Eps 8 Suling Emas - Kho Ping Hoo
Baca online Suling Emas - Kho Ping Hoo
Cersil Suling Emas - Kho Ping Hoo.
"Kau umpamakan napasmu seekor naga yang sukar dikendalikan, akan tetapi kau harus dapat menunggang naga itu, kau biarkan dirimu dibawa terbang keluar masuk, terus kau tunggangi jangan lepaskan sedikitpun juga, akhirnya kau tentu akan mampu menguasai dan menaklukannya."
Demikianlah Kim-mo Taisu memberi petunjuk.
Kemudian ia mengajar muridnya untuk sambil duduk bersila menguasai napas, duduknya tegak dengan punggung lurus, muka lurus kedepan, pandang mata menunduk ke arah ujung hidung, seluruh panca indera dipusatkan "menunggang naga".
Inilah inti pelajaran ilmu bersamadhi, dan siulian atau samadhi ini pula menjadi dasar pelajaran ilmu silat tinggi.
Tentu saja Bu Song sama sekali tidak mengira bahwa gurunya mulai menurunkan ilmu yang menjadi dasar ilmu silat tinggi.
Diam-diam Kim-mo Taisu kagum bukan main menyaksikan kekerasan hati dan kemauan muridnya.
Sayang muridnya terlalu membenci ilmu silat sehingga sukarlah baginya untuk melatih ilmu silat.
Bocah ini yang baru saja tiba setelah melalui perjalanan yang amat melelahkan, kini sanggup untuk bersamadhi, sungguhpun baru saja dimulai hari ini, dari pagi sampai sore!
"Cukuplah!"
Kata Kim-mo Taisu sambil meraba punggung muridnya. Bu Song bagaikan sadar dari mimpi (Lanjut ke
Jilid 18) SULING EMAS (Seri ke 02
"Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 18 indah dan dengan hati girang ia merasa betapa tubuhnya sehat dan segar, tidak merasakan kelelahan lagi.
"Kau harus melatih siulian setiap kali ada waktu kosong. Dengan latihan ini, tubuhmu akan menjadi sehat, tidak mudah lelah dan tidak mudah diserang penyakit."
"Kapankah Suhu akan mengajarkan ilmu menulis indah kepada teecu (murid)?"
"Ha-ha-ha! Tidaklah mudah, Bu Song. Kau tentu tahu, tulisan huruf indah baru dapat disebut indah kalau tulisan itu dapat mengandung goresan yang bertenaga, dan untuk menghimpun tenaga dalam tangan agar dapat membuat goresan yang tepat, perlu tanganmu diisi tenaga. Dalam latihan siulian ini dapat membuat tanganmu bertenaga. Besok kuajarkan bagaimana kau harus menggunakan pernapasanmu untuk membangkitkan tenaga dari dalam pusar, menggunakan kekuatan hawa yang kau sedot itu untuk menerobos kepergelangan tangan dan jari-jari tanganmu. Baru setelah tanganmu bertenaga, akan kuajarkan engkau menulis huruf indah."
Kim-mo Taisu memandang muridnya dengan mata berseri-seri akan tetapi diam-diam dia merasa malu kepada diri sendiri bahwa ia harus bicara secara berputar-putar dan seakan-akan ia menipu muridnya ini yang tidak mau belajar ilmu silat!
Ia melihat betapa muridnya memandangnya penuh perhatian, sinar matanya memancarkan kepercayaan dan ketaatan yang tulus.
Terharu hati Kim-mo Taisu.
Bocah ini hebat, memiliki bakat yang baik sekali disamping watak yang keras dan bersih.
Entah apa sebabnya, mungkin pandang mata itulah, yang membuat Kim-mo Taisu benar-benar tertarik dan jatuh sayang kepada anak ini.
Ia merangkul pundak muridnya dan berkata halus.
"Bu Song, kau mengasolah. Kau tentu lapar, bukan? Nah, coba kau mencari makanan seperti yang kau lakukan ketika kau mendaki bukit ini selama tiga hari tiga malam."
"Baiklah, Suhu."
Bu Song lalu memasuki hutan di sebelah kiri, menyusup-nyusup sampai jauh dan akhirnya dengan hati girang ia mendapatkan sebuah pohon apel yang buahnya banyak yang sudah tua dan matang.
Segera ia memanjat pohon itu dan memetik banyak buah apel yang kulitnya kuning kemerahan dan baunya sedap mengharum itu.
Buah-buahan itu ia masukkan kedalam kantung uang sampai penuh.
Tiba-tiba telinganya mendengar bunyi kelenengan kuda, nyaring sekali bunyi itu, bergema diantara pohon-pohon.
Suara yang menyelinap kedalam telinganya seakan-akan berubah menjadi jarum-jarum yang menusuk telinga dan masuk merayap melalui urat-uratnya, membuat Bu Song menggigil dan tak dapat pula ia mempertahankan diri, buah-buah berikut pundi-pundi uang terlepas jatuh disusul tubuhnya jatuh pula dari atas pohon!
Untung baginya, Pohon itu tidak terlalu tinggi, juga ketika ia terjatuh, tubuhnya tertahan oleh cabang dan dahan di sebelah bawah sehingga ketika ia terbanting keatas tanah, Bu Song hanya merasa pinggul dan bahu kirinya saja yang agak sakit.
Begitu ia melompat bangun lagi, suara itu masih terngiang ditelinganya, membuat kepalanya pening dan tubuhnya sakit-sakit.
Betapapun ia menahan dan menutupi telingan dengan kedua tangan, tetap saja suara itu menembus masuk.
Saking sakitnya, serasa seperti jantungnya ditusuk-tusuk jarum, Bu Song bergulingan diatas tanah, merintih-rintih.
Ingin ia melompat dan lari ketempat suhunya, namun suara kelenengan itu makin keras dan kini ia sudah bangkit berdiri lagi.
Tiba-tiba ia teringat akan nasihat suhunya.
"Kalau kau berhasil menunggang naga, apa pun didunia ini tidak akan mampu mengganggu badan dan pikiranmu."
Menunggang naga adalah istilah untuk duduk memusatkan perhatian kepada masuk keluarnya hawa pernapasan.
Teringat akan ini, cepat-cepat Bu Song mengerahkan tenaganya untuk duduk bersila, kemudian mengerahkan pula segenap tekad dan kemauannya untuk menarik semua panca indera, terutama pendengarannya, menjadi satu dan memaksa diri "menunggang naga"
Seperti yang pernah ia latih dibawah petunjuk suhunya. Sebentar saja anak yang bertekad membaja ini telah berhasil "tenggelam"
Kedalam keadaan diam, tekun menunggang naga pernapasannya sendiri sehingga lupa pula akan suara kelenengan yang mempunyai daya mujijat tadi!
Suara kelenengan masih terdengar nyaring, akan tetapi kini seakan-akan hanya lewat diluar daun telinganya saja, tidak mampu masuk karena telinga itu telah ditinggalkan "penumpangnya"
Atau penjaganya yang sedang seenaknya menunggang naga!
Setelah lama suara kelenengan itu tidak berbunyi lagi, baru Bu Song sadar bahwa telinganya tidak menghadapi bahaya suara mujijat itu, maka ia lalu melompat bangun, mengumpulkan buah-buah yang berceceran dan membungkusnya didalam pundi-pundi uang.
Kemudian ia lari menuju ketempat suhunya.
Bunyi kelenengan yang tadi terdengar oleh Bu Song keluar dari sebuah kelenengan kecil yang dibunyikan oleh tangan seorang kakek tinggi besar.
Kakek ini menunggang keledai kecil sehingga kelihatannya lucu sekali.
Kedua kakinya yang panjang tergantung dikanan kiri perut keledai hampir menyentuh tanah.
Namun keledai kecil itu ternyata mampu berjalan cepat dan pandai pula mendaki bukit.
Sambil membunyikan kelenengan, kakek ini melenggut diatas punggung keledai, hiasan bulu diatas kain kepalanya mengangguk-angguk dan jubahnya yang panjang lebar itu melambai-lambai tertiup angin gunung.
Ketika keledai itu tiba didepan Kim-mo Taisu yang masih duduk bersila dibawah pohon, kakek itu mengeluarkan seruan tertahan dan keledainya berhenti.
Ia lalu melompat turun dan sengaja membunyikan kelenengannya didepan Kim-mo Taisu sambil mengerahkan tenaganya.
Terheran-heran kakek itu melihat betapa orang yang duduk bersila itu masih saja duduk, sama sekali tidak bergeming biarpun bunyi kelenengan itu sebetulnya dapat merobohkan lawan tangguh!
Tiba-tiba Kim-mo Taisu membuka matanya memandang kakek itu lalu tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha! Makin tua kau makin ugal-ugalan saja, Pat-jiu Sin-ong!"
Kakek itu terbelalak kaget.
Kelenengannya terhenti dan ia membungkuk untuk memandang lebih teliti orang yang duduk bersila itu.
Seorang berusia tiga puluhan, tubuhnya tegap rambutnya riap-riapan mukanya terselimut awan kedukaan, pakaiannya tambal-tambalan dan kakinya telanjang.
"Kau mengenal aku?"
"Beng-kauwcu, apakah usia tua sudah membuat kau menjadi lamur sehingga tidak mengenal lagi bekas calon mantumu? Ha-ha-ha!"
Kim-mo Taisu melompat berdiri.
"Hehh....?? Kau... kau... Kim-mo-eng Kwee Seng...!"
Kakek itu menjelajahi tubuh Kim-mo Taisu dari kepala sampai kekaki dengan pandang mata tidak percaya.
"Cukup Kim-mo Taisu saja, Kauwcu."
"Aha! Jadi kaulah Kim-mo Taisu....?"
Kakek itu lalu merangkul pundak dan tertawa bergelak-gelak.
"Siapa akan mengira...! Dahulu kau seorang sastrawan tampan, sekarang... sekarang..."
"Seorang jembel busuk!"
"Ha-ha-ha! Alangkah akan girang hatiku kalau melihat anakku berpakaian jembel duduk disampingmu bersiulian dibawah pohon! Ahhh, sayang tidak demikian jadinya. Eh, Kwee Seng, menyesal sekali dahulu ada penjahat secara menggelap menyerangmu sehingga kau jatuh kedalam jurang. Sungguh mati, kukira kau sudah hancur di dasar jurang."
"Sebaiknya begitu, sayang nyawaku belum mau meninggalkan tubuh yang buruk nasib ini, masih ingin membiarkan tubuh ini menderita. Pat-jiu Sin-ong, bagaimana kau bisa sampai di sini?"
Kakek itu menarik napas panjang.
"Semua gara-gara Lu Sian, anak durhaka itu. Eh, apakah kau tidak pernah bertemu dengannya?"
Kim-mo Taisu menggeleng kepala, didalam hatinya ia enggan bicara tentang bekas kekasihnya itu.
"Dia sudah pergi meninggalkan suaminya, Jenderal Kam Si Ek! Ahhh, alangkah untungnya kau. Kalau dia menjadi isterimu, agaknya kau pun akan makan hati seperti aku yang menjadi ayahnya. Dia pulang menceritakan bahwa dia meninggalkan suaminya, ketika aku marah-marah kepadanya, ia malah minggat sambil mencuri kitab-kitabku. Benar-benar anak durhaka dia! Aku mencarinya sampai berbulan-bulan. Kau benar-benar beruntung dapat terlepas daripadanya."
Tiba-tiba Kim-mo Taisu tertawa bergelak sambil memandang awan.
"Ha-ha-ha! Pat-jiu Sin-ong, kau bilang aku bahagia karena terlepas daripadanya, bukankah kau juga sudah terlepas daripadanya? Bukankah dengan demikian kita sama-sama menjadi orang bahagia?"
Suara ketawa Kim-mo Taisu bergema di seluruh hutan dan didalam hatinya, kakek itu terharu karena ia mampu menangkap tangis hati yang terkandung dalam suara tawa itu.
Maka ia pun tertawa dan berkata.
"Kau benar! Kita harus rayakan ini! Dua orang laki-laki, muda dan tua, tunangan dan ayah, terbebas dari rongrongan seorang wanita siluman! Ha-ha-ha! Kita harus rayakan ini, tunggu... aku membawa arak baik!"
Kakek itu lari kearah keledainya yang makan rumput tak jauh dari situ, mengambil guci arak dari atas pelana, menuangkan arak kedalam dua buah cawan dan membawanya kembali kepada Kim-mo Taisu.
Mereka lalu minum arak bersama sambil berangkulan dan tertawa-tawa.
Dua orang aneh didunia kang-ouw bertemu dan kecocokan watak mereka mendatangkan kegembiraan sementara.
Saking gembira, mereka tidak melihat bahwa seorang anak laki-laki melihat dan mendengar percakapan mereka.
Anak ini Bu Song dan mendengar bahwa kakek itu adalah Pat-jiu Sin-ong, wajahnya berubah.
Kiranya orang tua itu adalah kakeknya sendiri!
Tentu saja ia sudah mendengar penuturan kedua orang tuanya tentang kakeknya, Ketua Beng-kauw yang berjuluk Pat-jiu Sin-ong bernama Liu Gan.
Dan sekarang kakeknya berada disini, kalau mengenalnya sebagai putera ibunya, tentu akan membawanya ke selatan!
Menurutkan kata hatinya Bu Song sudah ingin berlari pergi meninggalkan tempat itu, akan tetapi ia teringat akan gurunya yang lapar, maka ia lalu menurunkan buntalan pundi-pundi uang berikut apel, dengan hati-hati dan perlahan ia meletakkan buntalan itu keatas tanah, kemudian berindap-indap sambil menoleh memandang kedua orang yang masih minum sambil tertawa-tawa, pergi dari tempat itu.
Dua butir air mata menghias pipinya ketika ia teringat akan ucapan kakeknya tentang ibunya.
Setelah dua orang itu tidak tampak lagi.
Bu Song lalu pergi secepatnya.
Setelah arak yang diminum habis, Pat-jiu Sin-ong melepaskan rangkulannya, melempar cawan kosong kebawah lalu berkata.
"Kim-mo Taisu, sekarang kau bersiaplah, mari kita mengadu kepandaian!"
Kim-mo Taisu menghela napas, melemparkan cawan kosongnya pula keatas tanah.
"Pat-jiu Sin-ong, apa pula ini? Kau tahu bahwa aku takkan bisa mengalahkanmu, dan pula, aku pun tidak ada nafsu untuk bertempur denganmu. Tidak ada alasan bagiku maupun bagimu untuk saling serang."
"Ha-ha-ha, tidak ada alasan katamu? Akulah yang membuat engkau terjungkal kedalam jurang. Nah, sekarang tiba saatnya kau harus membalas dan aku bersedia melayanimu untuk membayar hutang. Aku yang membuatmu menjadi seperti ini, tak usah kau pura-pura, seorang laki-laki harus berani menghadapi kenyataan!"
Akan tetapi Kim-mo Taisu menggeleng kepala.
"Kenyataannya bukan seperti yang kau kira. Aku tidak mendendam kepadamu. Bukan kau yang merobohkan aku beberapa tahun yang lalu. Dan aku tahu bahwa kau tidak mempunyai niat buruk, dahulu maupun sekarang Pat-jiu Sin-ong, kau seorang laki-laki sejati dan aku tidak suka bermusuhan denganmu."
"Eh-eh!"
Pat-jiu Sin-ong Liu Gan mencela dengan suara kecewa.
"Siapa bilang tidak ada alasan? Bertahun-tahun aku tak pernah bertemu lawan tangguh, tanganku gatal-gatal. Kalau kau tidak mendendam kepadaku, sebaliknya akulah yang mendendam padamu dan sekarang kau harus membereskan hutangmu kepadaku!"
Berkerut alis Kim-mo Taisu.
"Hem, hem...! Kalau begini lagi. Katakan, aku berhutang apa kepadamu? Kalau memang berhutang, tentu saja akan kubayar."
"Ha-ha-ha, kau masih berpura? Aku kehilangan anak, aku menderita karena anak. Semua ini gara-gara engkau dahulu menolaknya. Aku baik-baik menyerahkan dia kepadamu, akan tetapi kau tidak mencintanya dan tidak mau menjadi suaminya maka timbul urusan seperti sekarang ini. Andaikata dahulu kau suka memperisteri dia, tentu kita semua akan hidup bahagia. Nah, penghinaanmu itu bukankah hutang besar?"
Tertusuk hati Kim-mo Taisu mendengar ini.
Bukan dia yang menolak, melainkan Liu Lu Sian.
Dia mencinta Lu Sian, akan tetapi Lu Sian tidak mencintanya!
Akan tetapi sebagai laki-laki, tentu saja ia malu untuk mengaku terus terang akan hal ini kepada Pat-jiu Sin-ong.
Pula, ia pun ingin sekali memperlihatkan kepandaiannya.
Kalau dibandingkan dengan beberapa tahun yang lalu, tingkatnya telah maju amat jauh.
Kalau sebelum masuk ke Neraka Bumi saja ia sudah sanggup menandingi Pat-jiu Sin-ong, agaknya sekarang ia akan mampu merobohkan kakek sakti ini secara mudah.
Dan ia pun sudah lama tidak berlatih melawan seorang lawan yang tangguh sedangkan sekarang tiba kesempatan yang amat baik.
Ia mengangguk-angguk.
"Baiklah kalau begitu pendapatmu, Pat-jiu Sin-ong. Nah, aku sudah siap, kau mulailah!"
Wajah kakek itu berseri girang.
"Kepandaianku sudah maju pesat, orang muda, kau waspadalah!"
Tiba-tiba ia memekik keras sekali dan tubuhnya bergerak kedepan, jubahnya yang leber itu berkibar mendatangkan angin yang dahsyat.
Kim-mo Taisu kagum.
Pekikan itu mengandung tenaga khi-kang yang hebat sekali dan seandainya ia tidak mengalami latihan luar biasa di Neraka Bumi, oleh daya pekik ini saja ia tentu sudah kendor semangat.
Cepat ia menggeser kakinya miringkan tubuh mengelak ke kiri sambil terus menghantamkan tangan kanannya dengan bantingan lengan dan tangan terbuka, serangan yang kelihatannya bertahan saja akan tetapi sebetulnya hebat bukan main karena ia telah mempergunakan Ilmu Silat Bian-sin-kun (Tangan Kapas Sakti).
"Beng-kauwcu, awas serangan balasan!"
Pat-jiu Sin-ong melihat datangnya serangan tanpa didahului angin pukulan akan tetapi telah terasa hawa amat dinginnya, menjadi terkejut dan cepat-cepat ia pun mengelak sambil melompat kekanan.
"Bagus, kau hebat!"
Katanya sambil menerjang lagi.
Bertandinglah dua orang sakti itu, mula-mula hanya dengan jurus satu-satu dan lambat, akan tetapi makin lama makin cepat dan kuatlah gerakan mereka sehingga tubuh mereka lenyap tak tampak lagi, yang kelihatan hanya gundukan bayangan mereka yang sudah bercampur menjadi satu dan sukar dibedakan.
Sejam sudah mereka bertanding.
Keduanya merasa kagum bukan main akan kemajuan lawan.
Sepasang lengan sudah terasa sakit-sakit karena sering beradu, namun belum pernah pukulan mereka mengenai sasaran.
Kim-mo Taisu selain kagum juga mulai bosan dan kuatir.
Kalau dilanjutkan, tentu seorang diantara mereka akan terluka hebat.
Ia tidak ingin melukai orang tua itu, dan tentu saja tidak ingin dilukai, akan tetapi ia mengenal pula tabiat Pat-jiu Sin-ong yang gemar bertanding, sukar untuk dihentikan begitu saja.
Pada saat Kim-mo Taisu memutar otak mencari jalan untuk menghentikan pertandingan ini, tiba-tiba Pat-jiu Sin-ong menyerang dengan pukulan kedua tangan berbareng sambil merendahkan tubuh, kedua kaki ditekuk dan kedua lengan dilonjorkan dengan jari-jari tangan terbuka, menghantam kearah dada Kim-mo Taisu.
Jangan disangka ringan pukulan Ketua Beng-kauwcu ini.
Tubuhnya yang setengah berjongkok itu dalam posisi pengumpulan tenaga dari pusat bawah perut yang meluncur keluar melalui kedua lengan yang dilonjorkan.
Dengan pukulan simpanan Beng-kong-tong-te (Sinar Terang Menggetarkan Bumi) ini, dalam jarak lima meter, Ketua Beng-kauw ini sanggup merobohkan sebatang pohon hanya dengan hawa pukulannya.
Inilah sebuah diantara jurus-jurus rahasia yang tak pernah ia keluarkan, yang kesemuanya ia himpun dan catat dalam kumpulan tiga kitab rahasia Sam-po-cin-keng (Tiga Kitab Pusaka) dan yang kesemuanya kini lenyap dicuri puterinya sendiri!
Pukulan Beng-kong-tong-tee ini adalah ciptaannya sendiri dan merupakan pukulan yang ia banggakan, oleh karena itu ia beri nama sebagai lambang daripada Agama Beng-kauw (Agama Terang) yang ia pimpin.
Jurus ini demikian hebat dan gemilang seakan-akan Agama Beng-kauw yang merupakan sinar terang menggetarkan bumi.
Karena ingin sekali memperoleh kemenangan atas lawannya yang amat tangguh ini, Pat-jiu Sin-ong mengeluarkan pukulan itu akan tetapi oleh karena ia diam-diam memang menaruh sayang kepada Kim-mo Taisu dan tidak ingin mencelakainya, maka ia hanya mempergunakan tiga perempat bagian saja dari tenaga sin-kangnya.
Menyaksikan gerak pukulan lawan, terkejutlah Kim-mo Taisu.
Sebagai seorang ahli silat tingkat tinggi, sekali pandang saja dapatlah ia mengenal pukulan ampuh, maka ia pun cepat-cepat memasang kuda-kuda dan dengan kaki terpentang kokoh dan kuat dan kedua lengannya pun ia hantamkan ke depan dengan tangan terbuka.
Tak berani ia mempergunakan tangan kapas lagi, karena maklum bahwa kedua tangan lawannya amatlah kuat dan berbahaya, maka ia juga mengerahkan sin-kangnya untuk melawan keras sama keras.
"Wuuuttt! Dess...!!"
Jarak antara mereka dekat, maka dua pasang telapak tangan itu bertemu di udara, hebatnya bukan main pertemuan dua tenaga sin-kang kedua orang sakti ini.
Akibatnya pun hebat karena keduanya terlempar kebelakang dan terhuyung-huyung seperti layang-layang putus talinya sampai mereka terpisah sepuluh meter jauhnya.
Kim-mo Taisu jatuh terduduk, napasnya terengah-engah dan ia cepat bersila dan mengatur pernapasannya.
Pat-jiu Sin-ong juga jatuh terduduk, dari mulutnya tersembur keluar sedikit darah segar.
Untung bagi Ketua Beng-kauw ini bahwa Kim-mo Taisu juga mempergunakan tiga perempat tenaganya saja untuk menghadapi pukulannya tadi, dan karena tenaga mereka memang seimbang, maka keduanya tidak sampai menderita luka dalam.
Hanya Pat-jiu Sin-ong lebih rugi karena dia yang menyerang, maka benturan tenaga seimbang itu membuat tenaga serangannya membalik sendiri dan membuat ia menderita lebih banyak daripada lawannya.
Dalam penggunaan tenaga dalam, tenaga dan napas, tidak sampai lima menit keduanya sudah melompat bangun.
"Ha-ha-ha, kau hebat, Kim-mo Taisu. Akan tetapi aku masih belum kalah. Hayo kita lanjutkan!"
Kata-kata ini diucapkan dengan wajah berseri, tanda bahwa kakek itu girang dan puas sekali dapat bertanding dengan seseorang lawan yang dapat menandinginya.
Akan tetapi Kim-mo Taisu tidak punya nafsu lagi bermain-main dengan kakek itu.
"Cukuplah, Kauwcu. Aku harus menyimpan tenaga karena akan menghadapi lawan yang lebih tangguh daripadamu di puncak ini besok. Lain kali saja kita lanjutkan."
Biarpun sudah tua, watak Pat-jiu Sin-ong yang tak mau kalah itu masih tetap ada.
Mendengar ada lawan yang lebih tangguh daripadanya, ia menjadi penasaran sekali.
"Hemm, siapakah dia yang kau katakan lebih tangguh daripada aku?"
Kim-mo Taisu tersenyum. Memang ia cukup mengenal watak kakek ini maka tadi ia sengaja bilang demikian agar Si Kakek mau berhenti.
"Dia seorang tokoh baru, masih muda, agaknya kau belum mengenalnya, julukannya Raja Pengemis yang menguasai seluruh kai-pang diempat penjuru."
"Hemm, hemm ada kai-ong baru, ya? Ingin sekali aku melihat macamnya bagaimana. Kau hendak bertanding dengannya? Ha-ha-ha, Kim-mo Taisu, kalau kau kalah olehnya kemudian aku mengalahkannya, bukankah itu sama saja dengan pertandingan kita dilanjutkan? Ha-ha, kita lihat saja nanti!"
Sambil tertawa-tawa Pat-jiu Sin-ong lalu berjalan menghampiri keledainya, sekali kaki kanannya diayun keatas ia sudah duduk dipunggung keledai kecil itu dan berlarilah si keledai ketika mendengar kelenengan yang dibunyikan oleh penunggangnya.
Setelah bunyi itu kelenengan itu lenyap dan bayangan Pat-jiu Sin-ong tak tampak lagi, barulah Kim-mo Taisu sadar dari lamunannya.
Perjumpaannya dengan kakek itu sekaligus membangkit kan ingatannya kepada Lu Sian.
Jadi Lu Sian telah menikah dengan Kam Si Ek, jenderal muda yang amat terkenal itu?
Jodoh yang tepat!
Akan tetapi mengapa Lu Sian kemudian meninggalkan suaminya?
Bukan urusannya semua itu, namun sukar baginya untuk tidak memikirkannya.
Ia mengeluh dan membalikkan tubuh.
Tampaklah buntalan pundi-pundi uang, akan tetapi ia tidak melihat Bu Song.
Baru sekarang ia teringat kepada Bu Song.
"Bu Song!"
Ia memanggil.
Tiada jawaban.
Ia menyambar buntalan dan melihat bahwa di dalamnya ada beberapa buah apel, ia makin heran.
Anak itu telah berhasil mencarikan buah untuknya, menaruh dalam bungkusan, mengapa lalu pergi?
Dan kemana perginya?
"Bu Song....!"
Ia berseru lebih keras.
Tetap tak ada jawaban.
Tidak enaklah hatinya dan mulai ia mencari-cari sambil berseru memanggil-manggil nama muridnya.
Kemanakah perginya Bu Song?
Anak ini setelah mendengar bahwa orang tua yang bercakap-cakap dengan gurunya itu adalah kakeknya, meninggalkan tempat itu sambil berlari-lari cepat.
Ia berlari-lari terus tanpa tujuan tertentu, naik turun pegunungan.
Kakinya sudah lelah bukan main namun ia tidak mau berhenti.
Akhirnya dari puncak sebuah bukit kecil ia melihat atap rumah dilereng bawah.
Ia berlari lagi menuruni puncak dan akhirnya karena tak dapat menahan lelahnya, ia roboh terguling diluar pagar rumah yang berdiri tanpa tetangga dilereng itu.
Sebuah rumah yang sederhana, dari papan, namun bersih dan cukup luas.
Bu Song merangkak bangun, memandang kearah rumah itu.
Dari bagian belakang rumah tampak asap mengepul dan terciumlah bau masakan yang gurih dan sedap.
Seketika perut Bu Song meronta-ronta dan anak ini menelan ludah beberapa kali.
Untuk dapat ikut makan masakan di rumah ini, ia harus membantu pemilik rumah bekerja, seperti yang sudah-sudah.
Tanpa ragu-ragu lagi ia lalu memasuki pekarangan rumah.
"Haiii! Bocah, siapa kau dan mau apa?"
Tiba-tiba terdengar bentakan keras dan tahu-tahu dibelakangnya berdiri seorang kakek yang dahinya lebar sekali, mukanya berkeriput dan memegang sebatang tongkat.
Bu Song tersentak kaget.
Tadi dipekarangan itu sama sekali tidak tampak ada orang, bagaimana kakek ini tiba-tiba muncul seperti keluar dari dalam bumi?
"Maafkan aku, kek.
Aku ingin membantu pemilik rumah ini dengan pekerjaan apa saja, sekedar mendapat upah makan."
Katanya sambil menjura dengan hormat.
Kakek itu memandang kepadanya.
Matanya menakutkan, mata yang bundar dan lebar setengah melotot, mulutnya yang ompong itu berkemak-kemik.
"Kau akan mengemis makanan?"
Kini Bu Song yang mengedikkan mukanya dan pandang mata anak ini tajam melotot pula.
"Aku bukan pengemis! Aku mau bekerja, dan kalau tidak diberi pekerjaan, aku pun tidak sudi minta makanan! Kalau disini tidak ada pekerjaan, sudahlah!"
Dengan membusungkan dada Bu Song sudah memutar tubuh hendak keluar dari pekarangan itu.
Akan tetapi tiba-tiba kakinya seperti tertarik sesuatu sehingga ia terguling jatuh.
Ketika Bu Song merayap bangun, kakek itu sudah berada didekatnya dan tersenyum mengejek.
"Bocah, tinggi hati sekali kau! Kalau cara orang minta pekerjaan semacam caramu ini, selamanya kau takkan bisa mendapat pekerjaan. Kau bisa apa? Hemm, tubuhmu kuat, apa kau bisa mengambil air dari sumber di puncak itu dipikul kesini? Kalau kau sanggup, akan kami beri makan sekarang juga."
Girang sekali hati Bu Song. Ia tadi secara aneh terguling roboh, akan tetapi ia tidak mengira sama sekali bahwa kakek inilah yang merobohkannya.
"Tentu saja aku sanggup, Kek. Akan kupenuhi semua tempat air disini."
"Tak perlu omong besar lebih dulu, sebaiknya isi perutmu sampai kenyang agar kau kuat mengambil air. Mari ikut ke dapur!"
Dibagian dapur rumah itu, Bu Song bertemu dua orang lain.
Seorang adalah wanita setengah tua, yang kedua seorang kakek pula yang tubuhnya tinggi besar dan tubuh bagian atas selalu tak tertutup pakaian.
Adapun yang wanita selalu cemberut, tak banyak cakap akan tetapi sikapnya galak sekali, berbeda dengan kakek tinggi besar yang selalu tersenyum dan sering tertawa berkelakar.
"Heh, A-kwi, jenggot kambing! Kau datang membawa anak kelaparan lagi?"
Tegur Si Tanpa Baju kepada kakek pertama.
"Aiiih, jangan kau main-main dengan bocah ini, A-liong. Dia sama sekali bukan pengemis, melainkan ingin bekerja membantu kita. Aku tadi mengira dia pengemis, dia marah-marah dan hendak pergi. Ia tidak sudi diberi makanan kalau tidak diberi pekerjaan. Pernahkah kau mendengar hal seaneh ini?"
Kakek yang bernama A-liong itu memandang tajam, juga Si Nenek berpaling memandang.
"Sam-hwa, kau isilah padat-padat perut anak ini lebih dulu, baru suruh dia mencari air ke puncak. Ia berkata sanggup memenuhi semua tempat air disini. Lucu, kan?"
Nenek yang disebut Sam-hwa itu mengerutkan kening dan diam-diam Bu Song sudah merasa kecewa mengapa ia tadi minta pekerjaan ditempat ini.
Agaknya orang serumah tidak ada yang waras!
"Kau makanlah dan ambil sendiri diatas meja itu."
Kata Si Nenek tak acuh.
Karena yakin bahwa yang akan dimakannya itu adalah hasil keringatnya nanti, tanpa malu-malu atau ragu-ragu lagi Bu Song menghampiri meja dan melihat nasi dan masakan-masakan masih mengebulkan asap, perutnya makin memberontak lagi.
Ia segera mengambil mangkok kosong dan mengisinya dengan nasi dan masakan, lalu mulai makan dengan lahapnya.
Lezat benar masakan itu, sungguhpun bahannya sangat sederhana.
Bu Song adalah seorang anak yang sehat dan telah lama ia tidak bertemu nasi, setiap hari hanya makan buah-buahan saja, maka kini ia kuat sekali makan.
Setelah ia menaruh mangkok kosong dan berhenti makan, persediaan nasi ditempat nasi tinggal setengahnya lagi!
"Ho-ho-ha-ha-hah!
Malam ini kita berpuasa, A-kwi!"
Kata A-liong sambil tertawa berkakakan, perutnya yang tak tertutup baju itu berguncang-guncang.
"Bocah ini kuat sekali makan, mudah-mudahan bekerjanya sekuat itu pula."
Kata A-kwi sambil menggeleng-geleng kepalanya.
Sam-hwa muncul dari pintu.
Melirik kearah tempat nasi, ia pun mengerutkan kening dan bertukar pandang dengan dua orang kakek itu.
"Apakah kau tidak sembrono, A-kwi? biar dia kuberi buah. Anak, mari terima!"
Ia melemparkan sebutir buah merah kearah Bu Song.
Anak ini cepat menyambutnya, akan tetapi ia berteriak kaget karena buah yang hanya sebesar kepalan tangannya itu terasa amat berat ketika ia sambut sehingga tanpa dapat ia pertahankan lagi ia roboh terjengkang.
Akan tetapi begitu korban roboh, buah itu ternyata biasa saja, sama sekali tidak berat.
Ia tak pernah belajar ilmu silat, tentu saja sama sekali tidak tahu bahwa yang membuat berat buah tadi menjadi berat adalah tenaga lontaran Si Nenek yang hendak mengujinya.
Melihat dia roboh terjengkang, nenek itu dan kedua kakek menarik napas lega.
A-kwi lalu menarik tangan Bu Song keluar dapur.
"Hayo, mulai bekerja. Itu tahang air dan pikulannya bawa keluar."
Bu Song dapat merasa betapa tangan kakek yang menariknya itu kuat bukan main.
Akan tetapi karena ia sudah menerima upahnya, ia tidak mau membantah lagi dan segera mengambil pikulan bersama tahang air dari kayu yang terletak disudut rumah.
"Kek, mengapa pikulannya begini kecil? Jangan-jangan tidak kuat menahan dua tahang air."
Celanya sambil mengamat-amati kayu pikulan yang kecil berwarna putih.
"Oho, jangan pandang rendah kayu ini. Sepuluh tahang air ia masih sanggup angkat tanpa patah! Mari kutunjukkan kepadamu letak sumber air di puncak."
Mereka berjalan keluar.
Mendadak berkelebat bayangan dari luar pekarangan dan alangkah kaget hati Bu Song ketika tiba-tiba ia melihat seorang kakek tua renta yang rambutnya riap-riapan seperti suhunya, seorang kakek yang kedua kakinya rusak, ditekuk bersila sedangkan dua batang tongkat yang menunjang ketiaknya menggantikan pekerjaan sepasang kaki.
"Siapa dia?"
Suara kakek lumpuh ini parau menyakitkan telinga. A-kwi sudah memberi hormat dengan membungkuk dalam sekali sampai punggungnya hampir patah dua.
"Ong-ya, dia anak yang bekerja mengambil air."
Kakek itu mengangguk-angguk, akan tetapi matanya menyapu tubuh Bu Song dari atas ke bawah.
"Siapa namamu?"
"Nama saya Bu Song, Kek."
"Hushh, jangan kurang ajar!"
A-kwi menjiwir telinga Bu Song.
"Kau harus sebut Ong-ya!"
Bu Song mengerutkan keningnya.
Daun telinganya terasa panas dan nyeri.
Ia mengangkat muka memperhatikan kakek lumpuh.
Kakek yang tua sekali, pakaiannya dan rambutnya kusut tidak karuan, masa disebut ong-ya?
Sebutan seolah-olah kakek ini seorang raja muda.
Bu Song yang banyak membaca tahu akan peraturan, maka ia menduga-duga.
Tak mungkin orang macam ini menjadi raja muda.
Ah, tentu seorang kepala rampok, pikirnya.
Sudah menjadi kebiasaan umum bahwa kepala perampok juga disebut Twa-ong!
Akan tetapi, menjadi kepala rampok juga tidak pantas.
Masa kakek lumpuh menjadi kepala rampok?
Karena kakek lumpuh ini tak mungkin menjadi raja muda maupun kepala rampok, maka Bu Song ragu-ragu dan tidak mau menyebut Ong-ya!
"Sudahlah, A-kwi, yang tidak tahu tak perlu dipaksa.
Dimana Nyonya Muda?"
"Pagi tadi Nyonya Muda bersama Nona Kecil keluar berkuda, mungkin seperti biasa berburu kelinci."
"Hemmm, kau keluar cari mereka, suruh pulang ada urusan penting."
"Baiklah, Ong-ya."
Kakek lumpuh itu menggerakkan tongkatnya dan...
sekali berkelebat bayangannya lenyap kedalam rumah.
Bu Song melongo dan bulu kuduknya meremang.
Kakek itu seolah-olah pandai terbang atau pandai menghilang saja.
Ah, kalau begitu tentulah kepala rampok, biarpun tua dan lumpuh namun agaknya pandai sekali ilmunya.
Ia merasa menyesal sekali.
Bekerja dikeluarga perampok!
Celaka, kalau ia tahu, biar diupah lebih banyak lagi ia tidak akan sudi.
Akan tetapi, nasi sudah masuk ke dalam perut, dan ia harus bekerja melunasi hutangnya.
"Nah, di puncak bukit itu terdapat sumber air. Lihat pohon besar itu? Dibawah pohon itulah letaknya, lekas kau pergi kesana mengisi kedua tahang ini, bawa kesini dan terus saja ke dapur, A-liong dan Sam-hwa akan memberi tahu kemana kau harus menuangkan air. Kerja yang baik, aku mau pergi!"
Setelah berkata demikian, kakek yang bernama A-kwi itu meloncat dan sebentar kemudian nampak bayangannya sudah jauh sekali seakan-akan ia lari setengah terbang.
Bu Song menghela napas panjang.
Hebat, pikirnya.
Orang-orang ini berkepandaian tinggi dan tanpa ia sengaja, ia agaknya telah terjatuh kedalam tangan segerombolan perampok dan harus bekerja untuk mereka.
Ia akan melakukan pekerjaannya cepat-cepat, memenuhi tempat air dan, kemudian segera meninggalkan tempat ini.
Dengan penuh semangat Bu Song lalu mendaki bukit menuju ke sumber air.
Perjalanannya sukar, namun ia telah terlatih menghadapi kesukaran.
Air jernih mengucur keluar dari sebuah guha kecil, membentuk kolam air yang tak pernah kering.
Segera Bu Song mengisi dua tahang air itu dan ketika ia memikulnya, benar saja, kayu pikulan itu dapat menahan dua tahang air, bahkan kayu ini mentul-mentul sehingga enak dipakai memikul.
Hati-hati ia lalu meninggalkan tempat itu, menuruni puncak menuju ke rumah dibawah yang tampak dari tempat itu.
Dahinya penuh peluh ketika ia tiba didapur rumah.
A-liong menyambutnya sambil tertawa-tawa.
"Latihan ini menguntungkan, tidak rugi kau, apalagi ditambah setengah bagian nasi ransum kami, ha-ha-ha! Nah, tuangkan air kedalam kolam itu."
Kaget sekali hati Bu Song melihat kolam air yang amat besar, terbuat dari pada batu.
Untuk memenuhi kolam ini, sedikitnya ia harus mengambil air sepuluh kali!
Celaka benar, ia tertipu.
Akan tetapi apa boleh buat, nasi sudah memasuki perut, ia harus memenuhi janjinya.
Hatinya mendongkol bukan main atas kekejaman orang-orang tua ini menipu dia, akan tetapi mulutnya tidak berkata apa-apa.
Setelah kedua tahang air berpindah tempat, ia lalu mendaki lagi.
Menjelang senja, sudah sembilan kali ia mengambil air.
Pundaknya serasa hendak copot, kedua kakinya seperti hendak lumpuh, tubuhnya sakit dan kelelahan yang dideritanya hebat sekali.
Akan tetapi sekali lagi, kolam itu akan penuh.
Ia sudah bekerja setengah hari untuk menebus hutang perutnya tadi!
"Ha-ha-ha, anak baik.
Kejujuran dan kekerasan hatimu menciptakan keuletan yang luar biasa.
Kau hampir lulus, tinggal satu kali lagi.
Sebentar akan kuceritakan kepada Nyonya Muda, tentu ia tertarik dan menaruh kasihan kepadamu."
Dengan wajah muram Bu Song hanya menjawab pendek.
"Aku tidak membutuhkan kasihan orang!"
Lalu ia membawa pikulan kosong mendaki bukit lagi, memaksa tubuhnya untuk berjalan gagah, akan tetapi karena memang sudah amat lelah, mana bisa ia berjalan dengan langkah tegap?
Ia terhuyung-huyung dan kedua kakinya tersaruk-saruk.
Hebatnya, A-liong malah menertawainya, membuat ia makin jenkel dan desakan hatinya untuk beristirahat ia tekan kuat-kuat.
Untuk kesepuluh dan penghabisan kalinya ia tiba dibawah pohon besar, mengisi kedua tahang itu penuh air.
Biarpun masih kecil, Bu Song maklum bahwa sekali ia beristirahat menurutkan dorongan hatinya, ia takkan mampu menyelesaikan pekerjaannya.
Maka ia memaksa diri dan memikul lagi pikulannya yang kini ia rasakan bukan main beratnya, seakan-akan bukan dua tahang air yang dipikulnya, melainkan dua puluh!
Baru ia menuruni tebing pertama, tiba-tiba ia mendengar suara orang.
Wajahnya berubah dan ia cepat-cepat menghampiri tempat itu dengan hati-hati sekali, sejenak lupa akan kelelahan kedua kakinya.
Itulah suara gurunya!
Suara gurunya tertawa-tawa bergelak!
Karena takut kalau-kalau Pat-jiu Sin-ong masih bersama gurunya.
Bu Song tidak berani muncul begitu saja.
Ia mengintai dari balik batu karang besar dan melihat betapa gurunya berdiri sambil bertolak pinggang dan tertawa didepan tiga orang laki-laki.
Seorang diantara mereka bermuka bopeng penuh totol-totol hitam orang yang berdiri ditengah memakai pakaian tambal-tambalan, dan orang ketiga bermuka sempit seperti tikus.
"Ha-ha-ha-ha! Kai-ong, aku sudah menduga bahwa kau tentu akan menyambutku dengan meriah, memanggil semua sekutumu. Tak bisa mengharapkan sifat jantan dari seorang pengemis. Akan tetapi aku tidak takut, Kai-ong. Kerahkan semua sekutumu untuk menjadi saksi, siapa diantara kita yang lebih kuat. Apakah kau sudah siap?"
Demikian kata Kim-mo Taisu. Pouw Kee Lui atau Pouw-kai-ong tersenyum menyeringai.
"Kim-mo Taisu, kau sombong benar. Memang sahabat-sahabat baikku ikut datang karena mereka ini pun tertarik sekali mendengar bahwa kau datang. Telah lama mereka mendengar namamu dan ingin sekali menyaksikan apakan nama besarmu itu tidak sia-sia belaka. Sahabatku ini adalah Hwa-bin-liong (Naga Muka Kembang) dari pantai timur, raja sekalian penjaga gunung (perampok)."
Ia menunjuk seorang sebelah kanannya yang bermuka bopeng.
"Sahabat yang seorang ini adalah Sin-ciang-hai-ma (Kuda Laut Bertangan Sakti), juga tokoh pantai timur, raja daripada bajak. Masih ada beberapa orang sahabat baikku yang akan datang menjumpaimu. Apakah kau takut?"
Bu Song mendengarkan semua itu dengan hati berdebar.
Wah, gurunya telah bertemu orang-orang jahat, pikirnya.
Pada saat itu, tiba-tiba telinga kanannya dijiwir orang, Bu Song kaget dan melirik.
Kiranya kakek A-kwi yang menjiwirnya.
"Hayo pikul tahang air itu dan bereskan pekerjaanmu, pemalas!"
Bisik Si Kakek tanpa melepaskan telinga Bu Song.
Bu Song kaget dan ia cepat bangkit lalu memikul pikulannya.
Ia tidak takut, melainkan taat karena tahu akan kewajiban.
Tinggal sekali lagi mengantar air, kemudian ia akan lari kembali kesini menonton gurunya.
Kakek A-kwi melirik kearah mereka yang sedang bantah-bantahan, nampaknya gelisah dan menarik telinga Bu Song agar anak itu berjalan lebih cepat.
Setelah agak jauh dari situ, kakek itu mengomel.
"Anak tolol, apakah kau mencari mampus? Banyak tontonan didunia ini, akan tetapi yang ditonton adalah harimau yang hendak bertempur melawan srigala-srigala! Gila betul. Hayo cepat dan jangan sekali-sekali kau beristirahat sebelum kau sampai dirumah. Aku jalan lebih dulu!"
Sekali berkelebat kakek itu sudah meloncat jauh kedepan, dan Bu Song sambil mengeluh didalam hatinya memaksa diri untuk berjalan pula menuruni bukit.
Istirahat yang sebentar tadi benar-benar membuat kedua kakinya hampir tak dapat dipakai berjalan.
Akan tetapi ia menggigit bibir, memaksa diri untuk cepat-cepat menyelesaikan tugasnya agar ia dapat kembali ke tempat itu untuk menjumpai gurunya.
Sementara itu, Kim-mo Taisu masih tertawa bergelak mendengar ucapan Pouw-kai-ong.
"Ha-ha-ha, segala rampok dan bajak. Pantas menjadi sahabat pengemis. Akan tetapi aku tidak punya urusan dengan segala macam rampok dan bajak. Aku sengaja datang untuk mengulangi tantanganku kepadamu, Kai-ong. Mari kita mulai!"
Capan itu merupakan penghinaan hebat bagi tokoh bajak dan tokoh rampok itu.
Si Muka Bopeng Hwa-bin-liong sudah melangkah maju, diikuti oleh Si Kuda Laut.
Mereka ini belum tua, paling banyak berusia empat puluh tahun.
Begitu tiba di depan Kim-mo Taosu, Hwa-bin-liong melolos sebatang golok besar yang terselip dipunggungnya, adapun Si Kuda Laut mengeluarkan sebatang cambuk yang terbuat daripada ekor ikan pee.
Keduanya berdiri dengan sikap menantang.
"San-ong (Raja Gunung), biarkan aku menghadapi jembel kelaparan yang sombong ini!"
Kata Si Tokoh Bajak yang menyebut temannya raja gunung, cambuk ikan pee ditangannya digerak-gerakkan diatas kepala sehingga terdengar suara bersiutan mengerikan.
Ekor ikan pee itu penuh duri-duri yang runcing, kalau sekali mengenai kulit tubuh manusia benar-benar akan mengakibatkan luka yang hebat.
"Bersabarlah, Hai-ong (Raja Laut). Biarkan aku menghadapinya lebih dulu. He, Kim-mo Taisu. Aku sudah lama mendengar namamu yang baru muncul, dan dengan maksud baik aku ingin sekali berkenalan dan menyaksikan kelihaianmu. Siapa kira, kau begini sombong dan tidak memandang orang lain. Keluarkan senjatamu, biar aku Hwa-bin-liong mencoba sampai di mana kehebatanmu maka kau bersikap sesombong ini!"
"Ha-ha-ha-ha, raja pengemis dibantu oleh raja laut dan raja gunung, benar-benar hebat! Segala macam raja sudah berkumpul disini, biarlah kuantar kalian menghadap raja akhirat!"
Tentu saja kedua orang raja penjahat itu menjadi marah sekali.
Hwa-bin-liong Si Muka Bopeng yang sudah bertahun-tahun merajalela di hutan-hutan dan gunung-gunung, menjadi raja dari sekalian kecu dan rampok, baru kali ini merasa dipandang rendah orang.
Ia membentak marah dan tanpa menanti lawan mengeluarkan senjata, ia sudah menyambar kedepan dan golok besarnya diayun mengarah leher Kim-mo Taisu.
"Wuttt... syuuuutttt! Tringgg...!!"
Kim-mo Taisu yang melihat datangnya golok berkelebat, tidak mengelak malah menggerakkan tangannya, dengan jari tengah tangan kanan ia menyentil golok lawan yang sedang terbang mengarah lehernya itu.
Hebatlah tenaga sentilan dari Kim-mo Taisu ini, karena hampir saja golok itu terlepas dari pegangan Si Muka Bopeng, bahkan raja gunung itu terhuyung-huyung hampir roboh!
Marahlah Si Raja Laut melihat kawannya mendapat malu.
Senjatanya ekor ikan pee yang menyeramkan itu melecut diudara, mengeluarkan bunyi "swing-swing-swing...!"
Dan berkelebatan diputar-putar diatas kepalanya lalu menyambar bertubi-tubi kearah Kim-mo Taisu.
Pendekar sakti ini tidak berani bertindak sembrono.
Ia belum tahu bagaimana sifat senjata lawan yang aneh ini, maka beberapa kali mengelak.
Gerakannya perlahan dan lambat saja, akan tetapi tak pernah senjata ekor ikan pee itu dapat menyentuh kulitnya.
Setelah mempergunakan hidungnya mencium-cium dikala senjata itu lewat, Kim-mo Taisu yakin bahwa senjata ini hanya mengerikan tampaknya, akan tetapi tidak mengandung racun berbahaya, maka sambil mengelak daripada tusukan golok Si Raja Gunung yang sudah mengeroyoknya, Kim-mo Taisu menyambar ekor ikan pee itu dan menjepit ujungnya dengan dua jari tangan kiri!
Ia menggunakan tenaga membetot sehingga ekor ikan pee itu menegang, kemudian pada saat Si Raja Gunung Hwa-bin-liong dengan girang menyerangnya dari belakang, tiba-tiba ia mengerahkan tenaga betotan dan...
melayanglah cambuk ekor ikan pee itu kearah penyerang dibelakangnya.
Hwa-bin-liong berteriak kesakitan, Kim-mo Taisu cepat membalik, sekali merenggut ia berhasil menyambar golok lawan yang terluka itu dan dilain saat golok itu sudah terbang dan menancap pada paha raja laut yang masih terlongong karena senjatanya tadi kena dirampas lawan.
Ia terguling dalam saat hampir berbareng dengan raja gunung, masing-masing terluka oleh senjata kawan sendiri.
Luka yang tidak membahayakan keselamatan nyawa, namun cukup hebat untuk membuat mereka tak mampu bertempur lagi dan harus beristirahat untuk beberapa pekan!
Tanpa mempedulikan lagi mereka berdua yang kini merangkak-rangkak menjauhkan diri dari itu, Kim-mo Taisu menghampiri Pouw-kai-ong, memandang tajam dan berkata.
"Sudah kukatakan bahwa aku tidak mempunyai urusan dengan segala rampok dan bajak. Mengapa kau mendatangkan penjahat-penjahat macam begitu untuk menggangu pertemuan kita? Segala macam penjahat kecil yang tidak ada artinya, memuakkan saja!"
Pouw Kee Lui tersenyum menyeringai.
"Kim-mo Taisu, jangan buru-buru merasa tekebur dan bangga. Masih ada beberapa orang sahabat yang ingin sekali bertemu denganmu."
Setelah berkata demikian, Pouw Kee Lui lalu membalikkan tubuh, menjura dan memberi hormat sambil berkata.
"Cu-wi Locianpwe, harap sudi memperlihatkan diri!"
Dari balik pohon dan batu besar bermunculan beberapa orang dan dapat dibayangan betapa heran dan kagetnya hati Kim-mo Taisu melihat mereka.
Diantaranya banyak yang ia kenal sebagai tokoh-tokoh sakti yang pernah menjadi lawannya, yaitu Ban-pi Lo-cia pendeta gundul raksasa, musuh lamanya yang memang ia cari untuk membalaskan kematian bekas kekasihnya, Ang-siauw-hwa Si Ratu Pelacur!
Orang kedua yang dikenalnya bukan lain adalah Ma Thai Kun, sute (adik seperguruan) Beng-kauwcu Pat-jiu Sin-ong Liu Gan yang pernah bermusuhan dengannya karena cemburu dan iri hati karena paman guru ini mencintai murid keponakannya sendiri, yaitu Liu Lu Sian.
Ia maklum bahwa Ma Thai Kun membencinya seperti ia membenci Ban-pi Lo-cia dengan dasar yang sama, ialah, merenggut wanita terkasih.
Selain dua orang yang merupakan tandingan berat ini, muncul pula tokoh-tokoh dunia pengemis yaitu Kim-tung Sin-yang dan Koi-tung Tiang-lo dari Sin-yang.
Didekat Ban-pi Lo-cia berdiri seorang laki-laki berusia tiga puluh tahun lebih, sikapnya tenang dan serius, sikapnya gagah.
Dia ini adalah Lauw Kiat, murid terkasih Ban-pi Lo-cia.
Lauw Kiat ini seorang petualang dari selatan yang merantau ke utara, bertemu dan dikalahkan Ban-pi Lo-cia lalu menjadi muridnya, ilmu kepandaiannya cukup hebat, hanya setingkat lebih rendah dari pada tingkat suhengnya, yaitu Bayisan.
"Ha-ha, Kim-mo Taisu. Kurasa kau sudah mengenal mereka ini, bukan? Ataukah perlu aku memperkenalkan mereka kepadamu?"
Kim-mo Taisu tidak menjawab, akan tetapi Ban-pi Lo-cia tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha! Tak usah diperkenalkan, aku dan dia adalah kenalan lama. Kau adalah pemuda sastrawan yang tampan bernama Kwee Seng yang berjuluk Kim-mo-eng dan yang sekarang sudah bangkrut menjadi pengemis jembel gila lalu berjuluk Kim-mo Taisu. Ha-ha-ha. Kenalan lama!"
"Orang she Kwee ini dengan aku pun mempunyai perhitungan lama yang belum dibereskan, Pouw-pangcu."
Kata Ma Thai Kun yang tidak suka banyak bicara lalu maju menerjang Kim-mo Taisu dengan pukulan yang mengeluarkan sinar merah.
Melihat tangan yang kemerahan itu, maklumlah Kim-mo Taisu bahwa Ma Thai Kun telah dapat menyempurnakan Ang-tok-ciang (Tangan Racun Merah) yang memang telah dimilikinya sejak dahulu.
Namun, ketika ia mengelak, kagetlah ia karena dari kepalan tangan merah itu tampak uap mengepul putih yang seakan-akan menyambar mukanya dengan hawa pukulan yang amat hebat.
Biarpun pukulan itu tidak mengenai sasaran, namun hawa pukulannya yang berupa uap putih itu masih merupakan ancaman hebat.
Dengan kaget Kim-mo Taisu mencelat mundur dan mengatur sikap, karena lawannya ini ternyata telah maju amat pesat kepandaiannya.
Memang sesungguhnya tepat dugaan Kim-mo Taisu itu.
Kini Ma Thai Kun yang meninggalkan Beng-kauw, bertahun-tahun bertapa sambil menggembleng diri sehingga ia berhasil menyempurnakan Ang-tok-ciang sedemikian rupa dan merobahnya menjadi ilmu pukulan yang ia namakan Cui-beng-ciang, (Tangan Pengejar Nyawa)!
Kembali Ma Thai Kun menerjang maju, dari kedua tangannya keluar hawa pukulan berputar-putar yang amat panas.
Terpaksa kali ini Kwee Seng menggunakan Bian-sin-kun (Tangan Kapas Sakti) untuk menangkis karena selain tak mungkin menghadapi desakan lawan tangguh hanya dengan berkelit, juga ia ingin menguji kekuatan lawan.
Ketika kedua lengan bertemu, Ma Thai Kun kaget sekali karena merasa betapa tanaganya seperti tenggelam dan tangan lawan sedemikian lunaknya sehingga ilmunya Cui-beng-ciang tidak berpengaruh sedikit pun, sebaliknya ada hawa dingin yang menjalar dari tangannya sampai kepangkal lengan.
Oleh karena ini, cepat ia menarik tangannya, menjatuhkan diri ke belakang dan bergulingan.
Hanya dengan cara ini ia dapat terbebas dari pengaruh Bian-sin-kun.
Sambil melompat berdiri, diam-diam Ma Thai Kun juga maklum bahwa ilmu kepandaian Kwee Seng ternyata telah meningkat hebat.
Maka ia bersikap hati-hati dan menyerang lagi dengan Cui-beng-ciang, ditujukan ke arah anggota tubuh yang berbahaya, tidak mau lagi bertanding mengadu tenaga seperti tadi.
Ban-pi Lo-cia tertawa bergelak.
"Hua-ha-ha-ha, Kim-mo Taisu. Kiranya kau telah memperoleh sedikit kemajuan, pantas saja kau berani berlagak. Kau makan cambukku!"
Ucapan ini disusul suara ledakan cambuk diudara dan tampaklah gulungan sinar hitam yang membentuk lingkaran-lingkaran besar kecil melayang dari tangan Ban-pi Lo-cia.
Itulah cambuknya yang hebat, yang terkenal sebagai senjata tunggalnya yang ampuh disebut Lui-kong-pian (Cambuk Petir), terbuat daripada sirip dan ekor ular laut hitam yang hanya dapat ditemukan di laut utara, di antara gunung-gunung es!
"Bagus!
Kalian pengecut-pengecut besar boleh mengeroyokku!"
Kim-mo Taisu tertawa mengejek dan berkelebat cepat menyelinap diantara garis-garis lingkaran yang dibentuk sinar cambuk, kemudian membalas lawan lama ini dengan sebuah tendangan kilat.
Ketika Ban-pi Lo-cia menangkis tendangan ini dengan tangan kirinya, Kim-mo Taisu mempergunakan tenaga tangkisan lawan untuk mencelat ke arah Ma Thai Kun dan sudah mendahului orang she Ma ini dengan sebuah gerakan dari ilmu silat Lo-hai-kun (Pengacau Lautan).
Demikian cepat dan tak terduga gerakannya ini sehingga biarpun Ma Thai Kun sudah cepat menangkis, namun pundaknya masih kena tampar, kelihatannya tidak keras namun cukup membuat Ma Thai Kun terlempat dan bergulingan sampai lima meter jauhnya!
Namun Ma Thai Kun memiliki kekebalan, dan tenaga dalamnya sudah cukup kuat, maka ia dapat melompat bangun kembali sambil menerjang maju dengan kemarahan meluap-luap.
Pada saat itu, murid Ban-pi Lo-cia yang bernama Lauw Kiat sudah maju pula.
Dia ini bersenjatakan sebuah tongkat dan gerakannya ternyata cukup hebat.
Pemuda ini menerjang tanpa banyak suara, akan tetapi serangannya selain kuat juga sungguh-sungguh sehingga sekali gebrakan saja ia sudah mengirim serangan sampai tiga jurus.
Kim-mo Taisu menggunakan ginkangnya menghindarkan diri dan ia belum sempat membalas pemuda she Lauw itu karena kini kedua orang ketua kai-pang sudah menerjangnya juga sehingga dalam sekejap mata ia sudah dikurung oleh lima orang lawan yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, terutama sekali tentu saja Ban-pi Lo-cia dan Ma Thai Kun, Kim-mo Taisu maklum bahwa orang-orang pandai dan keadaannya berbahaya, namun seujung rambut pun ia tidak terjadi gentar.
Sambil mengerakan gin-kangnya yang kini menanjak tinggi tingkatnya sejak ia berlatih di dalam Neraka Bumi, ia malah mengejek kepada Pouw Kee Lui yang masih berdiri menonton.
Hatinya panas bukan main dan diam-diam ia kagum akan kecerdikan raja pengemis yang masih muda itu, yang dapat mengerahkan dan mempergunakan orang-orang pandai sedangkan dia sendiri enak-enak menonton.
"Aha, tikus busuk she Pouw yang mengaku raja pengemis, kiranya kau hanyalah raja pengecut yang mengandalkan kawan banyak!"
Ia terpaksa berhenti untuk menangkis pukulan tongkat Lauw Kiat yang tak dapat ia elakkan.
Tangkisan ini disertai tenaga dalam sehingga Lauw Kiat berteriak kaget dan terlempar sampai jauh bersama tongkatnya!
Kemudian Kim-mo Taisu sudah berkelebat lagi menghindar dari sambaran cambuk Ban-pi Lo-cia, sambil mengelak kakinya mencongkel kearah Koai-tung Tiang-lo.
Orang tua yang menjadi ketua perkumpulan pengemis di Sin-yang dan sudah terjatuh ke dalam tangan Pouw-kai-ong ini berteriak kaget, roboh terguling-guling dan tak dapat berdiri lagi karena sambungan lutut kanannya terlepas!
"Ha-ha, Pouw-kai-ong, kau tidak berani menghadapi aku, bukan?"
Melihat betapa dikeroyok lima, lawannya itu masih dapat mengejeknya bahkan merobohkan Koai-tung Tiang-lo, diam-diam Pouw Kee Lui terkejut sekali.
Ia maklum bahwa Kim-mo Taisu memang lihai, akan tetapi tidak mengira akan dapat menghadapi pengeroyokan orang-orang sakti seperti Ban-pi Lo-cia dan yang lain-lain itu.
"Kim-mo Taisu, kematian sudah didepan mata masih berani mengoceh!"
Teriak si Raja Pengemis dan cepat ia menerjang maju, menggabungkan diri dengan barisan pengeroyok sehingga kini Kim-mo Taisu dikeroyok lima.
Akan tetapi pengeroyokan yang sekarang ini jauh lebih berat dibanding dengan tadi.
Koai-tung Tiang-lo bukanlah seorang yang memiliki kepandaian seperti raja pengemis ini.
Begitu maju dan menerjangnya dengan tubuh berputar-putar sehingga tangan dan kakinya bergerak-gerak seperti angin badai dan kelihatannya seperti berubah menjadi belasan banyaknya.
Kim-mo Taisu maklum bahwa dia inilah lawan yang berat, tidak kalah berat jika dibandingkan dengan Ban-pi Lo-cia, malah lebih lihai daripada Ma Thai Kun!
Sibuklah Kim-mo Taisu sekarang, tadi pun ia sudah repot melayani desakan para pengeroyoknya dan hanya menghindar mengandalkan kecepatan gerakannya, akan tetapi sekarang pengeroyokan ditambah dengan Pouw-kai-ong yang ternyata memiliki gerakan yang hampir sama cepatnya dengan dia sendiri.
Betapa pun Kim-mo Taisu mengerahkan kepandaian, tetap ia tidak mempunyai kesempatan sama sekali untuk balas menyerang.
Namun, kelima orang lawannya itu pun terheran-heran betapa orang yang mereka keroyok itu selalu dapat menghindar dari serangan yang bertubi-tubi itu.
"Ha-ha-ha, alangkah gagahnya, tokoh-tokoh kang-ouw yang terkenal mengeroyok seorang lawan yang bertangan kosong!"
Kim-mo Taisu sempat mengejek, akan tetapi ejekan ini ia bayar dengan terpukulnya pinggang oleh tongkat di tangan Kim-tung Sin-kai.
Sebetulnya hal ini memang tak terelakkan lagi.
Karena ia bicara, maka pencurahan panca inderanya terganggu dan pada detik yang bersamaan, setelah berhasil menghindarkan yang lain, ujung cambuk Ban-pi Lo-cia menyambar dari atas sedangkan tongkat Kim-tung Sin-kai menghantam ke arah pinggang.
Tiga orang pengeroyok lain telah menutup jalan keluarnya, maka ia harus mengadakan pilihan.
Menghindarkan tongkat berarti membuka jalan untuk datangnya cambuk, menghindarkan cambuk, harus menerima hantaman tongkat.
Kim-mo Taisu tentu memilih dihantam tongkat, karena ia maklum bahwa hantaman ujung cambuk di tangan Ban-pi Lo-cia merupakan bahaya maut, sedangkan Kim-tung Sin-kai biarpun lihai, dapat ia atasi tenaganya.
"Bukkk!"
Kim-mo Taisu merasa pinggangnya agak sakit, akan tetapi dilain pihak Kim-tung Sin-kai menyeringai aneh dan tubuhnya terangkat keatas.
Kim-mo Taisu menggunakan kesempatan ini meluncur lewat di bawah kedua kaki Kim-tung Sin-kai yang masih terpengaruh oleh benturan tenaga dalam sehingga empat orang pengeroyoknya tidak berani turun tangan khawatir akan mengenai tubuh kawan sendiri.
Kesempatan ini dipergunakan oleh Kim-mo Taisu untuk meloncat tinggi ke atas pohon, dan beberapa detik kemudian ia telah turun kembali keatas tanah, tangan kanannya memegang sebatang cabang pohon itu!
"Ha-ha-ha, sekarang ada senjata ditanganku, majulah!"
Ia menantang dan kagum juga melihat bahwa Kim-tung Sin-kai sudah pulih kembali, agaknya tidak terluka.
Ia heran tadinya karena tahu betul bahwa ketika pinggangnya terpukul, ia mengerahkan sin-kang yang tentu akan membuat tenaga kakek itu membalik dan melukai isi perutnya sendiri.
Akan tetapi ketika melirik kearah Pouw-kai-ong yang baru saja mengantongi bungkus merah, ia dapat menduga bahwa tentulah Si Raja Pengemis itu yang mempunyai obat penawar yang manjur sekali.
Kini tanpa menanti datangnya pengeroyokan, Kim-mo Taisu mendahului menggerakkan cabang pohon liu itu dan serta-merta ia mainkan Ilmu Pedang Cap-jit-seng-kiam (Ilmu Pedang Tujuh Belas Bintang) yang ia cipta dan sempurnakan dengan dasar ilmu yang ia baca dari kitab perbintangan di dalam Neraka Bumi.
Hebat sekali gerakannya ini, karena selain ilmu pedang itu merupakan ilmu pedang sakti yang diciptakan menurut pengalaman dan ilmu pengetahuan, juga memang seluruh anggota tubuh Kim-mo Taisu sudah terlatih sehingga hawa sin-kang di dalam tubuhnya sudah mencapai tingkat yang sukar dicari bandingannya lagi.
Cabang kayu ditangannya itu mengeluarkan bunyi seperti angin mendesir-desir, membentuk sinar kehijauan bergulung-gulung dan tampak membayang dalam gulungan sinar itu tujuh belas batang kayu kelihatan jelas sekali cabang-cabang ini bergerak ke sana ke mari membagi-bagi serangan kepada lima orang lawan.
Dengan bersenjatakan cabang kayu mainkan Cap-jit-seng-kiam, Kim-mo Taisu masih terus bertahan, akan tetapi tidak sepayah tadi.
Kini ia mampu balas menyerang, akan tetapi karena daya serangnya hanya satu bagian saja sedangkan yang sembilan bagian dipakai untuk bertahan, maka tentu saja serangan balasannya itu tidak ada artinya bagi lawan seperti Ban-pi Lo-cia, Pouw-kai-ong dapat mengimbangi.
Hanya kedua orang lainnya Kim-tung Sin-kai dan Lauw Kiat murid Ban-pi Lo-cia yang tingkat kepandaiannya lebih rendah, terpengaruh serangan balasannya.
Melihat ini, Kim-mo Taisu lalu menujukan serangan balasan kepada dua orang itu.
Ketika ia mendapat kesempatan, cepat sekali cabang kayu di tangannya bergerak disertai seruan keras, tubuhnya menyambar laksana seekor burung garuda.
Kedua orang yang diserang itu tiba-tiba menjadi silau matanya oleh sinar yang menyambar dahsyat.
Mereka mencoba untuk menangkis dengan tongkat di tangan mereka, akan tetapi tongkat mereka, seakan-akan terbetot oleh tenaga raksasa, terlepas dari tangan mereka, kemudian sinar hijau berkelebat cepat dan robohlah Kim-tung Sin-kai dan Lauw Kiat, muntah darah!
Beberapa orang anggota pimpinan pengemis yang kiranya sudah berkumpul di sekitar tempat itu, cepat maju menolong dan membawa mereka mundur.
"Ha-ha-ha. Pouw-kai-ong, Ban-pi Lo-cia dan Ma Thai Kun! Apakah tidak perlu kalian tambah lagi jumlah pengeroyokan?"
Kim-mo Taisu masih mengejek sambil memutar cabang kayu di tangannya.
Marahlah tiga orang itu, terutama sekali Ban-pi Lo-cia.
Beberapa tahun yang lalu, ia masih dapat mengatasi kepandaian Kim-mo-eng, dan selama ini kepandaiannya sendiri tidak berkurang, sungguhpun tenaga dalam dan hawa sakti didalam tubuhnya tentu tidak memperoleh kemajuan karena terlalu menuruti nafsu birahinya yang tak kunjung padam.
Namun ia merasa lebih unggul daripada seorang lawan semuda Kim-mo-eng yang kini menjadi Kim-mo Taisu.
Ia jauh lebih tua, tentu lebih terlatih dan lebih berpengalaman.
Maka mendengar ejekan ini, matanya melotot besar kemerahan, mulutnya mengeluarkan gerengan seperti beruang terluka dan tanpa berkata apa-apa Ban-pi Lo-cia memutar cambuknya dengan pengerahan tenaga sekuatnya sehingga cambuk itu meledak-ledak dengan kerasnya lalu membentuk sinar hitam yang melingkar-lingkar dan bagai hujan datang menyambar ke arah Kim-mo Taisu tidak berani memandang rendah, cepat memutar cabang liu ditangannya, membentuk sebuah bayangan payung yang melindungi tubuhnya dari atas.
Pouw Kee Lui biarpun masih muda, namun dia belum pernah menemui lawan tangguh, maka sekali ini ia pun amat penasaran.
Ilmu kepandaiannya adalah warisan orang sakti yang merupakan ilmu yang jarang ditemui orang di dunia persilatan, dan dalam hal tenaga dalam hawa sakti, dia boleh dibilang termasuk orang tingkatan tinggi.
Ketika tadi Kim-mo Taisu mengambil cabang pohon itu untuk senjata, ia pun sudah mengeluarkan senjatanya, yaitu sebatang tongkat pula, yang ia mainkan seperti orang bermain toya, kini melihat betapa lawan yang dikeroyok itu berhasil merobohkan dua orang kawan, ia menjadi marah dan penasaran.
Pouw Kee Lui berseru keras, menekan ujung tongkat yang ada rahasianya sambil mencabut dan tahu-tahu sebatang pedang telah ia keluarkan dari dalam tongkat, pedang yang mempunyai sinar merah!
Kemudian dengan gerakan yang tangkas sekali ia menyerbu, pedang ditangan kanan diputar dan tongkat di tangan kiri digerakkan secara aneh.
Belum pernah dalam sejarah ilmu silat ada orang mainkan pedang ditangan kanan dan tongkat ditangan kiri, karena sebetulnya kedua senjata ini mempunyai gaya permainan yang amat berbeda, bahkan berlawanan.
Namun raja pengemis itu dapat memainkannya seakan-akan ia menjadi dua orang yang memegang pedang dan toya.
Hanya Ma Thai Kun seorang yang tidak bersenjata.
Memang bekas tokoh Beng-kauw (Lanjut ke
Jilid 19) SULING EMAS (Seri ke 02
"Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 19 ini tidak suka menggunakan senjata, hanya mengandalkan keampuhan kedua tangannya yang sejak puluhan tahun telah digembleng telah di "isi"
Hawa beracun sehingga sebenarnya kedua tangannya itu lebih ampuh dan lebih berbahaya daripada sepasang senjata.
Kalau senjata tajam hanya melukai kulit dan daging namun tangan Ma Thai Kun ini selain merusak kulit daging, juga memasukkan hawa beracun!
Ia masih tetap mempergunakan ilmu pukulan Cui-beng-ciang yang amat hebat.
Terlalu benci ia kepada Kim-mo Taisu yang membuat ia kehilangan wanita yang dicinta dan kehilangan tempat di Beng-kauw, maka setiap pukulannya merupakan tangan maut yang akan mendatangkan kematian mengerikan.
namun Kim-mo Taisu agaknya tak pernah mau membiarkan dirinya terkena pukulan maut ini sehingga membuat Ma Thai Kun menjadi makin marah dan penasaran.
Setelah tiga orang itu maju dengan kemarahan meluap, diam-diam Kim-mo Taisu harus mengakui bahwa sekali ini ia benar-benar dihadapkan kepada ujian berat sekali.
Kalau mereka bertiga maju seorang demi seorang, biarpun mereka ini merupakan lawan yang jarang dapat dicari bandingnya, namun ia masih sanggup merobohkan mereka seorang demi seorang.
Akan tetapi menghadapi mereka bertiga maju bersama seperti ini, benar-benar amatlah berat karena mereka bertiga itu memiliki kepandaian khusus yang harus dihadapi secara khusus pula.
Dengan pengeroyokan ini, tak mungkin ia memecah perhatian menjadi tiga untuk menghadapi mereka secara khusus, hanya dapat mempertahankan diri dan sekali-kali membalas dengan serangan yang tak berarti.
Setelah kekurangan dua orang pengeroyok, tiga orang ini bukan menjadi lemah, bahkan makin kuat.
Hal ini adalah karena dua orang yang telah toboh tadi memiliki tingkat jauh lebih rendah sehingga mereka berdua tadi bukannya membantu, bahkan menjadi penghalang gerakan bagi gerakan tiga orang ini dan sekarang setelah lapangannya lebih luas dan longgar, mereka ini dapat bersilat leluasa dan mencurahkan seluruh daya serangnya.
Kim-mo Taisu terdesak hebat.
Apalagi kini Ban-pi Lo-cia menyelingi ayunan cambuknya dengan pukulan Hek-see-ciang, yaitu pukulan beracun dari Tangan Pasir Hitam yang hanya setingkat lebih lunak daripada tangan Cui-beng-ciang milik Ma Thai Kun!
Bukan ini saja, juga Pouw-kai-ong menambah permainan tongkat dan pedangnya dengan serangan air ludah!
Luar biasa berbahaya, dan menjijikkan sekali cara bertempur Si Raja Pengemis ini.
Akan tetapi air ludah yang kadang-kadang ia semburkan dari mulutnya itu benar-benar tak boleh dipandang ringan.
Ketika Kim-mo Taisu kurang cepat mengelak sehingga ada air ludah sedikit mengenai betisnya, terasa panas seperti terpercik air mendidih!
Ia kaget sekali dan cepat Kim-mo Taisu menghadapi tiga orang pengeroyoknya yang lihai ini dengan permainan Pat-sian Kiam-hoat dan Lo-hai-kun.
Kalau tadi ia mainkan Cap-jit-seng-kiam, maka permaianannya itu hanyalah ilmu pedang belaka, ilmu pedang yang luar biasa namun masih kurang berhasil untuk menghadapi pengeroyokan lawan yang begini saktinya.
Kini ia mainkan kedua ilmu itu yang sebetulnya merupakan ilmu yang sudah ia rangkai menjadi sepasang, dapat dimainkan berbareng.
Pada dasarnya, Pat-sian Kiam-hoat adalah ilmu pedang, penyempurnaan dari Pat-sian Kiam-hoat atas petunjuk manusia dewa Bu Kek Siansu, sedangkan Lo-hai-kun aslinya adalah Lo-hai-san-hoat, ilmu kipas yang juga telah mendapat petunjuk Bu Kek Siansu.
Jadi kalau menurut semestinya, Kim-mo Taisu harus bermain pedang dan kipas, barulah ia dapat bersilat secara sempurna.
Akan tetapi sayang, pendekar ini sudah terlalu tidak memperhatikan diri lagi sehingga ia tidak memiliki pedang maupun kipas, hanya mengandalkan tangan kaki dan kalau perlu ia mempergunakan cabang sebatai pedang.
Tentu saja tidak bisa sehebat pedang tulen, apalagi kalau sedang menghadapi lawan tangguh.
Karena tidak ada pedang, kini ia menggantikan dengan sebatang kayu, sedangkan tangan kirinya karena tidak bisa mendapatkan kipas, lalu ia robah menjadi ilmu pukulan yang mendatangkan angin.
Betapapun juga, Kim-mo Taisu tetap terdesak.
Pada saat ia sibuk mengelak dan menangkis desakan pukulan Ma Thai Kun dan pedang serta tongkat Pouw Kee Lui, tiba-tiba tanpa mengeluarkan suara, cambuk hitam ditangan Ban-pi Lo-cia telah membelit pinggangnya!
Kim-mo Taisu terkejut sekali.
Dahulu ketika bertanding melawan Ban-pi Lo-cia, pernah terbelit juga pinggangnya dan ia tidak mampu melepaskan diri begitu saja.
Oleh karena ini seperti juga dahulu, ia cepat mengerahkan tenaganya, meminjam tenaga tarikan cambuk, tubuhnya melayang ke arah Ban-pi Lo-cia dan cabang di tangannya menusuk dada sedangkan tangan kirinya menampar kepala!
Hebat bukan main serangan ini dan Ban-pi Lo-cia tidak menyangka bahwa lawannya akan melakukan perlawanan senekat ini.
Terpaksa ia melepaskan cambuknya yang melibat tubuh lawan dan bergulingan ke belakang!
Memang Kim-mo Taisu juga hanya menggunakan siasat agar terlepas dari libatan cambuk, maka ia tidak mengejar karena pada saat itu, pedang ditangan Pouw Kee Lui sudah menyerangnya dengan ganas sekali, disusul pula hantaman tongkatnya.
Kim-mo Taisu cepat menangkis pedang dan tongkat.
Oleh dorongan hawa sakti dari tubuh mereka, ketiga senjata ini melekat, saling mengisap dan saling membetot.
Pada saat itu, Ma Thai Kun menendang, mengenai belakang lutut Kim-mo Taisu, membuat pendekar ini roboh terguling.
Namun cabang liu itu masih menempel pada pedang dan tongkat Pouw Kee Lui dan kini dalam keadaan setengah berbaring, Kim-mo Taisu mempertahankan tekanan kedua senjata Pouw Kee Lui yang hendak menindas atau membikin patah cabang itu ditangannya.
Adu tenaga dalam terjadi.
Kim-mo Taisu di bawah dan Pouw Kee Lui diatas.
Namun perlahan-lahan cabang liu itu terangkat keatas, menjadi bukti bahwa raja pengemis itu kalah kuat.
Ma Thai Kun sudah melangkah maju, wajahnya merah dan membayangkan kegirangan hatinya.
"Sekarang mampus engkau!"
Katanya lalu mengirim pukulan Cui-beng-ciang kearah kepala Kim-mo Taisu!
Kagetlah pendekar ini.
Karena senjatanya masih saling lekat dengan senjata Si Raja Pengemis, maka tak mungkin ia mengelak lagi dalam keadaan setengah terbaring itu.
Terpaksa ia lalu menggerakkan tangan kirinya, mengerahkan tenaga sakti dan menggunakan Ilmu Tangan Kapas Sakti untuk menangkis.
"Plakk!"
Kembali kedua tangan itu lekat satu kepada yang lain sehingga kini dalam keadaan setengah terbanting itu Kim-mo Taisu harus menahan tekanan kedua orang lawan dengan kedua tangannya!
Keadaannya menjadi berbahaya sekali karena Ban-pi Lo-cia sudah tertawa-tawa sambil mengayun cambuknya untuk menghantam lawan yang sudah tak dapat menghadapinya lagi itu.
Akan tetapi pada saat itu terdengar suara ketawa terbahak-bahak disusul ucapan nyaring.
"Ha-ha-ho-ho! Setelah mendurhakai Beng-kauw, kau masih berani bersekongkol dengan segala macam penjahat? Benar memalukan sekali!"
Dan munculah Pat-jiu Sin-ong Liu Gan yang dengan langkah lebar menghampiri tempat pertandingan itu.
Bukan main kagetnya hati Ma Thai Kun melihat datangnya bekas suhengnya ini.
Dalam keadaan tangannya lekat pada tangan Kim-mo Taisu, berbahayalah kalau ia diserang, sedangkan ia maklum akan watak suhengnya ini yang keras seperti baja dan tidak mengenal ampun.
Maka terpaksa ia menarik kembali tenaganya melompat mundur dan dengan mata beringas ia memandang suhengnya, lalu memaki.
"Lui Gan, diantara kita tidak ada hubungan apa-apa lagi, mengapa kau selalu menentang aku?"
"Cerewet, sebelum menghajar mampus padamu dengan tangan sendiri, hatiku takkan tentram karena pada suatu saat tentu kau mampus di tangan orang lain dan hal ini sama sekali tidak kukehendaki!"
"Liu Gan, kau benar-benar terlalu!"
Ma Thai Kun membentak dan mengirim pukulan sambil mengeluarkan teriakan garang.
Pat-jiu Sin-ong tersenyum dan cepat menangkis.
Di lain saat kedua orang yang tadinya menjadi kakak beradik seperguruan ini sudah saling hantam dengan seru.
Biarpun sudah ditinggalkan Ma Thai Kun, keadaan Kim-mo Taisu masih dalam bahaya, karena Ban-pi Lo-cia kini sudah mengayun cambuk menghantam kepalanya, sedangkan ia masih setengah berbaring.
Akan tetapi, tiba-tiba Ban-pia Lo-cia berseru marah, tubuhnya terhuyung kebelakang dan otomatis serangannya tadi tidak dilanjutkan.
"Setan iblis manakah yang berani main-main dengan Ban-pi Lo-cia?"
Bentaknya. Terdengar jawaban nyaring pula.
"Setan iblis akulah yang datang, jahanam Khitan. Tempo hari, karena kecurangan dan pengeroyokan terpaksa aku mundur. Sekarang, kau rasakanlah tanganku!"
Dan muncullah seorang kakek tua yang rambutnya riap-riapan kumisnya panjang, yang "berdiri"
Bukan diatas kedua kaki melainkan diatas sepasang tongkat yang dipegangnya.
Inilah Kong Lo Sengjin atau bekas Raja Muda Kerajaan Tang yang terkenal dengan julukan Sin-jiu Couw Pa Ong!
"Couw Pa Ong!
Kau masih belum mampus?"
Ban-pi Lo-cia berseru kaget sekali.
Ketika merobohkan Kerajaan Tang dan Couw Pa Ong mengamuk, dia juga ikut mengeroyok dan melihat dengan mata kepala sendiri betapa dalam perang itu Sin-jiu Couw Pa Ong sudah dipukul roboh dan menderita luka hebat, bahkan kedua kakinya sudah tak dapat digunakan lagi.
Bagaimana sekarang kakek itu dapat muncul kembali?
Ia tahu betul betapa lihainya kakek ini, maka hatinya menjadi gentar.
Apalagi ketika tadi melihat munculnya Pat-jiu Sin-ong Liu Gan, kini hatinya sudah tak bernafsu lagi untuk melanjutkan pertandingan.
Ban-pi Lo-cia yang cerdik sudah cepat membuat perhitungan di dalam hati.
Ma Thai Kun tentu sukar dapat mengalahkan bekas suhengnya.
Pouw-kai-ong juga agaknya sukar sekali dapat mengatasi Kim-mo Taisu, sedangkan dia sendiri masih ragu-ragu apakah dia akan dapat menangkan Couw Pa Ong, biarpun kakek itu kini sudah lumpuh kedua kakinya.
Melihat gelagat tidak menguntungkan, Ban-pi Lo-cia tertawa bergelak sambil berkata.
"Couw Pa Ong, sekarang diantara kita tidak ada urusan lagi. Biarlah aku pergi saja!"
Ia lalu melesat jauh dan pergi dari tempat itu.
"Monyet dari Khitan, kau hendak lari kemana?"
Kakek lumpuh itu lalu mencelat kedepan dan kedua tongkat yang menggantikan kaki itu dapat bergerak dan berlari cepat sekali mengejar Ban-pi Lo-cia.
Melihat seorang kawannya yang boleh diandalkan lari, hati Pouw Kee Lui menjadi gentar.
Ia menggunakan kesempatan selagi Kim-mo Taisu memandang kakek lumpuh dengan mata terheran-heran itu untuk meloncat pula dan lari pergi.
Kim-mo Taisu tidak mengejar, karena pendekar ini sedang merasa terheran-heran.
Sudah lama ia mendengar nama besar Couw Pa Ong dan baru sekarang ia melihat orangnya.
Melihat betapa Ban-pi Lo-cia yang kosen itu lari ketakutan bertemu dengan kakek lumpuh ini, ia dapat menduga betapa kakek lumpuh ini tentulah amat lihai dan ternyata benar dugaannya karena cara kakek ini lari secepat itu dengan sepasang tongkat saja sudah membuktikan kelihaiannya.
Dengan Pouw Kee Lui ia tidak mempunyai urusan yang amat penting, maka ia mendiamkan saja raja pengemis itu lari.
Ma Thai Kun berusaha melawan bekas suhengnya, namun setelah beberapa kali mereka beradu lengan, maklumlah Ma Thai Kun bahwa ia masih belum dapat menandingi bekas suhengnya.
Maka setelah melihat betapa Ban-pi Lo-cia lari juga Pouw Kee Lui yang dibantunya lari diam-diam ia mengutuk kecurangan dan sifat pengecut mereka.
Ia mengerahkan tenaga, membentak dan menyerang dengan jurus Cui-beng-ciang yang paling hebat.
Pat-jiu Sin-ong tertawa mengejek dan menyambut datangnya pukulan itu dengan kekerasan pula.
Dua pasang tangan bertemu di udara dan akibatnya, tubuh Pat-jiu Sin-ong terpental sampai dua tiga meter ke belakang, akan tetapi Ma Thai Kun terguling-guling muntahkan darah segar, melompat kembali dengan muka pucat lalu melarikan diri.
"Kalau belum mampus hatiku belum tenteram!"
Pat-jiu Sin-ong mengejar dan sesaat kemudian Kim-mo Taisu berdiri seorang diri di tempat yang kini menjadi amat sunyi itu.
Ia termenung, menghela napas berulang-ulang.
Tadi hampir saja ia menghadapi bahaya maut yang tak terelakkan lagi.
Akhirnya datang pertolongan kalau memang Tuhan belum menghendaki dia mati, pikirnya.
Ia cukup mengenal Pat-jiu Sin-ong Liu Gan.
Mustahil kakek ini sengaja menolongnya.
Andaikata seorang di antar para pengeroyok bukan Ma Thai Kun, agaknya kakek Beng-kauw itu akan menjadi penolong dan menikmati kematiannya dalam pengeroyokan.
Ikut campurnya Pat-jiu Sin-ong hanya untuk membunuh Ma Thai Kun yang dianggapnya mendurhakai Beng-kauw.
Adapun muncul kakek Couw Pa Ong itu pun agaknya karena belum tentu kakek yang tak dikenalnya itu akan datang membantunya.
Semuanya serba kebetulan, dan memang aneh kalau orang belum ditakdirkan mati.
Sebetulnya, mati bukan apa-apa bagi Kim-mo Taisu, ia sama sekali tidak gentar.
Hanya ia akan merasa sayang sekali kalau dalam pertandingan tadi dia yang mati karena dengan demikian berarti orang-orang macam Ban-pi Lo-cia dan Pouw kai-ong, dua orang yang sama sekali tidak ada artinya hadir didunia ini karena hanya menimbulkan kesengsaraan bagi orang lain akan makin merajalela!
"Kwee-koko....!"
Kim-mo Taisu terkejut dan tidak bergerak, membelalakkan mata.
Gila, pikirnya, mengapa tiba-iba ia bermimpi mendengar suara wanita?
Tak mungkin ada wanita memanggilnya Kwee-koko dengan suara semerdu itu.
"Kwee-koko...!"
Dengan jantung berdebar Kim-mo Taisu membalikkan tubuhnya dan wajahnya berubah, matanya terbelalak, mulutnya ternganga ketika ia melihat seorang wanita cantik jelita berdiri disitu, menggandeng seorang anak perempuan berusia kurang lebih sembilan tahun.
Wanita itu memandang kepadanya dengan sepasang mata berlinang air mata, sedangkan anak perempuan itu melongo memandangnya dengan telunjuk kiri dimulut, seperti anak terheran-heran.
"Kwee-koko...!"
Untuk ketiga kalinya wanita itu memanggilnya suaranya gemetar penuh perasaan.
"Mengapa engkau menjadi begini?"
Air matanya membanjir turun membasahi sepasang pipinya.
Kim-mo Taisu menggoyang-goyang kepalanya untuk mengusir bayangan itu, namun sia-sia.
Tetap saja wanita cantik itu masih berdiri didepannya, wanita cantik yang bukan lain adalah Ang-siauw-hwa.
Tapi ini tak mungkin!
Ang-siauw-hwa sudah mati, tewas membunuh diri karena perbuatan Ban-pi Lo-cia!
Sekali lagi ia memandang dengan teliti.
Wajah itu, cantik manis dengan rambut digelung tingi-tinggi ke atas, ujungnya terjuntai ke belakang, tubuh yang kecil ramping padat itu, tak salah lagi, dia inilah Ang-siauw-hwa Si Kembang Pelacur di Telaga Barat.
Tapi Ang-siauw-hwa sudah mati, hal ini ia yakin benar.
"Nona.... Eh, Nyonya.... Siapakah....?"
Ia bertanya gagap, suaranya juga gemetar karena jantungnya berdebar keras.
Kalau wanita ini bukan Ang-siauw-hwa, dan hal ini sudah pasti, ia tidak pernah mengenalnya mengapa wanita itu memanggilnya Kwee-koko dengan suara begitu mesra?
Wanita itu menunduk dan air matanya terjatuh ke bawah, lalu ia memandang lagi sambil berkata halus.
"Kwee-koko, aku adalah Gin Lin..."
"Ah...!"
Kim-mo Taisu menepuk dahinya.
"Engkau saudara kembar Ang... eh, Khu Kim Lin...?"
Ia cepat menahan sebutan Ang-siauw-hwa, karena nama julukan Ang-siau-hwa (Bunga Kecil Merah) adalah nama Kim Lin sebagai seorang pelacur.
Wanita itu mengangguk.
"Betul, mendiang Ang-siau-hwa adalah saudara kembarku."
"Apa...? Engkau sudah tahu bahwa dia... eh, dia... bernama Ang-siauw-hwa dan sudah meninggal dunia?"
"Aku tahu karena engkau sendiri yang menceritakan kepadaku..."
"Hehh...??"
Kim-mo Taisu memandang tajam, keningnya berkerut, apalagi melihat wanita itu menyembunyikan senyum manis, senyum membayangkan kegelian hati.
Aneh, pikirnya.
Jangan-jangan saudara kembar Ang-siauw-hwa ini seorang yang tidak beres otaknya.
Tadi menangis sekarang tersenyum, dan menyebut dia kanda Kwee.
"Nona, maaf. Mengapa menyebutku Kwee-koko? Bagaimana kau bisa tahu bahwa aku she Kwee? Naik sedu-sedan dari dada wanita itu ketika ia menarik napas panjang.
"Kwee-koko, apakah kau tidak mengenal suaraku?"
"Suaramu seperti... seperti suara Ang-siauw-hwa..."
"Ah, alangkah bodohnya kadang-kadang lelaki yang paling pintar didunia ini! Agaknya tanpa bukti kau takkan mengerti selamanya. Kwee-koko, kau kenalilah aku?"
Wanita itu dengan gerakan cepat mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya, menutupi muka dengan benda itu dan ketika ia menurunkan kedua tangannya, Kim-mo Taisu melompat kebelakang sampai dua meter lebih, berdiri terbelalak dengan muka pucat.
Ternyata bahwa nenek penghuni Neraka Bumi yang kini berdiri didepannya!
"Kau...?
Kau....?"
Ia berkata, suara menggigil dan kakinya melangkah maju. Gin Lin melepas kedoknya dan melemparnya jauh-jauh.
"Kwee-koko, apakah kau sekarang mengenalku?"
Katanya sambil mengembangkan kedua lengannya.
"Ah, Kwee-koko, betapa rinduku kepadamu...!"
Kim-mo Taisu berdongak dan tertawa bergelak-gelak.
"Kau rindu....? Ah, dan aku..., aku... ah, sampai gila aku memikirkan kau....!"
Bagaikan didorong tenaga mujijat, keduanya saling tubruk dan saling peluk, berdekapan mesra.
Gin Lin menangis terisak-isak sedangkan Kim-mo Taisu masih tertawa-tawa akan tetapi kedua matanya bercucuran air mata ketika mereka berpelukan dan berciuman.
Kemudian kim-mo Taisu mengangkat tubuh Gin Lin dan ia menari-nari sambil berputar-putar memondong tubuh "nenek"
Itu.
"Ha-ha-ha-ha! Dan aku menjadi seperti gila menyesali perbuatanku!"
Gin Lin mengusap-ngusap rambut yang terurai itu.
"Kwee-koko, kenapa kau sampai menjadi begini?"
"Apa seperti jembel ini? Ha-ha-ha, agar tepat dengan keadaanmu sebagai seorang nenek-nenek keriputan. Hanya seorang jembel gila yang begitu buta beristerikan seorang nenek. Kau isteriku, ha-ha-ha! Engkau isteriku tercinta!"
Gin Lin memeluk dan mendekap kepala suaminya dengan terharu sambil menangis sedangkan suaminya masih memondongnya dan berjingkrak-jingkrak kegirangan, juga dengan pipi basah air mata.
Mereka lupa diri, lupa segala sehingga tidak ingat bahwa anak perempuan tadi memandang mereka dengan bengong, dan anak itu menangis pula menyaksikan mereka mengucurkan air mata.
"Ibu... Ibu....!"
Anak itu memanggil. Kim-mo Taisu tersentak kaget seperti terpukul dadanya. Ia menurunkan Gin Lin dan terhuyung-huyung mundur dengan wajah pucat.
"Kau.. kau... sudah menjadi isteri orang lain...?"
Gin Lin tersenyum dengan air mata masih bercucuran, lalu menggandeng tangan anak itu.
"Eng Eng, dia ini ayahmu, Nak. Kwee-koko, setelah kau pergi, aku... aku melahirkan anak ini. Hanya karena dialah maka aku merobah tekadku untuk mati di Neraka Bumi, aku membawanya keluar mencarimu. Dia ini anakmu, Kwee-koko."
Terdengar rintihan isak di tenggorokkan Kim-mo Taisu.
Ia berlutut, memegang kedua tangan anaknya, memandang wajah yang mungil itu, kemudian ia memondongnya sambil tertawa.
Tangan kirinya juga menyambar dan memondong tubuh isterinya.
Berganti-ganti ia memandang dan menciumi isteri dan anaknya dengan kebahagiaan hati yang sukar dilukiskan.
Ia merasa seakan-akan menerima anugerah yang paling besar dan belum pernah selama hidupnya ia mengalami kebahagiaan seperti saat ini.
"Isteriku....! Anakku...! Ah, Kwee seng... Kwee Seng.. agaknya Thian masih menaruh kasihan kepadamu...!"
Katanya, suaranya menggetar penuh keharuan.
"Ayah... sudah lama sekali aku mencari-carimu. Ibu seringkali menangis, katanya kau tidak mau menjadi Ayah Eng Eng. Sekarang Ayah sudah disini, mengapa ibu masih menangis? Apa ayah betul-betul tidak suka kepada Eng Eng?"
Ucapan yang keluar dari bibir mungil itu seperti pisau mengiris jantung Kim-mo Taisu.
Terasa olehnya betapa ia telah melakukan dosa besar terhadap Gin Lin yang selain telah menolong nyawanya di Neraka Bumi ternyata masih menaruh cinta kasih yang amat besar kepadanya.
Sungguh ia telah berdosa.
Andaikata Gin Lin benar-benar seorang nenek sekalipun, ia tidak semestinya meninggalkan seorang yang begitu mencintanya.
"Eng Eng. Alangkah manis namamu. Ayah amat cinta dan sayang kepadamu, anakku!"
Ia menciumi pipi anaknya.
"Tapi Ayah mengapa menangis? Ibu juga? Mengapa susah?"
"Ayah tidak susah. Lihat, sekarang aku tertawa, dan Ibumu juga!"
Anak itu memandang ayah dan ibunya, benar saja mereka tersenyum dengan air mata membasahi pipi.
"Suhu...!"
Kwee Seng memandang dan ternyata Bu Song sudah muncul disitu.
"Teecu menghaturkan selamat bahwa Suhu telah dapat berkumpul dengan Subo (Ibu Guru) dan puteri Suhu."
Kata Bu Song dengan pandang mata sejujurnya dan muka ikut bergembira.
Kim-mo Taisu menurunkan tubuh isterinya perlahan.
Sambil memondong Eng Eng ia menghadapi muridnya berkata.
"Bu Song, kenapa kau pergi meninggalkan aku tanpa pamit?"
Mendengar suara ayahnya seperti marah dan melihat Bu Song menundukkan kepala, Eng Eng segera menjawab ayahnya.
"Ayah, jangan marah kepadanya. Dialah yang membawa Ibu dan aku kesini menemui Ayah. Bu Song tidak nakal, dia baik, Ayah!"
"Ehh...??"
Kim-mo Taisu memandang isterinya yang tersenyum dan mengangguk, bahkan isterinya lalu memberi penjelasan.
"Muridmu ini bekerja pada kami, mengambil air dari puncak. Ketika mengangsu air untuk kali terakhir, ia melihat kau berhadapan dengan musuh jahat, maka setibanya dirumah kami ia bertemu denganku dan mengatakan bahwa gurunya Kim-mo Taisu, menghadapi bahaya maka ia harus cepat-cepat pergi dari rumah kami, tidak mau kutahan lagi. Aku memang ada dugaan bahwa Kim-mo Taisu adalah engkau, maka aku lalu mengajak Eng Eng dan bersama Bu Song pergi menyusulmu kesini. Kiranya benar-benar kau berhadapan dengan musuh yang tangguh. Baiknya ada Pamanku Couw Pa Ong yang membantumu."
"Couw Pa Ong...? Dia itu... Pamanmu...?"
"Mari kita pulang dulu, nanti kita bicara sampai jelas."
"Pulang?"
Terharu hati Kim-mo Taisu, karena sesungguhnya, entah sudah berapa lamanya ia tidak mengenal arti kata "pulang"
Lagi. Sambil menggandeng tangan isterinya dan memondong Eng Eng, Kim-mo Taisu mengangguk dan menjawab.
"Marilah!"
"Bu Song, kau ikut dengan kami."
Kata Khu Gin Lin dengan suara halus, akan tetapi BU Song masih berdiri dengan kepala menunduk.
"Bu Song, hayo ikut, nanti kita main-main dirumah!"
Eng Eng juga berkata, akan tetapi tetap saja Bu Song tidak bergerak dan tidak pula mengangkat muka.
Anak itu sedang dilanda kedukaan hebat.
Ia memang ikut bergirang menyaksikan kebahagiaan suhunya yang telah berkumpul kembali dengan isteri dan anaknya, akan tetapi sekaligus peristiwa ini pun mengingatkan ia akan keadaannya sendiri yang jauh ayah jauh ibu, seorang anak yang tidak dapat mengecap kebahagiaan seperti Eng Eng karena ayah bundanya cerai berai.
Pula, agaknya suhunya marah kepadanya, dan kalau suhunya sendiri diam saja, bagaimana ia bisa ikut mereka?
Melihat Bu Song diam saja tidak menjawab, Eng Eng lalu melorot turun dari pondongan ayahnya, lari menghampiri Bu Song dan menarik tangannya.
"Hayo, kau ikut! Eh, kau... kau menangis? Kenapa?"
Mendengar ini, kagetlah Kim-mo Taisu.
Ia sudah mengenal betul perangai Bu Song, seorang anak yang amat keras hatinya, yang tidak pernah sudi menangis, tabah dan berani luar biasa.
Kalau sekarang menangis, benar-benar aneh!
Tadinya, perjumpaannya dengan anak isterinya membuat Kim-mo Taisu sejenak melupakan Bu Song, apalagi karena muridnya itu telah meninggalkannya tanpa pamit.
Ia menganggap muridnya sudah tidak suka lagi ikut dengannya, maka ia pun tadi tidak mengacuhkannya lagi.
Akan tetapi sekarang mendengar bahwa muridnya menangis, ia segera membalikkan tubuh menghampiri Bu Song.
"Bu Song, kau lihat aku!"
Bu Song mengangkat mukanya. Anak ini menggigit bibir menahan air mata dan memandang suhunya dengan mata tajam.
"Ketika aku bicara dengan Beng-kauwcu, kenapa kau lalu pergi meninggalkan aku tanpa pamit? Apakah kau sudah bosan ikut gurumu?"
Bu Song menggeleng kepalanya.
"Teecu tidak bosan, akan tetapi teecu tidak mau bertemu dengan Pat-jiu Sin-ong Liu Gan."
"Hehh...?? Kau tahu nama Beng-kauwcu? Mengapa kau tidak mau bertemu dengannya?"
Kim-mo Taisu benar-benar tertarik dan merasa heran.
"Karena... karena... dia adalah Kong-kong (kakek) teecu..."
"Apa kau bilang??"
Kim-mo Taisu melangkah maju mendekati muridnya lalu berjongkok agar dapat memandang wajah muridnya, baik-baik.
"Dia itu Kakekmu? Bu Song, katakanlah siapa nama ayahmu?"
"Ayah teecu Kam Si Ek, akan tetapi teecu tidak mau pulang..., juga teecu tidak mau ikut Kong-kong, teecu hendak mencari ibu..."
Jantung Kim-mo Taisu bedebar-debar keras, lalu ia memeluk Bu Song.
"Ah, mengapa ada peristiwa begini kebetulan? Bu Song... jadi kau anak Lu Sian dan Kam Si Ek...?"
Bu Song meronta dari pelukan suhunya, memandang dengan mata tebelalak.
"Suhu mengenal Ayah dan Ibu?"
"Anak baik, tentu saja aku mengenal mereka!"
"Kalau begitu maaf, teecu tidak dapat ikut Suhu lagi."
Anak ini lalu membalikkan tubuhnya dan lari. Akan tetapi dengan tiga kali lompatan saja Kim-mo Taisu sudah menangkap tangannya.
"Kenapa?"
"Teecu tidak mau Suhu kembalikkan kerumah Ayah atau Kong-kong. Teecu hendak mencari ibu."
Kim-mo Taisu mengangguk-angguk.
"Baiklah, Bu Song. Aku tidak akan mengantarmu kepada Ayah dan Kakekmu, kau ikut saja dengan kami dan kelak kubantu kau mencari Ibumu."
Kembali ia menghela napas karena teringat akan cerita Pat-jiu Sin-ong Liu Gan bahwa Liu Lu Sian telah meninggalkan suami dan putera, malah telah melakukan hal-hal yang luar biasa didunia kang-ouw, telah mencuri kitab-kitab dari Beng-kauw sendiri.
Sungguh aneh, mengapa secara kebetulan sekali putera Liu Lu Sian menjadi muridnya?
Pantas saja begitu berjumpa dengan anak ini, timbul rasa sayang dihatinya.
Kiranya anak ini darah daging Lu Sian!
Diam-diam ia menjadi girang sekali dan berjanji kepada diri sendiri untuk mengimbangi Bu Song seperti puteranya sendiri.
Maka turunlah mereka berempat dari puncak dengan wajah bahagia.
Kim-mo Taisu tak pernah dilepaskan tangannya oleh isterinya, yang kadang-kadang mengucurkan air mata sambil tersenyum-senyum memandangi wajah suaminya yang dirindukannya selama bertahun-tahun.
Mereka bergandeng tangan sambil bercakap-cakap menceritakan pengalaman masing-masing selama berpisah.
Eng Eng yang sifatnya lincah itu pun menggandeng tangan Bu Song diajak balapan lari atau diajak memetik bunga mengejar kupu-kupu disepanjang jalan, sambil tertawa-tawa.
Secara singkat Kim-mo Taisu menceritakan pengalamannya sejak keluar dari Neraka Bumi, pengalaman yang penuh kesengsaraan dan kepahitan sehingga membuat isterinya makin sayang kepadanya.
Khu Gin Lin ikut mengucurkan air mata mendengar betapa suaminya menyesali diri sendiri sampai menjadi seperti seorang jembel gila.
Kemudian tiba gilirannya untuk bercerita.
Seperti telah diceritakan oleh mendiang Ang-siauw-hwa atau Khu Kim Lin mendiang saudara kembarnya kepada Kwee Seng, dia dan Kim Lin adalah anak kembar dari seorang pangeran bernama Khu Si Cai, seorang Pangeran Kerajaan Tang.
Khu Si Cai ini, adalah adik ipar Raja Muda Couw Pa Ong yang terkenal.
Ketika terjadi perang yang mengakibatkan tumbangnya Kerajaan Tang, keluarga Kaisar dan para bangsawan menjadi korban.
Tak terkecuali keluarga Pangeran Khu yang ikut terbasmi.
Sepasang bocah kembar yang baru berusia lima tahun itu dapat diselamatkan oleh seorang pelayan, dibawa lari keluar pada saat istana pangeran itu diserbu musuh dan dibakar.
Dalam pelarian ini mereka bertemu keributan perang sehingga akhirnya Khu Gin Lin terlepas dari gandengan tangan pelayannya membuat ia terpisah dari saudara kembarnya.
Anak ini menangis sambil lari kesana kemari, jatuh bangun ditabrak orang-orang yang sedang melarikan diri dari perang.
Akhirnya ia jatuh pingsan ditengah jalan hampir saja diinjak-injak orang yang sedang panik itu kalau saja tidak ditolong oleh seorang tosu (pendeta To) yang kebetulan lewat.
Tosu ini sudah tua sekali, mukanya pucat dan melihat seorang anak perempuan menggeletak di jalan, hampir terinjak-injak, cepat ia menyambarnya dan membawanya pergi cepat-cepat.
"Tosu itu adalah Kwan Cin Cun, seorang tokoh Thian-san-pai yang terkenal sebagai seorang patriot pembela Kerajaan Tang, sahabat baik dari Paman Sin-jiu Couw Pa Ong."
Demikian Gin Lin melanjutkan ceritanya.
"Dia tidak tahu bahwa aku adalah keponakan Couw Pa Ong. Seperti juga Pamanku itu yang terluka hebat, malah menjadi lumpuh kedua kakinya, Suhu Kwan Cin Cu terluka parah disebelah dalam dadanya, luka yang tak mungkin dapat disembuhkan lagi karena ia telah terkena pukulan beracun yang hebat. Dia membawaku ke Neraka Bumi dan kebetulan sekali saat itu musim kering sehingga lebih mudah memasuki Neraka Bumi. Neraka Bumi sebetulnya adalah tempat bertapa kakek gurunya, yaitu sucouw (kakek guru) dari Thian-san-pai, tempat rahasia yang hanya diketahui oleh Suhu Kwan Cin Cu. Aku dibawa ketempat itu, lalu ia melatihku membaca kitab dan juga dasar-dasar ilmu silat. Sayang sekali, ketika aku berusia dua belas tahun, Kwan Suhu meninggal dunia karena lukanya yang memang hebat sekali."
"Hemm, seorang sakti seperti dia, mengapa menyembunyikan diri dan tidak mau keluar lagi?"
Kim-mo Taisu mencela.
"Dia sudah putus harapan. Katanya kepadaku, daripada keluar dari Neraka Bumi melihat negeri dijajah orang, lebih baik ia bersembunyi dan bertapa sampai mati. Selama mendidikku, ia menanamkan kesan betapa buruknya dunia, betapa jahatnya manusia, betapa berbahayanya hidup seorang gadis muda. Oleh karena itulah maka aku lalu membuat kedok nenek-nenek dan tak pernah mau keluar dari Neraka Bumi, sampai... sampai.... Thian membawamu masuk kesana dan... dan... lahirnya Eng Eng."
Jari-jari tangan Gin Lin mencengkram jari-jari tangan suaminya dan keluarlah getaran-getaran kasih dari jari tangan mereka.
Ketika mereka berempat tiba dirumah kediamannya Couw Pa Ong, ternyata kakek lumpuh itu telah berada disitu, bahkan berdiri menanti didepan pintu.
Bu Song memandang dengan kagum dan juga serem kepada kakek sakti itu.
Ada pun Kim-mo Taisu segera maju dan memberi hormat dengan kikuk, karena sebetulnya, sebagai tokoh kang-ouw, ia enggan memberi hormat berlebihan, akan tetapi mengingat bahwa orang ini paman isterinya, tidak enak pula kalau tidak memberi hormat.
Kong Lo Sengjin atau Sin-jiu Couw Pa Ong tertawa bergelak, kelihatannya girang sekali.
"Sudahlah, tidak perlu banyak sungkan, kita orang sendiri ha-ha-ha! Alangkah girang hatiku mendapat kenyataan bahwa suami keponakanku adalah Kim-mo Taisu! Sungguh menyenangkan, ini berarti bahwa Dinasti Kerajaan Tang masih belum saatnya lenyap dari permukaan bumi! Kim-mo Taisu, dengan adanya engkau sebagai keluarga kami, maka kekuatan untuk memulihkan kekuasaan Kerajaan Tang menjadi makin besar."
"Maaf, Ong-ya, eh... Paman, akan tetapi saya sama sekali tidak ada minat untuk memikirkan soal kerajaan, saya tidak akan ikut-ikut...."
"Ha-ha-ha, coba saja kita sama-sama lihat! Aku Kong Lo Sengjin adalah seorang buronan, dicap sebagai musuh kerajaan yang sekarang berkuasa, juga isterimu dianggap sebagai anggota pemberontak, keluarga bekas Kerajaan Tang. Kalau isterimu dimusuhi, apakah kau sebagai suaminya tidak?"
Kim-mo Taisu mengerutkan keningnya.
"Kalau begitu, saya akan ajak isteri, anak dan murid saya untuk menjauhkan diri, mengungsi ditempat sunyi, hidup mengasingkan diri ditempat aman tenteram."
Keng Lo Sengjin membanting-banting tongkatnya keatas tanah.
"Gin Lin! Kau dengar kata-kata suamimu? Apa kau sudah lupa lagi, akan keluarga Ayah Bundamu yang terbasmi?"
"Paman, harap bersabar. Aku akan mengikuti suamiku kemanapun juga ia pergi. Tentang sakit hati keluarga, sampai mati pun keponakanmu ini tidak akan lupa."
"Haaahhh, pergilah...!"
Mulutnya bilang begitu akan tetapi kakek ini sendirilah yang pergi jauh dari rumah itu, dengan gerakan cepat sekali, berloncat-loncatan menggunakan kedua "kaki"
Nya yang berupa sepasang tongkat.
Gin Lin lalu berbenah, dibantu oleh tiga orang pembantu rumah tangga yaitu A-kwi, A-liong, dan Sam-hwa yang ternyata bukanlah pembantu rumah tangga sembarangan saja karena ketiga orang ini adalah bekas-bekas panglima pembantu Kong Lo Sengjin ketika kakek ini masih menjadi Raja Muda Sin-jiu Couw Pa Ong!
Setelah selesai, dengan terharu Gin Lin berpamit dari tiga orang pembantu ini, dan mereka pun kelihatan terharu, apalagi Sam-hwa yang menangisi kepergian Eng Eng yang ia anggap sebagai cucunya.
"Harap kalian bertiga jangan terlalu sedih."
Akhirnya Gin Lin berkata.
"Betapapun juga, waktu akan membawa kita berkumpul dalam perjuangan yang sama."
Kata-kata ini agaknya menyadarkan mereka dan berserilah wajah mereka malah mereka mengantar keluarga itu sampai jauh keluar hutan.
Setelah mereka berpisah, Kim-mo Taisu bertanya apa artinya ucapan isterinya ketika berpisah tadi.
Gin Lin menarik napas panjang.
"Mereka itu adalah bekas panglima dan pejuang pembela Kerajaan Tang. Seperti juga Paman dan aku sendiri, kita kehilangan keluarga, menyaksikan betapa keluarga terbasmi habis, betapa kerajaan runtuh diobrak-abrik dan dirampok, diperkosa, dihina oleh musuh. Anehkah kalau dilubuk hati kita masing-masing terpendam perasaan dendam yang tak dapat dipadamkan sebelum Kerajaan Tang bangkit kembali? Kakek sudah berusaha keras, dan dengan kawan-kawan seperjuangan telah berhasil menjatuhkan Kerajaan Tang Muda, akan tetapi hanya berhasil mempertahankan selama tiga belas tahun saja, dan Kerajaan Tang Muda kembali jatuh ditangan musuh yang mendirikan Kerajaan Cin Muda. Ah, sebelum Kerajaan Tang bangkit kembali seperti dahulu, agaknya hati kita masih akan tetap mengandung dendam."
Kim-mo Taisu mengangguk-angguk, akan tetapi tidak menjawab apa-apa.
Baginya, perasaan dendam itu tidak ada dan tak dapat ia merasai atau mengerti apa yang diutarakan isterinya itu, karena ia sendiri tidak pernah melibatkan diri dengan urusan negara.
"Yang terpenting kita mendidik Eng Eng dan Bu Song."
Akhirnya ia berkata.
"dan kalau kita terlibat urusan perang, bagaimana kita mampu mendidik anak-anak itu? Mari kita pergi ketempat yang tenteram dan jauh daripada keributan."
"Kemanakah? Asal jangan ke Neraka Bumi!"
Gin Lin berkata dan meremang bulu tengkuknya kalau ia membayangkan betapa puterinya harus hidup di neraka itu! "Tempat yang baik dan berjasa."
Kim-mo Taisu berkata, melamun.
"Ihhh, neraka itu kau anggap baik?"
Suaminya tersenyum dan memegang tangan Si Isteri.
"Kalau tidak ada Neraka Bumi, bagaimana kita bisa saling berjumpa?"
Gin Lin menjadi merah sekali mukanya, ia membuang senyum dan berkata.
"Sudahlah, kemana kita sekarang pergi?"
"Ke Min-san!"
Selama tinggal di Neraka Bumi dan ditinggal mati Kwan Cin Cu, Gin Lin membaca kitab-kitab dan banyak tahu akan teori ilmu silat sambil melatih diri sedapatnya.
Biarpun kurang sempurna karena kurang bimbingan, namun dia telah memiliki ilmu kepandaian yang tinggi juga, maka dalam perjalanan jauh itu mereka tidak mengalami banyak kesulitan.
Apabila mereka melalui jalan yang sukar, Gin Lin menggendong puterinya sedangkan Kim-mo Taisu menggandeng tangan Bu Song atau kadang-kadang juga memondongnya.
Setelah melakukan perjalanan beberapa bulan lamanya, akhirnya mereka sampai juga ke Puncak Min-san dimana Kim-mo Taisu lalu membangun sebuah pondok sederhana untuk tempat tinggal mereka, jauh daripada dunia keramaian.
Mulai saat itu, Bu Song dan Eng Eng menerima gemblengan dari Kim-mo Taisu dan isterinya.
Akan tetapi oleh karena Bu Song masih saja kukuh tidak mau mempelajari ilmu silat, maka hanya Eng Eng saja yang menerima latihan ilmu silat, sedangkan Bu Song mendapat pelajaran ilmu sastra.
Seperti kita ketahui, Kim-mo Taisu Kwee Seng ini dahulu adalah seorang mahasiswa yang tak pernah lulus dalam ujian.
Biarpun ia lebih gemar ilmu silat, namun sesungguhnya ia bukanlah seorang yang bodoh dalam ilmu sastra.
Tidak, bahkan ia amat pandai.
Hanya pada masa itu, untuk dapat lulus dalam ujian tidaklah mudah.
Nafsu korupsi sudah menjadi penyakit wabah yang menyerang seluruh pembesar yang berhak memeriksa ujian, jangan harap seorang mahasiswa akan dapat lulus dalam ujian.
Kim-mo Taisu Kwee Seng adalah seorang yang berjiwa pendekar, tentu saja ia tidak sudi untuk melakukan penyuapan, tidak mau ia lulus ujian yang membuat ia gagal terus dalam ujian lagi.
Karena memang pandai dalam ilmu sastra, tentu saja ia dapat mengajarkan ilmu itu kepada Bu Song.
Akan tetapi, disamping ilmu menulis dan membaca sajak ini, diam-diam Kim-mo Taisu menurunkan pelajaran dasar-dasar ilmu silat yang secara cerdik ia masukkan kedalam pelajaran yang ia sebut ilmu kesehatan dan ilmu pengobatan.
Dalam diri Bu Song memang terdapat bakat istimewa, maka segala macam pelajaran dapat ia terima dengan mudah.
Bahkan dalam latihan samadhi dan peraturan napas penyaluran jalan darah, ia jauh lebih maju daripada Eng Eng.
Bertahun-tahun keluarga ini hidup bersunyi, hanya bertetangga penduduk gunung yang tinggal di lereng Min-san.
Hanya sepekan sekali keluarga ini dapat bertemu orang, karena penduduk tidak ada yang berani naik ke puncak yang sukar itu.
Namun mereka hidup penuh ketenteraman dan kebahagiaan.
Sudah terlalu lama kita meninggalkan Liu Lu Sian, maka agar jalan ceritera dapat lancar, marilah kita mengikuti perjalanan tokoh wanita kita ini.
Didalam
Jilid dua telah dituturkan betapa dalam kemarahannya, Lu Sian membunuh kekasihnya sendiri, yaitu Hui-kiam-eng Tan Hui, lalu membunuhi pula atau setidaknya membikin luka berat sembilan orang piauwsu yang ia anggap sebagai gara-gara pertengkarannya dengan Tan Hui.
Setelah ikatan asmara yang mesra dengan Tan Hui selama kurang lebih dua bulan, kini kembali Lu Sian bebas seperti burung liar yang terbang melayang di udara.
Agak menyesal hatinya bahwa ia terpaksa harus membunuh Tan Hui, laki-laki yang cukup menyenangkan hatinya, akan tetapi di samping kekecewaan dan penyesalannya itu, terselip rasa bangga dan girang bahwa ia kini telah mewarisi ilmu gin-kang dari kekasihnya itu, yaitu Ilmu Coan-in-hui (Terbang Menerjang Mega).
Gin-kang ini jauh lebih hebat daripada gin-kang yang pernah ia pelajari, dan dengan hati gembira, lupa lagi akan kematian kekasihnya, Lu Sian berlari-lari secepat terbang menggunakan Coan-in-hui.
Selagi ia berlompatan melalui perjalanan yang amat sukar di lereng bukit, tiba-tiba ia melihat sebuah benda bergerak-gerak jauh di depannya.
Lu Sian kaget seketika melihat bahwa benda itu bukan lain adalah sebuah bantal atau karung yang dapat berlompatan cepat sekali.
Ia mengenal benda ajaib ini karena di dalam rumah Raja Pengemis, ketika berada dalam bahaya benda ini telah menolongnya.
Maka ia lalu mengerahkan tenaga dan cepat mengejar.
Karena kini ginkangnya memang sudah mulai mahir, gerakannya seperti burung walet menyambar-nyambar dan biarpun gerakan benda ajaib itu juga amat cepat, namun setengah jam kemudian ia berhasil memperdekat jarak diantara mereka.
Akan tetapi benda itu terus berloncatan, seakan-akan melarikan diri, melompati jurang dan mendaki bukit itu.
Lu Sian merasa heran.
Tak salah lagi, pastilah benda itu terisi orang, akan tetapi mengapa begitu kecil?
Apakah seorang anak kecil?
Tidak mungkin rasanya.
Masa seorang anak kecil memiliki kepandaian sehebat itu?
Orang tua pun akan sukar bergerak sedemikian cepatnya kalau bersembunyi di dalam karung.
"Locianpwe, tunggu aku mau bicara!"
Serunya.
Namun bantal itu malah makin cepat bergerak maju berloncatan.
Lu Sian menjadi gemas.
Biarpun kau hendak lari ke langit, masa aku tidak mampu mengejarmu?
Demikian pikirnya dan ia mengejar terus.
Akhirnya benda itu tiba di puncak sebuah bukit kecil dan Lu Sian telah dapat menyusulnya.
Tiba-tiba terdengar suara dari dalam benda itu.
"Waduh, waduh..., habis napasku...! Terlalu sekali, mengejar orang terus-terusan. Aku terima kalah!"
Setelah terdengar suara ini, bantal itu pecah dan muncullah seorang kakek yang pendek kecil berjenggot panjang berkepala besar.
Tubuhnya pendek seperti kanak-kanak berusia sepuluh tahun, akan tetapi melihat kepala yang besar dan penuh mumis dan jenggot itu, jelas dia seorang kakek yang sudah tua sekali!
Napasnya mengkas-mengkis (terengah-engah), dan begitu keluar dari dalam karung, ia seperti tidak melihat Lu Sian, melainkan memandang kekanan kiri dengan wajah ketakutan, seperti mencari sesuatu.
u Sian menahan senyumnya, lalu menjura dan berkata.
"Kakek lucu, mengapa kau bersembunyi dalam bantal dan mengapa pula lari terbirit-birit?"
Dengan napas masih tersengal-sengal kakek itu menyusut peluh didahinya, lalu berkata cemberut.
"Kenapa kau mengejar-ngejarku terus? Huh, tentu saja aku kalah napas, coba aku masih muda, ilmu gin-kang coa-in-hui itu mana mampu mengejarku?"
"Kakek yang baik, harap jangan marah. Aku mengejarmu untuk menghaturkan terima kasih atas pertolonganmu dirumah Kai-ong."
"Sudahlah, apa kau melihat Bu Kek Siansu?"
Tiba-tiba kakek itu bertanya dan kembali matanya jelalatan kekanan kiri, ketakutan.
Lu Sian adalah seorang wanita yang cerdik sekali.
Melihat lagak kakek ini ia dapat menduga bahwa biarpun kakek ini seorang sakti, namun ada yang ditakuti.
Dan agaknya Bu Kek Siansu yang amat ditakuti.
Tentu saja ia pernah mendengar nama Bu Kek Siansu.
Siapa pun orangnya yang berkecimpung dalam dunia kang-ouw, pasti pernah mendengar nama itu, biarpun jarang sekali yang dapat bertemu muka dengan manusia dewa yang sakti itu.
Maka ia tidak menjawab, melainkan berkata.
"Sekarang tidak melihatnya, akan tetapi siapa tahu gerak-gerik manusia dewa itu? Eh, Kakek, siapakah kau dan mengapa bertanya tentang Bu Kek Siansu?"
"Aku... aku jijik bertemu dengannya!"
Jawabnya dan kakek itu mengangkat muka membusungkan dadanya yang tipis.
"Mau tahu siapa aku? Bocah, dengar baik-baik supaya jangan terjungkal karena kaget. Akulah Bu Tek Lojin!"
Belum pernah Lu Sian mendengar nama ini, dan ia menganggap orang ini selain lucu juga agak sombong.
Baru namanya saja Bu Tek (tidak terlawan)!
"Biar kau tidak terlawan, akan tetapi lariku lebih cepat daripada larimu."
"Huh, bocah masih bau air susu! Kau sombong. Apakah ayahmu, si gila Pat-jiu Sin-ong Liu Gan itu datang bersamamu?"
"Kalau aku panggil dia, tentu ayah datang!"
Jawab Lu Sian, sengaja mempergunakan nama ayahnya untuk menakuti orang, karena ia percaya bahwa nama ayahnya cukup disegani kawan ditakuti lawan, buktinya Si Raja Pengemis yang lihai itu pun kuncup hatinya mendengar bahwa ia puteri Pat-jiu Sin-ong Liu Gan.
"Ho-ho-ho-hoh! Lekas panggil ayahmu datang. Dia ditambah kau ditambah seorang lawan lagi, akan kupermainkan seperti... seperti... seperti..."
"Seperti apa?"
Lu Sian sudah marah, mendongkol hatinya mendengar dia dan ayahnya dipandang ringan.
"Seperti ini!"
Kakek itu lalu menggunakan ujung kakinya mencongkel sebuah batu dan... batu itu mencelat terbang keatas, padahal batu itu besar dan amat berat.
"Nah, ini engkau. Dan ini Ayahmu!"
Ia mencongkel sebuah batu lain yang lebih besar keatas seperti tadi.
"Dan yang ketiga ini kawan ayahmu!"
Batu ketiga mencelat keatas dan kini tiga buah batu besar itu melayang turun berturut-turut akan menimpa kepala Si Kakek Cebol.
Akan tetapi kakek itu menggerakkan kedua tangannya dengan telapak menghadap keatas dan...
tiga buah batu itu bermain-main diudara, bergerak keatas dan kebawah, tak pernah menyentuh telapak tangan kakek itu, seakan-akan ada hawa yang berkekuatan luar biasa menahan dan mempermainkan tiga buah batu itu.
Lu Sian melongo.
Ia maklum bahwa itu adalah permainan tenaga sin-kang akan tetapi untuk dapat mempermainkan tiga batu besar seperti itu, benar-benar membutuhkan tenaga sin-kang yang hebat luar biasa.
Kakek ini sakti sekali dan ternyata kesombongannya bukan kosong belaka.
"Nah, kalian bertiga bisa apa terhadapku?"
Ia lalu membuat gerakan dengan tangannya lalu membentak.
"Turun!"
Heran sekali.
Tiga buah batu itu bertumpang-tindih bersusun tiga lalu perlahan-lahan turun keatas tanah, seperti dipegang tangan yang kuat, turunnya pun perlahan-lahan dan tidak menimbulkan debu.
Akan tetapi begitu kakek itu melompat mundur, tiga buah batu yang tersusun itu hancur berantakan!
Lu Sian menelan ludah.
Hebat bukan main.
Timbul keinginannya memperoleh ilmu dari kakek sakti ini, maka ia cepat menjura sambil memuji.
"Wah, hebat sekali kepandaian Locianpwe!"
Kakek itu kelihatan girang dan bangga, lalu bertolak pinggang membusungkan dada, matanya mengedip-ngedip, hidungnya bergerak-gerak dengan ujung hidungnya mekar!
"Nah, maka kau jangan main-main dengan Bu Tek Lojin!
Aku pesan kepadamu, dan temannya-temannya, apabila suling emas terjatuh kedalam tangan seorang diantara kalian, harus cepat-cepat serahkan kepada Bu Tek Lojin.
Mengerti?"
"Tidak, tidak mengerti."
Lu Sian menggeleng kepala. Kakek itu marah-marah dan mengepal tinjunya, mengamang-amangkan kedua tinjunya di depan hidung Lu Sian.
"Kau lihat ini?"
Bentaknya. Lu Sian benar-benar merasa ngeri dan takut, dan saking gugupnya ia menjawab sambil mengangguk-angguk.
"Aku lihat, dan baunya busuk!"
Lu Sian kaget mendengar ucapannya sendiri.
Celaka, sifat lincah dan liarnya kumat sehingga ia bicara tanpa dipikir.
Ia sudah siap-siap menanti serangan, karena kakek aneh ini tentu marah.
Akan tetapi Bu Tek Lojin malah membawa kedua tangannya kedepan hidungnya sendiri, mencium-cium.
Hidungnya dikernyit kan dan ia berkata.
"Benar bau tak enak, habis belum dicuci, berhari-hari bersembunyi dalam karung! Eh, bocah, biar tanganku bau, akan tetapi apakah badanmu lebih keras daripada batu tadi?"
"Maaf Kek, aku benar-benar tidak mengerti. Apa sih yang kau maksudkan dengan suling emas?"
"Wah, ketanggor (melanggar batu) aku sekali ini! Kau benar bocah hijau tak tahu apa-apa. Pat-jiu Sin-ong Liu Gan agaknya tidak pernah memberi pengertian kepada bocah ini! Suling Emas adalah pusaka pemberian Bu Kek Siansu kepada Sastrawan Ciu Bun. Sekarang, Sastrawan Ciu Bun lenyap, entah mampus atau belum, akan tetapi suling emas itu lenyap, menjadi perebutan orang-orang didunia. Nah, aku perlu suling itu, kalau seorang diantara kalian menemukannya, harus diberikan kepadaku. Harus, mengerti?"
"Tidak, tidak mengerti."
"Tolol! Kau menantang?"
"Tidak, Bu Tek Lojin. Kumaksudkan, aku tidak mengerti mengapa hanya sebuah suling emas saja dijadikan rebutan. Berapa sih harganya suling emas? Agaknya orang-orang kang-ouw sekarang sudah menjadi mata duitan semua!"
Kakek itu tertawa bergelak-gelak, perutnya sampai menjadi keras dan ia memegangi perutnya, tubuhnya ditekuk menjadi lebih pendek lagi.
"Ho-ho-ho-hah-hah! Goblok, sekali goblok tetap tolol. Kau tahu apa? Suling itu menjadi kunci rahasia ilmu kesaktian hebat, selain itu, emasnya mengandung logam murni yang berasal dari bintang, siapa memegangnya, berarti memegang sebuah senjata yang paling ampuh didunia ini."
"Ah, begitukah? Baik, nanti kusampaikan kepada ayah dan kawan-kawan lain."
Kata Lu Sian, akan tetapi didalam hatinya sudah timbul keinginan untuk memiliki sendiri suling emas itu.
Kakek itu kaget.
Biarpun sakti, agaknya ia mudah kaget.
"Bocah gendeng, bikin kaget saja, kukira Bu... eh!"
Ia menghentikan ucapannya, lalu berseru keras.
"Muridku! Kau naik kesini!"
Karena tidak ingin berurusan dengan kakek itu, Lu Sian berkata.
"Bu Tek Lojin, sudahlah, aku minta diri, hendak melanjutkan perjalananku."
"Eh, nanti dulu, kau jumpai muridku yang baik!"
Hemm, segala murid anak kecil disuruh menjumpai. Akan tetapi tidak enak kalau membantah dan membuat marahnya kakek sakti ini, maka ia berdiri menanti.
"Bocah tolol, tidak lekas-lekas naik? Kalau habis sabarku, kujiwir telingamu sampai copot!"
Teriak kakek itu marah-marah. Diam-diam Lu Sian merasa kasihan kepada bocah murid kakek ini yang demikian galak.
"Teecu datang, Suhu!"
Terdengar teriakan dari jauh, akan tetapi mendadak berkelebat bayangan dan tahu-tahu disitu berdiri seorang laki-laki yang tubuhnya juga agak cebol gemuk, kepalanya botak dan jenggotnya juga panjang!
Hampir Lu Sian tak dapat menahan ketawanya.
Yang disebut bocah dan ia sangka kanak-kanak ini tidak tahunya juga seorang laki-laki yang sudah tua, malah panjang jenggotnya, laki-laki yang seperti juga gurunya, berpakaian tidak karuan dan bertelanjang kaki.
Orang botak itu segera menjatuhkan diri berlutut di depan gurunya.
"Kalisani, hayo kau lawan perempuan ini, untuk ujian. Dia puteri Pat-jiu Sin-ong, cukup untuk kau pakai berlatih!"
Kalisani, murid Bu Tek Lojin yang kita kenal sebagai bekas Panglima Khitan itu segera bangkit berdiri memandang Lu Sian, lalu menjura.
"Nona, Suhu sudah memerintah kepadaku, terpaksa kuharap Nona suka melayaniku barang sepuluh jurus!"
Setelah berkata demikian, ia memasang kuda-kuda seperti orang hendak membuang air, karena ia berjongkok sampai rendah sekali dan mukanya menahan napas sampai merah seperti orang sakit perut!
Kuda-kuda ini lucu sekali dan seandainya Lu Sian tidak sudah menduga bahwa lawan aneh ini seorang yang tak boleh dipandang ringan, tentu ia tidak dapat menahan ketawanya, Lu Sian sendiri memiliki watak aneh, keras hati dan tidak mau kalah.
Sekarang ia ditantang terang-terangan biarpun ia tahu bahwa kepandaian Bu Tek Lojin jauh lebih tinggi daripada tingkat kepandaiannya, namun ia tidak takut, dan ia harus memperlihatkan kepandaiannya, apa pun yang akan terjadi.
Oleh karena itu, melihat Kalisani sudah memasang kuda-kuda, ia berseru keras.
"Orang hutan, jaga seranganku!"
Tubuhnya bergerak cepat sekali dan ia menerjang maju, langsung mengirim tendangan dengan ujung sepatunya ke arah leher orang yang berjongkok di depannya.
Ketika lawannya melompat kebelakang sambil mengulur tangan dengan maksud menangkap kakinya yang menendang, Lu Sian menarik kakinya dan tubuhnya condong kedepan, langsung tangan kanannya menghantam dada sedangkan tangan kiri dengan dua jari tangan menusuk kearah mata.
Inilah jurus dari Ilmu Silat Sin-coa-kun (Ular Sakti) yang amat berbahaya dan ganas.
Akan tetapi Kalisani bukanlah seorang yang masih hijau.
Sebelum menjadi murid Bu Tek Lojin, ia telah memiliki ilmu kepandaian tinggi dan menjadi panglima tua di Khitan, tentu saja ia tidak dapat dikalahkan dengan mudah dan jurus yang berbahaya ini dengan amat mudahnya dapat ia hindarkan dengan cara melompat ke kanan.
Malah ia segera membalas serangan lawan dengan pukulan keras dari kanan.
Melihat lawannya juga dapat bergerak dengan gesit sekali, Lu Sian makin bersemangat.
Ia mengelak dari pukulan itu dan balas menerjang ganas sambil mengerahkan gin-kangnya dan terus mainkan Ilmu Silat Ular Sakti yang memiliki jurus-jurus ganas dan berbahaya.
Berkat gin-kang Coa-in-hui yang ia pelajari dari Tan Hui, kini permainan Ilmu Silat Tangan Kosong Ular Sakti menjadi berlipat ganda lebih lihai daripada sebelum ia memiliki gin-kang itu.
Diam-diam Kalisani terkejut sekali.
Sedikitpun juga ia tidak mengira bahwa lawannya begini hebat.
Tadi ketika ia disuruh suhunya menandingi Lu Sian, ia merasa ragu-ragu dan tidak enak hati.
Dia seorang yang sudah tua dan berpengalaman banyak, pula memiliki ilmu silat tinggi.
Bagaimana harus melawan seorang wanita muda?
Akan tetapi karena suhunya yang memberi perintah, tentu saja ia tidak berani membantah.
Ia tadinya hendak berjaga diri saja dan sedapat mungkin mengalahkan wanita ini dengan lunak, karena Kalisani bukanlah seorang pria yang suka menghina atau menyakiti hati wanita.
Siapa kira, kini menghadapi desakan Lu Sian, ia menjadi bingung dan pandang matanya kabur, demikian cepatnya wanita ini bergerak!
Maka ia lalu tidak sungkan-sungkan lagi, cepat ia pun mainkan ilmu silatnya dan mengerahkan tenaga dalam kedua lengannya, mempercepat gerakannya.
Alangkah herannya ketika beberapa kali lengan mereka saling bertemu, wanita itu tidak roboh atau mencelat, bahkan dia sendiri merasa betapa hawa pukulan yang amat kuat menggetarkan lengannya!
Maklumlah ia kini bahwa biarpun masih muda wanita yang pantas menjadi lawannya ini lihai sekali.
Pantas saja suhunya mengatakan bahwa wanita ini cukup tangguh untuk diajak berlatih ilmu silat!
Dengan ilmu gin-kang Coa-in-hui, benar-benar Lu Sian dapat menguasai lawannya.
Ia menang cepat dan sudah tiga kali tangannya berhasil menyerempet tubuh lawan, malah satu kali ia berhasil memukul pundak Kalisani.
Akan tetapi tubuh lawannya kebal dan pukulan itu hanya membuat Kalisani terhuyung-huyung sebentar, maka ia berlaku amat hati-hati dan mencari kesempatan untuk dapat memukul tepat.
Lu Sian sengaja mempermainkan lawan dengan kecepatannya untuk mengacaukan pertahanannya.
"Bocah tolol! Segala macam ilmu cakar bebek dari Khitan itu mana mampu menghadapi Sin-coa-kun dari Beng-kauw? Tolol! Kau muridku, mengapa tidak menggunakan pelajaran dariku?"
Bu Tek Lojin marah-marah, mencak-mencak dan memaki-maki.
Kalisani memang tidak mau mempergunakan ilmu simpanannya yang ia pelajari dari Bu Tek Lojin.
Ilmu itu ada tiga macam, yaitu Ilmu Khong-in-ban-kin (Awan Kosong Selaksa Kati) yang merupakan penghimpunan tenaga sin-kang yang luar biasa, kedua adalah Khong-in-liu-san yang merupakan ilmu serangan yang luar biasa hebatnya, dan ketiga adalah Ilmu Silat Kim-lun-sin-hoat (Ilmu Sakti Roda Emas), semacam ilmu silat yang dapat dimainkan dengan tangan kosong, akan tetapi lebih tepat dengan gelang atau roda emas yang ia terima sebagai tanda mata dari Tayami!
Ilmu-ilmu ini ia tahu amat hebat, maka (Lanjut ke
Jilid 20) SULING EMAS (Seri ke 02
"Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 20 ia tidak tega untuk mempergunakan nya terhadap Lu Sian yang sama sekali tidak dikenalnya dan tidak ada permusuhan dengannya.
Kini mendengar seruan gurunya, baru ia ingat.
Akan tetapi terlambat.
Sebelum ia sempat mempergunakan ilmu itu, sebuah hantaman Lu Sian mengenai lehernya, membuat Kalisani terlempar dan bergulingan, kemudian terbentur pohon dan rebah telentang dengan mata mendelik.
Pingsan!
"Uuhhh, tolol, mencari mampus!"
Bu Tek Lojin marah dan mendongkol sekali melihat "jagonya"
Keok. Ia melompat dekat dan dua kali menotok leher dan punggung, muridnya sudah merangkak bangun lagi.
"Hayo maju lagi, kalau kau tidak bisa menang kulemparkan kau ke dalam jurang!"
Bentaknya. Memang kakek ini memiliki watak yang luar biasa sekali, sama sekali ia tidak pernah mau mengaku kalah terhadap siapapun juga.
"Bu Tek Lojin, aku tidak hendak bermusuh!"
Kata Lu Sian, mendongkol juga karena sudah jelas ia menang, mengapa kakek ini nekat menyuruh muridnya maju lagi?
"Aku tadi melayani hanya untuk membuktikan bahwa bukan muridmu saja yang memiliki kepandaian di kolong jagad ini.
Sekarang aku tidak ada waktu lagi."
"E-e-eh, nanti dulu! Siapa bilang muridku kalah? Tadi ia sengaja mengalah, kau tahu? Kalisani, hayo maju lagi!"
Lu Sian gemas.
Orang tua ini harus diberi rasa, pikirnya.
Kali ini aku akan memukul mampus muridnya, lihat dia hendak berlagak bagaimana lagi?
Maka ia cepat berseru keras dan mendahului Kalisani, menerjang dengan cepat.
Kalisani sudah bersiap sedia.
Ia sudah merasai kehebatan kepandaian lawan, maka sekarang ia cepat merobah gerakannya dan mainkan ilmu silat Kim-lun-sin-hoat dan mengerahkan tenaga Khong-in-ban-kin.
Tulang-tulangnya berbunyi berkerotokan, ini tanda bahwa sin-kang di tubuhnya telah terhimpun.
Sebenarnya, ia belum matang dalam latihan Khong-in-ban-kin, maka tulang-tulangnya mengeluarkan bunyi.
Kalau ia sudah berhasil menghimpun tenaga tanpa tulang-tulangnya berbunyi, barulah ilmunya itu sempurna.
Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati Lu Sian ketika dia menerjang, ia disambut dengan hawa pukulan jarak jauh yang luar biasa kuatnya, yang menolak setiap gerakannya sehingga ia tidak dapat mendekati lawannya.
Sebaliknya, kedua tangan lawan yang digerakkan berputar-putar membentuk lingkaran-lingkaran seperti roda itu membingungkan hatinya.
Baru belasan jurus, Lu Sian sudah main mundur.
"Hua-hah-ho-ho-ho-hoh!"
Bu Tek Lojin tertawa bergelak-gelak menyaksikan betapa muridnya dapat mendesak lawan.
"Kalisani, jangan sungkan. Hantam dia sampai babak belur! Comot hidungnya, jewer telinganya, cubit pantatnya, ha-ha-ha!"
Dapat dibayangkan betapa marahnya Lu Sian mendengar ejekan-ejekan ini.
Kakek tua bangka mau mampus, pikirnya marah.
Tiba-tiba kedua tangannya bergerak pada saat ia meloncat jauh kebelakang dan dari kedua tangannya itu menyambar sinar-sinar kemerahan kearah Kalisani dan Bu Tek Lo Jin!
Kakek cebol ini masih tertawa-tawa, akan tetapi tiba-tiba suara ketawanya berhenti dan terkejutlah ia melihat sinar merah menyambar.
Namun dengan mudah saja ia mengebutkan lengan baju dan semua jarum Siang-tok-ciam (Jarum Racun Harum) yang dilepaskan Lu Sian runtuh ke tanah.
Kalisani sebaliknya kaget sekali.
Tahu bahwa dari depan menyambar senjata rahasia berbahaya, ia membanting tubuh kebelakang dan bergulingan, sehingga ia terbebas daripada ancaman jarum maut.
Akan tetapi, Lu Sian tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu.
Dalam kemendongkolannya, Lu Sian sudah mencabut pedang Toa-hong-kiam dan kini ia memutar pedang menerjang Kalisani dengan Ilmu Pedang Toa-hong Kiam-hoat yang gerakannya seperti angin badai mengamuk.
Kasihanlah Kalisani.
Ia berloncatan kesana kemari menghindar daripada gulungan sinar pedang, seperti monyet berjoget.
"Wah, bocah jahat!"
Tiba-tiba pedang ditangan Lu Sian berhenti diudara, dan ketika Lu Sian menoleh, kiranya pedangnya itu ujungnya sudah dijepit dua buah jari tangan Bu Tek Lojin.
Ia marah sekali cepat mengerahkan tenaga menarik pedang untuk membikin buntung jari tangan orang.
Namun sia-sia, sedikit pun pedangnya tidak bergeming, masih tetap terjepit dua buah jari tangan.
"Lepaskan pedangku!"
"Heh-heh-hoh!"
"Bu Tek Lojin, lepaskan pedangku!"
"Kalau tidak kulepaskan, kau mau apa? Mau panggil ayahmu? Panggillah dia, Aku tidak takut!"
"Ayah tidak berada di sini. Akan tetapi akan kupanggil Bu Kek Siansu!"
Tangan yang menjepit pedang itu tiba-tiba gemetar dan Lu Sian mempergunakan kesempatan ini untuk menarik pedangnya dan meloncat mundur.
"Kau bohong! Dia... dia... eh, tidak berada disini..."
Biarpun mulut berkata demikian, namun kakek itu jelalatan memandang kesana kemari.
"Hemm, kau tidak percaya? Baru tadi aku bertemu dengan beliau, dan aku mendengar beliau mengancam hendak menghajar kepalamu sampai peok dan gepeng!"
"Oh... ah... tidak... bisa....!"
"Kau tidak percaya? Biar kupanggil beliau. Beliau paling benci melihat kau mengganggu orang muda. Siansu...! Siansu...! Silahkan datang kesini, Bu Tek Lojin menantang Siansu...!!"
"Ohhh... jangan...! Jangan... aku... aku hanya main-main tadi... Eh, murid tolol, hayo pergi!"
Kakek aneh itu menyambar lengan muridnya dan sekali berkelebat mereka lenyap dari tempat itu.
Lu Sian berdiri termenung.
Untuk kesekian kalinya ia mendapatkan orang-orang yang jauh lebih lihai daripadanya!
Ah, selamanya ia tentu akan menemui kekecewaan dan penghinaan saja kalau ia tidak berhasil memiliki ilmu kepandaian yang paling tinggi didunia ini.
Ia teringat akan ayahnya.
Betapapun juga, tingkat kepandaian ayahnya sudah amat tinggi dan ia ingat bahwa ayahnya menyimpan kitab-kitab ilmu yang tinggi dan dirahasiakan.
Ia harus menemui ayahnya, menceritakan perceraiannya dengan Kam Si Ek, kemudian minta kepada ayahnya untuk menurunkan ilmu-ilmu silat yang tinggi kepadanya.
Dengan pikiran ini, Liu Lu Sian lalu berangkat ke selatan, melakukan perjalanan cepat menuju ke Nan-cao, kerumah ayahnya.
Akan tetapi kembali ia kecewa.
Ketika ayahnya mendengar bahwa ia meninggalkan Kam Si Ek, ayahnya marah-marah dan memaki-makinya.
"Isteri dan anak macam apa engkau ini?"
Antara lain Pat-jiu Sin-ong marah-marah memakinya.
"Seorang isteri dan ibu meninggalkan suami dan anak begitu saja?! Sungguh celaka!!"
"Kam Si Ek terlalu kukuh dan cinta kepada tugasnya, Ayah. Asal kuajak pindah dan meninggalkan pekerjaannya, dia marah-marah. Aku bosan dan merasa dijadikan bujang dalam rumah!"
"Huh! Sudah menjadi kewajiban seorang isteri untuk mengurus rumah tangga, melayani suami dan memelihara anak. Kemana pun si suami pergi, si isteri harus mengikutinya. Sebelum menikah denganmu, Kam SI Ek memang sudah terkenal sebagai seorang patriot, mana ia sudi menuruti kehendakmu meninggalkan tugasnya? Sayang dia menjadi orang Shan-si, kalau dia menjadi penduduk sini dan membantu negara kita, alangkah baiknya. Dan kau meninggalkannya begitu saja? Anak durhaka! Perbuatanmu ini akan mengotori pula namaku sebagai ayahmu. Tahu??"
Lu Sian tidak tahan mendengar maki-makian ayahnya dan ia lari ke kamarnya dengan muka merah, menutup diri dalam kamar tidak mau keluar lagi.
Ia memeras otak.
Agaknya tinggal di rumah ayahnya pun tidak akan menyenangkan, pikirnya.
Pula, setelah ayahnya marah-marah, agaknya tidak mungkin tercapai pengharapannya, yaitu menerima ilmu-ilmu tinggi dari ayahnya.
Oleh karena inilah, maka pada malam hari itu juga, ia menyelinap masuk kedalam kamar pusaka ayahnya, mengambil tiga kitab rahasia, simpanan ayahnya yang oleh ayahnya disebut Sam-po Cin-keng (Kitab Tiga Pusaka), lalu malam itu juga ia meninggalkan ayahnya!
Tiga buah kitab itu adalah pusaka yang amat dirahasiakan Pat-jiu Sin-ong Liu Gan.
Sebuah merupakan kitab pelajaran inti Ilmu Khi-kang Coam-im-I-hun-to (Suara Merampas Semangat Orang) dan kitab ketiga adalah inti pelajaran Ilmu Silat Beng-kauw-kun (Ilmu Silat Beng-kauw) yang merupakan ciptaan baru dengan maksud untuk dijadikan pegangan bagi para pimpinan Beng-kauw.
Ilmu silat ini adalah gabungan daripada semua ilmu silat yang pernah diajarkan ayahnya kepada Lu Sian, yaitu Pat-mo-kun, Sin-coa-kun, dan Toa-hong-kun.
Dengan semangat besar Lu Sian mempelajari ilmu-ilmu ini.
Beng-kauw-kun dapat ia pelajari dengan mudah Karena ia sudah mengenal tiga macam ilmu silat itu, maka tentu saja lebih mudah baginya untuk menghafal dan melatih diri dengan ilmu silat gabungan yang amat hebat ini.
Akan tetapi untuk melatih kedua ilmu perampas semangat melalui suara dan pandang mata, bukanlah pekerjaan mudah.
Untuk itu ia harus memperkuat sin-kang dan khi-kangnya lebih dahulu, maka setiap kali ada kesempatan, ia lalu bersamadhi dan melatih tenaga dalam menurut petunjuk kitab-kitab itu.
Disamping melatih diri dengan kitab-kitab yang ia curi dari ayahnya, juga Liu Lu Sian mulai mencari keterangan perihal suling emas seperti yang ia dengar dari Bu Tek Lojin.
Kakek yang amat sakti, dan kalau kakek itu sendiri menginginkan suling emas yang katanya menjadi rahasia akan ilmu silat yang paling tinggi, tentu suling emas itu merupakan benda keramat yang tak ternilai harganya.
Akan tetapi tak seorang pun di antara orang-orang kang-ouw yang ia tanyai, tahu akan benda keramat itu.
Ia merantau terus ke timur dan masuklah ia didaerah yang termasuk wilayah Kerajaan Min (Hok-kian sekarang).
Pada suatu hari menjelang senja ia tiba di kota Kim-peng yang ramai dengan perdagangan dan banyak dikunjungi orang luar kota.
Lu Sian masuk ke dalam sebuah rumah penginapan An-hoa, tidak mempedulikan pandang mata banyak laki-laki yang berada di ruangan depan.
Seorang pelayan terbongkok-bongkok datang menyambutnya, dan melihat pedang di pinggang Liu Lu Sian, pelayan itu bersikap hormat.
"Bung Pelayan, sediakan sebuah kamar yang bersih untukku!"
Kata Lu Sian lantang.
"Maaf, Li-hiap (Pendekar Wanita), maaf... semua kamar telah penuh. Dan agaknya di seluruh rumah penginapan dalam kota ini tidak ada lagi kamar kosong karena kota Kim-peng kita kebanjiran tamu yang hendak menyaksikan perayaan besar di kuil Siauw-lim-si."
Mendongkol sekali rasa hati Lu Sian.
Kalau ia kemalaman di hutan, sudah biasa baginya tidur di atas pohon atau di dalam guha, akan tetapi kalau ia berada di kota seperti sekarang ini tentu saja ia ingin bermalam dalam sebuah kamar rumah penginapan.
"Ah, tidak bisakah kau mencarikan sebuah kamar untukku?"
Tanyanya, suaranya kecewa dan menyesal.
"Sungguh mati, saya merasa menyesal sekali, Nona. Kami akan senang sekali dapat melayani Nona, akan tetapi apa hendak dikata, banyak sekali tamu berkunjung dan sebelum Nona datang, sudah banyak pula tamu yang terpaksa kami tolak karena sudah kehabisan kamar."
Lu Sian menghela napas panjang.
Menurutkan kemendongkolan hatinya, ingin ia memaksa dan menggunakan kekerasan, akan tetapi ia tekan perasaan ini dan ia sudah membalikkan tubuh hendak meninggalkan rumah penginapan An-hoa tu ketika tiba-tiba terdengar orang berkata.
"Nona, mencari kemana pun tidak akan ada gunanya. Lebih baik kau bermalam di kamarku, semalam atau selamanya pun boleh!"
Lu Sian memandang.
Laki-laki itu usianya sudah tiga puluh tahun lebih, wajahnya bundar gemuk seperti bola, basah oleh peluh, baju di dadanya terbuka, agaknya karena hawa yang panas, sehingga tampak dadanya yang gemuk berdaging.
Matanya sipit, mulutnya menyeringai, sikapnya kurang ajar.
Dia ini duduk menghadapi meja bersama tiga orang laki-laki lain yang tersenyum-senyum menahan ketawa.
Hati Lu Sian yang sudah mendongkol itu kini mendidih, akan tetapi hanya dugaannya saja laki-laki ini main-main dengannya, kenyataannya belum terbukti, maka ia lalu berkata.
"Terima kasih atas kebaikan tuan memberikan kamar tuan kepada saya. Akan tetapi tuan sendiri lalu hendak tidur dimana?"
Laki-laki gendut itu tertawa menyeringai memandang kepada tiga orang kawannya yang juga tertawa gembira.
Kemudian dia bangkit berdiri dan melangkah maju mendekati Lu Sian sambil berkata.
"Aiihhh, Nona, mengapa repot-repot? Kamar yang kusewa itu selain bersih, juga cukup lebar sehingga cukup untuk kita berdua. Kalau sudah pulas aku tidak banyak bergerak!"
"Ha-ha-ha-ha! Heh-heh-heh!"
Tiga orang kawannya terpingkal-pingkal.
"Memang tidak banyak bergerak akan tetapi kalau sudah pulas! Ha-ha!"
Si Gendut berkata lagi.
Meledak rasanya hati Lu Sian saking marahnya.
Pada saat itu muncul seorang pemuda dari kiri, seorang pemuda yang sejak tadi duduk di meja sudut, berpakaian serba kuning.
Cepat ia melangkah maju dan menjura kepada Lu Sian sambil berkata.
"Nona, harap jangan melayani mereka. Kau pakailah kamarku, aku dapat tidur bersama dua orang suhengku dikamar belakang..."
Akan tetapi Lu Sian sudah tidak sudi mendengarkan omongan orang lain lagi karena matanya sudah memancarkan cahaya berapi ditujukan kepada si laki-laki gendut.
Tiba-tiba tubuhnya bergerak kedepan, sukar diikuti pandang mata saking cepatnya dan...
"plak-plak-plak-plak!"
Muka dan tubuh laki-laki gendut itu dihajar habis-habisan oleh kedua tangan Lu Sian, tanpa sedikit pun memberi kesempatan pada Si Gendut untuk mengelak, membalas, bahkan bernapas.
Tubuh Si Gendut itu seperti di sambar petir, tersentak kekanan kiri, kebelakang, terhuyung-huyung dan akhirnya roboh menabrak kursi, kulit mukanya hancur mandi darah, kedua matanya menonjol keluar, hidungnya remuk, telinga kirinya hilang dan napasnya empas-empis mau putus!
"Hayo, mana kawan-kawannya?
Maju semua, biar kuhabiskan nyawanya!
Bedebah!
Keparat bermulut kotor!
Hayo kalian bertiga kawannya, bukan?
Kalian tadi menertawai aku?
Maju semua!
Pengecut, anjing bernyali tikus kalian kalau tidak berani maju!"
Lu Sian dengan kemarahan meluap-luap menantang dan memaki.
Pemuda pakaian kuning itu agaknya terkejut menyaksikan sepak terjang Lu Sian yang demikian ganas, juga amat kaget mendapat kenyataan bahwa Lu Sian memiliki kepandaian sehebat itu, terbukti dari gerakan tubuhnya yang ringan tangkas sekali.
Si Gendut dan tiga orang kawannya adalah sebangsa buaya darat yang biasa mencari perkara dan mencari keuntungan di tempat-tempat ramai.
Tiga orang buaya darat itu melihat kawannya dihajar setengah mati, menjadi kaget dan marah.
Tadi mereka hanya melongo karena sedemikian cepatnya Lu Sian bergerak sehingga mereka tak sempat menolong kawan.
Kini mereka bangkit serentak dan "sratt-sratt-sratt!"
Tangan mereka telah mencabut golok.
"Awas...! Lari...!!"
Pemuda baju kuning berteriak kaget kepada tiga orang itu.
Namun terlambat!
Sinar merah mernyambar dari tangan Lu Sian, tidak hanya kearah tiga orang buaya darat itu, akan tetapi juga ada yang menyambar kearah pemuda baju kuning.
Pemuda itu dengan gerakan tangkas miringkan tubuh dan tangannya menyambar sebatang jarum Siang-tok-ciam sambil melompat mundur.
Akan tetapi tiga orang buaya darat itu sudah terjengkang dan merintih-rintih karena dada mereka sudah tertusuk jarum-jarum berbisa yang dilepas oleh Lu Sian tadi!
"Ah, jarum beracun yang hebat!"
Pamuda baju kuning itu berseru kaget sambil meneliti jarum merah ditangannya. Kemudian ia melangkah maju mendekati Lu Sian, menjura sambil berkata.
"Nona, kumohon dengan hormat sudilah kiranya Nona mengampuni mereka ini dan memberi obat penyembuh racun."
Lu Sian melirik dengan pandang mata dingin.
"Hemm, kau memiliki kepandaian juga!"
Katanya, hatinya panas karena jarumnya dapat ditangkap oleh pemuda itu.
"Apakah kau kawan mereka dan hendak membela mereka?"
Ucapan terakhir ini dikeluarkan dengan nada suara mengancam. Pemuda itu tersenyum dan menggeleng kepalanya.
"Sama sekali bukan, Nona. Sobodoh-bodohnya orang macam Yap Kwan Bi ini, masih belum begitu tersesat untuk bersahabat dengan segala macam buaya darat."
Lu Sian merasa heran sekali mengapa hatinya menjadi lega mendegar bahwa pemuda yang tampan sekali ini bukan sahabat penjahat-penjahat itu.
Pemuda ini amat tampan, mukanya halus seperti muka wanita, matanya lebar dan memandang dunia dengan jujur dan berani, senyumnya manis dan dagunya mempunyai belahan yang membayangkan sifat jantan, alisnya seperti golok dan amat hitam.
"Kalau bukan sahabat, mengapa kau mintakan ampun?"
Tanyanya, masih mengagumi wajah yang amat tampan dan benuk tubuh yang tegap dan padat.
"Nona, aku tahu bahwa kau adalah seorang pendekar wanita yang lihai dan orang-orang ini mencari mampus berani mengeluarkan ucapan menghina dan kurang ajar terhadapmu. Akan tetapi, nyawa manusia bukanlah nyawa ayam yang mudah dicabut begitu saja. Pula, dengan melayani segala cacing kecil macam mereka ini, bukankah berarti merendahkan kepandaian sendiri? Mereka sudah cukup mendapat pengajaran, maka sepatutnya kalau mereka diampuni dan diberi obat penawar racun. Alangkah tidak baiknya kalau kota yang tenteram ini dikotori oleh pembunuhan yang disebabkan hal-hal kecil! Aku Yap Kwan Bi yang bodoh mengharapkan kebijaksanaan Nona."
Pemuda itu bicara dengan teratur dan sopan, halus dan mengesankan.
Seketika lenyap kemarahan di hati Lu Sian, seperti awan tipis tertiup angin.
Ia mencibirkan bibirnya dan pemuda itu memejamkan matanya karena jantungnya sudah jungkir balik didalam dada.
Bukan main wanita ini, pikirnya.
Belum pernah selama hidupnya ia bertemu dengan wanita secantik ini, dan ketika bibir yang kecil mungil dan merah membasah itu mencibir, memuncaklah daya tariknya sehingga ia hampir jatuh berlutut.
Ketika pemuda itu membuka matanya, Lu Sian telah mengeluarkan obat bubuk berwarna kuning, memberikan tiga bungkus kepada tiga orang buaya darat itu sambil berkata.
"Cabut jarum-jarum itu dan bersihkan, lalu berikan kepadaku!"
Tiga orang itu dengan tubuh menggigil menahan sakit membuka baju dan mencabut jarum-jarum yang menancap di dada mereka, dua batang seorang.
Setelah membersihkan jarum-jarum itu dengan baju, mereka menyodorkannya kepada Lu Sian yang menerima dan menyimpannya.
"Sekarang minum obat ini seorang sebungkus dengan arak!"
Tergesa-gesa mereka membuka bungkusan obat, meminumnya dengan arak dan seketika rasa gatal-gatal dan panas pada tubuh mereka lenyap.
Mereka segera menjatuhkan diri, mengangguk-anggukkan kepala sampai dahi mereka membentur lantai di depan Lu Sian.
"Kalian bertiga tidak lekas pergi membawa teman kalian yang sial ini, apakah menanti hajaran lagi?"
Yap Kwan Bi berseru, muak menyaksikan sikap mereka itu.
Tanpa banyak bicara lagi tiga orang itu lalu menyeret tubuh teman mereka yang mukanya dirusak oleh Lu Sian tadi, meninggalkan rumah penginapanKarena semua orang memandangnya dengan mata kagum dan takut, Lu Sian membuang muka dan hendak berjalan keluar meninggalkan tempat itu.
Akan tetapi Yap Kwan Bi cepat berkata.
"Nona, aku tidak main-main ketika menawarkan kamarku. Percayalah, tidak ada niat buruk di hatiku. Pakailah kamarku dan aku akan tidur bersama kedua suhengku yang belum datang. Kami bertiga memakai kamar besar."
Tak enak hati Lu Sian untuk menampik terus, memang ia membutuhkan kamar dan pemuda ini amat sopan, amat tampan, amat menarik.
Ia segera menjura untuk membalas penghormatan pemuda itu.
"Terima kasih. Kau baik sekali, Saudara Yap. Karena aku harus membalas setiap kebaikan atau keburukan orang terhadapku, maka aku persilakan kau suka menerima undanganku untuk makan dan minum bersamaku sore hari ini."
Yap Kwan Bi adalah seorang pemuda yang belum pernah bergaul dengan wanita.
Penawaran ini mendebarkan jantungnya dan membuat kedua pipinya kemerahan.
Masa seorang wanita yang datang sendirian mengajak makan minum seorang pemuda?
Akan tetapi ia teringat bahwa wanita ini bukanlah gadis sembarangan, melainkan seorang perantauan di dunia kang-ouw, maka hal itu tidaklah amat janggal.
Ia cepat-cepat menjura menghaturkan terima kasih.
"Kau baik sekali, Nona. Mari kuantar Nona ke kamar Nona."
Katanya hormat. Lu Sian mengangguk dan memanggil pelayan.
"Pesankan semeja makanan dan minuman untuk dua orang, pilih masakan yang terbaik dan antarkan cepat kekamarku."
"Baik, Li-hiap, baik..."
Pelayan itu mengangguk-angguk dan pergi cepat-cepat untuk melakukan perintah orang.
Lu Sian bersama pemuda itu memasuki ruangan dalam, diikuti pandang mata banyak orang yang tadi peristiwa hebat itu.
Kamar itu tidak besar, namun cukup bersih.
Pemuda itu mengambil bungkusan pakaiannya untuk dipindahkan ke kamar lain dan Lu Sian melihat gagang pedang tersembul keluar dari dalam bungkusan pakaian.
Ia tersenyum.
Gerak-gerik pemuda ini benar-benar sopan, dan ia demikian tampan, ia demikian tangkas.
"Saudara Yap mari kita duduk bercakap-cakap sambil menanti datangnya hidangan. Silakan."
Mereka duduk menghadapi meja satu-satunya didalam kamar, mulut belum berkata apa-apa, mata sudah saling pandang dan sesaat pandang mata mereka bertaut, sukar dilepaskan lalu muka pemuda itu menjadi merah sekali, ia menjadi bingung dan gugup sehingga Lu Sian tak dapat menahan senyumnya.
Melihat seorang pemuda terpesona oleh kecantikannya adalah hal yang lumrah, tidak aneh baginya.
Akan tetapi biasanya laki-laki yang terpesona oleh kecantikannya itu memperlihatkan sikap kurang ajar, sedangkan pemuda ini sebaliknya malah menjadi malu-malu dan panik!
Ia tahu bahwa kalau ia diamkan saja, pemuda itu akan menjadi makin panik, maka ia segera berkata dengan senyum manis menghias bibir.
"Saudara Yap memiliki kepandaian yang tinggi, sungguh membuat orang kagum sekali."
Pemuda itu tersenyum dan cepat-cepat menjawab.
"Ah, Nona terlalu memuji. Apakah artinya kebodohanku ini dibandingkan dengan kelihaianmu? Justru Nonalah yang membuat semua orang, terutama aku sendiri, menjadi amat kagum."
Pada saat itu pelayan datang mengantar hidangan dan arak yang ia atur di atas meja depan sepasang orang muda itu.
Setelah pelayan pergi, Lu Sian menuangkan arak di atas cawan, lalu berkata sambil tersenyum.
"Dalam pertemuan ini kita saling cocok dan menjadi sahabat, akan tetapi janggal sekali sebutan yang masing-masing kita gunakan. Saudara Yap, namaku Lu Sian dan kalau kau suka memberi tahu berapa usiamu, kita dapat mengatur tentang sebutan."
Melihat wanita itu demikian terbuka dan jujur sikapnya, Kwan Bi merasa girang.
"Tahun ini usiaku dua puluh satu tahun."
"Kalau begitu biarlah aku menyebutmu Adik dan kau menyebutku Cici!"
Pemuda itu dengan muka gembira bangkit berdiri dan menjura.
"Lu-cici (Kakak Lu)!"
Lu Sian juga bangkit berdiri, tertawa gembira mengingat betapa pemuda ini menyangka dia she Lu bernama Sian.
Ia pun menjura dan berkata dengan senyum melebar dan kerling mata menyambar.
"Yap-te yang baik...!"
Mereka duduk kembali dan Lu Sian mengangkat cawan arak mengajak minum, menawarkan makan dengan sikap lincah manis sehingga lenyaplah rasa malu-malu dan kikuk di pihak pemuda itu.
Mereka makan dan sinar mata mereka saling sambar dan saling lekat di kala sumpit-sumpit mereka tanpa sengaja bertemu dan beradu ketika dalam waktu bersamaan mengambil masakan yang sama.
Tadinya memang tidak disengaja, akan tetapi lama kelamaan ada unsur kesengajaan!
Ketika hawa arak mulai membikin sepasang pipi Lu Sian menjadi kemerahan, ujung bibirnya bergerak-gerak manis dan sinar matanya memancarkan kehangatan, ia berkata.
"Adik Yap baru berusia dua puluh satu tahun sudah memiliki kepandaian hebat. Bolehkah aku tahu dari perguruan manakah?"