Eps 9 Naga Beracun - Kho Ping Hoo
Baca online Naga Beracun - Kho Ping Hoo
Cersil Naga Beracun - Kho Ping Hoo.
Lie Koan Tek tertawa, tawanya bebas dan keras tanda kelegaan hatinya.
"Ha-ha-ha-ha, tentu saja, Cin Cin. Memang aku ini ayahmu, pengganti ayah kandungmu yang telah tewas."
"Maafkan sikapku tadi, ayah."
"Tentu saja, Cin Cin. Sikapmu tadi tidak dapat kusalahkan, sudahlah sekarang sebaiknya kau ceritakan semua pengalamanmu, setelah engkau tadi mendengar ceritaku dan cerita ibumu."
Cin Cin duduk di atas akar, dekat ibunya dan menggunakan saputangan menghapus air mata dari wajahnya.
"Atas perintah mendiang kakek Coa, aku diantar oleh susiok Lai Kun untuk menjadi murid paman Si Han Beng di Hong-cun. Akan te tapi, ketika kami tiba di kota Ji-goan, paman Lai Kun bertindak curang dan keji. Aku dijualnya kepada seorang mucikari, pemilik rumah pelesir Ang-hwa."
"Jahanam Lai Kun.........!!"
Ibunya berseru dan mengepal tinju.
"Kalau aku tahu hal itu, ketika aku berhadapan dengannya, te ntu sudah kucekik le hernya..!"
"Tenanglah, ibu. Paman Lai Kun sekarang sudah te was."
Ibunya memandang kepadanya.
"Kau...... kau membunuhnya?"
Cin Cin tersenyum dan menggele ng kepala.
"Aku datang berkunjung ke sana dan melihat dia menjadi ketua Hek-houw-pang. Aku hanya membongkar rahasianya, menceritakan kepada semua orang apa yang dia lakukan te rhadap diriku, dan dia merasa malu lalu membunuh diri sendiri."
"Aahhh.........kasihan isteri dan anak-anaknya,"
Kata Liu Hwa.
"Lalu bagaimana kelanjutan ceritamu, Cin Cin?"
Cin Cin menceritakan pengalamannya ketika dipaksa tinggal di rumah pelesir Ang-hwa, betapa ia berusaha melarikan diri ketika ia dijual kepada seorang bangsawan, betapa ia dikejar-kejar tukang-tukang pukul, kemudian ditolong oleh seorang wanita sakti yang mengambilnya sebagai murid.
"Siapakah wanita sakti yang menjadi gurumu itu?"
Tanya ibunya.
"Subo adalah Tung-hai Mo-li Bhok Sui Lan."
"Ahhhh!"
Lie Koan Tek berseru kagum.
"I a seorang tokoh kangouw yang amat lihai, datuk dari timur!"
"Selama belasan tahun aku tekun berlatih ilmu silat dari subo. Kemudian, subo menyuruh aku turun gunung karena menganggap pelajaranku sudah tamat dan aku mendapat tugas untuk mencari dua orang musuh subo dan membunuhnya. Aku lalu mencari musuh pertama suboku, yaitu Pangeran Cian Bu Ong."
"Ahh.........!"
Lie Koan Tek berseru kaget.
Juga isterinya te rkejut karena Liu Hwa sudah mendengar dari suaminya bahwa pangeran Kerajaan Sui yang dahulu menyuruh serbu He k-houw-pang adalah Cian Bu Ong.!
"Kenapa, ibu?
Ayah?
Kenapa kalian kaget mendengar nama Cian Bu Ong?"
"I ngatkah engkau akan ceritaku tadi bahwa aku dan beberapa orang yang lihai dibebaskan dari hukuman dan diharuskan membantu seorang pangeran, bahkan pangeran itu menyuruh kami menyerbu He k-houw-pang? Pangeran itu adalah Cian Bu Ong!"
"Hemm, sungguh kebetulan sekali. Kalau begitu, Cian Bu Ong juga musuh He k-houw-pang, musuh kita, ibu."
"Akan tetapi dia sakti sekali, Cin Cin. Berhasilkah engkau membunuhnya?"
Lie Koan Tek bertanya, penuh kagum. Kalau Cin Cin mampu mengalahkan Cian Bu Ong, berarti puteri tirinya ini memang luar biasa lihainya. Akan te tapi Cin Cin menggeleng kepalanya.
"Dia memang lihai, akan te tapi agaknya merasa bersalah te rhadap subo, maka dia sengaja mengalah. Agaknya aku pasti akan dapat membunuhnya kalau saja tidak dihalangi oleh Thian Ki."
Ketika mengucapkan nama itu, wajah Cin Cin mengeras dan matanya berkilat.
"Apa katamu? Thian Ki, putera Coa Siang Lee dan Sim Lan Ci itu malah membela Cian Bu Ong musuh besar kita, juga musuh besarnya sendiri!"
Kata Liu Hwa terheran-heran.
"Bahkan le bih dari itu, ibu. Thian Ki telah menjadi putera Cian Bu Ong, dan ibunya te lah menjadi isteri bekas pangeran itu."
"Wahhhh......?? Aneh sekali! Sungguh luar biasa sekali!"
Seru Liu Hwa, s ukar membayangkan hal itu dapat te rjadi.
Kalau ia menjadi isteri Lie Koan Tek, biarpun pendekar Siauw-lim-pai ini pernah membantu Cian Bu Ong, adalah karena ternyata bahwa Lie Koan Tek bukan penjahat dan tidak membunuhi orang-orang He k-houw-pang, bahkan menolongnya.
Akan te tapi Pangeran Cian Bu Ong?
Dia yang menyuruh anak buahnya menghancurkan He k-houw-pang sehingga akibatnya menewaskan pula Coa Siang Lee, dan isteri Siang Lee itu malah menjadi isteri pangeran itu?
"Dan Coa Thian Ki yang membela Pangeran Cian Bu Ong membuntungi tangan kirimu, Cin Cin?"
Tanya Lie Koan Tek yang juga merasa terheran-heran. Cin Cin menggeleng kepalanya dan alis nya berkerut ketika ia menunduk dan memandang kepada ujung le ngan kirinya.
"Dia mencegah aku membunuh Cian Bu Ong, sehingga te rjadi perkelahian antara dia dan aku. Thian Ki yang menjadi anak tiri dan murid Cian Bu Ong, lihai bukan main. Akan te tapi aku berhasil mencengkeram pundaknya dengan tangan kiriku. Seketika, tangan kiriku keracunan hebat sampai menjadi hitam dan Thian Ki menggunakan pedangnya untuk membuntungi tanganku sebatas pergelangan. Katanya.......kalau tidak dia buntungi tanganku, racun akan menjalar naik dan aku akan te was tanpa ada obat yang dapat menyembuhkannya."
"Ahhh, mengerikan!"
Kata Lie Koan Tek.
"Bagaimana mungkin engkau mencengkeram pundaknya malah engkau yang keracunan?"
"Ayah, Thian Ki adalah seorang tok-tong (anak beracun), hal ini kuketahui kemudian. Di tubuhnya mengeram racun yang amat hebat sehingga siapa saja yang memukul atau mencengkeramnya akan keracunan sendiri tanpa ada obat yang mampu menyembuhkannya."
"Aku ingat sekarang!"
Kata Liu Hwa.
"Ibunya, Sim Lan Ci, adalah puteri Ban-tok Mo-li, ahli racun yang tiada duanya di dunia persilatan. Tentu neneknya itulah yang membuat Thian Ki jadi seorang tok-tong."
"Bukan main anak itu,"
Kata Lie Koan Tek te rmenung.
"Sudah menjadi tok-tong, menjadi anak tiri dan murid Cian Bu Ong, te ntu dia menjadi seorang yang amat hebat. Baru memukulnya saja sudah mendatangkan bahaya maut bagi yang memukulnya! Akan sulit mencari orang yang akan mampu menandingi pemuda itu."
"Jangan-jangan dia akan menjadi seorang penjahat. Akan berbahaya sekali kalau begitu. Mendiang ayahnya, Coa Siang Lee, adalah seorang pendekar dan ibunya, biarpun pute ri Ban-tok Mo-li, namun bukan seorang wanita jahat."
"Hemm, setelah menjadi seorang tok-tong, sadar akan kekuataan dalam tubuhnya, dan menjadi murid Cian Bu Ong yang sakti dan kejam, memang ada kecondongan bagi pemuda itu untuk menjadi jahat. Yang jelas, Cin Cin telah menjadi korban anak beracun itu, dan kehilangan tangan kirinya."
Liu Hwa mengamati wajah puterinya dan Cin Cin menunduk, menarik napas panjang.
"Cin Cin, apakah engkau mendendam kepada Thian Ki?"
Gadis itu kembali menghela napas panjang dan menggeleng kepalanya.
"Sesungguhnya ibu, ketika aku kehilangan tangan kiri, aku menjadi berduka sekali dan merasa sakit hati. Akan tetapi, aku merasa yakin bahwa Thian Ki bukanlah orang jahat. Justru dia membuntungi tangan kiriku untuk menyelamatkan nyawaku, dan dia melakukannya secara te rpaksa sekali. Bahkan tangan kiriku keracunan bukan karena dia menyerangku, melainkan karena aku yang mencengkeram pundaknya. Aku tidak dapat menyalahkan dia, ibu. Akan te tapi, bagaimanapun juga, aku menjadi buntung karena dia, disengaja atau tidak, maka selalu ada dendam te rkandung dalam hatiku. Sekali waktu, entah kapan, aku akan membalas semua ini, dan mudah-mudahan aku akan dapat membuntungi tangan kirinya, baru akan puas rasa hatiku dan tidak akan merasa penas aran lagi."
Diam-diam Liu Hwa merasa ngeri.
Hampir ia tidak dapat mengenal puterinya yang dahulu merupakan seorang anak yang periang dan berhati le mbut.
Sekarang, ada sesuatu yang membuatnya merasa ngeri.
Pute rinya itu kini berwatak keras dan terdapat sesuatu yang dingin.
Lie Koan Tek menarik napas panjang.
"Me ndengarkan penuturanmu, akupun merasa ragu apakah benar Thian Ki menjadi seorang pemuda yang kejam dan jahat. Kalau memang engkau menganggap dia tidak bersalah, tidak semestinya kalau engkau mendendam kepadanya, Cin Cin. Seorang gagah tidak pernah mendendam, hanya menentang yang jahat, siapapun dia. Kalau Thian Ki ternyata jahat, sudah sepatutnya kalau engkau menentangnya, akan tetapi kalau ternyata tidak, maka tidak baik kalau engkau mendendam kepadanya."
"Apa yang dikatakan ayahmu benar, Cin Cin. Engkau te ntu masih ingat bahwa ayah kandungmu adalah ketua Hek-houw-pang yang selalu membela kebenaran dan keadilan, juga keluarga ibumu adalah keluarga Coa yang turun te murun menjadi pimpinan He k-houw-pang. Bahkan ayah tirimu ini adalah seorang pendekar Siauw-lim-pai yang te rkenal selalu menentang ketidak-adilan. Engkau keturunan keluarga pendekar, anakku, oleh karena itu, setelah kini memiliki ilmu kepandaian tinggi, sudah sepatutnya kalau engkau bersikap dan bertindak sebagai seorang pendekar wanita sejati."
Cin Cin menghela napa panjang.
"Ibu, biarpun subo adalah seorang datuk yang berwatak aneh dan keras, namun karena sejak kecil aku sudah menerima pendidikan dari ibu dan ayah, maka didikan subo tidak akan mampu membelokkan watak pendekar dari hati dan pikiranku. Akan tetapi aku berhutang budi, bahkan berhutang nyawa kepada subo. Kalau aku tidak membalas budinya, bukankah aku sama saja dengan seorang yang tak mengenal budi, seorang yang rendah budi?"
"Tentu saja, Cin Cin. Sudah sewajarnya, bahkan sudah menjadi kewajibanmu untuk membalas budi kepada subo-mu!"
Kata Lie Koan Tek dan ibunya juga mengangguk.
"Nah, karena memenuhi permintaan su-bo, maka aku mati-matian mencari Cian Bu Ong dan berusaha membunuhnya. Akan te tapi, Thian Ki membela ayah tlrinya yang juga menjadi gurunya dan menghalangi usahaku untuk memenuhi tugas yang diberikan subo kepadaku, yaitu membunuh Cian Bu Ong. Akibat dari perbuatan Thian Ki, walaupun tidak dia sengaja, aku kehilangan tangan kiriku. Ayah dan ibu, tidakkah sudah sepatutnya kalau aku kelak membalas kepada Thian Ki? Dan akupun akan berusaha memenuhi permintaan subo, sekali lagi aku akan berusaha menbunuh Cian Bu Ong!"
"Akan tetapi itu berbahaya sekali, anakku. Engkau tahu sendiri betapa lihainya bekas pangeran itu! Apa lagi muridnya, Thian Ki pasti akan selalu membelanya!"
"Aku tidak takut, ibu. Dan selain itu, masih ada sebuah tugasku lagi yang diperintahkan subo, yaitu membunuh seorang lain yang menjadi musuh subo."
"Ah, betapa berat tugasmu, disuruh membunuh orang-orang pandai. Siapa lagi yang dimusuhi oleh subomu itu, Cin Cin?"
"Orang ke dua yang harus kucari dan kubunuh bernama Can Hong San........."
"Ahh! Dia..........??"
Lie Koan Tek berseru kaget, juga Liu Hwa terkejut mendengar disebutnya nama itu.
"Ayah, ibu, kalian sudah mengenal nama itu?"
"Me ngenal? Tentu saja!"
Kata Lie Koan Trek heran.
"Can Hong San adalah seorang di antara mereka yang dikeluarkan dari penjara oleh Cian Bu Ong, dan kemudian menjadi pembantunya pula. Dialah seorang di antara kami yang menyerbu Hek-houw-pang, dan dialah yang melakukan banyak pembunuhan di antara keluarga Hek-houw-pang."
"Bahkan dia hampir saja mencelakai aku, kalau saja tidak muncul ayahmu ini yang menolongku dari tangannya,"
Kata Liu Hwa.
"Bagus! Kalau begitu, sungguh kebetulan sekali subo menyuruh aku membunuhnya. Dia jelas orang yang jahat!"
Kata Cin Cin penuh semangat.
"Dapatkah ayah dan ibu memberitahu, di mana aku dapat mencari Can Hong San?"
Lie Koan Tek menghela napas panjang.
"Aah, Cin Cin, bagaimanapun juga, subomu itu sungguh tega memberi tugas yang demikian berat kepadamu. Seorang Cian Bu Ong saja sudah merupakan lawan yang amat berat dan sukar untuk dibunuh, dan engkau masih harus menghadapi Can Hong San. Dia lihai bukan main! Dia adalah putera mendiang Cui-beng Sai-kong. Dia lihai, jahat dan licik sekali. Bahkan mungkin dia le bih berbahaya dibandingkan Cian Bu Ong yang setidaknya memiliki keaangkuhan dan kegagahan. Kami sendiri tidak tahu di mana dia sekarang berada. Tidak akan mudah mencari orang yang licik se perti iblis itu."
"Akan tetapi, kenapa gurumu memusuhi kedua orang itu, Cin Cin? Sepanjang pendengaranku. Tung-hai Mo-li adalah seorang datuk besar di wilayah timur. Bagaimana ia memusuhi orang-orang yang dapat dibilang segolongan, walaupun Cian Bu Ong berasal dari keluarga kerajaan?"
"Riwayat subo dengan Cian Bu Ong amat menyedihkan, ibu. Mereka ketika muda saling mencinta dan akan menjadi suami isteri, akan tetapi tiba-tiba Cian Bu Ong memutuskan cinta ketika mengetahui bahwa subo datang dari keluarga golongan hitam. Hal ini menghancurkan perasaan hati subo sehingga sejak itu, sampai sekarang, subo tidak mau menikah, bahkan tidak mau berdekatan dengan pria. Itulah dendam subo kepada Cian Bu Ong. Adapun mengenai Can Hong San, orang itu dahulu membunuh suheng dari subo. Hanya itu yang kuketahui. Aku tidak banyak bertanya dan hanya akan mentaati pesan subo yang sudah melimpahkan budi kepadaku."
Suami isteri itu saling pandang.
Mereka tidak dapat menyalahkan Cin Cin, bahkan mereka merasa bangga karena Cin Cin te rnyata seorang murid yang se tia membela gurunya sehingga dalam melaksanakan tugas yang diperintahkannya, ia sampai kehilangan tangan kiri.
Dan inipun tidak membuatnya mundur, dan ia masih bertekad untuk mencari dan membunuh kedua orang musuh gurunya itu!
"Mari kita pulang dulu, Cin Cin.
Aku amat merindukanmu dan rasanya tidak akan ada habisnya kita bicara.
Nanti setelah berada di rumah, kita bicarakan te ntang tugasmu itu dan ayahmu yang mempunyai banyak hubungan di dunia kang-ouw, te ntu akan dapat membantumu mencari tahu di mana adanya Can Hong San itu."
Cin Cin menyetujui.
Iapun sejak dahulu amat merindukan ibunya, dan mengingat akan sikapnya ketika bertemu ibunya dan ayah tirinya, ia merasa malu sendiri dan ia harus dapat menyenangkan hati ibunya untuk menebus sikapnya yang menyakiti hati itu.
Berangkatlah mereka bertiga meninggalkan tempat itu.
-ooo0dw0ooo-De ngan alis berkerut dan wajah muram, The Siong Ki memasuki kota Lok-yang.
Biarpun kota ini amat indah dan ramai, namun hati Siong Ki tidak bergembira.
Dia masih teringat akan kegagalannya membunuh Lie Koan Tek karena munculnya Cin Cin.
Tak dis angkanya bahwa Cin Cin kini demikian lihainya.
Dia yang telah digemble ng oleh Naga Sakti Sungai Kuning Si Han Beng dan iste rinya, agaknya tidak akan mudah dapat mengalahkan gadis yang tangan kirinya buntung itu!
Kalau menghadapi Cin Cin sendiri saja belum tentu dia menang, apalagi kalau dia dikeroyok oleh Cin Cin, ibunya dan Lie Koan Tek.
Hatinya mengkal, akan te tapi dia menghibur sendiri.
Bukankah suhu dan subonya berpesan agar dia tidak mendendam kepada Lie Koan Tek?
Juga, melihat sikap Lie Koan Tek dan jawabannya, dia dapat percaya bahwa Lie Koan Tek bukan pembunuh ayahnya, walaupun ikut menyerbu He k-houw-pang.
Biarlah, sekali ini dia boleh melepaskan Lie Koan Tek.
Lain kali kalau kebetulan dia bertemu lagi dengan pendekar Siauw-lim-pai itu, dia akan menantangnya lagi.
Tidak perlu sampai membunuhnya, asal sudah mengalahkannya saja dia sudah puas.
Sekarang dia harus mulai dengan tugas yang diberikan gurunya kepadanya, yaitu mencari puteri gurunya yang bernama Sie Hong Lan dan yang diculik oleh seorang wanita bernama Kwa Bi Lan.
Dia merasa heran sekali kepada suhu dan subonya.
Ada seorang wanita menculik pute ri mereka, anak tunggal mereka, dan memisahkan mereka dari anak mereka selama enambelas tahun, dan mereka berdua tidak mendendam kepada si penculik!
Bahkan memesan kepadanya agar tidak memusuhi Kwa Bi Lan itu, cukup menemukan kembali Sie Hong Lan!
Kenapa suho dan subonya yang demikian gagah perkasa itu menjadi orang-orang demikian le mah?
Dia sendiri berpendapat lain.
Penculik itu pantas diberi hajaran!
Siong Ki memasuki sebuah rumah makan dan setelah makan kenyang dan minum arak, kemurungannya mereda dan kegembiraannya timbul kembali.
Sudah beberapa bulan dia meninggalkan rumah gurunya dan selama ini, tidak banyak yang dia lakukan.
Mengunjungi makam ayahnya di dusun Ta-bun-cung, berte mu dengan para pimpinan dan anggota He k-houw-pang, melihat betapa Lai Kun membunuh diri dan menolak ketika dia he ndak diangkat menjadi ketua He k-houw-pang.
Kemudian pertemuannya dengan Lie Koan Tek dan bekas isteri ketua Hek-houw-pang, ibu Cin Cin, bertanding dan hampir mengalahkan mereka ketika muncul Cin Cin yang membuat dia te rpaksa melarikan diri.
Tidak banyak!
Dan tidak ada yang dapat membuat gurunya terse nyum bangga.
Beberapa orang pengemis yang tadinya berkeliaran ke depan toko-toko dan mengacungkan tangan meminta sumbangan dari mereka yang berlalu lalang, kini berdiri di depan rumah makan.
Seperti biasa, mereka mengharapkan dermaan para tamu rumnah makan, dan ada yang mengharapkan sis a makanan yang tidak dimakan habis para tamu dan sisa itu biasanya ole h pelayan rumah makan dibagi-bagikan kepada mereka.
Bermacam-macam cara pengemis untuk mendapatkan hasil, menarik perhatian dan rasa iba orang lain sehingga orang-orang itu akan mengulurkan bantuan dan memberi sedekah kepada mereka.
Ada yang dengan suara merengek-rengek merintih menceritakan bahwa mereka kelaparan dan sejak kemarin belum makan.
Ada yang entah dari mana, dapat meminjam seorang anak kecil yang digendongnya, dan ada pula yang demikian kejamnya, entah anak sendiri atau anak pinjaman, mencubit anak itu, sehingga anak itu menangis dan ia mengatakan bahwa anak itu kelaparan.
Ada pula yang tiba-tiba saja menjadi pincang, menjadi buta dan sebagainya!
Semua itu adalah usaha untuk menarik perhatian dan belas kasihan, baik dengan sungguh-sungguh, atau hanya pura-pura belaka.
Bahkan ada lagi yang menggunakan cara yang le bih buruk, yaitu bukan memancing belas kasihan, melainkan memancing kejijikan para tamu.
Mereka ini sengaja memakai pakaian kotor dan berbau busuk, bahkan ada yang sengaja membuka dan memperlihatkan luka memborok, semua ini sengaja dilakukan untuk menimbulkan rasa jijik sehingga para tamu cepat-cepat memberi sedekah agar orang yang menjijikkan itu segera pergi!
Ketika tiga orang pengemis lain datang ke depan rumah makan, semua pengemis dengan bermacam gaya itupun cepat-cepat pergi dengan sikap ketakutan.
Seorang di antara tiga orang pengemis ini menghardik.
"Jembel-jembel busuk, hayo pergi, atau kuremukkan tulang-tulang kaki kalian!"
Sungguh lucu.
Tiga orang itu berpakaian sebagai pengemis pula, tambal-tambalan dengan dasar warna hitam.
Mereka sendiri pengemis, akan tetapi mereka memaki pengemis lain sebagai je mbel-je mbel busuk!
Akan tetapi memang ada perbedaan menyolok.
Tiga orang ini adalah laki-laki yang usianya antara tigapuluh sampai empatpuluh tahun, bertubuh sehat, bahkan nampak kokoh kuat!
Dan pakaian merekapun sama, yaitu dasarnya hitam akan te tapi te rdapat tambalan di sana-sini.
Mudah dilihat bahwa tambalan itu bukan untuk menambal bagian yang ro bek, karena pakaian hitam itu te rbuat dari kain yang masih baik dan kuat.
Tambal-tambalan itu memang disengaja dibuat sebagai tanda bahwa mereka adalah golongan pengemis.
Inilah tiga orang di antara para pengemis yang mempunyai perkumpulan!
Mereka adalah para anggota sebuah kai-pang (perkumpulan pengemis) terkenal di Lok-yang dan sekitarnya, yaitu He k I Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Baju Hitam).
Perkumpulan ini berpengaruh sekali karena mereka memiliki anggota yang le bih dari tigaratus orang jumlahnya, suka melakukan pengeroyokan dan para anggotanya juga rata-rata menguasai ilmu silat.
Biarpun namanya pengemis, namun mereka itu seringkali mengandalkan kekerasan memaksakan kehe ndak dan kalau sudah begitu, mereka itu lebih pantas disebut perampok dari pada pengemis !
Siong Ki masih minum arak dan hatinya mulai mendapatkan kembali kegembiraannya.
Dia membawa benal uang cukup banyak dari gurunya, sehingga dapat memesan makanan apa saja yang disukainya.
Dia tidak tahu bahwa sejak tadi seorang wanita memasuki rumah makan itu seorang diri.
Wanita ini cantik dan genit.
Melihat wajah dan bentuk tubuhnya, te ntu semua orang mengira bahwa usianya kurang le bih duapuluh lima tahun saja.
Mukanya lonjong dengan kulit yang putih mulus, matanya jeli dan mulutnya selalu dihias senyuman genit, tubuhnya ramping dengan pinggul besar.
Wanita ini bukan lain adalah Bi Tok Siocia.
Seorang wanita petualang yang lihai, yang sebetulnya sudah berusia empatpuluh tahun, akan te tapi karena pandainya bersolek, ditambah lagi pengetahuannya te ntang racun dan obat-obatan, ia masih kelihatan muda dan cantik menarik.
Kita pernah bertemu Bi Tok Siocia ketika Cin Cin mengamuk di rumah pelesir Ang-hwa, di kota Ji-goan.
Rumah pelesir Ang-hwa yang dipimpin oleh Cia Ma itu pernah dikuasai oleh Bi Tok Sio-cia ini, yang mempergunakan kepandaian dan juga anak buahnya, untuk menculik dan membujuk gadis -gadis dusun untuk dijadikan pelacur.
Kedatangan Cin Cin yang mengobrak-abrik rumah pelesir ini akhirnya memaksa Bi Tok Siocia melarikan diri dan banyak anak buahnya menjadi korban kemarahan Cin Cin, dibuntungi sebelah tangan mereka.!
Bi Tok Siocia mengalah dan lari, bukan hanya karena ilmu kepandaian Cin Cin yang hebat membuatnya merasa jerih, akan tetapi karena ia tahu bahwa Cin Cin murid Tung-hai Mo-li, ia tidak berani memusuhi murid datuk timur yang disegani ayah angkatnya itu.
Ayah angkatnya adalah Ouw Kok Siang, majikan bukit Liong-san.
Setelah meninggalkan rumah pelesir Ang-hwa di Ji-goan, Bi Tok Siocia (Nona Beracun Cantik) Ouw Ling pergi ke Lok-yang.
Petualangannya di Ji-goan sudah berakhir dan kini ia mencari pengalamanan baru, sesuai dengan wataknya yang selalu haus akan petualangan.
Ketika memasuki rumah makan itu, duduk dan memesan makanan, pandang matanya melihat Siong Ki dan ia segera merasa te rtarik sekali.
Bi-tok Siocia memang seorang wanita yang selalu haus akan pria yang tampan, seorang yang mata keranjang dan cabul.
Dan Siong Ki memang seorang pemuda yang memiliki daya tarik cukup besar.
Tubuhn ya tinggi te gap, wajahnya tampan dengan matanya yang bersinar tajam dan mulut yang selalu tersenyum sinis.
Dagunya te bal membayangkan kekuatan, dan tubuh yang tinggi tegap itupun nampak kokoh.
Bi-tok Siocia Ouw Ling yang baru saja mengalami kegagalan dan kekecewaan di Ji-goan, kini haus akan hiburan dan ia mulai mengincar pemuda tampan yang duduk seorang diri itu dengan penuh perhatian.
Bukan han ya suara saja yang mengandung getaran yang bergelombang dan dapat ditangkap oleh orang lain dari jarak jauh, juga pandang mata mengandung getaran kuat bagi orang yang memiliki kepekaan.
Kalau kita memandang seseorang dari samping atau belakang dengan penuh perhatian dan te rus-menerus, suatu saat orang yang kita pandang itu akan menoleh ke arah kita tanpa dia sadari sendiri, dan itulah akibat dari getaran yang terkirim melalui pandang mata kita dan akhimya te rtangkap oleh orang yang kita pandang, walaupun di bawah sadar dan membuat dia menengok.
Siong Ki adalah seorang yang banyak berlatih samadhi dan sin-kang dan ia memang selalu berlatih untuk mempertajam kepekaannya.
Kini ada orang memandang kepadanya penuh perhatian, tentu saja sejak tadi dia telah dapat menangkap dan diapun pernah mengerling ke kanan dan melihat bahwa di sana duduk seorang wanita cantik yang mengamatinya dari jauh.
Akan tetapi, dia tidak menanggapi.
Oleh gurunya, dia dididik agar bersikap sopan dan pandai membawa diri sebagai seorang pendekar sejati, juga seorang yang banyak membaca dan mengenal kesusilaan dan kebudayaan.
Tiga orang pengemis anggota Hek I Kai-pang yang tadi telah mengusir para pengemis lain, kini mengamati ke dalam rumah makan dan ketika mereka itu melihat bahwa di rumah makan itu duduk belasan orang tamu, seorang di antara mereka memberi isyarat dan merekapun masuk ke dalam rumah makan.
Para pelayan yang melihat ini, tidak ada yang berani melarang walaupun mereka mengerutkan alis dan merasa tidak senang.
Tentu saja menyebalkan sekali kalau ada tiga orang pengemis begitu saja memasuki rumah makan, bukan untuk membeli makanan melainkan untuk mengemis kepada para tamu.
Dan para tamu agaknya adalah orang-orang Lok-yang.
Mereka mengenal anggota pengemis Hek I kai-pang, maka tanpa banyak bantah lagi, mereka dengan suka rela mengeluarkan uang dari saku baju dan memberi derma kepada tiga orang pengemis itu yang mengacungkan sebuah kaleng bundar.
Tak seorangpun di antara para tamu menolak, dan bukan pula uang receh kecil yang dimasukkan ke dalam kaleng itu.
Sejak mereka memasuki rumah makan, Siong Ki telah melihat mereka.
Dia merasa penasaran dan heran sekali mengapa ada tiga orang berpakaian pengemis memasuki rumah makan dan kehe ranannya meningkat ketika tiga orang pengemis itu menerima uang dari para tamu seperti petugas-petugas pemungut pajak saja, sama sekali bukan seperti orang minta-minta.
Dan melihat betapa sikap mereka itu keren, dengan alis berkerut dan mata melotot, diapun mengerti bahwa mereka tentulah jagoan-jagoan berpakaian pengemis yang suka memaksakan kehe ndak, dan para tamu itu takut membuat keributan maka memberi uang tanpa banyak cakap lagi.
Akhirnya, setelah berkeliling, hanya tinggal Siong Ki dan Bi-tok Sio-cia saja yang belum mereka datangi.
Kini mereka tiba di meja Siong Ki dan seperti yang telah mereka lakukan pada para tamu di meja lain, seorang di antara mereka datang memegang kaleng itu menyodorkan kalengnya ke arah Siong Ki, sedangkan dua orang yang lain memandang kepada Siong Ki dengan alis berkerut dan mata melotot!
Siong Ki balas memandang mereka bertiga.
Dia sudah berhenti makan, dan dengan sikap yang tidak mengerti, dia lalu bertanya, suaranya tenang dan halus.
"Kalian ini mau apa?"
Siong Ki mengerling ke arah wanita tadi dan melihat bahwa wanita itu memandang kepadanya dan wanita itu seperti te rsenyum geli.
Pengemis yang memegang kale ng, menggerakkan kalengnya sehingga terdengar bunyi uang berkerincingan di dalam kaleng itu.
Seorang pengemis yang melotot dan berhidung besar, berkata dengan suara keras.
"Hemm, engkau tentu bukan orang sini. Sobat, kami minta sumbangan."
Orang ke dua yang matanya sipit sekali hamper te rpejam, menyeringai ketika berkata.
"Karena engkau tamu dari luar kota, harus memberikan dua kali lipat!"
Siong Ki tidak ingin melihat keributan di situ, maka diapun mengambil sebuah uang receh kecil dan memasukkannya ke dalam kaleng sambil berkata.
"Nah, ini sedekah dariku, harap cepat pergi dan jangan menggangguku!"
Si pemegang kaleng menurunkan kalengnya dan melihat isinya.
Ketika melihat uang receh kecil itu, dia cemberut, lalu mengambil uang itu, dijepit di antara jari telunjuk dan jari te ngah, kemudian dia berkata galak.
"Sobat, jangan main-main dengan kami! Kami adalah tiga orang anggota He k I Kai-pang. De ngan memberi recehan kecil, engkau menghina kami!"
Orang yang mulutnya le bar ini menggerakkan tangan yang menje pit uang recehan dan uang itupun meluncur ke atas meja Siong Ki dan menancap sampai hampir seluruhnya ke dalam papan meja!
"Hayo berikan dua potong uang perak!"
Kata si hidung bes ar dengan sikap mengancam.
"Masih untung teman kami tidak melempar uang recehan kecil itu ke dalam kepalamu!"
Kata pula si mata sipit.
Siong Ki masih tersenyum, akan te tapi senyumnya mengejek dan dingin, sedangkan sinar matanya mulai mencorong marah.
Dengan gerakan seenaknya, dia mengusap permukaan meja dan kedua jari tangannya telah berhasil mencabut uang recehan yang menancap ke atas meja.
Dia mengangkat uang tembaga itu ke atas dan berkata.
"Agaknya kuberi sepotong uang, kalian menjadi tidak puas karena bingung untuk membagi. Nah, kubagi tiga untuk kalian masing-masing sepotong!"
Berkata demikian, Siong Ki menggunakan jari tangannya untuk mematah-matahkan mata uang itu menjadi tiga potong, seolah-olah uang tembaga itu hanya terbuat dari daun kering saja.
Melihat ini, tiga orang pengemis itu te rbelalak.
Akan tetapi mereka adalah orang-orang kasar yang biasanya mau menang sendiri, apalagi mengandalkan kepandaian dan kekuatan mereka yang suka mengeroyok, maka menghadapi pertunjukan kekuatan itu, mereka bahkan menjadi marah.
"Bagus! Engkau ingin memamerkan sedikit kepandaianmu kepada kami? Jangan salahkan kami kalau kami mempergunakan kekerasan!"
Kata si hidung besar dan mereka bertiga bersiap untuk melakukan pengeroyokan. Pada saat itu, terdengar suara tawa merdu dari samping, disusul suara wanita.
"Hi-hik, agaknya He k I Kai-pangcu (Ketua Perkumpulan Pengemis Baju Hitam) tidak becus mengurus anak buahnya, hingga kini anak buah He k I Kaipang bukan lagi para pengemis , melainkan para perampok yang tak tahu malu! Cih, sungguh memualkan perutku!"
Tentu saja tiga orang pengemis itu menjadi marah sekali.
Kemarahan mereka kepada Siong Ki le nyap karena ada orang lain yang mengucapkan penghinaan hebat kepada mereka, bahkan kepada perkumpulan dan ketua mereka.
Cepat mereka memutar tubuh menghadapi wanita yang mengeluarkan kata-kata tadi, sedangkan Siong Ki tahu bahwa mengeje k itu adalah wanita cantik yang sejak tadi memperhatikan dia.
Diapun menengok dan memandang dan dia merasa khawatir.
Wanita itu cantik je lita dan tidak kelihatan seperti wanita kang-ouw yang berilmu, bagaimana berani bersikap menghina tiga orang pengemis itu.
Diam-diam diapun bersiap untuk melindungi kalau-kalau wanita itu te rancam bahaya.
Si hidung besar memandang kepada wanita itu dan diapun merasa heran.
Wanita itu cantik jelita, berani sekali menghina dia dan dua orang te mannya!
"Apa kau bilang tadi?"
Bentaknya, karena dia masih belum percaya kalau wanita cantik ini yang tadi menghina mereka.
Wanita itu, yang belum selesai makan, menggunakan sumpitnya menjepit sepotong sayur hijau dan memasukkan ke mulutnya, mengunyahnya dengan gerakan mulut yang manis sebelum menjawab.
Nampaknya tenang sekali.
"Aih, kalian belum mendengar apa yang kukatakan tadi? Sayang......."
Ia lalu menuding mereka satu demi satu.
"hidungmu saja besar, dan yang itu matanya te rlalu sipit, dan yang ke tiga perutnya saja yang le bar, akan te tapi agaknya telinga kalian bertiga terlalu sempit dan agak tuli sehingga tidak mendengar apa yang kukatakan tadi. Nah, dengar baik-baik, aku mengatakan bahwa kalian ini hanyalah pencoleng-pencoleng kecil yang mengenakan pakaian pengemis, dan bahwa kalian bertiga tidak tahu malu, mengotorkan tempat ini dan bahwa ketua kalian tidak becus mengajar kalian! Nah, sudah dengar sekarang?"
Kemarahan tiga orang anggota He k I Kai-pang berkobar, akan te tapi pada saat itu pemilik rumah makan te rgopoh-gopoh lari menghampiri dan diapun memberi hormat kepada tiga orang pengemis itu dengan membungkuk dalam.
"Harap sam-wi (anda bertiga) mengingat hubungan baik antara kami dengan ketua sam-wi dan tidak mengadakan perkelahian di sini sehingga akan merusak tempat kami. Mendengar ucapan itu, tiga orang pengemis saling pandang, dan si hidung besar memberi is yarat kepada dua orang kawannya untuk pergi.
"Kami akan menunggumu di luar untuk membuat perhitungan!"
Katanya dengan nada mengancam kepada wanita cantik itu.
Mereka lalu melangkah dengan wajah kemerahan karena amarah yang ditahan-tahan.
Sikap dan ucapan pemilik rumah makan tadi menunjukkan bahwa dia tentu seorang penderma yang mengenal baik ketua mereka, maka kalau sampai mereka berkelahi dan merusak perabot rumah makan kemudian si pemilik rumah makan melaporkan, te ntu mereka akan mendapat te guran dan hukuman.
Siong Ki merasa heran.
Bagaimana wanita itu seberani itu menghina tiga orang pengemis tadi yang sudah jelas merupakan orang-orang kasar dan jahat?
Dia merasa tidak enak.
Bagaimanapun juga tiga orang pengemis itu tadi menghina dia, wanita itu mencampuri untuk membelanya.
Kalau sampai nanti wanita itu diganggu, bagaimana ia dapat mendiamkan saja?
Biarpun dia sudah selesai makan, dia tidak segera membayar harga makanan dan pergi, melainkan menanti sampai wanita itu selesai makan dan membayar, diapun membayar dan setelah wanita itu bangkit dan keluar, baru dia keluar pula dari rumah makan itu.
Wanita itu hanya mengerling dan te rsenyum saja kepadanya, tanpa mengeluarkan kata-kata.
Siong Ki semakin heran dan juga kagum.
Dari dalam rumah makan saja sudah nampak betapa tiga orang pengemis tadi menanti di luar rumah makan dan banyak orang bergerombol di sana, tanda bahwa banyak yang hendak jadi penonton, atau mungkin tiga orang pengemis itu mengumbar suara mengatakan bahwa mereka hendak menghajar seorang wanita yang berani menghina mereka, sehingga banyak orang ingin menonton.
Akan te tapi, wanita itu sama sekali tidak kelihatan takut, bahkan te rsenyum-senyum manis.
Setelah wanita itu tiba di luar, suasana menjadi ramai dan te gang, dan Siong Ki menyelinap di antara para penonton, siap untuk melindungi wanita itu.
Akan tetapi, wanita itu dengan langkah yang te nang dan berani, menghampiri tiga orang pengemis yang sudah menanti di situ dengan sikap bengis, sedangkan para penonton sudah mengatur jarak agar tidak terlalu dekat dengan mereka.
"Aih, kalian masih berada di sini menantiku? Bagus, memang kalian ini harus berlutut minta ampun dulu kepadaku, baru boleh pergi!"
Kata wanita itu dan Siong Ki diam-diam mengeluh.
Wanita ini ternyata seorang yang amat berani menghina orang sehingga mendekati sombong!
Sama dengan mencari penyakit!
Andaikata ia seorang laki-laki, tentu Siong Ki tidak akan mau memperdulikannya lagi dan biar saja manusia sombong itu berkelahi melawan tiga orang pengemis sombong.
Akan tetapi ia seorang wanita dan dia harus membelanya.
Sikap memandang rendah dan ucapan meremehkan dari wanita itu membuat tiga orang pengemis tak mampu menahan kesabaran mereka lagi.
Si mulut le bar sudah melangkah maju dengan kedua tangan dikepal.
"Perempuan sombong, kurontokkan gigimu!"
Bentaknya sambil menyerang dengan tamparan ke arah mulut wanita itu.
Akan tetapi, dengan sekali gerakan saja, wanita itu menarik tubuh atas ke belakang sehingga tamparan itu mengenai angin, dan iapun te rsenyum le bar memperlihatkan deretan giginya yang rapi dan putih.
"Hemm, sayang gigiku yang rapi ini kaurontokkan. Kalau gigimu yang je lek dan kotor itu, patut dirontokkan."
Tiba-tiba saja, kaki wanita itu sudah bergerak cepat seperti kilat menyambar dan diangkat tinggi ke atas.
"Krakkk..........!!"
Mulut itu dihantam sepatu dan rontoklah beberapa buah gigi si mulut lebar dan bibirnya pecah-pecah berdarah.
Dia te rjengkang dan mengusap darah dari mulutnya.
Sedangkan para penonton menjadi terkejut dan kagum.
Juga Siong Ki diam-diam mencela diri sendiri yang kurang waspada, memandang rendah wanita cantik itu yang te rnyata sama sekali tidak membutuhkan perlindungan darinya, kalau hanya menghadapi gangguan pengemis mulut besar itu saja.
Akan te tapi kini pengemis yang roboh itu sudah meloncat bangun dan mencabut sebatang golok yang tadinya diselipkan di ikat pinggang.
Dua orang pengemis lainnya juga sudah mencabut golok mereka dan kini tiga orang itu menghadapi wanita cantik itu dari depan, kanan dan kiri.
Melihat ini, kembali Siong Ki merasa khawatir dan dia sudah melangkah maju ke depan.
"Hemm, kalian ini tiga orang laki-laki mengancam wanita dengan senjata tajam? Sungguh tidak adil, dan sungguh curang, menunjukkan bahwa kalian memang hanya pengecut-pengecut besar yang beraninya hanya main keroyokan!"
Melihat majunya Siong Ki, Bi Tok Siocia te rsenyum manis.
Tadi dalam rumah makan ia sudah melihat betapa pemuda tampan gagah yang menarik perhatiannya itu mematah-matahkan sekeping uang dengan mudah, tanda bahwa dia bukan seorang pemuda biasa.
Dan kini, tepat seperti dugaannya, pemuda itu maju membelanya.
Tentu saja hatinya semakin kagum dan tertarik.
Si hidung besar segera memutar goloknya dan membentak Siong Ki.
"Engkau berani mencampuri berarti sudah bosan hidup!"
Diapun sudah menyerang dengan goloknya, akan te tapi dengan mudah Siong Ki mengelak.
Si Mulut lebar yang kini menjadi si mulut ompong karena giginya rontok, dibantu oleh si mata sipit, sudah menyerang dengan golok mereka, mengeroyok Bi Tok Siocia!
Siong Ki ingin cepat-cepat menjatuhkan si hidung besar agar dia dapat membantu wanita itu.
Maka ketika untuk ke empat kalinya golok menyambar, dia tidak mengelak seperti tadi, melainkan dia bahkan mendahului dengan langkah ke depan, tangannya bergerak menyambut dengan pukulan ke arah pergelangan tangan yang memegang golok, dari samping sedangkan tangan kirinya mendorong dengan te lapak tangan te rbuka ke arah dada lawan.
Si hidung besar tidak mengira bahwa lawan berani menyambut serangannya seperti itu, dan ketika lengannya terkena pukulan tangan kiri lawan, seketika lengan itu menjadi lumpuh dan goloknya te rpental, dan di detik lain, dadanya te rkena hantaman dengan tangan terbuka.
Diapun te rjengkang dan te rbanting roboh, ketika bangkit duduk, dia memegangi dadanya karena dada itu te rasa sesak, sukar bernapas.
Ketika Siong Ki membalik hendak membantu wanita tadi, diapun te rte gun.
Bukan main wanita itu.
Dengan tangan kosong saja, wanita itu bukan hanya mampu menandingi dua orang pengeroyoknya, bahkan kini nampak ia menghajar mereka dengan tendangan-tendangan kakinya.
Dua orang itu dibuat seperti dua buah bola saja, dite ndangi jatuh bangun dan akhirnya mereka tidak mampu melawan lagi, muka mereka bengkak-bengkak dan berdarah karena beberapa kali disambar sepatu wanita itu!
Hanya si mata sipit yang masih dapat berdiri dan te rengah-engah, namun dia memaksa diri memandang wanita itu yang berdiri s ambil bertolak pinggang dan te rse nyum kepadanya.
Lalu dia bertanya.
"Kami mengaku kalah. Siapakah namamu, nona?"
Wanita itu tersenyum mengeje k dan mengerling kepada Siong Ki yang masih memandang kagum.
"Kalian hendak mengadu kepada ketua kalian? Boleh, boleh! Katakan saja bahwa Nona Ouw yang menghajarmu. Nah, pergilah kalian bertiga sebelum berubah pikiranku dan kalian tidak akan dapat kuampuni lagi."
Tiga orang pengemis itu pergi dengan kepala tunduk, dan Bi Tok Siocia segera menghampiri Siong Ki dan mengangkat kedua tangan ke depan dada, dengan sikap ramah dan manis iapun memberi hormat yang segera dibalas oleh Siong Ki.
"Terima kasih atas pertolonganmu, Tai-hiap."
Katanya dengan suara merdu. Disebut tai-hiap (pendekar besar), Siong Ki te rsenyum.
"Harap nona tidak menyebut tai-hiap kepadaku. Engkau sendiri memiliki kepandaian yang hebat, nona. Aku merasa malu telah salah duga sehingga lancang mencampuri urusan itu. Padahal aku tahu sekarang bahwa nona sama sekali tidak memerlukan bantuanku."
"Ah, engkau tidak mengerti, tai-hiap. Aku memang membutuhkan pertolonganmu, membutuhkan bantuanmu. Engkau tidak mengenal siapa Hek I Kai-pang. Mari kita bicara di te mpat sunyi, akan kuceritakan kepadamu, di sini banyak orang dan tidak leluasa."
Siong Ki mengangguk. Memang dia belum mengenal macam apa He k I Kaipang itu, dan mengapa pula wanita yang lihai ini mengatakan bahwa ia membutuhkan bantuannya. Mereka lalu meninggalkan tempat itu.
"Kalau engkau tidak berkeberatan, kita dapat bicara di ruangan dalam rumah penginapan di mana aku bermalam, tai-hiap."
Kata Ouw Ling.
Karena tidak mengenal tempat lain agar mereka dapat bicara, Siong Ki hanya mengangguk.
Ketika melakukan perjalanan menuju ke rumah penginapan yang besar itu, Bi-tok Siocia Ouw Ling berbisik.
"Seperti sudah kuduga, kita dibayangi orang. Mereka te ntulah para anggota He k I Kai-pang. Biarlah, kita pura-pura tidak tahu saja."
Siong Ki melirik dan benar saja.
Ada empat lima orang yang membayangi mereka secara berpencar, bercampur dengan orang-orang yang berlalu lalang di ke dua tepi jalan raya itu.
Setelah mereka memasuki rumah penginapan, Ouw Ling mengajak Siong Ki bicara di ruangan dalam, sebuah ruangan yang memang disediakan untuk para tamu.
Ruangan ini cukup luas dan kebetulan pada saat itu tidak terdapat tamu lain.
"Nah, di sini kita dapat bicara dengan leluasa,"
Kata wanita itu.
"Akan te tapi sebelum itu, Apakah tidak sudah tiba waktunya kita saling berkenalan? Namaku Ouw Ling dan aku berasal dari Liong-san (Bukit Naga)."
Siong Ki menjawab.
"Namaku The Siong Ki dan aku berasal dari dusun Ta-bun-cung."
Karena ia belum tahu pemuda itu te rmasuk golongan apa, maka Ouw Ling tidak bertanya lebih mendalam.
Ia sendiri belum berani mengakui bahwa ia adalah pute ri angkat Ouw Kok Sian, datuk bes ar dan majikan Liong-san.
"Nah, sekarang kita telah berkenalan, The-taihiap............."
"Harap nona jangan menyebut tai-hiap kepadaku, rasanya janggal dan tidak enak."
Ouw Ling te rse nyum manis.
"Baiklah, setelah kita berkenalan, dan melihat bahwa engkau le bih muda dariku, bagaimana kalau aku menyebutmu siauwte (adik) saja dan engkau menyebut aku cici (kakak perempuan)?"
Siong Ki tersenyum.
"Bagaimana engkau tahu bahwa aku le bih muda darimu, karena melihat keadaan dirimu, belum te ntu kalau aku le bih muda."
Siong Ki te ntu saja dapat menduga bahwa wanita itu lebih tua darinya, akan te tapi dia memang pandai membawa diri dan pandai menyenangkan hati orang.
Ucapannya itu walaupun hanya sekedarnya namun je las telah membuat wajah Ouw Ling berseri saking girangnya.
Wanita mana yang tidak akan berseri wajahnya kalau dikatakan bahwa ia nampak jauh le bih muda dari pada usia yang sebenarnya!
"Aku yakin bahwa aku le bih tua darimu, siauwte, walau hanya beberapa tahun mungkin.
Akan te tapi itu tidak penting sekali, bukan?
Kalau boleh aku mengetahui, engkau dari mana dan hendak kemana?
Apakah engkau mempunyai keperluan khusus datang ke Lok-yang ini?"
Siong Ki menggeleng kepala.
"Tidak mempunyai keperluan khusus, aku baru saja memasuki Lok-yang dalam perjalananku merantau dan mencari pengalaman hidup. Baru pagi tadi aku datang ke sini dan kebetulan terlibat peristiwa dalam rumah makan tadi."
"Aih, kalau begitu, kenapa tidak menginap saja di rumah penginapan ini, The-siauwte? Di sini te mpatnya bersih dan cukup murah. Dan tahukah kau, kita mempunyai banyak persamaan. Aku sendiripun sedang merantau, atau katakanlah berpesiar mencari pengalaman hidup dan meluaskan pengetahuan. Kalau engkau suka, kita dapat menjadi teman seperjalanan!"
Ucapan itu dikeluarkan secara wajar sehingga Siong Ki tidak merasakan suatu kelainan, walaupun penawaran seperti itu dari seorang wanita kepada seorang pria sebetulnya tidaklah pada tempatnya.
"Soal itu mudah, Ouw-cici, sekarang aku ingin mendengar tentang Hek I Kaipang."
"Hek I Kaipang adalah perkumpulan pengemis di Lok-yang dan sekitarnya yang te rkenal. Ketuanya berjuluk Hek I Sin-kai (Pengemis Sakti Baju Hitam) yang te rkenal lihai. Pengaruhnya besar sekali karena selain ketuanya sakti, juga anak buihnya yang berjumlah ratusan orang rata-rata memiliki ilmu silat yang cukup tangguh. Jangankan orang-orang biasa, bahkan tokoh-tokoh kang-ouw tidak berani main-main te rhadap mereka, dan para pejabat daerahpun mempunyai hubungan baik dengan para pimpinannya."
"Hemm, pantas saja anak buahnya bersikap demikian ugal-ugalan. Kekuasaan itu agaknya membuat mereka menjadi sewenang-wenang,"
Kata Siong Ki.
"Akan tetapi, kalau engkau sudah tahu keadaannya seperti itu, mengapa tadi engkau sengaja memancing keributan dengan mereka, enci?"
Wanita itu tersenyum dan mengamati wajah Siong Ki dengan pandang mata begitu mes ra dan manis, membuat pemuda itu merasa mukanya menjadi panas dan tersipu.
"Tadinya aku tidak ingin berurusan dengat mereka. Akan tetapi melihat mereka mengganggumu dan melihat engkau memiliki kepandaian ketika engkau mematahkan sekeping uang itu, timbul keberanianku untuk menentang mereka. Memang sudah lama aku mendengar akan kesewenang-wenangan mereka, dan aku ingin tahu sampai di mana kelihaian ketuanya. Karena itulah, aku mohon bantuanmu, siauwte, karena aku yakin bahwa urusannya tidak hanya sampai di sini saja. Tadi engkau melihat sendiri bahwa kita dibayangi orang, te ntu tak lama lagi ketuanya akan menghubungi kita dan aku memerlukan bantuanmu untuk menghadapi mereka. Tentu saja kalau engkau suka dan berani."
Siong Ki adalah murid Naga Sakti Sungai Kuning, tentu s aja telah menguasai ilmu silat yang tinggi, juga dia diberi pelajaran kebudayaan dan sastra, akan te tapi dia baru saja keluar dari perguruan dan sama sekali tidak mempunyai pengalaman menghadapi akal dan tipu muslihat orang-orang kang-ouw yang licin dan cerdik.
Maka, diapun tidak merasa bahwa ia sedang dibujuk secara cerdik sekali oleh wanita yang te rgila-gila kepadanya itu.
Kalau saja Ouw Ling tidak mengeluarkan ucapan kalimat terakhir itu, tentu dia akan meragu, karena dia merasa tidak mempunyai urusan dengan He k I Kai-pang.
Akan tetapi, wanita itu seolah menantangnya ketika mengatakan bahwa ia membutuhkan bantuannya untuk menghadapi He k I Kai-pang, kalau dia berani!
Kata-kata kalau dia berani inilah yang mencambuknya dan seolah memaksanya untuk tidak dapat menolak uluran tangan wanita itu.
"Ouw-cici, tentu saja aku berani dan kalau memang pihak He k I Kaipang hendak memperpanjang urusan di rumah makan tadi, aku te ntu akan membantumu."
"Kalau begitu, sebaiknya sekarang juga aku memesankan sebuah kamar untu kmu, siauw-te!"
Kata wanita itu dengan sikap gembira dan iapun memanggil seorang pelayan rumah penginapan.
Ketika pelayan itu datang, ia memesan sebuah kamar lagi untuk Siong Ki dan dengan sikap seperti tidak sengaja, ia minta sebuah kamar yang berdekatan dengan kamarnya untuk pemuda itu.
Pada saat itu, terdengar suara ribut-ribut di luar rumah penginapan dan seorang pelayan berlari datang memasuki ruangan itu.
"Nona. ada orang-orang dari He k I Kai-pang datang mencari nona......."
Jelas bahwa pelayan itu nampak ketakutan. Ouw Ling te rsenyum tenang dan menoleh kepada Siong Ki.
"N ah, te pat seperti dugaanku. The-siauwte, sebaiknya kau simpan dulu buntalan pakaianmu ke dalam kamarmu, baru kita menemui mereka."
Siong Ki menyetujui, menyimpan buntalan pakaiannya dalam kamar yang sudah dipersiapkan untuknya, kemudian dia keluar lagi sambil membawa pedang Seng-kong-kiam yang digantung di pungungnya.
Ternyata Ouw Ling sudah menantinya, dan wanita ini pun agaknya sudah siap siaga.
Sepasang goloknya juga te rselip di belakang punggung sehingga ia nampak cantik dan gagah sekali.
"Bagus, engkau sudah membawa pedangmu, siauwte. Kita harus siap-siaga, siapa tahu kita akan te rpaksa menggunakan senjata menghadapi mereka."
Keduanya lalu keluar dan depan rumah penginapan itu nampak le ngang.
Para tamu dan para pelayan rumah penginapan itu sudah menjauhkan diri bersembunyi, agaknya tidak ingin te rlibat.
Di pekarangan rumah penginapan itu nampak belasan orang berpakaian serba hitam yang bertambal-tambalan, dipimpin oleh seorang laki-laki berusia empatpuluh tahun yang bertubuh tinggi besar dan yang bersikap garang.
Akan tetapi, ketika mereka semua melihat munculnya Ouw Ling dan Siong Ki mereka bersikap hormat, bahkan si tinggi besar yang garang itu cepat melangkah ke depan dan mengangkat kedua tangan ke depan dada ke arah Ouw Ling dan suaranya te rdengar lantang namun hormat.
"Apakah kami berhadapan dengan Bi Tok Siocia dari Liong-san?"
Ouw Ling te rsenyum mengejek.
"Kalau benar kalian mau apa? Mau memperpanjang urusan di rumah makan itu? Mau mengeroyokku? Majulah dan sekali ini, aku tidak akan bersikap le mah, akan kupenggal le her kalian semua!"
Kata Ouw Ling dan sikapnya ini membuat Siong Ki bergidik.
Kiranya wanita itu dapat pula bersikap keras dan keji kalau perlu.
Akan tetapi, memang para pengemi palsu ini patut dihajar, pikirnya.
Dihardik seperti itu, sekali ini para pengemis itu sama sekali tidak kelihatan marah, bahkan kelihatan gentar.
Kembali si tinggi besar memberi hormat.
"Harap Siocia sudi memaafkan tiga orang anak buah kami yang seperti buta tidak mengenal bahwa nona adalah Bi Tok Siocia dari Liong-san. Mendengar peristiwa tadi, pangcu (ketua) kami marah sekali dan tiga orang itu te lah menerima hukuman. Pangcu adalah sahabat baik dari Majikan Liong-san, maka sekarang pangcu mengutus kami untuk mengundang nona ke te mpat kami, di mana pangcu akan menyambut sendiri untuk mohon maaf kepada Siocia."
Luar biasa sekali, pikir Siong Ki.
Setelah mendengar nama julukan Ouw Ling, yaitu Bi Tok Sio-cia, para pengemis itu menjadi ketakutan, bahkan ketuanya sendiri yang mengundangnya untuk memohon maaf.!
Dia tidak tahu siapakah Majikan Liong-san dan belum pernah mendengar nama julukan Ouw Ling.
Gurunya tidak pernah bercerita te ntang majikan Liong-san, walaupun ada beberapa orang datuk kang-ouw yang dia dengar dari keterangan suhunya.
Ouw Ling menoleh kepadanya.
"Bagaimana, siauwte? Hek I Kai-pang mengundang kami, perlukah kami menerima undangan itu dan datang ke s arang Hek I Kai-pang untuk menemuinya?"
Siong Ki te rsenyum girang. Bagaimanapun jug, wanita ini amat menghargainya dan telah mengangkatnya dalam pandangan para anggota He k I Kaipang. Dia bertanya.
"Apakah engkau mengenal pangcu itu, enci?"
"Aku hanya pernah mendengar namanya. Ayahku yang mengenalnya. Sebetulnya, aku tidak senang diundang seperti ini. Kenapa bukan dia saja yang datang ke s ini kalau hendak minta maaf? Akan tetapi, mengingat dia teman ayahku, dan aku di pihak yang le bih muda, sebaiknya kalau kita pergi ke sana, hendak kulihat apa yang hendak dia katakan."
"Kalau begitu, baik, kita pergi saja,"
Kata Siong Ki.
Para anggota He k I Kaipang merasa heran melihat wanita itu hendak pergi bersama pemuda yang tidak mereka kenal, akan te tapi mereka mendengar bahwa tadi pemuda itu yang menimbulkan keributan dengan anak buah He k I Kaipang.
Karena yang mengajak pemuda itu adalah Bi Tok Sio-cia, merekapun tidak ada yang berani membantah.
Si tinggi besar itu segera berkata.
"Siocia, pangcu te lah mengirim sebuah kereta untuk menje mput sio-cia."
Dia memberi isyarat dan sebuah kereta kecil ditarik dua ekor kuda memasuki pekarangan itu dari luar.
Kereta itu cukup bagus, seperti kereta milik seorang pembesar saja!
Bukan main, pikir Siong Ki.
Pengemis mempunyai kereta berkuda dua untuk menjemput tamu!
De ngan sikap angkuh Bi Tok Siocia naik ke dalam kereta bersama Siong Ki dan kusir kereta lalu menjalankan kudanya, diikuti oleh belasan orang anggota He k I Kaipang.
Setelah kereta dan para pengiringnya meninggalkan pekarangan itu, barulah para tamu dan pelayan rumah penginapan berani keluar dan peris tiwa itu tentu saja menjadi percakapan orang.
Baru mereka tahu bahwa wanita cantik yang hanya dikenal sebagai Ouw Siocia di rumah penginapan itu adalah seorang wanita yang dijemput kereta oleh ketua Hek I Kaipang, berarti tentu saja bukan wanita sembarangan.
Apalagi setelah berita tentang peristiwa perkelahian di depan rumah makan itu te rsiar, semua orang memberitakan bahwa Ouw Siocia adalah seorang wanita perkasa.
Kereta itu keluar dari Lok-yang, menuju sebuah bukit kecil.
Sarang He k I Kaipang berada di le reng bukit ini, dan di sepanjang jalan mendaki bukit, nampak para anggota He k I Kaipang berdiri di tepi jalan.
Diam-diam Siong Ki harus mengakui bahwa perkumpulan pengemis itu memang kuat, mempunyai banyak ana k buah yang agaknya te ratur seperti pasukan saja.
Kalau tadinya Siong Ki mengkhawatirkan adanya perangkap yang diatur oleh ketua perkumpulan itu, kini dia melihat bahwa kekhawatirannya itu keliru.
Agaknya nama besar Bi Tok Siocia sudah cukup menjadi jaminan, sehingga timbul keinginan tahu siapa sebenarnya wanita ini dan sampai di mana kelihaiannya, maka namanya sempat membuat pimpinan He k I Kaipang yang demikian besarnya menyambutnya dengan sikap hormat.
He k I Sin-kai sendiri keluar menyambut ketika kereta berhenti di depan sebuah bangunan yang sama sekali tidak pantas menjadi rumah pengemis!
Perkampungan itupun tidak ada tanda-tandanya menjadi perkampungan pengemis.
Bangunan-bangunannya dari te mbok.
Agaknya hanya pakaian mereka saja yang berbau pengemis, karena penuh tambalan.
Apalagi bangunan di te ngah, di depan mana kereta berhenti, merupakan bangunan yang megah.
Kakek yang menyambut mereka itu bertubuh tinggi kurus, berusia limapuluh tahun lebih.
Mukanya kuning sehingga melihat tubuh tinggi kurus itu, dia lebih mirip seorang yang berpenyakitan, yang tidak sehat.
Dia membawa sebatang tongkat mengkilap berwarna hitam, dan pakaiannya yang serba hitam itu terbuat dari sutera yang halus dan mahal!
Sepatunya juga hitam mengkilat.
Berbeda dengan pakaian anak buahnya, tidak nampak sedikit tambalanpun di bajunya.
Dia le bih mirip seorang hartawan berpakaian sutera hitam daripada ketua pengemis.
Begitu Bi Tok Siocia turun dari kereta, Hek I Sin-kai menyambutnya dengan te rtawa bergelak.
"Ha-ha-ha, engkaukah Bi Tok Siocia? Sungguh pantas engkau menjadi pute ri Ouw Kok Sian, karrna engkau te rnyata memiliki keberanian yang bes ar.!"
"Paman tentulah Hek I Sinkai Ma Siu, pendiri He k I Kaipang? Pernah aku mendengar nama paman dari ayah,"
Kata Ouw Ling.
"Ha-ha-ha, sudah bertahun-tahun aku tidak berte mu dengan ayahmu. Dan inikah pemuda yang membikin ribut di rumah makan itu? Siapakah ini, nona Ouw? Sahabatmu, ataukah tunanganmu?"
Kalau orang lain ditanya te ntang tunangan mungkin akan marah. Akan te tapi tidak demikian dengan Ouw Ling. Ia malah tersenyum senang.
"Dia bernama The Siong Ki, seorang sahabatku yang baru, paman. Bukan dia yang membikin ribut di rumah makan, melainkan tiga orang anak buahmu yang tak tahu diri. Aku yang menjadi saksi bahwa anak buahmu yang bersalah."
Ketua itu menggerakkan tangan dengan tidak sabar.
"Aku tahu........aku tahu......dan aku telah menghukum mereka. Engkau dapat melihatnya sendiri nanti. Nah, Ouw Siocia, dan engkau The-sicu (orang gagah The), silakan masuk. Kalian menjadi tamu-tamu kehormatan kami hari ini."
Lega karena mendapat sambutan yang demikian hormat dan pihak kai-pang itu sama sekali tidak memperlihatkan sikap bermusuh, Siong Ki bersama Ouw Ling memasuki rumah besar itu dan mereka dipersilakan masuk ke ruangan tamu yang besar, di mana te rnyata telah dipersiapkan meja besar untuk pesta makan minum!
Meja itu besar, akan te tapi karena hanya sebuah dan berada di ruangan tamu yang luas, maka tampak kecil.
He k I Sin-kai Na Siu mempersilakan mereka berdua duduk menghadapi meja besar.
Dia sendiri menemani mereka.
Agaknya, ketua ini benar-benar menghormati kedua orang tamunya.
Buktinya, tidak ada di antara pembantu-pembantunya yang ikut duduk menghadapi meja itu.
Setelah dua orang tamunya duduk, pangcu itu berte puk tangan.
Seorang penjaga memasuki ruangan dan He k I Sin-kai mengeluarkan perintah.
"Seret tiga orang anggota yang membikin malu tadi masuk!"
Penjaga pergi dan tak lama kemudian, dikawal oleh tiga orang anggota kai-pang, masuklah tiga orang itu.
Mereka terhuyung-huyung dan Siong Ki melihat betapa tiga orang pengemis yang mengganggunya di rumah makan tadi, dalam keadaan menyedihkan, te rsungkur dan berlutut.
Pakaian mereka koyak-koyak dan berle potan darah, dan te rutama sekali di bagian punggung.
Dia mengerti bahwa tiga orang itu telah menerima hukuman cambuk yang membuat kulit punggung mereka pecah-pecah berdarah.
"Nah, inilah mereka, nona Ouw. Sekarang te rserah kepada nona dan sicu, apa yang harus kami lakukan dengan mereka? Membunuh mereka atau mengampuni mereka?"
Tanya ketua perkumpulan pengemis itu.
Mendengar ini, tiga orang pengemis yang sekarang sudah kehilangan kegarangan mereka itu berlutut menghadap ke arah dua orang muda itu dan si hidung besar mewakili kedua orang temannya, berkata dengan suara gemetar.
"Nona, kami mohon ampun........"
Bi Tok Siocia te rsenyum mengejek. Khawatir kalau wanita itu minta agar mereka dibunuh, Siong Ki cepat berkata.
"Mereka sudah menerima hukuman. Sudahlah, pangcu, urusan ini tidak perlu diperpanjang lagi."
Mendengar ini, Bi Tok Siocia tersenyum lebar, lalu mengangguk-angguk.
"Pangcu, The-siauw-te sudah mengambil keputusan dan akupun setuju."
"Terima kasih, nona, terima kasih, sicu!"
Tiga orang itu berulang-ulang mengucapkan te rima kasih.
"Bawa mereka keluar dan suruh hidangkan makan minum!"
Kata ketua Hek I Kai-pang kepada tiga orang pengawal.
Mereka semua keluar dan tak lama kemudian, gadis -gadis manis datang membawa hidangan.
Kembali Siong Ki te rtegun.
Namanya saja pengemis, akan tetapi kini mampu mengadakan pesta dengan masakan-masakan yang mahal.
Anggur dan arak yang baik, dan dilayani oleh lima orang gadis cantik yang sama sekali bukan je mbel.
Ini le bih tepat dinamakan pesta yang diadakan seorang bangsawan atau hartawan, bukan pemimpin orang jembel!
Setelah makan dan minum dengan gembira.
He k I Sin-kai menyuruh pelayan membersihkan meja, kemudian dia berkata.
"Ouw Siocia dan The-sicu, kami merasa gembira sekali berte mu dengan orang-orang muda yang lihai seperti kalian. Apalagi mengingat bahwa Ouw-siocia adalah pute ri sahabat kami, dan karena The-sicu sahabat Ouw-siocia, berarti sahabat kami pula.. Kalian lihat bahwa kami selalu suka bersahabat dengan orang-orang lihai di dunia kang-ouw. Ouw-siocia, sudah bertahun-tahun aku tidak bertemu sahabat Ouw Kok Sian. Setiap kali kami saling jumpa, kami pasti membicarakan ilmu silat dan latihan bersama. Sekarang, karena engkau merupakan pute rinya, maka biarlah kuanggap engkau mewakili ayahmu dan aku ingin sekali melihat sampai di mana kini kemajuan ilmu silat dari majikan Liong-san. Ha-ha-ha-ha!"
Sikap tuan rumah itu wajar dan ramah, sama sekali bukan merupakan tantangan untuk berkelahi. -ooo0dw0ooo-
Jilid 24
"Aih, Paman Na terlalu memuji. Mana bisa sedikit kemampuanku dibandingkan dengan He k I Sin-kai yang terkenal dengan ilmu tongkatnya?"
"Ha-ha-ha, Ouw Siocia. Kita adalah orang-orang kang-ouw, kalau tidak membicarakan dan saling memberi petunjuk dalam ilmu silat, mau bicara te ntang apa lagi? Akan tetapi, kalau ayahmu sendiri yang datang, te ntu aku sendiri pula yang akan melayaninya. Sekarang, aku merasa tidak enak kalau menemanimu berlatih silat. Menang atau kalah, aku tetap akan ditertawakan orang. Nah, aku akan mewakilkan saja kepada muridku yang paling pandai agar aku dapat melihat sampai dimana kehe batanmu, Ouw Siocia."
Setelah berkata demikian, ketua pengemis itu bertepuk tangan lagi. Kepada penjaga yang masuk, dia berkata dengan suara lantang.
"Panggil ke sini Ji Kiat!"
Tak lama kemudian.
Muncullah murid yangdipanggil itu.
Seorang pria berusia tigapuluh lima tahun, bertubuh te gap sedang, dengan muka yang cukup tampan dan dari pandang mata dan senyumnya, nam pak bayangan dari ketinggian hati yang memandang rendah orang lain.
Pakaiannya juga serba hitam dan hanya ada tiga tambalan di dada.
Pakaian itu juga terbuat dari sutera hitam yang halus.
Dan agaknya diapun mengandalkan senjata tongkat seperti gurunya, karena di pinggangnya te rselip sebatang tongkat hitam.
Begitu memasuk ruangan itu, tokoh Hek I Kai-pang ini memberi hormat kepada gurunya, kemudian kepada kedua orang tamu itu.
"Ouw Siocia, ini adalah Su Ji Kiat, pembantu utamaku, juga muridku yang pertama. Nah, biarlah dia yang melayanimu berlatih sebagai wakilku dan engkau mewakili ayahmu. Bagaimana?"
Bi Tok Siocia te rsenyum mengejek.
Andaikata dia tidak sudah le bih dulu menaksir Siong Ki, mungkin saja ia akan te rtarik kepada murid pertama He k I Sin-kai yang cukup gagah dan tampan ini.
Kini, ia tersenyum mengejek.
"Paman, aku datang memenuhi undangan, bukan untuk memamerkan kepandaian. Akan tetapi karena paman ingin melihat perkembangan ilmu dari ayah melalui aku, baiklah. Siapa saja yang akan paman tunjuk untuk mewakili paman, te rserah."
Setelah berkata demikian, sekali menggerakkan tubuhnya, tubuh wanita itu dari atas tempat duduknya te lah melayang ke tengah ruangan yang luas itu dan ia sudah berdiri dengan senyum yang manis, memiringkan tangan te rbuka di depan dada dan mengangkat tangan kirinya ke atas kepala.
"Aku sudah siap!"
He k I Sin-kai memberi isyarat kepada muridnya.
Su Ji Kiat yang memiliki watak angkuh dan memandang rendah lawan, kini menghampiri Ouw Ling dan te ntu saja dia juga memandang ringan kepada wanita cantik ini.
Memang dia sudah mendengar betapa wanita ini telah menghajar anak buah He k I Kaipang, akan tetapi apa anehnya kalau hanya menghajar anak buahnya?
Dia sendiri biar dikeroyok belasan orang anak buahnya, tidak akan kalah.
Dia, murid kepala dari Hek I Sin-kai, kini harus menandingi seorang wanita, sungguh merupakan hal yang memalukan baginya!
Setelah berhadapan, Su Ji Kiat berdiri santai lalu berkata.
"Nona, silakan menyerang, aku telah siap melayanimu berlatih."
Dia tersenyum dan senyumnya membayangkan kecongkakannya. seperti seorang dewasa menertawakan lagak dan gaya seorang bocah.
"Begitukah? Nah, kalau sudah siap, sambutlah seranganku ini!"
Tiba-tiba Ouw Ling menggerakkan kaki tangannya, gerakannya cepat bukan main dan sekali terjang, dengan cepat dan kuat ia telah mengirim serangkaian serangan dengan tamparan kedua tangannya, bergantian dan bertubi-tubi.
Terkejutlah Ji Kiat.
Dia cepat mengelak dan menangkis , dan serangkaian serangan itu bagaikan badai datangnya, membuat dia kewalahan juga, karena sama sekali tidak mampu balas menyerang dan biarpun tidak ada pukulan yang mengenai tubuhnya karena dia menggunakan kedua le ngan melindungi tubuh, tetap saja dia terhuyung ke belakang.
"Ji Kiat, ia itu murid majikan Liong-san, berhati-hatilah menghadapinya!"
Kata Hek I Sin-kai yang merasa khawatir, juga tidak senang melihat kecerobohan muridnya yang dia tahu memandang ringan lawan sehingga dalam gebrakan pertama saja sudah te rdesak.
Agaknya Ji Kiat menyadari kesalahannya, maka diapun meloncat ke belakang agar te rbebas dari himpitan rangkaian serangan itu, kemudian dia memasang kuda-kuda yang kokoh dan ketika Ouw Ling menyerang lagi, dia sudah siap menangkis dan balas menyerang.
Sekarang barulah te rjadi pertandingan, saling serang dengan serunya.
Akan te tapi, pertandingan itu berjalan seimbang hanya untuk selama duapuluh jurus saja, selama itupun Ouw Ling sengaja mengalah.
Hal ini dapat dilihat jelas oleh Siong Ki, membuat pemuda itu menjadi kagum.
Ternyata bahwa wanita itu memang lihai bukan main, memiliki gerakan yang aneh dan agak liar, terutama sekali lihai dalam ilmu tendangannya.
Dari pertandingan itu saja Siong Ki sudah dapat menilai bahwa tingkat kepandaian wanita itu jauh le bih tinggi daripada lawannya.
Agaknya setelah lewat tigapuluh jurus dan mendesak lawan, Ouw Ling merasa jemu dan tiba-tiba ia mengeluarkan bentakan nyaring, kedua kakinya bagaikan kitiran angin bergerak, berputar dan serangkaian te ndangan menyambar-nyambar ke arah tubuh Ji Kiat.
Murid utama He k I Sin-kai ini terkejut, berusaha untuk mengelak dan menangkis ,akan tetapi gerakan te ndangan dari Ouw Li memang hebat sekali.
Tubuhnya bagaikan melayang-layang dan te ndangannya susul-menyusul dan akhirnya, sebuah tendangan dapat menyusup di antara kedua lengan yang menangkis, mengenai dada Ji Kiat dan tubuh tokoh Hek I Kai-pang itupun te rjengkang!
Dia tentu akan te rbanting keras kalau saja dia tidak membuat tubuhnya melingkar sehingga tubuh itu kini menggelinding seperti bola sampai enam tujuh meter jauhnya!
Su Ji Kiat tidak te rluka, akan te tapi dadanya te rasa sesak dan diapun bangkit berdiri dengan muka berubah merah.
Alangkah malunya dikalahkan seorang lawan wanita.
Hek I Sin-kai juga melihat kekalahan muridnya dan diam-diam dia te rkejut.
Untung dia tidak memandang rendah kepada murid Ouw Kok Sian itu.
Kiranya wanita itu lihai bukan main!
Akan tetapi, melihat muridnya dikalahkan sedemikian mudahnya, dia merasa penasaran juga.
Dia berte puk tangan memuji.
"Ah, hebat bukan main kemajuan yang diperole h Ouw Kok Sian sehingga pute rinya mewarisi ilmu yang dahsyat.! Nah, Ji Kiat, jangan memandang ringan kepada Nona Ouw, dan engkau mintalah pelajaran tentang penggunaan senjata darinya. Akan tetapi hati-hati, siang-to (sepasang golok) dari Nona Ouw hebatnya bukan main!"
Ini adalah anjuran bagi muridnya untuk mempergunakan senjata, yaitu tongkat baja yang menjadi andalan perkumpulan mereka.
Mendengar ucapan suhunya, Su Ji Kiat seperti mendapat semangat baru.
Dia tadi merasa malu karena dengan tangan kosong, dia telah kalah.
Kini masih ada harapan untuk menebus kekalahannya melalui tongkatnya yang menjadi andalannya.
Maka diapun cepat mengambil tongkatnya yang hitam dan memberi hormat kepada Ouw Ling.
"Nona Ouw, mohon petunjukmu dalam ilmu menggunakan senjata."
Dia melintangkan tongkat di depan dadanya.
Ouw Ling te rsenyum.
Tanpa menggunakan siang-to sekalipun ia tidak gentar menghadapi lawan bersenjata.
Akan tetapi, pertama ia tidak ingin membikin malu tuan rumah, dan kedua iapun tahu bahwa He k I Sin-kai te rkenal karena ilmu tongkatnya.
Kalau ia memandang rendah menghadapi tongkat dengan tangan kosong dan kalah, te ntu ia akan merasa malu sekali.
"Baik, akupun ingin melihat bagaimana hebatnya ilmu tongkat dari He k I Kai-pang yang disohorkan orang itu."
Hampir tidak nampak tangannya bergerak, dan tiba-tiba nampak sinar berkelebat dan sepasang tangannya telah memegang sepasang golok.
Golok itu tidak te rlalu besar, bentuknya melengkung indah dan gagangnya te rbuat dari emas berhiaskan permata!
Kedua golok itu tipis dan berkilauan saking tajamnya, demikian indahnya sehingga le bih menyerupai golok hias daripada senjata yang ampuh.
Melihat wanita itu sudah memegang sepasang goloknya.
Ji Kiat yang bemafsu sekali untuk menebus kekalahannya tadi, segera berseru.
"Nona Ouw, lihat serangan tongkatku!"
Dan diapun sudah nyerang dengan tongkatnya.
Memang hebat sekali ilmu tongkat itu.
Gerakannya cepat, kuat dan aneh.
Begitu tongkat meluncur, terdengar suara bersiutan tajam dan tongkat itu berubah menjadi sinar hitam yang menyambar-nyambar.
Sinar pertama menyambar ke arah kepala Ouw Ling.
Ketika wanita itu mengelak sehingga tongkat menyambar le wat atas kepalanya, tongkat itu langsung saja membalik, kini menyambar ke arah kedua kakinya.
Ouw Ling meloncat dan tiba-tiba saja tongkat membalik dan ujung yang lain menusuk ke perut!
Memang ilmu tongkat yang dahsyat!
"Tranggg ......!"
Bunga api berpijar ketika golok di tangan kiri Ouw Ling menangkis tongkat, sedangkan golok di tangan kanannya menyambar ke arah leher lawan.
Ji Kiat yang kini tidak berani memandang rendah lawannya, memutar tongkatnya dan kembali bunga api berpijar ketika golok ditangkis tongkat.
Mulailah mereka saling serang dengan dahsyat.
Saking cepatnya gerakan mereka, tidak nampak sepasang golok dan sebatang tongkat itu, yang nampak hanyalah gulungan sinar hitam yang berkejaran dan saling belit dengan dua gulung sinar putih.
Namun, sejak beberapa gebrakan saja.
Siong Ki maklum bahwa memang murid ketua kaipang itu sama sekali bukan lawan Ouw Siocia.
Wanita ini te rlalu tangguh, apalagi gerakan sepasang goloknya benar-benar amat hebatnya.
Kalau gadis itu menghendakinya, agaknya dalam waktu belasan jurus saja, ia akan mampu melukai dan merobohkan lawannya.
Hal ini akhirnya dapat dirasakan pula ole h Ji kiat.
Akan tetapi, dia adalah seorang yang memiliki watak tinggi hati dan merasa dirinya paling hebat, maka sukarlah bagi seorang de ngan watak seperti itu untuk dapat menerima dan mengakui kekalahan.
Setelah merasa bahwa dia akan kalah, timbullah kene katannya dan diapun kini mulai menyerang secara membabi buta dan dengan serangan-serangan maut.
Dia sudah lupa bahwa pertandingan itu bukan suatu perkelahian, melainkan hanya menguji kepandaian, seperti latihan belaka.
Kini dia menyerang sungguh-sungguh, kalau perlu merobohkan lawan dan melukai atau membunuhnya!
Ouw Ling te rkejut dan iapun menjadi marah.
Kalau tidak ingat bahwa ia sebagai tamu, te ntu ia sudah menggunakan tangan keji terhadap lawannya itu.
Ia hanya mendengus dan gerakan sepasang goloknya berubah, cepat dan kuat sehingga ketika mendengar suara nyaring berte munya golok dan tongkat, tongkat itu te rlepas dari tangan Ji Kiat dan sebuah te ndangan menyusul, amat kerasnya mengenai pinggul kiri Ji Kiat sehingga tubuh tokoh pengemis itu terlempar dan melayang ke arah meja di mana gurunya duduk.!
Kalau Ouw Ling ingin mencelakainya, tentu te ndangan tadi tidak mengenai pinggul, melainkan mengenai perut atau dada yang akibatnya akan parah.
Akan te tapi, tendangan yang membuat lawannya te rlempar jauh itu cukup menunjukkan kemarahannya.
He k I Sin-kai bangkit dan menangkap tubuh muridnya dengan tangan kiri, mencegahnya menimpa dirinya atau terbanting keras, lalu melepaskannya ke samping di mana Ji Kiat jatuh te rduduk.
Wajah ketua Hek I Kaipang itu berubah kemerahan walaupun mulutnya masih tertawa.
"Ha-ha-ha, ilmu golok Ouw Siocia sungguh hebat, dan ilmu te ndangannyapun mengagumkan sekali. Aku ingin untuk merasakannya pula!"
Katanya dan diapun menghampiri wanita itu dengan membawa tongkatnya.
Siong Ki merasa tidak enak kalau diam saja.
Diapun tahu bahwa tadi Ouw Ling marah sehingga menghajar lawannya agak keras dan hal ini agaknya membuat tuan rumah merasa tidak senang.
Wanita itu memang lihai dan Su Ji Kiat bukan lawannya yang seimbang, akan tetapi kalau guru Ji Kiat yang maju, te ntu akan lain halnya.
Ketua yang marah itu mungkin akan dapat mengalahkan Ouw Ling, dan karena dia sedang marah, mungkin kini akan terjadi pertandingan yang sifatnya mengandung kemarahan dan menjadi perkelahian yang akan membahayakan kedua pihak.
Pula, kalau hanya wanita itu saja yang selalu maju menghadapi lawan, lalu apa gunanya ia ikut datang ke tempat itu?
"Ouw-cici, mundurlah, biar aku menggantikanmu,"
Katanya dan diapun cepat menghampiri Ouw Ling, kemudian memberi hormat kepada He k I Sin-kai.
"Pangcu, tidak adil kalau harus Ouw-cici lagi yang melayani pangcu, setelah tadi ia dengan susah payah menandingi muridmu. Juga aku ingin mengenal ilmu tongkatmu yang lihai. Marilah kita main-main sebentar, pangcu, agar Ouw-cici dapat beristirahat."
Ouw Ling tersenyum girang.
Bukan karena ia merasa lega tidak harus menandingi Hek I Sin-kai yang tangguh, melainkan karena ia ingin sekali melihat sampai dimana kehebatan pemuda yang telah menarik hatinya itu.
Ia mengangguk lalu kembali duduk menghadapi meja.
Adapun Ji Kiat yang te lah dikalahkan, kini duduk di atas lantai di sudut ruangan itu, nampak le mas dan lenyaplah sikapnya yang congkak tadi.
Mendengar ucapan Siong Ki tadi, tentu s aja He k I Sin-kai tidak dapat menolak atau membantah.
Tidak mungkin dia menolak ajakan Siong Ki untuk bertanding dengan memaksakan keinginannya untuk menantang Ouw Siocia.
Dengan demikian, te ntu perasaan tidak senang dan penasaran di hatinya oleh kekalahan muridnya tadi akan nampak.
Sebagai seorang yang le bih tua dan kedudukann ya le bih tinggi, tentu saja dia tidak mungkin bersikap seperti itu.
Bahkan diam-diam dia merasa girang dengan majunya pemuda ini.
Kalau dia mengalahkan Ouw Siocia, setidaknya te ntu dia akan membuat hati sahabatnya, Ouw Kok Sian, menjadi tidak senang.
Sebaliknya, pemuda ini hanya sahabat Ouw Siocia, maka dia merasa lebih bebas untuk berbuat apa saja te rhadap pemuda ini.
"Baiklah, engkau yang menjadi sahabat baik Nona Ouw, aku percaya engkau tentu memiliki ilmu kepandaian yang lumayan. Akan te tapi, bolehkah aku mengetahui siapa gurumu, dan dari aliran mana?"
Siong Ki mengerutkan alisnya.
Dia tahu bahwa gurunya tidak suka kalau namanya disebut-sebut, apalagi urusan yang dia hadapi sekarang ini bukan urusan membela kebenaran dan keadilan, hanya sekedar perkenalan belaka.
Kalau suhunya tahu bahwa namanya diobral olehnya, tentu akan marah sekali.
"Maaf, pangcu. Aku mempelajari silat ke mana-mna sehingga tidak ingat lagi berapa banyak, guru-guruku, dan aku tidak te rikat oleh aliran manapun. Harap pangcu memberi petunjuk sehingga berarti pangcu juga menjadi seorang di antara para guruku."
Siong Ki memang pandai membawa diri. Tentu saja ucapan itu merupakan sanjungan sehingga He k I Sin-kai tersenyum dan merasa kepalanya agak membesar.
"Ha-ha-ha, engkau te ntu akan dapat banyak mendapatkan pelajaran yang berharga, sicu. Silakan menyerang!"
Katanya dengan lagak yang menggurui.
"Baik, pangcu, akan te tapi aku tidak ingin menggunakan pedang. Bagaimana kalau kita berlatih dengan tangan kosong saja?"
"He-he, The-sicu. Apa salahnya menggunakan senjata? Kalau kita sudah menguasai benar, senjata sama dengan tangan kita dan tidak akan melukai lawan kalau tidak kita kehendaki. Justru engkau akan dapat mengambil keuntungan dan ajaran dari ilmu tongkatku! Cabutlah pedangmu dan jangan takut, aku tidak akan melukaimu dengan tongkat ini."
"Baiklah kalau engkau menghendaki demikian pangcu,"
Siong Ki lalu mencabut pedangnya, sengaja memperlihatkan sikap kaku sehingga diam-diam Ouw Siocia sendiri mengerutkan alisnya dan mulai meragukan kemampuan pemuda itu.
Tiba-tiba terdengar suara orang tertawa.
Yang te rtawa adalah Su Ji Kiat dari sudut ruangan itu.
"Ha-ha-ha-ha, engkau hendak menggunakan sebatang pedang butut itu untuk melawan tongkat suhu? Ha-ha-ha, suhu, biarkan teecu (murid) melawan badut ini!"
Setelah berkata demikian dia sudah meloncat ke dekat Siong Ki, tongkatnya yang tadi terlepas ketika dia bertanding melawan Ouw Ling telah dipegangnya kembali.
He k I Sin-kai adalah seorang kangouw yang banyak pengalaman.
Biar pun pemuda itu mengeluarkan sebatang pedang yang nampaknya butut dan tumpul, namun dia tidak memandang rendah.
Bahkan diam-diam dia te rkejut.
Dia tahu bahwa semakin buruk dan nampak le mah senjata seorang ahli silat, semakin tinggi pula tingkat orang itu.
Orang yang memegang senjata yang nampak bersahaja, berarti tidak lagi mengandalkan senjata itu, melainkan dirinya sendiri.
Dia belum pernah berkenalan dengan pemuda ini, tidak tahu dari aliran mana.
Ole h karena itu, majunya muridnya merupakan hal yang menguntungkan baginya.
De ngan membiarkan muridnya maju le bih dahulu, berarti dia mendapat kesempatan untuk mengintai tingkat lawan!
"Baiklah, e ngkau boleh mengujinya lebih dahulu, Ji Kiat,"
Katanya sambil mengangguk. Ji Kiat sudah menghadapi Siong Ki dan lagak sombongnya timbul kembali.
"The-sicu, majulah dan aku yakin dalam waktu kurang dari duapuluh jurus aku akan dapat mengalahkanmu!"
Kata Ji Kiat yang bersikap sombong untuk menutup rasa malunya karena kekalahannya dari Ouw Ling tadi.
Siong Ki mengerutkan alisnya.
Dia sudah dapat menilai sampai dimana kepandaian orang ini dan dia merasa muak melihat kesombongan orang itu maka diapun ingin memberi hajaran kepadanya, maka ia lalu berkata.
"Engkau tadi sudah bertanding melawan Ouw-cici, tidak adil kalau sekarang melawanku, maka biarlah aku akan mengaku kalah kalau dalam waktu lima jurus aku belum mampu mengalahkanmu!"
Bukan saja Ji Kiat yang menjadi merah telinganya mendengar ini, akan tetapi juga Hek I Sin-kai, bahkan juga Ouw Ling.
Wanita ini tentu saja kaget karena ia sendiri tidak akan mungkin mengalahkan Ji Kiat hanya dalam waktu lima jurus, apalagi sebelumnya telah memberi tahu, sehingga te ntu saja Ji Kiat akan memperkuat pertahanannya agar jangan kalah dalam waktu sesingkat itu.
Tentu saja Ji Kiat menjadi marah bukan main.
Dia tadi telah dikalahkan Ouw Ling yang berarti dia telah terseret turun dari kedudukann ya yang dia banggakan sebagai murid utama He k I Sin-kai, dan kini, ada pemuda tak te rkenal yang berani mengatakan akan mengaku kalah kalau tidak dapat mengalahkannya dalam waktu lima jurus!
Gurunya sendiripun tidak akan mungkin dapat mengalahkannya dalam waktu lima jurus.
"Bagus, engkau sendiri yang mengeluarkan ucapan itu, The-sicu. Nah, aku sudah siap, mulailah engkau menyerangku!"
Kata Ji Kiat.
Diapun cukup cerdik untuk mengambil keuntungan dari tantangan lawan.
Dia hanya tinggal menjaga diri agar jangan sampai kalah dalam waktu lima jurus dan itu berarti dia akan menang!
Jelas, sekarang akan tertebus kekalahannya yang tadi!
Siong Ki tersenyum, maklum apa yang berada dalam pikiran lawan.
"Baik, kau bersiaplah. Nah, lihat seranganku. Jurus pertama!"
Tiba-tiba pedang tumpul di tangannya bergerak dan le nyaplah pedang itu, yang nampak hanya sinar hijau menyambar dahsyat ke arah kepala Ji Kiat, disusul dorongan tangan kirinya ke arah dada.
Inilan juru De wa-mempersembahkan-mustika, sebuah jurus yang sekaligus atau beruntun cepat sekali telah melakukan dua serangan, yaitu sambaran pedang dari kiri ke kanan disusul dorongan tangan kiri dengan jari terbuka ke arah dada lawan.
Ji Kiat yang sudah siap siaga, cepat memutar tongkatnya melindungi tubuhnya.
"Trakkk!"
Tongkat bertemu pedang tumpul dan melekat!
Tentu s aja karena tongkatnya tertahan, Ji Kiat tidak dapat melindungi dadanya yang disambar tangan kiri Siong Ki.
Cepat dia miringkan tubuhnya, nanun te rdengar suara "brett"
Dan ujung bajunya robek dan hancur.
Wajahnya menjadi pucat.
Kalau tangan itu tadi meremas perut atau dadanya, bukan ujung baju, te ntu bukan kain itu yang robek hancur!
Dia meloncat ke belakang dan siap menghadapi serangan selanjutnya.
Bagaimanapun juga, dalam jurus pertama itu, dia belum jatuh, berarti belum kalah!
Siong Ki tersenyum.
Orang ini memang tak tahu diri, pikirnya.
Sebetulnya, jurus pertama itu saja sudah cukup membuktikan bahwa Ji Kiat kalah, akan tetapi agaknya orang itu tidak mau mengakui kekalahannya.
"Awas serangan jurus ke dua!"
Bentak Siong Ki dan diapun meloncat maju dan kini pedang butut dan tumpul di tangannya digerakkannya cepat membentuk lingkaran-lingkaran yang aneh dan cepat, hanya nampak gulungan-gulungan sinar hijau saja yang seolah ada beberapa ekor burung hijau beterbangan mengelilingi tubuh Ji kiat.
Orang inipun cepat memutar tongkatnya melindungi diri, namun te tap saja gerakannya kalah cepat.
"Pratt!"
Dan nampaklah potongan rambut berhamburan.
Sebagian rambut Ji Kiat disambar sinar pedang dan berhamburan.
Kembali Ji Kiat melompat ke belakang dan memasang kuda-kuda.
Dia tidak memperdulikan rambutnya yang bodol, dan dia memandang dengan mata mendelik karena merasa penasaran dan marah.
Melihat lawan masih belum mau mengaku kalah, Siong Ki menerjang lagi sambil berseru.
"Jurus ke tiga!"
Kini Ji Kiat menangkis datangnya pedang yang membacok kepalanya itu dengan mengerahkan seluruh te naganya. Trangg........!!"
Keras sekali kedua senjata itu saling bertemu di udara dan akibatnya, ujung tongkat di tangan Ji Kiat itu putus te rpotong! "Hemn, aku masih belum roboh!"
Kata Ji Kit dengan nekat walaupun tongkatnya yang amat diandalkannya itu telah patah ujungnya.
"Baik, jagalah jurus ke empat!"
Kini pedang itu bergerak lagi, berkelebatan menyambar-nyambar dan Ji Kiat menggunakan tongkatnya yang buntung untuk melindungi dirinya.
"Trakk!"
Kembali tongkat bertemu pedang dan sekali ini Ji Kiat tidak mampu menarik le pas tongkatnya dari pedang.
Tongkatnya melekat dan biarpun dia sudah mengerahkan tenaga untuk melepaskan tongkatnya, sia-sia saja dan pada saat itu, tangan kiri Siong Ki meluncur ke arah pergelangan tangannya yang memegang tongkat.
"Tukk!"
Lengan kanan Ji Kiat menjadi lumpuh dan te rpaksa dia melepaskan tongkatnya yang tidak dapat dipertahankannya kembali.
Kini tongkati telah terampas lawan!
Akan tetapi dia belum roboh, dan hanya tinggal satu jurus lagi.
Biarpun dari jurus pertama sampai jurus ke empat dia te lah dirugikan, akan te tapi kalau sejurus lagi le wat dan dia belum roboh, berarti lawannya akan dianggap kalah!
"The-sicu, aku belum roboh, berarti belum kalah!"
Katanya dan dia memasang kuda-kuda dengan kedua kaki dite kuk rendah, siap melewatkan sejurus lagi dengan seluruh kekuatannya!
Sementara itu, Hek I Sin-kai memandang dengan mata te rbelalak, bahkan Ouw Ling sendiri menjadi bengong.
Ia dapat menduga bahwa Siong Ki seorang yang lihai, akan tetapi tidak disangkanya sehebat itu!
Tentu saja wanita itu menjadi semakin kagum dan tertarik.
Sedangkan He k I Sin-kai agak pucat wajahnya.
Tahulah kakek ini bahwa dia sendiripun bukan tandingan pemuda yang amat hebat itu!
Ingin dia meneriaki muridnya agar menyerah, akan tetapi karena Ji Kiat sudah terlanjur bersikap tidak mau kalah, diapun hanya memandang penuh perhatian dan ingin tahu apa yang akan dilakukan pemuda lihai itu terhadap muridnya.
Siong Ki te rsenyum dan menyarungkan Seng-kong-kiam di sarung pedangnya, lalu berkata.
"Engkau ingin dirobohkan dalam jurus ke lima? Baiklah kalau begitu, nah! robohlah kau!"
Siong Ki menerjang dengan tangan kosong dan disambut oleh Ji Kiat dengan kedua tangannya. Dia berpikir bahwa kalau kedua tangannya menangkis , maka jurus itu akan lewat dan dia tidak akan roboh.
"Plak, dess!!"
Kedua pasang tangan berte mu dengan kuatnya dan tubuh Ji Kiat terdorong ke belakang, akan te tapi sapuan kaki Siong Ki membuat dia terpelanting dan tanpa dapat dicegah lagi Ji Kiat roboh terbanting.
Dia terkejut dan juga heran.
Mau tidak mau dia harus mengakui keunggulan pemuda itu yang te rnyata le bih lihai dibandingkan Ouw Siocia!
Ji Kiat bangkit duduk dan meringis karena punggungnya te rasa nyeri ketika dia terbanting tadi.
Dia bangkit berdiri dan memberi hormat kepada Siong Ki sambil berkata.
"The sicu, aku mengaku kalah. Engkau memang lihai sekali dan maafkan kata-kataku tadi."
Terdengar te puk tangan dan He k I Sin-kai yang berte puk tangan memuji.
"Hebat, engkau hebat sekali, orang muda!"
Katanya. Ouw Ling yang merasa bangga melihat kelihaian sahabat barunya itu lalu berkata kepada Hek I Sin-kai.
"Paman, sekarang tiba giliranmu untuk memberi petunjuk pada The-siauwte!"
"Aih, melihat betapa dengan mudahnya The-sicu mengalahkan Ji Kiat, cukuplah. Aku sudah te rlalu tua untuk dapat menandinginya. Hanya sayang aku belum dapat mengenal dari aliran mana ilmu silatmu, sicu. Aku harus memberi selamat kepadamu untuk membuktikan kekagumanku kepadamu. Nah, te rimalah secawan arak sebagai ucapan selamat dan kekagumanku, The-sicu!"
Ketua Hek I Kai-pang itu memegang sebuah cawan kosong dengan tangan kanan, lalu tangan kirinya menuangkan arak dari guci arak sampai penuh.
Kemudian dengan kedua tangan dia memegang secawan arak itu, diam-diam mengerahkan sin-kangnya dan ketika dia menyerahkan secawan arak itu kepada Siong Ki, arak di guci itu bergolak seperti mendidih!
Inilah pameran kekuatan sin-kang yang hebat sehingga mengagumkan Ouw Ling.
Namun, Siong Ki menghadapi ketua itu dengan senyum, lalu dia mengulurkan kedua tangan untuk menerima secawan arak itu.
"Terima kasih, engkau baik sekali, pangcu,"
Katanya dan dengan kedua tangan, dia memegang cawan arak itu.
Arak yang tadinya mendidih itu tiba-tiba berhenti bergolak dan ketika pemuda itu menuangkannya ke mulut sambil berdongak, arak itu tidak menetes turun dari cawan yang dia balikkan!
Arak itu seolah-olah telah membeku dan tidak tumpah keluar!
Inipun merupakan demons trasi kekuatan sin-kang yang tidak kalah hebatnya, membuat Ouw Ling berte puk tangan.
"Aih-aihhh......kalian berdua ini seperti kanak-kanak yang bermain sulap saja, suka main-main seperti itu!"
Katanya. Siong Ki tersenyum, menurunkan cawan itu lalu mengangkat cawan sambil mengajak tuan rumah dan wanita itu minum arak masing-masing.
"Mari kita minum untuk persahabatan kita!"
Kata Siong Ki.
Hek I Sin-kai menyambut dengan gembira, demikian pula Ouw Ling dan mereka bertiga minum arak lalu mereka dipersilakan duduk kembali.
He k I Sin-kai memberi is yarat kepada Ji Kiat untuk meninggalkan ruangan itu dan mereka bertiga duduk bercakap-cakap dengan gembira.
"Sungguh menggembira kan sekali hari ini aku dapat berte mu dan berkenalan dengan kalian dua orang muda yang hebat. N ah, sekarang kalau boleh aku mengetahui, apakah kepentingan ji-wi (kalian berdua) datang ke Lok-yang? Apakah barangkali kami dapat membantu kalian?"
"Kami tidak mempunyai keperluan khusus, paman,"
Kata Ouw Ling sambil mengerling kepada Siong Ki.
"Kami hanya berpesiar saja, sambil melihat-lihat barangkali ada pekerjaan yang cocok bagi kami."
Siong Ki teringat akan tugas yang diberikan gurunya kepadanya.
Ini kesempatan yang amat baik, pikirnya.
Sebagai ketua kai-pang yang memiliki banyak anggota, juga te ntu mempunyai hubungan yang amat luas, mungkin saja Hek I Sin-kai dapat membantunya memberi kete rangan te ntang penculik puteri gurunya!
"Barangkali pangcu dapat membantuku dengan memberi kete rangan tentang seorang yang sedang kucari."
"Siapakah orang yang sedang kaucari itu The-sicu?"
Tanya Hek I Sin-kai sedangkan Ouw Ling juga memandang penuh perhatian.
Ia sendiri belum pernah mendengar tentang itu karena memang ia baru saja berkenalan dengan Siong Ki dan belum mendengar banyak te ntang riwayat dan keadaan pemuda yang dikaguminya itu.
Siong Ki sudah mendengar tentang Kwa Bi Lan dari gurunya, te ntang riwayat wanita itu mengapa menculik pute ri gurunya.
Diapun sengaja tidak langsung menanyakan te ntang wanita itu, melainkan mendiang suaminya yang lebih terkenal di dunia kangouw.
"Aku mencari orang yang berjuluk Sin-tiauw (Rajawali Sakti) bernama Liu Bhok Ki."
Bukan han ya He k I Sin kai yang te rkejut, juga Ouw Ling te rcengang karena nama besar Si Rajawali sakti pernah menggemparkan dunia kangouw.
"Aih, dia? Akan tetapi dia telah tidak ada lagi, sicu! Dia telah mati belasan tahun yang lalu!"
Tentu saja Siong Ki sudah tahu akan hal ini.
"Kalau begitu, aku mencari keluarganya. Apakah dia tidak mempunyai keluarga? Isteri atau anak?"
"Kami tidak mendengar bahwa dia mempunyai anak, hanya mendengar bahwa dia di hari tuanya mempunyai seorang isteri. Akan tetapi, kami tidak tahu siapa isterinya itu dan di mana ia sekarang berada."
"Aku tahu!"
Tiba-tiba Ouw Ling berkata.
"Isterinya seorang wanita muda murid Siauw-lim-pai, namanya......namanya Kwa......Bi Lan. Ya, aku pernah mendengar ayah bercerita tentang mendiang Sin-tiauw Liu Bhok Ki itu."
Tentu saja diam-diam Siong ki merasa girang. Tak disangkanya bahwa yang mengenal wanita itu bahkan sahabat barunya ini! "Aih, Ouw-cici, engkau malah mengenalnya? Di mana sekarang Kwa Bi Lan itu."
Akan te tapi Siong Ki menjadi kecewa melihat wanita cantik itu menggeleng kepalanya.
"Sin-tiauw Liu Bhok Ki telah meninggal dunia belasan tahun yang lalu dan sejak itu, tidak ada yang tahu ke mana perginya is te rinya itu. Ia ketika itu masih muda, dan ia hanya diketahui sebagai murid Siauw-lim-pai, namanya tidak begitu dikenal. Yang te rkenal adalah suaminya, maka setelah suaminya meninggal dunia, Kwa Bi Lan juga tidak diperhatikan orang lagi. Aku tidak tahu di mana ia berada."
Melihat wajah sahabat barunya kelihatan kecewa, ia cepat menyambung.
"Jangan khawatir, siauw-te, aku akan membantumu mencarikan sampai dapat. Aku mempunyai banyak hubungan, te ntu akan dapat mencari keterangan tentang Kwa Bi Lan."
Wajah Siong Ki menjadi cerah kembali mendengar kesanggupan wanita cantik itu.
"Terima kasih, enci Ouw, engkau baik sekali."
"Ji-wi mencari pekerjaan? Sungguh kebetulan sekali! Saat ini tenaga dua orang seperti ji-wi amat dibutuhkan. Dan bukan saja ji-wi akan menerima balas jasa yang cukup besar, bahkan membuka kesempatan bagi ji-wi untuk mendapatkan pekerjaan dan kedudukan di kota raja Tiang-an."
Dua orang muda itu tertarik sekali.
Mereka memandang tuan rumah dengan sinar mata penuh selidik.
Bagaimanapun juga, Siong Ki tidak akan sudi menerima kalau ditugaskan melakukan suatu kejahatan.
Dia bukan penjahat!
Dia seorang pendekar!
Juga Bi-tok Siocia Ouw Ling adalah pute ri seorang datuk, te ntu saja merasa rendah kalau harus melakukan kejahatan remeh yang hanya akan menjatuhkan nama besarnya dan nama besar ayahnya.
"Pekerjaan apakah yang kaumaksudkan itu, paman?"
Tanya Ouw Ling.
"Begini, Ouw Siocia. Kalian tahu bahwa aku mempunyai hubungan dekat sekali dengan para pejabat di Lok-yang. Kebetulan sekali seorang pangeran yang kini menjabat kedudukan hakim di Lok-yang, kemarin minta kepadaku untuk menyediakan beberapa orang yang berkepandaian tinggi untuk mengawal is teri pangeran dan tiga orang pute ranya yang hendak melakukan perjalanan ke Tiang-an. Mereka memang berasal dari kota raja. Perjalanan sekarang tidak dapat dikata aman, maka aku sedang bingung mencari siapa gerangan yang dapat dipercaya untuk memikul tugas itu. Dan melihat kalian berdua, aku yakin tidak ada orang lain yang te pat dan dapat diandalkan untuk mengawal keluarga pangeran itu dari sini ke kota raja."
"Pangcu, bagi seorang pembesar, apalagi kalau dia pangeran, apa susahnya mencari pengawal. Akan te rsedia pasukan besar untuk menjaga keselamatan keluarganya! Kenapa harus mencari orang lain?"
Tanya Siong Ki.
"Benar pertanyaan The-siauwte itu, paman. Mengherankan sekali memang."
Kata Ouw Ling. Ketua pengemis itu mengangguk-angguk.
"Me mang tadinya akupun membantahnya demikian, akan te tapi setelah dia menjelaskan, baru aku mengerti. Pangeran itu seorang hakim, kalau is terinya ke kota raja, pasti dia akan menitipkan beberapa laporan penting. Dia tidak ingin mengerahkan pasukan agar tidak menyolok dan menarik perhatian, juga keluarganya tidak suka kalau bepergian diiringkan pasukan yang membuat suasana menjadi kaku, akan te tapi diapun ingin keselamatan keluarganya te rjamin. Oleh karena itu, dia minta aku mencarikan dua tiga orang pengawal yang dapat diandalkan, dan melihat kalian berdua, aku yakin kalian akan mampu mengawal keluarga itu s ampai selamat tiba di kota raja. Dan kalau kalian menghendaki pekerjaan atau kedudukan di kota raja, kiranya aku dapat menyampaikan kepada pangeran itu. Dia pasti akan dapat memberi kalian surat perkenalan dan kepercayaan untuk pembesar di kotaraja."
Dua orang itu saling pandang, kemudian Ouw Ling bertanya.
"Apakah sudah ditentukan kapan keluarga itu berangkat?"
"Tiga hari lagi."
"Kalau begitu, biar penawaran ini kami pertimbangkan dulu sampai besok. Besok kami memberi keputusan kepadamu, paman. Bukankah begitu, siauwte?"
Siong Ki mengangguk.
Sebetulnya, dia senang mendengar penawaran itu.
Pekerjaan yang tidak berat, dan selain imbalannya te ntu besar, juga kemungkinan dia memperole h kedudukan di kota raja.
Pekerjaan apa yang le bih baik daripada menjadi seorang seorang pejabat di kota raja?
Akan tetapi karena dia membutuhkan bantuan Ouw Ling untuk dapat menemukan Kwa Bi Lan, maka ketika wanita itu mengajukan pendapatnya, diapun hanya mengangguk se tuju.
Ouw Ling dan Siong Ki lalu berpamit dan oleh ketua Hek I Kaipang, mereka kembali diantar dengan kereta memasuki Lok-yang dan sampai ke depan rumah penginapan mereka.
-ooo0dw0ooo-Siong Ki sedang duduk te rmenung di dalam kamarnya di rumah penginapan itu.
Dia merenungkan pengalamannya sehari itu, pengalaman yang dianggapnya aneh sekali.
Dalam waktu sehari, dia bertemu dengan Bi Tok Siocia Ouw Ling yang te rnyata kemudian dia ketahui sebagai pute ri datuk sesat Ouw Kok Sian, majikan Bukit Naga.
Akan te tapi wanita itu amat baik kepadanya, ramah dan manis sehingga dia harus mengakui bahwa hatinya terpikat.
Seorang wanita yang sudah matang, berpengalaman, cerdik, memiliki ilmu silat tinggi, dan le bih dari pada itu semua, cantik wajahnya dan menggairahkan tubuhnya.
Belum pernah dia berte mu dengan seorang wanita seperti itu!
Dan wanita itu demikian ramah kepadanya, bahkan kini hendak membantunya menemukan Kwa Bi Lan.
Setelah pengalamannya berte mu dengan wanita itu, dilanjutkan dengan perte muannya dengan ketua He k I Kai-pang yang menawarkan pekerjaan yang amat baik dan membuka kesempatan untuk memperoleh kemajuan di kota raja.
Tadi, ketika mereka kembali ke rumah penginapan, sampai mereka mandi lalu makan malam, Ouw Ling belum mengambil keputusan mengenai penawaran itu dan ketika dia bertanya, wanita itu menjawab bahwa ia akan memikirkannya dulu baik-baik sebelum mengambil keputusan.
Kini, wanita itu memasuki kamarnya sendiri dan dia berada di kamarnya, mereka berdua belum mengambil ke putusan.
"Tok tok-tok!"
Daun pintu kamarnya diketuk orang dari luar.
"Siapa?"
Tanya Siong Ki sambil menghampiri daun pintu akan te tapi belum membukanya. Pengalamannya hari tadi membuat dia waspada dan curiga.
"Aku, siauw-te. Bukalah!"
Siong Ki bernapas lega.
Ouw Ling yang datang.
Tentu akan membicarakan te ntang penawaran tadi dan sekarang agaknya wanita itu akan mengambil keputusan.
Dia membuka daun pintu dan memandang kagum.
Ouw Ling nampak segar, dengan pakaian baru, dengan rambut yang disisir rapi dan digelung tinggi, wajahnya nampak kemerahan dan penuh senyum menggairahkan, pandang matanya bersinar-sinar, dan tangannya memegang dua buah cawan dan sebuah guci anggur.
"Aih, enci, engkau membawa minuman?"
Tanya Siong Ki heran.
"Tutuplah daun pintunya siauwte. Kita bicarakan urusan siang tadi dan sambil minum anggur. Aku membeli anggur yang enak sekali dan hawa malam ini amat dingin."
Melihat keraguan Siong Ki yang agaknya merasa sungkan untuk menutupkan daun pintu selagi ada seorang wanita di kamarnya, Ouw Ling tertawa.
"Hi-hik, mengapa engkau ragu? Kita sudah menjadi sahabat baik, seperti saudara sendiri, mengapa masih banyak sungkan, siauwte?"
"Aku.......aku......hanya menjaga nama baikmu, enci...."
Kata Siong Ki ragu, akan te tapi dia menutupkan juga daun pintu kamarnya setelah melihat bahwa di luar sunyi, tidak nampak seorangpun tamu yang semua agaknya sudah masuk kamar.
Ouw Ling memandang kepada pemuda yang kini duduk di depannya terhalang meja kecil itu dengan alis terangkat, dan pandang matanya seperti orang yang tidak percaya.
"Siauwte, berapa sih usiamu tahun ini?"
Tanyanya tiba-tiba. Walau pun Siong Ki merasa aneh dengan pertanyaan itu, dia menjawab juga.
"Usiaku duapuluh dua tahun, enci."
"Sudah duapuluh dua tahun dan engkau takut duduk berdua dengan seorang wanita dalam kamarmu?"
Kembali pandang matanya tidak percaya. Siong Ki merasa betapa mukanya te rasa panas dan diapun tersipu.
"Aih, sejak kecil aku berada di bawah bimbingan guru-guruku, dan baru sekarang aku hidup sendiri. Mengapa dan untuk apa aku harus duduk berdua dengan seorang wanita dalam kamar?"
"Bukan main!"
Kini pandang mata itu mengandung kehe ranan, juga kekaguman dan kegembiraan.
"Jadi selama ini engkau belum pernah bergaul akrab dengan seorang wanita?"
Siong Ki menggeleng kepala dan mukanya berubah kemerahan.
"Jangankan akrab, bergaulpun belum sempat dan baru sekarang ini aku bersahabat dengan seorang wanita, enci."
"I hh! Dan engkau senang bersahabat denganku, siauwte?"
Pandang mata itu penuh selidik. Siong Ki mengangguk.
"Senang sekali, engkau seorang yang baik, enci."
Kini Ouw Ling nampak gembira bukan main.
"Sudahlah, jangan te rlalu memuji karena sesungguhnya engkaulah yang baik sekali, siauwte. Nah sekarang kita bicara te ntang penawaran Hek I Sin-kai tadi. Bagaimana menurut pendapatmu?"
Siong Ki menarik napas panjang.
"Aku hanya menyerahkan keputusannya kepadamu saja, enci. Engkau tahu bahwa aku menerima tugas dari guruku untuk mencari seorang yang bernama Kwa Bi Lan. Tugas itu yang harus kupentingkan dulu. Setelah itu, baru aku akan memikirkan te ntang pekerjaan apa yang dapat kupegang. Karena aku mengharapkan bantuanmu untuk dapat menemukan Kwa Bi Lan, maka aku menurut saja bagaimana keputusanmu."
Ouw Ling menuangkan anggur merah itu ke dalam dua buah cawan dan mengajak Siong Ki minum.
"Mari kita mlnun, coba rasakan bagaimana enaknya anggur yang kubeli ini."
Siong Ki menurut dan memang anggur itu enak. Anggur yang sudah te rsimpan lama, manis dan halus walaupun amat kuat.
"Sekarang katakan, siauwte, karena aku ingin sekali mengetahui dan kiranya sudah sepatutnya kalau aku mengetahui keadaan dirimu, siapakah sebenarnya gurumu dan mengapa pula dia mengutusmu mencari Kwa Bi Lan atau......kalau engkau tidak percaya kepadaku, sudah, jangan kauceritakan kepadaku."
Ouw Ling mengambil sikap demikian muram dan berduka penuh kekecewaan, sehingga Siong Ki yang masih hijau itu tentu saja merasa tidak enak sekali.
"Ah, enci Ouw, tentu saja aku percaya padamu. Engkau begini baik, bahkan engkau akan membantuku menemukan Kwa Bi Lan. Baik, tadi di depan Hek I Sin-kai aku memang tidak mau berte rus terang, akan tetapi kita sudah bersahabat baik, sesungguhnya, guruku bernama Si Han Beng......"
"Aih, sudah kuduga! Ketika melihat pedangmu yang buruk itu, aku segera mengenal Seng-kong-kiam! Bukankah pedang itu milik subomu? Gurumu adalah Huang-ho Sin-liong (Naga Sakti Sungai Kuning) dan isterinya bernama Bu Giok Cu, bukan?"
Siong Ki te rcengang, kagum akan pengetahuan Ouw Ling yang luas.
"Ah, kiranya engkau sudah mengenal suhu dan subo?"
"Me ngenal sih tidak. Orang seperti aku ini bagaimana ada harganya mengenal suami isteri yang hebat itu? Akan tetapi aku sudah mendengar nama besar mereka. Dan sekarang aku berte mu dengan murid mereka! Wah, siauwte, maafkan kalau aku bersikap kurang hormat kepada murid seorang pendekar sakti!"
Ouw Ling dengan gaya yang manis lalu bangkit dan mengangkat kedua tangan depan dada memberi hormat. Siong Ki cepat bangkit dan membalas penghormatan itu.
"Wah, enci, harap jangan bersikap seperti itu. Engkau membikin aku menjadi malu saja."
"Engkau gagah perkasa, murid pendekar sakti, dan engkau tetap rendah hati, siauwte. Betapa mengagumkan. Selama hidupku, belum pernah aku berte mu dengan seorang laki-laki sejati sepertimu. Nah, coba ceritakan, apa sebabnya gurumu menyuruh engkau mencari Kwa Bi Lan?"
"Karena Kwa Bi Lan te lah menculik pute ri suhu enambelas tahun yang lalu ketika anak itu berusia dua tahun."
Ouw Ling mengangguk-angguk.
Bagi seorang kangouw sepertinya yang sudah biasa mendengar te ntang hal-hal seperti itu, ia tidak merasa heran.
Hanya ingin tahu permusuhan apa yang te rdapat antara Kwa Bi Lan dan keluarga N aga Sakti Sungai Kuning itu.
"Kenapa gurumu yang sakti itu membiarkan saja sampai sekarang, tidak mencari dan merampas kembali pute rinya? Kurasa Kwa Bi Lan tidak akan mampu menandingi kelihaian Naga Sakti Sungai Kuning dan isterinya."
Siong Ki menggeleng kepalanya, tidak ingin menceritakan terlalu banyak tentang gurunya, te ntang dendam yang te rkandung di hati Kwa Bi Lan te rhadap gurunya, karena hal itu merupakan rahasia pribadi gurunya.
"Aku tidak tahu, enci, aku hanya ingin melaksanakan perintah suhu."
Ouw Ling te rsenyum dan mengangkat cawan anggurnya.
"Jangan khawatir, aku akan membantu dan kita pasti akan dapat menemukan penculik pute ri gurumu itu. Sekarang, mari kita minum sampai puas. Aku gembira sekali dapat bersahabat denganmu dan ingin merayakan kegembiraan ini berdua denganmu. N ah, minumlah, siauwte."
Siong Ki tentu saja tidak dapat menolak keramahan wanita itu dan diapun menemani Ouw Ling minum anggur sampai akhirnya guci anggur itu habis dan mereka berdua merasa ringan di hati dan kepala.
Pengaruh anggur mulai bekerja dan Siong Ki yang ketika berada di rumah suhunya, jarang sekali minum anggur sampai sedemikian banyaknya, mulai merasa aneh.
Dia mulai te rpengaruh alkohol dan hampir mabok.
Sebetulnya Ouw Ling adalah seorang wanita yang sudah kebal terhadap minuman keras.
Jangankan seguci anggur tadi dibagi dua dengan Siong Ki, andaikata ia habiskan sendiripun, ia tidak akan mabok.
A kan tetapi, ia berlagak mabok, te rtawa-tawa dan setelah anggur habis, ia bangkit berdiri.
"Aku.....aku ingin tidur.....kembali ke kamarku....."
Akan tetapi ia te rhuyung dan biarpun Siong Ki juga merasa agak pening, dia khawatir wanita itu mabok dan te rjatuh, maka cepat dia memegang pundak Ouw Ling agar wanita itu tidak te rguling jatuh.
"Hi-hik, kau.... kau baik sekali, siauw-te......kau tampan sekali......"
Ouw Ling merangkul dan menyandarkan kepalanya di dada yang bidang itu. Tentu saja Siong Ki merasa canggung dan salah tingkah, tidak tahu harus berbuat apa.
"Enci, engkau mabok, mari kuantar kembali ke kamarmu. Engkau harus beris tirahat dan tidur....."
Katanya, mencoba untuk mendorong wanita itu ke pintu.
Akan tetapi karena dia sendiri juga merasa seolah lantai bergoyang, mereka berdua jatuh terduduk di atas pembaringan.
Ouw Ling lalu merebahkan diri.
"Ouw-cici, pembaringanmu di sana, di kamarmu. Mari kuantar engkau pindah ke kamarmu .sendiri......"
Kata Siong Ki. Ouw Ling menggeliat seperti seekor kucing.
"Aihh, aku lelah, aku mengantuk.... apa sih salahnya aku tidur di sini? Di sana tidak ada te man, dingin dan kita-kita sudah menjadi sahabat baik, bukan......?"
Tangannya menangkap le ngan Siong Ki dan dengan lembut dia menarik pemuda itu yang te rpaksa duduk kembali ke tepi pembaringan karena memang dia agak pening.
Ras a aneh menguasainya, kepalanya terasa berat di luar dan ringan di dalam, melayang-layang dan le nyaplah semua ajaran gurunya te ntang tata-susila.
Diapun seperti hanyut dan tidak berdaya, te rseret oleh gelora nafsu berahi yang dikobarkan oleh Ouw Ling yang berpengalaman dan cerdik.
Dalam keadaan setengah sadar, Siong Ki yang masih hijau dalam pergaulan dengan wanita itu, seolah menjadi lilin lunak yang menyerah saja dibentuk dan dipermainkan oleh Ouw Ling.
Wanita itu memang berpengalaman dan ahli dalam menjatuhkan hati pria.
Usianya sudah empatpuluh tahun, akan tetapi ia nampak tidak le bih dari duapuluh lima tahun.
Siong Ki, biarpun amat lihai ilmu silatnya, kini menjadi korban dan mangsa yang lunak bagi Ouw Ling.
Pada keesokan harinya, ketika terbangun dari tidur dan mendapatkan dirinya berada dalam dekapan Ouw Ling, Siong Ki tersadar dan terkejut, bahkan timbul penyesalan besar dalam hatinya.
Namun, Ouw Ling segera dapat menghibur dan merayunya.
Sebentar saja buyarlah kesadarannya, kalah semua pertimbangan akal sehat oleh nafsu yang te lah menguasai dirinya dan Siong Ki menyerah.
Sejak malam hari itu, dia te lah dicengkeram oleh Ouw Ling, telah menjadi hamba dari nafsunya sendiri.
Lenyaplah semua kesadaran, bahkan dia tidak merasa bersalah, mengejar kesenangan dan pemuasan nafsu.
Dituntun oleh Ouw Ling yang berpengalaman.
Seseorang bole h saja memiliki kepandaian tinggi, dan dapat menandingi dan mengalahkan musuh yang bagaimana kuatpun.
Akan te tapi, musuh yang paling berbahaya bukan lain adalah dirinya sendiri, nafsu yang berada di dalam dirinya sendiri.
Betapapun kuatnya seseorang, belum te ntu dia akan mampu menandingi nafsunya sendiri.
Betapa banyaknya sudah contoh yang te rjadi di dalam sejarah, betapa orang-orang yang kuat dan te rkenal bijaksana, akhirnya jatuh oleh nafsunya sendiri.
Kalau nafsu sudah memperbudak manusia, maka manusia itu akan menjadi permainan nafsu, akan melakukan apa saja demi pemuasan nafsu sehingga segala pertimbangan akal sehat tidak akan mampu menghalanginya.
Kita tidak mungkin mematikan nafsu.
Tanpa adanya nafsu, kita tidak akan menjadi manusia, bahkan tidak mungkin dapat hidup.
Nafsu sudah diikutsertakan kita ketika kita lahir, dan nafsu merupakan peserta yang teramat penting bagi kehidupan manusia.
Nafsu yang membuat kita mengenal enak dan tidak enak, senang dan susah, baik dan buruk, dan selanjutnya.
Nafsu yang membuat mata kita mengenal keindahan, telinga kita mengenal kemerduan, hidung kita mengenal keharuman, mulut mengenal kelezatan dan sebagainya.
Nafsu yang merupakan pendorong sehingga hati akal pikiran kita dapat membuat segala macam kemajuan demi kenyamanan hidup.
Tanpa adanya nafsu, kita tidak dapat menikmati makanan dan mungkin kita tidak mau makan sehingga kelaparan.
Tanpa adanya nafsu, kita tidak akan melakukan perbaikan-perbaikan dan mungkin kita masih akan tinggal di goa-goa dan jaman kita masih tetap jaman batu.
Bahkan tanpa abanya nafsu berahi, pria dan wanita tidak akan saling te rtarik, tidak akan saling berhubungan, sehingga mahluk manusia tidak akan berkembang biak lagi.!
Jelas, nafsu mutlak perlu bagi kehidupan kita!
Akan te tapi, nafsu pula yang menyeret kita ke le mbah kesengsaraan, nafsu pula yang mendorong kita melakukan kejahatan, yaitu kalau nafsu yang tadinya diciptakan dan diikutsertakan kita untuk menjadi peserta dan menjadi pelayan, berbalik menjadi majikan yang memperhamba kita!
Kalau nafsu sudah mencengkeram kita, memperbudak kita maka keadaan menjadi berbalik sama sekali.
Nafsu mendorong kita menjadi budak yang selalu haus akan kesenangan, dan demi mengejar kesenangan itu kita menghalalkan segala cara.
Nafsu mengejar kesenangan melalui uang menghalalkan segala cara pencarian uang melalui korupsi, penipuan, pencurian, perampokan dan sebagainya.
Nafsu mengejar kesenangan melalui kedudukan menghalalkan segala cara pengejaran kedudukan melalui perbuatan kekerasaan, pengkhianatan, permusuhan, pembunuhan, perang dan sebagainya.
Nafsu mengejar kesenangan melalui berahi menghalalkan segala cara pengejarannya melalui perjinahan, pelacuran, perkosaan dan sebagainya.
Sejak dahulu kala, manusia berusaha untuk menanggulangi perbudakan oleh nafsu ini melalui pelajaran, pendidikan budi pekerti, agama, ilmu pengetahuan.
Manusia berusaha untuk menyadarkan diri betapa buruknya keadaan kita kalau diperbudak oleh nafsu.
Namun, melihat kenyataan yang ada, daya upaya manusia itu tidak banyak hasilnya.
Manusia tetap menjadi budak nafsu, sampai sekarang.
Bahkan setelah manusia memperoleh kemajuan pesat sekali dalam ilmu pengetahuan, tetap saja manusia tidak berdaya mengatasi nafsunya sendiri.
Ilmu pengetahuan sama sekali tidak berdaya mengendalikan nafsu.
Hal ini memang tidak aneh.
Ilmu pengetahuan dapat maju karena adanya nafsu dalam hati akal pikiran.
Mengharapkan pengertian dan pengetahuan untuk menalukkan nafsu, merupakan harapan hampa.
Pengetahuan tidak mungkin dapat menundukkan nafsu.
Hal ini banyak buktinya kalau kita membuka mata dengan waspada, melihat kenyataan dalam kehidupan ini, dalam diri sendiri maupun kehidupan manusia di sekeliling kita.
Baru cengkeraman nafsu yang amat kecil saja, misalnya merokok, sudah sedemikian kuatnya sehingga tidak dapat ditaklukkan oleh pengetahuan.
Semua perokok tahu dan mengerti bahwa merokok itu tidak baik untuk kesehatan dan sebagainya, namun mereka tetap tidak berdaya, tidak mampu menghentikan kebiasaan merokok!
Bahkan hati akal pikiran yang sudah dicengkeram nafsu muncul sebagai pembela untuk membenarkan kebiasaan merokok itu dengan bisikan-bisikan bahwa merokok itu baik.
agar nampak jantan, untuk menenangkan pikiran, untuk mencari ilham, untuk pergaulan dan segala macam pembelaan lagi.
Coba kita bertanya kepada semua pencuri di dunia ini.
Adakah seorang pencuri yang tidak tahu bahwa mencuri itu jahat?
Semua pencuri tahu dan mengerti!
Akan tetapi, mereka tetap saja mencuri!
Karena pengetahuan itu tidak dapat menundukkan nafsu yang mendorongnya untuk mencuri demi memperoleh kesenangan melalui uang!
De mikian pula para koruptor.
Adakah seorangpun di antara para koruptor yang tidak tahu bahwa korupsi itu tidak baik?
Semua koruptor tahu dan mengerti!
Akan tetapi tetap saja mereka melanjutkan perbuatan korupsi itu.
Dan hati akal pikiran, gudang pengetahuan dan pengertian itu, yang sudah dikuasai nafsu, bahkan menjadi pokrol, membela perbuatan korupsi itu sendiri dengan bisikan bahwa mereka melakukan korupsi untuk menghidupi anak bini, bahwa semua orang juga melakukannya, bahwa atasannya berkorupsi lebih banyak lagi dan sebagainya!
Dalam setiap perbuatan yang sebetulnya dimengerti bahwa itu tidak baik, selalu saja pikiran muncul sebagai pembelanya, untuk membenarkan perbuatan jahat itu, atau setidaknya, mengurangi keburukann ya!
Sekarang kita dihadapkan kepada keadaan yang amat sulit.
Nafsu mutlak perlu bagi kehidupan kita.
Kita mutlak membutuhkan nafsu untuk kelangsungan hidup di dunia ini.
Akan tetapi nafsu pula yang menyeret kita ke dalam le mbah kejahatan, menyeret kita untuk melakukan penyelewengan!
Lalu apa yang dapat kita lakukan?
Hati akal pikiran kita tidak berdaya, karena semua pengetahuan tidak dapat menundukkan nafsu yang merajale la Apa yang dapat kita lakukan agar nafsu kembali kepada tugas dan kedudukannya semula, yaitu menjadi peserta dan pelayan kita dalam kehidupan ini?
Apa yang dapat kita lakukan?
Pertanyaan ini sudah bergema sepanjang jaman.
Banyak orang pergi bertapa, menyiksa diri, melakukan segala macam tapabrata, semua ini merupakan usaha untuk menanggulangi nafsu, yaitu setan yang berada di dalam diri kita sendiri.
Namun, hampir tidak ada yang berhasil.
Lalu apa yang dapat kita lakukan?
Jawaban yang te pat kiranya hanyalah bahwa kita seyogianya tidak melakukan apa-apa!
Karena apapun yang kita lakukan, kelakuan itu masih dikemudikan oleh nafsu keinginan.
Ingin bebas dari nafsu!
Siapa yang ingin itu?
Itupun masih pikiran yang bergelimang nafsu.
Menginginkan sesuatu, walaupun keinginan itu merupakan keinginan bebas dari pada keinginan sekalipun!
Tuhan Maha Pencipta!
Tuhan maha Kuasa!
Tuhan Maha Kasih!
Kekuasaan Tuhan pula yang menciptakan adanya nafsu yang diikut-sertakan kita.
Karena itu, tidak ada kekuasaan lain di dunia ini yang akan mampu menundukkan nafsu, kecuali kekuasaan Tuhan!
Kita tidak perlu melakukan apapun.
Kita hanya menyerah, kita hanya pasrah kepada Tuhan, dengan penuh kesabaran, keikhlasan, ketawakalan!
Kita tidak perlu berusaha apapun untuk menundukkan nafsu, karena usaha apapun dari kita itu bahkan memperkuat nafsu, karena usaha itu sendiripun merupakan ulah nafsu.
Kita menyerah mutlak kepada Tuhan dengan penuh keimanan dan kepasrahan.
Penyerahan ini merupakan kuncinya, agar kekuasaan Tuhan selalu membimbing kita.
Kekuasaan Tuhan bekerja membimbing kita setelah nafsu tidak lagi membimbing dan menguasai kita.
Nafsu menjadi alat untuk hidup, namun kekuasaan Tuhan yang akan menjadi kendali, menjadi penuntun, dalam segala yang kita perbuat.
Kalau nafsu sudah mencengkeram diri, maka manusia menjadi lupa segala.
Seperti halnya Siong Ki.
Dia menjadi permainan nafsu yang mengasyikkan.
Apalagi nafsu itu digerakkan oleh pandainya Bi Tok Siocia Ouw Ling yang merayunya.
Dan Siong Ki jatuh, Diapun kini menuruti apa saja yang dikehendaki wanita itu.
Ketika Ouw Ling menyatakan kesediaannya mengawal keluarga pangeran yang akan ke kota raja, Siong Ki hanya setuju saja.
Ouw Ling yang mengatur dan memimpin, sedangkan dia hanya ikut s aja.
Pangeran yang menjadi hakim di Lok-yang itu bernama Pangeran Li Yan, masih kakak mis an dari Kaisar Tang Tai Cung yang dahulu bernama Pangeran Li Si Bin.
Tentu saja setelah pamannya, yaitu ayah Li Si Bin yang bernama Li Gan menjadi kaisar pertama dari Kerajaan Tang berjuluk Tang Kao Cu, Li Yan sebagai keponakannya, juga ikut te rangkat derajatnya, bahkan mendapat sebutan pangeran dan kini menjabat sebagai hakim di Lok-yang.
Pada jaman itu, kedudukan hakim merupakan kedudukan yang te rhormat dan tinggi, disegani dan ditakuti para pejabat tinggi lainnya.
Pangeran Li Yan berusia limapuluh tahun, isterinya yang akan melakukan perjalanan ke kota raja adalah is teri pertamanya yang berusia empatpuluh lima tahun, dan tiga orang anaknya yang ikut dengan ibu mereka ke kota raja adalah dua orang anak laki-laki dan seorang anak perempuan yang berusia dari sepuluh sampai limabelas tahun.
Isteri Pangeran Li Yan ini masih berdarah bangsawan dan berasal dari kota raja, dan sekali ini kepergiannya ke kota raja, selain menengok keluarga, juga untuk berpesiar bersama pute ra-pute rinya dan juga te ntu saja membawa surat laporan dari suaminya yang harus disampaikan kepada atasannya di kota raja.
De mikianlah, pada hari yang ditentukan.
Isteri pangeran itu bersama tiga orang anak-anaknya menunggang sebuah kereta dengan dua ekor kuda yang dikendalikan kusir keluarga pangeran itu.
The Siong Ki dan Ouw Ling menunggang dua ekor kuda mengawal di belakang kereta.
Ketika Hek I Sin-kai mengajak mereka menghadap Pangeran Li Yan, pangeran yang sudah percaya sepenuhnya kepada ketua kaipang itu segera menerima mereka dan menyetujui, bahkan senang sekali karena dua orang yang mengawal keluarganya bukan orang-orang berpakaian pengemis, melainkan seorang wanita cantik dan seorang pemuda tampan.
Di atas kereta itu sendiri dipasangi sebuah bendera hitam dengan tulisan Hek I Kaipang, sebagai tanda bahwa rombongan ini di bawah perlindungan perkumpulan pengemis itu.
Hal ini untuk menjamin agar di dalam perjalanan tidak ada yang berani mengganggu.
Juga mendengar permintaan Hek I Sinkai, pangeran itu menitipkan sebuah surat untuk pejabat di istana, dengan pesan kepada is terinya bahwa kalau kedua pengawal itu ternyata bekerja dengan baik, surat untuk memintakan pekerjaan bagi mereka di istana itu disampaikan kepada saudaranya yang menjadi pejabat di istana.
-ooo0dw0ooo-Kita tinggalkan dulu Siong Ki dan Ouw Ling yang mengawal keluarga pangeran Li Yan dari Lok-yang menuju ke Tiang-an, karena sudah terlalu lama kita meninggalkan Thian Ki.
Mari kita mengikuti perjalanan pemuda perkasa ini.
Seperti kita ketahui, Thian Ki meninggalkan ibu kandungnya dan ayah tirinya dengan membawa dua macam tugas.
Pertama, dia akan mengunjungi Si Han Beng untuk bertanya kepada pendekar itu, di mana dia bisa berte mu dengan Pek I Tojin atau He k Bin Hwesio karena hanya kedua orang itulah yang akan dapat menolongnya, yaitu membebaskannya dari pengaruh racun di tubuhnya.
Ke dua dia harus mengambil kembali pedang Liong-cu-kiam, yaitu pedang pusaka yang dulu menjadi milik Cian Bu Ong dan kini berada di istana kaisar.
Dia diberi waktu dua tahun oleh ibunya dan ayah tirinya.
Pada pagi hari itu, pagi-pagi sekali, berangkatlah Thian Ki meninggalkan dusun Ke-cung di tepi Sungai Kuning dan di kaki bukit Kim-san.
Dia membawa buntalan pakaian di punggungnya, dan tangannya memegang sebuah bungkusan kecil yang beris i makanan yang diberikan ole h Kui Eng kepadanya.
Kui Eng!
Gadis yang sejak kecil dianggapnya sebagai adik sendiri, kini seketika berubah baginya setelah ayah tirinya dan ibunya menyatakan bahwa dia dan Kui Eng ditunangkan, dijodohkan!
Dan terutama sekali perubahan yang besar terjadi dalam sikap Kui Eng.
Dahulu, gadis itu sayang dan manja kepadanya, menganggap dia sebagai kakak kandung.
Setelah gadis itu tahu bahwa Thian Ki bukan kakak kandungnya, bahkan sama sekali tidak ada hubungan darah, berlainan ibu dan berlainan ayah, dan mendengar bahwa pemuda itu menjadi calon suaminya, Kui Eng telah benar-benar jatuh cinta kepadanya.
Bukan lagi kasih sayang antara saudara, melainkan cinta kasih seorang wanita te rhadap seorang pria!
Dan tadi gadis itu menghadangnya untuk menyerahkan bungkusan makanan itu yang dimasak sendiri olehnya tenggah malam tadi.
De ngan langkah le bar dan cepat Thian Ki menuruni lereng terakhir.
Bermacam perasaan te raduk di dalam hatinya.
Biarpun kini dia menyadari sepenuhnya bahwa dia tidak bersalah, namun tetap saja hatinya menjadi sedih dan menyesal kalau dia te ringat kepada Kam Cin atau Cin Cin, gadis yang telah dia buntungi tangan kirinya itu.
Terpaksa dia harus melakukan hal itu secepatnya sebelum racun menjalar naik.
Andaikata dia tidak melakukan hal itu, sekarang Cin Cin pasti sudah tinggal nama saja, tentu telah te was.
Biarpun membuntungi tangan gadis itu merupakan perbuatan untuk menyelamatkan nyawa Cin Cin, namun bagaimanapun juga, hal itu te rjadi karena dia, karena tubuhnya yang beracun sehingga ketika mencengkeram pundaknya, otomatis gadis itu keracunan tangannya sehingga te rpaksa dia membuntungi tangan itu dengan pedang.
Kalau tidak, maka racun dari tangan itu akan menjalar naik dengan cepatnya dan kalau sudah sampai ke jantung atau otak, nyawa gadis itu tidak dapat ditolong lagi.
Racun dalam tubuhnya yang dimasukkan oleh mendiang neneknya memang hebat bukan'main.
Neneknya tidak percuma berjuluk Ban-tok Mo-li (Iblis Betina Selaksa Racun).
Thian Ki menghela napas panjang.
Masih te ringat dia akan pandang mata Cin Cin kepadanya ketika tangan gadis itu dibuntunginya.
Pandang mata yang penuh kekagetan, penuh penasaran, penuh kedukaan dan penuh dendam!
Terkenang dia akan pertemuannya yang pertama dengan gadis itu di te pi sungai Kiang, melihat gadis itu mandi telanjang, kemudian betapa Cin Cin membalasnya dan melihat dia mandi telanjang dan memakinya seperti monyet!
Kenangan ini membuat dia semakin sedih.
Tiba-tiba Thian Ki menahan langkah kakinya dan berdiri termenung seperti orang terkejut.
Memang dia terkejut oleh kenyataan di dalam hatinya.
Dia mencinta Cin Cin!
Kenyataan ini disusul dua hal yang membuat dia merasa te rpukul dan berduka, juga bingung.
Dia mencinta Cin Cin akan tetapi dia telah membuntungi tangan gadis yang dicintanya, sehingga gadis itu tentu s aja mendendam dan membencinya.
Dan hal ke dua, dia telah ditunangkan dengan Kui Eng yang mencintanya dengan tulus, padahal dia menyayang Kui Eng sebagai adik.
Dia merasa bingung sekali.
Cin Cin tidak bersalah ketika hendak membunuh ayah tirinya, yaitu Cian Bu Ong.
Pertama, karena Cin Cin melaksanakan tugas yang diperintahkan subonya yang disakiti hatinya ole h bekas pangeran itu, dan ke dua, dan ini lebih gawat lagi, akan tetapi agaknya belum diketahui Cin Cin, yaitu bahwa kehancuran He k-houw-pang yang mengakibatkan te wasnya ayah kandung Cin Cin, ketua Hek-houw-pang yang bernama Kam Seng Hin, adalah akibat serbuan orang-orang Cian Bu Onng!
Tidak, Cin Cin tidak dapat disalahkan.
Setelah menuruni le reng bukit itu, Thian Ki melanjutkan perjalanannya menyusuri Sungai Huai.
Dia hendak pergi ke Sin-yang yang berada di le mbah sungai itu.
Dari Sin-yang dia akan meneruskan perjalanan menuju ke kota raja untuk melaksanakan perintah ayah tirinya atau yang kini ingin disebut guru, karena dia hendak dijodohkan dengan pute ri gurunya itu.
Perintah itu bukan tugas yang ringan.
Dia harus mencari dan mengambil pedang pusaka Liong cu-kiam (Pedang Mustika Naga) yang dahulunya milik Kerajaan Sui dan yang kini menjadi pusaka Kerajaan Tang.
Berarti, dia harus dapat memasuki gedung te mpat penyimpanan pusaka dan mencari pedang itu.
Pekerjaan ini amat sukar dan berbahaya, karena gedung pusaka itu sudah pasti dijaga ketat, dan dia mendengar bahwa Kaisar Tang Tai Cung yang dahulu bernama Li Si Bin adalah seorang yang lihai dalam ilmu silatnya, dan di istana te rdapat banyak jagoan yang berilmu tinggi.
Dia harus berhati-hati sekali.
-ooo0dw0ooo-
Jilid 25 Thian Ki memasuki sebuah hutan kecil di tepi sungai dan kota Sin-yang sudah dekat.
Tembok kota sudah nampak dari hutan itu.
Tiba-tiba dia dikejutkan oleh isak tangis wanita.
Bulu te ngkuk meremang.
Bagaimana mungkin ada seorang wanita menangis dalam hutan yang biarpun kecil akan te tapi liar dan agaknya jarang didatangi manusia?
Jangan-jangan suara siluman yang didengarnya, karena menurut dongeng, di hutan-hutan yang le bat seringkali te rdapat banyak siluman yang suka menyamar menjadi wanita!
Biarpun demikian, dia tetap saja membelokkan langkahnya menghampir arah suara tangis itu.
Dari balik semak-semak, Thian Ki mengintai dengan heran.
Yang menangis itu adalah seorang wanita muda.
Usianya sekitar tigapuluh tiga tahun, akan te tapi ia masih nampak cantik jelita walaupun agak kurus dan mukanya pucat.
Diantara isak tangisnya, wanita itu mengeluh.
"Ayah......ibu.....anakmu sudah tidak tahan lagi hidup le bih lama di dunia.......tolonglah, ibu dan ayah, aku hendak menyusul kalian......"
Setelah menangis te rsedu-sedu, wanita itu mencabut sebatang pisau yang mengkilap karena tajam dan runcing, dan sekuat tenaga menggerakkan pisau itu untuk ditusukkan ke dadanya sendiri.
Akan tetapi ia menjerit karena tiba-tiba tangan yang memegang pisau itu seperti lumpuh dan pisau itu te rlepas dari pegangan tangannya!
Ia mendengar langkah kaki dan menoleh dengan wajah pucat dan matanya te rbelalak ketika melihat Thian Ki melangkah menghampirinya.
"Ahhhh..........!"
Wanita itu nampak te rkejut dan takut sekali, sehingga Thian Ki cepat menghiburnya.
"Nyonya, harap jangan takut. Aku datang untuk menolongmu, bukan mengganggumu,"
Katanya dan diapun duduk di atas akar pohon yang menonjol keluar dari dalam tanah, berhadapan dengan wanita itu yang masih duduk bersimpuh.
"Kau......kau bukan suruhan.......suamiku......?"
Tanya wanita itu dengan lirih.
Thian Ki menggeleng kepalanya dan memandangnya.
Dari pertanyaan itu s aja dia dapat mengambil kesimpulan, bahwa wanita ini takut kepada suaminya dan mungkin sekali ia hendak membunuh diri karena ulah suaminya, dan bahwa wanita ini sudah ditinggal mati ayah dan ibunya.
"Nyonya, aku tidak mengenalmu dan tidak mengenal siapa suamimu. Aku hanya kebetulan saja lewat dan melihat engkau melakukan perbuatan nekat, terpaksa aku mencegahnya. Maafkan kelancanganku."
"Kalau begitu, aku mohon kepadamu, tinggalkan aku sendiri, biarkan aku mati menyusul orang tuaku, aku tidak ingin hidup lagi, tidak ingin perpanjang penderitaan yang sudah tak dapat kutahankan lagi......"
Wanita itu menangis dan hendak meraih pisaunya yang tadi te rlepas dan kini berada di dekatnya. Akan tetapi, tiba-tiba saja pisau itu lenyap dan te lah berada di tangan Thian Ki.
"Orang muda, bunuhlah aku dengan pisau itu.........aku ingin mati......!"
"Tidak, nyonya, engkau tidak bole h mati..."
"Orang muda, apa kaukira akan dapat mencegah aku mengakhiri hidupku? Sekarang engkau dapat saja memaksaku untuk tidak membunuh diri, akan tetapi setelah kita berpisah, mudah saja bagiku untuk membunuh diri. Menggantung diri, te rjun ke jurang, minum racun, membenturkan kepalaku ke batu, banyak jalan untuk membunuh diri!"
Wanita itu kini merasa marah dan penasaran melihat pemuda yang tidak dikenalnya berkeras hendak menghalanginya mengakhiri penderitaan hidupnya.
"Maafkan aku, nyonya. Akan te tapi, niatmu itu sungguh salah sekali. Selain engkau akan berdosa kepada Pemberi Hidup, juga usahamu mengakhiri penderitaan itu akan sia-sia belaka. Apakah kaukira bahwa kematian itu mengakhiri penderitaan. Kematian merupakan kelanjutan daripada kehidupan ini, nyonya, dan penderitaan tidak akan hapus begitu saja setelah kita mati. Bahkan mungkin di sana menanti penderitaan yang jauh le bih hebat daripada penderitaan sewaktu hidup?"
Wanita itu menyusut air matanya dan kini ia mengangkat muka, menatap wajah Thian Ki.
Ketika pandang matanya bertemu dengan sepasang mata yang mencorong penuh wibawa, ia te rkejut dan maklum bahwa ia berhadapan dengan seorang pemuda yang bukan orang biasa.
"Orang muda, kau kira aku tidak tahu akan semua itu? Aku juga pernah membaca kitab. Akan tetapi, aku yakin tidak ada penderitaan yang le bih berat daripada yang kualami selagi hidup ini. Aku ingin mengakhiri semua ini."
"Nyonya yang baik, hidup memang merupakan medan perjuangan yang beris i suka dan duka, kemudahan atau kesukaran. Kalau sewaktu kita menghadapi kesukaran, tidak semestinya kalau kita pergi menghindarinya, melarikan diri dari kesulitan. Kita harus berdaya upaya untuk menghadapinya, menanggulanginya dan mengatasinya. Karena itu, kesukaran apapun yang kauhadapi, sepatutnya kalau engkau melawannya, nyonya, bukan melarikan diri dengan jalan membunuh diri. Dan aku berjanji, aku akan membantumu menanggulangi kesukaranmu. Katakanlah, mengapa engkau menjadi berduka dan putus harapan?"
Wanita itu menggeleng kepala dan menghela napas panjang.
"Tidak ada gunanya, orang muda. Aku tidak ingin engkau, seorang yang tidak kukenal sama sekali, terseret dan celaka pula karena hendak menolongku. Tidak a da seorangpun di dunia ini yang akan dapat menolongku, orang muda."
Thian Ki tersenyum.
Dia tidak menyalahkan wanita ini kalau tidak percaya padanya.
Dan ketidak-percayaan ini pasti ada hubungannya dengan keadaan wanita itu.
Wanita itu tentu mengira bahwa tidak ada orang yang akan mampu menolongnya dan ini berarti bahwa yang membuat dia berduka itu tentulah keadaan yang amat gawat, orang-orang yang agaknya sukar dikalahkan atau ditundukkan.
"Nyonya, harap jangan memandang rendah kepadaku. Kalau aku menawarkan bantuan, te ntu sudah kuperhitungkan dan aku yakin akan kesanggupanku. Aku mampu melawan orang yang bagaimana jahat dan lihaipun!"
Dia sengaja bicara sombong untuk menggugah kepercayaan wanita itu kepadanya, atau setidaknya untuk menarik perhatiannya.
Usahanya berhasil.
Wanita itu kini mengamatinya penuh perhatian, matanya yang merah dan masih basah itu, bagaikan matahari yang baru mulai te rlepas dari selimut awan tebal, kini nampak agak bercahaya dengan harapan.
"Kau........ kau...... seorang pendekar?"
Tanyanya, penuh harapan.
Kalau dalam keadaan biasa, tidak mungkin dia mau mengaku bahwa dia seorang pendekar yang berkepandaian tinggi.
Akan te tapi dalam keadaan seperti itu, dia harus mengaku untuk membesarkan hati wanita yang putus asa itu.
"Nyonya, aku Coa Thian Ki selalu menjunjung tinggi kegagahan, membela kebenaran dan keadilan dan menentang kejahatan, mengandalkan ilmu kepandaian yang kupelajari sejak kecil. Nah, percayalah kepadaku bahwa aku akan sanggup menolongmu dari tangan orang jahat, dan ceritakan apa yang menjadi penderitaanmu sampai membuatmu putus asa nyonya."
Agaknya kini timbul kepercayaan di hati wanita itu. Setelah beberapa kali menghela napas panjang, iapun memperkenalkan dirinya.
"Namaku Li Ai Yin, mendiang ayahku adalah Pangeran Li Siu Ti.........."
"Ahhh....!"
Thian Ki berseru, terkejut.
"Kalau begitu........nyonya adalah seorang putri bangsawan is tana dan......apakah mendiang ayah nyonya adalah Pangeran Tua yang kabarnya..."
Thian Ki meragu untuk melanjutkan. Li Ai Yin mengangguk.
"Benar, ayahku sekeluarga telah dijatuhi hukuman mati karena memberontak terhadap Kaisar, enambelas tahun yang lalu. Hanya aku seorang yang berhasil lolos dari hukuman mati karena aku dilarikan oleh........suamiku......dan tinggal di Sin-yang sampai sekarang."
"Kalau begitu, nyonya te rmasuk beruntung, dapat meloloskan diri bersama suami nyonya. Lalu kenapa sekarang........"
"Mula-mula memang aku berbahagia dengan suamiku yang tadinya bekerja sebagai pengawal ayah. Kami saling mencinta dan aku menganggap dia orang yang paling gagah perkasa dan paling baik di dunia ini. Walaupun kami belum mempunyai anak, namun aku te tap berbahagia dan setia kepadanya, membantu semua usahanya yang dimulai dari bawah kembali. Kemudian, dia berhasil mendirikan perkumpulan Koai-liong-pang (Perkumpulan Naga Setan) di Sin-yang. Perkumpulan itu menjadi besar dan berpengaruh, dan membuat kami hidup serba cukup, bahkan kaya. Akan te tapi, barulah nampak belangnya dan baru kuketahui siapa sebenarnya suamiku yang tadinya kuanggap sebagai seorang pendekar yang gagah perkasa itu. Ternyata dia seorang yang berhati palsu, kejam dan juga mata keranjang. Betapa sakitnya hatiku melihat dia bertindak keji, merampas anak gadis atau is teri orang, memperkosanya di depan mataku, dan dia memperlakukan aku sebagai bujang saja, bahkan seringkali aku dia pukuli dan siksa, demi menyenangkan selir-selirnya. Ahh, untuk apa aku hidup te rus seperti itu? Hari ini aku mendapat kesempatan lolos keluar dan menuju ke hutan ini untuk membunuh diri, karena kalau di rumah, aku tidak akan mendapat kesempatan. Engkau.........., bagaimana mungkin dapat menolongku orang muda? Engkau hanya seorang diri, selain suamiku itu amat sakti, juga dia mempunyai anak buah yang banyak, tidak kurang dari limapuluh orang dan kesemuanya jahat dan kejam. Aku tidak ingin engkau celaka kalau menolongku dan mene ntang mereka."
Thian Ki merasa iba sekali.
Seorang pute ri pangeran, bahkan masih adik sepupu kaisar yang sekarang, yang ketika kecil tentu hidup serba mewah dan dimuliakan orang, sekarang merasa sengsara karena keliru memilih suami dan ingin membunuh diri.
Mendengar bahwa suami wanita itu sakti, pendiri Koai-liong-pang, hati Thian Ki te rtarik sekali.
"Nyonya, siapakah suami nyonya itu?"
"Pertanyaanmu membuktikan bahwa engkau bukan orang dari daerah Sin-yang. Karena kalau demikian halnya, pasti engkau tahu siapa ketua Koai-liong-pang. Namanya Can Hong San."
Thian Ki merasa terkejut bukan main, akan tetapi wajahnya tidak membayangkan sesuatu.
Tentu saja dia tahu siapa Can Hong San itu!
Ibunya telah menceritakan nama tokoh besar dan datuk persilatan, dan menurut ibunya, Can Hong San adalah pute ra mendiang Cui-beng Sai-kong pendiri perkumpulan penyembah Thian-te Kwi-ong (Raja Setan Langit Bumi).
Can Hong San, menurut ibunya, amat lihai akan tetapi juga amat jahat.
Bahkan orang itu merupakan seorang di antara para penyerbu He k-houw-pang dan dia pula yang membunuh ayah kandungnya, Coa Siang Lee, dalam penyerbuan itu.
Can Hong San adalah pembunuh ayahnya dan dia suami nyonya ini!
"Jangan khawatir, nyonya.
Aku siap untuk menolongmu.
Nah, katakan saja, apa yang harus kulakukan untuk menolong nyonya?"
Wanita itu termenung, dan sebelum ia menjawab, tiba-tiba te rdengar suara gaduh dan Thian Ki berkata.
"Duduk sajalah, nyonya. Ada beberapa orang datang ke sini, biarkan aku yang menghadapi mereka."
"Aih, celaka........mereka pastilah orang-orang yang disuruh suamiku untuk mencariku. Mereka itu lihai dan kejam sekali. Larilah, orang muda, tinggalkan aku sendiri!"
Ai Yin yang sudah putus asa itu tidak ingin melihat orang lain dibunuh karena membelanya.
"Tenanglah, nyonya. Aku akan menghajar mereka kalau mereka berani mengganggumu."
Muncullah empat orang laki-laki yang bertubuh kokoh kuat dan bersikap bengis. Mereka berteriak-te riak ketika melihat Li Ai Yin.
"Itu ia di sana!"
"Bersama seorang pemuda lagi! Tentu pemuda itu biangkeladinya sehingga ia melarikan diri!"
De ngan tenang sekali Thian Ki berdiri menghadang ke depan Ai Yin, akan tetapi sebelum dia bicara, dia didahului Ai Yin yang berkata dengan lantang.
"Mau apa kalian mencariku? Pergi dan jangan ganggu aku!"
Suaranya te rdengar memerintah dan hal ini wajar karena empat orang itu adalah para pembantu suaminya.
Akan tetapi, Ai Yin melihat perubahan besar dari sikap mereka.
Bias anya, mereka menghormatinya sebagai isteri ketua mereka, akan tetapi sekarang mereka tertawa ha-ha-hi-hi mendengar bentakan wanita itu.
"Kami diutus pang-cu (ketua) untuk mencari, nyonya,"
Kata seorang di antara mereka yang berkumis tebal.
"Pergilah kalian, aku tidak mau pulang. Katakan kepada ketua kalian bahwa aku tidak sudi pulang, dan lebih baik aku mati daripada harus kembali ke sana!"
Suaranya penuh kemarahan dan kebencian.
Akan te tapi, empat orang itu tetap tertawa-tawa, menyeringai dengan sikap kurang ajar, sama sekali tidak menghormati nyonya ketua mereka.
Si kumis te bal yang agaknya menjadi pembicara dan pemimpin mereka, melangkah maju dan matanya melotot seperti hendak menelan nyonya itu bulat-bulat.
"Heh-heh, nyonya manis, kami tidak dis uruh menjemputmu, melainkan disuruh membunuhmu, ha-ha-ha!"
Akan te tapi ancaman yang disusul tawa empat orang itu, sama sekali tidak membuat s ang nyonya menjadi ketakutan seperti yang mereka duga.
Ai Yin bahkan bangkit berdiri dan menegakkan le her menatap mereka dengan pandang mata menantang.
"Bunuhlah, lebih baik aku mati daripada harus kembali ke sana!"
Empat orang itu te rtegun, dan untuk melenyapkan rasa kecelik itu, si kumis tebal te rtawa lagi.
"Ha-ha-ha, kami tidak akan membunuh begitu saja, manis. Kami akan bersenang senang dulu denganmu, nyonya manis!"
"Jahanam busuk, berani kau........!!"
Ai Yin membentak dan mukanya berubah merah saking marahnya. Empat orang itu te rtawa.
"Sayang kalau dibunuh begitu saja. Sudah lama engkau membuat kami seringkali mengilar. Marilah, manis, mari bersenang-senang dengan kami!"
Ketika empat orang itu melangkah maju untuk menangkap Ai Yin, Thian Ki sudah maju menghadang.
"Empat orang laki-laki pengecut dan rendahbudi, beraninya hanya mengganggu wanita le mah!"
Kata Thian Ki, suaranya dingin akan tetapi pandang matanya bernyala.
"Eh, eh.........! Siapa kau, anak kecil berani mencampuri urusan orang? Apa engkau sudah bosan hidup?"
"Kalian ini manusia-manusia yang sudah dikuasai iblis yang sudah bosan hidup kalau kalian tidak cepat pergi dan jangan mengganggu nyonya ini,"
Kata Thian Ki.
Mata si kumis tebal melotot dan hampir dia tidak percaya ada seorang pemuda berani bersikap dan berkata seperti itu kepadanya!
Seluruh penduduk kota Sin-yang dan sekitarnya, tak seorangpun berani bersikap kasar kepadanya!
"Bocah gila, apa engkau tidak tahu bahwa engkau berhadapan dengan aku, Harimau Kumis Tebal?"
Bentaknya dan mengamangkan tinju kanannya yang sebesar kepala anak-anak itu ke arah Thian Ki.
"Hemm, manusia sombong. Aku akan membuat engkau menjadi anjing tanpa kumis!"
Kemarahan si kumis te bal tak dapat ditahan lagi.
"Jahanam!"
Bentaknya dan dengan gerengan seperti beruang marah, diapun menyerang Thian Ki sedangkan tiga orang lainnya hanya menonton sambil menyeringai, karena mereka semua yakin bahwa dalam segebrakan saja rekan mereka akan dapat melumatkan tubuh pemuda itu dan mereka ingin menikmati tontonan itu.
"Wuuuut.......!"
Kepalan tinju besar itu menyambar ke arah muka Thian Ki.
Akan tetapi dengan gerakan otomatis dan mudah sekali Thian Ki menarik mukanya ke belakang pada saat tinju itu hampir menyentuh pipinya, dan pada saat tinju itu lewat di depan mukanya, tangannya yang kiri menyambar ke arah pipi lawan.
"Plakk.....!! Aduhh.........!"
Si kumis tebal hampir te rsungkur, dan dia meludahkan beberapa buah gigi bercampur darah keluar dari mulutnya, meringis dan kemarahannya meluap.
"Jahanam...........!"
Bentaknya pelo karena mulutnya membengkak, dan begitu tangan kanannya bergerak, dia sudah mencabut sebatang golok dan mengamuk seperti orang gila, menghujankan bacokan golok ke arah Thian Ki.
Akan tetapi, yang nampak ole hnya hanya bayangan berkelebatan ke kanan kiri.
Dia menyerang dengan ngawur saja, mengejar bayangan itu dengan sabetan goloknya.
Tiba-tiba, le ngan kanannya te rpukul dari samping membuat lengan itu terasa lumpuh dan nyeri, dan goloknya te rlepas.
Tangan kanan Thian Ki sudah menyambar ke arah muka lawan dan sekali renggut terdengar suara "brett......"
Disusul jerit kesakitan dan kini si kumis te bal sudah kehilangan kumisnya dan di te mpat itu kini nampak kulit di bawah hidung itu te robek dan berdarah!
Si pemilik kumis mendesis-desis saking nyerinya, juga nyeri hatinya karena dia kehilangan kumis yang dia banggakan.
Tiga orang kawannya te rkejut bukan main, juga marah melihat betapa kawan mereka dihina, dan mereka bertiga sudah mencabut golok dan mengepung Thian Ki.
Sebaliknya, Ai Yin berdiri te rbelalak kagum.
Tak disangkanya bahwa pemuda itu dapat membuat Harimau Kumis Tebal yang merupakan pembantu suaminya yang paling lihai, paling galak dan paling kejam, sama sekali tidak berdaya dan dikalahkan dalam beberapa gebrakan saja.
Timbul harapan dan kepercayaan dalam hatinya bahwa pemuda ini akan dapat menolongnya.
Akan tetapi tetap saja dia merasa khawatir karena kini tiga orang itu sudah berteriak-teriak sambil menyerang Thian Ki yang bertangan kosong dengan golok mereka.
Kalau saja Thian Ki belum digembleng mendiang neneknya selama dua tahun dan belum menguasai te naga saktinya yang beracun, tentu sekali tampar saja dia dapat membuat lawan tewas dengai tubuh keracunan.
Akan te tapi kini dia telah dapat menguasai tenaga itu sehingga dia mampu "menyimpan"
Hawa beracun itu dan hawa itu tidak akan bergerak keluar kalau tidak dikehendakinya.
Hanya te ntu saja, darahnya masih mengandung racun mengerikan sehingga siapa yang menyerangnya dengan pukulan berte naga sin-kang, atau mencengkeramnya, orang itu akan keracunan, seperti halnya Cin Cin.
Untuk melenyapkan ini, tidak ada jalan lain kecuali membersihkan darahnya dan yang dapat melakukan hal ini hanyalah orang yang benar-benar sakti.
Kini, menghadapi pengeroyokan tiga orang itu, te ntu saja tidak membuat Thian Ki repot.
Tingkat ilmu silatnya yang dia dapatkan dari ajaran ayah tirinya, jauh le bih tinggi daripada tingkat kepandaian tiga orang itu, maka begitu dia menggerakkan tubuhnya, maka bayangannya berkelebatan di antara gulungan sinar tiga batang golok para pengeroyok.
Ge rakan kedua tangannya jauh le bih cepat ketimbang gerakan tiga batang golok lawan.
Thian Ki tidak ingin berkelahi te rlalu lama menghadapi orang-orang kasar itu, maka begitu Harimau Kumis Tebal yang kini tidak berkumis itu terjun pula ke dalam medan perkelahian, menahan nyeri pada mukanya dan membacokkan goloknya dengan nekat, Thian Ki sudah mengeluarkan bentakan melengking empat kali dan akibatnya, empat orang itu te rpelanting ke kanan kiri, golok mereka te rpental entah ke mana dan tulang le ngan kanan mereka semua patah-patah!
Barulah empat orang itu te rkejut dan je rih, dan tanpa diperintah lagi mereka lari tunggang langgang meninggalkan te mpat itu, tidak berani menoleh lagi.!
Ketika Thian Ki menoleh ke arah wanita itu, dengan kaget dia melihat wanita sudah berlutut di depannya.
"Taihiap.........terima kasih, taihiap. Sekarang aku percaya......taihiap kiranya yang akan dapat menolongku......"
Katanya terharu.
"Aih, nyonya. Jangan begitu, bangkitlah dan jangan menghormatiku secara berlebihan. Engkau seorang pute ri bangsawan, bangkitlah...."
Terpaksa Thian Ki menyentuh kedua pundak wanita itu dan Ai Yin merasakan getaran hebat yang membuat ia te rpaksa bangkit duduk.
Kemudian iapun kembali duduk berhadapan dengan Thian Ki di bawah pohon besar itu.
"Nah, sekarang katakanlah, pertolongan apa yang harus kuberikan kepadamu, nyonya? Apakah engkau menghendaki aku menemui suamimu dan memaksanya agar dia bersikap baik kepadamu?"
"Tidak, tidak! Dan jangan sebut aku nyonya, taihiap. Namaku Li Ai Yin, dan aku bukan lagi pute ri bangsawan, juga bukan lagi is teri ketua Koai-liong-pang. Aku tidak sudi lagi kembali kepadanya, le bih baik aku mati daripada harus kembali kepadanya........"
"Akan te tapi, kalau dia berjanji akan bersikap baik kepadamu?"
"Tidak, tidak mungkin! Dia seorang perayu yang palsu, andaikata engkau dapat memaksanya untuk bersikap baik kepadaku, te ntu itu hanya tipuan belaka, dan kalau engkau sudah tidak ada, dia pasti akan melampiaskan dendamnya kepadaku. Dia perayu dan kejam seperti iblis, taihiap."
"Nyonya, kalau engkau tidak ingin kusebut nyonya, jangan sebut aku tai-hiap. Namaku Coa Thian Ki, rasanya kikuk kalau engkau menyebut aku taihiap."
"Baiklah, siauw-te (adik).... padahal engkau memang pantas disebut pendekar besar. Aku berte rima kasih sekali, dan agaknya engkaulah harapanku satu-satunya. Hanya engkau yang kiranya akan dapat membebaskan aku dari derita ini."
"Akan te tapi, bagaimana caranya, enci Ai Yin?"
Tanya Thian Ki yang kini tanpa ragu menyebut enci kepada wanita itu.
"Kalau engkau tidak ingin kembali kepada suamimu, lalu apa yang dapat kulakukan untuk membantumu?"
"Terserah kepadamu, Coa-siauwte. Terserah apa yang akan kaulakukan. Aku hanya ingin hidup te rbebas dari Can Hong San. Aku ingin hidup sendiri tanpa terancam oleh dia dan anak buahnya. Mereka itu kejam sekali, bukan hanya kepadaku, akan te tapi kepada rakyat daerah Sin-yang. Ah, engkau tidak tahu apa saja yang mereka lakukan siauwte."
Ai Yin lalu menceritakan tentang semua sepak te rjang suaminya.
Setelah terjadi penyerbuan pasukan istana kepada Pangeran Tua Li Siu Ti yang diketahui hendak memberontak, Ai Yin diajak pergi melarikan diri oleh Can Hong San.
Wanita ini menurut saja, karena ia telah dikuasai oleh bekas pembantu ayahnya itu, telah menyerahkan diri di luar kesadarannya.
Dalam pelarian ini, Can Hong San bersikap baik dan mencinta padanya, maka agak terhiburlah hatinya.
Setelah merantau berpindah-pindah tempat karena takut akan pengejaran dan pencarian dari kota raja, akhirnya beberapa tahun kemudian mereka menetap di Sin-yang.
Keadaan sudah aman dan tidak ada pencarian, maka Can Hong San mulai menata hidupnya.
Mengandalkan kepandaiannya yang tinggi, dia menaklukkan para tokoh kangouw dan para jagoan di daerah Sin-yang, dan ketika dia mendirikan perkumpulan yang diberi nama Koai-liong-pang, banyak jagoan yang suka menjadi anak buahnya.
Dan perkumpulan ini dalam waktu singkat menundukkan para jagoan, menguasai semua te mpat pelesir dan kemaksiatan dengan memungut semacam "pajak"
Yang besar.
Sebentar saja, nama Koai-liong-pang ditakuti orang dan pemilik segala macam perusahaan, terutama sekali yang bersangkutan dengan hiburan tidak berani membantah dan membayar uang pajak atau sumbangan yang dikatakan sebagai biaya penjagaan keamanan.
Siapa yang tidak mau membayar, te ntu akan menjadi tidak aman lagi.
Sebentar saja Can Hong San menjadi kaya raya dan setelah memperoleh kekayaan dan kedudukan atau kuasa, mulailah nampak belangnya terhadap Li Ai Yin yang menjadi isterinya.
"Dia mengambil banyak gadis , bahkan is teri orang, sebagai selir paksaan, bahkan sering dia memaksa seorang wanita di dalam kamar kami, di depan mataku sendiri. Kalau aku mencela, dia memukul dan menyiksaku. Pernah dia dengan te rus te rang mengatakan bahwa dahulu dia mempersuntingku bukan karena cinta, melainkan karena ingin menjadi mantu pangeran. Sekarang, setelah keluarga ayah hancur, dan aku bukan lagi pute ri pangeran, diapun tidak membutuhkan aku lagi. Ahh, siaute, bertahun-tahun aku harus menahan diri te rhadap siksaan lahir bathin itu. Penderitaan itu sampai dipuncaknya ketika malam tadi dia memberikan aku kepada para pembantunya! Aku tidak sudi dan karena para anak buahn ya masih segan kepadaku, maka aku masih mampu mempertahankan kehormatanku dan pagi ini aku melarikan diri ke sini."
"Betapa kejam dan jahatnya!"
Thian Ki berseru sambil mengepal tinju.
"Untung bahwa dalam pernikahanku dengannya, kami belum mempunyai keturunan, Coa-siauwte. Nah, sekarang engkau te ntu mengerti bahwa satu-satunya keinginanku hanya agar aku dapat te rbebas darinya. Aku han ya mau melanjutkan hidup ini kalau te rbebas dari cengkeraman manusia iblis itu."
Thian Ki mengangguk-angguk. Dia mengerti. Li Ai Yin ini bukan seorang isteri yang tidak setia kepada suami.
"Baiklah, enci Ai Yin. Gerombolan Koai-liong-pang itu tidak boleh dibiarkan saja merajalela dan mencelakai penduduk. Hal ini harus dilaporkan kepada yang berwajib. Mari kau ikut denganku, enci."
Thian Ki lalu mengajak Ai Yin memasuki kota Sin-yang.
Wanita itu tentu saja ketakutan, khawatir kalau sampai diganggu ana k buah suaminya, akan tetapi agaknya pihak Koai-liong-pang te rlalu kaget mendengar akan nasib tiga orang pembantu utama ketua mereka yang berte mu seorang pemuda yang amat lihai, sehingga Thian Ki dan Ai Yin tidak sempat diganggu sampai mereka tiba di gedung pembesar setempat, yaitu rumah dan kantor kepala daerah Sin-yang yang bernama Gan Hok.
Gan-taijin adalah seorang yang berusia limapuluh tahun, dan dialah pejabat pemerintah yang paling tinggi kedudukannya di Sin-yang.
Seperti kebanyakan pejabat pemerintah di masa itu, Gan-taijin juga seorang pejabat yang kurang memperhatikan keadaan atau kehidupan rakyatnya, hanya memikirkan kesejahteraan keluarganya sendiri saja.
Maka, dia tidak begitu tahu akan sepak te rjang Koai-liong-pang, bahkan andaikata tahupun, asalkan para anggota Koai-liong-pang tidak mengganggu pemerintah, dan le bih-lebih kalau perkumpulan itu membayar pajak dan sumbangan yang besar, diapun akan pura-pura tidak tahu saja.
Karena dia tidak mengenal Thian Ki dan Ai Yin, maka diapun menyambut kedatangan mereka dengan sikap dingin dan acuh saja.
"Hemm, siapakah kalian dan ada urusan apakah sepagi ini sudah mengganggu kesibukanku?"
Te gurnya dengan sikap ketus.
Thian Ki mengerutkan alis nya.
Sudah terlampau sering dia melihat pembesar yang seperti ini sikapnya, memandang rendah orang lain, akan tetapi bersikap manis kepada orang yang datang membawa hadiah yang bes ar.
"Maafkan kalau kami mengganggu, Taijin,"
Kata Thian Ki dengan sikap te nang.
"Saya bernama Coa Thian Ki dan ini adalah kakak perempuan saya yang bernama........Coa Ai Yin. Kami sedang melakukan perjalanan dan kebetulan lewat di Sin-yang. Dan di kota Taijin ini, kami melihat seorang buronan kota raja, bahkan dia te lah menyusun kekuatan di kota ini. Kalau hal ini sampai diketahui Sri baginda, tentu nama baik Taijin akan te rcemar."
Seketika wajah pembesar itu menjadi pucat.
Kalau ada yang ditakuti, maka satu satunya adalah kota raja, di mana terdapat kaisar dan para atasannya!
Sekali gerakan telunjuk para atasan, akan hancurlah kedudukann ya dan kehidupannya.
"Apa kau bilang? Seorang buronan di kota inil? Siapa dia? Hayo ceritakan dengan jelas dan jangan melempar fitnah kepada orang!"
Bentak pembesar itu dan para pembantunya yang hadir juga te rbelalak heran dan terkejut. Thian Ki tetap tenang.
"Ingatkah Taijin akan peristiwa yang terjadi di kota raja enambelas tahun yang lalu ketika Pangeran Tua Li Siu Ti sekeluarga dihukum karena dia melakukan pemberontakan?"
"Tentu saja! Akan tetapi apa hubungannya dengan kota ini?"
"Begini, Taijin. Diantara para pembantu utama mendiang Pangeran Tua yang memberontak, pembantu yang paling lihai, telah berhasil meloloskan diri dan sampai sekarang belum te rtangkap. Dan kami melihat buronan itu sekarang menjadi penduduk Sin-yang, bahkan memiliki pengaruh dan kekuasaan besar. Kalau hal ini diketahui kota raja, bukankah Taijin akan dituduh bersekongkol dengan buronan itu dan melindunginya?"
Thian Ki lalu memberi isyarat kepada Ai Yin dan mereka bangkit.
"Akan te tapi kalau Taijin tidak percaya kepada kami, sudahlah, kami akan melanjutkan perjalanan dan semua akibat silakan Taijin tanggung sendiri!."
"Hei...., eh, nanti dulu.......orang muda, jangan te rgesa-gesa dan silakan duduk."
Pembesar itu te rgopoh-gopoh mencegah Thian Ki dan Ai Yin pergi. Kedua "Kakak beradik"
Itupun duduk kembali dan kini sikap pembesar itu menjadi lain.
Dia memerintahkan pembantunya untuk memanggil komandan pasukan keamanan yang segera muncul, seorang laki-laki tinggi besar dan gagah berusia empatpuluh tahun lebih.
Mereka semua duduk mendengarkan laporan Thian Ki.
"Taijin, orang itu bernama Can Hong San, ketika menjadi pembantu mendiang Pangeran Tua dia memakai nama Siauw Can. Dan dia sekarang berhasil menghimpun para tokoh kangouw, para penjahat keji mendirikan perkumpulan Koai-liong-pang di kota ini!"
Gan-taijin terbelalak.
"Koai-liong-pang? Akan tetapi......sikap mereka selama ini baik-baik saja, tidak pernah mengganggu petugas pemerintah, bahkan amat baik......"
Tiba-tiba pejabat itu diam karena ingat bahwa tidak semestinya dia menceritakan kebaikan Koai-1iong-pang yang suka memberi sumbangan dan hadiah yang cukup banyak!
"Maksudku........koai-liong-pang tidak pernah memusuhi kami."
"Mungkin saja begitu, Taijin, karena Can Hong San itu memang licik sekali. Akan tetapi tidak tahukah Taijin akan sepak terjang para anggota Koai-liong-pang te rmasuk pimpinannya? Mereka seringkali mengganggu penduduk, melakukan pemerasan, bahkan tidak segan merampas barang orang, juga sudah sering mereka memaksa gadis bahkan is te ri orang, menjadi selir mereka. Mereka melakukan perkosaan dan penindasan."
Wajah pembesar itu berubah. Berita ini sungguh amat mengejutkan hatinya. Dia menoleh kepada komandan pasukan keamanan.
"Benarkan itu, Lui ciangkun?"
Tanyanya. Komandan itu menghela napas panjang.
"Me mang Koai-1iong-pang tidak pernah memusuhi kita, Taijin, akan tetapi mereka memang menguasai semua tempat hiburan, dan memungut pajak dari toko-toko besar. Semua ini pernah s aya laporkan kepada Taijin, akan tetapi karena mereka tidak memusuhi kita, Taijin tidak memerintahkan menindak mereka."
"Brakk!"
Pembesar itu memukul meja dengan telapak tangannya.
"Lui-ciangkun, kalau kami tahu dia itu buronan kota raja, te ntu kami sudah sejak dulu menyuruh engkau menangkapnya. Kenapa kau tidak tahu bahwa dia itu bekas pemberontak? Hayo kerahkan pasukanmu dan tangkapi mereka semua, kalau melawan, gempur dan bunuh mereka agar kita tidak dianggap bersekongkol dengan pemberontak. Kau tahu hukumannya kalau kita dianggap membantu pemberontak? Tolol kau!"
Komandan itu memberi hormat.
"Siap melaksanakan perintah, Taijin!"
"Taijin, Can Hong San itu lihai bukan main. Saya khawatir kalau-kalau dia akan dapat lolos lagi seperti ketika terjadi pembasmian pemberontak di kota raja. Karena itu biar saya yang menghadapinya dan menangkapnya, akan te tapi saya menitipkan kakak perempuan saya ini agar ia aman dari balas dendam Can Hong San yang kami laporkan kepada Tai-jin."
"Baik, baik, silakan masuk, nona."
Pembesar itu memberi isyarat kepada seorang pembantu yang segera mengantar Ai Yin masuk ke dalam gedung itu.
Pembesar itu tentu saja senang dititipi Ai Yin karena wanita itu bahkan seolah menjadi jaminan akan kebenaran laporan yang disampaikan adiknya!
Thian Ki mendampingi Lui-ciangkun yang memimpin hampir tiga ratus orang perajuritnya dan gegerlah kota Sin-yang ketika melihat pasukan keamanan mengepung rumah besar yang menjadi pusat Koai-liong-pang.
Yang lebih kaget lagi adalah Can Hong San dan para pembantunya.
De ngan membawa pedang pusakanya, dan diiringkan para pembantunya, dan para anggota Koai-liong-pang yang ketika itu berada di situ kurang le bih tiga puluh orang, sedangkan yang lainnya berada di luar melaksanakan tugas mengumpulkan sumbangan, dia keluar dengan tabah.
Can Hong San menganggap bahwa selama ini sudah banyak dia memberi sogokan hadiah kepada semua petugas pemerintah di Sin-yang, maka tidak mungkin dia akan diganggu.
Setelah tiba di luar pintu depan, Can Hong San diam-diam terkejut melihat banyaknya perajurit yang mengepung rumahnya.
Dan seorang pembantunya, yaitu seorang di antara mereka yang pagi tadi hendak menangkap Ai Yin di dalam hutan menyentuh le ngannya.
"Pangcu, itu dia pemuda yang tadi menolong nyonya."
Can Hong San mengerutkan alisnya, memandang kepada Thian Ki yang berdiri di antara para perwira yang berada di depan pasukan.
Dia tidak mengenal pemuda itu dan tiba-tiba saja jantungnya berdebar te gang.
Isterinya, Li Ai Yin telah diselamatkan pemuda itu dan diajak pergi, dan sekarang pasukan keamanan Sin-yang mengepung rumahnya.
Apakah Ai Yin telah mengkhianatinya?
Akan tetapi, melihat bahwa komandan itu adalah Lui-ciangkun yang tentu saja sudah dikenalnya, diapun menenangkan hatinya dan segera melangkah maju menghadapi komandan itu dan tersenyum ramah.
"Aih, kiranya Lui-ciangkun yang datang. Apakah yang te rjadi, ciangkun? Kenapa ciangkun memimpin pasukan keamanan? Apakah te rjadi kerusuhan? Kalau begitu, biar kami akan membantumu!"
Thian Ki memperhatikan orang itu.
Seorang laki-laki yang gagah perkasa dan tampan menarik pikirnya.
Usianya te ntu sudah empatpuluh tahun le bih, namun masih nampak perkasa dan tampan.
Hidungnya mancung dan besar, dan bibirnya merah bergairah seperti bibir wanita.
Akan te tapi matanya mengandung kecerdikan yang luar biasa.
Biji mata itu bergerak-gerak ke kanan kiri, dan sinarnya tajam, bahkan mencorong ketika mengerling kepadanya.
Seorang yang amat berbahaya, pikirnya.
Sikapnya ketika menyambut Lui-ciangkun itu saja sudah menunjukkan kelicikannya.
Sikap itu membuat Lui-ciangkun nampak agak te rsipu.
Bagaimanapun juga, dia sendiri adalah seorang di antara sekian banyaknya petugas penting memiliki kedudukan yang pernah menikmati hadiah dari ketua Koai-liong-pang ini!
Biarpun dia sendiri tidak pernah membantu perkumpulan itu berbuat kejahatan, namun selama ini dia memang, seperti para pembesar lain, agak memejamkan mata pura-pura tidak tahu apa yang telah mereka perbuat.
Akan tetapi, mengingat akan kemarahan dan perintah atasannya, apalagi di situ terdapat Thian-Ki sebagai saksi, dan mengingat pula bahwa orang yang nampak ramah dan baik ini adalah seorang kaki tangan pemberontak dan menjadi buronan kota raja, diapun memandang dengan bengis dan suaranyapun lantang dan tegas.
"Can Hong San, kami datang sebagai utusan pemerintah untuk menangkap engkau dan anak buahmu. Koai-liong-pang harus dibubarkan dan ditutup!"
Tentu saja Can Hong San menjadi te rkejut bukan main mendengar ucapan lantang itu.
Seketika dia dapat menduga apa yang mungkin te rjadi dan jantungnya berdebar keras.
Tak salah lagi, pikirnya, setelah ditolong pemuda itu, tentu isterinya telah menceritakan segalanya tentang dirinya kepada pemuda itu, dan pemuda itu yang melapor kepada kepala daerah, maka kini pemerintah daerah mengirim pasukan untuk menangkapnya dan membubarkan perkumpulannya.
Dia marah sekali, akan tetapi masih berusaha untuk membela diri dan berpura-pura kaget.
"Ahh, Lui-ciangkun. Apa alasannya? Bukankah selama ini perkumpulan kami bersahabat dengan pemerintah? Bukankah kami juga membantu mengamankan daerah ini dari gangguan penjahat? Kenapa tiba-tiba ciangkun hendak membubarkan Koai-liong-pang dan menangkap kami?"
Mendengar pertanyaan itu, Lui-ciangkun menjadi semakin tidak enak hati. Maka, dia menoleh kepada Thian Ki yang berdiri di sampingnya, lalu berkata lirih.
"Coa-sicu, engkau saja yang menjelaskan kepadanya."
Thian Ki merasa khawatir kalau-kalau perwira atau komandan pasukan keamanan ini akan te rdesak oleh ucapan ketua Koai-liong-pang itu, karena jelas kalah wibawa, maka dia melangkah maju dan berkata dengan suara lantang.
"Can Hong San, pasukan pemerintah ini ditugaskan untuk menangkap kalian semua dan membubarkan Koai-1iong-pang karena engkau adalah bekas pemberontak yang menjadi orang buronan pemerintah. Lebih baik kalian menyerah dari pada harus dipergunakan kekerasan. Can Hong San melotot.
"Orang muda, siapa engkau yang begini lancang? Dan berani engkau melempar fitnah kepada kami? Lui-ciangkun, pemuda ini melontarkan fitnah keji! Kami berbaik dengan pemerintah dan membantu pemerintah, bagaimana dikatakan memberontak? Jahanam ini memfitnah! Jangan percaya kepadanya, Lui-ciangkun. Dialah pengacau yang seharusnya ditangkap, karena dia te lah melarikan isteri saya! Nah, dengarlah baik-baik, Lui-ciangkun. Pemuda ini telah berjinah dengan isteri saya dan ketika kami hendak menangkapnya, dia melawan, melukai beberapa orang anggota kami, kemudian melarikan isteri saya!"
Tentu saja Lui-ciangkun terbelalak kaget dan kini memandang kepada Thian Ki penuh keraguan.
Kalau benar apa yang dikatakan ketua Koai-liong-pang itu, berarti mereka semua telah dipermainkan pemuda asing ini!
Dan pemuda ini memang datang menghadap kepala daerah bersama seorang wanita cantik, dan baru sekarang dia te ringat bahwa wanita itu adalah isteri sang ketua ini.
Pernah satu kali dia melihat wanita itu, ketika dia dan para pejabat lain di Sin-yang menghadiri sebuah pesta yang diselenggarakan ole h Koai-liong-pang.
"Ciangkun, saya akan menjawab semua itu. Penjahat yang satu ini memang licik sekali,"
Kata Thian Ki melihat keraguan di mata komandan itu, lalu diapun berkata dengan lantang sehingga te rdengar oleh semua anak buah Koai-liong-pang dan para perajurit yang mengepung tempat itu.
"Can Hong San, tidak perlu engkau bersilat lidah dan memutar-balikkan kenyataan.! Ingatlah kami telah mengetahui semua rahasiamu. Belasan tahun yang lalu engkau sudah ditangkap dan dihukum oleh Kerajaan Sui sebagai seorang penjahat dan pemberontak. Setelah Kerajaan Tang berdiri engkau lolos dari penjara dan membantu Pangeran Cian Bu Ong melakukan pemberontakan, bahkan engkau dan kawan-kawanmu yang menyerbu dan membunuh para pendekar He k-houw-pang yang membantu pemerintah. Setelah pemberontakan Pangeran Cian Bu Ong gagal, engkau berhasil menjadi pengawal pribadi Pangeran Tua Li Siu Ti yang memberontak pula dan yang dihancurkan oleh pemerintah. Akan tetapi engkau dapat lolos dan membentuk Koai-liong-pang di te mpat ini. Dan engkau semakin jahat! Engkau dan ana k buahmu menguasai semua te mpat hiburan, memeras para pedagang, bahkan tidak segan menculik dan meraperkosa wanita, baik isteri orang maupun gadis . Dan isterimu sendiri bukan saja kau sia-siakan, kau siksa dan hina, bahkan engkau memberikannya kepada anak buahmu untuk dipermainkan. Ia melarikan diri dan di dalam hutan, ia mencoba untuk menggantung diri! Aku datang menyelamatkannya, lalu datang empat orang pembantumu yang kausuruh untuk mengejar dan menangkapnya, dan kauberikan is terimu itu kepada mereka. Aku melindungi nyonya itu dan mengalahkan orang-orangmu. Nah, masihkah engkau hendak menyangkal? Kalau engkau benar merasa difitnah dan tidak berdosa, menyerah sajalah agar Gan-taijin dapat mengirimmu ke kota raja dan di sana engkau akan diadili."
Mendengar tuduhan panjang dari pemuda itu wajah Can Hong San sebentar pucat sebentar merah.
Bagaimana pemuda ini dapat mengetahui semua itu?
Bahkan is terinya sendiri tidak tahu bahwa dia pernah membantu Pangeran Cian Bu Ong yang memberontak!
Kalau tentang sepak te rjang Koai-liong-pang, te ntu isterinya yang telah membocorkannya.
"Bagaimana engkau dapat mengetahui semua itu? Siapa engkau?"
Bentaknya marah.
"Namaku Coa Thian Ki dan ayahku menjadi seorang di antara korban di tanganmu ketika engkau dan kawan-kawanmu membantu Pangeran Cian Bu Ong dan menyerbu He k-houw-pang di dusun Ta-bun-cung!"
"Kau.......tentu isteriku yang te lah mengkhianatiku. Aku harus membunuhnya, dan sebelum itu, aku akan membunuhmu le bih dulu!"
Karena sudah tidak melihat kemungkinan untuk menyangkal lagi.
Can Hong San menjadi nekat dan diapun menerjang ke depan, mengirim serangan kilat.
Karena sudah mendengar dari para pembantunya bahwa pemuda ini lihai sekali, maka begitu menyerang dia sudah menggunakan ilmu andalannya yang dipakai untuk nama perkumpulannya, yaitu Koai-liong-kun (Silat Naga Setan).
Tangan kirinya yang membentuk cakar naga itu menyambar dari atas ke arah ubun-ubun kepala lawan, sedangkan tangan kanannya menyusul cepat mencengkeram ke arah dada dengan tenaga yang dikerahkan sepenuhnya.
Thian Ki mengenal jurus ampuh dan berbahaya, maka diapun cepat menarik kepala ke belakang dan menggeser kaki ke kiri, lalu tangan kanannya sendiri dengan jari terbuka dihantamkan menyambut cengkeraman tangan kanan lawan ke arah dadanya itu.
Melihat pemuda itu berani menyambut tangan kanannya, Can Hong San khawatir kalau jari-jari tangannya tidak kuat menahan telapak tangan lawan, maka dia sudah mengepal jari-jarinya sehingga kini yang berte mu dengan telapak tangan Thian Ki adalah kepalan tangan kanannya.
"Wuuuuuuuutttt......desss.......!!"
Kepalan tangan kanan Can Hong San yang didorong te naga sinkang amat kuat itu, yang dapat menjebolkan te mbok, merobohkan pohon bahkan menghancurkan batu, kini bertumbuk pada telapak tangan Thian Ki yang tetap tidak mau mempergunakan kelebihannya, yaitu hawa beracun di tubuhnya.
Akibat benturan dua te naga dahsyat itu, tubuh Can Hong San te rdorong ke belakang sampai tiga langkah, sedangkan tubuh Thian Ki hanya bergoyang-goyang saja.
Tentu saja hal ini membuat Can Hong San te rkejut setengah mati.
Bagaimana mungkin ada seorang pemuda mampu menahan cengkeramannya, bahkan tangkis an itu dapat membuat dia sampai melangkah mundur sedangkan pemuda itu kuat te gak berdiri dan hanya bergoyang-goyang?
Ini tidak mungkin!
Selama hidupnya, hanya beberapa orang saja yang mampu menandingi kekuatannya, yaitu para pendekar yang te rkenal di dunia persilatan seperti Huang-ho Sin-liong (Naga Sakti Sungai Kuning) Si Han Beng atau isterinya yang bernama Giok Cu, dan Pangeran Cian Bu Ong.
De ngan perasaan penasaran dan marah, juga nekat karena dia telah tersudut dan akan ditangkap pasukan, dia mencabut pedangnya, pedang Koai-liong-kiam, dan tangan kiri mencabut sebatang suling dari ikat pinggangnya.
Itulah senjatanya yang ampuh, pedang dan suling.
"Jahanam busuk, kau harus mampus di tanganku!"
Bentaknya sambil memasang kuda-kuda, kedua kakinya te rpentang lebar dengan kedua lutut dite kuk, dan sepasang senjata itu bersilang di atas kepalanya, matanya mencorong menatap lawan.
Karena tahu bahwa lawannya lihai dan berbahaya.
Baca Juga: Suling Naga 4
Baca Juga: Raja Pedang 1