Ceritasilat Novel Online

Suling Emas 9

Eps 9 Suling Emas - Kho Ping Hoo

Baca online Suling Emas - Kho Ping Hoo

Cersil Suling Emas - Kho Ping Hoo.

"Lu-cici terlalu memuji. Kepandaianku amat jelek dan masih rendah, boleh dibilang paling rendah diantara murid-murid Siauw-lim-pai."

"Ahh! Kiranya murid Siauw-lim-pai?"

Lu Sian menepuk kedua tangannya dengan pandang mata kagum, lalu ia tertawa dan berdiri sambil memberi hormat.

"Maafkan tadi aku berlaku kurang hormat kepada seorang pendekar besar dari Siauw-lim!"

"Lu-cici jangan metertawakan Siauw-te!"

Pemuda itupun berdiri dan tertawa.

"Kau membikin aku menjadi kikuk saja! Marilah kita duduk kembali dan jangan terlalu mengadakan pujian kosong terhadap diriku yang bodoh."

Mereka tertawa-tawa gembira dan duduk kembali.

Pengaruh arak telah membuat keduanya bicara makin bebas dan gembira, diseling tawa dan senyum serta lirikan mata yang mulai memancarkan dendam birahi.

"Yap-te, siapakah yang belum mendengar tentang kehebatan dan kebesaran Siauw-lim-pai? Ilmu silat dari Siauw-lim-pai adalah warisan langsung dari Tat Mo Couwsu, terkenal sebagai rajanya ilmu silat. Sudah lama aku mendengar akan kebesaran Siauw-lim-pai dan semenjak kecil, aku sudah bermimpi-mimpi ingin sekali mendapat kesempatan mengunjungi dan melihat-lihat keadaan dalam kelenteng yang menjadi pusat Siauw-lim-pai!"

"Ah, aku akan merasa bangga dan bahagia sekali andaikata dapat mengantar Lu-cici melihat-lihat kesana! Sayang, sungguh menyesal hatiku bahwa hal itu tak mungkin karena ada larangan keras wanita memasuki ruangan dalam perguruan kami. Maaf, Lu-cici."

Lu Sian menarik napas panjang.

"Sayang sekali, Yap-te. Akan tetapi kalau kau mau menceritakan tentang keadaan sebelah dalam, aku pun bisa membayangkan dan bukankah itu sama dengan mellihat sendiri? Aku bisa melihat-lihat dengan meminjam sepasang matamu yang awas."

Lu Sian tertawa dan pemuda itu pun tertawa.

Maka sambil makan minum berceritalah Yap Kwan Bi tentang keadaan sebelah dalam kuil Siauw-lim-si yang luas, tentang patung-patung besar, tentang ruangan-ruangan latihan, ruangan ujian dan menjawab pertanyaan-pertanyaan Lu Sian, pemuda ini bercerita tentang kamar kitab.

"Kamar kitab ini merupakan satu di antara kamar-kamar yang tidak boleh dimasuki murid, kecuali kalau masuk bersama Suhu, Susiok (Paman Guru) atau mendapat perkenan langsung dari Sukong (Kakek Guru) ketua Siauw-lim-pai sendiri."

"Kau sebagai murid terkasih tentu pernah masuk, bukan, Adik yang gagah?"

Yap Kwan Bi mengangguk.

"Sudah belasan kali ketika Suhu menyuruh aku memperdalam Ilmu I-kin-keng untuk membersihkan dan memperkuat otot-otot dalam tubuh dan tentang ilmu samadhi melatih napas."

"Wah, kalau begitu lengkap sekali perpustakaan Siauw-lim-pai! Ah, betapa inginku menjenguk kesana sebentar. Adikku yang baik, tidak dapatkah kau mengantar Cicimu ini masuk sebentar saja kesana?"

Pemuda itu bergidik.

"Mana bisa, Lu-cici? Percayalah, kalau ketempat lain, biar mempertaruhkan nyawa, akan kuantarkan. Akan tetapi keruangan dalam Siauw-lim-si? Ah, hukumannya berat, hukuman mati. Dan sama sekali tidak boleh dibuat main-main di sana. Para Suhu amat keras dan lihai."

Lu Sian menghela napas penuh kecewa, akan tetapi dalam benaknya telah tergambar keadaan sebelah dalam ruangan Siauw-lim-si seperti yang diceritakan Yap Kwan Bi tadi.

"Berapa banyakkah kita-kitab didalam kamar kitab itu?"

Ia terus menghujani Kwan Bi dengan pertanyaan-pertanyaan sehingga beberapa saat kemudian Lu Sian sudah tahu betul akan letak dan rahasia kamar ini, betapa kitab tentang samadhi berada di rak terbawah, kemudian Ilmu Silat Lo-han-kun di rak kedua sebelah kiri, ilmu ini di rak itu, ilmu tentang itu di rak ini.

Akan tetapi yang menarik perhatian Lu Sian adalah kitab tentang ilmu menotok jalan darah dari Siauw-lim-pai, yang bernama Im-yang-tiam-hoat.

Ilmu ini pernah ia dengar dari ayahnya yang menyatakan bahwa ilmu menotok jalan darah Siauw-lim-pai ini adalah paling hebat, paling kuat dan merupakan dasar pelajaran segala macam ilmu menotok jalan darah.

Maka ketika ia bertanya kepada Kwan Bi dan mendengar bahwa kitab Im-yang-tiam-hoat itu berada di rak paling atas di ujung kiri, hatinya berdebar.

"Yap-te, aku merasa girang sekali bertemu denganmu dan dapat menjadi sahabat. Kau menyenangkan sekali!"

"Ah, Lu-cici, kaulah yang luar biasa. Kau baik sekali kepadaku dan... aku berhutang budi kepadamu. Entah bagaimana aku dapat membalas kebaikanmu ini, Lu-cici."

Keadaan pemuda itu sudah mulai mabok.

Tidak biasa ia minum arak sampai banyak, akan tetapi menghadapi seorang wanita cantik jelita seperti Lu Sian, ia menjadi lupa diri dan minum terus setiap kali Si Jelita mengisi cawan araknya.

Lenyaplah kekakuan sikap Yap Kwan Bi dan ketika Lu Sian mengulur tangan kirinya diatas meja, dekat dengan tangan kanannya, jari-jarinya merayap mendekati dan menyentuh kulit tangan halus lunak itu.

Biarpun bersentuhan hanyalah ujung jari pada punggung tangan, namun seakan-akan ada aliran listrik memasuki tubuh melalui tempat persentuhan sebagai pusat pembangkit tenaga, langsung menyerang jantung yang menjadi berdebar-debar keras.

Karena tidak ada reaksi apa-apa dari pihak Lu Sian, tangan pemuda itu makin berani dan dilain saat sepuluh buah jari tangan mereka sudah saling cengkeram!

"Lu-cici...

alangkah janggalnya aku menyebutmu Cici.

Kau...

kau begini cantik jelita dan tentu lebih muda daripadaku.

Kau paling banyak delapan belas tahun..."

Pemuda itu berkata agak sukar karena cengkeraman jari tangan itu membuat napasnya sesak dan kepalanya berpusing!

Lu Sian tersenyum manis dan perlahan-lahan melepaskan jari-jari tangannya, lalu menarik kembali lengannya.

Kedua pipinya merah dan kedua matanya terselaput air, bibirnya tersenyum-senyum aneh dan matanya memandang pemuda itu setengah terpejam.

Sejenak ia menahan napas untuk menekan desakan nafsu yang menggelora.

Dia wanita lemah, mudah dibakar nafsu, akan tetapi dia pun kuat menguasai nafsu yang datang membakar.

"Yap-te, aku memang lebih tua daripadamu."

"Ah, kau ini seperti Bibi Guruku saja, Lu-cici. Dia sudah berusia lima puluh tahun, akan tetapi semua orang tentu tidak percaya karena ia kelihatan masih muda. Ah, agaknya biarpun Bibi Guru tidak mewarisi kelihaian ilmu silat Siauw-lim-pai, namun ia telah mewarisi Ilmu I-kin-swe-jwe (Ganti Otot Suci Sumsum) dengan sempurna sehingga ia dapat mengalahkan usia tua dan menjadi tetap muda!"

Serentak perhatian Lu Sian terbangkit.

"Siapakah Bibi Gurumu yang hebat itu? Apakah aku bisa berkenalan dengannya?"

"Tentu saja bisa, Lu-cici. Dia dahulu bernama Su Pek Hong, kini menjadi pendeta wanita disebut Su-nikouw, menjadi ketua kuil wanita di sebelah barat kota. Kau ingin bertemu dengannya, Cici? Mari kuantar!"

"Ah, kau baik sekali! Akan tetapi, aku akan mandi dulu...."

"Mandi? Air persediaan dirumah penginapan ini hanya sedikit, itupun tidak terlalu bersih, Lu-cici. Di sebelah barat, tidak jauh dari kuil Kwan-im-bio tempat tinggal bibi guru Su-nikouw, terdapat telaga kecil disebuah hutan. Airnya jernih sekali dan aku sendiri selalu mandi disana."

Lu Sian serentak bangkit berdiri, wajahnya berseri.

"Kalau begitu menanti apa lagi? Mari kita ke sana, mandi lalu mengunjungi bibi gurumu Su-nikouw!"

Setelah membereskan perhitungan makanan, mereka berdua keluar dari rumah penginapan.

Malam telah tiba ketika mereka berada di luar rumah penginapan.

Yap Kwan Bi yang mengenal jalan, tanpa ragu-ragu lagi menggandeng tangan Lu Sian, diajak berjalan cepat melalui lorong-lorong gelap.

Mereka setengah berlari menuju ke sebelah barat kota, bahkan setelah keluar dari pintu gerbang sebelah barat, mereka berlari cepat sambil tertawa-tawa seperti dua orang kanak-kanak bergembira.

Tak lama kemudian mereka memasuki sebuah hutan yang sunyi dan gelap karena sinar bulan tertutup daun-daun pohon.

Setelah makin dekat dengan telaga kecil yang berada di tengah hutan, jalan yang merekal lalui licin.

"Hati-hati, jalannya licin..."

Baru saja Kwan Bi berkata demikian, Lu Sian terpeleset dan tentu jatuh kalau Kwan Bi tidak cepat memeluknya.

"Eh, hampir jatuh aku..."

Lu Sian tertawa. Akan tetapi pemuda itu tidak melepaskan pelukannya.

"Heee, Yap-te, mengapa kau ini....?"

Tegurnya, pura-pura marah.

Dengan dada turun naik dan napas tersendat-sendat, Kwan Bi mempererat dekapannya dan berbisik didekat telinga Lu Sian, suaranya menggetar, tubuhnya agak menggigil.

"Ah... aku telah gila... aku... aku cinta padamu, Lu-cici!"

Lu Sian tertawa dan mencubit dagu yang halus tak ditumbuhi rambut itu sambil melepaskan diri dari pelukan.

"Aihhh, kiranya kau nakal!"

Kemudian sambil tertawa-tawa ia lari menuju ke telaga.

Kini pohon-pohon tidak begitu banyak lagi dan sinar bulan tampak indah sekali menyinari permukaan air telaga dan membuat keadaan sekeliling yang sunyi itu menjadi amat romantis.

Sejenak Yap Kwan Bi tertegun, kemudian ia pun tertawa dan mengejar ke telaga.

Cinta memang aneh dan luar biasa pengaruhnya.

Seorang muda yang sedang dicengkeram cinta, seakan-akan menjadi buta dan linglung.

Demikian pula dengan Kwan Bi.

Andaikata dia tidak dibikin mabok dan buta oleh perasaan ini, tentu dia akan menjadi curiga dan heran mengapa seorang wanita sedemikian tinggi ilmu kepandaiannya seperti Lu Sian begitu mudah terpeleset hampir jatuh!

Mungkin hal ini terjadi bukan hanya karena ia menjadi buta oleh nafsu cinta, melainkan terutama sekali oleh kekurangan pengalamannya.

"Yap-te, mari kita mandi!"

Seru Lu Sian dengan suara gembira Yap Kwan Bi berdiri seperti terpaku diatas tanah, tak kuasa bergerak maupun membuka suara, matanya memandang kearah Lu Sian seperti orang terkena pesona, hanya kalamenjingnya yang bergerak perlahan ketika ia menelan ludah.

Pemandangan yang tampak olehnya benar-benar merupakan pemandangan yang belum pernah ia saksikan selamanya, pemandangan indah dan menggairahkan hati mudanya.

Betapa tidak?

Wanita yang cantik jelita seperti bidadari itu dengan gerakan indah seperti dewi menari, menanggalkan pakaian luarnya begitu bebas, seakan-akan dia tidak berada disitu, menanggalkan pakaian luar dan kaus serta sepatu, kemudian melepaskan sanggulnya, menoleh kepadanya sambil tersenyum lebar lalu meloncat kedalam air!

Suara air muncrat menyadarkan Kwan Bi, dan ia pun lari mendekati telaga dengan hati berdebar-debar.

Cepat ia menanggalkan pula pakaiannya dan melompat kedalam air, berenang menghampiri Lu Sian yang tertawa-tawa dan bermain-main dengan air yang jernih ditengah telaga.

Setelah dekat, Kwan Bi menangkap lengan tangan Lu Sian sambil berkata.

"Lu-cici, kau ... tidak marah kepadaku?"

"Marah? Kenapa mesti marah?"

Kata Lu Sian tertawa dan memercikkan air.

"Kau tidak marah mendengar aku mencintaimu?"

"Hi-hik, kenapa marah? Kau baik sekali, akan tetapi harus kau buktikan dulu cintamu!"

Jawab Lu Sian manja, dan ia kelihatan cantik luar biasa dibawah sinar bulan.

Benar-benar seperti seorang dewi dari langit turun dan mandi di telaga ini.

"Oh, Lu-cici... aku mencintaimu... aku berani bersumpah, dan kau minta bukti? Ini buktinya...!"

Kwan Bi memeluk, merangkul dan mencium.

"Eiiihhh... ini bukan bukti namanya. Belum apa-apa kau sudah mau enaknya saja!"

Lu Sian merenggutkan diri terlepas dari pelukan, tertawa-tawa menggoda membuat pemuda itu makin gemas, makin bergelora gairahnya.

"Adikku yang tampan, sebelum itu kau harus membuktikan bahwa kau benar-benar mencintaku dan suka menolongku."

"Pertolongan apakah? Katakanlah, kasihku, katakan. Biar dengan taruhan nyawa sekalipun, aku pasti akan memenuhi permintaanmu, membuktikan cinta kasihku kepadamu,"

Kata Kwan Bi dengan suara gemetar dan tubuh menggigil saking hebatnya golombang nafsu membakarnya.

"Yap Kwan Bi, aku ingin sekali melihat kamar penyimpanan kitab di Siauw-lim-si, memilih sebuah kitab dan meminjamnya. Maukah kau menolongku?"

Bukan main kagetnya hati Yap Kwan Bi.

"Ah... ini... ini... agaknya sukar sekali Lu-cici!"

Bibir yang melebihi madu manisnya itu berjebi dan cuping hidung yang bangir itu bergerak-gerak mengejek.

"Huhh! Dan kau bilang mencintaku? Berani bersumpah?"

Lu Sian berenang ke pinggir telaga dan mendarat, duduk di atas rumput.

Setelah wanita itu keluar dari dalam air, tubuh yang bentuknya ramping padat itu hanya tertutup pakaian dalam yang basah kuyup oleh air pula.

Kwan Bi Seperti dicabut semangatnya.

Sejenak ia menatap pemandangan luar biasa itu, pandang matanya menelan lekuk-lengkung tubuh yang demikian menantang, maka maboklah pemuda ini.

Ia lupa segala, tidak peduli akan segala apa didunia ini, yang teringat olehnya hanyalah wajah jelita dan tubuh menggairahkan.

Setiap titik darahnya, setiap hembusan napasnya, seakan-akan berteriak-teriak dalam kerinduan membutuhkan si jelita!

"Lu-cici..., tunggu dulu!"

Serunya sambil mengejar, berenang kedarat.

Diam-diam Lu Sian tersenyum.

Pemuda itu amat tampan, amat menyenangkan dan hatinya memang sudah tergerak.

Tanpa adanya harapan melihat kitab pusaka Siauw-lim-pai sekalipun ia akan merasa senang bersahabat dengan Yap Kwan Bi si muda remaja yang tampan ini.

Apalagi kalau mendapatkan kitab!

"Mengapa lagi?

Kau tidak mau menolongku, berarti kau tidak suka kepadaku."

Lu Sian pura-pura marah dan membuang muka dengan gerakan sedemikian rupa sehingga tubuhnya tampak dari samping dan makin menonjol keindahannya.

Yap Kwan Bi menelan ludah beberapa kali, matanya seperti lekat pada lekuk lekung didepannya.

"Lu-cici... aku tadi bukan bilang tidak mau menolong, hanya menyatakan sukar sekali."

"Jadi kau mau menolongku?"

Tiba-tiba Lu Sian membalik dan memegang lengan pemuda itu.

Tentu saja tubuhnya mendekat dari rambut serta tubuhnya semerbak bau harum dan wangi yang khas!

Menggigil tubuh Kwan Bi dan hampir saja ia menitikkan air mata saking dikuasai haru, kasih dan nafsu.

"Tentu, Lu-cici. Biarpun hal itu merupakan perbuatan yang amat murtad. Kalau ketahuan, tentu akan dihukum mati oleh para Suhu. Namun, demi cintaku kepadamu, Cici, biarlah akan kulakukan juga. Mati untukmu merupakan kebahagiaan bagiku."

Suaranya menggetar dan terharulah hati Lu Sian.

Agaknya dalam soal cinta, pemuda yang lebih muda dari padanya ini tidaklah kalah oleh bekas suaminya, Kam Si Ek, dan bekas kekasihnya, Tan Hui.

Saking terharunya, ia lalu merangkul leher pemuda itu dan memberi ciuman mesra dengan bibirnya.

"Kau baik sekali, Yap-te, dan aku beruntung mendapatkan sahabat seperti engkau."

Kemudian ia menjauhkan diri ketika melihat betapa pemuda itu terangsang oleh ciumannya dan hendak mendekapnya.

"Nanti dulu, Adikku, bersabarlah. Kau ceritakan, bagaimana kita akan dapat memasuki kamar kitab di Siauw-lim-si? Padahal disana tentu terjaga kuat oleh tokoh-tokoh Siauw-lim-pai yang lihai."

"Kau betul, Cici. Akan tetapi, kebetulan sekali besok lusa diadakan sembahyang besar di Siauw-lim-si. Agaknya Thian memang akan menolong dan melindungi cinta kasih kita. Dalam upacara sembahyang besar itu, semua murid Siauw-lim-si berikut pimpinannya yang telah menjadi hwesio dan nikouw, melakukan upacara sembahyang beramai-ramai dan berbareng. Tidak ada seorang pun hwesio yang tidak ikut dalam upacara itu. Nah, pada saat itulah, selama upacara sembahyang dilakukan semua tempat dalam lingkungan Siauw-lim-si tidak terjaga. Adapun penjagaan hanya dilakukan oleh murid-murid bukan pendeta, itupun yang dijaga hanya sekeliling tembok yang mengurung Siauw-lim-si. Aku pun ikut menjadi penjaga, penjaga pintu gerbang dan tembok bagian selatan. Kalau aku yang menjaga disana, apakah sukarnya bagimu untuk masuk? Dan selagi para hwesio melakukan upacara sembahyang, kau dapat dengan leluasa memasuki kamar kitab, bukan?"

Girang sekali hati Lu Sian.

"Ah, bagus kalau begitu! Masih dua hari lagi? Ah, masih banyak waktu bagi kita untuk..."

Lu Sian mengerling tajam.

"...untuk bersenang-senang bersama bukan?"

Lu Sian tersenyum.

"Ketika kau menawarkan kamarmu untukku, bukankah disudut hatimu ada maksud itu?"

Wajah yang tampan itu menjadi merah, akan tetapi pemuda ini menggeleng kepala dan berkata dengan suara sungguh-sungguh.

"Tidak, Lu-cici. Ketika itu aku hanya berniat menolong, karena memang sifat pendekar harus selalu dilaksanakan oleh para murid Siauw-lim-pai. Akan tetapi... ah, entah mengapa, aku tergila-gila kepadamu, dan aku cinta kepadamu! Tak baik kalau kita kembali kesana bersama, Lu-cici, orang-orang tentu akan menaruh curiga. Disinilah tempat kita, bukankah enak dan nyaman sekali disini?"

Yap Kwan Bi memeluknya lagi dan kali ini Lu Sian mendiamkannya saja. Tiba-tiba wanita ini bangkit berdiri dan menarik tangan Kwan Bi.

"Eh, bocah pelupa! Bukankah kau hendak memperkenalkan aku kepada bibi gurumu Su-nikouw?"

Yap Kwan Bi tertawa, agak kecewa karena tidak ada keinginan lain didunia ini baginya kecuali berdua-dua dan bersenda gurau bermain cinta dengan Lu Sian, jauh dari urusan dan orang lain.

Akan tetapi ia tidak berani menolak.

Setelah mengenakan pakaian luar, mereka berdua bergandeng tangan dan berlari menuju ke Kuil Kwan-im-bio.

Su-nikouw atau Su Pek Hong adalah seorang nikouw yang ramah tamah wataknya.

Ia menjadi ketua Kwan-im-bio yang kecil namun bersih dan rapi, hanya diurus oleh tujuh orang nikouw.

Ketika Su-nikouw menyambut kedatangan murid keponakannya, Lu Sian memandang dengan heran dan kagum.

Nikouw itu tidak cantik, wajahnya biasa saja dan tubuhnya terlalu kurus, akan tetapi harus diakui bahwa melihat wajah dan tangannya, wanita ini tentu tidak akan lebih dari tiga puluh tahun usianya.

Padahal menurut penuturan Kwan Bi, nikouw ini usianya sudah lima puluh tahun lebih!

Benar-benar hebat sekali dan timbullah keinginan dihati Lu Sian untuk mendapatkan ilmu awet muda ini.

"Eh, Kwan Bi, kau kah ini? Darimana kau dan siapakah Nona ini? Apakah kau tidak ikut membuat persiapan di Siauw-lim-si?"

Yap Kwan Bi sudah memberi hormat lalu menjawab.

"Bibi Guru, kedatangan teecu (murid) adalah untuk mengantar Lu-lihiap (Pendekar Wanita Lu) ini, yang ingin berjumpa dan berkenalan dengan Bibi. Teecu menanti kedatangan Sam-suheng dan Ngo-suheng (Kakak Seperguruan KeTiga dan KeLima) untuk bersama-sama merencanakan tugas jaga besok lusa."

Ia lalu memperkenalkan Lu Sian dan menceritakan betapa Lu Sian memberi hajaran kepada para buaya darat di Kim-peng yang hendak mengganggu.

"Aih kiranya Nona seorang pendekar yang lihai!"

Nikouw itu mengangkat kedua tangan didepan dada. Lu Sian cepat-cepat membalas, menjura dan berkata.

"Sudah lama mendengar nama besar Suthai dan setelah bertemu muka, ternyata membuat aku yang muda kagum dan heran luar biasa."

"Omitohud...! Pinni hanya seorang nikouw yang lemah, kepandaian apa sih yang patut dikagumi? Dahulu pinni terlalu malas berlatih silat sehingga dari ilmu silat Siauw-lim-pai yang maha hebat itu, tidak ada seperseratus bagian yang dapat pinni miliki."

"Melawan usia tua dan berhasil merupakan kepandaian yang paling hebat di dunia ini, yang akan menjadi kebanggaan kaum wanita,"

Kata Lu Sian.

"Aihh, agaknya si bocah nakal Kwan Bi ini yang membocorkan rahasia, ya? Ah, Nona apa sih artinya awet muda bagi seorang pendeta macam pinni? Pinni memang mempelajari ilmu dan pengobatan untuk melawan usia tua, akan tetapi sekali-kali bukan menghendaki awet mudanya, melainkan menghendaki kesegarannya agar jangan terlalu mudah diganggu penyakit!"

Setelah bercakap-cakap sebentar, Lu Sian minta diri, lalu pergi bersama Yap Kwan Bi.

Kemanakah mereka pergi?

Kembali ke rumah penginapan?

Sama sekali tidak.

Dua orang muda hamba nafsu ini menyerah bulat-bulat kepada nafsu mereka sendiri, dan semalam itu mereka bersenang-senang, bersenda gurau dan bermabok-mabokan dibuai nafsu, didekat telaga dalam hutan.

Yap Kwan Bi adalah seorang pemuda yang sama sekali belum ada pengalaman.

Tentu saja bertemu seorang wanita seperti Lu Sian, dia benar-benar jatuh.

Kwan Bi dimabok nafsunya sendiri yang baginya sama sekali bukan merupakan nafsu, melainkan berubah menjadi cinta kasih murni, cinta kasih yang tidak hanya terbatas pada darah daging, melainkan menjiwa.

Cinta kasih suci murni!

Sama sekali ia tidak tahu bahwa ia menjadi permainan nafsu belaka, tidak tahu bahwa perbuatannya itu sudah termasuk perbuatan maksiat, perjinaan yang sama sekali tidak patut dilakukan oleh seorang yang menghargai tata susila dan kesopanan, lebih tidak patut dilakukan oleh seorang pendekar atau satria.

Bagi Lu Sian, dia memang sudah tidak peduli lagi!

Kalau ia menyukai seorang pria, siapapun juga dia, harus dia dapatkan.

Bukan untuk dicinta selamanya, melainkan untuk menghibur hatinya, dan untuk dipermainkan atau dipatahkan cintanya kemudian!

Lu Sian tidak percaya lagi kepada cinta kasih murni, ia hanya mau tunduk kepada cinta nafsu, hanya untuk sementara waktu saja.

Ia tidak mau lagi ditundukkan cinta, sebaliknya ialah yang akan mempermainkan cinta kasih orang!

Dua hari kemudian, tepat seperti yang diceritakan oleh Kwan Bi kepada Lu Sian, di Siauw-lim-si yang besar diadakan upacara sembahyangan.

Para tamu yang datang dari segenap penjuru di sekitar wilayah itu, terdiri dari bermacam golongan.

Nama Siauw-lim-pai sudah amat terkenal sehingga banyak tokoh kang-ouw memerlukan datang pula.

Sembahyangan itu diadakan untuk merayakan hari lahir Ketua Siauw-lim-pai yang keseratus tahunnya!

Kian Hi Hosiang, Ketua Siauw Lim Pai, sudah amat tua dan pikun, namun masih dihormat dan dicinta oleh semua anak muridnya.

Memang jasanya amat besar ketika ia masih kuat, berkat keuletannya dan disiplin keras yang ia jalankan di Siauw-lim-si, maka partai persilatan ini menelurkan banyak murid-murid pandai dan pendekar-pendekar yang terkenal sebagai penumpas kejahatan.

Nama Siauw-lim-pai makin harum, disegani kawan ditakuti lawan.

Kini Kian Hi Hosiang sudah terlalu tua, sudah pikun sehingga kerjanya hanya bersamadhi saja.

Sementara urusan Siauw-lim-pai diserahkan kepada muridnya yang paling dipercaya, yaitu Cheng Han Hwesio murid pertama dan Cheng Hie Hwesio murid kedua.

Cheng Han Hwesio tepat memang menjadi calon ketua karena ia berwatak tekun, jujur, keras hati berdisiplin, dan sebagai seorang hwesio (Pendeta Budha) ia sudah menjauhakan diri daripada urusan duniawi.

Adapun Cheng Hie Hwesio, yang usianya juga sudah lima puluh tahun lebih ini biarpun dalam hal disiplin sama dengan Cheng Han Hwesio, namun sikapnya halus dan ramah-tamah.

Cheng Hie Hwesio inilah yang terkenal sebagai hwesio pengawas para murid Siauw-lim-pai.

Kalau ada seorang murid Siauw-lim-pai melakukan penyelewangan sehingga menodai nama baik Siauw-lim-pai biarpun murid murtad itu berada di tempat sejauh seribu lie, dia takkan dapat terbebas jangkauan tangan besi Cheng Hie Hwesio yang pasti akan datang menangkapnya dan menghukumnya sesuai dengan peraturan persilatan Siauw-lim-pai!

Para tamu disambut oleh hwesio-hwesio Siauw-lim-si dan dipersilakan duduk di ruangan depan yang amat luas.

Adapun semua hwesio setelah terdengar bunyi kelenengan keras nyaring, berkumpul di ruangan dalam untuk mulai upacara sembahyangan.

Asap hio dan nyala lilin membuat suasana menjadi serem.

Di barisan belakang para hwesio nampak pula murid-murid bukan hwesio yang terdiri dari laki-laki dan wanita, semua bersikap gagah bersemangat.

Mereka ini adalah murid-murid Siauw-lim-pai bukan pendeta, baik yang masih belajar ilmu silat di kuil besar itu maupun yang sudah bekerja di luar, yang memepergunakan kesempatan itu untuk ikut memberi hormat dan selamat kepada sukong mereka serta ikut melakukan sembahyang.

Hanya beberapa orang murid, kesemuanya murid-murid Kian Hi Hosiang, yang diwajibkan melakukan penjagaan dan perondaan disekeliling tembok yang memagari Siauw-lim-si.

Seperti telah diceritakan oleh Yap Kwan Bi kepada Lu Sian, pemuda ini termasuk seorang di antara murid-murid yang ditugaskan menjaga.

Dia murid termuda Kian Hi Hosiang, murid tersayang, biarpun usianya masih amat muda.

Pada saat di ruangan depan kuil Siauw-lim-si penuh tamu dan di ruangan tengah diadakan upacara sembahyangan, maka di bagian belakang bangunan kuil yang besar dan luas itu sunyi senyap, tak terdapat seorang manusia pun.

Akan tetapi pada saat itu, kesunyian bagian belakang kuil itu terganggu oleh berkelebatnya bayang-bayang orang yang gerakannya ringan bagaikan burung.

Bayangan ini bukan lain adalah Lu Sian.

Dengan mudah saja ia tadi muncul dari tembok bagian selatan.

Setelah mendapat "tanda aman"

Dari Yap Kwan Bi yang berjaga disitu, Lu Sian lari melompati tembok selatan dan dengan ringan tubuhnya melayang turun kepekarangan belakang, terus menyelinap dan berindap-indap masuk melalui bangunan-bangunan kecil disebelah belakang Kuil Siauw-lim-si.

Ia menjadi kagum sekali.

Baiknya malam tadi, diantara cumbu rayu, ia telah mendapat gambaran dan keterangan yang amat jelas tentang keadaan Siauw-lim-si ini dari Kwan Bi.

Andaikata tidak mendapat keterangan yang jelas lebih dulu, kiranya akan sukar baginya untuk mencari tempat yang dimaksudkan yaitu kamar kitab.

Bukan main luasnya kuil ini, banyak bangunan-bangunan kecil yang sama bentuknya.

Akan tetapi ia telah mendapat keterangan jelas, maka ia mulai menghitung dari kiri kekanan.

Bangunan yang ke tujuh belas dari kiri, itulah kamar kitab!

Dengan jantung berdebar Lu Sian mendorong daun pintu.

Matanya menjadi silau dan kepalanya pening ketika ia lihat deretan kitab diatas rak buku.

Bukan main banyaknya.

Kitab-kitab tebal dan sebagian sudah hampir lapuk!

Bau di kamar itu amat tidak enak, bau kertas membusuk.

Namun ia sudah mendapat keterangan pula dideretan mana letak kitab yang ia kehendaki, maka terus saja ia menghampiri rak dan memeriksa di rak paling atas di ujung kiri.

Setelah membuka dua tiga buah kitab wajahnya berseri.

Sebuah kitab yang amat kecil, hanya sebesar telapak tangannya, bersampul kuning.

Inilah kitab yang ia kehendaki.

Kitab pelajaran Im-yang-tiam-hoat, ilmu menotok jalan darah yang amat terkenal dari Siauw-lim-pai!

Cepat ia membuka kancing bajunya sehingga tampak baju dalamnya yang berwarna merah muda.

Kitab kecil itu ia masukkan di balik baju dalam, menyelinap di antara buah dadanya.

Tempat aman!

Dikancingkannya lagi baju luarnya dengan hati girang ia berlompatan menuju kebelakang.

Matanya bersinar-sinar dan ia berjanji dalam hati akan menghadiahi Yap Kwan Bi dengan cinta mesra sebagai upahnya!

Bibirnya sudah bergerak hendak memberi tanda dengan suara mendesis seperti yang sudah mereka janjikan ketika ia melihat bayangan tubuh Yap Kwan Bi di atas tembok.

Akan tetapi tiba-tiba berobah wajahnya dan ia cepat menyelinap dibalik sebuah arca penjaga taman.

Orang yang berdiri diatas tembok itu sama sekali bukan Kwan Bi kekasihnya!

Melainkan seorang laki-laki lain yang berdiri dengan pedang telanjang di tangan dan matanya menyapu ke arah dalam pekarangan!

Dari luar tembok melayang naik seorang laki-laki lain yang usianya tiga puluh tahun lebih, dengan gerakan ringan berdiri diatas sebelah laki-laki pertama lalu berkata perlahan.

"Belum kelihatan?"

"Belum, akan tetapi dia tentu akan keluar melalui sini. Mana Liok-sute?"

"Dia menjaga di tembok timur."

"Dan Yap-sute?"

"Sudah dibawa menghadap kedepan. Ah, siapa kira Yap-sute akan sampai hati akan berlaku khianat terhadap perguruan kita. Sayang sekali, kasihan dia yang masih amat muda..."

Dua orang laki-laki itu nampak muram wajahnya dan berkali-kali menarik napas panjang.

Dari balik arca itu, Lu Sian menjadi kaget setengah mati.

Mendengar percakapan mereka, agaknya perbuatan Yap Kwan Bi menyelundupkannya masuk telah diketahui dan kini Yap Kwan Bi telah ditawan oleh saudaranya sendiri!

Tentu saja Lu Sian tidak takut.

Ia sudah ingin menerjang naik keatas mempergunakan kekerasan melawan para penghadangnya.

Akan tetapi ia segera teringat akan Yap Kwan Bi.

Pemuda itu dihadapkan didepan, tentu dihadapkan pada para hwesio pimpinan.

Tak mungkin ia mendiamkan saja.

Ia harus menolong kekasihnya yang tertawan karena dia!

Dengan pikiran ini, Lu Sian lalu menyelinap diantara bangunan-bangunan itu menuju kesebelah dalam, menuju ke depan!

Karena maklum bahwa ia berada ditempat berbahaya sekali, ia bersiap-siap dan waspada.

Akan tetapi, diruangan belakang kuil besar yang menjadi bangunan utama itu tetap sunyi sekali.

Setelah ia mendekati ruangan tengah, barulah mulai terdengar suara berisik dari para hwesio yang berdoa.

Asap hio menyambutnya ketika Lu Sian memasuki lorong yang menghubungkan ruangan belakang dengan ruangan tengah yang menjadi tempat sembahyang.

Dari dalam lorong sudah tampak punggung sebuah arca Buddha yang amat besar.

Berdebar jantung Lu Sian.

Betapapun tabahnya, ia merasa ngeri juga kalau memikirkan bahwa ia akan berhadapan dengan para tokoh Siauw-lim-pai yang merupakan tokoh-tokoh nomor satu dalam dunia persilatan!

Hampir saja ia kembali lagi dan nekat menerjang keluar melalui tembok belakang yang hanya terjaga oleh murid-murid Siauw-lim-pai bukan pendeta.

Akan tetapi kalau mengingat akan nasib Yap Kwan Bi, ia membatalkan niat ini dan melanjutkan langkahnya berindap-indap menuju ke depan.

Ia terlindung dan tertutup oleh arca besar itu, tidak tampak oleh para hwesio yang berlutut di depan arca dan berdoa beramai-ramai.

Lu Sian mencabut pedangnya sambil bersembunyi, agak gelap.

Lu Sian memegang pedang dan mengintai dengan hati-hati sekali.

Tidak kurang dari lima puluh orang hwesio berlutut dan berdoa.

Paling depan tampak seorang whesio yang amat tua, dengan wajah tekun berlutut dan berdoa, matanya dipejamkan.

Melihat usianya, Lu Sian dapat menduga bahwa kakek ini tentulah ketua Siauw-lim-pai, yaitu Kian Hi Hosiang.

Disebelah belakang kakek ini berlutut dua orang hwesio berusia lima puluh tahu lebih.

Yang sebelah kanan berwajah keras dan berwibawa, dia menduga tentu Cheng Han Hwesio.

Sebelah kiri dibelakang kakek itu tentulah Cheng Hie Hwesio yang wajahnya halus tanpa kumis jenggot.

Sejenak Lu Sian meragu.

Sulit untuk menerobos keluar melalui pintu depan tanpa diketahui, dan ia sangsi apakah ia akan mampu menerobos diantara sekian banyak tokoh hwesio Siauw-lim-pai yang tersohor sakti.

Kemudian ia teringat akan cerita ayahnya tentang para hwesio Siauw-lim-si.

Selain terkenal sakti, juga para hwesio Siauw-lim-si adalah pendeta-pendeta yang tekun dalam agama.

Maka ia lalu mengambil (Lanjut ke

Jilid 21) SULING EMAS (Seri ke 02

"Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 21 keputusan dan dengan menekan debaran jantungnya, ia menyarungkan pedangnya kemudian muncul keluar dari balik arca dan berjalan dengan langkah tenang, dada dibusungkan, menuju keluar.

Tentu saja gerakannya ini tidak terlepas daripada pendengaran para hwesio yang sedang berdoa.

Namun, tepat seperti perhitungan Lu Sian, para hwesio itu tidak mau menunda sembahyang mereka, sungguhpun mereka merasa terkejut, heran dan juga marah sekali.

Bagaimana ada seorang wanita muncul dari ruangan dalam kuil?

Padahal sebuah diantara larangan yang amat keras dari Kuil Siauw-lim-si dimanapun juga, adalah hadirnya seorang wanita ke pedalaman kuil!

Merupakan pantangan keras karena para tokoh hwesio maklum bahwa diantara segala godaan, yang paling mudah menjatuhkan keteguhan batin para pendeta adalah wanita.

Akan tetapi deretan anak murid Siauw-lim-pai yang berlutut paling belakang, yaitu golongan murid yang tidak menjadi pendeta, tidaklah setekun para hwesio itu.

Melihat munculnya seorang wanita muda cantik berpedang dari balik arca, terkejutlah mereka dan bangkitlah kecurigaan mereka.

Enam orang murid Siauw-lim-pai sudah melompat dengan gerakan ringan, menghadang di pintu tengah antara ruangan tengah dan ruangan depan.

Para tamu yang hadir di ruangan depan juga menjadi heboh.

Melihat dirinya dihadang, Lu Sian tersenyum dingin.

Ingin ia menyerbu keluar, akan tetapi maklum bahwa cara ini bukanlah cara yang bijaksana.

Biarlah ia mempergunakan ketajaman lidahnya sebelum terpaksa mengandalkan ketajaman pedangnya, maka ia berhenti melangkah dan menanti, berdiri tegak dan tetap tersenyum dingin.

Ia tahu bahwa murid-murid Siauw-lim-pai yang bukan pendeta itu, biarpun masih banyak diantara mereka yang muda-muda, rata-rata memiliki kepandaian tinggi, karena mereka ini pun merupakan murid-murid Kian Hi Hosiang ketua Siauw-lim.

Memang sesungguhnyalah dugaan Lu Sian ini.

Diantara anak murid yang bukan pendeta, memang banyak yang langsung menjadi murid Kian Hi Hosiang, bahkan murid-murid bukan pendeta inilah yang rata-rata memiliki kepandaian tinggi karena mereka ini adalah murid ilmu silat, bukan murid agama.

Diantara para hwesio, kiranya hanya dua orang yang menonjol kepandaiannya, yaitu Cheng Han Hwesio dan Cheng Hie Hwesio, sungguhpun mereka itu sejak kecil hanya belajar agama dan kebatinan, dan baru setelah tua mempelajari ilmu silat.

Bahkan tiga orang di antara para murid, yang kini berdiri menghadang, yang usianya di antara tiga puluh dan empat puluh tahun, terhitung suheng (kakak seperguruan) Cheng Han dan Cheng Hie Hwesio, sungguhpun kedua orang ini lebih tua usianya.

Mengapa demikian?

Karena tiga orang ini sudah lebih dulu menjadi murid mempelajari ilmu silat dari Kian Hi Hosiang.

Akan tetapi enam orang murid Siauw-lim-pai itu hanya berdiri menghadang dengan sinar mata tajam, tidak turun tangan karena memang mereka hanya bermaksud mencegah wanita cantik itu keluar dari situ.

Mereka tidak akan mengganggu suasana hening dan penuh khidmat dalam upacara sembahyang itu.

Akhirnya selesailah pembacaan doa dan para hwesio itu bangkit berdiri.

Segera Cheng Han Hwesio yang keras dan jujur itu membentak.

"Wanita dari mana berani mati memasuki kuil kami tanpa ijin?"

Lu Sian menentang pandang mata hwesio itu sambil tersenyum mengejek, tanpa menjawab.

Tak sudi ia menjawab.

Pertanyaan begitu kasar.

Pada saat itu, para tamu yang melihat sembahyangan selesai, banyak yang mendekat untuk melihat peristiwa aneh itu.

Tiba-tiba seorang diantara mereka berseru.

"Ah, dia Tok-siauw-kwi...!!"

Mendengar julukan Tok-siauw-kwi (Iblis Cilik Beracun) ini semua orang kaget sekali.

Lu Sian dengan tenang mengerling dan melihat dandanan orang itu seperti piauwsu (pengawal) ia dapat menduga bahwa dia itu tentulah ada hubungannya dengan para piauwsu Hong-ma-piauwkiok yang telah menghancurkan pertalian asmara antara dia dengan Tan Hui.

Para pendeta mendengar julukan yang biarpun masih baru namun sudah terkenal itu, terkejut.

Kian Hi Hosiang sendiri lalu berkata.

"Omitohud...! Kiranya puteri Beng-kauwcu yang sengaja datang membikin geger! Nona, diantara kami kaum pendeta Siauw-lim-pai tidak pernah ada urusan dengan Beng-kauw, bahkan hubungan antara pinceng dan ayahmu, Beng-kauwcu Pat-jiu Sin-ong, tak pernah dikotori oleh permusuhan, mengapa kau hari ini mengganggu upacara sembahyang kami? Mendengar ucapan yang sopan dan sikap yang sabar dari kakek itu, Lu Sian lalu berlagak penuh kehalusan, menjura dengan penuh hormat dan suaranya lemah lembut dan merdu ketika ia menjawab.

"Harap Losuhu sudi memaafkan saya yang lancang. Karena mendengar dari Ayah bahwa Siauw-lim-pai paling benci kepada wanita dan memberi pantangan bahwa lantai pedalaman kuil Siauw-lim-pai tidak boleh diinjak kaki wanita, sekali terinjak kaki wanita akan dicuci dengan abu dapur, maka saya menjadi tertarik dan tidak percaya. Maka, menggunakan kesibukan di Siauw-lim-si ini, saya sengaja mencuri masuk untuk melihat-lihat. Kiranya tidak ada apa-apanya didalam, yang macam begitu saja melarang terinjak kaki wanita. Sungguh keterlaluan! Akan tetapi, betapapun juga saya mohon maaf kepada Losuhu dan biarlah setelah pulang akan saya ceritakan kepada Ayah bahwa biarpun para pendeta lain di Siauw-lim-si galak-galak dan benci wanita, namun ketuanya amat peramah dan baik hati."

Kian Hi Hosiang tertawa dan menggeleng-geleng kepalanya.

"Sungguh cocok dengan Ayahnya. Pandai dan keji, baik tangan maupun mulutnya. Sudahlah, Nona cilik, melihat muka Ayahmu dan mengingat bahwa hari ini adalah hari baik, biarlah pinceng menganggap pelanggaran berat ini seperti tidak pernah ada. Kau boleh pergi."

Ia menghela napas panjang.

"Suhu! Ijinkanlah teecu (murid) mengajukan pertanyaan lebih dulu. Munculnya wanita ini sungguh mencurigakan!"

Kian Hi Hosiang mengangguk.

"Boleh, tapi jangan lupa, pinceng telah memberi ampun akan pelanggarannya."

"Pelanggaran memasuki kuil memang telah Suhu beri ampun. Akan tetapi siapa tahu ada pelanggaran lain yang lebih hebat. He, Tok-siauw-kwi, jawablah lebih dulu pertanyaan pinceng sebelum engkau pergi dari sini!"

Lu Sian membalikkan tubuh dan menghadapi hwesio itu dengan senyum mengejek.

Panas dadanya mendengar ia disebut Setan Cilik Beracun, sebuah julukan yang diberikan orang kepadanya diluar kehendaknya.

"Heh, setan tua busuk, kalau pertanyaanmu tidak busuk, baru akan kujawab!"

"Kurang ajar, berani kau memaki pinceng?"

Cheng Han Hwesio membentak dan matanya melotot. Lu Sian juga pelototkan matanya.

"Kau menyebut aku Setan Cilik Beracun, aku pun menyebut engkau setan tua busuk, apa bedanya. Bukankah itu berarti antara kita sudah punah, satu-satu?"

Bukan main marahnya Cheng Han Hwesio.

Ia adalah seorang diantara murid Siauw-lim-pai yang dipercaya suhunya, bahkan dialah calon ketua kelak, karena sejak saat gurunya mengundurkan diri untuk bertapa, Cheng Han Hwesiolah yang mewakilinya.

Karena ini ia senantiasa bersikap penuh wibawa dan sungguh-sungguh, siapa nyana hari ini ia dipermainkan seorang wanita muda, didepan banyak tamu!

Kalau ia tidak ingat akan pesan suhunya, tentu ia sudah turun tangan memberi hajaran kepada setan cilik ini!

"Baiklah akan kusebut Nona kepadamu.

Nona, tadi Suhu sudah mengampunimu.

Akan tetapi, kami tidak percaya engkau akan dapat memasuki pekarangan belakang kuil tanpa diketahui penjaga.

Tentu ada yang membantumu masuk.

Katakan, siapa dia yang membantumu?"

Diam-diam Lu Sian merasa heran.

Para penjaga dibelakang tadi sudah tahu agaknya akan perbuatan Kwan Bi, kenapa kepala gundul ini belum tahu?

Ah, tentu saja.

Mereka ini tadi sedang sibuk berdoa, tentu hal itu belum dilaporkan.

Ia tersenyum lebar dan menjawab.

"Losuhu, kuil ini adalah kuilmu, yang menjaga adalah penjagamu, bagaimana aku bisa tahu akan kelalaian penjagamu? Tentang bagaimana caranya aku masuk kepekarangan belakang, ah, itu kewajibanmu untuk mencari tahu dan menyelidik. Sudah, aku mau pergi."

"Nanti dulu!"

Bentak Cheng Han Hwesio, suaranya mengguntur.

"Eh, hwesio tua, kau mau apa?"

Lu Sian menoleh ke arah Kian Hi Hosiang dan berkata.

"Losuhu yang mulia, muridmu yang satu ini benar-benar tak patut. Terpaksa saya berlaku kurang hormat kepadanya!"

"Cheng Han, mengapa menahan dia? Lebih baik lekas-lekas suruh dia pergi."

Hwesio tua itu mengomel dan diam-diam ia mencela muridnya yang hanya mencari perkara saja menghadapi wanita ini.

Didepan begini banyak orang, wanita berandalan ini tentu dapat membuat para hwesio Siauw-lim-si menjadi buah tertawaan orang banyak.

"Suhu,"

Cheng Han Hwesio memberi hormat kepada gurunya.

"dia baru saja berkeliaran di dalam kuil, siapa tahu dia mengambil sesuatu?"

Mendengar ini, Lu Sian terkejut sekali.

Tak disangkanya hwesio galak itu ternyata bukan orang bodoh.

Ia lalu cepat melangkah maju, mengedikkan kepala membusungkan dadanya mendekati Kian Hi Hosiang dan berkata nyaring.

"Losuhu, apakah orang menyangka aku mencuri benda di kuil? Hayo geledahlah aku, geledahlah!!"

Ia melangkah maju dan dadanya yang membusung itu menantang, agak berguncang ketika ia menghampiri Ketua Siauw-lim-si sampai dekat.

"Omitohud...!"

Kian Hi Hosiang melangkah mundur, ngeri menyaksikan dada membusung itu begitu dekat.

"Pinceng takkan menggeledah..."

"Kau, hwesio tua? Kau mau menggeledah? Kau menuduh aku mencuri? Hayo geledahlah! Tak tahu malu, geledahlah aku!"

Kini ia menghampiri Cheng Han Hwesio yang juga mundur-mundur kewalahan, mukanya berubah merah sekali.

"Menuduh orang mencuri, disuruh menggeledah tidak mau. Cih, benar-benar menyebalkan. Aku tidak mau berdiam lebih lama lagi disini!"

Lu Sian melangkah lebar menuju ke pintu.

Mendadak berkelebat bayangan putih dan seorang wanita berusia empat puluh tahun lebih, pedangnya dipunggung, kelihatan gesit dan gagah sudah menghadang di depan Lu Sian.

"Cheng Han Suheng benar. Kau harus digeledah!"

Lu Sian memandang dengan mata bersinar marah.

"Kau? Hendak menggeledah? Berani kau begini menghinaku?"

Wanita itu adalah seorang anak murid Siauw-lim-si yang kepandaiannya sudah tinggi, bernama Tan Liu Nio.

Ia memandang rendah Lu Sian yang kelihatan masih seperti seorang gadis muda, maka sambil tersenyum ia menjawab.

"Mengapa tidak berani menggeledahmu?"

Kedua tangannya bergerak cepat sekali, hendak meraba tubuh Lu Sian.

Akan tetapi tiba-tiba wanita itu mengeluarkan seruan kaget, tubuhnya sudah mencelat jauh ke belakang, mukanya pucat karena hampir saja ia celaka.

Ketika ia menggerakkan tangan tadi, Lu Sian juga bergerak dan tahu-tahu dua jalan darah maut ditubuhnya sudah diserang oleh Lu Sian secepat kilat sehingga jalan satu-satunya bagi Tan Liu Nio hanyalah melompat kebelakang secepat mungkin sehingga ia terhindar daripada malapetaka yang hebat.

Lu Sian tersenyum mengejek.

"Siapa lagi hendak menggeledahku? Orang-orang gagah dari Siauw-lim-pai memang hanya suka menghina seorang wanita! Hayo kalian hwesio-hwesio perkasa, siapa mau menggeledah? Siapa mau menggunakan kesempatan ini untuk menghina seorang wanita, meraba-raba badannya dengan dalih menggeledah? Tak tahu malu!"

Semua hwesio dan murid Siauw-lim-pai tidak ada yang berani berkutik.

Mereka memandang dengan muka merah dan serba salah.

Tan Liu Nio merupakan seorang murid perempuan terpandai di Siauw-lim-pai, maka murid perempuan lain tidak ada yang berani maju.

Tan Liu Nio sendiri hampir celaka menghadapi wanita berandalan yang lihai itu, apalagi mereka.

Adapun murid-murid pria yang berkepandaian lebih tinggi, menjadi mati kutu setelah mendengar ucapan Lu Sian yang menantang.

Memang serba susah kalau harus menggeledah tubuh seorang wanita secantik dan semuda itu, apalagi di depan banyak orang.

Padahal ketua mereka sendiri sudah mengampuni wanita ini dan sudah memperkenankannya pergi.

Pada saat itu dari luar menerobos beberapa orang laki-laki, mengiringkan Yap Kwan Bi yang bermuka pucat sekali.

Tiga orang laki-laki itu bersama Kwan Bi sudah menjatuhkan diri berlutut menghadap Kian Hi Hosiang.

Terdengar Kwan Bi berkata, suaranya gemetar.

"Murid murtad Yap Kwan Bi menghadap Suhu, siap menerima hukuman."

"...apa...? Ada apa...?"

Kian Hi Hosiang terheran dan bertanya dengan gagap karena ia benar-benar tidak pernah meragukan kesetiaan muridnya yang termuda dan tersayang ini.

"Suhu, Yap-sute telah bersekutu dengan orang luar dan lancang menyelundupkan seorang wanita memasuki pekarangan belakang..."

"Keparat!"

Cheng Han Hwesio yang membentak ini.

Akan tetapi pada saat itu, cepat bagaikan seekor garuda menyambar, Lu Sian sudah bergerak kedepan dan menangkap lengan Yap Kwan Bi dan terus dibawa meloncat keluar.

Pada saat itu, Cheng Han Hwesio yang melihat hal ini, cepat menyusul dengan pukulan maut dari Siaw-lim-pai.

Yap Kwan Bi juga terkejut dan hendak meronta dari tangkapan Lu Sian, namun tak berhasil dan pada saat itu pukulan Cheng Han Hwesio tiba, biarpun tidak menyentuh tubuhnya, namun tiba-tiba ia merasakan dadanya sesak dan muntah darah!

Melihat Kwan Bi pingsan, Lu Sian lalu memanggulnya dan sambil meloncat kedepan, tangan kirinya bergerak menyambit kebelakang.

Pada saat itu, tiga orang murid Siauwlim-pai tingkatan atas bersama seorang wanita, yaitu Tan Liu Nio sudah mengejar.

Mereka berempat terkejut sekali dan cepat-cepat mereka lompat menghindarkan diri dari sambaran sinar merah senjata rahasia Lu Sian.

Ketika mereka mengejar terus, mereka telah tertinggal jauh.

Tentu saja sukar bagi mereka berempat untuk dapat menyusul Lu Sian karena Lu Sian telah mempergunakan gin-kangnya yang hebat, yang ia pelajari dari mendiang Hui-kiam-eng Tan Hui, yaitu Ilmu Lari Cepat Coan-in-hui (Terbang Menerjang Mega)!

Untung bagi Lu Sian, Cheng Han Hwesio dan Cheng Hie Hwesio yang hendak mengejar pula, dicegah oleh Kian Hi Hosiang yang berkata.

"Omitohud... semoga Sang Buddha melimpahkan kesadaran kepada mereka yang sesat. Cheng Han dan Cheng Hie, tak usah mengejar. Ketiga Suhengmu dan seorang Sumoimu sudah cukup. Kita tidak perlu menanam bibit permusuhan dengan golongan lain. Kurasa empat orang muridku itu sudah maklum dan asal dapat menangkap kembali Kwan Bi dan membawanya kesini untuk menerima hukuman, cukuplah."

Demikianlah, upacara sembahyang di Kuil Siauw-lim-si yang tadinya akan dibuat besar-besaran dan meriah, ternyata menjadi sunyi dan muram akibat peristiwa itu.

Para tamu juga tahu diri, melihat keadaan tuan rumah tertimpa urusan yang tidak menyenangkan mereka lalu berpamit dan meninggalkan kuil itu dalam keadaan suram.

Lu Sian berlari cepat sekali dan setelah memasuki sebuah hutan tiga puluh lie jauhnya dari Kim-peng, ia berhenti dan meletakkan tubuh Kwan Bi diatas rumput, terlindung oleh pohon besar dari sinar matahari senja.

Segera ia memeriksa keadaan kekasihnya itu.

Ketika membuka bajunya, tampak kulit dada membayang biru, tanda bahwa Kwan Bi telah menderita luka pukulan yang cukup hebat.

Cepat ia mencari air untuk membasahi kepala pemuda itu, lalu memberinya pula minum sedikit.

Kwan Bi siuman kembali dan membuka matanya.

Melihat Lu Sian, ia tersenyum dan menggeleng kepalanya.

"Lu-cici, aku telah membikin kau banyak susah..."

Lu Sian menggunakan pipinya menutup mulut pemuda itu dan berbisik ditelinganya.

"Hushhh, kau mengigau, bicara dibolak-balik. Akulah yang membuat kau menderita seperti ini. Akan tetapi jangan takut, selama ada aku disini, tidak ada seorang pun boleh mengganggumu, siapa pun juga dia!"

Kwan Bi tersenyum, akan tetapi berbareng dua titik air mata membasahi pipinya, lalu kembali dia menggeleng kepala dan menarik napas panjang.

"Tidak mungkin... dosaku terhadap Suhu dan Siauw-lim-pai tidak boleh kuhindari, aku harus kembali kesana. Lu-cici kau pergilah, tinggalkan aku. Budimu sudah terlampau banyak. Cin... cinta kasihmu takkan kulupakan selama hidupku. Kau tinggalkanlah aku, biar kuhadapi sendiri kemarahan Suhu."

Lu Sian menciumnya.

Timbul rasa sayangnya kepada pemuda ini, rasa sayang yang terdorong rasa haru mendengar betapa pemuda ini amat mencintainya, cinta sungguh-sungguh, cinta yang membuat pemuda itu sanggup berkorban untuknya.

Belum pernah ia dicinta orang seperti ini, kecuali....

kecuali agaknya...

cinta kasih Kwee Seng yang telah mati!

"Tidak, aku tidak akan pergi dari sampingmu.

Mereka itu boleh saja datang dan mereka hanya akan dapat mengganggu dirimu jika aku sudah menjadi mayat!"

"Lu-cici... ah, Lu-cici...!"

Kwan Bi merangkul dan roboh pingsan pula.

Guncangan jantungnya akibat rasa haru dan kasih ini membuat napasnya sesak dan luka itu menyerangnya lagi, membuatnya pingsan.

Lu Sian cepat menaruh telapak tangan kirinya keatas dada yang terpukul, lalu sambil duduk bersila ia mengarahkan sin-kangnya untuk membantu kekasihnya memanaskan jalan darah memperkuat hawa sehingga luka itu akan cepat sembuh.

Ia duduk dalam keadaan begini sampai senja terganti malam.

Bulan sudah muncul sore-sore dan keadaan menjadi terang seperti siang.

Tiba-tiba Lu Sian terkejut oleh suara bentakan.

"Perempuan tak bermalu! Kau serahkan murid Siauw-lim-pai yang murtad itu kepada kami!"

Lu Sian terkejut sekali, akan tetapi ia tidak melepaskan tangannya dari atas dada Kwan Bi.

Ia hanya mengerling dan tampaklah olehnya empat orang berdiri tidak jauh dari pohon.

Yang seorang adalah wanita yang tadi hendak menggeledahnya, maka ia memandang rendah.

Yang tiga adalah laki-laki semua, yaitu murid-murid Siauw-lim-pai yang tadi ia lihat ikut menghadang di pintu.

Dua orang berusia empat puluh lebih, yang seorang paling banyak empat puluh, mukanya putih halus seperti pemuda belasan tahun, tubuhnya kecil akan tetapi matanya berkilauan terkena cahaya bulan.

Orang kedua berkumis kecil panjang bergantung kebawah, sedangkan orang ke tiga bermuka kurus sehingga tulang-tulang pipinya menonjol keluar, tampak menyeramkan.

"Cih, perempuan tak tahu malu. Menculik laki-laki!"

Wanita yang bukan lain adalah Tan Liu Nio murid Siauw-lim-pai itu mencaci.

Panas hati Lu Sian dan wataknya yang nakal membuat ia sengaja memanaskan hati orang.

Ia menunduk, merangkul leher dan mencium Kwan Bi yang masih pingasan dengan mesra dan lama!

Dengan hati geli ia mendengar betapa Tan Liu Nio mengeluarkan suara menyumpah-nyumpah dan meludah, sedangkan laki-laki berkumis itu membentak lagi.

"Kami mengingat Ayahmu ketua Beng-kauw, dengan baik-baik minta kembalinya adik seperguruan kami. Akan tetapi bukan berarti kami takut kepadamu! Jangan sesalkan kami kalau kami menggunakan kekerasan apabila kau membangkang!"

Lu Sian tertawa mengejek dan ringan bagaikan seekor kupu-kupu ia melompat keatas cabang pohon dan dari situ ia melayang turun.

Indah sekali gerakannya, indah seperti seorang dewi kahyangan menari dan seperti seekor kupu-kupu terbang melayang mencari madu kembang.

Dengan ringan sekali ia melompat pula kedepan empat orang murid Siauw-lim-pai itu sambil berkata.

"Betul kalian tidak takut kepadaku? Kalau tidak takut, kenapa kalian mau mengeroyokku berempat?"

Lu Sian berkata sambil tersenyum manis.

"Siapa hendak mengeroyok? Tak tahu malu! Kami orang-orang Siauw-lim-pai bukanlah pengecut yang suka mengandalkan jumlah banyak mencari kemenangan!"

Bentak Si Muka Halus yang bernama Long Kiat.

"Aih, aih, begitukah? Jangan-jangan hanya untuk bersombong saja begitu, nanti kalau suah terdesak lalu melolong-lolong minta bantuan kawan dan sambil menebalkan muka kalian berempat maju berbareng!"

"Cukup, kami datang bukan untuk berdebat!"

Kata Si Kumis yang bernama Lo Keng Siong.

"Kuulangi lagi, kami datang untuk membawa pulang Yap Kwan Bi, tidak ada sangkut-pautnya dengan kau!"

"Wah, jangan galak-galak. Bagaimana tidak ada sangkut-pautnya dengan aku? Kalian hendak membawa pulang dia untuk dipukul lagi? Untuk dihukum? Enak saja! Aku yang tidak suka membiarkan dia disiksa."

Si Muka Kurus yang bernama Tan Bhok, kakak misan Tan Liu Nio, tak sabar lagi.

Sambil menudingkan telunjuknya yang hanya tulang terbungkus kulit itu kearah muka Lu Sia ia membentak.

"bocah setan banyak tingkah! Kami datang berurusan dengan Sute kami sendiri, mengapa kau turut campur? Kau berhak apakah mencampuri urusan dalam orang-orang Siauw-lim-pai seperti kami!"

"Huh, kalian berempat dan semua orang Siauw-lim-pai yang tak tahu malu! Kalian semua berhak apa mencampuri urusan pribadi Yap Kwan Bi dan aku? Kami saling mencinta, kalian tahu? Kami saling mencinta, dan kami berhak, sama-sama muda sama-sama suka, kalian mau apa? Tentu saja aku tidak membiarkan kalian membawa pergi Yap Kwan Bi yang sudah terluka oleh Si Keledai Gundul tadi!"

"Kurang ajar kau! Sekali lagi kuperingatkan, lebih baik kau mundur dan jangan mencampuri urusan Siauw-lim-pai!"

Kata Lo Keng Siong marah.

"Tidak bisa tidak mencampuri urusan Yap Kwan Bi. Pendeknya, aku melarang kalian membawanya pergi, habis perkara!"

"Kau menantang?"

Kumis Lo Keng Siong bergerak-gerak.

"Terserah! Aku sudah berjanji bahwa orang hanya dapat membawa tubuh Yap Kwan Bi kalau aku sudah menjadi mayat!"

"Iblis betina, kau sudah bosan hidup?"

"Hi-hik, kalian hendak mengeroyok?"

Lu Sian mengejek.

"Kunasihatkan kalian, kalau memang hendak memaksa dan hendak menyerangku, lebih baik kalian maju berempat mengeroyokku, karena kalau maju seorang demi seorang berarti mengantar nyawa dengan sia-sia!"

"Perempuan sombong!"

Bentak Liong Kiat marah.

"twa-suheng, biar siauwte mengusir iblis betina ini!"

"Eh, eh, benar-benar hendak maju satu-satu? Awas, aku sudah memberi peringatan. Karena Kwan Bi juga murid Siauw-lim-pai, aku tidak bermaksud memusuhi Siauw-lim-pai, akan tetapi kalau kalian mendesak, jangan salahkan kaki tanganku yang tidak bermata."

"Sombong!"

Liong Kiat sudah menerjang dengan Ilmu Silat Tangan Kosong Lo-han-kun yang terkenal tangguh itu.

Dengan kuda-kuda terpentang dan langkah diseret hampir berbareng, ia melancarkan pukulan bertubi-tubi kearah dada dan pusar.

Berat dan mantap pukulan ini, mendatangkan angin pukulan yang mengeluarkan bunyi "werrrr-werrr!"

Lu Sian menggerakkan tangannya dengan jari terbuka.

Dengan telapak tangannya ia menerima kedua kepalan tangan amatlah kuatnya.

Ia tidak melawan, melainkan meminjam tenaga pukulan Liong Kiat, kedua kakinya diayun ke belakang sehingga tubuhnya dengan kedua tangan masih menempel pada kepalan lawan, terangkat naik ke atas.

Selagi Liong Kiat terkejut sekali menyaksikan penyambutan lawan yang luar biasa ini, tiba-tiba Lu Sian sudah mengirim pukulan dengan sodokan jari tangan kanannya mengarah ubun-ubun kepalanya.

Karena pada saat itu tubuh Lu Sian berada tepat di atasnya, maka serangan itu luar biasa dahsyat dan bahayanya, amat cepat datangnya sehingga sukar ditangkis lagi!

"Sute, awas....!"

Lo Keng Siong berseru kaget sekali sambil melompat dekat diikuti Tan Bhok dan Tan Liu Nio.

Pada saat yang amat berbahaya itu, Liong Kiat masih sempat mempelihatkan bahwa murid Siauw-lim-pai tidaklah semudah itu dirobohkan.

Ia membuang tubuhnya ke belakang, roboh terjengkang bagaikan sepotong balok kayu akan tetapi begitu pundaknya menyentuh tanah, ia sudah melakukan poksai (salto) ke belakang, berjungkir balik sampai tiga kali.

Ia berdiri dengan muka pucat dan keringat dingin membasahi dahinya.

Bergidik ia kalau teringat betapa dalam segebrakan saja ia tadi sudah hampir tercengkeram maut.

Lu Sian sudah berdiri sambil tersenyum manis.

Memang kepandaian Lu Sian sekarang jauh bedanya dengan ketika ia mula-mula meninggalkan suaminya, Kam Si Ek.

Sekarang ia telah memperoleh kemajuan yang amat hebat.

Gin-kangnya sudah terlatih baik dan yang ia warisi dari Tan Hui adalah ilmu gin-kang yang terhebat di jaman itu.

Juga ia telah mempelajari tiga macam kitab Sam-po-cin-keng dari ayahnya, maka baik ilmu silat tangan kosong maupun ilmu pedangnya sudah meningkat beberapa kali lipat, ditambah gerakan yang luar biasa cepatnya berkat gin-kang Coan-in-hui.

"Sudah kukatakan, lebih baik kalian mundur dan jangan ganggu aku dan Yap Kwan Bi. Atau kalau kalian nekad mengajak berkelahi, majulah berbareng. Kalau satu-satu, percuma, tidak akan ramai!"

Bukan main pedas dan tajamnya kata-kata ini memasuki dada keempat orang murid Siauw-lim-pai itu.

Akan tetapi melihat kenyataan bahwa memang ilmu kepandaian wanita ini seperti iblis, bukan lawan mereka kalau maju seorang demi seorang.

Bahkan seandainya Cheng Han Hwesio sendiri yang maju, belum tentu saudara seperguruan itu akan dapat menandingi Lu Sian.

"Kau menantang kami maju berempat?"

Kata Lo Keng Siong hati-hati.

"Hi-hik, mengapa Tanya-tanya lagi? Majulah bersama, biar lebih asyik aku melayani kalian berempat."

"Bukan kami takut maju seorang demi seorang, akan tetapi kau menantang dan kau terlalu menghina. Ji-wi Sute (Kedua Adik Seperguruan) dan Sumoi, mari kita basmi iblis betina sombong ini!"

Seru Lo Keng Siong sambil mencabut senjatanya, sebatang ruyung berwarna hitam yang tadinya ia sembunyikan dibawah bajunya.

Tan Liu Nio dan Liong Kiat mencabut pedang masing-masing, sedangkan Tan Bhok mengeluar kan senjatanya yang hebat, yaitu sehelai rantai baja.

Mereka segera mengambil kedudukan empat penjuru, mengurung Lu Sian dengan gerakan perlahan dan langkah teratur, mata tak berkedip memandang lawan yang terkurung ditengah-tengah!

Lu Sian masih tersenyum, kedua kakinya membuat kuda-kuda menyilang, tubuhnya miring, kedua lengannya diangkat ke atas, melengkung di atas kepala dengan jari-jari tangan terbuka.

Pasangan kuda-kudanya ini amat manis seperti orang menari, akan tetapi menyembunyikan kesiapsiagaan yang lengkap dan gagah.

"Keluarkan senjatamu!"

Bentak Lo Keng Siong yang menjadi pimpinan sambil mengangkat ruyungnya keatas.

"Aku sudah siap, seranglah. Mengeluarkan senjata tak usah kau perintah!"

Jawab Lu Sian seenaknya.

"Ciuuuttt.... siiing... weeerrrr!!"

Keempat senjata itu sudah menyambar ganas.

Sinarnya tertimpa cahaya bulan menyilaukan mata.

Akan tetapi keempatnya hanya mengenai angin karena tibuh Lu Sian sudah lenyap menjadi bayangan yang berkelebatan dan menyelinap di antara sinar keempat senjata itu.

Bukan main hebatnya gin-kang Coan-in-hui itu!

Makin hebat empat senjata itu menyambar dan mengikuti gerakan bayangannya, makin cepat pula Lu Sian bergerak dan mendadak "cranggg.....

cringgg....

tranggg-trang!"

Bunga api berpijar dan berhamburan.

Tanpa dapat diikuti pandang mata lawan, tahu-tahu Lu Sian sudah memegang Toa-hong-kiam di tangan kanannya dan sekaligus ia telah menangkis keempat buah senjata lawan.

Hanya Tan Liu Nio seorang yang merasa betapa tangan kanannya yang memegang pedang serasa lumpuh karena ia kalah tenaga.

Akan tetapi tiga orang murid Siauw-lim-pai yang lain dengan girang mendapat kenyataan bahwa biarpun dalam gin-kang mereka kalah jauh oleh Lu Sian, namun mengenai tenaga sin-kang, setidaknya mereka dapat mengimbangi.

Maka mereka mendesak makin hebat, mengerahkan tenaga dan berusaha mengadu senjata agar pedang di tangan puteri Beng-kauwcu itu terpukul lepas.

Namun Lu Sian adalah seorang yang amat cerdik.

Ia maklum bahwa tidak menguntungkan baginya kalau ia mengadu tenaga kekerasan dengan tiga orang laki-laki yang memiliki lwee-kang hampir sempurna ini, maka ia lebih mengandalkan kelincahan gerakannya untuk mengelak dan balas menyerang.

Karena ia lebih banyak mengelak inilah maka empat orang pengeroyoknya mengira bahwa ia terdesak.

Orang-orang Siauw-lim-pai amat berdisiplin dan selalu mentaati guru mereka.

Karena tadi mereka berempat sudah mendengar sendiri betapa suhu mereka, Kian Hi Hosiang, tidak menghendaki permusuhan dengan Beng-kauw, bahkan sudah mengampuni Lu Sian, kini mereka merasa tidak enak sekali kalau sampai membunuh Lu Sian.

"Tok-siauw-kwi, kami mentaati guru kami mengampunkan engkau. Pergilah dari sini dan jangan mencampuri urusan Siauw-lim-pai!"

Kata Lo Keng Siong dengan suara keras.

Inilah salahnya.

Tadinya Lu Sian hanya ingin mempermainkan mereka saja, mengalahkan mereka dengan ilmunya kemudian lari lagi membawa pergi Yap Kwan Bi.

Akan tetapi mendengar ucapan ini, bangkit kemarahan dan keangkuhannya.

Dia memang seorang yang keras hati, pantang dikatakan kalah.

Mendengar ini, darahnya bergolak dan ia mengeluarkan seruan nyaring, merupakan lengking lebih mirip suara iblis siluman.

Akan tetapi pedangnya kini bergerak secara luar biasa, bergelombang dan berubah menjadi gulungan sinar yang membentuk lingkaran-lingkaran besar lalu berubah lagi menjadi gelombang-gelombang yang datang menerjang ganas.

Inilah Toa-hong Kiam-sut yang kini telah menjadi ganas dan luar biasa dahsyatnya.

Ditengah-tengah lengkingnya yang belum putus, terdengar teriakan ngeri dan tampak Liong Kiat terguling roboh dalam keadaan mengerikan karena pundaknya telah terbabat putus berikut lengan kanannya.

Ia bergelimpangan mandi darah, berlojotan dan tak dapat mengeluarkan suara lagi.

"Tok-siauw-kwi, hutang jiwa harus dibayar jiwa!"

Teriak Lo Keng Siong marah sekali.

"Tok-siauw-kwi, berani kau membunuh Suteku?"

Tan Bhok juga membentak dan rantainya berdesing-desing menyambar.

Lu Sian tertawa bergelak, lalu melompat mundur.

Ketika ketiga orang pengeroyoknya yang menyangka dia hendak kabur itu mendesaknya, tiba-tiba tangan kirinya bergerak dan...

sinar merah menyambar kearah mereka!

"Celaka....!"

Tan Liu Nio berseru.

Karena dia berada paling belakang, maka ia sempat melihat gerakan ini dan dapat mengelak.

Akan tetapi dua orang suhengnya yang jaraknya terlalu dekat, terlambat mengelak.

Mereka dapat melindungi tubuh atas dengan putaran senjata, akan tetapi paha kanan masing-masing telah terkena jarum Siang-tok-ciam!

Seketika hidung mereka mencium bau amis akan tetapi harum, maka maklumlah mereka bahwa mereka terkena senjata beracun.

Namun keduanya masih belum roboh dan masih memutar senjata.

Lu Sian tidak berhenti sampai di situ, begitu tangan kirinya menyambitkan jarum, ia telah menerjang maju lagi mainkan pedangnya dengan jurus dari Ilmu Pedang Toa-hong Kiam-sut yang dahsyat.

Dua kali pedangnya berkelebat dan robohlah Lo Keng Siong yang tertembus pedang lehernya, dan Tan Bhok yang hampir putus pinggangnya, perutnya robek dan isi perutnya keluar.

Mereka berdua tidak menderita lama, cepat menghembuskan napas terakhir menyusul arwah Liong Kiat yang tewas lebih dulu.

"Tok-siauw-kwi, kau benar keji dan ganas...!"

Tan Liu Nio marah sekali dan menjadi nekat, menyerbu dengan pedangnya. Sambil tersenyum Lu Sian menangkis dan mengerahkan tenaga.

"Tranggg...!"

Pedang Tan Liu Nio terlepas dari tangannya.

Dengan kakinya Lu Sian menendang, membuat tubuh Tan Liu Nio roboh terguling, kemudian matanya yang sudah menjadi beringas itu berkilat ketika pedangnya ditusukkan kebawah.

"Trangggg!"

Lu Sian meloncat ke belakang, wajahnya pucat, matanya terbelalak memandang kepada Yap Kwan Bi yang ternyata telah menangkis pedangnya.

"Kau... kau Tok-siauw-kwi....??"

Dengan pedangnya Kwan Bi menuding kepada kekasihnya.

"Orang menamakan aku begitu, namaku Lu Sian, kau tahu...."

"Kau.... kau perempuan hina...! Kau telah membunuh tiga orang Suhengku dan hendak membunuh Suciku? Keparat jahanam! Kubunuh engkau....!"

Yap Kwan Bi menyerang, akan tetapi karena tubuhnya masih lemah, sekali ditangkis ia roboh terguling, dan Lu Sian yang mukanya menjadi pucat itu tiba-tiba meludah.

"Cih, kiranya kau pun sama saja! Laki-laki berhati palsu! Mual perutku melihatmu!"

Setelah berkata demikian, sekali berkelebat Lu Sian lenyap dari tempat itu.

Yap Kwan Bi menangis menggerung-gerung ketika menyaksikan keadaan tiga orang suhengnya yang tewas dalam keadaan demikian mengerikan.

ia menjambaki rambutnya dan memukuli kepalanya sendiri seperti orang gila.

Percuma saja Tan Liu Nio menghiburnya.

Akhirnya murid wanita Siauw-lim-pai itu berlari cepat melaporkan ke kuil Siauw-lim-si.

Tentu saja berita ini menimbulkan geger.

Cheng Han Hwesio dan Cheng Hie Hwesio sendiri bersama beberapa orang sute berlari-lari kearah hutan itu dan apa yang mereka dapatkan?

Yap Kwan Bi telah tewas di samping ketiga orang suhengnya, lehernya hampir putus dan tangan kanan penuh darahnya sendiri.

Ia telah membunuh diri karena telah menyesal!

Sementara itu, Lu Sian sudah mempergunakan Ilmu Coat-in-hui untuk berlari cepat sekali.

Ia merasa kecewa dan menyesal.

Ia benar-benar muak mengingat kepalsuan cinta kasih Kwan Bi yang tadinya dikira benar-benar suci murni.

Bahkan pengalaman ini membuat ia makin muak terhadap laki-laki, makin tidak percaya, dan makin sakit hati.

Di samping kekecewaannya, ia pun merasa girang bahwa ia berhasil mengambil kitab Ilmu Im-yang-tiam-hoat dari Siauw-lim-pai.

Ia gemas kepada orang-orang Siauw-lim-pai yang telah menghancurkan ikatan cinta kasihnya dengan Kwan Bi, maka kini pikirannya tertuju kepada Su Pek Hong atau Su-nikouw di Kuil Kwanim-bio.

Ia harus dapat merampas kepandaian nikouw itu, ilmu yang membuat ia selamanya takkan menjadi tua!

Ia akan memaksa pendekar wanita Siauw-lim-pai itu untuk menyerahkan rahasia kepandaiannya!

Hari telah malam ketika ia tiba di Kuil Kwan-im-bio.

Kuil itu telah menutup daun pintu depan, akan tetapi sebuah lampu gantung menerangi ruangan depan, Lu Sian menghampiri pintu dan mengetuk.

Terdengar suara langkah kaki dari dalam menuju pintu dan sebelum daun pintu dibuka, suara lembut seorang pendekar wanita bertanya.

"Siapakah yang datang diluar dan ada keperluan apa malam-malam mengunjungi Kwan-im-bio?"

"Aku Lu Sian, mohon bertemu dengan Su-nikouw!"

Ketika Su-nikouw keluar dan melihat Lu Sian, ia tersenyum ramah dan menegur.

"Eh, kiranya Lu-lihiap yang datang. Keperluan apakah gerangan yang membawa Li-hiap malam-malam datang mengunjungi tempatku yang buruk? Dan dimana adanya Kwan Bi?"

Akan tetapi nikouw ini mengerutkan keningnya ketika melihat pandang mata Lu Sian amat berlainan dengan beberapa hari yang lalu, bahkan ia melihat Lu Sian membanting kaki lalu berkata tak manis.

"Tak perlu kita berpanjang kata, Su-nikouw. Kedatanganku ini hanya perlu minta kepadamu agar kau membuka rahasiamu tentang ilmu awet muda!"

Lu Sian mengancam dengan suara dan pandang matanya.

Kalau kemarin dulu ketika datang kesini bersama Kwan Bi ia merasa suka kepada pendeta wanita yang awet muda ini, sekarang ia memandangnya dengan mata benci dan Su-nikouw kelihatan tidak menyenangkan hatinya lagi.

Memang pengaruh rasa benci amat jahat, membutakan mata.

Karena ia merasa sakit hati kepada Siauw-lim-pai, menimbulkan benci dihatinya dan siapa pun orangnya yang sudah mabok rasa benci, pandang matanya akan berbalik!

Akan tetapi Su-nikouw orangnya sabar.

Ia sudah mampu menguasai batinnya dan ia memandang Lu Sian dengan senyum wajar.

"Li-hiap, biarpun pinni merasa heran sekali atas perubahan sikapmu ini, namun penolakan pinni bukan disebabkan oleh sikapmu, melainkan karena rahasia ini kalau terjatuh ketangan wanita yang belum sadar akan kebenaran, hanya akan merugikan dirinya sendiri saja. Kemudaan dan kecantikan pada usian tua hanya akan menyelewengkan hati, membesarkan nafsu, dan percayalah, kelak diwaktu kau sudah berusia tua, kecantikan dan kemudaan yang disertai nafsu itu akan menyeretmu ke lembah kesengsaraan belaka.

"Tak usah banyak cerewet!"

Lu Sian membentak.

Lajim, orang yang sudah membenci seorang yang lain, apa pun yang keluar dari mulut orang yang di benci itu selalu diterima keliru dan tak dipercaya.

"Kau serahkan secara baik-baik atau dengan paksaan, aku harus mendapatkan rahasia itu!"

Su-nikouw menghela napas.

"Lu-lihiap, pikiranmu sedang kacau, batinmu sedang gelap. Biarlah lain kali kau datang kembali bersama Yap Kwan Bi, kita bicarakan hal ini perlahan-lahan secara baik-baik."

Alis yang hitam kecil itu bergerak, disusul gerakan tangan kiri dan Su-nikouw cepat mengelak dengan menjatuhkan diri kebelakang.

Namun terlambat.

Jalan darah di pundak kirinya tertusuk sebatang Siang-tok-ciam!

Nikouw itu terhuyung lalu menjatuhkan dirinya di atas sebuah kursi, memandang pada Lu Sian dengan mata terbuka lebar saking heran dan kagetnya.

Sambil tersenyum dingin Lu Sian berkata perlahan.

"Kau sudah terluka Siang-tok-ciam, obat pemunahnya hanya padaku. Lekas kau keluarkan rahasia ilmu awet muda untuk ditukar dengan obat pemunahku."

Su-nikouw yang masih duduk diatas kursi kelihatan tenang-tenang saja.

"Omitihud.... kau ini wanita muda sungguh ganas, kasihan sekali kau tersesat jauh tanpa kau sadari! Seorang pertapa seperti aku ini, menganggap kematian sebagai pembebasan jiwa daripada kurungan raga yang banyak kehendak dan lemah. Racun jarummu yang mengancam nyawaku sama sekali tidak membikin pinni takut."

Diam-diam Lu Sian menjadi kecewa sekali.

Celaka, pikirnya.

Ia tidak bermaksud membunuh, hanya mengancam, akan tetapi kalau wanita gundul ini nekat menghadapi kematian, tidak mau menukar obat pemunah dengan rahasia ilmu awet muda, bagaimana?

"Nikouw bandel!

Mengapa hendak kaukangkangi sendiri ilmu itu?

Apakah kau hanya ingin muda sendiri dan cantik sendiri?

Ilmu seperti itu saja mengapa kau hargai daripada nyawamu?"

Su-nikouw menggeleng kepala.

"Ilmu ini adalah ilmu yang bersumber pada ilmu dari Siauw-lim-pai, ilmu menguatkan tubuh pelajaran Siauw-lim-pai yang kuperkembangkan. Merupakan rahasia Siauw-lim-pai, tak boleh sembarangan diajarkan orang luar, apalagi untuk maksud buruk. Tidak, biarlah kau pergi, pinni akan mati tanpa mengeluh!"

Tiba-tiba Lu Sian tertawa.

"Hi-hik, enak saja kau ingin mati. Mana aku membiarkan kau mati begitu saja kalau kau tidak mau membuka rahasia itu? Ketahuilah, Su-nikouw, racun jarumku itu memiliki daya pembangkit nafsu berahi! Racun Ngo-tok-hwa (Lima Bunga Beracun) telah mengalir didalam jalan darahmu. Tidak terasakah olehmu Nikouw tolol, betapa ujung hidungmu mencium bau wangi dan tulang punggungmu berdenyut keras? Sebelum mati oleh racun, kau terserang oleh rangsangan berahi dan aku akan mengerammu dalam kamar bersama seorang laki-laki yang kupaksa menemani mu. Hendak kulihat, bagaimana malunya jiwamu kalau pada saat kematianmu engkau melakukan pelanggaran yang paling besar bagi seorang pendeta wanita!"

Napas Su-nikouw terengah-engah, mukanya pucat dan matanya memandang penuh kengerian.

"Ah, jangan.... jangan....! sebenarnya siapakah engkau ini, begini keji?"

"Orang menyebutku Tok-siauw-kwi."

"Aahhh... kiranya engkau Tok-siauw-kwi...?"

Nikouw itu makin ketakutan, karena ia mendengar nama julukan ini sebagi seorang tokoh kang-ouw yang amat keji dan ganas, maka ancaman tadi bukan tak mungkin dilakukan oleh Tok-siauw-kwi yang terkenal kejam.

Pula, ia memang sejak terluka tadi mencium bau harum yang aneh dan memang betul tulang punggungnya berdenyutan keras!

Tentu saja sebagai seorang tokoh Siauw-lim-pai yang lebih mementingkan pelajaran batin, nikouw ini tidak tahu tentang segala racun, dan ia tidak tahu bahwa Lu Sian sebenarnya membohong.

Siang-tok-ciam yang merah itu memang berbahaya dan racunnya cukup jahat untuk merampas nyawa korbannya, akan tetapi sekali-kali tidak akan menimbulkan gejala nafsu berahi segala.

Dia sengaja mengeluarkan ancaman ini karena dengan tepat ia menduga bahwa hal seperti itu jauh lebih mengerikan daripada kematian bagi seorang wanita pertapa yang saleh!

"Bagaimana?

Aku mengenal seorang kepala rampok dalam hutan, usianya tiga puluh tahun, tubuhnya tinggi besar seperti raksasa, mukanya penuh cambang bauk dan kaki tangan serta dadanya juga penuh bulu seperti monyet.

Dia tunduk kepadaku dan dia amat suka kepada wanita yang wajahnya bersih.

Tentu dia akan senang sekali mendapatkan engkau yang masih kelihatan muda dan cantik ini!"

Su-nikouw bergidik.

Meremang bulu tengkuknya mendengar gambaran tentang laki-laki itu.

Tak tertahan lagi ia menangis, hal yang selama sepuluh tahun lebih tak pernah ia lakukan.

"Baiklah, baiklah...., kuberikan rahasia ilmu itu kepadamu."

Ia lalu masuk kedalam kamar dan keluar lagi membawa sebuah kitab tipis tulisan tangan hasil pekerjaannya sendiri.

"Tidak mudah mencapai tingkat seperti aku."

Katanya.

"Untuk dapat mengalahkan kerusakan kulit daging dan tulang, kau harus memiliki dasar ilmu I-kin-swe-jwe (Ganti Otot Cuci Sumsum) dan untuk pelajaran itu, menyesal pinni tidak dapat memberi karena kitabnya tersimpan di Siauw-lim-pai. Akan tetapi seorang berkepandaian tinggi seperti engkau ini tentu akan dapat mempelajarinya dengan mudah. Hanya saja, ilmu I-kin-swe-jwe yang paling hebat didunia ini hanyalah dari Go-bi-pai, disamping Siauw-lim-pai tentu saja. Nah, setelah kau memiliki ilmu itu, engkau pelajari samadhi seperti tertunjuk dalam kitab ini, dan makan akar dan daun yang sudah tertulis lengkap pula disitu."

Cepat Lu Sian menyambar kitab itu dan membuka-bukanya sebentar.

Ia percaya bahwa nikouw itu tidak akan membohonginya, maka ia pun lalu mengeluarkan obat pemudah dari sakunya sambil tertawa.

"Siang-tok-ciam senjata rahasiaku memang mematikan, akan tetapi mana bisa membangkitakan nafsu berahi?"

Nikouw itu marah sekali, bangkit berdiri dan menahan diri sedapatnya untuk tidak memaki-maki.

Akan tetapi setelah memberikan obat pemunahnya, Lu Sian sudah melompat keluar dan menghilang ditempat gelap sambil membawa kitab yang amat diinginkannya itu.

Su-nikouw kembali menjatuhkan diri diatas kursi dan menarik napas panjang berkali-kali.

"Su Pek Hong... Su Pek Hong..... inilah hukumannya kalau orang tidak mentaati nasehat guru! Mendiang Suhu dahulu pernah bilang bahwa ilmu awet muda ini mengandung sifat berbahaya dan tidak baik karena menentang hukum alam! Betul kau hanya menghendaki awet muda demi kesehatan, namun wanita lain tentu akan menganggapku pesolek dan ingin cantik selalu. Dan wanita yang selalu ingin cantik seperti ingin mendapat perhatian dan pujian laki-laki. Ah, betapa memalukan. Su Pek Hong, kau sudah tua, mengapa tidak mau menerima kekuasaan alam? Jadilah nenek-nenek yang penerima, hadapilah kematian usia tua yang sewajarnya, dan tentu tidak akan mengalami hal yang begini memalukan..."

Dengan wajah duka pendeta wanita ini lalu mempergunakan obat pemunah racun yang ditinggalkan Lu Sian.

Harta benda, kepandaian, dan kekuasaan duniawi adalah anugerah, bukti kemurahan Tuhan kepada manusia.

Namun, dalam anugerah ini terbawa pula ujian yang amat berat.

Siapa yang kuat menerima anugerah ini, ia akan dapat menikmatinya lahir batin.

Sebaliknya, mereka yang tidak kuat menghadapi ujian ini, hanya akan menikmati pada lahirnya saja, sedangkan pada batinnya mereka akan mengalami kemunduran yang akan membawa mereka kepada kesengsaraan.

Namun diantara tiga macam anugerah itu, yang paling berbahaya akibatnya bagi mereka yang tidak kuat adalah kekuasaan.

Harta benda dapat menjadikan orang menjadi hamba nafsunya sendiri, kepandaian dapat menjadikan orang menjadi sombong, tinggi hati dan memandang rendah orang lain.

Akan tetapi kekuasaan yang timbul dari kekuatan ataupun kedudukan, amatlah berbahaya karena dapat menjadikan orang sewenang-wenang terhadap orang lain, mau menangnya sendiri saja tanpa menhiraukan tatasusila dan perikemanusiaan.

Liu Lu Sian termasuk orang yang mendapat anugerah kekuatan, hasil dari pada banyaknya macam ilmu silat yang ia kuasai.

Makin pandai, makin kuatlah dia dan makin besar kekusaannya terhadap orang lain mentaati kehendaknya.

Ia menjadi mabok akan kekuatan sendiri, ingin menang sendiri dan tidak peduli akan perikemanusiaan.

Makin ia turuti nafsunya makin hebatlah nafsu menggulung dirinya.

Makin ia turuti kemurkaannya akan ilmu, ia makin tidak puas dan menghendaki lebih.

Sepak terjangnya makin liar menjadi-jadi, sehingga beberapa tahun kemudian nama Tok-siauw-kwi menggemparkan dunia persilatan sebagai seorang tokoh yang ganas, liar, kejam dan ditakuti.

Untuk mematangkan ilmu yang dirampasnya dari Su-nikouw, seorang diri Lu Sian memasuki Go-bi-pai dan berhasil mencuri kitab Cap-sha-seng-keng (Kitab Ilmu Tiga Belas Bintang) yang selain mengajarkan latihan lwee-kang dan langkah-langkah kaki, juga Ilmu I-kin-swe-jwe (Ganti Otot Mencuci Sum-sum) seperi yang ia butuhkan.

Ilmu kepandaiannya meningkat cepat sekali dan kini Tok-siauw-kwi Liu Lu Sian benar-benar menjadi seorang wanita sakti yang sukar dicari tandingannya.

Di Go-bi-pai ia dikeroyok para hwesio, akan tetapi sanggup melarikan diri dengan hanya menderita luka ringan setelah merobohkan banyak hwesio Go-bi-pai yang terkenal konsen!

Bukan hanya Go-bi-pai yang ia serbu, juga ia naik ke Puncak Hoa-san, mencuri pedang pusaka Pek-giok-kiam (Pedang Pusaka Kumala Putih) yang menjadi pedang pusaka Hoa-san-pai.

Dalam pertempuran ia dikeroyok dan berhasil merobohkan lima orang anak murid Hoa-san-pai yang tewas oleh pedangnya yang ganas dan dahsyat.

Kemudian ia lari lagi sehingga semenjak saat itu ia menjadi seorang buruan dicari dan dikejar oleh orang-orang Siauw-lim-pai, Go-bi-pai dan Hoa-san-pai!

Namun berkat gerakannya yang lincah, gin-kangnya yang tinggi serta kecerdikannya yang seperti setan, ia selalu berhasil meloloskan diri.

Bukan hanya itu semua kehebohan yang ia perbuat didunia kang-ouw.

Banyak golongan persilatan yang sengaja ia datangi untuk diajak bertanding, mengalahkan ketuanya dan merobohkan banyak sekali tokoh kenamaan sehingga namanya menjulang tinggi, bahkan melewati nama besar ayahnya sendiri, Pat-jiu Sin-ong!

Yang paling hebat adalah ketika ia mendatangi Kong-thong-pai karena mendengar berita bahwa Ilmu Pedang Kong-thong-pai amat lihai.

Ia datang sengaja hanya untuk menantang ketua Kong-thong-pai bertanding ilmu pedang!

Juga di Kong-thong-pai ini Lu Sian merobohkan banyak tokoh, sungguhpun ia belum sanggup mengalahkan ilmu pedang Ketua Kong-thong-pai yang bernama Kim Leng Tosu.

Namun ia menang cekatan dan lincah sehingga kekalahannya dalam ilmu pedang dapat ia atasi dengan kelincahannya.

Demikianlah selama sepuluh tahun Lu Sian malang-melintang didunia kang-ouw, ilmu kepandaiannya makin hebat, akan tetapi berkat ilmunya awet muda, wajahnya masih tetap cantik jelita, Tubuhnya menyiarkan keharuman yang khas sedangkan bentuk tubuhnya masih menggairahkan seperti seorang gadis remaja.

Betapa pun liar dan ganas watak Lu Sian, sebagai seorang ibu kadang-kadang ia merasa rindu kepada puteranya, Bu Song.

Rasa rindu inilah yang akhirnya membawa kedua kakinya melangkah menuju propinsi Shansi.

Pada waktu itu, Kerajaan Cin Muda telah roboh, terganti dengan kerajaan baru yang disebut Kerajaan Han Muda.

Propinsi Shan-si telah berdiri sendiri dan menjadi Kerajaan Hou-han.

Akan tetapi alangkah kecewa hatinya ketika ia mendengar kabar bahwa bekas suaminya, Kam Si Ek, telah meletakkan jabatan dan telah pindah.

Tak seorang pun tahu kemana pindahnya Kam Si Ek, bekas suaminya.

Hatinya menjadi dingin kembali dan ia hanya percaya bahwa puteranya, Bu Song, tentu saja hidup aman sentausa disamping bekas suaminya.

Sambil makan disebuah rumah makan di kota raja Hou-han, Lu Sian termenung.

Kalau teringat akan puteranya, ingin ia menangis.

Namun hatinya yang keras mencegahnya berduka lebih lama lagi.

"Lebih baik dia tidak mengenal aku sebagai ibunya,"

Demikian pikirnya.

Bagaimana kalau puteranya itu bertemu dengannya dan mengenalnya sebagai seorang ibu yang meninggalkan anaknya?

Apalagi kalau mengenal bahwa ibunya adalah Tok-siauw-kwi, iblis betina yang ditakuti orang?

Lu Sian tersenyum dan dengan gemas ia meneguk cawan araknya yang kesembilan kalinya.

Cara ia menuangkan arak kemulut dan langsung keperut melalui tenggorokan menandakan bahwa ia sudah biasa dengan minuman keras ini dan memang jarang sekali ada wanita yang dapat minum arak seperti dia itu.

Cara ia minum adalah cara seorang "setan arak"

Benar-benar.

Tiba-tiba Lu Sian menengok kekiri.

Perasaannya yang tajam membuat ia tahu bahwa ia diperhatikan orang dari arah kiri.

Pemuda yang sedang memandangnya itu nampak gugup, hendak menundukkan muka atau pura-pura tidak melihat, namun pandang matanya seakan-akan lekat pada wajah ayu itu.

Lu Sian tersenyum, membuang muka akan tetapi matanya yang tajam mengerling, tajam melebihi pedang.

Hatinya pun tergetar.

Betapa tidak?

Pemuda itu tampan bukan main.

Tubuhnya tinggi tegap, mukanya halus putih seperti muka wanita, namun alisnya hitam tebal, matanya lebar bercahaya terang dan tajam seperti mata harimau.

Wajah tampan dan tubuh tegap seorang pria ganteng selalu masih menggerakkan hati Lu Sian, biarpun usianya sudah empat puluh tahun!

Semenjak hatinya yang mengalami cinta kasih telah dikecewakan oleh Kam Si Ek, Tan Hui dan yang terakhir murid Siauw-lim-pai Yap Kwan Bi, ia menganggap pria hanya manusia jenis lain yang menarik, dan hanya tepat dijadikan permainan belaka untuk memuaskan nafsunya.

Semenjak ia merantau, banyak sudah pria yang jatuh bertekuk lutut oleh kecantikannya yang luar biasa, akan tetapi setelah Lu Sian mempermainkannya dan laki-laki itu benar-benar telah roboh hatinya, selalu Lu Sian meninggalkannya pergi dan tertawa puas melihat bekas kekasih ini menjadi patah hati, menjadi gila atau setengah gila!

Selagi Lu Sian berdebar hatinya bertemu dengan seorang pemuda tampan remaja paling tinggi berusia dua puluh dua tahun ini, tiba-tiba terdengar angin mendesir dan pandang mata Lu Sian yang tajam berkelebatnya senjata rahasia halus menyambar kearah Si Pemuda Tampan!

Melihat sikap pemuda itu yang seorang pemuda pelajar yang tak mengerti ilmu silat, Lu Sian merasa khawatir sekali, maka ia lalu menjemput nasi dengan sumpitnya dan sekali menggerakkan tangan, nasi itu menyambar kearah sinar senjata rahasia menjadi butiran-butiran nasi dan runtuh kebawah tanpa mengeluarkan suara!!

Pemuda itu masih enak-enak minum araknya dan memang ia tidak tahu akan adanya bahaya yang tadi mengancam nyawanya.

Setelah senjata-senjata rahasia jarum itu runtuh terdengar orang berseru diluar rumah makan.

"Biar ada yang melindungi, kita harus bunuh pangeran ini!"

Dan muncullah tiga orang laki-laki tinggi besar yang membawa golok telanjang ditangan.

Pemilik rumah makan dan dua orang pelayannya ketakutan, juga dua orang lain yang sedang duduk makan di situ lari keluar.

Pemuda tampan itu pun kelihatan terkejut sekali mendengar ucapan ini, bangkit berdiri dari kursinya dan mukanya pucat.

Gerakan ini saja menyakinkan Lu Sian bahwa pemuda yang diserang tadi benar-benar tak pandai silat, maka ia melirik kearah tiga orang tinggi besar itu.

Orang-orang yang kasar akan tetapi tidak seperti penjahat.

Betapapun juga, melihat mereka menyerbu kearah pemuda yang kini berteriak.

"Tolong! Tolong!"

Itu, Lu Sian tidak mau tinggal diam saja.

Tangan kirinya bergerak tanpa ia bangkit dari kursinya.

Terdengar tiga orang itu berteriak kesakitan dan roboh bergulingan menabrak meja kursi.

Mata mereka mendelik, dari dalam hidung dan telinga keluar darah dan nyawa mereka sudah putus!

"Keparat dari mana berani membunuh murid-murid keponakanku?"

Terdengar bentakan keras dan melayanglah tubuh seorang tosu yang bersenjata pedang, langsung menghantamkan pedangnya dari atas kebawah tepat diatas kepala Lu Sian!

Wanita sakti ini hanya tersenyum, sama sekali tidak menoleh, akan tetapi tiba-tiba kursi yang didudukinya mencelat kesamping dan ia masih enak-enak duduk diatasnya.

Pedang itu menyambar terus kebawah dan "crakkkkk!!"

Meja yang tadi berada didepan Lu Sian terbelah menjadi dua potong!

Pemuda yang sebenarnya seorang pangeran yang menyamar itu menggigil ketakutan, juga tiga orang pengurus rumah makan kini berjongkok bersembunyi dibalik meja.

Si Tosu ternyata bertubuh tinggi kurus, usianya hampir lima puluh tahun, wajahnya pucat seperti orang berpenyakitan.

Namun menyaksinkan betapa sekali bacok ia dapat membelah meja yang tebal, dapat dibayangkan betapa besar tenaganya dan betapa tajam pedangnya.

Hampir ia tidak percaya ketika pedangnya hanya mengenai meja sedangkan wanita muda yang ia bacok itu masih enak-enak duduk diatas kursi dekat sebuah meja lain.

Ia membalikkan tubuh, mengeluarkan seruan marah dan melompat ke arah Lu Sian, menerjang dengan pedang diputar cepat.

"Trakkk!"

Pedang itu berhenti di tengah-tengah dan kiranya telah terjepit sepasang sumpit yang berada di tangan Lu Sian, Si Tosu mengerahkan tenaga membetot, namun sia-sia karena pedangnya seakan-akan terjepit oleh jepitan baja yang amat kuat.

Mendadak Lu Sian melepaskan jepitannya sehingga Si Tosu terhuyung mundur.

Sepasang sumpit itu melayang ke arah lambung dan leher.

Namun Si Tosu ternyata cukup gesit karena ia mampu membuang diri kesamping dan bergulingan menyelamatkan diri.

Akan tetapi baru saja ia melompat bangun, sinar merah menyambarnya.

Tosu itu memutar pedang dan banyak jarum runtuh, namun sebatang jarum masih dapat menerobos dan menancap didadanya.

Tosu itu mengeluh dan terguling roboh.

Ia mencabut jarum di dadanya dan melihat jarum merah serta mencium bau harum, matanya terbelalak memandang Lu Sian, telunjuknya menuding dan mulutnya berseru.

"Kau... Tok-siauw-kwi....!"

Namun ia tak dapat bicara lebih lanjut karena racun jarum telah mencapi jantungnya dan ia mati dengan mata mendelik.

Lu Sian hanya tersenyum dan masih duduk menghadapi meja.

Tiga orang pemilik dan pengurus rumah makan itu segera keluar dari tempat sembunyi mereka dan berlutut didepan Si Pemuda Tampan.

"Syukur bahwa Tuhan masih melindungi Paduka...."

"Sssst, sudah jangan banyak ribut. Lebih baik lekas laporkan kepada penjaga keamanan kota dan mengurus empat mayat penjahat itu."

Kata Si Pemuda, kini sikapnya agung dan sudah tenang kembali.

Ia lalu melangkah menghampiri Lu Sian, merangkap kedua tangan didepan dada sambil membungkuk memberi hormat.

"Li-hiap (Nona Perkasa) telah menolong nyawa saya, sungguh merupakan budi amat besar dan membuat saya bingung bagaimana saya akan dapat membalas budi itu."

Ucapannya halus dan tutur katanya sopan menyenangkan.

Lu Sian segera bangkit berdiri dan membalas penghormatan orang, bibirnya tetap tersenyum manis kerling matanya benar-benar mengiris jantung.

"Ah, urusan kecil seperti itu bukan berarti menghutangkan budi. Ada orang-orang jahat hendak membunuh Kong-cu, bagaimana saya dapat berpeluk tangan saja?"

Pemuda itu memandang penuh kagum dan ia tidak menyembunyikan rasa kagum ini, bukan hanya kagum akan kehebatan kepandaian wanita ini, namun juga kagum akan kecantikannya yang luar biasa, akan bau harum semerbak yang memabokkannya, yang keluar dari tubuh wanita itu.

(Lanjut ke

Jilid 22) SULING EMAS (Seri ke 02

"Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 22

"Hebat sekali, Li Hiap! Kalau tidak menyaksikan dengan mata sendiri, mana mungkin saya percaya didunia ini ada seorang yang kepandaiannya seperti dewi, sedangkan Li-hiap begini can.... eh, muda? Tadi pun merupakan teka-teki bagi saya siapa gerangan yang membuat tiga orang penyerang saya jatuh tersungkur dan tewas seketika. Kalau tidak ada penyerang ke empat tadi, sampai mati pun saya mungkin tidak percaya bahwa Li-hiap yang telah menolong saya."

Berdebar jantung Lu Sian.

Laki-laki ini sungguh menarik hati dan menyenangkan.

Rasa kagum yang terpancar dari matanya dan pujian yang keluar dari mulutnya sama sekali bukanlah kosong dan menjilat sifatnya, melainkan langsung keluar dari hati.

Ia dapat membedakan hal ini.

Sambil menjura lagi dan memperlebar senyumnya sehingga sedikit deretan gigi putih berkilau tampak, ia berkata.

"Ah, Kongcu terlalu memuji dan membesar-besarkan. Bukankah Kongcu seorang Pangeran, kalau tidak salah pendengaran saya? Inilah yang mengagumkan, melihat seorang pangeran berada diluar istananya dengan berpakaian seperti rakyat biasa, benar-benar jarang sekali dapat ditemui pada jaman kini."

Pemuda itu tersenyum.

"Apa sih bedanya pangeran dan orang biasa? Li-hiap, sekali lagi, katakanlah bagaimana saya harus membalas budimu?"

"Telah saya katakan tadi, tidak ada penghutangan budi. Kalau Kong-cu hendak melakukan sesuatu untuk menuruti permintaanku, saat ini tidak ada keinginan lain di hatiku kecuali keterangan mengapa Kongcu sebagai pangeran diserang oleh empat orang ini dan siapakan mereka?"

Pemuda itu menggerakan kipasnya untuk mengipas leher, padahal ia menggunakan benda itu untuk menutup mulutnya dari orang lain agar kata-katanya tidak terdengar orang lain kecuali Lu Sian, kemudian berkata perlahan.

"Li-hiap disini bukan tempat kita bicara tentang itu. Saya persilakan Li-hiap singgah di gedung kami, sudikah Li-hiap memberi penghormatan itu?"

"Ayaaa....! Kong-cu benar-benar terlalu merendah! Undangan itu justru merupakan kehormatan besar sekali bagiku. Terima kasih Kongcu, tentu saja saya bersedia memenuhi undangan Kongcu."

Pada saat itu terdengar langkah kaki banyak orang dan masuklah tujuh orang berpakaian seragam yang serta-merta menjatuhkan diri berlutut didepan pemuda itu.

"Bangunlah!"

Kata Sang Pangeran dengan sikap berwibawa.

"Urus empat mayat ini dan selidiki kalau-kalau masih ada teman-teman mereka berkeliaran dalam kota!"

Mereka bangkit dengan sikap hormat.

"Sediakan dua ekor kuda untuk kami!"

Kata pula pemuda itu.

Cepat sekali dua orang di antara mereka keluar dan terdengarlah tak lama kemudian derap kaki dua ekor kuda di depan pintu rumah makan.

"Li-hiap, mari kita berangkat."

Ajak Si Pangeran. Ketika Lu Sian hendak membayar harga makanan, cepat-cepat Si Pemilik Rumah Makan mencegah dengan ucapan manis.

"Harap Li-hiap tidak usah repot-repot. Semua yang berada di sini hamba sediakan untuk keperluan Sang Pangeran dan sahabat-sahabat beliau!"

Pangeran itu tersenyum dan mengajak Lu Sian keluar. Dua ekor kuda besar dan lengkap pakaiannya telah tersedia.

"Silakan, Li-hiap,"

Ajak pemuda itu.

Lu Sian tidak sungkan-sungkan lagi, segera melompat ke atas pelana kuda, diikuti oleh pangeran itu.

Mereka segera menjalankan kuda, diikuti pandang mata kagum dari belakang.

Karena pernah tinggal di kota ini bersama suaminya, walaupun jarang keluar Lu Sian mengenal jalan dan tahu pula bahwa pemuda itu mengajaknya memasuki halaman sebuah gedung besar yang dahulu menjadi isatana Gubernur Li!

Hatinya berdebar tidak enak, khawatir kalau-kalau ada orang mengenalnya.

Akan tetapi ia menjadi lega ketika teringat bahwa sudah lewat belasan tahun sejak ia berada disini, pula dahulu ia tidak pernah keluar rumah dan tak pernah bertemu dengan para pembesar ditempat ini.

Selain itu, ia percaya bahwa ilmu awet muda membuat ia takkan dikenal orang, karena biarpun usianya sudah empat puluhan, namun ia tetap kelihatan seperti seorang gadis dua puluh tahun lebih!

Bekas gedung Gubernur Li itu memang kini menjadi istana raja.

Komplek bangunannya banyak sekali dan pemuda ini bertempat tinggal di sebuah gedung sebelah kiri belakang.

Begitu kuda mereka diurus oleh pelayan, mereka memasuki gedung.

Banyak sekali pelayan laki-laki dan wanita menyambut mereka penuh penghormatan.

"Sampaikan kepada Thai-thai (Nyonya Besar) bahwa aku hendak menghadap bersama seorang pendekar wanita yang telah menolongku."

Kata Pangeran itu dengan sikap gembira kepada seorang pelayan wanita.

Mendengar ini, para pelayan memandang Lu Sian penuh perhatian dan kagum.

Pangeran itu mempersilakan Lu Sian duduk di ruang tamu yang amat indah.

Dengan kagum Lu Sian memandangi lukisan-lukisan dan tulisan-tulisan yang bergantungan disepanjang dinding.

Alangkah bedanya dengan suaminya dahulu, pikirnya.

Suaminya itu biarpun seorang jenderal ternama, hidupnya sederhana dan gedungnya tidak semewah dan seindah ini.

"Li-hiap, bolekah saya mengetahui nama Li-hiap yang terhormat?"

Lu Sian terkejut. Kalau ia mengakui namanya, ada bahayanya orang mengenalnya sebagai bekas isteri Jenderal Kam Si Ek! Ia tersenyum manis dan menjawab.

"Saya seorang wanita perantau yang tidak pernah mengingat nama. Seingat saya, nama saya Sian, akan tetapi orang-orang menjuluki saya..."

"Tok-siauw-kwi? Sungguh terlalu ketika aku mendengar tosu keparat itu memakimu Tok-siauw-kwi! Kau patutnya seorang Sian-li (Dewi) dan mungkin Li-hiap benar-benar seorang Dewi karena namanya Sian (Dewa). Biarlah bagi saya, Li-hiap adalah seorang Sian-li dan selanjutnya kusebut begitu.."

"Ah, Kongcu benar-benar membuat saya malu dengan pujian-pujian muluk. Dan siapakah Kongcu? Apakah Thai-cu (Pangeran Mahkota)?"

"Ah, bukan... bukan! Saya hanya seorang pangeran yang lahir dari seorang selir, ibuku selir ketiga dari Sri Baginda. Namaku Lie Kong Hian."

Lu Sian mengangguk-angguk dan pada saat itu muncullah seorang pelayan wanita yang memberitahukan bahwa nyonya besar telah siap menerima puteranya dan seorang sahabatnya.

"Marilah kita menghadap ibu. Beliau tentu girang sekali mendengar bahwa kau telah menolong nyawaku."

Lu Sian hanya tersenyum dan mengikuti pemuda itu memasuki ruangan belakang.

Gedung ini amat besar dan indah, di sebelah dalamnya terdapat taman yang kecil namun indah sekali.

Di sebelah belakang juga terdapat taman bunga yang dihias pintu bulan yang menembus ke taman gedung sebelahnya.

Di ruangan belakang, ibu pemuda itu sudah menanti sambil duduk diatas kursi, seorang wanita yang usianya empat puluh tahun lebih namun masih memperlihatkan sisa-sisa kecantikannya.

Dibelakangnya menjaga dua orang pelayan wanita yang memijit-mijit punggungnya akan tetapi segera disuruh berhenti ketika nyonya itu melihat masuknya Kong Hian dan Lu Sian.

"Ibu....!"

Pemuda itu tanpa memberi hormat lagi merangkul pundak ibunya dengan sikap manja sekali.

"Inilah Nona Sian-li yang telah menyelamatkan nyawa puteramu."

Serta-merta Pangeran itu menceritakan betapa didalam rumah makan ia diserang mata-mata musuh akan tetapi diselamatkan oleh Sian-li (Dewi) yang perkasa ini.

"Nah, itulah jadinya kalau anak tidak mentaati nasihat orang tua."

Sang ibu mengomel.

"Kau senang sekali keluyuran diluar padahal kau tahu bahwa suasananya sedang tidak aman. Kekuasaan-kekuasaan sedang timbul dimana-mana untuk saling berlumba merebutkan kedudukan. Tentu saja seorang pangeran seperti engkau ini menjadi sasaran gemuk. Kong Hian, tanpa keluyuran diluar, kau dirumah kurang apa lagikah? Aahhh, dasar anak sukar diurus....!"

Nyonya itu menarik napas panjang, kemudian menoleh kepada Lu Sian yang berdiri menundukkan muka.

"Nona, banyak terima kasih atas pertolonganmu kepada puteraku. Alangkah akan tenang rasa hatiku kalau dia mempunyai seorang pelindung seperti engkau yang selalu mendampinginya! Agaknya Nona ini seperti Coa Kim Bwee, sayang dia itu menjadi ibu ke tujuh Kong Hian, kalau tidak...."

"Ibu, urusan dalam istana kau sebut-sebut didepan Li-hiap, mana dia tahu? Sudahlah, harap ibu beristirahat, aku mau mengajak tamu kita melihat-lihat taman."

Ibunya tersenyum dan mengedipkan mata, kemudian menggerakkan tangan memberi ijin mereka pergi meninggalkannya.

Sambil berjalan disamping Kong Hian memasuki taman belakang yang lebih besar dari pada taman didalam tadi, diam-diam Lu Sian merasa heran atas sikap selir raja yang ketiga itu.

Begitu bebas, bahkan ada sifat-sifat genit dan agaknya senang melihat puteranya bergaul dengan wanita.

Akan tetapi hanya sebentar saja ia memikirkan hal ini karena segera ia tertarik oleh keindahan taman, kehalusan tutur kata dan ketampanan wajah Kong Hian.

Pemuda pangeran ini pintar sekali mengarang sajak dan mengucapkannya dengan kata-kata berirama sehingga Lu Sian makin tertarik dan teringat kepada Kwee Seng.

Tanpa mereka sadari, percakapan menjadi lebih bebas dan kini mereka duduk berhadapan diantara bunga-bunga, di dekat pintu bulan sambil menikmati keindahan tubuh ikan-ikan emas yang berenang didalam empang teratai.

"Sian-li..."

Lu Sian memandang dengan alis terangkat.

Suara pemuda ini menggetar dan baru sekarang menyebutnya Sian-li begitu saja sedangkan tadinya menyebut Li-hiap atau kadang-kadang juga nona.

Geli hatinya mendengar sebutan Dewi ini, akan tetapi juga senang.

Lebih baik Sian-li (Dewi) daripada disebut Tok-siauw-kwi (Setan Cilik Beracun)!

"Hemmm...?"

Gumamnya sambil mengerling tajam. Dengan gagap pangeran muda itu berkata.

"Aku... aku akan merasa bahagia sekali kalau ucapan ibuku tadi menjadi kenyataan."

"Ucapan yang bagaimana?"

"Kalau kau menjadi pelindung yang selalu mendampingiku!"

Kong Hian menatap tajam dan melihat Lu Sian tersenyum, sama sekali tidak marah, ia lalu memegang tangan wanita itu.

Jari-jari tangan mereka yang mengeluarkan getaran dan saling cengkeram menjadi bukti bahwa hati masing-masing telah menjawab.

Akan tetapi dengan halus dan perlahan Lu Sian menarik tangannya, tersenyum lebar dan berkata.

"Apa salahnya? Akan tetapi sebagai calon pelindung, aku harus tahu lebih dulu mengapa kau perlu dilindungi dan siapakah para penyerangmu tadi, lalu apa syaratnya jika aku menjadi pelindungmu?"

Girang sekali wajah pangeran muda itu karena ia mendapat tanda bahwa wanita ini tidak akan menolaknya! Cepat ia bercerita.

"Empat orang itu adalah orang-orang yang bergabung dengan pemberontak, mereka itu bekas anak buah Jenderal Kam Si Ek yang sudah meletakkan jabatan."

Tentu saja disebutnya nama suaminya ini membuat Lu Sian terkejut, akan tetapi ia dapat menguasai perasaannya dan bertanya.

"Mengapa meletakkan jabatan dan mengapa pula mereka memberontak?"

"Setelah Kerajaan Hou-han didirikan, Jenderal Kam Si EK menentang karena hal itu ia anggap pengkhianatan terhadap kesetiaan kepada Dinasti Tang yang sudah roboh. Dia masih baik, hanya meletakkan jabatannya dan hidup mengundurkan diri ke dusun. Akan tetapi banyak diantara anak buahnya bersekutu dengan tokoh Tang, yaitu bekas Raja Muda Couw Pa Ong untuk memberontak dan selalu berusaha meruntuhkan kerajaan-kerajaan kecil yang sudah bangun, dengan jalan membunuhi para bangsawan dan keluarga raja."

Diam-diam Lu Sian terkejut.

Nama Sin-jiu Couw Pa Ong tentu saja sudah dikenalnya baik-baik, sungguhpun kini ia tidak gentar mendengar nama itu karena ilmu kepandaiannya sudah meningkat hebat, sehingga tidak perlu lagi takut menghadapi orang-orang pandai seperti Couw Pa Ong atau Kong Lo Sengjin yang lumpuh itu.

Melihat Lu Sian tidak terkejut disebutnya tokoh sakti ini, Kong Hian bertanya.

"Apakah Sian-li belum mendengar nama Couw Pa Ong?"

Lu Sian mengangguk.

"Kakek tua bangka lumpuh itu tentu saja pernah aku mendengar namanya, bahkan pernah bertemu dengannya."

Kagetlah hati Pangeran.

"Dan kau tidak gentar menghadapinya?"

"Ah, kakek seperti itu, hanya patut menakut-nakuti anak kecil."

Kong Hian memandang kagum sungguhpun hatinya masih meragu apakah wanita cantik ini benar-benar akan sanggup menghadapi seorang sakti menakutkan seperti Couw Pa Ong.

"Kalau begitu benar-benar aku mendapat perlindungan dewi dari kahyangan!"

Ia berseru girang.

"Kongcu, tadi ibumu menyebut-nyebut nama Coa Kim Bwee yang menjadi ibu ketujuh darimu, siapakah dia dan mengapa ibumu membandingkan dia dengan aku?"

"Ah, dia itu selir ketujuh dari Sri Baginda, maka terhitung ibu ketujuh dariku. Dia masih amat muda, akan tetapi diantara semua penghuni istana, dialah paling lihai ilmu silatnya. Dia itu dahulu puteri seorang jenderal yang berguru kepada orang-orang pandai. Memang dia hebat... eh, betapapun juga dibandingkan denganmu, dia bukan apa-apa!"

Lu Sian tersenyum lagi dan memainkan biji matanya.

"Kau belum tahu sampai dimana kepandaianku, bagaimana bisa menyatakan begitu? Agaknya Coa Kim Bwee itu amat lihai dan kau mengenal baik ibu tirimu itu!"

Wajah Pangeran ini mendadak menjadi merah sekali dan mata tajam Lu Sian dapat menduga bahwa diantara pemuda tampan dan selir ayahnya tentulah ada hubungan mesra.

Sudah banyak ia mendengar tentang selir-selir raja yang masih muda mengadakan hubungan dengan putera-putera raja yang muda dan tampan.

Akan tetapi ia tidak peduli akan hal ini karena sepanjang pengalamannya, tak pernah ia mendapatkan seorang pun laki-laki yang benar-benar hanya mencinta seorang wanita dan benar-benar "setia"

Seperti yang seringkali terdengung dari mulutnya.

"Lie-kongcu, sekarang apakah syarat-syaratnya kalau aku menjadi pengawal pribadimu?"

"Syaratnya? Eh... syaratnya tentu saja kau tidak boleh berpisah dari sampingku, siang.. malam... jadi... eh, kau selalu mendampingiku dan kalau kau suka menerimanya, aku... aku akan berterima kasih sekali. Biar aku berlutut didepanmu....!"

Pangeran muda yang sudah tergila-gila oleh kecantikan Lu Sian itu benar-benar hendak berlutut!

Dengan halus Lu Sian menyentuh pundaknya, melarangnya berlutut.

"Nanti dulu, Kongcu. Kau mempunyai syarat, aku pun mempunyai permintaan sebagai syarat. Pertama, aku harus mendapat kebebasan bergerak didalam istana ini, kecuali tempat tinggal Raja tentu saja."

"Baik, baik, hal itu dapat dilaksanakan."

"Kedua, diluar kehendakku, orang lain tidak boleh bertanya-tanya tentang diriku, dan ketiga, segala permintaanku harus kau turuti, juga setiap saat aku meninggalkan tempat ini, tak boleh ada yang menghalangiku."

"Baik, baik, asal Sian-li suka menjadi pelindungku, pengawal pribadiku yang tak pernah meninggalkanku siang malam..."

"Dan tentang berlutut itu, nanti malam saja boleh kau berlutut sepuas hatimu!"

Mendengar ini, Si Pangeran Muda menjadi girang dan tanpa banyak cakap lagi ia lalu bangkit dan merangkul leher Lu Sian yang mandah saja terbuai dalam belaian Si Pangeran Muda yang muda dan tampan.

Bahkan dengan halus ia berbisik.

"Senja telah lewat, disini sudah mulai gelap dan dingin, lebih baik kita masuk saja."

Menghadapi rayuan seorang wanita yang berpengalaman seperti Lu Sian Pangeran muda itu bertekuk lutut dan benar-benar jatuh.

Sampai-sampai di dalam kamar Pangeran yang mewah dan bersih itu ketika mereka makan minum menghadapi meja, Si Pangeran menuruti segala perintah Lu Sian biarpun ia disuruh minum arak dari sepatu Lu Sian yang dijadikan cawan!

Disuruh berlutut, disuruh mengembalikan perhiasan apa saja yang dikehendaki Lu Sian.

Memang tidak ada kegelian yang lebih menggelikan dapat menghinggapi seorang pria daripada kalau ia sudah tergila-gila kepada seorang wanita!

Dua hari dua malam Lu Sian dan Pangeran Lie Kong Hian tak pernah meninggalkan kamar, tenggelam kedalam permainan nafsu.

Pada pagi hari ketiga, ketika Lu Sian terbangun dari tidurnya, pangeran itu sudah tidak berada didalam kamar.

Ia bangkit dan dengan malas-malasan Lu Sian duduk menghadapi cermin yang besar, mengambil sisir dan menyisir rambutnya yang dilepas sanggulnya dan terurai panjang sampai kepinggul.

Rambutnya hitam halus, berombak dan berbau harum.

Sambil tersenyum-senyum puas dan girang karena kini ia merasai kenikmatan hidup seperti seorang puteri istana, tiba-tiba ia mendengar suara ribut-ribut diluar.

Cepat ia bangkit dan mengintai dari balik pintu kamar.

Kagetlah hatinya ketika ia melihat Pangeran Lie Kong Hie berdiri dengan muka pucat dengan kedua lengan terpentang, sedangkan didepannya berdiri seorang wanita muda yang cantik bersikap galak, membawa pedang ditangan dan dibelakangnya terdapat seorang gadis lain berpakaian pelayan, juga membawa pedang telanjang!

Lu Sian cepat meraba kantung jarumnya, sambil mengintai ia bersiap dengan jarum-jarum merahnya.

Ia tidak segera turun tangan karena hendak melihat dan mendengar dulu apa yang terjadi.

Kalau gadis cantik itu hendak membunuh Kong Hian, tentu ia akan mendahuluinya dengan jarum-jarum yang tak pernah meleset!

"Kau bersekongkol dengan pemberontak!"

Si Gadis membentak dengan suara yang nyaring sedangkan matanya memancarkan sinar berapi.

"Hayo, serahkan dia kepadaku, ataukah kau benar-benar hendak membelanya karena ia kabarnya cantik jelita? Mata keranjang! Kau rela bersekongkol dengan pemberontak hanya karena dia cantik?"

"Tidak... tidak... Kim Bwee... eh, ibu... dia bukan pemberontak. Dia... dia pengawal pribadiku, dan malah menolongku daripada serangan kaum pemberontak!"

"Tapi dia Tok-siauw-kwi...!"

"Orang-orang jahat menamakan dia begitu akan tetapi dia seorang Dewi! Dia bukan pemberontak. Kim... eh, ibu... harap suka bersabar dan jangan menuruti hati cemburu..."

"Siapa cemburu?? Biar engkau kumpulkan... eh, seribu orang perempuan lacur, aku tidak peduli! Akan tetapi sekali engkau bersekongkol dengan pemberontak, pedangku sendiri yang akan menembus dadamu...!"

Wanita itu mengancam dan menodongkan pedangnya kedepan dada Lie Kong Hian. Sedangkan pelayan yang juga berpedang itu sudah bergerak mengurung.

"Chit-moi (Adik ke Tujuh)... tahan pedangmu...!"

Tiba-tiba terdengar jerit tertahan dan selir raja ke tiga, ibu Lie Kong Hian sudah datang berlari-lari dan memeluk puteranya, kemudian menghadang didepan puteranya memandang kepada wanita berpedang itu.

"Chit-moi, jangan engkau main-main dengan senjata tajam! Mengapa kau bersikap begini?"

"Sam-cici (Kakak ke Tiga), puteramu yang bagus ini bersekongkol dan menyembunyikan seorang perempuan pemberontak dalam kamarnya. Bagaimana aku dapat mendiamkannya saja? Bukankah hadirnya seorang pemberontak, betapa cantiknya pun, berarti membahayakan kita semua, terutama Sri Baginda?"

"Tenanglah, Chit-moi. Memang betul ada datang seorang wanita yang telah menolong nyawa Hian-ji (Anak Hian) ketika ia diserang pemberontak. Tentu saja kami percaya kepada penolong itu dan hatiku malah lega ketika mendengar bahwa ia suka menjadi pengawal pribadi anakku. Kalau ia pemberontak, mengapa ia menolong Anakku? Dan andaikata ia pemberontak sekalipun, hal itu bukanlah salahnya Anakku, melainkan dia yang menyelundup dengan tindakan palsu. Mengapa kau tidak menyelidikinya lebih dulu sebelum bertindak terhadap puteraku?"

"Memang aku akan menyelidikinya! Dia Tok-siauw-kwi, berarti dia pemberontak. Dia di kamarmu bukan?"

Pertanyaan ini ditujukan kepada Kong Hian yang menjadi merah sekali wajahnya, dan mengangguk.

Wanita berpedang yang cantik dan galak ini memang Coa Kim Bwee, selir ke tujuh Sri Baginda.

Memang mudah diduga bahwa selain berkepandaian tinggi, Coa Kim Bwee yang masih amat muda dan cantik itu tentu saja merasa tidak puas menjadi selir ketujuh.

Wataknya memang berandalan dan genit, dan Lie Kong Hian bukanlah satu-satunya "anak tiri"

Yang ia jadikan kekasihnya!

Adapun tindakannya sekarang ini selain menaruh curiga, juga sebagian besar terdorong oleh rasa cemburu, mendengar bahwa seorang diantara kekasihnya yang paling ia sayangi ini mengeram seorang wanita cantik dari luar sampai dua hari dua malam!

Coa Kim Bwee bersuit dan muncullah lima orang wanita pelayan lain yang sudah siap memang, dengan pedang ditangan masing-masing.

Kini enam orang pelayan wanita itu mengikuti Coa Kim Bwee melangkah perlahan menuju ke kamar Pangeran Lie Kong Hian!

Setelah mendengar dan melihat semua yang terjadi diluar, Lu Sian tersenyum.

Ia sudah senang tinggal di istana pangeran ini dan memang ia mulai bosan dengan perantauan yang kadang-kadang amat sengsara.

Kalau ia turun tangan membunuh Coa Kim Bwee dan enam orang pembantunya, tentu ia tak mungkin dapat tinggal dalam istana lebih lama lagi.

Coa Kim Bwee adalah selir terkasih dari Raja tentu kematiannya akan menimbulkan geger.

Dan melihat betapa Coa Kim Bwee agaknya berpengaruh dan dapat bertindak sesukanya di istana, ia rasa lebih baik wanita ini ia dekati dan untuk dapat melaksanakan niat ini, ia harus mampu menaklukkan wanita ini yang melihat dari langkahnya memiliki ilmu kepandaian yang lumayan.

Maka melihat Coa Kim Bwee dan enam orang pembantunya yang semua memegang pedang telanjang itu menuju ke kamarnya, ia cepat duduk kembali didepan cermin dan menyisir rambutnya dengan sikap tenang.

Coa Kim Bwee muncul disebelah belakangnya.

Mereka bertemu pandang melalui cermin dan tanpa menyembunyikan rasa kagumnya melihat wajah cantik terhias rambut hitam panjang itu, Coa Kim Bwee memandang lalu membentak.

"Apakah engkau Tok-siauw-kwi?"

Bentakannya mengandung keraguan karena ia benar-benar tidak mengira akan menemui seorang wanita yang demikian cantik jelita, lagi masih muda.

Sepanjang pendengarannya, Tok-siauw-kwi tentu telah berusia empat puluh tahun, karena ketika Tok-siauw-kwi masih menjadi isteri Jenderal Kam Si Ek, dia sendiri baru berusia sepuluh tahun!

Karena inilah ia ragu-ragu dan bertanya.

Tanpa menoleh, Lu Sian menjawab melalui cermin.

"Kalau betul, mengapa? Mau apakah engkau datang bersama enam orang pembantumu dengan pedang ditangan?"

Kembali Coa Kim Bwee tertegun.

Sikap wanita ini demikian tenang dan manis, namun sinar mata melalui cermin itu membuat tengkuknya berdiri.

Banyak sudah Coa Kim Bwee menghadapi lawan tangguh, namun belum pernah ia merasa jerih seperti pada saat ini.

Akan tetapi ia memberanikan hati dan membentak lagi.

"Aku datang untuk menangkapmu. Menyerahlah baik-baik sebelum pedang kami memaksamu!"

Lu Sian tersenyum makin lebar. Giginya berkilat putih.

"Adik yang manis, kalau ada urusan yang hendak dibicarakan, mengapa tidak masuk sendiri dan bicara baik-baik tanpa diganggu enam orang pelayanmu yang menjemukan?"

Coa Kim Bwee marah. Ia memberi isyarat dengan pedangnya kepada enam orang pembantunya sambil berkata.

"Tangkap dia!"

Juga enam orang pelayan itu marah karena dikatakan menjemukan dan sama sekali tidak dipandang mata oleh wanita berambut panjang itu.

Mereka berenam adalah pelayan perempuan yang bertugas sebagai pengawal, memiliki ilmu kepandaian silat yang cukup tinggi.

Biasanya, penjahat pria saja mereka masih mampu menghadapi dan mengalahkan, apalagi hanya seorang perempuan tak bersenjata yang sedang bersisir rambut?

Mereka bahkan merasa malu untuk mengeroyok, akan tetapi karena telah menerima perintah, mereka tidak berani membantah.

Coa Kim Bwee melangkah msuk dan berdiri di pinggir untuk memberi jalan kepada mereka.

Enam orang pelayan itu segera melangkah masuk menghampiri Lu Sian dari belakang dengan sikap mengancam.

Akan tetapi Lu Sian tetap tidak menoleh, hanya menatap mereka dengan pandang mata tajam melalui cermin didepannya.

"Serbu!"

Seorang diantara mereka memberi komando dan dengan bermacam gerakan menyerbulah keenam orang pelayan itu kedepan.

Lu Sian menggerakkan kepala sambil memutar tubuh.

Rambutnya yang panjang itu bagaikan cambuk yang banyak sekali menyambar kedepan menggulung keenam orang penyerangnya dan terdengar ia berseru.

"Pergi kalian, tikus-tikus busuk!"

Hebat bukan main.

Enam orang pelayan itu sama sekali tidak berdaya karena dalam sedetik saja tubuh mereka, terutama tangan dan kaki, telah terbelit rambut dan tiba-tiba bentakan itu ditutup dengan gerakan kepala.

Akibatnya, enam orang pelayan itu terlempar keluar pintu bagaikan daun-daun kering terhembus angin keras.

Mereka menjerit-jerit dan jatuh tunggang-langgang diluar kamar, babak-bundas dan ada yang terluka oleh senjata pedang mereka sendiri!

"Nah, Adik yang manis.

Tutuplah daun pintu dan mari kita bicara baik-baik tanpa gangguan orang lain."

Kata Lu Sian sambil tetap tersenyum dan menyibakkan rambutnya yang menutupi sebagian mukanya.

Coa Kim Bwee berdiri melongo.

Selama hidupnya, belum pernah ia menyaksikan kepandaian seperti ini.

Ia kagum dan gentar.

Kagum menyaksikan betapa seorang bertangan kosong masih enak-enak duduk, dapat menghalau keluar enam orang penyerangnya hanya mengandalkan rambut yang panjang dan harum!

Pula, bau harum yang merangsang keluar dari tubuh Lu Sian membuat ia makin kagum.

Hebat wanita ini, pikirnya, dan patut ia jadikan guru!

Ketika melihat enam orang pembantunya itu merangkak bangun memungut pedang dan melongok kedalam, ia memberi perintah singkat menyuruh mereka mundur!

Kemudian ia menutup daun pintu dan melangkah dekat, pedangnya masih ditangan.

"Engkau hebat! Ilmu siluman apakah yang kau gunakan? Akan tetapi jangan mengira bahwa aku takut..."

"Adik yang manis, ilmu lwee-kang begitu saja kau herankan? Mari, mari kita main-main sebentar agar kau tidak menyangka aku seorang siluman. Akan kuhadapi pedangmu dengan duduk saja, hanya kugunakan rambutku, bagaimana?"

"Hemm, kau mencari mampus. Jangan samakan aku dengan pelayan-pelayanku yang lemah!"

"Kalau aku kalah dan tewas di ujung pedangmu, aku takkan mengeluh karena hal itu menandakan bahwa kepandaianku masih rendah. Akan tetapi, kalau kau yang kalah bagaimana?"

Coa Kim Bwee bukan seorang bodoh.

Tidak, ia bahkan cerdik sekali.

Dia dahulu adalah puteri seorang jenderal, yaitu Jenderal Coa Leng yang bertugas di Shan-si, tangan kanan Gubernur Li Ko Yung.

Akan tetapi semenjak kecil Coa Kim Bwee mempunyai pula dua kesukaan, yaitu mengumbar nafsu mencari menang sendiri dan mengejar ilmu silat.

Banyak orang pandai menjadi gurunya, dan karena memang ia berwajah cantik jelita, banyaklah pemuda tergila-gila kepadanya.

Sebagai puteri tunggal yang amat dimanjakan, Kim Bwee wataknya makin menjadi-jadi, bahkan ia berani mulai bermain gila denga pemuda-pemuda tampan.

Ketika terjadi perang, ayahnya tewas dalam perang dan begitu Kerajaan Hou-han bangkit, Kim Bwee yang terkenal cantik dan pandai mengambil hati itu dipilih menjadi selir ke tujuh oleh Raja Hou-han!

Didalam istana inilah terkabul semua nafsunya, karena selain kedudukannya yang tinggi sebagai selir raja, juga kepandaian silatnya yang lihai membuat ia sebentar saja menjadi orang paling berpengaruh.

Disamping ini nafsunya yang buruk membuat ia makin binal dan cabul dan mulailah ia dibelakang punggung suaminya, Sang Raja, bermain gila dengan para pangeran dan pengawal yang tampan!

Kini, bertemu dengan Lu Sian ia merasa kagum dan juga penasaran.

Diam-diam ia berpikir bahwa kepandaiannya yang sudah tinggi ini, apalagi ilmu pedangnya, kalau sampai kalah oleh wanita yang melawannya sambil duduk dan hanya mempergunakan rambut, benar-benar hebat!

Kalau benar ia kalah, jalan paling baik adalah menarik wanita cantik ini sebagai sahabat, bahkan kalau mungkin sebagai guru.

Maka tanpa bersangsi lagi ia berkata.

"Kalau pedangku ini kalah menghadapi rambutmu, biarlah aku mengangkatmu menjadi guruku!"

Lu Sian tertawa.

Bagus, pikirnya.

Wanita ini agaknya mempunyai pengaruh yang besar di istana, kalau menjadi gurunya, berarti kedudukannya akan tetap menyenangkan.

Selain itu, sebagai guru ia dapat melarang wanita selir raja ini memberitakan di luar bahwa dia adalah Nyonya Jenderal Kam Si Ek.

"Baik, nah, kau mulailah!"

Katanya tenang sambil duduk menghadapi lawannya dengan rambut panjang tergantung dikanan kiri.

Coa Kim Bwee tidak mau sungkan-sungkan lagi karena maklum bahwa wanita didepannya ini memang memiliki kepandaian tinggi.

Kalau ia menang dan pedangnya membunuh wanita ini, berarti ia menyingkirkan seorang "saingan"

Berat, sebaliknya kalau benar-benar ia kalah, ia akan mengambil hati wanita ini untuk mendapatkan pelajaran ilmunya.

"Lihat pedang!"

Bentaknya nyaring dan ketika tubuhnya bergerak didahului sinar pedangnya berkelebat, terdengar suara berdesing tanda bahwa gerakannya cepat sekali dan tenaga yang menggerakkan pedang memiliki sin-kang cukup kuat.

Lu Sian memandang rendah kepada lawannya, namun menyaksikan kecepatan gerakan ini, timbul niatnya mencoba sampai dimana kekuatan Si Wanita Cantik, maka ia menggerakkan kepalanya sedikit dan "werrrr!"

Segumpal rambut panjang menyambar kedepan.

Hebat memang tingkat kepandaian Lu Sian sekarang.

Setelah ia melatih diri dengan tekun, menurut isi kitab-kitab yang dicurinya, selain kepandaiannya meningkat tinggi juga tenaga sin-kangnya menjadi hebat luar biasa.

Rambut yang lemas dan halus itu sekali digerakkan dapat menjadi benda keras seperti kawat-kawat baja dan kini rambut segumpal itu telah menangkis pedang Coa Kim Bwee dan ujung rambut melibat pedang.

Berbahaya sekali perbuatan ini.

Betapa pun tinggi kepandaian dan betapa pun kuat sin-kangnya, namun rambut tetap merupakan benda yang lemah, hanya menjadi kuat oleh gerakan beberapa detik.

Mungkin cukup kuat untuk melibat benda tumpul dan merupakan pengikat yang ampuh, akan tetapi menghadapi mata pedang yang amat tajam, sungguh sebuah permainan yang banyak resikonya.

Coa Kim Bwee melihat betapa pedangnya tertangkis sehingga tangannya gemetar tadi, kaget sekali.

Terutama setelah ia merasa pedangnya terlibat dan tak dapat ditarik kembali.

Cepat ia mengerahkan lwee-kangnya dan berseru keras sambil mendorong pedang dengan mata pedang ke depan.

Mereka bersitegang sebentar, dan tiba-tiba Lu Sian melepaskan libatan rambutnya.

Coa Kim Bwee terhuyung kepinggir terdorong oleh tenaganya sendiri, akan tetapi belasan helai rambut rontok karena putus terbabat mata pedang yang tajam!

"Boleh juga kau!"

Lu Sian berkata sambil tertawa, tetap duduk tenang dan rambutnya sudah tergantung kembali kedepan dadanya.

Coa Kim Bwee penasaran.

Tentu saja ia tidak merasa puas melihat hasil gebrakan pertama tadi, hanya beberapa helai rambut yang terbabat putus, sedangkan dia sendiri terhuyung-huyung.

Kalau dinilai, malah dia yang berada dibawah angin, maka seruan Lu Sian tadi dianggap sebagai ejekan yang membuat pipinya berubah merah karena marah.

"Aku masih belum kalah!"

Bentaknya dan kembali ia menerjang maju, kini ia memutar pedangnya cepat sekali untuk mencegah libatan rambut lawannya.

Kelihatannya Lu Sian diam saja, akan tetapi ketika pedang menyambar kearah lehernya, tubuh Lu Sian yang duduk diatas bangku pendek itu seperti hendak roboh kekiri sehingga pedang lewat dipinggir tubuhnya dan pada saat itu juga kaki kanannya menyambar bagaikan kilat cepatnya kearah pusar Coa Kim Bwee.

Hebat sekali serangan balasan yang tiba-tiba dan tak tersangka-sangka ini, namun hebat pula reaksi selir raja itu.

Untung bahwa ia tidak memandang rendah kepada Lu Sian, bahkan sudah merasa yakin bahwa wanita cantik ini memang berilmu tiggi sehingga dalam penyerangannya yang kedua ini ia tidak membuta, tidak hanya mencurahkan seluruh perhatiannya kepada penyerangan, melainkan membagi perhatian untuk menjaga diri dengan memperhatikan gerakan lawan.

Maka begitu melihat berkelebatnya kaki dari bawah mengancam perutnya, Kim Bwee cepat kembali pedangnya yang gagal, memutar pedang itu kebawah membabat kaki sambil melompat ke kanan belakang.

Tendangan gagal, namun penyerangan Kim Bwee juga gagal.

Mereka kini saling pandang tanpa bergerak, berpisah dua meter lebih, seorang berdiri dengan pasangan kuda-kuda, tangan kiri ditekuk di depan dada, tangan kanan memegang pedang diatas kepala, sedangkan yang seorang lagi duduk enak-enak, kaki kanan bertumpang keatas kaki kiri, tangan kiri mengelus rambut dan tangan kanan menggaruk-garuk belakang telinga.

Lu Sian kelihatan enak-enak saja menghadapi pasangan kuda-kuda lawan yang siap menyerang lagi.

"Awas, Adik manis, sekali ini kau akan jatuh!"

Kata Lu Sian dengan suara perlahan, pandang mata berseri dan mulut tersenyum.

Ia diam-diam merasa girang bahwa ia telah menciptakan ilmu berkelahi mempergunakan rambutnya ini, karena melihat gerakan-gerakannya tadi, selir raja ini sudah memiliki ilmu silat yang cukup tinggi sehingga untuk merobohkannya tentu memerlukan waktu yang agak lama.

Namun dengan ilmunya mempergunakan rambut sebagai senjata, ia sudah dapat memastikan bahwa ia akan dapat menjatuhkannya, karena sebagai seorang ahli, ia dapat melihat kelemahan dalam gerakan pedang Kim Bwee.

Diejek demikian, makin panas hati Kim Bwee.

Matanya memancarkan sinar bengis dan liar, bibirnya bergerak-gerak, cuping hidungnya berkembang-kempis dan tiba-tiba ia mengeluarkan jeritan nyaring, tubuhnya menerjang kedepan dan pedangnya diputar seperti kitiran angin di depan dada!

Hebat penyerangan ini, karena gulungan sinar pedang tidak memberi kesempatan kepada rambut Lu Sian untuk melibat pedang, sedangkan tubuh Kim Bwee seakan-akan terlindung dari atas kebawah, tak mungkin diserang seperti tadi.

Lu Sian duduk, memperhitung kan detik yang paling baik lalu berseru.

"Lihat senjataku!"

Dan kini sekali kepalanya bergerak, semua rambutnya berkelebat kedepan merupakan ratusan ribu batang kawat-kawat halus yang amat lemas.

Tentu saja ada sebagian rambut bertemu pedang, akan tetapi karena Lu Sian mempergunakan "tenaga halus"

Sehingga rambutnya menjadi lemas dan ulet, maka rambut itu tidak dapat terbabat putus, bahkan sebagian lagi terus membelit kearah pergelangan lengan tangan yang memegang pedang, sebagian membelit lengan kiri, sebagian lagi membelit leher terus mencekik!

Kim Bwee kaget setengah mati.

Kedua lengannya serasa lumpuh dan lehernya tercekik membuat ia tidak mampu bernapas lagi.

Ia meronta-ronta, persis seperti seekor lalat tertangkap sarang laba-laba dan terdengar suara ketawa cekikikan lalu disusul robohnya tubuh Kim Bwee, terpelanting dan pedangnya sudah terlempar kesudut kamar!

Sejenak nanar rasa kepala Kim Bwee.

Kamar itu serasa berputaran.

Ia telah mengalami kekalahan hebat dan andaikata bukan Lu Sian yang melakukan hal itu, andaikata tidak ada maksud hendak mengeduk ilmu dalam hati Kim Bwee, tentu penghinaan ini takkan dibiarkan begitu saja.

Seorang selir raja tersayang dihina seperti ini!

Sekali ia menjerit minta tolong tentu istana ini akan dikepung pengawal istana.

Akan tetapi Kim Bwee tidak mau melakukan perbuatan bodoh ini.

Ia maklum bahwa seorang sakti seperti perempuan itu, belum tentu akan dapat ditawan dan sebelum para pengawal datang, dia sendiri tentu akan dibunuh.

Pula, perempuan ini bersikap baik kepadanya dan lebih banyak untungnya daripada ruginya kalau ia dapat menjadi murid wanita ini.

Memang ia amat cerdik dan demi tercapainya maksud hati, ia rela melakukan hal apa saja, yang kejam, yang rendah, yang hina pun akan ia jalani.

Maka setelah berpikir sejenak dalam pertemuan pandang ini, Kim Bwee tanpa ragu-ragu lagi serta-merta menjatuhkan diri berlutut.

Lu Sian tertawa senang dan berkata, suaranya berwibawa.

"Kau mengakui keunggulanku? Nah, bangkitlah, dan mari kita duduk dan bicara yang baik."

Lu Sian sendiri menggerakkan tangan menyentuh pundak Kim Bwee dan seketika Kim Bwee terangkat naik!

Kim Bwee memandang kagum lalu duduk, sikapnya menjadi jinak, tidak galak seperti tadi, malah pandang matanya penuh penyerahan.

"Adikku yang manis, kau bernama Coa Kim Bwee dan menjadi selir ke tujuh dari Raja?"

Kim Bwee mengangguk.

"Dan kau tahu siapakah aku ini?"

"Kau isteri bekas Jenderal Kam Si Ek..."

"Bekas isterinya, sudah belasan tahun kami bercerai! Dan kau tahu siapa namaku?"

"Kau... kau puteri Beng-kauwcu dan kau bernama Liu Lu Sian dengan julukan Tok-siauw-kwi."

"Semua memang benar dan tepat! Akan tetapi sekarang aku mengajukan syarat, kalau kau menerimanya kita tetap bersahabat dan aku mau menurunkan beberapa macam ilmu kepadamu."

"Ilmu mempergunakan rambut sebagai senjata?"

Tanya Kim Bwee penuh gairah. Ia kagum sekali akan ilmu itu yang dianggapnya amat hebat. Lu Sian mengangguk.

"Boleh, dan beberapa macam ilmu lagi yang hebat-hebat. Pendeknya, setelah belajar dariku, kau akan menjadi seorang tokoh yang sukar dikalahkan lawan."

Girang sekali hati Kim Bwee dan kembali ia telah berlutut. Akan tetapi Lu Sian mencegahnya dan membentak.

"Duduk kau!"

Kim Bwee terkejut dan cepat ia duduk lagi menghadapi Lu Sian.

"Kau menerima syaratku? Nah, dengar baik-baik. Pertama, kau tidak boleh menyebut guru kepadaku dan tidak boleh berlutut seperti murid terhadap guru. Kita tetap hanya sahabat baik, kau panggil Cici kepadaku dan aku panggil adik padamu. Kita kakak beradik yang sama-sama mencari kesenangan didalam istana ini. Mengerti?"

Tentu saja makin girang hati Kim Bwee. Sambil tersenyum ia mengangguk dan matanya bersinar-sinar ketika ia menjawab.

"Enci Liu Lu Sian yang baik, tentu saja aku mentaati semua permintaanmu."

"Bukan Cici Liu Lu Sian, melainkan Enci Sian begitu saja. Syarat kedua, tidak boleh kau memberitahukan orang lain tentang namaku yang sebenarnya. Kalau kau memberitahukan orang lain, aku akan membunuhmu lalu pergi dari sini. Mengerti?"

Kembali Kim Bwee mengangguk, kini tidak berani tersenyum karena ia dapat melihat pandang mata Lu Sian bahwa wanita itu sungguh-sungguh dan ancamannya bukan main-main belaka.

"Syarat ke tiga, kau tidak boleh menghalangi semua perbuatanku dan... aku tahu bahwa diantara engkau dan Kong Hian terjadi hubungan gelap. Pemuda itu menjadi pilihanku, engkau tidak boleh mengganggunya atau mendekatinya. Mengerti?"

Kembali Kim Bwee mengangguk.

Ah, kiranya antara dia dan wanita ini terdapat persamaan!

Sekilas terbayang dalam benaknya betapa mudahnya untuk membaiki wanita ini.

Ia tahu caranya.

Dalam lingkungan istana, terdapat banyak sekali pangeran yang tampan, pengawal yang muda dan gagah.

Mudah untuk mencari muka dan menyenangkan hati "gurunya"

Ini, mudah menyuguhkan muda remaja tampan ganteng untuk ditukar dengan ilmu!

"Baiklah, Cici yang cantik, baiklah.

Dalam gedungku terdapat sebuah kamar dengan taman bunganya yang indah.

Lebih baik Cici pindah kesana agar lebih mudah kita bertemu.

Tentang Kong Hian...

tentu saja aku suka mengalah.

Dan...jangan khawatir..."

Ia mengedipkan matanya.

"masih banyak aku mengenal pangeran-pangeran muda dan pengawal-pengawal yang menarik dan pasti menyenangkan!"

Ia tertawa genit, Lu Sian tersenyum.

Terhadap perempuan liar ini tak perlu ia menyembunyikan perasaannya.

Ia mengangguk tanda setuju.

Demikianlah, Lu Sian hidup bergelimang dalam kemewahan dan pengejaran kesenangan, pemuasan nafsu dalam istana Kerajaan Hou-han.

Karena dilindungi oleh Coa Kim Bwee yang menganggap dia seorang kakak misan sendiri, ia tidak mendapat gangguan.

Setahun lebih Lu Sian hidup memuaskan nafsunya, disuguhi pangeran-pangeran dan pengawal-pengawal muda yang tampan, yang menarik hatinya.

Selain itu, untuk membalas "jasa"

Dan kebaikan selir muda raja itu, ia menurunkan beberapa macam ilmu yang hebat kepada Kim Bwee.

Diantaranya adalah ilmu mempergunakan rambut sebagai senjata, bahkan Ilmu I-kin-swe-jwe yang mendasari ilmu awet muda serta latihan dan obat untuk membikin keringat dan rambut berbau harum!

Segala macam perjalanan kearah kemaksiatan dimulai dengan langkah kecil kearah itu.

Sekali keliru melangkah, orang akan tersesat makin jauh, tenggelam makin dalam.

Semua perbuatan maksiat dimulai dengan iseng-iseng, dengan kecil-kecilan lebih dahulu, seperti orang mencicipi arak.

Mula-mula setetes dua tetes, setelah termakan racunnya, makin lama makin banyak dan akhirnya menjadi pemabok lupa daratan.

Tidak ada seorang penjudi di dunia ini yang membuka langkah perjudian dengan taruhan besar.

Mula-mula kecil-kecilan, makin lama makin mencandu dan menjadilah ia penjudi besar.

Tidak ada pencuri yang mulai "pekerjaannya"

Dengan pencurian besar-besaran.

Mula-mula kecil-kecilan, makin lama makin nekat.

Demikian pula dengan segala macam nafsu, termasuk nafsu berahi.

Makin dituruti, makin tak kenal puas, makin menggila dan makin haus!

Salah langkah pertama yang dilakukan Lu Sian adalah kebosanannya berumah tangga dengan Kam Si Ek.

Kalau diwaktu itu ia kuat bertahan, mempergunakan kebijaksanaan dan kesadarannya, ingat kewajibannya, ia takkan tersesat.

Akan tetapi sekali ia salah langkah, ia tersesat makin dalam dan akhirnya tenggelam oleh gelombang permainan nafsunya sendiri!

manusia memang mahluk lemah, maka perlu manusia selalu ingat dan waspada.

Ingat selalu kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan waspada selalu akan langkah hidupnya sendiri.

Jalan menuju kehancuran kelihatan lebar dan menyenangkan, padahal amat lincah menyembunyikan jurang-jurang kehinaan di kanan kirinya.

Sebaiknya jalan menuju kesempurnaan hidup kelihatan amat buruk dan sukar dilalui.

Sekali salah pilih, sesal pun tiada gunanya dan dalam kesadaran dan penyesalan hendak bertaubat sekalipun, akan merupakan perjuangan yang lebih sukar lagi!

Seperti telah disebut-sebut di bagian depan, pada masa itu yang menguasai daratan adalah Dinasti Cin yang berhasil meruntuhkan Kerajaan Tang Muda (923-936).

Oleh perang saudara yang tiada henti-hentinya ini, banyak timbul kerajaan-kerajaan kecil yang mempergunakan kesempatan perebutan kekuasaan itu untuk berdiri sendiri, di antaranya adalah Kerajaan Hou-han di Propinsi Shan-si ini.

Melihat perubahan itulah, Jernderal Kam Si Ek yang berjiwa patriotik dan setia kepada Kerajaan Tang mengundurkan diri dan rela hidup bertani didusun Ting-chun dikaki Gunung Cin-ling-san.

Akan tetapi tidak demikian dengan sebagian besar pendukung Tang yang dipimpin oleh Kong Lo Sengjin atau Couw Pa Ong bekas Raja Muda Kerajaan Tang lama.

Ketika Kerajaan Tang baru berhasil merobohkan Kerajaan Liang, ia memperoleh lagi kedudukan baik sebagai pimpinan para panglima dan penasihat raja.

Akan tetapi perang saudara tak pernah berhenti.

Raja Tang baru atau Tang Muda yang belum lama berdiri ini, roboh kembali dalam waktu tiga tahun saja dan kedudukannya diganti oleh Kerajaan Cin Muda (936-947).

Kong Lo Sengjin tentu saja tidak mau tinggal diam.

Biarpun kerajaan yang dibelanya telah runtuh, ia tidak putus asa dan masih terus melakukan perlawanan untuk merebut kekuasaan.

Banyak orang-orang pandai menggabung dengan jago tua ini dan selain berkali-kali menyerang Kerajaan Cin Muda, juga mereka ini selalu mengadakan gangguan kepada kerajaan-kerajaan kecil seperti Kerajaan Hou-han yang tidak mau diajak kerja sama meruntuhkan Kerajaan Cin Muda.

Inilah sebabnya mengapa terjadi pernyerangan atas diri Pangeran Lie Kong Hian.

Karena sudah tidak mempunyai pusat kerajaan para pendukung Tang itu melakukan gerakan liar, mengacau setiap kerajaan yang tidak mau bekerja sama.

Dan karena ancaman-ancaman ini pula maka Raja Hou-han dan para panglima-panglimanya ketika mendengar akan adanya seorang wanita sakti yang menjadi kakak misan dan juga guru selir ke tujuh, diam-diam merasa girang dan tidak pernah mengganggu.

Dengan hadirnya Lu Sian didalam istana, keselamatan raja sekeluarga lebih terjamin.

Hal ini terbukti ketika terjadi penyerbuan di malam hari, tiga bulan setelah Lu Sian tinggal didalam istana.

Malam itu gelap dan sunyi.

Menjelang tengah malam, terjadilah pertempuran di dekat tembok sebelah selatan yang mengelilingi istana ketika lima orang penjaga diserbu oleh tiga orang berpakaian hitam.

Dalam waktu singkat saja lima orang penjaga ini roboh binasa, akan tetapi sebelum roboh, seorang di antara mereka sempat berteriak-teriak minta tolong.

Tiga orang itu secepat burung terbang telah melompat pagar tembok dan lenyap ke dalam lingkungan istana!

Para penjaga dan pengawal istana menjadi heboh melihat lima orang penjaga itu malang-melintang mandi darah dalam keadaan tidak bernyawa lagi.

Segera tanda bahaya dibunyikan.

Regu penjaga yang malam hari itu mendapat giliran berjaga terdiri dari tiga puluh orang, dibagi diluar dan didalam.

Kini tinggal dua puluh lima orang lagi dan mulailah mereka mengadakan pengejaran dan mencari-cari disekitar bangunan-bangunan istana.

Namun tidak tampak bayangan seorang pun penjahat.

Mendadak di istana pusat yang menjadi tempat tinggal Raja, terdengar suara wanita menjerit-jerit.

Para pengawal ini menyerbu masuk dan mereka terkejut melihat empat orang wanita pelayan telah mati pula.

Akan tetapi diruangan tengah, tak jauh dari kamar Raja sendiri, tampak selir raja ke tujuh dengan pedang ditangan tengah melawan keroyokan tiga orang berpakaian hitam.

Seorang wanita lain yang cantik dan biarpun jarang terlihat penjaga namun dapat diduga oleh mereka bahwa inilah kakak misan Coa Kim Bwee yang kabarnya sakti, berdiri disudut dengan sikap tenang menonton pertempuran.

Ketika para penjaga hendak menyerbu dan membantu selir Raja itu, menghadapi tiga orang penjahat, Lu Sian menggerakkan tangan mencegah mereka sambil berkata.

"Jangan Bantu!"

Para penjaga kaget dan heran, biarpun sudah dicegah mereka tetap maju dengan senjata ditangan.

Karena Lu Sian bukan anggota istana, mereka menjadi ragu-ragu untuk mentaati pencegahannya, bahkan dua orang penjaga sudah menerjang maju, untuk membantu.

Namun, sekali tampak kelebatan sinar pedang seorang diantara tiga orang penjahat itu, dua orang penjaga itu berteriak dan roboh mandi darah!

"Tolol!

Mundur dan jangan Bantu aku!"

Bentak Coa Kim Bwee.

Kini para penjaga itu terkejut dan cepat mundur.

Tiga orang lawan itu amat lihai dan kini selir raja yang berpengaruh itu sendiri melarang mereka, maka mereka hanya berdiri menonton dengan hati gelisah.

Betapa mereka tidak akan gelisah menyaksikan kehebatan tiga orang tamu malam itu yang mainkan pedang mereka begitu ganas sehingga selir ke tujuh itu sendiri terdesak hebat?

"Siauw-moi, keluarkan ular!"

Tiba-tiba Lu Sian berkata dan gerakan pedang Coa Kim Bwee tiba-tiba berubah.

Pedangnya berlenggak-lenggok gerakannya, kadang-kadang ujungnya berkelebat seperti ular mematuk.

Inilah Ilmu Pedang Sin-coa Kiam-hoat yang mulai dipelajarinya dari Lu Sian.

Memang Coa Kim Bwee memiliki dasar yang kuat serta sudah menguasai gerakan ilmu silat tinggi, maka biarpun baru belajar beberapa bulan, pedangnya sudah amat berbahaya gerakannya.

Tiga orang lawannya itu terkejut dan mereka pun mengubah gerakan pedang, bahkan kini mereka mengurung dalam bentuk segitiga yang disebut Sim-seng-tin (Barisan Bintang Hati).

Bintang Hati adalah tiga buah bintang yang kedudukannya di ujung segitiga.

Karena Sin-coa Kiam-hoat itu gerakannya menyerang langsung kedepan dengan perubahan yang amat aneh dan sukar diduga, maka kini dikurung dengan terdesak.

Setiap kali ujung pedangnya menyerang seorang lawan, yang dua sudah menerjangnya, agaknya rela mengorbankan seorang kawan akan tetapi berhasil merobohkan yang dikeroyok.

Tentu saja Kim Bwee tidak mau mengadu nyawa sehingga serangannya selalu ia tarik kembali dan gagal.

Ia menjadi sibuk sekali dan akhirnya kembali hanya menggerakkan pedangnya diputar cepat melindungi tubuhnya.

"Siauw-moi, mundur!"

Teriak Lu Sian sambil melompat maju.

Sekali sambar, ia menarik dan melempar tubuh Kim Bwee kebelakang, kemudian menyerbu dengan tangan kosong!

Tiga orang berpakaian hitam itu kaget sekali karena begitu tangan Lu Sian bergerak tiga batang jarum meluncur cepat menuju dada mereka.

Namun dengan gerakan tangkas ketiganya berhasil menyampok jarum itu dengan pedang, dan pada saat itu mereka mencium bau harum dari jarum itu dan lebih semerbak lagi bau harum keluar dari rambut Lu Sian tercium hidung mereka.

"Tok-siau-kwi...!"

Seorang diantara mereka berseru kaget.

Memang nama besar Tok-siauw-kwi pada waktu itu sudah amat terkenal dimana-mana setelah Lu Sian melakukan perbuatan-perbuatan menghebohkan dipelbagai perkumpulan silat.

Yang membuat ia terkenal, selain ilmu silatnya yang tinggi dan wataknya yang ganas, juga terutama sekali bau harum dari tubuhnya dan Siang-tok-ciam (Jarum Beracun Harum) yang amat berbahaya.

Maka sekali melihat jarum merah yang wangi serta bau harum dari tubuh wanita cantik ini, tahulah tiga penyerbu istana itu bahwa mereka berhadapan dengan Tok-siau-kwi!

"Tok-siau-kwi, kau orang Beng-kauw, mengapa mencampuri urusan kami!"

Bentak pula seorang diantara mereka sambil melintangkan pedang didepan dada.

"Hemmm, aku mencampuri atau tidak, kalian peduli apa? Sekali menyebut nama julukanku, berari harus mati. Tahukah kalian akan hal ini?"

Kata Lu Sian sambil tersenyum dingin.

Tiga orang itu menjadi marah.

Mereka adalah patriot-patriot pengikut Kerajaan Tang yang setia, maka biarpun menghadapi tokoh seperti Tok-siauw-kwi, mereka tidak menjadi takut, bahkan kini berbareng mereka menerjang dengan gerakan pedang yang dahsyat.

"Kau menghianati suamimu...!"

Begitu ucapan itu keluar dari mulut seorang penyerbu, tiba-tiba orang ini menjerit dan roboh tak bernyawa lagi.

Ternyata secepat kilat Lu Sian telah menggunakan Ilmu Totokan Im-yang-ci (Totokan Im Yang) yang ia pelajari dari kitab yang ia curi dari Kuil Siauw-lim-pai!

Hebat sekali gerakannya dan kini dua batang pedang telah menusuk, sebuah dari depan mengarah dada kirinya, sebuah lagi dari belakang membacok kepalanya.

Diserang dari depan dan belakang ini, Lu Sian tiba-tiba mengenjot tubuhnya mencelat keatas.

"Wuuuttt! Singggg!"

Dua batang pedang itu meluncur lewat dari atas Lu Sian menggerakkan kepalanya.

Rambutnya yang panjang itu terurai dan menyambar, terpecah menjadi dua gumpal rambut hitam halus panjang yang secara tiba-tiba telah berhasil melibat leher kedua orang pengeroyoknya.

Ketika Lu Sian meloncat kebelakang, kedua orang itu ikut terbanting dan dua kali tangan Lu Sian bergerak terdengar suara "Plak!

Plak!"

Dan robohlah dua orang itu.

Pada punggung mereka tampak tanda jari-jari tangan yang berwarna merah, tapak tangan yang membakar baju dipunggung, menembus kulit dan terus hawa pukulannya yang penuh racun merusak isi dada membuat mereka tewas seketika!

"Hebat, Cici..."

Coa Kim Bwee berseru girang sekali. Lu Sian hanya tersenyum dan menggeleng kepala.

"Cici, harap kau suka ajarkan pukulan-pukulan itu..."

"Mari kita pulang."

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert