluar melalui tangis mereka dan di dalam tangis ini pula Cin Cin telah memaafkan semua rasa penasaran hatinya te rhadap ibunya selama ini.
Setelah tangis mereka mereda, Liu Hwa merangkul le her pute rinya, menciuminya, meraba seluruh anggota tubuh pute rinya, dari rambut sampai ke kakinya.
Ketika ia meraba lengan kirinya, ibu itu terisak.
"Cin Cin.......anakku, tangan kirimu......aih, kenapa sampai begini, anakku? Apa yang te rjadi dengan tanganmu?"
Ia menciumi ujung lengan kiri yang buntung dan dibalut kain putih itu. De ngan suara seperti anak kecil manja melapor kepada ibunya, Cin Cin berkata lirih diseling is ak.
"I bu.....tanganku dibuntungi oleh Thian Ki....."
"Thian Ki.....?? Kau maksudkan, Coa Thian Ki pute ra Coa Siang Lee.."
Gadis itu mengangguk dan menyandarkan mukanya di dada ibunya, menangis.
"Tapi.....mengapa?"
Lie Koan Tek berkata dengan suaranya yang te nang dan sabar.
"Kurasa, sebaiknya kalau Cin Cin menceritakan pengalamannya semenjak meninggalkan Ta-bun-cung kepada ibunya."
Cin Cin kini sudah dapat menguasai hatinya. Kedua matanya merah dan ia memandang kepada Lie Koan Tek.
"Paman......eh, bolehkah aku menyebut ayah.....?"
Baca Juga: Petualang Asmara 5
Baca Juga: Pendekar Bodoh 7