Eps 10 Naga Beracun - Kho Ping Hoo
Baca online Naga Beracun - Kho Ping Hoo
Cersil Naga Beracun - Kho Ping Hoo.
Thian Ki juga mengeluarkan pedangnya dan begitu pedang dicabut, nampak sinar hitam yang menyeramkan seolah pedang itu mengandung hawa dingin yang dahsyat.
Itulah pedang Cui-mo He k-kiam (Pedang Hitam Pengejar Iblis), pedang berwarna Hitam milik ibunya yang diberikan kepadanya sebagai bekal ketika dia berangkat melaksanakan dua tugasnya.
Pertama, dia harus mencari orang-orang pandai untuk membersihkan darahnya agar dia dapat menikah tanpa membahayakan nyawa is te rinya, dan kedua, dia harus mencari dan mendapatkan pedang pusaka Liong-cu-kiam seperti yang dikehendaki ayah tirinya atau gurunya.
Kini Thian Ki juga memasang kuda-kuda berhadapan dengan Can Hong San, dan ingatannya mulai bekerja, perlahan-lahan terbayanglah semua peristiwa yang lalu, ketika dia masih kecil.
Lamat-lamat saja ia teringat betapa ketika dia masih kecil sekali, mungkin baru berusia empat tahun, dalam kamar mereka, yaitu kamar dia, ibu dan ayahnya, masuk seorang Jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga) yang amat lihai.
Penjahat cabul itu menyanderanya, dan dengan mengancam akan membunuhnya, memaksa ibunya menotok ayahnya sehingga tidak mampu bergerak, kemudian memaksa ibunya untuk melayaninya dan mau digaulinya!
Dalam keadaan yang amat gawat itu muncul Si Naga Sakti Sungai Kuning Si Han Beng menyelamatkan ibunya dari aib dan ayahnya dari maut.
Dan orang jahat cabul itu bukan lain adalah Can Hong San ini!
Kemudian, ketika dia berusia lima enam tahun, dua tahun sesudah itu, ketika dia diajak ayah ibunya berkunjung ke He k-houw-pang di Ta-bun-cung, dan perkumpulan itu diserbu oleh para pembantu Pangeran Cian Bu Ong, ayahnya tewas dan ibunya ditangkap pula oleh Can Hong San ini!
Semua itu kini membayang di benaknya, membuat sepasang mata Thian Ki mencorong.
Biarpun kini ibunya menjadi isteri Cian Bu Ong yang te rnyata merupakan seorang gagah perkasa dan yang selain menjadi ayah tirinya juga menjadi gurunya, namun te ntu dia akan memilih kehidupan dahulu, bersama ayah kandungnya.
Melihat pedang hitam di tangan pemuda itu, Hong San mengerutkan alisnya.
"Heii, bukankah itu pedang Ban-tok He k-kiam? Pedang itu milik seorang wanita, pute ri mendiang Ban-tok Mo-li (Iblis Betina Selaksa Racun). Apa hubunganmu dengan Sim Lan Ci?"
"Can Hong San, kejahatanmu bertumpuk sehingga engkau lupakan semua perbuatanmu yang te rkutuk. Engkau membunuh ayahku ketika menyerbu He k-houw-pang dan engkau menawan ibu kandungku dan aku. Sekarang, engkau harus menebus semua dosamu itu!"
Hong San terbelalak dan suaranya agak gemetar ketika dia bertanya.
"Kau........kau... tok-tong (anak beracun) itu?"
Thian Ki te rsenyum.
"Biarpun dengan mudah aku dapat menggunakan hawa beracun untuk membunuhmu, akan te tapi aku tidak akan mempergunakannya. Aku akan menaklukkanmu dengan ilmu silat, bukan dengan racun. Majulah, manusia berhati iblis!"
Diam-diam Can Hong San gentar bukan main.
Anak ini, dalam usia lima atau enam tahun, pernah membuat dia bergidik ngeri karena bocah yang belum mengenal ilmu silat itu telah menewaskan beberapa orang rekannya yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, bahkan menjadi tokoh-tokoh kang-ouw te rkenal seperti Thio Ki Lok dan Gulana, dua orang di antara para pembantu Cian Bu Ong yang te was oleh anak beracun ini, hanya karena Gulana digigit tengkuknya, dan Thio Ki Lok mencengkeram punggung anak itu.
Anak Beracun!
Dalam usia lima enam tahun saja sudah mampu membunuh orang-orang yang tangguh, apalagi sekarang.!
Dan diapun teringat ketika mereka mengadu tangan tadi, betapa dia terdorong ke belakang oleh kekuatan yang amat dahsyat.
Can Hong San gentar dan diapun memberi perintah kepada anak buahnya.
"Serbu.........!"
Anak buah Koai-liong-pang mencabut senjata dan dengan nekat mereka menerjang maju, disambut oleh Lui-ciangkun yang menggerakkan pasukannya.
Terjadilah perte mpuran berat sebelah karena pihak pasukan sepuluh kali lebih banyak dibandingkan ana k buah Koai-liong-pang.
Biarpun para anggota itu merupakan jagoan-jagoan pilihan, namun tiap orang dikeroyok sepuluh, bagaimana mungkin mereka akan mampu bertahan.
Sementara itu, Can Hong San sudah bertanding melawan Thian Ki.
Pedang dan suling di tangan Hong San mengamuk, suara pedangnya bercuitan, suara sulingnya berdengung-dengung.
Memang hebat sekali ilmu pedang Koai-liong-kiam dan Hong San telah memiliki ilmu yang matang.
Namun, sekali ini dia terkejut bukan main.
Tubuh lawannya tidak nampak, yang nampak hanya gulungan sinar hitam yang berdesing-desing, seolah-olah ribuan lebah yang menyerangnya.
Ketika Hong San melihat betapa para anak buahnya mulai berjatuhan, dia merasa gentar sekali.
Baru belasan jurus saja dia bertanding melawan Thian Ki, dia maklum bahwa pemuda ini memiliki ilmu kepandaian yang hebat.
Tanpa mempergunakan hawa beracun di tubuhnya sekalipun, pemuda itu merupakan lawan yang amat berbahaya dan amat s ukarlah baginya untuk mendapatkan kemenangan.
Kalau sampai para perajurit mengepung ketat dan dia harus menandingi pemuda ini, dia akan celaka dan tidak mempunyai kesempatan lagi untuk meloloskan diri.
"Hyaattttt.........!!"
Dia menyerang dengan pedangnya , membabat ke arah kedua kaki Thian Ki sambil menggulingkan diri di atas tanah.
Thian Ki meloncat ke belakang, dan sebatang suling dengan kecepatan seperti anak panah, meluncur ke arah dadanya dari jarak dekat.
Itulah suling di tangan kiri Hong San yang dilontarkan dengan pengerahan tenaga.
"Trakkkk !!"
Suling itu patah-patah bertemu dengan pedang hitam di tangan Thian Ki.
Kesempatan itu dipergunakan ole h Hong San untuk melompat dari medan pertempuran yang sedang berlangsung.
Thian Ki mengejar, akan tetapi lawannya itu menyelinap dan hilang di dalam keadaan yang sedang kacau itu.
Hong San te rus berlari sambil membabat siapa saja yang menghalanginya.
Banyak perajurit berjatuhan ketika Can Hong San membuka jalan darah mencari kebebasan, dan akhirnya dia dapat melarikan diri dari tempat itu, terus berlari ke luar kota Sin-yang.
Hal ini mudah dia lakukan karena penduduk kota sedang ketakutan dan kacau karena adanya penyerbuan pasukan ke pusat Koai-liong-pang.
Melihat Can Hong San melarikan diri, Thian Ki tidak mau membiarkan begitu saja, diapun melakukan pengejaran.
Biarpun agak te rlambat, namun dapat memperoleh kete rangan dan mene mukan jejak lawan yang melarikan diri ke luar kota melalui pintu gerbang selatan.
Thian Ki segera melakukan pengejaran.
Sebelah selatan Sin-yang merupakan daerah tandus yang jarang dite mpati orang, maka jalan menuju ke selatan selain buruk dan tidak te rpelihara, juga sunyi dan berbukit-bukit, namun tanahnya agak tandus mengandung kapur.
Akan te tapi, setelah keluar kota, tidak nampak seorangpun dan sudah setengah jam dia mengejar, tidak nampak ada orang le wat.
Akan tetapi tiba-tiba dia melihat tiga orang laki-laki yang berpakaian seperti petani, berlari-lari dari depan.
Mereka kelihatan ketakutan.
"Paman, ada apakah? Kalian kelihatan ketakutan!"
Kata Thian Ki.
"Di sana ada orang berkelahi. Seorang laki-laki melawan seorang wanita. Kami takut terbawa-bawa, maka kami melarikan diri."
Mendengar keterangan itu, Thian Ki meloncat dan le nyap dari depan mereka.
Tentu saja tiga orang petani sederhana itu menjadi semakin ketakutan dan mereka berlari tunggang langgang menuju kota Sin-yang.
Belum jauh Thian Ki berlari cepat, di sebuah tikungan dia melihat dua orang yang sedang berkelahi dengan serunya.
Yang seorang jelas adalah Can Hong San, yang kini hanya menggunakan pedangnya, karena sulingnya tadi telah dia pergunakan untuk menyerang Thian Ki dengan sambitan.
Akan tetapi ketika Thian Ki melihat siapa yang menjadi lawan Hong San, dia te rbelalak dan jantungnya berdebar te gang.
Lawan itu seorang wanita, seorang gadis yang mempergunakan sebatang pedang bersinar hijau dan yang gerakannya tangkas dan dahsyat, akan tetapi lengan kirinya buntung sebatas pergelangan.
"Cin Cin........!"
Thian Ki menahan teriakan hatinya ketika mengenal gadis itu.
Dia termangu, tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
Pertandingan antara kedua orang itu seru dan yang membuat dia te rtegun dan heran adalah ketika melihat betapa gerakan kedua orang itu sama!
Mereka jelas memainkan satu macam ilmu pedang yang sama, bahkan gulungan sinar pedang sama, yaitu sama-sama hijau.
Bagaimana Cin Cin dapat berkelahi dengan Hong San di tempat itu?
Ketika tadi Can Hong San berhasil keluar dari pintu gerbang kota Sin-yang, dia merasa le ga karena tidak te rkejar Thian Ki.
Akan te tapi di samping kelegaan hati bahwa dia dapat meloloskan diri, tentu saja te rdapat kemarahan, penasaran dan kesedihan.
Dia telah mendapatkan kedudukan yang lumayan, hidupnya sudah enak dan mewah, biarpun tidak se perti dulu ketika menjadi pembantu Pangeran Tua, akan tetapi sekarang dia kehilangan segala-galanya, isterinya yang sudah membosankannya, selir-selir yang banyak, harta bendanya, perkumpulannya, kehilangan teman dan penghibur hidupnya, kehilangan harta bendanya, kehilangan kedudukann ya.
Semua itu gara-gara si anak beracun!
Dan teringat betapa munculnya pemuda itu karena ulah Li Ai Yin, dia merasa menyesal mengapa tidak dulu-dulu dia melenyapkan wanita yang sudah tidak ada gunanya baginya itu.
Hatinya lega ketika tiba di luar kota, di tempat sunyi, dan tiba-tiba saja wajahnya berseri-seri ketika dia melihat seorang wanita berjalan dari depan.
Makin dekat, semakin berseri wajahnya dan lupalah dia akan semua kehilangannya, karena gadis itu ternyata cantik jelita, manis bukan kepalang!
Ah, agaknya para dewa te lah menolongnya, mengantarkan seorang penghibur kepadanya.
Wanita itu akan menjadi penghiburnya, menggantikan semua kehilangannya.
Wanita itu seorang gadis muda, usianya kurang le bih duapuluh satu tahun, berjalan seperti melamun dan tangan kirinya dimasukkan ke dalam baju, tangan kanan melenggang perlahan dan seolah ia tidak melihat Can Hong San.
"Aih, nona manis, kenapa berjalan seorang diri di te mpat yang sunyi ini, dan kenapa pula melamun? Engkau masih muda dan cantik je lita, masa depanmu cerah, kenapa membiarkan diri te nggelam ke dalam lamunan duka?"
Hong San berkata dengan gayanya yang memang menarik.
Gadis itu adalah Cin Cin!
Mendengar ucapan yang merayu itu akan te tapi tidak kasar, dengan kata-kata lembut, ia mengangkat muka memandang dan hatinya semakin tertarik melihat bahwa yang bicara adalah seorang laki-laki yang jantan gagah dan tampan, dan usianya empatpuluh tahun lebih, akan tetapi masih nampak muda dan menarik.
Hanya saja, pandang matanya itu mengandung cahaya yang aneh dan sekali pandang saja Cin Cin tahu bahwa ia berhadapan dengan orang yang mempunyai wibawa dan kekuatan.
"Paman, kenapa engkau usil menegur seorang gadis yang berjalan seorang diri di te ngah jalan? Apakah engkau hendak kurang ajar?"
Can Hong San tertawa.
"Ha-ha, jangan khawatir, nona. Aku Can Hong San bukan laki-laki yang kurang ajar kepada wanita! Aku bahkan selalu ingin menyenangkan seorang wanita cantik sepertimu ini dan......."
Hong San tidak melanjutkan rayuannya karena melihat betapa gadis itu tiba-tiba saja memandang dengan sinar mata mencorong, bahkan begitu tangan kanannya bergerak, gadis itu telah mencabut sebatang pedang dan nampak sinar hijau berkelebat.
Melihat pedang itu, mata Can Hong San semakin terbelalak le bar.
"Engkau bernama Can Hong San. pute ra mendiang Cui-beng Sai-kong?"
Tanya Cin Cin dengan suara lantang.
Hong San te rtegun.
Jarang ada orang yang mengetahui bahwa mendiang ayahnya bernama atau berjuluk Cui Beng Sai-kong, a kan tetapi gadis ini anehnya mengetahui hal itu!
Dan ketika gadis itu bergerak tadi, tangan kirinya juga keluar dari dalam baju dan te rnyata bahwa tangan itu buntung sebatas pergelangan!
Melihat tangan kiri buntung itu, makin yakin hati Hong San bahwa dia belum pernah berte mu dengan gadis ini dan sama sekali tak mengenalnya.
Akan te tapi, menghadapi seorang gadis yang buntung tangan kirinya, tentu saja dia tidak takut sama sekali.
Bahkan hatinya makin te rtarik, karena biarpun tangan kiri gadis itu buntung, hal itu tidak te rlalu mengurangi daya tariknya, bahkan menambah titik menyentuh perasaan mendatangkan iba dan memperdalam kasih sayang.
Apalagi gadis itu memegang pedang yang membuat dia te rkejut dan terheran-heran.
"Benar sekali, nona. Siapakah nona dan bagaimana dapat mengetahui julukan ayahku?"
"Bagus! Can Hong San, bersiaplah e ngkau untuk mampus di tanganku. Aku Kam Cin, sengaja mencarimu untuk membunuhmu!"
"Eh, nanti dulu, nona manis. Boleh saja engkau membunuhku, akan te tapi katakan dulu apakah alas annya, agar kalau aku mati di tanganmu, aku tidak akan menjadi setan penasaran."
"Ada dua hal yang membuat a ku bertekad untuk membunuhmu. Pertama, karena engkau merupakan seorang penjahat keji yang pernah membantu Cian Bu Ong menyerbu Hek-houw-pang di Ta-bun-cung. Aku adalah pute ri ketua Hek-houw-pang yang te rbunuh dalam penyerbuan kejam itu. Dan ke dua, aku mentaati perintah guruku untuk membunuhmu karena engkau telah membunuh suhengnya, yaitu ayahmu sendiri."
"Gurumu adik seperguruan mendiang ayahku? Ahhh......., jadi engkau ini agaknya murid Tung-hai Mo-li Bhok Sui Lan? Pantas engkau memegang sebatang Koai-1iong-kiam! Ha-ha-ha, mari kita bertaruh. Kalau aku kalah olehmu, tentu saja engkau akan membunuhku. Akan te tapi kalau engkau yang kalah, engkau harus menemani aku sebagai kekasihku, sampai aku merasa bosan kepadamu!"
Kedua pipi Cin Cin menjadi merah sekali dan matanya mencorong.
"Jahanam busuk, engkau layak mati seribu kali!"
Dan iapun sudah menyerang dengan pedangnya sehingga nampak sinar hijau meluncur cepat.
Hong San meloncat ke belakang dan di lain saat, dia sudah mencabut pedangnya yang berbentuk persis sama dengan pedang di tangan Cin Cin, juga ketika dia gerakkan, mengeluarkan sinar kehijauan.
Memang pedang itu sama.
Mendiang Cui-beng Sai-kong Can Siok, selain lihai ilmu silatnya dan pendiri Thian-te Kwi-ong yang disembah-sembah, juga seorang ahli pembuat pedang.
Dialah yang membuat pedang Koai-liong-kiam untuk sumoinya dan sebatang lagi untuk pute ranya.
Maka, setelah Cin Cin dan Hong San bertemu dan bertanding, keduanya menggunakan pedang yang sama segala-galanya, karena memang merupakan pedang kembar buatan mendiang Cui-beng Sai-kong.
Ketika Hong San menggerakkan pedangnya, maka ilmu pedang merekapun sama.
Tentu saja perkelahian mati-matian itu nampak seperti latihan saja, karena keduanya mempergunakan ilmu pedang yang sama.
Hanya, Hong San le bih matang karena le bih berpengalaman, juga dia memiliki tenaga sin-kang yang agak le bih unggul, sehingga setelah mereka bertanding mati-matian selama limapuluh jurus, Cin Cin mulai terdesak.
Pada saat itulah Thian Ki tiba dan pemuda ini menyelinap dan mendekati kedua orang yang bertanding itu, mengintai dari belakang semak-semak yang te rdekat.
Dia melihat betapa Cin Cin te rdesak, akan te tapi dia masih ragu-ragu.
Kalau dia keluar membantu, apakah gadis itu tidak akan bertambah marah dan benci kepadanya?
Akan tetapi, tiba-tiba Hong San memperkuat serangannya dan hampir saja le her gadis itu te rtusuk pedang.
Cin Cin masih dapat mengelak ke samping, akan tetapi karena sanggul rambutnya te rle pas, sebagian ujung rambutnya te rbabat pedang dan berhamburan!
Hong San te rtawa dan mendesak, bermaksud menawan gadis itu hidup-hidup.
Akan te tapi pada saat itu, nampak bayangan berkelebat dan Thian Ki telah menyerangnya dari samping sambil berseru.
"Can Hong San iblis jahat!"
Hong San kaget setengah mati.
Tak disangkanya pemuda beracun yang ditakutinya itu dapat muncul begitu tiba-tiba.
Sinar hitam Cui-mo Hek-kiam menyambar dahsyat dan Hong San terpaksa menjatuhkan diri ke samping untuk menghindarkan diri.
Akan te tapi pedang di tangan Cin Cin sudah menyambutnya dengan cepat sekali.
"Wuuuttt......crakkk!"
Hong San berte riak kesakitan dan tangan kirinya buntung sebatas siku!
Karena rasa nyeri yang luar biasa, Hong San menjadi marah.
Terdengar suara tangis dari kerongkongannya dan diapun menubruk dengan pedangnya, menyerang Cin Cin seperti orang gila.
"Trangg........!!"
Cin Cin menangkis dan gadis ini te rhuyung ke belakang.
Dalam keadaan marah dan nekat itu, agaknya te naga Hong San bertambah kuat.
Kini Hong San te rtawa bergelak.
Dia sudah menjadi gila, hal yang memang agaknya sejak dahulu telah mencengkeram batinnya.
Sejak muda, Hong San memang memiliki kelainan, wataknya berubah-ubah, kadang seperti pendekar, kadang te ramat kejam, kadang mudah menangis dan te rtawa.
Kalau dia seorang yang berbatin normal, kiranya tidak mungkin dia membunuh ayah kandungnya se ndiri!
Kini, setelah te rtawa bergelak.
Hong San kembali menyerang Cin Cin.
Dia tidak memperdulikan le ngan kiri yang buntung sebatas siku dan yang masih bercucuran darah.
Ge rakan tubuhnya membuat darah itu berceceran dan menyambar ke mana-mana, membuat Cin Cin merasa ngeri dan meloncat terus ke belakang, te rdesak.
Kembali Thian Ki maju membantu.
Sebuah dorongan tangan kirinya membuat Hong San te rhuyung ke samping dan kesempatan ini dipergunakan Cin Cin untuk menggerakkan lagi pedangnya.
"Singggg.......cappp!"
Pedangnya sekali ini te rbenam ke dalam lambung Hong San, akan tetapi cepat gadis itu mencabut pedangnya kembali dan meloncat ke belakang karena Hong San dengan nekat, seolah tidak merasakan bahwa lambungnya sudah ditembus pedang gadis itu, dia menubruk dan mengayunkan pedangnya ke arah Cin Cin.
Melihat Cin Cin mundur, Hong San hendak mengejar, akan tetapi mendadak dia te rkulai.
Darah bercucuran dari lambung dan siku kiri yang buntung.
Dia menggelepar seperti ayam disembelih dan tak lama kemudian diapun tewas dengan mata te rbelalak.
Thian Ki menghampiri mayat itu, menggunakan jari tangan untuk menutupkan kedua mata yang te rbelalak dan diapun bangkit berdiri lagi, memandang kepada Cin Cin, lalu memandang kepada mayat itu dan menghela napas panjang.
"Cin Cin......"
Katanya lirih karena dia masih gelisah sekali kalau-kalau gadis itu masih marah dan semakin marah kepadanya. Cin Cin menatap wajah Thian Ki, sinar mata itu mencorong dan mengandung kemarahan.
"Kau....? Kenapa engkau membantuku? Aku tidak butuh bantuanmu dan tidak minta kaubantu!"
Suaranya te rdengar ketus.
"Maaf, Cin Cin, aku tidak membantumu, hanya........"
"Cukup! Sudah je las bahwa engkau tadi menyerangnya dan karena seranganmu maka aku berhasil membunuhnya. Kalau engkau tidak membantu, mungkin aku yang menggeletak mati. bukan dia. Akan te tapi, aku le bih senang mati di tangannya daripada menang karena bantuanmu. Engkau membuntungi tanganku, sekarang bahkan datang untuk menghinaku dengan bantuanmu!"
Gadis itu marah sekali dan suaranya menggetar, mengandungi tangis. Thian Ki memandang dengan penuh iba, diapun menundukkan muka dengan sedih. -ooo0dw0ooo-
Jilid 26
"Engkau te ntu tahu bahwa aku tidak sengaja membuntungi tanganmu, melainkan untuk mencegah engkau mati keracunan, dan sekarangpun aku bukan datang sengaja membantumu. Akan te tapi, kalau engkau merasa sakit hati, kalau engkau tetap menganggap aku bersalah, akupun rela menerima pembalasanmu, Cin Cin. Aku.. ..demi Tuhan, aku merasa menyesal sekali mengenai peristiwa itu, aku menyebabkan engkau kehilangan tangan kiri. Aku menyesal sekali dan engkau boleh menghukumku untuk itu...."
"Coa Thian Ki, engkau tentu tahu, hutang darah bayar darah, hutang nyawa bayar nyawa. Engkau berhutang tangan kepadaku, harus membayar dengan tangan kirimu pula!"
Gadis itu mengamangkan pedangnya, akan te tapi tangan yang memegang pedang itu te rgetar dan wajahnya nampak pucat.
Thian Ki tersenyum sedih.
Setelah kini dia berhadapan dengan Cin Cin, dia semakin yakin bahwa dia mencinta gadis ini!
Dia rela mengorbankan apa saja demi kebahagiaan gadis ini.
Entah mengapa, ada sesuatu pada diri Cin Cin yang amat menarik hatinya, mempesonakan, menimbulkan rasa sayang, iba dan haru.
Diapun menjulurkan lengan kirinya ke depan, berkata le mbut.
"Silakan, Cin Cin. Kalau itu yang kau kehe ndaki, ini tangan kiriku!"
Katanya dengan sikap tenang dan suaranya yang le mbut itu mengandung kes ungguhan dan kete gasan.
Sejenak Cin Cin memandang nanar ke arah tangan yang dijulurkan itu, tidak percaya bahwa pemuda itu begitu saja menyerahkan tangannya untuk dibuntungi!
Ia mengeluarkan suara aneh, seperti isak te rtahan di kerongkongannya, lalu diangkatnya pedangnya ke atas, dan kini ia menatap wajah Thian Ki, seolah hendak bertanya apakah pemuda itu benar-benar rela tangannya ia buntungi dan ia melihat Thian Ki tersenyum rela.
Ia mencoba untuk mengerahkan tenaga dan membacokkan pedangnya ke arah pergelangan tangan kiri Thian Ki yang sudah dijulurkan.
Akan tetapi sebelum pedang itu menyambar turun, ia mengeluh, gemetar pedangnya te rlepas dan tangan kanannya memegang pundak kiri, dan Cin Cin te rhuyung dan terkulai, tentu akan roboh kalau saja Thian Ki tidak cepat menahan dan merangkul punggungnya.
"Cin Cin, kau kenapakah......?"
Dengan khawatir Thian Ki lalu membantu gadis itu rebah di atas rumput.
Cin Cin menyeringai menahan rasa nyeri dan ia merintih dalam keadaan setengah sadar.
Melihat gadis itu menggeliat dan merintih, dan tangan kanannya memegangi pundak kiri, Thian Ki khawatir sekali.
Apakah racun dari tubuhnya dahulu masih juga menjalar naik dari le ngan?
Tanpa banyak membuang waktu lagi, dia lalu merobek sedikit baju di bagian pundak kanan gadis itu untuk memeriksanya.
Dan di sana, di depan tulang pundak, nampak ada titik hitam kebiruan sebesar ibu jari!
Bukan, bukan karena racun tu buhnya, dia berpikir.
Pula, kalau yang bekerja itu racun dari tubuhnya, te ntu tidak sampai selama ini gadis itu bertahan hidup.
Dia memeriksa lebih teliti dan mengerti bahwa gadis itu telah terkena totokan jari beracun yang cukup ganas.
"Cin Cin, engkau te rluka!"
Katanya, akan tetapi Cin Cin tidak menjawab.
Gadis itu telah pingsan.
Kebetulan malah, pikir Thian Ki.
Kalau Cin Cin dalam keadaan sadar, gadis yang masih marah dan sakit hati kepadanya itu, tentu tidak mau dia obati!
Kini, dalam keadaan pingsan, gadis itu tentu tidak tahu apa yang terjadi dan dia dapat cepat mencoba untuk menghilangkan pengaruh totokan beracun itu...
Tentu ketika tadi berkelahi melawan Can Hong San, gadis itu te lah terkena totokan Hong San yang lihai dan menderita luka dalam keracunan.
Thian Ki membuka kancing baju Cin Cin, dengan hati-hati menyingkap bagian pundak, menjaga jangan sampai dia menyingkap bagian dada sehingga titik hitam di depan tulang pundak itu nampak nyata sekali pada kulit yang putih kuning mulus itu.
Lalu sambil duduk bersila di dekat tubuh Cin Cin, dia mengerahkan sin-kang, menempelkan telapak tangan kirinya di bawah titik hitam, lalu jari tangan kanannya mengurut di seputar titik yang semakin lama semakin membesar, namun warnan hitamnya menjadi pucat.
Kemudian dia menempelkan telapak tangan kanan te pat di atas titik yang membesar itu, dan mengerahkan te naga sin-kang utnuk menyedot hawa beracun.
Karena tubuhnya sendiri merupakan sumber racun, maka dengan mudah racun dari Cin Cin dapat te rsedot keluar, seperti air yang te rjun ke dalam te laga.
Penambahan sedikit hawa beracun dari pundak Cin Cin itu tidak ada artinya bagi Thian Ki.
Cin Cin mengeluh dan membuka mata.
Ia berseru kaget dan bangkit sambil menggerakkan tangan menampar ke arah muka Thian Ki yang tidak mengelak.
"Plakkk!!"
Pipi kiri Thian Ki terkena tamparan tangan Cin Cin, demikian kerasnya tamparan itu sampai membuat Thian Ki te rpelanting dan ketika dia bangkit berdiri, pipi kirinya membengkak merah kebiruan!
Dia melihat betapa Cin Cin sudah mengancingkan lagi bajunya dan wajah gadis itu merah sekali, matanya berapi-api.
"Jahanam busuk kau, Thian Ki! Tak kusangka bahwa pute ra mendiang Paman Coa Siang Lee dan Bibi Sim Lan Ci menjadi seorang berhati keji, kotor dan hina seperti engkau! Aku dalam keadaan pingsan dan engkau berani berbuat hina dan kurang ajar kepadaku? Alangkah rendahnya....."
"Tenanglah, Cin Cin. Tenanglah karena kemarahan membuat engkau tidak mampu mempertimbangkan dengan baik. Aku sama sekali tidak melakukan kesesatan, sama sekali tidak bermaksud rendah dan keji, melainkan terpaksa melakukan hal itu..........."
"Thian Ki! Dahulu ketika membuntungi tanganku, engkau memakai alasan bahwa aku keracunan dan engkau te rpaksa membuntungi tangan kiriku. Sekarang, alas an apalagi yang akan kau kemukakan sehingga engkau te rpaksa membuka kancing bajuku dan meraba.....melakukan kekurangajaran seperti tadi?"
"Dengarlah baik-baik. Engkau tadi hendak membuntungi tangan kiriku sebagai hukuman, lalu tiba-tiba engkau roboh dan memegangi pundak kirimu, lalu pingsan, bukan? Nah, ketika aku memeriksamu, te rnyata memang engkau keracunan, di pundak kirimu. Aku te rpaksa membuka kancing bajumu bagian atas untuk dapat mengobatimu. Sekarang, racun itu telah le nyap, dan sebagai upah pengobatanku, engkau malah menamparku dan memaki, menuduh yang bukan-bukan. Rabalah pundakmu, te ntu sudah tidak terasa lagi kenyerian tadi."
Cin CIn menggunakan jari tangan kanannya untuk meraba pundak kirinya.
Tadi memang amat nyeri di sana, akan tetapi sekarang sudah tidak lagi.
Ia meragu.
Agaknya pemuda itu tidak berbohong dan sekarang ia te ringat bahwa tadi ketika ia berkelahi melawan Can Hong San, ia memang te rkena totokan jari tangan kiri musuh itu, yang mula-mula tidak te rasa terlalu nyeri, akan te tapi tadi ketika ia hendak membuntungi tangan kiri Thian Ki, tiba-tiba pundak itu te rasa nyeri bukan main sampai menusuk ke jantung dan kepala.
"Nah, sekarang engkau baru percaya, bukan. Atau engkau masih tidak percaya? Kalau begitu boleh kau lakukan apa saja untuk melampiaskan dendammu kepadaku, Cin Cin. Kalau tamparan ini masih belum cukup, boleh kau lakukan apa saja. Nah, ini kedua tanganku yang tadi menyedot hawa beracun dari pundakmu,"
Thian Ki menjulurkan kedua tangannya ke arah Cin Cin.
Cin Cin memandang ke arah kedua tangan itu, lalu mengangkat pandang matanya, menatap wajah Thian Ki.
Dua pasang mata bertemu dan bertautan dan perlahan-lahan, kedua mata Cin Cin menjadi basah.
Lalu Cin Cin menundukkan mukanya dan suaranya terdengar lirih berbisik ketika ia berkata.
"Maafkan aku......"
Wajah Thian Ki berseri.
Mendengar gadis itu minta maaf, berarti menyadari kesalahannya, mendatangkan perasaan yang amat berbahagia di dalam hatinya.
Sikap gadi itu membuktikan bahwa perkiraannya benar.
Cin Cin, biar telah mempelajari ilmu dari guru yang sesat, terbukti bahwa ilmu pedangnya, bahkan pedangnya juga sama dengan ilmu pedang dan pedang Can Hong San, namun te rnyata gadis itu hanya mewarisi kegalakan dan kekerasan saja, namun pada dasarnya masih memiliki kegagahan dan pribadi luhur sehingga berani mengakui kesalahan.
"Tidak Cin Cin, e ngkau tidak bersalah dan tidak ada yang dapat dimaafkan. Akulah yang bersalah, dan aku minta maaf padamu. Karena kecerobohanku, engkau menderita, dan aku hanya menimbulkan prasangka dan kesan buruk saja kepadamu."
"Thian Ki, aku memusuhi ayah tirimu, dan sekarang, baru saja aku membalas pertolonganmu dengan tamparan dan kata-kata keji. Kenapa engkau masih bersikap baik kepadaku? Kenapa engkau begitu baik kepadaku?"
Sepasang mata itu kini mengamati wajah Thian Ki penuh selidik. Thian Ki te rsenyum.
"Aih, Cin Cin. Andaikata engkau bukan Cin Cin pute ri mendiang paman Kam Seng Hin, andaikata di antara kita tidak ada hubungan apapun sejak kecil, aku tetap akan menolongmu. Bukankah menolong siapa saja yang te rancam bahaya merupakan kewajiban kita sebagai seorang yang pernah mempelajari ilmu silat?"
"I buku pernah mengatakan bahwa mungkin engkau menjadi anak beracun karena nenekmu, yaitu mendiang Ban-tok Mo-li Phang Bi Cu. Benarkah engkau menjadi tok-tong (anak beracun)?"
"I bumu memang bijaksana dan pandai, dugaannya te pat. Memang aku te lah dibuat menjadi tok-tong oleh mendiang nenekku, diluar pengetahuanku ketika aku masih kecil. Karena itulah, ketika engkau mencengkeram pundakku, tanpa dapat kucegah lagi, engkau keracunan pada tangan kirimu. Ketika hal itu terjadi, aku sama sekali tidak berdaya mencegahnya, Cin Cin."
"Hemm, sudahlah, jangan bicara lagi tentang hal itu. Tadi kau mengatakan bahwa engkau membantuku melawan Can Hong San juga bukan sengaja membantu, apa maksudmu?"
"Aku memang sedang mengejarnya. Dia merupakan seorang pelarian, karena tadi pasukan keamanan Sin-yang sedang menyerbu perkumpulan Koai-liong-pang yang didirikan oleh Can Hong San ini. Dia berhasil melarikan diri, maka aku mengejarnya dan melihat dia berkelahi denganmu di sini."
De ngan singkat Thian Ki bercerita tentang pengalamannya berte mu dengan Li Ai Yin dan te ntang Hong San, didengarkan penuh perhatian oleh Cin CIn.
Gadis itu lalu memandang ke arah mayat Can Hong San, dalam hati merasa puas karena tugas yang diperintahkan subonya telah berhasil ia laksanakan, yaitu membunuh Can Hong San seperti yang dikehendaki ibunya.
"Hemm, hatiku puas sudah, tugas pertamaku sudah dapat te rlaksana..."
Ia menole h ke arah Thian Ki.
"......hei, apa yang sedang kaulakukan itu?"
Tanyanya melihat Thian Ki mempergunakan pedangnya untuk menggali tanah.
"Aku menggali tanah untuk mengubur je nazah Can Hong San."
"Hemm, orang sejahat itu!"
Cela Cin Cin.
"Dia ikut menjadi sebab kematian ayahku dan hancurnya He k-houw-pang, dia bahkan membunuh ayahnya sendiri!"
Thian Ki menghela napas panjang.
"Me mang, ketika hidupnya dia telah tersesat, menjadi hamba dari nafsu-nafsu rendah. Ayah kandungku juga te was di tangannya dan aku melihat dia melakukan banyak kejahatan. Akan tetapi itu te rjadi ketika dia masih hidup. Se karang dia sudah mati, mengubur mayat sendiripun tidak mampu. Tidak sampai hatiku membiarkan mayatnya te rlantar."
Dia melanjutkan pekerjaaannya.
Sejenak Cin Cin hanya menonton saja, akan tetapi mendadak ia mengambil pedang yang tadi te rlepas dari tangan Can Hong San, lalu membantu Thian Ki menggali tanah dengan pedang itu!
Thian Ki diam saja, kalau bicara khawatir menyinggung, akan te tapi diam-diam dia merasa gembira sekali.
Ini masih Cin Cin yang dahulu, seorang anak yang pada dasarnya memiliki watak yang baik.
Dia masih ingat ketika berkunjung ke He k-houw-pang dulu, Cin Cin adalah seorang anak yang lincah je naka, periang, tabah dan pandai bicara.
Kalau sekarang ia nampak begitu dingin, keras dan pendiam, tentu karena gemble ngan gurunya, seorang datuk sesat, dan mungkin ditambah lagi karena terbuntungnya tangan kirinya.
Kasihan sekali!
Aku akan mencoba untuk membahagiakanmu, Cin Cin, bisik hatinya, mengembalikan seperti dahulu!
Setelah selesai menguburkan je nazah itu secara sederhana, Cin Cin menyimpan pedang Koai-liong-kiam milik Can Hong San.
Akan ia kembalikan kepada gurunya, katanya kepada Thian Ki.
Mereka lalu mengaso, duduk di bawah sebatang pohon dimana te rdapat sumber air yang menjadikan sungai kecil yang airnya je rnih, dimana tadi mereka mencuci tangan dan muka setelah tangan mereka berle potan tanah.
Thian Ki semakin te rharu melihat cara Cin Cin mencuci tangan kanannya, menggosok-gosokkan jari tangan itu kepada rumput dan ilalang di dekat sumber air.
Ingin sekali dia menolong membersihkan tangan itu, akan te tapi dia tidak berani, takut kalau-kalau hal itu akan membuat Cin Cin te rsinggung dan te ringat akan kebuntungan tangan kirinya.
Mereka duduk berhadapan, duduk di atas akar pohon yang menonjol dari permukaan tanah, saling berhadapan.
"Thian Ki, sekarang aku ingin mendengarkan pengalamanmu sejak kita dipisahkan oleh penyerbuan ke Ta-bun-cung itu,"
Kata Cin Cin yang agaknya sudah dapat menghapus rasa benci dan dendam kepada Thian Ki.
Thian Ki menceritakan semua pengalamannya, mulai dari malam penyerbuan itu, dimana tanpa sengaja dia telah menewaskan dua oran g penyerbu dengan keadaan tubuhnya yang beracun, betapa kemudian dia dan ibunya ditawan dan dilarikan oleh Can Hong San dan Gan Lui, yang menjadi pembantu Cian Bu Ong dan diserahkan kepada bekas pangeran itu.
Kemudian diceritakannya pula dengan jelas untuk menghapus salah sangka gadis itu terhadap ibunya, kenapa ibunya akhirnya menjadi isteri Cian Bu Ong dan dia menjadi anak tiri dan juga murid.
Tentu saja dia tidak menceritakan bahwa dia telah dite ntukan menjadi calon suami Cian Kui Eng, saudara tiri dan juga adik se perguruannya.
Cin Cin mendengarkan dengan penuh perhatian tanpa menyela, akan tetapi setelah Thian Ki selesai bercerita, ia berkata penasaran.
"Aku merasa heran sekali kenapa bibi Sim Lan Ci yang dahulu kuanggap sebagai seorang wanita bijaksana dan gagah perkasa, mau menjadi isteri Cian Bu Ong, padahal bukankah Cian Bu Ong yang menjadi biang keladi kehancuran Hek-houw-pang dan menewskan ayah kita?"
"Akupun tadinya merasa penasaran, akan tetapi setelah mengetahui segalanya dengan jelas, aku tidak dapat menyalahkan ibu. Ayah te lah meninggal dunia, dan ibu menjadi janda. Cian Bu Ong adalah seorang yang gagah perkasa, berilmu tinggi dan bijaksana. Memang tidak dapat disangkal bahwa dia yang menyuruh para pembantunya untuk menyerbu Hek-houw-pang, akan tetapi hal itu ada alasannya yang amat kuat. Dia adalah seorang pangeran Kerajaan Sui yang digulingkan oleh Li Si Bin yang kemudian mendirikan kerajaan Tang. Tentu saja dalam pandangan Cian Bu Ong, kerajaan Tang adalah kerajaan yang dibangun oleh pemberontak kerajaan Sui. Karena itu, sudah jamak kalau ia berusaha untuk mendirikan kembali kerajaan Sui dan memusuhi kerajaan Tang. Kemudian dia mendengar bahwa He k-houw-pang adalah sebuah perkumpulan yang mendukung kerajaan Tang, maka te ntu saja dia menganggap He k-houw-pang sebagai musuhnya dan menyuruh para pembantunya melakukan penyerbuan. Dia bukan orang jahat, Cin Cin. Dia hanya menjadi korban dari perang, korban keadaan yang menjadikan dia seperti itu. Nah, sekarnag kuharap engkau suka menceritakan pengalamanmu sejak malam itu."
Cin Cin menghela napas.
Wajahnya yang cantik itu menjadi muram dan sampai beberapa saat lamanya ia tidak bicara.
Akan tetapi Thian Ki tidak mendesak, hanya menanti dan akhirnya Cin Cin menceritakan semua yang dialaminya.
Ia menceritakan betapa ayahnya te was dan ibunya le nyap dilarikan penyerbu.
Kemudian betapa ia, oleh kakeknya dikirim ke dusun Hong-cun untuk menjadi murid Pendekar N aga Sakti Sungai Kuning Si Han Beng, dan kepergiannya diantar oleh paman gurunya, yaitu Lai Kun.
Betapa di dalam perjalanan ia dijual oleh Lai Kun kepada seorang mucikari dan betapa ia disiksa dan dipaksa untuk belajar segala macam kesenian, dipersiapkan untuk kelak menjadi seorang pelacur kalau sudah dewasa.
Betapa kemudian ia berhasil melarikan diri dan dikejar tukang-tukang pukul, akan tetapi ia ditolong ole h Tung-hai Mo-li Bhok Sui Lan dan menjadi muridnya.
"Begitulah, aku mempelajari segala macam ilmu dari su-bo, kemudian su-bo memberi tugas kepadaku, yaitu untuk mencari Can Hong San dan membunuhnya, karena Can Hong San telah membunuh ayahnya sendiri, Cui-beng Sai-kong Can Slok, yang menjadi suheng dari su-bo. Dan juga agar aku membunuh Cian Bu Ong, karena bekas pangeran itu telah menghancurkan kehidupan subo dengan menyia-nyiakan dan mengkhianati cinta mereka. Akan tetapi, usahaku membunuh Cian Bu Ong gagal karena engkau Thian Ki, dan usahaku membunuh Can Hong San berhasil karena engkau pula. Inilah nasib...."
Gadis itu termenung. Thian Ki menghela napas. Dia takkan pernah bebas dari penyesalan kalau mengingat akan buntungnya tangan Cin Cin karena dia itu.
"Dan engkau belum bertemu ibumu?"
Cin Cin mengerutkan alisnya dan cemberut.
"Sudah, dan itulah yang membuat hatiku je ngkel, biarpun sekarang aku sudah mengerti mengapa ibuku menikah lagi dengan dia!"
"I bumu menikah? De ngan siapakah?"
Tanya Thian Ki heran.
Betapa sama nasib gadis ini dengan nasibnya.
Ibu mereka kehilangan suami ketika Hek-houw-pang diserbu, dan kini ibu mereka yang sudah menjadi janda te lah menikah lagi!
"Itulah yang tadinya membuat aku je ngkel.
Kalau ibumu menikah dengan Pangeran Cian Bu Ong, maka ibuku menikah dengan pembantunya, seorang di antara mereka yang dahulu menyerbu He k-houw-pang!"
"Ahh......!! Thian Ki benar-benar te rkejut mendengar ini. Ibu Cin Cin? Bibi Coa Liu Hwa yang cantik dan le mah le mbut itu? Akan te tapi dia tidask berani bertanya lagi, khawatir menyinggung.
"Setelah aku mendengar penuturan ibuku dan ayah tiriku, aku tidak menyalahkan mereka, bahkan aku bangga karena suami ibu sekarang adalah seorang pendekar Siauw-lim-pai yang te rkenal, yaitu Lie Koan Tek."
Lalu Cin Cin menceritakan tentang pengalaman ibunya sehingga menjadi isteri pendekar itu. Thian Ki mengangguk-angguk, merasa le ga karena ibu Cin Cin tidak melakukan hal yang memalukan.
"Aku sudah mendengar akan nama besar ayah tirimu itu, Cin Cin."
Keduanya diam agak lama, kemudian Cin Cin menghela napas panjang dan berkata.
"Aku heran sekali, kenapa ibu kita menikah lagi? Aku sekarang hanya mempunyai ibu seorang, akan tetapi ia telah menikah dengan pria lain, dan aku merasa seperti kehilangan ibuku. Ia mengecewakan hatiku, padahal aku amat mencintanya. Apakah engkau juga tidak berpikir begitu, Thian Ki?"
Thian Ki diam sejenak.
Kalau dia mau jujur, memang ada perasaan tidak enak itu.
Tentu dia akan merasa jauh le bih berbahagia kalau ibunya masih bersanding dengan ayahnya, walau itu tidak mungkin.
Dia menarik napas panjang.
"Cin Cin, kalau kita selalu mementingkan perasaan sendiri, kurasa dalam hidup ini kita akan selalu menghadapi hal-hal yang mengecewakan dan tidak menyenangkan, karena apa yang kita senangi belum tentu disenangi orang lain, walau oleh ibu kita sendiri sekalipun. Sebaliknya, apa yang disenangi orang lain, termasuk ibu kita, belum tentu kita senangi. Karena itu, kita harus memiliki cinta kasih, Cin Cin. Dan cinta kasih bukan berarti menuntut kesenangan hati kita sendiri dari orang yang kita cinta. Bukankah begitu?"
Cin Cin diam saja.
Ini merupakan hal baru baginya.
Semenjak ia dewasa, ia hanya mendengar dan melihat segala tentang hidup ini dari gurunya, dan pandangan gurunya lain sama sekali dari apa yang diucapkan Thian Ki.
Bagi gurunya, yang te rpenting adalah perasaan sendiri, diri sendiri, sehingga segala sepak terjang dalam hidup hanya didasari kepentingan diri sendiri!
Apa yang diucapkan oleh Thian Ki, kalimat te rakhir, yaitu bahwa cinta kasih bukan berarti menuntut kesenangan hati kita sendiri dari orang yang kita cinta, merupakan ucapan yang te ramat penting untuk ditelaah oleh kita semua.
Bukan hanya menyangkut cinta kasih pada umumnya yang dianggap hanya merupakan perasaan timbal balik antar ins an berlawanan jenis, antara pria dan wanita, melainkan juga mencakup cinta kasih antara orang tua dan anak, timbal balik.
Betapa sering te rjadi konflik atau perte ntangan batin antara orang tua dan anak, padahal kedua pihak berani bersumpah saling mencinta.!
Kalau benar ada cinta kasih di antara orang tua dan anak secara timbal balik bagaimana mungkin sampai terjadi konflik batin antara mereka?
Konflik batin antara yang tua dan yang muda menimbulkan suatu celah atau jurang pemisah antara orang tua dengan anaknya sendiri.
Yang tua menganggap anak mereka bandel dan murtad, mengecewakan dan tidak mentaati orang tua, sedangkan yang muda menganggap orang tua mereka itu kuno, kolot, terlalu mengekang, te rlalu menggurui, menjadi penghalang kesenangan, dan sebagainya.
Maka te rjadilah konflik yang menghancurkan sendi-sendi cinta kasih di antara mereka.
Mengapa begitu?
Kalau, kita singkirkan dulu perasaan keakuan, mementingan diri sendiri, dan menarik diri sebagai orang luar, bukan anak bukan orang tua, lalu menje nguk is i hati kedua pihak, mungkin akan nampak je las bagi kita mengapa te rjadi konflik seperti itu.
Konflik te rjadi karena bentrokan kepentingan, bentrokan selera, bentrokan pandangan hidup.
Kedua pihak, baik orang tua maupun anak, lupa bahwa alam pikiran yang tua dan yang muda berbeda jauh.
Yang tua lupa bahwa kebiasaan hidup ini mengalami perubahan dan kukuh berpegang kepada nilai-nilai yang sudah dianggap mapan, nilai-nilai lama, tanpa memperdulikan adanya perubahan nilai.
Penilaian selalu berubah mengikuti perkembangan jaman.
Orang tua selalu mengandalkan pengalaman sebagai senjata untuk memamerkan kelebihannya kepada si anak, lupa bahwa pengalaman itu adalah pengalaman dahulu dan kalau dia tidak mau mengikuti perkembangan jaman, dia bahkan akan ketinggalan dan sama sekali tidak berpengalaman dalam hal-hal baru yang te rjadi dalam kehidupan masyarakat.
Sebaliknya, si anak juga lupa bahwa orang tuanya adalah orang-orang yang pandangan hidupnya te rikat masa lalu.
Dari bentrokan ini timbullah konflik.
Jarang te rdapat orang tua yang tidak mengikatkan diri kepada masa lalu, melainkan arif mengikuti perkembangan jaman sehingga waspada te rhadap perubahan nilai-nilai, seperti jarangnya anak yang mau memaklumi keadaan orang tuanya, lupa bahwa dengan cara mereka sendiri, orang tuanya sebetulnya bermaksud baik bagi dirinya, hanya caranya saja yang menimbulkan konflik.
Semua pertentangan itu akan le nyap kalau orang tua mencinta dengan tulus, dalam arti kata bukan mencinta dengan pamrih kepentingan dan kesenangan hati sendiri.
Mencinta berarti membahagiakan yang dicinta, bukan menuntut sesuatu dari yang dicinta.!
Cinta yang menuntut balas, yang berpamrih, adalah cinta nafsu, yang mempergunakan cinta demi mencapai kesenangan hati sendiri, dan cinta macam ini pasti menimbulkan konflik batin.
Cinta kepada anak berarti memberi kebebasan kepada anak, seperti membiarkan tunas tumbuh menjadi pohon, bebas te rkena sinar matahari dan te rsiram hujan, dan orang tua hanya mengamati, menjaga-tanpa mengatur, tanpa memaksakan kehendak.
Orang tua turun tangan .hanya kalau melihat perkembangan pertumbuhan itu tidak benar atau te rancam, seperti orang menjaga tanaman dan membersihkannya dari ulat, memberi pupuk, mencabut rumput liar, akan te tapi tidak mencampuri pertumbuhan itu sendiri.
Cinta kasih bukan berarti mengikat!
Dilain pihak, anak-anak harus selalu menyadari sepenuhnya bahwa dengan cara apapun, orang tua tetap menyayang anak-anak, baik cara itu dianggap benar atau keliru, dan dasar kesadaran ini harus menjadi pengingat bahwa mereka sepatutnya berte rima kasih dan tidak menyakiti hati orang tuanya.
Kalau kepada orang tua sendiri tidak menyayang, bagaimana mungkin dapat menyayang orang lain?
Ibu adalah manusia yang paling besar kasihnya te rhadap dirinya, sesudah itu baru ayah.
Kalau kepada ayah ibu tidak dapat menaruh hati kasih sayang, maka cinta kasih kepada orang lain tentu saja patut di ragukan.!
Memang tidak mudah bagi orang tua maupun anaknya untuk mengatasi nafsu sendiri yang menimbulkan kekecewaan, kemarahan sehingga si orang tua tidak menyumpahi anaknya dan si anak tidak menyumpahi orang tua.
Dalam keadaan dicengkeram nafsu amarah, manusia dapat melakukan apa saja.
Namun, kesukaran itu pasti akan mudah diatas i kalau kita menyerahkan diri kepada Tuhan, kalau kita pasrah dan mohon bimbingan kekuasaan Tuhan.
Karena hanya kekuasaan Tuhan jualah yang akan mampu menundukkan nafsu-nafsu daya rendah yang menyesatkan kita.
Sampai lama Cin Cin menunduk saja, kemudian mengangkat muka menatap wajah Thian Ki yang kebetulan juga memandangnya.
Dua pasang mata berte mu lagi untuk kesekian kalinya dan bertaut.
"Thian Ki, sekarang aku tidak lagi dendam padamu, dan aku menyadari sepenuhnya bahwa perbuatanmu membuntungi tanganku dahulu te rpaksa kau lakukan dan aku sendiri yang bersalah telah mencengkeram pundakmu, karena aku tidak tahu bahwa tu buhmu beracun. Ini yang namanya nasib, dan aku tidak menyalahkanmu lagi."
"Terima kasih, Cin Cin. Seolah-olah batu besar yang sejak peristiwa itu menindih hatiku, kini te rangkat, membuat dadaku lapang. Terima kasih!"
"Akan tetapi ada sebuah permintaanku dan kuharap engkau tidak menolak, karena penolakanmu te ntu akan membuat aku tidak dapat menerimamu sebagai sahabatku lagi, seperti ketika dahulu di Hek-houw-pang."
"Permintaan apakah itu, Cin Cin? Aku pasti akan memenuhinya!"
Kata Thian Ki gembira.
"Aku pasti akan mencari dan menantang Cian Bu Ong, dan kuharap engkau tidak akan mencampurinya lagi."
Setelah berkata demikian, Cin Cin menatap wajah pemuda itu dengan pandang tajam menyelidik.
"Cin Cin, setelah mengetahui bahwa perbuatan Cian Bu Ong itu hanya merupakan akibat perang, engkau masih mendendam kepadanya karena penyerbuan terhadap Hek-houw-pang itu?"
Cin Cin menggeleng kepala dengan tegas.
"Tidak, Thian Ki. Aku menyadari bahwa tidak ada permusuhan pribadi antara dia dan He k-houw-pang. Akan te tapi aku harus melaksanakan tugas yang diberikan su-bo kepadaku. Sejak kecil aku ditolong, dipelihara dan dididik su-bo, sudah selayaknya kalau sekarang aku membalas budinya dengan melaksanakan perintahnya. Aku akan membunuh Cian Bu Ong untuk mentaati perintah subo."
Melihat kerut alis pemuda itu, Cin Cin menambahkan, suaranya mengandung tantangan.
"Engkau tidak setuju dan hendak membela ayah tiri dan gurumu?"
"Tidak, Cin Cin. Aku hanya akan membela orang yang le mah dan tidak bersalah. Akan tetapi dua hal yang patut kaurenungkan dan kaupertimbangkan dengan baik sebelum bertindak sejauh itu. Pertama, tingkat kepandaian Cian Bu Ong amat tinggi dan engkau tidak akan dapat menang, Cin Cin."
"Aku tidak takut! Kalau aku tidak berhasil melaksanakan tugas itu, biar aku mati di tangannyapun aku tidak merasa penasaran!"
Kata Cin Cin dengan nekat.
"Aku percaya akan kegagahan dan keberanianmu, Cin Cin. Akan tetapi, kalau kita sudah tahu bahwa kita tidak akan menang melawan seorang musuh,, akan tetapi kita nekat dan te was di tangannya, bukankah itu mati konyol namanya? Sama dengan bunuh diri."
"Aku tidak peduli, Thian Ki. Aku rela dalam menjalankan tugas mentaati perintah subo."
"Baiklah, sekarang hal yang ke dua. Urusan antara su-bomu dan Cian Bu Ong adalah urusan yang amat pribadi, urusan cinta kasih di antara mereka. Dalam urusan cinta kasih antara seorang pria dan seorang wanita, sebetulnya tidak boleh dicampuri siapapun juga, karena itu adalah urusan hati yang hanya dapat diselami oleh kedua pihak yang bersangkutan. Rasanya janggal dan tidak pantas kalau ada yang mencampuri, apalagi yang mencampuri urusan cinta antara kedua orang itu adalah murid sendiri. Coba renungkan baik-baik, Cin Cin, dan sadarilah bahwa aku mengemukakan kedua hal ini demi kebaikanmu, bukan untuk membela Cian Bu Ong."
Cin Cin menunduk dan alis nya berkerut.
Ia tahu bahwa pencegahan yang dilakukan Thian Ki itu adalah untuk menjaga agar ia tidak sampai te was atau terluka oleh Cian Bu Ong yang memang harus ia akui jauh le bih lihai darinya.
Akan te tapi, masalah ke dua yang diajukan Thian Ki itu yang menarik hatinya.
Menurut subo-nya, ia sakit hati te rhadap Cian Bu Ong yang dahulu menjadi kekasihnya, karena Cian Bu Ong menyia-nyiakan, meninggalkannya.
Dan perbuatan pangeran itu adalah karena dia mengetahui akan keadaan subo-nya sebagai seorang tokoh sesat, dan terpaksa dilakukan karena pangeran itu memiliki cita-cita besar menjadi kaisar dan te ntu saja akan mencemarkan nama baiknya kalau dia berhubungan dengan seorang wanita sesat.
Subo-nya mendendam dan menghendaki kematian Cian Bu Ong, akan te tapi kenapa subonya menyuruhnya?
Padahal, subonya te ntu tahu betapa lihainya Cian Bu Ong!
Kalau subonya merasa sakit hati, kenapa tidak turun tangan sendiri sejak dulu?
"Thian Ki, kalau menurut pendapatmu, bagaimana?"
I a bertanya lirih, hatinya mulai terasa bimbang.
"Tentu tidak mungkin kalau aku kembali kepada subo menyatakan ketidak-sanggupanku!"
"Cin Cin, engkau te lah dapat menunaikan tugas yang diperintahkan subomu dengan baik, sudah berhasil membunuh Can Hong San, bahkan engkau sudah pula menemukan Cian Bu Ong dan menyerangnya, walaupun engkau tidak berhasil. Nah, engkau dapat melaporkan semua itu kepada subomu. Aku akan menemanimu menghadap subomu, dan aku yang mencoba membujuknya agar ia menghadapi sendiri Cian Bu Ong."
"Ahh! Ia tentu akan marah sekali kepadaku, juga kepadamu dan mungkin ia akan menyerangmu, Thian Ki!"
"Belum tentu, Cin Cin. Andaikata demikian, aku dapat melindungi diriku. Aku dapat menduga bahwa te ntu subomu itu masih mencinta Cian Bu Ong. I nilah sebabnya mengapa ia tidak dapat turun tangan sendiri untuk membunuh bekas kekasihnya itu, melainkan menanti sampai engkau dewasa dan memiliki kepandaian. Mungkin dengan penjelasanku, ia akan sadar dan tidak lagi menyuruhmu membunuh Cian Bu Ong."
Kembali Cin Cin terdiam sampai agak lama, hatinya bimbang, akan te tapi usul itupun amat menarik hatinya.
Pertama, iapun ingin sekali melihat bagaimana nanti tanggapan subonya te rhadap pemuda ini.
Dan ke dua, ini yang membuat jantungnya berdebar, pemuda ini hendak menemaninya pulang, berarti, mereka akan melakukan perjalanan berdua!
Entah bagaimana, sejak tangannya buntung oleh Thian Ki, ia tidak pernah mampu melupakan pemuda itu.
Kadang ia te ringat dengan hati penuh kebencian, penuh dendam karena pemuda itu te lah membuntungi tangannya.
Akan te tapi ada kalanya, ia teringat dengan perasaan kagum kepada pemuda itu, juga perasaan setia-kawan dan senasib.
Sekarang, setelah pemuda itu membantunya sehingga ia berhasil membunuh Can Hong San, Thian Ki hendak menemaninya menemui subonya.
"Baiklah, Thian Ki. Akan tetapi kalau engkau tidak berhasil membujuknya, kalau subo tetap dengan perintahnya, terpaksa aku akan mencari Cian Bu Ong dan mencoba untuk membunuhnya, dan engkau jangan mencampurinya lagi. Juga kuperingatkan bahwa subo amat benci kepada pria sebagai akibat perbuatan Cian Bu Ong, maka kalau ia bersikap tidak manis kepadamu, jangan menyalahkan aku."
Thian Ki memandang dengan wajah berseri.
Hatinya merasa gembira bukan main, bukan hanya karena dia diperbolehkan melakukan perjalanan bersama gadis itu, melainkan terutama sekali karena dia diberi kesempatan untuk melakukan sesuatu demi kebaikan gadis itu dan hal ini tentu saja dapat mengobati penyesalannya te rhadap diri sendiri yang mengakibatkan Cin Cin kehilangan tangan kirinya.
"Aku tidak biasa menyalahkan orang lain Cin Cin. Aku lebih suka menyalahkan diriku sendiri daripada menimpakan kesalahan kepada orang lain."
"Baiklah, kalau begitu mari kita berangkat. Perjalananan kita cukup jauh."
Thian Ki bertanya di mana Tung-hai Mo-li tinggal dan ketika mendengar bahwa guru Cin Cin tinggal di pantai timur, dia berkata.
"Ah, kalau begitu, perjalanan kita akan melewati dusun Hong cun di te pi Huang-ho. Kita dapat singgah di rumah Paman Si Han Beng, karena aku harus menemui paman Si Han Beng berdua!"
"Maksudmu Paman Si Han Beng Si Naga Sakti Sungai Kuning?"
Tanya Cin Cin heran dan te ringatlah ia betapa tadinya, kakeknya menyuruh Lai Kun mengantarnya kepada pendekar itu untuk menjadi muridnya.
"Benar, siapa lagi kalau bukan dia?"
"Hem, kalau saja Paman Lai Kun tidak berkhianat dan tidak menjualku di te ngah perjalanan, agaknya sekarang aku telah menjadi murid pendekar besar itu. Tapi, mau apakah kita singgah ke sana, Thian Ki?"
Perasaan hati Cin Cin tidak nyaman juga mendengar mereka akan singgah di rumah suami is teri pendekar yang namanya terkenal di dunia persilatan itu.
"Cin Cin, Paman Si Han Beng adalah adik angkat mendiang ayahku, maka dapat dianggap dia keluarga kami sendiri, akan tetapi bukan itu yang penting. Aku harus menghadap suami isteri pendekar itu, karena hanya mereka berdua saja yang akan mampu memberi petunjuk kepadaku agar aku te rbebas dari cengkeraman racun di tubuhku."
Cln Cin membelalakkan matanya yang indah. Semua perasaan penasaran dan tak senang kepada Thian Ki agaknya sudah te rhapus dan ia sudah pulih kembali seperti sebelum tangannya buntung.
"Aihh, engkau ini sungguh aneh, Thian Ki! Aku dan semua orang te ntu akan senang sekali jika dapat menjadi anak beracun sepertimu. Tidak akan te rkalahkan oleh siapapun juga! Akan tetapi engkau malah ingin membuang racun itu dari tubuhmu. Bagaimana ini?"
Thian Ki te rsenyum dan apa yang dia pikirkan saat itu keluar dari mulutnya.
"Ah, engkau mengingatkan aku kepada Kui Eng. Iapun ingin menjadi beracun seperti aku!"
"Kui Eng? Siapa itu? Seorang gadis.....?"
"Engkau sudah pernah berte mu dengannya, bahkan bertanding dengannya. Ia adalah adik tiriku dan sumoi-ku."
"Ahh, pute ri Cian Bu Ong itu? Akan te tapi, kukira bukan hanya aku dan ia yang ingin menjadi beracun sepertimu. Setiap orang ahli silat akan merasa bangga sekali kalau......"
"Ah, engkau hanya memperhitungkan enaknya saja, tidak mau tahu tentang tidak enaknya. Cin Cin. Bayangkan saja, dengan racun te rkutuk ini, tanpa disengaja aku te lah membuat engkau kehilangan tangan kirimu. Enakkah itu? Kalau yang te rkena begitu orang jahat atau musuh, masih mending, akan tetapi kalau orang sendiri? Selain itu, dengan keadaan seperti aku ini, aku tidak.. .tidak.........boleh menikah."
Kembali mata yang indah itu terbelalak, kini te rkejut.
"Ehh! Kenapa begitu?"
"Karena, kalau aku menikah......"
Thian Ki agak te rgagap karena bicara tentang pernikahan membuat dia enggan dan malu.
".....wanita yang menikah dengan aku akan mati keracunan."
"Ahhh........!"
Kini Cin Cin memandang kepada Thian Ki dengan mata terbelalak, dan sinar matanya yang tadinya te rkejut, perlahan-lahan mengandung sinar iba.
"Kalau begitu.......engkau seperti kena kutuk......"
"Begitulah, maka aku harus berusaha menghilangkan pengaruh racun ini dari tubuhku. Mendiang nenek yang menjadikan aku anak beracun juga tidak mampu melenyapkan racun ini, dan menurut keterangannya, yang mampu hanya orang-orang yang memiliki kesaktian tinggi, seperti Pek I Tojin guru Paman Si Han Beng dan He k Bin Hwesio guru Bibi Bu Giok Cu. Bahkan menurut mendiang nek, mungkin saja suami isteri pendekar itu sendiripun sudah cukup untuk dapat melenyapkan racun dari tubuhku."
"Ah, kalau begitu, memang perlu sekali singgah ke sana, Thian Ki! Engkau harus disembuhkan. Mari kita berangkat, akupun ingin berte mu suami isteri pendekar yang dipilih kakek untuk menjadi guruku itu, dan aku ingin bicara dengan mereka te ntang murid mereka."
Melihat gadis itu bangkit lalu melangkah pergi, Thian Ki juga mengikutinya. Mereka berjalan keluar dari jalan simpangan itu, menuju ke jalan besar yang masih sunyi.
"Cin Cin, kau tadi menyinggung te ntang murid Huang-ho Sin-liong? Siapakah dia?"
"Thian Ki, ingatkah engkau kepada The Siong Ki?"
"The Siong Ki, siapakah itu? Aku tidak ingat nama itu."
"Dia te man kita bermain-main ketika engkau dan orang tuamu datang berkunjun g ke Hek-houw-pang dulu itu. Dia putera supek The Ci Kok...."
"Ahhh, anak yang jangkung dan yang........eh telinganya kecil itu?"
Cin Cin tersenyum dan Thian Ki terpesona.
Baru sekarang dia melihat gadis ini tersenyum dan seolah-olah matahari baru muncul dari balik awan mendung yang te bal, mengusir semua kegelapan dan kemuraman!
"Benar dia, Thian Ki.
Aih, betapa aku selalu menggodanya dan mengatakan dia bertelinga tikus, dan dia marah-marah."
Gadis itu kini te rsenyum le bar sehingga nampak sedikit deretan giginya yang putih dan rapi, juga lekuk-lekuk di kedua pipinya nampak, membuat wajah itu menjadi manis sekali.
"Jadi dia yang menjadi murid Paman Si Han Beng? Ah, te ntu dia lihai sekali dan di mana engkau bertemu dengan dia, Cin Cin?"
"Dia memang lihai, akan tetapi kiraku aku masih mampu menandinginya. Kau tahu, dua kali aku berte mu dengan dia, dan dua kali pula aku sempat bertanding dengannya, walau hanya beberapa jurus saja."
Cin Cin lalu menceritakan tentang perte muannya dengan Siong Ki di Hek-houw-pang.
Kemudian yang ke dua kalinya ketika ia membela ibu kandung dan ayah tirinya yang hampir celaka di tangan Siong Ki.
'Penyerangannya te rhadap ibuku itulah yang membuat hatiku merasa penas aran dan aku akan sampaikan kepada Huang-ho Sin-liong dan isterinya!
Kalau dia berada di sana, aku akan menegur langsung dan menantangnya!"
"Aih, Cin Cin. Bagaimanapun juga, antara engkau dan dia masih ada hubungan persaudaraan lewat He k-houw-pang, kenapa urusan kecil dibesar-besarkan?"
"Urusan kecil? Kalau dia menyerang ayah tiriku karena dia menganggap ayah tiriku dahulu membantu Cian Bu Ong menyerbu Hek-houw-pang yang mengakibatkan supek The Ci Kok tewas, hal itu masih biasa dan aku tidak akan mencampurinya. Akan te tapi melihat ayah tiriku dalam bahaya, te ntu ibuku membela dan Siong Ki telah berani melukai pangkal le ngan kanan ibuku! Kalau aku tidak muncul di saat itu, siapa tahu dia akan membunuh i buku pula. He mm, kalau dia berada di rumah Huang-ho Sin-liong, aku akan beberkan semua ini dan kalau dia tidak mau mengakui kesalahannya dan minta maaf, aku akan menantangnya, membalaskan ibuku!"
Thian Ki menghela napas panjang.
Dia tahu Cin Cin menjadi seorang gadis yang keras karena gemblengan hidup sejak kecil, yang te ramat pahit.
Akan te tapi pada dasarnya, ia seorang gadis yang baik hati.
Dan memang Siong Ki kete rlaluan kalau berani melukai ibu gadis ini.
"Aku yakin bahwa Paman Si Han Beng dan isterinya, suami isteri pendekar yang bijaksana itu akan dapat mengambil tindakan kalau memang murid mereka bersalah. Huang-ho Sin-liong te rkenal bukan saja karena kelihaiannya, akan tetapi juga kegagahan dan kebijaksanannya."
Dia menghibur dan sebentar saja, wajah Cin Cin yang tadinya keruh kini menjadi je rnih dan cerah kembali.
Mereka melanjutkan perjalanan dan benar saja seperti dugaan dan harapan Thian Ki, setelah melakukan perjalanan dua tiga hari saja, gadis itu menjadi seorang kawan yang akrab, lincah dan selalu bergembira.
-ooo0dw0ooo-Bukan han ya Pangeran Tua Li Siu Ti, yaitu paman dari Pangeran Li Si Bin yang kini menjadi Kaisar Tung Tai Cung menggantikan ayahnya saja yang pernah memberontak sehingga dihukum mati seluruh keluarganya, juga pada awal Kerajaan Tang itu, te lah berulang kali te rjadi perebutan kekuasaan di antara para pangeran dan keluarga Kaisar.
Pendiri Kerajaan Tang, sesungguhnya adalah Pangeran Li Si Bin, walaupun sebagai kaisar pertama, yang diangkat adalah ayahnya, yaitu Li Goan, yang tadinya kepala daerah Shansi dan yang berjuluk Kaisar Tang Kao Cu (618 -627).
Semenjak Kerajaan Tang berdiri, sudah berulang kali terjadi perebutan kekuasaan, namun semua kerusuhan itu dapat dipadamkan ole h Pangeran Li Si Bin yang sejak mudanya memang merupakan seorang yang gagah perkasa, pandai ilmu silat dan ilmu perang juga amat bijaksana.
Ketika Pangeran Li Si Bin menjadi Kaisar Tang Tai Cung menggantikan ayahnya, Kaisar Tang Tai Cung (627 -649) dengan penuh semangat membangun Kerajaan Tang sehingga menjadi semakin kuat dan makmur.
Dia menjadi kaisar dalam usia duapuluh enam tahun dan sepuluh tahun kemudian, kerajaan Tang berkembang menjadi Kerajaan yang kuat dan diakui oleh para negara tetangga.
Akan tetapi, setelah para pangeran pute ra Kaisar Tang Tai Cun g mulai dewasa, kembali terjadi gejala persaingan dan perebutan kekuasaan di antara para pangeran itu!
Hal ini membuat Kaisar Tang Tai Cung menjadi pusing dan marah.
Sudah ada beberapa orang pangeran, pute ra-pute ranya sendiri, terpaksa diasingkan ke perbatasan barat dan utara, karena mereka saling bermusuhan memperebutkan kedudukan sebagai pangeran mahkota.
Akhirnya, Kaisar memilih Pangeran Li Hong yang berwatak pendiam, tidak pernah ikut bersaing memperebutkan kedudukan, seorang pangeran yang tampan, namun tidak cerdik dan bahkan wataknya le mah.
Selain itu, kelemahan menyolok dari Pangeran Li Hong adalah wataknya yang mata keranjang.
Kaisar Tang Tai Cung tahu akan hal ini, dan dia merasa prihatin sekali.
Akan tetapi tidak ada pilihan lain!
Kalau dia mengangkat seorang di antara pute ra-puteranya yang saling bermusuhan karena memperebutkan kedudukan menjadi pangeran mahkota, pasti akan timbul perte ntangan dan bentrokan hebat, terjadi perpecahan di antara keluarganya sendiri.
Dia berusaha untuk menggemble ng pangeran mahkota itu dengan mengundang guru-guru silat maupun sastra.
Akan tetapi, memang Pangeran Mahkota Li Hong tidak berbakat, juga kurang semangat, maka dalam kedua macam ilmu itupun dia sama sekali tidak mendapatkan kemajuan.
Kwa Bi Lan, yang menjadi selir Kaisar Tang Tai Cung semenjak kaisar masih Pangeran Li Si Bin, melihat semua perkembangan ini.
Ia sendiri sama sekali tidak te rtarik akan urusan pemerintahan.
Kalau ia sampai mau menjadi selir pangeran yang kini menjadi kaisar, hal itu sama sekali bukan karena ia berambisi untuk memperoleh kedudukan dan kemuliaan.
Sama sekali tidak!
Ia seorang wanita yang berjiwa pendekar dan ketika ia sebagai seorang janda muda tanpa anak menerima pinangan Pangeran Li Si Bin adalah karena memang te rtarik dan kagum kepada pangeran yang perkasa itu.
Akan tetapi, setelah pangeran itu menjadi kaisar, sebagian besar waktu dan perhatian Kaisar Tang Tai Cung dikerahkan untuk urusan pemerintahan, untuk mengemudikan pemerintahan dan memakmurkan negara.
Mulailah Kwa Bi Lan mulai kesepian dan kehidupan di dalam is tana itu dirasakannya menyiksa jiwanya yang biasanya bertualang dan bebas.
Apalagi ketika Kaisar Tang Tai Cung te rgila-gila kepada seorang dayang baru yang bernama Bu Couw Hwa, kaisar itu tidak lagi pernah datang berkunjung kepadanya, baik untuk bermalam di kamarnya atau untuk berbincang-bincang.
Hong Lan atau Lan Lan, yang kini menjadi puteri Istana dengan nama Li Hong Lan, dapat merasakan kedukaan ibunya.
Ia telah menjadi seorang gadis berusia delapanbelas tahun yang lincah jenaka, cantik jelita dan juga pandai ilmu silat, sastra dan seni!
Ia menjadi seorang pute ri yang dicinta oleh semua penghuni istana, dari kaisar sampai kepada dayang dan thai-kam (orang kebiri).
Bahkan para guru silat yang atas perintah kaisar mengajarkan silat kepadanya juga amat sayang kepada murid yang berbakat ini.
Para pangeranpun, yang te ntu saja tahu bahwa Hong Lan adalah seorang anak bawaan Kwa Bi Lan dan bukan pute ri kandung kaisar, juga menganggap Lan Lan sebagai adik mereka sendiri dan bersikap menyayang kepadanya.
Namun, semua ini tidak membuat Lan Lan menjadi manja atau besar kepala.
Ibunya selalu menekankan watak yang sederhana dan rendah hati, dan ibunya selalu mengingatkan agar ia tidak menjadi seorang gadis sombong, dengan menceritakan bahwa ibunya dahulu seorang gadis dari rakyat biasa.
Akan tetapi, Kwa Bi Lan tidak pernah menceritakan bahwa Lan Lan bukan pute ri kandung kaisar, walaupun ia tahu bahwa hal ini kelak tidak akan dapat ditutupi lagi dan pasti suatu hari Lan Lan akan mendengar sendiri bahwa ia bukan anak kandung kaisar, melainkan ikut ibunya yang menjadi selir kaisar setelah menjadi janda.
Biarlah ia kelak mengetahui bahwa ia bukan anak kandung kaisar, akan te tapi ia tidak akan pernah tahu bahwa ia bukan anak kandungku, pikir Kwa Bi Lan dan kalau sudah memikirkan hal ini, hatinya meraasa cemas dan khawatir.
Bagaimanapun juga, Pendekar Naga Sakti Sungai Kuning dan is rerinya adalah suami isteri pendekar yang sakti, dan bukan tidak mungkin suatu waktu mereka muncul menuntut kembalinya anak mereka itu.
Pada suatu pagi, Hong Lan telah berada di taman samping istana yang biasanya sunyi dan berlatih silat pedang seorang diri di tempat latihan yang dibangun di te ngah taman itu.
Tempat itu merupakan tempat te rbuka, beratap tanpa dinding, dengan lantai dari batu putih mengkilap, sebuah ruangan kosong yang hanya berisi beberapa buah bangku.
Tempat ini amat menyenangkan untuk duduk berangin-angin sambil menikmati keindahan taman, juga amat tepat untuk berlatih silat, tempat berteduh dari panas atau hujan.
Sungguh mengagumkan sekali melihat Hong Lan berlatih silat pedang di tempat itu.
Dara berusia delapanbelas tahun ini memang cantik manis dan karena suka berolah raga, maka tubuhnya padat dan indah.
Ketika ia bermain silat pedang, gerakan-gerakannya selain lentur dan cepat, juga indah seperti seorang penari yang ahli.
Namun di balik keindahan ini terkandung bahaya bagi lawannya.
Pedang itu kadang berdesing-desing suaranya, kadang tidak bersuara seperti angin lalu, adakalanya tidak nampak pedangnya, hanya nampak bayangan putih bergulung-gulung, adakalanya pula nampak pedang seperti berubah menjadi puluhan batang banyaknya.
Puteri ini memang hebat, sejak kecil sudah suka sekali mempelajari ilmu silat, tekun dan berbakat sehingga seluruh kepandaian silat yang dikuasai ibunya, telah dikuasainya semua, bahkan ia masih menerima pelajaran dari guru-guru silat istana sehingga dalam usia delapan belas, ia bahkan lebih lihai dibandingkan ibunya.
Bias anya, kalau berlatih silat di tempat itu, Hong Lan dite mani ibunya, atau gurunya yang lain.
Ia tidak begitu suka bergaul rapat dengan saudara-saudara tirinya, yaitu para pangeran, melihat betapa di antara para pangeran itu te rdapat persaingan dan permusuhan karena memperebutkan kekuasaan.
Ia tahu pula bahwa hampir semua pangeran mempunyai jagoan masing-masing, mempunyai pengikut masing-masing yang hendak membonceng pengaruh dan kedudukan pangeran, masing-masing mengharapkan majikan mereka kelak menggantikan kedudukan kaisar sehingga mereka akan memperole h bagian pula.
Karena itu, Hong Lan muak dengan keadaan itu dan iapun le bih suka menyendiri.
Hanya pangeran mahkota saja yang dianggapnya benar-benar seperti kakaknya sendiri, walau sikap kakak tirinya yang kadang te rlalu mes ra dan te rlalu dekat itu membuatnya risi dan rikuh juga.
Namun, hanya Pangeran Li Hong, atau ketika kecilnya disebut Li Ci, yang nampaknya te nang-te nang saja dan tidak mau bermusuhan dengan saudara-saudara tirinya untuk memperebutkan kekuasaan.
Diapun agaknya maklum bahwa sebagai pangeran lebih muda, dia tidak akan dipilih Akan tetapi kenyataannya, karena para pangeran lain berlomba memperebutkan kedudukan, Kaisar Tang Tai Cung bahkan memilih dia menjadi Pangeran Mahkota, calon penggantinya kelak kalau dia sudah tiada!
Akan te tapi, pengangkatan inipun agaknya disambut dengan acuh saja oleh Pangeran Li Ci atau Li Hong.
Dia le bih suka bermain-main dengan para dayang dan pute ri, karena hanya kalau berdekatan dan bergaul ramah, dengan wanita cantik sajalah hatinya dapat merasa bahagia!
Akan te tapi pagi hari itu, Hong Lan berlatih seorang diri.
Ibunya masih tidur.
Ia tahu bahwa te rjadi perubahan besar dalam sikap ibunya.
Dahulu, ibunya cekatan dan selalu bergembira, akan te tapi akhir-akhir ini, ibunya le bih banyak merenung dengan wajah murung.
Bahkan di waktu malam sering bergadang di dalam kamar, membaca dan te rmenung saja, sehingga paginya agak te rlambat bangun.
Juga ibunya malas berlatih silat.
Ia tahu penyebabnya.
Ayahnya, Kaisar Tang Tai Cung, selama beberapa bulan ini seperti melupakan ibunya, tidak pernah datang berkunjung untuk bermalam atau bercakap-cakap.
Itulah yang membuat, ibunya menjadi murung.
Dan Hong Lan juga tahu mengapa ayahnya tidak pernah muncul.
Ayahnya sedang te rgila-gila kepada seorang dayang muda cantik, dan selain itu, juga ayahnya sedang te rtarik akan ilmu gaib, te rutama yang ada hubungannya dengan ilmu membuat umur panjang!
Ia mendengar bahwa ayahnya mengadakan hubungan dengan seorang tosu ahli ilmu gaib atau ilmu sihir, untuk mempelajari ilmu membuat usia menjadi panjang, bahkan kalau mungkin, dapat hidup selamanya tidak dapat mati!
Tiba-tiba Hong Lan melompat dan menyelinap ke balik rumpun bunga yang berdaun le bat.
Ia mendekam di balik semak-semak ini untuk bersembunyi, karena lapat-lapat ia mendengar suara orang menuju ke situ.
Pada saat itu ia tidak ingin diganggu orang lain, maka iapun bersembunyi agar tidak ada yang melihatnya.
Ketika suara orang-orang itu semakin dekat, te rnyata yang melangkah perlahan-lahan adalah ayahnya, Kaisar Tang Tai Cung dan seorang tosu yang bertubuh tinggi bermuka merah.
Hong Lan te rtarik dan hampir tidak bernapas, ia tahu bahwa ayahnya adalah seorang yang lihai, dan ia mendengar pula bahwa tosu inipun seorang sakti, maka ia khawatir kalau sampai ia ketahuan.
Dari balik semak-semak, ia menghampiri mereka berdua.
Ayahnya, Sribaginda Kaisar, sudah nampak tua, padahal usianya belum ada limapuluh tahun.
Semua pertengkaran antara para pangeran membuat kaisar ini banyak menderita sedih dan je ngkel, membuat kesehatannya mundur dan garis -garis kepahitan menggores di wajahnya yang tampan dan gagah.
Tubuhnya masih nampak kokoh dan gesit, akan tetapi ayahnya itu agaknya sudah kehilangan gairah penuh semangat pada pandang matanya yang kini nampak sayu.
Hong Lan sudah mendengar akan pengaruh seorang tosu ahli sihir atas diri ayahnya, akan tetapi belum pernah ia melihat orangnya.
Kini, melihat seorang tosu dengan jubah longgar dan ada gambar pat-kwa (s egi delapan) simbol Im-yang (Positip Negatip) di dada, segera ia dapat menduga bahwa te ntu ini tosu yang kabarnya berjuluk Im Yang Seng cu itu!
Seorang pria yang bertubuh tinggi te gap, le bih tinggi sedikit daripada ayahnya, mukanya merah dan kumis jenggotnya yang memutih itu jarang dan pelipis wajahnya aneh, mulutnya terhias senyum akan te tapi pandang matanya demikian dingin tanpa perasaan!
Mereka berdua melangkah perlahan berdampingan dan tidak nampak ada pengawal seorangpun.
Memang ayahnya tidak pernah mengajak pengawal kalau berjalan-jalan di dalam lingkungan is tana.
Ayahnya adalah seorang ahli silat yang tangguh, maka tidak membutuhkan perlindungan pengawal.
Ketika mereka tiba di depan ruangan te rbuka itu, mereka berhenti dan Kaisar memberi isyarat agar mereka mengaso dan duduk di bangku yang paling depan.
Hong Lan berada di belakang mereka, di balik semak-semak, tidak dapat melihat wajah mereka, namun dapat mendengarkan percakapan mereka dengan jelas.
"To-tiang, berapa lama lagikah obat panjang usia yang sedang kau buat itu? Kami sudah tidak sabar menanti. Sudah dua bulan engkau membuatnya, sampai sekarang belum juga selesai."
"Harap paduka bersabar, Sribaginda. Pembuatan obat itu tidak mudah, harus makan waktu seratus hari. Bersabarlah kurang le bih sebulan lagi dan pinto pasti akan menyerahkan obat itu kepada paduka. Tentu saja keberhasilan usaha manusia te rgantung dari kehe ndak Langit dan Bumi, karena hanya keselarasan Langit dan Bumi saja yang dapat menghidupkan segala sesuatu. Yang wajib kita lakukan, disamping usaha semampunya, adalah menyerah kepada kekuasaan Sang Maha Pencipta. Akan tetapi, yang merisaukan hati hamba adalah hasil penelitian hamba te rhadap bintang-bintang di langit malam tadi. Cuaca cerah, langit bersih dan tidak te rganggu sinar bulan sehingga bintang-bintang nampak jelas dan mereka bicara banyak mengenai kerajaan paduka."
"Ahhh! Apa yang dikatakan bintang-bintang te rhadap kerajaan kami, to-tiang? Hatiku selalu risau kalau memikirkan keadaan kerajaan, melihat betapa tidak ada pangeran yang kuanggap cukup bijaksana dan memenuhi syarat untuk menjadi penggantiku. Beberapa orang pute raku yang kuanggap cukup kuat dan pandai, ternyata berhati bengkok dan saling bermusuhan, sehingga te rpaksa kami membuangnya keluar kota raja. Hanya Pangeran Li Ci saja yang memiliki watak baik, akan tetapi dia seorang laki-laki yang lemah dan kurang semangat. Terpaksa, karena hanya itulah satu-satunya jalan, kami mengangkatnya menjadi Pangeran Mahkota. Bagaimana menurut perhitungan semalam to-tiang? Kami ingin sekali mengetahui nasib kerajaan kami."
"Sian-cai........! Nasib memang telah digariskan, namun segalanya tergantung dari usaha kita, karena yang kita ketahui hanyalah hasil atau gagalnya usaha kita. Jalannya nasib merupakan rahasia bagi kita, dapat dijenguk, namun tetap tidak dapat dimengerti. Menurut perhitungan hasil semalam melalui bintang-bintang, Kerajaan Tang masih dapat berjaya dan bertahan sampai ratusan tahun, sedikitnya tigaratus tahun lagi."
Kaisar memandang tosu itu dengan wajah berseri.
"Bagus! Terima kasih kepada Bumi dan Langit yang akan mempertahankan keturunan kami sampai tigaratus tahun!"
"Siancai..........! Bagaimanapun juga, tidak ada hari cerah tanpa mendung, tidak ada siang tanpa malam, tidak ada kemujuran tanpa diselingi kemalangan. Hidup memang harus diisi gelap dan te rang, senang dan susah, dan demikian pula dengan kerajaan paduka. Bahkan dalam waktu satu keturunan saja, kekuasaan kerajaan akan dipegang oleh orang lain marga, bukan marga Li yang akan mengendalikan pemerintahan, melainkan marga Bu."
"Apa........?!?"
Ini tidak mungkin! Aku akan bertindak!"
Te riak kaisar dengan marah.
"Siancai, siancai........! Harap paduka suka menenangkan hati. Kemarahan dan kekhawatiran hanya akan menimbulkan penyakit dan mengganggu kesehatan paduka yang sudah mundur, karena paduka banyak memusingkan soal para pangeran. Tentu saja paduka berhak untuk bertindak, justeru manusia dituntut untuk bertindak dan berikhtiar, akan te tapi hendaknya paduka tidak lupa akan hokum alam dan tidak bertindak menuruti nafsu saja."
Kaisar menahan kemarahan hatinya. Biar kepada tosu ini sekalipun, dia harus merahasiakan, tindakan apa yang akan diambilnya, maka diapun membelokkan percakapan.
"Bagaimana dengan pute ra mahkota? Akan baikkah nasibnya dan mampukah dia mengatur pemerintahan menggantikan kami?"
Tosu itu tersenyum.
"Harap paduka jangan khawatir. Menurut perhitungan bintang semalam, bintang pute ra paduka itu cemerlang. Pangeran Li Hong atau Li Ci kelak akan memerintah sampai puluhan tahun dengan baik!"
"Aihh........ ! Luar biasa! Bagaimana mungkin te rjadi hal yang sebaik itu, padahal kami selalu meragukan kemampuannya? Dia le mah dan tidak cerdas, juga kurang semangat!"
"Sribaginda, kecakapan seseorang masih tidak begitu besar pengaruhnya te rhadap dirinya melebihi pengaruh nasib. Sang Pangeran bernasib baik sehingga beliau akan selalu memperoleh pendukung dan pembantu yang setia dan baik, dan karena bantuan inilah yang membuat dia dapat berkuasa sampai puluhan tahun lamanya, dan negara akan menjadi makmur dan te nteram, juga agama berkembang pesat. Agama Buddha akan memegang peranan penting dalam pemerintahan pute ra paduka."
"Dan tadi kau katakan bahwa ada marga yang Bu yang menguasai......"
"Harap paduka te nang saja. Kalaupun ada marga yang memegang kendali pemerintahan, bukan berarti bahwa marga Li te rsingkir. Siapa tahu marga Bu malah yang menjadi pendamping dan pembantu. Ini hanya Bumi dan Langit yang tahu, dan Yang Maha Pengatur yang akan mengatur semua itu. Usaha apapun yang kita lakukan, tidak akan mampu mengubah ketentuan yang telah digariskan, Yang Mulia."
"Hemm, aku khawatir sekali melihat kelemahan Li Ci! Kalau saja aku diberi umur panjang, aku akan dapat mencegah marga apapun juga menguasai keturunanku! To-tiang, cepat selesaikan obat panjang umur itu. Aku ingin hidup seribu tahun lagi agar dapat menjaga kekuasaan keturunanku!"
Mereka bangkit dan berjalan pergi perlahan-lahan.
Hong Lan tertegun di tempat persembunyiannya.
Diam-diam ia merasa ngeri, merasakan pergolakan yang mempengaruhi suasana di istana.
Perebutan kekuasaan!
Agaknya setiap orang di is tana telah kejangkitan penyakit itu.
Berlomba untuk meraih kekuasaan, persaingan, permusuhan dan kebencian!
Manusia saling bermusuhan dan hal ini berlangsung terus, agaknya sejak manusia-manusia pertama diciptakan sampai sekarang!
Manusia saling bermusuhan, saling berlomba dan berebut kekuasaan, berebutan harta.
Mengapa demikian?
Semua ini adalah pengaruh iblis, pengaruh setan yang hendak menguasai manusia.
Iblis mempergunakan daya-daya rendah yang ada pada diri manusia untuk menyeret manusia agar menyeleweng dari jalan hidup seperti yang dikehendaki Tuhan Maha Pencipta.
Mungkin timbul pertanyaan.
Apa dan bagaimana yang dikehendaki Tuhan itu dan bagaimana kita dapat menentukan bahwa itu adalah kehendak Tuhan?
Menjawab pertanyaan seperti ini hanya mengandalkan pikiran adalah tidak mungkin, atau jawaban itu hanya akan menimbulkan perdebatan dan perte ntangan belaka.
Untuk menjawab pertanyaan di atas, menimbulkan pertanyaan lain te ntang ada dan tidaknya Tuhan!
Inipun bukan suatu pertanyaan untuk dijawab oleh otak kita.
Ada atau tidaknya Tuhan merupakan kepercayaan atau ketidak percayaan saja, karena tidak mungkin membuktikan keberadaan Tuhan melalui panca-indera.
Namun kekuasaan Tuhan dapat dibuktikan.
Seluruh jagad mayapada beserta semua isinya ini, jelas ada, dapat dilihat, didengar dan dicium.
Kalau ada, tentu ada yang mengadakannya!
Nah, Yang Mengadakan inilah yang kita sebut Tuhan!
Kekuasaan Tuhan nampak jelas di mana-mana, bahkan dalam diri kita sendiri.
Dari setiap helai bulu di tubuh kita, rambut dan kuku, semua itu tumbuh tanpa kita tumbuhkan.
Jadi, ADA yang menumbuhkan, dan inilah kekuasaan Tuhan!
Kemampuan lalat dan burung te rbang di udara, kemampuan ikan hidup di air, cacing di dalam tanah, semua itu karena kekuasaan Tuhan yang mengaturnya.
Dan kekuasaan itu kita namakan HIDUP atau kehidupan.
Lalu, bagaimana kita dapat menentukan bahwa semua itu merupakan kekuasaan Tuhan?
Siapakah Tuhan?
Pria atau wanita?
Satu ataukah banyak?
Dimana te mpat tinggalnya?
Semua pertanyaan otak atau pikiran ini sama sekali tidak te pat untuk dijawab.
Nama bagi Yang Maha Kuasa atau Maha Pencipta itu hanyalah sebutan yang kita pakai saja menurut bahasa masing-masing.
Kekuasaan Tuhan berada di manapun juga, dan kekuasaanNya bekerja melalui sinar matahari, udara, air, api, tanah sehingga memberi kehidupan.
Pikiran tidak mungkin mengukur kebesaran Tuhan!
Tidak mungkin dapat membayangkan.
Kita ini merupakan satu di antara mahluk ciptaan Tuhan.
Walaupun merupakan mahluk yang paling le ngkap dan sempurna, berikut hati dan pikiran, dilengkapi akal budi, namun te tap saja serba terbatas.
Mata kitapun te rbatas, tidak dapat melihat benda yang le bih le mbut daripada ukuran mata.
Pendengaran, penciuman, juga hati akal pikiran, semua terbatas.
Bagaimana mungkin yang serba te rbatas ini mengukur YAN G TIDAK TERBATAS?
Pikiran ini hanyalah gudang yang is inya hanya tumpukan pengalaman.
Kita hanya dapat mengenal hal-hal atau sesuatu yang pernah kita kenal, kita ketahui.
Kalau kita disuruh mencari seseorang, tentu pikiran mencari-cari dalam gudang itu dan mencari-cari bayangan orang itu.
Kalau kita pernah bertemu dengannya, pernah mengenalnya atau mengetahui bagaimana rupanya, siapa namanya, te ntu kita dapat mencarinya.
Akan te tapi bagaimana kita dapat mencari seseorang yang sama sekali tidak kita ketahui, tak pernah kita kenal, baik rupanya, namanya atau te mpat tinggalnya?
Tidak mungkin, bukan?
Baru mencari orang yang tidak kita kenal saja, tidak mungkin.
Bagaimana pikiran ini, yang hanya merupakan gudang benda-benda lapuk, dapat menemukan atau mencari Tuhan?
Yang akan kita te mukan tentulah Tuhan yang sudah terbentuk dalam pikiran kita, gambaran yang kita dapat te ntang Tuhan, dan jelas bahwa yang kita temukan itu hanyalah sebuah bayangan belaka dari angan-angan kita sendiri.
Baru membayangkan bentuk udara, bentuk api, atau bentuk air saja sudah tidak mungkin bagi kita.
Yang dapat kita bayangkan adalah bentuk air dalam wadahnya, bentuk api dalam nyalanya, bentuk udara dalam te kanannya.
Apalagi membayangkan bentuk Yang Maha Pencipta, yang menciptakan semua itu!
Tidak mungkin!
Disini letaknya peran dari iman.
Tuhan hanya dapat disentuh dengan iman!
Dengan kesadaran bahwa Tuhan itu Ada karena kekuasaannya ada dan te rbukti.
Dan kalau sudah begitu, keimanan membawa kita kepada kepercayaan akan wahyu Tuhan yang dilimpahkan kepada manusia melalui manusia pula, manusia yang sudah dipilihnya, untuk memimpin manusia agar menjauhi kejahatan dan melakukan kebajikan.
Melakukan kebaikan dalam kerukunan bersama antar manusia untuk mempertahankan keberadaan manusia.
Dan kebaikan inilah yang kita te rima sebagai kehe ndak Tuhan!
-ooo0dw0ooo-
Jilid 27 Atau, kalau ada manusia dilahirkan di tempat di mana belum ada peradaban, belum ada pengertian te ntang wahyu dinamakan agama, te tap saja manusia memiliki kesadaran akan adanya kekuatan yang berada di luar batas kemampuannya.
Manusia, dari pengalamannya, akan mengakui adanya kekuasaan yang le bih tinggi, di luar jangkauan akal pikiran manusia, kekuasaan yang akan menghukum manusia melalui bencana alam dan sebagainya.
Sampai lama Hong Lan te rmenung di te mpat persembunyiannya.
Sekarang ia mengerti mengapa ayahnya selama ini nampak murung dan tidak bergairah.
Kiranya ayahnya sedang bingung memikirkan keadaan kerajaannya, keadaan keluarganya.
Para pangeran, kakak-kakaknya, agaknya tidak membuat hati ayahnya menjadi senang.
Dua orang kakaknya telah dihukum buang karena saling bermusuhan memperebutkan kekuasaan, berlomba ingin dipilih menjadi pute ra mahkota.
Dan Pangeran Li Ci atau Li Hong, kakaknya yang kini berusia duapuluh tahun itu, agaknya juga tidak memuaskan hati ayahnya.
Dan iapun tidak merasa heran.
Kakaknya itu, pangeran Li Ci, adalah seorang pangeran yang baik hati, le mbut dan ramah, juga sedikitpun tidak pernah memperlihatkan keinginannya untuk menjadi pangeran mahkota.
Akan te tapi diapun malas belajar silat atau sastra.
Kegemarannya hanya bermain-main, bersenang-senang, dan suka sekali bergaul dengan para dayang dan selir Sri baginda.
Baik hati dan le mbut, namun kurang semangat dan bahkan agak bodoh, tidak memiliki pendirian te gas dan tidak jantan.
Orang seperti kakaknya itu, bagaimana mungkin dapat menggantikan ayahnya yang bijaksana, adil, keras dan tegas sebagai kaisar.!
Kedua kakaknya yang lain le bih bersemangat, juga gagah, akan te tapi semangatnya begitu berle bihan, sehingga ambis i mereka terlalu besar.
Mereka tidak segan untuk saling berebutan agar dapat menjadi pangeran mahkota, menimbulkan kerusuhan bahkan tidak segan menentang ayah sendiri sehingga akhirnya mereka dihukum buang!
Hong Lan keluar dari tempat persembunyiannya dan berjalan-jalan di dalam taman menuju ke hutan kecil yang menembus ke istana bagian pute ri.
Ia merasa lelah sehabis berlatih silat tadi, ingin mandi segar lalu sarapan.
Akan te tapi tiba-tiba ia menyelinap lagi, bersembunyi di balik semak bunga yang lebat, dan mengintai.
Ia melihat kakaknya.
Pangeran Li Ci, sedang berjalan dengan santai, bergandeng tangan dengan seorang dayang yang amat cantik manis.
Ia mengenal dayang itu sebagai dayang baru yang didesas-desuskan menjadi kekasih ayahnya.
Dayang itu bernama Bu Couw, akan te tapi setelah menjadi kekasih kaisar, diberi nama indah Mei Ling.
Bu Mei Ling!
Wanita cantik jelita yang masih muda sekall, bahkan masih kekanak-kanakan, berusia tujuhbelas tahun, nampak mes ra sekali dengan kakaknya, Pangeran Li Ci.
Mereka jalan bergandengan tangan sambil bercakap-cakap, sikap mereka seperti dua orang anak-anak yang sedang bermain-main.
Mereka berjalan menuju ke sebuah pagoda kecil di sudut taman dan di sana mereka bermain, berlarian saling kejar seperti dua orang kanak-kanak.
Hong Lan merasa hatinya panas bukan main.
Sungguh keterlaluan sekali.
Menjadi kekasih ayahnya, sekarang bermesraan dengan pute ra ayahnya, wanita macam apa itu.?
Dan iapun sesalkan sikap kakaknya.
Begitu mata keranjangkah kakaknya sehingga dia berani bermain gila dengan kekasih ayahnya, yang biarpun belum res mi, dapat dibilang ibu tirinya juga?
Hong Lan ingin keluar dari tempat sembunyinya dan ingin langsung saja menemui kakaknya dan menegurnya, akan tetapi belum sampai ia bangkit, ia sudah menyusup kembali ketika melihat dua orang menyelinap dari balik batang pohon besar.
Mereka adalah thai-kam (laki-laki kebiri) atau sida-sida (kasim) bertubuh gendut dan seorang wanita yang melihat pakaiannya tentulah seorang pelayan.
Melihat gerakan mereka, jelas bahwa keduanya memiliki kegesitan dan ketangkasan.
Hong Lan mengenal wanita berusia tigapuluhan tahun itu, maka ia menduga bahwa wanita itu tentulah seorang pelayan di luar keputrian, mungkin pelayan seorang pangeran tua, yaitu para saudara dari kaisar yang banyak tinggal di lingkungan istana.
Sikap mereka mencurigakan karena mereka tadi juga melakukan pengintaian terhadap Pangeran Li Ci dan dayang Bu Mei Ling itu.
Dan agaknya mereka sudah lebih dahulu mengintai, karena dia tadi tidak melihat gerakan mereka.
Kini keduanya melangkah dan kebetulan berhenti tak jauh dari tempat ia bersembunyi, sehingga dapat mendengarkan percakapan mereka.
"Lihat itu, pangeran selemah itu, sungguh tidak menguntungkan kalau kelak menjadi kaisar,"
Kata sida-sida itu yang dikenal Hong Lan sebagai seorang di antara pelayan di istana bagian puteri.
"Karena itu, Pangeran Li Seng Cun hendak membimbingnya. Di bawah bimbingan Yang Mulia Pangeran Li Seng Cun, te ntu pemerintahan akan menjadi kuat dan baik sekali. Sudahlah, kita tahu betapa lemahnya Pangeran Li Ci, tidak perlu dibicarakan lagi. Yang penting, aku diutus untuk minta penjelasan yang meyakinkan, malam ini baginda akan bermalam di kamar mana?"
"Masih sepagi ini, bagaimana dapat dite ntukan? Bias anya, nanti sehabis makan malam, Sribaginda akan menentukan pilihannya di antara selir dan dayang."
"Bagaimana dengan dayang baru yang kabarnya menjadi kekasih beliau itu?"
Wanita itu menunjuk ke arah pagoda di mana tadi Pangeran Li Ci dan dayang Bu Mei Ling bermain-main.
"Agaknya Sribaginda kini mulai melupakannya dan lihat saja, ia sudah mulai bermain gila dengan pangeran mahkota."
"Wanita itu yang akan pertama-tama menerima hukuman mati kalau rencana majikanku berhasil. Kalau begitu, malam nanti aku akan datang lagi untuk minta berita terakhir darimu. Pangeran Li Seng Cun sudah mempersiapkan segalanya, katakana saja di mana malam ini Sribaginda bermalam dan te ngah malam nanti segalanya akan beres."
Suara wanita itu terdengar dingin.
"Tapi......aku.........aku takut terbawa-bawa.."
Thai-kam itu berkata dengan suara agak gemetar.
"Bodoh kamu! Apa yang perlu ditakuti dan siapa akan menyangka bahwa engkau te rlibat dalam urusan pembunuhan ini.? Bagaimanapun juga, engkau sudaah terlibat dan sekali aku membuka mulut, engkau akan ditangkap!"
"Ehh.....ohh.... jangan begitu....."
"Kalau begitu, laksanakan baik-baik semua perintah ini, dan malam nanti aku harus sudah dapat mengetahui di mana malam ini Sribaginda tidur!"
Setelah berkata demikian, dua orang itu berpisah dan pergi meninggalkan taman.
Hong Lan tertegun dan sampai lama termenung, tidak begitu mengerti apa sesungguhnya yang direncanakan dua orang itu tadi.
Yang je las, mereka merencanakan sesuatu!
Mereka ingin tahu di mana malam ini ayahnya bermalam, di kamar mana dan dengan selir yang mana.
Dan yang membuat ia merasa ngeri adalah ucapan wanita tadi yang menyebut te ntang pembunuhan!
Siapa yang akan dibunuh dan mengapa?
Ketika melihat kakaknya, Pangeran Li Ci nampak kembali bergandeng tangan dengan Bu Mei Ling, Hong Lan mengerutkan alisnya.
Sungguh tidak pantas!
Ia merasa penasaran dan marah, lalu keluar dari balik semak dan langsung saja ia melangkah dan menyongsong kakaknya.
Melihat munculnya Hong Lan, dua orang muda yang agaknya dimabok cinta itu saling melepaskan gandengan tangan mereka dan Bu Mei Ling menekuk kedua lututnya sambil memberi hormat.
Bagaimanapun juga, ia masih berkedudukan sebagai dayang, dan gadis di depan adalah puteri kaisar.
"Tuan pute ri......"
Katanya dengan suara yang merdu.
Hong Lan mengerutkan alisnya.
Ia tidak dapat menyalahkan dayang itu karena ia tahu benar bagaimana kedudukan seorang dayang di is tana.
Seolah seorang gadis dayang tidak kuasa atas dirinya sendiri lagi, harus patuh dan taat diperlakukan bagaimana pun oleh kaisar dan keluarganya.
Kalau kaisar atau pangeran menghendaki dirinya, tak seorang dayangpun berani menolak atau membantah, karena itu berarti hukuman mati!
Ketidak-senangan hatinya le bih diarahkan kepada kakaknya.
"Engkau pergilah, aku hendak bicara berdua dengan kanda pangeran!"
Katanya ketus. Dayang itu memberi hormat lalu pergi dengan patuh. Setelah dayang pergi, baru Hong Lan berani mengeluarkan sikap kemarahannya kepada Pangeran Li Ci.
"Kakanda pangeran, sungguh tidak pantas yang kau lakukan ini!"
Pangeran Li Ci mengerutkan alisnya, memandang kepada a diknya dengan pandang mata merah.
"Lan Lan, apa yang kau maksudkan dengan kata-kata teguran yang tidak pada te mpatnya ini?"
Dia marah dan heran sekali mengapa adiknya ini berani menegurnya seperti itu!
"Kakanda pangeran, pantaskah pergaulanmu yang te rlalu akrab dengan dayang itu?
Apakah kakanda pura-pura tidak tahu bahwa ia itu merupakan dayang kesayangan ayah, dan biarpun belum resmi, ia telah menjadi kekasih dan calon selir ayah?
Berarti, ia adalah ibu tiri kita!
Dan kakanda masih bergaul demikian mesranya, seperti sepasang kekasih saja!
Bagaimana kalau sampai ayah mengetahui akan hubungan itu?
Sungguh tidak pantas sekali."
Wajah pangeran itu berubah merah sekali dia memandang kepada adiknya dengan sepasang mata berapi-api.
"Hong Lan!"
Pangeran itu menudingkan te lunjuknya kepadanya.
"Agaknya sikap menyayang dan baikku te rhadapmu selama ini membuat engkau menjadi keras kepala, manja dan kurang ajar! Engkau anak kecil tahu apa, berani mencampuri urusan pribadiku?"
"Kakanda Pangeran, aku bersikap begini demi kebaikanmu sendiri! Aku tidak ingin melihat engkau dimarahi ayahanda Sri baginda!"
"Cukup! Engkau tidak berhak bicara te ntang urusan pribadiku!"
"Kakanda, kenapa tidak berhak? Bukankah aku ini adikmu pula, satu ayah walau berlainan ibu Aku berhak......."
"Cukup! Engkau memang tidak mengenal budi. Semestinya, sikapku yang menganggapmu seperti adik sendiri kaubalas dengan bantuan agar aku dapat selalu berdekatan dengan wanita yang kucinta tanpa gangguan. Bukan sebaliknya engkau malah menentang dan mencela aku!"
Hong Lan terbelalak.
"Kakanda Pangeran! Apa yang kaumaksudkan? Tentu saja engkau harus menganggap aku sebagai adik sendiri karena memang aku ini adikmu, satu darah, satu marga. Kita sama-sama anak dari Sribaginda, ayah kita!"
"Hemm, andaikata kusimpan juga rahasiamu, suatu saat engkau pasti akan mendengar juga dari orang lain. Yang kete rlaluan adalah ibumu, kenapa ia tidak memberi tahu secara terus te rang saja bahwa engkau bukan puteri kandung ayah? Bahwa antara kita berdua sama sekali tidak ada hubungan darah, tidak ada hubungan keluarga, bahkan sebetulnya engkau tidak berhak memakai she (marga) Li!"
Wajah Hong Lan menjadi pucat sekali.
Ia memandang kepada pangeran itu dengan mata te rbelalak.
Andaikata yang berkata demikian itu orang lain, tentu s udah diterjang dan dihantamnya orang itu.
Akan tetapi yang bicara adalah Pangeran Li Ci, kakaknya yang biasanya bersikap ramah dan baik kepadanya, menyayangnya dan baru sekarang nampak marah karena merasa terganggu kesenangan pribadinya tadi.
Akan tetapi, apa yang didengarnya dari ucapan pangeran itu bagaikan pedang menusuk jantungnya.
Ia bukan pute ri kandung kaisar.!
Bagaikan disambar halilintar rasanya dan diapun membalikkan tubuhnya lalu lari seperti terbang meninggalkan taman itu, memasuki istana mencari ibunya.
Melihat akibat ucapannya.
Pangeran Li Ci menghela napas panjang dan menggeleng kepalanya.
"Kasihan Hong Lan, akan tetapi sekali waktu ia pasti akan mendengar juga. Ibunya harus berte rus terang kepadanya, ia anak baik....."
Sementara itu, Hong Lan menahan diri agar tidak sampai menangis walau hatinya terasa resah bukan main.
Kalau bukan Pangeran Li Ci yang bicara, mungkin ia tidak akan percaya sama sekali.
Akan tetapi ia tahu benar bahwa pangeran itu adalah seorang yang tidak dapat berbohong, bahkan te rlalu jujur sehingga kadang nampak bodoh sekali.
Ia harus mencari ibunya, ia harus bertanya dan memaksa ibunya untuk berte rus te rang.!
Kwa Bi Lan terkejut sekali melihat kemunculan pute rinya yang meloncat begitu saja ke dalam kamarnya dengan muka pucat, matanya mencorong aneh.
"Lan Lan.........!"
"I bu, ibu harus mengatakan terus terang!"
Kata gadis itu terengah-engah, seolah napasnya menjadi sesak saking tegang hatinya.
"Benarkah bahwa aku bukan pute ri kandung Sribaginda Kaisar? Benarkah itu, ibu?"
Wajah Kwa Bi Lan juga berubah.
Ia nampak te rkejut, lalu menghela napas panjang.
Hal seperti ini memang sudah ia khawatirkan akan terjadi setiap waktu.
Terlalu banyak orang is tana mengetahui bahwa ketika ia bekerja sebagai komandan pasukan pengawal pribadi Kaisar, sejak kaisar masih pangeran, ia telah membawa seorang pute ri, yaitu Hong Lan dan ketika ia menjadi selir, anak itu diaku sebagai puteri kaisar.
Biarpun ia sudah menduga sekali waktu hal ini akan terjadi, yaitu bahwa Hong Lan pasti akan mendengar rahasia itu, ketika Hong Lan menuntut agar ia berte rus terang, ia merasa gelisah dan berat sekali.
"Lan Lan, siapakah yang mengatakan hal bohong itu kepadamu?"
Ia mencoba untuk menyangkal.
"Yang memberitahu adalah kakanda Pangeran Li Ci, Ibu,"
Kata gadis itu, matanya tak berkedip menatap wajah ibunya.
"Tapi........dia biasa bersikap amat baik kepadamu, kepada kita. Kenapa sekarang tiba-tiba dia bicara seperti itu?"
Kwa BI Lan termangu, seperti bicara kepada diri sendiri.
"Aku memergoki dia sedang bermesraan dengan dayang yang menjadi kekasih ayah seperti didesas-desuskan orang, yang bernama Bu Mei Ling itu, bu. Aku menegur kakanda pangeran dan dia marah lalu mengatakan bahwa aku tidak perlu mencampuri urusan pribadinya karena aku bukan adiknya, aku bukan pute ri ayah, melainkan orang lain. Benarkah ini, ibu? Aku sudah dewasa, bukan anak kecil lagi ibu. Aku dapat menerima kenyataan yang paling pahit sekalipun. Kalau benar demikian, katakanlah, ibu. Aku ingin mendengarnya dari mulut ibu sendiri."
Kwa Bi Lan menghela napas panjang.
"Aihhh, betapa buruk nasib Sribaginda! Seorang yang bijaksana seperti beliau, dikelilingi orang-orang yang palsu dan merupakan musuh-musuh dalam selimut yang berbahaya. Bahkan pute ra-pute ranya juga bukan manusia bijaksana seperti ayahnya. Entah apa akan jadinya dengan kerajaan ini kelak....."
"I bu, jawablah pertanyaanku tadi......"
"Baik, Lan Lan. Memang sudah sepatutnya engkau mengetahui keadaan dirimu sendiri. Aku belum menceritakan kepadamu karena ingin menunggu sampai engkau dewasa. Setelah melihat engkau dewasa, timbul rasa iba di hatiku, maka aku masih bimbang untuk menceritakannya kepadamu, takut kalau engkau kecewa. N ah, terus te rang saja, ketika ibumu ini masuk ke istana ini sebagai seorang selir Sribaginda, engkau sudah ikut bersamaku sebagai seorang anak berusia dua tahun. Engkau memang bukan keturunan Sribaginda, melainkan orang lain sama sekali. Akan te tapi , Sribaginda dengan baik dan bijaksana, engkau diaku sebagai pute ri beliau sendiri dan engkau melihat sendiri sikapnya kepadamu tidak ada bedanya dengan sikapnya te rhadap putera puteri beliau yang lain. Hong Lan menundukkan mukanya. Ia merasa te rpukul sekali. Kenyataan ini sungguh mengejutkan namun pukulan ini tidaklah demikian dahsyat, karena telah dikurangi oleh pemberitahuan pangeran tadi.
"Engkau......kecewa dan bersedih, Lan Lan?"
Ibunya menghampiri dan merangkulnya.
"I bu.......!"
Lan Lan juga merangkul ibunya akan tetapi ia tidak menangis.
"Kenapa aku harus kecewa? Biarpun aku bersedih karena aku bukan anak kandung ayahanda Sribaginda yang kuhormati dan kusayang, akan tetapi aku tidak kecewa bahwa aku bukan keluarga Kaisar. Keluarga brengsek yang saling bermusuhan ini sudah lama membuatku merasa muak. Hanya ayahanda kaisar sajalah manusia yang bijaksana, sedangkan anggota keluarganya....ah, sudahlah. Ibu, kalau begitu, siapakah sebenarnya ayah kandungku? Aku ingin sekali mengetahuinya. Masih......... masih hidupkah dia?"
Tanya gadis itu penuh harap.
"Aku semakin tidak suka tinggal di istana yang penuh permusuhan dan pengkhianatan ini, ibu. Bahkan para thaikam dan dayangpun tidak dapat dipercaya, mereka melakukan persekongkolan."
"Ehh? Apa maksudmu, Lan Lan? Mengenai ayahmu, dia masih hidup. Bersabarlah, aku sendiri yang akan mengajakmu menemuinya. Sekarang jangan tanyakan dulu te ntang mereka, akan tetapi jelaskan, apa maksudmu dengan mengatakan bahwa para dayang dan thaikam melakukan persekongkolan."
Hati Lan Lan gembira bukan main mendengar bahwa ayah kandungnya masih hidup dan ibunya akan mengajaknya menemui ayahnya.
"Ibu, sebelum aku memergoki kakanda pangeran bermesraan dengan dayang itu, aku melihat pula seorang thaikam dan seorang dayang yang tidak kukenal, mungkin dayang dari luar, pelayan seorang di antara para paman pangeran, yaitu Paman Pangeran Li Seng Cun. Mereka bicara aneh. Dayang itu minta penjelasan di mana malam ini ayahanda pangeran akan bermalam, dan minta keputusan malam nanti untuk menerima kabar dari thaikam itu."
Hong Lan lalu menceritakan semua yang didengarnya dari percakapan kedua orang itu. Lan Lan mengerutkan alisnya.
"Hem, benar-benar merupakan peris tiwa yang patut dicurigai! Aku yakin bahwa Pangeran Li Seng Cun sedang merencanakan suatu niat yang busuk terhadap Sribaginda."
"I bu, aku tidak mau te rseret ke dalam persaingan dan permusuhan, ke dalam perebutan kekuasaan di dalam keluarga ini. Aku kini merasa le ga bahwa aku bukanlah anggota keluarga yang buruk ini. Biarlah mereka saling bermusuhan, saling memperebutkan kekuasaan. Aku akan pergi dari is tana, aku akan ikut ayah kandungku......"
"Hussh, Lan Lan, tidak malukah engkau bicara seperti itu? Ingat, kita hidup di sini sejak kau kecil, diperlakukan dengan baik sekali oleh Sribaginda."
"Me mang ayahanda kaisar baik sekali, akan tetapi keluarga yang lain ......"
"Lan Lan, tidakkah kakanda permaisuri juga amat bijaksana dan baik budi te rhadap kita? Beliau juga seorang wanita yang berbudi dan bijaksana......"
"Itupun benar, ibu. Akan te tapi keluarga yang lain!"
"Sudahlah. Kalau engkau mengakui bahwa Sribaginda amat baik kepada kita, bagaimana kita dapat tinggal diam saja melihat beliau diancam keselamatannya? Engkau boleh jadi akan te ga tinggal diam setelah mengetahui bahwa engkau bukan pute rinya, bukan apa-apanya. Akan te tapi aku? Ingat, ibumu ini adalah isterinya, selirnya dan ibu amat mencintanya, Lan Lan!"
Hong Lan terkejut.
Ucapan ibunya ini menyadarkannya.
Ibunya mencinta Kais ar.
Tentu saja!
Bukankah Kaisar suami ibunya?
Akan te tapi ayah kandungnya?
Masih hidup.
Lalu kenapa ibunya berpisah dari ayahnya?
Akan te tapi, mendengar ucapan ibunya bahwa keselamatan kaisar terancam Hong Lan mengesampingkan semua pertanyaan hatinya itu.
"I bu, bagaimana mungkin keselamatan ayahanda kaisar terancam?"
"Lupakah engkau akan perte muan kasak-kusuk antara dayang dari Pangeran Li Seng Cun dan thai-kam itu? Mereka pasti merencanakan sesuatu dan mudah diduga bahwa te ntu Pangeran Li Seng Cun yang mendalanginya. Entah apa yang akan te rjadi, akan tetapi jelas, malam ini keselamatan Sribaginda Kaisar te rancam. Hatiku merasa tidak enak sekali."
"Kalau begitu, kita tangkap saja thaikam itu dan paksa dia mengaku,"
Kata Hong Lan.
"Jangan, itu tidak bijaksana. Kalau dia menyangkal, lalu apa buktinya? Jangan-jangan kita akan dituduh membuat kekacauan dan hendak memburukkan nama Pangeran Li Seng Cun."
Hong Lan menjadi bingung.
"Lalu, apa yang dapat kita lakukan, ibu?"
"Kita harus dapat menangkap basah perbuatan mereka sehingga ada bukti. Mulai saat ini sampai nanti, engkau amatilah gerak gerik thaikam itu, sedangkan aku akan mengamati dan mengawal Sribaginda Kaisar secara diam-diam. Kita membagi tugas. Ingat, Lan Lan. Aku harus melakukan ini untuk melindungi suami yang kucinta, sedangkan engkau harus melakukan tugas ini dengan sebaiknya untuk membalas budi kebaikan Sribaginda yang selama ini dilimpahkan kepadamu."
Hong Lan mengangguk.
"Dan ibu berjanji bahwa sesudah urusan ini lewat, ibu akan mengajak aku menemui ayah kandungku?"
"Benar, aku berjanji!"
"Terima kasih, ibu,"
Kata gadis itu dengan wajah berseri.
"Nah, kita membagi tugas, aku akan mengamati thaikam gendut itu sampai malam nanti. Akupun ingin sekali mengetahui kelanjutan dari perkara yang penuh rahasia ini."
Hong Lan bangkit hendak meninggalkan ibunya.
"Lan Lan, engkau......berhati-hatilah. Entah kenapa, hatiku merasa tidak enak."
Hong Lan te rsenyum.
Entah mengapa, hatinya te rasa ringan sekarang.
Tadinya ia memang te rkejut dan resah mendengar bahwa ia bukan pute ri kandung kaisar, padahal, ia amat menyayang ayahnya itu.
Akan tetapi sekarang, setelah ia mendapatkan kepastian dari ibunya, dan bahwa ayah kandungnya masih hidup dan ia akan diajak ibunya menemui ayah kandungnya, hatinya te rasa ringan, apa lagi kalau ia ingat bahwa ia bukan anggota keluarga is tana yang selalu saling bermusuhan itu.
Ia akan seratus kali le bih senang berada di luar istana, bebas lepas seperti burung di udara, tidak te rkurung dalam is tana bagaikan seekor burung dalam sangkar emas.
-ooo0dw0ooo-Siapakah Pangeran Li Seng Cun?
Dia masih adik tiri Kaisar Tang Tai Cung, seorang di antara para pangeran saudara kaisar yang tidak terbunuh ketika te rjadi perebutan kekuasaan pada waktu Pangeran Li Si Bin menggantikan ayahnya (Kaisar Tang Kao Cu), menjadi kaisar Tang Tai Cung.
Namanya saja Pangeran Li Seng Cun tunduk dan taat kepada kakaknya yang kini te lah menjadi kaisar dan sejak muda dia bekerja membantu pemerintahan kakaknya sebagai seorang pengurus harta kekayaan is tana.
Karena dia selalu bersikap setia dan taat, maka kaisar mempercayainya.
Juga para pejabat tinggi lainnya menganggapnya sebagai seorang pangeran yang baik dan setia.
Walaupun ketika muda dahulu.
pernah pula dia terseret ke dalam persaingan dan perebutan kekuasaan, namun setelah banyak pangeran te rbunuh dalam perebutan itu, tidak ada yang mampu mengalahkan Pangeran Li Si Bin.
Pangeran Li Seng Cun ini minta ampun kepada kakaknya dan berjanji akan setia kepada kakaknya.
Dan memang, telah belasan tahun le wat dan pangeran ini nampak taat dan setia, bekerja dengan baiknya.
Juga sikapnya terhadap para pejabat tinggi lainnya baik dan ramah sehingga dia terkenal dan dis ukai.
Menundukkan seseorang dengan kekerasan takkan mendatangkan kedamaian.
Memang orang yang te lah dikalahkan, menjadi takut dan tidak memperlihatkan perlawanan.
Namun, semua ketaatannya itu hanya diperlihatkan di luar saja, karena takut dan merasa kalah kuat.
Sekali waktu, kalau kesempatan terbuka dan dia merasa kuat, dia akan melakukan perlawanan lagi, bahkan lebih bersungguh-sungguh karena diperkuat oleh dendam dan sakit hati.
Akan berbeda hasil dan akibatnya kalau seseorang ditundukkan dengan kelembutan dan kebijaksanaan, sehingga dia akan menyadari kesalahan sendiri dan mengubah jalan hidupnya, tidak akan mengandung dendam seperti orang ditundukkan dengan kekerasan.
De mikian pula dengan Pangeran Li Seng Cun.
Biarpun pada lahirnya dia nampak jinak dan setia, namun api dendam masih belum pernah padam di dalam lubuk hatinya.
Kesempatan itu terbuka baginya ketika dia berhasil mendekati Pangeran Li Ci yang menjadi pute ra mahkota.
Dia melihat betapa pangeran, keponakannya ini adalah seorang pemuda yang le mah dan mudah dipengaruhi, dan karena dia bersikap manis dan le mbut, pangeran ini dapat dipengaruhinya dan amat menghormati paman yang baik budi dan selalu bersikap membelanya ini.
Pangeran Li Seng Cun melihat kesempatan baik kalau Pangeran Li Ci dapat naik tahta dan menggantikan ayahnya menjadi kaisar, te ntu dia dapat menguasai kaisar muda itu dan dapat menonjolkan diri dan membujuk Pangeran Li Ci untuk mengangkatnya sebagai penasehat atau perdana mente ri.
Dan kalau hal ini te rjadi, sama saja dengan dia yang menjadi penguasa tertinggi, dan Pangeran Li Ci tentu akan menurut saja apa yang dikatakannya.
Akan te tapi, untuk membuat itu menjadi kenyataan, satu-satunya halangan adalah Kaisar!
Kakaknya yang menjadi kaisar itu haruslah disingkirkan lebih dulu, dan satu-satunya jalan hanyalah membunuhnya!
Kalau kaisar sudah tidak ada dan Pangeran Li Ci menjadi kaisar, kemudian dia yang menjadi perdana mente ri, mudah saja menyingkirkan halangan-halangan lain, yaitu mereka yang tidak menyukni Pangeran Li Ci atau mereka yang setia kepada Kaisar Tang Tai Cung.
Akan te tapi, Pangeran Li Seng Cun bukan orang yang ceroboh.
Sudah belasan tahun dia memendam sakit hati , maka dia tidak akan te rgesa-gesa dan ceroboh melaksanakan niatnya.
Dia harus yakin akan berhasil sebelum bertindak.
Dia tahu betapa lihainya kakaknya yang menjadi kaisar itu.
Sukar dicari orang yang akan mampu menandingi kelihaian ilmu silat Kais ar Tang Tai Cung.
Dahulu, ketika masih menjadi Pangeran Li Si Bin, namanya te rkenal di dunia kangouw sebagai seorang pangeran yang amat lihai sehingga tidak mengherankan kalau dia berhasil merobohkan dinasti Sui dan mendirikan dinasti Tang.
Pangeran Li Seng Cun maklum bahwa untuk melakukan usaha pembunuhan itu, dia harus dapat menemukan seorang yang benar-benar sakti dan amat tinggi ilmu silatnya melebihi kelihaian kaisar sendiri.
Dan pada suatu hari, saat yang dinanti-nantikan Pangeran Li Seng Cun tiba.
Siang hari itu, keluarga kakaknya, juga seorang pangeran yang bertugas sebagai hakim di kota Lok-yang, datang berkunjung.
Begitu berte mu dengan adik iparnya, isteri Pangeran Li Tung yang menjadi hakim di Lok-yang itu, menyerahkan surat suaminya kepada Pangeran Li Seng Cun.
Dalam surat itu, Pangeran Li Tung menyatakan bahwa dua orang yang mengawal keluarganya adalah orangorang yang berilmu tinggi, yang bahkan dipuji dan dipercaya oleh Hek I Sin-kai.
Keterangan ini ditambah lagi oleh Nyonya Li Tung bahwa di sepanjang perjalanan, ia sekeluarga merasa aman.
Memang ada tiga kali gangguan, yaitu serombongan perampok yang hendak mengganggu, namun dalam waktu singkat saja, para perampok dihajar cerai berai oleh dua orang muda yang mengawalnya.
Dan di dalam suratnya, Pangeran Li Tung yang menjadi hakim itu menganjurkan pada adiknya agar suka menerima dan memberi pekerjaan kepada dua orang muda itu.
Tentu saja Pangeran Li Seng Cun menjadi gembira sekali dan dia cepat mengajak dua orang pengawal itu, yaitu Ouw Ling dan The Siong Ki, untuk bicara di ruangan dalam.
Mulailah Pangeran Li Seng Cun membujuk agar mereka berdua suka membantunya, melakukan segala perintah tanpa bertanya, dan kalau semua usahanya berhasil, mereka berdua kelak akan diberi kedudukan yang tinggi di istana.
Ketika meninggalkan rumah gurunya, Siong Ki sama sekali tidak mempunyai niat untuk mencari kedudukan.
Dia diberi tugas oleh suhu dan subonya untuk mencari Hong Lan yang dilarikan seorang wanita bernama Kwa Bi Lan.
Akan tetapi setelah bertemu Ouw Ling, dia mendengarkan penuh gairah ketika Pangeran Li Seng Cun menjanjikan kedudukan panglima besar di is tana kepadanya!
Apalagi Ouw Ling serta merta menerima tugas apapun yang akan diberikan pangeran itu kepada mereka, maka tanpa ragu lagi Siong Ki juga menerima tanpa bertanya tugas apa yang harus dia lakukan.!
Watak seseorang amat dipengaruhi oleh lingkungan, kemudian diperkuat oleh kebiasaan.
Seseorang takkan pernah menghisap rokok kalau mula-mula ia tidak dipengaruhi oleh lingkungan.
Setelah dia melakukannya, maka perbuatan itu menjadi kebiasaan yang tidak dapat dilepaskan lagi.
Sukarlah untuk mempertahankan diri tidak menjadi seorang penjudi kalau setiap hari dia bergaul akrab dengan para penjudi, seperti sukarnya seseorang menjaga agar tangannya tidak basah kalau setiap hari dia bermain-main air.
Pengaruh lingkungan ini dapat disaksikan buktinya sejak kita kecil.
Pertumbuhan seorang anak dipengaruhi lingkungannya dan kebiasaan-kebiasaannya timbul karena mengikuti contoh yang dilihatnya setiap hari dalam lingkungan hidupnya.
Pangeran Li Seng Cun tadinya mengharapkan He k I Sin-kai untuk melaksanakan tugas rahasia yang amat berbahaya itu, yaitu melakukan pembunuhan terhadap Kaisar.
Akan tetapi, bahkan seorang tokoh kangouw yang lihai seperti Hek I Sin-kai pun tidak berani melaksanakan tugas itu karena dia tahu betapa lihainya Kaisar, dan bahwa di sana te rdapat banyak pengawal yang lihai!
Maka, setelah menerima surat dari saudaranya di Lok-yang, surat yang mengatakan bahwa kedua orang ini dipuji oleh Hek I Sin-kai, tentu saja dia percaya bahwa mereka berdua te ntu memiliki ilmu kepandaian yang melebihi tingkat He k I Sin-kai.
Akan te tapi, dia tidak mau ceroboh.
Dipanggilnya lima orang jagoan yang dia andalkan, diujinya kepandaian The Siong Ki dan Ouw Ling, akan tetapi, dalam waktu empat lima jurus lima orang jagoannya itu roboh!
Bukan main girangnya hati Li Seng Cun dan diapun memperlakukan mereka berdua seperti tamu agung atau tamu yang amat dihormati.
Beberapa hari kemudian, setelah melimpahkan segala macam kemewahan dan kesenangan kepada dua orang itu, menjamu mereka dengan pesta-pesta kehormatan, dan memberi mereka pakaian-pakaian indah dan hadiah-hadiah yang serba mahal, akhirnya Pangeran Li Seng Cun menceritakan tentang rencananya menyuruh mereka membunuh Kaisar!
Tentu saja Siong Ki dan Ouw Ling te rkejut bukan main mendengar bahwa mereka menerima tugas yang amat berat itu.
"Tapi......tapi kenapa......?"
Siong Ki berseru heran dan penas aran.
"The-taihiap, Sribaginda ketika menduduki tahta kerajaan juga mengorbankan banyak saudaraku. Sekaranglah tiba saatnya aku membalas dendam atas kematian banyak kakakku dan pamanku. Kalau Kaisar tewas, maka penggantinya adalah Pangeran Li Ci dan aku akan dapat mintakan kedudukan yang tinggi dan mulia untuk kalian berdua."
"Nanti dulu, Pangeran,"
Kata Ouw Ling yang cerdik dan berpengalaman.
"Paduka mudah saja menugaskan kami, akan te tapi pekerjaan itu te ramat berbahaya! Selain Sribaginda sendiri seorang ahli silat yang tangguh, juga beliau tentu dikelilingi pengawal-pengawal pribadi yang lihai. Bagaimana mungkin kami berdua akan dapat melaksanakan tugas yang mustahil itu? Kalau kami gagal, atau kalau sampai ketahuan, tentu kami akan dikepung pasukan pengawal dan mati konyol."
Mendengar ucapan kekasihnya ini, Siong Ki mengangguk-angguk.
"Aih, Ouw-lihiap dan The-taihiap harap jangan khawatir. Kami telah mengatur segalanya. Sribaginda adalah seorang kaisar yang angkuh, tidak suka disertai pengawal karena beliau yakin akan kemampuan sendiri. Satu-satunya pengawal pribadinya adalah seorang pergawal wanita yang telah menjadi selirnya dan kini tidak lagi melakukan tugas mengawal. Kami akan memilihkan saat terbaik, dan kami yakin bahwa sekali ji-wi bertindak, dia akan dapat ditewaskan dengan mudah dalam kamar seorang di antara para selirnya. Takkan ada yang mengetahui karena sehabis melakukan tugas itu, ji-wi dapat bersembunyi di te mpat tinggal kami dan tak seorangpun akan mencurigai. Tentang ilmu silat, kami sudah menguji kemampuan ji-wi dan yakin bahwa ji-wi akan mampu menewaskan Kais ar tanpa banyak kesukaran."
Kedua orang itu diberi waktu sehari semalam.
Mula-mula, Siong Ki memang tidak setuju, akan tetapi setelah dibujuk rayu oleh Ouw Ling yang melihat masa depan gemilang kalau mau menerima tugas itu, akhirnya Siong Ki hanya menyerahkan saja kepada wanita itu.
Mereka tetap bersembunyi di dalam te mpat tinggal Pangeran Li Seng Cun yang berada di lingkungan is tana, tidak diperbolehkan keluar agar jangan te rlihat oleh orang luar.
Sementara itu, Pangeran Li Seng Cun lalu mulai melakukan penyelidikan tentang gerak-gerik kakaknya, sang kaisar.
Dia sudah lama dapat mempengaruhi dan menguasai seorang thaikam gendut, yaitu Thaikam Seng Ho.
Thaikam ini dapat disogoknya dan sudah lama diam-diam menjadi semacam mata-mata dari Pangeran Li Seng Cun, memberitahukan segala peristiwa yang te rjadi di sekeliling diri Kaisar.
Dan dengan perantaraan seorang di antara para dayangnya, dengan mudah dayang itu memasuki istana bagian pute ri tanpa dicurigai para pengawal, dan dayang ini yang mengadakan hubungan dengan Thai-kam Seng Ho.
Kedua orang ini dipilih karena selain mereka itu setia dan dapat dipercaya, juga keduanya cerdik dan pandai ilmu silat.
Malam yang dijanjikan oleh thaikam Seng Ho dan dayang kepercayaan Pangeran Li Seng Cun itu dingin dan gelap.
De ngan langkah te nang dayang itu memasuki pintu te mbusan yang menuju ke istana bagian pute ri.
Dua orang pengawal yang menjaga pintu itu menahannya dengan tombak mereka, akan tetapi melihat dayang itu, mereka mengenalnya sebagai dayang dari is tana Pangeran Li Seng Cun dan kecurigaan mereka mengendur , mereka hanya bertanya apa keperluan dayang itu malam-malam datang berkunjung.
Dayang itu memperlihatkan keranjang berisi panci dan mengatakan bahwa ia diutus isteri pangeran untuk menghaturkan makanan itu kepada permasuri.
Mendengar ini, tentu saja dayang itu diperkenankan masuk dan tak seorangpun di antara penjaga yang merasa curiga karena hal seperti itu seringkali te rjadi.
Dayang itu sama sekali tidak tahu bahwa semenjak ia memasuki pintu tembusan itu s ampai melangkah memasuki taman, ada sepasang mata yang te rus membayanginya.
Mata seorang thaikam kurus tinggi.
Mudah saja baginya tiba di dalam taman istana bagian pute ri itu.
Taman yang amat sunyi.
Malam itu demikian dingin dan gelap, siapa yang akan meninggalkan kamar hangat dan pergi ke taman itu?
Tak lama kemudian, sosok tubuh Thaikam Seng Ho yang gendut memasuki taman dan dia bertemu dengan dayang itu di tempat yang sudah dijanjikan.
Tidak banyak mereka bicara.
Thaikam itu hanya berkata dengan suara lirih.
"Malam ini Sribaginda tidur di kamar selir ke empat. Penggantian petugas ronda diadakan te pat pada te ngah malam."
Hanya itu kata-katanya dan merekapun berpisah.
Thaikam Seng Ho berjalan menuju ke istana keputrian kembali, sedangkan dayang itu membuang is i panci ke dalam kolam ikan, lalu membawa panci kosong dalam keranjang, kembali keluar taman menuju ke pintu te mbusan.
Hong Lan mendengar semua ucapan thaikam tadi dengan jelas.
Menurut keinginan hatinya, ia hendak menangkap dan menghajar thaikam itu, akan te tapi ibunya sudah memesan agar ia mengintai saja dan tidak berbuat sesuatu.
Perbuatan jahat itu haruslah diketahui, kemudian dijaga agar pelakunya dapat te rtangkap basah, ada buktinya.
Kalau kini ia menangkap thaikam itu dan dia berkeras tidak mau mengaku, ia tidak berdaya, bahkan bisa dianggap membuat kacau dengan laporan tanpa bukti.
Cepat Hong Lan pergi mencari ibunya yang diam-diam melakukan perlindungan dan penjagaan terhadap kais ar.
Setelah mendengar laporan puterinya, Bi Lan mengerutkan alis nya.
Tidak salah lagi, pasti Pangeran Li Seng Cun merencanakan sesuatu yang busuk, pikirnya.
Pangeran itu ingin mengetahui di mana malam ini kaisar tidur, dan kapan dilakukan pertukaran penjaga.
Ia tahu bahwa saat pertukaran penjaga itulah, semua penjaga berkumpul di gardu penjagaan dan tidak seorangpun penjaga melakukan perondaan sampai rombongan petugas baru mulai dengan perondaan mereka.
Ini te ntu merupakan kesempatan yang dicari bagi orang luar is tana untuk menyusup masuk, dan sudah hampir dapat dipastikan, penyusup itu adalah seorang calon pembunuh yang ditugaskan untuk membunuh kaisar!
Jantung dalam dada Bi Lan berdebar tegang.
"Lan Lan, kita harus berjaga di sini. Aku akan melakukan penjagaan di atas, dan engkau jagalah di bawah. Hati-hati, jangan lepaskan perhatianmu pada je ndela kamar di mana Sribaginda bermalam,"
Bisik Kwa Bi Lan dan pute rinya mengangguk.
Tanpa diberitahu panjang le bar sekalipun, Lan Lan sudah dapat menduga apa yang dikhawatirkan ibunya.
Agaknya akan ada seorang dua orang atau bahkan le bih, pembunuh yang akan mencoba menbunuh kaisar.
"I bu, apakah tidak perlu memberitahu komandan pengawal untuk memperkuat penjagaan?"
Bisiknya. Kwa Bi Lan menggele ng kepala.
"Kita belum pasti, kalau terlalu membuat ribut dan pihak mereka mengetahui, tentu niat itu dibatalkan. Ingat, banyak mata-mata pihak musuh. Kita harus melakukan penjagaan ini diam-diam, kita berdua saja. Dengan kekuatan kita berdua, ditambah kemampuan Sribaginda sendiri, kiraku tidak akan ada pembunuh yang akan mampu mencelakai Sribaginda."
Hong Lan tidak dapat membantah lagi.
Memang benar juga apa yang dikatakan ibunya.
Mereka hanya baru menduga saja, belum ada bukti.
Kalau mereka menyampaikan kepada komandan pengawal, siapa tahu di antara pengawal ada yang menjadi orangnya Pangeran Li Seng Cun dan tentu pembunuh itu tidak jadi datang, dan mereka berdua akan menjadi bahan te rtawaan karena laporan mereka tidak ada buktinya.
Ia mengepal tinju.
Kalau si pembunuh berani muncul, ia akan menghajarnya!
Kwa Bi Lan meloncat naik ke atas wuwungan rumah dan bersembunyi.
Ia tadi, ketika menanti pute rinya, melihat Bu Mei Ling, dayang yang te lah menjadi kekasih kaisar, mengetuk pintu kamar selir ke empat dan mengatakan bahwa ia diutus oleh permaisuri.
Dayang itu diperkenankan masuk dan daun pintu ditutup pula.
Kwa Bi Lan menduga-duga apa yang menjadi keperluan permaisuri mengutus dayang itu menemui kaisar yang bermalam di kamar selir ke empat.
Ia te ringat, dayang Bu Mei Ling itu serba bisa.
Mungkin ia disuruh bermain musik, atau disuruh memijati tubuh Sribaginda karena dayang ini memiliki tangan yang kuat dan ahli memijat.
Ia sendiri pernah merasakan dipijat oleh dayang itu sampai te rtidur pulas .
Tidak ada sesuatu yang mencurigakan dengan masuknya dayang itu ke kamar selir ke empat.
Menanti merupakan pekerjaan yang amat melelahkan.
Menanti sesuatu, apalagi sesuatu yang menegangkan hati, membuat waktu seolah merayap seperti siput.
Detik demi detik diperhitungkan dan yang dinanti-nanti tak kunjung tiba.
Akan te tapi, akhirnya, rombongan ronda te rakhir le wat lorong depan kamar selir ke empat itu.
Karena maklum bahwa kaisar malam itu berada di situ, para peronda tidak berani mengeluarkan suara gaduh, bahkan langkah kaki merekapun mereka atur agar mereka jangan mengeluarkan suara.
Lan Lan dan ibunya melihat rombongan peronda te rakhir ini.
Setelah mereka le wat, maka saat yang menegangkan itu sebentar lagi akan tiba.
Setelah melakukan perondaan itu, maka semua petugas jaga akan berkumpul di gardu penjagaan untuk diganti oleh rombongan petugas lain yang akan berjaga sampai pagi.
Dan pada saat pergantian penjaga itulah, istana bagian pute ri ini akan kosong dan tidak terjaga.
Kwa Bi Lan yang lebih dahulu melihat dua sosok bayangan hitam yang berkelebatan cepat menuju ke kamar itu.
Karena ia bersembunyi di wuwungan, maka ia dapat lebih dahulu melihat bayangan-bayangan itu daripada pute rinya.
Ia lalu menyambitkan biji jagung yang dibawanya ke arah pute rinya bersembunyi dan itu merupakan is yarat bagi Lan Lan bahwa yang dinanti-nantikan sudah tiba!
Bagaimana tabahpun hati Lan Lan, ia berdebar tegang juga dan ia s udah mempersiapkan pedangnya.
Juga Kwan Bi Lan sudah mencabut siang-kiam (sepasang pedang) dan menanti datangnya musuh.
Kwa Bi Lan melayang turun dengan gerakan seperti seekor burung rajawali dan ia sudah mendekam di dekat puterinya.
Menurut perhitungannya tidak mungkin penjahat memasuki kamar dari atas, karena atas istana itu kokoh kuat tidak dapat dite mbus.
Mereka tentu akan mencongkel jendela atau mendobrak pintu, pikirnya, maka ia mendahului turun dan berkumpul dengan pute rinya karena melihat bahwa yang datang adalah dua orang.
Kini dua bayangan itu berkelebat dan sudah berdiri di dekat kamar.
Betapa cepat dan ringannya gerakan mereka, pikir Kwa Bi Lan te rkejut.
Kedua orang itu memakai pakaian hitam dan muka mereka ditutup saputangan hitam, hanya mata mereka yang nampak, mata yang mencorong.
Tubuh mereka sedang saja, akan tetapi ia dapat menduga bahwa mereka adalah seorang laki-laki dan seorang wanita.
Mereka tidak boleh dibiarkan masuk kamar, pikirnya dan iapun menyentuh le ngan puterinya lalu meloncat keluar sambil membentak.
"Penjahat keji, menyerahlah kalian!"
Melihat ibunya sudah keluar, Lan Lan juga meloncat keluar dan menodongkan pedangnya.
Kedua orang itu adalah Ouw Ling dan The Siong Ki.
Tentu s aja mereka berdua te rkejut bukan main.
Menurut perhitungan Pangeran Li Seng Cun, pekerjaan mereka itu akan berjalan lancar.
Dan memang tadi ketika mereka menyelinap masuk pada saat pergantian penjaga, mereka dapat melakukan penyusupan itu dengan amat mudah dan tak seorangpun mengetahuinya.
Akan tetapi, kenapa kini tiba-tiba muncul dua orang wanita cantik dengan pedang di tangan menyambut mereka dengan sikap seolah-olah sudah mengetahui akan kedatangan mereka?
Bahaya, pikir mereka dan keduanya serentak menyerang dengan pedang mereka.
The Siong Ki menyerang Kwa Bi Lan yang memegang sepasang pedang, sedangkan Ouw Ling menyerang Lan Lan yang masih amat muda.
Terdengar bunyi benturan pedang dan Lan Lan te rhuyung ketika pedangnya berte mu dengan pedang Ouw Ling.
Ia jauh kalah kuat.
Juga Kwa Bi Lan te rkejut bukan main ketika sepasang pedangnya menangkis sambaran pedang lawan karena ia merasa betapa kedua tangannya tergetar hebat.
Kiranya lawannya itu memiliki tenaga sin-kang yang a mat kuat!
Sementara itu, mendapat kenyataan bahwa dua orang wanita itu tidaklah terlalu kuat, Siong Ki cepat berseru.
"Cepat lakukan, aku yang menahan mereka!"
Ouw Ling mengerti. Iapun meloncat ke arah je ndela sambil memutar pedangnya dan iapun menerobos masuk ke dalam kamar. Melihat ini, Bi Lan terbelalak khawatir.
"Sribaginda.....!"
Ia menjerit dan hendak mengejar ke dalam kamar melalui jendela.
Karena seluruh perhatiannya ditujukan kepada keselamatan kaisar, ia sama sekali menjadi lengah terhadap diri sendiri dan saat ini dipergunakan oleh Siong Ki untuk mengelebatkan pedangnya.
"Capp!!"
Pedang itu menembus dada kanan bawah pundak Kwa Bi Lan.
Melihat ini, Lan Lan menjerit dan pedangnya menyambar dahsyat ke arah lengan Siong Ki.
Pemuda ini mengelak, akan tetapi pedang Lan Lan masih mengenai kain hitam penutup mukanya sehingga kain itu terkait dan te rbuka.
Lan Lan terbelalak menatap wajah pemuda yang tampan itu.
Hanya se kejap saja akan tetapi wajah itu tidak akan pernah dilupakan Lan Lan, wajah orang yang telah melukai ibunya.
Kwa Bi Lan memang seorang wanita hebat.
Biarpun dadanya sudah te rluka parah, namun ia masih bertahan dan meloncat masuk ke dalam kamar yang je ndelanya sudah bobol itu.
Ia melihat betapa orang berkedok hitam yang tadi sudah menghampiri pembaringan yang kelambunya te rtutup, menggerakkan pedangnya membacok.
"Jangan........!"
Kwa Bi Lan mengeluh, akan tetapi terlambat. Pedang sudah dibacokkan ke arah te ngah pembaringan.
"Crokkk!"
Si kedok hitam yang bukan lain adalah Ouw Ling itu terkejut dan terpekik sehingga mudah diketahui ia seorang wanita.
Pembaringan itu kosong!
Dan tiba-tiba saja kamar yang tadinya remang-remang itu menjadi terang benderang dan muncullah Sribaginda Kaisar Tang Tai Cung dengan pedang di tangan dan senyumnya yang mengejek.
Wanita kedok hitam itu terkejut, maklum bahwa ia te lah terjebak.
Ia hendak meloncat keluar, akan tetapi Kwa Bi Lan menghadang dan menodongkan pedangnya.
Kaisar melihat betapa dada Kwa Bi Lan berlumuran darah.
Ia terkejut dan marah sekali.
"Pembunuh jahat!"
Bentaknya dan diapun menyerang.
Terpaksa Ouw Ling menangkis dan kaisar terkejut karena wanita berkedok itu ternyata memang lihai sekali.
Kwa Bi Lan menahan nyeri di dadanya membantu kaisar menyerang Ouw Ling.
Sementara itu, begitu kedoknya te rlepas dan gadis cantik itu menatapnya tajam, The Siong Ki te rkejut.
Apalagi mendengar je rit Ouw Ling di dalam kamar dan dikejar ole h wanita yang seorang lagi, bahkan kini terdengar te riakan wanita yang melengking.
"Pembunuh! Perampok! Penjahat.. tolong, toloooooong......!"
Disusul pula suara kentungan, Siong Ki maklum bahwa dia dan Ouw Ling te lah gagal.
Dia lalu melompat ke atas wuwungan rumah.
Dia harus dapat melarikan diri sebelum para pengawal datang mengeroyoknya.
Melihat laki-laki itu meloncat ke atas wuwungan, Lan Lan tidak mengejarnya.
Pertama, karena penjahat itu lihai bukan main dan ke dua, ia harus membantu ibunya yang sudah terluka dan menolong Kaisar.
Iapun melompat ke dalam kamar melalui jendela yang sudah terbuka itu.
Dan ia melihat wanita berkedok itu sedang berkelahi melawan kaisar yang dibantu ibunya.
Ia melihat betapa dada ibunya berlumur darah, namun ibunya masih menggerakkan siang-kiam dengan dahsyat.
Iapun terjun dalam perte mpuran itu membantu dan mengeroyok si wanita kedok hitam.
Ouw Ling menjadi sibuk sekali.
Menghadapi kaisar saja, ternyata ia hanya mampu mengimbangi Dan wanita cantik yang sudah te rluka parah itu masih terus mendesaknya, kini ditambah lagi munculnya gadis cantik tadi yang juga lihai, juga terdengar derap kaki di luar kamar, maka tahulah ia bahwa ia tidak akan dapat lolos lagi!
Ia tidak mempunyai permusuhan pribadi dengan kaisar.
Kalau ia tadi hendak membunuh kaisar, hal itu hanya karena hendak melaksanakan perintah Pangeran Li Seng Cun untuk mendapat imbalan kedudukan, maka kini melihat dirinya te rancam dan usahany gagal, Ouw Ling mencari jalan hendak melarikan diri.
Akan te tapi agaknya gerakannya diketahui kaisar yang cepat menusukkan pedangnya.
"Hendak lari ke mana kau, keparat!"
Tusukan itu kuat sekali.
Ouw Ling harus mengerahkan tenaga untuk menangkis nya, akan tetapi pada saat itu, pedang di tangan Hong Lan juga sudah membacok kepalanya.
Terpaksa Ouw Ling mengerahkan tenaga pada tangan kirinya dan dengan nekat menangkap pedang Hong Lan itu.
Tangan kirinya berhasil mencengkeram pedang itu, sedangkan pedang di tangan kanan menempel pada pedang kaisar.
Saat itu dipergunakan oleh Kwa Bi Lan yang sudah le mas untuk menubruk maju dengan pedangnya.
"Blesss......!"
Pedangnya menusuk dada Ouw Ling sampai tembus ke belakang!
Ouw Ling mengeluarkan rintihan dan te rkulai roboh.
Akan tetapi, Bi Lan juga te ntu roboh kalau tidak cepat dirangkul kaisar.
Kini para pangawal berhamburan masuk, hanya untuk menyingkirkan mayat Ouw Ling setelah kedoknya dibuka dan semua orang tahu bahwa ia adalah tokoh kangouw yang berjuluk Bi Tok Sio-cia, pute ri angkat datuk sesat Ouw Kok Sian dari Liong-san!
Kwa Bi Lan rebah di atas pembaringan, ketika suman, ia memanggil nama anaknya lirih.
"Lan ..Lan ........"
"I bu, aku di sini, ibu.......!"
Kata Lan Lan yang merangkul ibunya dengan cemas sekali.
Sedangkan kaisar duduk dengan wajah muram tak jauh dari pembaringan.
Di situ nampak pula Bu Mei Ling yang berjas a besar.
Ternyata thaikam kurus yang membayangi dayang itu adalah orang kepercayaan Bu Mei Ling.
Dayang yang menjadi kekasih kaisar ini sudah curiga akan gerak-gerik dayang dari Pangeran Li Seng Cun yang sering keluar masuk istana bagian pute ri tanpa alasan te rtentu , maka ia menyuruh thaikam kepercayaannya untuk membayangi.
Thaikam itu, seperti juga Hong Lan, telah mendengar percakapan antara dayang itu dan thaikam Seng Ho, maka dia cepat melapor kepada Bu Mei Ling.
Wanita yang selain cantik jelita juga amat cerdas ini segera dapat menduga apa yang akan terjadi.
I a dapat menduga bahwa keselamatan kaisar te rancam, untuk memberitahu begitu saja tentu ia tidak berani, apalagi kaisar sedang bermalam di kamar selir ke empat.
Ia akan dianggap melanggar aturan, mengganggu kaisar.
Maka, ia cepat menghubungi permaisuri yang amat baik kepadanya dan akhirnya, setelah mendengar laporannya, permaisuri mengijinkan ia menemui kaisar di kamar selir ke empat dengan membawa tanda perintahnya.
Demikianlah, Bu Mei Ling berhasil memasuki kamar selir ke empat dan ia menceritakan semuanya kepada Kaisar Tang Tai Cung.
Kaisar mula-mula tidak percaya bahwa Pangeran Li Seng Cun akan berkhianat, akan tetapi akhirnya dia mau ju ga pindah ke kamar sebelah dan membiarkan kamar tidur itu kosong dengan kelambu tertutup.
Kemudian, ternyata bahwa perhitungan Bu Mei Ling benar.
Andaikata dayang ini tidak melaporkan, mungkin saja dia dan selir ke e mpat yang tidur di pembaringan itu telah menjadi korban pedang pembunuh.
"I bu.......!"
Hong Lan memanggil ibunya dan menangis. Melihat luka yang diderita ibunya, gadis ini maklum bahwa tidak ada harapan lagi bagi ibunya untuk dapat hidup setelah menderita luka separah itu.
"Lan Lan......aku......aku bukan ibumu....."
Lan Lan te rbelalak dan merangkul ibunya. Ia mengira bahwa ibunya sudah bicara kacau karena penderitaannya.
"Sudahlah, ibu, jangan banyak bicara, ibu harus beris tirahat.........."
Katanya te risak. Wanita itu menggeleng kepalanya.
"Dengar, Lan Lan......aku......aku bukan ibu kandungmu, engkau .. ..kuculik ketika berusia dua tahun.."
"I bu........!"
"Bi Lan.......!"
Kaisar juga berseru dan kini dia mendekati, duduk di tepi pembaringan.
"Sudahlah, engkau harus beristirahat, benar seperti yang dikatakan Hong Lan."
"Sribaginda........maafkan saya ...saya telah membuka rahasia Hong Lan......ia berhak mengetahui........maafkan saya ..saya tidak dapat melayani paduka........ hanya sampai di sini, harap paduka menjaga diri baik-baik.......harap paduka jangan mudah percaya kepada orang lain..........banyak manusia busuk di dunia ini......"
"Bi Lan.......!"
"I bu........,"
Hong Lan berkata dengan air mata bercucuran.
"kenapa ibu mengingkari aku sebagai pute ri ibu? Mengapa......?"
Gadis itu merasa hatinya seperti ditusuk-tusuk.
Tadi, ibunya mengatakan bahwa ia bukan pute ri kandung kaisar yang selama ini dianggap sebagai ayahnya dan hal itu saja sudah menyakitkan hatinya, kini ditambah lagi pengakuan ibunya bahwa ia juga bukan anak kandung ibunya, bahkan ibunya ini menculiknya ketika ia berusia dua tahun!
Dunia seakan kiamat rasanya ketika ia mendengar ucapan itu.
"Lan Lan......kau........bukan anak kandungku......tanyakan kepada....., Sribaginda.....selamat tinggal ......"
"Bi Lan........!!"
"I buuuu........!"
Hong Lan jatuh pingsan dan segera ditolong oleh Bu Mei Ling yang memanggil dayang.
Seorang perwira menghadap kaisar dan mengabarkan bahwa is tana Pangeran Li Seng Cun sudah disergap, pangeran itu beserta semua anggota keluarganya te lah ditangkap.
Akan te tapi pembunuh yang menjadi kaki tangan Pangeran Li Seng Cun tidak dapat ditemukan.
"Mas ukkan mereka semua ke dalam penjara, dan jaga ketat! Kami sendiri yang akan mengadilinya!"
Kata kaisar dengan lesu karena dia merasa berduka sekali karena kematian Kwa Bi Lan.
Setelah wanita itu tewas, barulah dia teringat betapa setianya Kwa Bi Lan, sejak menjadi pengawal pribadi sampai menjadi selirnya.
Betapa wanita itu tidak pernah menuntut sesuatu, tidak berusaha menaikkan kedudukann ya, bahkan hidupnya te tap sederhana.
Diapun teringat betapa berbulan-bulan dia seperti melupakan selir ini, tidak pernah mendekatinya.
Dia merasa menyesal sekali.
-ooo0dw0ooo-Kaisar duduk seorang diri di dalam kamarnya.
Dia menyuruh pergi semua dayang dan dia te lah menyuruh Bu Mei Ling datang menghadapnya di kamarnya.
Dia merasa lelah dan pusing.
Terlalu banyak urusan dihadapinya dan kesemuanya tidak ada yang menyenangkan hatinya.
Pertama-tama, kematian Kwa Bi Lan yang tadi pasti telah dimakamkan je nazahnya.
Lalu dia harus mengadili adiknya sendiri, Pangeran Li Seng Cun, dan hal ini baru akan dilakukan besok.
Kemudian melihat keadaan Lan Lan yang selalu mengurung diri dalam kamar dan menangis, dia tahu bukan hanya menangis karena ketian Kwa Bi Lan, melainkan juga menangis karena te rbukanya rahasia dirinya, bahwa ia bukan pute ri kandung kais ar, juga bukan anak kandung Kwa Bi Lan!
Dan ada lagi urusannya dengan Bu Mei Ling, dayang yang pernah digaulinya, selir yang tidak res mi.
Ucapan sahabat yang dipercayanya, yaitu Im Yang Sengcu, tosu ahli sihir dan peramal itu, tak pernah dilupakannya.
Tosu itu mengatakan bahwa menurut pernitungan perbintangan.
Kerajaan Tang akan te rle pas dari tangan keturunan keluarga Li, dan jatuh ke tangan seorang wanita dari keluarga Bu!
Hal ini sama sekali tidak masuk akal.
Bagaimana mungkin tahta kerajaan jatuh ke tangan seorang wanita?
Kalau te rampas oleh marga lain, marga Bu umpamanya, hal itu masih ada kemungkinan, karena bukankah sejak ribuan tahun yang lalu, dinasti demi dinasti bermunculan dan tidak ada keluarga yang memegang tahta kerajaan turun te murun secara abadi?
Akan tetapi seorang wanita?
Akan tetapi Im Yang Seng-cu, tosu sakti itu, merasa yakin karena sudah mengulanginya melakukan perhitungan bintang.
Bahkan Im Yang Sengcu mengatakan bahwa wanita itu kini sudah berada di istana!
Tentu saja Kaisar terkejut dan cepat menyelidiki dan te rnyata, satu-satunya wanita bermarga Bu di istananya adalah Bu Mei Ling, dayang yang pernah membuatnya te rgila-gila karena cantik jelita, le mbut dan cerdik.
Tentu saja kaisar tidak ingin ramalan Im Yang Sengcu akan te rjadi, maka dia sudah mengambil keputusan untuk membunuh Bu Mei Ling!
Daripada kelak menjadi malapetaka, atau setidaknya akan membuat dia tidak nyenyak tidur dan tidak enak makan, le bih baik wanita itu dienyahkan, dibunuh.
Memang kejam, karena gadis itu tidak bersalah, akan tetapi demi menjaga kelangsungan keluarga Li memegang tampuk pemerintahan Kerajaan Tang, demi kelangsungan kerajaan Tang yang dengan susah payah dia bangun bersama mendiang ayahnya, tidak mengapalah mengorbankan nyawa seorang gadis dayang!
Sedianya, pelaksanaan hukuman mati terhadap Bu Mei Ling akan dilaksanakan hari ini.
Akan tetapi, semalam te rjadi peristiwa yang hampir merenggut nyawanya itu!
Dia te rancam maut, dan penyelamatnya justru Bu Mei Ling!
Memang, Kwa Bi Lan dan Hong Lan juga diam-diam melindunginya, akan te tapi dua orang pembunuh itu terlalu lihai dan seandainya tidak ada Bu Mei Ling yang membujuknya pindah ke lain kamar, seandainya Bu Mei Ling tidak memberitahu dan dia sudah pulas di balik kelambu itu bersama selirnya ke empat, sangat besar kemungkinan dia dan selirnya sudah te was oleh pembunuh!
Bu Mei Ling semalam telah menyelamatkan nyawanya, bagaimana mungkin hari ini dia membunuh gadis itu?
Daun pintu terketuk perlahan.
"Mas uk!"
Kata kaisar.
Daun pintu terbuka perlahan dan muncullah Bu Mei ling.
Gadis ini belum dua puluh tahun usianya, namun pembawaannya sudah matang.
Wajah cantik jelita dan segar, sepasang matanya jeli dan lembut seperti mata burung Hong, mulutnya yang kecil dengan bibir merah basah itu selalu terhias senyum, wajahnya tak pernah nampak keruh, selalu ceria berseri bagaikan setangkai bunga seruni yang segar oleh embun pagi.
Pakaiannya sederhana, dari sute ra yang tipis halus, rambutnya yang hitam panjang digelung sederhana seperti para dayang dan hal ini saja sudah membuktikan bahwa ia tidak berambis i, biarpun ia sudah menjadi selir kaisar walau belum res mi, namun tidak menonjolkan diri dan masih bersikap seperti seorang dayang.
De ngan lembut Bu Mei Ling menutupkan kembali daun pintu, kemudian melangkah masuk, langkahnya halus gemulai, mukanya ditundukkan dan setelah berada di depan Sribaginda Kaisar yang duduk di atas pembaringan, iapun menjatuhkan diri berlutut.
"Yang Mulia....."
Kata wanita itu sambil menunduk hormat, suaranya merdu dan le mbut sekali.
Begitu gadis itu berlutut di depannya, kaisar mencium keharuman yang menjadi kesukaannya.
Dia merasa segar mencium bau yang khas ini.
Dia tidak tahu bahwa diam-diam Bu Mei Ling te lah menyelidiki dan mempelajari semua kesukaan kaisar, makanannya, minumnya, keharuman bagaimana yang menjadi kes ukaannya.
Pendeknya, kini ia mengetahui sepenuhnya bagaimana untuk menyenangkan hati kaisar, sampai hal yang sekecil-kecilnya.
Misalnya kaisar yang perkasa ini tidak suka melihat wanita yang te rlalu berani, tidak suka dibantah, dan kaisar ini lemah kalau menghadapi orang yang mengalah dan menyerah.
"Mei Ling, bangkitlah,"
Kata kaisar sambil diam-diam mengagumi wanita ini.
Dari tubuhnya keluar bau harum yang amat disukainya, dan pakaian gadis inipun sederhana, dari sutera halus dan tipis sehingga dia hampir dapat melihat garis -garis tubuhnya yang bagaikan bunga sedang mekar semerbak.
Bedaknya tipis-tipis hampir tidak kentara, bibirnya juga merah alami tanpa gincu, alisnya yang hitam itu tidak dibantu penghitam, rambutnya begitu hitam dan panjang, anak rambut yang halus itu melingkar-lingkar di dahi dan pelipis.
"Terima kasih, Yang Mulia,"
Kata Bu Mei Ling sambil bangkit berdiri, dan gerakan bangkit dari berlutut inipun sudah ia pelajari sampai matang.
Bukan sembarangan bergerak, melainkan gerakan yang le mbut dan penuh kewanitaan sehingga nampak seperti tarian dan amat menarik hati.
Kaisar Tang Tai Cung menghela napas panjang, dan di dalam hatinya semakin tidak percaya akan ramalan sahabatnya.
Bagaimana mungkin seorang wanita selembut ini kelak akan merampas kedudukan kaisar dan menjadi penguasa?
Apanya yang diandalkan?
"Apa yang paduka kehe ndaki dari hamba, Yang Mulia?
Hamba sudah siap melaksanakan segala perintah paduka."
"Mei Ling, aku lupa lagi tentang asal-usulmu. Apakah engkau puteri seorang bangsawan, seorang te rpelajar atau seorang ahli silat yang tangguh?"
Senyum di bibir yang merah basah itu melebar, muka itu menunduk malu-malu dan sepasang matanya mengerling dari bawah, manis bukan main.
"Aihhh......, paduka membuat hamba merasa malu sekali, Yang Mulia. Hamba hanyalah anak dusun, dari keluarga petani biasa dan hanya berkat budi kebaikan Yang Mulia saja maka hamba dapat memperole h kehormatan dan kemuliaan seperti sekarang ini, menjadi hamba paduka yang setia.
"Kaisar mengangguk-angguk dan te rsenyum. Bagaimana mungkin dia membunuh seorang dayang, bahkan selir seperti ini? "Me i Ling, katakan, sampai di mana kesetiaanmu kepadaku? Aku mengerti, peristiwa semalam, ketika engkau menyelamatkan aku dari ancaman malapetaka, merupakan buah dari kesetiaanmu, akan tetapi sampai di mana batas kesetiaanmu kepadaku?"
Wanita yang tadinya menunduk itu kini mengangkat mukanya.
Kaisar tertegun.
Seolah baru sekali ini dia berkenalan dengan wajah itu, padahal, pernah wajah itu membuatnya tergila-gila.
Mata itu demikian indahnya, penuh kejujuran dan mulut itu, te rsenyum penuh ketulusan.
"Yang Mulia, tidak ada batasan kesetiaan hamba kepada paduka. Jiwa raga hamba ini hamba serahkan kepada paduka, Yang Mulia, mati hidup hamba berada di tangan paduka."
Kaisar itu merasa terharu, akan te tapi dia ingin meyakinkan.
"Bagaimana kalau aku menghendaki agar engkau mati untukku, sekarang juga?"
Dia memandang tajam wajah itu untuk menyelidiki isi hatinya.
Akan te tapi wajah itu tidak nampak te rkejut, bahkan senyumnya semakin manis, mata itu memandang demikian lembut seperti mata seorang bayi.
"Hamba siap melaksanakan perintah paduka, dengan taruhan nyawa. Hamba akan mati dengan mata terpejam dan mulut tersenyum kalau dengan itu hamba dapat membahagiakan paduka."
Kaisar Tang Tai Cung semakin te rharu, tangannya meraih dan di lain saat dia sudah menarik Mei Ling dan dipangkunya dayang itu, dirangkulnya dan diciuminya dengan penuh rasa sayang.
Mei Ling hanya memejamkan mata dan menyerah.
"Mei Ling, apakah ada dalam lubuk hatimu keinginan untuk kelak menjadi seorang kaisar wanita?"
Mei Ling membuka matanya dan te rbelalak! Pandang matanya penuh kehe ranan dan penyangkalan.
"Duhai, Yang Mulia......, apa artinya pertanyaan paduka ini? Bagaimana hamba......mempunyai keinginan gila seperti itu? Dapat melayani paduka sajalah yang merupakan idaman hati hamba, dan yang membahagiakan hati hamba.......tidak ada keinginan lain."
Sambil mendekap tubuh yang mungil itu, Kaisar te rtawa bergelak.
"Ha-ha-ha-ha, bagaimana mungkin aku pernah mempercayai omongan yang mengatakan bahwa kelak kerajaan ini akan te rjatuh ke tangan seorang seperti engkau? Ha-ha!"
"Yang Mulia, orang yang mengeluarkan omongan seperti itu pasti adalah seorang yang berniat buruk, mungkin pengkhianat yang hendak menjatuhkan Kerajaan Tang yang jaya."
"Ha-ha-ha, bukan, bukan pemberontak, bukan penjahat. Im Yang Seng-cu yang mengatakan itu, berdasarkan ramalan hitungan perbintangan."
Mendengar ini, Mei Ling turun dari atas pangkuan kaisar, menjatuhkan diri ke atas lantai dan berlutut, suaranya terdengar memelas ketika ia berkata.
"Yang Mulia, itu adalah fitnah yang te ramat keji. Kalau paduka mempercayai omongan keji itu, silakan paduka membunuh hamba untuk menenangkan hati paduka ......."
Kaisar menarik tubuh tubuh Mei Ling kembali ke atas pangkuannya dan mengelus rambut kepalanya.
"Sudahlah, akupun tidak percaya sepenuhnya. Buktinya sekarang aku ingin engkau melayaniku bukan? Lupakan ucapan peramal itu."
Mei Ling tenggelam ke dalam dekapan Kaisar Tang Tai Cung. -ooo0dw0ooo-
Jilid 28 Hong Lan berlutut menghadap Kaisar Tang Tai Cung. Gadis ini menangis dan berulang-ulang kaisar menghela napas panjang.
"Hong Lan, engkau te ntu dapat merasakan bahwa sejak dahulu aku selalu menyayangmu seperti pute riku sendiri. Bahkan seluruh penghuni istana, seluruh keluargaku menyayangimu, bukan?"
"Hamba tidak menyangkal, Yang Mulia, dan hamba berterima kasih se kali."
Kaisar Tang Tai Cung mengelus je nggotnya, menghela napas lagi mendengar ucapan gadis itu, karena dia melihat perubahan pada sikap Hong Lan yang biasanya menyebut dia ayah, kini menyebut Yang Mulia.
"Hong Lan, ibumu telah berjas a besar dan banyak sekali kepadaku, dan biarpun ia sudah meninggal dunia, kami telah menganugerahkan sebutan pahlawan kepadanya. Engkaupun berjas a ketika ada pembunuh menyerang, akan tetapi kenapa engkau menolak pemberian pahala?"
"Mohon seribu ampun, Yang Mulia. Sejak kecil, hamba te lah menerima limpahan budi kebaikan dan kasih sayang dari paduka, sudah sepantasnya kalau hamba membela paduka dan tidak ada pahala lebih besar daripada kasih sayang yang selama ini hamba rasakan di sini. Hamba menghadap paduka untuk mohon diri, dan ada pula permohonan yang hamba amat harapkan akan paduka kabulkan Yang Mulia."
"Katakanlah, apa yang kauminta, Hong Lan. Aku pasti akan memenuhi semua permintaanmu."
"Hamba mohon agar paduka suka memberitahu kepada hamba, siapakah orang tua hamba. Seperti dipesankan mendiang ibu, paduka mengetahuinya dan hamba disuruh bertanya kepada paduka. Dan permohonan ke dua, hamba mohon paduka ijinkan meninggalkan istana untuk pergi mencari orang tua hamba."
Kaisar mengangguk-angguk.
"Permintaanmu itu memang sudah sepantasnya. Selama belasan tahun ibumu merahasiakan keadaan dirimu hanya karena ia te ramat sayang padamu, juga aku amat sayang padamu, Hong Lan. Sekarang, setelah engkau mengetahui akan rahasia itu, baiklah akan kuje laskan sesuai seperti yang pernah diceritakan ibumu kepadaku. Ketika engkau berusia dua tahun, kau diculik oleh Kwa Bi Lan dari orang tuamu, dibawa merantau dan akhirnya ketika ibumu menjadi pengawal pribadiku, engkau te rbawa pula masuk ke istana, dan ketika ibumu menjadi selirku, dengan sendirinya engkau menjadi anakku. Nah, dengarlah baik-baik, ayahmu bukan orang sembarangan, Hong Lan. Dia adalah seorang pendekar sakti yang te rkenal di dunia persilatan, berjuluk Huang-ho Sin-liong (Naga Sakti Sungai Kuning) bernama Si Han Beng dan dia bersama isterinya tinggal di dusun Hong-cun yang te rletak di Lembah Sungai Kuning."
Hong Lan merasa betapa jantungnya berdebar-debar.
Ayahnya adalah seorang pendekar sakti!
Akan tetapi mengapa ibunya......ibu angkatnya itu, menculiknya dari orang tuanya?
Dan kalau ayahnya seorang pendekar sakti, kenapa tidak mengejar penculik itu dan mencarinya sampai dapat dite mukan?
Melihat gadis itu mengerutkan alisnya dan nampak meragu, kaisar berkata.
"Hong Lan, apakah ada yang hendak kau tanyakan kepadaku?"
"Ampun, Yang Mulia. Akan tetapi.....kenapa ibu menculik hamba? Dan kenapa pula kalau orang tua hamba itu sakti, tidak merebut kembali anak mereka yang diculik?"
Kaisar Tang Tai Cung te rsenyum.
"Itu merupakan rahasia Kwa Bi Lan dan akupun tidak tahu. Sebaiknya engkau tanyakan saja kepada orang tuamu itu, Hong Lan."
"Yang Mulia, hamba mohon diri untuk pergi mencari orang tua hamba itu!"
Melihat gadis itu penuh semangat, Kaisar Tang Tai Cung mengangguk-angguk.
Memang ada sesuatu pada diri gadis ini yang mengagumkan.
Biarpun sejak kecil ia hidup sebagai pute ri kaisar, hidup di is tana yang serba mewah dan dimuliakan orang, namun ia tidak menjadi seorang puteri yang manja.
Masih jelas nampak darah pendekar di tubuhnya, dari sikapnya, dari pandang matanya.
Kaisar ini teringat akan anak-anaknya sendiri dan diapun diam-diam mengeluh.
Pute ra-putera kandungnya hanya pandai saling bersaing dan memperebutkan kekuasaan, pute ri-puterinya hanya pandai bersolek dan bermanja.
Justeru Hong Lan, bukan darah dagingnya, menjadi seorang gadis yang berjiwa pendekar.
Dia sendiri, andaikata tidak menjadi kaisar, tentu menjadi seorang pendekar pula dan mungkin keturunannya tidak seperti sekarang ini.
"Baiklah, anakku. Aku akan te tap menganggapmu sebagai anakku, Hong Lan. Engkau boleh pergi dan bawalah semua barang-barangmu yang berharga. Ketahuilah bahwa dalam perjalanan jauh, engkau membutuhkan biaya, dan berhati hatilah karena di luar istana te rdapat banyak orang jahat yang mungkin akan mengganggumu."
Di dalam hatinya, Hong Lan hendak membantah dan mengatakan bahwa di dalam is tanapun te rdapat banyak orang jahat, akan tetapi ia menahan diri.
Sekarang ia tidak boleh bersikap seperti biasanya terhadap kaisar.
"Terima kasih, Yang Mulia. Hamba sudah bersiap-siap dan hamba akan menyamar sebagai seorang pria agar perjalanan hamba lancar dan tidak mengalami banyak gangguan."
Kaisar tertawa bergelak dan mengelus je nggotnya, nampak gembira sekali.
"Ha-ha-ha, bagus sekali! Engkau memang berjiwa petualang! Ha-ha, membayangkan engkau menjadi pria dan mengembara seorang diri. Alangkah senangnya dan gembiranya kalau aku dapat menyertaimu, bertualang di dunia bebas! Akan te tapi, tidak mungkin. Aku te lah terikat oleh singgasana ini.........! Berangkatlah, anakku, berangkatlah dan jagalah dirimu baik-baik."
"Harap Yang Mulia suka menjaga diri baik-baik pula......."
Kata Hong Lan terharu.
"Hamba mohon diri ......"
Hong Lan bangkit dan hendak pergi, akan tetapi baru beberapa langkah, Kaisar Tang Tai Cung memanggilnya.
"Hong Lan, berhenti duju!"
Gadis itu menahan langkahnya, lalu memutar tubuh memandang kepada kais ar.
"Kesinilah!"
Hong Lan melangkah ragu, mendekati.
"Lan Lan, aku ingin sebelum engkau pergi, engkau sebutlah aku seperti dahulu. Sebutlah aku ayah, karena sesungguhnya, di dalam batinku aku mengakui bahwa engkau anakku. Sebutlah, mungkin untuk te rakhir kali, Hong Lan."
Sepasang mata gadis itu menjadi kemerahan dan menahan-nahan diri agar tidak menangis, lalu memaksa diri untuk berkata lirih.
"Ayahanda......"
"Lan Lan.....!"
Kaisar itu meraih dan Hong Lan dan sudah dirangkulnya dan diciumnya dahi pute rinya itu, seperti yang biasa dia lakukan.
Dan kini Hong Lan tidak dapat menahan tangisnya lagi, iapun merasa amat sayang kepada kais ar dan tahu betapa kais ar memiliki banyak sekali musuh dalam selimut, banyak yang iri, banyak yang menginginkan kedudukannya, dan kini te rpaksa ia meninggalkan kais ar, setelah ibunya meninggal.
Tiba-tiba Kaisar Tang Tai Cung melepaskan rangkulannya dan mendorong le mbut tubuh pute rinya, lalu tertawa bergelak.
"Haii! Apa-apaan ini? Kita bertangisan seperti dua orang yang lemah dan cengeng! Memalukan! Engkau seorang pendekar wanita, Lan Lan, tidak boleh menangis. Pula setelah e ngkau menyamar pria, engkau sama sekali tidak boleh menangis, akan ketahuan orang!"
Biarpun kedua matanya basah, kaisar itu te rtawa bergelak dan Hong Lan juga tertawa.
"Selamat tinggal.........ayah......."
"Selamat jalan, anakku. Sampaikan salam kepada orang tuamu dan katakan bahwa a ku, Li Si Bin, sangat mengagumi mereka dan telah mendengar akan nama besar mereka."
Pergilah Hong Lan dengan langkah tegap meninggalkan ruangan itu, untuk berkemas dan mulai melakukan perjalanannya mencari orang tua kandungnya.
Pangeran Li Seng Cun dihukum buang bersama semua keluarganya, dan kaki tangannya dihukum mati.
Diam-diam hal ini tidak disetujui oleh Bu Mei Ling, dayang yang berjas a itu, yang semenjak hari itu diangkat menjadi selir resmi Kaisar.
Tentu saja ia tidak berani berkata sesuatu, hanya di dalam hatinya ia khawatir bahwa orang-orang yang sudah berkhianat itu, para pemberontak itu, kalau hanya dihukum buang, te ntu masih mempunyai kesempatan untuk menyusun kekuatan dan kelak memberontak lagi!
-ooo0dw0ooo-Tidak sukar bagi Thian Ki dan Cin Cin untuk menemukan rumah orang yang mereka cari.
Setiap orang di dusun Hong-cun, bahkan di dusun-dusun lain di wilayah itu, tahu belaka di mana te mpat tinggal Huang-ho Sin-liong Si Han Beng dan isterinya.
Suami isteri pendekar sakti ini tinggal di dusun yang sunyi, bahkan mereka hidup sebagai petani dan tidak pernah mencampuri urusan ramai, walaupun mereka berdua tidak pernah lalai berlatih silat.
Latihan ini amat penting bagi mereka, bukan hanya untuk menjaga kondis i tubuh agar tidak hilang te rbuang saja ilmu-ilmu yang telah mereka pelajari selama bertahun-tahun.
Bahkan suami is teri ini, bersama-sama mulai mengkombinasikan ilmu-ilmu mereka untuk merangkai ilmu silat baru yang khas milik keluarga mereka!
Diam-diam Thian Ki dan Cin Cin kagum sekali melihat keadaan rumah pendekar itu.
Tidak jauh bedanya dengan rumah-rumah di dusun Hong-cun, sederhana saja namun amat bersih dan sedap dipandang karena terpelihara baik-baik.
Rumah itu memiliki pekarangan yang luas, yang ditanami berbagai macam tanaman obat dengan hiasan tanaman bunga di sana-sini.
Burung-burung berte rbangan dan berkicau di pohon-pohon sekeliling rumah mendatangkan suasana yang te nang, tenteram dan damai, sedikitpun tidak membayangkan kekerasan seperti yang biasa menghiasai kehidupan seorang pendekar.
Sejam yang lalu sebelum Thian Ki dan Cin Cin tiba di luar pekarangan rumah itu, Si Han Beng dan is terinya, Bu Giok Cu, baru saja pulang dari ladang dimana mereka bekerja sejak pagi sampai siang dan kini mereka berdua baru saja selesai makan siang.
Ketika A-kiu, satu-satunya pelayan mereka yang bekerja sebagai pembantu untuk memelihara taman dan kebun, melapor bahwa di luar ada dua orang muda yang ingin berte mu, Si Han Beng dan istrinya saling pandang.
"Siapakah mereka? Apakah penduduk dusun ini atau dusun tetangga?"
Tanya Bu Giok Cu kepada pembantunya.
"Bukan, li-hiap, mereka sama sekali bukan penduduk dusun, bukan petani karena keduanya membawa pedang di punggung. Mereka masih muda, dan yang wanita buntung tangan kirinya."
Pembantu itu sudah biasa menyebut tai-hiap kepada Si Han Beng dan menyebut li-hiap kepada Bu Giok Cu.
Kembali suami isteri itu saling pandang, kemudian mereka berdua berjalan keluar untuk menemui tamu mereka.
Ketika mereka tiba di luar pintu depan, mereka melihat seorang pemuda dan seorang gadis yang buntung tangan kirinya.
Mereka memandang penuh perhatian, akan tetapi tidak merasa kenal kepada dua orang muda itu.
Pemuda itu berpakaian sederhana dan ringkas, sikapnya tenang sekali dan mukanya tidak te rlalu tampan namun ganteng dan jantan, gerak-geriknya le mbut dan tidak nampak seperti seorang ahli silat tangguh.
Adapun gadis yang berdiri di sebelahnya itu lebih menarik perhatian, cantik dan pakaiannya juga sederhana ringkas, namun setiap gerak-geriknya membayangkan kegagahan dan keberanian, matanya mencorong menatap suami isteri pendekar itu tanpa sungkan-sungkan, dan biarpun tangan kirinya buntung sebatas pergelangan, namun ia masih nampak gagah berwibawa.
Dilihat sepintas lalu saja dapat diduga bahwa gadis ini telah menguasai ilmu silat secara mendalam dan memiliki ketangguhan.
Sementara itu, Thian Ki memandang kepada suami isteri itu dengan kagum.
Biarpun ketika berte mu dengan pendekar sakti itu, dia baru berusia empat lima tahun, akan te tapi dia masih mengenal pamannya itu.
Pendekar Si Han Beng adalah adik angkat mendiang ayahnya, Coa Siang Lee.
Bahkan dia masih ingat baik-baik kepada Bu Giok Cu, isteri pendekar sakti itu.
Dahulu, ayah dan ibunya yang menjadi wali, menikahkan pasangan suami isteri ini!
Maka, kini berhadapan dengan suami isteri yang dikaguminya itu, yang berpakaian sebagai petani-petani biasa, Thian Ki te rtegun penuh kagum dan seperti te rpukau dan tidak dapat mengeluarkan suara.
Adapun Cin Cin yang melihat suami isteri yang oleh Thian Ki dikabarkan sebagai suami isteri pendekar, bahkan dahulu seluruh orang He k-houw-pang memuji-mujinya, bahkan ia sendiri oleh mendiang kakeknya dikirim kepada suami is teri ini untuk menjadi murid, kini tertegun karena kecewa.
Kiranya suami isteri pendekar sakti itu s ama sekali tidak meyakinkan penampilan mereka, hanya petani biasa!
Melihat sepasang orang muda itu tertegun.
Bu Giok Cu yang berwatak lincah te rsenyum ramah.
"Aih, aih......! Kalian ini datang hendak menemui kami, mempunyai keperluan ataukah sekedar hanya ingin menjadi penonton? Kami berdua bukan tontonan aneh, kenapa kalian bengong seperti itu?"
Suara ini ramah dan nadanya bergurau. Thian Ki segera memberi hormat.
"Paman Si Han Beng, bibi Bu Giok Cu, kuharap selama ini paman dan bibi mendapat berkah Tuhan dan dalam keadaan sehat dan selamat."
Melihat pemuda yang demikian sopan dan kata-katanya demikian enak didengar, Si Han Beng menoleh kepada is terinya sambil mengangkat alis, seolah bertanya siapa pemuda yang ramah itu.
Akan tetapi isterinya menggeleng kepala, dan mereka kembali memandang kepada pemuda dan gadis itu.
Kini Thian Ki yang te rsenyum.
"Agaknya paman dan bibi yang mulia te lah lupa kepadaku? Aku adalah Coa Thian Ki ........"
"Aihhh........!!"
Si Han Beng berseru.
"Putera mendiang kakak Coa Siang Lee.......?"
"Ah, benar dia! Anak yang dulu tidak suka belajar silat itu!"
Kata pula Bu Giok Cu yang kini te ringat.
"Akan tetapi lihat, dia sekarang membawa-bawa pedang!"
Suami is teri itu gembira sekali.
Si Han Beng memegang tangan kanan Thian Ki dan Bu Giok Cu memegang tangan kirinya.
Pemuda itu merasa te rharu bukan main.
Biarpun tanpa banyak cakap, dan melalui pegangan tangan kedua orang suami isteri itu, dia merasakan getaran kasih sayang yang membuat dia ingin menangis .
Pantas saja kalau ayah ibunya pernah te rkagum-kagum dan amat menghormati suami isteri pendekar ini.
Kiranya dari hati mereka terpancar kasih sayang yang murni.
"Thian Ki, engkau telah menjadi seorang pemuda yang jantan!"
Kata Bu Giok Cu gembira.
"Dan ini, siapakah nona ini?"
Kini suami isteri itu melepaskan kedua tangan Thian Ki dan mereka menghadapi gadis yang buntung tangan kirinya.
"Paman, bibi, adik ini bukan orang lain. Ia adalah Kam Cin, puteri paman Kam Seng Hin ketua Hek-houw-pang yang dahulu pernah dikirim ke sini untuk menjadi murid paman dan bibi."
"Aihhhh......! Engkaukah anak itu?"
Bu Giok Cu mendekat dan memegang pundak gadis itu dengan akrab.
"Kami di sini sudah mendengar semua yang te rjadi di Ta-bun-cung, apa yang menimpa keluarga He k-houw-pang. Kami mendengar pula dari murid kami The Siong Ki te ntang dirimu, Cin Cin. Katanya engkau diajak oleh seorang susiokmu, diantar ke sini, akan tetapi kenapa engkau tidak sampai di sini?"
"Bibi, panjang ceritanya,"
Kata Cin Cin.
"Ah, mari kita masuk, kita bicara di dalam!"
Kata Si Han Beng.
Isterinyapun baru ingat akan hal itu dan mereka semua memasuki rumah dan tak lama kemudian mereka sudah bercakap-cakap di ruangan tamu yang berada di depan sebelah kiri rumah.
Dari jendela yang terbuka dapat nampak taman bunga yang te rawat baik.
Tanah di le mbah Huang-ho itu memang subur.
Di ruangan itu, suami isteri pendekar sungai Huang-ho mendengarkan cerita Cin Cin tentang dirinya yang tidak jadi menjadi murid mereka karena kecurangan Lai Kun yang kemudian menjadi ketua Hek-houw-pang dan sekarang te lah membunuh diri.
Akan tetapi Cin Cin tidak menceritakan bahwa ia telah menjadi murid Tung-hai Mo-li Bhok Sui Cin.
Mendengar cerita itu, Si Han Beng menghela napas panjang.
"Ahh, sungguh tidak kusangka He k-houw-pang bernasib begitu buruk sehingga ayah kalian berdua te was ketika Hek-houw-pang diserbu musuh. Aku tidak merasa heran mendengar bahwa di antara para penyerbu itu te rdapat Can Hong San, seorang yang memang sejak dahulu berwatak jahat bukan main seperti setan. Akan tetapi yang membuat aku merasa bingung adalah ketika mendengar bahwa di antara mereka terdapat pula Lie Koan Tek, padahal dia adalah seorang pendekar Siauw-lim-pai yang gagah perkasa. Bagaimana mungkin dia bekerja sama dengan para tokoh sesat, melakukan penyerbuan kepada Hek-houw-pang?"
"Paman, Can Hong San telah te was di tangan Cin Cin ini,"
Kata Thian Ki. Suami isteri itu terbelalak.
"Engkau? Engkau mampu membunuh Can Hong San? Bukan main...!"
Kata Bu Giok Cu, te rkejut, heran dan hampir tidak dapat percaya.
Tingkat kepandaian Can Hong San sudah amat tinggi, bahkan ia sendiripun hanya dapat mengimbangi dan sukar untuk dapat mengalahkannya.
Mungkin hanya suaminya saja yang akan mampu mengalahkan Can Hong San, dan gadis muda yang buntung tangan kirinya ini dapat membunuhnya!
"Ah, kalau tidak dibantu oleh Thian Ki, belum te ntu aku akan mampu menewaskannya.
Dia memang tangguh luar biasa,"
Kata Cin Cin merendah.
"Dan Lie Koan Tek yang paman sebut-sebut tadi kini telah menjadi ayah tiriku."
"Ehhh? Apa pula ini?"
Bu Giok Cu berse ru kaget dan heran.
"Kau maksudkan, ibumu ..yang telah menjadi janda itu kini menikah dengan Lie Koan Tek, seorang di antara mereka yang menyerbu He k-houw-pang?"
"Dan ayahmu tewas dalam penyerbuan itu!"
Kata pula Si Han Beng heran. Cin Cin menghela napas panjang.
"Paman dan bibi, tadinya akupun merasa penas aran sekali kepada ibu, dan aku pernah amat marah dan membencinya ketika mendengar ia menikah dengan seorang di antara para penyerbu Hek-houw-pang, seorang di antara mereka yang menyebabkan kematian ayahku. Akan te tapi setelah aku bertemu dengan mereka, dengan ibuku dan dengan Lie Koan Tek, baru aku tahu akan duduknya perkara dan aku tidak menyalahkan ayah tiriku."
De ngan singkat Cin Cin lalu menceritakan te ntang Lie Koan Tek yang dibebaskan dari penjara oleh Cian Bu Ong bersama Can Hong San dan yang lain-lain dengan syarat mereka itu akan membantunya merebut kembali tahta Kerajaan Sui yang dijatuhkan oleh Kerajaan Tang.
Kemudian, ketika Cian Bu Ong menyuruh para pembantunya menyerbu He k-houw-pang yang dianggap membantu pemerintah baru, Lie Koan Tek terpaksa ikut menyerbu.
Akan te tapi, dia tidak ingin melakukan pembunuhan, dan ketika melihat ibunya te rancam, dia menolongnya dan membawanya pergi dari dusun yang sedang diserbu itu.
"Lie Koan Tek bukan penjahat, dia hanya te rpaksa ikut dalam penyerbuan. Akan te tapi semenjak itu, dia tidak kembali kepada Cian Bu Ong dan melarikan diri bersama ibu. Akhirnya, ibu juga menyadari keadaan pendekar Siauw-lim-pai itu dan menerima pinangannya."
Cin Cin menundukkan mukanya dan kedua pipinya agak kemerahan. Melihat ini, Bu Giok Cu segera menghiburnya.
"Kalau begitu, ibumu tidak bersalah, dan memang kamipun mengenal siapa Lie Koan Tek itu. Dia seorang pendekar Siauw-lim-pai dan memang dia pernah ditangkap pemerintah karena Siauw-lim-pai ketika itu dituduh memberontak. Yang menjadi biang keladi penyerbuan dan penghancuran Hek-houw-pang adalah bekas Pangeran Cian Bu Ong itulah! Dialah yang jahat!"
Cin Cin mengerling kepada Thian Ki dan pemuda itu segera berkata.
"Bibi dan paman harap mengetahui bahwa Pangeran Cian Bu Ong itu sekarang telah menjadi ayah tiriku pula.."
Kini suami isteri itu benar-benar melonjak saking kaget dan herannya. Mereka menatap wajah Thian Ki dan pandang mata mereka tajam menembus penuh selidik.
"Bagaimana mungkin ini?"
Teriak Si Han Beng penasaran.
"Kakak iparku Sim Lan Ci setelah ditinggal mati kakakku Coa Siang Lee malah menikah dengan bekas pangeran yang te lah membasmi He k-houw-pang dan menyebabkan kematian suaminya? Tidak mungkin! Aku mengenalnya sebagai seorang yang mencinta suaminya dan....."
Tiba-tiba dia terdiam ketika berte mu pandang mata dengan isterinya.
Baca Juga: Kisah Sepasang Rajawali 11
Baca Juga: Si Bangau Merah 6