Eps 2 Kisah Pendekar Bongkok - Kho Ping Hoo
Baca online Kisah Pendekar Bongkok - Kho Ping Hoo
Cersil Kisah Pendekar Bongkok - Kho Ping Hoo.
Thian Hoat Tosu dan Thian Khi Tosu merasa gelisah sekali dengan adanya keributan di Kun-lun-san, dan pada pagi hari itu, mereka berdua bercakap-cakap di ruangan dalam tanpa dihadiri seorangpun murid karena mereka ingin bicara empat mata saja.
"Suheng, keadaan ini tidak mungkin dapat dipertahankan dan didiamkan saja. Nama Kun-lun-pai akan tercemar dan menjadi buah tertawaan dunia kang-ouw sebagai tuan rumah yang tidak berani berkutik walaupun dihina oleh tamu-tamu kurang ajar!"
Kata Thian Khi Tosu dengan sikap marah.
"Siancai-siancai-siancai....!"
Thian Hoat Tosu berseru lembut sambil merangkap kedua tangan di depan dada.
"Semoga kita dapat tahan uji menghadapi cobaan ini, sute, Tentu engkau maksudkan gerakan yang dilakukan oleh para Lama jubah merah itu, bukan?"
"Benar sekali, suheng! Mereka itu dengan congkak mengaku sebagai Lima Harimau dari Tibet, dan lima orang pendeta Lama jubah merah itu sungguh sombong sekali. Mereka menyerang dan membunuhi para pertapa yang sudah lemah dan tua, mereka yang tidak berdosa apa pun. Bagaimana kita dapat memembiarkan saja mereka merajalela di Kun-lun-san yang menjadi wilayah kedaulatan Kun-lun-pai, suheng?"
"Aih, sute, apa yang dapat kita lakukan? Engkau tentu juga tahu bahwa permusuhan itu hanya merupakan kelanjutan saja dari permusuhan beberapa puluh tahun yang lalu di Himalaya. Para pendeta Lama itu agaknya mewakili para Dalai Lama di Tibet untuk menghukum mereka yang datang dari Himalaya. Selama mereka itu tidak mengganggu Kun-lun-pai, apa yang dapat kita lakukan? Mereka itu bermusuhan, dan kita tidak terlibat apapun, bagaimana kita dapat mencampuri? Bisa menimbulkan salah paham lebih besar, sute."
"Tidak, suheng, pinto tidak setuju dengan pendapat itu! Kita selalu mencoba untuk menanamkan jiwa kesatria, jiwa kependekaran kepada para murid, agar mereka itu menentang yang jahat sewenang-wenang dan membela kaum lemah tertindas. Kalau sekarang kita melihat Lima Harimau Tibet itu sewenang-wenang membunuhi orang tidak berdosa dan kita tinggal diam, bukankah hal itu memberi contoh buruk sekali kepada para murid?"
"Ingat, sute, selain itu kita juga mengajar mereka agar tidak mencampuri urusan orang lain yang tidak kita ketahui duduk perkaranya. Dalam urusan antara para Lama dan para pertapa itupun kita tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi antara mereka, tidak tahu siapa benar siapa salah. Bagaimana mungkin kita mencampuri? Tidak, sute, sekali lagi kuperingatkan. Jangan engkau membawa Kun-lun-pai ke dalam permusuhan antara mereka. Kita tunggu saja perkembangan selanjutnya."
"Dan membiarkan pembantaian terus dilakukan oleh para Lama yang buas itu? Ah, pinto akan bersamadhi dan mohon kekuatan batin bagi kita semua, suheng,"
Berkata demikian, dengan muka yang tidak puas dan penuh penasaran, Thian Khi Tosu meninggalkan suhengnya untuk bersamadhi di dalam kamarnya sendiri.
Sementara itu, beberapa li jauhnya dari asrama Kun-lun-pai, dua orang pemuda sedang berjalan sambil memanggul belanjaan di punggung mereka.
Mereka adalah Ciang Sun den Kok Han, dua o-rang murid Kun-lun-pai tingkat tiga, dua orang pemuda berusia kurang lebih dua puluh tahun yang sudah lima tahun menjadi murid Kun-lun-pai.
Mereka itu bertubuh tegap dan bersikap gagah, dan biarpun sudah lima tahun berlatih dengan tekun, mereka baru memiliki tingkat tiga.
Hal ini membuktikan betapa tingginya ilmu silat Kun-lun-pai, dan betapa sulitnya untuk mencapai tingkat pertama.
Sebagai murid tingkat tiga, mereka sudah diperkenankan membawa sebatang pedang di pinggang mereka, walaupun pedang itu hanya mereka bawa sekedar untuk berjaga diri dan untuk dipergunakan membela diri saja, bukan untuk menyerang orang lain.
Sangsi hukuman bagi murid Kun-lun-pai amat berat kalau mereka melanggar peraturan perguruan.
Ciang Sun dan Kok Han berjalan memanggul barang belanjaan sambil bercakap-cakap.
Mereka baru saja pulang dari sebuah pasar di dusun kaki pegunungan untuk membeli rempa-rempa dan bumbu-bumbu masak karena persediaan di asrama telah habis.
Tiba-tiba keduanya berhenti melangkah dan memandang ke arah kiri dari mana mereka mendengar suara orang membentak-bentak.
"Engkau harus menjadi tawanan kami, menyerah untuk kami bawa pulang ke Tibet dan menerima keputusan pimpinan kami, atau kalau engkau tidak mau menyerah, terpaksa akan kubunuh di sini!"
Demikian suara yang membentak itu.
"Siancai....! Puluhan tahun yang lalu, ketika pinto masih agak muda dan bertapa di Himalaya, kalian ini para Lama sudah memburu dan membunuhi para pertapa yang tidak berdosa. Pinto tidak mau terlibat dan pergi mengungsi ke Kun-lun-san, dan hari ini, dalam usia pinto yang sudah tua, kalian tetap saja melakukan penangkapan dan pembunuhan terhadap kami yang tidak berdosa,"
Terdengar suara yang halus menjawab.
Ciang Sun dan Kok Han sudah menurunkan bawaan mereka dan dengan hati-hati menyelinap di antara pohon-pohon mendekati tempat itu, kemudian mereka mengintai.
Kiranya dua orang pendeta Lama sedang menyeret seorang tosu tua yang kini duduk bersila di atas tanah, pakaiannya robek-robek, dan dua orang Lama itu berdiri dengan sikap mengancam di depannya.
Dua orang Lama itu berusia sekitar limapuluh tahun, bertubuh tinggi besar, kepala mereka gundul dan pakaian mereka serba kuning dengan jubah luar berwarna merah darah.
Adapun tosu itu berpakaian putih, kotor dan robek di beberapa bagian, rambutnya sudah putih semua, panjang dan digelung ke atas.
Usia tosu itu tentu sudah tujuh puluh tahun.
"Tidak berdosa? Omitohud.... mana ada orang mengakui kesalahannya? Kalian ini para pertapa, sejak puluhan tahun yang lalu, di Himalaya telah mempunyai rencana jahat, berniat memberontak dan berusaha menggulingkan kekuasaan Dalai Lama dan merampas kekuasaan. Kalau orang-orang macam kalian ini tidak dibasmi, kelak hanya akan mendatangkan keributan saja!"
Bentak Lama yang ada codet bekas luka di dahinya.
"Sudahlah, untuk apa bicara panjang lebar dengan dia? Heh, tosu keparat, bukankah engkau seorang di antara mereka yang berani memakai julukan Himalaya Sam Lojin (Tiga Orang Kakek Himalaya) itu dan julukanmu adalah Pek In Tosu?"
Teriak Lama ke dua yang mukanya bopeng.
"Siancai...., memang pinto disebut Pek In Tosu, dan kami tiga orang kakek dari Himalaya sudah bersumpah tidak akan membiarkan kebencian menguasai hati, apalagi memberontak."
"Aahh, tidak perlu banyak cakap lagi!"
Kata pula si codet.
"Kalau hendak membela diri, nanti saja di depan pimpinan kami di Lhasa! Hayo ikut dengan kami!"
"Siancai....! Pinto sudah tua, tidak sanggup lagi melakukan perjalanan ke Tibet yang amat jauh itu. Pinto tidak bersedia ikut dengan kalian ke sana."
"Apa? Kalau begitu, kami akan membunuhmu di sini juga!"
Teriak si muka bopeng.
Dua orang murid Kun-lun-pai yang sejak tadi bersembunyi dan mengintai, menjadi marah sekali dan kesabaran me-rekapun hilang.
Sebagai murid-murid Kun lun-pai yang sejak pertama kali masuk ke asrama itu diajarkan sikap pendekar yang menentang penindasan, tentu saja mereka marah melihat sikap dua pendeta Lama itu.
Apalagi merekapun seperti murid Kun-lun-pai yang lain, sudah mendengar akan tindakan sewenang-wenang yang dilakukan oleh sekelompok pendeta Lama sebanyak lima orang.
Kabarnya, mereka itu menangkapi dan membunuhi para pertapa, terutama para tosu dan hal ini sudah menimbulkan perasaan tidak senang dalam hati mereka terhadap para pendeta Lama itu.
Kini mereka melihat dan mendengar dengan mata dan telinga sendiri, tentu saja mereka kehabisan kesabaran.
Bagaikan dikomando saja, dua orang pemuda itu melompat ke depan dua orang pendeta Lama dengan sikap gagah.
"Kalian ini adalah orang-orang tua yang sudah mencukur gundul rambut dan memakai jubah pendeta!"
Teriak Ciang Sun, pemuda yang bertubuh tinggi besar.
"Akan tetapi tindakan kalian seperti penjahat-penjahat keji saja, hendak memaksakan kehendak kepada orang lain dengan jalan menjatuhkan fitnah keji!"
"Totiang, silakan mundur, biarlah kami berdua yang menghadapi pendeta tersesat ini!"
Kata Kok Han.
Sementara itu, dua orang pendeta Lama itu saling pandang, kemudian mereka menghadapi dua orang pemuda itu dengan alis berkerut.
Si codet menyapu dua orang pemuda itu dengan pandang matanya yang liar dan tajam seperti mata harimau, dan suaranya terdengar parau dan penuh teguran.
"Hemm, kalian ini bocah-bocah ingusan dari mana berani mencampuri urusan orang-orang tua? Mengingat kalian masih kanak-kanak, biarlah pinceng berdua memaafkan perbuatan kalian yang lancang ini. Pergilah sebelum kami kehilangan kesabaran."
"Kami bukan orang yang suka mencampuri urusan orang lain, akan tetapi kami juga bukan orang yang dapat membiarkan saja terjadinya kesewenang-wenangan dan penindasan. Sejak pertama kali menjadi murid Kun-lun-pai, kami sudah digembleng untuk menentang kejahatan seperti yang kalian lakukan sekarang ini!"
Kata pula Ciang Sun yang tinggi besar, bertenaga raksasa dan mukanya yang persegi membuat dia nanpak gagah sekali.
Kok Han bertubuh sedang, wajahnya bulat dan tampan, apalagi dihias brewok yang terpelihara rapi, membuat diapun nampak gagah.
Dua orang Lama itu saling pandang dan tertawa, lalu Lama yang mukanya bopeng berkata.
"Ha-ha-ha, sejak kapankah Thian Hwa Tosu ikut-ikutan mencampuri urusan kami dan berani menentang para Lama dari Tibet?"
Lama yang mukanya terhias codet memandang kepada dua orang pemuda itu dengan mata mencorong, lalu berkata.
"Kalian dua orang anak kecil cepat kembali ke Kun-lun-pai dan sampaikan kepada ketua kalian bahwa kami, Lima Harimau dari Tibet, tidak ingin melihat Kun-lun-pai mencampuri urusan pribadi kami. Katakan bahwa kami berdua, Thay Ku Lama dan Thay Si Lama, yang menyuruh kalian!"
"Kami tidak diperintah oleh Suhu! Kun-lun-pai tidak tahu menahu akan tindakan kami ini! Kami bertindak atas nama sendiri yang tidak rela melihat kalian mempergunakan kekerasan bertindak sewenang-wenang. Kalau kalian membebaskan totiang ini, baru kami mau sudah!"
Kata Ciang Sun.
"Siancai....! Ji-wi kong-cu (kedua tuan muda) harap berhati-hati dan jangan membela pinto karena hal itu membahayakan keselamatan ji-wi sendiri,"
Kata tosu itu dengan wajah khawatir.
"Biarlah totiang, kami yang bertanggung jawab,"
Kata Ciang Sun, sedangkan Kok Han sudah melangkah maju menghadapi dua orang pendeta Lama itu.
"Sekali lagi, kami harap kalian pendeta-pendeta tua yang sepatutnya mencari kebaikan dan melaksanakan kebaikan di dunia ini, suka membebaskan totiang ini agar kami dua orang muda tidak perlu turun tangan mempergunakan kekerasan!"
Berkata demikian, Kok Han sudah memasang kuda-kuda dan kedua tangannya dikepal.
Juga Ciang Sun sudah berdiri di sebelahnya, juga memasang kuda-kuda, siap untuk bertanding!
Kembali dua orang Lama itu saling pandang, kemudian mereka tertawa dan Thay Si Lama yang bermuka bopeng berkata dengan nada mengejek.
"Kami tidak akan membebaskan dia, dan hendak kami lihat kalian ini tikun-tikus cilik dari Kun-lun-pai dapat melakukan apakah?"
Ini merupakan tantangan dan tentu saja dua orang pemuda Kun-lun-pai itu menjadi marah, apalagi mereka disebut tikus-tikus cilik Kun-lun-pai yang berarti menghina pula perkumpulan mereka.
"Engkau memang Pendeta sesat yang jahat!"
Bentak Ciang Sun sambil menyerang Thay Si Lama si muka bopeng.
"Kalian memang patut dihajar agar tidak membikin kacau lagi di daerah Kun-lun-pai!"
Bentak Kok Han yang juga sudah menerjang Thay Ku Lama, yaitu pendeta Lama yang bermuka codet.
"Plak! Plak!"
Pukulan dua orang pemuda itu sama sekali tidak ditangkis oleh dua oraag Lama itu, bahkan diterima dengan dada terbuka.
Kepalan kanan dua orang pemuda itu dengan tepat mengenai dada mereka, akan tetapi apa yang terjadi?
Dua orang pemuda itu terpental ke belakang dan terbanting roboh bergulingan!
Ketika bangkit kembali, mereka menyeringai kesakitan karena kepalan tangan kanan mereka telah menjadi bengkak dan membiru!
Dasar orang muda yang kurang pengalaman.
Hal itu tidak membuat mereka menjadi jera, bahkan mereka merasa penasaran sekali.
Dengan tangan kiri, mereka mencabut pedang dari pinggang masing-masing dan mereka berduapun menyerbu ke depan, menusukkan pedang mereka ke arah dada dua prang pendeta Lama itu, Kini dua orang pendeta Lama itu menggerakkan tangan, menyambut pedang itu dengan tangan telanjang.
Pedang dari dua orang pemuda itu bertemu dengan telapak tangan mereka yang mencengkeram.
"Krekkk! Krekkk!"
Dua batang pedang itu patah dan hancur dalam cengkeraman dua orang kakek Lama itu dan sebelum dua orang pemuda itu hilang rasa kaget mereka, Thay Ku Lama si muka codet sudah melangkah maju, dua kali tangannya bergerak ke arah pundak dua orang murid Kun-lun-pai itu dan merekapun roboh terjungkal dan tidak mampu bergerak lagi karena jalan darah mereka telah tertotok!
Mereka telentang dan hanya dapat memandang dengan mata melotot.
Thay Si Lama yang mukanya bopeng mencela temannya.
"Suheng, kenapa tidak habiskan saja mereka ini? Dari pada kelak menjadi penyakit, biar kuhabiskan saja nyawa mereka!"
Berkata de-mikian, Thay Si Lama melangkah maju dan tangannya sudah bergerak hendak memberi pukulan maut kepada dua orang murid Kun-lun-pai yang sudah tidak berdaya itu.
"Siancai...., kalian terlalu kejam, tidak mungkin pinto tinggal diam saja!"
Tiba-tiba kakek yang berpakaian putih dan rambutnya yang putih digelung ke atas itu sudah berkelebat dan nampak bayangan putih, tahu-tahu pukulan yang dilepaskan Thay Si Lama ke arah dua orang pemuda itu telah tertangkis.
"Dukkk!"
Dua lengan bertemu dan akibatnya, Thay Si Lama terdorong ke belakang dan terhuyung.
Kini mereka berdua berdiri menghadapi tosu itu dan muka Thay Si Lama yang bopeng itu menjadi merah padam.
"Omitohud, bagus sekali! Sekarang Pek In Tosu unjuk gigi dan melawan kami!"
Kata Thay Ku Lama si muka codet sambil menyeringai mengejek.
"Mengapa tadi pura-pura alim dan sama sekali tidak melakukan perlawanan?"
"Siancai....! Sudah puluhan tahun kami para pertapa mencoba untuk melenyapkan semua bentuk nafsu, dan kami pantang mempergunakan kekerasan. Akan tetapi, melihat betapa kalian hendak membunuh dua orang muda yang sama sekali tidak berdosa, bagaimana mungkin pinto mendiamkannya saja? Kalian telah menghajar dua orang bocah ini untuk kelancangan mereka, akan tetapi kenapa hendak kalian bunuh? Apakah kalian juga sudah siap untuk menentang Kun-lun-pai?"
"Pek In Tosu, semua orang tahu bahwa engkau adalah seorang di antara Himalaya Sam Lojin yang kabarnya memiliki ilmu kesaktian luar biasa. Akan tetapi jangan mengira kami Lima Harimau Tibet akan gentar menghadapimu. Nah, keluarkanlah kesaktianmu karena kami hendak membunuh engkau dan juga dua orang bocah ini!"
Kata Thay Ku Lama dan pendeta Lama yang mukanya codet dan perutnya gendut itu tiba-tiba memasang kuda-kuda yang aneh, yaitu seperti orang berjongkok, kedua lengan ditekuk dengan tangan membentuk cakar, telentang di kanan kiri dada, dan perutnya yang gendut itu makin lama semakin menggembung ketika dia menyedot napas sebanyaknya sampai keluar suara angin berdesis.
Lalu dari dalam perutnya terdengar suara "kok-kok!"
Dan kedua tangan yang tadinya telentang itu kini menelungkup perlahan-lahan, seluruh tubuhnya tergetar dan seluruh syarafnya menegang karena dia siap melancarkan pukulan maut yang amat dahsyat.
Agaknya, menghadapi seorang di antara Himalaya Sam Lojin, Lama yang mukanya codet dan perutnya gendut ini hendak mengeluarkan ilmu simpanannya agar dengan sekali pukul atau sekali serang dia sudah akan mampu merobohkan lawannya yang dia duga tentu lihai sekali.
Diam-diam Pek In Tosu terkejut.
Dia sudah pernah mendengar akan ilmu yang kini diperlihatkan lawannya itu.
Itu adalah sejenis pukulan jarak jauh yang mengandalkan sin-kang dan khi-kang, yang dinamakan Hek-in Tai-hong-ciang (Tangan Sakti Awan Hitam dan Badai).
Dari perut gendut yang menggem-bung itulah datangnya dorongan tenaga sakti yang amat ampuh.
Maklum bahwa lawan telah mengeluarkan ilmu simpanannya, siap menyerangnya, Pek In Tosu berkata lembut.
"Siancai...., pinto melanggar pantangan, semoga mendapat pengampunan....!"
Dan kakek inipun menggerakkan kedua lengannya, diputar seperti membentuk bulatan-bulatan yang saling dorong.
Tubuhnya makin direndahkan dan kedua kakinya dipentang lebar, lalu kedua tangannya berhenti bergerak, saling bertemu di depan dada seperti menyembah dan diapun sudah siap menanti serangan dahsyat dari lawannya.
Bunyi kok-kok-kok dari perut Thay Ku Lama semakin keras dan semakin cepat dan dari kedua telapak tangannya mengepul uap hitam!
Telapak tangan itupun berubah kehitaman.
Sungguh dahsyat bukan main ilmu ini, dahsyat dan amat berbahaya bagi lawan.
Pek In Tosu melihat ini semua, namun dia masih tetap tenang saja, bukan tanang meman-dang rendah, melainkan tenang menghedapi apapun yang terjadi dan yang akan menimpa dirinya.
Tiba-tiba Thay Ku Lama yang membuat kuda-kuda seperti seekor katak itu, menerjang dan tubuhnya meloncat ke atas depan, bunyi kok-kok semakin keras dan tiba-tiba ada angin besar sekali menyambar ke arah Pek In Tosu dan angin keras itu membawa tenaga pukulan dahsyat dan uap hitam!
Bakan main dahsyatnya serangan ini.
Angin itu saja mengandang tenaga sakti yang amat kuat dan mampu merobohkan lawan, asap hitam itupun mengandung racun yang berbahaya, apa lagi kalau tubuh lawan sampai tersentuh oleh kedua telapak tangan hitam itu.
Akan tetapi, tiba-tiba dari kedua telapak tangan Pek In Tosu keluar asap putih!
Itulah ilmu kesaktian Pek In Sin-ciang (Tangan Sakti Awan Putih) yang menyambar ke depan, menyambut angin dan asap hitam dari pukulau lawan.
Kaki kakek tua itu bergeser ke kiri dan kedua tangannya membuat gerakan memutar dari kiri, menangkis kedua tangan lawan yang digerakkan lurus ke depan seperti orang mendorong daun pintu.
"Plak! Plakk!"
Dua pasang tangan bertemu, dan akibatnya, tubuh gendut dari Thay Ku Lama terpelanting ke kiri.
Akan tetapi, kuda-kuda Pek In Tosu juga terguncang sehingga kakek itu terpaksa melangkah mundur tiga langkah untuk mengembalikan keseimbangan tubuhnya.
Pada saat itu, dari arah kanan Thay Si Lama telah menyerangnya.
Lama bermuka bopeng ini juga lihai bukan main dan begitu menyerang, dia telah mengeluarkan ilmu simpanannya yaitu yang disebut Sin-kun Hoat-lek (Ilmu Sihir Silat Sakti).
Bukan saja kedua tangan itu membagi-bagi tamparan dan totokan maut, akan tetapi juga dari kedua telapak tangan itu keluar angin pukulan dahsyat yang mengeluarkan suara bercuitan, dan juga mengandung tenaga mujijat dari ilmu sihir yang membuat kedua tangan itu seolah-olah berubah menjadi puluhan banyaknya dan menyerang dari semua sudut!
Melihat ini, Pek In Tosu memuji dan berseru.
"Siancay....!"
Dilanjutkan dengan pembacaan mantram dan diapun tetap mempergunakan ilmu pukulan sakti Pek In Sin-ciang.
Terjadilah pertandingan silat yang aneh dan seru.
Semua sambaran tangan Thay Si Lama yang disertai hawa mujijat itu seperti tertolak mundur semua oleh awan putih yang keluar dari kedua telapak tangan Pek In Tosu.
Bahkan kini asap atau awan putih semakin besar dan semakin tebal, mendesak Thay Si Lama yang mulai main mundur!
Melihat ini, Thay Ku Lama mengeluarkan suara kok-kok-kok lagi dan diapun membantu sutenya, mengeroyok Pek In Tosu!
Dikeroyok dua oleh dua orang Lama yang sakti itu, Pek In Tosu yang sudah tua sekali itu kelihatan terdesak!
Sebetulnya dengan tenaga sin-kangnya yang setingkat lebih kuat, dan keringanan tubuhnya yang memudahkan dia untuk berkelebat menghindarkan diri dari pukulan-pukulan daheyat kedua orang lawannya, Pek In Tosu tidak perlu terdesak.
Namun, usianya sudah tujuh puluh tahun dan tubuhnya sudah mulai lemah dimakan uiia, juga selama puluhan tahun ini dia tidak pernah bertanding, maka tentu saja dia kewalahan dan akhirnya terdesak.
Kedua orang lawannya, dua orang pendeta Lama yang usianya baru lima puluhan tahun itu, agaknya memang terlatih dan mereka seringkali berkelahi maka gerakan mereka lebih lincah dan juga daya tahan mereka lebih kuat.
Tiba-tiba Pek-sin Tosu berseru.
"Siancai....!"
Dan dia lalu duduk bersila di atas tanah!
Thay Ku Lama dan Thay Si Lama tertegun menahan gerakan mereka, terheran-heran melihat lawan mereka kini tiba-tiba duduk bersila dan memejamkan mata seperti orang bersamadhi, kedua telapak kaki telentang di atas paha, itulah duduk bersila dalam kedudukan Teratai yang kokoh kuat.
Mereka mengira bahwa kakek itu sudah kelelahan dan pasrah mati maka keduanya lalu saling pandang dan Thay Ku Lama menghantamkan tangan kanannya ke arah ubun-ubun kepala Pek In Tosu.
Ilmu Hek-in Tai-hong-ciang hanya dapat dilakukan dalam keadaan berjongkok menyerang ke atas, ke arah lawan yang berdiri.
Kini lawannya duduk bersila, maka tentu saja dia tidak dapat menggunakan tenaga katak sakti itu!
Dia menghantam dengan telapak tangan terbuka ke arah ubun-ubun kepala dan kalau mengenai sasaran, tak dapat diragukan lagi lawannya tentu akan tewas seketika!
Pek In Tosu mengangkat tangan kirinya menangkis.
"Dukkk!"
Tubuh Thay Ku Lama terpental!
Kiranya kakek tua renta itu duduk bersila bukan karena putus harapan dan menerima binasa, melainkan dia mengambil sikap bertahan dan melindungi tubuhnya secara yang paling istimewa dan paling kuat!
Kedudukan seperti Teratai itu memang merupakan cara bersila yang paling kokoh kuat seperti piramida, dan seolah-olah kakek itu dapat menyedot hawa bumi yang membuat tubuhnya kuat sekali dan tangkisannya membuat lawan terpental!
Thay Si Lama menjadi penasaran dan diapun menyerang dari arah belakang.
Akan tetapi, kembali Pek In Tosu menangkis, tangannya diangkat ke arah belakang dan begitu kedua tangan bertemu, tubuh Thay Si Lama terpental dan terhuyung!
Dua orang pendeta Lama itu menjadi semakin penasaran.
Mereka adalah dua orang tokoh yang kenamaan, dua di antara Lima Harimau Tibet yang sudah amat terkenal.
Sejak belasan tahun ini mereka adalah tulang punggung dari pemerintahan Dalai Lama.
Merekalah yang menjaga kedaulatan dan kekuasaan Dalai Lama sehingga ditaati oleh jutaan orang manusia!
Selama ini, belum pernah Harimau Tibet bertemu tanding.
Mustahil kalau kini, menghadpi seorang pertapa tua renta saja, mereka sampai tidak mampu merobohkan, padahal pertapa itu kini sama tidak dapat membalas lagi, hanya duduk bersila sambil membela diri!
Namun, berkali-kali menyerang, baik bergantian maupun berbareng dan hasilnya sama saja.
Setiap kali ditangkis, mereka terpental dan terhuyung, bahkan pernah hampir terjengkang.
Agaknya, makin keras mereka mempergunakan tenaga, semakin kuat pula tolakan Pek In Tosu yang menangkis mereka.
Keduanya saling pandang, memberi isarat dengan kedipan mata dan tiba-tiba merekapun menghentikan serangan mereka dan berdiri di depan dan belakang Pek In Tosu dalam jarak kurang lebih tiga meter.
Kemudian, mulailah mereka berjalan mengitari kakek yang duduk bersila itu dan keduanya mulai mengeluarkan lagu-lagu pujaan atau nyanyian yang biasanya mereka nyanyikan di dalam kuil mereka untuk memuja para dewa.
Akan tetapi, lagu yang mereka nyanyikan ini lain lagi, ada hubungannya dengan ilmu sihir dan nyanyian ini bukan untuk memuja para dewa saja, melainkan juga untuk mengundang setan dan meminjam kekuasaan setan untuk mengalahkan musuh!
Suara nyanyian itu aneh dan menyeramkan.
Suara Thay Ku Lama parau dan besar, dan kadang-kadang di dalam suaranya ada selingan suara kok-kok-kok seperti kalau dia mengerahkan ilmu Hek-in Tai-hong-ciang, sedangkan suara Thay Si Lama yang bermuka bopeng itu tinggi mencicit seperti suara seekor tikus yang terjepit.
Suara nyanyian itu bukan suara sembarangan, melainkan dike-luarkan dengan tenaga khi-kang dan sihir, suara itu makin lama semakin menggetar dan berirama, dan dua orang pendeta Lama itu bernyanyi sambil melangkah mengelilingi tubuh Pek In Tosu dan kini kepala mereka menggeleng-geleng menurutkan irama lagu mereka!
Aneh memang!
Makin lama, nyanyian mereka itu seolah-olah terseret oleh gelombang suara nyanyian mereka.
Mula-mula, tubuh Pek In Tosu gemetar, kemudian, dari kepalanya keluar uap putih tipis yang membubung ke atas.
Itulah tandanya bahwa dia sedang berjuang mati-matian untuk melawan pengaruh hebat dari nyanyian itu!
Pek In Tosu bukanlah seorang yang lemah batinnya.
Sebaliknya, karena hasil samadhi yang berpuluh tahun, dia memiliki batin yang amat kuat dan tidak mudah dia dipengaruhi kekuatan apapun dari luar.
Namun, diserang oleh kekuatan suara itu, dia harus mengerahkan seluruh tenaga batinnya untuk tidak terpengaruh.
Suara itu tetap saja terdengar biarpun dia berusaha mematikan pendengarannya, seolah-olah suara itu mempunyai kekuatan gaib untuk menembus dirinya tanpa melalui alat pendengaran!
Dan getaran yang disebabkan suara itu membuat tubuhnya gemetar.
Diapun lalu melawan, mengerahkan khi-kang dan dari kepalanya keluar uap putih yang makin lama semakin menebal.
Akan tetapi, pertahanannya agaknya goyah karena perlahan-lahan akan tetapi pasti, kepala Pek In Tosu mulai bergoyang-goyang perlahan-lahan!
Makin lama, goyangan kepala Pek In Tosu semakin nyata dan mengarah geleng-geleng kepala seperti yang dilakukan oleh dua orang penyerangnya!
Keadaan kakek tua renta itu kini gawat sekali.
Ilmu yang dilakukan oleh dua orang itu adalah semacam ilmu I-hu-to-hoat (hypnotism) melalui pengaruh suara yang mengandung sihir.
Kalau Pek In Tosu sudah benar-benar mengikuti irama nyanyian itu berarti dia sudah kena dicengkeram dan tentu dia akan mudah dirobohkan dan dibunuh karena semangatnya seolah-olah sudah di dalam cengkeraman kekuasaan dua orang pendeta Lama itu!
Pada saat yang amat berbahaya bagi keselamatan nyawa Pek In Tosu itu, tiba-tiba di dalam kesunyian tempat yang amat sepi itu terdengar suara yang memecahkan kesunyian.
Tadinya hanya suara nyanyian aneh kedua orang pendeta Lama itu yang terdengar, dengan irama yang semakin mantap.
Akan tetapi, tiba-tiba terdengar suara tak-tok-tak-tok yang nyaring, suara bambu dipukul-pukulkan pada batu!
Suara inipun nyaring sekali, tidak kalah oleh nyaringnya suara nyanyian, dan berirama pula, akan tetapi iramanya sama sekali tidak serasi dengan irama nyanyian dua orang pendeta Lama!
Bahkan sebaliknya, irama tak-tok-tak-tok itu menjadi lawan dan menjadi kebalikannya dan tentu saja kini terdengar suara yang kacau balau karena irama nyanyian itu bertabrakan dengan irama bambu yang dipukul-pukul batu.
Siapakah yang memukuli batu dengan bambu itu?
Tak jauh dari situ nampak seorang anak laki-laki yang menggunakan sepotong bambu memukuli batu besar di depannya.
Irama pukulan bambu itu bertolak belakang dengan irama nyanyian dua orang pendeta Lama, maka tentu saja hal ini mengganggu konsentrasi, bahkan mengacaukan "paduan suara"
Antara mereka.
Dua orang pendeta Lama itu terkejut dan marah, dan mereka cepat-cepat menyesuaikan irama nyanyian mereka dengan ketukan irama bambu, karena kalau irama mereka bersatu, maka kekuatan daya serangan dari suara mereka akan menjadi semakin mantap dan besar.
Seperti orang bernyanyi yang diiringi musik, akan menjadi semakin enak didengar dan menghanyutkan.
Sejenak mereka berhasil dan nyanyian mereka itu menjadi semakin mantap, dan kini Pek In Tosu makin mengikuti bunyi nyanyian itu, mengikuti iramanya dengan geleng-geleng kepala!
Akan tetapi hanya sebentar saja karena ketukan bambu itu kini berubah lagi iramanya, kembali menjadi berlawanan dengan irama nyanyian dua orang pendata Lama, bahkan kini ketukannya menjadi keras dan iramanya sengaja dibuat kacau-balau, kadang-kadang cepat, kadang-kadang sedang dan berubah lagi menjadi lambat, kadang-kadang iramanya satu-satu, dua-dua, berubah menjadi satu-dua satu-tiga, dua-tiga dan sebagainya.
Tentu saja tidak mungkin bagi dua orang kakek Lama untuk menyesuaikan lagi irama nyanyian mereka dan kini bunyi-bunyian yang terdengar demikian kacau balau sehingga daya hanyutnya menjadi kacau dan lemah sekali, Dan Pek In Tosu, seperti orang yang baru sadar bahwa tadi dia telah hanyut, kini nampak duduk bersila dengan tegak lurus dan sama sekali tidak bergerak!
Dari kepalanya juga tidak lagi keluar uap putih, dan kepalanya tidak lagi digeleng-gelengkan.
Bahkan dua orang pendeta Lama yang tadinya mengitari Pek In Tosu sambil bernyanyi dan menggeleng-geleng kepala memantapkan irama nyanyian mereka, kini langkah-langkah kaki mereka kacau, dan gelengan kepala mereka ngawur dan kacau, kaku dan kadang-kadang keliru menjadi angguk-anggukan!
Anak laki-laki itu berusia kurang lebih tiga belas tahun dengan pakaian yang sudah kumal den robek-robek seperti pakaian seorang gelandangan.
Rambutnya panjang den tidak terawat, awut-awutan, sebagian menutupi dahi dan mukanya.
Wajah itu tidak buruk, bahkan bentuknya tampan, matanya lebar dan memiliki sinar terang, sepasang mata yang jernih dan jeli seperti mata burung Hong, namun wajah itu mendatangkan rasa iba bagi yang melihatnya.
Punggungnya bongkok dan agaknya ada daging menonjol di punggung itu.
Anak itu bukan lain adalah Sie Liong!
Seperti kita ketahui, Sie Liong merasa selalu berduka dan gelisah sejak terjadi peristiwa perkelahian antara dia yang membantu Yauw Bi Sian melawan Lu Ki Cong dan kawan-kawannya.
Dia menerima kemarahan dari cihu-nya, bahkan menerima pukulan yang membuat kepalanya berdenyut nyeri dan punggungnya lebih nyeri lagi.
Dan dia mendengar bahwa Lu Ki Cong, putera Lu-ciangkun komandan pasukan keamanan di kota Sung-jan itu bahkan telah disepakati akan menjadi calon jodoh Bi Sian!
Semenjak itu, hatinya selalu merasa tidak tenang, apalagi ketika mereka melakukan sembahyangan dan dia mendengar bahwa ayah ibunya meninggal dunia karena penyakit menular di dusun mereka, yaitu Tiong-cin, hatinya merasa semakin berduka dan gelisah.
Pada suatu malam, ketika dia tidak dapat pulas dan selalu gelisah, dia meninggalkan kamarnya yang berada di ujung belakang, lalu berjalan ke kebun samping rumah.
Tiba-tiba dia mendengar suara encinya bercakap-cakap dengan cihu-nya dan dari suara cihu-nya, dia tahu bahwa cihu-nya itu sedang marah dan suaranya keras!
Memang kamar enci dan cihu-nya itu menghadap ke kebun dan suara itu keluar melalui celah-celah jendela mereka yang tertutup.
Kamar Bi Sian berada di sebelah lagi, dan jendela kamar gadis cilik itu telah gelap, tanda bahwa ia tentu telah tidur.
Sebaliknya, dari jendela kamar encinya nampak cahaya lampu belum dipadamkan.
"Jelas bahwa dia salah besar!"
Terdengar suara cihu-nya membentak nyaring.
"Pertama, dia mencuri belajar ilmu silat padahal sudah kularang dia belajar silat! Ke dua, dia berani mencari keributan dan berkelahi dengan anak-anak, bahkan memukul dan menggigit putera Lu-ciangkun yang hendak kujodohkan dengan Bi Sian. Anak itu memang keterlaluan, dan engkau bahkan membela anak bongkok jelek itu!"
"Apa? Bongkok jelek katamu? Jangan kau kira aku tidak tahu bahwa engkaulah yang membuat dia menjadi bongkok!"
"Eh? Apa yang kau katakan itu?"
Cihu-nya bertanya kaget, sama kagetnya dengan dia sendiri mendengar ucapan encinya itu.
"Ya, engkau yang membuat dia menjadi bongkok! Karena engkau takut kepadanya! Itu pula sebabnya engkau melarang dia belajar silat. Engkau takut kepadanya!"
"Ssttt....! Lan Hong, apa yang kau katakan ini?"
Terdengar encinya menangis.
"Setelah.... setelah apa yang kulakukan untukmu semua.... setelah kuserahkan badanku, Cintaku, kesetiaanku padamu, hanya dengan harapan agar adikku diselamatkan...., masih kurang besarkah pengorbananku? Dia sudah menjadi bongkok, cacat, dan engkau.... masih juga membencinya?"
"Kau keliru, Lan Hong. Engkau tahu bahwa akupun suka padanya, hanya aku...., benarlah, aku khawatir dan kau pun tahu betapa aku cinta padamu. Aku telah merobah hidupku, mencari nama baik dan kedudukan yang terpandang. Semua ini untukmu dan untuk Bi Sian. Akan tetapi adikmu itu.... dia seakan-akan menjadi penghalang kebahagiaan kita.... aku selalu khawatir dan kadang-kadang aku bermimpi buruk, tak dapat tidur...."
Hening sejenak, lalu terdengar encinya berkata lirih.
"Aku dapat memaklumi perasaan hatimu, akan tetapi.... aku tetap menuntut agar adikku yang tunggal itu tidak diganggu!"
"Lan Hong, demi kebahagiaan kita, anak itu harus disingkirkan."
"Apa?"
Encinya setengah menjerit.
"Maksud.... maksudmu....?"
"Biar kutitipkan dia di sebuah kuil besar, agar di sana dia dapat menjadi seorang kacung, dan mudah-mudahan kelak dia menjadi seorang hwesio. Bukankah hal itu amat baik baginya? Menjadi seorang hwesio adalah kedudukan yang terhormat, mulia dan disegani orang."
"Ahhh.... tapi.... tapi...."
"Tidak ada tapi lagi, isteriku yang manis. Bukankah engkau menghendaki agar kebahagiaan kita tidak terganggu dan keselamatan adikmu terjamin pula?"
Setelah hening sampai lama, encinya berkata.
"Baiklah, akan tetapi aku harus tahu di kuil mana dia dititipkan, dan aku dapat mengunjunginya dan menjenguknya sewaktu-waktu...."
Sie Liong tidak mendengarkan terus.
Cepat dia kembali ke kamarnya dan dia duduk di atas pembaringannya dengan muka pucat dan bengong.
Ingin rasanya dia menangis, menjerit-jerit saking nyeri rasa hatinya.
Akan tetapi dia bertahan, bahkan menutupi mulutnya yang mulai terisak-isak itu dengan bantal.
Dia hendak disingkirkan?
Dititipkan dalam kuil?
Tidak!
Dia tidak akan menyusahkan cihu-nya lagi!
Dia tidak akan membuat encinya cekcok dengan suami encinya.
Bagaimanapun juga, dia dapat menduga bahwa cihu-nya tidak suka kepadanya, bahkan membencinya.
Bukankah encinya mengatakan bahwa cihu-nya yang membuat dia menjadi bongkok?
Ucapan ini mengejutkan dan juga membuat dia terheran-heran dan tidak mengerti.
Dan cihunya takut kepadanya?
Menggelikan dan mustahil!
Cihunya, yang demikian gagah perkasa, yang tinggi ilmu silatnya, takut kepadanya, seorang anak bongkok yang lemah?
Dan mengapa pula mesti takut?
Tidak, dia tidak akan menyusahkan mereka lagi.
Dia mengeraskan hatinya dan menghentikan tangisnya, lalu dengan perlahan-lahan agar gerak-geriknya tidak terdengar dari luar, dia mengumpulkan pakaiannya, membungkusnya dengan kain menjadi buntalan yang cukup besar.
Kemudian dia menulis sehelai surat di atas mejanya.
Enci Lan Hong dan cihu, Maafkan saya.
Saya pergi tanpa pamit, hendak kembali ke dusun Tiong-cin di utara, selamat tinggal.
Sie Liong.
Biarpun dia baru berusia tiga belas tahun, namun Sie Liong yang bongkok itu memiliki otak yang cerdik.
Dengan sengaja dia meninggalkan surat, menulis bahwa dim hendak pergi ke Tiong-cin.
Padahal, setelah dia meninggalkan rumah cihu-nya membawa buntalan di punggungnya yang bongkok, dia sama sekali tidak pergi ke utara, melainkan ke selatan!
Akan tetapi, dia sengaja keluar dari pintu gerbang kota itu sebelah utara, dan sengaja melalui jalan yang ramai sehingga nampak oleh beberapa orang ketika dia pergi melalui pintu gerbang kota sebelah utara.
Begitu tiba di luar pintu gerbang, memasuki malam yang gelap, dia lalu menyelinap dan mengambil jalan memutar, melalui sawah yang sunyi, mengelilingi tembok kota itu dan melanjutkan perjalanan menuju ke selatan!
Tidak ada seorangpun yang melihatnya karena selain waktu sudah lewat tengah malam, juga Sie Liong dengan hati-hati sekali mengambil jalan sunyi yang sudah dikenalnya.
Perhitungan anak ini memang tepat sekali.
Pada keesokan harinya, ketika mendapatkan surat Sie Liong di atas meja, Lan Hong menangis sedih dan suaminya cepat melakukan pengejaran ke utara tentu saja!
Apa lagi ketika Yauw Sun Kok mendengar keterangan beberapa orang yang sempat melihat Sie Liong di malam hari itu, membawa buntalan menuju ke pintu gerbang utara.
Dari para petugas jaga di pintu gerbangpun dia mendengar bahwa memang benar anak bongkok itu semalam lewat dan keluar dari pintu gerbang itu menuju ke utara, melalui jalan besar.
Yauw Sun Kok melakukan perjalanan cepat, berkuda, mengejar terus ke utara.
Akan tetapi sampai sehari dia melakukan perjalanan, belum juga dia berhasil menyusul Sie Liong!
Tadinya dia mengira bahwa tentu anak itu mendapatkan boncengan ke utara, akan tetapi setelah sehari dia gagal, dia kembali lagi dan kehilangan jejak anak itu.
Tidak ada orang yang melihatnya, dan dia mengira bahwa tentu anak itu telah mengambil jalan menyimpang.
Akan tetapi jalan yang mana dan ke kanan atau kiri?
Akhirnya, diapun pulang dengan wajah lesu.
Dia tidak begitu susah ditinggal pergi adik isterinya itu, akan tetapi ada dua hal yang membuatnya gelisah.
Pertama, isterinya tentu akan berduka, dan ke dua, dan ini yang amat mengganggunya, dia tetap mengkhawatirkan kalau-kalau kelak Sie Liong akan membalas dendam atas kematian kedua orang tuanya.
Akan tetapi, apa yang perlu ditakutinya?
Anak itu bongkok dan cacat!
Seperti telah diduganya, isterinya menjadi berduka dan dia harus ber-usaha keras untuk menghibur hati isterinya, mengatakan bahwa Sie Liong sudah cukup dewasa untuk mengurus dirinya sendiri, dan bahwa kebetulan sekali Sie Liong pergi karena kehendak sendiri, jadi mereka tidak perlu menyuruhnya atau membawanya pergi.
Demikianlah, Sie Liong melakukan perjalanan seorang diri, manuju ke selatan.
Dia selalu menghindarkan diri agar jangan bertemu orang selama beberapa hari itu, agar tidak ada orang dari kota Sung-jan yang akan melihatnya dan kemudian melaporkannya kepada cihu-nya.
Dia memilih jalan liar melalui hutan-hutan dan pegunungan dan inilah yang mencelakakan dia.
Kurang lebih sebulan sesudah dia meninggalkan rumah encinya, dia berjalan melalui sebuah hutan besar pada suatu pagi yang sejuk.
Setiap harinya Sie Liong melakukan perjalanan dan dia makan darimana saja.
Kadang-kadang dia mendapat belas kasihan orang yang memberinya makan, dan ada kalanya dia harus menjual beberapa potong pakaiannya untuk ditukar dengan makanan.
Bahkan pernah dia hanya makan sayur-sayur yang didapatkannya di ladang orang untuk sekedar menahan lapar.
Malam tadi, ada seorang petani yang baik hati menerimanya di rumahnya.
Sie Liong membantu petani itu membelah kayu bakar den diapun mendapatkan tempat tidur dan makan malam yang cukup mengenyangkan perutnya.
Bahkan pagi tadi ketika dia pergi, keluarga petani itu memberinya sarapan dan memberinya bekal roti kering dan sayur asin kering!
Maka, pagi itu Sie Liong berjalan dengan tegap dan kaki ringan, hatinya gembira karena semalam dia mendapatkan bahwa masih banyak orang yang baik hati di dunia ini.
Kehangatan yang dirasakannya ketika keluarga petani itu menerimanya membuat dia merasa bahagia di pagi hari itu.
Tiba-tiba dia dikejutkan oleh munculnya lima orang yang berloncatan dari balik batang-batang pohon.
Lima orang itu berwajah bengis menyeramkan.
Kalau saja mereka itu tidak berpakaian, tentu Sie Liong akan mengira mereka binatang-binatang sebangsa kera besar.
Tubuh dan pakaian mereka kotor dan pandang mata mereka bengis den buas.
Akan tetapi karena mereka berpakaian, maka Sie Liong kehilangan kekagetannya den tersenyum kepada mereka.
"Aih, paman sekalian membikin kaget saja padaku,"
Katanya sambil membetulkan letak buntalan di punggungnya. (Lanjut ke
Jilid 04) Kisah Pendekar Bongkok (Serial 06 -Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 04
"Huh, kiranya hanya anak anjing buduk!"
Kata seorang.
"Anjing cilik, punggungnya bongkok lagi!"
Kata orang ke dua. Wajah Sie Liong menjadi merah dan dia memandang kepada dua orang itu dengan mata melotot penuh kemarahan.
"Paman-paman adalah orang-orang dewasa, kenapa suka menghina anak-anak? Punggungku memang bongkok, apa sangkut pautnya dengan kalian? Kurasa bongkokku tidak merugikan orang lain termasuk kalian!"
"Wah, anjing cilik gonggongnya sudah nyaring!"
Teriak seorang di antara mereka, yang mukanya penuh brewok dan matanya lebar kemerahan.
Dia adalah pemimpin gerombolan itu dan kini dia menghampiri Sie Liong dengan golok besar di tangan kanan.
Golok itu berkilauan saking tajamnya dan si brewok sudah menempelkan mata golok ke leher Sie Liong.
Terasa oleh Sie Liong betapa golok itu tajam sekali menempel di kulit lehernya.
Sedikit saja digerakkan, tentu lehernya akan putus!
Akan tetapi, sedikitpun dia tidak merasa gentar, bahkah dia molotot dengan marah, walaupun maklum bahwa dia tidak berdaya dan melawanpun berarti hanya membunuh diri.
"Anjing galak, apakah engkau ingin mampus dengan leher buntung?"
Bentak si brewok.
"Hayo jawab!"
Betapapun marahnya, Sie Liong maklum bahwa orang ini jahat dan kejam luar biasa dan kalau dia tidak menjawab, orang ini akan marah dan bukan mustahil lehernya akan disembelih.
Maka dia menggeleng sambil berkata dengan suara lirih, bukan karena takut melainkan karena hati-hati agar suaranya tidak terdengar menyatakan kemarahan hatinya.
"Tidak."
"Ha-ha-ha! Kalau begitu biarlah kepalamu masih menempel di tubuhmu, akan tetapi buntalanmu harus kautinggalkan!"
Berkata demikian, dengan tangan kirinya kepala gerombolan itu merenggut buntalan pakaian Sie Liong lepas dari punggungnya, lalu mondorong sehingga anak itu terjengkang dan kepalanya terbanting ke atas tanah dengan kerasnya.
Sie Liong merasa kepalanya pening, akan tetapi dia cepat bangkit dan berkata dengan suara yang tak dapat disembunyikan lagi kemarahannya.
"Milikku hanya itu, pakaian-pakaian untuk pengganti. Kembalikan, kalian orang-orang jahat!"
Seorang di antara mereka yang bertubuh tinggi kurus dan bermuka pucat, terbelalak menghampiri Sie Liong dengan marah.
"Apa? Engkau ini masih belum cukup dihajar rupanya!"
Tangannya meraih dan terdengar suara membrebet ketika dia merenggut pakaian yang menempel di tubuh Sie Liong.
Pakaian itu robek dan terlepas sehingga anak itu kini telanjang bulat!
Lima orang itu tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha, anjing cilik ini biar bongkok, tubuhnya mulus juga."
Sie Liong yang merasa terhina itu marah sekali dan diapun sudah menerjang ke depan dengan ngawur.
Si muka pucat menyambutnya dengan sebuah tendangan yang keras.
"Bukkk!"
Tendangan itu mengenai dada Sie Liong, membuat anak itu jatuh terjengkang dan kepalanya kembali terbanting menghantam batu dan diapun roboh pingsan.
Ketika dia siuman kembali, Sie Liong mendapatkan dirinya rebah di atas tanah berumput di dalam hutan, dan lima orang itu sudah tidak nampak lagi.
Kepalanya berdenyut nyeri, tubuhnya yang terbanting juga sakit-sakit, dan buntalan pakaiannya tidak ada lagi.
Bahkan pakaian yang tadi menempel di tubuhnya juga sudah tidak ada.
Agaknya setelah direnggut lepas, dibawa pergi oleh lima orang tadi.
Dia bangkit duduk, memegangi kepala bagian belakang yang berdenyut nyeri.
Ah, betapa jahatnya lima orang tadi.
Jahat dan kejam sekali, tega merampas buntalan pakaiannya, bahkan menelanjanginya dan menghajarnya!
Baru saja dia merasa betapa indahnya hidup di dunia karena adanya orang-orang yang baik hati seperti keluarga petani itu yang memberinya tempat mondok dan makan, tiba-tiba saja kini muncul lima orang yang demikian jahatnya!
Berubah seketika nampaknya hidup di dunia ini, betapa sengsara dan buruknya, betapa pahit dan mengecewakan.
Dia harus makin berhati-hati karena di dalam dunia ini tidak kalah banyaknya terdapat orang-orang jahat.
Sie Liong teringat akan keadaan dirinya.
Telanjang bulat!
Tidak memiliki sepotongpun pakaian yang dapat dipakai menutupi tubuhnya yang telanjang bulat.
Tidak ada pula perbekalan makan untuk mengisi perutnya, dan dia berada di tengah hutan yang lebat!
Sie Liong mendapat keterangan dari keluarga petani semalam bahwa kalau dia berjalan terus menembus hutan itu ke selatan, dia akan monemui sebuah dusun yang cukup besar, dan menurut petani itu, sebelum sore dia tentu akan dapat tiba di dusun itu.
Dia bangkit dan setelah pening di kepalanya tidak begitu hebat lagi, mulai dia melangkahkan kakinya.
Dia merasa aneh dan lucu, berjalan dalam keadaan telanjang bulat seperti itu.
Suara berkeresekan di kanan membuat dia terkejut dan cepat-cepat dia menggunakan kedua tangan untuk menutupi selangkangannya, takut kalau-kalau ada orang muncul dan melihat ketelanjangannya.
Akan tetapi yang muncul adalah dua ekor monyet!
Sie Liong tertawa sendiri.
Monyet-monyet itupun telanjang bulat mengapa dia harus malu?
Diapun melepaskan kedua tangannya dan menghadapi dua ekor monyet itu sambil tersenyum.
Monyet-monyet itu semenjak lahir telanjang dan tidak pernah merasa malu.
Kenapa kalau manuasia merasa malu?
Jadi kalau begitu, malu timbul bukan karena ketelanjangannya, melainkan karena merasa telanjang!
Karena monyet-monyet itu tidak pernah merasa telanjang, juga anak-anak bayi tidak pernah merasa telanjang, maka mereka itu tidak menjadi malu.
Sie Liong berjalan lebih cepat.
Kadang-kadang berdebar jantungnya, penuh ketegangan dan perasaan malu kalau dia membayangkan bagaimana nanti dia kalau bertemu dengan orang di dusun itu?
Apakah ada yang mau menolongnya den bagaimana dia dapat menemui mereka dalam keadaan telanjang bulat?
Mungkin dia akan dianggap gila!
Benar seperti keterangan petani yang baik itu, sebelum sore dia telah tiba di luar sebuah dusun.
Pagar dusun itu cukup tinggi, dan nampak genteng merah di atas dinding putih.
Sie Liong merasa bingung.
Tak mungkin dia memasuki dusun itu dalam keadaan telanjang bulat seperti itu.
Bagaimanapun dia bukan anak kecil lagi, usianya sudah tiga belas tahun, sudah menjelang dewasa.
Maka diapun bersembunyi saja di pinggir hutan sambil mengamati dusun itu dari kejauhan.
Nampak olehnya beberapa orang petani laki-laki dan wanita keluar masuk melalui pintu gerbang dusun itu.
Bahkan ada dua orang anak penggembala kerbau menggiring kerbau mereka pulang ke dalam dusun.
Dia akan menanti sampai keadaan cuaca menjadi gelap, baru dia akan masuk ke dusun itu, mencari keluarga petani yang baik untuk menolongnya.
Kalau saja di dusun itu tinggal keluarga petani seperti yang monampungnya semalam, tentu mereka akan mau menolongnya, pikirnya.
Senja tiba dan cuaca mulai gelap.
Sie Liong lalu dengan hati-hati meayelinap memasuki dusun melalui pintu gerbang.
Dia menyelinap di antara pohon-pohon dan melihat sebuah rumah yang menyendiri di tepi dusun, dia lalu manghampirinya.
Sampai lama dia ragu-ragu dan berdiri di belakang sebatang pohon.
Ketika dalam keremangan senja itu dia malihat seseorang datang dari arah belakang rumah menuju ke dapur rumah itu yang berada di belakang, dia membuat gerakan untuk keluar dari balik pohon dan menegur.
Akan tetapi, ketika itu orang tadi sudah dekat dan ternyata orang itu adalah seorang gadis remaja yang membawa sebuah tempat air dari tanah bakar yang dipondongnya di atas pinggang kiri.
Melihat bahwa orang yang tadinya disangka laki-laki itu setelah dekat baru kelihatan bahwa ia seorang gadis remaja, dengan gugup Sie Liong menyelinap kembali ke balik batang pohon.
Namun terlambat, kakinya menginjak ranting kering dan gadis remaja itu sudah membalikkan tubuh menengok.
"Siapa itu?"
Gadis itu menegur.
Sie Liong tidak berani berkutik.
Batang pohon itu terlampau kecil untuk menutupi seluruh tubuhnya, dia tidak berani menjawab saking malunya.
"Hayo katakan siapa itu! Malingkah? Aku akan menjerit memanggil orang kalau engkau tidak mau keluar dari balik pohon itu!"
Celaka, pikir Sie Liong.
Kalau dia disangka maling dan gadis itu menjerit, mungkin dia akan dikeroyok orang sedusun!
Terpaksa dia keluar dari balik batang pohon, sedapat mungkin menutupi selangkangnya dengan kedua tangan.
"Aku.... aku bukan maling...."
Katanya lirih.
Gadis itu terbelalak memandang kepada pemuda cilik yang telanjang bulat itu, dengan tubuh yang berkulit putih bersih, sama sekali tanpa pakaian!
"Eiiiiihhh....!"
Ia menjerit dan tempat air dari tanah bakar itu terlepas dari rangkulannya, jatuh dan pecah sehingga air jernih itu mengalir keluar.
Gadis remaja itupun berlari-lari seperti dikejar setan memasuki rumah.
"Setaaan....! setaaaaann....!"
Ia menjerit-jerit.
Sie Liong kembali memyelinap ke balik batang pohon, tersenyum pahit dan merasa bahwa dia memang sudah menjadi setan!
Setan telanjang yang menakutkan seorang gadis remaja.
Setan bongkpk telanjang!
Sungguh sial, gerutunya, tidak tahu harus berbuat apa.
Tak lama kemudian, gadis remaja itu datang lagi dengan sikap takut-takut, bersama seorang laki-laki setengah tua dan seorang laki-laki berusia dua puluh tahun lebih, keduanya membawa parang dan siap untuk berkelahi melawan setan.
Di belakang gadis remaja itu keluar pula seorang wanita yang saling berpegang tangan dengan gadis itu, nampak ketakutan.
"Mana. dia? Mana setan itu?"
Tanya pemuda itu dengan lagak pemberani akan tetapi suaranya agak gemetar.
"Tadi di sana, di belakang pohon itu! Nah, lihat! Dia masih di sana...."
Gadis itu merangkul ibunya.
Dua orang laki-laki itu juga sudah melihat tubuh putih yang sebagian tertutup batang pohon dan mereka maju baberapa langkah, akan tetapi tetap dalam jarak yang aman.
"Setan! Keluarlah dan perlihatkan mukamu!"
Bentak laki-laki muda.
"Kalau engkau benar setan, harap jangan ganggu keluarga kami, kami adalah orang baik-baik dan suka sembahyang,"
Kata pria yang setengah tua.
Sie Liong merasa bahwa bersembunyi lebih lama lagi tidak ada gunanya juga kalau dia melarikan diri, mungkin akan dikejar orang sedusun.
Maka, diapun terpaksa keluar dari balik pohon sambil menggunakan kedua tangan menutupi bawah perutnya.
"Maaf, paman.... maafkan aku. Aku.... aku bukan setan, aku manusia biasa yang mengharapkan pertolongan kalian."
Dua orang pria itu jelas kelihatan lega mendengar ini, akan tetapi mereka masih ragu-ragu.
Kalau benar manusia, mengapa bertelanjang bulat?
Kalau manusia, tentu orang gila dan ini sama menyeramkannya dengan setan!
"Engkau seorang manusia?
Kenapa malam-malam begini datang ke sini dan telanjang bulat?
Apakah engkau gila?"
Tanya pria setengah tua.
"Maafkan, paman. Aku tidak gila, aku.... aku siang tadi lewat di hutan itu dan aku dirampok. Buntalan pakaianku, juga pakaian yang kupakai, dirampas perampok, bahkan aku dipukul mereka. Lihat, kepalaku masih berdarah di sini."
Untuk membuktikan kebenaran kata-katanya, Sie Liong membalikkan tubuh memperlihatkan luka di belakang kepalanya, juga memperlihatkan daging menonjol di punggung yang membuatnya bungkuk, memperlihatkan pula tanpa disadari pinggulnya karena yang ditutupnya hanyalah bawah perut.
"Iiihhh....!"
Gadis remaja itu menjerit lagi dan menutupi muka dengan kedua tangan, hanya mengintai dari celah-celah jari tangannya!
Kini pria setengah tua itu percaya karena dia melihat betapa belakang kepala itu memang terluka.
"Kau ambilkan satu stel pakaianmu, juga obor."
Perintahnya kepada puteranya, kakak gadis remaja tadi.
"Baik, ayah."
Diapun lari ke dalam.
Ayah, ibu den anak perempuan itu manih mengamati Sie Liong yang menjadi rikuh sekali.
Karena di situ ada dua orang wanita terutamm gadis remaja yang menutupi muka dengan kedua tangan dia kembali menyelinap ke balik batang pohon, menyembunyikan tubuhnya dan hanya memperlihatkan kepalanya saja.
"Maafkan aku, puman. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, maka aku sengaja menanti sampai gelap baru berani memasuki dusun ini dengan maksud minta pertolongan kepada siapa saja. Melihat rumah paman ini agak terpencil, maka aku lalu datang ke sini untuk minta pertolongan, takut kalau sampai terlihat banyak orang. Dan ternyata pilihanku tidak keliru. Aku bertemu dengan keluarga yang budiman. Harap enci di sana itu memaafkan aku, aku tidak sengaja untuk bersikap kurang ajar dan melanggar suaila."
Mendengar kata-kata yang halus dan teratur rapi, ayah ibu dan anak itu dapat menduga bahwa tentu anak telanjang itu bukan seorang dusun, melainkan seorang kota yang terpelajar.
"Siapakah namamu, orang muda?"
Tanya si ayah.
"Namaku Liong, she Sie."
Pada saat itu, pemuda tadi datang lagi membawa obor di tangan kanan dan satu stel pakaian di tangan kiri.
Kini obor menerangi tempat itu dan gadis remaja itu tetap mengintai dari celah-celah jari tangannya.
Dengan perasaan berterimakasih sekali Sie Liong menerima satu stel pakaian itu, lalu memakainya di balik batang pohon.
Baju itu kebesaran, lengannya terlalu panjang dan celana itupun kakinya terlalu panjang.
Terpaksa dia menggulung lengan dan kaki pakaian itu, dan muncul dari balik batang pohon.
Karena baju itu kedodoran, maka bongkoknya tidak terlalu kelihatan.
Sie Liong mengangkat tangan memberi hormat kepada mereka.
"Paman, bibi, toako dan enci, aku Sie Liong menghaturkan banyak Terimakasih dan percayalah, selama hidupku aku tidak akan melupakan budi pertolongan yang amat berharga ini."
Laki-laki setengah tua itu melangkah maju.
Kini dia yakin bahwa anak ini bukan setan, bukan pula orang gila, dan dirangkulnya pundak Sie Liong, di tariknya untuk diajak masuk ke rumah.
"Anak yang malang, mari kita masuk ke dalam. Engkau boleh bermalam di rumah kami dan makan malam bersama kami, akan tetapi engkau harus menceritakan semua pengalaman dan riwayatmu kmpada kami."
Sie Liong mengikuti mereka dan kini gadis remaja itu tidak lagi menutupi mukanya dengan jari tangan.
Gadis itu berusia kurang lebih lima belas tahun dan mukanya manis sekali, tubuhnya padat berisi karena ia biasa bekerja berat seperti lajimnya gadis-gadis dusun.
Mereka bersikap ramah sekali.
Sie Liong diajak makan malam yang terdiri dari nasi dan sayur-sayuran tanpa daging.
Jarang ada petani makan daging, mungkin hanya satu dua kali sebulan karena daging merupakan makanan atau hidangan yang mewah bagi mereka.
Akan tetapi, di antara orang-orang yang demikian ramah dan baiknya, hidangan itu terasa lezat sekali oleh Sie Liong yang memang sudah lelah dan lapar sekali.
Sesudah makan, mereka duduk di tengah pondok, memutari meja dan Sie Liong lalu bercerita.
"Aku adalah seorang anak yatim piatu. Ayah ibuku telah tidak ada, meninggal karena penyakit menular yang berjangkit di dusun kami, jauh di utara. Semenjak itu, aku lalu hidup seorang diri, selama beberapa tahun ini aku ikut dengan orang, bekerja sebagai pelayan. Kemudian, karena ingin meluaskan pengalaman, aku lalu berhenti dan melakukan perjalanan merantau. Tak kusangka, sampai di dalam hutan itu muncul lima orang yang demikian kejamnya, merampas semua pakaian dalam buntalanku, bahkan melucuti pakaian yang kupakai sehingga aku bertelanjang bulat. Untung ada paman, bibi, toako dan enci yang baik budi sehingga aku tertolong terhindar dari ketelanjangan dan kelaparan."
Empat orang itu senang sekali melihat sikap Sie Liong yang demikian sopan, kata-katanya yang rapi, sungguh berbeda sekali dengan anak-anak di dusun yang kasar.
"Kalau engkau sebatangkara, biarlah engkau tinggal di sini saja bersama kami, Sie Liong. Asal engkau suka hidup sederhana dan membantu pekerjaan di sawah ladang, makan seadanya dan pakaianpun asal bersih, kami akan suka sekali menerimamu."
Kata sang ayah.
"Benar kata ayahku, Sie Liong. Tinggallah di sini, den engkau menjadi adikku!"
Kata gadis manis itu.
Ibu gadis itu, dan kakaknya juga, menyambut dengan senyum ikhlas.
Sie Liong memandang mereka dengan mata basah karena hatinya terharu sekali.
Sungguh aneh manusia di dunia ini, pikirnya.
Dia pernah bertemu dengan keluarga petani yang amat baik hati, memberinya tempat bermalam dan memberinya makan dan dia sudah manganggap mereka itu teramat baik hati.
Akan tetapi, kegembiraan hatinya bertemu dengan keluarga petani yang baik itu dihancurkan oleh kenyataan pahit ketika dia bertemu dengan lima orang perampok.
Dan pandangannya bahwa manusia di dunia ini banyak yang baik seketika berubah dengan kepahitan, melihat betapa lima orang perampok itu amat jahatnya.
Namun, baru setengah hari lewat, dia bertemu lagi dengan keluarga petani ini yang ternyata luar biasa baiknya, bukan saja memberinya pakaian sehingga dia tidak lagi telanjang, memberinya makan, merimanya bermalam di situ, bahkan kini menawarkan agar dia hidup bersama mereka di rumah mereka!
Adakah kebaikan yang lebih hebat dari pada ini?
Keikhlasan tanpa pamrih yang amat mengharukan.
Dia bangkit dari duduknya dan mengangkat kedua tangan di depan dada, memberi hormat kepada mereka.
"Sungguh paman sekalian teramat baik kepadaku, budi yang berlimpahan dari paman sekalian ini takkan kulupakan selama hidupku. Semoga Thian memberkahi paman sekalian karena kebaikan dan ketulusan hati paman, bibi, toako, dan enci. Aku Sie Liong takkan pernah melupakannya. Akan tetapi maaf, aku masih ingin malanjutkan perantauan dan belum ingin tinggal di suatu tempat tertentu. Kelak, kalau sudah timbul keinginan itu, aku akan ingat kepada penawaran paman, karena sungguh, aku akan lebih bangga dan senang hidup serumah dengan keluarga paman yang budiman ini dari pada dengan keluarga lain."
Malam itu, dengan hati penuh kegembiraan Sie Liong tidur di dalan sebuah kamar bersama putera tuan rumah yang mengalah tidur di atas lantai bertilamkan tikar dan memberikannya dipannya yang kecil kepada Sie Liong.
Mula-mula Sie Liong monolaknya, akan tetapi pemuda itu memaksa sehingga akhirnya Sie Liong menerima juga.
Malam itu, sebelum tidur, dia sempat rebah telentang, agak miring karena pungungnya tidak memungkinkan dia tidur telentang penuh, dan melamun.
Bermacam-macam sudah dia mengalami dalam kehidupan ini semenjak terjadi perkelahian di kota Sung-jan itu.
Dan semua pangalaman itu mulai menggemblengnya dan mematangkan jiwanya.
Maklumlah dia bahwa di dunia ini terdapat banyak orang jahat, di samping banyak pula orang baik, dan bahwa dalam kehidupan yang serba sulit dan keras ini, dia harus pandai-pandai menjaga diri sendiri.
Baru mencari makan saja sudah tidak mudah, apa lagi menghadapi gangguan orang-orang jahat yang amat kejam.
Agaknya, perlu memiliki kepandaian silat yang akan membuat dia kuat dan tangguh untuk mengatesi semua gangguan orang jahat itu, di samping dapat pula dia pergunakan untuk melindungi orang yang dihimpit kejahatan orang lain, Seperti halnya Bi Sian ketika diganggu pemuda-pemuda remaja yang nakal itu.
Mulailah timbul tekatnya untuk mempelajari ilmu silat tinggi dan mencari seorang guru yang pandai.
Pada keesokan harinya, Sie Liong pamit pada keluarga yang baik itu, dan diapun melanjutkan perjalanannya terus ke selatan.
Sampai akhirnya pada pagi hari itu menjelang siang, dia tiba di sebuah hutan dan dari jauh dia sudah mendengar suara nyanyian dua orang pendeta Lama dengan suara dan iramanya yang aneh.
Sie Liong tertarik sekali dan cepat dia menuju ke arah suara itu.
Melihat betapa ada seorang tosu tua renta duduk bersila dan dikelilingi oleh dua orang pendeta berkepala gundul berjubah merah, dia merasa heran sekali dan cepat dia duduk tak jauh dari situ.
Dia memegang sebatang bambu yang dipergunakannya sebagai tongkat, juga sebagai semacam senjata kalau-kalau dia diserang binatang buas atau juga orang jahat.
Dia tidak tahu apa yang sedang terjadi dan yang sedang dilakukan oleh tiga orang kakek itu, akan tetapi mendengarkan nyanyian dan irama dua orang pendeta Lama itu, telinganya merasa tidak enak sekali, bahkan nyeri seperti ditusuk-tusuk rasanya.
Maka, tanpa disadari, dia lalu mengetuk-ngetukken tongkat bambu di tangannya itu pada sebuah batu besar.
Karena bambu itu barlubang, maka menimbulkan suara nyaring dan diapun memukul tak-tok-tak-tok berirama, akan tetapi dia sengaja menentang irama nyanyian dua orang pendeta Lama itu agar telinganya tidak sakit seperti ditusuk-tusuk oleh irama aneh itu.
Dan begitu dia mendengar suara tak-tok-tak-tok dari bambunya sendiri, benar saja, telinganya tidak begitu nyeri lagi karena tidak lagi "diserang"
Oleh irama nyanyian dua orang pendeta Lama.
Akan tetapi, kembali telinganya nyeri ketika dua orang pendeta itu menyesuaikan irama lagu mereka dengan irama ketukan bambunya.
Sie Liong menjadi penasaran dan diapun mengubah irama ketukan bambunya, bahkan kini dia bikin irama yang kacau balau, berganti-ganti dan berubah-ubah!
Melihat betapa ilmu yang mereka lakukan melalui pengaruh irama dan nyanyian telah dibikin hancur dan kacau oleh suara ketukan bambu, marahlah dua orang pendeta Lama itu.
Mereka menghentikan nyanyian mereka, dan keduanya membalikkan tubuh menghadap ke arah suara ketukan bambu.
"Tak-tok-tak-tok, tak-tok-tak-tok, tak-tok-tak-tok, tak-tok-tak-tok, tak-tok-tak-tok!"
Suara ketukan bambu itu seperti ketukan bambu peronda malam!
Melihat bahwa yang mengacaukan ilmu mereka hanya seorang bocah bongkok berusia tiga belas tahun, dua orang pendeta Lama itu terbelalak, merasa penasaran, malu dan terhina sekali, hanya seorang bocah bongkok!
Dan ilmu mereka telah ketahuan rahasianya dan telah menjadi kacau!
Memang rahasia kekuatan ilmu itu berada pada iramanya yang mampu menyeret dan mencengkeram semangat seseorang.
Akan tetapi begitu irama itu kacau oleh irama lain, seolah-olah jantung ilmu itu ditusuk, kunci rahasianya dibuka dan ilmu itupun tidak ada gunanya lagi.
"Bocah setan! Berani engkau mengacaukan ilmu kami?"
Bentak Thay Ku Lama yang bermuka codet dan tubuhnya sudah meloncat dengan cepat bagaikan seekor burung garuda melayang, dan cepat sekali dia menyerang anak itu dengan Pukulan Hek-in Tai-hong-ciang begitu kedua kakinya menyentuh tanah dan dia sudah berjongkok!
Bukan main kejinya serangan dari Thay Ku Lama ini.
Pukulan Hek-in Tai-hong-ciang adalah pukulan sakti yang ampuh.
Seorang dewasa yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekalipun jarang ada yang kuat menahan pukulan ini, apa lagi kini yang dipukulnya seorang anak-anak yang lemah!
"Siancai....!
Engkau terlalu keji, Lama!"
Terdengar seruan halus dan tubuh Pek In Tosu sudah meluncur seperti bayangan putih dan dari samping dia sudah menangkis pukulan dahsyat itu sambil mengerahkan tenaga sin-kang yang tidak kalah hebatnya, yaitu Pek In Sin-ciang yang mengeluarkan uap putih.
"Desss....!"
Tubuh Thay Ku Lama terpelanting dan terguling-guling.
Ternyata Pek In Tosu dalam usahanya menyelamatkan anak bongkok, telah mengerahkan seluruh tenaganya sehingga pandeta Lama itu tidak kuat bertahan.
Akan tetapi, pukulannya yang dahsyat tadipun sudah menyerempet dada Sie Liong dan anak inipun terpelanting dan terbanting keras!
They Ku Lama terkejut bukan main dan tahulah dia bahwa ketika menangkis, Pek In Tosu telah mengerahkan tenaganya dan ternyata kakek tua renta itu benar-benar amat tangguh.
Dia tidak terluka, hanya tordorong sampai terpelanting, namun dia marasa jerih.
Setelah meloncat bingun, dia lalu berkata dengan suara marah dan muka merah.
"Tunggu saja, Pek In Tosu. Kami akan membasmi Himalaya Sam Lojin!"
Setelah berkata demikian, Thay Ku Lama mengajak sutenya untuk pergi dari situ. Dua orang pendeta Lama itu berkelebat dan lenyap dari situ.
"Siancai....! Sungguh mereka itu orang-orang sesat yang berbahaya sekali...."
Kata Pek In Tosu yang segera menghampiri dua orang pemuda murid Kun-lun-pai.
Dua kali tangannya bergerak dan dua orang pemuda itu telah terbebas dari totokan.
Mereka tadi hanya diam tak mampu bergerak akan tetapi dapat mengikuti apa yang telah terjadi di depan mata mereka, perkelahian yang aneh dan hebat sekali.
Mereka tahu pula bahwa nyawa mereka diselamatkan oleh kakek sakti itu, maka keduanya lalu berlutut dan menghaturkan Terimakasih kepada Pek In Tosu yang segera mengibaskan ujung lengan bajunya dan berkata dengan halus.
"Sudahlah, harap ji-wi (kalian berdua) segera pulang saja ke Kun-lun-pai dan jangan mencampuri urusan para Lama itu."
Dua orang itupun cepat-cepat memberi hormat lalu pergi dari situ untuk membuat laporan tentang peristiwa itu kepada pimpinan mereka di Kun-lun-pai.
Setelah dua orang murid Kun-lun-pai itu pergi, Pek In Tosu lalu menghampiri Sie Liong yang menggeletak pingsan.
Dia mengamati anak itu lalu berlutut.
"Thian Yang Maha Agung.... Sungguh kasihan sekali anak ini...."
Katanya ketika melihat betapa napas anak itu empas empis, mukanya agak membiru.
Tahulah dia bahwa pertolongannya tadi agak terlambat den anak itu masih terlanggar hawa pukulan Hek-in Tai-hong-ciang yang amat dahsyat itu.
Pek In Tosu cepat meletakkan kedua telapak tangannya ke atas dada Sie Liong, lalu perlahan-lahan dan dengan hati-hati sekali dia menyalurkan tenaga sakti dari tubuhnya melalui telapak tangan ke dalam dada anak itu.
Perlahan-lahan dia mendorong dan mengusir keluar hawa busuk beracun sebagai akibat pukulan Hek-in Tai-hong-ciang sehingga untuk sementara ini nyawa anak itu tidak lagi terancam bahaya, walaupun luka di dadanya masih belum dapat disembuhkan.
Untuk menyembuhkan luka akibat getaran pukulan sakti itu, dia tidak mampu dan harus dicarikan seorang ahli pengobatan yang pandai.
Anak itu menggerakkan kaki tangannya dan membuka mata, meringis kesakitan akan tetapi tidak mengeluh.
Melihat betapa punggung anak itu menonjol dan bongkok, kakek itu menarik napas panjang dan perasaan iba memenuhi batinnya.
Anak bongkok yang aneh ini, mungkin karena tidak disengaja, tadi telah menyelamatkan nyawanya yang sudah terancam maut di bawah pengaruh sihir dua orang pendeta Lama!
Dan sebagai akibatnya, anak yang bongkok dan miskin ini terkena pukulan beracun.
Bagaimanapun juga, dia harus mengusahakan agar anak ini dapat disembuhkan oleh seorang ahli.
Dan dia memandang kagum.
Anak itu tidak mangeluh sama sekali, padahal dia tahu bahwa luka itu tentu mendatangkan perasaan nyeri yang hebat.
Hanya napas anak itu masih sesak, dan ketika anak itu bangkit duduk, dia cepat memejamkan kedua matanya karena pening.
Akan tetapi, dia tetap tidak mengeluh!
"Sakitkah dadamu?"
Tanya Pek In Tosu lirih. Sie Liong membuka matanya, memandang kepada kakek itu dan mengangguk.
"Nyeri dan napasku sesak. Totiang, kenapakah hwesio tadi memukul aku?"
Pek In Tosu menarik napas panjang dan semakin suka dan kagum kepada anak bongkok itu.
"Untuk menjawab pertanyaanmu itu, perlu lebih dulu pinto ketahui, kenapa tadi engkau memukuli batu dengan bambu ini?"
Sie Liong yang masih agak pening itu memejamkan mata, mengingat-ingat dan terbayanglah semua yang tadi terjadi.
"Totiang, ketika tadi aku lewat di hutan ini, aku mendengar suara nyanyian dan aku tertarik, lalu mendekat. Aku tidak mengerti mengapa totiang duduk bersila dan dikelilingi dua orang hwesio yang bernyanyi-nyanyi dan menari-nari. Akan tetapi suara nyanyian itu, iramanya, begitu tidak enak, makin lama semakin menyiksa telingaku. Maka, aku lalu memukul-mukulkan bambu pada batu ini, untuk menolak suara yang tidak enak itu."
"Siancai.... Tanpa kau sadari engkau telah menentang dan memecahkan ilmu sihir mareka. Karena suara ketukan bambumu itu merusak kekuatan sihir dari nyanyian mereka, maka mereka menjadi marah dan hendak membunuhmu."
Sie Liong terkejut sekali dan saking herannya, dia bangkit berdiri.
Akan tetapi tubuhnya terhuyung dan dia tentu roboh kalau tidak cepat pundaknya ditangkap oleh Pek In Tosu.
"Jangan banyak bergerak, engkau masih dalam keadaan luka berat. Marilah engkau ikut denganku, akan pinto usahakan agar engkau mendapat pengobatan yang baik."
Karena terlalu lemah, Sie Liong hanya mengangguk pasrah dan di lain saat dia merasa tubuhnya seperti terbang.
Kiranya dia dipondong oleh kakek itu dan kakek itu sudah berlari dengan amat cepatnya, seperti terbang saja!
Bukit itu puncaknya merupakan padang rumput yang luas.
Di sana-sini tumbuh pohon yang tua dan besar, dengan daun-daun yang lebat.
Dari padang rumput di puncak bukit itu, orang dapat melihat ke seluruh penjuru, melihat sawah ladang, melihat bukit-bukit lain di Pegunungan Kun-lun-san, puncak-puncak tinggi yang tertutup awan, jurang-jurang yang amat dalam dan hutan-hutan yang hijau.
Mereka duduk bersila di atas padang rumput itu, duduk dalam bentuk segi tiga mengurung anak bongkok yang juga duduk bersila di tengah-tengah.
Seorang di antara tiga kakek yang duduk bersila itu adalah Pek In Tosu.
Orang ke dua juga seorang tosu, bertubuh tinggi kurus seperti hanya tinggal tulang terbungkus kulit.
Namun muka kakek ini licin tanpa rambut sedikitpun, seperti muka kanak-kanak dan mulutnya selalu dihias senyum ramah.
Usianya sebaya dengan usia Pek In Tosu, sekitar tujuh puluh tahun dan dia berjuluk Swat Hwa Cin-jin, dengan pakaian serba putih sederhana seperti juga yang dipakai Pek In Tosu.
Orang ke tiga bernama Hek Bin Tosu, dan sesuai dengan namanya, muka tosu ini kehitaman dan tubuhnya pendek besar, wajahnya nampak serius dan bengis, pakaiannya juga putih dan usianya juga sebaya dengan dua orang tosu lainnya.
Mereka bertiga inilah yang dahulu dikenal sebagai Himalaya Sam Lojin (Tiga Orang Kakek Himalaya).
Mereka dahulu adalah para pertapa di Himalaya yang ikut pula mengungsi ke Kun-lun-san untuk menghindarkan bentrokan dan keributan dengan para Lama di Tibet.
Tak mereka sangka, setelah puluhan tahun, kini muncul mereka yang menamakan dirinya Lima Harimau Tibet, lima orang pendeta Lama yang sakti melakukan pengejaran ke Kun-lun-san dan menyerang para pertapa yang berasal dari Himalaya!
Bahkan baru saja dua orang pendeta Lama berusaha menangkap Pek In Tosu, dengan ancaman membunuhnya kalau tidak mau menyerah.
"Siancai....! Sungguh mengherankan sekali sikap para Lama itu. Mengapa mereka itu memusuhi kita?"
Hek-bin Tosu yang berwatak kasar namun jujur terbuka itu berseru.
Mereka bertiga ini bukan saudara seperguruan, akan tetapi biarpun mereka datang dari sumber perguruan yang lain, di Himalaya mereka bertemu dan bersatu sebagai tiga orang murid dalam hal kerohanian, di bawah petunjuk seorang guru besar yang kini telah tiada.
Karena itu, mereka bertiga merasa seperti saudara saja dan mereka terkenal sebagai Himalaya Sam Lojin.
"Tidak tahukah engkau, sute?"
Kata Swat Hwa Cinjin.
"Ketika kita masih di Himalaya dahulu, mereka para Lama itu sudah memusuhi para pertapa di sana dan menganggap bahwa para pertapa itu ingin memberontak dan ingin menjatuhkan kedudukan Dalai Lama. Rupanya, biarpun sebagian besar para pertapa menghindarkan diri, mereka masih terus mendendam dan kini mereka itu mengutus Lima Harimau Tibet untuk membasmi para pertapa di pegunungan ini yang datang dari Himalaya."
"Benar seperti apa yang dikatakan Swat Hwa sute. Sungguh menyedihkan sekali bagaimana orang-orang yang sudah memiliki tingkat sedemikian tingginya, masih juga menjadi budak dari nafsu dendam!"
Kata Pek In Tosu yang dianggap paling tua di antara mereka.
"Pinto hanya ingat sedikit saja akan hal itu, akan tetapi sampai sekarang pinto masih belum jelas persoalannya. Mengapa para pendeta Lama itu menuduh para pertapa Himalaya memberontak? Dan mengapa pula yang mereka musuhi khususnya adalah kita bertiga?"
Hek-bin Tosu bertanya penuh rasa penasaran. Pek In Tosu menarik napas panjang.
"Memang mendiang suhu berpesan kepada pinto agar urusan itu tidak perlu pinto ceritakan kepada siapapun, sehingga engkau sendiri juga tidak mengetahuinya. Sekarang, menghadapi nafsu balas dendam dari para Lama, biarlah kalian dengarkan apa yang pernah terjadi puluhan tahun yang lalu."
Swat Hwa Cinjin dan Hek-bin Tosu mendengarkan penuh perhatian.
Sie Liong, anak bongkok yang duduk bersila pula di tengah-tengah, ikut mendengarkan walaupun dia harus menahan perasaan nyeri yang membuat napasnya masih agak sesak dan dadanya nyeri.
Tadi, pagi-pagi sekali, tiga orang tosu itu telah mengobatinya dengan menempelkan tangan mereka pada tubuhnya.
Hawa yang hangat panas memasuki tubuhnya dan memang perasaan nyeri di dadanya banyak berkurang walaupun belum lenyap sama sekali.
"Pada waktu itu, kurang lebih tiga puluh tahun yang lalu, mendiang suhu kebetulan berada di sebuah dusun di kaki Himalaya. Suhu melihat serombongan pendeta Lama memasuki dusun dan dengan paksa mereka hendak menculik seorang anak laki-laki yang menurut mereka adalah seorang calon Dalai Lama yang harus mereka bawa ke Tibet. Ayah ibu anak itu tentu saja merasa keberatan dan tidak memberikan putera mereka yang tunggal, apalagi karena mereka bukanlah pemeluk Agama Buddha Tibet. Terjadi ketegangan ketika para pendeta Lama itu memaksa. Orang-orang dusun membela orang tua anak itu dan terjadilah pertempuran. Banyak orang dusun itu tewas, termasuk ayah ibu anak itu. Suhu yang melihat keributan itu turun tangan dan dalam bentrokan itu, tiga orang pendeta Lama tewas ketika mereka bertanding melawan suhu. Para pendeta Lama aenjadi gentar dan sambil melarikan anak itu dan mayat kawan-kawan mereka, para pendeta Lama itu melarikan diri. Nah, semenjak itu, terjadi dendam di pihak pendeta Lama di Tibet dan mereka mengirim orang-orang pandai untuk membasmi para pertapa di Himalaya. Tentu saja yang mereka musuhi pertama-tama adalah suhu. Karena suhu telah meninggal dunia, maka tentu saja kita bertiga sebagai murid-murid suhu yang menjadi sasaran mereka itu, di samping juga mereka menyerang semua pertapa di Himalaya karena mereka menuduh bahwa para pertapa menentang Dalai Lama di Tibet dan hendak memberontak."
"Akan tetapi, itu sungguh tindakan gila!"
Hek-bin Tosu berseru penuh rasa penasaran.
"Kenapa hanya untuk memilih seorang anak menjadi calon Dalai Lama, mereka bertindak kejam dan tidak segan membunuhi manusia yang tidak berdosa?"
"Siancai, sute. Kalau sute mau bersikap tenang, tentu akan mudah melihat mengapa terjadi hal itu. Kepercayaan yang membuat mereka bertindak seperti itu. Kepercayaan akan agama mereka, secara membuta dan apapun yang dikatakan oleh pimpinan mereka merupakan perintah yang harus mereka taati, mereka anggap sebagai perintah dari Thian sendiri. Dan betapapun juga, anak yang mereka culik itu adalah Dalai Lama yang sekarang!"
"Ahh."
Swat Hwa Cinjin dan Hek-bin Tosu berseru.
"Kalau anak itu yang menjadi Dalai Lama, lalu mengapa dia menyuruh Lima Harimau Tibet menggangu kita? Bukankah mendiang suhu bermaksud untuk menolong dia dan keluarganya ketika para Lama hendak menculiknya?"
"Inipun suatu kejanggalan dan rahasia yang harus dipecahkan. Kita belum mempunyai bukti bahwa penyerbuan ke Kun-lun-san sekali ini adalah atas perintah Dalai Lama. Sudahlah, kalau memang mereka hendak menyerang kita, terpaksa kita hadapi dengan tenang dan tidak ada pilihan lain kecuali membela diri. Kita tidak suka bermusuhan, tidak membiarkan kebencian menyentuh batin, namun kita berhak dan berkewajiban untuk melindungi diri kita dari serangan yang datang dari luar maupun dalam."
Tiga orang tosu itu kini berdiam diri, tenggelam ke dalam lamunan masing-masing.
Tak mereka sangka bahwa dalam usia yang amat lanjut itu mereka masih harus menghadapi ancaman dari luar dan terpaksa harus siap siaga untuk bertanding.
"Suheng, lalu bagaimana dengan anak ini? Kita menghadapi bahaya ancaman Lima Harimau Tibet, dan dia berada di tengah-tengah antara kita,"
Swat Hwa Cinjin bertanya kepada Pek In Tosu.
"Siancai....! Agaknya, Thian yang menuntun anak ini sehingga tanpa disadarinya sendiri dia telah menghindarkan pinto dari ancaman maut di tangan dua orang pdndeta Lama itu dan dia menderita luka parah yang amat berbahaya bagi keselamatan nyawanya. Kita bertiga sudah berusaha mengusir hawa beracun itu, namun tidak berdaya menyembuhkan lukanya. Harus ditangani seorang ahli pengobatan yang pandai. Karena Thian sendiri yang menuntunnya berada di antara kita, maka sudah menjadi kewajiban kita pula untuk melindunginya dan mencarikan seorang ahli untuk menolongnya."
Kembali tiga orang tosu itu berdiam diri.
Sie Liong sejak tadi mendengarkan percakapan mereka.
Dia tadinya juga tidak mengerti apa yang telah terjadi.
Karena keterangan Pek In Tosu, dia hanya tahu bahwa tanpa disengaja, dia telah mengacau permainan sihir dua orang pendeta Lama itu sehingga mereka berusaha membunuhnya.
Dia sudah tahu bahwa dua orang pendeta Lama dari Tibet itu memusuhi kakek tosu yang kemudian mengaku bernama Pek In Tosu.
Dan sekarang, mendengar percakapan mereka, baru dia mengerti jelas mengapa para pendeta Lama itu hendak membunuh para tosu ini.
Ketika mendengar betapa tiga orang kakek yang terancam oleh serangan para Lama yang sakti ini harus melindungi pula dirinya, diapun segera berkata.
"Harap sam-wi totiang memaafkan saya. Sam-wi sendiri menghadapi ancaman para pendeta Lama, make tidak semestinya kalau sam-wi harus pula bersusah payah melindungi saya dan mencarikan ahli pengobatan. Biarlah, saya akan pergi saja dan mencari sendiri ahli pengobatan itu agar selanjutnya tidak membuat sam-wi repot dan semakin terancam."
Berkata demikian, dia hendak bangkit untuk meninggalkan tempat itu.
Akan tetapi begitu dia bangkit, rasa nyeri menusuk dadanya sehingga dia jatuh terduduk kembali.
"Duduk sajalah dengan tenang, Sie Liong. Engkau harus terus menenangkan tubuhmu, bernapas panjang dan perlahan seperti yang kami ajarkan tadi dan jangan memikirkan apa-apa. Engkau sama sekali tidak merepotkan kami,"
Kata Pek In Tosu.
Bagaimanapun juga, anak bongkok ini pernah menyelamatkan nyawanya, maka sudah menjadi kewajiban mereka bertiga untuk melindunginya, apalagi mereka bertiga tadi sudah memeriksa keadaan tubuh Sie Liong dan mereka mendapatkan kenyataan yang mentakjubkan sekali, yaitu bahwa di dalam tubuh yang bongkok itu ternyata terkandung tulang yang amat baik, darah yang bersih dan bakat yang besar!
Sie Liong terpaksa mentaati petunjuk Pek In Tosu ini karena dia memang merasa pening begitu bangkit berdiri tadi.
Dia sudah mendapat petunjuk untuk duduk diam, bersila dan mengatur pernapasan seperti yang diajarkan mereka.
Tiba-tiba ada angin keras menyambar dan seperti setan saja, muncullah lima orang pendeta Lama di tempat itu.
Oleh Sie Liong hanya kelihatan bayangan merah berkelebatan dan tahu-tahu di situ telah berdiri lima orang pendeta Lama yang sikapnya menyeramkan.
Dua di antara mereka adalah Thay Ku Lama si muka codet dan Thay Si Lama si muka bopeng yang pernah dilihatnya.
Tiga orang pendeta Lama yang lain juga mempunyai ciri yang mudah dibedakan satu antara yang lain.
Orang ke tiga adalah seorang yang mukanya pucat soperti berpenyakitan dan dia ini berjuluk Thay Pek Lama.
Orang ke empat berjuluk Thay Hok Lama, matanya yang kiri buta, terpejam dan kosong tidak berbiji mata lagi.
Orang ke lima berjuluk Thay Bo Lama, kurus kering seperti tengkorak hidup.
Inilah Lima Harimau Tibet yang terkenal mengamuk di Kun-lun-san itu.
Melihat munculnya lima orang ini, Himalaya Sam Lojin lalu menggeser duduk mereka.
Kini mereka bersila sejajar, membelakangi Sie Liong dan menghadapi lima orang pendeta Lama itu, dengan sikap yang tenang sekali.
Sie Liong membuka matanya lebar-lebar, hatinya tegang akan tetapi diapun tidak merasa takut, hanya marah kepada lima orang pendeta Lama yang dianggapnya amat jahat dan sombong itu.
Melihat betapa tiga orang calon lawan itu duduk bersila dan berjajar menghadapi mereka, Lima Harimau Tibet juga segera duduk bersila berjajar menghadapi Himalaya Sam Lojin.
Thay Ku Lama, si muka codet yang menjadi pimpinan mereka itu agaknya memberi isarat melalui gerakan tangan dan tubuh.
Mereka berlima tidak berani memandang rendah kepada tiga orang lawan mereka.
Bukan hanya karena nama Himalaya Sam Lojin sudah terkenal sebagai orang-orang sakti, bahkan beberapa hari yang lalu Thay Ku Lama dan Thay Si Lama sudah merasakan kelihaian Pek In Tosu dan karenanya, kini mereka berlima bersikap hati-hati.
Jarak antara dua pihak itu ada lima meter, dan jelas nampak perbedaan antara sikap mereka.
Kalau Himalaya Sam Lojin bersikap tenang saja, sebaliknya sikap Lima Harimau Tibet itu penuh geram, sinar mata mereka mencorong penuh tuntutan dan tubuh mereka jelas membayangkan kesiapsiagaan untuk berkelahi.
Kedua pihak sampai lama tidak mengeluarkan kata-kata, hanya saling pandang seolah-olah hendak mengukur kekuatan pihak lawan dengan pengamatan saja.
"Sam Lojin, sekali lagi kami tegaskan bahwa pimpinan kami, yang mulia Dalai Lama memerintahkan kalian bertiga untuk menghadap beliau!"
Tiba-tiba terdengar Thay Ku Lama berkata, suaranya lirih namun jelas dan tajam, bahkan mengandung perintah dan ancaman.
"Siancai! Kami bukunlah rakyat Tibet, juga bukan hamba sahaya pemerintah Tibet, oleh karena itu menyesal sekali kami tidak dapat memenuhi perintah itu."
"Kalian tinggi hati! Baiklah, kami menggunakan kata-kata yang halus. Pemimpin kami, yang mulia Dalai Lama mengundang sam-wi untuk datang karena beliau ingin berwawancara dengan sam-wi,"
Kata pula Thay Ku Lama, biarpun kata-katanya halus dan sopan, namun mengandung ejekan.
"Maafkan kami, kami sudah tua dan lelah, tidak mungkin dapat memenuhi undangan itu. Kalau Sang Dalai Lama memang berkeinginan untuk bicara dengan kami, silakan saja datang ke Kun-lun-san dan kami akan menyambutnya."
Marahlah Lima Harimau Tibet itu! "Kalian memang tua bangka yang sombong sekali! Apakah kalian berani menandingi kesaktian kami?"
Bentak pula Thay Ku Lama.
"Siancai....! Terserah kepada kalian. Kami tidak ingin bermusuhan dengan siapapun juga, akan tetapi juga tidak ingin kemerdekaan kami dilanggar,"
Jawab Pek In Tosu dengan sikap tenang.
Lima orang pendeta Lama itu kini merangkap kedua tangan di depan dada seperti orang menyembah, kedua mata mereka dipejamkan dan mereka seperti telah pulas dalam samadhi.
Sie Liong yang sejak tadi mendengarkan sambil duduk bersila di belakang tiga orang kakek tua renta, Diam-diam merasa mendongkol sekali kepada lima orang pendeta Lama itu.
Biarpun dia tidak mengerti betul akan urusan di antara kedua golongan itu, namun dia melihat sikap mereka dan dapat menilai bahwa lima orang pendeta Lama itulah yang sombong dan hendak menggunakan kekerasan memaksakan kehendak mereka kepada orang lain.
Sebaliknya, sikap tiga orang tosu itu dianggapnya amat mengalah, hal yang juga membuatnya tidak puas sama sekali.
Dia tahu bahwa tiga orang tosu itu memiliki kesaktian, mengapa harus begitu mengalah terhadap lima orang pendeta Lama yang demikian tinggi hati dan keras?
Mengalah sebaiknya dipergunakan menghadapi orang yang baik, sedangkan untuk menghadapi orang-orang yang jahat, sepatutnya kalau diambil sikap yang tegas pula!
Demikian pikiran Sie Liong yang sudah banyak mengalami pen-deritaan akibat perbuatan yang jahat dan mengandalkan kekerasan.
Tiba-tiba Sie Liong memandang dengan mata terbelalak.
Ia mengejap-ngejapkan kedua matanya, lalu menggosok-gosoknya dan memandang lagi.
Akan tetapi tetap saja nampak olehnya hal yang dianggapnya tidak mungkin itu.
Dia melihat betapa tubuh lima orang pendeta Lama itu perlahan-lahan naik dari atas tanah yang menjadi tempat mereka bersila, dan dalam keadaan masih bersila, lima sosok tubuh pendeta Lama itu naik ke atas sampai setinggi dua kaki dari atas tanah!
Mereka seperti terbang atau mengapung di udara, seolah-olah tubuh mereka kehilangan bobot dan menjadi seperti balon kosong berisi udara yang amat ringan!
"Sam-wi Lojin, lihat!
Apakah kalian berani menandingi kesaktian kami?"
Thay Ku Lama yang sudah membuka matanya, berseru.
Tiga orang tosu itu memandang dengan mata terbelalak.
Mereka tahu bahwa memang tingkat lima orang pendeta Lama itu sudah amat tinggi.
Untuk dapat melenyapkan bobot seperti itu dan mengapung, membutuhkan tingkat yang sudah tinggi dari samadhi!
Akan tetapi, tiba-tiba Sie Liong yang tidak sabar melihat kecongkakan lima orang itu dan tidak ingin melihat tiga orang tosu itu merasa rendah diri dan dikalahkan, berseru dengan suara nyaring.
"Uhhhh! Kalian ini lima orang pendeta Lama yang amat congkak! Apa sih artinya mengapung di udara seperti itu saja? Kacoa-kacoa yang kotor, lalat-lalat yang kotor itupun sanggup mengapung lebih tinggi dan lebih lama dari pada kalian! Kepandaian kalian itu dibandingkan dengan lalat dan nyamuk belum ada seperseratusnya! Andaikata kalian pandai terbang sekalipun, masih belum menandingi kemampuan terbang burung gereja yang kecil dan lemah! Dan kalian sudah berani menyombongkan kepandaian yang tidak ada artinya itu? Sungguh, batok kepala kalian yang gundul itu agaknya sudah terlampau keras sehingga tidak melihat kenyataan betapa kalian bersikap seperti lima orang badut yang tidak lucu!"
Tiga orang tosu itu terkejut bukan main!
Juga Sie Liong terkejut karena biarpan dia mendongkol dan tidak suka kepada lima orang pendeta Lama itu, akan tetapi semua kata-kata itu keluar dari mulutnya tanpa dia sadari, seolah-olah keluar begitu saja dan dikendalikan oleh kekuatan lain.
Seolah-olah bukan dia yang bicara seperti itu, melainkan orang lain yang hanya "meminjam"
Mulut dan suaranya!
Tadinya dia memang berniat untuk mengeluarkan suara menyatakan kedongkolan hatinya dan mengejek lima orang pendeta Lama itu, akan tetapi baru satu kalimat, lalu mulutnya sudah menyerocos terus tanpa dapat dia kendalikan!
Lima orang pendeta Lama itu demikian kaget, marah den malu mendengar teguran yang keluar dari mulut kanak-kanak itu dan sungguh luar biasa sekali.
Pengaruh ucapan itu membuat mereka goyah dan tak dapat dihindarkan lagi, tubuh merekapun meluncur turun.
Terdengar suara berdebuk ketika pantat lima orang pendeta Lama itu terbanting ke atas tanah!
Tidak sakit memang, namun hati mereka yang sakit dan mereka sudah melotot, memandang kepada Sie Liong dan dari mata mereka seolah keluar api yang akan membakar tubuh anak bongkok itu.
Akan tetapi, tiba-tiba terdengar suara ketawa, disusul suara yang lembut namun cukup nyaring.
"Ha-ha-ha, sungguh tepat sekali ucapan itu! Lima Harimau Tibet bukan lain hanyalah badut-badut belaka, macan-macan kertas yang hanya dapat menakut-nakuti anak-anak saja!"
Dari belakang tiga orang tosu itu bermunculan banyak orang.
Mereka adalah lima belas orang murid kepala Kun-lun-pai yang dipimpin oleh dua orang ketua Kun-lun-pai sendiri, yaitu Thian Hwat Tosu dan wakilnya, Thian Khi Tosu dan yang tertawa dan bicara tadi adalah Thian Khi Tosu yang berwatak keras berdisiplin dan jujur.
Lima orang pendeta Lama itu cepat memandang dan ketika mereka melihat orang-orang Kun-lun-pai, kemarahan mereka memuncak dan untuk sementara mereka tidak memperdulikan tiga orang Himalaya Sam Lojin dan mereka memandang kepada orang-orang Kun-lun-pai itu.
"Hemm, kiranya orang-orang Kun-lun-pai telah berani lancang untuk menentang kami Lima Harimau Tibet?"
"Siancai...."
Kini Thian Hwat Tosu melangkah maju, menghadapi lima orang pendeta Lama yang sudah bangkit berdiri itu, diikuti oleh Thian Khi Tosu dan lima belas orang murid utama Kun-lun-pai.
Thian Hwat Tosu menghadap kepada tiga orang tosu yang masih duduk bersila dengan tenang, memberi hormat dengan kedua tangan di dada dan berkata dengan penuh hormat.
"Mohon sam-wi locianpwe sudi memaafkan kami kalau kami mengganggu, karena kami mempunyai suatu urusan dengan Lima Harimau Tibet ini."
Pek In Tosu tersenyum dan mewakili dua orang saudaranya menjawab.
"Silakan, To-yu dari Kun-lun-pai."
Kini Thian Hwat Tosu menghadapi lagi lima orang pendeta Lama dan dengan suara lembut dan sikap hormat dia pun berkata.
"Ngo-wi lo-suhu adalah lima orang terhormat dari Tibet. Agaknya ngo-wi lupa bahwa di sini bukanlah daerah Tibet, melainkan daerah Kun-lun-san. Kedatangan ngo-wi sudah lama kami dengar, akan tetapi kami tidak ingin mencampuri urusan orang lain. Betapapun juga, setelah mendengar laporan dua orang murid kami yang telah ngo-wi robohkan, kami mengambil keputusan bahwa kami tidak mungkin mendiamkannya saja urusan ini. Kalau dilanjutkan sepak terjang ngo-wi di daerah ini, kami khawatir kalau terjadi bentrokan yang lebih hebat. Karena itu, Ngo-wi lo-suhu, demi kedamaian, kami mohon dengan hormat sudilah kiranya ngo-wi kembali ke Tibet dan tidak melanjutkan tindakan ngo-wi di sini, dan kamipun akan melu-pakan apa yang telah terjadi di sini selama beberapa pekan ini."
Ucapan ketua Kun-lun-pai itu bernada halus dan juga sopan, sama sekali tidak ada sikap menyalahkan atau menegur, melainkan mengkhawatirkan kalau terjadi kesalahpahaman.
Karena sikapnya yang lembut ini, kemarahan lima orang pendeta Lama itu agak mereda, dan Thay Ku Lama lalu membalas penghormatan ketua Kun-lun-pai dan diapun berkata dengan suara yang tegas, namun tidak kasar.
"Pai-cu (ketua), kami mengerti apa yang kaumaknudkan. Kamipun menerima tugas untuk mencari orang-orang tertentu dan kami sama sekali tidak ingin mengganggu, apa lagi memusuhi Kun-lun-pai selama Kun-lun-pai tidak mencampuri urusan kami. Kalau beberapa hari yang lalu kami terpaksa memberi hajaran kepada dua orang murid Kun-lun-pai, hal itu terjadi karena dua orang murid itu mencarapuri urusan kami yang tidak ada sangkut-pautnya dengan mereka. Namun, kami masih memandang muka Pai-cu dan nama besar Kun-lun-pai, kalau tidak demikian, apakah kiranya dua orang murid itu sekarang akan masih tinggal hidup?"
Dalam kalimat terakhir ini jelas sekali Thay Ku Lama menonjolkan kepandaian mereka dan meremehkan kepandaian murid Kun-lun-pai, juga mengandung pandangannya yang congkak.
"Lama yang sombong!"
Thian Khi Tosu berseru geram.
"Tentu saja dua orang murid kami itu bukan lawan kalian karena mereka hanyalah murid kami tingkat tiga yang masih hijau! Coba yang kauhadapi itu murid-murid utama Kun-lun-pai atau kami sendiri, belum tentu akan dapat mengalahkan dengan semudah itu!"
"Omitohud....! Siapakah yang sombong, kami ataukah Kun-lun-pai? Sungguh, kamipun ingin melihat apakah benar Kun-lun-pai sedemikian tangguh dan lihainya sehingga berani mencampuri urusan kami para utusan Tibet!"
Thian Khi Toou yang memang berwatak keras itu segera menjawab, dengan suara keras.
"Bagus! Lima Harimau Tibet menantang kami dari Kun-lun-pai? Kami bukan mencari permusuhan. Akan tetapi kalau ditantang, siapapun juga akan kami hadapi!"
"Omitohud....!"
Thay Si Lama, orang ke dua dari Lima Harimau Tibet itu berseru.
"Kalau begitu majulah dan mari kita buktikan siapa yang lebih unggul di antara kita!"
"Manusia sombong! Aku yang akan maju mewakili Kun-lun-pai!"
Thian Khi Tosu hendak melangkah maju, akan tetapi tiba-tiba lima belas orang murid utama dari Kun-lun-pai yang terdiri dari pria berusia antara tiga puluh sampai lima puluh tahun, sudah berlompatan ke depan dan seorang di antara mereka berkata kepada Thian Khi Tosu.
"Harap suhu jangan merendahkan diri maju sendiri. Ji-wi suhu (guru berdua) adalah tuan-tuan rumah, pimpinan Kun-lun-pai. Masih ada teecu sekalian yang menjadi murid, perlukah ji-wi suhu maju sendiri? Biar kami yang menghadapi lima orang Lama sombong ini!"
Thian Khi Tosu hendak membantah, akan tetapi suhengnya, Thian Hwat Tosu ketua Kun-lun-pai menyentuh lengannya dan mencegah sehingga wakil ketua itu membiarkan lima belas orang murid utama itu maju.
Kalau lima belas orang murid utama itu maju, maka mereka bahkan lebih kuat dari pada dia atau suhengnya sekalipun.
Lima belas orang murid itu merupakan murid utama yang ilmu kepandaiannya sudah matang dan tinggi, apalagi kalau mereka maju bersama.
Mereka itu sudah menciptakan suatu ilmu, dibantu oleh petunjuk guru-guru mereka , yaitu ilmu dalam bentuk barisan yans dinamakan Kun-lun Kiam-tin (Barisan Pedang Kun-lun).
Dengan barisan pedang ini, mereka dapat menjadi suatu pasukan yang amat kuat sehingga ketika diuji, bahkan dua orang pimpinan Kun-lun-pai itu sendiri terdesak dan tidak mampu mengatasi ketangguhan Kun-lun Kim-tin!
Inilah sebabnya mengapa Thian Hwat Tosu mencegah sutenya turun tangan sendiri.
Para murid itu cukup tangguh, bahkan dapat dijadikan batu ujian untuk mengukur sampai di mana kepandaian musuh!
Lima belas orang murid utama Kun-lun-pai itu lalu berlarian menuju ke tempat terbuka, di atas padang rumput yang lapang dan di situ mereka membentuk barisan berjajar dengan pedang di tangan masing-masing, kelihatan gagah perkasa dan rapi.
"Lima Harimau Tibet, kami telah siap sedia! Majulah kalau kalian memang hendak memusuhi Kun-lun-pai!"
Bentak murid tertua yang usianya sudah hampir lima puluh tahun dan menjadi kepala barisan pedang itu, berdiri di ujung kanan.
Melihat ini, lima orang pendeta Lama tersenyum mengejek dan merekapun melangkah maju menghadapi mereka, dengan berjajar.
Setelah mereka berhadapan, lima belas orang murid pertama Kun-lun-pai itu lalu bergerak mengikuti aba-aba yang dikeluarkan oleh pemimpin pasukan, dan mereka sudah mengepung lima orang pendeta Lama.
Gerakan kaki mereka ketika melangkah amat tegap dan dengan ringan pula, menunjukkan bahwa mereka telah berlatih matang.
Melihat ini, lima orang pandeta Lama itupun bergerak membuat suatu bentuk sagi lima dan berdiri saling membelakangi.
Bentuk seperti ini memang paling kokoh kuat untuk pembelaan diri, karena mereka berlima dapat menghadapi pengeroyokan banyak lawan dengan cara saling melingungi dan tidak akan dapat diserang dari belakang, Bahkan serangan dari samping dapat mereka hadapi bersama rekan yang berada di sampingnya.
Pendeknya, pengepungan lima belas orang murid Kun-lun-pai itu berkurang banyak bahayanya dengan kedudukan lima orang Lama seperti itu.
Lima belas orang murid Kun-lun-pai itu adalah ahli silat yang sudah pandai.
Mereka tidak berani memandang ringan lima orang lawan mereka.
Mereka tahu bahwa kalau bertanding satu lawan satu, di antara mereka tidak akan ada yang mampu menandingi pendeta-pendeta Lama itu yang memiliki tingkat kepandaian lebih tinggi dari mereka, bahkan mungkin lebih tinggi dari pada tingkat ilmu kepandaian guru-guru mereka, melihat demonstrasi yang mereka perlihatkan tadi.
Namun, mereka mengandalkan keampuhan barisan Kun-lun Kiam-tin dan begitu pimpinan mereka memberi aba-aba lima belas orang itu bergerak, mulai dengan penyerangan mereka yang serentak!
Memang hebat gerakan para murid Kun-lun-pai ini.
Pedang mereka berkelebatan seperti kilat menyambar-nyambar.
Ilmu pedang Kun-lun-pai memang terkenal hebat, dan kini mereka bukan hanya mengandalkan ilmu pedang masing-masing, bahkan diperkuat oleh kerapian barisan yang teratur sehingga begitu menyerang, kekuatan mereka terpadu, bagaikan gelombang samudera yang menerjang ke depan dengan dahsyatnya!
Lima orang pendeta Lama itu telah siap siaga.
Dengan gerakan cepat sehingga sukar diikuti pandang mata, tangan mereka bergerak dan tahu-tahu mereka telah memegang senjata masing-masing, Thay Ku Lama si muka codet sudah memegang sebatang golok tipis yang tadinya disembunyikannya di balik jubah merah yang longgar dan panjang itu.
Thay Si Lama si muka bopeng sudah memegang sebatang cambuk hitam seperti cambuk penggembala lembu.
Thay Pek Lama si muka pucat sudah memegang sepasang pedang yang tipis dan mengeluarkan cahaya kehijauan.
Thay Hok Lama si mata satu sudah memegang sebatang rantai baja yang tadi dipakai sebagai sabuk, sedangkan Thay Bo Lama sudah memegang sebatang tombak.
Lama kurus kering ini memiliki sebatang tombak yang dapat dilipat dan ditekuk menjadi tiga bagian dan diselipkan di pinggang tertutup jubah.
Kini, tombak itu diluruskan dan menjadi sebatang tombak yang panjangnya sama dengan tubuhnya.
Dalam penyerangan pertama yang serentak dilakukan oleh para murid Kun-lun-pai kepada lima orang lawan mereka itu membuat setiap orang pendeta Lama diserang oleh tiga orang lawan.
Mereka berlima tidak menjadi gugup dan mereka pun menggerakkan senjata mereka menangkis.
Terdengar suara nyaring berdenting-denting disusul bunga-bunga api berpijar menyilaukan mata ketika lima belas batang pedang itu tertangkis oleh senjata lima orang pandeta Lama.
Karena memang tenaga sin-kang dari para pendeta Lama itu lebih kuat, maka banyak di antara pedang yang menyerang itu terpental keras dan pemegangnya merasa betapa lengan mereka tergetar hebat!
Namun, pimpinan mereka memberi aba-aba dan mereka melanjutkan serangan sampai bergelombang baberapa kali, namun selalu dapat ditangkis oleh lima orang pendeta Lama, bahkan yang terakhir kalinya, lima orang pendeta Tibet itu mengerahkan tenaga mereka, membuat lima belas orang penyerang itu terdorong ke belakang bahkan ada yang hampir jatuh setelah terhuyung-huyung.
Kesempatan ini dipergunakan oleh lima Harimau Tibet itu untuk membalas serangan pihak lawan yang jumlahnya tiga kali lebih banyak dari jumlah mereka itu.
Thay Ku Lama yang merupakan orang pertama dari Lima Harimau Tibet, memutar goloknya den golok itu seperti kilat menyambar-nyambar, menyerang siapa saja di antara pihak lawan terdekat.
Thay Si Lama, si muka bopeng, juga menggerakkan cambuknya dan terdengar cambuk itu meledak-ledak di atas kepala para murid Kun-lun-pai.
Thay Pek Lama memutar sepasang padangnya yang berubah menjadi dua gulungan sinar terang.
Thay Hok Lama juga memutar rantai baja di tangannya dan senjata istimewa ini menyambar-nyambar ke sekelilingnya, seperti jari-jari maut.
Orang ke lima, Thay Bo Lama yang kurus kering itu menggerakkan tombaknya dan terdengarlah suara mendengung-dengung karena si kurus kering ini memiliki tenaga raksasa.
Biarpun lima belas orang murid utama Kun-lun-pai dapat pula menghindarkan diri dari cengkeraman maut yang disebarkan oleh Tibet Ngo-houw dengan cara saling melindungi dan saling membantu, namun mereka terdesak hebat dan hanya mampu mempertahankan diri saja terhadap serangan lima orang pendeta Lama yang bertubi-tubi itu datangnya.
Jelas nampak pertempuran yang tidak seimbang sama sekali.
Lewat dua puluh jurus lebih, dari lima belas orang murid utama Kun-lun-pai itu, hanya sepuluh orang yang masih mampu melawan, karena yang lima orang sudah terjungkal roboh terkena sambaran senjata lawan.
Sepuluh orang ini mempertahankan diri mati-matian, namun kalau dilanjutkan, jelas bahwa merekapun akan roboh seperti yang dialami lima orang saudara mereka.
Tiba-tiba berkelebat bayangan dua orang dan terdengar bentakan nyaring.
"Tahan senjata!"
Ketika sepuluh orang murid utama Kun-lun-pai melihat bahwa yang maju adalah kedua orang guru mereka, maka merekapun berloncatan ke belakang dan sebagian segera menolong lima orang saudara mereka yang tadi terluka.
Lima orang pendeta Lama juga menahan senjata mereka dan kini mereka memandang dengan senyum mengejek kepada dua orang pimpinan Kun-lun-pai itu.
"Pinto Thian Khi Tosu dan suheng Thian Hwat Tosu menantang kalian untuk mengadu kepandaian seorang lawan seorang!"
Bentak Thian Khi Tosu yang bertubuh besar itu dengan garang. Mendengar (Lanjut ke
Jilid 05) Kisah Pendekar Bongkok (Serial 06 -Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 05 ini, lima orang pendeta Lama itu saling pandang lalu Thay Ku Lama tertawa sambil melangkah maju.
"Omitohud....! Dua orang tosu pimpinan Kun-lun-pai sungguh mau menang dan mau enak sendiri saja! Tadi, mereka membiarkan lima belas orang muridnya untuk mengeroyok kami berlima, sekarang bicara tentang mengadu kepandaian seorang lawan seorang!"
Wajah Thian Khi Tosu menjadi marah.
"Bagus! Jangan kalian mengira bahwa pinto takut menghadapi pengeroyokan. Kalau kalian berlima hendak maju mengeroyok, silakan!"
"Sute, harap tenangkan hatimu!"
Tiba-tiba Thian Hwat Tosu menegur sutenya dan ketua Kun-lun-pai ini melangkah maju dan memberi hormat kepada lima orang Lama dari Tibet itu.
"Siancai.... pinto berdua mohon maaf kepada Ngo-wi. Maafkan para murid kami tadi yang lancang turun tangan, mengeroyok kepada Ngo-wi. Akan tetapi, mereka itu hanyalah orang-orang muda yang kurang pengalaman dan Terimakasih atas pelajaran yang Ngo-wi berikan kepada mereka. Pinto berdua sute yang kebetulan menjadi pimpinan Kun-lun-pai, bertanggung jawab terhadap semua urusan Kun-lun-pai. Agar pertentangan antara Ngo-wi dan kami tidak berlarut-larut, biarlah kami berdua sebagai pimpinan Kun-lun-pai mewakili perkumpulan kami untuk menentukan apakah Kun-lun-pai masih mampu mempertahankan kedaulatannya di daerah Kun-lun-san ini. Kalau kami ternyata tidak mampu menandingi Ngo-wi dalam pertandingan yang adil, satu lawan sa-tu, biarlah kami akan mundur dan selanjutnya Kun-lun-pai tidak lagi akan menghalangi semua sepak terjang Ngo-wi."
Ucapan yang panjang itu terdengar halus, namun mengandung tantangan, juga teguran, disamping janji.
"Omitohud.... Bagus sekali kalau ketua Kun-lun-pai sendiri yang berjanji begitu. Memang cukup adil! Kita golongan persilatan memang hanya mempunyai satu aturan, yaitu siapa yang lebih kuat dia berhak menentukan peraturan. Kalau kami kalah oleh ketua Kun-lun-pai, biarlah kami angkat kaki dari sini, kecuali kalau diantara kami masih ada yang mampu menandingi ketua Kun-lun-pai. Thay Si sute, temani aku untuk bermain-main dengan dua orang tosu ini sebentar."
Thay Si Lama, si muka bopeng, sambil tersenyum melangkah maju mendampingi suhengnya, yaitu They Ku Lama, sambil melintangkan cambuknya di depan dada.
Thay Ku Lama sendiri sudah sejak tadi mempersiapkan golok yang dipegang terbalik dan bersembunyi di balik lengannya.
"Ha-ha-ha."
Orang ke dua dari Tibet Ngo-houw yang mukanya bopeng ini tertawa.
"Ini baru pertandingan yang menarik, suheng, tidak main keroyok seperti tadi."
Thian Khi Tosu menghadapi Thay Si Lama dan Thay Si Lama yang melihat wakil ketua Kun-lun-pai ini tidak bersenjata, segera meletakkan cambuknya di atas kepala dan berseru.
"Tosu, keluarkan senjatamu!"
Akan tetapi sebelum kedua pihak bergerak menyerang, Pek In Tosu yang tadi masih duduk bersila bersama dua orang kawannya, kini sudah bangkit berdiri dan sekali tubuhnya bergerak, tubuh itu sudah melayang dan berdiri di antara dua orang tosu dan dua orang Lama itu.
Dangan sikap tenang dan wajah ramah dia menghadapi dua orang tosu Kun-lun-pai dan suaranya terdengar lembut.
"Toyu, pinto harap toyu dapat menjaga nama baik Kun-lun-pai. Kami pernah mendengar bahwa Kun-lun-pai adalah perkumpulan orang-orang gagah yang tidak mencampuri urusan orang lain. Kalau sekali ini Kun-lun-pai mencampuri urusan para Lama dari Tibet, berarti Kun-lun-pai membahayakan nama baiknya sendiri. Ketahuilah bahwa para pendeta Lama dari Tibet ini datang ke Kun-lun-pai sama sekali bukan untuk memusuhi Kun-lun-pai, melainkan untuk mencari kami yang dulu disebut Himalaya Sam Lojin. Karena kami dari Himalaya pindah ke Kun-lun-san ini untuk mencari tempat sunyi dan damai, maka mereka mengejar ke sini dan sama sekali tidak ada sangkut pautnya dangan pihak Kun-lun-pai. Kalau sekarang Kun-lun-pai mencampuri, bukankah itu berarti Kun-lun-pai terlalu iseng dan membahayakan nama baiknya sendiri? Karena itu, kami bertiga minta agar Kun-lun-pai suka mundur dan menutup semua pintu, tidak membiarkan anak muridnya mencampuri urusan orang luar."
Mendengar ucapan kakek berpakaian putih dan berambut putih ini, dua orang ketua Kun-lun-pai saling pandang.
Ucapan itu memang tepat dan benar.
Dua orang murid tingkat tiga mereka memang bentrok dangan dua orang dari Lima Harimau Tibet, akan tetapi hal itu terjadi karena murid-murid itu mencampuri urusan para pendeta Lama.
Kalau kini pertandingan dilanjutkan dan mereka sampai kalah, suatu hal yang amat boleh jadi mengingat saktinya lima orang pendeta Lama itu, nama besar Kun-lun-pai akan jatuh!
Sebaliknya andaikata mereka menang, berarti mereka menanam bibit permusuhan dangan para pendeta Lama di Tibet dan hal itu sungguh amat berbahaya sekali!
Para pendeta Lama di bawah Dalai Lama bukan hanya merupakan sekelompok pemimpin agama yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, bahkan juga menjadi pucuk pimpinan negara itu sendiri!
Bermusuhan dangan para pendeta Lama sama dengan bermusuhan dangan seluruh rakyat Tibet!
Jelaslah bahwa ucapan Pek In Tosu tadi menyadarkan mereka akan dua kemungkinan yang sama-sama amat merugikan Kun-lun-pai itu.
Menang atau kalah, akibatnya amat buruk bagi Kun-lun-pai dan sungguh tidak sepadan dangan sebabnya, yang pada hakekatnya juga salah murid mereka sendiri.
"Siancai....!"
Kata Thian Hwa Tosu sambil menjura.
"Sungguh ucapan yang amat bijaksana, dan kami akan menjadi orang-orang yang tidak mengenal budi kalau tidak mentaatinya. Terimakasih atas nasihat itu, locianpwe. Dan kepada para Lama, kami mohon maaf dan sejak saat ini, Kun-lun-pai tidak lagi mancampuri urusan kalian. Sute, ajak semua murid untuk kembali ke asrama!"
Ucapan terakhir ini merupakan perintah dan biarpun mukanya merah karena penasaran dan marah, Thian Khi Tosu tidak berani membantah perintah suhengnya.
Diapun mengajak semua murid untuk pergi mengikuti ketua mereka, membawa mereka yang terluka, pulang ke benteng Kun-lun-pai dan selanjutnya pintu banteng atau asrama itu ditutup rapat-rapat!
Setelah semua orang Kun-lun-pai pergi, Thay Ku Lama yang memimpin Tibet Ngo-houw itu tertawa.
"Ha-ha-ha, sungguh luar biasa! Himalaya Sam-lojin malah membantu kami sehingga pekerjaan kami menjadi lebih ringan menyingkirkan penghalang berupa Kun-lun-pai! Bagus sekali! Kamipun bukan orang-orang yang tidak ingat budi. Karena kalian telah memperlihatkan sikap baik, Sam-lojin, dengan menyadarkan Kun-lun-pai sehingga mereka tidak menentang kami, maka kamipun menawarkan jalan damai untuk kalian. Marilah kalian ikut dangan kami, sebagai tamu undangan agar kami hadapkan kepada yang mulia Dalai Lama di Tibet. Kami tidak akan menganggap kalian sebagai tawanan, melainkan tamu undangan. Bagaimana?"
Kini tiga orang kakek itu sudah bangkit berdiri semua dan Pek In Tosu juga tersenyum ramah ketika menjawab.
"Siancai....! Terimakasih atas niat baik itu. Akan tetapi sungguh sayang dan maafkan kami, Ngo-wi Lama, bahwa terpakna sekali kami tidak dapat menerima undangan terhormat itu."
Wajah They Ku Lama yang tadinya tersenyum, seketika berubah keruh dan alisnya berkerut, perutnya yang gendut itu bergerak-gerak menggelikan.
Akan tetapi siapa yang telah mengenalnya baik-baik, maklum betapa hebatnya perut gendut itu!
Yang membuat perut gendut itu bergerak-gerak seolah-olah di dalamnya ada bayi dalam kandungan itu, sebetulnya adalah ilmu pukulan Hek-bin Tai-hong-ciang itu, yang dilakukan sambil berjongkok dan perutnya mengeluarkan bunyi kok-kok seperti seekor katak besar!
"Hem, apakah yang memaksa kalian monolak undangan kami yang kami lakukan dengan merendahkan diri?"
Tanyanya dongan suara membentak. Pek In Tosu masih bersikap halus dan ramah.
"Pertama, kami adalah tiga orang yang sudah tua dan lemah, dan setua ini kami hanya ingin menikmati kehidupan yang tenang sehingga undangan terhormat itu tidak dapat kami terima karena kami tidak sanggup melakukan perjalanan sejauh itu ke Tibet. Ke dua, kami merasa tidak mempunyai urusan apapun dangan Dalai Lama, sehingga andaikata beliau mempunyai kepentingan dengan kami, sepatutnya Dalai Lama yang datang ke sini menemui kami, bukan kami yang diundang ke sana karena bagaimanapun juga, kami bukanlah anggautanya maupun rakyatnya. Nah, itulah sebabnya mengapa kami tidak dapat menerima undengan itu."
"Mau atau tidak, menerima atau menolak, kalian bertiga tetap harus ikut bersama kami ke Tibet!"
Bentak Thay Bo Lama, seorang di antara mereka yang tubuhnya kurus kering dan wataknya me-mang keras.
"Kalau perlu, kami menggunakan kekerasan!"
Pek In Tosu mengangguk-angguk sambil tersenyum dan mengelus jenggotnya.
"Siancai.... sudah kuduga demikian. Katakan saja bahwa kalian datang ini untuk membunuh kami, tidak perlu memakai banyak macam alasan."
"Benar! Kami memang hendak membunuh kalian!"
Bentak Thay Ku Lama yang sudah menerjang dengan goloknya, diikuti oleh empat orang adik seperguruannya yang mempergunakan senjata masing-masing.
Himalaya Sam Lojin tentu saja cepat mengelak dan terjadilah perkelahian mati-matian.
Akan tetapi, tiga orang kakek itu sama sekali tidak bersenjata.
Biarpun mereka adalah tokoh-tokoh besar dalam dunia persilatan dan memiliki ilmu kepandaian tinggi, pandai mempergunakan segala macam senjata namun sudah sejak belasan tahun mereka tidak pernah menyentuh senjata, apalagi membawa-bawa senjata.
Memikirkan tentang perkelahian sajapun tidak pernah.
Selain itu, juga bagi seorang yang sudah ahli benar dalam ilmu silat, menggunakan senjata ataukah tidak sama saja karena kaki tangan mereka sudah merupakan senjata yang paling ampuh.
Tiga orang kakek Himalaya ini sudah memiliki tingkat kepandaian yang amat tinggi, baik ilmu silatnya, maupun tenaga sakti mereka yang sudah matang.
Selain itu, juga mereka memiliki kekuatan batin yang mampu menghadapi sagala macam kekuatan sihir atau ilmu hitam.
Akan tetapi, mereka telah puluhan tahun tidak pernah berkelahi, tidak pernah mempergunakan ilmu-ilmunya untuk bertentangan apa lagi saling serang dengan orang lain.
Bahkan selama ini mereka hanya tekun memerangi semua nafsu sendiri dalam kerinduan mereka kepada Tuhan, keinginan mereka untuk kembali kepada "sumbernya", bagaikan titik-titik air yang ingin kembali ke lautan.
Maka, kini menghadapi serangan lima orang lawan yang sakti, mereka itu kurang gairah dan kurang semangat, hanya lebih banyak membela atau melindungi diri mereka sendiri saja, sama sekali tidak ada nafsu untuk merobohkan lawan walaupun andaikata ada nafsu itupun tidak akan mudah bagi mereka untuk merobohkan Tibet Ngo-houw.
Di lain pihak, lima orang pendeta Lama dari Tibet itupun merupakan orang-orang yang sudah matang ilmu kepandaian mereka.
Bukan hanya keahlian ilmu silat tingkat tinggi mereka miliki, akan tetapi juga tenaga sin-kang mereka amat kuat dan disamping itu, merekapun pandai ilmu sihir.
Thay Ku Lama memiliki pukulan Hek-in Tai-hong-ciang yang mengeluarkan tenaga dari pusat dasar perutnya yang gendut dan pukulannya ini amat berbahaya, selain kuat mampu merontokkan isi perut lawan, juga mengandung hawa beracun yang ganas.
Adapun orang ke dua, Thay Si Lama, disamping permainan cambuknya yang dahsyat, juga memiliki ilmu Sin-kun Hoat-lek, ilmu silat yang mengandung kekuatan sihir.
Orang ke tiga, Thay Pek Lama merupakan ahli sepasang pedang yang memiliki gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang luar biasa, membuat dia dapat bergerak seperti terbang saja.
Thay Hok Lama, orang ke empat yang bermata tunggal itu, selain berbahaya sekali permainan senjata rantai bajanya, juga merupakan seorang ahli racun yang mengerikan.
Kemudian orang ke lima, Thay Bo Lama, biarpun kurus kering, namun tenaganya raksasa dan dia pandai sekali memainkan senjata tombaknya.
Dan yang lebih daripada semua itu, ke lima orang Lama ini berkelahi penuh semangat, penuh gairah untuk merobohkan lawan.
Inilah yang membuat mereka berbahaya sekali.
Sebetulnya kalau dibuat perbandingan, tingkat kepandaian masing-massing hampir seimbang, namun pihak Himalaya Sam Lojin masih lebih tinggi.
Andaikata mereka itu bertanding satu lawan satu, kiranya tidak ada seorangpun dari para Lama itu mampu mengalahkan kakek-kakek Himalaya itu.
Akan tetapi, mereka bertanding berkelompok, lima melawan tiga sehingga Himalaya Sam Lojin dikeroyok, Dan seperti telah disebutkan tadi, tiga orang kakek itu kalah jauh dalam hal gairah dan semangat untuk merobohkan lawan.
Oleh karena itu, setelah melalui pertandingan selama puluhan jurus, tiga orang kakek Himalaya itu mulai nampak terdesak.
Di antara mereka bertiga, nampaknya hanyalah Pek Bin Tosu yang bermuka hitam, yang berkelahi dengan semangat, membalas setiap serangan lawan dengan serangan pula.
Memang, orang ke tiga dari Himalaya Sam Lojin ini terkenal memiliki watak yang keras, jujur dan terbuka, tidak seperti dua orang kakek lainnya yang lemah lembut, ramah dan halus.
Hanya Sie Liong seorang yang menyaksikan pertandingan yang amat hebat ini.
Anak berusia tiga belas tahun ini sejak tadi masih duduk bersila dan menonton dengan bengong.
Matanya tak berkedip sejak tadi, mulutnya ternganga.
Matanya yang tidak terlatih itu sukar untuk dapat mengikuti gerakan delapan orang kakek yang sakti itu.
Seolah-olah hanya melihat tari-tarian aneh yang dilakukan oleh delapan bayangan, tiga bayangan putih dan lima bayangan merah.
Bahkan kadang-kadang gerakan mereka itu demikian cepat sehingga yang nampak olehnya hanyalah warna putih dan merah berkelebatan sehingga dia tidak tahu apakah yang sedang mereka lakukan, dan kalau mereka itu berkelahi, diapun tidak tahu siapa yang unggul dan siapa pula yang terdesak.
Akan tetapi satu hal dia merasa pasti bahwa tiga orang kakek berpakaian putih itu adalah orang-orang yang baik.
Sedangkan lawan mereka, lima orang berpakaian merah adalah orang-orang yang jahat.
Otomatis hatinya condong berpihak kepada tiga orang kakek berpakaian putih walaupun dia tidak tahu bagaimana dia akan dapat membantu mereka.
Saking tertarik hatinya, penuh ketegangan dan kekhawatiran kalau-kalau tiga orang kakek yang didukungnya itu akan kalah, Sie Liong sampai lupa akan keadaan dtrinya sendiri.
Biarpun tiga orang kakek berpakaian putih itu telah berusaha untuk mengobatinya, namun dadanya yang sebelah kiri masih terasa nyeri dan napasnya kadang-kadang sesak.
Pukulan yang mengenai tubuhnya, sebetulnya hanya angin pukulannya saja, amatlah hebat dan menurut percakapan antara tiga orang kakek berpakaian putih itu dia mengerti bahwa dia telah terkena hawa pukulan beracun yang amat ampuh dari seorang di antara lima orang pendeta Lama itu.
Pertempuran itu kini sudah mencapai puncaknya.
Delapan orang kakek itu agaknya sudah mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaian mereka, yang tiga orang untuk membela diri, yang lima orang berkeras hendak merobohkan mereka.
Kalau tadi Sie Liong dibuat pusing oleh bayangan putih dan merah yang barkelebatan, kini dia terpaksa bangkit berdiri dan karena dia masih lemah dan kepalanya pening, dia terhuyung.
Namun dia tetap memaksa dirinya melangkah menjauhkan diri karena ada angin pukulan menyambar-nyambar dangan amat dahsyatnya.
Tidak urung, masih ada juga angin dahsyat menyambar dan tak dapat dicegah lagi, tubuh Sie Liong terkena sambaran angin dahsyat ini dan diapun terjungkal dan terguling-guling!
Tubuhnya berhenti karena tertahan oleh sesuatu.
Ketika dia membuka matanya untuk memandang, mata yang melihat segala sesuatu agak kabur, dia malihat bahwa dia berhenti terguling-guling karena tertahan oleh sepasang kaki dan sebatang tongkat butut!
Dia membelalakkan matanya agar dapat memandang lebih jelas lagi.
Memang sepasang kaki, akan tetapi kaki yang buruk sekali.
Kaki telanjang, jari-jari kakinya jelek, kotor, kasar dan merenggang seperti jari kaki ayam.
Makin ke atas, semakin jelek karena kaki itu hanya kulit kering kerontang membungkus tulang dan sampai ke betis mulai tertutup celana yang terbuat dari kain kasar dan penuh tambalan pula.
Ketika Sie Liong menengadah, dia melihat bahwa sepasang kaki itu adalah milik seorang kakek berpakaian jembel yang wajahnya buruk, yang menyeringai dengan mulut yang tidak bergigi lagi, rambutnya riap-riapan berwarna putih, sepasang matanya mengeluarkan sinar aneh sekali.
Sie Liong terkejut dan berusaha untuk bangkit berdiri, akan tetapi dia terguling lagi dan roboh.
Maka diapun lalu duduk saja bersila, tidak memperduilkan lagi apakah dia akan terancam ataukah tidak.
"Heh-heh-heh....!"
Kakek itu terkekeh geli dan tongkat bututnya bargerak ke sekeliling tubuh Sie Liong, membuat guratan di atas tanah mengelilingi Sie Liong dan nampaklah garis yang cukup dalam, lingkaran dangan garis tengah dua meter lebih.
"Engkau tinggallah saja di dalam ruangan ini dan siapapun tidak akan mampu mengganggumu, anak bongkok!"
Sie Liong mendongkol.
Agaknya dia bertemu dengan seorang jembel tua yang gila.
Akan tetapi kepalanya terlalu pening, tubuhnya sakit-sakit karena terguling-guling tadi dan diapun tidak menjawab, hanya membuka mata mononton pertempuran yang masih berjalan terus.
Agaknya kakek jembel itupun kini tidak memperdulikan dia, melainkan ikut pula menonton sambil kadang-kadang mengeluarkan suara terkekeh aneh.
Dia berdiri pula di dalam lingkaran itu, di sebelah belakang Sie Liong.
Ketika kakek itu terkekeh-kekeh geli menonton pertempuran, tiba-tiba Sie Liong merasa kepalanya, leher dan mukanya kejatuhan air.
Wah, hujankah?
Pikiran ini membuat dia menengadah, akan tetapi sungguh sial, pada saat itu, entah mengapa, si kakek jembel tertawa semakin keras.
Sie Liong basah semua!
Kiranya hujan itu turun dari mulut si kakek.
Karena mulut itu tidak bergigi lagi, agaknya ketika tertawa-tawa, maka air ludahpun memercik keluar dari mulut yang tidak dilindungi pagar gigi lagi itu!
Sie Liong makin mendongkol.
Dia mengusap muka, leher dan kepalanya, menggunakan lengan bajunya, dan biarpun kepalanya pening, dia memaksa diri untuk bangkit dan untuk pergi menjauhi kakek gila itu.
Akan tetapi, tiba-tiba saja kepalanya diketuk dengan tongkat.
"Tokk!"
Dan diapun jatuh terduduk kembali!
Ketukan dengan tongkat itu tidak mendatangkan rasa nyeri, akan tetapi seolah-olah kepalanya ditekan oleh sesuatu yang amat berat dan kuat, yang membuatnya jatuh lagi.
Beberapa kali dia mencoba bangun, namun setiap kali kepalanya diketuk tongkat!
Akhirnya, biar dia marah dan mendongkol, Sie Liong duduk dan tidak lagi bangkit, apalagi karena pertempuran itu kini mulai mendekati tempat dia duduk di atas tanah dalam lingkaran garis itu.
Memang terjadi perubahan dalam pertempuran tingkat tinggi itu.
Akhirnya Himalaya Sam Lojin kewalahan juga menghadapi desakan lima orang lawan mereka yang mempergunakan segala daya, ilmu silat, sihir, bahkan racun, untuk mengalahkan mereka.
Mereka bertiga terdesak dan sambil mengelak ke sana-sini kadang-kadang menangkis dengan kebutan ujung lengan baju atau juga dengan tangan mereka yang kebal, mereka terus mundur.
Tiba-tiba terdangar bentakan-bentakan nyaring keluar dari mulut para pendeta Lama dan Sie Liong melihat betapa tiga orang kakek berpakaian putih terhuyung dan ada tanda merah di pakaian mereka yang putih.
Darah!
Tiga orang kakek itu agaknya terluka!
Akan tetapi, mereka masih terus melawan.
Kini pertempuran makin mendekati garis lingkaran dan tiba-tiba, seorang di antara kakek berpakaian putih meloncat dan kakinya menginjak sebelah dalam lingkaran.
Tiba-tiba tongkat butut kakek jembel itu bergerak mendorong punggung kakek yang "melanggar"
Lingkaran itu dan tubuh kakek berpakaian putih itupun tordorong keluar!
Ketika para anggauta Tibet Ngo-houw dengan penuh semangat dan nafsu mendesak terus, tiga orang kakek berpakaian putih itu berlompatan dan agaknya mereka tidak berani menginjak lingkaran!
Tidak demikian dengan para pendata Lama.
Ada dua orang yang tanpa sengaja menginjak garis lingkaran, yaitu Thay So Lama dan Thay Hok Lama.
Begitu melihat Thay So Lama, si kurus kering yang bertenaga raksana itu memasuki lingkaran, kakek jembel lalu menggerakkan tongkat bututnya, seperti tadi mendorong dan tubuh pendeta Lama itupun terdorong keluar.
Pada saat itu, Thay Hok Lama juga masuk ke dalam lingkaran, kembali dia tordorong keluar oleh tongkat butut.
Keduanya menoleh dan Thay Bo Lama marah sekali.
Dia memutar tombaknya dan karena dia mengira bahwa anak bongkok itu yang usil tangan, tombaknya menyerang ke arah Sie Liong.
Bagaikan anak panah meluncur dari busurnya, tombak itu menusuk ke arah leher Sie Liong.
Anak ini tidak tahu bahwa bahaya maut mengancam nyawanya.
"Trakkk!"
Tombak itu terpental ketika bertemu dengan tongkat butut.
Thay Bo Lama terbelalak, tidak mengira sama sekali bahwa ada seorang kakek jembel yang mampu membuat tombaknya terpental dengan tangkisan tongkat bu-tut.
Padahal, dia memiliki tenaga gajah yang sukar dilawan.
Pada saat itu, Thay Hok Lama yang juga marah, mengayun rantai bajanya ke arah kakek jembel.
Kakek jembel itu terkekeh keras dan kembali kepala Sie Liong kehujanan dan begitu kakek jembel itu menggerakkan tangan kiri, ujung rantai baja itu sudah ditangkap dan ditariknya.
Thay Hok Lama tiba-tiba merasa ada tenaga dahsyat membetotnya sehingga tertarik mendekat dan tongkat butut itu menyambar ke arah kepalanya.
"Tokkk!"
Kepala Thay Hok Lama yang gundul kena dikemplang dan seketika muncul telur ayam di kepala yang gundul itu!
Thay Hok Lama meraba kepalanya yang dikemplang itu dengan tangan kiri dan diapun terbelalak keheranan.
Kepalanya sudah kebal, bahkan dibacok golok saja tidak akan terluka.
Kenapa kini dikemplang sebatang tongkat butut saja dapat menjadi bengkak dan menjendol sebesar telur ayam?
Nyeri sekali memang tidak, akan tetapi hatinya yang amat nyeri karena dia merasa dihina.
Thay Bo Lama yang melihat rekannya dikemplang, menjadi marah dan biarpun tadi dia terkejut oleh tangkisan tongkat butut, kini dia menyerang lagi dengan tusukan tombaknya ke arah perut kakek jembel.
"Waduh, jebol perut ini...."
Teriak kakek jembel dan tombak itu benar-benar mengenai perutnya dan tembus!
Akan tetapi, tidak ada darah keluar, tidak ada usus keluar dan tiba-tiba kepala Thay Bo Lama kena dikemplang tongkat butut.
"Takkk!"
Dan seperti juga kepala Thay Hok Lama, kini kepala Thay Bo Lama yang gundul muncul pula sebuah telur ayam!
Ketika Thay Bo Lama mengerahkan kekuatan batinnya memandang, ternyata tombaknya sama sekali tidak menembus perut kakek jembel itu, melainkan menembus baju jembel yang kedodoran dan tadi hanya merupakan suatu permainan sihir saja.
Anehnya, kenapa dia yang ahli sihir sampai dapat dipermainkan seperti itu?
Sementara itu, tiga orang pendeta Lama yang kini menghadapi tiga orang kakek Himalaya, tentu saja merasa berat kalau melawan seorang dengan seorang.
Dua orang rekannya meninggalkan mereka dan sibuk mengurusi kakek jembel!
"Si-sute dan Ngo-sute (adik seperguruan ke empat dan ke lime), hayo bantu kami!"
Teriak Thay Ku Lama.
Dua orang itu, Thay Hok Lama dan Thay Bo La mengelus-elus kepala mereka yang benjol, akan tetapi mereka sadar bahwa mereka berhadapan dengan seorang jembel yang amat sakti, maka merekapun kini hendak membantu rekan-rekan mereka yang agaknya kewalahan juga menghadapi Himalaya Sam Lojin.
Akan tetapi pada saat itu, terdangar seruan yang halus.
"Siancai....! Tidak malukah kalian ini lima orang pendeta yang mestinya menjahui kekerasan, kini malah mempergunakan kekeranan untuk menyerang orang lain?"
Lima orang pendeta Lama itu terkejut karena suara yang halus itu mengandung wibawa yang amat besar, bahkan mengandung getaran tenaga khi-kang yang terasa menggetarkan jantung, maka merekapun berloncatan mundur untuk mamandang siapa yang muncul itu.
Kiranya seorang kakek tua renta, usianya tentu sudah tujuh piluh lima tahun, rambutnya putih semua riap-riapan, kumis dan jenggotnya juga putih, tubuhnya tinggi kurus dan tegak, wajahnya segar, pakaiannya berwarna kuning yang hanya dilibatkan dan dililitkan pada tubuhuya, tangan kanannya memegang sebatang tongkat butut.
"Supek....!"
Himalaya Sam Lojin cepat memberi hormat kepada kakek itu.
"Heh-heh-heh, kalau suheng yang muncul, semua akan menjadi beres penuh damai, heh-heh-heh!"
Kakek jembel berseru sambil terkekeh dan kembali Sie Liong kehujanan! Himalaya San Lojin memberi hormat kepada kakek jembel itu.
"Terimakasih atas bantuan susiok!"
"Heh-heh, siapa yang bantu siapa? Aku hanya membuat ruangan untuk anak bongkok ini, ternyata ada Lama jubah merah berani melanggar, tentu saja kukemplang kepalanya, heh-heh!"
Lima Harimau Tibet terkejut bukan main.
Mereka belum mengenal Pek-sim Sian-su, kakek berpakaian kuning itu, dan juga tidak mengenal Koay Tojin, kakek jembel yang aneh itu, akan tetapi mendengar bahwa dua orang itu adalah supek (uwa perguruan) dan susiok (paman perguruan) dari Himalaya Sam Lojin, tentu saja mereka merasa gentar.
Baru Himalaya Sam Lojin saja sudah merupakan lawan yang sukar dirobohkan, apalagi muncul paman guru dan uwa gurunya!
Apa lagi Thay Hok Lama dan Thay Bo Lama yang masih merasa bekas ketukan tongkat pada kepala mereka yang menjadi benjol.
Masih terasa berdanyutan kepala itu!
"Kalian ini para tosu sombong selalu menentang kami!"
Bentak Thay Ku Lama dengan marah, akan tetapi juga gentar untuk turun tangan.
"Siancai....!"
Pek-in Tosu yang terluka pundaknya, berdarah sedikit, berkata sambil menarik napas panjang.
"Thay Ku Lama, bukankah omonganmu itu sengaja kauputar-balikkan? Sejak kapan kami memusuhi kalian? Siapakah yang menyerang, membunuhi para pertapa yang tidak bersalah apapun di Himalaya? Kami sudah mengalah, mengungsi ke Kun-lun-san. Siapa pula yang mengundang kalian datang untuk menangkapi bahkan mengancam untuk membunuh kami dan para pertapa di sini pula?"
"Kami hanya menerima perintah dari Yang Mulia Dalai Lama!"
Bentak Thay Ku Lama.
"Kami harus menangkap Himalaya Sam Lojin untuk mempertanggung-jawabkan pemberontakan dan pembunuhan yang dilakukan mendiang guru kalian!"
"Siancai....!"
Pek-sim Sian-su berkata, suaranya halus namun kembali lima orang Lama itu bergidik kareng isi dada mereka tergetar hebat.
Mereka terpaksa mencurahkan perhatian dan me-ngerahkan tenaga untuk melindungi diri sambil memandang kepada kakek tinggi kurus itu.
"Sungguh aneh sekali! Mendiang sute menentang para Lama yang hendak memaksa seorang anak dusun dan hendak diculik. Dalam pertempuran itu, tiga orang Lama tewas. Apa anehnya dalam hal itu? Kalau sute kalah, tentu dia yang tewas! Dan anak yang dilindungi mendiang sute itu adalah Dalai Lama yang sekarang! Bagaimana mungkin dia yang menyuruh kalian untuk menangkapi atau membunuh murid-murid sute? Sungguh janggal!"
Mendengar ini, lima orang Lama itu saliag pandang. Kemudian Thay Ku Lama berseru.
"Kami adalah utusan Dalai Lama akan tetapi telah gagal. Biarlah kami akan melapor kepada beliau dan kalian tunggu saja pembalasan dari kami!"
Setelah berkata demikian, Thay Ku Lama berkelebat pergi dikuti oleh empat orang adik seperguruannya.
"Heh-heh-heh, suheng, kenapa sampai sekarang engkau masih menjadi seorang yang lemah? Anjing-anjing itu gila dan membahayakan, bagaimana kalau aku mewakili suheng mengejar dan membasmi mereka?"
Kata Koay Tojin.
Kakek ini adalah sute (adik seperguruan) dari Pek-sim Sian-su, akan tetapi kalau Pek Sim Sian-su hidup sebagai seorang yang memperdalam kemajuan jiwanya, hidup sebagai seorang yang membersihkan diri lahir batin bahkan mengasingkan diri dari keramaian duniawi, sebaliknya Koay Tojin suka berkeliaran dan memang ada kelainan pada dirinya.
Dia dikenal sebagai seorang yang sinting!
Pada hal dalam ilmu kepandaian silat maupun kekuatan sihir, dia tidak kalah dibandingkan suhengnya itu.
Mungkin justeru karena dia terlampau banyak mempelajari ilmu sihir dan gaib, terlalu dalam menjenguk ke dalam rahasia kegaiban, dan batinnya tidak kuat, maka dia menjadi sinting seperti itu.
Hidupnya berkeliaran seperti jembel dan kadang-kadang melakukan hal aneh-aneh yang tidak lumrah.
Dia tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap, berkeliaran sampai jauh ke empat penjuru dan muncul secara tiba-tiba saja tanpa berita lebih dulu.
Akan tetapi diapun tidak pernah menonjolkan diri sehingga jarang ada yang mengenalnya sebagai seorang sakti, lebih dikenal sebagai seorang sinting.
"Sute, engkaupun sampai sekarang masih belum menanggalkan sikapmu yang ugal-ugalan. Siapakah dirimu ini maka engkau mempunyai niat untuk membunuh orang? Apakah engkau tidak melihat bahwa tidak ada perbedaan antara engkau dan mereka?"
"Heh-heh-heh, heei, anak bongkok. Engkau dengar itu? Bukankah pendirian suheng itu aneh sekali? Tadi dia sendiri datang, dan kalau lima ekor monyet gundul itu tidak pergi, aku yakin dia akan turun tangan melindungi tiga orang murid keponakan yang baik ini dan akan mengalahkan mereka berlima. Akan tetapi sekarang, coba dangar, dia berceramah menguliahi aku agar aku tidak membunuh lima orang Lama itu! Heh-heh-heh, lelucon yang tidak lucu bukan?"
Biarpun jembel tua itu nampak ugal-ugalan, namun diam-diam Sie Liong membenarkan pendapatnya.
Maka diapun lupa diri dan sambil memandang kepada kakek berpakaian kuning itu, dia berkata.
"Memang benar, kek. Lima orang pendeta itu tadi jahat bukan main, lebih jahat karena mereka itu berjuluk pendeta. Membasmi mereka merupakan kewajiban, karena akan menolong manusia dari ancaman kejahatan mereka. Andaikata aku kuat, tentu aku akan membasmi mereka!"
"Siancai.... Siapakah bocah ini?"
Tanya Pek-sim Sian-su kepada Himalaya Sam Lojin.
Pek In Tosu lalu menceritakan tentang Sie Liong, seorang bocah gelandangan yang pernah menyelamatkan dirinya secara tanpa disengaja ketika dia diserang oleh dua orang Lama, kemudian betapa bocah itu terkena pukulan beracun dari Thay Ku Lama dan mereka bertiga sudah berusaha mengobatinya namun gagal ketika tiba-tiba muncul Tibet Ngo-houw tadi.
"Kebetulan supek telah datang, maka mohon supek menyembuhkan penderitaannya,"
Kata Pek In Tosu kepada supeknya.
Memang aneh hubungan antara mereka itu.
Himalaya Sam Lojin berusia kurang lebih tujuh puluh tahun, sedangkan Pek-sim Sian-su lima tahun lebih tua, akan tetapi dia telah menjadi uwa perguruan mereka!
Hal ini adalah karena ketika mempelajari ilmu di Himalaya, Himalaya Sam Lojin sudah berusia tiga puluh tahun lebih dan guru mereka, yaitu seorang sute dari Pek-sim Sian-su, berusia tiga tahun lebih tua dari mereka.
Pek-sim Sian-su memang memiliki banyak macam kepandaian, di antaranya ilmu pengobatan.
Mendengar bahwa anak bongkok itu telah menyelamatkan nyawa Pek Im Tosu, dan menderita luka pukulan beracun, diapun lalu mendekati Sie Liong dan memeriksa punggung dan dadanya.
Dia mengerutkan alisnya dan berkata.
"Ah, biarpun hawa beracun sudah bersih, akan tetapi isi perutnya mengalami guncangan hebat dan ada racun tertinggal di dalam darahnya. Dia dapat diobati akan tetapi akan memakan waktu yang cukup banyak. Biarlah dia ikut dengan pinto, dan perlahan-lahan pinto sembuhkan dia."
"Lihat, anak bongkok. Orang tua itu menyelewengkan percakapan dan pura-pura tidak mendengar perkataan tadi. Menggelikan, heh-heh-heh!"
Kata Koay Tojin.
Biarpun di dalam hatinya Sie Liong merasa gembira bahwa dia akan diobati oleh kakek berpakaian kuning, nanun mendengar ucapan Koay Tojin, dia merasa tidak puas juga.
"Locianpwe, maafkan aku. Kalau locianpwe tidak mau menjelaskan mengapa locianpwe melarang kakek jembel ini membasmi lima orang Lama yang ja-hat, terpaksa aku tidak mau ikut dengan locianpwe untuk diobati."
"Hushh! Anak baik, kalau tidak diobati engkau akan mati,"
Kata Pek-sin Tosu.
"Heh-heh-heh, kau benar, anak bongkok. Kalau dia tidak mau menerangkan, biar engkau ikut aku saja. Kalau harus mati, kita mati bersama dan melanjutkan perjalanan ke neraka atau ke sorga, he-he-heh!"
Pek-sim Sian-su menarik napas panjang.
"Kalian berdua ini sama-sama ingin mengerti, itu baik sekali walaupun sesungguhnya engkau harus malu untuk mengajukan pertanyaan yang kekanak-kanakan itu, sute. Anak baik, siapakah namamu?"
"Namaku Sie Liong, locianpwe."
"Sie Liong? Nama yang baik. Nah, dangarkanlah, Sie Liong, dan engkau juga, sute. Semua perbuatan itu dinilai dari yang menjadi pendorongnya. Orang bertentangan, berkelahi, juga harus dilihat dari apa yang menjadi pendorongnya. Jelas bahwa kita tersesat jauh kalau kita berkelahi dengan orang lain karena kemarahan, kebencian atau dandam. Engkau tadi melihat sendiri betapa tiga orang murid keponakan kita ini berkelahi melawan orang Lama hanya untuk membela diri saja, tanpa sedikitpun dikuasai nafsu kebencian, kemarahan atau keinginan membunuh lawan. Tentu saja sudah menjadi hak mereka untuk mempertahankan diri dan melindungi dirinya apabila terancam kesakitan atau kematian. Sebaliknya, engkaupun melihat sendiri bagaimana keadaan batin lawan-lawan itu dalam perkelahian. Mereka itu jelas berkelahi dengan nafsu dandam dan kebencian, keinginan untuk membunuh. Kalau sekarang kita mengejar mereka dengan niat hati untuk membasmi mereka, bukankah keinginan itupun didasari oleh kebencian? Karena itu, setiap perbuatan manusia haruslah dilihat dari pamrihnya atau dari sebab yang mendorongnya melakukan perbuatan itu, karena biarpun perbuatannya itu nampaknya serupa atau sama, namun sesungguhnya berbeda, seperti buat dan langit."
Koay Tojin terkekeh-kekeh, sedangkan Sie Liong diam-diam mengakui kebenaran pendapat Pek-sim Sian-su.
Walaupun masih belum dewasa, namun anak itu memang memiliki kecerdasan.
Melihat betapa sutenya masih hahah-heheh, Pek-sim Sian-su tersenyum.
"Sute, sudah belasan tahun kita tidak saling jumpa, kulihat engkau masih sama saja. Aku dapat membaca semua isi hatimu. Engkau tentu masih belum puas, bukan? Nah, selagi jodoh mempertemukan antara kita sekarang ini, kau boleh keluarkan semua isi hatimu dan mari kita bahas bersama, biar didengarkan juga oleh tiga orang murid keponakan kita yang bijaksana ini, dan juga biarlah anak yang baik ini berkesempatan mendengarnya."
Koay Tojin bertepuk tangan tanda gembira.
"Heh-heh-heh, bagus, bagus! Memang aku belum puas, suheng. Akan kukeluarkan semua rasa penasaran dalam hatiku ini. Selama bertahun-tahun aku melihat kepalsuan-kepalsuan dunia dan aku muak, suheng, aku sedih...."
Dan tiba-tiba kakek itupun menangis terisak-isak seperti anak kecil!
Tentu saja Sie Liong terkejut melihat hal ini dan dia memandang dengan mata terbelalak.
Akan tetapi, tiga orang kakek Himalaya itu yang kini juga sudah duduk bersila seperti dua orang supek dan susiok mereka, hanya menundukkan muka saja, sedangkan Pek-sim Sian-su memandang sutenya sambil tersenyum.
"Lanjutkan, sute."
Sambil menyusuti air matanya, Koay Tojin melanjutkan.
"Aku melihat semua orang mengenakan topeng pada mukanya. Mengerikan dan menakutkan, juga membuat hati penasaran dan mendongkol sekali. Pada lahirnya semua orang memakai topeng yang indah dan bersih, padahal di balik topeng itu, batin mereka busuk dan kotor! Munafik dan pura-pura. Hati, kata dan perbuatan merupakan segi tiga yang berbeda jurusan. Palsu, palsu, semua palsu! Juga para pendeta yang pernah kujumpai berbatin palsu. Karena itu, suheng, aku sudah membuang semua pantangan. Heh-heh, aku makan daging, minum arak, heh-heh. Suheng sendiri tentu tak pernah makan daging dan minum arak, bukan? Apakah suheng bareni mengatakan bahwa suheng tidak pernah membunuh?"
"Siancai....! Pinto tidak menyangkal, sute. Akan tetapi dijauhkan Thian kiranya hati ini dari benci, iri, dengki dan pementingan diri pribadi."
"Coba jawab, suheng. Apakah kalau suheng makan sayur dan minum air saja, berarti suheng tidak melakukan pembunuhan? Jawab yang jujur, jangan munafik, suheng!"
"Saincai...., munafik lebih keji daripada penyelewengan itu sendiri, sute. Tidak dapat disangkal lagi, di dalam sayuran, tumbuh-tumbuhan, buah-buahan, bahkan di dalam air jernih itu terdapat mahluk-mahluk hidup yang bargerak dan bernyawa dan yang tidak nampak saking kecilnya. Bahkan sayur itu sendiri merupakan tumbuh-tumbuhan yang hidup."
"Nah-nah-nah....!"
Koay Tojin menudingkan telunjuknya, mengamang amangkan ke arah suhengnya.
"Kalau begitu suheng juga membunuh!"
"Memang, hal itu pinto akui, sute, akan tetapi biarpun sama-sama membunuh namun perbedaannya bumi-langit, Manusia hidup harus makan, demi kelangsungan hidupnya dan sudah menjadi pembawaan sejak lahir bahwa manusia harus makan. Dan satu-satunya bahan makanan yang baik, menghidupkan, dan bukan sekedar menuruti nafsu lidah saja, adalah sayur-sayuran dan buah-buahan, juga air jernih. Biarpun semua itu mengandung mahluk hidup, akan tetapi karena tidak kelihatan maka kita membunuh tanpa kita ketahui, tanpa kita sengaja. Andaikata pinto melihat ada ulat pada buah yang pinto makan, tentu ulat itu akan pinto singkirkan agar tidak termasuk dan termakan. Semua mahluk hidup kecil tak nampak yang ikut termakan, bukan sengaja dimakan. Inilah bedanya, sute. Orang yang makan daging, sengaja membunuh hewan itu dan makan dagingnya untuk memuaskan selera, sedangkan orang yang makan sayur, biarpun membunuh mahluk kecil-kecil, hal itu dilakukan bukan dengan sengaja dan sama sekali tidak bermaksud menikmati dagingnya. Demikian pula dengan sayuran, welaupun sayuran itupun hidup, namun sayuran tidak bergerak, tidak memperlihatkan rasa sakit seperti halnya binatang. Demikianlah, sute. Segala perbuatan haruslah dilihat dasar dan pendorongnya. Kalau orang membunuh sesama hidup karena ingin memuaskan nafsu kesenangan, atau karena kebencian, sungguh hal itu merupakan perbuatan yang amat keji dan kejam."
"Bagaimana kalau aku minum arak? Itu tidak membunuh...."
"Sute, mengapa dianjurkan agar minuman arak dijauhi? Karena dari minum arak orang menjadi mabok dan dalam mabok dapat melakukan hal-hal yang tidak baik. Bermabok-mabokan memberi jalan kepada nafsu untuk makin merajalela menguasai batin. Juga, bermabok-mabokan merusak kesehatan. Kalau hal seperti ini tetap dilaksanakan, bukankah itu merupakan kebodohan besar merusak diri sendiri? Ingat, sute. Tubuh kita merupakan Kuil Suci yang dihuni oleh jiwa. Sudah sepatutnya kalau kita merawat Kuil Suci ini sebaik-baiknya, tidak dikotori dan tidak dirusak, kita pelihara sebaiknya luar dalam."
"Suheng, keteranganmu sudah cukup jelas. Sekarang, kebetulan kita saling bertemu, aku minta sedikit petunjuk tentang ilmu silat kepadamu. Nah, bersiaplah, suheng!"
Koay Tojin meloncat berdiri dan menudingkan tongkat bututnya ke langit. Melihat ini, Pek-sim Sian-su tertawa.
"Ha-ha, sejak dulu engkau masih saja keranjingan ilmu silat, sute. Orang-orang tua bangka seperti kita ini, perlu apa mementingkan ilmu kekerasan seperti itu? Akan tetapi, pinto mendangar bahwa engkau telah memperoleh ilmu yang amat hebat, maka pintopun ingin pula manyaksikan kehebatan ilmumu itu, sute. Nah, perlihatkan kepada pinto!"
Pek-sin Sian-su juga bangkit berdiri dan dengan tenang dia menghampiri kakek sinting itu, berdiri tegak dengan tongkat butut di tangannya.
Kedua orang kakek itu sungguh amat berbeda.
Pek-sim Sian-su demikian anggun dan rapi bersih, penuh wibawa akan tetapi juga penuh kelembutan dan keramahan, sinar mata dan senyumnya penuh kasih sayang.
Sebaliknya, Koay Tojin berpakaian ti-dak karuan, butut dan kotor, berdirinya juga sembarangan saja, dan hanya ada satu persamaan antara mereka, yaitu bahwa keduanya memiliki sinar mata mencorong dan keduanya sama-sama memegang sebatang tongkat butut.