Ceritasilat Novel Online

Naga Beracun 12

Eps 12 Naga Beracun - Kho Ping Hoo

Baca online Naga Beracun - Kho Ping Hoo

Cersil Naga Beracun - Kho Ping Hoo.

Diapun terkenal sebagai seorang pangeran yang memiliki ilmu silat tinggi, namun dia menolak ketika pamannya, yaitu Kaisar Tang Tai Cung, memberi kedudukan kepadanya.

Pangeran ini bernama Pangeran Li Cu Kiat.

-ooo0dw0ooo-

Jilid 31 Dia tidak ingin memegang jabatan atau kedudukan karena dia melihat betapa kedudukan diperebutkan mati-matian oleh keluarga kaisar.

Dia sendiri adalah keponakan kaisar, pute ra mendiang Pangeran Li Seng Tek, kakak dari Kaisar Tang Tai Cung (Li Si Bin), dan sampai meninggalnyapun mendiang ayahnya tidak pernah ikut dalam perebutan kekuasaan Justeru karena tidak ingin terlibat dalam perebutan, maka dia dimusuhi oleh mereka yang berusaha merebut kedudukan kaisar dan Pangeran Li Seng Tek te was keracunan tanpa ada yang mengetahui siapa yang meracuninya.

Peristiwa ini membuat Li Cu Kiat semakin tidak senang dengan dudukan dan dia le bih suka menjadi seorang yang bebas dari tugas yang mengikat, namun dia selalu bertindak kalau ada pejabat atau perajurit yang melakukan penyelewengan.

Karena dia tidak congkak, lihai dan tidak memperebutkan kedudukan, tidak haus balas jasa, maka semua pejabat di kota raja maupun di daerah, segan dan takut kepadanya.

Kaisar Tang Tai Cung yang mengenal baik watak ponakannya, amat suka kepadanya dan percaya akan segala laporannya, maka biarpun tidak nenduduki jabatan.

Pangeran Li Cu Kiat mempunyai kekuasaan besar, ditakuti oleh para petugas.

Itulah sebabnya maka dia berani memanggil panglima untuk dite gur mengenai perbuatan regu penjaga tadi, Kui Eng berjalan menuntun kudanya.

Karena jalan raya di kota raja itu mulai ramai dengan orang berlalu-lalang, maka ia tidak menunggangi kudanya, melainkan dituntun dan ia berjalan-jalan mengagumi keadaan kota raja yang ramai dan di kiri jalan raya terdapat banyak toko.

rumah makan, dan ada pula beberapa buah rumah penginapan yang cukup besar.

Karena ia tidak ingin tinggal di ruman penginapan yang te rlalu ramai, Kui Eng lalu menuntun kudanya ke sudut kota dan berhenti didepan sebuah rumah penginapan yang berdiri agak menyendiri di sudut kota.

Rumah penginapan itu nampak tidak te rlalu bising, dan memiliki pekarangan yang besar.

Bahkan di sebelah kirinya te rdapat sebuah rumah makan yang agaknya menjadi satu dengan rumah penginapan itu.

Ketika la menuntun kudanya memasuki pekarangan, seorang pelayan te rgopoh menyambutnya.

"Selamat pagi, nona. Apakah nona mencari kamar yang bersih dan baik?"

Kui Eng mengangguk.

"Sediakan sebuah kamar yang bersih, beri makan dan minum kuda ini dan rawat baik-baik, kemudian suruh pelayan menyediakan air hangat untuk mandi."

"Baik, nona."

Pelayan Itu menerima kendali kuda dari Kui Eng, berte riak memanggil te mannya dan mempersilakan Kui Eng mengikuti pelayan yang datang berlarian untuk diantar ke kamarnya dan dilayani semua kebutuhannya.

Setelah mandi dan berganti pakaian, merasa segar tubuhnya, Kui Eng lalu meninggalkan kamarnya.

Ia menaruh buntalan pakaiannya di kamar, akan tetapi membawa kotak perhiasannya karena ia tidak ingin kehilangan bekal itu, juga membawa pedangnya dan iapun pergi ke rumah makan di s ebelah.

Kui Eng tidak tahu betapa seorang laki-laki berusia kurang le bih empatpuluh tahun mengamatinya dari luar rumah penginapan ketika ia keluar dari pekarangan rumah penginapan itu dan memasuki rumah makan.

Laki-laki yang tubuhnya pendek te gap itu kini juga memasuki rumah makan dan duduk di sudut, dari mana dia dapat memandang ke arah Kui Eng dari belakang.

Gadis itu tanpa menduga sesuatu, duduk menghadapi meja dan memesan makanan dan air te h.

Kemudian ia makan minum dengan santai dan te nang, tidak tahu betapa laki-laki tadi minum arak dan selalu memperhatikannya walaupun dengan sikap yang tidak menyolok Sehabis makan, Kui Ing meninggalkan rumah makan dan pergi berjalan-jalan.

Ia tidak tahu ke mana harus mencari Thian Ki.

Ia hanya tahu bahwa Thian Ki disuruh ayahnya untuk mencari dan merampas kembali pedang Liong-cu kiam, akan te tapi di samping tugas ini, juga Thian Ki pergi mengunjungi Huang-ho Sin-liong Si Han Beng di dusun Tang-cun untu k minta pertolongan pendekar itu mengusir hawa beracun dari tubuhnya.

Ia tidak tahu apakah sekarang Thian Ki telah tiba di kota raja ataukah belum.

Karena ia sekarang te lah tiba di Kota raja, kenapa ia tidak membantu kakak tiri atau juga suhengnya itu untuk merampas kembali pedang Liong-cu-kiam milik ayahnya?

De ngan demikian , ia akan meringankan tugas Thian Ki Ia berjalan-jalan dan mengagumi kota raja.

Ada keharuan mendalam di lubuk hatinya.

Kota raja ini juga merupakan te mpat kelahirannya?

Dan ayahnya pernah menceritakan dan menggambarkan keadaan kota raja ini, bahkan memberi tahu di mana letak istana yang dahulu ditinggali ayahnya ketika menjadi pangeran.

Mengingat betapa ayahnya dahulu seorang pangeran di kota raja ini.

dan ketika ia masih kecil, iapun tinggal di sini, semacam keharuan menyelinap di hatinya.

Ia tidak dapat mengingat te mpat ini karena ketika te rjadi perang, ketika ayahnya membawa ia dan ibunya pergi mengungsi, usianya baru kurang dari dua tahun.

Akan te tapi, ayahnya pernah membuat gambaran te ntang kota raja dan kini ia pergi menuju istana yang dahulu pernah menjadi te mpat tinggal ayanya, pernah menjadi tempat ia te rlahir!

Jantungnya berdebar te gang ketika ia tiba di jalan raya depan rumah gedung itu.

Sebuah gedung yang besar dan megah.

Jantungnya te rasa te rasa seperti diremas ketika ia teringat kepada ayahnya.

Ayahn ya dahulu seorang pangeran dan tinggal di dalam is tana ini!

Dan sekarang Ayahnya tinggal di dusun sebagai seorang petani!

Ibunya, dan keluarga lain te rbunuh.

Kehidupan keluarga ayahnya hancur le bur.

Ingin sekali ia memasuki istana itu, melihat-lihat di sebelah dalamnya, melihat kamar ibunya di mana ia dahulu dilahirkan!

Akan tetapi, bagaimana mungkin?

Tempat itu kini tentu ditempati seorang pembesar lainnya dan di depan rumah itu te rdapat sebuah gardu penjagaan di mana terdapat lima orang perajurit penjaga.

T'entu tempat tinggal orang penting.

Memasukinya tidak mungkin, karena ia te ntu akan dihalangi oleh petugas jaga.

Akan tetapi malam nanti, ia dapat melaksanakan niatnya.

Ia dapat menggunakan kepandaiannya untuk menyelinap masuk, sebagi pencuri akan tetapi bukan untuk mencuri sesuatu.

Ia hanya ingin masuk ke istana itu, melihat-lihat di sebelah dalamnya, melihat bekas kamar ibunya.

Itu saja!.

Kui Eng berdiri di luar pekarangan is tana itu sampai lama, tidak tahu betapa laki-laki pendek te gap itu mengikutinya sejak dari rumah makan tadi.

Kini Kui Eng berjalan lagi dan menuju ke gedung is tana yang terkurung pagar te mbok yang tinggi dan te rjaga kuat.

Memasuki daerah te rlarang ini merupakan pekerjaan yang lebih sulit lagi.

Kalau Thian Ki akan mengambil Liong-cu kiam dari gedung pusaka, dia harus dapat melewati pagar te mbok dan para penjaga dan setelah tiba di lingkungan istana, baru dapat mencari gedung pusaka yang te ntu te rjaga ketat pula.

Kui Eng menghela napas.

Betapa sukarnya dan betapa bahayanya melaksanakan tugas merampas Liong-cu-kiam itu.

Bagaimanapun juga, ia ingin membantu Thian Ki, melaksanakan perintah ayahnya.

Ia tidak akan bertindak te rgesa-gesa dan tanpa perhitungan.

Ia akan menyelidiki dulu keadaan para penjaga, bagaimana pula sistim penjagaan itu agar setelah mengenal keadaan ia akan dapat memasuki lingkungan is tana dan mencari pedang pusaka milik ayahnya di gedung pusaka.

Setelah puas berjalan-jalan mengelilingi kota raja menjelang sore Kui Eng kembali ke rumah penginapan untuk beristirahat.

Ia tidak tahu bahwa laki-laki pendek tegap tadipun te rnyata menyewa sebuah kamar te pat di sebelah kamarnya!

Malam itu bulan purnama muncul dengan indahnya.

Langit bersih sehingga bulan dapat menerangi seluruh permukaan bumi, mendatangkan suasana yang amat indah dan sejuk.

Kui Eng keluar dari kamarnya dan setelah makan malam, ia kembali berjalan-jalan menikmati keindahan malam di kota raja.

Tidak lupa ia kembali melewati bekas istana ayahnya, kemudian juga melewati pintu gerbang komple ks istana.

Karena malam itu indah, maka sebagian besar penduduk kota raja berada di luar rumah, tidak ingin melewatkan keindahan malam bulan purnama sia-sia belaka De ngan hati gembira Kui Eng akhirnya kembali ke rumah penginapan dan memasuki kamarnya.

I a merasa lelah juga setelah sehari semalam berjalan-jalan, dan segera merebahkan diri di atas pembaringan.

Sesosok bayangan yang berkelebat di luar je ndelanya, walaupun hanya sekejap mata, cukup membuat Kui Eng merasa curiga.

Ia te ringat akan pengalamannya di pintu gerbang kota raja pagi tadi, maka begitu melihat bayangan berkelebat di luar je ndela kamarnya, iapun menjadi waspada.

De ngan hati-hati dipakainya kembali sepatunya, dibereskannya rambut dan pakaiannya Kalau bayangan tadi hanya seorang yang berjalan di luar pintu kamarnya, te ntu ia tidak akan curiga karena te mpat itu merupakan rumah penginapan umum di mana banyak tamu bermalam dan te ntu ada saja orang yang le wat di depan kamarnya.

Akan te tapi, gerak bayangan itu demikian cepat dan hal ini saja menunjukkan bahwa yang tadi le wat di luar jendelanya bukan orang berjalan, melainkan orang yang bergerak cepat dan tidak te rdengarnya langkah kakinya membuktikan bahwa bayangan itu adalah seorang yang berkepandaian tinggi.

Setelah mengambil pedangnya dari atas meja, tidak lupa mengikatkan kotak perhiasan di pinggangnya, Kui Eng meniup padam lilin di atas meja, lalu duduk di pembaringan, Ia mengerahkan te naga sin-kangnya, mencurahkan perhatian pada pendengarannya dan tahulah ia bahwa di luar je ndelanya terdapat seseorang.

Hai ini ia ketahui dari pernapasan orang itu yang dapat ia tangkap melalui pendengarannya.

Beberapa kali Kui Eng menguap dan sengaja mengeluarkan suara agar te rdengar dari luar, kemudian perlahan-lahan ia mengeluarkan suara pernapasan berat seperti orang yang mulai te rti dur.

Sete ngah jam kemudian, ia bahkan mengeluarkan dengkur halus.

Pancingannya berhasil.

Terdengar suara jendela berkeretek dan daun jendela ttupcn te rbuka dari luar.

Sesosok bayangan meloncat bagaikan seekor kucing ke dalam kamarnya.

Semua ini dapat dilihatnya karena dari luar kamarnya te rdapat sinar lampu gantung yang membentuk bayangan orang itu.

Orang itu menghampiri pembaringannya dengan golok di tangan dan dia mengayun golok membacok ke arah dirinya yang tidur telentang!

Trangggg .................!!"

Bayangan itu te rkejut bukan main ketika goloknya ditangkis oleh gadis yang disangkanya sudah pulas itu.

Dia meloncat k-belakang, lalu meloncat keluar kamar melalui jendela yang te rbuka.

Kui Cng tentu saja tidak mau melepaskannya, tanpa mengeluarkan suara gaduh agar tidak menarik perhatian orang dalam rumah penginapan, iapun melompat dan melakukan pengejaran.

Orang itu sudah melompat ke dalam taman di samping rumah penginapan, dan Kui Eng mengejarnya.

Kalau saja malam Itu tidak te rang bulan, akan sukarlah bagi Kui Eng untuk mengejar orang itu.

Akan te tapi karena bulan terang, gadis perkasa ini dengan mudah dapat melihat bayangan orang dan iapun mengejar dengan cepat sekali.

Orang itu agaknya hafal benar dengan keadaan kota raja, lari memasuki lorong-lorong sempit.

Malam sudah larut dan suasana sudah sepi.

Kui Eng te rus membayangi orang itu yang melarikan diri ke ujung kota raja, di mana te rdapat sebuah bukit kecil dan setelah menyeberangi sebuah je mbatan, bayangan itu lari mendaki bukit kecil.

"Keparat, pengecut, hendak lari ke mana kau?"

Kui Eng mengerahkan te naganya dan sebentar saja telah dapat menyusulnya.

Mereka kini berhadapan karena yang dikejarnya berhenti dan dengan golok besar di tangan menghadapi Kui Eng.

Di bawah sinar bulan purnama, Kui Eng dapat melihat bahwa orang pendek tegap itu berusia kurang lebih empatpuluh tahun, wajahnya bengis dan tubuhnya kokoh.

"Siapa engkau dan apa maksudmu memasuki kamarku dan hendak membunuhku?"

Bentak Kui Eng marah karena tadi je las bahwa orang ini hendak membunuhnya. Laki-laki pendek itu tersenyum.

"Engkau seorang pemberontak atau mata-mata musuh yang berbahaya, karena itu aku harus membunuhmu!"

Katanya tanpa memberi penjelasan lagi dia sudah menyerang dengan goloknya.

Gerakannya cepat dan kuat dan golok besar yang berat iti menyambardengan desir angin dan mengeluarkan suara berdesing.

Namun, dengan mudah Kui Eng mengelak, lalu membalas dengan tusukan pedangnya.

Orang itu mengeluarkan seruan kaget karena dalam segebrakan saja, pedang gadis itu hampir saja memasuki lambungnya!

Dia tadi dengan kaget melempar tubuh kebelakang dan setelah dia meloncat bangun lagi, dia menjadi agak pucat karena maklum bahwa yang dihadapinya adalah seorang gadis yang benar-benar amat lihai!

Tidak aneh kalau adi knya, komandan regu penjaga pintu gerbang berikut belasan orang anak buahnya dihajar oleh gadis ini!

Tadi, mendengar peristiwa di pintu gerbang yang mengakibatkan adiknya bukan saja dihajar seorang gadis akan te tapi juga atas perintah Pangeran Li Cu Kiat adiknya berikut regunya dijatuhi hukuman dia menjadi marah sekali.

Marah terhadap gadis itu yang dianggap telah mencelakai adiknya.

Maka diapun mencari gadis itu untuk membalas dendam, membunuhnya dan merampas harta yang dibawanya.

Akan tetapi, siapa kira, dia berte mu batunya.

"Haiiittt.......!!"

Dengan nekat diapun menggerakkan golok besarnya, menyerang kalang kabut.

Namun, tingkat kepandaiannya masih jauh le bih rendah kalau dibandingkan tingkat kepandaian Kui Eng.

Gadis ini telah menguasai ilmu-ilmu ayahnya dan telah menjadi seorang gadis yang amat lihai.

Dalam waktu belasan jurus saja, si pendek telah te rluka pangkal le ngan kirinya dan juga paha kanannya.

Kui Fng memang sengaja tidak hendak membunuhnya karena ia ingin sekali mengetahui siapa orang ini dan mengapa pula memusuhinya, padahal ia tidak mengenal orang itu sama sekali.

Ia hanya ingin merobohkannya dan memaksanya mengaku.

Akan te tapi, orang pendek itu tiba-tiba saja membalikkan tubuhnya dan melanjutkan larinya sambil terpincang-pincang, menuju ke atas bukit.

Kui Eng mengejar dan membayanginya.

Kalau menghendaki, te ntu dengan mudah ia dapat menyusul dan merobohkannya.

Akan te tapi ia hanya membayangi karena ia merasa yakin bahwa orang ini mungkin hanya nenjadi pesuruh saja, ada orang lain yang menyuruhnya untuk membunuhnya dan agaknya ia berada di puncak bukit ke mana orang itu hendak melarikan diri.

Hatinya merasa tegang ketika melihat sebuah pondok di puncak bukit itu.

Pondok sunyi akan tetapi terawat, menunjukkan bahwa memang benar disitu terdapat penghuninya dan orang yang dikejarnya berlari memasuki pekarangan rumah itul "Suhu, toloooooooongggg......!."

Si pendek itu berseru ketika tiba di pekarangan rumah.

Mendengar ini, Kui Eng cepat meloncat dan tiba di depan orang itu, maklum bahwa pondok itu adalah te mpat tinggal guru penyerangnya.

Ketika Kui Eng hendak menggerakkan pedang menyerang.

dari belakangnya te rasa olehnya angin menyambar.

Ia te rkejut dan menarik kembali pedangnya lalu melompat ke samoing untuk menghindarkan diri.

Ternyata di sana telah berdiri seorang laki-laki berpakaian tosu, berusia kurang le bih enamuluh tahun, bertubuh tinggi kekar mukanya merah, memiliki kumis dan jenggot putih yang tipis dan di dada jubahnya te rdapat lukisan pat-kwa (segi delapan) dengan tanda im-yang dite ngahnya.

Tosu itu menarik kembali ujung le ngan bajunya yang lebar yang tadi dia pergunakan untuk menyerang Kui Eng.

"Nona, perlahan dulu, jangan sembarangan membunuh orang!"

Kata tosu itu, suaranya lembut dan sikapnya berwibawa, wajahnya dingin namun senyumnya menyelimuti kedinginan wajahnya sehingga nampak ramah. Kui Eng mencibir.

"Hemm, musang berkedok domba!"

Ejeknya.

"Engkau menasihati orang agar jangan sembarangan membunuh, akan te tapi engkau menyuruh muridmu berusaha untuk membunuhku secara pengecut!"

"Siancai.......!!"

Tosu itu berseru dan melipat kedua le ngan di depan dada.

"Apa maksudmu nona? Pinto (saya) tidak menyuruh siapapun membunuh orang. Pinto adalah Im Yang Sengcu, sahabatnya Kaisar. Sribaginda Kaisar saja percaya kepada pinto, bagaimana mungkin pinto menyuruh membunuh orang?"

Kembali Kui Eng tersenyum mengejek.

"Totiang, tidak perlu lagi berpura-pura. De ngar baik-baik. Tadi, aku tidur di dalam kamarku di rumah penginapan dan muridmu ini mencokel jendela, melompat masuk dan menyerangku dengan goloknya. Apa lagi artinya itu kalau bukan hendak membunuhku. Masihkah engkau sebagai gurunya masih berpu-pura lagi? Tentu engkau yang menyuruhnya, dan aku yang ingin tahu mengapa kalian hendak membunuhku yang tidak kalian kenal sama sekali?"

Tosu itu memang Im Yang Seng-cu, tosu yang menjadi sahabat Kais ar Tang Tai Cung.

Kaisar pula yang memberi ijin kepadanya untuk menguasai bukit di sudut kota itu dan di situ didirikan pondok untuk dia melakukan samadhi.

Orang pendek itu adalah seorang di antara murid-muridnya atau pengikutnya, juga kaki tangannya, yang bernama Phoa Gu.

Phoa Gu ini kebetulan sekali kakak dari komandan regu yang pagi tadi dihajar oleh Kui Eng.

Dia Ingin membalas dendam dan hal ini adalah kehendaknya sendiri dan di luar tahunya Yang Seng-cu, oleh karena itu mendengar tuduhan Kui Eng.

dia mengerutkan alis nya dan kini dia memandang kepada murid atau anak buahnya itu.

"Phoa Gu, apa artinya ini? Benarkah engkau hendak membunuh nona ini?"

Kini Im Yang Seng-cu baru melihat hetapa muridnya itu telah mengalami luka-luka berdarah pada pundak atau pangkal lengan dan pahanya.

"Suhu, memang benar teecu (murid) ingin membunuhnya akan te tapi iblis betina ini ternjata lihai sekali."

"Phoa Gu. kenapa engkau hendak membunuhnya?"

Suara lm Yang Seng-cu terdengar marah.

"Suhu. ia seorang iblis betina yang kejam. Bukan saja ia telah menyiksa adik teecu yang bernama Phoa Ci. akan tetapi la pula yang melapor kepada Pangeran Li Cu Kiat sehingga adik teecu bersama semua regunya mendapat hukuman berat. Teecu hendak membalas dendam kepadanya dan harap suhu membela teecu."

"Aih-aih, sekarang aku mengerti!"

Kui Eng berseru dan wataknya yang keras dan berani membuat ia tidak perduli bahwa orang itu berada bersama gurunya.

"Kiranya engkau adalah kakak dari babi gendut kurang ajar itu? Memang aku telah menghajarnya dan aku pula yang menyebabkan dia dlhukum oleh atas annya. Aku masih bersikap murah karena adikmu itu sesungguhnya pantas kalau kubunuh!"

"Coba lihat dan dengar, suhu! Perempuan ini te rlalu kejam dan sombong. Kalau tidak dibunuh, ia akan menimbulkan kekacauan di kota raja. Bahkan ia telah berhasil merayu Pangeran Li Cu Kiat sehingga pangeran itu membelanya, membuat ia menjadi semakin sombong! Mungkin wanita ini yang oleh suhu disebut-sebut sebagai siluman yang kelak akan menguasai istana."

"Hei, jahanam busuk, tutup mulutmu yang menyebar fitnah busuk! Engkaulah yang patut dibasmi!"

Bentak Kui Eng dan kini ia sudah bergerak menyerang dengan tangan kosong kepada si pendek bernama Phoa Gu itu.

Phoa yang mendadak bangkit semangatnya karena di situ te rdapat suhunya, menyambut serangan Kui Eng dengan sambaran golok besarnya.

Akan te tapi sekali ini, Kui Eng tidak berniat untuk mengampuninya, la sudah tahu mengapa si pendek ini hendak membunuhnya tadi, maka melihat golok menyambar, ia miringkan tubuh dan sekali tangannya bergerak, te rdengar suara "krek"

Dan tulang le ngan kanan Phoa Gu patah oleh sabetan tangannya yang dimiringkan.

"Aduhhh..........J"

Golok itu terlepas dan Phoa Gu menyeringai kesakitan sambil memegan lengan kanan yang patah tulangnya dengan tangan kiri.

Kui Eng sudah mengambil keputusan untuk membunuh saja Phoa Gu yang curang dan palsu itu.

Ia melangkah maju dan tangannya menampar ke arah kepala orang itu.

"Dukkk!!"

Tangan Kui Eng berte mu dengan ujung le ngan baju yang mengandung te naga kuat sehingga Kui Eng te rkejut dan memandang kepada tosu yang menangkisnya dengan mata mencorong.

"Hemm. kiranya benar pepatah yang mengatakan bahwa guru kencing berdiri, murid kencing berlari!. Kalau gurunya sesat, tentu muridnya menjadi jahat. Totiang maju membantu murid yang menyeleweng, berarti totiang juga bukan orang baik."

"Siancai......, mulutmu sungguh lancang, nona, dan engkau masih muda akan tetapi engkau sombong sekali. Katakanlah murid pinto bersalah, akan tetapi pinto yang berhak menghukumnya. Bagaimana mungkin pinto membiarkan saja orang lain hendak membunuh murid pinto di depan hidung pinto sendiri? Sudahlah, nona. Kita habiskan urusan sampai di sini saja. Pinto tidak ingin bermusuhan dengan seorang gadis yang masih kekanak-kanakan sepertimu. Silakan pergi menuruni bukit ini."

"Enak saja engkau bicara, totiang!"

Kui Eng mjadl marah dan penas aran sekali.

"Tanpa kesalahan apapun, ketika memasuki pintu gerbang kota raja, babi gendut adik kerbau ini menghinaku, hendak merampok harta dan kudaku, bahkan kurang ajar sekali hendak menggerayangi tubuhku. Aku menghajarnya, berikut anak buahnya, kemudian muncul pangeran yang menghukumnya Salahkah aku dalam urusan itu? Kemudian, kerbau ini memasuki kamarku seperti maling, menggunakan goloknya membacok aku yang sedang tidur. Untung aku dapat menangkis nya dan mengejarnya sampai ke sini. Salahkah aku kalau sekarang aku hendak membalas dan membunuhnya? Dan engkau membelanya, melindunginya!"

Im Yang Sengcu juga menjadi marah ju ga.

Dia seorang yang te rpandang, bahkan Kaisar Tang Tai Cung menghargainya sebagai seorang sahabat dan penasihat.

Semua orang di is tana, bahkan di kota raja menghormatinya Akan tetapi gadis ini bersikap demikian tinggi hati, tidak menghormatinya sama sekali, bahkan mengeluarkan kata-kata keras dan mencelanya!

"Nona.

pinto Im Yang Sengcu adalah sahabat dan penas ihat Kaisar!

Engkau berani bersikap seperti ini terhadap pinto?

Kalau pinto tidak mengalah, sebagal seorang tingkatan lebih tua te hadap seorang gadis muda, apa kaukira sekarang engkau masih dapat bernapas?

Siapakah engkau ini yang begini sombong?"

"Totiang, urusan antara manusia tidak dite ntukan oleh kedudukannya, melainkan oleh benar dan salah. Totiang boleh jadi berkedudukan tinggi, siapa perduli akan hal itu? Yang penting adalah benar atau salah, bukan kedudukan tinggi atau rendah. Namaku adalah Cian Kui Eng, dan bagiku, siapapun dia kalau bersalah tentu akan kute ntang, tidak perduli pangkatnya!"

"Siancai .......... engkau she Cian? Hemmm, mengingatkan pinto akan keluarga Kerajaan Sui yang te lah lenyap. Menurut perbintangan, istana kerajaan Tang terancam oleh wanita dari marga Cian keturunan keluarga Kerajaan Sui. Hemm, nona Cian Kiri Eng, te rpaksa pinto harus menahanmu. Kalau kelak menurut pemeriksaan, engkau tidak bersalah, pasti kami bebaskan. Kemunculanmu di kota raja mendatangkan keributan, memang engkau patut dicurigai."

"Tosu jahat! Engkau membela muridmu dan hendak menangkap aku?"

Bentak Kui Eng.

"Engkau seorang pendeta, membela pembunuh dan perampok?"

"Pinto tidak membela siapa-siapa, akan tetapi demi keamanan kerajaan, pinto harus menangkap engkau dan menyelidiki dulu, apa maksudmu datang ke kota raja ini."

"Tosu busuk!"

Bentak Kui Eng dan iapun menerjang tosu itu.

Im Yang Seng-cu mengelak karena maklum bahwa pukulan gadis itu sama sekali tidak boleh dipandang ringan.

Justeru kelihaian gadis itu yang diketahuinya ketika dia tadi menangkis serangan Kui Eng kepada muridnya, yang membuat dia menjadi curiga.

Bukan semata membela muridnya kalau dia kini ingin menangkap Kui Eng melainkan kecurigaan itulah.

Baru saja ada orang-orang berusaha membunuh Kaisar, maka kehadiran seorang gadis yang begini lihai di kota raja, apa lagi yang berani menghajar para penjaga pintu gerbang, memang patut dicurigai.

"Wuuuttt .....plakkk"

Ketika dia membalas serangan gadis itu dengan sambaran ujung le ngan bajunya yang mengirim totokan ke arah dada, Kui Eng menangkis dan keduanya te rdorong ke belakang.

Im Yang Seng-cu terkejut bukan main, dan Kui Eng juga menjadi semakin penasaran melihat kehebatan lawan, iapun maju lagi dan menyerang dengan ilmu silat Sin-liong-ciang-hoat (Silat Naga Sakti) yang merupakan ilmu andalan ayahnya.

Memang hebat sekali ilmu silat ini.

Ge rakannya bagaikan seekor naga bermain-main di angkasa.

Im Yang Sengcu juga seorang yang lihai sekali, banyak pengalamannya.

Kini, melihat ilmu silat gadis itu, diam-diam dia te rkejut.

Ilmu silat yang amat dahsyat, pikirnya.

Karena merasa bahwa kalau hanya mengandalkan ilmu silatnya sendiri, akan sukar baginya untuk mengalahkan gadis itu, maka begitu melihat para pembantu yang juga menjadi muridnya berdatangan dari dalam dan mengepung gadis itu, dia tidak melarang mereka, bahkan Im Yang Seng-cu yang ingin menangkap gadis yang baginya amat mencurigakan itu lalu mulai mengeluarkan suara bernyanyi!

Itu merupakan tanda bagi para muridnya yang kemudian sambil mengepung dan bergerak mengeliling gadis yang masih saling serang dengan Im Yang Seng-cu untuk mulai bernyanyi pula.

Suara nyanyian mereka aneh karena suara mereka tidak senada, namun lagunya sama.

Lagu sama yang dinyanyikan oleh sembilan orang yang nada suaranya berbeda-beda itu mendatangkan kepeningan hebat di kepala Kui Eng.

Dia te rkejut sekali, berusaha mengerahkan sin-kang untuk melawan pengaruh nyanyian aneh itu.

Namun hanya menolong sedikit dan gerakan tangannya mulai kacau.

Kui Eng terkena tamparan ujung le ngan baju lawan, dan untung sin-kangnya kuat sehingga totokan dengan lengan baju itu tidak membuatnya roboh, hanya te rgetar sedikit.

Ia te rhuyung dan cepat ia meloncat ke belakang sambil mencabut pedangnya!

Kui Eng mengamuk, memutar pedangnya dan para murid Im Yang Seng-cu menjadi jerih dan mundur.

Kesempatan ini dipergunakan oleh Kui Eng untuk melarikan diri dari puncak buktt itu "Kejar!

Tangkap.......!!"

Im Yang Seng-cu berseru dan bersama anak buahnya, dia melakukan pengejaran.

Sambil melakukan pengejaran, sembilan orang itu tetap bernyanyi.

Nyanyian ini bukan sembarang nyanyian, melainkan nyanyian yang mengandung kekuatan sihir dan suara inilah yang menyiksa Kui Fng.

Kalau ia tidak memiliki sin-kang yang kuat, te ntu ia sudah roboh karena pusing oleh suara nyanyian itu, Suara itu seolah te rus mengejarnya, seolah mereka berada dekat sekali di belakangnya.

Padahal, mereka itu tidak dapat te rlalu dekat menyusulnya karena dalam hal ilmu meringankan tubuh, para murid Im Yang Seng-cu jauh ketinggalan dibandingkan Kui Eng.

Mungkin Im Yang Seng-cu sendiri akan dapat menyusul Kui Eng.

akan te tapi tosu ini maklum akan kelihaian Kui Eng sehingga dia tidak berani sembarangan menyusul seorang diri saja tanpa bantuan para muridnya.

Kui Eng merasa bingung, la sudah tiba di kaki bukit kecil itu akan te tapi mereka masih te rus mengejamya.

Kembali ke rumah penginapan tiada gunanya karena ia tahu bahwa tosu itu memiliki pengaruh besar.

Menurut pengakuannya, dia adalah panasihat dan sahabat kaisar, tentu kekuasaannya besar.

Akan tetapi ke mana ia harus melarikan diri?

Keluar dari kota raja pada malam hari begini tidak mungkin, te ntu menimbulkan kecurigaan dan ia akan dikeroyok oleh para penjaga.

Entah bagaimana, kakinya membawanya lari menuju ke istana bekas tempat tinggal ayahnya!

Ketika berada di belakang pagar tembok rumah itu, ia melompat dan untung baginya bahwa te rnyata rumah itu hanya dijaga di bagian depan saja, tidak ada penjaga meronda di sekelilingnya, la tiba di taman bunga yang gelap dan sunyi, lalu ia cepat menyelinap di antara pohon bunga, menghampiri rumah besar itu.

Teringatlah ia bahwa memang mempunyai niat untuk mengunjungi bekas rumah ayah ibunya ini dan menengok kamar ibunya di mana ia dilahirkan!

Kebetulan sekali la berlari dan bersembunyi di situ.

Akan te tapi ia harus berhati-hati karena siapa tahu, penghuni istana itu juga akan memusuhinya.

Ketika ia herindap-indap menyelinap ke bagian belakang istana, ia melihat penerangan menyorot keluar dari sebuah kamar.

Agaknya penghuni kamar itu belum tidur dan lampu yang te rang dari dalam kamar itu menyorot keluar melalui celah-celah jendela.

Ia menghampiri jendela dan mengintip.

Jantungnya berdebar te gang, akan tetapi juga lega ketika melihat bahwa yang duduk membaca kitab di dalam kamar itu adalah seorang pemuda tampan yang bukan lain adalah pangeran yang pagi te lah mrmbelanya ketika ia dikepung penjaga di pintu gerbang!

Ah, kiranya pangeran itu yang kini penghuni bekas istana ayahnya!.

Tiba-tiba pangeran itu menoleh ke arah jendela dan Kui Eng cepat menyelinap ke samping agar jangan nampak bayangannya.

Namun, sedikit kelihatan di luar je ndela itu sudah cukup bagi pangeran Li Cu Kiat yang lihai untuk mengetahui bahwa di luar je ndelanya terdapat orang yang mengintainya.

"Siapa itu di luar jendela?"

Tegurnya halus.

"Kalau engkau musuh, tidak mungkin karena aku tidak pernah mempunyai musuh. Kalau engkau pencurl, engkau salah masuk karena rumah ini biarpun besar, tidak mempunyai barang berharga untuk dicuri. Kalau engkau sahabat, masuklah. Plntu kamarku tidak dikunci dan aku siap menerima kunjungan seorang sahabat setiap saat."

Mendengar urapan itu, Kui Eng berpikir, yakin bahwa pangeran ini bukan orang jahat, bahkan bukan orang sembarangan, gagah dan adil.

Dan dia seorang pangeran.

Kalau ia membutuhkan bantuan, kiranya hanya pangeran ini yang akan membantunya karena te ntu kekuasaannya tidak kalah dibandingkan kekuasaan Im Yang Seng-cu.

Tidak ada salahnya untuk mencobanya, karena ia tak tahu siapa lagi yang akan mampu menolong dari ancaman tosu yang lihai itu Maka, dengan jantung berdebar penuh ketegangan, ia lalu menghampiri pintu kamar itu dan perlahan-lahan mendorong daun pintunya te rbuka, Ia melihat pangeran itu masih duduk seperti tadi membaca kitab dengan punggung membelakangi pintu.

Kui Eng memandang kagum.

Betapa te nangnya!

Betapa tabahnya!

dan penuh kepercayaan kepada diri sendiri.

"Maafkan aku, pangeran."

Pangeran Li Cu Kiat tersentak kaget dan bangkit berdiri sambil memutar tubuhnya.

Matanya te rbelalak dan bersinar-sinar, wajahnya berseri ketika dia mengenal siapa yang membuka pintu dan menegurnya.

Sungguh sama sekali tidak pernah disangkanya bahwa bayangan yang nampak di luar jendela adalah gadis yang pagi tadi menimbulkan kekagumannya di pintu gerbang kota raja.

Kalau yang muncul itu seorang raksasa misalnya, dia tidak akan sekaget itu, namun kejutan ini bukan tidak menyenangkan hatinya.

Dia dapat segera mengatasi kekagetannya dan te rsenyum ramah.

"Aih, kiranya engkau, nona? Selamat malam dan silakan duduk. Angin apakah gerangan yang meniupmu malam-malam begini datang berkunjung melalui je ndela?"

Wajah Kui Eng menjadi kemerahan.

Tentu saja ia merasa salah tingkah karena te rsipu dan rikuh sekali.

Seorang gadis berkunjung ke kamar seorang pemuda, malam-malam tanpa diundang seperti maling.

Bayangkan itu!

"Sekali lagi maaf.

Pangeran.

Saya .....

aku.....

te rpaksa melakukan ini .....

aku .......dikejar-kejar......."

Tiba-tiba nampak bayangan berkelebat, Kui Eng cepat membalikkan tubuh dan siap siaga menghadapi serangan.

Akan tetapi ia te rbelalak melihat bahwa yang berkelebat masuk itu seorang nenek tua renta yang memegang sebatang tongkat kepala naga.

Nenek itu tentu sudah hampir delapanpuluh tahun usianya, akan te tapi melihat gerakannya ketika memasuki kamar itu, jelas dapat diduga bahwa nenek ini memiliki kepandaian tinggi.

"Cu Kiat, apa yang te rjadi? Siapa nona ini. Tadi aku melihat bayangan berkelebat di taman bunga, kiranya nona ini yang masuk?"

Nenek itu mengerutkan alisnya dan kelihatan tidak senang kali, memandang kepada pangeran itu dengan pandang mata bengis.

"Nenek......aku..... aku......"

Pangeran itu sendiri nampak gugup melihat munculnya nenek galak itu begitu tiba-tiba, padahal dia yakin bahwa neneknya amat sayang kepadanya, bahkan neneknya inilah yang memanjakannya dan neneknya pula yang mengajarkan ilmu silat kepadanya.

Neneknya adalah seorang wanita yang sakti.

Dahulu ketika mudanya ia adalah seorang pendekar wanita yang disegani orang.

Bahkan Kaisar Tang Tai Cung yang lihai itupun hormat dan segan kepada bibinya ini.

Melihat sikap pangeran itu yang ketakutan, Kui Eng segera berkata.

"Nenek, semua ini bukan kesalahan pangeran. Ia tidak tahu apa-apa, akulah yang masuk ke sini tanpa ijin......"

"Huh! Kalau begitu, tentu engkau bukan orang baik-baik!"

Berkata demikian, nenek itu menggerakkan tongkatnya ke arah kepala Kui Eng.

Serangan itu sedemikian cepat dan kuatnya sehingga mengejutkan hati Kui Eng, namun dengan sigapnya ia dapat meloncat ke samping dan menghindarkan diri dari hantaman tongkat berkepala naga itu.

Akan tetapi, biarpun hantamannya luput, tongkat itu seperti hidup saja telah membalik dan menotok ke arah dada Kui Eng.

Kembali gadis ini menghindar cepat sambil menyabetkan tangannya menangkis .

Tongkat itu te rpental, akan tetapi kembali melayang balik dan kini menyambar dengan sapuan pada kedua kaki Kui Eng.

Gadis itu meloncat ke atas.

"Nenek, tahan dulu . .. !"

Pangeran Li Cu Kiat meloncat ke depan dan menghalangi neneknya menyerang terus.

"Minggir kau. Cu Kiat! Ia mampu menghindarkan diri dengan mudahnya dari rangkaian jurusku Naga Menyusup Tiga Langit, berarti ia seorang penjahat yang amat lihai dan berbahaya!"

Kata nenek itu sambil melintangkan tongkatnya di depan dada dan memasang kuda-kuda yang kokoh kuat.

"Sabarlah, nek, harap nenek bersabar dan dengarkan dulu keteranganku. Nona ini memang lihai sekali, akan te tapi ia sama sekali bukan penjahat!"

Nenek itu mengerutkan alisnya "Bukan penjahat? Lalu kenapa malam-malam begini masuk ke sini tanpa ijin seperti pencuri."

"Tadi ia telah minta maaf dan sedang menceritakan mengapa ia datang malam-malam begini. Karena terpaksa, katanya dikejar-kejar, akan tetapi belum selesai bercerita, keburu nenek muncul dan marah-marah. Sebaiknya kalau kita dengark penjelasannya, nek. Duduklah, nek. dan kau juga nona."

Pangeran itu lalu menutupkan daun pintu kamarnya yang besar dan luas.

"Baik. aku dengarkan. Akan te tapi penjelasanmu itu haruslah benar, kalau bohong, awas kau! Keluarga kami memang tidak suka bermusuhan dengan siapapun, akan itu bukan berarti bahwa kami takut menghadapi orang jahat!"

Nenek itu mengomel.

Kui Eng tidak marah, bahkan ia memandang kagum kepada nenek itu.

Sudah begitu tua namun masih gagah, dan sikapnya yang keras itu tiada bedanya dengan sikap ayahnya.

Keras kepala, berani namun juga jujur dan tidak suka mengakui kelemahan sendiri!

"Nah, sekarang ceritakan, nona.

kenapa engkau malam-malam begini datang ke sini?"

Tanya Pa ran Li Cu Kiat dengan sikap yang lembut.

"Seperti kukatakan tadi. Pangeran, aku terpaksa melakukan ini. Harap maafkan kelancanganku ini. Kalau tidak terpaksa sekali, aku tidak berani ... ah, sudahlah, aku bukan seorang cengeng yang suka merengek-rengek meminta ampun. Aku sedang dikejar-kejar ole h Im Yang Sengcu dan beberapa orang anak buahnya."

Nenek dan cucunya itu terkejut, saling pandang, kemudian mereka memandang wajah gadis itu dengan penuh keheranan.

"Si dukun le pus itu?"

Nenek itu berseru dan sebutan ini saja sudah menunjukkan bahwa nenek ini tidak suka kepada Im Yang Sengcu.

"Mau tukang sihir itu mengejar-ngejarmu?"

"Dia hendak menangkapku."

"Akan te tapi kenapa dukun le pus itu hendak menangkapmu?"

Nenek itu mengejar.

"Nek, sebaiknya kita membiarkan nona ini bercerita dari awal agar semuanya te rjawab,"

Kata pangeran itu dan neneknya mengangguk tak sabar.

"Pangeran, semua ini masih ada hubungann dengan peris tiwa pagi tadi di pintu gerbang". Kui Eng memulai dan nenek itu sudah menyambarnya lagi.

"Peristiwa apa pagi tadi di pintu gerbang?"

Kui Eng tanu bahwa watak nenek yang keras ini tidak daoat dibantah lagi dan ia harus menceritakan semuanya dengan je las.

"Pagi tadi, aku menunggang kuda memasuki pintu gerbang kota raja,"

Kui Eng mulai bercerita.

"Tiba-tiba komandan regu yang se perti babi dan belasan anak buahnya menghadangku. Aku diajak masuk gardu penjaga dan di situ, si babi hendak merampas barang-barang perhiasanku dan merampas pula kudaku. Bukan itu saja, dia hendak menggerayangi tubuhku dengan alas an hendak menggeledah karena mencurigai aku......"

"Jahanam keparat! Komandan regu macam itu harus dihajar sampat rontok semua giginya!"

Teriak nenek itu.

"Sudah kulakukan itu nek,"

Kata Kui Eng.

"Apa .....?"

Nenek itu te rbelalak. Kui Eng te rsenyum.

"Sudah kulakukan itu, sudah kuhajar dia dan kurontokkan semua giginya. juga kupatahkan kedua tulang le ngannya dan semua anak buannya kuhajar dengan cambuk kuda......."

"Bagus! He h-heh-heh-heh, bagus sekali!"

Nenek bersorak gembira.

"Dalam keributan itu. muncul pangeran.....ini dan dia menangkap si babi dan semua anak buahnya dan menyuruh hukum mereka."

"Bagus! Ini baru cucu nenek namanya!"

Nenek itu memuji dan mengetuk-ngetukkan tongkatnya atas lantai.

"Harap kaulanjutkan, nona."

Kata Pangeran Li Cu Kiat Kui Eng lalu menceritakan tentang peristiwa tadi, munculnya seorang bernama Phoa Gu yang hendak membunuhnya dengan golok dengan mencokel jendela kamarnya.

"Aku berhasil menangkis serangannya dan dia melarikan diri. Kubayangi dia karena aku ingin tahu siapa yang menyuruhnya. Dia lari ke bukit itu dan tiba di depan tempat tinggal Im Yang Seng-cu. Ketika aku hendak membunuh Phoa Gu, Im Yang Sengcu mencegah dan ternyata Phoa Gu itu adalah muridnya ....."

"Wah. dukun le pus tukang sihir itu! Sejak semula aku memang sudah tldak suka dan tidak percaya padanya. Akan te tapi, Sribaginda agaknya telah kena disihir sehingga mempercayai dukun le pus itu. Membuatkan obat panjang umur sampai seribu tahun? Phuah, omong kosong. Jadi, dia yang menyuruh muridnya untuk membunuhmu?"

"Agaknya bukan dia. Dari pembicaraan mereka, aku mengetahui bahwa Phoa Gu itu adalah kakak si komandan regu yang sengaja hendak membalas dendam kepadaku, bukan disuruh oleh gurunya. Biarpun demikian, Im Yang Sengcu tetap melindungi muridnya itu, bahkan kemudian berkeras hendak menangkap aku dengan alasan bahwa dia mencurigai aku sebagai mata-mata musuh atau pemberontak. Kami bertanding. Setelah dia tidak mampu mengalahkan aku, lalu dia mengerahkan anak buahnya dan menggunakan nyanyian sihir. Aku tidak tahan mendengar suara itu dan terpaksa melarikan diri dan mereka mengejar-ngejarku. Itulah sebabnya aku nekat masuk ke sini dan menyembunyikan diri."

"I m Yang Sengcu tidak mampu mengalahkanmu, nona? Bukan main, kalau begitu engkau adalah seorang gadis yang lihai sekali !"

Seru Pangeran Li Cu Kiat kagum.

"Hem. engkau memang seorang gadis pemberani. Siapa namamu?"

Nenek Itu bertanya.

Sebelum Kui Eng menjawab te rdengar langkah kaki te rgesa menghampiri ruangan itu.

Pangeran Li Cu Kiat memberi is yarat kepada Kui Eng untu k berdiam diri dan diapun menghampiri pintu yang tertutup.

"Siapa di luar?"

Tanyanya.

"Pangeran, maafkan kalau hamba mengganggu". kata suara seorang penjaga yang biasa bertugas jaga di luar gedung bersama te man-temannya.

"Totiang Im Yang Seng-cu datang dan ingin menghadap paduka. Dia dan rombongannya hamba persilakan menunggu di ruangan tamu."

Pangeran itu memandang neneknya, lalu berkata.

"Baik, katakan aku akan menerimanya dan suruh dia menunggu sebentar."

"Baik, pangeran,"

Kata penjaga itu yang segera pergi keluar kembali. Terdengar langkah kaki le mbut menghampiri ruangan itu dan Pangeran Li Cu Kiat yang sudah hafal akan langkah itu, bergumam.

"I bu datang."

Dia lalu membukakan pintu sebelum terketuk dan masuklah seorang wanita cantik yang berusia mendekati lima puluh tahun dengan sikap anggun.

Wanita cantik itu tidak heran melihat ibunya berada dikamar pute ranya, akan te tapi ia te rbelalak memandang kepada gadis cantik yang berada di kamar pula.

"Cu Kiat. apa artinya Ini? Siapa gadis ini?"

Nenek itu berkata kepada cucunya.

"Cu Kiat pergilah menemui dukun le pus itu. Aku yang akan menerangkan kepada ibumu, dan aku nanti menyusul"

Cu Kiat mengangguk, kemudian diapun keluar dari dalam kamar itu, langsung menuju ke ruangan tamu.

Nenek itu dengan singkat bercerita kepada pute rinya tentang Kui Eng dan seperti juga pute ranya dan ibunya, wanita itu segera memperlihat sikap melindungi dan membela Kui Eng.

"Tosu itu memang kurang ajar. Karena mendapat angin dari adinda Kaisar, dia menjadi besar kepala. Aku memang selalu curiga bahwa dia te ntu akan berusaha untuk memperbesar kekuasaannya di is tana. Sebaiknya kalau ibu menemani Cu Kiat, biar aku yang membawa nona ini bersembunyi di kamarku."

Nenek itu mengangguk, kemudian iapun keluar dari kamar cucunya.

Ketukan tongkatnya berdetak-detak ketika ia menuju ke ruangan tamu yang berada di bagian depan gedung itu.

Melihat munculnya Pangeran Li Cu Kiat, Im Yang Sengcu lalu bangkit dari te mpat duduknya dan memberi hormat dengan merangkapkan kedua tangan depan dada.

te rsenyum ramah dan berkata dengan suara sopan.

"Harap paduka suka memaafkan pinto, pangeran, kalau pinto mengganggu waktu paduka malam-malam begini karena pinto mempunyai keperluan penting sekali untuk dibicarakan dengan paduka."

Pangeran Li Cu Kiat membalas penghormatan itu.

memandang ke arah belasan orang anak buah tosu itu yang juga membungkuk dengan hormat, lalu dia berkata dengan suara yang mengandung te guran "Totiang, untuk menghadap dan bicara dengan aku perlukah totiang membawa anak buah sebanyak ini?"

Pangeran Itu memandang kepada belasan orang pengikut Im Yang Sengcu dan melanjutkan.

"Atau barangkali belasan orang inipun mempunyai keperluan penting untuk dibicarakan dengan aku?"

Melibat sikap dan mendengar suara yang nada penuh teguran itu, Im Yang Sengcu lalu memberi is yarat kepada anak buahnya dan berkata.

"Kalian menunggu di luar saja!"

Belasan orang itu memberi hormat kepada Pangeran Li Cu Kiat lalu keluar dari ruangan itu.

"Nah, sekarang ceritakan, keperluan penting apakah itu yang hendak totiang bicarakan dengan aku? Setahuku, selama ini kami sekeluarga tidak mempunyai urusan dengan totiang."

"Slancai, harap paduka pangeran suka memaafkan kalau pinto mengganggu. Sesungguhnya, demi keamanan dan keselamatan paduka sekeluargalah maka pinto memberanikan diri datang menghadap malam-malam begini. Ketahuilah bahwa pinto dan para murid sedang mengejar seorang wanita jahat, seorang yang kami curigai sebagal mata-mata musuh atau pemberontak."

Pangeran Li Cu Kiat mengerutkan alisnya.

"Totiang, apa hubungann ya totiang mengejar penjahat dengan keluarga kami?"

"Kami mengejar penjahat itu dari bukit kami dan ia melarikan diri lalu masuk ke dalam pekarangan istana paduka ini, dan lenyap disini"

"Hemm, totiang!"

Li Cu Kiat berkata penasaran.

"Apakah totiang hendak mengatakan bahwa penjahat itu tinggal di istana kami?"

"Ah, mana pinto berani menuduh seperti itu? Pinto hanya mengatakan bahwa ia lari dan menghilang di sini. Karena khawatir ia mengganggu keselamatan keluarga paduka, maka pinto memberanikan diri menghadap untuk memberi tahu kepada paduka."

Pada saat itu terdengar bunyi ketukan tongkat nenek pangeran itu dan orangnya muncul dari pintu dalam.

Melihat nenek ini, Im Yang Seng-cu cepat bangkit berdiri dan memberi hormat.

Baru dua kali dia pernah berte mu dengan nenek itu dan dia tahu bahwa Kaisar sendiri menghormati bibinya ini, maka diapun selalu menghormati nenek yang agaknya meremehkan dirinya itu.

"Song-twanio (Nyonya Besar Song)? Selamat malam. Maafkanlah pinto mengganggu ketenangan istana twanio malam Ini."

Nenek Itu mendekat, memandang penuh perhatian lalu berkata.

"Aih. kiranya dukun le pus ahli sihir Im Yang Sengcu yang datang. Apakah engkau hendak meramalkan nasib cucuku? Cu Kiat, serahkan saja nasib keluarga kita kepada Tuhan dan jangan mempercayai omongan segala macam tukang ramal dan tukang sulap!"

Mendengar ucapan yang nadanya mengejek dan merendahkan dirinya itu, wajah I m Yang Seng-cu menjadi merah dan hatinya mendongkol bukan main.

Kalau tidak ingat bahwa nenek ini adalah bibi Kaisar dan selain itu juga lihai, tentu sudah didampratnya nenek itu.

"Twanio, kedatangan pinto ke sini dengan maksud baik, untuk menjaoa keamanan dan keselamatan keluarga twanio. Hendaknya diketahui bahwa pinto mengejar seorang penjahat dan ia lari masuk dalam istana twanio ini."

"Apa katamu?, Penjahat masuk ke rumah kami? Cu Kiat, kebohongan apa ini yang dikatakannya?"

"Nek, totiang ini mengatakan bahwa ia mengejar seorang gadis yang katanya merupakan seorang mata-mata musuh atau pemberontak."

"I m Yang Seng-cu, jaga mulutmu baik-baik!"

Nenek itu marah dan mengamangkan tongkatnya.

"Kau mau bilang bahwa kami memberontak?"

"Ah, tidak sama sekali, twanio"' Im Yang Seng-cu berseru kaqet.

"Pinto hanya mengatakan bahwa pinto telah mengejar seorang gadis dan ia telah melarikan diri. Ketika pinto mengejarnya untuk menangkap dan menyeretnya ke pengadilan, ia melarikan diri dan meloncati pagar tembok istana ini. Karena khawatir ia melakukan kejahatan dan mengganggu keluarga twanio, maka pinto memberanikan diri menghadap untuk memberi tahu."

"Engkau mengejar-ngejar seorang gadis dan tidak mampu menangkapnya? Aneh! Dan bagaimana pula engkau mengatakan bahwa gadis itu jahat? Apa saja yang telah ia lakukan?"

Tanya pula Nyonya Song, nenek itu.

Nyonya Song ini dahulunya seorang pendekar wanita.

Puterinya menikah dengan Pangeran Li Seng Tek kakak Pangeran Li Si Bin yang kini menjadi kaisar dan mempunyai seorang anak laki-laki, yaitu Pangeran Li Cu Kiat.

"Gadis itu mencurigakan sekali, dan kejam, twanio,"

Kata Im Yang Seng-cu.

"la telah mengamuk dan melukai banyak perajurit, bahkan hampir saja ia membunuh murid pinto ......."

"Ah, kiranya engkau mengejar-ngejar gadis yang dikeroyok oleh para penjaga pintu gerbang tadi pagi, totiang?"

Li Cu Kiat berseru.

"Kalau begitu, engkau keliru besar. Akulah yang menyebabkan para penjaga itu dihukum, karena mereka bertindak sebagai perampok, bukan sebagai perajurit kerajaan."

"Hemm, kalau muridmu membela regu yang bertindak seperti perampok, berarti muridmu itu juga jahat, dan kalau sekarang engkau membela muridmu itu, sungguh membuat kami curiga bahwa engkau bukanlah orang baik-baik, Im Yang Seng-cu!"

Kata pula si nenek.

Mendengar ini, Im Yang Sengcu bangkit berdiri dan matanya mencorong marah.

Berani sekail nenek dan cucunya ini menghinanya!

"Pangeran dan Twanio, tidak ada gunan ya lagi kita berdebat, kalau benar ji-wi (kalian) tidak menyembunyikan gadis pemberontak itu, buktikan dan biarkan pinto dan para murid pinto melakukan pencarian dan penggele dahan di dalam rumah ini!"

"Dukkk!!"

Tongkat nenek itu dihentakkan di atas lantai sehingga lantai itu berlubang.

"Keparat kau dukun le pus! Coba, hendak kami lihat apakah engkau berani melakukan penggele dahan di rumah kami! Kupukui kepalamu sampai lumat!"

Pangeran Li Cu Kiat juga berdiri menghadapl tosu itu.

"Im Yang Seng-cu siapapun te rmasuk engkau tidak boleh bertindak sewenang-wenang te rhadap kami! Hanya Sribaginda Kaisar saja yang boleh memerintahkan penggeledahan."

"Ananda Kaisar sekalipun akan berpikir dua kali untuk menghinaku!"

Nenek Song berte riak "Dan engkau, dukun le pus, tukang sulap dan sihir ini berlagak di depanku? Hayo pergi kau, atau kukemplang kepalamu sampai hancur berentakan!"

De ngan muka sebentar merah sebentar pucat, Im Yang Sengcu menahan kemarahan hatinya.

"Baik, akan pinto laporkan kepada Sribaginda Kaisar bahwa rumah ini melindungi seorang pemberontak!"

Katanya sebelum pergi.

"Laporkan, dan kami akan melaporkan bahwa kau melindungi regu yang menyeleweng dan bertindak sebagai perampok! Ingin kami lihat, engkau atau kami yang akan didengarkan oleh Pamanda Kaisar"

Kata Pangeran Li Cu kiat marah.

Im Yang Sengcu berdiri dengan muka merah dan mata mencorong.

Hampir saja dia tidak dapat nhan kemarahannya.

Ingin rasanya menerjang dan membunuh orang-orang yang berani memandang rendah dan menghinanya itu.

Akan tetapi dia maklum bahwa kalau dia melakukan hal itu.

maka bencana besar akan menimpanya.

Belum tentu dia akan mampu mengalahkan nenek dan cucunya itu.

Andaikata dapat mengalahkan dan membunuh merekapun dia akan memikul tanggung-jawab besar terhadap Kaisar.

Dengan marah diapun membalikkan tubuhnya pergi dari situ tanpa pamit lagi.

Di luar.dia memberi isyarat kepada para muridnya untuk pergi.

Di sebelah dalam rumah gedung itu.

Kini Kui Eng duduk berhadapan dengan mereka bertiga, Pangeran Li Cu Kiat, ibunya, dan neneknya.

Setelah mendengar bahwa Im Yang Sengcu telah dapat diusir pergi, gadis itu cepat mengangkat kedua tangan di depan dada.

"Terima kasih banyak atas pertolongan sam-wi (kalian bertiga) Tanpa pertolongan itu, mungkin aku sudah te rtawan mereka."

"Hem, gadis muda. Engkau sungguh pemberani, mengingatkan aku akan masa mudaku dahulu. Engkau berani memasuki kota raja, melawan regu penjaga, bahkan berani menentang Im Yang Sengcu, dan berani pula memasuki rumah kami untuk berse mbunyi. Siapakah engkau sebenarnya? Dan mengapa engkau datang ke kota raja?"

N enek Song bettanya dan bersama puteri dan cucunya, ia memandang tajam penuh selidik.

Kui Eng menghela napas panjang.

Tidak pantas kalau ia merahasiakan dirinya terhadap keluarga yang te lah menyelamatkannya ini.

Mungkin akibatnya akan tidak menguntungkan baginya kalau ia mengaku, akan te tapi ia tidak akan bersikap pengecut, yang hanya karena ingin mengamankan diri sendiri harus bersikap pengecut dan tidak jujur terhadap para penolongnya.

"N amaku Cian Kui Eng....."

"Marga Cian ......??"' Nenek Song berseru kaget dan te ringat akan ukiran huruf CIAN di dinding bagian depan istana itu. Nah, mulai sudah, pikir Kui Eng. Sudah kepalang, ia harus melangkah te rus.

"Benar, aku bermarga Cian, aku lahir di dalam gedung ini dan ayahku adalah bekas Pangeran Cian Bu Ong."

"Ahhh.......!!"

Seruan ini keluar dari tiga mulut itu dan mereka bertiga memandang wajah Kui Eng dengan mata terbelalak kaget.

"Jadi kalau begitu ..... engkau ini benar-benar pemberontak ..... atau anak pemberontak? Cian Bu Ong adalah seorang pemberontak!"

Kata Nyonya Janda Li Seng Tek, ibu Cu Kiat. Kui Eng memandang nyonya itu dengan sikap te nang namun sinar matanya mengandung penas aran.

"Maaf, bibi. Andaikata Kerajaan Tang ini dijatuhkan orang luar, kemudian Pangeran Li Cu Kiat putera bibi ini. melakukan perlawanan untuk merebut dan mendirikan lagi Kerajaan Tang yang jatuh, tentu kerajaan baru akan menudingnya sebagai seorang pemberontak. Akan tetapi, demi keadilan, benarkah dia seorang pemberontak? De mikian pula dengan ayahku. Ketika Kerajaan Sui jatuh, ayah bangkit dan berusaha untuk mendirikan kembali kerajaan itu. Jahatkah perbuatan ayah itu? Bagi Kerajaan Tang, mungkin dia dianggap perusuh dan pemberontak, akan te tapi bagi Kerajaan Sui, ayah dianggap sebagai seorang patriot pejuang sejati!"

Pangeran Li Cu Kiat memandang kagum kepada gadis itu. Gadis yang hebat, pikirnya. Dan ucapannya itu mengandung kebenaran mutlak. Dia sendiri muak dengan perebutan kekuasaan, di istana.

"Akan tetapi, bagaimanapun juga, berarti ayahmu itu memusuhi kami keluarga Tang!"

Seru ibunya.

"Dan kau...... kau pute rinya, tentu engkau memusuhi pula kami ....."

Kui Eng menggeleng kepalanya.

"Sama sekali tidak, bibi. Ayah telah menyadari bahwa Kerajaan Sui telah jatuh dan musna, bahwa memang sudah ditakdirkan bahwa tanah air dan bangsa dipimpin oleh kerajaan baru, yaitu Kerajaan Tang. Ayah telah menerima kenyataan ini dan buktinya, sampai kini ayah tidak pernah membuat gerakan lagi. Aku sendiri masih seorang anak kecil berusia dua tahun ketika pergantian kekuasaan terjadi, dan aku sama sekali tidak mencampuri urusan itu."

"Aih, jadi engkau ini pute ri Cian Bu Ong? Aku masih ingat. Ketika aku masih berkecimpung di dunia persilatan, Cian Bu Ong merupakan seorang pendekar muda yang gagah perkasa, di samping kedudukann ya sebagai seorang pangeran dan panglima. Jadi dia sekarang telah dapat menerima kenyataan yang ditakdirkan Tuhan? Bagus sekali! Di mana dia sekarang?"

Tanya nenek Song.

"Ayah bersama ibu kini pergi merantau ke Himalaya,"

Jawab .Kui Eng.

"Nona, kami gembira sekali mendengar bahwa engkau dan ayahmu tidak memusuhi keluarga Kaisar Tang. Akan te tapi, kalau boleh kami mengetahui, apakah engkau mempunyai kepentingan khusus berkunjung ke kota raja ini? Barangkali kami dapat membantumu?"

Tentu saja.Kui Eng tidak mau mengaku bahwa ia hendak membantu Thian Ki untuk mencari dan merampas Liong-cu-kiam dari gudang pusaka kerajaan.

"Aku sedang mencari suhengku."

"Ah, suhengmu juga berada di kota raja? Siapakah namanya7 Siapa tahu aku akan dapat membantumu mencarinya,"

Kata Cu Kiat.

Melihat sikap dan perhatian puteranya terhadap gadis itu nyonya Li dan nenek Song saling pandang dan te rsenyum.

Sudah lama mereka berdua membujuk Li Cu Kiat untuk segera menikah, akan tetapi pangeran yang usianya sudah duapuluh lima tahun ini sellu menolak dengan mengatakan bahwa dia belum tertarik kepada wanita.

Dan sekarang, melihat sikapnya.

jelas bagi kedua orang wanita itu bahwa Pangeran Li Cu Kiat agaknya jatuh hati, atau setidaknya amat kagum dan te rtarik kepada Cian Kui Eng.

"Suheng bernama Coa Thian Ki. Aku sendiri tidak tahu apakah dia s ekarang berada di kota raja ataukah tidak, akan te tapi ketika pergi, dia merencanakan untuk berkunjung ke kota raja. Karena ayah dan ibu juga pergi merantau ke barat, aku merasa kesepian di rumah sendiri lalu pergi menyusul dan mencari suheng di sini. Tidak kusangka bahwa di pintu gerbang aku diganggu oleh para penjaga sehingga urusannya menjadi berkepanjangan sehingga merepotkan pula kepada keluarga di sini."

"Tidak sama sekali, nona. Kami adalah keluarga yang selalu menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan. Kami sama sekali tidak merasa repot dengan adanya peris tiwa yang menyangkut dirimu,"

Kata Cu Kiat.

"Benar sekali, Kui Eng. Kami membelamu karena engkau benar dan untuk sementara ini, sebaiknya kalau engkau bersembunyi dulu di sini. Aku yakin Im Yang Seng-cu tidak akan tinggal diam dan terus mencarimu,"

Kata Li Hu-Jin (Nyonya Li) "Dan selama tinggal di sini, jangan takut kalau dukun le pus itu berani datang mengganggumu, akan kukemplang kepalanya dengan tongkatku ".

kata pula nenek Song penuh semangat.

Kui Eng berterima kasih sekali.

Tak disangkanya bahwa penghuni baru bekas rumah keluarga ayahnya merupakan keluarga bangsawan tinggi yang begini baik terhadap dirinya.

"Terima kasih atas kebaikan bibi sekeluarga,"

Katanya kepada Nyonya Li.

"Akan tetapi, aku sudah menyewa kamar di rumah penginapan ujung kota, dan pakaianku juga masih tertinggal di sana."

"Jangan khawatir, nona. Aku akan menyuruh seseorang mengambilnya. Kalau engkau mengambilnya sendiri, aku khawatir Im Yang Sengcu dan anak buahn ya sudah menantimu di sana."

"Benar, Kui Eng. Untuk sementara ini, engkau sebaiknya bersembunyi dulu di sini dan jangan keluar. Biar Cu Kiat yang mencarikan suheng mu,"

Kata N yonya Li.

"Aih, kenapa sih mesti takut kepada dukun le pus itu? Kalau engkau ingin mengambil sendiri pakaianmu di rumah penginapan, mari kute mani, Kui Eng, dan hendak kulihat dukun le pus itu akan berani berbuat apa!"' Nenek Song berkata dengan penas aran.

"Ah, aku tidak berani merepotkan dan membuat lelah nenek."

Kata Kui Eng.

"Jangan, nek. Sebaiknya kita tinggal diam dan melihat perkembangannya, tidak perlu membuat ribut dengan Im Yang Sengcu. Aku akan menyuruh orang sekarang juga mengambil pakaian nona Cian Kui Eng."

Akan te tapi, orang suruhan Pangeran Li Cu Kiat itu kembali dan mengabarkan bahwa buntalan pakaian Kui Eng telah dirampas oleh Im Yang Seng dan pemilik rumah penginapan tentu saja tidak berani menentang kehendak tosu sahahat kaisar itu..

Nyonya Li segera menyuruh buatkan pakaian untuk Kui Eng.

Ketika gadis ini hendak mengganti dengan uang, ibu pangeran itu menolak dengan ramah.

Tentu saja Kui Eng merasa semakin te rharu dan hutang budi kepada keluarga bangsawan yang amat baik dan ramah kepadanya itu.

Bahkan nenek Song yang keras hati itupun bersikap amat dan baik kepadanya.

Terutama sekali Pangeran Cu Kiat.

Sikapnya demikian penuh perhatian dan ramah, juga dari pandang mata pangeran itu KuiEng dengan hati berdebar dapat melihat sikap yang amat mes ra.

Mudah saja menduga bahwa pangeran itu telah jatuh cinta kepadanya!

oodowoo Biarpun usianya baru empat puluh tahun le bih, namun Kaisar Tang Tai Cung sudah nampak le bih tua dari pada usianya yang sebenarnya.

Dia kelihatan seperti orang yang berusia lima puluh tahun saja.

Hal ini tidaklah mengherankan kalau diingat betapa sejak muda sekali, dia adalah pejuang yang gigih, yang menghadapi banyak sekali masalah, bahkan te rancam banyak bahaya maut.

Kemudian, setelah berhasil menumbangkan Kerajaan Sui dan mengangkat ayahnya, mendiang Kaisar Tang Kao Cu menjadi Kaisar pertama dari Kerajaan Tang, kembali sebagai Pangeran Li Si Bin dia menghadapi banyak cobaan.

Perebutan kekuasaan antara saudara-saudaranya, pemberontakan dan pengkhianatan, silih berganti mengganggu kerajaan baru itu dan semuanya mengandalkan dia seorang untuk membersihkannya.

Setelah dia menjadi Kaisar Tang Tai Cung(627 -649), diapun masih selalu dirundung malang.

Kalau dulu yang berebutan kekuasaan adalah para saudaranya, kini para pute ranya mulai melanjutkan perebutan kekuasaan di antara keluarga kaisar itu.

Terpaksa dia bahkan menghukum pute ra-pute ranya sendiri yang memperebutkan kedudukan pangeran mahkota!

Semua cobaan inilah yang membuat Kaisar Tang Tai Cung nampak tua.

Pada hal, dia adalah seorang laki-laki perkasa yang memiliki, ilmu silat dan ilmu perang hebat dan jarang bandingannya.

Malam itu.

Kaisar Tang Tai Cung menerima sahabat dan panasihatnya.

yaitu Im Yang Seng-cu dan mereka berdua minum arak di dalam taman,di sebuan pondok indah di taman itu.

Mereka berhadapan menghadapi meja yang penuh makanan dan anggur, dan di depan mereka te rbentang kolam ikan yang bes ar di mana tumbuh banyak bunga te ratai merah dan ikan beraneka warna berenang di permukaan air.

Indah sekali!

Lampu-lampu dengan kap lampu warna-warni menambah keindahan kolam itu.

"Bagaimana, totiang, sudah berhasilkah engkau dengan pembuatan obat panjang usia yang kupesan itu?"

Sribaginda Kaisar Tang Tai Cung bertanya setelah mereka minum beberapa cawan anggur.

"Dan bagaimana pula dengan janjimu untuk mengajarkan aku cara membuat emas?"

Tosu itu mengangguk-angguk dan mengelus je nggotnya yang tipis dan putih semua sambil te rsenyum.

"Jangan khawatir, Sribaginda Hamba dang membuat obat panjang usia itu sesuai dengan ilmu rahasia yang dahulu diajarkan oleh Tujuh Manusia Dewa Hutan Bambu. Akan te tapi, pembuatan emas itu membutuhkan kesabaran dan kematangan Sribaginda. Kalau saatnya sudah tiba dan obat itu sudah sempurna, tentu akan hamba serahkan kepada paduka, dan sekali paduka menggunakan obat itu maka seperti yang ditulis oleh Manusia Dewa Hutan Bambu, maka rambut putih akan menjadi hitam, gigi ompong akan tumbuh kembali, kekuatan tubuh akan kembali besar. Yang menggunakan obat itu tidak akan pernah tua, yang sudah tua akan menjadi muda kembali dan dia akan hidup abadi dan tidak pernah mati."

Sepasang mata Kaisar Tang Tai Sung bersinar-sinar penuh harapan.

"Totiang, janji itu te rlalu muluk! Benar-benarkah ada obat yang khasiatnya sehebat itu?"

Im Yang Sengcu mengerutkan alisnya.

"Sribaginda. syarat terpenting bagi seorang manusia untuk membuat obat itu manjur adalah kepercayaan! Obat seperti itulah yang dipergunakan para dewa dan malaikat sehingga mereka tidak pernah tua, tidak pernah mati. Bersabarlah dan tentu hamba akan menghaturkan kepada paduka setelah obat itu selesai hamba sempurnakan. Hamba harus berpuasa dan bersamadhi selama beberapa pekan lagi supaya obat itu dapat sempurna."

"Ah, terima kasih, totiang. Budi totiang besar sekali dan kami akan memberi anugerah apa saja yang totiang kehe ndaki. Dan bagaimana dengan janji totiang untuk mengajarkan cara pembuatan emas itu? o)0o-dw-o0(o

Jilid 32

"Hamba sedang mengumpulkan bahan bahannya, Sri baginda. Sekarang sudah hampir le ngkap. Kalau sudah lengkap, selain memberitahukan semua bahan dan cara pembuatannya, juga hamba akan mendemonstrasikan cara pembuatannya kepada paduka agar te rbukti bahwa hamba bukan hanya bohong semata. Sebagai murid keturunan Tujuh Manusia De wa Hutan Bambu, yang menjadi pendiri dan guru besar golongan kami sejak empatratus tahun lebih yang lalu, pantang bagi hamba untuk berbohong. Paduka te ntu percaya kepada hamba, bukan?"

Kaisar Tang Tai Cung te rtawa.

"Tentu saja, totiang. Kalau tidak percaya bagaimana mungkin kita dapat berbincang-bincang di sini seperti dua orang sahabat?"

"Terima kasih. Yang Mulia,"

Kata Im Yang Sengcu "Maafkan pertanyaan hamba ini.

Hamba sudah melihat melalui perbintangan bahwa ada bayangan huruf Bu mengancam kerajaan paduka, akan tetapi mengapa paduka belum juga bertindak kalau paduka percaya kepada hamba."

Wajah kaisar itu berubah agak kemerahan dan dia menghela napas panjang "Me mang pelaksanaannya sengaja kami tunda, totiang.

Di antara para pejabat kami, banyak yang bermarga Bu, rasanya berat hati ini kalau harus menghukum mereka tanpa dosa.

Kami menghendaki keyakinan le bih dahulu.

Dan terutama sekali, Bu Mei Ling menjadi selir yang setia, bagaimana kami dapat menghukum seorang selir yang baru saja berjas a menyelamatkan nyawa kami?"

Im Yang Sengcu menghela napas.

"Paduka masih kurang yakin dengan keterangan hamba? Kalau begitu, sebaiknyi kalau paduka menyaksikannya sendiri. Hamba mohon disediakan meja sembahyang dan semua perlengkapannya."

Sri baginda Kaisar nampak gembira sekali dan dia segera bertepuk tangan memberi tanda memanggil pengawal.

Atas perintah kaisar, sebentar saja di pondok itu telah berdiri meja sembahyang dengan semua perle ngkapannya.

Kaisar Tang Tai Cung sudah beberapa kali menyaksikan dan membuktikan sendiri ilmu yang dikuasai tosu sahabatnya itu dan dia memang sudah mempercayanya.

Hanya karena dia merasa berat melaksanakan hukuman tanpa dosa te rhadap seluruh marga Bu maka dia merasa tidak yakin.

Im Yang Sengcu segera melakukan upacara sembahyang yang aneh.

Dia mengeluarkan manteram yang te rdengar aneh dan tidak dimengerti oleh kaisar, akan tetapi doa mantramnya itu mendatangkan getaran yang amat kuat sehingga kaisar sendiri harus cepat mengerahkan sin-kang untuk melindungi dirinya.

Seikat hio yang dipegang kedua angan Im Yang Sengcu, tiba-tiba mengeluarkan asap tebal sekali.

"Yang Mulia, harap perhatikan dan lihat baik-baik huruf apa yang akan nampak sebagai bukti bahwa ada marga te rtentu yang mengancam kerajaan paduka!"

Te rdengar suara tosu itu dan suaranya te rdengar aneh, parau dan lapat-lapat seolah tosu itu berada di tempat yang jauh sekali.

Kaisar memandang ke arah asap bergulung-gulung itu penuh perhatian dan perlahan-lahan, asap itu benar-benar membentuk sebuah huruf yang besar dan je las, huruf BU!

Dan huruf dari asap itu perlahan-lahan bergerak ke arah kaisar, seolah seekor binatang atau mahluk buas yang hendak menyerangnya.

Wajah Kais ar Tang Tai Cung berubah agak pucat.

Dia seorang pendekar yang berilmu tinggi.

Jarang ada orang mampu menandinginya, akan te tapi kini dihampiri huruf BU dari asap hitam itu sungguh merupakan hal yang amat menyeramkan.

Kaisar Tang Tai Cung lalu mengerahkan tenaga sin-kang dan bangkit lalu mendorong ke arah gumpalan asap itu sambil berte riak mele ngking.

Dari kedua telapak tangannya menyambar hawa yang dahsyat ke arah huruf BU dari asap itu dan asap itupun membuyar, bentuk hurufnya te rpecah-pecah dan tidak berbentuk lagi.

"Siancai......!"

Im Yang Seng-cu berseru.

"Demikianlah seharusnya yang paduka lakukan, yaitu memukul hancur marga Bu sebelum mereka benar-benar meru[akan ancaman bagi paduka!"

Kaisar mengangguk-angguk, wajahnya masih agak pucat.

"Engkau benar, Totiang. Biarpun nampaknya kejam, akan tetapi hal ini perlu kami lakukan demi keselamatan Kerajaan Tang!"

KembaIi kaisar memanggil pengawal dan memerintakan agar pada saat itu juga pengawal memanggil Panglima Ciu, kepala pasukan keamanan kota raja.

Akan tetapi, sebelum perintah itu dilaksanakan, Im Yang Sengcu cepat berkata mengingatkan.

"Maaf, Yang Mulia. Hamba kira urusan ini sebaiknya dilaksanakan saat ini juga sebelum beritanya bocor dan mereka melarikan diri. Tidakkah le bih te pat kalau paduka menuliskan perintah itu dan agar surat perintah itu ditaksanakan sekarang juga oleh panglima?"

Kaisar Tang Tai Cung mengangguk-angguk, lalu dia membuat surat perintah yang ditujukan kepada Panglima Ciu agar malam itu juga panglima membawa pasukan dan menangkapi lalu menghukum mati semua orang yang bermarga Bu, tidak perduli laki-laki maupun perempuan tua renta maupun masih bayi!

Pengawal cepat membawa surat perintah itu dan mengantarnya kepada Panglima Ciu yang terkejut setengah mati menerima perintah itu.

Akan te tapi, dia hanya seorang bawahan yang ha rus patuh kepada kaisar.

Maka, te rjadilah pembantaian!

yang amat mengerikan di malam hari itu.

Malam celaka yang sekaligus merupakan le mbaran hitam dari riwayat Kaisar Tang Tai Cung yang dikenal sebagai seorang kaisar yang adil dan bijaksana.

Perbuatan malam hari itu dikutuk rakyat dan te rcatat dalam sejarah sebagi kelaliman seorang kaisar yang sewenang-wenang membunuhi orang-orang tak berdosa, perbuatan yang amat kejam!

Kaisar Tang Tai Cung sendiri terpukul he bal oleh perbuatan ini.

Semalam suntuk dia tidak dapat pulas .

Jiwa kependekarannya berontak terhadap diri sendiri.

Namun apa artinya kesadaran pikiran kalau berhadapan dengan meraja-lelanya nafsu?

Nafsu mementingkan diri sendiri membuat manusia menjadi lupa daratan, hanya mementingkan diri dan dalam mengejar kepentingan dan keinginan diri, maka segala cara akan ditempuhnya!

Kalau kesadaran timbul bahwa perbuatannya itu tidak benar dan jahat, lalu nafsu yang sudah mencengkeram pikiran menggunakan siasatnya yang teramat licik sehingga batin bahkan mencari cara untuk membela perbuatan yang dikendalikan nafsu itu.

Pikiran akan membela dengan segala cara pula.

Seperti Kaisar Tang Tai Cung Ketika kesadarannya timbul dan membuat dia menyesali perbuatannya, batin yang sudah diperalat nafsu segera menghiburnya dan membela perbuatannya, membis ikkan bahwa dia melakukan semua itu karena te rpaksa, karena kerajaannya te rancam, karena dia harus menyelamatkan Kerajaan Tang, harus menyelamatkan keluarganya, harus mencegah terjadinya pemberontakan yang akan mengorbankan rakyat banyak, dan selanjutnya lagi.

Nafsu melalui pikiran akan berdaya upaya agar keburukan perbuatannya itu te rtutup dan tidak nampak buruk lagi!

De mikianlah kerjanya nafsu yang te ramat cerdik mempermainkan kita.

Pagi-pagi sekali, selir baru kaisar, yaitu Bu Mei Ling atau Bu Houw mendapat berita dari Ji-thaikam, yaitu sida-sida yang menjadi-orang kepercayaannya akan peris tiwa pembantaian orang-orang bermarga Bu.

Wajah Bu Mei Ling menjadi pucat sekali dan iapun bergegas menghadap Kaisar Tang Tai Cung yang nampak lesu dan lelah karena semalam suntuk tidak dapat tidur barang sekejap matapun.

Begitu diperkenankan masuk menghadap kaisar yang masih duduk di tepi pembaringan, selir cantik itu lari sambiI menangis dan menjatuhkan diri berlutut di depan kedua kaki kaisar.

"Yang Mulia........"

Bu Mei Ling te risak.

"Apakah dosa marga Bu maka paduka menjatuhkan hukuman mati kepada mereka semua?". Kaisar menghela napas panjang, pertanyaan itu seperti ujung belati menusuk perasaannya yang sudah gelisah, bimbang dan menyesal.

"Mei Ling, aku melakukan itu untuk menyelamatkan kerajaan.. Marga Bu adalah marga pemberontak yang akan menggulingkan kerajaan.

"Ampun, Yang Mulia. Kalau ada yang te rbukti bersalah dan memberontak, tentu-sudah sepantasnya kalau dihukum berat. Akan tetapi, mungkinkah seluruh keluarga yang bermarga Bu mememberontak? Dari kanak-kanak sampai kakek nenek? Yang Mulia......"

"Sudahlah, cukup"

Kaisar Tang Tai Cung menutupi kedua telinganya degan te lapak tangan.

"Jangan bicarakan lagi urusan itu!"

Selir itu tetap berlutut dan menghapus air matanya. Ketika ia melihat betapa kaisar sudah menurunkan kedua tangannya dan nampak berduka sekali iapun berkata.

"Yang Mulia, hamba adalah adalah Bu Mei Ling, hamba juga dari marga Bu. Kalau paduka menganggap bahwa hamba hendak pula memberontak, hamba siap menerima hukuman. Akan te tapi hamba tidak mau dibunuh oleh orang lain. Hamba mohon agar dibunuh oleh tangan paduka sendiri. Yang Mulia, hamba Bu Mei Ling siap menerima kematian dibawah tangan paduka!"

Selir itu menengadahkan mukanya kepada kaisar, memandang dengan penuh kesedihan, siap menanti datangan pukulan maut.

Sejenak Kais ar' Tang Tai Cung menatap wajah itu dan matanya mencorong lalu perlahan-lahan dia mengangkat tangan kanannya ke atas, siap memukul.

"Engkau ..... engkau wanita she Bu........ engkau akan merampas tahta kerajaan dari anak-anakku....."Akan te tapi, ketika Bu Mei Ling memejamkan mata, siap menanti maut, tangan itu tak kunjung turun. Ia mendengar sedu sedan dan ketika ia membuka matanya, ia melihat kaisar menutupi mukanya dengan kedua tangan dan te rsedu seperti orang menangis.

"Yang Mulia.....!"

Bu Mei Ling bangkit dan merangkul.

"Mei Ling......!!"

Kaisar mendekapnya dan sekali ini kaisar benar-benar menangis di dadanya.

"Mei Ling, aku hanya ingin menyelamatkan kerajaan. Aku bukan orang yang kejam, bukan kaisar lalim...."

Karena penyesalan yang mendalam, karena duka, kaisar menemukan hiburan dalam diri dan pelayanan Bu Mei Ling.

Selir ini memang merasa kagum sekali kepada kaisar, bahkan ada juga api cinta membara dalam dadanya karena Kaisar Tang Tai Cung adalah seorang pria yang jantan dan perkasa, yang biasanya bersikap adil dan bijaksana.

Kini, ia merasa kasihan sekali dan perasaan ini mendatangkan kemesraan yang pada saat itu amat dibutuhkan kaisar yang sedang risau itu.

Setelah Bu Mei Ling mengingatkan kais ar bahwa saat persidangan para mente ri akan dimulai, barulah Kaisar Tang Tai Cung dengan bermalas-malasan bangkit dari pembaringan dan berganti pakaian dilayani oleh Mei Ling.

Keadaan kaisar tidaklah serisau tadi.

Seorang thai-kam mengetuk daun pintu mohon melapor kais ar.

Kais ar memberi isyarat dan Bu Mei Ling membuka daun pintu.

Thaikam itu sambil berlutut melapor bahwa Im Yang Seng-cu mohon menghadap.

Kaisar menyuruh thai-kam mempersilakan tosu itu memasuki ruangan depan kamar, dan diapun keluar dari kamar memasuki ruangan diikuti Bu Mei Ling yang merasa hatinya te gang mendengar munculnya tosu itu karena ia sudah mendengar dari Ji-thaikam bahwa pembantaian terhadap orang-orang bermarga Bu adalah atas nasihat tosu itu.

Im Yang Sengcu cepat memberi hormat dengan membungkuk kepada kaisar.

ketika kaisar muncul bersama Bu Mei Ling.

Hati kaisar yang tadinya risau dan agak terhibur oleh Mei Ling, kini menjadi le bih tenang ketika dia bertemu Im Yang Sengcu yang menghaturkan selamat pagi dan wajahnya nampak berse ri.

"Hamba menghaturkan selamat. Sribaginda. Pembasmian rumput beracun te lah dilaksanakan dongan baik malam tadi."

"Mudah-mudahan saja bahaya yang mengancam kerajaan telah terhindar, totiang,"

Kata kaisar.

"Ampunkan hamba, Sribaginda. Kalau boleh hamba bicara te rus te rang demi keamanan dan keselamatan kerajaan paduka....."

Dia berhenti dan melirik ke arah Bu Mei Ling yang hanya berdiri mendengarkan saja.

"Tentu saja boleh, katakan, totiang,"

Kata kaisar, alisnya berkerut dan hatinya merasa tidak enak.

"Sri baginda, membasmi rumput liar beracun haruslah dilakukan sampai bersih, tidak boleh te rtinggal sebatangpun, karena kalau yang sebatang itu dibiarkan tumbuh, tak lama kemudian tentu akan berkembang biak lagi."

Jelaslah bagi Kaisar Tang Tai Cung siapa yang dimaksudkan oleh tosu itu karena kini tosu itu langsung saja memandang ke arah Bu Mei Ling. Diapun menjawab dengan sikap te nang.

"Totiang rumput yang satu ini akarnya tumbuh di dalam hatiku. Bagaimana mungkin aku mencabutnya tanpa melukai dan merusak hatiku sendiri? Kami ingin minta pendapatmu bagaimana baiknya asal jangan dis uruh mencabutnya, totiang."

Tosu itu tersenyum dan mengangguk-angguk, lalu melangkah hilir mudik di depan kaisar, akan tetapi matanya sering mengerling ke arah Bu Mei Ling.

Selir ini mengerti akan maksud percakapan itu dan iapun menanti dengan jantung berdebar, bukan hanya karena tegang, melainkan terutama sekali karena kemarahan yang ditahan-tahan.

"Ah, hamba te lah mendapatkannya, Sribaginda! Jawaban yang te pat te lah hamba dengar dari bisikan batin hamba. Selama paduka masih menjadi kaisar, seorang wanita tidak akan dapat melakukan suatu bahaya dan setelah paduka tidak lagi berkenan memegang tahta kerajaan, maka seorang wanita takkan mampu lagi berbuat sesuatu yang merugikan kalau ia te lah menjadi seorang nikouw (biarawati). Keputusan ini diumumkan dan disahkan sehingga kelak tidak ada seorangpun yang akan berani mengubahnya."

Mendengar kata-kata itu.

Kais ar Tang Tai Cung te rtawa gembira, dan Bu Mei Ling sebaliknya memandang kepada tosu itu dengan mata te rbelalak penuh kebencian.

Kemudian, ia menjatuhkan diri berlutut di depan kaki kaisar dan berkata.

"Yang Mulia, mohon pengampunan dan jangan hendaknya hamba kelak dijadikan seorang biarawati. Hamba lebih senang kalau hamba mati di tangan paduka."

"Aih, nona Bu Mei Ling. Yang Mula telah memberi ampun kepadamu dan membiarkan engkau hidup, kenapa tidak cepat menghaturkan te rima kasih?"

Im Yang Seng-cu mencela. Kaisar Tang Tai Cung mengangkat bangun selirnya.

"Im Yang Sengcu berkata benar, Mei Ling. Selama aku menjadi kaisar, engkau akan tetap menjadi selirku te rsayang. Kalau aku sudah tidak njadi kaisar, apa salahnya engkau menjadi biarawati dan setiap saat bersembahyang untuk aku?"

Bu Mei Ling bangkit berdiri dan menghadapi Im Yang Sengcu.

"Totiang, yang jelas aku mengetahui bahwa karena engkau maka banyak orang tak berdosa terbunuh. Aku akan berse mbahyang setiap saat agar Tuhan Yang Maha Kuasa menghukummu sesuai dengan dosa-dosamu!"

Ucapan ini le mbut namun berupa kutukan dan diam-diam tosu itu bergidik, akan te tapi dia menutup kengerian hatinya dengan tawa menyeringai.

Pada saat itu, seorang thai-kam melapor bahwa persidangan telah lengkap dihadiri para mente ri dan pangeran.

"Marilah kita ke ruangan persidangan, dan engkau juga ikut, Mei Ling. Aku akan mengumumkan te ntang keputusanku atas dirimu. De ngan keputusan ini tak seorangpun dapat mengganggumu lagi."

"Nanti dulu, Sribaginda. Hamba khawatir kalau-kalau ada kekuasaan gelap yang akan mengancam paduka, oleh karena itu, hamba harus menuliskan hu (s urat jimat) untuk melindungi paduka."

Kaisar te rsenyum dan mengangguk.

Tosu itu mengeluarkan kertas dan alat tulis yang agaknya telah disediakan di dalam saku jubahnya yang le bar, kemudian menuliskan atau melukiskan huruf jimat di atas sehelai kertas.

Setelah selesai, dia menempelkan hu atau jimat itu di atas pintu kamar kaisar.

Kaisar dan Bu Mei Ling memandang dan melihat huruf jimat itu, sebuah huruf aneh yang ditulis dengan tinta hitam di atas kertas kuning yang bentuknya seperti ini .

"Hamba akan buatkan sebanyak mungkin hu seperti ini, Sribaginda, agar dite mpel di seluruh pintu di istana. Dengan adanya hu ini, maka tidak ada kekuatan gelap yang bagaimanapun berani memasuki istana."

Kaisar mengangguk dan te rsenyum.

Dia sudah sering kali menyaksikan keampuan tosu ini maka dia percaya sepenuhnya, akan tetapi Bu Mei Ling di diam-diam merasa menyesal menyaksikan betapa kaisar yang dihormati, dicinta dan dikaguminya itu te rnyata adalah seorang yang bodoh dan percaya akan tahyul.

Dalam persidangan itu, Kaisar Tang Tai Cung menerima protes dan teguran para menteri tua mengenai pembantaian yang dilakukan semalam, karena di antara para pembesar terdapat pula yang bermarga Bu dan mereka semua telah dibunuh.

Namun, dengan adanya Im Yang Sengcu di sampingnya, kaisar tidak gentar menghadapi protes itu, bahkan kaisar lalu memberi penjelasan bahwa semua itu dilakukan demi keselamatan kerajaan Tang yang te rancam oleh marga Bu.

Kemudian, kaisar juga menjatuhkan keputusannya te rhadap selirnya, Bu Mei Ling, karena selirnya itu juga bermarga Bu, bahwa kalau dia sudah tidal lagi menjadi kaisar, selirnya itu harus menjadi biarawati di kuil istana.

Dengan demikian, maka semua kemungkinan te rjadinya ancaman marga Bu itu dapat dihindarkan.

Bu Mei Ling menerima keputusan itu dengan pasrah, la tidak memusingkan urusan masa depan.

Yang te rpenting, sekarang ia masih menjadi kekasih kaisar, dan itu s aja sudah cukup baginya.

Diam-diam, wanita yang cerdik ini juga memperhitungkan bahwa boleh mengandaIkan Pangeran Mahkota yang masih mencintainya.

Kelak, kalau Kaisar Tang Tai Cung tidak lagi menjadi kaisar, berarti Pangeran Li Ci atau Li Hong yang menjadi kaisar dan tentu kaisar baru itu tidak akan membiarkan kekasihnya tersiksa di dalam kuil sebagai seorang biarawati!

Ketika kaisar dan Im Yang Sengcu berada berdua saja, Im Yang Sengcu memberi tahu kepada kaisar bahwa ada lagi seorang wanita bermarga Bu yang dianggap amat berbahaya dan wanita itu sudah sepatutnya kalau dilenyapkan dari muka bumi ini, kalau kaisar menghendaki Kerajaan Tang benar-benar aman dari ancaman marga Bu.

"Totiang, bukankah Bu Mei Ling sudah te rbelenggu dengan keputusan kami, dan iapun hanya seorang wanita lemah. Apa yang dapat ia lakukan? Sekarang ia hidup di sampingku, dan kelak ia menjadi biarawati."

"Bukan selir paduka yang hamba maksudkan. Wanita ini jauh le bih berbahaya karena ia memiliki ilmu silat yang amat tinggi, bahkan di dunia kang-ouw, jaran g ada jagoan yang akan mampu menandingi dan mengalahkannya. lapun| bermarga Bu dan kalau ia yang melakukan atau memimpin gerakan itu, benar benar kerajaan paduka terancam."

Kaisar Tang Tai Cung membusungkan dadanya.

"Hemm, siapakah ada wanita she Bu yang demikian lihainya? Kurasa tidak ada pendekar wanita yang akan mampu menandingi aku!"

"Sribaginda, ia bernama Bu Giok Cu dan kelihaiannya dalam ilmu silat, biar hamba sendiri bukanlah tandingannya."

"Bu Giok Cu? Siapa ia dan di mana tinggaInya?"

"la tinggal di dusun Hong-cun di te pi sungai Huang-ho, ia adalah isteri dari Huang-ho Sing-liong Si Han Beng."

"Ahh.....!!"

Kaisar benar-benar te rkejut mendengar ini.

"Isteri.......Naga Sakti Kuning? Tapi, tapi ......."

Kaisar Tang Tai Cung nampak te rtegun dan bingung.

Dia te ringat akan mendiang Kwa Bi Lan, selirnya yang menjadi kekasihnya sejak dia belum menjadi kaisar, selir terkasih dan juga amat setia yang te lah mengorbankan nyawa demi membelanya ketika dia diserang ole h dua orang pembunuh.

Dan dia te ringat kepada Hong Lan, yang sejak kecil dianggap sebagai pute rinya sendiri, pada hal Hong Lan itu adalah Si Hong Lan, pute ri Naga Sakti Sungai Kuning!

Dan kini, Im Yang Sengcu memberi tahu bahwa ibu kandung Si Hong Lan bernama Bu Giok Cu, seorang wanita bermarga Bu yang diramalkan kelak akan menjatuhkan Kerajaan Tang!

"Wanita itu berbahaya sekali Sribaginda.

la bermarga Bu, berilmu tinggi dan suaminya juga seorang yang amat lihai.

Apa lagi kalau diingat bahwa Bu Giok Cu itu te ntu tidak akan tinggal diam mendengar paduka membasmi orang-orang bermarga Bu.

Oleh karen tu, dengan mengingat bahwa membasmi rumput liar beracun haruslah tidak tanggung-tanggung, maka akan bijaksanalah kalau paduka memerintahkan panglima untuk menangkap dan membunuh Bu Giok Cu itu.

Kalau suaminya membela, diapun harus dienyahkan!"

Kaisar bangkit berdiri dan sambiI menggendong kedua tangan dia mondar-mandir di pondok dalam taman itu, alisnya berkerut dan berulang kali dia menggeleng kepala, Im Yang Sengcu membiarkan saja dia dalam keadaan seperti itu sampai beberapa saat, kemudian dia berkata.

"Harap paduka mengampuni hamba kalau hamba bicara keliru."

Kaisar duduk kembali dan mengepal tangan kanan yang dia letakkan di atas meja.

"Tidak, totiang. Engkau tidak keliru karena engkau hanya memikirkan keselamatan kerajaan. Akan te tapi bagaimana mungkin melakukan itu? Kau tahu Bu Giok Cu. isteri Naga Sakti Sungai Kuning itu adalah ibu kandung dari puteriku Hong Lan!"

Im Yang Sengcu terbelalak.

"Ahhh .? Apa .... apa maksud paduka...?"

Terpaksa kaisar membuka rahasia Hong Lan karena dia sudah terlanjur mengatakannya.

pula dia amat percaya kepada tosu ini "Kau tahu.

Si Hong Lan yang sejak kecil kuanggap sebagai pute riku itu, sebetulnya bukan pute ri kandungku.

juga bukan anak kandung mendiang Kwa Bi Lan selirku, melainkan anak kandung Naga Sakti Sungai Kuning dan isterinya!"

Lalu dengan singkat kaisar menceritakan tentang Hong Lan yang diculik dan dilarikan Kwa Bi Lan dari tangan kedua orang tua kandungnya.

"Ain, sungguh tidak te rduga......."

Im Yang Sengcu menggumam.

"... dan sekarang Yang Mulia Puteri....."

"Hong Lan sudah tahu akan keadaan dirinya dan kini ia pergi untuk mencari ayah bundanya. Nah, bagaimana mungkin aku mengirim pasukan untuk membasmi keluarga Hong Lan yang kusayangi sebagai pute riku sendiri?"

Kembali Im Yang Seng-cu mondar-mandir dan alisnya berkerut.

Sungguh tidak disangkanya sama sekali bahwa ada hal yang demikian kebetulan.

Kiranya pute ri Hong Lan adalah pute ri kandung Naga Sakti Sungai Kuning!

Padahal, sudah lama sekali dia menaruh dendam kepada suami is teri pendekar itu.

Dia ingin mempergunakan kesempatan baik ini untuk membalas dendam kepada mereka yang dahulu, ketika masih muda pernah membasmi banyak rekannya di dunia kangouw.

Akhirnya dia berhenti melangkah dan menghadapi Sri baginda Kaisar.

"Hamba telah mendapatkan jalan yang terbaik bagi paduka. Karena mereka adalah orang tua Puteri Hong Lan, maka tidak ada janggalnya kalau paduka mengundang mereka datang ke Istana bersama pute ri mereka. Dalam pertemuan kekeluargaan itu paduka dapat memancing dan bertanya kepada Naga Sakti Sungai Kuning te ntang ramalan perbintangan yang je las menyatakan bahwa marga Bu, dan seorang wanita pula, merupakan ancaman besar bagi Kerajaan Tang. Nah, karena isterinya seorang wanita she Bu, maka paduka lihat saja bagaimana tanggapan pendekar itu. Dan kalau mereka sudah berada di sini, hamba akan mendapatkan akal untuk menghadapi mereka."

Sri baginda kaisar mengerutkan alisnya.

Dia adalah seorang yang gagah perkasa, bahkan ketika mudanya dia juga seorang pendekar yang membela keadilan dan kebenaran.

Namun, setelah kini menjadi kaisar, berenang di dalam kemuliaan dan kekuasaan, yang te rpenting dalam hidupnya adalah mempertahankan kekuasaannya itu!

Kekuasaannya sebagai kaisar menjamin kemenangan, kebenaran, kemuliaan, kemewahan dan segala macam kesenangan baginya, apapun yang dikehendakinya dapat te rlaksana!

Nafsu kesenangan sudah mencengkeramnya sampai mendarah daging, dan mempertahankan kesenangan ini merupakan te kad hidupnya.

Bahkan, dia ingin mengabadikan kekuasaannya sehingga dia bersusah payah ingin mendapatkan obat yang dapat membuat dia hidup seribu tahun.

atau selamanya!

Kalaupun ini gagal, dia menghendaki agar kekuasaan itu dapat diwaris i dan dilanjutkan anak cucunya maka te ntu saja dia tidak rela mendengar bahwa ada kekuatan baru, yaitu seorang wanita bermarga Bu, yang kelak akan mengambil alih kekuasaan itu.

Kalau saja tidak demi mempertahankan kekuasaannya itu, tentu dia akan berpikir seribu kali untuk mengganggu sepasang suami isteri pendekar besar seperti Naga Sakti Sungai Kuning dan isterinya.

"Baik, akan kami kirim utusan ke sana mengundang mereka. Akan te tapi bagaimana dengan obat panjang usia itu, totiang? Sudah jadikah?"

"Kurang sedikit lagi, Sribaginda. Harua sempurna benar baru hasilnya akan pasti dan baik. Akan te tapi, unyuk cara pembuatan emas, sudah hamba persiapkan dan sekarang juga dapat paduka pelajeri."

"Bagusi Kami ingin sekali mempelajarinya!"

Kata Kaisar Tang Tai Cung.

Dia membayangkan bahwa sekali ilmu membuat emas itu telah dikuasainya, maka negaranya akan menjadi negara terkuat di dunia ini.

Dia akan dapat membuat emas sebanyaknya dan dengan "senjata"

Berupa emas ini, siapakah yang akan mampu melawannya?

Segala apapun dapat dibeli dan dikuasai di dunia ini dengan logam mulia itu!

"Kalau begitu, Sr baginda, sebaiknya agar dijaga jangan sampai ada orang lain yang dapat melihat atau mendengarkan percakapan kita ini, dan lebih te pat lagi kalau paduka sendiri yang mencatat semua bahan dan cara pembuatan emas.

Kelak, setelah paduka mempelajarinya dan sudah hafal, baru kita mencoba untuk mempraktekkannya dan membuatnya."

De ngan wajah berseri dan sinar mata mencorong, Kaisar Tang Tai Cung lalu meneriaki pengawal dan mcmerintahkan agar taman itu dijaga dan tidak boleh ada seorangpun memasuki taman, apa lagi mendekati pondok dengan ancaman hukuman mati.

Kemudian, dia mempersiapkan kertas dan alat tulis, dan dengan hati te gang penuh gairah dia sudah duduk dan siap menulis.

Im Yang Sencu nampak duduk bersila dan memejamkan mata di atas dipan di depan kaisar, seolah dia sedang bersamadhi dan menghimpun kekuatan.

Kemudian, dengan suara lirih namun jelas, Im Yang Sengcu mengeluarkan kata-kata yang dicatat dengan seksama oleh Kaisar Tang Tai Cung.

"Rahasia ini ditulis oleh Manusia Dewa Ko Hung dengan nama Poa Bu Cu, dan agar dilakukan dengan penuh ketaatan agar berhasil membuat emas. Bahan-bahannya dan cara pembuatannya adalah seperti berikut, harap dicatat baik-balk."

Im Yang Sengcu lalu mengeluarka kata-kata aneh seperti membaca mantram yang tidak dimengerti oleh Kais ar Tang Tai Cung yang menjadi tidak sabar.

Akan te tapi, tosu itu lalu bicara lagi dengan bahasa yang jelas.

"Pergunakan sebuah kuali (periuk) besi bergaris te ngah satu kaki dua inci dan tingginya juga satu kaki dua inci, dan sebuah kuali besi kecil dengan garis te ngah dan tinggi enam inci. Ambil satu kati tanah Iiat merah yang lembut, satu kati (kurang le bih satu ons) sendawa, satu kati gamping, satu kati tepung besi dari Tai-couw (di propinsi Shansi), setengah kati belerang, dan satu kati es. Tumbuk semua ini menjadi satu sampai halus dan aduk sampai rata. Kemudian, olesi bagian dalam dari kuali besi kecil sampai setebal sepersepuluh inci dengan satu kati air raksa, setengah kati cinnabar (raksa kristal merah) dan setengah kati liang-fel."

"Apa itu liang-fei?"

Tanya kaisar yang menunda tulisannya.

"Liang-fei dibuat dengan cara memanaskan sepuluh kati timah dalam sebuah kuali besi di atas perapian, sampai keluar tiga ons air raksa dari timah yang mencair, dan ciduk ini dengan aebuah senduk besi. Itulah yang dinamakan liang-fei."

"Hemm, begitukah? Lanjutkan, totiang,"

Kata kaisar penuh perhatian.

"Kemudian aduklah semua bahan tadi sampai rahsanya tidak nampak. Lalu masukkan campuran ini ke dalam kuali besi yang kecil, dan taburi dengan gamping lalu tutup dengan penutup besi dan letakkan kuali ke dalam kuali bes ar dan bakar di atas api. Timah yang mencair itu akan te nggelam ke dalam kuali besar. Kemudian dari kuali yang kecil, ambillah bagian atas campuran yang mencair itu setebal setengah inci bagian atas, dan panaskan ini di atas api besar selama tiga hari tiga malam. Ini akan menghasilkan apa yang sebut bubuk merah. Kemudian ambil timah yang sepuluh kati itu dan panaskan selama duapuluh hari s iang malam, lalu pindahkan ke dalam sebuah kuali te mbaga dan tambahkan bubuk merah tadi ke dalam timah yang mencair. Aduklah dengan sebuah senduk berukuran hati rnanusia yaitu satu inci persegi dan campuran-timah dan bubuk merah itu seketika akan berubah.menjadi emas!"

Setelah selesai menuliskan semua itu, berulang-ulang Kaisar Tang Tai Cung membacanya dan alisnya berkerut.

"Totiang, benarkah sepuluh kati timah itu akan berubah menjadi emas?"

Im Yang Sengcu membuka matanya dan nampak lelah sekali. Akan tetapi mendengar pertanyaan kaisar.itu, dia mengerutkan alisnya.

"Sribaginda, syarat utama untuk membuat emas seperti yang digambar oleh Manusia Dewa Ko Hung bergelar Pao Bu Cu adalah kepercayaan. Kita harus percaya agar kalau kita mencoba membuatnya, tidak akan mengalami kegagalan."

"Kalau begitu, kita harus secepatnya mencoba resep ini, totiang."

"Harap paduka suka bersabar dulu Sribaginda. Hamba sedang memusatkan-perhatian hamba kepada pembuatan obat panjang usia itu. Apa artinya segunung emas kalau usia kita tidak panjang?"

"Ah, engkau benar, totiang! Memang, sebaiknya engkau cepat selesaikan pembuatan obat itu."

"Hamba membutuhkan ketenangan untuk penyelesaiannya, Sri baginda. Akan tetapi akhir-akhir ini terlalu banyak persoalan yang mengganggu ketenangan hamba. Bahkan belum lama ini.......Pangeran Li Cu Kiat.......ahh, hamba tidak berani...."

Tosu itu berdiam diri dan menundukkan mukanya yang nampak muram.

"Ehh? Ada apakah dengan keponaanku Li Cu Kiat, totiang? Apa yang hendak kaukatakan te ntang dia? katakan saja, dan jangan takut."

"Baiklah, Sribaginda. Hamba akan menceritakan sejujurnya, akan te tapi bukan maksud hamba untuk mengadu. Beberapa hari yang lalu, ketika .seorang wanita muda yang mencurigakan naik ke bukit pondok hamba, Ia bentrok dengan murid hamba dan melukai murid hamba itu. Ketika hamba keluar la melarikan diri. Karena merasa curiga, hamba mengajak murid-murid hamba untuk melakukan pengejaran. Dan melihat ia menghilang di dekat gedung Pangeran Li Cu Kiat, ham-merasa khawatir sekali. Hamba teringat akan wanita jahat yang pernah mencoba untuk membunuh paduka. Maka, hamba lalu mohon menghadap keluarga Pangeran Li Cu Kiat untuk memperingatkan tentang lenyapnya gadis lihai itu di dekat gedung mereka, demi keamanan mereka. Akan te tapi.... ahh, hamba tidak berani mengatakan, takut kalau dlsangka hamba mengadu, Sribaginda."

"Totiang, katakanlah. Kalau memang ada yang bersalah, kami wajib untuk memberi te guran. Apa yang dilakukan ole h Cu Kiat kepadamu?"

"Pangeran Li Cu Kiat mengeluarkan kata-kata menghina, Sribaginda, te rutama sekali Nyonya Song..... hamba dimaki sebagai dukun le pus, peramal dan tukang sihir....."

"Hemm, anak itu perlu ditegur !"

Kata kaisar.

"Harap paduka jangan marah, pangeran itu hanya perlu diberi tahu agar lain kali jangan menghina orang tua lagi."

De ngan alasan hendak menyempurnakan pembuatan obat panjang usia, Yang Sengcu mengundurkan diri.

Kai Tang Tai Cung te rmenung memegangi catatan pembuatan emas.

Akhirnya, malam itu juga ia memanggil komandan pengawaI dan menyuruh dia menyampaikan perintahnya kepada panglima untuk mengiim seregu pasukan mengundang Huang-Sin-liong Si Han Beng dan isterinya juga Si Hong Lan untuk menghadap ke istana.

Juga dia memerintahkan seorang utusan untuk besok pagi-pagi memanggil pangeran Li Cu Kiat datang menghadap.

o)0o-dw-o0(o Pada keesokan harinya, Pangeran Li Cu Kiat yang dipanggil kaisar, datang menghadap dan dite gur tentang sikapnya yang kurang hormat te rhadap Im Yang Sengcu.

"Cu Kiat, engkau te ntu mengetahui bahwa Im Yang Sengcu merupakan seorang pendeta dan sahabat kami yang sudah banyak berjas a. Kenapa engkau yang muda berani bersikap tidak hormat kepanya? Bukankah dia malam-malam datang kepadamu untuk menjaga keamanan keluarga ibumu agar jangan sampai terancam oleh seorang wanita yang dicurigai?"

Demikian antara lain Kaisar Tang Tai Cung menegur keponakannya.

"Mohon ampun, Pamanda Kaisar yang mulia. Sesungguhnya, sikap hamba dan nenek hamba hanya merupakan akibat s aja dari pada sebab yang ditimbulkan oleh Im Yang Sengcu sendiri. Dia mencurigai keluarga kami menyembunyikan gadis itu. Karena itu, nenek dan hamba mengeluarkan kata-kata teguran kepadanya."

Kaisar mengangguk-angguk.

"Hemm, kalau begitu hanya te rjadi kesalah pahaman saja. Engkau harus dapat mempertimbangkan bahwa dalam keadaan mengejar penjahat, tentu saja Im Yang Seng-Cu mencurigai siapa saja, dan sebagai orang muda, lain kali seyogianya kalau engkau bersikap hormat te rhadap orang tua agar kami sebagai pamanmu tidak ikut merasa rikuh. Mengerti?"

"Pesan dan perintah Pamanda akan hamba taati,"

Kata Li Cu Kiat, diam-diam merasa mendongkol sekali kepada tosu itu yang agaknya telah mengadu pada kaisar.

Setelah pulang ke rumahnya sendiri dengan hati je ngkel, Li Cu Kiat melihat Kui Eng berada di taman dan diapun segera memasuki taman.

Kui Eng cepat bangkit dari bangku yang didudukinya ketika melihat pangeran itu pulang.

Tadi ia merasa khawatir mendengar bahwa pemuda itu dipanggil kaisar karena ia menduga bahwa panggilan itu te ntu ada hubungannya dengan peristiwa ketika ia dikejar Im Yang Sengcu sampai ke gedung keluarga itu.

"Engkau sudah pulang, pangeran? Lalu bagaimana kabarnya? Benarkah ke khwatiranku bahwa panggilan itu ada hubungannya dengan diriku?"

"Duduklah, nona, dan kuminta agar engkau tidak lagi memanggilku pangeran. Engkau sendiri pun pute ri pangeran, kita sederajat kalau memang engkau membedakan tingkat dan derajat. Dan kami sekeluarga telah te rlibat dengan dirimu sedemikian rupa sehingga engkau kami anggap seperti keluarga sendiri. Bagaimana kalau kita berkakak adik saja? Kau memanggil aku kakak dan aku memanggilmu adik?"

Kui Eng te rse nyum. Sejak pertemuan pertama kali, ia memang sudah merasa kagum dan suka sekali kepada pangeran yang le mbut hati dan manis budi ini, juga gagah perkasa.

"Baiklah, twako . N ah, ceritakan, apa yang terjadi denganmu di Istana?"

Mereka duduk di bangku taman itu, sejenak saling pandang dan Cu Kiat menghela napas panjang.

Betapa anggunnya gadis ini, pikirnya.

Selama hidupnya, biar berulang kali didorong-dorong ibunya dan neneknya, belum pernah dia bergaul dengan wanita, apa lagi jatuh cinta.

Akan tetapi sekali Ini, dia benar-benar telah jatuh cinta!

Dia siap melakukan pengorbanan apa saja untuk gadis yang duduk di depannya ini.

"Eng-moi ....."

Sebutan ini terasa ringan di bibirnya karena sejak perte muan itu, setiap malam seringkali dia menggunakan sebutan itu, dalam renungan maupun di dalam mimpi.

"Paman Kaisar hanya menegurku karena aku te lah bersikap kasar terhadap Im Yang Sengcu."

"Apakah kaisar bertanya tentang diriku?"

"Tidak, Eng-moi. Pamanda Kaisar percaya kepadaku dan tidak mencurigaiku, dia hanya menegurku karena pengaduan Im Yang Sengcu."

Lalu dia mencerikan pertemuannya dengan kais ar.

Kui Eng menghela napas panjang "Aihhh, pangeran......

eh, twako....sungguh aku merasa tidak enak sekali.

Engkau te lah begitu baik kepadaku, juga ibumu dan nenekmu, kalian telah begitu baik menerimaku.

Bagaimana mungkin sekarang aku membiarkan diriku mendatangkan hal-hal yang tidak enak bagimu?

Engkau sudah dite gur kaisar, engkau di curigai Im Yang Sengcu, mungkin keluargamu akan menghadapi ancaman yang le bih gawat lagi kalau aku te tap berada di sini.

Karena itu, twako, sebaiknya kalau aku pergi saja meninggalkan gedung ini agar keluargamu te rbebas dari pada kesulitan-kesulitan,..."

"Eng-moi......!"

Tiba-tiba pangeran itu menjulurkan tangan dan memegang tangan kanan Kui Eng dengan kedua tangannya.

Gadis itu te rkejut, mukanya berubah merah akan tetapi ia tidak melepaskan tangannya yang te rgenggam karena tidak ingin menyinggung perasaan pangeran itu.

"Eng-moi, kenapa engkau berkata demikian? Kami......aku......rela melakukan semua ini untukmu, bahan aku siap mengorbankan nyawaku demi untuk membela dan melindungimu..........."

"Twako, apa yang kaukatakan ini? Sadarlah....!"

Kata Kui Eng, perlahan menarlk tangannya melepaskan dari genggaman tangan pangeran itu dengan lembut.. Li Cu Kiat nampak te rsipu.

"Maaf ........ ah, maafkan aku, Eng-moi, aku tadi terseret perasaan. Akan tetapi aku bersungguh-sungguh. Jangan engkau tinggalkan te mpat ini begitu saja, bahaya akan mengancammu di mana-mana. Tidak Eng-moi, engkau tidak boleh pergi. Aku tidak akan pernah dapat memaafkan diriku sendiri kalau sampai engkau te rtimpa bencana. Tinggallah dulu di sini sampai suasana menjadi aman bagimu. Kini, Im Yang Sengcu sudah berhasil mengadu kepada Pamanda Kaisar, maka kita harus lebih berhati-hati. Engkau tinggallah dulu di sini untuk sementara, dan aku akan mengerahkan semua pembantu dan te manku untuk mencari suhengmu. Kalau dia sudah berada di kota raja aku yakin kita akan dapat menemukannya. Kalau sudah tiba saatnya engkau harus keluar dari kota raja, aku yang akan mengaturnya agar engkau dapat keluar dengan selamat dan tidak diketahui Im Yang Sengcu dan anak buahnya."

Karena dibujuk dengan alasan yang kuat, akhirnya Kul Eng mengalah.

"Baiklah, twako. Akan tetapi, sungguh aku merasa semakin banyak menerima limpahan budi yang bertumpuk-tumpuk darimu. Twako, kita baru saja bertemu dan kenalan, kenapa engkau, ibumu dan nenekmu begini baik terhadap diriku?"

Gadis itu mengangkat muka menatap wajah pangeran itu yang juga menatapnya.

Dua pasang mata itu berpandangan dan bertaut, kemudian melihat betapa ada pancaran kasih sayang yang demikian jelas keluar dari sepasang mata pangeran itu, Kui Eng menundukkan mukanya yang terasa panas.

"Eng-moi, maafkan aku kalau aku berte rus te rang dan mungkin menyinggung perasaanmu. Entah mengapa, baru sekali ini selama hidupku aku mengalami perasaan seperti yang kualami sejak aku berte mu denganmu. Seolah selama ini aku sudah mengenalmu, seolah selama ini engkaulah orang yang selalu kunanti muncul dalam kehidupanku, Eng-moi, te rus terang saja, aku mencintamu, dan aku tidak ingin berpisah darimu untuk lamanya. Eng-moi, maafkan aku, akan tetapi, sudikah engkau menerima cintaku?"

Wajah itu menjadi kemerahan pada saat itu, te rbayanglah wajah Thian Ki di depan matanya. Kui Eng menunduk.

"Twako, kita baru saja saling jumpa dan berkenalan dalam beberapa hari...... rasanya masih terlalu pagi untuk bicara te ntang itu. Aku ...... aku tidak tahu......."

"Maafkan aku, Eng-moi. Memang aku yang te rgesa-gesa, karena aku khawatir sekali mendengar niatmu untuk pergi meninggalkan aku. Aku ingin engkau tahu lebih dulu sebelum pergi te ntang isi hatiku. Nah, sekarang le galah hatiku karena sudah kucurahkan is i hatiku Sekarang, bagaimana, Eng-moi, maukah engkau untuk sementara bersembunyi dulu di sini sambil menanti hasil usahaku mencari suhengmu?"

Kui Eng mengangguk.

Memang iapur tahu bahwa tanpa bantuan pangeran ini, tidak akan mudah pergi dari kota raja dan kalau sampai Im Yang Sengcu melihatnya, te ntu ia akan te rancam bahaya besar.

Dari balik pintu belakang, N yonya Li dan Nenek Song mengintai dan mereka berdua te rsenyum gembira melihat Pangeran Li Cu Kiat duduk berdua di atas bangku dalam taman bersama Kui Eng dan mereka nampak begitu akrab.

"mudah-mudahan cucuku menemukan jodohnya....."

Bisik Nenek Song dan pute rinya hanya tersenyum.

Sementara itu, Kui Eng merasa cukup bicara dengan Pangeran Li Cu Kiat dan ia bangkit berdiri hendak kembali ke dalam rumah.

Akan tetapi ia tiba-tiba mengeluh dan menggunakan kedua tangan memegangi kepalanya.

Kepala itu terasa nyeri bukan main, seperti ditusuki jarum dari dalam.

"Ehh.....! Engkau kenapa, Eng-moi......?"

Pangeran Li Cu Kiat terkejut dan cepat menghampiri. Tubuh Kui Eng te rhuyung dan te ntu ia sudah jatuh kalau tidak cepat dirangkul Li Cu Kiat.

"Aduh..... aughh ...kepalaku-... tertusuk-tusuk rasanya... aduhhh.....aduhhh.....!"

Kui Eng menekan kepala dengan kedua tangannya "Eng-moi., apa yang terjadi, Kenapa kepalamu....?"

Li Cu Kiat menjadi bingung dan khawatir sekali. Nenek Song dan N yonya Li juga melihat peristiwa itu dan mereka berdua cepat berlari menghampiri.

"Apa yang te rjadi? Kenapa Kui Eng?"

Tanya Nynya Li dan iapun ikut merangkul gadis itu yang masih menggeliat-geliat kesakitan.

"Kalian mundur! Kui Eng, dengar baik-baik! Cepat engkau bersila mengerahkan sin-kangmu sekuat tenaga!! tiba-tiba Nenek Song berkata setelah dia memegang pergelangan tangan gadis itu.

"Engkau tidak sakit, akan tetapi ada pengaruh hitam yang menguasai dirimu!"

Mendengar suara nenek itu, Kui Eng te ringat.

Tadi ia kaget bukan main dan menjadi panik karena kepalanya seperti ditusuk-tusuk dari dalam sehingga ia tidak tahu harus berbuat apa.

Akan tetapi begitu mendengar ucapan nenek itu, iapun te ringat, dan dengan menahan rasa nyeri yang hebat, diapun cepat duduk bersila di atas rumput dan mengerahkan seluruh kekuatan sin-kangnya untuk menolak pengaruh asing dan aneh yang membuat kepalanya seperti ditusuk-tusuk dari dalam itu.

Setelah mengerahkan sin-kangnya, rasa nyeri itu berkurang banyak, walaupun masih te rasa tidak enak dan pening.

Akan tetapi, lewat beberapa menit kemudian, rasa nyeri semakin berkurang dan akhirnya le nyap.

la menarik napas panjang dan bangkit, lalu dengan agak pening ia membiarkan dirinya dituntun Li Cu Kiat dan duduk kembali ke atas bangku tadi.

Setelah gadis itu nampak normal kembali, Cu Kiat bertanya lembut.

"Eng Moi, apa yang telah te rjadi? Kenapa engkau mendadak kesakitan seperti itu?"

"Cu Kiat, apakah engkau tidak dapat menduga? Kui Eng te lah diserang secara gelap, diserang dengan ilmu hitam, dengan sihir."

Pangeran, itu terbelalak, lalu mengepal tinju.

"Jahanam busuk! Siapa ladi kalau bukan Im Yang Sengcu yang melakukan ini?"

Bentaknya marah.

"Aku harus membuat perhitungan dengan dia! Berani dia menyerang Eng-moi dengan ilmu hitam!"

"Cu Kiat, te nanglah,"

Kata nya halus.

"Jangan bertindak sembrono. Kita tidak mungkin dapat menuduhnya tanpa adanya bukti. Sebaliknya dia akan menuduhmu menjatuhkan fitnah kepadanya dan tanpa bukti, engkau akan kalah."

"I bumu benar, Cu Kiat. Memang akupun menduga bahwa Im Yang Sengcu. yang melakukan hal ini, akan tetapi, tanpa bukti, kita tidak berdaya. Se mentara ini, agaknya sin-kang di tubuh Kui Eng cukup kuat untuk menyelamatkan dirinya. Akan te tapi kita harus mencari seorang ahli untuk menolak serangan ilmu hitam itu."

"Aih, aku hanya membikin repot keluarga yang mulia ini saja,"

Keluh Kui Eng.

"aku percaya, kalau suheng berada di sini, dia pasti akan dapat menolak pengaruh iblis itu."

"Mari kita masuk ke dalam dan kita atur bagaimana baiknya,"

Kata Nenek Song.

Mereka semua masuk dan semenjak itu setiap hari Kui Eng mendapat serangan dalam kepalanya sampai beberapa kali.

Biar pun dengan sin-kangnya ia mampu bertahan dan menolak, namun tetap saja ia menderita sekali dan hampir tidak dapat turun dari pembaringan karena kepalanya te rasa berat dan pening.

Setiap kali serangan datang di dalam kepalanya seperti ditusuk-tusuk jarum dan ia hanya mampu menolak serangan itu dengan sin-kangnya, akan te tapi hal itu amat melelahkan dirinya dan membuat ia rebah seperti dalam keadaan sakit berat.

Bahkan beberapa kali ia roboh pingsan dan setelah pingsan, serangan itupun le nyap, akan tetapi datang lagi kalau ia siuman.

Beberapa orang ahli te lah diundang oleh keluarga itu, akan tetapi agaknya para hwes io dan tosu yang dimintai tolong, tidak mempunyai te naga cukup kuat untuk menolak serangan ilmu hitam itu.

Pangeran Li Cu Kiat menjaga Kui Eng siang malam, bahkan tidur di lantai bawah pembaringan gadis itu.

Biarpun nenek dan ibunya membujuk agar dia beristirahat, dia menolak dan tetap menjaga Kui Eng dengan penuh perhatian melayani semua kebutuhan gadis itu membuat' Kui Eng kalau sadar merasa te rharu bukan main.

Sementara itu, Pangeran Li Cu Kiat juga mengerahkan tenaga bantuan dari para komandan yang dikenalnya baik, untuk menyebar orang dan mencari.

seorang pemuda bernama Coa Thian Ki dengan ciri-ciri seperti yang digambarkan oleh Kui Eng kepadanya.

o)0o-dw-o0(o Berita tentang pembantaian semua orang bermarga Bu di kota raja dan sekitarnya, terbawa angin dengan cepatnya sehingga berita itu sampai pula ke Hong-cun, dusun tempat tinggal Huang-ho Sin-liong Si Han Beng dan isterinya.

Bu Giok Cu.

Suami isterl ini sudah lama mengasingkan diri dan tidak mencampuri urusan di dunia kangouw, akan tetapi ketika mereka mendengar berita itu, mereka te rkejut juga, terutama sekali karena isteri pendekar itupun bermarga Bu!

Tanggapan Hong Lan lebih hebat lagi.

Mendengar berita itu, iapun menangis tersedu-sedu.

Suami isteri itu saling pandang dan Giok Cu merangkul pute rinya dengan penuh kasih sayang.

"Lan Lan, kenapa engkau menangis mendengar berita mengerikan itu?"

"I bu, betapa hatiku tidak akan sedih mendengar pembantaian orang-orang yang tidak berdosa itu. Aku tahu, semua ini tentu ulah Im Yang Sengcu, tosu ahli sihir itu. Aku tidak percaya a yah sekejam itu. Ayahanda kaisar adalah seorang laki-laki gagah perkasa yang berwatak pendekar, menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan. Bagaimana mungkin dia melakukan kekejaman itu kalau bukan karena ulah Im Yang Sengcu! Aku harus ke kota raja, aku akan mengingatkan ayahanda kaisar agar jangan menuruti bujukan tosu siluman itu!"

"Hong Lan, tenanglah dulu dan kita harus mempertimbangkan baik-baik kehe ndakmu itu. Ingat, Hong Lan, sekarang kedudukanmu tidak lagi seperti dulu ketika engkau masih menjadi puteri kaisar. Bagaimana engkau akan kuat menentang pengaruh tosu itu yang telah menjadi penasihat kaisar seperti yang pernah kauceritakan kepada kami? Dan ada suatu hal yang amat gawat sekali yang harus kau pertimbangkan baik-baik sebelum mengambil keputusan pergi ke kota raja."

Melihat suara ayahnya demikian serius, Hong Lan memandang ayahnya! "Sesuatu apakah yang begitu gawat, ayah?"

"Engkau lupa bahwa ibumu adalah seorang bermarga Bu juga."

"Ahh....."

Hong Lan te rbelalak, baru te ringat bahwa ibu kandungnya bernama Bu Giok Cu.

"Kalau begitu, aku bahkan harus cepat ke sana menemui kaisar, ayah. Tindakannya ini benar-benar akan menghancurkan nama baiknya, dan ia merasa berkewajiban untuk mengingatkannya, te rutama sekali mengingatkan beliau akan bahayanya menurut bujukan seorang iblis seperti Im Yang Sengcu." 'Kalau engkau berkeras hendak ke kotaraja, kami tidak akan melepasmu begitu saja. Kami akan menemanimu dan kita bertiga bersama pergi ke s ana,"

Kata Si Han Beng.

"Akan te tapi, ayah!"

Hong Lan memprotes .

"Ibu bermarga Bu, bagaimana mungkin ibu ikut ke sana? Itu berbahaya sekali !"

"Lan Lan, engkau sendiri hendak ke s ana. Kalau engkau memiliki keberatan untuk pergi ke sana, apa lagi ibu! Aku tidak takut akan ancaman, dari manapun juga datangnya,"

Kata Bu Giok Cu.

"I bumu benar, Hong Lan. Orang yang tidak merasa bersalah tidak perlu takut. Pula, kalau engkau khawatir, kita dapat memasuki kota raja dengan menyamar, ibumu ini memiliki ilmu penyamaran yang hebat."

"Benarkah itu, ibu?"

Hong Lan sudah mendapatkan kembali kegembiraannya. Memang anak ini memiliki dasar lincah gembira.

"Kaulihat ibumu ini!"

Kata Bu Giok Cu dan iapun membalikkan tubuh membelakangi puterinya, hanya dalam beberapa menit dan ketika ia membalikkan lagi tubuhnya menghadapi Hong Lan gadis itu menahan jeritnya saking kaget dan herannya.

Ibunya telah berubah menjadi wanita yang wajahnya berbeda sama sekali!

"I hh...., ibu!

Engkau harus mengajarkan ilmu menyamar ini kepadaku kata Hong Lan sambil te rtawa dan merangkul ibunya.

Pada saat itu, nampak seorang laki setengah tua, tetangga mereka berlari-larian mengetuk pintu depan rumah pendekar itu.

Ketika mereka bertiga ke luar, laki-laki itu dengan napas terengah-engah berkata.

"Si-taihiap. Ada serombongan pasukan kerajaan memasuki dusun kita dan bertanya-tanya te ntang rumah taihiap. Mereka sedang menuju ke sini"

Setelah mengatakan laporan ini, tetangga itu lalu pergi menyembunyikan diri dengan ketakutan.

Keluarga pendekar itu te rkejut mendengar ada seregu perajurit kerajaan mencari mereka, akan tetapi mereka masih bersikap tenang.

"Sebaiknya kalian berdua berkemas dan dengarkan perca kapanku dengan pimpinan regu. Kalau aku mengatakan bahwa kalian tidak berada di rumah, cepat pergi tinggalkan rumah dari pintu belakang dan tunggu aku diluar dusun, di hutan kecil tepi sungai tempat biasa mengail ikan."

Ibu dan anak itu tidak perlu mendapat penjelasan lagi.

Mereka segera memasuki kamar dan berkemas.

Ketika rombongan pasukan kerajaan itu memasuki pekarangan rumah, mereka telah siap dengan buntalan pakaian di punggung dan mereka berdua mengintai dari dalam.

De ngan sikap te nang Si Han Beng menyambut rombongan perajurit itu.

Mereka te rdiri dari dua losin orang, menunggang kuda dan kini mereka semua meloncat dari punggung kuda, berdiri rapi dan membiarkan komandan mereka, seorang perwira tinggi, melangkah maju menghadapi Si Han Beng "Si Han Beng katanya dengan suara lantang dan berwibawa.

"Sambutlah perintah dari Sribaginda Kais ar!"

Mendengar ini dan melihat perwira itu mengeluarkan segulung surat perintah kaisar, Han Beng te rkejut diapun berlutut sebagaimana layaknya seorang rakyat menyambut perintah kaisarnya.

"Hamba Si Han Beng mendengarkan perintah Sribaginda Kais ar!"

Katanya. Perwira itu lalu membentangkan gulungan surat perintah, membacanya dengan suara lantang.

"Kami mengundang Huang-ho Sin-liong Si Han Beng dan is terinya, Bu Giok Cu, dan pute ri mereka. Si Hong Lan, agar se cepat mungkin datang berkunjung ke istana. Tertanda Kais ar Tang Tai Cung."

Komandan itu menggulung kembali surat perintah dan menyerahkannya kepada Si Han Beng yang menerimanya dengan kedua tangan, sambil berkata.

"Kami harap agar Si-taihiap suka bersiap sekarang karena kami mendapat perintah untuk mengajak tai-hiap bertiga se karang juga berangkat ke kota raja."

Si Han Beng bangkit berdiri setelah gulungan surat itu dite rimanya.

Kini yang dia hadapi hanyalah seorang perwira tinggi, seorang utusan karena cara penyambutan perintah kaisar secara res mi telah dilakukannya.

"Harap ciangkun kembali lebih dahulu ke kota raja. Kami akan segera menyusul,"

Katanya.

"Ah, hal itu tidak mungkin kami lakukan, taihiap!"

Kami telah menerima perintah atasan kami bahwa kami harus mengajak taihiap sekarang juga ke kota raja, maksud kami, tai-hiap bertiga isteri dan puteri."

Han Beng mengerutkan alisnya dan mandang tajam wajah perwira itu. Seorang panglima muda yang usianya sekitar empatpuluh tahun dan nampak gagah perkasa.

"Ciangkun, Sribaginda mengundang kami, akan te tapi kenapa ciangkun seperti hendak memaksa kami ?"

"Tai-hiap, kami hanya melaksanakan perintah atasan. Taihiap bertiga memang diundang ke istana, akan tetapi harus sekarang bersama kami."

"Hemm, kalau kami tidak mau berangkat sekarang bersamamu?"

"Maaf, terpaksa kami akan melaksanakan perintah, yaitu kalau tidak dapat mengajak taihiap bertiga sebagai tamu undangan, kami harus membawa taihiap bertiga sebagai tawanan!"

"Begitukah perintah Sribaginda? Tidak kubaca dalam surat undangan ini."

"I ni merupakan perintah atasan kami!"

Panglima itu berkeras.

"Aku hanya menaati perintah Sri baginda Kais ar, bukan panglima yang manapun juga."

Kata Si Han Beng dengan suara lantang dengan maksud agar te rdengar ole h isteri dan anaknya.

"Pula tidak mungkin kami berangkat sekarang karena is teri dan puteriku tidak berada di rumah saat ini!"

Ucapan ini tentu saja merupakan isyarat bagi Bu Giok Cu dan Si Hong Lan untuk cepat meninggalkan rumah melalui pintu belakang.

Panglima itu mengerutkan alisnya memandang kepada pendekar itu dengan sinar mata tajam penuh selidik.

"Si Han Beng, kami minta agar engkau tidak berbohong kepada kami. Tadi kami sudah mendapat keterangan bahwa engkau sekeluarga berada di rumah, bagaimana sekarang tiba-tiba saja isteri dan putrimu tidak berada di rumah?"

Dia lalu memerintahkan dua losin anak buahnya.

"Geledah rumah Ini dan cari mereka!"

Para perajurit itu berserabutan masuk ke dalam rumah itu dan melakukan penggele dahan.

Si Han Beng hanya menonton saja dari luar rumah dan menahan kesabarannya.

Tentu saja dua losin orang perajurit itu tidak dapat menemukan Bn Giok Cu dan Si Hong Lan dan mereka keluar lagi, melapor kepada panglima itu bahwa yang mereka cari tidak dapat ditemukan di dalam rumah itu.

"Si Han Beng, apakah engkau hendak memberontak? Berani e ngkau membantah perintah Sri baginda Kaisar? Engkau menyembunyikan anak isterimu!"

Bentak panglima itu. Kini Si Han Beng tidak dapat menahan lagi kemarahannya.

"Ciangkun, aku percaya bahwa Sri baginda Kaisar sendiri tidak akan berani bersikap seperti ini kepadaku. Engkau hanya seorang perwira, berani begini sombong mele bihi Sribaginda. Engkau patut dihajar!"

Mendengar ucapan ini, panglima itu menjadi semakin marah dan dia memerintahkan anak buahnya dengan suara lantang.

"Tangkap pemberontak ini!"

Dua losin anak buahnya itu serentak maju mengepung, akan te tapi sekali menggerakkan kaki tangannya.

Si Han Beng membuat empat orang perajurit terle mpar dan diapun sekali meloncat su-dah berada di depan panglima itu.

Sang panglima yang sombong itu s udah menggerakkan pedangnya untuk menyambut Han Beng dengan tusukan ke arah dada.

Si Han Beng membiarkan pedang itu dekat, lalu tubuhnya miring dan sewaktu pedang meluncur di sisi tubuhnya, tangannya bergerak ke samping dan sekali tangkap, dia te lah memegang pergelangan tangan yang membawa pedang dan te rus diputar ke belakang.

Karena lengan panglima itu kini tertelikung ke belakang dan te rus didorong, maka te ntu saja terasa nyeri hampir patah dan pedangnya terlepas.

"Pergilah!"

Bentak Si Han Beng dan panglima itu te rdorong ke depan dan jatuh tertelungkup sehingga hidungnya berdarah. Akan tetapi, panglima itu agaknya masih mengandalkan keduduk-dan pasukannya.

"Tangkap pemberontak itu! Bunuh!"

Perintahnya kepada anak buahnya sambil merangkak bangun.

"Hemm, agaknya engkau yang menjadi kaki tangan pemberontak!"

Han Beng berseru dengan gemas dan sekali kakinya terayun, dagu panglima itu telah ditendangnya dan kini panglima itupun te rpental dan jatuh pingsan.

Han Beng 1alu mengamuk dan enam orang perajurit yang berani mencoba untuk mengeroyoknya, dirobohkan dengan tamparan dan te ndangan.

Sisanya menjadi je rih dan hanya berdiri saja, tidak berani menyerang.

Han Beng tidak memperdulikan mereka, lalu menutup semua daun pintu menyerahkan rumahnya kepada dua orang pembantu, dan diapun pergi membawa buntalan pakaiannya, menyusul isteri dan pute rinya.

Tidak ada seorangpun dari para perajurit yang berani mengejarnya.

Bu Giok Cu dan Si Hong Lan sudah menanti Han Beng di hutan kecil tepi sungai.

Dengan singkat Han Beng menceritakan apa yang te rjadi dan isterinya ikut merasa tak senang.

"Sungguh aneh,"

Kata Hong Lan.

"Ayahanda Kaisar adalah seorang yang pandai menghargai orang gagah dan kalau beliau mengundang kita, kenapa komandan pasukan yang menjadi utusan itu bersikap kasar dan sombong? Ini aneh sekali, dan biar nanti akan ku laporkan kepada ayahanda kaisar."

Han Beng lalu menyamar pula.

Setelah terjadi peristiwa keributan dengan pasukan itu, berarti ada seseorang, mungkin atasan komandan pasukan itu, yang tidak senang kepada dia sekeluarga, dan kalau mereka bertiga masuk secara berterang di kotaraja, mungkin saja di sana ada bahaya besar mengancam mereka.

Keluarga pendekar ini lalu melakukan perjalanan cepat menuju kotaraja.

o)0o-dw-o0(o Coa Thian Ki dan Kam Cin tiba di kota raja.

Mereka sengaja memasuki kota raja di waktu pagi dan malam tadi mereka bermalam di sebuah dusun di luar kota raja, dan begitu masuk kota raja, merekapun langsung saja menuju ke istana kaisar.

Di gardu penjagaan depan lapangan luas yang merupakan pekarangan istana, mereka dihadang sepasukan pengawaI.

Seorang komandan yang bersikap ramah dan hormat melihat sikap pemuda dan gadis itu yang membayangkan kegagahan, segera bertanya.

"Ada keperluan apakah ji-wi (kalian berdua) hendak memasuki daerah istana?"

O)0o-dw-o0(o

Jilid 33

"Kami berdua ingin menghadap Sribaginda kaisar,"

Kata Thian Ki dengan sikap sederhana.

Ucapan ini memancing tawa dan senyum para perajurlt pengawal.

Begitu mudahnya pemuda ini mengatakan hendak menghadap kaisar, seolah menghadap kaisar sama dengan menghadap seorang lurah saja!

"Maaf, tidak begitu mudah untuk dapat diperkenankan menghadap Srlbaginda, sobat,"

Kata komandan itu.

"Ji-wl harus lebih dahulu mendaftarkan diri, menulis nama dan alamat, dan juga menuliskan maksud permohonan menghadap beliau."

Thian Ki dapat mengerti peraturan ini, akan tetapi Cin Cin agak cemberut.

Untung bahwa komandan jaga itu dan anak buahnya bersikap sopan.

Coba mereka itu bersikap congkak atau berani kurang ajar, tentu dara ini sudah menghajar mereka.

Jengkel ia melihat betapa keinginan menghadap kais ar saja dipersulit.

"Kami berdua datang membawa surat dari Puteri Sri baginda yang bernama Hong Lan, apakah itu belum cukup untuk membole hkan kami menghadap Sribaginda sekarang juga?"

Mendengar disebutnya nama Hong Lan, komandan itu bersikap lebih ramah lagi.

"Ah, tentu saja, nona. Tentu saja boleh menghadap Sri baginda, akan tapi kami harus mematuhi peraturan, kalau tidak, kalau kami membiarkan saja ji-wi masuk tanpa didaftar, tanpa di laporkan le bih dahulu, tentu kami yang akan menerima hukuman berat!"

"Sudahlah, Cin-moi. Perwira ini benar. Mari, ciangkun, kami akan mendaftarkan diri,"

Kata Thian Ki dan mereka berdua lalu memasuki gardu, dipersilakan duduk dan disodori buku di mana mereka harus mendaftarkan diri.

Thian Ki yang le bih dahulu menuliskan namanya dan begitu komandan itu melihat nama Coa Thian Ki ditulis di sana.

dia terkejut..

"Ah, kiranya tai-hiap yang bernama Coa Thian Ki?"

"Benar, kenapakah?"

Tanya Thian Ki.

"Sungguh kebetulan sekali! Saya beruntung sekali hari ini bertugas jaga di sini sehingga tanpa bersusah payah dapat dapat menemukan tai-hiap! Sudah berhari-hari Pangeran Li Cu Kiat mengerahkan banyak penyelidik untuk mencari tai-hiap, siapa kira hari ini saya yang dapat menemukan tai-hiap secara begini mudah!"

Komandan jaga itu nampak gembira bukan main karena dia tentu akan menerima hadiah besar dari Pangeran Li Cu Kiat.

"Pangeran Li Cu Kiat? Kenapa beliau mencari-cariku?"

Tanya Thian Ki heran karena dia belum mengenal siapa Pangeran Li Cu Kiat itu.

"Pangeran Li Cu Kiat memesan agar kalau dapat berte mu taihiap, memberitahu bahwa sumoi dari taihiap sekarang sedang sakit parah dan berada di Istana pangeran itu, agar taihiap suka cepat datang berkunjung ke sana."

Tentu saja Thian Ki merasa heran dan juga te rkejut mendengar berita ini.

Akan tetapi dia masih meragukan berita itu, karena bagaimana mungkin sumoinya yang dia tinggalkan di rumah ayah tirinya itu kini dapat berada di kota raja dan dalam keadaan sakit?

"Siapakah sumoiku itu?' Dia menyelidik.

"Kalau tidak salah, namanya Nona Cian Kui Eng,"

Kata komandan itu.

"Ah, kalau begitu benar!"

Kata Cin Cin dengan hati khawatir.

"Kita harus segera ke sana!"

"Marilah, Ji-wi kami antar ke istana Pangeran Li Cu Kiat,"

Kata komandan jaga itu.

Karena agaknya masih te rlalu pagi untuk dapat menghadap Sribaginda Kaisar, maka Thian Ki mengangguk dan mereka berdua lalu diantar oleh komandan itu pergi ke istana Pangeran Li Cu Kiat.

Ketika komandan itu melapor kedalam, segera Pangeran Li Cu Kiat sendiri te rgopoh keluar.

Melihat pangeran yang tampan dan anggun itu menyambut mereka dengan sikap ramah dan sama sekali tidak memperlihatkan keangkuhan, Thian Ki dan Cin Cin merasa kagum.

"Saudara yang bernama Coa Thian Ki, suheng dari Nona Cian Kui Eng?"

Tanya pangeran itu dengan lembut, namun sinar matanya memandang penuh selidik, juga dia memandang kepada Cin Cin degan sinar mata penuh pertanyaan.

Dia harus yakin dulu bahwa pemuda yang nampak sederhana ini benar-suheng dari Kui Eng yang amat lihai.

"Benar, Pangeran. Saya bernama Coa Thian Ki dan nona ini adalah nona Kam Cin. Benarkah bahwa sumoi Cian Kui Eng berada di sini dan sedang menderita sakit? Sakit apakah, Pangeran dan bolehkah kami bertemu dengan sumoi?"

"Mari, silakan. Nona Cian Kui Eng te rserang penyakit yang aneh dan tidak wajar."

Mendengar kete rangan itu, te ntu s aja hati Thian Ki merasa tidak enak dan khawatir sekali.

Mereka lalu di antar oleh Pangeran Li Cu Kiat menuju sebuah kamar.

Kamar itu besar dan indah, dan Kui Eng rebah telentang di atas pembaringan dari kayu berukir yang indah.

Segalanya indah dan bersih di kamar itu, akan tetapi Kui Eng rebah dengan le su dan muka pucat..

Ketika pangeran dan dua orang tamunya memasuki kamar, Nenek Song dan Nyonya Li Seng Tek bangkit dari tempat duduk mereka.

Mereka tadi duduk di dekat pembaringan, agaknya menjaga gadis yang sakit itu.

Diam-diam Thian Ki merasa heran.

Mengapa keluarga pangeran itu nampaknya amat akrab dan amat sayang kepada Kui Eng ?

Dia memberi hormat kepada nenek dan wanita setengah tua itu ketika sang pangeran memperkenalkan mereka sebagai Ibu dan neneknya.

Tiba-tiba nenek itu menggerakkah tongkatnya yang berbentuk kepala naga dan ujung tongkat itu sudah mengancam di atas kepala Thian Ki, membuat pemuda itu merasa heran.

"Benarkah engkau yang bernama Coa Thian Ki?"

Nenek itu bertanya, suaranya masih nyaring dan galak.

"Benar sekali, nyonya."

"Jangan panggil aku nyonya, sebut saja nenek kalau engkau benar suheng dari Kui Eng!"

Bentak nenek itu.

"Akan tetapi awas, kalau engkau berbohong dan engkau te rnyata bukan suhengnya yang ia cari, tongkatku ini akan menghancurkan kepalamu!"

Cin Cin adalah gadis yang pada dasarnya memiliki watak lincah jenaka dan periang, juga tabah dan pandai bicara.

Kini, melihat watak nenek itu, ia tidak dapat menahan senyumnya.

Hal ini dapat dilihat si nenek dan tiba-tiba tongkatnya menyambar dan sudah beralih tempat, mengancam kepala gadis bertangan kiri buntung itu.

"Dan kau..... siapakah engkau?"

"Nama saya Kam Cin dan biasa disebut Cin Cin, nenek yang baik."

"Dan kenapa kau senyum-senyum seperti bocah nakal itu ?"

Bentak pula nenek Song dan matanya yang tua itu masih mencorong tajam. Cin Cin masih senyum-senyum.

"Nenek yang baik, saya sungguh kagum melihatmu, sudah begini tua namun masih penuh semangat! Ingin saya seperti nenek kalau saya sudah tua kelak."

Sejenak mata tua itu terbelalak dan saling pandang dengan Cin Cin, kemudian senyum Cin Cin menular dan nenek itupun tertawa terkekeh-kekeh dengan riangnya.

He h-heh-heh-heh-heh!

Bagus, engkau anak baik, Cin Cin!

Cu Kiat, aku hampir yakin bahwa dua orang ini memang orang baik-baik, heh-heh!"

Kata-kata ini disusul turunnya tongkatnya dan iapun duduk kembali ke atas kursinya.

"Sumoi....,"

Thian Ki menghampiri pembaringan dan membungkuk untuk memeriksa keadaan sumoinya.

Dia meraba nadi pergelangan tangan Kui Eng dan setelah memperhatikan beberapa lama, dia memandang kepada Cin Cin penuh pertanyaan.

Gadis ini pun menghampiri dan tanpa diminta, iapun memeriksa dada Kui Eng dengan rabaan ujung jarinya.

"Bagaimana pendapatmu, Cin-moi?"

Tanya Thian Ki.

"Hemm, ia tidak apa-apa, Koko. Ia tidak....... tidak sakit........."

Kata Cin Cin dan Thian Ki mengangguk membenarkan.

"Heh-heh, tentu saja Kui Eng tidak sakit, akan tetapi lihat saja nanti kalau ia kumat,"

Kata N enek Song.

"Kumat? Thian Ki dan Cin Cin berseru, kaget dan heran. Dan pada saat itu, terdengar Kui Eng mengeluh. Thian Ki dan Cin Cin cepat memandang dan gadis itu mengerutkan alisnya, seperti bangun dari tidurnya akan te tapi belum buka mata dan mengigau dengan kata-kata yang tidak je las, tubuhnya menggeliat-geliat seperti orang yang kesakitan hebat. Ketika Thian Ki meraba dahinya, dia terkejut. Dahi yang tadi tidak apa-apa itu kini panas sekali.

"Cin-moi, cepat, kita bantu ia dengan sin-kang!"

Kata Thian Ki.

Tanpa ragu lagi Cin Cin dan Thian Ki naik ke atas pembaringan bersila di kanan kiri Kui Eng dan menempelkan telapak tangan mereka, tangan Thian Ki di kedua pundak, dan tangan Cin Cin di dada.

Hanya sebentar saja kedua orang muda yang memiliki sin-kang amat kuat ini menyalurkan te naga dan Kui Eng tidak mengeluh lagi pernapasannya pulih dan ia seperti dalam tidur bias a.

Thian Ki dan Cin Cin melompat turun dari atas pembaringan, dan Kui Eng te rbangun dari tidurnya.

Mula-mula te rbelalak ketika melihat suhengnya karena berbagai perasaan mengaduk hatinya di saat ia melihat Thian Ki.

Ada rasa heran, gembira, te rharu dan juga duka mengingat akan keadaan dirinya dan tanpa disadarinya, kedua matanya menjadi basah.

Melihat ini, Thian Ki menyentuh pundak sumoinya.

"Sumoi, jangan berkeciI hati aku akan berusaha sekuat tenaga untuk menyembuhkanmu."

Kini pandang mata Kui Eng berte mu dengan Cin Cin dan kembali ia terbelalak, akan tetapi sekali ini pandang matanya penuh rasa kaget dan marah.

I a berusaha untuk bangkit duduk, akan te tapi ia rebah kembali.

Setelah berhari-hari ia diserang perasaan nyeri yang hebat, dan seringkali pingsan, tubuhnya menjadi lemah dan kepalanya pening setiap kali hendak bangkit.

Kui Eng tetap memandang kepada Cin Cin dengan sinar mata bernyala.

Cin Cin tersenyum.

"Adik Kui Eng, sebaiknya engkau beristirahat saja, tubuhmu masih lemah."

"Biarpun tubuhku le mah, aku tidak takut untuk melawanmu, engkau iblis betina yang hendak membunuh ayahku!"

Ucapan Kui Eng te ntu saja amat mengejutkan Pangeran Li Cu Kiat, ibunya dan neneknya. Thian Ki menjadi salah tingkah dan te rsipu, akan tetapi Cin Cin bersikap tenang-te nang saja.

"Eng-moi, apa maksud ucapanmu tadi? Nona Kam Cin ini hendak membunuh ayahmu? Apa artinya semua ini?"

Tanya Pangeran Li Cu Kiat dan dia sudah siap untuk menghadapi kemungkinan, sedangkan Nenek Song juga sudah bangkit berdiri, dan melintangkan Tongkat Naga tangannya.

"Ahh, apakah mataku sudah terlalu tua sehingga aku salah menilai orang?"

Te riak nenek itu dan tongkatnya diamang-amangkan dengan penuh ancaman ke arah Cin Cin. Thian Ki. menghela napas panjang dan berkata.

"Harap paduka memaafkan kami, Pangeran. Sesungguhnya semua ini merupakan urusan pribadi antara sumoi s aya dan juga Cin-moi. Kalau kami bertiga diperkenankan untuk bicara bertiga saja, untuk membereskan urusan pribadi ini ......"

"Urusan pribadi bagaimana?"

Nenek Song membentak dengan suara lantang.

"Urusan yang menyangkut diri Kui Eng adalah urusan keluarga kami pula, apapun yang akan dibicarakan, harus kami dengar!"

Ketika Thian Ki memandang heran, pangeran itu berkata.

"Apa yang dikatakan nenekku benar, Coa-toako. Kami semua menganggap Eng-moi sebagai anggota keluarga sendiri dan kami ingin mengetahui semua urusannya, tentu saja kalau ia sendiri menyetujui."

Pangeran itu menoleh ke arah Kui Eng dengan sinar mata bertanya.

Biarpun tubuhnya le mah, namun kecerdikan Kui Eng tidak berkurang, ia menghadapi urusan yang amat penting bagi dirinya, yaitu betapa Pangeran Li Cu Kiat amat mencintainya dan te lah melimpahkan banyak budi kebaikan dan kecintaan kepadanya.

Namun, hatinya masih mele kat kepada Thian Ki dan sekaranglah saatnya ia harus membiarkan pangeran itu mengetahui segalanya, yaitu bahwa ia mencinta suhengnya dan oleh ayahnya bahkan telah direncanakan menjadi jodoh Coa Thian Ki.

Juga ia harus tahu te ntang hubungan Thian Ki dengan Kam Cin yang dianggapnya musuh besar yang pernah he ndak membunuh ayahnya itu.

Kini, mendengar percakapan mereka dan melihat betapa Pangeran Li Cu Kiat memandang kepadanya dengan sinar mata bertanya, iapun berkata kepada Thian Ki.

"Suheng, aku setuju kalau keluarga Pangeran Li Cu Kiat ikut mendengarkan urusan pribadiku. Nah, sekarang katakanlah kenapa engkau kini agaknya malah membela ia yang dahulu hendak membunuh ayahku, atau juga guru dan ayah tirimu sendiri. Kenapa?"

Thian Ki juga mengerti bahwa sekarang dia tidak dapat merahasiakan hubungannya dengan Cin Cin.

Bagaimanapun juga, orang pertama yang harus mengetahui adalah Kui Eng!

Dia harus memutuskan tali perjodohannya dengan Kui Eng.

Dia tidak mencinta gadis itu sebagai seorang kekasih, bahkan rasanya tidak mungkin dia dapat mencinta gadis yang sejak kecil disayangnya seperti adik sendiri itu sebagai seorang pria mencinta seorang wanita.

Dan apa salahnya kalau dia mengakui cintanya kepada Cin Cin di depan keluarga pangeran ini?

Orang sedunia boleh saja mengetahuinya.

"Baiklah, sumoi, aku akan berterus te rang saja agar engkau mengetahui segalanya. Engkau te ntu masih mengenal Cin-moi, eh. adik Kam Cin ini, bukan?"

"Tentu saja! Ia adalah murid Tung-hai Mo-li yang pernah hendak membunuh ayahku!"

Jawab Kui Eng marah, dan mukanya yang biasanya pucat itu kini agak kemerahan karena marah.

''Dan engkau tentu sudah mendegar dahulu itu bahwa usaha yang dilakukan adik Kam Cin bukan saja gagal membunuh ayah kita, sebaliknya ia malah kehilangan tangan kirinya karena te rpaksa aku membuntungi tangan itu untuk menyelamatkan nyawanya, bukan?"

"Aku sudah mendengar dan aku merasa menyesal kenapa hanya tangannya yang kaubuntungi, bukan lehernyal"

"Heh-heh, benar sekali omonganmu, Kui Eng! Orang yang sudah begitu jahat untuk membunuh ayahmu, sudah sepatutnya kalau dibuntungi le hernya!"

Tiba-tiba Nenek Song berkata dan Pangeran Li Cu Kiat mengerutkan alisnya dan cepat dia mengingatkan neneknya.

"Harap nenek ingat bahwa keluarga kita hanya berhak mendengarkan, akan te tapi tidak mencampuri urusan yang kita tidak tahu seluk beluknya itu. Coa-toako, lanjutkan percakapan kaIian."

Thian Ki tidak memperdulikan ucapan nenek itu, dan Cin Cin juga hanya tersenyum.

Gadis ini telah berubah banyak sekali.

Setelah ia mendapatkan cintanya dengan Thian Ki, ia merasa hidupnya penuh kebahagiaan dan penuh kedamaian, dan ia mempercayakan selamanya kepada kekasihnya itu.

Coba dahulu ia mendengar ucapan seperti yang dikeluarkan Kui Eng dan Nenek Song, te ntu ia sudah naik darah dan menantang mereka.

"Sumoi, ketahuilah bahwa adik Kam Cin hanya menaati perintah gurunya. Ia tidak mempunyai permusuhan pribadi dengan ayah kita, dan kini ia telah menyadari bahwa gurunya itu yang bersalah, bukan ayah kita."

"Hemm, dan karena ia te lah menyadari, maka engkau berbaik dengannya dan membelanya, suheng?"

"Bukan hanya karena itu, sumoi melainkan, te rus te rang saja karena sebenarnya kaulah orang pertama yang berhak mengetahuinya, kami, yaitu aku dan adik Kam Cin, kami saling mencinta dan sudah mengambil keputusan untuk hidup bersama selamanya sebagai suami isteri."

Sepasang mata Kui Eng te rbelalak.

"Kau..... kalian..... saling mencinta.......?"

Katanya lirih dan te rgagap.

"...... tapi aku ..... kita .....bagaimana dengan perjodohan antara kita yang ditentukan ayah?"

Thian Ki merasa sungkan dan tidak enak sekali karena percakapan pribadi itu didengarkan keluarga pangeran itu.

Akan tetapi, dari sikap pangeran itu dan ibu serta neneknya terhadap Kui Eng, dia dapat menduga bahwa pangeran itu agaknya jatuh cinta kepada Kui Eng dan keluarganya menyetujuinya.

Sementara itu, mendengar ucapan Kui Eng sebagai pertanyaan yang diajukan kepada Thian Ki, Pangeran Li Cu Kiat mengerutkan alisnya, demikian pula ibunya dan neneknya saling pandang dengan alis berkerut.

Mereka terkejut dan juga kecewa mendengar bahwa Kui Eng telah dijodohkan dengan suhengnya.

Kini pangeran itu mengerti mengapa Kui Eng belum dapat menjawab ketika dia menyatakan cintanya.

Kiranya gadis itu telah mempunyai tunangan, yaitu suhengnya sendiri dan kini suhengnya itu menyatakan cinta pada gadis lain!

"Sumoi.

biarlah engkau mendengar baik-baik dan disaksikan oleh keluarga yang te rhormat ini,"

Kata Thian Ki dengan lembut namun dengan penuh ketegasan.

"Kita berdua bukan saja suheng dan sumoi, juga kita adalah saudara tiri. Sejak kecil kita berkumpul dan bergaul sehingga aku selalu mencintamu seperti adikku sendiri. Engkaupun menyayangku sebagai kakakmu. Bagaimana mungkin kita dapat mencinta sebagai suami isteri? Aku saling mencinta dengan adik Kam Cin ini, sumoi. Aku merasa bahwa sebaiknya kalau aku berte rus terang saja kepadamu, karena pernikahan tanpi cinta yang dipaksakan, akan menghancurkan kehidupan kita berdua. Aku menyayangmu sebagi adik sendiri, sumoi, dan engkau te ntu dapat merasakan dan mengerti benar. Nah, aku sudah mengeluarkan isi hatiku, mudah-mudahan saja engkau akan mampu mempertimbangkan dan mengerti."

Suasana menjadi hening sejenak, setelah Thian Ki berhenti bicara.

Keluarga pangeran itu adalah keluarga bangsawan yang menjunjung tinggi kegagahan, maka mendengar ucapan Thian Ki yang jujur dan tegas itu, mereka merasa kagum.

Kui Eng sendiri terkejut, akan tetapi tidak merasa heran karena sekarang iapun dapat merasakan kebenaran ucapan Thian Ki.

Mereka memang saling menyayang sejak kecil, dan kesayangan mereka satu sama lain adalah kesayangan antara saudara.

Sekarang baru ia dapat merasakannya.

Yang membuat ia bengong adalah melihat kenyataan yang amat aneh itu.

Thian Ki dan Kam Cin saling mencinta setelah Thian Ki membuntungi tangan kiri gadis itu!.

Kalau mereka saling mendendam, hal itu adalah wajar saja.

Akan tetapi saling mencinta?

Suheng, aku dapat menghargai keterus-te ranganmu ini.

Akan tetapi, kenapa engkau tidak membantah dan menerima saja ketika ayah mengusulkan perjodohan di antara kita?"

"Sumoi, bagaimana mungkin aku berani menolaknya begitu saja? Aku tidak ingin mengecewakan hatinya, dan sebagai murid, juga sebagai anak tiri, aku harus mematuhinya. Maksudku, aku diam saja dan perlahan-lahan, akan kuberi tahu. Sekarang, aku bahkan mohon kepadamu agar engkau membantu aku memberi tahu kepada ayah kita."

"Dan bagaimana pula engkau dapat saling mencinta dengan enci Kam Cin yang te lah kaubuntungi tangan kirinya ini? Enci Kam Cin, sepatutnya engkai membenci dan mendendam kepada suheng, akan tetapi kenapa......7"

Cin Cin te rsenyum manis.

"Adi Kui Eng, dia. membuntungi tangan kiriku bukan karena membenci, melainkan karena hendak menyelamatkan nyawaku, dan aku kehilangan tangan ini karena ulahku sendiri, karena salahku sendiri mungkin ini merupakan hukuman bagiku karena aku hendak membunuh ayahmu yang tidak mempunyai kesalahan apapun terhadap diriku."

Tiba-tiba Kui Eng mengeluh dan sakitnya kambuh.

Matanya te rpejam dan tubuhnya menggeliat-geliat.

Melihat ini cepat Thian Ki memberi isyarat kepada Cin Cin dan seperti tadi, mereka menempelkan telapak tangan ke pundak dan dada Kui Eng dan sebentar saja, keadaan Kui Eng sudah pulih kembali dan iapun sudah te nang kembali.

Akan te tapi, gadis itu menjadi semakin le mah dan nampaknya tidur.

"I bu. nenek, aku tidak mungkin dapat mendiamkan saja! Aku akan mencari tosu itu!"

Tiba-tiba Pangeran Li Cu Kiat membentak marah dan dia sudah mencabut pedangnya.

"Cu Kiat. sudah kukatakan bahwa tanpa bukti, tidak boleh engkau bertindak. Ingat, dia adalah sahabat Kaisar! Dan sungguh tidak baik kalau engkau menggunakan kekerasan tanpa adanya bukti. Bukankah Kaisar pernah menegurmu karena sikapmu yang kasar te rhadap tosu itu? Nah, itu membuktikan bahwa tosu. itu mempunyai pengaruh terhadap kais ar,"

Kata Nenek Song. Mendengar ini. Thian Ki segera berkata.

"Mohon maaf. akan te tapi siapakah tosu siluman yang dimaksudkan pangeran? Dan apakah dia mempunyai hubungan dengan sakitnya sumoi?"

"Tosu dukun le pus itu yang membuat Kui Eng sakit dengan ilmu hitamnya!"

Nenek Song berseru sambil mengetuk-ngetukkan tongkatnya di atas lantai karena marah. Sepasang mata Cin Cin mencorong marah.

"Biar kami yang pergi menghajarnya. Pangeran. Tolong beritahukan di mana kami dapat mencarinya."

"Benar. Pangeran. Kami berdua yang akan menghentikan kejahatannya demi menyelamatkan sumoi."

Kata pula Thian Ki .

"Bagus!"

Nenek Song berseru "Kalau kalian dapat membasmi tosu dukun le pus itu, barulah kami percaya akan kesungguhan hati kalian terhadap Kui Eng!"

Mereka lalu memberitahu kepada Thian Ki dan Cin Cin bahwa tosu yang dimaksudkan berjuluk Im Yang Sengcu dan tinggal di kuil istana yang berada di bukit buatan di lingkungan belakang Istana.

"Akan tetapi harap Coa-twako berhati-hati."

Kata Pangeran Li Cu Kiat.

"Im Yang Sengcu itu lihai sekali, juga dia memiliki murid-murid yang lihai."

"I mu silatnya sih tidak berapa hebat, akan tetapi ilmu hitamnya amat jahat. Kalian harus berhati-hati,"

Kata pula Nenek Song. Thian Ki memberi hormat kepada tiga orang itu dan berkata dengan sikap dan suara serius kepada Pangeran Li Cu Kiat.

"Pangeran, harap jaga sumoi baik-baik."

Mendengar ini. Nenek Song berseru.

"Kaukira siapa yang menjaganya siang malam dengan setia? Cucuku ini sampai berhari-hari kurang makan kurang tidur karena menjaga Kui Eng yang sakit!"

Thian Ki saling pandang dengan Cin Cin, kemudian dia kembali menatap wajah pangeran itu dan berkata lirih "Terima kasih. Pangeran. Percayalah paduka tidak salah pilih."

Setelah berkata demikian, Thian Ki mengajak Cin Cin meninggalkan gedung itu dan mereka segera pergi menuju ke pintu gerbang istana.

Ketika kepala jaga melihat mereka dan menerima surat kete rangan dari Pangeran Li Cu Kiat bahwa Thian Ki dan Cin Cin adalah utusannya untuk mengunjungi kuil dan menemui Im Yang Sengcu, kepala jaga itu tidak berani melarang dan dia bahkan menunjukkan di mana le tak kuil di bukit buatan itu.

Tanpa mengalami rintangan, kedua orang muda itu dapat memasuki pomple k istana dan langsung saja mengambil jalan melalui pekarangan dan taman menuju ke kuil.

Kuil Itu nampak sunyi dan dengan kepandaiannya yang tinggi.

Thian Ki dan Cin Cin dapat menyelinap ke arah belakang kuil.

Beberapa orang murid dan anak buah Im Yang Sengcu yang nampak di sekitar kuil tidak dapat melihat gerakan dua orang yang amat cepat itu dan yang nampak hanya bayangan berkele bat.

Di Pondok kecil belakang kuil, tempat yang biasanya dipergunakan untuk bersamadhi, bertapa atau menyendiri itu lm Yang Sengcu berada seorang diri.

Se mua pintu dan jendela pondok kecil itu tertutup.

Dia sedang bersila di depan meja sembahyang dan ada asap mengepul dari seikat dupa yang membara.

Asap itu membubung ke atas dengan lurus akan tetapi asap itu bergoyang-goyang seolah mahluk hidup yang sedang menderita kesakitan.

Berulang kali tosu itu mengeluarkan suara membaca mantram dan kedua tangan yang tadinya bersilang depan dada, kadang di dorongkan ke arah asap itu.

Dia merasa penas aran sekali.

Kenapa dia selalu gagal dalam pengerahan tenaga ilmu hitamnya untuk membunuh gadis yang dimusuhinya itu?

Setumpuk pakaian wanita berada di atas meja sembahyang itu.

Itulah pakaian Kui Eng yang diambilnya dari kamar losmen dan pakaian bekas dipakai gadis itu, yang belum se mpat dicuci, itulah yang dijadikan je mbatan untuk menyerang gadis itu dengan ilmu hitam.

Dia telah berhasil membuat gadis itu terserang penyakit aneh, namun dia selalu gagal untuk membunuh mangsanya.

Dia merasa penasaran bukan main.

Baru sekali ini dia gagal !

De ngan hati yang penuh dendam dan penas aran, Im Yang Sengcu lalu mengeIuarkan sehelai kertas yang biasa dipakai untuk membuat hu (s urat jimat) lalu sambil berkemak-kemik membaca doa dia menuliskan tiga buah huruf di kertas itu, yaitu tiga huruf nama Cia Kui Eng!

Kemudian, dia menusuk kertas itu dengan pedangnya, lalu mengangkat pedang yang sudah menusuk kertas itu ke atas dan mengeluarkan suara yang te rdengar menggetar penuh kekuatan sihir.

"Cian Kui Eng, engkau telah berada dalam kekuasaanku dan sekarang engkau akan kubakar, te rbakar habislah seluruh perasaanmu, hangus seluruh jasmanimu!"

Dan dia menjulurkan pedang yang ujungnya menusuk kertas itu ke arah lilin besar di meja sembahyang. Tiba-tiba te rdengar suara berdesing dan sebuah benda kecil hitam menghantam pedang itu.

"Tringgg.....!!"

Pedang di tangan Im Yang Sengcu te rgetar hebat dan kertas yang tadi tertusuk di ujung pedang itupun te rlepas dan melayang.

Se-sosok bayangan hitam berkele bat dan menyambar.

Im Yang Sengcu terkejut dan bangkit berdiri, melihat dua orang telah berada di dalam pondoknya.

Seorang pemuda sederhana yang telah memegang surat hu dengan nama Cian Kui Eng yang ditulis nya tadi, dan seorang gadis yang buntung tangan kirinya sebatas pergelangan.

"Siapakah kalian? Berani mati memasuki pondok pinto tanpa ijin!"

Bentaknya sambil menudingkan pedangnya, diam-diam mengerahkan kekuatan sihirnya, memandang dengan mata mencorong, berkemak-kemik lalu membentak.

"Hayo kalian berdua berlutut! Berlutut kataku!!"

Thian Ki memegang tangan kanan Cin Cin dengan tangan kirinya, mengerahkan sin-kang dan seperti biasa, otomatis didasari penyerahan kepada kekuasaan Tuhan.

Biarpun kedua orang ini merasakan getaran aneh yang seolah hendak memaksa mereka berlutut, namun kekuatan getaran itu seperti angin lalu saja dan tidak meninggalkan bekas.

Diam-diam Im Yang Sengcu te rkejut bukan main.

Dua orang muda ini bukan han ya dapat memasuki pondoknya tanpa diketahui anak buahnya dan bukan han ya dapat merampas hu di ujung pedangnya, juga kekuatan sihirnya tidak mempan te rhadap mereka!

Thian Ki membaca nama di atas kertas hu itu, lalu memandang kepada tosu itu dengan sinar mata tajam lalu menjawab.

"Manusia sejahat iblis yang berpakaian seperti tosu, tentu engkau yang disebut Im Yang Sengcu! Engkau te lah mempergunakan ilmu iblis untuk menyerang sumoiku Cian Kui Eng. Perkenalkanlah, aku Coa Thian Ki dan aku datang untuk membasmi pekerjaanmu yang terkutuk ini!"

"Koko, serahkan saja dukun iblis ini kepadaku! Aku ingin sekali memenggal batang lehernya!"

Diam-diam lm Yang Sengcu te rkejut dan gentar.

Baru melawan Cian Kui Eng saja dia merasa kewalahan, apa lagi kini muncul suhengnya dan juga gadis yang tangan kirinya buntung ini jelas memiliki ilmu kepandaian tinggi!

Maklum bahwa ilmu sihirnya tidak mempan terhadap dua orang itu, tiba-tiba saja pedangnya berkelebat ke arah meja sembahyang dan te rdengar le dakan keras disusul terbakarnya meja sembahyang itu dan bayangan Im Yang'Sengcu berkelebat lenyap di balik meja.

Dia telah melarikan diri keluar dari pondok melalui pintu di belakang meja.

"Cin-moi, cepat keluar!"

Bentak Thian Ki dan keduanya lalu menerobos keluar dari pintu pondok.

Ternyata lm Yang Sengcu telah berada di luar pondok dan dia te lah mengerahkan limabelas orang murid dan anak buahnya yang semua telah memegang senjata!

Begitu melihat Thian Ki dan Cin Cin muncul dari pintu pondok, lm Yang Sengcu menudingkan pedangnya dan berte riak dengan suara lantang kepada para murid dan anak buahnya.

"Tangkap mata-mata pemberontak itu! Kalau melawan, bunuh mereka!"

Limabelas orang itu mengepung. Dengan sikap te nang Thian Ki berkata kepada lm Yang Sengcu.

"I m Yang Sengcu kami bukan mata-mata pemberontak, akan tetapi sesungguhnya engkaulah yang menjadi jadi racun di is tana, engkau dukun le pus yang jahat, murid iblis yang hanya mendatangkan kekacauan!"

"Tangkap! Bunuh!!"

Lm Yang Sengcu berte riak-te riak dan 1imabelas orang itupun mengepung semakin ketat sambil berteriak-teriak. Akan tetapi pada saat itu terdengar bentakan nyaring.

"Hentikan semua ini!!'.' Mendengar suara itu, lm Yang Sengcu dan anak buahnya te rkejut, menengok dan para anak buah tosu itu segera menjatuhkan diri berlutut, dan tosu itu sendiri memberi hormat dengan menjura dalam-dalam. Kiranya yang muncul adalah Kaisar Tang Tai Cung sendiri! Kaisar yang nampak gagah perkasa ini ternyata datang berkunjung ke kuil itu seorang diri saja tanpa pengawal dan mendengar ribut-ribut di belakang kuil, dia segera berlari menghampiri dan melihat dua orang muda dikepung oleh murid dan ana k buah Im Yang Sengcu. Tentu saja kaisar merasa terheran-heran dan membentak mereka agar menghentikan keributan itu. Thian Ki dan Cin Cin juga terkejut, apa lagi ketika semua orang meneriakkan penghormatan kepada kaisar dan mereka tahu bahwa yang muncul adalah Kais ar sendiri. Keduanya juga cepat memberi hormat dengan berlutut. Sejenak Kaisar Tang Tai Cung menyapu semua orang dengan pandang matanya. Alisnya berkerut tanda kecewa. Tosu yang dikaguminya dan dianggap sebagai seorang sahabatnya itu ternyata melakukan perbuatan yang dianggapnya curang dan memalukan. Mengerahkan limabelas orang anak buah mengepung seorang pemuda sederhana dan seorang gadis yang buntung tangan kirinya! Padahal dia percaya bahwa Im Yang Sengcu adalah seorang tosu yang sakti.

"To-tiang, apa yang te rjadi disini, dan mengapa tadi kami melihat engkau mengerahkan semua orang ini untuk mengepung pemuda dan gadis ini?"

Tanya Kaisar dengan suara mengandung penas aran.

"Ampunkan hamba, Sribaginda,"

Kata Im Yang Sengcu dengan sikap hormat "Dua orang muda ini adalah mata-mata pemberontak.

Buktinya, mereka memasuki pondok samadhi hamba dan menyerang hamba.

Karena mereka itu memiliki kepandaian dan berbahaya, maka hamba mengerahkan murid-murid untuk mengepung dan menangkap mereka."

Kaisar Tang Tai Cung mengerutkan alis nya dan mengamati Thian Ki dan Cin Cin.

Sungguh aneh kalau ada dua orang mata-mata pemberontak begitu berani, pagi-pagi sudah berani memasuki lingkungan is tana.

Rasanya tidak mungkin.

Kalau mata-mata pemberontak yang memiliki niat buruk, te ntu masuknya seperti maling di malam hari, tidak secara te rbuka seperti mereka berdua itu.

Apalagi melihat mereka berdua itu berlutut dengan sikap tenang dan berani, sedikitpun tidak nampak ketakutan seperti layaknya mata-mata pemberontak kalau tertangkap basah.

"Orang muda. siapakah kalian?"

Tanya Sri baginda Kais ar sambil mengamati Thian Ki dan Cin Cin penuh perhatian.

"Hamba bernama Coa Thian Ki, Yang Mulia."

"Hamba bernama Kam Cin, Yang Mulia."

"Me ngapa kalian berdua berani menyelundup ke sini dan benarkah kalian menyerang lm Yang Sengcu tanpa sebab?"

"Sebelum hamba memberi kete rangan, perkenankan dulu hamba menyerahkan surat ini, karena sesungguhnya, hamba berdua datang ke kota raja dengan maksud menghadap paduka dan menyerahkan surat ini."

Thian Ki mengeluarkan surat dari Hong Lan.

Melihat ini, Im Yang Sengcu khawatir dan cepat-cepat dia mendekat "Sri baginda, harap jangan menerima benda itu.

Biarkan hamba yang menerimanya dan memeriksanya lebih dulu, siapa tahu dia hendak mencelakai paduka!"

"To-tiang,"

Kata Kaisar dengan suara yang nadanya tidak senang.

"Begitu lemahkah kami sehingga orang mampu mencelakai kami semudah itu? Sejak kapan to-tiang menganggap kami sebagai orang yang tak berdaya?"

"Ampun, Sri baginda, hamba hanya mengkhawatirkan keselamatan paduka,"

Kata tosu itu dengan muka kemerahan apa lagi melihat Thian Ki dan Cin Cin tersenyum mengejek kepadanya.

Kaisar Tang Tai Cung menerima surat itu dan seketika wajahnya berseri gembira ketika dia melihat bahwa surat itu datang dari Hong Lan.

pute ri angkatnya yang disayangnya.

Dia mengenal tulisan Hong Lan.

"Aha, kiranya kali merupakan sahabat-sahabat baik pute ri dan kini menjadi utusannya?"

Katanya girang dan dia cepat membaca tulis an pute rinya.

Mula-mula alisnya berkerut membaca bahwa pute rinya mohon agar dia suka menyerahkan dua macam benda yang amat berharga kepada Coa Thian Ki, akan tetapi ketika dia membaca penjelasannya.

wajahnya berseri kembali dan habis membaca, dia memandang kepada Thian Ki dengan kagum.

Puterinya menceritakan dalam tulisannya bahwa Coa Thian Ki adalah seorang pendekar yang sakti, yang bahkan menjadi seorang manusia beracun tubuhnya sehingga semua orang yang memukulnya akan.mati keracunan, dan Hong Lan mohon agar diberi obat penawar katak merah kepada pemuda itu.

Juga pute rinya minta agar Liong-cu-kiam diserahkan kepada Thian Ki yang te rnyata murid dari bekas Pangeran Cian Bu Ong yang tentu saja dia kenal kelihaiannya!

Setelah membaca surat itu, Kaisar Tang Tai Cung mengelus jenggotnya, biarpun dia seorang kaisar, akan tetapi dia berjiwa pendekar dan dia tahu bahwa Pangeran Cian Bu Ong bukan penjahat, bukan pula pemberontak biasa, melainkan seorang tokoh Kerajaan Sui yang berusaha menegakkan kembali Kerajaan Sui yang sudah jatuh.

Karena pedang Liong-cu-kiam merupakan pusaka pribadi bekas pangeran itu, maka sudah sewajarnya kalau kini dia mengembalikannya, apa lagi kalau diingat bahwa bekas musuh itu kini tidak lagi berusaha untuk memusuhi Kerajaan Tang.

"Coa Thian Ki dan Kam Cin, kami te lah membaca surat pute ri kami. Akan tetapi, kami ingin le bih dulu mengetahui mengapa kalian masuk ke kuil ini dan benarkah kalian menyerang Im Yang Sengcu?"

Thian Ki lalu menceritakan kepada Kaisar apa yang te lah didengarnya dari Pangeran Li Cu Kiat.

Dia menceritakan betapa sumoinya yang bernama Cian Kui Eng, pute ri suhunya, juga adik tirinya, ketika memasuki kota raja, di ganggu oleh kepala jaga di pintu gerbang.

Adiknya itu melawan sehingga kepala jaga itu dihajar dan ketika adiknya dikeroyok, muncul Pangeran Li Cu Kiat yang melerainya.

Setelah mendengar te ntang duduknya perkara, pangeran lalu bertindak, melaporkan sikap kepala jaga itu kepada panglima sehingga dia dihukum.

Betapa kemudian, ketika adiknya bermalam di rumah penginapan, muncul kakak dari kepala jaga itu hendak membunuh Kui Eng.

Akan te tapi, Kui Eng mampu menangkis , bahkan kemudian Kui Eng mengejar pembunuh itu.

"Pembunuh itu lari dan kemudian muncul lm Yang Sengcu yang ternyata adalah guru pembunuh itu, Yang Mulia, Demikianlah, Cian Kui Eng dikeroyok ole h Im Yang Sengcu dan anak buahnya. Ia melarikan diri dan secara kebetulan bersembunyi di dalam istana Pangeran Li Cu Kiat dan dilindungi oleh keluarga itu."

Sribaglnda melirik ke arah Im Yang Sengcu yang mendengarkan dengan alis berkerut akan tetapi tidak berani menyangkal, hanya menyusun akal bagaimana harus menghadapi keadaan yang memojokkan itu.

"Teruskan ceritamu."

Kala Sri baginda Kaisar kepada Thian Ki .

Thian Ki bercerita betapa dia dan Cin Cin memasuki kota raja pagi itu dan tadinya mereka hendak langsung menghadap Kaisar menyerahkan surat.

Akan tetapi dari penjaga di pintu gerbang istana dia mendengar bahwa dia dicari oleh adiknya yang sedang sakit dan berada di is tana Pangeran Li Cu Kiat.

Dia dan Cin Cin segera pergi kesana dan mendapatkan adiknya memang sedang sakit parah.

"Cian Kui Eng bukan sakit biasa, Yang Mulia, melainkan sakit karena pengaruh ilmu hitam. Hamba mendengar dari Nyonya Song bahwa yang melakukan penyerangan dengan ilmu hitam mungkin sekali adalah Im Yang Sengcu. Hamba dan nona Kam Cin segera melakukan penyelidikan dan masuk ke sini......"

"Dan mereka menyerang hamba, Sri baginda!"

Im Yang Sengcu memotong. Kaisar memberi isyarat agar dia diam. lalu memandang Thian Ki dan berkata dengan suara memerintah.

"Lanjutkan ceritamu!"

"Hamba berdua melihat di daiam pondok itu lm Yang Sengcu sedang melakukan penyerangan dengan ilmu sihirnya terhadap Cian Kui Eng. Dia menggunakan kertas hu yang ditulisi nama adik hamba itu dan hendak dibakarnya, hamba berhasil menghalangi dan merampasnya, inilah kertas hu itu. Yang Mulia."

Thian Ki membeberkan kertas hu bertuliskan nama Kui Eng dan menyerahkannya kepada Sribaginda yang melihatnya dengan alis berkerut.

"Hamba melihat pula pakaian adik Kui Eng di atas meja sembahyang, maka hamba tidak meragukan lagi bahwa memang tosu jahat ini yang telah menggunakan ilmu hitam hendak mencelakai adik hamba. Dia lalu menggunakan sihir, membakar meja sembahyang dan lari ke luar. Ketika hamba dan adik Kam Cin mengejar ke luar pondok, te rnyata dia telah mengerahkan anak buahnya mengepung hamba berdua."

"To-tiang, benarkah apa yang diceritakan pemuda ini?"

Sribaginda Kaisar menghadapi Im Yang Sengcu.

"Tidak benar, Sribaginda! Dia berbohong dan hendak melemparkan fitnah kepada pinto!"

Bantah tosu itu dengan suara marah dan matanya mencorong memandang kepada Thian Ki dan Cin Cin.

"To-tiang, tulisan siapakah itu?"

Sribaginda Kaisar menunjuk ke arah kertas hu yang masih te rbentang.

"Tidak hamba sangkal, itu memang tulis an hamba dan memang pinto berniat menghukum gadis itu. Yang tidak benar adalah sebab-sebab permusuhan ini, Sri baginda. Permusuhan antara murid pinto yang bernama Phoa Gu dan nona Cian Ku Eng merupakan urusan pribadi yang pinto tidak ingin mencampurinya pula. Akan te tapi melihat murid pinto dikejar-kejar oleh gadis itu, te ntu saja pinto melerai. Dan pinto menjadi curiga melihat gadis itu memiliki nama keturunar Cian, mengingatkan hamba akan keluarga kaisar Kerajaan Sui. Pinto curiga bahwa ia tentulah seorang mata-mata pemberontak, maka pinto hendak menawannya, dan memeriksa teliti. Akan tetapi ia melarikan diri dan dilindungi oleh ke-luarga Pangeran Li Cu Kiat. N ah, karena tidak ada jalan untuk menangkap gadis mata-mata pemberontak itu, maka pinto menggunakan ilmu sihir untuk dapat membunuhnya. Semua ini pinto lakukan demi keselamatan kerajaan paduka, Sri baginda."

Tosu itu tidak tahu betapa semalam Kaisar dilayani selirnya terkasih.

Bu Mei Ling.

Dalam kesempatan yang amat baik itu, ketika Kaisar dibuai kemesraan yang dilimpahkan selir itu kepadanya, merasakan betapa besar kasih sayang Bu Mei Ling kepadanya, selir itu dengan hati-hati dan halus, telah membuka kesadaran Kaisar akan bahaya besar yang datang dari lm Yang Sengcu.

De ngan amat lembut dan cerdik sehingga tidak mengejutkan, Bu Mei Ling menuntun Kaisar ke dalam pemikiran yang membuat dia diam-diam menaruh curiga kepada lm Yang Sengcu.

Segala perbuatan tosu itu yang lalu, dicatat dengan amat cermat oleh Bu Mei Ling dan malam itu, semua perbuatannya yang bersifat palsu dan buruk, diungkapkan.

Bahkan yang te rakhir, betapa Im Yang Sengcu seolah hendak menjauhkan keakraban hubungan keluarga kaisar ketika melaporkan tentang sikap Pangeran Li Cu Kiat kepada Kaisar, mengatakan bahwa pangeran menghina Im Yang Sengcu.

De ngan cerdik Bu Mei Ling mengingatkan kais ar betapa setianya keluarga pangeran itu, tidak pernah mencampuri urusan persaingan kekuasaan, bahkan keluarga yang gagah perkasa itu dikenal sebagai keluarga yang selalu menjunjung dan membela kebenaran dan keadilan.

Oleh karena pengaruh semalam masih kuat melekat di hatinya, maka pagi itu Kaisar datang ke kuil untuk sekali lagi memperhatikan sikap dan tingkah tosu yang mulai mencurigakan hatinya itu.

Dan ternyatai dia melihat tosu itu hendak melakukan kecurangan kepada orang-orang muda.

Bahkan lebih dari itu, dia mendengar bahwa Im Yang Sengcu mempergunakan ilmu hitam untuk membunuh pute ri bekas Pangeran Cian Bu Ong yang dia kagumi kegagahannya.

Sekarang, tosu itu berdalih bahwa dia melakukan perbuatan pengecut yang hanya patut dilakukan oleh golongan hitam yang sesat itu adalah untuk menjaga keselamatan Kerajaan!

Diam-diam, kegagahan di hati kaisar pendekar itu te rsinggung dan diapun mengambiI suatu keputusan tegas.

"Kiranya sudah cukup kami mendengar keterangan ke dua pihak. Coa Thi-Ki, engkau sudah yakin bahwa Im Yang Sengcu telah melakukan kejahatan terhadap adikmu Cian Kui Eng dan engkau berniat hendak menghukumnya?"

"Hamba sudah yakin. Yang Mulia. dan bukan semata karena dia berbuat jahat te rhadap adik hamba saja maka hamba menentangnya, melainkan karena sudah menjadi kewajiban hamba untuk menentang kejahatan yang dilakukan oleh siapapun te rhadap siapapun,"

Jawab Thian Ki penuh semangat.

Kaisar mengangguk dan diam-diam merasa kagum.

Dia sendiri juga bersikap seperti pemuda ini ketika dia masih muda dan malang melintang di dunia kang-ouw.

Lalu dia menghadapi Im Yang Sengcu.

"lm Yang Sengcu, apakah engkaupun sudah yakin bahwa pemuda ini seorang mata-mata pemberontak yang harus ditangkap atau dibunuh?"

De ngan cepat lm Yang Sengcu merangkap kedua tangan depan dada.

"Ooo, pinto yakin sekali, Sribaginda. Menurut perhitungan pinto, kalau kedua orang muda ini tidak dibasmi sekarang kelak mereka akan menjadi ancaman besar bagi kejayaan kerajaan paduka! Karena itu, perkenankan hamba menangkap mereka dan ......"

"Nanti dulu, to-tiang. Rupanya ada perbedaan pendapat yang amat besar di antara Coa Thian Ki ini dan engkau. Kita semua adalah orang-orang yang menghargai kegagahan dan kami jijik dengan kepalsuan dan kecurangan. Oleh karena itu, sekarang juga kami memutuskan agar di antara kalian berdua membuktikan kebenaran masing-masing dengan pertandingan satu lawan satu yang adil. Kami tidak menghendaki kecurangan dan pengeroyokan. Beranikah engkau kalau kami perintahkan bertanding melawan Im Yang Sengcu untuk mempertahankan kebenaranmu. Coa Thian Ki?"

Thian Ki tersenyum tenang.

"Tentu saja hamba berani membela kebenaran dan keadilan dengan taruhan nyawa hamba, Yang Mulia."

"Dan engkau bagaimana, Im Yang Sengcu. Beranikah engkau bertanding satu lawan satu dengan pemuda ini? Atau kami akan mendengar sesuatu yang mustahil, yaitu bahwa Im Yang Sengcu takut melawan seorang pemuda yang tak te rkenal? Agaknya kaisar sengaja mengeluarkan ucapan seperti ini untuk mendesak atau memojokkan tosu itu sehingga tidak dapat menolak lagi.

"Tentu.... tentu saja.... pinto berani!"

Tosu itu berkata dengan gagap, akan te tapi karena diapun bukan seorang le mah, bahkan memiliki ilmu silat yang lihai dan ilmu sihir yang kuat, maka kepercayaan kepada diri sendiri bangkit kembali.

Pada saat itu, terdengar Cin Cin berkata dengan suara lantang.

"Yang Mulia, perkenankan hamba yang menghadapi tosu siluman itu untuk membalaskan apa yang telah dia lakukan terhadap adik Cia... Kui Eng."

Mendengar ini, Kaisar Tang Cung memandang kagum dan heran.

Sebagai seorang bekas pendekar, tentu saja dia mengetahui bahwa bukan hanya kaum pria yang dapat menguasai ilmu silat tinggi, juga banyak wanita yang perkasa Akan tetapi gadis muda ini buntug tangan kirinya, bagaimana ia berani menantang seorang tangguh seperti Im Yang Sengcu?

Mendengar ucapan Cin Cin, Im Yang Sengcu te ntu saja tidak ingin le paskan kesempatan baik ini.

"Baik, pinto menerima tantangan nona ini untuk bertanding!"

Mendengar ini, perasaan tidak senang terhadap tosu itu makin menjadi, dalam hati Kaisar.

Sikap Im Yang Sengcu yang cepat-cepat menyambut tantangan gadis bertangan buntung itu s aja sudah jelas memperlihatkan wataknya yang curang dan licik.

Kais ar Tang Tai Cung tersenyum dingin.

"Totiang, tantangan Coa Thian Ki belum juga kausambut, bagaimana engkau sekarang hendak menyambut tantangan nona ini?"

Lm Yang Sengcu tidak dapat menjawab dan mukanya berubah merah. Thian Ki segera berkata kepada kaisar.

"Ampun, Yang Mulia. Biar hamba yang mewa kili pula tantangan yang diucapkan oleh adik Kam Cin ini"

Kaisar te rsenyum.

"Ha-ha, kalian berdua ini aneh, seolah bersaing hendak menandingi I m Yang Sengcu, dan agaknya ingin saling mewakili. Bagaimana kami dapat mempertimbangkan apakah kalian berhak untuk saling mewakili?"

"Tentu saja hamba berdua berhak, Yang Mulia, karena hamba berdua adalah calon suami is teri,"

Kata Thian Ki dengan sejujurnya karena dia tidak ingin sekasihnya menghadapi tosu yang amat berbahaya itu.

Kaisar Tang Tai Cung mengangguk-an gguk dan kekagumannya meningkat.

Dua orang pendekar muda ini bukan saja gagah perkasa dan berani, akan te tapi juga jujur dan diam-diam dia merasa girang karena pute rinya ternyata tidak keliru memilih sahabat.

"Bagus, kalau begitu, terserah kepada kalian berdua untuk menentukan siapa di antara kalian yang akan bertanding melawan Im Yang Sengcu."

"Koko, kenapa engkau hendak mewakili aku menghadapi tosu iblis ini? Apakah engkau masih belum percaya akan kemampuanku?"

"Bukan begitu, Cin-moi, akan tetapi tosu ini curang dan licik, biar aku saja yarg melawannya,"

Bantah Thian Ki .

Baca Juga: Pendekar Kelana 5

Baca Juga: Pedang Kayu Harum 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert