Ceritasilat Novel Online

Suling Naga 4

Eps 4 Suling Naga - Kho Ping Hoo

Baca online Suling Naga - Kho Ping Hoo

Cersil Suling Naga - Kho Ping Hoo.

Mereka berada itu tentu maklum bahwa ia yang berada di kamar sebelah akan mampu mendengar semua percakapan dan perbuatan mereka.

Akan tetapi mereka itu agaknya sengaja hendak menjatuhkannya dengan rayuan dan pembangkitan gairah napsunya.

Bi Lan lalu menyambar buntalan pakaiannya, kemudian berkata dengan suara lantang.

"Suci dan suheng, aku akan pergi meninggalkan tempat ini sekarang juga!"

Suara dua orang di kamar sebelah itu tiba-tiba terhenti dan pintu tembusan itupun terbuka.

Kiranya dua orang itu masih berpakaian lengkap dan semakin yakin hati Bi Lan bahwa mereka tadi hanya bermain sandiwara dengan tujuan tertentu, yaitu membangkitkan napsu berahinya agar mudah dilalap oleh Bhok Gun tanpa memperkosanya, melainkan memaksanya melalui pembakaran nafsu berahi agar ia dapat menyerahkan diri dengan suka rela kepada Bhok Gun.

Semua nampak jelas olehnya dan Bi Lan menjadi semakin marah.

"Sumoi, apa yang kau katakan tadi? Kau mau pergi? Ke mana?"

Teriak Bi-kwi, mengerutkan alisnya karena mulai marah melihat betapa sumoinya itu sama sekali tidak dapat dibujuk.

"Suci, aku mau pergi sekarang juga."

"Kenapa?"

"Bukan urusanmu."

"Bukan urusanku? Eh, bocah sombong, apa engkau sudah lupa akan janjimu kepadaku? Apakah engkau sudah lupa bahwa tanpa bantuanku, sekarang engkau sudah bukan perawan lagi, sudah dilalap oleh Sam Kwi dan mungkin sudah mampus?"

"Suci! Aku sudah berjanji untuk mencari pusaka Liong-siauw-kiam. Dan aku akan menepati janji itu. Aku akan pergi mencari pusaka itu dan kalau sudah dapat, akan kuserahkan kepadamu."

"Dan perebutan bengcu?"

"Kelak kalau sudah tiba saatnya engkau memperebutkan kedudukan bengcu, aku akan membantumu seperti pernah kujanjikan. Aku tidak akan melanggar janji."

"Tapi ke mana kau hendak mencari pusaka itu?"

"Ke mana saja, akan tetapi tidak bersama-mu!"

Bi-kwi marah bukan main. Akan tetapi Bhok Gun sudah melangkah maju dan dengan senyum menarik dia berkata.

"Sumoi, kalau engkau merasa sungkan bicara di depan suci, mari kita bicara empat mata di tempat terpisah. Maukah engkau? Mari, sumoi...."

Laki-laki ini sudah merasa yakin bahwa siasatnya menggairahkan dan membangkitkan berahi dara itu tentu berhasil dan kini agaknya dara itu sudah tidak kuat lagi bertahan, maka dengan dalih hendak pergi sebetulnya hendak menjauhkan diri dan kalau mungkin bicara berdua saja dengannya karena tentu saja merasa malu terhadap sucinya.

Dia sama sekali tidak tahu bahwa justeru dara itu telah tahu akan siasatnya dan karenanya marah dan benci bukan main padanya.

"Aku bukan sumoimu dan kau tidak perlu merayuku. Suci mungkin mudah kau bujuk akan tetapi jangan harap aku akan suka melihat mukamu!"

Berkata demikian, Bi Lan sudah meloncat keluar dari kamar itu dan terus melarikan diri keluar dari rumah.

"Siauw-kwi, tunggu....!"

Bi-kwi mengejar, disusul pula oleh Bhok Gun.

Ketika tiba di pintu gerbang rumah perkumpulan itu, ada belasan orang anak buah Ang-i Mo-pang sudah menghadang di situ dengan senjata di tangan.

Mereka ini diam-diam sudah menerima perintah Bhok Gun bahwa kalau dara itu hendak pergi dari situ tanpa perkenan agar dihalangi.

Melihat belasan orang berseragam marah itu menghadang di jalan, dan obor-obor dipasang di kanan kiri pintu gerbang yang menunjukkan bahwa orang-orang ini agaknya memang telah siap siaga, Bi Lan membentak.

"Minggir kalian!"

Akan tetapi, tiga belas orang itu tidak mau minggir, bahkan melintangkan senjata mereka dengan sikap mengancam.

Mereka semua takut terhadap Bi-kwi, akan tetapi nona ini, biarpun katanya sumoi dari Bi-kwi, tidak mereka takuti, apa lagi mereka menerima perintah dari Bhok Gun dan Bi-kwi sendiri untuk merintangi nona itu pergi dari situ.

"Keparat, minggir!"

Bi Lan membentak marah, sekali ini sambil membentak ia menerjang maju.

Empat orang terdepan menggerakkan senjata untuk menyerang karena mereka sudah menerima perintah bahwa kalau nona itu nekat menyerbu, mereka boleh menyerangnya.

Akan tetapi, gerakan Bi Lan cepat bukan main, juga kaki tangannya bergerak dengan tenaga dahsyat sehingga sebelum ada di antara empat senjata itu yang mengenai tubuh Bi Lan, lebih dahulu empat orang itu sudah terpelanting ke kanan kiri sambil mengaduh-aduh dan senjata mereka beterbangan terlepas dari tangan.

Hebat bukan main bekas kaki tangan Bi Lan karena empat orang itu tidak mampu bangkit kembali, ada yang patah tulang kaki, tangan atau iganya, Bahkan seorang di antara mereka yang kena ditempiling kepalanya roboh untuk tidak bangkit kembali karena kepalanya retak-retak!

Para anggauta Ang-i Mo-pang terkejut dan marah, dan mereka segera mengeroyok.

Akan tetapi, tentu saja mereka itu bukan apa-apa bagi Bi Lan dan begitu gadis itu bergerak dengan cepat, tubuh-tubuh terpelanting dan roboh.

Biarpun kini banyak anggauta Ang-i Mo-pang yang datang berlarian dan mengeroyok, namun mereka itu seperti sekumpulan.

nyamuk menyerbu api lilin saja.

Sebentar saja belasan orang sudah roboh berserakan dan Bi Lan meloncat dan menerobos keluar dari pintu gerbang.

Akan tetapi, ternyata Bhok Gun sudah berada di depannya di luar pintu gerbang itu.

Wajahnya yang tampan itu tersenyum menyeringai, akan tetapi sepasang matanya mencorong penuh ancaman, bengis dan kejam.

"Adikku yang lihai dan manis, memang kepandaianmu hebat. Akan tetapi, bukankah dengan kita bertiga, maka semua pekerjaan akan dapat dilakukan lebih mudah lagi? Sumoi, sebelum terlambat, kembalilah dan mari kita bekerja sama."

"Aku tidak sudi bekerja sama denganmu!"

Bentak Bi Lan.

"Siauw-kwi, engkau tidak boleh pergi. Aku melarangmu!"

Tiba-tiba Bi-kwi sudah muncul dan berdiri di samping Bhok Gun.

"Kalau aku nekat pergi?"

Bi Lan menantang dengan suara dingin dan pandang mata marah.

"Aku akan membunuhmu!"

Bentak Bi-kwi.

Bi Lan tersenyum, bukan senyum buatan, melainkan senyum pahit karena marah.

Kini setelah ia hidup di luar lingkungan pengaruh tiga orang gurunya, ia tahu bahwa ia harus dapat berdiri di atas kaki sendiri, harus berani menempuh segala bahaya seorang diri dan tidak mengandalkan siapapun juga.

"Hemm, ucapan itu sama sekali tidak mengejutkan aku, suci, karena kalau kau akan membunuhku, bukan merupakan hal baru bagiku. Sejak dulupun, sejak aku masih kecil, kalau ada kesempatan, tentu engkau sudah membunuhku. Jangan menakut-nakuti aku dengan ancaman itu. Kalau memang kau mampu, buktikan omongan itu, karena aku tidak takut padamu!"

Ciong Siu Kwi atau Bi-kwi memang tidak pernah suka kepada sumoinya itu.

Sejak pertama kali bertemu dan mendengar bahwa Bi Lan diambil murid oleh Sam Kwi, ia sudah membenci dan hendak membunuh sumoi yang dianggap saingannya itu.

Apalagi setelah Bi Lan makin besar dan nampak cantik manis, ia menjadi semakin benci dan kalau saja ada kesempatan memang sudah sejak dahulu ia membunuh Bi Lan.

Dan sekaranglah saat itu tiba.

Sam Kwi tidak berada di situ dan di sampingnya ia telah memperoleh seorang pembantu yang amat baik, lebih baik dan lebih menyenangkan dari pada Bi Lan, yaitu Bhok Gun.

Tidak ada lagi gunanya membiarkan Bi Lan hidup lebih lama lagi.

Maka, mendengar ucapan Bi Lan yang menantangnya, ia menjadi marah bukan main.

"Hiaaaatttt....!"

Ia mengeluarkan suara melengking nyaring dan tubuhnya sudah bergerak cepat ke depan, tangan kirinya menyambar dengan pukulan Ilmu Kiam-ciang yang membuat tangannya berubah kuat dan dapat membabat benda keras setajam pedang, juga lengannya dapat mulur panjang.

Kiam-ciang adalah ilmu andalan dari Sam Kwi, dan Iblis Mayat Hidup merupakan ahli yang paling lihai di antara Sam Kwi dalam penggunaan Kiam-ciang.

Sedangkan lengan mulur itu adalah ilmu yang didapat dari Hek Kwi Ong atau Raja Iblis Hitam.

Hebatnya bukan main serangan tangan pedang dengan lengan yang dapat mulur itu.

"Hemmm....!"

Tentu saja Bi Lan mengenal baik serangan ini dan iapun melangkah mundur dua tindak sambil mengerahkan tenaga dan tangan kanannya bergerak menangkis dengan ilmu yang sama, dan dengan pengerahan tenaga sin-kangnya yang lebih kuat karena ia sudah digembleng oleh pendekar Naga Sakti Gurun Pasir.

Dua lengan bertemu dan terdengar suara nyaring seperti bertemunya dua senjata dari baja saja, Dan akibatnya tubuh Bi-kwi terdorong mundur dua langkah.

Akan tetapi Bi-kwi yang sudah maklum akan kekuatan sumoinya itu, tidak menjadi kaget melainkan sudah cepat menyerang lagi, kini mengeluarkan jurus dari Sam Kwi Cap-sha-kun, yaitu tigabelas jurus ilmu silat baru ciptaan terakhir dari tiga orang datuk Sam Kwi itu.

Angin pukulan yang amat dahsyat menyambar-nyambar, sampai terasa oleh para anggauta Ang-i Mo-pang yang berdiri agak jauh sehingga mereka ini terkejut dan ketakutan lalu mundur menjauh.

Memang hebat bukan main ciptaan terakhir Sam Kwi itu, ciptaan gabungan mereka bertiga yang sudah diolah matang ketika mereka mengasingkan diri.

Bhok Gun sendiri memandang kagum karena dia sendiri tentu akan kewalahan kalau menghadapi serangan ilmu yang dahsyat itu.

Akan tetapi tentu saja Bi Lan tidak menjadi gentar menghadapi serangan ilmu ini karena ia sendiri pun sudah melatih diri dengan ilmu ini selama setengah tahun, bersama sucinya itu.

Dan dalam hal melatih ilmu ini, ia tidak kalah oleh sucinya, bahkan ia dapat menguasai ilmu itu lebih sempurna setelah ia menjadi murid Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir selama setengah tahun.

Karena itu, menghadapi serangan Bi-kwi, iapun hapal benar akan semua gerakan dan perubahan Ilmu Sam Kwi Cap-sha-kun itu maka ke manapun Bi-kwi menyerang, pukulan-pukulannya selalu dapat tertangkis membalik seperti menyerang dinding baja saja.

Bahkan ketika Bi Lan membalas dengan jurus terampuh dari ilmu itu, Bi-kwi hampir tidak dapat menahannya karena ternyata ia kalah kuat dalam tenaga sin-kangnya.

Ia terhuyung dan kalau Bi Lan menghendaki, selagi ia terhuyung itu tentu saja Bi Lan akan dapat mengirim serangan susulan.

Akan tetapi Bi Lan tidak melakukan hal itu, melainkan meloncat hendak meninggalkan sucinya.

Akan tetapi pada saat itu, Bhok Gun sudah menerjangnya dengan pukulan yang mendatangkan bunyi berdesing.

Bi Lan terkejut dan maklum bahwa pukulan ini adalah pukulan sakti semacam Kiam-ciang yang amat berbahaya, maka iapun segera menggunakan keringanan tubuhnya untuk mengelak ke kiri dan sambil mengelak, kakinya melakukan tendangan Pat-hong-twi.

Ilmu Tendangan Pat-hong-twi (Delapan Penjuru Angin) ini merupakan ilmu andalan Im-kan Kwi atau Iblis Akhirat dan kini berbalik Bhok Gun yang terkejut karena kalau tadi dia menyerang, Kini tendangan yang datangnya bertubi-tubi itu membuat keadaan menjadi terbalik karena dialah yang kini didesak!

Akan tetapi, Bi-kwi sudah menerjang lagi membantu Bhok Gun sehingga Bi Lan dikeroyok dua.

Begitu dikeroyok dua, Bi Lan segera terdesak.

Bi-kwi selalu mengimbanginya dengan ilmu silat yang sama sehingga semua serangan Bi Lan menemui jalan buntu, sedangkan Bhok Gun menyerangnya selagi kedudukannya tidak menguntungkan, maka tentu saja ia mulai terdesak dan terus mundur mendekati pintu gerbang lagi.

Agaknya dua orang itu hendak memaksanya kembali memasuki pintu gerbang.

Bi Lan maklum bahwa kalau ia mempergunakan ilmu-ilmu yang didapatkannya dari Sam Kwi, ia tidak akan mampu menang.

Semua ilmunya tentu akan dipunahkan oleh Bi-kwi, Sedangkan Bhok Gun menyerangnya dengan ilmu lain yang belum dikenalnya.

Dalam keadaan terdesak itu, Bi Lan teringat akan ilmu silat yang dipelajarinya secara rahasia dari suami isteri dari Istana Gurun Pasir.

Tiba-tiba saja ia mengeluarkan suara melengking nyaring dan ketika tubuhnya meluncur ke depan, dua orang pengeroyoknya terkejut sekali.

Mereka seolah-olah diserang oleh seekor naga yang meluncur turun dari angkasa.

Mereka adalah orang-orang yang telah mewarisi ilmu-ilmu silat yang tinggi, maka mereka cepat mengelak sambil mengibaskan tangan untuk menangkis.

Namun, tetap saja hawa pukulan dari Sin-liong Ciang-hwat yang ampuh itu membuat mereka terdorong dan terhuyung ke belakang!

Bukan main hebatnya Sin-liong Ciang-hwat yang diajarkan oleh Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir Kao Kok Cu kepada gadis itu.

"Haiiittt....!"

Tiba-tiba Bhok Gun juga berteriak dan nampak sinar merah ketika dia mengebutkan sehelai saputangan merah.

Saputangan ini mengandung debu pembius yang berwarna kemerahan dan dapat membuat orang menjadi pingsan kalau menyedotnya.

Begitu saputangan itu dikebutkan, ada debu merah menyambar ke arah muka Bi Lan Akan tetapi gadis ini bukan seorang yang bodoh.

Ia sudah banyak mengenal kelicikan dan kecurangan yang biasa dipergunakan di dunia kaum sesat, Maka begitu melihat sinar merah saputangan itu, ia sudah menahan napas, bahkan lalu meniup dengan pengerahan sin-kang ke arah debu merah.

Debu merah itu membuyar dan bahkan membalik menyambar ke arah Bhok Gun dan Bi-kwi.

Tentu saja dua orang itu cepat-cepat menghindarkan dengan loncatan-loncatan jauh ke belakang.

Keduanya marah sekali dan begitu tangan mereka bergerak, jarum-jarum beracun menyambar dari tangan Bi-kwi, sedangkan dari tangan Bhok Gun meluncur paku-paku beracun.

Mereka tidak malu-malu untuk menyerang Bi Lan dengan senjata-senjata rahasia beracun dari jarak cukup dekat.

Akan tetapi, tiba-tiba dua orang itu kaget bukan main ketika mereka melihat sinar yang hijau kehitaman berkelebat dan mereka merasa betapa tengkuk mereka meremang.

Pedang di tangan Bi Lan itu mengandung hawa yang demikian mengerikan.

Itulah Ban-tok-kiam!

Seperti kita ketahui, agar dara itu dapat melindungi dirinya dengan baik, nenek Wan Ceng, isteri Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir, yang amat menyayang Bi Lan, telah meminjamkan pedang mujijat itu kepadanya.

Dan kini, melihat bahaya mengancam dirinya, Bi Lan sudah mencabut pedang itu dan dengan memutar senjata itu, semua jarum dan paku menempel pada pedang seperti jarum-jarum halus menempel pada besi sembrani.

Memang pedang Ban-tok-kiam, sesuai dengan namanya, yaitu Pedang Selaksa Racun, dapat menarik senjata-senjata rahasia beracun seperti besi sembrani menarik besi biasa.

Setelah semua senjata rahasia itu melekat pada pedangnya, Bi Lan menggerakkan pedangnya sehingga pedang itu tergetar dan mengeluarkan bunyi "wirrrr....!"

Dan semua, senjata rahasia itu meluncur kembali ke arah pemiliknya.

"Heii....!"

"Aihh....!"

Dua orang itu berseru kaget dan cepat mengelak, akan tetapi dua orang anggauta Ang-i Mo-yang yang berdiri di belakang mereka, terkena senjata paku dan jarum beracun.

Mereka berteriak-teriak kesakitan dan roboh berkelojotan.

Melihat ini, Bhok Gun marah sekali.

Dia mencabut pedangnya, dan Bi-kwi juga mencabut pedang.

"Kerahkan pasukan, kepung dan serbu. Bunuh perempuan ini!"

Lebih kurang tiga puluh orang anggauta Ang-i Mo-pang mengurung tempat itu dan membantu Bhok Gun dan Bi-kwi yang sudah memutar pedang menyerang Bi Lan.

Bi Lan cepat memutar pedang Ban-tok-kiam dan mengamuk.

Akan tetapi, dara ini biarpun sudah mewarisi ilmu-ilmu silat yang tinggi dan sakti, ia masih kurang pengalaman berkelahi.

Kini ia dikeroyok oleh Bi-kwi dan Bhok Gun saja sebenarnya sudah kewalahan dan baru bisa menandingi mereka karena ia pernah dilatih oleh suami isteri Istana Gurun Pasir dan memiliki pedang Ban-tok-kiam.

Apa lagi sekarang dikepung dan dikeroyok demikian banyak lawan.

Tentu saja ia menjadi repot sekali.

Biarpun ia berhasil merobohkan sedikitnya enam orang lagi anggauta Ang-i Mo-pang, namun dalam hujan senjata itu, pedang di tangan Bhok Gun melukai pahanya dan sebatang jarum beracun yang dilepas Bi-kwi menancap di pundak kirinya, membuat lengan kirinya seketika terasa kaku.

Untung baginya bahwa ia banyak mempelajari ilmu mengenal racun dari Iblis Mayat Hidup dan tubuhnya sudah cukup kuat untuk melawan racun, kalau tidak tentu ia sudah roboh oleh pengaruh racun dalam jarum itu.

Biar-pun demikian, gerakannya menjadi lemah dan ia semakin terdesak.

Pada saat yang amat berbahaya bagi keselamatan Bi Lan itu, tiba-tiba sesosok bayangan orang menerjang masuk ke dalam kepungan.

Begitu dia menggerakkan kaki tangannya, kepungan menjadi kacau balau.

Bagaikan orang mencabuti rumput-rumput kering saja dan mencampakkannya, dia menangkap setiap anggauta Ang-i Mo-pang dan melempar-lemparkan mereka ke kanan kiri.

Juga setelah kedua kakinya bergerak, setiap tendangan tentu merobohkan seorang lawan.

Ketika Bi-kwi yang sedang mendesak sumoinya itu dan siap melakukan pukulan maut dengan tangannya atau tusukan maut dengan pedangnya tiba-tiba mendengar suara anak buah Ang-i Mo-pang berteriak-teriak dan kepungan menjadi bobol, ia cepat menengok dan terkejutlah ia melihat masuknya seorang pemuda yang merobohkan banyak orang.

Apa lagi ketika ia mengenal wajah pemuda ini di bawah sinar obor.

Pemuda itu bukan lain adalah pemuda yang pagi tadi dijumpainya di dalam rumah makan!

Marahlah Bi-kwi.

Walaupun pagi tadi ia merasa tertarik kepada pemuda ini yang selain berwajah tampan juga memiliki kepandaian tinggi seperti diperlihatkannya ketika menghadapi sepasang golok di tangan Tee Kok dengan sumpit dan dengan amat mudahnya mengalahkan Tee Kok, kini Bi-kwi marah sekali.

Pemuda usilan ini sekarang datang untuk merugikan dirinya, karena jelas pemuda ini memihak Bi Lan.

"Bocah sial! Kau datang mengantar nyawa!"

Bentaknya dan iapun membalik, meninggalkan Bi Lan dan menyerang pemuda itu dengan pedangnya.

Gu Hong Beng, pemuda itu tersenyum dan cepat mengelak dengan loncatan ke kiri sambil menampar roboh seorang anggauta Ang-i Mo-pang.

"Bukan mengantar nyawa, melainkan menolong nyawa seorang gadis yang secara curang dikeroyok oleh begini banyak orang!"

Bi-kwi tidak bicara lagi, akan tetapi menyerang kalang kabut, menggunakan pedangnya menusuk lambung sedangkan tangan kirinya menampar ke arah kepala pemuda itu.

Hong Beng tidak bersikap sem-brono.

Dia cukup maklum betapa lihainya wanita ini, maka sambil mengelak dari tusukan pedang, diapun mengangkat tangan kanan memapaki tamparan yang dilakukan lawan, sambil mengerahkan tenaga sin-kangnya.

"Plakkk....!"

Dua telapak tangan bertemu dan akibatnya, hampir Bi-kwi roboh karena hawa dingin yang luar biasa menyusup ke dalam tubuhnya melalui telapak tangan, membuat ia menggigil!

Cepat ia melompat mundur sambil menahan napas dan mengerahkan sin-kang.

Itulah tenaga Soat-im Sin-kang atau tenaga Inti Salju yang merupakan satu di antara ilmu tangguh dari keluarga Pulau Es!

Ketika Bi-kwi melompat ke belakang, Kesempatan itu dipergunakan oleh Hong Beng untuk menubruk ke kanan dan merobohkan dua orang pengeroyok Bi Lan.

Setelah ditinggalkan sucinya, Bi Lan yang sudah luka itu merasa agak ringan, tidak begitu terhimpit lagi walaupun Bhok Gun yang dibantu oleh anak buahnya itu, masih mengepungnya dan merupakan lawan berat bagi dara yang sudah menderita luka itu.

Dengan Ban-tok-kiam di tangan Bi Lan mengamuk.

Ia juga melihat munculnya pemuda yang membantunya dan ia merasa heran karena iapun mengenal pemuda itu sebagai pemuda yang pagi tadi ia lihat di rumah makan.

Mengapa pemuda ini bisa berada di sini dan mengapa pula membantunya padahal mereka sama sekali tidak saling mengenal?

Akan tetapi diam-diam ia bersyukur karena dengan munculnya bantuan ini, ia mempunyai harapan untuk meloloskan diri.

"Nona, mari kita pergi dari sini!"

Teriak Hong Beng setelah merobohkan dua orang anggauta Ang-i Mo-pang.

"Boleh pergi asalkan kau meninggalkan nyawamu!"

Bentak Bi-kwi yang sudah menyerang lagi.

Hong Beng sudah memperhitungkan ini karena biarpun dia bicara kepada Bi Lan yang diajaknya melarikan diri, diam-diam dia memperhatikan Bi-kwi dan sudah membuat perhitungan untuk membuat gerakan yang mengejutkan.

Ketika Bi-kwi menyerang dengan pedangnya, tiba-tiba saja Bi-kwi terkejut karena ada tubuh seorang anggauta Ang-i Mo-pang melayang dari depan menyambut bacokan pedangnya!

Itulah perbuatan Hong Beng yang tadi dengan cepat telah menangkap seorang pengeroyok dan melemparkan tubuh orang itu ke arah Bi-kwi.

Akan tetapi, dasar hati Bi-kwi amat kejam dan tidak me-ngenal kasihan kepada orang lain, walaupun yang melayang itu adalah tubuh seorang anak buah Ang-i Mo-pang akan tetapi karena orang itu merupakan penghalang, tanpa memperdulikan apa-apa lagi ia melanjutkan bacokannya.

"Crakkk!"

Tubuh orang itu putus menjadi dua dan Bi-kwi menyusulkan tendangan yang membuat tubuh itu terlempar ke samping dan pada saat itu Bi-kwi menjerit kaget dan marah.

Sebatang jarum telah menancap di pergelangan tangan kanannya, membuat tangan itu lumpuh dan pedangnya terlepas.

Kiranya Hong Beng yang juga memiliki kepandaian mempergunakan jarum halus yang berbau harum, tidak beracun akan tetapi dapat menyerang jalan darah, telah mempergunakan kesempatan tadi, tertutup oleh tubuh orang yang dilontarkan, menyusulkan serangan dengan sebatang jarum halus ke arah pergelangan tangan Bi-kwi.

Wanita ini marah bukan main, biarpun tangan kanannya lumpuh, ia masih menubruk ke depan menggunakan tangan kanannya, dihantamkan ke arah dada pemuda itu.

Hong Beng menyambutnya dengan telapak tangannya.

"Tarrr....!"

Terdengar suara keras dan tubuh Bi-kwi terdorong ke belakang, mukanya pucat dan tubuhnya tergetar.

Ia tadi sudah siap menghadapi serangan hawa dingin dari pemuda itu, dengan pengerahan sin-kang yang membuat telapak tangannya panas.

Akan tetapi siapa sangka, ketika telapak tangannya bertemu dengan tangan Hong Beng, ada hawa panas yang luar biasa menyerangnya, seolah-olah membakar telapak tangannya dan menyusup sampai ke jantung.

Ia tidak tahu bahwa pemuda itu sekali ini menggunakan ilmu sakti Hui-yang Sin-kang atau tenaga Inti Api yang hebat.

Akan tetapi pada saat itu, Bi Lan sudah hampir tak dapat mempertahankan dirinya lagi.

Ia sudah terlampau lelah dan juga luka di pundak oleh jarum beracun dan luka pedang di pahanya membuat gerakannya semakin lemah.

Ketika tiga pasang golok anak buah Ang-i Mo-pang menerjang dari tiga jurusan, ia mengerahkan tenaga terakhir dan memutar Ban-tok-kiam.

Terdengar pekik-pekik mengerikan dan tiga orang itu roboh bergelimpangan, akan tetapi pada saat itu, pedang di tangan Bhok Gun dengan kecepatan kilat menusuk ke arah leher Bi Lan tanpa dapat dielakkan atau ditangkis lagi oleh Bi Lan karena pada saat itu, gadis ini sedanq menghadapi tiga orang pengeroyok tadi.

"Trangggg....!"

Sebatang golok melayang dan menghantam pedang di tangan Bhok Gun sehingga tusukan ke arah leher Bi Lan itu menyeleweng dan tusukannya luput karena pedangnya ditangkis oleh golok yang dilontarkan Hong Beng.

Di lain saat, tubuh Bi Lan yang terhuyung itu sudah dipondong oleh Hong Beng.

"Nona, kita harus pergi dari sini,"

Katannya. Bhok Gun marah dan pedangnya menyambar ganas.

"Cringgg....!"

Pedang yang menghantam ke arah kepala Hong Beng itu dapat ditangkis oleh Ban-tok-kiam di tangan Bi Lan.

Biarpun Bi Lan sudah berada dalam pondongan Hong Beng, namun melihat bahaya mengancam ia dan penolongnya, ga-dis perkasa ini sudah mengangkat pedangnya menangkis.

Hong Beng meloncat dan merobohkan dua orang penghalang dengan dorongan tangan kanannya, sedangkan lengan kirinya merangkul tubuh Bi Lan yang dipondongnya.

Dia juga berhasil merampas sebatang tombak dan dengan senjata ini dia lalu memukul jatuh obor-obor yang menerangi tempat itu sehingga cuaca menjadi hampir gelap karena hanya obor-obor yang agak jauh dari situ yang masih bernyala.

Kesempatan ini dipergunakan Hong Beng untuk meloncat jauh dan melarikan diri di dalam gelap.

Dia berlari cepat sekali keluar dari kota Kun-ming, melalui pintu gerbang sebelah timur.

Para penjaga pintu gerbang terkejut melihat seorang pemuda lari keluar memondong seorang gadis yang membawa pedang.

Sejenak mereka tertegun, akan tetapi karena pada waktu itu terdapat larangan membawa senjata tajam sedangkan gadis tadi membawa pedang dan juga sikap mereka amat mencurigakan, para penjaga itu lalu melakukan pengejaran.

Tak lama kemudian, serombongan orang yang di antaranya banyak yang memakai pakaian serba merah nampak berlari-lari keluar pintu gerbang pula.

Para penjaga semakin kaget dan mereka semua ikut mengejar.

Akan tetapi, yang dikejar sudah tak nampak lagi bayangannya karena ditelan kegelapan malam.

Hong Beng terus membawa lari Bi Lan sampai jauh naik ke lereng sebuah bukit.

Bulan sudah naik tinggi dan hal ini amat menolongnya karena malam menjadi terang, memudahkan dia memilih jalan melarikan diri.

Semenjak memasuki hutan ke dua tadi, dia sudah berhasil meninggalkan para pengejar dan kini tidak nampak seorangpun pengejar di belakang.

Tiba-tiba Hong Beng merasa ada benda dingin sekali menempel tengkuknya, dan ujung sebatang pedang yang tajam runcing menempel tepat di jalan darahnya.

Sedikit saja pedang itu ditusukkan, akan tamatlah riwayatnya!

Ketika teringat bahwa pedang itu adalah pedang hijau kehitaman yang mengeluarkan hawa mengerikan, yang dipegang oleh gadis yang ditolongnya, seketika Hong Beng merasa betapa semua bulu di tubuhnya bangkit satu-satu karena ia merasa seram.

"Berhenti dan lepaskan aku! Kalau tidak, pedangku akan menembus tengkukmu!"

Bentak Bi Lan dengan suara ketus.

Biarpun ia merasa bahwa orang ini telah menolongnya, mungkin juga menyelamatkannya dari ancaman maut, akan tetapi hatinya panas dan ia marah sekali karena pemuda ini telah berani menyentuh tubuhnya.

Bukan hanya menyentuh, malah memondong dan ia merasa betapa lengan itu melingkar di pinggul dan pinggangnya!

Kurang ajar sekali orang ini!

Mendengar ucapan yang ketus itu dan merasa betapa todongan ujung pedang itu tidak main-main, Hong Beng terpaksa melepaskan pondongannya.

"Bukk....!"

Tubuh Bi Lan terbanting, biarpun tidak keras akan tetapi pinggulnya terasa pegal juga karena tubuhnya memang lemah.

Karena ia sudah kehabisan tenaga, maka ketika pondongan itu dilepaskan, ia terbanting.

"Hemm, kau berani membanting aku, ya? Awas kau, kalau sudah sembuh, akan kuhajar kau!"

Bi Lan semakin marah dan dengan pedang masih di tangan kanan, ia menggunakan tangan kirinya mengusap-usap pinggul yang tadi menimpa tanah berbatu yang keras.

"Ah, maaf.... bukankah kau yang minta agar aku melepaskanmu, nona?"

Karena memang demikian keadaannya dan pihaknya memang keliru, Bi Lan hanya mengomel.

"Kau memang laki-laki kurang ajar sekali!"

Hong Beng memandang wajah yang cemberut itu dengan bingung.

Bukan main cantik dan manisnya wajah cemberut itu tertimpa sinar bulan yang redup terang kehijauan.

"Nona, aku datang dan melihat engkau dikeroyok, maka aku segera turun tangan membantumu, dan karena mereka tadi mengejar, engkau kularikan sampai di sini dan sekarang kau sudah aman. Akan tetapi, kenapa engkau malah menodongku dan marah-marah kepadaku?"

"Siapa menyuruh engkau memondongku seperti itu!"

Bentak Bi Lan, hatinya masih panas karena malu mengenangkan betapa tadi ia dipondong seperti anak kecil dan dilarikan.

"Tapi.... tapi.... bagaimana aku akan dapat menyelamatkanmu kalau tidak memondongmu?"

Hong Beng membantah sambil mengerutkan alisnya karena dia mulai merasa marah juga.

Sungguh seorang gadis yang tidak mengenal budi, sudah ditolong malah marah-marah dan menyalahkannya!

"Sedikitnya engkau bisa minta ijin dulu apakah aku suka atau tidak kau pondong.

Enak saja memondong orang semaunya.

Huh, dasar laki-laki tak mengenal sopan santun!"

Bi Lan menggigit bibir menahan rasa nyeri di pundaknya, lalu mengomel lagi.

"Sudah begitu masih membanting aku lagi, sudah tahu bahwa aku terluka. Laki-laki kejam dan tidak berperikemanusia-an!"

Bi Lan mendengar tentang sopan santun, tentang perikemanusiaan dan sebagainya itu selama ia menjadi murid Pendekar Naga Sakti.

Hong Beng merasa betapa mukanya menjadi panas.

Dia merasa terpukul, malu dan juga penasaran.

Dia malu karena bagaimanapun juga, dia teringat bahwa memang tidak pantas seorang laki-laki seperti dia memondong tubuh seorang gadis tanpa perkenan si pemilik tubuh, akan tetapi dia juga merasa penasaran karena selama hidupnya baru satu kali ini dia bertemu dengan orang yang begini tidak mengenal budi.

"Maafkan, nona, maafkan semua kelancanganku,"

Katanya dan tanpa pamit lagi dia lalu membalikkan tubuhnya dan pergi meninggalkan Bi Lan, gadis yang dianggapnya tidak mengenal budi itu, tidak perduli bahwa gadis itu sejak tadi masih saja duduk di atas tanah, belum mampu bangkit berdiri, sungguh tidak sesuai dengan kegalakannya.

Dan memang Bi Lan tidak mampu bangkit berdiri lagi.

Tubuhnya terlalu lemas, bahkan kepalanya terasa pening, matanya berkunang, dan ketika Hong Beng pergi, ia yang sejak tadi menahan diri agar tidak pingsan kini terkulai lemas.

Hong Beng tidak pergi jauh.

Di dalam hatinya, sebenarnya dia tidak tega meninggalkan Bi Lan begitu saja.

Dia tahu bahwa gadis itu terluka, hanya dia tidak tahu betapa sejak tadi gadis itu mempergunakan kekuatan tubuh dan hatinya untuk bersikap keras dan pura-pura tidak apa-apa.

Biarpun dia perlu memberi "pelajaran"

Kepada Bi Lan atas kekerasan sikapnya yang galak, namun dia tidak tega pergi jauh-jauh dan diam-diam dia menyelinap di antara pohon-pohon dan semak-semak untuk kembali ke tempat itu dan mengintai untuk melihat bagaimana keadaan gadis itu dan apa yang akan dilakukannya.

Tentu saja dia terkejut bukan main ketika meli-hat bahwa di tempat yang ditinggalkannya tadi, Bi Lan sudah menggeletak dalam keadaan tak sadarkan diri.

Gadis itu telah jatuh pingsan di tempatnya, masih di tempat yang tadi, hanya kalau tadi dia masih duduk, kini ia sudah rebah miring, mukanya yang tertimpa sinar bulan itu nampak pucat, akan tetapi pedang yang mengerikan itu masih dipegangnya erat-erat!

"Hayaa...."

Hong Beng berseru perlahan dan cepat menghampiri dengan amat hati-hati.

Dia mempergunakan telunjuk kanannya untuk perlahan-lahan menyentuh tangan Bi Lan yang memegang pedang, seperti orang hendak melihat apakah harimau itu sudah mati ataukah belum, takut kalau tiba-tiba dicakarnya.

Setelah yakin bahwa gadis itu tidak bergerak lagi dan dalam keadaan pingsan, barulah dia berani mengambil pedang itu dari genggamannya.

Dia harus lebih dulu menyingkirkan pedang, karena dengan pedang itu di tangan, siapa tahu tiba-tiba gadis itu akan menyerangnya dan hal itu amat berbahaya karena dia dapat merasakan bahwa pedang itu adalah sebuah pusaka yang luar biasa ampuhnya.

Kini dia yakin bahwa gadis itu memang pingsan, dan dia menarik napas panjang setelah menaruh pedang di bawah sebatang pohon, lima meter jauhnya dari situ.

"Aih, seorang gadis yang berhati baja dan berkepala batu...."

Katanya sambil mulai memeriksa pergelangan tangan gadis itu.

Dia kini tidak perduli lagi apakah gadis itu nanti akan marah atau akan mengamuknya, akan tetapi dalam pemeriksaannya dia tahu bahwa gadis itu menderita luka karena hawa beracun yang hanya dapat ditimbulkan oleh senjata rahasia.

Dia harus mencari di mana bagian tubuh yang terkena senjata itu.

Memeriksa tubuh gadis galak itu, di dalam cuaca remang-remang lagi!

Betapa sukarnya dan betapa berbahayanya karena kalau gadis itu keburu sadar dari pingsannya dan mendapatkan dirinya diraba-raba olehnya, huh, betapa akan mengerikan akibatnya.

(Lanjut ke

Jilid 11) Suling Naga (Seri ke 13 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 11 Akan tetapi, karena menurut denyut nadi itu si gadis berada dalam keadaan cukup berbahaya kalau hawa beracun itu tidak cepat-cepat dienyahkan, Hong Beng nekat.

Biarlah kalau sampai berakibat si gadis itu marah sekali dan menyerangnya nanti, yang terpenting adalah kenyataan bahwa dia tidak berbuat hal-hal yang tidak patut atau tidak sopan.

Dia hanya ingin menolong dan menyelamatkan gadis itu sekali lagi dari ancaman maut yang kini datangnya dari hawa beracun yang amat berbahaya.

Mulailah Hong Beng melakukan pemeriksaan.

Mula-mula dia hanya meraba-raba kedua lengan dan kaki, kemudian leher.

Ketika meraba-raba kaki inilah dia menemukan kenyataan bahwa paha kiri gadis itu terluka, cukup parah dan mengeluarkan banyak darah.

Inilah menjadi satu di antara sebab-sebab mengapa gadis itu sampai pingsan, yaitu karena terlalu banyak mengeluarkan darah pula.

Ketika jari tangannya meraba ke pundak, dia terkejut, merasakan betapa kulit pundak kiri gadis itu panas sekali.

Tanpa ragu-ragu lagi Hong Beng lalu merobek baju bagian pundak kiri gadis itu dan jari-jari tangannya meraba-raba.

Dia mengangguk-angguk.

Sebuah jarum beracun kiranya yang menancap sampai masuk ke dalam daging pundak, dan terselip di bawah tulang pundak!

Ketika menjadi murid pendekar sakti Suma Ciang Bun, Hong Beng juga mempelajari ilmu pengobatan, terutama mengenai luka-luka yang diakibatkan oleh senjata beracun atau luka-luka karena pukulan dan pukulan beracun.

Maka setelah dia tahu bahwa gadis itu terkena jarum beracun yang kini berada di dalam pundaknya, diapun tahu apa yang harus dilakukannya.

Dia sendiri adalah seorang ahli mempergunakan senjata rahasia jarum, walaupun jarum-jarumnya tidak diberi racun.

Pertama-tama jarum itu harus dapat dikeluarkan, dan juga darah di sekitar jarum itu dikeluarkan.

Dia tidak mempunyai waktu untuk mempergunakan alat-alat, apa lagi cuaca remang-remang saja dan juga gadis itu harus cepat-cepat ditolong agar racun itu tidak menjalar semakin luas.

Satu-satunya jalan hanyalah mempergunakan kekuatan sin-kangnya untuk menghisap keluar racun dan jarum itu.

Hong Beng adalah seorang pemuda yang cerdik.

Dia tahu akan keanehan watak Bi Lan.

Kalau dia sedang melakukan pengobatan lalu gadis itu siuman dan menyerangnya, dia tentu akan celaka.

Pukulan seorang gadis selihai ini tidak boleh dibuat main-main.

Maka sebelum melakukan pengo-batan, lebih dahulu dia menotok beberapa jalan darah yang akan membuat gadis itu tidak mampu menggerakkan kaki tangannya kalau siuman nanti.

Setelah itu, dia merobek baju di bagian pundak itu lebih lebar lagi, lalu dia menempelkan mulutnya pada luka di bawah depan tulang pundak.

Kulit yang putih halus dan hangat bahkan mendekati panas itu tidak mempengaruhinya karena pada saat itu Hong Beng mencurahkan seluruh perhatiannya hanya pada satu hal, yaitu untuk mengobati Bi Lan!

Dengan pengerahan tenaga khi-kang, pemuda itu menyedot.

Darah yang agak menghitam tersedot dan diludahkan.

Sampai beberapa kali dia menyedot.

Akan tetapi, tiba-tiba bulan tertutup awan tebal dan keadaan menjadi gelap pekat.

Terpaksa Hong Beng menghentikan pengobatan itu dan mengumpulkan kayu kering lalu membuat api unggun.

Tak mungkin melakukan pengobatan dalam cuaca gelap gulita.

Api unggun itu perlu sekali untuk mendatangkan cahaya penerangan, untuk melihat warna darah yang dihisapnya dan agar dia dapat melihat bagian tubuh yang terluka itu.

Setelah api unggun bernyala besar dan mengusir kegelapan di sekitarnya, kembali Hong Beng menempelkan bibirnya pada pundak itu.

Apa yang dikhawatirkannya tadi terjadilah.

Tiba-tiba gadis itu bergerak, akan tetapi ia tidak dapat menggerakkan kaki tangannya!

Dan gadis itu lalu menjerit penuh kengerian, lalu jatuh pingsan lagi!

Tentu saja Hong Beng menjadi terkejut dan heran.

Menurut perhitungannya, setelah kini hampir semua racun tersedot keluar, sepatutnya gadis itu menjadi hampir sembuh.

Akan tetapi kenapa begitu siuman ia menjerit lalu pingsan lagi?

Ia cepat memeriksa denyut nadi, dan ternyata denyutnya lebih kuat dan cepat dari pada biasanya.

Hal ini menunjukkan bahwa gadis itu mengalami guncangan dan kekagetan.

Dia merasa semakin heran.

Apa yang begitu mengejutkan gadis perkasa ini dan mengguncang batinnya sampai jatuh pingsan?

Dengan gelisah dia menoleh ke kanan kiri, mencari-cari.

Tidak ada apa-apa.

Hong Beng lalu melanjutkan usahanya mengobati Bi Lan.

Sekali lagi dia menyedot dan setelah yang keluar darah merah, dia menghentikan sedotannya, menaruh obat bubuk putih yang dikeluarkan dari saku bajunya.

Obat luka ini manjur sekali, selain dapat menghentikan keluarnya darah, juga dapat menahan segala macam kotoran masuk ke dalam luka, dan membuat luka cepat mengering.

Setelah itu, dia menempelkan telapak tangannya ke atas pundak yang terluka itu, mengerahkan sin-kang untuk menyalurkan tenaga dalamnya membantu gadis itu memulihkan jalan darahnya dan mengusir sisa-sisa hawa beracun dari dalam tubuhnya.

Hong Beng sama sekali terlupa bahwa gadis yang diobatinya itu seorang yang amat berbahaya sehingga tadi dia terpaksa menotoknya lebih dulu.

Dia lupa bahwa kini, karena dia menyalurkan sin-kang ke dalam tubuh gadis itu melalui pundaknya, maka tenaga ini dengan sendirinya melancarkan jalan darah dan membebaskan totokannya sendiri!

Maka, begitu Bi Lan siuman dan gadis itu melihat betapa ia masih rebah terlentang dan pemuda itu masih berlutut di dekatnya dan sekarang secara kurang ajar sekali menempelkan tangannya ke pundaknya yang telanjang karena bajunya sudah dirobek, dengan ke-marahan meluap-luap Bi Lan lalu menggerakkan tangannya memukul dada pemuda itu.

Kini kaki tangannya dapat bergerak lagi dan saking marahnya, Bi Lan memukul dengan pengerahan tenaga dari Ilmu Silat Sin-liong Ciang-hoat yang pernah dipelajarinya dari kakek Kao Kok Cu pendekar Istana Gurnn Pasir.

"Wuuuuttt.... bukkk....!"

Pukulan itu dahsyat sekali, datang dari jarak dekat dan sama sekali tidak disangka-sangka oleh Hong Beng yang sedang mengerahkan tenaga untuk menyalurkan sin-kang ke dalam tubuh Bi Lan itu.

Akan tetapi dia masih sempat menarik kembali tenaganya karena kalau sampai dia terpukul dengan tangan masih menempel di pundak, maka tenaga pukulan gadis itu akan terus menyusup melalui tangannya ke dalam dada gadis itu sendiri dan mungkin gadis itu akan celaka.

Dia menarik kembali tenaganya dan karena itu sama sekali tidak sempat berjaga diri.

Untung dia masih ingat untuk mengumpulkan tenaga yang ditariknya itu ke arah dadanya sehingga dada itu masih dapat terlindung terhadap pukulan yang dahsyat itu.

Begitu terkena pukulan itu, tubuh Hong Beng terjengkang dan bergulingan, lalu berhenti menelungkup dan tidak bergerak lagi!

Bi Lan meloncat berdiri akan tetapi ia mengeluh dan hampir roboh kembali.

Ia berdiri dengan kaki gemetar dan ternyata pahanya yang, terluka itu terasa nyeri, perih dan panas.

Ia menggerak-gerakkan kedua tangannya, terutama lengan kirinya.

Lengan kirinya sudah tidak lumpuh lagi dan ia sudah mendapatkan kembali tenaganya.

Tenaganya sudah pulih kembali, akan tetapi kakinya tidak mampu bergerak dengan tangkas karena luka di pahanya!

Dan pemuda yang dipukulnya itu belum tentu sudah tewas.

Kalau bangkit kembali tentu ia tidak akan mampu menandinginya dengan kaki seperti itu.

Dengan terpincang-pincang ia menghampiri tubuh Hong Beng yang masih menggeletak menelengkup tak bergerak-gerak itu.

Pemuda itu pingsan oleh guncangan pukulan yang dahsyat tadi.

Setelah tiba dekat, Bi Lan mengangkat tangan meraba pinggang dan ia terkejut.

Pedangnya hilang!

Tidak ada di pinggangnya, tinggal sarungnya saja.

Lalu teringatlah ia bahwa tadi pedang itu masih dipegangnya.

Ke mana perginya Ban-tok-kiam?

Tentu orang ini yang mengambilnya.

Celaka, pedang itu dipinjamkan oleh nenek Wan Ceng kepadanya, kalau sampai lenyap bagaimana ia akan mempertanggung-jawabkannya?

Niat hati untuk membunuh pemuda itu segera mereda.

Tidak, ia tidak akan membunuhnya sebelum pemuda itu mengembalikan Ban-tok-kiam yang tentu disembunyikannya.

Akan tetapi kalau tidak dibunuh orang ini amat berbahaya.

Bi Lan mendapatkan akal.

Orang ini harus dibuat tidak berdaya dulu.

Nanti kalau sudah sadar, akan diancam dan dipaksanya mengembalikan Ban-tok-kiam, baru akan dibunuhnya karena kekurang-ajarannya yang luar biasa tadi.

Karena tenaga di kedua tangannya sudah pulih, mudah saja bagi Bi Lan untuk melakukan totokan pada kedua pundak dan kedua pinggang pemuda itu untuk melumpuhkan kaki tangannya.

Akan tetapi, pemuda itu terlalu berbahaya dan lihai, maka Bi Lan masih menambahkan dengan mengikat kedua kaki tangan Hong Beng dengan robekan baju pemuda itu sendiri.

Dengan gemas ia merobek baju pemuda itu, teringat akan baju di pundaknya yang robek, dan mempergunakan kain yang kuat itu, setelah dipintalnya, untuk mengikat kedua pergelangan kaki dan tangan.

Barulah ia membalikkan tubuh pemuda itu terlentang.

Pemuda itu masih pingsan.

Agaknya hebat sekali pukulannya tadi.

Wajah pemuda itu pucat dan dari ujung bibirnya mengalir sedikit darah.

Bi Lan meraba dadanya dan ternyata pemuda itu masih bernapas, jantungnya masih berdenyut dan hatinyapun lega.

Pemuda ini tidak boleh mati sebelum pedang pusakanya dikembalikan!

Penerangan api unggun makin menyuram karena api unggun itu kehabisan bahan bakar.

Bi Lan terpincang-pincang mencari tambahan kayu kering dan tak lama kemudian api unggun itu membesar lagi.

Ia duduk dekat tubuh Hong Beng yang masih terlentang tak bergerak, seperti tidur, seperti mati.

Dan Bi Lan termenung.

Yang terus teringat olehnya hanyalah bagaimana pemuda ini dengan kurang ajar sekali tadi telah merobek bajunya, menciumi pundak mungkin juga dekat payudaranya, Teringat ini, mukanya menjadi panas sekali.

Dan teringat pula ia betapa ia siuman dan melihat pemuda itu seperti hendak memperkosanya, menciumi pundaknya yang telanjang, ia tidak mampu menggerakkan kedua kaki tangan saking takutnya ia menjerit dan tak ingat apa-apa lagi.

Ketika ia siuman kembali, bagaimanapun juga ia merasa lega karena pakaiannya, terutama pakaian dalamnya, masih melekat di badannya.

Akan tetapi pemuda itu masih membelai dan mengelus pundaknya, maka pemuda itu lalu dihantamnya.

Pemuda biadab!

Ia membayangkan hal yang bukan-bukan dan bulu tengkuknya meremang.

Hampir saja, pikirnya dan ia semakin marah.

Di bawah penerangan api unggun, ia melihat seekor nyamuk besar terbang dan hinggap di pipi Hong Beng.

Dengan pandang matanya yang tajam ia melihat betapa nyamuk itu menghisap darah dari pipi itu, perutnya yang tadinya kempis putih itu perlahan-lahan berubah menghitam dan mengembung.

Perasaan tidak tega membuat ia mengangkat tangan ke atas, siap untuk memukul mati nyamuk itu.

Akan tetapi perasaan lain mengatakan bahwa tidak sepantasnya ia mengasihani pemuda ini dan perasaan ini memaksanya mengingat betapa pemuda itu telah menciumi pundaknya dengan bibir dan pipi itu!

Tangannya melayang turun.

"Plakk!"

Nyamuk itu mati gepeng dan perutnya pecah, darah merah bergelimang di sekitar bangkai nyamuk itu.

Bi Lan menarik napas panjang untuk menekan perasaannya yang terpecah menjadi dua pihak yang bertentangan.

Sepihak merasa puas bahwa ia telah membunuh nyamuk yang sedang menghisap darah pemuda yang sedang pingsan tak berdaya itu, akan tetapi lain pihak menyangkal dan mengatakan bahwa yang ia lakukan tadi adalah untuk melampiaskan panas hatinya, untuk menghukum karena pemuda itu tadi berani kurang ajar kepadanya.

Biarpun sudah dibantahnya demikian, tetap saja ada dua macam kepuasan terasa di dalam hatinya, Kepuasan karena membebaskan pemuda itu dari gangguan nyamuk dan kepuasan sudah menampar pemuda itu.

Kenyataan ini mengganggu hatinya dan Bi Lan mengalihkan perhatian kepada pahanya yang terluka.

Celananya yang kanan melekat pada pahanya.

Bagian paha itu terbuka dan nampak luka merah menganga, sudah tidak mengeluarkan darah lagi akan tetapi terasa amat nyeri, pedih dan panas.

Untuk memeriksa luka ini, harus celana itu dibuka.

Hal ini tidak mungkin karena di situ ada orang lain, seorang lelaki pula!

Merobek celana itu di bagian paha juga tidak mungkin karena pahanya akan terbuka dan telanjang dan hal ini amat memalukan.

Bagaimana kalau pemuda kurang ajar itu nanti siuman dan melihat pahanya yang tidak tertutup?

Dengan hati-hati ia menguak celana yang terobek pedang itu untuk memeriksa lukanya.

Perlu dicuci, pikirnya, dan harus cepat diberi obat luka.

Kalau tidak, bisa berbahaya.

Ia meraba-raba bajunya akan tetapi tidak dapat menemukan obat.

Teringatlah ia bahwa obat-obatnya berada di dalam buntalan dan buntalan itu tentu saja sudah tercecer ketika ia berkelahi tadi.

Semua pakaian bekalnya juga hilang.

Api unggun mulai mengecil dan akhirnya padam, hanya meninggalkan asap putih yang makin mengecil juga.

Akan tetapi Bi Lan tidak menyalakannya kembali karena malam telah berganti pagi dan biarpun mataharinya sendiri belum nampak, namun sinarnya telah membakar ufuk timur dan mengusir kegelapan malam.

Pagi itu dingin sekali, akan tetapi Bi Lan yang sibuk memeriksa luka di pahanya tidak memperhatikannya.

Mulutnya mendesis-desis menahan rasa nyeri yang seperti menyusup ke dalam tulang-tulang, terutama di sekitar pahanya.

"Luka itu harus dicuci bersih dan aku mempunyai obat luka yang manjur."

Bi Lan yang sedang tenggelam dalam perhatian memeriksa luka di pahanya, terkejut dan cepat menutupkan kembali kain celana robek itu pada pahanya.

Mukanya merah dan seperti seekor kelenci ketakutan, ia sudah meloncat ke dekat Hong Beng akan tetapi ia mengeluh karena pahanya terasa semakin perih ketika ia meloncat dan luka di paha itu tergeser dan tergores kain.

Dengan jari-jari tangan mengancam kepala Hong Beng, Bi Lan menghardik.

"Hayo kembalikan pedangku, kalau tidak, akan kucengkeram ubun-ubunmu sampai hancur!"

Ketika tadi siuman kembali, Hong Beng merasa betapa kaki tangannya lumpuh, bahkan terikat tali yang terbuat dari bajunya sendiri yang sudah robek-robek.

Lalu dia teringat, dan hatinya merasa mendongkol bukan main.

Celaka, pikirnya.

Ini bukan hanya air susu dibalas tuba, bahkan lebih menjengkelkan lagi.

Gadis itu bukan hanya tidak mengenal budi, bahkan jahat dan kejamnya seperti iblis!

Dia harus berhati-hati karena nyawanya terancam di tangan gadis yang jahat seperti iblis ini.

Maka, biarpun sudah siuman, dia diam saja dan segera dia mengerahkan tenaga sin-kangnya.

Tenaga sin-kang yang dimiliki keluarga para pendekar Pulau Es memang hebat bukan main, berbeda dari pada sin-kang dari aliran persilatan yang lain.

Keluarga Pulau Es itu sudah mampu menguasai latihan untuk menghimpun tenaga sin-kang, bahkan untuk mengendalikannya sedemikian rupa sehingga para pendekar Pulau Es dapat membuat tenaga sin-kang itu menjadi panas seperti api dan dingin seperti es, juga dapat sekaligus menggunakan dua hawa tenaga yang berlawanan itu dengan kedua tangan.

Dengan penggunaan kedua hawa tenaga itu, akhirnya dalam waktu sebentar saja Hong Beng mampu membebaskan pengaruh totokan Bi Lan.

Akan tetapi dia diam saja karena ikatan tali kain itu tidak ada artinya baginya.

Dia hanya bersiap siaga, ingin melihat apa yang akan dilakukan selanjutnya oleh gadis yang jahat dan kejam seperti iblis betina itu.

Akan tetapi ketika dia melirik dan melihat betapa Bi Lan memeriksa luka di pahanya sambil mendesis-desis dan mengeluh dengan suara seperti akan menangis, seperti sikap seorang anak kecil yang cengeng, kemarahannya mencair dan diapun merasa kasihan.

Maka dia lalu memberi nasihat tadi agar luka itu dicuci dan bahwa dia mempunyai obat luka yang manjur.

Tak disangkanya sama sekali bahwa gadis itu memang benar-benar jahat.

Kini gadis itu mengancam ubun-ubun kepalanya, siap membunuhnya dan menanyakan pedang pusaka yang juga mengerikan itu.

Kini tahulah dia mengapa gadis itu memiliki sebatang pedang yang demikian menyeramkan.

Kiranya ia sendiripun mempunyai watak yang mengerikan.

"Hemm, kau kira aku mencuri pedangmu yang ganas itu? Aku hanya menyimpannya. Pedang itu berada di bawah pohon di sana itu."

Hong Beng menunjukkan tempat pedang itu dengan pandang matanya.

Bi Lan menengok dan terpincang-pincang ia menghampiri pohon itu.

Benar saja.

Ban-tok-kiam menggeletak di situ.

Cepat pedang itu diambilnya.

Pedangnya sudah ditemukan dan sekarang pemuda itu harus dibunuhnya, untuk menghukumnya atas kekurangajarannya.

Iapun terpincang-pincang menghampiri lagi Hong Beng yang diam-diam sudah siap siaga membela diri.

Akan tetapi dia masih tetap rebah terlentang.

"Dan sekarang bersiaplah engkau untuk mampus!"

Bentak Bi Lan sambil mengangkat pedangnya. Hong Beng tersenyum mengejek.

"Hemm, benar saja. Aku telah keliru menolong anak setan yang amat jahat."

Bi Lan menahan pedangnya.

"Siapa yang jahat?"

"Huh, siapa lagi kalau bukan engkau? Aku telah menyelamatkanmu, menolongmu, akan tetapi engkau hendak membalasnya dengan membunuhku. Apa namanya itu kalau tidak jahat seperti iblis?"

"Engkau yang jahat seperti iblis! Memang kau telah menolongku, akan tetapi pertolonganmu itu berpamrih keji. Kebaikanmu itu belum cukup untuk menghapus kekejian dan kekurangajaranmu terhadap aku. Dibunuh sepuluh kalipun masih belum dapat menghapus dosamu!". Hong Beng membelalakkan kedua matanya.

"Ehh.... ehhh.... engkau tidak hanya jahat dan kejam, akan tetapi bahkan licik dan pandai membalik-balikan kenyataan. Sungguh tak kusangka. Kau bilang aku jahat dan keji dan kurang ajar? Coba, di bagian mana aku jahat dan keji dan kurang ajar?"

Hong Beng benar-benar merasa penasaran sekali.

Ingin dia merenggut lepas tali-tali itu dan menghajar gadis yang keterlaluan ini, akan tetapi dia masih ingin mendengarkan terus karena diam-diam dia merasa terheran-heran bagaimana ada gadis yang begini berani mati dan tanpa malu-malu memutar balikkan kenyataan.

Akan tetapi, sikap Hong Beng itu bahkan membuat Bi Lan menjadi semakin marah.

"Heh, kau laki-laki yang sombong dan engkaulah yang pura-pura suci. Apa yang kau lakukan tadi sewaktu aku pingsan? Engkau telah menciumku...."

"Ehhh....? Bohong seribu kali bohong! Aku tidak pernah menciummu!"

Bantahnya dan ada suara berbisik menyambung dalam hatinya.

"....walaupun aku ingin sekali kalau mungkin....!"

Heran sekali dia, mengapa ada mulut dapat nampak begitu manis biarpun mulut itu sedang cemberut dalam kemarahan!

Dan lebih heran lagi dia, mengapa ada wajah yang begitu jelita memiliki mata yang demikian jahat dan kejam!

Sepasang mata itu mencorong seperti mengeluarkan sinar berapi.

"Apa! Kau yang bohong, pengecut yang tidak berani mengakui perbuatannya sendiri. Ketika aku sadar dari pingsan, engkau menempelkan mulut dan hidungmu di pundakku. Apa lagi itu namanya kalau bukan mencium? Apa kau mau bilang bahwa kau hendak menggigit dan memakan daging pundakku? Dan ketika aku siuman untuk ke dua kalinya, engkau.... engkau membelai dan meraba-raba pundakku. Keparat!"

Tiba-tiba Hong Beng tertawa sehingga Bi Lan yang sedang marah itu tertegun heran. Gilakah orang ini? Diancam mau dibunuh malah ketawa-tawa.

"Ha-ha-ha, jadi itukah sebabnya mengapa engkau jatuh pingsan lagi, dan kemudian kau menyerangku secara semena-mena?"

Hatinya lega bukan main.

Kalau begitu, gadis ini sama sekali tidak jahat!

Gadis ini bersikap kejam karena marah dan merasa dihina, mengira dia seorang pria kurang ajar yang mempergunakan kesempatan selagi gadis itu pingsan, telah berani mencium pundaknya lalu meraba-raba pundak dan mungkin lain tempat lagi!

Itulah se-babnya gadis itu menjadi marah dan kejam!

Bukan karena memang wataknya jahat.

"Ha-ha, nona, engkau salah kira. Aku tidak mencium pundakmu, juga tidak ingin makan daging pundakmu biarpun perutku memang lapar sekali."

"Jangan coba menyangkal atau berkelakar. Aku tidak ketawa dan tidak merasa lucu! Kalau tidak mencium, lalu mau apa kau....?"

"Nona, aku memang menempelkan mulutku di pundakmu, akan tetapi bukan mencium, melainkan menyedot darah yang sudah tercampur racun dari luka di pundakmu."

Bi Lan terkejut dan baru ia teringat bahwa ketika berkelahi, pundaknya terkena jarum beracun sucinya dan menjadi lumpuh lengan kiri itu.

"Luka....? Di pundak....?"

Ia tergagap.

"Terkena jarum beracun. Aku terpaksa menyedot darah yang keracunan itu, sekalian mengeluarkan jarumnya, kemudian kupergunakan sin-kang untuk membantumu memulihkan jalan darahmu, dan menempelkan tanganku di pundak yang terluka itu...."

"Ahh....!"

Bi Lan kini menggunakan tangan kirinya meraba-raba pundak dan memang masih ada lukanya di situ, luka kecil karena jarum, akan tetapi menjadi agak besar karena disedot dan kini sudah kering dan sudah tidak terasa nyeri sama sekali.

"Ahhh....!"

Kembali ia berseru bingung. Pedang yang dipegang oleh tangan kanan itu kini menurun.

"Ahhh....!"

Bermacam perasaan mengaduk hatinya.

Menyesal, malu, dan ditambah perasaan nyeri di pahanya.

Melihat betapa gadis itu hanya dapat berah-ah-uh-uh dengan canggung, Hong Beng merasa kasihan.

"Luka di pahamu itu perlu dirawat, nona. Perlu dicuci bersih dan aku membawa obat luka yang manjur, yang tadipun sudah kukenakan pada luka di pundakmu. Aku belum berani merawat luka di pahamu karena khawatir kau...."

Bi Lan menarik napas panjang.

Pengalamannya dengan Sam Kwi, kemudian dengan Bhok Gun, membuat ia bercuriga kepada setiap pria dan ia tadinya menduga bahwa pemuda inipun tiada bedanya dengan yang lain.

Akan tetapi ternyata ia salah duga, salah sekali.

"Aih, aku telah keliru.... kukira engkau.... kiranya tidak demikian...."

Hong Beng tersenyum.

"Tidak aneh, nona. Memang di dunia ini lebih banyak orang jahat dari pada yang benar. Akan tetapi, tentu engkau sekarang sudah percaya kepadaku, bukan?"

Melihat betapa pemuda itu memandang ke arah pedang Ban-tok-kiam yang masih dipegangnya dengan tangan kanan, Bi Lan cepat menyimpan pedangnya itu dengan muka merah.

"Tentu saja, aku telah salah sangka. Biar kulepaskan ikatan dan totokanmu...."

Akan tetapi gadis itu terkejut bukan main ketika ia hendak membuka totokan dan ikatan kaki tangan, tiba-tiba pemuda itu menggerakkan kaki tangannya dan semua ikatan itupun putus dan pemuda itu bangkit duduk sambil tersenyum.

"Ah, kau.... kau...."

Bi Lan tak melanjutkan kata-katanya dan memandang dengan mata terbelalak dan mukanya menjadi semakin merah.

"Tadi.... kau kutotok dan kuikat...."

"Baik sekali itu, nona, demi keamanan karena kalau seorang yang dicurigai dibiarkan terlepas, tentu berbahaya."

"Dan tadi.... kuhantam dadamu, keras sekali. Kau tidak apa-apa....?"

"Aku roboh pingsan. Memang hebat sekali pukulanmu tadi."

"Maksudku, kau tidak terluka parah....?"

Ucapan Bi Lan kini terdengar penuh dengan nada penyesalan dan makin gembiralah hati Hong Beng karena dia kini merasa yakin bahwa dia tidak salah mengira ketika pertama kali bertemu dengan gadis ini di restoran.

Gadis ini lain dengan sucinya itu.

Gadis ini polos dan murni, hanya agak liar dan penuh curiga.

Dia menggeleng kepala, tidak tega menggoda dan menambah penyesalan dalam hati gadis itu.

"Pukulanmu tadi cepat sekali datangnya, dan untung aku masih sempat melindungi dadaku. Kalau tidak, tentu sudah berantakan isi dadaku tadi."

"Ah, aku menyesal sekali. Sungguh aku jahat sekali, engkau sudah membantuku, menyelamatkan aku, akan tetapi aku sejak pertama mencurigaimu. Kuanggap engkau kurang ajar ketika memondongku dan melarikan aku, kemudian engkau untuk kedua kalinya menyelamatkan aku dengan mengobati lukaku, akan tetapi aku malah makin curiga dan menyangka buruk. Ah, betapa jahatnya aku...."

"Sudahlah, nona. Salah sangka merupakan kelemahan semua orang. Dan mungkin karena engkau kurang pengalaman, dan kita belum saling mengenal, maka terjadi kesalahpahaman itu. Lebih baik kau rawat dulu luka di pahamu, ini obat luka yang manjur. Pakailah. Ketika lari ke sini, di bawah itu terdapat sumber air. Mari kuantar...."

Bi Lan bangkit dan ketika Hong Beng mengulurkan tangan, tanpa ragu-ragu ia lalu memegang lengan pemuda itu dan sambil terpincang-pincang, dibantu oleh Hong Beng, mereka menuruni lereng itu dan benar saja, tak jauh dari situ terdapat mata air yang mengeluarkan air jernih dari celah-celah batu dan menjadi anak sungai.

"Cucilah lukamu, aku menanti di sana."

Hong Beng lalu pergi meninggalkan gadis itu lalu duduk di atas sebuah batu, di tempat yang agak tinggi sehingga nampak oleh Bi Lan betapa pemuda itu duduk bersila di atas batu datar, membelakanginya.

Kembali wajahnya terasa panas karena malu.

Pemuda itu demikian sopan, akan tetapi tadi hampir dibunuhnya karena dianggapnya kurang ajar!

Lain kali ia harus berhati-hati menilai orang dan tidak bertindak secara sembrono.

Dengan hati-hati ia lalu merobek celananya lebih lebar sehingga luka di pahanya nampak nyata.

Luka itu sebetulnya tidak berapa lebar, hanya terluka oleh tusukan pedang, akan tetapi agak membengkak dan merah sekali.

Biarpun terasa amat perih ketika disentuh air, ia menggigit bibir dan tidak mau mengaduh, khawatir terdengar oleh pemuda itu.

Dicucinya luka itu sampai bersih, kemudian ia menaruh obat bubuk putih itu di atas luka itu sampai penuh dan tertutup, kemudian dibalutnya pahanya dengan kain putih dari ikat pinggangnya.

Terasa dingin dan nyaman sekarang.

Akan tetapi dengan sedih ia melihat celananya yang kini robek dan tidak dapat menutupi lagi seluruh kakinya, juga bajunya di bagian pundak kiri sudah robek sehingga nampak kulit leher dan sebagian pundaknya.

Ia melihat bahwa pemuda itu masih duduk bersila di atas batu, menghadap matahari pagi yang sudah mulai muncul dengan sinarnya yang kuning keemasan, cerah sekali.

Sedapat mungkin Bi Lan menutupi paha dan pundak yang nampak ketika ia menghampiri pemuda itu.

"Sudah kuobati luka di kakiku,"

Katanya sambil mengembalikan bungkusan obat luka.

Hong Beng memandang dan melihat betapa gadis itu dengan canggungnya mencoba untuk menutupi robekan celana dan baju, ia segera mengambil bungkusannya dan mengeluarkan satu stel pakaiannya.

"Nona, pakaianmu robek-robek, kau pakailah pakaian ini untuk sementara sebelum engkau mendapatkan pengganti yang pantas."

Bi Lan menggeleng kepala.

"Pakaianmu tentu terlalu besar untukku, juga, aku tidak suka memakai pakaian pria."

Ia melihat pakaiannya dan menarik napas panjang.

"Kalau saja aku dapat menambal dan menjahit bagian yang robek, untuk sementara dapat dipakai sebelum mendapatkan yang baru...."

"Aku punya jarum dan benang! Dan untuk menambal, kau pergunakan ini."

Tanpa ragu-ragu lagi Hong Beng merobek kain ikat pinggang yang panjang, berwarna putih, dan menyerahkan robekan kain itu bersama jarum dan benangnya kepada Bi Lan.

"Akan tetapi, untuk menjahit pakaianmu, sementara engkau harus berganti dulu, nona. Kau pakailah dulu pakaian ini sebelum pakaianmu dijahit. Maukah kau kubantu? Aku pandai menjahit, dan aku akan menjahit pakaianmu yang robek...."

"Tidak!"

Kata Bi Lan cepat-cepat.

"Aku akan menjahitnya sendiri!"

Hong Beng tersenyum.

"Baiklah, kau berganti pakaian dan jahit pakaianmu yang robek. Aku mau mencari bahan makanan untuk kita."

Setelah berkata demikian, Hong Beng meloncat dan lari memasuki sebuah hutan lebat yang berada di dekat puncak, tak jauh dari lereng itu.

Bi Lan cepat membawa satu stel pakaian Hong Beng dan masuk ke belakang semak-semak belukar.

Ia menanggalkan pakaiannya sendiri dan memakai pakaian Hong Beng yang tentu saja terlalu besar untuknya itu sehingga ia harus menggulung kelebihan kaki celana dan lengan baju.

Ia nampak lucu setelah keluar dari balik semak-semak, membawa pakaiannya sendiri kembali ke batu besar tadi dan mulai menjahit dan menambal baju dan celananya sendiri yang robek-robek.

Ia sudah biasa menggunakan jarum benang, maka sebentar saja baju dan celananya yang robek-robek itu telah dijahitnya dengan rapi dan rapat.

Setelah Hong Beng kembali ia sudah berganti dalam pakaiannya sendiri dan pakaian Hong Beng yang tadi dipakainya telah dilipatnya lagi dengan rapi dan dikembalikan ke dalam buntalan pemuda itu.

Hong Beng dengan wajah berseri memperlihatkan dua ekor ayam hutan yang gemuk, yang dirobohkannya dengan sambitan jarum-jarumnya.

"Lihat, ini bahan makanan untuk kita. Aku sudah lapar sekali."

"Mari kubantu membersihkan bulu-bulu dan isi perutnya. Berikan padaku, akan kucuci di sumber air itu."

"Dan aku mempersiapkan api dan menanak nasi, juga mempersiapkan bumbu-bumbunya."

"Nasi? Bumbu?"

Hong Beng tertawa dan mengeluarkan beras, panci, garam dan bumbu-bumbu sederhana dari dalam buntalannya, seperti bermain sulap saja.

Bi Lan ter-senyum dan ia sudah pulih kembali kesehatannya sehingga kegembiraannya juga timbul karena pada hakekatnya gadis itu berwatak periang dan jenaka.

"Bagus, akan makan enak kita hari ini! Perutku sudah lapar bukan main!"

Dan iapun lalu berlari-lari kecil menuju ke sumber air.

Ketika rasa nyeri pahanya membuatnya menjerit kecil, barulah ia ingat akan kakinya yang sakit dan iapun melanjutkan lari terpincang-pincang.

Hong Beng memandang sampai gadis itu lenyap di balik pohon-pohon.

Lucu dan menarik, menyenangkan sekali gadis itu, pikirnya.

Seorang gadis yang amat baik, yang mungkin selama ini memperoleh pergaulan dengan orang-orang yang tidak patut.

Baru dia teringat bahwa dia belum tahu siapa gadis itu, dari perguruan mana dan bagaimana riwayatnya, mereka belum saling berkenalan, padahal sebentar lagi mereka sudah akan makan bersama.

Akan tetapi dia tidak berani bertanya-tanya tentang diri gadis itu.

Wataknya demikian aneh, jangan-jangan kalau ditanya nama lalu timbul lagi kecurigaannya.

Matahari telah naik tinggi ketika keduanya duduk menghadapi nasi dan panggang daging ayam yang gemuk sambil berteduh di bawah pohon besar.

Dengan lahap mereka lalu makan nasi dan daging ayam.

Ketika Hong Beng mengeluarkan seguci arak, Bi Lan mengerutkan alisnya dan ia menggeleng kepala dengan keras ketika pemuda itu menawarkan arak padanya.

"Tidak, tidak....! Sampai matipun aku tidak akan minum lagi minuman setan itu!"

Katanya dan ia lalu minum sedikit air jernih yang sejak tadi sudah ia siapkan di dalam panci.

"Nona, arak amat berguna seperti api. Kalau dipergunakan menurut aturan, dia akan baik sekali bagi kesehatan. Akan tetapi kalau dibiarkan menguasai kita dan kita minum tanpa aturan, tentu akan mencelakakan dan merusak kesehatan. Arak ini bukan arak yang keras, sudah dicampur dengan air, kalau diminum setelah perut terisi makanan, akan menjadi penghangat tubuh."

Pemuda itu lalu menuangkan sedikit arak ke dalam cangkir dan meminumnya sedikit demi sedikit dan kelihatan memang enak sekali.

Apa lagi bau arak itu sedap.

Tiba-tiba ia mengulurkan tangan.

"Coba beri aku sedikit saja,"

Katanya dan jantungnya berdebar khawatir.

Kenapa ia begitu percaya kepada pemuda ini?

Bagaimana kalau pemuda ini seperti Sam Kwi atau seperti Bhok Gun dan melolohnya dengan arak sampai mabok?

Akan tetapi, ketika Hong Beng mengulurkan tangan memberikan cangkir yang sudah diisi sedikit arak, ia menerima tanpa ragu, kemudian meminumnya sedikit demi sedikit, dikecupnya sedikit saja.

Dan memang enak!

Selain rasanya mengandung sedikit manis dan berbau sedap, juga kalau diminum sedikit tidak mencekik leher dan juga ada hawa panas yang enak memasuki perutnya.

Enak bukan main makan seperti itu.

Hanya nasi dengan daging ayam dipanggang sederhana, dengan bumbu sederhana sekali, garam dan bawang dan kecap, dimakan panas-panas sambil duduk di atas rumput di tempat teduh, tanpa sumpit atau sendok atau pisau, hanya dengan lima jari tangan saja.

Enak!

Perut sudah lapar, tubuh lelah dan baru saja terlepas dari ancaman maut dan mengalami hal-hal yang menegangkan, itulah yang membuat hidangan sederhana menjadi lezat bukan main.

Berbahagialah orang yang sehat tubuh dan hatinya, sehat badan dan batinnya, di manapun juga dia berada.

Bagi orang yang sehat badannya, segalanya terasa nikmat.

Panca indera yang sehat dapat menikmati segala yang dilihat, didengar, dicium, dimakan dan dirasakan.

Tinggal menikmatinya saja!

Segala sudah berlimpahan di sekelilingnya.

Akan tetapi, badan sehat harus pula dilengkapi dengan batin sehat.

Kalau tidak, maka badan sehat itupun tidak akan dapat menikmati segala yang ada, karena batinnya mencari dan mengharapkan keadaan yang lain dari pada yang dihadapinya, keadaan lain yang diharapkan dan dibayangkan lebih hebat, lebih baik, lebih menyenangkan dari pada yang telah ada.

Pencarian ini, harapan ini otomatis melenyapkan keindahan dari keadaan yang diharapkannya itu.

Dan timbullah kekecewaan, tidak puas, penyesalan dan kedukaan.

Keadaan Hong Beng dan Bi Lan itu dapat dijadikan contoh suatu keadaan.

Karena tubuh mereka sehat, lelah dan lapar, maka sudah sepatutnya kalau mereka dapat menikmati hidangan sederhana itu.

Dan keadaan batin merekapun pada saat itu sehat.

Andaikata tidak demikian dan mereka itu membandingkan dengan keadaan lain yang mereka harapkan, makan dengan hidangan yang lebih lengkap, duduk di kursi dan menggunakan sumpit, dilayani dan segala macam keenakan lain yang tidak ada pada saat itu, dapat dipastikan bahwa mereka tidak akan dapat makan selahap dan selezat itu!

Jelaslah bahwa segala macam keindahan dan keenakan bukan terletak pada benda di luar diri kita, melainkan tergantung sepenuhnya kepada batin dan badan kita sendiri.

Sarana untuk dapat menikmati hidup ini bukanlah kekayaan, kedudukan, kepandaian, ataupun kekuasaan.

Sarana yang mutlak hanyalah kesehatan badan dan batin.

Tawa bukan hanya milik orang kaya dan tangis bukan hanya bagian orang miskin.

Tawa sebagai cermin suka dan tangis sebagai cermin duka akan selalu silih berganti mengombang-ambingkan manusia yang belum sehat badan dan batinnya.

Orang yang memiliki segala-galanya dalam arti kata yang sedalam-dalamnya, yang mampu menikmati setiap tarikan napas, mampu menikmati setiap teguk air, mampu melihat dan mendengar keindahan segala sesuatu yang nampak dan terdengar, adalah orang bijaksana.

Orang bijaksana tidak tersentuh dalam arti kata terseret suka duka.

Orang bijaksana adalah orang yang sehat badan dan batinnya.

"Tidak tambah lagi? Ini nasinya masih, dagingnya juga masih."

Hong Beng menawarkan. Bi Lan menggeleng kepala dan minum air jernih.

"Cukup, aku sudah kenyang sekali."

"Araknya lagi? Sedikit lagipun tidak apa-apa."

Kembali Bi Lan menggeleng kepala.

"Teruskanlah makanmu sampai kenyang. Aku sudah cukup, lebih dari cukup."

Ia lalu menggunakan air untuk mencuci kedua tangannya yang masih berlepotan minyak gajih ayam yang gemuk tadi.

Hong Beng melanjutkan makannya, nampak enak sekali dan Bi Lan menatap dan mengamati wajah pemuda itu.

Seorang pemuda yang mukanya bersih dan cerah, berkulit kuning dan tampan.

Akan tetapi, seorang pemuda yang sederhana.

Sederhana lahir batinnya.

Bukan hanya pakaian yang berwarna biru dengan sabuk putih itu yang sederhana, juga sepatunya yang sudah hampir butut, melainkan juga muka yang bersih itu tidak pesolek.

Rambut yang hitam gemuk itu tidak berbekas minyak seperti rambut Bhok Gun yang mengkilap dan berbau wangi.

Tidak, pemuda ini tidak pesolek walaupun dalam ketampanan tidak kalah oleh Bhok Gun.

Sikapnya membayangkan batin yang sederhana.

Selalu nampak rendah hati, padahal, dengan ilmu kepandaian seperti itu, biasanya orang akan menjadi sombong dan besar kepala, tinggi hati.

Seorang pemuda yang terlalu sederhana, akan tetapi justeru di situlah letak daya tariknya.

"Sekarang aku yakin benar bahwa engkau tidak mempunyai niat buruk terhadap diriku...."

"Terima kasih, legalah hatiku kalau tidak dicurigai lagi,"

Kata Hong Beng memotong.

"Tapi...."

Sepasang mata yang jeli itu menatap tajam, seolah-olah sinarnya ingin menembus dan menjenguk isi hati pemuda itu.

".... lalu kenapa engkau bersusah payah menolongku ketika aku dikepung, dan mengobatiku ketika aku terluka jarum beracun? Kalau tidak ada pamrihmu, untuk apa engkau menolongku? Kita bukan sahabat, bahkan bukan kenalan, kenapa engkau membantu aku dan menentang mereka?"

Hong Beng menyuapkan segenggam nasi ke mulutnya dan mengunyahnya perlahan-lahan sambil mengamati wajah yang manis itu.

Seorang dara cantik sekali, cantik manis walaupun kulit muka yang putih mulus itu tidak berbau bedak dan gincu.

Manis, terutama sekali mulut yang kecil mungil itu, dengan lesung pipit di kanan kirinya, nampak membayang kalau bicara, nampak mengintai kalau cemberut, dan nampak cerah dan jelas kalau tersenyum.

Sepasang mata itu bersinar-sinar penuh gairah dan semangat hidup, penuh kegembiraan.

Seorang gadis yang manis.

"Kenapa? Kenapa kau lakukan semua itu? Jawablah agar aku tidak merasa penasaran."

Hong Beng menelan makanan dalam mulutnya. Sebelum menjawab, dia menghabiskan sisa arak dalam cangkirnya.

"Nona, sejenak aku tak mampu menjawab. Pertanyaanmu itu amat aneh terdengar olehku. Kenapa seseorang menolong orang lain? Kenapa seseorang melakukan gangguan kepada orang lain? Kenapa orang selalu melakukan kebaikan atau keburukan kepada orang lain? Nona, kalau menurut pendapatmu, anehkah kalau orang menolong orang lain tanpa pamrih?"

"Tentu saja aneh, bahkan tak masuk akal! Segala perbuatan kita tentu terdorong oleh sesuatu pamrih, untuk mencapai sesuatu, atau memiliki tujuan tertentu. Kalau tadi aku memukulmu, hendak membunuhmu, tentu ada sebabnya, bukan? Sebabnya, karena engkau kuanggap jahat. Dan kalau sekarang aku mau makan minum bersamamu, duduk bercakap-cakap, tentu ada sebabnya pula, karena kini aku percaya padamu sebagai seorang yang baik. Nah, tentu ketika kau menolongku tadi, ada pamrihnya."

Hong Beng bengong.

Alasan-alasan itu sungguh mengandung kebenaran bagi manusia pada umumnya.

Akan tetapi sekaligus membuka mata betapa kotornya kalau setiap perbuatan itu mengandung pamrih.

Katakanlah pertolongannya terhadap Bi Lan berpamrih, maka pamrihnya itu tentu kotor.

Apa yang kiranya dapat diharapkannya dari gadis ini?

Satu-satunya tentu karena gadis ini manis, dan pamrihnya tentu dikuasai nafsu berahi.

Tidak!

Sama sekali tidak demikian yang mendorongnya menolong gadis itu.

"Nona, bagiku, apa yang kulakukan terhadap dirimu tadi bukanlah perbuatan yang didorong oleh pamrih, melainkan didorong oleh perasaan iba terhadap yang tertindas, dan perasaan menentang terhadap segala macam kejahatan. Perbuatan tadi kuanggap sebagai suatu keharusan, suatu kewajiban. Andaikata bukan engkau yang tadi terancam maut, andaikata seorang laki-laki pun, atau seorang nenek tua buruk sekalipun, tetap saja aku akan turun tangan dan berusaha menyelamatkan-nya."

Bi Lan mengerutkan alisnya dan nampak kepalanya sedikit bergoyang.

Agaknya sukar baginya menerima alasan ini.

Di dalam dunia Sam Kwi yang dikenalnya sejak ia masih kecil, segala perbuatan tentu ada pamrihnya, pamrih untuk kepentingan diri sendiri, untuk keuntungan dan kesenangan diri sendiri.

Akan tetapi ia teringat bahwa suhu dan subonya dari Istana Gurun Pasir pernah mengatakan bahwa seorang yang berjiwa pendekar harus selalu siap mengulurkan tangan untuk menolong orang-orang yang lemah tertindas, dan menggelung lengan baju menentang arang-orang yang kuat dan jahat.

"Engkau seorang pendekar?"

Tiba-tiba ia berta-nya sambil menatap wajah itu.

Hong Beng sudah selesai makan dan sedang mencuci kedua tangannya seperti yang dilakukan Bi Lan tadi.

Hong Beng menggeleng kepala.

"Pendekar bukanlah suatu kedudukan atau pangkat, nona. Penilaiannya terserah kepada si penilai, tergantung dari sepak terjangnya dalam kehidupannya. Aku seorang manusia biasa saja yang kebetulan bertemu denganmu di rumah makan itu, dan merasa curiga terhadap orang-orang berpakaian merah itu karena aku sudah mendengar tentang adanya Ang-i Mo-pang yang kabarnya merajalela di Kun-ming. Karena itulah aku diam-diam membayangimu. Ketua Ang-i Mo-pang itu lihai sekali dan juga jahat. Melihat kau dikepung dan terancam bahaya, dengan melupakan kebodohan sendiri akupun lalu terjun ke dalam perkelahian dan untung dapat melarikanmu."

Bi Lan mengangguk-angguk.

"Kalau begitu engkau seorang pendekar! Siapakah namamu?"

Girang hati Hong Beng.

Sejak tadi dia ingin sekali berkenalan dengan nona ini, akan tetapi tidak berani bertanya nama.

Sekarang gadis itu menanyakan namanya, berarti mereka menjadi kenalan dan dia tentu akan mendengar tentang keadaan nona yang menarik hatinya ini.

"Namaku Gu Hong Beng, nona. Dan siapa kau, nona?"

"Aku Can Bi Lan, tapi guru-guruku dan suciku menyebut aku Siauw-kwi."

Hong Beng tertawa.

"Aihh, guru-gurumu dan sucimu tentu hanya berkelakar. Masa orang seperti nona ini disebut Iblis Cilik?"

"Benar, aku disebut Siauw-kwi. Kami semua memakai sebutan Iblis. Aku Iblis Cilik, suciku disebut Iblis Cantik, dan tiga orang guru kami dikenal sebagai Tiga Iblis...."

"Kau maksudkan.... Sam Kwi....?"

"Benar. Aku dan suci adalah murid-murid Sam Kwi yang terdiri dari Raja Iblis Hitam, Iblis Akhirat, dan Iblis Mayat Hidup...."

"Ahh....! Ohhh...."

Hong Beng terbelalak.

"Kenapa kau berkata oh"

Seperti gagu?"

"Aku pernah mendengar bahwa Sam Kwi adalah tiga datuk kaum sesat yang namanya pernah menggegerkan dunia persilatan di barat dan selatan."

"Benar, habis mengapa?"

"Nona...."

"Nanti dulu! Jemu aku mendengar engkau menyebutku nona-nona segala macam. Namaku Bi Lan dan engkau boleh menyebutku Bi Lan atau Siauw-kwi, terserah, akan tetapi jangan nona-nonaan!"

Hong Beng mengangguk-angguk. Kini sikap Bi Lan itu tidak dianggapnya lucu lagi. Pantas sikapnya demikian liar, kiranya gadis ini murid Sam Kwi.

"Bi Lan, kalau sucimu itu murid Sam Kwi, memang tepat. Akan tetapi siapa mau percaya bahwa engkau murid Sam Kwi? Engkau begini.... begini.... polos, jujur dan baik. Sukar dipercaya bahwa kau murid Tiga Iblis itu."

"Percaya atau tidak terserah. Dan bagaimanapun juga, Sam Kwi adalah tiga orang tua yang me-nyelamatkan aku, menjadi pengganti orang tuaku, guru-guruku, dan amat sayang kepadaku."

Hong Beng menggeleng kepala perlahan. Sungguh luar biasa.

"Menurut pendengaranku, Sam Kwi adalah tiga orang datuk kaum sesat yang amat kejam dan jahat. Dan engkau, yang menjadi muridnya, begini baik dan menganggap mereka sebagai orang-orang yang demikian baiknya. Luar biasa. Apakah kau sejak kecil menjadi murid mereka, Bi Lan?"

Gadis itu mengangguk.

Wataknya memang polos dan kasar, walaupun kekasaran yang tadinya liar itu sudah menjadi jinak dan tahu aturan semenjak ia digembleng oleh suami isteri sakti Kao Kok Cu dan Wan Ceng.

"Ketika aku berusia sepuluh tahun, aku bersama ayah dan ibu melarikan diri dari selatan karena di sana ada perang pemberontakan yang dibantu pasukan-pasukan Birma. Di tengah perjalanan kami dihadang pasukan Birma yang jahat dan ayah ibu tewas oleh mereka. Aku diselamatkan oleh Sam Kwi dan sejak itu aku diambil murid mereka yang ke dua."

Menceritakan ini, Bi Lan teringat akan kematian orang tuanya dan wajahnya diselimuti awan kedukaan.

"Ah, nasibmu sungguh buruk, Bi Lan. Engkau kehilangan orang tuamu sejak kecil dan terjatuh ke dalam tangan tiga orang datuk sesat yang jahat."

Betapapun jahatnya Sam Kwi, Bi Lan tidak menganggap mereka jahat, apa lagi karena ia tahu betapa besar rasa sayang mereka kepadanya dan betapa ia telah diselamatkan oleh mereka.

Karena itu, mendengar celaan ini, ia merasa tidak senang dan seketika kedukaannya hilang.

Bagi murid Sam Kwi memang tidak boleh tenggelam ke dalam kedukaan, demikian ajaran mereka.

"Ketiga suhuku tidak jahat!"

Bantahnya.

"Sudahlah, Hong Beng. Engkau minta aku bicara tentang diriku saja, sedangkan engkau belum bercerita tentang dirimu. Engkau tentu seorang pendekar, bukan?"

Hong Beng menggeleng kepala dan alisnya berkerut.

"Tidak banyak perbedaan antara nasibmu dan nasibku, Bi Lan. Ketika aku berusia sebelas tahun, terjadi malapetaka menimpa ayah ibuku. Mereka tewas di tangan pembesar di Siang-nam. Aku sendiri hampir mereka bunuh, akan tetapi muncul seorang pendekar sakti yang menyelamatkan aku dan kemudian aku diambil sebagai murid. Guruku itu bernama Suma Ciang Bun, seorang pendekar keluarga Pulau Es.

"Ihhh....!"

Bi Lan meloncat bangkit ke belakang dan memandang tajam. Melihat sikap gadis itu, Hong Beng terkejut dan diapun bangkit berdiri.

"Kenapa, Bi Lan?"

Hong Beng bertanya heran dan khawatir.

"Pendekar Super Sakti dari Pulau Es, dia adalah musuh besar tiga orang guruku! Bahkan dahulu suci diutus oleh mereka untuk mencari pendekar itu dan untuk membalaskan sakit hati mereka karena mereka pernah dikalahkan oleh pendekar itu. Akan tetapi sayang, pendekar itu telah meninggal dunia. Jadi engkau termasuk murid Pulau Es?"

"Suhuku adalah cucu dari Pendekar Super Sakti yang bernama Suma Han, akan tetapi menurut suhu, Pulau Es sudah lenyap bersama kakek itu. Aku belum pernah melihat Pulau Es. Bi Lan, kuharap engkau sebagai murid Sam Kwi tidak akan memusuhi anak murid Pulau Es yang tidak tahu menahu tentang permusuhan antara tiga orang suhumu dengan mendiang Pendekar Super Sakti."

Bi Lan menggeleng kepala.

"Aku tidak pernah berjanji kepada mereka untuk memusuhi keturunan Pulau Es. Akan tetapi suci yang pernah berkata bahwa ia akan membasmi semua keturunan Pulau Es untuk membalaskan kekalahan Sam Kwi. Hemm, kiranya engkau masih murid dari cucu pendekar itu, pantas engkau lihai dan engkaupun berwatak pende-kar. Hong Beng, aku tidak memusuhimu, hanya terkejut mendengar engkau murid keluarga Pulau Es. Belum kau ceritakan, engkau dari mana dan hendak pergi ke mana."

"Aku diutus oleh suhu untuk suatu tugas penting di kota raja, akan tetapi aku lebih dulu pergi ke selatan untuk mengunjungi makam ayah ibuku. Malam tadi aku bermalam di makam itu dan pagi tadi kebetulan bertemu dengan engkau dengan sucimu. Dan engkau sendiri, hendak pergi ke manakah?"

"Aku dan suci juga menerima tugas dari Sam Kwi untuk mencari dan merampas kembali sebuah pusaka. Sebetulnya, suci yang melaksanakan tugas-tugas itu, dan aku sudah berjanji untuk memban-tu suci."

"Satu lagi pertanyaanku, Bi Lan. Pedangmu itu....! Sungguh mati aku merasa ngeri melihat pedang itu. Sebuah pedang pusaka yang luar biasa, mengandung hawa yang menyeramkan. Apakah pedang itu pemberian Sam Kwi kepadamu?"

Bi Lan meraba gagang pedang di balik bajunya dan tersenyum.

Manisnya kalau ia tersenyum!

"Bukan, Hong Beng.

Ini pemberian atau lebih tepat lagi, dipinjamkan oleh subo kepadaku."

"Subomu? Ah, maksudmu tentu isteri seorang di antara Sam Kwi."

"Bukan! Belum kuceritakan tadi kepadamu bahwa selain Sam Kwi, aku masih mempunyai seorang suhu dan subo lain yang sama sekali tak boleh disamakan dengan Sam Kwi. Mereka adalah penolong-penolongku dan juga guru-guruku yang sangat kuhormati. Ketahuilah, ketika aku menjadi murid Sam Kwi, yang melatih aku dalam ilmu silat bukan Sam Kwi sendiri melainkan suciku, Bi-kwi. Dan suci telah sengaja melatih aku secara keliru, menyelewengkan latihan-latihan itu sehingga aku hampir menjadi gila karena keliru latihan. Untung aku bertemu dengan suhu dan subo itu yang mengobatiku, dan melatihku selama setengah tahun. Dan ketika kami saling berpisah, subo memberi pinjam pedangnya ini dan kelak aku akan mengembalikannya kepada mereka di Istana Gurun Pasir."

Kini Hong Beng melonjak kaget, matanya terbelalak memandang wajah gadis itu.

"Apa kau bilang tadi? Istana Gurun Pasir? Gurumu itu....?"

"Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir bersama isterinya."

"Ahhh....! Aku telah bersikap kurang hormat....!"

Hong Beng lalu menjura kepada Bi Lan. Gadis itu tertawa.

"Hi-hik, apa-apaan kau ini Hong Beng? Apakah penghormatan itu dilakukan karena sebuah nama?"

"Tentu saja. Nama besar dan nama baik mendatangkan perasaan menghor-mat. Kiranya engkau menjadi murid pula dari locianpwe Kao Kok Cu yang sakti! Luar biasa sekali! Suhuku pernah bercerita kepadaku tentang pendekar sakti itu yang membuat hatiku kagum bukan main. Bahkan suhu memesan kepadaku agar aku pergi mencari puteranya yang bernama Kao Cin Liong. Akan tetapi bagaimana pedang milik isteri pendekar sakti itu begitu.... begitu.... mengeri-kan?"

"Subo juga mengatakan bahwa pedang ini bukan pedang sembarangan dan memiliki hawa yang mengerikan, namanya Ban-tok-kiam dan subo melarang aku menggunakan pedang ini sembarangan saja, hanya boleh dipergunakan untuk membela diri. Memang hebat dan kurasa umurnya sudah amat tua. Lihat, bukankah pedang ini hebat bukan main?"

Dicabutnya pedang Ban-tok-kiam itu dari sarungnya dan Hong Beng merasa bulu tengkuknya meremang melihat sinar pedang yang hijau kehitaman dan mengandung hawa menyeramkan itu.

Dengan ngeri dia membayangkan entah sudah berapa banyak darah manusia diminum pedang ini, dan entah berapa banyak nyawa diantar ke alam baka.

"Omitohud....! Pedang yang hebat!"

Tiba-tiba saja terdengar suara orang dan tahu-tahu di depan Bi Lan sudah berdiri seorang kakek bertubuh tinggi besar gendut, berkepala gundul dan mengenakan jubah yang biasa dipakai oleh pendeta Lama dari Tibet, yaitu jubah yang berkotak-kotak kuning dan merah.

Sukar menaksir berapa usia kakek ini.

Selain tubuhnya yang tinggi besar dengan perut gendut itu amat menarik perhatian, juga wajahnya seperti seekor singa, penuh cambang bauk dan brewok, amat berlawanan dengan kepalanya yang dicukur kelimis.

Muka itu benar-benar mirip muka singa, dan yang lebih mengerikan lagi, bulu atau rambut di mukanya itu, yang sebenarnya adalah cambang, kumis dan jenggot, berwarna agak kuning dan mengkilap seperti benang sutera emas.

Sepasang matanya mencorong dan mulutnya lebar tersenyum penuh ejekan.

Hong Beng merasa terkejut bukan main.

Kakek yang melihat pakaiannya tentu seorang pendeta Lama dari Tibet ini dapat muncul begitu saja tanpa diketahuinya, bahkan Bi Lan agaknya juga tidak tahu.

Tiba-tiba saja kakek itu muncul di dekat mereka.

Hal ini saja sudah membuktikan bahwa kakek itu tentu seorang yang memiliki kepandaian tinggi sekali.

"Omitohud.... pusaka yang bagus sekali...."

Kembali kakek itu berkata dan kakinya melangkah ke arah Bi Lan.

"Bi Lan, hati-hati....!

"Hong Beng berseru dan mener-jang ke depan ketika dia melihat pendeta itu membuat gerakan aneh.

Namun terlambat.

Nampak bayangan merah dan tahu-tahu jubah lebar kakek itu sudah meluncur dan seperti sebuah jala, jubah itu menerkam ke arah Bi Lan.

Gadis ini gelagapan karena tidak dapat melihat apa-apa dan tiba-tiba saja ada sebuah tangan yang amat kuat, dengan jari-jari besar panjang, telah mencengkeram tangan kanannya yang memegang gagang pedang.

Seperti akan patah-patah semua jari tangannya ketika dicengkeram tangan itu.

Pada saat itu, Hong Beng yang sudah menaruh curiga namun karena gerakan kakek itu amat cepat sehingga dia kalah dulu, sudah menyerang dengan tamparan yang kuat ke arah leher kakek itu.

Kakek itu menggunakan tangan kiri mencengkeram tangan Bi Lan, sedangkan lengan kanannya digerakkan untuk menangkis tamparan Hong Beng.

"Dukk....!"

Tubuh Hong Beng terpelanting dan dia hampir roboh.

Pemuda itu terkejut bukan main dan meloncat ke samping.

Sementara itu, Bi Lan tak mampu mempertahankan pedangnya yang sudah berpindah tangan.

Ketika kakek itu menarik kembali jubahnya sedangkan pedang sudah berpindah ke tangan kirinya, Bi Lan menyerang dengan marah, menggunakan pukulan Sin-liong Ciang-hwat.

Kakek itu, sambil mengamati pedang dengan mulut menyeringai, hanya mengangkat lengan kanan menangkis.

"Dukk....!"

Akibatnya, tubuh Bi Lan terdorong ke belakang, akan tetapi juga kakek itu terhuyung.

"Omitohud....! Kalian ini orang-orang muda yang hebat. Dan pedang ini hebat pula. Apa namanya tadi? Ban-tok-kiam? Pedang yang bagus!"

Dia mengamati pedang itu dengan wajah gembira sekali. Hong Beng dan Bi Lan sudah memasang kuda-kuda, menghadang kakek itu dari kanan dan kiri.

"Orang tua, kembalikan pedang-ku!"

Bi Lan membentak dan memandang marah.

"Locianpwe, harap suka mengembalikan pusaka itu kepada pemiliknya."

Hong Beng juga membujuk, bicara dengan sopan karena dia dapat menduga bahwa pendeta ini tentu seorang sakti yang agaknya kagum dan tertarik melihat Ban-tok-kiam.

"Ha-ha-ha.....!"

Kakek itu tertawa dan dua orang muda itu terkejut dan cepat mengerahkan sin-kangnya.

Suara ketawa kakek itu mengandung getaran hebat seperti auman seekor singa marah!

"Bantok-kiam ini hanya pantas berada di tangan Sai-cu Lama, ha-ha-ha....!"

Suara ketawanya yang terakhir semakin hebat dan kuat getarannya sehingga dua orang muda itu sampai menahan napas memperkuat pengerahan sin-kang mereka.

"Wuutt.... singg-singg....!"

Nampak sinar hitam berkelebatan ketika kakek itu menggerakkan Ban-tok-kiam ke kanan kiri.

Hong Beng dan Bi Lan terpaksa meloncat mundur karena Ban-tok-kiam memang hebat sekali, apa lagi digerakkan dengan tenaga yang demikian besarnya.

Mereka siap siaga untuk merampas kembali pedang itu, namun mereka berhati-hati karena maklum bahwa kakek itu lihai bukan main.

Dan kakek itu sambil tertawa-tawa agaknya memandang rendah mereka dan mengobat-abitkan pedang itu ke kanan kiri seperti orang yang menakut-nakuti anak kecil.

Pada saat itu, tiba-tiba terdengar suara melenking panjang, datangnya dari jauh sekali, akan tetapi suara lengkingan itu terdengar begitu jelas dan mendadak saja wajah pendeta Lama yang mengaku bernama atau berjuluk Sai-cu Lama (Pendeta Lama Singa) itu nampak terkejut dan pandang matanya liar diarahkan ke bawah lereng bukit dari mana suara itu datang.

"Demi iblis neraka! Dia sudah datang lagi!"

Katanya lirih dan tiba-tiba saja dia melompat ke belakang.

"Hei, kembalikan pedangku!"

Bi Lan mengejar, akan tetapi tiba-tiba kakek itu menyambutnya dengan serangan Ban-tok-kiam yang ditusukkan ke arah perut gadis itu.

Bi Lan cepat mengelak, akan tetapi kakek itu sudah melompat dan berlari cepat sekali, menghilang ke dalam hutan di sebelah barat lereng itu.

Bi Lan bersama Hong Beng melakukan pengejaran, akan tetapi biarpun mereka sudah mencari-cari sampai lama, kakek yang merampas Ban-tok-kiam itu tak nampak lagi bayangannya.

"Celaka....!"

Bi Lan hampir menangis, marah sekali dan membanting-banting kaki kanannya sampai tanah di depannya itu melesak ke bawah.

"Pusaka pinjaman dari subo itu telah dirampas iblis tua bangka tadi. Celaka....!"

"Tenanglah, Bi Lan. Setidaknya kita sudah mengenal nama julukannya. Sai-cu Lama, nama yang asing bagiku. Dan dia adalah seorang pendeta, agaknya dia tidak bermaksud buruk, hanya meminjam (Lanjut ke

Jilid 12) Suling Naga (Seri ke 13 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 12 pusaka itu karena tertarik, dan tidak akan merampasnya begitu saja.

Aku percaya bahwa sebagai seorang pendeta, dia akan mengembalikan pusaka itu.

Tadi dia pergi karena terkejut mendengar suara melengking itu, entah siapa yang membuatnya begitu kaget dan ketakutan."

"Kalau aku tidak percaya! Aku tidak percaya kepada segala macam pendeta. Biasanya, jubah pendeta itu hanya untuk kedok agar kejahatannya tidak nampak."

Gadis itu cemberut.

"Buktinya, begitu jumpa dia sudah merampas pedangku. Kalau dia tidak ingin merampas, mengapa tadi dia menyerang, kita? Bahkan tusukannya yang terakhir tadi amat berbahaya dan kalau aku tidak cepat mengelak, tentu aku sudah mati. Tidak, dia bukan manusia baik-baik."

Hong Beng tidak mau membantah karena dia tahu bahwa gadis itu sedang jengkel dan marah.

"Aku akan membantumu mencari pendeta itu dan minta kembali pusakamu. Biarpun aku belum mengenal nama Sai-cu Lama, akan tetapi seorang dengan ilmu kepandaian setinggi itu tentu dikenal di dunia kang-ouw dan aku akan menyelidiki di mana aku dapat mencarinya."

"Aku harus cepat melapor kepada subo kalau aku tidak mampu merampasnya kembali. Ah, subo tentu akan kecewa dan marah kepadaku...."

Dengan cemberut Bi Lan dan Hong Beng lalu keluar dari dalam hutan itu.

"Sstttt!"

Tiba-tiba Hong Beng berbisik dan menuding ke depan.

Dari tempat mereka berdiri, di luar hutan itu, mereka melihat seorang kakek berkepala gundul sedang berjalan perlahan-lahan menuruni lereng.

"Keparat, tentu dia orangnya....!"

Bi Lan berteriak dan cepat gadis ini melompat ke depan dan melakukan pengejaran.

"Bi Lan, nanti dulu....!"

Hong Beng berseru dan terpaksa mengejar pula dengan cepat karena dia tidak ingin gadis itu salah tangan.

Dari jauh dia sudah melihat bahwa biarpun orang yang baru berjalan menuruni lereng itu juga berkepala gundul, akan tetapi jubahnya yang lebar itu berwarna kuning, bukan kotak-kotak merah kuning seperti yang dipakai oleh Sai-cu Lama tadi.

Kini Bi Lan sudah tiba di dekat kakek gundul itu dan tanpa banyak cakap lagi ia sudah mengirim pukulan dari samping.

Hebat sekali pukulan gadis ini, karena saking marahnya, ia sudah mengeluarkan satu di antara pukulan yang oleh subonya sudah dipesan agar tidak sembarangan mempergunakannya, seperti juga pedangnya, yaitu Ilmu Pukulan Ban-tok-ciang (Tangan Selaksa Racun).

Itulah sebuah pukulan yang dilakukan dengan pengerahan sin-kang tertentu, tidak terlalu keras nampaknya, akan tetapi pukulan ini mengandung hawa beracun yang sudah merendam tangan Bi Lan ketika dilatih oleh subonya!

"Wuuuttt....!"

Nampaknya kakek gundul itu hanya bergerak sedikit saja, akan tetapi, nyatanya pukulan Bi Lan itu hanya mengenai tempat kosong.

"Bi Lan, tahan dulu....!"

Hong Beng yang sudah tiba di situ cepat memegang lengan gadis itu.

"Lihat, dia bukanlah pendeta tadi!"

Bi Lan juga sudah tahu bahwa orang itu bukanlah Sai-cu Lama.

Dia seorang kakek berkepala gundul, bertubuh sedang dan masih tegap walaupun usianya tentu sekitar tujuhpuluh tahun.

Jubahnya berwarna kuning, melibat-libat tubuh yang memakai pakaian serba putih dari kain kasar.

Seorang pendeta yang sederhana, matanya tajam dan mulutnya seperti tersenyum mengejek.

Dia berdiri dan memandang dua orang muda di depannya itu dengan sinar mata penuh selidik.

"Dia juga seorang yang berjubah pendeta, tentu lihai seperti tadi. Mungkin sekutunya! Para pen-deta itu memang bersekutu dan saling bantu dalam melakukan kejahatan. Orang tua jahat, kembalikan pedangku!"

Bi Lan kembali menyerang dan melihat sepasang mata pendeta itu demikian tajam dan mulutnya tersenyum mengejek, timbul juga kesan buruk dalam hati Hong Beng dan diapun membantu Bi Lan menyerang.

Kalau Bi Lan kini menggunakan pukulan dari Ilmu Sin-liong Ciang-hoat, Hong Beng yang dapat menduga akan kelihaian pendeta ini, juga sudah menggunakan tenaganya dan menyerang dengan ilmu ampuh dari Pulau Es, yaitu Hong-in Bun-hoat!

Ilmu ini adalah ilmu silat yang amat halus dan indah gerakannya, sesuai dengan namanya, Silat Sastera Awan dan Angin!

Tubuhnya bergerak perlahan, kedua tangannya membuat coretan-coretan di udara seperti menulis huruf, akan tetapi jari-jari tangan itu merupakan alat menyerang yang amat ampuh.

Kakek pendeta itu nampak kaget juga menghadapi serangan gadis dan pemuda itu.

"Dari mana bocah-bocah tolol ini menguasai ilmu-ilmu ini!"

Bentaknya dan diapun cepat bergerak ke belakang untuk mengelak, kemudian tiba-tiba dia mengeluarkan suara melengking panjang, jari-jari tangannya bergerak seperti ujung-ujung pedang membalas serangan dua orang muda itu sehingga Bi Lan dan Hong Beng terkejut dan cepat berloncatan ke belakang karena serangan balasan pendeta itu benar-benar hebat.

Akan tetapi yang lebih mengejutkan hati mereka adalah suara melengking tadi karena mereka teringat bahwa Sai-cu Lama tadipun seperti orang lari terbirit-birit karena terkejut dan takut mendengar suara melengking ini.

Melihat dua orang muda itu tertegun, kakek itu lalu mengangkat tangan kanan ke atas.

"Omitohud, kalian ini bocah-bocah sungguh lancang, mempergunakan ilmu-ilmu yang demikian tinggi dan pilihan hanya untuk menyerang seorang tua tanpa sebab. Sungguh keji!"

Wajah Hong Beng sudah menjadi merah sekali karena malu dan menyesal.

Memang sungguh tidak patut menyerang seorang kakek tua renta, berpakaian pendeta pula, tanpa sebab yang jelas.

Akan tetapi Bi Lan memandang kakek itu dengan mata melotot, marah sekali.

"Engkau ini kakek berpakaian pendeta, tentu jahat seperti yang lain! Kepala gundul dan jubahmu itu hanya sebagai kedok untuk menutupi kejahatanmu!"

Bi Lan berkata dengan suara lantang.

"Omitohud....!"

Kakek pendeta itu berkata lirih dan tersenyum geli.

"Betapa cocok pendapatmu itu dengan pendapatku ketika aku masih muda dahulu. Akan tetapi engkau keliru, nona, seperti kelirunya kebanyakan orang. Ada yang beranggapan bahwa semua pendeta adalah manusia-manusia baik karena mereka itu beribadat dan mentaati agama, sebagian pula menyatakan bahwa mereka hanyalah munafik-munafik. Ada yang beranggapan bahwa golongan ini baik dan golongan itu tidak baik. Semua anggapan itu tidak benar sama sekali. Baik tidaknya seorang manusia tergantung dari diri manusia itu sendiri, bukan dari agamanya, golongannya, bangsanya, kedudukannya dan sebagainya. Kalau ada seorang beragama yang menyeleweng, bukan agamanya melainkan manusianya itulah yang menyeleweng. Agama, kepandaian, kedudukan, golongan, bangsa, semua itu hanya merupakan pelengkap saja, pelengkap kebutuhan hidup bermasyarakat. Baik buruknya segalanya itu adalah si manusia itu sendiri yang menentukan. Jadi, mungkin saja ada seorang pendeta yang menyeleweng, akan tetapi juga tidak kurang yang benar-benar hidup saleh. Jangan menyamaratakan saja karena setiap orang manusia itu memiliki tingkat kesadarannya masing-masing walaupun kedudukannya mungkin sama."

Hong Beng sudah dapat menduga bahwa pendeta ini tidak sama dengan yang tadi, bahkan melihat sikap Sai-cu Lama tadi, yang kelihatan ketakutan mendengar suara melengking yang jelas dikeluarkan oleh hwesio ini, mungkin di antara mereka terdapat suatu pertentangan.

Maka diapun cepat menyentuh lengan Bi Lan dan dia memberi hormat kepada kakek itu.

"Harap locianpwe sudi memaafkan kami orang-orang muda yang kurang pengalaman dan bertindak lancang terhadap locianpwe. Hendaknya locianpwe ketahui bahwa sikap kami itu adalah karena baru saja kami bertemu dengan seorang pendeta seperti locianpwe yang telah merampas pedang pusaka milik sahabat saya ini. Karena itu tadi kami mengira bahwa locianpwe adalah sahabat pendeta itu."

Kakek itu mengangguk-angguk dan tersenyum mengejek. Kiranya senyum khas ini adalah kebiasaannya, bukan karena dia memang hendak mengejek.

"Seorang pendeta Lama yang mukanya seperti singa?"

"Benar dia!"

Bi Lan berseru.

"Dia mengaku bernama Sai-cu Lama!"

"Omitohud....! Sungguh masih beruntung bagi kalian, telah bertemu dengan dia akan tetapi hanya kehilangan pedang saja. Biasanya dia tidak mau bekerja kepalang tanggung, dan jarang ada orang dapat lolos dari tangan mautnya."

"Tadipun kami didesaknya dengan pukulan-pukulan maut dan entah apa yang akan terjadi dengan kami kalau dia tidak tiba-tiba melarikan diri setelah mendengar suara melengking yang agaknya dikeluarkan oleh locianpwe."

Kata Hong Beng dengan jujur.

"Locianpwe, di mana kami dapat mencari si muka singa itu? Aku harus bisa menemukannya dan merampas kembali pedangku yang diambilnya tadi,"

Kata Bi Lan, kini tidak lagi memaki-maki kakek itu karena iapun sadar bahwa kakek ini bukan sahahat Sai-cu Lama tadi.

"Omitohud.... ! tidak mudah mengejarnya. Pinceng sendiri sudah mengejarnya sejak dari Tibet sampai di sini dan belum juga berhasil menangkapnya. Kalau kalian ingin menemukannya, kalian harus pergi ke kota raja karena ke sanalah dia pergi"

"Kota raja? Wah, perjalanan yang jauh sekali dan kebetulan akupun hendak ke sana, Bi Lan. Mari kita kejar dia dan kita bersama pergi ke kota raja."

"Biarpun dia lari ke neraka sekalipun akan kukejar. Aku harus dapat merebut kembali pedang pusaka itu, Hong Beng. Kalau tidak, bagaimana aku akan dapat menghadap subo?"

"Omitohud, muda-mudi yang malang, bertemu dengan manusia iblis Sai-cu Lama. Kalau kalian tidak membawa senjata pusaka yang menarik hatinya, biasanya diapun tidak mau gatal tangan mengganggu orang tanpa sebab. Pinceng melihat pukulan-pukulan yang luar biasa ketika kalian menyerang pinceng tadi. Orang muda, apakah engkau masih ada hubungan dengan keluarga Pulau Es?"

Hong Beng terkejut dan makin yakinlah hatinya bahwa dia berhadapan dengan seorang yang berilmu tinggi, yang demikian tajam pandang matanya sehingga baru satu jurus dia tadi memainkan Hong-in Bun-hoat, kakek ini sudah dapat "mencium"

Ilmu dari keluarga Pulau Es! Maka diapun cepat memberi hormat lagi.

"Sesungguhnya, guru saya adalah seorang anggauta keluarga Pulau Es, locianpwe."

"Aha! Siapakah gurumu itu, orang muda?"

"Suhu bernama Suma Ciang Bun,"

"She Suma? Ha-ha, benar sekali. Dia tentu putera Suma Kian Lee atau Suma Kian Bu."

Girang sekali hati Hong Beng. Kiranya kakek ini malah mengenal keluarga Pulau Es! "Suhu adalah putera sukong Suma Kian Lee."

"Omitohud....! Benar kiranya bahwa dunia ini tidak begitu besar kalau orang mempunyai banyak kenalan. Berpisah dari Suma Kian Lee sejak muda, sekarang tahu-tahu bertemu dengan murid dari puteranya. Dan kau, nona muda? Dua kali pukulanmu tadi mengingatkan pinceng akan ilmu mujijat dari Gurun Pasir...."

"Mereka adalah suhu dan subo!"

Bi Lan berseru.

"Suhu adalah Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir!"

"Omitohud....! Engkau yang begini muda menjadi murid Kao Kok Cu dan Wan Ceng? Luar biasa sekali! Ha-ha-ha-ha, makin sempit saja dunia ini. Akan tetapi, nona muda. Kalau engkau benar murid mereka, bagaimana sampai pedang dari tanganmu dapat terampas oleh Sai-cu Lama? Walaupun dia memang lihai sekali, akan tetapi agaknya tidak akan mudah mengalahkan murid suami isteri dari Istana Gurun Pasir!"

Wajah Bi Lan berubah merah karena ucapan itu merupakan celaan kepadanya dan harus diakuinya bahwa ia menjadi murid suami isteri sakti itu hanya selama setengah tahun saja.

Ia seorang yang jujur dan ia tidak mau menurunkan harga diri dari suami isteri yang amat baik kepadanya itu, maka iapun cepat berkata.

"Andaikata aku belajar ilmu dari suhu dan subo sejak kecil, tentu sekali tonjok saja si muka singa itu akan mampus di tanganku!"

Timbul kembali sifat kasar dan liarnya berkat ajaran Sam Kwi sehingga kakek itu memandang dengan mata lebar.

"Akan tetapi sayang, hanya setengah tahun saja aku dilatih oleh Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir dan isterinya, dan sebelum itu aku menjadi murid Sam Kwi selama tujuh tahun."

Kembali kakek itu terbelalak.

"Kau maksudkan Raja Iblis Hitam, Iblis Akhirat dan Iblis Mayat Hidup itu?"

"Eh, locianpwe, agaknya locianpwe mengenal semua orang!"

Bi Lan kini bertanya kaget dan heran.

"Memang benar mereka itu guru-guruku."

Kakek itu menggaruk-garuk kepalanya yang gundul bersih.

"Omitohud....!"

Dia cepat merangkap kedua tangan untuk menghentikan kebiasaannya di waktu muda yang sampai tua masih sukar dilenyapkan itu.

"Bagaimana mungkin orang menjadi murid Sam Kwi dan murid pendekar lengan tunggal Kao Kok Cu? Dan kau tadi bicara tentang pedang pusaka? Jangan-jangan pedang Ban-tok-kiam milik Wan Ceng pula yang kau bicarakan itu."

Kini Bi Lan terbelalak.

"Wah, Locianpwe ini orang apa sih? Bagaimana bisa tahu segala hal? Memang benar pedang yang dirampas muka singa itu adalah Ban-tok-kiam milik subo yang dipinjamkan kepadaku!"

"Siancai, siancai, siancai....! Bagaimana Wan Ceng begitu bodoh untuk meminjamkan pedang itu kepada muridnya yang masih begini hijau? "Locianpwe, jangan menghina orang!"

"Siapa menghina orang? Pinceng bicara benar. Kau tahu, malapetaka hebat telah terjadi. Kalau tidak memiliki pusaka ampuh, Sai-cu Lama masih tidak begitu membahayakan. Akan tetapi kini Ban-tok-kiam berada di tangannya! Sama saja dengan seekor singa buas tumbuh sayap. Celaka. celaka!"

"Locianpwe, kami mohon petunjuk."

Hong Beng cepat berkata untuk menengahi karena juga agaknya dia tidak menghendaki Bi Lan bersikap kasar terhadap kakek yang ternyata selain sakti, juga mengenal banyak tokoh di dunia kang-ouw itu.

"Karena pedang Ban-tok-kiam milik Wan Ceng yang dirampasnya, pincengpun berkewajiban untuk merebutnya kembali. Nona muda, kalau bertemu subomu, katakan bahwa pinceng kelak akan mengantarkan Ban-tok-kiam ke Istana Gurun Pasir kalau berhasil merampasnya dari tangan Sai-cu!"

Setelah berkata demikian, kakek itu berkelebat dan lenyap dari situ dengan kecepatan yang mentakjubkan!

"Locianpwe, siapa engkau?

Bagaimana aku harus melapor kepada subo?"

Teriak Bi Lan penasaran sambil melihat ke bawah lereng di mana nampak bayangan kakek itu kecil sekali, tanda dia sudah pergi jauh.

"Katakan Tiong Khi Hwesio yang bicara. Ha-haha!"

Terdengar suara lapat-lapat disusul suara melengking tinggi nyaring seperti tadi.

Sejenak dua orang itu diam saja, masih terpesona oleh kehadiran kakek pendeta aneh itu.

Akhirnya Hong Beng menarik napas panjang.

"Sungguh hebat! Dalam sekejap mata saja kita bertemu dengan dua orang kakek yang demikian lihainya. Aku yakin bahwa kalau Sai-cu Lama seorang tokoh jahat sekali, sebaliknya Tiong Khi Hwesio itu tentu seorang tokoh tua di dunia persilatan yang agaknya tidak asing dengan keluarga Pulau Es dan dengan penghuni Istana Gurun Pasir. Bahkan agaknya dia mengenal baik subomu dan juga sukongku. Sungguh aneh."

"Kalau saja dia menepati janjinya dan dapat berhasil merebut Ban-tok-kiam. Kalau tidak, bagaimana aku berani menghadap subo?"

"Jangan khawatir, Bi Lan. Bukankah locianpwe tadi mengatakan bahwa untuk bisa menjumpai Sai-cu Lama, kita harus pergi ke kota raja? Mari kita pergi ke sana, sekalian aku harus menunaikan tugas yang diberikan suhu kepadaku di sana."

"Tugas apakah itu? kenapa harus ke kota raja?"

Bi Lan bertanya.

Karena dia tidak begitu percaya lagi akan kelihaian pendengarannya, yang terbukti dengan munculnya Sai-cu Lama yang tidak diketahuinya, maka Hong Beng menoleh ke kanan kiri sebelum menjawab.

Setelah merasa yakin bahwa di situ tidak ada lain orang, dia berkata lirih.

"Ini merupakan rahasia, Bi Lan, akan tetapi aku percaya kepadamu. Aku ditugaskan ke kota raja untuk melakukan penyelidikan atas diri seorang pembesar tinggi yang dikabarkan kini mempunyai pengaruh yang amat luas di istana dan bahkan mempengaruhi kekuasaan kaisar, mempengaruhi jalannya pemerintahan. Kabarnya pembesar itu mempunyai niat buruk. Aku harus berhati-hati karena pembesar tiu dibantu orang-orang pandai. Bahkan suhu memesan kepadaku agar aku lebih dahulu minta keterangan dari bekas Panglima Kao Cin Liong, yaitu putera tunggal gurumu, Kao Kok Cu, dan juga minta bantuan dari susiok Suma Ceng Liong, adik dari suhu. Nah, karena aku pergi ke kota raja dan engkaupun agaknya harus ke sana untuk mendapatkan kembali pedang subomu, maka sebaiknya kita pergi bersama. Dengan berdua, kita akan lebih kuat dalam menghadapi kesukaran di perjalanan, bukan?"

Bi Lan mengerutkan alisnya.

"Aku sendiri tidak tahu akan pergi kemana setelah aku lari dari suci. Aku hanya mempunyai satu tugas, yaitu mencari pusaka yang sudah kujanjikan kepada suci."

"Pusaka lagi? Pusaka apakah itu?"

"Pusaka itupun sebuah pedang, akan tetapi pedang pusaka yang menurut Sam Kwi amat penting artinya. Namanya Liong-siauw-kiam, yang usianya sudah ribuan tahun, terbuat dari pada kayu yang diukir menjadi suling berbentuk naga yang indah, keras seperti baja karena direndam obat-obatan rahasia jaman dahulu. Pusaka itu bisa ditiup seperti suling, akan tetapi juga dapat dipergunakan sebagai pedang. Dan sepasang mata naga itu terbuat dari batu permata yang tak ternilai harganya. Pusaka itu dahulu pernah menjadi lambang raja-raja Bangsa Khitan, dan kemudian jatuh ke tangan Kaisar Jengis Khan dan menjadi pusaka kerajaan. Akan tetapi kemudian jatuh ke tangan susiok dari Sam Kwi yang bernama Pek-bin Lo-sian. Pusaka itu turun-temurun berada di tangan perguruan Sam Kwi, akan tetapi celakanya, Pek-bin Lo-sian tidak mau menyerahkan pusaka itu kepada Sam Kwi malah memberikannya kepada seorang pendekar!"

"Eh, aneh sekali!"

Kata Hong Beng.

"Karena itu, Sam Kwi mengutus suci dan aku untuk mencari pusaka itu dan merampasnya kembali dari tangan pendekar itu."

"Dan siapakah pendekar itu?"

"Menurut suci, julukannya adalah Suling Naga, mungkin karena dia kini memiliki senjata Liong-siauw-kiam itu, dan katanya dia lihai bukan main. Aku harus mencari Pendekar Suling Naga itu dan merampas pusaka itu seperti sudah kujanjikan kepada suci!"

"Biarpun sucimu telah mengkhianatimu dan bahkan hampir membunuhmu dengan jarum beracun?"

"Janji tetap janji. Ia pernah menolongku dan aku sudah berjanji kepadanya, harus kupenuhi!"

Diam-diam Hong Beng kagum bukan main. Jarang ada orang yang berhati teguh seperti gadis ini.

"Baiklah, akupun akan membantumu mendapatkan kembali Liong-siauw-kiam. Wah, dengan begini kita harus merampas dua batang pedang pusaka, Ban-tok kiam dan Liong-siauw-kiam!"

"Kalau kau keberatan, jangan membantu. Aku pun tidak minta bantuanmu, Hong Beng!"

Kata gadis itu dengan ketus.

"Eh, eh, mengapa marah? Tentu saja aku suka sekali membantumu, Bi Lan. Nasib kita sama. Kita sama-sama yatim piatu, tiada sanak saudara. Dan nasib pula yang mempertemukan kita di sini, sejak di warung nasi itu. Marilah kita bekerja sama dan saling bantu, karena perjalanan ke kota raja bukanlah perjalanan yang dekat."

Mereka berdua lalu menuruni lereng itu dan hati Bi Lan yang tadinya kecewa dan murung karena kehilangan Ban-tok-kiam, mulai terhibur sehingga dalam waktu beberapa hari saja, sudah pulih kembali sikapnya yang gembira dan jenaka.

Kalau saja dua orang muda itu mengenal siapa adanya Tiong Khi Hwesio, tentu mereka akan terkejut dan tidak merasa aneh lagi mengapa hwesio itu mengenal tokoh-tokoh keluarga Pulau Es, bahkan mengenal baik kakek Kao Kok Cu dan nenek Wan Ceng.

Tiong Khi Hwesio bukanlah orang sembarangan.

Di waktu mudanya, dia pernah menjadi seorang pendekar yang bersama-sama keturunan keluarga Pulau Es pernah menggegerkan dunia persilatan.

Di waktu dia muda dahulu, nama Wan Tek Hoat dengan julukannya Si Jari Maut amat terkenal, Bahkan mengguncangkan dunia persilatan dengan wataknya yang keras dan kadang-kadang aneh.

Dan diapun bukan keturunan sembarangan.

Ayahnya yang bernama Wan Keng In adalah putera nenek Lulu yang kemudian menjadi isteri ke dua dari Pendekar Super Sakti dari Pulau Es.

Jadi, pendekar sakti itu adalah ayah tirinya.

Ilmu kepandaian Wan Tek Hoat ini hebat sekali, sejajar dengan kepandaian para keluarga Pulau Es.

Dia pernah digembleng oleh Sai-cu Lo-mo, seorang kakek sakti, kemudian ilmu kepandaiannya meningkat dengan amat hebatnya ketika dia mewarisi kitab-kitab dari Cui-beng Koai-ong dan Bu-tek Siauwjin dari Pulau Neraka!

Para pembaca seri cerita JODOH RAJAWALI dan selanjutnya dapat mengikuti riwayat Wan Tek Hoat yang amat hebat itu.

Kemudian, setelah mengalami kepahitan-kepahitan cinta asmara yang gagal, akhirnya dia berhasil juga menjadi suami wanita yang sejak semula telah dicintanya, yaitu Puteri Syanti Dewi, puteri negeri Bhutan.

Bahkan sebagai mantu raja, Wan Tek Hoat terkenal sekali di Bhutan, membantu kerajaan itu dengan ilmu kepandaiannya, melatih para perwira, bahkan dia pernah berjasa sebagai panglima kerajaan menumpas kerusuhan-kerusuhan yang terjadi di negara itu.

Dia hidup penuh kasih sayang dengan isterinya, dan suami isteri ini mempunyai seorang anak perempuan bernama Gangga Dewi atau Wan Hong Bwee.

Tentu saja suami isteri ini amat sayang kepada puteri mereka karena mereka itu dikurniai seorang anak setelah usia mereka mendekati lima puluh tahun.

Dan mengenai Wan Hong Bwee atau Gangga Dewi ini, dapat diikuti riwayatnya di dalam kisah Para Pendekar Pulau Es.

Di dalam perantauannya, Gangga Dewi bertemu dengan Suma Ciang Bun yang jatuh cinta kepadanya, akan tetapi Gangga Dewi tidak membalas cintanya, bahkan melarikan diri kembali ke Bhutan.

Kemudian, Wan Hong Bwee menikah dengan seorang pemuda perkasa di Bhutan yang menjadi murid ayahnya sendiri dan mereka hidup berbahagia karena pemuda itupun menjadi seorang panglima Bhutan yang terkenal.

Ketika Wan Tek Hoat berusia hampir tujuh puluh tahun, dan isterinya hanya dua tahun lebih muda darinya, Syanti Dewi, isteri tercinta itu, meninggal dunia.

Hal ini merupakan pukulan batin yang amat hebat bagi Wan Tek Hoat.

Biarpun mereka mempunyai seorang puteri yang sudah mempunyai dua orang anak pula, namun kedukaan Wan Tek Hoat tak tertahankan oleh pendekar ini, membuatnya seperti orang gila.

Dia tidak mau lagi kembali ke istana, dan hidup seperti orang gila di dekat makam isterinya!

Sampai satu tahun lamanya dia bertapa di dekat makam isterinya, mengharapkan kematian akan segera menjemputnya agar dia dapat bersatu kembali dengan isteri tercinta.

Namun, agaknya kematian belum juga mau menyentuhnya dan dia tetap segar bugar setelah setahun hidup di dekat makam.

Semua bujukan dan hiburan Gangga Dewi dan suaminya tidak dapat mencairkan kedukaannya.

Bahkan dia marah-marah dan tidak ada orang lain kecuali anaknya dan mantunya itu yang berani mendekati makam itu, apa lagi membujuk Wan Tek Hoat yang telah menjadi seorang kakek berusia hampir tujuh puluh tahun itu.

Salah-salah orang yang berani lancang membujuknya akan diserangnya dan celakalah kalau ada orang diserang oleh kakek yang sakti ini.

Akan tetapi pada suatu pagi yang cerah, selagi Wan Tek Hoat seperti biasa duduk termenung di depan makam isterinya, membayangkan segala pengalamannya bersama Syanti Dewi di waktu mereka masih muda, tiba-tiba saja terdengar suara nyanyian seorang laki-laki, suara nyanyian lembut sekali.

Mendengar ada suara orang di dekat situ, muka Wan Tek Hoat sudah menjadi merah dan matanya melotot.

Kemarahan sudah menguasai hatinya yang setiap hari tenggelam ke dalam duka itu.

Akan tetapi, pendengarannya tak dapat melepaskan kata-kata yang terkandung di dalam nyanyian itu.

Menurut dorongan hatinya yang sudah rusak direndam racun duka selama satu tahun, ingin dia menghampiri orang yang berani bernyanyi-nyanyi di dekat makam itu dan seketika membunuhnya.

Akan tetapi, kata-kata dalam nyanyian itu membuat dia tetap duduk terpukau dan mendengarkan..Mana lebih baik siang atau malam?

Mana lebih baik hidup atau mati?

Siapa tahu?

Siapa bilang siang lebih indah daripada malam?

Siapa bilang hidup lebih enak dari pada mati?

Tanpa malam takkan ada siang, tanpa mati takkan ada hidup.

Hidup dan mati tak terpisahkan.

Mati adalah lanjutan hidup, dan hidup kelanjutan mati.

Mungkinkah meniadakan kematian?

Seperti meniadakan matahari tenggelam!

Bebas dari segala ikatan lahir batin berarti hidup dalam mati dan mati dalam hidup selalu senyum bahagia tidak perduli dalam hidup maupun dalam mati demikianlah seorang bijaksana sejati!

Setelah mendengar semua kata-kata dalam nyanyian itu, Wan Tek Hoat mengerutkan alisnya dan diapun meloncat.

Sekali tubuhnya melayang, dia sudah tiba di luar tanah kuburan itu dan berhadapan dengan seorang kakek yang berkepala gundul, memakai jubah hwesio, tangan kiri memegang tongkat, lengan kirinya digantungi sebuah keranjang dan tangan kanannya asyik memetik daun-daun obat yang dikumpulkannya di dalam keranjang.

Sekali mengulur tangan, Wan Tek Hoat sudah mencengkeram jubah pendeta itu pada dadanya dan dengan mudah dia mengangkat tubuh pendeta itu ke atas, siap untuk memukul atau membantingnya.

Akan tetapi, wajah pendeta yang usianya lebih tua darinya itu nampak tersenyum demikian lembutnya, pandang matanya sama sekali tidak menunjukkan rasa kaget atau takut sehingga timbul keheranan dan kekaguman di hati Wan Tek Hoat.

"Kau bilang hidup dan mati tidak ada bedanya? Bagaimana kalau sekarang kubanting hancur tubuhmu dan nyawamu melayang ke akhirat?"

Bentaknya dengan suara mengejek.

"Siancai....! Orang lemah batin dan hanya kuat lahir, kau kira kau akan mampu melenyapkan kehidupan? Omitohud, semoga penerangan mengusir kegelapan dalam batinmu. Tubuh ini dapat kau hancurkan, tanpa kau hancurkanpun pada saatnya akan rusak sendiri. Mati hidup bukan urusan kita, akan tetapi mengisi kehidupan dengan kesadaran itulah kewajiban kita. Wahai saudara yang lemah batin, kalau kau anggap bahwa dengan jalan menghancurkan tubuhku ini engkau akan dapat terbebas daripada duka, silahkan. Aku tidak pernah terikat oleh apapun, tidak terikat pula oleh tubuh yang sudah tua dan rapuh ini. Silahkan!"

Mendengar ucapan itu, dan melihat betapa benar-benar kakek yang tua renta ini sama sekali tidak gentar menghadapi ancamannya, seketika kedua lengan Wan Tek Hoat gemetar dan diapun menurunkan kakek itu kembali, lalu dia menutupi muka dengan kedua tangannya.

"Saudara yang kuat lahir namun lemah batin, apa manfaatnya bagimu sendiri atau bagi orang lain atau bagi alam ini kalau engkau menenggelamkan dirimu di dalam lembah duka seperti ini? Mengapa kau biarkan racun kedukaan yang melahirkan kebencian itu menguasai batinmu?"

Air mata menetes-netes turun melalui celah-celah jari tangan Wan Tek Hoat.

Dia menangis sesenggukan!

Peristiwa ini merupakan hal yang amat luar biasa.

Wan Tek Hoat adalah seorang pendekar yang berhati baja.

Biasanya, tangis merupakan pantangan besar baginya.

Hatinya tak pernah menyerah dan tidak pernah memperlihatkan kelemahan.

Di depan orang lain, sampai matipun dia tentu merasa malu untuk menangis.

Akan tetapi kini, mendengar ucapan kakek itu, dia menangis sesenggukan, Tak tertahankannya lagi karena air matanya itu seperti air bah yang tadinya terbendung oleh bendungan yang amat kuat.

Akan tetapi kini bendungan itu jebol dan air bah menerjang keluar tak dapat ditahannya lagi.

Wan Tek Hoat, pendekar yang pernah dijuluki Si Jari Maut itu kini menangis seperti seorang anak kecil, menutupi muka dengan kedua tangan, terisak-isak, kedua pundaknya terguncang-guncang dan air mata menitik turun melalui celah-celah jari tangannya.

Pendeta berkepala gundul itu membiarkan Wan Tek Hoat menangis seperti anak kecil, memandang sambil tersenyum dan mengangguk-angguk.

Kakek yang arif bijaksana ini seolah-olah melihat getaran kekuatan duka ikut terseret keluar melalui banjir air mata itu dan maklumlah dia bahwa tangis yang mendalam ini sedikit banyak akan membebaskan dada si penderita ini dari pada tekanan duka.

Tangis akan membebaskan orang dari tekanan duka yang dapat mendatangkan penyakit berat pada tubuh.

Setelah diserang oleh dorongan tangis yang hebat itu, Wan Tek Hoat akhirnya sadar akan keadaan dirinya.

Hal ini membuat dia merasa terkejut dan malu, dan cepat dia mengangkat mukanya memandang, karena kemarahan sudah timbul kembali ke dalam hatinya yang keras.

Ketika dia mengangkat muka, pandang matanya yang agak kabur oleh air mata, bertemu dengan wajah yang demikian lembut dan mengandung kasih demikian mendalam, pancaran sinar mata yang demikian halus dan penuh pengertian, dan seketika luluh rasa hati Wan Tek Hoat.

Semua kemarahannya lenyap bagaikan api disiram air.

Dan pendekar tua yang selamanya tak pernah mau tunduk kepada orang lain itupun menjatuhkan diri berlutut di depan kaki yang bersandal rumput itu.

"Suhu yang budiman, saya mohon petunjuk dan berkah...."

Melihat ini, kakek yang usianya tentu sudah delapan puluh tahun lebih itu tersenyum, senyum yang tidak bersuara akan tetapi seolah-olah keadaan sekeliling tempat itu ikut terseret dalam senyum bahagia itu.

"Omitohud...., saudaraku yang baik, marilah kita duduk dan bicara dengan baik-baik."

Diapun lalu duduk di atas rumput, di depan Wan Tek Hoat yang juga sudah duduk bersila.

Dengan tenang dan sabar kakek itu meletakkan tongkat dan keranjangnya di kanan kiri tubuhnya, membereskan jubahnya dan duduk bersila dengan tubuh tegak lurus dengan enak sekali, tanda bahwa duduk bersila dengan baik merupakan pekerjaan yang sudah dikuasainya dengan sempurna.

Sejenak mereka duduk berhadapan dan saling berpandangan.

Bagi orang-orang yang sudah waspada atau setengah waspada, terdapat suatu hubungan antar manusia tanpa kata.

Pandang mata yang didasari sari perasaan yang tercurah sudah cukup mengadakan komunikasi yang mendalam, dan di sini memang kata-kata tidak diperlukan lagi.

Akan tetapi, kakek itu melihat betapa batin Wan Tek Hoat masih penuh dengan uap beracun yang dinamakan duka, maka dia menarik napas panjang lagi.

"Omitohud, saudaraku yang baik. Jangan minta petunjuk dari pinceng. Petunjuk sudah ada seleng-kapnya dan sebijaksana mungkin di sekitar dirimu, di luar dirimu, di dalam dirimu. Engkau hanya tinggal membuka mata, baik mata badan maupun mata batin, membuka dan memandang, mengamati, dan engkau sudah mendapatkan segala macam petunjuk yang kaunbutuhkan dalam kehidupan ini. Engkau tidak lagi perlu meminta berkah karena kalau engkau mau membuka mata batinmu, akan nampaklah bahwa berkah itu sudah mengalir berlimpahan sejak kita lahir sampai kita mati, tiada putus-putusnya berkah mengalir kepada kita. Kita tinggal mengulur tangan dan meraih saja. Sayang, betapa banyaknya mata manusia seolah-olah buta, tidak melihat akan limpahan berkah, merengek dan meminta-minta selalu tanpa melihat yang sudah ada. Lihat! Napasku adalah berkah, denyut darahku adalah berkah, kehidupanku adalah berkah, alam semesta adalah berkah. Lalu apa lagi yang harus kita minta? Kita tidak mau melihat itu semua, melainkan merendam diri ke dalam duka, kehilangan, kekecewaan, kesengsaraan. Betapapun bodohnya kita ini!"

Wan Tek Hoat bukanlah seorang anak bodoh, melainkan seorang kakek yang sudah banyak belajar, dan banyak pula mempelajari filsafat dan kitab-kitab suci kuno.

Akan tetapi, baru kini dia mendengar ucapan yang begitu sederhana namun menembus batinnya, dan hatinyapun tunduk.

Dia maklum bahwa dia berhadapan dengan seorang yang arif bijaksana, seorang yang patut dijadikan tempat bertanya, seorang yang tidak lagi diperhambakan oleh nafsu-nafsunya dan perasaan-perasaan hatinya.

"Akan tetapi, suhu yang mulia. Saya menderita duka karena kematian isteri saya tercinta. Bukankah hal itupun wajar saja? Saya seorang manusia yang berperasaan, tidak lepas dari pada suka duka, dan saya amat mencinta isteri saya, yang lebih saya cintai dari pada apapun juga di dunia ini. Dan sekarang ia.... ia.... telah meninggal dunia...."

Duka menyesak dadanya sehingga kalimat terakhir itu tersendat-sendat.

Kakek itu masih tersenyum dan mengangguk-angguk, lalu mengangkat muka memandang ke arah awan berarak dan kembali dia bernyanyi..Anak isteri ini milik saya, harta benda itu milik saya, dengan pikiran ini si dungu selalu tersiksa, dirinya sendiripun bukan miliknya, apa lagi anak isteri dan harta benda?

Wan Tek Hoat membantah.

"Suhu yang mulia, duka ini datang tanpa saya sengaja, bagaimana akan dapat menghilangkan duka selagi hidup di dunia?"

"Omitohud, perlukah hal ini saudara tanyakan lagi?"

Kata kakek itu dengan ramah.

"Mempunyai akan tetapi tidak memiliki, itulah orang bijaksana yang tidak akan tersentuh duka."

"Mempunyai akan tetapi tidak memiliki, bagaimana pula ini, suhu? Bukankah mempunyai sama dengan memiliki?"

"Mempunyai lahiriah, hal itu terikat oleh hukumhukum lahiriah buatan manusia. Mempunyai badaniah tidak perlu menjadi memiliki batiniah. Keluargaku dengan segala hak dan kewajibannya, hal itu adalah urusan lahiriah yang diperlukan untuk kehidupan bermasyarakat. Akan tetapi, batin tidak perlu memiliki karena sekali batin memiliki, maka akan terjadi ikatan batin dan inilah sumber segala kesengsaraan, sumber segala duka! Harta bendaku hanya kepunyaan badan karena harta benda hanya diperlukan oleh badan. Namun, sekali batin memiliki pula harta benda itu, akan terjadilah kehilangan yang akan mengakibatkan duka dan kesengsaraan. Ingat, hanya dia yang memiliki sajalah yang akan kehilangan. Batin yang tidak memiliki apa-apa, batin yang bebas dan tidak terikat oleh apapun juga, tidak terikat oleh isteri, oleh anak, keluarga, harta benda dan sebagainya, batin seperti itu bebas dan murni dan takkan tersentuh duka. Lihat, saudaraku yang baik. Badan ini memang punya saya, dan adalah kewajiban saya untuk menjaganya, memeliharanya, membersihkannya, melindunginya. Akan tetapi badan, ini punya saya lahiriah saja. Batin tidak harus memiliki dan terikat karena kewaspadaan bahwa segalanya itu akan berakhir dan ikatan itu hanya menimbulkan duka karena kehilangan dan iba diri. Ikatan batin menumbuhkan akar dan jika tiba saatnya perpisahan, maka akar itu akan tercabut dengan kekerasan sehingga menimbulkan luka berdarah."

"Akan tetapi, suhu yang mulia, bukankah kalau batin tidak memiliki lalu kita bersikap acuh dan tidak perduli akan segalanya itu? Bagaimana mungkin saya mengacuhkan isteri saya yang amat saya cinta?"

Diserang demikian, kakek itu tersenyum lebar penuh kesabaran seperti seorang guru yang baik hati menghadapi seorang murid yang masih bodoh.

Dan memang sesungguhnyalah, menghadapi alam yang menjadi guru, kita manusia ini hanyalah murid-murid yang bodoh, anak-anak kecil yang tubuhnya besar.

"Saudaraku yang baik, justeru karena tidak adanya ikatan batin, maka batin menjadi bebas dan hanya batin yang bebas sajalah yang penuh dengan cinta kasih. Sinar cinta kasih itu akan hidup terus dan dengan adanya sinar cinta kasih, bagaimana mungkin orang menjadi acuh? Sebaliknya, cinta kasih membuat orang penuh perhatian dan waspada terhadap segala-galanya, baik yang terjadi di dalam maupun di luar dirinya."

"Saya dapat melihat kebenaran dalam semua ucapan suhu. Akan tetapi, saya memang terikat lahir batin dengan isteri saya, dan karena itulah saya menderita dan kehilangan karena kematiannya. Kalau saya tidak mencinta isteri saya, mana mungkin tidak terikat lahir batin saya, suhu?"

"Siancai.... di sinilah letak persimpangan yang membingungkan semua orang. Tentang cinta dan ikatan! Saudaraku, cinta kasih itu hanya ada kalau di situ terdapat kebebasan. Cinta kasih itu kebebasan. Ikatan bahkan meniadakan cinta kasih. Ikatan itu hanya menciptakan duka, dan ikatan itu terjadi karena nafsu, saudaraku! Cinta tidak menimbulkan ikatan, akan tetapi nafsulah yang menimbulkan ikatan. Nafsu timbul karena adanya aku. Cinta kasih yang mengandung ikatan bukanlah cinta kasih, melainkan nafsu yang memakai nama cinta. Dan nafsu itu berarti mencinta diri sendiri. Saudaraku yang baik, apakah saudara mencinta mendiang isteri saudara?"

Mendengar pertanyaan ini, terkejutlah hati Wan Tek Hoat, matanya terbelalak dan sejenak hatinya terasa panas.

Ah, betapa tangannya akan bergerak menyerang, mungkin membunuh orang yang berani meragukan cintanya terhadap isterinya!

Akan tetapi pertanyaan dari mulut kakek itu dikeluarkan demikian halus dan wajar, sama sekali tidak mengandung ejekan, keraguan atau celaan, bahkan dia merasa seolah-olah batinnya sendiri yang tadi mengajukan pertanyaan.

"Apa.... apa maksud pertanyaan suhu ini?"

Dia tergagap.

"Maksudku agar engkau melihat sendiri, meng-amati sendiri, menjenguk isi hatimu apakah engkau mencinta isterimu, ataukah hanya mencinta diri sendiri,"

"Suhu, tentu saja saya mencinta isteri saya! Ah, suhu tidak tahu betapa besar cinta kasih saya kepada mendiang isteri saya!"

Wan Tek Hoat mengemukakan semua pengalamannya bersama isterinya yang dicintanya. Kakek itu mengangguk-angguk.

"Begitulah anggapan semua orang tentang cinta. Akan tetapi, saudaraku yang baik, marilah kita bersama menyelidiki tentang cinta ini. Kalau benar bahwa engkau mencinta mendiang isterimu, lalu mengapa sekarang engkau menangisi kematiannya, berduka karena kematiannya? Mengapa....?"

Pertanyaan ini mengejutkan hati Wan Tek Hoat dan membuatnya tercengang, sejenak tak mampu menjawab.

"Mengapa? Tentu saja saya menangisi kematiannya karena saya cinta kepadanya, karena saya kehilangan...."

"Nah, berhenti!"

Kakek itu mengangkat tangannya menghentikan ucapan Wan Tek Hoat yang belum selasai.

"Itulah, lihat baik-baik dan engkau akan menemukannya. Karena kehilangan! Karena kehilangan isterimu maka engkau berduka, menangis, merasa iba kepada diri sendiri."

"Tapi.... tapi saya merasa kasihan kepadanya...."

"Saudaraku yang baik. Benarkah itu? Benarkah engkau merasa kasihan kepada isterimu dan karena kasihan itu engkau menangisi kematiannya? Kalau benar demikian, mengapa engkau merasa iba kepadanya? Karena dia mati? Bagaimana mungkin kau dapat mengasihani seseorang yang mati kalau kau sendiri tidak tahu bagaimana keadaan orang setelah mati? Yang jelas, ia telah kehilangan badannya yang menua dan rapuh, tidak merasakan lagi gangguan usia tua, bebas dari penanggungan badannya. Tidak, kalau kita mau jujur, akan nampaklah oleh kita bahwa yang kita tangisi dalam kematian seseorang bukanlah si mati, melainkan diri sendiri. Kita menangis karena kita ditinggal, karena kita kehilangan sesuatu yang menyenangkan yang kita peroleh dari orang yang kita cinta itu. Cinta tidak mengandung ikatan, dan karena tidak ada ikatan inilah, maka tidak akan ada duka pada saat perpisahan. Dalam kedukaan saudara ini, yang ada bukanlah cinta, melainkan nafsu dan terputusnya ikatan yang mengakar dalam batin. Duka saudara bukan karena cinta kepada yang mati, melainkan karena iba diri sendiri yang ditinggalkan."

Wan Tek Hoat merasa seolah-olah kepalanya disiram air dingin yang membuatnya gelagapan, akan tetapi juga membuat dia sadar.

Hatinya tersentuh keharuan dan diapun menjatuhkan diri berlutut.

"Suhu.... saya dapat melihatnya sekarang. Saya harap suhu sudi memberi bimbingan kepada saya untuk selanjutnya. Saya akan belajar mencari kebebasan...."

"Omitohud, omonganmu itu keliru, saudara. Jangan katakan mencari kebebasan, karena kebebasan tidak mungkin dapat dicari. Yang penting, patahkan semua belenggu dari batin. Kalau sudah tidak ada ikatan, dengan sendirinya sudah bebas, bukan? Dalam keadaan terbelenggu mencari kebebasan, mana mungkin? Berada di dalam kurungan nafsu keakuan, tak mungkin mencari kebebasan. Kebebasan yang ditemukan di dalam kurungan itu bukanlah kebebasan yang sejati. Hanya kalau kita mampu menjebol kurungan itu dan berada di luar, barulah kita boleh bicara tentang kebebasan."

"Saya ingin mempelajari tentang kehidupan dari suhu, harap suhu suka menerima saya sebagai murid."

Kakek itu tersenyum dan mengajak pergi Wan Tek Hoat.

Semenjak hari itu, tidak ada seorangpun di Bhutan yang pernah melihat lagi bekas panglima itu.

Oleh kakek yang arif bijaksana itu, Wan Tek Hoat diajak merantau ke Tibet, diperkenalkan dengan para pendeta Lama dan para pertapa, memperdalam kewaspadaan dan kebijaksanaan, mempelajari tentang kehidupan, tentang alam.

Wan Tek Hoat mencukur rambut kepalanya, mengenakan jubah pendeta sederhana dan memakai nama Tiong Khi Hwesio.

Akan tetapi di Tibet terdapat hanyak aliran keagamaan.

Banyak orang-orang pandai di kalangan pendeta itu yang saling memperebutkan kekuasaan sehingga terjadi perpecahan dan ada pula pemberontakan ditujukan kepada Kerajaan Ceng.

Hal ini menyedihkan hati Tiong Khi Hwesio.

Tak disangkanya bahwa biarpun manusia ada yang sudah berjubah pendeta, namun tetap saja jarang yang benar-benar sudah bebas, dan nafsu masih mencengkeram dalam berbagai bentuk, dengan umpan-umpan yang berbeda pula dengan yang dikejar orang di dunia ramai.

Kalau di dunia ramai orang berebutan mengejar harta dan kemuliaan atau kesenangan-kesenangan lainnya, di tempat sunyi itu, para pendeta itu saling memperebutkan kedudukan, yaitu nama dan kehormatan!

Akhirnya, pemberontakan-pemherontakan itu dapat dipadamkan oleh balatentara yang dikirim Kaisar Kian Liong.

Keadaan di Tibet menjadi aman kembali.

Akan tetapi, ada satu golongan yang selalu memberontak dan mengeruhkan keamanan di Tibet.

Golongan ini menamakan dirinya golongan Lama Jubah Merah dan dipimpin oleh Sai-cu Lama yang sakti.

Karena para pendeta Lama di Tibet merasa kehabisan akal untuk dapat menundukkan Sai-cu Lama dan anak buahnya, akhirnya Tiong Khi Hwesio yang dikenal oleh para pendeta sebagai seorang yang memiliki ilmu silat tinggi, dimintai tolong oleh para pendeta itu.

Mula-mula Tiong Khi Hwesio menolak permintaan bantuan ini.

Dia sudah berjanji kepada diri sen-diri untuk tidak melibatkan diri dalam urusan dunia, apa lagi dia mendapatkan banyak pelajaran dari gurunya, hwesio perantau yang tak pernah dikenal namanya itu yang kini sudah meninggal dunia.

"Aku sudah berjanji kepada diri sendiri untuk tidak lagi menggunakan kekerasan untuk menghadapi orang lain,"

Demikian dia menyatakan penolakannya kepada para pendeta Lamma di Tibet.

"Kekerasan hanya mendatangkan kebencian dan permusuhan, menimbulkan dendam. Tidak, aku tidak akan mau mempergunakan kekerasan lagi, para suhu yang baik,"

Katanya. Lama tertua di antara para pendeta itu melangkah maju dan merangkap kedua tangan ke depan dada.

"Omitohud, semoga Sang Buddha memberkahi keyakinan hati saudara yang budiman. Memang, kita semua maklum bahwa menggunakan kekerasan bukanlah perbuatan yang baik. Akan tetapi, saudaraku yang budiman, menjadi kewajiban mutlak bagi kita untuk melindungi diri dari pada ancaman dari luar, terutama sekali melindungi orang lain dari pada ancaman dari luar. Golongan Jubah Merah telah menyebar maut, bertindak sewenang-wenang hanya untuk melampiaskan nafsu-nafsu hewani mereka. Kalau kita menentang mereka, bukan berarti kita suka akan kekerasan, melainkan kita menggunakan tenaga untuk menghentikan perbuatan yang justeru bersifat kekerasan itu. Apakah saudara hendak membarkan saja golongan itu merajalela, menyiksa dan membunuh, merampok dan memperkosa, tanpa ada sedikitpun semangat dalam batin saudara untuk menolong mereka yang tertindas itu? Benarkah dan patutkah seorang pencinta kehidupan seperti saudara ini membiarkan orang-orang merusak kehidupan? Apa lagi kalau diingat bahwa saudara memiliki sarana untuk menghentikan perbuatan laknat itu."

Tiong Khi Hwesio menarik napas panjang dan membuka mata memandang kepada semua pendeta itu.

"Aih, tidak bolehkah aku menghabiskan sisa hidupku yang tidak seberapa ini dengan penuh ketenteraman dan kedamaian?"

"Bagaimana hati kita dapat tenteram dan damai kalau di sekitar kita terdapat srigala-srigala yang haus darah? Haruskah kita mendiamkan saja srigala-srigala itu menyerang, menerkam dan membunuh banyak orang?"

"Sudahlah, sudahlah.... pinceng akan menemui dan membujuk mereka...."

Akhirnya dia berkata.

Para pendeta Lama itu segera menyatakan terima kasih dan rasa bersyukur mereka.

Dengan penuh perasaan gelisah karena dia lagi-lagi harus menghadapi kekerasan, Tiong Khi Hwesio yang dahulunya bernama Wan Tek Hoat dan berjuluk Si Jari Maut itu, segera mendatangi perkampungan para Lama Jubah Merah.

Dan apa yang didapatinya di sini membangkitkan jiwa pendekarnya yang sejak lama tidur.

Bagaimana dia dapat berdiam diri saja menyaksikan betapa para pendeta Lama ini menjadi budak-budak nafsu mereka yang nampak jelas di dalam perkampungan mereka?

Mereka itu berpesta pora atas hasil perampokan-perampokan dan penculikan-penculikan mereka, mengumpulkan harta rampasan, minum-minum sampai mabok dan bahkan ada yang sedang menghina wanita-wanita culikan dengan semena-mena.

Tentu saja Tiong Khi Hwesio menjadi marah, akan tetapi dia masih berusaha untuk menemui kepala atau pimpinan kelompok Jubah Merah itu.

Melihat munculnya seorang hwesio di pintu gerbang mereka, beberapa orang Lama Jubah Merah menyambutnya dengan mulut menyeringai.

"Sobat, apakah engkau datang ingin ikut bersenang-senang dengan kami?"

"Pinceng datang untuk bertemu dan bicara dengan pemimpin kalian, Sai-cu Lama."

"Ha-ha-ha, pemimpin kami sedang bersenang-senang dengan wanita pilihannya yang baru saja kami dapatkan. Beliau tidak suka diganggu pada saat ini. Kalau ada keperluan, bicara dengan kamipun sama saja, kawan. Ada keperluan apakah?"

Tiong Khi Hwesio mengerutkan alisnya yang masih tebal walaupun warnanya sudah putih.

Hatiya sedih sekali menyaksikan tingkah polah para pendeta Lama ini, yang sungguh berbeda dan bahkan bertolak belakang dengan jubah mereka dan kepala gundul mereka.

"Maafkan, pinceng tidak dapat bicara dengan siapapun juga kecuali dengan Sai-cu Lama dan dia harus keluar menyambut pinceng sekarang juga. Kalau tidak ada di antara kalian yang mau memanggilkannya, biarlah pinceng sendiri yang akan mencarinya."

Berkata demikian, Tiong Khi Hwesio melanjutkan langkah kakinya memasuki perkampungan itu.

"Heii, tunggu dulu!"

Dua orang pendeta Lama cepat menghadang dan muka mereka menunjukkan kemarahan.

Lenyaplah senyum mereka tadi yang ramah, terganti pandang mata penuh curiga.

Terpaksa Tiong Khi Hwesio berhenti dan menghadapi dua orang itu dengan sikap tenang.

"Siapakah kamu, berani. hendak mengganggu pimpinan kami? Kamu tidak boleh mengganggu dan pergilah dari sini sebelum kami mempergunakan kekerasan!"

"Omitohud!"

Tiong Khi Hwesio menyembah dengan kedua tangan di depan dada.

"Pinceng datang bukan untuk mencari pertentangan, melainkan hendak bicara dengan pimpinan kalian. Panggil dia ke luar."

"Tidak! Apakah kamu belum mengenal para Lama Jubah Merah dan datang mencari penyakit?"

Seorang Lama yang bertubuh tinggi besar dan nampak bengis wajahnya membentak dengan sikap mengancam.

"Pergilah sekarang juga. Kami masih memandang kedudukanmu sebagai seorang hwesio, Pergilah atau terpaksa aku akan melemparmu keluar!"

Tiong Khi Hwesio menarik napas panjang.

"Siancai.... sekali lagi pinceng katakan bahwa pinceng tidak mencari permusuhan."

Lalu dia mengerahkan khi-kang dan berteriak, suaranya lantang menembus udara dan terdengar sampai jauh di seluruh penjuru perkampungan itu dan mengejutkan semua orang.

"Sai-cu Lama, keluarlah, pinceng hendak bicara denganmu!"

Melihat ini, dua orang pendeta Lama itu menjadi marah dan mereka sudah menubruk dan hendak menangkap hwesio tua yang datang membuat kacau itu.

Akan tetapi, mereka berdua menangkap angin karena yang ditubruk tahu-tahu sudah lenyap dari depan mereka!

Tentu saja mereka kaget bukan main dan para pendeta Lama yang lain kini sudah datang mengepung Tiong Khi Hwesio yang tadi dapat mengelak dengan mudah dari tubrukan dua orang lawan itu.

"Tangkap pengacau! Pukul roboh dia!"

Terdengar teriakan-teriakan dan kini para pendeta yang semua memakai jubah merah itu mengepung dan menyerang Tiong Khi Hwesio dari segala jurusan.

Mereka itu rata-rata memiliki ilmu silat yang amat tinggi, Menghadapi serangan dari semua jurusan ini, Tiong Khi Hwesio sama sekali tidak menjadi gentar.

Kalau serangan itu dilakukan terhadap dirinya sepuluh tahun yang lalu saja, tentu dia akan mengamuk dan merobohkan mereka semua tanpa ampun lagi.

Akan tetapi, Tiong Khi Hwesio sekarang ini sama sekali berbeda dengan Wan Tek Hoat atau Si Jari Maut.

Selama beberapa tahun ini dia hidup di dekat kakek hwesio yang menyadarkannya, dia telah mampu mengalahkan kekerasan hatinya.

Kini tidak mudah hatinya tersinggung kemarahan atau emosi yang lain lagi.

Dia selalu tenang dan memandang segala hal yang terjadi dengan sinar mata penuh pengertian sehingga keadaan batinnya seperti air telaga yang dalam dan selalu tenang, sikapnya halus dan wajahnya selalu tersenyum.

Terjangan yang dilakukan dengan kemarahan oleh para pendeta Lama berjubah merah itu, hanya disambutnya dengan elakan dan tangkisan.

Gerakannya sedemikian cepatnya sehingga beberapa kali dia seperti menghilang saja dari kepungan, membuat para pengepung terheran-heran dan keadaan menjadi semakin kacau balau.

"Sai-cu Lama, apakah engkau termasuk orang yang berani berbuat akan tetapi tidak berani bertanggungjawab?"

Kembali Tiong Khi Hwesio berteriak dengan pengerahan khi-kangnya ketika dia kembali berhasil meloncat keluar dari kepungan dan membiarkan para pengeroyoknya kebingungan mencari-carinya.

Mendengar suaranya, kembali para pendeta yang kini jumlahnya tidak kurang dari dua puluh orang itu sudah menerjang dan menubruknya, bahkan sebagian di antara mereka ada pula yang menggunakan senjata.

Tiong Khi Hwesio sedang berdiri tegak ketika dua puluh orang pendeta itu menerjangnya dari depan, belakang dan kanan kiri.

Karena tidak mungkin mengelak atau menangkis semua serangan itu satu demi satu, Tiong Khi Hwesio tidak mengelak dan tiba-tiba saja dari mulutnya terdengar suara melengking, kedua kakinya terpentang dan kedua lengannya juga dikembangkan lalu diputar di sekeliling tubuhnya.

Akibatnya, para pengeroyok itu terpelantingan seperti diterjang angin puyuh yang amat kuat!

Terkejutlah kini para pengeroyok itu.

Tak mereka sangka bahwa hwesio yang datang ini memiliki kesaktian yang demikian hebat, dan sebagai orang-orang yang memiliki ilmu silat tinggi, mereka maklum bahwa kalau lawan itu menghendaki, tentu mereka semua sudah roboh dan terluka berat, tidak hanya berpelantingan seperti itu.

Timbul kekhawatiran hati mereka.

Jangan-jangan orang ini sahabat dari pemimpin mereka yang mempuyai keperluan ingin bertemu dengan Sai-cu Lama.

Akan tetapi mereka tidak perlu ragu-ragu lagi karena pada saat itu terdengar suara keras dan mengandung getaran parau seperti suara seekor singa mengaum.

Mendengar suara ini, para pendeta Lama cepat-cepat menahan napas, bahkan ada yang menutupi kedua telinga karena tidak tahan mendengar suara yang mengandung khi-kang amat kuat dan yang menggetarkan jantung mereka itu.

"Hwesio tolol dari manakah berani main gila di depan Sai-cu Lama!"

Demikian bentakan suara itu dan tahu-tahu di situ telah muncul seorang kakek bertubuh tinggi besar dan berperut gendut sekali, Kepalanya gundul dan jubahnya bukan hanya merah seperti yang dipakai para pendeta di situ, melainkan kotak-kotak berwarna merah kuning.

Biarpun kepalanya gundul plontos licin, namun mukanya penuh cambang bauk seperti muka singa karena dari cambang, sampai semua pipi, kumis dan dagunya penuh rambut yang keriting berwarna agak kekuning-kuningan!

Melihat pendeta ini, Tiong Khi Hwesio dengan mudah dapat menduga bahwa tentu inilah orangnya yang berjuluk Sai-cu Lama (Pendeta Lama Muka Singa) itu.

Diam-diam dia kagum melihat kakek yang masih membayangkan kegagahan itu, walaupun usianya tentu sudah enam puluh tahun lebih.

Memang muka seperti itu pantas sekali kalau memakai julukan Muka Singa.

Sejenak hati kakek ini tertegun.

Melihat muka pendeta Lama itu, teringatlah dia akan gurunya yang pertama kali ketika dia masih muda.

Gurunya yang pertama adalah seorang kakek yang berjuluk Sai-cu Lo-mo (Iblis Tua Muka Singa) yang memiliki muka seperti Sai-cu Lama ini, penuh cambang bauk yang bagus dan gagah seperti singa.

Hanya bedanya, gurunya yang memakai julukan Ki-mo (Iblis Tua) itu adalah seorang gagah perkasa sebaliknya kakek yang memakai julukan Lama (Pendeta Buddha Tibet) ini malah seorang hamba nafsu yang jahat!

Jelaslah bahwa manusia tidak dapat diukur dari namanya, julukannya, apa lagi dari pakaiannya.

Setelah merasa yakin bahwa dia berhadapan dengan orang yang dicarinya, Tiong Khi Hwesio segera melangkah menghampiri dan memberi hormat dengan merangkap kedua tangan di depan dada, menjura ke arah kakek bermuka singa itu.

"Omitohud, kalau tidak keliru pinceng berhadapan dengan yang terhormat Sai-cu Lama, benarkah itu?"

Sejenak sepasang mata yang lebar dan penuh wibawa itu memandang Tiong Khi Hwesio penuh selidik.

Memang kakek bermuka singa inilah Sai-cu Lama yang amat terkenal di Tibet itu.

Mula-mula kakek ini heran mendengar di luar ada orang memanggil-manggil namanya, akan tetapi karena dia sedang sibuk dengan seorang gadis yang dipilihnya di antara para wanita yang diculik, dia tidak memperduli-kan panggilan itu dan menyerahkan kepada anak buahnya untuk menghadapi orang yang berani mengganggu kesenangannya.

Akan tetapi, dia kemudian mendengar teriakan-teriakan anak buahnya.

Dengan ogah dan marah dia keluar meninggalkan korbannya dan terkejutlah dia melihat betapa seorang kakek hwesio yang tua bergerak dengan amat cepatnya menghindarkan semua serangan para Pendeta Lama.

Bahkan dia dibuat tertegun melihat betapa sekali menggerakkan tubuhnya, pendeta tua itu berhasil membuat dua puluh orang anak buahnya berpelantingan.

Maklum bahwa dia berhadapan dengan orang yang berkepandaian, yang bukan merupakan lawan para anak buahnya, Sai-cu Lama lalu menghampiri tempat itu.

Kini dia memandang Tiong Khi Hwesio dengan teliti, mencoba untuk mengingat-ingat.

Akan tetapi dia merasa heran dan penasaran karena dia belum pernah mengenal hwesio tua renta ini.

"Benar, aku adalah Sai-cu Lama. Setelah mengenalku, engkau masih berani membikin kacau di perkampungan kami. Apakah kau sudah bosan hidup?"

Tiong Khi Hwesio tersenyum halus dan ramah.

"Sai-cu Lama, pinceng datang sebagai seorang sahabat, bukan hanya karena kita berdua sama-sama murid Sang Buddha, akan tetapi juga terutama sekali karena kita berdua sama-sama manusia yang wajib saling memberi ingat kalau ada yang salah tindak."

"Dan kau datang untuk memberi peringatan itu?"

Sai-cu Lama berkata, alisnya yang tebal keriting itu berkerut dan mulutnya menyeringai seperti seekor singa mencium bau kelenci.

Tiong Khi Hwesio mengangguk.

"Omitohud, betapa sukarnya bagi kita untuk mengenal diri sendiri dan melihat kesalahan-kesalahan sendiri.

Selalu harus ada orang lain yang membantu memberi ingat.

Sai-cu Lama, tanpa kuberitahu sekali-pun, kiranya engkau sudah tahu bahwa saat ini engkau sedang melakukan penyelewengan dari pada jalan kebenaran seperti yang sudah sama-sama kita pelajari.

Engkau menghimpun kawan-kawanmu ini, terkenal di Tibet sebagai kelompok yang selalu mengganggu ketenteraman kehidupan rakyat.

Merampok, mengganggu wanita, membunuh, mengumpulkan kekayaan.

Bukankah semua itu merupakan perbuatan yang bahkan harus dipantang oleh orang-orang yang sudah menggunduli kepala dan mengenakan jubah pendeta seperti kita?

Sai-cu Lama, pinceng datang untuk memberi ingat kepada kalian semua agar kalian sadar dan mengubah kesesatan itu mulai saat ini juga, dan kembali ke jalan kebenaran." (Lanjut ke

Jilid 13) Suling Naga (Seri ke 13 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 13

"Keparat!"

Sai-cu Lama membentak, lalu dia tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha, siapakah engkau ini yang berani sekali datang untuk memperingatkan dan mengancam aku? Ha-ha, orang yang bosan hidup, apakah nyawamu rangkap?"

Mendengar ucapan dan tawa pemimpin mereka, para pendeta Lama yang mengurung tempat itupun tertawa dan mereka merasa yakin bahwa sebentar lagi mereka akan melihar hwesio tua itu pasti akan dihajar oleh pemimpin mereka sampai mampus.

"Pinceng tidak mengancam, melainkan ingin menyadarkan kalian dari pada kesesatan."

"Hemmm, tua bangka tak tahu diri. Siapakah engkau? Dari perguruan mana? Dari pertapaan mana?"

Sai-cu Lama bertanya, teringat bahwa kakek itu tadi telah memperlihatkan kesaktiannya.

"Omitohud...."

Tiong Khi Hwesio menarik napas panjang, merasa bahwa agaknya tidak mungkin baginya mengingatkan orang seperti Sai-cu Lama ini.

"Pinceng hanyalah seorang perantau biasa, tanpa per-guruan bahkan tidak mempunyai pertapaan, nama pinceng Tiong Khi Hwesio. Pinceng mendengar tentang gerakan dari kelompok Lama Jubah Merah dan mendengar ratapan rakyat, maka terpaksa pinceng datang ke sini untuk berusaha menyadarkan kalian. Muka yang seperti singa itu nampak beringas dan bengis.

"Tiong Khi Hwesio, engkau ini sudah tua bangka, umurmu sudah tidak berapa lama lagi akan tetapi tindakanmu masih jahil dan mulutmu masih usil! Tindakan-tindakan kami sama sekali tidak ada sangkut-pautnya denganmu, akan tetapi engkau berani tidak memandang mata kepadaku dan berani memperingatkan aku. Dengarlah. Aku mau mendengarkan nasihatmu itu dan mau membubarkan kelompok kami ini kalau engkau mampu mengalahkan aku!"

Terdengar suara di sana-sini mentertawakan Tiong Khi Hwesio. Hwesio ini menarik napas panjang.

"Siancai...., pinceng datang bukan untuk mempergunakan kekerasan."

"Mau mempergunakan kekerasan atau tidak, masukmu ke perkampungan kami sudah merupakan tindak kekerasan, yang melanggar dan untuk itu, engkau sebagai orang luar sudah dapat dijatuhi hukuman mati. Nah, majulah, kalau engkau tidak mau mati konyol. Aku sendiri tidak suka membunuh orang yang tidak mau melawan. Tiong Khi Hwesio kini memandang dan sepasang matanya mencorong penuh teguran.

"Sai-cu Lama, belum tentu pinceng dapat mengalahkanmu dalam ilmu silat, akan tetapi ketahuilah bahwa di atas puncak Gunung Thai-san yang tertinggi sekalipun masih ada awan. Bersikap tinggi hati mengandalkan kepandaian sendiri akan mempercepat kejatuhannya...."

"Sudah, tak perlu banyak kuliah lagi, sambutlah ini!"

Sai-cu Lama sudah menerjang ke depan, ju-bahnya berkembang karena gerakan ini mendatangkan angin dan tangan kirinya yang besar itu menyambar ketika dia menggerakkan lengan.

Tangan itu dengan jari-jari tangan terbuka mencengkeram ke arah kepala Tiong Khi Hwesio, sedangkan tangan kanannya menyusul dengan dorongan telapak tangan terbuka ke arah dada lawan.

"Wuuuuuttt....!"

Bukan main dahsyatnya serangan yang dilakukan Sai-cu Lama itu.

Cepat seperti kilat menyambar dan mengandung kekuatan yang mengerikan.

Entah mana yang lebih berbahaya, cengkeraman ke arah ubun-ubun kepala itu ataukah hantaman ke arah dada.

Kepala dapar hancur berantakan dan dada dapat pecah kalau terkena serangan itu!

Tiong Khi Hwesio mengenal pukulan-pukulan ampuh, maka sambil mengeluarkan seruan diapun menggerakkan tubuhnya ke belakang.

Cepat dan ringan tubuhnya itu bergerak ke belakang, seolah-olah terdorong oleh angin pukulan lawan dan Sai-cu Lama juga menahan seruan kagetnya.

Dia merasa seperti menyerang sehelai bulu saja yang melayang pergi sebelum serangannya mengenai sasaran!

Maklumlah dia bahwa lawannya ini, biarpun sudah tua sekali, namun memiliki gin-kang yang istimewa dan sukarlah menyerang orang dengan gin-kang seperti ini kalau tidak mempergunakan pukulan jarak jauh dan kecepatan kilat.

"Haiiiiittt....!"

Diapun membentak nyaring dan kedua tangannya didorongkan ke depan dan kini Sai-cu Lama menyerang dengan pukulan jarak jauh yang mengandung tenaga sin-kang sepenuhnya.

Pukulannya ini, yang dilakukan dengan kedua tangan terbuka, tidak membutuhkan kontak langsung dengan tubuh lawan.

Angin pukulannya saja sanggup untuk merobohkan lawan dengan guncangan yang akan dapat merusak jantung!

"Omitohud...., keji sekali pukulan ini!"

Tiong Khi Hwesio berseru dan diapun cepat memasang kuda-kuda, bukannya mundur, bahkan dia melangkah maju dan kedua tangannya juga didorongkan ke depan, menyambut langsung kedua telapak tangan lawan.

"Desss....!"

Dua pasang telapak tangan saling bertemu, nampaknya saja empat buah tangan itu memiliki telapak tangan yang lunak, akan tetapi ternyata mengandung tenaga sin-kang yang hebat.

Pertemuan tenaga sin-kang melalui dua pasang tangan itu hebat bukan main, sampai terasa oleh semua pendeta Lama yang berada di situ karena udara di sekitar tempat itu seolah-olah tergetar, seperti bertemunya dua tenaga Im dan Yang di musim hujan yang menciptakan kilat dan guntur.

Akibat dari pada pertemuan tenaga dahsyat itu, dua orang pendeta itu terdorong ke belakang, masing-masing lima langkah.

Keduanya tidak sampai jatuh, akan tetapi berdiri dengan muka berubah agak pucat.

Sejenak keduanya memejamkan mata dan mengumpulkan hawa murni untuk melindungi isi dada dari pengaruh guncangan hebat itu.

Hal ini saja membuktikan bahwa keduanya memiliki tenaga sin-kang yang seimbang.

Terkejutlah keduanya.

Tiong Khi Hweiso sendiripun terkejut bukan main.

Belum pernah dia, kecuali di waktu muda dahulu, bertemu dengan lawan yang sekuat ini, maka diapun bersikap hati-hati, maklum bahwa dia harus berjaga dengan sepenuh tenaga dan kepandaian.

Juga Sai-cu Lama terkejut sekali.

Dia memang tadinya sudah menduga bahwa lawannya ini lihai, akan tetapi tak pernah disangkanya akan selihai itu, kuat menahan pukulannya tadi yang dilakukan sepenuh tenaga, bahkan tangkisan itu membuat dia terdorong ke belakang sampai lima langkah dengan dada terasa sesak dan panas.

Akan tetapi di samping rasa kagetnya, timbul pula perasaan marah yang berapi-api.

Inilah kesalahan Sai-cu Lama.

Sebetulnya, dalam hal ilmu silat dan tenaga, dia tidak kalah oleh lawan, Hanya dalam satu hal dia kalah, yaitu dalam kekuatan batin.

Kalau Tiong Khi Hwesio menghadapi kenyataan akan kekuatan lawan itu dengan sikap hati-hati, sebaliknya Sai-cu Lama menjadi marah menghadapi kenyataan itu.

Dan kemarahan merupakan kelemahan yang mengurangi kewaspadaan, bahkan kemarahan menghamburkan tenaga dalam.

Dengan suara menggeram seperti seekor singa.

Sai-cu Lama kini sudah meryerang lagi, disambut tangkisan oleh Tiong Khi Hwesio yang segera membalas pula.

Tiong Khi Hwesio sudah tidak mempunyai nafsu untuk meraih kemenangan, apa lagi mencelakai lawan, namun menghadapi seorang lawan seperti Sai-cu Lama yang menyerang dengan pukulan-pukulan maut, kalau hanya melindungi diri sendiri saja akhirnya dia tentu akan terkena pukulan dan roboh.

Satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri hanyalah mengalahkan Sai-cu Lama dan untuk dapat mengalahkannya dia harus membalas serangan lawan yang tangguh itu.

Terjadilah perkelahian yang sengit dan hebat.

Saling menyerang dengan jurus-jurus pilihan yang aneh dan dahsyat.

Demikian cepatnya mereka bergerak sehingga pandang mata para anggauta Lama Jubah Merah menjadi kabur.

Mereka tidak dapat mengikuti gerakan kedua orang kakek itu, hanya melihat bayangan kuning dan bayangan kemerahan dari jubah mereka berdua itu berkelebatan dan berloncatan ke sana-sini.

Andaikata para pendeta Lama itu disuruh membantu pemimpin mereka pada saat itu, mereka tentu bingung dan tidak tahu harus berbuat apa, karena sukarlah menyerang lawan yang tidak nampak dan yang bayangannya seringkali menjadi satu dengan bayangan merah.

Juga, saking dahsyatnya gerakan dua orang kakek itu, pukulan-pukulan mereka mendatangkan hawa pukulan yang menyambar-nyambar ke segala penjuru, membuat para pendeta yang nonton perkelahian itu terpaksa mundur sampai pada jarak yang cukup jauh dan aman.

Diam-diam Tiong Khi Hwesio merasa kagum bukan main setelah seratus jurus lewat mereka berkelahi belum juga dia mampu menundukkan lawan itu.

Jarang dia bertemu dengan lawan yang demikian tangguhnya, yang membalasnya pukulan dengan pukulan, tendangan dengan tendangan, yang menandingi kecepatan gerak dengan gin-kangnya, mengimbangi kekuatan dahsyat tenaga sin-kangnya.

Sejak mudanya memang hwesio tua ini suka sekali akan ilmu silat dan selalu menghargai orang gagah yang memiliki kepandaian tinggi.

Hanya keluarga Pulau Es dan keluarga Gurun Pasir sajalah yang benar-benar memiliki kesaktian yang mengagumkan hatinya.

Akan tetapi sekali ini, dia bertemu tanding yang benar-benar hebat!

Diam-diam dia merasa kagum, juga penasaran dan timbul kegembiraannya, timbul kembali kegemarannya mengadu dan menguji ilmu silat tinggi.

Segala kepandaiannya telah dia kerahkan.

Dari ilmu-ilmu silat tinggi Pat-mo Sin-kun (Silat Sakti Delapan Iblis), Pat-sian Sin-kun (Silat Sakti Delapan Dewa) dan penggabungan kedua ilmu itu, ilmu-ilmu dari Pulau Neraka peninggalan Cui-beng Koai-ong dan Bu-tek Siauw-jin yang diwarisinya, sampai ilmu-ilmu yang amat lihai dengan tenaga Inti Bumi, semua dikeluarkannya, namun semua ilmu itu hanya dapat mengimbangi kehebatan ilmu-ilmu Sai-cu Lama yang juga merasa penasaran sekali.

Sai-cu Lama sama sekali tidak mempunyai rasa kagum terhadap lawannya.

Yang ada hanyalah rasa penasaran dan kemarahan yang makin menjadi-jadi.

Berkelahi sampai ratusan jurus melawan seorang kakek tua renta dan dia masih belum juga mampu memperoleh kemenangan, bahkan seringkali terdesak hebat oleh ilmu-ilmu yang aneh dari hwesio itu, apalagi di depan para anak buahnya, merupakan penghinaan baginya.

Dia merasa direndahkan karena selama ini dia tidak pernah kalah sehingga para murid dan anak buahnya menganggap bahwa dia adalah orang yang paling pandai di dunia ini.

Makin lama, dia semakin merasa penasaran dan karena akhirnya dia maklum bahwa dia tidak akan mampu mengalahkan hwesio itu melalui ilmu silat, maka timbullah akal liciknya.

Bagaimanapun juga, lawannya itu tentu sudah tua sekali, mungkin belasan tahun lebih tua darinya dan hal ini akan menjadi sebab kemenangannya.

Kalau saja dia mampu bertahan, tentu akhirnya lawan itu akan kehabisan napas dan tenaga.

Dia yang lebih muda tentu akan lebih tahan dibandinglan dengan lawan yang jauh lebih tua itu.

Akan tetapi, ternyata kelicikan Sai-cu Lama yang ingin mengadu daya tahan dan napas ini tidak memperoleh hasil, bahkan dia menjadi semakin penasaran.

Mereka telah berkelahi sampai ratusan jurus, entah berapa jam lamanya.

Tadi ketika mereka mulai saling serang dipekarangan lebar perkampungan itu, hari telah menjelang senjadan kini telah jauh malam.

Para murid yang nonton dari jarak yang cukup jauhdan aman, telah menerangi pekarangan itu dengan obor-obor dan lampu-lampu yang cukup terang.

Dan perkelahian itu terus berlangsung tanpa pernah beristirahat sejenakpun!

Kini kedua orang kakek itu sudah nampak lelah, keringat sudah membasahi semua pakaian dan muka, juga pernapasan mereka mulai memburu.

Dari kepala mereka keluar uap putih yang aneh.

Diam-diam, Sai-cu Lama yang tadinya merasa penasaran, ada pula rasa kagum dan gentar.

Kiranya kakek ini memang hebat luar biasa!

Agaknya memiliki napas melebihi napas kuda dan tenaganya juga tak pernah mengendur, bahkan bagi dia yang mulai lelah, tenaga kakek itu makin lama makin kuat saja agaknya.

Dia merasa kagum dan gentar.

Seorang kakek yang hebat!

Biarpun kini hwesio tua itu mulai nampak kelelahan, akan tetapi dia sendiripun tiada bedanya, mulai lelah dan kehabisan tenaga.

Kalau tadi Sai-cu Lama memiliki pikiran untuk menyuruh anak buahnya maju mengeroyok, kini dia menahan pikiran itu.

Pertama, menyuruh mereka maju sama saja dengan menyuruh mereka membunuh diri.

Mereka bukanlah lawan hwesio tua itu.

Dan kedua, melihat kehebatan hwesio itu, dia merasa malu kepada diri sendiri kalau harus mengandalkan pengeroyokan yang hanya tipis harapannya untuk menang itu.

Tiba-tiba Sai-cu Lama mengambil ancang-ancang dan sambil mengeluarkan suara melengking nyaring, dia menerjang ke depan dengan pengerahan tenaga sepenuhnya!

Dia hendak mengadu tenaga terakhir, kalau perlu nyawanya!

Melihat lawannya menerjang dengan kedua tangan mendorong dan kedua lengan itu bergerak-gerak sehingga menimbulkan gelombang hawa pukulan dahsyat, Tiong Khi Hwesio terkejut.

"Omitohud....!"

Dia mengeluh, maklum bahwa lawannya yang sudah penasaran itu agaknya hendak mengadu nyawa!

Apa boleh buat, diapun terpaksa harus melindungi dirinya dan cepat diapun memasang kuda-kuda, menyambut dengan kedua tangan terbuka, didorongkan ke depan menyambut kedua telapak tangan lawan.

Untuk kedua kalinya, dua orang kakek ini mengadu tenaga sin-kang mereka.

Akan tetapi berbeda dengan bentrokan tenaga sin-kang melalui telapak tangan yang pertama, bentrokan sekali ini dilakukan dengan mati-matian dan dalam keadaan tenaga mereka sudah mulai mengendur, sehingga tentu saja daya tahan merekapun berkurang dan dalam keadaan seperti itu, bahaya untuk menderita luka dalam atau bahkan kematian lebih besar lagi.

"Desss....!"

Bentrokaran tenaga itu hebat bukan main dan akibatnya, dua orang kakek itu terlempar ke belakang dan terbanting ke atas tanah!

Melihat betapa pemimpin mereka roboh terbanting, akan tetapi juga lawannya terlempar dan terbanting jatuh, empat orang pendeta Lama segera menubruk ke arah Tiong Khi Hwesio dengan maksud untuk menghabiskan nyawa lawan yang tangguh itu selagi lawan itu terbanting dan nampaknya kehabisan tenaga dan tidak berdaya.

"Tahan....!"

Sai-cu Lama yang masih merasa lemah dan pening itu mencoba untuk mencegah, namun suaranya yang lemah itu agaknya tidak mempengaruhi empat orang anak buahnya yang sudah menyerang Tiong Khi Hwesio dengan ganas.

Mereka menyerang dengan berbareng dan terdengarlah teriakan-teriakan mereka disusul terlemparnya tubuh mereka sampai jauh, terpental seperti dilempar oleh tenaga raksasa dan mereka itu terbanting tak sadarkan diri!

Kiranya, biarpun sudah terbanting roboh, Tiong Khi Hwesio berada di pihak lebih kuat sehingga tenaga sin-kang yang masih besar sekali terhimpun di tubuhnya.

Ketika empat orang itu menerjangnya, Tiong Khi Hwesio tidak melihat jalan lain kecuali menggerakkan kedua tangannya mendorong dan akibatnya, empat orang itu terlempar seperti daun-daun kering tersapu angin.

"Anjing-anjing busuk, jangan serang dia!"

Bentak Sai-cu Lama, bentakan yang bukan dilakukan karena mengkhawatirkan anak buahnya, melainkan karena dia merasa malu kalau dalam keadaan seperti itu dia harus menggunakan tenaga anak buahnya.

Para pendeta Lama itupun tidak ada yang berani maju lagi.

Empat orang teman mereka masih pingsan, dan tentu saja mereka tidak berani maju untuk bunuh diri!

Dua orang kakek itu kini sudah bangkit duduk bersila, masing-masing mengatur pernapasan untuk memulihkan tenaga.

"Omitohud....! Engkau sungguh merupakan lawan yang amat tangguh dan hebat, Sai-cu Lama. Pinceng merasa kagum sekali.... ah, sungguh sayang bahwa kita berdua berada di dua tempat yang bertentangan. Kalau saja engkau suka sadar dan kembali ke jalan benar, betapa akan senang hati pinceng untuk menjadi temanmu bicara tentang ilmu silat."

Pujian yang diucapkan dengan hati yang tulus itu diterima sebagai ejekan oleh Sai-cu Lama.

Bagaimanapun juga, dia merasa bahwa dalam bentrokan tenaga sin-kang terakhir tadi, dia telah terbukti kalah kuat.

Kalau saja latihannya belum matang benar, bentrokan tadi saja cukup untuk membuat nyawanya putus!

Dan untuk dapat memulihkan tenaga, dia membutuhkan waktu lama, sedikitnya sampai besok pagi barulah dia akan dapat memulihkan tenaganya dan mampu untuk bertanding lagi.

Sedangkan lawannya baru saja membuktikan kehebatannya dengan merobohkan empat orang anak buahnya yang melakukan penyerangan serentak.

"Tiong Khi Hwesio, tak perlu berusaha bicara manis kepadaku. Bagaimanapun, aku masih hidup dan ini berarti bahwa aku belum kalah. Aku hanya kelelahan dan kehabisan tenaga, akan tetapi engkau pun jelas kehabisan tenaga. Biarlah kita beristirahat malam ini, dan besok pagi-pagi kita lanjutkan pertandingan ini sampai seorang di antara kita benar-benar kalah."

"Omitohud.... Sai-cu Lama, apakah engkau belum juga mau menyadari bahwa semua kekerasan ini tidak ada gunanya?"

"Sudah, tak perlu banyak cakap lagi. Sampai besok pagi!"

Kata Sai-cu Lama dan diapun memberi perintah kepada anak buahnya untuk tetap mengurung kakek hwesio itu dan jangan mengganggunya.

Kemudian dia memejamkan mata sambil duduk bersila dan mengatur pernapasan, tanpa memperdulikan lagi kepada lawannya.

Tiong Khi Hwesio menarik napas panjang.

Dia maklum bahwa percuma saja bicara dengan Sai-cu Lama.

Orang seperti itu hanya dapat diajak berunding melalui kepalan, dan hanya akan mau bicara kalau benar-benar sudah dikalahkannya.

Tidak ada lain jalan baginya kecuali memejamkan mata dan mengatur pernapasan pula karena dia tidak ingin besok pagi menjadi bulan-bulan kekerasan Sai-cu Lama.

Diam-diam diapun merasa bingung.

Tadi dia telah mengeluarkan semua ilmunya, namun semua itu hanya mampu mengimbangi kepandaian lawan.

Hanya ada satu ilmu tidak dikeluarkan, yaitu Ilmu Silat Toat-beng-ci (Jari Pencabut Nyawa).

Ilmu ini dianggapnya amat ganas dan dahulu pernah mengangkat namanya sehingga dia dijuluki Toat-beng-ci atau Si Jari Maut.

Apakah dia terpaksa harus mempergunakan ilmu itu besok untuk mengalahkan Sai-cu Lama?

Malam itu lewat dalam keadaan yang amat menegangkan.

Para pendeta Lama itu tidak ada yang berani mengeluarkan suara karena mereka takut kalau kalau akan mengganggu pemimpin mereka yang sedang istirahat.

Empat orang yang tadi roboh pingsan, mereka bawa pergi untuk dirawat dan mereka itu hanya berani bicara di tempat yang agak jauh dari situ.

Semua orang merasa tegang karena mereka belum tahu bagaimana keadaan pemimpin mereka dalam perkelahian tadi, yaitu menang ataukah kalah.

Setidaknya, pemimpin mereka itu agaknya terdesak, buktinya Sai-cu Lama minta waktu untuk beristirahat.

Mulailah mereka bertanya-tanya siapa gerangan hwesio tua yang demikian sakti itu.

Pada keesokan harinya, ketika dari jauh terdengar kokok ayam hutan jantan dan sinar matahari pagi mulai bercahaya di ufuk timur, Sai-cu Lama sudah membuka kedua matanya memandang kepada lawannya.

Tiong Khi Hwesio sejak tadi sudah bangun dari samadhinya dan kini keduanya saling pandang.

Ada kekaguman pada pandang mata masing-masing.

"Hei, Tiong Khi Hwesio. Bagaimana kalau kita menyudahi saja perkelahian yang tidak ada gunanya ini?"

Tiba-tiba terdengar Sai-cu Lama berkata. Wajah tua itu berseri gembira.

"Siancai....! Agaknya Sang Buddha telah mendatangkan penerangan yang menyadarkan batinmu, saudaraku yang baik! Tentu saja pinceng berterima kasih sekali dan girang kalau perkelahian yang tidak ada gunanya ini dihentikan."

"Bagus, kita hentikan perkelahian ini dan menjadi sahabat. Bahkan bukan hanya sahabat, akan tetapi aku akan mengangkatmu menjadi wakilku, wakil pemimpin kelompok Lama Jubah Merah. Bagaimana, sahabatku?"

Tentu saja Tiong Khi Hwesio terkejut dan mengerutkan alisnya.

Hal ini sama sekali tak pernah disangkanya.

Kiranya lawan itu mengajak berhenti berkelahi karena ingin menarik dirinya sebagai sekutu dan pembantu!

Dia menarik napas panjang, merasa menyesal sekali sebagai pengganti kegirangannya karena tadi mengira bahwa orang itu telah sadar.

"Omitohud, Sai-cu Lama, kiranya engkau belum juga sadar bahkan ingin menyeret pinceng ke dalam kelompokmu. Betapa sesatnya keinginanmu itu. Pinceng sengaja datang untuk menyadarkan kalian dari pada jalan yang sesat, bukan untuk membantu kalian merajalela dengan kejahatan kalian."

Sai-cu Lama tersenyum menyeringai.

"Heh-heh, Tiong Khi Hwesio, jadi engkau menghendaki diteruskannya perkelahian ini? Hemm, kau kira percuma saja aku beristirahat semalam? Engkau takkan menang kali ini!"

"Terserah kepadamu, Sai-cu Lama. Dalam pertandingan ilmu silat memang hanya ada dua kemungkinan, menang atau kalah, jadi tak perlu diributkan benar."

Diam-diam Tiong Khi Hwesio merasa kecewa dan marah, akan tetapi sikapnya masih biasa, halus dan ramah, dan tenang sekali.

Tiba-tiba Sai-cu Lama meloncat berdiri dan ternyata gerakannya sigap bukan main, tanda bahwa dia telah memulihkan kembali tenaganya dan tiba-tiba nampak sinar berkelebat dan dia telah memegang sebatang pedang tipis yang berkilauan.

Pedang ini diam-diam diterimanya dari seorang muridnya setelah dia memberi isyarat malam tadi.

Kiranya, Sai-cu Lama yang merasa betapa lihainya orang yang menjadi lawannya, diam-diam telah mempersiapkan diri dan kini hendak mencapai kemenangan dengan bantuan sebatang pedang tipis!

Tiong Khi Hwesio juga sudah bangkit berdiri dan dia tetap tenang saja melihat lawannya kini memegang sebatang pedang.

Bagi seorang ahli silat tinggi yang memiliki kesaktian seperti dia, menghadapi seorang lawan seperti Sai-cu Lama, tiada bedanya apakah lawan itu bersenjata ataukah tidak.

Kedua tangan dan kaki lawan itupun takkalah ampuhnya dengan pedang yang kini dipegangnya.

"Hwesio tua bangka, makanlah pedang ini!"

Bentak Sai-cu Lama yang sudah menerjang dengan dahsyatnya.

Tempat itu masih seperti semalam, penuh dengan para pendeta Lama yang menjadi penonton dari jarak yang cukup jauh, kini mereka mengharapkan bahwa ketua mereka akan dapat membunuh hwesio tua yang tangguh itu.

Pedang itu lenyap bentuknya, berubah menjadi sinar terang yang meluncur dan ketika Tiong Khi Hwesio dapat mengelak dengan lompatan ke kiri, sinar pedang berkelebatan dan bergulung-gulung menyambar ke arah tubuh Tiong Khi Hwesio dari delapan penjuru angin!

Tahulah Tiong Khi Hwesio bahwa ilmu pedang yang dimainkan lawan adalah semacam Ilmu Pedang Delapan Penjuru Angin atau Pat-hong Kiam-sut yang telah diubah dan diberi banyak perkembangan.

Dia sama sekali tidak menjadi gentar.

Dengan keringanan tubuhnya dia berkelebatan menghindarkan diri, kemudian secara tiba-tiba terdengar bunyi melengking yang menggetarkan semua orang dan Sai-cu Lama sendiri mengeluarkan seruan kaget.

Kiranya kini Tiong Khi Hwesio telah memainkan ilmu silatnya yang semalam tidak dikeluarkannya, yaitu Ilmu Silat Toat-beng-ci.

Jari-jari kedua tangannya seperti hidup, melakukan totokan-totokan dan cengkeraman-cengkeraman dan setiap jari itu mengandung ancaman maut!

Itulah sebabnya maka dinamakan Jari Pencabut Nyawa!

Dan he-batnya, jari-jari tangan itu diperkuat oleh tenaga yang membuat jari-jari tangan itu demikian kerasnya sehingga dengan tangan kosong Tiong Khi Hwesio berani menangkis pedang lawan!

Dapat dibayangkan betapa kaget rasa hati Sai-cu Lama menghadapi ilmu silat yang luar biasa itu dan permainan pedangnya menjadi kacau.

Tak disangkanya bahwa lawannya masih mempunyai simpanan ilmu yang demikian hebatnya, padahal tadinya dia sudah merasa yakin bahwa dia akan dapat menangkan perkelahian itu kalau dia mempergunakan pedangnya.

Karena kekacauan permainan pedangnya, maka dia menjadi kurang waspada.

"Tring-tring-crangg.... aughhh....!"

Tubuh Sai-cu Lama terpelanting dan darah mengucur keluar dari luka di pundak kanannya, sedangkan pedangnya terlempar dan patah menjadi dua potong!

Kalau saja Sai-cu Lama tidak memiliki tubuh yang sudah dilindungi kekebalan, mungkin lukanya akan lebih parah lagi.

Dua jari tangan Tiong Khi Hwesio mengenai pundaknya dan biarpun pundak itu telah dilindungi ilmu kekebalan, tetap saja terobek sampai dagingnya.

Masih untung tulang pundaknya tidak patah dan urat besarnya tidak putus.

Akan tetapi, dengan luka di pundaknya itu, untuk sementara lengan kanan Sai-cu Lama tidak dapat digerakkann dan kalau pada saat itu Tiong Khi Hwesio mendesaknya, tentu akan mudah sekali bagi hwesio itu untuk menghabisi nyawanya.

Namun, Tiong Khi Hwesio merasa tidak tega!

Perasaan tidak tega ini timbul sejak malam tadi, setelah dia merasa kagum terhadap ilmu kepandaian Sai-cu Lama yang sanggup menandinginya sampai selama itu.

Kalau saja Sai-cu Lama tadi tidak kacau permainan pedangnya, mungkin perkelahian inipun akan makan waktu yang lebih lama lagi.

Dia merasa sayang untuk membunuh Sai-cu Lama dan mengharapkan bahwa kekalahannya itu akan membuat Sai-cu Lama sadar dan kembali ke jalan yang benar.

Sai-cu Lama juga bukan seorang bodoh.

Sama sekali bukan, bahkan dia cerdik sekali.

Dia tahu bahwa sekali ini dia harus mengakui keunggulan lawan, bahwa dia telah bertemu dengan orang yang lebih lihai darinya.

Percuma saja melanjutkan perkelahian itu.

Biarpun dia dapat mengerahkan anak buahnya, namun melanjutkan perkelahian sama saja dengan membunuh diri sendiri dan membunuh anak buahnya.

Ia sudah tak mampu melanjutkan perkelahian.

Untuk sementara, jalan terbaik adalah menakluk, tanpa malu-malu lagi, demi keselamatan dirinya.

Sai-cu Lama bangkit berdiri terhuyung-huyung, menggunakan tangan kiri untuk menekan luka di pundak kanan, mukanya pucat dan keringatnya membasahi mukanya.

Diapun menghadapi Tiong Khi Hwesio yang masih berdiri tegak memandangnya.

"Tiong Khi Hwesio, aku mengaku kalah padamu."

"Omitohud, engkau sungguh lihai bukan main, Sai-cu Lama. Tidak, pinceng tidak merasa menang, hanya kebetulan saja yang membuat engkau terpaksa mengalah. Biarlah kita lupakan saja pertandingan tadi dan sekali lagi pinceng minta kepadamu untuk kembali ke jalan benar dan meninggalkan jalan sesat penuh perbuatan maksiat."

Sai-cu Lama menarik napas panjang.

"Baiklah, aku sudah bertemu dengan orang yang lebih pandai dan akan kucoba untuk mengubah jalan hidupku. Katakan, apa yang harus kulakukan?"

Tiong Khi Hwesio tersenyum, girang bukan main bahwa dia telah berhasil melaksanakan tugasnya dengan baik.

Dia tidak girang atas kemenangannya, melainkan girang sekali melihat Sai-cu Lama mau mengubah jalan hidupnya.

"Saudaralah yang baik, kita adalah orang-orang tua yang sudah menggunduli kepala dan mengenakan jubah pendeta. Tentu engkau sudah tahu apa yang sepatutnya kita lakukan sebagai pendeta. Tentu saja pertama-tama menghentikan dan menjauhkan semua perbuatan yang ditunggangi nafsu. Sebaiknya kalau engkau membubarkan saja kelompok Lama Jubah Merah, dan menghentikan semua perbuatan seperti merampok, mengganggu wanita, mengejar kesenangan duniawi dengan merugikan orang lain."

"Baiklah, Tiong Khi Hwesio. Sekarang juga akan kububarkan kelompok ini."

Sai-cu Lama lalu menhadapi semua pendeta yang telah berkumpul di situ.

"Kalian telah melihat sendiri, juga mendengar sendiri percakapan antara aku dan Tiong Khi Hwesio. Mulai saat ini, perkumpulan kita kububarkan! Kalian boleh membagi-bagi harta yang ada dengan adil, kemudian pergilah dari sini. Kuperingatkan agar kalian tidak lagi melakukan perbuatan seperti yang sudah-sudah. Kalau aku mendengar ada seorang Lama Jubah Merah melanggar, aku sendiri yang akan mencari dan menghukumnya. Nah, lakukan perintahku dan bubarlah!"

Dengan hati girang dan terharu Tiong Khi Hwesio melihat sendiri betapa para pendeta itu mentaati perintah ini.

Para wanita dibebaskan dan diberi pembagian harta, dan setelah membagi-bagi harta yang berada di perkampungan itu, atas perintah Sai-cu Lama, perkampungan itu dibakar dan para pendeta jubah merah lalu berpamit dan pergi dari situ.

"Sai-cu Lama, percayalah bahwa perbuatanmu hari ini merupakan permulaan yang amat baik bagi dirimu. Sayang ilmu kepandaianmu yang tinggi kalau kau pergunakan untuk mengeruhkan dunia. Alangkah baiknya kalau kepandaian itu kau pergunakan untuk menjernihkan dunia, menenteramkan kehidupan umat manusia. Dan maafkan kalau pinceng telah datang dan pernah mempergunakan kekerasan kepadamu!"

Demikian kata-kata perpisahan Tiong Khi Hwesio yang dibalas oleh Sai-cu Lama dengan ramah pula.

Akan tetapi, dapat dibayangkan betapa besar rasa penyesalan di hati Tiong Khi Hwesio ketika beberapa bulan kemudian dia mendengar bahwa biarpun Sai-cu Lama telah membubarkan kelompok Lama Jubah Merah, namun dia sama sekali belum sadar atau kembali ke jalan benar.

Bahkan dia telah membuat kekacauan di antara para pimpinan Lama, dan Sai-cu Lama bahkan melakukan hubungan persekutuan dengan pembesar-pembesar yang mempunyai niat khianat terhadap pemerintah Ceng!

Ketika para pemimpin pendeta Lama mencoba untuk memperingatkannya, Sai-cu Lama bahkan turun tangan membunuh dua orang pemimpin pendeta lama, kemudian melarikan diri!

Mendengar berita ini, Tiong Khi Hwesio merasa menyesal sekali.

Dia merasa bertanggungjawab terhadap peristiwa itu.

Kalau saja dia tidak mengampuni Sai-cu Lama, melainkan membasmi dan membunuhnya, atau setidaknya mencabut ilmu silatnya dengan jalan membuat kaki tangannya cidera berat, tentu Sai-cu Lama tidak mampu melakukan kejahatan lagi.

Membunuh dua orang pimpinan pendeta Lama!

Dan lebih hebat lagi, melakukan hubungan persekutuan dengan para pengkhianat di kota raja.

Dia dapat menduga bahwa tentu Sai-cu Lama kini melarikan diri ke kota raja, bukan hanya untuk menyembunyikan dirinya, melainkan juga untuk mengejar kedudukan dan kemuliaan di sana, bersekutu dengan para pembesar khianat dan pemberontak.

Dan hal itu amatlah berbahaya, bukan hanya membahayakan kedudukan kaisar dan pemerintah, melainkan juga membahayakan keamanan hidup rakyat.

Demikianlah, dia lalu cepat melakukan pengejaran sampai dia bertemu dengan Hong Beng dan Bi Lan.

Tentu saja dia merasa khawatir sekali mendengar bahwa Sai-cu Lama telah merampas pedang Ban-tok-kiam dari tangan Bi Lan.

Dengan pedang yang dahsyat itu di tangan, Sai-cu Lama benar-benar merupakan seorang yang amat berbahaya dan sukar dikalahkan.

Setelah meninggalkan Hong Beng dan Bi Lan, Tiong Khi Hwesio lalu melakukan perjalanan cepat melakukan pengejaran terhadap Sai-cu Lama menuju ke kota raja.

Dusun kecil itu tidak seperti biasanya, nampak meriah dan gembira.

Dusun itu biasanya amat sunyi di waktu sepagi itu.

Orang-orang sudah pergi ke sawah ladang dan yang tinggal di rumah hanyalah orang-orang jompo, anak-anak dan wanita-wanita yang sibuk bekerja di dalam rumah.

Jalan-jalan biasanya sunyi.

Akan tetapi pagi itu, suasana meriah dan gembira sekali, karena ada perayaan di rumah sebuah keluarga dusun itu.

Ada pesta pengantin!

Dan seperti lajimnya di dusun-dusun, penduduknya memiliki keakraban dan penduduk dusun selalu hidup bergotong royong.

Tidak seperti kehidupan rakyat di kota-kota besar, di mana keakraban sudah menipis dan kegotong royongan hampir tak terasa lagi.

Makin besar kota itu, makin ramai dan makin maju, makin banyak kesenangan dikejar orang dan orang-orang semakin hidup menyendiri, acuh terhadap orang lain, mengurung diri dalam sangkar ke-aku-an yang selalu mementingkan diri sendiri, keluarga sendiri atau kelompok sendiri.

Orang-orang dari dusun kalau sudah pindah ke kota, sudah maju dan berhasil mengumpulkan harta benda, segera terseret pula dan tidak memperdulikan orang lain.

Memang demikianlah keadaan masyarakat kita di bagian manapun di dunia ini.

Manusia, kalau sedang menderita, kalau sedang kekurangan, akan dapat bersatu dan bergotong-royong.

Akan tetapi kalau sudah hidup senang dan mulia, serba kecukupan, lenyaplah rasa persatuan dan sifat kegotong-royongan, terganti oleh rasa saling mengiri dan saling bersaing.

Hal ini nampak jelas dalam kehidupan masyarakat di dusun-dusun yang biasanya akrab dan bergotong royong, dan dalam kehidupan masyarakat di kota-kota yang acuh dan selalu mementingkan diri sendiri.

Di dalam dusun kecil di mana sedang diadakan pesta pernikahan itu, penduduknya juga tidak berbeda dengan dusun-dusun lain, bergotong royong.

Tanpa diminta, mereka pagi-pagi sudah mendatangi keluarga yang hendak merayakan pesta pernikahan anak mereka, untuk mengulurkan tangan membantu.

Ada yang membantu menghias ruangan, membuat bangunan darurat untuk menerima tamu, ada pula yang sibuk membantu di dapur yang sedang mempersiapkan hidangan yang akan disuguhkan siang nanti.

Sejak pagi, ada pula yang bermain musik untuk memeriahkan suasana.

Semua ini mereka kerjakan dengan ikhlas, tanpa mengharapkan balas jasa dan upah.

Suasana menjadi semakin meriah ketika matahari mulai naik tinggi.

Para tetangga yang tadi pagi membantu, kini sudah berganti pakaian dan mereka kini datang sebagai tamu.

Akan tetapi masih banyak di antara mereka yang sibuk di dapur, dan orang-orang mudanya sibuk pula menjadi pelayan-pelayan tanpa bayaran.

Para tamu mulai berdatangan dan suasana menjadi meriah sekali walaupun pesta itu amat sederhana dengan hidangan-hidangan sederhana pula, dengan musik yang dimainkan olen seniman-seniman dusun itu sendiri.

Bangku-bangku mulai dipenuhi para tamu.

Kemeriahan memuncak ketika mempelai pria datang untuk menjemput mempelai wanita.

Semua orang menjulurkan leher, ada yang berkerumun, untuk menyaksikan pertemuan sepasang pengantin itu.

Pengantin perempuannya manis sekali, Berusia enam belas tahun paling banyak dan pengantin prianya juga masih muda, belum dua puluh tahun, bertubuh tegap karena biasa bekerja di sawah ladang.

Melihat pandang mata kedua mempelai ini, yang nampak bersinar-sinar dan wajah mereka berseri, mulut mereka tersenyum dikulum, mudah diduga bahwa keduanya tidak asing satu sama lain dan bahwa pernikahan ini bukan pernikahan paksaan yang sering kali terjadi di dusun pada jaman itu.

Tidak, sepasang mempelai ini adalah muda mudi yang sudah saling mengenal, bahkan saling mencinta walaupun tak pernah ada kata cinta keluar dari mulut masing-masing.

Bagi penduduk dusun cinta kasih mereka cukup diwakili oleh kerling mata dan senyum bibir saja.

Akan tetapi, sebelum orang-orang tua yang berwenang memimpin upacara pertemuan pengantin, tiba-tiba terjadi keributan di luar.

Seorang laki-laki berusia tiga puluhan tahun, bertubuh gemuk dengan perut gendut, pakaiannya mewah, mukanya dicukur licin dan pakaiannya menghamburkan bau minyak yang amat wangi, masuk diiringkan belasan orang yang bertubuh tegap dan berpakaian ringkas dengan sikap congkak dan jagoan.

Semua orang mengenal laki-laki itu karena dia adalah Phoa Wan-gwe (Hartawan Phoa) yang tinggal di sebuah dusun yang lebih besar, tak jauh dari dusun itu.

Phoa Wan-gwe adalah orang yang paling kaya dan paling berkuasa di sedikitnya lima buah dusun di sekeliling tempat itu.

Dialah raja kecil di dusun-dusun itu karena hampir semua tanah di tempat-tempat itu telah menjadi miliknya!

Dialah tuan tanahnya dan sebagai tuan tanah yang berhak atas tanah miliknya, dia dapat menentukan peraturan-peraturan tersendiri di atas tanah yang menjadi hak miliknya.

Dan untuk memperkuat peraturan-peraturan yang dibuatnya sendiri itu, dia memelihara puluhan orang tukang pukul yang bertugas untuk men-jamin dilaksanakannya peraturan-peraturan itu dan menghukum siapa saja yang berani menentangnya.

Para petani miskin yang tidak mempunyai tanah, bekerja sebagai buruh tani kepada Phoa Wan-gwe dan karena seluruh kehidupan keluarga para petani itu tergantung dari pemberian si hartawan, maka merekapun semua merasa takut dan tunduk, memandang Phoa Wan-gwe seperti raja mereka.

Dan memanglah, hartawan ini, seperti para hartawan yang menjadi tuan-tuan tanah di dusun-dusun, merupakan raja yang sesungguhnya bagi para petani miskin.

Kaisar yang dianggap sebagai raja dari negara itu demikian jauh dan tak mungkin dihubungi, dan yang jelas terasa kekuasaannya adalah raja kecil di dusun yang menjadi tuan tanah seperti Phoa Wan-gwe itulah!

Sebagai seorang tuan tanah, Phoa Wan-gwe pandai mengemudikan pemerintahan kecilnya.

Dia maklum bahwa tanpa tenaga petani miskin, biarpun memiliki tanah yang amat luas, tidak akan ada artinya.

Dia sendiri tak mungkin mengerjakan semua tanah itu.

Hasilnya yang didapatkannya secara berlimpah dari tanahnya yang luas, lebih dari cukup dan diapun tidak dapat dikata pelit dalam hal memberi upah kepada para buruh tani.

Tidak, dia bahkan kadang-kadang merasa gembira sekali untuk memperlihatkan kedermawanannya kepada para penduduk dusun, dan merasa senang sekali dipuji-puji dan disanjung-sanjung sebagai majikan yang baik hati dan murah hati.

Tentu saja, semua yang dibagikannya kepada para petani itu hanya beberapa bagian kecil saja dari hasil yang diperolehnya dari tanahnya berkat cucuran keringat para petani.

Betapapun juga, karena dia amat memperhatikan kebutuhan para petani sehingga para penduduk di lima dusun itu semua dapat makan kenyang setiap hari dan tidak sampai kehabisan pengganti pakaian, maka Phoa Wan-gwe dianggap orang baik dan tidak dibenci oleh para buruhnya.

Namun, ada satu hal yang membuat orang-orang takut kepada Phoa Wan-gwe, juga kadang-kadang menimbulkan rasa iri dan benci kepada banyak orang.

Pertama, karena dia dapat bersikap kejam, menghukum berat para pe-langgar peraturan.

Hal ini memang ada baiknya, merupakan cambuk bagi para buruh tani sehingga mereka itu rajin bekerja, dengan pengetahuan bahwa kalau bermalas-malasan mereka berarti melanggar peraturan dan dihukum cambuk, akan tetapi kalau rajin merekapun akan berkecukupan, bukan sekedar makan kenyang dan dapat bertukar baju setiap hari, melainkan juga mungkin bisa mengumpulkan uang simpanan.

Hal ke dua yang merupakan cacat dan kelemahan Phoa Wan-gwe adalah sifatnya yang mata keranjang, gila perempuan dan dia tidak pernah mau melepaskan wanita cantik yang sudah diincarnya.

Dia berkeluarga, mempunyai isteri dan beberapa orang anak, bahkan telah memiliki tidak kurang dari lima orang isteri muda.

Akan tetapi, matanya yang tajam seperti burung elang itu masih selalu mengincar anak-anak ayam.

Kalau dia sedang berjalan-jalan di dusun-dusun yang menjadi wilayah kekuasaannya, banyak orang tua cepat-cepat menyembunyikan anak-anak perempuan mereka.

Akan tetapi, tidak percuma Phoa Wan-gwe memiliki banyak kaki tangan yang setiap saat datang memberi laporan tentang adanya gadis-gadis cantik, baik di dalam maupun di luar dusun.

Dan kalau dia sudah melihat sendiri gadis yang dipuji-puji kaki tangannya dan dia tergila-gila, dengan cara apapun juga akan diusahakannya agar gadis itu menjadi miliknya.

Biarpun bukan menjadi selir, setidaknya untuk beberapa hari, pekan atau bulan gadis itu harus menjadi miliknya!

Dan dia terkenal royal dan tidak sayang mengeluarkan uang untuk mendapatkan wanita yang membuatnya mengiler.

Ketika Phoa Wan-gwe muncul di dalam pesta itu, semua orang yang mengira bahwa hartawan itu hendak datang bertamu, menjadi gembira dan juga memuji keluarga yang berpesta.

Jarang ada keluarga petani yang dipenuhi undangannya oleh Phoa Wan-gwe yang biasanya hanya mengirim wakil dan mengirim pula sekedar sumbangan.

Akan tetapi kini hartawan itu datang sendiri!

Akan tetapi, ketika melihat belasan orang tukang pukul, melihat pula betapa wajah hartawan itu keruh dan sikap para tukang pukul itu bengis, semua orang terkejut ketakutan.

Mereka bangkit dari duduk mereka, memberi hormat kepada yang lewat dan saling pandang dengan sinar mata bertanya-tanya.

Ketegangan muncul dalam hati para tamu.

Melihat kekeruhan wajah Phoa Wan-gwe, jelas bahwa hartawan itu sedang marah, apa lagi dikawal oleh belasan orang tukang pukul.

Tentu ada urusan penting.

Biasanya, semua urusan, terutama yang mengenai pelanggaran, hartawan itu cukup mengirim jagoan-jagoannya untuk memberi hukuman, menagih hutang dan sebagainya.

Mereka yang sudah mengenal cara hidup hartawan ini maklum bahwa hanya satu hal yang mendorong hartawan itu keluar dan menangani sendiri suatu urusan, yaitu urusan yang menyangkut wanita!

Setelah menerobos di antara para tamu, kini Phoa Wan-gwe dan para jagoannya telah tiba di ruangan tengah di mana sedang sibuk dipersiapkan upacara pernikahan.

Seorang jagoan berteriak lantang.

"Hentikan semua kebisingan musik itu! Lo Cin! Phoa Wan-gwe datang untuk bicara denganmu. Majulah!"

Semua orang menjadi panik dan memandang dengan hati penuh ketegangan.

Suara musik berhenti dan nampak Lo Cin, tuan rumah, muncul dari belakang dan setengah berlari menuju ke ruangan itu, mukanya agak pucat, akan tetapi sambil tersenyum ramah dia segera membungkuk dan memberi hormat di depan Phoa Wan-gwe yang memandang dengan sikap congkak karena dia sedang marah sekali, tidak seperti biasanya dia bersikap ramah kepada para penduduk.

"Ah, kiranya Phoa Wan-gwe yang datang! Maafkan bahwa karena tidak diberi tahu sebelumnya, saya tidak keluar menyambut,"

Kata Lo Cin dengan senyum lebar dipaksakan karena diapun dapat melihat bahwa hartawan ini sedang marah dan dia sendiri yang tahu mengapa hartawan itu marah-marah.

Hal inilah yang mengecutkan hatinya.

Hartawan itu tetap memandang dengan muka keruh, bahkan kini kemarahan berpancar keluar dari sinar matanya.

"Lo Cin, kami datang bukan untuk makan hidangan pestamu, melainkan untuk bertanya mengapa engkau berani melanggar peraturan yang telah disetujui olehmu sendiri? Puluhan kali engkau datang merengek minta bantuan, dan selalu aku mengulurkan tangan membantumu, dengan harapan engkau akan menetapi janji, akan membayar pada waktu yang telah disepakati bersama. Akan tetapi apa kenyataannya? Engkau tidak membayar, hanya mengulur waktu terus menerus, dan sekarang, sedangkan hutangpun tidak dibayar, engkau malah menghamburkan uang untuk pesta pora. Uangku yang kau hamburkan itu! Dan engkau berani mengundang aku untuk bersama-sama makan uangku sendiri!"

Wajah tuan rumah itu menjadi pucat dan tubuhnya gemetar.

Dia bukan saja merasa takut sekali, akan tetapi juga merasa malu karena semua tamu berkumpul mendengarkan ucapan itu.

Dan diapun tahu bahwa kemarahan hartawan itu sama sekali bukan hanya karena dia belum membayar hutang-hutangnya.

Sama sekali tidak.

Kalau hanya itu persoalannya, Phoa Wan-gwe tidak akan semarah itu dan juga tentu hanya akan menyuruh orang-orangnya datang menagih.

Baca Juga: Kisah Pendekar Bongkok 2

Baca Juga: Pendekar Super Sakti 10

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert