Eps 2 Pedang Kayu Harum - Kho Ping Hoo
Baca online Pedang Kayu Harum - Kho Ping Hoo
Cersil Pedang Kayu Harum - Kho Ping Hoo.
"Saya tidak mempunyai niat buruk, mengapa membawa-bawa pedang? Kalau Kun-lun-pai merasa bahwa pedang itu hak mereka, biarlah saya tinggalkan. Selain Pedang ini, saya hanya mempunyai pakaian yang saya pakai ini. Apakah ini pun harus ditinggalkan pula?"
Kiang Tojin memandang dengan sinar mata sedih, lalu menggeleng-geleng kepala.
"Sungguh sayang, Keng Hong. Saat ini hatimu dipenuhi oleh kemarahan dan dendam. engkau masih belum mengerti akan maksud baik kami. Akan tetapi biarlah. Kelak engkau akan mengerti sendiri mengapa kami minta kau meninggalkan Siang-bhok-kiam kepada kami."
"Eh, bocah tolol! Namamu Keng Hong tadi, ya? Kenapa kau begitu tolol menyerahkan Siang-bhok-kiam kepada para tosu bau itu? Jangan berikan! Kau ditipu, mereka itu menginginkan pedang pusaka itu. Ambil lagi dan lekas pergi! Dengan kepandaianmu yang mujizat seperti Iblis mereka takkan dapat memaksamu!"
Teriakan ini adalah teriakan wanita cantik yang diikat pada pohon.
Kiranya totokan Kiang Tojin yang dilakukan dari jarak jauh tadi tidak lama membuatnya gagu.
Hal ini saja membuktikan bahwa wanita itu bukanlah orang sembarangan pula, melainkan sudah memiliki ilmu kepandaian yang cukup tinggi.
"Cukup kiranya, Keng Hong. Kami menerima pedang Siang-bhok-kiam dan akan menyimpannya baik-baik. Engkau boleh pergi dengan hati lapang dan ingatlah, engkau tidak boleh datang ke wilayah kami ini tanpa seijin kami. Kalau ada keperluan yang memaksamu datang ke wilayah ini, engkau harus datang lebih dahulu ke Kun-lun-pai dan menghadap suhu untuk minta ijin."
Keng Hong mengangguk-angguk.
Di dalam hatinya dia menjawab bahwa dia tidak sudi datang ke situ dan tidak akan mengganggu Kun-lun-pai selamanya.
Akan tetapi dia melirik ke arah wanita itu dan berkata.
"Maaf, Totiang. Sebelum saya pergi, ada sebuah permintaan saya, harap Totiang sudi mengabulkannya."
"Permintaan apa? sekiranya patut dan dapat pinto lakukan tentu akan pinto kabulkan permintaanmu."
"Saya mohon kepada Totiang sekalian sudilah kiranya membebaskan wanita itu!"
Terdengar seruan-seruan kaget dari mulut para tosu, dan hanya Kiang Tojin yang tampak tenang, sedangkan Thian Seng Cinjin tidak peduli, masih berdiri seperti orang termenung dengan kedua mata dipejamkan.
"Keng Hong ada hubungan apakah engkau dengan wanita itu maka minta supaya dia dibebaskan?"
"Tanpa alasan apa-apa, Totiang dan hanya dilandasi perasaan yang sama seperti perasaan mendiang suhu ketika menolong Kun-lun-pai yang diserbu oleh kaum sesat!"
"Apa? Apa maksudmu?"
Kiang Tojin memandang heran.
"Totiang, menurut cerita suhu, suhu menolong Kun-lun-pai juga hanya dilandasi perasaan kasihan melihat pihak yang ditindas dan diancam. Suhu pun tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan Kun-lun-pai, namun suhu tetap menolongnya. saya pun tidak mempunyai hubungan dengan wanita ini, akan tetapi melihat dia terancam bahaya di sini, perasaan saya yang mendorong saya untuk menolongnya."
"Ah, akan tetapi hal itu jauh sekali bedanya, Keng Hong. Gurumu membantu kami melawan golongan hitam, kaum sesat dan orang jahat. sebaliknya, harus kau ketahui bahwa wanita itu bukan orang baik-baik, bahkan kedatangannya mempunyai niat buruk terhadapmu, untuk merampas Siang-bhok-kiam..."
"Bohong! Tosu tua bangka bau! Bohong....!"
Wanita itu memaki. Keng Hong menggeleng-geleng kepalanya.
"Agaknya Totiang tidak dapat mengenal watak suhu. Saya percaya bahwa suhu bukan mendasarkan pertolongannya atas baik dan buruk, karena menurut wejangan suhu, bagi suhu dan saya, baik dan buruk itu tidak ada, yang ada hanyalah pendapat orang yang selalu tidak adil karena menurutkan kepentingan diri pribadi."
"Eh, apa maksudmu?"
"Pandangan baik dan buruk oleh pendapat manusia adalah miring dan berat sebelah, Totiang dipengaruhi oleh nafsu pribadi demi kepentingan diri sendiri. Kalau seseorang melihat orang lain menguntungkan dia, bersikap manusia, menyenangkan hatinya, maka serta-merta dia akan menganggap orang itu baik! Sebaliknya kalau dia melihat orang lain merugikannya, memusuhinya dan tidak menyenangkan hatinya, maka tanpa ragu-ragu lagi akan dianggapnya orang itu jahat! Karena itu, saya seperti suhu tidak percaya akan pandangan orang tentang baik dan jahat dan saya menolong wanita ini hanya terdorong perasaan ingin menolong, kasihan melihat dia terancam bencana di sini. Bagaimana, Totiang? Saya telah memenuhi permintaan Kun-lun-pai untuk meninggalkan pedang, apakah Kun-lun-pai demikian pelit untuk menolak permintaanku yang sama sekali terdorong keinginan menguntungkan diri sendiri ini?"
Dengan kalimat terakhir ini terkandung ejekan bahwa Kun-lun-pai minta pedangnya dengan dasar ingin untung sendiri! Kiang Tojin tercengang.
"Pendapat keliru...., wawasan yang menyeleweng...."
Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara Thian Seng Cinjin yang halus.
"Bocah ini kelak lebih menggegerkan daripada Sin-jiu Kiam-ong. Bebaskanlah wanita itu dan lekas suruh anak ini pergi, lebih cepat lebih baik!"
Kiang Tojin memberi tanda dan dua orang tosu menghampiri wanita itu hendak melepaskan ikatannya, akan tetapi sekali bergerak, wanita itu ternyata telah meloloskan tangan kakinya dari ikatan tanpa mematahkan ikatan itu.
Dia meloncat dan memandang ke arah Keng Hong dengan senyum mengejek.
"Bocah Tolol! Cih, tolol dan goblok, dasar anak dusun!"
Setelah berkata demikian, wanita itu membanting-banting kaki kanannya lalu berkelebat cepat pergi meninggalkan tempat itu.
Keng Hong tidak peduli, lalu berlutut menghaturkan terima kasih kepada para tokoh Kun-lun-pai, kemudian berdiri dan pergi meninggalkan pegunungan Kun-lun-pai dengan wajah berseri.
Dia setengah memaksa diri untuk bergembira, berjanji dalam hatinya untuk menempuh hidup dengan cara gurunya, yaitu tetap bergembira, tidak memusingkan masa depan.
Dia akan hidup seperti gurunya, yaitu menghadapi bayangan masa depan yang bagaimanapun selalu gembira dan dengan tekad.
Bagaimana nanti sajalah!
"Heii, tolol!
berhenti dulu!"
Keng Hong menghentikan langkahnya.
Ia telah jauh meninggalkan Kun-lun-san dan kini berada di sebuah hutan yang tidak lagi menjadi daerah Kun-lun-san.
Tanpa menoleh dia sudah mengenal suara itu, suara yang nyaring merdu dan galak, suara wanita cantik jelita yang telah dibebaskan oleh para tosu Kun-lun-pai.
"Kau mau apakah?"
Tanyanya sambil berdiri tegak tanpa menoleh.
"Waduh sombongnya! Orang tolol masih bisa bersikap sombong ya?"
"Aku tidak merasa sombong, sungguh pun mungkin kau benar bahwa aku tolol,"
Jawabnya sabar sambil tersenyum. Gembira! Harus menghadapi segala sesuatu dengan gembira, betapa pun pahitnya dan menyakitkan hati maki-makian itu.
"Walah-walah, malah senyum-senyum! Kau bicara tanpa melihat aku, bukan kah itu sikap sombong, sikap orang berkepala angin, memandang orang lain seperti rumput saja? kalau tidak sombong, lihat lah kesini. Benci aku melihat orang diajak bicara kok menengok pun tidak!"
Keng Hong tertawa.
Betapa pun galaknya, ucapan orang itu dia anggap jenaka dan lucu, juga segar menyenangkan hatinya.
Ia lalu membalikkan tubuhnya dan melihat penegurnya itu duduk di atas rumput hijau di bawah sebatang pohon sambil makan daging paha besar seekor ayam hutan.
Daging itu masih mengepul panas, juga api unggun untuk membakar daging itu masih menyala.
"Nah, aku sudah memandangmu sekarang. Kau mau bicara apakah?"
"Wah, memang sombong dan angkuh! Apakah karena engkau telah minta tosu-tosu bau itu membebaskan aku lalu engkau boleh bersikap angkuh seperti ini?"
"Eh....., adik yang baik....."
"Cih! aku bukan adikmu!"
"Cici yang baik...."
"Siapa sudi menjadi kakak perempuanmu?"
Keng Hong merasa bohwat (kehabisan akal).
"Habis, harus kusebut apa?"
"Panggil aku nona!"
"Wah, nona.....?"
"Habis, aku masih gadis, kalau tidak disebut nona, masa engkau hendak menyebut aku nyonya besar?"
Gadis itu merengut, bibirnya yang merah itu berlepotan minyak gajih paha ayam, mukanya coreng moreng terkena hangus, kelihatan makin cantik dan lucu sehingga kembali Keng Hong tertawa.
"Baiklah, Nona. Engkau memaki aku sombong dan angkuh berkali-kali, karena aku tidak mau menengok. Setelah aku menengok, kau masih memaki aku angkuh. Habis aku kau suruh bagaimana supaya tidak kau maki angkuh?"
"Aku mau bicara denganmu, duduklah disini dan jangan berdiri pringas-pringis seperti monyet mencium ikan asin!"
Keng Hong mengangkat sepasang alisnya yang hitam tebal.
Selamanya baru sekali ini dia bicara dengan gadis, apalagi gadis yang begini lincah.
Ia tertarik sekali, akan tetapi juga merasa canggung.
Kemudian teringat dia akan watak suhunya, maka dia lalu tersenyum lebar dan melangkah menghampiri gadis itu, menjatuhkan diri duduk di atas rumput di hadapan gadis itu.
Dalam beberapa detik, pandang matanya yang tajam sudah meneliti gadis yang duduk makan paha ayam panggang di hadapannya itu.
Wajah yang berkulit halus kemerahan, cantik jelita dengan bentuk tubuh bulat telur.
Rambut hitam gemuk yang kacau tak tersisir, menutup sebagian pipi kirinya karena kepala itu agak dimiringkan ke kanan.
Alis yang panjang kecil dan hitam.
Sepasang mata yang jeli, lebar dan jernih sekali, dengan kerling yang amat tajam, mata yang aneh karena dia seperti dapat melihat bayangan gembira, berani, menantang dan merenung di dalamnya.
Hidung kecil mancung di atas sepasang bibir yang dianggapnya merupakan bibir terindah yang pernah dilihatnya.
Penuh dan berkulit halus seolah-olah sepasang bibir itu dapat mudah pecah, warnanya kemerahan dan basah berminyak.
Dagunya kecil agak meruncing menambah kemanisan.
Pakaiannya terbuat dari sutera halus dan mewah, namun potongannya ketat sehingga membayangkan dada yang penuh menonjol, pinggang kecil dan pinggul yang lebar.
Kulit yang mengintai dari balik leher baju, dari lengan, tampak halus dan putih sekali.
Beginikah wanita cantik yang suka disebut-sebut suhunya dan diumpamakan setangkai bunga yang harum?
Dia kini dapat merasakan persamaannya.
Memang seperti bunga sehingga membuat hati ini kepingin menyentuh, kepingin mencium, kepingin memandang dan menikmati keindahannya.
"Mungkin aku seperti monyet, akan tetapi saat ini aku tidak mencium bau ikan asin, melainkan mencium bau sedap gurih daging panggang!"
"Kau kepingin?"
Gadis itu menghentikan gigitannya dan mulutnya yang penuh dengan daging itu mengunyah perlahan, matanya mengerling Keng Hong.
Pemuda remaja ini memandang mulut yang mengunyah itu, dan tak terasa lagi dia menelan ludah dan perutnya mendadak berkeruyuk.
Dia mengangguk dan kembali menelan ludah.
"Kalau kepingin, ambillah. Tunggu apalagi? Jangan malu-malu kucing, kalau kepingin mengapa tidak ambil dan makan sejak tadi?"
"Ah, tapi daging itu punyamu...."
"Siapa bilang punyaku? Ayam itu berkeliaran di hutan, entah punya siapa!"
"Tapi kau yang menangkap dan memanggangnya...."
"Sudahlah! cerewet bener sih engkau ini! ambil saja dan ganyang, habis perkara. Bicara saja mana bisa kenyang?"
Biarpun ditegur, Keng Hong menjadi geli dan tertawa.
Gadis ini benar-benar menimbulkan rasa gembira di hatinya.
Cocok benar dengan watak suhunya.
Bagaimana kalau suhunya yang bertemu dengan gadis seperti ini?
Ia lalu menyambar daging ayam panggang, merobek bagian dada lalu mulai makan daging itu.
Benar lezat sekali, gurih dan manis, lagi hangat dan perutnya memang amat lapar.
Setelah habis semua makan, gadis itu mengeluarkan seguci air dingin dan minum dengan cara menggelogoknya dari mulut guci.
air memasuki mulut yang kecil itu, ada yang tumpah membasahi pipi dan tercecer memasuki celah-celah bajunya di leher.
Setelah itu, dia menurunkan guci dan menyerahkannya kepada Keng Hong.
Pemuda yang mulai mengenal watak polos dan terbuka gadis itu, menerima guci akan tetapi dia merasa ragu-ragu juga untuk menggelogok air itu begitu saja.
Bibir guci itu masih berlepotan minyak gajih, tentu ketika bibir guci tadi bertemu dengan bibir si gadis.
"Mana cawannya? Kupinjam sebentar untuk minum!"
"Tidak punya cawan!"
"Habis bagaimana minumnya?"
"Tuang saja, seperti aku "
"Tapi... tapi... bekasmu...."
Gadis itu meloncat bangun, lalu bertolak pinggang dan membungkuk memandang Keng Hong dengan mata terbelalak.
"Kau.... kau menghina aku, ya? Tolol kurang ajar!"
Keng Hong juga membelalakkan matanya, bukan karena marah melainkan karena heran. Ia benar-benar merasa tolol berhadapan dengan nona ini.
"Menghina...? Aku.... aku tidak.... eh, apa sih maksudmu?"
"Kau jijik ya minum secara menggelogok seperti aku? Kau tidak sudi ya karena bibir guci itu berbekas mulutku? Kau kira aku ini penderita sakit paru-paru atau batuk kering? kau jijik?"
"Wah-wah-wah, harap jangan salah paham dan mengamuk tidak karuan. Bukan....bukan begitu, hanya....aku tadi khawatir kau tidak suka...."
"Tidak suka apa? kau benar-benar laki-laki cerewet. Sudah tolol, cerewet lagi! Sialan bertemu laki-laki sepertimu!"
Keng Hong tidak mempedulikannya lagi.
Celaka, pikirnya.
Kalau dilayani wanita ini, bisa habis dia di maki-maki.
Ia lalu tidak mau mendengarkan lebih jauh melainkan menuangkan air ke dalam mulutnya, tidak peduli bibirnya bertemu dengan bekas bibir wanita itu.
Air yang jernih dan sejuk.
"Terima Kasih,"
Katanya sambil mengembalikan guci air.
"Kenapa sedikit amat minumnya? Apakah kau takut minuman ini kucampuri racun?"
Sambil berkata demikian, gadis itu kembali minum dengan cara menempelkan bibirnya pada bibir guci tanpa memilih-milih lagi.
Heran sekali hati Keng Hong, mengapa menyaksikan bibir wanita itu menjepit bibir guci yang tadi diminumnya, hatinya berdebar dan mukanya terasa panas.
Namun dia merasa mendongkol juga mendengar ucapan itu.
Benar-benar wanita yang wataknya mau menang sendiri saja.
Masa apa yang dia kerjakan selalu disalahkan?
Tidak mau minum salah, sekarang sudah minum masih di sangka yang bukan-bukan.
Ia menjadi gemas dan andaikata wanita ini adik perempuannya, tentu sudah dia jewer telinganya!
"Aku tidak takut kau beri racun,"
Jawabnya jengkel, dan dia lalu membuang muka sambil melanjutkan.
"Sebetulnya, kau menghentikan perjalananku ada urusan apakah?"
Sampai lama gadis itu tidak berkata-kata, melainkan memandang wajah Keng Hong penuh perhatian.
Pemuda itu tahu akan hal ini karena dia mengerling dari sudut matanya.
Melihat gadis itu memperhatikannya, kembali dia mengalihkan pandang matanya.
Kemudian terdengar gadis itu bertanya.
"Namamu siapa tadi? Dan berapa usiamu?"
"Cia Keng Hong.... Kalau tidak salah usiaku tujuh belas tahun."
"Hemmm..., dan engkau murid Sin-jiu Kiam-ong? Heran benar aku....."
"Mengapa heran?"
"Seorang tokoh sakti seperti Sin-jiu Kiam-ong mengapa mempunyai seorang murid tolol seperti engkau?"
Makin panas rasa perut Keng Hong. Terlalu benar perempuan ini, pikirnya.
"Kalau sudah tahu aku tolol, kenapa engkau menghentikan aku?"
Sampai lama wanita itu tidak berkata-kata, kemudian terdengar dia tertawa merdu, cekikikan.
"Eh, kau marah?"
Hemmm, benar-benar tukang menggelitik hati orang, pikir Keng Hong.
Gemas dia.
Kalau tidak ingat bahwa dia itu wanita tentu sudah ditamparnya.
Ia tidak menjawab, hanya menggeleng kepalanya.
"Ah, kau marah. Bilang saja kau marah. Ingin aku melihat bagaimana kalau kau marah!"
Digoda terus-menerus, Keng Hong menjadi merah mukanya dan dia memandang dengan niat untuk balas memaki.
akan tetapi melihat mata yang bening indah itu, mulut yang manis tersenyum, dia menjadi tidak tega untuk memaki, maka dia menundukkan muka lagi.
"Kau memang tolol. Kalau tidak tolol, tentu tidak kau berikan Siang-bhok-kiam kepada tosu-tosu bau itu."
"Itu hak mereka dan aku tidak mau membantah permintaan mereka. Mereka adalah tosu-tosu yang bijaksana dan baik, patut dipatuhi permintaan mereka. Pula, menggunakan kekerasan menentang, tak mungkin. Mereka amat lihai, terutama sekali Kiang Tojin dan ketua Kun-lun-pai."
"Kau penakut dan bodoh! Heran aku mengapa Sin-jiu Kiam-ong mempunyai murid seperti engkau! Padahal menurut pendengaranku Sin-jiu Kiam-ong gagah perkasa tidak mengenal takut terhadap siapapun juga dan amat cerdik."
Keng Hong menarik nafas panjang. Gurunya memang seorang yang selalu gembira dan tidak pernah mengenal takut.
"Terserah wawasanmu. Aku tidak takut terhadap siapapun juga, dan tentang kebodohan..... hemmmm, tentu saja aku tidak secerdik suhu."
Sunyi yang agak lama.
Keng Hong menunduk karena teringat akan suhunya dan mulailah hilang kegembiraannya.
Dalam hari-hari pertama semenjak dia sendirian di dunia ini, sudah terjadi hal-hal yang tidak menyenangkan hatinya.
Kalau begini terus nasibnya, bertemu seseorang wanita saja selalu mengejek dan memakinya, mana mungkin dia dapat meniru watak suhunya yang menghadapi segala sesuatu dengan gembira.
Betapa mungkin dapat bergembira rasa hati ini kalau seorang wanita cantik jelita mencemoohkan dan memaki-makinya?
"Keng Hong...."
Pemuda itu terkejut.
Benarkah wanita itu memanggilnya?
Suaranya begitu halus dan dipanggil secara tiba-tiba setelah lama berdiam diri, dia terkejut juga.
"Hemmmm.....?"
Ia menengok dan makin gugup melihat betapa sepasang mata itu memandangnya tajam-tajam dan mulut itu tersenyum manis akan tetapi hanya sebentar saja karena segera bibir yang merah itu cemberut lagi.
"Kau memanggilku?"
"Kau laki-laki canggung benar...."
"Sudahlah, Nona. Kalau engkau menghentikan aku hanya untuk mencela, untuk apa....."
"Engkau marah?"
"Tidak"
"Engkau memang canggung, tidak seperti gurumu yang khabarnya..... ah, apakah kau tidak ingin tahu siapa aku, siapa namaku dan mengapa aku datang ke Kun-lun-pai?"
Baru Keng Hong teringat dan dia merasa bahwa dia memang kurang perhatian.
"Siapakah nama Nona?"
Gadis itu menahan kekehnya. Sikap Keng Hong benar-benar canggung dan gugup sehingga kelihatan lucu.
"Namaku Bhe Cui Im. Bagus tidak namaku?"
"Bagus.... bagus...."
Jawab Keng Hong cepat-cepat dengan pandang mata mendesak agar nona itu terus bercerita.
"Hi-hi-hik, kau ternyata pandai juga memuji...."
"Eh...., aku..... ah, teruskanlah, Nona."
"Aku mendengar akan keramaian yang khabarnya akan terjadi di puncak Kun-lun-san yang disebut Kiam-kok-san, bahwa kabarnya tokoh-tokoh besar hitam dan putih hendak menjemput turunnya murid Sin-jiu Kiam-ong yang mewarisi Siang-bhok-kiam yang amat diinginkan seluruh tokoh Kang-ouw."
"Termasuk engkau sendiri, nona."
"Tentu saja! Apa kau kira aku ini anak kecil yang suka menonton keramaian begitu saja? Dan aku malah berhasil sekali, lebih berhasil daripada mereka yang menggunakan kekerasan. Mereka itu semua terusir oleh tosu-tosu bau Kun-lun-pai, belasan orang gagah di dunia Kang-ouw, sama sekali tidak berhasil, melihatnya pun tidak! aku sengaja membiarkan diriku tertangkap oleh tosu-tosu bau itu. Memang harus diakui bahwa kalau aku melawan, tidak akan mampu mengalahkan tosu-tosu yang demikian banyak, apalagi tosu she Kiang dan gurunya itu amat lihai. aku sengaja menjadi tawanan dan akalku berhasil memancing kau datang karena jeritan-jeritanku. akan tetapi siapa kira, karena ketololanmu, kau serahkan pedang itu begitu saja!"
Mulai lagi maki-makian!
Kini mengertilah Keng Hong mengapa gadis ini telah dapat meloloskan diri dari ikatan kaki tangannya sebelum dilepaskan.
Kiranya gadis itu memang sengaja membiarkan dirinya ditawan.
Benar-benar seorang gadis yang cerdik sekali, dan juga penuh keberanian.
"Untuk apakah engkau menginginkan pedang Siang-bhok-kiam, nona?"
"Eh-eh-eh, masih bertanya untuk apa lagi? Tentu saja untuk mendapatkan rahasianya. Keng Hong, katakanlah terus terang, apakah engkau sudah mendapatkan pula rahasia penyimpanan kitab-kitab pusaka yang terdapat di pedang itu?"
Pandang mata itu penuh gairah, agaknya bernafsu sekali gadis ini untuk mendapatkan kitab-kitab pusaka simpanan Sin-jiu Kiam-ong.
Keng Hong menggeleng kepalanya.
"Belum dan agaknya tidak akan dapat kutemukan. Aku pun tidak ingin kembali ke Kun-lun-san. Nona, mengapakah mereka itu semua memperebutkan rahasia itu? Sampai mati-matian dan saling bermusuhan?"
Gadis itu menggerakkan alisnya dan memandang pemuda ini dengan heran.
"Engkau benar-benar masih hijau! Sudahlah, yang penting sekali ini ceritakan kepadaku ilmu apa saja yang kau pelajari dari Sin-jiu Kiam-ong? Tadi kulihat engkau menggunakan ilmu yang mijizat, kau pandai menyedot sinkang orang lain, bahkan Kiang Tojin yang begitu lihai hampir mampus ditanganmu. Ilmu apakah itu? Sukarkah kau menceritakannya kepadaku?"
Tiba-tiba saja sikap gadis ini manis sekali, wajahnya berseri matanya bersinar-sinar dan bibirnya tersenyum.
Keng Hong hanya bisa menggeleng kepalanya, kemudian melihat wajah cantik itu menjadi murung dia cepat berkata.
"Sungguh mati, aku sendiri tidak mengerti. Aku sendiri membenci penyakit yang ada pada tubuhku ini. Aku tidak mempelajari apa-apa kecuali dasar-dasar ilmu silat dan beberapa pukulan dan permainan pedang. Kalau dibandingkan dengan orang lain, tentu tidak ada artinya ."
"Hemmm, engkau pandai merendahkan diri dan bersikap sungkan, alangkah jauh bedanya dengan gambaran tentang gurumu!"
Akan tetapi kegalakkan ini segera berubah lagi, kini gadis itu tersenyum manis, dan membuka tutup guci hendak diminumnya.
Akan tetapi dia mengerutkan kening dan berkata seorang diri.
"Ah, air ini kurang sedap!"
Ia lalu mengeluarkan sebuah bungkusan dari saku bajunya dan ketika dibuka, ternyata berisi daun-daun dan kembang-kembang kering.
Dituangkannya sebungkus daun dan kembang kering ini ke dalam guci airnya, lalu dikocoknya guci itu sambil memandang Keng Hong.
Ditatap sepasang mata seperti itu, Keng Hong menjadi tak enak hati kalau berdiam diri saja maka dia bertanya.
"Apakah yang kau masukkan dalam air minum itu?"
"Daun wangi dan kembang harum, pengganti teh yang amat lezat dan sedap!"
Jawab gadis itu sambil menggelogok air dari guci seperti tadi.
Tercium bau yang harum keluar dari mulut guci.
Gadis itu selesai minum lalu menyerahkan gucinya kepada Keng Hong sambil berkata.
"Kau minumlah."
Keng Hong menggeleng kepala.
"Aku tidak haus."
"Eh, biarpun tidak haus, air ini sekarang menjadi minuman enak. Coba cium, tidak harumkah?"
Gadis itu mendekatkan mukanya dan membuka mulutnya, menghembuskan nafas ke arah muka Keng Hong.
Pemuda itu terkejut dan mukanya terasa panas sekali, jantungnya berdebar tegang.
Ia merasa canggung dan juga jengah.
"Apakah kau takut kalau air ini kucampuri racun?"
Untuk mencegah gadis itu melakukan hal-hal aneh yang lebih hebat lagi, tanpa banyak cakap Keng Hong lalu menerima guci air dan menggelogoknya.
Memang harum dan terasa agak manis, akan tetapi mulut dan lidahnya yang terlatih tiba-tiba merasakan sesuatu yang tidak asing baginya.
Racun!
Racun yang amat kuat dan jahat!
Namun dia cepat dapat menekan perasaannya, tidak memperlihatkan sesuatu pada mukanya, bahkan lalu terus menuangkan air beracun itu sampai habis pindah ke dalam perutnya!
Ketika dia menurunkan guci kosong dan berkata.
"Lezat sekali!"
Gadis itu memandangnya dengan sepasang mata bersinar-sinar.
Sambil tersenyum-senyum gadis itu kini mengambil sesuatu dan karena yang diambilnya itu agaknya berada di saku dalam dari bajunya, ia lalu membuka dua kancing baju bagian atas.
Cara ia membuka kancing secara terang-terangan begitu saja di depan Keng Hong, dengan gaya memikat dan manis sekali.
Keng Hong terbelalak, lebih heran daripada kaget dan jengah, melihat betapa bagian atas baju itu terbuka memperlihatkan pakaian dalam yang berwarna merah muda dan sebagian dada yang memanjat.
Gadis itu merogoh ke balik baju yang menutup dada dan mengeluarkan sebuah bungkusan merah.
Ketika dibuka, ternyata bungkusan itu berisi belasan butir pil merah.
Ia mengambil dua butir dan segera menelannya.
Ia lalu mengembalikan bungkusan itu ke balik bajunya, kemudian seperti terlupa dan tidak mengancingkan kembali baju bagian atasnya terbuka itu.
Keng Hong terpaksa menundukkan muka agar jangan melihat tonjolan dada yang berkulit putih halus itu.
"Keng Hong, lihatlah kepadaku!"
Terpaksa pemuda itu mengangkat mukanya memandang, mengusir ketegangan dan kebingungan hatinya.
Gadis ini jelas berusaha hendak meracunnya.
Apakah maksudnya?
Mengapa hendak membunuhnya?
Ia tahu bahwa racun itu dapat membunuh seorang lawan yang betapapun kuatnya.
"Lihatlah baik-baik, Keng Hong. Tidak indahkah rambutku? Tidak cantikkah wajahku? Cantik sekali, bukan?"
Gadis itu tersenyum-senyum dan mengerlingkan matanya, bergaya dan menggerak-gerakkan mukanya agar dapat terpandang oleh pemuda itu dari depan, kiri dan kanan.
"Hemmmm, begitulah...."
Jawab Keng Hong yang masih mencari-cari sebab perbuatan gadis itu.
Ia kini dapat menduga bahwa pil merah tadi adalah obat pemunah racun karena si gadis tadi pun minum air beracun.
"Lihat baik-baik, pandanglah...... tidak halus dan putih bersihkah kulitku, Keng Hong?"
Suaranya kini amat halus merdu, penuh nada merayu dan tangannya sengaja menyingkap baju atasnya agar belahan dada tampak makin nyata.
Keng Hong menelan ludah.
Jantungnya berdebar kencang dan cepat dia menekan dengan kekuatan batinnya.
Belum pernah selama hidupnya dia mengalami hal seperti ini, dalam mimpi pun belum!
Gadis yang bernama Bhe Cui Im itu kini bangkit berdiri, gerakannya lemah gemulai, leher, pinggang dan lututnya melenggak-lenggok mengingatkan Keng Hong akan gerakan tubuh seekor ular.
"Pandanglah baik-baik, orang muda remaja! Tidak indahkah bentuk tubuhku? Lihat dadaku, pinggangku, pinggulku...."
"Hemmmm, begitulah....!"
Hanya demikian Keng Hong dapat berkata karena kerongkongannya tiba-tiba seperti menjadi kering kembali, seperti orang kehausan.
"Aku masih muda, cantik jelita, bertubuh menggiurkan! aku seorang gadis yang amat menarik hati, bukan?"
"Hemmm, begitulah!"
Tiba-tiba Cui Im menghentikan gayanya dan dengan kasar dia duduk di depan Keng Hong.
Senyum manis kerling mata tajam kini lenyap dan gadis itu mengerutkan keningnya dengan bayangan hati kesal.
"Begitulah! Begitulah! Begitulah! Tidak bisa berkata lainkah, hai orang dungu? Sin-jiu Kiam-ong kabarnya merupakan pria tukang merayu wanita nomor satu di dunia, ahli merayu dan mencumbu wanita. Apakah gurumu yang.... terkutuk itu tidak mengajarkan kepandaian merayu wanita kepadamu, heh, bocah tolol?"
Keng Hong tersenyum.
Kini dia mulai mengenal wanita ini.
Wanita yang cantik jelita, namun wanita yang amat berbahaya, seperti seekor ular berbisa.
Timbul pula kegembiraannya karena terhadap seorang wanita seperti ini, dia tidak perlu bersikap canggung, malu-malu atau takut-takut.
Ia menggelengkan kepala dan tersenyum mengejek.
"Kau sudah mau mampus, tahukah? Kau calon bangkai makanan cacing! Hendak aku lihat ke mana perginya wajahmu yang tampan itu kalau sudah digerogoti cacing nanti. Kau tahu bahwa engkau telah minum racun? di dalam air tadi, tolol, terdapat racun yang mematikan. Racun bunga Siang-tok-hwa (Bunga Racun Wangi) yang kini telah memasuki perutmu, yang akan menghancurkan ususmu, membuat isi perutmu menjadi busuk. Tahukah engkau? Dan obat pemunahnya hanya berada padaku, obat pemunah pil merah seperti yang kutelan tadi. Kalau kau tidak kutolong, nyawamu pasti akan melayang dalam waktu dua puluh empat jam! Nyawamu berada di tanganku sekarang, mengerti?"
Keng Hong mengangguk-angguk.
Mengertilah dia sekarang, teringatlah dia bahwa racun yang tidak asing baginya itu adalah Siang-tok-hwa.
Tentu saja dia mengenalnya baik-baik, dan tadi dia terlupa karena terpesona oleh sikap dan gaya gadis luar biasa ini.
"Cui Im, apakah kehendakmu? Apakah maksudnya semua ini? Mengapa kau meracuniku?"
"Karena tolol engkau menjadi menyebalkan. Segala apa tidak mengerti. Otakmu tumpul benar perlu dicuci! Tentu saja nyawamu kucengkeram untuk ditukar dengan rahasia barang pusaka gurumu yang.... terkutuk!"
"Diam dan jangan memaki mendiang suhu atau.... aku takkan sudi melayanimu bicara lagi!"
Terbelalak mata gadis itu mendengar bentakan yang tak disangka-sangkanya akan dapat dikeluarkan oleh mulut pemuda tolol itu.
Akan tetapi hanya sebentar karena ia mengira bahwa hal itu timbul karena kebaktian bocah ini terhadap mendiang gurunya.
"Engkau telah menyerahkan Siang-bhok-kiam kepada tosu-tosu bau Kun-lun-pai. Akan tetapi pedang itu bagiku tidak ada artinya. Belum tentu bisa menangkan pedangku ini!"
Gadis itu meraba pinggangnya dan....
"Swingggg..."
Tangannya sudah memegang sebatang pedang yang mengeluarkan sinar kemerahan.
Kiranya pedang itu amat tipis, terbuat daripada baja lemas sehingga dapat dipergunakan sebagai sabuk!
Kini gadis itu menodongkan ujung pedangnya ke depan dada Keng Hong.
"Aku tidak butuh Siang-bhok-kiam! Yang kubutuhkan kitab-kitab pusaka dan barang-barang mustika peninggalan suhumu. Engkau turun dari Kiam-kok-san hanya membawa pedang, berarti bahwa pusaka-pusaka warisan itu masih belum kau bawa turun. Kau antar aku kesana, berikan semua itu kepadaku, tunjukkan rahasianya, dan mungkin nyawamu akan kubebaskan, dan selain itu.... hemmm, kalau kau tidak terlalu tolol, kita dapat menjadi sahabat baik!"
Keng Hong bukan seorang bodoh sungguhpun kelihatannya dia ketolol-tololan.
Ia telah di racun, akan tetapi racun yang ada obat pemunahnya pada gadis itu.
Berarti bahwa dia tidak akan dibunuh.
Gadis ini menghendaki barang-barang pusaka gurunya, tentu saja tidak akan membunuhnya, melainkan hendak memaksanya dengan jalan meracuninya.
Benar-benar seorang gadis yang berhati kejam!
Mengapa ada seorang gadis cantik jelita seperti ini berhati sekejam itu?
Ia merasa penasaran sekali dan perasaan inilah yang mendorongnya untuk menyaksikan lebih lanjut sampai di mana kekejaman gadis ini dan apa yang akan dilakukan atas dirinya.
"Aku tidak menerima warisan pusaka-pusaka yang kau maksudkan, dan aku pun tidak tahu rahasianya."
"Kau masih berani menyangkal dan menolak permintaanku? Kau murid tunggalnya, tak mungkin kau tidak mewarisi pusaka-pusaka itu, apalagi Siang-bhok-kiam diberikan kepadamu. Ingat, nyaawamu berada di tanganku, tahu? Andaikata engkau memberontak, engkau pun tidak akan mampu menandingi pedangku. Andaikata kau mempergunakan ilmu mujizatmu dan berhasil melarikan diri, dalam waktu sehari semalam ususmu sudah hancur berantakan dan nyawamu pun takkan tertolong. Jangan bodoh, Keng Hong. Lebih baik engkau menuruti permintaanku agar engkau tetap hidup dan menikmati kesenangan bersama aku."
"Cui Im, engkaulah yang bodoh dan mengecewakan hati. Mengapa engkau menurutkan nafsu buruk hendak menginginkan barang orang lain? Kalau engkau suka menurut nasehatku, insyaflah dan sadarlah bahwa engkau terseret oleh nafsumu menuju ke jurang kesesatan. Urungkan niatmu yang buruk itu karena sesungguhnya aku benar-benar tidak pernah melihat di mana adanya pusaka-pusaka peninggalan suhu. Aku tidak berhasil mencarinya dan aku tidak berbohong."
"Kalau begitu, biar aku melihat engkau mampus dengan isi perut berantakan!"
Bentak Cui Im dengan suara marah dan kecewa sekali.
Tiba-tiba terdengar suara bentakan keras "Tidak boleh dibunuh begitu saja, Tok-sian-li (Dewi Beracun)!"
Dan tampak bayangan orang berkelebat.
"Benar sekali, tidak boleh dibunuh sebelum menyerahkan pusaka peninggalan Kiam-ong kepadaku!"
Berkelebat pula bayangan lain.
Kiranya yang muncul ini adalah dua orang tua yang pernah dilihat Keng Hong pada lima tahun yang lalu.
Mereka berdua itu adalah dua di antara sembilan orang sakti yang pernah menyerbu Sin-jiu Kiam-ong.
Yang pertama adalah nenek tua renta yang dia ingat bernama Lu Sian Cu dan berjuluk Kiu-bwe Toanio.
Gurunya pernah bercerita kepadanya tentang nenek ini.
Menurut cerita itu, Kiu-bwe Toanio dahulunya adalah seorang pendekar wanita yang cantik jelita dan lihai, namun yang jatuh cinta kepada gurunya yang tampan dan gagah.
akan tetapi ternyata wanita ini di kecewakan oleh Sin-jiu Kiam-ong.
Kiam-ong tidak pernah membiarkan hatinya jatuh cinta dan perhubungannya dengan Lu Sian Cu hanya dianggapnya sebagai permainan cinta petualangan biasa saja.
sebaliknya, cinta kasih wanita itu mendalam sehingga hatinya menjadi hancur dan patah ketika Kiam-ong meninggalkannya.
Adapun orang ke dua adalah si kakek tua Sin-to Gi-hiap.
Pendekar Budiman bergolok sakti yang juga menaruh dendam sakit hati terhadap Kiam-ong untuk urusan pribadi.
Isterinya yang sesungguhnya adalah hasil rampasan dari seorang kepala rampok, isteri yang cantik jelita dan amat dicintanya, telah "dicuri"
Oleh Kiam-ong yang terkenal pandai merayu wanita sehingga di antara isterinya dan Kiam-ong terjadi perhubungan rahasia.
Melihat dua orang tua yang datang ini, Bhe Cui Im tersenyum mengejek, lalu membalikkan tubuh menghadapi mereka sambil memandang tajam dan melintangkan pedang merah itu di depan dadanya, sedangkan tangan kirinya bertolak pinggang.
"Hemmm, Kiu-bwe Toanio dan Sinto Gi-hiap, bukan? Kalian sudah lari terkencing-kencing diusir oleh tosu-tosu bau Kun-lun-pai, sekarang muncul lagi di depanku dengan niat apakah?"
Keng Hong memandang dengan heran.
Makin tidak mengertilah dia akan keadaan Cui Im.
Gadis cantik jelita yang amat menarik hati ini, yang tadinya amat galak dan kadang-kadang juga amat halus memikat, kemudian terbukti berhati palsu dan keji, kini menghadapi dua orang tokoh kang-ouw yang tua seperti menghadapi dua orang biasa saja!
Tokoh macam apakah gadis ini di dalam dunia persilatan?
Sampai-sampai dua orang locianpwe (orang tua tingkat tinggi) tidak dipandang mata olehnya, dan yang lebih mengherankan lagi, dua orang tua itu pun agaknya tidak menganggapnya sebagai gadis muda.
"Ang-kiam Tok-sian-li (Dewi Racun Berpedang Merah), lekas keluarkan pil pemunah racun. Orang muda ini tidak boleh dibunuh,"
Kata sin-to Gi-hiap.
"Benar sekali, Tok-sian-li. Siang-bhok-kiam sudah terampas Kun-lun-pai, kalau pemuda ini dibunuh, sungguh sayang sekali. Kasihan murid Sin-jiu Kiam-ong yang tidak bersalah apa-apa...."
Sambung Kiu-bwe Toanio.
Tiba-tiba Cui Im tertawa bergelak, tanpa menutupi mulutnya, sikapnya kasar sekali.
Keng Hong makin terheran-heran.
Kiranya Bhe Cui Kim mempunyai julukan yang demikian menyeramkan.
Ang-kiam Tok-sian-li (Dewi Beracun Berpedang Merah)!
Tentu seorang tokoh besar dari golongan sesat!
Pantas saja Kiang Tojin menyatakan bahwa gadis cantik itu dari dunia hitam, seorang tokoh kaum sesat.
Akan tetapi masih begitu muda!
Masa memiliki tingkat kedudukan yang sejajar dengan Kiu-bwe Toanio dan Sin-to Gi-hiap?
"Hi-hi-hik!
Kiu-bwe Toanio, alangkah lucunya melihat lagakmu.
Engkau terkenal sebagai pendekar wanita sejak muda, akan tetapi kiranya engkau pun hanya seorang yang pada lahirnya saja pendekar padahal sebenarnya di dalam hatimu mengandung maksud-maksud yang tidak lebih bersih daripada maksud hatiku.
Kau pura-pura merasa kasihan dan ingin menolong pemuda ini, padahal yang kau inginkan adalah benda-benda pusaka peninggalan Sin-jiu Kiam-ong.
Aku pun menghendaki benda-benda itu dan aku berterus terang, tidak pura-pura seperti engkau!"
"Hemmmm, Tok-sian-li. Hanya karena mengingat akan nama gurumu maka aku seorang tua masih berlaku hormat kepadamu. Jangan engkau membuka mulut sembarangan saja! Memang aku menghendaki barang-barang pusaka Sin-jiu Kiam-ong, akan tetapi hal itu adalah karena dosa-dosa Kiam-ong kepadaku yang harus dia bayar lunas dengan benda-benda pusaka peninggalannya! Tidak seperti engkau yang hendak merampok begitu saja dengan menekan muridnya."
"Hi-hi-hik, nenek tua yang tak tahu malu! Engkau sendiri yang dahulu tergila-gila kepada Kiam-ong, engkau sendiri yang mengejar-ngejarnya, ingin selalu berada dalam pelukannya, menikmati cumbu rayu dan belaiannya! Kiam-ong tidak sudi menjadi suamimu, kenapa kau katakan hal ini dosa? Hi-hi-hik, sungguh menjemukan!"
"Tok-sian-li, biar engkau menggunakan nama besar gurumu, penghinaanmu harus dibayar dengan nyawa!"
Kiu-bwe Toanio marah sekali dan ia menggerakkan pecutnya yang berekor sembilan itu di udara sehingga terdengar suara ledakan-ledakan "Tar-tar-tar....!!"
"Huh, pecutmu itu hanya dapat untuk menakut-nakuti anjing dan anak-anak kecil!"
Cui Im mengejek dan tiba-tiba tangan kirinya bergerak.
Sinar-sinar merah yang kecil-kecil menyambar ke arah nenek itu dengan kecepatan laksana kilat menyambar.
Itulah Ang-tok-ciam (Jarum Racun Merah) yang amat berbahaya, sekali sambit secara beruntun ada dua puluh satu buah jarum halus menyambar lawan.
Setiap batang jarum merupakan tangan maut karena racun yang dikandungnya cukup untuk merenggut nyawa orang.
Kini dua puluh satu buah jarum menyambar dan mengarah jalan-jalan darah yang penting, dapat dibayangkan betapa hebatnya!
"Perempuan keji!"
Kiu-bwe Toanio memaki, akan tetapi dia sibuk juga memutar senjata cambuknya untuk melindungi tubuh.
Hanya dengan memutar cambuk itu cepat-cepat maka ia dapat menghindarkan jarum-jarum yang tak berani ia anggap ringan itu.
"Nenek tua mampuslah!"
Cui Im telah melesat ke depan dan pedangnya berubah menjadi sinar merah yang bergulung-gulung ketika ia menerjang lawannya sebagai serangan lanjutan daripada jarum-jarumnya.
Gadis ini ternyata selain pandai melepas jarum, juga amat cerdik.
Ia maklum bahwa Kiu-bwe Toanio tak mungkin dapat mudah dirobohkan dengan jarum-jarumnya, maka serangan jarumnya tadi hanyalah untuk mengacau lawan, dan kini selagi lawannya memutar cambuk menghindarkan diri daripada ancaman jarum-jarum, ia telah menerjang dengan pedangnya yang gerakannya amat cepat dan kuat.
Keng Hong yang melihat gerakan gadis ini diam-diam kagum dan juga terkejut sekali.
Dilihat gerakannya, ilmu pedang gadis itu benar-benar lihai bukan main dan agaknya tidak berada di sebelah bawah tingkat kesembilan orang sakti yang pernah menyerbu suhunya.
"Tar-tar-tar.... wuuuuutttttt..... trang-trang....!"
Sembilan ekor ujung cambuk itu dimainkan di tangan Kiu-bwe Toanio seolah-olah menjadi sembilan ekor ular yang bergerak hidup, sebagian lagi membalas dengan totokan-totokan kilat yang disusul dengan gerakan mengait!
Betapapun hebat gerakan pedang di tangan Cui Im, namun dihadapi sembilan ujung cambuk yang menangkis dan balas menyerang itu dia terkejut sekali.
Pedangnya diputar dan ia mengeluarkan pekik nyaring, disusul jerit kaget Kiu-bwe Toanio.
Sejenak kedua orang ini lenyap menjadi bayangan yang berputaran di antara sinar merah dan sinar hitam cambuk itu, kemudian keduanya mencelat ke belakang didahului Cui Im yang terpaksa melompat jauh untuk menghindarkan serangan enam buah kaitan.
Ia turun dan melintangkan pedangnya dengan wajah agak berubah karena ia kini maklum betapa lihai nenek itu dan yang ternyata merupakan lawan yang berat juga.
Di lain pihak, nenek itu mengeluarkan suara gerengan marah karena tiga buah kaitan berikut tiga ujung cambuknya telah buntung oleh pedang yang amat lihai di tangan Cui Im.
Pada saat itu, Sin-to Gi-hiap yang melihat kesempatan baik, sudah meloncat mendekati Keng Hong dan berkata.
"Orang muda, kau harus ikut bersamaku sebagai wakil suhumu!"
Kakek itu dengan golok telanjang di tangan kanan menyambar Keng Hong dengan tangan kirinya, hendak mencengkram pundak pemuda itu.
Sebelum Keng Hong sempat mengelak, sinar merah berkelebat dan kakek itu cepat menarik kembali tangannya karena kalau dilanjutkan, tentu akan buntung terbabat pedang yang dibacokan Cu Im.
"Kakek tua bangka, jangan sentuh pemuda ini!"
Sin-to Gi-hiap menghela napas panjang.
"Nona, mengingat gurumu, biarlah kami orang tua mengalah. Marilah kita berunding baik-baik. Benda-benda pusaka peninggalan Sin-jiu Kiam-ong amatlah banyaknya, kalau kita bertiga membagi rata, masih amat banyak bagian kita masing-masing. Kurasa Kiu-bwe Toanio juga tidak keberatan."
Kiu-bwe Toanio menggerak-gerakkan cambuknya.
Ia maklum bahwa gadis itu amat lihai ilmu pedangnya, apalagi kalau ia mengingat guru gadis itu, benar-benar tak boleh dijadikan lawan dan jauh lebih baik dijadikan kawan.
Maka ia mengangguk dan menggumam.
"Asal orang muda tidak kurang ajar terhadap orang tua, aku pun bukan seorang serakah yang ingin memiliki seluruh pusaka."
Cu Im melangkah maju mendekati Keng Hong lalu memegang tangan pemuda itu dengan tangan kanannya yang menyembunyikan pedang di balik lengan.
"Uh, kalian mau enaknya saja! Siapa yang lebih dulu mendapatkan murid Sin-jiu Kiam-ong ini? Aku! Kalau kalian semua lari terbirit-birit diusir tosu-tosu Kun-lun-pai, aku malah membiarkan diriku dijadikan seorang tawanan! Setelah aku berhasil mendapatkan pemuda ini, kalian masing-masing mau minta bagian! Benar-benar tak tahu malu!"
Tiba-tiba gadis itu menggerakan tangan kiri, membanting sesuatu di depan dua orang lawan itu dan terdengarlah ledakan keras diikuti asap hitam mengebul.
Dua orang tua itu adalah orang-orang sakti yang sudah berpengalaman.
Cepat mereka melompat mundur menjauhkan diri, maklum betapa berbahaya asap hitam yang timbul dari ledakan itu.
Dan memang tepat sekali dugaan mereka karena kalau keduanya tidak menjauhkan diri dan sampai menghisap asap hitam itu, nyawa mereka terancam maut yang disebar oleh asap hitam yang amat beracun itu!
Ketika mereka meloncat dengan jalan memutari asap itu, ternyata Cui Im dan Keng Hong sudah tidak kelihatan lagi bayangannya.
"Kurang ajar! Mari kita kejar!"
Kiu-bwe Toanio berseru dan menggerak-gerakan cambuknya yang tinggal berekor enam itu.
"Tar-tar-tar!"
Dua orang tokoh lihai ini lalu melesat dan melakukan pengejaran akan tetapi karena mereka berdua tidak melihat ke jurusan mana larinya Cui Im, mereka mengejar secara ngawur dan ternyata mereka menuju ke jurusan yang berlawanan.
Kalau Cui Im yang mengempit tubuh Keng Hong lari ke selatan, mereka mengejar ke barat!
"Keng Hong, kita beristirahat dan bermalam di sini!"
Kata Cui Im sambil melempar tubuh Keng Hong di atas rumput hijau dalam sebuah hutan.
Senja telah berlalu dan keadaan cuaca di dalam hutan sudah remang-remang.
Cui Im lalu menyalakan api dan membuat api unggun sehingga di situ selain hangat dan tidak diganggu nyamuk, juga agak terang.
Kemudian gadis cantik itu duduk mendekati Keng Hong yang bersandar pada batang pohon.
"Keng Hong, waktumu sudah terlewat sehari, tinggal malam ini. Kalau kau tidak kuberi obat penawar, besok pagi engkau mampus."
Keng Hong menarik napas panjang memperlihatkan muka duka padahal di dalam hatinya dia menjadi geli.
"Mampus ya biarlah, malah tidak repot menjadi rebutan seperti sekarang ini!"
"Eh, eh, eh! engkau masih muda remaja, baru tujuh belas tahun usiamu, belum mengecap kenikmatan hidup, mengapa ingin mati?"
"Ingin mati sih tidak, akan tetapi kalau engkau meracuniku sampai mati, aku bisa berbuat apakah?"
"Engkau tidak ngeri? Tidak takut mati?"
"Mengapa takut? Apakah engkau takut mati, Cui Im?"
Gadis itu mengangguk, memandang wajah tampan itu dengan heran dan kagum.
"Hemmm, alangkah anehnya kalau ada orang takut mati. Mati itu apa sih? Siapa yang pernah mengalaminya? Siapa yang mengetahuinya bagaimana kalau sudah mati? Apakah menakutkan? Kalau belum tahu, perlu apa takut? Aku tidak takut mati karena aku tidak tahu apa yang akan terjadi di sana, seperti juga dahulu aku tidak takut lahir karena ketika itupun aku tidak tahu bagaimana itu yang disebut hidup!"
"Wah, engkau ini selain tolol dan bandel, juga aneh!"
"Engkau lebih aneh lagi. Ketika berada di Kun-lun-san, engkau membiarkan dirimu menjadi tawanan, berpura-pura seperti orang yang tidak memiliki kepandaian, padahal tadi ketika menghadapi Kiu-bwe Toanio, engkau lihai sekali."
Cui Im tertawa, giginya berkilauan disentuh sinar api unggun.
"Kalau tosu-tosu bau dari Kun-lun-pai itu mengetahui bahwa aku adalah aku, tentu mereka tidak akan mudah melepaskan aku pergi, biarpun engkau yang memintanya."
"Engkau siapa sih? Aku dengar tadi mereka menyebutmu Ang-kiam Tok-sian-li. Julukan yang bagus dan juga mengerikan! Ang-kiam (Pedang Merah) dan Sian-li (Bidadari) memang bagus, akan tetapi terselip kata-kata Tok (Racun), sayang sekali. Dan buktinya engkau memang tukang meracuni orang! Mengapa seorang gadis muda jelita macam engkau begini ganas, sungguh sukar dimengerti."
Cui Im tertawa lagi dan memegang lengan pemuda itu dengan sikap mesra.
"Kau bilang aku jelita? Benarkah?"
"Kalau aku tidak bilang kau jelita, berarti aku membohongi diri sendiri. Engkau memang jelita, Cui Im."
Gadis itu makin girang hatinya.
"Aduh, kalau kau selalu bersikap manis kepadaku, aku menjadi tidak tega membunuhmu, Keng Hong. Kau tampan sekali, dan banyak gadis akan kehilangan hatinya kelak kalau berhadapan denganmu."
Jantung Keng Hong berdebar, dia selamanya belum pernah berdekatan dengan wanita muda dan cantik, belum pernah dipuji dan di rayu.
Cepat dia menekan perasaannya dan mengalihkan percakapan.
"Kiu-bwe Toanio dan Sin-to Gi-hiap adalah dua orang locianpwe yang berilmu tinggi, akan tetapi terhadapmu seperti orang jerih, dan selalu menyebut-nyebut gurumu. Siapa sih gurumu yang agaknya amat mereka takuti itu, Cui Im?"
"Guruku adalah orang yang terpandai di kolong langit ini! Agaknya hanya Sin-jiu Kiam-ong saja yang dapat menandinginya, akan tetapi setelah Kiam-ong meninggal, guruku menjadi jago nomer satu di dunia! Dia adalah orang pertama dari Bu-tek Su-kwi (Empat Iblis Tanpa Tanding) yang menguasai daerah selatan dan berjuluk Lam-hai Sin-ni (Dewi Laut Selatan). Akan tetapi..... ah, Keng Hong, marilah bawa aku ketempat rahasia penyimpanan kitab-kitab rahasia suhumu, kita mempelajari bersama dan..... kita berdua akan menjadi sepasang jago nomer satu di dunia. Guruku sendiri takan mampu melawan kita. Marilah, kekasih.....!"
Cui Im merangkul leher Keng Hong.
Tercium keharuman yang amat sedap dari muka dan rambut gadis itu, membuat Keng Hong menjadi makin berdebar jantungnya dan terpaksa dia memejamkan matanya.
"Bagaimana, Keng Hong? kuberi obat pemunah, ya? Kemudian.... kemudian kita bersenang-senang malam ini besok kita pergi ke Kun-lun-san, ke Kiam-kok-san dan mengambil semua pusaka peninggalan suhumu.... ya??"
Keng Hong sudah memejamkan mata dan sudah mengumpulkan seluruh panca indra untuk menekan batinnya yang bagaikan air yang tenang mulai diguncang nafsu.
Ia menggeleng kepala dan berbisik.
"Aku tidak tahu di mana tempatnya itu."
Cui Im melepaskan rangkulanya dan lenyap pula kemesraanya.
Ia mendengus dan menjauhkan diri, duduk merenung di depan api unggun.
Keng Hong membuka matanya dan memandang punggung gadis itu yang menggunakan sepuluh jari tanganya menekuk-nekuk batang rumput, berkali-kali menarik napas panjang dan kelihatanya jengkel sekali.
Keng Hong terheran mengapa ada seorang gadis secantik itu, sehalus itu, berhati kejam dan jahat, mengejar kepandaian secara membuta.
Ia merasa sayang sekali.
Kalua dia terbayang akan belaian dan bujuk rayu tadi, kakinya menggigil.
Apa yang akan diperbuat gurunya, andaikata Sin-jiu Kiam-ong yang menjadi dia?
Dia tidak takut akan racun yang memasuki perutnya tadi.
Selama dia berguru kepada Sin-jiu Kiam-ong, gurunya itu setiap hari memberinya minum segala macam racun, sedikit demi sedikit!
"Kaki tangan seorang lawan dapat kau hadapi dengan kaki tangan pula, muridku,"
Demikian gurunya memberi keterangan.
"akan tetapi lawan yang licik suka mempergunakan racun yang dicampur dalam makanan atau minuman. Banyak terdapat racun yang jahat sekali dan yang tidak berbau apa-apa, tidak terasa apa-apa. Namun dengan kebiasaan minum sedikit racun setiap hari, lidahmu akan menjadi biasa dan dapat mengenal setiap racun yang dicampur makanan atau minuman. Juga, dengan cara sedikit demi sedikit, makin lama makin tambah takarannya masukan racun-racun itu ke perut, engkau akan menjadi kebal terhadap segala macam racun."
Demikianlah, ketika dia minum air yang dicampur racun, dia segera mengenal racun itu, akan tetapi mengandalkan kekebalan perutnya dia tidak khawatir dan minum terus sampai habis.
Dengan sinkang yang disalurkan ke perut, dia tadi telah mengumpulkan racun di perutnya dan dalam perjalanan tadi ketika dia dipanggul Cui Im, diam-diam dia telah memuntahkan kembali racun itu sehingga kini perutnya bersih daripada racun.
Kembali Keng Hong memperhatikan Cui Im.
Kini gadis itu agak miring duduknya sehingga tampak dari samping wajah yang cantik itu.
Wajah yang disinari api merah, sedikit tertutup juntaian rambut hitam, benar-benar amat mempesonakan.
Ketika tiba-tiba gadis itu menoleh ke arahnya, seolah-olah terasa pandang matanya, Keng Hong cepat meramkan matanya.
Dia memang lelah dan mengantuk, maka kini dia mengambil ketetapan hati untuk meram terus dan tidur, tidak lagi mempedulikan gadis itu.
"Keng Hong....!"
Pemuda itu membuka matanya dan memandang gadis yang bersimpuh di depannya.
"Enak saja kau tidur!"
"Habis mau apa lagi? Mengapa kau mengganggu orang tidur?"
Gadis itu makin gemas.
Orang ini sudah terkena racun, sudah menghadapi kematian, namun masih enak-enak saja.
Biarpun seorang di antara tokoh-tokoh besar di dunia kang-ouw macam mereka yang disebut locianpwe, kiranya akan menjadi gelisah dan akan berdaya sedapat mungkin untuk menyelamatkan nyawanya.
Akan tetapi pemuda ini enak-enak saja tidur.
Selain heran dan penasaran, juga dia menjadi kagum dan makin tertarik karena sukarlah mencari seorang pemuda setenang ini.
Ataukah memang karena tololnya?
Dia tidak menghendaki kematian Keng Hong, karena kematian pemuda ini tidak saja akan membuyarkan cita-citanya mendapatkan kitab-kitab simpanan Kiam-ong, juga gurunya akan menjadi marah sekali kepadanya.
Apa yang ia harus lakukan untuk dapat membujuk pemuda ini?
"Keng Hong, apakah kau tidak merasa sakit?"
Keng Hong menggeleng kepala.
"Perutmu tidak mulas? Racun itu tentu telah mulai bekerja."
Kembali pemuda itu hanya menggeleng.
"Kau memang aneh. Karena umurmu tinggal malam ini, biarlah kuhadiahi engkau arak wangi yang kubawa. Jarang ada orang kuberi arak ini, kalau bukan orang yang kusenangi."
"Hemmm, engkau senang kepadaku?"
Cui Im memandang dan melempar kerling memikat, senyumnya kini manis sekali.
"Ah, betapa bodohnya engkau Keng Hong. Aku senang kepadamu, aku cinta kepadamu, masih butakah matamu? Aku tidak ingin melihat engkau mati besok."
"Engkau ingin memaksa aku mencari pusaka suhu, bukan tidak ingin melihat aku mati."
"Betul juga, akan tetapi aku cinta padamu. Kau seorang pemuda yang jantan, tabah dan luar biasa. Mari, kuhadiahi engkau arak wangi."
Cui Im mengeluarkan sebuah guci arak kecil dari balik bajunya, membuka tutupnya dan terciumlah bau yang amat wangi, seperti puluhan macam bunga wangi dikumpulkan dalam guci arak itu.
Keng Hong tidak banyak cakap lagi, namun dia haus dan bau arak itu amat sedap.
Ia menerima guci itu dan menodongkan ke mulutnya.
(Lanjut ke
Jilid 05) Pedang Kayu Harum (Seri ke 01-Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 05
"Racun atau obat penawar?"
Tanyanya sebelum minum.
Cui Im makin kagum.
Di dunia ini tak mungkin menjumpai orang seperti pemuda ini, yang begitu tenang dan dingin menghadapi ancaman racun, padahal pemuda itu sudah mengenal namanya sebagai Tok-sianli (Dewi Beracun)!
Hebat bukan main!
"Kalau arak ini beracun, bagaimana?"
Ia bertanya, memancing.
"Racun pun boleh, asal enak diminum. Aku sudah diracuni, ditambah lagi sedikit atau banyak apa bedanya?"
Jawab Keng Hong lalu meminum arak itu dari guci.
Lidahnya segera dapat merasa bahwa di dalam arak ada racunnya, akan tetapi racun ini berbeda dengan racun tadi.
Racun yang berada di dalam arak ini racun yang amat halus, bahkan bukan racun cair karena begitu diminum, racun itu menjadi segumpal hawa yang harum.
Dia tidak tahu racun apa ini, akan tetapi dia mengerahkan sinkangnya menerima racun itu dan membiarkan gumpalan hawa wangi itu berkumpul di dalam dadanya.
Setelah guci kecil itu kosong, baru dia mengembalikannya kepada Cui Im, dan mengusap mulut dengan ujung lengan bajunya.
Cui Im memandang dengan mata terbelalak, kemudian dia tersenyum-senyum ketika melihat pemuda itu menyandarkan diri di batang pohon dan meramkan mata seperti orang mengantuk.
Ia percaya penuh akan kemanjuran racun araknya dan mengharapkan hasil sekali ini.
Arak yang dicampur racun itu amatlah kuatnya dan merupakan arak buatan gurunya yang ampuh sekali.
Bukan racun untuk membunuh, melainkan racun untuk pembangkit berahi, racun perangsang yang dibuat dari beberapa macam lalat dan semut dicampur sari bunga-bunga wangi.
Penduduk kepulauan di selatan mempergunakan sebagian kecil saja dengan cara pembuatan sederhana untuk meracuni kuda yang hendak dikawinkan.
Tanpa racun ini, sukar mengawinkan kuda betina.
Kini, yang diminumkan oleh Cui Im kepada Keng Hong merupakan sarinya, kerasnya bukan main dan kiranya cukup untuk pembangkit nafsu berahi dua puluh ekor kuda!
Keng Hong yang meramkan mata itu sesungguhnya tidak tidur.
Dia mendengarkan gerak-gerik Cui Im yang menurut pendengaranya seperti orang gelisah.
Akan tetapi dia tidak perduli dan meramkan mata, mengheningkan cipta dan mengerahkan sinkang untuk menahan gumpalan hawa beracun yang aneh itu.
Ia tahu bahwa racun ini amat berbahaya, sungguhpun dia tidak tahu bagaimana bahayanya.
Tubuhnya menjadi panas, padahal racun itu masih tertahan olehnya.
Ia menanti saat baik untuk menghembuskan keluar racun itu di luar tahu Cui Im, karena dia pun hanya ingin melihat apa yang akan dilakukan gadis itu selanjutnya.
Akan tetapi, apa yang akan dihadapinya sungguh di luar dugaannya sama sekali.
Lewat tengah malam, Keng Hong yang mengantuk itu tiba-tiba mendengar panggilan yang mesra dan halus, dibisikan dekat telinganya.
"Keng Hong....., ah, Keng Hong.....!"
Ia membuka matanya.
Api unggun masih menyala dan di antara sinar merah api itu, dia melihat Cui Im merangkul dan membelainya, lengan yang telanjang membelit lehernya seperti ular, dada yang tak ditutupi apa-apa membusung dan menekan dadanya sendiri.
Gadis itu memeluk dan membelainya dalam keadaan telanjang bulat.
Keng Hong membelalakan matanya, mulutnya ternganga dan dapat dibayangkan betapa gagetnya ketika pada saat itu Cui Im mencium mulutnya yang sedang ternganga itu sehingga mulut mereka bertemu seperti guci arak dengan sumbatnya.
Karena kaget, Keng Hong mengeluarkan suara "ahhh!"
Dari dadanya dan....
segumpal hawa racun wangi yang dia kumpulkan dan tahan dengan kekuatan sinkang telah terhembus keluar, memasuki mulut Cui Im yang terbuka dan langsung ke dalam dada gadis itu.
"Aiiihhhh.....!"
Cui Im menjerit dan terjengkang ke belakang.
Ia terbatuk-batuk, memegangi leher yang serasa tercekik, tubuhnya mengeliat-geliat seperti seekor ular terkena api.
Keng Hong memandang dengan mata terbelalak, setengah kasihan, setengah geli bahwa tanpa disengaja racun itu meracuni Cui Im sendiri, juga setengah kagum menyaksikan betapa tubuh yang indah itu mengeliat-geliat seperti itu.
Harus dia akui bahwa selama hidupnya belum pernah dia menyaksikan keindahan tubuh seperti tubuh Cui Im.
Dalam mimpi pun tak pernah.
Kini barulah dia mengerti mengapa mendiang Sin-jiu Kiam-ong, suhunya, dikatakan mata keranjang dan tukang memikat wanita.
Kiranya tubuh indah dan wajah cantik seperti yang dimiliki Cui Im inilah yang membuat suhunya seperti itu.
Hati pria mana takkan tertarik?
Bukankah keindahan wanita memang khusus diciptakan untuk menarik hati pria?
Kerbau, kuda, burung dan segala macam binatang tentu akan tertarik akan keindahan wajah dan tubuh seorang wanita!
"Tamasya alam yang indah memang minta kita pandang dan kagumi.
Bunga-bunga cantik wangi memang minta kita pandang dan ciumi.
Wanita-wanita cantik jelita memang minta kita cinta dengan kasih mesra.
Engkau bahagia dalam hidupmu kalau tidak terjerat cinta kasih yang mendalam, muridku.
Sekali terjerat, engkau akan menikah, dan sekali kau menikah, berarti engkau memberikan kaki tanganmu untuk diikat selama-lamanya dengan kewajiban-kewajiban!
Karena itu jauhkan diri daripada ikatan cinta kasih yang mendalam, sungguhpun engkau telah berhubungan dengan banyak wanita.
Kalau memang engkau suka, jangan menolak cinta wanita, hanya jangan berikan hatimu, jangan berikan cinta kasihmu, cukup kau berikan tubuhmu."
Demikianlah pernah dia mendengar wejangan gurunya yang terkenal sebagai seorang pemikat wanita!
Tadinya, wejangan seperti itu hanya lewat saja di hatinya karena belum terpikirkan olehnya bahwa dia akan menghadapi hal-hal seperti itu, tidak terpikirkan olehnya bahwa dia akan bertemu dengan wanita-wanita sehingga timbul persoalan cinta kasih.
Akan tetapi sekarang, baru saja dia turun dari Kiam-kok-san, dia telah bertemu dengan hal yang dikatakan suhunya itu!
Kini Cui Im tidak menggeliat-geliat lagi seperti cacing kepanasan.
Gadis itu masih terengah-engah dan memegangi lehernya, kemudian mengangkat mukanya memandang Keng Hong.
Rambutnya yang terurai itu sebagian menutupi mukanya.
Mukanya merah sekali, bibir dan rongga mulutnya yang agak terbuka lebih merah lagi, matanya memandang penuh gairah, hidungnya berkembang-kempis seakan-akan terlalu sempit liangnya untuk jalan keluar pernapasan.
"Keng Hong..... Ah-hah..... Keng Hong........"
Cui Im yang tadinya berlutut itu kini merangkak maju menghampiri Keng Hong, kemudian menubruk pemuda itu, merangkul dan menciumi sambil membisikan kata-kata yang tidak ada artinya, kemudian tangannya meraba-raba ke arah kancing pakaian Keng Hong.
Keng Hong Menjadi geli hatinya dan di luar kesadaranya sendiri, dia membiarkan semua perbuatan Cui Im.
Ia teringat akan gurunya, teringat akan nasihat gurunya, dan timbul watak petualang yang memang terdapat dalam sudut hati setiapa orang manusia, yang membuat dia ingin mengalami segala macam hal.
Keng Hong tidak menolak segala keinginan Cui Im, dan membiarkan diri sendiri menjadi murid yang melayani segala kehendak Cui Im yang sedang diamuk nafsu berahi yang dirangsang oleh hawa racunnya sendiri.
Cui Im sama sekali tidak mengira bahwa akan menjadi begini urusannya.
Bukan hanya dia sendiri menjadi korban racunnya, bahkan tanpa diketahui olehnya atau oleh Keng Hong sendiri, di dalam hubungan mereka itu pun timbul pula daya sedot mujijat dalam tubuh Keng Hong sehingga setelah lewat malam itu, Cui Im terkulai seperti orang kehabisan tenaga, setengah pingsan di atas rumput.
Adapun Keng Hong yang sudah membereskan pakaiannya sendiri, enak-enak saja nongkrong di bawah pohon dan membesarkan api unggun.
Hanya wajahnya yang tampak kemerahan dan segar, pandang matanya berbeda dari kemarin karena ini pandang matanya menjadi "masak".
Keng Hong mulai lewat tengah malam tadi telah berubah dari kanak-kanak menjadi seorang laki-laki dewasa.
Agaknya benar seperti diramalkan Thian Seng Cinjin ketua Kun-lun-pai bahwa bocah ini akan lebih hebat dari Sin-jiu Kiam-ong!
"Keng Hong....!"
Suara itu terdengar lemah namun penuh rayuan, penuh cinta kasih, keluar dari mulut Cui Im yang menggeliat seperti seekor kucing kekenyangan.
Kemudian dia bergidik, merasa betapa dinginnya hawa pagi dan agaknya baru disadarinya bahwa ia bertelanjang.
Dengan malas Cui Im menyambar pakaiannya, mengenakan sejadinya, kemudian tiba-tiba ia meloncat dengan pakaian kusut dan rambut masih terurai lepas, meloncat ke dekat Keng Hong yang masih enak-enak membesarkan api unggun.
"Keng Hong! Kau..... kau..... ah, lekas, kau telan pil pemunah racun itu.....! Ah, sudah pagi... celaka, terlambat sudah.... aduh, Keng Hong, Keng Hong kekasihku.....!"
Cui Im menangis tersedu-sedu dan merangkul leher Keng Hong.
"Kau ini kenapa sih?"
Keng Hong bertanya tak acuh.
"Kenapa? Kau masih enak-enakan saja? Racun itu..... engkau berada di ambang maut dan obat pemunah tidak ada gunanya lagi. Kau akan mati, Keng Hong!"
Pemuda itu menoleh dan tampak olehnya betapa wajah itu tidaklah sejelita malam tadi!
Ia tidak tertarik oleh kecantikan Cui Im, bahkan merasa tidak senang.
Padahal wajah itu masih sama, dan mengertilah dia akan keterangan suhunya tentang perbedaan antara cinta sejati dan cinta nafsu.
Cinta sejati tidak mengenal cantik atau tidak, tidak mengenal bosan karena cintanya mendalam dan ada kontak serta getaran antara jiwa dan batin kedua fihak.
Sebaliknya, cinta nafsu hanyalah cinta yang timbul karena dorongan nafsu, karena kecantikan yang amat dangkal, hanya sedalam kulit sehingga cinta nafsu ini sekali terpuaskan akan menjadi bosan.
"Aku tidak akan mati."
"Apa? Dan racun itu.....? Racun ganas sekali!"
"Sudah kutumpahkan kembali. Aku tidak akan mati oleh racunmu, Cui Im."
Gadis itu terbelalak dan tidak senang melihat sikap Keng Hong yang begitu dingin, seolah-olah lenyap cinta kasihnya kepadanya, padahal baru saja, setengah malam penuh, mereka bercinta kasih tak mengenal batas.
Ia menggelung rambutnya, memandang dengan kagum.
Pemuda ini hebat!
Hebat segala-galanya, pikirnya.
Diracuni tidak mati, dan dari pengalamannya semalam harus ia akui bahwa belum pernah selamanya ia bertemu dengan seorang pria seperti Keng Hong ini.
Ia segera menghampiri dan merangkul pundak Keng Hong.
"Syukurlah kalau begitu, kekasihku. Keng Hong, kita telah.... telah menjadi suami isteri yang tidak syah! Engkau patut menjadi murid Sin-jiu Kiam-ong. Aaahhhhh, kekasihku, kita saling mencintai, hidup berdua mati bersama, bukan? Mari kita pergi mencari peninggalan suhumu yang sakti....."
"Tidak! Kau pergilah, Cui Im. Sudah cukup agaknya aku mengalah terus dan menuruti semua perintahmu. Aku tidak menyesal karena terus terang saja, aku senang padamu. Akan tetapi jangan harap untuk dapat membujuk atau memaksa aku mencari pusaka guruku karena selain aku tidak tahu tempatnya, juga aku tidak mau. Pergilah!"
"Ihhhh....! keparat!"
Cui Im meloncat tinggi melepaskan pelukannya dan dia jatuh berdebuk di atas tanah.
"Heeeee.....? Ke.... kenapa....?"
Gadis itu terbelalak matanya dan terheran-heran, juga menjadi gelisah sekali.
Mengapa dia seolah-olah kehilangan tenaga sinkangnya?
Meloncat begitu saja ia terbanting roboh!
Akan tetap kemarahannya membuat ia melupakan keadaan yang aneh ini dan ia sudah bangkit berdiri, lalu memaki.
"Kau laki-laki tak berbudi! Kau laki-laki pemikat! Setelah menikmati tubuhku, kau mengusir aku pergi begitu saja!"
"Ingat, bukan aku yang memikat, melainkan kau sendiri. Pergilah!"
"Jahanam.....!"
Cui Im melompat maju dan mengirim pukulan ke arah punggung Keng Hong.
"Bukkk! Aiiihhh....!"
Keng Hong masih duduk enak-enak, nongkrong di depan api unggun, sebaliknya tubuh Cui Im terlempar ke belakang dan gadis itu mengelus-elus tangan kanannya yang dipakai memukul tadi, matanya terbelalak.
Ia tadi merasa dalam pukulannya betapa tangannya mendadak lemah sekali, sebaliknya punggung pemuda itu seperti dilindungi hawa yang amat kuat.
"Aku.... aku.... kenapa....?"
Kembali Cui Im berseru heran dan penuh kengerian.
"Keng Hong.... kau apakan aku.....?"
Keng Hong bangkit berdiri dan membalikan tubuh menghadapi gadis itu.
"Cui Im, kau tahu aku tidak melakukan apa-apa. Semenjak kemarin, adalah engkau yang selalu menggangguku."
"Aku.... tenaga sinkangku..... kosong dan kering.... tenagaku amat lemah....."
Keng Hong juga tidak mengerti mengapa, dan dia tidak peduli karena bukan dia yang menyebabkan gadis itu demikian.
Keng Hong tidak tahu, seperti dahulu di Kun-lun-san dia juga tidak sadar bahwa dia telah menyedot tenaga Kiang Tojin dan para tosu lain, semalam pun tanpa disadarinya, sebagian besar sinkang ditubuh Cui Im telah berpindah ke dalam dirinya.
Keanehan yang terjadi dalam tubuh Keng Hong adalah bahwa setiap kali dia menghadapi serangan sinkang yang kuat, Secara otomatis tenaga sedotan itu bekerja tanpa disengaja dan tanpa dapat dia dicegah.
Karena sinkang dari Cui Im tidaklah sekuat sinkang-sinkang Tojin dan tosu-tosu lainnya, maka Keng Hong tidak terlalu merasakan perbedaannya, tidak seperti ketika berada di Kun-lun-san itu.
Kini dia hanya merasa tubuhnya segar dan sehat, sama sekali tidak merasa lelah.
Sementara itu, Cui Im juga sudah menekan keguncangan hatinya.
Ia menghilangkan kebingungannya dengan anggapan bahwa sinkangnya sebagian besar lenyap karena pengaruh hawa beracun, yaitu racun perangsang yang entah bagaimana telah berpindah ke dalam dadanya ketika ia mencium mulut Keng Hong semalam.
Ia kni menjadi tenang kembali dan tidak menggunakan sinkang, tidak mengerahkan hawa dari pusar, melainkan mencabut pedang merahnya lalu menodong dan mengancam.
"Keng Hong, sungguhpun racun itu tidak dapat membunuhmu, pedangku ini masih dapat mengirim nyawamu ke neraka kalau kau menolak permintaanku!"
Keng Hong memandang ujung pedang yang menodong dadanya, lalu menghela napas panjang.
"Sayang sekali, Cui Im. Engkau seorang gadis cantik jelita dan berkepandaian tinggi, namun semua itu tidak ada artinya kalau hatimu sekotor ini. Kulihat sinkangmu sudah lemah, kalau aku mempergunakan tenaga mana mungkin pedangmu dapat mengusikku? Akan tetapi aku tidak akan menggunakan tenaga, dan biarlah kujadikan engkau sebagai penguji karena selama turun gunung aku belum pernah menggunakan kiam-sut yang kupelajari dari suhu."
Cui Im membuat gerakan menusukan pedangnya, akan tetapi dengan tangan miring, jari-jari tangan Keng Hong yang disaluri tenaga sakti yang hebat itu dapat menangkis dan mengibas sehingga pedang merah itu hampir terlepas dari pegangan tangan Cui Im.
Keng Hong lalu membungkuk dan memunggut sebuah ranting kayu, sisa yang dijadikan umpan api unggun tadi, kemudian dia sudah siap dengan ranting ini di tangannya, memasang kuda-kuda Ilmu Pedang Siang-bhok Kiam-sut.
Tentu saja ilmu pedang ini baru sempurna kalau dimainkan dengan pedang Siang-bhok-kiam, akan tetapi karena pedang itu tidak ada, ranting ini pun cukup baik, lebih baik daripada dia menggunakan pedang logam karena sifat kayi ini dan ringannya agak cocok dengan Pedang Kayu Harum.
"Nah, mari kita berlatih ilmu pedang,"
Katanya, ranting dilonjorkan lurus ke atas seperti menuding langit, kemudian perlahan-lahan turun ke bawah melingkari lehernya sendiri terus turun ditudingkan ke atas tanah.
Inilah kuda-kuda atau gerakan pembukaan Siang-bhok Kiam-sut, dengan kedua kakinya tegak di kanan kiri, Tangan kirinya mengikuti gerakan pedang membentuk lingkaran di depan dada yang berhenti di depan hulu hati dalam keadaan miring seperti orang menyembah dengan satu tangan.
Cui Im maklum akan kelihaiannya dalam tenaga sinkang yang dapat menyedot tenaga lawan.
Dia sendiri telah menyaksikan betapa Keng Hong merobohkan Kiang Tojin yang lihai bersama beberapa orang tosu Kun-lun-pai yang lain, merasa ngeri dan jerih untuk beradu kekuatan sinkang.
Akan tetapi ia pun telah melihat gerak-gerik Keng Hong yang masih kaku dalam ilmu silat, maka ia pikir bahwa kalau bermain pedang, apalagi pemuda itu hanya bersenjata ranting, pasti ia akan menang.
Ia sudah menggunakan racun, sudah pula menggunakan rayuan bahkan menyerahkan raganya, namun semua itu tidak berhasil menundukan hati Keng Hong.
Jalan satu-satunya hanya membunuhnya!
Berpikir demikian, Cui Im lalu berteriak keras dan menerjang maju dengan dahsyat sekalli, mengirim jurus serangan mematikan.
Harus diakui bahwa tingkat ilmu kepandaian Cui Im sudah amat tinggi, apalagi ilmu pedangnya, karena merupakan murid terkasih dari Lam-hai Sin-ni, datuk nomer satu dalam si empat besar Bu-tek Su-kwi.
Selain memiliki ginkang yang amat cepat, sungguhpun sekarang tidak dapat dipergunakan karena sinkangnya sebagian besar telah "pindah"
Ke tubuh Keng Hong, ia juga memilliki ilmu pedang yang amat ganas.
Keng Hong bersikap berhati-hati sekali.
Tadi ia sudah menyaksikan kelihaian gadis ini bermain pedang ketika melawan Kiu-bwe Toanio, maka kini ia cepat menggerakan rantingnya, digetarkan ujungnya dan menangkis dengan jurus-jurus ilmu silat pedang Siang-bhok Kiam-sut.
"Ayaaaa.....!"
Cui Im terkejut sekali karena begitu pedangnya bertemu dengan ujung ranting yang menggetar, pedangnya ikut tergetar dan getaran itu terus menjalar ke tangan dan lengannya, membuat lengannya kesemutan dan hampir saja ia melepaskan pedangnya kalau tidak cepat-cepat ia memutar pergelangan tangannya dan melangkah mundur.
Keng Hong tidak mengejar atau mendesak lawannya, hanya berdiri siap menghadapi serangan gadis itu.
Sikapnya tenang dan timbul kepercayaan pada diri sendiri.
Mungkin dalam hal ilmu silat dia kalah pandai, akan tetapi ilmu pedangnya Siang-bhok-kiam adalah ciptaan gurunya, dan dalam kekuatan sinkang dia menang jauh.
Asal dia dapat menjaga diri jangan sampai termakan pedang, dia tidak akan kalah.
"Kau.... kau laki-laki keji!"
Cui Im berteriak gemas lalu tubuhnya menerjang maju lagi mengirim tusukan dan bacokan bertubi-tubi.
Hebat sekali gerakan pedang gadis ini, amat sukar diduga perubahannya sehingga pandang mata Keng Hong berkunang-kunang dan silau dibuatnya.
Sinar pedang merah itu bergulung-gulung dan membentuk lingkaran-lingkaran panjang dan luas seperti seekor naga hendak membelit tubuhnya.
Terpaksa Keng Hong menyalurkan sinkang pada rantingnya dan memutar ranting itu melindungi tubuhnya.
Hawa sinkang yang disalurkan itu hebat sekali sehingga pedang yang ujungnya berubah menjadi puluhan banyak saking cepat dan tak terduga gerakannya itu selalu tertumbuk dan mental kembali, kalau tidak tertangkis ranting tentu membalik oleh hawa pukulan yang amat dahsyat.
Namun, biarpun serangan Cui Im gagal semua, Keng Hong sama sekali tidak ada kesempatan untuk membalasnya.
Hal ini adalah karena latihannya belum sempurna sama sekali, gerakannya masih kaku dan pedang Siang-bhok Kiam tidak berada ditangannya.
Kalau ilmu pedang Siang-bhok Kiam-sut sudah dilatih baik dan pada saat itu dia memegang pedang pusaka itu, kirannya dalam beberapa jurus saja Cui Im yang lihai itu tentu tidak mampu bertahan terhadapnya!
Cui Im makin lama makin marah.
Dari mulut gadis ini keluar lengking panjang yang amat nyaring dan dengan nekat ia memutar pedang lebih cepat lagi.
Namun, makin cepat ia mengerakan pedang, makin banyak ia menambah tenaga, makin lelah dia dan pedangnya juga setiap kali terbentur ranting membalik dan seperti akan menyerang tubuhnya sendiri.
Hal ini membuat Cui Im penasaran dan gemas sekali.
Dia memekik keras, mencabut keluar sehelai saputangan merah dan menggunakan saputangan itu menyeling serangan pedangnya, mengebutkannya ke arah Keng Hong.
Keng Hong maklum akan bahayanya saputangan merah yang berbau harum ini.
Teringat ia akan hawa racun yang tercampur pada arak.
Menghadapi minuman, dia masih dapat bertahan karena lima tahun dia setiap hari diberi minuman racun.
Akan tetapi terhadap racun yang berupa asap atau uap benar-benar amat berbahaya.
Melihat berkelebatnya saputangan merah yang wangi.
Keng Hong cepat menghindarkan diri dengan menggeser kaki ke kiri dan memukulkan rantingnya pada saputangan itu.
Ia berhasil merobek saputangan dengan ujung rantingnya, akan tetapi dia tidak tahu bahwa serangan saputangan itu hanya pancingan belaka karena pada detik berikutnya, Cui Im sudah membanting sebuah benda seperti bola yang tadi disembunyikan dibalik saputangan.
Bola itu mengeluarkan suara ledakan dan asap hitam mengelilingi Keng Hong.
Pemuda itu terkejut sekali dan melompat, namun terlambat.
Ia telah menghisap asap hitam yang berbau hamis, kepalanya pening, pandang matanya berkunang.
Ia terhuyung-huyung dan di dalam kegelapan asap itu pedang Cui Im menyambar, menusuk lambungnya.
Keng Hong masih sempat menangkis sambil mengerahkan tenaga.
"Tranggg.....!"
Pedang merah terlepas dari tangan Cui Im, akan tetapi pada saat itu Keng Hong terguling karena sebuah tendangan gadis itu tepat mengenai lutut kananya.
Keng Hong terguling roboh, pandang matanya gelap, napasnya terengah-engah sehingga makin banyak asap hitam tersedot olehnya!
Cui Im menjadi girang sekali dan ia sudah menubruk ke depan setelah menyambar pedang merahnya, disabetkan ke arah leher pemuda yang sudah tak berdaya lagi itu.
"Singgggg..... tranggg....!"
Cui Im menahan jeritnya ketika pedangnya yang sudah meluncur itu tiba-tiba tertahan di tengah udara, hanya beberapa senti meter lagi dari leher Keng Hong, dan terlepas dari tangannya kemudian terbang ke atas, terampas oleh segulung sinar putih yang datang menyambar secepat kilat.
"Suci (kakak perempuan seperguruan) apa yang hendak kau lakukan itu?"
Terdengar teguran halus dan ternyata di situ telah berdiri seorang gadis yang usianya paling banyak delapan belas tahun, berpakaian sutra putih dengan garis-garis pinggir biru, memegang sehelai sabuk sutra putih panjang yang tadi dipergunakan secara luar biasa untuk merampas pedang di tangan Cui Im.
"Sumoi (adik perempuan seperguruan).....! Engkau.....??"
Teriak Cui Im dengan suara kaget dan jerih.
Memang aneh kelihatanya.
Mengapa Cui Im seorang kakak seperguruan takut terhadap adik seperguruannya?
Namun kenyataannya begitulah.
"Nih, kukembalikan pedangmu, Suci!"
Kata pula gadis baju putih itu dan sekali menggerakan pergelangan tangan yang memegang sabuk sutera putih, pedang merah itu meluncur ke arah Cui Im yang cepat menyambutnya dan menyimpannya.
Gadis baju putih itu lalu menggerakan sabuknya yang menyambar ke arah Keng Hong bagaikan seekor ular hidup, melibat-libat tubuh pemuda yang masih pening dan mabuk itu dan sekali betot, tubuh Keng Hong melayang ke dekat gadis itu!
Cui Im memandang dengan muka berubah merah penasaran ketika sumoinya mengeluarkan segulung sutera hitam dan mengikat kedua pergelangan tangan Keng Hong yang masih rebah terlentang kebingungan.
Setelah mengikat kedua tangan pemuda itu secara hali, gadis baju putih ini lalu memakai kembali sabuknya, dilibat-libatkan di pinggangnya yang ramping.
"Sumoi kenapa kau tawan dia? Dia itu....., punyaku! Aku yang menangkap dia, dan aku yang berhak atas dirinya. Dia itu kekasihku!"
Teriak Cui Im dengan nada penasaran dan marah, namun ia tetap tidak berani mengeluarkan ucapan kasar terhadap sumoinya ini.
"Hemmm, kulihat kau tadi hendak membunuhnya,"
Kata si gadis baju putih dengan suara halus dan tenang.
"Karena dia punyaku, aku berhak melakukan apa saja terhadapnya. Aku hendak membunuhnya karena dia tidak memenuhi permintaanku untuk mencari pusaka peninggalan Sin-jiu Kiam-ong."
"Aku tahu semua itu, Suci. Hanya aku tak senang melihat engkau hendak membunuhnya. Ibu sendiri yang menyuruh aku menyusulmu dan mengawasi gerak-gerikmu. Dan harus kukatakan bahwa apa yang kulihat semalam tadi dan sekarang ini, sungguh mengecewakan. Kau terlalu menurutkan nafsu, nafsu berahi dan nafsu kemarahanmu. Yang dicari belum didapat mengapa hendak membunuh dia? Ibu yang menyuruh aku menangkapnya dan membawanya kepada ibu."
"Aaahhhh....!"
Cui Im mengeluh dengan nada kecewa sekali.
"Dahulu subo tidak tertarik akan peninggalan Sin-jiu Kiam-ong.... dan membiarkan aku pergi untuk merampasnya, untukku sendiri....."
"Sudahlah, Suci. Mari kita pergi menghadap ibu dan kau boleh bicara sendiri kepada ibu."
"Tapi subo (ibu guru)....."
"Sudahlah!"
Gadis baju putih itu membentak dan sucinya terdiam.
Kemudian gadis baju putih itu mengerakan bibir diruncingkan dan terdengarlah suara suitan melengking yang amat nyaring.
Tak lama kemudian terdengar suara roda gerobak yang dilarikan kuda cepat sekali menuju ke tempat itu.
Ternyata kemudian bahwa gerobak itu ditarik oleh empat ekor kuda besar, dikusiri seorang wanita muda yang cantik dan di belakang gerobak itu masih ada tiga orang wanita setengah tua yang cantik-cantik dan bersikap garang.
Keempat wanita yang datang ini kesemuanya memakaian pakaian kuning dan di punggung mereka tampak gagang pedang.
"Masukkan dia ke dalam kereta, aku sendiri yang akan menjaganya bersama suci,"
Kata gadis itu memberi perintahnya kepada tiga orang wanita setengah tua yang sudah melompat turun dari kuda.
Tanpa bicara sesuatu, mereka lalu mengangkat tubuh Keng Hong dan memasukannya ke dalam kereta, didudukan di atas bangku menghadap ke belakang.
Keng Hong masih pening kepalanya, menyadarkan diri dan meramkan mata, mulai mengumpulkan hawa sakti untuk mengusir hawa beracun yang mengotorkan dada dan kepalanya.
"Kalian berempat berangkatlah lebih dulu memberi laporan kepada ibu bahwa orang yang dikehendaki sudah tertawan. Biar suci yang menggantikan menjadi kusir dan aku yang mengawal orang ini. Berangkatlah!"
Empat orang itu mengangguk, wanita muda yang tadi menjadi kusir diboncengkan oleh seorang di antara mereka dan tiga ekor kuda itu lalu membalap ke sebelah depan.
Cui Im menghela napas panjang penuh kekecewaan, akan tetapi ia tidak banyak membantah lalu pindah duduk di depan, menjadi kusir.
Adapun gadis baju putih itu kini duduk berhadapa dengan Keng Hong.
Dengan gemas Cui Im mencambuk empat ekor kuda itu yang membedal sambil mengeluarkan suara meringkik keras.
Roda-roda kereta menderu di atas jalan yang berbatu, dan guncanga-guncanga ini membuat Keng Hong cepat sadar kembali.
Keng Hong semenjak tadi tidaklah pingsan, hanya pening dan pandangan matanya berkunang.
Namun dia masih dapat mengikuti dengan jelas apa yang telah terjadi, dapat mengerti bahwa nyawanya tertolong oleh gadis baju putih yang membelenggunya dan kini duduk di depannya.
Kalau tidak ada gadis ini, tentu lehernya telah putus dan nyawanya melayang oleh pedang merah Cui Im.
Ia merasa heran sekali mengapa sumoi dari Cui Im ini kelihatannya jauh lebih lihai daripada Cui Im sendiri dan amat ditaati sucinya.
Akan tetapi dia mengetahui semua itu sebagian besar hanya dari ketajaman pendengarannya saja karena tadi matanya berkunang dan kabur pandangannya.
Sekarang, setelah dia mengusir sisa hawa beracun, dibantu guncangan kereta itu membuat pandangan matanya terang kembali, dia membuka mata memandang nona yang duduk anteng di depannya.
Mula-mula yang mempesona Keng Hong adalah sepasang mata itu.
Sepasang mata yang amat luar biasa indahnya, mengingatkan Keng Hong akan bintang-bintang di langit, dengan cahaya hangat lembut seperti sinar matahari pagi, bening seperti air telaga, tajam melebihi pedang pusaka, akan tetapi di balik semua keindahan itu bersembunyilah sifat dingin yang menyeramkan!
Mata itu agaknya dapat menangkap kesadaranya, akan tetapi hanya sekilas saja menyapu wajahnya, kemudian mata itu memandang lagi ke depan, seolah-olah dapat menembus segala yang berada di depannya.
Kemudian pandang mata Keng Hong merayapi wajah itu dan dia makin terpesona.
Gadis yang jauh lebih muda dari Cui Im ini, yang usianya ditaksir tidak akan lebih tua dari dirinya sendiri, memiliki wajah yang amat cantik jelita.
Bentuk wajahnya bulat telur, dengan kulit muka yang halus putih kemerahan tanpa bedak dan gincu, rambutnya hitam sekali dan amat halus seperti benang sutera, gemuk subur menghias dahi dan kedua pipi, menyembulkan dua buah telinga yang hanya tampak sedikit dan terhias dua buah anting-anting bermata merah.
Alis itu amat hitam dan kecil memanjang seperti dilukis saja padahal tidak ada bekas-bekas goresan pensil dan agaknya alis ini dan bulu mata yang panjang melengkung itulah yang menambah keindahan matanya.
Hidungnya kecil mancung dengan ujungnya agak menantang ke atas, diapit-apit sepasang pipi yang kemerahan dan halus seperti buah tomat meranum.
Ketika pandang mata Keng Hong menurun lagi, pandang matanya seolah-olah menempel dan melekat pada sepasang bibir itu.
Sukar dikatakan mana yang lebih indah antara mata dan bibir itu.
Bentuknya seperti gendewa dipentang, dan warnanya merah membasah, segar dan membuat Keng Hong tanpa disadarinya sendiri menelan ludah seperti seorang kehausan melihat buah yang segar.
Kemudian sinar mata Keng Hong makin liar memandang ke bawah dan apa yang dilihatnya benar-benar membuat dia terpesona.
Gadis ini amat cantik jelita, sikapnya agung dan pendiam, dan bentuk tubuhnya....
sukar dilukiskan dengan kata-kata sungguhpun pakaian sutera putih itu membungkusnya.
Pendeknya, kalau Cui Im merupakan gadis yang luar biasa cantiknya dan yang tidak pernah sebelumnya dia temukan atau impikan, kini gadis baju putih ini merupakan seorang gadis yang tak pernah dia sangka terdapat di dalam dunia!
"Hidung belang, sudah puaskah engkau meneliti dan menaksir diriku?"
Pertanyaan ini halus dan merdu terdengar oleh telinga, namun bagaikan pisau berkarat menggores jantung!
Keng Hong belum tentu akan menjadi semerah itu kedua pipinya kalau dia menerima tamparan keras.
"Eh.... ohhh.... aku...."
Ia menggagap, berusaha mengelak dari pandangan mata yang begitu halus namun tajam menembus dada.
"Aku tahu, engkau hidung belang seperti gurumu, akan tetapi perlu kau ketahui bahwa aku bukanlah seorang wanita murah seperti dia itu."
Dengan dagunya yang meruncing halus, gadis itu menuding ke arah depan, ke arah Cui Im yang mengemudikan kereta.
Keng Hong menghela napas panjang dan tak terasa lagi dia mengangkat kedua tangan yang terbelenggu itu untuk mengosok-gosok hidungnya yang dua kali dikatakan belang!
Ketika kedua tangannya mengosok-gosok hidung ini, seolah-olah baru tampak olehnya bahwa pergelangan kedua tangannya dibelenggu, terikat oleh sehelai tali sutera hitam yang amat kuat.
Ia menaksir-naksir berapa kekuatan belenggu ini.
"Jangan mencoba untuk mematahkan belenggu,"
Gadis itu seakan dapat membaca pikirannya.
"Selain kau takan berhasil, juga kalau kau banyak tingkah, aku akan menyeretmu di belakang kereta."
Wah-wah, kiranya si jelita ini malah lebih galak daripada Cui Im, pikir Keng Hong.
Dia kembali menatap wajah itu dan melihat betapa gadis itu tenang seperti air telaga, dan matanya merenung jauh ke depan.
Dia dianggap seperti lalat saja, atau bahkan tidak ada.
Keng Hong penasaran.
Dia bukanlah seorang yang tidak mengenal budi.
Gadis ini telah menyelamatkan nyawanya, tidak mungkin dia yang sudah diselamatkan nyawanya diam saja seperti seorang yang tidak mengenal budi.
"Nona...."
Akan tetapi dia tidak melanjutkan karena gadis itu sama sekali tidak bergerak, sama sekali tidak memperhatikan tanda-tanda bahwa dia mendengar panggilannya.
Keng Hong bergidik.
Gadis ini seperti arca saja.
Arca dari batu pualam yang halus dan dingin.
Akan tetapi melihat bibirnya yang begitu merah membasah, melihat kemerahan pada rongga mulutnya ketika tadi bicara, kilaatan giginya yang kecil rata dan putih, semua ini membayangkan darah muda yang panas.
Setelah kini berdiam diri, sikapnya benar-benar luar biasa dinginnya, sedingin salju di utara!
"Nona.....!"
Ia tidak putus asa dan memanggil lagi lebih keras. Namun gadis itu tetap diam, jangankan bergerak melirik pun tidak.
"Bledak..... dak..... dorrr.....!"
Kereta melalui jalan yang berbatu, rodanya menumbuk batu-batu yang besar sehingga kereta itu terguncang hebat, bahkan hampir roboh miring.
"Heiiiii..... eh.....!"
Keng Hong mengatur keseimbangan tubuhnya dan kaget sekali, akan tetapi kereta berjalan terus dan amatlah kagumnya menyaksikan betapa gadis baju putih di depannya itu masih tetap seperti tadi, tidak bergerak, tidak berguncang, juga tidak kaget.
Wah seperti orang mati saja!
Keng Hong tertegun sendiri.
Jangan-jangan dia ini sudah mati!
Matanya terbuka akan tetapi manik mata itu sama sekali tidak bergerak, napasnya pun seolah-olah berhenti.
"Nona....!"
Kembali tiada jawaban.
Keng Hong mulai khawatir dan mendekatkan kedua tangannya yang terbelenggu itu ke depan hidung kecil mancung itu, hendak menyatakan apakah napas nona itu masih ada.
Dan tangannya tidak merasakan sesuatu!
Gadis ini telah mati.
Ia menjadi panik dan menurunkan tangan hendak menyentuh urat nadi lengan nona itu.
"Plakkk!"
Kedua tangannya ditampar dan nona itu membuka mulut.
"Kau mau apa? Ingin diseret di belakang keretakah?"
Keng Hong kaget setengah mati sampai pantatnya terloncat dari tempat duduknya.
"Walah.....! Kau bikin kaget aku saja, Nona. hampir mati aku merasa kaget! Kusangka kau..... kau tidak bernapas lagi....."
"Begini goblokkah murid Sin-jiu Kiam-ong sehingga tidak tahu orang sedang melakukan latihan Pi-khi-hoan-hiat (Menutup Hawa Mengatur Jalan Darah)?"
"Ohhh.....!"
Keng Hong hanya dapat mengeluarkan suara ah-eh-oh saja karena makin lama makin kagum dan heran.
Ia pernah mendengar dari suhunya akan ilmu Pi-khi-hoan-hiat ini, sebuah ilmu untuk selalu mengadakan pengontrolan tentang jalan darah dan yang berhubungan dengan sinkang, namun ilmu yang hanya dapat dilakukan oleh seorang yang telah tinggi tingkat kepandaiannya.
Dan nona cilik ini telah melatihnya di dalam kereta yang berguncang-guncang!
Biarpun hanya mengeluarkan suara ah-eh-oh sejak tadi, namun suara ini jelas membayangkan kekaguman, dan hal ini agaknya terasa oleh gadis itu yang tentu saja sebagai seorang manusia normal, terutama wanita, amat senang hatinya mendapat pujian.
"Kau mau apa sih, panggil-panggil orang terus?"
"Nona, aku she Cia Keng Hong bukanlah orang yang tidak mengenal budi. Aku telah berhutang nyawa kepadamu....."
"Aku tidak pernah menghutangkan nyawa!"
"Eh, aku..... aku telah Nona selamatkan dari pedang Cui Im...."
"Hemmmm, sudah jauh begitu ya hubunganmu dengan suci sehingga kau menyebut namanya begitu saja?"
Wajah Keng Hong menjadi merah sekali.
Nona ini boleh jadi pendiam, akan tetapi seperti biasanya orang pendiam, sekali mengeluarkan kata-kata selalu akan menusuk jantung!
"Kumaksudkan....
nona Bhe Cui Im....
aku telah kau tolong dan selain pernyataan terima kasihku, aku pun selamanya tidak akan melupakan budi pertolongan itu.
Akan tetapi, setelah menyelamatkan nyawaku yang tak berharga ini, mengapa Nona menawan aku?"
"Heiii, awas Sumoi! Dia itu laki-laki pandai sekali merayu, melebihi gurunya. Jangan-jangan kau nanti dirobohkan rayuannya yang manis seperti madu. Hi-hi-hik!"
Dari depan Cui Im berkata dengan suara mengejek. Gadis baju putih itu mengeluarkan suara mendengus dari hidungnya.
"Huh! Sejak kapan aku dapat dirobohkan rayuan orang? Tidak semudah engkau aku dapat dipikat rayuan bocah ini, Suci!"
"Heh-heh-heh, bocah ya? Dia itu bocah? Hi-hi-hik, tunggu saja kau, Sumoi, kalau sudah berada dalam pelukan dan belaiannya, nanti...."
"Suci, diam!"
Gadis itu membentak, alisnya yang hitam panjang itu melengkung indah.
Cui Im tidak bicara lagi, hanya terdengar ia ketawa dan mencambuk empat ekor kuda itu sehingga jalannya kereta makin kencang.
Kembali Keng Hong tergoncang-goncang, akan tetapi dia segera dapat mengerahkan sinkangnya dan kini dia duduk diam tak bergerak seperti nona di depannya.
Mulailah nona itu memandangnya, dan biarpun mulutnya tidak menyatakan sesuatu, namun pandang matanya penuh pengertian bahwa pemuda di depannya ini memiliki sinkang yang hebat.
"Nona, jangan perhatikan omongan Cui.... eh, dia itu. Aku sama sekali tidak membujuk rayu Nona, melainkan hendak bertanya mengapa setelah Nona menyelamatkan nyawaku, kini menawanku."
"Ibuku yang menyuruh, aku hanya pelaksana,"
Jawabnya sederhana.
"Dan jangan mengira aku menolongmu. Kalau tidak ingin memenuhi perintah ibu biar suci mau membunuh seribu orang macam engkau, aku tidak akan peduli."
Wahhh, pahit benar ucapan ini, pikir Keng Hong. Akan tetapi tak mungkin dia bisa marah menghadapi seorang gadis seperti ini.
"ibumu? Siapakah dia, Nona?"
"Lam-hai Sin-ni!"
"Ohhhh.....!"
Tadinya Keng Hong mengira bahwa nona ini sebagai sumoi dari Cui Im tentulah murid ke dua Lam-hai Sin-ni.
Kiranya bukan hanya muridnya, malah puterinya!
Pantas saja, biarpun disebut sumoi oleh Cui Im, akan tetapi memiliki tingkat ilmu kepandaian yang lebih tinggi dan juga disegani oleh sucinya itu.
"Kau sudah mengenal nama ibuku?"
"Sudah, Nona, Ibumu adalah datuk pertama dari Bu-tek Su-kwi, bukan?"
"Hemmm, kau hanya mendengar saja dari suci tentu."
"Aku sudah pernah bertemu dengan tiga orang dari Bu-tek Su-kwi yang semuanya kalah oleh suhu"
"Hemmm....., sombong! Kalau bertemu ibu, suhumu akan mampus sampai seratus kali"
"Nona, bolehkah aku mengetahui namamu?"
Alis yang indah itu terangkat, mata yang bagus itu mengeluarkan sinar berapi dan mulut yang segar itu membentak.
"Kau.....! Selain hidung belang, juga ceriwis sekali!"
"Hi-hi-hik, Sumoi. Tidak benarkah kata-kataku bahwa dia pandai merayu?"
"Suci, berhenti dulu!"
Kereta berhentai secara tiba-tiba dan hal ini saja membuktikan betapa pandainya Cui Im menguasai empat ekor kuda yg menarik kereta, dan betapa kuat kedua lengan yang kecil itu.
Alis nona baju putih itu masih berdiri ketika ia melolos sabuknya yang putih panjang, lalu tanpa banyak cakap ia mengikat kedua kaki Keng Hong dengan ujung sabuk dan setelah itu ia melempar tubuh pemuda itu ke belakang kereta!
"Jalan terus, Suci!"
"Hi-hi-hik, agaknya engkau pun tidak tahan terhadap rayuannya, sumoi. Hati-hatilah....., engkau sama sekali belum berpengalaman."
"Diam, suci!"
Bentak gadis itu sambil merenggut dan kereta dijalankan cepat oleh Cui Im yang terkekeh-kekeh.
Kini tubuh Keng Hong yang rebah terlentang dibelakang kereta, diseret di atas tanah berbatu!
Kedua tangannya dibelenggu, kedua kakinya diikat ujung sabuk sedangkan sedangkan ujung sabuk lainya diikatkan pada tiang kereta oleh gadis itu.
Sabuk itu cukup panjang sehingga tubuh Keng Hong terpisah empat meter dari kereta.
Pemuda ini cepet-cepat mengerahkan sinkang untuk melindungi tubuh belakangnya yang terseret.
Kalau tidak kuat sinkangnya, tentu kulit tubuh belakangnya akan habis babak bundas.
Biarpun kini hawa sakit di tubuhnya melindungi kulitnya, namun tidak dapat melindungi pakaiannya sehingga sebentar saja habislah pakaiannya di bagian belakang, compang-camping tidak karuan.
Diam-diam dia mengutuk.
"Wah, gadis setan! Benar-benar seperti iblis-iblis betina dua orang gadis itu, sungguhpun kekejian mereka itu agak berbeda. Cui Im cabul dan pengejar kepuasan hawa nafsu, sebaliknya sumoinya ini alim dan pendiam, akan tetapi keduanya memiliki kekejaman yang sama. Bahkan boleh jadi gadis baju putih ini lebih kejam lagi."
Keng Hong yang rebah terlentang dan terseret di belakang kereta kini dapat melihat keadaan di kanan kiri kereta sampai jauh di depan.
Mereka melalui jalan sunyi di pegunungan, jauh dari dusun-dusun.
Diam-diam dia berpikir dan ingin sekali melihat apakah dua orang gadis iblis itu akan tetap menyeretnya seperti ini kalau melalui dusun dan kota?
Apakah mereka akan membiarkan dia terseret dan menjadi tontonan?
Tentu penguasa setempat akan turun tangan kalau melihat peristiwa ini, akan tetapi penguasa manakah yang sanggup melarang dua orang gadis iblis itu?
Tiba-tiba Keng Hong melihat di depan sebelah kiri muncul dua orang penunggang kuda, dua orang laki-laki tinggi besar berusia lima puluh tahun yang menghadang kereta dengan senjata golok di tangan, memberi isyarat dengan tangan agar kereta dihentikan.
Cui Im menghentikan kereta itu dan memandang dengan alis berkerut marah.
"Kalian ini mau apakah? Apakah perampok-perampok buta?"
"Hemmm, Ang-kiam Tok-sian-li! Masih berpura-pura tidak mengenal kami Thian-te Siang-to (Sepasang Golok Bumi Langit)? Kami memenuhi perintah suhu untuk minta tawananmu, murid Sin-jiu Kiam-ong. Memandang muka suhu kami, harap kau suka mengalah!"
Jawaban ini keluar dari mulut kakek yang sebelah kiri dan setelah kini berhadapan, Cui im baru melihat jelas betapa muka kedua orang kakek itu serupa benar.
Teringatlah ia akan murid kembar dari Pat-jiu Sian-ong, maka ia tertawa mengejek.
"Hi-hi-hik, jangan hanya kalian Thian-te Siang-to yang maju meminta tawanan, biarpun gurumu sendiri yang datang takkan kuberikan. Kalian mau apa?"
"Hah, Ang-kiam Tok-sian-li! kami masih memandang muka gurumu maka masih bicara dengan baik-baik. akan tetapi engkau sombong. Turunlah dan mari kita lihat siapa yang lebih unggul di antara kita. Yang unggul berhak membawa pergi murid Sian-jiu Kiam-ong!"
"Bagus, kalian sudah bosan hidup!"
Cui Im meloncat turun dari kereta sambil mencabut pedang merahnya.
Akan tetapi begitu meloncat dan menerjang, Cui Im mengeluh karena baru teringat ia akan keadaanya, akan tenaga sinkang yang sebagian besar telah lenyap semenjak malam tadi ia bermain cinta dengan Keng Hong.
Apalagi sekarang yang dihadapinya adalah dua orang murid Pat-jiu Sian-ong yang merupakan seorang di antara empat datuk Bu-tek Su-kwi!
Kalau dalam keadaan normal sekalipun, Tak mungkin ia dapat menangkan pengeroyokan dua orang ini dan mingkin hanya akan dapat mengalahkan seorang di antara mereka.
Akan tetapi sekarang, dengan sinkangnya habis setengahnya lebih, melawan seorang di antara mereka sekalipun ia tak menang.
Keng Hong yang kini sudah bangkit duduk karena kereta itu tidak menyeretnya lagi, melihat betapa Cui Im terdesak hebat oleh dua orang laki-laki bersenjata golok yang berjuluk Sepasang Golok Bumi Langit itu.
Untung bahwa pedang Cui Im benar-benar hebat, kalau tidak, tentu dalam beberapa gebrakan saja ia akan roboh.
Cui Im mainkan pedangnya secepat mungkin, dan biarpun ia sama sekali tidak mampu melakukan serangan balasan namun ia masih dapat mempertahankan dirinya dengan gerakan pedang dan juga sambil mengelak ke sana ke mari.
Ia terdesak hebat dan menurut taksiran Keng Hong, tidak sampai sepuluh jurus lagi gadis itu tentu akan roboh.
"Sumoi, tidak lekas membantuku menunggu apa lagi?"
Cui Im yang repot itu akhirnya berteriak-teriak.
Keng Hong hanya melihat muili (tirai) kereta itu tersingkap dari dalam, kemudian berkelebat segulung cahaya putih berturut-turut dua kali.
Cahaya ini menyebar ke arah dua orang kakek yang mendesak Cui Im dan mereka cepat menangkis dengan pedang.
Namun mereka berteriak kesakitan dan meloncat ke belakang.
Ternyata pangkal lengan kedua orang kakek itu telah terluka mengeluarkan darah.
Yang melukai mereka adalah dua butir bola putih yang halus permukannya namun mempunyai duri-duri runcing dan ketika dua bola tadi berhasil ditangkis, bola itu tidak runtuh ke atas tanah melainkan melesat dan melukai lengan mereka.
Ketika dua orang kakek itu melihat wajah ayu yang tersembul keluar dari balik tirai, mereka terkejut dan cepat menjura ke arah kereta.
"Kiranya Song-bun Siu-li (Gadis Cantik Berkabung) juga hadir di sini. Maafkan kelancangan kami!"
Setelah berkata demikian, kakek kembar itu lalu membalikan tubuh dan berlari pergi.
"Heiii, kembalilah! Mari kita bertanding sampai seribu jurus! Belum bolong dadamu sudah lari, pengecut!"
Cui Im berteriak-teriak menantang.
"Suci, jalan terus!"
Terdengar gadis baju putih yang kini dikenal julukannya oleh Keng Hong berkata halus.
Kereta berjalan lagi amat kencangnya, dan terpaksa Keng Hong merebahkan diri telentang lagi, diseret-seret kereta.
Ia bergidik kalau mengingat julukan gadis baju putih itu.
Song-bun Siu-li (Gadis Cantik Berkabung).
Mengapa berkabung?
Pantas saja pakaiannya serba putih, bahkan senjatanya yang lihai, sabuk yang kini mengikat kedua kakinya, juga putih dan senjata rahasia yang berbentuk bola itu pun putih!
"Cepatlah, suci.
Setelah murid-murid Pat-jiu Siang-ong muncul, kurasa yang lainya akan muncul pula."
"Untung engkau berada di sini, sumoi, kalau tidak ..... wah berabe juga. Aku..... aku kehilangan sebagian besar sinkang di tubuhku, karena..... bocah setan itu!"
"Apa? Mengapa dan bagaimana?"
Song-bun Siu-li bertanya heran.
"Benar, aku disedot habis olehnya, keparat! Setelah malam tadi, entah bagaimana aku pun tidak tahu. Dia memang hebat, aku sampai lupa diri dan aku..... tersedot habis..... uhhh....."
"Suci, diam! kau tahu aku tidak sudi mendengarkan omongan-omonganmu yang cabul!"
Kereta berjalan terus lebih cepat lagi.
Keng Hong tertegun mendengar omongan mereka itu.
Dia sendiri pun tidak tahu mengapa Cui Im menjadi lemah.
Tersedot olehnya?
Ia teringat akan peristiwa di Kun-lun-san, di mana tanpa dia sadari dia pun telah menyedot sinkang dari Kiang Tojin dan tosu-tosu lain.
Akan tetapi ketika itu dia menghadapi pukulan sinkang yang amat berat.
Sedangkan malam tadi dengan Cui Im......
ah., dia tetap tidak mengerti.
Diam-diam dia kagumi Song-bun Siu-li.
Betapa lihai gadis muda itu.
Hanya dengan dua butir bola saja dia mampu mengusir murid-murid Pat-jiu Sian-ong yang dia lihat tadi amat lihai ilmu goloknya.
Lewat tengah hari, ketika matahari mulai condong ke barat, mereka tiba di sebuah hutan dan jauh di depan menjulang tinggi pegunungan yang rupanya banyak dusun-dusunnya karena dari jauh sudah tampak genteng-genteng rumah yang kemerahan.
Keng Hong yang diseret kereta mulai merasa tersiksa karena selain haus dan lapar, juga debu yang mengebul dari roda kereta itu seolah-olah dilemparkan kepadanya semua, membuat rambut dan alisnya menjadi putih, juga mukanya menjadi putih semua.
Bernapas pun sukar di dalam kepulan debu yang tebal ini.
tiba-tiba Cui Im berseru nyaring dan tangan kirinya menyabar dua batang anak panah yang menyambarnya.
Hebat kepandaian ini dan diam-diam Keng Hong yang melihat itu menjadi kagum.
"Jalan terus, suci. Biar aku yang melayani mereka!"
Berkata Song-bun Siu-li dengan suara dingin.
Kini berkelebat bayangan putih dan tahu-tahu gadis itu telah berdiri di atap kereta, lalu minta pinjam cambuk kuda yang tadi dipegang Cui Im.
Cambuk ini cukup panjang dan dengan tangan kiri bertolak pinggang, tangan kananya memegang gagang cambuk, Song-bun Siu-li berdiri dengan gagah tak bergerak, hanya matanya saja yang memandang tajam ke depan.
Tiba-tiba dari arah kiri menyambar tiga batang anak panah, sebuah ke arah Cui im dan yang ke dua ke arah Song-bun Siu-li dan anak panah yang datang menyambar sekali ini, biarpun warnanya juga hitam seperti tadi, namun mengandung kecepatan dan tenaga dahsyat sehingga mengeluarkan bunyi mendesing.
Cui im tidak mempedulikan datangnya anak panah yang menyerangnya, melainkan mencurahkan seluruh perhatian kepada kendali empat ekor kuda yang dipegangnya dan dibalapkanya cepat.
Ia sudah percaya penuh akan penjagaan sumoinya dan kepercayaan ini pun tidak disia-sia.
Terdengar bunyi cambuk meledak-ledak, dan.....
tiga batang anak panah itu sudah kena digulung dan dibelit ujung cambuk.
Keng Hong melongo melihat itu dan dia lebih terbelalak lagi ketika nona baju putih itu menggerakan cambuknya, membuat tiga batang anak panah meluncur ke arah kiri dan.....
terdengar jerit-jerit mengerikan disusul terjungkalnya tubuh tiga orang yang tadi bersembunyi di balik batang pohon.
Ternyata nona baju putih yang lihai sekali itu telah meretour anak panah kepada pemiliknya masing-masing dan secara kontan keras telah membalas mereka!
Tiba-tiba terdengar suara keras yang bergema di seluruh hutan itu, seolah-olah suara raksasa yang sakit, padahal suara itu adalah suara banyak orang yang mengucapkan sebuah kalimat secara berbareng.
"Atas perintah Pak-san Kwi-ong, kami mohon tawanan putera Sin-jiu Kiam-ong ditinggalkan di hutan ini!"
"Suci, berhenti sebentar,"
Kata Song-bun Siu-li dengan suara halus.Kereta berhenti dan kini tampaklah puluhan orang, sedikitnya ada tiga puluh orang yang mengurung kereta itu dalam jarak lima puluh meter.
Mereka itu tadinya bersembunyi di balik pohon-pohon dan di dalam gerombolan-gerombolan.
Terdengar suara Song-bun Siu-li yang berdiri di atas kereta dengan cambuk di tangan, suaranya masih tetap halus merdu, namun kini dikerahkan dengan penggunaan tenaga khikang sehingga menjadi nyaring dan bergema lebih dahsyat daripada suara banyak orang tadi.
"Murid Sin-jiu Kiam-ong menjadi tawanan Lam-hai Sin-ni! Di sini ada Song-bun Siu-li dan Ang-kiam Tok-sian-li yang melindunginya, siapapun tidak boleh mengganggu tawanan!"
Keng Hong yang kini sudah duduk di atas tanah, diam-diam memandang dengan hati geli.
Dia tidak tahu siapakah adanya banyak orang-orang laki-laki yang tinggi besar dan kelihatan galak-galak itu, akan tetapi yang dia tahu adalah bahwa dia dijadikan rebutan!
Dijadikan rebutan di antara tokoh-tokoh kang-ouw, bukan tokoh-tokoh kaum bersih seperti ketika gurunya dahulu dikepung di Kiam-kok-san, melainkan tokoh-tokoh hitam yang amat lihai.
Namun, baik tokoh bersih maupun tokoh sesat, semua memiliki pamrih yang sama yaitu menghendaki Siang-bhok-kiam dan warisan mendiang suhunya.
ini timbullah keinginan hatinya untuk mencari dan mendapatkan pusaka peninggalan suhunya.
Kalau semua tokoh kang-ouw menginginkan pusaka itu, sudah barang tentu amat berharga dan penting.
Kini para pengurung itu ketika mendengar disebutnya nama Song-bun Siu-li, menjadi ragu-ragu dan mereka terdiam, kemudian muncul empat orang tinggi besar yang usianya sudah empat puluh tahun lebih.
Tangan masing-masing memegang sehelai rantai baja yang digantungi sebuah tengkorak manusia!
Melihat rantai dengan tengkorak itu teringatlah Keng Hong akan kakek tinggi besar berkulit hitam arang yang matanya putih telinganya seperti telinga gajah dan badannya berbulu, yaitu Pak-san Kwi-ong.
Kakek itu pun senjatanya sehelai rantai besar dengan dua buah tengkorak pada kedua ujungnya.
Hanya bedanya, empat orang laki-laki ini, rantainya bertengkorak satu.
"Kami Pak-san Su-liong (Empat Naga Pegunungan Utara), jauh-jauh datang melakukan perintah suhu. Mengingat akan sahabat segolongan, biarlah kami menyampaikan salam suhu kepada Ji-wi Siocia (Nona Berdua) untuk disampaikan kepada Lam-hai Sin-ni dan salam kami sendiri kepada Ji-wi. Kemudian, mengingat akan persahabatan, harap Ji-wi luluskan kami meminjam sebentar tawanan itu."
"Hi-hi-hik! Enak saja membuka mulut!"
Cui Im tertawa mengejek.
"Kami yang susah payah menawan, kalian yang hendak memboyong. Aturan mana ini? Lebih baik kalian pergi dari sini dan sampaikan kepada Pak-san Kwi-ong bahwa kalau dia menghendaki tawanan, biarlah dia mencoba merampasnya dari tangan guruku!"
"Suci, tidak perlu banyak bicara melayani mereka. Pak-san Su-liong harap tahu diri dan jangan mengganggu kami. Betapapun juga, kami tidak akan menyerahkan tawanan!"
Kata gadis baju putih sambil menudingkan telunjuknya ke arah empat orang tinggi besar itu.
"Hemmm, kalau begitu, terpaksa kami akan menguji kepandaian Ji-wi, apakah cukup patut menjadi pengawal tawanan penting!"
"Bagus, majulah!"
Song-bun Siu-li dan Ang-kiam Tok-sian-li sudah meloncat turun.
Cui Im masih belum normal tenaga sinkangnya, belum pulih seperti biasa, akan tetapi tidaklah selemah tadi karena di sepanjang jalan gadis ini telah melatih nafas menghimpun tenaganya yang tercecer.
Ia masih dapat mengandalkan ilmu pedangnya yang memang hebat dan pedang merahnya yang ampuh.
Adapun gadis baju putih itu sudah memutar cambuknya sehingga terdengar bunyi ledakan-ledakan nyaring.
Empat orang tinggi besar itu menyambut dua orang nona ini dengan sambaran rantai mereka dan terdengarlah suara bersiutan, tanda bahwa mereka itu bertenaga besar sekali dan dari mulut tengkorak-tengkorak itu kadang-kadang mengebul asap putih yang beracun!
Pertandingan dua lawan empat ini berlangsung seru, akan tetapi Keng Hong yang duduk di belakang kereta dapat melihat jelas betapa sesungguhnya Cui Im hanya melawan seorang saja sedangkan yang tiga orang lawan diborong oleh Song-bun Siu-li.
Makin kagumlah hatinya menyaksikan nona baju putih itu.
Tiga rantai tengkorak yang mengepungnya tak boleh dipandang ringan karena ternyata bahwa naga-naga dari Pak-san itu benar-benar berkepandaian tinggi, malah kalau dibandingkan dengan Thian-te Siang-to murid Pat-jiu Sian-ong, agaknya masih lebih berat empat orang ini.
Namun pecut di tangan Song-bun Siu-li amat lincah gerakannya, menyambar-nyambar dengan suara nyaring seperti halilintar mengamuk dan mengancam kepala tiga orang lawanya.
Asap putih yang mengepul dari mulut empat tengkorak itu adalah hawa beracun, akan tetapi menghadapi ini, dua orang murid Lam-hai Sin-ni tentu saja memandang rendah karena guru mereka adalah hali racun nomor satu di dunia ini!
baik Song-bun Siu-lu maupun Cui Im sudah mengeluarkan sehelai saputangan berwarna kuning yang amat harum, Menggosok-gosokan saputangan masing-masing dengan keras ke hidung dan mulut mereka, kemudian menyimpan kembali saputangan itu lalu menghadapi lawan tanpa mengkhawatirkan asap beracun.
Biarpun tenaga sinkangnya belum pulih seluruhnya, namun ilmu pedang Ang-kiam Tok-sian-li memang hebat, sehingga tidak percuma dia berjuluk si pedang merah, dan kecerdikanya serta kekejamannya membuat ia patut pula dijuluki Tok-sian-li Si Dewi Beracun!
Karena tiga orang lawan diborong sumoinya dan dia sendiri hanya menghadapi seorang lawan, pedangnya sudah dapat mengimbangi gulungan sinar rantai, bahkan beberapa kali hampir berhasil melukai lawan, yaitu memapas sebagian ujung bajunya dan membuat retak rahang tengkorak.
Keng Hong yang menonton pertandingan itu, duduk dengan hati tegang, juga dia menjadi kagum.
Semenjak turun gunung, dia menyaksikan pertandingan-pertandingan yang hebat.
Kini mengikuti pertandingan antara murid-murid orang sakti, murid-murid dua orang datuk dari golongan sesat yang tinggi ilmunya, matanya kabur.
Gulungan sinar pedang di tangan Cui-Im merah dan indah sekali, membentuk lingkaran-lingkaran yang makin lama makin melebar, mengurung gulungan sinar yang dibuat oleh rantai tengkorak lawannya.
Adapun cambuk di tangan Song-bun Siu-li juga telah lenyap bentuknya, yang tampak hanya gulungan sinar hitam yang berkelebatan di angkasa dan mengeluarkan bunyi meledak-meledak keras dan sinar hitam ini dapat menahan rantai tengkorak tiga orang lawannya yang berusaha keras untuk mengalahkan gadis muda yang nama sudah amat dikenal di dunia Kang-ouw itu.
Tiba-tiba Keng Hong mendapat perasaan aneh dan menengok ke belakang.
Alangkah kagetnya ketika dia melihat bahwa dari arah belakang datang puluhan orang, berindap-indap dan jelas sekali mereka berniat untuk menangkapnya.
Mereka adalah anak buah Pak-san Su-liong, datang menghampirinya dengan sikap mengancam, bagaikan segerombolan serigala yang hendak menyergap seekor kijang.
Keng Hong maklum akan bahayanya kalau terjatuh ke tangan anak buah Pak-san Kwi-ong.
Memang tidak enak juga menjadi tawanan dua orang gadis berhati ganas itu, akan tetapi menjadi tawanan orang-orang kasar ini agaknya akan lebih mengerikan pula.
Mengapa dia tidak membebaskan diri saja?
Kalau tadinya dia masih belum membebaskan diri adalah pertama, dia suka melayani permainan asmara Cui Im yang benar-benar telah dinikmatinya dan ke dua, karena dia tertarik dan berterima kasih kepada Song-bun Siu-li yang menyelamatkan nyawanya.
Akan tetapi sekarang, melihat dirinya mulai diperebutkan seperti sebuah benda berharga, Keng Hong menjadi muak dan timbul keinginannya untuk meloloskan diri selagi ada kesempatan mereka saling gasak itu.
Keng Hong mengerahkan sinkangnya, mendesak pusat tenaga di pusar menyalurkan hawa sakti yang dia luncurkan ke arah kedua lengannya, kemudian sekuat tenaga dia merenggut.
Tali sutra hitam yang mengikat pergelangan tangannya bukan sembarang tali, kuatnya melebihi kawat baja.
Namun masih tidak dapat menahan sinkang yang tersalur di kedua lengan itu, yang kekuatannya amat luar biasa, seperti tarikan dua buah belalai gajah.
Tali itu mengeluarkan bunyi keras ketika terputus dan bergerak-gerak seperti tubuh ular terputus dan bergerak-gerak seperti tubuh ular terputus di atas tanah.
Keng Hong hanya merasakan kulit pergelangannya panas.
Ia cepat membungkuk dan melepaskan tali sutra putih yang mengikat kakinya.
Ia tidak mau memutuskan tali kakinya yang dia tahu adalah sabuk sutera yang dijadikan senjata si nona baju putih, maka setelah tangannya bebas dia melepaskan tali kakinya.
Pada saat itu, empat orang tinggi besar telah menubruk dan menangkapnya, ada yang merangkul kaki, ada yang merangkul pinggangnya, ada yang memegangi tangan dan ada yang memiting leher.
Akan tetapi Keng Hong tidak perduli, dia terus bangun dan berjalan mendekati kereta, menyeret empat orang itu yang melekat di tubuhnya seperti lintah.
Keng Hong menyedal sabuk putih kemudian berseru kepada Song-bun Siu-li yang sibuk melayani tiga orang musuhnya.
"Song-bun Siu-li! Nih senjatamu, terimalah!"
Ia sudah menggulung sabuk itu dan melemparkannya ke arah gadis baju putih yang mengeluarkan suara heran akan tetapi cepat menyambar senjatanya yang istimewa ini dan mengganti cambuknya dengan sabuk putih.
Hebat bukan main gerakan Song-(Lanjut ke
Jilid 06) Pedang Kayu Harum (Seri ke 01-Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 06 bun Siu-li setelah ia kini mainkan sabuk sutera putih itu.
Tampak sinar putih bergulung, amat tebal menyilaukan mata seperti pelangi berwarna putih perak dan dalam tiga jurus saja sabuknya sudah melibat rantai seorang di antara tiga lawannya dan sekali renggut, rantai itu terlepas dari tangan lawan dan ujung sabuk yang sebelah lagi sudah menotoknya roboh!
Dua orang lawan yang lain menjadi marah dan menerjang lebih dahsyat lagi, namun dilayani oleh gadis baju putih itu dengan sikap tenang.
Setelah kini senjatanya kembali ke tangannya, gadis ini menjadi lebih tenang dan penuh kepercayaannya pada diri sendiri.
Keng Hong masih dikeroyok empat orang tinggi besar yang hedak menawannya, dan sambil berteriak-teriak belasan orang tinggi besar lain merubungnya, siap membantu teman-teman mereka kalau kawalahan.
Keadaan Keng Hong seperti seekor jengkrik yang dirubung semut.
Keng Hong menjadi marah dan tidak sabar lagi.
Ia mengeluarkan seruan keras sambil menggoyang tubuhnya, gerakannya seperti seekor harimau yang menggoyang tubuhnya sehabis tertimpa air hujan.
Terdengar pekik kaget dan tubuh empat orang yang menempel di tubuhnya tadi mencelat ke empat penjuru sampai lima enam meter jauhnya, menimpa teman-teman sendiri!
"Tangkap.....!"
"Jangan sampai dia lari!"
Orang-orang yang menjadi kaki tangan Pak-san Su-liong itu berteriak-teriak sambil mengepung terus.
Mereka ini hanya merupakan segerombolan orang liar yang mengandalkan tenaga, keberanian dan pengalaman bertempur karena orang-orang ini datang dari utara, menjadi anak buah Pak-san Su-liong yang di luar tembok besar sebelah utara terkenal sebagai pemimpin orang-orang liar.
Namun tenaga mereka hanyalah tenaga otot dan tebalnya kulit, tentu saja menghadapi Keng Hong mereka itu tidak banyak artinya.
Keng Hong mulai mengamuk untuk mencari kebebasannya.
Ia menggunakan kaki dan tangannya, menendang dan memukul.
Para pengeroyok berteriak-teriak kesakitan karena setiap pertemuan kaki tangan mereka dengan kaki tangan Keng Hong pasti mengakibatkan tulang patah dan kulit pecah.
Melihat anak buah mereka kocar-kacir, ditambah lagi seorang di antara mereka sudah tertotok roboh, tiga orang di antara Pak-san Su-liong menjadi kacau permainannya.
Apalagi kini Song-bun Siu-li sudah memegang senjatanya sendiri yang amat ampuh, maka tiga orang tinggi besar murid-murid Pak-san Kwi-ong itu tak dapat bertahan lagi.
Pedang merah di tangan Cui Im berhasil melukai pundak lawannya, sedangkan kedua ujung sabuk sutera putih di tangan sumoinya yang amat lihai itu sudah merampas sehelai rantai dan memecut muka seorang lawan lagi sehingga pipinya terluka dan berdarah.
Melihat lawannya mundur dan para anak buah mereka pun kocar-kacir dan mulai menjauhi Keng Hong, Song-bun Siu-li cepat berkata dan meloncat mendekati Keng Hong.
"Lekas masuk kereta. Kita melanjutkan perjalanan!"
Keng Hong berdiri memandang gadis itu dan menjawab.
"Aku tidak mau! Aku ingin melanjutkan perjalanan ku sendiri, Nona."
"Kau.... kau hendak melawanku?"
Song-bun Siu-li berkata halus, suaranya dingin, sabuknya siap di tangan.
"Hati-hati, Sumoi. Dia mempunyai tenaga mujijat!"
Kata Cui Im yang juga sudah melompat dekat, tidak mempedulikan Pak-san Su-liong yang mulai menolong teman-temannya dan pergi meninggalkan tempat itu karena maklum bahwa mereka tidak mungkin dapat melanjutkan usaha mereka merampas tawanan.
"Cia Keng Hong, lekas kembali ke kereta. Mereka tentu akan datang kembali, dan kalau yang muncul guru mereka Pak-san Kwi-ong, atau guru Thian-te Siang-to tadi yaitu Pat-jiu Sian-ong, kami tidak akan dapat mempertahankan engkau lagi!"
Kata pula Song-bun Siu-li, suaranya tetap halus akan tetapi bukan merupakan bujukan, melainkan peringatan.
Keng Hong masih berdiri dengan kedua kaki terpentang, kokoh kuat seperti batu gunung, akan tetapi pakaian di sebelah belakangnya sudah compang-camping tidak karuan.
Ia menggeleng kepala dan memandang kedua orang nona itu dengan pandang mata tajam.
"Tidak, aku ingin bebas!"
"Sumoi, hajar mampus saja laki-laki tak berbudi ini!"
Teriak Cui Im yang sudah melangkah maju dan siap dengan pedang merahnya.
"Tahan, Suci. ibu menghendaki dia hidup-hidup! Eh, Keng Hong. Engkau sendiri tadi mengaku bahwa aku telah menyelamatkan nyawamu. Apakah ini balasanmu? Hendak melawan aku? beginikah kegagahan murid Sin-jiu Kiam-ong? Kasihan kakek itu yang tentu gelisah dalam akhirat kalau menyaksikan muridnya yang tak mengenal budi."
Wajah Keng Hong menjadi merah sekali dan dia mengepal tinjunya.
"Sudahlah, jangan membawa-bawa nama suhu. Baik, aku ikut akan tetapi ingat, hanya untuk menuruti perintahmu sebagai pembalas atas pertolonganmu. Setelah bertemu dengan Lam-hai Sin-ni, kuanggap hutangku padamu telah lunas!"
Setelah berkata demikian Keng Hong lalu berjalan menuju ke kereta.
Cui Im menyenggol lengan sumoinya dengan siku sambil menggerakan muka ke arah Keng Hong yang tampak oleh mereka dari belakang, sambil terkekeh dan berbisik.
"Lihat, Sumoi...., hebat tidak, dia?"
Gadis baju putih itu memandang dan seketika wajahnya yang cantik jelita itu menjadi merah sekali.
Matanya yang jelita terbelalak ketika ia melihat ke arah tubuh belakang Keng Hong.
pakaian bagian belakang yang compang-camping, kulitnya yang penuh debu itu masih tidak dapat menyembunyikan sebuah punggung yang tegak dengan lengkung kuat di bagian bawah seperti terbuat daripada baja bahu yang bidang, pinggang yang kecil dan sepasang pinggul yang bulat membayangkan otot-otot yang penuh tenaga di atas kaki yang kuat.
Cepat-cepat dia memejamkan mata, tidak mau memandang lagi dan mulutnya mencela.
"Suci, engkau selalu mendahulukan nafsu-nafsumu. Kau tahu aku tidak sudi memperhatikan pria!"
Gadis ini membuang muka dan setelah Keng Hong memasuki kereta, barulah ia berkata.
"Ambilkan selimut dan suruh dia menutupi tubuh belakangnya yang pantas!"
Cui Im terkekeh dan berlarian ke kereta, mengambil selimut dan melemparnya ke arah Keng Hong.
"Keng Hong, tutupi badanmu yang sebelah belakang rapat-rapat, kau membikin sumoi menjadi jijik, hi-hi-hik!"
Kemudian ia melompat ke atas di sebelah depan dan segera membalapkan empat ekor kuda setelah sumoinya pun melompat masuk dan duduk menghadapi Keng Hong dengan sikap tidak acuh.
Dari luar terdengar suara seorang di antara Pak-san Su-liong.
"Kalian tunggu saja! Suhu sendiri yang akan merampas tawanan itu!"
Namun dua orang murid Lam-jai Sin-ni tidak mempedulikan teriakan mereka dan terus membalapkan kereta ke selatan.
Kereta berguncang-guncang dan Keng Hong duduk anteng, matanya tak pernah terlepas dari wajah gadis di depannya.
Ia menjadi makin kagum.
Gadis ini amat lihai ilmu silatnya, jug awataknya jauh berbeda dengan watak Cui Im yang cabul dan suka mengumbar nafsunya.
Gadis ini pendiam, bahkan sama sekali tidak pernah memperlihatkan kegembiraan.
Betapapun juga dalam hal kekejaman dan keganasan, gadis baju putih ini mungkin sepuluh kali lebih ganas dari Cui Im, sungguhpun agaknya tidak berwatak licik dan curang seperti sucinya itu.
Diam-diam dia membuat perbandingan.
Yang manakah yang baik di antara kedua orang gadis ini?
Cui Im hidup sebagai seorang yang ingin menikmati hidup sebanyaknya, selalu menuruti nafsunya tanpa mempedulikan sesuatu, hendak meraih kesenangan dunia sebanyaknya tanpa peduli dia akan dicap gadis cabul atau tidak.
Pendeknya segala hal di dunia ini harus diarahkan demi kesenangan diri pribadi.
Gadis seperti itu tentu saja tidak mempunyai kesetiaan terhadap siapapun kecuali dirinya sendiri.
Akan tetapi gadis yang jauh lebih muda dan jauh lebih cantik juga lebih lihai yang duduk di depannya ini memiliki type tersendiri dan sukar sekali meraba-raba untuk mempelajari wataknya.
Wajah cantik ini seolah-olah memakai kedok dari salju, begitu dingin dan sukar sekali dijenguk isi hatinya karena apa yang terkandung di dalam hati dan pikirannya sama sekali tidak mengubah kulit muka yang halus dan tetap dingin itu.
Tiba-tiba saja muka yang jelita ini bergerak dan sepasang mata yang jernih bertemu dengan pandang matanya.
Keng Hong terkejut dan tersipu, cepat mengalihkan pandangan matanya, pura-pura melihat pohon-pohon di pinggir jalan.
"Engkau lapar?"
Pertanyaan itu pun tiba-tiba dan halus merdu. Keng Hong mengangguk dan menjawab perlahan.
"Haus....."
"Namaku Biauw Eng, dan kau boleh memanggil aku dengan namaku."
Keng Hong terkejut.
Eh, kiranya ada juga sikap manis budi pada diri nona aneh ini.
cepat dia mengangkat muka memandang, mengharapkan ada perubahan muka pada nona itu, perubahan muka yang wajar, yang tersenyum seperti halusnya ucapan yang dikeluarkan.
Namun dia kecelik, wajah itu tetap dingin dan tenang, sama sekali tidak membayangkan sesuatu kehangantan.
Ia menghela napas panjang dan berkata.
"Memang aku lapar, dan terutama sekali haus, Biauw Eng."
Song-bun Siu-li atau yang mengaku bernama Biauw Eng, dengan tenang mengambil bungkusan dari sebelah belakangnya, di atas tempat duduk kereta itu, membuka bungkusan dan mengeluarkan sebuah roti kering yang besar.
Ia mematah-matahkan roti itu, membagi menjadi tiga, lalu memberi sebagian kepada Keng Hong, sebagian lagi ia lemparkan ke arah Cui Im sambil berseru.
"Suci, silahkan makan!"
Dan dia sendiri lalu memulai makan bagiannya. Cui Im menggigit roti kering sambil tertawa dan berkata.
"Sayang, sumoi. Seguci arak Ai-ang-ciu (Arak Merah Asmara) telah dihabiskan sekali teguk oleh bocah itu, hi-hi-hik!"
Sepasang alis yang hitam itu berkerut sebentar, namun tidak cukup untuk membayangkan bagaimana perasaan Biauw Eng, apakah kecewa, ataukah marah, ataukah perasaan lain lagi.
Hanya bibirnya yang tadi tertutup ketika dia mengunyah roti di dalam mulut, kini terbuka sedikit mengeluarkan kata-kata.
"Aku masih ada persediaan air minum, jangan khawatir, suci."
Tangan kiri meraih ke belakang dan gadis ini telah mengeluarkan sebuah guci yang mengkilap, berwarna putih, terbuat dari pada porselen yang amat indah.
Melihat bahwa Keng Hong paling dulu menghabiskan rotinya, nona ini menyerahkan guci porselen kepadanya sambil berkata.
"Minumlah dulu."
Keng Hong menerima guci itu, memandang kagum lalu bertanya.
"Mana cawannya?"
"Hi-hi-hik! Keng Hong, kau selalu bersopan-sopan mencari cawan. Apa kau khawatir diracuni? Ah, jangan takut, sumoi selamanya tidak sudi main-main dengan racun dan segala macam racun yang dimasukan ke dalam guci pusaka itu akan lenyap pengaruhnya."
Cui Im tertawa-tawa mengejek sehingga muka Keng Hong menjadi merah sekali.
Ia hanya memegangi guci itu dan tidak minum, menanti sampai nona di depannya menghabiskan rotinya.
Biauw Eng juga tidak peduli bahwa pemuda itu belum juga minum dari guci.
"Kau minumlah dulu, nona Biauw Eng....."
Katanya memberikan guci itu.
Sikap nona ini membuat Keng Hong tidak berani untuk menyebut namanya begitu saja, melainkan menaruh sebutan nona di depannya.
Nona ini sikapnya seperti seorang puteri istana saja, begitu halus, angkuh namun dingin.
Biauw Eng tidak menjawab, melainkan menerima guci itu, membuka tutupnya dan mengangkat guci ke atas mukanya yang ditengadahkan, lalu dituangnya air dari guci yang memancur memasuki mulutnya yang dingangakan.
Keng Hong menelan ludah, bukan karena melihat orang minum atau melihat air yang amat jernih dan segarnya memasuki mulut orang, melainkan melihat mulut yang menggairahkan itu.
Mulut yang terbuka, tampak giginya berderet putih, lidah meruncing merah sekali bergerak-gerak ketika kejatuhan air jernih, melihat rongga mulut yang segar kemerahan, yang membayangkan kesedapan dan kenikmatan.
Keng Hong diam-diam bergidik dan tidak tahu dari mana datangnya perasaan ini yang timbul semenjak dia jatuh oleh godaan asmara Cui Im.
Setelah gadis itu menyerahkan guci kepadanya, barulah dia sadar dan cepat menerima guci itu.
Akan tetapi belum dia minum air itu, dia teringat kepada Cui Im.
Keng Hong selama berada di Kun-lun-pai mempelajari tata susila, sopan santun dan telah membaca banyak kitab, maka sifat sopan santun sebenarnya telah meresap di hatinya.
Kini teringat bahwa Cui Im belum minum, sungguh pun dia kini merasa muak kepada gadis itu setelah dia mengenal wataknya yang keji dan bahwa bujuk rayu yang amat mesra pada malam itu bukan timbul dari hati mencinta melainkan melainkan sebagai alat membujuk saja, namun dia merasa tidak enak kalau harus mendahului gadis itu minum airnya.
"Kau minumlah dulu,"
Katanya menyerahkan guci.
Cui Im yang duduk di sebelah depan, memutar tubuhnya, memandang Keng Hong dengan mata genit lalu menerima guci, terus diteguknya seperti yang dilakukan sumoinya tadi.
Kemudian ia mengembalikan guci kepada Keng Hong dan ketika pemuda itu menerimanya, sejenak Cui Im membelai tangan pemuda itu dan mencubit lengannya penuh arti sambil terkekeh.
Keng Hong cepat-cepat menarik tangan dan guci itu sambil melirik ke arah Biauw Eng.
Namun gadis ini diam saja tidak bergerak-gerak, seolah-olah tidak melihat atau memang tidak peduli akan kecentilan sucinya.Keng Hong menghilangkan rasa kikuknya dengan menenggak air dari dalam guci dan dia kagum sekali.
Roti kering tadi amat enaknya, gurih dan agak manis, berbau sedap.
Akan tetapi air ini lebih lezat lagi.
Memang rasanya air biasa, namun mengandung keharuman buah apel dan amat sejuk dan segar.
Tanpa bicara, dia mengambilkan guci kepada Biauw Eng yang segera menyimpannya kembali dan berkatalah Biauw Eng.
"Kita perlu menghimpun tenaga karena kurasa masih banyak penghalang di depan."
Setelah berkata demikian, nona baju putih itu melempangkan punggungnya, dan meramkan matanya, napasnya menjadi makin lambat sampai akhirnya seperti tidak bernapas lagi.
Tahulah Keng Hong bahwa nona ini kembali telah melatih dirinya dengan samadhi dan ilmu Pi-khi-hoan-hiat.
Ia memandang kagum.
Setelah mata itu terpejam, tampak bulu mata yang merapat dan hitam panjang melentik.
Jantung Keng Hong berdebar dan cepat-cepat dia menekan perasaannya ini.
Untuk melawan gelora hatinya menghadapi nona yang luar biasa cantiknya ini, dia pun lalu memejamkan mata menghimpun tenaga?
Untuk apa?
Untuk membebaskan diri kalau kesempatan muncul, pikirnya.
Kalau dia sudah mengikuti nona ini sampai bertemu dengan Lam-hai Sin-ni.
Akan tetapi, setelah berhadapan dengan Lam-hai Sin-ni, betapa mungkin dia dapat membebaskan diri?
Sedangkan nona Biauw Eng ini saja sudah demikian lihai dan tak mungkin dapat mengalahkannya, apalagi ibunya!
Keng Hong diam-diam bergidik ngeri, akan tetapi dia sudah berjanji untuk membalas budi pertolongan nona itu, baru akan membebaskan diri.
Hatinya tentram kembali dan Keng Hong pun segera "pulas"
Dalam samadhinya walaupun kereta itu melalui jalan yang tidak rata dan berguncang-guncang keras.
Sampai malam tiba, tidak ada rintangan di jalan.
Kereta di hentikan di sebuah gunung yang banyak terdapat gua-guanya dari batu.
Setelah makan daging kelinci yang ditangkap oleh Cui Im dan minum air gunung, mereka mengaso di luar kereta, di dalam sebuah gua yang agak besar tak jauh dari situ.
Cui Im sudah duduk mendekati Keng Hong, tangannya sudah mulai menggerayangi tubuh Keng Hong dan mulutnya membisikan kata-kata merayu, kadang-kadang hanya mengeluarkan suara seperti seekor kucing memancing belaian.
Namun Keng Hong tidak memperdulikannya, bahkan menjadi gemas sekali.
Ia merasa canggung dan malu sekali karena gadis ini tanpa malu-malu mengajaknya bermain cinta di depan Biauw Eng!
Adapun gadis baju putih itu duduk bersila dan seolah-olah tidak melihat itu semua, tidak mendengar suara merintih-rintih dan meminta-minta yang keluar dari mulut sucinya.
"Cui Im, mengapa kau tidak bisa diam? Jangan ganggu aku!"
Akhirnya Keng Hong berkata lirih dan mengibaskan tangan Cui Im.
"Aihhh, mengapa engkau berubah, Keng Hong? Setelah berada di depan sumoi yang jauh lebih cantik dariku, engkau pura-pura tidak tahu.... hi-hi-hik, masih ingatkah malam mesra itu? Masih terasa olehku, Keng Hong..... ahhh....."
"Cui Im, diamlah!"
Keng Hong membentak, agak keras karena marah.
Ia menyesal sekali sekarang mengapa malam hari dulu itu dia mau melayani gadis ini, pengalamannya yang pertama dia hanyutkan begitu saja bersama seorang gadis bermoral bejat seperti ini.
Kalau Cui Im benar-benar mencintanya, dia pun tidak akan menyesal karena dia hanya ingin mengikuti jejak gurunya, melayani cinta kasih seorang wanita yang disukanya.
Dan dia memang suka kepada Cui Im seperti rasa sukanya kepada segala yang indah.
Kalau Cui Im tidak menggunakan daya tariknya sebagai seorang wanita hanya untuk membujuknya, kalau Cui Im tidak palsu cintanya, tentu dia selamanya akan mengenang pengalamannya dengan Cui Im sebagai kenangan yang manis.
Sekarang, dia hanya akan mengenangnya sebagai sebuah kenangan yang memalukan dan menjijikan.
"Suci, jangan ribut. Ada musuh-musuh datang.....!"
Tiba-tiba Biauw Eng berkata halus dan ke dua orang itu merasa jengah sendiri mengapa mereka ribut-ribut saja sehingga tidak mendengar datangnya ancaman musuh.
Ketika mereka berdua memandang keluar gua, benar saja, di bawah sinar-sinar bintang-bintang yang suram, tampak berkelebat bayangan belasan orang yang gesit dan ringan.
Bagaikan bayang-bayangan setan, belasan orang itu menerjang kereta dan terdengarlah suara hiruk pikuk, suara senjata-senjata dipukulkan pada kereta sampai kereta itu hancur dan roboh, kudanya lari tidak karuan.
Agaknya orang-orang itu menjadi marah karena mendapatkan kereta itu kosong, dan melampiaskan kemarahan mereka pada kereta kosong!
"Kurang ajar!
Mereka merusak kereta!"
Cui Im berseru marah.
"Tenang, Suci. Mari kita sambut mereka! Dan kau Keng Hong, jangan mencampuri urusan kami, kau tinggal saja di sini dan menonton."
Biauw Eng sikapnya tenang sekali dan kini dia mengajak sucinya untuk keluar dari gua menyambut belasan orang yang sudah mendengar seruan Cui Im dan kini menyerbu ke arah gua.
Keng Hong duduk saja bersila di dalam gua, membuka mata memandang bayangan-bayangan itu dan telinganya mendengar suara Biauw Eng yang halus merdu dan tenang.
"Siapa di depan? Mau apa kalian dan mengapa merusak kereta? Di sini Song-bun Siu-li dan Ang-kiam Tok-sian-li!"
Belasan sosok bayangan itu tiba-tiba berhenti bergerak, agaknya tertegun dan kaget mendengar nama-nama itu, kemudian terdengar suara.
"Kami empat orang anak murid Hoa-san-pai, mewakili suhu-suhu kami Hoa-san Siang-sin-kiam untuk diminta diserahkannya tawanan yang bernama Cia Keng Hong!"
Remang-remang tampak oleh Keng Hong bahwa empat orang yang berkelompok itu adalah tiga orang muda dan yang seorang gadis, kesemuanya memegang pedang.
Teringatlah dia akan dua orang tokoh Hoa-san, yaitu Hoa-san Siang-sin-kiam yang bernama Coa Kiu dan Coa Bu, kakak beradik yang hebat ilmu pedangnya itu.
Jadi empat orang ini murid-murid mereka?
Tentu lihai ilmu silatnya.
"Pinceng bertiga adalah murid-murid Siauw-lim-pai, mentaati perintah ketua kami untuk menangkap Cia Keng Hong!"
Tiga orang hwesio gundul Siauw-lim-pai itu masing-masing memegang sebatang toya dan tampaknya mereka itu kuat-kuat.
"Kami sembilan orang adalah murid-murid Kong-thong Ngo-lojin, mewakili suhu-suhu kami untuk membawa Cia Keng Hong ke Kong-thong-pai!"
Sembilan orang ini pun masih muda-muda dan kalau tidak keliru penglihatan Keng Hong dalam gelap itu, terdiri dari enam orang pemuda dan tiga orang pemudi, dengan senjata bermacam-macam, ada pedang, golok, tombak pendek, ruyung dan cambuk saja.
Diam-diam Keng Hong menjadi gelisah.
Betapapun lihainya Cui Im dan Biauw Eng, mana mungkin dapat menang menghadapi pengroyokan enam belas orang yang kesemuanya adalah murid-murid tokoh besar yang sakti?
Namun, baik Cui Im maupun Biauw Eng bersikap tenang-tenang saja, bahkan kini terdengar suara Biauw Eng yang halus dan dingin, mengandung ejekan dan tantangan.
"Cia Keng Hong adalah tangkapan yang berada di kekuasaan kami sebagai wakil dari Lam-hai Sin-ni. Tak seorang pun boleh mengganggunya. Kalian ini murid-murid tokoh besar di dunia kang-ouw, sungguh tak tahu malu telah merusak kereta kami. Kalau memang hendak menggunakan kekerasan, majulah, kami berdua tidak gentar menghadapi kalian!"
"Omitohud, kiranya Song-bun Siu-li masih seorang bocah yang mulutnya sombong sekali!"
Bentak seorang murid Siauw-lim-pai yang sudah menerjang maju dengan toyanya, diikuti dua orang sutenya.
Yang lain-lain juga segera berseru keras dan menerjang maju, mengeroyok Cui Im dan Biauw Eng.
Dua orang gadis murid Lam-hai Sin-ni mengeluarkan suara melengking tinggi dan tampaklah gulungan sinar pedang merah dari tangan Cui Im yang amat gemilang, disusul gulungan sinar putih sabuk sutera Biauw Eng yang lebih gemilang dan lebar lagi.
Pertandingan berlangsung dengan seru di malam yang remang-remang itu.
Tingkat kepandaian dua orang murid Lam-hai Sin-ni sesungguhnya lebih tinggi daripada tingkat kepandaian murid-murid Siauw-lim-pai, Kong-thong-pai dan Hoa-san-pai itu, apalagi Biauw Eng.
Kiranya kalau hanya menghadapi pengeroyokan lima orang lawan saja, Biauw Eng masih ada harapan untuk menang.
adapun takaran lawan Cui Im kiranya hanya dua atau paling banyak tiga orang lawan saja.
Kalau mereka dikeroyok tujuh atau delapan orang, barulah ramai dan seimbang.
Akan tetapi kini yang mengeroyok mereka adalah enam belas orang!
Tentu saja kedua orang murid Lam-hai Sin-ni menjadi terdesak hebat sehingga terpaksa mereka itu harus saling bela dengan cara berdiri beradu punggung dan memutar senjata secepat mungkin untuk menangkis hujan senjata yang menimpa mereka.
Sekali ini pun sabuk sutera putih di tangan Biauw Eng berjasa lagi karena sabuk yang panjang itu selain dapat melindungi tubuhnya sendiri, juga dapat membantu sucinya yang mulai repot.
Bahkan beberapa kali Cui Im mengeluarkan teriakan marah ketika betis kirinya dan pangkal lengan kanannya tercium ujung senjata lawan sehingga bairpun bukan merupakan luka parah, namun cukup merobek baju dan kulit mengeluarkan darah.
"Nona berdua sebaiknya menyerah saja. Kami tidak bermusuhan dengan nona berdua, juga tidak ingin membunuh. Kami hanya ingin menawan Cia Keng Hong karena guru-guru kami mempunyai urusan dengan dia sebagai wakil gurunya yang sudah berdosa terhadap partai kami,"
Terdengar seorang pemuda murid Hoa-san-pai berkata nyaring.
"Mulut besar!"
Bentak Cui Im.
"Keng Hong adalah tawanan kami, kalau kalian dapat membunuh kami, baru boleh bicara tentang menawan Keng Hong!"
"Bagus! Memang kaum sesat selalu nekat dan mau menang sendiri!"
Teriak seorang murid Kong-thong-pai dan kepungan diperketat, serangan diperdahsyat sehingga dua orang murid Lam-hai Sin-ni menjadi makin repot melindungi tubuh mereka dari cengkraman maut.
Kini cuaca mulai makin terang karena bulan sepotong yang munculnya sudah malam itu mulai memuntahkan sinarnya.
Keng Hong yang menyaksikan pertandingan itu menjadi gelisah.
Ia maklum bahwa kedua orang nona itu sudah pasti akan roboh, kalau tidak tewas sedikitnya tentu terluka hebat.
Ia sedang mempertimbangkan pendiriannya.
Harus berfihak yang mana?
Fihak enam belas orang itu memiliki pamrih yang sama, yaitu menawannya dan memaksanya menunjukan tempat simpanan pusaka gurunya seperti juga guru-guru mereka dahulu memperebutkan Siang-bhok-kiam adalah untuk mencari pusaka gurunya itu.
Sebaliknya, fihak kedua, dua orang murid lam-hai Sin-ni itu pun sama juga.
Jelas bahwa kedua fihak itu tidak ada yang bermaksud baik terhadap dirinya.dan dia merasa kasihan kepada dua orang gadis itu yang dianggapnya berada di fihak yang harus dia bantu.
Dua melawan enam belas.
Mana adil?
Pula, pantaslah kalau dia kini berpeluk tangan saja menyaksikan gadis itu terancam bahaya?
Bagaimana tindakan suhunya kalau suhunya menjadi dia?
Pernah suhunya menasehatinya.
"Kalau menolong orang, tolonglah saja berdasarkan perasaan hatimu. Jangan menengok latar belakangnya, jangan mengingat keadaannya, jangan pula memperhitungkan urusannya. Kalau kau merasa kasihan dan ingin menolong, tolonglah tanpa ada perasaan pamrih lainnya. kalau tidak ada rasa kasihan dan ingin menolong seperti itu, lebih baik kau tinggalkan tidur dan tidak perlu melibatkan diri dengan urusan orang lain."
Keng Hong segera bangkit berdiri.
Mungkinkah dia membiarkan saja dua orang gadis itu tewas?
Tidak!
Biarpun dia tidak suka kepada Cui Im, merasa sebal menyaksikan tingkah laku gadis itu, namun harus dia akui bahwa dia telah mengalami kesenangandengan gadis itu dan dia merasa tidak tega kalau melihat Cui Im tewas di ujung senjata banyak lawan yang mengeroyoknya.
Apalagi terhadap Song-bun Siu-li yang bernama Biauw Eng.
Gadis ini pernah membebaskannya dari kematian di ujung pedang Cui Im.
Tentu saja dia tidak tega membiarkannya mati dikeroyok.
Keng Hong melompat ke dekat tempat pertempuran, sebelah tangannya memegang sebatang ranting, dan dia berseru.
"Cia Keng Hong berada di sini! Siapa yang hendak menangkap aku, majulah! Mengeroyok anak-anak perempuan kecil, apa tidak malu?"
"Keng Hong, tutup mulutmu yang sombong!"
Cui Im memaki marah karena dikatakan anak perempuan kecil, juga ia menjadi gelisah karena sekali.
Keng Hong keluar, terbukalah kesempatan bagi para pengeroyok untuk melarikan pemuda itu.
Benar saja.
Mendengar teriakan ini, sebagian besar para pengeroyok meninggalkan dua orang gadis itu dan mengejar Keng Hong!
Kini yang mengeroyok Cui Im dan Biauw Eng hanya tinggal enam orang saja, yaitu seorang hwesio siauw-lim-pai, dua orang murid Hoa-san-pai, dan tiga orang murid Kong-thong-pai.
Adapun yang sepuluh orang sudah lari dan berebutan menubruk Keng Hong dengan tangan kosong karena mereka ingin menangkap pemuda itu hidup-hidup seperti yang diperintahkan guru masing-masing.
Akan tetapi tubrukan mereka itu disambut sinar yang bergulung-gulung dari ranting yang diputar oleh Keng Hong.
Terdengar bunyi plak-plik-pluk ketika ranting di tangan Keng Hong itu menyambet-nyambet mereka, ada yang terkena pipinya, ada yang terkena lehernya atau lengannya.
Mereka berseru kaget dan meloncat mundur, Tidak mereka sangka bahwa sabetan ranting bisa mendatangkan rasa nyeri yang begitu hebat.
Tahulah mereka bahwa murid Sin-jiu Kiam-ong ini tidak boleh dianggap remeh.
Mereka kini maju lagi dan mulai mengirim pukulan, sungguhpun hal ini masih dilakukan dengan tangan kosong karena mereka ingin menangkapnya hidup-hidup.
Melihat datangnya pukulan-pukulan ini, Keng Hong menggerakan rantingnya lagi.
Namun dia merasa kaku sekali untuk mainkan Siang-bhok Kiam-sut dengan ranting itu dalam menghadapi pengeroyokan begini banyak orang.
Hujan pukulan dan cengkraman itu ada yang dapat ditangkisnya, namun ada pula yang mengenai tubuhnya, bahkan kini selimut penutup tubuh belakangnya sudah terlepas, bajunya yang kena dicengkram juga mulai robek-robek.
Timbulah kemarahan di hati Keng Hong.
"Kalian nekat, ya?"
Bentaknya dan ketika seorang hwesio Siauw-lim yang memiliki sinkang paling kuat mencengkram ke arah pundaknya dengan ilmu cengkraman Eng-jiauw-kang (Cengkraman Kuku Garuda), dia cepat mengulur tangan kanannya memapaki cengkraman itu sehingga kedua telapak tangan itu bertumbukan di udara.
"Plakkk!!"
Hwesio Siauw-lim-pai itu kaget bukan main, merasa betapa lengannya tergetar dan panas.
Cepat dia berusaha menarik kembali tangannya, akan tetapi sia-sia saja, tangannya sudah melekat dengan tangan pemuda itu dan alangkah kaget hatinya ketika merasa hawa sinkang dari tubuhnya berserabutan keluar dari tubuh melalui tangannya itu, disedot oleh telapak tangan Keng Hong!
Hwesio itu mengeluarkan teriakan-teriakan aneh dan teriakan-teriakan ini disusul teriakan-teriakan lain ketika banyak tangan sudah menempel di tubuh Keng Hong tanpa dapat ditarik kembali!
Ada enam orang di antara para pengroyok yang kini telapak tangannya menempel di tubuh Keng Hong dan sinkang mereka membocor terus disedot oleh tubuh pemuda yang luar biasa ini.
Yang menjadi paling bingung dan juga jengah sekali adalah seorang murid perempuan Kong-thong-pai dan seorang murid perempuan Hoa-san-pai.
Mereka ini adalah dua orang gadis muda yang cantik dan gagah, kini mereka mebetot-betot kedua tangan mereka tanpa hasil, padahal mereka tadi yang menyerang dari belakang dan tangannya menempel pada pingul Keng Hong yang telanjang seadngkan yang seorang lagi tangannya menempel pada leher pemuda itu.
Dilihat begitu saja seolah-olah mereka ini sedang main gila, sedang main raba dan colek terhadap tubuh si pemuda!
Empat orang gagah yang lain ternganga keheranan, akan tetapi sebagai murid-murid orang sakti mereka ini dapat menduga bahwa si pemuda murid Sin-jiu Kiam-ong tentu menggunakan ilmu siluman sehingga teman-teman mereka melekat seperti itu.
Seorang hwesio Siauw-lim-pai segera berkata.
"Kita kumpulkan sinkang, dan berbareng kita membetot!"
Ia lalu memegang tangan teman-temannya yang belum tersedot sinkangnya, kemudian mereka lalu memegang pundak mereka yang tersedot, dan mengerahkan kekuatan secara berbareng untuk menarik.
Agar dapat menarik berbareng, hwesio itu memberi aba-aba.
"Satu..... dua..... tiga tarik!!"
Dapat dibayangkan betapa kaget dan ngeri rasa hati mereka ketika tiba-tiba saja tangan empat orang yang lain ini pun amblas seperti air dicampurkan ke dalam lautan!
Jangankan menarik teman-teman yang sudah melekat, menarik diri sendiri pun tidak sanggup lagi karena tenaga mereka yang dipergunakan untuk menarik itu tidak mendapatkan tempat berpijak melainkan molos terus mengalir masuk ke dalam tubuh yang mereka pegang terus mengoper hawa sinkang ini melalui tubuh Keng Hong!
Keng Hong sendiri pun mulai bingung.
Seperti yang pernah dia alami di Kun-lun-pai,sekarang pun dia merasa betapa tubuhnya kebanjiran hawa sinkang, dadanya serasa hampir meledak-ledak, kepalanya seperti menjadi sebesar gentong beras, berdenyut-denyut, maranya merah dan hampir terloncat keluar dari pelupuknya, seluruh tubuh terasa berdenyutan dan gatal-gatal panas.
Biarpun sinkang sepuluh orang ini masih belum menyamai sinkang Kiang Tojin dan beberapa orang sutenya, namun bagi Keng Hong tetap saja merupakan siksaan yang hebat dan dia sendiri tidak tahu harus berbuat apa untuk melepaskan mereka.
Ia maklum, bahwa sekali dia mengerahkan tenaga yang mendesak-desak ini untuk mengibaskan mereka, akibatnya tentu hebat seperti yang pernah dia lakukan di Kun-lun-san.
Akan tetapi pada waktu itu, yang dia robohkan hanyalah belasan batang pohon-pohon raksasa.
Sementara itu setelah kini Cui Im dan Biauw Eng hanya dikroyok enam orang lawan, mereka sebentar saja dapat merobohkan semua lawan itu.
Cui Im merobohkan dua orang dengan pedangnya Biauw Eng membuat empat orang lainya terguling.
Kini dua orang gadis itu berdiri melongo memandang Keng Hong yang digelut oleh sepuluh orang!
Memang amat aneh pemandangan ini.
Keng Hong berdiri dengan tubuh menggigil di tengah-tengah, sedangkan sepuluh orang itu menggeluti tubuhnya, banyak yang diam tak brgerak, ada yang masih mencoba untuk membetot-betot, namun semuanya tidak berhasil dan terdengarlah keluhan dan rintihan putus asa keluar dari mulut sepuluh orang itu.
"Itulah, Sumoi. ilmunya yang mujijat, menyedot sinkang orang seperti yang kuceritakan kepadamu..... heiii! Sekarang tahu aku mengapa sinkangku lenyap sebagian besar! Kiranya malam itu.... dia.... dia telah menyedot hawa sakti tubuhku, kurang ajar!"
Cui Im memaki.
"Heran betul. Benarkah dia bisa memiliki Thi-khi-i-beng? Menurut ibu, di dunia ini tidak ada lagi yang mengerti ilmu itu. Ibu sendiri hanya mengerti sedikit. Bocah ini hebat, Suci. Kalau didiamkan saja, sepuluh orang ini tentu mati semua dan ibu tidak akan senang kalau kita menanam bibit permusuhan dengan partai-partai persilatan besar. Hayo kita lepaskan mereka."
"Mana mungkin, sumoi? Jangan-jangan kau akan ikut tersedot! Hiiihhhh..... ilmu setan yang mengerikan!"
"Aku mengetahui caranya, suci."
"Kau? Kalau begitu subo telah mengajarmu ilmu ini? Ah, mengapa aku tidak diberi tahu sama sekali?"
Cui Im bertanya dengan cara mencela, penuh iri.
"Hanya mengerti cara membebaskannya, sama sekali aku pun tidak tahu akan ilmu ini. Kalau kau menguasainya, alangkah banyaknya orang-orang yang kau sedot habis!"
Biauw Eng lalu memunggut cambuk kuda dari atas tanah di dekat kereta yang sudah hancur.
"Kau pergunakan cambuk ini. Jangan sekali-kali pergunakan tanganmu untuk menyentuh mereka. Kalau kau sudah menotok pergelangan tangan Keng Hong, kau pergunakan ujung cambuk untuk membetot tangan-tangan yang menempel di tubuhnya. Mengerti?"
Cui Im mengangguk dan mereka lalu menghampiri sebelas orang yang bergelut tanpa bergerak sambil berdiri itu.
Biauw Eng lalu memutar sabuk sutera putihnya ke atas, terdengar suara berdetak-detak kemudian kedua ujung sabuk itu menyambar ke depan, tepat menotok pergelangan kedua tangan Keng Hong.
Dan pada saat itu, selagi Keng Hong merasa seolah-olah kedua lengannya lumpuh dan saluran hawa sakti yang membanjir ke tubuhnya terhenti, Cui Im sudah menggerakan cambuknya melibat tangan-tangan yang menempel di tubuh Keng Hong lalu membetot sekuatnya.
Biauw Eng juga mengunakan sabuk suteranya melakukan hal sama sehingga dalam beberapa detik saja sepuluh orang itu telah terjengkang roboh dan sambil mengeluh mereka itu cepat duduk bersila sambil mengatur napas untuk memulihkan, atau setidaknya mendapatkan sedikit tenaga sehingga mereka tidak roboh pingsan terus tewas.
Keng Hong yang terlepas daripada kebanjiran hawa sinkang, berdiri dengan tubuh bergoyang-goyang seperti orang mabuk.
Ia memang persis seperti orang mabuk arak, bahkan ketika dia berjalan menghampiri Cui Im dan Biauw Eng, dia berjalan dengan kedua kaki diseret, seolah-olah kedua kakinya menjadi kaku dan kejang, kedua lengannya tergantung kaku pula di kanan kiri, matanya yang memandang dua orang gadis itu dikejap-kejapkan karena dalam pandang matanya yang berkunang-kunang, dua orang gadis itu kini berubah menjadi empat!
Ia mengusahkan diri untuk tersenyum dan mengucapkan terima kasih, akan tetapi senyumnya berubah menjadi menyeringai menakutkan, dan pandang matanya menjadi liar sehingga Cui Im dan Biauw Eng yang amat lihai itu pun sampai mudur-mundur ketakutan!
"Heh-heh-heh, terima kasih.....
terima kasih Ji-wi Siocia (Nona Berdua) yang telah membebaskan diriku dari....
hemmm.....
lintah-lintah itu....!"
Biauw Eng memandang tajam dan berkata halus.
"Keng Hong, kau simpanlah kembali ilmumu menyedot sinkang itu."
Keng Hong menggeleng-geleng kepalanya.
"Tidak bisa.... tidak bisa....., disimpan bagaimana? Terlalu penuh tubuhku.... dadaku sakit, kepalaku mau meledak...., tenaga ini, mendorong-dorongku..... ahhh.....!"
Ia memegangi kepalanya dan meramkan kedua matanya.
Ingin dia memukul, menendang, ingin dia merobohkan apa saja, dan keinginan ini timbul secara serentak, mendesak kepadanya menjadi seorang liar yang memuaskan nafsu untuk merobohkan dan membunuh, apa saja.
Enam belas orang yang telah terluka semua itu, akan tetapi tidak ada yang tewas karena kedua oang gadis itu memang tidak bermaksud membunuh mereka agar jangan mendatangkan bibit permusuhan kini juga memandang ke arah Keng Hong dengan mata terbelalak dan mulut ternganga.
Keadaan pemuda itu memang menyeramkan.
Tidak saja mukanya menjadi merah seperti udang direbus, dan matanya jelalatan seperti mata setan, akan tetapi bahkan rambut kepalanya seperti berdiri satu-satu.
Tanpa disadari dan dimengerti oleh Keng Hong sendiri, setelah kini tidak ada sinkang orang lain yang membanjiri tubuhnya, otomatis daya sedotnya lenyap dan kini sebaliknya berubah menjadi daya serang yang amat luar biasa.
Memang sebetulnya ketika Sin-jiu Kiam-ong mengoper sinkangnya kepada Keng Hong, kakek ini tidak sempat lagi untuk memberi pelajaran tentang menguasai sinkang yang kelebihan di dalam tubuh muridnya.
Karena paksaan ini, terjadilah salah susunan salah kerja sehingga sinkang yang membanjiri ke dalam tubuh pemuda itu menjadi liar, ibarat ia ditampung tanpa ada pintu untuk memasukan dan mengeluarkan air, datangnya membanjiri secara liar.
Kalu saja Keng Hong sudah dapat mengusai dirinya sendiri, tentu dia akan dapat mengatur sehingga hawa yang masuk disesuaikan dengan tempatnya, dan dapat pula mengatur bagaimana untuk menbuka pintu mengeluarkan sinkang dalam penggunaan sesuai dengan keperluannya.
Kini, setelah secara liar hawa sinkang membanjiri masuk, keadaannya menjadi terbalik.
Pintu masuk tertutup dan pintu keluar sukar dibuka kalau tidak dipaksa dengan pukulan dan tendangan, tidak dipaksa untuk bertanding!
Maka hawa pun mendesak-desak dan membuat tubuhnya seperti sebuah balon karet yang terlalu penuh diisi hawa, siap untuk meletus setiap saat.
Tiba-tiba terdengar derap kaki kuda.
Belasan ekor kuda mendatangi dari depan menuju ke tempat itu.
Binatang-binatang itu adalah binatang tunggangan para murid ketiga partai persilatan itu yang tadi meninggalkan kuda mereka di dalam hutan sebelah agar mereka dapat mengepung kereta tanpa mengeluarkan suara.
Kini belasan ekor kuda itu berlari-larian karena dikejutkan oleh serangan seekor harimau, dan dalam keadaan panik belasan ekor kuda itu lari menerjang ke arah orang-orang yang sedang terheran-heran memandang ke arah Keng Hong dengan mata terbelalak.
Biarpun mereka itu rata-rata memiliki ilmu kepandaian tinggi, namun pada waktu itu mereka sedang menderita luka dan sebagian besar hampir habis tenaga sinkangnya tersedot oleh Keng Hong, maka kini menghadapi pasukan kuda yang menerobos liar ini mereka tak sempat untuk menghindarkan diri.
Dan jangan dianggap remeh rombongan kuda yang sedang panik dan ketakutan ini.
Mereka akan menerjang apa saja dan akan menginjak-nginjaknya sampai lumat!
Keng Hong dapat melihat keadaan bahaya ini.
Biarpun dia sedang tersiksa oleh hawa sinkang yang memenuhi badannya, melihat keadaan bahaya mengancam orang-orang itu, dia lalu cepat meloncat.
Tubuhnya bagaikan sebuah bola karet penuh gas, begitu digerakan lalu meluncur cepat sekali menghadang rombongan kuda.
Pemuda ini secara aneh sekali telah menjadi buas dan ingin sekali menghancurkan atau menbunuh apa yang merintang di depannya.
Hal ini adalah disebabkan dorongan sinkang yang berlebihan itu sehingga dia tersiksa dan ingin melampiaskan rasa marah yang timbul akibat siksaan ini.
Keadaannya itu tiada bedanya dengan seorang yang diserang sakit gigi menjadi marah-marah dan ingin mengamuk.
Maka kini melihat betapa rombongan kuda itu mengancam keselamatan orang-orang yang mederita luka akibat dirinya, dia lalu mendorong-dorongkan kedua lengan dan kakinya sambil mengeluarkan seruan-seruan yang aneh bunyinya karena suara ini digerakan sinkang yang padat, dikeluarkan untuk mengimbangi gerakan-gerakan pukulan dan tendangan itu.
Akibatnya hebat sekali!
Belasan ekor kuda itu seperti diamuk angin taufan, roboh dan terbanting ke kanan kiri, berkelojotan sambil mengeluarkan suara meringkik-ringkik kesakitan.
Di antara suara hiruk-pikuk ini, Keng Hong sudah menerjang maju terus dan terdengarlah gerakan dahsyat.
Dalam waktu beberapa menit saja, belasan ekor kuda sudah menggeletak tak bernapas lagi, dan paling belakang tampak seekor harimau besar berkelojotan sekarat!
Adapun Keng Hong sendiri berdiri tegak, mukanya penuh peluh, mukanya masih merah sekali akan tetapi jalan pernapasannya sudah tenang dan kini wajahnya tidak beringas seperti tadi, melainkan tenang, bahkan kelihatannya lega.
Memang kini telah lapang dadanya, sinkang yang menggelora di dalam tubuhnya telah dia salurkan keluar melalui pukulan dan tendangan yang mengakibatkan tewasnya enam belas ekor kuda ditambah seekor harimau besar!
Biauw Eng dan Cui Im terbelalak, terpesona dan penuh kekaguman mereka memandang Keng Hong.
Kini mereka berdua maklum bahwa kalau Keng Hong menghendaki, pemuda itu tentu dapat membebaskan diri dari mereka dan jika mereka menggunakan kekerasan, mereka takan dapat menangkap pemuda aneh itu.
Namun pemuda itu tidak pernah melawan dan menurut saja menjadi orang tangkapan mereka berdua!
Teringat akan ini, Cui Im dan Biauw Eng bergidik.
Pada saat itu, terjadilah hal yang sama dalam hati dua orang murid Lam-hai Sin-ni, yaitu bahwa cinta kasih mereka jatuh terhadap Keng Hong!
Cui Im yang telah berhasil merayu Keng Hong sehingga pemuda yang mewarisi ilmu kepandaian juga mewarisi pula sifat mendiang Sin-jiu Kiam-ong itu pernah melayani bermain cinta, kini benar-benar menghedaki pemuda itu menjadi kekasihnya untuk selamanya.
Bukan hanya karena Keng Hong seorang pemuda yang tampan dan gagah, pula seorang yang masih jejaka sebelum bertemu dengannya, juga terutama sekali karena Keng Hong memiliki ilmu kepandaian mujijat, di samping ini menjadi pewaris pusaka peninggalan Sin-jiu Kiam-ong.
Kalau dia dapat memiliki pemuda ini sampai selamanya, atau setidaknya sampai dia dapat mengoper semua ilmu dan pusaka itu, alangkah akan senang hatinya!
Adapun perasaan cinta kasih yang mulai bersemi di hati Biauw Eng adalah cinta kasih yang wajar dari seorang gadis yang selamanya belum pernah jatuh cinta terhadap seorang pemuda yang amat menarik hatinya.
Biauw Eng melihat adanya sifat luar biasa pada diri Keng Hong ini, sifat kegagahan yang aneh dan sukar dicari keduanya.
Hatinya jatuh, akan tetapi sesuai dengan sifatnya yang pendiam dingin dan keras, Tentu saja tidak ada sesuatu pun terbayang pada wajah atau pandang matanya, berbeda dengan Cui Im yang memandang Keng Hong penuh nafsu menyala yang terbayang pada wajahnya yang menjadi kemerahan dan sinar matanya yang bersinar-sinar.
Enam belas orang murid-murid partai persilatan besar itu kini merasa putus harapan untuk dapat merampas murid Sin-jiu Kiam-ong seperti yang mereka harapkan semula, sesuai dengan tugas yang mereka terima dari guru-guru mereka.
Tadinya menghadapi dua orang murid Lam-hai Sin-ni, mereka masih mempunyai harapan untuk berhasil.
Biarpun mereka itu terdiri dari empat orang murid Hoa-san-pai, tiga orang murid Siauw-lim-pai, dan sembilan orang murid Kong-thong-pai, namun karena ketiganya dari partai-partai persilatan yang bersahabat, Mereka telah bersatu untuk merampas Keng Hong agar semua pusaka peninggalan Sin-jiu Kiam-ong dapat ditemukan dan mereka selain dapat mengambil benda-benda pusaka yang dulu dicuri atau dirampas Sin-jiu Kiam-ong, juga mendapat bagian pusaka-pusaka lain sebagai "bunganya."
Akan tetapi setelah mereka menyaksikan betapa murid Sin-jiu Kiam-ong yang menjadi tawanan kedua orang murid Lam-hai Sin-ni itu turun tangan dan ternyata memiliki ilmu yang mengerikan dan amat lihai seperti iblis sendiri, bahwa pemuda aneh itu membantu dua orang nona yang menjadi penawannya, mereka kehilangan harapan untuk melanjutkan perampasan dengan kekerasan.
Dengan hati penuh kemarahan mereka berpendapat bahwa tentu murid Sin-jiu Kiam-ong ini berwatak seperti mendiang gurunya dan kini tergila-gila kepada dua orang murid iblis betina yang cantik itu sehingga malah membantunya.
"Amitohud......, mendiang Sin-jiu Kiam-ong memiliki dua sifat, yaitu sifat pendekar besar yang gagah perkasa dan sifat kenakalan lain yang amat buruk sehingga beliau mempunyai banyak musuh. Kini muridnya agaknya tidak mewarisi sifat yang baik itu melainkan mewarisi sifat buruknya!"
Kata seorang di antara tiga murid Siauw-lim-pai yang berpakaian pendeta dan berkepala gundul.
Keng Hong tersenyum, akan tetapi hatinya panas.
Gurunya adalah seorang yang amat dihormat dan disayangnya, merupakan orang satu-satunya yang amat baik terhadapnya.
Kini gurunya sudah mati namun masih saja dipercakapkan orang!
Ia lalu memandang hwesio itu dan menjawab.
"Losuhu, sudah jamak bahwa manusia itu mempunyai dua sifat, baik dan buruk. Baik dan buruk yang hanya disebut mulut manusia dan menurutkan penilaian manusia pula disesuaikan dengan sifat ingin enak sendiri. Yang menguntungkan bagi dirinya disebut baik, yang merugikan disebut buruk. Aku tidak akan menyangkal, seperti juga suhu, bahkan aku pun tentu memiliki sifat-sifat buruk di samping sifat-sifat baik. Setidaknya, orang-orang seperti mendiang suhu dan aku masih berterus terang, mengakui kelemahan sendiri. Sebaliknya, Losuhu dan anak murid Siauw-lim-pai adalah orang-orang yang tergolong sebagai pemeluk-pemeluk dan pemimpin agama yang berkewajiban membimbing manusia ke arah kebaikan. Sekarang Sam-wi Losuhu (Bertiga Bapak Pendeta) bukan membawa-bawa kitab suci untuk meberi wejangan, sebaliknya membawa-bawa toya untuk menghantam dan membunuh orang! Apakah pakaian pendeta dan dibuangnya rambut kepala itu hanya untuk kedok belaka?"
"Omitohud.....! Juga mulutnya jahat seperti gurunya!"
Teriak pendeta Siauw-lim-pai ke dua. Cui Im tertawa terkekeh-kekeh sambil bertepuk tangan.
"Bagus sekali, Keng Hong! Memang mereka itu monyet-monyet berbulu berkedok ular! Kepalanya gundul akan tetapi hatinya berbulu, hi-hi-hik!"
Wajah Keng Hong menjadi merah.
Ucapan dan sikap Cui Im tidak menyenangkan hatinya.
Dia tadi mengeluarkan ucapan dari hatinya untuk membela gurunya, bukan seperti Cui Im yang semata-mata mengejek.
Maka dia lalu menjura kepada tiga orang hwesio itu dan berkata.
"Aku tahu bahwa mendiang suhu mempunyai hutang kitab-kitab Seng-to-cin-keng dan I-kiong-hoan-hiat kepada Siauw-lim-pai. Aku berjanji, kalau kelak aku berhasil mendapatkan kitab-kitab itu, pada suatu hari aku akan mengembalikannya kepada Siauw-lim-pai."
Tiga orang hwesio itu hanya mendengus dan seorang di antara mereka berkata.
"Pinceng bertiga hanya memikul tugas, kesemuanya akan pinceng laporkan kepada suhu."
Setelah berkata demikian, mereka membalikan tubuh dan melangkah pergi dengan kepala tunduk.
"Ihhh, kenapa begitu bodoh, Keng Hong? Dari pada kedua kitab penting itu diserahkan kepada setan-setan gundul itu, lebih baik kau berikan kepadaku!"
Kata Cui Im pula dengan sikap genit, sama sekali tidak peduli bahwa di situ masih ada tiga belas orang lain.
Dia sama sekali tidak menyembunyikan sikapnya yang terang-terangan merayu pemuda itu dengan senyum bibir dan kerling mata memikat.
Wanita cantik baju hijau, murid Hoa-san-pai melihat ini lalu mengeluarkan suara mendengus tanda jijik dan berkata.
"Murid Sin-jiu Kiam-ong memang tidak ada bedanya dengan gurunya! Gurunya laki-laki cabul muridnya mana bisa berhati bersih? Kalau dia ini seorang bersih dan gagah, tentu menginsyafi kebiadaban gurunya terhadap Hoa-san-pai, sedikitnya tentu akan mengembalikan pedang pusaka Hoa-san-pai yang telah dicurinya. Akan tetapi, dia malah bersahabat dengan murid iblis betina Lam-hai Sin-ni. Mengharapkan apa lagi? Burung gagak takkan berkawan dengan burung hong, orang jahat tentu memilih kawan kaum sesat! Lebih baik kita pergi dan melaporkan kepada suhu!"
Kalau saja murid perempuan Hoa-san-pai itu hanya memaki-makinya, Keng Hong tentu tidak akan mengambil pusing.
Akan tetapi gadis itu membawa-bawa nama gurunya, bahkan memaki-maki gurunya.
Keng Hong memandang dengan mata marah, kemudian dia tersenyum sindir dan berkata.
"Nona yang baik, kalau aku tidak salah sangka, bibi atau bibi tuamu yang bernama Cui Bi dan yang lari dari Hoa-san-pai karena cintanya kepada mendiang suhu, tentu jauh lebih manis dari padamu, baik mukanya maupun budinya! Kalau tidak begitu, mana suhu mau membalas cintanya? Tentang pedang Hoa-san-pai, jangan khawatir, kalau aku mendapatkannya, pasti kukirim kembali ke Hoa-san-pai! Aku bersahabat siapapun juga, adalah hak kebebasanku dan tentang kaum bersih dan kaum sesat, aku tidak tahu. Yang kutahu bahwa engkau pun kurasa tidak begitu jijik untuk bercinta, buktinya pinggulku yang tidak tertutup ini masih terasa panas karena kau pegang-pegang dengan telapak tanganmu yang halus. Nah, mukamu menjadi merah. Semua orang melihat belaka betapa tadi engkau memegang-megang pinggulku. Hayo katakan, mau apa kau pegang-pegang pinggul orang?"
"Cih, laki-laki cabul.....!!"
Wanita murid Hoa-san-pai itu menjerit lalu membalikan tubuhnya dan lari, diikuti oleh tiga orang suheng-suhengnya.
"Heh-he-hi-hi-hik, mulutmu benar lihai sekali!"
Cui Im kembali bertepuk tangan, bahkan Biauw Eng juga tersenyum sedikit, akan tetapi alisnya yang hitam melengkung panjang itu berkerut.
Terlalu tajam mulut pemuda ini, pikirnya.
Kini tinggallah sembilan orang anggauta Kong-thong-pai dan mereka itu merasa ragu-ragu untuk membuka mulut, karena mendapat kenyataan bahwa selain ilmunya tinggi, juga pemuda itu mulutnya lihai sekali.
Melihat keadaan mereka, Keng Hong sudah mendahului dengan ucapan yang serius.
"Cui-wi enghiong adalah orang-orang gagah dari Kong-thong-pai yang tentu saja berpemandangan luas. Seperti Cui wi tentu telah mendengar penuturan orang-orang tua, urusan yang timbul antara mendiang suhu dengan Kong-thong-pai adalah karena dahulu suhu pernah menewaskan lima orang anak murid Kong-thong-pai. Sebab daripada bentrokan itu adalah karena kedua fihak berbantahan dalam sebuah rumah judi, sehingga urusan itu adalah urusan pribadi yang tidak menyangkut perkumpulan. Apalagi kalau diingat bahwa suhu telah meninggal dunia, demikian juga lima orang anggauta Kong-thong-pai itu. setelah kedua fihak yang bermusuhan sudah tewas semua, apakah kita yang tidak tahu apa-apa harus terseret ke dalam permusuhan? Apakah yang kita perebutkan?"
Para murid Kong-thong-pai dapat mengerti alasan ini dan diam-diam mereka ini kagum juga mendengar ucapan Keng Hong yang membayangkan pendapat yang dalam dan pandangan yang luas.Akan tetapi karena mereka itu seperti juga yang lain hanya merupakan pelaksana-pelaksana tugas, maka seorang tosu yang tertua di antara mereka segera berkata.
"Persoalannya tidaklah begitu sederhana, orang muda. Pula, kami hanyalah murid-murid yang melaksanakan perintah guru...."
"Hemmm, agaknya Kong-thong Ngo-lojin yang menurunkan perintah itu. baiklah, kalau begitu harap Cu-wi sampaikan kepada Kong-thong Ngo-lojin bahwa kalau mereka itu menginginkan barang-barang pusaka peninggalan suhu, suruh mereka pergi mencari sendiri karena hal itu merupakan keinginan pribadi mengapa membawa-bawa nama perkumpulan? Betapa banyaknya di dunia ini, manusia-manusia yang sebetulnya bercita-cita untuk kepentingan pribadi namun mempergunakan kedok demi perkumpulan mempergunakan anak buah dan para murid untuk berjuang demi perkumpulan, padahal sesungguhnya yang menjadi pamrih adalah kepentingan dan kesenangan pribadi!"
Sembilan orang anak murid Kong-thong-pai itu marah sekali karena nama baik guru-guru mereka dicela terang-terangan oleh pemuda yang masih ingusan ini, akan tetapi karena mereka mengerti bahwa melawan takan ada gunanya, mereka lalu membalikan tubuh dan pergi meninggalkan tempat itu sambil membantu kawan-kawan yang terluka.
"Bagus-bagus, Keng Hong! Engkau telah memberi tamparan dengan kata-kata kepada orang-orang yang mengaku sebagai golongan bersih, golongan suci, dan golongan pendekar-pendekar itu, hi-hi-hik!"
Cui Im berkata girang sambil merangkul pundak pemuda itu dengan sikap manja memikat.
"Cukup, Suci! Kita lanjutkan perjalanan!"
Terdengar Biauw Eng berkata, suaranya dingin dan sikapnya seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.
"Kereta sudah hancur oleh setan-setan itu, semua kuda binasa oleh Keng Hong. Wah, kita harus melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki, padahal masih amat jauh!"
Kata Cui Im dengan wajah jengkel. Akan tetapi gadis ini lalu tertawa memandang Keng Hong.
"Keng Hong, perjalanan masih jauh dan kita harus berjalan kaki. Mempergunakan ilmu lari cepat memang tidak kalah dengan berkuda atau berkereta, akan tetapi amat melelahkan. Bagaimana kalau kita saling gendong? Bergantian, kan enak? kalau sumoi mau, biarlah aku mengalah dan kau lebih dulu menggendong sumoi...."
"Suci, diam! Bukan waktunya untuk main-main!"
Bentak Biauw Eng dengan suara dingin dan ketus sehingga Cui Im tidak berani lagi membuka mulut.
"Nona berdua tidak perlu repot-repot karena perjalanan bersama kita hanya sampai di sini. Aku tidak dapat menemani kalian lebih lama lagi,"
Kata Keng Hong dengan suara tenang.
"Sudah cukup aku mendatangkan kerepotan dan bahaya bagi kalian, karena aku tahu bahwa selama nona berdua melakukan perjalanan bersamaku, tentu akan menghadapi bahaya serangan orang-orang kang-ouw yang kini seolah-olah memperebutkan aku."
"Ahhhh.....!!"
Cui Im mengeluarkan suara kecewa dan gadis ini lenyap pula sikapnya yang manis tadi, bahkan tangan kanannya bergerak mencabut pedangnya.
"Cia Keng Hong, engkau harus ikut bersama kami menghadap ibuku, Lam-hai Sin-ni, mau atau tidak, hidup atau mati!"
Suara Song-bun Siu-li Sie Biauw Eng terdengar tegas dan mengandung ancaman yang mengerikan.
Berbeda dengan Cui Im yang telah mencabut pedangnya, gadis berpakaian putih ini masih berdiri tenang, belum mengeluarkan senjata, bahkan sikapnya masih biasa, hanya sepasang matanya yang mengeluarkan sinar penuh ancaman maut.
Keng Hong menggeleng kepalanya.
"Tadinya memang aku berniat untuk menghadap Lam-hai Sin-ni dan niat itu terdorong oleh rasa terima kasihku kepada Sie-siocia yang telah menyelamatkan nyawaku dari ancaman pedang Cui Im. Akan tetapi, tadi ketika nona dikeroyok, aku telah membantumu dan berarti aku telah pula menyelamatkanmu, dengan demikian hutangku telah kubayar lunas. Karena itu, kini aku telah bebas dan aku tidak berniat untuk ikut bersama Ji-wi menghadap Lam-hai-Sin-ni!"
Setelah berkata demikian, Keng Hong mengangkat tangan ke depan dada memberi hormat, kemudian membalikan tubuhnya melangkah pergi meninggalkan dua orang gadis yang tertegun penuh kekecewaan.
"Keng Hong, pertama-tama kau mempermainkan aku, kini berani mempermainkan sumoi! Kau kira kami tak mampu menawanmu dengan kekerasan?"
Terdengar Cui Im membentak dan sinar merah berkelebat ketika gadis ini menerjang Keng Hong dari belakang.
Pengalaman-pengalaman pahit telah membuat Keng Hong hati-hati sekali menghadapi Cui Im.
Mendengar desing senjata yang menyerangnya, Keng Hong cepat miringkan tubuh sehingga sinar merah meluncur lewat di samping lehernya dan mengangkat tangannya dikibaskan ke arah pedang dan tangan yang memegang pedang.
Hawa pukulan yang amat kuat mendorong pedang dan tangan Cui Im dari bawah.
Gadis itu maklum akan lihainya tangan Keng Hong, cepat menarik tangannya namun masih saja tangannya terdorong ke samping begitu kerasnya sehingga tubuhnya ikut terdorong dan hampir dia terpelanting kalau tidak cepat meloncat menjauhi Keng Hong ke sebelah kiri.
"Kau tahu, aku tidak ingin bermusuhan denganmu, Cui Im,"
Kata Keng Hong.
"Harap kalian suka membiarkan aku pergi."
Akan tetapi dengan muka merah karena marahnya, Cui Im sudah siap menerjang lagi, kini tangan kirinya mencabut keluar sehelai saputangan merah, saputangan yang mengandung bubuk beracun dan yang pernah merobohkan Keng Hong.
Sambil berteriak keras Ang-kiam Tok-sian-li Bhe Cui Im menerjang lagi, pedangnya diputar menjadi sinar pedang merah bergulung-gulung seperti seorang penari selendang sutera merah, Kemudian ia menerjang Keng Hong dengan bacokan bertubi-tubi mengikuti perputaran pedang.
Keng Hong sudah siap dan waspada karena maklum bahwa bahaya besar mengancamnya, bukan dari pedang itu melainkan terutama sekali dari saputangan merah.
Maka dia segera menghindarkan diri dari terjangan pedang itu dengan meloncat cepat ke kanan.
Cui Im sudah menduga akan hal ini, bahkan sudah siap-siap, begitu tubuh Keng Hong berkelebat ke kanan tangan kirinya bergerak dan tiga batang jarum menyambar dari dalam saputangannya ke arah sepasang mata dan tenggorokan Keng Hong.
Pemuda itu berilmu tinggi namun belum banyak pengalamannya dalam pertandingan ini terkejut, cepat merendahkan tubuhnya setengah berjongkok sambil mengibaskan tangan kirinya ke atas sehingga tiga batang jarum itu terlempar entah ke mana.
Akan tetapi pada saat yang memang sengaja diciptakan Cui Im ini sinar merah dari saputangan sudah menyambar ke arah muka Keng Hong.
Didahului asap kemerahan dari bubuk racun berwarna merah.
Semenjak menjadi murid Sin-jiu Kiam-ong, Keng Hong setiap hari diberi minuman racun sedikit demi sedikit oleh Kiam-ong sehingga dari mulut sampai ke perutnya, Keng Hong mengenal segala macam racun bahkan menjadi kebal.
Akan tetapi menghadapi hawa beracun berupa asap atau bubuk yang tersedot melalui hidung dan menyerang paru-paru, dia tidak kebal.
Pengalamannya ketika dia roboh oleh racun saputangan merah itu membuat dia waspada.
Biar saat itu dia baru saja lolos dari cengkraman maut yang dibawa jarum-jarum itu sedangkan posisi tubuhnya setengah berjongkok sehingga sukar baginya untuk mengelak, Dia masih ingat akan bahaya ini maka dia telah menyedot napas dalam-dalam kemudian menutup saluran pernapasannya dan begitu gadis itu menubruk sambil mengebutkan saputangan ke arah mukanya, dia meniup ke arah saputangan itu dengan pengerahan tenaga lweekang.
Saputangan itu tiba-tiba saja membalik ke arah Cui Im sendiri tanpa dapat dicegah lagi oleh gadis ini yang menjadi terkejut dan menjerit.
Tentu saja dia sudah memakai obat penawar dan saputangannya itu tidak akan meracuninya, akan tetapi karena saputangannya itu tiba-tiba menyerang ke arah mukanya, sejenak dia tidak dapat melihat apa-apa dan secara tiba-tiba pergelangan tangan kanannya terasa nyeri sekali sampai menjadi lumpuh dan pedangnya terlepas dari pegangan.
Kiranya pergelangan tangan kanannya telah kena disentil oleh telunjuk kiri Keng Hong.
Melihat betapa dia berhasil membuat gadis yang ganas itu sementara tidak berdaya, Keng Hong cepat meloncat untuk lari pergi dari situ.
Akan tetapi selagi tubuhnya masih melayang di udara, tiba-tiba kaki kirinya dilibat sesuatu, kemudian kakinya tertarik ke belakang sehingga tanpa dapat dia cegah lagi tubuhnya terjungkal dan terbanting jatuh ke atas tanah!
Keng Hong cepat meloncat bangun dan seperti yang telah dia duga, Biauw Eng telah berdiri di hadapannya dengan senjatanya yang aneh, yaitu sabuk sutera putih yang kini ujungnya telah melibat kaki kirinya seperti ekor ular.
Biauw Eng mengerahkan tenaganya menarik lagi untuk membuat Keng Hong terjungkal, akan tetapi pemuda itu telah mengerahkan tenaga ke kaki kirinya sehingga biarpun gadis yang lihai itu membetot-betot sedikit pun, tubuhnya tidak bergeming!
Biauw Eng menjebikan bibirnya dan mendengus, sabuk yang melibat kaki itu tiba-tiba terlepas dan sinar putih berkelebat ketika sabuk itu bagaikan bernyawa telah meluncur ujungnya dengan kecepatan mengagumkan, kini menyerang sepeti ular mematuk ke arah mata Keng Hong!
Pemuda ini terkejut sekali, cepat dia miringkan kepala dan berusaha untuk mencengkeram sinar putih itu.
Akan tetapi ujung sabuk putih itu amat cepat gerakannya, tahu-tahu telah meluncur ke bawah dan tanpa dapat dielakan lagi oleh Keng Hong, ujung sabuk itu telah menotok jalan darahnya di tiga bagian secara bertubi-tubi.
Sungguh lihai nona itu, gerakan sabuknya amat cepat sehingga dalam waktu sedetik saja ujung sabuk telah menotok jalan darah di kedua pundak disusul totokan di atas ulu hati!
(Lanjut ke
Jilid 07) Pedang Kayu Harum (Seri ke 01-Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 07 Kalau hanya pendekar biasa saja terkena totokan berantai itu yang dilakukan dengan cepat dan keras karena tenaga lweekang tersalur melalui sabuk membuat ujung sabuk menjadi kaku, tentu roboh lemas tak mampu berkutik lagi.
Untung bagi Keng Hong bahwa biarpun suhunya belum cukup menggemblengnya dengan ilmu-ilmu silat tinggi, namun pemuda ini memiliki sumber tenaga sinkang yang amat kuat sehingga begitu tubuhnya disentuh pengaruh dari luar, otomatis sinkangnya bergerak dan pergelangan hawa sakti ini cepatnya melebihi segala macam gerakan yang dapat dilakukan manusia, maka totokan-totokan itu sedikit pun tidak mempengaruhi jalan darah di tubuh Keng Hong, bahkan hampir tidak terasa olehnya.
Sebaliknya, tangan Biauw Eng yang memegang sabuknya tergetar hebat karena tenaga totokan-totokan itu membalik dan menyerang tangannya sendiri!
Namun Biauw Eng yang merasa penasaran itu menerjang terus, kini ia memegang cambuknya di bagian tengah dan cambuk itu bergerak-gerak sedemikian rupa, kedua ujungnya menyerang cepat sehingga seolah-olah telah berubah menjadi ratusan banyaknya.
Hebatnya, kini ujung cambuk tidak lagi menotok jalan-jalan darah yang diketahui gadis itu takkan ada hasilnya, melainkan menotok ke arah bagian-bagian berbahaya seperti kedua mata, telinga, tenggorokan, pusar dan bawah pusar, pergelangan tangan, siku, dan lutut.
Tentu saja Keng Hong menjadi sibuk sekali, selain mengelak ke sana ke mari juga dia mengibaskan kedua tangannya untuk menghalau sinar putih yang mengeroyoknya secara hebat itu.
Selagi dia terdesak, tampak sinar merah berkelebat dan kiranya Cui Im telah pula membantu sumoinya!
"Cia Keng Hong menyerahlah kalau tidak ingin kami seret ke depan subo sebagai mayat!"
Bentak Cui Im yang di dalam hatinya masih merasa sayang kalau seorang pria seperti Keng Hong harus mati.
Akan tetapi kesempatan itu dipergunakan oleh Keng Hong untuk meloncat jauh hendak melarikan diri.
Sesungguhnya, kalau pemuda ini menggunakan ginkangnya, biarpun dua orang murid Lam-hai Sin-ni itu dapat bergerak cepat, mereka masih tidak akan mampu mengimbangi gikang yang dimiliki Keng Hong.
Akan tetapi karena mereka itu pandai menggunakan senjata rahasia, mereka mengejar sambil menyerang Keng Hong dengan senjata rahasia ini.
Cui Im menghujankan jarum-jarum beracun, bahkan meledakan bola-bola peledak yang mengeluarkan asap hitam namun yang kini tidak dapat mempengaruhi Keng Hong yang sudah menahan napas.
Sedangkan Biauw Eng menyerang dari belakang dengan senjata rahasia tusuk konde perak yang kepalanya berukiran bunga bwee.
Mendengar desir angin senjata-senjata rahasia ini, Keng Hong mengelak dan mengibaskan kedua tangan sambil membalik sehingga semua senjata rahasia runtuh oleh angin yang menyambar dari kedua tangannya.
Karena itu tentu saja larinya terlambat dan dua orang gadis itu sudah menerjangnya lagi dengan dahsyat.
Keng Hong menjadi repot sekali setelah sinar merah pedang Cui Im menyambar-nyambar di antara sinar putih sabuk Biauw Eng yang berkelebatan membentuk lingkaran-lingkaran maut.
Dalam keadaan terdesak timbul marahnya.
Tadinya dia tidak mau membalas karena dia tidak tega untuk melukai dua orang gadis itu, terutama sekali Biauw Eng yang dalam pandangannya merupakan seorang gadis remaja yang selain cantik jelita dan tidak genit seperti Cui Im, namun juga telah menyelamatkan nyawanya.
Akan tetapi setelah sekarang didesak hebat, mau tidak mau dia harus membela diri.
Untuk menggunakan sinkangnya yang luar biasa, yaitu menggunakan daya sedot yang mengalahkan banyak orang pandai, selain tidak tega juga dia tidak mempunyai kesempatan.
Dua orang gadis berilmu tinggi ini agaknya maklum akan ilmunya yang mujijat itu dan mereka tidak pernah mendekatkan diri, Tidak pernah memberi kesempatan untuk ditangkap tangan pemuda yang mempunyai ilmu mujijat, melainkan menyerang dari jarak jauh mengandalkan panjangnya senjata mereka.
Tiba-tiba lingkaran sinar putih itu berkelebat menyambar ke arah kedua matanya, bukan hanya dengan satu kali totokan, melainkan secara bertubi-tubi sehingga repotlah Keng Hong harus mengelak ke kanan kiri dan ke belakang.
Pada saat pandang matanya menjadi silau dan kabur, dia mendengar desing pedang Cui Im mengarah lambungnya.
Cepat dia miringkan tubuh, namun pedang itu mengejarnya dan merobek celana berikut kulit dan sedikit kulit daging pahanya.
Darah mengalir dan Keng Hong menjadi marah sekali.
Sambil mengeluarkan gerengan dahsyat, tangannya meraih ke arah pedang yang tajam.
Namun tangannya berhasil mencengkram pedang dan sekali renggut pedang itu pindah tangan!
Kemudian dia melempar pedang itu jauh-jauh dan kembali tangannya kini mencengkram ke arah sinar putih, berhasil menangkap sabuk sutera itu dan dia mengerahkan tenaganya merenggut.
Akan tetapi, Biauw Eng mempertahankan sabuknya dan akibatnya tubuh gadis ini terbawa oleh tenaga renggutan yang amat kuat, tubuhnya terangkat ke udara.
Keng Hong terkejut dan melepaskan sabuk itu dan hal ini malah mengakibatkan seolah-olah tubuh gadis itu dilempar ke atas.
Cui Im berteriak ngeri melihat tubuh sumoinya terlempar ke atas seperti itu.
Juga Keng Hong terbelalak memandang, namun dia bernapas lega dan penuh kagum dia mengikuti gerakan gadis baju putih itu.
Biarpun tubuhnya terlempar dengan cepat sekali, ternyata Biauw Eng tidak kehilangan akal.
Di atas udara, tubuhnya dapat berjungkir balik dan sabuk di tangannya menyambar ke depan, ujungnya mengait dan menbelit dahan pohon sehingga tubuhnya tergantung dan luncuran itu patah.
Kemudian dengan ringan ia meloncat turun membawa sabuknya, bukan meloncat biasa, melainkan meloncat sambil menyerang Keng Hong dengan sambaran sabuk putih.
Juga Cui Im yang menjadi lega melihat sumoinya selamat, sudah menyerang lagi, bukan dengan senjata tajam karena pedangnya sudah dilempar entah ke mana, melainkan dengan cengkeraman-cengkeraman tangan yang menangkap pemuda itu diseling cengkeraman-cengkeraman ke arah bagian tubuh yang lemah.
Keng Hong menjadi lemas.
Dua orang gadis ini benar-benar keras kepala dan sudah nekat sekali.
Setelah dia meloncat mundur dan melihat dua orang gadis itu terus maju menerjangnya, Dia mengeluarkan pekik yang melengking nyaring terbawa oleh sinkang yang terdorong hawa marah, tubuhnya sudah mencelat ke atas dan dari atas dia menggerakan kaki tangannya yang menyerang yang menyerang ke depan bertubi-tubi, menimbulkan hawa pukulan amat kuat yang menyerang dua orang gadis itu dari kanan kiri, atas dan bawah.
Inilah jurus yang terakhir atau jurus ke delapan dari ilmu pukulan San-in-kun-hoat yang hanya terdiri dari delapan jurus itu.
Biarpun hanya terdiri dari delapan jurus, namun ilmu silat yang kelihatannya sederhana ini merupakan gerakan-gerakan inti sari dari ilmu silat tinggi, maka jurus ini yang disebut jurus In-keng-hong-wi (Awan Menggetarkan Angin Hujan) amatlah hebatnya sehingga pernah Kiang Tojin tokoh Kun-lun-pai yang amat sakti itu sendiri menjadi gelagapan dan kelabakan menghadapi jurus ini.
Selain jurusnya yang amat hebat, yaitu dilakukan dari udara dengan terjangan dua pasang kaki tangan yang digerakan secara bertubi-tubi, juga terutama sekali karena kedua tangan dan kedua kaki Keng Hong itu mengandung hawa sakti yang amat kuat.
Dua orang murid Lam-hai Sin-ni itu merupakan orang-orang yang lihai, terutama sekali Biauw Eng.
Menghadapi serangan yang tiba-tiba dilakukan Keng Hong ini, mereka tidak gentar, akan tetapi juga tidak berani menangkis, melainkan menggunakan kegesitan tubuh mereka mengelak.
Akan tetapi alangkah kaget hati kedua orang gadis itu ketika mereka mengelak, mereka bertemu dengan angin pukulan dari mana-mana, seolah-olah gerakan serangan Keng Hong ini mendatangkan semacam angin berpusingan yang datang dari sekitar mereka.
"Aihhhh....!!"
Cui Im sudah menjerit dan tubuhnya terpelanting seperti tersedot angin ke arah Keng Hong, Sedangkan Biau Eng berusaha menahan dan terhuyung-huyung, juga mendekati Keng Hong.
Kalau pemuda itu melanjutkan pukulan dan tendangannya, kedua orang gadis yang mendekat itu berada dalam jarak jangkauannya.
Akan tetapi tiba-tiba Keng Hong mendengus dan menarik kembali kaki tangannya, lalu mengenjot tubuh dan lari menjauh tanpa menoleh lagi.
Akan tetapi Cui Im dan terutama sekali Biauw Eng bukanlah gadis-gadis yang mudah putus asa.
Sama sekali tidak.
Sejak kecil mereka dilatih untuk bersikap berani dan pantang mundur, kalau perlu mengejar cita-cita dengan taruhan nyawa.
Kini melihat betapa pemuda yang tadinya sudah menjadi tawanan mereka itu hendak meloloskan diri, mereka menjadi penasaran dan hanya sebentar saja mereka tadi tertegun dan terkesima menyaksikan kehebatan jurus yang hebat dari pemuda itu.
Setelah Keng Hong Lari, keduanya lalu mengejar dan kembali mereka menghujankan senjata rahasia mereka.
Keng Hong tidak mengelak, juga tidak menangkis karena pada saat pemuda itu menggerakan tubuhnya, tiba-tiba pemuda itu merasa tubuhnya kaku tak dapat digerakan, tanda bahwa jalan darahnya tertotok secara hebat sekali.
Hal ini dapat terjadi karena dia hanya memusatkan perhatian di sebelah belakang karena dia tahu bahwa dua orang gadis nekat itu mengejarnya.
Ia tadi hanya melihat bayangan berkelebat dekat dan tiba-tiba tubuhnya menjadi kaku tertotok?
Andaikata dia tadi tahu akan serangan luar biasa ini dan mengerahkan sinkang, kiranya takkan mudah dia tertotok.
Keanehan yang terjadi pada diri Keng Hong ini terlihat oleh dua orang gadis pengejarnya itu dalam keadaan lain.
Mereka hanya melihat Keng Hong diam tak bergerak, juga tidak mengelak serangan senjata-senjata rahasia itu sehingga mereka sendiri menjadi kaget dan mengira bahwa tentu pemuda itu tewas oleh penyerangan senjata-senjata rahasia mereka yang beracun dan lihai.
Akan tetapi tiba-tiba mata mereka terbelalak karena tahu-tahu di belakan Keng Hong muncul seorang nenek dan semua senjata rahasia itu runtuh oleh kebutan rambut kepala nenek itu yang digerakan ke depan!
Nenek itu tertawa-tawa, seorang nenek yang amat menyeramkan.
Usia nenek ini tentu tidak kurang dari delapan puluh tahun, namun mukanya merah seperti berlumur darah, giginya besar-besar, rambut kepalanya riap-riap dan panjang.
Mukanya yang buruk menakutkan itu tidak sesuai dengan tubuhnya, bia tubuh seorang nenek-nenek, namun pakaian sutera hitam itu mencetak bentuk tubuh yang masih padat dengan sepasang buah dada yang besar!
"Bibi Ang-bin Kwi-bo.....!!"
Bhe Cui Im berseru kaget dan cepat membungkuk penuh hormat.
Di kalangan kaum sesat, sebutan untuk mereka yang lebih tinggi kedudukannya tidak dipergunakan ucapan menghormat atau sungkan, maka Cui Im biarpun kelihatan takut-takut dan menghormati nenek ini, tetap saja ia tidak segan-segan menyebut julukan nenek itu yang tidak sedap, yaitu Ang-bin Kwi-bo (Hantu Wanita Bermuka Merah).
"Hi-hi-hik! Kalian murid-murid Lam-hai Sin-ni benar-benar tidak memalukan menjadi murid orang pandai. Karena kulihat kalian berhasil menemukan bocah ini akan tetapi tidak berhasil menguasainya, maka biarlah kalian serahkan bocah ini kepadaku dan sebagai upah jerih payah kalian yang sudah dapat menemukannya, biarlah aku tidak membunuh kalian dan kalian boleh pergi dengan aman!"
Ucapan seperti ini bagi telinga Keng Hong merupakan ucapan yang terlalu bocengli dan mau mencari enak perutnya sendiri.
Akan tetapi bagi dua orang gadis itu tidak aneh karena mereka sendiri pun sejak kecil dididik untuk membawa pendapat sendiri tanpa mempedulikan kesopanan dan keadilan umum, pendeknya yang benar bagi mereka adalah kalau setiap tindakan ditujukan untuk keuntungan diri pribadi.
Karena itu, ucapan nenek ini pun tidak mereka anggap bocengli, bahkan sudah wajar!
Cui Im yang sudah mengenal betapa saktinya Ang-bin Kwi-bo yang merupakan seorang di antara Bu-tek Su-kwi (Empat Iblis Tanpa Tanding), setingkat dengan gurunya, tidak berani menentang dan hanya menundukan muka tanpa menyerah.
Akan tetapi sikapnya berbeda dengan Biauw Eng.
Gadis ini adalah puteri Lam-hai Sin-ni, dan karena tugas yang dilaksanakan ini adalah perintah ibunya, maka tentu saja mengandalkan nama besar ibunya yang tidak mau mengalah dan mempertahankan haknya sebagai orang yang menahan Keng Hong.
"Menyesal sekali bahwa terpaksa saya tidak dapat memenuhi kehendak bibi itu, karena tugas ini perintah dari ibu sehingga terpaksa saya harus mempertahankan hak saya atas diri murid Sin-jiu Kiam-ong yang telah kami tawan."
Mendengar ini, Ang-bin Kwi-bo menjadi tercengang dan ia memandang gadis baju putih itu penuh perhatian. Kemudian ia tertawa terkekeh dan berkata.
"Eh, kiranya engkau ini puteri Lam-hai Sin-ni? Engkaukah yang membuat nama besar dengan julukan Song-bun Siu-li itu?"
"Benar, bibi. sayalah Song-bun Siu-li Sie Biauw Eng."
"Hi-hi-hik! Engkau berani melawan aku?"
"Saya harus tahu diri dan saya maklum bahwa bibi bukanlah lawan saya. Seharusnya saya takut melawan bibi, akan tetapi saya lebih takut menghadapi ibu kalau saya melalaikan tugas yang diperintahkannya."
"Bagus! Kalau begitu, biarlah kita menggunakan hak seorang pemenang dan mari kita lihat siapa di antara kita yang akan menang dan berhak atas diri bocah ini!"
Sambil berkata demikian, Ang-bin Kwi-bo sudah meloncat ke depan menghadapi Biauw Eng yang sudah siap pula dengan senjatanya.
Gadis ini bersikap hati-hati sekali karena ia cukup maklum bahwa ia menghadapi lawan yang jauh lebih tinggi tingkatnya.
Namun sedikit pun tidak terbayang rasa gentar pada wajahnya yang cantik namun dingin itu.
"Hi-hi-hik lumayan juga engkau! Agaknya sudah cukup matang sehingga maklum bahwa yang diam lebih kuat daripada yang bergerak, yang diserang lebih untung daripada yang menyerang. Biarlah, kau jaga seranganku!"
Ucapan Ang-bin kwi-bo ini memang berlaku bagi dua orang lawan yang setingkat kepandaiannya, karena dalam ilmu silat, yang diam itu lebih waspada sedangkan si penyerang selalu membuka lubang untuk dirinya sendiri dan penyerangannya membuat kedudukannya agak lemah.
Akan tetapi tingkat kepandaian Ang-bin Kwi-bo jauh lebih tinggi dari pada tingkat kepandaian Sie Biauw Eng.
Gadis ini paling banyak baru dapat mewarisi setengah kepandaian ibunya, sedangkan tingkat kepandaian Lam-hai Sin-ni yang merupakan orang terpandai di antara empat tokoh datuk sesat, namun tidak banyak selisihnya.
Biarpun Ang-bin Kwi-bo menyatakan hendak menyerang, namun kedua kakinya tidak bergerak maju, juga kedua tangannya tidak bergerak.
Yang bergerak hanya kepalanya karena ia menggunakan rambutnya yang riap-riapan itu untuk menyerang!
Baca Juga: Istana Pulau Es 12
Baca Juga: Suling Emas 7