Eps 11 Naga Beracun - Kho Ping Hoo
Baca online Naga Beracun - Kho Ping Hoo
Cersil Naga Beracun - Kho Ping Hoo.
Dalam pandang mata itu, is terinya seperti mengingatkan dia.
Memang benar, betapapun juga, Sim Lan Ci adalah pute ri mendiang Ban-tok Mo-li Phang Bi Cu yang pernah menjadi iblis betina yang amat kejam dan jahat!
Biarpun nampak baik, akan tetapi siapa tahu ia menuruni watak ibunya?
Thian Ki menghela napas panjang dan melihat pandang mata Si Han Beng kepadanya, diapun berkata.
"Aki tidak menyalahkan paman dan bibi kalau menjadi heran dan menyalahkan ibu. Akan tetapi, sungguhnya ibu tidaklah seperti yang dikira orang. Ia tetap seorang ibu yang baik dan ia amat mencinta mendiang ayah. Dan kalau ia kini menjadi isteri ayah tiriku Cian Bu Ong, hal itupun tidak mengherankan. Ayah tiriku itupun seorang gagah perkasa yang amat baik, sama sekali bukan orang jahat, dan agaknya ia memang patut mendapat kekaguman dan kesayangan ibuku."
Lalu Thian Ki menceritakan te ntang diri Cian Bu Ong.
"Dia seorang pahlawan sejati, te ntu saja pahlawan Kerajaan Sui yang dirobohkan Kerajaan Tang. Dia te ntu saja menganggap Kerajaan Tang sebagai pemberontak dan sebagai seorang pahlawan Sui, dia berusaha sekuat tenaga untuk merebut kembali tahta Kerajaan Sui yang te lah jatuh. Namun dia gagal. Peristiwa di Hek-houw-pang itu terjadi bukan karena dia mempunyai permusuhan pribadi dengan He k-houw-pang melainkan melihat Hek-houw-pang memihak Kerajaan baru dan membantu kerajaan baru untuk menangkap dia yang dianggap pemberontak oleh Kerajaan Tang, maka te rjadilah penyerbuan itu. Saya kira paman dan bibi yang bijaksana akan dapat mempertimbangkan dengan adil te ntang kesediaan ibuku menjadi isteri bekas Pangeran Cian Bu Ong."
Si Han Beng saling pandang dengan Bu Giok Cu dan pendekar ini mengangguk-angguk.
"Yaaah, begitulah perang! Perang merupakan peristiwa keji yang menimbulkan banyak hal yang keji pula. Kalau ada dua pihak berperang, maka te rjadilah pandangan-pandangan yang saling berte ntangan. Apa yang dianggap baik oleh satu pihak, tentu dianggap buruk oleh pihak lain, te rgantung dari penilaian, pihak mana yang diuntungkan dan pihak mana yang dirugikan. Kiranya yang menghancurkan Hek-houw-pang adalah perang. Ini nasib namanya dan kalau kita ingin mencari biang keladinya dan menyalahkannya, maka yang bersalah adalah perang. Sek arang aku mengerti dan tidak heran lagi mengapa ibumu menjadi isteri bekas pangeran itu, Thian Ki."
"Perang memang kotor dan keji, Thian Ki,"
Kata Bu Giok Cu.
"dan tidak mungkin kita bicara te ntang dendam kalau ada yang jatuh te was sebagai korban perang. Perang melibatkan sebuah kerajaan, melibatkan rakyat. Tidak mungkin kita mendendam kepada sebuah kerajaan berikut semua rakyatnya, dan kalau te rjadi bunuh membunuh, maka semua itu dilakukan karena dorongan perang, bukan karena dendam pribadi."
"Maaf, paman dan bibi. Bukankah The Siong Ki itu murid paman dan bibi?"
"Benar, te ntu kalian telah mengenalnya karena orang tuanya juga menjadi korban ketika Hek-houw-pang diserbu,"
Jawab Si Han Beng.
"Apakah dia tidak berada di sini?"
Tanya pula Cin Cin dan wajahnya mulai menjadi merah, matanya bersinar marah. Melihat ini, Bu Giok Cu segera bertanya.
"Engkau mencari dia? Kenapakah? Dia belum kembali."
"Aku mencarinya untuk menantangnya! Dia telah berbuat jahat, menyerang dan melukai ibuku dan ayah tiriku!"
Kembali suami isteri pendekar itu te rkejut Kedatangan dua orang muda ini merupakan kejutan yang membawa banyak kejutan pula "Ehh! Apa yang te lah dia perbuat?' tanya Si Han Beng.
"Kenapa dia menyerang ibumu dan ayah tirimu?"
"Dia menuduh ayah tiriku yang membunuh ayahnya dalam penyerbuan di Hek-houw-pang dan dia menghina karena ibu menjadi isteri Lie Koan Tek, dan kalau aku tidak muncul, mungkin ibuku dan ayah tiriku celaka di tangannya. Aku datang dan melawannya, akan tetapi dia melarikan diri!"
"Ah, lancang sekali anak itu!"
Kata Bu Giok Cu mengerutkan alis nya.
"Hemmm, kalau dia pulang, aku akan menegurnya dengan keras dan akan menyuruh dia minta maaf kepada ibumu dan ayah tirimu, Cin Cin,"
Kata Si Han Beng, diam-diam merasa heran mengapa muridnya bertindak selancang itu, padahal dia sudah memesan agar muridnya itu tidak mendendam kepada siapapun.
Pada saat itu, tiba-tiba nampak bayangan berkelebat dan seorang wanita cantik muncul di luar je ndela ruangan itu, pakaiannya dari sutera serba putih sehingga ia nampak cantik dan an ggun seperti seorang dewi.
Namun sepasang matanya mencorong dingin dan menyeramkan ketika ia memandang ke arah Cin Cin.
"Subo.......!"
Gadis itu berseru kaget bukan main ketika melihat gurunya tiba-tiba berdiri di luar je ndela ruangan itu.
"Keluarlah, aku mau bicara!"
Kata wanita itu dan sekali berkele bat ia sudah lenyap dari luar je ndela itu.
"Maaf, aku mau menemui subo dulu!"
Kata Cin Cin dan iapun melangkah keluar meninggalkan ruangan itu.
Thian Ki juga bangkit dan mengikutinya keluar karena kebetulan sekali, diapun ingin menemui guru Cin Cin untuk membujuknya agar tidak melibatkan Cin Cin dalam urusan pribadinya dengan Cian Bu Ong.
Suami isteri itu mengerutkan alis, saling pandang, lalu keduanya bangkit dan perlahan-lahan mereka melangkah keluar.
Di pekarangan luar yang luas, Tung-hai Mo-li Bhok Sui Lan berdiri tegak dan Cin Cin berlutut di depannya.
Wanita cantik itu kelihatan mengerutkan alisnya dan pandangannya menyapu keadaan muridnya, berhenti sebentar pada tangan kiri yang buntung.
Ia sama sekali tidak perduli ketika melihat seorang pemuda keluar dari pintu rumah itu, kemudian sepasang suami isteri berpakaian petani keluar pula, seolah mereka bertiga itu hanya bayangan baginya, tiga orang yang tidak masuk hitungan.!
"Cin Cin, bagaimana dengan tugas-tugas yang kuberikan kepadamu?
Sudahkah engkau melaksanakannya?"
Terdengar ia berkata, s uaranya dingin.
Diam-diam Thian Ki memakinya dalam hati.
Sungguh wanita iblis, melihat keadaan muridnya yang kehilangan tangan kiri, tidak menanyakan te ntang tangan itu akan tetapi yang ditanyakan adalah pelaksanaan tugas!
"Teecu sudah berhasil membunuh Can Hong San dengan pedang ini, subo......"
"Berikan pedang itu kepadaku!"
Cin Cin mele paskan tali pedangnya dan menyerahkan pedang berikut sarungnya kepada gurunya.
Tung-hai Mo-li mencabut Koai-liong-kiam dan nampak sinar kehijauan.
Ia memeriksa pedang dan melihat adanya bekas darah, maka ia mengangguk-angguk sambil te rsenyum dan memandang langit.
"Suheng, tenanglah engkau di sana, anakmu yang durjana dan murtad itu telah mampus!"
Katanya dan iapun menyimpan kembali pedangnya, lalu mengikatkan di punggung.
"Dan bagaimana dengan Cian Bu Ong? Sudahkah engkau membunuhnya?"
Cin Cin menundukkan mukanya.
"Teecu menemukannya dan menantangnya, akan tetapi teecu telah gagal, subo."
"Gagal? Engkau te lah gagal dan berani melapor kepadaku? Sudah kukatakan bahwa sebelum engkau berhasil melaksanakan tugas-tugas itu, engkau tidak boleh berte mu dan melaporkan kepadaku."
"Maaf, subo. Teecu.....akan mencarinya dan mencoba lagi, dengan taruhan nyawa teecu....."
"Hemm, kau kehilangan tangan kirimu dalam usaha membunuhnya itu?"
"Benar, s ubo."
"Huh! Kau tidak ada gunanya! Pergilah dan cari dia, bunuh dia, kalau perlu dengan taruhan tanganmu yang kanan atau nyawamu!"
"Nanti dulu........!"
Bu Giok Cu tidak tahan lagi mendengar dan ia sudah menghampiri Tung-hai Mo-li.
"Sikapmu ini sungguh keterlaluan!"
Tung-hai Mo-li menole h dan memandang kepada Bu Giok Cu dengan alis berkerut.
"Huh, engkau perempuan tani tidak usah mencampuri urusan pribadi antara aku dan muri dku, atau kubuntungi le hermu."
Selama ini Bu Giok Cu hidup tente ram dan ia telah memupuk kesabaran, akan tetapi sikap dan ucapan Tung-hai Mo-li itu seperti api yang amat panas membakarnya.
Mukanya menjadi kemerahan dan matanya mengeluarkan sinar berapi.
"Aku tidak mencampuri urusan siapa-siapa. Akan tetapi Kam Cin ini adalah tamu kami, bahkan masih ada hubungan keluarga dengan kami. Engkau tidak pantas menekannya seperti itu. Kalau benar engkau ini gurunya, kenapa sikapmu seperti iblis betina terhadap musuhnya, bukan seperti guru te rhadap murid? Ia te lah kehilangan tangan kirinya karena hendak melaksanakan perintahmu, dan engkau bukan bersukur, bahkan menekan dan menghinanya. Engkau ini bukan manusia."
"Perempuan dusun busuk! Mampuslah!"
Tangan Tung-hai Mo-li bergerak menyambar. Tamparan itu dahsyat sekali, dapat menghancurkan batu karang, apalagi rahang seorang wanita dusun, tentu akan hancur lebur terkena tamparan itu.
"Wuuuuttt!"
Tung-hai Mo-li te rte gun karena tamparan itu luput!
Kemarahannya memuncak dan kini tubuhnya berkelebat.
N ampak bayangan putih dan ia sudah menyerang dengan pukulan-pukulan maut secara bertubi-tubi.
Akan tetapi, ia kecele kalau mengira akan mampu merobohkan perempuan dusun itu dengan mudah!
Tubuh Bu Giok Cu berubah menjadi bayangan hitam karena pakaiannya serba hitam dan semua pukulan Tung-hai Mo-li luput!
Ketika wanita iblis itu mengerahkan seluruh tenaga ke dalam kedua tangannya dan mengirim pukulan beruntun dengan dorongan telapak tangan, Bu Giok Cu menyambut dengan gerakan serupa.
"Plak! Plakk!"
Dua pasang tangan berte mu dan akibatnya, kedua orang wanita itu terdorong ke belakang sampai tiga langkah!
Tung-hai Mo-li te rbelalak memandang perempuan dusun itu dan Bu Giok Cu juga memandang sambil te rsenyum mengejek.
Ia telah membuktikan bahwa wanita galak itu tidak mampu mengalahkannya, jangankan membunuhnya!
Berubah pandangan Tung-hai Mo-li terhadap perempuan dusun itu.
"Siapa engkau...........?"
Bentaknya marah.
"Jangan mati tanpa nama!"
Ia menghunus pedang yang tadi diterimanya dari Cin Cin dan nampak sinar hijau.
"Mo-li, tenanglah dan harap sabar. Kami tidak ingin bermusuhan denganmu atau siapapun juga."
Kata Si Han Beng sambil melangkah maju melerai. Mendengar laki-laki dusun itu menyebutnya Mo-li, Tung-hai Mo-li menghadapinya dan memandang tajam.
"Engkau mengenalku?"
Si Han Beng tersenyum.
"Tadinya memang tidak, akan tetapi setelah engkau tadi mencabut pedang dan menyerang isteriku, aku dapat menduga bahwa engkau te ntulah Tung-hai Mo-li Bhok Sui Lan, datuk dari pantai timur, bukan?"
Tung-hai Mo-li makin kaget. Laki-laki dusun ini mengenalnya, mengenal pedangnya dan mengenal imu silatnya! "Siapakah engkau?"
"Tung-hai Mo-li, kami suami isteri hanyalah orang-orang dusun seperti katamu tadi, bukan tokoh terkenal seperti engkau. Namaku Si Han Beng dan ini adalah is teriku dan seperti yang dikatakan tadi, nona Kam Cin adalah tamu kami dan te ntu saja kami melarang siapapun mengganggu te rmasuk engkau sebagai gurunya yang tidak adil."
"Kau......kau......Huang-ho Sing-liong!"
Tung-hai Mo-li berseru kaget. Si Han Beng te rsenyum.
"Hanya orang-orang bodoh saja yang memberi julukan semuluk itu. Aku hanya petani dusun biasa."
Tentu saja Tung-hai Mo-li merasa malu bukan main.
Ia tadi telah menganggap suami isteri pendekar besar ini sebagai petani dusun!
Akan tetapi ia seorang datuk besar, maka tentu saja ia merasa malu kalau harus mengakui kesombongannya.
Ia melintangkan pedangnya di depan dada.
"Huang-ho Sin-liong! Engkau sendiri seorang tokoh dunia persilatan, tentu engkau dan isterimu tahu akan peraturan dan kesopanan dunia kang-ouw, yaitu bahwa seseorang tidak dibenarkan mencampuri urusan antara guru dan muridnya, karena hal itu merupakan urusan pribadi!"
"Nanti dulu, Mo-li!"
Bu Giok Cu berseru, tak kalah pedasnya.
"Engkau seperti kata peribahasa dapat melihat kuman di rambut orang lain, akan tetapi tidak dapat melihat kutu busuk di kepala sendiri! Engkau tadi memasuki pekarangan orang, mengintai dari jendela ruangan orang tanpa permisi. Apakah itu juga sikap yang dibenarkan antara orang gagah? Dan ketahuilah bahwa kami memiliki hubungan dekat dengan keluarga He k-houw-pang, maka Cin Cin, puteri ketua Hek-houw-pang ini dapat kami anggap sebagai keponakan sendiri. Tentu kami tidak mau sembarangan orang menghinanya!"
Tung-hai Mo-li merasa kalah bicara dengan nyonya cantik yang lincah itu, maka untuk menutupi kekalahannya, ia menantang.
"Kalau begitu, mari kita selesaikan dengan pedang! Kita lihat siapa yang salah pasti kalah!"
"Engkau menantangku!"
Bu Giok Cu tersenyum mengejek.
"Jangan mengira bahwa aku perempuan dusun takut kepada pedangmu dan julukanmu itu, julukan kosong melompong dan pedang itu hanya untuk menakut-nakuti ular di sawah saja! Majulah!"
Akan te tapi, Si Han Beng segera melangkah maju menengahi.
"Isteriku, mundurlah. Kalau dua ekor singa betina berkelahi, pasti ada salah satu yang akan te was, dan aku tidak ingin melihat engkau melakukan pembunuhan! Biarlah aku yang menyambut tantangannya."
Bu Giok Cu te rtawa.
"Hi-hik, engkau tahu saja bahwa aku yang akan keluar sebagai pemenang dan ia yang akan te was. Akan tetapi, kalau kau yang maju, te ntu ia tidak akan berani. Aku mendengar bahwa yang julukannya Tung-hai Mo-li orangnya penakut dan pengecut!"
Hampir Thian Ki tak dapat menahan tawanya.
Nyonya rumah ini sungguh hebat.
Lidahnya lebih tajam daripada pedang pusaka dan dengan ucapannya itu, te ntu saja ia telah menyudutkan Tung-hai Mo-li.
Dan memang benar.
Tung-hai Mo-li menjadi pucat saking marahnya.
"Huang-ho Sin-liong, siapa takut padamu? Biar kubunuh dulu engkau, baru is te rimu yang bermulut busuk itu!"
Setelah berkata demikian wanita ini menggerakkan pedangnya.
Ge rakan itu amat cepatnya, pedang diputar menjadi sinar hijau yang bergulung-gulung dan sinar ini menyambar ke arah Si Han Beng!
Pendekar ini mengenal serangan yang amat ganas dan dahsyat, maka diapun menggerakkan tubuhnya dan memainkan Hui-tiauw Sin-kun (Silat Sakti Rajawali Terbang).
Akan tetapi, kalau dibandingkan dengan ilmu silat itu ketika dimainkan mendiang Rajawali Sakti Liu Bhok Ki, gurunya yang pertama, jauh berbeda.
Si Han Beng telah memiliki te naga sin-kang yang amat kuat sehingga dia jauh lebih cepat dan kuat dalam ilmu itu dibandingkan gurunya dahulu.
Tubuhnya bagaikan seekor burung rajawali, mencelat ke udara dan semua serangan pedang bersinar hijau itu tidak mengenai sasaran, bahkan kini tubuhnya dari atas meluncur ke bawah dengan gerakan yang aneh dan cepat.
Tung-hai Mo-li yang selama ini memandang rendah semua lawannya, terkejut bukan main dan cepat ia menggerakkan pedang menyambut bayangan yang meluncur dari atas itu.
Akan tetapi, sambaran angin dari atas membuat ia te rhuyung dan te rpaksa ia mele mpar tubuhnya ke atas tanah dan bergulingan.
Ketika ia meloncat bangun, ia mengebut-ngebutkan pakaiannya yang menjadi kotor.
Ia luput dari sambaran Si Naga Sungai Kuning, akan tetapi pakaiannya menjadi kotor dan ia tahu bahwa menghadapi suami isteri yang amat lihai itu, ia dapat membahayakan dirinya sendiri.
Ia melihat pendekar itu sudah berdiri lagi dengan sikap amat tenang, terlalu tenang sehingga ia tahu bahwa orang ini memang benar-benar berbahaya sekali.
"Mo-li, kenapa berhenti?"
Bu Giok Cu mengeje k.
"Belum lecet kulitmu, belum terluka dagingnya, dan engkau sudah menghentikan pertandingan!"
Tung-hai Mo-li bole h jadi angkuh, akan tetapi ia bukan seorang tolol. Ia tahu bahwa kalau ia melayani, ia akan celaka di tangan suami isteri yang kelihatan seperti sepasang petani dusun itu.
"Aku datang untuk berurusan dengan muridku, bukan dengan kalian!"
Katanya ketus.
"Lain kali kalau aku ada urusan dengan kalian, aku akan sengaja mendatangi kalian. Nah, Cin Cin, engkau sudah gagal melaksanakan tugas. Engkau sudah kehilangan tangan kiri, dibuntungi jahanam Cian Bu Ong. Apakah engkau akan tinggal diam saja? De ndam kita kepada Cian Bu Ong kini menjadi semakin mendalam dengan buntungnya tanganmu. Mari ikut aku pergi menemuinya dan membunuhnya!"
"Nanti dulu, lo-cianpwe. Yang membuntungi tangan kiri adik Kam Cin bukan Cian Bu Ong, melainkan aku!"
Si Han Beng dan Bu Giok Cu sendiri te rkejut bukan main mendengar pengakuan itu, dan mereka berdua hanya menonton dengan heran.
Tung-hai Mo-li yang mendengar pengakuan itu, menjadi merah mukanya, dan semua kemarahan kini ditujukan kepada pemuda itu.
"Siapa engkau?"
Bentaknya marah.
"Namaku Coa Thian Ki, masih saudara misan adik Kam Cin."
"Kenapa engkau membuntungi tangan muridku?"
"Maaf, lo-cianpwe, hal itu kulakukan untuk menyelamatkan nyawanya karena tangannya te lah keracunan hebat."
Tung-hai Mo-li menoleh kepada muridnya dan menyerahkan pedang telanjang di tangannya kepada Cin Cin.
"Cin Cin, cepat kau balas perbuatannya, kau buntungi kedua tangannya! Dia harus membayar hutang berikut bunganya. Ce pat!"
Akan tetapi Cin Cin tidak mau mene rima pedang Koai-liong-kiam itu dan ia berkata.
"Subo apa yang dikatakannya benar. Thian Ki membuntungi tangan kiri teecu untuk menyelamatkan teecu. Kalau dia tidak melakukan itu, sekarang teecu te ntu s udah mati."
"Huh, apapun alas annya, dia te lah membuntungi tanganmu. Katakan, kenapa tanganmu sampai terkena racun?"
Cin Cin te rpaksa berte rus terang.
"Ketika teecu menyerang Cian Bu Ong untuk membunuhnya seperti yang subo kehendaki, Thian Ki mencegahku, sehingga aku berbalik menyerangnya. Aku mencengkeram pundaknya dan keracunan he bat."
"Keparat, engkau bukan saja membuntungi tangan muridku, bahkan engkau membela jahanam Cian Bu Ong, ya?"
Bentak Tung-hai Mo-li sambil menghadapi Thian Ki dengan marah sekali.
"Tentu saja, lo-cianpwe karena Cian Bu Ong adalah ayahku, juga guruku. Kuharap lo-cianpwe dapat bersikap adil. Kalau lo-cianpwe mendendam kepada bekas pangeran itu, bukankah hal itu merupakan urusan pribadi? Urusan percintaan antara lo-cianpwe dan Pangeran Cian Bu Ong merupakan urusan yang sangat pribadi dan rahasia, dan kalau lo-cianpwe hendak membalas dendam, sudah sepatutnya kalau lo-cianpwe melakukannya sendiri. Kenapa lo-cianpwe menyuruh Cin Cin membunuhnya? Cin Cin bukan lawannya, tidak akan berhasil. Apakah lo-cianpwe sengaja membiarkan Cin Cin tewas di tangan musuh yang le bih tangguh? Atau .......barangkali lo-cianpwe sendiri takut menghadapi ayahku? Harap lo-cianpwe tidak melibatkan Cin Cin dalam urusan pribadi itu, agar lo-cianpwe tidak menjadi bahan te rtawaan dunia kangouw!"
Wajah wanita itu menjadi pucat saking marahnya.
"Kau.....kau......kau anak dan murid Cian Bu Ong? Dan engkau membuntungi tangan muridku? Bagus! Aku pasti akan membunuh Cian Bu Ong, akan te tapi aku akan le bih dulu membunuh muridnya!"
Thian Ki te rsenyum.
"Hemm, sekarang aku mengerti kenapa ayahku dahulu tidak mau menikah dengan lo-cianpwe, walaupun lo-cianpwe seorang wanita yang cantik dan lihai. Watak lo-cianpwe itulah!"
"Jahanam busuk, anak setan! Aku tantang engkau, hayo cabut pedangmu dan kuantar engkau ke neraka!"
"Lo-cianpwe menantangku? Aku tidak akan mundur atau lari,"
Kata Thian Ki sambil meraba pedangnya.
"Cin Cin, maafkan aku kalau aku melawan gurumu."
"Nanti dulu!"
Bu Giok Cu berseru.
Ia khawatir sekali melihat Thian Ki hendak menyambut tantangan datuk wanita itu.
Ia tahu bahwa tingkat kepandaian Tung-hai Mo-li tidak jauh selisihnya dengan tingkatnya sendiri.
Bagaimana mungkin Thian Ki sanggup menandinginya?
Pemuda itu sama saja dengan membunuh diri.
"Tung-hai Mo-li, tidak malukah engkau? Lawanmu adalah aku atau suamiku, bukan seorang bocah! Hayo kau tantang aku atau suamiku, bukan menantang seorang yang pantasnya menjadi anakmu atau muridmu!"
"Hem, kiranya pendekar besar Huang-ho Sin-liong dan isterinya hanyalah dua orang dusun yang usil, yang suka mencampuri urusan orang lain secara tidak tahu malu! Aku menantang murid Cian Bu Ong, musuh besarku, aku hendak membunuhnya karena dia pute ra dan murid Cian Bu Ong, dan dia sudah membuntung tangan muridku. Apakah kalian begitu tidak tahu malu untuk mencampuri urusanku ini?"
Si Han Beng melangkah maju.
"lsteriku, mundurlah "
Dia lalu memandang wajah Tung-hai Mo-li, dengan sinar mata mencorong yang demikian tajam sehingga datuk wanita itu sendiri menjadi gentar.
Mata pendekar itu seperti sepasang mata seekor naga sakti, berapi!
"Tung-hai Mo-li, engkau berhak menantang siapapun juga di dunia ini dan kalau yang kau tantang sudah menyambut untuk bertanding denganmu, kami te ntu saja tidak akan mencampuri.
Akan te tapi kalau yang kau tantang menolak lalu engkau memaksa dan hendak membunuhnya, demi Tuhan, aku Si Han Beng yang akan mencegahmu, mengerti?
Thian Ki, sebaiknya jangan kau sambut tantangannya.
Ia bukan lawanmu."
"Paman dan bibi, harap tidak khawatir. Aku akan menyambut tantangannya, demi ayah dan guruku, juga demi Cin Cin karena ia sejak kecil diperalat oleh wanita iblis ini, dibesarkan dan dilatih ilmu silat hanya untuk disuruh membunuh bekas kekasihnya, karena ia sendiri tidak berani maju. Juga demi paman dan bibi yang dipandang rendah dan demi aku sendiri yang ditantangnya. Akan percuma saja kalau selama ini belajar ilmu, kini ditantang oleh seorang wanita jahat aku tidak berani menandinginya. Tung-hai Mo-li, aku sudah siap, majulah!"
Berkata demikian, Thian Ki mencabut pedangnya, pedang yang berwarna hitam.
Nampak sinar hitam yang mengerikan ketika pedang itu dicabut, dan suami is teri pendekar itu mengenal Cui-mo Hek-kiam (Pedang Hitam Pengejar Iblis] yang dahulu merupakan pedang milik Sim Lan Ci, ibu pemuda itu.
Sebatang pedang yang ampuh dan mengandung racun hebat karena pedang itu telah ditangani oleh mendiang Ban-tok Mo-li, nenek dari Thian Ki!
Diam-diam Tung-hai Mo-li juga terkejut melihat pedang hitam di tangan pemuda itu.
Akan tetapi, sesuai dengan wataknya, tentu saja ia memandang rendah kepada seorang pemuda.
Betapapun lihainya, kalau hanya seorang pemuda seperti itu, biar maju sepuluh orangpun ia tidak akan gentar!
"Bocah setan, sambut ini dan mampuslah!"
Bentaknya dan wanita itu s udah menerjang dengan dahsyatnya.
Sinar pedang kehijauan bergulung-gulung menyambar ke arah Thian Ki.
Pemuda ini dengan tenang menggerakkan pedangnya dan nampak gulungan sinar hitam yang mengeluarkan suara mengaung-ngaung, dan ketika kedua pedang berte mu di udara, te rdengar suara nyaring dan nampak bunga api berpijar.
Tung-hai Mo-li merasa telapak tangan yang memegang pedang te rgetar hebat dan iapun te rkejut, tidak berani memandang rendah lagi dan ia mengerahkan seluruh te naganya, mengeluarkan jurus-jurus terampuh untuk mendesak.
Namun, Thian Ki mampu mengimbanginya dengan baik.
Pemuda ini sudah menguasai semua ilmu yang diajarkan Cian Bu Ong kepadanya, sehingga melawan dia tidak ada bedanya dengan melawan bekas pangeran itu sendiri.
Bahkan pemuda ini le bih hebat lagi karena tubuhnya beracun!
Si Han Beng dan Bu Giok Cu yang menonton pertandingan itu, diam-diam merasa kagum bukan main.
Tak pernah mereka dapat membayangkan betapa anak yang dahulu oleh orang tuanya sengaja dijauhkan dari ilmu silat, kini telah menjadi seorang pemuda yang memiliki ilmu kepandaian tinggi.!
Jelas pemuda itu tidak akan kalah menandingi Tung-hai Mo-li, bahkan perlahan-lahan, setelah lewat tigapuluh jurus yang penuh dengan penyerangan silih berganti dengan serunya, Thian Ki mulai dapat mendesak lawannya.
Gulungan sinar hijau pedang Koai-liong-kiam mulai menyempit, sedangkan gulungan sinar hitam pedang Cui-mo He k-kiam menjadi semakin melebar.
Tung-hai Mo-li menjadi panik juga.
Seujung rambutpun ia tidak pernah mengira bahwa ia menemukan lawan yang amat tangguh dalam diri pemuda itu!
Demikian tangguhnya sehingga kini ia malah terdesak hebat.
Ternyata, baik dalam hal kecepatan dan keringanan tubuh, maupun dalam te naga, pemuda itu lebih unggul darinya.
Ia semakin penasaran melihat Cin Cin diam saja, tidak berusaha untuk membantunya.
Akan tetapi, hal itupun akan sia-sia karena di sana te rdapat suami isteri pendekar yang tentu tidak akan tinggal diam kalau Cin Cin bergerak membantunya.
Karena penasaran, tiba-tiba ia mengeluarkan le ngkingan panjang, tubuhnya membuat gerakan memutar dan pedangnya menyambar dari samping dengan pengerahan seluruh tenaganya.
Itulah jurus Loai-liong-tiauw-wi (Naga Siluman Menyabetkan Ekornya) dari Koai-liong-kiam-sut dan jurus ini menang berbahaya sekali.
Putaran tubuh itu menambah dahsyatnya te naga dari tangan yang menggerakkan pedang.
Melihat ini, Thian Ki menyambut dengan tangkis an pedangnya, bukan menangkis langsung dari depan, melainkan le bih condong menghantam dari atas ke bawah sambil mengerahkan tenaga sin-kangnya.
"Trakk......!"
Pedang Koai-liong-kiam yang menjadi pedang pusaka andalan Tung-hai Mo-li itu patah menjadi dua potong!
Tentu saja wanita ini te rkejut bukan main, mukanya pucat memandang kepada pedang sepotong yang masih berada di tangannya.
Pedang itu tinggal sepertiga lagi, yang duapertiga sudah jatuh dan menancap ke atas tanah.
"Setan.....!"
Ia memaki dan ia membuang sisa pedang itu ke atas tanah pula. Thian Ki juga menyarungkan pedangnya. Dia merasa menyesal telah merusak pedang lawan.
"Tung-hai Mo-li, maafkan aku telah mematahkan pedangmu,"
Katanya dengan suara yang jujur, bukan untuk mengejek.
"Huh!"
Tung-hai Mo-li membuang muka dan menoleh kepada muridnya yang masih berdiri di pinggir.
"Cin Cin, hayo ikut denganku. Kita pergi!"
Cin Cin memandang kepada Thian Ki, meragu dan merasa serba salah.
"Subo...."
Ia berkata lirih, bimbang.
"Cin Cin, ingat! Kalau tidak ada subomu ini, apa akan jadinya dengan dirimu belasan tahun yang lalu? Aku menyelamatkanmu, merawatmu, mendidikmu! Aku gurumu, pengganti orang tuamu, dan sekarang aku perintahkan engkau untuk ikut denganku!"
Cin Cin kembali menoleh kepada Thian Ki, akan tetapi kakinya sudah melangkah ke arah subonya.
"Cin Cin, ingat, gurumu amat jahat, hanya ingin mempergunakanmu demi kepentingannya sendiri, tanpa memperdulikan keselamatanmu!"
Kata Thian Ki garang.
"Ia tidak perduli engkau akan mati atau hidup. Ia seorang yang amat keji, dahulu merawat dan mendidikmu hanya dengan tujuan keuntungan dirinya sendiri. Cin Cin, engkau sudah menemukan kembali ibumu, tinggalkan iblis betina itu dan kembali kepada ibumu!"
"Coa Thian Ki, engkau tidak berhak mencampuri urusan kami!"
Tung-hai Mo-li membentak marah, akan tetapi tidak berani bersikap galak lagi.
"Aku le bih berhak atas dirinya daripada engkau, Tung-hai Mo-li. Engkau tidak menyayangnya, melainkan hanya mempergunakannya. Akan te tapi di sini terdapat ibunya yang menyayangnya, ayah tirinya yang juga mengasihinya, dan di sini ada aku, saudara misannya, akan tetapi juga laki-laki yang mencintanya. Aku tidak akan membiarkan engkau membawanya pergi, kalau perlu akan kupertahankan dengan nyawaku!"
Wajah Cin Cin berubah pucat, matanya te rbelalak, lalu wajah itu menjadi merah sekali.
Thian Ki telah mengaku mencintanya di depan subonya, di depan Huang-ho Sin-liong dan isterinya secara terbuka!
"Cin Cin!
Hayo ikut bersamaku!"
Bentak Tung-hai Mo-li, wajahnya merah sekali seperti udang direbus saking marahnya.
"Jangan pergi, Cin Cin. Aku yang bertanggung jawab!"
Kata Thian Ki.
"Subo......, teecu akan pergi.....bersama Thian Ki......"
Kata Cin Cin, suaranya lirih dan mukanya kemerahan. Tung-hai Mo-li melangkah maju menghampiri muridnya, akan te tapi bayangan Thian Ki berkelebat dan dia sudah menghadang di depan gadis itu.
"Tung-hai Mo-li, mulai sekarang, akulah yang akan melindungi Cin Cin dari te kanan siapapun juga!"
Katanya gagah.
"Kau.......kau .....!"
Tiba-tiba Tung-hai Mo-li menggerakkan tangannya menyerang, mencengkeram dengan tangan kiri ke arah muka Thian Ki dan tangan kanannya menghantam dada.
Namun, dengan tangkasnya Thian Ki melompat ke samping sambil menangkis sehingga serangan kedua tangan itu gagal.
"Subo, jangan........!!"
Cin Cin berteriak.
Sebetulnya teriakan itu keluar dari hatinya yang mengkhawatirkan subonya yang berani menyerang dengan tangan kosong.
Thian Ki adalah seorang Tok-tong (anak beracun) dan tubuhnya penuh hawa beracun.
Ia sendiri kehilangan tangan kirinya karena berani mencengkeram pundak Thian Ki.
Tung-hai Mo-li menyerang lagi, kedua tangannya mencengkeram dengan gerakan cepat sekali.
Ilmu Liong-jiau-kun (silat cakar naga) memang merupakan ilmu sillat tangan kosong yang khas dari iblis betina itu, disamping ilmu pedang Koai-liong-kiam.
Ketika menyerang dan mencengkeram pundak Thian Ki, Cin Cin juga menggunakan ilmu cengkeraman ini.
Ilmu cengkeram dari Tung-hai Mo-li memang hebat, gerakannya aneh dan cepatnya luar biasa, membuat lawan tidak sempat lagi untuk mengikuti perkembangan gerakan itu tanpa membalas .
Kalau Thian Ki masih tidak mau membunuh atau merobohkan Tung-hai Mo-li, hal itu karena dia menjaga perasaan Cin Cin, yang dia tahu merasa berhutang budi kepada gurunya itu.
Tadi, ketika bertanding pedang, diapun hanya mematahkan pedang lawan tanpa melukainya.
Kini, melihat serangan yang bertubi-tubi, diapun hanya mengelak dan menangkis, dan inilah kesalahannya.
Dia tidak tahu betapa hebatnya ilmu cengkeraman Liong-jiau-kun itu, maka tiba-tiba saja lengannya, di bawah siku, te lah kena dicengkeram tangan kanan Tung-hai Mo-li.
"Brett........!"
Lengan baju kiri Thian Ki robek dan kuku tangan wanita itu sudah mencengkeram le ngan Thian Ki.
Akan tetapi, bukan Thian Ki yang berte riak, melainkan wanita itu sendiri.
I a menjerit dan te rjengkang, lalu melompat bangun memegang tangan kanannya yang te lah berubah menghitam pada ke lima jari tangannya!
"Kau......kau......beracun ..
.."
"Subo, dia memang seorang tok-tong! Subo, cepat buntungi tangan subo, racun itu akan menjalar naik!"
Teriak Cin Cin. Akan tetapi Tung-hai Mo-li melotot kepadanya, lalu mendengus dan sekali berkelebat iapun sudah meninggalkan te mpat itu.
"Subo......!!"
Cin Cin berte riak memanggil dan suaranya mengandung is ak karena duka dan penyesalan. Thian Ki menghampirinya.
"Cin Cin, maafkan aku. Aku tidak bermaksud...."
"Bukan salahmu, Thian Ki. Subo menjadi korban karena kesalahannya sendiri, seperti juga aku."
Si Han Beng dan Bu Giok Cu juga te rkejut bukan main melihat betapa tangan Tung-hai Mo-li menjadi keracunan hebat begitu mencengkeram le ngan Thian Ki.
Apalagi mendengar te riakan Cin Cin bahwa Thian Ki seorang tok-tong!
"Thian Ki!
Benarkah engkau seorang tok-tong dan tubuhmu mengandung racun?"
Tanya Si Han Beng dengan alis berkerut. Mendengar pertanyaan itu tiba-tiba Thian Ki menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Si Han Beng.
"Me mang benar, paman, dan karena itulah maka aku datang menghadap paman dan bibi."
"Tapi, bagaimana mungkin itu? Ayah ibumu dahulu bahkan menjauhkan dirimu dari ilmu silat!"
Kata pula pendekar Naga Sakti Sungai Kuning itu.
"Mari kita bicara di dalam agar Thian Ki dapat menceritakan te ntang dirinya. Engkau juga masuklah, Cin Cin. Kami sungguh gembira sekali melihat engkau tidak mengikut gurumu."
"Bibi saya......saya seorang murid murtad......"
Kata gadis itu dengan sedih dan menundukkan mukanya.
"Sama sekali tidak, Cin Cin!"
Kata Si Han Beng dan suaranya te gas.
"Justru karena engkau menyadari keadaan gurumu yang jahat dan engkau tidak mau mengikuti je jaknya, merupakan suatu kebijaksanaan darimu. Jangankan seorang guru, biar orang tua sendiri sekalipun, kalau melakukan kejahatan, tidak pantas untuk dijadikan contoh. Gurumu itu s eorang datuk sesat, tentu saja semua tindakannya hanya didasari kepentingan diri pribadi, dan kalau engkau secara membuta mentaatinya, berarti engkau bodoh dan ikut te rseret ke dalam kesesatan. Sungguh tidak sesuai dengan watak ayah dan ibu kandungmu yang menjadi pendekar!t"
"Terima kasih, paman,"
Kata Cin Cin, agak le ga mendengar ucapan itu.
Sebetulnya, kalau ia berte rus terang, yang membuat ia nekat membelakangi gurunya adalah Thian Ki!
Begitu mendengar pengakuan cinta dari Thian Ki tadi, ia sudah mengambil keputusan untuk menentang siapa saja agar dapat hidup bersama Thian Ki untuk selamanya!
Mereka memasuki rumah kembali, ke dalam ruangan yang tadi.
"Jadi kalau begitu, buntungnya tangan kiri Cin Cin juga karena tubuhmu yang beracun?"
Tanya Bu Giok Cu.
"Benar, bibi,"
Kata Cin Cin, mendahului Thian Ki karena ia tidak ingin pemuda itu dipersalahkan.
"Akan te tapi dia tidak bersalah, aku sendiri yang bersalah, bibi. Ketika memenuhi perintah subo aku menyerang Pangeran Cian Bu Ong. Thian Ki membela pangeran itu dan aku menjadi marah. Kami bertanding dan aku te rdesak, lalu aku mempergunakan cengkeraman tangan kiriku melukai pundaknya, dan akibatnya tanganku keracunan. Melihat tanganku menghitam, Thian Ki cepat menggunakan pedang membuntungi tangan kiriku, untuk menyelamatkan nyawaku."
"Perbuatan itu membuat aku merasa menyesal untuk selamanya, paman dan bibi. Sebetulnya, Pangeran Cian Bu Ong tidak kalah melawan Cin Cin, tetapi dia mengalah dan aku tidak ingin melihat Cin Cin membunuh suhu yang tidak bersalah dan yang mengalah. Ketika mudanya, memang suhu dan Bhok Sui Lan itu saling mencinta. Akan tetapi, ketika mendapat kenyataan bahwa Bhok Sui Lan seorang tokoh sesat, suhu yang ketika itu seorang pangeran, menjaga nama baik keluarga kerajaan dan memutuskan hubungan. Ternyata perbuatan itu membuat Bhok Sui Lan mendendam dan memperdalam ilmu-ilmunya sampai menjadi Tung-hai Mo-li, kemudian ia mendidik Cin Cin untuk disuruh membunuh Pangeran Cian Bu Ong yang te lah menjadi suami ibuku."
Suami isterl itu saling pandang dan Si Han Beng menghela napas panjang.
"Hemm, begitulah perputaran nasib kehidupan manusia. Sekarang, ceritakan bagaimana engkau sampai menjadi seorang tok-tong, Thian Ki. Keadaan yang sungguh berlawanan dengan cita-cita ayah dan ibu kandungmu yang akan menjauhkan dirimu dari ilmu silat dan kekerasan."
"Me ndiang nenek yang membuat saya menjadi tok-tong, paman dan bibi."
"Maksudmu, nenekmu Ban-tok Mo-li Phang Bi Cu yang telah menjadi Lo-nikouw di kuil Thian-ho-tong itu?"
"Benar, paman."
Thian Ki lalu menceritakan betapa dia dititipkan kepada neneknya dan neneknyalah yang mengolah dirinya sehingga menjadi tok tong.
Tubuhnya menjadi beracunan, sehingga ketika dia berusia lima tahunpun dia sudah membuat orang-orang tangguh tewas karena memukulnya.
Kemudian diceritakannya semua pengalamannya sebagai murid ayah tirinya dan diapun akhirnya minta bantuan neneknya agar diberi pelajaran ilmu yang dapat mengendalikan hawa beracun dari tubuhnya.
"Akan tetapi mendiang nenek tidak mampu membersihkan hawa beracun dari tubuhku, paman. Menurut nenek, aku tidak boleh menikah selama hidupku, karena kalau aku menikah, isteriku akan tewas keracunan, padahal aku....."
Dia menoleh dan saling pandang dengan Cin-Cin. Suami isteri itupun saling pandang dan merasa te rharu. Si Han Beng menghela napas panjang.
"Kami dapat menyelami perasaan nenekmu, Thian Ki. Memang ia dahulu te rkenal dengan julukan Ban-tok Mo-li (Iblis Betina Selaksa Racun), seorang ahli racun yang tiada duanya di dunia persilatan. Dan dia menjadikan engkau seorang tok-tong itu bukan bermaksud membuatmu te rsiksa, melainkan ia ingin agar engkau menjadi orang yang paling lihai dan tak terkalahkan."
Thian Ki menghela napas panjang.
"Akupun tidak menyalahkan mendiang nenek, paman. Bagaimanapun juga, nenek telah berusaha menebus semua dosanya dengan nyawanya."
Dia lalu menceritakan te ntang pengeroyokan yang dilakukan orang-orang kang-ouw te rhadap Lo-nikouw karena orang-orang kangouw itu mengetahui bahwa nikouw itu adalah Ban-tok Mo-li yang dianggap sebagai iblis betina.
"Nenek sama sekali tidak melakukan perlawanan sehingga ia tewas dibawah hujan senjata orang-orang kang-ouw."
Kembali suami isteri itu saling pandang dan menghela napas panjang.
"Hemm, siapa bermain air akan basah dan bermain api akan kepanasan, sudah wajar sekali. Mendiang nenekmu sejak mudanya berkecimpung di dunia kangouw dan melakukan banyak sekali perbuatan yang menimbulkan permusuhan. Karena itulah, maka kami berduapun lebih suka tinggal di tempat sunyi ini, sedapat mungkin menjauhkan diri dari kekerasan dan permusuhan."
"Dan dahulu, ketika engkau masih kecil, kedua orang tuamu yang sudah menyadari betapa kehidupan orang-orang yang menguasai ilmu silat adalah kehidupan penuh kekerasan dan permusuhan, mereka sengaja tidak mau mengajarkan ilmu silat kepadamu dan kamipun sebenarnya menyetujui pendapat mereka. Akan tetapi, siapa kira, engkau bukan menjadi seorang yang le mah, bahkan kini menguasai ilmu silat tinggi dan memiliki tubuh beracun yang amat berbahaya bagi lawan."
Kata pula Bu Giok Cu. Thian Ki menarik napas panjang dengan muka muram.
"Karena itulah, paman dan bibi, aku menghadap paman berdua untuk mohon pertolongan, karena mendiang nenek pernah berpesan kepadaku, bahwa di dunia ini, hanya ada dua orang yang kira-kira akan mampu melenyapkan pengaruh hawa beracun dari tubuhku dan membebaskan aku dari keadaan menjadi manusia beracun, dan mereka itu adalah yang te rhormat lo-cianpwe Pek I Tojin guru paman dan Lo-cianpwe Hek Bin Hwesio guru bibi. Dan ibuku mengatakan bahwa kalau aku tidak dapat menemukan kedua orang lo-cianpwe itu, mungkin paman dan bibi akan dapat menolongku. Karena itu, paman dan bibi yang budiman, tolonglah karena seperti telah kukatakan kepada Tung-hai Mo-li tadi, aku mencinta Cin Cin dan mengharapkan ia menjadi iste riku."
Kembali Cin Cin menundukkan mukanya yang menjadi merah sekali.
Jantungnya berdebar keras.
Sejak pertemuan yang pertama kali, walaupun perte muan itu dalam suasana yang aneh dan mereka tidak saling mengenal, namun ia sudah amat te rtarik kepada Thian Ki dan dalam perte muan selanjutnya, walaupun pertemuan yang le bih tidak menyenangkan karena ternyata Thian Ki murid Cian Bu Ong dan memihak gurunya, ia sudah jatuh cinta.
Kemudian, terjadi pembuntungan tangan kirinya itu oleh Thian Ki, peristiwa yang amat menyedihkan hatinya.
I a tidak akan pernah melupakan pemuda itu, dan kini, dalam waktu singkat, Thian Ki secara terbuka, di depan orang-orang lain, bukan saja telah mengaku cinta kepadanya, bahkan juga menyatakan harapannya untuk memperiste rinya!
Walaupun tidak langsung kepadanya, namun baginya sama saja, berarti pemuda itu telah menyatakan cintanya dan telah meminangnya sebagai isteri.!
Dan tanpa menjawabpun ia dapat mendengar sendiri jawaban hatinya, yaitu bahwa iapun mencinta Thian Ki dan menerima pinangan itu dengan hati penuh kebahagiaan.
Sementara itu, Si Han Beng dan Bu Giok saling pandang.
Mereka maklum bahwa memang tidak mudah menghalau pergi hawa beracun yang telah membuat Thian Ki menjadi seorang manusia beracun.
Akan tetapi, mengingat hubungan mereka dengan mendiang Coa Siang Lee, ayah pemuda itu, mereka merasa berkewajiban untuk mencobanya, dengan penuh kesungguhan hati.
"Baiklah, Thian Ki. Kami akan mencobanya, akan tetapi jangan mengharapkan te rlalu banyak karena benar seperti apa yang dikatakan mendiang nenekmu, agaknya hanya orang-orang yang memiliki kesaktian seperti kedua orang guru kami itu saja yang akan cukup kuat untuk mengusir hawa beracun dari tubuhmu yang sudah ditanamkan ke dalam tubuhmu sejak engkau masih kanak-kanak."
Tiba-tiba Thian Ki bangkit dari tempat duduknya, lalu menjatuhkan diri berlutut menghadap suami is teri itu.
"Paman dan bibi te rnyata benar seperti dikatakan ibuku, paman dan bibi adalah suami is teri pendekar yang budiman, dan aku Coa Thian Ki merasa kagum dan berterima kasih sekali."
"Hushh. bangkitlah, Thian Ki,"
Kata Bu Giok Cu sambil tersenyum.
"Kita seperti orang lain saja! Bukankah mendiang ayahmu adalah kakak angkat pamanmu Si Han Beng? Di antara keluarga sendiri, kenapa mesti banyak sungkan."
"Benar bibimu, Thian Ki. Bangkit dan duduklah,"
Kata Si Han Beng. Thian Ki duduk kembali, hatinya merasa amat gembira dan penuh harapan. Akan te tapi dia ingat akan sesuatu dan cepat berkata.
"Maaf, paman dan bibi. Betapa aku te rlalu memikirkan diri sendiri sehingga aku lupa akan sesuatu. Aku pernah mendengar bahwa paman dan bibi mempunyai seorang pute ri, dimanakah pute ri paman dan bibi itu? Ingin sekali kami bertemu dan berkenalan." -ooo0dw0ooo-
Jilid 29 Mendengar pertanyaan itu, Si Han Beng dan Bu Giok Cu saling pandang dan Si Han Beng memberi is yarat dengan anggukan kepala kepada is terinya, tanda bahwa dia setuju kalau isterinya menceritakan tentang keadaan pute ri mereka kepada Thian Ki dan Cin Cin.
"Malapetaka telah menimpa keluarga kami, Thian Ki dan Cin Cin. Sejak anak kami berusia dua tahun, ia telah diculik orang dan sampai sekarang kami belum pernah melihat anak kami itu."
Biarpun ia seorang wanita gagah perkasa, namun menceritakan tentang pute rinya itu, mau tidak mau Bu Giok Cu merasa berduka dan suaranya te rdengar agak gemetar.
Mendengar itu, Cin Cin menjadi penasaran sekali.
"Akan tetapi bagaimana mungkin hal itu te rjadi, bibi? Paman dan bibi adalah suami isteri yang berkepandaian tinggi! Siapa orangnya berani main-main seperti itu, berani menculik pute ri paman dan bibi? Katakan, siapa orangnya dan aku akan membantu paman dan bibi mencari puteri bibi itu sampai dapat!"
"Akupun siap untuk membantu paman dan bibi mencari penculik itu!"
Kata Thian Ki.
"Penculiknya seorang wanita yang bernama Kwa Bi Lan,"
Kata Si Han Beng. Cin Cin memandang heran.
"Dan selama ini paman dan bibi tidak pernah berhasil menemukan kembali pute ri paman itu?"
Bu Giok Cu yang menjawab setelah menghela napas panjang.
"Kami berdua memang tidak pernah mencarinya."
"Tapi, kenapa, bibi? De ngan ilmu kepandaian bibi yang tinggi, apalagi ada paman. Apa sukarnya mencari penculik itu, membunuhnya dan merampas kembali pute ri bibi? Kenapa bibi dan paman tidak pernah mencarinya?"
Thian Ki juga ikut menatap wajah suami is teri itu bergantian dengan pandang mata penuh kehe ranan dan pertanyaan.
Kembali suami isteri itu saling pandang, kemudian Bu Giok Cu menghela napas panjang, lalu berkata.
"Baiklah, kalian berdua adalah keluarga He k-houw-pang, bukan orang luar dan biar akan kuceritakan apa yang te lah terjadi belasan tahun yang lalu dan kenapa kami tidak pernah mencari puteri kami."
Ia lalu menceritakan tentang Kwa Bi Lan yang te rhitung su-moi dari suaminya.
Kemudian Kwa Bi Lan menjadi isteri gurunya sendiri, mendiang Sin-tiauw (Rajawali Sakti) Liu Bhok Ki.
Liu Bhok Ki marah dan penas aran kepada Si Han Beng yang mengecewakan hatinya, karena Si Han Beng yang tadinya diharapkan menikah dengan Kwa Bi Lan malah menikah dengan Bu Giok Cu tanpa memberi tahu.
Liu Bhok Ki berduka dan menjadi sakit-sakitan sampai meninggalnya, dan Kwa Bi Lan merasa sakit hati kepada Si Han Beng.
"Nah, untuk membalas sakit hatinya itulah, Kwa Bi Lan datang dan menculik Hong Lan, anak kami. Kami tidak berani mengejar, karena ia mengancam bahwa kalau kami mengejar, ia akan membunuh anak kami."
Sampai di sini, nyonya itu tidak kuasa lagi mencegah menetesnya beberapa butir air mata.
"Akan te tapi, tentu ada cara untuk merampas kembali pute ri bibi."
Kata Thian Ki.
"Apalagi sekarang tentu ia telah menjadi seorang gadis yang dewasa."
"Jangan khawatir, paman dan bibi. Kalau Thian Ki sudah mendapatkan kebebasan dari hawa beracun di tubuhnya, kami berdua akan mencari pute ri bibi sampai dapat dan kami tidak akan berhenti mencari sebelum kami berhasil!"
Kata Cin Cin penuh semangat. Thian Ki membenarkan dan diapun menyanggupi untuk mencari dan mengajak kembali Si Hong Lan kepada orang tuanya.
"Aku khawatir ia tidak akan lagi mengenal kami,"
Kata Bu Giok Cu.
"Mudah-mudahan saja Kwa Bi Lan dapat menjadi pengganti ibu yang baik. Ia bukan seorang jahat, bahkan ia seorang pendekar wanita yang tangguh, murid Siauw-lim-pai. ..."
"Murid Siauw-lim-pai? Seperti ayah tiriku....."
Kata Cin Cin. Si Han Beng mengangguk.
"Me mang Kwa Bi Lan adalah keponakan dari ayah tirimu yang bernama Lie Koan Tek itu, Cin Cin."
"Ahh.......!"
Gadis itu berteriak kaget.
"Kalau begitu, le bih mudah lagi! Aku akan bertanya kepada ayah tiriku, tentu dia mengetahui dimana adanya Kwa Bi Lan dan aku akan mengambil pute ri bibi darinya!"
Bu Giok Cu te rsenyum.
"Terima kasih, Cin Cin. Biarpun sejak lama engkau menjadi murid Tung-hai Mo-li, ternyata engkau tidak kehilangan watak pendekar dari orang tuamu. Sukurlah, karena aku sendiri dahulu juga menjadi murid seorang datuk sesat, yaitu Ban-tok Mo-li mendiang nenek Thian Ki. Akan tetapi, rasanya tidak begitu mudah bagi kami untuk mendapatkan kembali anak kami, karena sekarang tentu ia telah dewasa dan kalau ia sudah menganggap Kwa Bi Lan sebagai ibunya, ia tidak mengenal kami lagi."
"Akan tetapi hal itu dapat dijelaskan kepadanya, bibi!"
Bantah Cin Cin.
"Sudahlah,"
Kata Si Han Beng.
"Hal itu tidak perlu diributkan lagi. Kami memang amat rindu kepada anak kami, akan te tapi kami sudah tidak mengharapkan ia mengenal kami sebagai orang tuanya. Kalau kami dapat melihat ia dalam keadaan sehat dan selamat, juga berbahagia, kami sudah ikut merasa berbahagia. Sekarang sebaiknya kalian berdua beristirahat. Kami berdua akan samadhi dan menghimpun te naga sin-kang. Malam nanti baru kami akan mencoba untuk membantu Thian Ki mengusir hawa beracun dari tubuhnya. Thian Ki, engkau tinggal di kamar tamu di depan, dan Cin Cin di kamar anak kami yang sampai sekarang masih kami pelihara baik-baik dan kami persiapkan kalau-kalau anak kami itu pulang."
Thian Ki dan Cin Cin merasa te rharu sekali mendengar ucapan pendekar itu karena dalam ucapan itu te rkandung harapan dan kedukaan yang mendalam, namun sengaja ditekan.
Setelah suami isteri itu memasuki kamar mereka untuk bersamadhi, Thian Ki tinggal berdua saja dengan Cin Cin.
"Mari kita keluar, di samping rumah melihat taman yang indah dan hawanya sejuk,"
Kata Thian Ki.
Tanpa menjawab Cin Cin mengikutinya.
Mereka memasuki taman.
Suasana sunyi dan taman itu memang menyejukkan badan dan hati.
Thian Ki mengajak Cin Cin duduk di bangku dalam taman.
Keduanya duduk dan berdiam diri sampai lama.
Akhirnya Cin Cin yang bicara, suaranya lirih.
"Thian Ki, kenapa engkau lakukan itu?"
"Lakukan apa?"
Thian Ki mengangkat muka menengok dan karena gadis itu pun sedang memandangnya , maka dua pasang mata berte mu dan bertaut.
"Yang kau katakan kepada subo dan kepada paman dan bibi tadi......"
"Ya.........?"
Thian Ki mendukung.
".......bahwa engkau.......cinta padaku dan mengharapkan akan menjadi ... isterimu...."
Gadis itu tidak kuasa menahan debaran hatinya yang te gang dan malu, dan ia menundukkan mukanya.
Padahal, Cin Cin adalah seorang gadis yang biasanya lincah jenaka, periang dan gembira lagi pandai bicara, walaupun semenjak tangan kirinya buntung, ia menjadi lebih pendiam.
N amun hal ini bukan karena buntungnya tangan, melainkan karena Thian Ki yang menyebabkan buntung.
"Cin Cin, apakah ucapanku itu menyinggung perasaan hatimu? Maafkan kalau aku menyinggungmu............" ''Bukan begitu maksudku, akan tetapi kenapa engkau lakukan itu? Kenapa engkau mengucapkan k ta-kata itu?"
Sepasang matayang je li dan tajam sinarnya itu menatap wajah Thian Ki penuh selidik. Akan te tapi Thian Ki menyambut tatapan mata itu dengan tenang dan jujur.
"Kenapa, Cin Cin? Aku tidak mengerti mengapa engkau masih bertanya kenapa."
"Thian Ki, berterus teranglah. Apakah engkau mengatakan kepada subo bahwa engkau mencinta ku, hanya untuk membela daku dari kemarahan Subo? Kemudian engkau mengatakan kepada paman dan bibi bahwa engkau mengharapkan aku menjadi isterimu hanya agar mereka mau membebaskanmu dari hawa beracun?"
Sepasang mata Thian Ki terbelalak lebar, ia te rkejut bukan main karena tidak menyangka sama sekali bahwa ke sana arah pertanyaan Cin Cin tadi.
"Cin Cin! Seperti itukah buruknya penilaianmu te rhadap diriku? Engkau......tidak percayakah engkau kepadaku?"
"Thian Ki, aku hanya menghendaki kepastian. Jawablah pertanyaanku tadi."
"Demi Tuhan, Cin Cin. Aku memang cinta padamu! Aku memang mengharapkan engkau menjadi isteriku! Atau, engkau menghendaki aku bersumpah?"
"Thian Ki, apakah perasaan cintamu itu te rdorong oleh perasaan iba dan menyesal karena engkau telah nembuntungi tangan kiriku?"
Kembali sepasang mata itu memandang penuh selidik. Thian Ki merasa hatinya perih sekali.
"Cin Cin, kenapa engkau begitu te ga mengajukan pertanyaan seperti itu? Ingatan bahwa tangan kirimu buntung karena aku selama hidupku akan mendatangkan perasaan sesal di hatiku. Akan tetapi bukan karena itu aku mencintamu dan ingin berjodoh denganmu. Sebelum tangan kirimu buntungpun, ketika pertama kali kita bertemu, aku sudah jatuh cinta padamu. Justeru karena cintaku kepadamu maka aku membuntungi tangan kirimu, untuk menyelamatkan nyawamu. Setelah tanganmu buntung perasaan duka dan sesal itu bahkan memperdalam rasa cintaku. Cin Cin, kalau e ngkau tidak menganggap aku te rlalu hina dan rendah, aku......, sekali lagi kepadamu kunyatakan bahwa aku cinta padamu dan bahwa aku ingin sekali berjodoh denganmu, menjadi suamimu dan kita hidup bersama selamanya, Cin Cin."
Sepasang mata yang je li itu kini menjadi basah, dan ketika ia membuka mulut bicara, suaranya te rdengar lirih dan gemetar.
"Thian Ki, aku.....aku yang hina dan rendah, aku tidak pantas menjadi isterimu, aku......aku hanya seorang gadis buntung......"
"Hushhh........"
Thian Ki meraih dan memegang tangan kanan gadis itu, lalu menutupkan tangan kirinya ke depan mulut Cin Cin, mencegah gadis itu bicara lebih banyak.
"Anak bodoh, engkau adalah gadis paling hebat, paling cantik, dan paling kucinta di dunia ini."
"Thian Ki.......!"
Kini Cin Cin menangis sesenggukan di atas dada Thian Ki.
Akan te tapi hanya sebentar.
Mereka berdua maklum bahwa di taman itu, keadaan mereka akan mudah dilihat orang lain.
Juga Cin Cin menangis karena bahagia, maka ia dapat menekan perasaannya dan kini mereka duduk berdampingan.
Tangan kiri Thian Ki tak pernah melepaskan tangan kanan gadis itu yang digenggamnya erat-e rat dan telapak tangan mereka yang saling genggam itu menyalurkan getaran kasih yang hangat dan mes ra, yang hanya dapat dirasakan dan dimengerti ole h mereka berdua.
Mereka berdua hening sampai lama, hanya saling pandang dan saling lirik.
Biarpun matanya masih basah, kini Cin Cin sudah tersenyum manis.
"Cin Cin, engkau masih hutang kepadaku dan harus kau bayar sekarang juga, tidak boleh ditunda-tunda lagi agar hatiku tidak menjadi gelisah "
Gadis itu membelalakkan matanya yang indah, yang masih basah.
"Hutang kepadamu? Aku hutang? Hutang apa, Thian Ki?"
Thian Ki tersenyum. Betapa indahnya mata itu, seperti telaga yang amat dalam penuh rahasia dan bibir itu, betapa manisnya kalau sedang setengah te rbuka karena keheranan itu.
"Cin Cin, aku sudah mengaku cinta dan ingin memperisterimu, akan tetapi engkau sama sekali belum menjawabku. Nah, itulah hutangmu kepadaku, bayarlah sekarang juga!"
Wajah itu menjadi merah sekali, merah sampai ke lehernya, dan mata itu nampak gugup dan salah tingkah, bibir itu gemetar seolah sukar mengeluarkan suara, dan Cin Cin yang biasanya lincah jenaka, gembira dan tabah, kini nampak seperti seorang gadis yang le mah, pemalu, dan cengeng!
"Aku......aku....
ah, Thian Ki, haruskah ..
.aku...
Apakah......engkau tidak dapat merasakan...........!?"
Ia mencoba menghindari jawaban yang dituntut Thian Ki itu.
"Ah, tidak bisa! Engkau harus menjawab, Cin Cin. Akupun menghendaki kepastian. Bagaimana kalau engkau sebenarnya tidak cinta padaku dan tidak ingin menjadi isteriku, akan tetapi hanya karena kasihan kepadaku dan sungkan untuk menolak? Nah, kau tahu betapa pentingnya jawabanmu bagiku"
"Jangan.....jangan pandang aku seperti itu, sukar bagiku untuk menjawab kalau engkau memandangku........"
Thian Ki tersenyum.
"Aku harus memandangmu agar dapat melihat apakah jawabanmu sejujurnya atau hanya berbohong!"
"I hh! Engkau ... kejam sekali, engkau te ga membuat aku menjadi salah tingkah begini...?"
Thian Ki menggenggam tangan gadis itu.
"Jawablah, Cin Cin. Aku bahkan berani mengaku cinta di depan orang-orang lain. Sekarang, hanya ada kita berdua, pengakuanmu han ya akan kudengar sendiri."
Cin Cin menyerah. Ia menundukkan mukanya dan berkata lirih seperti hanya berbisik saja, namun te rdengar amat merdunya dalam te linga Thian Ki.
"Thian Ki, sejak perte muan kita pertama, akupun sudah jatuh cinta padamu. Aku cinta padamu dan aku ingin menjadi isterimu......"
"Cin Cin....!"
Kembali Thian Ki mendekapnya dan sejenak mereka tenggelam ke dalam perasaan yang menyatu.
Tiba-tiba mereka saling melepaskan rangkulan karena telinga mereka yang te rlatih mendengar langkah orang.
Cepat mereka menengok dan mereka melihat seorang pemuda berjalan menghampiri mereka.
Kalau Thian Ki memandang heran karena tidak mengenal pemuda itu.
Cin Cin bangkit dengan cepat dan matanya menyinarkan kemarahan.
Sebaliknya, pemuda itupun nampak te rkejut bukan main ketika mengenal Cin Cin.
"Cin Cin......!"
Pemuda itu berseru kaget.
"Bagus engkau datang, The Siong Ki. Aku memang mencarimu untuk menantangmu! Engkau telah berani melukai ibuku dan menyerang ayah tiriku. Nah, mari kita selesaikan urusan kita di sini!"
Cin Cin menantang dan melangkah maju menghampiri.
Akan te tapi pemuda itu, Siong Ki memandang bingung.
Melihat di dalam taman ada seorang pemuda dan seorang gadis duduk di bangku taman dan berpelukan, dia yang baru saja datang menjadi heran dan curiga, maka segera memasuki taman untuk menegur.
Tidak tahunya, gadis itu adalah Cin Cin!
Dia tidak ingin berkelahi dengan gadis yang lihai itu, apalagi di situ terdapat suhu dan subonya.
Seperti kita ketahui, The Siong Ki yang bekerja sama dengan Bi Tok Siocia Ouw Ling telah gagal ketika membantu pemberontak dan pengkhianat, yaitu Pangeran Li Seng Cun.
Mereka bukan saja gagal membunuh kaisar, bahkan Ouw Ling te was dalam usaha itu, dan Siong Ki berhasil lolos dari istana dan melarikan diri, kembali ke dusun Hong-cun, te mpat tinggal suhu dan subonya.
Sungguh tidak disangkanya sama sekali akan berte mu dengan Cin Cin di taman gurunya itu.
"Cin Cin, maafkan aku. Memang tidak kusangkal bahwa aku pernah menyerang ibumu dan ayah tirimu. Akan tetapi semua itu terjadi karena aku salah duga. Aku mengira bahwa Lie Koan Tek itulah yang telah membunuh ayahku dalam penyerbuan ke He k-houw-pang dahulu. Aku hanya ingin membalas dendam atas kematian ayahku. Aku sekarang menyadari bahwa bukan dia yang membunuh ayahku, dan harap engkau suka memaafkan aku."
"Enak saja minta maaf! Engkau sudah melukai ibuku dan minta maaf begitu saja? Kalau pada waktu engkau menyerang mereka aku tidak muncul dan mencegahmu, mungkin sekarang engkau telah membunuh ibuku dan ayah tiriku!"
"Itu hanya merupakan salah sangka. Maafkan aku, Cin Cin. Atau kalau engkau masih penasaran dan hendak membalaskan luka ibumu, nah, kauboleh lukai aku, aku tidak akan membalas. Ingat, kita masih sama-sama keluarga He k-houw-pang dan kita sama-sama menderita karena penyerangan kepada Hek-houw-pang itu."
Melihat kekasihnya marah-marah dan sikap pemuda itu yang kini dia kenal sebagai The Siong Ki yang pernah dikenalnya belasan tahun yang lalu ketika dia ikut ayah ibunya ke Hek-houw-pang nampak mengalah dan minta maaf, Thian Ki segera melerai.
"Sudahlah, Cin Cin. Siong Ki benar, semua itu te rjadi karena salah sangka, dan dia sudah minta maaf."
Melihat Thian Ki yang nampak a krab dengan Cin Cin dan kini ikut pula bicara, bahkan menyebut namanya begitu saja, timbul perasaan tidak senang dalam hati Siong Ki.
Timbul perasaan tinggi hatinya dan dengan ketus dia bertanya.
"Siapakah engkau yang berani mencampuri urusan kami?"
Thian Ki merasa heran mendengar ucapan yang bernada tinggi hati dan angkuh itu.
Sungguh tidak patut murid Naga Sakti Sungai Kuning bersikap seperti itu, akan tetapi dia tersenyum dan menghampiri Siong Ki.
"Siong Ki, lupakah engkau kepadaku? Aku senasib dengan engkau dan Cin Cin, kehilangan ayah ketika Hek-houw-pang diserbu. Aku Coa Thian Ki!"
Siong Ki mele barkan matanya.
"Coa Thian Ki? Kau pute ra Paman Coa Siang Lee itu?"
Sekarang Siong Ki bersikap ramah.
"Siong Ki........!"
Pemuda itu terkejut dan wajahnya berubah pucat mendengar suara suhunya.
Dia menole h dan cepat menjatuhkan diri di depan suhu dan subonya yang te lah berada di situ.
Suami isteri pendekar itu telah mendengar suara mereka dan keduanya memasuki taman.
Melihat sikap Cin Cin yang marah, Si Han Beng segera menegur muridnya.
"Siong Ki, apa yang telah kami dengar dari Cin Cin itu? Engkau te lah menyerang pendekar Lie Koan Tek dan juga ibu Cin Cin, bahkan telah melukainya? Lupakah engkau akan pesan kami ketika engkau pergi, tidak boleh memusuhi pendekar itu sebelum melakukan penyelidikan dengan seksama dan tidak boleh mendendam kepada siapapun?"
"Ampun, s uhu, dan subo, teecu telah melakukan kesalahan karena terburu nafsu dan diamuk duka dan dendam atas kematian ayah. Teecu telah bersalah dan teecu siap menerima hukuman dari suhu berdua."
Kata Siong Ki dengan nada sedih.
Tadi ketika Thian Ki melerai, hati Cin Cin sudah mulai dingin dan ia dapat memaafkan Siong Ki.
Kini, melihat kedua orang guru pemuda ini nampak marah, Cin Cin semakin merasa kasihan kepada Siong Ki.
Bagaimanapun juga, yang diserang Siong Ki bukanlah ibunya, melainkan Lie Koan Tek dan ibunya membela suami, maka sampai te rluka.
Dan penyerangan Siong Ki te rhadap Lie Koan Tek tidak dapat te rlalu disalahkan karena pemuda itu mengira bahwa ayah tirinya yang membunuh ayah pemuda itu.
"Siong Ki, kembalikan pedangku!"
Terdengar Bu Giok Cu berkata dan suaranya juga tidak ramah.
De ngan muka pucat Siong Ki mele paskan tali sarung pedangnya dan menyerahkan pedang Seng-kang-kiam (Pedang Baja Bintang) kepada subonya.
Bu Giok Cu tanpa berkata apa-apa, menerima pedang itu dan mencabutnya dari sarung, memeriksa pedang itu, kemudian memasukkannya kembali dan memasangkan di punggungnya sendiri.
"Hemm, pedangku kupinjamkan kepadamu sebagal bekal agar engkau dapat melaksanakan tugasmu dengan baik. Lalu, apa hasilnya selama engkau pergi ini? Hanya untuk menyerang dan melukai ibu Cin Cin dan ayah tirinya? Itu saja?"
Tentu saja Siong Ki tidak berani menyinggung te ntang pekerjaannya membantu pangeran yang memberontak dan usahanya membunuh kaisar namun gagal itu.
Ia teringat akan tugas yang diberikan gurunya kepadanya, yaitu mencari puteri gurunya yang diculik orang belasan tahun yang lalu.
Bahkan ketika Si Hong Lan.
puteri Suhunya itu diculik oleh Kwa Bi Lan, dia yang semestinya bertanggung jawab, karena ketika itu, dia yang baru berusia enam tahun yang mengasuh Hong Lan yang berusia dua tahun.
"Maaf. subo......"
"Lancang! Siapa memberi ijin engkau menyebut subo kepadaku?"
Bentak Bu Giok Cu.
"Maaf...... maafkan saya. bibi....... saya sudah berusaha semampu saya mencari jejak mereka, akan tetapi belum berhasil."
"Sudahlah,"
Kata Si Han Beng.
"Engkau beristirahatlah, atau boleh menemani Thian Ki dan Cin Cin. Kami hendak melanjutkan bersamadhi di kamar dan nanti kalian bertiga boleh makan malam di ruangan makan, kami tidak ingin diganggu sebelum hari menjadi gelap."
Setelah berkata demikian, Si Han Beng dan isterinya meninggalkan taman dan masuk kembali ke dalam rumah.
Karena ia sendiri sedang merasa berbahagia dan hatinya senang karena baru saja ia dan Thian Ki sudah saling membuka rahasia hati masing-masing yang saling mencinta, maka hati Cin Cin menjadi tak tega dan ia sudah dapat memaafkan Siong Ki sepenuh hatinya.
Apalagi melihat betapa Siong Ki dimarahi oleh kedua orang gurunya, iapun merasa kasihan.
"Tentu engkau disuruh mencari pute ri paman Si Han Beng yang diculik orang itu, bukan?"
Tanya Cin Cin kepada Siong Ki.
Pemuda itu menjatuhkan diri di atas bangku taman dan menghela napas panjang berulang-ulang.
Memang hatinya sedang kesal bukan main.
Usahanya di kota raja gagal, bahkan hampir saja dia tidak dapat meloloskan diri dari is tana.
Dan diapun belum berhasil mendapatkan pute ri gurunya yang hilang itu.
"Me mang nasibku yang buruk. Dahulu, adik Hong Lan diculik oleh Kwa Bi Lan ketika sedang kuajak bermain-main di taman ini. Aku baru berusia enam tahun dan tak berdaya, ditotok oleh Kwa Bi Lan. Dan sekarang, suhu menugaskan aku untuk mencari puterinya, akan tetapi aku sama sekali tidak berhasil menemukan jejak Kwa Bi Lan. Sudah kutanyakan ke seluruh penjuru, kepada para tokoh kangouw, namun tidak ada yang dapat memberitahu dimana adanya Kwa Bi Lan, seolah ia le nyap ditelan bumi bersama anak yang diculiknya."
"Aku yang akan dapat menemukannya, Siong Ki. Aku dan Thian Ki akan membantu paman dan bibi menemukan kembali anak mereka,"
Kata Cin Cin.
"Cin Cin, engkau tahu di mana adanya Kwa Bi Lan yang menculik pute ri suhu?"
Tanya Siong Ki heran.
"Aku juga belum tahu, akan te tapi dapat kutanyakan kepada ayah tiriku. Kiranya dia mengetahui atau dapat menduga di mana adanya wanita itu kerena Kwa Bi Lan adalah keponakan ayah tiriku."
"Ah, begitukah?"
Kata Siong Ki gembira "Kalau begitu, aku yakin bahwa akhirnya engkau dan Thian Ki yang akan mampu mengembalikan adik Si Hong Lan kepada suhu!"
Kini Siong Ki kelihatan gembira sekali.
Memang hatinya bergembira karena le ga.
Biarpun kedua orang gurunya tidak puas dengan kegagalannya menemukan Hong Lan, akan tetapi mereka tidaklah terlalu marah kepadanya.
Dan kini ternyata Cin Cin telah memaafkannya.
Tidak ada sesuatu yang dapat dia khawatirkan lagi.
Peristiwa di istana kerajaan itu tentu tidak akan diketahui gurunya, dan dia kini te lah aman berada di rumah gurunya.
Karena gembira, maka dia lalu mengajak Thian Ki dan Cin Cin bercakap-cakap, saling menceritakan pengalaman masing-masing.
Akan te tapi tentu saja cerita mereka itu terbathas, hanya yang seperlunya saja diceritakan.
Siong Ki te ntu saja menyimpan rahasia, sedangkan Cin Cin yang bagaimanapun juga tidak sepenuhnya melupakan perbuatan Siong Ki, juga tidak mau menceritakan semua keadaan dirinya.
Demikian pula dengan Thian Ki.
Sikap Siong Ki yang tadi te rdengar angkuh itu saja sudah membuat dia tidak menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada pemuda ini.
Karena dia menghadapi pengobatan yang akan dilakukan Si Han Beng dan Bu Giok Cu, Thian Ki berpamit dari kedua orang itu untuk melakukan samadhi di kamarnya, sebagai persiapan menerima bantuan pengobatan dari suami isteri pendekar itu dengan mengumpulkan hawa murni ke dalam tubuhnya.
Cin Cin yang memaklumi keadaan kekasihnya dan mengharapkan Thian Ki sembuh atau terbebas dari hawa beracun itu, menyetujui.
Iapun mengajak Siong Ki untuk bercakap-cakap di dalam taman itu menanti lewatnya siang hari.
Siong Ki memang seorang yang pandai membawa diri.
Dia bersikap sopan dan ramah, bahkan akrab sekali sehingga semakin menipis kesan buruk atas diri pemuda itu dalam hati Cin Cin.
"Maafkan aku, Cin Cin, kalau pertanyaanku ini menyinggung perasaanmu. Kalau engkau tidak suka menjawab, anggap saja pertanyaanku ini tidak pernah ada."
Dia menghentikan kata-katanya sambil memandang wajah gadis itu untuk memberi kesempatan kepada Cin Cin mengambil keputusan.
Cln Cin mengerutkan alis nya.
Pemuda aneh, akan te tapi juga ia merasa te rtarik untuk mengetahui pertanyaan apa gerangan yang akan diajukan pemuda itu.
"Katakanlah, aku tidak akan te rsinggung, asal engkau tidak sengaja hendak menyinggung atau menghinaku."
"Cin Cin, aku ingat benar sekarang ketika kita masih sama-sama menjadi sahabat, bahkan saudara seperguruan di He k-houw-pang. Ketika itu, aku ingat bahwa kedua tanganmu masih utuh. Maaf kan aku.....tangan kirimu....."
Cin Cin tersenyum.
Ia merasa heran sendiri karena semenjak tangan kirinya buntung, setiap kali ada orang menyinggung te ntang tangan itu, ia merasa jengkel dan marah, bahkan banyak orang sudah ia buntungi tangannya hanya karena orang itu menyinggung te ntang cacatnya itu.
Akan tetapi sekarang, ia sama sekali tidak merasa tersinggung.
Ia tidak tahu bahwa hal itu te rjadi karena pengakuan cinta dari Thian Ki tadi.
Kebencian dan kemarahannya karena tangannya buntung adalah kebencian yang timbul karena kekecewaan bahwa pemuda yang dicintanya yang melakukannya.
Kini, tangannya yang buntung sama sekali tidak membuat ia menyesal lagi!
"Tangan kiriku ini, Siong Ki?"
Tanyanya sambil te rsenyun dan ia mengangkat lengan kirinya yang buntung sebatas pergelangan tangan. Ujung le ngan itu terbungkus sutera putih.
"Ah, tangan kiriku dipenggal pedang se hingga buntung......"
"Ahh! Siapa jahanam yang melakukannya. Cin Cin? Aku akan membantumu membalas dendam atas perbuatannya yang kejam itu!"
Senyum di bibir Cin Cin mengembang.
"Tidak perlu, Siong Ki, karena orang yang membuntungi tangan kiriku adalah Thian Ki sendiri."
"Ehh? Bagaimana pula ini? Kenapa Thian Ki membuntungi tangan kirimu, padahal kulihat..."
Dia menghentikan ucapannya karena merasa te rlanjur bicara.
"Kami memang saling mencinta dan telah bersepakat untuk menjadi suami isteri, Siong Ki. Pembuntungan tanganku ini telah terjadi beberapa waktu yang lalu."
"Tapi.....kenapa? Sungguh aneh kalau dia mencintamu akan tetapi membuntungi tanganmu!"
"Justeru karena dia mencintaku maka dia membuntungi tangan kiriku, Siong Ki. Karena kalau dia tidak melakukan itu, te ntu sekarang aku sudah tidak berada di dunia lagi, sudah mati."
"Ehh? Kenapa begitu? Apa yang te lah terjadi?"
Tentu saja Siong Ki menjadi semakin penasaran dan heran.
"Panjang ceritanya, Siong Ki,"
Kata Cin Cin.
"Ketika itu, aku memenuhi permintaan guruku untuk membunuh guru dan ayah tiri Thian Ki ......"
"Maksudmu Cian Bu Ong?"
"Benar. Cian Bu Ong yang dimusuhi oleh guruku. Thian Ki hendak melindungi ayah tirinya, dan aku mencengkeram pundaknya, tidak tahu bahwa dia seorang tok-jin (manusia beracun) sehingga tangan kiriku yang mencengkeram itu bahkan keracunan. Melihat itu Thian Ki cepat membuntungi tangan kiriku karena kalau tidak, racun akan menjalar naik dan nyawaku tidak akan dapat diselamatkan lagi."
"Luar biasa sekali! Kalau tidak mendengar sendiri darimu, bagaimana aku dapat percaya? Engkau sudah dibuntungi tangan kirimu oleh Thian Ki dan sekarang engkau bahkan memilihnya menjadi calon suamimu!"
"Akan tetapi, dia melakukannya untuk menyelamatkan nyawaku, dan akulah yang mencengkeram pundaknya."
Siong Ki mengangguk-angguk.
"Hemm, jadi Thian Ki adalah seorang manusia beracun? Mengerikan."
"Dia dijadikan tok-tong oleh mendiang neneknya, ketika dia masih kecil. Hal itu bukan kehendaknya dan kini justeru dia datang mencari paman Si Han Beng dan isterinya untuk minta pertolongan mereka agar suka membantunya membebaskan dirinya dari pengaruh hawa beracun itu."
Cin Cin membela kekasihnya. Siong Ki mengangguk-angguk.
"Dan suhu sudah menyanggupinya?"
"Sudah, paman dan bibi akan berusaha mengobatinya malam nanti, sekarang paman dan bibi sedang melakukan siu-lian (s amadhi) untuk menghimpun kekuatan."
Siong Ki berdiam diri sampai lama, alisnya berkerut.
Betapa lihainya Coa Thian Ki.
Tubuhnya mengandung hawa beracun yang amat ampuh!
Bahkan Cin Cin yang demikian lihainya, setelah mencengkeram Thian Ki, tangannya sendiri keracunan hebat dan kalau tidak dibuntungi, akan te was!
Kalau saja dia yang mempunyai tubuh beracun seperti itu, alangkah senangnya!
Tidak akan ada yang mampu mengalahkannya, dan dia akan dapat menjadi jagoan nomor satu di dunia ini.
Akan tetapi, Thian Ki berusaha keras hendak melenyapkan pengaruh hawa beracun itu, agar tubuhnya tidak beracun lagi!
Sungguh gila!
Melihat pemuda itu te rmangu dan te rmenung, Cin Cin tersenyum.
"Siong Ki, apa yang kau pikirkan?"
Tanyanya.
"Sungguh aku merasa heran bukan main, Cin Cin. Thian Ki dapat menjadi tok-tong itu sungguh luar biasa sekali! Belum te ntu seorang anak dari sejuta orang dapat seberuntung dia. Akan tetapi, memiliki tubuh yang demikian lihainya, yang dapat membuat dia menjadi seorang lawan yang sukar dikalahkan dan amat berbahaya, sepatutnya dia bahagia dan bangga. Akan tetapi kenapa dia malah hendak membebaskan dirinya dari hawa beracun di tubuhnya itu?"
Setelah bercakap-cakap dengan Siong Ki, Cin Cin merasa akrab kembali dengan pemuda yang di waktu kecilnya adalah teman bermainnya itu, maka iapun tidak ragu lagi untuk berte rus terang.
"Siong Ki, Thian Ki bukan seorang yang haus akan kemenangan, tidak ingin menjadi jagoan yang paling kuat di dunia persilatan. Dia ingin menjadi manusia biasa, jatuh cinta dan dicinta, kemudian menikah dan membentuk keluarga. Sedangkan kalau tubuhnya masih beracun seperti sekarang ini, dia tidak mungkin dapat menikah."
"Eh, kenapa begitu? Apa salahnya kalau dia menikah?"
"Kalau dia menikah, isterinya akan te was keracunan,"
Kata Cin Cin singkat.
Hampir saja Siong Ki mengeluarkan suara hatinya dalam kata-kata bahwa dia tidak akan perduli apakah wanita yang diperis terinya akan tewas, dia bahkan akan dapat berganti-ganti isteri, dengan tubuhnya yang demikian ampuh, apapun akan dapat diraihnya!
Biarpun Siong Ki dapat menahan diri dan tidak mengucapkan suara hatinya, namun Cin Cin yang hendak membela kekasihnya, seolah dapat mendengar isi hati Siong Ki dan iapun berkata, bukan tidak ada kebanggaan te rkandung dalam suaranya.
"Sebetulnya, tanpa diobatipun, Thian Ki akan dapat membebaskan dirinya dari pengaruh racun itu kalau ia sudah memperisteri banyak wanita dan menewaskan mereka. Akan te tapi Thian Ki bukanlah seorang yang jahat seperti itu. Dia tidak ingin menyebabkan kematian siapapun, apalagi kematian seorang wanita yang menjadi isterinya. Dia akan berupaya agar tubuhnya bebas dari pengaruh hawa beracun, barulah dia mau menikah. Kalau usahanya itu gagal, dia le bih senang selama hidupnya tidak menikah dan tidak menewaskan siapapun yang tidak berdosa."
Siong Ki hanya mengangguk-angguk, a kan tetapi di dalam hatinya dia mencela Thian Ki sebagai seorang yang bodoh sekali.
Cin Cin lalu meninggalkan pemuda itu untuk pergi mandi karena hari telah sore.
Siong Ki ditinggalkan seorang diri dalam lamunannya.
Betapa jauh perbedaannya sekarang setelah dia kembali ke rumah gurunya.
Dahulu, sebelum dia pergi, dia merasa bahwa tempat itu seperti te mpat tinggalnya sendiri.
Dia merasa betah dan senang tinggal di situ, senang membantu kedua orang gurunya bekerja di sawah ladang sebagai petani atau naik perahu mencari ikan di sungai.
Akan tetapi sekarang, setelah mengalami banyak peristiwa dalam perantauannya, dia merasa betapa tidak menyenangkan hidup di dusun yang sunyi itu.
Tidak ada keramaian, tidak ada kemewahan, tidak ada kesenangan sama sekali!
Terutama sekali setelah dia mengalami kemesraan dengan mendiang Bi Tok Siocia Ouw Ling, kini dia merasa kehilangan sesuatu dalam hidupnya.
Bagaikan seseorang yang mulai ketagihan candu, dia merasa tidak sanggup hidup bersunyi diri jauh dari seorang teman wanita!
Setiap kali dia membayangkan kemesraan dengan Ouw Ling, timbul desakan gairah yang membuat dia menderita sekali, bagaikan seorang kelaparan dan mulailah timbul pikiran bermacam-macam untuk dapat melampias kan dorongan gairahnya yang berkobar.
Hati akal pikiran merupakan te mpat yang amat penting bagi nafsu, karenanya nafsu bersarang di sana.
Hati akal pikiran kita sudah bergelimang dengan nafsu, oleh karena itu apapun yang kita pikirkan, selalu diboncengi nafsu yang selalu mendesak untuk dipenuhi tujuannya, yaitu kesenangan.
Segala macam perasaan, senang susah, iri benci dengki timbul melalui pikiran yang mengenang atau membayangkan segala peristiwa yang lalu atau yang akan datang.
Batin tidak akan diguncang gelombang perasaan itu kalau pikiran tidak mengenang atau membayangkan.
Segala macam perasaan senang, susah, marah, benci dan sebagainya itu tidak akan timbul ketika kita sedang tidur atau pingsan, karena pikiran tidak bekerja.
Itulah sebabnya mengapa para arif bijaksana sejak jaman dahulu mengatakan bahwa musuh kita yang paling berbahaya adalah pikiran sendiri, karena pikiran kita sendirilah sumber segala kesengsaraan batin.
Tak dapat disangkal.
Dari pikiran timbulnya se gala macam perasaan itu, akan te tapi pikiran pula merupakan alat kita yang te rpenting.
Hati akal pikiran inilah yang membuat kita menjadi manusia, berbeda dengan mahluk lain.
Kalau harimau mempertahankan hidupnya dengan cakar dan taringnya, kita mempertahankan hidup dengan hati akal pikiran kita.
Karena hati akal pikiran yang memegang peranan utama dalam kehidupan kita.
maka nafsu menjadikan sebagai sarangnya.
Kalau tadinya hati akal pikiran disertakan kita untuk dipergunakan memenuhi kebutuhan hidup kita, oleh nafsu diubah menjadi alat untuk mengejar kesenangan.
Pengejaran kesenangan inilah yang menimbulkan semua konflik, semua pertentangan, dimulai dari perte ntangan dalam batin sendiri, lalu tercurah keluar menjadi pertentangan antara manusia, antara golongan, antara bangsa.
"Sungguh tolol Thian Ki!"
Siong Ki memaki dalam hatinya.
Kalau saja dia yang menjadi tok-tong!
Dan ada jalan yang lebih menyenangkan untuk membebaskan diri dari pengaruh hawa beracun, walaupun keinginan inipun gila, kenapa memilih cara yang le bih sukar dan tidak menyenangkan?
Kalau dia, tentu akan memilih cara yang menyenangkan itu, membuang hawa beracun itu melalui kesenangan menggauli wanita.
Berapa banyaknya wanita yang akan te was menjadi korban keracunan, apa salahnya?
Bukan sengaja membunuh, melainkan suatu cara pengobatan.
Siong Ki lalu memasuki kamarnya di samping.
Dia merasa berte rima kasih juga bahwa suhunya dan subonya tidak te rlalu memarahinya, bahkan kamarnyapun masih te rawat bersih, juga tidak diberikan kepada Thian Ki sebagai tamu yang menempati kamar tamu di belakang, sedangkan Cin Cin diberi kamar yang selalu dirawat akan tetapi tidak pernah dipakai, yaitu kamar yang dipersiapkan kalau-kalau pute ri suhunya pulang.!
-ooo0dw0ooo-Mereka semua makan malam bersama karena ketika Si Han Beng dan Bu Giok Cu keluar dari kamar, tiga orang muda itu belum makan, masih menanti mereka.
Wajah suami isteri pendekar itu nampak kemerahan dan bercahaya, menunjukkan bahwa saat itu tenaga sakti mereka terkumpul dan mereka berada dalam keadaan yang amat kuat.
Mereka berlima makan malam tanpa banyak cakap.
Setelah selesai makan malam, kembali suami isteri itu memasuki kamar mereka dan baru beberapa jam kemudian mereka keluar dan mengajak Thian Ki ke dalam ruangan kosong di samping kiri rumah itu, sebuah ruangan yang juga dipergunakan untuk berlatih silat.
Ruangan itu bersih dan udaranya segar karena terdapat banyak je ndela dan pintu angin yang menembus ke taman.
Siong Ki pamit kepada gurunya untuk berkunjung kepada kenalan-kenalan di dusun itu, dan Cin Cin ikut pula memasuki ruangan itu, mempersiapkan diri kalau-kalau kedua suami isteri itu dalam mengobati Thian Ki membutuhkan bantuannya.
Si Han Beng menyuruh Thian Ki duduk bersila di atas lantai.
Dia sendiri duduk di depan pemuda itu dan isterinya duduk bersila pula di belakang Thian Ki.
"Thian Ki, apa saja yang telah kaupelajari dari mendiang nenekmu untuk menguasai hawa beracun dari tubuhmu itu. Ceritakan sejelasnya."
"Paman, sebelum nenek menggemble ngku selama hampir dua tahun, aku tidak dapat menguasai hawa beracun yang liar, sehingga setiap kali menggerakkan kaki tangan, te ntu hawa beracun itu bekerja dan aku bahkan tidak berani berlatih silat dengan sumoi karena takut kalau-kalau hawa beracun bekerja mencelakainya. Selama hampir dua tahun, mendiang nenek melatihku cara untuk menguasai hawa beracun itu dan akhirnya aku berhasil mengendalikannya. Tanpa pengerahan sin-kang tertentu, hawa beracun itu tidak akan melukai orang. A kan tetapi, paman, hal itu tidak berarti bahwa aku telah bebas dari hawa beracun itu. Kalau ada yang menyerangku dengan tangan kosong, secara otomatis, diluar kemampuanku untuk mencegahnya, hawa beracun itu bekerja, seperti yang terjadi pada Cin Cin."
Si Han Beng mengangguk-angguk, lalu menyuruh pemuda itu membuka bajunya. Kini Thian Ki bertelanjang dada.
"Sekarang coba kerahkan sin-kang yang dapat menggerakkan hawa beracun pada tubuhmu."
Thian Ki mengerutkan alisnya.
"Harap paman dan bibi jangan menyentuh tubuhku, apalagi menekan,"
Pesannya.
Suami isteri itu agak menjauh, kemudian Thian Ki mengerahkan sin-kangnya.
Cin Cin te rbelalak melihat betapa dari tubuh Thian Ki mengepul uap hitam dan tiba-tiba ia merasa kepalanya pening.
Melihat Si Han Beng dan Bu Giok Cu menyalurkan sin-kang, Cin Cin juga cepat mengerahkan tenaga menyalurkan sin-kang untuk menolak pengaruh hawa beracun yang seolah memenuhi ruangan itu.
"Cukup, Thian Ki."
Kata Si Han Beng. Thian Ki menghentikan pengerahan sin-kangnya dan uap hitam itupun makin menipis dan akhirnya menghilang.
"Berbahaya sekali!"
Bu Giok Cu berseru sambi memandang kagum.
"Me ndiang nenekmu memang ahli racun yang hebat dan ia telah berhasil membuat engkau seperti yang dikehendakinya, Thian Ki. Aku te lah melihat ilmu silatmu ketika engkau menandingi Tung-hai Mo-li, dan aku percaya bahwa dengan hawa beracun di tubuhmu itu, kalau engkau menghendaki dan mempergunakannya, kiranya tidak ada seorangpun tokoh persilatan yang akan mampu mengalahkanmu. Bahkan mereka te rancam maut keracunan."
"Maaf, paman dan bibi. Aku tidak ingin menjadi manusia beracun seperti itu. Aku ingin menjadi manusia biasa, berkeluarga, mempunyai keturunan. Maka, aku mohon dengan sangat, sudilah paman dan bibi menolongku."
"Kami akan berusaha, Thian Ki. Akan tetapi kurasa tidak akan mudah, melihat betapa hebatnya hawa beracun di tubuhmu tadi. Sekarang, kami akan mencoba dulu dan ingin mengetahui, racun macam bagaimana yang membuatmu menjadi tok-tong. Aku dan bibimu akan mempergunakan sin-kang untuk menepukmu dari depan dan belakang. Engkau kendalikan hawa beracun itu dan pergunakan kekuatan itu untuk menolak......"
"Tapi itu berbahaya sekali bagi paman dan bibi! Tidak, aku tidak berani......"
"Thian Ki, jangan membantah pamanmu,"
Kata Bu Giok Cu dengan nada menegur.
"Dan jangan pandang rendah kepada kami. Kami akan menggunakan sin-kang melindungi diri dari hawa beracun."
"Benar, Thian Ki, asal engkau tidak mengerahkan seluruh hawa beracun itu, kami tidak akan te rancam bahaya. Kami hanya ingin menguji dan mengetahui kekuatannya, baru akan dapat menentukan dengan cara bagaimana membantumu."
"Baiklah, paman.....akan te tapi, harap paman dan bibi berhati-hati. Kalau sampai paman dan bibi keracunan, selama hidup aku tidak akan dapat memaafkan diriku sendiri."
Mendengar ini, Cin Cin tidak tahan untuk tinggal diam saja. Kekasihnya perlu didukung dan dibesarkan hatinya.
"Thian Ki, kenapa engkau masih banyak ragu? Paman Si Han Beng dan bibi Bu Giok Cu yang memerintahkan, engkau hanya tinggal menurut saja. Kalau te rjadi apapun, siapa yang akan menyalahkanmu? Juga, mereka adalah sepasang pendekar yang berilmu tinggi, tidak dapat disamakan dengan orang-orang yang pernah te was oleh hawa beracun di tubuhmu."
Mendengar ucapan kekasihnya itu, agak berkurang kekhawatiran hati Thian Ki.
"Baiklah, paman dan bibi. Aku sudah siap."
Si Han Beng saling pandang dengan is terinya.
Memang mereka sudah membicarakan tentang usaha penyembuhan itu dan sudah mengatur sebelumnya sehingga kini keduanya sudah tahu apa yang akan mereka lakukan.
"Thian Ki, sambutlah, kami menyerang kedua pundakmu dengan tamparan ringan."
Suami is teri itu bergerak secara berbareng, Si Han Beng yang berada di depan Thian Ki menepuk pundak kirinya dengan tangan kanan sambil mengerahkan sinkang yang berhawa dingin, sebaliknya isterinya, Bu Giok Cu, menampar pundak kanan Thian Ki dengan tangan kanan sambil mengerahkan sin-kang yang berhawa panas.
Gerakan mereka cepat dan dari telapak tangan mereka sudah menyambar hawa yang dingin dan panas ke arah kedua pundak Thian Ki.
Pemuda itu mengendalikan hawa beracun di tubuhnya dan menyalurkannya ke pundak, namun te ntu saja dia berhati-hati dan hanya mempergunakan sebagian kecil saja dari tenaganya yang mematikan itu.
"Plak! Plak!"
Thian Ki merasa betapa pundak kirinya te rgetar oleh hawa yang amat dingin, sedangkan pundak kanannya diguncang hawa panas.
Ketika kedua tangan itu menampar pundaknya, kedua tangan te rpental ole h tenaga dari hawa beracun dan suami isteri itu cepat sudah menarik kembali tangan mereka.
Thian Ki melihat betapa telapak tangan kanan Si Han Beng berwarna Hitam!
Tanpa menengokpun dia dapat menduga bahwa te ntu tangan Bu Giok Cu sama juga, keracunan.
"Paman.......! Bibi.......!"
Serunya kaget.
Akan tetapi, ketika dia dalam keadaan duduk bersila itu meloncat ke samping, berdiri dan memandang kepada dua orang suami isteri yang kini duduk bersila saling berhadapan karena tidak lagi terhalang dirinya, dia melihat mereka memejamkan mata dan membuat gerakan "Satu Tangan Menyangga Langit"
Dan dari te lapak tangan mereka itu mengepul uap hitam.
Hanya beberapa menit saja mereka mengerahkan sin-kang dan semua warna hitam itu lenyap dari tangan mereka tadi.
Cin Cin memandang kagum bukan main, juga Thian Ki tertegun dengan hati yang le ga bukan main.
Tadi dia sudah terkejut dan khawatir bukan main melihat betapa tangan suami isteri pendekar itu menjadi hitam setelah menepuk pundaknya.
Akan te tapi ternyata mereka memiliki kekuatan sin-kang yang dahsyat, yang mampu mengusir hawa beracun itu dari tangan mereka.
Giranglah hatinya dan dia merasa yakin bahwa suami isteri inilah yang akan mampu menolongnya, membebaskan dirinya dari hawa beracun.
"Paman dan bibi sungguh hebat!"
Serunya dan diapun bersila kembali di tengah antara suami isteri itu. Akan te tapi suami isteri itu saling pandang dan Si Han Beng menghela napas.
"Thian Ki, mendiang nenekmu yang telah membuat e ngkau menjadi tok-tong memang seorang yang amat lihai dalam hal racun, dan tidak ada duanya di dunia kang-ouw. Racun di tubuhmu amatlah hebatnya, bergerak otomatis, mengimbangi keadaan sin-kang lawan yang menyerangmu. Tadi aku mempergunakan sin-kang berhawa dingin, sedangkan bibimu menggunakan sin-kang berhawa panas, akan tetapi akibatnya sama saja, kami berdua keracunan. Kami akan berusaha, akan tetapi jangan terlalu memastikan bahwa kami akan berhasil sepenuhnya. Nah, sekarang kendurkan semua urat syarafmu, sedikitpun jangan melawan te naga kami. Kami akan membantumu mendorong keluar hawa beracun dari tubuhmu."
"Baik, paman,"
Kata Thian Ki dengan pasrah.
Kini suami isteri itu menjulurkan kedua tangan dite mpelkan ke dada dan punggung Thian Ki.
Mereka mengerahkan tenaga sin-kang, perlahan-lahan, makin lama semakin kuat.
Thian Ki merasa betapa hawa yang hangat menyusup ke dalam tubuhnya.
Perlahan-lahan, uap hitam mengepul keluar dari tubuhnya, te rutama dari mulut dan hidungnya.
Dia merasa pening dan ada dorongan untuk menentang, untuk melawan dua te naga sakti yang menyusup ke dalam tubuhnya itu.
Dia maklum bahwa sekali dia menuruti dorongan ini, suami isteri itu akan terancam bahaya maut.
Oleh karena itu, dia menekan dorongan itu yang semakin kuat saja sehingga dia harus menggigit giginya.
Peluh membasahi seluruh tubuhnya yang te rgetar hebat karena ada perang dalam dirinya sendiri.
Kesadarannya menuntut agar dia te tap mengendurkan seluruh urat syaraf di tubuhnya, meniadakan bentuk perlawanan sedikitpun, akan tetapi dilain pihak, ada suatu keinginan kuat yang mendorongnya untuk melakukan perlawanan.
Dia merasa kepalanya pening, tubuhnya sebentar panas sebentar dingin.
Cin Cin memandang dan te rtegun, penuh kekaguman, juga penuh kekhawatiran te rhadap kekasihnya dan kedua suami isteri itu.
Ia maklum bahwa cara pengobatan itu amat berbahaya, baik bagi yang diobati maupun bagi yang mengobati.
Akan te tapi ia tidak berdaya mencampuri, dan hanya dapat memandang dengan te rpukau, seperti patung, bernapaspun ditahannya agar jangan banyak menimbulkan suara.
Akan te tapi diam-diam ia harus mengerahkan tenaganya pula karena uap hitam yang keluar dari tubuh Thian Ki membuatnya pening.
Bahkan akhirnya ia tidak tahan lagi dan keluar dari ruangan itu, hanya menonton dari luar, dimana udaranya jernih.
Kurang le bih setengah jam suami isteri itu mengerahkan sin-kang untuk membantu Thian Ki te rbebas dari hawa beracun.
Akhirnya Bu Giok Cu mengeluh dan melepaskan kedua tangannya, disusul oleh suaminya.
Suami isteri itu masih bersila, memejamkan mata dan nampak le mas.
Mereka kini duduk diam dan menghimpun hawa murni.
Bukan han ya suami is teri itu yang kehabis an tenaga, juga Thian Ki nampak pucat dan le mas, seluruh tubuhnya penuh keringat.
Diapun masih duduk bersila dan tidak ada lagi uap hitam mengepul dari tubuhnya!
Dia juga harus mengimpun hawa murni untuk memulihkan te naganya yang bagaikan te rsedot keluar bersama uap hitam tadi.
Dia merasa le mah lunglai, kepalanya tetap pening.
Melihat tidak ada uap hitam lagi mengepul dari tubuh Thian Ki, Cin Cin berani memasuki ruangan itu dan mendekati mereka.
Hatinya berdebar girang karena ia mengira bahwa tentu kekasihnya sekarang telah terbebas dari hawa beracun itu.
Iapun memandang dengan penuh kagum dan juga te rharu kepada suami isteri yang gagah perkasa itu.
Mereka telah mempertaruhkan keselamatan sendiri, bahkan kini kehabisan tenaga untuk menolong Thian Ki.
Betapa mulia budi suami iste ri pendekar itu.
Si Han Beng membuka matanya dan menghela napas panjang.
Agaknya helaan napas itu menyadarkan pula is terinya yang membuka mata.
Suami isteri itupun seperti Thian Ki, agak pucat dan kelihatan lelah bukan main.
"Bukan main......!"
Bu Giok Cu berkata sambil menggeleng-geleng kepala kagum memandang kepada Thian Ki yang masih bersila di depannya, membelakanginya.
Thian Ki membuka matanya, kemudian menggeser duduknya ke belakang, menghadapi suami isteri itu dan dia berlutut kepada mereka.
"Terima kasih paman dan bibi. Budi paman dan bibi takkan kulupakan selama hidupku."
"Aih, Thian Ki, jangan perkata begitu."
Kata Si Han Beng.
"Kami bahkan merasa menyesal bahwa kami te lah gagal membersihkan hawa beracun dari tubuhmu, mungkin hanya beberapa bagian saja. Hawa itu te rlampau kuat."
Thian Ki maklum karena dia juga merasa bahwa hawa beracun di tubuhnya belum bersih, baru sebagian saja yang terusir pergi.
Mungkin hanya mengurangi keampuhannya saja sehingga kalau tubuhnya dipukul orang, si pemukul itu hanya te rkena racun yang tidak begitu berbahaya lagi.
Namun, tetap saja tubuhnya masih mengandung racun dan hal ini tidak memungkinkannya untuk menikah.
"Kurasa hawa beracun itu telah membuat darahmu juga beracun, Thian Ki, harus ditemukan obat untuk mencuci darahmu."
Kata Bu Giok Cu.
Karena pekerjaan itu amat melelahkan, menguras habis tenaga suami isteri itu dan Thian Ki, maka mereka bertiga lalu kembali ke kamar-masing masing untuk beristirahat dan menghimpun hawa murni untuk memulihkan te naga.
Malam itu Cin Cin gelisah di dalam kamarnya.
Ia tak dapat tidur nyenyak karena selalu te ringat akan kekasihnya, Coa Thian Ki.
Ia maklum bahwa kekasihnya itu belum te rbebas sama sekali dari hawa beracun, seperti yang didengarnya dari percakapan dengan suami isteri tadi seusai pengobatan.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Cin Cin sudah bangun, mencuci badan lalu memasuki taman untuk mencari udara segar karena tubuhnya te rasa agak le su karena kurang tidur.
Ternyata ia mendapatkan Thian Ki sudah berada di taman, berlatih silat!
Pemuda itu nampak berlatih silat tangan kosong, gerakannya gesit dan mantap sekali, pukulan kedua tangannya mendatangkan angin.
Memang hebat ilmu tangan kosong pemuda ini.
Dia telah menguasai ilmu-ilmu yang diajarkan oleh bekas pangeran Cian Bu Ong, juga dia telah mewarisi ilmu-ilmu yang diajarkan oleh ibunya dan neneknya.
Kini dia memainkan ilmu silat tangan kosong yang diajarkan gurunya atau ayah tirinya, yaitu Sin-liong-ciang-hoat (Ilmu Silat Naga Sakti).
Ge rakannya gagah sekali, kedua tangan dibuka, jari-jari membentuk cakar naga.
Agaknya te naga Thian Ki sudah pulih kembali.
Ketika pemuda itu mengakhiri ilmu silatnya, dia mengangkat kedua tangan yang membentuk cakar naga itu ke atas, mengerahkan te naga saktinya dan kedua tangannya berubah kehitaman sampai sebatas pergelangan dan ada uap hitam mengepul dari jari jari tangannya.
Dia menghentikan gerakannya, kedua le ngannya te rgantung lemas dan lunglai seolah kehabisan tenaga dan dia menundukkan mukanya yang nampak kecewa.
"Thian Ki.....!"
Cin Cin menghampiri. Thian Ki yang agaknya berada dalam keadaan berduka itu sadar dari lamunannya dan dia mengangkat mukanya, dan sebentar saja wajahnya telah berseri kembali.
"Eh, sepagi ini engkau sudah bangun, Cin Cin?"
"Engkau malah sudah berlatih silat, Thian Ki. Bagaimana dengan hawa beracun di tubuhmu?"
Cin Cin berpura-pura mengajukan pertanyaan ini, padahal tadi ia melihat sendiri bahwa kedua tangan itu masih berwarna hitam ketika Thian Ki mengerahkan tenaga sin-kang. Thian Ki tersenyum.
"Berkat bantuan paman dan bibi, sudah banyak berkurang hawa beracun itu."
"Thian Ki, kepadaku engkau tidak perlu menyembunyikan. Berterus-teranglah saja bahwa hawa beracun itu belum hilang dan engkau belum te rbebas, bukan? Aku semalam sudah mendengar ucapan Paman Si Han Beng, juga tadi aku melihat kedua tanganmu berubah hitam."
Thian Ki menghela napas lalu duduk di atas bangku. Cin Cin juga duduk di sampingnya.
"Engkau benar, Cin Cin. Memang sudah banyak hawa beracun yang keluar, akan tetapi itu bukan berarti bahwa aku te lah bebas sama sekali. Bias anya, kalau aku mengerahkan te naga seperti tadi, mengendalikan hawa beracun itu ke arah le ngan, tanganku menghitam dari jari tangan sampai ke s iku. Sekarang masih menghitam, akan tetapi hanya sampai di pergelangan tangan saja dan ini berarti bahwa biarpun sudah berkurang, akan tetapi belum bersih betul. Benar seperti yang dikatakan bibi Bu Giok Cu, hawa beracun te lah membuat darahku beracun, maka kalau hanya dengan dorongan sin-kang saja, tidak mungkin dapat dibersihkan. Darah yang beracun itu akan menambah kekuatan hawa beracun lagi, maka haruslah dite mukan obat yang dapat membersihkan darahku dari racun. Cin Cin, kebetulan sekali kita dapat bicara berdua. Setelah aku melihat keadaan diriku, kurasa belum te rlambat bagimu untuk menjauhkan diri dariku, Cin Cin."
Kalimat terakhir ini diucapkan dengan suara gemetar. Cin Cin terbelalak memandang wajah pemuda itu.
"Thian Ki, apa maksud ucapanmu ini? Jelaskan!"
Ia nampak marah. Sejenak mereka saling pandang dan Thian Ki yang le bih dulu menundukkan pandang matanya.
"Cin Cin, agaknya keadaan diriku ini tidak dapat dipulihkan, tidak dapat disembuhkan dan aku akan menjadi orang beracun selamanya......"
"Aih, kenapa engkau mendadak menjadi begini cengeng dan le mah, Thian Ki? Ini tidak pantas bagimu. Engkau tidak boleh putus asa!"
Kata Cin Cin bersemangat.
"Aku tidak putus asa, Cin Cin, aku akan te tap berusaha sampai aku berhasil menemukan obatnya. Akan tetapi, aku tidak berhak mengikatmu, Cin Cin. Kita memang saling mencinta, akan tetapi dengan keadaanku seperti ini, bagaimana mungkin? Aku tidak ingin melihat engkau kelak kecewa dan sengsara karena aku tidak berhasil sembuh. Maka, sebelum terlambat, sebelum ikatan di antara kita semakin kuat, sebaiknya kalau engkau meninggalkan aku. Engkau berhak hidup berbahagia, dengan calon jodoh lain yang normal, bukan manusia beracun seperti aku."
Sejenak Cin Cin mengamati wajah pemuda itu dengan kaget, heran dan tidak percaya, kemudian ia menangis.
"Cin Cin, kenapa? Kenapa engkau menangis........?"
Cin Cin mengusap air matanya, matanya mencorong marah.
"Thian Ki, engkau sungguh kejam! Tega benar engkau menikam hatiku dengan ucapanmu itu. Kaukira aku ini seorang wanita macam apa, begitu dangkal cintanya, begitu palsu dan mementingkan diri sendiri? Thian Ki, aku mencintamu dengan setulus hatiku, apa dan bagaimana keadaanmu, aku akan te tap mencintamu. Andaikata kita kelak tidak dapat menikah, aku bersedia hidup sebagai sahabat selamanya, dan aku akan tetap mencintamu. Andaikata kelak kita menikah dan aku mati keracunan, akupun tidak akan menyalahkanmu dan aku rela, aku akan te tap mencintamu. Dan engkau sekarang.........engkau menganjurkan agar aku meninggalkanmu?"
Gadis itu menangis lagi.
Thian Ki merasa te rharu dan juga berbahagia sekali.
Ternyata cinta gadis ini kepadanya membesarkan hatinya.
Diapun memegang tangan kanan gadis itu dan berkata dengan sungguh-sungguh.
"Cin Cin, maafkan aku. Sungguh mati, aku mengeluarkan kata-kata itu demi cintaku kepadamu, karena aku tidak ingin melihat engkau menderita. Biarlah aku sendiri yang menderita akan te tapi jangan engkau, orang yang paling kusayang di dunia ini, ikut pula menderita karena keadaan tubuhku. Maafkan aku, Cin Cin, kini aku semakin yakin bahwa dengan engkau disampingku, aku akan menghadapi apapun juga dengan tabah. Biarlah kita hadapi bersama, suka sama dinikmati, duka sama ditanggung."
Cin Cin menghentikan tangisnya dan ketika Thian Ki merangkulnya, ia berbis ik di dekat telinga pemuda itu.
"Thian Ki, bagiku, penderitaan di sampingmu merupakan suatu kebahagiaan, sebaliknya, kebahagiaan tanpa engkau akan merupakan penderitaan."
Thian Ki semakin terharu.
De ngan lembut dia memegang kedua pundak gadis itu, mendorongnya untuk dapat melihat wajahnya dan sambil menatap wajah itu dengan sinar mata yang penuh kasih sayang, diapun berkata lirih.
"Cin Cin, demi Tuhan cinta kasihmu yang begini tulus dan mendalam tidak akan sia-sia, tidak akan sia-sia........."
"Aku tahu, Thian Ki, kita saling mengetahui isi hati masing-masing dan semoga Tuhan melindungi kita. Sekarang, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?"
"Aku ingin memenuhi pesan guruku, juga ayah tiriku, yaitu mendapatkan pedang pusakanya yang berada di gudang pusaka kerajaan. Aku harus melakukan itu, dan harus berhasil, untuk membalas segala budi kebaikannya kepadaku dan kepada ibuku. Setelah berhasil, aku akan memperkenalkan engkau kepada ibuku dan ayah tiriku, dan mengakui kepada mereka bahwa engkau adalah calon is teriku."
Berkata sampai di situ Thian Ki tertegun.
Baru dia teringat bahwa ayah tirinya telah menjodohkan dia dengan Cian Kui Eng!
Dan terkenang dia kepada sumoinya atau juga adik tirinya itu bahwa Kui Eng juga mencintanya, bukan sebagai adik kepada kakak, melainkan sebagai seorang wanita kepada seorang pria.
Sejenak dia menjadi gelisah akan tetapi segera terhapus kegelisahan itu begitu dia menatap wajah kekasihnya.
"Engkau kenapa, Thian Ki?"
Tanya Cin Cin yang melihat perubahan sejenak tadi pada wajah kekasihnya.
"Tidak apa-apa, aku hanya te ringat bahwa aku mempunyai sebuah tugas lagi yang harus kulakukan, demi membalas budi kebaikan paman Si Han Beng dan bibi Bu Giok Cu."
"Aku tahu, mencari dan membawa kembali pute ri nereka, bukan?"
Cin Cin memotong.
"aku akan membantumu sekuat tenagaku, Thian Ki."
Pada saat itu, te rdengar suara ribut-ribut dari depan rumah dan dis usul s uara beradunya senjata tajam yang nyaring.
Tentu saja Thian Ki dan Cin Cin terkejut sekali dan mereka berloncatan dan berlari keluar dari taman menuju ke pekarangan luar.
Dan di sana, mereka melihat dua orang sedang berkelahi dengan seru dan mati-matian.
Setelah dekat, mereka mengenal Siong Ki yang sedang berkelahi dengan seorang pemuda yang bertubuh kecil, berwajah tampan sekali dan gerakan pedangnya je las menunjukkan bahwa orang ini memiliki dasar ilmu silat Siauw-lim-pai.
Namun, sekali pandang saja tahulah Cin Cin dan Thian Ki, bahwa pemuda tampan itu tidak akan dapat menandingi Siong Ki yang jauh le bih unggul ilmu pedangnya, sehingga kini pemuda itu te rdesak oleh sinar pedang yang dimainkan Siong Ki.
Namun, pemuda itu nampaknya bertekad untuk menyerang mati-matian, sehingga Thian Ki khawatir kalau-kalau Siong Ki akan lupa diri dan membunuh orang.
"Tahan senjata......!!"
Te riaknya dan diapun meloncat ke depan, ke tengah-tengah medan pertandingan.
Mendengar angin yang dahsyat menyambar, pemuda itu te rkejut dan melompat mundur.
De mikian pula Siong Ki juga menahan pedangnya ketika melihat munculnya Thian Ki dan Cin Cin.
"Sabarlah, Siong Ki dan engkau juga, sobat. Kalau ada persoalan dapat dibicarakan dan didamaikan. Kenapa kalian sepagi ini sudah saling serang mati-matian seperti itu? Siong Ki, siapakah sobat ini dan mengapa kalian bertanding mati-matian?"
Tanya Thian Ki. Siong Ki mengamati pemuda di depannya itu dengan alis berkerut dan sinar mata marah dan penas aran.
"Orang sinting ini datang ingin bertemu dengan suhu dan subo dengan nada suara yang merendahkan, ketika kuberitahu bahwa suhu dan subo masih tidur, tiba-tiba saja ia menyerangku dan hendak membunuhku."
"Jahanam keparat, memang aku akan membunuhmu!"
Bentak pemuda itu dan dia sudah hendak menyerang lagi.
Dari cara dia bicara, dari sikapnya, Thian Ki merasa bahwa pemuda ini bukanlah orang kangouw biasa saja.
Kata-katanya, walaupun sedang marah dan merupakan makian, tetap saja menggunakan kata-kata yang halus, dengan pengucapan yang te ratur, seperti seorang bangsawan!
"Tahan dulu, sobat,"
Katanya sambil memberi hormat kepada pemuda itu dengan merangkapkan kedua tangan depan dada.
"Agaknya terjadi kesalah pahaman di sini. Tahukah engkau siapa pemuda ini?"
Thian Ki menuding ke arah Siong Ki.
"Dia adalah The Siong Ki, murid dari paman Si Han Beng yang berjuluk Huang-ho-Sin-liong (Naga Sakti Sungai Kuning)..........."
"Kalau begitu, Huang-ho Sing-liong adalah seorang jahat yang memiliki murid jahat!"
Pemuda itu membentak marah.
"Orang gila!"
Siong Ki sudah marah lagi, akan tetapi sebelum dia melakukan sesuatu, te rdengar suara dari dalam rumah.
"Siapakah yang mengatakan bahwa kami jahat?"
Dan Si Han Beng bersama isterinya telah muncul dari pintu depan.
Suami is te ri ini masih nampak agak pucat dan lemah, tanda bahwa mereka belum dapat memulihkan tenaga yang malam tadi te rkuras habis ketika mereka mencoba untuk mengobati Thian Ki.
"Apa yang te rjadi di sini?"
Tanya Bu Giok Cu melihat muridnya berdiri dengan sebatang pedang di tangan, berhadapan dengan seorang pemuda tampan yang kelihatan marah-marah dan yang juga memegang sebatang pedang di tangannya.
"Paman dan bibi, agaknya te rjadi kesalah pahaman antara Siong Ki dan tamu ini,"
Kata Thian Ki.
"Siong Ki, apa yang te rjadi?"
Tanya Si Han Beng dengan suara te gas karena guru ini masih merasa kecewa melihat muridnya pulang tanpa hasil mencari pute rinya, bahkan te lah melukai ibu Cin Cin.
"Suhu, teecu sendiri tidak mengerti. Orang ini tadi muncul di pekarangan dan te ecu segera menemuinya dan menanyakan maksud kunjungannya. Dia hendak bertemu dengan suhu dan subo, dan ucapannya terdengar kasar, bahkan tidak menghormati suhu dan subo. Teecu menjawab bahwa suhu dan subo masih belum bangun dari tidur dan menyuruh dia pergi agar tidak mengganggu, karena sikap dan kata-katanya yang tidak menghormat. Eh, tiba-tiba dia mencabut pedang dan menyerang teecu, bukan sekedar menguji kepandaian, melainkan dengan sungguh-sungguh akan membunuh te ecu."
Mendengar laporan muridnya itu, Si Han Beng memandang penuh perhatian kepada tamunya, dan Bu Giok Cu sudah tidak sabar lagi.
"Orang muda, engkau masih muda dan tampan, kenapa begini pemarah? Setidaknya, jelaskan dulu kenapa engkau hendak membunuhnya dan apa pula keperluanmu mencari kami berdua."
Pemuda itu menatap wajah Si Han Beng dan Bu Giok Cu bergantian, kemudian, dengan suara mengandung kemarahan dia berkata.
"Aku harus membunuh jahanam busuk ini! Apalagi setelah te rnyata dia ini murid Huang-ho Sing-liong Si Han Beng, dia harus mati di tanganku! Kalau kalian suami isteri hendak membelanya, boleh! Biar aku mendapat kenyataan bahwa nama besar Huang-ho Sin-liong hanyalah nama kosong belaka, dia bukan seorang pendekar budiman yang bijaksana, melainkan seorang yang pengecut, tidak bertanggung-jawab, juga mempunyai murid yang jahat, pengkhianat dan pemberontak!" -ooo0dw0ooo-
Jilid 30 Bu Giok Cu menjadi marah sekali.
"Bocah sombong kau.......!"
Akan tetapi suaminya sudah menyentuh lengannya menyabarkan.
Suami isteri itu sama sekali tidak tahu betapa wajah Siong Ki berubah mendengar tuduhan bahwa dia jahat, pengkhianat dan pemberontak itu.
Orang ini telah mengetahui rahasianya, pikirnya terkejut sekali.
"Engkau yang jahat! Engkau bohong dan melakukan fitnah! Dia berbohong, suhu dan subo!"
Kata Siong Ki.
Dia tidak tahu bahwa sejak tadi Thian Ki memperhatikan, sehingga Thian Ki melihat pula betapa wajah Siong Ki tadi berubah agak pucat dan nampak kaget dan gelisah.
Si Han Beng sendiri cukup waspada untuk melihat sesuatu yang ganjil dan tidak beres dalam pemunculan pemuda itu, dalam tuduhan-tuduhannya terhadap muridnya.
"Nanti dulu, sobat muda!"
Kata Si Han Beng dan suaranya berwibawa, sinar matanya mencorong memandang wajah tampan itu.
"Engkau menuduh muridku jahat, pengkhianat dan pemberontak. Apa alas anmu menuduhnya sekeji itu. Tanpa alasan dan bukti yang kuat, bagaimana kami dapat percaya bahwa murid kami melakukan seperti yang kautuduhkan itu?"
"Alasannya? Buktinya? He m, tanyakan saja kepada muridmu yang brengsek itu, Huang-ho Sin-liong. Atau engkau juga te lah mengajarkan kepadanya bagaimana untuk menjadi pengecut, tidak berani bertanggung jawab?"
"Jahanam, engkau menabur fitnah yang bukan-bukan kepadaku!"
Siong Ki menggertak karena tanpa ada buktinya, tak mungkin ada orang yang mengetahui bahwa dia pernah berusaha membunuh kaisar di is tananya, bahwa dia adalah kaki tangan Pangeran Li Seng Cun yang memberontak.
"Fitnah? Hemm, kiranya engkau memang seorang pengecut besar. Aku sendiri yang mencegahmu dan Bi Tok Siocia Ouw Ling menyerbu kamar kaisar dan hendak membunuh Sribaginda Kaisar. Bahkan ibuku juga te was di tanganmu, karena tusukan pedangmu. Mana pedangmu yang tumpul itu, itulah buktinya!"
Wajah suami isteri pendekar itu berubah mendengar ucapan ini.
Murid mereka bekerja sama dengan wanita iblis Bi Tok Siocia menyerang kaisar!?
Juga Siong Ki te rkejut bukan main dan wajahnya menjadi pucat s ekali.
Sekarang dia ingat bahwa ada dua oran g wanita yang menghalangi dia dan Ouw Ling ketika menyerang kaisar, dan seorang di antara dua wanita itu adalah orang yang kini berdiri di depannya, menyamar sebagai seorang pemuda.!
"Bohong kau.........
!!"
Siong Ki membentak nyaring dan diapun sudah menerjang ke depan, membacokkan pedangnya ke arah pemuda itu.
Kini dia tidak se perti tadi yang hanya membela diri, kini dia menyerang untuk membunuh, maka dia mencerahkan seluruh tenaganya dan pedang itu menyambar dahsyat ke arah kepala pemuda itu.
Si Han Beng dan Bu Giok Cu masih lemah, tenaga mereka masih belum pulih, maka mereka tidak berdaya mencegah.
Sedangkan Thian Ki dan Cin Cin masih bingung, tidak tahu harus berbuat apa.
Pemuda tampan itu menggerakkan pedangnya menangkis .
"Tranggg.........!!"
Pedang di tangan pemuda itu te rpental jauh, terlepas dari pegangannya dan ujung kaki Siong Ki sudah menendang dan membuatnya roboh te rjengkang.
Orang ini harus mati, pikir Siong Ki karena rahasia tentang dirinya akan dibuka.
Kalau hal itu terjadi, bukan saja dia akan berhadapan dengan kedua orang gurunya, bahkan dengan pasukan keamanan pemerintah yang tentu sedang memburunya!
"Siong Ki, jangan..........!!"
Bentak Bu Giok Cu ketika melihat murid itu menerjang lagi untuk memberi serangan mematikan kepada tubuh pemuda yang sudah te rjengkang itu.
Akan tetapi, nyonya yang menghadang ini terdorong oleh tangan kiri Siong Ki dan Bu Giok Cu te rhuyung ke belakang.
Si Han Beng yang juga tahu bahwa dia sendiri tidak mempunyai tenaga, cepat berseru.
"Thian Ki cegah dia!"
Thian Ki maklum apa yang harus dia lakukan, sekali melompat dia sudah menghadang dan dia mendorong dengan kedua tangannya ke arah Siong Ki.
Bukan dengan te naga dari hawa beracun, melainkan dengan tenaga sinkangnya.
"Wuuuuuttt......dessss!"
Siong Ki berseru kaget dan terhuyung ke belakang.
"Siong Ki, perlahan dulu. Paman dan bibi melarangmu membunuhnya!"
Kata Thian Ki.
Sementara itu, pemuda tampan tadi te rjengkang ke dekat Si Han Beng dan pendekar ini hendak membantunya bangun, melihat pemuda itu terkena te ndangan dan menyeringai kesakitan.
Akan tetapi pemuda itu menepiskan tangannya yang hendak membantunya bangkit.
"Hemm, aku sudah kalah. Huang-ho Sin-liong Si Han Beng dan Bu Giok Cu, kalian sepasang pendekar besar yang namanya te rkenal di seluruh dunia kangouw. Kalian bunuhlah aku agar sebelum mati aku dapat menyaksikan sendiri, betapa kalian yang bernama besar ini tiada lain hanyalah dua orang pengecut besar, tidak bertanggung jawab, bahkan kini membantu murid kalian yang pemberontak.!"
"Sobat, berulang kali engkau memaki kami pengecut tidak bertanggung jawab! Apa maksudmu?"
Si Han Beng merasa penasaran sekali dan ingin mengetahui.
"Bagus, engkau masih berpura-pura, Huan g-ho Sin-liong? Engkau dan is te rimu membiarkan anak kalian diculik orang, tak pernah berusaha merebutnya kembali, bukankah itu merupakan sikap pengecut yang tak bertanggung jawab? Orang macam apa itu? Dan sekarang, kalian mempunyai murid yang jahat dan pengkhianat, membantu pemberontakan Pangeran Li Seng Cun dan nyaris membunuh kaisar, sehingga ibuku yang melindungi kaisar tewas oleh pedang murid kalian yang bagus ini!"
"Jahanam kau........!!"
Siong Ki mengeluarkan te riakan seperti binatang buas yang marah sekali dan dia sudah menerjang maju, tidak memperdulikan suhu dan subonya.
Akan tetapi sejak tadi Thian Ki waspada dan selalu memperhatikan gerak-gerik Siong Ki, maka begitu melihat pemuda itu meloncat dan menerjang, diapun bergerak ke depan menyambut.
Melihat ini, Cin Cin juga melompat ke depan dengan pedangnya menyambar pedang Siong Ki pada saat Thian Ki mendorongnya dengan te naga sin-kangnya.
"Trangg"
Pedang di tangan Siong Ki terpental. Sebetulnya, kalau saja dia tidak didorong oleh Thian Ki yang membuat tubuhnya terhuyung, tidak semudah itu pedangnya dapat te rpental oleh pukulan pedang Cin Cin.
"Cin Cin, mundurlah,"
Kata Thian Ki dan dia menghampiri Siong Ki dengan sikap tenang dan sabar.
"Siong Ki, ingat, segala persoalan dapat dibicarakan. Engkau tidak boleh menentang kehe ndak gurumu. Mari kita bicara baik-baik........"
"Dia bohong! Bocah sinting itu bohong! Suhu dan subo tidak semestinya percaya omongan seorang tukang fitnah macam dia!"
Te riak Siong Ki marah.
Sementara itu, Si Han Beng dan Bu Giok Cu menjadi pucat wajah mereka mendengar kata-kata pemuda itu.
Mereka terbelalak, bahkan Bu Giok Cu menekan dadanya dan terhuyung ke belakang, seolah-olah ucapan pemuda itu menusuk jantungnya.!
Si Han Beng juga te rbelalak memandang kepada pemuda itu.
"Siapa......siapa.....ibumu........?"
"I buku bernama Kwa Bi Lan, wanita yang jauh le bih baik terhadap diriku daripada orang tuaku sendiri, walaupun ia te lah menculik diriku dari tangan ayah dan ibu kandungku yang tidak berani bertanggung jawab, yang membiarkan saja aku diculik orang......"
Dan kini "pemuda"
Itu menangis te rsedu-sedu.
"Lan Lan......!!"
Bu Giok Cu menjerit.
"Hong Lan........!"
Si Han Beng juga berte riak.
De ngan bercucuran air mata, suami isteri pendekar itu mengembangkan kedua le ngan hendak merangkul pemuda itu.
Akan te tapi pemuda itu yang bukan lain adalah Hong Lan yang menyamar pria, meloncat ke belakang.
"Tidak........tidak ... sebelum kalian menjelaskan kenapa kalian tidak merebut aku kembali dari tangan penculik, jangan sentuh aku .........!"
Menyaksikan peristiwa hebat ini, Thian Ki dan Cin Cin terbelalak, kaget dan heran, dan terharu.
Akan tetapi yang paling kaget adalah The Siong Ki.
Seperti disambar petir rasanya ketika ia melihat kenyataan bahwa pemuda itu adalah seorang gadis , dan pute ri suhunya yang selama belasan tahun ini hilang!
Dan justeru pute ri suhunya itu yang mengetahui rahasianya.
Celaka, pikirnya dan dengan wajah pucat dia mengambil keputusan nekat.
Kalau dia tidak cepat bertindak, tentu gadis itu akan membongkar segalanya dan dia tidak mendapatkan alasan lagi untuk menyangkal.
"Jahanam bohong kau!!"
Bentaknya dan kini dengan tangan kosong, dia sudah menerjang ke arah Hong Lan yang kebetulan meloncat ke belakang tadi dan berada dekat dengannya.
Dia meloncat bagaikan seekor harimau menerkam dan kedua tangannya berubah merah!
Ternyata dalam kemarahan dan kenekatannya, pemuda ini telah menggunakan ilmu Silat Hui-tiauw Sin-kun (Silat Sakti Rajawali Terbang) dan mengerahkan tenaga Ang-tok-ciang (Tangan Racun Merah) ke dalam kedua tangannya yang mencengkeram.
Se betulnya, ilmu Ang-tok-ciang ini adalah ilmu sesat dari mendiang Ban-tok Mo-li Phang Bi Cu yang pernah menjadi guru Bu Giok Cu dan telah mengajarkan ilmu sesat itu kepadanya.
Bu Giok Cu sendiri, mengajarkan Ang-tok-ciang kepada Siong Ki bukan untuk dikuasai, melainkan untuk menambah pengetahuan murid suaminya itu agar mengenal ilmu sesat dari golongan hitam dan dapat menjaga diri.
Tidak tahunya, diam-diam Siong Ki melatih dirinya dengan ilmu pukulan beracun itu dan kini dia sengaja menggunakan ilmu itu agar sekali cengkeram dapat membunuh Hong Lan.
Dan dia telah menguasai ilmu silat Rajawali Terbang dengan baik, maka gerakannya itu hebat bukan main, bagaikan seekor rajawali, dia menyambar turun menyerang Hong Lan yang sedang lengah karena marah dan bersedih, sedang menangis.
Pada saat yang amat gawat bagi keselamatan Hong Lan itu, di mana ayah ibunya yang sakti tidak berdaya karena mereka telah kehilangan te naga untuk mengobati Thian Ki dan belum pulih, te rdengar suara mele ngking nyaring dan tubuh Thian Ki sudah meloncat ke atas, menghadang serangan Siong Ki yang dahsyat sekali itu.
Akan tetapi, karena tadinya Thian Ki tidak menyangka Siong Ki akan menyerang secara tiba-tiba kepada Hong Lan, dia agak terlambat sehingga tidak dapat menangkis atau membalas serangan itu, melainkan hanya membuat tubuhnya sebagai penghalang agar Siong Ki tidak dapat menyerang Hong Lan.
Melihat tubuh Thian Ki menghalang di udara, Siong Ki menjadi marah bukan main.
Semua kekecewaan, kemarahan, dan ketakutan tertumpah keluar kepada Thian Ki.
Maka dengan gerengan buas, kedua tangan yang merah itu mencengkeram ke leher Thian Ki untuk mencekiknya!
Kalau saja yang kena cengkeram itu leher Thian Ki, agaknya sukarlah baginya untuk menyelamatkan nyawanya.
Akan te tapi, dalam keadaan tersudut itu, Thian Ki masih mampu menarik lehernya ke belakang sehingga cengkeraman itu mengenai pundak dan bahunya.
"Thian Ki.........!!"
Cin Cin berseru dengan wajah pucat dan dengan pedang di tangan ia siap membantu kekasihnya.
Matanya terbelalak melihat betapa kini kedua orang pemuda itu te rbanting jatuh dan kedua tangan merah Siong Ki itu masih mencengkeram pundak dan bahu Thian Ki.
Jari-jari tangan itu bagaikan cakar harimau, te lah menancap dan masuk ke dalam kulit pundak dan bahu, dan nampak Thian Ki menyeringai kesakitan.
Tubuh mereka bergulingan di atas tanah, namun tetap saja cengkeraman kedua tangan itu te rus menempel di tubuh Thian Ki.
Cin Cin mengejar dan siap untuk menyerang Siong Ki.
Akan te tapi, dua orang pemuda itu berhenti bergulingan dan Thian Ki bangkit sambil mengerang kesakitan, sementara itu, Siong Ki menggeletak tak dapat bergerak lagi.
Kedua tangan, bahkan juga mukanya, berubah menghitam dan te rnyata dia telah te was keracunan!
Kiranya ilmu pukulan beracun Ang-tok-ciang yang dipergunakan mencengkeram itu bahkan memperkuat hawa beracun di tubuh Thian Ki, dan hal ini tidaklah aneh karena Ang-tok-ciang adalah ilmu yang dirangkai oleh mendiang Ban-tok Mo-li, jadi masih satu sumber dengan racun yang mengeram di tubuh Thian Ki.
Oleh karena itu, biarpun hawa beracun di tubuh Thian Ki sudah berkurang, namun dengan masuknya racun Ang-tok-ciang melalui cengkeraman Siong Ki, hawa beracun itu bertambah kuat.
Thian Ki tidak mengerahkan hawa beracun itu, akan tetapi ketika tubuhnya dimasuki racun Ang-tok-ciang, dengan sendirinya hawa beracun di tubuhnya bangkit dan menyambut, sehingga Siong Ki keracunan sedemikian hebatnya, sehingga dalam waktu beberapa detik saja hawa beracun telah merenggut nyawanya dan membuat mukanya menjadi hitam.
"Thian Ki........!"
Cin Cin menghampiri kekasihnya dan Thian Ki te rsenyum, memandang ke arah pundak kiri dan bahu kanann ya yang luka berdarah, lalu menoleh ke arah tubuh Siong Ki, menghela napas dan berkata.
"Aku tidak apa-apa, Cin Cin, tapi dia......"
"Bukan salahmu, Thian Ki. Murid durhaka yang telah menyimpang dari jalan kebenaran telah menerima hukumannya,"
Kata Si Han Beng. Sementara itu, Bu Giok Cu dengan air mata masih bercucuran mendekati Hong Lan.
"Kau....kau.... Hong Lan anakku....?"
Gadis berpakaian pria itupun menangis, akan tetapi kembali ia melangkah mundur ketika ibu kandungnya mendekatinya.
"Nanti dulu, aku ingin mendengar dulu kenapa seorang ayah dan ibu kandung membiarkan saja anaknya diculik orang. Kenapa ayah ibu kandung tidak menyayang anaknya, bahkan si penculik amat sayang seperti ibu sendiri. Kenapa?"
"Hong Lan, anakku. Marilah kita masuk ke dalam rumah dan kami akan menceritakan kepadamu...."
Kata Si Han Beng.
"Tidak!"
Jawab Hong Lan tegas.
"Sebelum mendengar sebabnya, aku tidak akan masuk ke rumah kalian. Aku tentu akan membenci kalian dan tidak akan mau mengakui ayah ibu yang membiarkan anaknya diculik orang tanpa mencarinya. Aku harus mendengar dulu apa sebabnya, baru akan kupertimbangkan apakah kalian pantas menjadi ayah ibuku atau tidak."
Si Han Beng menghampiri isterinya.
"Kau.... ceritakanlah ..."
Katanya kepada is terinya.
Akan tetapi Bu Giok Cu hanya menangis.
Ibu ini merasa hatinya seperti diremas-remas, akan tetapi iapun tidak dapat menyalahkan puterinya.
Ia dapat merasakan betapa sakit rasa hati puterinya itu setelah mengetahui bahwa ayah ibunya sama sekali tidak pernah mencari ia yang sejak kecil diculik dan dilarikan orang.
Melihat keadaan mereka, Thian Ki berkedip pada Cin Cin lalu berkata kepada Si Han Beng dan Bu Giok Cu.
"Paman dan bibi, sebaiknya kalau Cin Cin dan aku le bih dulu membawa je nazah Siong Ki ke dalam dan mengurusnya bersama para pembantu, sedangkan paman dan bibi bicara di sini."
Si Han Beng mengangguk dan merasa kagum akan kebijaksanaan pemuda itu.
Tadipun, kalau tidak ada Thian Ki yang mengorbankan diri, mungkin puteri mereka telah tewas di tangan Siong Ki!
Thian Ki, dibantu oleh Cin Cin, lalu mengangkat je nazah Siong Ki ke dalam rumah, meninggalkan suami isteri itu bertiga saja dengan Hong Lan.
Hong Lan masih berdiri dengan kedua pipi basah air mata, akan tetapi sikapnya tegak dan menentang, pandang matanya penuh rasa penas aran, sehingga setiap kali bertemu pandang dengan pute rinya, Bu Giok Cu kembali tak dapat menahan tangisnya.
Diam-diam Si Han Beng memperhatikan puterinya dan dia melihat bahwa ada suatu ketinggian hati seperti sikap seorang bangsawan tinggi pada puterinya.
Pandang mata itu, seperti pandang mata seorang puteri!
"Hong Lan, kami berdua memaklumi sikapmu ini.
Memang kalau dipandang sepintas lalu, kami seperti bukan orang tua yang baik dan menyayang anak.
Akan tetapi engkau perlu mengetahui sebab-sebabnya.
Nah, dengarlah baik-baik.
Enambelas tahun yang lalu atau lebih, ketika itu engkau baru berusia dua tahun dan diajak bermain-main oleh Siong Ki, murid kami tadi, engkau diculik orang dan Siong Ki ditotok sehingga tidak dapat bergerak.
Penculik itu adalah Kwa Bi Lan, masih te rhitung sumoiku sendiri."
Si Han Beng lalu menceritakan te ntang hubungannya dengan Kwa Bi Lan, mengapa Kwa Bi Lan menaruh sakit hati kepadanya.
"Kwa Bi Lan telah menjadi isteri suhu Sin-tiauw Liu Bhok Ki, juga gurunya sendiri. Setelah suhu Liu Bhok Ki meninggal dunia, Kwa Bi Lan mendendam kepadaku karena ia menganggap bahwa akulah penyebab kematian suhu."
Si Han Beng menghela napas panjang.
Sebetulnya, riwayat itu tidak akan diceritakan kepada siapapun juga dan akan dibawanya sampai mati, akan te tapi sekali ini dia harus menceritakan segalanya dengan gamblang kepada pute rinya, kalau dia menghendaki pute rinya itu kembali kepadanya.
Sinar mata Hong Lan masih tetap keras dan penuh rasa penas aran, akan tetapi ia tidak memotong cerita pendekar itu.
"Sebetulnya, dahulu sebelum aku berte mu dengan ibumu ini, suhu menghendaki agar aku berjodoh dengan Kwa Bi Lan. Akan tetapi aku berte mu dengan ibumu dan kami menikah. Agaknya suhu marah sekali dan Kwa Bi Lan kecewa. Kemudian, Kwa Bi Lan menjadi isteri suhu yang sudah puluhan tahun menduda. Setelah suhu meninggal dunia, Bi Lan pergi mencari kami ke sini. Ia marah-marah dan mengatakan bahwa suhu meninggal dunia karena kecewa dan menyesal kepadaku, yaitu karena aku tidak menurut kehendak suhu dan menikah dengan ibumu. Ketika ia datang berkunjung, engkau baru berusia dua tahun. Akupun merasa menyesal sekali dan berduka atas kematian suhu. Nah, biarpun Kwa Bi Lan meninggalkan kami dengan baik-baik, te rnyata diam-diam ia masih mendendam dan ia membawamu lari untuk membalas dendamnya itu."
"Akan te tapi kalian yang berilmu tinggi kenapa tidak mengejar dan merebutku kembali?"
Hong Lan masih penasaran karena juste ru kenyataan inilah yang membuat ia merasa penasaran sekali.
"Anakku, jangan engkau menyalahkan ayahmu. Ketika Kwa Bi Lan menculikmu, ia meninggalkan tulisan di atas tanah bahwa kalau kami melakukan pengejaran dan berusaha merebutmu, ia akan membunuhmu. Kami tidak berdaya......"
"Kami mengetahui bahwa Kwa Bi Lan bukan seorang jahat. Akan tetapi, dendam sakit hati dapat membuat seseorang menjadi mata gelap. Kami tidak berani melakukan pengejaran karena takut kalau-kalau ia melaksanakan ancamannya. Justeru karena yakin ia bukan orang jahat itulah yang membuat kami te rpaksa merelakan engkau dibawa pergi, dengan harapan sekali waktu ia akan sadar dan mengembalikanmu kepada kami. Dan kami didik Siong Ki agar setelah dewasa dia dapat pergi mencarimu. Dia tidak akan dikenali Kwa Bi Lan. Bahkan baru-baru ini kami menyuruh dia pergi untuk mencarimu."
Pandang mata Hong Lan mulai berubah lunak.
Ia mulai mengerti mengapa ayah dan ibu kandungnya tidak melakukan pengejaran untuk merampas ia kembali dari tangan penculiknya.
Ia kini mengerti.
Kwa Bi Lan pernah mencinta ayah kandungnya dan karena tidak dibalas cintanya, bahkan ayah kandungnya yang sudah dijodohkan dengannya itu memilih gadis lain menjadi isterinya, maka Kwa Bi Lan mendendam.
Apalagi setelah suaminya, yaitu gurunya sendiri, meninggal dunia karena kecewa terhadap Si Han Beng, dendam Kwa Bi Lan makin mendalam.
Kemudian, agaknya setelah hilang dendamnya, Kwa Bi Lan sudah te rlanjur menyayangnya sebagai puteri sendiri, maka tidak mau mengembalikannya.
Bahkan Kwa Bi Lan agaknya akan merahasiakan terus keadaan dirinya itu kalau saja tidak menghadapi ajalnya.
"Hong Lan, anakku. Aku ibumu, aku yang mengandungmu dalam perut selama sembilan bulan, aku yang melahirkanmu dengan taruhan nyawa, bagaimana mungkin aku tidak sayang padamu, ana kku? Semenjak engkau dilarikan Bi Lan, setiap malam aku menangis, aku bersembahyang, mohon kepada Tuhan agar engkau diberi keselamatan dan kesehatan. Kemudian, akhir-akhir ini, membayangkan engkau telah dewasa, aku bersembahyang setiap akan tidur, mohon agar engkau diberi kebahagiaan........aku... aku tak pernah hentinya menyayangmu, Hong Lan......."
Bagaikan air bah yang le pas dari bendungan, Hong Lan menjerit dan menubruk Bu Giok Cu.
"I bu ........!"
Me reka berdekapan sambil menangis berciuman dan Bu Giok Cu menengadah, memandang langit dengan air mata bercucuran akan te tapi mulut te rsenyum te bar, bibirnya gemetar mengucapkan terima kasih kepada Tuhan.
"Terima kasih......te rima kasih. Tuhan ...aku telah menemukan kembali anakku........Hong Lan........ah, Hong Lan anakku......."
Dan ibu yang te rlalu bahagia ini tak dapat menahan lagi dirinya yang memang sudah kehabisan tenaga sin-kang, ia le mas dan pingsan dalam rangkulan Hong Lan.
"I bu.......! Ibuuu............ !"
Hong.Lan menengok ke arah Si Han Beng yang masih berdiri sambil mengusap air matanya sendiri dengan punggung tangan.
"Ayah.......! Ini ibu bagaimana.........?"
Si Han Beng menghampiri dan memegang pergelangan tangan isterinya.
"I bumu te rguncang perasaannya, mari kita bawa ia masuk, Hong Lan."
"Ayah........!"
Hong Lan membiarkan Si Han Beng memondong isterinya, dan Hong Lan memegangi le ngan ayahnya, ikut masuk ke dalam rumah dimana ia dilahirkan.
Tak lama kemudian mereka semua telah duduk di ruangan dalam rumah itu.
Jenazah Siong Ki telah dikebumikan dengan bantuan para tetangga secara sederhana.
Hong Lan yang sudah bertukar pakaian wanita, ikut pula berkabung karena iapun te rharu mendengar cerita ayah ibunya betapa dulu, ketika ia masih kecil Siong Ki yang mengasuhnya, menggendongnya dan mengajaknya bermain-main.
"Hong Lan, sekarang ceritakan te ntarg dirimu, sejak engkau dibawa pergi oleh Kwa Bi Lan, tanya Bu Giok Cu sambil memegangi tangan pute rinya yang duduk di sebelahnya. Setelah kini berpakaian wanita, Hong Lan nampak cantik jelita, mirip sekali dengan ibunya. Di ruangan itu duduk pula Cin Cin dan Thian Ki yang luka-luka di pundak dan bahunya te lah diobati. Hong Lan telah diperkenalkan kepada Thian Ki dan Cin Cin, dan ia merasa kagum sekali mendengar bahwa Thian Ki adalah pute ra kakak angkat ayahnya dan memiliki kepandaian yang lihai sekali. Bahkan tadipun kalau tidak ada Thian Ki, mungkin ia telah tewas di tangan Siong Ki. Juga ia kagum kepada Cin Cin yang cantik manis, dan ikut gembira mendengar bahwa kedua orang itu telah bersepakat untuk menjadi suami isteri.
"Ceritanya panjang, ibu,"
Kata Hong Lan dan ketika ia memandang ibunya, terpancar sinar kasih sayang dalam matanya yang membuat Bu Giok Cu te rharu sekali.
Lalu ia menceritakan pengalamannya ketika menjadi puteri Kwa Bi Lan.
Diceritakannya betapa kemudian Kwa Bi Lan berte mu dengan Pangeran Li Si Bin dan ditarik menjadi pengawal pribadi pangeran mahkota itu.
Betapa kemudian mereka saling jatuh cinta dan Kwa Bi Lan menjadi isteri atau s elir Pangeran Li Si Bin sampai sekarang.
"Aihh, kalau begitu Kwa Bi Lan menjadi selir Kaisar dan bagaimana dengan engkau?"
Tanya Bu Giok Cu, kagum mendengar riwayat perjalanan hidup Kwa Bi Lan yang aneh itu.
"Karena ia selalu menganggap aku sebagai anaknya, maka dengan sendirinya akupun diakui oleh Sribaginda Kaisar sebagai puterinya."
"Hebat.....!"
Cin Cin yang sudah bergaul akrab dengan Hong Lan berseru sambil memandang kagum.
"Kalau begitu engkau .... eh. paduka.... adalah seorang pute ri istana, puteri Sribaginda Kaisar?"
Cin Cin tidak main-main, melainkan bersungguh-sungguh.
Hong Lan memandang kepada Cin Cin dan te rsenyum anggun, maklum bahwa gadis yang buntung tangan kirinya itu tidak mengeje k atau main-main, melainkan bersungguh-sungguh.
"Me mang benar, selama belasan tahun ini aku dikenal sebagai Puteri Li Hong Lan, pute ri kaisar yang oleh Sribaginda disayang dan dianggap pute ri sendiri, walaupun beliau tahu bahwa aku bukan pute rinya, bahkan tahu pula bahwa aku bukan pute ri mendiang ibu Kwa Bi Lan. Akan tetapi, setelah aku mengetahui bahwa aku bukan puteri kaisar, bukan pula puteri ibu Kwa Bi Lan, aku lalu berpamit meninggalkan istana dan Sribaginda memberi ijin dan restu. Sekarang, aku bukan lagi pute ri kaisar, enci Cin, melainkan Si Hong Lan biasa saja puteri ayah dan ibuku."
"Ahh, kalau begitu, doaku selama ini setiap malam kepada Tuhan dikabulkan!"
Seru Bu Giok Cu.
"Anakku bukan saja sehat dan selamat, bahkan diangkat derajatnya menjadi puteri istana, pute ri kaisar!"
"Akupun ikut bangga dan bersyukur, Hong Lan, te ntu selama ini engkau hidup mulia, terhormat, dan bahagia. Apalagi Kwa Bi Lan dan Sribaginda kaisar menyayangmu."
Hong Lan menghela napas panjang.
"Perkiraan orang luar te rhadap kehidupan pute ri istana sungguh jauh berbeda dengan kenyataannya, ayah."
Tanpa canggung-canggung lagi bekas pute ri istana itu menyebut ayah dan ibu kepada orang tuanya, sebutan yang baru pertama kali ini ia ucapkan te rhadap orang tua kandungnya.
"Me mang ketika masih kecil, aku berbahagia karena hidup te rhormat, segalanya te rcukupi, berenang kemewahan, hidup dibangunan yang megah dan indah, mengenakan pakaian indah dan perhiasan serba mahal, makanan yang dihidangkan serba le zat. Akan tetapi semua itu akhirnya membosankan, apalagi setelah aku mulai mengerti, ayah. Di istana itu terdapat banyak sekali persaingan, permusuhan, kepalsuan dan perebutan kekuasaan. Ayahanda,.... eh, maksudku Sribaginda Kaisar dikelilingi penjilat-penjllat, para thai-kam yang mencari muka, para selir yang te rlalu banyak dan saling berlomba mengambil hati kaisar, para pejabat yang saling bersaing untuk menarik perhatian kaisar. Pendeknya, ibu..... maksudku Bibi Kwa Bi Lan dan aku mulailah merasa tidak berbahagia. Sudah lama aku mendambakan kebebasan di luar istana, akan tetapi sebagai puteri kaisar, te ntu saja Sribaginda tidak mengijinkan. Untung bahwa Sribaginda sendiri adalah seorang ahli silat yang lihai, maka beliau memperbolehkan aku belajar ilmu silat. Akhir-akhir ini, bibi Kwa Bi Lan sering makan hati karena ia benar-benar mencinta kaisar, akan tetapi perhatian kaisar te rlalu te rpecah dan sibuk sehingga kadang-kadang kaisar seperti lupa kepada bibi Kwa Bi Lan."
Si Han Beng mengangguk-angguk.
"Aku dapat membayangkan semua itu. Memang tak dapat disangkal bahwa tidak ada kesenangan tanpa kesusahan. Apa yang tadinya menyenangkan, dapat menjadi membosankan bahkan menyusahkan. Seorang hartawan lambat laun tidak lagi dapat merasakan kenikmatan hartanya, melainkan menderita karena hartanya, takut berkurang, takut le nyap, takut ditinggalkan. Aku dapat mengerti, Hong Lan."
"Lalu bagaimana terjadinya pemberontakan yang melibatkan Siong Ki itu? Kami ingin sekali mendengarnya,"
Kata Bu Giok Cu.
Sebelum melanjutkan kisahnya, Hong Lan minum dulu air te h dari cangkir di atas meja.
Semua orang memandang kagum.
Tanpa disadarinya, agaknya bekas puteri istana ini masih belum terbebas dari kebiasaan kehidupan di dalam istana, ketika ia mengambil cangkir, ketika mengangkatnya ke bibir, ketika meneguk air teh, semua dilakukan dengan gerakan lengan, tangan dan jari yang seolah-olah menari, begitu teratur dan lembut!
Hong Lan sendiri tidak menyadari ini.
"Yang melakukan pemberontakan adalah Paman...eh. Pangeran Li Seng Cun, adik dari Sribaginda Kaisar sendiri. Dia merencanakan pemberontakan dengan jalan membunuh Sribaginda dan dia menyuruh The Siong Ki dan Bi Tok Siocia yang melakukan usaha pembunuhan itu. Untung aku mengetahui rencana itu ketika kaki tangan mereka, seorang dayang dan seorang thai-kam, mengadakan pembicaraan dan aku memberitahu kepada Bibi Kwa Bi Lan. Kami mengatur siasat melakukan penjagaan dengan teliti pada malam yang dite ntukan. Kemudian muncullah dua orang berkedok kain hitam menyerbu kamar Sribaginda Kais ar. Kami melawan mereka akan te tapi ternyata mereka lihai bukan main. Bibi Kwa Bi Lan bahkan terluka ole h pedang di tangan The Siong Ki, akan tetapi dalam keadaan te rluka, ia masih terus mengejar Bi Tok Siocia yang memasuki kamar Kaisar. Karena para pengawal berdatangan, The Siong Ki yang dapat kusingkap topengnya dengan pedangku, sehingga aku mengenal wajahnya, melarikan diri. Aku tidak mengejar, melainkan membantu ibu di dalam kamar, di mana Bi Tok Siocia telah dikeroyok oleh bibi Kwa Bi Lan dan oleh Sribaginda sendiri. Aku membantu mereka dan akhirnya Bi Tok Siocia te was oleh pedang bibi Bi Lan. Akan te tapi bibi Kwa Bi Lan juga roboh karena luka itu dan sebelum tewas itulah ia membuka rahasia diriku, bahwa aku bukan pute ri kaisar, bukan pula pute rinya dan menyuruh aku bertanya kepada Kaisar siapa orang tua kandungku. Kemudian, Sribaginda Kaisar yang memberitahu bahwa aku adalah pute ri ayah dan ibu, akan te tapi beliau tidak dapat menjelaskan kenapa aku diculik Bibi Kwa Bi Lan dan mengapa pula ayah dan ibuku yang dikabarkan sebagai pendekar-pendekar sakti tidak mencari dan merebutku kembali. Hal ini membuat aku merasa penas aran dan sakit hati sekali, maka aku lalu berpamit dari Sribaginda kaisar dan datang ke sini dengan maksud untuk menegur dan mencela ayah dan ibu karena hatiku sakit sekali. Akan tetapi, tanpa kuduga di sini aku berte mu dengan The Siong Ki yang mengaku murid ayah dan ibu. Tentu saja aku menjadi semakin kecewa karena ternyata penjahat yang hendak membunuh Sribaginda kaisar itu adalah murid ayah, karena itulah maka aku bersikap seperti tadi. Harap ayah dan ibu suka memaafkan aku yang kurang ajar dan tidak berbakti."
Bu Giok Cu merangkulnya.
"Engkaulah yang sepantasnya memaafkan kami, anakku. Semua sudah berlalu, disesalpun tiada gunanya. Kami sendiri sungguh tidak mengira bahwa Siong Ki dapat te rsesat seperti itu. Ketika dahulu dia berada di sini, dia merupakan anak yang baik, rajin bekerja dan taat. Siapa kira, setelah berada di luar dia mau saja diperalat pemberontak."
Si Han Beng menggeleng-geleng kepalanya.
"Agaknya dia memang seorang yang le mah, sehingga mudah saja dipengaruhi orang lain. Aku yakin bahwa dia te ntu dipengaruhi oleh Bi Tok Siocia. Aku sudah mendengar tentang puteri datuk sesat Ouw Kok Sian itu. Sudahlah, tidak baik membicarakan orang-orang yang sudah meninggal dunia. Se moga Tuhan memperingan hukuman atas dosa-dosa mereka."
Kini Hong Lan memandang kepada Thian Ki.
Sejak peristiwa perkelahian yang menyebabkan te wasnya Siong Ki itu, ingin sekali ia bertanya, akan te tapi kesempatan belum ada karena le bih penting membicarakan te ntang dirinya dan orang tuanya yang baru berte mu.
Kini kesempatan itu te rbuka setelah semua riwayat diceritakan.
"Ayah dan ibu, aku merasa heran sekali bagaimana The Siong Ki dapat tewas secara mengerikan? Padahal, aku melihat dia yang menyerang dan mencengkeram pundak dan bahu toa-ko Coa Thian-Ki ini."
Dara ini menyebut Thian Ki toa-ko(kakak) setelah diperkenalkan dan tahu bahwa Thian Ki adalah pute ra kakak angkat ayah kandungnya.
"Se dangkan toako hanya te rluka saja. Ilmu hebat apakah yang dikuasai Coa-toako ini?"
"Bukan ilmu hebat, melainkan sebuah kutukan, siauw-moi,"
Kata Thian Ki sambil menarik napas panjang.
"Ehh! Kutukan bagaimana?"
Hong Lan kini sudah menemukan kembali kelincahannya karena ia merasa berbahagia dapat bersatu kembali dengan ayahbundanya, dan iapun berte mu dengan Thian Ki dan Cin Cin yang segera dapat menarik perhatiannya dan te lah menjadi akrab dengan mereka.
"Ketahuilah, Hong Lan. Kakakmu Thian Ki ini adalah seorang tok-tong, anak beracun yang sekarang te ntu saja menjadi manusia beracun. Di dalam tubuhnya terdapat hawa beracun yang a mat dahsyat, sehingga banyak sudah orang-orang yang lihai, baiknya mereka itu orang-orang jahat, yang te was ketika menyerangnya, sejak dia masih kecil,"
Kata Bu Giok Cu.
"Adik Hong Lan, kau lihat tangan kiriku. Inipun akibat hawa beracun di tubuh Thian Ki,"
Kata Cin Cin tertawa.
Akhirnya, Hong Lan pasti sekali waktu akan bertanya juga te ntang tangannya, pikirnya.
Tiada salahnya sekarang saja menceritakan untuk mengusir perasaan tidak enak, seolah merupakan senda-gurau.
"Wahhh.......! Tunanganmu sendiri yang membuat tanganmu buntung? Bagaimana pula ini?"
Hong Lan bertanya heran dan kehe ranannya demikian sungguh-sungguh, membuat ia nampak manis seperti seorang anak kecil. Semua orang te rsenyum melihat sikapnya.
"Ketika itu, kami juga berkelahi dan belum bertunangan. Aku mencengkeram pundaknya dan tanganku menjadi hitam keracunan. Dan untuk menyelamatkan nyawaku, te rpaksa Thian Ki membuntungi tangan kiriku dengan pedang. Kalau dia tidak melakukannya, te ntu aku sudah te was seperti halnya Siong Ki padi tadi."
"Bukan main! Kalian saling berkelahi sampai seorang di antara kalian buntung tangan kirinya, kemudian kalian bertunangan. Tentu cinta di hati kalian benar-benar murni!"
Kata pula Hong Lan dan ucapan ini saja menunjukkan bahwa gadis bekas puteri bangsawan istana ini memang berwatak lincah jenaka.
"Akan tetapi, dengan memiliki tubuh beracun seperti itu, berarti Coa toako menjadi seorang pendekar yang hebat dan sukar dikalahkan. Kenapa tadi toako mengatakan bahwa kelebihan itu merupakan sebuah kutukan? Aku tidak mengerti."
Wajah Thian Ki menjadi muram.
"Aku bahkan datang menemui ayah ibumu untuk mohon pertolongan mereka mengobatiku agar aku dapat te rbebas dari hawa beracun ini, siauw moi. Dan malam tadi mereka telah melakukannya."
"Itulah sebabnya mengapa tadi paman dan bibi tidak dapat melindungimu dari Siong Ki, adik Hong Lan. Mereka semalam telah menghabis kan tenaga sin-kang untuk mencoba mengobati Thian Ki,"
Kata Cin Cin.
Kini barulah Hong Lan mengerti.
Tadi iapun memang merasa heran melihat betapa ayah ibunya yang dikenal sebagai sepasang pendekar sakti, seperti tak berdaya ketika dirinya diancam oleh serangan maut Siong Ki, murid mereka sendiri.
Kiranya ayah ibunya te lah kehabis an tenaga karena semalam mengobati Thian Ki.
"Ayah, Ibu, maafkan kalau aku menyangka yang bukan-bukan,"
Katanya dan pandang matanya demikian le mbut sehingga suami isteri itu mendekati dan merangkulnya penuh kasih sayang.
"Kami memang telah berusaha, akan tetapi hanya mampu mengusir sebagian saja dari hawa beracun di tubuhnya. Kami tidak berhasil membebaskannya. Hawa beracun itu dahsyat bukan main,"
Kata Si Han Beng.
"Akan tetapi, kenapa sih e ngkau berkeras untuk melenyapkan hawa beracun itu dari tubuhmu, toako? Bukankah hal itu bahkan menguntungkan sekali? Apakah barangkali racun itu membahayakan keselamatan dirimu sendiri?"
Hong Lan bertanya heran. Thian Ki menghela napas dan melirik kepada kekasihnya, Cin Cin yang menundukkan mukanya mendengar pertanyaan bekas pute ri kaisar itu.
"Me mbahayakan diriku sih tidak, hanya........."
Dia tidak mampu melanjutkan karena merasa sungkan untuk bicara tentang itu.
"Hanya kenapa, toako?"
Hong Lan mendesak. Bu Giok Cu yang mengerti akan kesungkanan Thian Ki berkata.
"Hong Lan, kalau hawa beracun itu tidak dapat dienyahkan dari dalam tubuhnya, maka selamanya dia tidak dapat menikah. Wanita yang menjadi isterinya tentu akan mati keracunan."
"Aihh..........!"
Hong Lan berseru kaget dan kini ia memandang kepada Thian Ki dan Cin Cin dengan sinar mata mengandung iba.
"Kalau ayah dan ibu gagal, lalu apakah tidak ada jalan lain untuk menyembuhkan Coa-toako?"
Ayahnya menghela napas.
"Racun itu amat hebat, ditanamkan di tubuhnya sejak dia masih kecil sekali, sehingga hawa beracun itu telah menyusup ke dalam jalan darahnya, sehingga darahnya juga mengandung racun. Berbahaya sekali! Agaknya hanya kesaktian kedua orang sukongmu (kakek gurumu) yang akan mampu mengusir hawa beracun itu dengan sin-kang mereka. Akan te tapi, kedua orang kakek gurumu itu, Pek I Tojin dan Hek Bin Hwesio, telah lama menghilang dari dunia persilatan dan tak seorangpun tahu di mana mereka berada. Mungkin mereka berdua kini berada di pegunungan Himalaya sebagai pertapa-pertapa. Atau kalau mungkin te rdapat obat penawar racun yang paling langka di dunia ini dapat ditemukan..."
"Ayah! Pernah ayahanda.....eh, Sribaginda Kais ar bercerita kepadaku te ntang obat penawar segala racun yang kini menjadi milik istana, menjadi satu di antara benda pusaka. Bahkan menurut Sribaginda Kaisar, tidak ada keracunan yang tidak dapat dipunahkan oleh obat itu. Katanya obat itu te rbuat dari katak merah pemakan ular berbisa. Sribaginda mendapatkannya dari seorang sakti yang bernama Im Yang Seng-cu, yang kini menjadi penasihat dan sahabat Sribaginda Kais ar."
Suami is teri itu saling pandang.
Sebagai dua orang kang-ouw yang berpengalaman, mereka pernah mendengar te ntang katak merah, seekor binatang langka dan ajaib yang kabarnya menjadi pemakan ular berbisa dan katak itu sendiri mengandung bisa yang demikian kuat, sehingga merabanya saja dapat membunuh seorang manusia, akan te tapi racunnya itu dapat pula memunahkan segala macam racun di dunia ini.
"Kami telah mendengar tentang katak ajaib itu,. Hong Lan. Akan te tapi, obat itu menjadi pusaka istana......"
Kata Bu Giok Cu.
"Mungkin obat itu dapat menyembuhkan Thian Ki. Akan tetapi bagaimana......?"
Tanya pula Si Han Beng. Hong Lan sudah meloncat kegirangan.
"Wah, mudah saja, ayah dan ibu. Telah kuceritakan tadi bahwa ayahanda.....eh, Sribaginda Kaisar amat sayang kepadaku dan beliau menganggap aku sebagai pute rinya sendiri. Bahkan ketika aku memohon diri untuk meninggalkan istana dan mencari ayah dan ibu, beliau menawarkan untuk memberi hadiah kepadaku, dan apa saja yang kuminta akan beliau berikan. Akan te tapi aku hanya minta diberi tahu siapa ayah dan ibu kandungku. Nah, kalau aku yang minta obat itu, aku yakin beliau pasti akan memberikan kepadaku."
"Tapi engkau baru saja tiba, bagaimana mungkin aku dapat membiarkan engkau pergi lagi?"
Bu Giok Cu memprotes.
"Aku dapat memberi surat kepada Sribaginda Kaisar, ibu. Aku mempunyai cap te rse ndiri dan beliau akan mengenal tanda tangan dan capku itu."
"Bagus! Kalau begitu, tulislah surat itu dan biar Thian Ki sendiri yang pergi ke kota raja dan menghadap Sribaginda, menyerahkan suratnya dan mene rima obat itu,"
Kata Si Han Beng gembira.
"Baik, akan segera kulakukan ayah!"
Kata Hong Lan gembira karena mendapat kesempatan untuk membantu Thian Ki, pemuda yang te rnyata merupakan kakak angkatnya, bahkan yang baru saja telah menyelamatkan nyawanya.
"Nanti dulu, siauw-moi!"
Kata Thian Ki dan semua orang melihat betapa pemuda itu menjadi muram wajahnya, tidak seperti yang lain, yang merasa gembira mendengar te ntang obat yang dapat memberi harapan menyembuhkan Thian Ki.
"Eh, kenapa, toako?"
"Siauw-moi, paman dan bibi, te rima kasih atas kebaikan kalian, dan juga Lan-moi yang ingin memintakan obat ke istana untuk menolongku. Akan te tapi, harap maafkan saja, aku ...tidak mungkin dapat menerima pemberian dari Sribaginda Kais ar."
Tentu saja semua orang merasa heran, bahkan te rmasuk Cin Cin yang memandang kekasihnya dengan sinar mata penuh pertanyaan.
"Thian Ki, kau sungguh aneh sekali. Kenapa engkau tidak mau menerima pemberian dari Sribaginda Kaisar ?"
Tanya Si Han Beng.
"Maaf, paman, sebetulnya hal ini merupakan rahasiaku, akan tetapi karena kalau aku tidak membuat pengakuan tentu akan menimbulkan dugaan yang bukan-bukan, biarlah aku akan berte rus terang. Paman dan bibi adalah orang-orang yang kuhormati, juga adik Hong Lan seperti adikku sendiri yang kusayang, maka biar aku berte rus terang. Aku mempunyai sebuah tugas dari suhu, yaitu agar aku mengambilkan pedang pusaka yang dulu milik suhu, akan tetapi sekarang telah terjatuh ke tangan pemerintah kerajaan dan pedang pusaka itu kini menjadi pusaka istana kerajaan. Maka, aku te rpaksa harus pergi ke kotaraja dan berusaha untuk mencuri pedang pusaka istana, bagaimana mungkin aku menerima pemberian dari Sribaginda Kaisar? Aku merasa malu untuk menerimanya, paman."
Semua orang te rdiam dan memandang kepada Thian Ki penuh kagum. Sukar dicari orang yang memiliki kejujuran seperti dia. Hong Lan yang lebih dulu bicara dan bertanya.
"Toako, apakah nama pedang pusaka milik gurumu yang kini menjadi pusaka istana itu?"
"Pedang itu disebut Liong-cu-kiam (Pedang Mestika Naga)."
"Ah, aku tahu pedang itu! Bahkan pernah aku meminjamnya untuk berlatih silat pedang. Jadi itukah pedang pusaka milik suhumu? Siapa sih suhumu itu, toako?"
"Suhuku adalah juga ayah tiriku, dahulu dialah Pangeran Cian Bu Ong."
Hong Lan te rbelalak.
"Ahhh......! Pemberontak itu?"
"Lan Lan, jangan katakan begitu,"
Kata Bu Giok Cu memperingatkan.
"Kenapa, ibu? Bukankah benar bahwa Pangeran Cian Bu Ong, saudara dari mendiang Kaisar Yang Ti dari dinasti Sui, pernah memimpin pemberontakan dan sudah ditumpas oleh pasukan pemerintah?"
Si Han Beng mengerutkan alis nya, khawatir kalau Thian Ki te rsinggung. Akan te tapi, pemuda itu bahkan te rsenyum menatap wajah adik misannya.
"Engkau memang benar, siauw-moi. Bagi engkau yang sejak kecil menjadi puteri Kaisar Kerajaan Tang, tentu saja mendengar dan menganggap bahwa Cian Bu Ong seorang pemberontak. Akan tetapi coba bayangkan bahwa engkau seorang pute ri kerajaan Sui, pasti engkau akan menganggap dia seorang patriot dan pejuang yang mempertahankan kerajaannya, dan bahkan Sribaginda kaisar yang sekaranglah yang kau anggap pemberontak. Tidakkah begitu?"
Hong Lan tertegun.
Ia seorang gadis yang te rpelajar dan cerdik, di istana selain ilmu silat juga mempelajari ilmu sastra dan sudah membaca banyak kitab sehingga ia maklum apa yang dimaksudkan Thian Ki.
Iapun mengangguk dan menghela napas panjang.
"Kerajaan memang merupakan medan perte ntangan dan menjadi sumber perebutan kekuasaan. Yang menang dipuja-puja, yang kalah dimaki-maki. Engkau benar, toako dan maafkan ucapanku tadi. Jadi, Liong-cu-kiam itu dahulu milik gurumu? Kalau begitu, kiranya sudah sepantasnya kalau dia menginginkannya kembali kepadanya. N ah, engkau tidak perlu mencurinya, toako, sungguhpun dengan kepandaianmu, aku yakin engkau akan berhasil mencurinya."
"Kalau tidak mencuri, lalu bagaimana....."
"Jangan khawatir. Aku bukan han ya akan minta obat bagimu dari Sribaginda Kaisar, akan tetapi juga minta Liong-cu kiam itu. Aku yakin, ayahanda ... ah, sudah terbias a aku menyebut beliau ayahanda. Jadi selalu saja keliru......"
"Tidak apa engkau menyebut beliau begitu, Lan Lan. Kami ikut bangga bahwa Sribaginda Kaisar mau menganggap anak kami sebagai pute rinya,"
Kata Si Han Beng serius. 'Aku yakin beliau akan memberikan obat dan pedang itu kepadamu, toako. Tunggu, akan kubuatkan surat itu."
Gadis itu lalu berlari memasuki kamarnya.
De mikianlah, pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Thian Ki dan Cin Cin sudah berangkat meninggalkan dusun Hong-cun, diantar oleh ayah ibu dan anak itu sampai ke luar dusun.
Thian Ki dan kekasihnya, Cin Cin, melakukan perjalanan menuju ke kota raja dengan hati lapang dan penuh harapan, karena Thian Ki membawa surat dari Hong Lan yang ditujukan kepada Kais ar sendiri.!
Sementara itu, Hong Lan yang baru saja berte mu dengan orang tua kandungnya, menikmati kebahagiaan hidup bersama mereka di dusun yang te nte ram itu, jauh dari kemewahan istana, jauh pula dari semua persaingan dan permusuhan.
Terasa olehnya betapa tenang dan penuh damai kehidupan di rumah orang tuanya di dusun itu, dan kalau mengingat akan kehidupan di istana, te rasa betapa panas dan tegangnya kehidupan dan lingkungan keluarga di is tana itu.
Apalagi ia kini digemble ng oleh ayah ibunya dengan ilmu silat tinggi, membuat Hong Lan merasa berbahagia sekali.
-ooo0dw0ooo-Gadis penunggang kuda yang memasuki pintu gerbang kota raja itu memang cantik je lita dan menarik perhatian orang, terutama bagi para pria.
Kudanya juga merupakan kuda pilihan, tinggi besar dan te ntu amat mahal harganya.
Gadis itu sendiri usianya sekitar duapuluh tahun, tubuhnya semampai dengan pinggang yang ramping sekali.
Rambutnya agak keriting, digelung ke atas dan diikat sutera merah.
Pakaiannya dari sutera halus menunjukkan bahwa ia seorang gadis yang kaya.
Sepasang matanya bersinar-sinar.
Biarpun ia cantik menarik, akan tetapi sinar matanya itu, ditambah sebatang pedang yang berada di punggung, membuat orang tidak berani sembarangan mengganggunya.
Biarpun peris tiwa pemberontakan Pangeran Li Seng Cun te lah lewat beberapa bulan lamanya, namun akibatnya masih nampak, terutama di pintu gerbang kota raja.
Kini, pintu gerbang itu dijaga ketat ole h belasan orang perajurit, dan setiap orang yang keluar masuk diamati dengan seksama.
Terutama sekali mereka yang nampak asing dan bukan penghuni kota raja, diamati dan kalau perlu dihentikan dan diperiksa dengan teliti.
"Berhenti!"
Empat orang penjaga telah berdiri menghadang di depan kuda gadis itu, memalangkan tombaknya sehingga kuda itu te rkejut dan meringkik, mengangkat kedua kaki depan ke atas.
Orang-orang yang berlalu lalang memandang khawatir, takut kalau-kalau gadis cantik itu akan terjatuh dari atas punggung kudanya.
Akan te tapi gadis itu masih berdiri tegak dan menarik kendali untuk menenangkan kudanya, dan ia memandang tajam kepada empat orang penjaga itu.
"Kalian mau apa menghadang perjalananku?"
Tanya gadis itu, suaranya merdu akan tetapi tajam dan marah.
"Nona, turunlah. Kami ditugaskan untuk memeriksa setiap orang asing yang masuk ke sini dan mencurigakan, dan kami curi ga te rhadap nona. Turunlah agar kami tidak perlu menggunakan kekerasan!"
Kata seorang berpakaian perwira yang baru keluar dari dalam gardu penjagaan.
Orang ini bertubuh pendek bulat, perutnya gendut dan usianya sekitar tigapuluh tahun, di pinggangnya tergantung golok besar.
Karena maklum bahwa ia berada di kota raja maka gadis itu yang bukan lain adalah Cian Kui Eng, melompat turun dari atas punggung kudanya lalu menuntun kudanya mengikuti perwira itu menuju ke gardu penjagaan.
Atas perintah perwira itu dengan tenang dan sabar Kui Eng mengikatkan kendali kuda di depan gardu penjagaan, kemudian sambil menggendong buntalan pakaiannya, ia mengikuti perwira gendut itu memasuki gardu.
Ia dipersilakan duduk di bangku, menghadapi meja dan di seberang meja itu duduklah si perwira yang memandang kepadanya dengan mata yang liar, seperti hendak melahap tubuhnya.
Kui Eng melihat beberapa orang perajurit di luar gardu menjenguk masuk dan mereka itu menyeringai dan cekikikan kurang ajar.
Kui Eng menyabarkan hatinya.
Ia meninggalkan rumah karena merasa tidak betah tinggal di rumah, karena seminggu setelah Thian Ki pergi, ayah dan ibunya juga pergi ke Himalaya untuk mencari Swe-hiat-ang-cio (Rumput Merah Pencuci Darah) untuk mengobati Thian Ki.
Di rumah sendiri ia tidak tahan dan iapun pergi menyusul Thian Ki ke kota raja.
Akan tetapi, karena baru sekarang ia mendapat kesempatan untuk merantau seorang diri, perjalanan itu dilakukan Kui Eng secara lambat dan ia berhenti di setiap te mpat yang dianggap menyenangkan.
Pernah ia melakukan perjalanan ketika mengikuti orang tuanya dan Thian Ki pergi berkunjung ke kuil te mpat tinggal Lo-Nikouw.
Akan te tapi perjalanan bersama keluarga itu tidak begitu menggembirakan seperti kalau melakukan perjalanan seorang diri, di mana ia dapat menentukan apa saja yang akan dilakukannya, merasa bebas.
Perjalanan sampai ke kota raja itu makan waktu berbulan-bulan karena Kui Eng suka singgah di mana-mana, bahkan ketika tiba di sebuah telaga besar yang indah, ia tinggal di situ hampir sebulan lamanya.
Banyak pengalaman dijumpainya, banyak pula gangguan, akan te tapi dengan mudah ia dapat mengatasi semua gangguan itu mengandalkan ilmu silatnya yang kini telah mencapai tingkat tinggi sekali.
Kalau hanya tokoh-tokoh kang-ouw biasa saja, jangan harap akan mampu menandingi pute ri bekas Pangeran Cian Bu Ong ini!
Ditambah pula dia lincah, tabah dan cerdik.
Karena banyak mendapat gangguan dari para pria di dalam perjalanan, maka sikap para penjaga di pintu gerbang kota raja itu tidak membuat ia serasa heran atau terlalu marah.
Ia tahu bahwa sebagian besar pria memang kurang ajar dan kalau melihat wanita cantik lalu timbul kegenitan mereka!
"Nah, aku sudah berada di sini.
Apa yang hendak kauperiksa?"
Tanya Kui Eng, agak je ngkel juga melihat perwira itu hanya menggerayangi tubuhnya dengan pandang matanya yang berminyak itu.
"Oh, heh-heh......"
Perwira gendut itu tersenyum menyeringai memperlihatkan deretan gigi yang malang melintang dan kacau berwarna hitam kekuningan.
"Nona, kami harus memeriksa buntalan pakaianmu itu. Kami tidak ingin ada pemberontak yang menyelundup ke dalam kota raja. Semua pemberontak harus dibasmi!"
Kata-kata te rakhir ini dikeluarkan dengan penuh semangat. Kui Eng te rsenyum mengejek.
"Periksalah, aku bukan pemberontak, aku seorang pelancong yang ingin melihat kota raja."
"Sebelum aku memeriksa buntalanmu, lebih dulu aku harus mencatat siapa nama nona dan tinggal di mana, datang dari mana dan hendak kemana."
"Namaku Cian Kui Eng,"
Kata gadis itu singkat.
"Berapa usia nona tahun ini?"
"Apa perlunya menanyakan usia segala!"
Bentak Kui Eng.
"Ah, harus itu!"
Kata si perwira gendut.
"Untuk melengkapi pendaftaran mereka yang dicurigai! Kami hanya melaksanakan perintah atas an."
Kui Eng menghela napas, menyabarkan dan menenangkan hatinya.
"Duapuluh tahun,"
Jawabnya singkat dan perwira itu menuliskan nama Kui Eng dan usianya di dalam buku pendaftaran.
Caranya menulis kanpun bergaya, penuh aksi seolah dia seorang sastrawan sedang menuliskan sajak indah!
"Tempat tinggal?"
"Di dusun Ke-cung, kaki bukit Kim-san lembah Huang-ho."
Kembali perwira itu menuliskan alamat. Kemudian dia mengangkat mukanya dan menyeringai lagi.
"Sudah bersuami?"
Wajah Kui Eng menjadi merah padam.
"Huh, apa-apaan ini bertanya sudah bersuami atau belum? Tidak ada hubungannya sama sekali dengan pemeriksaan!"
"Aih-aih, jangan marah dulu, nona. Kami tidak ingin ada pembunuh yang menyelundup ke kota raja seperti wanita yang berniat membunuh Sribaginda itu. Untung ketahuan dan ia sudah te rbunuh. Kami harus teliti memeriksa setiap orang yang mencurigakan, laki-laki maupun wanita. Nah, sekarang jawab sejujurnya, apakah engkau sudah bersuami dan kalau sudah, siapa nama suamimu dan sekarang dia berada di mana? Kenapa nona melakukan perjalanan seorang diri?"
"Aku belum bersuami!"
Jawab Kui Eng, kini agak ketus.
"Hemm, sungguh aneh. Seorang gadis duapuluh tahun, cantik jelita seperti nona, berharta pula melihat pakaian dan kuda nona, masih belum bersuami? Sungguh sayang......"
"Cukup! Aku tidak ingin mendengar pendapatmu!"
Bentak Kui Eng.
"Cepat selesaikan pemeriksaan ini, aku sudah tidak sabar lagi!"
"Heh-heh, baik-baik nona. Sekarang aku he ndak memeriksa buntalanmu ini."
Dia meraih buntalan di atas meja yang tadi diletakkan oleh Kui Eng dan membuka buntalan itu. Dia mengaduk-aduk pakaian Kui Eng dan beberapa kali berkata lirih.
"Hemm, harum.... harum wangi........"
Sehingga wajah gadis itu menjadi kemerahan.
Kemudian, dia menemukan peti hitam kecil dan membukanya.
Matanya te rbelalak ketika dia melihat perhiasan emas permata yang serba berkilauan dan amat berharga, yang menjadi bekal perjalanan Kui Eng.
"Wah, nona membawa harta begini banyak! Dari mana nona mendapatkan harta ini?"
Tanyanya liril dan matanya dipicingkan.
"Apa perdulimu? Ini adalah perhiasan milikku sendiri. Tidak bolehkah orang memiliki perhiasan dan membawa ke manapun ia kehendaki?"
"Tentu saja, kalau sudah jelas miliknya. Akan tetapi nona kami curigai, karena itu, kami tahan dulu dan sekarang, kami harus memeriksa pakaian di tubuh nona, siapa tahu nona masih menyembunyikan sesuatu di balik baju nona!"
Berkata demikian, perwira gendut itu bangkit, memutari meja dan kedua tangannya dijulurkan ke depan, siap untuk menggerayangi tubuh Kui Eng dengan alasan hendak menggele dahnya.
"Plakk-plakk!"
Kui Eng menggerakkan tangan menangkis dan perwira itu mengeluh dan te rhuyung ke belakang, mengaduh kesakitan karena kedua le ngannya yang ditangkis oleh tangan yang mungil itu seolah-olah akan patah-patah tulangnya.
Tentu saja dia menjadi marah.
"Ah, ternyata engkau memang benar pemberontak!"
Berkata demikian, perwira itu kini menerjang dan menubruk dengan kedua le ngan te rbuka seperti seekor beruang hendak menerkam mangsanya.
Kui Eng juga sudah marah.
Perhiasan dan kudanya hendak dirampas, dan tubuhnya hendak digerayangi.
Ia lupa diri, lupa bahwa ia berada di gardu penjagaan pintu gerbang kota raja, lupa bahwa kalau ia mengamuk, mungkin ia akan ditangkap sebagai pemberontak.
Kemarahan membuat ia lupa segala dan melihat perwira gendut itu menerkamnya secara kurang ajar, iapun menggerakkan kedua tangannya, dengan jari tangan terbuka, kedua tangan itu bergerak cepat sekali.
"Krek-krek-prakkk!"
Perwira itu te rjengkang dan mengaduh-aduh dengan suara lucu karena mulutnya berdarah, giginya rontok semua dan kedua tulang lengannya patah.
"Auh.....ahhh......pemberontak......ah.......aduuhh ........tangkap.............!!"
Teriaknya, mengaduh-aduh dan bangkit berdiri mengejar Kui Eng yang melangkah keluar, lengannya di ayun-ayun akan tetapi tak dapat diangkat karena nyeri, dan mulutnya berdarah.
Melihat keadaan perwira itu, para penjaga cepat mengepung Kui Eng yang sudah memanggul buntalan pakaiannya di pundak.
Mereka maklum bahwa gadis itu telah menghajar perwira mereka, maka tanpa dikomando lagi, belasan orang perajurit penjaga sudah mengepung dan berlomba untuk menangkap gadis cantik itu.
De ngan tangan kiri memanggul buntalan, tangan kanan memegang cambuk kuda.
Kui Eng menghadapi pengepungan belasan orang perajurit penjaga itu dengan sikap tenang, akan tetapi sepasang matanya yang indah jeli itu mencorong marah.
Tubuhn ya tidak bergerak sedikitpun, kepalanya tidak menoleh ke kanan atau kiri, hanya matanya saja yang bergerak, mengerling ke kanan kiri seperti mata seorang penari yang lincah.
Begitu para pengepungnya, belasan orang itu, mulai bergerak, te rdengar suara cambuknya meledak-le dak.
Akan tetapi cambuk kuda itu kini bukan untuk melecuti kuda, melainkan melayang dan menyambar-nyambar ke arah kepala belasan orang itu.
Segera terdengar suara para pengeroyok itu mengaduh-aduh dan banyak di antara mereka yang mukanya berdarah dan babak celur disayat ujung cambuk.
Tentu saja belasan orang penjaga itu menjadi te rkejut dan marah sekali.
Terutama pemimpin regu itu, dengan suara pelo karena giginya rontok semua dia berteriak-te riak.
"Bunuh pemberontak itu! Bunuh iblis betina itu!"
Dan semua penjaga sudah mencabut s enjata masing-masing. Ada yang memegang golok, pedang atau tombak.
"Tar-tar-tarrr.......!!"
Cambuk itu mele dak-ledak dan banyak senjata tajam dan runcing beterbangan te rlepas dari tangan yang menggenggamnya.
Melihat para pengeroyok yang belum roboh mundur dan memandang je rih.
Kui Eng bertolak pinggang.
"Hemm, kalian ini perajurit pemerintah, ataukah perampok-perampok?"
Pada saat itu terdengar derap kaki kuda dan seorang penunggang kuda datang menguak para penonton yang sudah semakin banyak berdiri di dekat pintu gerbang.
Dengan sigapnya, penunggang kuda itu melompat turun dari atas punggung kuda dan menerobos masuk kepungan belasan orang perajurit yang sudah mulai kecil nyalinya menghadapi Kui Eng itu.
"Heii, apa yang te lah terjadi di sini!"
Bentak menunggang kuda itu. Melihat penunggang kuda yang baru tiba, komandan regu yang giginya rontok itu menjadi te rkejut dan semua anak buahnya nampak ketakutan.
"Maaf..........pangeran.....ini.....eh, gadis ini seorang pemberontak!"
Kata komandan regu dengan suara pelo.
Penunggang kuda itu menengok ke arah Kui Eng pada saat gadis itupun menengok dan memandang kepadanya.
Dua pasang mata berte mu dan memandang penuh perhatian.
Kui Eng melihat bahwa penunggang kuda yang disebut pangeran itu adalah seorang pria muda, berusia kurang le bih duapuluhlima tahun, akan tetapi wajahnya bersih, cerah dan penuh senyum, te rutama sepasang matanya yang bersinar-sinar penuh semangat hidup.
Wajah itu tampan dan menyenangkan karena nampak tidak angkuh seperti kebanyakan para bangsawan, dan biarpun pakaian pangeran itu seperti pakaian seorang te rpelajar, longgar dan rapi, namun sebatang pedang yang berada di punggungnya menunjukkan bahwa pangeran ini juga suka akan ilmu silat.
Mendengar ucapan komandan regu itu, sang pangeran yang bertubuh tinggi te gap itu mengerutkan alisnya dan diapun bertanya kepada Kui Eng.
"Nona benarkah apa yang dikatakan komandan regu tadi bahwa engkau seorang pemberontak?"
Kui Eng meruncingkan mulutnya berjebi, gerakan yang biasa ia lakukan tanpa disadari kalau ia marah, dan gerakan mulut ini membuat ia nampak manis menggemaskan.
"Engkau seorang pengeran? Sudah sepatutnya kalau engkau malu mempunyai seregu perajurit seperti mereka itu. Aku seorang pemberontak? Aku datang memasuki kota raja sebagai seorang pelancong dan apa yang mereka lakukan? Si kerbau gendut itu hendak merampas perhiasanku, juga merampas kudaku. Bukan itu saja dengan dalih melakukan penggele dahan, dia hendak menggerayangi tubuhku! Dia tidak kubunuhpun masih te rlalu ringan baginya!"
Wajah tampan itu berubah merah sekali dan Kui Eng sudah siap untuk menyambut kemarahan pangeran itu kepadanya.
Akan tetapi ternyata kemarahan itu tidak ditujukan kepadanya.
Mata yang tadinya membayangkan keramahan dan senyuman itu tiba-tiba kini mencorong penuh wibawa ketika dia menoleh dan menghadapi seregu penjaga yang menjadi ketakutan.
"Katakan, benarkah apa yang dituduhkan nona ini? Jawab yang betul!"
Bentaknya kepada komandan regu. Orang gendut itu menjadi pucat dan matanya te rbelalak, dia menggoyang tangan kanan yang patah tulangnya itu, lalu menggeleng kepala.
"Tldak.....tidak, pangeran.....!"
"Hemm, kalau tidak, lalu mengapa nona ini menghajar kalian? Katakan, apa sebabnya?"
Bentak pula pangeran itu, mendesak.
"Hamba......hamba tidak tahu.....ia pemberontak ........ tahu-tahu ia mengamuk...."
Jawaban ini tentu saja ngawur saking takutnya.
"Hemm, aku belum gila, kalau tanpa hujan tanpa angin datang-datang aku menghajar kalian!"
Kata Kui Eng.
"Hayo jawab yang benar, jangan bohong!"
Bentak pangeran itu.
"Nona ini benar, tanpa sebab tidak mungkin ia menghajar kalian! Aku akan suruh siksa dulu kalian semua?"
Komandan regu itu dan anak buahnya segera menjatuhkan diri berlutut. Mereka nampak ketakutan sekali karena pangeran ini terkenal dengan kekerasannya kalau menghadapi anak buah yang bersalah.
"Ampun, pangeran ..... kami ...... kami mencurigainya dan hendak menahan untuk sementara barang-barangnya, dan hendak menggeledahnya, akan te tapi tiba-tiba ia mengamuk ....."
Kui Eng mengeluarkan kotak kecilnya dan membuka di depan pangeran itu. Nampak perhiasannya berkilauan.
"Nah, inilah yang akan mereka sita, juga kudaku di sana itu, kemudian si gendut babi ini mencoba untuk menggerayangi tubuhku. Salahkah aku kalau menghajarnya? Dia lalu mengerahkan anak buahn ya untuk mengeroyokku."
"Keparat!"
Pangeran itu membentak dan tubuh belasan orang itu menggigil ketakutan. Ketika ada seorang perwira lewat dan memberi hormat kepada pangeran itu, sang pangeran berkata.
"Cepat panggil seregu penjaga pengganti dan jebloskan mereka ini ke dalam tahanan. Laporkan kepada panglima agar dia menemuiku. Orang-orang jahat ini harus dihukum berat untuk menjadi contoh para perajurit lainnya!"
Belas an orang yang berlutut itu minta-minta ampun, akan te tapi pangeran itu tidak menghiraukan mereka lagi. Dia membungkuk kepada Kui Eng.
"Nona, maafkanlah kami. Memang kami kurang te rtib, sehingga ada anak buah yang menyeleweng seperti mereka. Akan tetapi, kami pasti akan menghukum mereka. Nah, sekarang nona boleh melanjutkan perjalanan tanpa gangguan."
Kui Eng diam-diam merasa kagum bukan main.
Ayahnya juga seorang bekas pangeran, dan ayahnya juga berwatak keras.
Akan te tapi, ayahnya tidak selembut pangeran ini.
Ayahnya masih memandang rendah orang-orang bawahan, akan tetapi pangeran ini sikapnya demikian sopan dan le mbut, walaupun wibawanya je las nampak ketika dia memarahi seregu penjaga itu.
Iapun memberi hormat dengan mengangkat kedua tangan depan dada.
"Pangeran, terima kasih atas kebaikanmu, dan maafkan sikapku yang kasar tadi."
Pangeran itu mengangguk, dan mengikuti Kui Eng dengan pandang matanya ketika gadis itu menuntun kudanya yang bagus, memasuki pintu gerbang.
Kui Eng tidak tahu betapa pangeran itu mengikutinya dengan pandang mata penuh kekaguman.
Pangeran itu memang te rkenal sebagai seorang pangeran yang le mbut hati dan ramah, tidak congkak, namun dia dapat bersikap keras terhadap anak buah atau para prajurit yang melakukan penyelewengan.
Baca Juga: Pendekar Sadis 1
Baca Juga: Pendekar Sakti 5