Eps 7 Suling Emas - Kho Ping Hoo
Baca online Suling Emas - Kho Ping Hoo
Cersil Suling Emas - Kho Ping Hoo.
Setelah Lu Sian pergi, barulah penduduk dusun itu geger, berlarian keluar dari rumah dengan muka pucat.
Dihalaman pondok yang tadinya dijadikan sarang asmara sepasang orang muda itu, di mana setiap hari orang-orang dusun melihat mereka berkasih-kasihan, kini penuh dengan tubuh bergelimpangan, ada yang sudah mati, ada yang terluka parah, dan kesemuanya mandi darah!
Ngeri sekali pemandangan itu, akan tetapi karena tidak ada pertempuran lagi, orang-orang dusun mulai turun tangan menolong mereka sedapatnya.
Semenjak peristiwa ini, mulailah nama Liu Lu Sian dikenal sebagai seorang wanita yang selain cantik jelita dan mudah menggoncangkan batin dan membobolkan pertahanan hati para pria, juga amat ganas dan kejam menghadapi mereka yang ia anggap musuh.
Pendeknya, bagi seorang pria yang disuka oleh Lu Sian, wanita ini tentu akan menjadi seorang dewi khayangan yang penuh dengan madu, mesra dan menggairahkan.
Sebaliknya bagi pria yang dibencinya, Lu Sian, tentu akan berubah menjadi iblis betina yang haus darah.
Para piauwsu yang tidak mati, tentu saja merupakan pemberita yang aktif tentang diri Lu Sian sehingga sebentar saja Lu Sian dijuluki Tok-siauw-kwi (Setan Kecil Beracun)!
Seorang anak kecil berusia sembilan tahun pergi dari rumah memasuki dunia luar yang tak pernah dikenalnya, tanpa sanak kadang, tanpa tujuan, sudah tentu merupakan hal yang amat sengsara.
Sembilan daripada sepuluh orang anak kecil tentu akan menangis dan minta diantar pulang oleh siapa saja yang dijumpainya kalau ia sudah kehabisan bekal dan tidak tahu harus makan apa dan minta tolong kepada siapa.
Akan tetapi, Bu Song biarpun berusia sembilan tahun, namun ia bukan anak sembarangan.
Semenjak berusia lima tahun ia sudah diajar membaca dan menulis.
Setiap hari ia dijejali kitab-kitab dan pada masa itu, yang disebut kitab pelajaran hanyalah kitab-kitab filsafat, kitab-kitab sajak dan agama yang isinya berat-berat, segalanya ada hubungannya dengan kebatinan.
Sekecil itu, Bu Song sudah mempunyai pemandangan yang luas, sudah dapat mempergunakan kebijakan dan dapat menangkap suara batin.
Ia adalah putera Jenderal Kam Si Ek, seorang pahlawan yang patriotik, yang berdisiplin dan berbudi.
Ibunya adalah seorang yang memiliki watak aneh dan keras membaja.
Agaknya Bu Song mewarisi watak ibunya ini, maka hatinya keras, kemauannya besar dan kenekatannya bulat.
Sekali ia mengambil keputusan, akan diterjangnya terus tanpa takut apa pun juga.
Kekerasan hati inilah yang banyak menolongnya dalam perantauan yang tiada tujuan ini, kekerasan hati yang takkan dapat dilemahkan oleh ancaman maut sekalipun.
Kemudian kebijaksanaan dan disiplin diri yang ia warisi dari ayahnya membuat ia dapat saja mencari jalan hidup.
Bekalnya tidak banyak, namun sebelum habis sama sekali, ia sudah mempergunakan tenaganya untuk memenuhi kebutuhan perutnya.
Ia tidak malu-malu untuk minta pekerjaan betapa kasar pun disetiap dusun, sekedar minta upah sebagai pengisi perutnya.
Memotong kayu, menjaga sawah, mengembala kerbau, menggiling tahu, menuai gandum, bahkan mengangkut batu kali, apa saja akan dikerjakannya.
Tenaga anak ini memang besar dan tubuhnya juga tegap.
Namun tak pernah tinggal terlalu lama disebuah tempat, karena ia mau bekerja hanya untuk menyambung hidupnya.
Biarpun ayah bundanya adalah jagoan silat yang jarang ditemui tandingannya, namun Bu Song yang berusia sembilan tahun itu sama sekali tidak mengerti ilmu silat.
Ia pun tidak ingin belajar silat, karen sejak kecil, kitab-kitab filsafat dan nasihat-nasihat ayahnya membuat ia mempunyai pandangan rendah terhadap ahli silat.
Ahli silat hanya menyeretmu ke dalam pekerjaan kasar dan kotor, demikian nasihat ayahnya.
Menjadi tentara, menjadi tukang pukul, menjadi pengawal, atau menjadi perampok!
Kesemuanya membutuhkan ilmu silat untuk melawan musuh, untuk membunuh orang lain dalam permusuhan pribadi!
Memang ada yang dapat mempergunakan ilmu silat untuk menjadi pendekar dan berbakti untuk negera, membasmi musuh negara, akan tetapi berapa banyaknya?
Kecil sekali dibandingkan dengan yang menyeleweng menjadi penjahat mengandalkan kekuatan dan kepandaian silatnya.
Inilah sebabnya mengapa Bu Song sama sekali tidak bisa ilmu silat, namun ia pandai bersajak, pandai pula menulis dan menggambar huruf hias.
Karena kekerasan wataknyalah maka ia "memaksa diri"
Untuk membenci ilmu silat, padahal wataknya yang keras, jujur, tubuhnya yang tegap dan tenaganya yang besar itu menunjukkan bahwa ia memiliki bakat baik untuk menjadi pendekar, bukan menjadi seorang sastrawan!
Karena semenjak kecil ia memang hidup sebagai putera seorang pembesar yang serba cukup, maka biarpun sekarang telah menjadi seorang "gelandangan", namun Bu Song selalu dapat menjaga dirinya agar tetap bersih dan sehat, biarpun pakaiannya kemudian habis dijualnya untuk makan sehingga yang dimilikinya hanya yang menempel pada tubuhnya, namun ia merawat pakaian itu dengan hati-hati, mencucinya setiap kali pakaian itu kotor.
Oleh karena inilah, Bu Song selalu tampak sehat dan bersih, tidak seperti seorang anak jembel.
Pada suatu hari dalam perantauannya tanpa arah, tibalah Bu Song di lembah Sungai Huai yang subur daerahnya.
Ia meninggalkan Kabupaten Jwee-bun dimana ia tinggal selama sebulan dan bekerja membantu seorang pemilik rumah makan.
Kini, dengan bekal sisa uang gajinya, Bu Song berangkat pagi-pagi meninggalkan Jwee-bun, terus ke timur melalui hutan-hutan kecil sepanjang lembah sungai.
Matahari sudah naik tinggi, sinarnya menerobos celah-celah daun pohon diatas kepalanya.
Angin semilir berdendang dengan daun bunga, mengiringi nyanyian burung-burung hutan.
Disana-sini, binatang kelinci dengan telinganya yang panjang-panjang berlompatan saling kejar dan bermain "sembunyi-cari"
Dengan teman-temannya diantara rumpun.
Demikian indah pemandangan, demikian merdu pendengaran, demikian nyaman perasaan pada pagi cerah itu sehingga Bu Song lupa akan segala kesukaran yang pernah ia alami maupun yang akan ia hadapi.
Anak ini berdiri diam tak bergerak agar jangan mengagetkan kelinci-kelinci itu, menonton mereka bermain-main dengan hati geli.
"Ha-ha-ha-ha! Akulah raja diantara segala raja! Dikawal monyet-monyet berkuda! Ha-ha-ha!"
Bu Song tersentak kaget mendengar tiba-tiba ada suara ketawa yang disambung kata-kata yang dinyanyikan itu.
Suara itu datangnya dari belakang, masih jauh sekali.
Heran sekali ia, mengapa didalam hutan sesunyi ini ada seorang bernyanyi seaneh itu.
Orang gilakah?
Akan tetapi ia menjadi makin heran ketika mendengar suaran kaki kuda, kemudian melihat munculnya lima ekor kuda besar-besar ditunggangi lima orang yang wajahnya kelihatan bengis-bengis.
Kuda terdepan yang ditunggangi oleh seorang laki-laki tinggi besar bermuka hitam, menyeret seorang laki-laki yang rambutnya compang-camping penuh tambalan.
Laki-laki aneh inilah yang agaknya bernyanyi tadi, karena memang keadaannya seperti orang gila.
Kedua lengannya terikat dengan tali yang cukup besar dan kuat, dan ujung tali ikatan ini dipegang oleh Si Penunggang Kuda.
Si gila ini tangan kanannya memegang sebuah paha panggang yang besar, mungkin paha angsa atau kalkun, yang digerogotinya.
Biarpun kedua lengannya terikat, ia kelihatan enak-enak saja, diseret kuda ia malah menari dan bernyanyi-nyanyi, sama sekali tidak kelihatan takut.
Terang dia gila, pikir Bu Song.
Ia memperhatikan lima orang itu.
Mereka kelihatan galak dan membawa senjata tajam.
Rasa iba menyesak didadanya.
Orang itu jelas gila, berarti dalam sakit.
Kenapa harus disiksa seperti itu?
Tentu saja Bu Song tidak tahu bahwa yang ia sangka gila itu adalah seorang sakti yang telah menggemparkan dunia kang-ouw dengan perbuatannya yang hebat dalam menentang kejahatan, disertai tindakannya yang selalu edan-edanan seperti orang tidak waras otaknya.
Dan agaknya sangat boleh jadi lima orang itu juga seperti Bu Song, tidak tahu sama sekali bahwa yang mereka tangkap itu adalah Kim-mo Taisu, pendekar sastrawan gila yang dahulu adalah seorang sastrawan tampan dan gagah bernama Kwee Seng dan berjuluk Kim-mo eng!
Terdorong oleh rasa kasihan, Bu Song berlari menghampiri orang gila itu.
"He, bocah! Mau apa kau??"
Seorang diantara para penunggang kuda itu membentak, tangannya bergerak dan cambuk ditangannya itu mengeluarkan bunyi "tar-tar-tar"
Seperti mercon.
"Aku hanya ingin bicara dengan Paman ini, apa salahnya?"
Bu Song menjawab dan ia nekat mendekati terus biarpun ia diancam dengan cambuk yang panjang dan dapat berbunyi menakutkan itu.
Laki-laki gila itu dengan enaknya menggigit sepotong daging dari paha panggang yang dipegangnya, lalu melirik kekanan memandang Bu Song, tertawa dan berkata.
"Eh, bocah sinting! Kau lapar? Nih, kau boleh gigit dan makan sepotong!"
Sedapatnya ia mengeluarkan tangannya yang terikat untuk memberikan paha panggang itu kepada Bu Song.
"Tidak, Paman, aku tidak lapar. Kau makanlah sendiri."
Bu Song terpaksa harus maju setengah berlari untuk mengimbangi orang gila yang terseret dibelakang kuda itu.
Orang gila itu terpaksa pula melangkah lebar dan terhuyung-huyung.
"Paman, kenapa kau ditawan? Apakah kesalahanmu? Dan kau hendak dibawa kemana?"
"Bocah gila! Pergi kau! Tar-tar-tar!"
Cambuk ditangan penunggang kuda yang paling belakang, melecut kearah Bu Song dan orang gila itu.
Cambuk itu panjang dan tangan yang memegangnya biarpun kurus namun bertenaga sehingga lecutan itu keras sekali, tepat mengenai pundak Bu Song dan leher orang gila.
Akan tetapi anehnya, Bu Song sama sekali tidak merasa sakit karena ujung cambuk itu ketika mengenai tubuhnya, terpental kembali seakan-akan tertangkis tenaga yang tak tampak.
"Heh-heh-heh, bocah sinting, kenapa kau bertanya-tanya?"
Si Gila itu berkata kepada Bu Song sambil tertawa menggerogoti paha panggang pula.
"Aku kasihan kepadamu, paman. Biarlah kumintakan ampun untukmu..."
"Hush, jangan goblok! Aku memang berdosa, aku mencuri paha panggang ini, ha-ha-ha, dan untuk itu aku harus menerima hukuman. Biarlah aku diseret dan baru hukum seret ini habis kalau paha ini pun habis kumakan."
"Kau masih tidak mau pergi?!"
Kembali Si Penunggang Kuda mencambuk, kini ujung cambuk mengenai pipi Bu Song, terasa sakit dan panas.
Namun Bu Song memang keras hati, ia tidak mundur, dan terus berlari disebelah Si Gila.
Kini orang gila itu memandang kepadanya dengan mata bersinar-sinar, memandang kearah jalur merah dipipi yang tercambuk.
"Ha-ha-ha, bocah, kau lumayan! Kau mau tahu? Mereka ini adalah lima ekor monyet yang hendak menangkap anjing, akan tetapi sayang kali ini mereka menangkap harimau. Ha-ha-ha-ha! Nah, pergilah kau, sampai jumpa pula!"
Tentu saja Bu Song sama sekali tidak mengerti akan maksud kata-kata Si Gila itu, hanya ia dapat menduga bahwa Si Gila ini tentu memaki para penawannya yang disebut sebagai lima ekor monyet.
Menurut dugaannya, Si Gila ini malah mengumpamakan diri sebagai harimau.
Mempergunakan kata-kata bersajak mengandung sindiran yang memaki orang!
"Cerewet, masih pura-pura gila?
Bocah setan, apa kau bosan hidup?"
Kembali cambuk itu melecut, mengenai kaki Bu Song dan sekali cambuk itu digerakkan, Bu Song terlempar ke pinggir jalan, bergulingan.
Kulitnya lecet-lecet, akan tetapi Bu Song tidak pedulikan rasa sakitnya.
Cepat ia bangun berdiri dan sempat melihat betapa orang gila itu kini terseret-seret karena lima ekor kuda itu dilarikan cepat-cepat.
Biarpun terseret-seret jatuh bangun dan terhuyung-huyung, namun Si Gila itu masih tertawa-tawa dan bernyanyi dengan suara riang dan nyaring.
Bu Song berdiri bengong, penuh iba dan juga penuh kagum kepada orang gila itu.
Biarpun kelihatannya terseret-seret kuda, tentu saja sebetulnya hal itu disengaja oleh Kim-mo Taisu Kwee Seng!
Pagi hari itu, baru saja ia bangun dari tidur nyenyak di sebelah kuil bobrok di luar kota Kabupaten Jwee-bun ketika lima orang penunggang kuda itu serentak menyergapnya.
Karena tidak tahu apa urusannya, Kwee Seng tidak melawan dan memang pada saat itu, gilanya sedang kumat.
Malam tadi ia terlalu banyak minum arak yang dicurinya dari rumah makan terbesar di kota itu, minum-minum sampai mabok dan kalau sudah begini, tentu ia teringat akan semua pederitaannya sehingga membuat ia tertawa-tawa dan menangis seorang diri.
Ketika lima orang itu menyergapnya dan mengikat kedua lengannya dengaa tali yang khusus dipergunakan ahli-ahli silat untuk membelenggu lawan, ia hanya tertawa-tawa dan memutar-mutar biji matanya.
Orang tinggi besar muka hitam yang memimpin rombongan lima orang itu, setelah membelenggu kedua tangannya, lalu bertolak pinggang dan berkata.
"Kami adalah murid-murid tertua dari perkumpulan Sian-kauw-bu-koan (Perkumpulan Silat Monyet Sakti). Kami mentaati perintah Suhu menyelidiki dan mengejar penjahat yang tiga malam yang lalu telah mengganggu rumah Suhu. Kau lah agaknya orangnya, karena kau lah orang baru yang kami temui dan jelas bahwa kau pandai ilmu silat, hanya berpura-pura gila. Kami takkan membunuhmu sebelum kau dihadapkan kepada Suhu."
Demikianlah, Kwee Seng digusur keluar lalu mereka menunggang kuda dan menarik Kwee Seng yang dibelenggu itu keluar dari Jwee-bun.
Akan tetapi, Kwee Seng menari-nari dan bernyanyi-nyanyi.
"Akulah raja-diraja! Pengawal-pengawalku monyet-monyet berkuda!"
Ia menari-nari dipinggir-pinggir jalan dan ketika mereka lewat didepan rumah makan, kaki Kwee Seng menendang meja.
Anehnya, meja itu tidak roboh, hanya panggang paha yang berada ditempatnya telah berloncatan.
Kwee Seng tertawa dan menyambar sebuah paha panggang yang meloncat di dekatnya, terus saja digerogotinya paha panggang yang masih panas itu sambil mulutnya mengoceh.
"enak... enak, gurih sedap...!"
Pemilik warung marah-marah, bersama beberapa orang pembantunya memungut paha panggang yang berjatuhan ditanah, kemudian mereka hendak memukuli oarng gila itu.
Akan tetapi Si Muka Hitam membentak.
"Jangan sembarangan pukul tawanan kami! Nih, kerugianmu kuganti!"
Ia melemparkan sepotong uang perak yang diterima oleh pemilik warung dengan girang.
Arak-arakan itu kemudian menjadi tontonan, anak-anak menggoda Kwee Seng, orang-orang tua mempercakapkan kejadian aneh itu.
Menyaksikan tingkah Kwee Seng yang mencuri paha panggang, dan melihat betapa kepala rombongan orang berkuda itu dengan baik membayar kerugian Si Tukang Warung, otomatis semua orang berpihak kepada para penunggang kuda dan menduga bahwa orang gila itu tentulah telah melakukan perbuatan jahat.
Kwee Seng terus diseret berlari-lari dibelakang kuda sambil tetap menggerogoti daging paha.
Setelah dagingnya habis semua tinggal tulang yang juga ia gigit pecah ujungnya untuk dihisap sum-sumnya, mendadak Kwee Seng berhenti dan berkata.
"Sudah cukup! Paha curian sudah habis, hukumanku pun habis!"
Kuda didepannya lari terus, akan tetapi penunggangnya, Si Muka Hitam yang memegangi ujung tali belenggu, tersentak kebelakang dan jatuh melalui ekor kuda!
Ia kaget sekali, berseru keras dan tubuhnya membuat salto sehingga ia dapat jatuh melalui ekor kuda!
Ia kaget sekali, berseru keras dan tubuhnya membuat salto sehingga ia dapat jatuh berdiri diatas tanah sambil membelalakkan matanya.
Empat orang kawannya juga cepat melompat turun dan mencabut senjata masing-masing, sikap mereka mengancam, akan tetapi juga agak jerih.
Kwee Seng menggerakkan kedua tangannya dan "bret, brett"
Tali yang mengikat pergelangan kedua tangannya putus dengan mudah.
Kembali lima orang itu terkejut, juga Si Tinggi Besar muka hitam sudah mencabut goloknya, siap menghadapi tawanan yang memberontak ini.
Kwee Seng tertawa bergelak, menoleh kekanan kiri memandang lima orang yang mengurung nya.
"heh-heh, habis makan tidak minum, sungguh tak enak sekali. Eh, sahabat-sahabat seperjalanan, siapa diantara kalian yang mempunyai arak? Aku ingin sekali minum!"
Empat orang itu sudah gatal-gatal tangannya hendak menerjang, akan tetapi Si Muka Hitam menggeleng kepala, menghampiri kudanya yang sudah dipegang oleh seorang temannya, mengeluarkan sebuah guci arak dan melemparkannya kepada Kwee Seng.
Kwee Seng tertawa-tawa menyambut guci arak lalu menuangkan isinya ke mulut, meneguk arak dengan lahap sekali tak kunjung henti sampai akhirnya guci itu kosong!
"Heh-heh, arak tidak baik, tapi cukup menghilangkan dahaga!"
Katanya sambil mengusap mulut dengan lengan baju.
"Nah, sekarang kita bicara. Aku memang mencuri paha panggang, maka aku suka kalian hukum diseret-seret. Akan tetapi sekarang barang curian itu sudah habis, maka sampai disini pula hukumanku."
"Tidak perlu segala pura-pura ini!"
Si Muka Hitam membentak.
"Seorang gagah tidak akan menyangkal perbuatannya. Kau jelas seorang kang-ouw yang pura-pura gila, apakah tidak malu kalau bersikap pengecut? Kaulah satu-satunya orang yang mungkin melakukan pengacauan di rumah Suhu, oleh karena itu, kami harap supaya kau ikut baik-baik menghadap Suhu untuk menerima pengadilan. Kalau kau berkeras menolak, terpaksa kami akan menggunakan kekerasan pula!"
"Siapa guru kalian itu?"
Kwee Seng bertanya tak acuh.
"Suhu adalah guru silat yang mendirikan Silat Monyet Sakti, namanya terkenal sebagai seorang yang menghargai persahabatan dan tidak pernah mengganggu golongan lain."
"Aha! Kiranya Sin-kauw-jiu (Kepalan Monyet Sakti) Liong Keng Lo-enghiong di kota Sin-yang."
Lima orang itu cepat saling pandang dan wajah mereka berubah girang.
"Hemm, kau sudah mengenal Suhu, sudah mengacau rumahnya tiga hari yang lalu, masih berpura-pura lagi!"
Tegur Si Muka Hitam.
"Ha-ha-ha! Liong-lo-enghiong memang patut menjadi monyet tua sakti, akan tetapi kalian ini benar-benar monyet buntung yang lancang sekali. Sudah kukatakan tadi, kalian hendak menangkap anjing, akan tetapi keliru menangkap hariamau, bukankah itu amat lucu? Sudahlah, aku hendak pergi!"
Setelah berkata demikian, Kwee Seng melempar guci arak yang sudah kosong ke atas tanah, kemudian tanpa menoleh lagi ia berjalan melewati mereka dengan lenggang seenaknya dan bernyanyi-nyanyi!
Kalau To menyuram, dianjurkan prikebajikan!
Prikebajikan muncul tampak pula kemunafikan!
Kalau rumah tangga hancur berantakan dianjurkan kerukunan!
Setelah negara kacau, baru timbul pahlawan!
Hayaaaaa......!
Hayaaaa...!
Hayaaaaa......!!!"
Nyanyian itu adalah ayat-ayat dalam kitab To-tek-khing pelajaran Nabi Lo Cu.
Kwee Seng amat tertarik oleh pelajaran Agama To-kauw ini setelah selama tiga tahun ia berada di Neraka Bumi, dimana terkumpul banyak kitab-kitab kuno tentang To-kauw milik nenek penghuni Neraka Bumi, dan banyak pula kitab-kitab ini dibacanya.
Agaknya pengaruh pelajaran To ini pulalah yang membuat Kwee Seng kini menjadi tak acuh akan keduniawian, bersikap bebas lepas seperti orang tidak normal!
Adapun lima orang itu ketika melihat Si Gila seperti hendak melarikan diri, cepat lari mengejar dan mengurungnya dengan senjata ditangan, sikap mengancam dan siap menerjang.
Si Muka Hitam yang tinggi besar berdiri menghadapi Kwee Seng sambil membentak.
"Kau tidak boleh pergi sebelum ikut kami menghadap Suhu!"
"Ha-Ha-Ha, aku akan menghadap Suhumu sekarang juga!"
Kwee Seng berkata sambil berjalan terus tanpa mempedulikan mereka.
Tentu saja lima orang itu tidak sudi percaya dan menyangka Kwee Seng mempergunakan siasat untuk dapat melarikan diri.
Si Muka Hitam memberi tanda dan menyerbulah mereka semua dengan golok dan pedang mereka.
Senjata-senjata itu mereka tujukan pada tempat-tempat yang tidak berbahaya, bahkan ada yang hanya dipakai mengancam karena mereka tidak berniat membunuh Si Gila ini yang perlu dihadapkan kepada guru mereka untuk diperiksa.
"Siuuuttt... wrr-wrr-wrrr!"
Lima orang itu menjadi silau matanya melihat sinar menyilaukan mata disambung tubuh mereka terpental kebelakang.
Entah apa yang terjadi, mereka tahu-tahu sudah terlempar dan jatuh duduk terjengkang sedangkan senjata mereka lenyap entah kemana bersamaan pula dengan lenyapnya orang gila yang mereka serang tadi!
Mereka saling pandang dengan penuh keheranan.
Mereka adalah murid-murid pilihan dari Sin-kauw-jiu Liong Keng, jagoan Sin-yang!
Bagaimana mereka dapat dengan mudah saja, dalam segebrakan dirobohkan seorang lawan tanpa mereka ketahui bagaimana caranya?
"Eh, Twa-suheng (Kakak Seperguruan Tertua)...
lihat...!"
Seorang diantara mereka berkata sambil menudingkan telunjuknya kebelakang.
Si Muka Hitam dan adik-adik seperguruannya menoleh dan ternyata golok dan pedang mereka yang lenyap tadi telah menancap diatas tanah, disekeliling guci arak yang kosong!
Entah bagaimana bisa menancap disitu, dan kapan terjadinya, mereka sama sekali tidak dapat menerka.
Dengan penuh keheranan, kekaguman, juga kekhawatiran karena perguruan mereka menghadapi seorang musuh yang sedemikian saktinya, mereka bangkit, membersihkan pakaian lalu mengambi senjata dan meloncat keatas kuda yang mereka kaburkan cepat-cepat ke Sin-yang untuk memberi laporan kepada guru mereka.
Dengan cepat lima orang itu membalapkan kuda karena mereka amat khawatir akan keselamatan perguruan mereka.
Guru mereka harus diberi peringatan akan datangnya malapetaka dari tangan Si Jembel yang sakti itu.
Lima ekor kuda mereka sampai mandi peluh ketika akhirnya mereka memasuki Sin-yang dan cepat-cepat mereka melompat turun didepan rumah besar yang pintu depannya terdapat tulisan Sin-kauw-bu-koan.
Mereka berlima lalu lari masuk tanpa mempedulikan pertanyaan para murid lain yang berada didepan gedung.
"Mana Suhu? Kami harus cepat-cepat menghadap Suhu!"
Demikianlah ucapan mereka sambil berlari terus menuju keruangan dalam.
Akan tetapi begitu mereka membuka pintu ruangan tamu, lima orang murid ini berdiri seperti patung, membelalakkan mata karena hampir tidak percaya kepada pandang mata dan pendengaran telinga sendiri.
Suhu mereka, seorang tua berusia enam puluh tahun yang jenggotnya sudah putih semua, duduk diruangan tamu, menjamu seorang tamu yang tertawa-tawa bergelak sambil minum arak, menimbulkan suasana gembira sedangkan suhu mereka juga tertawa-tawa, seorang tamu berpakaian compang-camping yang bukan lain adalah....
Jembel gila yang mereka keroyok tadi!
Orang gila itu kini menoleh kearah mereka sambil mengangkat cawan arak dan berkata sambil tertawa.
"Ha-ha, percayakah kalian sekarang bahwa aku akan menghadap Liong-lo-enghing (Orang Tua Gagah she Liong)?"
Lima orang murid itu masih bingung dan khawatir.
Orang gila itu memang sikapnya edan-edanan, jangan-jangan suhu mereka kena ditipu pula.
Suhu mereka memang selalu ramah kepada siapapun juga, siapa tahu bahwa Si Gila inilah mungkin orang jahat yang mengacau tiga hari yang lalu.
"Suhu... eh, dia ini..."
Si Muka Hitam berkata akan tetapi segera menghentikan kata-katanya ketika melihat sepasang mata suhunya memandang marah kepadanya.
"Hemm, apa-apaan kalian ini? Bersikap tolol terhadap tamu agung? Hayo lekas memberi hormat kepada yang terhormat Kim-mo Taisu!"
Lima orang itu merasa seakan-akan kepala mereka disiram air es!
Tentu saja mereka sudah mendengar suhu mereka bicara dengan kagum akan seorang pendekar aneh yang menggemparkan dunia persilatan, yaitu seorang pendekar muda yang amat sakti dan jarang dapat ditemui orang namun yang perbuatan-perbuatannya membuat namanya menjulang tinggi diantara para pendekar lainnya, yaitu Kim-mo Taisu.
Siapa kira nama besar ini dimiliki oleh seorang jembel muda!
Patutnya nama julukan Kim-mo Taisu dipakai oleh seoarang tua yang berwibawa.
Kalau saja bukan suhu mereka yang memperkenalkan, sampai mati pun mereka takkan dapat percaya.
Meremang bulu tengkuk mereka menawan dan menyeret-nyeret Kim-mo Taisu.
Serempak lima orang itu lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Kwee Seng sambil berkata.
"Mohon Taisu sudi mengampuni kekurangajaran kami berlima!"
Sin-kauw Liong Keng yang sudah tua itu tercengang dan bercuriga ketika melihat murid-murid kepala ini memberi penghormatan seperti itu kepada tamu-tamunya, maka cepat ia bertanya dengan suara keren.
"Hemm, apakah yang telah kalian perbuat terhadap dia?"
Si Muka Hitam segera menjawab, suaranya penuh penyesalan.
"Suhu, teecu berlima dalam menyelidiki penjahat, telah salah duga dan kesalahan tangan menangkap Taisu, mohon Suhu dapat mengampunkan teecu."
"Hah...?? Kalian menangkap Kim-mo Taisu? Wah celaka! Gila betul murid-muridku. Harap Taisu suka memaafkan aku orang tua yang mempunyai murid-murid tolol."
Liong Keng cepat-cepat menjura kepada Kwee Seng. Kwee Seng tertawa dan balas menjura.
"Wah, mengapa begini sungkan? Tidak aneh bila terjadi kesalahpahaman, kalau tidak ada kejadian itu, mana aku dapat mengetahui bahwa Lo-enghiong diganggu orang?"
Liong Keng duduk kembali, mengelus jenggotnya dan wajahnya kelihatan murung.
Ia menarik napas panjang lalu memberi perintah kepada lima orang muridnya untuk bangun.
Dengan taat mereka bangkit dan mengambil tempat duduk dibelakang suhu mereka.
Kini pandang mata mereka terhadap Kim-mo Taisu berobah sama sekali, penuh keseganan dan kekaguman.
"Memang murid-muridku goblok, akan tetapi dapat dimengerti juga kesalahdugaan mereka karena dia pun seorang muda yang suka memakai pakaian jembel seperti Taisu. Dan dia lihai bukan main... hemm, ataukah agaknya aku yang sudah terlalu tua dan tiada guna...."
Kembali guru silat tua itu menarik napas panjang dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Tiba-tiba ia bangkit berdiri, gerakannya cepat sekali, lalu ia menghadapi Kwee Seng sambil berkata.
"Kim-mo Taisu, aku sudah tahu sampai dimana hebatnya kepandaianmu ketika kau membantuku setahun yang lalu di Hutan Ayam Putih membasmi perampok, coba sekarang kau uji, apakah kepandaianku sudah amat merosot?"
Setelah berkata demikian, guru silat tua itu tiba-tiba menerjang Kim-mo Taisu yang masih duduk diatas bangkunya.
Guru silat tua itu memukul dengan tangan kanannya, pukulan yang antep dan ampuh, namun Kwee Seng hanya duduk tersenyum.
Ketika pukulan sudah tiba pada sasarannya, terdengar suara keras dan bangku yang diduduki Kwee Seng tadi hancur berkeping-keping, akan tetapi pendekar sakti itu sendiri sudah tidak berada disitu!
Kejadian ini berlangsung cepat sekali, menghilangnya Kwee Seng juga amat luar biasa sehingga guru silat dan lima orang muridnya melongo, lalu celingukan mencari-cari dengan mata mereka.
(Lanjut ke
Jilid 16) SULING EMAS (Seri ke 02
"Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 16
"Ha-ha, pukulan tanganmu masih ampuh sekali, Lo-enghiong!"
Tiba-tiba terdengar suaranya dan ketika semua orang memandang, ternyata Kim-mo Taisu atau Kwee Seng itu telah berada disudut ruangan, punggungnya menempel pada sudut dinding bagian atas, seperti orang enak-enak duduk saja!
Ternyata pendekar sakti itu sekaligus telah membuktikan kehebatan gin-kangnya ketika ia "menghilang"
Dan juga kekuatan lwe-kangnya dengan cara menempelkan punggung pada dinding!
"Hemm, kau anggap pukulan tanganku masih cukup ampuh?
Sekarang harap kau suka melihat ilmu toyaku, bagaimana?"
Cepat sekali guru silat itu tahu-tahu sudah menyambar sebatang toya, yaitu senjata tongkat atau pentung terbuat daripada sebuah kuningan dengan ujungnya baja, sebuah senjata yang berat dan keras bukan main.
Kemudian toya itu diputar-putarnya sampai mengeluarkan angin berciutan, toyanya sendiri hilang bentuknya karena yang tampak hanya gulungan sinar kuning yang makin lama makin berkembang lebar.
Terdengar suara keras berkali-kali dan dilain saat Si Guru Silat sudah meloncat turun, toyanya melintang didepan dada, dan ia bengong memandang keatas dimana tadi Kim-mo Taisu berada.
Pendekar sakti itu sudah tidak berada diatas dinding itu memperlihatkan akibat serangan yang hebat tadi, yaitu berlubang-lubang pada tujuh tempat, tepat dibagian tubuh yang berbahaya.
"Wah, ilmu toyamu masih amat luar biasa Lo-enghiong!"
Tiba-tiba Kim-mo Taisu berkata dan kiranya pendekar ini tadi melompat kesudut lain dari ruangan itu dengan gerakan demikian cepatnya sehingga tak tampak oleh mereka yang berada diruangan itu.
Kini ia menghampiri Si Guru Silat tua sambil menjura dan tertawa-tawa.
"Kau yang begini tua masih sehebat ini, benar-benar harus diberi ucapan selamat dengan seguci arak wangi."
Liong Keng tersenyum dan melempar toyanya ke arah muridnya yang cepat menerimanya dan menyimpannya.
"Ha-ha-ha, pujianmu kosong, dan orang setua aku ini sudah tidak butuhkan itu lagi. Taisu kalau kau menganggap bahwa ilmuku masih belum berkurang, maka makin sukarlah penasaran ini dibereskan. Heeei, ambil lagi guci besar arak wangi untuk Taisu!"
Biarpun tadinya guru silat itu tertawa-tawa melayani Kwee Seng minum arak yang baru dibuka dari guci, namun kerut-kerut di dahinya timbul lagi dan ia menarik napas panjang berkali-kali.
"Lo-enghiong, mengapa kau simpan-simpan penasaran di hati? Ceritakanlah, apa yang terjadi dan siapa itu orang muda berpakaian jembel yang lihai sekali?"
Liong Keng kembali menarik napas panjang.
"Kalau diceritakan sungguh membikin orang mati penasaran! Aku Liong Keng selama puluhan tahun hidup sebagai guru silat tak pernah mencari permusuhan dengan siapapun juga, kecuali dengan orang-orang jahat sehingga selama ini namaku tetap disuka dunia kang-ouw. Siapa tahu, sekali ini namaku hancur oleh seorang bu-beng-siauw-cut (orang kecil tak terkenal)!"
Dengan suara penuh penasaran ia lalu bercerita akan peristiwa yang menimpa padanya beberapa hari yang lalu.
Liong Keng seorang guru silat yang terkenal, guru silat walaupun merupakan guru bayaran, namun dalam menerima murid ia tidaklah asal orang mampu membayarnya saja.
Ia memilih calon murid yang berbakat dan yang berkelakuan baik-baik, bahkan banyak diantara muridnya yang karena miskin tidak mampu membayarnya.
Ada seorang murid perempuan, anak seorang janda miskin yang amat dikasihinya sehingga ketika janda itu meninggal dunia, murid perempuan yang bernama Bi Loan itu ia pungut sebagai puterinya, karena guru silat itu sendiri memang tidak mempunyai keturunan.
Bi Loan menjadi murid yang pandai dan anak yang berbakti, wajahnya cukup cantik sehingga guru silat itu tentu saja mengharapkan mantu yang pantas.
Sebagai seorang gadis yang pandai silat, puteri Sin-kauw-jiu Liong Keng, Bi Loan bukanlah gadis pingitan yang selalu berada di dalam kamarnya.
Ia sudah biasa keluar pintu, bahkan biasa pula menggunakan kepandaiannya untuk membela si lemah yang tertindas.
Tidak ada orang yang berani mencoba-coba mengganggunya, karena selain gadis itu sendiri pandai silat, juga orang merasa sungkan bermusuhan dengan Sin-kauw-jiu itu, Liong Keng dan murid-muridnya yang banyak jumlahnya.
"Akan tetapi, sepekan yang lalu,"
Demikian guru silat itu melanjutkan ceritanya.
"Bi Loan memasuki sebuah tempat judi Karena tertarik. Ditempat itu tentu saja berkumpul banyak penjahat dan disitu pula Bi Loan mendengar ucapan kurang ajar. Terjadilah keributan dan beberapa orang lelaki yang kurang ajar itu dihajar kalang kabut oleh Bi Loan sehingga mereka itu lari tunggang langgang. Akan tetapi tiba-tiba seorang pengemis muda, kukatakan pengemis karena ia berpakaian jembel. Ia tidak terkenal dan menurut cerita mereka yang menyaksikan kejadian itu, Bi Loan bertanding dengan jembel muda itu yang agaknya membela para penjahat tadi. Pertandingan berjalan seru dan laki-laki muda itu lalu melarikan diri sambil menyindir-nyindir. Bi Loan marah dan mengejar, sebentar saja mereka lenyap dari tempat itu."
Guru silat itu berhenti bercerita dan menarik napas panjang.
"Lalu bagaimana?"
Kwee Seng tertarik.
"Tak seorang pun tahu kemana mereka pergi berkejaran, karena sampai sehari semalam Bi Loan tidak pulang, aku menjadi kuatir dan pada keesokan harinya aku sendiri pergi mencari. Aku mendapatkan Bi Loan didalam sebuah kuil kosong di hutan sebelah barat kota...."
Melihat wajah guru silat itu merah padam, Kwee Seng menduga-duga.
"Dan pengemis itu?"
"Dia tidak ada, entah berada dimana. Akan tetapi sikap Bi Loan luar biasa sekali. Anakku itu dengan sikap yang aneh menyatakan tidak ingin pulang karena ia sudah menjadi isteri Kai-ong!"
"Kai-ong (Raja Pengemis)?"
Kwee Seng tertegun.
"Demikianlah pengakuannya. Ia menyebut Kai-ong kepada laki-laki muda jembel itu. Aku marah dan memaksanya pulang karena kuanggap Bi Loan sedang dalam keadaan tidak sadar. Dan setibanya dirumah, ia hanya menangis, tidak mau bicara apa-apa kecuali menyatakan hendak ikut kai-ong! Malam harinya, tiga hari yang lalu, didepan hidungku sendiri tanpa aku dapat berbuat sesuatu, bangsat itu datang dan membawa pergi Bi Loan!"
"Apa? Bagaimana terjadinya?"
Kwee Seng kaget.
Ia maklum bahwa guru silat ini kepandaiannya sudah lumayan, kalau laki-laki muda yang mengaku sebagai raja pengemis itu mampu menculik seorang gadis begitu saja, itu membuktikan bahwa ilmu kepandaian jembel muda itu tentulah hebat!
"Sungguh aku harus merasa malu, menjadi guru silat puluhan tahun lamanya, sama sekali tidak berdaya menghadapi seorang penjahat tak ternama seperti dia.
Aku harus tutup perguruanku!"
"Suhu...!"
Lima orang murid kepala berseru.
"Ahh, perlu apa belajar ilmu silat dari seorang lemah seperti aku?"
Guru silat itu menghela napas.
"Kim-mo Taisu, kau tadi menyatakan sendiri bahwa baik tenagaku maupun ilmu toyaku masih kuat, namun malam hari itu aku benar-benar seperti anak kecil, dipermainkan orang. Dia itu, tanpa kuketahui padahal aku sama sekali belum tidur, tahu-tahu telah dapat memasuki kamar puteriku, memondongnya keluar dan meloncat ke atas genteng. Aku mendengar puteriku berkata "Selamat tinggal, Ayah"
Dan melihat berkelebatnya bayangan itu diatas.
Tentu saja aku menyambar toya dan mengejar keatas, lalu kuhantamkan toyaku pada punggung orang itu.
Tepat toyaku mengenai punggung, namun...
ahhh...
toyaku terlepas dari tanganku dan dia tidak apa-apa!
Kemudian menghilang didalam gelap!"
Makin kagum hati Kwee Seng.
Selama ini, baru Bayisan seorang yang ia anggap seorang muda yang berkepandaian hebat, siapa kira sekarang muncul lagi seorang pemuda lain yang menyebut diri raja pengemis yang demikian lihai!
"Nah, selanjutnya kau telah ketahui.
Aku menyuruh murid-muridku untuk pergi melakukan penyelidikan, akan tetapi bukannya mengetahui dimana sembunyinya penjahat yang menculik anakku, malah berani berlaku kurang ajar kepadamu.
Betapapun juga, hal ini kuanggap kebetulan sekali, karena, kalau tidak kau sahabat muda, siapa lagi yang dapat mencuci bersih namaku ini?"
Suara guru silat itu terdengar sedih sekali, penuh permohonan sehingga nampak benar bahwa ia telah tua dan telah banyak berkurang semangatnya begitu menderita kekalahan.
"Baiklah, Lo-enghiong."
Kwee Seng menyanggupi.
"Mendengar ceritamu, aku jadi ingin sekali bertemu dengan raja pengemis itu! Mudah-mudahan saja aku akan dapat menemukannya. Akan tetapi tentang puterimu, kalau memang betul dia itu telah memilih Si Raja Pengemis, apa yang dapat kita perbuat? Lo-enghiong, tentu kau sendiri maklum betapa ruwetnya soal asmara..."
Perih hati Kwee Seng berkata demikian, seakan-akan ia menusuk dan menyindir hatinya sendiri yang berkali-kali menjadi korban asmara jahil!
Liong Keng menghela napas dan mengangguk-angguk.
"Dia bukan keturunanku sendiri, bagaimana aku bisa mengetahui isi hatinya yang sesungguhnya? Kalau memang demikian halnya, biarlah ia pergi, memang Thian tidak menghendaki aku mempunyai keturunan."
Setelah menyatakan janjinya akan pergi mencari penculik puteri guru silat Liong, Kwee Seng lalu berpamit dan pergilah ia dari rumah itu untuk mencari orang yang amat menarik hatinya Si Raja Pengemis!
Dua orang penjaga pintu rumah judi yang bertubuh tinggi besar seperti gajah bengkak itu memandang penuh perhatian, kemudian seorang diantara mereka yang berkepala botak bertanya seius.
"Dari mana mau kemana?"
Pertanyaan singkat ini tentulah merupakan sebuah kode rahasia, pikir Kwee Seng, maka ia tertawa dan menjawab seenaknya.
"Dari belakang mau kedepan!"
Sejenak kedua orang penjaga itu tercengang mendengar jawaban ini, kemudian mereka tertawa bergelak dan orang kedua yang hidungnya bengkok keatas menghardik.
"Jembel kapiran! hayo lekas pergi, disini bukan tempat kau mengemis!"
"Tempat apa sih ini?"
Kwee Seng bertanya, berlagak orang sinting.
"Disini rumah judi, mau apa kau tanya-tanya? Hayo lekas minggat, apa kau ingin kupukul mampus?"
Bentak Si Botak sambil mengepal tinjunya yang sebesar kepala Kwee Seng itu didepan hidung Si Pendekar Sakti.
"Waduh, tanganmu bau kencing kuda!"
Kwee Seng menutupi hidungnya, lalu menjauhkan mukanya dan memandang kepada papan nama didepan pintu, mengerutkan keningnya dan membacanya dengan lagak sukar, sedangkan Si Botak itu otomatis menarik kepalannya dan mencium tangannya itu.
Agaknya memang bau tangannya itu, karena hidungnya bergerak-gerak seperti hidung kuda diganggu lalat.
Kemudian ia marah besar, baru merasa bahwa ia dipermainkan, akan tetapi sebelum ia sempat memukul, ia dan kawannya yang berhidung bengkok itu memandang heran karena pengemis itu sudah membaca papan nama dengan suara keras.
"BAN HOA PO KOAN (Rumah Judi Selaksa Bunga)! Wah, kebetulan sekali, aku paling gemar berjudi!"
Sekaligus kemarahan dua orang itu berubah menjadi keheranan.
Mana ada seorang jembel pandai membaca huruf, dan mana mungkin jembel itu masih gemar berjudi pula?
"Eh, setan sampah!
Makan saja kau harus minta-minta, bagaimana kau bisa berjudi?
Apakah taruhannya sisa makanan?"
Ejek Si Botak dan kedua orang penjag apintu ini tertawa bergelak sambil memegangi perut mereka yang gendut.
Mendadak suara ketawa mereka terhenti dan mata mereka melotot lebar memandang tangan Kwee Seng yang sudah mengeluarkan sebuah kantung kuning berisi penuh uang perak yang berkilauan!
"Apakah modal sekian ini kurang cukup?"
Dua orang itu menelan ludah menaksir-naksir bahwa kantung itu isinya tidak kurang dari seratus tail perak. Kemudian mereka mengangguk-angguk.
"Cukup... cukup... silakan masuk...!"
Kwee Seng menutup kantungnya dan dengan lenggang kangkung ia melangkah masuk, diawasi dua orang penjaga yang terheran-heran.
Akan tetapi Kwee Seng tidak mempedulikan mereka, terus saja melangkah masuk kedalam ruangan yang cukup luas, dimana terdapat banyak orang mengelilingi beberapa buah meja judi.
Ngeri hati Kwee Seng ketika menyaksikan orang-orang yang berjudi.
Bukan seperti wajah manusia lagi, melainkan seperti sekelompok binatang kelaparan.
Muka penuh peluh, berkilauan basah, mata melotot dan seluruh uratnya menegang.
Sinar mata penuh kerakusan, kemurkaan, sedangkan yang kehabisan uang kelihatan putus asa, penasaran, dendam, dan iri.
Tempat setan dan iblis berpesta-pora, pikir Kwee Seng.
Hawa udara panas di dalam Rumah Judi Selaksa Bunga itu.
Panas luar dalam.
Luar panas Karen kurang hawa, dalam panas karena pengaruh uang.
Kwee Seng menhampiri meja tengah yang paling besar dan paling ramai.
Semua meja adalah meja permainan dadu.
Meja tengah juga tempat bermain dadu, akan tetapi di sini agaknya tempat istimewa di mana taruhannya amat besar.
Uang perak bertumpuk-tumpuk, bahkan ada beberapa potong emas.
Yang mainkan dadu adalah seorang laki-laki kurus bermata sipit seperti selalu terpejam.
Orang itu usianya empat puluh tahun lebih, lengan bajunya digulung sampai ke siku.
Gerakan kedua tangannya cepat sekali ketika ia memutar biji-biji dadu di dalam mangkok, kemudian secepat kilat ia menutupkan mangkok itu ke atas meja dengan biji-biji dadu di bawah mangkok.
Mulailah orang-orang memasang nomer yang ia duga dengan mempertaruhkan uang.
Ketika pemasangan selesai, dengan gerakan tangan cepat sekali pemain itu membuka mangkok, maka tampaklah dua biji dadu di atas meja dengan permukaan memperlihatkan titik-titik merah.
Jumlah titik-titik inilah merupakan angka yang keluar.
Bagi yang pasangannya kena, mendapat jumlah taruhannya yang diterima dengan wajah berseri-seri dan mata berkilat-kilat.
Bagi yang kalah, dan sebagian besar memang kalah, mereka hanya melihat dengan mata sayu betapa tumpukan uang taruhan mereka digaruk oleh Si Bandar yang tertawa-tawa lebar.
Agaknya yang nasibnya mujur adalah selalu Si Bandar, buktinya yang mendapat atau yang pasangannya terkena selalu hanya yang memasang kecil, sebaliknya yang taruhannya besar selalu tak pernah kena pasangannya!
Kedatangan Kwee Seng tidak ada yang tahu karena memang semua perhatian ditujukan ke atas meja.
Setelah melihat tiga empat kali pasangan melalui pundak orang-orang yang bertaruh.
Kwee Seng mendesak maju.
Dengan lagak dibuat-buat ia mengeluarkan pundi-pundi uangnya dan menaruhkannya di atas meja dengan keras.
Jelas tampak bahwa pundi-pundi itu isinya berat dan banyak, maka tertegunlah semua orang.
Yang merasa pasangannya hanya kecil-kecilan lalu memberi tempat sehingga akhirnya Kwee Seng dapat duduk berhadapan dengan Si Bandar Judi.
Pundi-pundi itu belum dibuka, maka Si Bandar yang kurus itu memandang tajam dengan mata sipitnya, kemudian bertanya.
"Pasangan dengan uang tunai. Apakah anda punya uang?"
Diam-diam SI Bandar ini merasa heran mengapa penjaga pintu memperkenankan seorang jembel masuk ruangan itu.
"Heh-heh-heh, kalau tidak punya uang, tentu aku tidak akan berjudi!"
Kwee Seng membuka pundi-pundinya dan terdengar seruan-seruan heran dan kaget ketika kelihatan isi pundi-pundi oleh mereka.
"Tapi aku tidak sudi berjudi kecil-kecilan. Aku ingin mengadu untung dengan Bandar sendiri, bertaruh angka ganjil atau genap, dengan hanya sebuah biji dadu saja. Berani?"
Kembali orang-orang berseru heran.
Gila benar orang ini, menantang bandar!
Ban-hwa Po-koan adalah rumah judi besar, orang-orang yang menjadi bandar adalah ahli-ahli judi yang ulung.
Si Bandar kurus kecil ini tersenyum-senyum memperlihatkan giginya yang runcing-runcing seperti gigi tikus.
"Mengapa tidak berani? Berapa uangmu dan berapa akan kaupertaruhkan?"
"Isi pundi-pundi ini ada seratus dua puluh tail, kupertaruhkan semua!"
Terdengar seruan "ah-oh-eh"
Ramai sekali ketika para penjudi mendengar ucapan ini.
Sekali pasang seratus dua puluh tail perak?
Benar-benar hanya orang gila yang dapat melakukan hal ini!
Bahkan Si Bandar Kurus itu sendiri menjadi basah penuh keringat Karena betapapun juga hatinya menjadi tegang menghadapi taruhan yang begini hebat.
Akan tetapi Kwee Seng hanya tersenyum-senyum dan menggaruk-garuk kepalanya seperti orang mencari kutu rambut.
"Eh, Muka Tikus, berani tidak kau?"
Akhirnya ia berkata kesal melihat bandar itu hanya memandang kepadanya.
Ada yang tertawa geli, ada pula yang kuatir mendengar jembel itu berani menyebut muka tikus kepada bandar.
Apalagi ketika mereka melihat betapa empat orang tukang pukul rumah judi itu, yang tegap-tegap tubuhnya, diam-diam mendekati Kwee Seng dan berdiri di belakang Si Jembel ini sambil saling memberi tanda dengan mata, siap untuk menerjang kalau perlu.
"Apa? Mengapa tidak berani? Mari kita mulai! Kau bertaruh genap atau ganjil?"
Si Bandar menyisihkan sebuah dadu yang bermuka enam memasukkannya ke dalam mangkok yang telentang di atas meja.
Suasana menjadi tegang, semua orang tidak ada yang mengeluarkan suara, menanti jawaban Kwee Seng sehingga keadaan menjadi sunyi dan sebuah jarum yang jatuh ke lantai agaknya akan terdengar pada saat itu.
Kwee Seng masih tersenyum-senyum dan ia mendorong pundi-pundinya kedepan.
"Seratus dua puluh tail perak kupasangkan untuk angka ganjil!"
Katanya nyaring.
Si Bandar tertawa, hatinya girang bukan main karena tiba-tiba ada makanan begini lunak tersodor di depan mulutnya.
Jari-jari tangannya sudah terlatih sempurna sehingga sambil memegang mangkok, ia dapat mempergunakan dua jari telunjuk dan tengah yang berada di belakang mangkok untuk membalik-balik biji dadu di waktu ia menutup atau membuka mangkok, tanpa seorang pun dapat melihatnya.
Kecurangan ini sudah ia lakukan bertahun-tahun dan tak pernah ada yang tahu.
Dengan jari-jarinya yang terlatih ia dapat membalik-balik dua biji dadu sesuka hatinya, apalagi kalau hanya sebuah!
Alangkah mudahnya.
Tiap kali ia menutup mangkok, matanya yang seperti terpejam itu sekelebatan dapat melihat angka yang berada di permukaan biji dadu, kemudian di waktu membuka mangkok, cepat jari-jari tangannya yang memegang mangkok dan tersembunyi di belakang mangkok bekerja membalik biji-biji dadu menjadi angka-angka yang hanya dipasangi taruhan-taruhan kecil.
Dengan cara demikian, selalu pemasang taruhan besar akan kalah.
Sekarang, jembel gila ini bertaruh angka ganjil untuk sebuah biji dadu.
Alangkah mudahnya untuk membalikkan biji dadu itu agar permukaannya yang genap berada di atas untuk memperoleh kemenangan seratus dua puluh tail.
Alangkah mudahnya!
"Baik!"
Katanya.
"Semua orang disini menjadi saksi. Kau memasang angka ganjil!"
Kemudian ia menggulung kedua lengan bajunya lebih tinggi lagi, dan memutar-mutar dadu ke dalam mangkok.
Gerakannya cepat sekali sehingga dadu yang berputaran di dalam mangkok itu tidak kelihatan lagi saking cepatnya, kemudian dengan gerakan tiba-tiba, ia membalikkan mangkok keatas meja dengan biji dadu dibawahnya.
"Heh-heh-heh!"
Si Bandar mengusap peluh di dahinya.
"Apakah kau tidak merobah pasanganmu? Tetap ganjil? Boleh pilih, sobat. Selagi mangkok belum dibuka kau berhak memilih. Ganjil atau genap?"
Suasana makin tegang, akan tetapi sambil tersenyum dingin Kwee Seng menaruh kedua tangannya di atas meja, di depannya, dan ia tenang-tenang menjawab.
"Aku tetap memasang angka ganjil!"
Si Bandar dengan tangan agak gemetar memegang mangkok, mulutnya berkata.
"Nah, siap untuk dibuka, semua orang menjadi saksi!"
Jari-jarinya bergerak dan mangkok diangkat, dibarengi seruan Si Bandar.
"Heeeeeiiitt!"
Semua mata memandang kepada biji dadu yang telentang, jelas memperlihatkan lima buah titik merah.
"Ganjil...!"
Semua mulut berseru.
"Aaahhhhh..."
Si Bandar menjadi pucat, berdiri terlongong keheranan memandang ke arah biji dadu, hampir tidak percaya kepada matanya sendiri.
Tadi ketika menutup mangkok, jelas ia dapat mengintai bahwa dadu itu tadi berangka lima, maka ketika membuka mangkok, telunjuknya sudah menyentil dadu itu agar membalik ke angka enam atau empat.
Akan tetapi mengapa dadu itu tetap telentang pada angka lima, padahal ia yakin betul bahwa sentilan jarinya tadi berhasil baik?
Apakah kurang keras ia menggunakan jarinya?
"Heh-heh-heh, apakah kemenanganku hanya cukup kau bayar dengan seruan ah-ah-eh-eh?
Hayo bayar seratus dua puluh tail!"
Kata Kwee Seng tertawa-tawa.
Empat orang tukang pukul sudah siap dengan tangan di gagang golok, akan tetapi bandar itu tidak memberi tanda maka mereka tidak berani turun tangan.
Bandar itu menggunakan ujung jubahnya untuk mengusap peluh yang memenuhi muka dan lehernya, kemudian ia tertawa ha-hah-heh-heh.
"Tentu saja dibayar, sobat. Anda mujur sekali! Akan tetapi, apakah kau termasuk botoh kendil?"
Kwee Seng memang bukan seorang penjudi, tentu saja ia tidak mengerti apa artinya istilah "botoh kendil!"
Ini. Botoh berarti penjudi, adapun kendil adalah perabot dapur untuk masak nasi. Ia mengerutkan kening, mengira istilah itu merupakan makian.
"Apa maksudmu? Apa itu botoh kendil?"
Jawaban ini membuat semua orang yang hadir makin terheran.
Dari jawaban ini saja mudah diketahui bahwa jembel ini bukanlah seorang ahli judi, bagaimana mendadak ia begini berani bertaruhan besar dan malah menang?
"Botoh kendil adalah penjudi yang segera lari meninggalkan gelanggang begitu mendapat kemenangan, termasuk golongan yang licik!"
Jawab Si bandar yang juga terheran-heran. Kwee Seng tertawa, tidak jadi marah.
"wah, belum apa-apa kau sudah takut kalau-kalau aku pergi membawa kemenanganku. Bandar macam apa kau ini, tidak berani menghadapi kekalahan? Jangan kuatir, tikus, aku tidak akan lari. Hayo bayar dulu kemenanganku!"
Dengan tangan gemetar akan tetapi mulut memaksa senyum, bandar itu memerintahkan pembantunya untuk membayar jumlah taruhan itu, dimasukkan ke dalam pundi-pundi hitam.
Ketika menerima pembayaran ini, Kwee Seng lalu menaruh pundi-pundi baru di sebelah pundi-pundi kuningnya sambil berkata, suaranya nyaring.
"Sekarang kupertaruhkan semua ini, dua ratus empat puluh tail!"
"Ohhhh.....!!!"
Kini orang-orang yang tadinya bermain di meja-meja kecil menjadi tertarik dan berkerumunlah mereka di sekeliliing meja besar.
Seakan-akan menjadi terhenti sama sekali perjudian di dalam ruangan itu, semua penjudi menjadi penonton dan yang berjudi hanyalah Kwee Seng seorang melawan Si Bandar bermata sipit.
Bandar ini pun kaget, akan tetapi kini wajahnya berseri-seri.
Kiranya jembel ini benar-benar gila.
Dengan begini, sekaligus ia dapat menarik kembali kekalahannya, bahkan sekalian menarik uang modal Si Jembel!
Kalau tadi ia mungkin kurang tepat menyentil dadu, sekarang tidak mungkin lagi.
Ia akan berlaku hati-hati dan pasti kali ini ia akan menang.
"Bagus! Kau benar-benar menjadi penjudi jempol!"
Ia memuji sambil mulai memutar-mutar biji dadu ke dalam mangkok.
"Huh, aku bukan penjudi, sama sekali tidak jempol."
Kwee Seng membantah, akan tetapi matanya mengawasi dadu yang berputar-putar dimangkok, sedangkan kedua tangannya masih ia tumpangkan diatas meja di depan dadanya.
Si Bandar menggerakkan tangannya dan dengan cepat mangkok itu sudah tertelungkup lagi diatas meja menyembunyi kan dadu dibawahnya.
"Nah, sekarang ulangi taruhanmu biar disaksikan semua orang!"
Si Bandar berkata, suaranya agak gemetar karena menahan ketegangan hatinya.
Ia tadi melihat jelas bawa biji dadu yang ditutupnya itu telentang dengan angka dua di atas!
Jadi genap!
Ia mengharapkan Si Jembel ini tidak merobah taruhannya.
"Aku mempertaruhkan dua ratus empat puluh tail untuk angka ganjil!"
Kwee Seng berkata tenang tapi cukup jelas. Muka Si Bandar berseri gembira, mulutnya menyeringai penuh kemenangan ketika ia tertawa penuh ejekan.
"Bagus, semua orang mendengar dan menyaksikan. Dia bertaruh dengan pasangan angka ganjil. Nah, siap dibuka, kali ini kau pasti kalah!"
Tangannya membuka mangkok dan tentu saja jari tangannya tidak melakukan gerakan apa-apa karena ia sudah tahu betul bahwa dadu itu berangka dua, jadi berarti genap.
Begitu tangannya yang kiri membuka dadu, tangan kanan siap untuk menggaruk dua buah pundi-pundi uang penuh perak berharga itu.
"Wah, ganjil lagi...!!"
Seru semua orang dan Si Bandar menengok kaget.
Kedua kakinya menggigil ketika matanya melihat betapa dadu itu kini jelas memperlihatkan titik satu!
Bagaimana mungkin ini?
Ia mengucek-ngucek matanya.
Tadi ia jelas melihat titik dua!
"Heh-heh-heh, mengapa kau mengosok-gosok mata?
Apakah matamu lamur?
semua orang melihat jelas bahwa itu angka satu, berarti ganjil.
Kau kalah lagi dan hayo bayar aku dua ratus empat puluh tail!"
Bandar itu bangkit berdiri, dahinya penuh peluh dingin sebesar kedele.
"Ini... ini tak mungkin... bagaimana bisa ganjil lagi...?"
Ia sudah memandang ke arah empat tukang pukul, siap untuk memerintahkan menangkap Si Jembel, menyeretnya keluar dan memukulinya, kalau perlu membunuhnya.
"Hayo bayar!"
Kwee Seng berkata.
"Apakah rumah judi ini tidak mampu bayar lagi?"
Selagi Si Bandar Judi tergagap-gagap dan empat orang tukang pukul lain sudah siap pula datang mendekat dengan wajah beringas, tiba-tiba terdengar suara tertawa-tawa.
Dari sebelah dalam muncullah seorang laki-laki berusia lima puluh tahun lebih, akan tetapi pakaiannya penuh tambal-tambalan, pakaian pengemis!
"Orang muda ini sudah menang mengapa tidak lekas-lekas dibayar?"
Kata pengemis tua itu.
Heran tapi nyata!
Si Bandar kelihatan takut dan cepat-cepat duduk memerintahkan pembantunya membayar dua ratus empat puluh tail perak, sedangkan para tukang pukul itu mundur dengan sikap hormat sekali!
Si Kakek Pengemis itu lalu berjalan menghampiri bandar, mengambil tempat duduk di dekat bandar, berhadapan dengan Kwee Seng!
"Baiklah, Pangcu,"
Kata Si Bandar dan mendengar sebutan Pangcu (Ketua Perkumpulan) ini, diam-diam Kwee Seng melirik dan memandang kakek itu penuh perhatian.
Usianya lima puluh lebih, pakaiannya tambal-tambalan akan tetapi jelas bukan pakaian butut, melainkan kain bermacam-macam yang masih baru sengaja dipotong-potong dan disambung-sambung.
Tangan kanannya memegang sebatang tongkat yang kini disandarkan di bangkunya sedangkan kedua tangannya ditaruh di atas meja di depan dadanya.
Diam-diam Kwee Seng menduga bahwa kakek ini tentulah seorang yang berilmu tinggi, maka ia bersikap hati-hati.
Tadi ia telah menggunakan tenaga lwee-kangnya memperoleh kemenangan, yaitu dengan hawa lwee-kang disalurkan melalui tangan menekan meja membuat biji dadu itu tetap atau membalik sesuka hatinya.
Dua buah pundi-pundi hitam telah dibayarkan kepadanya dan kini di depan Kwee Seng terdapat empat pundi-pundi uang yang isinya semua empat ratus delapan puluh tail!
Setelah membayar, Si Bandar ragu-ragu untuk melanjutkan perjudian, karena ia takut kalau kalah.
Kalau sampai kalah lagi, ia akan celaka, harus mempertanggung jawabkan kekalahannya yang aneh!
Akan tetapi ketika ia melirik ke arah kakek itu, Si Kakek berkata perlahan.
"Teruskan, biar aku menyaksikan sampai di mana nasib baik orang muda ini."
Mendengar ini, Si Bandar berseri lagi wajahnya.
Ucapan itu berarti bahwa Si Kakek hendak membantunya dan tentu saja dengan adanya perintah ini, tanggung jawab digeser dari pundaknya.
Siapakah kakek ini?
Dia ini bukan lain adalah ketua dari Ban-hwa Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Selaksa Bunga).
Tadinya rumah judi itu dibuka oleh para pencoleng kota, akan tetapi kurang lebih setengah tahun yang lalu, secara tiba-tiba rumah judi itu diberi nama Ban-hwa-po-koan, karena sesungguhnya, terjadi perubahan hebat pada Ban-hwa Kai-pang.
Perkumpulan pengemis ini secara tiba-tiba berubah sepak terjangnya dan dengan kekerasan menguasai rumah judi itu pula.
Karena para pimpinannya memang berilmu tinggi, tidak ada yang berani menentangnya, bahkan para penjahat menjadi sekutu mereka.
Inilah sebabnya mengapa bandar dan para tukang pukul yang mengenal Koai-tung Tiang-lo (Orang Tua Tongkat Setan) Ketua ban-hwa Kai-pang, menjadi ketakutan, akan tetapi juga lega karena dengan hadirnya ketua ini, mereka menjadi besar hati.
Si Bandar dengan semangat baru telah memutar-mutar dadu di dalam mangkok lagi.
Lalu ia membalikkan mangkok di atas meja.
Ia melihat jelas bahwa dadu itu berangka tiga, maka dengan ujung kakinya ia menyentuh kaki Koai-tung Tiang-lo tiga kali untuk memberi tahu.
Kakek itu mengangguk-angguk dan tersenyum dengan ujung mulut ditekuk ke bawah, penuh ejekan.
"Nah, sekarang kau mau bertaruh berapa dan dengan pasangan ganjil atau genap?"
Keadaan menjadi tegang dan sunyi kembali, lebih tegang daripada tadi.
Semua orang yang berada di situ, biarpun sebagian tidak mengenal kakek pengemis, namun dapat menduga bahwa kakek itu tentulah seorang berpengaruh dan berpihak kepada rumah judi.
Benar-benar amat menarik melihat jembel muda yang rambutnya awut-awutan dan yang bernasib baik itu kini berhadapan dengan seorang pengemis tua yang serba bersih.
Baru pertama kali ini terjadi hal begitu menarik di dalam rumah judi sehingga semua orang menonton dengan hati berdebar-debar, bahkan yang tadinya murung karena kalah, sejenak lupa akan kekalahannya.
Sambil menarik ke arah kakek itu Kwee Seng mendorong empat pundi-pundi perak sambil berkata.
"Tidak ada perubahan, kupertaruhkan semua, empat ratus delapan puluh tail perak dengan pasangan angka ganjil!"
Si Bandar mengerling ke arah kakek, tampaknya bingung.
Akan tetapi kakek itu tersenyum dan memberi tanda dengan mata supaya Si Bandar bekerja seperti biasa, yaitu menggunakan jari tangannya yang lihai itu membalikkan dadu agar membalikkan dadu agar membalik menjadi angka empat atau dua.
Dengan gerakan hati-hati Si Bandar menangkap pantat mangkok, jari-jari tangannya menyelinap masuk dan pada saat itu ia merasa betapa siku tangannya di pegang oleh kakek pengemis dan terasa betapa hawa yang hangat memasuki lengannya sampai ke jari-jari tangannya.
Bandar ini sedikit banyak tahu akan ilmu silat, maka ia girang sekali, maklum bahwa ketua pengemis itu membantunya dengan tenaga sin-kang.
"Siap Buka... heeeiittt! Aduuhhh....!"
Si Bandar berteriak kesakitan ketika mangkok dibuka.
Jari-jari tangannya yang menyentil biji dadu seakan-akan digencet antara dua tenaga yang merupakan dua jepitan baja, tertekan oleh hawa sin-kang Si Kakek dan terhimpit dari depan oleh hawa yang tidak tampak yang entah bagaimana memasuki biji dadu.
Cepat ia menarik kembali tangannya.
"Ganjil lagi...!"
"Hebat...!!"
Semua orang berseru ketika melihat biji dadu itu memperlihatkan angka tiga!
Diam-diam Si Kakek menatap wajah Kwee Seng.
Ia maklum bahwa jembel muda ini bukan orang sembarangan, dan maklum pula bahwa tadi ia gagal membantu karena jembel muda itu menyerang dengan dorongan berhawa sin-kang dari jari-jari tangan, mencegah Si Bandar menggulingkan biji dadu dengan jari tangan!
Wajah bandar itu pucat sekali, berkedip-kedip ia memandang ke arah kakek.
Ia jelas merasa gelisah dan mohon bantuan.
Kakek itu hanya tersenyum dan berkata.
"Sahabat muda ini besar sekali untungnya. Dia sudah menang, tidak lekas dibayar mau tunggu kapan lagi?"
Mendengar ini, Si Bandar dan para pembantunya sibuk mengumpulkan uang, akan tetapi mana cukup untuk membayar jumlah begitu besar?
Bandar itu terpaksa lari ke sebelah dalam untuk mengambil kekurangan uang dari kas besar!
Jumlah yang dibayarkan ini adalah hasil beberapa hari!
Orang-orang di situ makin terheran-heran melihat betapa jembel muda yang kini sudah menjadi raja uang dengan kemenangan-kemenangan besar sehingga di depannya berjajar delapan pundi-pundi yang jumlahnya hampir seribu tail perak, masih belum puas agaknya buktinya ia masih memandang ke arah mangkok dadu.
Kini kakek pengemis itu yang bertanya.
"Sahabat muda masih berani melanjutkan?"
Kwee Seng tertawa, menengok ke kanan kiri.
"Mana arak? Berilah seguci arak berapa saja kubeli. Aku sudah menjadi kaya-raya, ha-ha-ha!"
Seorang tukang pukul menerima tanda kedipan mata dari kakek pengemis, cepat-cepat ia menggotong seguci besar arak dan meletakkannya di depan Kwee Seng.
"Tidak usah bayar, sahabat. Arak ini adalah suguhan kami untuk tamu yang menjadi langganan baik."
Kata Si Kakek yang kini tidak sembunyi-sembunyi lagi bersikap sebagai tuan rumah.
"Bagus! Terima kasih! Sudah diberi kemenangan besar, masih disuguhi arak lagi."
Kata Kwee Seng yang segera mengangkat guci dan menuangkannya ke mulut, minum sampai bergelogok suaranya.
Setelah habis setengah guci, ia baru berhenti dan mengusap mulutnya dengan ujung lengan baju.
"Arak baik... arak baik... ha-ha, hayo teruskan permainan!"
Ketika bandar yang bermuka pucat itu dengan tangan menggigil memegang mangkok, Si Ketua Pengemis merampas mangkok dan mendorong bandar itu ke pinggir.
Dorongan perlahan saja akan tetapi bandar itu hampir roboh, terhuyung-huyung sampai jauh.
"Ha-ha-ha, memang dia sialan!"
Kwee Seng menertawakan. Koai-tung Tiang-lo memegang mangkok dan memandang Kwee Seng dengan mata penuh selidik.
"Orang muda, kau hendak pasang berapa?"
"Heh-heh, semua ini kupasangkan untuk angka ganjil, ha-ha"
"Gila!"
Seru seorang di antara para penonton.
Ia berkata demikian karena tidak tahan hatinya melihat betapa kemenangan sebesar itu akan diludeskan dalam sekali pasangan.
Kwee Seng mendengar makian menengok dan melihat muka orang yang pucat, mata yang muram tanda kalah judi.
"Kau benar, sahabat. Memang kita semua yang sudah memasuki rumah judi adalah orang-orang gila belaka! Ha-ha-ha! Orang tua, kau mainkanlah dadu itu. Delapan pundi-pundi ini untuk angka ganjil."
"Hemm, orang muda, apakah yang kau kehendaki? Tentu bukan kemenangan uang."
Kata Si Kakek sambil mulai memutar-mutar dadu dalam mangkok.
Gerakannya kaku, tidak seindah dan secepat gerakan bandar tadi.
Memang Koai-tung Tiang-lo bukanlah seorang bandar judi.
Namun, biar tangannya kaku dan seperti tidak bergerak, dadu di dalam mangkok itu berputar cepat sekali, jauh lebih cepat dariapada kalau diputar oleh Si Bandar tadi.
"Heh-heh, orang tua, kau benar. Delapan pundi-pundi perak ini kupertaruhkan untuk angka ganjil. Kalau aku kalah, kau boleh ambil semua perak ini tanpa banyak urusan lagi. Akan tetapi kalau aku yang menang, aku hanya minta dibayar sebuah keterangan."
Semua orang makin terheran, akan tetapi kakek itu tersenyum maklum. Memang bagi orang-orang kang-ouw, uang tidaklah berharga.
"Uangmu delapan kantung, sudah jelas harganya. Akan tetapi keterangan itu, harus disebutkan dulu agar diketahui harganya, apakah cukup dibayar dengan delapan kantung perak."
Percakapan ini benar-benar tak dapat dimengerti oleh tukang judi yang mendengarkan dengan perasaan heran. Kwee Seng mengangguk.
"Itu pantas! Keterangan itu adalah tentang diri seorang jembel muda macam aku ini yang menyebut dirinya kai-ong (raja pengemis). Aku ingin berjumpa dengannya!"
Berubah wajah kakek itu mendengar ini, matanya menyambar tajam.
"Hemm, ada urusan apakah dengan kai-ong?"
"Urusan pribadi. Bagaimana, kau terima?"
Kakek itu mengangguk.
"Boleh. Akan tetapi keterangan itu jauh lebih berharga daripada delapan pundi-pundi perak. Kalau kau kalah, keterangan tidak kau dapat, delapan pundi-pundi ini berikut tangan kirimu harus kau bayarkan kepadaku. Kalau kau menang, uangmu ini kau bawa pergi bersama keterangan tentang di mana adanya kai-ong. Akur?"
Semua orang terkejut.
Bukan main taruhan itu.
Berikut tangan kiri?
Berarti tangan kiri jembel muda itu kalau kalah harus dibuntungi?
Ah, kalau tidak gila, tentu Si Jembel menolak.
Akan tetapi, Kwee Seng mengangguk dan berkata.
"Cocok!"
Wah, benar-benar jembel muda ini sudah gila.
Masa sebuah keterangan tentang seorang kai-ong saja dipertaruhkan dengan hampir seribu tail perak berikut sebuah tangan dibuntungi!
Keadaan menjadi tegang bukan main, bahkan kini ditambah rasa ngeri di hati.
Dadu itu berputaran makin cepat dan tiba-tiba mangkok itu ditutupkan di atas meja, menyembunyikan dadu yang akan menentukan nasib Si Jembel dan tangan kiri.
Koai-tung Tiang-lo masih menindih mangkok tertutup, sedangkan tangan kanannya terletak di atas meja dengan jari-jari tangan terbuka.
Namun, suasana yang amat tegang itu sama sekali tidak mempengaruhi Si Jembel muda, kini ia malah mengangkat guci dengan tangan kanan untuk dituangkan isinya ke dalam mulut, sedangkan tangan kirinya juga terletak di atas meja dan matanya terus melirik ke arah mangkok di atas meja.
Melihat kesempatan selagi lawannya minum arak, Koai-tung Tiang-lo segera berseru.
"Siap buka, lihatlah!"
Tangan kirinya mengangkat mangkok dan jari-jari tangan kiri mengangkat mangkok dan jari-jari tangan kanannya menegang!
Akan tetapi pada saat itu, juga jari-jari tangan kiri Kwee Seng menegang dan seperti halnya Koai-tung Tiang-lo, dari jari-jari tangan ini, menyambar keluar tenaga sin-kang (hawa sakti) ke arah biji dadu di atas meja.
Semua mata memandang dan...
terdengar seruan heran karena begitu mangkok dibuka, biji dadu diatas meja itu berputaran!
Hal ini tentu saja tidak mungkin Karena begitu tadi begitu mangkok ditutup, tentu biji dadu itu telah jatuh kemeja dan berhenti bergerak.
Bagaimana sekarang bisa berputaran?
Hanya sebentar saja dadu itu berputar, mendadak kini berhenti sehingga semua mata memandang dengan terbelalak dan melotot seperti mau terloncat keluar dari tmpatnya.
Kembali terdengar seruan-seruan tertahan di sana-sini ketika mereka melihat betapa biji dadu itu terletak miring sedemikian rupa sehingga permukaannya dibagi dua antara titik-titik angka tiga dan dua!
Akan tetapi dadu itu bukannya diam melainkan bergerak ke kanan kiri, sebentar mendoyomg ke angka tiga, di lain saat mendoyong ke angka dua, seakan-akan ada kekuatan tak tampak yang saling dorong, saling mengadu kekuatan untuk mendorong dadu roboh telentang memperlihatkan permukaan angka tiga atau dua.
Ketika orang-orang yang berada di situ memandang kepada dua orang pengemis tua dan muda itu, mereka makin kaget dan heran, lalu gelisah dengan sendirinya.
Pengemis tua itu wajahnya merah sekali dan basah penuh peluh, tangan kanannya menggetar di atas meja dengan jari-jari terbuka dan telapak tangan menghadap ke arah dadu, napasnya agak terengah-engah.
Adapun pengemis muda itu masih enak-enak saja duduk dengan tangan kiri dibuka jarinya menghadap ke depan, tangan kanan masih memegang guci arak yang diminumya dan kini perlahan-lahan diletakkannya guci arak ke atas meja.
Gerakan ini menimbulkan getar pada meja dan dadu itu membalik hampir telentang dengan muka angka tiga, akan tetapi terdengar Koai-tung Tiang-lo berseru aneh dan dadu itu membalik lagi menjadi miring!
"Pangcu, apa kau masih hendak berkeras?"
Terdengar Kwee Seng berkata sambil tersenyum.
Betapapun juga, Kwee Seng adalah seorang terpelajar yang masih ingat akan peraturan.
Ia maklum bahwa pengemis tua yang dipanggil Pangcu (ketua) ini adalah seorang terkemuka, maka ia sengaja tidak mau membikin malu.
Dengan adu tenaga sin-kang itu, tentu sudah cukup bagi pangcu itu untuk mengetahui bahwa kakek itu tidak akan menang, lalu suka mengalah tanpa menderita malu karena jarang ada yang mengerti bahwa mereka telah saling mengadu sin-kang.
Akan tetapi Koai-tung Tiang-lo adalah seorang yang keras kepala.
Apalagi sekarang setelah ia mengandalkan pengaruhnya kepada seorang yang ia anggap paling sakti di dunia ini, yaitu orang berjuluk Raja Pengemis, maka Ketua Ban-hwa Kai-pang ini menjadi tinggi hati.
Mana ia sudi mengalah terhadap seorang jembel tak ternama yang seperti miring otaknya ini?
Tiba-tiba Koai-tung Tiang-lo berseru keras dan biji dadu itu melayang naik dari atas meja!
Kakek itu sendiri bangkit berdiri, tangan kanannya kini dengan terang-terangan diangkat ke depan sedangkan tangan kirinya masih memegang dengan tangan kirinya masih memegang mangkok.
Kwee Seng menghela napas.
Kakek ini benar-benar keras kepala, perlu ditundukkan.
Ia masih saja duduk, tapi tangan kirinya terpaksa ia angkat dan tertuju ke atas, ke arah dadu yang mengambang di udara dalam keadaan masih miring!
Tentu saja semua orang menahan napas, mata terbelalak mulut ternganga memandang peristiwa aneh itu.
Mereka tidak mengerti jelas apa yang terjadi dan siapa di antara mereka berdua yang bermain sulap, akan tetapi mereka dapat menduga bahwa terjadi pertandingan hebat di antara kedua orang aneh itu.
"Aaiiihhh!"
Teriakan ini keluar dari dalam dada Koai-tung Tiang-lo dan menyambarlah mangkok dari tangan kirinya menuju Kwee Seng.
Namun pendekar ini sambil tersenyum mengulur tangan kanan dan sebelum mangkok itu menyentuh tangan kanannya, benda itu sudah terpental kembali kemudian terhenti di tengah-tengah, biji dadu itu seperti mengambang di udara karena "terjepit"
Di antara dua rangkum tenaga dahsyat yang saling mendorong!
"Semua yang hadir harap lihat baik-baik, angka berapakah permukaan dadu itu?
Ucapan Kwee Seng ini diikuti pengerahan tenaga sin-kang.
Tadi dalam menahan serangan lawan ia hanya mempergunakan sepertiga tenaganya saja, maka kini ia menambah tenaganya dan...
betapapun Koai-tung Tiang-lo mempertahankan sekuat tenaga, tetap saja dadu itu kini membalik dan biarpun masih mengambang di udara, namun jelas kini memperlihatkan angka tiga pada permukaannya.
Semua orang yang melihat angka tiga ini, tentu saja serentak berkata "Angka tiga...!"
"Hemm, berarti angka ganjil. Pangcu, kau kalah...."
Pada saat Kwee Seng berkata demikian itu empat orang tukang pukul sudah mencabut golok dan membacok kepala dan leher Kwee Seng dari belakang!
Tentu saja Kwee Seng tahu akan hal ini, namun karena sambaran tenaga empat batang golok itu tidak arti baginya dan karena ia sedang mengerahkan sin-kang sehingga seluruh tubuhnya terlindung ia pura-pura tidak tahu dan diam saja.
Empat batang golok itu meluncur kuat ke arah kepala dan leher, tiba-tiba...
"wuuuutttt!"
Senjata-senjata itu membalik seakan-akan terdorong tenaga yang amat kuat.
Tanpa dapat dicegah lagi, golok-golok itu menyerang pemegangnya karena tangan itu sudah tak dapat dikuasai lagi saking hebatnya tenaga membalik.
Bukan kepala Kwee Seng yang termakan mata golok melainkan kepala para penyerangnya yang terpukul punggung golok.
Terdengar suara keras disusul jerit kesakitan dan suara berkerontangan golok-golok terjatuh di lantai.
Biarpun tidak tajam, namun punggung golok baja cukup keras untuk membuat kepala mereka "bocor"
Dan tumbuh tanduk biru!
Pada saat berikutnya, terdengar suara keras dan mangkok itu meledak pecah, demikian pula biji dadu, lalu disusul terjengkangnya tubuh Koai-tung tiang-lo ke belakang menimpa kursinya!
Kwee Seng tertawa lalu menyambar guci araknya dan menenggak habis araknya.
Sementara itu, Koai-tung Tiang-lo sudah melompat bangun, mukanya sebentar merah sebentar pucat, napasnya agak terengah-engah.
Cepat ia menghardik para tukang pukul yang sudah mengurung Kwee Seng dengan senjata di tangan sedangkan para pengunjung rumah judi sudah panik hendak melarikan diri, takut terbawa-bawa dalam perkelahian.
Koai-tung Tiang-lo mengangkat kedua tangn menjura kepada Kwee Seng.
"Sicu (Orang Gagah) hebat, pantas berjumpa dengan kai-ong. Dilereng sebelah utara Tapie-san, dimana kai-ong kami menanti kunjunganmu."
Kwee Seng tersenyum dan menjura.
"Kau cukup jujur, Pangcu. Terima kasih."
Seenaknya Kwee Seng mengambil dan mengempit delapan kantung uang yang isinya seribu tail lebih itu termasuk uangnya sendiri, lalu berjalan ke luar.
Uang sebanyak itu sudah tentu amat berat, seratus dua puluh lima kati, tapi ia dapat mengempit dan membawanya seakan-aakan amat ringan.
"Siapa yang kalah judi di sini, mari ikut aku keluar!"
Kata Kwee Seng sambil melangkah terus.
Sebentar saja, lebih dari tiga puluh orang ikut keluar, dan tentu saja tidak semua dari mereka penderita kekalahan.
Yang menang pun karena ia mengharapkan keuntungan ikut pula keluar.
Sampai di luar rumah judi, Kwee Seng berhenti.
Ternyata banyak orang pula berkumpul di depan rumah judi karena mereka sudah mendengar akan peristiwa aneh di rumah judi itu.
Memang karena baru beberapa hari yang lalu terjadi keributan ketika puteri guru silat Sin-kauw-bu-koan bertanding dengan para tukang pukul rumah judi itu.
"Saudara-suadara sekalian telah kalah berjudi, bukan? Hentikanlah kebiasaan kalian gemar berjudi, karena percayalah, kalian tidak akan menang. Kalau kalian melanjutkan kegemaran buruk itu, pasti saudara sekalian akan menderita kesengsaraan lahir batin. Pada lahirnya, Saudara akan habis-habisan yang akibatnya tentu kekacauan rumah tangga, kehancuran pekerjaan karena tidak terurus, kemiskinan yang akan menyeret kalian kepada kemaksiatan lainnya. Kerugian batin, Saudara akan menjadi orang yang suka melakukan kecurangan, menjauhkan rasa cinta sesama, menimbulkan sifat iri dan tamak. Nah, ini uang kubagi-bagikan diantara kalian untuk menebus kekalahan kalian, akan tetapi mulai saat ini harap kalian jangan suka berjudi lagi. Pergunakan sedikit uang ini untuk modal bekerja!"
Tentu saja ucapan Kwee Seng ini disambut sorak-sorai oleh mereka dan dengan adil Kwee Seng membagi-bagi semua uang kemenangannya berikut uangnya sendiri sampai habis, seorang kebagian dua puluh tail perak lebih!
Setelah membagi habis delapan pundi-pundi uang itu, Kwee Seng lalu berjalan pergi keluar dari kota itu, menuju ke selatan karena ia hendak mencari raja pengemis di Gunung Tapie-san.
"Paman, perbuatanmu itu semua sia-sia belaka, tiada gunanya sama sekali!"
Ucapan ini keluar dari mulut seorang anak laki-laki yang semenjak tadi mengikuti Kwee Seng dari depan rumah judi.
Kwee Seng sedang melamun, maka ia tidak memperhatikan langkah kaki seorang kanak-kanak yang mengikutinya dan sejak tadi melihat semua perbuatannya.
Ia melirik dan melihat anak kecil yang berwajah terang dan tampan, berpakaian sederhana namun bersih.
Ia merasa heran dan tidak dapat menangkap arti kata-kata anak laki-laki yang usianya paling banyak sepuluh tahun ini.
"Apa kau bilang?"
Tanyanya sambil melangkah terus, diikuti oleh anak itu.
"Aku bilang bahwa akan sia-sia saja perbuatan paman tadi didepan rumah judi, menghamburkan uang seperti orang melempar rabuk pada tanah kering!"
Kwee Seng melengak heran, lalu memandang lebih teliti sambil menghentikan langkahnya.
Ia lalu tertawa bergelak karena mengenal anak ini sebagai anak yang pernah menaruh kasihan ketika ia ditawan oleh murid-murid guru silat Liong Keng!
"Ha-ha-ha-ha, kau bocah sinting itu muncul lagi?"
Tegurnya kepada anak laki-laki ini yang bukan lain adalah Kam Bu Song.
"Eh, bocah, kenapa kau selalu bertemu denganku dan mencampuri urusanku?"
"Entah, Paman. Perjumpaan kita bukan kusengaja akan tetapi setiap kali kita bertemu, aku selalu tertarik kepadamu. Pertama dulu, aku tertarik karena merasa kasihan melihat kau diseret-seret orang. Sekarang, aku pun kasihan kepadamu karena melihat kau melakukan perbuatan yang sia-sia belaka akibat kau tidak mengerti."
Hampir Kwee Seng tidak percaya kepada telinganya sendiri. Dia seorang yang tinggi ilmunya mengenai sastra dan silat, kini diberi "kuliah"
Oleh seorang bocah yang berusia sepuluh tahun!
Akan tetapi karena kata-kata anak ini disusun rapi, ia tertarik sekali, apalagi setelah ia perhatikan, anak ini mempunyai pembawaan dan pribadi yang amat menarik.
Pada saat itu, mereka sudah tiba diluar kota dan ditempat yang sunyi itu Kwee Seng lalu pergi kebawah pohon dipinggir jalan, menjatuhkan diri duduk diatas tanah.
Anak itu pun mengikutinya, berdiri didepannya dengan pandang mata penuh perhatian.
Kwee Seng tertawa lagi.
"Heh-heh, bocah sinting. Sekarang kau katakan, mengapa perbuatanku tadi kau katakan sia-sia belaka tidak ada gunanya? "Karena perbuatan paman tadi bertentangan dengan dua hal,"
Jawab anak itu tanpa ragu-ragu dan tanpa pikir-pikir lagi, tanda bahwa ia tahu akan apa yang diucapkannya dan tanda bahwa ia memang cerdas.
"Pertama bertentangan dengan wejangan ini."
Anak itu lalu membusungkan dada mengambil napas, berdongak dan bernyanyilah ia dengan suara keras nyaring.
Diri sendiri melakukan kejahatan diri sendiri menimbulkan kesengsaraan.
Diri sendiri menghindarkan kejahatan diri sendiri mendapatkan kebahagiaan.
Suci atau tidak tergantung kepribadiannya orang lain mana mampu membersihkannya?
Kwee Seng melongo.
"Eh, apakah kau murid seorang hwesio (pendeta Buddha)? Nyanyianmu adalah kalimat suci dalam kitab Sang Buddha!"
Ia mengenal sajak itu. Memang sajak ini adalah pelajaran dalam kitab Buddha Dhammapada. Bu Song mengangguk.
"Aku membacanya dari kitab, kalau Sang Buddha yang mengajarkannya, biarlah aku menjadi murid Sang Buddha."
Jawaban ini pun aneh dan membuat Kwee Seng makin terterik.
"Anak baik, mari kau duduklah disini."
Ia tidak mau lagi menyebut anak itu "anak sinting". Setelah Bu Song ikut duduk di bawah pohon di depannya, Kwee Seng lalu bertanya.
"Anak baik, coba kau jelaskan, apa hubungannya pelajaran itu dengan perbuatanku tadi."
"Para penjudi itu berjudi tidak ada yang menyuruh, adalah mereka sendiri yang membuat mereka melakukan penjudian. Mereka mau judi atau tidak mau judi, adalah mereka sendiri yang memutuskan. Mereka celaka karena judi, atau tidak celaka karena tidak judi, juga mereka sendiri yang menimbulkan. Pokok dan sumber semua perbuatan adalah terletak didalam hatinya, ibarat baik buruknya kembang tergantung daripada pohonnya. Kalau pohonnya sakit, mana bisa kembangnya baik? Kalau hatinya kotor, mana bisa perbuatannya bersih? Perbuatan buruk mana bisa betulkan orang lain? Yang bisa membetulkan hanya dirinya sendiri, karena hati berada didalam dirinya sendiri. Inilah sebabnya maka perbuatan Paman tadi sia-sia belaka. Pembagian uang takkan menolong mereka melepaskan kemaksiatan berjudi."
Kwee Seng melongo seperti patung.
Kalau anak ini pandai membaca sajak dari kitab-kitab suci hal itu tidaklah mengherankan benar, semua anak yang diajar membaca tentu dapat disuruh menghafalkannya.
Akan tetapi apa yang diucapkannya ini sama sekali bukanlah hafalan dari kitab suci manapun juga, melainkan keluar dari pendapat dan pikiran berdasarkan pelajaran filsafat kebatinan untuk menguraikan sajak tadi!
Inilah hebat!
Ia kagum bukan main, akan tetapi masih sangsi.
Jangan-jangan hanya kebetulan saja anak ini "ngoceh"
Tanpa sengaja tapi tepat. Ia hendak menguji pula.
"Hemm, kau tadi bilang perbuatanku bertentangan dengan dua hal. Hal pertama adalah sajak tadi, kini apakah hal ke dua?"
"Segala macam nasihat dan wejangan memanglah muluk-muluk dan enak didengar, akan tetapi itu hanyalah suara yang keluar dari mulut. Segala macam ayat dan pelajaran dalam kitab-kitab suci memanglah indah dan enak dibaca, akan tetapi hal itu hanyalah tulisan diatas kertas. Apakah artinya semua itu kalau tidak ada kenyataan dalam perbuatannya? Semenjak kanak-kanak sampai tua manusia lebih suka mencoba dari orang lain daripada belajar sendiri! Oleh karana itu. PERBAIKILAH DIRIMU SENDIRI SEBELUM ENGKAU MEMPERBAIKI ORANG LAIN."
"Ah, kau murid Nabi Khong Cu!"
Kwee Seng berseru, kagum.
"Boleh juga disebut begitu karena beliau memang seorang guru besar yang patut menjadi guru. Dengan memperbaiki diri sendiri, kita membersihkan diri dari perbuatan jahat, dengan demikian orang-orang akan mencontoh. Kalau SEMUA ORANG MASING-MASING BELAJAR MEMPERBAIKI DIRI SENDIRI, maka apa perlunya segala macam nasihat dan pelajaran? Akan tetapi kalau tidak mau membersihkan diri sendiri, orang lain mana mau mencucinya bersih? Paman, itulah sebabnya kukatakan bahwa sia-sia saja Paman menasihati para penjudi itu. Alangkah akan janggalnya kalau mereka yang telah mendengar nasihat Paman itu mendapat kenyataan betapa Paman sendiri seorang maling..."
"Hahhh...? Apa kau bilang? Aku.... maling?"
Kwee Seng benar-benar kaget dan penasaran, matanya melotot dan ia memperlihatkan muka merah.
Akan tetapi diam-diam ia kagum dan heran.
Anak ini sama sekali tidak takut, matanya memandang bening dan wajahnya serius (sungguh-sungguh).
"Aku tahu bahwa fitnah itu jahat, Paman, karenanya tak mungkin aku berani melakukan fitnah. Akan tetapi yang menyatakan bahwa Paman seorang maling adalah Paman sendiri, dalam pertemuan kita yang pertama. Bukankah Paman sendiri yang bercerita kepadaku bahwa Paman mencuri paha panggang yang Paman makan itu?"
Sejenak Kwee Seng tertegun, mengingat-ingat, lalu ia tertawa bergelak sampai perutnya terasa kaku.
"Ha-ha-ha! Mengambil paha panggang kau anggap maling! Anak baik, aku sama sekali bukan maling!"
Bu Song menarik napas panjang.
"Syukurlah kalau begitu. Sebetulnya tidak perlu mencuri. Mencuri paha ayam maupun gajah, tetap mencuri namanya. Aku tidak akan mencuri, Paman."
Kwee Seng mengamati wajah anak itu penuh perhatian.
Sepasang mata anak ini bening dan tajam, indah bentuknya dan dihias bulu mata yang panjang dan melengkung keatas.
Serasa pernah ia melihat mata indah seperti ini, akan tetapi tak dapat ia mengingat dimana dan kapan.
Adapun Bu Song tidak merasa bahwa jembel itu memperhatikannya, karena sebaliknya ia sendiri memperhatikan pakaian yang butut dan rambut riap-riapan itu.
Kembali ia menghela napas dan berkata.
"Sayang, Paman, uang sebanyak itu dihamburkan sia-sia. Mengapa tidak paman sisakan sedikit untuk membeli pakaian? Pakaian Paman sudah begini rusak, juga kaki Paman telanjang tidak bersepatu."
Diam-diam ada rasa haru menyelinap di hati Kwee Seng.
Baru kali ini semenjak perantauannya, ia mendapat perhatian orang lain, dikasihani orang lain.
Hal ini menimbulkan haru dan suka di hatinya.
Entah mengapa, pribadi anak ini amat menarik hatinya dan diam-diam Kwee Seng mencela dirinya sendiri.
Tertarik kepada orang lain inilah yang menjadi sebab-musabab segala penderitaanya.
Kalau dahulu ia tidak tertarik kepada Ang-siauw-hwa, atau kepada Liu Lu Sian!
Sekarang ia tertarik oleh keadaan bocah ini, kalau ia menuruti hatinya, tentu ada saja persoalan baru muncul.
Ia lalu berdongak dan berusaha mengusir perasaannya sambil bernyanyi dengan suara keras.
"Lima warna membutakan mata lima bunyi menulikan telinga lima lezat merusak rasa memburu membunuh menjadikan buas benda dihargai menjadi curang itulah sebabnya orang bijaksana mementingkan kebutuhan perut tak menghiraukan panca indera!" (Lanjut ke
Jilid 17) SULING EMAS (Seri ke 02
"Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 17 Bu Song memandang dengan mata terbuka lebar dan kagum.
Sama sekali tidak disangkanya bahwa jembel yang seperti orang gila dan suka bersikap edan-edanan dan aneh ini begitu pandai bernyanyi, suaranya nyaring merdu dan sajaknya bukan pula sembarang sajak.
Kata-kata dalam sajak itu menimbulkan kesan mendalam dihatinya dan karena semenjak kecil ia dijejali kitab-kitab kuno yang sukar bentuk dan arti kalimatnya, maka sekali mendengar sajak ini Bu Song sudah dapat menangkap inti sarinya.
Tak terasa lagi ia bertepuk tangan memuji.
"Bagus sekali, Paman terutama isi sajaknya!"
Kwee Seng tersenyum.
"Kau belum pernah mendengarnya? Belum pernah membacanya?"
Bu Song menggeleng kepalanya.
Memang dahulu ayahnya melarang ia membaca kitab-kitab Agama To, karena menurut anggapan Kam Si Ek, pelajaran dalam agama ini hanya melemahkan semangat anak-anak.
Akan tetapi Bu Song yang sudah banyak membaca kitab-kitab kuno, dapat menduganya, maka ia berkata.
"Aku belum pernah membaca sajak itu, akan tetapi agaknya itu adalah pelajaran Agama To, bukan?"
Kwee Seng girang dan merangkul pundak anak itu.
"Anak baik, memang itu adalah sajak dari kitab To-tek-kheng dari Agama To ajaran Nabi Lo Cu. Anak yang baik siapakah namamu?"
"Aku bernama Bu Song, paman."
"Bu Song? Nama yang indah dan gagah. Dan apa shemu (nama keturunan)?"
Bu Song mengerutkan kening dan menggeleng kepala.
"Aku tidak menggunakan she. Namaku cukup Bu Song saja, tanpa tambahan."
Kwee Seng memandang dengan alis bergerak-gerak.
"Mengapa begitu? Dimanakah kau tinggal?"
Bu Song memandangnya dan kini anak itu tersenyum.
"Sama dengan engkau Paman."
"Heh...? Bagaimana bisa sama dengan aku, kalau aku tidak mempunyai tempat tinggal... Ehhh! Apa kau mau bilang bahwa kau tidak mempunyai tempat tinggal?"
Bu Song mengangguk! "Dan orang tuamu? Siapakah mereka? Mengapa kau meninggalkan rumah orang tuamu?"
Ucapan Kwee Seng terdengar bengis dan ia memandang Bu Song dengan mata marah, seakan-akan hendak memaksa anak ini mengaku.
Memang Kwee Seng marah karena ia dapat membayangkan betapa susahnya hati ayah bunda anak ini.
Anak seperti ini tentu amat disayang oleh orang tuanya, maka kalau anak ini pergi tanpa pamit, tentu akan menyusahkan hati mereka.
Tiba-tiba Bu Song berdiri, lalu mengangkat tangan menjura kepada Kwee Seng.
"Maaf, Paman, terpaksa aku tidak dapat melayani bercakap-cakap dengan Paman lebih lama. Aku pergi...!"
"Hee, nanti dulu! Mengapa kau tidak mau bicara lagi?"
Sambil menoleh dan memperlihatkan muka sedih Bu Song menjawab.
"Orang bercakap-cakap harus jujur dan tidak saling membohong. Akan tetapi aku terpaksa tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan Paman, aku tidak dapat dan tidak mau bercerita tentang diriku, tentang riwayatku, maka terpaksa aku harus meninggalkan Paman, biarpun dengan penuh kesal dan kecewa...."
"He, Bu Song, kau kembalilah. Aku tidak akan tanya-tanya lagi tentang keadaan dirimu atau orang tuamu."
Bu Song menjadi girang sekali, ia berlari kembali dan duduk didepan Kwee Seng lagi.
Kwee Seng kini memandang penuh perhatian, lalu memegang kedua pundak anak itu, meraba-raba memeriksa tubuh dengan hati girang dan heran ia mendapat kenyataan bahwa anak ini mempunyai bakat yang luar biasa untuk ilmu silat.
Tulang-tulangnya bersih dan kuat seperti tubuh seekor harimau muda!
"Bu Song apakah kau pernah belajar ilmu silat?"
"Silat? Tidak, tidak pernah."
Bu Song menggeleng kepalanya.
"Bagus! Anak baik, aku cocok sekali denganmu. Maukah kau menjadi muridku?"
Murid? Menjadi murid jembel yang gila-gilaan ini? Mau belajar apakah dari orang ini, pikir Bu Song dengan kening berkerut karena merasa sangsi.
"Paman, siapakah Paman ini dan hendak mengajar apakah kepadaku?"
Kwee Seng tertawa bergelak.
Jari tangannya mencoret-coret tanah dan tampaklah guratan yang dalam dan indah gayanya, terdiri dari empat huruf yang berbunyi "Kim-mo Taisu", lalu ia tertawa dan berkata.
"Inilah namaku."
"Kim-mo Taisu!"
Bu Song membaca dengan pandang mata kagum.
"Alangkah indahnya huruf tulisan Paman! Aku suka menjadi murid Paman untuk belajar menulis huruf indah dan belajar kitab Agama to!"
Kwee Seng girang sekali mendapat kenyataan behwa anak ini memang pandai.
Ia tadi sengaja menuliskan huruf kembang, huruf-huruf yang indah dan coretannya cepat, sukar dimengerti pelajar setengah matang.
Akan tetapi anak ini sekali melihat dapat membacanya, sungguh membuktikan kepandaian sastra yang cukup baik.
Ia tertawa bergelak.
"Aku hanyalah seorang mahasiswa gagal, Bu Song. Tidak, aku bukan hanya mengajar kau tulis dan baca kitab agama To, akan tetapi terutama sekali aku akan mengajarkan ilmu silat kepadamu. Kau berbakat baik sekali untuk belajar ilmu silat."
Akan tetapi alangkah herannya ketika ia melihat anak itu menggeleng kepala cepat-cepat sambil mengerutkan sepasang alisnya yang berbentuk golok.
"Tidak, Paman! Aku tidak mau belajar silat!"
"Eh, kenapa?"
"Ilmu silat adalah ilmu yang jahat, pangkal permusuhan sumber kekejaman!"
"Ha-ha-ha, omongan apa ini? Ilmu tetap ilmu, baik jahatnya, kejam tidaknya, tergantung kepada si manusia yang mempergunakan ilmu itu."
"Betul, Paman. Akan tetapi, ilmu silat merupakan pendorong yang berbahaya. Kalau pandai silat, tentu menjadi berani untuk berkelahi, kalau gemar berkelahi tentu banyak musuh. Untuk apakah gunanya ilmu silat kalau tidak untuk berkelahi, bunuh-membunuh dan menjual lagak?"
"Waduhhhh! Dari siapa kau mendengar pendapat tentang ilmu silat seperti itu? Siapa yang bilang begitu?"
"Yang bilang begitu adalah Ay... tidak Paman, itu adalah pendapatku sendiri."
Hemm, agaknya ayah anak ini seorang sastrawan yang benci akan kekerasan maka membenci pula ilmu silat, pikir Kwee Seng.
Ia diam-diam merasa heran mengapa anak ini demikian berkeras merahasiakan riwayatnya, dan ia pun heran mengapa anak yang agaknya sejak kecil dididik sastra dan kehalusan, memiliki hati yang begini keras dan kuat seperti benteng baja.
Anak yang pandai sekali mempergunakan pikirannya, yang sekecil itu sudah berpemandangan luas, dapat menangkap inti sari filsafat kebatinan, yang berhati tabah tak kenal takut, berani mengemukakan jalan pikirannya secara terbuka dan jujur.
Kwee Seng makin tertarik dan suka sekali.
"Baiklah, Bu Song. Kau menjadi muridku dan aku tidak akan mengajarmu ilmu silat, melainkan ilmu sastra, ilmu kesehatan dan pengobatan. Mulai saat ini kau adalah muridku dan aku adalah Suhumu, kau harus ikut kemana pun aku pergi."
Girang hati Bu Song.
Ia memang merasa tertarik dan suka kepada jembel yang rambutnya awut-awutan itu, apalagi setelah menyaksikan sepak terjang Kwee Seng didepan rumah judi, ia benar-benar merasa kagum dan maklum bahwa orang itu bukanlah orang sembarangan walaupun ia tidak setuju dengan sepak terjangnya.
Maka ia lalu cepat menjatuhkan diri berlutut memberi hormat sebagaimana layaknya seorang mengangkat guru sambil menyebut.
"Suhu!"
Kim-mo Taisu yang masih duduk diatas tanah sambil bersila, tiba-tiba menggunakan kedua telapak tangannya menggebrak tanah didepan Bu Song dan...
tubuh anak itu mencelat keatas semeter lebih tingginya.
Akan tetapi, hebat memang ketabahan hati Bu Song.
Ia mencelat keatas dalam keadaan masih berlutut dan biarpun hal itu merupakan hal tak tersangka-sangka dan amat mengejutkan, tidak sedikit pun seruan kaget atau takut keluar dari mulutnya yang bening dan tajam itu menatap kearah wajah suhunya penuh pertanyaan.
Kim-mo Taisu tertawa girang dan menyambar tubuh muridnya itu, lalu dipeluknya.
"Anak baik, muridku yang baik....!"
Bu Song terharu, matanya terasa panas namun hatinya yang keras menentang untuk meruntuhkan air mata.
Ia merasa betapa dari diri suhunya memancar kasih sayang yang amat ia butuhkan, kasih sayang orang tua yang amat ia rindukan karena sejak kecil ia telah kehilangan perasaan ini.
Maka dalam saat itu, didalam hatinya timbul rasa kasih yang amat besar terhadap gurunya yang berpakaian jembel dan berambut riap-riapan ini.
Bukan hanya rasa taat dan bakti seorang murid terhadap guru, melainkan juga rasa sayang seorang anak terhadap ayah!
"Bu Song, kau tunggu sebentar disini!"
Tiba-tiba Kim-mo Taisu berkata dan tanpa menanti jawaban muridnya, tubuhnya melesat lenyap dari tempat itu.
Bu Song bengong, kagum dan terheran-heran.
Sewajarnyalah kalau pada saat itu timbul rasa inginnya belajar "terbang"
Seperti yang dilakukan suhunya, akan tetapi hatinya yang keras menolak keinginan ini karena pesan ayahnya dahulu ketika ia masih kecil, masih lekat dilubuk hatinya.
Ia tidak tahu kemana suhunya pergi, juga tidak dapat menduga kemana.
Akan tetapi karena memang sejak semula maklum bahwa gurunya itu seorang manusia dengan kelakuan edan-edanan, ia hanya menghela napas lalu duduk di bawah pohon itu, menanti.
Kewajiban seorang murid untuk menanti perintah gurunya dan andaikata gurunya itu sehari semalam tidak kembali, ia akan tetap menanti ditempat itu!
Untung baginya, tak usah ia menanti sampai begitu lama.
Belum sejam lamanya, Kim-mo Taisu sudah berkelebat datang, membawa pundi-pundi kuning, datang-datang melempar pundi-pundi itu kedepan Bu Song sambil tertawa bergelak dan berkata.
"Ha-ha-ha, kau benar, muridku! Setan-setan judi itu memang sukar disembuhkan dari penyakit gemar judi. Mereka itu telah ramai-ramai berjudi pula dan betul saja, uang pembagian dariku mereka pergunakan sebagai modal! Benar menjemukan!"
Bu Song menahan geli hatinya. Setelah Kim-mo Taisu menjadi gurunya, tentu saja tak berani ia mentertawakannya.
"Apakah yang kemudian Suhu lakukan terhadap mereka?"
Tanyanya, sikapnya hormat, sehingga Kim-mo Taisu tercengang.
"Aku? Ha-ha-ha, kurampas dari saku mereka seratus dua puluh tail, jumlah uangku sendiri, kemudian kujungkirbalikkan meja judi, kulempar-lemparkan mereka keatas genteng."
Bu Song diam saja, akan tetapi didalam hati ia tidak setuju dengan perbuatan suhunya ini yang dianggap juga sia-sia belaka, tidak mungkin dapat mengobati penyakit para penjudi, malah hanya menimbulkan dendam dalam hati mereka terhadap suhunya.
Kim-mo Taisu memandang muridnya dengan tajam sambil tersenyum, mengerti bahwa muridnya tentu saja tidak setuju, akan tetapi melihat mulut muridnya tidak mengeluarkan kata-kata sesuatu, diam-diam ia makin kagum.
Bocah ini kecil-kecil sudah tahu akan arti ketaatan murid terhadap guru, dan pandai pula menyimpan perasaan.
Akan tetapi ia belum menguji sampai dimana keuletan dan ketahanan hati muridnya ini.
"Bu Song, kau melihat gunung itu?"
Ia menudingkan telunjuknya kearah sebuah bukit di selatan.
"Itu adalah Gunung Tapie-san. Aku ada urusan penting kesana, harus cepat-cepat berangkat. Kau bawalah pundi-pundi uang ini dan kau susulah aku kesana. Carilah jalan menuju puncaknya. Beranikah kau?"
"Mengapa tidak berani, Suhu?"
"Baik, nah, sampai jumpa di pegunungan itu. Aku pergi sekarang!"
Setelah berkata demikian, Kim-mo Taisu menyerahkan pundi-pundi uang dan sekali berkelebat ia telah lenyap.
Untuk kedua kalinya Bu Song kagum karena gerakan gurunya itu sama sekali tidak kelihatan, tahu-tahu bergerak dan lenyap begitu saja, seakan-akan suhunya pandai ilmu "menghilang".
Ia memandang pundi-pundi itu kemudian mengikatkanya di punggung, lalu mulailah anak ini melangkah menuju ke selatan.
Bukit itu masih jauh, hanya kelihatan menjulang tinggi, puncaknya tertutup awan.
Akan tetapi ia tidak merasa jerih.
Ia percaya penuh bahwa suhunya pasti menanti disana.
Mengejar ilmu harus berani menderita sengsara, ini adalah ucapan ayahnya.
Apapun akan ia jalani untuk mentaati perintah suhunya.
Hatinya lapang, langkahnya ringan, akan tetapi perutnya lapar sekali, Anak kecil ini memandang ke sekeliling, hanya pohon-pohon belaka, tidak ada dusun, maka tersenyumlah ia.
Kejanggalan yang menggelikan hatinya.
Ia membawa banyak uang, malah beberapa potong uang kecil sisa hasilnya bekerja masih terdapat disaku.
Akan tetapi, didalam hutan seperti ini, apa gunanya banyak uang?
Di kota orang berlomba mencari uang, akan tetapi ditempat seperti ini, uang segudang pun tiada gunanya!
Dua hari sudah ia berjalan, melalui hutan-hutan belaka.
Tidak ada dusun, tidak ada rumah orang dimana ia dapat mencari pengisi perut.
Namun, perantauannya selama ini membuat Bu Song selain tahan lapar, juga mendapatkan pengalaman, menambah akalnya untuk mengisi perut kosong.
Buah-buahan, telur-telur disarang burung, kalau perlu malah daun-daun muda dan beberapa macam ubi, dapat ia pergunakan untuk mengusir lapar.
Soal minum tidaklah sukar, karena banyak terdapat sumber-sumber air atau sungai-sungai kecil.
Hatinya lega karena akhirnya sampai juga ia ke kaki Gunung Tapie-san.
Sementara itu, Kim-mo Taisu tentu saja sudah sampai di Gunung Tapie San lebih dulu.
Bagi pendekar sakti ini, perjalanan semalam sudah cukup karena ia mempergunakan ilmu berlari cepat.
Pada keesokan harinya pagi-pagi ia sudah berloncatan dari batu kebatu, melompati jurang-jurang, mendaki lereng Tapie-san sebelah utara.
Akhirnya ia berhenti didepan sebuah bangunan besar terkurung tembok tinggi, bentuknya seperti kuil kuno yang besar dan yang agaknya belum lama diperbaiki karena cat dan kapurnya masih baru.
Pagar tembok bagian depan bersambung pada sebuah pintu cat merah, pintu yang tebal dan kokoh kuat, namun tertutup.
Sekeliling gedung itu sunyi senyap dan memang amat mengherankan bahwa dilereng yang sunyi jauh tempat tinggal manisia ini terdapat sebuah gedung demikian megahnya, mirip sebuah istana musim panas dimana seoarang raja atau pangeran tinggal melewatkan musim panas.
Tak mungkin seorang pengemis tinggal di tempat seperti ini, akan tetapi karena yang ia cari adalah raja pengemis, siapa tahu kalau-kalau inilah istananya?
Tanpa ragu-ragu lagi Kim-mo Taisu menghampiri pintu dan mengetoknya.
Ketokannya keras dan suara ketokan bergema, lalu sunyi.
Ia menanti sebentar, lalu mengetok lagi.
Apakah gedung itu kosong?
Tak mungkin kalau kosong pintu gerbangnya takkan tertutup, dan ia tadi melihat tiga ekor burung dara terbang berputaran diatas gedung.
Burung dara tentu dipelihara orang.
Benar dugaannya.
Tak lama kemudian terdengar suara orang disusul langkah kaki kearah pintu kemusian suara tapal pintu dibukakan orang.
Daun pintu terbuka perlahan, pertama-tama memperlihatkan sebuah pekarangan yang luas didepan gedung yang dilihat dari keadaan tuan depannya saja jelas membayangkan kemewahan gedung.
Dari balik daun pintu yang terbuka muncul dua orang pengemis tinggi besar yang berwajah bengis!
Kim-mo Taisu melangkah masuk dan sekarang tampaklah olehnya serombongan orang berpakaian pengemis berdiri berbaris dikanan kiri pekarangan itu setiap baris sembilan orang, sedangkan dari dalam gedung itu keluar tiga orang pengemis tua.
Pakaian tiga orang tua ini pun tambal-tambalan, malah tidak begitu bersih seperti barisan di pekarangan.
Tampaknya tiga orang ini adalah pengemis-pengemis tulen.
Akan tetapi sikap dan langkah mereka sama sekali bukanlah sikap pengemis.
Begitu angkuh dan agung-agungan seperti sikap pembesar-pembesar tinggi!
Kim-mo Taisu memandang penuh perhatian.
Yang manakah diantara tiga orang ini yang memakai nama julukan Raja Pengemis?
Akan tetapi menurut cerita yang ia dengar dari guru silat Liong, taja pengemis itu masih muda sedangkan tiga orang pengemis ini biarpun agaknya juga merupakan pimpinan pengemis, sudah berusia lima puluh lebih.
Melihat betapa semua orang yang hadir ditempat ini berpakaian tambal-tambaln, Kim-mo Taisu menunduk untuk memandang pakaiannya sendiri, kemudian ia tertawa bergelak-gelak.
Memang lucu.
Tuan rumah dan anak buahnya semua berpakaian pengemis, sedangkan dia sendiri pun pakaiannya butut dan penuh tambalan.
"Ha-ha-ha-ha! Dunia pengemis ini! Tamunya dan yang punya rumah sama-sama berpakaian pengemis. Akan tetapi biar sama, jauh bedanya! Pakaianku memang butut dan tambal-tambalan, asli pakaian pengemis, namun aku bukan pengemis. Sebaliknya, pakaian kalian adalah buatan, sengaja ditambal-tambal seperti pakaian pengemis, akan tetapi kalian betul-betul pengemis! Ha-ha-ha, bukankah ini lucu dan memperlihatkan kepalsuan manusia?"
Kini tiga orang pengemis tua itu sudah berada didepan Kim-mo Taisu.
Mendengar perkataannya, tiga orang pengemis itu saling pandang, kemudian seorang diantara mereka berkata, suaranya perlahan akan tetapi mengandung tenaga sehingga terdengar jelas.
"Apakah engkau ini orang gila yang mengacau di Sin-yang dan hendak mencari Kai-ong?"
Diam-diam Kim-mo Taisu terkejut.
Bagaimana mereka ini bisa tahu akan peristiwa di Sin-Yang?
Padahal ia telah melakukan perjalanan cepat sekali ke lereng gunung ini.
Mungkinkah ada orang dari Sin-Yang mendahuluinya memberi kabar?
Kalau memang ada tentu hebat bukan main ilmu lari cepat orang itu!
Hampir sukar dipercaya.
Tiba-tiba Kim-mo Taisu berdongak ke atas dan ia tertawa bergelak.
"ha-ha-ha-ha! Aku tidak bersayap, mana bisa melawan kecepatan burung?"
Ia kini dapat menduga bahwa tentulah dari Sin-yang orang mengirim surat dengan perantaraan burung dara itu ke tempat ini.
"Memang akulah yang mencari Kai-ong. Suruh dia keluar, aku mau bicara dengannya!"
"Hemm, tidak mudah bertemu dengan Kai-ong. Orang muda, kau siapakah dan apa maksudmu mau bertemu dengan Kai-ong?"
"Aku bukan datang untuk memperkenalkan nama. Suruh saja rajamu keluar, aku tidak ada urusan dengan kalian pengemis-pengemis palsu."
"Hemmm, orang muda sombong! Kai-ong sudah menugaskan kami menjaga di sini, tanpa melalui kami bertiga pengemis tua bertongkat sakti, mana bisa kau pergi menghadap Kai-ong?"
Mendengar ini, Kim-mo Taisu memandang teliti.
Tiga orang kakek ini adalah orang-orang tua yang biasa saja, bertubuh kurus seperti kurang makan, pakaiannya tambal-tambalan, memakai sepatu kulit.
Akan tetapi tangan mereka memegang sebuah tongkat panjang seperti toya, dapat dipergunakan sebagai tongkat maupun senjata.
Melihat bentuk pentung ini ketiganya serua, teringatlah ia akah nama tiga tokoh besar pengemis, yaitu Sin-tung Sam-lo-kai (Tiga Pengemis Tua Bertongkat Sakti).
Akan tetapi sepanjang pendengarannya, Sin-tung Sam-lo-kai adalah tokoh-tokoh pengemis yang amat terkenal di selatan, terkenal sebagai orang-orang pandai yang tidak termasuk golongan jahat, bahkan memimpin kaipang-kaipang (perkumpulan pengemis) di selatan.
Bagaimana sekarang tiga orang tokoh ini hanya menjadi penjaga pintu di sini?
"Bukankah Sam-wi (Tuan Bertiga) ini Sin-tung Sam-lo-kai?"
Tiga orang kakek itu saling pandang, agaknya merasa heran.
"Hemm, orang muda."
Kata kakek pertama yang paling tua.
"Jadi kau sudah mengenal kami? Kalau begitu, lebih baik kau memperkenalkan diri dan katakana terus terang saja apa maksudmu mencari Kai-ong?"
"Sam-wi Lo-kai adalah orang-orang ternama di selatan, bagaimana sekarang hanya menjadi penjaga pintu di sini? Siapakah dia yang memiliki gedung ini?"
"Bukan urusanmu! Lebih baik kau lekas mengaku, atau pergi saja dari sini, jangan mengganggu kami."
Jawab pengemis itu cepat-cepat.
Akan tetapi Kim-mo Taisu seorang cerdik.
Ia dapat menduga bahwa tiga orang itu terntu merasa tidak senang sekali dengan "pekerjaan"
Mereka akan tetapi agaknya terpaksa, entah oleh apa dan mengapa.
"Ha-ha-ha, kau boleh takut pada raja pengemis itu, akan tetapi aku tidak. Biar dia seorang siluman sekalipun, aku harus mencari dia!"
Setelah berkata demikian, Kim-mo Taisu melangkah maju dan berkata keras.
"Harap kalian bertiga minggir!"
Namun tiga orang kakek itu sudah memalangkan tongkat mereka yang panjang, siap menerjang.
Kim-mo Taisu tertawa bergelak, seakan-akan tidak melihat ancaman tongkat terkenal itu, terus melangkah maju hendak memasuki pintu depan rumah gedung.
"Apakah kau mencari mampus?"
Bentak tiga orang kakek pengemis itu dan terdengar suara angin menyambar keras ketika mereka menggerakan tongkat menyerang.
Dari angin serangan ini saja Kim-mo Taisu dapat menaksir bahwa kepandaian tiga orang kakek pengemis ini tidak kalah oleh Koai-tung tiang-lo yang pernah ia lawan di dalam rumah judi di Sin-yang.
Maka dapat dibayangkan hebatnya tiga batang tongkat yang menusuk dari kanan kiri dan sebatang lagi diputar menghadang didepan!
"Wuuuttt!
Wuuuttt!"
Dua batang tongkat berubah menjadi sinar kehitaman menyambar dari kanan kiri mengancam lambung.
Kim-mo Taisu mengembangkan kedua lengannya, kemudian tangannya bergerak secepat kilat menangkap ujung kedua tongkat, mengerahkan lwee-kang menarik ujung tongkat ke bawah sambil berseru keras.
Dua orang pengemis tua itu tak dapat melawan tarikan tenaga yang dahsyat ini.
Betapa pun mereka mempertahankan kehendak merampas kembali tongkat yang terpegang lawan, sia-sia belaka dan tahu-tahu tongkat mereka telah amblas ke dalam tanah sampai setengahnya lebih!
Kakek ke tiga yang menyerang dari depan marah sekali, ujung tongkatnya yang tadinya terputar-putar itu kini meluncur ke depan bagaikan seekor ular hitam, menerjang maju dengan tusukan yang berlenggang-lenggok dan sekaligus telah menotok ke arah tujuh jalan darah berturut-turut.
Kim-mo Taisu maklum akan kelihaian jurus serangan ini, maka ia cepat menggunakan gin-kangnya untuk berturut-turut pula mengelak ke kanan kiri, kemudian lengan bajunya bergerak memutar, melibat ujung tongkat dan"
"Lepas....!!"
Teriaknya sambil mengerahkan sin-kang, sekali ia membetot dengan kuat, tongkat itu tak dapat dipertahankan lagi oleh pemiliknya, terlepas dan meluncur bagaikan anak panah kemudian menancap pada dinding pagar, gagangnya bergetar keras mengeluarkan bunyi.
Tiga orang kakek itu adalah Sin-tung Sam-lo-kai, dari julukannya saja sudah menyatakan bahwa mereka itu ahli-ahli tongkat yang lihai.
Tentu saja mereka kaget setengah mati melihat kenyataan yang sukar dipercaya betapa dalam segebrakan saja lawan muda yang seperti orang gila ini mampu merampas tongkat mereka!
Mereka menjadi penasaran sekali, dan selain penasaran, juga mereka tidak berani membiarkan orang ini masuk ke dalam gedung begitu saja karena hal ini akan membuat mereka kesalahan dan akan mendapat marah dari Kai-ong.
"Tahan dia!"
Seru kakek tertua memberi perintah kepada barisan pengemis ketika ia melihat Kim-mo Taisu berlenggang seenaknya hendak memasuki gedung.
Ia sendiri lari untuk mencabut tongkatnya dari dinding, sedangkan kedua orang temannya juga sudah mencabut tongkat masing-masing yang menancap di atas tanah.
Barisan pengemis yang berdiri dari delapan belas orang itu bergerak maju cepat sekali dari kanan kiri, dan terkurunglah Kim-mo Taisu.
Pendekar aneh ini berdiri di tengah-tengah pekarangan depan, bertolak pinggang dan tertawa bergelak melihat barisan pengemis itu lari berputaran di sekelilingnya, membentuk barisan aneh yang berubah-ubah, kadang-kadang merupakan lingkaran bundar, dalam sedetik berubah menjadi segi tiga, terus berubah-ubah dengan bertambah seginya dan setengah menjadi pat-kwa (segi delapan) lalu perlahan-lahan menjadi bulat lagi.
Barisan ini teratur sekali dan melihat perubahan-perubahan yang rapi ini diam-diam Kim-mo Taisu merasa kagum.
"Orang muda, biarpun kau lihai, tak mungkin kau dapat lolos dari Kan-kauw-kai-tin (Barisan Pengemis Pengejar Anjing) kami. Sebelum kami turun tangan membunuhmu, lebih baik kau lekas mengaku siapakah engkau dan apa perlumu mencari Kai-ong!"
Kim-mo Taisu menarik napas panjang.
"Barisanmu baik sekali, Sam-lo-kai, biarlah aku mencoba untuk menjadi anjingnya biar dikejar-kejar barisanmu."
Sambil tertawa bergelak Kim-mo Taisu lalu menerobos ke depan, nekat hendak memasuki gedung.
Segera di depannya telah menghadang tiga orang pengemis anggota barisan yang sekaligus telah menerjang dan menyerangnya dengan senjata mereka.
Seorang bersenjata tongkat panjang, seorang lagi bersenjata pedang dan orang ke tiga bersenjata joan-pian (ruyung lemas semacam cambuk).
Tiga senjata yang amat berbeda sifatnya, amat berbeda pula caranya menyerang, namun ketika maju bersama, ternyata mereka bertiga dapat bekerja sama baik sekali, seakan-akan seorang saja dengan tiga macam senjata, tiga pasang kaki tangan menyerang Kim-mo Taisu!
Pendekar ini berseru kagum, dan tentu saja ia tidak gentar menghadapi serangan tiga orang ini.
Kedua tangannya digerakkan, dengan ilmu tankapnya Kim-na-hoat ia hendak merampas senjata-senjata mereka.
Akan tetapi tiga orang itu tidak jadi menyerangnya dan berlari terus ke depan dan pada detik itu juga, pengurung bagian belakang yang menyerang.
Kim-mo Taisu cepat membalikkan tubuh dan ia kaget melihat betapa tiga orang di bagian belakangnya ini bersenjata persis seperti tiga orang pertama tadi akan tetapi cara mereka menyerang berbeda sungguhpun kerja sama mereka tetap baik.
Karena ia diserang dari belakang, Kim-mo Taisu terpaksa mengelak dan lewatlah berturut-turut pedang, toya, dan cambuk itu di samping tubuhnya.
Begitu serangan mereka gagal, tiga orang ini bergerak lari, dan kini tiga orang lain yang berada di belakang Kim-mo Taisu menerjang hebat dengan tiga macam senjata mereka.
Secara begini, sebentar saja Kim-mo Taisu telah diserang bertubi-tubi oleh barisan enam kali tiga orang ini dan ia betul-betul menjadi seperti seekor anjing yang dikejar-kejar oleh barisan pengemis!
Kim-mo Taisu adalah seorang ahli silat ia memiliki penyakit yang sama, yaitu haus akan ilmu silat.
Melihat hebat dan rapinya Ilmu Barisan Kan-kauw-kai-tin ini, ia menjadi kagum dan tertarik sekali, tertarik untuk mempelajarinya tentu.
Kalau ia mau, dengan kepandaiannya yang jauh lebih tinggi daripada para pengeroyoknya, tidaklah sukar baginya untuk merobohkan mereka ini.
Akan tetapi ia justeru ingin melihat bentuk permainan mereka dalam barisan itu, maka ia sengaja membiarkan dirinya diserang terus-menerus.
Ia hanya main berkelit saja karena tidak ingin merusak barisan mereka, maka ia dapat memperhatikan betapa barisan ini bergerak dan berubah.
Setelah ia menghadapi pengurungan ini selama seperempat jam, tahulah ia bahwa ilmu barisan ini sesungguhnya juga berdasarkan garis-garis perubahan dalam pat-kwa-tin (barisan segi delapan) yang terkenal itu.
Dia sendiri adalah ahli permaianan Pat-kwa-kun (Ilmu Silat Segi Delapan) tentu saja ia tahu dan hafal akan seluk-beluk pat-kwa, maka setelah menemui intisari barisan, ia menjadi jemu dan kecewa.
Kiranya barisan biasa saja setelah terdapat rahasia sumbernya.
"Ha-ha-ha-ha, Sin-tung Sam-lo-kai! Kiranya barisanmu ini adalah barisan pengemis kelaparan mengejar harimau! Bukan si harimau yang terpegang, melainkan pengemis-pengemis kelaparan ini yang menjadi mangsa harimau, ha-ha!"
Sambil berkata demikian, Kim-mo Taisu mulai "bekerja", tangan kakinya bergerak cepat, tubuhnya berkelebat bagaikan bayangan kilat.
Terdengar suara gaduh dan hiruk-pikuk ketika senjata-senjata terlempar dan tubuh-tubuh menyusul bertebangan ke atas genteng.
Dalam tempo beberapa menit saja delapan belas orang anggota barisan itu sudah berada di atas genteng semua, dilemparkan oleh Kim-mo Taisu tanpa mereka dapat mengerti bagaimana mereka itu kehilangan senjata dan berada di atas genteng dengan kaki atau tangan salah urat.
Ketika melihat betapa Kim-mo Taisu mengamuk seperti harimau ganas, mereka ini tidak berani lagi turun!
Wajah Sin-tung Sam-lo-kai menjadi pucat.
Barisan Kan-kauw-kai-tin sudah terkenal kehebatannya, mampu menghadapi seorang muda gila saja kocar-kacir!
Mereka maklum bahwa orang muda gila ini memasuki gedung, tentu mereka mendapatkan hukuman berat dari Kai-ong, maka dengan muka beringas mereka bertekad untuk mempertahankan penjagaan mereka.
Dengan senjata tongkat di tangan mereka berdiri menghadang di depan pintu.
"Orang muda, kau lihai. Akan tetapi jangan harap dapat masuk mengganggu Kai-ong kalau tidak melalui mayat kami bertiga!"
"Eh, eh, Sam-lo-kai! Raja pengemis itu orang macam apa sih? Aku Kim-mo Taisu datang ke sini bukan untuk main-main dengan segala macam pengemis tua! Mengapa kau tidak segera melaporkan kepadanya bahwa aku hendak bertemu?"
Terbelalak kaget tiga orang kakek pengemis itu ketika mendengar nama ini.
Sengaja Kim-mo Taisu memperkenalkan namanya karena ia merasa segan untuk bermusuhan dengan pimpinan pengemis yang namanya di dunia kang-ouw terkenal baik itu.
Dan memang akibatnya hebat.
Tiga orang pengemis itu tentu saja sudah mendengar nama besar Kim-mo Taisu yang orang di dunia kang-ouw sudah merangkaikannya dengan nama Kim-mo-eng, pendekar sastrawan yang pernah menggemparkan dunia kang-ouw dan yang sejak beberapa tahun tidak pernah muncul, kemudian muncul seorang pengemis muda yang sikapnya edan-edanan dan berjuluk Kim-mo Taisu.
Mereka mendengar bahwa Kim-mo Taisu amat sakti sekali dan juga merupakan pemberantas kejahatan, pembela kebenaran, dan keadilan.
Setelah terbelalak dengan muka pucat, seorang di antara mereka yang tertua segera menjatuhkan diri berlutut di depan Kim-mo Taisu dan berkata, suaranya penuh permohonan.
"Ah, kiranya Taisu yang datang! Kim-mo Taisu, kami tiga orang saudara mohon pertolonganmu! Perkumpulan kami, juga perkumpulan di empat penjuru, telah ditaklukkan oleh ketua baru Khong-sim Kai-pang, yaitu Kai-ong yang amat bengis dan sakti. Kalau kami membiarkan Taisu masuk berarti kami bertiga akan binasa. Karena itu, tolonglah Taisu membantu kami, membalaskan sakit hati kami... agar nama baik perkumpulan-perkumpulan Kai-pang di selatan dapat diangkat lagi dan.... Auuhhh!"
Tiba-tiba kakek pengemis ini terguling dan darah muncrat dari punggungnya yang tertembus sebatang sumpit gading yang meluncur dari dalam gedung!
"Twa-suheng...!"
Dua orang adik seperguruannya menubruk, dan mereka memandang kepada Kim-mo Taisu dengan mata penuh permohonan.
Kim-mo Taisu cepat membalikkan tubuh memandang.
Akan tetapi tidak ada seorang raja pengemis muncul melainkan seorang wanita cantik, masih muda berpakaian pelayan.
Dengan gerak tubuh lemah lembut wanita itu berkata, suaranya nyaring dan merdu.
"Kai-ong-ya memerintahkan tamu terhormat Kim-mo Taisu untuk datang menghadap!"
Wanita itu lalu membungkuk dengan hormat, tangannya mempersilahkan.
Mendongkol hati Kim-mo Taisu.
Bukan mendongkol karena pembunuhan atas pengemis tua, karena ia memang seorang aneh dan hal itu dianggapnya bukan urusannya.
Ia mendongkol oleh sikap kai-ong itu, yang seakan-akan benar-benar seoarang raja yang memerintahkan tamunya datang menghadap!
Akan tetapi bukan watak Kim-mo Taisu untuk mengobral kemarahannya begitu saja.
Ia tertawa begelak, lalu mengikuti wanita cantik itu memasuki ruangan depan.
Heran sekali ia melihat perabot ruangan itu amat mewah, meja kursi halus dan dinding yang terkapur putih itu penuh hiasan tulisan dan gambar serba indah.
Ketika ia mengikuti wanita itu memasuki ruangan dalam, keadaannya lebih mewah lagi, bahkan lantainya saja ditilam permadani merah muda!
Mereka maju terus, ke ruangan yang lebih dalam lagi.
Sebuah pintu kaca yang lebar tertutup tilam sutera hijau.
Benar-benar seperti kamar di dalam istana raja.
Pintu terbuka dan terdengarlah suara wanita-wanita yang merdu di antara tawa yang genit, tercium bau asap dupa wangi.
"Harap Kim-mo Taisu suka membersihkan kaki lebih dulu."
Wanita itu berkata, menunjuk ke arah babut tebal di depan pintu.
"Ha-ha-ha! Tanah yang menempel di telapak kakiku bukankah jauh lebih bersih dan sehat daripada lantai dan permadani? Tidak biasa aku membersihkan kakiku, kalau mau rajamu ingin kakiku bersih, biarlah ada yang membersihkannya!"
Wanita itu nampak kaget sekali akan keberanian tamu ini, ia hanya memandang bingung dan samar-samar tampak oleh Kim-mo Taisu betapa di wajah yang cantik itu terbayang ketakutan dan kekuatiran.
Agaknya wanita ini terlalu banyak menderita tekanan batin, pikirnya.
Kasihan!
Tiba-tiba terdengar suara yang serak seperti orang berpenyakitan.
"Tamu agung harus dihormati. Eh, kalian bertiga pergilah ke luar, cuci kaki tamu agung sampai bersih. Cepat!"
Terdengar suara tertawa-tawa genit disusul suara pakaian berkeresekan tanda bahwa wanita-wanita berjalan keluar tergesa-gesa, lalu muncul tiga orang wanita cantik-cantik dan muda.
Pakaian mereka tidak seperti pakaian pelayan, melainkan pakaian puteri-puteri istana, terbuat daripada sutera tipis dan halus beraneka warna.
Sambil tertawa-tawa mereka keluar, wajah yang cantik dan berbedak tebal itu berseri-seri.
Akan tetapi ketika mereka keluar dan melihat bahwa "tamu agung"
Itu adalah seorang jembel yang pakaiannya penuh tambalan, kakinya telanjang dan rambutnya riap-riapan, mereka mengerutkan kening dan tersentak kaget, berhenti dan saling pandang dengan ragu-ragu.
Akan tetapi seorang di antara mereka yang berbaju hijau mengedipkan mata dan mereka cepat menghampiri Kim-mo Taisu, menarik tangannya ke arah sebuah bangku sambil berkata.
"Silahkan Khekkoan (tamu) duduk di bangku ini, biarkan kami bertiga membersihkan kaki yang kotor."
Sejenak Kim-mo Taisu tercengang, tak disangkanya bahwa ucapannya tadi mendapat sambutan dari Kai-ong yang aneh itu.
Sukar baginya menggunakan kekerasan terhadap desakan tiga orang wanita ini, dan bau yang harum sekali yang keluar dari pakaian mereka membuat kepalanya terasa pening!
"Eh...
oh....
tidak usah, Nona-nona.
Tak usah, biar kubersihkan sendiri!"
Katanya cepat-cepat sambil menjauhkan diri, dan ia lalu menggosok-gosokkan kedua kakinya kepada babut tadi.
Ngeri ia membayangkan kedua kakinya dipegang-pegang dan dicuci oleh tiga orang wanita muda cantik itu, yang demikian genit-genit.
Tentu akan menimbulkan rasa seakan-akan kedua kakinya dikeroyok lintah yang menghisap darahnya!
Tiga orang wanita itu terkekeh-kekeh sambil menutupi mulutnya dengan sikap yang amat genit, kemudian mereka mengantar Kim-mo Taisu memasuki ruangan indah sambil tertawa-tawa dan setengah berlari ke dalam di mana terdapat seorang laki-laki duduk menghadapi meja ditemani tiga orang wanita muda lain.
Kim-mo Taisu berhenti melangkah, memandang penuh perhatian, sikapnya waspada menjaga diri kalau-kalau menghadapi penyerangan.
Ia melihat laki-laki itu dan merasa heran karena laki-laki itu tidak kelihatan seperti seorang yang berilmu tinggi.
Usianya tiga puluh tahun lebih, pakaiannya sengaja dibuat bersambung-sambung seperti pakaian bertambal, akan tetapi karena bahan-bahannya adalah sutera yang halus, maka menyerupai pakaian berkembang-kembang yang aneh warnanya.
Sepatunya baru dan rambutnya tertutup topi sutera pula.
Wajahnya tampan akan tetapi kulit mukanya pucat, matanya seperti mata burung elang dan mukanya yang sempit membayangkan kelicikan.
Laki-laki itu duduk menghadapi hidangan yang bermacam-macam dan arak yang baunya harum semerbak meimbulkan selera.
Ketika ia masuk, laki-laki itu sama sekali tidak melihat ke arahnya, bahkan agaknya sedang bercakap-cakap dan bergurau dengan tiga orang wanita itu.
Seorang wanita menyumpitkan daging dan disodorkan di depan mulutnya, yang segera digigitnya sambil tersenyum-senyum.
Wanita ke dua menuangkan arak ke dalam cawan araknya.
Adapun wanita ke tiga yang bersikap gagah duduk di sebelah kanannya dengan alis dikerutkan.
Laki-laki itu menoleh kepada wanita muda cantik yang kelihatan tidak senang itu, tersenyum dan menyentuh dagunya yang halus dengan jari tangan sambil berkata halus akan tetapi suara tetap serak tak sedap didengar.
"Moi-moi, mengapa kau kurang gembira? Marilah minum, dan kau sejak tadi tidak mau makan. Nih, daging kelinci ini enak sekali!"
Ia menyumpit sepotong daging dan mendekatkannya ke mulut Si Cantik.
Wanita itu tersenyum paksa, membuka mulut kecil mungil dan menggigit daging itu, kemudian berkata.
"Pouw-koko (Kakanda Pouw), bukankah kau sudah berjanji bahwa kau akan menyuruh pergi semua selirmu? Aku tak senang dengan keadaan seperti ini."
"Ha-ha-ha, Moi-moi yang manis! Selirku tadinya tiga puluh orang lebih, sebagian besar sudah kuhadiahkan kepada para pembantuku. Akan tetapi yang lima ini...., hemm, sayang, Moi-moi. Hayo kalian berlima lekas berlutut dan mohon kasihan kepada Nyonya besar agar diperkenankan tinggal di sini melayaniku!"
Ia menoleh kepada lima orang wanita cantik itu.
Tiga orang di antara mereka cepat-cepat menjatuhkan diri berlutut di depan wanita berbaju biru tadi, akan tetapi yang dua tidak mau berlutut, malah memandang penuh kebencian.
Seorang di antara mereka, yang ada tahi lalatnya di dagu, berkata genit.
"Aku sudah setahun lebih melayani Kai-ongya menjadi kesayangan Kai-ongya, namun tak pernah aku menyuruh usir selir lainnya. Mengapa Nona Loan ini begini manja? Apakah tidak mau membagi kebahagiaan sedikit pun dengan wanita lain?"
Ia menggoyang tubuhnya dengan memalingkan muka, bibirnya yang merah cemberut.
"Benar tidak adil!"
Kata wanita kedua yang bajunya merah.
"Semenjak dia ini datang, kita seperti disia-siakan oleh Kai-ongya. Apakah di dunia ini hanya dia saja wanita cantik?"
Wanita baju biru itu tiba-tiba bangkit berdiri, alisnya terangkat dan matanya merah.
"Mana bisa aku dipersamakan dengan... perempuan-perempuan cabul macam kalian?"
"Sshh... sshh... Moi-moi, jangan marah, duduklah."
Dengan tangannya, raja pengemis itu menyuruh kekasihnya duduk, kemudian tangan kirinya bergerak cepat, dengan jari-jari terbuka menyambit kearah dua orang selirnya yang berani membantah itu.
"Aduhhh...! Aduhhh...!!"
Dua orang wanita cantik itu terjengkang roboh, menutupi muka sambil menjerit-jerit bergulingan di lantai.
Ternyata kedua mata mereka terusuk tulang-tulang bekas makanan yang berada diatas meja dan tadi dipergunakan untuk menyambit mereka.
Darah membasahi pipi.
Hanya sebentar kedua orang wanita itu menjerit-jerit berkelojotan, lalu diam karena rasa nyeri yang luar biasa membuat mereka pingsan.
"Hayo bawa pergi mereka, lekas!"
Perintah ini diturut tiga orang wanita yang lain dengan ketakutan. Mereka lalu menggotong kedua orang wanita malang itu keluar dari ruangan.
"Hemm, inikah Kai-ong yang tersohor yang telah menaklukkan seluruh kai-pang (perkumpulan pengemis), yang secara keji membunuh orang tertua dari Sin-tung Sam-lo-kai tadi, dan kini melukai dua orang selirnya secara ganas pula?"
Kim-mo Taisu berkata, suaranya dingin dan pandang matanya kepada Si Raja Pengemis itu penuh ejekan.
Raja pengemis itu bukan lain adalah Pouw Kee Lui yang pernah kita kenal.
Seperti kita ketahui, Pouw Kee Lui adalah murid seorang pertapa sakti di pantai Po-hai yaitu pantai laut sebelah timur, yang secara kejam telah membunuh gurunya sendiri karena ia ditegur ketika ia mengganggu isteri orang.
Ia memperdalam ilmu dari kitab-kitab simpanan gurunya itu, kemudian mulailah ia merantau dan merajalela mempergunakan ilmunya yang tinggi.
Pertama-tama ia merebut kedudukan ketua di perkumpulan pengemis Khong-sim Kai-pang.
Pernah ia bertemu dengan Liu Lu Sian dan hanya karena mengingat bahwa Lu Sian adalah puteri Beng-kauwcu, maka Pouw Kee Lui yang cerdik ini membebaskan Lu Sian.
Kemudian semenjak itu, ia memperbesar kekuasaannya dengan menundukkan perkumpulan-perkumpulan pengemis yang ada, lalu mengangkat diri sendiri menjadi Kai-ong atau raja pengemis yang hidup mewah, yang menundukkan siapa saja yang menentangnya dan merampas gadis mana saja yang disukainya.
Wanita baju biru di sebelahnya itu adalah Liong Bi Loan murid yang kemudian diambil sebagai anak angkat oleh guru silat Liong Keng.
Ketika gadis ini berkelahi dengan tukang-tukang pukul di rumah judi, kebetulan sekali Pouw Kee Lui atau Pouw-kai-ong sedang jalan-jalan ke rumah judi.
Melihat gadis cantik ini serta melihat ilmu silatnya yang lumayan, hati Pouw-kai-ong tertarik sekali.
Di antara tiga puluh orang lebih selirnya, tidak ada yang memiliki ilmu silat seperti gadis ini.
Maka ia lalu turun tangan dan dengan ilmu kepandaiannya yang amat tinggi, ia mengalahkan Bi Loan dan berhasil membuat gadis ini kagum oleh kepandaian silatnya, wajahnya yang tampan, dan sikapnya yang pandai berpura-pura dan memikat hati.
Gadis yang masih hijau ini terjatuh ke dalam perangkap, mereka bermain cinta dan gadis yang tidak tahu bahwa yang ia sangka seorang pendekar sakti itu sebetulnya seorang manusia iblis yang keji.
Ia mengikuti Pouw Kee Lui bermain-main ke dalam hutan, dan di dalam sebuah kuil kosong, Si Manusia Iblis Pouw ini berhasil memberi minum arak yang ia campur obat sehingga Liong Bi Loan menjadi mabuk dan dalam keadaan tidak sadar telah menyerahkan dirinya dibawa terjun ke dalam jurang kehinaan oleh Pouw Kee Lui.
Ketika ia sadar, sesal pun tiada gunanya.
Nasi telah menjadi bubur!
Inilah akibatnya seorang gadis yang membuta saja menurutkan nafsu hati, membuta dalam bercinta sehingga tidak tahu bahwa yang disangka seekor domba sebenarnya adalah seekor serigala.
Karena sudah terlanjur, ia hanya bisa menangis dan akhirnya reda juga penyesalannya ketika Pouw Kee Lui membujuk-bujuknya, bersumpah mati-matian akan bersetia kepadanya, akan mengambilnya sebagai isteri, sehidup semati dan lain omongan muluk-muluk lagi.
Terobatilah hati Bi Loan.
Ketika pada keesokan harinya ayahnya mendapatkannya di situ, terpaksa ia ikut pulang ayahnya.
Dan tentu saja hatinya girang sekali ketika pada malam harinya, Pouw Kee Lui benar-benar datang membawanya pergi dan tentu saja ia ikut pergi dengan sukarela.
Lebih baik ikut pergi bersama kekasihnya ini dan sehidup semati menjadi isterinya, daripada menjadi seorang gadis ternoda yang akan menderita malu seumur hidupnya!
Apalagi setelah ia ketahui bahwa kekasihnya itu ternyata adalah seorang yang amat penting, seorang raja, biarpun hanya rajanya pengemis!
Dan melihat selir "suaminya"
Begitu banyak, ia menjadi tidak senang dan minta kepada suaminya untuk menghalau semua selir itui, yang juga diturut oleh Pouw Kee Lui, kecuali lima selir yang tadi melayani mereka makan minum.
Demikianlah keadaan singkat Si Raja Pengemis yang lihai itu.
Ketika Pouw-kai-ong mendengar kata-kata Kim-mo Taisu yang penuh teguran, ia mengangkat muka memandang, mulutnya tersenyum sinis, pelupuk matanya bergetar sedikit, kemudian terdengar suaranya yang serak.
"Kim-mo Taisu, apakah kau mendapat nama besar itu karena kesukaanmu mencampuri urusan dalam rumah tangga orang lain? Kubunuh Lo-kai, itu adalah urusan kai-pang kami. Kubutakan mata kedua orang selirku, itu adalah urusan keluargaku sendiri."
"Tidak peduli... tidak peduli..., aku hanya seorang tamu, aku tidak peduli akan segala urusanmu yang busuk!"
Kim-mo Taisu menggoyang-goyang tangannya.
"Heh-heh, itu baru ucapan seorang gagah. Nah, kau menjadi tamuku, seorang tamu agung harus disambut dengan arak wangi dan hangat!"
Raja pengemis ini menuangkan arak ke dalam mangkok itu dan berseru.
"Silakan!"
Sekali ia menggerakkan tangan, mangkok berisi penuh arak itu melayang cepat sekali seperti peluru tanpa araknya tumpah sedikit pun, menuju ke arah dada Kim-mo Taisu.
Kim-mo Taisu tersenyum, mengangkat tangan kirinya dan begitu tangannya bergerak, ia sudah menerima mangkok itu diatas telapak tangan kirinya, dimana mangkok itu kini berdiri dan sedikit pun tidak ada arak yang muncrat dari dalamnya.
Diam-diam ia kagum juga karena tenaga sambaran mangkok itu amat kuat, tanda bahwa penyambitnya memiliki sin-kang yang hebat.
Di lain fihak, Pouw-kai-ong juga kagum.
Menerima sambitannya semangkok penuh arak, tanpa tergoyang sedikit pun badannya, tanpa mucrat setetes pun araknya, mungkin jarang didapatkan keduanya.
Hebat Kim-mo Taisu ini, pikirnya dan otaknya yang cerdik sudah diputar-putar untuk mencari akal.
Sementara itu, Kim-mo Taisu sudah menenggak habis arak di dalam mangkok dengan tenang, mengecap-ngecapkan lidahnya dan mengangguk-angguk sambil memandang ke arah mangkoknya yang sudah kosong.
"Arak baik... hemm, arak yang baik sekali. Terima kasih, Kai-ong, ini kukembalikan mangkokmu!"
Tiba-tiba tangannya bergerak dan mangkok itu sudah ia sentil dengan jari telunjuknya.
"Tinggg!!"
Mangkok kosong itu kini melayang kearah Pouw-kai-ong, akan tetapi melayang sambil berputar seperti gasing.
Pouw-kai-ong tersenyum dan mengangkat tangannya menyambut sambaran mangkok kosong.
"Brakkk!!"
Mangkok kosong itu begitu menyentuh tangannya, lalu pecah berantakan! "Aiihhh!!"
Pouw-kai-ong terloncat kaget.
Mukanya menjadi merah sejenak, matanya mengeluarkan sinar berapi, kedua tangannya menegang, jari-jari tangannya bergerak-gerak seperti cakar harimau.
Kim-mo Taisu tersenyum saja dengan tenang, menanti segala kemungkinan.
Akan tetapi, lambat laun muka raja pengemis itu menjadi pucat kembali seperti sediakala, bukan pucat berpenyakitan, melainkan pucat karena latihan lwee-kang tertentu.
Mulutnya masih tersenyum sinis dan tangannya membuat gerakan mempersilakan tamunya duduk.
"Heh-heh, tamu agung yang hebat! Kim-mo Taisu, namamu terkenal dan ternyata bukan kosong belaka. Silakan duduk!"
Kim-mo Taisu melangkah menghampiri meja dengan sikap masih tenang, mata tiada lepas dari gerakan raja pengemis itu, kemudian ia menarik bangku dan duduk.
"Terima kasih, Kai-ong."
Kembali Pouw-kai-ong menuangkan arak kedalam mangkok sampai penuh.
Mangkok itu, ia letakkan di atas telapak tangan kanannya dan ia mengerahkan hawa sin-kang di tubuhnya, disalurkan melalui tangan kanan terus menjalar ke mangkok arak.
Sebentar saja arak di dalam mangkok itu bergolak mendidih dan beruap!
Inilah hawa sin-kang yang bukan main tingginya!
"Silakan minum, Kim-mo Taisu!"
Katanya tersenyum sinis seraya menyodorkan mangkok arak mendidih itu kepada tamunya.
Kim-mo Taisu menjadi kaget, kagum dan juga mendongkol.
Harus ia akui bahwa demonstrasi hawa sin-kang yang diperlihatkan raja pengemis itu memang hebat dan hanya orang dengan kepandaian tinggi saja yang akan mampu melakukannya.
Akan tetapi, orang lain boleh merasa jerih, baginya demonstarasi itu hanyalah permainan untuk menakuti anak kecil!
Sambil tersenyum pula ia mengulur tangan menerima mangkok arak mendidih itu sambil mengerahkan sin-kangnya.
Aneh tapi nyata.
Begitu mangkok arak mendidih itu berada ditelapak tangan Kim-mo Taisu, mendadak uapnya hilang dan arak itu tidak bergolak mendidih lagi!
"Terima kasih, sayang arakmu dingin."
Kata Kim-mo Taisu sambil menuangkan arak ke mulutnya, tetapi arak itu tidak mau keluar dari mangkok karena ternyata telah membeku!
Inilah demonstrasi yang lebih hebat lagi, menggunakan sifat dingin dari tenaga sin-kang yang sudah mencapai tingkat tinggi.
Sambil tersenyum lebar Kim-mo Taisu meletakkan mangkok itu ke atas meja dan memandang tuan rumah.
Agak berubah air muka yang pucat dari raja pengemis itu.
Telah dua kali ia menguji dan mendapat kenyataan bahwa kepandaian tamunya benar-benar hebat, maka ia harus berlaku hati-hati sekali.
"Kim-mo Taisu, keperluan apakah yang membawamu datang mencari aku?"
Kim-mo Taisu menyambar mangkok arak dan meneguknya habis, lalu mengangguk-angguk dan menjilati bibirnya.
"Arak baik, arak baik...!"
Pouw-kai-ong tertawa.
"Ha-ha-ha, kiranya kau setan arak. Minumlah!"
Ia melemparkan seguci arak ke arah Kim-mo Taisu.
Lemparan ini kuat bukan main karena disertai tenaga lwee-kang, sedangkan jarak antara mereka dekat saja, hanya terpisah sebuah meja.
Namun dengan enaknya Kim-mo Taisu menerima guci arak itu dan terus menggelogoknya langsung tanpa cawan atau mangkok lagi.
Setelah lima enam mangkok arak memasuki perutnya, baru ia berhenti dan meletakkan guci arak diatas meja.
"Pouw-kai-ong, kebetulan sekali aku berkenalan dengan Liong-kauwsu (Guru Silat Liong) di Sin-yang dan karena tidak tahan mendengar tangis seorang ayah kehilangan puterinya, maka aku datang kesini mencarimu."
"Aaahhhh....!"
Wanita cantik baju biru yang sejak tadi duduk tenang menonton pertunjukan ilmu yang hebat itu, kini berseru tertahan, wajahnya berubah pucat.
Akan tetapi Pouw Kee Lui tertawa mengejek.
"Kim-mo Taisu, setelah sekarang kau dapat bertemu denganku, apa yang kau kehendaki?"
"Orang she Pouw, kau telah menculik puteri Liong-kauwsu. Sekarang harap kau memandang mukaku dan mengembalikan puterinya itu, kalau tidak... ha-ha-ha, terpaksa aku lupa bahwa aku telah kau suguhi arak yang baik!"
Pouw Kee Lui juga tertawa.
"Heh-heh-heh, aku pun menyuguhi arak padamu sama sekali bukan dengan maksud menyuap."
Ia lalu bangkit berdiri dan memperkenalkan wanita yang duduk di sebelahnya.
"Kim-mo Taisu, perkenalkan, inilah isteriku yang bernama Liong Bi Loan, puteri Liong-kauwsu dari Sin-yang!"
"Is... terimu....?"
Kim-mo Taisu terkejut dan heran.
"Moi-moi kekasihku, kau katakanlah kepada Kim-mo Taisu, benarkah bahwa aku menculikmu?"
Dengan muka berubah menjadi merah sekali karena jengah, wanita itu memandang Kim-mo Taisu dan berkata.
"Aku pergi mengikutinya dengan sukarela, urusan kami berdua ini apa sangkut pautnya dengan orang luar?"
Kim-mo Taisu memandang terbelalak kepada wanita itu.
Sungguh tak pernah disangkanya sama sekali bahwa ia akan menghadapi hal seperti ini, tak mengira bahwa urusan akan menjadi begini.
Kalau ia tahu sebelumnya, tentu saja ia tidak sudi ikut mencampuri.
Dapat ia menduga bahwa wanita ini telah terpikat oleh Pouw-kai-ong, telah jatuh cinta atau juga karena takut.
Akan tetapi wajah yang cantik itu sama sekali tidak membayangkan rasa takut, jadi terang bahwa wanita ini telah jatuh cinta kepada Si Raja Pengemis!
Tentu saja Kim-mo Taisu tidak tahu apa yang telah terjadi, tidak tahu bahwa sesungguhnya bukan karena takut atau cinta, melainkan karena sudah terlanjur terjun ke dalam lumpur kehinaan maka wanita itu terpaksa mengikuti Pouw Kee Lui!
Saking malu dan mendongkol, Kim-mo Taisu menepuk kepalanya sendiri lalu bangkit berdiri.
Wajahnya kehilangan senyumnya seperti orang gila ketika ia berkata.
"Cinta memang aneh! Pouw-kai-ong, pada detik ini juga aku menyatakan lepas tangan tentang urusanmu dengan puteri Liong-kauwsu. Akan tetapi mendengar bahwa kau telah merampas kedudukan semua perkumpulan pengemis dan betapa tanganmu dengan ganas merenggut nyawa para pimpinannya, aku menduga bahwa kau tentu memiliki tangan maut yang lihai. Maka, setelah aku datang, biarlah aku merasai kelihaian tangan mautmu itu. Kau yang menentukan, didalam ruangan ini atau di luar!"
Inilah tantangan blak-blakan!
Orang gagah paling pantang menolak tantangan.
Wajah Pouw Kee Lui yang biasanya pucat itu kini menjadi merah dan sejenak matanya menyinarkan pancaran kilat karena marahnya, akan tetapi mulutnya tersenyum sinis dan matanya lalu bergerak-gerak melirik ke kanan ke kiri membayangkan kecerdikan otaknya.
Selama ini ia sudah bersekutu dengan banyak orang pandai untuk bersama-sama meruntuhkan Kerajaan Tang Muda.
Di antara sekutunya itu terdapat Ban-pi Lo-cia tokoh Khitan yang menganggap Kerajaan Tang Muda sebagai musuh.
Dari Ban-pi Lo-cia inilah ia mendengar tentang kehebatan kepandaian Kim-mo-eng yang kini berjuluk Kim-mo Taisu.
Kalau Ban-pi Lo-cia yang demikian lihainya memuji kepandaian seseorang, maka ia harus waspada menghadapi orang itu.
Apalagi tadi ia pun sudah membuktikan sendiri kehebatan sin-kang dari manusia sinting ini.
Dan sungguh kebetulan sekali, dalam beberapa hari ini ia sudah berjanji akan mengadakan pertemuan dengan para sekutunya di Puncak Tapie-san.
Maka ia lalu menahan kemarahannya, berkata dengan senyum lebar.
"Bagus! Aku pun sudah lama mendengar akan kehebatanmu dan ingin sekali merasai pukulan tanganmu. Akan tetapi kau melihat sendiri, aku adalah... heh-heh, masih pengantin baru! Bagaimana aku dapat mengotori suasana meriah dengan isteriku tersayang ini dengan pertandingan? Isteriku tentu akan merasa gelisah setengah mati! Kim-mo Taisu, kalau kau memang jagoan dan tidak menyesal dengan tantanganmu, biarkan aku beristirahat selama tiga hari untuk mengumpulkan tenaga, kemudian tiga malam berikut ini aku akan menantimu di puncak gunung ini, dimana kita akan dapat bertanding sepuas hati kita tanpa mengganggu isteriku. Bagaimana, apakah kau berani?"
Kim-mo Taisu tertawa bergelak.
Ia cukup berpengalaman, dan ia dapat menduga bahwa calon lawannya itu mencari alasan kosong.
Entah tipu muslihat apa yang hendak digunakannya tiga hari kemudian di Puncak Tapie-san.
Akan tetapi ia sama sekali tidak merasa gentar.
"Heh-heh-heh, tiga malam yang akan datang kebetulan bulan gelap. Aku akan menantimu pagi-pagi pada hari keempat dipuncak. Nah, aku pergi!"
Setelah melenggang keluar dari ruangan itu, terus berjalan dengan langkah seenaknya dan tidak mempedulikan pandang mata para pengemis yang menjaga di luar gedung.
Setelah keluar dari gedung, tubuhnya bergerak cepat dan sebentar saja lenyaplah bayangannya dari pandang mata pengemis yang tebelalak lebar penuh kekaguman dan juga ketakutan.
Baru kali ini mereka melihat ada orang yang berani menantang kai-ong mereka dapat keluar dengan selamat dan seenaknya!
Suhu...!!"
Bu Song berseru girang sekali ketika ia melihat Kim-mo Taisu duduk bersamadhi dibawah pohon.
Kedua kakinya sudah merasa amat lelah mendaki bukit yang amat sukar itu, akan tetapi begitu melihat suhunya, semangatnya timbul dan ia berlari terengah-engah di jalan tanjakan, menghampiri suhunya.
Kim-mo Taisu membuka kedua matanya dan tersenyum girang memandang muridnya.
Bocah yang sama sekali tidak pandai ilmu silat ini telah membuktikan keberanian luar biasa dan keuletan yang mengagumkan bahwa ia dapat juga menyusulnya sampai ke lereng gunung yang merupakan perjalanan amat sukar bagi orang yang tidak terlatih ilmu silat.
Muridnya itu datang dengan muka agak pucat dan tubuh membayangkan kelelahan hebat, akan tetapi pundi-pundi uang itu masih digendongnya dan semangat besar masih bernyala-nyala di sepasang mata yang bersinar-sinar itu.
"Bu Song, lekas kau duduk bersila disini. Kau harus belajar bagaimana memulihkan tenagamu kembali dan menghilangkan lelah."
Bu Song tidak membantah.
Diturunkannya pundi-pundi dari pundaknya, kemudian ia duduk bersila didepan gurunya, meniru kedudukan kaki yang ditekuk tumpang tindih.
"Tarik napas dalam-dalam sewajarnya tanpa paksaan, busungkan dada kempiskan perut, tarik terus yang panjang..."
Kim-mo Taisu memberi petunjuk sambil memberi contoh.
Bu Song memandang gurunya dan mentaati perintah ini, terus menarik napas dan merasa betapa dadanya penuh sekali.
"Keluarkan napas, perlahan-lahan sewajarnya tanpa paksaan, kempiskan dada busungkan perut. Nah, begitu ulangi sampai sembilan kali, makin panjang makin baik."
Otomatis Bu Song mentaati perintah suhunya ini, makin lama makin baik cara ia bernapas.
Kemudian sambil masih bersila, Kim-mo Taisu mengajar muridnya mengatur napas, menarik napas dari dada keperut, menahannya ketengah pusar sampai perut terasa panas hangat, memberi petunjuk pula cara menguasai napas.